{"pages":[{"id":1,"text":"1103. HADITS \"YATAGHANNA BIL QUR'AN\"\rPERTANYAAN :\rMas Brow\rApa arti dari hadits \"laisa minna man la yatagonna\" and Gmana maksud nya.Mhon bantuan nya.\rJAWABAN :\rIsmael Kholilie\r(ما أذن الله لشيئ ما أذن لنبي يتغنى بالقرآن)\rو قوله يتغنى بالقرآن معناه عند الشافعي و أصحابه و أكثر العلماء من الطوائف و أصحاب الفنون يحسن صوته به و عند سفيان بن عيينة يستغني به قيل يستغني به عن الناس و قيل عن غيره من الكتب و الأحاديث قالالقاضي عياض القولان منقولان عن إبن عيينة قال يقال تغنيت و تغانيت بمعنى إستغنيت و قال الشافعي و موافقوه معناه تحزين القراءة و ترقيتها و استدلوا بالحديث الآخر زينوا القرآن بأصواتكم قال الهروي معنى يتغنى به يجهر به وأنكر أبو جعفر الطبري تفسير من قال يستغني به و خطأه من حيث اللغة و المعنى و الخلاف جار في الحديث الآخر ليس منا من لم يتغن بالقرآن و الصحيح أنه من تحسين الصوت ~ شرح مسلم 6/78\rUlama berbeda pendapat mengenai ma'na dari \"YATAGHANNA BIL QUR'AN\"\r(1). pendapat imam syafii dan mayoritas ulama : yataghanna bermakna mentahsin(membaguskan) bacaan al qur'an\r(2). pendapat sufyan ibn uyainah : ia bermakna merasa cukup dengan al qur'an(yastaghni bihi)dan tidak membutuhkan sesuatu lainnya\r(3). pendapat al harawi : ia bermakna mengeraskan bacaan al qur'an(yajharu bihi). [ ~syarh muslim 6/78 ].\r1111. PERINGATAN BAGI YANG BELAJAR HADITS DIGITAL","part":1,"page":1},{"id":2,"text":"Belajar hadits secara instan lewat sarana elektronik memang memudahkan. Zaman yang serba canggih, semua informasi mudah didapatkan dan dipelajari. Begitu juga tentang materi-materi agama, khusus untuk kajian agama –memang sangatlah diperlukan- ada satu perlakuan khusus dan adab dalam mempelajarinya terutama yang berkaitan dengan nash-nash sumber hukum Islam mutlak seperti ayat Al-quran dan al-hadits.\rDalam mempelajari hadits, ada ada beberapa syarat dan ketentuan mengingat satu kaidah syariat yang mungkin cukup ‘ekstrim’ bagi kebanyakan umat islam. Salah satu kaidahnya syar’iyyah-nya yang mau saya singgung yaitu:\rالحديث مضلة إلا للفقهاء\rAl-Hadits itu menyesatkan, kecuali bagi fuqaha/ulama’ (Imam Syufyan bin Uyainah, guru Imam As-Syafi’i). Maksud ‘menyesatkan’ disini adalah kurang memahami atau bahkan salah paham terhadap apa yang dimaksudkan oleh lisan Nabi Muhammad -salallahu alaihi wassalam. Karena dalam mendalami hadits, seseorang minimal sudah memahami ayat al-quran, ulumul hadits (mustolahat hadits), asbabul-wurud al-hadits, paham fiqh dasar, dan ada guru yang membimbing. Guru yang membimbing pun benar-benar orang yang bisa dipertanggungjawabkan keilmuannya haditsnya, berakhlak mulia, bertaqwa, wara’, dan benar-benar tsiqah (terpercaya).\rSudah menjadi ketetapan Allah ta’ala, bahwasanya ilmu agamanya akan dijaga oleh orang-orang yang diberi kepahaman agama yang lebih, maka tugas kita sebagai ‘santri’ selayaknya bertanya dan bertanya kepada orang yang lebih tahu, dalam hal ini para ulama’. Sebagaimana dalam al-quran, Allah menasehati kita:","part":1,"page":2},{"id":3,"text":"فاسألوا اهل الذكر إن كنتم لا تعلمون\r“Hendaklah kalian bertanya kepada orang yang mengetahui jika kalian tidak mengetahui” (QS. An-Nahl 16: 43). Ketika orang awam membaca suatu hadits -bahkan yang berderajat shahih sekali pun- dikarenakan ia tidak pernah belajar ‘syarah’ dan ulumul hadits dari guru yang bersanad, maka sangat dikhawatirkan ia akan dengan mudah menginstinbath hukum dari teks hadits sesuai pemikirannya sendiri. Hal inilah yang dikhawatirkan oleh para ulama, karena suatu hadits terkadang sudah ter-mansukh (terhapus dengan hadits yang lain yang menjadi nashikh-nya), atau hadits tersebut bersifat umum (‘am/general) yang perlu di-takhshis (dirinci) keterangannya lebih lanjut oleh hadits yang lain, atau bahkan terkadang secara dzahir haditsnya (leterlijk-nya) seolah-olah bertentangan dengan hadits yang lainnya, padahal tidak demikian; atau ditemukan hadits dho’if –karena ketidaktahuannya- sehingga ia serta-merta meninggalkannya, padahal hadits dhaif tersebut masih bisa diangkat derajatnya dengan beberapa syarat, atau hadits dhaif tersebut masih bisa dimanfaatkan sebagai fadha-il amal.\rAkibat tidak memiliki adab ini dalam mempelajari hadits, akhir-akhir ini muncul orang-orang akhir zaman yang suka menyalahkan pendapat ulama besar seperti pendapat para imam besar sekaliber Imam As-Syafi’i atau Imam Al-Ghazali, bahkan kitab hadits shahih para mualif kutubus-sittah, pun dikritik dan didho’ifkan. Golongan orang yang ‘bingung’ ini mudah membid’ahkan dan menyalahkan kaum muslimin yang berbeda pendapat dengannya. Naudzubillah minhum.","part":1,"page":3},{"id":4,"text":"Oleh karena itu, ana –sebagai santri- turut prihatin dan menyarankan agar para ‘pecinta hadits’ di dimanapun itu agar lebih konprehensif dalam mempelajari hadits. Usahakan dekat dengan ulama dalam memahami hadits, jangan gegabah dalam memutuskan suatu hal dalam syariat agama yang mulia ini. Intinya jangan hanya membaca hadits lewat sarana-sarana instans -seperti software, buku terjemahan, e-book dsb- tanpa bimbingan guru yang kompeten, serta usahakan tetap dalam adab ketika membuka file-file hadits. Saya tidak mengatakan bahwa semua sarana instan itu tidak bermanfaat sama sekali, tetapi setiap perkara yang instan ada dampak negatifnya jika tidak bijak dan hati-hati dalam memanfaatkannya. Wallahu a’lam.\r1144. MUSTHOLAHUL HADITS : ILMU HADITS DIRAYAH DAN RIWAYAH\rPERTANYAAN :\rAlvin Hadi\rEh, mau nanya Ilmu hadits. apa yang di maksud : 1.ilmu Dirayah ? 2.Ilmu Riwayah ?\rJAWABAN :\rYupiter Jet\rعلم الحديث دراية هو علم يعرف به حال الراوي والمروي من حيث القبول والرد\rIlmu hadits diroyah adalah ilmu yang membahas tentang kondite (keadaan) rowi dan materi yang diriwayatkan, yang dengannya dapat ditentukan validitas sebuah hadis.\rعلم الحديث رواية هو علم يشتمل على نقل ما اضيف الى النبي قولا او فعلا او تقريرا او صفة\rIlmu hadits riwayah adalah ilmu yang mempelajari proses pemindahan (pengambilan) segala sesuatu yang ada pada diri Nabi SAW yang mencakup ucapan, pekerjaan, ketetapan dan sifat. [ Alfawaa-idu almakkiyyah hal 6 ].\r1157. HADITS HIKMAH ZIARAH KUBUR\rPERTANYAAN :\rTopo Golek Wangsit\rMohon pencerahan tentang hadits ini poro kyai :\rإذا تحيرتم فى الأمور فاستعينوا من أهل القبور","part":1,"page":4},{"id":5,"text":"Monggo di bahas....\rJAWABAN :\rMasaji Antoro\rNyuwun dikoreksi\rوعن ابن مسعود رضي الله عنه أن رسول الله قال كنت نهيتكم عن زيارة القبور أي مطلقا فزوروا وفي نسخة فزوروها فإنها أي زيارة القبور أو القبور أي رؤيتها تزهد في الدنيا قال ذكر الموت هادم اللذات ومهون الكدورات ولذا قيل إذا تحير...تم في الأمور فاستعينوا بأهل القبور هذا أحد معنييه وتذكر الآخرة وتعين على الاستعداد لها رواه ابن ماجه\r“Dari Ibn mas’ud ra sesungguhnya rasulullah bersabda : Adalah aku (dulu) melarangmu berziarah kubur (secara mutlak), maka saat ini berziarahlah”. Manfaat ziarah/melihat pemakaman :\r• Agar zuhud di dunia\r• Selalu teringat kematian\r• Menghilangkan kesuntukan\r• Mengingat akhirat dan selalu mempersiapkan bekal menujunya\rKarenanya dikatakan “Bila kalian kebinghungan akan permasalahan-permasalahan kalian maka tolonglahlah (selesaikanlah) dengan berziarah pada orang-orang yang menghuni kuburan” (HR. Ibn Maajah)\r1167. PENJELASAN HADITS KHOLAQOLLOHU ADAMA 'ALAA SHUROTIHI\rPERTANYAAN :\rFahman Zidny\rASSALAAMU'ALAIKUM, kepada para pngasuh,Kyai,Gues ataupun poro Ustadz2 yang lainnya, sebelumnya Ana minta Maaf,karenaa Ana mau numpg NANYA mngenai penjelasan Hadits :\r\"خلق الله ءادم على صورته \"\rini. Atas kesedian poro Pengasuh Ana ucapkn JAZAAKUMULLOHU AHSANAL JAZAA.......!!!! Niki SERIuS,Ana butuh penjelasan dari poro PENgASUH......\rJAWABAN :\rMbah Jenggot II\rWa`alaikum salam.","part":1,"page":5},{"id":6,"text":"وقال النووي في شرحه لصحيح مسلم تعليقا على الحديث :\" هومن أحاديث الصفات وقد سبق في كتاب الإيمان بيان حكمها واضحا ومبسوطا ، وأن من العلماء من يمسك عن تأويلها ويقول : نؤمن بأنها حق أن ظاهرها غير مراد ولها معنى يليق بها ، وهذا مذهب جمهور السلف ، وهو أحوط وأسلم ، والثاني أنها تتأول على حسب ما يليق بتنزيه الله تعالى وأنه ليس كمثله شيء ..1) .\rوقال السيوطي في ( الديباج ) على شرح مسلم : \" خلق آدم على صورته هذا من أحاديث الصفات التي يؤمن بها ويمسك عن الخوض فيها أو تؤول بحسب ما يليق بتنزيه الله تعالى ، وأحسن ما قيل في تأويله إن الإضافة للتشريف كناقة الله وبيت الله أي الصورة التي اختارها لآدم \" (2) .\r======================\r(1) شرح النووي على صحيح مسلم ج16 ص 166 .\r(2) الديباج على صحيح مسلم ج5 ص 539 .\rFahman Zidny\rKalo penta'wilan yang sesuai dengan TANZIH ALLOH contohnya giman, Mbah??? Makasih dah dapat sdikit pencerahan... Lanjutkan lagi mbah. Oye mbah, HADITS-HADITS SIFAT itu penjelasannya gimana??? Afwan, ngrepoti.. Heheheheeeee\rMbah Jenggot II\rوالمراد بالصورة الصفة ، والمعنى إن الله خلقه على صفته من العلم والحياة والسمع والبصر وغير ذلك ، وإن كان صفات الله تعالى لا يشبهها شيء\r================\rثبت افتقاره إلى التأويل قلنا : اختلف الناس في تأويله ، فمنهم من أعاد الضمير إلى المضروب ... وقال آخرون إن الضمير عائد على آدم نفسه ... وقال آخرون : إن الضمير يعود إلى الله – سبحانه – ويكون له وجهان أحدهما : أن يراد بالصورة الصفة ... والوجه الثاني عند أصحاب هذا التأويل أن تكون إضافة الصورة إضافة تشريف واختصاص كما قيل في الكعبة بيت الله \" (1) .","part":1,"page":6},{"id":7,"text":"لكن القاضي عياض رجع واعترف إن الاحتمالات التي ذكرت هي خاصة برواية ( إذا قاتل أحدكم أخاه فليجتنب الوجه فإن الله خلق آدم على صورته ) وأما الخبر الآخر الذي ذكره البخاري ومسلم فقد قال عنه : \" وإنما يبقى الإشكال كله في الحديث الآخر الذي لم يذكر فيه هذا السبب مثل حديث البخاري في باب السلام ( إن الله خلق آدم على صورته قال اذهب فسلم على أولئك النفر من الملائكة\r======================================\r(1) إكمال المعلم ج8 ص 87 .\r1240. NIAT SEORANG MUKMIN LEBIH UTAMA KETIMBANG PERBUATANNYA\rPERTANYAAN :\rDin Jumpa Kekasih\rNIAT orang-orang mukmin jauh lebih baik dari pada perbuatannya sndiri. benarkah...jika ya apa sbbnya....jika tidak apa pula sbbnya..\rJAWABAN :\r> Tb Khan Banteny\rIya..Niat orang muslim lebih baik dari pada perbuatannya sebabny berniat tapi tak berbuat, telah mendapatkn satu poin kebaikan (pahala).Jika Tidak.. Niatnya di iringi dengan aplikasi perbuatanny shingga pndapatkan 2 poin kebaikan antara niat n prbuatan, it lebih baik dari pada cuma niatny sja..Kira2 bgtu.\r> Masaji Antoro\r“NIAT SEORANG MUKMIN LEBIH UTAMA KETIMBANG PERBUATANNYA” itu Karena berbagai pertimbangan :\r• Perbuatan seorang hamba terealisasikan sebab hati, lisan dan anggauta tubuhnya, niat yang terpenting dari ketiganya.\r• Pahala niat seseorang lebih banyak ketimbang pahala perbuatannya.\r• Niat dapat merubah perbuatan baik menjadi jelek dan sebaliknya.\r• Niat dapat melipatgandakan amal dalam tingkatan diluar batas kemampuan hamba.\r• Niat menjadi syarat keabsahan sebuah perbuatan.","part":1,"page":7},{"id":8,"text":"ووجه البيهقي كونه ثلث العلم، بأن كسب العبد يقع بقلبه ولسانه وجوارحه، فالنية أحد أقسامها الثلاثة وأرجحها، لأنها قد تكون عبادة مستقلة وغيرها يحتاج إليها، ومن ثم ورد: نية المؤمن خير من عمله\rAl-Baehaqy menyatakan bahwa niat adalah 1/3 dari ilmu dengan alasan bahwa perbuatan seorang hamba terealisasikan sebab hati, lisan dan anggauta tubuhnya, niat masuk dalam salah satu dari tiga hal tersebut (karena perbuatan hati) dan bahkan lebih penting dari lainnya karena niat terkadang menjadi ibadah yang mandiri sedang yang lain butuh (keabsahannya) olehnya karena terdapat ungkapan hadits “niat seorang mukmin lebih baik dari perbuatannya”.[ Fath al-Baari I/11 ].\rنية المؤمن خير من عمله أي إن أجره في نيته أكثر من أجر عمله لامتداد نيته بما لا يقدر على عمله انتهى\r“Niat seorang mukmin lebih baik dari perbuatannya” artinya pahala niat seseorang lebih banyak ketimbang pahala perbuatannya karena keberlangsungan dan terhitungnya pahala niat atas ibadah-ibadah yang tidak sanggup ia lakukan. [ Fath al-Baari IV/219 ].","part":1,"page":8},{"id":9,"text":"9295 - (نية المرء خير من عمله) لأن تخليد الله العبد في الجنة ليس بعمله وإنما هو لنيته لأنه لو كان بعمله كان خلوده فيها بقدر مدة عمله أو أضعافه لكنه جازاه بنيته لأنه لو كان ناويا أن يطيع الله أبدا فلما اخترمته منيته جوزي بنيته وكذا الكافر لأنه لو جوزي بعمله لم يستحق التخليد في النار إلا بقدر مدة كفره لأنه نوى الإقامة على كفره أبدا لو بقي فجوزي بنيته ، ذكره بعضهم....9296 - (نية المؤمن خير) وفي رواية بدله : أبلغ (من عمله) لما تقرر ولأن المؤمن في عمل ونيته عند فراغه لعمل ثان ولأن النية بانفرادها توصل إلى ما لا يوصله العمل بانفراده ولأنها هي التي تقلب العمل الصالح فاسدا والفاسد صالحا مثابا عليه ويثاب على العمل ويعاقب عليها أضعاف ما يعاقب عليه فكانت أبلغ وأنفع\r“Niat seorang mukmin lebih baik dari perbuatannya” Karena dilanggengkannnya seorang hamba oleh Allah dalam surga bukan atas dasar amal perbuatannya tapi akibat niatnya sebab bila memandang perbuatannya niscaya kelanggengannya diukur dengan kadar amal atau pelipat gandaan amal yang ia lakukan semasa hidupnya.Berarti balasan kelanggengannya akibat niatnya yang telah ia tekadkan untuk mengabdi pada Allah selama hidupnya.\rBegitu juga orang kafir bila pertimbangannya karena amalnya niscaya ia tidak akan langgeng dalam neraka, keberadaannya dineraka tentunya akan diukur sebatas kadar amal kufurnya semasa didunia namun karena ia telah memberanikan diri niat kufur selama hidupnya balasannya adalah kelanggengannya di neraka.","part":1,"page":9},{"id":10,"text":"“Niat seorang mukmin lebih baik dari perbuatannya” dalam riwayat lain lebih sempurna ketimbang perbuatannya sebab alasan-alasan diatas.Dan karena seorang mukmin saat telah rampung dalam sebuah perbuatan telah punya niat kembali pada amal berikutnya.Dan karena hanya dengan niat saja seseorang dapat menggapai sesuatu yang tidak didapatkan oleh sekedar perbuatan saja.Dan karena dialah yang bisa merubah perbuatan baik menjadi jelek dan sebaliknya, mengakabitkan terdapatkannya ganjaran atas sebuah perbuatan, melipatgandakannya dalam tingkatan diluar batas kemampuan perbuatan seorang hamba, karenanya niat seseorang lebih sempurna dan bermanfaat ketimbang amalnya. [ Faidh al-Qadiir VI/380 ].\rو عند ] النسائي من حديث أبي ذر : من أن فراشه و هو ينوي أن يقوم يصلي من الليل فغلبته عينه حتى يصبح كتب له ما نوى\r“Seseorang yang berada ditempat tidurnya sementara ia telah niat bangun dan shalat dimalam hari, namun kemudian ia terkalahkan oleh kantuknya hingga dipagi hari, maka tercatatlah apa yang telah ia niati” (HR. An-nasaa-i). [ Asybah wa an-Nadhooir I/38 ]. Wallaahu A'lamu Bis showaab\rLink Diskusi : www.fb.com/groups/piss.ktb/362577247098423/\r1336. DEFINISI \"MENCINTAI KARENA ALLAH\"\rPERTANYAAN :\rEkha Santama\rAssalamun'alaikum warohmatullah...... Maaf di mohon pencerahan'y mengenai Hadist ini : '' Barang siapa memberi,menolak,mencintai,membenci,dan menikah karena Allah,maka sempurnalah imannya.'' (HR Abu Daud). Sebelum dan sesudah saya ucapkan trimakasihmohon di maklum ane belum paham sanget Hadist ini ^__^..\rJAWABAN :\rMasaji Antoro\rWa'alaikumsalam Warohmatullah","part":1,"page":10},{"id":11,"text":"ومن حديث أبي أمامة ، عن النبي ( صلى الله عليه وسلم ) قال : \" من أحب لله وأبغض لله وأعطى لله ومنع لله فقد استكمل الإيمان \" ( 134 ) . وخرجه أحمد ، والترمذي من حديث معاذ بن أنس ، عن النبي ( صلى الله عليه وسلم ) وزاد أحمد في رواية \" وأنكح لله \" ( 135 ) .\rوآخر الحديث رواه أبو داود من حديث أبي أمامة مرفوعا من أحب لله وأعطى لله ومنع لله وأنكح لله فقد استكمل الإيمان ورواه الترمذي من حديث معاذ بن أنس مثله\rArti Hadits : Barangsiapa mencintai, membenci, memberi, menolak, dan menikah karena Allah, maka sempurnalah imannya. (HR. Abu Dawud).\r(من أحب لله) أي لأجله ولوجهه مخلصا لا لميل قلبه وهوى نفسه (وأبغض لله) لا لإيذاء من أبغضه له بل لكفره أو عصيانه (وأعطى لله) أي لثوابه ورضاه لا لميل نفسه (ومنع لله) أي لأمر لله كأن لم يصرف الزكاة لكافر لخسته وإلا لهاشمي لشرفه بل لمنع الله لهما منها واقتصار المصنف على هذا يؤذن بأن الحديث ليس إلا كذلك بل سقط هنا جملة وهي قوله ونكح لله ، هكذا حكاه هو عن أبي داود في مختصر الموضوعات (فقد استكمل الإيمان) بمعنى أكمله ، ذكره المظهر\r(Mencintai karena Allah) artinya cinta yang ada padanya semata-mata karena Allah tidak timbul dari dorongan hati dan hawa nafsunya.\r(Membenci karena Allah) arttinya perasaan benci pada sesuatu yang ada padanya akibat sesuatu tersebut memang dibenci oleh Alllah bukan karena sakit hati yang ia terima dari orang yang ia benci.\r(Memberi karena Allah) artinya memberi sesuatu pada lainnya dengan harapan dapat meraih ridho dan pahala dari Allah bukan karena kecondongan hatinya pada yang ia beri.","part":1,"page":11},{"id":12,"text":"(Menolak karena Allah) artinya penolakan yang ia lakukan atas dasar perintah Allah seperti saat ia tidak mau memberikan zakat pada orang non muslim karena tiada kemuliaan darinya atau pada keturunan bani Hasyim karena keagungan derajatnya. [ Faidh al-Qadiir VI/38 ]. Wallaahu A'lamu Bis showaab\rLink Diskusi > www.fb.com/groups/piss.ktb/376533925702755/\r1378. MAN AKROMAL 'ULAMA' FAQOD AKROMALLOOHA WA ROSUULAH\rPERTANYAAN :\rAl Muhdor Ganda\rAswrwb.Man zarol alimu faka an nama zaroniiy,wa man shofahal 'ulama' faka an nama shofaha lii. Waman akromal 'ulama' faka an nama akromaniiy. Pertanyaannya.\r1. Kalimat di atas apkah hadits atau atsar atau qoul ulama'!!?\r2. kalau kalimat salah mohon koreksi dan yang benar gmn...?\r3. apakah perintah wajib atau perintah sunnah...!? Syukron katsir. Afwan to all admin.\rJAWABAN :\r> Khodim Piss-ktb\r1. Kalimat di atas apkah hadits atau atsar atau qoul ulama'!!?\rJawab : Hadits, dan menurut sebagian ulama merupakan hadits palsu karena ada seorang perowi yang dianggap tukang pembohong\r2. kalau kalimat salah mohon koreksi dan yang benar gmn...?\rJawab : lafad yang di soal kurang pas, yang pas lihat teks hadits di atas\r3. Apakah perintah wajib atau perintah sunnah...!?","part":1,"page":12},{"id":13,"text":"Jawab : secara tekstual kita tidak boleh menggunakan hadits tersebut karena derajat sanadnya sangat lemah, namun senada dengan hadits ini, dalam alqur'an ada perintah \"fas-aluu ahladz dzikri in kuntum laa ta'lamuun....\" bertanyalah kalian pada ahli dzikir jika kalian tidak mengetahui, dimana mayoritas mufassir menafsirkan \"ahli dzikir\" dengan \"para 'ulama\", sehingga secara tidak langsung memerintahkan kita untuk sering menemui para 'ulama ketika ada masalah yang kita tidak tahu penyelesaiannya, menemui otomatis bertamu dan duduk bersama ( bagi orang bodoh hukum nya bisa wajib ).....senada dengan makna hadits tersebut...\r> Alif Jum'an Azend\rAda hadits di kitab lisanul mizan juz 3 hal 246 yang hampir sama : 4309 (3935)\rـ الضَّحَّاكُ بن حَمْزَةَ: عن سفيان بن عيينة. قال الدَّارقطني: كان يضع الحديث. وقال ابن عدي: هو أبو عبد الله المنبجي، كل رواياته مناكير، إما متناً وإما إسناداً. ومن مصائبه قال: حدثنا الفِرْيَابيّ، حدثنا الثوري، عن ابن المنكدر، عن جابر رضي الله عنه مرفوعاً: «من أكرم العُلَمَاءَ فقد أكرم الله ورسولَهُ» انتهى. وقال ابن حبّان: يروي عن ابن عيينة، وأهل بلده العجائب، لا يجوز الاحتجاج به،ولا الرواية عنه، إلاَّ للمعرفة فقط\rLihat MAN AKROMAL 'ULAMA' FAQOD AKROMALLOOHA WA ROSUULAH....barang siapa memuliakan ulama', maka sungguh telah memuliakan Alloh dan Rosul-Nya. HADITS SENADA ADA DI KITAB TARIKH JURJAN JUZ 1 HAL 197 :\rالحسين بن محمد بن بكر أبو علي الرازي","part":1,"page":13},{"id":14,"text":"284 ــ أبو علي الحسين ابن محمد ابن بكر الرازي، حدث بجرجان، وجدت بخط محمد ابن عبد الوهاب الجرجاني الوراق: أن أبا علي الحسين ابن محمد الرازي حدثهم، حدثنا محمد ابن عبد الله أبو عبد الله، حدثنا محمد ابن تميم، حدثنا حفص ابن عمر المدني، عن الحكم ابن أبان العدني، عن أبيه، عن عكرمة مولى ابن عباس، عن ابن عباس قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من زار العلماء فكأنما زارني ، ومن صافح العلماء فكأنما صافحني، ومن جالس العلماء فكأنما جالسني، ومن جالسني في الدنيا أجلسه ربه في الجنة. حدثنا أبو الحسن ابن أبي عمران الوكيل، حدثنا الحسين ابن محمد ابن بكر الرازي، حدثنا أبو معين الحسين ابن الحسن الرازي، حدثنا موسى ابن إسماعيل، حدثنا حماد ابن نجيح، حدثنا الحسن، حدثني عبد الرحمن ابن سمرة قال: قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم لا تسأل الإمارة.\rDALAM KITAB KASYFUL KHOFA' :\r2494- من زار العلماء فكأنما زارني ومن صافح العلماء فكأنما صافحني ومن جالس العلماء فكأنما جالسني ومن جالسني في الدنيا أجلس إلي يوم القيامة. قال في الذيل في إسناده حفص كذاب.\rJUGA DALAM KITAB TANZIH SYARI'AH AL-MARFUU'AH JUZ 1 HAL 271 :\r(58) ((حديث إن لله عز وجل مدينة تحت العرش من مسك أذفر على بابها ملك ينادى كل يوم ألا من زار العلماء فقد زار الأنبياء ومن زار الأنبياء فقد زار الرب عز وجل ومن زار الرب فله الجنة)) (مى) من حديث أنس وفيه إبراهيم بن سليمان البلخى يسرق الحديث (قلت) إنما اتهمه ابن عدى بالسرقة فى حديث واحد أورده له عن الثورى ثم قال وسائر أحاديثه غير منكرة وقال الحاكم محله الصدق وقال الخليلى فى الإرشاد صدوق نعم الراوى عنه عمران بن سهل لم أقف له على ترجمة فلعل البلاء منه والله أعلم .\r1420. PRILAKU NABI SEBELUM JADI RASUL APAKAH DISEBUT SUNNAH\rPERTANYAAN :\rDidin Banjarmasin","part":1,"page":14},{"id":15,"text":"Apakah tingkah laku Rasulullah, sebelum diangkat menjadi Rasul itu merupakan sunnah ? Ambil contoh, khalwat berhari-hari untuk ibadah.....\rJAWABAN :\r> Kang As'ad\rDalam kitab Syarh al-Mu'tamad fi Ushulil Fiqhi hlm 38, saya menemukan nadzom ini:\rوأربَعٌ لم تُعتَبرْ في السُّنَّةْ ... ما كانَ قبلَ بعثةٍ ومِنَّة والثانِ ما أتى على الجِبِلَّة ... وما استَقى كطِبِّه في العِلَّة رابعُها ما خصَّهُ بالذَّاتِ ... من حالِهِ كعدِدِ الزَّوْجاتِ\rTerjemah ala kadarnya adalah…..(kalau ada yang salah tolong dikoreksi). Empat hal yang tidak dianggap sebgai sunnah :\r1.…Apa yang dilakukan Nabi sebelum di utus dan sebelum mendapat anugrah (mungkin maksudnya adalah nubuwwah)\r2.…Yang kedua adalah apa yang merupakan tabiat/perangai (Nabi),\r3.…(Yang ketiga) apa yang dipakai nabi sebagai obat sperti pengobantannya dalam mengatasi penyakit.\r4.…Yang keempat, apa yang dikhususkan bagi nabi dzatnya dari keadaan nabi seperti berbilangnya istri-istri nabi.\rini syarah dari nadzom tersebut:\rذكر الناظم أربعةَ مسائل لا يعدُّها الأصوليون من السنة :\rالأولى : ما كان قبل بعثة النبي ( لأنه لا تشريع فيه\rالثانية : أفعال النبي ( الجبلية التي لم يقم دليل على اعتبار مشروعيتها لكن قالوا : نعم يثاب من قلده ( في ذلك لحبه وإخلاصه\rالثالثة : ما صدر عن رسول الله ( بمقتضى ما حصله من الخبرة البشرية في حياته الخاصة\rالرابعة : مسائل مخصوصة به ( قام الدليل على أنه لا يجوز التأسِّي بها كالزواج بأكثر من أربع والوصال في الصيام","part":1,"page":15},{"id":16,"text":"Tapi sebenarnya apa yang ditanyakan oleh ustadz Didin, bisa dimasukkan dalam permasalahn salah satu adillah asy-Syar'iyyah yang memang tidak ada kata sepkat dari para ulama (sebagian syafi'iyyah mengakui dan sebagian lagi tidak), yaitu Syar'u man Qoblana.\r> Didin Banjarmasin\rJika, khalwat itu tak bisa dikatakan sunnah dari segi bahwa Nabi melakukannya sebelum bi'tsah, maka apakah khalwat bisa dikatakan sunnah dari istinbaath dalil yang lain? Qiyaas, misalnya..\r> Kang As'ad\rTentang dengan syariat Nabi siapa Nabi Muhammad sebelum bi'tsah beribadah, dalam kitab al-Bahr al-Muhith juz 4 hlm 346-347 karya syaikh Abdullah az-Zarkasyi asy-SYafi’I disampaikan banyak pendapat ulama mengenai masalah ini, sebagian ulama menyatakan Nabi Muhammad sebelum bi'tsah beribadah dengan syariat Nabi adam, ada yang menyatkan dengan syariat Nabi Nuh, ada yang mengatkan Nabi Ibrahim, ada yang mengatakan Nabi Isa. Tetapi imam an-Nawawi menyatakan, bahwasanya Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam sebelum bi’tsah beribadah dengan memakai sebuah syariat, tetapi tidak terikat atau selalu menetapi salah satu syariat dari nabi-nabi yang telah disebutkan tadi. Redaksi dalam kitab al-Bahr al-Muhith tersebut adalah:","part":1,"page":16},{"id":17,"text":"شَرْعُ من قَبْلَنَا وَيَشْتَمِلُ على مَسْأَلَتَيْنِ إحْدَاهُمَا فِيمَا كان النبي صلى اللَّهُ عليه وسلم مُتَعَبِّدًا بِهِ قبل الْبَعْثَةِ وقد اخْتَلَفُوا في ذلك على مَذَاهِبَ أَحَدُهَاأَنَّهُ كان مُتَعَبِّدًا بِشَرْعٍ قَطْعًا ثُمَّ اخْتَلَفُوا فَقِيلَ كان على شَرِيعَةِ آدَمَ عليه السَّلَامُ لِأَنَّهُ أَوَّلُ الشَّرَائِعِ وَقِيلَ نُوحٌ لِقَوْلِهِ تَعَالَى شَرَعَ لَكُمْ من الدِّينِ ما وَصَّى بِهِ نُوحًا قِيلَ إبْرَاهِيمُ لِقَوْلِهِ تَعَالَى إنَّ أَوْلَى الناس بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ وَحَكَاهُ الرَّافِعِيُّ في كِتَابِ السِّيَرِ عن صَاحِبِ الْبَيَانِ وَأَقَرَّهُ وقال الْوَاحِدِيُّ إنَّهُ الصَّحِيحُ قال ابن الْقُشَيْرِيّ في الْمُرْشِدِ وَعُزِّيَ لِلشَّافِعِيِّ وقال الْأُسْتَاذُ أبو مَنْصُورٍ وَبِهِ نَقُولُ وَحَكَاهُ صَاحِبُ الْمَصَادِرِ عن أَكْثَرِ أَصْحَابِ أبي حَنِيفَةَ وَإِلَيْهِ أَشَارَ أبو عَلِيٍّ الْجُبَّائِيُّ وَقِيلَ على شَرِيعَةِ مُوسَى وَقِيلَ عِيسَى لِأَنَّهُ أَقْرَبُ الْأَنْبِيَاءِ إلَيْهِ وَلِأَنَّهُ النَّاسِخُالْمُتَأَخِّرُ وَبِهِ جَزَمَ الْأُسْتَاذُ أبو إِسْحَاقَ الْإسْفَرايِينِيّ فِيمَا حَكَاهُ الْوَاحِدِيُّ عنه لَكِنْ قال ابن الْقُشَيْرِيّ في الْمُرْشِدِ مَيْلُ الْأُسْتَاذِ أبي إِسْحَاقَ إلَى أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا صلى اللَّهُ عليه وسلم كان على شَرْعٍ من الشَّرَائِعِ وَلَا يُقَالُ كان من أُمَّةِ ذَاكَ النبي كما يُقَالُ كان على شَرْعِهِ انْتَهَى وَقِيلَ كان مُتَعَبِّدًا بِشَرِيعَةِ كل من كان قَبْلَهُ إلَّا ما نُسِخَ وَانْدَرَسَ حَكَاهُ صَاحِبُ الْمُلَخَّصِ وَقِيلَ يَتَعَبَّدُ لَا مُلْتَزِمًا دِينًا وَاحِدًا من الْمَذْكُورِينَ حَكَاهُ النَّوَوِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى في زَوَائِدِ الرَّوْضَةِ وَقِيلَ كان مُتَعَبِّدًا بِشَرْعٍ وَلَكِنَّا لَا","part":1,"page":17},{"id":18,"text":"نَدْرِي بِشَرْعِ من تَعَبَّدَ حَكَاهُ ابن الْقُشَيْرِيّ وَالْمَذْهَبُ الثَّانِي أَنَّهُ لم يَكُنْ قبل الْبَعْثَةِ مُتَعَبِّدًا بِشَيْءٍ منها قَطْعًا وَحَكَاهُ في الْمَنْخُولِ عن إجْمَاعِ الْمُعْتَزِلَةِ وقال الْقَاضِي في مُخْتَصَرِ التَّقْرِيبِ وابن الْقُشَيْرِيّ هو الذي صَارَ إلَيْهِ جَمَاهِيرُ الْمُتَكَلِّمِينَ ثُمَّ اخْتَلَفُوا فقالت الْمُعْتَزِلَةُ بِإِحَالَةِ ذلك عَقْلًا إذْ لو تَعَبَّدَ بِاتِّبَاعِ أَحَدٍ لَكَانَ عَصَى من مَبْعَثِهِ بَلْ كان على شَرِيعَةِ الْعَقْلِ قال ابن الْقُشَيْرِيّ وَهَذَا بَاطِلٌ إذْ ليس لِلْعَقْلِ شَرِيعَةٌ وَذَهَبَتْ عُصْبَةُ أَهْلِ الْحَقِّ إلَى أَنَّهُ لم يَقَعْ وَلَكِنَّهُ مُمْتَنِعٌ عَقْلًا قال الْقَاضِي وَهَذَا نَرْتَضِيهِ وَنَنْصُرُهُ لِأَنَّهُ لو كان على دَيْنٍ لَنُقِلَ وَلَذَكَرَهُ عليه السَّلَامُ إذْ لَا يُظَنُّ بِهِ الْكِتْمَانُ وَعَارَضَ ذلك إمَامُ الْحَرَمَيْنِ وقال لو لم يَكُنْ على دِينٍ أَصْلًا لَنُقِلَ فإن ذلك أَبْعَدُ عن الْمُعْتَادِ مِمَّا ذَكَرَهُ الْقَاضِي قال فَقَدْ تَعَارَضَ الْأَمْرَانِ وَالْوَجْهُ أَنْ يُقَالَ كانت الْعَادَةُ انْخَرَقَتْ في أُمُورِ الرَّسُولِ عليه الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ منها انْصِرَافُ هَمِّ الناس عن أَمْرِ دِينِهِ وَالْبَحْثِ عنه وَالْمَذْهَبُ الثَّالِثُ التَّوَقُّفُ وَبِهِ قال إمَامُ الْحَرَمَيْنِ وابن الْقُشَيْرِيِّ وَإِلْكِيَا وَالْآمِدِيُّ وَالشَّرِيفُ الْمُرْتَضَى في الذَّرِيعَةِ وَاخْتَارَهُ النَّوَوِيُّ في الرَّوْضَةِ إذْ ليس فيه دَلَالَةُ عَقْلٍ وَلَا ثَبَتَ فيه نَصٌّ وَلَا إجْمَاعٌ وقال ابن الْقُشَيْرِيّ في الْمُرْشِدِ كُلُّ هذه أَقْوَالٌ مُتَعَارِضَةٌ وَلَيْسَ فيها دَلَالَةٌ قَاطِعَةٌ وَالْعَقْلُ يُجَوِّزُ ذلك لَكِنْ أَيْنَ السَّمْعُ فيه ثُمَّ الْوَاقِفِيَّةُ انْقَسَمُوا فَقِيلَ نَعْلَمُ","part":1,"page":18},{"id":19,"text":"أَنَّهُ كان مُتَعَبَّدًا وَنَتَوَقَّفُ في عَيْنِ ما كان مُتَعَبِّدًا بِهِ وَمِنْهُمْ من تَوَقَّفَ في الْأَصْلِ فَجَوَّزَ أَنْ يَكُونَ وَأَلَّا يَكُونَ تَنْبِيهَاتٌ الْأَوَّلُ الْخِلَافُ في الْفُرُوعِ أَمَّا في الْأُصُولِ فَدِينُ الْأَنْبِيَاءِ كلهم وَاحِدٌ على التَّوْحِيدِ وَمَعْرِفَةِ اللَّهِ وَصِفَاتِهِ\r[ al-Bahr al-Muhith juz 4 hlm 346-347 ].\rLink Diskusi > www.fb.com/groups/piss.ktb/387762577913223/\r1448. SEPULUH SAHABAT DIJAMIN MASUK SYURGA DAN DERAJAT HADITS NYA\rPERTANYAAN :\rSri Narusmadi\rAssalamu alaikum. Banyak orang meragukan keshahihan hadits yang menyatakan pemberitahuan 10 sahabat nabi akan dimasukkan kesurga. Diberitahukan ketika para sahabat masih hidup . Karena hadis ini dianggap tendensius ada unsur keduniawian .Mohon pencerahannya ?\rJAWABAN :\rMbah Jenggot\rSahabat Rasulullah SAW yang dijamin masuk surga berdasarkan hadits berikut: Tercatat dalam “ARRIYAADL ANNADLIIRAH FI MANAAQIBIL ASYRAH“ (Taman Indah Dalam Biografi SepuluhShahabat) dari sahabat Abu Dzar ra, bahwa Rasulullah masuk kerumah Aisyah ra dan bersabda:\r“Wahai Aisyah, inginkah engkau mendengar kabar gembira?”\rAisyah menjawab : “Tentu, ya Rasulullah.”\rLalu Nabi SAW bersabda, ”Ada sepuluh orang yang mendapat kabar gembira masuk surga, yaitu :\r1.…Ayahmu masuk surga dan kawannya adalah Ibrahim;\r2.…Umar masuk surga dan kawannya Nuh;\r3.…Utsman masuk surga dan kawannya adalah aku;\r4.…Ali masuk surga dan kawannya adalah Yahya bin Zakariya;\r5.…Thalhah masuk surga dan kawannya adalah Daud;\r6.…Azzubair masuk surga dan kawannya adalah Ismail;\r7.…Sa’ad masuk surga dan kawannya adalah Sulaiman;","part":1,"page":19},{"id":20,"text":"8.…Said bin Zaid masuk surga dan kawannya adalah Musa bin Imran;\r9.…Abdurrahman bin Auf masuk surga dan kawannya adalah Isa bin Maryam;\r10.…Abu Ubaidah ibnul Jarrah masuk surga dan kawannya adalah Idris Alaihissalam.”\rKisah singkat 10 Sahabat\ra. Abu Bakar bin Abi Qohafah (Assiddiq), adalah seorang Quraisy dari kabilah yang sama dengan Rasulullah, hanya berbeda keluarga. Bila Abu Bakar berasal dari keluarga Tamimi, maka Rasulullah berasal dari keluarga Hasyimi. Keutamaannya, Abu Bakar adalah seorang pedagang yang selalu menjaga kehormatan diri. Ia seorang yang kaya, pengaruhnya besar serta memiliki akhlaq yang mulia. Sebelum datangnya Islam, beliau adalah sahabat Rasulullah yang memiliki karakter yang mirip dengan Rasulullah. Belum pernah ada orang yang menyaksikan Abu Bakar minum arak atau pun menyembah berhala. Dia tidak pernah berdusta. Begitu banyak kemiripan antara beliau dengan Rasulullah sehingga tak heran kemudian beliau menjadi khalifah pertama setelah Rasulullah wafat. Rasulullah selalu mengutamakan Abu Bakar ketimbang para sahabatnya yang lain sehingga tampak menojol di tengah tengah orang lain.","part":1,"page":20},{"id":21,"text":"“Jika ditimbang keimanan Abu Bakar dengan keimanan seluruh ummat niscaya akan lebih berat keimanan Abu Bakar. ”(HR. Al Baihaqi) Al Qur’an pun banyak mengisyaratkan sikap dan tindakannya seperti yang dikatakan dalam firmanNya, QS Al Lail 5-7, 17-21, Fushilat 30, At Taubah 40. Dalam masa yang singkat sebagai Khalifah, Abu Bakar telah banyak memperbarui kehidupan kaum muslimin, memerangi nabi palsu, dan kaum muslimin yang tidak mau membayar zakat. Pada masa pemerintahannya pula lah penulisan AlQur’an dalam lembaran-lembaran dimulai.\rb. Umar Ibnul Khattab, ia berasal dari kabilah yang sama dengan Rasulullah SAW dan masih satu kakek yakni Ka’ab bin Luai. Umar masuk Islam setelah bertemu dengan adiknya Fatimah daan suami adiknya Said bin Zaid pada tahun keenam kenabian dan sebelum Umar telah ada 39 orang lelaki dan 26 wanita yang masuk Islam. Di kaumnya Umar dikenal sebagai seorang yang pandai berdiskusi, berdialog, memecahkan permasalahan serta bertempramen kasar. Setelah Umar masuk Islam, da’wah kemudian dilakukan secara terang-terangan, begitupun di saat hijrah, Umar adalah segelintir orang yang berhijrah dengan terang-terangan. Ia sengaja berangkat pada siang hari dan melewati gerombolan Quraisy. Ketika melewati mereka, Umar berkata, ”Aku akan meninggalkan Mekah dan menuju Madinah. Siapa yang ingin menjadikan ibunya kehilangan putranya atau ingin anaknya menjadi yatim, silakan menghadang aku di","part":1,"page":21},{"id":22,"text":"belakang lembah ini!” Mendengar perkataan Umar tak seorangpun yang berani membuntuti apalagi mencegah Umar. Banyak pendapat Umar yang dibenarkan oleh Allah dengan menurunkan firmanNya seperti saat peristiwa kematian Abdullah bin Ubay (QS 9:84), ataupun saat penentuan perlakuan terhadap tawanan saat perang Badar, pendapat Umar dibenarkan Allah dengan turunnya ayat 67 surat Al Anfal.\rSebagai khalifah, Umar adalah seorang yang sangat memperhatikan kesejahteraan ummatnya, sampai setiap malam ia berkeliling khawatir masih ada yang belum terpenuhi kebutuhannya, serta kekuasaan Islam pun semakin meluas keluar jazirah Arab.\rc. Utsman bin Affan. Sebuah Hadits yang menggambarkan pribadi Utsman : “Orang yang paling kasih sayang diantara ummatku adalah Abu Bakar, dan paling teguh dalam menjaga ajaran Allah adalah Umar, dan yang paling bersifat pemalu adalah Utsman. (HR Ahmad, Ibnu Majah, Al Hakim, At Tirmidzi) Utsman adalah seorang yang sangat dermawan, dalam sebuah persiapan pasukan pernah Utsman yang membiayainya seorang diri. Setelah kaum muslimin hijrah, saat kesulitan air, Utsmanlah yang membeli sumur dari seorang Yahudi untuk kepentingan kaum muslimin. Pada masa kepemimpinannya Utsman merintis penulisan Al Qur’an dalam bentuk mushaf, dari lembaran-lembaran yang mulai ditulis pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar.","part":1,"page":22},{"id":23,"text":"d. Sahabat berikutnya adalah Ali bin Abi Thalib, pemuda pertama yang masuk Islam, ia yang menggantikan posisi Rasulullah di tempat tidurnya saat beliau hijrah, Ali yang dinikahkan oleh Rasulullah dengan putri kesayangannya Fatimah, Ali yang sangat sederhana kehidupannya.\re. Sahabat kelima yang oleh Rasulullah dijamin masuk surga adalah Thalhah bin Ubaidillah yang pada Uhud terkena lebih dari tujuh puluh tikaman atau panah serta jari tangannya putus. Namun Thalhah yang berperawakan kekar serta sangat kuat inilah yang melindungi Rasulullah disaat saat genting, beliau memapah Rasulullah yang tubuhnya telah berdarah menaiki bukit Uhud yang berada di ujung medan pertempuran saat kaum musyrikin pergi meninggalkan medan peperangan karena mengira Rasulullah telah wafat. Saat itu Thalhah berkata kepada Rasulullah, ”Aku tebus engkau ya Rasulullah dengan ayah dan ibuku.” Nabi tersenyum seraya berkata, ”Engkau adalah Thalhah kebajikan.” Sejak itu Beliau mendapat julukan Burung Elang hari Uhud. Rasulullah pernah berkata kepada para sahabatnya, ”Orang ini termasuk yang gugur dan barang siapa yang senang melihat seorang yang syahid berjalan di muka bumi maka lihatlah Thalhah.”","part":1,"page":23},{"id":24,"text":"f. Azzubair bin Awwam, sahabat yang berikutnya, adalah sahabat karib dari Thalhah. Beliau muslim pada usia lima belas tahun dan hjrah pada usia delapan belas tahun, dengan siksaan yang ia terima dari pamannya sendiri. Kepahlawanan Azzubair ibnul Awwam pertama terlihat dalam Badar saat ia berhadapan dengan Ubaidah bin Said Ibnul Ash. Azzubair ibnul Awwam berhasil menombak kedua matanya sehingga akhirnya ia tersungkur tak bergerak lagi, hal ini membuat pasukan Quraisy ketakutan. Rasulullah sangat mencintai Azzubair ibnul Awwam beliau pernah bersabda, ”Setiap nabi memiliki pengikut pendamping yang setia (hawari), dan hawariku adalah Azzubair ibnul Awwam.” Azzubair ibnul Awwam adalah suami Asma binti Abu Bakar yang mengantarkan makanan pada Rasul saat beliau hijrah bersama ayahnya. Pada masa pemerintahan Umar, saat panglima perang menghadapi tentara Romawi di Mesir Amr bin Ash meminta bala bantuan pada Amirul Mu’minin, Umar mengirimkan empat ribu prajurit yang dipimpin oleh empat orang komandan, dan ia menulis surat yang isinya, ”Aku mengirim empat ribu prajurit bala bantuan yang dipimpin empat orang sahabat terkemuka dan masing-masing bernilai seribu orang. Tahukah anda siapa empat orang komandan itu? Mereka adalah Ubadah ibnu Assamit, Almiqdaad ibnul Aswad, Maslamah bin Mukhalid, dan Azzubair bin Awwam.” Demikianlah dengan izin Allah, pasukan kaum muslimin berhasil meraih kemenangan.","part":1,"page":24},{"id":25,"text":"g. Adalah Abdurrahman bin Auf, yang disebutkan berikutnya, adalah seorang pedagang yang sukses, namun saat berhijrah ia meninggalkan semua harta yang telah ia usahakan sekian lama. Namun saat telah di Madinahpun beliau kembali menjadi seorang yang kaya raya, dan saat beliau meninggal, wasiat beliau adalah agar setiap peserta perang Badar yang masih hidup mendapat empat ratus dinar, sedang yang masih hidup saat itu sekitar seratus orang, termasuk Ali dan Utsman. Beliaupun berwasiat agar sebagian hartanya diberikan kepada ummahatul muslimin, sehingga Aisyah berdoa: “Semoga Allah memberi minum kepadanya air dari mata air Salsabil di surga.”\rh. Sahabat yang disebutkan berikutnya adalah Saad bin Abi Waqqash, orang pertama yang terkena panah fisabilillah, seorang yang keislamannya sangat dikecam oleh ibunya, namun tetap tabah, dan kukuh pada keislamannya.\ri. Said bin Zaid, adik ipar Umar, adalah orang yang dididik oleh seorang ayah yang beroleh bihayah Islam tanpa melalui kitab atau nabi mereka seperti halnya Salman Al Farisi, dan Abu Dzar Al Ghifari. Banyak orang yang lemah berkumpul di rumah mereka untuk memperoleh ketenteraman dan keamanan, serta penghilang rasa lapar, karena Said adalah seorang sahabat yang dermawan dan murah tangan.","part":1,"page":25},{"id":26,"text":"j. Nama terakhir yang meraih jaminan surga adalah Abu Ubaidah Ibnul Jarrah, yang akhirnya terpaksa membunuh ayahnya saat Badar, sehingga Allah menurunkan QS Al Mujadilah : 22. Begitupun dalam perang Uhud, Abu Ubaidahlah yang mencabut besi tajam yang menempel pada kedua rahang Rasulullah, dan dengan begitu beliau rela kehilangan giginya. Abu Ubaidah mendapat gelar dari Rasulullah sebagai pemegang amanat ummat, seperti dalam sabda beliau : “Tiap-tiap ummat ada orang pemegang amanat, dan pemegang amanat ummat ini adalah Abu Ubaidah Ibnul Jarrah.” [ http://warkopmbahlalar.com/sepuluh-sahabat-yang-dijamin-masuk-surga/ ].\rLink Asal : www.fb.com/groups/piss.ktb/390716870951127/\r1483. HADITS ANJURAN SUJUD SAHWI SAAT LUPA BACA DO'A QUNUT\rPERTANYAAN :\rUme Full\rAssalamu'alaikum ya akhi ya ukhti.. Afwan sebelumnya...Ketika kita meninggalkan atau lupa membaca do'a qunut didalam sholat,kita disunahkan SUJUD SAHWI. Yang ingin saya tanyakan :\"Adakah dalil atau hadist yang menganjurkan kita untuk melakukan sujud sahwi ketika meninggalkan atau lupa membaca do'a qunut?\"bagi yang punya kefahaman, tolong dibantu ya!!!makasih banyak sebelum'ya.\rJAWABAN :\rMasaji Antoro\rWa'alaikumsalam......","part":1,"page":26},{"id":27,"text":"( وَلَوْ ) ( سَهَا ) بِمَا يَقْتَضِي سُجُودَهُ ( وَشَكَّ ) أَيْ تَرَدَّدَ ( هَلْ سَجَدَ ) لِلسَّهْوِ أَوْ لَا أَوْ هَلْ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ أَوْ وَاحِدَةً ( فَلْيَسْجُدْ ) ثِنْتَيْنِ فِي الْأُولَى وَوَاحِدَةً فِي الثَّانِيَةِ ؛ لِأَنَّ الْأَصْلَ عَدَمُ سُجُودِهِ ، وَجَرْيًا عَلَى الْقَاعِدَةِ الْمَشْهُورَةِ أَنَّ الْمَشْكُوكَ فِيهِ كَالْمَعْدُومِ ( وَلَوْ شَكَّ ) أَيْ تَرَدَّدَ فِي رُبَاعِيَّةٍ ( أَصَلَّى ثَلَاثًا أَمْ أَرْبَعًا ) ( أَتَى بِرَكْعَةٍ ).... ( وَسَجَدَ ) لِلسَّهْوِ لِخَبَرِ مُسْلِمٍ { إذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ فَلَمْ يَدْرِ أَصَلَّى ثَلَاثًا أَمْ أَرْبَعًا فَلْيَطْرَحْ الشَّكَّ وَلْيَبْنِ عَلَى مَا اسْتَيْقَنَ ، ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ ، فَإِنْ كَانَ صَلَّى خَمْسًا شَفَعْنَ لَهُ صَلَاتَهُ ، وَإِنْ كَانَ صَلَّى إتْمَامًا لِأَرْبَعٍ كَانَتَا تَرْغِيمًا لِلشَّيْطَانِ } .وَمَعْنَى شَفَعْنَ لَهُ صَلَاتَهُ رَدَّتْهَا السَّجْدَتَيْنِ مَعَ الْجُلُوسِ بَيْنَهُمَا لِأَرْبَعٍ لِجَبْرِهِمَا\rApabila orang yang menjalankan shalat lupa dengan perbuatan sujudnya dalam shalat, atau ragu-ragu apakah ia telah menjalani sujud sahwi atau belum, atau telah menjalani sujud dua kali atau sekali, maka sujudlah dua kali dalam kasus yang pertama, dan sekali pada kasus yang kedua karena kaidah asalnya sesungguhnya ia belumlah menjalani sujud dan sesuai dengan kaidah yang telah mashur bahwa “Hal yang diragukan seperti tidak ada”.","part":1,"page":27},{"id":28,"text":"Dan bila ia ragu-ragu akan hitungan rakaat shalatnya yang empat rakaat, apakah ia telah menjalankan rakaat ke tiga atau keempat maka kerjakanlah satu rakaat lagi dan bersujudlah dengan sujud sahwi berdasarkan hadits riwayat Muslim :“Apabila salah seorang di antara kalian ragu di dalam sholatnya sehingga ia tak tahu lagi apakah ia sudah melakukan shalat sebanyak tiga raka’at atau empat raka’at, hendaklah dibuangnya keraguan itu dan mengambil yang ia yakini, kemudian hendaknya ia sujud sebanyak dua kali sebelum melakukan salam. Sekiranya ia telah melakukan shalat 5 Raka’at, berarti shalatnya telah digenapkan dengan Sujud sahwinya itu. Dan sekiranya ia shalat tepat empat raka’at, dua sujud itu menghinakan bagi setan.” (HR. Muslim). [ Hasyiyah as-Syibro Malisy IV/15 ].\r( وَلَوْ شَكَّ ) أَيْ تَرَدَّدَ ( أَصَلَّى ثَلَاثًا أَمْ أَرْبَعًا أَتَى بِرَكْعَةٍ ) لِأَنَّ الْأَصْلَ عَدَمُ فِعْلِهَا ( وَسَجَدَ ) لِلتَّرَدُّدِ فِي زِيَادَتِهَا ، وَلَا يَرْجِعُ فِي فِعْلِهَا إلَى ظَنِّهِ وَلَا إلَى قَوْلِ غَيْرِهِ وَإِنْ كَانَ جَمْعًا كَثِيرًا ، وَالْأَصْلُ فِي ذَلِكَ حَدِيثُ مُسْلِمٍ { إذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ فَلَمْ يَدْرِ أَصَلَّى ثَلَاثًا أَمْ أَرْبَعًا فَلْيَطْرَحْ الشَّكَّ وَلِيَبْنِ عَلَى مَا اسْتَيْقَنَ ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ فَإِنْ كَانَ صَلَّى خَمْسًا شَفَعْنَ لَهُ صَلَاتَهُ } أَيْ رَدَّتْهَا السَّجْدَتَانِ إلَى الْأَرْبَعِ","part":1,"page":28},{"id":29,"text":"Dan bila ia ragu-ragu akan hitungan rakaat shalatnya yang empat rakaat, apakah ia telah menjalankan rakaat ke tiga atau keempat maka kerjakanlah satu rakaat lagi dan bersujudlah dengan sujud sahwi berdasarkan hadits riwayat Muslim :“Apabila salah seorang di antara kalian ragu di dalam sholatnya sehingga ia tak tahu lagi apakah ia sudah melakukan shalat sebanyak tiga raka’at atau empat raka’at, hendaklah dibuangnya keraguan itu dan mengambil yang ia yakini, kemudian hendaknya ia sujud sebanyak dua kali sebelum melakukan salam. Sekiranya ia telah melakukan shalat 5 Raka’at, berarti shalatnya telah digenapkan dengan Sujud sahwinya itu. Dan sekiranya ia shalat tepat empat raka’at, dua sujud itu menghinakan bagi setan.” (HR. Muslim). [ Hasyiyah al-Qolyubi III/78 ].\rNB : Sujud sahwi menurut kalangan Hanafiyyah dan pendapat terkuat dikalangan Hanabilah dihukumi wajib sedang menurut Kalangan Syafi’iyyah, Malikiyyah dan sebagian pendapat dikalangan Hanabilah dihukumi sunat berdasarkan hadits diatas.\rأولاً ـ حكم سجود السهو:","part":1,"page":29},{"id":30,"text":"أولاً ـ حكم سجود السهو:لا مرية في مشروعية سجود السهو، قال الإمام أحمد: نحفظ عن النبي صلّى الله عليه وسلم خمسة أشياء: سلم من اثنتين فسجد، سلم من ثلاث فسجد، وفي الزيادة، والنقصان، وقام من اثنتين ولم يتشهد. وقال الخطابي: المعتمد عليه عند أهل العلم: هذه الأحاديث الخمسة: يعني أحاديث ابن مسعود، وأبي سعيد، وأبي هريرة، وابن بُحينة ، وعمران بن حصين.أما حديث أبي سعيد الخدري فهو كما قال: قال رسول الله صلّى الله عليه وسلم : «إذا شك أحدكم في صلاته، فلم يدر كم صلى ثلاثاً، أم أربعاً، فلْيطْرح الشك، وليَبْن على ما استيقن، ثم يسجد سجدتين قبل أن يُسلِّم، فإن كان صلى خمساً شفَعْن له صلاته، وإن كان صلى إتماماً لأربع كانتا ترغيماً للشيطان» (1) .\r__________\rرواه أحمد ومسلم (نيل الأوطار:116/3). قال ابن المنذر: حديث أبي سعيد أصح حديث في الباب.\r[ Al-Fiqh al-Islaam II/264 ].","part":1,"page":30},{"id":31,"text":"الحكم التكليفي : 2 - ذهب الحنفية والحنابلة في المعتمد عندهم إلى وجوب سجود السهو .قال الحنابلة : سجود السهو لما يبطل عمده الصلاة واجب ، ودليلهم حديث عبد الله بن مسعود قال : صلى بنا رسول الله صلى الله عليه وسلم خمسا ، فلما انفتل توشوش القوم بينهم فقال : ما شأنكم ؟ قالوا : يا رسول الله هل زيد في الصلاة ؟ قال : لا ، قالوا : فإنك قدصليت خمسا ، فانفتل ثم سجد سجدتين ثم سلم ، ثم قال : إنما أنا بشر مثلكم ، أنسى كما تنسون ، فإذا نسي أحدكم فليسجد سجدتين وفي رواية : فإذا زاد الرجل أو نقص فليسجد سجدتين (1) وحديث أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إذا شك أحدكم في صلاته فلم يدر كم صلى ، أثلاثا أم أربعا ؟ فليطرح الشك وليبن على ما استيقن ، ثم يسجد سجدتين قبل أن يسلم ، فإن كان صلى خمسا شفعن له صلاته ، وإن كان صلى إتماما لأربع كانتا ترغيما للشيطان . (2) وجه الدلالة في الحديثين أنهما اشتملا على الأمر المقتضي للوجوب .ومذهب المالكية : أن سجود السهو سنة سواء كان قبليا أم بعديا وهو المشهور من المذهب ، وقيل : بوجوب القبلي ، قال صاحب الشامل : وهو مقتضى المذهب .ومذهب الشافعية وهو رواية عند الحنابلة إلى أنه سنة (3) . لقوله صلى الله عليه وسلم : كانت الركعة نافلة والسجدتان (1) .\r__________\r(1) حديث : \" إنما أنا بشر مثلكم \" . أخرجه مسلم ( 1 / 402 - 403 - ط الحلبي )\r(2) حديث : \" إذا شك أحدكم في صلاته فلم يدر كم صلى \" . أخرجه مسلم ( 1 / 402 - ط الحلبي )\r(3) الفتاوى الهندية 1 / 125 ، حاشية الدسوقي 1 / 273 ، نهاية المحتاج 2 / 62 ، المغني 2 / 36 ، وكشاف القناع 1 / 408 .","part":1,"page":31},{"id":32,"text":"(1) حديث : \" كانت الركعة نافلة والسجدتان \" جزء من حديث طويل أخرجه أبو داود ( 1 / 621 - 622 - تحقيق عزت عبيد دعاس ) بلفظ \" إذا شك أحدكم في صلاته فليلق الشك وليبن على اليقين ، فإذا استيقن التمام سجد سجدتين ، فإن كانت صلاته تامة كانت الركعة نافلة والسجدتان ، وإن ك وأصله في مسلم كما تقدم .\r[ Al-Mausuu’ah al-Fiqhiyyah 24/233-234 ].\rWallaahu A'lamu Bis showaab.\rLink Asal : www.fb.com/groups/piss.ktb/398460730176741/\r1583. HADITS TANDUK SETAN : KONTROVERSI NAJD DAN IRAQ ?\rHadis tanduk setan menjadi polemik yang berkepanjangan diantara pengikut salafy dengan orang-orang yang kontrasalafy. Hadis ini seringkali dijadikan dasar bahwa salah satu yang dimaksud fitnah Najd adalah dakwah wahabi yang ngaku-ngaku salafy. Kami sendiri tidak berminat untuk membahas apakah benar wahabi adalah fitnah Najd yang dimaksud atau bukan?, bagi kami pembahasan seperti itu hanya spekulasi belaka, mungkin benar mungkin juga tidak. Fokus pembahasan kami disini adalah cara pembelaan salafy yang absurd. Pengikut salafy yang merasa tersinggung alias tidak terima menyatakan pembelaan bahwa Najd yang dimaksud bukan Najd tempat lahirnya wahabi melainkan Iraq. Betapa anehnya sejak kapan Najd menjadi Iraq? Sejak munculnya orang-orang yang mengaku salafy. Berikut pembahasan yang menunjukkan kekeliruan salafy.\rعن عبيدالله بن عمر حدثني نافع عن ابن عمرأن رسول الله صلى الله عليه و سلم قام عند باب حفصة فقال بيده نحو المشرق الفتنة ههنا من حيث يطلع قرن الشيطان قالها مرتين أو ثلاثا","part":1,"page":32},{"id":33,"text":"Dari Ubaidillah bin Umar yang berkata telah menceritakan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri di pintu rumah Hafshah dan berkata dengan mengisyaratkan tangannya kearah timur “fitnah akan datang dari sini dari arah munculnya tanduk setan” beliau mengatakannya dua atau tiga kali. [Shahih Muslim 4/2228 no 2905].\rNafi’ memiliki mutaba’ah yaitu dari Salim bin ‘Abdullah bin Umar sebagaimana yang disebutkan dalam Shahih Muslim melalui periwayatan Az Zuhri, Ikrimah bin Ammar dan Hanzalah dengan lafaz “timur”. Arah timur yang dimaksud adalah Najd sebagaimana yang disebutkan dalam hadis shahih.\rحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ الْحَسَنِ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ عَوْنٍ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا قَالَ قَالُوا وَفِي نَجْدِنَا قَالَ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا قَالَ قَالُوا وَفِي نَجْدِنَا قَالَ قَالَ هُنَاكَ الزَّلَازِلُ وَالْفِتَنُ وَبِهَا يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ\rTelah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Husain bin Hasan yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Aun dari Nafi’ dari Ibnu Umar yang berkata [Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “Ya Allah berilah keberkatan kepada kami, pada Syam kami dan pada Yaman kami”. Para sahabat berkata “dan juga Najd kami?”. Beliau bersabda “disana muncul kegoncangan dan fitnah, dan disanalah akan muncul tanduk setan” [Shahih Bukhari 2/33 no 1037].","part":1,"page":33},{"id":34,"text":"Husain bin Hasan memiliki mutaba’ah yaitu Azhar bin Sa’d yang meriwayatkan dari Ibnu ‘Aun dari Nafi dari Ibnu Umar secara marfu’ juga dengan lafaz Najd [Shahih Bukhari 9/54 no 7094].\rحدثنا الحسن بن علي المعمري ثنا إسماعيل بن مسعود ثنا عبيد الله بن عبد الله بن عون عن أبيه عن نافع عن ابن عمر أن النبي صلى الله عليه وسلم قال اللهم بارك لنا في شامنا، اللهم بارك في يمننا، فقالها مراراً، فلما كان في الثالثة أو الرابعة، قالوا يا رسول الله! وفي عراقنا؟ قال إنّ بها الزلازل والفتن، وبها يطلع قرن الشيطان\rTelah menceritakan kepada kami Hasan bin Ali Al-Ma’mariy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ismaail bin Mas’ud yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah bin ‘Abdillah bin ‘Aun dari ayahnya, dari Naafi’ dari Ibnu ‘Umar bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Ya Allah, berikanlah keberkatan kepada kami pada Syaam kami dan pada Yamaan kami”. Beliau [shallallaahu ‘alaihi wa sallam ] mengatakannya beberapa kali. Ketika beliau mengatakan yang ketiga kali atau yang keempat, para shahabat berkata “Wahai Rasulullah, dan juga Iraq kami?”. Beliau bersabda “Sesungguhnya di sana terdapat kegoncangan dan fitnah, dan disanalah akan muncul tanduk setan” [Mu’jam Al Kabiir Ath Thabrani 12/384 no 13422].","part":1,"page":34},{"id":35,"text":"Hadis ini mengandung illat [cacat] Ubaidillah bin Abdullah bin ‘Aun dalam periwayatan dari Ibnu ‘Aun telah menyelisihi para perawi tsiqat yaitu Husain bin Hasan [At Taqrib 1/214] dan ‘Azhar bin Sa’d [At Taqrib 1/74]. Kedua perawi tsiqat ini menyebutkan lafaz Najd sedangkan Ubaidillah bin Abdullah bin ‘Aun menyebutkan lafaz Iraq. Ubaidillah bukan seorang yang tsiqat, Bukhari berkata “dikenal hadisnya” [Tarikh Al Kabir juz 5 no 1247], Abu Hatim berkata “shalih al hadits” [Al Jarh Wat Ta’dil 5/322 no 1531] dimana perkataan shalih al hadits dari Abu Hatim berarti hadisnya dapat dijadikan i’tibar tetapi tidak bisa dijadikan hujjah. Terdapat hadis lain yang dijadikan hujjah salafy untuk menetapkan bahwa yang dimaksud sebenarnya adalah Iraq.\rحدثنا علي بن سعيد قال نا حماد بن إسماعيل بن علية قال نا ابي قال نا زياد بن بيان قال نا سالم بن عبد الله بن عمر عن ابيه قال صلى النبي صلى الله عليه و سلم صلاة الفجر ثم انفتل فأقبل على القوم فقال اللهم بارك لنا في مدينتنا وبارك لنا في مدنا وصاعنا اللهم بارك لنا في شامنا ويمننا فقال رجل والعراق يا رسول الله فسكت ثم قال اللهم بارك لنا في مدينتنا وبارك لنا في مدنا وصاعنا اللهم بارك لنا في حرمنا وبارك لنا في شامنا ويمننا فقال رجل والعراق يا رسول الله قال من ثم يطلع قرن الشيطان وتهيج الفتن","part":1,"page":35},{"id":36,"text":"Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Sa’id yang berkata telah menceritkankepada kami Hammaad bin Ismaa’iil bin ‘Ulayyah yang berkata telah menceritakan kepada kami ayahku yang berkata telah mencertakan kepada kami Ziyaad bin Bayaan yangberkata telah menceritakan kepada kami Saalim bin ‘Abdillah bin ‘Umar dari ayahnya yang berkata Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat shubuh, kemudian berdoa, lalu menghadap kepada orang-orang.\rBeliau bersabda “Ya Allah berikanlah keberkatan kepada kami pada Madinah kami berikanlah keberkatan kepada kami pada mudd dan shaa’ kami. Ya Allah, berikanlah keberkatan kepada kami pada Syaam kami dan Yaman kami”. Seorang laki-laki berkata “dan ‘Iraq, wahai Rasulullah ?”. Beliau diam, lalu bersabda “Ya Allah berikanlah keberkatan kepada kami pada Madinah kami berikanlah keberkatan kepada kami pada mudd dan shaa’ kami. Ya Allah, berikanlah keberkatan kepada kami pada tanah Haram kami, dan berikanlah keberkatan kepada kami pada Syaam kami dan Yaman kami”. Seorang laki-laki berkata “dan ‘Iraq, wahai Rasulullah ?”. Beliau bersabda “dari sana akan muncul tanduk setan dan bermunculan fitnah” [Mu'jam Al Awsath Ath Thabraani 4/245 no 4098].","part":1,"page":36},{"id":37,"text":"Hadis ini juga mengandung illat [cacat]. Ziyaad bin Bayaan dikatakan oleh Adz Dzahabi “tidak shahih hadisnya”. Bukhari berkata “dalam sanad hadisnya perlu diteliti kembali” [Al Mizan juz 2 no 2927] ia telah dimasukkan Adz Dzahabi dalam kitabnya Mughni Ad Dhu’afa no 2222 Al Uqaili juga memasukkannya ke dalam Adh Dhu’afa Al Kabir 2/75-76 no 522. Ziyad bin Bayaan Ar Raqiy memiliki mutaba’ah yaitu dari Taubah ‘Al Anbari dari Salim dari Ibnu Umar secara marfu’.\rحدثنا محمد بن عبد العزيز الرملي حدثنا ضمرة بن ربيعة عن ابن شوذب عن توبة العنبري عن سالم عن ابن عمر قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم اللهم بارك لنا في مدينتنا وفي صاعنا، وفي مدِّنا وفي يمننا وفي شامنا. فقال الرجل يا رسول الله وفي عراقنا ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم بها الزلازل والفتن، ومنها يطلع قرن الشيطان\rTelah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdul Aziiz Ar Ramliy yang berkata telah menceritakan kepada kami Dhamrah bin Rabi’ah dari Ibnu Syaudzab dari Taubah Al Anbariy dari Salim dari Ibnu ‘Umar yang berkata Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Ya Allah berikanlah keberkatan kepada kami pada Madinah kami, pada shaa’ kami, pada mudd kami, pada Yaman kami, dan pada Syaam kami”. Seorang laki-laki berkata “Wahai Rasulullah, dan pada ‘Iraaq kami ?”. Beliau menjawab “di sana terdapat kegoncangan dan fitnah dan di sana pula akan muncul tanduk setan” [ Ma’rifah Wal Tarikh Yaqub Al Fasawiy 2/746-747].","part":1,"page":37},{"id":38,"text":"Secara zahir tidak ada masalah pada sanad ini hanya saja Taubah Al Anbary walaupun seorang perawi yang tsiqat, ia dikatakan oleh Al Azdi sebagai munkar al hadits [At Tahdzib juz 1 no 960]. Kesalahan besar salafy adalah menyatakan berdasarkan hadis ini bahwa Najd adalah Iraq. Telah disebutkan dari jama’ah tsiqat dari Salim dari Ibnu Umar secara marfu’ dengan lafaz timur dan telah diriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Nafi’ bahwa yang dimaksud adalah Najd. Tentu saja jika dilihat dari fakta geografis Najd memang terletak sebelah timur dari Madinah sedangkan Irak terletak lebih ke utara. Jadi jika menerapkan metode tarjih maka sangat jelas hadis Najd merupakan penjelasan bagi arah Timur yang dimaksud apalagi hadis Najd memiliki sanad yang lebih kuat daripada hadis Iraq. Tidak ada alasan bagi salafy untuk menetapkan Najd adalah Iraq, tidak ada logikanya sama sekali. Bagaimana mungkin Najd sebagai tempat yang berbeda dengan Iraq mau dikatakan sebagai Iraq.\rحدثنا محمد بن عبد الله بن عمار الموصلي قال حدثنا أبو هاشم محمد بن علي عن المعافى عن أفلح بن حميد عن القاسم عن عائشة قالت وقَّت رسول الله صلى الله عليه وسلم لأهل المدينة ذا الحُليفة ولأهل الشام ومصر الجحفة ولأهل العراق ذات عرق ولأهل نجد قرناً ولأهل اليمن يلملم","part":1,"page":38},{"id":39,"text":"Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Ammar Al Maushulli yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Haasyim Muhammad bin ‘Ali dari Al Mu’afiy dari Aflah bin Humaid dari Qasim dari Aisyah yang berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menetapkan miqat bagi penduduk Madinah di Dzul Hulaifah, bagi penduduk Syam dan Mesir di Juhfah, bagi penduduk Iraq di Dzatu ‘Irq, bagi penduduk Najd di Qarn dan bagi penduduk Yaman di Yalamlam [Shahih Sunan Nasa’i no 2656].\rHadis ini sanadnya shahih telah diriwayatkan oleh para perawi terpercaya dan menjadi bukti atau hujjah bahwa Najd dan Iraq di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah dua tempat yang berbeda. Berikut keterangan mengenai para perawinya.\r* Muhammad bin ‘Abdullah bin Ammar Al Maushulli seorang hafizh yang tsiqat. Ahmad, Yaqub bin Sufyan, Shalih bin Muhammad, Nasa’i, Daruquthni, Ibnu Hibban, Masalamah bin Qasim menyatakan tsiqat. Abu Hatim berkata “tidak ada masalah padanya” [At Tahdzib juz 9 no 444]. Ibnu Hajar menyatakan “tsiqat hafizh” [At Taqrib 2/98]\r* Muhammad bin ‘Ali Al Asdy adalah perawi Nasa’i dan Ibnu Majah yang tsiqat. Al Ijli menyatakan tsiqat. Abu Zakaria menyatakan ia seorang yang shalih dan memiliki keutamaan [At Tahdzib juz 9 no 592]. Ibnu Hajar menyatakan ia seorang ahli ibadah yang tsiqat [At Taqrib 2/116]. Adz Dzahabi menyatakan ia shaduq [Al Kasyf no 5067]","part":1,"page":39},{"id":40,"text":"* Al Mu’afy bin Imran adalah perawi Bukhari yang dikenal tsiqat. Abu Bakar bin Abi Khaitsamah berkata “ia orang yang jujur perkataannya”. Ibnu Ma’in, Al Ijli, Abu Hatim, Ibnu Khirasy dan Waki’ menyatakan tsiqat. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. [At Tahdzib juz 10 no 374]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat ahli ibadah seorang yang fakih [At Taqrib 2/194]\r* Aflah bin Humaid adalah perawi Bukhari dan Muslim yang tsiqat. Ahmad berkata “shalih”. Ibnu Ma’in berkata “tsiqat”. Abu Hatim berkata “tsiqat tidak ada masalah padanya”. Nasa’i berkata “tidak ada masalah padanya”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat banyak meriwayatkan hadis” [At Tahdzib juz 1 no 669]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat [At Taqrib 1/108]\r* Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar adalah seorang tabiin yang dikenal tsiqat, ia adalah salah seorang dari fuqaha Madinah sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Hajar [At Taqrib 2/23]\rHadis Aisyah RA di atas juga dikuatkan oleh hadis Jabir yang membedakan miqat bagi penduduk Najd dan miqat bagi penduduk Iraq.\rأبو الزبير أنه سمع جابر بن عبدالله رضي الله عنهما يسأل عن المهل ؟ فقال سمعت ( أحسبه رفع إلى النبي صلى الله عليه و سلم ) فقال مهل أهل المدينة من ذي الحليفة والطريق الآخر الجحفة ومهل أهل العراق من ذات عرق ومهل أهل نجد من قرن ومهل أهل اليمن من يلملم","part":1,"page":40},{"id":41,"text":"Abu Zubair mendengar dari Jabir bin ‘Abdullah radiallahu ‘anhum ketika ditanya tentang tempat mulai ihram. Jabir berkata ‘aku mendengar [menurutku ia memarfu’kannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “tempat mulai ihram bagi penduduk Madinah dari Dzul Hulaifah dan bagi penduduk yang melewati jalan yang satunya di Juhfah, dan tempat mulai ihram bagi penduduk Iraq dari Dzatul ‘Irq dan tempat mulai ihram penduduk Najd dari Qarn dan tempat mulai ihram penduduk Yaman dari Yalamlam [Shahih Muslim 2/840 no 1183] .\rWalaupun para ulama berselisih apakah perkataan Jabir RA ini marfu’ atau tidak kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam [pendapat yang rajih adalah marfu’] tetap saja membuktikan kalau Najd dan Iraq adalah dua tempat yang berbeda sehingga para sahabat seperti Jabir RA membedakan antara penduduk Najd dan penduduk Iraq. Para ulama juga telah membedakan antara Najd dan Iraq, An Nasa’i ketika membahas hadis tentang miqat ia memberi judul Miqat Ahlul Najd kemudian di bawahnya ada judul Miqat Ahlul Iraq. Bagaimana mungkin Najd dikatakan Iraq?.","part":1,"page":41},{"id":42,"text":"Fakta lain yang tidak terpikirkan oleh salafy adalah orang-orang yang berada di Riyadh [Najd] jika melaksanakan ibadah haji miqatnya adalah di Qarn Manazil dan orang-orang Iraq jika beribadah haji miqatnya di Dzatul ‘Irq. Kenapa? Karena para ulama termasuk ulama salafy sendiri berdalil dengan hadis shahih di atas kalau miqat bagi penduduk Najd adalah Qarn Manazil dan bagi penduduk Iraq adalah Dzatul ‘Irq. Kalau memang Najd adalah Iraq ngapain orang-orang di Riyadh miqat di Qarn Manazil lha itu seharusnya jadi miqat bagi orang Iraq. Fakta kalau orang-orang di Riyadh miqat di Qarn Manazil itu menjadi bukti nyata kalau Najd itu ya tepat di sebelah timur Madinah yaitu Riyadh dan sekitarnya. Nah penduduk Riyadh sendiri merasa kalau yang dimaksud Najd yang dikatakan Nabi adalah tempat mereka tinggal bukannya Iraq.","part":1,"page":42},{"id":43,"text":"Jadi jika telah terbukti dari dalil shahih bahwa Najd dan Iraq adalah nama dua tempat yang berbeda maka logika salafy yang mengatakan Najd adalah Iraq jelas salah besar. Walaupun kita menerima hadis Iraq maka itu tidak menafikan keshahihan hadis Najd. Dengan kata lain jika kita mau menerapkan metode jama’ maka ada dua tempat yang dikatakan sebagai tempat munculnya fitnah yaitu Najd dan Iraq [dan kami lebih cenderung pada pendapat ini]. Kalau salafy masih tidak mengerti maka kita beri contoh yang mudah. Misalnya ada orang berkata “di Jawa ada gempa bumi” kemudian di saat lain ia berkata “di Jakarta ada gempa bumi”, terus di saat yang lain orang itu berkata “di Surabaya ada gempa bumi”. Orang yang ngakunya salafy mikir begini nah itu berarti Jakarta adalah Surabaya. Bagaimana? Bahkan anak SD pun tahu kalau kesimpulan seperti ini tidak ada logikanya sama sekali. Justru cara berpikir yang benar [dengan dasar kesaksian orang tersebut benar] adalah di Jakarta dan Surabaya terjadi gempa bumi dan ini tidak bertentangan dengan perkataan di Jawa terjadi gempa bumi, toh kedua kota itu memang terletak di Jawa.","part":1,"page":43},{"id":44,"text":"Lucunya para pengikut salafy menganggap dalil salafy terang benderang seterang matahari padahal jelas-jelas fallacy [kapan salafy mau belajar tentang fallacy]. Justru dalil Najd jauh lebih terang benderang karena memang sebelah timur dari Madinah itu ya Najd sedangkan Iraq lebih kearah utara [timur laut]. Pengikut salafy mengatakan kalau Iraq juga adalah timur madinah karena pada zaman orang arab dahulu tidak ada istilah utara selatan, timur laut dan sebagainya yang ada hanya timur dan barat atau kanan kiri. Pernyataan salafy ini bisa saja benar tetapi logikanya terbalik, zaman dahulu orang menentukan timur dan barat tergantung dengan arah matahari terbit atau terbenam. Jadi jika seseorang mau menunjuk kearah timur ia tahu dengan jelas kearah mana ia akan menunjuk apalagi jika orang tersebut adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang jelas adalah utusan Allah SWT yang dijaga dan diberi petunjuk langsung oleh Allah SWT.","part":1,"page":44},{"id":45,"text":"Apakah jika ada orang arab disuruh menunjuk kearah timur, mereka akan menunjuk ke berbagai macam arah termasuk miring ke ke utara atau miring ke selatan?. Apakah ketika mereka menunjuk ke arah timur mereka mengarahkan tangannya ke utara yang miring 10 derajat ke arah timur ?. kayaknya tidak, mereka akan sama-sama menunjuk tepat kearah matahari terbit yaitu arah timur. Jadi Hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang menunjuk ke arah timur harus dipahami secara zahir tepat timur Madinah dan ini sesuai dengan hadis Najd karena Najd memang terletak tepat di timur madinah. Para sahabat bisa langsung mempersepsi arah timur karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan tepat menunjuk kearah timur atau arah matahari terbit [ alias tidak pakai miring ke utara atau selatan ]. Salam Damai Saudaraku.\rSumber : http://allaboutwahhabi.blogspot.com/2011/09/hadits-tanduk-setan-kontroversi-najd_15.html\r1592. MAKSUD HADITS SYURGA DI BAWAH TELAPAK KAKI IBU\rPERTANYAAN :\rSyda Ajjah\rAssalamu 'alaikum, ajenge tanglet ,apa benar surga ada di telapak kaki ibu dan kenapa bisa di telapak kaki ibu trus seandai nya ibu udah wafat dimana kita bisa mendpatkan surga ? dan knapa bukan ayah ? terus kalau surga seorang istri dimana kah ? mohon penjelasan nya makash\rJAWABAN :\r> Akhi Rezume Shi","part":1,"page":45},{"id":46,"text":"Setahu ana, itu kiasan saja. bahwasannya surga di bawah telapak kaki ibu bukan taman firdaus yang bercokol di bawah telapak kaki beliau. Itu hanya perumpamaan bahwasannya seorang ibu wajib dihormati 3 x lebih baik ketimbang bapak/ayah. Jadi tidak ada hubungannya sama ibu yang telah meninggal dan untuk istri ...\r> Cahaya Hati\rSyurga di telapak kaki ibu..itu perumpamaan untuk kita sebagai anak jangan pernah melawan ibu membantah, membentak, menyakiti hati nya...Kenapa syurga tidak di telapak kaki bapak..Karena ibu lebih besar jasa dan kasih sayangnya ..!\r> Masaji Antoro\rWa'alaikumsalam. Maksud “Surga itu dibawah telapak kaki ibu” adalah kata kiasan betapa kita wajib mentaati dan berbakti pada ibu, mendahulukan kepentingan beliau mengalahkan kepentingan pribadi hingga diibaratkan letak diri kita bagaikan debu yang ada dibawah telapak kakinya bila kita ingin meraih SURGA...\rالْجَنَّة تَحْت أَقْدَام الْأُمَّهَات قَالَ رَوَاهُ أَحْمَد وَالنَّسَائِيّ وَابْن مَاجَهْ وَالْحَاكِم\r“Surga itu dibawah telapak kaki ibu”. (HR. Ahmad, an-Nasaai, Ibn Maajah dan al-Hakim).\r( الجنة تحت أقدام الأمهات ) يعني لزوم طاعتهن سبب قريب لدخول الجنة\r“Surga itu dibawah telapak kaki ibu”.Artinya selalu mentaatinya menjadikan sebab akan dekatnya seseorang memasuki surga. [ At-Taysiir Bi Syarh al-Jaami’ as-Shaghiir I/996 ].\r«الجنة تحت أقدام الأمهات» ويعني: أن من بر أمه وقام بحقها دخل الجنة\r“Surga itu dibawah telapak kaki ibu”. Artinya barangsiapa yang berbkti dan memenuhi hak-hak ibunya miscaya masuk surga. [ Daliil al-Faalichiin I/245 ].\r3642","part":1,"page":46},{"id":47,"text":"(الجنة تحت أقدام الأمهات) يعني التواضع لهن وترضيهن سبب لدخول الجنة ....وقال العامري المراد أنه يكون في برها وخدمتها كالتراب تحت قدميها مقدما لها على هواه مؤثرا برها على بر كل عباد الله لتحملها شدائد حمله ورضاعه وتربيته وقال بعض الصوفية : هذا الحديث له ظاهر وباطن وحق وحقيقة لأن المصطفى صلى الله عليه وسلم أوتي جوامعالكلم فقوله الجنة إلخ ظاهره أن الأمهات يلتمس رضاهن المبلغ إلى الجنة بالتواضع لهن وإلقاء النفس تحت أقدامهن والتذلل لهن والحقيقة فيه أن أمهات المؤمنين هن معه عليه السلام أزواجه في أعلى درجة في الجنة والخلق كلهم تحت تلك الدرجة فانتهاء زوس الخلق في رفعة درجاتهم في الجنة وآخر مقام لهم في الرفعة أول مقام أقدام أمهات المؤمنين فحيث انتهى الخلق فهن ثم ابتداء درجاتهن فالجنة كلها تحت أقدامهن وهذا قاله لمن أراد الغزو معه وله أم تمنعه\r“Surga itu dibawah telapak kaki ibu”. Artinya patuh dan ridhanya menjadi sebab masuknya seseorang didalam surgaAl-Aamiri berkata “maksudnya ukuran dalam berbakti dan khidmah pada para ibu bagaikan debu yang berada dibawah telapak kaiki mereka, mendahulukan kepentingan mereka atas kepentingan sendiri dan memilih berbakti pada mereka ketimbang berbakti pada setiap hamba-hamba Allah lainnya karena merekalah yang rela menanggung beban penderitaan kala mengandung, menyusui serta mendidik anak-anak mereka”.","part":1,"page":47},{"id":48,"text":"Sebagian Ulama Tashawwuf menyatakan \"Hadits ini memiliki arti secara dhahir, bathin, hak dan hakikat karena baginda nabi Muhammad SAW mampu menguasai segala kesempurnaan bahasaMaka arti “Surga itu dibawah telapak kaki ibu” arti dhahirnya adalah para ibu keridhaannya yang mampu menghantarkan kedalam surga harus diraih dengan berprilaku rendah diri, patuh bagaikan meletakkan diri kita dibawah telapak kakinya.\rArti hakikatnya bahwa para ibu-ibu orang mukmin kelak disurga berada ditempat tertinggi bersama dengan Nabi Muhammad SAW dan setiap makhluk berada dibawah derajat tersebut,Maka puncak derajat para makhluk disurga berada kedudukannya berada dibawah telapak kaki para ibu, dengan demikian semua derajat yang terdapat didalam surga yang kelak dihuni orang-orang mukmin kesemuanya berada dibawah telapak kaki para ibu sebab keluhuran derajat mereka dialam surga. [ Faidh al-Qadiir III/477 ].\rالجنة تحت أقدام الأمهات قال الطيبي قوله عند رجلها كناية عن غايةالخضوع ونهاية التذلل كما في قوله تعالى واخفض لهما جناح الذل من الرحمة الإسراء\r“Surga itu dibawah telapak kaki ibu”.At-Thiiby berkata “Ungkapan Nabi ‘dibawah telapak kakinya’ adalah kata kiasan dari bersikap patuh dan taat padanya secara totalitas sebagaimana keterangan dalam firman Allah Ta’alaa :Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: \"Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil\". (QS. 17:24). [ Marqah al-Mafaatiih Syarh al-Misykaah XIV/224 ].","part":1,"page":48},{"id":49,"text":"Berbaktilah padanya, bila ia telah meninggal minimal doakan keduanya selepas shalat.....\r{ أن اشكر لي ولوالديك إلي المصير } (3) . فالشكر لله على نعمة الإيمان ، وللوالدين على نعمة التربية . وقال سفيان بن عيينة : من صلى الصلوات الخمس فقد شكر الله تعالى ، ومن دعا لوالديه في أدبار الصلوات فقد شكرهما .وفي صحيح البخاري عن عبد الله بن مسعود قال : سألت النبي صلى الله عليه وسلم : أي الأعمال أحب إلى الله عز وجل ؟ قال : الصلاة على وقتها قال : ثم أي ؟ قال : بر الوالدين قال : ثم أي ؟ قال : الجهاد في سبيل الله (1) . فأخبر صلى الله عليه وسلم أن بر الوالدين أفضل الأعمال بعد الصلاة التي هي أعظم دعائم الإسلام . (2)\r(3) سورة لقمان / 14 .\r(1) حديث ابن مسعود : \" أي الأعمال أحب إلى الله . . . \" أخرجه البخاري ( الفتح 10 / 400 ـ ط السلفية ) ومسلم ( 1 / 90 ـ ط الحلبي )\r(2) الجامع لأحكام القرآن للقرطبي 10 / 237ـ 238 .\r“Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. 31:14)Dalam ayat diatas syukur pada Allah artinya mensyukuri atas kenikmatan iman, sedang syukur pada kedua orang tua artinya mensyukuri atas jerih payahnya merawat, mendidik dan mengasuh kita semenjak kecil.Tsufyan Bin ‘Uyainah berkata “Barangsiapa telah menjalani shalat lima waktu maka ia telah bersyukur kepada Allah, dan barangsiapa mendoakan kedua orangtuanya seusai shalat maka ia telah bersyukur pada keduanya”.","part":1,"page":49},{"id":50,"text":"Dalam shahih al-Bukhari diriwayatkan dari Ibn Mas’ud, ia berkata “Saya bertanya kepada Rasulullah, ‘Apakah amal yang paling dicintai oleh Allah ?’ , Beliau bersabda, ‘Sholat pada waktunya’, Saya bertanya, ‘Kemudian apa lagi ?’, Beliau bersabda, ‘Berbakti kepada kedua orang tua’, Saya bertanya lagi, ‘Kemudian apa lagi ?’, Beliau bersabda, ‘Berjihad (berjuang) di jalan Allah’. Kemudian Rasulullah mengkhabarkan bahwa berbakti kepada orang tua adalah amalan yang paling disukai oleh Allah setelah shalat yang merupakan paling agungnya tiang-tiang agama islam. “ (HR.Bukhari dan Muslim). [ Al-Mausuuah al-Fiqhiyyah VIII/65 ]. Wallaahu A'lamu Bis Showaab.\rLink Asal : www.fb.com/groups/piss.ktb/425436097479204/\r1599. SEPUTAR HADITS KEUTAMAAN MEMAKAI CINCIN AKIK\rPERTANYAAN :\rEkha Santama\rAssalamu'alaikum ....Afwan, mohon pencerahan mengenai Hadist berikut : Fathimah a.s. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda...\" Barang siapa yang selalu memakai cincin akik, maka ia akan selalu melihat kebaikan''. Maksud kebaikan di sini apa yah..?? apa hanya dengan memakai cincin akik kita dapat melihat kebaikan diri ataupun seseorang ...... kurang paham ..... silahkan Para yai dan segenap warga PISS-KTB Terima Kasih .\rJAWABAN :\r> Nuqo Adhari\rAfwan mas ekha,mungkinkah yang dimaksud hadits sbb :\rعن الرضا عليه الس?م عن آبائه عليهم الس?م قال: قال رسول اللهصلى الله عليه وآله و سلم: تختموا بالعقيق فإنه ? يصيب أحدكم غم مادام ذلك عليه\rAtaukah hadits berikut :","part":1,"page":50},{"id":51,"text":"عن الحسين بن عليعليهما الس?م قال: قال لي رسول الله صلى الله عليه وآله و سلم \" يا بني تختم باليواقيت و العقيق فإنه ميمون مبارك و كلما نظر الرجل فيه إلى وجهه يزيد نورا ً و الص?ة فيه سبعون ص?ة\rMuhun berkaitan,, yang jelas kedua keterangan tersebutt berisi anjuran Rasululloh tentang pemakaian cincin batu akik.Tp ternyata menurut syeich Assakhowi hadits2 tersebutt adalah hadits maudlu' dari golongan Rafidlah, kebiasaan mereka adalah apabila menyebut ahlul bait mereka selalu berucap \"alaihimussalam\" dan hadits mereka tanpa sanad yang sohih. Dan menurut beliau juga (syeich assakhowi) bahwaa tidak ada satupun hadits sohih tentang anjuran mengenakan cincin batu akik...Itu yang saya tahu Mas... Bila ada salah mohon dikoreksi.\r> Abdullah Afif\rBerikut penjelasan al Hafizh as Suyuthi dalam kitab Alla`aali al Mashunuu'ah :\rابن حبان) حدثنا محمد بن جعفر البغدادي حدثنا أحمد بن يحيى بن خالد حدثنا زهير بن عباد حدثنا أبو بكر بن شعيب عن مالك عن الزهري عن عمرو بن الرشيد عن فاطمة بنت رسول الله مرفوعا من تختم بالعقيق لم يزل يرى خيراأبو بكر يروي عن مالك ما ليس من حديثه\rSumber : http://www.islamww.com/books/GoToPage38-171-30038-5.html\rCoba perhatikan :\rأبو بكر يروي عن مالك ما ليس من حديثه\rdan berikut Syeikh al 'Ajluni dalam kitab Kawsyful Khafaa`:\rومنها لابن حبان في الضعفاء عن فاطمة مرفوعا من تختم بالعقيق لم يزل يرى خيرا ، وفي سنده أبو بكر بن شعيب لا يحل الاحتجاج بحديثه ، ورواه الطبراني في الأوسط والدارقطني في الأفراد ، وأبو نعيم وغيره بطرق وكلها باطلة ، ومن ثم قال العقيلي لا يثبت في هذا عن النبي صلى الله عليه وسلم شئ وذكره ابن الجوزي في الموضوعات","part":1,"page":51},{"id":52,"text":"Sumber : http://islamport.com/w/krj/Web/2415/303.htm\r> Ibnu Toha\rTunggu dulu... dalam Hadits Shahih Muslim disebutkan :\rحَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ الْمِصْرِيُّ أَخْبَرَنِي يُونُسُ بْنُ يَزِيدَ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ حَدَّثَنِي أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ قَالَ كَانَ خَاتَمُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ وَرِقٍ وَكَانَ فَصُّهُ حَبَشِيًّا\r38.62/3907. Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ayyub; Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Wahb Al Mishri; Telah mengabarkan kepadaku Yunus bin Yazid dari Ibnu Syihab; Telah menceritakan kepadaku Anas bin Malik ia berkata; Cincin Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam terbuat dari perak, sedangkan mata cincinnya terbuat dari batu Habasyi.\rSyarah Imam Nawawi : bahwa yang dimaksud dengan \"Habasyi\" para ulama menyebutkan yakni Batu Habsyi, yakni bermata cincin marjan atau akik.\rقوله (وكان فصه حبشيا) قال العلماء يعني حجرا حبشيا أي فصا من جزع أو عقيق فإن معدنهما بالحبشة واليمن وقيل لونه حبشي أي أسود وجاء في صحيح البخاري من رواية حميد عن أنس أيضا فصه منه قال بن عبد البر هذا أصح وقال غيره كلاهما صحيح وكان لرسول الله صلى الله عليه وسلم في وقت خاتم فصه منه وفي وقت خاتم فصه حبشي وفي حديث آخر فصه من عقيق قوله (في حديث طلحة بن يحيى وسليمان بن بلال عن يونس عن بن شهاب عن أنس رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم لبس خاتم فضة في يمينه)\r> Imam Syafi'i","part":1,"page":52},{"id":53,"text":"Namun masalahnya menjadi lain ketika kita memakai aqiq dengan berpedoman pada hadits-hadist maudhu atau setidaknya hadits yang lam yatersebutut sebagaimana dalam status di atas. Dan derajat hadits di atas sudah dijelaskan oleh Nuqo Adhari dan Abdullah Afif\r> Ibnu Toha\rTapi kita tidak boleh serta merta menafikannya, sebab hadits-hadits tersebut saling berkaitan dan saling melengkapi, oleh karena itu dalam Syaranya Imam Nawawi menyebutkan :\rوفي حديث آخر فصه من عقيق\r> Imam Syafi'i\rSaya kutipkan Fathul Bari :\rقوله : ( وكان فصه منه ) لا يعارضه ما أخرجه مسلم وأصحاب السنن من طريق ابن وهب عن يونس عن ابن شهاب عن أنس \" كان خاتم النبي - صلى الله عليه وسلم - من ورق وكان فصه حبشيا \" لأنه إما أن يحمل على التعدد وحينئذ فمعنى قوله حبشي أي كان حجرا من بلاد الحبشة ، أو على لون الحبشة ، أو كان جزعا أو عقيقا لأن ذلك قد يؤتى به من بلاد الحبشة ، ويحتمل أن يكون هو الذي فصه منه ونسب إلى الحبشة لصفة فيه إما الصياغة وإما النقش .\rdan berikut ta'bir Syarah Muslim selengkapnya :\rباب في خاتم الورق فصه حبشي\r2094 حدثنا يحيى بن أيوب حدثنا عبد الله بن وهب المصري أخبرني يونس بن يزيد عن ابن شهاب حدثني أنس بن مالك قال كان خاتم رسول الله صلى الله عليه وسلم من ورق وكان فصه حبشيا قوله : ( وكان فصه حبشيا ) ، قال العلماء : يعني حجرا حبشيا أي فصا من جزع أو عقيق ، فإن معدنهما بالحبشة واليمن . وقيل : لونه حبشي أي أسود . وجاء في صحيح البخاري من رواية حميد عن أنس أيضا فصه منه . قال ابن عبد البر : هذا أصح ، وقال غيره : كلاهما صحيح ، وكان لرسول الله [ ص: 259 ] صلى الله عليه وسلم في وقت خاتم فصه منه ، وفي وقت خاتم فصه حبشي ، وفي حديث آخر فصه من عقيق . ..........","part":1,"page":53},{"id":54,"text":"وحدثنا عثمان بن أبي شيبة وعباد بن موسى قالا حدثنا طلحة بن يحيى وهو الأنصاري ثم الزرقي عن يونس عن ابن شهاب عن أنس بن مالك أن رسول الله صلى الله عليه وسلم لبس خاتم فضة في يمينه فيه فص حبشي كان يجعل فصه مما يلي كفه وحدثني زهير بن حرب حدثني إسمعيل بن أبي أويس حدثني سليمان بن بلال عن يونس بن يزيد بهذا الإسناد مثل حديث طلحة بن يحيى\rالحاشية رقم: 1قوله في حديث طلحة بن يحيى وسليمان بن بلال ( عن يونس عن ابن شهاب عن أنس رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم لبس خاتم فضة في يمينه ) . وفي حديث حماد بن سلمة عن ثابت عن أنس : ( كان خاتم النبي صلى الله عليه وسلم في هذه ، وأشار إلى الخنصر من يده اليسرى ) ، وفي حديث علي : ( نهاني صلى الله عليه وسلم أن أتختم في أصبعي هذه أو هذه ، فأومأ إلى الوسطى والتي تليها ) ، وروي هذا الحديث في غير مسلم : ( السبابة والوسطى ) وأجمع المسلمون على أن السنة جعل خاتم الرجل في الخنصر ، وأما [ ص: 260 ] المرأة فإنها تتخذ خواتيم في أصابع . قالوا : والحكمة في كونه في الخنصر أنه أبعد من الامتهان فيما يتعاطى باليد ، لكونه طرفا ، ولأنه لا يشغل اليد عما تتناوله من أشغالها بخلاف غير الخنصر ، ويكره للرجل جعله في الوسطى والتي تليها لهذا الحديث ، وهي كراهة تنزيه . وأما التختم في اليد اليمنى أو اليسرى فقد جاء فيه هذان الحديثان ، وهما صحيحان .","part":1,"page":54},{"id":55,"text":"وقال الدارقطني : لم يتابع سليمان بن بلال على هذه الزيادة ، وهي قوله : ( في يمينه ) . قال : وخالفه الحافظ عن يونس ، مع أنه لم يذكرها أحد من أصحاب الزهري ، مع تضعيف إسماعيل بن أبي أويس رواتها عن سليمان بن بلال ، وقد ضعف إسماعيل بن أبي أويس أيضا يحيى بن معين والنسائي ، ولكن وثقه الأكثرون ، واحتجوا به ، واحتج به [ ص: 261 ] البخاري ومسلم في صحيحيهما ، وقد ذكر مسلم أيضا من رواية طلحة بن يحيى مثل رواية سليمان بن بلال ، فلم ينفرد بها سليمان بن بلال ، فقد اتفق طلحة وسليمان عليها .\rوكون الأكثرين لم يذكروها لا يمنع صحتها ، فإن زيادة الثقة مقبولة . والله أعلم .\rوأما الحكم في المسألة عند الفقهاء فأجمعوا على جواز التختم في اليمين ، وعلى جوازه في اليسار ، ولا كراهة في واحدة منهما ، اختلفوا أيتهما أفضل ؟ فتختم كثيرون من السلف في اليمين ، وكثيرون في اليسار ، واستحب مالك اليسار ، وكره اليمين . وفي مذهبنا وجهان لأصحابنا : الصحيح أن اليمين أفضل لأنه زينة ، واليمين أشرف ، وأحق بالزينة والإكرام .\rSumber : http://www.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?bk_no=53&ID=990&idfrom=6356&idto=6359&bookid=53&startno=0\r> Masaji Antoro\rWa'alaikumsalam\rقال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم: تختموا بالعقيق فإنه مبارك ومن تختم بالعقيق يوشك أن يقضى له بالحسنى .\r“Barang siapa yang selalu memakai cincin akik, maka ia akan selalu melihat kebaikan”. Hadits diatas termasuk yang diperselisihkan keshahihannya dikalangan ulama ahli hadits, Ibn al-jauzi menyatakan kemaudhuannya (palsu) sedang Abdur Rauf Al-Munawi dalam kitan ad-durar menyatakan Daif karena terdapati Ya’qub Bin Walid pada sanadnya.","part":1,"page":55},{"id":56,"text":"وفي الفتح روى أحمد عن عائشة تخيموا بالعقيق فإنه واد مبارك....وقال في حديث له شأن من تختم بالعقيق (1) وفق لكل خير وأحبه الملكان ومن خواصه تسكين الروع عند الخصام ويقطع نزف الدم (عق) من حديث محمد ابن زكريا البلخي عن الفضل بن الحسن الجحدري عن يعقوب بن الوليد المدني عن هشام عن أبيه عن عائشة ثم قال أعني العقيلي : ولا يثبت في هذا شئ ، وقال ابن الجوزي وتبعه المؤلف يعقوب كذاب يضع....3264 (تختموا بالعقيق فإنه ينفي الفقر) قيل أراد به اتخاذ خاتم فصه من عقيق وقال ابن الأثير : يريد أنه إذا ذهب ماله باع خاتمه فوجد به غنى اه...فدل السياق على أن المراد حقيقة التختم وهو جعله في الأصبع ولذا قال بعضهم الأشبه إن صح الحديث أن تكون لخاصية فيه كما أن النار لا توثر فيه ولا تغيره وأن من تختم به أمن من الطاعون وتيسرت له أمور المعاش ويقوى قلبه ويهابه الناس ويسهل عليه قضاء الحوائج.\rDalam Kitab al-Fath, Imam Ahmad meriwayatkan hadits dari ‘Aisyah “Pakailah oleh kalian cincin akik karena ia adalah sahabat yang diberkahi”..Orang yang memakai cincin akik akan menemui setiap kebaikan dan disukai oleh para Malaikat, sebagian keistimewaan akik ia dapat menenangkan rasa takut saat terjadi perkelahian, meredakan darah yang memancar.\rSANAD HADITS\rDari Muhammad Ibn Zakaria al-Balkhi daro Fadhl Bin Hasan al-Juhdari dari Ya’qub Bin Walid al-Madani dari Hisyam dari ayahnya dari ‘Aisyah ra.\rDERAJAT HADITS\rAL-‘Uqaily berkata “Tidak terdapat ketetapan apapun dari hadits ini”Ibn al-Jauzi dan Abdur Rauf Al-Munawi berkata, Ya’kub adalah pembohong dan ditinggalkan (riwayat hadiitsnya).","part":1,"page":56},{"id":57,"text":"“Pakailah oleh kalian cincin akik maka ia dapat menafikan kefakiran”Dikatakan oleh pendapat Ulama “Yang dimaksud adalah memakai cincin yang matanya terbuat dari batu akik”.Ibn al-Atsiir berkata “Yang dikendaki dari hadits tersebut adalah bila seseorang kehabisan harta, kemudian ia menjual cincin akiknya maka ia kembali memiliki harta”.\rNamun bila menilik redaksi hadits jelas menunjukkan pemakaiannya pada jemari tangan, bila hadits tersebut shahih maka akik memang memiliki keistimewaan sebagaimana ia tidak dapat terbakar dan berubah oleh api dan orang yang memakainya aman dari wabah, gampang mata pencahariannya, kuat hatinya, punya wibawa dimata orang dan memudahkan pada kebutuhan-kebutuhannya. [ Al-Faidh al-Qadiir III/309 ]. Wallaahu A'laamu Bis Showaab.\rLink Asal : www.fb.com/groups/piss.ktb/428701373819343/\r1633. ASAL USUL PERKATAAN \"UNDZUR MAA QOOLA\"\rPERTANYAAN :\rAgus Ainulyaqin Al-Gifary\rAssalamu,alaikum\rأنظر ما قال ولا تنظر من قال\rKata-kata ini sering saya dengar dari para penceramah... yang saya tanyakan....apakah tersebut adalah hadits, atsar atau qoul ulama ? mohon ta'bir nya\rJAWABAN :\rKhodim Piss-ktb II\rWa’alaikum salam. Asal-Usul Perkataan Undzur Ila Ma Qala. Maqalah (perkataan) selengkapnya adalah :\rانظر إلى ما قال ولا تنظر إلى من قال\r“Perhatikanlah apa yang dikatakan, jangan memperhatikan siapa yang berkata.”\rAtsar dari Ali tersebut diriwayatkan dari Ibnu 'Asakir, dikutip oleh Mulla Ali al-Qary ketika menyebutkan jalur sanad dari Ali tentang hadits yang senada dengan maqalah tersebut.\rاالكتاب: مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح ج1 ص300","part":1,"page":57},{"id":58,"text":"وعن أبي هريرة - رضي الله عنه - قال : قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم - : ( الكلمة الحكمة ضالة الحكيم ، فحيث وجدها فهو أحق بها ) -الى أن قال- ورواه ابن عساكر عن علي وكأنه - رضي الله عنه - أخذ من هذا الحديث ما قال موقوفا : انظر إلى ما قال ولا تنظر إلى من قال .\r“Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA. ia berkata, Rasulullah SAW. bersabda ‘kalimat hikmah adalah senjatanya orang bijak. Di mana saja ia menemukannya maka ia berhak atasnya.’ Ibnu ‘Asakir meriwayatkannya dari Ali, dan sepertinya Ali RA. berpedoman pada hadits itu pada ucapannya yang diriwayatkan secara mauquf: Perhatikanlah apa yang dikatakan, jangan memperhatikan siapa yang berkata”.\rLink Asal :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/428468540509293/\r1634. MAKSUD HADITS BERAMALLAH UNTUK DUNIAMU SEAKAN KAU HIDUP SELAMANYA\rPERTANYAAN :\rDhoom Ahmed El Khanafi\rAssalamu'alaikum, minta pencerahan lagi shobat piss. Maksut dari hadits, \"beramallah untuk duniamu, seakan kau hidup selamanya, dan beramallah untuk akhiratmu seakan esok kau tiada/mati\" kalau udah ada di dokumen mohon disundulin...\rJAWABAN :\rMasaji Antoro\rWa'alaikumsalam. Sesungguhnya manusia saat menyangka ia hidup didunia selamanya maka sifat lobanya menjadi sedikit dan ia yakin bahwa yang ia kehendaki tidak akan hilang kesempatan mendapatkannya lantaran tidak terlalu tamak dan bersegera dengan meraih duniawi maka saat hilang kesempatan meraihnya dihari ini kesempatan hari esoknya masih terbuka lebar karena ia akan hidup selamanya.","part":1,"page":58},{"id":59,"text":"(اعمل عمل من) وفي نسخة امرئ (يظن أن لا يموت أبدا ، واحذر حذر امرئ يخشى أن يموت غدا) أي قريبا جدا ولم يرد حقيقة الغد ، والمراد تقديم أمر الآخرة وأعمالها حذر الموت بالفوت على عمل الدنيا وتأخير أمر الدنيا كراهة الاشتغال بها على عمل الآخرة وأما ما فهمه البعض أن المراد اعمل لدنياك كأنك تعيش ابدا واعمل لآخرتك كأنك تموت غدا ويكون المراد الحث على عمارة الدنيا لينتفع من يجئ بعد والحث على عمل الآخرة فغير مرضي لأن الغالب على أوامر الشارع ونواهيه الندب إلى الزهد في الدنيا والتقليل من متعلقاتها والوعيد على البناء وغيره وإنما مراده أن الإنسان إذا علم أنه يعيش أبدا قل حرصه وعلم أن ما يريده لن يفوته تحصيله بترك الحرص عليه والمبادرة إليه فإنه إن فاتني اليوم أدركته غدا فإني أعيش أبدا ،\r1201. “Berbuatlah seperti perbuatan orang yang mengira tidak akan mati selamanya dan khawatirlah seperti khawatirnya seseorang yang takut mati diesok hari”. Artinya : Mendahulukan amal perbuatan dan perkara yang berkaitan dengan akhirat karena khawatir tidak dapat lagi menjalankannya saat meninggal atas amal duniawi dan mengakhirkan perkara dunia karena benci disibukkan dengannya hingga mengalahkan amal perbuatan akhirat.","part":1,"page":59},{"id":60,"text":"Sedang apa yang difahami oleh sebagian orang tentang “Berbuatlah untuk duniamu seolah kamu hidup selamaya dan berbuatlah untuk akhiratmu seolah kamu mati esok hari” yang menurut mereka pemahamannya memberi motivasi agar mencari duniawi agar bermanfaat bagi generasi berikutnya dan memberi motivasi agar semangat dalam beramal akhirat maka tidaklah benar karena pada umumnya perintah-perintah dan larangan-larangan syara’ berkaitan dengan berprilaku zuhud dengan dunia, menyedikitkan berhubungan dengannya, memberi ancaman membangun kemewahan dan sebagainya, maka yang dikehendaki darinya adalah\r“Sesungguhnya manusia saat menyangka ia hidup didunia selamanya maka sifat lobanya menjadi sedikit dan ia yakin bahwa yang ia kehendaki tidak akan hilang kesempatan mendapatkannya lantaran tidak terlalu tamak dan bersegera dengan meraih duniawi maka saat hilang kesempatan meraihnya dihari ini kesempatan hari esoknya masih terbuka lebar karena ia akan hidup selamanya. [ Faidh al-Qadiir II/16 ].\rLink Asal : www.fb.com/groups/piss.ktb/431417293547751/\r1729. KAJIAN RAMADHAN : HUJJAH SHOLAT TARAWIH 11 RAKAAT\rOLEH : Yai Abdullah Afif\rBismillaahirrahmaanirrahiim. Telaah Kritis Hadits yang Meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihii wasallam Qiyam Ramadhan Delapan Rakaat. Diantara hujjah bertarawih 11 Rakaat adalah sebuah hadits yang diriwayatkan dari shahabat Jabir berikut:","part":1,"page":60},{"id":61,"text":"عن جابر بن عبد الله قال صلى بنا رسول الله صلى الله عليه و سلم في رمضان ثمان ركعات والوتر فلما كان من القابلة اجتمعنا في المسجد ورجونا أن يخرج إلينا فلم نزل في المسجد حتى أصبحنا فدخلنا على رسول الله صلى الله عليه و سلم فقلنا له : يا رسول الله رجونا أن تخرج إلينا فتصل بنا فقال : كرهت أن يكتب عليكم الوتر\r'AN JAABIR IBNI 'ABDILLAAH QAALA:SHALLAA BINAA RASUULULLAAH shallallaahu 'alaihi wasalllam FII RAMADHAAN TSAMAANA RAKA'AATIN WAL WITRA. FALAMMAA KAANA MINAL QAABILATI IJTAMA'NAA FIL MASJIDI WA RAJAUNAA AN YAKHRUJA ILAINAA FALAM NAZAL FIL MASJIDI HATTAA ASHBAHNAA. FADAKHALNAA 'ALAA RASUULILLAAH shallallaahu 'alaihi wasallam FA QULNAA LAHUU YAA RASUULALLAAH RAJAUNAA AN TAKHRUJA ILAINAA FATUSHALLI BINAA FA QAALA KARIHTU AN YUKTABA 'ALAIKUM AL WITRU\rDari Jabir bin Abdullah, dia berkata: ”Rasulullah -shallaahu 'alaihi wasallam- shalat dengan kami pada malam Ramadhan delapan rakaat dan witir.Maka ketika malam berikutnya kami berkumpul didalam masjid dan berharap beliau akan keluar kepada kami, dan kami terus menerus dimasjid sampai pagi, kemudian kami masuk kepada Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam dan kami berkata kepada beliau: ’Wahai Rasulullah, kami berharap engkau keluar kepada kami dan engkau shalat dengan kami, maka beliau bersabda: \"Saya tidak senang witir diwajibkan atas kalian.’'\rHadits di atas diriwayatkan oleh:\r1. Imam Ath Thabarani dalam kitab al Mu'jam al AusathSanad dan matannya sebagai berikut:","part":1,"page":61},{"id":62,"text":"حدثنا عثمان بن عبيد الله الطلحي قال : حدثنا جعفر بن حميد قال : حدثنا يعقوب القمي ، عن عيسى بن جارية ، عن جابر قال : صلى بنا رسول الله صلى الله عليه وسلم في شهر رمضان ثماني ركعات وأوتر ، فلما كانت القابلة اجتمعنا في المسجد ، رجونا أن يصلي بنا قال \" إني خشيت ، أو كرهت أن يكتب عليكم\rSumber: http://espanol.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?bk_no=85&ID=494&idfrom=3716&idto=3724&bookid=85&startno=8\r2. Imam Ath Thabarani juga, dalam kitab al Mu'jam ash ShaghirSanad dan matannya sebagai berikut:\rحدثنا عثمان بن عبيد الله الطلحي الكوفي ، حدثنا جعفر بن حميد ، حدثنا يعقوب بن عبد الله القمي ، عن عيسى ابن جارية ، عن جابر بن عبد الله رضي الله عنه قال : صلى بنا رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم في شهر رمضان ثمان ركعات وأوتر ، فلما كانت القابلة اجتمعنا في المسجد ورجونا أن يخرج ، فلم نزل فيه حتى أصبحنا ، ثم دخلنا ، فقلنا يا رسول الله ، اجتمعنا البارحة في المسجد ، ورجونا أن تصلي بنا ، فقال : إني خشيت أن يكتب عليكم \"\rSumber: http://www.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?flag=1&bk_no=86&ID=498\r3. Imam Abu Ya'la dalam kitab Musnadnya 4/370Sanad dan matannya sebagai berikut:\rحدثنا أبو الربيع ، حدثنا يعقوب ، أخبرنا عيسى ، عن جابر بن عبد الله قال : صلى بنا رسول الله صلى الله عليه وسلم في شهر رمضان ثمان ركعات وأوتر ، فلما كانت القابلة اجتمعنا في المسجد ورجونا أن يخرج إلينا ، فلم نزل فيه حتى أصبحنا ، ثم دخلنا ، فقلنا : يا رسول الله ، اجتمعنا في المسجد ورجونا أن تصلي بنا ، فقال : « إني خشيت أو كرهت أن تكتب عليكم »\rSumber: http://islamport.com/d/1/mtn/1/86/3164.html\r4. Imam Ibnu Khuzaimah dalam kitab ShahihnyaSanad dan matannya sebagai berikut:","part":1,"page":62},{"id":63,"text":"نا محمد بن العلاء بن كريب نا مالك - يعني ابن إسماعيل - نا يعقوب ح وثنا محمد بن عثمان العجلي نا عبيد الله - يعني ابن موسى - نا يعقوب - وهو محمد بن عبيد الله القمي - عن عيسى بن جارية عن جابر بن عبد الله قال صلى بنا رسول الله صلى الله عليه و سلم في رمضان ثمان ركعات والوتر فلما كان من القابلة اجتمعنا في المسجد ورجونا أن يخرج إلينا فلم نزل في المسجد حتى أصبحنا فدخلنا على رسول الله صلى الله عليه و سلم فقلنا له : يا رسول الله رجونا أن تخرج إلينا فتصل بنا فقال : كرهت أن يكتب عليكم الوتر\rSumber: Shahih Ibnu Khuzaimah juz II halaman 138, al Maktab al Islami, Beirut, tahun 1390\r5. Imam Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya 6/164Sanad dan matannya sebagai berikut:\rأخبرنا عبد الله بن محمد بن الأزدي قال حدثنا إسحاق بن إبراهيم قال أخبرنا أبو الربيع الزهراني قال حدثنا يعقوب بن القمي قال حدثنا عيسى بن جارية عن جابر بن عبد الله قال صلى بنا رسول الله صلى الله عليه وسلم في شهر رمضان ثمان ركعات وأوتر فلما كانت القابلة اجتمعنا في المسجد ورجونا أن يخرج إلينا فلم نزل فيه حتى أصبحنا ثم دخلنا فقلنا يا رسول الله اجتمعنا في المسجد ورجونا أنتصلي بنا فقال إني خشيت أو كرهت أن يكتب عليكم الوتر\rSumber: http://islamport.com/d/1/mtn/1/70/2571.html\rLink Asal : www.fb.com/groups/piss.ktb/450966778259469/\r1730. KAJIAN RAMADHAN : HUJJAH SHOLAT TARAWIH 8 RAKAAT\rOLEH : Yai Abdullah Afif\rDerajat Hadits yang Meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihii wasallam Qiyam Ramadhan Delapan Rakaat","part":1,"page":63},{"id":64,"text":"عن جابر بن عبد الله قال صلى بنا رسول الله صلى الله عليه و سلم في رمضان ثمان ركعات والوتر فلما كان من القابلة اجتمعنا في المسجد ورجونا أن يخرج إلينا فلم نزل في المسجد حتى أصبحنا فدخلنا على رسول الله صلى الله عليه و سلم فقلنا له : يا رسول الله رجونا أن تخرج إلينا فتصل بنا فقال : كرهت أن يكتب عليكم الوتر\r'AN JAABIR IBNI 'ABDILLAAH QAALA:SHALLAA BINAA RASUULULLAAH shallallaahu 'alaihi wasalllam FII RAMADHAAN TSAMAANA RAKA'AATIN WAL WITRA. FALAMMAA KAANA MINAL QAABILATI IJTAMA'NAA FIL MASJIDI WA RAJAUNAA AN YAKHRUJA ILAINAA FALAM NAZAL FIL MASJIDI HATTAA ASHBAHNAA. FADAKHALNAA 'ALAA RASUULILLAAH shallallaahu 'alaihi wasallam FA QULNAA LAHUU YAA RASUULALLAAH RAJAUNAA AN TAKHRUJA ILAINAA FATUSHALLI BINAA FA QAALA KARIHTU AN YUKTABA 'ALAIKUM AL WITRU\rDari Jabir bin Abdullah, dia berkata: ”Rasulullah -shallaahu 'alaihi wasallam- shalat dengan kami pada malam Ramadhan delapan rakaat dan witir.Maka ketika malam berikutnya kami berkumpul didalam masjid dan berharap beliau akan keluar kepada kami, dan kami terus menerus dimasjid sampai pagi, kemudian kami masuk kepada Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam dan kami berkata kepada beliau: ’Wahai Rasulullah, kami berharap engkau keluar kepada kami dan engkau shalat dengan kami, maka beliau bersabda: \"Saya tidak senang witir diwajibkan atas kalian.’'\rPertama : Al Hafizh Adz Dzahabi dalam kitab Miizaanul I'tidal juz III halaman 310, ketika menjelaskan rawi yang bernama 'Isa bin Jaariyah, beliau mengutip sebuah sanad dan matan sebagai berikut:.","part":1,"page":64},{"id":65,"text":"جعفر بن حميد ، حدثنا يعقوب القمى ، عن عيسى بن جارية ، عن جابر ، قال : صلى بنا رسول الله صلى الله عليه وسلم ليلة في رمضان ثمانى ركعات ، والوتر ، فلما كان في القابلة اجتمعنا ورجونا أن يخرج ، فلم نزل حتى أصبحنا ، قال : فدخلنا على النبي صلى الله عليه وسلم فقلنا : يا رسول الله اجتمعنا في المسجد ، ورجونا أن تخرج إلينا . فقال : إنى كرهت أن يكتب عليكم الوتر\ral-Hafizh Adz-Dzahabi berkata : ISNAADUHUU WASATHUN (sanadnya tengah-tengah). [ Sumber:Miizaanul I'tidal 3/310, cetakan Daar Ihya al Kutub al 'Arabiyyah ].\rKedua : Al Hafizh al Haitsami dalam kitab Majma'uz Zawaaid juz III halaman 224\rوعن جابر قال: صلى بنا رسول الله صلى الله عليه وسلم في شهر رمضان ثمان ركعات وأوتر فلما كانت القابلة اجتمعنا في المسجد ورجونا أن يخرج إلينا فلم يزل فيه حتى أصبحنا ثم دخلنا فقلنا: يا رسول الله اجتمعنا في المسجد ورجونا أن تصلي بنا؟ قال:إني خشيت - أو كرهت - أن يكتب عليكم\". رواه أبو يعلى والطبراني في الصغير وفيه عيسى بن جارية وثقه ابن حبان وغيره وضعفه ابن معين.\rRAWAAHU ABUU YA'LAA WATHTHABARAANI FISHSHAGHIIRWA FIIHI 'IISAA IBNU JAARIYAH WATSTSAQAHUU IBNU HIBBAAN WA GHAIRUHUU WA DHA''AFAHUU IBNU MA'IIN\rHadits diriwayatkan oleh Abu Ya'la dan ath Thabarani.Didalam hadits ada Isa bin Jariyah, dia ditsqahkan oleh Ibnu Hibban dan lainnya, didha'ifkan oleh Ibnu Ma'in\rSumber :","part":1,"page":65},{"id":66,"text":"* مجمع الزوائد. الإصدار 2.02* *للحافظ الهيثمي* * اسم الكتاب الكامل: مجمع الزوائد ومنبع الفوائد* *للحافظ نور الدين علي بن أبي بكر الهيثمي المتوفى سنة 807* بتحرير الحافظين الجليلين: العراقي وابن حجر* *المحتويات: جميع الكتاب: الجزء الأول حتى العاشر.* جميع الكتاب مدقق مرتين* *تم التدقيق الثاني بالمقابلة مع طبعة دار الفكر، بيروت، طبعة 1412 هـ، الموافق 1992 ميلادي\rhttp://islamport.com/d/1/mtn/1/81/2972.html\rKetiga : Dr. Muhammad Musthafa al A'zhami ketika mentahqiq shahih Ibnu Khuzaimah, beliau mengomentari hadist diatas :\rإسناده حسن عيسى بن جارية فيه لين\rISNAADUHUU HASAN, 'IISAA IBNU JAARIYAH FIIHI LIINUN (sanadnya hasan, Isa bin Jariyah didalamnya ada kelemahan).\rSumber :\rالكتاب : صحيح ابن خزيمةالمؤلف : محمد بن إسحاق بن خزيمة أبو بكر السلمي النيسابوريالناشر : المكتب الإسلامي - بيروت ، 1390 - 1970تحقيق : د. محمد مصطفى الأعظمي\rKeempat : Syu'eib al Arna`uth ketika mentahqiq shahih Ibnu Hibban, beliau mengomentari hadits diatas :\rإسناده ضعيف\rISNAADUHUU DHA'IIFUN (sanadnya dha'if).\rSumber :\rالكتاب : صحيح ابن حبان بترتيب ابن بلبانالمؤلف : محمد بن حبان بن أحمد أبو حاتم التميمي البستيالناشر : مؤسسة الرسالة - بيروتالطبعة الثانية ، 1414 - 1993تحقيق : شعيب الأرنؤوطعدد الأجزاء : 18الأحاديث مذيلة بأحكام شعيب الأرنؤوط عليها\rDi atas dikatakan:al Hafizh Adz Dzahabi berkata :\rإسناده وسط\rISNAADUHUU WASATHUN (sanadnya tengah-tengah). Saya belum menemukan apakah itu yang dmaksud dengan : ISNAD WASATH, Hanya saja dalam sebuah situs dikatakan:","part":1,"page":66},{"id":67,"text":"وقولهم: ((حديث صالح)) أو: ((إسناده صالح)) وهذا يرادف الحسن، وقد يكون أدنى منه، كصالح للاعتبار لا للاحتجاج.وقولهم: ((إسناده وسط)) فهو بمنزلة ((صالح)) إلا إن دلت قرينة على إرادة الحسن.\rLink Asal : www.fb.com/groups/piss.ktb/450979701591510/\r1731. KAJIAN RAMADHAN : DERAJAT HADIST HUJJAH SHOLAT TARAWIH 11 RAKAAT\rOLEH : Yai Abdullah Afif\rDalam hadits yang menerangkan bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam Qiyam Ramadhan 11 rakaat ada seorang rawi yang bernama Isa bin Jariyah. Al Hafizh al Haitsami dalam kitab Majma'uz Zawaaid juz III halaman 224 menjelaskan :\rوعن جابر قال\r: صلى بنا رسول الله صلى الله عليه وسلم في شهر رمضان ثمان ركعات وأوتر فلما كانت القابلة اجتمعنا في المسجد ورجونا أن يخرج إلينا فلم يزل فيه حتى أصبحنا ثم دخلنا فقلنا: يا رسول الله اجتمعنا في المسجد ورجونا أن تصلي بنا؟ قال:إني خشيت - أو كرهت - أن يكتب عليكم\". رواه أبو يعلى والطبراني في الصغير وفيه عيسى بن جارية وثقه ابن حبان وغيره وضعفه ابن معين.\rRAWAAHU ABUU YA'LAA WATHTHABARAANI FISHSHAGHIIRWA FIIHI 'IISAA IBNU JAARIYAH WATSTSAQAHUU IBNU HIBBAAN WA GHAIRUHUU WA DHA''AFAHUU IBNU MA'IIN. Hadits diriwayatkan oleh Abu Ya'la dan ath Thabarani.Didalam hadits ada Isa bin Jariyah, dia ditsqahkan oleh Ibnu Hibban dan lainnya, didha'ifkan oleh Ibnu Ma'in.\rBerikut penilaian ulama ahlujjarh watta’dil mengenai rawi tersebut:\rPertama : Al Hafizh al Mizzi dalam kitab Tahdziibul Kamaal 22/588 (Maktabah Syamilah) 4619","part":1,"page":67},{"id":68,"text":"- ق عيسى بن جارية الأنصاريالمدني روى عن جابر بن عبد الله الأنصاري ق وجرير بن عبد الله البجلي وسالم بن عبد الله بن عمر وسعيد بن المسيب وشريك رجل له صحبة وأبي سلمة بن عبد الرحمن بن عوف روى عنه أبو صخر حميد بن زياد المدني وزيد بن أبي أنيسة وسعيد بن محمد الأنصاري وعنبسة بن سعيد الرازي ويعقوب بن عبد الله الأشعري القمي ق قال أبو بكر بن أبي خيثمة عن يحيى بن معين ليس حديثه بذاك لا أعلم أحدا روى عنه غير يعقوب القميوقال عباس الدوري عن يحيى بن معين عنده مناكير حدث عنه يعقوب القمي وعنبسة قاضي الريوقال أبو زرعة ينبغي أن يكون مدينيا لا بأس بهوقال أبو حاتم عيسى الأنصاري الذي روى عن أبي سلمة روى عنه زيد بن أبي أنيسة هو عندي عيسى بن جاريةوقال أبو عبيد الآجري عن أبي داود منكر الحديثوقال في موضع آخر ما أعرفه روى مناكيروذكره بن حبان في كتاب الثقات روى له بن ماجة حديثا واحدا\rKedua : Al Hafizh Adz Dzahabi dalam kitab Miizaanul I’tidaal 3/310 (Maktabah Syamilah)6555\r- عيسى بن جارية [ د ] الانصاري.عن جابر.مدنى.وعنه يعقوب القمى، وجماعة.قال ابن معين: عنده مناكير.وقال النسائي: منكر الحديث، وجاء عنه: متروك.وقال أبو زرعة: لا بأس به.\rKetiga : Al Hafizh Ibnu Hajar dalam kitab Tahdziibuttahdziib8/185 (Maktabah Syamilah)384\r- ق (ابن ماجة) عيسى بن جارية (5) الانصاري المدني.روى عن جرير البجلي وجابر بن عبدالله وشريك رجل له صحبة وابن المسيب وأبيسلمة بن عبدالرحمن وسالم بن عبدالله بن عمر.وعنه أبو صخر حميد بن زياد وزيد ابن أبي أنيسة ويعقوب القمي وعنبسة بن سعيد الرازي وسعيد بن محمد الانصاري.","part":1,"page":68},{"id":69,"text":"قال ابن أبي خيثمة عن ابن معين ليس بذاك لا أعلم أحدا روى عنه غير يعقوب وقال الدوري عن ابن معين عنده مناكير حدث عنه يعقوب القمي وعنبسة قاضي الري وقال أبو زرعة لا بأس به وقال أبو حاتم عيسى الدوري عن أبي سلمة وعنه زيد بن أبي أنيسة هو عندي عيسى بن جاريةوقال الآجري عن أبي داود منكر الحديث وقال في موضع آخر ما أعرفه ووى مناكيروذكره ابن حبان في الثقات.له عنده حديث جابر خرج رسول الله صلى الله عليه وسلم بمكة فمر على رجل يصلي.\rقلت: وذكره الساجي والعقيلي في الضعفاء وقال ابن عدي أحاديثه غير محفوظة.\rTidak afdhal :-) kalau belum menyertakan Syeikh Al Albani dalam mengkaji sebuah riwayat., berikut penilaian beliau sebagaimana dalam kitabnya, Shalaatuttaraawih halaman 21 : Syeikh al Albani berkata\rإني خشيت أن يكتب عليكم :رواه ابن نصر والطبراني وسنده حسن بما قبله واشار الحافظ في الفتح وفي التلخيص إلى تقويته وعزاه لابن خزيمة و ابن حبان في صحيحهما\rCatatan : saya tidak akan mengomentari apa yang diakatakan oleh Syeikh al Albani bahwa hadits tersebut sanadnya hasan, saya hanya akan mengomentari apa yang dikatakan beliau:\rواشار الحافظ في الفتح وفي التلخيص إلى تقويته وعزاه لابن خزيمة وابن حبان في صحيحهما\rBetulkah ada isyarat penguatan dari al Hafizh Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari dan at talkhis al Habir ? berikut apa yang dijelaskan oleh al Hafizh Ibnu Hajar\rPertama : dalam kitab Fat-hul Baari 3/12 (Maktabah Syamilah)\rولم أر في شيء من طرقه بيان عدد صلاته في تلك الليالي، لكن روى ابن خزيمة وابن حبان، من حديث جابر،قال: \"صلى بنا رسول الله صلى ال","part":1,"page":69},{"id":70,"text":"له عليه وسلم في رمضان ثمان ركعات ثم أوتر، فلما كانت القابلة اجتمعنا في المسجد ورجونا أن يخرج إلينا حتى أصبحنا، ثم دخلنا فقلنا: يا رسول الله\". الحديث، فإن كانت القصة واحدة احتمل أن يكون جابر ممن جاء فيالليلة الثالثة فلذلك اقتصر على وصف ليلتين، وكذا ما وقع عند مسلم، من حديث أنس، \"كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصلي في رمضان، فجئت فقمت إلى جنبه،فجاء رجل فقام حتى كنا رهطاً، فلما أحس بنا تجوز ثم دخل رحله\" الحديث، والظاهر أن هذا كان في قصة أخرى.\rKedua : dalam kitab at Talkhiis al Habiir 2/21 (Maktabah Syamilah)\rحَدِيثُ أَنَّهُ صلى اللَّهُ عليه وسلم صلى بِالنَّاسِ عِشْرِينَ رَكْعَةً لَيْلَتَيْنِ فلما كان في اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ اجْتَمَعَ الناس فلم يَخْرُجْ إلَيْهِمْ ثُمَّ قال من الْغَدِ خَشِيت أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ فَلَا تُطِيقُوهَا مُتَّفَقٌ على صِحَّتِهِ من حديث عَائِشَةَ دُونَ عَدَدِ الرَّكَعَاتِ وفي رِوَايَةٍ لَهُمَا خَشِيت أَنْ تُفْتَرَضَ عَلَيْكُمْ صَلَاةُ اللَّيْلِ فَتَعْجِزُوا عنها زَادَ الْبُخَارِيُّ في رِوَايَةٍ فَتُوُفِّيَ رسول اللَّهِ صلى اللَّهُ عليه وسلم وَالْأَمْرُ على ذلك","part":1,"page":70},{"id":71,"text":"وَأَمَّا الْعَدَدُ فَرَوَى بن حِبَّانَ في صَحِيحِهِ من حديث جَابِرٍ أَنَّهُ صلى بِهِمْ ثمان ثماني ) ) ) رَكَعَاتٍ ثُمَّ أَوْتَرَ فَهَذَا مُبَايِنٌ لِمَا ذَكَرَ الْمُصَنِّفُ نعم ذِكْرُ الْعِشْرِينَ وَرَدَ في حَدِيثٍ آخَرَ رواه الْبَيْهَقِيُّ من حديث بن عَبَّاسٍ أَنَّ النبي صلى اللَّهُ عليه وسلم كان يصلى في شَهْرِ رَمَضَانَ في غَيْرِ جَمَاعَةٍ عِشْرِينَ رَكْعَةً وَالْوِتْرَ زَادَ سُلَيْمٌ الرَّازِيّ في كِتَابِ التَّرْغِيبِ له وَيُوتِرُ بِثَلَاثٍ قال الْبَيْهَقِيُّ تَفَرَّدَ بِهِ أبو شَيْبَةَ إبْرَاهِيمُ بن عُثْمَانَ وهو ضَعِيفٌ وفي الْمُوَطَّأِ وَابْنِ أبي شَيْبَةَ وَالْبَيْهَقِيِّ عن عُمَرَ أَنَّهُ جَمَعَ الناس على أُبَيِّ بن كَعْبٍ فَكَانَ يُصَلِّي بِهِمْ في شَهْرِ رَمَضَانَ عِشْرِينَ رَكْعَةً الحديث\rLink Asal : www.fb.com/groups/piss.ktb/451002604922553/\r1732. KAJIAN RAMADHAN : HUJJAH SHOLAT TARAWIH 11 RAKAAT BAG. 2\rOLEH : Yai Abdullah Afif\rDiantara hujjah bertarawih 11 Rakaat adalah sebuah hadits yang diriwayatkan dari shahabat Ubayy bin Ka’ab berikut :\rجاء أبي بن كعب إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال : يا رسول الله ، إنه كان مني الليلة شيء – يعني في رمضان – قال : وما ذاك يا أبي ؟ قال : نسوة في داري قلن : إنا لا نقرأ القرآن ، فنصلي بصلاتك ، قال : فصليت بهن ثماني ركعات ، ثم أوترت ، قال : فكان شبه الرضا ، ولم يقل شيئا.","part":1,"page":71},{"id":72,"text":"JAA`A UBAYYU IBNU KA’BIN ILANNABIYYI shallallaahu ‘alaihi wasallam FAQAALA:YAA RASUULALLAAH, INNAHUU KAANA MINNII ALLAILATA SYAI`UN – YA’NII FII RAMADHAAN-QAALA: WA MAA DZAAKA YAA UBAYYU ?QAALA: NISWATUN FII DAARII QULNA INNAA LAA NAQRA`U AL QUR`AANA FANUSHALLII BISHALAATIKA QAALA FASHALLAITU BIHINNA TSAMAANIYA RAKA’AATIN TSUMMA AUTARTU QAALA FAKAANA SYIBHARRIDHAA WA LAM YAQUL SYAI`AN……..\rUbay bin Ka`ab datang menghadap Nabi shallallahu alaihi wa sallam lalu berkata : “Wahai Rasulullah tadi malam ada sesuatu yang saya lakukan, maksudnya pada bulan Ramadhan.” Nabi shallallahu alaihi wa sallam kemudian bertanya: “Apakah itu, wahai Ubay?” Ubay menjawab : “Orang-orang wanita di rumah saya mengatakan, mereka tidak dapat membaca Al-Qur`an. Mereka minta saya untuk mengimami shalat mereka. Maka saya shalat bersama mereka delapan rakaat, kemudian saya shalat Witir.” Jabir kemudian berkata : “Maka hal itu sepertinya diridhai Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan beliau tidak berkata apa-apa.”\rCatatan:\rPERTAMA : Hadits ini diriwayatkan oleh:\r1. Imam Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya 6/291Sanad dan matannya sebagai berikut:\rأخبرنا أحمد بن علي بن المثنى قال : حدثنا عبد الأعلى بن حماد قال : حدثنا يعقوب القمي قال : حدثنا عيسى بن جارية حدثنا جابر بن عبد الله قال : جاء أبي بن كعب إلى النبي صلى الله عليه و سلم فقال : يا رسول الله إنه كان مني الليلة شيء - يعني في رمضان - قال : وما ذاك يا أبي ؟ قال : نسوة في داري قلن : إنا لا نقرأ القرآن فنصلي بصلاتك قال : فصليت بهن ثماني ركعات ثم أوترت قال : فكان شبه الرضا ولم يقل شيئا\rSumber :","part":1,"page":72},{"id":73,"text":"الكتاب : صحيح ابن حبان بترتيب ابن بلبانالمؤلف : محمد بن حبان بن أحمد أبو حاتم التميمي البستيالناشر : مؤسسة الرسالة - بيروتالطبعة الثانية ، 1414 - 1993\r2. Imam ath Thabarani dalam kitab al Mu’jam al Ausath 4/441Sanad dan matannya sebgai berikut:\rحدثنا عثمان بن عبيد الله الطلحي قال : حدثنا جعفر بن حميد قال : حدثنا يعقوب القمي ، عن عيسى بن جارية ، عن جابر قال : جاء أبي فقال : \" يا رسول الله ، كان مني الليلة شيء إن نساء اجتمعن في داري لا يقرأن ، فصليت بهن ثماني ركعات ، ثم أوترت فسكت النبي صلى الله عليه وسلم ، فكان شبه الرضا \"\rSumber : http://www.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?flag=1&bk_no=85&ID=3722\r3. Imam Abu Ya’la dalam kitab MusnadnyaSanad dan matannya sebagai berikut:\rحدثنا عبد الأعلى حدثنا يعقوب عن عيسى بن جارية حدثنا جابر بن عبد الله قال جاء أبي بن كعب إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال يا رسول الله إن كان مني الليلة شيء يعني في رمضان قال وما ذاك يا أبي قال نسوة في داري قلن إنا لا نقرأ القرآن فنصلي بصلاتك قال فصليت بهن ثمان ركعات ثم أوترت قال فكان شبه الرضا ولم يقل شيئا\rSumber : http://www.kl28.com/knol2/?p=view&post=176553&page=21\rKEDUA : Hadits diatas menurut penilaian al Hafizh al Haitsami dalam kitab Majma’uzzawaa`id sanadnya hasan. Berikut teks selengkapnya:\rوعن جابر بن عبد الله قال: جاء أبي بن كعب إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: يا رسول الله إنه كان مني الليلة شيء - يعني في رمضان - قال: 'وما ذاك يا أبي؟' قال: نسوة في داري قلن إنا لا نقرأ القرآن فنصلي بصلاتك قال: فصليت بهن ثمان ركعات وأوترت. فكان شبه الرضا ولم يقل شيئاً. رواه أبو يعلى والطبراني بنحوه في الأوسط وإسناده حسن.\rSumber: http://www.kl28.com/knol2/?p=view&post=175243&page=41","part":1,"page":73},{"id":74,"text":"Sementara Syeikh Syu’eib al Arna`uth menilai sanadnya dha’ifBerikut teks selengkapnya:2550\r- أخبرنا أحمد بن علي بن المثنى قال : حدثنا عبد الأعلى بن حماد قال : حدثنا يعقوب القمي قال : حدثنا عيسى بن جارية حدثنا جابر بن عبد الله قال : جاء أبي بن كعب إلى النبي صلى الله عليه و سلم فقال : يا رسول الله إنه كان مني الليلة شيء - يعني في رمضان - قال : وما ذاك يا أبي ؟ قال : نسوة في داري قلن : إنا لا نقرأ القرآن فنصلي بصلاتك قال : فصليت بهن ثماني ركعات ثم أوترت قال : فكان شبه الرضا ولم يقل شيئاإسناده ضعيف (6/291)\rSumber :\r[ صحيح ابن حبان ]الكتاب : صحيح ابن حبان بترتيب ابن بلبانالمؤلف : محمد بن حبان بن أحمد أبو حاتم التميمي البستيالناشر : مؤسسة الرسالة - بيروتالطبعة الثانية ، 1414 - 1993تحقيق : شعيب الأرنؤوطعدد الأجزاء : 18الأحاديث مذيلة بأحكام شعيب الأرنؤوط عليها\rKETIGA : Hadits diatas sebagaimana hadits Jabir (lihat kajian 1,2 dan 3), ada rawi yang bernama Isa bin Jariyah (lihat penilaian ulama ahluljarh watta’dil dalam kajian nomor 3). Tambahan keterangan tentang rawi yang bernama Isa bin Jariyah.Saya kutipkan dari kitab al Kaamil fii Dhu'afaairrijaal lil haafizh Ibni 'Adi teks selengkapnya sbb:\r[ 1392 ] عيسى بن جارية حدثنا محمد بن أحمد بن حماد ثنا عباس عن يحيى قال عيس\rى بن جارية يروي عنه يعقوب القمي لا أعلم روى عنه غيره وحديثه ليس بذاك وفي موضع آخر عيسى بن جارية عنده أحاديث مناكير يحدث عنه يعقوب القمي وعنبسة قاضي الري وقال النسائي عيسى بن جارية يروي عنه يعقوب القمي منكر الحديث ولا نعلم أحدا حدث عنه غير يعقوب وعنبسة","part":1,"page":74},{"id":75,"text":"حدثنا محمد بن الحسن البصري بحلب قال ثنا عبد الأعلى بن حماد قال ثنا يعقوب بن عبد الله عن عيسى بن جارية قال ثنا جابر بن عبد الله قال جاء أبي بن كعب فقال يا رسول الله صلى كان مني الليلة شيء يعني في رمضان قال وما ذاك يا أبي قال نسوة في داري قلن إنا لا نقرأ القرآن فنصلي بصلاتك فصليت بهن ثماني ركعات ثم أوترت قال وكان شبه الرضى ولم يقل له شيئا\rحدثنا أحمد بن صالح التميمي قال ثنا محمد بن حميد قال ثنا يعقوب القمي قال ثنا عيسى بن جارية عن جابر بن عبد الله قال جاء بن أم مكتوم إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال إن منزلي شاسع وأنا مكفوف البصر وأنا اسمع الأذان قال فإن سمعت الأذان فأجب ولو حبوا أو قال زحفا\rحدثنا أحمد بن صالح قال ثنا بن حميد قال ثنا يعقوب عن عيسى عن جابر قال أمر النبي صلى الله عليه وسلم بقتل كلاب المدينة فجاء بن أم مكتوم فقال يا نبي الله منزلي شاسع ولي كلب فرخص له أياما ثم أمر بقتل كلبه وبهذا الإسناد ثمانية أحاديث أخر حدثناه بن صالح بها غير محفوظة\rحدثنا بن ذريح قال ثنا جعفر بن حميد الكوفي قال ثنا يعقوب بن عبد الله عن عيسى بن جارية عن جابر قال صلى بنا رسول الله صلى الله عليه وسلم في رمضان ليلة ثماني ركعات والوتر فلما كان في القابلة اجتمعنا في المسجد ورجونا أن يخرج إلينا فلم نزل فيه حتى أصبحنا قال فدخلنا على النبي صلى الله عليه وسلم فقلنا يا رسول الله اجتمعنا في المسجد ورجونا أن تخرج إلينا فقال إني كرهت أن يكتب عليكم الوتر حدثنا بن ذريح بهذا الإسناد بأحاديث أخر وكلها غير محفوظة\rSumber: http://www.kl28.com/knol2/?p=view&post=148207&page=61\rSelanjutnya tentang perintah shahabat Umar kepada Ubayy bin Ka'ab dan Tamim ad Daari supaya mengimami jama'ah dengan 11 rakaat (Lihat Muwaththa` juz I halaman 138). Wallaahu A'lam\rLink Asal : www.fb.com/groups/piss.ktb/451334324889381/","part":1,"page":75},{"id":76,"text":"1733. KAJIAN RAMADHAN : HUJJAH SHOLAT TARAWIH 20 RAKAAT\rOLEH : Yai Abdullah Afif\rAdapuan hadits yang menerangkan bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam melakukan qiyam Ramadhan 20 (dua puluh) rakaat adalah diriwayatkan oleh :\r1. Imam Ibnu Abi Syaibah dalam kitab Mushannafnya 2/68Sanad dan matannya sbb:\rحدثنا يزيد بن هارون قال انا ابراهيم بن عثمان عن الحكم عن مقسم عن ابن عباس أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يصلي في رمضان عشرين ركعة والوتر\rHaddatsanaa yaziid ibnu haaruun qaala anaa ibraahiim ibnu ‘utsmaan an al hakam ‘an miqsam ‘an ibni ‘abbaas:ANNA RASUULALLAAH shallallaahu ‘alaihi wasallam KAANA YUSHALLII FII RAMADHAAN ‘ISYRIINA RAK’ATAN WAL WITRA\rTelah menceritakan kepada kami (Ibnu Abi Syaibah) Yazid bin Harun ia berkata telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Utsman dari Al-Hakam dari Miqsam dari Ibnu Abbas bahwasanya Nabi Shalallahu Alaihi Wasalam shalat pada bulan Ramadhan dua puluh rakat dan witir. [ Sumber: http://www.kl28.com/knol2/?p=view&post=27814&page=68 ].\r2. Imam ‘Abd ibn Humaid dalam kitab MusnadnyaSanad dan matannya sbb:\rحَدَّثَنِي أَبُو نُعَيْمٍ ، قَالَ : حَدَّثَنِي أَبُو شَيْبَةَ ، عَنِ الْحَكَمِ ، عَنْ مِقْسَمٍ ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، قَالَ : \" كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِي رَمَضَانَ عِشْرِينَ رَكْعَةً ، وَيُوتِرُ بِثَلاثٍ\rSumber : http://www.islamweb.net/hadith/display_hbook.php?bk_no=133&hid=660&pid=29141\r3. Imam Ath Thabarani dalam:- al Mu’jam al Kabir Sanad dan matannya sbb:","part":1,"page":76},{"id":77,"text":"حدثنا محمد بن جعفر الرازي ثنا علي بن الجعد ثنا أبو شيبة إبراهيم بن عثمان عن الحكم عن مقسم عن بن عباس قال كان النبي صلى الله عليه وسلم يصلي في رمضان عشرين ركعة والوتر\rSumber : http://www.shiaonlinelibrary.com/%D8%A7%D9%84%D9%83%D8%AA%D8%A8/2055_%D8%A7%D9%84%D9%85%D8%B9%D8%AC%D9%85-%D8%A7%D9%84%D9%83%D8%A8%D9%8A%D8%B1-%D8%A7%D9%84%D8%B7%D8%A8%D8%B1%D8%A7%D9%86%D9%8A-%D8%AC-%D9%A1%D9%A1/%D8%A7%D9%84%D8%B5%D9%81%D8%AD%D8%A9_311\r_ al Mu’jam al Ausath 1/445Sanad dan matannya sbb:\rحدثنا أحمد بن يحيى الحلواني قال : حدثنا علي بن الجعد قال : حدثنا أبو شيبة إبراهيم بن عثمان ، عن الحكم بن عتيبة ، عن مقسم . عن ابن عباس ، أن النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ كان \" يصلي في رمضان عشرين ركعة سوى الوتر \" . لم يرو هذا الحديث عن الحكم إلا أبو شيبة و . لا يروى عن ابن عباس إلا بهذا الإسناد\rSumber: http://www.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?flag=1&bk_no=85&ID=801\r4. Imam Ibnu ‘Abdil Barr dalam kitab at Tamhiid:Sanad dan matannya sbb:\rحدثنا سعيد بن نصر : حدثنا قاسم بن أصبغ : حدثنا محمد بن وضاح : حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة : حدثنا يزيد بن هارون قال : أخبرنا إبراهيم بن عثمان عن الحكم عن مقسم عن ابن عباس أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يصلي في رمضان عشرين ركعة ، والوتر )\rSumber: http://www.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?flag=1&bk_no=78&ID=415\r5. Imam al Baihaqi dalam kitab Sunan Kubra 2/192Sanad dan matannya sbb:","part":1,"page":77},{"id":78,"text":"أنبأ أبو سعيد الماليني ثنا أبو أحمد بن عدي الحافظ ثنا عبد الله بن محمد بن عبد العزيز ثنا منصور بن أبي مزاحم ثنا أبو شيبه عن الحكم عن مقسم عن بن عباس قال كان النبي صلى الله عليه وسلم يصلي في شهر رمضان في غير جماعة بعشرين ركعة والوتر تفرد به أبو شيبه إبراهيم بن عثمان العبسي الكوفي وهو ضعيف\rSumber: http://www.kl28.com/knol2/?p=view&post=165726&page=192\rDERAJAT HADIST\rAdapun derajat hadits diatas, berikut penilaian dari:\r> Pertama :\rأبو عمر يوسف بن عبد الله بن محمد بن عبد البر\rAbu 'Umar Yusuf bin 'Abdullah bin Muhammad bin 'Abdul BarrDalam kitab:\rالتمهيد لما في الموطأ من المعاني والأسانيد\rAttamhiid limaa fil muwaththa` minal ma'aanii wal asaanid juz VIII halaman 115\rBeliau berkata:\rوقد روي عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه كان يصلي في رمضان عشرين ركعة ، والوتر إلا أنه حديث يدور على أبي شيبة إبراهيم بن عثمان جد بني أبي شيبة ، وليس بالقوي\rFokus:\rإلا أنه حديث يدور على أبي شيبة إبراهيم بن عثمان جد بني أبي شيبة ، وليس بالقوي\rhanya saja hadits tersebut berkisar pada Abu Syaibah Ibrahim bin 'Utsman kakek Bani Abu Syaibah. Dia tidak kuat.\r> Kedua:\rأبو بكر أحمد بن الحسين بن علي بن عبد الله بن موسى البيهقي\rAbu Bakar Ahmad bin al Husein bin 'Ali bin 'Abdullah bin Musa al Baihaqi dalam kitab Sunan al Kubra juz II halaman 496\rBeliau berkata\rتَفَرَّدَ بِهِ أَبُو شَيْبَةَ إِبْرَاهِيمُ بْنُ عُثْمَانَ الْعَبْسِىُّ الْكُوفِىُّ. وَهُوَ ضَعِيفٌ.\rMenyendiri dengan hadits ini Abu Syaibah Ibrahim bin 'Utsman al 'Absi al Kuufi. Dia dhaif\r> Ketiga:\rجلال الدين أبو الفضل عبد الرحمن بن أبي بكر بن محمد الخضيري السيوطي","part":1,"page":78},{"id":79,"text":"Jalaaluddin Abul fadhli 'Abdurrahman bin Abu Bakar bin Muhammad al Khudhairi as Suyuthi dalam kitab\rالمصابيح في صلاة التراويح\rAl Mashaabih Fii shalaatittarawih (Al haawi lil fatawi) halaman 413\rBeliau berkata\rقلت : هذا الحديث ضعيف جدا لا تقوم به حجة\rdan berikut penilaian ulama tentang:\rأبو شيبة إبراهيم بن عثمان\r1. Imam Ibnu Hibban dalam kitabul Majruuhiin 1/104:\rإبراهيم بن عثمان العبسي\rمن أهل واسط كان مولى لعبس، كنيته أبو شيبة، جد أبى بكر بن أبي شيبة وعثمان والقاسم بنو محمد بن إبراهيم العبسي، ولى القضاء بواسط للمنصور ثلاثة وعشرين سنة، وكان يزيد بن هارون يكتب له حيث، كان على القضاء، روى عنه إسماعيل بن أبان، كان إذا حدث عن الحكم جاء بأشياء معضلة، وكان مما كثر وهمه وفحش خطؤه. حتى خرج عن حد الاحتجاج به،\r2. Al hafizh Ibnu Hajar dalam kitab Taqriibuttahdziib 1/92:\rإبراهيم بن عثمان العبسي بالموحدة أبو شيبة الكوفي قاضي واسط مشهور بكنيته متروك الحديث من السابعة مات سنة تسع وستين\rWallaahu A'laamu Bis Showaab\rLink Asal : www.fb.com/groups/piss.ktb/452584634764350/\r1734. KAJIAN RAMADHAN : SHOLAT TARAWIH PADA MASA SAHABAT UMAR BIN KHATAB\rOLEH : Yai Abdullah Afif\rTarawih dizaman shahabat Umar bin Khaththab –radhiyallaahu ‘anhu-Shalat tarawih dizaman shahabat Umar bin Khaththab –radhiyallaahu ‘anhu- ada dua riwayat.Riwayat pertama 11 rakaat, riwayat kedua 21 rakaat (20 rakaat + witir) .\rRiwayat Pertama (11 rakaat) :\r1. Imam Malik dalam kitab al Muwaththa (Tanwirul Hawaalik, 1/137-138, cetakan Thoha Putera Semarang). Sanad dan matannya sbb:","part":1,"page":79},{"id":80,"text":"وَحَدَّثَنِي ، عَنْ مَالِك ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ يُوسُفَ ، عَنْ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ ، أَنَّهُ قَالَ \" أَمَرَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ ، وَتَمِيمًا الدَّارِيَّ أَنْ يَقُومَا لِلنَّاسِ بِإِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً \" ، قَالَ : وَقَدْ كَانَ الْقَارِئُ يَقْرَأُ بِالْمِئِينَ حَتَّى كُنَّا نَعْتَمِدُ عَلَى الْعِصِيِّ مِنْ طُولِ الْقِيَامِ وَمَا كُنَّا نَنْصَرِفُ إِلَّا فِي بُزُوْغِ الْفَجْرِ\rWA HADDATSANII ‘AN MAALIKIN ‘AN MUHAMMAD IBNI YUUSUF ‘AN AS SAA`IB IBNI YAZIID ANNAHUU QAALA:AMARA ‘UMARU IBNU AL KHATHTHAAB UBAYYA IBNA KA’BIN WA TAMIIMAN ADDAARIYYA AN YAQUUMA LINNAASI BI IHDAA ‘ASYRATA RAK’ATANQAALA WA QAD KAANA AL QAARI`U YAQRA`U BIL MI`IINA HATTAA KUNNAA NA’TAMIDU ‘ALAL ‘ISHIYYI MIN THUULIL QIYAAMI WA MAA KUNNAA NANSHARIFU ILLAA FII BUZUUGHIL FAJRI\rDan telah menceritakan kepada kami dari Maalik, dari Muhammad bin Yuusuf, dari As Saa`ib bin Yaziid, bahwasannya ia berkata :‘Umar bin Al Khaththahab memerintahkan Ubay bin Ka'b dan Tamiim Ad Daariy qiyam (ramadhan) untuk orang-orang dengan sebelas rakaat\". As Saa`ib berkata : \"al-Qaari (imam) membaca ratusan ayat, hingga kami bersandar di atas tongkat karena sangat lamanya berdiri. Dan kami tidak keluar melainkan di ambang fajar\" .\rCatatan Pertama : dalam riwayat Imam Yahya al laitsi :\r.إِلَّا فِي فُرُوعِ الْفَجْرِ\rILLAA FII FURUU’IL FAJRI\rSumber: http://www.islamweb.net/hadith/display_hbook.php?indexstartno=0&hflag&pid=1264&bk_no=19&startno=3\rCatatan Kedua : Hadits diatas juga diriwayatkan oleh Imam Thahawi dalam kitab Syarhu Ma’aanil Aatsaar. Sanad dan matannya sbb:","part":1,"page":80},{"id":81,"text":"مَا مَا حَدَّثَنَا يُونُسُ ، قَالَ : أَنْبَأَنَا ابْنُ وَهْبٍ ، أَنَّ مَالِكًا حَدَّثَهُ ح . وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكْرَةَ ، قَالَ : حَدَّثَنَا رَوْحُ بْنُ عُبَادَةَ ، قَالَ : حَدَّثَنَا مَالِكٌ ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ يُوسُفَ ، عَنِ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ ، قَالَ : \" أَمَرَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ وَتَمِيمًا الدَّارِيَّ أَنْ يَقُومَا لِلنَّاسِ بِإِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً ، قَالَ : فَكَانَ الْقَارِئُ يَقْرَأُ بِالْمِئِينَ حَتَّى يَعْتَمِدَ عَلَى الْعَصَا مِنْ طُولِ الْقِيَامِ ، وَمَا كُنَّا نَنْصَرِفُ إِلا فِي فُرُوعِ الْفَجْرِ \"\rSumber : http://www.islamweb.net/hadith/display_hbook.php?bk_no=379&pid=77753&hid=1097\r- Hadits diatas juga diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dalam Sunan Kubra Sanad dan matannya sbb:\rأَخْبَرَنَا أَبُو أَحْمَدَ الْمِهْرَجَانِىُّ أَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ جَعْفَرٍ الْمُزَكِّى حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْعَبْدِىُّ حَدَّثَنَا ابْنُ بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا مَالِكٌ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ يُوسُفَ ابْنِ أُخْتِ السَّائِبِ عَنِ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ أَنَّهُ قَالَ : أَمَرَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ أُبَىَّ بْنَ كَعْبٍ وَتَمِيمًا الدَّارِىَّ أَنْ يَقُومَا لِلنَّاسِ بِإِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً ، وَكَانَ الْقَارِئُ يَقْرَأُ بِالْمِئِينَ ، حَتَّى كَنَّا نَعْتَمِدُ عَلَى الْعِصِىِّ مِنْ طُولِ الْقِيَامِ ، وَمَا كَنَّا نَنْصَرِفُ إِلاَّ فِى فُرُوعِ الْفَجْرِ.هَكَذا فِى هَذِهِ الرِّوَايَةِ.\rSumber : Sunan al Baihaqi al Kubra juz II halaman 496 (Maktabah Syamilah)","part":1,"page":81},{"id":82,"text":"Catatan Ketiga : Dalam kitab Mushannafnya Imam Abdurrazzaaq ada perbedaan hitungan rakaat (juga sanad dari Muhammad bin Yusuf dari as Saa`ib bin Yazid).Disana dikatakan 21 rakaat, bukan 11 rakaat. Berikut sanad dan matannya:\rعبد الرزاق عن داود بن قيس وغيره عن محمد بن يوسف عن السائب بن يزيد أن عمر جمع الناس في رمضان على أبي بن كعب وعلى تميم الداري على إحدى وعشرين ركعة يقرؤون بالمئين وينصرفون عند فروع الفجر\r‘ABDURRAZZAAQ ‘AN DAAWUUD IBNI QAIS WA GHAIRIHII ‘AN MUHAMMAD IBNI YUUSUF ‘AN AS SAA`IB IBNI YAZIID:anna ‘Umar jama’a annaas fii ramadhaan ‘alaa ubayyi ibni ka’bin wa ‘alaa tamiimin addaari ‘ALAA IHDAA WA ‘ISYRIINA RAK’ATAN YAQRA`UUNA BIL MI`IIN WA YANSHARIFUUNA ‘INDA FURUU’IL FAJRI. [ Sumber:Al Mushannaf juz IV halaman 260, hadits nomor 7730 (Maktabah Syamilah) ].\rImam Nawawi sendiri dalam kitab al Majmu' meriwayatkan yang 20 rakaat. Berikut ta'birnya:\r. واحتج أصحابنا بما رواه البيهقي وغيره بالإسناد الصحيح عن السائب بن يزيد الصحابي رضي الله عنه قال : \" كانوا يقومون على عهد عمر بن الخطاب رضي الله عنه في شهر رمضان بعشرين ركعة\rSumber : Al Majmu', Syarh al Muhadzdzab 4/32 (Maktabah Syamilah)\rLink: http://www.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?ID=1270&start=0&idfrom=2026&idto=2026&bookid=14&Hashiya=3\rAsal > www.fb.com/groups/piss.ktb/453346158021531/\r1735. KAJIAN RAMADHAN : SHOLAT TARAWIH PADA MASA SAHABAT UMAR BIN KHATAB BAG.2\rOLEH : Yai Abdullah Afif\rRiwayat kedua 21 rakaat (20 rakaat + 1 witir) / 23 rakaat (20 rakaat + 3 witir) :\r1. Sunan al Baihaqi al Kubra 2/496 (Maktabah Syamilah). Sanad dan matannya sbb :","part":1,"page":82},{"id":83,"text":"وَقَدْ أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ : الْحُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْحُسَيْنِ بْنِ فَنْجُوَيْهِ الدِّينَوَرِىُّ بِالدَّامِغَانِ حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ السُّنِّىُّ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ الْبَغَوِىُّ حَدَّثَنَا عَلِىُّ بْنُ الْجَعْدِ أَخْبَرَنَا ابْنُ أَبِى ذِئْبٍ عَنْ يَزِيدَ بْنِ خُصَيْفَةَ عَنِ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ قَالَ : كَانُوا يَقُومُونَ عَلَى عَهْدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ بِعِشْرِينَ رَكْعَةً - قَالَ - وَكَانُوا يَقْرَءُونَ بِالْمِئِينِ ….\r‘AN ASSAA`IB IBNI YAZIID QAALA:KAANUU YAQUUMUUNA ‘ALAA ‘AHDI ‘UMAR IBNIL KHATHTHAABI RADHIYALLAAHU ‘ANHU FII SYAHRI RAMADHAAN BI ‘ISYRIINA RAK’ATAN QAALA:WA KAANUU YAQRA`UUNA BIL MI`IIN……..\rDari As Saa`Ib bin Yaziid, ia berkata : “Mereka berdiri (qiyam ramadhan) di zaman Umar bin Khaththaab radliyallaahu ta’ala ‘anhu di bulan Ramadhan dengan duapuluh rakaat”.As-Saaib berkata : dan mereka membaca ratusan ayat / seratus lebih\r2. Ma’rifatus Sunan wal Aatsaar lil Baihaqi 4/42 (Maktabah Syamilah). Sanad dan matannya sbb:\rأخبرنا أبو طاهر الفقيه قال أخبرنا أبو عثمان البصري قال حدثنا أبو أحمد محمد بن عبد الوهاب قال أخبرنا خالد بن مخلد قال حدثنا محمد بن جعفر قال حدثني يزيد بن حفصة عن السائب بن يزيد قال : كنا نقوم في زمان عمر بن الخطاب بعشرين ركعة والوتر…..\rDari as Saa`ib bin Yazid, berkata:Kami qiyam (ramadhan) di zaman Umar bin Khaththab dengan dua puluh dan witir\r3. Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 2/393. Sanad dan matannya sbb :7764","part":1,"page":83},{"id":84,"text":"- حَدَّثَنَا وَكِيعٌ ، عَنْ مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ ، عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ ، أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ أَمَرَ رَجُلاً يُصَلِّي بِهِمْ عِشْرِينَ رَكْعَةً.…..\rDari Yahya bin Sa’id, sesungguhnya Umar bin Khaththab memerintahkan seorang laki-laki untuk shalat dengan mereka dengan dua puluh rakaat\rSumber : http://www.islamweb.net/hadith/display_hbook.php?bk_no=96&pid=359842&hid=7506\r4. Mushannaf Abdurrazzaq 4/260-261 (Maktabah Syamilah). Sanad dan matannya sbb:\r7730 -\r- عبد الرزاق عن داود بن قيس وغيره عن محمد بن يوسف عن السائب بن يزيد أن عمر جمع الناس في رمضان على أبي بن كعب وعلى تميم الداري على إحدى وعشرين ركعة يقرؤون بالمئين وينصرفون عند فروع الفجر\rAnna ‘Umar jama’a annaas fii ramadhaan ‘alaa ubayyi ibni ka’bin wa ‘alaa tamiimin addaari ‘ALAA IHDAA WA ‘ISYRIINA RAK’ATAN YAQRA`UUNA BIL MI`IIN WA YANSHARIFUUNA ‘INDA FURUU’IL FAJRI....\rBahwasannya Umar mengumpulkan orang-orang di bulan Ramadhan atas Ubayy bin Ka’ab dan Tamiim Ad Daari dengan 21 rakaat. Mereka membaca dengan ratusan / lebih dari seratus, dan mereka kembali ketika ambang fajar\r7733 -\rعبد الرزاق عن الأسلمي عن الحارث بن عبد الرحمن بن أبي ذباب عن السائب بن يزيد قال كنا ننصرف من القيام على عهد عمر وقد دنا فروع الفجر وكان القيام على عهد عمر ثلاثة وعشرين ركعة…….\rdari as Saa`ib bin Yazid, berkata:Kami kembali dari qiyam (ramadhan) di masa Umar, saat mana awal-awal fajar benar-benar sudah dekat. Dan adalah qiyam (ramadhan) di masa Umar dua puluh tiga rakaat","part":1,"page":84},{"id":85,"text":"5. Al Muwaththa lil Imam Maalik,- (Tanwiirul Hawaalik 1/138, cetakan Thoha Putera Semarang)_ http://www.islamweb.net/hadith/display_hbook.php?indexstartno=0&hflag&pid=1264&bk_no=19&startno=4 . Sanad dan matannya sbb:\rوَحَدَّثَنِي ، عَنْ مَالِك ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ رُومَانَ ، أَنَّهُ قَالَ : \" كَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ فِي زَمَانِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فِي رَمَضَانَ بِثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ رَكْعَةً \" .\rWahaddatsanii ‘an maalikin ‘an yaziid ibni ruumaan annahuu qaala:KAANA ANNAASU YAQUUMUUNA FII ZAMAANI ‘UMARA IBNIL KHATHTHAABI FII RAMADHAAN BITSALAATSIN WA ‘ISYRIINA RAK’ATAN\rDan telah menceritakan kepadaku dari Maalik, dari Yaziid bin Ruumaan, bahwasannya ia berkata : “Orang-orang qiyam ramadhan pada masa Umar bin Khaththaab dengan duapuluh tiga raka’at\r6. Al Ahaadiits al Mukhtaarah lil Haafizh adh Dhiyaa` al Maqdisi 2/86 (Maktabah Syamilah). Sanad dan matannya sbb :1161\rأخبرنا أبو عبدالله محمود بن أحمد بن عبدالرحمن الثقفي بأصبهان أن سعيد بن أبي الرجاء الصيرفي أخبرهم قراءة عليه أنا عبدالواحد بن أحمد البقال أنا عبيدالله بن يعقوب بن إسحاق أنا جدي إسحاق بن إبراهيم بن محمد بن جميل أنا أحمد بن منيع أنا الحسن بن موسى نا أبو جعفر الرازي عن الربيع بن أنس عن أبي العالية عن أبي بن كعب أن عمر أمر أبيا أن يصلي بالناس في رمضان فقال إن الناس يصومون النهار ولا يحسنون أن ( يقرؤا ) فلو قرأت القرآن عليهم بالليل فقال يا أمير المؤمنين هذا لم يكن فقال قد علمت ولكنه أحسن فصلى بهم عشرين ركعة","part":1,"page":85},{"id":86,"text":"…….’AN UBAYYI IBNI KA’BIN ANNA ‘UMAR AMARA UBAYYAN AN YUSHALLIYA BINNAASI FII RAMADHAANFA QAALA: INNA ANNAASA YASHUUMUUNA BINNAHAARI WA LAA YUHSINUUNA AN YAQRA`UU FA LAU QARA`TA ‘ALAIHIM BILLAILFA QAALA: YAA AMIIRAL MU`MINIIN HAADZAA LAM YAKUN FA QAALA: QAD ‘ALIMTU WA LAAKINNAHUU AHSANUFASHALLAA BIHIM ‘ISYRIINA RAK’ATAN…..\rSesungguhnya Umar memerintahkan Ubayy untuk shalat dengan orang-orang di bulan Ramadhan.Umar berkata: sesungguhnya orang-orang berpuasa di sang hari. Mereka tidak pandai membaca , andaikan engkau membaca al Quran untuk mereka Maka Ubayy berkata: Wahai Amirul Mukminin, Ini belum pernah adaMaka Umar berkata: Sunggguh aku telah mengerti, tapi ini lebih bagus.Maka Ubayy pun shalat dengan mereka dua puluh rakaat.\rCatatan : Riwayat diatas juga termaktub dalam kitab:Ittihaaf al khiyarah al Maharah lil hafizh Al Buushiiri 2/177 (Maktabah Syamilah). Beliau berkata:\rرواه أحمد بن منيع واللفظ له، والنسائي في الكبرى\rLink Asal : www.fb.com/groups/piss.ktb/453736051315875/\r1745. KAJIAN RAMADHAN : HADIST- HADIST MAUQUF\rOLEH : Yai Abdullah Afif\rDerajat hadits mauquf:\rوحدثني عن مالك عن محمد بن يوسف عن السائب بن يزيد أنه قال أمر عمر بن الخطاب أبي بن كعب وتميما الداري أن يقوما للناس بإحدى عشرة ركعة قال وقد كان القارئ يقرأ بالمئين حتى كنا نعتمد على العصي من طول القيام وما كنا ننصرف إلا في فروع الفجر","part":1,"page":86},{"id":87,"text":"WA HADDATSANII ‘AN MAALIKIN ‘AN MUHAMMAD IBNI YUUSUF ‘AN AS SAA`IB IBNI YAZIID ANNAHUU QAALA:AMARA ‘UMARU IBNU AL KHATHTHAAB UBAYYA IBNA KA’BIN WA TAMIIMAN ADDAARIYYA AN YAQUUMA LINNAASI BI IHDAA ‘ASYRATA RAK’ATANQAALA WA QAD KAANA AL QAARI`U YAQRA`U BIL MI`IINA HATTAA KUNNAA NA’TAMIDU ‘ALAL ‘ISHIYYI MIN THUULIL QIYAAMI WA MAA KUNNAA NANSHARIFU ILLAA FII BUZUUGHIL FAJRI\rDan telah menceritakan kepada kami dari Maalik, dari Muhammad bin Yuusuf, dari As Saa`ib bin Yaziid, bahwasannya ia berkata :‘Umar bin Al Khaththahab memerintahkan Ubay bin Ka'b dan Tamiim Ad Daariy qiyam (ramadhan) untuk orang-orang dengan sebelas rakaat\". As Saa`ib berkata : \"al Qaari (imam) membaca ratusan ayat (lebih dari seratus ayat) hingga kami bersandar di atas tongkat karena sangat lamanya berdiri. Dan kami tidak keluar melainkan di ambang fajar\". [ Sumber:Kitab al Muwaththa` juz I halaman 138, cetakan Thoha Putera Semarang, Sumber Link:http://www.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?flag=1&bk_no=7&ID=270 ].\rPERTAMA : Imam ibnu ‘Abdil Barr.Beliau dalam kitab al Istidzkar menjelaskan:\rإلا أن الأغلب عندي في إحدى عشرة ركعة - الوهم ، والله أعلم\rILLAA ANNA AL AGHLABA ‘INDII FII IHDAA ‘ASYRATA RAK’ATAN AL WAHMU Wallaahu A’lam.\rHanya saja yang lebih dominan menurut saya dalam 11 rakaat adalah AL WAHMU (keraguan / nyipto. Jw)\rSumber Link: http://www.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?flag=1&bk_no=93&ID=426\rCatatan : Pendapat tersebut ditolak oleh Imam Subki dalam fatwanya sebagaimana yang dikutip oleh : http://www.aslein.net/showthread.php?t=16164 Beliau berkata:","part":1,"page":87},{"id":88,"text":"مالك رحمه الله ثبت حجة متقن وتوهيمه صعب وقد روي إحدى عشرة ركعة معه رجلان كبيرانأحدهما يحيى بن سعيد القطان روى ذلك عنه أبو بكر بن أبي شيبة في مصنفهوالثاني عبد العزيز بن محمد الدراوردي روى ذلك عنه سعيد بن منصور\rKemudian beliau berkata:\rفالصواب الحكم بصحة هذه الروايات عن السائب بن يزيد\rFA ASHSHAWAAB AL HUKMU BISHIHHATI HAADZIHIRRIWAAYATI ‘AN AS SAA`IB IBN YAZIID\rmaka yang benar adalah menghukumi shahih dengan riwayat-riwayat ini dari Saa`ib bin Yazied\rKEDUA : Tentang Rijaalul hadits:\r1. Imam Malik, sudah maklum. 2. Muhammad bin Yusufal hafizh Ibnu Hajar dalam kitab Taqriibuttahdzib menjelaskan:\rمحمد بن يوسف بن عبد الله الكندي المدني الأعرج ثقة ثبت من الخامسة مات في حدود الأربعين خ م ت س\rMUHAMMAD IBNU YUUSUF IBNI ‘ABDILLAAH ALKINDIYY AL MADANIYY AL A’RAJ:TSIQATUN TSABATUN\rMuhammad bin Yusuf…. TSIQAT (terpercaya / dapat dipercaya) TSABAT (kokoh)\rSumber:Taqirbuttahdzib 1/515 (Maktabah Syamilah) 3. as Saa`ib ibn Yaziidal hafizh Adz Dzahabi dalam kita Siyar A’lam an Nubala 3/437 menjelaskan:\rومن صغار الصحابة » السائب بن يزيد\rAS SAA `IB IBN YAZIID MIN SHIGHAARISHSHAHAABAH\rSaa`ib bin Yazied adalah termasuk shahabat kecil. Sumber:http://www.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?idfrom=376&idto=376&bk_no=60&ID=309\rBersambung, insya Allah, (tentang derajat hadits mauquf yang juga diriwayatkan dari Saa`ib bin Yazied yaitu:\rكَانُوا يَقُومُونَ عَلَى عَهْدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ بِعِشْرِينَ رَكْعَةً,\rHadits riwayat Al Baihaqi, Dan:","part":1,"page":88},{"id":89,"text":"أن عمر جمع الناس في رمضان على أبي بن كعب وعلى تميمالداري على إحدى وعشرين ركعة يقرؤون بالمئين وينصرفون عند فروع الفجر\r(Riwayat ‘Abdurrazzaq)\rLink Asal : www.fb.com/groups/piss.ktb/455327827823364/\r1746. IMSAK dalam perspektif HADITS DAN FIQH\rOLEH : Yai Abdullah Afif\rIMSAK dalam perspektif HADITS DAN FIQH\rImsak adalah salah satu bentuk kehati-hatian agar supaya ketika kita sahur tidak masuk dalam waktu yang sudah dilarang untuk makan dan minum. Apa lagi ada pendapat bahwa Imsak adalah wajib JARYAN 'ALAL IHTIYAATH WA SADDAN LIDZDZARII'AH (memberlakukan atas kehati-hatian, dan menutup perantara). Imam Ibn Rusydi dalam kitab Bidayatul Mujtahid juz I halaman 232, cetakan Daar al Fikr, tahun 1415 menerangkan sbb:\rوالمشهور عن مالك وعليه الجمهور أن الأكل يجوز أن يتصل بالطلوع،\rوقيل: بل يجب الإمساك قبل الطلوع.\rوالحجة للقول الأول ما في كتاب البخاري - في بعض رواياته - قال النبي -صلى الله عليه وسلم-: (وكلوا واشربوا حتى ينادي ابن أم مكتوم فإنه لا ينادي حتى يطلع الفجر) وهو نص في موضع الخلاف أو كالنص والموافق لظاهر قوله تعالى: {وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ}- الآية.\rومن ذهب إلى أنه يجب الإمساك قبل الفجر فجرياً على الاحتياط وسداً للذريعة وهو أورع القولين، والأول أقيس، والله أعلم:وقيل: بل يجب الإمساك قبل الطلوع\rWA QIILA YAJIBU AL IMSAAKU QABLATHTHULUU'I\rdan dikatakan: iya, wajib imsak sebelum terbitnya fajar\rSumber link:http://www.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?bk_no=97&ID=145&idfrom=275&idto=293&bookid=97&startno=1\rRasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam sendiri mengakhiri sahur kira-kira 50 ayat dari waktu subuh. Dalam Shahih Bukhari:\rباب قدر كم بين السحور وصلاة الفجر","part":1,"page":89},{"id":90,"text":"bab kira-kira berapa antara sahur dan shalat fajar\rحدثنا مسلم بن إبراهيم حدثنا هشام حدثنا قتادة عن أنس عن زيد بن ثابت رضي الله عنه قال تسحرنا مع النبي صلى الله عليه وسلم ثم قام إلى الصلاة قلت كم كان بين الأذان والسحور قال قدر خمسين آية\r...dari Zaid bin Tsabit Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Kami makan sahur bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau berdiri untuk melakukan shalat”.(Anas bertanya kepada Zaid bin Tsabit): “Berapa lama jarak antara adzan dan sahur?” Zaid menjawab, “Kira-kira (membaca) 50 ayat ”.\rAl Hafizh Ibnu Hajar dalam Fat-hul Bari:\rقوله : ( باب قدر كم بين السحور وصلاة الفجر ) أي : انتهاء السحور وابتداء الصلاة\rUcapan Imam Bukhari:bab kira-kira berapa antara sahur dan shalat fajar. Maksudnya : Selesainya sahur dan mulainya shalat (fajar/shubuh)\rSumber:http://www.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?idfrom=3515&idto=3516&bk_no=52&ID=1215\rImam Syafi’i dalam kitab al Umm (juz II halaman 105, cetakan Dar al Fikr, tahun 1410 H) berkata:\rوأستحب التأني بالسحور ما لم يكن في وقت مقارب يخاف أن يكون الفجر طلع فإني أحب قطعه في ذلك الوقت\rWA ASTAHIBBU ATTA`ANNII BISSUHUUR MAA LAM YAKUN FII WAQTIN MUQAARIBIN YUKHAAFU AN YAKUUNA AL FAJRU THALA’A FA INNII UHIBBU QATH’AHUU FII DZAALIKAL WAQTI\rAku senang (aku menilai mustahab) pelan-pelan / tidak tergesa-gesa dalam bersahur, selagi tidak sampai pada waktu yang mendekati (fajar/subuh) yang mana dikhawatirkan fajar terbit. (jika terjadi hal demikian) aku senang menghentikan sahur pada saat itu.","part":1,"page":90},{"id":91,"text":"Sumber link: http://www.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?bk_no=31&ID=397&idfrom=992&idto=1034&bookid=31&startno=6\rTambahan:dari hadits Bukhari diatas, Daar Ifta Mesir, mengutip fatwa Syeikh Hasanain Muhammad Makhluf:\rومن هذا يعلم أن الإمساك لا يجب إلا قبل الطلوع وأن المستحب أن يكون بينه وبين الطلوع قدر قراءة خمسين آية ويقدر ذلك زمنا بعشر دقائق تقريبا\rdari sini diketahui bahwasanya imsak itu tidak wajib kecuali sebelum terbitnya fajar, dan bahwasanya yang mustahab (sunnahnya) hendaknya antara sahur dengan terbitnya fajar kira-kira lima puluh ayat, dan hal itu dikira-kirakan kurang lebih 10 menit . [ Sumber:http://vb.arabsgate.com/printthread.php?t=465988 ].\rWallaahu A'lam. Semoga bermanfaat.\rPekalongan, 14 Ramadhan 1433 H / 3 Agustus 2012 M\rLink Asal : www.fb.com/groups/piss.ktb/455788304443983/\r1805. HADITS TENTANG PAHALA SHALAT ISYA' DAN SUBUH BERJAMA'AH\rPERTANYAAN :\rHazmin Sagara\rMohon penjelasan ? apakah istimbat hadits yang bunyinya ?? Apabila seseorang sholat berjamaah bersama imam di malam hari maka tercatat dia telah melakukan sholat sepanjang malam ?? Bolehkah kita mengambil kesimpulan bahwa sholat sunnah sendirian setelah kita sholat berjamaah di malam hari sia-sia ? dengan alasan ada dalil di atas ? atau ada tafsir lainnya ??\rJAWABAN :\r> Mbah Jenggot II\rCoab mas Hazmin Sagara baca :\rحَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيْمَ أَخْبَرَنَا الْمُغِيْرَةُ بْنُ سَلَمَةَ الْمَخْزُوْمِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ وَهُوَ اِبْنُ زِيَادٍ حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ حَكِيْمٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي عَمْرَةَ قَالَ:","part":1,"page":91},{"id":92,"text":"دَخَلَ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ الْمَسْجِدَ بَعْدَ صَلاَةِ الْمَغْرِبِ فَقَعَدَ وَحْدَهُ فَقَعَدْتُ إِلَيْهِ فَقَالَ يَا اِبْنَ أَخِي سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ وَمَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ\rTelah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim telah mengabarkan kepada kami Al Mughirah bin Salamah Al Makhzumi telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid yaitu Ibnu Ziyad, telah menceritakan kepada kami Usman bin Hakim telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Abu ‘Amrah katanya : Usman bin Affan memasuki masjid setelah shalat maghrib, ia lalu duduk seorang diri, maka aku pun duduk menyertainya. Katanya: Wahai keponakanku, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa shalat isya` berjama’ah, seolah-olah ia shalat malam selama separuh malam, dan barangsiapa shalat shubuh berjamaah, seolah-olah ia telah shalat seluruh malamnya. (Shahih Muslim 656-260).\r> Hazmin Sagara\rLalu apakah boleh menyiimpulkan bahwa hadist tersebut dapat dipahami akan sia-sia amal ibadah sholat dimalam ( qiyamullail). karena kita sudah mendapatkan pahala sholat semalam penuh dengan mengerjakan sholat isya dan subuh berjamaah... mohon penjelasannya? karena ane dengar ceramah jika sholatnya sia-sia.. menurutnya sebaiknya kita mengamalkan ibadah lannya selain sholat.. misal membaca al-quran atau zikir saja..\r> ارمل الزواج","part":1,"page":92},{"id":93,"text":"Ya tidak begitu bro karena setiap amal itu pasti ada nilainya karena itu juga sudah ketetapan alloh swt dan alloh swt maha suci untuk tiudak menepati janjinya.\rفمن يعمل مثقال ذرة خيرايره » (7) .\rفمن يعمل مثقال ذرة شرايره (8)\rBarang siapa berbuat kebaikan seberat semutpun alloh akan tau ( menilai dan mermbalasnya ).\rBegitu juga barang siapa berbuat kerjrelekan seberat dzarroh maka Alloh mengetahui dan akan membalasnya.\rAyat ini turun karena ada kaum yang menganggap shodaqoh yang kecil tidak akan ada nilai juga ayat stelahnya terntang orang yang meremehkan dosa kecil dan nganggap api neraka cuma bagi dosa besar. Waspadalah.......!!!\rLink Asal : www.fb.com/groups/piss.ktb/454922381197242/\r1832. DERAJAT HADITS MENGENAI MUKMIN SEJATI\rPERTANYAAN :\r? Didin Banjarmasin\rAssalaamu 'alaikum warahmatullah ! Tak sengaja menemukan hadits ini di al Jami'usshoghiir Imam Suyuthi :\rلم يكن مؤمن ولا يكون إلى يوم القيامة إلا وله جار يؤذيه\rTerjemah bebas : \"Tidak akan menjadi seorang mu'min sampai hari kiamat, kecuali ia mempunyai tetangga yang selalu menyakitinya\". Bagaimana derajat hadits ini ? Mohon pencerahannya !!!\rJAWABAN :\r? Abdullah Afif\rImam Suyuthi memberi tanda dengan huruf ح ( HAA`) , berarti HASAN. Teks selengkapnya :\rلم يكن مؤمن ولا يكون إلى يوم القيامة إلا وله جار يؤذيه , أبو سعيد النقاش في معجمه وابن النجار عن علي (ح )\r[ Sumber : Al Jaami' ash Shagiir juz II halaman 127 ]. Wallaahu A'lam\rOh ya, syeikh al 'Ajluuni (wafat tahun 1162 H) dalam kitab Kasyful Khafaa` wa Muziilul Ilbaas juz II halaman 145, Maktabah al Qudsi Kairo menulis:","part":1,"page":93},{"id":94,"text":"لم يكن مؤمن ولا يكون إلى يوم القيامة إلا وله جار يؤذيه رواه أبو سعيد النقاش الأصبهانى ، وابن النجار عن على كرم الله وجهه بسند ضعيف\rWallaahu A'lam.\rLink Asal : www.fb.com/groups/piss.ktb/465650003457813/\r1891. HADITS PERBANDINGAN JUMLAH PRIA-WANITA DAN HARI KIAMAT\rPERTANYAAN :\rRH Gomix\rAssalamu'alaikum wr.wb, aku mau nanya nich.. Sbnrny wanita sama pria itu lebih banyak mana to..? Trs prbndngny brp..? Bagi tmn2 yang tau, tlng djwb ya prtnyaany.. sebelum n ssdhny saya ucapkan terimakasih.. Sumonggo..\rJAWABAN :\rYupiter Jet\rWa'alaikumussalaam, bila yang dimaksud adalah kaitannya dengan hari kiamat ada hadits menyatakan...\rحَدَّثَنَا هُشَيْمٌ، أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، يَرْفَعُ الْحَدِيثَ قَالَ: \" لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُرْفَعَ الْعِلْمُ، وَيَظْهَرَ الْجَهْلُ، وَيَقِلَّ الرِّجَالُ، وَتَكْثُرُ النِّسَاءُ، حَتَّى يَكُونَ قَيِّمَ خَمْسِينَ امْرَأَةً رَجُلٌ وَاحِدٌ \" (2)\r[ Musnad imam Ahmad, juz 19/11 ].\rDiterima dari Anas bin Malik (dan hadis ini marfu') : \"tidak akan terjadi kiamat kecuali setlah ilmu terangkat, kebodohan jelas (merajalela) dan kaum laki-laki sedikit sementara kaum wanita banyak, bahkan perbandingan satu laki-laki adalah 50 wanita.\r(2) إسناده صحيح على شرط الشيخين، وقد صرح قتادة بسماعه من أنس في أكثر مصادر التخريج\rSanadnya shohih 'ala syarti ash-shohiihaini\rLink Asal : www.fb.com/groups/piss.ktb/389603741062440/\r2007. HADITS MENGENAI SHALAT TAHIYATUL MASJID\rPERTANYAAN :\rHosi Yanto Ilyas\rTlong carikan hadis tentang\rباب استحباب تحية المسجد","part":1,"page":94},{"id":95,"text":"serta asbabul warudx dan para rowi x yang lengkap, atas bantuan nya kami ucapkan byk2 terima kasih\rJAWABAN :\rAbdullah Afif\rDalam Shahih Bukhari:\rحَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَمْرٍو سَمِعَ جَابِرًا قَالَ دَخَلَ رَجُلٌ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ فَقَالَ أَصَلَّيْتَ قَالَ لَا قَالَ قُمْ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ\rTelah menceritakani kami 'Ali bin Abdillah, ia berkata: Telah menceritakan kami Sufyan, dari 'Amr, dia mendengar Jabir berkata: Seorang lelaki pada hari Jumat masuk ketika Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam sedang berkhutbah. Beliau pun bertanya, \"Apakah engkau sudah salat?\" Ia menjawab, \"Belum.\" Beliau bersabda, \"Berdirilah, kemudian salatlah dua rakaat.\". Sumber kitab : Shahih al Bukhari juz I halaman 166 atau 2/344 maktabah syamilah\rlink shahih Bukhari :\rhttp://www.kl28.net/knol3/?p=view&post=99030\rlink Fat_hul Bari :\rhttp://www.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?idfrom=1729&idto=1730&bk_no=52&ID=590\rDalam shahih Muslim\rوَحَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَإِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا وَقَالَ إِسْحَاقُ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَمْرٍو سَمِعَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُ دَخَلَ رَجُلٌ الْمَسْجِدَ وَرَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَخْطُبُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ « أَصَلَّيْتَ ». قَالَ لاَ. قَالَ « قُمْ فَصَلِّ الرَّكْعَتَيْنِ ». وَفِى رِوَايَةِ قُتَيْبَةَ قَالَ « صَلِّ رَكْعَتَيْنِ ».\rSumber kitab Shahih Muslim juz I halaman 346 atau 3/14 maktabah syamilah\rlink shahih Muslim :","part":1,"page":95},{"id":96,"text":"http://www.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?idfrom=1516&idto=1521&bk_no=1&ID=354\rLink Syarah Imam Nawawi :\rhttp://www.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?idfrom=2449&idto=2455&bk_no=53&ID=354\rLink Asal :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/483099905046156/\r2113. SIFAT ADIL PADA PARA SAHABAT NABI SAW\rPERTANYAAN :\rDidin Banjarmasin\rDalam ilmu hadits dikatakan bahwa seluruh shahabat Nabi itu ADIL. Sebenarnya apa maksud 'adil itu ? mohon penjelasan! Semoga saya bisa faham\rJAWABAN :\r> Bi Bi N\rAl Hafizd Ibnu Hajar brkata,\"Ahlussunnah sepakt bahwa sluruh sahabat adalah adil,brang siapa menentang ini adalah ahli bi'ah\". [ al Ishabah 1/17 ]. Rosulullah shollallahu 'alaihi wasallam brsabda,\"Sebaik2nya manusia adalah zamanq,kemudian zaman brikutnya,kmudian brikutnya lg\". [ HR Bukhori Muslim ]. Allah subhanahu wata'ala brfirman,'Dan demikian(pula)kami tlah jdikan kamu(umat islam) yang adil dan pilihan\". [ QS Al Baqoroh 1/143 ]. So . . . yang di maksud adilnya shohabat yaitu bukan brarti mreka tidak prnah brbuat dosa,tapi bahwa tingkah laku jejak hidupnya sangat baik. Ole karena itu smua hadits yang dari Shohabat itu bisa di trima. Sebagaimana pendapat Imam Haromai al Juwaini yang di kutip Imam az Zarkasyi dalam kitab Bahrul Muhith fi Ushulil Fiqh 4/357\r> Timur Lenk\rKalau Adil dalam bab ijtihad\rويُشْتَرَطُ فوقَ ذلكَ شرطٌ وهو ركنٌ عظيمٌ في الاجتهادِ وهو فِقْهُ النَّفْسِ أي قُوّةُ الفَهْمِ والإدراكِ. وتشترَط العدالةُ وهي السلامَةُ من الكبائِرِ ومن المداومَةِ على الصَّغَائِرِ بحيثُ تَغْلِبُ على حسَناتِهِ من حيثُ العَدَدُ. وأمّا المقلّدُ فهو الذي لم يَصِلْ إلى هذهِ المَرتَبَةِ","part":1,"page":96},{"id":97,"text":"[ syarah baiquniy ].\rقوله: (أولها الصحيح ….. إلى قوله…. في ضبطه ونقله)\rأي أن الحديث الصحيح لا بد فيه من هذه الشروط وهي أن يكون السند متصلا والاتصال يكون بأن يكون كل راو روى عمن فوقه بلفظ يدل على السماع كـ: حدثني أو سمعت وما كان في هذه الدرجة، ولا يكفي قوله – عن فلان – ليكون سماعا، مع تفصيل في هذه المسألة. (يرويه عدل ضابط عن مثله) لابد من العدالة في كل طبقة من طبقات السند، <<< والعدل هو المسلم البالغ العاقل الذي أدّى الواجبات واجتنب الكبائر ولم يصرَّ على الصغائر لأن الإصرار على الصغيرة ينقلب إلى معصية كبيرة فيصر الفاعل على هذه الصغيرة حتى تغلب حسناته سيئاته كما ذكر ذلك الإمام السيوطي، وكذلك يكون الراوي سلم من خوارم المروءة كصحبة الأراذل والبول في الطريق، قال الزرقاني:فلا يختص بالذَكَر والحُرّ.>>>>> أما الضبط فهو نوعان:ضبط صدر وهو أن يحفظ الراوي في صدره ما سمعه بحيث يتمكن من استحضاره متى شاء، وضبط كتاب وهو أن يصون الراوي ما سمعه في كتابه إلى أن يؤدي منه بحيث يأمن عليه من التحريف والزيادة وما أشبه ذلك،والمراد بالضبط هنا تمام الضبط وهو المراد عند الإطلاق في حد الصحيح لذاته، وهو ما وُجِدَت فيه الشروط الأربعة التي ذكرها المؤلف.","part":1,"page":97},{"id":98,"text":"أما الصحابة فلا يُسأل عن عدالتهم في الرواية فلو علمنا أن هناك صحابيا حتى ولو لم يشتهر عندنا لا نبحث في كتب الحديث أو الجرح والتعديل هل كان ثقة أم لا لأن الصحابة عدول أي ثقات في الرواية ولكن يجوز عليهم الوقوع في المعصية، بعض كتاب الوحي ارتدوا فمات اثنان منهم على الكفر ورجع واحد منهم إلى الإسلام ذكره الحافظ العراقي في ألفية السيرة، أما الشذوذ فالمعتمد فيه أنه مخالفة الراوي الثقة لمن هم أو هو أولى منه بالحفظ والضبط، ليس كما قال الحافظ الخليلي في الارشاد أنه مجرد انفراد الراوي بحديث يكون شاذا، لا، وليس كما قال بعضهم مجرد المخالفة ولو كان المخالف ضعيفا، لا، بل المعتمد في تعريف الشاذ ما ذكر وهو ما صححه شيخ الاسلام أمير المؤمنين في الحديث ابن حجر العسقلاني رضي الله عنه في شرح النخبة. والعلة قسمان: علة ظاهرة وعلة خفية، فالعلة الظاهرة كانقطاع السند كأن يقول ابن حبان مثلا: قال ابن عمر أو قال نافع عن ابن عمر، فهو لم يسمع من نافع ولا من ابن عمر الصحابي رضي الله عنهم، والعلة الخفية هي كون الإسناد سالما أي مقبولا من حيث الظاهر لكنه حقيقة ليس كذلك لأمر يعرفه أهل هذا الفن كأبي حاتم الرازي والبخاري إمام المحدثين والدارقطني وأمثالهم.\rفالحديث إذا توفرت فيه هذه الشروط فهو الصحيح لذاته أي صحيح في نفسه ليس لأنه صح بأمر ءاخر كأن يتقوى بإسناد ءاخر كما سيأتي، بل هو في نفسه صحيح، وهذا حد الصحيح المجمع عليه كما نص عليه العلامة الزرقاني\rوالعدل هو المسلم البالغ العاقل الذي أدّى الواجبات واجتنب الكبائر ولم يصرَّ على الصغائر لأن الإصرار على الصغيرة ينقلب إلى معصية كبيرة فيصر الفاعل على هذه الصغيرة حتى تغلب حسناته سيئاته كما ذكر ذلك الإمام السيوطي، وكذلك يكون الراوي سلم من خوارم المروءة كصحبة الأراذل والبول في الطريق، قال الزرقاني:فلا يختص بالذَكَر والحُرّ.","part":1,"page":98},{"id":99,"text":"Yang dimaksud orang yang adil adalah muslim , baligh , berakal , melaksanakan kewajiban2 , menjauhi dosa2 besar , tidak menetapi dosa2 kecil , selamat dari cacat muru ah/harga diri , tidak harus lelaki dan merdeka\r> Alif Jum'an Azend\rKeadilan sahabat . Menjadi ijmak di kalangan ulama bahawa kesemua sahabat adalah adil. Keadilan bermaksud perawi adalah seorang muslim, baligh, waras, bersih daripada sebab-sebab kefasiqan dan perkara-perkara yang menjejaskan harga diri. Definisi ini menunjukkan adil itu lawan kepada fasiq. Iaitu jika seseorang itu fasiq maka keadilannya tidak ada lagi. Keadilan sahabat membawa makna mereka tetap lurus dalam berpegang dengan agama, menjunjung perintah Allah, menjauhi laranganNya dan tidak sengaja berdusta atas nama Rasulullah s.a.w. Keadilan sahabat tidaklah bermaksud mereka itu terpelihara daripada melakukan maksiat, lupa dan tersilap. dari Mahmud Tahhan menjelaskan keadilan sahabat itu bermaksud menjauhkan diri dari sengaja berdusta dan menyeleweng dalam periwayatan dengan melakukan dosa yang menyebabkan periwayatan mereka tidak diterima. Kesan dan natijah keadilan mereka ialah semua riwayat mereka diterima tanpa perlu bersusah payah mengkaji tentang keadilan mereka. Berkenaan sahabat yang terlibat dalam fitnah pertelingkahan sesama mereka, itu dikira sebagai ijtihad yang mendapat ganjaran pahala sebagai baik sangka kepada mereka. Merekalah yang memikul amanah syariat dan mereka sebaik-baik kurun. (lihat Taysir Mustalah al-Hadith, hal. 199).\rLink Asal :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/486158704740276/\r2134. KONSEP KEADILAN\rPERTANYAAN :","part":1,"page":99},{"id":100,"text":"Dzuu Izzin Mubaarok\rNumpang nanya min... Tolong jawab ya.. Tolong blimbing saya, orang yang awam... 1. Konsep ke''Adil''an itu bagaimana sih,,, 2. Tolong jabarkan makna ayat ini KABURO MAQTAN 'INDALLAAHI AN TAQUULUU MAA LAA TAF'ALUUN... Saya haturkan banyak terimakasih sebelum dan sesudahnya...\rJAWABAN :\r> Hanya Ingin Ridlo Robby\rفيض القدير 78./ 1\rتنبيه // اخذ جمع من هذاالحديث وما في معناه انه ليس للعاصي ان ياءمر بالمعروف وينهى عن المنكر . والجمهور على انه عليه ذلك لانه مارمور بامرين ترك المعصية والمنع للغير من فعلها والاخلال باحد التكلفين لا يقتضي الاخلال بالاخر ولذلك ادلة من الكتب والسنة.\rIni kesimpulan kyai mushonnif shohibu faidlul qodir. Kesimpulan aja menurut ana karena ini menjelaskan ayat :\rكبر مقتاعندالله ان تقولوا مالا تفعلون\rDi satu sisi ada ayat yang begini,\rولتكن منكم امة يدعون الى الخير وياءمرون بالمعروف وينهون عن المنكر\rNah apa ini bertentangan ? maka disimpulkan oleh mushonnif :\rتنبيه // اخذ جمع من هذاالحديث وما في معناه انه ليس للعاصي ان ياءمر بالمعروف وينهى عن المنكر . والجمهور على انه عليه ذلك لانه مارمور بامرين ترك المعصية والمنع للغير من فعلها والاخلال باحد التكلفين لا يقتضي الاخلال بالاخر ولذلك ادلة من الكتب والسنة.\rMenurut sebabian golongan ulama' pengertian hadits, tifdak boleh bagi orang yang ma'siat amar ma'ruf nahi mungkar. Menurrut jumhur ttp wajib karena ia terkena 2 perintah, ia sediri hrs ninggalin ma'siat dan melarang yang lain meninggalkannya. Cacatnya terhadap salah 1 dari 2 perintah tidak tidak merusak pada tuntutan yang lainnya, oleh karena ini atas dasarnya alquran dann hadits.\rDari al maktabah assyamilah :","part":1,"page":100},{"id":101,"text":"موسوعة الأخلاق الإسلامية مجموعة من الباحثين بإشراف الشيخ عَلوي بن عبد القادر السقاف 375 / 1\rمعنى العدل لغة واصطلاحاً معنى العدل لغة: عَدَلَ يَعْدِلُ فهو عادِلٌ من عُدولٍ وعَدْلٍ بلَفْظ الواحِدِ وهذا اسمٌ للجَمع. رجُلٌ عَدْلٌ وامرأةٌ عَدْلٌ وعَدْلَةٌ. وعَدَّلَ الحُكْمَ تَعديلاً: أقامَهُ.\rوالعدل: خلاف الجَوَر. يقال: عَدَلَ عليه في القضيّة فهو عادِلٌ. وبسط الوالي عَدْلَهُ ومَعْدِلَتَهُ ومَعْدَلَتَهُ. وفلان من أهل المَعْدَلَةِ. وهو ما قام في النفوس أَنه مُسْتقيم. (1)\rمعنى العدل اصطلاحاً: العدل هو: (أن تعطي من نفسك الواجب وتأخذه) (2). وقيل هو: (عبارة عن الاستقامة على طريق الحق بالاجتناب عما هو محظور دينا) (3).\rوقيل هو: (استعمال الأمور في مواضعها، وأوقاتها، ووجوهها، ومقاديرها، من غير سرف، ولا تقصير، ولا تقديم، ولا تأخير) (4).\r_________\r(1) ((الصحاح في اللغة)) للجوهري (5/ 1760)، ((لسان العرب)) لابن منظور (11/ 430). ((القاموس المحيط)) للفيروز آبادي (ص1030).\r(2) ((الأخلاق والسير)) لابن حزم (ص: 81). (3) ((التعريفات)) للجرجاني (ص147). (4) ((تهذيب الأخلاق)) للجاحظ (ص 28).\r> AghitsNy Robby\rKurang lebih begini : Jika dalam hadits-hadits shohih ada yang menyatakan adzab bagi mereka yang amar bil ma'ruf tetapi ia sendiri tidak melakukannya, atau mengingkari mungkar tetapi ia sendiri melakukannya, bukanlah mereka di adzab karena amar ma'ruf n nahi mungkarnya tapi diadzab karena tidak melakukan yang ma'ruf dan tidak meninggalkan yang mungkar. Jadi, orang seperti ini dapat pahala karena amar ma'ruf/nahi mungkarnya dan dapat dosa karena meninggalkan yang ma'ruf/melakukan yang mungkar. Ada hadits yang diriwayatkan Anas bin Malik ra. beliau berkata:","part":1,"page":101},{"id":102,"text":"قلت يا رسول الله لا نأمر بالمعروف حتي نفعله و لا ننهي عن المنكر حتي نجتنبه فقال: مروا بالمعروف و ان لم تفعلوه و انهوا عن المنكر و ان لم تجتنبوه كله\r\"aku pernah bekata: wahai Rosulallah SAW tidaklah aku memerintahkan kebaikan sehingga aku sendiri melakukannya n tidaklah aku mencegah kemungkaran sehingga aku menjauhkannya. Rosulullah SAW menjaawab :perintahkan olehmu akan kebaikan walaupun kamu tidak melakukannya. n cegahlah olehmu kemungkaran walaupun kamu tidak menjauhkan seluruhnya\". (HR.thobrony).\rDiriwayatkan dari Abi Zaid Usamah bin Zaid bin Haritsah ra. beliau berkata: aku pernah mendengar Rosulullah SAW bersabda:\rسمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول يؤتى بالرجل يوم القيامة فيلقى في النار فتندلق أقتاب بطنه فيدور بها كما يدور الحم...ار بالرحى فيجتمع إليه أهل النار فيقولون يا فلان ما لك ألم تكن تأمر بالمعروف وتنهى عن المنكر فيقول بلى قد كنت آمر بالمعروف ولا آتيه وأنهى عن المنكر وآتيه\r\"akan didatangkan pada seorang laki-laki pada hari kiamat lalu dilempar ke dalam neraka, maka keluar segala isi perutnya n berputar2lah ia di dalam neraka seperti berputarnya keledai pada penggilingan, lalu berkumpullah para ahli neraka disekelilingnya n berkata:\" woi brow..elu kenapa?, bukannya elu dulu memerintah kebajikan dan mencegah kemungkaran? jawabnya: betul...,aku memerintahkan kebajikan tetapi aku sendiri tak melakukannya n aku mencegah kemungkaran tetapi aku sendiri melakukannya\".\rMengenai hadits ini Imam Ghozaly berkata:\rالتعذيب المذكور انما هو علي فعل المنكر لا علي انكاره\r\"Adzab tersebut hanyalah tersebab ia melakukan kemungkaran bukan karena ia mencegah kemungkaran\".","part":1,"page":102},{"id":103,"text":"> Abdullah Afif\rنا حَمْزَةُ ، نا عُمَرُ بْنُ مُدْرِكٍ ، نا مَكِّيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ ، نا طَلْحَةُ بْنُ عَمْرٍو ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : قُلْنَا : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، لَئِنْ لَمْ نَأْمُرْ بِمَعْرُوفٍ أَبَدًا وَلَمْ نَنْهَ عَنْ مُنْكَرٍ أَبَدًا حَتَّى لا يَبْقَى مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْءٌ إِلا عَمِلْنَا بِهِ ، وَلا مِنَ الْمُنْكَرِ شَيْءٌ أَلا انْتَهَيْنَا عَنْهُ ، إِذًا لا نَأْمُرُ بِمَعْرُوفٍ أَبَدًا وَلا نَنْهَى عَنْ مُنْكَرٍ أَبَدًا فَقَالَ : \" مُرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوهُ كُلَّهُ ، وَانْهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ ، وَإِنْ لَمْ تَنْتَهُوا عَنْهُ كُلِّهُ \"\rSumber :\rhttp://www.islamweb.net/hadith/display_hbook.php?hflag=1&bk_no=523&pid=322524\rHadits diatas juga diriwayatkan ath Thabarani dari Anas bin Malik, sanad dan matannya :\rحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الأَنْصَاريُّ ، ثَنَا عَبْدُ الْقُدُّوسِ بْنُ عَبْدِ السَّلامِ بْنِ عَبْدِ الْقُدُّوسِ ، حَدَّثَنِي أَبِي ، عَنْ جَدِّي ، عَنِ الْحَسَنِ ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ، قَالَ قُلْنَا : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، لا نَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ حَتَّى نَعْمَلَ بِهِ ، وَلا نَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ حَتَّى نَجْتَنِبَهُ كُلَّهُ ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : \" بَلْ مُرُوا بِالْمَعْرُوفِ ، وَإِنْ لَمْ تَعْمَلُوا بِهِ كُلِّهِ ، وَانْهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ ، وَإِنْ لَمْ تَجْتَنِبُوهُ كُلَّهُ \" مُرُوا بِالْمَعْرُوفِ ، وَإِنْ لَمْ تَعْمَلُوا بِهِ كُلِّهِ ، وَانْهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ ، وَإِنْ لَمْ تَجْتَنِبُوهُ كُلَّهُ","part":1,"page":103},{"id":104,"text":"MURUU BIL MA'RUUF WA IN LAM TAF'ALUU BIHII KULLIH, WANHAU 'ANIL MUNKAR WA IN LAM TAJTANIBUUHU KULLAH. Perintahkanlah olehmu kabaikan meskipun kamu tidak melaksanakannya seluruhnya. Cegahlah olehmu kemungkaran meskipun kamu tidak menjauhi keseluruhannya. Sumber :\rhttp://www.islamweb.net/hadith/display_hbook.php?bk_no=475&hid=6804&pid=674464\rHendaknya ketika mengajak kebaikan kita juga melakukannya.\rحَدَّثَنَا هُدْبَةُ بْنُ خَالِدٍ ، حَدَّثَنَا حَمَّادٌ ، حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ زَيْدٍ ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : \" أَتَيْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي عَلَى رِجَالٍ تُقْرَضُ شِفَاهُهُمْ بِمَقَارِيضَ مِنْ نَارٍ فَقُلْتُ : مَنْ هَؤُلاءِ يَا جِبْرِيلُ ؟ قَالَ : هَؤُلاءِ خُطَبَاءُ أُمَّتِكَ الَّذِينَ يَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَيَنْسَوْنَ أَنْفُسَهُمْ وَهُمْ يَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلا يَعْقِلُونَ \" . حَدَّثَنَا أَبُو خَيْثَمَةَ ، حَدَّثَنَا وَكِيعٌ ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ زَيْدٍ فَذَكَرَهُ . إِلا أَنَّهُ قَالَ : \" هَؤُلاءِ خُطَبَاءٌ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا مِمَّنْ كَانُوا يَأْمُرُونَ النَّاسَ \"\rSumber :\rhttp://www.islamweb.net/hadith/display_hbook.php?hflag=1&bk_no=4170&pid=557928\rهَؤُلاءِ خُطَبَاءُ أُمَّتِكَ الَّذِينَ يَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَيَنْسَوْنَ أَنْفُسَهُمْ وَهُمْ يَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلا يَعْقِلُونَ\rHAA`ULAA`I KHUTHABAA`U UMMATIKA ALLADZIINA YA`MURUUNA ANNAASA BIL BIRRI WA YANSAUNA ANFUSAHUM WAHUM YATLUUNAL KITAAB AFALAA YA'QILUUN.\rLink Asal :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/482186331804180/\r2223. HADITS MENGENAI RAMBUT NABI SAW\rPERTANYAAN :\rMang Guador","part":1,"page":104},{"id":105,"text":"Assalamu'alaikm ! Tolong minta hadits tentang rambut nabi sebatas kuping / bahu! terimakasih sebelumnya\rJAWABAN :\r1. Abdullah Afif\rWa'alaikumussalaam\rحَدَّثَنَا شَيْبَانُ بْنُ فَرُّوخَ حَدَّثَنَا جَرِيرُ بْنُ حَازِمٍ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ قَالَ قُلْتُ لأَنَسِ بْنِ مَالِكٍ كَيْفَ كَانَ شَعَرُ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ كَانَ شَعَرًا رَجِلاً لَيْسَ بِالْجَعْدِ وَلاَ السَّبِطِ بَيْنَ أُذُنَيْهِ وَعَاتِقِهِ.\rTelah menceritakan (kepada) kami Syaiban bin Farrukh, telah menceritakan (kepada) kami Jarir bin Hazim, telah menceritakan (kepada) kami Qatadah, beliau berkata: Aku berkata kepada Anas bin Malik: \"Bagaimana rambut Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam ?\". Beliau berkata: \"Beliau berambut ikal, tidak lurus , tidak pula terlalu keriting, panjang rambutnya sampai antara kedua telinganya dan bahunya\". [ Sumber : Shahih Muslim ]. Wallaahu A'lam. Link :\rhttp://www.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?bk_no=53&ID=1103&idfrom=6984&idto=6987&bookid=53&startno=0\r2. Sunde Pati\rالجمع بين الصحيحين البخاري ومسلم (2/ 439)\rالثاني بعد المائة عن همام عن قتادة عن أنس أن رسول الله {صلى الله عليه وسلم} كان يضرب شعره منكبيه وأخرجاه من حديث جرير بن حازم عن قتادة قال\rسألت أنس بن مالك كيف كان شعر رسول الله {صلى الله عليه وسلم} قال كان شعراً رجلاً ليس بالجعد ولا السبط بين أذنيه وعاتقه وأخرجه مسلم من حديث حميد عن أنس قال\rكان شعر رسول الله {صلى الله عليه وسلم} إلى أنصاف أذنيه اللؤلؤ والمرجان فيما اتفق عليه الشيخان (ص: 728)\rصفة شعر النبي صلى الله عليه وسلم","part":1,"page":105},{"id":106,"text":"حديث أَنَسٍ، قَالَ: كَانَ شَعَرُ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم رَجِلاً لَيْسَ بِالسَّبِطِ وَلاَ الْجَعْدِ، بَيْنَ أُذُنَيْهِ وَعَاتِقِهِ أخرجه البخاري في: 77 كتاب اللباس: 68 باب الجعد\rحديث أَنَسٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَضْرِبُ شَعَرُهُ مَنْكِبَيْهِ أخرجه البخاري في: 77 كتاب اللباس: 68 باب الجعد\rسنن النسائي الكبرى (5/ 409)\rأخبرنا محمد بن المثنى قال ثنا وهب بن جرير قال ثنا أبي قال سمعت قتادة يحدث عن أنس قال : كان شعر رسول الله صلى الله عليه و سلم شعرا رجلا ليس بالجعد ولا بالسبط بين أذنيه وعاتقيه\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/537629962926483/\r2285. HADITS YANG BERKAITAN DENGAN TEMBAKAU\rPERTANYAAN :\rIbnu Al-Ihsany\rAssalamualaikum. Adakah keterangan tentang tembakau di bumi dikencingi iblis karena ketakutan diusir oleh Allah?\rJAWABAN :\r> Ghufron Bkl\rHadits yang berkaitan dengan masalah rokok semuaya tidak punya dasar / maudlu' karena rokok terjadi / adanya rokok setelah tahun seribuan. :\r.(مسئلة ك) قال لم يرد في التنباك حديث عنه صلى الله عليه وسلم ولا أثر عن أحد من السلف وكل ما يروي فيه من ذلك لا أصل له بل مكذوب لحدوثه بعد الألف.بغية المسترشدين ص : 260\r> Ubaid Bin Aziz Hasanan\rHadist tentang rokok maudhu'\rما حكم شرب الدخان اذا نظرنا الى حديث رسول الله يا أبا هريرة يأتي أقوام في آخر الزمان يداومون هذا الدخان وهم يقولون نحن من أمة محمد وليسوا من أمتي و? أقول لهم أمة لكنهم من السوام الجواب والله سبحانه وتعالى الهادي إلى الصواب إن الدخان المذكور لم يكن في زمان النبي والحديث المشار اليه ? شك أنه حديث موضوع مكذوب على رسول الله\r[ qurrotul ain fi fatawi ismail zain ].\rWallahu A'lamu Bis Showaab\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/567997806556365","part":1,"page":106},{"id":107,"text":"2398. HADITS SHOHIH DAN HADITS DLO'IF\rPERTANYAAN :\rArifin Ilham\rAssalamualaikum para ustad & ustadzah apa saja syarat hadis sohih itu, dan apa benar hadis dhoif itu tertolak, mohon di beri penjelasannya\rJAWABAN :\r> Alfaqir Gomed\rSyaratnya ada 5 :\r1. Sanadnya bersambung\r2. Tidak syadz\r3. Tidak kemasukan illat\r4. Sifat adil\r5. Dhobith\r> Timur Lenk\rHadits itu shohih jika memenuhi lima hal\r1. Sanadnya muttasil (sambung dari awal sampai puncak)\r2. Tidak ada syudzudz (syudzudz adalah rowinya menyelisihi rowi yang lebih unggul)\r3. Tidak ada 'illat (illat adalah cacat seperti irsal khofiy atau fasiqnya rowi)\r4. Rowi-rowinya 'adil (rowi yang adail adalah muslim , 'aqil , baligh , tidak fasiq , bukan ahli bid'ah)\r5. Rowi-rowinya harus dlobith mu'tamad (daya ingat yang sangat tajam , tulisan yang teliti)\rMandhumah Al-Baiquniy Syaikh 'Umar bin Syaikh Futuh ad-Dimasyqiyy asy-Syafi'iy\rمنظومة البيقوني في علم مصطلح الحديث للعلامة الشيخ عمر ابن الشيخ فتوح الدمشقي الشافعي أولها الصحيح و هو ما اتصل :: إسناده و لم يشذ و لم يعل يرويه عدل ضابط عن مثله :: معتمد في ضبطه و نقله\rShiyanah shohih Muslim Imam Ibnu ash-Sholah\rالكتاب: صيانة صحيح مسلم من الإخلال والغلط وحمايته من الإسقاط والسقط\rالمؤلف: عثمان بن عبد الرحمن، أبو عمرو، تقي الدين المعروف بابن الصلاح (المتوفى: 643هـ)","part":1,"page":107},{"id":108,"text":"شَرط مُسلم فِي صَحِيحه أَن يكون الحَدِيث مُتَّصِل الْإِسْنَاد بِنَقْل الثِّقَة عَن الثِّقَة من أَوله إِلَى منتهاه سالما من الشذوذ وَمن الْعلَّة وَهَذَا هُوَ حد الحَدِيث الصَّحِيح فِي نفس الْأَمر فَكل حَدِيث اجْتمعت فِيهِ هَذِه الْأَوْصَاف فَلَا خلاف بَين أهل الحَدِيث فِي صِحَّته وَمَا اخْتلفُوا فِي صِحَّته من الْأَحَادِيث فقد يكون سَبَب اخْتلَافهمْ انْتِفَاء وصف من هَذِه الْأَوْصَاف بَينهم خلاف فِي اشْتِرَاطه كَمَا إِذا كَانَ بعض رُوَاة الحَدِيث مَسْتُورا أَو كَمَا إِذا كَانَ الحَدِيث مُرْسلا وَقد يكون سَبَب اخْتلَافهمْ فِي صِحَّته اخْتلَافهمْ فِي أَنه هَل اجْتمعت فِيهِ هَذِه الْأَوْصَاف أَو انْتَفَى بَعْضهَا وَهَذَا هُوَ الْأَغْلَب فِي ذَلِك وَذَلِكَ كَمَا إِذا كَانَ الحَدِيث فِي رُوَاته من اخْتلف فِي ثقته وَكَونه من شَرط الصَّحِيح فَإِذا كَانَ الحَدِيث قد تداولته الثِّقَات غير أَن فِي رِجَاله أَبَا الزبير الْمَكِّيّ مثلا أَو سُهَيْل بن أبي صَالح أَو الْعَلَاء بن عبد الرَّحْمَن أَو حَمَّاد بن سَلمَة\rAdapun hadits dlo'if bukanlah hadits palsu (maudlu') namun hadits itu lemah sehingga hanya boleh diamalkan pada fadloil al-a'mal , targhib , tarhib dan ikhtiyath sebagaimana diterangkan imam Nawawi dalam kitab Al-Adzkarnya\rAdzkar Nawawi\r[فصل] : قال العلماءُ من المحدّثين والفقهاء وغيرهم: يجوز ويُستحبّ العمل في الفضائل والترغيب والترهيب بالحديث الضعيف ما لم يكن موضوعا . وأما الأحكام كالحلال والحرام والبيع والنكاح والطلاق وغير ذلك فلا يُعمل فيها إلا بالحديث الصحيح أو الحسن إلا أن يكون في احتياط في شئ من ذلك، كما إذا وردَ حديثٌ ضعيفٌ بكراهة بعض البيوع أو الأنكحة، فإن المستحبَّ أن يتنزّه عنه ولكن لا يجب\rLink Diskusi :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/600323266657152/","part":1,"page":108},{"id":109,"text":"F0010. BENARKAH KITA TIDAK BOLEH BERAMAL DENGAN HADIST DHOIF\rHadits dha‘if, menurut golongan tertentu ,di anggap sesuatu yang remeh dan bahkan dianggap serta disamakan dengn Hadis palsu, sehingga ketika seseorang menyampaikan dan menggunakan hadits dha‘if dalam membuat dalil, maka mereka akan cepat-cepat tertawa dan menolaknya.\rHal tersebut muncul karena sikap fanatik, minimnya pengetahuan serta di kuasai nafsu syahwat tampil menyelisih, lantaran menolak hadits dhaif secara mutlak adalah sangat bertentangan dengan apa yang telah digariskan oleh ulama-ulama Islam (ijma’) bahwa hadits dha‘if boleh diamalkan dalam hal fadha’ilul ‘amal (keutamaan-keutamaan amal), mau‘idzah (nasehat) dan lain-lain. Selain itu, juga bertentangan dengan ketetapan madzhab 4, karena Imam Abu Hanifah, Ahmad bin Hanbal, Malik bin Anas menerima hadits mursal (salah satu jenis hadits dha‘if) dan menerimanya dalam membuat hujjah secara mutlak tanpa syarat. Sedangkan menurut asy-Syafi‘i hadits mursal juga boleh dijadikan hujjah jika ada hadits mursal lain atau hadits musnad yang sama dengan isi matannya.\rKlasifikasi hadits dapat dibagi menjadi 2 :","part":1,"page":109},{"id":110,"text":"1. Maqbul, (diterima ) yaitu hadits shahih dan hasan; baik shahih li dzatih (asli shahih) atau shahih li ghairih (hadits yang semula hasan kemudian terangkat derajatnya menjadi shahih karena ada penguat baik berupa syahid atau mutabi‘), hasan li dzatih (asli hasan) atau hasan li ghairih (hadits yang semula dha‘if kemudian terangkat derajatnya menjadi hasan karena adanya penguat baik berupa syahid atau mutabi‘). Dan hadits-hadits tersebut mutlak boleh dibuat dalil atau hujjah tanpa ada khilaf.\r2. Mardud (ditolak) yaitu hadits-hadits dha‘if termasuk hadits mursal.\rSedangkan dalam sisi mengambil hujjah dari hadits dha‘if, ulama masih berselisih pendapat:\r1. Tidak bisa diamalkan mutlak. Pendapat ini disampaikan oleh al-Hafizh Ibnul ‘Arabi dan kemudian diikuti al-Albani dan pengikut-pengikutnya.\r2. Bisa diamalkan mutlak, pendapat sebagian kecil ulama .\rImam Ahmad bin Hanbal mengatakan: “Boleh mengamalkan hadits dha‘if jika dalam satu masalah tidak ada hadits lain dan tidak ada hadits yang menentangnya.” Pendapat ini juga disetujui Abu Dawud. Lihat Madza fi Sya‘ban hlm. 77 dan Hasyiyah al-Fath al-Mubin Ibni Hajar karya Hasan bin Ali hlm. 95.\r3. Di-tafshil, jika berkaitan dengan akidah, tafsir dan hukum (halal atau haram), maka tidak boleh , kecuali hadits dha’if tersebut diterima para ulama (baik dalam fatwa dan pengamalan) , maka diperbolehkan mengambil hujjah dari hadits dha’if tersebut.","part":1,"page":110},{"id":111,"text":"An-Nawawi dalam al-Adzkar mengatakan: “Kecuali untuk berhati-hati seperti ketika ada hadits dha‘if yang berbicara tentang makruhnya jual beli atau nikah, maka dianjurkan untuk menghindarinya meski tidak wajib. Lihat al-Adzkar hlm. 8.\rSeperti hadits ”Setiap hutang yang menarik manfaat adalah riba\". Hadits ini dinilai mayoritas ulama (selain al-Ghazali dan Imam al-Haramain) adalah hadits dha‘if dan semestinya tidak boleh dibuat hujjah dalam hal keharaman hutang yang menerik keuntungan. Namun, karena adanya ma‘na (pendapat) yang sama dari shahabat, maka hadits ini dapat dibuat hujjah. Lihat I‘anah ath-Thalibin 3/65.\rDan Jika berkaitan dengan fadha’ilul ’amal (keutamaan-keutamaan amal), manaqib (cerita), targhib dan tarhib (untuk motifasi menggembirakan atau menakut-nakuti dalam amal) dan mau’izhah (nasehat), maka menurut mayoritas ulama (Ahlussunnah wal Jama’ah) boleh diamalkan bahkan sunnah dengan syarat-syarat:\r1. Tidak dha‘if sekali\r2. Niat berhati-hati dalam mengamalkan\r3. Masuk kaidah secara umum yang bisa diamalkan .\r(Lihat al-Adzkar an-Nawawi hlm. 7-8 dan al-Fath al-Mubin dan hasyiyah Hasan bin Ali al-Muddabighi hlm. 95).\rSedangkan hadits yang dha‘if sekali jika mempunyai banyak riwayat dan saling menguatkan antara satu dengan yang lain juga bisa dibuat hujjah (dalam fadha’ilul ‘amal), begitu menurut al-‘Allamah ar-Ramli. ( Lihat dalam Madza fi Sya'ban karya Sayyid Muhammad hlm. 79.).","part":1,"page":111},{"id":112,"text":"Ibnu Shalah mengutip dari al-Hafizh Ibnul ‘Arabi al-Maliki, bahwa tidak boleh mengamalkan hadits dha‘if secara mutlak (baik dalam hukum halal-haram maupun fadha’ilul ‘amal). Namun, pendapat tersebut ditolak ulama lain, di antaranya adalah Sayyid Alawi al-Maliki. Beliau mengatakan: “Mengherankan sekali pendapat yang dinyatakan oleh al-Hafizh Ibnul ‘Arabi tersebut, karena sesungguhnya mengamalkan hadits dha‘if adalah untuk memperoleh keutamaan dengan adanya tanda dha‘if dan tanpa menimbulkan mafsadah (kerusakan). Lagi pula, mungkin maksud dari Ibnul ‘Arabi tersebut adalah hadits yang sangat dha‘if sehingga dianggap gugur dari derajat untuk dibuat hujjah atau sekadar I‘tibar sekalipun.”\r( Pendapat Sayyid Alawi tersebut ditulis dalam kitab al-Manhal Lathif fi Ahkam al-Hadits adh-Dha‘if dan dinukil Sayyid Muhammad dalam Madza fi Sya'ban hlm. 80. Pendapat tersebut dikuatkan oleh Ibnu Hajar al-Haitami dalam mukaddimah al-Fath al-Mubin syarah Arba‘in Nawawiyyah beserta hasyiyah Hasan bin Ali. ).\rSayyid Muhammad ‘Alawi mengatakan bahwa mengamalkan hadits dha‘if dalam fadha’ilul ‘amal adalah mujma‘ ‘alaih (konsensus ulama) seperti yang dituturkan an-Nawawi dalam kitab-kitabnya, Ahmad bin Hanbal, Ibnul Mubarak, Sufyan at-Tsauri, Sufyan bin ‘Uyainah, al-Anbari dan lain-lain . Keterangan senada, bahwa mengamalkan hadits dha‘if adalah mujma’ ‘alaih, adalah apa yang disampaikan oleh al-Allamah Ibnu Hajar al- Haitami dalam al-Fath al-Mubin dan al-Fatawi al-Kubra bab puasa.","part":1,"page":112},{"id":113,"text":"Di antara ulama yang menyetujui boleh mengamalkan hadits dha‘if adalah al-Hafizh al-‘Iraqi, al-Hafizh Ibnu Hajar, Zakariyya al-Anshari, as-Suyuthi, al-Laknawi dan lain-lain . ( Al-Manhal Lathif Ushul al-Hadits asy-Syarif hlm. 52-53.).\rDari keterangan di atas, memilih pendapat pertama berarti menyelisih mayoritas Ahlussunah wal Jama‘ah bahkan ijma’ ulama. Oleh sebab itu, memilih pendapat pertama dan menganggap yang paling benar (artinya pendapat yang kedua dan ketiga adalah salah) seperti yang dipilih ulama-ulama Wahhabi -Nashiruddin al-Albani dan sefaham dengannya- adalah bentuk ketidakjujuran dalam memilih pendapat ulama. Apalagi jika sampai melakukan penghinaan atau menilai jahil (bodoh) orang-orang yang tidak sependapat dengan dirinya, yakni memilih pendapat mayoritas ulama (pendapat ketiga). Karena hal itu semakin menunjukkan ekstrimisme dalam menjalankan syariat Allah dan semakin jauh dari perilaku yang diajarkan oleh Rasulallah dan shahabat-shahabatnya. So berdalil dengn Hadist Dho`if sesuai dengn syrat2 diatas jelas jelas sependapat dengna mayoritas Ulama....kenapa mesti minder ?.\rLink Asal :\rwww.fb.com/Alfaqir.ila.rohmati.Robb?sk=notes&s=10#!/notes/389493373099\rF0073. HADITS PERBEDAAN UMATKU ADALAH RAHMAT\rOleh Mbah Jenggot\rHadits di bawah ini termasuk dari sekian hadits yang dihina dan kritik habis-habisan oleh ulama Wahhabiyyah:\rاِخْتِلاَفُ أُمَّتِي رَحْمَةٌ\r“Perbedaan-perbedaan umatku adalah rahmat.”","part":1,"page":113},{"id":114,"text":"Pengertian hadits ini masih terjadi silang pendapat, sebagian mengartikan perbedaan dalam urusan hukum, sebagian lagi mengartikan perbedaan dalam urusan pekerjaan masing-masing umatku. Namun, semua pengertian tersebut benar meski yang kuat adalah pengertian yang pertama, yaitu perbedaan dalam hukum. Artinya, ikhtilaf ulama adalah bentuk perluasan bagi umat manusia dalam memilih pendapat dari bermacam-macamnya pendapat ulama. Namun, jangan difahami bahwa ikhtilaf dianjurkan oleh Allah dan Rasul-Nya.\rHadits di atas dikeluarkan oleh Nashr al-Maqdisi dalam al-Hujjah, al-Baihaqi dalam Risalah Asy’ariyah tanpa sanad [mu’allaq] begitu juga al-Halimi, Qadhi Husain, Imam Haramain dan lain-lain. Dan dalam menyampaikan hadits ini, mereka semua tidak menggunakan shighat pasti tapi menggunakan kata-kata “diriwayatkan”. Dan sebenarnya ini sudah termasuk bukti bahwasannya hadits di atas tidak maudhu'. Lantaran tidak mungkin mereka rela memasukkan hadits palsu atau maudhu' kedalam kitab-kitab mereka. Padahal kita tahu, mereka adalah kritikus-kritikus dalam bidang hadits yang handal.","part":1,"page":114},{"id":115,"text":"As-Subki mengatakan: ”Hadits ini tidak dikenal para ahli hadits (tidak diriwayatkan dengan sanad), dan aku belum menemukan sanad shahih, dha’if atau maudhu’.” As-Suyuthi dalam al-Jami’ ash-Saghir [no. 288] setelah membawakan hadits tersebut mengatakan: “Mungkin dikeluarkan pada sebagian kitab huffazh (penghafal hadits) yang belum sampai kepada kami.”. Pernyataan ini adalah bentuk kehati-hatian as-Suyuthi dalam menyikapi hadits yang begitu masyhur dan dibawakan oleh ulama-ulama ahli hadits (tanpa sanad) yang masyhur kealimannya dan terdepan di bidangnya. Bukan seperti sikap yang ditunjukkan Nashiruddin al-Albani, yang bukan ahli hadits terpercaya, tapi dengan enteng dan tanpa beban menghina as-Suyuthi dengan mengatakan: ”Menurutku ini sangat jauh, karena konsekwensinya bahwa ada sebagian hadits Rasulallah Saw. yang luput dari umat Islam. Ini tidak layak diyakini seorang muslim.” Sebuah statemen yang sangat tidak layak ditujukan kepada as-Suyuthi.\rKehati-hatian as-Suyuthi cukup beralasan, karena selain masyhur disampaikan ulama-ulama terkemuka dan adil, makna haditsnya juga shahih, selain dikuatkan dengan hadits lain [musnad] yang diriwayatkan oleh as-Suyuthi sendiri dalam al-Madkhal dan ad-Dailami dalam Musnad al-Firdaus dari Abdullah bin Abbas secara marfu’:\rإِخْتِلاَفُ أَصْحَابِي رَحْمَةٌ\r“Perbedaan-perbedaan para sahabatku adalah rahmat.”","part":1,"page":115},{"id":116,"text":"Dan perbedaan sahabat-sahabat Nabi adalah juga perbedaan umat. Meski hadits ini dinilai lemah sanadnya oleh al-Iraqi, namun derajat kelemahannya dapat terangkat atau menjadi kuat disebabkan adanya riwayat lain yang dibawakan putranya, yaitu Abu Zur’ah dan juga Ibnu Sa’ad [mursal dha’if] sebagaimana masyhur dalam kaidah ahli ushul dan ahli hadits.\rSebagai bukti kebenaran isi kandungan hadits di atas adalah seperti yang tercatat dalam Fatawi hal. 27 karya Syaikh Husain, Mufti Malikiyyah di Makkah yang di kutib dari al-Amir Ali Abdul Baqi az-Zurqani dalam Hasyiyah Mukhtashar Khalil, bahwa Imam asy-Syafi'i berkata, \"Allah tidak akan menyiksa seorang hamba karena (meninggalkan) sesuatu yang masih di perselisihkan ulama dan perselisihan (perbedaan pendapat) ulama adalah rahmat bagi umat ini\".\rUmar bin Abdul Aziz menuturkan: “Bukan sesuatu menyenangkan bagiku, andai para shahabat-shahabat Nabi Muhammad tidak berbeda-beda, karena jika mereka tidak berbeda-beda, maka tidak akan ada rukhshah (dispensasi hukum)\". Maqalah mujaddid pertama ini menunjukkan pebedaan shahabat-shahabat Nabi tersebut adalah dalam urusan hukum agama selain juga memberi faham bahwa perbedaan-perbedaan adalah keuntungan (rahmat) bagi umat selanjutnya. Artinya, para as-Salaf as-Shalih membuka ruang bagi manusia untuk berijtihad dan diperbolehkan ikhtilaf dalam ijtihad tersebut. Sebab, andai ruang ijtihad tidak dibuka, tentu akan mempersempit para mujtahidin, karena ijtihad dan penyangkaan-penyangkaan tentu tidak bisa sama.","part":1,"page":116},{"id":117,"text":"Jika ihktilaf dianggap tidak rahmat, tentu Umar bin Abdul Aziz adalah orang yang keliru, tapi tidak ada orang yang akan berani menganggapnya keliru kecuali orang-orang yang mulut dan hatinya tidak dikunci dengan adab dan syariat.\rMaqalah Umar tersebut juga menguatkan hadits marfu’ berikut:\rأَصْحَابِي بِمَنْزِلَةِ النُّجُوْمِ فِي السَّمَاءِ فَبِأَيِّهِمْ اقْتَدَيْتُمْ اهْتَدَيْتُمْ وَاخْتِلاَفُ أَصْحَابِي لَكُمْ رَحْمَةٌ\r“Sahabat-sahabatku adalah layaknya bintang-bintang di langit, dengan yang mana kalian mengikuti, niscaya akan mendapat jalan petunjuk. Dan perbedaan-perbedaan sahabatku bagi kalian semua adalah rahmat.”\rIbnu Qudamah al-Hanbali dalam al-‘Aqa’id menandaskan: “Perbedaan imam-imam (ulama-ulama) adalah rahmat dan kesepakatan mereka adalah hujjah.”\rAsy-Syathibi mengatakan: “Segolongan ulama salaf menjadikan perselisihan umat dalam furu’ (masalah fiqh) adalah bagian dari rahmat, dan jika termasuk bagian dari rahmat maka ulama-ulama yang ikhtilaf tersebut tidak akan keluar dari jalur dari bagian ahli rahmat.”","part":1,"page":117},{"id":118,"text":"Asy-Sya‘rani mengatakan: “Para ahli kasyf menyatakan bahwa pendapat-pendapat para ulama madzhab adalah sesuai dengan syariat secara kenyataan (nafs al-amr), meskipun itu tidak diketahui jelas oleh para pengikutnya. Dan pendapat-pendapat ulama madzhab tersebut adalah sesuai dengan syariat Nabi terdahulu. Maka jika ada yang mengamalkan apa yang telah menjadi kesepakatan para ulama-ulama maka dia seperti mengamalkan mayoritas syariat-syariatnya para nabi.” Penjelasan asy-Sya'rani tersebut memberi faham tentang legalnya berbeda pendapat dalam ijtihad dan tidak di anggap sebagai sesuatu yang tercela.\rJika muncul pertanyaan: Jika ikhtilaf umat adalah rahmat, maka akan bertentangan dengan larangan ikhtilaf oleh Allah dalam Q.S. Ali ‘Imran: 103:\rوَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعاً وَلاَ تَفَرَّقُواْ\r“Berpeganglah kalian semua pada tali Allah dan jangan bercerai berai.”\rDan Q.S. Ali ‘Imran: 105\rوَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ\r“Dan janganlah kalian menyerupai orang-orang yang bercerai berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka.”","part":1,"page":118},{"id":119,"text":"Jawabnya: Antara hadits dan dua ayat tersebut pembicaraannya masing-masing berbeda. Dua ayat tersebut berbicara tentang terhinanya orang-orang yang berselisih (ikhtilaf) kepada Rasulnya sebagaimana dalam hadits: “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian hancur karena banyak berselisih pada nabi-nabinya.” Dan umat Muhammad tidak seperti itu, yakni berselisih kepada Rasulallah karena telah mengetahui ancaman adzab besar bagi mereka yang menyelisih Nabinya. Mereka berselisih hanya dalam urusan hukum fiqh dan ada pemaafan bagi yang salah seperti yang sudah dimaklumi dalam hadits Nabi.\rHarun ar-Rasyid kerap kali bermusyawarah dengan Imam Malik serta menganjurkan agar supaya kitab al-Muwaththa’ ditempelkan di dinding Ka’bah dan orang-orang diajak untuk mengamalkannya. Namun, Imam Malik menolak dan mengatakan: “Jangan engkau lakukan, karena shahabat Rasulallah berselisih dalam masalah fiqh (furu’) dan sudah tersebar di daerah-daerah dan semuanya orang benar (dalam ijtihadnya).”","part":1,"page":119},{"id":120,"text":"Zakariyya al-Anshari menceritakan, saat Khalifah al-Manshur berhaji dan bertemu Imam Malik, beliau mengutarakan maksud hatinya yang berkeinginan supaya kitab al-Muwaththa’ ditulis dan disalin kemudian dikirimkan ke daerah orang-orang muslim dan diperintahkan pada mereka untuk mengamalkannya dan tidak boleh menggunakan yang lain. Imam Malik menjawab: “Jangan engkau lakukan wahai Amirul Mukminin! Sesungguhnya pendapat-pendapat (ulama) telah sampai pada mereka dan mereka juga mendengar hadits Nabi serta meriwayatkannya. Dan setiap golongan telah mengambil apa yang mereka ketahui dan dijadikan amalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Biarkan mereka memilih jalan untuk mereka masing-masing dalam setiap daerah.”\rAn-Nawawi dalam Syarah Muslim mengatakan: ”Bukan berarti jika sesuatu itu rahmat maka kebalikannya adalah adzab, dan tidak ada yang mengatakan seperti itu kecuali orang yang bodoh atau pura-pura bodoh. Allah berfirman dalam Q.S. al-Qashash: 73 (artinya): ”Karena rahmat-Nya, dijadikan malam dan siang supaya kalian beristirahat pada malam itu….” Allah menjadikan malam sebagai rahmat dan bukan berarti kebalikannya, yaitu siang sebagai adzab (Allah juga menjadikan siang sebagai rahmat, bukan berarti kebalikannya, yaitu malam adalah adzab) meski siang dan malam adalah waktu yang saling berlawanan. Perkataan an-Nawawi ini sekaligus membantah pernyataan Ibnu Hazm dalam al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam yang menyalahkan arti dari hadits di atas. Ibnu Hazm mengatakan: ”Jika perbedaan adalah rahmat, maka persatuan adalah adzab.”\rF0105. PENJABARAN HADITS TENTANG NIAT","part":1,"page":120},{"id":121,"text":"فبتقصيرعلمي و قلة فهمي القي اليكم اول حديث في الاربعين النووية اروي ذالك بالاجازة عن سيدي سلطان العلماء سالم بن عبد الله بن عمر الشاطري عن شيخه العلامة الجليل كامل عبدالله صالح عن السيد العلامة عبدالله بن حامد الصافي عن السيد علي بن محمد البطاح عن السيد داود بن عبد الرحمن حجر عن القاضي محمد بن علي العمراني عن القاضي صفي الدين أحمد بن محمد فاطن عن عماد الدين السيد يحى عن عمر مقبول الاهدل عن عبدالله بن سالم البصري عن محمد بن علاء الدين البابلي عن نور الدين علي بن يحى الزيادي عن الجمال السيد يوسف بن عبدالله الارميوني عن الحافظ ابي الفضل جلال الدين عبدالرحمن السيوطي عن علم الدين صالح بن عمر بن رسلان البلقيني عن والده سراج الدين عمر بن رسلان البلقيني عن أبي الحجاج يوسف بن عبدالرحمن المزني عن الامام القطب محي الدين أبي زكريا يحى بن شرف النووي رحمه الله ورضي عنه :\rعَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ .\r[رواه إماما المحدثين أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبة البخاري وابو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري في صحيحيهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة]","part":1,"page":121},{"id":122,"text":"Dengan kekurangan ilmuku dan sedikitnya pemahamanku, aku tampilkan untuk kalian hadits pertama di dalam kitab Arba’in Nawawi yang saya riwayatkan dari sayyid Salim bin Abdullah bin Umar Asy-Syathiri, dari gurunya sayyid Al-‘Allamah al-Jalil Kamil Abdullah Sholih dari sayyid al-Allamah Abdullah bin Hamid Ash-Shofi dari sayyid Ali bin Muhammad Al-Baththoh, dari sayyid Dawud bin Abdurrahman bin Hjar, dari Qodhi Muhammad bin Ali Al-Imroni, dari Qodhi Shofiyuddin Ahmad bin Muhammad bin Fathin, dari Imaduddin sayyid Yahya bin Umar Maqbul Al-Ahdal, dari Abdullah bin Salim Al-Bashri dari Muhammad bin ‘Alauddin Al-Babili, dari Nuruddin Ali bin Yahya Az-Ziyadi, dari Al-Jamal sayyid Yusuf bin Abdullah Al-Armiyuni, dari Al-Hafidz Abil Fadhl Jalaluddin Abdurrahman As-Suyuthi, dari Ilmuddin Sholih bin Umar bin Ruslan Al-Balqini dari ayahnya Srirojuddin Umar bin Ruslan Al-Balqini dari Abil Hajjaj Yusuf bin Abdurrahman Al-Muzanni, dari imam Al-Quthub Muhyiddin Abi Zakariya Yahya bin Syarof An-Nawawi Rahimahullah wa rodhiya ‘anhu :","part":1,"page":122},{"id":123,"text":"Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “ Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan “.\r(Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naishaburi dan kedua kitab Shahihnya yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang).\rPenjelasan :\rDari sisi Lughoh :\r\"إنما\": \"إن\" حرف توكيد ونصب و\"ما\" كافة ل\"إن\" عن العمل,\r\"الأعمال\" : مبتدأ مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة,\r\"بالنيات\" جار ومجرور متعلقان بخبر محذوف تقديره كائنة أو مستقرة,\r\"وإنما\": الواو استئنافية و\"إن\" حرف توكيد ونصب و\"ما\" كافة ل\"إن\" عن العمل,\r\"لكل\" جار ومجرور متعلقان بمحذوف خبر مقدم،\r\"امرئ\" مضاف إليه مجرور بالكسرة الظاهرة،\r\"ما\" اسم موصول بمعنى الذي مبني على السكون في محل رفع مبتدأ مؤخر،\r\"نوى\" فعل ماض مبني على الفتح المقدر منع من ظهوره التعذر، والفاعل ضمير مستتر تقديره هو عائد على الاسم الموصول،\r\"فمن\": الفاء استئنافية ، \"من\" اسم شرط مبني على السكون في محل رفع مبتدأ وخبره جملتا فعل الشرط وجوابه\r\"كانت\": فعل ماض ناقص مبني على الفتح،","part":1,"page":123},{"id":124,"text":"\"هجرته\": اسم كان مرفوع بالضمة الظاهرة، هاء الغيبة ضمير متصل مبني على الضم في محل جر مضاف إليه،\r\"إلى الله\": جار ومجرور متعلقان بمحذوف خبر كان،\r\"ورسوله\": الواو حرف عطف، رسول: معطوف على لفظ الجلالة مجرور بالكسرة الظاهرة، هاء الغيبة ضمير متصل مبني على الكسر في محل جر مضاف إليه،\r\"فهجرته\": الفاء واقعة في جواب الشرط، هجرته: مبتدأ مرفوع بالضمة الظاهرة، هاء الغيبة ضمير متصل مبني على الضم في محل جر مضاف إليه،\r\"إلى الله\": جار ومجرور متعلقان بمحذوف خبر كان،\r\"ورسوله\": الواو حرف عطف، رسول: معطوف على لفظ الجلالة مجرور بالكسرة الظاهرة، هاء الغيبة ضمير متصل مبني على الكسر في محل جر مضاف إليه،\r\"ومن\": الواو استئنافية ،\r\"من\" اسم شرط مبني على السكون في محل رفع مبتدأ وخبره جملتا فعل الشرط وجوابه.\r\"كانت\": فعل ماض ناقص مبني على الفتح،\r\"هجرته\": اسم كان مرفوع بالضمة الظاهرة، هاء الغيبة ضمير متصل مبني على الضم في محل جر مضاف إليه،\r\"إلى دنيا\": جار ومجرور متعلقان بمحذوف خبر كان،\r\"يصيبها\": فعل مضارع مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة، والفاعل ضمير مستتر تقديره هو، هاء الغيبة ضمير متصل مبني على السكون في محل نصب مفعول به، والجملة الفعلية صفة ل\"دنيا\"،\r\"أو امرأة\": أو حرف عطف ، امرأة : معطوف على \"دنيا\" مجرور بالكسرة الظاهرة،\r\"ينكحها\": فعل مضارع مرفوع وعلامة رفعه الضمة الظاهرة، والفاعل ضمير مستتر تقديره هو، هاء الغيبة ضمير متصل مبني على السكون في محل نصب مفعول به، والجملة الفعلية صفة ل\"امرأة\"،\r\"فهجرته\": الفاء واقعة في جواب الشرط، هجرته: مبتدأ مرفوع بالضمة الظاهرة، هاء الغيبة ضمير متصل مبني على الضم في محل جر مضاف إليه،\r\"إلى\": حرف جر، \"ما\": اسم موصول بمعنى الذي مبني على السكون في محل جر اسم مجرور،\r\"هاجر\": فعل ماض مبني على الفتح، الفاعل ضمير مستتر تقديره هو، \"إليه\": جار ومجرور متعلقان ب\"هاجر\".","part":1,"page":124},{"id":125,"text":"Pendapat para ulama :\rImam Syafi’i berkata “ Hadits ini mencangkup sepertiga ilmu “.\rAbu Ubaid berkata “ Tidak ada di antara hadits-hadits Nabi Saw yang lebih mencangkup sesuatu, lebih mencukupi dan lebih banyak faedahnya selain hadits ini “.\rKenapa bisa dikatakan sepertiga ilmu ? karena sesungguhnya perbuatan seorang hamba adakalanya dari hatinya, lisannya dan anggota tubuhnya, maka niat merupakan salah satu dari tiga bagian tersebut dan lebih kuat karena niat terkadang menjadi ibadah yang tersendiri sedangkan selainnya butuh terhadap niat. Oleh karenanya ada hadits yang mengatakan “ Niat seorang mukmin lebih baik dari amalnya “.\rAsbabul wurud Hadits :\rKetika Rasul Saw tiba di Madinah untuk hijrah, beliau berkhutbah dengan hadits tersebut, karena beliau mengetahui ada seorang sahabat yang melakukan hijrah untuk menikahi seorang wanita yang bernama Muhajir Ummu Qois, maka Nabi Saw mengingatkannya dan semua sahabatnya akan pentingnya niat di dalam berhijrah.\rRasulullah Saw menghkhususkan hijrah adalah\rتنبيها على الكل بالبعض\r(sebagai peringatan untuk keseluruhan dengan menggunakan kata khusus) atau istilah ushul fiqihnya\rخاص معموم\r(khusus namun umum jangkauannya).\rFiqhul Hadits :\rAda banyak faedah dan hikmah yang bisa di ambil dalam hadits tersebut, di antaranya :\r1.…Sesungguhnya tidak ada amalan yang diterima kecuali berdasarkan niat, misalnya tidak sah melakukan wudhu atau sholat jika tidak di awali dengan niatnya masing-masing.","part":1,"page":125},{"id":126,"text":"2.…Sesungguhnya manusia diberi pahala dan siksa menurut niatnya, jika niatnya baik, maka amalnya baik. Jika niatnya buruk maka amalnya buruk walaupun bentuknya baik.\r3.…Segala perbuatan manusia terdiri dari tiga bagian yaitu; keta’atan, kema’shiatan dan perkara mubah.\rPertama:\rKema’shiatan ; Perbuatan maksyiat tidak bisa dirubah sama sekali dengan niat baik. Seperti seseorang yang mencuri harta orang lain dengan niat untuk disedahkan ke faqir miskin, maka ini hukumnya tetap dosa dan haram. Atau membangun masjid dengan biaya dari hasil riba atau berangkat haji dengan biaya hasil korupsi, maka ini semua hukumnya haram dan berdosa karena itu perbuatan maksyiat dan tidak bisa dirubah dengan niat baik. Maka apa yang sering kita dengar dari saudara kita yang melakukan perbuatan maksyiat tapi dia berasalan “ Yang penting niatnya baik “, misalnya tidak memakai kerudung dengan niat beradaptasi dengan warga yang ada dilingkungannya yang tidak memakai kerudung, maka ini adalah suatu kesalahan. Atau duduk bersama teman-temannya yang sedang menggunjing orang lain dengan niatan idkhoolus surur (supaya menyenangkan hati teman), walaupun idkholus surur itu merupakan ibadah yang baik maka ia tetap berdosa karena ia telah salah meletakkan niat. Bahkan orang yang seperti ini mendapatkan dua dosa karena niatnya yang baik dengan perbuatan buruk merupakan satu keburukan lainnya. Dan jika ia sudah mengetahui hal ini, maka ia berarti sengaja menentang syare’at dan jika ia tidak mengetahui hal ini, maka ia berdosa sebab ketidaktahuannya. Karena menuntut ilmu itu hukumnya wajib bagi setriap oran","part":1,"page":126},{"id":127,"text":"Islam. Dari sinilah pentingnya belajar ilmu karena segala bentuk kebaikan dan keburukan bisa diketahui dengan syare’at. Maka orang bodoh sudah pasti steiap waktunya condong menuju kesetan dan kehancuran.\rOleh karena itu Sahl At-Tusturi Rh berkata “ Tidak ada maksyiat kepada Allah yang lebih besar daripada kebodohan. Kemudian seseorg bertanya “ Wahai Abu Muhammad, apakah engkau mengetahui sesautu yang lebih berbahaya daripada kebodohan ? beliau menjawab “ Ya ada yaitu bodoh dengan kebodohannya “.\rNabi Saw bersabda “ Orang bodoh tidak ditoleran atas kebodohannya dan tidaklah halal orang bodoh berdiam atas kebodohannya dan tidaklah halal orang alim berdiam atas ilmunya “.\rKedua :\rKeta’atan ; segala perbuatan ta’at berkaitan dengan niat di dalam kebsahan dan kelipatan pahalanya. Misalnya ia berbuat ta’at dengan niat karena Allah Swt bukan karena riya (pamer) untuk orang lain maka keta’atannya diterima oleh Allah Swt dan sebaliknya jika niat riya maka keta’atannya akan berubah menjadi maksyiat.\rDan jika di dalm satu kebaikan atau keta’atan memungkinkan untuk mendapatkan pahala yang berlipat jika niat baiknya di perbanyak, misalnya duduk di masjid, dari duduk di masjid ini kita bisa memperoleh pahala yang banyak dan berlipat dengan niat :","part":1,"page":127},{"id":128,"text":"1.…Berkeyakinan masjid adalah rumah Allah, maka orang yang masuk ke dalamnya adalah pengunjung atau tamu Allah. Maka dia berniat mengunjungi Allah Swt. Nabi Saw telah menjanjikan orang yang niat bertamu ke rumah Allah dalam sabdanya “ Barangsiapa yang duduk di masjid maka ia berarti telah ziarah ke Allah Swt, maka berhak bagi yang diziarahi memuliakan tamunya “.\r2.…Menunggu sholat, maka duduknya di masjid ditulis sholat oleh Allah Swt.\r3.…Menghindari anggota tubuh dari perbuatan dosa\r4.…Memfokuskan pikiran untuk Allah dan bertafakkur tentang nikmat Allah.\r5.…Untuk berdzikir kepada Allah Swt atau untuk mendngarkan dzikir. Nabi Saw bersabda “ Barangsiapa yang berangkat ke masjid untuk berdzikir kepada Allah Swt atau untuk mendengarkan dzikir, maka ia seperti mujahid di jalan Allah “.\r6.…Niat mendapat faedah ilmu dengan amar makruf nahi munkar, karena di dalam masjid terkadang ada orang yang salah dalam sholatnya atau ada orang yang melakukan kesalahan, maka dia member petunjuk kepdanya maka ia pun mendapat pahala yang berlipat, karena orang yang menunjukkan kebaikan pada orang lain seperti orang yang melakukannya.\r7.…Niat mencari teman untuk bersaudara kerena Allah\rDan seterusnya…\rKetiga :\rPerkara Mubah ; bisa menjadi pahala atau qurbah (kedkatan kepada Allah) dengan niat yang baik atau bisa memperoleh pahala yang berlipat dengan niat baik yang banyak. Misalnya makan, ini adalah hal mubah dan bisa mndpat pahala dengannya jika diniatkan dengan niat yang baik, misalnya melaksanakan perintah Allah dan supaya kuat dalam beribadah.","part":1,"page":128},{"id":129,"text":"Masih banyak lagi yang saya ingin jabarkan berkenaan dengan hadits niat ini, namun saya rasa yang sedikit ini bisa menambah ilmu dan wawasan bagi diri saya pribadi khususnya dan bagi ihkwan fillah di group ini umumnya. Apa bila ada kesalahan di dalam penjelasannya, maka saya mohon dibenarkan. Wallahu a’lam bish showab…\r(Ibnu Abdillah Al-Katibiy)","part":1,"page":129}],"titles":[{"id":1,"title":"Piss-Ktb (8)","lvl":1,"sub":0}]}