{"pages":[{"id":1,"text":"…JALSAH ULA …\rMUSHOHIH …PERUMUS …MODERATOR\r1.…KH Asyar Shofwan\r2.…KH. Dr. Muhammad Musyafa’\r3.…K. Soelaiman\r4.…KH. Ma’ruf Khozin\r5.…K. Abu Sari …\r1.…KH. Sholihin Hasan\r2.…KH. Mukhtar Ibu Basty\r3.…KH. Sholih Ahmad …\rUst. Abdullah\r…… …NOTULEN …\r……\r1.…Ust. M Nurush Shobah\r2.…Ust. Lukman Hakim\r… …\r1. …FEODALISME PESANTREN | PP. Lirboyo Induk\rDeskripsi Masalah:\rPesantren, atau biasa disebut pondok pesantren, merupakan salah satu lembaga pendidikan yang telah lama berdiri di Indonesia. Keberadaan pesantren tidak bisa dipisahkan dari Islam di Indonesia. Awal mula berdirinya pesantren beriringan dengan masuknya Islam ke Nusantara. Bahkan, sejarah mencatat bahwa keberadaan pesantren sangat lekat dengan sejarah kemerdekaan Indonesia.\rSuatu lembaga atau institusi dapat disebut pesantren jika memenuhi tiga unsur, yaitu: kiai, santri, dan lokasi (pesantren). Dalam artian, pesantren merupakan lembaga yang dipimpin oleh seseorang yang biasa disebut kiai, ajengan, gurutta, atau gelar lainnya, yang memiliki kecakapan dan kapasitas dalam keilmuan agama, serta fokus memberikan pendidikan dan pengajaran kepada orang yang berada di dalam pesantren, yang biasa disebut santri, dengan berlandaskan pada Al-Qur'an, hadis, dan kitab kuning. Meski demikian, pesantren tidak hanya fokus pada pendidikan agama semata, tetapi juga memberikan pendidikan sosial, ekonomi, pertanian, dan lain sebagainya. Sebab, moto yang dibangun pesantren adalah memberdayakan santri agar menjadi manusia yang bermanfaat.","part":1,"page":1},{"id":2,"text":"KH. Abdurrahman Wahid, Presiden RI ke-4, adalah tokoh nasional yang memiliki latar belakang santri Justru latar belakang tersebut menjadikan Gus Dur sebagai pribadi yang memiliki kepekaan totalitas dalam membela hak orang lain, tanpa memandang status agama maupun ras dan suku. Kiprah Gus Dur di kancah nasional terlihat saat beliau ikut menyelesaikan konflik agama di Indonesia.\rDi bidang ekonomi, terdapat pula sosok santri yang berperan dalam membangun serta merumuskan sistem ekonomi syariah di Indonesia, yakni KH. Ma'ruf Amin, Wakil Presiden RI periode 2019-2024. Tak hanya ahli dalam ilmu agama, KH. Ma'ruf Amin juga dikenal sebagai arsitek ekonomi syariah nasional, yang mendorong terbentuknya Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) Gagasannya memadukan kearifan lokal pesantren dengan visi ekonomi modern berbasis syariah.\rBahkan di pelosok pesisir pantai utara, tepatnya di Kabupaten Pati, muncul seorang tokoh yang berhasil membangun ekonomi masyarakat pesisir, yang semula berada di garis kemiskinan, menjadi masyarakat yang berekonomi mapan, meskipun keseharian mereka sebagai petani atau nelayan. Beliau adalah KH. Sahal Mahfudz. Ra'is Aam PBNU periode 1999-2014.","part":1,"page":2},{"id":3,"text":"Kemunculan beberapa tokoh berkaliber internasional berlatar belakang pesantren menunjukkan watak fleksibel pesantren dalam memberikan pendidikan kepada santri, baik dalam aspek ilmiah maupun keterampilan, yang terbukti mampu mencetak santri berpengaruh dalam kemajuan masyarakat atau negara, baik dalam bidang ckonomi, sosial kemasyarakatan, hukum, maupun ketatanegaraan. Keseharian santri yang berkutat dengan segenap ritual keagamaan dan fokus terhadap kitab kuning tidak menjadi penghalang bagi kemajuan mereka dalam berbagai aspek kehidupan. Capaian ini membuktikan bahwa pesantren tidak hanya berfokus pada peningkatan kualitas spiritual religius seseorang, tetapi j?ga berperan dalam membangun komunitas masyarakat yang mapan secara duniawi.\rNamun demikian, romantisme sejarah kerap kali menutupi kenyataan bahwa tidak ada sistem yang sempurna. Setiap tradisi, betapapun kuat pijakan historianya, tetap perlu dikaji secara kritis agar tidak menimbulkan kepongahan atas nama masa lalu","part":1,"page":3},{"id":4,"text":"Salah satu elemen yang menjadi sorotan tajam dalam dinamika pesantren adalah posisi kiai sebagai figur sentral, yang secara kultural ditempatkan dalam puncak otoritas yang nyaris tak tergapai oleh kritik. Menurut Martin van Bruinessen (1995) dan Karel A. Steenbrink (1986), fenomena ini menghadirkan atmosfer yang tidak jauh berbeda dari watak feodal, sehingga pemikiran kritis tenggelam dalam gelombang kepatuhan yang tidak selalu dilandasi oleh nalar dan pemahaman mendalam. Karena itu, pesantren dianggap sebagai bentuk feo daliame baru di era modem, atau yang masyhur dikenal dengan istilah Neo-Feodalisme.\rSecara umum, feodalisme adalah sistem kekuasaan yang bersifat hierarkis, tertutup, dan sangat menekankan loyalitas personal antara atasan dan bawahan, di mana kekuasaan dan hak istimewa didistribusikan secara tidak merata.\rFeodalisme lama didasarkan pada tiga prinsip utama:\r•…Kekuasaan: Sistem ini berfokus pada penguasaan politik, sosial, ekonomi, budaya, dan segala aspek kehidupan. Kekuasaan bersifat sentral pada satu pemimpin.\r•…Kekerabatan Kekuasaan dalam feodalisme hanya berkutat pada kelompok tertentu yang memiliki hubungan kekerabatan.\r•…Pengkultusan: Pemimpin feodal selalu dikultuskan. Mereka tidak hanya dihormati dan dipuja secara berlebihan, bahkan kerap kali dikaitkan dengan hal-hal mitologis.","part":1,"page":4},{"id":5,"text":"Istilah pesantren sebagai neo-feodalisme merujuk pada pandangan kritis terhadap relasi kuasa dalam lingkungan pesantren yang dianggap mereproduksi struktur sosial serupa feodalisme lama, yakni sistem sosial yang sangat hierarkis dan otoriter, namun dalam wajah baru (neo) di era modern. Narasi ini tidak hanya muncul dari relasi kuasa, melainkan juga diperkuat oleh beberapa praktik atau tradisi yang telah mengakar kuat. Tradisi mencium tangan, menunduk, atau membungkukkan badan di hadapan seorang kiai, serta meyakini keberkahan sisa air minum atau hal-hal lain yang berkaitan dengan kiai, disinyalir sebagai tradisi turunan dari neo-feodalisme.\rRelasi kuasa yang hierarkis telah membentuk pandangan bahwa kiai adalah figur utama yang tidak bisa digoyahkan dalam segala hal. Titah dan kehendaknya mutlak harus dipatuhi tanpa mempertanyakan kebenarannya. Hanya kata \"sam'an wa tha 'atan\" yang berlaku dalam benak santri.\rPergeseran otoritas dari ilmu menuju pengkultusan buta tidak hanya menimbulkan penyelewengan dalam struktur nilai pesantren, tetapi juga mengancam integritas moralnya sebagai\rlembaga yang menjunjung tinggi ilmu dan akhlak sebagai pilar utama. Fenomena ini bukan tanpa dampak. Dalam beberapa tahun terakhir. masyarakat diguncang oleh kasus \"Gus Nakal\", yakni anak kiai atau tokoh pesantren yang terlibat skandal moral. manipulasi keagamaan, bahkan pelecehan seksual. Ironisnya, kasus-kasus ini sering kali ditutupi oleh jaringan loyalitas internal pesantren dan masyarakat sekitar, yang lebih memilih \"menjaga marwah kiai\".","part":1,"page":5},{"id":6,"text":"Lebih jauh, pengkultusan ini tidak hanya berdampak pada relasi antara kiai dan santri, tetapi juga menjalar ke masyarakat luas di sekitar lingkungan pesantren, khususnya para muhibbin pesantren dan kiai. Masyarakat sering kali menjadikan kiai sebagai referensi tunggal dalam setiap aspek kehidupan, mulai dari urusan agama hingga politik. Banyak warga hanya mengikuti fatwa politik kiai tanpa memahami fakta yang sebenarnya. Hal ini melahirkan budaya \"ikut-ikutan\" yang rentan dimanipulasi oleh elite.\rDalam struktur sosial semacam itu, aroma feodalisme menjadi tak terhindarkan. Kiai bukan hanya menjadi pemimpin spiritual, melainkan juga pusat loyalitas dan kekuasaan simbolik. Ketundukan yang terjadi sering kali bukan karena keunggulan nalar dan kebijaksanaan, tetapi semata karena warisan status dan garis keturunan. Sistem semacam ini menciptakan hierarki sosial yang kaku, di mana kritik dianggap sebagai pemberontakan, dan keberanian berpikir mandiri kerap dibungkam oleh stigma durhaka terhadap guru.\rPertanyaan:\ra.…Apakah pengkultusan terhadap tokoh atau kiai sebagaimana dalam deskripsi, yang dianggap bisa menutup ruang kritik dan diskusi, dapat dibenarkan menurut kacamata syariat?\rJawaban:\rSikap ta’dhim santri, masyarakat sekitar kepada kyai yang telah menjadi tradisi bukanlah sikap pengkultusan melainkan merupakan bagian dari proses pendidikan/tarbiyah sesuai yang diajarkan dan teladankan Rasulullah Saw., bersama sahabatNya dan generasi salafusshalih Ra., sehingga ruang menyampaikan masukan, tabayyun dll tetap terbuka dengan menjaga akhlaqul karimah.\rReferensi:","part":1,"page":6},{"id":7,"text":"3. تعليم المتعلم ص: 16 …1. بريقة محمودية في شرح طريقة محمدية وشريعة نبوية الجزء الرابع\r4. المنهاج القويم شرح المقدمة الحضرمية- ص136 …2. الأذكار - النووي ص: 323\r?…بريقة محمودية في شرح طريق ة محمدية وشريعة نبوية الجز ء الرابع ص ـ 3\r)وفي تعليم المتعلم( لتلميذ صاحب الهداية )ومن توقير( تعظيم )المعلم( )أن ل يمشي أمامه و ل يجلس مكانه ول يبتدئ الكلا م عنده إ ل بإذنه ول يكثر الكلام( ولو مباحا )عنده( لأنه يفضي للخروج عن الأدب )ول يسأل شيئا عند ملالت ه( لثقل الجواب )ويراعي الوقت( فيأتيه وقت ظهوره )و ل يدق البا ب( لحتمال أذاه )ب ل يصبر ح ت يخرج( قا ل الل تعا ل }ول و أنه م صبروا ح ت تخر ج إليه م لكا ن خيرا لهم { )فالحاص ل أن ه يطلب رضا ه ويجتنب سخط ه ويمتثل أمره في غ ير معصي ة الل عز وجل( إ ذ ل طاع ة لمخلوق في معصي ة الخال ق )انتهى . وق د صرحو ا في الفتاوى بكراه ة أن( )يقول الرجل لم ن فوق ه في العل م( والفض ل الدي ن )حان( أي حضر )وق ت الصلاة( )أو قوموا نصل أ و نحوهما( مم ا في ه تر ك الأد ب لعل ذلك عند علمه وقته ا مثلا وأم ا عند عد م علمه فيحظر إن غلب رضاه )لأنه تر ك أدب وتوقير( ومن توق ير الأستا ذ تقبي ل يده كم ا في الفتاوى وأم ا المعانق ة المشهورة فقي ل ليس ت بجائزة وقي ل جائزة. ووفق الشي خ أب و منصور الماتريدي إ ن على وج ه الشهو ة ل وإن على وج ه التبر ك نع م وقي ل أو ل من عانق إبراهي م الخليل علي ه الصلا ة والسلام كا ن بمكة فأقبل إليه ا ذو القرن ي فلما وصل إ ل الأبطح قيل له في هذه البلدة إبراهيم خليل الرحمن فقال ذو القرني ل ينبغي ل أن أركب في بلدة فيه ا إبراهيم فنزل ومشى إل إبراهيم وعانق ه وكان أول من\rعانق كما في الدرر ومن تعظي م الأستاذ القيام عند مجيئ ه وذهابه .\r?…الأذكار - النووي ص: 323","part":1,"page":7},{"id":8,"text":")باب ما يقوله التابع للمتبوع إذا فعل ذلك أو نحوه) إعلم أنه يستحب للتابع إذا رأى من شيخه وغيره ممن يقتدى به شيئا في ظاهره مخالفة للمعروف أن يسأله عنه بنية السترشا د ، فإن كان قد فعله ناسيا تداركه ، وإن كان فعله عامدا وهو صحيح في نفس الأمر ، بينه له: فقد روينا في \" صحيحي البخاري ومسلم \" عن أسامة بن زيد رضي الل عنهما قال : \" دفع رسول الل )صلى الل عليه وسلم( من عرفة حت إذا كان بالشعب نزل فبال ثم توض أ ، فقلت: الصلاة يا رسول الل ، فقال : الصلاة أمامك\" قلت : إنما قال أسامة ذلك ، لنه ظن أن النبي )صلى الل عليه وسلم( نسي صلاة المغرب ، وكان قد دخل وقتها قرب خروجه وروينا في \" صحيحيهما \" قول سعد بن أبي وقاص : \" يا رسول الل ، ما لك عن فلان والل إني لراه مؤمنا.\" وفي \" صحيح مسلم\" عن بريدة \" أن النبي )صلى الل عليه وسلم( صلى الصلوات يوم الفتح بوضوء واحد ، فقال عمر رضي الل عنه : لقد صنعت اليوم شيئا لم تكن تصنعه، فقال : عمدا صنعته يا عمر \" ونظائر هذا كثيرة في الصحيح مشهور ة\r?…تعليم المتعلم ص: 16","part":1,"page":8},{"id":9,"text":"اعلم بأن طالب العلم ل ينال العلم ول ينتفع به إل بتعظيم العلم وأهله وتعظيم الأستاذ وتوقيره قيل ما وصل من وصل إل بمراعاة الحرمة وما سقط من سقط إل بترك الحرمة وتعظيم العلم خير من الطاعة أل ترى أن الإنسان ل يكفر بالمعصية وإنما يكفر بترك الحرمة ومن تعظيم العلم تعظيم المعل م قال علي كرم الل وجهه أنا عبد من علمن حرفا إن شاء باع وإن شاء استرق وقد أنشد رأيت أحق الحق حق المعلم وأوجبه حفظا على كل مسلم . لقد حق أن يهدى إليه كرامة لتعليم حرف واحد ألف درهم . ومن علمك حرفا مما تحتاج إليه في الدين فهو أبوك في الدين . )والحاصل أنه يطلب رضاه( أي رضا الستاذ )ويجتنب سخطه( اي من سخطه )ويمثتل أمره في غير معصية الل تعال ول طاعة للمخلوق( اي ول طاعة جائز للمخلوق )في معصية الخالق( اي في مادة يلزم ان أطاع للمخلوق أن يعصي الخالق وهذه الخملة بمنزلة التعليل لما سبق.هام ش\r?…المنهاج القويم شرح المقدمة الحضرمية- ص136\rفرع: يحرم التقرب إل الل تعال بسجدة من غير سبب ولو بعد صلاة وسجود الجهلة بي يدي مشايخهم حرام اتفا ق ا ولو بقصد التقرب إل الل تعال وفي « بعض صوره ما يكون كف ر ا\rb.…Dapatkah dibenarkan pandangan sebagian orang yang menilai bahwa pesantren adalah neo-\rfeodalisme? Dan bagaimana cara menyikapinya?\rJawaban:\rAnggapan feodalisme di pesantren dari sebagian masyarakat tidaklah benar bahkan tidak terjadi. Tradisi kehidupan di masyarkat, pesantren adalah proses pembinaan tata-kehidupan yang berkeseimbangan antara hablu min-Allah dan hablu min-nas dengan tetap mempertimbangkan budaya lokal sepanjang tidak\rmelanggar syari’at.\rReferensi:\rIdem.\r…JALSAH TSANI …\rMUSHOHIH …PERUMUS …MODERATOR\r1.…KH Asyar Shofwan\r2.…KH. Dr. Muhammad Musyafa’\r3.…K. Soelaiman\r4.…KH. Ma’ruf Khozin\r5.…K. Abu Sari …","part":1,"page":9},{"id":10,"text":"1.…KH. Mukhtar Ibu Basty\r2.…KH. Sholihin Hasan\r3.…Ust. Fathur Rozi …\rK. Sholih Ahmad\r…… …NOTULEN …\r……\r1.…Ust. M Nurush Shobah\r2.…Ust. Lukman Hakim\r2. …MEMINTA AMAL DENGAN MENGATASNAMAKAN LEMBAGA LAIN | PP. Al Fithrah Induk Surabaya\rDeskripsi Masalah:\rDalam masyarakat, sering kali dijumpai oknum-oknum yang melakukan penggalangan dana atau meminta sumbangan ke instansi pemerintah, pasar dan perkampungan dengan mengatasnamakan lembaga lain yang sudah dikenal masyarakat Surabaya, sebut saja Pon. Pes. Al Huda. Faktanya, hasil amal tersebut digunakan untuk pembangunan musholla/masjid di wilayah oknum tersebut.\rSebagian dari donator ada yang mengkonfirmasi ke lembaga pesantren tersebut dan ternyata pihak pondok pesantren tidak tahu menahu akan hal itu. Dengan kejadian itu, pihak pondok langsung melacak keberadaan oknum-oknum tersebut dan berhasil ditemukan. Selanjutnya, pihak pesantren tersebut meminta pertanggung jawaban atas perbuatannya sekaligus meminta hasil sebagian/keseluruhan sumbangan tanpa memperdulikan kerja keras dari pencari sumbangan tersebut.\rHal ini menimbulkan pertanyaan dari masyarakat mengenai keabsahan amal tersebut dan tanggung jawab moral serta hukum orang yang memanfaatkannya.\rPertanyaan:\ra. Apa hukum meminta amal atas nama lembaga lain dengan tujuan untuk membangun masjid/musholla di daerahnya?\rJawaban:\rHukumnya haram karena ada unsur penipuan/gharar/ghasab.\rReferensi: ……\rالفتاوى الفقهية الكبرى - )ج 4 / ص 78( ………إحياء علوم الدين )4/ 368(\r………إتحاف السادة ج 9ص 302\r?…إحياء علوم الدين) 4/ 368(","part":1,"page":10},{"id":11,"text":"اعلم أن الأعمال وإن انقسمت أقساما كثيرة من فعل وقول وحركة وسكون وجلب ودفع وفكر وذكر وغير ذلك مما ل يتصور إحصاؤه واستقصاؤه فهي ثلاثة أقسام معاص وطاعات ومباحات القسم الأول المعاصي وهي ل تتغير عن موضعها بالنية فلا ينبغي أن يفهم الجاهل ذلك من عموم قوله عليه السلا م إنما الأعمال بالنيات فيظن أن المعصية تنقلب طاعة بالنية كالذي يغتاب إنسانا مراعاة لقلب\r?…إحياء علوم الدين) 4/ 369(\rأو يطعم فقيرا من مال غيره أو يبن مدرسة أو مسجدا أو رباطا بمال حرام وقصده الخير فهذا كله جه ل والنية ل تؤثر في إخراجه عن كونه ظلما وعدوانا ومعصية بل قصده الخير بالشر على خلاف مقتضى الشرع شر آخر فإن عرفه فهو معاند للشرع وإن جهله فهو عاص بجهله إذ طلب العلم فريضة على كل مسلم والخيرات إنما يعرف كونها خيرات للشرع فكيف يمكن أن يكون الشر خير هيهات بل ا لمروج لذلك على القلب خفى الشهوة وباطن الهوى فإن القلب إذا كان مائلا إل طلب الجاه واستمالة قلوب الناس وسائر حظوظ النفس توسل الشيطان به إل التلبيس على الجاهل ولذلك قال سهل رحمه الل تعال ما عصى الل تعال بمعصية أعظم من الجهل قيل يا أبا محمد هل تعرف شيئا أشد من الجهل قال نعم الجهل بالجهل\r?…إتحاف السادة ج 9ص 302\rإعلم إن إغنك أنه قد وردت مناه كثيرة فى السؤال وتشديدات عظيمة تدل على تحريمه والمراد بالسؤال هنا سؤال الناس عامة ويكون ذلك لنفسه وخرج بذال ك ما اذا كان يسأل لغيره فهذا غير داخل فى تلك التشديدات بل هو معون ة وخرج من ذالك أيضا ما اذا كان لنفسه لكنه سأل الأقاريب والأصدقاء فهو طريق القوم وعليه العمل, لأن الأصدقاء يفرحون بذالك ويرون الفضل والسنة للصاديق القاصد.\r?…الفتاوى الفقهية الِكبرِىِ - )جِ 4 / ص 78(","part":1,"page":11},{"id":12,"text":"وَسُئِلَ أدامَ ا هللَُّ تَ عالَ النه فْعَ بعلومه عن قَ وْلهِِمْ في صَدَقِة التهطوعِ يَحرمُ على الغِنِي أخْذُهَا إن أظهَرَ الْفَاقةَ أو سَألَ فَ لوْ أَظهَرََها ِلخوْ ِف الظهلمَةِ على مَالِهِ ف هَلْ له ق بولُ ما ي عْطى من غيْرِ سُؤالٍ وهَلْ طلبُ العَاريهةِ كَالسُّؤالِ وإذا سَألَ التهافهَ كَسُؤالِ قَ لمٍ أو شَ رَْبةِ مَاءٍ هل حُكْمُهُ كَذَلكَ أمْ لَ وهَلْ المُرادُ الغ ينِ بكِفَ ايةِ سَنةٍ أو أق هل وإذا كان ي تَ ي هسرُ الِْإعْطاءُ في وَقتٍ دُونَ وَقتٍ فَ هَلْ له السُّؤالُ في وَقتِ ت يسُّرهِ لمَا يَحتاجُهُ مسْتَ قْب لا وهَلْ سُؤالُ السُّلطانِ من ب يتِ المَالِ كَغيْرهِ أمْ لَ فأجَابَ بقَوْلهِ يَجوزُ له إذا خَافَ الظهلمَةَ على مَالهِ أنْ يظهِرَ الفَاقةَ وَأنْ يسْألَ لكنْ ما ي عْطاهُ يَِجبُ عليه ردهُ لمَالكهِ وَليسَ طلبُ العَاريهةِ كَالسُّؤالِ فيمَا يظهَرُ لِجريَانِ العَادةِ بِأهن ا لْغهنِ وَغيْرهُ يسْألَنِها فَ ليسَ في طلبهَا إذْلَلٌ للنه فْسِ ولَ ت غريرٌ للْغيْرِ وَظاهِرُ كَلَامِهِ مْ حُرمَةُ السُّؤالِ على الغ نِِي وَإنْ سَألَ تََف ها وَليسَ ببعيدٍ لِأ هن الْكَلَامَ فيمَا ليس ب ينه وَبيْ المسؤول مباسَطةُ الْأصْدقاءِ المُسْتَ لزمَةُ للعلْمِ بمسَامَحتهِمْ لمَا سَألَ فيه أصْدِقاؤهُمْ وَلوْ أغْنياءَ أهما من ب ينه وَبيْ المسؤول تلكَ المُباسَطةُ المُسْتَ لزمَةُ ل ذَلكَ من غيْرِ حَياءٍ قط عا فظَاهِرٌ أنههُ لَ يَحرمُ عليه السُّؤالُ حِينئذٍ وَقَ وْلُ ال هسائلِ وهَلْ المُرا دُ الغَ ينِ إلََْ جَوابهُ ذكَرته في شَرحِ الِْإرشَادِ\rb. Bagaimana status amal yang diberikan oleh masyarakat yang tidak mengetahui bahwa permintaan\rsumbangan tersebut tidak resmi?\rJawaban:\rStatus sumbangannya adalah sah selama niatnya adalah baik\rReferensi: …","part":1,"page":12},{"id":13,"text":"[النووي ,المجموع شرح المهذب, 15 /370]……تحفة المحتاج في شرح المنهاج )13/ 95(\r«الموسوعة الفقهية الكويتية »)39/ 39( ……أبي جمرة صحيفة 87\r?…تحفة المحتاج في شرِح المنهاج) 13/ 95(\rلوََوْ ن وى الهدافعُ الهزكَاةَ والْْخذُ غيْرهَا كَصَدَقةِ تطوعٍ أَوْ هَدِيهةٍ أوْ غيْرِهما فالعِبْرةُ بِقَصِْد الهدافِعِ ولَ يضرُّ صَرفُ الِْْخِذ لَهَا عنْ الهزكَاةِ إنْ كَانَ ِمنْ المُسْت ِحيِقيَ فإِنْ كَانَ الِْإمَامُ أوْ نَائبهُ ضَهر صرْفُ هُمَا عنْ هَا ولَمْ ت قَعْ زكََاة وَمِنْهُ مَا ي ؤخَذُ مِنْ المُكُوسِ وَالهرمَايَا والعشُورِ وغيْرهَا فلَا ي نْ فَعُ المَالكَ نيهةُ الهزكَا ةِ فيهَا وهَذَا هُوَ المُعْتمَدُ ا ه .\r?…أبي جمرة صحيفة 87\rيُ ؤْجَ ر الإنسان على صدقته مع حسن نيته وإن صادفت غير محلها. إه\r?…]النووي ,المجموع شرح المهذب, 15 /370 [","part":1,"page":13},{"id":14,"text":"والهبة والعطية والهدية والصدقة معانيها متقاربة وكلها تمليك في الحياة بغير عوض، واسم العطية شامل لجميعها، وكذلك الهبة والصدقة والهدية متغايران، فإهن النه هبِي صَلهى ا هللَُّ عَليْهِ وَسَلهمَ كَانَ يأكل الهدية ول يأكل الصدقة . وقال في اللحم الذى تصدق به على بريرة )هو عليها صدقة ولنا هدية( فالظاهر ان من أعطى شيئا يتقرب به إل الل تعال للمحتاج فهو صدقة. ومن دفع إل انسان شيئا بتقرب به إليه محبة له فهو هدية، وجميع ذلك مندوب إليه ومحثوث عليه لقوله صلى الل عليه وسلم )تهادوا تحابوا( وأما الصدقة فما ورد في فضلها اكثر من ان يمكننا حصره، وقد قال الل تعال )ان تبدوا الصدقات فنعما هي، وان تخفوها وتؤتوها الفقراء فهو خير لكم ويكفر عنكم سيئاتكم( إذا ثبت هذا فان المكيل والموزون ل تلزم فيه الصدقة والهبة ال بالقبض، وهو قول اكبر الفقهاء، منهم النخعي والثوري والحسن بن صالح وابو حنيفة والشافعي واحمد. وقال مالك وابو ثور: يلزم ذلك بمجرد العقد لعموم قوله عليه الصلاة والسلام )العائد في هبته كالعائد في قيئه( ولنه ازالة ملك بغير عوض فلزم بمجرد العقد كالوقوف والعتق\r?…«الموسوعة الفقهية الكويتية) »39/ 39( :\r«القيودُ الواردةُ عَلى المِلكِ: تردُ عَلى المِلْكِ قُ يودٌ ت تَ عَلهقُ إهما بِالأسْبابِ أوْ بِالِسْتعْمَال أوْ بِالِنتقَال، وكَذَلكَ القيودُ الهتِِ أعْطِيتْ لِوَِ يلِ الأمْرِ وَللْمُتَ عَاقدِ. أهول\r- القيودُ الواردةُ عَلى أسْبابِ المِلْكِ - تظهَرُ هَذهِ القيودُ مِنْ خِلَال كَوْنِ أسْبا بِ كَسْبِ الْمِلْكِ فِي ال هشريعَةِ مقَيهدَةٌ بِأنْ تكُونَ مَشْروعَة ، وَليسَتْ مطلقَة ، وَلذَلكَ فالوَسَائل المُحَهرمَةُ مِنْ سَرقةٍ، وَغصْبٍ، أوِ اسْتغلَالٍ، أوْ قمَارٍ، أوْ ر با، أوْ نَحْوِ ذ لِكَ ليسَتْ مِنْ أسْبابِ التهمَل كِ، حَيثُ قَطعتِ ال هشريعَةُ","part":1,"page":14},{"id":15,"text":"الطهريقَ بيَْ الأسْبابِ المُحَهرمَةِ وَالمِلكِ، وَمَنَ عتْ هَا مَنْ عا بَااتَ، وَطالبتِ المُؤْمِنيَ جَمِي عا أنْ تكُونَ أمْ وَالُهمْ حَلَال طييب ا، وَبذَلكَ وَردَتِ الْيَاتُ وَالأحَاديثُ الكَثير ةُ، مِنْ هَا قَ وُْلهُ تَ عَالَ: }لَ تََكُلوا أمْوالكُمْ ب يْ نكُمْ بِالباطِل إلَي أنْ تكُونَ تِِارة عنْ ت راضٍ مِنْكُمْ{ )1( . حَيثُ مَنعَ أكْل أمْوال النهاسِ إلَي عنْ طَريقِ اليرضَا والِإرادةِ »\rc. Bolehkah pihak lembaga pesantren mengambil hasil sumbangan tersebut?\rJawaban: Boleh, selama penyumbang menentukan sumbangan untuk lembaga pesantren.\r?…]حاشية الشرواني , 7/ 178 [\r)قوله: وحيث حرم الأخذ لم يملك إلَ( قضيته أنه لو أعطى غنيا يظنه فقيرا ولو علم غناه لم يعطه لم يملك ما أعطاه فما مر عن فتاوى شيخنا أنه حيث حرم السؤال ملك الْخذ ما أخذه ينبغي حمله على غير ذلك، وأن مظهر الفاقة يملك إل أن يكون المتصدق لو علم لم يعطه. اه. سم، وهو يفيد كما صرح به الشارح أن كل من أخذ وظن الدافع فيه صفة لولها لما دفع له، ولم تكن فيه لم يملك ما أخذه وحرم عليه قبوله، وأنه إذا أظهر صفة لم تكن فيه كالفقر، أو سأل على وجه أذل به نفسه حرم عليه الأخذ ولكن يملك ما أخذه إذا كان بحيث لو علم الدافع بحاله لم يمتنع من الدفع إليه. اه.\r?…حاشي ة البجيرمي عل ى المنهج الجزء 3 صحـ: 216 مكتبة دار الفكر العر بي\r)قوله وأفضلها الصدقة( نعم تحرم على من علم أنه يصرفها في معصية ق ل ولو قال خذ هذا واشتر لك به كذا تعي ما لم يرد التبسط أي أو تدل قرينة حاله عليه كما مر لأن القرينة محكمة عليه ومن ثم قالوا لو أعطى فقيرا درهما بنية أن يغسل به ثوبه أي وقد دلت قرينة على ما ذكر تعي اه ع ش","part":1,"page":15}],"titles":[{"id":1,"title":"BM Al Fitrah Surabaya_2025","lvl":1,"sub":0}]}