{"pages":[{"id":1,"text":"Arisan Uang atau Barang\rPermasalahan\rPada saat ini banyak kegiatan arisan uang atau barang. Dalam perkembangannya terjadi suatu cara sebagai berikut:\rA, B, dan C berarisan, A mendapat giliran menerima arisan tetapi ridlo haknya diterima oleh B yang juga anggota arisan, namun belum menerima arisan/giliran. Penyerahan hak secara suka rela dibarengi ganti rugi semacam jual beli hak, umpamanya:\rArisan sepeda motor memberi ganti rugi sebanyak Rp.15.000,- atau Rp. 25.000,- Arisan uang sebesar Rp. 100.000,- memberi ganti rugi sebanyak Rp. 10.000,- sampai dengan Rp. 15.000,- sedangkan B masih punya hak giliran di lain waktu.\rPertanyaan\rBernama aqad apakah pergantian semacam ini?\rJawaban\rAla sabili al ihtiyat (menurut pendapat yang berhati-hati) aqad semacam itu termasuk aqad Qardlu jarro Naf'an (hutang dengan menarik keuntungan) yang hukumnya tidak boleh (haram) kecuali jika tidak ada janji dalam aqad (Fu al-sulbi al-aqdi).\rBoleh dengan nama bai'ul Istihqoq.\rDasar pengambilan\rBughyatu Al-Mustarsyidin hal, 135\rإِذِ اْلقَرْضُ الفَاسِدُ المُحَرَّمُ هُوَ اْلقَرْضُ المَْشْرُوْطُ فِيْهِ النَّفْعُ لِلْمُقْرِضِ، هَذَا اِنْ وَقَعَ فِي صُلْبِ العقد، فان تواطأ عليه قبله ولم يذكر في صلبه أو لم يكن عقد جاز مع الكراهة كسائر حيل الربا الواقعة لخير غرض شرعي.","part":1,"page":1},{"id":2,"text":"Aqad utang piutang yang fasid (rusak) dan haram ialah menghutangi dengan janji pihak yang menghutangi mendapat keuntungan hal ini (haram) bila syarat tersebut masuk (ikut) dalam isi transaksi, jika syarat mendapat keuntungan itu berketepatan pada waktu sebelum terjadi transaksi dan waktu transaksi tidak menyebut-nyebut janji keuntungan bagi yang menghutangi, atau sama sekali tidak ada transaksi, maka hukumnya boleh disertai makruh seperti makruhnya segala rekayasa riba yang terjadi bagi selain tujuan syara'.\rI'anatu Al Tholibin, juz III, hal. 20\r(ومنه ربا القرض) أي ومن ربا الفضل: ربا القرض، وهو كل قرض جر نفعا للمقرض غير نحو رهن. لكن لا يحرم عندنا إلا إذا شرط في عقده\r(Diantaranya ialah riba qordi) artinya: termasuk bagian dair riba fadli ialah qordli, yaitu setiap menghutangi yang mengambil untung/ manfaat bagi yang menghutangi, selain aqad gadai dan sesamanya haram, hal itu tidak haram menurut kita, kecuali jika keuntungan itu di ucapkan/di isyaratkan pada waktu transaksi (maka hukumnya haram).\rAl-Bajuri, juz I hal. 357\rلم يكن هناك عقد - كمالو باع معاطاة وهو الواقع في أيامنا لم يكن ربا وإن كان حراما لكن أقل من حرمة الربا. اهـ\rJika disana (dalam syarat) tidak terjadi aqad (transaksi) seperti pada waktu jual beli dengan mu'athoh ( memberikan tanpa bicara), seperti yang terjadi saat ini, itu bukan riba, jika terjadi keharaman maka lebih sedikit dari pada keharaman riba.\rFatawi al Kubro li ibni Hajar, juz III, hal. 23","part":1,"page":2},{"id":3,"text":"والذي صرّح به الأصحاب أن كل ما أبطل شرطه العقد لا يضرّ إضمار نية فيه، وذكر صاحب الكافى أنه مع ذلك الإضمار هل يحلّ باطنا؟ وجهان قال : وأصحهما عندي يحل لحديث عامل خيبر.\rSesuatu yang telah dijelaskan oleh santrinya Imam Syafi'i: apabila sesuatu syarat yang dapat membatalkan aqad (transaksi) itu tidak masalah, jika hanya tersimpan dalam hati (tidak masuk aqad) shohibu al-kafi menjelaskan jika hal itu terjadi ( menyembunyikan syarat dalam hati) apakah transaksinya secara batin dianggap halal? Ada dua pendapat, menurutku yang paling shohih adalah halal dengan dasar hadits tentang pengelola tanah (Nabi) di Khoibar.\rPermasalah Musik dan Tarian Agamis\rPermasalahan\rBagaimana hukumnya orkes dan samroh yang dipentaskan dimuka umum oleh kaum perempuan atau laki-laki dengan menampilkan cerita Nabi-nabi atau menari-nari?\rJawaban\rHukumnya haram. Adapun samroh dan orkes, yang pementasannya dan menari di dalamnya tidak terdapat mungkarat, maka hukumnya mubah. Sedangkan mungkarat yang dimaksud diantaranya:\rآلة اللهو الممنوعة والمتخنثين من الرجال والمترجلات من النساء والإهانة للنبي والرسول.\rAlat musik yang dilarang, orang laki-laki bergaya perempuan atau sebaliknya dan merendahkan martabat Nabi.\rDasar Pengambilan Dalil\rAl-Fiqhu ala Madzahibi Al-Arbaah, juz IV, hal. 9\rوالمختار أن ضرب الدفّ والأغانى التى ليس فيها ماينافى الآداب جائز بلاكراهة مالم يشتمل كل ذلك على مفاسد كتبرّج النساء الأجنبيات في العرس وتهتكهن أمام الرجال والعريس ونحو ذلك والاّ حرم.","part":1,"page":3},{"id":4,"text":"Menurut qoul yang muhtar (terpilih) sesungguhnya memukul rebana melantunkan lagu-lagu yang tidak sampai meniadakan adab-adab adalah boleh, tidak makruh, selama tidak mengandung mafasid (kerusakan) seperti penampilan perempuan (mejeng) dihadapan laki-laki, dalam resepsi pernikahan dan memukaunya perempuan dihadapan laki-laki, resepsi pernikahan dan sesamanya, kalau tidak berarti haram.\rMirqotu Shu'ud al-Tashdiiq (syarah Sulamun At-Taufiq) hal. 73\rومن معاصى الرجل ( التبختر فى المشي ) كالتمايل أو تحريك اليدين على غير هيئة معتدلة أو نحو ذلك.\rTermasuk maksiatnya kaki adalah (sombong dalam berjalan) seperti lenggak-lenggok, atau menggerak-gerakkan tangan pada selain kondisi kebiasaan (kesederhanaan) atau sesamanya.\rIs'adu Al-Rofiq, I: 55\rأتى بما يعد نقصا فى نفس رسول الله صلى الله عليه وسلم او نبي من الأنبياء المجمع عليهم حلقا وخلقا او فى نسبه كان يقول إنه عليه الصلاة والسلام ليس من قريش او فى صفة من صفاته.\rMendatangkan sesuatu yang dapat mengurangi (merendahkan) martabat Nabi Muhammad Saw. Atau salah satu dari Nabi yang telah disepakati oleh ulama, tentang kenabiannya, seperti menghina tubuh, akhlaq atau Nasabnya, seperti mengatakan sesungguhnya Nabi Muhammad Saw. Bukan keturunan Quraisy, atau menghina dalam agama atau sifat_Nya. (semua hukumnya haram).\rAl Fatawi al Kubro, I : 203\rSulamu at-taufiq, hal: 13\rMadzhab Daud Al-Dhahiri\rPermasalahan\rApakah imam Daud al-Dzohiri termasuk ahli sunnah wal jama'ah?","part":1,"page":4},{"id":5,"text":"Jika termasuk ahli sunah wal jama'ah, bolehkah bagi kita megamalkan madzabnya dalam nikah tanpa wali dan saksi?\rApakah wajib had terhadapap orang yang melakukan bersetubuh dengan cara nikah menurut madzab Daud tersebut?\rJawaban\rImam Daud Dzohiri termasuk ahli sunnah wal jama'ah. Adapun nikah mengikuti madzabnya dengan tanpa wali dan saksi hukumnya tidak boleh.\rDasar Pengambilan Dalil\rAl-Farqu Baina Al-Firoq, hal: 47.\rودخل في هذه الجملة ( أى أهل السنة والجماعة ) جمهور الأمة وسوادها الأعظم من أصحاب مالك والشافعي وأبى حنيفة والأوزاعى والثورى وأهل الظاهر.\rMasuk dalam golongan ini ( ahli sunnah waljama'ah) ialah : pembesar-pembesar imam, dan kelompok-kelompok mereka yang mayoritas, dari beberapa shabat/santrinya imam malik, imam syafi'i imam Auza'i, Sufyan Ats-tsauri dam Ahli Al-Dzohiriyah (Dawud Al-Dzohiriyah).\rBughyatu al-Mustarsyidin, hal: 8\r( مسألة ش ) نقل ابن الصلاح الإجماع على أنه لايجوز تقليد غير الأئمة الأربعة أى حتى العمل لنفسه فضلا عن القضاء والفتوى لعدم الثقة بنبستها لأربابها بأسانيد تمنع التحريف والتبديل كمذهب الزيدية المنسوبين الى الإمام زيد بن على بن الحسين البسط رضوان الله عليهم الخ.","part":1,"page":5},{"id":6,"text":"(Masalah syin) Imam Ibnu Sholah menukil ijma' sesungguhnya tidak boleh taqlid/mengikuti selain kepada imam empat artinya sampai amal untuk dirinya pun tidak boleh. Apalagi untuk menghukumi, menfatwakan, karena tidak dapat dipertanggungjawabkan nisbatnya pada pemiliknya, dengan jalan yang mencegah, merubah dan mengganti, seperti Madzhab Zaibidiyah yang dinisbatkan kepada Imam Zaid bin Ali bin Husain yang jadi cucu Rasul Ra.\rTuhfatu Al-Murid Syarah Jauharu At-tauhid, hal: 90\rولايجوز تقليد غيرهم أى الأئمة الأربعة ولو كان من أكابر الصحابة لأن مذاهبهم لم تدوّن ولم تضبط كمذاهب هؤلآء لكن جوّز بعضهم ذلك في غير الإفتاء.\rTidak boleh taqlid kepada selain mereka yaitu imam -imam empat meskipun dari pembesar-pembesar sahabat Rasul. Karena madzab mereka tidak dikodifikasikan (tidak dikukuhkan) dan tidak dibuat pedoman seperti madzab-madzab mereka (imam empat); namun sebagian ulama' ada yang memperbolehkan asal tidak untuk difatwakan.\rMizan Al-Kubro, I : 50\rAl-Fawaidu Al-Janiyah, II : 204\rFiqhu Islam oleh Syekh al_katib\rTanwirul Qulub : 408\rJawaban\rAdapun orang yang bersetubuh dari nikah ala madzab Daud Al-Dzohiri tersebut menurut qoul mu'tamad wajib di had.\rDasar Pengambilan Dalil\rFatawi Kubro, VI : 107\r( وسئل) هل يجوز عقد النكاح تقليدا لمذهب داود من غير ولى ولا شهودا أو لا، وإذا وطئ فهل يحد أو لا إلى أن قال (فأجاب) بقوله لايجوز تقليد داود فى النكاح بلا ولى ولاشهود، ومن وطئ فى نكاح خال عنهما وجب عليه حدّ الزنا على المنقول المعتمد...الخ","part":1,"page":6},{"id":7,"text":"(Ibnu Hajar ditanya) apakah boleh aqad nikah dengan tanpa wali dan saksi, mengikuti pendapat Dawud al-dzohiri? Dan ketika dia wati' (hubungan badan) apakah terkena hukum had atau tidak ? dst. s/d ... ibnu hajar menjawab: tidak boleh mengikuti pendapat Dawud al-dzohiri dalam nikah tanpa wali dan saksi, barang siapa wati' (berhubungan badan) atas nikah tanpa wali dan saksi wajib baginya di had (hukuman) seperti hukuman bagi pelaku zina sesuai pendapat yang mu'tamad.\rBagi Hasil Pemeliharaan Sapi\rPermasalahan\rAda seorang pembeli sapi seharga Rp. 100.000, lalu dipeliharakan kepada orang lain dengan perjanjian:\rkalau nantinya sapi tersebut dijual, maka keuntungannya dibagi diantara pemilik sapi dan pemeliharanya.\rKalau sapi tersebut betina lalu dalam perjanjian ditetapkan untuk membagi hasil anak sapi tersebut bila sudah beternak.\rTetapi pemilik sapi tersebut bila suatu waktu ingin menjualnya sapi dalam keadaan belum berternak dan bagi hasil, tetap dilakukan dalam mas'alah yang pertama.\rPertanyaan\rHal tersebut termasuk aqad apa?\rHukumnya sah atau tidak?\rJawaban\rApabila yang dijanjikan itu adalah membagi keuntungan dari hasil penjualan (ribhi), maka hal itu termasuk qirod fasid, menurut ulama Tsalasah. Apabila yang dimaksud menyewa orang, dengan ongkos membagi hasil, maka dinamakan ijaroh fasidah, yang mempunyai sapi wajib memberi ongkos misil (umum) kepada orang tersebut (amil).\rDasar Pengambilan Dalil\rAl-Muhadzab juz I, hal. 392","part":1,"page":7},{"id":8,"text":"فصل : وَلاَ يَصِحُ ( القِراَضْ ) إِلاَّ عَلَى اْلأَثْماَنِ وَهِيَ الدَّراَهِمُ وَالدَّناَنِيْرُ فَأَماَّ ماَ سِواَهُماَ مِنَ الْعُرُوْضِ وَالْعَقاَرِ وَالسَّباَئِكَ وَالْفُلُوْسِ فَلاَ يَصِحُ القِراَضُ عَلَيْهاَ.\r(Fasal): tidak sah Qirodl ( bagi hasil ) kecuali atas atsman ( yang bernilai ) yaitu, Dirham dan Dinar, adapun selain keduanya, seperti : benda, tanah, barang produksi, fulus (uang logam) maka tidak sah Qirodl (bagi hasil) atasnya.\rAl-Mizan, II : 88\rقَالَ وَأَمَّا مَااخْتَلَفُوْا فِيْهِ ( القِرَاضِ ) فَمِنْ ذَلِكَ قَوْلُ مَالِكَ وَالشَّافِعِىِّ وَأَحْمَدَ : إِنَّهُ لَوْأَعْطَاهُ سِلْعَةً وَقَالَ لَهُ بِعْهَا وَاجْعَلْ ثَمَنَهَا قِرَاضاً فَهُوَ قِراَضٌ فاَسِدٌ مَعَ قَوْلٍ أَبِى حَنيِفَةَ إِنَّهُ قِراَضٌ صَحِيْحٌ، فاَلأَوَّلُ مُشَدَّدٌ وَالثَّانِ مُخَلَّفٌ...الخ\rAdapun permasalahan yang dipertentangkan (Qirodl/bagi hasil) diantaranya pendapat imam malik, imam syafi'i dan imam ahmad : sesungguhnya bila seseorang memberikan harta benda dan berkata kepada penerimanya \"Juallah ini dan hasilnya kau jadikan Qirodl\", maka itu dinamakan Qirodl fasid (bagi hasil yang rusak). Pendapat yang pertama adalah pendapat yang berat sedangkan yang kedua, adalah pendapat yang ringan.\rAqad tersebut tidak sah, sebab anak sapi itu bukan dari pekerjaan pemeihara tersebut.\rDasar Pengambilan Dalil\rAl-Bujairimi ala iqna' III : 115","part":1,"page":8},{"id":9,"text":"( تَنْبِيْهٌ ) لوأعطى آخردابة ليعمل عليها أوليتعهدها وفوائدهالم يصح العقد، لأنه فى الأولى إيجار لدابة فلا حاجة إلى إيراد عقد عليها فيه غرر. والثانى الفوائد لاتحصل بعمله ولوأعطاها ليعملها من عنده بنفص درها ففعل ضمن له المالك العلف وضمن الآخر للمالك نصف الدار، وهو القدر المشروط له لحصله بحكم بيع فاسد. ولايضمن الدابة لأنهاغير مقابلة بعوض. وان قال لتعلفها بنصفها ففعل فالنصف المشروط مضمون على العالف لحصوله بحكم الشراء الفاسد دون النصف الآخر.\r(Peringatan) jika seseorang memberikan hewan piaraanya kepada orang lain agar dipekerjakan, atau untuk dipelihara, dan hasilnya dibagi antara keduannya, maka aqad tersebut tidak sah. Karena pada contoh yang pertama menyewakan hewan, maka tidak ada hajat (tidak perlu) mendatangkan aqad lagi atas hewannya yang dapat mengandung ghoror/penipuan. Yang kedua, hasil dari hewan piaraan, itu bukan pekerjaan.\rSeandainya seseorang memberikan hewan piaraannya kepada orang lain untuk dipekerjakan untuk dirinya dengan upah ½ dari hasil susu hasil perahnya, kemudian dipekerjakan oleh orang lain tersebut, maka pemilik hewan harus mengganti biaya pemeliharaan (memberi makan hewan) dan pekerja harus mengganti kepada pemilik atas ½ dari hasil susu perahnya. Pengganti itu karena sudah hasil ukuran yang dijanjikan, dan telah terjadi dengan hukum jual beli yang rusak. dan tidak perlu mengganti rugi hewan piaraan, karena itu tidak ada kesesuaian ganti rugi.","part":1,"page":9},{"id":10,"text":"Jika pemilik dalam menyerahkan hewan mengatakan untuk diramut (diberi makan) dengan ongkos separuh hasilnya, kemudian dilaksanakan oleh penerima (pemelihara), maka separuh yang dijanjikan menjadi tanggungan pemelihara, karena dianggap terjadi hukum pembelian yang fasid (rusak) bukan separuh yang lain.\rTuhfatu Al-Habib ala syarhi al-iqna, III : 179\rوَلَوْ قَالَ شَخْصٌ لآخَرَ سَمَّنْ هَذِهِ الشَّاةَ وَلَكَ نِصْفُهاَ أَوْ هاَتَيْنِ عَلىَ أَنَّ لَكَ إِحْداَهُماَ لَمْ يَصِحَّ ذَلِكَ وَاسْتَحَقَّ أُجْرَةَ المِثْلِ لِلنَّصْفِ الذِّى سَمَنَّهُ لِلْماَلِكِ.\rApabila ada orang berkata kepada orang lain, \"Gemukkan kambing ini, kamu saya beri komisi separo dari laba penjualan\", atau berkata, \"Gemukkan dua kambing ini, kamu saya beri yang satu\", maka tidak sah. Dan ia mendapat ongkos misil (umum), sedang hasilnya semua dimiliki yang punya kambing.\rNihayatu Al-Zein, hal. 261\rKitab Fiqhus-sunnah sebagai Pedoman Tahkim\rPertanyaan\rApakah kitab fiqhus sunnah dapat dipakai pedoman tahkim, seperti kita kitab fiqih lainnya yang mu’tamadad?\rJawaban\rTidak dapat digunakan sebagai pedoman tahkim, kitab tersebut hanya dipakai sebagai penguat atau pelengkap hukun-hukum yang berlandaskan salah satu madzab empat bagi orang yang sudah mumarosahlil madzahibil arba’ah.\rDasar Pengambilan Dalil\rBughyatul Mustarsyidun, hal. 7\rونقل ابن صلاح عن الإجتماع أنه لايجوز تقليد غير الأئمة الأربعة الى ان قال ومن افتى بكل قول او وجه من غير نظر الى ترجيح فهو جاهل خارق للإجماع.","part":1,"page":10},{"id":11,"text":"Ibnu sholah menukil dari ijma’ (kesepakatan para ulama’) sesungguhnya tidak boleh taqlid (mengikuti) pada selain imam empat. S/d kata-kata …. Barang siapa memberi fatwa dengan pendapat atau wajah (kasus hukum) dengan tanpa memandang atas tarjih (yang unggul) maka ia bodoh dan menentang terhadap ijma’/kesepakatan para ulama’.\rShalat Rebo Wekasan menurut Ulama Sufi\rPertanyaan\rShalat rebo wekasan dan rangkainnya, bagaimana hukumnya menurut fuqoha dan menurut ulama sufi?\rJawaban\rMenurut fatwa Rais Akbar Almarhum Asyaikh Hasim Asy'ari tidak boleh. Shalat rebo wekasan karena tidak masyru'ah dalam syara' dan tidak ada dalil syar'i. adapun fatwa tersebut sabagaimana dokumen asli yang ada pada cabang NU Sidoarjo berikut ini.\rKados pundi hukumipun ngelampahi shalat rebo wulan shofar, kasebat wonten ing kitab mujarobat lan ingkang kasebat wonten ing akhir bab 18?\rفائدة اخرى : ذكر بعض العارفين من اهل الكشف والتمكين أنه ينزل كل سنة ثلاثمائة وعشرون ألفا من البليات وكل ذلك فى يوم الأربعاء الآخير من شهر صفر فيكون فى ذلك اليوم أصعب ايام السنة كلها فمن صلى فى ذلك اليوم اربع ركعات ..... الخ.\rفونافا ساهى فونافا أوون؟ يعنى سنة فونافا حرام؟ أفتونا اثابكم الله؟\rSebagian orang yang ma'rifat dari ahli al-kasyafi dan tamkin menyebutkan: setiap tahun, turun 320.000 cobaan. Semuannya itu pada hari rabu akhir bulan shafar. Maka pada hari itu menjadi sulit-sulitnya hari di tahun tersebut. Barang siapa shalat di hari itu 4 rokaat dst.\rKados pundi hukumipun ngelampai shalat hadiyah ingkang kasebat wonten ing kitab:","part":1,"page":11},{"id":12,"text":"حاشية المهى على الستين مسئلة وونتن آخريفون باب يلامتى ميت وَنَصَّهُ: فَائِدَةٌ : ذَكَرَ فىِ نَزْهَةِ الْمَجاَلِسِ عَنْ كِتَابِ الْمُخْتاَرِ وَمَطَالِعِ الاَنْواَرِ عَنْ النَّبِى صلى الله عليه وسلم لا يَاْتِى عَلَى الْمَيَّتِ أَشَدُّ مِنَ اللَّيْلَةِ الأُلَى فَارْحَمُواْ مَوْتَاكُمْ بِالصَّدَقَةِ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيُصَلِّ رَكْعَتَيْنِ يَقْرَأُ فِى كُلِّ رَكْعَةٍ فِيْهِمَا فَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَآيَةِ الْكُرْسِيِّ وَإِلَهُكُمْ ... وَقُلْ هُوَاللهُ أَحَدْ اِحْدَى عَشْرَةَ مَرَّةً وَيَقُولُ : الّلهُمَّ إِنِّى صَلَّيْتُ هَذِهِ الصَّلاةَ وَتَعْلَمُ مَااُرِيْدُ. اللهم ابْعَثْ ثَواَبَها اِلَى قَبْرِ فُلان فَيَبْعَثُ الله مِنْ سَاعَتِهِ اَلَى قَبْرِهِ اَلْفَ مَلِكِ مَعَ كُلِّ مَلِكِ نُوْرٌ هَدِيَّةً يُؤَنِّسُوْنَةُ فِى قَبْرِهِ اِلَى اَنْ يُنْفَخَ فِى الصُّوْرِ وَيُعْطِىْ اللهُ المُصَلَّى بِعَددِ مَاطَلَعَتْ عَلَيهِ الشَّمْسُ أَلْفَ شَهِيْدٍ وَيُكْسِى أَلْفَ حُلَّةٍ. اِنْتَهَى وَقَدْ ذَكَرَنَا هَذِهِ الْفَائِدَةُ لِعُظْمِ نَفْعِهَا وَخَوْفاً مَنْ ضِيَاعِهاَ، فَيَنْبَغِى لِكُلِّ مُسْلِمٍ اَنْ يُصَلِّيْهَا كُلِّ لَيْلَةٍ لأَمْواَتِ الْمُسْلِمِيْنَ.\rجواب:\rبسم الله الرحمن الرحيم وبه نستعين على امور الدنيا والدين وصلى الله على سيدنا محمد وعلى اله وصحبه وسلم.","part":1,"page":12},{"id":13,"text":"أورا وناع فيتواه, اجاء-اجاء لن علاكونى صلاة ربو وكاسان لن صلاة هدية كاع كاسبوت اع سوال, كرنا صلاة لورو ايكو ماهو دودو صلاة مشروعة فى الشرع لن اور انا اصلى فى الشرع. والدليل على ذلك خلو الكتب المعتمدة عن ذكرها كيا كتاب تقريب, المنهاج القويم, فتح المعين, التحرير لن سأفندوكور. كيا كتاب النهاية, المهذب لن إحياء علوم الدين, كابيه ماهو اورا انا كع نوتور صلاة كع كاسبوت.\rومن المعلوم انه لوكان لها أصل لبادروا إلى ذكرها وذكر فضلها, والعادة تحيل ان يكون مثل هذه السنة, وتغيب عن هؤلاء وهم أعلم الدين وقدوة المؤمنين. لن اورا وناع اويه قيتواه أتوا عافيك حكوم ساكا كتاب مجربات لن كتاب نزهة المجالس. كتراعان سكع حواشى الأشباه والنظائر للإمام الحمدى قال : ولا يجوز الإفتاء من الكتب الغير المعتبرة, لن كتراعان سكع كتاب تذكرة الموضوعات للملا على القارى : لا يجوز نقل الأحاديث النبوية والمسائل الفقهية والتفاسير القرانية إلا من الكتب المداولة ( المشهورة) لعدم الإعتماد على غيرها من ودع الزنادقة وإلحاد الملاحدة بخلاف الكتب المحفوظة. انتهى لن كتراعان سكع كتاب تنقيح الفتوى الحميدية : ولا يحل الإفتاء من الكتب الغريبة. وقد عرفت ان نقل المجربات الديربية وحاشية الستين لاستحباب هذه الصلاة المذكورة يخالف كتب الفروع الفقهية فلا يصح ولا يجوز الإفتاء بها. لن ماليه حديث كع كاسبات وونتن كتاب حاشية الستين فونيكا حديث موضوع. كتراعان سكع كتاب القسطلانى على البخارى : ويسمى المختلف الموضوع ويحرم روايته مع العلم به مبينا والعمل به مطلقا. انتهى","part":1,"page":13},{"id":14,"text":"قال فى نيل الأمانى : ويحرم روايته أى على من علم او ظن انه موضوع سواء كان فى الأحكام أو فى غيرها كالمواعظ القصص والترغيب إلا مع بيان وضعه لقوله صلى الله عليه وسلم : من حدث عنى يرى انه كذب فهو أحد الكذابين وهو من الكبائر حتى قال الجوينى عن أئمة أصحابنا يكفر معتمده ويراق دمه. والجمهور انه لا يكفر إلا إن ستحله وانما يضعف وترد روايته أبدا, بل يختم ..... انتهى. وليس لأحد أن يستبدل بما صح عن رسول الله صلى الله عليه وسلم انه قال : الصلاة خير موضوع فمن شاء فليستكثر ومن شاء فليستقلل, فان ذلك مختص بصلاة مشروعية سكيرا اورا بيصا تتف كسنتانى صلاة هدية كلوان دليل حديث موضوع, موعكا اورا بيصا تتف كسنتانى صلاة ربو وكاسان كلوان دليل داووهى ستعاهى علماء العارفين, مالاه بيصا حرام, سباب ايكى بيصا تلبس بعبادة فاسدة. والله سبحانه وتعالى أعلم.\r(هذا جواب الفقير اليه تعالى محمد هاشم أشعارى جومباع)","part":1,"page":14},{"id":15,"text":"Disebutkan dalam nazhatil majalis dari jitab al-muhtar wa matholi'ul anwar. Dari Nabi Saw, tidak datang pada mayit hal yang lebih berat kecuali pada malam pertama. Maka belasilah mereka dengan shodaqoh. Barang siapa yang tidak punya, maka shalatlah 2 rokaat, setiap rokaat membaca fatiha, ayat qursi dan surat al-haakumu al-takasasur....dan qulhuallahuahad 11 kali, dan berdoa ya Allah saya shalat ini, engkau mengetahui apa yang saya kehendaki ya Allah kirimkanlah pahala shalatku ini kepada kuburan fulan bin fulan. Maka Allah akan mengirimkan saat itu juga 1000 malaikat ke kuburan fulan dan setiap malaikat membawa nur sebagai hadiyah yang menghibur dikuburnya, sampai terompret di tiup ( hari kiamat ) dan bagi orang yang melakukan shalat tersebut akan diberi pahala dengan pahala orang yang mati syahid sebanyak benda yang tersinari matahari, dan akan diberi pakaian perhiasan sebanyak 1000 macam. Telah saya sebutkan ini karena sengat besar manfaatnya dan takut tersia-sia. Maka sebaiknya, bagi setiap orang muslim untuk melakukan shalat tersebut pada setiap malam untuk kemanfaatan orang islam yang sudah mati.\rMembaca doa shalat dengan Bahasa Indonesia\rPertanyaan\rBagaimana hukumnya membaca doa dengan bahasa Indonesia ('ajam) di dalam shalat?\rJawaban\rHukumnya tafsil sbb:\rApabila do'a/adzkar tersebut termasuk rukun shalat, maka wajib membaca terjemahannya bagi orang yang tidak mampu berbahasa arab (ajiz).","part":1,"page":15},{"id":16,"text":"Apabila do'a/adzkar tersebut bukan termasuk rukun shalat dan do'a itu ma'tsuroh/mandubah, maka sah sholatnya bagi orang yang memang ajiz.\rApabila do'a/adzkar tersebut tidak ma'tsuroh (mengarang sendiri), maka sholatnya batal secara mutlaq (baik ajiz atau bukan).\rDasar Pengambilan Dalil\rMughni al-muhtaj, I: 177\r( وَمَنْ عَجَزَ عَنْهُمَا ) أَيْ: التَّشَهُّدِ وَالصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَهُوَ نَاطِقٌ،(تَرْجَمَ ) عَنْهُمَا وُجُوبًا ؛ لِأَنَّهُ لَا إعْجَازَ فِيهِمَا .\rأَمَّا الْقَادِرُ فَلَا يَجُوزُ لَهُ تَرْجَمَتُهُمَا ، وَتَبْطُلُ بِهِ صَلَاتُهُ ( وَيُتَرْجِمُ لِلدُّعَاءِ ) الْمَنْدُوبِ ( وَالذِّكْرِ الْمَنْدُوبِ ) نَدْبًا كَالْقُنُوتِ وَتَكْبِيرَاتِ الِانْتِقَالَاتِ وَتَسْبِيحَاتِ الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ ( الْعَاجِزُ ) لِعُذْرِهِ ( لَا الْقَادِرُ ) لِعَدَمِ عُذْرِهِ ( فِي الْأَصَحِّ ) فِيهِمَا. أَمَّا غَيْرُ الْمَأْثُورِ بِأَنْ اخْتَرَعَ دُعَاءً أَوْ ذِكْرًا بِالْعَجَمِيَّةِ فِي الصَّلَاةِ فَلَا يَجُوزُ. انتهى\rAl-Turmusi, II: 175\rAl-Majmu' syarhu Al-Muhadzab, II: 129\rAl-Jamal 'ala Fathu Al-Wahab, I: 350\rAl-Mahali, I: 168\rMinhaju Al-Qowwim,: 44\rTuhfah, II: 79\rTidak Jumatan pada Hari Raya\rPertanyaan\rBilamana hari raya bertepatan dengan hari jum'at bolehkah bagi seorang bagi seorang Alim memberikan keterangan bahwa pada hari tersebut boleh meninggalkan shalat jum'at tapi hanya shalat dhuhur, dimana hal tersebut mengakibatkan kekosongan syia'ar islam atau bisa menimbulkan kericuhan bagi masyarakat islam?\rJawaban","part":1,"page":16},{"id":17,"text":"Memberikan keterangan /fatwa yang bisa menimbulkan masyarakat menjadi tasahul fiddin (meremahkan agama) tidak boleh.\rDasar Pengambilan Dalil\rBughyatu Al-Mustarsyidin, 5-7\rلا يحل لعالم ان يذكر مسئلة لمن يعلم انه يقع بمعرفتها فى تساهل فى الدين ووقوع فى مفسدة, ويحرم على المفتى التساهل\rTidak boleh bagi seorang Alim untuk menyebutkan mas'alah bagi orang yang dia ketahui bahwa setelah mengetahui mas'alah tersebut ia akan meremehkan/mempermudah urusan agama dan melakukan perbuatan mafsadah dan diharamkan bagi seorang mufti untuk mempermudah/gegabah dalam urusan fatwa.\rApakah setiap Mukmin adalah Muslim ?\rPertanyaan\rApakah setiap mukmin itu muslim dan sebaliknya?\rJawaban\rSecara syar'i setiap mukmin itu muslim demikian pula sebaliknya tetapi kalau dilihat mafhumnya lafadz (menurut bahasa) memang tidak sama.\rDasar Pengambilan Dalil:\rDalilu Al-Falihun syarah Riyadu al-sholihin, I : 216-218","part":1,"page":17},{"id":18,"text":"(أَخْبِرْنِى عَنِ اْلِإسْلَامِ) هُوَ الإِيْمَانُ لاِعْتِبَارِ التَّلاَزُمِ بَيْنَ مَفْهُوْمِهِماَ شَرْعاً، فَلاَ يُعْتَبَرُ فِى الخَارِجِ اِيْمَاناً شَرْعاً بِلاَ اِسْلاَمٍ وَلاَ عَكْسُهُ، مُتَّحِداَنِ ماَصَدَقاً فِى الشَّرْعِ مُخْتَلِفَانِ مَفْهُوْماً ، فَكُلُّ مُؤْمِنٍ شَرْعاً مُسْلِمٍ مُؤْمِنٍ. فَماَدَلَّ عَلَيْهِ حَدِيْثٌ جِبْرِيْلَ مِنِ اخْتِلاَفِهِماَ هُوَ بِاعْتِباَرِ المَفْهُوْمِ، إِذْ مَفْهُوْمُ الاِسْلاَمِ الشَّرْعِىِّ الاِنْقِياَدُ باِلأَفْعاَلِ الظَّاهِرةِ الشَّرْعِيَةِ، والإِيْماَنُ الشَّرْعِىُّ التَّصْدِيْقُ بِالقَواَعِدِ الشَّرْعِيَةِ عَلىَ أَنَّهُ قَدْ يَتَّوَسَعُ الشَّرْعُ فِيْهِماَ فَيَسْتَعْمِلُ كُلَّ واَحِدٍ مِنْهُماَ فِى مَكاَنِ الآخَرِ كَإِطْلاَقِِ الإِيْماَنِ عَلىَ الأَعْماَلِ الظَّاهِرَةِ فِى حَدِيْثِ : الإِيْماَنُ بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ بَاباً أَذْناَهاَ إماَطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ، ....الحديث.","part":1,"page":18},{"id":19,"text":"(Beritahuakan kepada kami tentang Islam) yaitu iman karena memandang kaitan erat antara pemahaman keduanya secara syara', maka tidak dianggap beriman dalam kenyataan syara' apabila tidak Islam dan tidak juga sebaliknya, keduanya sama dalam esensinya secara syara' dan berbeda dalam artian pemahaman keduanya, maka setiap mukmin secara syara' adalah muslim begitu pula setiap muslim adalah mukmin, maka apa yang ditunjukkan oleh hadist Jibril tentang perbedaan antara keduanya adalah melihat arti pemahaman, karena pemahaman Islam secara syara' adalah tunduk dengan pengalaman lahir secara syari'ah, iman menurut syara' ialah membetulkan dalam hati terhadap qaidah-qaidah syari'ah dengan arti bahwa iman itu terkadang syara' mengartikan secara luas pada dua pengertian (tunduk atas amalan/perbuatan yang dhohir/yang batin). Maka dipakailah setiap satu dari keduanya pada tempat yang lain. Seperti pemakaian kata iman untuk perbuatan yang dhohir dalam hadist: iman itu lebih dari 70 bab yang paling ringan adalah menyingkirkan duri di jalan (Al-Hadist)","part":1,"page":19},{"id":20,"text":"وفى صحيفة 219 مانصه : ( تَنْبِيْهٌ ) الإِسْلاَمُ لَهُ فِى الشَّرعِ اِطْلاَقاَتُهُ يُطْلَقُ عَلَى الأَعْماَلِ الظَّاهِرَةِ كَماَفِى الحَدِيْثِ، وَعَلَى الإِسْتِسْلاَمِ وَالإِنْقِياَدِ، وَالتَّلاَزُمُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الإِيْماَنِ اِعْتِباَراً لما صُدِقَ شَرْعاً اِنَّما هو بِاعتِبارِ المَعنىَ الأَوَّلِ فَالإِيْمانُ يَنْفَكُّ عَنْهُ، اِذْ قد يوجد التصديق والإستسلام الباطنى بدون الأعمال المشروعة أما الإسلام بمعنى الأعمال المشروعة فلايمكن أن ينفك عنه الإيمان لإشتراطه لصحتها، وهي لاتشترط لصحته خلافا للمعتزلة. انتهى\r(Peringatan) islam menurut syar' adalah pengertiannya diartikan atas beberapa perbuatan yang dzahir, sebagaimana dalam hadits pengertian penyerahan diri menyanggupi (manut), talzum (saling terkait) diantara islam dan iman, memandang pengertian yang kedua, sedang bila memandang pada pangertian yang pertama maka iman itu bisa lepas dari islam, karena terkadang dijumpai keyakinan dan penyerahan diri secara batin dengan tanpa perbuatan yang dilakukan. Adapun islam dengan pengertian perbuatan yang dilaksanakan itu tidak mungkin terlepas dari iman, karena syarat sahnya amal/perbuatan adalah harus islam. Dan iman tidak menjadi syarat sahnya perbuatan/amal, berbeda dangan pandangan kaum mu'tazilah.\rBagi Hasil Buruh Tani\rPertanyaan","part":1,"page":20},{"id":21,"text":"Kebanyakan buruh tani di musim tanam jagung mengambil bibit dari malikul ardl (pemilik tanah) dalam satu hektarnya satu blek jagung kurping dengan syarat bilamana berhasil tanamnya, buruh tersebut harus mengembalikan jagung kulitan seribu biji kepada malikul ardl sebelum dibagi hasil. Kemudian barulah dibagi hasil antara buruh dan malik, seribu biji itu bila dikurping akan lebih baik daripada satu blek tadi. Apakah aqad tersebut boleh atau tidak?\rJawaban\rAkad tersebut adalah aqad yang fasid. Kemudian aqad seperti itu agar bisa menjadi muamalah shohihah hendaknya dilaksanakan sebagai berikut.\rDilaksanakan perjanjian pembagian hasil antara malik dengan amil, di mana bibit dari malik. Sedangkan pembagian hasilnya dilakukan ala juz'il ma'lum (bagian pasti) dengan memperhitungkan biaya yang dikeluarkan oleh malik, baik itu untuk bibit maupun untuk lain-lain, sehingga dengan demikian aqad tersebut menjadi aqad muzaro'ah shohihah.\rDasar Pengambilan\rFathu Al-Qorib: 38\r(واذا دفع) شخص ( الى رجل أرضا ليزعها وشرط له جزأ معلوما من ريعها لم يجز) ذلك لكن النواوى تبعا لابن المنذر اختار جواز المخابرة وكذا المزارعة وهي عمل العامل فى الارض ببعض مايخرج منها والبذر من المالك.","part":1,"page":21},{"id":22,"text":"Ketika seseorang memberikan tanah kepada orang lain agar ia mengolah (menanaminya) dan pemberi menjanjikan bagian yang pasti (jelas) dari hasilnya maka itu tidak boleh. Namun Imam An Nawawi mengikuti Imam Ibnu Mundzir memilih hukum boleh (jawaz) terhadap mukhobaroh dan muzaro'ah. Muzaro'ah adalah seseorang menggarap tanah dengan bagi hasil dari perolehan (panen) sedangkan benih dari pemilik tanah, mukhobaroh yaitu sama dengan muzaro'ah tetapi benih dari penggarap tanah.\rPengobatan luka dan bersuci\rPermasalahan\rPada masa sekarang ini kebanyakan dokter mengobati luka-luka yang ada di dalam anggota wudlu dengan plester (jabiroh) yang tidak boleh dibuka sebelum sembuh, sedang pemakaiannya pada waktu hadast (tidak suci)\rKalau menurut kitab Kifayatul Akhyar Juz 1 hal 38 syarat-syaratnya berat, yakni:\rHarus dalam keadaan suci\rPemasangan harus menurut tertibnya anggota yang dibasuh ketika wudlu\rBanyaknya tayamum berulangkali menurut jumlah jabiroh di dalam anggota wudlu\rPertanyaan\rApakah ada qoul ringan, misalnya:\rPemasangan boleh pada saat hadats\rBoleh tayamum setelah usai wudlu\rBertayamum hanya satu kali saja walaupun jabirohnya lebih dari satu\rJawaban\rAda pendapat yang ringan seperti yang tertera dalam kitab sbb:\rAl-Mizan, I: 135","part":1,"page":22},{"id":23,"text":"ومن ذلك قول الإمام الشافعى - من كان بعضو من أعضائه جرح اوكسر او قروح والصق عليه جبيرة وخاف من نزعها التلف انه يمسح على الجبيرة وتيمم مع قول أبى حنيفة ومالك انه ان كان بعض جسده صحيحا وبعضه جريحا ولكن الأكثر هو الصحيح غسله وسقط حكم الجريح ويستحب مسحه بالماء. وان كان الصحيح هو الأقل تيمم وسقط غسل العضو الصحيح وقال أحمد يغسل الصحيح وتيمم عن الجريح من غير مسح للجبيرة.\rووجه الأول الأخد بالإحتياط بزيادة وجوب مسح الجبيرة لما تأخذه من الصحيح غالباللا ستمساك. ووجه الثانى أنه اذاكان الأكثر الجريح القرح فالحكم له لأن شدة الألم حينئذ أرجح فى طهارة العضو من غسله بالماء فان الأمراض كفارات للخطايا.","part":1,"page":23},{"id":24,"text":"Menurut imam Syafi'i: orang yang di anggauta wudlunya ada luka atau bengkak kemudian diperban dan ia takut mengusap perban dan bertayamum. Menurut imam hanafi dan malik: jika yang sakit lebih kecil daripada yang sehat, cukup membasuh yang sehat dan disunnahkan mengusap yang sakit. Apabila yang sehat lebih kecil, maka hanya wajib tayamum. Dan tidak wajib membasuh anggota yang sehat. Menurut imam ahmad, membasuh anggota yang wajib dan tayamum untuk sakit tidak wajib mengusap perban. Pendapat pertama mengambil langkah yang berhati-hati, dengan menambahkan: wajibnya mengusap tambal karena diambil pada anggota badan yang shohih/sehat secara umum untuk penanggulangan. Pendapat yang kedua, ketika yang lebih banyak itu luka atau koreng, maka hukum berada padanya. Karena parahnya sakit saat demikian, lebih diutamakan didalam pensucian anggota badan disbanding harus membasuh dengan air. Karena penyakit itu adalah menghapus terhadap kesalahan (dosa).\rAl-Qalyubi, I: 97\r( فان تعذر ) نزعه لخوف محذور مما ذكره فى شرح المهذب ( قضى ) مع مسحه بالماء ( على المشهور) لانتفاء شبهه حينئذ بالخف والثانى لايقضى للعذر والخلاف فى القسمين فيما اذا كان الساتر على غير محل التيمم فان كان على محله قضى قطعا لنقص البدل والمبدل جزم به فى أصل الروضة ونقله فى شرح المهذب ... الى ان قال: الاظهر انه ان وضع على طهر فلا اعادة والا وجبت. انتهى وعلى المختار السابق له لاتجب.","part":1,"page":24},{"id":25,"text":"Apabila ada udzur untuk melepas ( tambal) seperti apa yang disebut dalam syarah muhadzab maka wajib mengqodoi shalatnya dan mengusapnya dengan air menurut yang mashur, karena hal ini tidak ada keserupaan, dengan pemakai muzah (alas kaki arab). Menurut pendapat yang kedua tidak perlu qodlo shalatnya ( bila dilakukan ) karena termasuk udzur, perbedaan pendapat di dalam dua kelompok tersebut, dalam mas'alah, penutup (tambal) yang terdapat selain anggota tayamum (seperti lengan/muka) maka jelas harus mengqodlo shalatnya, karena ada kurangnya antara pengganti dan yang diganti. Hal itu diyakini oleh imam nawawi didalam aslinya kitab Roudloh dan menukilnya didalam kitab syarah al-muhadzab, S/d .... Menurut yang adzhar, jika waktu memasang penutup (tambal) itu dalam kondisi suci, maka tidak perlu mengulang shalatnya, kalau tidak suci maka wajib mengulang. Menurut yang mashur ( terpilih ) yang dahulu tidak wajib.\rAl-Qalyubi, I: 84\r( فَإِنْ كَانَ ) مَنْ بِهِ الْعِلَّةُ ( مُحْدِثًا فَالْأَصَحُّ اشْتِرَاطُ التَّيَمُّمِ وَقْتَ غَسْلِ الْعَلِيلِ ) رِعَايَةً لِتَرْتِيبِ الْوُضُوءِ ، وَالثَّانِي يَتَيَمَّمُ مَتَى شَاءَ كَالْجُنُبِ لِأَنَّ التَّيَمُّمَ عِبَادَةٌ مُسْتَقِلَّةٌ ، وَالتَّرْتِيبُ إنَّمَا يُرَاعَى فِي الْعِبَادَةِ الْوَاحِدَةِ .","part":1,"page":25},{"id":26,"text":"( فَإِنْ جُرِحَ عُضْوَاهُ ) أَيْ الْمُحْدِثِ ( فَتَيَمُّمَانِ ) عَلَى الْأَصَحِّ الْمَذْكُورِ ، وَعَلَى الثَّانِي تَيَمُّمٌ وَاحِدٌ ، وَكُلٌّ مِنْ الْيَدَيْنِ وَالرِّجْلَيْنِ كَعُضْوٍ وَاحِدٍ ، وَيُنْدَبُ أَنْ يُجْعَلَ كُلَّ وَاحِدَةٍ كَعُضْوٍ.الشَّرْحُ: قَوْلُهُ: ( فَتَيَمُّمَانِ ) أَيْ إنْ وَجَبَ التَّرْتِيبُ بَيْنَهُمَا وَإِلَّا كَمَا لَوْ عَمَّتْ الْعِلَّةُ الْوَجْهَ وَالْيَدَيْنِ فَيَكْفِي لَهُمَا تَيَمُّمٌ وَاحِدٌ عَنْهُمَا ، وَكَذَا لَوْ عَمَّتْ جَمِيعَ الْأَعْضَاءِ لِسُقُوطِ التَّرْتِيبِ .\rMengganti Niat Haji Ifrad dan Tamattu'\rPertanyaan\rAda orang melakukan ibadah Haji dengan niat ifrod kemudian setelah di makkah dirasakan berat, karena menunggu lama dan takut kepada resiko membayar dam yang lebih banyak sebagai akibat dari melakukan pelanggaran-pelanggaran, maka diubah menjadi haji tamattu' dengan membayar dam satu kali.\rApakah mengubah niat yang demikian itu boleh?\rJawaban\rTidak boleh menurut mayoritas ulama. Boleh menurut imam Ahmad.\rDasar Pengambilan Dalil\rAl-Majmu' VII: 166-167\rإذا أحرم بالحج لايجوز له فسخه وقلبه عمرة، وإذا أحرم بالعمرة لايجوز له فسخها حجا لالعذرة ولالغيره، وسواء أساق الهدى أم لا، هذا مذهبنا، قال ابن الصباغ والعبدرى وآخرون وبه قال عامة الفقهاء وحملوا ورود الآحاديث فى ذلك على انه مختص بالصحابة فى تلك السنة فقط.\rكالو تيدا بوليه، مكا باكى اوراع ترسبوت تتف برلاكو محرمات الاحرام. ففى المجموع ج 7 ص 167. وقال أحمد يجوز فسخ الحج إلى العمرة إن لم يسق الهدى.","part":1,"page":26},{"id":27,"text":"Ketika orang sudah berihrom untuk haji, maka tidak boleh merusak niat dan mengganti dengan ihrom untuk umroh. Dan ketika berihrom untuk berumroh, maka tidak boleh mengganti (niat) untuk ihrom haji. Baik ada udzur atau tidak. Ini adalah madzhab kita (Asy-Syafi'i). Ibnu Shobah, al-Abdarai dan ulama' yang lain telah mengatakannya. Serta umumnya ulama' fiqih memahami hadits tersebut dimaksudkan khusus untuk para sahabat Nabi pada tahun itu saja.\rIbadah Haji dan Ihdad Istri\rPertanyaan\rAda orang melakukan ibadah haji dengan istrinya, kedua suami istri itu sudah tiga kali melakukan haji, kemudian pada waktu sudah masuk karantina suaminya meninggal dunia dan si istri akan melakukan perjalanan haji dengan mahrom keponakannya. Tetapi oleh seorang ulama tidak diperkenankan dengan alasan bahwa ibadah haji perempuan itu hukumnya sunat, sedangkan ihdad dan tidak keluar rumahnya itu hukumnya wajib.\rApakah larangan atau alasan itu benar atau tidak? dan apakah tidak termasuk dalam kaidah:\rالحاجة تنزل منزلة الضرورة\rSedangkan\rالضرورة تبيح المحظورة\rJawaban\rPerempuan tersebut boleh memilih antara menunda dan melangsungkan perjalanan hajinya, tetapi menundanya lebih utama.\rDasar Pengambilan Dalil\rAl-Mahalli, I: 56\rAl-Um: V/ 228\rوإن أذن لها بالسفر فخرجت أو خرج بها مسافرا إلى حج أو بلد من البلدان فمات عنها أو طلقها طلاقا لا يملك فيه الرجعة فسواء ولها الخيار في ان تمضي في سفرها ذاهبة أو جائية وليس عليها أن ترجع إلى بيته قبل أن ينقضي سفرها.","part":1,"page":27},{"id":28,"text":"Jika seseorang mengizini istrinya pergi, kemudian istrinya pergi atau perjalanan untuk haji, atau pergi kelain Negara, kemudian suaminya meninggal dunia, atau menalaq istrinya dengan talaq yang tidak rujuk, maka istri boleh memilih untuk meneruskan perjalanannya pergi atau datang (kerumahnya). Dan dia tidak wajib bagi istri tersebut langsung pulang kerumah suaminya sebelum selesai perjalanan.\rفإذا انتقلت ببدنها وإن لم تنتقل بمتاعها ثم طلقها أو مات عنها اعتدت في الموضع الذي انتقلت إليه بإذنه (قال) سواء أذن لها في منزل بعينه أو قال لها انتقلي حيث شئت أو انتقلت بغير إذنه فأذن لها بعد في المقام في ذلك المنزل كل هذا في أن تعتد فيه سواء (قال) ولو انتقلت بغير إذنه ثم يحدث لها إذنا حتى طلقها أو مات عنها رجعت فاعتدت في بيتها الذي كانت تسكن معه فيه.\rوهكذا السفر يأذن لها به فإن لم تخرج حتى يطلقها أو يتوفى عنها أقامت في منزلها ولم تخرج منه حتى تنقضي عدتها وإن أذن لها بالسفر فخرجت أو خرج بها مسافرا إلى حج أو بلد من البلدان فمات عنها أو طلقها طلاقا لا يملك فيه الرجعة فسواء ولها الخيار في ان تمضي في سفرها ذاهبة أو جائية وليس عليها أن ترجع إلى بيته قبل أن ينقضي سفرها فلا تقيم في المصر الذي أذن لها في السفر إليه إلا أن يكون أذن لها في المقام فيه أو في النقلة إليه فيكون ذلك عليها إذا بلغت ذلك المصر.","part":1,"page":28},{"id":29,"text":"Artinya: jika seseorang mengizinkan istrinya pergi, kemudian istrinya pergi atau pergi untuk haji, atau pergi ke Negara lain, kemudian suaminya meninggal dunia atau mentalak istrinya dengan talak tidak ruju' maka bagi istri boleh memilih untuk meneruskan perjalanannya pergi atau datang (ke rumahnya). Dan tidak wajib bagi istri tersebut langsung pulang ke rumah suaminya sebelum selesai perjalanan.\rAl-idloh: 60\rانه لو مات مثلا قبل احرامها لزمها الرجوع معه وإلا معه وإلا فالذى يظهر أنه ينظر الى ماهو مظنه السلامة والأمن أكثر.\rSesungguhnya seandainya suaminya mati sebelum dia (istri) ihrom maka wajib baginya pulang kerumah suaminya, jika tidak pulang, maka menurut yang dhohir dipandang dari prasangka selamat, dan aman yang lebih banyak.\rKepergian Haji dari Istri yang Ditinggal Suami\rPertanyaan\rAda dua orang suami istri akan melakukan ibadah haji kurang sepuluh hari berangkat si suami meninggal dunia, lalu si istri akan melanjutkan ibadah hajinya dengan mahrom orang lain, karena memang baru kali ini dia akan beribadah haji, bolehkah dia terus berangkat atau tidak, sedangkan dia masih dalam keadaan iddah dan wajib ihdad (tidak terhias dan parfum)\rJawaban\rTidak boleh, kecuali ada kekhawatiran yang mengancam keselamatan jiwa, harta (seperti potongan biaya administrasi) dan sebagainya.\rDasar Pengambilan Dalil\rJamal ala Fathi Al-Wahab: IV/ 463\r(وكخوف) على نفس أو مال من نحو هدم وغرق وفسقة مجاورين لها. ( قوله او مال ) اى لها او لغيرها كوديعة وان قل. قال حج أو اختصاص كذلك.","part":1,"page":29},{"id":30,"text":"Diperbolehkan keluar rumah karena ada hajat seperti khawatir atas dirinya atau hartanya dari sesamanya bencana alam, banjir, kefasikan yang berdekatan dengannya ( kata mushonif: \"atau harta\" ) maksudnya baik bagi dirinya perempuan atau milik orang lain, seperti harta titipan meskipun meskipun sedikit, imam ibnu hajar berkata: atau kekhususan itulah menjadi alasan / sebab.\rHukum mengerjakan proses bayi tabung\rPertanyaan\rBagaimana hukumnya mengerjakan proses bayi tabung. Bayi tabung ialah bayi yang dihasilkan bukan dari persetubuhan, tetapi dengan cara mengambil mania tau sperma laki-laki dan sel telur wanita, lalu dimasukan kedalam suatu alat dalam waktu beberapa hari lamanya. Setelah hal tersebut dianggap mampu menjadi janin, maka dimasukkan kedalam rahim ibu.\rJawaban\rHukumnya tafsil sbb:\rApabila sperma yang di tabung dan yang dimasukan ke dalam rahim wanita tersebut ternyata bukan sperma suami istri, maka hukumnya haram.\rDan apabila sperma/mani yang ditabung tersebut sperma suami istri, tetapi cara mengeluarkannya tidak muhtarom, maka hukumnya juga haram.\rBila sperma yang ditabung itu sperma/mani suami istri dan cara mengeluarkannya muhtarom, serta dimasukan ke dalam rahim istri sendiri maka hukumnya boleh.\rKeterangan:\rMani muhtarom adalah yang keluar atau dikeluarkan dengan cara yang diperbolehkan oleh syara'\rTentang anak yang dihasilkan dari sperma, tersebut dapat ilhaq atau tidak kepada pemilik mani terdapat perbedaan pendapat antara Imam Ibnu Hajar dan Imam Romli.","part":1,"page":30},{"id":31,"text":"Menurut Imam Ibnu Hajar tidak bisa ilhaq kepada pemilik mani secara mutlaq (baik muhtarom atau tidak) sedang menurut Imam Romli anak tersebut dapat ilhaq kepada pemilik mani dengan syarat keluarnya mani tersebut harus muhtarom.\rDasar Pengambilan Dalil\rAl-jami'ul Shoghir hadis no. 8030\rمامن ذنب بعد الشرك أعظم عند الله من نطفة وضعها رجل فى رحم لايحل له. رواه ابن الدنا عن الهشيم بن مالك الطائ الجامع الصغير\rTidak ada dosa yang lebih besar setelah syirik (menyekutukan Allah ) disisi Allah dari pada maninya seorang laki-laki yang ditaruh pada rahim wanita yang tidak halal baginya. (HR. Ibnu Abid-dunya dari Hasyim bin Malik al-thoi)\rHikmatu Tasyri'wal Safatuhu, II: 48\rمن كان يؤمن بالله واليوم الأخر فلا يسقين ماءه زرع أخيه\rBarangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali menyiram air (maninya ) pada lahan tanaman (rahim) orang lain.\rAl-Qolyubi, IV: 32\rولو أتت بولد عُلِمِ أنه ليس منه مع إمْكَانِه مِنْهُ ( لَزِمَهُ نَفْيُهُ ) لِأَنَّ تَرْكَ النَّفْيِ يَتَضَمَّنُ اسْتِلْحَاقَ مَنْ لَيْسَ مِنْهُ حَرَامٌ.\rApabila seoarang perempuan datang dengan membawa anak, dan diketahui bahwa anak tersebut bukan dari suaminya, dan dapat mungkin dari suaminya (namun secara yakin tidak dari suaminya). Maka wajib meniadakan (menolak mengakui), karena bila tidak dilaksanakan penolakan, dapat dimasukan nasab dari orang yang tidak haram (suaminya).\rBujairimi Iqna' IV: 36","part":1,"page":31},{"id":32,"text":"( الحاصل ) المراد بالمنى المحترام حال خروجه فقط على ما اعتمده مر وان كان غير محترم حال الدخول، كما اذا احتلم الزوج وأخذت الزوجة منيه فى فرجها ظانة أنه من منىّ اجنبى فإن هذا محترم حال الخروج وغير محترم حال الدخول وتجب العدة به إذا طلقت الزوجة قبل الوطء على المعتمد خلافا لإبن حجر لأنه يعتبر أن يكون محترما فى الحالين كماقرره شيخنا.\r(Kesimpulan) yang dimaksud mani muhtarom (mulia) adalah pada waktu keluarnya saja, seperti yang dikuatkan Imam Romli, meskipun tidak muhtarom pada waktu masuk. Contoh: suami bermimpi keluar mani, dan istrinya mengambilnya (air mani tersebut) lalu dimasukan ke farjinya dengan persangkaan, bahwa air mani tersebut milik laki-laki lain (bukan suaminya) maka hal ini dinamakan mani muhtarom keluarnya, tapi tidak muhtarom waktu masuknya kefarji, dan dia wajib punya iddah (masa penantian) jika suaminya menceraikan sebelum disetubui. Menurut yang mu'tamad, berbeda dengan pendatnya imam ibnu hajar yang mengatakan, kreterianya harus muhtarom keduanya (waktu masuk dan keluar) seperti ketetapan dari Syaikhuna (Rofi'i Nawawi).\rKifayatu Al-akhyar, II: 113\rلو إستمنى الرجل منية بيد امرأته او امته جاز لأنها محل استمتاعها\rJika seorang suami sengaja mengeluarkan air maninya dengan perantara tangan istrinya, atau tangan perempuan amatnya, maka boleh, karena perempuan tersebut tempat istima' (senang-senang) bagi seorang suami.\rTuhfa, VI: 431\rAl-bajuri, II: 172\rAl-bughya: 238\rCangkok Mata\rPermasalahan","part":1,"page":32},{"id":33,"text":"Bagaimana hukumnya cangkok mata? Transplantasi kornea atau cangkok mata ialah mengganti selaput mata seseorang dengan selaput mata orang lain, atau kalau mungkin dengan selaput mata binatang. Jadi yang diganti hanya selaputnya saja bukan bola mata seluruhnya. Adapun untuk mendapatkan kornea / selaput mata ialah dengan cara mengambil bola mata seluruhnya dari orang yang sudah mati. Bola mata itu kemudian dirawat baik-baik dan mempunyai kekuatan paling lama 72 jam (tiga hari tiga malam). Sangat tipis sekali dapat dihasilkan cangkok kornea dari binatang.\rJawaban\rHukumnya ada dua pendapat:\rHaram, walaupun mayat itu tidak terhormat seperti mayitnya orang murtad. Demikian pula haram menyambung anggota manusia dengan anggota manusia lain, bahaya buta itu tidak sampai melebihi bahayanya merusak kehormatan mayit.\rDasar Pengambilan Dalil\rAhkamul Fuqoha, III: 58\rمسألة: ماقولكم فى إفتاء مفتى ديار المصرية بجواز أخد حداقة الميت لوصلها إلى عين الأعمى. هل هو صحيح أولا ؟ قرر المؤتمر بأن ذلك الإفتاء غير صحيح ، بل يحرم أخد حداقة الميت ولو غير محترم كمرتد وحربى. ويحرم وصله بأجزاء الآدمى لأن ضرر العمى لايزيد على مفسدة إنتهاك حرمات الميت كما فى حاشية الرشيدى على ابن العماد. صحيفة 26 وعبارته: أماالآدمى فوجوده حنئيد كالعدم كما قال الحلبى على المنهج، ولوغير محترم كمرتد وحربى فيحرم الوصل به ويجب نزعه. انتهى. ولقول صلى الله عليه وسلم: كسر عظم الميت ككسره حيا ( رواه أحمد فى المسند وأبو داود وابن ماجه) وعن عائشة \"كسر عظم الميت ككسر عظم الحى فى الإثم (رواه ابن ماجه عن أم سلمة) حديث حسن.\rHasiah Ar-Rosidi ‘ala ibni ‘imad, hal, 26","part":1,"page":33},{"id":34,"text":"Boleh, disamakan dengan diperbolehkannya menambal dengan tulang manusia, asalkan memenuhi 4 syarat:\rKarena dibutuhkan\rTidak ditemukan selain dari anggota tubuh manusia\rMata yang diambil harus dari mayit muhaddaroddam (halal darahnya)\rAntara yang diambil dan yang menerima harus ada persamaan agama\rDasar Pengambilan Dalil\rFathul Jawad 26\rوبقى مالم يوجد صالح غيره فيحتمل جواز الجبر بعظم الآدمى الميت كمايجوز للمضطر أكل الميت وإن لم يخش إلا مبيح التيمم. وجزم المدابغى بالجواز، حيث قال: فان لم يصلح إلاعظم الآدمى قدم نحو الحربى كالمرتد ثم الذمى ثم المسلم.\rDan masih ada, bila sudah tidak dijumpai yang baik boleh menambali (cangkok) dengan tulang orang yang sudah mati. Seperti halnya boleh memakan bangkai orang yang sudah mati meski tidak khawatir sampai batas diperbolehkannya tayamum. Dan Imam Al-Madabighi yakin dengan hukum boleh, dia menyatakan jika tidak ada yang bagus (untuk menambal) kecuali tulang orang, maka dahulukanlah orang kafir harbi, orang murtad, lalu kafir dzimy, kemudian orang islam.\rAl-mahali\rوله أى للمضطر أكل أدمى ميت لأن حرمة الحى أعظم من حرمة الميت\rJika terpaksa dan yang ditemukan hanya bangkai orang mati, maka boleh memakannya, karena kehormatan orang yang masih hidup masih dikuatkan dari pada kehormatan orang yang sudah mati.\rBijaeromi iqna, IV: 272 (belum ditulis)\rوالأوجه كماهو ظاهر كلامهم عدم النظر إلى أفضلية الميت مع إتحادهما إسلاما وعصمة.\rMenurut yang aujah, seperti penjelasan ahli fiqih tidak memandang pada istemewanya seorang mayit jika sama-sama islam dan terjaga.","part":1,"page":34},{"id":35,"text":"Mughni Muhtaj, IV: 307\r( وَلَهُ ) أَيْ الْمُضْطَرِّ ( أَكْلُ آدَمِيٍّ مَيِّتٍ ) إذَا لَمْ يَجِدْ مَيْتَةً غَيْرَهُ كَمَا قَيَّدَاهُ فِي الشَّرْحِ وَالرَّوْضَةِ ؛ لِأَنَّ حُرْمَةَ الْحَيِّ أَعْظَمُ مِنْ حُرْمَةِ الْمَيِّتِ.\rBoleh bagi orang yang terpaksa makan bangkai orang ketika tidak di temukan lainnya, seperti alasan dalam kitab syarah dan kitab raudloh, karena kehormatan orang hidup lebih diutamakan dari pada orang mati.\rAl-Muhadzab, I: 251\rوان اضطر ووجد آدميا ميتا جاز أكله لان حرمة الحى آكد من حرمة الميت.\rJika terpaksa dan yang di temukan hanya bangkai orang mati maka boleh memakannya, karena kehormatan orang yang masih hidup lebih di kuatkan dari pada orang yang sudah mati.\rAl-qolyubi, I: 182\r( وَلَوْ وَصَلَ عَظْمَهُ ) لِانْكِسَارِهِ وَاحْتِيَاجِهِ إلَى الْوَصْلِ ( بِنَجَسٍ ) مِنْ الْعَظْمِ ( لِفَقْدِ الطَّاهِرِ ) الصَّالِحِ لِلْوَصْلِ ( فَمَعْذُورٌ ) فِي ذَلِكَ\rJika menyambung tulangnya karena pecah dan ia memerlukan sembungan dengan tulang najis karena daftar orang-orang yang menyatakan dirinya rela di ambil bola mata nya sesudah mati untuk kepentingan manusia.\rBujairimi ala- alwahab, I: 239\rBank Mata\rPermasalahan\rBagaimana hukumnya Bank Mata? Bank mata adalah semacam badan atau yayasan yang tugasnya antara mencari dan mengumpulkan daftar orang-orang yang menyatakan dirinya rela di ambil bola matanya sesudah mati untuk kepentingan manusia.\rJawaban","part":1,"page":35},{"id":36,"text":"Hukumnya Bank Mata adalah sama hukumnya pencangkokan, sebagaimana keterangan dan penjelasan sebelumnya. Hal ini sesuai dengan qoidah ushul fiqih yang berbunyi:\rللوسائل حكم المقاصد\rCangkok Ginjal dan Jantung\rPermasalahan\rBagaimana hukumnya cangkok ginjal dan jantung?\rCangkok ginjal ialah mengganti ginjal seseorang dengan ginjal orang lain. Ginjal pengganti itu dapat diambil dari orang yang masih hidup atau orang yang sudah mati. Pengambilan ginjal dari orang yang hidup itu mungkin karena setiap orang mempunyai dua ginjal.\rTransplantasi jantung ialah mengganti jantung seseorang dengan jantung orang lain. Transplatasi jantung ini hanya dapat di lakukan dari orang yang sudah mati saja, karena setiap orang hanya mempunyai satu jantung. Kiranya sangat sulit melakukan transplatasi ginjal dan jantung dari binatang. Karena dua hal ini dibutuhkan adanya persamaan antara darah yang memberikan ginjal atau jantung ( donor) dengan orang yang mendapatkan ganti ginjal atau jantung tadi.\rJawaban\rHukumnya cangkok ginjal dan jantung sama dengan hukumnya pencangkokan mata.\rZakat kepada Organisasi Sosial\rPermasalahan\rBagaimana hukumnya zakat yang ditasyarufkan kepada masjid, madrasah, panti asuhan, yayasan-yayasan sosial, keagamaan dan lain-lain. Sebagaimana yang berlaku ditengah masyarakat umum?\rJawaban\rMemberikan zakat kepada masjid, madrasah, panti asuhan, yayasan-yayasan sosial, keagamaan dan lain-lain tidak boleh.","part":1,"page":36},{"id":37,"text":"Akan tetapi ada pendapat Imam Qofal menukil dari sebagian ahli fiqih, zakat boleh ditasarufkan kepada sektor-sektor tersebut diatas, atas nama sabilillah.\rDasar Pengambilan Dalil\rBughyatu al-murtasyidin: 106\rلايستحق المسجد شيئا من الزكاة مطلقا، إذلايجوز صرفها إلا لحر مسلم، ومثله مافى المزان الكبرى فى الجزء الثانى من باب قسم الصدقات، وعبارته: إتفق الأئمة الأربعة على أنه لايجوز أخراج الزكاة لبناء مسجد أوتكفين ميت.\rMasjid tidak berhak sedikit pun secara mutlak mengambil bagian zakat, karena tidak boleh mentasarufkan zakat kecuali pada orang yang merdeka yang muslim, begitu juga yang ada dalam kitab Mizan Kubro.\rTafsir munir, I: 344\rونقل القفال من بعض الفقاء أنهم أجازوا صرف الصدقات إلى جميع وجوه الخير، من تكفين ميت وبناء الحصون وعمارة المساجد، لأن قوله تعالى \"فى سبيل الله\" فى الكل.\rImam Al-Qofal menukil dari sebagian ahli fiqih, bahwa mereka memperbolehkan mentasarufkan sodaqoh (zakat) kepada segala sektor kebaikan, seperti: mengkafani mayat, membangun pertahanan, membangun masjid dst. Karena kata-kata sabilillah itu mencakup umum (semuanya).\rZakat Petani Tebu dan Cengkeh\rPermasalahan\rApakah wajib zakat usaha perniagaan mutakhir (modern) yang bergerak didalam bidang jasa, seperti perhotelan, pengangkutan dan sesamanya?\rJawaban\rPerniagaan jasa seperti perhotelan pengangkutan dan sesamanya, adalah termasuk ijaroh yang mengandung arti tijaroh, maka wajib zakat.\rDasar Pengambilan Dalil\rKifayatu al-akhyar, I: 178\rولو أجر الشخص ماله أونفسه وقصد بالأجرة إذا كانت عرضاللتجارة تصير مال تجارة، لأن الإجارة معاوضة.","part":1,"page":37},{"id":38,"text":"Jika seseorang memperkerjakan dirinya atau hartanya dengan tujuan dapat ongkos ketika jadi harta untuk tijaroh (perdagangan) maka jadilah harta perdagangan, karena ongkos adalah mu’awadloh.\rAl-Mauhibah, IV: 31 (belum ketemu)\rAl-Majmu’, VI: 49\rومن أجر نفسه أو شخصا أخر بعوض من العروض بقصد التجارة صار ذلك العرض مال تجارة فتجب الزكاة.\rSiapapun yang mempekerjakan dirinya atau orang lain dengan ongkos atau ganti rugi harta dengan tujuan berdagang, maka jadilah harta perdagangan. Dan wajib mengeluarkan zakat.\rZakat Perniagaan bidang Jasa\rPermasalahan\rBagaimana yang berlaku secara umum dibidang keuangan dengan digantikannya peranan uang mas/perak oleh uang kertas, cek, obligasi, saham-saham perusahaan dan macam-macam kertas berharga. Apakah wajib zakat?\rJawaban\rUang kertas, cek, obligasi, saham-saham perusahaan dan sesamanya, apabila telah mencapai seharga emas satu nisob dan telah haul, maka wajib zakat seperti emas.\rDasar pengambilan dalil\rAhkamul Fuqoha, I: 57 (belum ketemu)\rAl-Mauhibah , IV\rAl-fiqih ala madzibil arba’ah, I: 605\rجمهور الفقهاء يرون وجوب الزكاة فى الأوراق المالية، لأنهاحالت محل الذهب والفضة فى التعامل.\rJumhurul fuqoha (pembesar orang-orang ahli fiqih), memandang kewajiban zakat terhadap kertas berharga, karena ia diposisikan sebagaimana emas dan perak dalam transaksi.\rZakat atas Cek, Saham, dan Obligasi\rPermasalahan\rBagaimana hukum pemotongan hewan dengan mesin?\rJawaban\rHukum memotong hewan dengan mesin adalah halal, jika mesin dan cara memotongnya memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:","part":1,"page":38},{"id":39,"text":"Pemotongnya seorang muslim/ahlu kitab yang asli\rAlat mesin yang dipergunakan, merupakan benda tajam yang bukan dari tulang atau kuku\rSengaja menyembelih hewan tersebut\rDasar Pengambilan Dalil\rBujairomi wahab, IV: 286\rوشرط فى الذبح قصد اى قصد العين أو الجنس بالفعل (قوله قصد العين) وإن أخطأفى ظنه، أو الجنس فى الإصابة – ح ل – والمرد بقصد العين أو بالجنس بالفعل أى قصد إيقاع الفعل على العين أو على واحد من الجنس وإن لم يقصد الذبح.\rSyarat dalam memotong hewan: menyengaja terhadap hewannya atau jenisnya dengan perbuatan (kata-kata menyengaja pada hewan), meskipun keliru dalam persangkaannya atau jenisnya dalam kenyataannya ... artinya menyengaja ialah: sengaja terhadap hewan itu atau jenisnya walupun tidak sengaja menyembelih.\rJamal Wahab V/241-242\rوشرط في الآلة كونها محددة بفتح الدال المشددة أى ذات حدة تجرح كحديد أى كمحدد حديد وقصب وحجر ورصاص وذهب وفضة إلا عظما كسن وظفر لخبر الشيخين: ما أنهر الدم وذكر اسم الله عليه فكلوه ليس السنّ والظفر وألحق بهما باقي العظام\rSyarat alat untuk menyembelih harus tajam yang bisa melukai seperti pisau besi, bambu, batu, timah, emas, perak, kecuali (tidak boleh) dengan tulang dan kuku. Dengan dasar hadits shohih bukhori dan muslim: sesuatu yang dapat mengalirkan darah dengan menyebut nama Allah maka makanlah selama bukan dengan tulang dan kuku. dan disamakan dengan keduanya semua jenis tulang.\rيعلم من قوله الآتى أو كونها جارية سباع او طير الخ ... حيث أطلق فيه ولم يشترط أن تقتله بوجه مخصوص. فيسفاد من الإطلاق أنه يحل مقتولها بسائر أنواع القتل.","part":1,"page":39},{"id":40,"text":"Telah diketahui dari kata-kata yang akan datang adanya alat memotong hewan, dapat melukainya binatang atau burung dst. Sekira dimutlakkan dan tidak disyaratkan, cara membunuh dengan cara yang khusus, maka dapat diambil pengertian halal apa yang di bunuh binatang dengan segala cara membunuh.\rPemotongan Hewan dengan Mesin\rPermasalahan\rBagaimana hukum pemotongan hewan dengan mesin?\rJawaban\rHukum memotong hewan dengan mesin adalah halal, jika mesin dan cara memotongnya memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:\rPemotongnya seorang muslim/ahlu kitab yang asli\rAlat mesin yang dipergunakan, merupakan benda tajam yang bukan dari tulang atau kuku\rSengaja menyembelih hewan tersebut\rDasar Pengambilan Dalil\rBujairomi wahab, IV: 286\rوشرط فى الذبح قصد اى قصد العين أو الجنس بالفعل (قوله قصد العين) وإن أخطأفى ظنه، أو الجنس فى الإصابة – ح ل – والمرد بقصد العين أو بالجنس بالفعل أى قصد إيقاع الفعل على العين أو على واحد من الجنس وإن لم يقصد الذبح.\rSyarat dalam memotong hewan: menyengaja terhadap hewannya atau jenisnya dengan perbuatan (kata-kata menyengaja pada hewan), meskipun keliru dalam persangkaannya atau jenisnya dalam kenyataannya ... artinya menyengaja ialah: sengaja terhadap hewan itu atau jenisnya walupun tidak sengaja menyembelih.\rJamal Wahab V/241-242\rوشرط في الآلة كونها محددة بفتح الدال المشددة أى ذات حدة تجرح كحديد أى كمحدد حديد وقصب وحجر ورصاص وذهب وفضة إلا عظما كسن وظفر لخبر الشيخين: ما أنهر الدم وذكر اسم الله عليه فكلوه ليس السنّ والظفر وألحق بهما باقي العظام","part":1,"page":40},{"id":41,"text":"Syarat alat untuk menyembelih harus tajam yang bisa melukai seperti pisau besi, bambu, batu, timah, emas, perak, kecuali (tidak boleh) dengan tulang dan kuku. Dengan dasar hadits shohih bukhori dan muslim: sesuatu yang dapat mengalirkan darah dengan menyebut nama Allah maka makanlah selama bukan dengan tulang dan kuku. dan disamakan dengan keduanya semua jenis tulang.\rيعلم من قوله الآتى أو كونها جارية سباع او طير الخ ... حيث أطلق فيه ولم يشترط أن تقتله بوجه مخصوص. فيسفاد من الإطلاق أنه يحل مقتولها بسائر أنواع القتل.\rTelah diketahui dari kata-kata yang akan datang adanya alat memotong hewan, dapat melukainya binatang atau burung dst. Sekira dimutlakkan dan tidak disyaratkan, cara membunuh dengan cara yang khusus, maka dapat diambil pengertian halal apa yang di bunuh binatang dengan segala cara membunuh.\rPelaksanaan amar ma'ruf nahi mungkar\rPermasalahan\rKalau ulama aswaja/NU telah melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar apakah ulama yang bukan aswaja sudah terlepas dari kewajiban fardlu kifayah amar ma’ruf nahi munkar dan sebaliknya?\rJawaban\rSudah terlepas dari kewajiban fardlu kifayah amar ma’ruf nahi munkar, selama amar ma’ruf nahi munkar dilakukan sesuai dengan aturannya.\rDasar Pengambilan Dalil\rAhkamu Fuqoha: 11/105 soal no 241","part":1,"page":41},{"id":42,"text":"إن كان هناك من يكفيهم للأمر بالمعروف والنهى عن المنكر فلا حرج عليهم السكوت ولزوم البيوت ، وإلايحرم عليهم ذلك، وأما الانتساب إلى إحدى الجمعيات الإسلامية فهو أفضل، بل قد يجب كماإذاتيقن أوظن أنه لايؤدى إلى حفظ دينه وصونه عمايفسده إلابالإنتساب اليها اخذا لمافى الدعوة التامة والإحياء. ونصبه: وواجب على كل ففيه فرغ من فرض عينه وتفرغ لفرض الكفاية إلى من يجاور بلده من أهل السواد ومن العرب والأكراد وغيرهم ويعلمهم دينهم وفرائض شرعهم. إلى ان قال: فإن قام بهذا الأمر واحد سقط الحرج عن الآخرين والا عم الحرج الكافة أجمعين أماالعالم فلتقصيره فى الخروج ، أما الجاهل فلتقصيره ترك التعلم. الخ ... اعلم أن كل قاعد فى بيته اينما كان فليس خاليا فى هذا الزمان عن منكر من حيث التقاعد عن إرشاد الناس وتعليمهم وأكثر الناس جاهلون .","part":1,"page":42},{"id":43,"text":"Jika telah ada orang yang dianggap cukup sudah menyampaikan amar ma’ruf nahi munkar, maka tidak dosa bagi lainnya hanya diam di rumah (tidak berdakwah), kalau belum ada yang menyampaikan maka haram bagi semua orang hanya berdiam diri. Adapun menisbatkan (amar ma’ruf nahi munkar) kepada salah satu organisasi islam itu lebih utama. Bahkan terkadang menjadi wajib ketika diyakini atau diduga kuat, tidak akan tercapai dalam mempertahankan agama dan menjaga kelangsungannya dari pihak-pihak yang merusaknya kecuali dengan berpedoman kepada kitab: addawatu attamah dan kitab ihya’ ulumuddin, yang arti nasnya: “wajib bagi setiap orang pandai dalam agama untuk meluangkan waktu guna memenuhi fardlu kifayah kepada orang yang berdekatan daerahnya dari ahli kulit hitam, orang arab dan lainnya, dan wajib pula mengajari mereka terhadap agamanya dan kewajiban-kewajiban syari’atnya …..s/d…. jika sudah ada salah seorang yang melakukan (amar ma’ruf nahi munkar) maka gugur dosa dari lainnya. Jika tidak ada sekali, maka yang berdosa adalah semuanya manusia. Adapun dosanya orang ‘alim, karena ia tidak menghiraukan keharusan keluar (berdakwah). Sedangkan dosanyaorang yang bodoh, ia tidak memperhatikan kewajiban belajar (tidak mau belajar) dst. … perlu dimengerti, bahwa setiap orang yang hanya berdiam diri dirumahnya dimana saja, maka tidak dapat lepas dizaman ini dari kemungkaran, ketika hanya diam diri dari menunjukan manusia dan mengajarinya. Dan kebanyakan manusia itu bodoh (tidak tahu).\rI'tikaf di tanah wakaf","part":1,"page":43},{"id":44,"text":"Permasalahan\rAda tanah wakaf untuk masjid, bolehkah dipakai untuk I’tikaf?\rJawaban\rApabila tanah yang dimaksud wakif itu adalah\r\"aku jadikan tanah ini sebagai masjid\"\rmaka walaupun belum dibangun masjid, I’tikaf di atas tanah tersebut hukumnnya sah.\rTetapi apabila yang dimaksud wakaf tersebut adalah tamlik kepada masjid dan oleh nadzir belum (tidak diresmikan) atau belum dibangun masjid. Maka hukumnya I’tikaf diatas tanah tersebut tidak sah.\rDasar Pengambilan Dalil\rAl-bajuri, I: 305\rقوله فى المسجد اى الخالص المسجدية فلا يصح الإعتكاف فى غير المسجد كالمدارس والربط ومصلى العيد.\rKata pengarang (di masjid) artinya yang murni masjid , maka tidak sah I’tikaf di selain masjid, seperti di madrasah, pondok, dan tempat-tempat sholat ‘id.\rAl-mahali, 11/76\rقوله فى المسجد، ومنه روشنه ورحبته القديمة الخ\rKata pengarang (di masjid) yang termasuk dihukumi masjid adalah emperanya, serambinya yang bangunan dulu (bersama dengan dalamannya masjid).\rFatha al-wahab, I: 128\rوثانيها مسجد للإتباع رواه الشيخان فلايصح فى غيره ولوهي للصلاة.\rYang kedua: harus masjid dengan dasar hadits Nabi yang diriwayatkan Imam Bukhori dan Muslim, maka tidak sah I’tikaf diselain masjid meskipun disediakan untuk sholat.\rSyarwani, VI: 251\rوالأصح وإن نازع فيه الأسنوى وغيره أن قوله جعلت البقعة مسجدا من غير نية صريح فحيئد تصير به مسجدا وإن بات بلفظ مما مر لأن المسجد لايكون إلا وقفا.\rMenurut yang asoh, meskipun ditentang Imam Asnawi dan lainnya bahwa perkataan seseorang:\r“saya jadikan tempat ini menjadi masjid”","part":1,"page":44},{"id":45,"text":"dengan tanpa niat itu shorih wakaf, maka dengan demikian (tempat itu) akan menjadi masjid. Meskipun dengan lafadz-lafadz yang telah tersebut diatas, karena masjid itu pasti wakaf. (tidak ada masjid yang bukan wakaf).\rZakat Tijaroh sebelum Haul\rPermasalahan\rBagaimana hukumnya mengeluarkan zakat tijaroh sebelum haul (sebelum masuk satu tahun)?\rJawaban\rBoleh asalkan yang menerima tersebut tetap mempunyai sifat mustahiq sampai waktu wajibnya, sehingga apabila yang menerima tersebut menjadi berubah (tidak mempunyai syarat sebagai mustahiq) pada waktu wajibnya, maka apabila muzakki pada waktu memberikan zakat mu’ajjalah itu memberitahukan bahwa zakat mu’ajjalah, maka muzakki boleh meminta kembali zakat tadi.\rDasar Pengambilan Dalil\rMuhadzab, I: 174\rوإن عجل الزكاة فدفها إلى فقير فمات الفقير أو ارتد قبل الحول لم يجزه المدفوع عن الزكاة، وعليه أن يخرج الزكاة ثانيا، فإن لم يبين عند الدفع أنهازكاة معجلة لم يرجع وإن بين رجع .... الخ","part":1,"page":45},{"id":46,"text":"Jika seseorang melakukan ta’jil zakat (mendahulukan zakat sebelum waktunya) kemudian diberikan kepada orang fakir, lalu orang fakirnya meninggal dunia, atau ia murtad sebelum haul (masuk waktunya wajib zakat). Maka apa yang diberikan (atas nama zakat tadi) tidak mencukupinya sebagai zakat. Dan bagi yang memberikan wajib, mengeluarkan zakat lagi ( yang kedua ). Jika dirinya tidak menjelaskan (pada waktu memberinya) bahwa itu zakat yang didahulukan (ta’jiluz zakat) maka ia tidak boelh meminta kembali (yang telah diberikan) namun apabila ia waktu member menyatakan: ini ta’jiluz zakat maka ia boleh meminta kembali (ganti rugi).\rMenyembelih Kurban sebelum Shalat Iedul Adha\rPermasalahan\rBagaimana hukumnya menyembelih qurban sebelum shalat Idul Adha dengan meng-i’tikad-kan sebagai aqiqoh sedang malik-nya mengatakan qurban?\rJawaban\rMenyembelih qurban oleh wakil yang meng-i’tikad-kan aqiqoh apabila dilakukan sesudahnya lewatnya kadar dua rokaat dan dua khotbah yang cepat sesudah terbitnya matahari pada hari qurban maka hukumnya sebagai berikut: Qurbanya mudhohi adalah sah, dan I’tikat wakil tidak mempengaruhi niat berqurban.\rKalau penyembelihannya dilakukan oleh wakil sebelum waktu tersebut, maka qurbannya mudlohi tidak sah, dan wakil dloman (mengganti). Adapun wakil yang mengi'tikadkan lain dari niat mudlohi, hukumnnya haram.\rDasar Pengambilan Dalil\rAl-anwar, 11/378","part":1,"page":46},{"id":47,"text":"الثالث الوقت وهو إذا طلعت الشمش يوم النحر ومضى قدر وكعتين وخطبتين خفيفتين إلى غروبها من ثالث ايام التشريق ليلا ونهارا ويكره فى اليل فان ذبح قبل الوقت او بعده لم يكن ضحية ولا يحصل ثوابها بل صدقة ... انتهى\rYang ketiga adalah: waktu (penyembelihan qurban) yaitu ketika matahari telah terbit pada hari qurban dan telah melewati kira-kira dua rokaat dan dua khotbah ‘id yang ringan sampai terbenamnya matahari dihari tasyri’ yang ketiga ( tanggal 13 dzulhijjah ) baik siang ataupun malam dan makruh menyembelih qurban pada malam hari. Apabila disembelih sebelum waktunya atau setelahnya, maka tidak dinamakan qurban, dan tidak mendapatkan pahalanya qurban. Tetapi merupakan sodaqoh.\rKifayatu al-akhyar, I: 280\rوالوكيل أمين فيها لايضمن إلا بتقريط، الوكيل أمين فيما وكل فيه فلايضمن الموكل فيه إذا تلف إلا أن يفرط لأن الموكل استأمنه فيضمنه ينافى تأمينه كالمودع.\rWakil adalah orang yang dipercaya dalam amanat, ia tidak didenda kecuali ia mengabaikan (khianat). Wakil adalah orang dipercaya dalam sesuatu yang diwakilinya, maka ia tidak perlu mengganti terhadap kerugian yang diwakilkan ketika rusak, kecuali apabila ia mengabaikannya. Karena orang yang mewakilkan telah mempercayakan kepada wakil. maka wakil supaya mengganti kerugian apabila ia meniadakan sifat amanahnya (kepercayaan) seperti orang yang dititipi.\rMahar untuk Pembaruan Nikah\rPermasalahan\rBagaimana hukumnya memperbaharui nikah tajdidun-nikah? Kalau boleh apakah harus membayar mahar lagi?\rJawaban","part":1,"page":47},{"id":48,"text":"Hukumnya tajdidun-nikah (memperbaharui nikah) boleh, bertujuan untuk memperindah atau ihtiyat dan tidak termasuk pengakuan talak (tidak wajib membayar mahar) akan tetapi menurut Imam Yusuf al-Ardzabili dalam kitab Anwar wajib membayar mahar karena sebagai pengakuan jatuhnya talak.\rDasar Pengambilan Dalil\rAt-tuhfa, VII: 391\rأَنَّ مُجَرَّدَ مُوَافَقَةِ الزَّوْجِ عَلَى صُورَةِ عَقْدٍ ثَانٍ مَثَلًا لَا يَكُونُ اعْتِرَافًا بِانْقِضَاءِ الْعِصْمَةِ الْأُولَى بَلْ وَلَا كِنَايَةَ فِيهِ وَهُوَ ظَاهِرٌ إلى أن قال وماهنا فِي مُجَرَّدِ طَلَبٍ مِنْ الزَّوْجِ لِتَحَمُّلٍ أَوْ احْتِيَاطٍ فَتَأَمَّلْهُ.\rSesungguhnya tujuan suami melakukan aqad nikah yang kedua (memperbaharui nikah) bukan merupakan pengakuan habisnya tanggung jawab atas nikah yang pertama, dan juga bukan merupakan kinayah dari pengakuan tadi. Dan itu jelas … s/d … sedangkan apa yang dilakukan suami di sini (dalam memperbaharui nikah) semata-mata untuk memperindah atau berhati-hati.\rAl-anwar, II: 156\rولو جدد رجل نكاح زوجته لزمه مهر آخر لأنه إقرار بالفرقة وينتقض به الطلاق ويحتاج إلى التحليل فى المرة الثالية.\rJika seorang suami memperbaharui nikah kepada isterinya, maka wajib memberi mahar (mas kawin) karena ia mengakui perceraian dan memperbaharui nikah termasuk merusak cerai/talaq (menjadi suami istri lagi). Kalau dilakukan sampai tiga kali, maka diperlukan muhalli.\rMendoakan Pengantin\rPermasalahan\rBagaimana mendo’akan kemantenan semoga hidup rukun dan lekas manunggal, bisa cocok bagaikan tampar. Yang dengan arti satu sama lain tidak pisah lagi.","part":1,"page":48},{"id":49,"text":"Jawaban\rHukumnya sunah\rDasar Pengambilan Dalil\rAl-futuhat al-robaniyah VI: 76-77\rالسنة أن يقال له بارك الله لك وبارك عليك وجمع بينكما بخير ( قوله وجمع بينكما بخير) اى بأن تجتمعا على الطاعةوالأمر بالمعروف والنهى عن المنكر وحسن المعاشرة والموافقة لمايدعو لدوام الإجتماع وحسن الاستمتاع انتهى .\rSunnah didoakan dengan doa: mudah-mudahan Allah memberkahimu dan memberkahi atasmu, dan mengumpulkan antara kamu berdua dengan baik (pengertian: mengumpulkan diantara kamu berdua): yaitu; kamu berdua kumpul atas dasar ta’at (pada Allah), amar ma;ruf nahi munkar, dan baiknya hidup berumah tangga dan sesuai apa yang didoakan untuk berkumpul/rukun yang abadi dan mesra.\rTidak Menyekolahkan Anak ke Madrasah\rPermasalahan\rBanyak ulama kita tidak memasukan anak-anaknya ke dalam madrasah-madrasah/sekolah agama. Kalau mereka wafat, maka kitab-kitabnya akan menjadi hiasan lemari. Bolehkah kita mengikuti cara mereka di dalam mendidik anak-anaknya?\rJawaban\rCara ulama yang tidak memberikan pendidikan agama kepada putra-putrinya itu tidak boleh diikuti.\rDasar Pengambilan Dalil\rMinhaju A-abiddin hal. 20\rفاعلم أن هذه المدارس والرباطات بمنزلة حصن حصين يحتصن بها المجتهدون عن القطاع والسراق وإن الخارج بمنزلة الصحراء تدور فيها فرسان الشيطان عسكرا فتسلبه أو تستأسره فكيف حاله إذا خرج إلى الصحراء وتمكن العدو منه من كل جانب يعمل به ماشاء. فإذن ليس لهذا الضيف الا لزوم الحصن.","part":1,"page":49},{"id":50,"text":"Ketahuilah, sesungguhnya madrasah-madrasah dan pondok-pondok pesantren ini diposisikan sebagai benteng yang kokoh, menjaga para mujtahid dari sabotase perampok dan pencuri. Dan sesungguhnya yang diluar itu diposisikan sebagai tanah lapang yang dilewati syaitan-syaitan jalanan yang siap merampasnya atau menguasainya, maka bagaimana kondisinya jika mereka keluar ketanah lapang, dan musuh-musuh dengan leluasa dapat berbuat apa saja yang ia kehendaki. Maka kalau demikian bagi orang yang lemah wajib untuk menetap dibenteng-benteng pertahanan.\rAl-nashaihu al-diiniyah 62\rوأهم مايتوجه على الوالد فى حق أولاده تحسين الآداب والتربية ليقع تشؤهم على محبة الخير ومعرفة الحق وتعظيم أمور الدين والاستهانة بأمور الدنيا وإيثار أمور الآخيرة فمن فرط فى تأديب أولاده وحسن تربيتهم وزرع فى قلوبهم محبة الدنيا وشهواتها وقلة المبالاة بأمور الدين ثم عقوه بعد ذلك فلايلومن إلانفسه والمفرط أولى بالخسارة فيما ذكرناه.","part":1,"page":50},{"id":51,"text":"Yang terpenting, tantangan orang tua terhadap hak anaknya adalah memperbaiki Adab dan mendidiknya, agar pertumbuhan anak-anaknya cinta kebaikan, mengetahui yang hak, mengutamakan urusan agama, mengesampingkan urusan dunia, dan mengutamakan urusan akhirat. Barang siapa ceroboh mendidik dan ceroboh dalam kebaikan pendidikannya. Dan menanamkan pada hati anaknya kecintaan terhadap dunia dan kesenangan dunia, serta kepeduliannya terhadap urusan agama sangat minim (sedikit) kemudian setelah itu anak berani menenteng orang tuanya maka jangan menyalahkan siapapun kecuali dirinya sendiri. Orang yang ceroboh lebih tepat menyandang kerugian. Kebanyakan orang yang berani pada orang tuanya, keras hatinya di zaman ini penyebabnya adalah ceroboh terhadap apa yang saya sebutkan tadi.\rTuhfatu al-murid 117\rوحفظ دين ثم نفس مال ثم نسب \"ومثلها عقل وعرض قد وجب والمراد بحفظه صيانته من الكفر وانتهاك حرمة المحرمات ووجوب الواجبات، فانتهاك حرمة المحرمات أن يفعل المحرمات غير مبال بحرمتها، وانتهاك وجوب الواجبات أن يترك الواجبات غير مبال بوجوبها. انتهى\rDan menjaga agama, kemudian diri, harta dan nasab, dan sesamanya adalah akal dan harga diri adalah hal yang wajib. Yang dimaksud menjaganya adalah menjaga dari kekufur. Dan menanggulangi haramnya sesuatu yang haram. Dan wajibnya beberapa kewajiban, maka menanggulangi keharaman yang dimaksudkan adalah: melakukan keharaman tanpa memperdulikan keharamannya. Membentengi kewajiban yang dimaksudkan adalah meninggalkan kewajiban tanpa memperdulikan kewajiban atas hal yang diwajibkan.","part":1,"page":51},{"id":52,"text":"Irsyadu al-Huyaro Fi tahdiri al-Muslimin min madarisi al-nasoro li syeh yusuf al-nabawi.\rاعلم أن من أعظم المصائب على الملة الإسلامية والامم المحمدية ماهو جار فى هذه الأيام فى كثير من بلاد الاسلام من إذخال بعض جهلة المسلمين أولادهم فى المدارس النصرانية واللغات الأفرانجية، ولايخفى أن ذلك كفر صريح ، ولا يرضى به الله ولاسيدنا محمد صلى الله عليه وسلم وسيدنا المسيح عليه السلام.\rKetahuilah sesungguhnya lebih besar-besarnya musibah atas agama islam dan umat Muhammad ialah apa yang terjadi dihari-hari ini kebanyakan dari daerah muslim (Negara islam) yang sebagian kebodohan orang islam adalah memasukan anak-anaknya kesekolah-sekolah Kristen (nasroni) dan bahasa inggris. s/d … Tidak ada ragu-ragu bahwa hal seperti itu jelas kufur dan tidak mendapat ridlo Allah dan Muhammad Saw dan Nabi Isa as.\rTanbihu al-Anam\rماينبغى التنبيه له لأهل الشركة منع إذخال أولادهم إلى مكاتب النصارى لأن دخول أولاد المسلمين فى مكاتبهم مما يوجب الإسلاخ من دينهم بالكلية بإدخالهم الشبهة عليه فى دينهم. انتهى\rSesuatu yang terbaik mengingatkan baginya bagi semua masyarakat adalah melarang memasukan anak-anaknya pendidikan orang-orang Kristen (nasrani). Karena masuknya anak-anak muslim pendidikan mereka (orang Kristen) hilangnya agamanya secara keseluruhan dengan masuknya anak-anak muslim yang menyerupai agama mereka (orang-orang Kristen).","part":1,"page":52},{"id":53,"text":"mk:@MSITStore:G:\\untuk maktabah baru\\Kumpulan Bahtsul Masaail - Seri 2.CHM::/../../../My Web Sites/NH/pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/masail/wilayah/probolinggo_1981/07a180.html?seemore=y - top\rMemilih Pendapat Madzhab Syafi'i\rPermasalahan\rAda dua pendapat menurut As-Syafi’i tentang batalnya wudlu bagi orang yang disentuh perempuan lain. Yang dipermasalahkan:\rmanakah yang paling utama untuk kita ikuti?\rMengikuti pendapat kedua dari imam syafi’i itu atau pindah madzab lain?\rDan bagaimana hukumnya pindah madzab pada waktu itu?\rJawaban\rMana yang lebih utama, ada dua pendapat:\rPertama: boleh memilih antara qoul tsani dan pindah madzab lain.\rKedua: lebih baik taqlid pada qoul tsani. Sedangkan pindah madzab pada waktu tertentu adalah boleh.\rDasar Pengambilan Dalil\rHasyiyah ibnu Hajar ala al-adloh fi manasiki al-hajj li al-nawawi, hal. 236\rوفى الملموس قولان للشافعى رحمه الله، أصحهما عند أكثر أصحابه أنه ينتقض وضؤءه وهو نصه فى أكثر كتبه. والثانى لا ينتقض وضوءه واختاره جماعة قليلة فى اصحابه والمختار الاول.\rYang ashoh dan kedua pendapat menurut kebanyakan santrinya (sahabatnya) hal itu merusakan (membatalkan) wudlunya. Pendapat itu merupakan nash dari imam syafi’i dalam kebanyakan kitabnya sedangkan pendapat kedua tidak membatalkan wudlunya dan pendapat ini dipilih oleh kelompok kecil dari santrinya. Yang muhtar (terpilih) adalah pendapat yang pertama.\rBughyatul Mustarsyiddin, 9","part":1,"page":53},{"id":54,"text":"يجوز تقليد ملتزم مذهب الشافعى غير مذهبه أو المرجو للضرورة اى المشقة التى لا تحتمل عادة. وفى سبعة كتب مفيدة ص مانصه: واعلم أن الأصح من كلام المتأخرين كالشيخ ابن حجر وغيره أنه يجوز الإستقال من مذهب إلى مذهب من المذاهب المدوية ولو لمجرد التشهى سواء إنتقل دواما أو بعض الحادثات.\rBoleh taqlid (mengikuti) bagi yang tetap yang tetap madzab imam syafi’i pada selain madzabnya, atau pada pendapat yang marjuh karena dhorurot. Artinya masyakot (sulit) yang tidak menjadikan kebiasaan. Dalam kitab sab’atul kutubi almufidah di jelaskan: ketahuilah sesungguhnya yang ashoh menurut pendapat ulama mutaakhirin (yang akhir-akhir) seperti Syekh Ibnu Hajar dan lainnya. Yaitu boleh pindah madzab kemadzab lain dari beberapa madzab yang telah dibukukan, meskipun hanya untuk keinginan, baik pindahnya itu untuk selamanya atau didalam sebagian kejadian.\rSab’atu Kutubi al-mustafidah, hal. 160 (belum ditulis)\rالأصح أن العامى محير بين تقليد من شاء ولو مفضولا عنده مع وجود الأفضل ما لم يتتبّع الرخص، بل وإن تتبعها على ما قاله عزّ الدين عبد السلام وغيره.\rYang ashoh, sesungguhnya orang awab (al-am) boleh memilih antara mengikuti pendapat orang yang dikendaki meskipun pendapat yang diungguli disisinya, padahal ada yang lebih afdlol. Selama ia tidak berturut-turut mengikuti yang ringan (rukhsoh) bahkan meskipun berturut-turut (juga boleh ) menurut apa yang dikatakan oleh Imam Izzuddin bin ‘Abdi Salam dan lain-lainnya.\rHamisy I’anatu al-Tholibin, II: 59\rوحينئذ تقليد أحد هذين القولين أولى من تقليد أبي حنيفة.","part":1,"page":54},{"id":55,"text":"Dengan demikian, mengikuti salah satu dari dua pendapat ini lebih baik dari mengikuti madzab abi hanifah.\rAl-Fawaidu Al-Madaniyah al-Qubro\rإن تقليد القول أو الوجه الضعيف في المذهب بشرطه أولى من تقليد مذهب الغير لعسر اجتماع شروطه\rMengikuti pendapat atau wajah dhoif di dalam madzabnya dengan syarat-syaratnya, itu lebih utama dari pada mengikuti madzab-madzab lain, karena mengumpulkan sarat-saratnya.\rJam’ur Risalatain Fi ta’addudil Jum’atain, hal. 14\rالقديم أيضا أن أقلهم اثنا عشر اهـ ثم إن تقليد القول القديم أولى من تقليد المخالف لأنه يحتاج أن يراعي مذهب المقلد بفتح اللام في الوضوء والغسل وبقية الشروط، وهذا يعسر على غير العارف، فالتمسك بأقوال الإمام الضعيفة أولى من الخروج إلى المذهب الآخر.\rTaqlid (mengikuti) pendapat qoul qodim itu lebih baik dari pada mengikuti madzab yang berbeda dengan (madzabnya). Karena itu memerlukan menjaga madzab yang diikutinya. Dalam wudlu, mandi dan semua syarat-syarat. Hal ini sulit bagi selain yang mengetahui. Maka berpegang teguh kepada pendapat-pendapat imanya yang dhoif itu lebih baik dari pada keluar menuju madzab yang lain.\rIuran Wajib Anggota DPR atau DPRD\rPermasalahan\rAndaikan jam’iyah NU baik di tingkat cabang wilayah atau pengurus besar membuat suatu ketentuan:\rSemua anggota DPR/DPRD yang dicalonkan oleh jam’iyah NU apabila telah dilantik maka diwajibkan memberi dana kepada jam’iyah sekian persen dari penghasilan bulanan anggota DPR/DPRD.","part":1,"page":55},{"id":56,"text":"Apakah ketentuan semacam itu menjadi wajib syar’an yang harus ditaati dengan pengertian yusabu ‘ala failihi wayu ‘aqobu ‘ala tarkihi?\rJawaban\rHukumnya anggota DPR menetapi janji kepada jam’iyah NU itu wajib syar’an sebab termasuk isti’jar al manafi’ atau iqrar Min babi wujubi itha’ati ulil amri.\rDasar Pengambilan Dalil\rAl-I’anatu al-tholibin, III: 109.\rنعم يرد عليه بيع حق الممر فإنه تمليك منفعة بعوض معلوم وهو بيع لا إجارة وأجيب عنه بأنه ليس بيعا محضا بل فيه شوب إجارة وإنما سمي بيعا نظرا لصيغته فقط فهو إجارة معنى، إلى أن قال: وأما الواردة على الذمة فيشترط فيها قبض الإجرة في المجلس. وفي ص.? وكبيع حق الممر للماء أن لايصل الماء إلى محله إلا بواسطة ملك غيره.\rBetul berlaku baginya menjual belikan hak melewati. Hal ini usaha memiliki kemanfaatan dengan ganti rugi yang jelas (ma’lum). Sesungguhnya itu bukan murni jual beli tetapi disitu berbau sewa. Dikatakan jual beli karena memandang sighotnya (transaksinya) semata dan dikatakan sewa/kontrak menurut artinya … s/d ... adapun yang terjadi bagi beban atau tanggung jawab. Maka syarat didalamnya harus menerima ongkos (seketika) dalam satu majlis (waktu transaksi).\rVisum atas Jenazah\rPermasalahan\rSama-sama kita ketahui bahwa jenazah yang tergilas oleh kendaraan mendapat visum dari dokter baik lahir maupun batin. Sampai-sampai dibedah dada dan otaknya, padahal hal ini terlarang. Bolehkah kita diam dan tidak berjuang untuk mengubah aturan semacam ini?\rJawaban","part":1,"page":56},{"id":57,"text":"Tidak boleh, untuk membatasi kemungkinan-kemungkinan lain, maka perlu adanya usaha-usaha melalui lembaga perundang-undangan guna meluruskan masalah ini.\rDasar Pengambilan Dalil\rAl-Asybah Wannadloir, hal. 107\rلا ينكر المختلف عليه وإنما ينكر المجمع عليه.\rTidak perlu diingkari hal yang masih dipertentangkan (muktalaf alaih) namun perlu di ingkari hal yang sudah menjadi kesempatan (mujma’ alaih) yang dilanggar.\rBughyatul Mustarsyidin, hal. 251\rولا يجوز لأحد التقاعد عن ذالك والتغافل عنه وإن علم أنه لايفيد\rTidak boleh bagi seseorang diam diri terhadap hal tersebut (kemungkaran) dan melupakan dirinya, meskipun diketahui tidak akan bertindak (sia-sia).\rSumbangan Kematian\rPermasalahan\rBanyak di pedesaan dan perkotaan, kegiatan-kegiatan sosial yang dilakukan oleh umat islam yang dinamakan kumpulan kematian denghan syarat /perjanjian antara lain:\rTiap anggota harus membayar Rp. 50,_ tiap bulan.\rTiap-tiap anggota yang meninggal dunia mendapat belanja kematian rata-rata Rp. 2000,-\rBagi anggota yang sudah lama, sudah barang tentu jumlah uang yang dibayarkan tiap bulan tadi cukup banyak misalnya. Misalnya Rp. 5000,- tetapi andaikata anggota tersebut wafat tentunya dia hanya mendapat bantuan belanja kematian dari kumpulan tadi sebesar Rp. 2000,- sehingga menurut perhitungan uang anggota tersebut masih sisa Rp. 3000,-. Uang sisa tadi menjadi milik siapa?","part":1,"page":57},{"id":58,"text":"Bagi anggota yang masih baru sudah barang tentu uang yang dibayarkan kepada kumpulan masih sedikit, misalnya Rp. 500,- tetapi andaikata dia wafat maka tentu akan mendapat belanja kematian sebanyak Rp. 2000,-\rJawaban\rUang tersebut milik jam’iyyah.\rDasar Pengambilan Dalil\rDalilu al-falihin jilid. II: 576-577\rعن أبي موسى الأشعري رضي الله عنه قال: قال رسول الله ص.م. إن الأشعريين إذا أرملوا (فني أزوادهم ) في الغزو وقلّ طعامهم بالمدينة (أى محل إقامتهم) جمعوا ما كان عندهم في ثوب واحد ثم اقتسموابينهم في إناء واحد بالسوية فهم مني وأنا منهم (متفق عليه). قال المصنف وليس المراد من القسمة هنا المعروفة في كتب الفقه بشروطها..الخ\rDari Abi Musa al-As’ari Ra. Ia berkata: Rosulullah Saw, bersabda: sesungguhnya golongan as’ari kehabisan bekal di pertempuran, atau semakin menipis makanan keluarganya dikota (madinah). Maka mereka semua mengumpulkan apa yang ada disisinya pada pakaian satu, kemudian membaginya diantara mereka semua dengan sama dalam satu tempat. Mereka semua golongan saya dan saya adalah termasuk dari golongan mereka. (HR. mutafaq alaih).\rTakmilah al-majmu’, XIII: 155\rقد يقال إن عقود التأمين تجرى دائما مع شركات مساهمة يمكن أن تعتبر شركات تعاونية على الخير والبر يتعاون أصحاب الأسهم...الخ\rTerkadang dikatakan sesungguhnya transaksi (ikatan) kepercayaan berlaku selamanya bersama perkumpulan yang terbagi (giliran) bisa jadi dikatakan perkumpulan ta’awuniyah (tolong menolong) atas kebaikan , dan berbuat baik untuk menolong teman-teman yang masuk dalam daftar giliran.\rAsy syarwani, VI: 298","part":1,"page":58},{"id":59,"text":"أما الهبة للجهة العمة فإن الغزالى جزم فى الوجيز بالصحة وتوفق فيه الرافعي ثم قال ويجوز أن يقوله الجهة العامة بمنزلة المسجد فيجوز بمليكهما الهبة كما يجوز الوقف عليها فيقبلها القاضى اهـ. وقضية الحاق الهبة لللجهة العامة بالوقف عليها في الصحة أن لايشترط القبول.\rAdapun hibah ( pemberian) untuk tujuan /jalan yang umum, maka imam ghozali dala kitab al-wajiz menyakini atas diperbolehkannya adan imam al-rofi’i diam dalam hal itu. Kemudian ia menyatakan boleh jika dikatakannya: tujuan yang umum itu menempati kedudukan masjid maka boleh memberikan hak milik dengan hibah. Seperti bolehnya waqof terhadapnya maka yang menerima adalah al-Qodhi. Persesuaian menyamakan hibah untuk umum dengan waqof padanya didalam keafsahanya adalah tidak ada syarat harus diterima.\rAl-jami’lilahkamil Qur’an Qurtubi, hal. 33\rياأيها الذين أمنوا أوفوا بالقعود.قال الزجاج المعنى: أوفوا بعقد الله عليكم وبعقدكم بعضكم على بعض.\rWahai orang-orang yang beriman tepatilah dengan janji. Az zujaj berkata artinya: tepatilah kalian semua dengan janji Allah atas kalian semua dan janji kalian, sebagian diantara kalian dengan sebagian yang lain\rRiyadlu sl-sholihin wa-syarhi dalailu al-falahin, II: 576-577\rWarisan Gono Gini\rPermasalahan\rBagaimana hukumnya waris gono gini?\rJawaban\rHukumnya boleh\rDasar Pengambilan Dalil\rBughyatul Mustarsyidin, 159","part":1,"page":59},{"id":60,"text":"اختلط مال الزوجين ولم يعلم لأيهما أكثر ولا قرينة تميز أحدهما وحصلت بينهما فرقة إلى أن قال نعم إن جرت العادة المطردة أن أحدهما يكسب أكثر من الآخر كان الصلح والتواهب على نحو ذلك، وإن لم يتفقوا على شيئ من ذلك ممن بشيئ بيده شيئ من المال فالقول قوله بيمينه أنه ملكه فإن كان بيدهما فلكل تحليف الآخر ثم يقسم نصفين. ومثله ما في أحكام الفقهاء ج 3 ص. 38-39.\rTelah bercampur harta benda suami istri dan tidak diketahui milik siapa yang lebih banyak, dan tidak ada tanda-tanda yang dapat membedakan salah satu dari keduanya, dan telah terjadi antara keduanya firqoh (cerai) s/d … betul. Apabila telah terjadi kebiasaan/ adat yang berlaku, bahwa salah satu dari keduanya lebih banyak kerjakerasnya (cara mendapatkannya) daripada satunya, maka perdamaian (suluh) dan saling member atas sesame. Apabila tidak ada kesepakatan atas sesuatu dari hal tersebut apa dari harta benda yang berada pada diri suami, maka yang dibenarkan adalah pendapat suami dengan disertai sumpahnya bahwa itu miliknya. Apabila harta itu ditangan keduanya maka masing-masing menyumpah yang lainnya kemudian hartanya dibagi dua.\rPenjelasan Sekitar Nishfu Sya'ban","part":1,"page":60},{"id":61,"text":"Di masyarakat kita masih banyak orang yang belum mengetahui tentang hal ihwal Nisfu Sya'ban; baik berkaitan dengan peristiwa yang terjadi di dalamnya maupun dasar yang kuat berkaitan dengan perintah melakukan ibadah. Sebab, kenyataan di masyarakat banyak orang kalau menghadapi malam Nisfu Sya'ban melakukan berbagai ibadah. Di sisi lain, ada orang yang berpendapat bahwa melakukan ibadah seperti membaca Yasin, salat malam dan sebagainya tidak ada dalil yang kuat. Untuk itu mohon penjelasan mengenai duduk perkara dari ibadah Nisfu Sya'ban.\rJawaban:\rPada malam tanggal 15 Sya'ban (Nisfu Sya'ban) telah terjadi peristiwa penting dalam sejarah perjuangan umat Islam yang tidak boleh kita lupakan sepanjang masa. Di antaranya adalah perintah memindahkan kiblat salat dari Baitul Muqoddas yang berada di Palestina ke Ka'bah yang berada di Masjidil Haram, Makkah pada tahun ke delapan Hijriyah.\rSebagaimana kita ketahui, sebelum Nabi Muhammad hijrah ke Madinah yang menjadi kiblat salat adalah Ka'bah. Kemudian setelah beliau hijrah ke Madinah, beliau memindahkan kiblat salat dari Ka'bah ke Baitul Muqoddas yang digunakan orang Yahudi sesuai dengan izin Allah untuk kiblat salat mereka. Perpindahan tersebut dimaksudkan untuk menjinakkan hati orang-orang Yahudi dan untuk menarik mereka kepada syariat al-Quran dan agama yang baru yaitu agama tauhid.","part":1,"page":61},{"id":62,"text":"Tetapi setelah Rasulullah saw menghadap Baitul Muqoddas selama 16-17 bulan, ternyata harapan Rasulullah tidak terpenuhi. Orang-orang Yahudi di Madinah berpaling dari ajakan beliau, bahkan mereka merintangi Islamisasi yang dilakukan Nabi dan mereka telah bersepakat untuk menyakitinya. Mereka menentang Nabi dan tetap berada pada kesesatan.\rKarena itu Rasulullah saw berulang kali berdoa memohon kepada Allah swt agar diperkenankan pindah kiblat salat dari Baitul Muqoddas ke Ka'bah lagi, setelah Rasul mendengar ejekan orang-orang Yahudi yang mengatakan, \"Muhammad menyalahi kita dan mengikuti kiblat kita. Apakah yang memalingkan Muhammad dan para pengikutnya dari kiblat (Ka'bah) yang selama ini mereka gunakan?\"\rEjekan mereka ini dijawab oleh Allah swt dalam surat al Baqarah ayat 143:\rوَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِى كُنْتَ عَلَيْهَا إلاَّ لِيَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَى عَقِبَيْهِ.\rDan kami tidak menjadikan kiblat yang menjadi kiblatmu, melainkan agar kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot…\rDan pada akhirnya Allah memperkenankan Rasulullah saw memindahkan kiblat salat dari Baitul Muqoddas ke Ka'bah sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 144.\rDiantara kebiasaan yang dilakukan oleh umat Islam pada malam Nisfu Sya'ban adalah membaca surat Yasin tiga kali yang setiap kali diikuti doa yang antara lain isinya adalah:","part":1,"page":62},{"id":63,"text":"\"Ya Allah jika Engkau telah menetapkan aku di sisi-Mu dalam Ummul Kitab (buku induk) sebagai orang celaka atau orang-orang yang tercegah atau orang yang disempitkan rizkinya maka hapuskanlah ya Allah demi anugerah-Mu, kecelakaanku, ketercegahanku, dan kesempitan rizkiku..\"\rBacaan Yasin tersebut dilakukan di masjid-masjid, surau-surau atau di rumah-rumah sesudah salat maghrib.\rSebagian dari orang-orang yang mengaku ahli ilmu telah menganggap ingkar perbuatan tersebut, menuduh orang-orang yang melakukannya telah berbuat bid'ah dan melakukan penyimpangan terhadap agama karena doa dianggap ada kesalahan ilmiyah yaitu meminta penghapusan dan penetapan dari Ummul Kitab. Padahal kedua hal tersebut tidak ada tempat bagi penggantian dan perubahan.\rTanggapan mereka ini kurang tepat, sebab dalam syarah kitab hadist Arbain Nawawi diterangkan bahwa takdir Allah swt itu ada empat macam:\rTakdir yang ada di ilmu Allah. Takdir ini tidak mungkin dapat berubah, sebagaimana Nabi Muhammad saw bersabda:\rلاَيَهْلِكُ اللهُ إلاَّ هَالِكًا\r\"Tiada Allah mencelakakan kecuali orang celaka, yaitu orang yang telah ditetapkan dalam ilmu Allah Taala bahwa dia adalah orang celaka.\"\rTakdir yang ada dalam Lauhul Mahfudh. Takdir ini mungkin dapat berubah, sebagaimana firman Allah dalam surat ar-Ra'du ayat 39 yang berbunyi:\rيَمْحُو اللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الكِتَابِ.\r\"Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang dikehendaki, dan di sisi-Nyalah terdapat Ummul Kitab (Lauhul Mahfudz).\"","part":1,"page":63},{"id":64,"text":"Dan telah diriwayatkan dari Ibnu Umar, bahwa beliau mengucapkan dalam doanya yaitu \"Ya Allah jika engkau telah menetapkan aku sebagai orang yang celaka maka hapuslah kecelakaanku, dan tulislah aku sebagai orang yang bahagia\".\rTakdir dalam kandungan, yaitu malaikat diperintahkan untuk mencatat rizki, umur, pekerjaan, kecelakaan, dan kebahagiaan dari bayi yang ada dalam kandungan tersebut.\rTakdir yang berupa penggiringan hal-hal yang telah ditetapkan kepada waktu-waktu yang telah ditentukan. Takdir ini juga dapat diubah sebagaimana hadits yang menyatakan: \"Sesungguhnya sedekah dan silaturrahim dapat menolak kematian yang jelek dan mengubah menjadi bahagia.\" Dalam salah satu hadits Nabi Muhammad saw pernah bersabda,\rإنَّ الدُّعَاءَ وَالبَلاَءَ بَيْنَ السَّمَاءِ والاَرْضِ يَقْتَتِلاَنِ وَيَدْفَعُ الدُّعَاءُ البَلاَءَ قَبْلَ أنْ يَنْزِلَ.\r\"Sesungguhnya doa dan bencana itu diantara langit dan bumi, keduanya berperang; dan doa dapat menolak bencana, sebelum bencana tersebut turun.\"\rDiantara kebiasaan kaum muslimin pada malam Nisfu Sya'ban adalah melakukan salat pada tengah malam dan datang ke pekuburan untuk memintakan maghfirah bagi para leluhur yang telah meninggal dunia. Kebiasaan seperti ini adalah berdasar dari amal perbuatan atau sunnah Nabi Muhammad saw. Antara lain ada hadist yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dalam Musnadnya dari Sayidah Aisyah RA, yang artinya kurang lebih sebagai berikut:","part":1,"page":64},{"id":65,"text":"\"Pada suatu malam Rasulullah saw berdiri melakukan salat dan beliau memperlama sujudnya, sehingga aku mengira bahwa beliau telah meninggal dunia. Tatkala aku melihat hal yang demikian itu, maka aku berdiri lalu aku gerakkan ibu jari beliau dan ibu jari itu bergerak lalu aku kembali ke tempatku dan aku mendengar beliau mengucapkan dalam sujudnya: \"Aku berlindung dengan maaf-Mu dari siksa-Mu; aku berlindung dengan kerelaan-Mu dari murka-Mu; dan aku berlindung dengan Engkau dari Engkau. Aku tidak dapat menghitung sanjungan atas-Mu sebagaimana Engkau menyanjung atas diri-Mu.\" Setelah selesai dari salat beliau bersabda kepada Aisyah, \"Ini adalah malam Nisfu Sya'ban. Sesungguhnya Allah 'azza wajalla berkenan melihat kepada para hamba-Nya pada malam Nisfu Sya'ban, kemudian mengampunkan bagi orang-orang yang meminta ampun, memberi rahmat kepada orang-orang yang memohon rahmat, dan mengakhiri ahli dendam seperti keadaan mereka.\"\rNabi Muhammad saw pada malam Nisfu Sya'ban berdoa untuk para umatnya, baik yang masih hidup maupun mati. Dalam hal ini Sayidah Aisyah RA meriwayatkan hadits:\rإنَّهُ خَرَجَ فِى هَذِهِ اللَّيْلَةِ إلَى الْبَقِيعِ فَوَجَدْتُهُ يَسْتَغْفِرُ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ وَالشُّهَدَاءِ.\r\"Sesungguhnya Nabi Muhammad saw telah keluar pada malam ini (malam Nisfu Sya'ban) ke pekuburan Baqi' (di kota Madinah) kemudian aku mendapati beliau (di pekuburan tersebut) sedang memintakan ampun bagi orang-orang mukminin dan mukminat dan para syuhada.\"","part":1,"page":65},{"id":66,"text":"Banyak hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal, at-Tirmidzi, at-Tabrani, Ibn Hibban, Ibn Majah, Baihaqi, dan an-Nasa'i bahwa Rasulullah saw menghormati malam Nisfu Sya'ban dan memuliakannya dengan memperbanyak salat, doa, dan istighfar.\rBukan Dari Musnad\rSebagai pembaca baru majalah tercinta Aula, saya sangat tertarik untuk terus mengikuti tiap penerbitan, karena saya melihat pembahasan-pembahasannya cukup bagus dan aktual.\rHanya saja menurut saya, ada satu hal yang tidak jelas dan perlu untuk dijelaskan kepada pembaca semua, yaitu pada penerbitan no. 02/Februari 1993 yaitu rubrik bahstul masail yang diasuh oleh KH. A. Masduqi Mahfudz, halaman 51-54 yang berjudul Sekitar Nisfu Sya'ban.\rPada alinea terakhir tertulis, \"banyak sekali hadist-hadist yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal…\" Mohon keterangan jilid dan halamannya. Karena setelah kami mencari pada kitab-kitab Imam tersebut belum ketemu, kecuali pada kitab riwayat Ibnu Majah dan at-Turmudzi. Semoga Aula benar-benar mewakili suara NU yang selalu menekankan ukhuwah Islamiyah.\rJawaban:","part":1,"page":66},{"id":67,"text":"Kami sangat menaruh hormat kepada Anda yang tidak hanya sangat tertarik untuk terus mengikuti rubrik bahtsul masail yang ada dalam majalah Aula, akan tetapi juga aktif melakukan checking terhadap dalil-dalil yang ada dalam rubrik tersebut. Kalau Anda telah mencari hadist-hadist dalam kitab Musnad Imam Ahmad mengenai Nisfu Sya'ban sebagaimana kami sebutkan dalam rubrik masail majalah Aula no. 02 Februari 1993, hal itu bukan karena kekurangan atau ketidaktelitian Anda. Kalimat \"banyak sekali hadist-hadist yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal…\" adalah terjemahan dari ibarat yang kami dapatkan dalam kitab Khulashotul Kalam fi Arkanil Islam karangan Sayid Ali Fikri hal. 255 berbunyi:\rوَوَرَدَتْ أَحَادِيْثٌ كَثِيْرَةٌ عَلَى أ نَّهُ r كَانَ يَحْتَفِى بِهَذِهِ اللَّيْلَةِ وَيَقُومُ بِتَكْرِيْمِهَا بِكَثْرَةِ الصَّلاَةِ وَالدُّعَاءِ وَالإِسْتِغْفَارِ. رَوَاهَا الإِمَام أحْمَد بن حَنْبَل فىِ مُسْنَدِهِ كَمَا رَوَاهضا التِّرمِذِى وَالطَّبْرَانِى وَإبن حِبَّانِ وإبن مَاجَّه والبَيْهَقِى وَالنَّسَائِي.\rHaidl Tidak Teratur\rSaya adalah seorang ibu muda, 22 tahun. Sudah mempunyai anak dan ikut KB suntik. Sebelum ber-KB, masa haid saya berjalan normal seperti biasanya berkisar antara 12-15 hari. Namun setelah ikut KB menjadi lain, kadang 17 hari bahkan lebih dan kadang pula kurang 15 hari masa suci, sudah keluar darah lagi. Darah yang keluar itu hanya sedikit dalam waktu yang relatif singkat.","part":1,"page":67},{"id":68,"text":"Misalnya keluar darah pada waktu subuh, menjelang asar atau maghrib sudah selesai. Warna darah yang keluar berbeda beda. Kadang merah, kadang kuning jambon, kadang kecoklat-coklatan. Saya betul-betul gelisah terutama yang berkaitan dengan kewajiban saya sebagai seorang muslimah.\rYang perlu saya tanyakan adalah:\rBagaimana hukum darah yang keluar tersebut pak Kyai?\rApakah semua darah yang keluar dihukumi haid?\rApakah saya wajib menunaikan salat disela-sela suci haid (misalnya maghrib dan isya keluar darah, kemudian subuh, dzuhur, ashar, maghrib suci?). Bagaimana hukum jika berpuasa?\rApakah saya wajib mandi besar/junub setiap menunaikan salat?\rApakah saya wajib qodlo setiap salat yang saya tinggalkan karena keluar darah?\rBila masa haid 15 hari itu dihitung kurang dari sehari semalam, salat wajib qodlo atau ada amalan lain yang wajib saya jalankan?\rBagaimana pandangan Islam pada KB yang menyebabkan demikian ini. Dibenarkan atau dihindari?\rJawaban:\rIbu yang terhormat sebelum kami menjawab pertanyaan Anda, terlebih dahulu saya tuliskan ibarat dari kitab At-Tadzhib syarah dari kitab matan Al-Ghoyah wat Taqrib sebagai berikut:\rفَالحَيْضُ هُوَ الدَمُ الخاَرِجُ مِن فَرْجِ المَرْأَةِ عَلَى سَبِيِل الصِّحَّةِ مِنْ غَيْرِ سَبَبِ الوِلاَدَةِ وَلَونُهُ أسْوَدُ مُحْتَدِمٌ لَذَّاعٌ\rHaid itu adalah darah yang keluar dari kemaluan wanita berdasarkan jalan kesehatan, tanpa sebab melahirkan. Dan warnanya kehitam-hitaman, terasa panas dan diikuti mual-mual pada perut.","part":1,"page":68},{"id":69,"text":"رَوَى أبُو دَاوُدَ وَغَيْرُهُ عَنْ فَاطِمَةَ بِنْتِ حُبَيْسٍ أنَّهَا كَانَتْ تُسْتَحَاضُ فَقَالَ لَهَا النَّبِيُ e: إذَا كَانَ دَمُ الحَيْضَةِ فَإنَّهُ دَمٌ أسْوَدُ يُعْرَفُ فَإذَا كَانَ ذَلِكَ فَأمْسِكِى عَنْ الصَّلاةِ فَإِذَا كَانَ الأَخَرُ فَتَوَضَئِ فَإنَّما هُوَ عِرْقٌ.\rImam Abu Dawud dan lainnya telah meriwayatkan dari Fatimah binti Abi Hubaisy, bahwa dia sedang istihadlah (pendarahan karena penyakit) kemudian Nabi Muhammad saw bersabda kepadanya:?Jika darah haid maka darah itu kehitam-hitaman yang telah dikenal para wanita. Jika darah itu demikian, maka tahanlah dirimu dari melakukan salat dan jika warna tidak demikian maka berwudlulah dan bersalatlah, karena darah tersebut adalah cucuran darah.?\rوَأَقَلُّ الحَيْضِ يَوْمٌ وَلَيْلَةٌ وَأكْثَرُه خَمْسَةَ عَشَرَ يَوُمًا وغَالِبُهُ سِتٌّ اَو سَبْعٌ.\rHaid itu paling sedikit adalah sehari semalam, dan paling lama adalah lima belas hari sedang umumnya adalah enam atau tujuh hari.\rBerdasarkan ibarat diatas, maka dapat kita ketahui:\rDarah yang keluar lebih dari 15 hari meskipun warnanya kecoklat-coklatan umpamanya, maka yang lima belas hari dihukumi darah haid, sedang selebihnya dihukumi darah istihadlah/penyakit.\rTidak semua darah yang keluar dari kemaluan wanita dihukumi darah haid, terutama yang berwarna merah atau kuning jambon.","part":1,"page":69},{"id":70,"text":"Jika darah yang keluar itu adalah darah haid (warna kehitaman atau kecoklatan, keluar terasa panas dan terkadang diikuti perut terasa mual dan tidak lebih dari lima belas hari), maka Anda tidak boleh melakukan salat, dan otomatis puasa yang Anda lakukan menjadi batal.\rJika darah itu keluar kurang dari 15 hari dari masa suci, maka darah tersebut hukumnya adalah darah istihadlah, sebab masa suci itu paling sedikit 15 hari.\rBila masa keluar darah selama 15 hari itu dihitung kurang dari 24 jam (sehari semalam), maka hukumnya adalah darah istihadlah.\rJika yang keluar itu darah haid, maka setelah suci (berhenti), Anda wajib mandi besar dari haid (bukan mandi junub, karena mandi junub bagi wanita itu antara lain setelah bersenggama) dengan niat sebagai berikut:?saya berniat mandi untuk menghilangkan hadast besar dari haid fardhan lillahi taala.?\rUntuk darah yang keluar selain darah haid, maka Anda tidak perlu mandi, tetapi cukup membersihkan darah (cebok-jw) lalu memakai kain pembalut saja, kemudian wudlu dan melakukan salat. Setiap melakukan salat, kain pembalut harus diganti setelah membersihkan darah dan berwudlu.\rJika ikut KB dengan cara suntik yang Anda ikuti berakibat masa haid Anda tidak teratur, sebaiknya Anda pindah ke cara lainnya. Misalnya dengan memakai susuk atau minum pil kalau memang tidak membawa akibat yang negatif, asal jangan dengan memakai spiral, karena memakai spiral ini pemasangannya masih dipandang haram oleh para ulama.\rBagaimana Cara Shalat (Operasi)","part":1,"page":70},{"id":71,"text":"Saya seorang wanita, umur 25 tahun. Karena menderita suatu penyakit, sudah 2 bulan ini dubur saya dipindah oleh dokter ke perut (inipun sudah dioperasi dua kali) dan dalam waktu enam bulan akan dioperasi lagi/pindah ke asal.\rYang menjadi masalah saya yaitu mengenai salat. Masalahnya keluarnya berak dan kentut sewaktu-waktu. Sedangkan saya mendengar bahwa salat itu tidak bisa ditangguhkan. Yang menjadi pertanyaan saya adalah:\rBagaimana salat saya, mohon dicarikan jawabannya. Jika tidak sah terus harus diganti dengan bacaan apa yang banyak pahalanya?\rSelama ini perut saya belum boleh kena air. Padahal tiap bulan saya mengalami haid, bagaimana cara mandinya?\rBagaimana dengan rambut yang rontok terlalu banyak, apakah perlu dicuci?\rSaya menjadi bingung dan sedih karena tanpa salat dan membaca al-Quran jiwa saya menjadi kosong. Maka dengan ini mohon dengan hormat redaksi membantu secepatnya. Karena saya benar-benar sangat membutuhkan jawabannya.\rJawaban:\rSaudara penanya yang terhormat, sebelum kami menjawab pertanyaan Anda, terlebih dahulu kami ikut berdoa semoga penyakit yang Anda derita selama ini, lekas sembuh. Amin. Kedua kalinya, perlu kami ketengahkan terlebih dahulu ibarat dari kitab Kifayatul Akhyar juz 1 hal 89 sebagai berikut:\rيُشْتَرَطُ لِصِحَّةِ الصَّلاةِ الطَّهَارَةٌ عَنِ الحَدَثِ سَوَاءٌ فِى ذَلِكَ الأَصْغَرُ والأكْبَرُ عِنْدَ القُدْرَةِ. لانَّ فَاقِدَ الطَهُورَيْنِ يَجِبُ ان يُصَلِّيَ عَلَى حَسَبِ حَالِهِ وَتَجِبُ الإِعَادَةُ وَتُوصَفُ صَلاَتُهُ بِالصِّحَّةِ عَلَى الصَحٍيْحِ.","part":1,"page":71},{"id":72,"text":"Disyaratkan bagi keabsahan salat, bersuci dari hadast. Dalam hal tersebut baik hadast kecil maupun hadast besar pada saat mampu melakukannya. Karena sesungguhnya orang yang tidak suci dari hadast dan najis, wajib melakukan salat menurut keadaannya dan wajib mengulangi salat tersebut jika sudah mampu bersuci. Sedang salatnya dalam keadaan tidak mampu bersuci tersebut dianggap sah menurut pendapat yang benar (artinya, jika ia meninggal dunia sebelum ada kesempatan mengulangi salatnya, maka dianggap tidak punya hutang salat).\rKetiga kalinya, apa yang Anda dengar bahwa salat itu tidak boleh dihutang adalah memang benar. Akan tetapi juga Anda perlu ketahui bahwa di antara syarat salat itu adalah harus suci dari najis, baik badan, pakaian atau tempatnya.\rMengingat keluarnya berak dan kentut Anda adalah sewaktu-waktu dan mungkin tidak Anda sadari, atau tidak dapat Anda tahan, maka:\rSalat yang harus Anda kerjakan adalah 'salat hormat waktu' caranya seperti salat biasa, hanya niatnya saja demikian:\rأُصَلِّى فَرْضَ الظُهْرِ / العَصْرِ/المَغْرِبِ/ العسَاءِ / الصُبْحِ لِحُرْمَةِ الوَقْتِ للهِ تَعَالى\rNanti setelah kesehatan Anda normal kembali, maka Anda harus mengulangi salat yang Anda kerjakan selama sakit dengan niat salat 'mu'adah':\rأُصَلِّى فَرْضَ الظُهْرِ / العَصْرِ/المَغْرِبِ/ العسَاءِ / الصُبْحِ إعَادَةً للهِ تَعَالى","part":1,"page":72},{"id":73,"text":"Karena perut Anda belum boleh kena air, maka setiap kali Anda suci dari haid atau selesai melakukan senggama dengan suami Anda misalnya, maka Anda harus melakukan tayamum. Setelah perut Anda boleh kena air, barulah Anda wajib mandi, cukup sekali saja dengan niat banyak. Misalnya dari haid dan janabat.\rMengenai rambut yang rontok terlalu banyak, sekarang ini Anda simpan saja dahulu, dan nanti waktu mandi Anda siram.\rHukum Dua Imam Shalat Jama'ah\rMohon penjelasan bagaimana hukumnya dalam agama, bila ada satu jamaah salat yang terdiri dari dua orang imam?\rHal ini terjadi di tempat kami, di Surabaya. Tepatnya di Musalla Al-Mukarromah di mana saat takmir musalla menjadi imam salat, ada salah seorang sarjana lulusan perguruan tinggi Islam negeri di Surabaya, membuat jamaah sendiri dengan pengikutnya di belakang imam pada saat rakaat pertama sedang berlangsung, sehingga jamaah salat menjadi kacau. Harus mengikuti imam yang mana, mengingat kedua imam itu saling membaca surat/ayat dengan suara keras.\rJawaban:\rSebelum kami menjawab pertanyaan ini, terlebih dahulu kami beritahukan bahwa sejak zaman Rasulullah saw sampai dengan zaman Khulafaurrasyidin, yang menjadi imam di Masjid adalah kepala negara. Sehingga dalam kitab-kitab fiqh istilah \"imam\" terutama dalam pengangkatan amil zakat adalah berarti kepala negara.\rDengan demikian, imam salat berjamaah dalam sebuah masjid atau musalla dalam suatu waktu kita gambarkan sebagai seorang kepala negara pada suatu daerah pada waktu tertentu.","part":1,"page":73},{"id":74,"text":"Jadi jika dalam sebuah musalla ada seorang imam telah melakukan salat berjamaah, kemudian ada rombongan lain yang datang ke musalla tersebut tidak mengikuti jamaah yang telah ada melainkan melakukan jamaah salat sendiri di musalla tersebut pada waktu yang bersamaan, maka imam beserta jamaah yang kedua itu dapat diibaratkan sebagai orang-orang yang mendirikan negara dalam satu negara pada waktu yang bersamaan atau pemberontak. Seperti Kartosuwiryo yang mendirikan negara Islam di negara RI yang saha.\rPerlu pula kami beritahukan bahwa apa yang dilakukan oleh sang sarjana di musalla Al Mukarromah tersebut adalah merupakan bukti bahwa dia kurang bisa menguasai bahasa al Quran, sehingga tidak dapat memahami kitab hadist dan fiqh. Sebab seandainya dia pandai ilmu agama, maka:\rJika memang dia orang yang alim, sedangkan imam yang ada berbeda madzhab, dia memang tidak sah bermakmum kepada imam yang berbeda madzhab tersebut. Akan tetapi dia tidak akan bertindak menjadi imam untuk melakukan salat jamaah sendiri beserta pengikutnya sebelum imam yang pertama selesai salam.","part":1,"page":74},{"id":75,"text":"Atau misalnya imam dari takmir musalla Al Mukarromah tersebut orang yang tidak pandai agama (tidak bisa baca fatihah) sedang sang sarjana merasa sangat alim, sehingga merasa tidak sah makmum kepada imam dari takmir, diapun tidak akan melakukan salat berjamaah sendiri dalam satu tempat pada waktu yang sama (silakan membaca kitab Kasifatus Saja bab salat berjamaah, kitab al Muhadzdzab juz I hal 98 tentang orang yang patut menjadi imam dalam salat berjamaah, kitab Kifayatul Akhyar juz I hal 133 tentang rombongan yang baru datang ketempat orang-orang yang sedang melakukan salat berjamaah dan kitab I'anatut Thalibin Juz 2 hal 11 tentang cara melakukan salat berjamaah sendiri jika tidak setuju dengan imam yang telah ada).\rDi sini kami tidak perlu menuliskan ibarat dari kitab tersebut, karena khawatir dianggap menggurui. Kepada jamaah musalla al Mukarromah, kami himbau supaya makmum kepada imam yang pertama. Sedang imam yang kedua harus dihindari, karena dia tergolong pemecah belah ummat.\rMasalah Menangisi Mayyit\rAda sebuah hadist yang mengatakan bahwa seseorang akan mendapatkan siksa karena waktu ia meninggal dunia ditangisi dan diratapi oleh keluarganya. Padahal dalam al-Quran ada ayat yang menjelaskan bahwa seseorang akan mendapat pahala dari apa yang telah ia kerjakan di dunia dan mendapat siksa karena kesalahannya sendiri.\rBagaimana kita mendudukkan ayat al-Quran dan Hadist tersebut? Apakah hadist tersebut sahih?\rJawaban:","part":1,"page":75},{"id":76,"text":"Saudara Abdul Jalil yang terhormat, ayat al Quran yang menjelaskan bahwa seseorang akan mendapat pahala dari apa yang telah dikerjakan di dunia dan mendapat siksa karena kesalahannya sendiri, adalah ayat ke 39 dari surat An Najm. Ayat tersebut adalah ayat umumnya yang dapat ditakhsis. Artinya banyak masalah yang dapat dikecualikan dari ayat ini. Bahkan, kalau kita membaca tafsir-tafsir yang muktabar, paling tidak akan mendapatkan 16 masalah yang dapat dikecualikan dari ayat ini. Antara lain:\rMayit dapat memperoleh sesuatu manfaat karena doa orang lain.\rRasulullah saw dapat memberi syafaat kepada orang yang dihisap dipadang mahsyar.\rRasulullah saw dapat memberi syafaat kepada orang yang berdosa besar, sehingga mereka itu dapat dikeluarkan dari neraka, dll.\rDisamping itu, perlu Anda ketahui, bahwa al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad saw dan bukan kepada orang lain. Ialah agar beliau dapat memberikan penjelasan mengenai apa-apa yang dimaksudkan oleh sesuatu ayat dari al Quran.\rHal ini telah dinyatakan oleh Allah swt dalam surat an Nahl ayat 43:\rوَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إلاَّ رِجَالاً نُوحِى إلَيْهِمْ فَإسْأَلوا أَهْلَ الذِّكْرِ إنْ كُنْتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ\r'Dan kami turunkan kepadamu al Quran agar kamu dapat menerangkan kepada umat manusia apa yang diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan'.","part":1,"page":76},{"id":77,"text":"Hadist yang saudara baca mengenai siksa yang diterima oleh si mayit dalam kubur karena diratapi oleh keluarganya yang masih hidup adalah juga merupakan penjelasan Nabi saw yang berupa pengecualian dari ayat 39 dari surat an Najm tersebut.\rKesucian Pakaian Shalat\rAdik saya sering meremehkan perkara kencing. Sehabis kencing biasanya membersihkan dengan menyiram air seperlunya. Ia menganggap bahwa siramannya tersebut sudah bersih dari najis. Namun, adik saya bilang bahwa dirinya kadang terjadi keraguan jangan-jangan ada rembesan air seni yang keluar lagi setelah memakai celana dalamnya. Padahal setelah kencing (jika sudah masuk waktu salat) adik saya langsung berwudlu dan mengerjakan salat tanpa melepas celana dalamnya.\rBagaimana salat adik saya tersebut, mengingat perkara melalaikan air kencing akan mendapat siksa kubur. Apakah setiap akan menunaikan salat harus menanggalkan setiap pakaian yang dikhawatirkan terkena najis?\rJawaban:\rSaudara yang terhormat, sebagaimana kita maklumi bersama, bahwa salah satu syarat dari keabsahan salat itu harus suci dari najis, badan, pakaian dan tempat. Kesuciannya tersebut harus kita yakini benar.\rSehingga setiapkali kita akan melakukan salat, kita harus menanggalkan setiap pakaian yang tidak kita yakini kesuciannya. Sedang, salat yang sudah kita kerjakan dengan memakai pakaian yang tidak kita yakini kesuciannya adalah tidak sah dan wajib mengulangi.\rHukum Memanfaatkan Barang Bekas Milik Masjid","part":1,"page":77},{"id":78,"text":"Di desa saya ada sebuah masjid kuno yang kondisinya agak memperhatinkan. Kemudian masyarakat sepakat untuk memperbiki denga cara mengganti secara total bangunan masjid itu. Dengan demikian banyak bangunan masjid tersebut yang tidak terpakai.\rMenurut keyakinan orang ditempat saya, bahwa benda-benda bekas masjid (misalnya genteng, kayu, bata dan sebagainya) tidak boleh dipakai untuk keperluan lain (misalnya untuk rumah), apalagi dijual tambah tidak boleh. Pokoknya, kalau ditanya alasannya, mereka menjawab ora apik, barang masjid kok didol (tidak baik, barang masjid kok dijual).\rTapi dipihak lain, jika barang itu tidak dimanfaatkan (misalnya, diberikan orang yang tidak mampu atau dijual kemudian uangnya masuk kekas masjid) akan hancur dimakan hujan atau rusak dengan sendirinya.\rPertanyaan saya, betulkah benda masjid itu mengandung kekuatan ghaib, sehingga orang-orang mempercayainya sebagai sesuatu yang tidak baik jika dimanfaatkan oleh orang lain? Apakah ada dalilnya tentang masalah ini? Lalu lebih baik mana antara dibiarkan dengan dimanfaatkan?\rJawaban:\rSaudara yang terhormat. Menjawab pertanyaan Anda mengenai kebenaran bahwa benda masjid mengandung kekuatan gaib. Sehingga orang-orang mempercayainya sebagai sesuatu yang tidak baik jika dimanfaatkan oleh orang lain, atau lebih tepatnya untuk kepentingan orang lain.","part":1,"page":78},{"id":79,"text":"Di sini perlu kami tegaskan, bahwa benda masjid itu tidak mempunyai kekuatan gaib yang berakibat tidak baik bagi pemakainya. Islam tidak mengenal bahkan menolak anggapan tersebut. Kalau orang-orang ditempat Anda berkeyakinan bahwa benda-benda bekas masjid tidak boleh dijual atau lainnya dengan alasan, 'Ora apik, barang masjid kok didol' sebenarnya keyakinan tersebut mempunyai landasan agama yang kuat.\rSebab dalam agama Islam, barang yang sudah diwakafkan, itu tidak boleh dijual atau diberikan kepada orang lain, sebagaimana tersebut dalam kitab fiqh. Sehingga jika meminjam barang wakaf masjid misalnya pengeras suara kita bawa pulang kemudian kita setel (kita pakai) di rumah kita, maka hukumnya haram (yang diterjemahkan oleh orang-orang di kampung saudara dengan kata 'ora apik')\rAdapun jika saudara menanyakan mana yang lebih baik, apakah benda-benda bekas masjid tersebut dibiarkan saja sampai hancur tanpa guna ataukah dimanfaatkan?\rJika kita mau memakai madzhab Syafi'i dan tidak mau berpindah ke madzhab lain dalam masalah ini, maka benda-benda tersebut harus kita biarkan saja sampai hancur dengan sendirinya. Atau diberikan ke masjid lain yang memerlukannya.\rJika orang-orang kampung Anda mau berpindah ke madzhab Hanafi, maka benda-benda tersebut dapat kita tukarkan dengan benda lain yang dapat dimanfaatkan oleh masjid tersebut dengan syarat-syarat tertentu. Sebagaimana disebutkan dalam fiqh-fiqh Hanafi, misalnya kitab Raddul Mukhtar juz 3 hal 387.\rHukum Memanfaatkan Barang Bekas Milik Masjid","part":1,"page":79},{"id":80,"text":"Di desa saya ada sebuah masjid kuno yang kondisinya agak memperhatinkan. Kemudian masyarakat sepakat untuk memperbiki denga cara mengganti secara total bangunan masjid itu. Dengan demikian banyak bangunan masjid tersebut yang tidak terpakai.\rMenurut keyakinan orang ditempat saya, bahwa benda-benda bekas masjid (misalnya genteng, kayu, bata dan sebagainya) tidak boleh dipakai untuk keperluan lain (misalnya untuk rumah), apalagi dijual tambah tidak boleh. Pokoknya, kalau ditanya alasannya, mereka menjawab ora apik, barang masjid kok didol (tidak baik, barang masjid kok dijual).\rTapi dipihak lain, jika barang itu tidak dimanfaatkan (misalnya, diberikan orang yang tidak mampu atau dijual kemudian uangnya masuk kekas masjid) akan hancur dimakan hujan atau rusak dengan sendirinya.\rPertanyaan saya, betulkah benda masjid itu mengandung kekuatan ghaib, sehingga orang-orang mempercayainya sebagai sesuatu yang tidak baik jika dimanfaatkan oleh orang lain? Apakah ada dalilnya tentang masalah ini? Lalu lebih baik mana antara dibiarkan dengan dimanfaatkan?\rJawaban:\rSaudara yang terhormat. Menjawab pertanyaan Anda mengenai kebenaran bahwa benda masjid mengandung kekuatan gaib. Sehingga orang-orang mempercayainya sebagai sesuatu yang tidak baik jika dimanfaatkan oleh orang lain, atau lebih tepatnya untuk kepentingan orang lain.","part":1,"page":80},{"id":81,"text":"Di sini perlu kami tegaskan, bahwa benda masjid itu tidak mempunyai kekuatan gaib yang berakibat tidak baik bagi pemakainya. Islam tidak mengenal bahkan menolak anggapan tersebut. Kalau orang-orang ditempat Anda berkeyakinan bahwa benda-benda bekas masjid tidak boleh dijual atau lainnya dengan alasan, 'Ora apik, barang masjid kok didol' sebenarnya keyakinan tersebut mempunyai landasan agama yang kuat.\rSebab dalam agama Islam, barang yang sudah diwakafkan, itu tidak boleh dijual atau diberikan kepada orang lain, sebagaimana tersebut dalam kitab fiqh. Sehingga jika meminjam barang wakaf masjid misalnya pengeras suara kita bawa pulang kemudian kita setel (kita pakai) di rumah kita, maka hukumnya haram (yang diterjemahkan oleh orang-orang di kampung saudara dengan kata 'ora apik')\rAdapun jika saudara menanyakan mana yang lebih baik, apakah benda-benda bekas masjid tersebut dibiarkan saja sampai hancur tanpa guna ataukah dimanfaatkan?\rJika kita mau memakai madzhab Syafi'i dan tidak mau berpindah ke madzhab lain dalam masalah ini, maka benda-benda tersebut harus kita biarkan saja sampai hancur dengan sendirinya. Atau diberikan ke masjid lain yang memerlukannya.\rJika orang-orang kampung Anda mau berpindah ke madzhab Hanafi, maka benda-benda tersebut dapat kita tukarkan dengan benda lain yang dapat dimanfaatkan oleh masjid tersebut dengan syarat-syarat tertentu. Sebagaimana disebutkan dalam fiqh-fiqh Hanafi, misalnya kitab Raddul Mukhtar juz 3 hal 387.\rPakaian Menutupi Mata Kaki Haram Dalam Shalat ?","part":1,"page":81},{"id":82,"text":"Menanggapi keterangan kiai di Bahtsul Masail AULA nomor: 04/Tahun XV/April 1993. Perlu saya sampaikan bahwa, pada suatu hari pengajian rutin di masjid As-Sa'adah Keputih Jl. Arief Rachman Hakim 17 Surabaya yang diasuh almarhum KH. Thohir Syamsuddin, menjelaskan pakaian orang laki-laki bila salat mata kakinya harus kelihatan.\rBeliau menyampaikan sebuah hadist Nabi, intinya pakaian Nabi itu hingga betisnya kelihatan (saya lupa, apa ada kata-kata masuk neraka atau tidak, sebagaimana yang diberikan oleh penanya di atas).]\rBeliau menyimpulkan, bahwa pakaian yang menutup mata kaki (bagi orang laki-laki) itu, hukumnya haram dan salatnya tidak diterima. Bahkan beliau menyampaikan, bila yang tertutup mata kakinya itu Imam, makmum wajib mengingatkan atau mufaraqah.\rJawaban:\rKami sangat berterima kasih atas tanggapan saudara terhadap keterangan di Bahtsul Masail AULA nomor: 04/Tahun XV/April 1993. Hanya kami sayangkan bahwa saudara mengemukakan kesimpulan dari Al-Maghfurlah KH. Thohir Syamsuddin, sehingga kita sekarang ini tidak dapat mengecek kebenarannya.\rSepanjang pengetahuan yang kami peroleh dari kitab-kitab agama yang telah kami baca, kami belum menjumpai ibarat yang mewajibkan makmum mengingatkan imam yang dilihat tertutup mata kakinya, apalagi mufaraqah.","part":1,"page":82},{"id":83,"text":"Memang hukumnya haram bagi orang yang salat dengan merendahkan (menjulurkan/menurunkan) pakaiannya, karena dorongan kesombongan. Akan tetapi jika tidak didorong oleh kesombongan maka hukumnya makruh saja. Dalam kitab Irsyadul 'Ibad halaman 28 tertulis sebagai berikut:\rوَيَحْرُمُ إنْزَالُ ثَوبِهِ أو إزَارِهِ عَنْ كَعْبَيْهِ بِقَصْدِ الخَيْلاَءِ وَإِلاَّ كُرِهَ.\rdan haram menurunkan pakaiannya atau sarungnya melewati kedua mata kakinya dengan maksud menyombongkan diri. Namun jika tidak dengan maksud tersebut, maka dihukumi makruh.\rSedangkan orang yang salat yang sengaja melakukan perbuatan haram, misalnya salat dengan memakai sarung gasaban atau di atas sajadah gasaban, maka menurut madzhab Syafi'i salatnya tetap sah meskipun tidak mendapat pahala, sehingga tidak ada alasan untuk tidak sah untuk dijadikan imam.\rCara Mengingatkan Imam Dalam Shalat\rPada hari Senin dan Selasa (malam) 15-16 Maret 1993, jam 00.45 s/d 02.30 wib, saya melihat siaran langsung salat taraweh di masjidil Haram lewat RCTI yang bekerja sama dengan SCTV dan PT Indosat. Ternyata dilakukan setiap dua rakaat salam dengan jumlah 20 rokaat dan 3 witir 2 kali salam. Bacaan surat-suratan dalam salat taraweh panjang-panjang dan agak pendek dalam salat witirnya. Sebelum salam pada I'tidal witir terakhir (yang ganjil) membaca doa qunut selama sepuluh menit dengan suara nyaring dan mengangkat kedua tangan. Sehungga pelaksanaan salat secara keseluruhan memakan waktu satu jam empat puluh lima menit.","part":1,"page":83},{"id":84,"text":"Pada rakaat ke sembilan belas masuk ke dua puluh, imam tidak membaca surat al-Fatihah, langsung membaca surat, kemudian ruku', sujud, duduk antara dua sujud, sujud, tahiyat, baru salam terakhir, dan tidak sujud sahwi, (Jika tidak percaya, silahkan RCTI memutar ulang filmnya).\rYang kami tanyakan adalah:\rBagaimana caranya mengingatkan imam yang salah pada rukun qouliyah (rukun berupa bacaan)?\rApakah sah salat seorang yang meninggalkan rukun baik qouliyah maupun rukun fi'liyah (rukun berupa gerakan) dan tidak diganti dengan sujud?\rIstri saya haid pada bulan ramadlan. Pada hari keempat dikira telah berhenti maka dia mandi sesuci. Pada hari kelima dan keenam dia puasa. Tetapi pada hari ketujuh ternyata keluar lagi. Yang kami tanyakan apakah puasa istri saya pada hari kelima dan keenam sah? dan tidak perlu diqodlo lagi? jika tidak sah bagaimana? mohon penjelasan.\rJawaban:\rCara mengingatkan imam yang salah pada rukun qouliyah, kalau yang dimaksudkan adalah imam yang meninggalkan bacaan fatihah seperti yang dicontohkan pada rokaat 19 masuk 20 pada salat taraweh di Masjidil Haram tadi, bagi makmum laki-laki dengan membaca tasbih ( subhanallah) dengan niat berdzikir (bukan niat mengingatkan imam). Bagi makmum wanita dengan menepukkan punggung telapak tangan kiri pada bagian dalam telapak tangan kanan. Sebagaimana dalam kitab At Tadzhib halaman 63 sebagai berikut:","part":1,"page":84},{"id":85,"text":"وَإذَا أَنَابَهُ شَيءٌ فِى الصَّلاةِ سَبَّحَ.اى إِذَا حَصَلَ لإِمَامِهِ أو غَيْرِهِ شَيْءٌ وَأرَدَ اَنْ يُنَبِّهَهُ قَالَ: سُبْحَانَ اللهِ. لِمَا رَوَاه البُخَارِى (652) والمُسْلِم (421) عَنْ : أنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: مَنْ راَبَهُ(سَهْلِ ابْنِ سَعْدٍ شَيْءٌ فِى صَّلاَتِه فَليُسَبِّحْ. فَإِنَّهُ إذَا سَبَّحَ أُلْتُفِتَ إِلَيْهِ. وَإِنَّمَا تَصْفِيْقُ لِلنَّسَاءِ.\rApabila terjadi bagi imamnya atau lainnya sesuatu dan dia(orang yang sedang salat) ingin mengingatkannya, maka dia membaca: Subhanallah, berdasar apa yang al Bukhori dan Muslim telah meriwayatkannya dari Sahal bin Saad RA, bahwa Rasulullah saw telah bersabda: 'Barang siapa yang ragu-ragu dalam suatu perkara yang ia ingin mengingatkannya, dalam waktu ia salat, maka hendaklah ia membaca tasbih. Karena sesungguhnya jika dia membaca tasbih dia akan diperhatikan. Sesungguhnya bagi wanita adalah menepukkan punggung telapak tangan kiri pada bagian dalam telapak tangan kanan.'\rAkan tetapi, mungkin contoh yang Anda kemukakan tersebut sebetulnya imam tidak meninggalkan bacaan fatihah, akan tetapi hanya lupa membacanya dengan keras. Kalau begitu tidak perlu mengulangi membaca dengan keras, karena mengeraskan bacaan itu hukumnya sunnat.","part":1,"page":85},{"id":86,"text":"Sebagaimana kita maklumi, karena telah disebutkan dalam semua kitab-kitab fiqh, bahwa 'rukun' itu adalah apa yang harus dikerjakan selama menunaikan ibadah. Apabila rukun tersebut ditinggalkan, maka ibadahnya menjadi batal. Demikian pula halnya dengan salat, apabila salah satu rukunnya ditinggalkan, maka salat tersebut menjadi batal.\rMenurut pendapat kami, puasa istri Anda pada hari kelima dan keenam sah dan tidak wajib mengqodlo lagi sebab puasa tersebut:\rDilakukan pada saat darah haid tidak wujud\rBatas minimal dari waktu haid itu adalah satu hari satu malam (24 jam) akan tetapi, jika waktu haid selama empat hari tersebut keluar darah kurang dari 24 jam, maka puasanya tidak sah dan harus mengqodlo.\rNamun demikian, sebaiknya Anda memperhatikan kebiasaan waktu haid istri Anda. Jika kebiasaan waktu haid tujuh hari dan keluarnya darah sering terputus, maka hari kelima dan keenam tersebut berarti masih dalam masa haid, sehingga puasanya tidak sah dan wajib mengqodlo.\rPerlu diperhatikan pula warna darah yang keluar pada hari ketujuh tersebut. Jika warnanya tidak sama dengan yang keluar pada hari keempat, maka puasanya sah, dan jika sama maka puasanya tidak sah\rApa Pengertian Yatim ?\rAda masalah mendesak yang membutuhkan penjelasan dari pengasuh rubrik bahtsul masail. Yaitu tentang pengertian anak yatim. Sebab, dalam pengurus panti asuhan anak yatim di tempat kami telah terjadi pro dan kontra tentang pengertian tersebut.","part":1,"page":86},{"id":87,"text":"Sebagian pengurus tidak setuju jika dana diberikan kepada anak yatim di SMU, kecuali hanya untuk anak yatim SD dan SMP. Karena yang di SMU dianggap bukan yatim lagi. Terlebih ada rasa takut berdosa jika keliru dalam menggunakannya.\rAdapun sebagian yang lain meminta dalil dari hadist atau kitab apa yang menerangkan batas umur anak yatim sampai dengan empat belas tahun itu. Kelompok ini bermaksud ingin membekali ilmu bagi anak yatim, sehingga menjadi dewasa dalam umur juga dalam berfikir dan berusaha.\rUntuk itu kami mohon bantuan penjelasan serta dalil-dalilnya.\rJawaban:\rYang dimaksudkan dengan anak yatim ialah anak yang ditinggal mati ayahnya. Batasan dari anak yatim tersebut sampai dia baligh.\rDalam al Quran surat al An'am 152 antara lain dinyatakan:\rوَلاَ تَقْرَبُوا مَالَ اليَتِيْمِ إلاَّ بِالتِّى هِي أحْسَنُ حَتَّ يَبْلُغَ أًشُدَّهُ الآية\rMenurut tafsir Jalaluddin, yang dimaksud dengan hatta yablugho ashuddahu adalah sampai dia baligh (dapat mengeluarkan air mani, atau kalau wanita sudah mengalami menstruasi).\r(Karena itu berkenaan dengan persoalan Anda, kami menyarankan agar istilah pengurus anak yatim diperluas menjadi umpamanya- pengurus anak yatim dan dhu'afa. Red)\rMenetapkan Hari Raya\rSebagai orang awam, saya tidak mengetahui bagaimana cara menentukan tanggal 1 Syawal, baik dengan cara hisab maupun rukyat. Perbedaan tahun lalu, 1992, terulang di tahun ini (1993), ada yang Rabu dan ada pula yang Kamis. Hal ini menurut saya sangat membingungkan masyarakat awam.","part":1,"page":87},{"id":88,"text":"Seperti kita tahu, jika tiba 1 Syawal berarti ada dua kewajiban, yaitu zakat fitrah dan salat Id. Tetapi bagi orang awam tentu saja akan menunggu fatwa Kiai. Kalau dikota mungkin kejadian ini tidak banyak membingungkan karena dekat dengan informasi. Tetapi bagaimana dengan yang di desa? Bisa jadi Rabu pagi informasi itu baru bisa diterima sehingga salat Id dilakukan pada hari Kamis.\rKarena itu kami ingin menanyakan beberapa masalah:\rBolehkah melaksanakan salat Idul Fitri pada hari Kamis, sementara keyakinannya sendiri Id pada hari Rabu?\rApakah hukum Syara' itu bisa gugur karena pengaruh politik?\rMeski setiap tanggal 1 Syawal atau 1 Ramadan itu ada perbedaan, tetapi nampaknya kalau penentuan 10 Dzulhijjah kok selalu sama. Apakah perbedaan dalam penentuan tanggal 1 Syawal atau 1 Ramadhan tidak mempengaruhi perbedaan dalam penentuan tanggal 10 Dzulhijjah?\rBagaimana kalau PBNU dalam masalah ini mengambil langkah tegas kepada para pengurus ranting khususnya dan masyarakat umumnya dalam penentuan tanggal 1 Syawal dan pelaksanaan salat Idul Fitri?\rBisakah antara pemerintah dan Ulama disatukan? Mengapa sampai terjadi perbedaan?\rJawaban:\rMelaksanakan salat Idul Fitri pada hari Kamis, sementara berkeyakinan yang benar adalah Rabu tanggal 1 Syawal, ada beberapa rincian:\rAda yang berpendapat boleh, dengan anggapan bahwa salat pada hari Kamis itu adalah salat qadla. Dasar pengambilan dari kitab Bughyatul Mustarsyidin hal 63:","part":1,"page":88},{"id":89,"text":"مَسْأَلَةٌ: يُنْدَبُ قَضَاءُ النَّفْلِ المُؤَقَّتِ كَالعِيْدِ وَالوِتْرِ وَالرَّوَاتِبِ مُطْلَقًا, بَلْ لَوِاعْتَادَ شَيْئًا مِنَ النَّفْلِ المُطْلَقِ فَتَرْكُهُ فِى وَقْتِ المُعْتَادِ وَلَو بِعُذْرٍ سُنَّ لَهُ قَضَاؤُهُ.\rMasalah: Secara mutlak disunnahkan mengqodla salat sunah yang telah ditentukan waktunya seperti salat Id, Witir dan Rawatib. Bahkan Andaikata seseorang sudah membiasakan sesuatu salat sunah mutlak, kemudian dia meninggalkannya pada waktu yang sudah dibiasakan, meskipun karena udzur, maka baginya disunahkan mengqodlonya.\rJika pada hari Rabu sebelum waktu dhuhur telah mendengar berita rukyat dari orang yang dapat dipercaya, seperti berita rukyat dari 'tim rukyat PBNU' maka wajib berbuka puasa dan melakukan salat Id, jika waktunya mencukupi untuk mengumpulkan orang-orang yang akan melaksanakan salat. Jika waktunya tidak mencukupi, atau mendengar berita rukyat tersebut sesudah dhuhur, maka disyariatkan mengqodla salat Id apabila menginginkan.\rDasar pengambilan hukum\rKitab Qulyubi Juz 1 halaman 309\rوَلَو شَهِدُوا يَومَ الثَّلاثِيْنَ قَبْلَ الزَّوَالِ بِرُؤْيَةِ الهِلاَلِ اللَّيْلَةِ المَاضِيَةِ أفْطَرْنَا وَصَلَّيْنَا العِيْدَ حَيْثُ بَقِيَ مِنَ الوَقْتِ مَايَسَعُ جَمَّعَ النَّاسَ. وَإلاَّ فَكَمَا لَوْ شَهِدُوا بَيْنَ الزَّوَالِ وَالغُرُوبِ... أو شَهِدُوا بَيْنَ الزَّوَالِ وَالغُرُوبِ أفْطَرْنَا وَفَاتَتِ الصَّلاةِ أدَاءً. وَيُشْرَعُ قَضَاؤُهَا مَتَى شَاءَ فِى الأظْهَرِ.","part":1,"page":89},{"id":90,"text":"'Andaikata pada hari ke 30 Ramadhan sebelum duhur mereka bersaksi bahwa pada malam ke 30 Ramadhan mereka melihat hilal, maka kita wajib berbuka dan melakukan salat Id sekira masih tersisa waktu yang mencukupi untuk mengumpulkan manusia.Dan jika tidak cukup waktu, sebagaimana Andaikata mereka bersaksi pada waktu antara dhuhur dan maghrib, maka kita wajib berbuka dan terlepaslah melakukan salat Id secara ada'/tunai, dan disyariatkan mengqodlonya apabila seseorang menginginkan menurut pendapat yang lebih jelas.\rKitab I'anatut Thalibin Juz 1 halaman 261\rوَيُسَنُّ قَضَاؤُهَا إنْ فَاتَتْ لأَنَّهُ يُسَنُّ قَضَاء النَّفْلِ المُؤَقَّتِ إنْ خَرَجَ وَقْتُهُ\rDan disunahkan mengqodlo salat Id jika waktunya sudah terlepas, karena sesungguhnya disunahkan mengqodlo salat sunat yang ditentukan waktunya jika waktunya telah keluar.\rJadi menurut pendapat yang kedua ini, jika seseorang telah mendengar berita rukyat pada malam Rabu atau pada hari Rabu sebelum dhuhur, apalagi sesudah berhari raya pada hari Rabu, tetapi salat Id dilakukan pada hari Kamis, dapat dianggap sebagai orang yang mempermainkan ibadah.\rHukum syara' tidak dapat gugur karena pengaruh politik atau lainnya, karena kita wajib melaksanakan hukum syara' (agama) harus semata-mata untuk memurnikan agama karena Allah semata. Dalam surat al Bayinah, Allah berfirman:\rوَمَا أُمِرُوا إلاَّ لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ.\rDan tiadalah mereka diperintah kecuali untuk menyembah Allah dengan memurnikan agama karenaNya.","part":1,"page":90},{"id":91,"text":"Perbedaan penentuan tanggal itu, sebenarnya tidak hanya terjadi awal Ramadhan dan Syawal, melainkan juga terjadi penentuan tanggal 10 Dzulhijjah beberapa tahun yang lalu, bahkan sampai menghebohkan.\rPerbedaan penentuan tersebut berpangkal dari dasar penentuan: Hisab dan Rukyah. Di mana saja, asal masih ada umat Islam yang berbeda pada dasar penentuan hisab, sedang yang lain berpijak berdasar rukyah, akan terjadi perbedaan hasil penentuan. Sedang dari mereka yang berpijak pada dasar hisab sendiri saja, masih dapat terjadi perbedaan hasil penentuan.\rBuktinya antara lain almanak yang dibuat oleh ahli hisab, ada yang menetapkan hari raya Rabu ada pula yang Kamis. Oleh karena itu, tepat sekali perintah Nabi Muhammad saw dalam menentukan awal Ramadan dan Syawal sebagaimana tersebut dalam salah satu hadistnya:\rصُوْمُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ وَإنْ غُمَّ عَلَيْكُم فَأكْمِلوُا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاَثِيْنَ يَوْمًا.\rBerpuasalah kalian karena melihat hilal dan berhari-rayalah karena melihat bulan. Jika hilal di atasmu tertutup mendung, maka sempurnakanlah bilangan bulan tiga puluh hari.","part":1,"page":91},{"id":92,"text":"PBNU dalam hal ini tidak memiliki wewenang atau kekuasaan seperti yang dimiliki oleh qodli atau hakim yang di Indonesia diidentikkan dengan menteri agama. Sehingga tidak ada hak untuk mengambil tindakan tegas sebagaimana yang Anda inginkan. Namun bagi warga NU atau lainnya yang mengerti agama, maka secara otomatis akan mengikuti ikhbar (pemberitahuan) yang disampaikan PBNU. Sebab dalam kitab Kasyifatus Saja, halaman 114-116 dinyatakan yang intinya bahwa, berpuasa Ramadan (qiasnya adalah berhari raya) itu wajib sebab salah satu dari lima perkara. Dan yang keempat dari lima perkara tersebut adalah sebab 'pemberitaan'satu orang yang adil riwayatnya dan dapat dipercaya. Meskipun yang mempercayai itu hanya istrinya atau budak perempuannya atau temannya, baik pemberitaan tersebut dapat diterima oleh hati (diyakini) atau tidak (diragukan).\rAntara pemerintah dan ulama bisa disatukan dalam menentukan awal Ramadan dan awal Syawal, manakala keduanya konsekwen dalam mentaati perintah Rasul. Dalam hal ini berpijak pada dasar penentuan 'rukyah' sebagaimana hadist pada jawaban nomer tiga.\rBermadzhab Jama'i\rDalam dekade muqollidin dewasa ini seringkali kita dihadapkan pada problematika yang tidak diketahui kepastian hukumnya, karena tidak disinggung dalam kitab-kitab muktabaroh/kutubus salaf. Kalaupun ada itu hanya dengan tersirat atau mirip-mirip saja. Kadang kala masalah tersebut diputuskan dengan suatu kaidah usuliyah atau kaidah fiqhiyah lalu finallah masalah itu.","part":1,"page":92},{"id":93,"text":"Adapun yang ingin kami tanyakan dari Bapak pengasuh adalah:\rSebatas manakah kebolehannya menyamakan masalah baru tersebut dengan masalah yang termaktub dalam kitab-kitab muktabaroh/kutubus salaf sehingga hukumnya bisa disamakan?\rApa sajakah syarat yang harus dipenuhi dalam memasukkan atau menghukumi suatu masalah dengan kaidah-kaidah usuliyah ataupun kaidah-kaidah fiqhiyah?\rJawaban:\rSeseorang boleh menyamakan hukum dari suatu masalah yang baru dengan hukum dari masalah yang telah termaktub dalam kitab-kitab Muktabaroh/kutubus salaf, manakala ia telah mencapai derajat seorang mufti.\rAdapun syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi seorang mufti dapat kita jumpai antara lain dalam kitab Majmu' syarah al Muhadzdzabjuz 1 halaman 40-47 yang antara lain berbunyi:\r(الحَالَةُ الرَّبِعَةُ: أنْ يَقُومَ بِحِفْظِ المَذْهَبِ وَ نَقْلِهِ وَفَهْمِهِ فِى الوَاضَحَاتِ وَالمُسْكِلَةِ وَلَكِنْ عِنْدَهُ ضُعْفٌ تَقْرِيْرِ أَدِلَّتِهِ وَتَحْرِيْرِقِيَسَتِهِ. فَهَذَا يَعْتَمِدُ نَقْلِهِ وَفَتْوَاهُ بِهِ فِيمَا يَحْكِيْهِ مِنْ مَسْتُورَاتِ مَذْهَبِهِ مِنْ نُصُوصِ إمَامِهِ وَتَفْرِيْعِ المُجتَهِدِيْنَ فِى مَذْهَبِهِ. وَمَا لاَيَجِدُهُ مَنْقُولاً إن وُجِدَ فِى المَنْقُولِ مَعْنَاهُ بِحَيْثُ يُدْرَكُ بِغَيْرِ كِبِيْرِ فِكْرٍأنَّهُ لاَفَرْقَ بَيْنَهُمَا, جَازَ إلْحَاقُهُ بِهِ الفَتْوَى بِهِ. وَكَذَا مَا يُعْلَمُ إنْدِرَاجُهُ تَحْتَ ضَابِط ممهد فى المَذهَبِ. وَمَا لَيْسَ كَذَالِكَ يَجِبُ إِمْسَاكُهٌ عَنِ الفَتْوَى فِيْهِ.","part":1,"page":93},{"id":94,"text":"Dari pengertian yang dapat kita peroleh maka sistem bermadzhab yang harus kita lakukan adalah bermadzhab secara qouli. Jika kita ternyata menghadapi sesuatu masalah baru yang tidak termaktub dalam kitab madzhab secara jelas, maka sistem bermadzhab yang harus kita lakukan adalah secara manhaji (dalam arti sempit). Karena bermadzhab secara manhaji sulit didapati di Indonesia secara perorangan (fardy) maka menurut keputusan halaqoh yang diselenggarakan RMI (Rabithah Maahid Islamy) di Denanyar Jombang beberapa tahun lalu, harus dilakukan secara Jama'iy.\rKhutbah Tanpa Basmalah dan Shalat Jenazah Tanpa Ruku' dan Sujud\rMengapa pada waktu khutbah Jum'at yang pertama khotib tidak membaca basmalah, langsung membaca hamdalah?\rKenapa dalam salat janazah tidak ada ruku' dan sujud?\rJawaban:\rSebelum menjawab pertanyaan Anda marilah kita simak lebih dahulu apa yang termaktub dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin halaman 82 bab Salat Jum'at.\r(مَسْئلَةُ ب ) لاَتَنْبَغِى البَسْمَلَةُ أَوَّلَ الخُطْبَةِ بَلْ هِيَ بِدْعَةٌ مُخَالَفَةً لِمَا عَلَيْهِ السَّلَفُ الصَّالِحِ مِنْ أئِمَّتِنَا وَمَشَايِخِنَا الذِّى يَقْتَدِى بِأَفْعَالِهِمْ وَيُسْتَضَاءُ بِأَنْوَارِهِمْ مَعَ أنَّ أَصَحَّ الرِّوَايَاتِ خَبَرٌ كُلُّ أَمْرٍ ذِى بَالٍ لاَيُبْتَدَأُ فِيْهِ بِحَمْدِ اللهِ فَسَاوَتِ البَسْمَلَةُ الحَمْدَ لَةَ (قَائِدَةٌ) قَالَ فىِ بَا عَشَنْ وَمِنْهُ يُؤْخَذُ أَنَّ الزَّائِدَ عَلَى الأَيَةِ لَيْسَ مِنَ الرُّكْنِ وَهُوَ قَاعِدَةٌ مَا يَتَجَزَّى كَالرُّكُوعِ أنَّ أقَلَّ مُجْزِئٍ مِنْهُ يَقَعُ وَاجِبَاً وَالزَّائِدُ سُنَّةٌ","part":1,"page":94},{"id":95,"text":"Masalah B. Basmalah tidak patut diletakkan pada permulaan khutbah. Bahkan peletakan basmalah pada permulaan khutbah adalah bid'ah yang menyimpang dari pendapat orang-orang yang terdahulu dari pemimpin-pemimpin kita dan guru-guru kita (di mana mereka itu diikuti segala tindakan dan diambil terang cahayanya). Disamping itu sesungguhnya riwayat-riwayat yang paling sah adalah hadist: \"Setiap perkara yang baik yang tidak dimulai dengan hamdalah ... \" Maka kedudukan hamdalah menyamai kedudukan basmalah.\rDari uraian di atas, maka jelaslah mengapa pada waktu khutbah Jumat yang pertama tidak dimulai dengan bacaan basmalah. Akan tetapi sesungguhnya khatib masih disunnahkan membacanya secara samar.\rBerkenaan dengan salat janazah, mengapa tidak ada ruku' dan sujudnya? Hal ini berdasarkan hadist Nabi saw, yang diriwayatkan Imam Bukhori (hadist no. 1188) dan Imam Muslim (hadist no. 951), yang diterangkan dalam kitab at Tadzhib halaman 85\rرَوَى البُخَارِى (1188) وَمُسْلِمٍ (951) عَنْ أبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم نَعَى النَّجَاشِيَّ فِى اليَومِ الَّذِى مَاتَ فِيْهِ خَرَجَ إلَى المُصَلَّى فَصَفَّ بِهِمْ وَكَبَّرَ أرْبَعًا. التَذْهِيب صـ85\rDiriwayatkan dari Abu Hurairah ra; Sesungguhnya Rasulullah saw memberi khabar kematian Najasyi pada hari di mana Najasyi meninggal dunia. Nabi pergi ke Musholla/Masjid kemudian membuat shaf dengan para sahabat yang akan salat janazah (ghaib), dan Nabi bertakbir sebanyak empat kali.","part":1,"page":95},{"id":96,"text":"Dari hadist tersebut dapat diambil kesimpulan dan pedoman bahwa salat janazah itu memang tidak ada ruku' dan sujudnya. Hal ini sebagaimana yang telah dilakukan oleh Nabi. Mengapa tidak ada ruku' dan sujudnya? Allahu a'lam.\rNamun bisa jadi mengingat salat lima waktu adalah bagian dari penghormatan kepada Khaliq, sementara salat janazah merupakan penghormatan untuk orang yang meninggal. Disamping itu seandainya ada ruku’ dan sujudnya sementara janazah ditempatkan di depan orang yang salat, jangan-jangan disalah artikan sebagai penyembahan kepada orang yang mati. Bukankah kemakruhan salat saat matahari terbit dan terbenam juga dengan alasan menghindari penyembahan kepada matahari ?\rQurban Wajib dan Qurban Sunnah\rSaya seorang yang sangat awam. Pendidikan saya sekolah umum dari SPG. Tetapi saya senang mempelajari agama Islam. Bahkan saya berlangganan AULA.\rMenurut saya, qurban wajib adalah qurban yang wajib dilaksanakan misalnya dengan sebab nadzar. Sedangkan qurban pada dasarnya sunah. Yaitu menyembelih ternak qurban pada 10, 11, 12 dan 13 bulan Besar, seperti biasa. Orang yang qurban sunat bisa mekan dagingnya sekedar sampai 1/3 bagian. Yang saya belum jelas begini, Pak.\rSuatu misal, saya beli kambing (akan saya jadikan qurban). Tiba-tiba tetangga saya bertanya: 'Beli kambing untuk apa pak? Saya menjawab untuk saya jadikan qurban.","part":1,"page":96},{"id":97,"text":"Nah, kata pak Kyai tetangga saya, karena saya sudah berkata seperti jawaban diatas, qurban saya telah berubah menjadi qurban nadzar. Saya lalu heran, mengapa barang yang asalnya sunat (qurban sunat) hanya karena saya katakan saja sudah berubah menjadi qurban nadzar yang sifatnya wajib. Karena sudah menjadi wajib, barang tentu saya tidak bisa makan dagingnya barang sedikitpun.\rTimbul pertanyaan dalam hati. Salat tahajud itu sunat. Misalnya karena sudah berkata 'nanti malam saya akan salat tahajud' apakah salat tahajud yang tadinya sunat bisa berbah menjadi wajib? Hanya karena sudah saya katakan sebelumnya?\rYang ingin saya tanyakan:\rApakah betul kata Pak Kyai tetangga saya itu?\rApakah barang sunah karena sudah dikatakan seperti tadi bisa berubah menjadi wajib?\rBagaimana caranya supaya qurban sunah bisa terhindar dari wajib, sehingga saya bisa makan dagingnya hingga 1/3 bagian?\rJawaban\rKarena pertanyaan saudara sangat erat hubungannya dengan masalah nadzar maka sebaiknya kita tinjau dulu bagaimana nadzar bisa terjadi.\rPenjelasan kitab Bajuriy juz 2 halaman 329:\rوَأرْكَانُهُ ثَلاَثَةٌ: نَاذِرٌ وَمَنْذُورٌ وَصِيْغَةٌ ... وَفِى الصِّيغَةٍ كَونُهَا لَفْظًا يُشْعِرُ بِاللإلْتِزَامِ وَفِى مَعْنَاهُ مَا مَرَّ فِى الضَّمَانِ كَللَّهِ عَلَيَّ كَذَا وَعَلَيَّ كَذَا فَلاَ تَصِحُّ بِالنِيَّةِ كَسَائِرِ العُقُودِ وَلاَ بِمَا لاَيُشْعِرُ بِالإلْتِزَامِ كَأَفْعَلُ كَذَا.","part":1,"page":97},{"id":98,"text":"Rukun-rukun nadzar ada tiga: 1. orang-rang yang nadzar 2. perkara yang dinadzari 3. sighat (ucapan yang menunjukkan nadzar)' Dalam masalah sighat, adalah adanya lafal (ucapan) yang menunjukkan adanya penetapan dan dalam pengertian penetapan (mewajibkan) ini adalah keterangan bab dlaman (tanggungan). Yaitu seperti kata 'Demi Allah wajib atasku perkara seperti ini atau wajib atasku perkara seperti ini. Maka sighat tidak sah hanya sekedar niat (tanpa diucapkan), sebagaimana juga tidak sah semua aqad hanya dengan niat. Juga tidak sah sighat yang tidak menunjukkan penetapan (mewajibkan) seperti ucapan: 'Saya melakukan seperti ini'.\rKitab Tadzhib halaman 254:\r... وَشَرْعًا الوَعْدُ بِالخَيْرِ خَاصَّةُ أو اِلْتِزَامُ قُرْبَةً لَمْ تَتَعَيَّنْ بِأصْلِ الشَّرْعِ... وَالثَّانِى أنْ يَكُونَ غَيْرَ مُعَلَّقٍ كَأنْ يَقُولَ للهِ عَلَيَّ صَوْمٌ أو حَجٌّ أو غَيْرُ ذَلِكَ.ٌ و َجٌّ و َيْرُ َلِكَ..\r'Pengertian nadzar secara syara' berarti janji melakukan kebaikan tertentu atau menetapkan (mewajibkan dirinya) melakukan perkara yang digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah, yang perkara tersebut pada hukum asalnya tidak wajib' Yang kedua: adanya nadzar tersebut tidak diambangkan/digantungkan pada sesuatu seperti ucapan: 'Demi Allah, wajib bagiku puasa atau haji atau yang lainnya.\rSelanjutnya marilah kita perhatikan ucapan-ucapan Jumhurul Ulama' (mayoritas ulama) pada keterangan di bawah ini mengenai nadzar dan qurban:\rKitab Bajuriy juz 2 halaman 310:","part":1,"page":98},{"id":99,"text":"وَقَولُهُ مِنَ الأُضْحِيَّةِ المَنْذُورَةِ اى حَقِيْقَةً كَمَا لَو قَالَ: للهِ عَلَيَّ ان أُضْحِيَ بِهَذِهِ, فَهَذِهِ مُعَيَّنَةٌ بِالنَذْرِ إبْتِدَاءً, كَمَا لَو قَالَ للهِ عَلَيَّ أُضْحِيَّةٌ... أوْ حُكْمًا كَمَا لَوْ قَالَ هَذِه اُضْحِيَةٌ اَو جَعَلْتُ هَذِهِ اُضْحِيَةٌ فَهَذِهِ وَاجِبَةٌ بِالجَعْلِ لَكِنَّهَا فِى حٌكْمِ المَنْذُرَةِ.\rYang termasuk qurban nadzar sebenarnya adalah seperti apabila seseorang berkata: 'Demi Allah wajib atasku berqurban dengan ini' maka ucapan itu jelas sebagai nadzar sejak awal. Hal ini sebagaimana apabila seseorang berkata 'Demi Allah wajib atasku qurban\" atau secara hukum sebagai nadzar. Seperti bila seseorang berkata: Ini adalah hewan qurban' atau diucapkan 'Aku menjadikan ini sebagai hewan qurban'. Maka ini adalah wajib disebabkan kata 'menjadikan', akan tetapi dalam konteks hukum yang dinadzari.\rKitab Bajuriy juz II halaman 305\r... مِنْ قَوْلِهِمْ هَذِهِ اُضْحِيَةٌ, تَصِيْرُ بِهِ وَاجِبَةً وَيَحْرُمُ عَلَيْهِمْ الأَكْلُ مِنْهَا وَلاَ يَقْبَلُ قَولُهُمْ, أرَدْنَا التَّطَوُّعَ بِهَا خِلاَفًا لِبَعْضِهِمْ وَقَالَ الشِبْرَامَلِسِى: لاَيَبْعُدُ اِغْتِفَارُ ذَلِكَ العَوَام وَهُوَ قَرِيْبٌ... نَعَمْ لاَتَجِبُ بِقَولِهِ وَقْتَ ذَبْحِهَا: اللَّهُمَّ هَذِهِ اُضْحِيَتِى فَتَقَبَّلْ مِنِّى يَاكَرِيْمُ.","part":1,"page":99},{"id":100,"text":"'Dari perkataan orang-orang, 'Ini adalah hewan qurban,' maka hewan qurban tersebut menjadi wajib. Tersebab perkataan itu haram hukumnya memakan dagingnya. Tidak diterima alasan (atas perkataan itu) mereka 'Aku menghendakinya sebagai qurban sunah' Hal ini berbeda dengan pendapat sebagian ulama. Imam Sibromalisi berkata: '(Tetapi) bagi orang awam (orang yang belum mengetahui hukum ucapan tersebut) mudah untuk dimaafkan. Perkataan Imam Sibromalisi ini mudah untuk difahami (diterima)' Memang demikianlah hukumnya, namun qurban tidak menjadi wajib sebab ucapan orang waktu menyembelihnya: Ya Allah ini adalah hewan qurbanku, maka semoga Engkau menerimanya dariku, wahai Dzat Yang Maha Mulia'.\rKitab Sulaiman Kurdi juz 2 halaman 204\rوَقَالَ العَلاَّمَةُ السَّيِّد عُمَرُ البَصْرِى فِى حَوَاشِ التُّحْفَةِ يَنْبَغِى أَنْيَكُونَ مَحَلُّهُ مَالَمْ يَقْتَصِدُ الأَخْبَارُ فَإنْ قَصَدَهُ اى هَذِهِ الشَّاةَ الَّتِى أُرِيْدُ التَّضْحِيَةِ بِهَا فَلاَ تَعْيِيْنَ وَقَدْ وَقَعَ الجَوَابُ كَذَالِكَ فِى نَازِلَةٍ وَقَعَتْ لِهَذَا الحَقِيْر وَهِيَ اشْتَرَى شَاةً لِلتَّضْحِيَةِ فَلَقِيَهُ شَحْصٌ آخَرَ فَقَالَ مَاهَذِهِ فَقَالَ أُضْحِيَتِى.","part":1,"page":100},{"id":101,"text":"Al Allamah As Sayid Umar Al Bashriy berkata dalam komentar atas kitab Tuhfatul Muhtaj: Seyogyanya letak status nadzar itu ialah selagi tidak bermaksud memberi kabar. Kemudian jika memang bermaksud memberi kabar, 'Kambing ini yang saya maksudkan untuk qurban', maka tak ada penentuan dan berlaklkan jawaban. Demikian pula dalam peristiwa yang terjadi pada seorang yang naif ini, yakni seseorang membeli kambing untuk digunakan qurban lalul bersua dengan seseorang lain kemudian bertanya: 'Apa ini?' Maka jawab si orang tadi: 'Qurbanku'.\rDari keterangan-keterangan tersebut, maka dapat dijelaskan di sini, bahwa pertanyaan Anda yang pertama mengenai pendapat Pak Kyai tetangga saudara itu bisa dianggap benar. Karena jawaban saudara ada kata 'menjadikan', yang mempunyai makna sama dengan nadzar. Kata menjadikan yang berkonotasi mewajibkan hewan tersebut untuk qurban (Bajuri 2:310). Akan tetapi bisa juga jawaban Anda itu tidak mengubah qurban Anda menjadi nadzar karena ketidaktahuan Anda. Hal tersebut berpegang pada pendapat Imam Syibromalisi dan pendapat Sayid Umar al-Bashriy: bahwa jawaban saudara tersebut hanya bermaksud memberi kabar.\rUntuk pertanyaan Anda yang kedua, bisa membaca lagi keterangan masalah nadzar tadi.\rUntuk pertanyaan ketiga, Anda bisa berpegang pada keterangan Sayid Umar al-Bashriy.\rYang perlu diingat, beribadah itu tidak sulit dan tak perlu dipersulit. Niatlah yang ikhlas semata karena patuh kepada Allah.\rShalat Jama'ah Dirumah dan Shalat Sunnah Ketika Khutbah","part":1,"page":101},{"id":102,"text":"Rumah saya berdekatan dengan masjid, namun saya sering salat berjamaah di rumah bersama istri dan anak-anak. Kemudian ada orang mengatakan, bila rumah seseorang dekat dengan masjid jarak 40 rumah ke arah timur, barat, utara dan selatan, maka salat jamaah di rumah tetap mendapat dosa, sekalipun salatnya sah. Karena di masa nabi, beliau tidak pernah salat berjamaah kecuali di masjid. Yang ingin saya tanyakan adalah:\rApakah salat saya bersama keluarga di rumah bisa diterima, dengan alasan membimbing isteri dan anak?\rBenarkah perkataan orang itu? jika benar apa alasannya?\rSaya pergi ke masjid pada hari Jumat, pada waktu itu khatib sudah di atas mimbar dan membaca khutbah. Yang saya tanyakan:\rApakah kita masuk langsung duduk atau melakukan salat?\rKalau salat, salat apa yang harus dikerjakan?\rJawaban\rUntuk menjawab pertanyaan saudara yang pertama, perlu kiranya kami ketengahkan hadist-hadist Nabi saw, antara lain:\rHadist riwayat Abu Dawud dari Ibn Ummi Maktum sebagaimana tersebut dalam kitab Irsyadul Ibad halaman 23, yang artinya kurang lebih:","part":1,"page":102},{"id":103,"text":"Sesungguhnya Ibn Ummi Maktum telah datang kepada Nabi saw, kemudian berkata: 'Wahai Rasulullah sesungguhnya di kota Madinah ini, banyak binatang melata dan binatang buas. Sedangkan saya adalah orang yang buta lagi jauh rumahnya, dan saya mempunyai teman yang selalu menuntun saya! maka adakah keringanan bagiku untuk salat di rumahku?'. Nabi bersabda:'Apakah engkau mendengar adzan?' Dia menjawab:' Ya!' Nabi bersabda: 'Engkau wajib datang ke masjid. Sesungguhnya aku tidak mendapatkan keringanan bagimu!'\rDalam kitab Majmu' karangan Imam Ahmad Ibn Zaini Dahlan salah seorang mufti madzhab Syafi'i di Makkah, halaman 22, beliau mengemukakan sebuah hadist Nabi saw, sebagai berikut:\rلاَصَلاَةَ بِجَارِ المَسْجِدِ إلاَّ فِى المَسْجِدِ\r'Tidak ada salat bagi tetangga masjid, kecuali di masjid'.\rArti dari 'tidak ada salat' dalam hadist di atas, menurut madzhab Syafi'i adalah \"Tidak ada salat itu diberi pahala\". Sedangkan menurut madzhab lainnya ada yang mengatakan 'tidak ada salat itu sah'\rJadi meskipun salat saudara beserta anak dan isteri di rumah itu sah, namun tidak ada pahalanya. Sedang pengertian 40 rumah adalah diambil dari pengertian tetangga (kitab Taisirul Kholaq halaman 8).\rDalam kitab Kifayatul Akhyar juz 1 halaman 133 disebutkan:\rالجَمَاعَةُ تَحْصُلُ بِصَلاَةِ الرَجُلِ فِى بَيْتِهِ مَعَ زَوْجَتِهِ وَغَيْرِهَا وَلَكِنَّهَا فِى المَسْجِدِ أفْضَلُ.\rBerjamaah itu dapat berhasil dengan salat seseorang di rumahnya bersama isterinya dan lainnya. Akan tetapi berjamaaah di masjid itu lebih utama.","part":1,"page":103},{"id":104,"text":"Dari dalil-dalil yang telah kami kemukakan di atas, kiranya pertanyaan saudara nomer 1.a. dan 1.b. sudah terjawab.\rUntuk menjawab pertanyaan nomer 2, baiklah kami tuliskan hadist Nabi saw sebagimana diriwayatkan oleh Jabir RA:\rقَالَ: إذَا جَاءَ(أَنَّ رَسُولَ اللهِ أحَدُكُمْ وَالإِمَامُ يَخْطُبُ فَاليُصَلَّ رَكْعَتَيْنِ.\rSesungguhnya Rasulullah saw bersabda: 'Jika salah seorang dari kalian datang di masjid pada hari Jum'at, sedangkan imam berkhutbah, maka hendaklah dia salat dua rokaat'.\rMenurut pengarang kitab al Muhadzdzab, niat dari salat tersebut adalah salat tahiyatul masjid. Salat tersebut dilakukan jika imam tidak di akhir khutbah.\rHari Besar Islam\rBapak pengasuh Bahtsul Masail yang terhormat, bahwa dalam pertemuan BKP, 29 Mei 93 di desa kami, kami dihadapkan pada permasalahan yang belum menemukan jawabannya sesuai dengan hukum yang berlaku. Karena itu, kami ingin mendapatkan jawabannya melalui pertanyaan yang kami ajukan kepada bapak. Langsung saja kami tanyakan hal-hal sebagai berikut:\rApa saja yang menjadi hari besar umat Islam?\rHari kenaikan dan wafat Isa Al Masih itu milik agama apa?\rSebagai muslim, bolehkah kita memperingati lahir dan wafat Nabi selain Nabi Muhammad?\rBolehkah kita memperingati hari besar agama selain agama Islam?\rJawaban","part":1,"page":104},{"id":105,"text":"Hari besar umat Islam pada masa Nabi saw dan masa sahabat hanyalah: Idul Fitri dan Idul Adha. Kemudian pada zaman sesudahnya yaitu mulai abad 4-5 Hijriyah, maka hari besar umat Islam itu adalah hari-hari yang dirayakan dengan tujuan untuk mengagungkan syiar agama Islam, seperti: maulid Nabi, Isra' Mi'raj, 1 Muharram (tahun baru Hijriyah). Peringatan tersebut berdasarkan firman Allah dalam Al Quran surat al Hajj ayat 32:\rوَمَنْ يُعَظِّمْ سَعَائِرَاللهِ فَإنَّها مِنْ تَقْوَى القُلُوبِ.\rBarangsiapa yang mengagungkan syair-syair Allah, maka sesungguhnya niat pengagungan tersebut adalah keluar dari hati-hati yang taqwa.\rHari kenaikan dan wafat Isa al Masih itu adalah milik agama Nasrani. Karena hanya merekalah yang mempunyai keyakinan bahwa Nabi Isa disalib di bukit Golgota. Sedang menurut keyakinan umat Islam, yang disalib itu adalah salah seorang pengikutnya yang berkhianat, yaitu Yudas Eskariot.\rDalam al Quran surat an Nisa' 156 dinyatakan:\rوَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوه وَلَكِنْ سُبِّهَ لَهُمْ...الاية\rMereka tidak membunuh Isa dan tidak pula mereka menyalibnya, akan tetapi orang yang diserupakan bagi mereka.","part":1,"page":105},{"id":106,"text":"Untuk memperingati hari lahir dan wafat Nabi Muhammad saja, kita tidak menjumpai dalil al Quran atau hadist yang memerintahkan (hadist-hadist yang ada dalam hal ini adalah hadist-hadist yang tidak mempunyai dasar) dan kalau para ulama memperbolehkan memperingati maulid Nabi ialah karena ada faedah yang besar bagi syiar agama Islam. Apakah faedah tersebut dapat kita peroleh dengan memperingati lahir dan wafat Nabi-Nabi yang lain?\rMemperingati selain hari besar Islam dapat menyebabkan menjadi murtad (keluar dari agama Islam) silahkan baca: fasal tentang murtad dari kitab Irsyadul Ibad atau kitab Sulam Taufiq.\rThawaf Memakai Lift\rSeiring dengan semakin canggihnya teknologi, sesuatu yang dulunya sulit menjadi mudah. Bahkan majunya teknologi mempu menghipnotis manusia yang awam. Kemudahan-kemudahan hidup bahkan dalam ibadah pun mungkin bisa dicari kemudahannya.\rTentang pelaksanaan tawaf misalnya, saya ingin tanyakan kepada bapak pengasuh. Sahkah hukum orang yang tawaf dengan memakai lift dengan cara memijat tombol sampai tujuh putaran? Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi desak-desakan yang mungkin membawa bahaya.\rJawaban\rAgama Islam yang kita peluk ini memiliki tiga macam ajaran, yaitu:\rAjaran tentang iman yang harus diamalkan oleh hati dan keyakinan kita. Disini akal pikiran kita boleh ikut campur. Inipun hanya dalam tiga bidang saja, yaitu mengenai, keesaan Allah, kerasulan Nabi Muhammad dan konsep kehidupan sesudah mati.","part":1,"page":106},{"id":107,"text":"Ajaran tentang Islam yang berupa peribadatan yang diamalkan oleh anggota badan lahir. Ibadah ini terbagi dua:\rIbadah Mahdlah, yaitu yang bertalian dengan hak Allah SWT semata-mata. Seperti salat, puasa, haji dsb. Pelaksanaan ibadah mahdlah ini sepenuhnya bersifat tauqifiy, artinya sepenuhnya harus mengikuti petunjuk Rasul. Misalnya puasa, maka tidak boleh kita lakukan di malam hari agar pekerjaan kita di siang hari tidak terganggu. Demikian pula halnya dengan pelaksanaan tawaf.\rIbadah Ghairu Mahdlah, yaitu ibadah yang ada hubungannya dengan kepentingan masyarakat, seperti shodaqoh. Di sini kita boleh memikirkan bagaimana pelaksanaannya sebaik-baiknya.\rAjaran tentang Ihsan yang harus diamalkan oleh hati nurani kita, yaitu akhlak-akhlak yang terpuji.\rBertetangga Kristen dan Salaman Dengan Luar Mahram\rMelalui surat ini saya mengajukan masalah dan mengharap penjelasan dari Bapak Kyai. Permasalahan saya adalah sebagai berikut:\rPada tahun baru 1993, saya setelah lulus SMA pesantren, oleh Bapak Kyai saya ditugaskan keluar kabupaten untuk berdakwah. Disamping itu saya mengajar dimadrasah dan di Taman Pendidikan Al Quran. Di tempat itu, saya ditunjuk sebagai imam masjid. Kebetulan masjid tersebut berhadapan dengan gereja dan didampingi dua gereja Pantekosta. Namun yang berhadapan dengan masjid adalah gereja Jawi Wetan yang jaraknya kurang lebih 20 meter (Timur jalan dan Barat jalan).","part":1,"page":107},{"id":108,"text":"Di masjid itu sering diadakan diskusi atau membahas masalah-masalah yang diikuti oleh para mahasiswa putra-putri. Masih banyak lagi permasalahan yang diajukan masyarakat kepada kami.\rTetangga kami adalah orang Nasrani semua. Hanya saya yang beragama Islam (dalam satu lingkungan). Termasuk teman akrab saya juga Kristen. Pada hari Natal saya diundang ke rumahnya. Yang saya tanyakan, bagaimana sikap saya. Apakah saya harus menghormati atau bagaimana? Andaikata saya tidak hadir akan menimbulkan dampak negatif (hubungan saya menjadi renggang). Bagaimana menurut pandangan Islam yang hakiki (benar).\rBahwa berjabat tangan diluar mahram dilarang agama (haram). Bagaimana sebaiknya pada waktu resepsi pernikahan, berjabat tangan antara laki-laki dan perempuan dengan mempelai berdua? mengingat hal ini sudah menjadi adat.\rApakah perbedaan jilbab, kerudung dan busana muslim. Apakah wajib bagi kaum wanita memakainya?\rJawaban:\rUntuk menjawab pertanyaan Anda yang pertama, terlebih dahulu akan kami ketengahkan tiga ayat al Quran ;\rSurat al Mumtahinah ayat 8\rلاَيَنْهَاكُمْ اللهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِى الدِّيْنِ وَلَمْ يَخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إلَيْهِمء إنَّ اللهَ يُحِبُّ المُقْسِطِيْنَ\r\"Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak pula mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil\".\rSurat al Maidah ayat 5","part":1,"page":108},{"id":109,"text":"اليَوْمَ أُحِلَّ لَكُمْ الطَّيِّبَاتُ، وَطَعَامُ الَّذِيْنَ أُتُوا الكِتَابَ حِلَّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلُّ لَهُمْ\r\"Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik, makanan orang-orang yang diberi al Kitab itu halal dan makanan kamu halal pula bagi mereka \"\"\rSurat al Baqarah ayat 120\rوَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ اليَهُودُ وَلاَ النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ... الايَة\r\"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka \"\"\rDari ketiga ayat diatas, maka Dr. Ahmad As Syarbasyi dalam kitabnya \"Yas'alunaka fid dini wal hayah\" Juz 1 halaman 430-431 menjelaskan sebagai berikut:\rAgama Islam tidak melarang orang muslim bertukar tempat tinggal dengan orang yang bukan muslim, melakukan hubungan kerja atau bergaul seperti: mengunjungi, memberi salam atau mengundang makan dan lain sebagainya. Hal tersebut diperbolehkan dengan syarat tidak sampai menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal. Jadi hubungan yang diperbolehkan itu sebatas hubungan bertetangga saja.\rAgama Islam melarang hubungan/pergaulan yang berbau agama, seperti: membawakan salib, menghadiri undangan natal dan lain sebagainya. Di sini berlaku ayat:\rلَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ\rBagimu agamamu dan bagiku agamaku.","part":1,"page":109},{"id":110,"text":"Untuk menjawab pertanyaan kedua, maka sebaiknya bagi orang laki-laki pada waktu di hadapan pengantin putri, kedua telapak tangannya ditempelkan rapat satu sama lain dan diletakkan di muka dada sebagai tanda penghormatan dan tanpa berjabat tangan. Demikian pula sebaliknya bagi wanita di hadapan pengantin pria. Dengan demikian kita selamat dari dosa.\rUntuk pertanyaan ketiga, silahkan memperhatikan firman Allah dalam surat al Ahzab ayat 59:\rيَآأيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ المُؤْمِنِيْنَ يُدْنِيْنَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلاَبِيْبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْيُعْرَفْنَ فَلاَيُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللهُ غَفُورَ الرَّحِيْمَا\r\"Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak permpuanmu dan isteri-isteri orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbab mereka keseluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.\rDalam tafsir al Ahkam karangan Muhammad Ali As Shabuni jilid II halaman 374, diterangkan sebagai berikut:\rJilbab menurut orang Arab lebih longgar/lebih lebar daripada kerudung, akan tetapi lebih sempit dari pada selendang. Jilbab ini dipergunakan orang Arab untuk menutup kepala dan dada.\rBusana muslim adalah pakaian yang menurut kitab-kitab fiqh wajib dipakai oleh setiap muslim baik laki-laki maupun wanita guna menutup aurat agar tidak merangsang orang yang memandangnya.","part":1,"page":110},{"id":111,"text":"Hukum menutup aurat ini adalah wajib. Adapun modelnya dapat disesuaikan dengan situasi, kondisi dan tempat.\rMakan dan Salam Kristen\rPada Aula edisi Agustus 1993 halaman 38 kyai memberikan jawaban untuk seorang penanya bahwa makanan yang diberi orang Kristen halal bagi orang muslim. Begitu juga orang muslim tidak dilarang memberi salam kepada orang bukan Islam.\rSesuai dengan permohonan saudara penanya di akhir suratnya, maka menurut saya jawaban tersebut masih perlu dijelaskan.\rMakanan mereka (orang kristen) yang bagaimana yang dihalalkan? Sebab ada makanan dari sembelihannya dan ada yang tidak, seperti kue dan sebagainya.\rUcapan salam yang mana? Assalamu'alaikum atau yang lainnya?\rJawaban:\rYang kami maksudkan dengan makanan pemberian orang nasrani yang halal kita makan, ialah makanan yang jelas kesuciannya, seperti tempat memasak makanan tersebut tidak pernah kena najis dari babi atau lainnya. Bukan pula makanan dari sembelihannya. Sebab sembelihan ahli kitab yang halal kita makan adalah ahli kitab yang tidak musyrik sedang ahli kitab yang telah musyrik maka telah menjadi kafir, sebagaimana firman Allah dalam Al Quran surat Al Maidah 73 yang antara lain berbunyi:\rلَقَدْ كَفَرَ الَّذِيْنَ قَالُوا إنَّ اللهَ ثَالِثُ ثَلاَثَةٍ\rSesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan, bahwa Allah adalah salah satu dari Tuhan yang tiga.","part":1,"page":111},{"id":112,"text":"Ucapan salam yang boleh kita berikan kepada orang non muslim yang jelas bukanlah Assalamualaikum karena mengucapkan salam kepada mereka itu, dengan salam seperti salam tersebut hukumnya haram. Jadi yang boleh adalah ucapan salam dengan bentuk lain.\rZakat Latihan dan Qurban Urunan\rBersama ini, kami mengajukan beberapa pertanyaan kepada bapak pengasuh bahtsul masail. Adapun pertanyaannya adalah sebagai berikut:\rBagaimana yang sebaiknya harus kami ucapkan sebagai seorang muslim dari kalimat-kalimat ini. Contoh, kenikmatan dan rizki ini dari Tuhan Yang Maha Esa, atau dari Nya, dari Tuhan Allah swt, dari Tuhan Allah.\rAda berapa macam zakat itu? bagaimana realisasinya? apa hubungannnya antara zakat fitrah dan zakat maal? Sahkah istilah latihan zakat? Bagaimana hukumnya zakat dari potong gaji?\rApa bedanya qurban Idul Adha, qurban aqiqah dan qurban nadzar?\rBolehkah yang berkorban ikut makan. Bolehkah qurban urunan dan arisan dan latihan qurban?\rJawaban\rUntuk menjawab pertanyaan saudara yang pertama, kami tuliskan ibarat dari kitab Kasyifatus Saja, syarah dari kitab Safinatun Naja halaman 3 sebagai berikut:\rوَأحْسَنُ العِبَارَاتِ فِى ذَلِكَ الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِينَ\r'dan sebaik-baik ungkapan dalam menyatakan syukur atas kenikmatan adalah 'segala puji bagi Allah, Tuhan Sekalian Alam'.\rUntuk pertanyaan kedua, kalau kami jawab secara terperinci, maka akan merupakan sebuah kitab yang lumayan tebalnya. Oleh karena itu akan kami ringkas sebagai berikut:","part":1,"page":112},{"id":113,"text":"Zakat itu ada dua macam: 1. Zakat Fitrah, 2 Zakat Maal (Harta) yang terdiri dari 6 macam, yaitu a. zakat emas dan perak termasuk didalamnya zakat uang, b. zakat binatang ternak, c. zakat rikaz, d. zakat harta dagangan e. zakat tanaman dan tumbuhan dan f. zakat piutang.\rRealisasi dari zakat-zakat tersebut sudah diatur dan diuraikan dalam kitab fiqh (silahkan mempelajarinya). Istilah 'latihan zakat'tidak dikenal dalam agama Islam. Tetapi yang Anda maksud mungkin adanya penyaluran zakat fitrah yang dikelola sekolah bagi muridnya. Oleh para guru dimaksudkan sebagai latihan zakat, tetapi hakekatnya zakat fitrah yang sebenarnya juga.\rMengenai zakat dari potong gaji, maka kami perlu kami informasikan bahwa selama kami menjadi pengawai negeri dan gaji kami dipotong untuk zakat fitrah, maka potongan tersebut selalu kami anggap sedekah saja. Sebab untuk menamakannya sebagai zakat, kami menemui dua kesulitan pokok: a. kesulitan untuk berniat, sebab sudah dipotong lebih dahulu. Jadi kami tidak merasa menyerahkan. b. potongan tersebut biasanya selalu memakai standar harga beras jatah. Padahal beras yang kami makan sehari-hari mutunya jauh lebih tinggi dari beras jatah, sehingga karenanya zakat kami tersebut menjadi tidak sah. Sebab zakat fitrah itu mutunya paling tidak harus sama dengan yang dimakan sehari-hari. Belum lagi ditambah dengan pendapat madzhab Syafii yang menyatakan fitrah itu harus berupa barang makanan sehari-hari dan tidak boleh diganti dengan harganya.","part":1,"page":113},{"id":114,"text":"Apalagi kami juga tidak tahu apakah orang yang menerima zakat kami tersebut berhak menerima atau tidak menurut syariat Islam. Hal ini mengingat setahu kami yang mengurus juga orang-orang yang tidak pandai mengenai hukum zakat. Jadi kami selalu zakat lagi sesuai dengan keyakinan dan kemantapan hati kami.\rUntuk pertanyaan ketiga, jawabannya sebagai berikut:\rqurban ialah binatang (kambing, sapi, unta, kerbau) yang disembelih pada hari raya idul adha atau pada hari tasyrik\rqurban ini asal hukumnya menurut madzhab Syafii adalah sunah, kecuali jika qurban itu dinadzarkan, maka hukumnya menjadi wajib.\runtuk qurban sunah, orang yang berqurban boleh ikut makan dagingnya sampai 1/3. Yang 1/3 boleh dihadiahkan kepada orang-orang yang mampu, sedang yang 1/3 dibagikan kepada fakir miskin.\rJika qurban itu wajib, maka semua daging sampai dengan kulit dan tanduknya harus disedekahkan.\rTa'liq dan Ruju'\rMelalui rubrik ini saya ingin mengajukan permasalahan sebagai berikut.\rAda sepasang suami isteri A dan B. pada awalnya pasangan ini termasuk keluarga yang sakinah. Namun setelah dikaruniai dua orang anak timbul titik-titik perpecahan yang mengarah kepada perceraian. Pasalnya tanpa sepengetahuan B ternyata A kawin lagi dengan C. Setelah B dapat memastikan bahwa A memang benar kawin lagi dengan c, akhirnya B minta cerai. Permintaan ini dikabulkan oleh A. A mentalak b dengan talak satu.","part":1,"page":114},{"id":115,"text":"Sebulan kemudian setelah A mentalak B, anak-anak dari A dan B membujuk kedua orang tuanya agar ruju'. Namun sebelum ruju' dilaksanakan, B mengajukan sebuah syarat. B mau rujuk asalkan A menceraikan C.\rDihadapan B, A menyetujui syarat yang diajukan B. namun ternyata A ingkar janji. A tidak menceraikan C.\rPertanyaan saya adalah\rApakah yang dimaksud ta'liq?\rApakah syarat yang diajukan b ketika ruju' dengan a termasuk ta'liq?\rJika ternyata A betul-betul tidak menceraikan C, sahkah ruju' A dan B?\rJawaban:\rYang dimaksud dengan ta'liq (bukan takliq), ialah menggantungkan sesuatu pekerjaan dengan sesuatu kejadian yang lain. Misalnya ada seorang suami mengatakan kepada isterinya: ' Engkau saya talak atau saya cerai jika engkau masuk ke kamar saya!' dalam hal ini jika ternyata sang isteri masuk kamar sang suami, maka jatuhlah talak dari sang suami kepada sang isteri tersebut.\rSyarat yang diajukan di luar ijab dan qobul atau di luar aqad, baik aqad nikah atau aqad lainnya, maka hukumnya tidak mempengaruhi keabsahan dari akad itu sendiri. Adapun syarat yang diajukan oleh B ketika ruju' dengan A tidak termasuk ta'liq, sebab yang melakukan sighat ruju' adalah sang suami.\rJika ternyata A betul betul tidak menceraikan C, maka ruju' si A kepada si B tetap sah. Untuk lebih mantabnya saudara kami persilahkan menelaah ibarat yang tersebut dalam kitab I'anatut Thalibin juz 4 halaman 30.","part":1,"page":115},{"id":116,"text":"وَلاَيَصِحُّ تَعْلِقُهَا اى صِيغَةُ الرَجْعَةِ وَمِثْلُ التَعْلِيقِ التَّأقِيْتُ فَهُوَ لاَيَصِحُّ اَيْضًا كَرَاجَعْتُكِ شَهْرًا. وَقَوْلُهُ كَرَاجَعْتُكِ الخ تَمْثِيْلٌ لِتَّعْلِيْقِ\rdan tidak sah ta'liq dari sighat ruju'. Dan seperti ta'liq adalah menentukan waktu,maka hukumnya juga tidak sah, misalnya seorang suami mengatakan kepada isterinya:'saya merujuk engkau dalam waktu satu bulan !'. ucapan pengarang 'aku merujuk engkau'dst' adalah perumpamaan dari ta'liq.\rBerobat Ke Dukun\rDengan ini kami ingin mengajukan pertanyaan kepada bapak pengasuh rubrik bahtsul masail. Adapun persoalan kami sebagai berikut.\rPernah pak guru menerangkan kepada kami bahwa, bagi seorang yang berobat kerumah dukun guna mengobatkan sakitnya sedang dukun tersebut memakai bantuan syaitan yang orang-orang menyebutnya dengan istilah dukun bancik dan secara kebetulan sakit yang diobatkan sembuh.\rMaka menurut dawuh pak guru kepada kami, bahwa kelak orang tersebut kalau meninggal akan dikumpulkan bersama sama dengan syaitan dan dijadikan pelayan oleh syaitan, karena dukun tersebut dibantu oleh syaitan.\rPertanyaan saya adalah, benarkah penuturan pak guru tersebut? jikalau memang benar mohon diterangkan dalil-dalil yang menunjukkan atau yang membenarkan, dan terdapat di kitab apa?\rSekian pertanyaan dan permohonan kami. Atas jawabannya kami ucapkan banyak terima kasih. Dan bila ada kata-kata kami yang salah, atau tidak berkenan dihati bapak, maka kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.\rJawaban:","part":1,"page":116},{"id":117,"text":"Dalam kitab Irsyadul Ibad ada hadist Nabi saw, yang menerangkan bahwa seseorang yang datang ke dukun, maka salatnya 40 hari 49 malam tidak diterima oleh Allah, dan apabila petunjuk-petunjuk atau nasihat atau syarat-syarat yang telah ditentukan oleh sang dukun tersebut diikuti atau ditaati, maka orang yang mengikuti atau mentaati tersebut dianggap kufur.\rMasalah orang yang diobatkan kepada dukun kebetulan sembuh, maka kesembuhan tersebut memang sudah waktunya diberikan oleh Allah, sehingga apabila dia berobat kelain dukun tersebutpun akan sembuh juga, karena kesembuhan itu pada hakekatnya hanya dari Allah, sebagaimana tersebut dalam hadist-hadist Nabi saw yang dapat kita baca dalam kitab Riyadus Shalihin. Catatan: dukun dalam pengertian jawaban ini adalah orang yang biasa memberi pengobatan dengan menggunakan suwuk yang meminta jasa syaitan.\rPembagian Waris Pegawai Negeri\rKami sebagai pemuda Islam ingin mendapat penjelasan yang lengkap beserta dalil-dalilnya kepada hadratusy syeikh dalam masalah di bawah ini:\rApabila pegawai negeri meninggal dunia, isterinya mendapat: a) uang pensiun; b) uang asuransi; c) uang tabungan asuransi pensiun; d) sumbangan dari masyarakat. Yang ingin kami tanyakan uang manakah yang termasuk tirkah yang harus dibagi secara Islam (faraid).","part":1,"page":117},{"id":118,"text":"Sementara itu, dalam peraturan Taspen ada kalimat: 'Apabila pegawai negeri sipil/pejabat negara meninggal dunia sebelum pensiun, maka PT. Taspen (perseroan) akan membayar tunjangan hari tua, asuransi, kematian dan pensiun; janda/duda/yatim piatu pertama (apabila THT dan Askam belum dibayarkan).\rUntuk itu tolong pak Kyai,masalah ini saya tanyakan supaya kami dapat mengerti benar. Ini sering terjadi, tetapi orang-orang masih belum tahu persis hukumnya. Sekian pertanyaan kami, atas perkenan Kyai kami haturkan banyak terima kasih.\rJawaban:\rSebelum kami menjawab pertanyaan saudara, maka terlebih dahulu kami ketengahkan dalil-dalil nas kitab-kitab, sebagai berikut:\rKitab Ianatut Thalibin juz III halaman 233:\rوَ التِّرْكَةُ مَا خَلَفَهُ المَيِّتُ مِنْ مَالٍ اَوْ حَقٍّ\rTirkah (harta peninggalan) itu ialah apa yang ditinggalkan oleh mayit, berupa harta atau hak.\rKitab At Ta'rifat halaman 49\rالتِّرْكَةُ هُوَ المَالُ الصَّافِى أَنْ يَتَعَلَّقَ حَقَّ الغَيْرِ بِعَيْنِهِ\rTirkah adalah harta yang bersih dari keterkaitan hak orang lain.\rKitab Nihayatul Muhtaj juz VI halaman 3:\r(مِنْ تِرْكَةِ المَيِّتِ) وَهِيَ مَا يَخْلُفُهُ مِنْ حَقٍّ كَجِنَايَةٍ وَحَدِّ قَذَفٍ أوْ إِخْتِصَاصٍ أو مَالٍ كَخَمْرٍ تَخَلَّلَتْ بَعْدَ مَوْتِهِ وَدِيَةٍ أُخِذَتْ مِنْ قَاتِلِهِ لِدُخُولِهَا فِى مِلْكِهِ وَكَذَا مَا وَقَعَ بِشَبَكَةٍ نَصَبَهَا فِى حَيَاتِهِ عَلَى مَا قَالَهُ الزَّرْكَشِى.","part":1,"page":118},{"id":119,"text":"Diantara tirkah mayit ialah apa yang ditinggalkan oleh mayit mengenai hak, seperti: jinayah, hukuman tuduhan zina, atau wewenang atau harta seperti arak yang telah berubah menjadi cuka setelah kematian dan harta tebusan yang diambil dari orang yang membunuhnya, karena harta tersebut masuk dalam miliknya. Demikian pula ikan yang masuk ke dalam jaring yang dipasang pada waktu hidupnya, menurut pendapat Az Zarkasyi.\rDari keterangan kitab-kitab tersebut di atas, maka: 1) >Uang pensiun janda, 2) Uang asuransi, 3) Taspen (Tabungan asuransi Pensiun), sekilas adalah merupakan harta warisan (tirkah) dari sang suami yang meninggal dunia. Akan tetapi jika kita teliti peraturan Pemerintah mengenai ketiga hal tersebut di atas bukan merupakan harta tirkah, karena ada keterkaitannya dengan hak orang lain. Seperti isteri dan anak-anak.\rMengenai uang sumbangan dari masyarakat, maka yang jelas sumbangan tersebut menjadi hak milik keluarga yang ditinggalkan, karena niat masyarakat menyumbang tersebut adalah kepada para ahli waris yang ditinggal mati dan bukan kepada si mayit.\rTaspen dan Nikah Puso\rDalam majalah AULA no 8 Tahun VII Sepetember 1990 dengan judul Uang pensiun tidak dibagi sebagai harta waris. Yang ingin saya tanyakan:\rTaspen (Tabungan Asuransi Pensiunan), apakah termasuk tirkah yakni yang harus dibagi? ataukah sebagai uang pensiun? Mohon penjelasan dengan dalil-dalilnya. Sebab, dalam majalah Aula tersebut, belum ada jawaban tentang taspen. Untuk itu mohon penjelasan.","part":1,"page":119},{"id":120,"text":"Bagaimana tentang Tajdidun Nikah apakah pelaksanaannya sama dengan nikah?\rJawaban:\rPertanyaan saudara mengenai Taspen memang tidak saya berikan jawaban secara khusus, sebab sudah termasuk dalam jawaban sebelumnya. Karena sebagaimana kita maklumi bahwa kepanjangan dari Taspen itu adalah Tabungan Asuransi Pensiun; sedangkan pensiun tersebut bukan harta peninggalan murni dari pegawai negeri yang meninggal dunia, karena ada kaitannya dengan hak isteri dan anak-anaknya, sebagaimana telah diatur pemerintah. Maka demikian pula halnya dengan Taspen.\rUntuk lebih jelasnya silahkan Anda bertanya kepada Perum Taspen yang ada di kota Anda. Kemudian dari jawaban Perum Taspen tersebut Anda dapat mencocokkannya dengan dalil yang telah saya kemukakan pada majalah AULA No. 8 Tahun XII September 1993.\rMasalah tajdidun nikah tidak ada kitab-kitab fiqh dari empat madzhab yang menyinggungnya; karena masalah NTR (nikah, talak dan ruju')sudah diatur dengan jelas dalam syariat agama Islam.","part":1,"page":120},{"id":121,"text":"Sebagaimana kita maklumi bersama bahwa nikah itu dapat menjadi sah jikan dilakukan terhadap wanita ajnabiyah yang belum menjadi isterinya; dan tidak sah jika dilakukan terhadap wanita yan masih berstatus sebagai isterinya. Sedangkan terhadap isteri yang sudah ditalak dengan talak raj'i saja, jika isteri tersebut masih dalam masa iddah, tidak perlu dilakukan nikah pembaharuan/tajdidun nikah atau nikah ulang, tetapi cukup hanya dengan diruju' kembali dengan mengucapkan: \"Kamu saya ruju'!\". Jika isterinya tidak menolak, maka hukumnya sudah sah menjadi suami isteri kembali, tanpa harus ada wali dan saksi.\rAdapun tajdidun nikah bagi pasangan suami isteri yang kawin menurut syariat agama Islam. kalau kita teliti adalah bersumber dari golongan orang-orang yang berpendapat bahwa disamping Allah swt masih ada yang menentukan kebahagiaan dan kesengsaraan hidup seseorang yang berumah tangga, yaitu hari pasaran: dan orang-orang ini pada hakikatnya adalah orang-orang musyrik, karena kalau ada pasangan suami isteri yang hidupnya masih belum tenang dan tenteram, maka yang disalahkan adalah hitungan hari pasaran pada waktu melangsungkan akad nikah, sehingga disuruh melakukan Tajdidun Nikah pada hari dan pasaran yang sesuai menurut hitungan mereka.","part":1,"page":121},{"id":122,"text":"Dalam salah satu pembahasan ilmiah yang pernah saya ikuti, ada salah seorang kiai yang mengemukakan bahwa tajdidun nikah itu disunahkan bagi pasangan suami isteri yang kawin menurut aturan selain agama Islam, kemudian pasangan suami isteri tersebut masuk Islam. Bapak kyai tersebut mengatakan bahwa hal tersebut terdapat dalam kitab Misykatul Anwar. Namun setelah saya cari ternyata ibarat yang menyatakan kesunahan dari tajdidun nikah tersebut belum/tidak saya ketemukan.\rPembagian Waris Aisyah dan Nabi Hidlir\rDengan singkat, bersama ini kami sampaikan dua pertanyaan yang isykal dengan harapan mohon jawaban.\rAda empat perempuan bersaudara seayah dan seibu. Pertama, bernama Aisyah, telah meninggal dunia. Dia tidak punya anak. Kedua, bernama Khadijah, telah meninggal dunia. Dia punya anak laki-laki satu bernama Hamid. Ketiga, bernama Anisah, telah meninggal dunia. Dia punya anak perempuan satu bernama Zainab. Keempat, bernama Jamilah, masih hidup. Dia tidak punya anak.\rDisamping punya saudara perempuan, Aisyah mempunyai saudara sepupu bernama Ahmad telah meninggal dunia. Dia punya anak laki-laki bernama Shaleh. Pertanyaannya:\rBetulkah harta peninggalan Aisyah itu hanya dibagi dua antara Jamilah dan Shaleh, sedangkan Hamid dan Zainab tidak dapat bagian?","part":1,"page":122},{"id":123,"text":"Di kalangan kita masih lengket adanya keyakinan bahwa Nabi Hidlir as. sampai sekarang masih hidup. Karena hal ini menyangkut satu keyakinan yang ada hubungannya dengan Nabiyullah. Maka harus ada keterangan dari Allah atau Rasul Nya. Bagaimana keterangan dari firman Allah atau Hadist yang sahih?\rJawaban:\rUntuk menjawab pertanyaan saudara mengenai harta peninggalan atau harta warisan, saya persilahkan saudara membaca tentang orang-orang yang berhak menerima warisan dan orang-orang yang tidak berhak menerima warisan yang antara lain tersebut dalam kitab Fat-hul qarib atau kitab taqrib yang terjemahannya kurang lebih sebagai berikut. kitabul Fara'idl wak washaya. Orang orang yang dapat mewarisi (menerima warisan) dari golongan laki-laki ada sepuluh orang:\ranak laki-laki;\ranak laki-laki dari anak laki-laki (cucu laki-laki dari anak laki-laki) dan seterusnya ke bawah;\rayah;\rkakek laki-laki dan seterusnya ke atas;\rsaudara laki-laki;\ranak laki-laki dari saudara laki-laki meskipun jauh (seperti cucu laki-laki dari anak lelaki saudara laki-laki);\rsaudara laki-laki dari ayah;\ranak laki-laki dari saudara lelaki ayah meskipun jauh;\rsuami;\rmajikan laki-laki yang memerdekakan.\rOrang-orang yang dapat mewarisi dari golongan perempuan ada tujuh:\ranak. perempuan;\ranak perempuan dari anak laki-laki;\ribu;\rnenek perempuan;\rsaudara perempuan;\risteri;\rmajikan perempuan yang memerdekakan.\rOrang-orang yang sama sekali tidak bisa memperoleh warisan ada tujuh:\rbudak;","part":1,"page":123},{"id":124,"text":"budak belian yang dijanjikan kemerdekaanya pada saat kematian majikanya;\rbudak perempuan yang di-jima' oleh majikanya kemudian melahirkan anak dari majikan tersebut;\rbudak mukatab;\rpembunuh (ahli waris yang melakukan pembunuhan terhadap orang yang meningalkan warisan);\rahli waris yang murtad (berpindah dari agama Islam ke agama lain);\rahliwaris yang berbeda agama dengan orang yang meninggalkan warisan.\rAdapun orang-orang yang dapat mewarisi kelebihan dari harta warisan setelah dibagi, maka yang paling dekat adalah: anak laki-laki tidak ada, maka cucu laki-laki darianak laki-laki tidak ada. Kemudian ayah dari ayah, jika ayah tidak ada, kemudian saudara laki-laki seayah seibu, jika ayah dari ayah tidak ada. Kemudian saudara laki-laki seayah, jika saudara laki-laki seayah dan seibu tidak ada. Kemudian anak laki-laki dari saudara laki-laki seayah dan seibu, jika saudara laki-laki seayah dan seibu tidak ada. Kemudian anak laki-laki dari saudara laki-laki seayah, jika anak laki-laki dari saudara laki-laki yang seayah dan seibu tidak ada. Kemudian saudara laki-laki dari ayah. Dan ini harus dilaksanakan secara urut, kemudian anak laki-laki dari saudara laki-laki ayah. Jika semua tidak ada maka majikan yang memerdekakannya.","part":1,"page":124},{"id":125,"text":"Dari keterangan kitab tersebut di atas, maka yang jelas dapat menerima warisan dari harta peninggalan Aisyah adalah Jamilah. Sedangkan Shaleh, maka jika ayah si Shaleh yaitu Ahmad tersebut adalah anak laki-laki dari saudara laki-laki ayah si Aisyah, maka dia mendapat warisan. Jika tidak, maka tidak mendapat warisan.\rPertanyaan saudara tentang apakah Nabi Hidlir, yaitu Balya bin Malhan masih hidup sampai sekarang ? Pertanyaan saudara ini pernah dijawab dalam Bahtsul Masail di PP. Genggong Kraksaan, tahunnya saya lupa, tetapi saya ingat bahwa Bahtsul Masail tersebut adalah dalam rangkaian acara Korferwil NU Jatim, yang pada saat itu almarhum KH. Syarqowi Pamekasan diangkat sebagai wakil Rois Syuriah sesudah almarhum KH. Mahrus Ali dan diangkatnya saya sebagai A'wan Syuriah wilayah Jatim.\rDalam Bahtsul Masail tersebut diputuskan bahwa Nabi Hidlir as. dinyatakan masih hidup sampai sekarang. Keputusan tersebut tidak ada dasar nash al Qur'an dan atau Hadist yang jelas (sharih) tetapi hanya berdasarkan kitab-kitab dari para ahli tashawuf, yang nukilan saya lupa meletakkannya. Hanya saja menurut berita yang saya terima, bahwa sampai sekarang masih ada orang yang dapat bertemu dan bersalaman dengan Nabi Hidlir as, misalnya KH. Maimun Zubair Sarang Rembang Jateng. Tentang kebenaran berita tersebut, Wallahu 'alam bis Showab.\rLafadh Khutbah\rSaya ingin menanyakan tentang rukun khutbah Jumat. Rukun khutbah menurut yang saya baca dalam kitab fiqh Islam Sulaiman Rosyid:\r1. membaca hamdalah,\r2. membaca syahadat","part":1,"page":125},{"id":126,"text":"3. membaca shalawat,\r4. berwasiat/taqwa,\r5. membaca ayat al Quran,\r6. mendoakan kaum mukmin dan muslim.\rYang perlu saya tanyakan:\rDalam membaca sholawat itu, nama Muhammad saw harus didzahirkan atau cukup shalallahu alaihi wa alihi sebagaimana khutbah Jumat yang dimuat dalam Mimbar Aula no. 08 bulan Agustus 1993 lalu.\rDi dalam berwasiat/ taqwa itu apakah harus dengan kalimat Ittaqullah atau boleh dengan lainnya.\rKalimat taqwa itu apa harus dibaca pada kedua khutbah atau cukup pada khutbah pertama saja?\rJawaban:\rDalam membaca sholawat kepada Nabi Besar Muhammad saw, khutbah pertama maupun kedua sebagai rukun khutbah yang kedua, nama Nabi Muhammad saw, harus diucapkan dan tidak boleh hanya dengan memakai dlomir (kata ganti) sebagaimana yang saudara contohkan, meskipun dlomir tersebut ada tempat rujuknya karena nama Nabi Besar Muhammad saw tersebut sudah diucapkan sebelumnya.\rUntuk itu, saudara saya persilahkan membuka kitab I'anatut Thalibin juz 2 halaman 65 (cetakan Toha Putra Semarang) dan kitab fiqh lain yang mu'tabar.\rAdapun khutbah yang dimuat di Aula yang Anda persoalkan itu memang khilaf. Untuk itu penulisnya minta maaf melalui ruang ini, kepada yang ingin menggunakan khutbah itu agar menyesuaikan.\rDalam berwasiat taqwa sebagai rukun khutbah yang kedua, tidak harus dengan kalimat Ittaqullah. Tetapi boleh dengan kalimat yang lain, asalkan isinya mengajak untuk bertaqwa dan bertaat kepada Allah. Dalilnya juga disebutkan dalam kitab tersebut di atas yang juz dan halamannya sama.","part":1,"page":126},{"id":127,"text":"Hamdalah (pujian kepada Allah) shalawat kepada Nabi Besar Muhammad saw dan wasiat taqwa, adalah tiga rukun khutbah yang harus dibaca pada khutbah pertama dan kedua. Dalilnya lihat Ianatut Thalibin Juz 2 halaman 65-66:\rفَلاَيَكْفِى اللهُمَّ سَلِّمْ الخ اى لِعَدَمِ الإتْياَِنِ بِلَفْظِ الصَّلاَةِ. وَلاَ يَكْفِى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِالإتيَانِ بِالضَّمِيْرِ بَدَلَ الإسْمِ الظَّاهِرِ قِيَاسًا عَلَى التَّشَهُّدِ ... وَإنْ تَقَدَّمَ لِنَّبِيِ صلى الله عليه وسلم فِى الكَلاَمِ ذِكْرٌ اى إسْمٌ يَرْجِعُ إلَيْهِ الضَّمِيْرُ. وَلاَيَتَعَيَّنُ لَفْظُهَا اى الوَصِيَّةَ بِالتَقْوَى لاَنَّ الفَرْضَ الوَعْظُ وَالحَمْلُ عَلَى طَاعَةِ اللهِ فَيَكْفِى مَا دَلَّ عَلَى المَوْعِظَةِ. طَوِيْلاً كَانَ أو قَصِيْرًا كَأَطِيْعُ اللهَ وَرَاقِبُوهُ وَيُشْتَرَطُ أَنْ يَأتِيَ ... بِكُلٍّ مِنَ الارْكَانِ الثَّلاثَةِ وَهِى الحَمْدَلَةُ وَالصَّلاَةُ عَلى النَّبِيِ صلى الله عليه وسلم وَالوَصِيَّةُ بِالتَّقْوَى.","part":1,"page":127},{"id":128,"text":"dan tidak cukup mengucapkan \"Allahumma sallim dst... karena tidak mendatangkan lafadz sholawat. Dan tidak cukup mengucapka 'Shalallahu Alaihi' dengan mendatangkan dlomir sebagai ganti dari isim dzahir karena mengkiaskan pada 'tasyahud' meskipun dalam pembicaraan sebelumnya nama Nabi telah disebutkan sebagai tempat kembali dari dlomir tersebut. Juga tidak harus menjelaskan lafadz wasiat dengan ucapan taqwa karena tujuannya adalah memberi nasehat dan membawa kepada ketaatan kepada Allah, sehingga cukup dengan lafadz yang menunjukkan kepada nasehat, baik panjang maupun pendek, seperti 'Atii-ullah wa roqiibuhu (taatlah kamu sekalian kepada Allah dan hendaklah kamu sekalian mohon pengawasan oleh Allah) dan disyaratkan mendatangkan rukun-rukun khutbah yang tiga, yaitu hamdalah, sholawat dan wasiat dengan taqwa pada masing-masing khutbah pertama dan kedua.\rTiada Maaf Bagimu Khathib\rPada khutbah Jum'at yang berjudul persaudaraan seiman karangan M. Chusna Abdullah terbitan majalah Aula No. 08/Tahun XV/Agustus 1993, yang berbunyi Shallallahu alaihi wa alihi waashhabihi wa man walah. Apakah itu kehilafan penulis, atau memang bisa/cukup dengan bacaan shalawat tersebut di atas?\rDi tengah desa saya pernah terjadi seorang khotib hampir diturunkan dari mimbar, gara-gara pada akhir khutbah mengucapkan permohonan maaf kepada jamaah Jumat.\rLengkapnya begini, pada akhir khutbah pertama khatib menyimpulkan khutbahnya","part":1,"page":128},{"id":129,"text":"\"Demikian uraian khutbah kami, semoga ada manfaatnya dan atas segala kesalahan kekeliruan dan kehilafan saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Aqulu qauli li walakum hadza wa astaghfirullaha liwalakum\".\rApakah betul seorang khatib minta maaf kepada jamaah jumat pada akhir khutbah pertama, khutbahnya tidak sah?\rDi desa kami ada sebuah masjid yang didirikan oleh aliran Rifa'iyah. Konon ceritanya syarat sah mendirikan jumatan/salat jumat harus ada orang yang bertanggung jawab (dibait) minim empat orang. Namun sekarang masjid itu 95% sudah diikuti oleh kaum Nahdliyin bahkan pengurusnya semua dari orang NU. Namun demikian masih banyak yang menuntut harus menentukan orang yang bertanggung jawab sahnya salat tersebut, minim empat orang (orang yang dulu dibaiat bertanggung jawab, dua orang telah meninggal dunia).\rApakah untuk mendirikan salat jumat di masjid harus ada orang yang dibaiat untuk bertanggung jawab untuk sahnya salat tersebut?\rJawaban:\rPertanyaan nomer satu, sudah dijawab dalam Aula Oktober 1993.\rTugas khatib dalam solat jumat adalah memberikan wasiat kepada seluruh jamaah Salat Jumat agar bertakwa atau meningkatkan ketakwaan mereka kepada Allah swt. Oleh karena itu, apa saja yang diwasiatkan oleh sang khatib haruslah hal-hal yang sudah diamalkan dan dikerjakan oleh khatib, agar khatib tidak terkena sangsi dari Allah swt sebagaimana tersebut dalam surat As-Shaff ayat 2 dan 3 dan surat Al-Baqarah ayat 44.","part":1,"page":129},{"id":130,"text":"Disamping itu tujuan dari khutbah jumat itu ialah agar para jamaah Jumat mengamalkan wasiat yang diserukan oleh khatib. Akan tetapi jika sekiranya khatib sendiri masih ragu terhadap kebenaran dari wasiat yang diserukan kepada para jamaah jumat dengan mengucapkan:\"Atas segala kesalahan, kekeliruan dan kekhilafan, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya,\"apakah mungkin para jamaah jumat mau mengamalkan wasiat yang diragukan kebenarannya sendiri oelh orang yang memberi wasiat?\rBahkan apabila kita mau meneliti hadist-hadist Nabi Muhammad saw, maka akan kita jumpai bahwa dalam menyampaikan khutbah jumat, beliau selalu bernada seperti orang yang sedang marah.\rJadi seandainya kita tidak dapat menjumpai nas yang sarih yang menyatakan bahwa permintaan maaf oleh khatib itu membatalkan khutbahnya, maka secara implisit kita dapat memastikan bahwa tindakan khatib tersebut kurang tepat.\rUntuk mendirikan salat jumat di masjid tidak ada syarat yang mengharuskan ada orang yang dibaiat untuk bertanggung jawab terhadap keabsahan salat jumat. Untuk itu Anda kami persilahkan membaca dalil-dalil berikut ini:\rKitab at Tadzhib fi adillati matan al ghayati wa at Taqrib hal 73","part":1,"page":130},{"id":131,"text":"وَشَرَئِطُ فِعْلِهَا ثَلاَثَةٌ: أنْ تَكُونَ البَلَدَ مِصْرًا أو قَرْيَةً، لأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابِهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُم لَمْ يُصَلُّوهَا إلاَّ هَكَذَا, وَكَانَتْ قَبَائِلُ الأعْرَابِ مُقِمِيْنَ حَولَ المَدِيْنَةِ وَمَاكَانُوا يُصَلُّونَهضا وَمَاأمَرَهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِهَا, وَأنْ تَكُونَ العَدَدَ أرْبَعِيْنَ مِنْ أَهْلِ الجُمْعَةِ، وَهُمْ الَّذِيْنَ تَتَوَفَّرُ فِيْهِمْ الشُّرُوطُ السَّابِقَةِ (الإسْلاَمُ,البُلُوغُ، والعَقْلُ، وَالحُرِّيَّةُ,وَالذُّكُورِيَّةِ، وَالصِّحَّةُ، والإِسْتيِطَانُ)، وَدَلَّ عَلَى (اشْتِرَاطِ العَدَدِ: مَارَوَاهُ الدَّرُقُطْنِى (2/4) وَالبَيْهَقِى (3/177 عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: مَضَتِ السُّنَّةُ أَنَّ فِى كُلِّ أَرْبَعِيْنَ فَمَا فَوقَ ذَلِكَ جُمْعَةً.\rSyarat-syarat mendirikan Jumat itu ada tiga: Hendaklah tempat mendirikan itu berupa kota atau desa, karena sesungguhnya Nabi saw dan para sahabat beliau ra tidak melakukan salat Jumat kecuali demikian. Sedangkan kabilah-kabilah dari orang-orang Arab pedesaan telah bermukim di sekitar kota Madinah, mereka melakukan salat Jumat di tempat pemukiman tersebut.","part":1,"page":131},{"id":132,"text":"Hendaklah jumlahnya 40 orang dari ahli Jumah. Yaitu mereka yang memenuhi syarat-syarat yang telah lalu (Islam, berakal sehat, merdeka, laki-laki, sehat badannya dan bertempat tinggal menetap ditempat salat Jumat itu didirikan). Yang menunjukkan persyaratan jumlah tersebut adalah hadist yang diriwayatkan oleh Imam ad Daruquthni (2/4) dan Imam al Baihaqi (3/177) dari Jabir ra, Dia berkata: \"Sunnah telah berjalan, bahwa pada setiap empat puluh orang atau lebih didirikan salat Jumat.\rDalil yang senada juga dapat dijumpai antara lain dalam kitab al Majmu' Syarah al Muhadzdzab juz IV halaman 502.\rHaramnya Celup dan Halalnya Menangis\rSaya pernah membaca terjemah hadist di Riyadus Shalihin yang menerangkan dilarang (haram) memakai pakaian bercelup sumba (pewarna).\rDari Abdullah bin Anru bin Ashra berkata: Rasulullah saw melihat saya memakai baju bercelup sumba kuning, maka beliau bertanya:\r\"Apakah ibumu yang menyuruh kamu memakai ini?\"\rLalu saya bertanya: \"Apakah saya basuh?\"\rJawab Nabi: \"Bakar saja!\"\rDalam riwayat lain: \"Itu pakaian orang kafir, maka jangan kamu pakai.\" (HR. Muslim)\rYang ingin saya tanyakan:\rApakah maksud bercelup dalam hadist tersebut sama atau identik dengan wenter (pewarna pakaian)?\rBagaimana hukumnya pakaian yang berwarna warni?\rDengan ramainya masalah faham Syiah akhir-akhir ini, saya ingin bertanya tentang niyahah yang sering dilakukan oleh golongan Syiah.\rBagaimana niyahah yang dilarang itu?\rApakah menangis sambil mengingat kebaikan orang yang sudah meninggal termasuk niyahah?","part":1,"page":132},{"id":133,"text":"Mohon dijelaskan batas mengingat kebaikan orang yang sudah mati yang diperbolehkan dalam arti tidak diharamkan.\rJawaban:\rDalam kitab Dalilul Falihin syarah dari kitab Riyadlus Shalihin juz IV halaman 623 disebutkan bahwa larangan memakai pakaian bercelup dengan warna kuning adalah didasarkan pada dua alasan:\rMenyerupai pakaian wanita, sedang laki-laki yang memakai pakaian yang menyerupai pakaian wanita adalah dilaknat oleh Nabi saw.\rMenyerupai pakaian seragam dari para penganut agama selain Islam (perhatikan pakaian yang dipakai oleh para pendeta Budha yang berwarna kuning).\rJadi memakai pakaian yang berwarna-warni asalkan tidak menyerupai kriteria dari kedua pakaian tersebut di atas, tentulah tidak dilarang.\rNiyahah yang dilakukan oleh golongan Syiah adalah berasal dari ratapan dan tangisan yang mereka lakukan sebagi akibat dari penyesalan, karena mereka telah mengkhianati Sayidina Ali ra dan kedua puteranya. Sehingga menyebabkan kehancuran pasukan Hasan dan Husain bin Ali dalam perang Karbala melawan pasukan Muawiyah.\rNiyahah yang dilarang oleh agama Islam itu adalah meratapi dan menangisi orang yang sudah meninggal dunia dengan mengucapkan ucapan-ucapan yang dilarang, seperti: \"Aduh Pak, mengapa engkau sampai hati meninggalkan kami, siapa lagi nanti yang dapat mencarikan nafkah buat kami?\" dan lain sebagainya.","part":1,"page":133},{"id":134,"text":"Menangis karena hatinya susah ditinggal mati oleh orang yang dicintai asalkan mulutnya tidak mengucapkan kata-kata yang dilarang oleh Allah swt maka hukumnya boleh. Sebagaimana tersebut dalam kitab hadist Riyadus Shalihin bab \"Bolehnya menangisi orang yang mati tanpa meratapi dan menyesali kematiannya\".\rKita memang dianjurkan untuk mengingat amal-amal baik yang telah dilakukan oleh orang yang sudah meninggal dunia, selama kita tidak berbuat bohong. Kita dilarang menyebutkan perbuatan jelek atau perbuatan dosa yang telah dilakukan oleh yang sudah meninggal dunia, meskipun perbuatan-perbuatan tersebut memang pernah dilakukan.\rShalat Istisqa' Lawan Teknologi\rKami sebagai pelajar Islam, setelah melihat keberadaan teknologi yang semakin canggih ini, sangat bersyukut kepada Dzat Pencipta yang menganugerahi pengetahuan pada manusia sebagi pengelola dunia ini.\rNamun kami punya masalah yang kami sendiri tidak bisa menjangkau untuk memecahkannya tanpa ada yang membantu baik secara langsung atau tidak langsung.\rDengan semakin canggihnya tehnologi masa kini hujan bisa didatangkan pada tempat yang kita kehendaki, dengan memakai alat-alat canggih dan terbukti beberapa kali dicoba berhasil.\rYang kami tanyakan adalah:\rBagaimana pendapat bapak tentang hal tersebut diatas?\rApakah nantinya akan timbul prasangkan salat istisqa tidak akan berlaku lagi sebagaimana fungsinya?\rJawaban:","part":1,"page":134},{"id":135,"text":"Percobaan membuat hujan buatan itu memang pernah berhasil di daerah-daerah tertentu yang memenuhi persyaratan-persyaratan yang antara lain udaranya cukup mengandung uap air.\rNamun demikian. Bukan berarti salat istisqa' tidak lagi diperlukan, sebab kenyataan menunjukkan bahwa bagaimanapun usaha yang dilakukan oleh manusia, namun penentuan berhasil tidaknya percobaan tersebut, tetap berada di tangan Tuhan. Konon kabarnya, di daerah Jakarta pernah dilakkan usaha untuk membuat hujan, namun setelah terjadi mendung, tiba-tiba ada angin yang membawa mendung tersebut ketempat lain. Bagaimana pendapat Anda kalau terjadi hal seperti ini? Apakah masih diperlukan salat istisqa'?\rLebih dari itu, dengan salat tersebut bukan berarti Allah wajib mendatangkan hujan. Salat adalah berdoa dan berdoa adalah kewajiban bagi hamba dihadapan Tuhannya. Orang yang tidak mau berdoa dinilai Allah sebagai orang sombong.\rmk:@MSITStore:G:\\untuk maktabah baru\\Kumpulan Bahtsul Masaail - Seri 2.CHM::/../../../../My Web Sites/NH/pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/masail/aula/tahun_1993/31a180.html?seemore=y - top\rBagaimana Menikahkan Perempuan Hamil\rBagaimana hukum menikahkan perempuan yang sedang hamil?\rBolehkah wanita tersebut dikumpuli (dijimak) setelah melangsungkan akad nikah?\rBagaimanakah status anak yang dilahirkan itu (waris)?\rBila anak yang dilahirkan itu perempuan siapa wali nikahnya?\rJawaban:","part":1,"page":135},{"id":136,"text":"Wanita yang hamil di luar nikah boleh dinikahkan oleh walinya, karena kehamilan tersebut tidak dihormati oleh agama.\rWanita tersebut boleh dijimak oleh suami yang baru menikahinya.\rStatus dari anak yang lahir dari wanita tersebut hanya dapat menjadi ahli waris dari ibunya saja dan tidak kepada bapaknya yang menikahi ibunya setelah hamil, meskipun benih yang menjadi anak tersebut adalah benihnya sendiri (bila yang mengawini adalah yang menghamili).\rJika anak tersebut perempuan, maka yang menjadi walinya adalah hakim. Bahkan andaikata laki-laki yang membuahi ibunya itu tidak mengawini ibunya, maka jika anak perempuan yang lahir dari benihnya tersebut sudah dewasa, laki-laki yang benihnya menjadi anak perempuan tersebut (ayah biologis) boleh mengawininya.\rTentang dasar hukumnya, kami persilahkan meneliti dalil-dalil berikut ini.\rFiqh ala Madzahibil Arbaah juz 4 halaman 533\rأَمَّا وَطْءِ الزِّنَا فَإنَّهُ لاَ عِدَّةَ فِيْهِ وَيَحِلُّ التَّزْوِيْجُ بِالحَامِلِ مِنَ الزِّنَا وَوَطْءِهَا وَهِيَ حَامِلٌ عَلَى الأصَحِّ وَهَذَا عِنْدَ الشَّافِعِى\rAdapun hubungan seksual dari perzinaan, maka sesungguhnya tidak ada 'iddah padanya. Halal mengawini wanita yang hamil dari perzinaan dan halal menyetubuhinya sedangkan wanita tersebut dalam keadaan hamil menurut pendapat yang lebih kuat. Pendapat ini adalah pendapat Syafii.\rAl-Muhadzdzab juz 2 halaman 113\rوَيَجُوزُ نِكَاحُ الحَامِلِ مِنَ الزِّنَا لأَنَّ حَمْلَهَا لاَيَلْحَقُ بِأَحَدٍ فَكَانَ وُجُودُهُ كَعَدَمِهِ","part":1,"page":136},{"id":137,"text":"Boleh menikahi wanita hamil dari perzinaan, karena sesungguhnya kehamilannya itu tidak dapat dipertemukan kepada seseorangpun, sehingga wujud dari kehamilan tersebut adalah seperti ketiadaannya.\rBughyatul Musytarsyidin halaman 201\r(مَسْأَلَةُ ش) وَيَجُوزُ نِكَاحُ الحَامِلِ مِنَ الزِّنَا سَوَاءُ الزَّانِى وَغَيْرِهِ وَوَطْءُهَا حِيْنَئِذٍ مَع الكَرَاهَةِ\r(masalah shin); Boleh menikahi wanita yang hamil dari perzinaan, baik oleh laki-laki yang menzinainya atau oleh lainnya dan menyetubuhi wanita pada waktu hamil dari zina tersebut adalah makruh.\rMughni Muhtaj juz 3 halaman 152\rلِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ... فَالسُّلْطَانُ وَلِيٌّ لِمَنْ لاَ وَلِيَ لَهُ.\r... karena sabda Nabi saw maka sultan/pemerintah adalah wali dari orang yang sama sekali tidak ada wali baginya.\rWali Tidak Shalat dan Tidak Menyentuh Gawang\rSaya seorang desa yang ada di pegunungan heran pada beberapa cerita tentang Kyai Mas atau Kyai Zaid (nama samaran) yang katanya wali tapi tidak shalat dan suka mengawini istri orang. Yang kami tanyakan adalah:\rApakah ada hukum yang mengatur tentang orang islam boleh tidak salat sebagaimana cerita di atas\rBagaimana hukumnya mengambil istri orang lain sebagai mana cerita di atas?\rBagaimana hukumnya memasukan hasyafah ke dalam farji mar'ah ajnabiyah sedang farji tersebut tidak seperti biasanya (besar berjari-jari ukuran kurang lebih 3 cm,maaf) hasyafah masuk kedalam farji tersebut tetapi tidak menyentuh pinggirnya farji dan tidak injal, yang kami tanyakan:","part":1,"page":137},{"id":138,"text":"Apakah perbuatan tersebut masih dikatakan zina?\rApakah tetap mandi besar bila mau salat dll?\rJawaban:\rTidak ada hukum yang mengatur tentang orang Islam boleh tidak salat.\rHukumnya mengambil istri orang lain adalah dilarang dalam agama Islam.\rAlasannya silakan baca keterangan dari Kitab Kifayatul Atqiya' halaman 12 tersebut di bawah ini:\rوَكَذَا الَطَّرِيْقَةُ وَالْحَقِيْقَةُ يَااَخِيْ. مِنْغَيْرِ فِعْلِ شَرِيْعَةٍ لَنْ تَحْصُلاَ هَذَا نَتِيْجَةٌ مَا قَبْلَهُ اَيْضًا. وَالْمَعْنَى اَنَّ الَطَّرِيْقَةَ وَالْحَقِيْقَةَ كِلاَهُمَامُتَوَقِّفٌ عَلَى الَشَّرِيْعَةِ فَلاَ يَسْتَقِيْمَانِ وَلاَيَحْصُلاَنِ اِلاَّبِهَا. فَالْمُؤْمِنُ واِنْ عَلَتْ دَرَجَتُهُ وَارْتَفَعَتْ مَنْ زِلَتُهُ وَصَارَمِنْ جُمْلَةِ اْلا وْلِيَاءِ لاَتَسْقُطُ عَنْهُ العِبَاداَت المَفْرُوْضَةُ فِي القُرْآنِ وَالسُّنَّةِ. وَمَنْ زَعَمَ اَنَّ مَنْ صَارَ وَلِيًّا وَوَصَلَ اِلَى الحَقِيْقَةِ سَقَطَتْ عَنْهُ الَِشَّرِيْعةُ فَهُوَ ضَالٌّ مُضِلٌّ مُلْحِدٌ. وَلَمْ تَسْقُطُا العِبَادَاتٌ عَنِ الأَنْبِيَاءِ فَضْلاً عَنِ الاَوْلِيَاءِ. فَ قَدْصَحَّ اَنَّ رَسُوْلُ الله صلى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم َكَانَ يُصَلِّي حَتَّى تَتَوَّرَمَ قَدَمَاهُ فَقِيْلَ لَهُ مَرَّةً: اَلَمْ يَغْفِرِاللهُ لَكَ مَاتَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِك وَمَ تَاَْخَّرَ فَقَالَ:اَفَلاَ اَكُوْنُ عَبْدًا شَكُوْرًا؟ وَذَلِكَ لأِنَّ العِبَادةَ وُجُوْبُهَابِحَقِّ العُبُوْدِيَّةِ وَلِشُكْرِالنَِّعْمَة. الَولِيُّ بِلْوَلاَيَةِ لاَيَخْرُجُ عَنْ حَدِالعُبُوْدِيَّة وَلاَعَنْ كَوْنِهِ مُنْعَمًاعَلَيْهِ.\rDemikin toriqoh dan hakikat wahai saudaraku, tanpa melakukan syariat keduanya tidak akan berhasil!","part":1,"page":138},{"id":139,"text":"Ini adalah hasil dari penjelasan sebelumnya juga! Artinya,toriqoh dan hakikat keduanya terhenti pada syari'at, Keduanya tidak dapat tegak dan berhasil kecuali dengan syari'at. Sehingga seorang mukmin itu meskipun tinggi derajatnya dan luhur kedudukanya dan menjadi salah seorang wali Allah swt,maka tidak dapat gugur darinya dirinya ibadah -ibadah yang telah diwajibkan/difardlukan dalam Alqur'an dan Assunah.Barang siapa yang mengaku(mendakwakan) bahwa sesungguhnya orang yang telah menjadi wali dan telah sampai padsa tingkat hakikat,maka dapat gugur dirinya dari menjalankan syari'at,maka dia adalah orang yang sesat,lagi menyesatkan orang lain lagi kafir.\rIbadah-ibadah itu tidak dapat gugur kewajiban menjalankanya dari para nabi, apalagi dari para wali. Sesungguhnya rasul Allah swt telah melakukan salat sehingga bengkak kedua kaki beliau, sehingga pada suatu ketika di katakan kepada beliau: Tidakah Allah telah mengampunkan bagi tuan apa yang telah lalu dari dosa tuan dan apa yang terkemudian? Beliau menjawab: Apakah aku tidak dapat menjadi hamba yang bersyukur? yang demikian itu ialah karena ibadah itu kewajiban menjalankanya adalah untuk memenuhi hak untuk menghambakan diri kepada Allah dan untuk memenuhi hak untuk mensyukuri keni'matan dari Allah. Sedangkan Wali itu dengan kewalianya tidak dapat keluar dari batas menghambakan diri dan dari keadaanya sebagai orang yang diberi nikmat.","part":1,"page":139},{"id":140,"text":"Perbuatan memasukan hasyafah kedalam ke dalam ruang jima' dari farji wanita ajnabiyah hukumnya tetap zina, sebab yang dinamakan jima' itu tidak harus menyentuhkan hasyafah ke pinggir farji.\rTetap kewajiban mandi besar,sebab salah satu dari hal yang mewajibkan seseorang untuk mandi besar itu ialah memasukan hasyafah ke dalam liang jima'dari farji, meskipun tidak inzal.\rDalam Kitab Khulasatul Kalam Fi Arkani Islam halaman 43,(dan juga dalam kitab -kitab fiqih lainya) di sebutkan sebagai berikut:\rاِلْتِقَاءُالخِتَانَيْنِ. عَنْ اَبِيْ هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِذَ جَلَسَ(الرَّجُلُ) بَيْنَ شُعَبِيْهَا الاَرْبَعِ ثُمَّ جَهَدَهَا فَقَدْ وَجَبَ الْغُسْلُ. مَعْنَ الْحَدِيْثِ. اِنَّ اِيْجَابَ الغُسْلِ لاَيَتَوَقَّفُ عَلَى اِنْزَالِ اْلمَنِيِّ؟ بَلْ مَتَى غَالَبَتِ الحَسَفَةُ فِى الْفَرْجِ، وَجَبَ الْغُسْلُ عَلَى الْمَرْأَةِ وَالَّرجُلِ. وَمَعْنَ مَسِّ الخِتَانِ: ذُخُوْلُ رَأْسِ فِى فَرْجِهَا. وَلَيْسَ مُرَادُ حَقِيْقَةِ المَسِّ. وَذَالِكَ اَنَّ خِتَانَ الْمَرْأَةِ فِى اَعْلَى الْفَرْجِ وَلاَ يَمُسُّهُ الذَّكَرُ فِى الْجِمَاعِ. وَقَدْ اَجْمَعُوْا عَلَى اَنَّهُ لَوْ وَضَعَ ذَكَرُعَلَى حِتَانِهَا وَلَمْ يُوْلِجْهُ لاَيضجِيْبُ الْغُسْلُ لاَعَلَيْهِ َلاَعَلَيْهَا. وَالْمُرَادُ بِالْمُمَاسَةِ الْمُحَادَاةُ. وَكَذَا اِذَالْتَقَى الْحِتَانَانِ: اي تَحَاذ َيَا.","part":1,"page":140},{"id":141,"text":"Telah diriwayatkan dari Abu Hurairoh. Dari Nabi saw,beliau telah bersabda: Apabila seorang (laki-laki) telah duduk diantara kedua kaki dan kedua tangan isterinya yang empat (jumlah kedua tangan dan kedua kaki) kemudian laki-laki itu telah membebani istrinya, maka benar-benar wajib mandi.(HR Bukhori)\rPengertian dari hadist tersebut adalah bahwa sesungguhnya yang mewajibkan mandi itu tidak terhenti pada keluarnya air mani. Akan tetapi manakala hasyafah telah itu telah masuk kedalam farji, maka wajib mandi atas wanita dan laki-laki. Dan pengertian dari menyentuh khitan itu adalah memasukan kepala dzakar ke dalam farji wanita.Dan bukanlah menyentuh disini bukanlah menyentuh yang sesungguhnya; karena sesungguhnya khitan wanita itu sebenarnya ada di sebelah (bagian) atas dari farjinya yang tidak disentuh oleh dzakar pada waktu jima'\rPara ulama' telah bersepakat (berijma') bahwa seandainya ada seorang laki-laki meletakan dzakarnya di atas khitan wanita (clitorus) dan tidak memasukan dzakarnya ke dalam liang jima', maka tidak wajib mandi atasnya dan juga tidak atas wanita (jika air maninya tidak keluar) jadi yang dimaksud menyentuh adalah menempati (manceri); dan demikian pula pertemuan dua khitan, yang dimaksud keduanya adalah manceri. ang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim dari Sahabat Abu Hurairah ra, bahwa Nabi Muhammad saw pernah bersabda:\rاَيَزْنِي لزَّانِى ِيْنَ َزْنِى َهُوَ ُؤْمِنٌ َلاَ َشْرَبُ لخَمْرَ ِيْنَ َشْرَبُهَا َهُوَ ُؤْمِنٌ َلاَ َسْرِقُ لسَّارِقُ ِيْنَ َسْرِقُ َهُوَ ُؤْمِنٌ..","part":1,"page":141},{"id":142,"text":"Tidak berzina seseorang yang akan berzina, (bila) dia dalam keadaan mukmin. Tidaklah orang meminum arak pada waktu dia akan meminumnya (bila) dia dalam keadaan mukmin. Tidaklah mencuri seorang pencuri pada saat dia akan mencuri, (bila) dia dalam keadaan mukmin.\rJadi orang yang sedang meminum arak itu bukanlah orang mukmin. Artinya imannya sedang melayang. Setelah selesai minum arak. Kemungkinan imannya kembali lagi dan kemungkinan juga bisa terus lenyap selamanya. Oleh karena itulah kita dilarang memberi salam kepada orang yang sedang meminum minuman keras. Sedang pemabuk yang menganggap halal atau menghalalkan minuman arak, sudah jelas tidak usah dikunjungi sewaktu sakit dan tidak pula boleh disalati kalau mati. Karena dia telah menjadi orang murtad sebagaimana keterangan kami diatas.\rDengan demikian, menurut hemat kami, selaku orang yang sangat daif dalam ilmu agama ini, jika hadist ketiga yang saudara kemukakan itu perawinya dapat dipertanggung jawabkan, maka ketiga hadist tersebut sama-sama dapat dipakai sebagai dalil dalam kondisi, situasi dan kasus tertentu.\rKhusu' Dalam Shalat\rKami ingin menanyakan masalah kehusukan dalam salat. Kami kadang-kadang kurang khusyu' dalam salat dengan dasar fikiran kami kemana-mana.Kami sudah berusaha untuk khusyu' tapi masih belum khusyu' juga kami mengulangnya beberapa kali.Namun demikian,juga masih belum khusyu'. Dan untuk menghindari hal tersebut bagaimana tindakan kami, mohon penjelasan bapak.","part":1,"page":142},{"id":143,"text":"Ketika kami salat di sebuah mushola, kami melihat seorang ibu sedang salat, beliau bersama anak kecil kira-kira berumur tiga tahunan. Ketika ibunya salat, anak kecil lari-larian disekitar ibunya. Saking bandelnya anak tersebut dia jatuh, lalu ibunya menjerit dalam salatnya. Yang kami tanyakan, sahkah ibu anak tersebut dalam salatnya? mohon penjelasan bapak pengasuh.\rJawaban:\rSaudara penanya yang terhormat, masalah kekhusuan yang saudara tanyakan, kita sebagai manusia biasa tidak akan mungkin dalam salat sejak takbiratul ihram sampai dengan salam tidak mengingat selain Allah. Hal ini telah dibuktikan dalam sebuah Kitab yang menjadi asbabun nuzul dari ayat Al-Qur'an surat an-Najm ayat32:\r... فَلاَ تُزَكُّوْااَنْفُسَكُمْ هُوَاَعْلَمُ بِمَنِ الَتَّقى (النجم:23)\rArtinya;…Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci.Dialah yang paling mengetahui tentang orang orang yang bertaqwa.\rAyat tersebut turun,berkenaan dengan para sahabat yang mengangap dirinya lebih baik dari yang lain.Kemudian Rasulullah saw mengadakan perlombaan (uji coba) kepada para sahabat.Barang siapa yang dapat melakukan salat dua rakaat saja sejak takbir sampai salam khusyu' (selalu mengingat Allah) ia akan diberi hadiah surban hijau.","part":1,"page":143},{"id":144,"text":"Dari tawaran rasullulah itu, kemudian Abubakar mencoba melakukan salat. Di rakaat pertama, setelah membaca fatihah,Abu bakar berkata dalam hati: mudah-mudahan saya yang menang. Setelah selesai salat, Abubakar mengatakan kata hatinya tersebut kepada Rasullulah.Dengan demikian Abu bakar di nyatakan oleh Rasulullah bahwa Abu bakar sudah mengingat selain Allah(merusak kekhusukanya). Dengan demikian dia gagal.\rBegitu juga, sahabat Umar dan Usman, hampir sama dengan Abubakar. Keduanya juga gagal. Tinggal satu sahabat yang paling terkenal khusu' dalam salat. Yaitu Ali bin Abi Tholib yang karena kekhusyu'annya beliau tidak merasakan sakit sewaktu kena panah oleh Ibnu Muljam (pembunuhnya). Dan untuk mengambil anak panah tersebut diambil ketika dirinya melakukan sujud. Sehingga tidak merasakan sakit ketika anak panah diambil dari tubuhnya, namun bisa jadi mengingat salat lima waktu adalah bagian dari penghormatan kepada Khaliq, sementara salat janazah merupakan penghormatan untuk orang yang meninggal. Disamping itu seandainya ada ruku' dan sujudnya sementara janazah ditempatkan di depan orang yang salat, jangan-jangan disalahartikan sebagai penyembahan kepada orang yang mati. Bukankah kemakruhan salat saat matahari terbit dan terbenam juga dengan alasan menghindari penyembahan kepada matahari?\rApa Mati Karena Minuman Keras Adalah Murtad ?\rDi Besuki ada seorang Islam mati karena minum minuman keras. Dengan ini kami akan mengajukan pertanyaan sebagai berikut:","part":1,"page":144},{"id":145,"text":"Bagaimana hukumnya mayit tersebut, Islam atau kafir?\rBolehkah mayit tersebut disalatkan menurut agama Islam?\rBagaimana perbedaan hadits-hadits di bawah ini, mana yang benar dan mana yang lebih kuat dijadikan dalil?\rصَلُّوا خَلْفَ كُلِّ بَارٍ وَفَاجِرٍ. وَصَلُّوا عَلَى كُلِّ بَارٍ وَ فَاجِرٍ وَجَاهِدُوا مَعَ كُلِّ بَارٍ وَفَاجِرٍ. رَوَاهُ الْبَيْهَقِى. شَرْحُ سُلَّمِ التَّوْفِيقِ 19\rصَلُّوا عَلَى مَنْ قَالَ لآإلَهَ إلاَّ اللهُ وَصَلُّوا وَرَاءَ مَنْ قَالَ لآإلَهَ إلاَّ اللهُ. رَوَاهُ الدَّارُقُطْنِى وَالطَبْرَانِى وَغَيْرُهُمَا.. شَرْحُ سُلَّمِ التَّوْفِيقِ 19\rوَرَوَى سَعِيْدُ بْنُِ مَنْصُورٍ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ أنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لاَتُسَلِّمُوا عَلَى مَنْ يَشْرَبُ الخَمْرَ وَلاَ تَعُودُهُمْ إِذَا مَرَضُوا وَلاَ تُصَلُّوا عَلَيْهِمْ إذَا مَاتُوا. إِسْلاَمُنَا 341\rJawaban:\rOrang yang mati karena meminum minuman keras apakah tetap sebagai muslim atau menjadi kafir perlu diketahui lebih dahulu melalui keluarganya atau teman dekatnya tentang sifat dan pendirian orang tersebut.\rPertama, jika dia masih mengakui atau meyakini bahwa minuman keras tersebut hukumnya haram diminum, meskipun nyatanya dia tidak mampu menjauhi atau menghindarinyia, maka hukumnya dia sebagai orang yang muslim yang durhaka, dan mayatnya wajib disalati.","part":1,"page":145},{"id":146,"text":"Kedua, jika dia menganggap bahwa minuman keras itu halal untuk diminum atau mengingkari keharaman minuman keras tersebut, maka hukumnya dia telah menjadi murtad dan mayatnya haram untuk disalati (lihat bab Murtad dalam kitab Irsyadul 'Ibad).\rhadits pertama yang Saudara kutip dari Syarah Sulam Taufiq halaman 19 riwayat al-Imam al-Baihaqi adalah memberi pengertian kepada kita bahwa:\rPertama: Kita wajib makmum kepada imam yang telah memenuhi persyaratan sebagaimana ditetapkan dalam kitab-kitab fiqh, tanpa harus memandang apakah imam tersebut orang yang saleh atau ahli maksiat, karena kemaksiatannya itu akan mengena kepada dirinya sendiri dan bukan kepada makmumnya.\rKedua: Kita diwajibkan menyalati mayit yang muslim, baik sewaktu hidupnya sebagai orang yang salih atau ahli maksiat selama dia tidak menganggap halal kemaksiatan yang telah dilakukan.\rKetiga: Kita diwajibkan taat kepada pemimpin yang mengajak kita berjuang membela agama atau negara. Kita tidak perlu memperhatikan apakah pemimpin tersebut orang yang salih atau ahli maksiat.\rhadits kedua yang Saudara kutip dari Syarah Sulam Taufiq halaman 19 yang diriwayatkan oleh Imam ad-Daruquthni, at-Thabrani dan lainnya adalah memberi penjelasan kepada kita bahwa:\rPertama, kita diwajibkan melakukan salat jenazah terhadap mayit yang sewaktu hidupnya pernah mengucapkan kalimah thayyibah (apalagi yang aktif mengikuti jamaah tahlil), meskipun dia belum sempat menjalankan rukun-rukun Islam yang lain secara aktif.","part":1,"page":146},{"id":147,"text":"Kedua, kita diwajibkan makmum kepada imam yang jelas-jelas orang Islam, dan bukan orang munafik atau orang kafir yang melakukan salat untuk menipu orang-orang Islam.\rHadits ketiga yang Saudara kutip dari kitab Islamuna halaman 241, sayang sekali saya tidak memilikinya dan Saudara juga barangkali lupa menuliskan perawi hadits tersebut, sehingga saya tidak dapat melakukan pengecekan terhadap nilai dari hadits tersebut. Namun demikian, apabila dilihat dari teks hadits itu tidaklah salah jika kita dilarang mengucapkan salam kepada orang yang sedang meminum arak. Karena dalam kitab Irsyadul Ibad bab Meminum Arak ada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Sahabat Abu Hurairah ra, bahwa Nabi Muhammad saw pernah bersabda:\rلاَيَزْنِي الزَّانِى حِيْنَ يَزْنِى وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلاَ يَشْرَبُ الخَمْرَ حِيْنَ يَشْرَبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلاَ يَسْرِقُ السَّارِقُ حِيْنَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ.\rSeorang pezina tidak berzina ketika akan berzina bila dia dalam keadaan mukmin; seorang peminum tidak meminum arak ketika akan meminumnya bila dia dalam keadaan mukmin; dan seorang pencuri tidak akan mencuri ketika akan mencuri, bila dia dalam keadaan mukmin.","part":1,"page":147},{"id":148,"text":"Jadi orang yang sedang meminum arak itu bukanlah orang mukmin. Artinya imannya sedang melayang. Setelah selesai minum arak. Kemungkinan imannya kembali lagi dan kemungkinan juga bisa terus lenyap selamanya. Oleh karena itulah kita dilarang memberi salam kepada orang yang sedang meminum minuman keras. Sedangkan pemabuk yang menganggap halal atau menghalalkan minuman arak sudah jelas tidak usah dikunjungi sewaktu sakit dan tidak pula boleh disalati kalau mati, karena dia telah menjadi orang murtad sebagaimana keterangan di atas.\rDengan demikian, menurut hemat kami, selaku orang yang sangat dlaif dalam ilmu agama, jika hadits ketiga yang Saudara kemukakan itu perawinya dapat dipertanggungjawabkan, maka ketiga hadits tersebut sama-sama dapat dipakai sebagai dalil dalam kondisi, situasi dan kasus tertentu.\rmk:@MSITStore:G:\\untuk maktabah baru\\Kumpulan Bahtsul Masaail - Seri 2.CHM::/../../../../My Web Sites/NH/pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/masail/aula/tahun_1993/35a180.html?seemore=y - top\rMandi Junub dan Haramnya Musik\rSebagian ulama/kiai ada yang mengatakan, bahwa bagi orang junub atau waktu haid dilarang memotong kuku atau rambut dan sebagainya. Karena dikhawatirkan lepas dari badannya sebelum mandi, karena nanti katanya akan menjadi api neraka.\rBenarkah kata pak Kiai tersebut? Jawaban mohon disetai dalil-dalil al-Qur’an atau al-Hadist.\rBagaimana dengan rambut yang rontok sebelum mandi karena gesekan bantal atau lainnya?","part":1,"page":148},{"id":149,"text":"Bagi orang junub yang sudah mandi tapi baru badannya dan mukanya sampai ke bawah. Sedang rambutnya belum disiram (keramas). Apakah orang tersebut boleh membaca al-Quran/salat? Mohon jawabannya disertai dalil-dalil al-Quran atau hadistnya.\rSebagaian ulama/kiai yang mengatakan kepada masyarakat awam bahwa orang mendengarkan gending-gending Jawa seperti: gong, ludruk, wayang, dan sebagainya itu haram. Benarkah kata pak Kiai tersebut?\rSampai sejauh mana keharaman mendengarkan gending-gending tersebut? Mohon penjelasan dengan dalil-dalil al-Quran/al-Hadist.\rBagaimana dengan mendengarkan suara-suara musik: dangdut, band, keroncong, samroh, dan sebagainya? Karena itu juga menjadi tambahan ilmu bagi kami. Dan semoga kami dipahamkan oleh Allah. Amin.\rJawaban:\rKata Pak Kyai tersebut benar, berdasar:\rIbarat dari kitab Fathul Mu-in hamisy dari kitab I’anatut Thalibin juz 1 halaman 75, sebagai berikut:\rوَثَانِيْهَا (مِنْ فُرُوضِ الغُسْلِ) تَعْمِيْمِ بَدَنِ حَتَّى الأَظْفَارَ وَمَا تَحْتَهَا وَالشَّعْرَ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا وَإِنْ كَثِفَ.\r\"Dan yang keduanya (dari fardlu-fardlu mandi) adalah meratakan badan dengan air, sampai kuku-kuku dan apa saja yang ada di bawahnya, dan rambut yang ada di luar dan di dalam meskipun lebat.\"\rHadist riwayat Imam Abu Dawud (hadits nomor 249) dan juga imam lainnya, dari Sayyidina Ali ra, katanya:","part":1,"page":149},{"id":150,"text":"سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: مَنْ تَرَكَ مَوضِعَ شَعْرَةٍ مِشنْ جَنَابَةٍ وَلَمْ يُصِبْهَا المَاءِ فَعَلَ اللهُ بِهِ كَذَا وَكَذَا مِنَ النَّارِ. قَالَ عَلِى: فَمِنْ ثَمَّ عَادَيْتُ شَعْرِى. كَانَ يَجْزِ شَعْرَه رَضِي اللهُ عَنْهُ.\rSaya telah mendengar Rasulullah saw bersabda, \"Barangsiapa yang meninggalkan tempat sehelai rambut dari janabat sedangkan air tidak menyiramnya, maka Allah akan memperlakukan dia demikian dan demikian dari api neraka\". Ali berkata: \"Dari situlah saya memusuhi (membenci) rambut saya\". Dan Sayyidina Ali ra. mencukur rambutnya.\rDalam kitab Nihayatuz Zain halaman 31 disebutkan sebagai berikut:\rمَنْ لَزِمَهُ غَسْلُ يُسَنُّ لَهُ ألاَّ يُزيلَ شَيْئًا مِنْ بَدَنِهِ وَلَو شَعْرًا\r\"Barangsiapa yang harus melakukan mandi, maka disunahkan baginya untuk tidak menghilangkan sesuatu dari badannya, meskipun berupa darah atau rambut atau kuku sehingga mandi. Karena setiap bagian badan akan kembali kepadanya di akhirat. Maka andaikata dia menghilangkannya sebelum mandi, akan kembali pada tanggungan hadats besar untuk memukul dengan keras orang tersebut.\"\rRambut yang rontok sebelum mandi supaya dikumpulkan, kemudian disiram bersama anggota badan lainnya sesudah berniat mandi.\rOrang tersebut tidak boleh membaca al-Quran ataupun shalat! Sebab seseorang baru boleh dikatakan sudah mandi janabat tatkala dia telah menyiram air dengan rata seluruh kulit dan rambut dari tubuhnya, sebagaimana keterangan dari kitab-kitab fiqh. Adapun hadistnya sebagai berikut:","part":1,"page":150},{"id":151,"text":"رَوَى البُخَارِى (245) وَمُسْلِمٌ (316) عَنْ عَائشَةَ رَضِى اللهُ عَنْهَا: أَنَّ النَّبِى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا اغْتَسَلَ مِنَ الجَنَابَةِ بَدَاءَ فَغَسَلَ يَدَيْهِ ثُمَّ يَتَوَضَأ كَما يَتَوَضَأُ للصَّلاَةِ ثُمَّ يُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِى المَاءِ فَيُخَلِّلُ أُصُولَ شَعْرِهِ ثُمَّ يَصُبُّ عَلَى رَأسِهِ ثَلاَثَ غُرَفٍ بِيَدَيْهِ ثُمَّ يُفِيْضُ المَاءَ عَلَىَ جِلْدِهِ كُلِّهِ.\r\"Al-Bukhari meriwayatkan (hadist no.316) dari ‘Aisyah ra.:\"sesungguhnya Nabi saw. jika beliau mandi dari janabat, beliau memulai, lalu membasuh kedua tangan beliau, kemudian berwudlu dahulu sebagaimana beliau beerwudlu untuk melakukan shalat, kemudian beliau memasukkan jari-jari tangan belliau ke dalam air, lalu menyelahi pangkal-pangkal rambut beliau dengan jari-jari tersebut, kemudian beliau menuangkan air pada kepala beliau dengan tiga cakupan dengan kedua tangan beliau, kemudian beliau meratakan air pada seluruh kulit badan beliau.\"\rBenar.\rDasar pengambilan hukum:\rTafsir Ibnu Katsir juz 3, halaman 442:\rوَقَالَ الحَسَن البَصْرِى: نَوَلَتْ هَذِهِ الأيَةِ (وَمِنَ النَاسِ مَنْ يَشْتَرِى لَهْوَ الحَدِيْثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيْلِ اللهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذُهَا هُزُوا ، أولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِيْنٌ) فِى الغِنَاءِ وَالمَزَامِير.","part":1,"page":151},{"id":152,"text":"\"Imam Hasan al-Bashri berkata: \"telah turun ayat ini (dan diantara manusia ada yang mempergunakan perkataaan yang tidak berguna untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperolah azab yang menghinakan) mengenai nyanyian dan macam-macam seruling.\"\rDalam kitab Al-Mu’jamul Mufahras juz 2 halaman 342 disebutkan sebuah hadits riwayat an-Nasa’i sebagai berikut:\r………………\r\"Pekerjaanmu membunyikan suara jenis-jenis kecapi dan jenis-jenis seruling adalah bid’ah dalam Islam.\"\rGending dan alat musik tersebut dapat menimbulkan kemunafikan dalam hati. Gending dan alat musik tersebut mengalihkan perhatian orang dari ceramah-ceramah agama Islam seperti sekarang ini. Gending dan alat musik tersebut menjadikan ayat al-Qur’an dan hadits, sebagai olok-olokan, seperti ayat-ayat dan hadits-hadits yang diterjemahkan kemudian dijadikan nyanyian. Gending dan alat musik itu dapat merangsang nafsu seksual, perbuatan durhaka dan lain sebagainya.\rDasar pengambilan hukum:\rSurat Luqman ayat 6 seperti tersebut diatas.\rHadits riwayat Abu Dawud dari Ibnu Mas’ud sebagai berikut:\r...\r\"Sesungguhnya nyanyian itu dapat menaburkan kemunafikan dalam hati.\"\rKitab Kulfur Ru’a juz 1 halaman 306:\r………….","part":1,"page":152},{"id":153,"text":"\"Orang yang menceritakan keharaman alat-alat musik tersebut seluruhnya adalah Abu al-Abbas al-Qurthubi. Beliau adalah orang yang terpercaya dan adil. Sesungguhnya beliau telah berpendapat sebagaimana yang telah beliau kutip dan para imam kita dan para imam tersebut, membenarkannya: \"Adapun macam-macam seruling, macam-macam gitar (alat-alat petik) dan gendang, maka tidak diperselisihkan) dan keharaman mendengarkannya. Dan saya tidak mendengar dari seseorang yang pendapatnya dapat dijadikan pegangan dari ulama salaf dan para imam khalaf, orang yang membolehkan mendengarkan hal tersebut. Dan bagaimana tidak haram, sedangkan alat tersebut adalah syi’ar dari pemabuk, tukang melakukan pelanggaran agama, menimbulkan pelanggaran agama, menimbulkan nafsu sahwat, kerusakan dan lawak. Dan apa yang demikian halnya, maka tidak diragukan lagi kefasikan dan kedosaan pelakunya.\"\rAsalkan dapat menimbulkan hal-hal seperti tersebut di atas, maka hukumnya juga haram!\rKekebalan Tubuh dan Ayat Saif\rSegala puji bagi Allah Swt, solawat dan salam seemoga senantiasa terlimpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw. Amma Ba’du! Pada kesempatan kali ini ananda ingin menyampaikan permasalahan yang sudah lama mengganjal dalam hati.","part":1,"page":153},{"id":154,"text":"Ananda pernah mendengar cerita orang yang tidak mempan terkena senjat tajam, orang yang bisa menghilang dengan cara mengamalkan amalan tertentu, atau menggunakan barang-barang (sabuk, akik, dll). Bahkan orang itu mendapatkan dari pak Kiai, ananda yakin pak kiai itu tidak ngawur di dalam bertindak, karena mereka adalah “waratsatul anbiya”. Yang menjadi ganjalan ananda adalah jika sikap dan amalan mereka itu dihubungkan dengan sejarah Rasulullah saw. Dan sahabat-sahabat beliau yang perjuangannya mengalami luka-luka, bahakan ada yang sedo (wafat) ditembus senjata lawan dalam rangka menegakkan kalimah Allah Swt.\rBagaimana hukum mengamalkan itu semua? dan kitab apa saja yang menerangkannya?\rDalam kitab tafsir Jalalain dan kitab yang ada di tepinya, an-Nasikh wal_mansukh, banyak disebutkan bahwa ayat ini dimansukh oleh ayat saif.\rPertanyaannya, apakah yang dimaksud dengan ayat saif? Kitab apa saja yan menerangkan masalah itu dan sekalian contohnya.\rJawaban:\rJika pengalaman hal tersebut dimaksudkan unutk memperkuat diri guna menghadapi musuh-mush yang aan meghancurkan agama dan umat Islam, maka pengalaman hal tersebut dianjurkan oleh agama Islam, sebagaimana firman Allah dalam al-Quran, surat al-Anfal ayat 60:\r…………………..","part":1,"page":154},{"id":155,"text":"“Dan siapkan unutk menghadapi mereka apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat unutk berperang (yang dengan persiapan ini) kamu bisa mengetarkan musuh Allah, musuhmu dan oang-orang selain mereka, yang kamu tidak mengetahuinya, sedangkan Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah, niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).”\rDisamping itu perlu Anda ketahui bahwa Sayyidina Ali bin Abi Thalib sanggup memainkann pedangnya yang bernama”Dzul Faqr” yang konon beratnya 80 kg, ialah karena beliau mengamalkan do’a yang sekarang terkenal dengan nama “Asma’ Kekuatan Tangan”. Demikian pula pada saat perang Badr, Rasulullah saw. Membaca do’a yang sekarang terkenal dengan Asma’ Lembu Sekilan, karena orang yang mengamalkannya dengan baik dan sungguh-sungguh, jika dia ditembak mush dalam pertempuran, maka peluru musuh tidak dapat menembus kuran daari satu kilan (jengkal), tetapi bukan berarti jika tangannya teriris pisau tidak luka.\rAdapun kitab-kitab yang menerangkannya banyak sekali, antara lain: kitab-kitab tafsir tertentu, kitab hadits Riyadus Shalihiin yang menerangkan doa-doa yang dianjurkan oleh Rasulullah saw. Untuk membacanya, hizib-hizib yang terdapat dalam kitab Dala’ilul Khairat dan lain sebagainya. Hanya perlu kami ingatkan bahwa jangan sekali-kali mengamalkan asma’-asma itu, jika tidak mendapat ijazah dari Kiai yang dapat diandalkan.","part":1,"page":155},{"id":156,"text":"Yang dimaksud dengan “ayat saif” ialah ayaat yang menerangkan tentang peperangan. Adapun kitab yang memuat maslaah itu adalah: Kita al-Itqan karangan Imam Nawawi. Kitab Zubdatul Itqon karangan Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki al-Hasani. Kitab an-Nasikh wal Mansukh yang ada dipinggir (hamisy) tafsir Jalalain.\rContoh: Dalam surat al-Anfat ayat 65 Allah swt, berfirman: …………….\r“Wahai Nabi, kobarkanlah semangat para mu’min itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantara kamu, mereka dapat mengalahkan seribu dari orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti”.\rAyat terebut di atas diturunkan pada saat iman dan mental orang-orang mukmin pengikut Nabi saw., sangat kuat. Kemudian pada saat iman dan mental orang-orang mu’min menjadi lemah, maka turunlah ayat ke-66 dari surat al-Anfal yang menasakh ayat ke-65 tersebut diatas, yaitu firman Allah swt, yang berbunyi:\r“Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya meereka dapat mengalahkan duaratus orang, dan jika diantaramu ada seribu orang yang sabar, niscaya mereka daapt mengalahkan dua ribu orang dengan izin Allah. Dan Allah bersama orang-orang yang sabar”.","part":1,"page":156},{"id":157,"text":"Bagi setiap orang yang baru datang menunaikan haji biasa setelah 40 hari kedatangannya diadakan selamatan empat puluh harinya. Katanya kalau orang baru datang menunaikan ibadah haji diiringi 40 malaikat dari Mekkah. Tiap hari malaikat tersebut pulang lagi ke Mekkah meninggalkan haji baru tersebut. Mohon penjelasan dari dasar hadits maupun lainnya tentang hal tersebut diatas.\rMasjid di dusun kami dirombak total dibangun masjid baru yang jauh lebih bagus dan sempurna dari masjid yang lama dengan tempatnya di lokasi yang lama. Bekas dari peralatan masjid yang lama sudah tidak cocok tidak pantas lagi dipakai pada bangunan masjid yang baru.\rBolehkah bekas peralatan bangunan masjid yang lama yang dibongkar, dipasang atau dipakai pada musholla atau langgar, diaman di musholla tersebut ditemapti kegiatan sholat jamaah lima waktu, kegiatan belajar mengaji al-Quran dan kegiatan belajar ilmu-ilmu agama, setiap hari siang dan malam. Karena masih sama-sama wakaf bolehkah hal-hal yang sedemikian? Bekas peralatan masjid dipakai musholla.\rJawaban:","part":1,"page":157},{"id":158,"text":"Sampai saat ini kami belum menemukan kitab apalagi hadits yang menerangkan hal tersebut diatas. Kami juga menghubungi yang cukup luas pengetahuan agamanya, dan cukup banyak kitab-kitab agama yang dimiliki, ternyata beliau juga mengatkan belum pernah menjumpai kitab atau hadist yang menerangkannya. Bahkan ada seorang kiai yang sangat luas pengetahuan agamanya, mengatakan bahwa hal tersebut yang berdasarkan kitab Fathul Lisan alias katanya saja. Sebab mubaligh yang sering mengutarakan hal tersebut, sewaktu ditanya kitab yang dijadikan dasar pengambilan, ternyata juga tidak dapat menjawab.\rDalam kitab Futhuhatur Robbaniyyah syarah dari kitab al-Adzkar hanya disebutkan hadits Nabi saw. Yang memerinahkan pada kita sekalian bahwa apabila kita berjumpa dengan orang yang dapat dari ibadah haji, supaya orang tersebut mau memintakan ampun kita pada Allah swt.\rTidak boleh sebab mengubah statusnya dan namanya!.Dasar pengambilan Kitab al Qalyubi juz 3 halaman 108:\rImam As-subki berkata”Boleh mengubah wakaf dengan tiga syarat: (a) Tidak dirubah nama dari barang wakaf tersebut, (b) Perubahan tersebut memberikan kemaslahatan bagi barang wakaf seperti bertambah penghasilanya, (c) Tidak dihilangkan wujud dari barang wakaf tersebut. Jika demikian maka tidak dilarang memindahkan wujud dari barang wakaf tesebut dari satu tempat ke tempat lain.","part":1,"page":158},{"id":159,"text":"Dan dalam Kitab fatkhul mu’in hamsy dari kitab I’anatut Thalibin juz 3 halaman 181 diterangkan bahwa masjid yang telah di bongkar tersebut dipergunakan untuk masjid lain(sejenis),maka hukumnya boleh, akan tetapi jika dipakai untuk pondok pesantren misalnya maka hukumnya tidak boleh.\rVideo Sebagai Saksi Zina\rDengan pesatnya berbagai macam ilmu pengetahuan dan teknologi ditopang dengan majemuknya manusia, maka muncullah bebagai pertanyaan yang harus di jawab oleh Islam. Maka dari itu kami mempunyai permasalahan yang belum terjawab sampai sekarang.\rSahkah bermakmum kepada orang yang cacat moral (seperti membungakan uang, rentenir dsb) sedangkan ia (imam) memenuhi syarat sebagai imam?\rApakah boleh monitor video kaset dijadikan saksi penuduhan zina terhadap seseorang?\rBolehkah menjamak dan mengqosor salat tanpa ada sebab seperti (musafir, karena hujan)? Mohon penjelasan apakah ada keterangan lain yang membolehkan mengenai hal tersebut.\rBagaimana hukumnya empedu? Apakah yang dimaksud dengan empedu itu dalamnya najis luar atau dalamnya?\rJawaban:\rHukumnya sah, tetapi makruh!\rDasar pengambilan hukum\rKitab Nihayatuz Zain halaman 131:\rوَكَرِهَ ا لاء قتد ا بفا سقِ وَ مُبتَدَعِ لاَ يَكفُرُ بِبِد عَتِهِ … اَو يَتَعَا طَى مَعِيشَةً مَد مو مةً .\rDan makruh bermakmum kepada orang fasik dan orang ahli bid’ah yang tidak menjadi kafir sebab bid’ahnya… atau orang yang menjalankan mata pencaharian yang tercela.","part":1,"page":159},{"id":160,"text":"Jika sekedar menjadi saksi pembantu, hukumnya boleh. Akan tetapi jika dijadikan saksi utama hukumnya tidak sah. Sebab dengan teknologi yang tinggi, pelaku zina dapat dipalsukan. Artinya yang melakukan zina sebenarnya si A, tetapi wajahnya bisa diganti dengan wajah si B.\rDalam kitab-kitab fiqih dari para imam madzhab, misalnya Kitab Al-muhadzab, diterangkan bahwa sebab yang diperbolehkan melakukan jamak qashar adalah bepergian jauh yang telah memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu. Seandainya hujan lebat dengan persyaratan tertentu hanya memperbolehkan menjamak salat dan tidak memperbolehkan untuk meng-qasar salat. Memang ada pendapat yang memperbolehkan salat karena terlalu sibuk, akan tetapi pendapat tersebut tidak boleh dijadikan pegangan, apalagi untuk difatwakan.\rEmpedu itu cairannya najis, sedangkan tempatnya (kantungnya) adalah mutanajjis yang dapat disucikan dengan dibasuh dan boleh dimakan apabila berasal dari binatang yang halal dimakan, sebagaimana babat. Demikianlah keterangan dari Kitab I’anatut Thalibin juz 1 halaman 85.\rShalat Jama'ah Dengan Imam Di TV\rKami sebagai penggemar majalah AULA mempunyai beberapa masalah berupa pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat kami pecahkan sendiri. Kami ingin menayakan tentang masalah salat Jum’ah.\rBagaimana hukumnya salatnya salat Jum’at dengn cara melihat imam di TV sedang imam yang asli bermakmum di atas (masjid bertingkat) dan makmum yang berada di bawah dengan melihat imam yang berada/ yang kelihatan di dalam televisi tersebut.","part":1,"page":160},{"id":161,"text":"Sahkah salat jum’at tersebut bagaimana hukumnya?\rJawaban:\rShalat Jum’at tersebut sah! Jika imam dan makmum tersebut berada dalam satu masjid, maka hukumnya boleh!\rDasar pengambilan hukum:\rKitab Nihayatuz Zain halaman 121:\rوَ الثَاِ لثُ (عِلمٌ بِنتِقَا لاَتِ اِمَامٍ) بِرُؤ يةِ صَفِّ اَو بَعضِهِ اَو سِمَا عِ صَو تِهِ ……………\rDan yang ketiga dari syarat-syarat makmum adalah mengetahui perpindahan-perpindahan imam (dari satu rukun ke rukun lain) dengan melihat imam tersebut atau melihat shaf di mukanya atau melihat sebagian dari shaf atau mendengar suara imam.\rKitab Nihayatuz Zain halaman 122\r(فَاءِن كَانَ فِي مَسجِدٍ ) فَالمَدَارُ عَلَى العِلمِ بِا لاِْ نْتِقَالاَتِ بِطَرِيْقٍٍ مِنَ الطُرُقِ الْمُتَقَدَّ مَةِ وَحِنَئِدٍ (صّحَّ الاِقْتِدَأُ )…وَلَوْ كَانَ اَ حَدُهُمَا بِعُلُوِّ كَسَطْحِ المَسْجِدِ اَوْ مَنَا رَتِهِ وَالاَ خَرُ بِسُفْلٍ كَسَرَادِبِهِ اَوْبِئْرٍ فِيْهِ لاَيَضُرُّ.\rMaka jika keduanya (imam dan makmum) berada di sebuah masjid, maka yang menjadi pokok pembahasan atas pengetahuan dengan perpindahan-perpindahan adalah dengan salah satu cara dari cara-cara yang telah disebutkan. Dan pada saat itu, maka sah mengikuti imam… Dan andaikata salah seorang diantara keduanya (makmum dan imam) berada di atas seperti loteng masjid atau menaranya, sedang yang lain berada di bawah seperti bangunan bawah tanah tersebut, maka hal itu tidak merusak keabsahan bermakmum.\rMenyambung Potong Tangan dan Khutbah Bahasa Arab\rKami ingin bertanya kepada pengasuh Bahsu Masail, yang merupakan masalah buat kami.","part":1,"page":161},{"id":162,"text":"Misal seorang dikenai Qisos sehingga tanganya dipotong. Kemudian setelah hukuman itu dilakukan atau pemotongan tersebut, orang tersebut menyambung tangannya kembali ke ahli medis, yang kami tanyakan, bagaimana hukum penyambungan tangan tersebut?\rMasalah kepercayaan kepada orang tua kita, maksudnya adat-adat yang dilakukan sejak zaman nenek moyang oleh orang-orang Islam, seperti menaruh sesajen pada sumur, dapur, perempatan jalan pada saat hari-hari tertentu, dll. Bagimana hukumnya orang Islam yang melakukan atau memakai adat atau kepercayaan tersebut!\rBiasanya di negara kita ini, Khutbah Jum’ah mengunakan atau memakai bahasa daerah atau bahasa Indonesia. Bagaiman hukumnya khutbah yang dalam khutbahnya, sang khatib mengunakan bahasa arab yang banyak kurang dimengerti isi dan kandungan khutbah tersebut oleh para jamaahnya!\rJawaban:\rMenurut hukum formal, penyambungan bagian tangan tersebut adalah boleh, sebab secara formal orang tersebut telah menjalani hukum Qisos berupa pemotongan tanganya. Akan tetapi ditinjau dari materi hukum, penyambungan tangan yang sudah terputus tidak boleh, sebab orang yang tidak menyaksikan hukuman Qisos tersebut akan berpendapat bahwa orang tersebut belum dilaksanakan hukuman Qisos yang dikenakan kepadanya yang dapat mengundang balas dendam yang tidak diinginkan oleh hukuman Qisos itu sendiri.","part":1,"page":162},{"id":163,"text":"Meletakkan sesaji seperti tersebut di atas hukumnya haram Tidak boleh! Sebab perbuatan tersebut bersumber dari ajaran kepercayaan yang bertentangan dengan ajaran Islam, yaitu bersumber dari nenek moyang yang mempercayai bahwa keselamatan dan kebahagiaan seseorang itu ditentukan oleh roh-roh halus yang disebut danyang, sehingga pada saat danyang tersebut tidak diberi sesaji pada saat-saat tertentu di tempat tertentu, para danyang tersebut akan marah dan membuat malapetaka.\rDasar pengambilan Kitab Irsyadul Ibad halaman 27 disebutkan:\rشُرُوْطُ صِحَّةِ الجُمُعَةِ سِتَةُ… وَتَقْدِيْمُ خُطْبَتَيْنِ بِالعَربِيَّةِ وَاِنْ لَمْ يَفْهَمُوا…\rSyarat-syarat keabsahan salat jumu’ah itu ada enam… Dan mendahulukan dua khutbah dengan dua bahasa Arab, meskipun para jamaah tidak memahaminya…\rDalam Kitab Nihayatuz Zein halaman 140 disebutkan:\r(وَعَرَ بِيَّةٌ)بِاَنء تَكُوْنَ اَوْ كَانَ الخُطْبَتَيْنِ بِالْعَرَبِيَّتةِ .فَانْ لَمْ يَكُنْ ثُمَّ مَنْ يُحْسِنُ العَرَبِيَّةَ وَلَمْ يَمْكِنْ تَعَلَّمُهَا خَطَبَ بِغَيْرِهاَ.فَاِنْ اَمْكَن وَجَبَ عَلَى سَبِيْلِ فَرْضِ الكِفَابَةِ,فَيَكْفِى فِي ذَلِكَ وَاخِدٌ.فَلَوْ تَرَكُوْا التَّعَلُّمَ مَعَ اِمْ كَا نِهِ عَصَوْا وَلاَ جَمْعَةُلَهُمْ فَيُصَلّو نَ الظُّهْرَ.","part":1,"page":163},{"id":164,"text":"(Dan bahasa Arab) artinya hendaklah rukun-rukun khutbah adalah dengan bahasa Arab. Jika di sana (tempat melakukan salat jumuah) tidak ada orang yang dapat berbahasa Arab dengan baik dan tidak mungkin dapat mempelajarinya, maka khatib dapat/boleh berkhutbah dengan bahasa selain Arab. Jika memungkinkan belajar bahasa Arab, maka wajib atas semua orang secara wajib kifayah, dan dalam hal tersebut cukup dilakukan oleh satu orang. Dan jika mereka meninggalkan belajar bahasa Arab beserta kemampuan mereka untuk mempelajarinya, maka mereka telah berbuaat ma’siat dan salat jumuah yang mereka lakukan tidak sah, sehingga harus melakukan salat dhuhur.\rDalam Kitab Ianatut Thalibin juz 2 halaman 69 diterangkan bahwa rukun-rukun khutbah jumuah (baca hamdalah, shalawat Nabi, berwasiat dengan taqwa, membaca ayat Alquran dalam salah satu dari dua khutbah, dan mendoakan kepada orang Mu’min laki-laki dan perempuan) harus diucapkan dengan bahasa Arab. Adapun selain rukun, boleh diterjemahkan ke dalam bahasa selain Arab. Dengan syarat harus ada kaitannya dengan nasihat-nasihat.","part":1,"page":164},{"id":165,"text":"Persyaratan khutbah dengan bahasa Arab sebagaimana bacaan-bacaan salat dapat kita mengerti dan kita pahami, karena jika diperbolehkan dengan bahasa daerah misalnya, maka bagaimana khutbah tersebut dapat dimengerti oleh orang asing yang kebetulan bermakmum? Di samping itu peryataan bahasa arab tersebut mendorong kaum muslimin untuk mempelajarinya, sehingga dengan demikian kaum muslimin tidak hanya mengerti dan memahami isi khutbah. Akan tetapi sekaligus mengerti isi dari Alquran dan Al Hadits serta kitab-kitab ilmu pengetahuan tentang agama yang sembilan puluh persen berbahasa Arab.\rMenghidangkan Makanan Bagi Pelayat\rSudah menjadi tradisi di masyarakat jika ada orang meninggal biasanya para pelayat diberi suguhan/makanan oleh keluarga yang ditimpa musibah, yang ditanyakan:\rBagaimana hukumnya memberi makanan/suguhan kepada para pelayat?\rDan bagaimana pula hukumnya makanan tersebut jika dimakan oleh para pelayat?\rAda 2 orang katakanlah si A dan si B, semenjak hidupnya mereka sangat rukun, akhirnya suatu ketika tanpa disangka-sangka mereka telah terjadi perselisihan masalah hak milik, keduanya sangat ngotot untuk mempertahankan haknya. Kata si A barang tersebut milik si A, begitu pula si B, yang mana si A dan si B sama-sama tidak mempunyai bukti yang kuat. Pertanyaan kami:\rSiapakah yang berhak memiliki barang tersebut? Dan bagaimana menurut hukum syara’ cara menghadapi masalah tersebut?\rJawaban:\rDalam hal ini yang menghukumi:","part":1,"page":165},{"id":166,"text":"Bid’ah mazmumah (perbuatan bid’ah yang dicela oleh agama), karena: Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitab Musnadnya dan diriwayatkan oleh Abu Daawud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim yang kesemuanya dari Abdullah bin Ja’far, katanya:\rلما قجم خبر كوت أبى ، قال صلى الله عليه وسلم : اصنعوا لأل جعفر طعاما ، وابعثوا به اليهم ، فقد جاء هم ما يشغلهم عنه\r“Pada waktu datang berita kematian ayahku, Rasulullah saw bersabda: “Buatkanlah olehmu sekalian makanan untuk keluarga Ja’far, karena sesungguhnya telah datang pada mereka sesuatu yang datang pada mereka sesuatu yang tidak menyempatkan mereka untuk memasak!”\rBid’ah yang diharamkan berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Ahmad dengan sanad yang sahih dari Abdullah ra, katanya:\rكنّا نعدّ الإجتماع الى أهل الميّت وصنعهم الطعام من النّياحة\"\r“Kami menghitung berkumpul ke rumah keluarga mayit dan pekerjaan mereka membuatkan makanan, termasuk “meratapi mayit.”\rBoleh, berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab Sunan-nya dan Al-Baihaqi dalam kitab Dala’ilun Nubuwwah yang lafalnnya menurut Al Baihaqi sebagai berikut:","part":1,"page":166},{"id":167,"text":"عن عاصم بن كليب عن أبيه عن رجلٍ من الأنصار قال: خرجنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم فى جنازة فرأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يوصى الحافرة يقول: أوسع مِنْ قِبَلِ رجليه ، أوسع من قبل رأسه فلمّا رجع استقبله داعي امرأته أي زوجة المتوفّى ، فأجاب ونحن معه فجئ بالطعام فوضع يده ثم وضع القوم فأكلوا ونظرنا رسول الله يلوك اللّقمة فى فيه ثم قال: أجد لحم شاة أخذت بغير اذن أهلها ، فأرسلت المرأة تقول: يارسول الله، إنّى أرسلت الى البقيع وهو موضعٌ يباع فيه الغنم ليشتري لى شاة فلم توجد. فأرسلت الى جار لى قد اشترى شاة أن يرسل بها اليّ نثمنها فلم يوجد، فأرسلت الى امرأته فأرسلت اليّ بها. فقال رسول الله صلّى الله عليه وسلم: أ طمعمى هذا الطعام الأسرى.\r“Dari Ashim bin Kulaib dari ayahnya dari seorang sahabat Anshar, berkatalah sahabat tersebut. “Kami telah keluar menyertai Rasulullah saw mengiringkan jenazah, maka kulihat Rasulullah saw berwasiat kepada penggali kubur, sabda beliau: “Perluaslah arah kedua kakinya! Perluaslah arah kepalanya!” Setelah beliau pulang, beliau ditemui oleh orang yang mengundang dari pihak istrinya, yakni istri mayit. Maka beliau pun menerima undangan tersebut, dan kami menyertainya. Lalu dihidangkanlah makanan. Maka beliau mengulurkan tangan, kemudian kaum (hadirin) pun mengulurkan tangan mereka, lalu mereka makan\rHukum Ayat Al Qur'an Didalam Komputer\rDalam dinamika iptek yang semakin pesat, banyak ayat-ayat al-Quran dimasukkan ke dalam disket komputer. Maka dari itu saya mohon bapak pengasuh bahtsul masail untuk menjawab pertanyaan dibawah ini:","part":1,"page":167},{"id":168,"text":"Bagaimana hukumnya bila memegang disket computer yang berisi ayat-ayat al-Quran, dalam keadaan tidak mempunyai wudlu? Mohon dijelaskan beserta dalil nashnya!\rSeumpama disket computer tersebut dilayarkan ke dalam monitor computer, apakah boleh memegang tanpa wudlu ke monitor tersebut? Kalau boleh, apakah ada dasarnya dari kitab/sunnah? Kalau tidak boleh, apa ada dasarnya dari kitab/sunnah?\rBagaimana terhadap pandangan Islam tentang ayat-ayat al-Quran yang ada di dalam disket computer itu?\rApakah boleh saya letakkan ke dalam kantong celana seperti disket-disket yang lainnya?\rJawaban:\rJika ayat-ayat al-Quran yang direkam dalam disket tersebut dapat dikatakan tulisan, maka hukumnya haram; apabila tidak dapat dikatagorikan tulisan, maka hukumnya tidak haram, berdasarkan keterangan dari kitab Nihayatuz Zain halaman 32 sebagai berikut:\rوَرَابِعُهَا مَسُّ المُصْحَفِ وَلَو بِحَائِلٍ ثَخِيْنٍ حَيْثُ عُدَّ مَاسًّا لَهُ عُرْفًا, وَالمُرَادُ بِالمُصْحَفِ كُلُّ مَا كُتِبَ فِيْهِ شَيْءٌ مِنَ القُرْآنِ بِقَصْدِ الدِّرَاسَةِ كَلَوحٍ أو عَمُودٍ, او جِدَارٍ كُتِبَ عَلَيْهِ شَيْءٌ مِنَ القُرْآنِ لِلدِّرَاسَةِ فَيَحْرُمُ مَعَ الحَدَثِ حِيْنَئِذٍ.","part":1,"page":168},{"id":169,"text":"Yang keempat dari hal-hal yang diharamkan sebab hadast kecil adalah menyentuh mushaf meskipun dengan lapis yang tebal, sekira orang yang menyentuh dengan lapis tersebut dihitung sebagai orang yang menyentuh mushaf menurut adat kebiasaan. Yang dimaksud dengan mushaf adalah segala sesuatu yang padanya ditulis sesuatu dari al-Quran dengan maksud untuk belajar, seperti batu tulis atau tiang atau tembok yang ditulisi sesuatu dari al-Quran untuk tujuan belajar, maka haram menyentuh beserta hadast pada waktu itu.\rTidak boleh, sebab layar monitor dari komputer tersebut sudah bertuliskan ayat-ayat al-Quran, sehingga seluruh monitor tersebut hukumnya menjadi mushaf.\rDasar pengambilan\rKitab Nihayatuz Zain halaman 32, sebagai berikut:\rفَيَحْرُمُ مَسُّهُ مَعَ الحَدَثِ حِينَئِذٍ سَوَاءٌ فِى ذَلِكَ القَدَرِ المَشْغُولٌ بِالنُّقُوشِ وَغَيْرِهِ كَالهَامِشِ, وَمَا بِيْنَ السُّطُورِ وَيَحْرُمُ ايْضًا مَسُّ جِلْدِهِ المُتَّصِلِ بِهِ.\rMaka haram menyentuh mushaf beserta hadast pada waktu itu, baik dalam ukuran tersebut adalah bagian yang penuh dengan tulisan atau lainnya, seperti pinggirnya, dan apa yang ada diantara baris-baris tulisan. Haram juga menyentuh kulitnya yang bersambung dengan mushaf.\rAgama Islam tetap memandangnya sebagai firman Allah yang harus dihormati, dimuliakan dan diagungkan.\rMeletakkan disket al-Quran dalam kantong celana adalah memberi kesan menyamakan disket tersebut dengan disket-disket lainnya yang berisi permainan (game), sehingga menunjukkan kurangnya penghormatan kepada al-Quran.","part":1,"page":169},{"id":170,"text":"Dasar pengambilan\rKitab Qomiut Tughyan halaman 8 sebagai berikut:\rوَالشُّعْبَةُ التَّاسِعَةَ عَشَرَ تَعْظِيْمُ القُرْآنِ وَاحتِرَامُهُ ... إلَى أنْ قَالَ: وَأنْ لاَ يَضَعَ فَوقَهُ شَيْئًا مِنَ الكُتُبِ حَتَّى يَكُونَ أبَدًا عَالِيًا عَلَى سَائِرِ الكُتُبِ.\rCabang iman yang ke 19 adalah mengagungkan al-Quran dan menghormatinya… sampai pada ucapan pengarang: … dan agar jangan meletakkan sesuatu diatas mushaf al-Quran sesuatu dari kitab-kitab lainnya, sehingga mushaf al-Quran itu selamanya berada diatas seluruh kitab-kitab.\rShalawat Dalam Khutbah Jum'at\rDalam kitab Tuhfatus Saniyah karangan al-Ustadz as-Syeikh Hasan Abdur Rahim Ja’far al-Anshori, percetakan Muhammad bin Ahmad Nabhan Khutbah dalam bulan Jumadits Tsani bacaan shalawatnya seperti ini:\rاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ\rKemudian dalam kitab I’anah jilid 2 halaman 65 ada keterangan begini:\rفَلاَ يَكْفِى اللهُمَّ سَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَارْحَمْ مُحَمَّدًا وَلاَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ (قَولُهُ وَلاَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِالضَّمِيْرِ) اى فَلاَيَكْفِى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ.\rAdakah pendapat yang mencukupkan/membolehkan bacaan shalawat dalam khutbah dengan memakai shighat sebagaimana dalam khutbah yang kami utarakan di atas?\rBagaimana tanggung jawab khatib yang telanjur membaca shalawat seperti di atas? Apakah wajib memberitahukan kepada semua jamaah Jumat bahwa khutbah tidak sah sehingga mereka harus mengqadla salat Jumatnya dengan salat dzuhur? Sebelum dan sesudahnya kami ucapkan terima kasih.\rJawaban:","part":1,"page":170},{"id":171,"text":"Sepanjang pengetahuan kami tidak ada pendapat/qoul yang membolehkan bacaan shalawat dalam khutbah seperti itu. Lebih-lebih pengarang kitab I’anatut Thalibin sendiri telah menyatakan bahwa para ahli tahqiq dari fuqoha mutaakhirun telah menjelaskan ketidakcukupan membaca shalawat dalam khutbah dengan memakai isim dlomir (kata ganti); bahkan kita dilarang untuk tertipu oleh kitab-kitab khutbah yang sudah dicetak yang menulis shalawat dengan isim dlomir saja.\rSebenarnya seorang yang sudah berani menjadi khatib harus sudah mengetahui dengan pasti syarat dan rukun khutbah, sehingga dapat diminimalisir kekeliruan dalam menjalankan syarat dan rukun khutbah. Namun bagi khatib yang terlanjur membaca khutbah dengan shalawat seperti tersebut dalam pertanyaan, wajib memberitahukan kepada jamaah Jumat bahwa khutbahnya yang telah lalu tidak sah, sehingga salat Jumatnya juga tidak sah. Untuk itu mereka wajib melakukan I’adah (pengulangan bukan qadla’) salat dzuhur.\rMenulis Angka Arab\rKalau melihat kaum muslimin awam karena tidak banyak yang mengetahui tentang suatu sebab kenapa kok huruf arab berbeda dengan angka arab. Kalau dipandang dari segi permulaan penulisan, maka alangkah baiknya bilamana KH. A. Masduqi Mahfudz menjelaskan pertanyaan yang kami haturkan sebagai berikut:","part":1,"page":171},{"id":172,"text":"Mengapa kalau huruf Arab pada permulaan penulisannya dimulai dari sebelah kanan? Sedangkan angka Arab pada permulaan penulisannya dimulai dari sebelah kiri? Contohnya dalam penulisan 1978 ditulis (1978) tidak ditulis dari kanan seperti contohnya (8791).\rAdakah dalil-dalil al-Quran/hadist maupun referensi dari kitab-kitab salaf yang menerangkan mengenai hal tersebut dan kalau ada di kitab apa?\rApakah rahasia di balik tabir itu semua?\rJawaban:\rKalau anda atau orang lain yang menulis angka Arab mulai penulisannya dari kiri, mungkin karena latar belakang pendidikan dari sekolah umum lebih dahulu, sehingga terpengaruh oleh tulisan latin. Tetapi kami sendiri yang sebelum masuk ke sekolah umum sudah terlebih dahulu belajar di madrasah (setelah kelas IV madrasah Ibtidaiyah baru masuk kelas I sekolah umum) sejak kecil sampai sekarang kalau menulis angka arab dari sebelah kanan.","part":1,"page":172},{"id":173,"text":"Dalam al-Quran surat Yusuf, Allah swt menceritakan Nabi Yusuf as, melihat sebelas bintang dengan ucapan \"Inni ra’aitu ahada asyara kaukaban\", dengan menyebutkan angka satuan terlebih dahulu baru angka puluhan. Jadi yang ditulis angka satuan lebih dahulu baru angka puluhannya. Demikian pula selanjutnya dalam menulis \"adad murakkab\" sampai angka 19. Dalam menyebutkan \"adad ma’tuf\", yaitu bilangan 21 sampai 99, harus disebutkan lebih dahulu angka satuan dan baru angka puluhan, sehingga menulisnya pun angka satuan lebih dahulu baru angka puluhan. Jadi menulisnya dimulai dari sebelah kanan dan bukan dimulai dari sebelah kiri. Kalau kita ingin menyebutkan 125, kami biasa mengucapkan \"khamsatun wa isyruuna ba’dal mi’ati\" sehingga mulai menulisnya dari sebelah kanan, meskipun ada yang mengucapkan miatun wa khamsatun wa isyruuna. Dalam menyebutkan angka 1995, kami mengucapkan khamsun wa tis’unna ba’da tis’a asyrata mi’atin meskipun boleh orang menyebutkan Alfun wa tis’u miatin wa khamsun wa tis’uuna, tetapi kami selalu menuliskan angka 1995 tersebut dimulai dari sebelah kanan.\rTahlil dan Tawassul Untuk Mayyit\rSebagai orang yang semenjak kecil hidup dalam lingkungan Nahdlatul Ulama, saya sudah terbiasa mengikuti kegiatan ala NU. Salah satunya adalah kegiatan tahlil yang mana kegiatan ini diselenggarakan sebagai wasilah untuk mendoakan orang yang telah meninggal dunia.","part":1,"page":173},{"id":174,"text":"Rangkaian bacaan tahlil ini sangat bagus sekali, sebab yang dibaca adalah kalimah-kalimah thoyibah dan ayat-ayat suci al-Quran. Hanya saja dalam teknis pelaksanaanya biasanya di desa-desa pada hari-hari tertentu. Sebagai contoh: umpamanya ada orang meninggal dunia kemudian dibacakan tahlil sampai tujuh hari terus disusul hari keempat puluh dan terakhir mendak pindho (nglepas) setelah waktu dua tahun.\rYang ingin saya tanyakan:\rApakah hal tersebut memang ada dasar hukumnya dari agama Islam (al Quran-Hadist). Karena ada yang berkomentar bahwa itu adalah merupakan sinkretisme antara ajaran Islam dan non-Islam.\rBagaimanakah hukumnya bertawasul dalam berdoa dengan orang-orang yang telah wafat yang notabenenya mereka kita yakini shalih.\rJawaban:\rDasar hukum yang menerangkan bahwa pahala dari bacaan yang dilakukan oleh keluarga mayit atau orang lain itu dapat sampai kepada si mayit yang dikirimi pahala dari bacaan tersebut adalah banyak sekali. Antara lain hadist yang dikemukakan oleh Dr. Ahmad as-Syarbashi, guru besar pada Universitas al-Azhar, dalam kitabnya, Yas aluunaka fid Diini wal Hayaah juz 1 halaman 442, sebagai berikut:","part":1,"page":174},{"id":175,"text":"وَقَدِ اسْتَدَلَّ الفُقَهَاءُ عَلَى هَذَا بِأَنَّ أَحَدَ الصَّحَابَةِ سَأَلَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّم فَقَالَ لَهُ: يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّا نَتَصَدَّقُ عَنْ مَوتَانَا وَنُحَجُّ عَنْهُمْ وَنَدعُو لَهُمْ هَلْْ يَصِلُ ذَلِكَ إِلَيْهِمْ؟ قَالَ: نَعَمْ إِنَّهُ لَيَصِلُ إِلَيْهِمْ وَإِنَّهُمْ لَيَفْرَحُوْنَ بِهِ كَمَا يَفْرَحُ اَحَدُكُمء بِالطَّبَقِ إِذَا أُهْدِيَ إِلَيْهِ!\rSungguh para ahli fiqh telah mengambil dalil atas kiriman pahala ibadah itu dapat sampai kepada orang yang sudah meninggal dunia, dengan hadist bahwa sesungguhnya ada salah seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah saw, seraya berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami bersedekah untuk keluarga kami yang sudah mati, kami melakukan haji untuk mereka dan kami berdoa bagi mereka; apakah hal tersebut pahalanya dapat sampai kepada mereka? Rasulullah bersabda: Ya! Sungguh pahala dari ibadah itu benar-benar akan sampai kepada mereka dan sesungguhnya mereka itu benar-benar bergembira dengan kiriman pahala tersebut, sebagaimana salah seorang dari kamu sekalian bergembira dengan hadiah apabila hadiah tersebut dikirimkan kepadanya!\rHanya saja dalam kitab Fatawa al-Kubra juz 2 halaman 7 diterangkan bahwa menempatkan selamatan mayat para hari ke-3 dan seterusnya, hukumnya adalah bid’ah yang makruh. Kecuali jika selamatan tersebut dilakukan dengan memaksakan diri (takalluf) sampai berhutang atau mempergunakan harta warisan anak yatim atau lainnya yang dilarang agama, maka hukumnya haram.","part":1,"page":175},{"id":176,"text":"Adapun orang yang memberi komentar bahwa hal tersebut adalah sinkretisme antara ajaran agama Islam dengan non-Islam, maka sebenarnya orang tersebut tidak memahami sistem dakwah yang dilakukkan oleh Rasulullah saw, yang hanya memberikan bimbingan dan pengarahan terhadap kebudayaan dari bangsa-bangsa yang memeluk agama Islam yang bertentangan dengan pokok-pokok ajaran Islam. Sehingga tidak lagi bertentangan dengan pokok-pokok ajaran agama Islam. Sehingga karenanya, maka komentar tersebut tidak perlu diperhatikan.\rHukumnya boleh, sebab mukjizat dari para nabi, karomah dari para wali dan maunah dari para ulama shaleh itu tidak terputus dengan kematian mereka. Dalam kitab Syawahidul Haq, karangan Syeikh Yusuf Ibn Ismail an-Nabhani, cetakan Dinamika Berkah Utama Jakarta, tanpa tahun, halaman 118 disebutkan sebagai berikut:\rوَيَجُوزُ التَّوَسُّلُ بِهِمْ إلَى اللهِ تَعَالَى ، وَالإِسْتِغَاثَةُ بِالأنْبِيَاءِ وَالمُرْسَلِيْنَ وَالعُلَمَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ بَعْدَ مَوتِهِمْ لأَنَّ مُعْجِزَةَ الأَنْبِيَاءِ وَكَرَمَاتِ الأَولِيَاءِ لاَتَنْقَطِعُ بِالمَوتِ.\rBoleh bertawassul dengan mereka (para nabi dan wali) untuk memohon kepada Allah taala dan boleh meminta pertolongan dengan perantara para Nabi, Rasul, para ulama dan orang-orang yang shalih setelah mereka wafat, karena mukjizat para Nabi dan karomah para wali itu tidaklah terputus sebab kematian.\rNikah Wanita Hamil dan Akibat Yang Ditimbulkan\rKami ingin menyampaikan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut, mengingat sangat berkenaan dengan tugas kami:","part":1,"page":176},{"id":177,"text":"Bagaimana hukumnya perkawinan wanita hamil, yang hamilnya sulit untuk dinisbatkan sebelum/sesudah cerai mati/hidup sudah jelas kumpul tidur dengan laki-laki lain? Mohon dijelaskan berkenaan dengan iddah dari wanita tersebut.\rKalau anak yang lahir dari wanita tersebut (no.1) perempuan, siapakah yang berhak menjadi wali nikahnya?\rBagaimana hukumnya wanita hamil (perkawinannya) yang jelas hamilnya hasil zina dengan laki-laki lain, karena wanita itu tak punya suami? Mohon dijelaskan berkenaan dengan apakah wanita itu memiliki masa iddah atau tidak?\rKalau wanita tersebut (no.3) melahirkan anak perempuan, siapakah yang berhak menjadi wali nikahnya?\rKalau suatu perkawinan (sudah dilaksanakan) yang menurut hasil pemeriksaan secara Islam (sebelum dikawinkan) sudah memenuhi syarat dan rukun nikah, tapi setelah selesai beberapa hari dari akad nikah ternyata penentuan walinya salah (tidak sengaja) akibat ada informasi baru dari pihak keluarga yang dapat dibenarkan secara hukum Islam. Hasil pemeriksaan sebelumnya: yang berhak menjadi wali adalah wali hakim, karena dari wali nasab tidak ada sama sekali atau ada tapi tidak memenuhi syarat sebagai wali, maka:\rBagaimana hukumnya perkawinan tersebut?\rBagaimana cara mengatasinya?\rDalam keadaan yang tidak disengaja, dosakah pemeriksa/wali hakimnya yang mengawinkan, yang sudah mendapat izin mengawinkan dari pihak mempelai perempuan?\rBagaimana hukumnya wali hakim/muhakkam dalam perkawinan berwakil kepada orang lain?\rJawaban:","part":1,"page":177},{"id":178,"text":"Dalam hal ini harus dilihat lebih dahulu perceraian wanita tersebut dengan suaminya. Jika cerai karena suaminya mati, maka iddahnya 4 bulan 10 hari, sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 134; dan jika cerai hidup, maka iddahnya adalah 3 kali suci, sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 228.\rKemudian kita teliti kehamilan wanita tersebut. Jika janin yang ada dalam perut wanita tersebut sudah berumur 4 bulan misalnya, sedangkan dia baru 6 bulan dicerai atau ditinggal mati suaminya, maka berarti kehamilan tersebut dimulai pada waktu wanita tersebut masih dalam waktu iddah; dengan demikian maka janin yang ada dalam perutnya dinisbatkan kepada suaminya yang mati atau menceraikannya, sehingga wanita tersebut harus menjalani iddah sampai melahirkan anaknya.\rJika kehamilannya mulai sesudah iddahnya dari suaminya yang mati atau menceraikannya habis, maka janin yang ada dalam perutnya dihukumi sebagai hasil dari zina dengan laki-laki lain yang mengumpulinya. Dalam hal ini wanita tersebut tidak memiliki iddah meskipun dalam keadaan hamil, artinya boleh dikawin oleh lelaki lain.\rJika janinnya dapat dinisbatkan kepada suaminya yang mati atau menceraikannya, maka walinya adalah wali nasab. Jika janinnya adalah hasil zina, maka yang menjadi wali nikahnya adalah hakim, karena anak tersebut hanya dapat dinisbatkan kepada ibunya saja.","part":1,"page":178},{"id":179,"text":"Wanita yang hamil dari zina tidak mempunyai iddah, sehingga dia boleh dikawini oleh laki-laki yang berzina dengannya atau laki-laki lain dalam keadaan hamil.\rDasar pengambilan:\rKitab al-Madzahibul Arbaah juz 4 halaman 523\rأمَّ وَطْءُ الزِّنَا فَإِنَّهُ لاَ عِدَّةَ فِيْهِ وَيَحِلُّ التَّزْوِيْجُ بِالحَامِلِ مِنَ الزِّنَا وَوَطْءُهَا وَهِيَ حَامِلٌ عَلَى الأصَحّ وَهَذَا عِنْدَ الشَّافِعى.\rAdapun wathi zina (hubungan seksual di luar nikah), maka sama sekali tidak ada iddah padanya. Halal mengawini wanita yang hamil dari zina dan menyetubuhinya sedangakan di dalam keadaan hamil menurut pendapat yang lebih kuat. Pendapat ini adalah menurut madzhab Syafii.\rKitab Bughyatul Musytarsyidin halaman 201\r(مسألَة ش) وَيَجُوزُ نِكَاحُ الحامِلِ مِنَ الزِّنَا سَوَاءٌ الزَّانِى أو غَيْرُهُ وَوَطْءُهَا حِينَئِذٍ مَعَ الكَرَاهَةِ.\r(Masalah Syin) Boleh menikahi wanita hamil dari zina, baik oleh laki-laki yang berzina dengannya atau orang lain; dan boleh menyetubuhi waktu itu dengan hukum makruh.\rYang berhak menjadi wali adalah hakim.\rDasar pengambilan:\rKitab Sunan Ibn Maajah juz 1 halaman 605\r... فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لاَ وَالِيَ لَهُ.\r…maka sultan itu adalah wali dari orang yang sama sekali tidak mempunyai wali.\rHukum pernikahannya batal, karena dinikahkan oleh bukan walinya.\rDasar pengambilan:\rKitab Sunan Ibn Maajah juz 1 halaman 605","part":1,"page":179},{"id":180,"text":"عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أيُّمَا امْرَأَةٍ لَمْ يَنْكِحْهَا الوَلِيُّ فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَإِنْ أَصَابَهَا فَلَهَا مَهْرُهَا بِمضا اَصَابَ مِنْهَا. فإِنِ اشْتَجَارُوا فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لاَ وَلِيَّ لَهُ.\rDiriwayatkan dari Aisyah ra. Beliau berkata: Rasulullah saw telah bersabda: Yang manapun dari seseorang perempuan yang walinya tidak menikahkannya, maka nikahnya adalah batal. Jika laki-lakinya telah menyetubuhinya, maka perempuan tersebut berhak mendapat mahar/maskawin sebab persetubuhan yang diperoleh laki-laki dari perempuan tersebut. Jika diantara anggota keluarga tidak ada yang berhak menjadi wali, maka sultan adalah wali dari orang yang sama sekali tidak mempunyai wali.\rCara mengatasinya adalah harus dilakukan nikah ulang oleh walinya sendiri.\rTidak berdosa, karena tidak disengaja.\rSebagaimana wali nasab boleh mewakilkan kepada orang lain untuk menikahkan perempuan yang ada dibawah perwaliannya, maka wali hakim juga boleh mewakilkannya, sebab hakim itu adalah wali yang sah bagi perempuan yang sama sekali tidak mempunyai wali nasab.\rMenyuap Hakim","part":1,"page":180},{"id":181,"text":"Bagaimana hukumnya orang Islam yang menjadi hakim pada Pengadilan Negeri, di mana dalam mengadili suatu perkara tidak didasarkan pada hukum Islam. Akan tetapi pada ketentuan hukum positif, seperti KUHP, KUH Perdata, Hukum Adat dsb, yang mana dalam ketentuan tersebut dimungkinkan adanya ketentuan yang tidak sejalan dengan hukum Islam, misalnya pencuri di hukum penjara dan tidak dipotong tangannya dst.\rBagaimana hukumnya Hakim yang menerima pemberian uang/hadiah dari pihak yang berperkara:\rBila pemberian itu tidak diperjanjikan, diberikan sebagai ungkapan terima kasih atau sekedar pemberian tanpa syarat-syarat tertentu.\rBila pemberian itu didasarkan pada syarat-syarat tertentu misalnya bila perkaranya dimenangkan, padahal sebenarnya posisi pihak tersebut, secara hukum (hukum positif/syariah) ada dipihak yang benar dan sudah seharusnya dimenangkan. Bagaimana bila dalam hal:\rSang Hakim memenangkan perkara tersebut pada pihak yang menjanjikan uang dan ia terpengaruh dengan pemberian itu?\rSama sekali tidak terpengaruh dengan hadiah.\rDalam memutuskan suatu perkara, putusan ditentukan oleh Majlis Hakim yang terdiri dari tiga orang Hakim. Bagaimana hukumnya seorang Hakim dari Majelis tersebut yang dalam mengambil putusan mempunyai pendirian benar tetapi ‘kalah suara’ dengan Hakim lain yang ‘nyeleweng’.","part":1,"page":181},{"id":182,"text":"Dalam perkara tindak pidana subversi yan pelakunya Tokoh Agama, dalam banyak kasus secara syariat tokoh agama yang menjadi terdakwa tersebut dapat dibenarkan bahkan dapat diklarifikasikan sebagai tindakan jihad fi sabilillah. Akan tetapi dipandang dari hukum positif dapat terjerat pasal-pasal UU anti subversi. Bagaimana sikap yang harus diambil oleh Hakim (yang beragama Islam) yang mengadili perkara tersebut: menghukum (sesuai UU), membebaskan (dengan konsekwensi), meringankan hukuman, atau mengundurkan diri (biar diadili oleh Hakim yang lain).\rJawaban:\rJika hakim yang memutuskan perkara dengan ketentuan hukum yang tidak sesuai dengan syariat agama Islam menganggap halal terhadap ketentuan hukum tersebut, maka hukumnya menjadi orang kafir. Jika dia tidak menganggap halal ketentuan hukum tersebut, maka hukumnya dia menjadi orang fasiq; sedang fasiq itu adalah haram.\rDisamping itu perlu kita ketahui bahwa ketentuan-ketentuan hukum yang dipakai di pengadilan-pengadilan negeri diseluruh wilayah Indonesia sekarang ini sebagian besar adalah masih warisan dari pemerintah penjajah Belanda, sehingga para ahli hukum dari putera-putera bangsa Indonesia ini dituntut untuk segera menggali sendiri hukum-hukum yang sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia yang mayoritas beragama Islam.\rYang memberi hadiah tidak berdosa, tetapi hukum yang menerimanya tetap berdosa.\rOrang yang memberi hadiah serta hakim yang menerimanya sama-sama berdosa.\rDasar pengambilan:\rKitab al-Bajuri juz 2 halaman 343","part":1,"page":182},{"id":183,"text":"وَيَحْرُمُ عَلَيْهِ قَبُولُ الرَّشْوَةِ وَهِيَ مَا يُبْذَلُ لِلْقَاضِى لِيَحْكُمَ بِغَيْرِ الحَقِّ أو لِيَمْتَنِعَ مِنْ الحُكْمِ بِالحَقِّ لِخَبَرِ\" لَعَنَ اللهُ الرَّاشِ وَالمُرْتَشِ فِى الحُكْمِ\". وَأَمَّ لَو دَفَعَ لَهُ شَيْئًا لِيَحْكُمَ لَهُ بِالحَقِّ فَلَيْسَ مِنَ الرَّشْوَةِ المُحَرَّمَةِ, لَكِنَّ الجَوَازَ مِنْ جِهَّةِ الآخِذِ, لأَنَّهُ لاَيَجُوزُ أَخْذُ شَيْءٍ عَلَى الحُكْمِ سَوَاءٌ أُعْطِيَ شَيئًا مِنْ بَيْتِ المَالِ اَمْ لاَ فَمَا يَأخُذُونَكَ مِنَ المَحْصُولِ حَرَامٌ.\r... dan haram atasnya menerima suap, yaitu apa yang diberikan kepada qadli/hakim agar dia (qadli) menetapkan hukum dengan tidak benar, atau agar dia mencegah putusan hukum yang berdasar kebenaran, karena hadist: Allah melaknat orang yang memberi suap dan orang yang menerima suap dalam menetapkan hukum. Adapun andaikata seseorang memberikan sesuatu kepada qadli agar qadli tersebut menetapkan hukum baginya dengan benar, maka pemberian itu tidak termasuk suap yang diharamkan; akan tetapi ketidak haraman tersebut dari pihak orang yang memberi dan bukan dari pihak orang yang menerima, karena qadli itu tidak boleh menerima sesuatu pemberian karena menetapkan hukum, baik dia diberi sesuatu dari baitul maal atau tidak. Sehingga apa yang mereka ambil dari apa yang dihasilkan adalah haram.\rHakim tersebut sudah tidak berdosa, manakala dia telah menyatakan atau mengemukakan hukum yang benar pada sidang majelis hakim.","part":1,"page":183},{"id":184,"text":"Dia harus menghukumi (menetapkan hukum) sesuai dengan ketentuan undang-undang. Karena jihad fi sabilillah itu tidaklah dengan jalan melakukan tindakan subversi yang dapat mengganggu stabilitas keamanan dan ketentraman masyarakat; tetapi dengan jalan mendakwakan ajaran agama Islam yang benar kepada masyarakat, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi saw, para Khulafaur Rasyidin dan para wali songo.\rUpah Hasil Judi, Menjual Ayam dan Mengantar ke Gereja\rKami atas nama tukang batu/kayu bekerja pada orang yang membangun rumah, sedangkan pemilik rumah tersebut profesinya mencuri/berjudi. Upah yang dibayarkan pada kami tentunya dari hasil mencuri atau berjudi. Mohon dijelaskan bagaimana upah yang dibayarkan kepada kami, haram atau tidak?\rKami memelihara ayam bika/bangkok dari kecil sampai besar. Setelah besar kami jual. Namun kebanyakan pembeli ayam kami adalah tukang adu ayam. Kemungkinan untuk disembelih sangat kecil karena ayam yang kami ternakkan bagus. Bagaimana hukum menjual ayam tersebut?\rBagaimana hukum seorang abang becak yang mengantar orang Kristen ke Gereja setiap hari Ahad dengan mengambil ongkos?","part":1,"page":184},{"id":185,"text":"Di daerah kami ada pembangunan Musholla yang biayanya dari masyarakat, juga dari panitia. Setelah 75% selesai, pembangunan Musholla tersebut terhenti karena dana yang macet. Selama bertahun-tahun Musholla itu tak berfungsi. Ironisnya sering ditempati kambing, ayam bahkan kodok. Yang saya tanyakan apakah orang yang pernah menyumbang mendapat pahala? Tidak berdosakah panitia pembangunan musholla itu? Apakah masyarakat setempat berdosa karena tidak menempatinya?\rJawaban:\rUpah yang dibayarkan kepada anda adalah haram.\rDasar pengambilan\rKitab Muraqiy al-Ubudiyah halaman 72\rوَأَمَّا المَظْنُونُ بِعَلاَمَةٍ فَهُوَ مَالُ السُّلْطَانِ وَعُمَّالِهِ وَمَالُ مَنْ لاَ كَسَبَ لَهُ إلاَّ مِنَ النَّاحِيَةِ او بَيْعِ الخَمْرِ او الرِّبَا او المَزَامِيْرِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنْ آلاَتِ اللَّهْوِ المُحَرَّمَةِ. فَإِنَّ مَنْ عَلِمَتْ أَنَّ كَثِيْرَمَالِهِ حَرَامٌ مُطْلَقًا فَمَا تَأخُذُهُ مِنْ يَدِهِ وَإِنْ أَمْكَنَ أَنْ يَكُونَ حَلاَلاً نَادِرًا, فَهُوَ حَرَامٌ, لأَنَّهُ الغَالِبُ عَلَى الظَّّنِّ.","part":1,"page":185},{"id":186,"text":"Adapun harta yang disangka haram dengan indikasi adalah harta dari penguasa dan pegawai-pegawainya, harta dari orang yang sama sekali tidak mempunyai pekerjaan kecuali dari hasil meratapi orang mati, atau menjual arak, atau dari riba, atau dari hasil bermain seruling atau lainnya dari alat-alat permainan yang diharamkan. Maka sesungguhnya orang yang telah anda ketahui bahwa sebagian hartanya adalah haram secara pasti, maka apa yang anda ambil dari tangannya, meskipun kemungkinan harta tersebut terkadang halal, maka hukumnya haram, karena harta yang haram itu adalah yang memang berdasarkan sangkaan.\rmk:@MSITStore:G:\\untuk maktabah baru\\Kumpulan Bahtsul Masaail - Seri 2.CHM::/../../../../My Web Sites/NH/pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/masail/aula/tahun_1996/08a180.html?seemore=y - top\rMenukar Tanah Wakaf Masjid\rDi desa kami, Simpang Wetan Kecamatan Buaran Kabupaten Pekalongan, ada sebuah masjid kuno yang terletak di tepi jalan raya, sehingga apabila sewaktu-waktu ada pelebaran jalan, pasti masjid tersebut akan digusur. Untuk mengantisipasi hal tersebut, takmir masjid membentuk panitia pembangunan yang melakukan pemugaran total, dengan cara:\rSeparo dari masjid tersebut, yaitu bagian depan, akan dijadikan halaman dan tempat parkir, karena masjid tersebut sekarang ini tidak mempunyai halaman dan tempat parkir. Dengan demikian, halaman yang asalnya masjid tersebut kemungkinan besar akan terkena najis.","part":1,"page":186},{"id":187,"text":"Separo dari masjid bagian depan yang dijadikan halaman tersebut, diganti dengan tanah tanah wakaf yang berada di belakang masjid tersebut. Kemudian masjid yang baru dibuat dua tingkat dan tingkat yang kedua berbentuk letter U, sehingga masjid masjid menjadi lebih megah dan lebih besar kapasitasnya menapung jama'ah.\rBolehkah menukar tanah wakaf masjid ?\rBagaimana hukum merubah fungsi tanah yang semula berupa masjid menjadi halaman masjid atau tempat parkir untuk kemaslahatan masjid tersebut?\rJawaban:\rDalam masalah ini terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama' sebagai berikut:\rHukum menukar tanah wakaf masjid:\rMenurut madzhab Syafi'i tidak boleh!\rMenurut madzhab boleh, dengan syarat:\rTanah wakaf tersebut ditukar dengan yang lebih baik manfaat dan kegunaannya.\rManfaat dan kegunaan yang lebih baik seperti tersebut di atas harus berdasarkan putusan seluruh pengurus takmir masjid dan para ulama setempat.\rMenurut madzhab Hambali, jika fungsi dari bagian depan masjid yang akan dijadikan halaman atau tempat parkir tersebut tidak mungkin dapat dipertahankan keabadiannya; karena keberadaan masjid di tepi jalan itu mutlak memerlukan halamman dan tempat parkir untuk menjaga keselamatan para pengunjung masjid dari\rkecelakaan lalu lintas dan kemungkinan ada pelebaran jalan, maka hukumnya boleh.\rHukum tanah yang semula berfungsi sebagai masjid, kemudian berubah menjadi halaman atau tempat parkir:","part":1,"page":187},{"id":188,"text":"Menurut madzhab Syafi'i, tanah tersebut hukumnya tetap seperti hukum masjid, sehingga tidak boleh ada wanita yang sedang haidl berada di halaman tersebut dan hukum-hukum masjid lainnya.\rMunurut madzhab Hanafi, setelah tanah tersebut diputuskan menjadi halaman masjid, maka hukumnya seperti halaman masjid yang lain yang tidak sama dengan hukum masjid.\rMenurut madzhab Hambali, setelah tanah tersebut berubah fungsinya menjadi bukan masjid, maka hukumnya juga berubah.\rDasar Pengambilan:\rKitab I'aanatut Thaalibiin juz III halaman 181:\rوَلاَ يَنْقُضُ الْمَسْجِدُ اَيِ الْمُنْهَدِمُ الْمُتَقَدِّمُ ذِكْرُهُ فِى قَوْلِهِ \" فَلَوِ انْهَدَمَ مَسْجِدٌ \" ، وَمِثْلُ الْمُنْهَدِمِ اَلْمُتَطِّلُ . ( وَالْحَاصِلُ ) اَنَّ هذَا الْمَسْجِدَ الَّذِى انْهَدَمَ اَىْ اَوْ تَعَطَّلَ بِتَعْطِيْلِ اَهْلِ الْبَلَدِ لَهُ كَمَا مَرَّ لاَ يُنْقَضُ اَىْ لاَ يُبْطَلُ بِنَاؤُهُ بِحَيْثُ يُتَمَّمُ هَدْمُهُ فِىْ صُوْرَةِ الْمَسْجِدِ الْمُنْهَدِمِ اَوْ يُهْدَمُ مِنْ اَصْلِهِ فِى صُوْرَةِ الْمُتَعَطَّلِ ؛ بَلْ يَبْقَى عَلَى حَالِهِ مِنَ الاِنْهِدَامِ اَوْ التَّعْطِيْلِ . وَذلِكَ لإِمْكَانِ الصَّلاَةِ فِيْهِ وَهُوَ بِهذِهِ الْحَالَةِ وَلإِمْكَانِ عَوْدِهِ كَمَا كَانَ .","part":1,"page":188},{"id":189,"text":"\"Dan tidak boleh masjid dirusak. Artinya, masjid yang roboh yang telah disebutkan sebelumnya dalam ucapan mushannif \"Maka andaikata ada sebuah masjid yang roboh\". Masjid yang menganggur adalah seperti masjid yang roboh. Walhasil, sesungguhnya masjid yang telah roboh ini, artinya, atau telah menganggur sebab dianggurkan oleh penduduk desa tempat masjid tersebut berada sebagaimana keterangan yang telah lalu, maka masjid tersebut tidak boleh dirusak, artinya bangunannya tidak boleh dibatalkan dengan jalan disempurnakan penghancurannya dalam bentuk masjid yang roboh, atau dihancurkan mulai dari asalnya dalam bentuk masjid yang dianggurkan. Akan tetapi hukum masjid tersebut tetap dalam keadaannya sejak roboh atau menganggur. Yang demikian itu ialah karena masih mungkin melakukan shalat di masjid tersebut dalam keadaannya yang roboh ini dan masih mungkin mengembalikan bangunannya seperti sediakala\".\rKitab As Syarqawi juz II halaman 178:\rوَلاَ يَجُوْزُ اسْتِبْدَالُ الْمَوْقُوْفِ عِنْدَنَا وَاِنْ خَرَبَ ، خِلاَفًا لِلْحَنَفِيَّةِ . وَصُوْرَتُهُ عِنْدَهُ اَنْ يَكُوْنَ الْمَحَلُّ قَدْ آلَ اِلَى السُّقُوْطِ فَيُبْدَلُ بِمَحَلٍّ آخَرَ اَحْسَنَ مِنْهُ بَعْدَ حُكْمِ حَاكِمٍ يَرَى صِحَّتَهُ .","part":1,"page":189},{"id":190,"text":"\"Tidak boleh menukarkan barang wakaf menurut madzhab kami (Syafi'i), walaupun sudah rusak. Berbeda dengan madzhab Hanafi yang membolehkannya. Contoh kebolehan menurut pendapat mereka adalah apabila tempat yang diwakafkan itu benar-benar hampir longsor, kemudian ditukarkan dengan tempat lain yang lebih baik dari padanya, sesudah ditetapkan oleh Hakim yang melihat kebenarannya\".\rKitab Raddul Mukhtar juz III halaman 512:\rاَرَادَ اَهْلُ الْمَحَلَّةِ نَقْضَ الْمَسْجِدِ وَبِنَاءَهُ اَحْكَمَ مِنَ الاَوَّلِ ، إِنِ الْبَانِى مِنْ اَهْلَ الْمَحَلَّةِ لَهُمْ ذلِكَ ، وإِلاَّ فَلاَ .\r\"Penduduk suatu daerah ingin membongkar masjid dan membangunnya kembali dengan bangunan yang lebih kokoh dari yang pertama. Jika yang membangun kembali masjid tersebut adalah penduduk daerah tersebut, maka hukumnya boleh, dan jika tidak maka hukumnya tidak boleh\".\rKitab Syarhul Kabir juz III halaman 420:\rفَاِنْ تَعَطَّلَتْ مَنَافِعُهُ بِالْكُلِّيَّةِ كَدَارٍ اِنْهَدَمَتْ اَوْ اَرْضٍ خَرَبَتْ وَعَادَتْ مَوَاتًا لَمْ يُمْكِنْ عِمَارَتُهَا اَوْ مَسْجِدٍ اِنْتَقَلَ اَهْلُ الْقَرْيَةِ عَنْهُ وَصَارَ فِى مَوْضِعٍ لاَ يُصَلَّى فِيْهِ اَوْ ضَاقَ بِاَهْلِهِ وَلَمْ يُمْكِنْ تَوْسِيْعُهُ فِى مَوْضِعِهِ ، فَاِنْ اَمْكَنَ بَيْعُ بَعْضِهِ لِيُعَمَّرَ بَقِيَّتُهُ جَازَ بَيْعُ الْبَعْضِ وَاِنْ لَمْ يُمْكِنِ الإِنْتِفَاعُ بِشَيْءٍ مِنْهُ بِيْعَ جَمِيْعُهُ .","part":1,"page":190},{"id":191,"text":"\"Jika manfaat dari wakat tersebut secara keseluruhan sudah tidak ada, seperti rumah yang telah roboh atau tanah yang telah rusak dan kembali menjadi tanah yang mati yang tidak mungkin memakmurkannya lagi, atau masjid yang penduduk desa dari masjid tersebut telah pindah; dan masjid tersebut menjadi masjid di tempat yang tidak dipergunakan untuk melakukan shalat, atau masjid tersebut sempit dan tidak dapat menapung para jama'ah dan tidak mungkin memperluasnya di tempat tersebut, ... jika mungkin menjual sebahagiannya untuk memakmurkan sisanya, maka boleh menjual sebahagian. Dan jika tidak mungkin memanfaatkannya sedikitpun, maka boleh menjual seluruhnya\".\rPemimpin Wanita\rBerkat pesatnya usaha peningkatan sumber daya manusia dimungkinkan jabatan eksekutif negara diusulkan oleh orsospol untuk wanita. Berdasar petunjuk hadits:\rلن يفلح قوم ولوا امرهم إمرأة (أخرجه البخارى عن ابى بكرة)\rSepertinya tertutup bagi muslimah untuk menjabat kepala negara (Presiden). Bolehkah jabatan wakil Presiden atau wakil ketua MPR dipercayakan kepada wanita?\rJawaban:\rJabatan Wakil Presiden dalam konteks sistem ketatanegraan RI (UUD 1945) terdapat hak prerogatif yang mandiri, sedangkan jabatan wakil ketua MPR berbentuk kepemimpian kolektif sehingga tidak seutuh bentuk jabatan imamah al-'udzma, karenanya musyawirin memandang masalah wanita menjabat Wapres atau Wakil Ketua MPR tergolong masalah mu'amalah al-haditsah dan termasuk masalah khilafiyah.","part":1,"page":191},{"id":192,"text":"Mujtahidin di jajaran madzhab empat melarang atas dasar analog antara Wakil Presiden dengan Presiden. Hanya saja Ibnu Jarir Ath-Thabary, seperti terkutip dalam Ikhtilaful Fuqaha', memperbolehkan jabatan imamatul 'udzma dan qadli mahkamah syari'ah dipercayakan kepada wanita, karenanya Wakil Presiden pun boleh dijabat wanita.\rDasar Pengambilan:\r? الميزان الكبرى جزء 2 ص. 153\r? فيض القدير بشرح الجامع الصغير جزء 5 ص. 303\r? الإرشاد إلى قواطع الأدلة ( إمام الحرمين الجوينى ) ص. 427\r? فضائح الباطنة ص. 180\r? فتح البارى / شرح الجامع البخارى جزء 8 ص. 128\rHak Cipta\rBagaimana konsep utuh hukum Islam tentang \"hak Cipta\" atas karya ilmiah yang dihasilkan oleh seseorang?\rBolehkah karya ulama masa lalu diterbitkan ulang tanpa sepengetahuan ahli waris mu'allif/mushannifnya atas dasar al wijadah atau dengan dalih agar ilmu pengarang lebih bermanfaat bagi ummat?\rJawaban\rHak cipta atas karya ilmiah seseorang diperoleh dasar konsep hukum Islamnya sekitar hak al-manfa'ah atau hak maliyah ma'nawiyah. Keberadaan hak cipta tersebut bila telah diatur dalam undang-undang maka tergolong 'urf/'adat al-muhakkamah sehingga perlindungan dan penggunaannya tunduk pada undang-undang tsb. Misalnya untuk pendidikan dan penelitian ilmiah boleh mengutip, sedangkan penggandaan untuk dijual menjadi terlarang.\rMenerbitkan ulang kitab/karangan ulama masa lalu pada dasarnya boleh sepanjang undang-undang pemerintah tidak mengatur lain.\rDasar Pengambilan:\r? الإقناع جزء 2 ص. 55\r? قليوبي وعميرة جزء 3 ص. 135\r? الفقه الإسلامى وأدلته جزء 4 ص. 18","part":1,"page":192},{"id":193,"text":"? المدخل العام فى الفقه الإسلا مي جزء 3 ص. 231\rKloning Manusia\rRekayasa genetika telah memasuki era \"teknologi kloning\". Reaksi telah bermunculan mulai dari keberatan:\rintervensi terhadap ciptaan Tuhan\rkurang menghormati manusia sebagai makhluk hidup\rcenderung meruntuhkan institusi perkawinan\rbisa berdampak mengaburkan nasab\rpemuas nafsu teknologi dan lain-lain.\rBolehkah pemanfaatan teknologi kloning manusia menurut norma dan etika agama Islam ?\rJawaban\rPemanfaatan tenaga teknologi kloning pada manusia menurut norma dan etika agama Islam tidak dibenarkan (haram).\rDasar Pengambilan\r? مقررة مجلس مجمع الفقه الإسلامى ، جدة ، ص. 1997\r? الحلال والحرام فى الإسلام , يوسف القرضاوي ص. 219\r? تفسير المنير جزء 1 ص. 174\rTentang Menguruk Sungai dan Tentang Aurat Wanita\rSi Fulan rumahnya di pinggir sungai. Ia menanami tepi sungai dengan tanaman air seperti enceng gondok, kerangkong dll. Tanaman tersebut terus berkembang biak sehingga menjadi luas. Pada bagian tepinya ia gunakan untuk buang sampah, kadang-kadang ia juga menebang pohon di tepi sungai, kemudian dilemparkan di atas enceng gondok tersebut.\rDari tumpukan sampah dan daun yang membusuk, serta endapan lumpur ahirnya tanah pak fulan ber tambah luas menjorok ke sungai. Tanah yang semula lokasi sungai berubah menjadi miliknya. Rumah yang dulu di pinggir sungai, kini bisa menambah beberapa kamar lagi berkat keberhasilan pak fulan menguruk sungai tersebut.\rBagaimana hukumnya mendapatkan tanah dengan cara tersebut? Mohon disertai dasar pengambilannya.","part":1,"page":193},{"id":194,"text":"Aurat wanita adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Namun dalam budaya kita (termasuk di dalamnya ustadzah, pengurus Muslimat, bu Nyai, dll) mereka mengenakan jarik, kebaya, dan kerpus. Sekilas mereka memang menutup aurat, tetapi bila diteliti masih banyak bagian yang belum tertutup. Di antaranya telinga, leher, sedikit bagian dada, kaki, dan tangan.\rBagaimanakah hukum membuka sebagian aurat tersebut? Haramkah? Mohon penjelasanya dari Bapak kiai.\rJawaban:\rHukumya haram, karana dia telah melakukan perbuatan ghasab, yaitu mempergunakan yang bukan hak miliknya tanpa izin.\rDasar pengambilan:\rHadist riwayat Sayyidah Aisyah ra yang disepakati kesahihannya oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim:\rمَنْ ظَلَمَ قَيْدَ شِبْرٍ مِنَ الأرْضِ طُوِّ قَهُ مِنْ سَبْعِ اَرَضِيْنَ\r”Barangsiapa yang berbuat zalim (merampas) tanah sepanjang satu jengkal, maka tanah tersebut sejak dari bumi yang ke tujuh akan dikalungkan kepadanya di hari kiamat”.\rKitab at Tadzhib halaman 139:\r(فَصْلُ) وَمَنْ غَصَبَ مالاً لاَِحَدِ لَزِمَهُ رَدُّهُ وَالغَصْبُ مِنَ الَكَبَائِرِ، وَالأَصْلُ فىِ تَحْرِيْمِهِ اياَتُ كَثِيْرَةُ ، مِنْهاَ قَوْ لُهُ تَعَالَى: وَلاَتأْكُلُوْا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ باِلْبَاطِلِ. (سورة البشرة: 188)","part":1,"page":194},{"id":195,"text":"(Pasal) Barang siapa yang mengambil harta milik orang lain tanpa izin, maka dia wajib mengembalikannya. Ghasab itu adalah termasuk dosa besar, dan dasar keharamannya adalah ayat-ayat yang banyak, yang antara lain firman Allah dalam surat Al Baqarah: 188, “Dan janganlah sebahagian dari kamu sekalian memakan harta sebahagian dari kamu sekalian dengan jalan bathil ...”\rHukumnya haram, dan ada pula yang menyatakan makruh jika tidak menimbulkan syahwat bagi orang yang memandangnya.\rDasar pengambilan:\rKitab Fathul Muin hamisy kitab I’anatut Thalibin juz 3 halaman 260:\rوَلاَ يَحِلُّ النَّظْرُ إِلَى عُنُقِ الحُرَّةِ وَرَأْسِهَا قَطْعًا. وَقِيْلَ يَحِلُّ مَعَ الكَرَاهَةِ النَّظْرُ بِلاَ شَهْوَةٍ.\rDan tidak halal memandang leher dan kepala wanita merdeka secara mutlak. Dan dikatakan makruh memandangnya dengan tanpa syahwat.\rMengembalikan Hutang dari Uang Haram\rAda seorang yang bernama Ali menghutangkan uang kepada Aris, dan ditentukan batas akhir pengembaliannya. Setelah waktunya habis Ali meminta pengembalian hutang tersebut. Karena suatu hal Aris mengembalikan hutang tersebut dengan jalan yang haram misalnya mencuri, sedangkan Ali tahu akan cara yang dilakukan oleh Aris tersebut.\rApakah Ali ikut menanggung dosa yang dilakukan oleh Aris, apabila Ali menerima pembayaran tersebut padahal dia hanya berniat mengambil alih haknya yang terdapat pada Aris?","part":1,"page":195},{"id":196,"text":"Adakah perbedaan hukum antara permasalahan diatas dengan orang yang menerima pemberian dari orang yang barangnya didapat dari barang haram dan orang itupun tahu terhadap jalan pendapatan barang tersebut?\rApakah bisa direlevansikan antara kasus Ali dan Aris dengan pajak wajib, di mana pemerintah dijadikan pihak yang memberikan hutang dan rakyat (baik badan usaha atau bukan) dijadikan pihak yang berhutang (wajib membayar pajak). Namun ada sebagian pihak rakyat yang wajib membayar pajak, membayarnya dari uang haram. Misalnya prostitusi dan pemerintah pun menerima pajak tersebut karena pajak itu hak pemerintah. Jadi adakah kesamaan hukum antara permasalahan ini dengan kasus Ali dan Aris. Mohon disertai dalil-dalilnya\rJawaban:\rSi Ali tidak ikut menanggung dosa si Aris, karena si Ali tidak mengetahui perbuatan dosa yang dilakukan oleh si Aris.\rJelas berbeda\rAda.\rDasar pengambilan:\rKitab I’anatut Thalibin juz 2 halaman 355\rقَالَ فِى المَجْمُوعِ يُكْرَهُ الأَخْذُ مِمَّنْ بِيَدِهِ حَلاَلٌ وَحَرَامٌ كَالسُّلْطَانِ الجَائِرِ. وَتَخْتَلِفُ الكَرَاهَةُ بِقِلَّةِ الشُّبْهَةِ وَكَثْرَتِهَا, وَلاَ يَحْرُمُ إلاَّ إنْ تَيَقَّنَ أَنَّ هَذَا مِنَ الحَرَامِ.","part":1,"page":196},{"id":197,"text":"Mushannif (pengarang kitab) berkata dalam kitab Al Majmu’: ”Makruh mengambil (bantuan/pemberian) dari orang yang padanya ada harta yang halal dan haram seperti penguasa yang durhaka. Kemakruhan ini berbeda tingkatnya dengan sedikit dan banyaknya kesubhatan. Dan tidak haram menerima pemberian kecuali jika seseorang yang menerima yakin bahwa pemberian tersebut dari harta yang haram.\rHukum Operasi Plastik dan Haramnya Alkohol\rPada zaman sekarang ini banyak orang yang ingin mempercantik dirinya dengan cara mengoperasi wajah atau anggota badan lainnya, misalnya operasi hidung agar kelihatan mancung, bibir, mata dll, agar semua kelihatan indah dipandang padahal usaha tersebut telah menyalahi ciptaan Allah SWT. Bagaimana hukumnya dan apa dalilnya.\rApakah ayah tiri dapat membatalkan wudhu?\rSetelah saya membaca AULA terbitan No. 6/ Th. VIII/Juni 1996 hal. 68 tentang alkohol dalam makanan, obat dan kosmetik dari uraian yang panjang lebar itu saya belum dapat menyimpulkan hukum alkohol tentang halal dan haramnya. Alkohol yang bagaimana yang dikategorikan haram?\rJawaban:\rHukumnya tidak boleh karena dilakukan dengan mengubah ciptaan Allah.\rDasar pengambilan:\rTafsir Munir juz 1 halaman 174:\r(فلْيُغَيِّرُنَّ َخْلق ِاللهِ) صْوَرةً وَِصفَةً كَاِخْصاَءِ الْعَبِيْدِ وَفْقءِ الْعُيوْنِ وَقَطْعِ الاذَان وَ الْوَشْمِِ وَ الْوَشْرِ وَ وَسْلِ الْشَعِْر","part":1,"page":197},{"id":198,"text":"( ... lalu mereka benar-benar mengubah ciptaan Allah) dalam bentuk dan sifat, seperti mengebiri para budak, mencukil mata, memotong telinga, memberi tato, memanggur gigi dan menyambung rambut.\rJika ayah tiri telah bersetubuh dengan ibunya. maka tidak lagi membatalkan wudhu anak tirinya, dan jika belum bersetubuh, maka masih membatalkan wudhu.\rDasar pengambilan:\rHamsi kitab Al Baijuri juz 2 hal. 166:\r(وَالْمُحَرٌَماَتُ بِالنَصِ اَرْبَعُ). .. اِلَي اَنْ قَالَ: (وَالرَبِيْبةَُ) اي بِنْتُ ألزٌَوْجَةِ (اِذَا دَخَلَ بِاْلاُم ٌِ) (قَوْلُهُ اِذَا دَخَلَ بِاْلاُم ٌِ) خِلاَفاً مَا اِذَا لَمْ يَدْخُلْ بِهَا.\r(dan wanita-wanita yang haram untuk dinikahi sebab nash ada empat). ... sampai pada ucapan mushonnif: (dan rabibah) yaitu anak perempuan dari istri (jika dia telah menyetubuhi ibunya) —ucapan mushonnif “jika dia telah menyetubuhi ibunya—adalah berbeda jika dia belum bersetubuh dengan ibunya.\rAlkohol yang haram diminum adalah memabukkan.\rDasar pengambilan:\rKitab/Al-Majmuk/ syarah dari kitab Al-Muhadzab juz 2 halaman 563:\rوَاَمَّا اْلنَبِيذُ فَقِسْمَانِ: مُسْكِرٌ وَغَيْرُهُ فَالْمُسْكِرُ نَجِسٌ عِنْدَ نَاوَعِنْدَ جُمْهُوْرِ الْعُلَمَاءِ, وَشُرْبُهُ حَرَام, وَلَهُ حُكْمُ الْخَمرِ فِي التَّنْجِيْسِ وَالتَّحْرِيْمِ وَوُجُوْبِ الْحَدِّ","part":1,"page":198},{"id":199,"text":"Adapun hasil perasan buah, maka ada dua macam: memabukkan dan tidak memabukkan. Yang memabukkan hukumnya najis menurut kami (madzhab Syafi’i) dan menurut jumhur ulama’ dan meminumnya adalah haram, dan baginya berlaku hukum arak mengenai kenajisannya dan keharamannya serta kewajiban memberi hukuman kepada peminumnya.\rHukum Meratakan Gigi dan \"Bayaran\" Ketika Pernikahan ; Juga Tentang Mengubur Mayyit\rDi daerah kami telah menjadi kebiasaan setia pada orang yang melangsungkan pernikahan (akad nikah) terlebih dahulu memotong giginya dengan di-papar (bahasa Madura) dengan tujuan untuk mempercantik. Sedangkan praktek tersebut seringkali dikatakan haram. Betulkah hal tersebut diharamkan? Mohon disertai dasar pengambilannya.\rTradisi sebagian daerah Madura termasuk daerah kami ada istilah membayar bragad (bahasa Madura) dari orang (pihak laki-laki) yang akan melangsungkan suatu pernikahan kepada pihak perempuan. Termasuk akad apakah bragad tersebut? Mohon disertai dasar pengambilannya! Apakah ada batas maksimalnya?\rDi luar negeri suatu perkawinan, di mana setiap ada resepsi perkawinan selalu bubar artinya dirusak oleh beberapa kelompok manusia pada waktu resepsi berlangsung, sehingga pemerintah setempat memberikan tunjangan (asuransi) kepada kedua mempelai sekian persen. Bolehkah perkawinan semacam itu dan termasuk akad apa?","part":1,"page":199},{"id":200,"text":"Keluarga kami ada yang meninggal dunia disebabkan kecelakaan (ditabrak mobil). Mayit meninggalkan ahli waris istri, anak, kakek dan nenek (orang tua mayit). Tempat tinggal istri dan anak di Surabaya, sedang tempat tinggal kakek dan nenek (orang tua mayit) di Madura.\rSiapakah yang lebih berhak antara istri dan anak si mayit dengan kakek dan nenek (orangtua mayit) untuk menguburkan si mayit tersebut sedangkan si mayit tidak meninggalkan wasiat, padahal kedua pihak keluarga saling berebut untuk menguburkan si mayit di daerah masing-masing. Mohon penjelasan!\rMayit tersebut meninggal dunia disebabkan tertabrak mobil, berapakah aturan pemerintah yang sebenarnya tunjangan yang diberikan pihak asuransi Jasa Raharja kepada ahli warisnya. Mohon penjelasan dan disertai pengambilan bukunya.\rJawaban:\rBetul mem-papar (bahasa Madura), mem-panggur (bahasa Jawa) hukumnya haram.\rDasar pengambilan:\rKitab Dalilul Falikhin juz 4 hal 494:\rوَعَنْ اَبِيْ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ اَنَّهُ قَالَ: لَعنَ اللّهُ الْوَاشِمَاتِ وَالْمُسْتَوْشِِِمَاتِ وَالمُتَنَمِّصَاتِ وَالمُتَفَلِّجَاتِ لِلْحُسْنِ المُتَغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللهِ, فَقَالَتْ لَهُ إِمْرَاءَةٌ فِى ذَلِكَ، فَقَالَ: وَمَا لِى لأَلْعَنُ مَنْ لَعَنَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِى كِتَابِ اللهِ، قَال اللهٌ تَعَالَى: وَمَا آتَاكُمْ الرَسُولُ فَخُذُوه وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فانْتَهُوا. مُتَّفَقْ عَلَيْهِ","part":1,"page":200},{"id":201,"text":"Diriwayatkan dari Ibn Mas'ud ra bahwasanya beliau telah berkata: Allah melaknat para wanita yang bertato dan para wanita yang minta ditato, para wanita yang menyuruh wanita lain untuk mencabuti bulu alisnya agar menjadi tipis dan tampak indah dan para wanita yang merenggangkan gigi mereka sedikit untuk kecantikan dan para wanita yang mengubah ciptaan Allah. Ada seorang wanita yang berkata kepada beliau dalam hal tersebut, kemudian beliau berkata: \"Bagaimana aku tidak melaknat orang yang dilaknat oleh Rasulullah saw, sedangkan hal itu disebutkan dalam al Quran\", Allah ta’ala berfirman: Apa saja yang rasul datangkan kepadamu, maka ambillah dan apa saja yang Rasul melarang kepada kamu sekalian, maka hentikanlah. Telah disepakati kesahihannya oleh Imam Bukhori dan Muslim.\rBragad atau di Jawa Tengah disebut dengan Jondang atau di Kalimantan disebut Jujuran, adalah semacam mas kawin yang tidak disebutkan dalam ijab qobul pada pernikahan berdasarkan permintaan dari pihak calon pengantin wanita kepada pihak calon pengantin pria.\rDi Kalimantan, setahu kami dapat berupa seperangkat alat rumah tangga dan ruang yang jumlahnya mencapai puluhan juta rupiah, berdasarkan kesepakatan dari kedua belah pihak. Sedang akadnya adalah termasuk akad hibah atau pemberian dari pihak calon pengantin pria kepada pihak calon wanita: dan hukumnya boleh/jawaz. Tidak ada batas minimal atau maksimalnya.\rDasar pengambilan:\rHadits Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Imam at Tirmidzi sebagai berikut:","part":1,"page":201},{"id":202,"text":"الصُّلْحُ جَائِزٌ بَيْنَ المُسْلِمِيْنَ إلاَّ صُلْحًا حَرَّمَ حَلاَلاً أو أحَلَّ حَرَامًا. وَالمُسْلِمُونَ عَلَى شُرُوطِهِمْ, إلاَّ شَرْطًا حَرَّمَ حَلاَلاً أَو أحَلَّ حَرَامًا.\rPerdamaian itu boleh dilakukan di antara orang-orang Islam kecuali perdamaian yang mengharamkan perkara yang halal atau menghalalkan perkara yang haram. Orang-orang Islam itu harus menepati persyaratan-persyaratan yang dibuat di antara mereka, kecuali syarat yang mengharamkan perkara yang halal atau menghalalkan perkara yang haram.\rYang Anda maksud dengan luar negeri itu negara mana ? Sebab kalau pengetahuan anda itu berdasarkan tayangan film, maka hal itu hanyalah rekayasa dari sutradara saja atau dari cerita yang difilmkan.\rYang Anda tanyakan itu mengenai bentuk perkawinannya ataukah resepsi perkawinan yang menimbulkan kerusakan? Kalau yang anda tanyakan adalah bentuk perkawinannya, maka selama perkawinan tersebut telah memenuhi rukun nikah sebagaimana yang tersebut dalam kitab-kitab fiqh, yaitu:\rada calon pengantin pria\rada calon pengantin wanita.\rada wali yang memenuhi syarat agama Islam\rada dua orang saksi yang adil menurut agama Islam\rada ijab dan qobul.\rMaka perkawinan tersebut sah.\rJika yang anda tanyakan adalah resepsi perkawinannya, maka resepsi perkawinan yang menimbulkan kerusakan, maka resepsi perkawinan semacam itu dilarang oleh agama Islam berdasarkan firman Allah dalam Al Quran surat Al-A’raf ayat 56 yang antara lain berbunyi:\rوَلاَ تُفْسِدُوا فِى الأرضِ بَعْدَ إِصْلاَحِهَا. .. الآية.","part":1,"page":202},{"id":203,"text":"Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya ...\rAdapun hukum dari pemberian tunjangan (asuransi) yang diberikan oleh pemerintah setempat, maka saya persilahkan anda membaca Aula nomor 10 Tahun XVIII/ Oktober 1996.\rMayat itu harus dikubur di pekuburan yang lebih dekat dengan tempat ia meninggal dunia (tempat dia ditabrak mobil).\rDasar pengambilan:\rFathul Wahhab Juz 1 halaman 101:\r(وَحَرُمَ نَقْلُهُ) قَبْلَ دَفْنِهِ مِنْ مَحَلِّ مَوْتِهِ (إلَى) مَحَلِّ (أبْعَدَ مِنْ مَقْبَرَتِ مَحَلِّ مَوْتِهِ) لِيُدفَنَ فِيْهِ وَهَذَا أَوْلَى مِنْ قَوْلِهِ وَيَحْرُمُ نَقْلُهُ إلَى بَلَدٍ آخَرَ (إلاَّ مَنْ بِقُرْبِ مَكَّةَ وَالمَدِيْنَةِ وَإِيلِيَا) اى بَيْتِ المُقَدَّسِ فَلاَ يَحْرُمُ نَقْلُهُ إلَيْهَا, بَلْ تُخْتَارُ لِفَضْلِ دَفْنِ فِيْهَا.\rDan haram memindahkan mayat sebelum dikubur dari tempat meninggalnya ketempat yang lebih jauh dari pekuburan tempat meninggalnya untuk dikubur ditempat itu. Ini adalah lebih utama dari ucapan mushonnif: Dan haram memindah mayat ke daerah lain, kecuali orang yang meninggal di dekat kota Makkah dan Madinah dan Iliya, yaitu Baitul Muqoddas. Maka tidak haram memindahkan ke tempat-tempat tersebut, bahkan tempat-tempat tersebut dipilih karena keutamaan menguburkan mayat ditempat-tempat tersebut.","part":1,"page":203},{"id":204,"text":"Kalau anda ingin mengetahui beberapa jumlah uang yang dapat diberikan kepada Jasa Raharja kepada keluarga atau ahli waris dari orang yang meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas, kami persilahkan anda bertanya kepada PT Asuransi Jasa Raharja setempat.\rHukum Khutbah Memakai Tongkat\rApakah ada dalilnya, sujud syukur harus didahului sujud tilawah?\rBagaimana hukumnya orang khutbah memegang tongkat dengan tangan kanan?\rBagaimana hukumnya orang khutbah yang mustami’ (pendengar) tidak tahu bahasa Arab, kemudian ada yang mengatakan boleh diterjemahkan kedalam bahasa Jawa. Apakah betul?\rJawaban:\rTidak ada, sebab sujud syukur itu disebabkan karena kedatangan nikmat yang tiba-tiba atau tertolaknya sesuatu bencana dan tidak boleh dilakukan pada waktu sedang salat, karena sujud syukur itu tidak termasuk rangkaian salat. Sedang sujud tilawah adalah disebabkan karena membaca ayat-ayat sajdah, baik di luar salat maupun sedang dalam keadaan salat dengan berdiri.\rDasar pengambilan:\rKitab Nihayatuz Zain halaman 81:\r(فَرْعٌ) تُسَنُّ سَجْدَةُ التِّلاَوَةِ لِمَنْ قَرَأَ آيَةَ سَجْدَةٍ قِرَاءَةً مَشْرُوعَةً مَقْصُودَةً أو سَمِعَهَا, وَيُتَأكَّدُ السُجُودُ لِلسَّامِعِ سُجُودَ القَارئِ. وَالمُرَادُ بِالمَشْرُوعِ أنْ لاَ تَكُونَ مُحَرَّمَةً وَلاَ مَكْرُوهَةً لِذَاتِهَا وَخَرَجَ غَيْرُ المَقْصُدَةِ كَقِراءَةِ النَائِمِ وَالسَّاهِى وَالسَّكْرَانِ وَالطُّيُورِ وَنَحْوِهَا, وَبِالمَشْرُوعِ غَيْرُهَا كَقِرَاءَةِ البَالِغِ المُسْلِمِ الجُنُبِ وَكَقِراءَةِ المُصَلِّى فِى غَيْرِ القِيَامِ.","part":1,"page":204},{"id":205,"text":"(cabang) Disunahkan sujud tilawah bagi orang yang membaca ayat sajadah dengan bacaan yang disyariatkan dan disengaja, atau bagi orang yang mendengarnya. Sujud tilawah itu disunahkan dengan sunat muakkad bagi orang yang mendengarkan ayat tersebut seperti sujud dari orang yang membacanya. Yang dimaksud dengan bacaan yang disyariatkan adalah bacaan yang tidak diharamkan dan tidak pula dimakruhkan bagi bacaan itu sendiri. Dan tidak termasuk bacaan yang tidak disengaja, seperti bacaan orang yang tidur, orang yang lupa, orang yang mabuk, burung, dan lain-lainnya. Dan tidak termasuk bacaan yang disyariatkan adalah bacaan lainnya sebagaimana bacaan orang yang sudah baligh yang muslim dalam keadaan junub, dan seperti bacaan orang yang salat dalam keadaan tidak berdiri.\rKitab Fathul Wahhab juz 1 halaman 56:\rوَسَجْدَةُ الشُكْرِ لاَتَدْخُلُ صَلاَةً. وَتُسَنُّ لِهُجُومِ نِعْمَةٍ كَحُدُوثِ وَلَدٍ او مَالٍ لِلإِتِّبَاعِ. رَوَاهُ أبُو دَاوُدَ وَغَيْرُهُ. بِخِلاَفِ النِعَمِ المُسْتَمِرَّةِ كَالعَافِيَةِ وَالإِسْلاَمِ لأنَّ ذَلِكَ يُؤَدِّى إلَى إسْتِغْرَاقِ العُمْرِ, أوإنْدِفَاعِ نِقْمَةٍ كَنَجَاةٍ مِنْ هَدْمٍ او غَرْقٍ لللإِتِبَاعِ. رَوَاهُ ابن حِبَّانْ.","part":1,"page":205},{"id":206,"text":"Sujud syukur itu tidak masuk dalam rangkaian sesuatu salat. Sujud syukur itu disunnahkan karena kedatangan nikmat yang tiba-tiba, seperti kelahiran seorang anak atau mendapat harta, karena mengikuti sunnah. Abu Dawud telah meriwayatkan nya. Berbeda kenikmatan-kenikmatan yang terus menerus seperti kesejahteraan dan agama Islam. Karena hal itu akan mendatangkan penghabisan umur; atau karena tertolaknya bencana, seperti selamat dari kehancuran atau tenggelam, karena mengikuti sunna. Ibn Hibban telah meriwayatkannya.\rHukumnya makruh.\rDasar pengambilan:\rKitab al Hawasyil Madaniyah Juz 2 halaman 44:\rوَأنْ يَعْتَمِدَ الخَطِيْبُ عَلَى نَحْوِ عَصَا او سَيْفٍ او قَوسٍ بِيَسَارِهِ لِلإِتِّبَاعِ, وَحِكْمَتُهُ أنَّ هَذَا الدِّيْنَ, بِالسِّلاَحِ, وَتَكُونُ يُمْنَاهُ مَشْغُولَةَ بِالمِنْبَرِ إنْ لَمْ يَكُنْ فِيْهِ نَجَاسَةٌ كَعَاجٍ او ذَرْكِ طَيْرٍ. فَإن لَم يَجِدْ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ جَعَلَ اليُمْنَى عَلَى اليُسْرَى تَحْتَ صَدْرِهِ.\rDan hendaklah khotib memegang pada seumpama tongkat atau pedang atau gendewa dengan tangan kirinya karena mengikuti ulama’ salaf, hikmahnya adalah sesungguhnya agama ini telah tegak dengan bantuan senjata, dan tangan kanannya adalah disibukkan dengan mimbar jika pada mimbar tersebut tidak terdapat najis seperti gading atau kotoran burung. Jika khotib tidak mendapatkan sesuatu dari hal tersebut, maka dia menjadikan tangan kanannya diatas tangan kirinya di bawah dadanya.\rMenerjemahkan rukun khutbah itu hukumnya boleh.\rDasar pengambilan:\rKitab Al Fiqhul Manhaji juz 1 halaman 206:","part":1,"page":206},{"id":207,"text":"أَنْ تُتْلَى أَرْكَانُ الخُطْبَةِ بِاللُغَةِ العَرَبِيَّةِ. عَلَى الخَطِيبِ أنْ يَخْطُبَ بِاللُغَةِ العَرَبِيَّةِ وَإنْ لَم يَفْهَمْهَا الحَاضِرُونَ, فَإنْ لَمْ يَكُنْ ثَمَّةَ مَنْ لَمْ يَعْلَمُ العَربِيَّةَ وَمضَى زَمَانٌ أمْكَنَ خِلاَلَهُ تَعَلُّمُهَا أَثِمُوا جَمِيْعًا وَلاَ جُمُعَةَ لَهُمْ بَلْ يُصَلُّونَهَا ظُهْرًا. أَمَّا إذَا لَمْ تَمْضِ مُدَّةٌ يُمْكِنُ تُعُلُّم العَرَبِيَّةِ خِلاَلَهَا تَرْجَمَ أركَانَ الخُطْبَةِ بِاللُغَةِ الَّتِى شَاءَ وَصَحَّتْ بِذَلِكَ الجُمُعَةُ.\rHendaklah rukun-rukun khutbah itu dibaca dengan bahasa Arab. Wajib bagi khotib untuk berkhutbah dengan bahasa Arab meskipun para hadirin tidak memahaminya. Jika disitu tidak ada orang yang mengerti bahasa Arab, sedangkan telah lampau satu masa yang di celah waktu tersebut memungkinkan untuk mempelajari bahasa Arab, maka mereka semuanya berdosa, dan salat Jum'at tidaklah sah bagi mereka, dan mereka wajib melakukan salat dzuhur. Adapun jika tidak berlalu satu masa yang memungkinkan belajar bahasa Arab di sela-sela waktu tersebut, maka khotib menerjemahkan rukun-rukun khutbah dengan bahasa yang dia sukai dan dengan terjemah tersebut salat jumuahnya sah.\rBagaimana Cara Istinja' Bagi Wanita\rAda seorang perempuan bertanya kepada saya, katanya dia pernah mendengarkan pengajian yang menjelaskan tentang masalah istinja’ (bersuci dengan batu).\rIstinja’ itu apakah khusus orang laki-laki, waktu itu kiai menerangkan masalah orang laki-laki saja, sedangkan perempuan tidak diterangkan.","part":1,"page":207},{"id":208,"text":"Kalau umpamanya perempuan ber-istinja’, lantas bagaimana caranya?\rSaya mempunyai kaset yang di dalamnya berisi rekaman al Quran.\rApakah kaset tersebut dinamakan mushaf al Quran juga?\rBagaimana hukumnya kalau dalam keadaan junub memegang kaset tersebut?\rJawaban:\rIstinja’ itu tidak khusus bagi laki-laki saja, tetapi juga berlaku bagi wanita. Sedang yang dimaksud dengan batu yang dapat dipergunakan untuk istinja’ itu sebagaimana keterangan dari kitab fiqh dapat berupa benda apa saja yang kering, dapat menghisap kotoran, bukan berupa bahan makanan dan bukan tulang, misalnya kertas atau tissu.\rAdapun cara ber-istinja’ dari buang air besar antara laki-laki dan perempuan adalah sama. Sedang ber-istinja' dari kencing, maka jika laki-laki yang diusap adalah lubang tempat keluarnya air seni yang ada pada hasyafah, dan bagi perempuan juga lubang tempat keluar seni yang ada pada farji-nya.\rDasar pengambilan:\rKitab al Fiqhul Manhaji juz 1 halaman 45\r…فَيُشْتَرَطُ أنْ يَكُونَ المُسْتَعْمَلُ جَافًّا وأن يُسْتَعْمَلُ قَبْلَ أنْ يَجِفَّ الخَارِجُ مِنَ القُبُلِ او الدُّبُرِ وأنْ لايُجَاوِزَ الخَارِجُ صَفْحَةَ الإِلْيَةِ اوحَشَفَةَ الذَّكَرِ وَمَا يُقَابِلُهَا مِنْ مَخْرَجِ البَولِ عِنْدَ الأنْثَى وَألاَّ يَنْتَقِلَ عَنِ المَحَلِّ الَّذِى اَصَابَهُ أَسْنَاءَ خُرُوجِهِ.","part":1,"page":208},{"id":209,"text":"... Maka disyaratkan agar benda yang dipergunakan untuk istinja’ itu kering, najis yang keluar dari qubul atau dubur belum kering, najis yang keluar tidak mengenai pantat atau kepala dzakar dan apa yang membandinginya dari tempat keluar kencing pada wanita. Najisnya tidak berpindah dari tempat yang terkena najis pada saat keluarnya.\rKaset rekaman al Quran adalah termasuk mushaf al Quran, sebab didalam terekam firman Allah swt.\rOrang yang berhadas kecil, apa lagi berhadas besar seperti junub, hukumnya haram memegang kaset tersebut.\rDasar pengambilan:\rKitab Kasyifatus Saja syarah Safinatun Naja halaman 28:","part":1,"page":209},{"id":210,"text":"(فصل) فِى بَيَانِ مَايَحْرُمُ بِالحَدَثِ الأصَغَرِ وَالمُتَوَسِطِ والأكبَرِ... إلَى أنْ قَالَ: وَثَالِثُهَا (مَسُّ المُصْحَفِ) وَهُوَ كُلُّ مَا كُتِبَ عَلَيْهِ قُرْأنٌ لِدِرَاسَتِهِ وَلَوعَمُودً او لَوحًا او جِلْدًا او قِرْطَاسًا. وَخَرَجَ بِذَلِكَ التَّمِيْمَةُ وَهِيَ مَايُكْتَبُ فِيْهَا شَيءٌ مِنَ القُرْأنِ لِلتَّبَرُّكِ وَتُعُلِّقَ عَلَى الرَّأسِ مَثَلاً فَلاَ يَحْرُمُ مَسُّهَا وَلاَ حَمْلُهَا مَالَمْ تُسَمَّ مُصْحَفًا عُرْفًا. فَإذَا كُتِبَ القُرْأنُ كُلُّهُ لاَيُقَالُ لَهُ تَمِيْمَةٌ وَلَو صَغُرَ وَإنْ قَصَدَ بِذَلِكَ فَلاَ عِبْرَةَ لِقَصْدِهِ. قَالَ إبنُ حَجَرٍ وَالعِبْرَةُ فِى قَصْدِ الذِّرَاسَةِ وَالتَبَرُّكِ بِحَالِ الكِتَابَةِ دُوْنَ مَابَعْدَهَا وَبِالكَاتِبِ لِنَفْسِهِ او لِغَيْرِهِ تَبَرُّعًا اى بِلاَ أُجْرَةٍ وَلاَ أَمْرٍ. وَإلاَّ فآمِرُهُ او مُسْتَأجِرُهُ. قَالَ النَّوَاوِيُّ فِى التِّبْيَانِ وَسَوَاءٌ مَسُّ نَفْسِ المُصْحَفِ المَكْتُوبِ اوِ الحَوَاشِي او الجِلْدِ. وَيَحْرُمُ مَسُّ الخَرِيْطَةِ وَالغِلاَفِ وَالصُّنْدُوقِ اذَا كَانَ فِيْهِنَّ المُصْحَفُ. هَذَا هُوَ المُخْتَارُ.","part":1,"page":210},{"id":211,"text":"(Pasal) Tentang penjelasan dari apa yang haram sebab hadats kecil atau sedang atau besar ... sampai kata mushonnif: yang ketiga adalah menyemtuh mushaf yaitu apa saja yang tertulis padanya al Quran untuk belajar, meskipun berupa tiang, batu tulis atau kulit atau kertas. Dan tidaklah termasuk mushaf ‘tamimah’ yaitu apa yang ditulis padanya sedikit dari al Quran untuk mencari berkah dan digantungkan pada kepala misalnya, maka tidah haram menyentuh dan membawanya selama tidak dinamakan al Quran menurut adat kebiasaan. Maka jika seluruh al Quran ditulis, tidaklah dapat dikatakan ‘tamimah’ meskipun kecil dan dimaksudkan sebagai ‘tamimah’ maka sama sekali tidak ada pertimbangan bagi masidnya. Ibn Hajar berkata: Pertimbangan dalam tujuan belajar, atau mencari berkah adalah pada waktu menulis, bukan sesudahnya, dan dengan orang yang menulis untuk dirinya sendiri atau untuk orang lain secara sukarela tanpa upah dan tanpa perintah. Jika tidak demikian, maka yang dipertimbangkan adalah orang yang memerintahkan atau orang yang mengupahkan. Imam Nawawi kitab at Tibyan berkata: baik menyentuh mushaf yang ditulis itu sendiri atau pinggirnya atau kulitnya. Dan haram menyentuh kantung atau sampul atau peti apabila di dalamnya terdapat mushaf. Inilah pendapat yang dipilih.\rSyariat Pernikahan Nabi Muhammad\rSeperti halnya kita maklumi bahwasanya Nabi Muhammad saw, menikah dengan Siti Khodijah berusia 25 tahun dengan demikian Nabi besar Muhammad saw belum diangkat menjadi Rasul secara resmi.","part":1,"page":211},{"id":212,"text":"Dengan cara syariat apa beliau menikah dengan Siti Khodijah?\rBetulkah beliau menikah dengan Siti Khodijah dengan mas kawin 100 ekor unta?\rJawaban:\rNabi Muhammad saw menikah dengan Siti Khodijah tidak memakai syariat agama dari Nabi–Nabi sebelumnya, karena beliau tidak melakukan ibadah dengan syariat Nabi sebelumnya.\rDasar pengambilan:\rKitab Al fatawi Al haditsah dari Ibnu Hajar Al Haitami halaman 111:\rوَقَوْلُ السَائِلِ: هَلْ كَانَ نَبِيُّنَا مُحَمَّدٌ صَلَّي الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ مُتَبَعِّدًا الخ ؟. جَوَابُهُ: أَنَّ أَلْعُلَمَاءَ أِخْتِلَفُوْا هَلْ كَانَ صلي الله عليه وَسلَّمَ قَبْلَ بِعْثَتِهِ مُتَبَعِّدًا بِِشَرْعِ مَنْ قَبْلَهُا اَوْلاَ ؟. فَقَالَ اَلْجُمْهُوْرُ: لَمْ يَكُنْ مُتَبَعِّدًا بِشَيْء وَا حْتَجُّوْا بِأَنَّ ذَلِكَ لَوْوَقَعَ لَنُقِلَ لِمَاأَمْكَنَ كِتْمُهُ وَلاَ سِتْرُهُ فيِ أَلْعَادَةِ وَلاَ فْتَخَرَاَهْلُ تِلْكَ الِشَرِيعَةِ صَلَّي الله ُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ عَلَيهِ وَاحْتَجُّوْابِهِ عَلَيهِ. فَلَمَّا لَمْ يَقَعْ شَيْءٌمِنْ ذَلِكَ عَلِمْنَاأَنَّهُ لَمْ يَكُنْ مُتَبَعِّدًابِشَرْعِ نَبِيِّ قَبْلَهُ.","part":1,"page":212},{"id":213,"text":"Dan ucapan penanya, \"Apakah Nabi kita Muhammad saw. beribadah ... dst.\" Jawabnya adalah bahwa sesungguhnya para ulama telah berbeda pendapat, apakah Nabi Muhammad saw. sebelum diutus beribadah dengan syariat Nabi sebelumnya atau tidak? Jumhur ulama berkata, \"Tidaklah Nabi Muhammad beribadah dengan sesuatupun.\" Mereka mengambil dalil, bahwa hal tersebut jika telah terjadi, niscaya telah dikutip, karena tidak mungkin menyembunyikan dan menutupinya dalam adat kebiasan. Dan niscaya pemilik syariat tersebut akan membanggakan diri dengan ibadah yang telah dilakukan oleh Nabi Muhammad dan berhujjah dengannya. Maka tatkala sedikitpun dari hal tersebut tidak terjadi, maka kita ketahui bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad saw, tidak beribadah dengan syariat seorang Nabi sebelum beliau.\rMenurut hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim diceritakan bahwa mahar yang diberikan Nabi Muhammad saw adalah berupa uang sebanyak 500 dirham.\rDasar pengambilan:\rSahih Muslim Juz 1 halaman 597:\rحَدَّثَنَا عَبْدُ العَزِيْزِ عَنْ يَزِيْدٍ عَنْ مُحَمَّدٍ عَنْ إِبْرَاهِيْمَ عَنْ أبِى سَلْمَةَ عَنْ عَبْدِ الرَحْمَنِ أَنَّهُ قَالَ سَأَلْتُ عَائِشَةَ زَوْجض النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمْ كَانَ صِدَاقُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, قَالَتْ: كَانَ صِدَاقُهُ لأَزْوَاجِهِ ثِنْتَى عَشْرَةَ أوْقِيَةً وَنَشًّاز قَالَ: قَالَتْ: أتَدْرِى مَا النَّشُّ ؟. قَالَ: قُلْتُ: لاَ! قَالَتْ: نِصْفُ أوْقِيَةٍ ؛ فَتِلْكَ خَمْسُمِائَةِ دِرْهَمٍ. فَهَذَا صِدَاقُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لأَزْوَاجِهِ.","part":1,"page":213},{"id":214,"text":"Telah menceritakan hadist pada kami Abdul Aziz dari Yazid dari Muhammad dari Ibrahim dari Abi Salamah dari Abdur Rahman bahwa sesungguhnya dia berkata: saya telah bertanya kepada Aisyah isteri Rasulullah saw., berapa jumlah mas kawin Rasulullah saw.? Aisyah berkata: mas kawin Rasulullah saw kepada para isteri beliau adalah 12 auqiyah dan satu nasy. Aisyah berkata: Tahukah engkau apakah nash itu? Abdur Rahman berkata: Aku berkata: Tidak! Aisyah berkata: Setengah auqiyah. Jadi semuanya 500 dirham. Inilah mas kawin Rasulullah saw kepada para isteri beliau.\rHal Ihwal Alkohol\rSetelah kami membaca isi terbitan majalah AULA bulan juni 1996 tentang “Alkohol dalam makanan, obat dan kosmetik” yang disampaikan Suyono, Drs. MPd. Disitu dijelaskan bahwa hampir semua kebutuhan hidup manusia ada/dicampuri dengan alkohol, malahan lebih istimewa lagi alkohol di otak berfungsi sebagi depressen (penekan) yang mana kekuatan menekannya tergantung besar kecilnya kadar alkohol yang ada dalam darah.\rBagaimana status hukumnya alkohol yang sengaja dibuat oleh manusia?\rKalau alkohol itu dihukumi halal dan suci, kenapa bila dicampur dengan minuman dengan kadar tertentu (agak banyak) bisa mengakibatkan mabuk pada peminumnya sehingga dihukumi haram dan najis?\rSedangkan kalau alkohol itu dihukumi haram dan najis, bagaimana kita bisa hidup, sebab hampir semua kebutuhan hidup manusia itu memerlukan alkohol.","part":1,"page":214},{"id":215,"text":"Kalau alkohol itu dihukumi haram dan najis karena kadar terlalu besar, bagaimana hukumnya meminum obat (pil) yang kadar alkoholnya juga besar, bahkan lebih besar sebab obat-obatan itu dibuat dari dedaunan?\rJawaban:\rApa yang tertulis pada majalah Aula terbitan bulan Juni 1996 tentang ‘alkohol’ adalah benar. Hanya saja mungkin anda kurang teliti dalam memahami, karena dalam artikel tersebut sebenarnya tidak disebutkan bahwa:\rHampir semua kebutuhan hidup manusia ada/dicampuri alkohol.\rBernafas juga butuh alkohol.\rUntuk itu harap anda menelaah kembali artikel tersebut dengan cermat. Adapun pertanyaan yang anda sampaikan, dapat kami jawab sebagai berikut:\rAlkohol yang sengaja dibuat oleh manusia itu hukumnya ada dua macam, ada yang memabukkan dan ada yang tidak memabukkan. Adapun yang memabukkan, hukumnya najis dan haram meminumnya.\rDasar pengambilan:\rKitab al Majmu’ Syarah al Muhadzdzab Juz 2 halaman 564:\rوَأمَّا النَّبِيْذُ فَقِسْمَانِ مُسْكِرٌ وَغَيْرُهُ: فَالمُسْكِرُ نَجِسٌ عِنْدَنَا وَعِنْدَ جُمْهُورِ العُلَمَاء وَشُرْبُهُ حَرَامٌ, وَلَهُ حُكْمُ الخَمْرِ فِى التَنْجِيْسِ وَالتَّحْرِيْمِ وَوُجُوبِ الحَدِّ.\rAdapun Alkohol yang dihasilkan dari perasan buah itu, ada dua macam: memabukkan dan tidak memabukkan. Adapun yang memabukkan adalah najis menurut kami dan menurut jumhur ulama, dan meminumnya adalah haram. Dia mempunyai hukum arak dalam hal menajiskan dan mengharamkan serta kewajiban hukum had.","part":1,"page":215},{"id":216,"text":"Alkohol itu memang ada yang halal dan suci seperti alkohol yang terdapat dalam air tape, buah apel, buah anggur dan lain sebagainya. Akan tetapi kalau air tape itu misalnya didiamkan beberapa hari sampai keadaannya dapat memabukkan jika diminum, maka menjadi tidak halal dan tidak suci.\rJadi illat yang membuat tidak halal dan tidak suci adalah sifatnya yang memabukkan. Anda tentu tahu bahwa air nira (legen) dari enau, siwalan, atau kelapa itu halal dan suci. Tetapi manakala nira tersebut telah berubah menjadi tuak, maka hukumnya haram dan najis. Dan jika tuak tersebut telah berubah dengan sendirinya menjadi cuka, maka hukumnya kembali menjadi halal dan suci.\rKehidupan manusia itu sebenarnya tidak harus memerlukan alkohol seperti apa yang saya pahami dari artikel yang ada di majalah AULA bulan Juni 1996 tentang alkohol tersebut. Barang kali ada baiknya jika anda menelaah kembali dengan lebih teliti.\rKami telah menghubungi seorang dokter, dan ternyata obat-obatan yang berupa pil itu tidak mengandung alkohol, kecuali beberapa jenis tertentu dari obat sirup.\rAdzan, Tahlil dan Dzikir Fida'\rSeperti kebiasaan yang terjadi di masyarakat setiap jenazah yang dimasukkan ke liang lahat, sebelum ditutup dengan tanah lalu pak mudin mengazani dan mengiqomahi akan tetapi iqomahnya tidak sama dengan iqomahnya waktu salat akan dimulai.\rApakah benar atau memang ada qod qoomatil qiyamah itu? Mohon penjelasan.","part":1,"page":216},{"id":217,"text":"Bagaimana hukumnya membaca tahlil atau ikut mendoakan orang yang telah meninggal dunia, padahal dia selama hidupnya tidak pernah mengerjakan salat walaupun dia orang Islam/Islam KTP? Mohon penjelasan.\rApakah benar menjadi seorang imam dzikir fida’ itu harus sudah minta ijin atau ijazah dari seorang guru mursyid? mohon penjelasan.\rJawaban:\rDalam kitab Tanbihul Ghofilin bab Siddatu Alamil Maut kami memang menjumpai kata-kata qod qoomatil qiyamah yang dipergunakan untuk “kematian” seseorang. Akan tetapi bahwa bacaan iqomah qod qoomatis sholah diganti dengan qod qoomatil qiyamah maka hukumnya tidak boleh sebab lafadz iqomah sebagaimana lafadz adzan adalah sudah ditentukan oleh Nabi Muhammad saw. Sebagaimana misalnya adzan subuh, meskipun lafadz ruquud adalah sama artinya dengan lafadz naum akan tetapi tidak boleh lafadz as sholaatu khoirum minan naum diganti dengan lafadz as sholaatu khoirum minar ruquud.\rDasar pengambilan:\rKitab Hawasay As Syarwani wa Ibni Qosim al Ubaidiy ala Tuhfatu al Muhtaji bi syarhi al Minhaji Juz 2 halaman 91:\rوَيُكْرَهُ فِى غَيْرِ الصُبْحِ كَحَيَّ عَلَى خَيْرِ العَمَلِ مُطْلَقًا, فَإنْ جَعَلَهُ بَدلَ الحَيَّ عَلَتَيْنِ لَمْ يَصِحَّ أذَانُهُ. قَولُهُ (لَمْ يَصِحَّ أذَانُهُ) وَالقِيَاسُ حِينَئِذٍ حُرْمَتُهُ لأَنَّهُ بهِ صَارَ مُتَعَاطِيًا لِعِبَادَةٍ فَاسِدَةٍ.","part":1,"page":217},{"id":218,"text":"Dimakruhkan di selain salat subuh bacaan seperti ‘hayya ala khoiril amal’ secara mutlak, jika menjadikan bacaan tersebut sebagai ganti dari kedua bacaan ‘hayya ala sholah’ dan ‘hayya ala al falah’ maka tidak sah adzannya. Penjelasan tentang ‘tidak sah adzannya’ dan qiyasnya ketika itu adalah keharamannya, karena dengan itu dia menjadi orang yang melakukan ibadah yang rusak.\rJika orang yang tidak pernah mengerjakan salat itu masih merasa berkewajiban melakukan salat, tetapi dia tidak mampu melakukannya, maka hukumnya masih boleh ditahlilkan dan didoakan. Akan tetapi jika dia sudah merasa tidak berkewajiban melakukan salat, apalagi menentang kewajiban salat tersebut, maka hukumnya sudah tidak boleh ditahlilkan dan didoakan.\rDasar pengambilan:\rKitab Majmu’ mustamil ala arbai rosail halaman 6\rتَارِكُ الصَّلاَةِ لاَيُعَادُ فِى مَرَضِهِ وَلاَ يُتْبَعُ فِى جَنَازَتِهِ وَلاَ يُسَلِّمُ عَلَيْهِ وَيُؤَكَلُ وَلاَ يُشَارَبُ وَلاَ يُصَاحَبُ وَلاَ يُجَالَسُ وَلاَ دِيْنَ لَهُ وَلاَ أمَانَةَ لَهُ وَحَظَّ لَهُ فِي رَحْمَةِ اللهِ وَهُوَ مَعَ المُنَافِقِيْنَ فِى دَرْكِ الأسْفَلِ مِنَ النَّارِ (الحَدِيْث)","part":1,"page":218},{"id":219,"text":"Orang yang sengaja meninggalkan salat itu tidak boleh dikunjungi waktu sakit, jenazahnya tidak boleh diantarkan ke kubur, tidak boleh diberi salam, tidak boleh diberi makan, tidak boleh diberi minum, tidak boleh dijadikan teman, tidak boleh diajak duduk bersama. Dia adalah orang yang sama sekali tidak beragama, tidak dapat diamanati dan tidak ada bagiannya dalam rahmat Allah. Dia beserta orang munafiq ditingkat yang paling bawah dari neraka (hadist).\rJika zikir fida’ tersebut memang salah satu amalan dari salah satu gerakan toriqoh, Maka untuk menjadi imam zikir tersebut, memang harus mendapat ijazah dari guru Mursyid thorikoh tersebut, akan tetapi jika zikir fida’tersebut adalah sebagaimana yang tersebut dalam kitab Irsyadul Ibad, artinya bukan amalan dari suatu gerakan torikoh, maka tidak harus mendapat ijazah dari guru mursyid.\rMacam-Macam Budak\rProfesi kami adalah membaca kitab, tentunya dalam membaca kami selalu mendapat kesulitan dan ketidakfahaman.\rApa yang dimaksud dengan budak qinah, mudarobah, mustauladah, mukatabah, musytarokah, majusyiah, tsaniah, muktadah. (kifayatul akhyar halaman. 44juz 2)\rJawaban:\rYang dimaksud dengan:\rQinah, adalah budak perempuan yang dimiliki oleh seseorang beserta kedua orang tuanya. Dan kalau budaknya laki-laki disebut qinun.\rMudaabbaroh, adalah budak perempuan yang diomongi oleh majikanya demikian, ”Jika aku mati, maka engkau merdeka\". Kalau budaknya laki-laki disebut mudabbar.”","part":1,"page":219},{"id":220,"text":"Mastauladah, adalah budak perempuan yang dihamili oleh majikanya dan melahirkan anak dari hubungan seksual dengan majikannya\rMukatabah, adalah budak perempuan (kalau laki-laki disebut mukatab) yang akan dimerdekakan oleh majikanya apabila membayar sejumlah uang kepada majikanya dalam waktu yang telah ditentukan dengan jalan mengangsur.\rMusytarokah, adalah budak perempuan yang dimiliki oleh lebih dari satu orang karena diwariskan oleh keluarganya yang meninggal dunia kepada ahli waris yang lebih dari satu orang atau karena ada dua orang yang membeli seorang budak perempuan dengan jalan syirkah.\rMajusiyah, adalah budak perempuan yang menganut agama majusi, yaitu agama yang mengangap ada dua tuhan, yaitu: tuhan terang (Ormuz), dan tuhan gelap (Ahriman).\rMurtadah, adalah budak perempuan yang telah memeluk agama Islam kemudian lari dari agama Islam.\rSiapa dan Bagaimana Syarat Mustauthin\rDalam kitab-kitab banyak disendirikan antara hukum mereka yang hurri dan mereka yang abdi. Baik laki-laki ataupun perempuan. Timbul pertanyaan, apakah Islam mengakui adanya perbudakan? Bagaimana cara merefleksikan hukum tersebut pada masa-masa sekarang ini?\rApakah pelajar, mahasiswa atau karyawan pabrik/perusahaan itu dapat digolongkan mustautin? Bagaimanakah batasan mustauthin itu? sahkah salat Jumat yang mereka laksanakan di sekolah, kampus/perusahaan? Kalau saya mengambil ibarah dari kitab I’anah juz 2 halaman 54 mereka ini termasuk golongan yang mana?","part":1,"page":220},{"id":221,"text":"Bolehkah seseorang hilah dengan mengambil hukum dari beberapa imam madzhab, padahal dia tudak dalam posisi terpaksa? Bukankah keempat imam tersebut tidak diragukan lagi keilmuannya bahkan kebenarannya? dan bukankah sesuatu yang bernama kebenaran itu harus dapat digunakan semua golongan- seperti Islam-?\rJawaban:\rPada waktu agama Islam datang, di seluruh dunia ini sudah ada sistem perbudakan dan keadaan/wujud para budak itu tidak dapat dipungkiri. Kemudian Islam datang dengan keinginan agar para pemilik budak yang dapat diperjual belikan itu mau memerdekakan para budak dengan sukarela, antara lain dengan jalan kewajiban memerdekakan budak sebagai denda dari orang yang melakukan hubungan seksual dengan isterinya disiang hari pada bulan Ramadan dan lainnya. Sedang perbedaan hukuman bagi budak sebanyak setengah dari hukuman bagi orang merdeka adalah salah satu bukti perhatian Islam terhadap para budak.\rBudak belian itu sekarang ini tidak kita dapati di negeri-negeri Islam, sehingga perbedaan hukum antar orang merdeka (hurri) dan budak (abdi) sudah tidak ada lagi.","part":1,"page":221},{"id":222,"text":"Para pelajar dan mahasiswa yang rumahnya berdekatan dengan sekolah atau kampus termasuk golongan mustautin sedangkan yang rumahnya jauh dari sekolah atau kampus tidak termasuk golongan mustautin. Demikian pula karyawan yang rumahnya dekat dengan pabrik/perusahaan termasuk golongan mustautin, sedang yang jauh tidak termasuk golongan mustautin. Yang dimaksud dekat disini adalah dapat mendengarkan adzan dari tempat mendirikan salat Jumat yang dilakukan di atas menara tanpa pengeras suara dari muadzin yang suaranya normal pada saat yang hening tanpa kebisingan.\rYang dimaksud dengan mustautin adalah orang yang bertempat tinggal menetap di suatu tempat, tanpa ada keinginan pulang kembali ke kampung halamannya manakala tujuannya telah tercapai sebagaimana pelajar atau mahasiswa yang kost dikota lain dengan tujuan mencari ilmu yang apabila setelah lulus dai akan pulang ke kampungnya atau pindah ketempat lain. Maka mereka ini meskipun menetap sampai 5 tahun menuntut ilmu, tidak dapat digolongkan mustautin, tetapi hanya digolongkan mukimin saja.\rSalat Jumat yang dilakukan oleh orang-orang yang mukim atau musafir seperti karyawan pabrik/ perusahaan adalah sah jika tempat melakukan salat Jumat tersebut sah menurut syarat-syarat yang telah ditentukan oleh syariat Islam. Akan tetapi mereka ini tidak sah dijadikan hitungan sebagai ahli Juamat di tempat melakukan salat Jumat tersebut.","part":1,"page":222},{"id":223,"text":"Mengenai salat Jumat yang diadakan di sekolah/kampus atau di lingkungan pabrik, selama ahli Jumatnya yang terdiri dari orang-orang yang mustautin ada sejumlah 40 orang (menurut madzhab Syafii) laki-laki, orang merdeka bukan budak, sehat pendengarannya dan semuanya dapat membaca al Quran dengan benar, dan meskipun hari libur bertepatan dengan hari Jumat salat Jumat ditempat tersebut tetap ada (tidak diliburkan). Sedang tempatnya cukup jauh dengan tempat mendirikan salat Jumat yang lain (minimal 1666 m, menurut keputusan Muktamar NU), maka mendirikan salat Jumat ditempat tersebut adalah sah.\rMenurut ibarat dari kitab I’anatut Thalibin juz 2 halaman 54, para murid sekolah, mahasiswa dan para karyawan yang tidak berdomisili di sekitar tempat mendirikan salat Jumat tidaklah termasuk golongan mustautin.\rDasar pengambilan Kitab Tausyih ala ibn Qosim halaman 78:\r(وَ) السَّابِعُ (الإسْتِيْطَانُ) بِمَحَلِّ إِقَامَةِ الجُمُعَةِ فَلاَ تَنْعَقِدُ بِمَنْ يَلْزَمُهُ حُضُورُهَا مِنْ غَيْرِ المُسْتَوْطِنش وَهُوَ المُقِيْمُ بِمَحَلِّهَا أرْبَعَةَ أيَّامِ صِحَاحٍ أو بِمضا يُسْمَعُ مِنْهُالنِّدَاءُ. وَلاَ تَنْعَقِدُ بِمُسافِرٍ وَمُقِيْمٍ عَزَمَ عَلَى عَوْدِهِ لِوَطَنِهِ وَلَو بَعْدَ مُدَّةٍ طَوِيْلَةٍ. وَالمُسْتَوطِنُ مَنْ لاَيُسَافِرُ مِنْ مَحَلِّ فَغَيْرُ المُسْتَوطِنِ إنْ كَانَ مُسَافِرًا لَمْ تَجِبْ عَلَيْهِ وَلاَ تَنْعَقِدُ بِهِ وَتَصِحُّ مِنْهُ وَإنْ كَانَ مُقِيْمًا وَلَوْ أربَعَةَ أيَّامِ صِحَاحٍ وَجَبَتْ عَلَيْهِ وَلاَ تَنْعَقِدُ بِهِ وَتَصِحُّ مِنْهُ.","part":1,"page":223},{"id":224,"text":"“Dan yang ketujuh (dari syarat-syarat mendirikan salat Jumat) adalah istitan (bertempat tinggal menetap) di tempat mendirikan salat Jumat. Sehingga salat Jumat itu tidak sah (apabila ahli Jumatnya paling sedikit 40 orang itu digenapi jumlahnya) dengan orang yang wajib menghadiri salat Jumat dan ia bukan mustautin, yaitu orang yang bertempat tinggal ditempat mendirikan salat Jumat selama empat hari penuh, atau digenapi dengan orang yang mendengar adzan melalui pengeras suara atau radio tetapi rumahnya sangat jauh dari tempat mendirikan salat Juamat. Salat Jumat tidak sah dengan ahli Jumat (jamaah tetap) orang musagir atau orang mukim yang bercita-cita kembali kenegerinya meskipun sesudah jangka waktu yang lama. Mustautin itu adalah orang yang tidak bepergian dari tempat tinggalnya pada musim hujan atau musim lainnya, kecuali karena ada keperluan. Orang yang tidak mustautin, jika dia bepergian, maka dia tidak wajib melakukan salat Jumat dan salat Jumat itupun tidak sah jika ahli Jumatnya digenapi dengan dia, dan jika musafir ini melakukan salat Jumat, maka salat Jumatnya sah. Jika musafir itu tinggal di suatu tempat, meskipun selama empat hari penuh, maka dia wajib melakukan salat Jumat dan salat Jumat tidak sah jika ahli Jumatnya digenapi hitungannya dengan dia, dan salat Jumat yang dilakukan olehnya sah. ”","part":1,"page":224},{"id":225,"text":"Perlu anda ketahui bahwa perbedaan pendapat diantara para imam madzhab itu adalah disebabkan oleh perbedaan ushul dan pendangan mereka terhadap dalil-dalil nash. Sebagai contoh, madzhab Hanafi tidak mau menggunakan hadist ahad (hadist yang dalam satu stadium hanya diriwayatkan oleh satu orang) meskipun sahih sebagai dasar pengambilan hukum. Bagi madzhab Hanafi hadist yang dapat dijadikan dasar hukum itu paling tidak adalah Hadist Mashur (hadist yang dalam satu stadium diriwayatkan oleh paling sedikit dua orang).\rSebaliknya madzhab Maliki mau menggunakan hadist dlaif asal tidak terlalu dlaif sebagai dasar pengambilan hukum. Sedang madzhab Syafii hanya mau menggunakan hadist sahih meskipun hadist tersebut adalah hadist ahad.\rTerhadap ayat-ayat al Quran serta perbedaan ushul diantara mereka, maka hasil ijtihad mereka menjadi berbeda-beda. Jadi jika dalam satu masalah, misalnya fardlu wudlu, kita setuju pendapat madzhab Syafii, yaitu enam, maka hal itu berarti kita setuju pendapat Imam Syafii bahwa hadist yang dapat dijadikan dasr hukum adalah hadist sahih meskipun ahad. Jika kita setuju pendapat madzhab Hanafi, yatiu empat, maka hal itu berarti kita setuju pendapat Imam Abu Hanifah bahwa hadist yang dapat dijadikan dasar hukum adalah hadist masyhur. Kemudian jika kita setuju pendapat madzhab Maliki, yaitu delapan, maka hal itu berarti kita setuju pendapat Imam Malik bin Anas bahwa hadist dlaif itu dapat dijadikan dasar hukum.","part":1,"page":225},{"id":226,"text":"Dengan demikian, maka dapat kita ketahui bahwa jika seseorang dalam keadaan tidak terpaksa memiliki pendapat yang ada diantara para Imam Madzhab dengan alasan sama benarnya (melakukan talfiq) , maka berarti orang tersebut tidak mengetahui dan tidak memiliki pendirian yang tetap (consist) terhadap pokok masalah yang menjadi landasan dan dasar hukum. Terlebih hal itu tidak diperkenankan oleh agama.\rDasar pengambilan Kitab I’anatut Thalibin juz 4 halaman 217-218:\r(فَائِدَةٌ) إِذَا تَمَسَّكَ العَامِى بِمَذْهَبٍ لَزِمَهُ مُوَافَقَتُهُ وَإلاَّ لَزِمَهُ التَمَذْهَبُ بَمَذْهَبٍ مُعَيَّنٍ مِنَ الأرْبَعَةٍ لاَغَيْرِهَا وَإنْ عَمَلَ بِالأوَّلِ. الإنْتِقَالُ الَى غَيْرِهِ بِالكُلِّيَّةِ أوْ فِى المَسَائِلِ بِشَرْطِ أَنْ لاَ يَتَتَبَّعَ الرُخَصُ بِأنْ يَأخُذَ مِنْ كُلِّ مَذْهَبٍ بِالأَسْهُلِ مِنْهُ فَيَفْسُقُ بِهِ عَلَى الأوجَة.\r(faedah) apabila ada seorang yang awam berpegang teguh pada satu mazhab, maka wajib baginya untuk menyesuaikan diri dengan mazhab tersebut. Jika tidakdemikian, maka wajib baginya bermazhab dengan mazhab yang tertentu dari empat mazhab, bukan dengan selainya. Kemudian jika dia mengamalkan dengan mazhab yang pertama, dia boleh pindah ke mazhab lainya secara keseluruhan atau dalam masalah tertentu dengan syarat tidak mengikuti keringanan-keringanan, seperti apabila dia mengambil dari mazhab yang paling ringan dari mazhab tersebut, sehingga karenaya, menurut pendapat yang paling kuat, dia menjadi orang yang fasik.\rImam Keliru, Diperingatkan Kok Masih Terus","part":1,"page":226},{"id":227,"text":"Dalam salat jamaah (misalnya magrib) imam lupa akan bilangan rakaat yang telah dilakukan. Yaitu yang sebenarnya sudah mendapat tiga rakaat, tapai karena lupa maka imam menambah rakaat lagi. padahal makmumsudah mengucapkan tasbih tapi imam masih terus (dan mungkin saja karena tidak mengerti kesalahan yang di maksud makmum lewat tasbih tadi).\rLalu bagaimana posisi makmum yang benar, apakah mengikuti rakaat imam tadi atau menanti dalam tahiyyat ahir dan membiarkan imam sendiri atau mufaraqah, serta bagaimana tindakan makmum masbuq yang hanya kurang satu rakaat saja dalam jamaah. Seperti ini tolong dijawab lengkap dengan ta’birnya.\rBagaimana cara menghitung air untuk boleh tidaknya dipakai berwudlu, sedang air itu mnengalir misal di sungai, dengan cara mengunakan istilah jiryah sebagaimana keterangan yang terdapat dalam Kitab Kasifatus saja, bab Al ma’u qolilun wa…halaman 22. Tolong diterangkan maksud ta’bir tersebut dengan jelas atau mengunakan ta’bir kitab lain yang lebih jelas.\rJawaban:\rJika makmum telah yakin bahwa sholat magrib yang di lakukan telah tiga rakaat, maka makmum tidak boleh berdiri mengikuti imam. Tetapi harus duduk menanti imam melakukan tasyahud kemudian salam bersama imam, atau makmum mufaraqah memisahkan diri dari imam.","part":1,"page":227},{"id":228,"text":"Bagi imam, apabila dia mendengar tasbih hanya dari seorang makmum saja, maka dia tidak boleh duduk sehingga dia yakin bahwa salat yang dia lakukan sudah tiga rakaat. Jadi duduk imam berdasarkan keyakinanya, dan bukan dari tasbih dari seorang makmum. Jika yang melakukan tasbih adalah makmum yang banyak, sedangkan imam mendengar tasbih tersebut dan tidak mau duduk, maka salat si imam batal karena menambah rukun;dan salat para makmum sah.\rBagi makmum masbuq, jika dia telah yakin imam telah melakukan salat tiga rakaat, maka dia tidak boleh mengikuti imam berdiri\rDasar pengambilan Kitab Hamisy I’anatut Thalibin juz 2 halaman71:\r(فَرْعٌ) لَو قاَمَ أِمَامُهُ لِزِيَادَ ةٍ كَخَامِسَةٍ وَلَوْ سَهْوًا لَمْ يَجُزْلَهُ مُتَابَعَتُهُ وَلَوْ مَسْبُوقاًاَوْشَاكًّافِي رَكْعَةٍ بَلْ يُفَارِقُهُ وَيُسَلِّمُ اَوْيَنْتَظِرُهُ عَلَي الْمُعْتَمَدِ.\r(cabang) andaikata imam berdiri untuk menambah rakaat, seperti rakaat kelima meskipun karena lupa, tidak boleh bagi makmum mengikutinya meskipun dia makmum masbuq, atau karena ragu-ragu dalam rakaat. Tetapi ma’mum harus mufaraqah dan salam atau menanti imamnya menurut pendapat yang dapat di jadikan pegangan.","part":1,"page":228},{"id":229,"text":"Istilah satu jiryah yang ada dalam kitab kasyifatus saja halaman 22 tersebut adalah sama dengan istilah debit air tiap satu detik. Untuk memahami istilah ini, kami persilahkan anda bertanya ke kantor PDAM yang ahli mengukur jumlah volume air tiap satu detik. Seingat kami, jika aliran di sungai terdapat 245 liter dengan mengingat lebar dan dalam sungai air tersebut, maka jiryah tersebut dinamakan dua kulah.\rHak Membela Diri Dalam Pengadilan\rAda seorang yang terbukti membunuh orang lain bahkan ada saksi yang melihat pembunuhan tersebut. Setelah di pengadilan, dia (si pembunuh) menunjuk seorang pengacara. Berkat kegigihan pengacara tersebut dia terbebas dari tuntutan hukum.\rBagaimana hukum pengacara tersebut dosa atau tidak? Mohon penjelasan.\rApakah hak untuk membela diri jelas-jelas berlaku untuk orang yang melakukan pembunuhan?\rApakah di jaman rasulullah juga ada sistem pengacara untuk membela diri dari tuntutan hukum.\rJawaban:\rHukumnya berdosa, sebab dengan demikian berarti dia rela terhadap pembunuhan yang dilakukan oleh si pembunuh.\rDasar pengambilan Kitab Syarah Sulam Taufiq halamman 84:\rوَمِنْ مَعَا صِيْ الْبَدَنِ... وَاءِيْوَاءُ الظَالِمِ وَمَعْنُهُ مِمَّنْ يُرِيْدُ اَخْذَ اْلخَقِّ مِنْهُ. (وَاِيْوَاءُ اَلظَّالِمِ) اَيْ اِقَامَتُهُ وَاِسْكَانُهُ في مَنْزِلِ لاَيَقْدِ رُ عَلَيْهِ مَنْ طَلَبَهُ. (وَمَنْعَهُ مِمَّنْ يُرِيْدُ اَخْذَ اَلْحَقِّ) كَالْمَالِ وَالْحَدِّ (مِنْهُ) اي اَلظَّالِمِ لأِنَّ ذَلِك رِضًابِبَقَاءِ الْمَعْصِيَةِ الَتِي يَتَعَدَّى شَرُّهَاالَىَ الغَيْرِ.","part":1,"page":229},{"id":230,"text":"Dan diantara maksiat badan adalah … dan melindungi orang yang zalim dan menahanya dari orang yang ingin mengambil hak darinya. (dan melindungi orang zalim) artinya menempatkan dia di sebuah rumah yang orang lain tidak dapat mencarinya. (Dan menahannya dari orang yang ingin mengambil hak) seperti harta dan hukuman (darinya artinya dari orang yang zalim, karena yang demikian itu berarti rela terhadap tetapnya perbuatan ma’siyat yang kejahatanya dapat mengenai orang lain.\rSetiap orang yang diadili pada dasarnya diberi hak untuk melakukan pembelaan diri agar hukuman yang di berikan kepadanya benar-benar memenuhi tuntutan keadilan.\rAda, sebagaimana bunyi hadits yang terdapat dalam sebuah Kitab Faidul Qodir juz1 halaman 525:\rعَنْ اَبِى مُوْسَى قَالَ النَّبِيِّ صلَّى الله عَليهِ وسلَّم: اِشْفَعُوْا تُؤْجَرُوْا وَيَقْضِيْ الله ُ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّهِ مَا َِشَاءَ.\rDiriwayatkan oleh Abu Musa, Nabi saw bersabda: bantuan (pertolongan) niscaya kamu sekalian akan diberi pahala, dan Allah akan memutuskan perkara melalui Nabi-Nya apa yang Allah yang kehendaki.\rBid'ah Dlalalah dan Madzmumah\rAda yang mengatakan bahwa bid’ah ada dua macam (mahmudah dan mazmumah) tolong diberi penjelasan dalil naqlinya (Al Qur’an dan Hadist)?\rBagaimana kaitanya dengan hadits Nabi semua bid’ah dholalah?\rAndaikata ada perbedaan antara sabda nabi dengan fatwa ulama, maka keduanya yang patut di ikuti siapa?\rJawaban:\rBerdasarkan Kitab Ianatut Tholibin juz 1 halaman 271:","part":1,"page":230},{"id":231,"text":"وَقَالَ ابْنُ حَجَرٍ فِى فَتْحُ الْمُبِيْنِ فِى شَرْحِ قَوْ لِهِ صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ: مَنْ اَحْدَثَ فِى اَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ, مَا نَصُّهُ: قَلَ الشَافِعِيُّ رَضِيَ الله عَنْهُ: مَا اَحْدَثَ وَخاَلَفَ كِتَابًا اَوْ سُنَّةً اَوْ إجْمَاعًا أو أَثَرً فَهُوَ البِدْعَةُ الضَّالَّةُ وَمَا أَحْدَثَ مِنَ الخَيْرِ وَلَمْ يُخَالِفْ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَهُوَ البِدْعَةُ المَحْمُودَةُ.\rIbnu Hajar berkata dalam kitab Fathul Mubin dalam mensyarahi sabda Nabi Muhammad saw: “Barangsiapa mengadakan hal yang baru dalam urusan (agama) kami ini, apa saja yang tidak dari agama tersebut maka hal itu adalah tertolak. Apa yang dinyatakan: Imam as Syafii ra berkata “Apa yang baru terjadi dan menyalahi kitab al Quran atau sunnah Rasul atau ijma’ atau ucapan sahabat, maka hal itu adalah bid’ah yang dlalalah. Dan apa yang baru terjadi dari kebaikan dan tidak menyalahi sedikitpun dari hal tersebut, maka hal itu adalah bid’ah mahmudah (terpuji).\rSabda Nabi Muhammad saw, yang diriwayatkan oleh Imam ad Dailami dalam kitab Musnad al Firdaus:\rكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ إلاَّ بِدْعَةً فِى عِبَادَةٍ.\rSetiap bid’ah itu adalah sesat, kecuali bid’ah dalam memperkuat ibadah.","part":1,"page":231},{"id":232,"text":"Jika saudara mendalami ilmu bahasa Arab, niscaya anda akan memahami bahwa hadist Nabi yang menyatakan bahwa setiap bid’ah itu adalah sesat, adalah masih dapat menerima pengecualian, karena lafadz kullu bid’atin adalah isim yang dimudlafkan kepada isim nakirah, sehingga dlalalah-nya adalah bersifat ‘am (umum). Sedangkan setiap hal yang bersifat umum pastilah menerima pengecualian.\rAndaikata ada, maka yang patut diikuti sudah barang tentu adalah sabda Nabi saw. Akan tetapi saudara harus menyadari bahwa tidak seorangpun dari para ulama yang sebenarnya berani memberikan fatwa, kecuali berdasarkan nash al Quran atau hadist Nabi saw.\rShalat Sunnah Yang Tidak Boleh Dikerjakan\rBagaimanakah hukum macam-macam salat sunah di bawah ini:\rUsholli sunnatan nisfu sya’ban (salat pada malam pertengahan bulan Sya’ban)?\rUsholli sunnatan lailatul qodri (salat di/pada malam lailatul qodar)?\rUsholli sunnatan lidaf’il bala’i (salat rebo wekasan/di akhir bulan safar)?\rBayi yang baru lahir, namun tidak ada tanda-tanda hayat. Bagaimana mengurus jenazahnya?\rApabila seseorang Imam/Khatib melakukan dosa kabair.\rSahkah Jumatnya?\rSahkah bagi makmum yang meragukan karena bencinya?\rApakah biji mata termasuk anggota wudlu yang wajib dibasuh, demikian pula bila junub?\rJawaban\rSalat-salat sebagaimana yang saudara sebutkan dalam pertanyaan, adalah perbuatan bid’ah yang jelas, sedangkan hadist-hadist yang menyebutkan hal tersebut adalah hadist-hadist palsu.\rDasar pengambilan Hamisy I’anatut Thalibin juz 1 halaman 270:","part":1,"page":232},{"id":233,"text":"أمَّا الصَّلاَةُ المَعْرُوفَةُ لَيْلَةَ الرَّغَائِبِ وَنِصْفَ الشَّعْبَانِ وَيَومَ عَاشُرَاءَ فَبِدْعَةٌ قَبِيْحَةٌ وَاَحَادِيْثُهَا مَوْضُوعَةٌ.\r”Adapun salat yang dikenal pada malam-malam yang dicintai dan pada malam nisfu Sya’ban serta hari Asyura’ adalah bid’ah yang jelek, sedangkan hadist-hadist (mengenai hal itu) adalah palsu”.\rMenurut Imam Ramli, jika bayi tersebut telah berumur 6 bulan atau lebih, sekalipun tidak ada tanda-tanda kehidupan baginya, maka cara mengurusnya seperti orang dewasa. Sedangkan menurut para Imam lainnya, tidak wajib diurus seperti orang dewasa yang meninggal dunia.\rDasar pengambilan Kitab Is’adur Rafiq Juz 1 halaman 105\rوَتَجِبُ كُلُّهَا لِسقْطٍ بِتَثْلِيْثِ اَوَّلِهِ مِنَ السُقُوْطِ اِذَا ظَهَرَتْ فِيْهِ اِمَارَةُ الحَيَاةِ كَاخْتِلاَجٍ اِخْتِيَارِيٍّ بَعْدَ اِنْفِصَالِهِ وَبِالاَوْلَى مَالَوْ عُلِمَتْ حَيَاتُهُ بِنَحْوِ صِيَاحِ وَاِنْ لَمْ يَنْفَصِلْ كُلُّهُ. بَلْ عِنْدَ مَرِ مَتَى بِضَلَغَ سِتَّةَ اَشْهُرٍوَاِنْ لَمْ تَظْهَرفِيْهِْ اِمَارَةُالأحَيَاةِ حُكْمُهُ حُكْمُ الْكَبِيْرِ.\rDan wajib seluruh kewajiban mengurue mayit bagi bayi yang keguguran, jika nampak padanya tanda-tanda kehidupan seperti gerakan yang normal setelah terlepas dari kandungan ibunya. Apalagi jika di ketahui kehidupanya dengan berteriak, meskipun belum sempurna terpisah dari perut ibunya. Bahkan menurut Imam Ramli, ketika janin telah berumur enam bulan, sekalipun tidak nampak padanya tanda-tanda kehidupan, maka hukumnya adalah seperti hukumnya orang dewasa.\rSah","part":1,"page":233},{"id":234,"text":"Bagi makmum hukumnya sah, tetapi makruh.\rDasar pengambilan Kitab I’anatut Thalibin juz 2 halaman 47:\rوَصَحَّ اِقْتِدَأٌ بِفَاسِقٍ وَمُبْتَدِعٍ لَكِنْ مَعَ الْكَراَهَةِ.\rDan sah makmum dengan orang fasik dan ahli bid’ah, tetapi makruh.\rBiji mata tidak wajib dibasuh ketika wudlu maupun mandi janabat.\rDasar pengambilan Kitab Is’adur Rafiq juz 1 halaman 75:\rأَمَّا بَاطِنُهُ كَبَاطِنِ العَيْنِ وَالفَمِ وَالأنْفِ وَإنْ ظَهَرَبِنَحْوِ قَطْعٍ. إذِ العِبْرَةُ بِالأصْلِ. إِنَّمَا جُعِلَ فِى النَّجَاسَةِ ظَاهِرًا لِغَلَظِهضا, فَلاَ يَجِبُ غَسْلُهُ.\r“Adapun bagian dalam dari muka, seperti bagian dalam mata, mulut dan hidung, meskipun nampak karena terpotong. Karena pandangan hukum adalah pada asalnya, dan sesungguhnya bagian dalam tersebut dikenakan hukum najis pada lahirnya adalah karena najis yang berat, maka bagian dalam tersebut tidak wajib dibasuh.\rUang Undian dan Karya Tulis Fiksi\rSeorang karyawan/pegawai biasanya terima gaji di muka baru pada bulan itu bekerja. Bagaimanakah seandainya di awal bulan September dia telah terima gaji bayaran tetapi karena kecelakaan atau sakit dia tidak bisa bekerja selama bulan September. Bagaimanakah dengan gaji yang diterimanya, berhutangkah dia?\rJika termasuk berhutang, bagaimana cara mengembalikan/mengesahkannya jika dia pegawai negeri?","part":1,"page":234},{"id":235,"text":"Bagaimana hukumnya membuat novel, komik, cerita-cerita atau sejenisnyadan di publikasikan (disampaikan pada orang lain) di cerita itu hanya hayalan belaka tetapi pembaca bisa membayagnkan seolah ada dan terjadi? Bisakah masuk kategori pembuat cerita bohong dan dusta?\rSeandainya karangan cerita itu diterbitkan oleh penerbit dan dapat imbalan, halal atau tidak imbalan tersebut?\rApakah berpahala jika karangan fiksi itu isinya nasehat baik atau misi dakwah?\rBagaimana pula dengan hukum mengikuti undian kuis seperti seperti dengan mengirim jawaban pada kartu pos atau mengirim bungkus kosong barang yang pemenangnya hanya diundi dan untung-untungan? Bagaimana hadiahnya dengan pemenangnya, halal atau tidak?\rSeorang guru membuat cerita karangan muridnya mengira benar-benar ada. Cerita itu disampaikan guru dengan tujuan mendidik dan memberi nasehat yang baik kepada muridnya. Seperti orang tua dulu memberi cerita si kancil kepada anaknya dengan tujuan memberi nasihat yang baik. Bagaimana hukum guru yang membuat cerita itu dan menyampaikanya kepada muridnya?\rSeorang guru sering dibuat jengkel dan kesal bahkan marah oleh tingkah laku atau sikap muridnya/ siswa. Bolehkah guru marah untuk mendidik? Bagaimana cara seandainya guru itu terpaksa harus menampakan rasa marahnya agar muridnya menurut?\rJawaban:\rPegawai itu ada tiga macam:\rPegawai tetap, yaitu pegawai yang tetap mempunyai hak menerima gaji penuh meskipun dia sakit sampai satu bulan lebih atau tidak masuk karena cuti di luar tanggungan.","part":1,"page":235},{"id":236,"text":"Pegawai bulanan, yaitu pegawai yang mempunyai hak penuh gaji satu bulan meskipun dia tidak masuk bekerja beberapa hari karena sakit atau cuti, kecuali cuti di luar tanggungan.\rPegawai harian, yaitu pegawai yang berhak menerima gaji satu hari penuh pada setiap hari. Dia datang untuk bekerja, meskipun pada jam tertentu dia tidak bekerja karena melakukan salat, makan dan sebagainya yang tidak dapat dihindarkan.\rJadi pegawai negeri yang sakit seperti tersebut pada pertanyaan, dia tidak berhutang, karena gaji yang telah diterima awal bulan itu sudah menjadi haknya.\rDasar pengambilan Kitab Hamsy dari syarah Kitab Ar-Raudl juz 2 halaman 412:\rوَلَوْاسْتَأْ جَرَلِلأِمَا مَةْ وَلَوْ لِنَافِلَةٍ كَاتَّرَاوِيْحِ لَمْ يَصِحَّ (قَوْلُهُ لَوِ اسْتَأْ جَرَ) اِلَى آخِرِهِ, ظَنَّ بَعْضُهُمْ اَنَّ اْلجَمْكِيَّةَ عَلَى الاْءِمَامَةِ وَالطَّلَبِ وَنَحْوِهِمَامِنْ بَابِ الاءِجَارَةِ حَتَّى لاَ يَسْتَحِقُّ شَيْأً اِذَا أَخَلَّ بِبَعْضِ اَيَّامٍ اَوِالًَصَّلاَة. وَلَيْسَ كَذَالِكَ, بَلْ هُوَ مِنْ بَابِ الاءِ رْصَادِ وَاْلاَ رْزَاقِ اَلْمَبْنِيِّ عَلَى اْلاءِحْسَانِ وَاْلمُسَامَحَةِ. بِخِلاَفِ اْلاءِجَارَةِ فَاءِنَّهَا مِنْ بَابِ اْلمُعَاوِضَةِ. وَلِهَذَا يَمْتَنِعُ اَخْذُ اْلأُجْرَةِ عَلَى اْلقَضَاءِ, وَيَجُوْزُ اِرْزَاقُهُ مِنْ بَيْتِ اْلمَالِ بِالاءِجْمَاعِ.","part":1,"page":236},{"id":237,"text":"Andaikata seseorang yang mengambil upah untuk menjadi imam salat meskipun salat sunat seperti salat sunat tarawih, maka hukumnya tidak sah. (ucapan musanif “Andaikata seseorang mengambil upah”) dan seterusnya, sebagian dari ulamak ada yang mengira bahwa gaji mengimami dan uang saku karena menuntut ilmu dan yang seperti keduanya adalah termasuk bab ijarah (mengambil upah) sehingga seorang imam tidak berhak sedikit pun dari gaji tersebut apabila seorang imam tidak mengimami pada sebagian hari atau sebagian salat. Yang benar tidaklah demikian; melainkan gaji tersebut adalah termasuk bab pemberian nafkah dan pemberian rizqi yang di dasarkan pada perbuatan baik dan toleransi. Berbeda dengan buruh yang mengambil upah, maka upah tersebut termaduk pemberian imbalan. Oleh karennya, seseorang tidak boleh mengambil upah karena memutuskan perkara, tetapi boleh memberi rizqi kepeda hakim yang memutuskan perkara dari baitul maal (kas negara) menurut ijma’.\rJika novel, komik, cerita dan lainya yang dikarang seperti tersebut dalam pertanyaan itu hanya dimaksudkan sebagai hiburan yang tidak memiliki muatan pendidikan dan nasihat, maka pengaranya termasuk orang yang berbuat sia-sia padahal perbuatan sia-sia itu harus di tinggalkan oleh setiap orang muslim yang baik, sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw:\rمِنْ حَسْنِ اِسْلاَمِ اْلمَرْءِ تَرْكُهُ مَالاَ يَعْنِيْه.\rTermasuk kebaikan islam orang itu adalah meniggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.","part":1,"page":237},{"id":238,"text":"Jika novel, komik, ceritera lainnya tersebut berisi pelecehan terhadap nilai-nilai agama, maka hukumnya berdosa.\rJika ceriteranya hanya sekedar hiburan belaka maka honor yang diperolehnya halal tetapi tidak membawa berkah. Dan jika berisi pelecehan terhadap nilai-nilai agama maka hukumnya haram, karena honor tersebut diterima dari hasil pekerjaan yang haram.\rJika ceriteranya berisi nasihat dan muatan dakwah, maka perbuatanya mendapat pahala selama ceritera tersebut tidak terdapat kebohongan (khayalan yang dusta).\rDasar pengambilan Sabda Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Sayyidah Umi Kulsum:\rمَارَحَّصِ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم شَيئاً مِنَ اْلكِذْبِ اِلاَّ فِى ثَلاَثٍ: الَّّرجُلُ يَقُوْلُ اْلقَوْلَ فِى اْحَرْبِ, وَالَّرجُوْلُ يَقُوْلُ اْلقَوْلَ يُرِيْدُ الاءِ صْلاَحَ وَالَّر جُلُ يُحَدّ ِث اِمْرَأتَهُ.\rTiadalah Rasulullah saw, memberi keringanan sedikitpun dari orang yang berdusta, kecuali dalam tiga hal: Laki-laki yang berdusta kepada musuh dalam waktu perang. Laki-laki yang berdusta untuk mendamaikan orang muslim yang bertengkar. Laki-laki yang berdusta kepeda istrinya dengan mengatakan makanaya enak (padahal itu tidak enak) untuk tidak menyakiti hatinya.\rHukumnya boleh, sebab semua orang yang mengikuti undian tersebut tidak mengeluarkan uang taruhan sebagaimana yang disebutkan dalam kitab fiqih sebagai qimar/judi.\rHadiahnya halal, karena hanya sebagai bonus dari barang yang telah dibelinya atau sebagai hadiah dari yang mengadakan kuis.\rDasar pengambilan Ahkamul Fuqoha Juz 3 halaman 16-17:","part":1,"page":238},{"id":239,"text":"وَأمَّا مَسْئَلَةُ هـ (مَسْأَلَةُ القَرْعَةِ) فَحُكْمُهَا عَلَىالتَّفْضِيْلِ الآتِى: أ. إذَا كَانَتِ القَرْعَةُ مُعْتَدَةً عَلَى غَنَمٍ اَوْ غَرَمٍ فَحُكْمُهَا حَرَامٌ لأَنَّهَا مِنْ القِمَار. ب. إِذَا كَانَتِ القَرْعَةُ غَيْرَ مُعْتَمِدَةٍ عَلَى غَنَمٍ أَوْ غَرَمٍ لَكِنْ تَتَضَمَّنُ عَلَى هَدِيَّةٍ غَيْرِ مُعَيَّنَةٍ كَمَا جَرَى بَيْنَنَا مِنْ أنَّ المُشُتَرِى يَشْتَرِى شَيْئًا بِثَمَنِ المِثْلِ ثُمَّ هُوَ يَتَسَلَّمُ وَرَقَةً مَعْدُودَةً فِيْهَا هَدِيَّةٌ غَيْرُ مُعَيَّنَةٍ بَلْ عَلَى حَسَبِ القَرْعَةِ أوْ مَا جَرَى مِنْ بَيْنِنَا مِنْ أَنَّ مَنْ يُسَاعِدُ لِبِنَاءِ البُنْيَانِ لِجِهَّةِ الخَيْرِ كَبِنَاءِ المَدْرَسَةِ اَو الرِّبَاطٍ لِلْمَعْهَدِ الدِّيَنِي اَو المَسْجِدِ اَو غَيْرِهَا يَتَسَلَّمُ الوَرَقَةَ المَذْكُورَةَ, ثُمَّ بَعْدَ القَرْعَةِ فَمَنْ وَافَقَتْ وَرَقَتُهُ إلَى بَعْضِ الهَدَايَا المُهَيَّئَةِ فَهُوَ الَّذِى يَسْتَحِقُّ أنْ يَتَسَلَّمَ الهَدِيَّةَ فَلَيْسَتْ تِلْكَ القَرْعَةُ حَرَامًا لأَنَّهَا لَيْسَتْ مِنَ القِمَارِ بِشَرْطِ أنْ تَكُونَ الهَدَايضا المُهَيَّئَةُ غَيْرَ مَأْخُوذَةٍ مِنْ بَعْضِ المُسَعَادَاتِ.","part":1,"page":239},{"id":240,"text":"“Adapun masalah Ha’ (masalah undian) maka hukumnya adalah menurut perincian mendatang: (1) Apabila undian itu didasarkan pada untung rugi, maka hukumnya adalah haram, karena undian tersebut termasuk qimar (judi); (2) Apabila undian itu tidak didasarkan pada untung atau rugi, tetapi menjamin hadiah yang tidak ditentukan seperti yang berlaku diantara kita sekarang ini, yaitu bahwa pembeli yang membeli sesuatu dengan harga yang sepadan, kemudian dia menerima surat undian yang telah dijanjikan yang didalam surat itu tertulis hadiah yang tidak ditentukan, tetapi hanya menurut hasil undiannya. Atau apa yang berlaku diantara kita, misalnya orang yang memberikan sokongan untuk membangun sebuah bangunan-bangunan untuk kebaikan, seperti bangunan madrasah, atau pondok pesantren atau masjid atau lainnya, orang tersebut menerima surat undian seperti tersebut. Kemudian setelah diundi, maka siapa saja yang surat undiannya cocok dengan sebagian dari hadiah-hadiah yang telah ditentukan, maka dialah yang berhak menerima hadiah. Undian seperti ini tidaklah haram, karena tidak termasuk qimar (judi). Hadiah yang disediakan tersebut disyaratkan tidak diambilkan dari sebagian uang sokongan”.","part":1,"page":240},{"id":241,"text":"Hukumnya boleh, karena tokoh-tokoh yang ada dalam cerita yang disampaikan oleh guru seperti tokoh kancil dalam cerita orang tua dahulu kepada anaknya, hanyalah sebagai media (perantara) untuk memudahkan sang anak menerima dan memahami isi cerita yang disampaikan; sebab anak yang masih kecil itu masih sulit untuk memahami sesuat yang bersifat abstrak.\rDasar pengambilan Qaidah Ushul Fiqh\rلِلْوَسَائِلِ حُكْمُ المَقَاصِدِ\r‘Perantara-perantara itu mempunyai hukum seperti hukum dari tujuan-tujuannya”.\rDalam ilmu mendidik yang paling modern sekarang ini memang masih dikenal sistem:\rHukuman yang dapat berbentuk sikap marah yang ditunjukkan oleh guru kepada murid yang lalai terhadap kewajibannya, dengan maksud agar tidak lagi mengulangi kelalaiannya.\rHadian yang dapat berbentuk pujian yang disampaikan guru kepada muridnya yang meraih prestasi, dengan maksud agar dia mempertahankan bahkan meningkatkan prestasi yang telah dicapainya dan juga memberi dorongan kepada murid-murid yang lain untuk meraih prestasi.\rPersuasi atau rayuan atau bujukan yang dilakukan oleh guru kepada murid yang tidak mau mengerjakan tugas yang tidak disukainya.\rSudah barang tentu dalam menjalankan tiga macam sistem tersebut harus dijaga jangan sampai berlebihan, sehingga akan membawa dampak yang negatif bagi tujuan pendidikan itu sendiri.\rUang Undian dan Karya Tulis Fiksi","part":1,"page":241},{"id":242,"text":"Seorang karyawan/pegawai biasanya terima gaji di muka baru pada bulan itu bekerja. Bagaimanakah seandainya di awal bulan September dia telah terima gaji bayaran tetapi karena kecelakaan atau sakit dia tidak bisa bekerja selama bulan September. Bagaimanakah dengan gaji yang diterimanya, berhutangkah dia?\rJika termasuk berhutang, bagaimana cara mengembalikan/mengesahkannya jika dia pegawai negeri?\rBagaimana hukumnya membuat novel, komik, cerita-cerita atau sejenisnyadan di publikasikan (disampaikan pada orang lain) di cerita itu hanya hayalan belaka tetapi pembaca bisa membayagnkan seolah ada dan terjadi? Bisakah masuk kategori pembuat cerita bohong dan dusta?\rSeandainya karangan cerita itu diterbitkan oleh penerbit dan dapat imbalan, halal atau tidak imbalan tersebut?\rApakah berpahala jika karangan fiksi itu isinya nasehat baik atau misi dakwah?\rBagaimana pula dengan hukum mengikuti undian kuis seperti seperti dengan mengirim jawaban pada kartu pos atau mengirim bungkus kosong barang yang pemenangnya hanya diundi dan untung-untungan? Bagaimana hadiahnya dengan pemenangnya, halal atau tidak?\rSeorang guru membuat cerita karangan muridnya mengira benar-benar ada. Cerita itu disampaikan guru dengan tujuan mendidik dan memberi nasehat yang baik kepada muridnya. Seperti orang tua dulu memberi cerita si kancil kepada anaknya dengan tujuan memberi nasihat yang baik. Bagaimana hukum guru yang membuat cerita itu dan menyampaikanya kepada muridnya?","part":1,"page":242},{"id":243,"text":"Seorang guru sering dibuat jengkel dan kesal bahkan marah oleh tingkah laku atau sikap muridnya/ siswa. Bolehkah guru marah untuk mendidik? Bagaimana cara seandainya guru itu terpaksa harus menampakan rasa marahnya agar muridnya menurut?\rJawaban:\rPegawai itu ada tiga macam:\rPegawai tetap, yaitu pegawai yang tetap mempunyai hak menerima gaji penuh meskipun dia sakit sampai satu bulan lebih atau tidak masuk karena cuti di luar tanggungan.\rPegawai bulanan, yaitu pegawai yang mempunyai hak penuh gaji satu bulan meskipun dia tidak masuk bekerja beberapa hari karena sakit atau cuti, kecuali cuti di luar tanggungan.\rPegawai harian, yaitu pegawai yang berhak menerima gaji satu hari penuh pada setiap hari. Dia datang untuk bekerja, meskipun pada jam tertentu dia tidak bekerja karena melakukan salat, makan dan sebagainya yang tidak dapat dihindarkan.\rJadi pegawai negeri yang sakit seperti tersebut pada pertanyaan, dia tidak berhutang, karena gaji yang telah diterima awal bulan itu sudah menjadi haknya.\rDasar pengambilan Kitab Hamsy dari syarah Kitab Ar-Raudl juz 2 halaman 412:","part":1,"page":243},{"id":244,"text":"وَلَوْاسْتَأْ جَرَلِلأِمَا مَةْ وَلَوْ لِنَافِلَةٍ كَاتَّرَاوِيْحِ لَمْ يَصِحَّ (قَوْلُهُ لَوِ اسْتَأْ جَرَ) اِلَى آخِرِهِ, ظَنَّ بَعْضُهُمْ اَنَّ اْلجَمْكِيَّةَ عَلَى الاْءِمَامَةِ وَالطَّلَبِ وَنَحْوِهِمَامِنْ بَابِ الاءِجَارَةِ حَتَّى لاَ يَسْتَحِقُّ شَيْأً اِذَا أَخَلَّ بِبَعْضِ اَيَّامٍ اَوِالًَصَّلاَة. وَلَيْسَ كَذَالِكَ, بَلْ هُوَ مِنْ بَابِ الاءِ رْصَادِ وَاْلاَ رْزَاقِ اَلْمَبْنِيِّ عَلَى اْلاءِحْسَانِ وَاْلمُسَامَحَةِ. بِخِلاَفِ اْلاءِجَارَةِ فَاءِنَّهَا مِنْ بَابِ اْلمُعَاوِضَةِ. وَلِهَذَا يَمْتَنِعُ اَخْذُ اْلأُجْرَةِ عَلَى اْلقَضَاءِ, وَيَجُوْزُ اِرْزَاقُهُ مِنْ بَيْتِ اْلمَالِ بِالاءِجْمَاعِ.","part":1,"page":244},{"id":245,"text":"Andaikata seseorang yang mengambil upah untuk menjadi imam salat meskipun salat sunat seperti salat sunat tarawih, maka hukumnya tidak sah. (ucapan musanif “Andaikata seseorang mengambil upah”) dan seterusnya, sebagian dari ulamak ada yang mengira bahwa gaji mengimami dan uang saku karena menuntut ilmu dan yang seperti keduanya adalah termasuk bab ijarah (mengambil upah) sehingga seorang imam tidak berhak sedikit pun dari gaji tersebut apabila seorang imam tidak mengimami pada sebagian hari atau sebagian salat. Yang benar tidaklah demikian; melainkan gaji tersebut adalah termasuk bab pemberian nafkah dan pemberian rizqi yang di dasarkan pada perbuatan baik dan toleransi. Berbeda dengan buruh yang mengambil upah, maka upah tersebut termaduk pemberian imbalan. Oleh karennya, seseorang tidak boleh mengambil upah karena memutuskan perkara, tetapi boleh memberi rizqi kepeda hakim yang memutuskan perkara dari baitul maal (kas negara) menurut ijma’.\rJika novel, komik, cerita dan lainya yang dikarang seperti tersebut dalam pertanyaan itu hanya dimaksudkan sebagai hiburan yang tidak memiliki muatan pendidikan dan nasihat, maka pengaranya termasuk orang yang berbuat sia-sia padahal perbuatan sia-sia itu harus di tinggalkan oleh setiap orang muslim yang baik, sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw:\rمِنْ حَسْنِ اِسْلاَمِ اْلمَرْءِ تَرْكُهُ مَالاَ يَعْنِيْه.\rTermasuk kebaikan islam orang itu adalah meniggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.","part":1,"page":245},{"id":246,"text":"Jika novel, komik, ceritera lainnya tersebut berisi pelecehan terhadap nilai-nilai agama, maka hukumnya berdosa.\rJika ceriteranya hanya sekedar hiburan belaka maka honor yang diperolehnya halal tetapi tidak membawa berkah. Dan jika berisi pelecehan terhadap nilai-nilai agama maka hukumnya haram, karena honor tersebut diterima dari hasil pekerjaan yang haram.\rJika ceriteranya berisi nasihat dan muatan dakwah, maka perbuatanya mendapat pahala selama ceritera tersebut tidak terdapat kebohongan (khayalan yang dusta).\rDasar pengambilan Sabda Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Sayyidah Umi Kulsum:\rمَارَحَّصِ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم شَيئاً مِنَ اْلكِذْبِ اِلاَّ فِى ثَلاَثٍ: الَّّرجُلُ يَقُوْلُ اْلقَوْلَ فِى اْحَرْبِ, وَالَّرجُوْلُ يَقُوْلُ اْلقَوْلَ يُرِيْدُ الاءِ صْلاَحَ وَالَّر جُلُ يُحَدّ ِث اِمْرَأتَهُ.\rTiadalah Rasulullah saw, memberi keringanan sedikitpun dari orang yang berdusta, kecuali dalam tiga hal: Laki-laki yang berdusta kepada musuh dalam waktu perang. Laki-laki yang berdusta untuk mendamaikan orang muslim yang bertengkar. Laki-laki yang berdusta kepeda istrinya dengan mengatakan makanaya enak (padahal itu tidak enak) untuk tidak menyakiti hatinya.\rHukumnya boleh, sebab semua orang yang mengikuti undian tersebut tidak mengeluarkan uang taruhan sebagaimana yang disebutkan dalam kitab fiqih sebagai qimar/judi.\rHadiahnya halal, karena hanya sebagai bonus dari barang yang telah dibelinya atau sebagai hadiah dari yang mengadakan kuis.\rDasar pengambilan Ahkamul Fuqoha Juz 3 halaman 16-17:","part":1,"page":246},{"id":247,"text":"وَأمَّا مَسْئَلَةُ هـ (مَسْأَلَةُ القَرْعَةِ) فَحُكْمُهَا عَلَىالتَّفْضِيْلِ الآتِى: أ. إذَا كَانَتِ القَرْعَةُ مُعْتَدَةً عَلَى غَنَمٍ اَوْ غَرَمٍ فَحُكْمُهَا حَرَامٌ لأَنَّهَا مِنْ القِمَار. ب. إِذَا كَانَتِ القَرْعَةُ غَيْرَ مُعْتَمِدَةٍ عَلَى غَنَمٍ أَوْ غَرَمٍ لَكِنْ تَتَضَمَّنُ عَلَى هَدِيَّةٍ غَيْرِ مُعَيَّنَةٍ كَمَا جَرَى بَيْنَنَا مِنْ أنَّ المُشُتَرِى يَشْتَرِى شَيْئًا بِثَمَنِ المِثْلِ ثُمَّ هُوَ يَتَسَلَّمُ وَرَقَةً مَعْدُودَةً فِيْهَا هَدِيَّةٌ غَيْرُ مُعَيَّنَةٍ بَلْ عَلَى حَسَبِ القَرْعَةِ أوْ مَا جَرَى مِنْ بَيْنِنَا مِنْ أَنَّ مَنْ يُسَاعِدُ لِبِنَاءِ البُنْيَانِ لِجِهَّةِ الخَيْرِ كَبِنَاءِ المَدْرَسَةِ اَو الرِّبَاطٍ لِلْمَعْهَدِ الدِّيَنِي اَو المَسْجِدِ اَو غَيْرِهَا يَتَسَلَّمُ الوَرَقَةَ المَذْكُورَةَ, ثُمَّ بَعْدَ القَرْعَةِ فَمَنْ وَافَقَتْ وَرَقَتُهُ إلَى بَعْضِ الهَدَايَا المُهَيَّئَةِ فَهُوَ الَّذِى يَسْتَحِقُّ أنْ يَتَسَلَّمَ الهَدِيَّةَ فَلَيْسَتْ تِلْكَ القَرْعَةُ حَرَامًا لأَنَّهَا لَيْسَتْ مِنَ القِمَارِ بِشَرْطِ أنْ تَكُونَ الهَدَايضا المُهَيَّئَةُ غَيْرَ مَأْخُوذَةٍ مِنْ بَعْضِ المُسَعَادَاتِ.","part":1,"page":247},{"id":248,"text":"“Adapun masalah Ha’ (masalah undian) maka hukumnya adalah menurut perincian mendatang: (1) Apabila undian itu didasarkan pada untung rugi, maka hukumnya adalah haram, karena undian tersebut termasuk qimar (judi); (2) Apabila undian itu tidak didasarkan pada untung atau rugi, tetapi menjamin hadiah yang tidak ditentukan seperti yang berlaku diantara kita sekarang ini, yaitu bahwa pembeli yang membeli sesuatu dengan harga yang sepadan, kemudian dia menerima surat undian yang telah dijanjikan yang didalam surat itu tertulis hadiah yang tidak ditentukan, tetapi hanya menurut hasil undiannya. Atau apa yang berlaku diantara kita, misalnya orang yang memberikan sokongan untuk membangun sebuah bangunan-bangunan untuk kebaikan, seperti bangunan madrasah, atau pondok pesantren atau masjid atau lainnya, orang tersebut menerima surat undian seperti tersebut. Kemudian setelah diundi, maka siapa saja yang surat undiannya cocok dengan sebagian dari hadiah-hadiah yang telah ditentukan, maka dialah yang berhak menerima hadiah. Undian seperti ini tidaklah haram, karena tidak termasuk qimar (judi). Hadiah yang disediakan tersebut disyaratkan tidak diambilkan dari sebagian uang sokongan”.","part":1,"page":248},{"id":249,"text":"Hukumnya boleh, karena tokoh-tokoh yang ada dalam cerita yang disampaikan oleh guru seperti tokoh kancil dalam cerita orang tua dahulu kepada anaknya, hanyalah sebagai media (perantara) untuk memudahkan sang anak menerima dan memahami isi cerita yang disampaikan; sebab anak yang masih kecil itu masih sulit untuk memahami sesuat yang bersifat abstrak.\rDasar pengambilan Qaidah Ushul Fiqh\rلِلْوَسَائِلِ حُكْمُ المَقَاصِدِ\r‘Perantara-perantara itu mempunyai hukum seperti hukum dari tujuan-tujuannya”.\rDalam ilmu mendidik yang paling modern sekarang ini memang masih dikenal sistem:\rHukuman yang dapat berbentuk sikap marah yang ditunjukkan oleh guru kepada murid yang lalai terhadap kewajibannya, dengan maksud agar tidak lagi mengulangi kelalaiannya.\rHadian yang dapat berbentuk pujian yang disampaikan guru kepada muridnya yang meraih prestasi, dengan maksud agar dia mempertahankan bahkan meningkatkan prestasi yang telah dicapainya dan juga memberi dorongan kepada murid-murid yang lain untuk meraih prestasi.\rPersuasi atau rayuan atau bujukan yang dilakukan oleh guru kepada murid yang tidak mau mengerjakan tugas yang tidak disukainya.\rSudah barang tentu dalam menjalankan tiga macam sistem tersebut harus dijaga jangan sampai berlebihan, sehingga akan membawa dampak yang negatif bagi tujuan pendidikan itu sendiri.\rMerawat Ari-Ari Bayi Hanya Gugon Tuhon","part":1,"page":249},{"id":250,"text":"Masih menjadi kebiasaan dalam masyarakat kita, yaitu tata cara mengubur ari-ari, yang mana dalam mengubur ari-ari itu biasanya diikutsertakan tulisan (aksara) jawa dll.\rApakah perbuatan itu dicontohkan oleh Rasulullah saw atau para sahabat ? Apakah dalilnya ? Kalau memang ada mengapa dalam mengikutsertakan aksara itu kok bukan aksara arab? Padahal aksara Jawa itu peninggalan orang Hindu ?\rApakah benar tingkah laku orang yang mengubur ari-ari itu dalam keadaan berhias diri, maka anaknyapun akan senang berhias. Benarkah demikian?\rJawaban:\rRasulullah saw dan para sahabat beliau tidak pernah memberikan contoh tentang menguburkannya. Apa yang anda sebutkan hanyalah tradisi dari sebagian suku Jawa saja. Sebab, di Kalimantan setahu kami, orang-orang Banjar membuang ari-ari atau ditimbun di sungai begitu saja. Sementara orang-orang Manado menjemur tembuni sampai kering, kemudian disimpan.\rTingkah laku orang yang mengubur ari-ari itu tidak mempengaruhi kelakuan anak yang ari-arinya dikubur. Sebab dalam hadist Nabi saw yang panjang diterangkan bahwa tingkah laku anak itu telah ditentukan oleh Allah swt pada saat bayi berumur empat bulan dalam perut ibunya. Anggapan yang mengatakan bahwa tingkah laku orang yang mengubur ari-ari itu mempengaruhi tingkah laku anak yang memiliki ari-ari hanyalah bersifat sugesti dan gugon tuhon saja.\rMusik Atraksi Pencak Silat\rBagaimana hukumnya menabuh ketipung (kendang) yang mengirinyi (instrument) atraksi Pencak Silat? Kitab apa dan halaman berapa?\rJawaban:","part":1,"page":250},{"id":251,"text":"Hukumnya memainkan alat musik itu asal hukumnya boleh, kecuali alat-alat musik yang biasa dipakai untuk mengiringi perbuatan-perbuatan maksiat.\rDasar pengambilan Kitab Ihya’ Ulumuddin juz 2 halaman 282\rالعَارِضُ الثَّانِى فِى الآلاَتِ بِأَنْ تَكُوْنَ مِنْ شِعَارِ أهْلِ الشُّرْبِ وَالمُخَنِّثِيْنَ وَهِيَ المَزَامِيْرُ وَالأوْتَارُ وَطبْلُ الكَوْبَةِ. فَهَذِه ثَلاَثَةُ أنْوَاعٍ مَمْنُوعَةٌ. وَمَا عَدَا ذَلِكَ يَبْقَى عَلَى أَصْلِ الإِبَاحَةِ كَالدُّفِّ وَإنْ كَانَ فِيْهِ الجَلاَجِلُ.\rAlasan yang kedua mengenai alat-alat musik, adalah apabila alat-alat tersebut termasuk syiar tukang mabuk dan para mukhannist (orang yang berhias menyerupai wanita untuk dilihat orang lain) seperti seruling, gitar dan kendang kecil. Ketiga macam alat ini adalah dilarang. Adapun lainnya masih tetap dalam kebolehannya seperti rebana, meskipun ada kencernya”.\rmk:@MSITStore:G:\\untuk maktabah baru\\Kumpulan Bahtsul Masaail - Seri 2.CHM::/../../../../My Web Sites/NH/pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/masail/aula/tahun_1997/19a180.html?seemore=y - top\rKolusi, Nogo Dino dan Amal Jariyah","part":1,"page":251},{"id":252,"text":"Misalnya seorang yang mau menjadi pemimpin (kepala desa) atau pegawai diharuskan membayar dahulu (menyogok) padahal itu dosa. Tapi bila tidak menyogok tidak akan jadi. Lalu misal kesempatan itu diambil orang lain (kristen) , sehingga kesempatan itu secara tak langsung kita telah memberi kesempatan pada orang kristen jadi pemimpin. Bagaimana hukumnya menyogok bila tujuannya untuk menghalangi supaya yang jadi pemimpin itu bukan orang kristen?\rBagaimana hukumnya kalau ada orang Islam percaya dan mengikuti pada ramalan misal; nogo dino atau mau bepergian, bangun rumah, tanam-tanaman cari hari baik yang dasarnya tidak ada dalam al Quran dan hadist? Bagaimana batas-batasnya aqidah tentang perbuatan di dunia dan akhirat?\rOrang yang menyumbang uang untuk bangun Masjid yang seharusnya dibelikan bahan material supaya melekat di masjid, tetapi oleh panitia uang tersebut digunakan untuk ongkos tukang, sehingga uang tersebut tidak melekat pada Masjidnya. Apa masih termasuk amal jariah/amal yang mengalir terus? Bagaimana batasan-batasan amal jariah itu?\rJawaban:","part":1,"page":252},{"id":253,"text":"Sebelum kami menjawab pertanyaan anda, perlu anda ketahui perbuatan menyuap atau menyogok itu pada dasarnya dilarang oleh Islam. Namun, menyuap atau menyogok sekarang ini terkenal dengan istilah kolusi. Kolusi ini telah merajalela di Negara Republik Indonesia, mulai tingkat bawah sampai ketingkat yang paling atas. Bahkan untuk dapat naik pangkat atau menerima uang operasional antar bagian dalam satu instansi saja sudah berlaku permainan kolusi ini. Hal ini adalah perbuatan dzalim yang harus diberantas oleh setiap muslim yang memiliki iman yang kuat, meskipun dia harus menderita karenanya. Karena dalam kitab al Hikam telah disebutkan:\rحَقٌّ يَضُرُّ خَيْرٌ مِنْ بَاطِلٍ يَسُرُّ.\r“Kebenaran yang memberi melarat adalah tetap lebih baik daripada kebatilan yang menyenangkan.”\rUntuk mengetahui apakah menyuap seperti yang anda tanyakan itu boleh atau tidak menurut agama Islam, kami persilahkan anda menyimak dan memahami keterangan dari kitab al Bujairimi ‘ala al Khotib juz 3 halaman 218, sebagai berikut:\r(قَوْلُهُ مِنْهَا الهبَّةُ لأَرْبَابِ الوِلاَيَاتِ وَالعُمَّالِ) لأَنَّهَا رَشْوَةٌ وَالرَّشْوَةُ حَرَامٌ إذَا كَانَتْ وَسِيلَةً لِمُحَرَّمٍ كَإِقَامَةِ بَاطِلٍ وَتَرْكِ حَقٍّ وَإلاَّ فَلاَ تَحْرُمُ.","part":1,"page":253},{"id":254,"text":"“Diantara hal-hal yang diharamkan itu adalah pemberian kepada para pemilik (pemegang kekuasaan dan para karyawan), karena pemberian itu adalah suap. Sedangkan suap itu adalah haram jika menjadi perantara untuk pekerjaan yang diharamkan seperti menegakkan kebatilah dan meninggalkan kebenaran. Jika tidak demikian, maka tidak haram”.\rDalam buku Konsep Dasar Pengertian Ahlus Sunnah Wal Jamaah terbitan tahun 1996 yang disusun oleh Drs. KH. Achmad Masduqi Mahfud, Wakil Rais PWNU Jatim halaman 14 disebutkan bahwa salah satu empat makna yang terkandung dalam dua Kalimat Syahadat adalah:\r”membatalkan semua konsep kebahagiaan hasil renungan akal fikiran manusia yang telah ada di seluruh dunia, kemudian hanya menetapkan konsep kebahagiaan yang telah diwahyukan oleh Allah SWT kepada Nabi Besar Muhammad SAW selaku utusan Allah”.\rJadi apabila ada orang Islam yang masih meyakini nogo dino atau hari-hari tertentu masih mempunyai pengaruh dalam menentukan keberhasilan atau kegagalan bagi dirinya, maka berarti dia telah merusak syahadat yang telah dia ucapkan. Namun demikaian, ada pula ibarat dari kitab Talkhisul Murad, hamisy dari kitab Bughyatul Mustarsyidin halaman 206 yang berbunyi sebagai berikut:","part":1,"page":254},{"id":255,"text":"وَذَكَرَ اِبْنُ الفَرْكَاحِ عَنِ الشَّافِعِيُّ اَنَّهُ اِنْ كَانَ المُنَجِّمُ يَقُوْلُ وَيَعْتَقِدُ اَنَّهُلاَيُؤَثِرُ اِلاَّ اللهُ وَلَكِنْ اَجْرَى اللهُ اْلعَادَةَ بِاَنَّهُ يَقَعُ كَذَا عِنْدَ كَذَا وَاْلمُؤْثِرُهُوَااللهُ عَزَّ وَجَلَّ فَهَذَا عِنْدِى لاَبَأْسَ بِهِ. وَحَيْثُ جَاءَ اَلدَّ مُّ يُحْمَلُ مَنْ يَعْتَقِدُ تَأْثِيْرَ النُّجُوْمِ وَغَيْرَهَامِنَ اْلمَحْلُوْقَاتِ. وَفْتَى الزَّمْلَكَانِ بِاالتَّحْرِيْمِ مُطْلَقًا.\r“Ibnul Farkah menuturkan dari Asy Syafii bahwa sesungguhnya jika ahli nujum berkata dan meyakini bahwa sesungguhnya tidak ada yang dapat memberi pengaruh kecuali Allah, tetapi Allah telah melakukan / menjalankan adat kebiasaan bahwa sesungguhnya kejadian demikian ini terjadi pada waktu demikian, sedangkan yang memberi pengaruh adalah Allah ‘azza wa jalla. Keyakinan seperti ini menurut saya berbahaya. Dan celaan yang datang dibawa pada orang yang meyakini dan meyakinkan akan pengaruh bintang-bintang dan makhluk-makhluk lainnya. Imam Az Zamlakani memberi fatwa dengan keharaman mutlak”.\rTermasuk amal jariyah, karena bahan material seperti semen, tegel dan lain sebagainya tidak akan melekat tanpa tukang. Sedang tukang tidak akan mau bekerja tanpa diberi ongkos. Yang dimaksud dengan amal jariyah itu adalah amal yang pahalanya mengalir terus selama benda yang diamalkan tersebut masih dimanfaatkan, sedang benda yang dijariyahkan dapat dimanfaatkan berkat uang yang dipergunakan untuk ongkos tukang.\rDasar pengambilan kaidah Ushul Fiqih:\rلِلْوَسَائِلِ حُكْمُ المَقَاصِدِ.","part":1,"page":255},{"id":256,"text":"Perantaraan-perantaraan itu mempunyai hukum dari tujuan-tujuan.\rMembudidayakan Kodok\rBudidaya kodok akhir –akhir ini prospeknya cukup bagus. Sehingga di kalangan muslim sendiri tidak sedikit yang ikut-ikutan budi daya kodok. Kami pernah menanyakan dalam lailatul ijtima’ (dalam acara bahstu masail) dan jawabanya dinyatakan haram, hanya saja dasar dalilnya masih ditangguhkan.\rKalau memang di haramkan mohaon penjelasannya juga dasar dalilnya. Bila ada yang kurang benar mohon di benarkan, terima kasih.\rJawaban:\rMenurut pendapat mazhab yang benar dan didukung oleh pendapat jumhur ulama’ (sebagian besar ulama’) , kodok itu hukumnya haram dimakan dagingnya. Setiap makana yang haram dimakan haram pula dijual dan uangnya hasil penjualanya haram.\rDasar pengambilan Kitab Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzab juz 9 halaman 32:\rاَلضَّرْبُ الثَّا نِى مَايَعِيْشُ فِى اْلمَاءِ وَفِى اْلبَرِّ اَيْضًا... اِلَى اَنْ قَالَ: وَعَدَّ الشَيْخُ أَبُوْ حَامِدٍ وَاِمَامُ الْحَرَمَيْنِ فِى هَذَا الَضَّرْبِا اَلضِّفْدَعَ وَالسَّرْطَانَ وَهُمَا مُحَرَّمَانِ عَلَى اْلمَذْ هَبِ اَلصَّحِيْحِ الْمَنْصُوْصِ وَبِهِ قَطَعَ اْلجُمْهُوْرُ. وَفِيْهَاقَوْلٌ ضَعِيْفٌ اَنَّهُمَا حَلاَلٌ.","part":1,"page":256},{"id":257,"text":"Macam yang kedua dari binatang yang haram di makan dagingnya adalah binatang yang hidup di air dan juga yang hidup di darat… sampai pada ucapan mushanif: Asy syeikh Abu hamid dan Imam Haramaini menghitung katak dan kepiting dalam macam ini menurut mazhab yang benar yang telah di tetapkan, dan jumhur ulama’ telah memutuskan pendapat ini. Dalam pendapat-pendapat yang mengenai hal ini ada pendapat yang lemah mengatakan kodok dan kepiting itu hukumnya halal .\rBagaimana Mengqadla' Shalat\rBeberapa tahun yang lalu si Ali terserang penyakit yang cukup parah. Sehingga mengharuskan istirahat yang berkepanjangan. Sejauh itu, ia pernah meninggalkan salat fardlu selama tidak di ketahui bilanganya, artinya lupa sama sekali berapa yang telah ditinggalkanya. Ia sudah berusaha mengingat-ingat, tapi tetap lupa (tidak ingat sama sekali).\rBagaimana cara menggantikanya dan berapa waktu/bilangan yang harus diganti?\rDosakah ia, melihat yang ditinggalkanya sangat banyak?\rJawaban:\rCara meng-qadla’ salatnya dapat dilakukan dengan qadla’ keliling, meng-qadla’ salat zuhur pada waktu salat zuhur, meng-qadla’ salat ashar pada waktu ashar, meng-qadla’ salat magrib pada waktu salat magrib, meng-qadla’ isyak pada waktu salat isyak dan salat subuh pada waktu subuh, atau dengan cara lainnya sebagaimana disebutkan dalam kitab–kitab fiqih. Sedangkan jumlah yang harus di-qadla' adalah jumlah yang diyakini telah ditinggalkan.\rDasar pengambilan Kitab Al Mustarsyidin halaman 36:","part":1,"page":257},{"id":258,"text":"شَكَّ فِى قَدْرِفَوَائِتَ عَلَيْهِ لَزِمَهُ الاِتْيَانُ بِكُلِّ مَالَمْ يَتَيَّقَنْ فِعْلَهُ كَمَا قَلَ اِبْنُ حَجَرٍوَمَ ر. وَقَالَ القَفَّالُ: يَقْضِى مَا تَحَقَّقَ تَرْكَهُ.\rSeseorang telah ragu mengenai jumlah salat-salat yang ditinggalkan, maka wajib baginya melakukan salat yang dia yakini telah melakukannya, sebagaimana pendapat Ibnu Hajar dan Mim Ra’, Imam Qoffal berkata: Dia harus mengqadla’ apa yang telah nyata meninggalkanya.\rDia tidak berdosa karena salat yang ditinggalkanya terlalu banyak, tetapi berdosa karena sengaja meninggalkan salat. Sebab seseorang itu jika tidak dapat melakukan salat dengan berdiri, dia harus salat dengan duduk. Jika tidak dapat salat dengan duduk, maka dia harus salat dengan tidur atau miring. Dan jika tidak dapat salat dengan tidur miring, maka dia harus salat dengan tidur terlentang.\rDasar pengambilan Kitab Kasyifatus Saja, Syarah dari Kitab Safinatun Naja halaman 53:\rوَاْلاَ صْلُ فِى وُجُوْبِ اْلقِيَامِ قَوْلُهُ صلى الله عليه وسلَّمَ لِعِمْرَانَ بْنُ حُصَيْنٍ, وَكَانَتْ بِهِ بَوَاسِيْرُ, صَلِّ قَائِمًا فَاِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَا عِدًا فَاِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جُنُبٍ, رَوَى هَذِهِ الاَحْو اَلَ الَثَلاَثَةَ اَلْبُخَرِيُّ. وَزَادَ اَلنَّسَائِيُّ اْلحَالَة الرَّبِعَةَوَهِيَ فَاِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَمُسْتَلِيْقًا لاَ يُكَلِّفُ اللهَ نَفْسًا اِلاَّ وُسْعَهَا.","part":1,"page":258},{"id":259,"text":"Asal dari kewajiban berdiri dalam salat fardlu adlah sabda Nabi saw. Kepada Imran bin Husain, beliau menderita penyakit bawasir: Salatlah engkau dengan berdiri jika engkau tidak mampu, maka dengan duduk, jika engkau tidak mampu, maka dengan tidur miring. Imam An Nasa’i menambahkan keadaan yang keempat, jika engkau tidak mampu dengan tidur miring, maka dengan tidur terlentang. Allah tidak memaksa seseorangَ kecuali pada batas kemampuannya.\rmk:@MSITStore:G:\\untuk maktabah baru\\Kumpulan Bahtsul Masaail - Seri 2.CHM::/../../../../My Web Sites/NH/pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/masail/aula/tahun_1997/22a180.html?seemore=y - top\rTentang Wanita Hamil Yang Wafat dan Hukum Tinju\rDalam kehidupan sehari-hari kita tidak terlepas dari hukum agama. Lebih-lebih di daerah kami, yang awam hukum agama. Ada suatu kejadian, seorang wanita hamil yang sembilan bulan meninggal karena kecelakaan. Yang saya tanyakan yaitu:\rBagaimana nash yang berkaitan dengan meninggal dunia mendadak, apakah tergolong mati syahid, padahal wanita tersebut jarang salat?\rBagaimana cara mengkafaninya jenazahnya, apakah anak yang ada dalam kandunganya perlu di operasi dan dikafani sendiri karena anak juga mati dalam kandungan?\rBagaimana cara salat terhadap jenazah tersebut karena mayitnya dua, yakni ibu dan anak?\rBagaimana hukumnya apabila kita menyolatkan karena orang tersebut agamanya setengah-setengah, kadang salat dan kadang tidak walaupun tidak berhalangan?","part":1,"page":259},{"id":260,"text":"Dalam dunia sekarang persaingan sangat hebat. Lebih-lebih dalam olah raga. Seperti tinju, sepak bola putri, angkat besi putri, dll. Yang saya tanyakan:\rBagaimana hukumnya olah raga tinju khususnya pelaku dan promotor, karena itu merugikan salah satu pihak dan bersifat judi?\rBagaimana hukumnya orang-orang putri yang ikut andil dalam olah raga seperti sepak bola, angkat besi, renang dll, kaitannya dengan aurat?\rBagaimana tangung jawab para ulama’ yang melihat kejadian tersebut padahal mengerti itu melanggar syariat islam?\rJawaban:\rPermasalahan 1\rWanita tersebut hukumnya mati syahid, tapi syahid ahirat saja.\rDasar pengambilan Kitab Hasyiyah Syaikh Ibrahim Al Baijuri juz 1 halaman 254:","part":1,"page":260},{"id":261,"text":"وَمَّاشَهِيْدُ الاَخِرَةِ فَقَطُّ فَهُوَ كَغَيْرِ الَشَهِيْدِ فَيُغْسَلُ وَيُكْفَنُ َيُصَلِّى عَلَيْهِ وَيُدْفَنُ وَقَدْ احْتَرَزَ المُصَنِّفُ بِقَوْلِهِ فِى مَعْرَكَةِ المُشْرِكِيْنَ. وَاَقْسَامُهُ كثِيْرَةٌ فَمِنْهَا: اَلْمَيِّتَةُ طَلْقًا وَلَوْ كَانَتْ حَامِلاً مِنْ زِنًا, وَاْلمَيَّّتُ غَرِِيْقًا وَاِنْ عَصَى بِرُكُوْبِ اْلبَحْرِ, وَاْلمَيَّتُ هَدِيْمًا اَوْحَرِيْقًا اَوْغَرِيْقًا اَوْ غَرِيْبًا وَاِنْ عَصَى بِالْغُرَبَةِ وَالْمَقْتُوْلُ ظُلْمًا وَلَوْ هَيْئَةً كَاِنِ سْتَحَقََّ شَخْصٌ خَرَّ رَقَبَتِهِ فَقَدَّهُ نِصْفَيْنِ وَالْمَيِّتُ بِالْبَطْنِ اَوْفِى زَمَنِ الطَّاعُوْنِ وَلَوْ بِغَيْرِهِ لَكِنْ كَانَ صَابرًا مُحْتَبِِسًا اَوْ بَعْدَهُ وَكَانَ فِى زَمَنِهِ كَذَالِكَ, وَاْلمَيِّتُ فِى طَلَبِ اْلعِلْمِ وَلَوْ عَلَى فِرَاشِهِ, وَالْمَيِّتُ عِشْقًا وَلَوْ لِمَنْ لَمْ يُبِحْ وَطْؤُهُ كَاَمْردَبِشَرْطِ اْلعِفَّةِ حَتَّى عَنِ النَّظْرِ بِحَيْثُ لَوِاحْتَلَى بِمَحْبُبِهِ لَمْ يَتَزجَاوَزِ الِشَرْعَ وَبِشَرْطِ الْكِتْمَانِ حَتَّى عَنْ مَعْشُوْقِهِ.\rAdapun syahid di akhirat saja, maka dia adalah seperti bukan syahid, sehingga dia dimandikan, dikafani, disalati, dan dikubur. Mushonnif membatasi diri dengan ucapannya ”dalam peperangan melawan orang musyrik”.\rAdapun macam-macam orang mati syahid akhirat saja ini, banyak, antara lain:\rWanita yang mati karena melahirkan anaknya, meskipun dia hamil dari zina.\rOrang yang mati tenggelam, meskipun dia naik perahu atau kapal sebab maksiat.\rOrang yang mati tertimpa reruntuhan atau terbakar atau berkelana (mengembara) meskipun berkelana sebab maksiat.","part":1,"page":261},{"id":262,"text":"Orang yang dibunuh secara aniaya, meskipun dalam bentuknya, seperti apabila seseorang memiliki hak akan kematian budak beliannya, kemudian dia memotong budaknya yang telah mati menjadi dua bagian.\rOrang yang mati sebab sakit perut atau pada masa wabah penyakit, meskipun kematiannya karena sebab yang lain, tetapi dia bersabar dan tidak keluar dari daerahnya, atau mati sesudah wabah penyakit, sedangkan dia pada masa wabah tersebut juga demikian (bersabar dan tidak keluar dari daerahnya).\rOrang yang mati dalam menuntut ilmu, meskipun dia mati di atas tempat tidurnya.\rOrang yang mati karena sakit asmara meskipun dia jatuh cinta kepada orang yang tidak halal untuk disetubuhi. Seperti laki-laki yang jatuh cinta kepada gadis cantik dengan syarat dia tidak berbuat maksiat sampai dari memandang orang yang dicintai. Sehingga andaikata dia sendirian bersama kekasihnya, niscaya dia tidak melanggar syara’ dan dengan syarat dia simpan rasa cintanya tersebut, sampai terhadap orang yang dicintainya.\rCara mengafani wanita tersebut seperti mengafani mayit lainnya. Artinya, bayi dalam kandungannya yang sudah mati tidak boleh dioperasi.\rDasar pengambilan Kitab Bughyatul Musytarsyidin halaman 95:\r(مَسْأَلَةٌ) مَاتَتْ وَفِى بَطْنِهَا جِنِينٌ, فَإنْ عُمِلَتْ حَيَاتُهُ وَرُجِيَ عَيْشُهُ بِقَولِ أَهْلِ الخِبْرَةِ شُقَّ بَطْنُهَا اى بَعْدَ أنْ تُجْهَزَ وَتُوضَعَ فِى القَبْرِ وَإنْ تُرْجَ الحَياةُ وُقِفَ دَفْنُهَا وُجُوبًا حَتَّى يَمُوتَ وَلاَ يَجُوزُ ضَرْبُهُ حِيْنَئِذٍ وَإِنْ لَمْ تُعْلَمْ حَيَاتُهُ دُفِنَتْ حَالاً.","part":1,"page":262},{"id":263,"text":"(Masalah) Ada seorang wanita mati sedang dalam perutnya ada janin. Maka jika diketahui kehidupan janin tersebut, dan dapat diharapkan kelangsungan hidupnya berdasarkan pendapat para ahli, maka wajib dibelah (dioperasi) perut wanita tersebut, artinya setelah dirawat dan diletakkan dalam kubur.\rJika tidak dapat diharapkan kelangsungan hidup janin tersebut, maka pemakaman wanita tersebut wajib ditangguhkan sehingga janin yang ada dalam perutnya mati. Pada waktu yang demikian itu tidak boleh memukul janin (supaya lekas mati).\rJika tidak diketahui kehidupan janin yang ada dalam perutnya, maka wanita tersebut harus dikubur seketika.\rYang wajib disalati ibunya saja, sedang bayi yang sudah mati dalam kandungan tidak wajib dimandikan, dikafani dan disalati.\rDasar pengambilan Kitab Hasyiah Syaikh Ibrahim Baijuri juz 1 halaman 253\rوَأَمَّا فِى السَقِيِطِ فِهُوَ فِى بَعْضِ أحْوَالِهِ وَهُوَ مَا إذَا لَمْ تُعْلَمْ حَيَاتُهُ وَلَمْ يَظْهَرْ خَلْقُهُ فَإِنَّهُ لاَ يَجِيْبُ غَسْلُهُ وَلاَ الصَلاَةُ عَلَيْهْ.\rAdapun mengenai bayi yang keguguran, bayi tersebut tetap pada sebagian dari keadaan-keadaannya. Yaitu jika tidak diketahui kehidupannya dan tidak nampak bentuk kejadiaannya, maka tidak wajib memandikannya dan tidak pula wajib salat atasnya.\rMenurut sebagian ulama kita masih berkewajiban melakukan salat terhadapnya, karena menurut akidah ahlu as sunnah orang yang masih mau melakukan salat meskipun kadang-kadang, adalah dihukumi sebagai muslim yang maksiat.","part":1,"page":263},{"id":264,"text":"Dasar pengambilan Kitab Bughyatul Musytarsyidin halaman 93\r(مَسْأَلَةُ. ب) يَجِيْبُ تَجْهِيْزُ كُلِّ مُسْلِمٍ مَحْكُومٍ بِإِسْلاَمِهِ وَإنْ فَحِشَتْ ذُنُوبُهُ وَكَانَ تَارِكًا لِلصَّلاَةِ وَغِيْرِهَا مِنْ غَيْرِ جُحُودٍ.\r(Masalah B) Wajib merawat mayat dari setiap muslim yang ditetapkan hukum keislamannya, meskipun sangat keji dosa-dosanya dan dia meninggalkan salat dan lainnya tanpa sikap menentang.\rPermasalahan 2\rHukum olah raga “tinju” saja sudah haram, apalagi ada pihak yang dirugikan dan mengandung unsur perjudian.\rDasar pengambilan Kitab Syarah Sulam Taufiq halaman 74\rوَمِنْهَا اى مِنْ مَعَاصِى اليَدَيْنِ الضَرْبُ بِغَيْرِ حَقٍّ. .. إلَى أنْ قَالَ: فَالَّذِى بِغَيرِ حَقٍ هُوَ كَضَرْبِ غَيْرِ ذَلِكَ او ضَرْبِ ذَلِكَ فِى الوَجْهِ.\rDan diantaranya, yaitu di antara kemaksiatan-kemaksiatan kedua tangan adalah memukul dengan tanpa alasan yang benar ... sampai pada ucapan pengarang: pukulan dengan tanpa alasan yang benar adalah pukulan kepada selain istri yang tidak patuh dan anak umur 10 tahun yang meninggalkan salat; atau memukul pada muka isteri yang tidak patuh dan anak umur 10 tahun yang meninggalkan salat.\rHukumnya berdosa karena membantu perbuatan dosa.\rDasar pengambilan Al Quran surat al Maidah ayat 2 yang antara lain berbunyi:\r... وَتَعَاوَنُوا عَلَى البِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَتَعَاوَنُوا عَلَى الإثْمِ وَالعُدْوَانِ, وَاتَّقُوا اللهَ إنَّ اللهَ شَدِيْدُ العِقَابِ.","part":1,"page":264},{"id":265,"text":"... dan tolong menolonglah kamu sekalian dalam mengerjakan kebajikan dan takwa dan janganlah kamu sekalian tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Bertakwalah kamu sekalian kepada Allah ; sesungguhnya Allah itu maha berat siksanya.\rJika ada orang alim yang mendiamkan perbuatan maksiat yang merajalela di tengah-tengah masyarakat dan tidak berusaha memberantasnya, maka laknat Allah yang akan ditimpakan kepadanya.\rDasar pengambilan Hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori:\rإِذَا ظَهَرَالبِذْعُ وَسَكَتَ العَالِمُ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ.\rApabila perbuatan bid’ah telah nampak sedangkan orang alim diam, maka atasnyalah laknat Allah.\rPosisi Mayat Ketika Di-inapkan\rOrang meninggal pukul 18.00 (6 sore) tidak langsung dikuburkan akan tetapi masih diinapkan semalam di rumah duka dan akan dikuburkan keesokan harinya. Selama itu bagaimanakah posisi jenazah yang benar?\rApakah dibaringkan membujur ke utara selatan (kepala di utara dan kaki di selatan) ataukah membujur ke barat timur (kepala di sebelah barat dan kaki di sebelah timur).\rKedua cara ini sama-sama pernah saya lihat sendiri. Mohon penjelasan. Manakah yang benar menurut tuntunan agama (Rasulullah) dari keduanya? Syukur-syukur kalau dilengkapi dengan rujukan kitab/nashnya. Atas jawabannya saya ucapkan terima kasih.\rJawaban:","part":1,"page":265},{"id":266,"text":"Sampai saat jawaban ini kami buat, kami belum menemukan ibarat kitab yang menerangkan bagaimana seharusnya posisi mayat pada waktu diinapkan dirumah duka. Yang kami jumpai adalah posisi mayat waktu di salati saja. Jadi sebaiknya menurut hemat kami posisi mayat sewaktu diinapkan disamakan saja dengan posisi sewaktu disalati, agar jika selama diinapkan tersebut, bila ada orang yang ingin melakukan salat jenazah (sesudah dimandikan) tidak usah memindah posisinya lagi. Menurut keterangan dari kitab Tanwirul Qulub halaman 212 posisinya sebagai berikut:\rوَأَنْ يُجْعَلَ رَاسُ الذَّكَرِ عَنْ يَسَارِ الإمَامِ وَيَقِفُ الإمَامُ قَرِيْبًا مِنْ رَأسِهِ وَرَأسُ الأُنَثَى عَنْ يَمِيْنِهِ وَيَقِفُ عِنْدَ عَجْزِهَا.\rdan hendaklah kepala laki-laki dijadikan di sebelah kiri imam (membujur ke selatan utara dengan kepala disebelah selatan) dan imam berdiri di dekat kepalanya; dan kepala perempuan di sebelah kanan imam (membujur ke utara selatan dengan kepala di sebelah utara) dan imam berdiri di arah pantatnya.\rZamzam Palsu, Kewajiban Haji dan Warisan\rDi daerah kami (Kebon Gedang) tiap tanggal 15 Sya’ban ketika masuk waktu Maghrib (beduk berkumandang) konon katanya disetiap sumur akan mengalir air zamzam dari Makkah.\rApakah keterangan/adat itu benar? Kalau salah bagaimana hukum meminum air yang diyakini air zamzam itu?","part":1,"page":266},{"id":267,"text":"Bila satu keluarga (suami-isteri) usaha bersama dan hasilnya disatukan, setelah itu harta yang dimiliki keluarga itu sudah cukup untuk ONH satu orang, apakah salah satu dari anggota keluarga itu wajib haji? Bila salah satu keluarga itu ada yang meninggal bagaimanakah cara mewarisnya? Apakah boleh dengan ridlo birridlo saja?\rJawaban:\rCerita tentang air zamzam yang mengalir pada malam tanggal 15 Sya/ban ke sumur-sumur, menurut hemat kami hanyalah cerita dari mulut ke mulut yang sama sekali tidak punya dasar. Bahkan kami sendiri baru sekarang ini mendengarnya. Setahu kami peristiwa yang terjadi pada malam tanggal 15 Sya’ban tahun 8 Hijriyah, adalah perpindahan kiblat dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram, sebagaimana disebutkan dalam kitab Khulashotul Kalam karangan Sayid Ali Fikri halaman 253, dan tentang diserahkannya takdir yang telah ditetapkan oleh Allah swt, pada malam lailatul Qodar kepada para mahluk.\rAdapun meminum air sumur yang diyakini sebagai air zamzam tersebut tidaklah mempunyai pengaruh positif atau negatif bagi orang yang meminumnya. Akan tetapi orang yang meminum tersebut telah berbuat kesalahan karena memiliki keyakinan yang tidak berdasar nash yang sharih (al Quran dan al Hadist).\rTidak wajib, sebab masing-masing dari suami dan isteri tersebut belum mempunyai bekal yang cukup untuk membayar ONH.\rKemudian cara mewarisnya adalah sebagai berikut:\rSebelum diwaris, harta tersebut dipisahkan terlebih dahulu menurut aturan pemisahan harta syirkah.","part":1,"page":267},{"id":268,"text":"Harta yang telah dipisahkan itulah yang menjadi milik suami atau isteri, yang selanjutnya menjadi harta warisan yang harus dibagikan kepada para ahli waris menurut aturan hukum faraid.\rsetelah masing-masing ahli waris menerima warisannya, kemudian memberikan kepada ahli waris yang lain secara sukarela (ridlo birridlo), maka hal tersebut tidak ada masalah.\rDasar pengambilan Hamisy dari kitab Asy Syarqawii ‘ala Tahrir, juz 2 halaman 109:\r(فَرْعٌ) إذَا حَصَلَ اشْتِرَاكٌ فِى لَمَّةٍ بَعْدَ عَزْلِهِ بَيْنَ أبٍ وَوَلَدِهِ أو أجْنَبِيَّيْنِ أو أَخَوَينِ فَإِنْ كَانَ لِكُلِّ مَتَاعٌ أوْ لَمْ يَكُنْ لأَحَدٍ مَتَاعٌ وَاكْتَسَبَا فَإنْ تُمُيِّزَ فَلِكُلٍّ كَسْبُهُ وَإلاَّ إصْطَلَحَا فَإِنْ كَانَ النَّمَاءُ مِنْ مِلْكِ أحَدِهِمَا فِى هَذِهِ الحَالَةِ فَالكُلُّ لَهُ وَلِلْبَاقِيْنَ الأُجْرَةُ وَلَوْ بَالِغَيْنِ لِوُجُودِ الإِشْتِرَاكِ.\r(cabang). Apabila terjadi persekutuan dalam satu perkumpulan setelah berpisah antara ayah dan anak atau antara dua orang yang bukan saudara atau antara kedua orang saudara, maka jika masing-masing mempunyai modal, atau tidak ada modal bagi salah seorang, kemudian keduanya bekerja, jika dapat dibedakan maka bagi masing-masing mendapat hak dari usahanya. Jika tidak dapat dibedakan maka keduanya melakukan perdamaian. Jika yang berkembang adalah harta milik salah seorang dari keduanya, maka dalam keadaan seperti ini, seluruh harta itu adalah milik pemilik modal, sedang orang-orang yang lain mendapat upah, meskipun keduanya sudah baligh, karena wujud dari persekutuan.","part":1,"page":268},{"id":269,"text":"Aurat dan Jima' Sebelum Mayar Dibayar\rPada suatu saat, saya salat di masjid yang imamnya pada waktu sujud kedua, terlihat betul antara lutut dan sebelah atasnya. Boleh dibilang pahanya terlihat waktu saya duduk di shaf depan dekat dengan Imam. Karena antara kaki yang kiri dan kanan dibuka agak lebar selebar sajadah. Atau aurat Imam kelihatan. Bagaimana hukumnya salat saya itu dan bagaimana hukum Imam itu?\rDi desa kami, pada umumnya maskawin dari pihak suami kepada isterinya, seperangkat alat salat dan sebuah kitab suci al Quran. Juga tidak sekaligus diberikan, tetapi memberinya biasanya selisih tiga atau empat hari setelah hari perkawinannya. Sedangkan malam pertama, kedua dan ketiga sudah mengadakan hubungan suami isteri. Bagaimana maskawin yang belum diberikan/dibelikan, bagaimana hukumnya hubungan sebadan itu?\rJawaban:\rSalat sang imam sah dan salat anda juga sah.\rDasar pengambilan Kitab I’anatut Thalibin juz 1 halaman 116\r(قَوْلُهُ مِنَ اْلا َسْفَلَ) اَيْ فَلَوْ رُؤِيَتْ مِنْ ذَيْلِهِ كَاَنْ كَانَ بِعُلُوِّ وَالَّرائِى بِسُفْلٍ لَمْ يَضُرَّ اَوْ رُؤِيَتْ حَالَ سجُوْدِهِ فَكَذَلِكَ لاَيَضُرُّ.\r(ucapan musanif dari bawah) artinya andaikata aurat itu di lihat ujung pakaianya, sperti orang yang melihat ke bawah, maka tidak merusak salatnya atau auratnya dilihat dalam sujudnya, maka yang demikian itu tidak merusak salatnya.\rKitab Tanwirul Qulub halaman 129:","part":1,"page":269},{"id":270,"text":"وَإذَا تَخَرَّقَ ثَوْبُ المُصَلِّى وَظَهَرَتْ عَورَتُهُ وَامْكَنَهُ سَتْرُهَا بِدُونِ مَسِّ مَحَلِّ يُنْقِضُ الوُضُوْءَ كَقُبُلٍ وَجَبَ عَلَيْهِ سَتْرُهَا بِيَدِهِ. فَإِذَا سَجَدَ تَرَكض السَّتْرَ لِوُجُودش عَلَى الأعْضَاءِ السَّبْعَةِ وَلِكَوْنِهِ حِيْنَئِذٍ عَاجِزًا عَنِ السَّتْرِ وَهُوَ لاَيَجِبُ إلاَّ عِنْدَ القُدْرَةِ.\rApabila sobek pakaian orang yang sedang salat dan kelihatan auratnya sedang dia mampu menutupinya tanpa menyentuh tempat yang membatalkan wudlu seperti kemaluan, maka wajib bagina menutupinya dengan tangannya. Apabila dia bersujud maka dia tidak menutupi aurtnya, karena dia berkewajiban sujud dengan tujuh anggota badannya dan karena keadaannya pada waktu itu menjadi orang yang tidak mampu menutupi aurat, sedang menutup aurat itu tidak wajib kecuali pada waktu mampu.\rMaskawin tidak harus kontan, melainkan boleh juga dihutang. Hanya saja, jika pada waktu ijab qobul pihak wali mengatakan bahwa maskawin itu diberikan secara tunai (kontan) dan mempelai laki-laki menyetujui, sedang kenyataannya tidak diberikan secara tunai (selang tiga atau empat hari), maka sang suami berdosa karena berdusta. Hubungan seksual yang dilakukan adalah halal sebab maskawin itu hanya kewajiban dan bukan rukun nikah, sebagaimana disebutkan dalam semua kitab-kitab fiqh.\rBorongan, Suara Wanita dan Thaharah\rKami dari remaja Masjid Al Mubarrok ingin mengajukan pertanyaan:","part":1,"page":270},{"id":271,"text":"Menjual kacang yang masih di dalam tanah hukumnya haram. Tetapi hal itu pernah dan sering dilakukan di desa kami. Alasannya dia tidak mungkin memanen sendiri, selain banyak juga membutuhkan tenaga kerja banyak. Sedangkan tenaga kerja sudah dikuasai oleh pemborong. Apakah jual beli seperti itu diperbolehkan?\rApakah istinja’ dengan batu hukumnya sudah suci atau hanya bersih saja, sehingga diperbolehkan melakukan salat?\rApakah saudara ipar termasuk mahram?\rSuara wanita adalah aurat. Bagaimana dengan suara wanita yang sering ada dalam acara-acara agama atau lainnya. Bolehkan hal itu dilakukan?\rBolehkah debu untuk mensucikan najis diganti dengan sabun?\rJawaban:\rMenjual kacang tanah secara borongan yang masih ada dalam tanah itu hukumnya tidak boleh, sebab hal itu mengandung tipuan. Artinya mungkin si penjual tertipu, sebab- umpama- kacang yang dijual itu diperkirakan hanya satu setengah ton, ternyata setelah dipanen pembelinya, hasilnya mencapai dua ton, sehingga penjual menyesal karena merasa menderita kerugian cukup banyak.\rDemikian pula halnya si pembeli yang memperkirakan jumlah kacang yang dibeli sebanyak dua ton, ternyata setelah dipanen hasilnya hanya satu setengah ton, sehingga menderita kerugian. Padahal salah satu syarat dari keabsahan jual beli adalah saling rela antara penjual dan pembeli dalam arti tidak ada yang dikecewakan. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw:\rلاَيَصِحُّ البَيْعَ إلاَّ عَنْ تَرَاضٍ\rJual beli itu tidak sah kecuali saling rela antara pembeli dan penjual.","part":1,"page":271},{"id":272,"text":"Dalam kitab Syarah Sullam Taufiq, bab riba, halaman 51 disebutkan:\rوَمَالَمْ يَرَهُ قَبْلَ العَقْدِ حَذَرًا مِنَ الغَرَرِ الخَطَرِ لِمَا رَوَى مُسْلِمٌ أنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ بَيْعِ الغَرَرِ اى البَيْعِ المُشْتَمِلِ عَلَى الغَرَرِ فِى البَيْعِ. قَالَ الحِصْنِى: وَفِى صِحَّةِ بَيْعِ ذَلِكَ قَولاَنِ: أحَدُهُمَا أَنَّهُ يَصِحُّ وَبِهِ قَالَ الأَئِمَّةُ الثَّّلاَثَةُ وَطَائِفَةٌ مِنْ أَئِمَّتِنَا, فَمِنْهُمْ البَغَوِى وَالرَّوْيَانِى وَالجضدِيْدُ. الأظْهَرُ لاَيَصِحُ لأَنَّهُ غَرَرٌ.\rTidak boleh membeli barang yang belum dilihat sebelum akad untuk menghindari tipuan yang dikhawatirkan, berdasarkan hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad saw melarang barang yang belum jelas, artinya jual beli yang mengandung tipuan pada barang yang dijual.\rImam Al Hisny berkata: Mengenai keabsahan jual beli tersebut ada dua pendapat. Pendapat pertama mengatakan sah. Dengan keabsahan ini telah berpendapat para Imam Madzhab yang tiga dan sekelompok dari para Imam Madzhab Syafii- antara lain al Baghawi, ar Rauyani dan qoul jadid: Yang jelas adalah bahwa jual beli yang demikian itu tidak sah, karena mengandung tipuan.\rJika kita perhatiakan semua kitab-kitab fiqh, istinja’ adalah termasuk salah satu pasal dari bab bersuci, yaitu mensucikan najis dari berak dan kencing. Sehingga jika persyaratan-persyaratan yang disebutkan dalam istinja’ itu dipenuhi seluruhnya, maka orang yang beristinja’ sudah suci, sehingga dia boleh melakukan salat.","part":1,"page":272},{"id":273,"text":"Saudara ipar itu termasuk mahram, tetapi mahram yang tidak kekal, karena kemahramannya hanya dari segi tidak boleh dimadu saja.\rDasar pengambilan Kitab Fathul Qorib, hamisy kitab al Bajuri juz 2 halaman 117\rوَالمُحَرَّمَاتُ السَّابِقَةُ حُرْمَتُهَا عَلَى التَّأبِيْدِ وَوَاحِدَةٌ حُرْمَتُهَا لاَ عَلَى التَّأْبِيْدِ بَلْ مِنْ جِهَّةِ الجَمْعِ فَقَطُّ وَهِيَ أُخْتُ الزَّوْجَةِ.\rWanita-wanita yang haram dinikah yang telah disebutkan terdahulu, keharamannya adalah selamanya (kekal) , sedangkan yang satu keharamannya tidak selamanya, tetapi dari segi dimadu saja, yaitu saudara perempuan isteri.\rSuara wanita itu bukan aurat sehingga boleh mendengarkannya kecuali jika dikhawatirkan akan mendatangkan fitnah atau dinikmati kemerduannya.\rDasar pengambilan Kitab Ianatut Thalibin juz III, halaman 260:\rوَلَيْسَ مِنَ العَوْرَةِ الصَّوتُ اى صَوتُ المَرْأةِ وَمِثْلُهُ صَوْتُ الأمْرَدِ فَيَحِلُّ سَمَاعُهُ مَالَمْ تَخْشَ فِتْنَةٌ او يُلْتَذُّ بِهِ وَإلاَّ حَرُمَ... إلَى أنْ قَالَ: وَلَو بِنَحْوِ القُرْآنِ.\rSuara itu tidaklah termasuk aurat, artinya suara wanita dan yang seperti suara pemuda yang belum berjenggot. Maka halal mendengarkan suara tersebut selama tidak dikhawatirkan mendatangkan fitnah atau dirasakan kenikmatan/ kemerduannya. Jika tidak demikian, maka hukumnya haram… sampai kepada ucapan mushannif: meskipun semisal mendengarkan bacaan al Quran.","part":1,"page":273},{"id":274,"text":"Sabun tidak dapat dijadikan pengganti debu untuk mensucikan najis mugholladzoh; sebab bersuci itu adalah termasuk ibadah murni (ibadah mahdlah) yang segala persoalan yang berkaitan dengannya adalah bersifat tauqifi (mengikuti petunjuk yang telah diberikan oleh Rasulullah saw).\rDasar pengambilan Kitab al Hawasyii Madaniyah juz 1 halaman 166:\rفَصْلٌ فِى إِزَالَةِ النَّجَاسَةِ: إذَا تَنَجَّسَ شَيْءٌ جَامِدٌ وَلَو نَفِيْسًا يُفْسِدُهُ التُّرَابُ بِمُلاَقَاةِ شَيْءٍ مِنْ كَلْبٍ او فَرْعِهِ وَلَو لِعَابَهُ مَعَ الرُّطُوبَةِ فِى احَدِهِمَا غُسِلَ سَبْعَا مَعَ مَزْجِ إحْدَهُنَّ سَوَاءٌ الأُوَلَى وَالأَخِرَةِ وَغَيْرُهُمَا بِالتُّرَابِ الطَّهُورِ. .. إلَى أنْ قَالَ: وَخَرَجَ بِهِ نَحْوُ صَبُونٍ وَسَحَاقَةُ خَزَفٍ.\rApabila sesuatu benda padat terkena najis – meskipun benda itu berharga- yang dapat rusak terkena debu, oleh sebab bersentuhan dengan sesuatu dari anjing atau keturunannya, meskipun jilatannya terdapat basah pada salah satu dari keduanya, maka harus dibasuh tujuh kali beserta campuran – salah satu dari ketujuh basuhan, baik yang pertama atau terakhir atau lainnya- dengan debu yang suci ... sampai pada ucapan mushonnif (pengarang): dan tidak termasuk debu, seumpama sabun dan pecahan genting (kereweng--Jawa) yang ditumbuk halus.\rQunut Dan Parfum\rDalam masa-masa seperti sekarang ini, bolehkah salat dengan membaca qunut nazilah? Bolehkah membaca qunut nazilah dalam salat dua hari raya? salat-salat sunnah lainnya?","part":1,"page":274},{"id":275,"text":"Bolehkah salat sunnah selain salat tarowih/witir pada bulan Ramadan –seperti salat dhuha atau yang lain – dilakukan dengan berjamaah?\rSahkah mensalati orang yang meninggal karena tenggelam dilaut yang tidak diketemukan jenazahnya?\rBagaimana hukumnya bekicot?\rBolehkah seorang muslim salat dengan memakai parfum yang sekarang sudah membudaya, misalnya spalding dll.?\rBagaimana hukumnya menitipkan uang di SIMPEDES dengan memanfaatkan jasanya?\rJawaban:\rQunut nazilah itu disunahkan dalam semua salat baik fardlu maupun sunnah, pada waktu ada bencana yang menimpa.\rDasar pengambilan Kitab alFiqhul Wadlih juz 1 halaman 194\r21- القُنُوتُ: وَهُوَ سُنَّةٌ عِنْدَ الشَّافِعيَّةِ فِى صَّلاَةِ الصُّبْحِ دَائِمًا وَفِى الوِتْرِ فِى النَصْفِ الآخِرِ مِنْ رَمَضَانَ وَفِى جَمِيْعِ الصَّلَوَاتِ عِنْدَ نُزُولِ البَلاَءِ.\rSunnah salat yang ke 21, qunut. Qunut itu sunnah menurut madzhab Syafii dalam salat subuh selamanya dan dalam salat witir pada separo yang terakhir pada bulan Ramadan dan dalam semua salat pada waktu kedatangan bencana.\rBoleh tetapi kadang bisa menjadi haram yang harus dicegah. Ini berdasarkan kitab Bughyatul Musytarsyidin halaman 67:","part":1,"page":275},{"id":276,"text":"(مَسْئَلَةْ ك) تُبَاحُ الجَمَاعَةُ فِى النَحْوِ الوِتْرِ وَالتَسْبِيْحِ فَلاَ كَرَاهَةَ فِى ذَلِكَ وَلاَ ثَوَابَ. نَعَمْ إنْ قَصَدَ تَعْلِيْمَ المُصَلِّيْنَ وَتَحْرِيْضُهُمْ كَانَ لَهُ ثَوَابٌ وَايُّ ثَوَابٍ بِالنِّيَاتِ الحَسَنَةِ فَكَماَ يُبَاحُ الجَهْرُ فِى مَوْضِعِ الإِسْرَارِ الَّذِى هُوَ مَكْرُوهٌ لِلْتَّعْلِيْمِ فَأوْلاَ مَا أصْلُهُ الإبَاحَةُ وَكَمَا يُثَابُ فِى المُبَاحَاتِ إذَا قُصِدَ بِهَا القُرْبَةُ كَالتَّقَوِّى بِالأكْلِ عَلَى الطَّاعَة هَذَا إذَا لَمْ يَقْتَرِنْ بِذَلِكَ مَحْذُورٌ كَنَحْوِ إذَاءٍ او اعْتِقَادِ العَامَّةِ مَشْرُوعِيَّةَ الجَمَاعَةِ وَإِلاَّ فَلاَ ثَوَابَ بَلْ يَحْرُمُ وَ يُمْنَعُ مِنْهَا.\r(Masalah Kaf). Diperbolehkan berjamaah dalam semisal salat witir dan salat tasbih. Sama sekali tidak ada kemakruhan dalam hal itu, namun sama sekali tidak ada pahalanya.\rBenar jika dimaksudkan untuk mengajar orang-orang yang salat dan memberi anjuran kepada mereka, maka pengajaran atau penganjuran itulah yang mempunyai pahala dan tiap-tiap pahala yang disebabkan niat yang baik, sebagaimana “diperbolehkan” mengeraskan suara pada tempat perlahan yang hukumnya makruh “untuk mengajar”, maka yang lebih utama diperbolehkan adalah apa yang asalnya boleh.","part":1,"page":276},{"id":277,"text":"Sebagaimana diberi pahala perkerjaan-pekerjaan yang mudah apabila dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada Allah, seperti mencari kekuatan untuk tha’at dengan makan. Ini apabila hal itu tidak berhubungan dengan hal yang dihindari, seperti mengganggu orang lain atau i’tikad orang awam terhadap disyari’atkannya berjamaah. Jika tidak demikian, maka sama sekali tidak ada pahalanya, bahkan menjadi haram dan dilarang melakukan jamaah tersebut.\rSah. Sebagaimana kita ketahui bahwa kewajiban umat Islam terhadap seseorang muslim meninggal dunia itu ada empat: memandikan, mengafani, menyalati, dan menguburnya. Terhadap orang yang mati tenggelamdan jasadnya tidak diketemukan kita tidak dapat memandikan, mengafani, dan menguburnya. Namun kita masih bisa salat gaib atasnya. Dalam qa’idah ushul fiqih disebutkan:\rمَا لآ يُدْرِكُ كُلُّهُ لا يُتْرَكُ بَعْضُهُ.\rApa saja yang tidak dapat dicapai seluruhnya, tidaklah boleh ditinggalkan seluruhnya.\rBekicot itu hukumnya haram. Dasarnya Kitab Hayatu al-Hayawan al Kubra juz 1 halaman 237:\r(الْحَلَرُوْنَ) ... (وَحُكْمُهُ) التَّحْرِيْمُ لاِسْتِخْبَاثِهِ. وَقَدْ الَّرافِعِى فِى السَّرَطَانِ اِنَّهُ يَحْرُمُ لِمَا فِيْهِ مِنَ الضَّرَرِ وَلاَنَّهُ دَاخِلٌ فِى عُمُوْمِ تَحْرِيْمِ الصَّدَفِ.\r(bekicot) … (dan hukumnya) di haramkan karena menjijikkan. Ar Rafii sungguh telah berkata dalam masalah kepiting: Sesungguhnya bekicot itu haram karena di dalammnya terdapat kemudaratan, dan karena bekicot itu masuk dalam ke umuman dari keharaman rumah kerang.","part":1,"page":277},{"id":278,"text":"Boleh. Sebab meskipun parfum yang seperti sepalding dan lainya itu telah dicampur dengan alkohol yang hukumnya najis, namun kenajisan yang ada pada minyak wangi tersebut dimaafkan karena campuran alkohlnya di maksudkan untuk kebaikan bagi minyak wangi tersebut. Sebagaimana dalam Kitab Al Madzahibul Arba’ah juz 1 halaman 19:\rوَمِنْهَا اَلْمَائِعَاتُ اَلنَّجِسَةُ اَلَّتِى تُضَافُ اِلَى الاَدْوِيَةِ وَالَّروَائِحِ العَطْرِيَّةِ لاِصْلاَحِهَا, فَاِنَّه يُعْفَى عَنِ اْلقَدَرِ الَّذِى بِهِ الاِصْلاَحُ قِيَاسًاعَلَى الاَنْفِحَةِ الْمُصْلِحَةِ لِلْجُبُنِ.\rDan diantaranya adalah benda-benda cair yang najis yang di tambahkan obat-obatandan bau-bauan yang harum untuk memaslahatkanya, maka sesungguhnya kenajisanya dapat dimaafkan menurut kadar yang dapat membuat kemaslahatan (obat menjadi awet dan minyak wangi menjadi semerbak), karena dikiaskan pada bau-bauan yang harum yang membuat maslahat bagi keju.\rMenitipkan atau menyimpan uang di bank, sebagaimana keputusan Muktamar NU ke 2 di Menes, hukumnya diperinci sebagai berikut:\rMubah atau boleh, yaitu bagi orang yang mempouyai sejumlah uang yang apabila disimpan sendiri dan untuk membiayai hidup, uangnya habis sebelum mencapai umur ghalib (63 tahun) padahal dia:\rSama sekali tidak dapat mempergunakan uang tersebut untuk modal kerja.\rSama sekali tidak dapat menemukan orang yang terpercaya untuk mengadakan akad qirat dengan uangnya.\rSama sekali tidak merasa aman untuk menyimpan uang tersebut di rumahnya sendiri.","part":1,"page":278},{"id":279,"text":"Orang yang kondisinya seperti ini diperbolehkan untuk menyimpan uanagnya di bank dan memeanfaatkan jasa dari bank tersebut.\rHaram, yaitu bagi orang yang memeiliki sejumlah uang dan dia mampu serta pandai mempergunakan uang tersebut untuk modal kerja, tetapi dia sengaja menyimpan uangnya di bank dan memenfaatkan jasa dari bank, karena menurut pengalamanya bunga yang di berikan oleh bank jauh lebih besar di banding dengan keuntungan yang diperoleh dari usahanya sendiri dengan uang tersebut.\rSyubhat, yaitu bagi orang yang kondisinya berada di antara a dan b. Hal tersebut sesuai dengan Dasar Ahkamul Fuqaha’jilid II halaman 71 masalah nomor 204:\rاِخْتَلَفَ اْلعُلَمَاءُ فِىهَذِهِ الْمَسْأَلَةِ عَلَى ثَلاَ ثَةش اَقْواَلٍ: قِيْلَ اِنَّهُ حَرَامٌ لاِنَّهُ ذَخِلٌ فِى قَرْضٍ جَرَّ نَفْعًا. وَقِيْلَ اِنَّهُ حَلاَلٌ لِعَدَمِ الَِشَرْطِ فِى صُلْبِ الْعَقْدِ وَفِى مَجْلِسِ اْلخِيَارِ وَاْلعَدَةُ الْمُطَّرِدَةُ لاَتَنْزِلُ مَنْزِلَةَ الشَرْطِ عِنْدَ الْجُمْهُوْرِ. وَقِيْلَ شُبْهَةٌ لاِخْتِلاَفِ اْلعُلَمَاءِ فِيْهِ. وَاْلمُؤْتَمَرُ قَرَّرَ اَنَّ اْلاَحَوَطَ اْلقَوْلُ الاَوّضلُ وَهُوَ الْمَحْرُوْمَةُ.\rUlama’ berbeda pendapat dalam masalah ini taga pendapat dikatakan adalah bahwa bunga bank itu haram karena termasuk pinjaman yang menarik manfaat. Dan dikatakan bahwa bunga bank itu halal karena ketiadan sarat di tengah-tengah akad dan dalam majlis khiyar, sedangkan adat yang berlaku itu tidak dapat menempati tempat syrat menurut jumhur ulama’. Dan dikatakan syubuhat karena ada ulama’ berbeda pendapat dalam hal ini.","part":1,"page":279},{"id":280,"text":"Dan Muktamar NU menetapkan bahwa yang lebih berhati-hati adalah pendapat yang pertama, yaitu haram.\rNadzar Maksiat\rBagaimana jika seorang bernadzar untuk berkorban seekor sapi, yang sapinya sudah ditentukan (mu’ayyan).\rMisalnya jika: Jika usaha saya berhasil maka sapi ini akan saya jadikan qorban. Namun karena suatu hal, sapi tersebut diganti sapi lain. Yang saya tanyakan:\rSudah syahkah nadzar tersebut.?\rDan masuk nadzar apa tersebut?\rBagaiman cara melaksanakan nadzar maksiat yang sudah di nadzarkan? Apakah di ganti kafarat?\rMohon dijelaskan pengertiannya sekaligus contohnya: Nadzar lajaj, Nadzar Tabarur?\rJawaban:\rTidak sah berdasarkan Kitab Al Baijuri juz II halaman 332:\rفَاِنْ عَيَّنَهَا كَانَ قَالَ لِلَّهِ عَلَيَّ عِتْقٌ هَذَا الْعَبِْدِ الْكَافِرِ اَوِالْمَعِيْبِ تَعَيَّنَتْ.\rMaka jika seseorang yang bernadzar itu menentukan jumlah dan jenis sesuatu yang di nadzarkan, seperti apabuila dia berkata karena Allah, wajib atasku memerdekakan budak yang kafir ini atuau yang cacat ini, maka apayang dinadzarkan itu menjadi tertentu dan tidak boleh diganti dengan yang lain.\rTermasuk Nadzar Tabarur.\rDasar Pengambilan Kitab Al Baijuri juz 2 halaman 330:\r(قَوْ لُهُ وَلاَ يَقْصُدُ قُرْبَةَ) اَيْ لاَِنَّ الْقُرْبَةِ لاَيَكُوْنُ فِى نَذْرِ اللَّجَاجِ وَاِنَّمَا يَكُوْنُ فِى نَذْرِ التَّبَرُّرِ.\r(ucapan musanif) Dan dia tidak termasukj mendekatkan diri kepada Allah, artinya karena sesungguhnya maksud mendekatkan diri itu tidak pada nadzar Lajaj, sesungguhnya maksud tersebut ada pada nadzar Tabarur.","part":1,"page":280},{"id":281,"text":"Nadzar maksiyat itu tidak boleh dilaksanakan, karena nadzar tersebut hukumnya tidak syah.\rDasar pengambilan Kitab fatkhul qarib pada Hamisy Kitab Al Baijuri juz II halaman 333:\r(وَلاَ نَذْرَ فِى مَعْصِيَةٍ) اَيْ لاَيَنْعَقِدُ نَذْرُهَا.\r(Dan sama sekali nadzar itu tidak boleh dalam kemaksyiatan) artinya, nadzarnya tidak menjadi kewajiban di laksanakan.\rPengertian nadzar Lajaj, disebutkan dalam Kitab Nihayatuzzain halaman 222, sebagai berikut:\rنَذْرُ لَجَّاجٍ هُوَ اَنْ يَمْنَعَ نَفْسَهُ مِنْ شَيْئٍ اَوْ يَحْمِلُهَا عَلَيْهِ بِتَعْلِيْقِ اِلْتِزَامِ قُرْبَةٍ. اِنْ كَلَّمْتُ فُلاَنًا اَوْ ذَخَلْتُ دَارَهُ اِنْ لَمْ اُسَافِرُ اَو ْاِنْ سَافَرْتُ وَنَحْوَ ذَالِكَ فَالِلَّهِ عَلَيَّ صَوْمُ شَهْرٍ او صَلاَةً او إعْتَاقُ رَقَبَةٍ او أَنْ اَتَصَدَّقَ مِنْ مَالِى او أَحُجَّ او نَحْوُ ذَلِكَ.\rNadzar Lajjaj itu ialah apabila seseorang menahan dirinya dari sesuatu atau membawa dirinya melaksanakan sesuatu dengan kaitan mengharuskan pendekatan diri kepada Allah, seperti apabila seseorang berkata: Jika aku mengajak omong dia, atau aku masuk rumahnya, atau jika aku tidak bepergian atau jika aku sudah bepergian atau jika aku sudah bepergian atau selain itu, maka bagi Allah wajib atasku berpuasa satu bulan atau salat atau memerdekakan budak atau aku akan bersedekah dari hartaku atau aku akan haji atau selain itu.\rPengertian Nadzar Tabarrur, disebutkan dalam kitab Nihayatuz Zain halaman 222, sebagai berikut:","part":1,"page":281},{"id":282,"text":"نَذْرُ تَبَرُّرٍ سُمِيَ بِهِ لأَنَّهُ لِطَلَبِ البِرِّ او التَّقَرُّبِ إلَى اللهِ تَعَالَى (كَلِلَّهِ عَلَيَّ كَذَا) اى صَومٌ او صَدَقَةٌ لِفُلاَنٍ او أنْ أُعْطِيَهُ كَذَا وَلَمْ يُرِدِ الهِبَّةَ.\rNadzar itu dinamakan demikian karena sesungguhnya nadzar tersebut dimaksudkan untuk mencari kebajikan atau mendekatkan diri kepada Allah taala (seperti karena Allah, wajib atasku demikian) artinya, puasa atau sedekah untuk si fulan atau aku akan memberinya demikian dan dia tidak bermaksud memberi hibah.\rKeharaman Babi dan Dasar Pemakaian Jilbab\rDaging babi merupakan konsumsi haram bagi muslim, kami ingin menanyakan dasar hukumnya di al Quran maupun hadist.\rApakah minyak dan rambut (bulu) babi juga haram? Mohon dijelaskan secara naqliyah.\rMengenai jilbab, kami ingin menanyakan dasar hukumnya dari madzhab-madzhab (Hambali, Hanafi, Malik dan Syafii).\rJawaban:\rDasar keharaman dari daging babi tersebut dalam:\rAl Quran surat al Baqoroh ayat 173 yang antara lain berbunyi:\rإنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ المَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الخِنْزِيْرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللهِ. .. الآيَةَ\rSesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang (yang ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah…dst.\rSurat al Maidah ayat 3 yang antara lain berbunyi:\rحُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ المَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الخِنْزِيْرِ. .. الآيَةَ\rDiharamkan bagimu memakan bangkai, darah, daging babi ... dst.\rMinyak atau lemak dan rambut atau bulu babi itu hukumnya haram.\rDasar pengambilan:","part":1,"page":282},{"id":283,"text":"Kitab Tafsir Ibn Katsir (terbitan Darul Fikr) juz 2 halaman 12\rوَفِى الصَحِيْحَيْنِ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إنَّ اللهَ حَرَّمَ بَيْعَ الخَمْرِ وَالمَيْتَةِ وَالخِنْزِيْرِ وَالأصْنَامِ, فَقِيْلَ: يَا رَسُولَ اللهِ أرَأَيْتَ شُحُومَ المَيْتَةِ فَإنَّهُ تُطْلَى بِهَا السُّفُنُ وَتُدْهَنُ بِهَا الجُلُودُ وَيُسْتَصْبِحُ بِهَا النَّاسُ ؟ فَقَالَ: لاَ هُوَ حَرَامٌ.\rDalam sahih Bukhori Muslim diriwayatkan bahwa sesungguhnya Rasulullah saw, bersabda: Sesungguhnya Allah mengharamkan berjualan arak, bangkai, babi dan patung-patung. Maka dikatakan kepada Rasulullah saw: Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat tuan terhadap minyak bangkai? karena sesungguhnya lemak tersebut dapat dipergunakana untuk mengolesi bagian luar dari kapal-kapal, untuk meminyaki kulit-kulit dan dapat dipergunakan oleh orang-orang untuk menyalakan lampu? Beliau bersabda: Jangan! lemak itu adalah haram.\rKitab Rawaihul Bayan Tafsirul Ahkam juz 1 halaman 164\r(لَحْمُ الخِنْزِيْرِ) وَذَهَبَ الجُمْهُورُ إلَى أَنَّ شَحْمَهُ حَرَامٌ ايْضًا لأَنَّ اللَحْمَ يَشْمُلُ الشَّحْمَ وَهُوَ الصَّحِيْحُ. وَإِنَّمَا خَصَّ اللهُ تَعَالَى ذِكْرَ اللَحْمَ مِنَ الخِنْزِيْرِ لِيَدُلَّ عَلَى تَحْرِيْمِ عَيْنِهِ سَوَاءٌ ذُكِّيَ ذَكَاةً شَرْعِيَّةِ اَمْ لَمْ يُذَكَّ... إلَى أنْ قَالَ: وَقَالَ الشَّافِعِيُّ لاَيَجُوزُ الإنْتِفَاعُ بِشَعْرِ الخِنْزِيْرِ.","part":1,"page":283},{"id":284,"text":"(daging babi). Sebagian besar ulama berpendapat bahwa lemak babi itu juga haram, karena daging itu mengandung lemak dan itulah pendapat yang benar. Sesungguhnya Allah taala hanya menyebutkan daging dari babi adalah untuk menunjukkan atas keharaman memakan dagingnya, baik babi itu disembelih secara sembelihan syara’ atau tidak disembelih, ... sampai pada ucapan pengarang, Imam as Syafii berkata: tidak boleh memanfaatkan rambut (bulu) babi.\rJilbab itu menurut Tafsir al Qurtubi dalam menafsiri ayat ke-59 dari surat al Ahzab, adalah:\rSelembar pakaian yang lebih besar daripada kerudung.\rMenurut riwayat Ibn Abbas dan Ibn Mas’ud, jilbab itu adalah selendang.\rAda yang mengatakan bahwa jilbab itu adalah cadar yang dipakai untuk menutupi muka wanita.\rYang benar, jilbab itu adalah pakaian yang dipakai untuk menutupi seluruh badan wanita.\rDengan demikian, maka masalah memakai jilbab adalah sama dengan masalah menutup aurat bagi wanita. Dalam hal menutup aurat bagi wanita ini menurut madzhab Hanafi, Maliki, Syafii dan Hambali, disebutkan dalam kitab al Fiqhul Islamy wa Adillatuhu karangan Dr. Wahbah az Zuhaili (terbitan Darul Fikr) juz 1 halaman 584-594 sebagai berikut:\r1- مَذْهَبُ الحَنَفِيَّةِ: ج- المَرْأَةُ الحُرَّةُ وَمِثْلُهَا الخُنْثَى: جَمِيْعُ بَدَنِهَا حَتَّى شَعْرِهَا النَّازِلِ فِى الأصَحِّ, مَاعَدَا الوَجْهِ وَالكَفَّيْنِ, وَالقَدَمَيْنِ ظَاهِرِهِمَا وَبَاطِنِهِمَا عَلَى المُعْتَمَدِ لِعُمُومِ الضَرُورَةِ.","part":1,"page":284},{"id":285,"text":"2- المَذْهَبُ المَالِكِيَّةِ. والعَورَةُ بِالنِّسْبَةِ لِلرُّؤْيَةِ: للرَّجُلِ مَابَيْنَ السُرَّةِ وَالرُّكْبَةِ, وَلِلْمَرْأَةِ أمَامَ رَجُلٍ أجْنَبِيٍّ جَمِيْعُ بَدَنِهَا غَيْرَ الوَجْهِ وَالكَفَّيْنِ, وَاَمَامَ مَحَارِمِهَا جَمِيعٌ جَسَدِهَا غَيْرَ الوَجْهِ وَالأطْرَافِ: وَهِيَ الرّأسُ وَالعُنُقُ وَاليَدَانِ وَالرِّجْلاَنِ, إلاَّ انْ يُخْشَ لَذَّةٌ, فَيَحْرُمُ ذَلِكَ, لاَ لِكَوْنِهِ عَوْرَةُ. وَالمَرْأَةُ مَعَ المَرْأةِ أو مَعَ ذَوِى المَحَارِمِهَا كَالرَّجُلِ مَعَ الرَّجُلِ, تُرَى مَاعَدَا مَابَيْنَ السُّرَّةِ وَالرُّكْبَةِ وَأمَامَ المَرْأَةُ فِى النَّظْرِ إلَى الأَجْنَبِيِّ فَهِيَ كَحُكْمِ الرَّجُلِ مَعَ ذَوَاتِ مَحَارِمِهِ وَهُوَ النَّظْرُ إلَى الوَجْهِ وَالأطْرَافِ (الرَّأسِ وَاليَدَيْنِ وَالرِّجْلَيْنِ).\r3- مَذْ هَبُ الَشَّافِعِيَّةِ ج-عَوْرَةُ الحُرَّةِ وَمِثْلُهَا الخُنْثَى: مَاسِوَى الوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ, ظَهْرِهِمَاوَبَطْنِهِمَا مِنْ رُؤُوْسِ الاَصَابِعِ الَى الْكُعَيْنِ (الَرَّسْغُ اَوْ مَفْصِِلُ الزَّنْدِ) لِقَوْلِهِ تَعَلَى: وَلاَيُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلاَّ مَاظَهَرَ مِنْهَا. قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَعَائِشَهُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ: هُوَ الوَجْهُ وَالْكَفَّانِ. وَلاَنَّ الَنَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَرْأَةَ الْحَرَامَ (الْمُحَرَّمَةَ بِحَجِّ اَوْعُمْرَةٍ) عَنْ لُبْسٍ الْقُفَّزَيْنِ وَالَّنقَابِ, وَلَوْكَانَ الَوجْهُ عَوْرَةً لَمَّاحُرِّمَاسَتْرُهُمَا فِى الاِحْرَامِ, وَلاَّنَ الْحَاجَةتَدْعُوْ اِلَى اِبْرَازِ الْوَجْهِ لِلْبَيْعِ وَالشَّرَاءِ, وَاِلَى اِبْرِازِ الْكَفِّ لِلاَ خْذِ وَالْعَطَاءِ, فَلَمْ يُجْعَلْ ذَالِكَ عَوْرَةً.","part":1,"page":285},{"id":286,"text":"4-مَذْهَبُ اْلحَنَابِلَةِ وَعَوْرَةُ الْمَرْأَةِ مَعَ مَحَارِمِهَاالرَِّّجَالِ: هِيَ جَمِيْعُ بَدَنِهَامَاعَدَ الوَجْهِ وَالَّر قْبَةِ وَالْيَدَيْنِ وَالْقَدَمِ وَالسَّاقِ. وَجَمِيْعُ بَدَنِ الْمَرْأَةِ حَتَّى الْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ خَارِجَاالصَّلاَةِ عَوْرَةٌ كَمَا قَالَ الشّضافِعِيَّةُ لِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ السَّابِقِ: الَْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ. وَيُبَاحُ كَشْفُ الْعَوْرَةِ لِنَحْوِ تَدَاوٍ وَتَحِلُّ فِى الْخَلاَءِ, وَخِتَانٍ, وَمَعْرِفَةِ الْبُلُوْغِ, وَبِكَارَةٍ وَثَيُوْبَةٍ, وَعَيْبٍ. وَعَوْرَةٌ المُسْلِمَةِ اَمَامَ الكَافِرَةِ: عَوْرَةُ الْمُسْلِمَةِ اَمَامَ الْكَافِرَةِ عِنْدَ الْحَنَابَلَةِ كَاالرَّجُلِ الْمُحْرِمِ: مَابَيْنَ السُّرَّةِ وَالُّركْبَةِ. وَقَالَ الْجُمْهُوْرُ: جَمِيْعُ الْبَدَنِ مَاعَدَامَاظَهَرَ عِنْدَ الْمِهْنَةِ اَيِ الاَسْغَالِ الْمَنْزِلِيَّةِ.\rMadzhab Hanafi: Wanita merdeka dan yang sepertinya adalah orang banci, auratnya adalah seluruh badanya sampai rambutnya turun, menurut pendapat yang paling kuat, selain dan tapak dua tangan, kedua kaki bagian dalam dan bagian luar menurut pendapat yang dapat di jadikan pegangan, karena keumuman dari keperluan yang mendesak.","part":1,"page":286},{"id":287,"text":"Madzhab Maliki: Aurat dipandang dari segi melihatnya: bagi laki-laki adalah apa yang ada diantara pusat dan lutut. Dan bagi wanita dihadapan orang laki-laki lain adalah seluruh tubuhnya selain muka dan kedua telapak tangan. Dan di hadapan muhrimnya (laki-laki) adalah seluruh jasadnya selain muka dan anggauta –anggauta: kepala, leher, kedua tangan dan kedua kaki, kecuali jika di takutkan rasa lezat, maka hal tersebut haram, bukan karena keadaanya sebagai aurat. Dan wanita dengan wanita atau yang mempunyai hubungan muhrim adalah laki-laki, yaitu dapat dilihat apa yang ada dipusat dan lutut. Adapun wanita wanita dalam memendang ke laki-laki lain adalah seperti hukumnya lain adalah seperti hukumnya laki-laki beserta para wanita yang menjadi muhrimnya, yaitu memandang kepada anggauta-anggauta: kepala, kedua tangan dan kedua kaki.","part":1,"page":287},{"id":288,"text":"Madzhab Syafii: Aurat wanita merdeka dan yang sepertinya adalah orang banci adalah: apa yang selain muka dan kedua telapak tangan, bagian luar dan dalam dari kedua ujung-ujung jari dan dari dua pergelangan tangan (ruas atau tempat pergelangan tangan) , berdasarkan firman Allah: Janganlah para wanita menampakan perhiasan mereka kecuali apa yang nampak dari padanya. Ibnu Abbas dan Aisyah ra. berkata: Yaitu muka dan kedua tapak tangan. Dan Nabi saw. Telah melarang wanita yang ihram untuk haji atau umroh untuk memakai dua sarung tangan dan kain tutup maka (cadar). Andaikata tapak tangan dan muka itu adalah aurat, niscaya tidak diharamkan menutup keduanya dalam ihram, dan karena hajat mengundang kepada penampakan muka untuk jual beli dan penampakan tpak tangan untuk mengambil dan memberi, maka hal itu tidak di jadikan aurat.\rMadzhab Hambali: Aurat wanita beserta para muhrimnya laki-laki adalah selain badanya selain muka, tengkuk, dua tangan, kaki dan betis.\rSemua badan wanita sampai muka dan kedua tapak tangan diluar salat adalah aurat, sebagaimana kata Asy Syafii berdasarkan sabda Nabi saw. yang telah lalu wanita adalah aurat.\rDan diperbolehkan membuka aurat karena keperluan seperti, berobat, berhajat di tempat yang sunyi, khitan, mengetahui masa baligh, perawan dan tidaknya wanita dan cacat.","part":1,"page":288},{"id":289,"text":"Aurat wanita muslim dihadapan wanita kafir, menurut madzhab Hambali adalah seperti di hadapan laki-laki mahram, yaitu anggota badan yang ada diantara pusat dan lutut. Jumhur (sebagian besar ulama) berpendapat bahwa seluruh badan wanita itu adalah aurat, kecuali apa yang nampak pada waktu melakukan kesibukan-kesibukan rumah.\rKoran Berlafadh Al Qur'an Menjadi Bungkus Kacang\rSering kita jumpai dalam koran-koran atau kartu undangan yang terdapat lafdul jalalah lafad nabi-nabi, padahal koran-koran atau kartu undangan tersebut sering tercecer di mana-mana. Bagaimana hukumnya jika dibuat bungkus kacang misalnya, boleh atau tidak? Mohon disertai kaidahnya.\rSeorang suami, tanpa masalah mengantarkan istrinya ke rumah orang tuanya, tapi hati kecilnya niat menceraikanya. Dan sang istri tidak diucapi talak, apakah talaknya sudah jatuh atau belum?\rJawaban:\rMenggunakan kertas atau koran yang padanya tertulis lafal jalalah atau nama-nama nabi sebagai bungkus kacang misalnya, hukumnya adalah haram.\rDasar pengambilan Kitab Fatwa Al haditsyah halaman 162\rيَحْرُمُ جَعْلُ الاَوْرَاقِ الَّتِى فِيْهَا شَيْئٌ مِنَ الْقُرْأنِ اَوْمِنَ الاَسْمَاءِ المُعَظَّمَةِ غِشَأً مَثَلاً, اَخْذَ مِمَّ اَفْتَى بِهِ الْحَنَّّاطِى مِنْ حُرْمَةِ جَعْلِ النَّقْدِ فِى كَاغِدٍ فِيْهِ بِسْمِ اللهِ الَّرحْمنِ الَّحِيْمِ.","part":1,"page":289},{"id":290,"text":"Haram menjadikan kertas-kertas yang padanya tertulis sesuatu tentang Alquran atau dari nama-nama yang di agungkan sebagai tutup misalnya, karena mengambil dari apa yang di fatwakan Al Hanati tentang keharaman menjadikan uang dalam kertas yang padanya tertulis Basmalah.\rTalaknya belum jatuh\rDasar pengambilan Kitab Nihayatuz Zain halaman 332:\rوَشَرْطُ الوُقُوْعِ الطَّلاَقِ بِصَرِيْحٍ اَوْكِنَا يَةٍ رَفَعَ صَوْتَهُ بِحَيْثُ يُسْمِعُ نَفْسَهُ لَوْكَانَ صَحِيْحَ السَّمْعِ وَلاَعَارِضٍ, وَلاَيَقَعُ بِغَيْرِ لَفْظٍ وَلاَ بِصَوْةٍ خَفِيٍّ بِحَيْثُ لاَ يُسْمِعُ بِهِ نَفْسَهُ.\rSyarat dari jatuhnya talak itu adalah dengan ucapan yang jelas atau dengan kata-kata yang tidak terang, orang yang mentalak tersebut mengeraskan suaranya sekira dapat memberi pendengaran dirinya sendiri jika dia baik pendengaranya: dan tidak pula jatuh dengan tanpa ucapan dan tidak jatuh dengan ucapan suara yang lirih sekira tidak dapat memberi pendengaran dirinya sendiri.\rMenerima Bantuan Dari Non Muslim\rBagaimana hukumnya organisasi Islam menerima bantuan dari kalangan non-muslim?\rBagaimana hukum haji seseorang yang karena ada kebakaran di Mina (sesudah ada berita kebakaran) seusai wukuf di Arafah langsung pulang ke Maktab /pondokan dan bermalam, kemudian esok harinya baru pergi ke Mina untuk melempar jumrah dengan cara di jama’?\rJawaban:","part":1,"page":290},{"id":291,"text":"Menurut hukum fiqih, organisasi Islam menerima bantuan non muslim itu boleh. Tetapi ditinjau dari sudut tasawwuf, sebaiknya jangan sampai menerima bantuan dari non muslim, apa lagi memintanya. Sebab biasanya bantuan dari non muslim tersebut membawa pengaruh yang negatif.\rLebih-lebih jika bantuan itu diperoleh dengan cara yang tidak halal. Perhatikan pondok-pondok pesantren dan madrasah-madrasah yang telah menerima bantuan dari luar. kalau mutunya tidak merosot, maka barokahnya yang hilang.\rDasar pengambilan:\rKitab Tuhfatul Habib halaman 167:\rيَصِحُّ وَقْفُ مُطْلَقِ التَّصَرُّفِ المُخْتَارِ فَيَصِحُّ مِنْ كَافِرٍ وَلَوْ لِمَسْجِدٍ.\rSah wakaf dari kemutlakan tasaruf yang suka rela, maka sah wakaf dari orang kafir meskipun untuk masjid.\rKitab Asyarqawi juz 2 halaman 147:\rقَوْلُهُ (وَاَنْيَكُوْنَ الواَقِفُ اَهْلاً لِلتَّبَرُّعِ) فَيَصِحُّ مِنْ كَافِرٍ وَلَوْلِمَسْجِدٍ وَمُصْحَفٍ وَكُتُبٍ عِلْمٍ. وَاَنْ لَم يَعْتَقِدْ ذَالِكَ قُرْبَةً اِعْتِبَارًا بِاعْتِقَاد ِنَا.\rUcapan musanif (Dan hendaklah orang yang yang berwakaf itu adalah ahli kebajikan) maka sah wakaf dari orang kafir meskipun untuk masjid atau mushaf atau buku-buku ilmu pengetahuan. Dan hendaknya hendaknya pewakaf tidak meyakini wakaf tersebut untuk ibadah (mendekatkan diri kepadaAllah) karena memperhatikan keyakinan kita.","part":1,"page":291},{"id":292,"text":"Hukum hajinya sah, jika dia telah melakukan rukun-rukun haji, hanya saja apabila pulang ke maktab sebelum melempar jumrah aqabah dan belum melakukan tahalul awal, dia dapat melakukan tahalul awal dengan jalan tawaf ifadah dan memotong/mencukur rambut.\rSebelum melakukan tahalul dia masih mengenakan pakaian ihram dan masih terkena semua larangan ihram. Jika dia telah mengenakan pakaian yang berjahit, dia wajib membayar dam.\rDan jika dia tidak menginap di Mina satu malam dia harus membayar fidyah satu mud, dan kalau tiga malam harus membayar dam (menyembelih kambing). Sebagaimana keterangan kitab-kitab fiqih yang antara lain:\rKitab Khulasatul kalam fi arkaanil islam halaman 340\rKitab Al Lidlaah karangan Imam Nawawi dan Hasyiyah Ibnu Hajar Al haitami halaman 391-40\rmk:@MSITStore:G:\\untuk maktabah baru\\Kumpulan Bahtsul Masaail - Seri 2.CHM::/../../../../My Web Sites/NH/pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/masail/aula/tahun_1997/32a180.html?seemore=y - top\rShalat Perang Masa Kini\rDi dalam kitab-kitab terdahulu banyak ulama yang menerangkan salat khauf baik di waktu menghadapi musuh atau karena yang lain dengan cara yang tertera dalam Alquran dan Hadits, diantaranya Firman Allah yang \"Jika kamu dalam ketakutan, maka salatnya sambil berjalan kaki atau berkendaraan.\" (Al baqarah 239).\rBagaimana dengan perang yang terjadi pada masa sekarang ini, yang alatnya serba canggih. Dengan komputer tinggal menekan tombol, apabila kita diserang atau menyerang musuh.","part":1,"page":292},{"id":293,"text":"Bagaimana salatnya orang yang bertugas mengendalikan (menjaga) komputer yang serius menghadapi serangan musuh. Apakah dia harus berhenti sejenak untuk mengerjakan salat, padahal kalau dia meninggalkan pasti akan kehilangan jejak.\rApakah waktu bertugas harus/membaca bacaan yang wajib dalam salat atau cukup dengan eling (ingat) kepada Allah saja.\rBagaimana salatnya orang yang sambil berjalan kaki?\rJawaban:\rOrang yang dapat mengoperasikan komputer seperti yang anda maksudkan dalam pertanyaan, sudah barang tentu tidak hanya satu orang: melainkan ada beberapa orang sehingga karenaya dapat melakukan salat dengan bergantian tanpa harus kehilangan jejak dari pesawat terbang musuh yang sedang dipantau. Bahkan dia dapat melaksanakan salat jamaah sebagaiman pasukan muslim akan berangkat kemedan pertempuran. Jika musuh yang dihadapi tidak berada di arah qiblat, maka pasukan muslim itu di bagi menjadi dua kelompok.\rKelompok pertama salat bersama imam satu rakaat, kemudian menyelesaikan salatnya sendiri, lalu pergi mengahadapi musuh. Sedangkan kelompok yang kedua yang semula menghadapi musuh, datang kebelakang imam, lalu salat satu rakaat beserta imam, kemudian menyelesaikan sendiri satu rakaat, lalu salam bersama imam.\rDasar pengambilan Kitab Attadzhib halaman 82:","part":1,"page":293},{"id":294,"text":"رَوَى البُخَرِيُّ (3900) وَمُسْلِمٌ (842) وَغَيْرَهُمَا, عَنْ صَالِحِ بنِ خَوَّاتِ, عَمَّنْ شَهِدَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, صَلَّى يَوْمَ ذَاتِ الرَّقَاعِ صَلاَ ةَ الخَوْفِ: اَنَّ طَائِفَةً صَفَّتْ مَعَهُ, وَطَائِفَةٌ وُجَاهَ العَدُوِّ, فَصَلَّى بِالَّتِى مَعَهُ رَكْعَةً, ثُمَّ ثَبَتَ قَائِمًا, وَأَ تَمُّوْا لاَنْفُسِهِمْ ثُمَّ انْصَرَفُوْا, فَصَفُّوْا وُجَاهَ العَدُوِّ, وَجَاءَتْ ااطَّائِفَةُ الاُخْرَى فَصَلَّى بِهِمْ رَكْعَةَ الَّتِى بَقِيَتِ مِنْ صَلاَ تِهِ, ثُمَّ ثَبَتَ جَالِسًا, وَاَتَمُّوْا لاَنْفُسِهِمْ, ثُمَّ سَلَّمَ بِهِمْ.\r(Fasal). Salat khouf itu ada tiga macam. Yang pertama apabila musuh berada di arah qiblat mak imam membagi pasukanya menjadi dua kelompok. Satu kelompok berdiri menghadapi musuh dan satu kelompok di belakang imam. Kemudian imam salat dengan kelompok yang berada di belakangya, lalu kelompok ini menyelesaikan salatnya sendiri kemudian pergi menghadapi musuh. Kemudian kelommpok lain datang lalu imam salat bersama kelompok kedua ini satu rakaat dan kelompok ini menyampurnakan sendiri dan imam bersalam beserta mereka.","part":1,"page":294},{"id":295,"text":"Imam Al bukhori meriwayatkan (3900) dan Imam Muslim (842) dan selain keduanya, dari sahih Bin Khawwat, dari orang yang menyaksikan Rasulullah saw, melakukan salat pada peperangan Dzatu Riqo’ dengan salat khouf, bahwa satu kelompok berbaris di belakang beliau dan yang satu kelompokmenghadapi musuh. Kemudian beliau salat beserta kelompok yang di belakangnya satu rakaat, lalu beliau tetap dalam keadaan berdiri. Sedang kelompok yang di belakangnya menyempurnakan salat sendiri, lalu pergi dan berbaris menghadap musuh. Dan datanglah kelompok yamng lain, lalu kemudian beliau salat bersama mereka satu rakaat yang masih tersisa dalam salat beliau, lalu beliau tetap dalam keadaan duduk, sedang kelompok kedua ini menyempurnakan salatnya sendiri, kemudian beliau salam beserta mereka.\rPertanyaan yang kedua sudah terjawab pada pertanyaan pertama. Artinya, dalam keadaan mengoperasikan komputer seperti tersebut dalam pertanyaan, dia tidak boleh hanya dengan membaca bacaan salat atau eling saja, karena dia dapat melakukan salat secara bergiliran.\rSalat sambil berjalan kaki sebagaimana dimaksudkan dalam firman Allah swt. Dalam surat Albaqarah ayat 238 dan 239, adalah salat dari orang yang sangat ketakutan beraada dimedan tempur yang sedang berkecamuk. Dalam hal ini orng boleh melakukan salat semampu mungkin, baik dengan berjalan atau naik kendaraan, menghadap kiblat atau tidak.\rDasar pengambilan Kitab At Tadzhib halaman 83:","part":1,"page":295},{"id":296,"text":"رَوَى البُخَارِيُّ (4261) عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, فِى وَصْفِهِ صَلاَةَ الخَوفِ: فَإن كَانَ خَوفٌ هُوَ أشَدُّ مِنْ ذَلِكَ, صَلُّوا رِجَالاً قِيَامَا عَلَى أقْدَامِهِمْ, او رُكْبَانًا, مُسْتَقْبِلِى القِبْلَةِ او غَيْرِ مُسْتَقْبِلِهَا. قَالَ مَالِكٌ: قَالَ نَافِعٌ: لاَ أرَى عَبْدِ اللهِ بن عُمَرَ ذِكْرَ ذَلِكَ إلاَّ عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ.\rImam al Bukhori meriwayatkan hadist (4261) dari Ibn Umar ra dalam menerangkan sifat salat khauf: Jika situasi peperangan adalah sangat menakutkan, maka salatlah kalian dalam keadaan berjalan serta dengan berdiri diatas kaki mereka atau dengan naik kendaraan, dengan menghadap kiblat atau dengan tidak menghadap kiblat. Imam Malik berkata: Nafi berkata: Aku tidak melihat Abdullah Ibn Umar menuturkan hal tersebut, kecuali bersumber dari Rasulullah saw.\rPerhiasan dan Model Pakaian\rDalam Alquran surah An-Nur 31, seorang muslimah tidak diperbolehkan menampakan perhiasanya kecuali kepada suami mereka, ayah mereka, dst, atau kepada wanita-wanita islam. Dalam hal ini, apakah berarti menampakan perhiasan didepan wanita non islam itu berdosa? Dan apakah artinya perhiasan dalam ayat ini? (Kami membaca dari alquran yang ditashih oleh DEPAG RI).","part":1,"page":296},{"id":297,"text":"Bagaimanakah seharusnya pakaian muslimah itu? Apakah harus seperti yang disebutkan dalam Al Quran surah Al Ahzab 59? Yaitu Jalabib menurut pengajian di kampus kami, itu pakaian yang menyerupai bentuk karung sehingga bentuk tubuh tidak terlihat. Apakah menurut bapak pengertian jalabbib itu begitu?\rJawaban:\rPertanyaan anda mengenai hukum menampakan perhiasan di depan non muslim, saya persilakan membaca jawaban dari pertanyaan pada AULA edisi NO. 10 Tahun XIX Oktober 1997\rYang di maksud perhiasan disini adalah anting-anting, gelang kaki dan kalung. Ada yang berpendapat bahwa perhiasan wanita itu ada dua macam. Pertama perhiasan yang tidak boleh dilihat kecuali suaminya, kedua, perhiasan yang boleh dilihat oleh orang lain, yaitu apa yang nampak pada pakaian.\rDasar pengambilan Kitab Tafsir Ibnu Katsir juz 3 halaman 454:\r(وَلاَ يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ) الزِّنَةُ القُرْطُ وَ الدُّمْلُوْجُ وَاْلخَلْخَالَ وَالْقِلاَدَةُ, وَفِى رِوَايَةٍ عَنْهُ بِهَذَا الاءِ ْسنَادِ قَالَ: الزِّنَةُ زِيْنَتَانِ: فَزِيْنَةٌ لاَ يَرَاهَا اِلاَّ زَوْجُ: اْلخَتَمُ وَالسِوَارُ, وَزِيْنَةً يَرَاهَا اَلأَجَانِبُ وَهِيَ الظَّهِرُ مِنَ الثِّيَابِ.\r(Dan janganlah para wanita menampakan perhiasan mereka). Perhiasan adalah, anting-anting, gelang tangan, gelang kaki dan kalung. Dalam satu riwayat dari Abu Ishaq dengan isnad ini, Abdullah berkata, perhiasan ada dua macam: perhiasan yang tidak boleh melihatnya kecuali suami, yaitu cincin dan gelang dan perhiasan orang laik-laki yang boleh melihatnya, yaitu apa yang nampak pada pakaian.","part":1,"page":297},{"id":298,"text":"Pertanyaan anda tentang bagaimana seharusnya pakaian muslimah dan tentang jilbab, saya persilakan anda melihat jawabannya dari pertanyaan pada AULA NO. 10 Tahun X1X Oktober 1997.\rmk:@MSITStore:G:\\untuk maktabah baru\\Kumpulan Bahtsul Masaail - Seri 2.CHM::/../../../../My Web Sites/NH/pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/masail/aula/tahun_1997/34a180.html?seemore=y - top\rBerobat Dalam Keadaan Puasa\rSaya adalah seorang karyawan rumah sakit Islam di Mojokerto dan sering menjumpai permasalahan sebagaimana di bawah, khususnya di bulan Ramadlan ini. Adapun permasalahannya itu sebagai berikut:\rBagamana hukumnya orang puasa yang diberi injeksi/suntikan?\rBagaimana hukumnya orang yang berpuasa dipasang infus?\rBagaimana hukumnya orang puasa yang diberi obat tetes mata/tetes mata atau tetes telinga?\rJawaban:\rOrang yang berpuasa dan disuntik, puasanya tidak batal, sebab obat yang dimasukan melalui injeksi itu adalah ke dalam daging, dan tidak ke dalam rongga badan.\rDasar pengambilan Kitab Al Mahali, Hamisy dari Kitab Al Qalyubi juz 2 halaman 56:\rوَلَوْ اَوْصَلَ الدَّوَاءَ لِجَرَاحَةٍ عَلَى اسَّاقِ اِلَى دَاخِلِ الَّلخْمِ اَوْ غَرَزَ فِيْهِ سِكَّيْنًا وَصَلَتْ مُحَّهُ لَمْ يُفْطِرْ لأَِنَّهُ لَيْسَ بِجَوْفٍ.\rAndaikata seseorang menyampaikan obat bagi luka betis sampai luka kedalam daging, atau menancapkan pisau pada betis tersebut sampai ke sumsum, maka hal itu tidak sampai membatalkan puasanya, daging itu bukan rongga badan.","part":1,"page":298},{"id":299,"text":"Infus yang diberikan kepada pasien itu ada dua macam, meskipun caranya sama, yaitu infus untuk memasukan obat dan infus untuk memasukan makanan. Namun yang jelas, kedua macam infus tersebut dilakukan dengan memasukan jarum infus ke dalam saluran darah.\rMasalahnya sekarang, apakah saluran darah itu oleh ilmu kedokteran dianggap rongga seperti usus yang menjadi saluran makanan, maka memasukan jarum injeksi ke dalam urat nadi tersebut oleh ilmu kedokteran tidak di anggap rongga seperti usus, maka memasukan jarum injeksi itu tidak di masukan melalui jarum infus tersebut adalah bahan makanan.\rSebab orang yang di infus dengan bahan makanan, yang terkadang beberapa tube, dia akan sanggup hidup meskipun berbulan-bulan meskipun tanpa makanan dan minuman lewat mulutnya. Maka ditinjau dari kandungan hikmah disyariatkan puasa, memasukan bahan makanan melalui jarum infus dapat membatalkan puasa.\rDasar pengambilan Kitab Al Mahalli, Hamisy dari Kitab Al Qalyubi juz 2 halaman 56:\rوَلَوْ طَعَنَ نَفْسَهُ اَوْ طَعَنَهُ غَيْرُهُ بِاِذْ نهِ فَوَصَلَ السِّكِيْنُ جَوْفَهُ أَفْطَرَ.\rDan andaikata seorang menikam dirinya sendiri atau orang lain menikam dirinya dengan izinnya, kemudian pisaunya sampai pada rongga, maka hal itu membatalkan puasanya.\rMemasukan obat tetes ke dalam telinga hukumnya membatalkan puasa. Memasukkan obat tetes mata tidak membatalkan puasa.\rDasar pengambilan Kitab Al Fiqhul Manhaji ala Madzahibil Imam Asy Syafi'i halaman 84:","part":1,"page":299},{"id":300,"text":"فَا قَطْرَةُ مِنَ الأُذُنِ مُفْطِرَةٌ, لأَنَّهَا مَنْفَدٌ مَفْتُوْحٌ. وَالْقَطْرَةُ فِآ الْعَيْنِ غَيْرُ مُفْطِرَةٍ لأَِنَّهُ مَنْفَدٌ غَيْرُ مَفْتُوْحٍ.\rMaka tetesan ke dalam lubang dari telinga adalah membatalkan puasa, karena telinga itu adalah lubang yang terbuka. Dan tetesan kedalam mata itu tidak membatalkan puasa, karena mata itu lubang yang tidak terbuka.\rWas-was, Thariqat, Hingga Ibnu Taimiyah\rBagaimana hukumnya orang Islam yang dalam hatinya selalu ada rasa was-was (misal: mau melaksanakan salat, wudlu, mandi besar) dan di tiga hal tersebut selalu was-was niat bacaannya itu diucapkan berulang-ulang sampai pikiranya jadi bingung sendiri.\rBagaimana cara mengatasi menghilangkan rasa was-was supaya pikiran jadi tenang dalam melaksanakan sesuatu yang berkaitan dengan ibadah?\rDosakah orang yang mengerjakan salat yang dia tidak mengerti arti dari bacaan yang dia baca?\rDan sahkah salat berjamaah orang islam secara keseluruhan kalau toh dia yang jadi imam?\rDari mana asal ajaran tarekat yang ada di dalam NU seperti Tijani, Naqshabandi, dll?\rDalam suatu buku di katakan bahwa Ibnu Taimiyah adalah seorang pemoderenisasi agama benarkah demikian? Dan juga mereka menurut kami berjasa terhadap perkembangan Islam di dunia ini. Dan pantaskah pendapat-pendapat beliau warga NU ini? Dan tolong dalilnya (Quran, Hadist, Ijma’, Qias)?\rJawaban:","part":1,"page":300},{"id":301,"text":"Orang yang berulang-ulang membaca niat dalam wudlu, mandi besar dan salat dalam was-was, adalah orang yang mudah dipermainkan oleh syaitan karena pengetahuanya yang kurang luas. Menurut Kitab Al Asybah Nadha’ir cetakan Darul Kutubil Arabiyati, Isa Al Babi Al Halabi Wa Syirkahu, ... halaman 26 tentang waktu niat dan halaman 3\rTentang tempat niat, diterangkan bahwa waktu niat itu di awal permulaan ibadah, yang dalam hal wudlu adalah waktu membasuh muka, dan dalam salat adalah takbiratul ihram.\rTempat niat adalah hati, sedangkan mengucapkan adalah sunat. Dalam hal wudlu dan mandi besar, niat hati itu dapat dilakukan bersama-sama saat membasuh muka dalam wudlu, dan saat membasuh anggota badan saat mandi. Dan jika niat dalam hati itu berselisih dengan ucapan lisan, maka yang dianggap dan dipakai adalah ucapan didalam hati. Adapun dalam salat, maka tidak mungkin niat di dalam hati itu dilakukan bersama-sama dengan ucapan lesan, karena niat dalam hati itu harus dilakaukan pada saat lisan mengucapkan takbiratul ihram.\rDalam mengiringkan niat (muqaranah) dengan awal ibadah, ada dua macam:","part":1,"page":301},{"id":302,"text":"Muqaranah haqiqiya. Yang dalam hal wudlu dan mandi besar, niat yang diucapkan oleh hati itu harus beriringan dengan basuhan pertama, dan dalam hal salat, sewaktu hati mengucapkan \"u\" dari lafal \"ushalli\" harus tepat bersaman dengan lisan mengucapkan A lafal Allaahu Akbar. Hal ini hanya dapat dilaukan oleh orang-orang tertentu seperti Imam Asyafii dan yang sedeajat dengan beliau. Bagi orang awam seperti kita sangat sulit atau bahkan tidak mungkin. Sehingga orang awam awam yang ingin melakukan muqaranah haqiqiyah ini mudah dihinggapi rasa was-was.\rMuqaranah Urfiyyah yang dalam hal wudlu, jika niat yang dilakukan oleh hati dan mungkin dilakukan bersama–sama dengan ucapan lesan itu dilakukan pada saat tangan masih membasuh muka, maka masih dinamakan muqaranah, dan niatnya jadi sah.\rDalam hal mandi besar, jika kita membasuh anggota badan pertama kali, hati kita mengucapkan niat mandi yang mungkin dibarengi dengan ucapan lisan, maka niat kita menjadi (sah). Sedangkan dalam hal salat, maka asalkan pada waktu lisan kita masih mengucapkan takbiratul ihram, maka niat kita jadi (sah)","part":1,"page":302},{"id":303,"text":"Cara mengatasi/menghilangkan was-was, antara lain adlah apabila orang yang was-was itu telah melakukan niat dengan muqaranah urfiyyah seperti tersebut diatas, maka jika syaitan datang membisikkan ke dalam hatinya bahwa niat tidak sah, maka bisikan saitan itu tidak boleh diikuti, dan pekerjaan wudlu, mandi besar atau salatnya diteruskan, sebagaimana hadits Nabi saw yang disepakati kesahihanya oleh Bukhori dan Muslim sebagai berikut:\rحَدِيْثُ عَبْد اللهِ بنِ زَيْد ِبْن عَا صِمٍ الأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: شُكِي اِلَى النَّبِي صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّجُلُ يُخَيَّلُ اِلَيْهِ أَ نَّهُ يَجِدُ الشَّيْئَ فِي الصَّلاَةِ, قَالَ: لاَ يَنْصَرِفُ حَتَّى سْمَعَ صَوْنًا أَوْ يَجِدَ رِيْحًا. متفق عليهِ\rDiriwayatkan dari Abdullah bin Zaid Ashim Al Anshari ra. katanya: Seorang laki-laki mengajukan pertanyaan kepada Rasullulah saw bahwa dia seolah-olah mendapati sesuatu ketika dalam salat. Baginda bersabda: Dia tidak perlu membatalkan salatnya sehingga dia mendengar kentut atau mencium baunya.\rOrang yang mengerjakan salat tanpa mengetahui makna bacaanya dalam salat, tidak berdosa. Sebab tidak satupun dari kitab-kitab fiqih yang menyebutkan bahwa salah satu rukun atau kewajiban dari orang yang melakukan salt untuk mengerti atau memahami arti atau makna dari bacaan salat.","part":1,"page":303},{"id":304,"text":"Memahami arti dari bacaan yang dibaca dalam salat adalh termasuk salah satu usaha untuk membuat hati khusyu’ dalam salat, sedang kekhusu’an hati dalam salat hukumnya adalah sunnat mu’akkadah, sebagaimana disebutkan dalam kitab Tanwirul Qulub halaman 143-144:\r(فَائِدَةٌ) أِعْلَمْ أَنَّ الخُشُوْعَ فِى الصَّلاَةِ سُنَّةٌ مُؤَكَّدٌ حَتَّى قَالَ النَّوَاوِيُّ: مَنْ لَمْ يُخْشَعْ فَسَدَتْ صَلاَتُهُ. .. فَاءِذَ أَتَيْتَ أِلَى الصَّلاَةِ فَأَفْرِعُ قَلْبَكَ مِنْكُلِّ الشَّوَاغِلِ الدُّنْيَوِيَّةِ مُسْتَحْضِرًا هَيْبَتةَ مَوْلاَكَ َمُتَامِّلاً فِيْمَا تَقْرَأَهُ مُلاَخِظًا عِنْدَ كُالِّ خِطَابٍ.\r/(Faedah). Ketahuilah bahwa sesungguhnya khusyu’ dalam salat itu adalah sunnat mu’akkadah, sehingga Imam Nawawi berkata: Barang siapa yang tidak khusu’ ... maka jika anda telah datang untuk melakukan salat, kosongkanlah hatimu dari semua kesibukan dunia dalam keadaan menghadirkan kehebatan (rasa takut) kepada tuhanmu serta mengangan-angan arti dari apa yang engkau baca, lagi memperhatikan pada setiap kitab.\rOrang-orang yang salat berjamaah bermakmum kepada seorang imam yang tidak mengerti arti dari bacaan salat yang di baca, hukum salat mereka adalah sah selama imamnya pandai membaca Alquran.\rDalam Kitab Kasyifatus Saja halaman 84 tentang syarat-syarat berjamaah dinyatakan bahwa orang yang pandai membaca Alquran tidak sah makmum kepada orang yang tidak dapat membaca Alquran.\rSebenarnya ajaran tariqat itu adalah berasal dari agama Islam sendiri. Karena sebagaimana kita ketahui bahwa rukun agama itu ada tiga, yaitu:","part":1,"page":304},{"id":305,"text":"Islam, yang amalannya berupa syariat dalam arti sempit yang dipergunakan untuk membimbing tingkah laku lahir manusia guna menyembah kepada Allah, agar tingkah laku manusia itu menjadi baik, dengan jalan bertaubat, bertaqwa dan beristiqamah.\rIman, yang amalanya berupa tariqat yang dipergunakan untuk membimbing hati manusia dan memperbaikinya dalam usaha menuju kepada keridlaan Allah, dengan jalan ikhlas, jujur dan tuma’ninah.\rIhsan, yang amalanya berupa haqiqat (hakikat) yang dipergunakan untuk membimbing hati nurani manusia dan memperbaikinya dalam usaha untuk menyaksikan keagungan Allah, dengan jalan muraqabah, musyahadah dan ma’rifat.\rJadi amalan iman yang dalam Kitab Iqadhul Himam syarah dari Kitab Al Hikam disebut thariqat seperti: menyesali dosa yang telah dilakukan, khauf dan raja’, zuhud dan sabar, syukur, ikhlas dan jujur, tawakkal, cinta kepada Allah, rela terhadap qada’, dan mengingat mati dan hakikatnya, adalah pekerjaan-pekerjaan yang wajib dilakukan oleh hati setiap muslim, dan kesemua amal tersebut adalah berdasarkan Alquran dan Al hadits.","part":1,"page":305},{"id":306,"text":"Sedangkan thariqat sebagai amalan ini tidaklah sama dengan gerakan-gerakan thariqat yang ada di dunia sekarang ini, seperti Naqshabandiyah, Qadariyah, Khalidiyah, Satariyah, Syadiliyah dan lain-lainya. Nama-nama dari gerakan tharikat tersebut adalah dikaitkan dengan para pendiri dari gerakan tersebut. Dalam hal ini umat Islam tidak diwajibkan memasuki salah satu dari gerakan tersebut, sebab ajaran dari gerakan tersebut adlah merupakan pengalaman para pendirinya untuk sampai kepada keridlaan Allah. Sedangkan pengalaman seorang itu belum tentu sesuai dengan orang lain. Untuk itu kami persilahkan anda untuk mengkaji Kitab Kifayatul Atqiya’.\rAdapun orang pertama kali mengadakan gerakan thoriqat adalah seorang tokoh syiah, pengikut faham Wahdatul Wujud (bersatunya hamba dengan Tuhan) , yang bernama Al Hallaj. Dialah orang yang pertama kali mengusahakan agar amal-amal yang harus dilakukan oleh hati itu dilakukan oleh anggauta badan lahir dalam gerakan thariqatnya untuk mengatasi kemiskinan dan kemelaratan yang melanda dunia Islam pada saat itu.","part":1,"page":306},{"id":307,"text":"Sebelum kami menjawab pertanyaan anda mengenai Ibnu Taimiyah, ada baiknya kami ketengahkan sedikit tentang siapa sebenarnya Ibnu Taimiyah dan bagaimana fahamnya. Nama lengkapnya dari Ibnu Taimiyah adalah Ahmad Taqiyudin, Abu Abbas bin Syihabudin Abdul Mahasin Abdul Halim bin syaih Majdudin Abil barakat Abdus Salam bin Abi Muhammad bin Abi qasim Al khadar, bin Muhammad bin Al khadar bin Ali bin Abdillah. Dilahirkan di desa Heren, sebuah desa kecil di Palestina dari suku Kurdi, dan meninggal pada tahun 724 H. Dia hidup sejaman dengan Imam Nawawi, seorang ulama’fiqih terbesar dalam madzhab Syafii.\rPada mulanya Ibnu Taimiyah adalah seorang ulama’ pengikut mazdhab Hambali dan banyak pengetahuanya tentang fiqih dan ilmu ushuludin. Akan tetapi sayang sekali beliau terpengaruh oleh faham Mujassimah/Musabbihah yang merupakan tuhan dengan makhluk dan juga banyak mengeluarkan fatwa yang jauh berbeda denagan fatwa-fatwa yang ada dalam mazdhab Hambali sendiri dan juga dari madzhab-mazdhab Hanafi, Maliki dan Syafii.\rYang menjadi dasar pendirianya ialah “ mengartikan ayat-ayat Alquran dan Hadits Nabi saw. Yang bertalian dengan sifat-sifat Tuhan menurut arti lafalnya yang lahir (nampak), yakni secara harfiah saja. Oleh karena itu menurut Ibnu Taimiyah, Tuhan itu mempunyai: muka, tangan, mata, rusuk, duduk bersila, datang dan pergi. Tuhan adalah cahaya langit dan bumi, karena katanya, hal itu semua tersebut dalam Alquran.","part":1,"page":307},{"id":308,"text":"Ibnu Taimiyah juga mengatakan bahwa berdasarkan hadits-hadits shahih, Tuhan itu berada di atas langit, boleh di tunjuk dengan jari, mempunyai tumit kaki, mempunyai tangan kanan, mempunyai nafas, turun naik dan Tuhan itu adalah “masa”.\rDengan sombong Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa ia akan memperbaharui pengajian dari ulama yang terdahulu dan akan mengembalikan mereka kepada Alquran dan Al Hadits katanya. ia akan memerangi khufarat dan bid’ah yang paling besar, karena menyerupakan Tuhan dengan makhluk.\rIbnu Taimiyah memaklumkan perlawanan kepada kaum muslimin yang bertaqlid dalam furu’ syariat kepada mazhab empat dan menganjurkan supaya berijtihad sendiri. Dan dia lupa bahwa bapaknya dan dia sendiri pada mulanya adalah menganut mazdhab Hambali. Dia telah melarang orang bertaqlid kepada madzhab empat yang telah diterima oleh dunia Islam. Padahal dia sendiri justru mengajak orang bertaqlid kepadanya, atau sekurang-kurangnya kepada gurunya yang belum tentu alim dalam bidang agama.\rKarena fatwa-fatwanya yang bertentangan dengan ajaran Rasululah saw. dan para sahabat nabi yang terkemuka, maka Ibnu Taimiyah harus keluar masuk dalam penjara dan akhirnya mati dalam penjara.\rDi antara ajaran Ibnu Taimiyah yang bertentangan dengan aqidah ahlus sunnah wal jamaah adalah:\rTuhan duduk di atas ‘Arasy serupa dengan duduknya Ibnu Taimiyah.\rTuhan turun dari langit pada waktu yang separo yang terakhir dari malam, serupa dengan turunya Ibnu Taimiyah dari mimbarnya.","part":1,"page":308},{"id":309,"text":"Perjalanan ziarah ke makam Nabi Muhammad saw. Di madinah adalah perjalanan ma’siyat.\rDoa bertawasul adalah syirik.\rThariqat-thariqat sufiyah adalah bid’ah dan haram.\rBersumpah dengan talak, tidak membiat talak jatuh, tetapi suami di wajibkan membayar sumpah\rMenjatuhkan talak kepada istri yang sedang haid, tidak jatuh talaknya.\rMenjatuhkan talak kepada istri pada waktu suci tetapi sudah disetubuhi itu tidak jatuh talaknya.\rSalat yang di tinggalkan dengan sengaja itu tidak usah di-qadla’.\rMenjatuhkan talak tiga sekaligus hanya jatuh satu.\rOrang yang junub boleh melakukan salat sunnat malam tanpa harus mandi lebih dahulu.\rOrang yang mengingkari ijma’ tidak kafir dan tidak fasik.\rTuhan itu adalah tempat bagi sifat-sifatnya yang baru (menurut Ibnu Taimiyah, sifat-sifat tuhan itu tidak qadim).\rDzat Allah itu tersusun yang satu berkehendak kepada yang lain (tidak tunggal).\rAlquran itu baru, bukan qadim.\rAlam itu qadim.\rTuhan Allah itu bertubuh, berjihad (berarah) dan berpindah-pindah.\rNeraka itu akan lenyap dan tidak kekal.\rTuhan Allah itu sama besarnya dengan ‘Arasy.\rNabi-nabi itu tidak makshum (dapat berbuat dosa).\rDan lain-lainya lagi sebagaimana disebutkan dalam Kitab Daf’u Syubha man Syabbaha Wa Tamarrada karangan Al Imam Alkabir Alhujjah Taqiyyudin Abi Bakrin Al hishni ad Dimasyqi, wafat tahun 829 H. Halaman 33- 48.","part":1,"page":309},{"id":310,"text":"Bahkan pada halaman 45 dari kitab tersebut di atas, para ulama dari madzhab empat yang sezaman dengan Ibnu Taimiyah telah memberikan fatwa bahwa Ibnu Taimiyah telah menjadi kafir sebab pendapatnya telah menyeleweng dari bidang akidah, fiqih dan tasawuf. Dengan uraian kami diatas maka jawaban kami terhadap pertanyaan saudara adalah:\rIbnu Taimiyah itu bukan seorang modernis dalam agama Islam melainkan perusak ajaran Ahlus sunnah wal jamaah.\rPandangan anda tentang Ibnu Taimiyah bahwa dia berjasa dalam perkembangan Islam di dunia tidak dapat dibenarkan oleh sejarah. Pendapat-pendapat Ibnu Taimiyah tidak boleh dijadikan oleh warga NU, karena bertentangan dengan faham dan ajaran Ahlus sunah wal jamaah.\rUrusan Negara dan Fatwa MUI\rPertanyaan\rBagaimana hukum orang Islam menguasakan urusan kenegaraan kepada orang non-Islam?\rApakah benar \"amanat\" yang dikeluarkan oleh Lembaga Keagamaan seperti MUI lebih tinggi dari pada \"fatwa hukum\"?\rJawaban:\rOrang Islam tidak boleh menguasakan urusan kenegaraan\rkepada orang non Islam, kecuali:\rDalam bidang-bidang yang tidak bisa ditangani secara langsung (tidak mempunyai kemampuan untuk itu).\rDalam bidang teknis operasional yang tidak memerlukan polisional.\rDasar pengambilan:\r1- القرأن الكريم- ال عمران : 28\rلايتخذ المؤمنون الكافرين أولياء من دون المؤمنين ومن يفعل ذلك فليس من الله في شيء إلا ان تتقوا منهم تقه ويحذركم الله نفسه والى الله المصير .\r2- تفسير المنير الجزء الأول - صحيفة : 94","part":1,"page":310},{"id":311,"text":"واعلم أن كون المؤمنين مواليا للكافر يحتمل على ثلاثة اوجه أحدها أن يكون راضيا بكفره ويتولاه لأجله وهذا ممنوع لأن الرضا بالكفر كفر وثانيها المعاشرة الجميلة فى الدنيا بحسب الظاهر وذلك غير ممنوع وثالثها الركون الى الكفار والمعاونة والنصرة إما بسبب القرابة او بسبب المحبة مع اعتقاد ان دينه باطل فهذا يوجب الكفر.\r3- تفسير فتح القدير الجزء الأول - صحيفة : 331\r( إلا ان تتقوا منهم تقه ) وفى ذلك دليل على جواز الولاة لهم مع الخوف ولكنها تكون ظاهرا لا باطنا.\r4- وفى سورة النساء 44 :\rيا أيها الذين آمنوا لاتتخذوا بطانة من دونكم لايألوناكم خبالا ودّوا ما عنتم قد بدت البغضاء من أفواههم وما تخفى صدورهم اكبر قد بينا لكم الأيات إن كنتم تعقلون.\rفيه ست مسائل: الأولى اكد الله تعالى الزجر عن الركون الى الكفار وهو متصل بما سبق من قوله: ان تطيعوا فريقا من الذين اوتوا الكتاب. والبطانة مصدر يسمى به الواحد والجمع. وبطانة الرجل خاصته الذي يستبطنون أمره. وأصله من البطن الذي هو خلاف الظهر وبطن فلان بفلان يبطن بطونا اذا كان خاصا به. الثانية - نهى الله عز وجل المؤمنين بهذا الآية أن يتخذوا من الكفار واليهود وأهل الهواء دخلاء وولجاء يفاوضونهم في الأراء ويسندون إليهم أمورهم ويقال كل من كان على خلاف مذهبك ودينك فلا ينبغي لك أن تحادثه. وفي سنن أبي داود عن أبي هريرة عن النبى صلى الله عليه وسلم قال المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل. وروي عن ابن مسعود انه قال: اعتبروا الناس بإخوانهم. ثم بين تعالى المعنى الذي لأجله نهى عن المواصلة فقال: لا يألوناكم خبالا يقول فسادا. يعنى لا يتركون الجهد فى فسادكم، يعنى أنهم وإن لم يقاتلوكم فى الظاهر فإنهم لا يتركون الجهد فى المكر والخديعة، على ما يأتى بيانه.\r5- روائع البيان الجزء الأول - صحيفة : 403","part":1,"page":311},{"id":312,"text":"الحكم الثالث : هل تجوز تولية الكافر واستعماله في شؤون المسلمين ؟ استدل بعض العلماء بهذه الآية الكريمة على أنه لا يجوز تولية الكافر شيئا من أمور المسلمين ولا جعلهم عمالا ولاخير ما، كما لا يجوز\rPenetapan Awal Bulan dengan Rukyat Internasional\rMutabaqqiyat dari reaksi warga Nahdliyyin pada perilaku Yayasan Al-Ihtikam\rDeskripsi Masalah:\rVisibilitas hilal-yang terjadi dengan melihat hilal memperbantukan indera mata ru'yatul hilal-merupakan pilihan utama dalam pemikiran jumhur fuqaha bila akan menetapkan awal bulan qamariyah. Cara lain bila mengalami kegagalan adalah dengan metode istikmal.\rHisab astronomi (perhitungan falakiah) ditempatkan sebagai pendukung, guna memprakirakan waktu konjungsi (al-ijtima') dan kadar ketinggian hilal di atas ufuk. Konsekuensi dari metode hisab astronomi adalah berlakunya peta mathlak secara lokal (per negara). Penetapan mathlak hanya berlaku lokal negara setempat bisa dipahami dari perintah Rasulullah SAW kepada pejabat Amir kota Makkah saat beliau menunaikan ibadah haji. (HR Abu Dawud dari Husein bin Al-Haris al-Jadaly).\rMasyarakat akhir-akhir ini sering dikacaukan oleh seruan berhari raya Idul Fithri berpedoman pada hari Idul Fithri di negeri Saudi Arabia. Baru-baru ini Yayasan al-Ihtikam melaksanakan hari raya Idul Adha juga mengikuti Idul Adha negeri Saudi Arabia. Kedua cara tersebut bermaksud melegalisasi ru'yatul hilal negara Saudi Arabia sebagai rukyat internasional.\rPertimbangan Hukum:\rLokasi kepulauan Indonesia jelas berbeda mathlak-nya dengan Arab Saudi.","part":1,"page":312},{"id":313,"text":"Ru'yatul hilal yang gagal terjadi di seluruh wilayah Indonesia, bisa saja berhasil dilakukan oleh negara lain, termasuk Saudi Arabia karena saat terbenam matahari mereka 4 (empat) jam lebih ke belakang dibanding waktu standar Indonesia.\rKriteria Imkanur ru'yah hasil kesepakatan MABIMS adalah:\rKetinggian hilal dua derajat.\rUmur bulan minimal delapan jam saat konjungsi.\rIbnu Abidin dalam kitab الرد المحتار جزء 2 ص393 dalam substansi uraiannya menempatkan mathlak negara setempat sebagai acuan pokok penetapan awal bulan qamariyah, utamanya bulan Dzulhijjah.\rBagaimana hukum menetapkan awal bulan qamariyah khususnya awal Ramadlan, Syawal dan Dzulhijjah berdasarkan rukyat al-hilal internasional untuk pedoman beribadah di Indonesia?\rJawaban:\rUmat Islam Indonesia maupun Pemerintah Republik Indonesia tidak dibenarkan mengikuti rukyat al-hilal internasional, karena berbeda mathlak dan tidak berada dalam kesatuan hukum.\rDasar Pengambilan:\r1- فتح البارى بشرح البخارى للحافط ابن حجر العسقلانى الجزء الرابع ص 123\rوعبارته: ثانيها مقابله اذا رؤي ببلدة لزم اهل البلد كلها وهو المشهور عند المالكية، حكى ابن عبد البر الإجماع على خلافه وقال اجمعوا على انه لاتراعى الرؤية فيما بعد من البلاد.\r2- فتاوى شرعية \"عبد الله ابن عمر ابن يحي العلوى\" ص 110\rوعبارته: (الاول) لزوم الصوم على جميع الناس المصدق بالرؤية وغيره وشرطه ان يتحد مطلع البلدين او البلدان وان زاد مابينهما على مسافة القصر.\r3- فتح البارى الجزء الرابع ص123","part":1,"page":313},{"id":314,"text":"وعبارته: وقال ابن الماجيشون: لايلزمهم بالشهادة إلا لأهل البلد الذى ثبتت فيه الشهادة إلا ان يثبت عند الإمام الاعظم فيلزم كلهم، لأن البلاد فى حقه كالبلد الواحد اذ حكمه نافذ فى حكمه.\rDoa bersama antara umat beragama\rDeskripsi Masalah\rAdanya krisis (moneter, kepercayaan, keimanan) yang melanda bangsa Indonesia dewasa ini, menuntut bangsa Indonesia untuk meningkatkan persatuan dan kesatuan. Di antara usaha-usaha yang dilakukan adalah mengadakan upacara doa bersama antar berbagai umat beragama (Islam, Katholik, Kristen, Hindu dan Budha).\r1. Bagaimana hukum doa bersama antar umat beragama yang sering dilakukan di Indonesia?\rJawaban:\rTidak boleh kecuali cara dan isinya tidak bertentangan dengan syariat Islam.\rDasar Pengambilan:\r1- فتح الوهاب فى حاشية الجمل الجزء الخامس ص 226\rوعبارته: ولزمنا منعهم اظهار منكر بيننا كإسماعهم إيانا قولهم الله ثالث ثلاثة\r2- جمل الجزء الثانى ص 119\rوعبارته: لايجوز التأمين على دعاء الكافر لانه غير مقبول لقوله تعالى: ومادعاء الكافر الا فى ضلال.\r3- بجيرمى على الخطيب الجرء الرابع ص 235\rوعبارته: قوله (تحرم مودة الكافر ) أى المحبة والميل بالقلب و اما المخالطةالظاهرية، فمكروهة... الى ان قال: اما معاشرتهم لدفع ضر يحصل منهم اوجلب نفع فلا حرمة فيه.\r4- مغنى المحتاج الجزء الاول ص 323","part":1,"page":314},{"id":315,"text":"وعبارته: (ولايمنع اهل الذمة الحضور ) لانهم يسترزقون وفضل الله واسع وقد يجيبهم استدراجا وطمعا فى الدنيا (ولايختلطون) اهل الذمة ولاغيرهم من سائر الكفار (بنا) فى مصلانا ولا عند الخروج اى يكره ذلك بل يتميزون عنا فى مكان لانهم اعداء الله تعالى اذقد يحل بهم عذاب بكفرهم فيصيبنا. ولا يجوز ان يؤمن على دعائهم كما قاله الرويانى لان دعاء الكافر غير مقبول ومنهم من قال يستجاب دعاء الكافر غير مقبول ومنهم من قال يستجاب لهم كما استجيب دعاء ابليس بالانظار.\r5- المجموع الجزء الخامس ص: 72\rوعبارته: (فرع) فى مذاهب العلماء فى خروج اهل الذمة للاستسقاء قد ذكرنا ان مذهبنا انهم يمنعون من الخروج مختلطين بالمسلمين ولايمنعون من الخروج متميزين وبه قال الزهرى وابن المبارك وابو حنيفة وقال مكحول لا بأس باخراجهم.\r6_ المجموع الجزء الخامس ص: 66\rوعبارته: ويكون اخراج الكفار للاستسقاء لانهم اعداء فى الله فلا يجوز ان يتوسل بهم اليه فان حضروا وتميزوالم يمنعوا لانهم جاءوا فى طلب الرزق.\r7- الجمل على شرح المنهج الجزء الثانى ص:119\rوعبارته: والوجه جواز التأمين بل ندبه اذا دعى لنفسه بالهداية ولنا بالنصر مثلا.\r2. Mohon dijelaskan batas-batas kerjasama antar umat beragama yang diperbolehkan oleh syari'at agama Islam.\rJawaban:\rBatas-batas kerjasama antar umat beragama yang diperbolehkan oleh syari'at Islam yaitu sepanjang kerjasama itu menyangkut urusan duniawi yang ada manfaatnya bagi umat Islam seperti perdagangan dan pergaulan yang positif.\rDasar Pengambilan:\r1- التفسير المنير للنواوى البنتنى الجزء الاول ص : 64\rوعبارته: وثانيها (المخالطة) المباشرة بالجميل فى الدنيا بحسب الظاهر وذلك غير ممنوع.\r2- بجيرمى على الخطيب الجزء الرابع ص: 245","part":1,"page":315},{"id":316,"text":"وعبارته: قوله ( تحرم مودة الكافر) اى المحبة والميل بالقلب واما المخالطة الظاهرية فمكروهة.... اما معاشرتهم لدفع الضر يحصل منهم او جلب نفع فلا حرمة فيه.\rWali hakim dalam pernikahan\rDeskripsi Masalah:\rMengikuti perkembangan kondisi politik di tanah air pasca pemilu 1999 ini. Kiranya perlu segera ada sikap dan konsep yang jelas dari PBNU mengenai masalah yang sangat prinsip bagi kaum muslimin. Yaitu masalah WALI HAKIM dalam pernikahan, apabila presiden RI dijabat oleh seorang perempuan. Dalam hal ini NU telah menetapkan sejak Bung Karno, bahwa Presiden RI adalah Waliyyul amri adl-dlorury bisy-syaukah agar mengesahkan pernikahan yang dilakukan oleh wali hakim.\rPertanyaan\r1. Apakah wilayah hakim dalam pernikahan harus di tangan Presiden atau Menteri Agama saja?\rJawaban:\rWilayah hakim dalam pernikahan berada di tangan Presiden dan aparat terkait yang ditunjuk Presiden.\rDasar Pengambilan:\r1- المغنى الشرح الكبير لإبن قدامة المقدسى الجزء السابع ص 351\rوعبارته: قال : صلى الله عليه وسلم فإن تشاجروا فالسلطان ولي من لاولي له اخرجه ابو داود. السلطان هنا هو امام او الحاكم او من فوّضا اليه ذلك.\r2- اعانة الطالبين الجزء الثالث ص314\rوعبارته: قوله والمراد اى السلطان: من له ولاية اى عامة اوخاصة...: وحاصل الدفع ان المراد بالسلطان: كل من له سلطان وولاية على المرأة عاما كان كالامام او خاصا كالقاضى والمتولى لعقود الانكحة.\r3- الباجورى الجزء الثانى ص106\rوعبارته: ثم الحاكم عاما كان او خاصا كالقاضى اوالمتولى بعقود الانكحة او لهذا العقد بخصوصه.\r2. Bila ditangan Presiden, apakah wanita sah menjadi wali hakim?\rJawaban:","part":1,"page":316},{"id":317,"text":"Sah karena kelembagaan Presiden sebagai wilayah ammah.\rDasar Pengambilan:\r1- بجيرمى على الخطيب الجزء الثانى ص: 337\rوعبارته: لاتعقد امرأة نكاحا... إلا إذا وليت الامامة العظمى, فإن لها ان تزوج غيرها لا نفسها كما ان السلطان لايعقد لنفسه.\r2- الباجورى الجزء الثانى ص:101\rوعبارته: (وقوله ولاغيرها) اى ولاتزوج غيرها لابولاية ولاوكالة لخبر لاتزوج المرأة المرأة ولاالمرأة نفسها... نعم, إن تولت امرأة الإمامة العظمى والعياذ بالله تعالى نفذت احكامها للضرورة كما قاله عزالدين ابن عبد السلام وغيره وقياسه صحة تزويجها غيرها بالولاية العامة.\r3.- حاشية البجيرمى على المنهج الجزء الثالث ص :337\r4.- وعبارته:قال ح ل (الحلبى) إلا اذا وليت الامامة العظمى فإن لها أن تزوج غيرها لانفسها كما ان السلطان لايعقد لنفسه.\rPerempuan di masa iddah naik haji\rDeskripsi Masalah:\rSeorang perempuan sedang menjalani iddah karena ditinggal mati suaminya. Sementara itu secara ekonomis mampu melaksanakan ibadah haji dan secara akomodatif sudah mendaftarkan diri naik haji. Apakah wanita dalam iddah boleh menunaikan ibadah haji?\rJawaban:\rWanita dalam masa iddah pada dasarnya tidak boleh menunaikan ibadah haji, kecuali sebab udzur syar'i seperti:\rKekhawatiran yang mengancam diri atau hartanya.\rAda petunjuk dokter yang adil bahwa penundaan haji ke tahun depan tidak menguntungkan.\rHaji tahun tersebut dinadzarkan.\rSelain itu didapati qaul yang membolehkan tanpa syarat.\rDasar Pengambilan:\r1- الباجورى الجزء الثانى ص: 177","part":1,"page":317},{"id":318,"text":"وعبارته: نعم لها الخروج لحج او عمرة ان كانت احرمت بذلك قبل الموت او الفراق ولو بعير اذنه وان لم تخف الفوات فان كانت احرمت بعد الموت او الفراق فليس لها الخروج فى العدة وان تحققت الفوات فاذا انقضت عدتها أتمت عمرتها اوحجتها اوابقى وقت الحج والا تحللت بعمل عمرة وعليها القضاء ودم الفوات.\r2- مغنى المحتاج الجزء الثالث ص: 404 - 405\rوعبارته: او اذن لها فى سفر حج او عمرة وتجارة او استحلال مظلمة او نحو ذلك كرد آبق والسفر لحاجتها ثم وجبت عليها العدة في اثناء الطريق فلها الرجوع الى الاول والمضي فى السفر لأن فى قطعها عن السفر مشقة لاسيما اذا بعدت عن البلد وخافت الانقطاع عن الرفقة ولكن الافضل الرجوع والعود الى المنزل كما نقلاه عن الشيخ ابن حامد واقرّاه ومر فى سيرها المعتدة وخرج بالطريق ما لو وجبت قبل الخروج من المنزل فلا تخرج قطعا.\r(فرع) لو احرمت بحج اوقران بإذن زوجها او بغير اذنه ثم طلقها او مات فإن خافت الفوات كضيق الوقت وجب عليها الخروج معتدة لتقدم الإحرام، وإن لم تخف الفوات لسعة الوقت جاز لها الخروج الى ذلك لما فى تعيين الصبر من مشقة مصابرة الاحرام. وان احرمت بعد ان طلقها هو مات بإذن منه قبل ذلك او بغير اذن بحج او عمرة اوبهما امتنع عليها الخروج سواء اخافت الفوات ام لا لبطلان الاذن قبل الاحرام بالطلاق او الموت فى الاولى ولعدمه في الثانية. فاذا انقضت العدة اتمت عمرتها او حجها ان بقي وقته والا تحللت بافعال عمرة ولزمها القضاء ودم الفوات.\r4- حاشية على شبرا مليسى الجزء السابع ص: 157-158\rوعبارته: (وتعجيل حجة...) خرج به مالونذرته في وقت معين اواخبرها طبيب عدل بانها ان اخرت عضبت فتخرج لذلك حينئذ بل هو اولى من خروجها للحاجةالمارة.\r5- تكملة المجموع علي شرح المهذب الجزء: 18، ص: 172","part":1,"page":318},{"id":319,"text":"وعبارته: وان خرجت فمات زوجها في الطريق رجعت ان كانت لم تفارق البنيان ، فان فارقت البنيان فلها الخيار بين الرجوع والتمام لانها صارت فى موضع اذن لها فيه وهو السفر، فاشبه ما لو كانت قد بعدت. ... وان احرمت بالحج بعد موت زوجها وخشيت فواته يجوز لها ان تمضي اليه لما فىبقائها فى الاحرام من المشقة.\r6- الجمل للخطيب الجزء الرابع ص: 465\rوعبارته: او سافرت باذن لحاجتها او لحاجته كحج وعمرة وتجارة واستحلال من مظلمة ورد آبق او لا لحاجتهما كنزهة وزيارة فوجبت فى طريق.\r(قوله فوجبت فى طريق) سكت عما اذا وجبت قبل الخروج و فى الروض لم تسافر قال في شرحه وقيل تتخير لان عليها ضررا فى ابطال سفرها بخلاف سفر النقلة فان مؤنته على الزوج قال الرافعى وهو ظاهر النص وقال البلقينى بل صريحه.\rPuasa Yauma 'Arafah\rDeskripsi Masalah:\rWaktu di Indonesia lebih cepat kira-kira 4-5 jam dari waktu di Saudi Arabia. Dengan demikian, waktu sahur atau buka puasa bagi muslimin di Indonesia lebih cepat kira-kira 4-5 jam.\rPuasa sunnah hari arafah bagi kaum muslimin yang tidak sedang melakukan ibadah haji, apakah karena peristiwa wukuf ataukah karena kalender hari Arofah?\rJawaban:\rPuasa yang dilakukan adalah karena yaumul arafah yaitu pada tanggal 9 Dzul hijjah berdasarkan kalender Negara setempat yang berdasarkan rukyat.\rDasar Pengambilan:\r1- شرح المنهاج للشيخ زكريا الانصارى الجزء الثانى ، ص: 347\rوعبارته: يسن صوم يوم عرفة وهو تاسع ذى الحجة لغير الحاج لخبر مسلم صيام يوم عرفة يكفر السنة التى قبله والتى بعده.\r2- الجمل على شرح المنهج الجزء الثانى ص: 460","part":1,"page":319},{"id":320,"text":"وعبارته: وقد قالوا ليس يوم الفطر اول شوال مطلقا بل يوم يفطر الناس، وكذا يوم النحر يوم يضحى الناس (رواه الترمذى).\rوفى رواية للشافعى \"وعرفة يوم يعرف الناس ومن رأى الهلال وحده أو مع غيره وشهديه فردت شهادته يقف قبلهم لا معهم ويجزيه إذ العبرة فىدخول وقت عرفة وخروجه باعتقاده.\r3- ترشيخ المستفيدين على شرح فتح المعين، ص: 170\rوعبارته: يسن متأكدا صوم يوم عرفة لغير الحاج لأنه يكفر السنة التى هو فيها والتى بعدها كما فى خبر مسلم وهو تاسع ذى الحجة\rBudidaya jangkrik\rDeskripsi Masalah:\rDi zaman modern sekarang ini, perkembangan IPTEK semakin pesat. Diantara perkembangan tersebut adalah membudidaya jangkrik untuk berbagai keperluan.\rBagaimana hukum budidaya jangkrik?\rBagaimana hukum jual beli jangkrik?\rJawaban:\r1. Budidaya jangkrik hukumnya boleh.\rDasar Pengambilan:\r1- الفقه على مذاهب الأربعة الجزء الثانى ص: 3\rوعبارته: أما إذا اعتاد قوم اكلها ولم تضرهم وقبلتها أنفسهم فالمشهور عندهم أنها لاتحرم.\r2- المجموع علي شرح المهذب الجزء التاسع ، ص: 16\rوعبارته: (فرع) فى مذاهب العلماء فى حشرات الارض... وقال مالك حلال لقوله تعالى قل لا أجد فيما أوحي إلي محرما.\r2- المجموع علي شرح المهذب الجزء التاسع ، ص: 16\rوعبارته: وأماالصرارة فحرام على أصح الوجهين كالخنفساء.\r2. Hukum jual beli jangkrik khilaf.\rMadzhab Malik, Madzhab Hanafi mengesahkan hukum jual belinya.\rSyafi'iyah menurut ashohhul wajhain hukumnya haram.\rDasar Pengambilan:\r1- الفقه الأسلامى وأدلته ، وهبة الزحيلى، الجزء الرابع، ص: 446 - 447","part":1,"page":320},{"id":321,"text":"وعبارته: ويصح بيع الحشرات والهوام كالحيات والعقارب إذا كان ينتفع به.والضابط عندهم (المالكية) ان كل ما فيه منفعة تحل شرعا لأن الأعيان خلقت لمنفعة الإنسان بدليل قوله تعالى خلق لكم ما فى الأرض جميعا.\r2- بجيرمى على المنهج الجزء الثانى ، ص: 178\rوعبارته: فلا يصح بيع حشرات لاتنفع. قال الشارح اذ عدم النفع إما للقلة كحبتي بر وإما للخسة كالحشرات.\r3- المجموع علي شرح المهذب الجزء التاسع ، ص: 16\rوعبارته: وأماالصرارة فحرام على أصح الوجهين كالخنفساء.\rJual beli Ulat, Cacing, Semut dan Ular untuk makanan Burung\rDeskripsi Masalah\rDi masyarakat terjadi jual beli barang yang diharamkan dan itu terjadi ma'ruf sekarang. Benda itu diharamkan, yaitu jual beli ulat, semut, ular sebagai makanan burung. Bahkan harganya sangat mahal. Itu sudah jelas niatnya membeli ulat, semut atau ular, bukan ongkos menangkap atau ongkos membungkus barang itu.\rBagaimanakah hukum jual beli barang-barang tersebut (ulat, semut, ular untuk makanan burung)?\rJawaban:\rHukumnya boleh.\rDasar Pengambilan:\r1- الفقه الأسلامى وأدلته ، للشيخ وهبة الزحيلى، الجزء الرابع، ص: 181- 182\rوعبارته : ولم يشترط الحنيفة هذا الشرط (ان يكون المبيع طاهرا لانجسا) ، فأجازوا بيع النجاسات كشعر الخنزير وجلد الميتة لإنتفاع بها إلا ماورد النهى عن بيعه منها كالخمر والخنزير والميتة والدم كمااجازوا بيع الحيوانات المتوحشة والمتنجس الذى يمكن الإنتفاع به فىغير الإكل. والضابط عندهم ان كل مافيه منفعة تحل شرعا فإن بيعه يجوز لإن الإعيان خلقت لمنفعة الإنسان.\r2- الفقه على المذاهب الأربعة الجزء الثانى ص: 232","part":1,"page":321},{"id":322,"text":"وعبارته: (وهذا القول عند الحنفية) وكذلك يصح بيع الحشرات والهوام كالحيات والعقارب اذا كان ينتفع بها. والضابط فى ذلك ان كل مافيه منفعة تحل شرعا فإن بيعه يجوز.\rLomba dengan pemungutan Uang\rLomba dengan menarik uang pendaftaran untuk hadiah, apakah termasuk judi?\rJawaban:\rLomba dengan menarik uang saat pendaftaran dari peserta untuk hadiah adalah judi, sedangkan yang bukan untuk hadiah tidak termasuk judi.\rDasar Pengambilan:\r1- الباجورى على فتح القريب الجزء الثانى ص: 310\rوعبارته: وان اخرجاه اى العوض المتسابقان معا لم يجز... وهو اى القمار المحرم كل لعب تردد بين غنم وغرم.\r2- اسعاد الرفيق شرح سلم التوفيق الجزء الثانى ص: 102\rوعبارته: (كل ما فيه قمار) وصورته المجمع عليها ان يخرج العوض من الجانبين مع تكافئهما،\rوهو المراد من الميسر فى الآية. ووجه حرمته ان كل واحد متردد بين ان يغلب صاحبه فيغنم او يغلبه صاحبه فيغرم. فان عدلا عن ذلك الى الحكم السبق والرمي بان ينفرد اللاعبين باخراج العوض ليأخذ منه ان كان مغلوبا وعكسه ان كان غالبا فالاصح حرمته ايضا.\r3- الباجور على فتح القريب الدزء الثاني ص: 10\rوعبارته: ويجوز شرط العوض من غير المتسابقين من الامام او الاجنبي كأن يقول الامام من سبق منكما فله علي كذ من مالي ، او فله فى بيت المال كذا، او يكون ما يخرجه من بيت المال من سهم المصالح ، وكأن يقول الاجنبي : من سبق منكما فله علي كذا، لانه بذل مال فى طاعة وليس لملتزم العوض ولو كان غير المسابقين زيادة فى العوض ولا نقص عنه.\r4- مغنى المحتاج شرح منهاج الطالبين الجزء الرابع ص 311","part":1,"page":322},{"id":323,"text":"وعبارته : ''كتاب المسابقة والمناضلة'' هما سنة ويحل اخذ عوض عليهما, وتصح المناضلة على سهام وكذا مزاريق ورماح ورمى بأحجار ومنجنيق وكل نافع فى الحرب على المذهب.\rSolusi yang ditawarkan untuk penyelenggaraan lomba berhadiah:\rUang pendaftaran tidak menjadi hadiah.\rHadiah diperoleh dari sumber lain (sponsor)\rJenis yang dilombakan tidak termasuk dalam larangan syariat seperti keterampilan dalam perang, jalan cepat, berenang, balap kuda dll.\rPermasalahan tentang hak atas tanah\rDeskripsi Masalah:\rSi A telah bertahun-tahun, bahkan turun-temurun menempati tanah negara. Belakangan datang B kepadanya dan memintanya untuk mengosongkan tanah tersebut, karena permohonan pada pemerintah untuk memiliki tanah tersebut dikabulkan. Untuk meyakinkan si A, si B memperlihatkan bukti kepemilikan tanah yang sah.\rManakah yang berhak atas tanah tersebut?\rJawaban:\rYang lebih berhak atas tanah tersebut adalah orang yang lebih dulu menguasai tanah tersebut dengan menunjukkan alat bukti yang sah.\rDasar Pengambilan:\rبغية المسترشدين ص: 289\rوعبارته : (مسألة ب ش) أحيا قطعة من ارض وترتيب يده عليها سنين ثم ادعى آخر جميع الأرض وأن المحي بسط على بعضها من غير مسوغ ، فإن اقام مؤرخة الإحياء بأن الأرض ومنها المدعى ملكه وان يده مترتبة عليها بلا منازع ... ولو ثبت انها موات ملكها المحيي لترتب يده عليها.\r2- بغية المسترشدين ص: 167\rوعبارته: كل ارض حكم بأنها إسلامية لاستلاء المسلمين عليها اولا وان استولى عليها الكفار بعد ومنعوا المسلمين كغالب ارض جاوا حكم الموات... لأن اليد دليل الملك والاصل وضعها بحق الى ان يثبت نقيضه.","part":1,"page":323},{"id":324,"text":"3- ترشيح المستفيدين الجزء الثانى ص: 413\rوعبارته: فلو شهدت البينة لأحد المتنازعين في عين بيدهما او يد ثالث اولا بيد احد بملك من سنة الى الآن وشهدت بينة أخرى للآخر بملك لهامن اكثر من سنة الى الآن كسنتين فترجح بينة ذى الأكثر لأنها تثبت الملك فى وقت.\r4- تخفة للشروانى الجزء السادس ص 205\rوعبارته: مسألة رجل بيده رزقة اشتراها ثم مات فوضه شخص يده عليها بتوقيع سلطاني, فهل للورثة منازعته ؟ الجواب: إن كانت الرزقة وصلت الى البائع الأول لطريق شرعى بأن اقطعه السلطان اياها وهى ارض موات فهو يملكها,ويصح منه بيعها ويملكها المشترى منه, وإن مات فهو لورثته ولايجوز لأحد وضع اليد عليها لأمر سلطان ولاغيره.\r5- وفى معناه فى بجيرمى علىالخطيب الجزء الثالث ص 199\rAnggota legislatif (DPR/MPR) beragama non-Islam\rBagaimana hukum orang Islam menguasakan urusan kenegaraan kepada orang non-Islam?\rJawaban:\rOrang Islam tidak boleh menguasakan urusan kenegaraan kepada orang non-Islam kecuali dalam keadaan darurat, yaitu:\rDalam bidang-bidang yang tidak bisa ditangani sendiri oleh orang Islam secara langsung atau tidak langsung karena faktor kemampuan.\rDalam bidang yang ada orang Islam berkemampuan untuk menangani, tetapi terdapat indikasi kuat bahwa yang bersangkutan khianat.\rSepanjang penguasaan urusan kenegaraan kepada non Islam itu nyata membawa maslahat.\rCatatan: Orang non Islam yang dimaksud berasal dari kalangan ahlu dzimmah dan harus ada mekanisme kontrol yang efektif.\rDasar pengambilan:\r1- القرأن الكريم : ولن يجعل الله الكافرين على المؤمنين سبيلا\r2- تحفة لابن حجر الهيتمى الجزء التاسع ص 72","part":1,"page":324},{"id":325,"text":"وعبارته: ولايستعان عليهم بكافرذمي او غيره إلا إن اضطررنا لذلك. ظاهر كلامهم ان ذلك لايجوز ولو دعت الضرورة. لكنه فى التتمة صرخ بجواز الإستعانة به اى الكافر عند الضرورة.\r3- الشروانى الجزء التاسع ص 72-73\rوعبارته:نعم ان اقتضت المصلحة توليته فى شئ لايقوم به غيره من المسلمين او ظهر فيمن بقوم به من المسلمين خيانة وامنت فى ذمى ولو لخوفه من الحاكم مثلا فلا يبعد جواز توليته لضرورة القيام بمصلحة ما ولى فيه, ومع ذلك يجب على من ينصبه مراقيتة ومنعه من التعرض لأحد من المسلمين بما فيه استعلاء المسلمين\r4- المحلى لجزء الرابع ص 172\rوعبارته : ولا يستعان عليهم بكا فر لأنه يحرم تسليطه على المسلمين (قوله ولا يستعان) فيحرم إلا لضرورة.\r5- الاحكام السلطانية لأبى يعلى الحنبلى ص: 35\rوعبارته: والوزارة على ضربين وزارة تفويض ووزارة تنفيذ. اما وزارةالتفويض فهى ان يستوزر الإسلام من يفوض اليه تدبير الأمور برأيه وإمضاء ها على اجتهاده...واما وزارة التنفيذ فحكمها اضعف وشروطها اقل لأن النظر فيها مقصور على رأي الإمام وتدبيره.\rRekomendasi Komisi Bahtsul Masail Diniyah Waqi'iyah\rMendesak Pemerintah cq Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen Agama agar sekolah diliburkan selama bulan Ramadlan.\rDepartemen Agama agar menfasilitasi terbentuknya majelis fatwa yang online, mudah terjangkau masyarakat luas dan terkoordinasi dengan baik.\rDepartemen Hukum dan Perundang-undangan serta Mahkamah Agung agar meninjau kembali Kompilasi Hukum Islam di Indonesia (Inpres No. 1 Th. 1991).\rPelayanan/penyelenggaraan Ibadah Haji:\rAgar pemerintah cq Departemen Agama mengadakan perbaikan/peningkatan mutu SDM petugas haji (TPHI, TPIH dan TPHD).","part":1,"page":325},{"id":326,"text":"Meniadakan pemotongan atas ONH bila calon jamaah wanita terpaksa menunda ibadah haji sampai tahun berikutnya akibat iddah-nya.\rMembenarkan tanazul apabila jamaah haji wanita belum dapat melaksanakan thawaf ifadloh berhubung dengan menstruasi.\rUntuk CJH kloter kedua supaya diberitahu 30 menit sebelum mendarat di lapangan udara King Abdul Aziz guna memberi kesempatan mengenakan pakaian ihramnya.\rAgar petugas haji tidak memaksa jamaah calon haji di atas pesawat untuk menunaikan salat dengan cara tidak simpatik.\rKorpri pada unit-unit instansi pemerintah tidak melakukan pemotongan gaji PNS terkait dengan zakat/zakat fithrah.\rDepartemen Hukum dan Perundang-undangan agar mempertimbangkan hukum agama Islam dalam menjatuhkan pidana atas pelaksanaan muhakkam dalam perkawinan tanpa wali kerabat.\rLajnah Bahtsul-Masail PBNU supaya menyelenggarakan Bahtsul-Masail tingkat Nasional setiap tahun sekali, utamanya diselenggarakan di wilayah-wilayah luar Jawa.\rMewakilkan Perwalian Lewat Telepon\rSi A menjadi wali nikah dari seorang wanita (si B) dikota lain yang akan melangsungkan pernikahan. Pada hari dan saat akad nikah akan dilangsungkan, si A mendadak sakit dan tidak dapat menghadiri pernikahan tersebut. Kemudian si A mewakilkan kepada si C yang rumahnya berdekatan dengan si B lewat telepon untuk menikahkan si B. Sahkah mewakilkan perwalian (tawkil) untuk akad nikah lewat telepon?\rJawaban:","part":1,"page":326},{"id":327,"text":"Hukum tawkil untuk akad nikah lewat telepon adalah sah, selama taukil tersebut dapat dipahami dan tidak ada penolakan dari pihak yang menerima wakalah.\rDasar Pengambilan\rKitab Asy Syarqowi juz 2 halaman 10\r(قَوْلُهُ وَصِيْغَةً) كَوَكَّلْتُكَ فِى كَذَا او فَوَّضْتُ إِلَيْكَ كَذَا سَوَاءٌ كَانَ ذَلِكَ مَشَافَهَةً او كِتَابَةً او مُرَاسَلَةً وَيُشْتَرَطُ عَدَمُ رَدِّهَا كَمَا يَأْتِى وَلاَ يُشْتَرَطُ العِلْمُ بِهَا. فَلَو وَكَّلَهُ وَهُوَ لاَيَعْلَمُ صَحَّتْ حَتَّى لَوْ تَصَرَّفَ قَبْلَ عِلْمِهِ صَحَّ كَبَيْعِ مَالِ أَبْيْهِ يَظُنُّ حَيَاتِهِ.\r(Ucapan mushannif “dan shighat”) seperti: Aku mewakilkan kepadamu dalam masalah demikian, atau aku menyerahkan kepadamu demikian. Baik penyerahan itu secara lisan atau secara tertulis atau pengiriman utusan. Disyaratkan pula tidak ada penolakan terhadap wakalah (perwakilan) tersebut sebagaimana keterangan yang akan datang, dan tidak disyaratkan mengetahui wakalah. Andaikata seseorang mewakilkan kepadanya sedang dia tidak tahu, maka sah wakalah tersebut; sehingga andaikata dia mentasarufkan sebelum mengetahui ada wakalah, tasaruf(distribusi)-nya sah, seperti menjual harta ayahnya yang dia sangka ayahnya masih hidup.\rKitab Bujairimi ‘Ala al Iqna’ juz 3 halaman 10\rوَجُمْلَةُ مَا ذَكَرَهُ مِنْ شُرُوطِ الصِّيْغَةِ خَمْسَةٌ وَذَكَرَ فِى شَرْحِ المِنْهَجِ أرْبَعَةٌ:... إلَى أنْ قَالَ: الثَّانِى: أنْ يَتَلَفَّظَ بِحَيْثُ يَسْمَعُهُ مَنْ بِقُرْبِهِ وَإِنْ لَمْ يَسْمَعْهُ صَاحِبُهُ بِأَنْ بَلَغَهُ ذَلِكَ فَورًا او حَمَلَتْهُ الرِّيْحُ إلَيْهِ فَقَبِلَ.","part":1,"page":327},{"id":328,"text":"“Jumlah dari apa yang telah mushannif sebutkan tentang syarat-syarat shighat adalah lima dan dalam kitab Syarah Minhaj, mushannif menyebutkan empat: … sampai mushannif berkata: “Yang kedua, hendaklah seseorang mengucapkan sekira orang yang berada didekatnya mendengar ucapannya, meskipun temannya tidak mendengar, dengan sekita dia menyampaikan hal tersebut kepada temannya seketika, atau angin telah membawa ucapan tersebut kepada temannya dan temannya menerima.\rMenuduh Zina Tidak Meniadakan Hak Waris\rAda seseorang yang menuduh zina kepada orang lain yang mempunyai ikatan warisan dengan dirinya dan ternyata dia tidak dapat membuktikan tuduhan zina tersebut. Apakah tuduhan zina yang diancam dengan hukuman had itu termasuk mawani’ul irtsi yang dapat meniadakan hak waris dari si penuduh zina?\rJawaban:\rTuduhan zina itu tidak dapat meniadakan hak waris, karena tidak termasuk hal-hal yang mencegah hak warisan.\rDasar pengambilan\rKitab asy Syansyuri Syarah ar Rahabiyah halaman 58-59\rإِعْلَمْ أَنَّ المَوَانِعَ جَمْعُ مَانِعٍ وهُوَ إصْطِلاَحًا مَا يَلْزَمُ مِنْ وُجُودِهِ العَدَمَ وَلاَ يَلْزَمُ مِنْ عَدَمِهِ وُجُودًا وَلاَ عَدَمًا لِذَاتِهِ عَكْسُ الشَّرْطِ. وَمَوَانِعُ الإِرْثِ سِتَّةٌ إقْتَصَرَ المُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللهُ عَلَى المُتَّفَقِ عَلَيْهِ مِنْهَا وَهُوَ ثَلاَثَةٌ: إحْدَهُمَا رِقٌّ وَثَانِيهَا قَتْلٌ وَثَالِثُهَا إخْتِلاَفُ دِيْنٍ.","part":1,"page":328},{"id":329,"text":"Artinya “Ketahuilah bahwa kata “mawani” itu adalah bentuk jamak dari kata mani’. Menurut istilah,mani’ itu adalah apa yang wujudnya mengharuskan ketiadaan, sedang ketiadaannya tidak mengharuskan keadaan dan tidak pula ketiadaan bagi dzatnya. Mani’ ini adalah kebalikan dari syarat. Hal-hal yang mencegah (mawani’) warisan itu ada enam yang mushannif, semoga Allah merahmatinya, meringkas pada apa yang telah disepakati dari enam tersebut, yaitu tiga: 1) Perbudakan; 2) Membunuh; 3) Perbedaan agama”.\rMenjadikan Hewan Sebagai Eksperimen\rBagaimana hukum mengadakan eksperimen atau percobaan dengan memanfaatkan hewan seperti tikus, kera, babi, kelinci dan lainnya, dalam proses pemberian pelajaran teori tentang sebab penyakit dan cara penyembuhannya pada Fakultas Kedokteran yang mengakibatkan pembunuhan yang disengaja terhadap sejumlah besar hewan yang tidak dihormati agama?\rJawaban:\rPemanfaatan hewan untuk percobaan teori-teori kedokteran yang mungkin diikuti dengan pembunuhan terhadap hewan-hewan adalah sebagai berikut:\rMenurut Imam ar Romli dan Imam al Ghozali, hukumnya boleh, karena ada bukti hajat, yaitu untuk media pendidikan.\rSedikit berbeda dengan pandangan Ibn Hajar al Haitami dan Imam al Haramain (al Juwaini), yang menyatakan bahwa dalam kebolehan tersebut perlu dihindarkan dari kemungkinan menyiksa hewan atau membuat hewan menderita.\rDasar pengambilan\rKitab I'anatut Thalibin juz 1 halaman 33:","part":1,"page":329},{"id":330,"text":"وَقَوْلُهُ عِنْدَ شَقِّ عُضْوٍ مِنْهَا...إلَى أنْ قَالَ: وَيَحْرُمُ الشَّقُّ المَذْكُورُ او القَتْلُ بِالقَصْدِ لِلتَّعْذِيْبِ وَاخْتُلِفَ فِيْمَا شَكَّ فِى سَيْلِ دَمِهِ وَعَدَمِهِ فَهَلْ يَجُوْزُ شَقُّ عُضْوٍ مِنْهُ اولاَ ؟ قَالَ بِالأوَّلِ الرَّمْلِى تَبَعًا لِلْغَزَالِى لأَنَّهُ لِحَاجَةٍ وَقَالَ بِالثَّانِى إبْنُ حَجَرٍ تَبَعًا لِلإِمَامِ الحَرَمَيْنِ لِمَا فِيْهِ مِنَ التَّعْذِيْبِ.\rAdapun ucapan mushonnif \"pada waktu menyobek anggota badan dari binatang\" ... sampai pada ucapan mushonnif: \"haram menyobek tersebut atau membunuh dengan maksud menyiksa\", diperselisihkan mengenai apa yang diragukan mengenai mengalirkan darahnya dan ketiadaan mengalirkan darahnya, apakah boleh menyobek anggota badan dari binatang atau tidak? Imam ar Romli membolehkan karena mengikuti Imam al Ghozali karena penyobekan itu sesuatu hajat. Ibn Hajar tidak membolehkan karena mengikuti Imam al Haramain, karena dalam penyobekan itu terdapat penyiksaan.\rKitab Al Fiqhul Islamiyyu wa Adillatuhu juz 3 halaman 521-522:\rتَشْرِيْحُ الجُثَّةِ وَنَقْلِ الأعْضَاءِ.\rيَرَى المَالِكِيَّةُ وَالحَنَابِلَةُ عَمَلاً بِحَدِيْثِ: \"كَسْرُ عَظْمِ المَيِّتِ كَكَسْرِهِ حَيًّا\" أنَّهُ لاَيَجُوزُ شَقُّ بَطْنِ المَيْتَهِ الحَامِلِ لإِخْرَاجِ الجَنِيْنِ مِنْهُ؛ لأنَّ هَذَا الوَلَدَ لاَ يَعِيْشُ عَادَةً، وَلاَ يَتَحَقَّقُ أنَّهُ يَحْيَا، فَلاَ يَجُوزُ هَتْكُ حُرْمَةٍ مُتَيَقِّنَةٍ لأَمْرٍ مَوْهُومٍ.\rMembedah tubuh dan memindah anggota-anggota.","part":1,"page":330},{"id":331,"text":"Madzhab Maliki dan Hambali berpendapat karena mengamalkan hadist:\"Memecahkan tulang mayat adalah seperti memecahkannya dalam keadaan hidup\", bahwa sesungguhnya tidak boleh menyobek perut bangkai yang hamil untuk mengeluarkan janin dari perut tersebut ; karena anak yang dikeluarkan itu biasanya tidak dapat hidup dan tidak nyata bahwa janin tersebut dalam keadaan hidup, sehingga tidak boleh merusak kehormatan dari apa yang telah diyakini untuk perkara yang masih diduga.\rوَأَجَازَ الشَّافِعِيَّةُ شَقَّ بَطْنِ المَيْتَةِ لإِخْرَاجِ وَلَدِهَا, وَشَقَّ بَطْنِ المَيِّتِ لإِخْرَاجِ مَالٍ مِنْهُ. كَمَا أجَازَ الحَنَفِيَّةُ كَالشَّافِعِيَّةِ شَقَّ بَطْنِ المَيِّتِ فِى حَالِ ابْتِلاَعِهِ مَالَ غَيْرِهِ, إذَا لَمْ تَكُنْ تِرْكَةٌ يَدْفَعُ مِنْهَا وَلَمْ يَضْمَنْ عَنْهُ أَحَدٌ.\rMadzhab Syafii memperbolehkan menyobek perut bangkai untuk mengeluarkan anaknya, dan menyobek perut mayat untuk mengeluarkan harta dari perut tersebut. Sebagaimana Madzhab Hanafi membolehkan menyobek perut mayat pada waktu menelan harta orang lain, jika dia tidak punya harta peninggalan yang dapat dipergunakan untuk menggantinya, dan tidak ada seseorang yang menjamin untuk mengganti harta yang ditela tersebut.\rوَأجَازَ المَالِكِيَّةُ ايْضًا شَقَّ بَطْنِ المَيِّتِ إِذَا ابْتَلَعَ قَبْلَ مَوْتِهِ مَالاً لَهُ او لِغَيْرِهِ إذَا كَانَ كَثِيْرًا: وَهُوَ قَدْرُ نِصَابِ الزَّكَاةِ, فِىحَالِ ابْتِلاَعِهِ لِخَوفٍ عَلَيْهِ اولِعُذْرٍ. أَمَّا إِذَا ابْتَلَعَهُ بِقَصْدِ حِرْمَانِ المَوَارِثِ مَثَلاً, فَيُشَقَّ بَطْنُهُ, وَلَو قَلَّ.","part":1,"page":331},{"id":332,"text":"Madzhab Maliki juga memperbolehkan menyobek perut mayat jika sebelum mati dia menelan harta miliknya atau milik orang lain, apabila harta tersebut banyak, yaitu sebanyak nisab zakat, pada waktu menelannya karena menghawatirkan harta tersebut atau karena udzur. Adapun jika dia menelannya dengan maksud untuk mencegah ahli warisnya misalnya, maka perutnya disobek meskipun yang ditelan sedikit.\rوَبِنَاءً عَلَى هَذِهِ الآرَاءِ المُبِيْحَةِ يَجُوْزُ التَّشْرِيْحُ عِنْدَ الضَّرُورَةِ او الحَاجَةِ بِقَصْدِ التَّعْلِيْمِ لأَغْرَاضٍ طَيِّبَةٍ, او لِمَعْرِفَةِ سَبَبِ الوَفَاةِ وَإِثْبَاتِ الجِنَايَةِ عَلَى المُتَّهَمِ بِالقَتْلِ وَيَجُوزُ ذَلِكَ لأَغْرَاضِ جِنَايَةٍ إِذَا تَوَقَّفَ عَلَيْهَا الوُصُولُ إلَى الحَقِّ فِى أمْرِ الجِنَايَةِ, لِلأَدِلَّةِ الدَّالَّةِ عَلَى وُجُوبِ العَدْلِ فِى الأَحْكَامِ, حَتَّى لاَ يُظْلَمُ بَرِيءٌ وَلاَ يَفْلِتُ مِنَ العِقَابِ مُجْرِمٌ أَثِيْمٌ.\rوَكَذَلِكَ يَجُوزُ تَشْرِيْحُ حُثَّتِ الحَيَوَانِ للتَّعْلِيْمِ؛ المَصْلَحَةُ فِى التَّعْلِيْمِ تَتَجَاوَزُ إِحْسَاسَهَا بِالألِمِ.","part":1,"page":332},{"id":333,"text":"Berdasarkan pendapat-pendapat yang membolehkan ini, maka boleh membedah pada waktu darurat atau hajat dengan maksud mengajar untuk tujuan-tujuan kedokteran atau untuk mengetahui sebab kematian, atau menetapkan tindak kriminal terhadap orang yang diduga melakukan pembunuhan dan seperti hal tersebut untuk tujuan-tujuan kriminal jika untuk sampai kepada kebenaran dalam urusan kriminal tersebut terhenti pada pembedahan, untuk bukti-bukti yang menunjukkan terhadap kewajiban berbuat adil dalam menetapkan hukum, sehingga tidak dianiaya orang yang tidak bersalah dan tidak dapat lepas dari siksa orang yang durhaka yang berdosa.\rDemikian pula boleh memotong-motong bangkai binatang untuk belajar, karena kemaslahatan dalam memberi pelajaran membolehkan perbuatan menyakiti binatang.\rSebelum Diqishash Dibius Terlebih Dahulu\rBolehkah orang yang akan menjalani hukuman qishash dibius terlebih dahulu agar tidak mengalami rasa sakit sewaktu diqishash?\rJawaban:\rPenggunaan obat bius bagi orang yang akan menjalani hukuman qishash dengan maksud agar tidak mengalami rasa sakit adalah tidak diperbolehkan, karena akan mengurangi unsur mumatsalah (kesetaraan antara perbuatan dan pelaksanaan hukuman) dan mengurangi rasa sakit sehingga tidak sepadan dengan yang diderita oleh si korban.\rDasar pengambilan\rAl Quran, Surat an Nahl ayat 126\rوَإنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُمْ بِهِ... الآيةَ","part":1,"page":333},{"id":334,"text":"/ dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu, ... dst./\rAl Quran, Surat al Baqarah ayat 194\rفَمَنِ اعْتَدَى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَ عَلَيْكُمْ ... الآيَةَ.\r/ Oleh karena itu barang siapa yang menyerang kamu, maka seranglah dia, seimbang dengan serangannya terhadapmu .../\rKitab al Madzahibul Arba'ah juz 5 halaman 305\rلاَ خِلاَفَ بَيْنَ العُلَمَاءِ أَنَّ هَذِهِ الآيَةَ (الآيَةَ: 194 مِنْ سُورَةِ البَقَرَةِ) أَصْلٌ فِى المُمَاثَلَةِ فِى القِصَاصِ. فَمَنْ قَتَلَ بِشَيْءٍ قُتِلَ بِمِثْلِ مَا قَتَلَ بِهِ, وَهُوَ قَولُ الجُمْهُورِ مَالَمْ يَقْتُلْهُ فِى فِسْقٍ كَاللُّوطِيَّةِ وَإِسْقَاسِ الخَمْرِ فَيُقْتَلُ بِالسَّيْفِ.\r/ Sama sekali tidak ada perbedaan diantara para ulama bahwa ayat ini (ayat 194 surat al Baqarah) adalah asal dari mempersamakan dalam hukuman qishash. Maka barang siapa yang membunuh dengan sesuatu, maka dia harus dibunuh seperti apa yang dia telah membunuh dengannya. Ini adalah pendapat Jumhur, selama dia tidak membunuh orang lain karena kefasikan seperti homoseks dan memberi minuman arak, maka dia dibunuh dengan pedang./\rBagian Tubuh Manusia Sebagai Bahan Obat\rHormon progesteron yang menjadi bahan utama obat penunda haid (menstruasi) agar tercipta kesucian semu, ternyata bahan dasarnya adalah hormon yang diproduksi placenta (ari-ari/duluran bayi). Perusahan farmasi di negeri RRC juga memproduksi obat anti asma dengan bahan tersebut.","part":1,"page":334},{"id":335,"text":"Bagaimana hukum memproduksi obat-obatan dengan mengambil bahan dari bagian tubuh manusia yang telah terlepas dari badan manusia?\rJawaban\rBahan produksi obat dengan mengambil bahan dari bagian tubuh manusia yang terlepas dari bagian tubuhnya, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ahli fiqih:\rHaram hukumnya, karena bagian tubuh manusia tidak boleh dimanfaatkan selaras dengan prinsip penghormatan kepada karomah insaniyyah.\rMenurut para ahli fikih dari madzhab Hambali diperbolehkan, karena bisa diambil manfaat oleh sesama manusia, seperti kulit badan manusia karena kondisi darurat.\rKhusus penggunaan plasenta (almasyimah) setelah terlepas dari rahim dan bayinya, boleh dimanfaatkan karena bukan lagi berstatus sebagai bagian manusia dan tanpa dimanfaatkanpun pasti hancur (mustahlak).\rDasar Pengambilan:\rKitab Al Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab juz 9 halaman 45:\rوَلاَ يَجُوزُ انْ يَقْطَعَ مِنْ مَعْصُومِ غِيْرِهِ بِلاَ خِلاَفٍ وَلَيْسَ الغَيْرُ انْ يَقْطَعَ مِنْ أعْضَاءِهِ شَيْئًا لِيَدْفَعَهُ إِلَى المُضْطَرِّ بِلاَ خِلاَفٍ صَرَحَ بِهِ إِمَامُ الحَرَمَيْنِ وَالأَصْحَابُ.\rDan tidak boleh memotong anggota badan yang dihormati dari orang lain, tanpa ada perbedaan pendapat. Dan tidak boleh orang lain memotong sesuatu dari anggota-anggota badannya untuk diberikan kepada orang yang sangat memerlukannya, tanpa ada perbedaan pendapat. Imam Haromain dan pendukung madzhab Syafi'i menjelaskannya.\rKitab Nihayatul Muhtaj Syaroh Al-Minhaj juz 8 halaman 163:","part":1,"page":335},{"id":336,"text":"(وَيَحْرُمُ قَطْعُهُ) اى البَعْضِ مِنْ نَفْسِهِ (لِغَيْرِهِ) وَلَو مُضْطَرًّا مَالَمْ يَكُنْ ذَلِكَ الغَيْرُ نَبِيًّا فَيَجِيْبُ لَهُ ذَلِكَ.\r(Dan haram memotongnya) yaitu sebagian dari dirinya (untuk orang lain) meskipun orang lain tersebut sangat memerlukannya, selain orang lain tersebut bukan nabi. Jika nabi, wajib memotongnya untuk beliau\rHasyiyah Asy Seikh Sulaiman Al-Jamal Syarah Al-Minhaj juz 2 halaman 190:\rوَعِبَارَةُ البَرْمَوِيِّ: أمَّا المَشِيْمَةُ المُسَمّاَةُ بِالخَلاَصِ فَكَالجُزْءِ لأَنَّهَا تُقْطَعُ مِنَ الوَلَدِ فَهِيَ جُزْءٌ مِنْهُ وَأَمَّاالمَشِيْمَةُ الَّتِى فِيْهَا الوَلَدُ فَلَيْسَتْ جُزْاءً مِنَ الأُمِّ وَلاَ مِنَ الوَلَدِ.\rDan ibarat dari Al-Barmawi adalah sebagai berikut: Adapun ari-ari yang dinamakan tembuni maka adalah seperti badan, karena dia dipotong dari anak yang lahir, maka dia adalah bagian dari anak. Dan ari-ari yang janin berada di dalamnya (tempat janin dalam kandungan). Maka dia bukan bagian dari ibu dan bukan pula bagian dari anak\rMengambil Sperma Dalam Keadaan Koma\rSeorang ibu muda ditinggal suaminya (meninggal) secara mendadak. Karena ibu tersebut dan suaminya sebelumnya telah berjanji ingin mempunyai anak, maka ibu tersebut meminta kepada dokter untuk mengambil sperma suaminya untuk kemudian disemaikan ke dalam rahim isterinya. Setelah penggabungan (infracytoplasmatic) sebanyak tiga kali yang memakan waktu dua tahun. Barulah mendapat hasil dan sekarang ibu tersebut dinyatakan oleh dokter hamil dua bulan.","part":1,"page":336},{"id":337,"text":"Sama dengan kasus diatas, tetapi sperma diambil pada saat suami dalam keadaan koma. Sperma dapat hidup dalam waktu 24 jam setelah seseorang meninggal.\rBagaimana hukumnya pengambilan sperma pada dua keadaan tersebut (dalam keadaan meninggal/koma)\rApakah perjanjian suami tersebut termasuk wasiat?\rBagaimana hukumnya hamil dengan sperma mayat suami?\rJawaban\r1. Hukum pengambilan sperma pada dua keadaan tersebut adalah haram, karena:\rPengambilan tersebut dilakukan kecuali dengan melihat aurat dari orang yang akan diambil spermanya. Sedang melihat aurat orang lain itu hukumnya haram meskipun sejenis, kecuali dalam keadaan darurat seperti mengobati.\rPengambilan sperma itu tidak dapat disamakan dengan mengobati dalam hal manfaat dan maslahatnya bagi penderita.\rSperma yang keluar dari kemaluan laki-laki secara tidak wajar adalah sperma yang tidak dihormati oleh agama, sehingga apabila sperma tersebut dipertemukan dengan sel telur seorang wanita dan menjadi anak, maka anak tersebut adalah anak dari wanita tersebut dan tidak dapat dibangsakan kepada laki-laki pemilik sperma.\rDasar pengambilan\rHadist Nabi Muhammad saw. Riwayat Imam Muslim dari sahabat Abu Said ra.:\rلاَيَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَورَةِ الرَّجُلِ وَلاَ المَرْأةُ إلَى عَورَةِ المَرأَةِ وَلاَ يفْضِى الرَّجُلُ إلَى الرَّجُلِ فِى ثَوبٍ وَاحِدٍ, وَلاَتُفْضِى المَرْأةِ إلَى المَرْأَةِ فِى الثَوبِ الوَاحِدِ. رَوَاهُ مُسْلِمْ","part":1,"page":337},{"id":338,"text":"Seorang laki-laki tidak boleh melihat aurat laki-laki lain, dan tidak pula seorang wanita boleh melihat aurat wanita lain. Tidak boleh seorang laki-laki berada dalam satu pakaian dengan laki-laki lain, dan seorang wanita tidak boleh berada dalam satu pakaian dengan wanita lain. HR. Muslim\rKaidah Fiqh\rوَمَا أُبِيْحَ لِلضَّرُورَاةِ يُقَدَّرُ بِقَدْرِهَا\rPekerjaan haram yang diperbolehkan karena darurat, hanyalah boleh dikerjakan seperlunya saja.\rKitab as Syarqowi juz 1 halaman 289-290\r(قَوْلُهُ مُحْتَرَمٌ) اى حَالَ خُرُوجِهِ بِأَنْ خَرَجَ عَلَى وَجْهٍ مُبَاحٍ لِذَاتِهِ وَإِنْ حَرُمَ لِعَارِضٍ كَحَيْضٍ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ مُتَحَرَمًا حَالَ استِدْخَالِهِ كَأنْ وَطِئَ زَوْجَتَهُ فَسَاحَقَتْ أجْنَبِيَّةً وَخَرَجَ مِنْهَا المَنِيُّ فَتَجِبُ العِدَّةُ عَلَى الأجْنَبِيَّةِ المَذْكُورَةِ وَكَمَا لَو خَرَجَ مِنْهُ بِاخْتِلاَمٍ فَاَدْخَلَتْهُ زَوجَتُهُ عَلَى ظَنِّ مَاءُ أجْنَبِيٍ فَيَحْرُمُ عَلَيْهَا وَتَلْزَمُهَا العِدَّةُ. أمَّا غَيْرُ المُحْتَرَمِ عِنْدَ خُرُوجِهِ بِأَنْ خَرَجَ عَلَى وَجْهِ الزِّنَا فَاسْتَدْخَلَتْهُ فَلاَ عِدَّةَ وَلاَ نَسَبَ يُلْحَقُ بِهِ.","part":1,"page":338},{"id":339,"text":"(Ucapan pengarang: Sperma yang dihormati), artinya dalam keadaan keluarnya, seperti apabila sperma itu keluar secara wajar dengan sendirinya(tanpa diambil dengan alat), meskipun diharamkan karena ada halangan, seperti isteri yang akan digauli dalam keadaan haid; dan meskipun tidak dihormati dalam keadaan memasukkan sperma tersebut kedalam ovum wanita, seperti apabila seorang suami mengumpuli isterinya, kemudian sperma yang telah masuk kedalam rahim isteri tersebut wajib menjalani iddah; dan sebagaimana andaikata keluar sperma sebab mimpi atau kemudian oleh isteri pemilik sperma tersebut dimasukkan kedalam ovumnya dengan sangkaan bahwa sperma itu adalah milik laki-laki lain, maka sperma tersebut menjadi haram bagi sang isteri ini dan dia wajib menjalani iddah. Adapun sperma yang tidak dihormati pada waktu keluarnya adalah apabila sperma itu keluar melalui perzinaan misalnya, kemudian dimasukkan ke dalam ovum wanita dan wanita tersebut hamil, maka dia boleh dinikahi oleh laki-laki lain, karena tidak ada iddah baginya dan anak yang lahir tidak dapat dinisbatkan kepada laki-laki pemilik sperma tersebut.","part":1,"page":339},{"id":340,"text":"2. Perjanjian suami tersebut tidak termasuk wasiat, sebab wasiat itu adalah pemberian seseorang kepada orang lain yang pelaksanaannya dilakukan setelah orang yang wasiat meninggal dunia. Wasiat ini dalam semua kitab-kitab fiqh adalah mengenai harta warisan/harta peninggalan/harta pusaka dari orang yang memberi wasiat kepada orang lain, dan bukan semisal perjanjian antara suami isteri seperti tersebut dalam pertanyaan.\rDasar pengambilan\rKitab al Bajuri juz 2 halaman 82\rوَكَانَتْ وَاجِبَةً فِى صَدْرِ الإسْلاَمِ لِلْوَالِدَيْنِ وَالأقْرَبِيْنَ لِقَولِهِ تَعَالَى: كُتِبَ عَلَيْكُمْ إذَا حَضَرَ أحَدَكُمُ المَوْتُ إنْ تَرَكَ خَيْرًا الوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالأقْرَبِيْنَ بِالمَعْرُوفِ حَقًّا عَلَى المُتَّقِيْنَ. ثُمَّ نُسِخَ وُجُوبُهَا بِآيَةش المَوَارِثِ. وَلِذَلِكَ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لاَ وَصِيَّةَ لِوَارِثٍ إنَّ اللهَ أعْطَى كُلَّ ذِى حَقٍّ حَقَّهُ. وَبَقِيَ اسْتِحْبَابُهَا فَهِيَ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ إِجْمَاعًا.","part":1,"page":340},{"id":341,"text":"Wasiat untuk kedua orang tua dan keluarga dekat pada zaman permulaan Islam adalah wajib, berdasarkan firman Allah: Diwajibkan atas kamu sekalian apabila maut telah datang kepada salah seorang dari kamu sekalian, bila ia meninggalkan harta banyak, berwasiat bagi kedua orang tuanya dan keluarga dekat dengan baik. Wasiat itu adalah wajib bagi orang-orang yang bertakwa. Kemudian kewajiban wasiat itu dihapus dengan ayat warisan. Oleh karena Nabi saw bersabda: Wasiat untuk ahli waris itu tidak sah. Sungguh Allah telah memberi setiap orang yang berhak mendapat warisan akan haknya. Sedang kesunahan wasiat ini tetap dan wasiat itu hukumnya adalah sunnah muakkad menurut ijmak.\r3. Hamil dengan sperma mayat itu tidak dihormati oleh agama Islam. Artinya dia boleh dinikahi oleh orang lain karena tidak ada iddah yang berlaku baginya, sebab kematian suami, maka hubungan perkawinan telah terputus karena sebagaimana kita ketahui bahwa perceraian itu ada dua, yaitu perceraian dalam keadaan suami isteri masih hidup dengan jalan talak dan khulu' dan perceraian sebab kematian.\rBacaan Surah Al Fatihah Ketika Masbuk\rSeseorang shalat berjamaah baik masbuk atau tidak masbuk dalam shalat bacaan sir, dia membaca doa iftitah (sunnah) kemudian membaca surat Fatihah. Ketika sampai pada bacaan iyya ka na'budu wa iyya ka nasta'in, imam sudah ruku', maka ada dua pilihan untuk makmum:\rBacaan fatihah dapat diselesaikan tetapi tidak ruku' bersama imam","part":1,"page":341},{"id":342,"text":"Makmum dapat ruku' bersama imam, tetapi bacaan Fatihah tidak selesai (padahal hukumnya wajib).\rBagaimana seharusnya?\rJawaban:\rDalam hal ini ada tiga cara:\rMakmum harus menyelesaikan bacaan fatihah.\rMakmum mengikuti imam rukuk dan gugur kewajiban membaca Fatihah darinya.\rJika makmum tidak membaca doa iftitah dan taawudz, maka dia ikut ruku' imam dan gugur sisa bacaan Fatihah darinya.\rDasar pengambilan:\rKitab al Majmu' Syarah al Muhadzdzab juz 4 halaman 213:\rفَلَوْ رَكَعَ الإِمَامُ وَهُوَ فِى أَثْنَاءِ الفَاتِحَةِ فَثَلاَثَةُ أوجُهٍ: (اَحَدُهَا) يُتِمُّ الفَاتِحَةَ. (والثَّانِ) يَرْكَعُ وَيَسْقُطُ عَنْهُ قِرَاءَتُهَا وَدَلِيْلُهُمَا مَا ذَكَرَهُ المُصَنِّفُ. قَالَ البَنْدِيْنِيجِى هَذَا الثَّانِى هُوَ نَصُّهُ فِى الإِمْلاَءِ. قَالَ وَهُوَ المَذْهَبُ. وَالثَّالِثُ وَهُو الأصَحُّ وهُوَ قَولُ الشَّيْخِ أبِى زَيْدٍ المَرُوزِى وَصَحَّحَهُ القَفَّالُ وَالمُعْتَبِرُونَ أنَّهُ إِنْ لَمْ يَقُلْ شَيْئًا مِنْ دُعَاءِ الإِفْتِتَاحِ وَالتَّعَوُّذِ رَكَعَ وَسَقَطَ عَنْهُ بَقِيَّةُ الفَاتِحَةِ, وَإِنْ قَالَ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ لَزِمَهُ بِقَدْرِهِ لِتَقْصِيْرِهِ بِالتَّشَاعُلِ.\rAndaikata imam sudah rukuk sedangkan makmum di tengah-tengah membaca fatihah, maka yang harus dilakukan oleh makmum adalah salah satu dari tiga cara:\rDia menyempurnakan bacaan fatihah\rDia ikut rukuk dan gugur darinya kewajiban membaca fatihah.","part":1,"page":342},{"id":343,"text":"Dalil dari cara pertama dan kedua ini adalah apa yang telah disebutkan oleh pengarang. Al Badiniji berkata: Cara yang kedua ini adalah ketetapan Imam Syafii dalam kitab Imla'. Beliau berkata: cara yang kedua inilah pendapat madzhab Syafii.\rPendapat yang paling kuat dalilnya yaitu pendapat dari syeikh Abu Zaid Al Maruzi dan dibenarkan oleh Imam Qaffal serta para ulama ahli i'tibar bahwa jika makmum tidak membaca sesuatu dari doa iftitah dan taawudz, maka makmum ikut rukuk imam dan gugur dari dia kewajiban membaca sisa dari surat Fatihah. Jika dia membaca sedikit dari hal tersebut maka dia harus membaca Fatihah dengan kemampuan sebab keteledorannya dengan melakukan hal yang menyibukkan membaca fatihah.\rApa Arti Raka'at\rRakaat artinya jamak dari rukuk (kalau tidak salah). Bagaimana pelaksanaannya dalam shalat berjamaah?\rJawaban\rRakaat (رَكَعَاتٌ ) itu bukan bentuk jamak dari rukuk yang berarti menunjuk; akan tetapi bentuk jamak dari ( رَكْعَةٌ ) yang berarti rakaat shalat, yaitu pekerjaan-pekerjaan shalat mulai bacaan fatihah sampai dengan sujud yang kedua.\rTarawih Kilat\rKetika berjamaah shalat tarawih, tempo bacaan dan gerakan beberapa imam tarawih terlalu cepat bila dibandingkan dengan tempo bacaan dan gerakan shalat witir dan juga shalat rawatib; sehingga saya dan beberapa makmum lainnya sering ketinggalan dalam gerakan shalat dan bacaannyapun terburu-buru.\rBagaimana hal ini bila ditinjau dari segi tumakninah dalam salat dan aturan membaca?\rJawaban","part":1,"page":343},{"id":344,"text":"Jika kecepatan gerakan salat imam tersebut masih dapat dikatagorikan tumakninah, maka salatnya sah; dan jika tidak maka salatnya tidak sah.\rDasar pengambilan\rKitab Hasyiyah Bajuri juz 1 halaman152:\r(قَولُهُ وَهِيَ سَيَكُونُ بَعْدَ حَرَكَةٍ) اى سُكُونُ الأعْضَاءِ بَعْدَ حَرَكَةِ الهَوِيِّ لِلرُّكُوعِ وَقَبْلَ حَرَكَةِ الرَّفْعِ مِنْهُ. وَلِذَلِكَ قِيْلَ هِيَ سُكُونٌ بَعْدَ حَرَكَتَيْنِ ... إلَى أنْ قَالَ: وَعَلَى كِلاَ القَولَيْنِ لاَ تَصِحُّ الصَّلاَةُ بِدُونِهَا.\r(Ucapan pengarang: Tumakninah itu adalah tenang setelah gerakan) artinya ketenangan anggota-anggota badan setelah gerakan turun untuk rukuk dan sebelum gerakan bangkit dari rukuk. Oleh karena itu dikatakan: Tumakninah itu adalah tenang (diam) diantara dua gerakan ... sampai ucapan pengarang: Berdasar dua pendapat ini, maka tidak sah salat tanpa tumakninah.\rHukum Bersalaman Setelah Shalat\rSelesai salat, baik berjamaah atau munfarid, kita disunnahkan membaca istighfar 3 kali dan seterusnya (wirid singkat atau panjang). Tetapi banyak juga di beberapa tempat, sehabis salam yang kedua, jamaah langsung mengajak berjamaah tangan orang-orang yang berada di sebelah kiri, kanan, depan belakan, kemudian baru wiridan.\rJawaban\rBerjabatan tangan setelah salat sebelum wiridan, adakalanya merupakan bid'ah yang diperbolehkan dan adakalanya disunahkan.\rDasar pengambilan\rKitab Bughyatul Musytarsyidin halaman 50:","part":1,"page":344},{"id":345,"text":"(فَائِدَةٌ) المُصَافَحَةُ المُعْتَدَةُ بَعْدَ صَلاَتَيِ الصُبْحِ وَالعَصْرِ لاَ أصْلَ لَهَا, وَذَكَرَ ابْنُ عَبْدِ السَّلاَمِ أنَّهَا مِنَ البِدَعِ المُبَاحَةِ او اسْتَحْسَنَهُ النَّوَاوِيُّ. وَيَنْبَغِى التَّفْصِيْلُ بَيْنَ مَنْ كَانَ مَعَهُ قَبْلَ الصَّلاَةِ فَمُبَاحَةٌ وَمَنْ لَمْ يَكُنْ مَعَهُ فَمُسْتَحَبَّةٌ. إذِ هِيَ سُنَّةٌ عِنْدَ اللِّقَاءِ إِجْمَاعًا.\r(Faedah). Berjabatan tangan yang biasa dilakukan setelah salat subuh dan salat ashar adalah sama sekali tidak ada dasarnya. Ibn Abdis Salam menyebutkan bahwa jabatan tangan tersebut adalah termasuk bid'ah yang diperbolehkan atau yang dianggap bagus oleh Imam Nawawi. Sepatutnya diperinci diantara orang yang beserta dia sebelum salat, maka jabatan tangan diantara keduanya sesudah salat tersebut adalah mubah; dan orang yang tidak beserta dia sebelum salat,maka hukumnya sunnah. Karena jabatan tangan itu adalah disunahkan secara ijma' (kesepakatan para ulama) pada waktu bertemu.\rNon Muslim Membangun Masjid\rDalam peristiwa pembakaran lebih 6 masjid di Kupang, Ketua KWI Mgr Josef Sutiawan Mse dan Mgr J Hadi Wirkarta dalam himbauannya kepada umat Katolik se-Indonesia, agar umat Katolik di Kupang ikut serta bersama-sama umat agama lainnya dalam usaha memperbaiki kembali tempat-tempat ibadah umat Islam yang dirusak.\rSampai batas manakah pengertian dari toleransi antar agama dalam pandangan Islam?\rApakah diperbolehkan ikut campur agama selain Islam, seperti Kristen, Budha, Hindu dan lainnya untuk memperbaiki tempat ibadah umat Islam?","part":1,"page":345},{"id":346,"text":"Bagaimana hukumnya salat di masjid yang dibangun sebagian hartanya dari non muslim?\rJawaban\rSampai batas tidak memasuki urusan dari masing-masing pemeluk agama dan tidak mencampur urusan ibadah mereka.\rBoleh, asalkan hal itu dilakukan secara sukarela oleh mereka, dengan syarat tidak menimbulkan bahaya yang bersifat agama atau politik bagi umat Islam.\rDasar pengambilan\rKitab Yas'alunaka Fi ad Dini Wa al Hayah juz IV halaman 11:\rالسُّؤَال: مَا رَأْيُ الدِّيْنِ فِى بِنَاءِ المَسَاجِدِ مِنْ تَبَرُّعَاتِ غَيْرِ المُسْلِميْنَ ؟\rالجَوابُ: جَاءَ فِى بَعْضِ كُتُبِ التَّفْسِيْرِ أنَّهُ إِذَا بَنَى بَعْضُ النَّاسِ مِنْ غَيْرِ المُسْلِمِيْنَ مَسْجِدًا, او بِنَاءِ مَسْجِدٍ, فَلِلْمُسْلِمِيْنَ أنْ يَقْبَلُوا هَذَا المَسْجِدَ, او هَذَا المَالَ, بِشَرْطِ ألاَّ يَتَرَتَّبَ عَلَى ذَلِكَ ضَرَرٌ ديْنِيٌّ او سِيَاسِيٌ.\rوَقَدْ ذَكَرَتْ لَجْنَةُ الفَتْوَى بِالأَزْهَرِ أنَّ مَذْهَبَ الحَنَابِلَةِ وَالشَّافِعِيَّةِ وَالحَنَفِيَّةِ لاَيَرَى مَانِعًا مِنْ صَلاَةِ الجُمُعَةِ وَغَيْرِهَا مِنْ سَآئِرِ الصَّلَوَاتِ فِىالمَسْجِدِ الَّذِى يَبْنِيْهِ مَسِحِيٌّ.\rوَمِنْ ذَلِكَ نَفْهَمُ أنَّهُ لَيْسَ هُنَاكَ مَا يَمْنَعُ مِنْ قَبُولِ تَبَرُّعَاتِ مِنْ غَيْرِ المُسْلِمِيْنَ لِلإِسْهَامِ فِى بِنَاءِ المَسْجِدِ, بِشَرْطِ ألاَّ يَتَرَتَّبُ عَلَى ذَلِكَ تَدْخُلُ مَا فِى شُئُونِ المُسْلِمِينَ او عِبَادَتِهِمْ, وَيَتَرَتَّبُ عَلَى ذَلِكَ ضَرَرُ المُسْلِمِيْنَ.\rSoal: Apa pandangan agama mengenai bangunan masjid dari bantuan sukarela dari orang-orang non muslim?","part":1,"page":346},{"id":347,"text":"Jawab: Telah datang dalam sebagian kitab-kitab tafsir bahwa sesungguhnya apabila sebagian manusia bukan muslim membangun sebuah masjid bagi orang-orang muslim, atau menyerahkan harta untuk membangun masjid, maka hendaklah orang-orang muslim menerima masjid ini atau harta ini, dengan syarat hal tersebut tidak menimbulkan bahaya yang bersifat agama atau politik.\rLajnah fatwa dari al Azhar telah menyebutkan bahwa madzhab Hanbali, Syafii dan Hanafi tidak melihat sesuatu yang mencegah untuk salat Jumuah atau salat-salat lainnya di masjid yang dibangun oleh orang Nasrani.\rDari hal tersebut kita dapat memahami bahwa dalam agama Islam tidak ada hal yang melarang untuk menerima bantuan sukarela dari orang-orang non muslim untuk memberi bagian dalam pembangunan masjid, dengan syarat hal tersebut tidak menimbulkan campur tangan dalam kepentingan-kepentingan orang-orang muslim atau campur tangan dalam peribadatan mereka, atau menimbulkan bahaya bagi orang-orang muslim.\rHaji Dari Arisan Haji\rBagaimana perspektif hukum Islam terhadap arisan haji?\rBagaimana status hukum melaksanakan haji bagi anggota arisan haji?\rApakah wajib melaksanakan haji atau tidak?\rApakah sah haji jika yang digunakan itu diperoleh dari uang arisan haji?\rJawaban","part":1,"page":347},{"id":348,"text":"Pandangan hukum Islam terhadap arisan haji adalah sebagai muamalah yang diperbolehkan, meskipun ONHnya berubah-ubah, sehingga setoran yang harus diberikan oleh peserta arisan juga harus berubah-ubah. Sebab arisan itu menggunakan qiradl (hutang piutang), sehingga perbedaan jumlah setoran tidak mempengaruhi keabsahan aqad tersebut.\rJika yang mendapat arisan haji itu orang yang masih harus melunasi setoran berikutnya, maka dia tidak wajib melakukan ibadah haji karena sebagian dari uang yang diterima adalah uang pinjaman. Kecuali apabila dia memiliki kelebihan yang cukup untuk membayat hutangnya, atau dia menerima giliran terakhir, sehingga dia tidak lagi menanggung hutang, maka dia wajib haji.\rAdapun ibadah haji yang dilakukan oleh orang yang mendapat arisan haji baik yang menerima giliran pertama atau terakhir hukumnya tetap sah.\rDasar pengambilan\rKitab Qolyubi juz 2 halaman 258:\r(فَرْعٌ) الجُمْعَةُ المَشْهُورَةِ بَيْنَ النِّسَاءِ بِأَنْ تَأْخُذَ امْرَأَةٌ مِنْ كُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْ جَمَاعَةٍ مِنْهُنَّ قَدْرًا مُعَيَّنًا فِى كُلِّ جُمْعَةٍ أَوْ شَهْرٍ فَتَدْفَعَهُ لِوَاحِدَةٍ إلَى آخِرِهِنَّ جَائِرَةٌ كَمَا قَالَهُ الوَلِيُّ العَرَاقِيُّ.","part":1,"page":348},{"id":349,"text":"Kerukunan yang sudah terkenal di antara para wanita, dengan jalan salah seorang wanita mengambil dari para jamaah mereka sejumlah uang tertentu pada setiap hari Jumat atau setiap bulan, kemudian wanita tersebut memberikan jumlah yang terkumpul kepada seseorang sesudah wanita yang lain sampai yang terakhir dari mereka, adalah boleh, sebagaimana pendapat al Wali al Iraqi.\rAl Mahali juz 2 halaman 287:\rالإِقْرَاضُ هُوَ تَمْلِيْكُ الشَّيْءٍ عَلَى أَن يُرَدَّ بَدَلَهُ.\rAkad hutang piutang itu adalah pemberian milik terhadap sesuatu dengan dasar akan dikembalikan penggantinya.\rKitab Nihayatul Muhtaj juz 3 halaman 233:\rفَيَجْزِيْ حَجُّ فَقِيْرٍ وَكُلُّ عَاجِزٍ حَيْثُ اجْتُمَعَ فِيْهِ الحُرِّيَّةُ وَالتَّكْلِيْفِ كَمَا لَو تَكَلَّفَ المَرِيْضُ حُضُورَ الجُمُعَةُ.\rMencukupi haji dari orang fakir dan setiap orang yang tidak mampu ketika berkumpul padanya kemerdekaan dan sifat mukallaf, sebagaimana andaikata orang yang sakit memaksakan diri menghadiri Jumat.\rAntara Ibu Rumah Tangga dan Karir\rDi lingkungan perusahaan kami, pimpinan melarang saya berjilbab, tentu dengan niat bukan untuk mempertontonkan aurat. Saya berusaha melamar ditempat lain tetapi tidak ada panggilan. Jika harus berhenti bekerja saya bingung karena saya masih belum cukup membalas budi orang tua (saya anak angkat) dan saya ingin memberi pendidikan yang terbaik pada putra-putri nanti. Yang ingin saya tanyakan:\rBagaimana hukum perbuatan saya itu menurut Islam dan langkah apa yang terbaik untuk saya?","part":1,"page":349},{"id":350,"text":"Lebih baik mana menjadi wanita karir atau ibu rumah tangga?\rAndai ada suami yang menyuruh isterinya bekerja keras karena dua alasan diatas, dengan posisi wanita seperti saya, apakah wajib dipatuhi?\rmohon disertai dasar dan penjelasan. Terima kasih.\rJawaban\rHukum membuka tutup kepala bagi wanita dewasa untuk kepentingan bekerja, menurut pendapat yang muktamad (bisa dijadikan pegangan) adalah tetap haram. Menurut pendapat lain boleh bagi wanita yang keluar untuk jual beli dengan terbuka muka dan kedua telapak tangannya. Menurut madzhab Hanafi, demikian itu boleh, bahkan dengan terbuka kakinya, apabila tidak ada fitnah.\rLangkah yang terbaik untuk anda, jika ingin menjadi wanita yang shalihah yang berpegang teguh (disiplin) pada ajaran Islam, anda harus berusaha terus mencari tempat bekerja yang mengizinkan pegawainya berjilbab sambil memohon kepada Allah. Insya Allah akan berhasil.\rIbu rumah tangga yang berhasil mendidik putra-putrinya menjadi orang yang berguna bagi agama, nusa dan bangsa, adalah jauh lebih baik daripada wanita karir yang manapun juga. Sebab menjadikan anak yang berhasil dalam mencapai tujuan hidupnya adalah jauh lebih mahal daripada gaji seorang presiden sekalipun.\rTidak wajib dipatuhi, sebab patuh kepada seseorang itu diperbolehkan oleh agama dalam hal-hal yang tidak menyangkut kemaksiatan.\rDasar pengambilan:\rKitab Al Bajuri juz 2 Bab Nikah:","part":1,"page":350},{"id":351,"text":"(قَولُهُ إلَى أجْنَبِيَّةٍ) اى إلَى شَيءٍ مِنْ امْرَأةٍ أجْنَبِيَّةٍ اى غَيْرِ مَحْرَمٍ وَلَوْ أمَةً. شَمَلَ ذَلِكَ وَجْهَهَا وَكَفَّيْهَا فَيَحْرُمُ النَّظْرُ إلَيْهِمَا وَلَو مِنْ غَيْرِ شَهْوَةٍ او خُوفِ فِتْنَةٍ عَلَى الصَّحِيْحِ كَمَا فِى المِنْهَجِ وَغَيْرِهِ إلَى أَنْ قَالَ: وَقِيْلَ لاَ يَحْرُمُ لِقَولِهِ تَعَالَى: ولاَ يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ إلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَهُوَ مُفَسِّرٌ بِالوَجْهِ وَالكَفَّيْنِ. وَالمُعْتَمَدُ الأوَّلُ, وَلاَ بَأسَ بِتَقْلِيْدِ الثَّانِى لاَ سِيَمًا فِى هَذَا الزَّمَانِ الَّذِى كَثُرَ فِيْه خُرُوجُ النِّسَآءِ فِى الطُّرُقِ وَالأسْوَاقِ وَشَمَلَ ذَلِكَ ايْضًا شَعْرَهَا وَظُفْرَهَا.\r(Ucapan Mushonnif: kepada wanita lain ), artinya kepada sesuatu dari wanita lain, yaitu yang bukan muhrim,meskipun budak belian. Hal itu meliputi mukanya dan kedua telapak tangannya, sehingga haram memandang muka dan kedua telapak tangan,meskipun tanpa sahwat atau rasa takut terhadap fitnah,menurut pendapat yang benar sebagaimana tersebut dalam kitab Al-Minhaj dan lainnya ... sampai pada ucapan Mushanif: Dan dikatakan: tidak haram berdasar firman Allah ta'ala: \"dan jnganlah para wanita menampakan tempat perhiasan mereka kecuali apa yang nampak darinya. Apa yang nampak ini ditafsirkan dengan muka dan kedua telapak tangan. Pendapat yang dapat dipegangi adalah yang pertama.dan tidak berdosa mengikuti pendapat yang kedua,lebih lebih pada zaman ini yang banyak para wanita keluar ke jalan-jalan dan pasar. Dan itu juga termasuk rambut kukunya\"\rHadist riwayat Imam Bukhori dari Ibn Umar","part":1,"page":351},{"id":352,"text":"قَالَ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ حَقٌّ مَالَمْ يُؤْمَرْ بِالمَعْصِيَةِ فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سُمِعَ وَلاَ طَاعَةَ.\rNabi saw bersabda: \"Mendengarkan dan ketaatan (dari seorang isteri kepada suami, atau dari seorang murid kepada guru, atau dari rakyat kepada pemerintah... dst.) adalah wajib, selama tidak diperintah dengan kemaksiatan. Jika diperintah dengan kemaksiatan, maka tidak wajib mendengarkan dan mentaati.\rBelajar Kitab Tanpa Bimbingan\rAda dua orang sedang salat berjamaah, yang seorang menjadi imam sedang yang lain menjadi makmum. Saat melaksanakan salat, imamnya batal, maka apakah yang harus dilakukan imam tersebut? Apakah langsung meninggalkan tempat salat? Bagaimana dengan makmumnya?\rOrang yang pandai ilmu nahwu dan sharaf serta ilmu alat lainnya, kemudian mempelajari kitab-kitab kuning dengan muthalaah sendiri tanpa seorang guru, apakah termasuk dalam Al Ilmu bila Syaikhin Fasyaikhuhu Syaithonun?\rRumah kos-kosan apakah ada zakatnya? Bila ada, bagaimana cara menghitung nisabnya? Apakah sama dengan harta tijarah?\rJawaban:\rAda dua pilihan:\rImam langsung meninggalkan tempat salat dan segera pergi berwudlu.\rMakmum disunahkan menunggu imam untuk mengimami lagi, jika tempat wudlunya dekat. Jika tempat wudlunya jauh, sekira waktu untuk menunggu cukup untuk melakukan salat satu rakaat, maka salah seorang dari makmum, yang paling alim, boleh maju untuk mengganti imam, atau makmum memisahkan diri (mufaraqah) dari imam dan salat sendiri-sendiri.","part":1,"page":352},{"id":353,"text":"Orang yang mempelajari kitab-kitab kuning dengan muthalaah sendiri tanpa guru, meskipun dia pandai ilmu sharaf dan nahwu serta ilmu alat yang lain, bisa jadi dia termasuk Al Ilmu bila Syaikhin Fasyaikhuhu Syaithonun Karena seringkali kita menjumpai kalimat-kalimat yang pengertiannya tidak sama dengan arti yang ada dalam kamus, sehingga tanpa petunjuk dari guru, kita akan keliru dalam mengartikannya. Kita juga seringkali menjumpai ungkapan-ungkapan yang tidak dapat kita terjemahkan hanya dengan mengandalkan ilmu nahwu dan sharaf serta ilmu alam seperti ungkapan yang dikemukakan oleh Abu Bakar as Shiddiq:\rمَارَيْتُ شَيْئًا إلاَّ وَرَأَيْتُ اللهَ فِيْهِ\rUmar Ibn Khattab:\rمَارَيْتُ شَيْئًا إلاَّ وَرَأَيْتُ اللهَ قَبْلَهُ\rUsman Ibn Affan:\rمَارَيْتُ شَيْئًا إلاَّ وَرَأَيْتُ اللهَ بَعْدَهُ\rAli Ibn Abi Thalib:\rمَارَيْتُ شَيْئًا إلاَّ وَرَأَيْتُ اللهَ مَعَهُ\rAda beberapa alasan yang lain yang terlalu banyak untuk disebutkan disini.\rRumah yang disediakan untuk tempat indekos adalah rumah yang kamar-kamarnya disediakan untuk disewa oleh orang-orang yang memerlukannya. Menyewakan kamar sama dengan menjual manfaat dari kamar tersebut. Dengan demikian orang yang membangun rumah untuk tempat indekos tersebut adalah sama dengan orang yang sengaja menjual manfaat dari rumah tersebut. Dengan demikian jika hasil bersih dari sewa rumah tersebut dalam satu tahun sudah ada satu nisah, seperti nisab tijarah, maka hasil tersebut wajib dizakati.\rDasar pengambilan:\rKitab Majmu' Syarah al Muhadzdzab juz 4 halaman 262:","part":1,"page":353},{"id":354,"text":"(فَرْعٌ) قَالَ أَصْحَابُنَا إِذَا ذَكَرَ الإِمَامُ فِى أَثْنَاءِ صَلاَتِهِ أَنَّهُ جُنُبٌ أوْ مُحْدَثٌ أو المَرْأةُ المُصَلِّيَةُ بِنِسْوَةٍ أنَّهَا مُنْقَطِعَةُ حَيْضٍ لَمء تَغْتَسِلْ لَزِمَهَا الخُرُوجُ مِنْهَا فَإِنْ كَانَ مَوْضِعُ طَهَارَتِهِ قَرِيْبًا أشَارَ إِلَيْهِمْ أَنْ يَمْكُثُوا وَمَضَى وَتَطَهَّرَ وَعَادَ وَأحْرَمَ بِالصَّلاَةِ وَتَابِعُهُ فِيْمَا بَقِيَ مِنْ صَلاَتِهِمْ وَلاَ يَسْتَأْنِفُونَهَا. وَإِنْ كَانَ بَعِيْدًا أَتَمُّوهَا وَلاَ يَنْتَظِرُوهُ. قَالَ القَاضِى أبُو الطَّيِّبِ: قَالَ الشَّافِعِيُّ وَهُمْ بِالخِيَارِإنْ شَاؤُوا أَتَمُّوهَا فُرَادَى وَإنْ شَآؤُوا قَدَّمُوا احَدَهُمْ يُتِمُّوهَا بِهِمْ. قَالَ الشَّافِعِيٌّ وَاسْتُحِبَّ أَنْ يُتِمُّوها فُرَادَى. قَالَ القَاضِى وَإِنَّمَا قَالَ ذَلِكَ لِلْخُرُوجِ مِنَ الخِلاَفِ فِى صِحَّةِ الإِستخْلاَفِ. وَإِذَا أَشَارَ إِلَيْهِمْ وَالمَوْضِعُ قَرِيْبٌ أُسْتُحِبَّ انْتِظَارُهُ كَمَا ذَكَرْنضا. وَدَلِيْلُنَا الحَدِيْثُ السَّابِقُ عَنْ أبِى بَكْرَةَ فَإِنْ لَمْ يَنْتَظِرُوهُ جَازَ ثُمَّ لَهُمْ الإِنْفِرَادُ وَالإِسْتِخْلاَفُ إِذَا جَوَّزْنَاهُ. وَقَالَ الشَّيْخُ أَبُو حَامِدْ فِى تَعْلِيْقَاتِهِ إِنَّمَا يُسْتَحَبُّ لَهُمْ انتِظَارُهُ إِذَا لَمْ يَكُنْ مَضَى مِنْ صَلاَتِهِ رَكْعَةٌ.","part":1,"page":354},{"id":355,"text":"(cabang). Para pendukung madzhab kami (madzhab Syafi'i) berpendapat: apabila di tengah-tengah salat, imam ingat bahwa dia adalah orang yang junub atau orang yang berhadats atau seseorang perempuan yang salat dengan orang-orang perempuan ingat bahwa sesungguhnya dia adalah wanita yang terputus dari haid yang belum mandi, maka wajib baginya keluar dari salat. Jika tempat bersuci itu dekat maka imam memberi isyarat kepada para jamaah agar mereka tetap diam dan imam pergi bersuci kemudian kembali dan bertakbiratul ikhram untuk salat. Para makmum mengikuti imam dalam sisa salat mereka. Mereka tidak memulai salat dari awal. Jika tempat bersuci itu jauh maka para makmum menyempurnakan salat dan tidak menunggu imam. Al Qodli Abu Thoyyib berkata: Imam Syafi'i berpendapat: Mereka (para makmum) boleh memilih. Jika mereka menginginkan, mereka boleh menyempurnakan salat secara sendiri-sendiri dan jika mereka menginginkan mereka boleh menyuruh maju salah seorang diantara mereka menjadi imam yang menyempurnakan salat dengan mereka, Imam Syafi'i berpendapat: Disunnahkan agar mereka menyempurnakan salat secara sendiri-sendiri. Al Qodli berkata: Sesungguhnya Imam Syafii berpendapat demikian hanyalah untuk keluar dari perbedaan pendapat mengenai keabsahan meminta ganti imam. Apabila imam memberi isyarat kepada mereka, sedangkan tempat bersuci itu dekat, maka disunnahkan untuk menunggu imam, sebagaimana telah kami sebutkan. Dalil kami adalah hadist yang telah lalu diriwayatkan oleh Abi Bakrah. Jika mereka tidak","part":1,"page":355},{"id":356,"text":"menunggu imam maka diperbolehkan; kemudian bagi mereka salat sendiri-sendiri dan boleh meminta ganti imam apabila kita membolehkannya. Syeikh Abu Hamid dalam ta'liq beliau, berpendapat: Hanya saja disunnahkan bagi mereka menunggu imam apabila waktu menunggu itu tidak melewati salat satu rakaat.\rImam Shalat Yang Batal\rDidalam rubrik bahtsul masail Aula no 4 tahun XXI April 99 pada jawaban mengenai imam yang batal salatnya, disitu tertulis:\r... أشَارَ إِلَيْهِمْ أَنْ يَمْكُثُوا وَمَضَى وَتَطَهَّرَ وَعَادَ وَأحْرَمَ بِالصَّلاَةِ وَتَابِعُهُ فِيْمَا بَقِيَ مِنْ صَلاَتِهِمْ وَلاَ يَسْتَأْنِفُونَهَا...\rBagaimana salat dari imam itu sendiri, apakah hanya meneruskan salat yang sudah dilakukan seperti makmum apabila makmumnya telah menunggu imamnya wudlu, atau imamnya salat dari awal? Kalau salatnya imam hanya meneruskan, berarti imam hanya batal wudlunya tetapi tidak batal salatnya?\rBagaimana salat dari makmum apabila batalnya imam tadi saat rokaat pertama dan masuk rakaat kedua, apakah makmum salat mengikuti gerakan imam atau malah imamnya yang menyesuaikan jumlah rakaat ketika imam tadi meninggalkan makmum, karena batal. Hal ini mengingat dalil tersebut tidak menunjukkan bagaimana tata cara salatnya imam yang meninggalkan makmum karena batal sedang makmum menunggu imam berwudlu? Mohon penjelasan!\rJawaban","part":1,"page":356},{"id":357,"text":"Imam melakukan salat dengan memulainya dari rakaat pertama dan tidak meneruskan salat yang sudah dilakukan; sebab pada waktu imam batal wudlunya, maka batal pula salatnya, karena salah satu dari syarat syah salat adalah suci dari hadast.\rBagi makmum, jika imamnya batal setelah melakukan rakaat pertama dan makmum menunggu imam berwudlu pada waktu sedang berdiri (rukun yang panjang), maka pada waktu umam dating dan takbiratul ihram, makmum berniat lagi (dalam hati) untuk bermakmum dengan imam dan selanjutnya mengikuti gerakan imam. Artinya pada waktu imam berdiri dari rakaat pertama, makmum tidak usah melakukan tahiyat (tasyahud) awal, tetapi mengikuti imam berdiri. Nanti pada waktu imam berdiri dari rakaat ketiga, makmum duduk untuk membaca tasyahud akhir karena salat makmum sudah empat rakaat.\rPada waktu makmum duduk untuk membaca tasyahhud akhir, makmum boleh niat mufaraqah dari imam, maka setelah selesai makmum membaca tasyahud akhir, makmum terus membaca salam. Jika makmum tidak berniat untuk mufaraqah dari imam, maka setelah selesai membaca tasyahud akhir makmum harus menunggu imam sampai imam duduk untuk membaca tasyahud akhir, dan setelah imam membaca salam yang kedua barulah makmum mengikuti imam untuk membaca salam.","part":1,"page":357},{"id":358,"text":"Perlu diperhatikan bahwa pada waktu makmum menunggu imam sambil berdiri pada rakaat kedua, makmum tidak boleh diam, tetapi setelah selesai membaca fatihah (pelan) dia harus membaca surat-surat al Quran dan boleh mengulang-ulangi surat pendek yang diulang-ulangi surat pendek yang dihafal. Pada waktu menunggu imam dalam posisi duduk untuk membaca tasyahud akhir, maka setelah selesai membaca tasyahud akhir, makmum harus membaca doa-doa dari ayat al Quran yang dihafal (boleh mengulang-ulang satu doa) dan tidak boleh diam.\rMemenangkan Bumbung Kosong\rBahwa kalau tidak salah, sering saya baca pernyataan dari para petinggi NU berkaitan dengan imamah dalam Islam (sunni) yang dinyatakan bahwa menegakkan imamah itu hukumnya wajib. Bahkan keberadaan pimpinan yang dlolimpun lebih baik daripada tidak ada pemimpin. Berkaitan dengan hal tersebut, akhir-akhir ini di wilayah Jawa Timur banyak dilangsungkan pemilihan Kepala Desa dan tidak sedikit diantaranya sebagai calon tunggal, sehingga pengumpulan suaranya harus bertanding dengan kursi yang tidak ada calonnya, alias bumbung kosong.\rMenurut Islam (sunni/NU) bolehkan kita memberikan suara kepada bumbung kosong?\rKalau boleh/tidak boleh bagaimana hukumnya orang yang berkampanye untuk bumbung kosong?\rKalau calon tunggal diatas gagal/kalah, bolehkah dia ikut mencalonkan kembali?\rJawaban\rJika calon tunggal dalam PILKADES itu adalah\rOrang yang lebih mencintai kekafiran daripada keimanan.\rOrang yang memusuhi orang-orang Islam.","part":1,"page":358},{"id":359,"text":"Orang yang menjadikan agama Islam sebagai bahan tertawaan.\rOrang yang beragama Yahudi atau Nasrani\rOrang yang kafir.\rOrang Islam yang tidak mau membela atau tidak berani membela agama Islam.\rSedangkan masih ada orang lain yang sifatnya tidak seperti tersebut diatas, maka kita wajib memberikan suara kita kepada bumbung kosong alias golput. Hal ini mengingat agama Islam melarang kita memilih orang yang memiliki salah satu dari keenam sifat tersebut.\rAkan tetapi, jika calon tunggal dalam pemilihan tersebut bukan orang yang memiliki salah satu dari keenam sifat tersebut, maka kita tidak boleh memberikan suara kepada bumbung kosong. Jika calon tunggal dalam pemilihan adalah orang yang memiliki salah satu dari keenam sifat tersebut, maka kita tidak boleh berkampanye untuk bumbung kosong.\rMemperbolehkan calon tunggal yang gagal atau kalah untuk mengikuti pencalonan kembali dapat dibenarkan jika memang ada calon lainnya yang menjadi tandingannya. Akan tetapi jika tidak ada calon tandingannya, berarti pemilihan itu hanya mengulang kegagalan yang pernah dilakukan.\rDasar pengambilan\rSurat Ali Imran ayat 28, Surat an Nisa ayat 139 dan ayat 144. yang melarang memilih orang kafir sebagai pimpinan yang akan memimpin orang-orang muslim.\rSurat An-Nisa' ayat 59, yang melarang orang-orang Islam memilih orang Islam tidak berani dan tidakmau berjuang membela agama Islam menjadi pemimpin mereka.\rSurat al-Maidah ayat 51 yang melarang umat Islam memilih orang Yahudi dan orang Nasrani untuk menjadi pemimpin mereka.","part":1,"page":359},{"id":360,"text":"Surat al-Maidah ayat 57 yang melarang umat Islam umat Islam memilih, orang yang berani mengejak, menertawakan, dan mengolok-olok agama Islam untuk menjadi pemimpin mereka.\rSurat al-Mumtahinah ayat 1 yang melarang umat Islam memilih orang yang memusuhi agama Islam dan orang-orang Muslim untuk menjadi pemimpin mereka.\rSurat at-Taubah ayat 23, yang melarang umat Islam memilih orang yang lebih senang kepada kekufuran dari pada keimanan, unutk menjadi pemimpin mereka, meskipun orang tersebut adalah ayahnya atau saudaranya .\rMasjid Berubah Menjadi Mushalla\rBolehkah masjid jami' dijadikan mushalla dengan alasan tidak memuat para jama'ah dan sudah dibangun menjadi masjid baru? Dan bagaimana hukum I'tikaf didalamnya?\rBolehkah tempat pengimaman masjid ditinggikan?\rJawaban\rTidak boleh.\rKami belum menemui nash yang mu'tamad dalam kitab-kitab fiqh mengenai hal itu.\rDasar Pengambilan\rKitab al-Qalyubi juz 3, halaman 108\r(تَنْبِهٌ)لاَ يَجُوزُ تَغْيِيْرُ شَيْءٍ مِنْ عَيْنِ الوَقْفِ وَلَولأَرْفَعَ مِنْهَا.\r(peringatan). Tidak boleh mengubah sedikitpun dari benda wakaf, meskipun unutk sesuatu yang lebih tinggi nilainya.\rKitab asy-Syarqawi juz 2, halaman 178\rوَيَمْتَنِعُ قِسْمَةُ المَوقُوفِ او تَغْيِيْرُ هَيْبَتِهِ كَجَعْلِ البُسْتَانِ دَارًا\rDan tercegah pembagian barang yang diwakafkan dan mengubah bentuk, seperti menjadikan kebun menjadi rumah.\rGaya Kepala Anak Kiyai","part":1,"page":360},{"id":361,"text":"Saya seorang karyawan disuatu lembaga pendidikan (sekolah). Sekolah tersebut satu atap dengan pondok pesantren (satu yayasan). Salah seorang pengajarnya adalah putera pengelola yayasan (putera kiai) yang selalu mengatur guru-guru lain. Misalnya, kalau ada guru lain yang terlambat atau tidak mengajkar, maka yang marah-marah adalah dia. Padahal yang bertindak seperti seharusnya adalah kepala sekolah. Saya sendiri kurang tahu, mengapa kepala sekolahnya sendiri patuh terhadap guru yang kebetulan putera kiai itu.\rDan yang lebih buruk lagi, guru yang putera kiai itu terkadang membicarkan kekurangan guru lain, di muka kelas dan dihadapan para siswa.\rPerbuatan guru yang putera kiai tersebut termasuk perbuatan zalimkah? Mohon disertai dalilnya!\rBagaimanakah hukumnya bagi kepala sekolah yang mengetahui perbuatan inin, tetapi tidak berani menegurnya karena takut?\rBagaimana pandangan Islam terhadap seorang pemimpin yang hanya seperti boneka?\rJawaban\rGuru yang terlambat datang atau bahkan tidak datang ke sekolah untuk mengajar, jika bukan karena alasan yang dapat dipertanggung-jawabkan seperti dakit misalnya, maka keterlambatan atau ketidakhadiran tersebut adalah suatu kesalahan. Menurut ajaran agama islam, siapa saja yang melihat orang lain berbuat salah dia berkewajiban untuk mengingatkannya.","part":1,"page":361},{"id":362,"text":"Bagi orang yang mempunyai kekuasaan seperti Kepala Sekolah misalnya dia harus mengambil tindakan tegas dengan tidak menaikkan gajinya tahun depan atau memecatnya jika peringatan secara lisan atau tertulis tidak dihiraukan oleh guru tersebut.\rBagi teman-temannya sesama guru dia harus mengingatkannya baik secara tertulis maupun secara lisan tetapi bukan dimuka umum. Mengingat, menasehati secara lisan dimuka umum itu sudah berubah sifatnya menjadi caci maki. Apalagi jika kekurangan seseorang guru diungkapkan dimuka murid-murid di kelas, maka pelakunya sudah terjebak dalam dosa ghibah (menggunjing).\rJadi tindakan putera Kyai itu ada benarnya karena dia sebagai putera Kyai tidak senang kalau guru-guru yang mengajar di yayasan ayahnya tidak berdisiplin, sehingga mutu sekolah di lingkungan yayasan tersebut menjadi jelek. Hanya cara yang dilakukan untuk menegur guru yang terlambat atau tidak masuk mengajar itu yang salah. Over acting! Alangkah bijaksananya jika dilakukan empat mata di kantor dan tidak didengar oleh orang lain.\rKetidakberanian Kepala Sekolah atau lainnya (termasuk anda sendiri) untuk memberikan teguran dengan cara yang baik dan bijaksana kepada para guru yang tidak dating ke sekolah untuk mengajar atau terlambat dating ke sekolah adalah berdosa seperti dosa dari guru-guru yang terlambat atau tidak mengajar.","part":1,"page":362},{"id":363,"text":"Demikian pula ketidakberanian kepala sekolah atau lainnya (termasuk anda sendiri) untuk memberikan teguran kepada putera Kyai yang over acting dalam menegur itu, juga menanggung beban dosa seperti yang ditanggung oleh putera Kyai itu.\rIslam tidak membenarkan memilih pemimpin yang hanya seperti boneka, sebab setiap pemimpin menurut pandangan Islam itu harus bertanggung jawab atas kepemimpinannya.\rDasar pengambilan\rKitab Qomiut Thughyan halaman 17\rقَالَ سُلَيْمَانُ الخَوَاصُ: مَنْ وَعَظَ أَخَاهُ فِيْمَا بَيْنَهُ وَ بَيْنَهُ فَقَدْ نَصَحَهُ وَمَنْ وَعَظَهُ عَلَى رُؤُوسِ الأَشْهَادِ فَقَدْ بَكَتَهُ.\rSulaiman Al Khawwash berkata:Barang siapa yang memberi nasihat kepada saudaranya dengan empat mata,maka dia benar-benar memberi nasihat saudaranya. Dan jika dia memberi nasihat dimuka umum,maka dia benar-benar telah melecehkanya.\rHadits dari Abu Sa'id Al Khudriy ra.\rقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لاَ يَحْقِرَنَّ أحَدُكُمْ أن يَرَى أمْرًا للهِ فِيْهِ مَقَالٌ , فَلاَ يَقُولُ فِيْهِ, فَيُقَالُ لَهُ يَومَ القِيَامَةِ: مَا مَنَعَكَ أَنْ تَكُون قُلْتَ فِى كَذَا وَ كَذَا ؟ فَيَقُولُ: مَخَافَةَ النَاسِ! فَيَقُولُ اللهُ: إِيَّايَ أَحَقُّ أَنْ تَخَافَ!. رَوَاهُ ابن مَاجَه وَ أحْمَد وابنُ حِبَّانَ.","part":1,"page":363},{"id":364,"text":"Rasulullah saw, bersabda: Janganlah sekali-kali salah seorang dari kamu sekalian menganggap remeh apabila melihat sesuatu perkara yang dalam perkara tersebut terdapat hukum Allah, kemudian dia tidak mengucapkan hukum tersebut, maka pada hari kiamat akan dikatakan kepadanya, apakah yang mencegahmu untuk menjadi orang yang mengatakan hukum dalam masalah yang ini dan ini? kemudian dia menjawab, karena takut kepada manusia! Kemudian Allah swt berfirman: Hanya Akulah yang lebih berhak engkau takuti! HR Ibnu Maajah, Ahmad dan Ibn Hibban.\rHadist dari Ibn Umar dari Nabi Muhammad saw\rاَلاَ كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ. فَلأَمِيْرُ الَّذِى عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْهُمْ وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْؤُولَةٌ عَنْهُمْ وَالعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْهُ. ألاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ. رَوَاهُ مَسْلِمٌ.","part":1,"page":364},{"id":365,"text":"Perhatian! Masing-masing dari kamu sekalian adalah pemimpin dan masing-masing dari kamu sekalian akan ditanya tentang kepemimpinannya. Kepala pemerintahan yang memimpin manusia, dia akan ditanya tentang kepemimpinannya. Seorang laki-laki adalah pemimpin pada penghuni rumahnya dan dia akan ditanya tentang mereka itu. Seorang perempuan adalah pemimpin pada rumah suaminya dan anak suaminya dan dia akan ditanya tentang mereka itu. Seorang budak (pembantu rumah tangga) adalah pemimpin pada harta-harta majikannya dan dia akan ditanya tentang harta majikannya tersebut. Perhatian! Maka masing-masing dari kamu sekalian adalah pemimpin dan masing-masing dari kamu sekalian akan ditanya tentang kepemimpinannya. HR. Muslim\rHadist dari Abu Sa'id Al Khudriy\rسَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيْمَانِ . رَواهُ مُسْلِمٌ.\rSaya mendengar Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa yang melihat sesuatu kekuasaannya. Jika dia tidak mampu, hendaklah dia mengubahnya dengan lisannya (omongannya). Jika dia tidak mampu, hendaklah dia mengubahnya dengan hatinya. Mengubah dengan hati itu adalah selemah-lemah iman. HR. Muslim\rZakat Untuk Kiyai dan Imam Was-was\rBagaimana hukumnya zakat yang dipergunakan untuk membangun pondok; padahal yang berhak menerima zakat itu adalah orang sebagaimana dijelaskan dalam al Quran?","part":1,"page":365},{"id":366,"text":"Saya pernah mendengar dari seorang Kyai yang mengatakan bahwa sodakoh itu lebih utama diberikan kepada ulama/kyai. Padahal dalam surat al Maa'un dijelaskan bahwa kita sebagai orang mukmin diperintahkan menyantuni anak yatim dan memberi makan orang miskin? Mohon penjelasan!\rBagaimana hukum salat dari imam yang melakukan takbiratul ihram lebih dari tiga kali karena waswas. Sepengetahuan saya salat yang demikian itu tidak sah! Nah, apakah saya harus mengikuti imam tersebut? Kalau mengikuti, bagaimana hukum salat saya?\rJawaban\rKalau kita menelaah kitab-kitab fiqh klasik mengenai 8 macam asnaf yang berhak menerima zakat, kita akan menjumpai bahwa kedelapan asnaf tersebut semuanya adalah orang, sehingga kata sabilillah dalam surat at Taubah ayat 60 adalah berarti orang-orang yang ikut pergi berperang untuk membela agama Islam yang tidak mendapat gaji. Semuanya adalah para sukarelawan. Sehingga kalau ada salah seorangulama salaf yang mempergunakan harta zakat yang diberikan kepada beliau untuk membangun pondok pesantren yang beliau asuh, maka beliau menerima zakat tersebut mungkin atas nama\rOrang miskin, yaitu orang yang penghasilannya lebih dari 50 % dari seluruhnya tetapi tidak pernah mencapai 100% atau,\rGhorim, yaitu orang yang berhutang untuk membangun pondok pesantren dan tidak mampu membayarnya.","part":1,"page":366},{"id":367,"text":"Kalau menurut fiqh modern seperti kitab Islam Aqidah wa as Syariah karangan Syaikh Mahmud Syaltout halaman 109, dinyatakan bahwa sabilillah dalam surat at Taubah ayat 60 adalah berarti kemaslahatan umum yang tidak boleh dimiliki oleh seseorang. Bagian dari hasil zakat untuk sabilillah ini tidak boleh dimanfaatkan secara khusus oleh seseorang. Yang berhak memiliki bagian ini adalah Allah swt dan pemanfaatannya adalah untuk makhluk Allah, yang antara lain untuk usaha-usaha mempersiapkan kekuatan dan kemampuan yang matang bagi para penganjur Islam yang selalu menunjukkan kepada masyarakat betapa indah dan luasnya agama Islam, betapa pentingnya ajaran dan hukum-hukum Islam itu bagi kehidupan manusia.\rApa yang diterangkan oleh Kyai tersebut tidaklah bertentangan dengan apa yang dimaksud oleh surat al Maun. Sebab yang dimaksud oleh Kyai tersebut adalah bahwa apabila sama miskinnya, maka sedekah itu yang paling utama diberikan kepada Kyai, karena sedekah kepada Kyai tersebut berarti ikut membantu ketaqwaan yang dilakukan.\rDalam kitab Mauidlotul Mukminin halaman 52-53, disebutkan urutan keutamaan bersedekah kepada orang-orang yang berhak menerimanya, yang artinya sebagai berikut\rOrang-orang yang bertakwa, karena mereka akan mempergunakan harta sedekah yang mereka terima untuk bertakwa, sehingga sedekah kepada mereka itu berarti bersekutu dengan mereka dalama ketaatan yang mereka lakukan.","part":1,"page":367},{"id":368,"text":"Orang-orang yang khusus menekuni ilmu pengetahuan, karena menekuni ilmu pengetahuan itu jika niatnya benar, adalah ibadah yang paling mulila, sehingga ibadah kepada mereka ini berarti membantu untuk mendapatkan ilmu.\rOrang-orang yang jujur dalam ketakwaannya dan ahli tauhid yang setiapkali menerima pemberian dia selalu memuji Allah dan bersyukur kepadaNya, karena dia sadar bahwa kenikmatan itu pada hakekatnya adalah dari Allah swt, sedangkan orang yang memberikan sedekah kepadanya hanyalah sebagai perantara yang ditundukkan oleh kehendak Allah.\rOrang yang menyembunyikan hajatnya, tidak pernah mengeluh dan mengadu kepada orang lain, sebagaimana para sahabat Nabi saw yang mendiami serambi masjid Nabi (ahlus suffah).\rOrang yang mempunyai keluarga banyak atau orang yang tidak dapat bekerja karena sakit atau sebab-sebab lainnya sehingga menyerupai orang yang melarat.\rKaum kerabat dan orang-orang yang mempunyai hubungan famili. Sedekah kepada mereka ini disamping berfungsi sebagai sedekah juga berfungsi sebagai penyambung tali silaturrahim.\rOrang yang ragu-ragu dalam niat atau dalam salah satu dari syarat-syarat salat, seperti ragu-ragu tentang kesucian dirinya, atau apakah dia berniat salat dzuhur atau ashar dan keraguan tersebut berlangsung selama waktu yang cukup untuk melakukan satu rukun, maka salatnya batal. Adapun jika keraguan itu dating dan lenyap dengan cepat, maka salatnya tidak batal sebagaimana disebutkan dalam kitab Nihayatuz Zain halaman 92","part":1,"page":368},{"id":369,"text":"وَالتَّاسِعُ: الشَّكُّ فِى النِّيَّةِ أو فِى شَيْءٍ مِنْ شُرُوطِ الصَّلاَةِ: كَالطَّهَارَةِ أو هَلْ نَوَى ظُهْرًا أوْ عَصْرًا وَمَضَى عَلَى ذَلِكَ زَمَنٌ يَسَعُ رُكْنًا, أَمَّا لَو زَالَ الشَّكُّ سَريْعًا: كَأنْ خَطَرَ لَهُ خَاطِرٌ وَزَالَ سَرِيْعًا فَلا.\rYang kesembilan dari hal-hal yang membatalkan salat adalah ragu-ragu dalam niat atau dalam sesuatu dari syarat-syarat salat: seperti kesucian atau apakah seseorang berniat dzuhur atau ashar dan keraguan tersebut berjalan satu zaman yang cukup untuk satu rukun. Adapun andaikata keragu-raguan tersebut lenyap dengan cepat, seperti tergerak dalam hatinya sau keraguan dan lenyap dengan cepat, maka tidak membatalkan.\rAdapun orang yang melakukan takbiratul ikhram berulangkali, biasanya tidak disebabkan ragu-ragu atau syak mengenai niat salat dzuhur atau asar, akan tetapi karena merasa bahwa niat yang diucapkan oleh hatinya tidak beriringan dengan tepat dengan takbir yang diucapkan oleh lisannya (muqorronah hakikiyah) sehingga mudah untuk dijangkiti penyakit was-was. Seandainya dia melakukan muqoronah urfiyah yaitu selama lisannya mengucapkan takbiratul ihram, hatinya melafalkan niat, tentulah tidak mudah untuk was-was sehingga harus takbiratul ihram berkali-kali.\rImam yang melakukan takbiratul ihram berulangkali, pada waktu dia takbiratul ihram yang terakhir kalinya, yaitu setelah hatinya mantap dan sudah tidak ada keraguan lagi, maka salatnya sah dan sah pula untuk dimakmumi.","part":1,"page":369},{"id":370,"text":"Jadi bagi orang yang bermakmum dengan orang yang sering was-was, sebaiknya menunggu saja sampai imam mulai membaca Fatihah. Saya tidak menjumpai keterangan yang menyatakan bahwa apabila ada orang yang melakukan takbir lebih dari tiga kali salatnya menjadi tidak sah. Dalam kitab I'anatut Thalibin juz 1 halaman 133, disebutkan sebagai berikut\rوَلَو كَبَّرَ مَرَّاتٍ نَاوِيًا الإِفْتِتَاخَ بِكُلٍّ دَخَلَ فِيْهَا بِالوِتْرِ وَخَرَجَ مِنْهَا بِالشَّفْعِ لأَنَّهُ لَمَّا دَخَلَ بِالأُلَى خَرَجَ بِالثَانِيَةِ لأَنَّ الإِفْتِتَاحَ بِهَامُتَضَمِّنَةُ لِقَطْعِ الأُلَىْ.\rAndaikata seseorang bertakbiratul ihram berkali-kali dengan niat memulai salat dengan masing-masing takbir, maka dia masuk dalam salat dengan hitungan yang ganjil dan keluar dari salat dengan hitungan yang genap. Karena sesungguhnya dia pada waktu masuk takbiratul ihram yang pertama, maka dia keluar dengan takbiratul ihram yang kedua, karena memulai dengan takbiratul ihram yang kedua itu berarti membatalkan takbiratul ihram yang pertama.\rMakmum Di luar Masjid\rDalam kitab Dalailul Khairat nama-nama dari Nabi Muhammad saw sebanyak 201 Dari manakah sumber atau kejelasan riwayat yang menyebutkan nama-nama Nabi tersebut?","part":1,"page":370},{"id":371,"text":"Di kampung kami, setiap kali dilaksanakan salat Jumat, karena jamaahnya terlalu banyak dan masjidnya tidak dapat menampung seluruh jamaah, maka jamaah meluap sampai ke gang atau lorong yang ada di muka (luar) masjid, sampai ada para jamaah yang salat disebuah gang buntu yang apabila jamaah tersebut harus menuju ke imam, mereka harus berjalan membelakangi kiblat karena di sebelah kanan para jamaah ada bangunan rumah permanen yang menghalangi jamaah untuk pergi menuju imam tanpa membelakangi kiblat.\rJadi jamaah yang ada di gang buntu ini, di samping letaknya di luar masjid, dan tidak dapat melihat gerakan salat dari jamaah yang ada di dalam masjid, juga harus membelakangi kiblat jika ingin menuju kepada imam. Satu-satunya penghubungnya hanyalah suara imam lewat pengeras suara.\rSahkah salat dari para jamaah yang ada digang buntu tersebut diatas?\rBagaimana solusi terbaik apabila jamaah memang benar-benar tidak tertampung karena terbatasnya tempat?\rJawaban\rYang jelas, sumbernya adalah dari pengarang kitab itu sendiri. Mengingat saya sendiri, tidak memiliki syarah dari kitab Dalailul Khairat, maka saya tidakdapat menjelaskan. Hanya saja saya sebagai orang yang telah menerima ijazah Dalailul Khairat yang sanadnya sampai kepada muallif nya sendiri, yaitu Sayyid Muhammad bin Sayyid Sulaiman Al Jazuly Asy Syarif Al Hasaniy, mempunyai prasangka baik bahwa pengarang tidaklah mengada-ada atau tanpa menggunakan dasar yang jelas.","part":1,"page":371},{"id":372,"text":"Salat makmum di gang buntu tersebut tidak sah, sebab makmum yang tidak berada pada satu tempat bangunan dengan imam, meskipun dia dapat melihat gerakan imam melalui layar monitor pesawat televisi atau melihat gerakan makmum yang lain yang berada di masjid, akan tetapi untuk datang menuju imam, makmum tersebut harus berjalan mundur atau membelakangi kiblat, maka salatnya tidak sah.\rKitab Kasyifatus Saja halaman 86\rوَإِمَّا أَنْ يَكُونَ الإِمَامُ فِى فََضَآءِ وَالمَأْمُومُ فِى بِنَآءٍ وَأَمَّا بِالعَكْسِ ... إلَى أَنْ قَالَ: وَيُشْتَرَطُ هُنَا أَنْ يُمْكِنَ الوُصُولُ إِلَى الإِمَامِ مِنء غَيْرِ أزْوِرَارٍ وَانْعِطَافٍ.\rTerkadang imam berada dilapangan dan makmum berada di bangunan. Adapun sebaliknya ... sampai pada ucapan pengarang (kitab): Disyaratkan disini agar memungkinkan untuk sampai kepada imam tanpa menyimpang dan tanpa berbelok.\rSolusi yang terbaik ialah memperluas masjid tersebut atau meningkatkan agar dapat menampung seluruh jamaah.\rMenyimpan Harta Di Bank\rBagaimana hukum menyimpan uang di Bank (berbunga) yang setahu saya ada dua pendapat yaitu jawaz dan haram?\rApakah bank muamalat adalah kriteria bank yang sehat yang notabene adalah bank milik orang Islam?\rKarena kebutuhan yang sangat mendesak tapi tak ada yang mampu menolong, apakah boleh berhutang pada bank yang resiko kembalinya nanti berbunga (hukumnya riba)?\rBagaimana hukum penjarahan yang dilakukan masyarakat belakangan ini terhadap orang (etnis) Cina sebagai alasan pembalasan karena selama ini mereka identik dengan kasus KKN-nya?","part":1,"page":372},{"id":373,"text":"Apakah hal ini biasa kita samakan seperti pada zaman Rasulullah saw dahulu yang mana para sahabat boleh mengambil/merampas hasil jarahan para musuh ataupun meminta upeti jika mereka tidak bersedia masuk Islam?\rJawaban\rHukum menyimpan uang di bank itu adakalanya jawaz, adakalanya haram dan ada syubhat.\rJawaz apabila dilakukan oleh orang yang sama sekali tidak dapat mempergunakan uangnya untuk berdagang atau usaha lainnya, sedang uang yang dimilikinya jika dibuat makan pasti akan habis sebelum umurnya yang ghalib habis. Orang yang seperti ini boleh menyimpan uangnya di bank dan boleh memakan bunganya.\rAtau orang yang diberi amanat untuk membawa uang masjid atau kumpulan dan dia menghawatirkan ketidak amanan uang tersebut jika disimpan di rumah. Maka dia diperbolehkan menyimpan uang amanat tersebut di bank, tetapi dia tidak dihalalkan untuk memakan bunganya. Bunganya adalah harta fa'i yang menjadi hak fakir miskin.\rHaram, yaitu orang yang dapat menginvestasikan uangnya dalam usaha dagang atau lainnya, akan tetapi dia sengaja menyimpan uangnya di bank agar dapat memakan bunganya tanpa bekerja.\rSyubhat, yaitu menyimpan uang di bank yang dilakukan oleh orang yang keadaannya berada di antara kondisi di atas.\rMeskipun bank muamalat itu adalah milik orang Islam, akan tetapi sistem operasionalnya masih seperti bank konvensional.\rJika kebutuhan yang mendesak itu sifatnya konsumtif, maka hukumnya tetap haram. Jika sifatnya produktif dan keuntungannya sudah jelas, maka hukumnya boleh.","part":1,"page":373},{"id":374,"text":"Penjarahan yang dilakukan oleh masyarakat terhadap etnis cina atau lainnya hukumnya tetap haram seperti keharaman mencuri dan merampok.\rMenjarah tersebut tidak dapat disamakan dengan zaman Rasulullah saw. Sebab Rasulullah saw hanya memperbolehkan para sahabat untuk merampas harta orang kafir yang sedang berperang melawan orang Islam, kemudian harta rampasan tersebut dikumpulkan menjadi satu, kemudian dibagi menurut aturan yang telah ditentukan dalam surat al Anfal. Sedang orang kafir yang tidak sedang dalam peperangan melawan orang Islam, maka hartanya tidak boleh dijarah. Dalam hadits disebutkan\rمَنْ أَذَى ذِمِّيًّا فَقَدْ أَذَانِى\rBarangsiapa yang menyakiti kafir dzimmi, maka benar-benar dia telah menyakiti aku.\rQira'ah Sab'ah dan Amal Jariyah\rAl Quran diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad saw melalui malaikat Jibril, kemudian dikalangan ulama Qurro' ada yang namanya qiroah sab'ah. Yang saya tanyakan, apakah Qiroah Sab'ah itu pernah disampaikan oleh malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad saw? Ataukah Qiroah itu timbul dari keilmuan para ulama itu sendiri? Jika demikian, bagaimana dengan ketentuan Al Quran itu sifatnya tauqifi hanya datang dari Allah?","part":1,"page":374},{"id":375,"text":"Banyak yang berpendapat bahwa sodaqoh jariyah itu pahalanya masih mengalir selama hasil sodaqoh itu diguanakan, kemudian bagaimana kalau sodaqoh itu sudah tidak digunakan lagi? Misalnya si A bersodaqoh untuk pembangunan masjid, tapi lama kelamaan masjid itu dibongkar total untuk direnofasi, apakah sodaqoh dari si A itu masih ada? dalam arti masih dicatat sebagai amal atau sodaqoh jariyah?\rJawaban\rQiroah Sab'ah atau tujuh macam bacaan al Quran itu kesemuanya pernah disampaikan oleh malaikat Jibril as kepada Nabi Muhammad saw.\rDasar pengambilan\rKitab Shahih Muslim juz 1 halaman 361\rحَدَّثَنِى حَرْمَلَةُ بنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْب أَخْبَرَنِى يُونُسُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ حَدَّثَنِى عُبَيْدُ اللهِ بْنُ عَبْجِ اللهِ بْنُ عُتْبَةَ أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ حَدَّثَهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أَ قْرَأَنِىْ جِبْرِيْلُ عَلَي حَرْفٍ فَرَا جَعْتُهُ فَلَمْ أَزَلْ أَسْتَزِيْدُهُ فَيَزِيْدُنِيْ حَتَّى ا نْتَهَى أِلَى سَبْعَةِ أَحْرُفٍ. رواه مسلم\rHarmalah bin Yahya telah menceritakan kepada kami katanya:Ibnu Wahab telah menceritakan kepada kami dari Ibnu Syihab, katanya Ubaidullah bin Abdillah bin Utbah telah menceritakan kepadaku bahwa Rasulullah saw, telah bersabda: Malaikat jibril telah membacakan Alquran kepadaku dengan satu macam bacaan. Kemudian aku mengulangi menjumpai jibril dan tiada henti-hentinya aku meminta tambahan bacaan kepada jibril, dan dia menambahinya sehingga sampai pada tujuh bacaan. (HR Muslim)","part":1,"page":375},{"id":376,"text":"Sodaqoh untuk pembangunan masjid, pondok pesantren, madrasah atau lainnya pahalanya akan terus mengalir kepada orang yang bersedekah, meskipun sudah meninggal dunia (amal jariah) selama harta yang disedekahkan tersebut masih tetap berada serta tetap dipergunakan dimasjid atau dipondok pesantren atau madrasah tersebut. Jika masjid tersebut, misalnya dibongkar total dan barang yang disedekahkan tersebut sudah tidak dipergunakan lagi, maka pahalanya sudah tidak mengalir lagi (terputus).\rOleh karena itu, pada waktu Masjid Agung Demak akan dibongkar tegelnya, karena ada orang yang ingin mewakafkan marmer sebagai gantinya, maka ahli waris dari orang yang mewakafkan tegel yang telah dipakai bertahun-tahun keberatan jika tegel tersebut dibongkar, sebab akan memutus pahala dari ayahnya. Akhirnya Masjid Agung Demak tidak dibongkar, sedang marmer yang diwakafkan diletakkan di atas tegel.\rBeda Antara Ghibah dan Ngrumpi\rBagaimana maksudnya bahwa ghibah (ngerumpi) itu\rTermasuk dosa besar bagi ahlul ilmu dan ahlul quran\rTermasuk dosa kecil bagi selain keduanya.\rApakah dianggap termasuk dosa kecil bagi orang yang hanya sekedar tahu bahwa ghibah itu haram tanpa mengetahui dasar hukumnya.\rMohon dijelaskan tentang enam macam ghibah yang diperbolehkan, sebagaimana disebutkan dalam nadham di bawah ini, kemudian mohon diberikan contohnya!\rالقَدُحُ لَيْسَ بِغِيْبَةٍ فِى سِتَّةٍ * مُتَظَلِّمٍ وَمُعَرِّفٍ وَمُحَذِّرٍ\rوَلِمُظْهِرٍ فِسْقًا وَمُسْتَفْتٍ وَمَنْ * طَلَبَ الإِعَانَةَ فِى إِزَالَةِ مُنْكَرٍ","part":1,"page":376},{"id":377,"text":"Apakah penghujatan itu termasuk ghibah?\rJawaban\rSebenarnya bukan ghibah saja yang apabila dilakukan oleh ahlul ilmi dan ahli Quran yang menjadi dosa besar, akan tetapi semua dosa kecil itu dianggap dosa besar oleh Allah swt apabila ada salah satu dari lima sebab, sebagaimana disebutkan oleh Imam al Ghozali dalam kitab Ihya' Ulumuddin cetakan Darul Fikr, Beirut, tt, juz 4 halaman 32-31, lima macam sebab tersebut adalah sebagai berikut:\rDosa kecil yang dilakukan terus-menerus tanpa ada keinginan untuk berhenti.\rDosa kecil yang dilakukan dengan perasaan bangga.\rDosa kecil yang dilakukan dengan perasaan meremehkannya.\rDosa kecil yang dilakukan dengan terang-terangan di muka umum.\rDosa kecil yang dilakukan oleh orang alim atau orang yang menjadi panutan masyarakat.\rEnam macam ghibah yang diperbolehkan sebagaimana yang anda sebutkan dalam dua bait nadham diatas, adalah\rMuttadhallim, yaitu orang yang dianiaya oleh orang lain, kemudian mengadukan penganiayaan yang dilakukan oleh orang lain tersebut kepada pejabat yang berwenang mengurus penganiayaan tersebut kepada orang lain yang tidak berhak.","part":1,"page":377},{"id":378,"text":"Orang yang kesulitan menemukan seseorang meskipun sudah diketahui namanya tanpa menyebutkan cacatnya, karena kebetulan banyak orang yang namanya sama. Misalnya ada orang yang mencari seseorang dikampung A yang bernama Ahmad. Kemudian dia bertanya kepada salah seorang penduduk, Orang yang ditanya kembali bertanya: Ahmad siapa? Dikampung ini ada sepuluh orang yang bernama Ahmad! Yang bertanya: Si Ahmad yang selalu memakai songkok dan tidak pernah melepasnya! Yang ditanya: Orang yang bernama Ahmad di sini semuanya memakai songkok dan tidak pernah melepasnya! Yang bertanya: Ahmad yang raji sholat berjamaah! Yang ditanya: Ahmad yang ada sepuluh orang itu semuanya rajin berjamaah! Yang bertanya: Ahmad yang rajin ta'ziyah jika ada orang mati! Yang ditanya: Semua Ahmad disini rajin ta'ziyah! Setelah penanya kesulitan menemukan Ahmad dengan menyebutkan sifat-sifat yang baik, akhirnya dia berkata: Maaf! Si Ahmad yang matanya buta sebelah! Kemudian yang ditanya baru mengetahui dan menjawab: Oh! Ahmad itu, itu rumahnya nomor sekian!\rOrang yang memperingatkan kepada masyarakat agar menghindarkan diri dari perbuatan yang tercela seperti yang dikerjakan oleh si A agar hidupnya tidak sengsara seperti si A.\rOrang yang terang-terangan berbuat maksiat, seperti penjual minuman keras, pemabuk, penjudi dan lain sebagainya.","part":1,"page":378},{"id":379,"text":"Orang yang meminta fatwa kepada orang lain, seperti yang dilakukan oleh sahabat Hindun ra kepada Rasulullah saw tentang suaminya Abu Sufyan: Ya Rasulullah! Saya takut kufur dalam iman! Rasulullah saw bersabda: Ada apa sebenarnya? Hindun menjawab: Saya tidak mencela suami saya Abu Sufyan tentang kegagahan dan ahlaknya, tetapi sayang beliau ringan tangan dan terlalu sedikit memberi nafkah kepadaku! Rasulullah saw bersabda: Maukah engkau mengembalikan kebun yang diberikan oleh Abu Sufyan kepadamu sebagai mahar? Hindun menjawab: Mau! Kemudian Rasulullah saw. Memanggil Abu Sufyan untuk menerima kembali kebun dari Hindun sebagai tebusan dari talak yang dijatuhkan oleh Rasulullah saw.\rOrang yang meminta bantuan kepada orang lain untuk menghilangkan kemungkaran. Misalnya si A melihat si B melakukan perbuatan mungkar, seperti minum arak, atau berjudi disuatu tempat atau lainnya. Sewaktu si A melihat si B berbuat mungkar, maka si A berkewajiban mengingatkan/menasehati si B. Akan tetapi karena suatu alasan si A tidak berani menasehati/mengingatkan si B. Kemudian si A melihat bahwa ada orang lain yang disegani dan diikuti nasehatnya oleh si B, yaitu si C. Dalam hal ini maka si A diperbolehkan menuturkan kepada orang lain yang tidak mampu menasehati si B.\rMenghujat seseorang itu adalah termasuk ghibah, sebab ghibah itu menurut kitab-kitab salaf adalah: menuturkan sesuatu yang ada pada orang lain, yang apabila orang yang dituturkan tersebut mendengarnya, dia marah atau tidak senang hatinya.\rMempercantik Wajah","part":1,"page":379},{"id":380,"text":"Di zaman sekarang yang serba modern ini, banyak macam-macam cara yang dapat diper-gunakan untuk mempercantik wajah/berhias diri. Yang saya tanyakan\rBagaimana hukum mempercantik wajah, jika dipandang dari sudut agama Islam di Indonesia ini?\rBagaimana hukum mencukur alis (menipiskan), memotong rambut, memakai make up dengan tujuan mempercantik wajah yang dilakukan oleh seorang isteri untuk menyenangkan hati suaminya?\rBagaimana hukumnya bagi muda-mudi yang ngetren meniru di TV?\rAda istilah lain yang digunakan untuk menghitamkan rambut, yaitu toning yang bahannya berbeda dengan semir (katanya) yang bisa bertahan selama empat bulan. Bagaimana hukumnya bila digunakan untuk shalat?\rSebagai seorang wanita, kadangkala ingin juga tampil seperti wanita-wanita lain, misalnya memakai lipstik. Apakah perbuatan saya ini berdosa? Jika berdosa, apakah saya harus menutup diri?\rBagaimana hukumnya seseorang yang tidak saling tegur sapa antara tetangga satu dengan lainnya dalam jangka waktu yang lama?\rJawaban\rHukum mempercantik diri dengan menggunakan alat-alat kosmetik tidak terdapat larangan dalam agama Islam. Hanya saja harus dijaga jangan sampai alat-alat kosmetik yang dipakai tersebut akhirnya membawa dampak negatif bagi pemakainya. Untuk itu sebaiknya ditanyakan kepada orang yang ahli dalam pemakaian alat-alat kecantikan tersebut.","part":1,"page":380},{"id":381,"text":"Hukum mempercantik diri dengan menipiskan alis dan lain sebagainya untuk menyenangkan suami hukumnya adalah sunnat, sebab dalan hadits disebutkan bahwa di antara tanda-tanda isteri yang baik itu ialah isteri yang apabila dipandang oleh sang suami, dia dapat menyenangkan hati suaminya.\rMeniru apa saja yang kita lihat dalam TV, apakah yang kita tiru tersebut cara berpakaian, atau cara bertingkah laku atau cara bergaul yang bebas, maka jika apa yang kita tiru tersebut adalah hal-hal yang dilarang oleh syariat agama Islam, hukumnya adalah haram, dan jika tidak dilarang, maka hukumnya boleh!.\rSelama semir baru yang dipergunakan itu hanya mengubah warna rambut sebagaimana pacar yang merubah warna kuku, dan tidak melapisi rambut sebagaimana sebagaimana alat pemerah kuku yang disebut pitek, maka hukumnya boleh diusap sewaktu berwudlu sehingga shalat yang dikerjakan adalah sah.\rBoleh saja bagi wanita untuk memekai alat-alat kosmetika seperti lipstik dan lainnya, asalkan tidak diniatkan untuk berbuat maksiat.\rTidak bertegur sapa antara dua orang muslim lebih dari tiga hari hukumnya adalah haram, sebagaimana sabda Nabi Besar Muhammad saw. yang disepakati sesahihannya oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, riwayat dari Abu Ayyub ra.:\rعَنْ أَبِي أَيُّوْبَ رضي الله عنه أَنْ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: لاَيَحِلُّ لمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثِ لَيَالٍ يَلْتَقِيَانِ فَيُعْرِضُ هَذَا وَيُعْرِضُ هَذَا، وَخَيْرُهُمَا الَّذِيْ يَبْدَأُ بِسَلاَمٍ . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ .","part":1,"page":381},{"id":382,"text":"Diriwayatkan dari Abu Ayyub ra. bahwa sesungguhnya Rasululaah saw bersab-da: Tidak halal bagi seseorang muslim untuk tidak bertegur sapa dengan saudaranya (seagama) lebih dari tiga hari; keduanya bertemu lalu yang seorang berpaling dan yang lainpun berpaling. Yang paling baik dari keduanya adalah yang memulai dengan memberi salam.\rBisnis Beranak Cucu\rBagaimana hukum bisnis Multi Level Marketing (MLM). Contoh Si A mendaftar dengan membayar uang umpama Rp 150.000, maka si A masuk level I. Kemudian si A berhasil merekrut dua orang member yang juga harus membayar Rp 150.000, pada pihak pusat. Maka si A mendapat komisi dari masing-masing member Rp 25.000. Jadi Rp 25.000 x 2 member = Rp 50.000.\rKedua downline level I, masing-masing berhasil merekrut 2 member, berarti jumlah member dua, empat orang dan pendapatan si A = Rp 20.000, akumulasi Rp 70.000.\rKetiga... dan seterusnya.\rHingga meraup rupiah sampai jutaan dengan mengeluarkan modal sekecil-kecilnya. Bisnis ini dijuluki bisnis \"Anak Cucu\"\rJawaban\rDalam bisnis Multi Level Marketing seperti contoh yang anda berikan, terdapat hal-hal yang tidak jelas, yaitu:\rKalau si A mendaftar dengan membayar Rp 150 ribu\rMendaftar sebagai apa?\rUang Rp 150 ribu diserahkan kepada siapa dan bagaimana akadnya? Apakah akad jual beli, atau akad hutang piutang, atau akad syirkah, atau akad qiradl, atau akad shadaqah, atau akad apa lagi?","part":1,"page":382},{"id":383,"text":"Kalau si A berhasil merekrut dua orang member yang juga membayar kepada pusat masing-masing Rp 150.000,- si A mendapat komisi sebanyak 2 X Rp 25.000,- = Rp 50.000,- . Dari mana uang Rp 50.000,- diberikan oleh pusat kepada si A? Dan bagaimana akadnya?\rAndaikata si A tidak berhasil merekrut orang lain untuk bermain dalam bisnis MLM ini, dapatkah uang yang telah dibayarkan oleh si A ditarik kembali. Demikian pula halnya dengan dua orang yang telah direkrut oleh si A, jika dia tidak dapat merekrut orang lain lagi, dan menginginkan uangnya kembali, dapatkah si A/pusat bertanggung jawab?\rKalau saya amati dari contoh yang anda berikan mengenai bisnis Multi Level Marketing ini, maka bisnis ini jelas-jelas tidak termasuk muamalah yang diperbolehkan dalam agama Islam seperti: bai', silm, rahn, hijr, suluh, hiwalah, dlaman, kafalah, syirkah, qiradl, wakalah, wakalah, iqrar, 'arah, syuf'ah, musafah, ju'alah, ijarah, wakaf, hibah dan wadi'ah yang jelas akadnya dalam syariat agama Islam.\rBisnis yang tidak jelas akadnya seperti ini pada akhirnya pasti banyak pihak yang dirugikan yaitu orang-orang yang tidak lagi bisa merekrut member. Yang jelas, kalau tidak merugikan dri sendiri, pasti merugikan orang lain. Dan hal ini dilarang oleh Rasulullah saw:\rاَلضَّرَرُ يُزَالُ .\rPerbuatan yang merugikan itu harus dilenyapkan.\rHarta Pensiunan dan Meminta Kelonggaran Kehamilan","part":1,"page":383},{"id":384,"text":"Bagaimana hukumnya harta pensiunan, jika si pemilik pensiunan tersebut sudah meninggal dunia? Apakah harta tersebut termasuk tirkah yang tersebut dalam ilmu faraidl? Jika tidak, siapakah yang menjadi pemilik harta tersebut?\rBagaimana pandangan hukum terhadap orang yang mempunyai kadar seksual yang tinggi, kemudian ia menikah lagi dengan alasan untuk mengimbangi keadaannya demi menjaga dari kemaksiatan. Padahal jika perrnikahan itu dilaksanakan maka akan menyakiti hati isterinya yang pertama. Apakah agama menganjurkan untuk izin dahulu kepada isteri pertama? Dan bagaimana sikap isteri yang tidak menyetujui kehendak suaminya tersebut?\rBagaimana hukumnya orang yang menginginkan air maninya keluar tanpa berhubungan dengan isterinya, tetapi cukup dengan mendekapnya sehingga keluarlah air mani dan merasa puas dengan pekerjaan ini dengan alasan menjarangkan kehamilan? Bagaimana sikap suami yang isterinya meminta kelonggaran untuk hamil lagi? Apakah sikap isteri tersebut berdosa?\rBagaimana tanda-tanda selesainya nifas, sebab kadang-kadang sudah bersih ternyata ada sedikit cairan putih kekuning-kuningan dan sudah melewati masa 40 hari dan sudah terlanjur shalat begitut mengetahui sudah bersih?\rBagaimana kita berbuat baik kepada orang tua dan mertua? Apakah harus disamakan sikap dan pelayanan kita terhadap keduanya?\rJawaban\rUang pensiun itu tidak dikenal dalam kitab-kitab fiqih klasik, sebab:","part":1,"page":384},{"id":385,"text":"Uang pensiun tersebut berasal dari tabungan yang diambil dari sebahagian gaji pegawai penerima pensiun sewaktu masih aktif dan jumlah pensiun yang diterima oleh pegawai tersebut setelah pensiun atau oleh isterinya setelah pegawai penerima pensiun tersebut meninggal dunia adalah diperhitungkan dengan jumlah gaji yang diterima oleh pegawai tersebut sewaktu masih aktif. Dari ini, maka pensiunan itu dapat dianggap sebegai harta warisan. Akan tetapi, orang-orang yang berhak menerima uang pensiun tidak semua ahli waris menurut fara'id, akan tetapi sudah ditentukan oleh Pemerintah pemberi pensiun. Dan jika pegawai penerima pensiun tersebut sudah meninggal dunia, maka yang boleh menerima uang pensiun hanyalah isterinya saja yang jumlahnya sudah dikurangi dengan hak suaminya.\rUang pensiun yang diberikan kepada penerima pensiun tersebut tidak sepenuhnya berasal dari jumlah uang tabungan dari penerima pensiun, karena apabila ada seseorang pegawai negeri tetap yang baru bekerja enam bulan misalnya, kemudian dia meninggal dunia, maka isterinya berhak menerima pensiun selama hidupnya, dengan catatan tidak kawin lagi dengan orang lain. Sebaliknya jika ada seseorang pegawai negeri yang sudah 40 tahun bekerja, kemudian meninggal dunia dan setelah 5 bulan isterinya kawin lagi dengan orang lain, maka isteri tersebut sudah tidak berhak menerima uang pensiun, padahal menurut perhitungan akal, tabu ngan mantan suaminya masih banyak jumlahnya.","part":1,"page":385},{"id":386,"text":"Jadi uang pensiunan yang diberikan oleh Pemerintah itu tidak ada hukumnya dalam fikih Islam karena hanya merupakan santunan yang aturannya sudah ditetapkan oleh Pemerintah sendiri. Berbeda dengan uang pensiunan dari perusahaan swasta, yang boleh diminta sekali gus (tidak diterima setiap bulan seperti pensiunan yang diberikan oleh Pemerintah), maka uang tersebut berupa tirkah yang dapat diwaris menurut fara'id.\rAgama Islam tidak menganjurkan kepada orang laki-laki yang sudah beristeri untuk meminta izin kepada isterinya waktu mau kawin lagi. Jika karena kawin lagi isterinya sakit hatinya, maka sang suami tidak akan dituntut di akhirat, sebab menurut ajaran agama Islam seorang laki-laki itu boleh kawin sampai empat orang. Orang laki-laki yang kawin lebih dari satu orang isteri itu akan dituntut di hari kiamat manakala dia tidak adil kepada isteri-isterinya dalam mas'alah nafkah lahir maupun batin dan masalah giliran.\rDasar pengambilan:\rAl Qur'an surat An Nisa' ayat 3 yang antara lain berbunyi:\r... فَانْكِحُوْا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَآءِ مَثْنَى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ ... الآية\rDan kawinlah wanita-wanita yang kamu sekalian sukai dua, atau tiga atau empat ...","part":1,"page":386},{"id":387,"text":"Hukum mengeluarkan air mani tersebut boleh menurut Imam Ghozali dan makruh menurut ulama' madzhab Syafi'i. Kebolehan mengeluarkan air mani di luar farji isterinya tersebut harus mendapat izin dari isterinya, jika isterinya adalah orang merdeka; dan jika budak belian maka tidak harus idzin. Menurut madzhab Hanafi, apabila ada udzur seperti bepergian jauh atau di negeri musuh yang tidak dikehendaki kelahiran anak, maka diperbolehkan tanpa idzin isterinya.\rDasar pengambilan:\rKitab Fiqhul Islam wa Adillatuhu Juz 7 Halaman 332-333\rاَلْعَزْلُ ( إِلْقَاءُ مَنِيِّ الرَّجُلِ خَارِجَ الْفَرْجِ ) قَالَ الشَّافِعِيَّةُ: يُكْرَهُ الْعَزْلُ لِمَا رَوَتْ جُذَامَةُ بِنْتُ وَهْبٍ قَالَتْ: حَضَرْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَسَأَلُوْهُ عَنِ الْعَزْلِ فَقَالَ: ذلِكَ الْوَأْدُ الْخَفِيُّ .\rAzal (mengeluarkan mani laki-laki di luar farji), para ulama Madzhab Syafi'i berpendapat: Azal itu makruh berdasar riwayat Judzamah binti Wahab, katanya: Saya hadir pada Rasulullah saw., kemudian para sahabat bertanya kepada beliau tentang azal, lalu beliau bersabda: \"Azal itu adalah mengubur anak hidup-hidup yang samar.\"","part":1,"page":387},{"id":388,"text":"وَقَالَ الْغَزَالِيُّ: يَجُوْزُ الْعَزْلُ، وَهُوَ الْمُصَحَّحُ عِنْدَ الْمُتَأَخِّرِيْنَ، لِقَوْلِ جَابِرٍ: كُنَّا نَعْزِلُ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْقُرْآنُ يَنْزِلُ . وَالْقَوْلُ بِجَوَازِ الْعَزْلِ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ بَيْنَ الْمَذَاهِبِ الأَرْبَعَةِ ، لِحَدِيْثِ أَبِيْ سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ مَرْفُوْعًا عِنْدَ أَحْمَدَ: إِنَّا نَأْتِي النِّسَاءَ وَنُحِبُّ إِتْيَانَهُنَّ فَمَا تَرَى فِي الْعَزْلِ؟ فَقَالَ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِصْنَعُوْا مَابَدَا لَكُمْ فَمَا قَضَى الله تَعَالَى فَهُوَ كَائِنٌ، وَلَيْسَ مِنْ كُلِّ الْمَاءِ يَكُوْنُ الْوَلَدُ. وَيَحْرُمُ الْعَزْلُ عَنِ الْمَرْأةِ الْحُرَّةِ إلاَّ بِإِذْنِهَا لِمَا رُوِيَ عَنْ عُمَرَ قَالَ: نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَعْزِلَ عَنِ الْحُرَّةِ إِلاَّ بِإِذْنِهَا.","part":1,"page":388},{"id":389,"text":"Imam Ghozali berpendapat: Azal itu hukumnya boleh, pendapat ini dibenarkan oleh ulama' Muta'akhirin berdasarkan ucapan Jabir: \"Kami melakukan azal pada masa Rasulullah saw dan Al Qur'an sedang turun.\" Pendapat mengenai kebolehan azal itu disepakati di antara madzhab empat, berdasar hadits Abu Said Al Khudri secara marfuk menurut Imam Ahmad: \"Sesungguhnya kami mendatangi para isteri dan kami senang mendatangi mereka; maka bagaimana pendapat tuan mengenai azal? Rasulullah saw. bersabda: Lakukanlah apa yang nampak bagimu. Karena apapun yang telah ditetapkan oleh Allah ta'ala, niscaya hal itu terjadi, dan tiadalah dari setiap air itu menjadi anak.\" Azal dari isteri orang merdeka itu haram kecuali dengan izinnya, berdasar hadits dari Umar ra. Katanya: Rasulullah saw. melarang azal dari isteri orang merdeka kecuali dengan izinnya.\rPada halaman 107 - 108 disebutkan:\rوَقَالَ مُتَأَخِّرُوْ الْحَنَفِيَّةِ: يَجُوْزُ الْعَزْلُ بِغَيْرِ إِذْنِ الْمَرْأَةِ، كَأَنْ يَكُوْنَ فِيْ سَفَرٍ بَعِيْدٍ ، أََوْ فِيْ دَارِ الْحَربِ ، فَخَافَ عَلَى الْوَلَدِ ، أَوْ كَانَتِ الزَّوْجَةُ سَيِّئَةَ الْخُلُقِ وَيُرِيْدُ فِرَاقَهَا فَخَافَ أَنْ تَحْبَلَ .\rPara ulama' muta'akhkhir dari madzhab Hanafi berpendapat: Azal itu boleh tanpa izin isteri, seperti apabila dalam perjalanan jauh atau berada di negeri musuh sehingga takut akan kelahiran anak, atau isterinya berakhlak jelek dan sang suami ingin menceraikannya sehingga dia mengkhawatirkan apabila isterinya hamil.","part":1,"page":389},{"id":390,"text":"Menurut kitab-kitab fiqih, nifas itu paling sedikit satu kali keluar dan paling banyak 60 (enam-puluh) hari dan biasanya 40 hari. Jadi apabila sesudah 40 hari dan sebelum 60 hari masih ada darah yang keluar, maka hukumnya adalah darah nifas. Dan jika setelah waktu 60 hari masih keluar, maka hukumnya darah istihadlah (darah penyakit). Sedang yang mengalami darah istiha-dlah ini wajib melakukan shalat.\rDasar pengambilan:\rKitab At Tadzhib halaman 35:\rوَأَقَلُّ النِّفَاسِ لَحْظَةٌ ، وَأَكْثَرُهُ سِتُّوْنَ يَوْمًا ، وَغَالِبُهُ أَرْبَعُوْنَ يَوْمًا.\rYang paling sedikit dari waktu nifas itu adalah satu pandangan, yang paling banyak adalah enampuluh hari dan umumnya adalah empatpuluh hari.\rBagi seorang suami disamping kewajiban untuk berbakti kepada kedua orang tuanya, sebagaimana disebutkan dalam surat al Isyra' ayat 23 dan 25, juga mempunyai kewajiban untuk berbuat baik kepada mertuanya yang telah menyerahkan anak perempuannya sebagai isterinya. Sebagaimana kita ketahui bahwa orang tua yang wajib kita taati itu ada 3, yaitu: orang tua yang menjadi sebab kelahiran kita; orang yang mengajarkan agama kepada kita dan kedua orang tua dari isteri kita.\rDasar pengambilan\rKitab Hikmatut Tasyri' wa Falsafatuhu Juz 2 halaman 46:\rإِحْتِرَامِى أُمَّهُ وَأَعْلَمِى أَنَّهَا أُمُّهُ قَبْلَ أَنْ تَكُونِى زَوجَتَهُ . وَأَنَّ اللهَ فَرَضَ عَلَيْهِ طَاعَتَهَا وَحُبَّهَا. إِحْتِرَامِى أَبَاهُ وَاتَّخِذِيْهِ لَكِ أَبًا.","part":1,"page":390},{"id":391,"text":"Hormatilah ibunya dan ketahuilah bahwa sesungguhnya beliau adalah ibunya sebelum anda menjadi isterinya. Sesungguhnya Allah mewajibkan kepada suami mentaati dan menyintai ibu isterinya. Hormatilah ayahnya dan jadikanlah beliau ayahmu.\rBudidaya Cacing dan Pemanfaatannya\rBagaimana kejelasan hukum mengenai budidaya cacing tanah yang dimanfaatkan sebagai bahan campuran obat, makanan ternak, kosmetik dan proses daur ulang sampah organik?\rJawaban\rPemanfaatan cacing tanah untuk campuran obat, kami masih belum berani memberikan jawaban, sebab bangkai cacing itu termasuk najis. Sedang berobat dengan barang najis itu ha-nya diperbolehkan dalam keadaan darurat saja, artinya sudah tidak ada barang yang suci yang dapat dipergunakan untuk mengobatinya. Sedang pemanfaatan untuk kosmetik, maka karena pemakaian kosmetik itu hukumnya tidak darurat, yang jelas tidak boleh mempergunakan benda yang najis.\rPemanfaatan cacing untuk makanan ternak seperti bebek atau lainnya dan untuk daur ulang sampah organik, maka hukumnya boleh, sehingga hukum membudidayakan cacing tersebut juga boleh.\rDasar pengambilan:\rKitab Bulghatus Salik li Aqrobil Masalik juz 2 halaman 6\r( قَوْلُهُ لاَ نَفْعَ بِهِ ) اُحْتُرِزَ بِذَلِكَ عَنِ الدُّوْدِ الَّذِيْ بِهِ النَّفْعُ فَإِنَّهُ جَائِزٌ مِثْلُ دُوْدِ الْحَرِيْرِ وَالدُّوْدِ الَّذِيْ يُتَّخَذُ لِطَعْمِ السَّمَكِ .","part":1,"page":391},{"id":392,"text":"(Ucapan mushannif: Sama sekali tidak ada manfaat padanya) harus dijaga dengan ucapan tersebut dari ulat yang ada manfaatnya, maka ulat tersebut adalah boleh dijual seperti ulat sutera dan ulat yang dipergunakan untuk memberi makan ikan.\rSistem Gadai Pertanahan\rSudah menjadi adat kebiasaan secara turun temurun di daerah kami mengenai sistem gadai (gaden) yang menyangkut masalah tanah. Contoh: Si A mempunyai tanah seluas 1 ha digadaikan kepada si B selama lima tahun dengan uang, binatang atau emas. Setelah jangka waktunya habis 5 tahun, si pemilik tanah (si A) tetap mengembalikan sebesar kesepakatan semula.\rBagaimana hukumnya sistem gadai (gaden) tersebut ditinjau dari segi agama?\rBagaimana hukumnya hasil dari tanah tersebut?\rBagaimana hukumnya penyapihan anak dari tetek ibunya?\rSampai usia berapakah ketentuan tentang penyapihan anak dari tetek ibunya ditinjau dari segi agama?\rJawaban\rHukum sistem gadai tersebut boleh.\rHukum dari hasil tanah tersebut harus diserahkan kepada pemilik tanah (orang yang menggadaikan). Karena barang yang digadaikan itu adalah suatu amanat yang harus dijaga , dan tidak boleh memanfaatkan barang gadaian kecuali mendapat izin dari pemiliknya.\rDasar pengambilan\rKitab Hamisy Ianatut Thalibin Juz 3 cet. Darul Fikr halaman 66\rوَهُوَ جَعْلُ عَيْنٍ يَجُوْزُ بَيْعُهَا وَثِيْقَةً بِدَيْنٍ يُسْتَوفَى مِنْهَا عِنْدَ تَعَذُّرِ وَفَائِهِ.","part":1,"page":392},{"id":393,"text":"Gadai itu adalah menjadikan barang yang halal dijual belikan sebagai jaminan yang sebahagian dari barang tersebut (seharga hutang) akan diambil oleh yang memberi hutang jika orang yang berhutang tidak dapat melunasi.\rKitab Bughyatul Musytarsyidin halaman 136\r(مسألة ش) إِرْتَهَنَ أَرْضًا فَوَضَعَ يَدَهُ عَلَيْهَا يَسْتَغِلُّهَا مِنْ غَيْرِ نَذْرٍ وَلاَ إِبَاحَةٍ مِنَ الْمَالِكِ لَزِمَهُ أَقْصَى أَجْرِ مَنَافِعِ مَا وَضَعَ يَدَهُ عَلَيْهِ مِنْهَا فَإِنْ تَلِفَتِ الأَرْضُ حِيُنَئِذٍ لَزِمَهُ أَقْصَى الْقِيَمِ لأَِنَّ فَائِدَةَ الَرَّهْنِ إِنَّمَا هُوَ التَوَثُّقُ بِالدَّيْنِ لِيَسْتَوْفِيْهِ مِنَ الْمَرْهُوْنِ عِنْدَ تَعَذُّرِ الإِيْفَاءِ وَالتَّقَدُّم بِهِ عَلَى غَيْرِهِ فَقَطْ.\rSeseorang telah menerima gadai sebidang tanah, kemudian dia menguasai tanah tersebut untuk diambil hasilnya tanpa ada nadzar dan kebolehan dari pemilik tanah (orang yang menggadaikan). Maka orang menerima gadai tersebut wajib memberi kepada pemilik tanah hasil yang terbanyak dari tanah tersebut. Jika tanah itu rusak, maka wajib bagi penerima gadai untuk membayar harga tertinggi dari tanah tersebut. Sebab faedah gadai itu hanya suatu kepercayaan hutang agar sebahagian dari barang yang digadaikan tersebut dapat dipergunakan untuk membayar hutang, pada waktu orang yang berhutang tidak dapat melunasi dan berhalangan menjual barang yang digadaikan kepada orang lain sebelum batas waktunya habis.","part":1,"page":393},{"id":394,"text":"Hukum penyapihan itu diperbolehkan. Pada dasarnya agama tidak membatasi sampai berapa usia seorang anak harus disapih dari tetek ibunya. Akan tetapi pada umumnya yang paling baik menyapih anak itu ketika dia berumur dua tahun. Sebagaimana telah disebutkan oleh Al qur`an di dalam kitab Tafsir Munir, juz: 2, halaman 171 yang berbunyi\r( وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ ) اَيْ فِطَامُهُ فِي تَمَامِ عَامِيْنِ وَهِيَ تَمَامُ مُدَّةِ الرَّضَاعِ عِنْدَ الشَّافِعِى وَمُدَّةُ الرَّضَاعِ عِنْدَ حَنِيْفَةَ ثَلاَثُوُنَ شَهْرًا.\r(Memisah anak sampai umur dua tahun) maksudnya adalah menyapih anak sampai umur dua tahun penuh. Yang dimaksud dua tahun itu adalah masa menyusukan anak, berdasarkan pendapat Imam Syafi`i. Dan menurut Abu Hanifah masa menyusukan itu selama tiga puluh bulan.\rKetentuan Jodoh, Rizqi dan Mati\rSaya seorang pemuda muslim, berusia 30 tahun, pegawai negeri dan belum menikah. Saya selalu gelisah bahkan hampir putus asa bila ingat pernikahan dan masa depan. Hal ini terjadi mungkin karena kehidupan keluarga saya (pribadi saya) atau mungkin juga melihat zaman yang sudah tidak karu-karuan ini, apalagi untuk generasi yang akan datang.\rBagaimana maksud dan penjelasan tentang hadits yang \"Tiap-tiap orang itu sudah ditentukan jodoh, rizki dan matinya! \"?\rKalau kita masih dianjurkan berusaha, seberapa besarkan usaha kita untuk ketiga hal tersebut?\rApakah usaha kita sama dengan bila menghadapi selain ketiga hal tersebut (misalnya mencari ilmu)?","part":1,"page":394},{"id":395,"text":"Saya melihat orang-orang dahulu (orang ‘alim) bisa mantap dan bisa menerapkan hadits tersebut, sehingga meskipun tidak terlalu sibuk mencari harta, namun rizkinya tetap lancar, anaknya banyak dan bisa beribadah dengan tenang. Namun mengapa saya tidak bisa seperti itu, sehingga hidup saya jadi gelisah dan hampir putus asa?\rKetika sedang i'tikaf di masjid atau setelah shalat atau ibadah-ibadah yang lainnya, kadang-kadang terlintas dalam fikiran saya untuk memo-hon kepada Allah agar nyawa saya secepatnya diambil pada saat tersebut; mengingat fikiran saya yang selalu gelisah bila memikirkan hari yang akan datang. Bolehkah fikiran saya yang demikian itu?\rJawaban\rBunyi hadits yang saudara maksudkan, sebagaimana terdapat dalam kitab al Wafi fi Syarhil Arbain Nawawi halaman 20 adalah sebagai berikut","part":1,"page":395},{"id":396,"text":"عَنْ أَبِيْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ الله ابْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ حَدَّثَنَا رَسُوْلُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوْقُ: إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِيْ بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا نُطْفَةً ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ . فَوَاللهِ الَّذِيْ لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا . وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا .","part":1,"page":396},{"id":397,"text":"Diriwayatkan dari bapak Abdir Rahman, yaitu Abdullah bin Mas'ud ra. Katanya: Telah menceriterakan kepada kami Rasulullah saw. orang yang selalu benar dan dibenar kan, sesungguhnya salah seorang dari kamu sekalian dikumpulkan kejadiannya dalam perut ibunya selama empat pulah hari berupa air mani. Kemudian menjadi segumpal darah dalam waktu empat puluh hari. Kemudian menjadi segumpal daging dalam waktu empat puluh hari. Lalu diutus seorang malaikat kepada janin tersebut dan ditiupkan ruh kepadanya dan malaikat tersebut diperintahkan untuk menuliskan empat perkara, yaitu: menulis rizkinya, batas umur-nya, pekerjaannya dan kecelakaan atau kebahagiaan hidupnya. Demi Allah yang tidak ada Tu-han selain Dia, sungguh ada salah seorang di antara kamu sekalian benar-benar telah beramal dengan amal ahli sorga sehingga tidak ada jarak antara dia dan sorga kecuali satu hasta, kemudian catatan taqdir telah mendahuluinya, sehingga dia melakukan pekerjaan ahli neraka, maka dia masuk ke dalam neraka. Dan sungguh ada salah seorang dari kamu sekalian yang beramal dengan amalan ahli neraka, sehingga tidak ada jarak antara dia dengan neraka kecu-ali satu hasta, kemudian catatan taqdir telah mendahuluinya, sehingga dia beramal dengan amal ahli sorga, maka dia masuk ke dalam sorga.","part":1,"page":397},{"id":398,"text":"Hadits di atas ini adalah berita dari Allah swt. kepada seluruh manusia lewat Rasulullah saw. tentang hakekat dari rizki, umur, pekerjaan dan kebahagiaan atau kecelakaan termasuk jodoh, yang harus diyakini oleh setiap orang muslim, tetapi tidak boleh dibahas karena hakekat itu adalah hak dari Allah swt.; dan tidak boleh dijadikan pegangan oleh setiap muslim pada waktu akan berusaha dan berikhtiar. Sewaktu akan berikhtiar melakukan pekejaan yang dapat mengantarkan dirinya kepada cita-citanya, setiap orang muslim harus berpegangan kepada rahmat Allah yang sangat luas yang dengan rahmat tersebut Allah Maha Kuasa untuk mengabulkan dan menuruti keinginannya. Kemudian setelah orang muslim tersebut berusaha dan cita-citanya belum tercapai, baru dia ber-sandar kepada hakekat, agar jiwanya tidak stres.\rUsaha yang harus kita lakukan untuk mencapai cita-cita adalah sebatas kemampuan yang telah di berikan oleh Allah swt. kepada kita sekalian. Karena meskipun Allah swt. telah menetapkan sesuatu ketetapan kepada kita, akan tetapi jika kita bersungguh-sungguh berdo'a dan memohon kepada Allah agar ketetapan yang telah ditetapkan pada kita tersebut dirubah oleh Allah, insya Allah permohonan dan do'a kita dikabulkan, sebagaimana sabda Nabi saw. dalam salah satu hadits:\rلاَ يَرُدُّ الْقَضَاءَ إِلاَّ دُعَاءٌ .\rTidak ada yang dapat menolak ketentuan Allah kecuali doa","part":1,"page":398},{"id":399,"text":"Usaha kita dalam mencari ilmu misalnya dan lain-lainnya juga harus bersungguh-sungguh sebatas kemampuan yang ada pada kita. Akan tetapi kalau ternyata berulang kali ujian kita masih gagal, kita harus segera bersandar pada qadla' dan qadar Allah swt. supaya kita tidak frustasi sehingga marah dan dendam yang berkepanjangan kepada guru atau dosen yang menguji.\rSebenarnya anda juga dapat meraih ketenangan dan ketentraman hidup sebagaimana yang telah diraih oleh orang-orang yang hidupnya selalu berusaha untuk mendekatkan dirinya kepada Allah dan tidak memperhitungkan rizqi dari Allah secara matematika. Misalnya anda sebagai pegawai negeri dengan gaji yang hanya pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan hidup anda, se-hingga karenanya anda tidak berani untuk kawin sebab khawatir tidak dapat memberi nafkah kepada isteri dan anak yang akan lahir dari isteri. Dalam hal ini anda lupa bahwa isteri dan anak yang akan lahir dari isteri anda sebenarnya rizkinya juga sudah dijamin oleh Allah swt. sebagaimana firman Allah dalam Al Qur'an surat Hud ayat 6 yang antara lain berbunyi:\rوَمَا مِنْ دَآبَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللهِ رِزْقُهَا ... الآية\rTidak ada makhluk yang merangkak di bumi kecuali rizkinya ditanggung oleh Allah\rDan dalam surat At Thalaq ayt 2 - 3 , Allah swt. berfirman:\rوَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ .","part":1,"page":399},{"id":400,"text":"Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allan akan menjadikan ja-lan keluar baginya dan akan memberi rizqi dari arah yang tidak dia perkirakan dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.\rDalam tafsir Al Munir yang dimaksud dengan \"Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya\" adalah bahwa barangsiapa yang percaya kepada Allah mengenai apa saja yang dia peroleh, maka Allah akan mencukupi dia dalam semua urusannya.\rPikiran anda yang demikian itu dilarang oleh agama. Sebab bagaimanapun keadaan yang menimpa diri anda, anda diperintahkan untuk selalu berharap kepada rahmat Allah dan dilarang berputus asa. Dalam surat Az Zumar ayat 53 Allah swt. telah berfirman:\rقُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِيْنَ أَسْرَفُوْا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لاَ تَقْنَطُوْا مِنْ رَحْمَةِ اللهِ ... الآية\rKatakan olehmu Muhammad: Wahai para hamba-Ku yang telah menghambur-hamburkan umurnya, janganlah kamu sekalian berputus asa terhadap rahmat Allah.\rSuami Melarang Istri Pergi Haji\rAda seorang isteri shalihah dan kaya namun bukan hasil kerja suaminya; sehingga karena kekayaannya dia berkewajiban naik haji tanpa suaminya karena suaminya tidak mampu membayar ONH; akan tetapi suaminya melarangnya naik haji.\rBagaimana sikap isteri tadi, apakah harus melaksanakan haq Allah atau haq Adami?\rBagaimanakah jika alasan suaminya dikarenakan suaminya seorang pemimpin Islam yang takut dan was-was kharisma kepemimpinannya hilang sebab keberangkatan isterinya?","part":1,"page":400},{"id":401,"text":"Apabila isteri tadi tidak melaksanakan haji karena dilarang suaminya, apakah dianggap punya hutang yang harus dibayar, seandainya isteri tadi di kemudian hari tidak dapat melaksanakan haji (jatuh miskin)?\rJawaban\rSang isteri wajib menta'ati larangan suaminya, lebih-lebih ibadah haji itu memakan waktu yang lama.\rDasar pengambilan:\rKitab Fiqhul Islamy wa Adillatuhu juz 3 halaman 35\rوَقَالَ الشَّافِعِيَّةُ: لِلزَّوْجِ مَنْعُ الزَّوْجَةِ مِنَ الْحَجِّ الْفَرْضِ وَالْمَسْنُوْنِ ؛ لأَنَّ حَقَّهُ عَلَى الْفَوْرِ، وَالنُّسُكَ عَلَى التَّرَاخِيْ ، وَلَيْسَ لَهُ مَنْعُهَا مِنَ الصَّوْمِ وَالصَّلاَةِ ، وَالْفَرْقُ: طُوْلُ مُدَّةِ الْحَجِّ ، بِخِلاَفِهِمَا.\rPara ulama' madzhab Syafi'i berpendapat: \"Suami berhak melarang isteri untuk melakukan ibadah haji yang wajib dan yang sunnat; karena hak suami yang harus dilayani isteri adalah seketika, sedangkan ibadah haji dapat ditunda. Suami tidak berhak melarang isteri untuk berpuasa dan shalat. Perbedaannya adalah Masa haji itu lama, berbeda dengan puasa dan shalat.\rKekhawatiran atau was-was akan kehilangan kharisma tidak dapat dijadikan alasan untuk melarang isteri menunaikan ibadah haji, sebab kekhawatiran dan was-was tersebut belum yakin akan terjadi. Dalam qaidah fiqih disebutkan:\rاَلْيَقِيْنُ لاَ يُزَالُ بِالشَّكِّ .\rHukum yang sudah yakin itu tidak dapat dihilangkan dengan keragu-raguan","part":1,"page":401},{"id":402,"text":"Isteri tersebut tidak mempunyai tanggungan hutang, karena biaya untuk melaksanakan ibadah haji bagi isteri itu menjadi tanggungan suami, kecuali jika isteri yang kaya raya mau bersedekah kepada suaminya untuk melakukan haji bersama, sebgaimana firman Allah dalam Al Qur'an su-rat An Nisa' ayat 34.\rMogok Makan Untuk Unjuk Rasa\rUsulan dari almarhum KH. Imron Hamzah\rUnjuk rasa sering dilakukan dalam rangka penyampaian kritik terbuka, protes atas kebijaksanaan/perlakuan, upaya memaksakan tuntutan kepada Pemerintah atau Instansi/Lembaga dan perusahaan. Selain diwarnai pengerahan sejumlah massa, menggelar orasi, memperlihatkan spanduk berisi tuntutan, membagi-bagikan selebaran, aksi menduduki gedung pemerintah, memblokir jalan masuk, mogok kerja dan sering pula unjuk rasa itu disertai dengan aksi mogok makan selama beberapa hari.\rDampak mudlarat dari aksi mogok makan itu bisa membuat pelaku pingsan, jatuh sakit kelelahan, bahkan sampai meninggal dunia. Padahal dalam Islam masa terlama untuk menahan diri dari makan minum berhubung ibadah puasa adalah 12 jam, serta haram dilakukan wishal.\rApakah aksi mogok makan (dan minum) yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang dalam rangka unjuk rasa, protes atau menuntut sesuatu dibenarkan menurut Islam?\rBagaimana pula bila aksi mogok makan itu dinadzarkan selama tuntutan yang bersangkutan belum dikabulkan?\rJawab\r1. Aksi mogok makan dan minum dalam rangka unjuk rasa, protes atau menuntut sesuatu dibenarkan apabila:","part":1,"page":402},{"id":403,"text":"dilakukan sebagai alternatif terakhir dalam rangka amar makruf atau menuntut haknya.\rtidak mengandung madlorot/tahlukah (membahayakan / mencelakai diri sendiri)\rDasar Pengambilan\r1. Nihayatuz zain halaman 360\rوَشَرْطُ وُجُوبِ الأَمْرِ وَالنَّهْيِ عَلَى مُكَلَّفٍ أَنْ يَأْمَنَ عَلَى نَفْسِهِ وَعُضْوِهِ وَمَالِهِ وَإِنْ قَلَّ كَدِرْهَمٍ وَعِرْضِهِ وَعَلَى غَيْرِهِ بِأَنْ لَمْ يَخَفْ مَفْسَدَةً عَلَيْهِ أَكْثَرَ مِنْ مَفْسَدَةٍ المُنْكَرِ الوَاقِعِ وَيَحْرُمُ مَعَ الخَوفِ عَلَى الغَيْرِ مَعَ خَوفِ المَفْسَدَةِ المَذْكُورَةِ\rSyarat wajib amar makruf nahi mungkar bagi setiap mukallaf adalah: rasa aman/keselamatan bagi dirinya, anggota badannya, dan hartanya meskipun sedikit semisal satu dirham, juga keselamatan kehormatannya, dan keselamatan orang lain, dengan tidak ada kekhawatiran terjadi kerusakan yang lebih besar dari kemungkaran tersebut, dan haram: apabila khawatir mencelakakan orang lain serta terjadi kerusakan\r2. Bujairimi ala al minhaj juz 4 halaman 248\rوَبِأَمْرٍ بِمَعْرُوفٍ وَنَهْيِ عَن مُنْكَرٍ أى الأَمْرُ بِوَاجِبَاتِ الشَّرْعِ وَالنَّهْيِ عَنْ مُحَرَّمَاتِهِ إِذَا لَمْ يَخَفْ عَلَى نَفْسِهِ او مَالِهِ او عَلَى غَيْرِهِ مَفْسَدَةً اعْظَمُ مِنْ مَفْسَدَةٍ المُنْكَرِ الوَاقِعِ - وَلاَ يُنْكَرُ إِلاَّ مَا يَرَى الفَاعِلُ تَحْرِيْمَهُ (قَولِهِ عَلَى نَفْسِهِ) أى وَعِرْضِهِ م ر او عَلَى غَيْرِهِ وَيَخْرُمُ مَعَ الخَوفِ عَلَى الغَيْرِ إه","part":1,"page":403},{"id":404,"text":"Wajib memerintahkan kewajiban syar'iah dan mencegah kemungkaran/muharromat apabila tidak mengkhawatirkan atas dirinya atau hartanya atau diri orang lain akan terjadi mafsadah/kerusakan yang lebih besar dari bahaya mafsadah kemungkaran yang telah terjadi, dan tidak wajib ingkar kecuali atas perkara yang haram menurut keyakinan pelaku perbuatan tsb.\r3. Is-adur Rofiq Juz 1 halaman 67\rوَلاَ يُقَدَّرُ عَلَيْهِ بِاليَدِّ وَلاَ بِاللِّسَانِ فَيَجِبُ عَلَيْهِ الإِنْكَارُ بِقَلْبِهِ ... إِلَى أَنْ قَالَ: وَلاَيَبْعَدُ كُونُ المَعْنَى فَلْيُغَيِّرُ بِهِمَّةِ قَلْبِهِ وَدُعَائِهِ رَبُّهُ فَإِنَّ هِمَّةَ الرِّجَالِ تَهْدُمُ الجِبَالَ كَمَا قَالَ ابو عَبْدِ اللهِ القُرَشِ لأَصْحَابِهِ: إِنْكَارُ المُنْكَرِ بِالبَاطِنِ مِنْ حَيثُ أَكْلِ أَتَمُّ مِنْهُ بِالظَاهِرِ مِنْ حَيْثُ المَقَال إه\r4. Al Jamal ala Sarhi al Minhaj Juz 5 halaman 182","part":1,"page":404},{"id":405,"text":"وَشَرْطُ وُجُوبِ الامْرِ بِالمَعْرُوفِ أَنْ يَأْمَنَ عَلَى نَفْسِهِ وَعُضْوِهِ وَمَالِهِ وَإِنْ قَلَّ كَمَا شَمِلَهُ كَلاَمُهُمْ بَلْ وَعِرْضِهِ كمَا هُوَ ظَاهِرٌ وَعَلَى غَيْرِهِ بِأَنْ يُخَافُ عَلَيْهِ مَفْسَدَةٌ أَكْثَرُ مِنْ مَفْسَدَةٍ المُنْكَرِ الوَاقِعِ وَيَحْرُمُ مَعَ الخَوفِ عَلَى الغَيْرِ وَيُسَنُّ مَعَ الخَوفِ عَلَى النَّفْسِ وَالنَّهْيِ عَنِ الإِلْقَاءِ بِاليَدِّ إِلَى التَّهْلُكَةٍ مَخْصُوصٍ بِغَيْرِ الجِهَادِ وَنَحْوِهِ كَمَكْرِهِ عَلَى فِعْلٍ حَرَامٍ غَيْرِ زِنَا وَقَتْلٍ وَإِنْ يَأمَنَ أَيْضًا أنَّ المُنْكَرَ عَلَيْهِ لاَيَقْطَعُ نَفَقَتُهُ وَهُوَ مُحْتَاجٌ إِلَيْهَا وَلاَ يُرِيْدُ عِنَارًا وَلاَ يَنْتَقِلُ إِلَى مَا هُوَ افْحَشُ وَسَوَاءٌ فِى لُزُومِ الإِنْكَارِ أظُنُّ أنَّ المَأْمُورَ يَمْتَثِلُ ام لاَ انْتَهَت\r5. Is-adur Rofiq juz 2 halaman 68\rوَيَأْمُرُ وَيَنْهَى نَحْوَ السُلْطَانِ بِوَعْظِ ثُمَّ يَخْشَى لَهُ إِن لَمْ يُخَفْ ضَرَرُهُ وَلَهُ ذَلِكَ وَإِن اَدَّى لِقَتْلِهِ لِلْحَديْثِ الصَحِيْحِ وَأفْضَلُ الشُّهَدَاء حَمْزَة, وَرَجُلٌ قَامَ إِلَى الإِمَامِ جَائِزٌ فَأمَرَهُ وَنَهَاه فَقَتَلَهُ. وَلَو رَأى بَهِيمَةً تَتلُفُ مَالَ غَيِرِهِ لَزِمَهُ كَفَّهَا إِنْ لَمْ يَخَفْ وَمَنْ وَجَدَهُ يُرِيْدُ قَطْعُ طُرُقِ نَفْسِهِ مَنَعَهُ وَإِنْ أَدَّى لِقَتْلِهِ وَكَذَا يُمْنَعُ مَنْ رَآه يُرِيْدُ إِتْلاَف مَالِهِ او دبر حليلته وإن ادى لقتله إه\r6. I'anatut Thalibin juz 4 halaman 183","part":1,"page":405},{"id":406,"text":"قال فى الروض وشرحه ولا يسقُطُ الامر بالمَعرُوفِ والنهى عن المنكر الا لخوف منهما على نفسهِ او مَالِهِ او عضْوِهِ او بضعه او لخوف مفسدة اكثر من مفسدة المنكر الواقع او غلب على ظنه ان المرتكب يزيد فيما هو فيه عنادا اه\r2. Hukum nadzar mogok makan tidak sah (tidak harus dipenuhi) bahkan hukumnya haram apabila aksi mogok tersebut mengarah kepada tindakan maksiat seperti untuk menuntut sesuatu yang bukan haknya atau mencelakakan diri.\rZiarah ke Makam Non-Muslim\rUsulan dari PCNU Kab. Tuban\rDalam rangka studi wisata atau kepentingan spiritual tertentu, orang merasa perlu mengenang jasa para leluhur dengan berziarah ke lokasi makam mereka. Yang dikebumikan pada makam-makam tersebut bisa pemilik nama besar dalam sejarah karajaan Nusantara yang periode hidupnya sebelum agama Islam masuk ke Indonesia. Mereka itu bisa raja (ratu), permaisuri/selir, senopati, pujangga/empu atau perangkat kerajaan yang lain. Secara garis besar mereka yang dimakamkan itu tergolong umat manusia yang hidup pada masa fatrah.\rApabila leluhur itu bersambung dengan silsilah kita umamt Islam, maka belajar dari riwayat hadits Nabi Muhammad saw. berkenan berziarah ke makam Aminah ibunda beliau, agaknya ziarah itu dibenarkan. Seperti diketahui bahwa ibunda Nabi saw. wafat pada masa fatratul-wahyi, karena saat itu usia Muhammad saw. masih anak-anak.\rPertanyaan\rApakah ziarah ke makam raja-raja dan tokoh sejarah sebelum Islam masuk ke wilayah Nusantara itu dibolehkan menurut syari'at?","part":1,"page":406},{"id":407,"text":"Apabila dibenarkan, aktivitas apa yang boleh mewarnai acara ziarah makam tersebut?\rJawab\rHukum ziarah ke makam raja-raja atau tokoh-tokoh sejarah datangnya dakwah Islamiyah hukumnya diperbolehkan, bahkan hukumnya sunnah meskipun ziarah ke kuburan orang-orang kafir, apabila dilakukan untuk tadzakkuril maut (mengingat-ingat kematian)\rDasar pengambilan\rIhya ulumuddin juz 4 halaman 521\rزيارة القبور مستحبة على الجملة للتذكر والاعتبار وزيارة قبور الصالحين مستحبة للترك مع الاعتبار وقد كان رسول الله صلى الله عليه وسلم نهى عن زيارة القبور ثم أذن فى ذلك بعد روى عن على رضى الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال: كنت نهيتكم عن زيارة القبور فزوروها فإنها تذكر الأخرة غير أن لا تقولوا هجرا وزار رسول الله صلى الله عليه وسلم قبرأمه فى الف مقنع فلم ير باكيا اكثر منه يومئذ وفى هذا اليوم قال اذن لى فى الزيارة دون الإستغفار.\rTafsir Munir Juz 1 halaman 475\rونقل عن السيوطى أن أبوى النبى صلى الله عليه وسلم لم تبلغها الدعوة والله تعالى يقول وما كنا معذبين حتى نبعث رسولا وحكم من لم تبلغه الدعوة أنه يموت ناحيا ولا يعذب ويدخل الجنة.\rAktivitas yang dilakukan adalah:\rTadzakkuril Maut (mengingat-ingat kematian)\rMemintakan rahmat, pengampunan dan berdoa untuk mayit apabila bukan mayit kafir.\rmk:@MSITStore:G:\\untuk maktabah baru\\Kumpulan Bahtsul Masaail - Seri 2.CHM::/../../../My Web Sites/NH/pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/masail/wilayah/lirboyo_2000/02a180.html?seemore=y - top\rProfesi TKW ke Luar Negeri\rUsulan dari PCNU Kab. Indramayu Jabar, sisa masa'il Muktamar XXX","part":1,"page":407},{"id":408,"text":"Keterbatasan lapangan kerja yang menjanjikan upah/penghasilan besar di dalam negeri sendiri (Indonesia) semakin langka. Kalau ada, nilai upahnya rendah. Gerak urbanisasi antar pulau dan ke kota-kota besar ternyata belum memadai untuk mengatasi problema kemiskinan di pedesaan. Faktor ekonomi itulah telah mendorong semakin pesat TKW mencari pekerjaan ke negeri jiran (Malaysia dan negara-negara ASEAN) hingga ke Timur Tengah.\rTKW bisa masih berstatus lajang (gadis), mungkin berkedudukan sebagai isteri. Betapa ijin didapat dari orang tua gadis, persetujuan dari suami yang sanggup merawat anak juga bisa diperoleh. Namun perjalanan melampaui masafah al-qashri dan kemudian menetap tinggal menyatu dengan keluarga lain, berlangsung agak lama (sesuai kontrak) dan tanpa disertai muhrimnya.\rDampak negatif seperti pemberitaan pers menggambarkan: TKW diperlakukan sebagai budak belian yang harus siap memberikan pelayanan segala-galanya, diperkosa majikan, melahirkan anak bukan dari suami sah di Indonesia, bunuh diri karena tak tahan penderitaan, sampai ada yang melakukan perlawanan kepada majikan dan harus menghadapi hukuman mati sesuai hukum pidana setempat (qishash/hudud). Peran perusahaan penyalur tenaga kerja dalam hal perlindungan TKW tak lebih sebagai makelar yang profit oriented.\rPertanyaan\rBagaimana pandangan hukum Islam tentang wanita berprofesi sebagai TKW di luar negeri, baik yang berstatus lajang (gadis) atau masih terikat hukum perkawinan dengan suaminya di Indonesia?","part":1,"page":408},{"id":409,"text":"Bolehkah wanita bepergian melebihi batas masafah al-qashri dan juga harus menetap tinggal karena bekerja di luar negeri dalam waktu lama tanpa disertai muhrimnya?\rMilik siapakah penghasilan wanita sebagai isteri yang bekerja sebagai TKW di luar negeri?\rWajarkah bila suami berharap bagian dari penghasilan isteri yang TKW itu guna membiayai perawatan anak?\rJawab\r1. Pandangan hukum Islam tentang wanita yang berprofesi sebagai TKW di luar negeri, baik yang berstatus lajang (gadis) atau masih terikat hukum perkawinan dengan suaminya hukumnya adalah tidak boleh kecuali:\raman dari fitnah\rsuami miskin\rmendapat izin walinya /suaminya\rSedang yang dimaksud dengan aman dari fitnah adalah aman dari maksiat dan tidak keluar dari syariat.\rDasar Pengambilan\ra. Kitab Jamal Syarah Manhaj, Darul Ihya', Juz 2 Hal. 135:\r( قوله او دنياه) ومنه ضيق العيش اهـ ع ش (قوله وسن لفتنة دينى) أى لخوفها- الى ان قال -والمراد بها المعاصى والخروج عن الشرع اهـ\rb. Hasyiah Jamal Syarah Manhaj, Darul Ihya' Juz 4 Hal. 509:\r(ولهاخروج فيهالتحصيل نفقة) مثلا بكسب او سؤال وليس له منعها من ذلك لانتفاء الانفاق المقابل لحسبها(وعليها رجوع) الى مسكنها(ليلا) لانه وقت الدعة وليس لها منعه من التمتع ... (قوله لانه وقت الدعة) أى الراحة ويؤخذ منه انه لو توقف تحصيلها على مبيتهافى غير منزله كان لها ذلك اهـ ع ش.\rc. Tarsyihul Mustafidin Hal. 352:\rيجوز لها الخروج فى مواضع:منهااذااشرف البيت على لانهدام الى ان قال ... ومنها اذا خرجت لاكتساب نفقة بتجارة او سؤال او كسب اذا اعسر الزوج.\rd. Tarsyihul Mustafidin Hal. 174:","part":1,"page":409},{"id":410,"text":"(قوله مع امرأة ثقة) ليس بقيد كما فى المغنى وغيره فيجوز لهاالخروج لفرض الاسلام ككل واجب ولو وحدهااذا أمنت قال فى بشرى الكريم ومن الواجب خروج المرأة الى محل حراشتهالأن طلب الحلال واجب ولو شابة.\re. Mas'uliyatul Mar'ati Al Muslimah Hal. 78 - 79\rمن الأدلة على عدم مشروعية عمل المرأة خارج بيتها:\r1. وجوب الحجاب الشرعي عليها كما تقدم.\r2. تحريم السفور المثير للفتنة وهو من لوازم العمل خارج البيت عالبا.\r3. تحريم الإختلاط بالرجال الأجانب وهو حاصل بالخروج إلى العمل.\r4. تحريم التبرج وإظهار الزينة والمحاسن الذى وقع فيه أكثر النساء وهو حاصل بالخروج إلى العمل.\r5. أنها عورة ودرة نفيسة تجب صيانتها والحفاظ عليها.\r6. أنها مشغولة دائما بالعناية بأولادهاوبيتها وشئون زوجها وهي أعمال تناسب فطرتها.\r7. أنها فتنة تفتن الرجال ويفتنون بها.\rf. Al Majmu' Syarah Muhadzdzab Juz 7 Hal. 87\rg. Is'adur Rafiq Juz 2 Hal. 136.\rh. Ianatuth Tholibin Juz 4 Hal. 80 - 81, 95 dan Juz 2 Hal. 284\ri. Hamisy Sarwani Juz 8 Hal. 342.\r2. Adapun seorang wanita yang bepergian melampui batas masafatul qashri (jarak diperbolehkannya mengqoshor sholat) sehingga harus menetap sebagai TKW maka hukumnya Haram kecuali betul-betul aman dari fitnah.\rDasar Pengambilan\ra. Isy'adur Rafiq Juz 2 Hal. 3\rb. I'anatuth Tholibin Juz 4 Hal. 44 dan Juz 3 Hal. 263.\rc. Faidlol Qodir Juz 6 Hal. 298.\rd. Majmu' Syarah Muhadzdzab Juz 7 Hal 87.\re. Abi Jamroh 134.\rf. Tihatul Muttaqin Juz 1 Hal. 650\rg. Isy'adur Rafiq Juz 1 Hal. 136.\rh. Asybah wa Nadzoir Karangan Imam Suyuthi Hal. 198.\r3. a. Penghasilannya milik Isteri (TKW)","part":1,"page":410},{"id":411,"text":"3. b. Tidak wajar kecuali keadaan sang suami dan bapaknya (suami) tidak mampu membiayai perawatan anaknya.\rDasar Pengambilan\ra. Bughyatul Mustarsyidin Hal. 165\rb. SyarAH Sulam Taufiq Hal. 56.\rc. Fathul Muin Hal. 3.\rd. I'anatuth Tholibin Juz 4 Hal. 99. (fi fashin Nikah)\rHukum Sumpah Pocong\rUsulan dari PCNU Genggong Probolinggo\rSengketa perdata (mu'amalah) seringkali diwarnai pengingkaran gugatan (klaim), semisal pihak lawan merasa tidak menerima penyerahan sertifikat tanah yang diagunkan, merasa tidak berhutang kepada seseorang dan lain-lain. Dalam kasus tuduhan berlaku hal sama seperti pengingkaran atas tuduhan berpraktik sebagai dukun santet, tuduhan selingkuh dengan wanita bukan isterinya dan lain sebagainya. Dalam hal ini para pihak tidak memiliki dalil (fakta) untuk memperkuat gugatan maupun pengingkarannya.\rSementara dalam fiqih murafa'at dikenal adanya sumpah pemutus (yamin al-istidzar) sebagai upaya mengakhiri sengketa karena para pihak tidak dapat mengajukan alat bukti lain. Sebagaimana sumpah li'an untuk menyudahi tuduhan zina oleh suami kepada isterinya karena tak cukup saksi yang diperlukan. Demikian juga dalam kasus amanah lewat wasiat (Qs. Al Maidah: 106) dikenal cara pemberatan (taghlidl) sumpah yang ditandai oleh waktu (ba'da shalat ashar) dan tempat pengambilan sumpah di dalam masjid.","part":1,"page":411},{"id":412,"text":"Akhir-akhir ini masyarakat banyak memprakarsai sara untuk mengakhiri sengketa/tuduhan dengan meminta kesediaan lawan untuk disumpah pocong. Pihak yang diminta bersumpah pocong dibalut kain kafan mayat berwarna putih, dibaringkan membujur tak ubahnya mayat yang siap dishalat-jenazahkan, kemudian dibimbing petugas tertentu untuk menyatakan sesuatu di bawah sumpah \"demi Allah\". Pada acara sumpah pocong tersebut, hakim peradilan tidak berperan kecuali sebatas mengawasi pelaksanaan sumpah atas permintaan itu.\rPertanyaan\rTepatkah menurut hukum Islam bila sumpah pocong itu dijadikan upaya hukum alternatif guna menyudahi sengketa/tuduhan tertentu?\rApakah landasan legitimasi syar'i terhadap tata cara pelaksanaan sumpah pocong itu?\rJawab\rMenurut hukum Islam sumpah pocong itu boleh sepanjang tidak di-i'tiqod-kan sebagai syariat (masyru).\rLegitimasi syar'i terhadap pelaksanaan sumpah pocong adalah untuk menguatkan sumpah.\rDasar Pengambilan\rI'anatut Thalibin juz 4 halaman 318\r(فرع ) يسن تغليظ يمين من المدعى والمدعى عليه وان لم يطلبه الخصم فى نكاح وطلاق و رجعة وعتق ووكلة وفى مال بالغ عشرين دينارا لا فيما دون ذلك لانه حقير فى نظر الشرعى نعم لو رآه الحكيم لنحو جراءة الحليف فعله وتغليظ يكون بالزمان وهو بعد العصروعصر الجمعة اولى بالمكان وهو للمسلمين عند المنبر اه (وقوله ويسن أن يقرأ الخ) عبارة غيره ومن التغليظ ان يوضع المصحف فى حجره ويطلع له سورة برأة ويقال له ضع يدك على ذلك ويقراء قوله تعالى ان الذين يشترون ... الأية اهـ\rAl Jami' li Ahkamil Qur'an Juz 6 Hal. 354.\rAd Darul Nadzir Li Syeh Al Islam Al Huriy Hal. 91.","part":1,"page":412},{"id":413,"text":"Alat Bantu Seksual\rSebagaimana yang saya ketahui, di Surabaya akhir-akhir ini banyak sekali toko-toko yang menjual alat-alat pelampias seksual seperti: penis elektrik, boneka elektrik, dan alat bantu lainnya.\rBagaimana hukumnya menggunakan alat-alat tersebut?\rOrang yang menggunakan alat tersebut apakah termasuk zina?\rJawaban:\rHukum menggunakan alat-alat tersebut hukumnya haram!\rOrang yang menggunakan alat-alat tersebut adalah termasuk orang yang zina dengan tangannya sendiri, karena alat-alat tersebur baru berfungsi dengan bantuan tangannya sendiri. Dia mendapat hukuman ta'zir yang ditentukan oleh hakim, meskipun tidak seberat hukuman zina yang dilakukan oleh orang laki-laki dengan wanita lain.\rDasar pengambilan:\rKitab I'anatut Thalibin juz 4 hal. 143:\rفَلاَ حَدَّ بِمُفَاخَذَةٍ وَمُسَاحَقَةٍ وَاسْتِمْنَاءٍ بِيَدِ نَفْسِهِ أَوْ غَيْرِ حَلِيْلَتِهِ بَلْ يُعْزَرُ فَاعِلُ ذَلِكَ (قَوْلُهُ وَاسْتِمْنَاءٌ) أَيْ تَعَمُّدُ طَلَبِ إِخْرَاجِ الْمَنِيِّ (وَقَوْلُهُ بِيَدِ نَفْسِهِ أَوْ غَيْرِ حَلِيْلَتِهِ) فَإِنْ كَانَ بِيَدِهَا فَلاَ حُرْمَةَ .","part":1,"page":413},{"id":414,"text":"Maka sama sekali tidak ada hukuman had (hukuman yang ditentukan oleh Syara') perbuatan mengeluarkan air mani dengan menggunakan paha orang lain (laki-laki dengan laki-laki) dan perbuatan lesbian (perbuatan yang dilakukan oleh orang perempuan dengan sesama jenisnya dengan menggunakan kemaluannya) dan mengeluarkan air mani dengan tangannya sendiri atau tangan selain isterinya. Tetapi orang yang melakukan hal tersebut dikenakan hukuman ta'zir (hukuman yang beratnya ditentukan oleh hakim). (Ucapan pengarang: Istimna') artinya sengaja berusaha mengeluarkan air mani. (Dan ucapan pengarang: Dengan tangannya sendiri atau selain tangan isterinya), maka jika dengan tangan isterinya, hukumnya tidak haram.\rKitab Syarah Sulam Taufiq halaman 76 - 77:\rفَصْلٌ: وَمِنْ مَعَاصِي الْفَرْجِ الزِّنَا ... إِلَى أَنْ قَالَ: وَالإِسْتِمْنَاءُ بِيَدِ غَيْرِ الْحَلِيْلَةِ .\rFasal: Dan di antara kemaksiatan-kemaksiatan kemaluan adalah zina dan homoseksual ... sampai pada ucapan pengarang: dan sengaja mengeluarkan air mani dengan menggunakan tangan selain isterinya sendiri.\rMati Dalam Kebakaran\rDalam insiden kebakaran sering kondisi korban tidak bisa dikenali lagi. Hal ini karena korban sudah tidak berwujud sama sekali; tulang belulang sudah hancur menjadi debu. Namun ada yang mengatakan bahwa tewas karena kebakaran itu termasuk mati syahid.\rBagaimana caranya memandikan mayat yang dalam kondisi hancur lebur?\rBetulkah korban termasuk mati syahid?\rJawaban:","part":1,"page":414},{"id":415,"text":"Jika mayat itu sudah tidak mungkin untuk dimandikan karena hancur terbakar, maka harus ditayammumi.\rBenar, korban kebakaran itu termasuk mati syahid, tetapi syahid akhirat saja dan bukan syahid dunia dan akhirat seperti orang yang mati dalam medan pertempuran. Artinya, masih wajib dimandikan (jika mungkin), dikafankan, dishalati dan dimakamkan.\rDasar pengambilan:\rKitab Al Bajuri juz 1 halaman 242 - 243:\r(وَيَلْزَمُ) عَلَى طِرِيْقِ فَرْضِ الْكِفَايَةِ (فِي الْمَيِّتِ) الْمُسْلِمِ غَيْرِ الْمُحْرِمِ وَالشَّهِيْدِ (أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ غُسْلُهُ وَتَكْفِيْنُهُ وَالصَّلاَةُ عَلَيْهِ وَدَفْنُهُ ) (قَوْلُهُ غُسْلُهُ) أَيْ أَوْ بَدُلُهُ وَهُوَ التَّيَمُّمُ كَمَا لَوْ حُرِقَ بِالنَّارِ وَكَانَ لَوْ غُسِلَ تَهَرَّى .\rDan wajib menurut jalan fardlu kifayah pada mayat yang muslim selain orang yang mati dalam keadaan ihram dan mati syahid (dalam pertempuran membela agama) empat perkara, yaitu: memandikannya, mengkafaninya, melakukan shalat atasnya dan menguburnya. Ucapan pengarang: memandikannya, artinya atau penggantinya, yaitu tayammum, sebagaimana andaikata mayat yang terbakar oleh api dan andaikata dimandikan maka dagingnya terlepas dari tubuhnya.\rKitab Al Bajuri juz 1 halaman 244:\r... إِلَى أَنْ قَالَ: وَأَقْسَامُهُ كَثِيْرَةٌ فَمِيْهَا الْمَيْتَةُ طًلْقًا وَلَوْ كَانَتْ حَامِلاً مِنْ زِنًا وَالْمَيِّتُ غَرِيْقًا وَإِنْ عَصَى بِرُكُوْبِ الْبَحْرِ وَالْمَيِّتُ هَدِيْمًا أَوْ حِرِيْقًا أَوْ غَرِيْبًا وَإِنْ عَصَى بِالْغُرْبَةِ وَالْمَقْتُوْلُ ظُلْمًا.","part":1,"page":415},{"id":416,"text":"Adapun orang yang mati syahid akhirat saja ... sampai pada ucapan pengarang: Macam-macam syahid akhirat ini banyak. Di antaranya: orang perempuan yang mati karena melahirkan, meskipun dia hamil dari hasil zina; orang yang mati dalam keadaan tenggelam meskipun dia durhaka sebab naik perahu/kapal; orang yang mati dalam keadaan kerobohan sesuatu; atau terbakar; atau sebagai orang asing meskipun dia ke luar negeri dalam keadaan durhaka; dan orang yang dibunuh secara dlalim.\rJual Beli Gitar dan Perawatan Gigi\rMenanggapi pembahasan tentang musik pada edisi 10, bagaimana hukumnya jual beli gitar dan uangnya?\rApa yang harus saya lakukan bila saya sudah mempunyai gitar?\rBagaimana hukumnya meratakan / membaguskan gigi (memberi kawat) dalam Islam?\rLalu bila haram, bagaimana dengan seorang dokter gigi yang menerima pasien untuk meratakan giginya?\rApa saja batas-batas dalam usaha memperindah gigi?\rJawaban:\r1. Karena mempergunakan gitar itu hukumnya haram sebab termasuk alat malahiy, maka jual beli gitar hukumnya juga haram dan uang hasil penjualan juga haram.\rDasar pengambilan:\rKitab Syarah Sullam Taufiq hal. 53:","part":1,"page":416},{"id":417,"text":"وَيَحْرُمُ بَيْعُ كُلِّ مُحَرَّمٍ كَالطُّنْبُوْرِ قَالَ عَطِيَّةُ هُوِ بِضَمِّ الطَاءِ كَمَا فِي الْمُخْتَارِ أَيْ وَكَالْمِزْمَارِ بِكَسْرِ الْمِيْمِ فَلاَ يَشْتِرِيْ لاِبْنِهِ زِمَارَةً أَوْ صُفَارَةً وَإِذَا رَأَى ذلِك وَجَبَ عَلَيْهِ كَسْرُهُ اهـ ذلِكَ لأَنَّهُ لاَ نَفْعَ بِذلِكَ نَفْعًا مَقْصُوْدً فِي الشَّرْعِ . قَالَ ابْنُ حَجِرٍ وَلَوْ كَانَ ذلِكَ مِنْ ذَهَبٍ فَيَكُوْنُ بَذْلُ الْمَالِ فِيْ مُقَابَلَتِهِ سَفَهًا وَإِنَّمَا صَحَّ بَيْعُ إِنَاءِ النَّقْدِ لأَنَّهُ يَحِلُّ اسْتِعْمَالُهُ لِحَاجَةٍ بِخِلاَفِ آلاَتِ الْمَلاَهِيْ .\rDan haram menjual setiap barang yang haram seperti menjual tambur. 'Athiyah berkata: tambur itu bahasa Arabnya adalah thumbur dengan didlommah hurufnya tha' sebagaimana tersebut dalam kamus Al Mukhtar, artinya dan seperi seruling (mizmar dengan kasrah mim). Maka seseorang tidak boleh membeli seruling untuk anaknya atau peluit. Dan jika sang ayah melihat anaknya mempergunakan seruling, maka wajib atas ayahnya untuk memecahkannya. Yang demikian itu karena sama sekali tidak ada manfaat dengan barang tersebut dengan manfaat yang dimaksudkan dalam syari'at agama Islam. Ibnu Hajar berkata: Jika seruling tersebut terbuat dari emas, maka mempergunakan harta untuk membuat seruling tersebut adalah suatu ketololan. Sesungguhnya sah menjual bejana yang terbuat dari emas, karena dalam satu hajat boleh mempergunakannya, berbeda dengan alat-alat mahahi.","part":1,"page":417},{"id":418,"text":"2. Berdasarkan keterangan dari kitab Syarah Sullam Taufiq di atas, jika anda terlanjur sudah mempunyai gitar, maka anda harus merusaknya.\r3. Meratakan gigi atau membaguskannya dengan memberi kawat, selama hal tersebut tidak merusak dan mengurangi fungsi dari gigi tersebut, maka hal itu diperbolehkan dalam Islam dan tidak termasuk merubah ciptaan Allah sebagaimana tersebut dalam surat An Nisa' ayat 119. Sebab yang dimaksudkan dengan merubah ciptaan Allah dalam ayat 119 dari surat An Nisa' yang dicontohkan dalam tafsir AlQurthubi adalah seperti memotong atau membelah telinga binatang ternak atau membuat buta sebelah matanya yang menjadikan binatang ternak tersebut menjadi cacad.\r4. Karena membuat baik/meratakan gigi itu tidak dilarang oleh Islam, maka pekerjaan dokter yang meratakan gigi juga tidak dilarang oleh Islam.\r5. Sepanjang tidak merusak fungsi gigi, seperti menghilangkan lapisan email dengan jalan pangur.\rMenyucikan Lantai Gedung dan Tentang Taqdir\rSaat ini banyak orang yang membersihkan lantai atau mensucikan lantai dengan cara mengepel menggunakan kain yang telah dibasahi dengan air; sehingga membuat lantai yang mutanajjis merata ke mana-mana, demikian pula bila kita mengepel lantai gedung bertingkat.\r1. Apakah hal ini tidak menjadikan lantai yang mutanajjis itu akan merata (najisnya) ke tempat-tempat yang semula tidak mutanajjis (samakah jika najisnya bersifat 'ainiyah/hukmiyah)?\r2. Bagaimana cara mensucikan lantai gedung/rumah bertingkat yang terkena najis?","part":1,"page":418},{"id":419,"text":"3. Jika dengan cara menyiram dengan air, maka air (mutanajjis) tersebut menetes ke lantai bawahnya yang telah suci, apakah hal ini dikatakan udzur?\r4. Tembok-tembok, lantai-lantai bangunan yang baru selesai dibuat, apakah hukumnya berbeda-beda (lil atta'assur) dalam hal suci/ tidaknya (tembok-tembok lantai tersebut dibangun dengan matrial yang mutanajjis?\r5. Dapatkah tahtohhur dengan diqiyaskan caranya yang dibolehkan di-istinja' (yaitu dengan selain air)\r6. Apakah ada hadits lain, selain yang menceritakan seorang a'robiy yang kencing di masjid?\r7. Ada yang berpendapat takdir itu ada 2 yaitu mu'allaq dan mubrom, ada yang berpendapat bahwa taqdir itu tidak dapat dibagi menjadi dua (semua telah tercatat di lauhil mahfudz), mana dari dua pendapat ini yang kuat/benar menurut kiyahi?\r8. Apakah benar pendapat yang mengatakan bahwa orang akan selamat / celaka, orang berbuat sesuatu itu tergantung dirinya. Allah telah tahu apa yang akan diperbuat oleh orang itu sehingga Allah telah menulisnya di Lauhil Mahfudh (tentunya juga dengan penentuan dari kehendak Allah sendiri)\rJawaban:","part":1,"page":419},{"id":420,"text":"1; 2; 3: Jika kita menemukan najis di lantai gedung bertingkat atau lainnya, maka yang pertama kali harus kita lakukan adalah membuat najis tersebut yang semula najis 'ainiyah menjadi najis hukmiyah, yaitu dengan jalan menghilangkan wujud, warna, bau dan rasa dari najis tersebut. Setelah menjadi najis hukmiyah, maka dengan mengalirkan air sedikit saja padanya sudah menjadi suci, sehingga air tersebut tidak harus meluap sampai ke lantai bawah.\rDasar pengambilan:\rKitab Is'adur Rafiq juz 1 hal. 83:\rوَالْحُكْمِيَّةُ وَهِيَ مَالاَ يُدْرَكُ لَهَا عَيْنٌ وَلاَ وَصْفٌ كَبَوْلٍ جَفَّ لاَ رِيْحٌ لَهُ وَلاَ طَعْمٌ وَلاَ لَوْنٌ تَحْصُلُ إِزَالَتُهَا بِجِرْيِ الْمَاءِ الطَّهُوْرِ عَلَيْهَا مَرَّةً .\rNajis hukmiyah yaitu najis yang tidak dapat dilihat wujud dan sifatnya seperti air kencing yang sudah kering yang tidak ada baunya, tidak ada rasanya dan tidak ada warnanya, maka menghilangkannya berhasil dengan mengalirkan air suci (tidak usah banyak) padanya sekali\r4. Kita tidak perlu mempertanyakan apakah tembok bangunan itu najis atau tidak, karena materialnya mutanajjis; sebab tembok tersebut tidak kita pergunakan untuk shalat. Kalau toh kita bersandar ke tembok tersebut, sedang temboknya kering dan pakaian yang kita pakai juga kering, maka hukumnya tidak apa-apa meskipun material dari tembok tersebut mutanajjis.\rDasar pengambilan:\rKitab I'anatut Thalibin juz 1 hal. 98:\rوَلاَ يَجْبُ اجْتِنَابُ النَّجِسِ فِيْ غَيْرِ الصَّلاَةِ .\rDan tidak wajib menjauhi najis pada selain shalat.","part":1,"page":420},{"id":421,"text":"5. Tidak dapat, sebab najis yang dianggap suci dengan istinja' yang mempergunakan batu atau kertas tisu adalah apabila najis tersebut belum berpindah dari tempat keluarnya. Dan jika sudah berpindah dari tempat keluarnya, maka wajis disucikan dengan air, sebagaimana tersebut dalam syarat-syarat istinjak.\r6. Saya belum mendapatkan selain hadits tersebut.\r7; & 8. Qadla' dan qadar itu adalah hak Allah swt. yang wajib kita yakini dan tidak boleh kita bahas karena bukan hak kita. Qadla' dan qadar Allah swt. ini tidak boleh kita jadikan pegangan sewaktu kita akan melakukan sesuatu pekerjaan, tetapi harus kita jadikan sandaran setelah hasil pekerjaan kita ternyata tidak sesuai dengan keinginan kita, sehingga kita tidak frustasi menghadapi kegagalan dari usaha kita. Yang harus kita jadikan pegangan sewaktu kita akan melakukan pekerjaan adalah bahwa rahmat Allah swt. itu Maha Luas dan bahwa Allah swt. itu Maha Mengabulkan permohonan kita. Pembahasan mengenai qadla' dan qadar Allah swt. ini ternyata telah menjadikan ummat Islam terpecah belah ke dalam beberapa kelompok.\rJual Beli Emas, Bekicot, Takbir Shalat Jenazah dan Posisi Shalat Berjama'ah\rSi A adalah seorang pedagang emas. Sebagian dari barang dagangannya kadar yang ditulis di kwitansi tidak sesuai dengan kadar emas yang sebenarnya. Misalnya di kwitansi kadarnya ditulis 95%, tetapi ternyata kadar emas yang sebenarnya hanya 80%. Jadi di sini ada unsur penipuan dan dia setiap tahun membagi-bagikan uang/pakaian kepada fakir miskin.","part":1,"page":421},{"id":422,"text":"Bagaimana hukum uang / pakaian tersebut?\rJika hukumnya haram, apakah uang/pakaian yang terlanjur diterima itu harus dibuang atau diberikan kepada lembaga sosial?\rBolehkah bekicot diambil airnya untuk dijadikan obat?\rDalam shalat jenazah pada takbir yang keempat si imam menambah dua takbir lagi (di antara kedua takbir tersebut tidak ada bacaan lain). Apakah tambahan dua takbir tersebut ada dasar hukumnya?\rAda yang mengatakan bila suami isteri shalat berjama'ah, posisi isteri (makmum) di sebelah kiri, sedang makmum laki-laki posisinya di sebelah kanan imam. Betulkah atau mana yang benar?\rJawab:\rPertanyaan nomor 5 ini dari soal nomor 1 sampai dengan nomor 5 sudah pernah ditanyakan dan sudah terjawab sempurna pada bulan Oktober 2000 pada pertanyaan nomor 2.\rAqad Harga Salah Dengar\rSeorang penjual menawarkan barangnya dengan harga tertentu. Namun karena calon pembeli salah dengar, maka ia menawar dengan harga diatas harga yang telah disebut penjual tadi. Tentu saja si penjual langsung memberikan barangnya, sementara ia (penjual) tahu kalau si pembeli betul-betul salah dengar.\rSahkah aqad jual beli diatas?\rKalau sah, apakah keuntungan si penjual termasuk riba?\rJawaban:\rAkad jual beli tersebut tidak sah\rDasar Pengambilan\rقليوبى جز 2ص 154-155\r(وأن يقبل على وفق الايجاب فلو قال بعتك بألف مكسرة فقال قبلت بألف صحيحة لم يصح) وكذا عكسه ولو قال بعتك هذا بألف فقال قبلت نصفه بخمسمائة لم يصح.","part":1,"page":422},{"id":423,"text":"Dan pembeli harus menerima sesuai dengan akad pemberian. Kalau penjual berkata: \"Saya menjual kepadamu dengan uang seribu pecahan\", kemudian pembeli menjawab \"saya terima dengan uang seribu utuh\", maka hukumnya tidak sah. Begitu juga sebaliknya kalau penjual mengatakan saya jual kepadamu dengan harga seribu,kemudian pembeli menerima dengan mengatakan saya terima dengan harga limaratus/setengahnya, maka hukumnya tidak sah.\rفتح الباري بشرح صحيح البخاري المجلد الرابع ,ص: 364,362\rقال رسول الله عليه وسلم \"البيعان بالخيار مالم يتفرقا-أو قال: حتى يتفرقا-فإن صدقا وبينا بورك لهما في بيعهما, وإن كتما وكذبا محقت بركة بيعهما\". وقوله \"وبينا\" أي لما في الثمن والمثمن من عيب فهو من جانبيهما وكذا نقصه.\rRosulullah Saw bersabda:\"Jual-beli itu dengan Khiyar (menggantungkan akad) selama belum berpisah antara penjual dan pembeli-atau Rasul bersabda: Sehingga keduanya berpisah - Maka bilamana saling jujur dan menjelaskan keduanya akan diberkahi dalam jual-belinya, dan bilamana saling menyembunyikan 'aib dan berbohong akan dihilangkan berkah dalam jaul-belinya\". Adapun sabda Nabi \"وبينا\" (menjelaskan) maksudnya adalah kejelasan tentang ada tidaknya'Aib (cacat) dalam harga dan barang, Dan kejelasan ini harus dari kedua belah pihak antara si penjual dan pembeli dan juga kekuranganya.\rHukum Uang Ceperan","part":1,"page":423},{"id":424,"text":"Seorang pemuda berumur 15 tahun ibadahnya sangat rajin, namun tidak didukung ilmu fiqh yang memadai. Ketika menginjak usia 17 tahun , tergerak hatinya untuk memperdalam ilmu agama di pesantren. Dari situlah ia mengetahui bahwa amal ibadahnya selama ini banyak yang belum sempurna.\r1. Apakah ia wajib mengqodlo' sholat yang selama ini tidak syah, sebab mandinya tidak sah?\r2. Bagaimana hukumnya uang ceperan yang diambil seorang sopir colt/angkutan umum , padahal dalam hal setorannya selalu penuh. Apakah uang ceperannya termasuk riba?\r3. Bagaimana hukumnya sendawa (Jawa: glege'en) bagi orang yang berpuasa, sehingga ditenggorokannya terasa masakan yang telah dimakannya waktu sahur? Apakah puasanya batal?\r4. Bagaimana hukum air liur orang yang tidur? Apakah termasuk najis yang dima'fu?\rJawaban:\r1. Tidak\rاالمجموع جزء 3 صـ 524\rوقال الغزالى فى الفتاوى العامى الذى لايمز فرائض صلاته من سننها تصح صلاته بشرط ان لايقصد التنفل بما هو فرض فإن نوى التنفل به لم يعتد به ولو غفل عن التفصيل فنية الجملة فى الإبتداء كافية هذا كلام الغزالى وهو الصحيح الذى يقتضيه ظاهر احوال الصحابة رضى الله عنهم فمن بعدهم ولم ينقل أن النبى صلى الله عليه وسلم الزم الاعراب وغيرهم هذى التميير ولاأمر بإعادة صلاة من لايعلم.\r2. Yang terlebih dahulu diluruskan disini adalah pengertian ceperan disini.\rUang lebih yang didapatkan dari sisa setoran kepada majikan. Maka uang ini dihitung sebagai upah.","part":1,"page":424},{"id":425,"text":"Uang yang dihasilkan sopir diluar keharusan pekerjaannya. Bila disepakati sebelumnya, maka diperbolehkan, bila tidak ada kesepakatan sebelumnya tidak diperbolehkan/khiyanat.\r3. Tafsil. Hukumnya sebagaimana muntah, bila disengaja dan keluar sesuatu dari lambungnya hingga batas anggota luar, maka puasanya batal.\rنهاية الزين صـ 187 فى مبطلة الصوم\rوكالقيء النجش فإن تعمده وخرج شيء من معدته إلى حد الظاهر أفطره ولو كان ناسيا للصوم كما غلبة القيء او جاهلا معذورا فلا فطر.\r4. Suci, selama diyakini tidak berasal dari perut. Bila dari perut hukumnya najis\rحاشية اعانة الطالبين جزء 1 صـ85\rأما المنى فطاهر خلافا لمالك وكذا بلغم غير معدة من راس او صدر وماء سائل من فم نائم ولو نتنا أو أصفر مالم يتحقق أنه من معدة الاممن إبتلى به فيعفى عنه وإن كثر\rSuara Denging Ditelinga\rDalam Muktamar NU yang ke 11 di Banjarmasin (1935), muncul persoalan suara denging yang terdengar di telinga. Karena itu saya mohon penjelasan masalah tersebut.\r1. Apakah ada perbedaan (baik/buruk) suara denging yang terdengar di telinga sebelah kanan/kiri atau terdengar pada waktu siang/ malam?\r2. Apakah suara denging itu juga merupakan petunjuk Allah SWT? Misalnya bila terdengar ditelinga kanan waktu malam, maka orang tersebut sebaiknya melaksanakan /melanjutkan tugas yang sekarang sedang dihadapi atau tidak melaksanakan tugas tersebut bial mendengar di telinga kiri pada siang hari dan sebagainya.\rJawaban:\rTidak ada perbedaan.\rالجامع الصغير صـ 31\rإذا ظنت أذن أحدكم فليذكرنى وليصلى علي وليقل ذكر الله من ذكرنى بخير\rShalawatan Disertai Piano","part":1,"page":425},{"id":426,"text":"Dengan makin maraknya sholawatan/qosidah sekarang ini. Tentu saja membantu membangkitkan rasa cinta kepada Rosalullah. Namun yang menjadi permasalahan adalah sarana pengiringnya, di mana sekarang peralatan musik beraneka ragam bentuknya, tidak hanya rebana saja sebagaimana di zaman Rosullah.\rBagaimana hukumnya melantunkan sholawat/qosidah dengan diiringi musik selain rebana? Misalnya organ, piano, mandolin dan sebagainya.\rJawaban:\rإرشاد العباد\r(الأصوات المحرمات) المطربة, وغيرها من الأوتار, وغيرها لأن اللذة الحاصلة منها تدعو إلي فساد كضرب خمر ولأنها شعار أهل الفسق كما مر.\r(Suara-suara yang diharamkan) Suara biduanita, gitar dan sejenisnya, karena kenikmatan yang diperoleh bisa mendatangkan kerusakan seperti minum arak (minuman keras) dan hal tersebut merupakan syiar orang-orang yang fasik sebagaimana yang telah terdahulu.\rإرشاد العباد، ص:102\r(إلات اللهو المحرمة كالطنبور والرباب والمزمار) بل (و) جميع الأوتار.\r(Alat-alat Lahwi (alat musik untuk permainan) yang diharamkan adalah genderang, rebana, dan seruling) dan bahkan semua alat musik yang menggunakan tali (biasanya terbuat dari senar atau kawat)\rHukum Zakat Fitrah Dengan Uang\rKebiasaan dimasyarakat bahwa zakat fitrah itu 2,5 kg beras atau uang seharga beras itu. Sepengetahuan saya, bahwa dalam kitab Fathul Mu'in menyebutkan , zakat fitrah itu 1 sho' (1 sho' = 4 mud, 1mud = 1 liter lebih sepertiga) dan yang dizakatkan adalah Gholibi quuti baladihi (makanan pokok daerahnya).\r1. Benarkah zakat fitrah beras 2,5 kg tersebut?","part":1,"page":426},{"id":427,"text":"2. Bolehkan dengan memakai uang seharga beras? Bagaimanakah dalilnya?\r3. Bagaimana sholatnya sopir/pengemudi yang setiap harinya (waktu sholatnya) selalu diperjalanan?\rJawaban:\r1. Benar\r2. Tidak boleh, namun ada qoul yang memperbolehkan yaitu qoulnya Imam Bulqini dan qoul ini boleh diikuti.\rKeterangan dari kitab Ghoyatu al- Talhishi al- Murad 112\rأفتى البلقيني بجواز إخراج الفلوس الجدد المسماة بالمناقر في زكاة النقد والتجارة قال إن الذي اعتقده وبه اعمل وإن كان مخالفا بالمذهب الشافعي والفلوس انفع للمستحقين وليس فيها غش كما في الفضة المغشوشة ويتضرر للمستحق إذا وردت عليه ولا يجد بدلا أه ويسع المقلد تقليده لأنه من أهل التخريج والترجيح لاسيما إذا راجت الفلوس وكثرة رغبة الناس فيها.","part":1,"page":427},{"id":428,"text":"Imam al-Bulqiny telah berfatwa tentang bolehnya mengeluarkan mata uang yang baru yang dinamakan dengan al-Munaqir dalam hal zakat mata uang dan perdagangan. Pengarang kitab berkata: \"Sesungguhnya sesuatu yang Aku (pengarang) telah menyakininya, Aku mengerjakanya meskipuin hal itu bertentangan dengan Madzhab al-Syafi'i , Dan uang lebih bermanfaat bagi orang yang berhak menerima zakat sedangkan didalamnya tidak ada unsur penipuan sebagaimana yang terjadi didalam permalsuan (percampuran) perak yang bisa merugikan bagi pemiliknya ketika hal itu sampai padanya sedangkan orang tersebut tidak emendapatkan penggatinya (selesai perkataan pengarang). Dan pengikut mempunyai toleransi terhadap yang diikuti karena Dia termasuk golongan ahli al-Tahrij dan al-Tarjih, Apalgi ketika uang itu yang diharapkan dan manusia (masyarakat) lebih suka dengan hal tersebut.\r3. Boleh diqoshor\rحاشية البيجورى جزء 1 صـ298\rوخرج بقولنا: ولم يختلف فى جواز قصره .من اختلف فى جواز قصره كملاح يسافر فى البحر ومعه عياله فى سفينة ومن يديم السفر مطلقا كالساعى فإن الاتمام افضل له خروجا من خلاف من اوجبه كالإمام احمد رضي الله عنه\rBudidaya Jangkrik\rDi daerah Tuban, sudah banyak orang yang mempunyai peternakan jangkrik dan banyak yang mencarinya setiap malam kemudian dijual. Bagaimana hukumnya menjual jangkrik, dan uangnya termasuk uang apa?\rJawaban:\rHukum membudidayakan jangkrik itu adalah boleh, Sedangkan jual beli jangkrik hukumnya juga boleh.\rDasar pengambilan:\r1. المغنى على شرح الكبير الجزء الرابع -صحيفة: 239","part":1,"page":428},{"id":429,"text":"وَلَنَا أَنَّ الدُّوْدَ حَيَوَانٌ طَاهِرٌ يَجُوْزُ إِقْتِنَاءُ هُ لِتَمَلُّكِ مَا يُخْرَجُ مِنْهُ أَشْبَهَ الْبَهَائِمِ\r2. البيجورى الجزء الاول - صحيفة:343\rوَلاَبَيْعُ مَا لاَمَنْفَعَةَ فِيهِ كَعَقْرَبٍ وَنَمْلٍ\rTidak Sempat Shalat Maghrib\rKhususnya di kecamatan Jenu, kab. Tuban, murid-murid dari MTs/MA bagian putri keluar (pulang dari sekolah) sore hari, jam 17.30 setiap hari. Sampai waktu shalat isyak, banyak di antara mereka yang masih menunggu mobil penumpang umum di pinggir jalan tanpa melakukan shalat maghrib karena tidak sempat dan tidak ada waktu untuk melakukan shalat maghrib.\rApakah shalat maghrib dari murid-murid ini dapat dijama'?\rBagaimana hukum jual beli secara kridit? Misalnya si A menjual sesuatu barang yang apabila dibeli secara kontan harganya Rp. 10.000,- dan kalau dibeli dengan angsuran/cicilan harganya Rp. 12.500,-\rJawaban:\rSholat tersebut tidak boleh dijamak, karena kejadian yang dilakukan oleh anak-anak sekolah itu tidak termasuk dalam syarat diperbolehkannya menjamak sholat.\rDasar pengambilan:\rالفقه الإسلامي وادلته الجزء الثاني -صحيفة: 251\rإِتَّفَقَ الْمُجِيْزُوْنَ الْجَمْعَ تَقْدِيْمًا وَتأْخِيْرًا عَلَى جَوَازِهِ فِى أَحْوَالٍ ثَلاَثَةٍ وَهِيَ السَّفَرُ وَالْمَطَرُ وَنَحْوُهُ مِنَ الثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَالْجَمْعُ بِعَرَفَةَ وَمُزْدَلِفَةَ. وَاخْتَلَفُوُا فِيْمَا سِوَاهَا، وَفِيْ شُرُوْطِ صِحَّةِ الْجَمْعِ.","part":1,"page":429},{"id":430,"text":"Para ulama' telah bersepakat bahwa kebolehan menjamak sholat, baik jama' taqdim maupun jamak ta'khir itu disebabkan tiga hal, yaitu: karena bepergian, hujan dan yang sejenisnya seperti berada di tempat yang bersalju dan hawa yang sangat dingin, d an menjamak ketika berada di tanah Arofah dan menginap di Muzdalifah. Kemudian mereka berbeda pendapat pada hal-hal selain di atas dan mengenai syarat sah dalam menjamak sholat.\rMenjual barang dengan dua macam harga jika dilakukan dengan satu aqad, hukumnya tidak boleh. Tetapi jika dilakukan dengan aqad yang terpisah, hukumnya boleh.\rDasar pengambilan:\r1. تحفة المحتاج بهامش الشروانى الجزء الرابع - صحيفة: 293\rوَعَنْ بَيْعَتَيْنِ، رَوَاهُ التِّرْمِذِىُّ وَصَحَّحَهُ بأن أَىٍّكَأَنْ يَقُوْلَ: بِعْتُكَ بِأَلْفٍ نَقْدًا وَأَلْفَيْنِ إِلَى سَنَةٍ فَخُذْ بِأَيِّهِمَا شِئْتَ أَنْتَ وَأَنَا أَوْ شَاءَ فُلاَنٌ لِلْجُهَالَةِ بِخِلاَفِهِ بِأَلْفٍ نَقْدًا وَبِأَلْفَيْنِ لِسَنَةٍ وَبِخِلاَفِهِ بِأَلْفٍ وَنِصْفِهِ.\r2. فتح الوهّاب الجزء الاول -صحيفة: 165\r(وَ) عَنْ (بَيْعَتَيْنِ) رَوَاهُ التِّرْمِذِىُّ وَغَيْرُهُ وَقَالَ حَسَنٌ صَحِيْحٌ (كَبِعْتُكَ) هذَا (بِأَلْفٍ نَقْدًا وَبِأَلْفَيْنِ لِسَنَةٍ) فَخُذْ هَا بِأَيِّهِمَا شِئْتَ أَوْ شَاءَ وَعَدَمُ الصِّحَّةِفِيْهِ لِلْجَهْل بِالْعِوَضِ.\rMemasang Foto Ulama","part":1,"page":430},{"id":431,"text":"Memasang patung atau gambar yang bernyawa di dalam rumah pernah disinggung dalam Hadits Bukhori Muslim, bahwa \"Orang-orang yang paling hebat siksanya di hari kiamat adalah orang-orang yang menggambar gambar-gambar (seperti ini)\". Dan ada lagi hadits Bukhori Muslim yang lain. Juga dalam buku Muhammad Isa Dawud diterangkan, bahwa jin muslim sangat membenci kalau dalam rumah seorang muslim ada gambar yang bernyawa (foto) dan juga patung walaupun kecil, apalagi malaikat pasti juga sangat membencinya. Namun kenyataanya sekarang banyak sekali foto/gambar ulama' dipajang di rumah-rumah.\rAdakah hukum yang menghalalkan atau mengharamkan memasang gambar, baik gambar ulama' atau bukan?\rJawaban:\rSyeh Muhammad Alwi Al Maliki dalam kitab Majmu' Fatawa wa al Rosail menjelaskan bahwa yang dimaksud dari gambar yang diharamkan itu adalah yang tiga dimensi yang memiliki bayang-bayang yang dimungkinkan bisa hidup dalam kodisi seperti itu bila ditiupkan ruh.\rمجمعوع فتاوى ورسائل صـ213\rوإن كانت هذه صورة الحونية الكاملة التى لاظل لها فها هنا تفصيل وهو أنها إن كانت فى محل ممتهن كبساط وحصير ووسادة ونحوها كاتنت مباحة ايضا فى مذهب الاربعة إلا أن المالكية قالوا فعل هذه خلاف الأولى وليس مكروها.\rMemotong Kuku Saat Haidl\rBolehkah memotong rambut dan kuku saat haid? Adakah tuntutannya di akhirat nanti?\rHalalkah memakan jangkrik?\rJawaban:\rDisunnahkan untuk tidak dilakukan.\rنهاية الزين صـ31","part":1,"page":431},{"id":432,"text":"ومن لزمه غسل يسن له الا يزيل شيئا من بدنه ولو دما او شعرا او ظفرا حتى يغتسل لأن كل جزء يعود له فى الآخرة فلو أزاله قبل الغسل عاد عليه الحدث الاكبر تبكيتا للشخص.\rDan seseorang yang berkewajiban mandi disunnahkan baginya untuk tidak menghilangkan sesuatupun dari badannya walaupun hal itu berupa darah, rambut, dan atau kuku sampai orang tersebut mandi, karena setiap bagian tubuh manusia akan dikembalikan kelak di akhirat, Jikalau dihilangkan sebelum mandi maka hadats besar tersebut akan kembali lagi sebagai hujjah yang bisa mengalahkan bagi seseorang.\rHaram memakan jangkrik.\rقليزبى جزء 4 صـ260\r(قوله كخفشاء) منها للزعقوق ويسمى الجُعلان بضم الجيم ومنها الجدجد بمعجميين مضمومنين وهو الصرصار.\rTajdidun Nikah\rSaya pernah diundang tetangga menghadiri tajdidun nikah (Jawa; mbangun nikah). Bagaimana sebenarnya hal tersebut?\rJawaban:\rKhilaf (terdapat perbedaan pendapat Ulama'). Menurut Qaul shahih (pendapat yang benar) hukumnya jawaz (boleh) dan tidak merusak pada 'Akad nikah yang telah terjadi. Karena memperbarui 'Aqad itu hanya sekedar keindahan (al-Tajammul) atau berhati-hati (al-Ihtiyath). Menurut qaul lain (pendapat lain) 'aqad baru tersebut bisa mereusak 'aqad yang telah terjadi.\rKeterangan dari kitab Hasyaih al-Jamal ala al-Minhaj juz IV hal. 245\rحاشية الجمل على المنهج الجزء الرابع صحيفة 245","part":1,"page":432},{"id":433,"text":"وعبارته: لأن الثاني لايقال له عقد حقيقة بل هو صورة عقد خلافا لظاهر ما في الأنوار ومما يستدل به على مسئلتنا هذه ما في فتح الباري في قول البخاري إلي أن قال قال ابن المنير يستفاد من هذا الحديث ان إعادة لفظ العقد في النكاح وغيره ليس فسخا للعقد الأول خلافا لمن زعم ذلك من الشافعية قلت الصحيح عندهم انه لايكون فسخا كما قاله الجمهور إهـ\rالأنوار لأعمال الأبرار ج-7 ص: 88\rلو جدد رجل نكاح زوجته لزمه مهر أخر لأنه إقرار في الفرقة وينتقص به الطلاق ويحتاج إلي التحليل في المرة الثالثة.\rSeandainya seseorang memperbaharui nikah dengan istrinya maka wajib baginya membayar mahar lagi karena hal tersebut merupakan penetapan didalam perceraian (al-Firqati)\rKoperasi Simpan Pinjam\rSaat ini banyak berdiri koprasi simpan pinjam, koprasi yag dimaksud adalah menerima simpanan sekaligus mengasih pinjaman kepada anggota. Dimana peminjam tidak dikenakan \"Bunga\", namun diharuskan membeli semacam blanko yag harganya bervariasi sesuai dengan besar uang yang dipinjam. Misalnya untuk pinjam uang Rp 50.000,- harus membeli dulu blanko Rp 2.500,-, untuk pinjam Rp 100.000,- blankonya Rp 5.000,- dan seterusnya. Jadi sebelum bendahara menyerahkan uang yang akan dipinjam, pemimjam harus membeli blanko, baru kemudian bendahara menyerahkan uang pinjaman kepada pemimjam, untuk selanjutnya pemimjam mengangsur sebanyak lima kali selama lima minggu tanpa ada tambahan lagi. Sedangkan jumlah uang dari penjualan blanko akan dibagi pada semua anggota sesuai dengan jumlah simpanan/tabungan anggota masing-masing.","part":1,"page":433},{"id":434,"text":"Bagaimana hukumnya koperasi simpan pinjam tersebut menurut syari'at Islam?\rJawaban:\rTidak boleh.\rحاشية اعانة الطالبين جزء 3 صـ 20\rومنه ربا القرض بأن يشترط فيه ما فيه نفع للقرض\rCD dan Mushhaf Al Qur'an\rKeberadaan Al Qur'an sekarang ini tidak hanya tertulis dalam mushaf, melainkan sudah diprogram dalam disket atau dalam CD yang sewaku-waktu dapat kita tampilkan melalui komputer pada layar monitornya tulisan dari ayar-ayatnya maupun bacaan dari ayat-ayatnya.\rApakah sama hukum menyentuh Mushaf Al Qur'an dengan menyentuh disket atau CD Al Qur'an?\rJawab:\rDilihat dari segi bahwa disket atau CD itu adalah tempat bagi ayat-ayat Al- Qur'an 30 juz atau sebagiannya, mesikipun ayat-ayat tersebut tidak dapat kita lihat kecuali memakai alat computer, maka disket atau CD tersebut kalau tidak dapat dikiaskan dengan mushaf Al Qur'an, maka hukum menyentuhnya dapat dikiaskan dengan hukum menyentuh peti tempat menyimpan mushaf Al Qur'an, yaitu:\rApabila disket atau CD hanya berisi ayat-ayat Al Qur'an saja tanpa ada yang lain, maka hukum menyentuhnya dalam keadaan tidak suci adalah haram. Demikian pula apabila disket atau CD berisi dengan ayat-ayat Al Qur'an dan lainnya yang jumlahnya sama.\rApabila selain ayat-ayat Al Qur'an seperti tafsir dan lainnya yang direkam dalam disket atau CD jumlahnya lebih banyak dari pada ayat-ayat Al Qur'an , maka menyentuhnya dalam keadaan tidak sunyi hukumnya tidak haram.\rDasar Pengambilan:\rKitab Fathul 'Allam juz 1 halaman 360:","part":1,"page":434},{"id":435,"text":"الثَّانِيْ: لَوْ وُضِعَ الْمُصْحَفُ فِيْ وِعَاءٍ ، فَالأَصَحُّ: أَنَّهُ يَحْرُمُ مَسُّهُ أَيْ الْوِعَاءُ مَا دَامَ الْمُصْحَفُ فَيْهِ، لاَ فَرْقَ فِيْ ذَلِكَ بَيْنَ الْمُحَاذِيْ وَغَيْرِهِ، بِشَرْطِ كَوْنِهِ مُعَدًّا لَهُ وَحْدَهُ، فَإِنِ انْتَفَى كَوْنُهُ فِيْهِ، فَلاَ حُرْمَةَ، أَوِ انْتَفَى إِعْدَادُهُ لَهُ وَحْدَهُ، بِأَنْ كَانَ مُعَدًّا لِغَيْرِهِ أَوْ لِهُ وَلِغَيْرِهِ، فَلاَيحَرُمُ إِلاَّ مَسُّ مَا حَاذَى الْمُصْحَفَ مِنْهُ فَقَطُّ هَذَا، وَفِيْ الشَّبْرَامَلِسِيْ مَا نَصُّهُ: شَرْطُ الظَّرْفِ أَنْ يُعَدَّ ظَرْفًالَهُ عَادَةً ، فَلاَ يَحْرُمُ مَسُّ الْخَزَائِنِ،وَفِيْهَا الْمَصَاحِفِ ، وَإِنِ اتُّخِذَتْ لِوَضْعِ الْمَصَاحِفِ فِيْهَا اهـ أَيْ لأَنَّهَا لاَ تُعَدُّ ظَرْفًا لَهُ عَادَةً: وَمِنَ الْوِعَاءِ الْمُعَدِّ:كَيْسُ الْمُصْحَفِ، وَصُنْدُوْقُ الرَّبْعَةِ، فَيَحْرُمُ مَسُّ الأَوَّلِ إَذَا كَانَ الْمُصْحَفُ فِيْهِ، وَكَذَا عِلاَقَتُهُ إِلاَّ الْقَدَرُ الَّذِيْ جَاوَزَ الْعَادَةَ فِي الطُّوْلِ ، وَيَحْرُمُ مَسُّ الثَّانِيْ إِذَا كَانَ فِيْهِ الأَجْزَاءُ أَوْ بَعْضُهَا بِخِلاَفِ مَا إِذَا كَانَا خَالِيَيْنِ فَلاَ يَحْرُمُ مَسُّهُمَا.","part":1,"page":435},{"id":436,"text":"Yang Kedua: Apabila mushaf diletakkan disuatu wadah, maka menurut qoul yang paling kuat: \"Sesungguhnya haram menyentuh wadahnya tersebut selama mushaf tersebut berada di dalamnya\", tidak ada perbedaan mengenai keharaman menyentuh antara yang tepat pada mushaf dan selainnya, dengan syarat wadah tersebut disediakan khusus untuk mushaf saja. Maka jika keberadaan mushaf tidak ada pada wadah tersebut, maka tidak haram menyentuhnya. Atau jika wadah tersebut tidak dikhususkan hanya untuk mushaf saja, yaitu apabila wadah tersebut disediakan untuk selain mushaf, atau untuk mushaf dan lainnya, maka tidak ada keharaman kecuali menyentuh perkara yang tepat pada mushaf dari wadah tersebut saja. Camkan hal ini!. Dalam kitab Imam Syibramalisi ada keterangan sebagai berikut: \" Adapun syarat dari wadah, adalah apabila wadah tersebut biasanya disediakan untuk mushaf, sehingga tidak haram menyentuh gudang-gudang simpanan, yang di dalamnya terdapat mushaf-mushaf, meskipun gudang-gudang tersebut dipergunakan untuk menempatkan mushaf-mushaf di dalamnya; habis keterangan Imam Syibramalisi. Artinya, sesungguhnya gudang-gudang tersebut biasanya tidak disediakan untuk wadah mushaf saja.","part":1,"page":436},{"id":437,"text":"Dan termasuk wadah yang disediakan sebagai tempat mushaf, adalah: kantong mushaf dan peti yang sedang, maka haram menyentuh yang pertama (kantong), apabila di dalamnya terdapat mushaf, begitu juga gantungannya. kecuali tali gantungan yang ukurannya yang melampui adat kebiasaan. dan haram menyentuh yang kedua (peti yang sedang) jika di dalamnya terdapat beberapa juz, atau sebagian dari juz-juz mushaf; berbeda apabila keduanya (kantung dan peti) kosong, maka tidak haram menyentuh keduanya.\rTanggung Jawab Pengurus Organisasi\rAda seorang pengurus sebuah organisasi, yayasan atau lembaga tertentu, kemudian dia menggunakan/meminjam uang itu untuk usahanya sendiri tanpa sepengetahuan pengurus yang lain.\rSoal:\rBolehkah cara penggunaan uang tersebut, bagaimana hukumnya?\rBolehkah uang organisasi/kas masjid digunakan untuk simpan pinjam atau usaha yang lain yang hasilnya untuk kepentingan organisasi/masjid tersebut?\rJawab:","part":1,"page":437},{"id":438,"text":"Uang yang dimiliki oleh organisasi, yayasan atau lembaga tertentu adalah dimaksudkan untuk membiayai seluruh keperluan dari organisasi, yayasan atau lembaga tersebut, sehingga seluruh pengurus dari organisasi, yayasan atau lembaga tersebut tidak diperkenankan mempergunakan uang milik organisasi, yayasan atau lembaga yang berada di bawah kepengurusannya untuk simpan pinjam atau usaha lain, meskipun hasilnya untuk kepentingan organisasi, yayasan atau lembaga tersebut; lebih-lebih untuk kepentingan pribadi. Sebab penggunaan uang milik organisasi, yayasan atau lembaga diluar kepentingan organisasi, yayasan atau lembaga tersebut adalah berarti pengkhianatan terhadap amanat yang diberikan oleh organisasi, yayasan atau lembaga tersebut kepada para pengurusnya. Lebih-lebih uang masjid yang pada hakekatnya sudah menjadi milik Allah swt., bukan milik Pengurus atau Ta'mir masjid tersebut; sebab setiap orang yang bersedekah ke masjid tersebut adalah dimaksudkan untuk biaya operasional dari pemeliharaan dan pemakmuran masjid tersebut. Sedangkan mengkhianati amanat itu adalah salah satu tanda munafik.\rDasar Pengambilan:\rSabda Nabi Besar Muhammad saw:\rعَنْ أَبَيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ . رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ","part":1,"page":438},{"id":439,"text":"Diriwayatkan dari shahabat Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: \"Tanda orang munafiq itu ada tiga: Apabila dia berkata dia berdusta, jika dia berjanji dia menyalahinya dan jika dia diamanati dia khianat\". HR. Bukhari\rKitab Muhadzdzab juz 1 hal. 350:\rوَلاَ يَمْلِكُ الْوَكِيْلُ مِنَ التَّصَرُّفِ اِلاَّ مَا يَقْتَضِيْهِ اِذْنُ الْمُوَكِّلُ مِنْ جِهَةِ النُّطْقِ اَوْ مِنْ جِهَةِ الْعُرْفِ لأَنَّ تَصَرُّفَهُ بِاْلاِذْنِ فَلاَ يَمْلِكُ اِلاَّ مَا يَقْتَضِيْهِ اْلاِذْنُ وَاْلاِذْنُ يُعْرَفُ بِالنُّطْقِ وَبِالْعُرْفِ اهـ.\r\"Wakil itu tidak memiliki pengelolaan kecuali apa yang ditetapkan oleh idzin dari orang yang mewakilkan melalui ucapan atau melalui adat kebiasaan (pendapat umum), karena mengelolanya dengan idzin, maka ia tidak memiliki pengelolaan kecuali apa yang ditetapkan oleh idzin. Sedangkan idzin itu dapat diketahui dengan ucapan dan berdasarkan pendapat umum adat kebiasaan.\"\rMenjawab Adzan Yang Bersamaan, Bacaan Basmalah dan Masa Iddah\rSetiap waktu sholat tiba, di kampung saya azannya selalu bersamaan baik di masjid maupun di musholla-musholla.\rSoal:\rApa hukum menjawab adzan?\rKarena tidak mungkin menjawab semuanya, mana yang harus dijawab?\rMenurut keterangan kiai saya, membaca basmalah diawal surat At-Taubah hukumnya haram. Apa alasan tidak dicantumkannya basmalah diawal surat At-Taubah tersebut?","part":1,"page":439},{"id":440,"text":"Saudara saya perempuan di Semarang menjadi wanita karier. Sekarang ini menjadi manager sebuah perusahaan. Sebagaimana maklum, iddah talaq bagi perempuan yang ditinggal mati suaminya adalah 4 bulan 10 hari. Nah, sepeninggal kematian suaminya tadi, beberapa hari kemudian sudah harus masuk kantor bertanggung jawab dengan perusahaannya. Yang saya tanyakan, adakah rukhsoh/dispensasi bagi saudara perempuan saya tadi? Sedangkan dalam masa iddah, perempuan dilarang keluar?\rJawab:\rHukum menjawab azan adalah sunnah\rDasar Pengambilan:\rKitab Fathul 'Allam juz 2 halaman 128:\rوَيُسَنُّ لِسَامِعِ الْمُؤَذِّنِ وَالْمُقِيْمِ،أَنْ يُجِيْبَهُمَا، حَتَّى فِى تَرْجِيْعِ الآذَانِ\r\"Disunnahkan bagi orang yang mendengar orang yang azan dan orang yang iqomah untuk menjawab keduanya hingga dalam tarji'il azan\".\rApabila azannya bersamaan maka cukup menjawab salah satunya yaitu yang pertama\rDasar Pengambilan:\rKitab Fathul 'Allam juz 2 halaman 131:\rوَلَوْ تَرَتَّبَ الْمُؤَذِّنُوْنَ بِأَنْ أَذَّنَ وَاحِدٌ بَعْدَ وَاحِدٍ، أَجَابَ الْكُلُّ، وَيُكْرَهُ تَرْكُ إِجَابَةِ اْلأَوَّلِ لأَنَّهَامُتَأَكِّدَةٌ. وَنُقِلَ عَنِ الْعِزِّ بْنِ عَبْدِ السَّلاَمِ: أَنَّ إِجَابَةَ اْلأَوَّلِ أَفْضَلُ، إِلاَّ فِى أَذَانَىِ الصُّبْحِ أَوِالْجُمْعَةِ فَلاَ أَفْضَلِيَّةَ فِيْهِمَا بَلْ هُمَا سِيَّانِ فَإِنْ أَذَّنُوْا مَعًا كَفَتْ إِجَابَةٌ وَاحِدَةٌ كَمَاقَالَهُ فِىفَتْحِ الْجَوَّادِ.","part":1,"page":440},{"id":441,"text":"\" Apabila orang-orang yang azan itu berurutan dengan cara seseorang azan setelah yang lain selesai, maka dijawab seluruhnya, dan dimakruhkan meninggalkan menjawab azan yang pertama karena azan yang pertama yang dikukuhkan (sunnah muakkad). Dinuqil dari Al'izzu bin Abdis Salam: \"Sesungguhnya menjawab yang pertama adalah yang lebih utama, kecuali pada kedua azan Subuh atau Jum'ah, maka tidak ada yang lebih utama di antara keduanya, tetapi keduanya sama. Apabila beberapa orang azan bersamaan maka cukup menjawab salah satu, seperti apa yang sudah dikatakan oleh pengarang kitab 'Fathul Jawad' \".\rTidak dituliskannya basmalah di dalam surat At-Taubah, karena sesungguhnya Nabi saw tidak diperintahkan menulisnya seperti apa yang diambil dari hadits yang diriwayatkan oleeh Imam Hakim.\rDasar Pengambilan:\rKitab Tafsir Jalalain hal. 156:\rوَلَمْ تُكْتَبْ فِيْهَا الْبَسْمَلَةُ لأَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يُؤْمَرْ بِذَلِكَ كَمَا يُؤْخَذُ مِنْ حَدِيْثٍ رَوَاهُ الْحَاكِمُ وَاَخْرَجَ فِى مَعْنَاهُ عَْن عَلِيٍّ أََنَّ الْبَسْمَلَةَ أَمَانٌ وَهِىَ نُزِلَتْ لِرَفْعِ اْلاَمْنِ بِالسَّيْفِ.","part":1,"page":441},{"id":442,"text":"\"Basmalah tidak ditulis pada awal Surat At-Taubah, karena sesungguhnya Nabi saw. tidak diperintahkan untuk memulai surat At Taubah dengan basmalah, sebagaimana yang diambil dari Hadits yang diriwayatkan Imam Hakim. Dan diriwiyatkan yang semakna dengannya (hadits Hakim) dari Ali: \"Sesungguhnya basmalah adalah jaminan keamanan, dan basmalah diturunkan karena untuk menghilangkan jaminan keamanan dengan menggunakan pedang\".\rBagi perempuan yang bekerja untuk mencari nafkah karena tidak ada yang memberi nafkah padanya diperbolehkan keluar rumah di siang hari dan untuk malam hari boleh ke rumah tetangga untuk mencari teman berbicara atau yang lainnya dengan syarat harus pulang dan tidur di rumahnya.\rDasar Pengambilan:\rDi dalam hamisy Mughnil Muhtaj juz 5 hal. 105 s/d 106:\rقُلْتُ: وَلَهَا الْخُرُوْجُ فِى عِدَّةِ وَفَاةٍ وَكَذَا بَائِنٌ فِى النَّهَارِ لِشَرَاءِ طَعَامٍ وَغَزَلٍ وَنَحْوِهِ وَكَذَا لَيْلاً إِلَى دَارِجَارَةٍ لِغَزَلٍ وَحَدِيْثٍ وَنَحْوِهِمَا بِشَرْطِ اَنْ تَرْجِعَ وَتَبِيْتَ فِى بَيْتِهَا\r\" Saya berkata: Boleh bagi perempuan keluar rumah pada masa iddah wafat dan masa iddah bain di waktu siang untuk membeli makanan, berbincang-bincang dan yang serupa; begitu juga boleh keluar di waktu malam ke rumah tetangga untuk berbincang-bincang, berbicara dan hal yang serupa, dengan syarat ia kembali dan menginap dirumahnya\".\rMengakadkan Wanita Hamil dan Zakat Fitrah","part":1,"page":442},{"id":443,"text":"Bagaimana hukumnya mengikrarkan perkawinan yang sudah diketahui bahwa perempuan itu sedang mengandung, apakah sah atau harus mengulangi ke KUA.\rMohon penjelasan mengenai dasar-dasar pembagian zakat fitrah yang sebenarnya, apakah cukup dikembalikan kepada Al Quran?\rJawaban\rMenikahkan perempuan yang sedang mengandung hasil hubungan seksual di luar nikah, hukumnya sah.\rDasar Pengambilan\rBughyatul Mustarsyidin halaman 201\rيجوز نكاح الحامل من الزنا سواء الزانى وغيره ووطؤها حينئذ مع الكراهة.\rArtinya: Boleh menikahi wanita hamil karena zina, baik yang menikahi itu orang yang berbuat zina dengannya atau orang lain, dan mengumpulinya ketika itu hukumnya makruh.\rAda dua pendapat mengenai hal ini, pendapat pertama menyatakan bahwa pembagian zakat fitrah itu diberikan kepada 8 asnaf yang didasarkan pada ayat 60 dari surat Taubah:\rإِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالمَسَاكِيْنِ وَالعَامِلِيْنَ عَلَيْهَا وَالمُؤَلَّفَةِ قُلُوبَهُمْ وَفِى الرِّقَابِ وَالغَارِمِيْنَ وفِي سَبِيْلِ اللهِ وَابْنِ السَّبِيْلِ, فَرِيْضَةً مِّنَ اللهِ وَاللهُ عَلَيْمٌ حَكيْم.\rSesungguhnya zakat-zakat itu adalah untuk orang fakir, miskin, para pekerja zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah, dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.","part":1,"page":443},{"id":444,"text":"Pendapat kedua menyatakan bahwa ayat ini menunjukkan mustahiq zakat secara umum sementara untuk zakat fitrah hanya diperuntukkan kepada orang miskin dengan menggunakan dalil hadist yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah dari Ibnu Abbas;\rفَرَضَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِيْنِ. فَمَنْ أَدَّهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِى زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ اَدَّهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ.\rRasulullah SAW telah mewajibkan zakat fitrah untuk mensucikan diri orang yang berpuasa dari omongan yang tidak berguna dan keji serta untuk memberi makan orang-orang miskin. Barangsiapa yang mengeluarkan zakat sebelum shalat Id, maka zakat itu adalah zakat yang diterima. Barangsiapa yang mengeluarkannya sesudah shalat Id, maka zakat itu seperti sedekah biasa.\rAir Untuk Bersesuci dan Jama' Karena Menjadi Pembaca Acara\rSaya mempunyai bak mandi dengan diameter lebar 80 cm, tinggi 80 cm dan panjang 50 cm, dengan demikian bila digunakan untuk keperluan sehari-hari maka air tersebut tersisa lebih kurang 15 liter air.\rAir yang tadinya tersisa 15 liter itu yang kemudian diisi penuh kembali, apakah air tersebut termasuk air yang suci dan mensucikan, dan boleh digunakan untuk bersuci?","part":1,"page":444},{"id":445,"text":"Saya pernah jadi MC dimana acaranya berlangsung lebih dari 3 jam, dari jam 16.00 sampai 19.30, sehingga waktu itu saya tidak bisa sholat maghrib tepat waktu, karena itu kemudian sholat maghrib saya dengan isyak. Boleh dan sahkah sholat saya itu?\rJawab:\rAir suci mensucikan\rDasar Pengambilan\rKitab Mughni Muhtaj juz 1 halaman 21\r(فإن جُمِعَ) المستَعْمَلُ على الجديدِ (فبَلَغَ قَلَّتَينِ فطَهُورٌ فى الاصح)\rApabila air mustakmal ditambah dengan air yang baru kemudian mencapai dua kullah, maka air itu suci dan mensucikan menurut pendapat yang lebih kuat.\rBila yang saudara kehendaki dari kata boleh adalah kebolehan menjamaknya maka jawabnya adalah tidak boleh dan hukum mengakhirkan maghrib tetap haram. Untuk itu sholat saudara dihitung sebagai sholat qodlo'.\rDasar Pengambilan\rMajmu' Juz 4 Halaman 269\r(فَرعٌ) فِى مذهَبِهم فى الجمْعِ فى الحَضَرِ بِلاَ خَوفٍ وَلاَ سَفَرٍ وَلاَ مَطَرٍ وَلاَ مَرَضٍ: مَذْهَبُنَا وَمذْهَبُ أبى حَنِيفَة وَمَالِك وَاَحْمَد وَالجُمهور انَّهُ لاَ يَجُوزُ ...\rSub bab mengenai madzhab ulama' tentang jamak bagi orang yang tidak sedang bepergian, tidak dalam keadaan ketakutan, tidak dalam keadaan bepergian, hujan, dan tidak dalam keadaan sakit; menurut madzhab kita (Syafii), Abu Hanifah, Malik, Ahmad dan mayoritas Ulama bahwa menjamak sholat yang seperti itu tidak boleh.\rMembaca Salam (Rukun Shala) dan Tentang Penyerahan Wali Lewat Telp","part":1,"page":445},{"id":446,"text":"Membaca salam adalah rukun sholat yang ke-13. Dalam prakteknya, bacaan salam tersebut ada yang diucapkan setelah iltifat ke kanan dan setelah iltifat ke kiri baru membaca salam. Ada pula yang membaca salam dengan wajah tetap menghadap kiblat, setelah selesai salam baru iltifat. Baik ke kanan maupun ke kiri. Juga ada yang bersamaan dengan membaca salam dengan iltifat ke kanan maupun ke kiri.\rWaktu mana mengucapkan salam yang benar?\rPenyerahan wali nikah dari seorang ayah kepada wakil yang akan menikahkan anaknya melalui pesawat telpon, apakah sah atau tidak?\rJawab\rSalam diawali dengan menghadap kiblat dan diakhiri ketika sempurna menghadap ke samping.\rDasar Pengambilan\rAl Tsimar al Yani'ah fi Riyad al Badiah halaman 36\rوَيَبْتَدِئُ السَّلاَمَ فِى المَرَّتَينِ مُسْتَقْبِلَ القِبْلَةِ وَيُنْهِيْهِ مَعَ تَمَامِ الإِلتِفَاتِ كَمَا قَاله المحلى\rOrang yang sholat mengawali salam dengan menghadap kiblat dan mengakhirinya beserta dengan sempurnanya iltifat/menoleh, sebagaimana disampaikan Syeikh Jalaluddin al Mahalli dalam kitab Mahalli\rSah\rDasar Pengambilan\rKitab Syarqowi ala al Tahrir juz 2 halaman 105\r(قَوله وَصِيغَة) كَوَكَّلْتُك فى كَذَا أو فَوَّضْتُ إِلَيْكَ كَذَا سَوَاءٌ كَانَ ذَلِكَ مُشَافَهَةً اَو كِتَابَةً اومُرَاسَلَةً ويُشْتَرطُ عدَمُ رَدِّهَا كَمَا يَأتِى ولا يُشْتَرَطُ العِلْمُ بِهَا فَلَوْ وكِّلَهُ وَهُوَ لاَيَعْلَمُ صَحَّتْ حَتىَّ لَوْ تَصَرَّفَ قَبْلَ عِلْمِهِ صَحَّ كَبَيْعِ مَالِ اَبِيهِ بِظَنِّ حَيَاتِه","part":1,"page":446},{"id":447,"text":"(Pernyataan Pengarang; dan Lafadz) seperti saya mewakilkan kepadamu dalam masalah ini atau saya menyerahkan padamu hal ini, baik pengucapan lafadz ini dengan bertemu langsung, surat, atau mengirim utusan. Disyaratkan tidak adanya penolakan wakalah (perwakilan) sebagaimana akan diterangkan lebih lanjut dan disyaratkan mengetahui wakalah itu, kalau diwakilkan kepadanya dan dia tidak tahu, maka sah hingga kalau mendistribusikan sebelum dia mengetahui hukumnya sah seperti menjual harta bapaknya dengan dugaan bapaknya masih hidup.\rMenggauli Istri Yang Junub\rBagaimanakah hukumnya menggauli isteri yang sudah selesai haid tetapi belum mandi wajib dan bagaimana lafadz niatnya bagi isteri?\rApabila orang yang sedang berpuasa di bulan Romadlon, kemudian ia menggauli isterinya di siang hari, akan tetapi sebelum melakukannya dengan sengaja ia terlebih dahulu membatalkan puasanya, misalnya dengan minum air. Bagaimanakah hukumnya? Setelah hari raya nanti apakah wajib melakukan kifarat atau hanya mengganti satu hari saja yang sengaja dibatalkannya?\rBagaimanakah bila seorang isteri belum mengqodlo puasa yang ditinggalkannya karena menyusui, tetapi sudah datang bulan puasa lagi. Bagaimana hukumnya? Bagaimanakah cara menggantinya?\rJawaban\rHukumnya haram. Untuk itu suami harus bersedekah setengah dinar emas (1 dinar = 3,879 gram).\rDasar Pengambilan\rMajmu' Juz 2 Halaman 375\r... فَعَلى قَول الجُمْهُورِ: لَو وَطِئَ بَعْدَ الإِنْقِطَاعِ وَقَبْلَ الإِغْتِسَالِ لَزِمَهُ نِصفُ دِنَارٍ","part":1,"page":447},{"id":448,"text":"Maka menurut mayoritas ulama; kalau seseorang mengumpuli isteri setelah usainya masa haid tetapi belum mandi maka dia wajib sedekah setengah dinar.\rMajmu' Juz 2 Halaman 381\r(فرع فِى مَذَاهبِ العُلَمَاءِ فِى وَطْئِ الحَائِضِ إِذَا طَهُرَتْ قَبْلَ الغُسْلِ) قَد ذَكَرْنَا أَنَّ مَذْهَبَنَا تَحْرِيمُهُ حَتَّى تَغْتَسَلَ او تَيَمَّمَ حَيْثُ يَصِحُّ التَيَمُّمِ.\rSub bab mengenai madzhab ulama dalam masalah mengumpuli wanita haid yang sudah suci tetapi belum mandi. Sudah kami nyatakan bahwa madzhab kita mengharamkannya sampai wanita tersebut mandi atau tayamum dengan memperhatikan syarat keabsahan tayamum\rPerbuatan seperti itu sama dengan melakukan rekayasa atas hukum Allah, namun secara fiqh bila hal itu dilakukan tidak wajib membayar kifarat.\rDasar Pengambilan\rHasiyah Ibrahim al Baijuri Juz 1 Halaman 296\rوَخَرَجَ بِالوَطْئِ سَائِرُ المُفْطِرَاتِ كَالأكلِ وَالشُربِ وَإِنْ وَطِئَ بَعْدَهُ او مَعَهُ وَهَذِهِ حِيْلَةٌ فِى إِسْقَاطِ الكَفَارَةِ دُونَ الإثْمِ وَلَو عَلَتْ عَلَيْهِ وَلَمْ يَتَحَرَّكْ ذَكَرُهُ فَلاَ كَفَارَةَ عَلَيْهِ لِعَدَمِ الفِعْلِ مِنْهُ\rDikecualikan dengan bersetubuh adalah hal-hal lain yang membatalkan seperti makan dan minum. Kalau seseorang bersetubuh setelah makan dan minum atau bersamaan, maka hal ini adalah rekayasa untuk menggugurkan bukan dosa, kalau isteri naik di atas suami untuk memasukkan dzakar suami ke dalam farjinya, dan dzakar suaninya tidak bergerak-gerak, maka tidak ada kafarat atasnya karena tidak ada perbuatan dari suami.\rTadzkirun Naas Bima Wujida fi Masailil Fiqhi","part":1,"page":448},{"id":449,"text":"وَلَيْسَ دِيْنُ اللهِ بِالحِيَالى * فَانتَبِه يَانَائِمَ المُقَالى\rTidaklah agama Allah itu dapat direkayasa ingatlah wahai orang yang kelopak matanya terpejam.\rKalau mengundurkan qodlo karena udzur maka tidak wajib membayar fidyah\rDasar Pengambilan\rMajmu' juz 6 halaman 378\rأَمَّا إِذَا دَامَ سَفَرُهُ وَمَرَضُهُ وَنَحْوُ هُمَا مِنَ الأَعْذَارِ حَتَّى دَخَلَ رَمَضَانُ الثَّانِى فَمَذْهَبُنَا: أَنَّهُ يَصُومُ رَمَضَانَ الحَاضِرَ ثُمَّ يَقْضِى الأَوَّلَ وَلاَ فِدْيَةَ عَلَيْهِ لأنَّهُ مَعْذُوْرٌ\rAdapun jika langgeng perginya, sakitnya dan lainnya dari halangan-halangan, sampai masuk bulan Romadlon yang kedua, maka menurut madzhab kita, sesungguhnya orang tersebut berpuasa pada Romadlon yang datang kemudian mengqodlo' Romadlon yang pertama dan tidak ada fidyah atasnya karena dia diberi udzur.\rMengganti Lafadh Iqamah\rBolehkah lafadz iqomah diganti, karena kami pernah mendengar ada orang meninggal, lafadh iqomahnya diganti.\rJawaban:\rIqomah dan adzan sebenarnya disyariatkan hanya untuk shalat maktubah, dengan lafadz yang sudah dicontohkan Nabi dalam haditsnya, tetapi ada pula ada yang menyatakan iqomah untuk shalat sunnah seperti shalat Id dengan mengucapkan Ash Shalatu Jamiah.\rDasar Pengambilan\rHasiyah Qulyubi wa Amirah juz 1 halaman 125\rوَإِنَّمَا يُشْرَعَانِ لِلمَكْتُوبَةِ دُونَ النَّافِلَةِ وَيُقَالُ فِى العِيْدِ وَنَحْوِهِ مِمَّا تُشْرَعُ فِيْهِ الجَمَاعَةُ كَالكُسُوفِ وَالإِسْتِسقَاءِ وَالتَرَاوِيْحِ الصَلاَةُ جَامِعَة لوُرُودِهِ فِى الحَدِيْثِ الشَيْخَيْنِ فِى الكُسُوفِ وَيُقَاسُ بِهِ نَحْوُهُ.","part":1,"page":449},{"id":450,"text":"Sesungguhnya Adzan dan Iqomah itu disyariatkan untuk shalat maktubah, tidak untuk shalat sunnah dan dikatakan juga ketika shalat id dan yang serupa dengannya dari shalat sunnah yang dilakukan dengan berjamah, seperti shalat kusuf, istisqo', tarowih dibacakan \"Ash sholatu Jamiah, karena adanya hadist Bukhari Muslim tentang ini dalam shalat kusuf; dan yang lainnya dikiaskan kepadanya.\rPelaksanaan Shalat Witir\rAda paham bahwa sholat witir tiga rokaat, kalau rokaat kedua tidak disambung dengan rokaat ketiga, bukan solat witir namanya. Karena kalau disambung, jadi tiga rokaat ganjil; kalau dipisah dengan salam pada rokaat kedua jadi tidak ganjil. Ada pula dengan rokaat pertama berdiri, rokaat kedua berdiri lagi tanpa duduk tasyahud langsung disambung dengan rokaat ketiga, kemudian salam.\rManakah yang benar?\rBagaimana hukum sholat witir menurut paham ulama madzhab empat?\rBolehkah beribadah dengan memakai madzhab campuran?\rSelanjutnya mana yang lebih baik kami kerjakan sholat witir tiga rokaat yang disambung rokaatnya yang sudah sejak lama turun-temurun?\rJawab\rSemua cara tersebut benar\rDasar Pengambilan\rMajmu' (cetakan tahun 2000) Juz 4 halaman 17\r... فَإِنْ أَرَادَ جَمْعَهَا بِتَشَهُّدٍ وَاحِدٍ فِى آخِرِهَا كُلِّهَا جَازَ وَإِنْ أَرَادَهَا بِتَشَهُّدَيْنِ وسَلاَمٍ وَاحِدٍ يَجْلِسُ فِى الآخِرَةِ وَالتَى قَبْلَهَا جَازَ ...","part":1,"page":450},{"id":451,"text":"Barangsiapa yang menghendaki mengumpulkan sholat witir dengan satu tasyahud diakhir shalat seluruhnya maka hal itu diperbolehkan, kalau seseorang menginginkan shalat witir dengan dua tashahud dan satu salam, dia duduk diakhir shalat dan sebelum akhir maka diperbolehkan.\rSholat witir menurut Imam Syafi'i, Ahmad Ibn Hanbal dan Maliki hukumnya adalah sunnah muakkadah sementara menurut Imam Abu Hanifah hukumnya wajib.\rDasar Pengambilan\rKhulashotul Kalam halaman 112\rصلاةُ الوِتْرِ وَاجِبَةٌ عِنْدَ أبِى حَنِيْفَةَ وَسُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ عِنْدَ غَيْرِهِ.\rSholat witir itu wajib menurut Abi Hanifah dan sunnah yang dikuatkan menurut Imam selain Abi Hanifah.\rBeribadah dengan menggunakan madzhab campuran hukumnya tidak boleh\rDasar Pengambilan\rBughyatul Musytarsyidin Halaman 9-10\rوَفِى ك مِنْ شُرُوطِ التَقْلِيْدِ عَدَمُ التَّلْفِيْقِ بِحَيْثُ تَتَوَلَّدُ مِنْ تَلْفِيْقِهِ حَقِيْقَةٌ لاَ يَقُولُ بِهَا كُلٌّ مِنْ الإِمَامَيْنِ إِلَى أَنْ قَالَ ... أَنَّ تَقْلِيْدَ القَولِ أو الوَجْهِ الضَّعِيْفِ فِى مَذْهَبٍ بِشَرطِهِ أَولَى مِن تَقْلِيْدِ مَذْهَبِ الغَيْرِ لِعُسْرِ إِجْتِمَاعِ شُرُوطِهِ إهـ","part":1,"page":451},{"id":452,"text":"Masalah Kaf: Di antara syarat taqlid adalah tidak adanya talfiq(mencampur adukkan madzhab) sekira dari talfiq tersebut menimbulkan sebuah kenyataan yang kedua imam (yang pendapatnya dicampur adukkan) tidak mengakuinya, sampai pada pernyataan…Sesungguhnya mengikuti qoul atau wajah yang dloif dalam sebuah madzhab dengan mengikuti syarat-syaratnya, itu lebih utama dibanding mengikuti madzhab lain karena sulitnya menyatukan syarat-syaratnya.\rSholat witir yang lebih baik adalah dengan dua kali salam untuk tiga rokaat.\rDasar Pengambilan\rMajmu' (cetakan tahun 2000) juz 4 halaman 18\rالصحيح: أَنَّ الأَفْضَلَ أَنْ يُصَلِّيَهَا مَفْصُولَةً بِسَلَمَيْنِ لِكَثْرَةِ الأَحَادِيْثِ الصَّحِيْحَةِ فِيهِ وَلِكَثْرَةِ العِبَادَاتِ.\rQoul yang shahih: Bahwa yang lebih utama adalah melakukan shalat witir secara terpisah dengan dua kali salam karena banyaknya hadits shahih yang berbicara tentang hal itu dan untuk memperbanyak ibadah.\rTentang Tinju dan Tentang Shalawat Wahidiyah\rPertandingan tinju saat ini merupakan salah satu jenis olah raga yang banyak sekali penggemarnya. Apalagi sekarang bermunculan petinju-petinju kelas dunia yang beragama Islam.\rPertanyaan:\rBagaimanakah hukumnya pertandingan tinju?\rBagaimanakah hukumnya melihat/nonton pertandingan tinju?\rMati yang disebabkan main tinju, itu termasuk mati apa?\rBagaimanakah pandangan Ulama NU tentang Sholawat Wahidiyah?\rJawab:","part":1,"page":452},{"id":453,"text":"Sebenarnya permasalahan tinju sudah pernah kami jawab pada AULA edisi Agustus 1997 di mana ketika itu berdasar keterangan dalam kitab Sulam Taufiq halaman 74 kami menyatakan bahwa hukum tinju itu adalah haram. Begitu juga halnya pendapat KH Hasyim Asy'ari dalam kitab Tanbihatul Wajibat halaman 9. Namun dalam kitab Ahkamul Fuqoha yang merupakan himpunan keputusan bahtsul masail syuriah NU cabang Kraksaan halaman 26 disebutkan bahwa berdasar keterangan dalam kitab Fatawa al-Kubra juz 3 halaman 272 hukum permainan tinju boleh selama tidak berbahaya dan tidak mengandung mungkarot seperti taruhan, pergaulan bebas antara laki-laki dan perempuan dan tidak termasuk syi'ar orang fasiq. Bila kita mencermati dalil tersebut di atas, kebolehan tinju itu hanya apabila memenuhi syarat kelaikan bertanding dan dengan memenuhi syarat yang telah dipaparkan dalam Kitab Ahkamul Fuqoha tersebut di atas.\rDasar Pengambilan:\rفتاوى الكبرىص 272 جزء 3\rسُئِلَ رَحِمَهُ عَمَّا يَقَعُ بَيْنَ أَهْلِ مَلِيْبَارِ مِنَ اللَّعْبِ بِنَحْوِ السُّيُوْفِ المُحَدَّدَةِ وَالتَّضَارُبِ بِهَا إِعْتِمَادًا عَلَى حَرَاسَتِهِمْ بِالتَّرَّسِ وَالغَالِبُ السَلاَمَةُ، وَقَدْ يَقَعُ الجَرْحُ وَقَدْ يَقَعُ ا لهَلاَ كُ وَهَلْ هُوَ جَائِزٌ ؟ لأَ نَّ القَصْدَ بِهِ التَّمْرِيْنُ، أَوْ لاَ لِدُخُولِهِ فِي الإِشَارَةِ عَلَى مُسْلِمٍ بِالسِّلاَحِ وَحَمَلَهُ عَلَيْهِ وَعَمَّتْ البَلْوَى بِذَلِكَ ؟ فَأَجَابَ نَفَعَنَا اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِعُلُومِهِمْ بِقَولِهِ، نَعَمْ يَجُوزُ ذَلِكَ كَمَا صَرَحَ بِهِ أَصْحَابُنَا حَيْثُ قَالُوا يَجُوزُ إلخ.","part":1,"page":453},{"id":454,"text":"\"Pengarang kitab Fatawa Kubro ditanya tentang permainan yang terjadi diantara penduduk Malabar semisal pedang yang diasah /ditajamkan dan permainan saling pukul dengan pedang dengan bersandar atas penjagaan mereka dengan menggunakan tameng/perisai, dan umumnya selamat, terkadang terjadi luka-luka dan terkadang kematian dan apakah permaian ini boleh' Karena tujuannya melatih, atau tidak boleh, karena permainan ini tergolong memberi isyarat kepada orang Islam menggunakan pedang dan membawanya, sedangkan musibah umumnya terjadi dengan hal tersebut? Maka Mushonnif—semoga Allah memberi kemanfaatan pada kita dengan lantaran ilmu-ilmu mereka ... menjawab, \"YA\" hal tersebut boleh, sebagaimana pendapat yang diserukan oleh ashabus Syafi'i sekiranya mereka mengatakan \"boleh\" hal tersebut dilakukan.\rشرح سلم التوفيق ص 74\rوَمِنْهَا اى مِنْ مَعَاصِى اليَدَيْنِ الضَّربٌ بِغَيْرِ حَقٍّ… إِلَى أَنْ قَالَ: فَالَّذِى بِغَيْرِ حَقٍّ هُوَ كَضَرْبِ غَيْرِ ذَلِكَ أَو ضَرْبِ ذَلِكَ فِى الوَجْهِ.\r\"Dan diantaranya, yaitu kemaksiatan-kemaksiatan kedua tangan adalah memukul tanpa alasan yang benar—sampai pada ucapan pengarang: Pukulan dengan tanpa alasan yang benar adalah pukulan kepada selain isteri yang tidak patuh dan anak umur sepuluh tahun yang meninggalkan salat; atau memukul pada muka isteri yang tidak patuh dan anak umur sepuluh tahun yang meninggalkan salat.\rتَنْبِيهَاتُ الوَاجِبَات ص 9\rثُمَّ شَرَعُوا فِى المُنْكَرَاتِ مِثْلُ التَّضَارُبِ وَالتَّدَافُعِ المُسَمَّى عِنْدَهُمْ بِفَنْجَاأَنْ","part":1,"page":454},{"id":455,"text":"\"Kemudian mereka mengadakan kemungkaran-kemungkaran seperti saling pukul dan saling mendorong yang mereka namakan pencaan\"\rBila pertandingan tinju tersebut tidak memenuhi syarat sebagaimana disebutkan dalam kitab Ahkamul Fuqoha sebagaimana tersebut diatas, maka hukum menontonnya adalah haram.\rDasar Pengambilan:\rمرقاة التصديق ص 98\r(وَيَحْرُمُ ) مُشَاهَدَةُ المُنْكَر إِذَا يُنْكِرُ\r\"Dan diharamkan melihat kemungkaran ketika seseorang mengingkarinya\".\rKetika pertandingan tinju tersebut menyebabkan kematian, maka pasti pertandingan tersebut tidak memenuhi syarat kelaikan melakukan pertandingan, sehingga pertandingan tersebut sudah termasuk pertandingan yang membahayakan yang diharamkan, yang berarti dia meninggal dunia dalam keadaan melakukan kemungkaran.\rSholawat Wahidiyah adalah sholawat yang oleh Al Maghfur lahu KH. Mahrus Ali Lirboyo Kediri, pada waktu beliau menjabat sebagai Ra'is Syuriyah NU Jawa Timur, dilarang untuk diamalkan oleh warga NU, karena di dalamnya terdapat ketentuan-ketentuan atau ajaran-ajaran yang sama sekali tidak ada dasarnya dalam syari'at agama Islam, antara lain:","part":1,"page":455},{"id":456,"text":"Pada waktu pertama kali sholawat wahidiyah tersebut disebar luaskan oleh pendirinya, yaitu KH. Abdul Majid (almarhum), beliau membuat selebaran tertulis yang menyatakan bahwa barangsiapa yang mengamalkan sholawat wahidiyah selama 40 hari, permintaannya pasti terkabul. Dan jika ternyata tidak terkabul, beliau berani dituntut di dunia dan di akhirat. Dan pada waktu di masjid Bululawang Malang beliau saya taanya tentang dasar dari pernyataan ini, ternyata beliau tidak dapat menjawab dengan jawaban yang benar.\rSetelah beliau wafat, para murid beliau, yaitu orang-orang yang mengamalkan sholawat wahidiyah juga membawa selebaran yang menyatakan bahwa barangsiapa yang mengamalkan sholawat wahidiyah, maka dia akan menjadi ahli ma'rifat. Dan di antara mereka ini pada waktu dialog dengan saya juga tidak dapat memberikan dasar nasnya.\rWasiat Wajibah\rBeberapa waktu lalu Mahkamah Agung (MA) memenangkan gugatan seorang anak non muslim untuk mendapatkan bagian harta warisan orang tuanya (muslim) yang telah meninggal dunia. Dia mendapat warisan sebanyak bagian warisan saudara-saudara kandungnya yang muslim. MA memenangkan dengan alasan Wasiat Wajibah, padahal di tingkat Pengadilan Agama anak non muslim tersebut tidak mendapat bagian warisan dari keluarganya yang masih muslim.\rPertanyaan:\rApa yang dimaksud Wasiat Wajibah?\rApakah adanya wasiat itu bisa diputuskan oleh orang lain atau pengadilan? Sementara si orang tua tidak pernah mewasiatkan sesuatu kepada anak-anaknya atau orang lain?","part":1,"page":456},{"id":457,"text":"Bila keputusan itu bertentangan dengan ajaran agama Islam, siapa yang berdosa?\rJawab:\rMenurut Jumhurul Ulama dari para Imam madzhab empat menganggap bahwa wasiat itu pada dasarnya hukumnya adalah sunnah. Namun sebagian ulama dari kalangan madzhab Hanbali ada yang menyatakan bahwa ada wasiat yang hukumnya wajib yaitu wasiat yang diperuntukkan orang tua atau kerabat yang tidak dapat mewaris karena terhalang atau ada faktor yang menyebabkan seseorang tidak dapat mewarisi. Pendapat kedua ini kemudian diadopsi oleh Undang-Undang Mesir dan Syiria, sementara dalam Kompilasi Hukum Islam di Indonesia wasiat wajibah ini dibelokkan pada anak angkat (pasal 209) yang dalam hukum Islam sebenarnya tidak mungkin diberi warisan dan tidak wajib di beri wasiat. Untuk lebih lengkap baca \"Wasiat Wajibah dan Pergantian Waris\" oleh KH. Hasyim Abbas pada AULA edisi April 1993.\rDasar Pengambilan:\rالفقه الإسلام وأدلته جز 8 ص 122\rبُيِّنَتْ أَنَّ الوَصِيَّةَ لِلأَقَارِبِ مُسْتَحبَّةٌ عِنْدَ الجُمْهُور مِنْهُمْ أَئِمَّةُ المَذَاهِبِ الأَرْبَعَةِ وَلاَ تَجِبُ عَلَى الشَّخْصٍ إِلاَّ بِحَقٍّ للهِ أَوْ لِلْعِبَادِ. وَيَرَى بَعضُ الفُقَهَاءِ كَابْنِ حَزْمٍ الظَّاهِرِى وَأَبِى بَكْرٍ بْنِ عَبْدِ العَزِيْز مِنَ الحَنَابِلَةِ: أَنَّ الْوَصِيَّةَ وَاجِبَةٌ دِيَانَةٌ وَقَضَاءٌ لِلْوَالِدَيْنِ وَالأَقْرَبِيْنَ الذِيْنَ لاَ يَرِثُونَ لِحَجْبِهِمْ عَنِ المِيْرَاث… إِلَى أنْ قَالَ: وَقَدْ أَخَذَ القَانُونُ المِصْرِ وَالسُّوْرِىِّ بِالرَّأيِ الثَانِى.","part":1,"page":457},{"id":458,"text":"\"…Telah dijelaskan bahwa wasiat kepada kerabat itu adalah disunnatkan menurut jumhur ulama'. Di antara mereka itu adalah para imam madzhab empat. Wasiat itu tidak wajib bagi seseorang kecuali sebab hak dari Allah atau bagi para para hamba Allah. Sebagian ahli fiqih, seperti Ibnu Hazm Adh-Dhahiri dan At-Thobari dan Abu Bakar bin Abdil Aziz dari ulama' madzhab Hambali berpendapat bahwa wasiat itu adalah kewajiban agama dan pembayaran kewajiban bagi kedua orang tua dan para kerabat yang tidak dapat mkarena terhalang dari mewarisi …sampai ucapan pengarang: \"Undang-undang Mesir dan Suriah teelah mengambil pendapat yang kedua.\rWasiat wajibah ini tidak membutuhkan ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam wasiat biasa, karena wasiat wajibah ini tidak membutuhkan ijab kabul. Wasiat wajibah dalam hal ini seperti warisan dan dijalankan sebagaimana pembagian waris.\rالفقه الإسلام وأدلته جز 8 ص 123\rوَبِمَا أَنَّ هَذِهِ الوَصِيَّةَ لاَ تَتَوَافَرُ لهَا مَقُومَاتُِ الوَصِيَةِ الإِخْتِيَارِيَّةِ لِعَدَمِ الإِيْجَابِ مِنَ المُوصِي وَالقَبُولِ مِنَ المُوصَى لَهُ فَهِيَ أَشْبَهَ بِالمِيْرَاثِ فَيُسْلَكُ فِيْهَا مَسْلَكُ المِيْرَاثِ. فَيُجْعَلُ للذَّكَرِ مْثْلُ حَظِّ الأُنْثَيَينِ, وَيَحْجُبُ الأَصْلُ فَرْعَهُ , وَيَأْخُذُ كُلَّ فَرْعٍ نَصِيْبَ أَصْلِهِ","part":1,"page":458},{"id":459,"text":"Dan karena wasiat ini tidak memenuhi keteentuan-ketentuan wasiat yang dilakukan secara sukarela karena ketiadaan ijab dari orang yang memberi wasiat dan tidak ada qabul dari orang yang menerrima wasiat, maka wasiat wajibah ini menyerupai pembagian warisan; sehingga diperlakukan seperti perlaakuan warisan, yaitu bagi laki-laki mendapat bagian dua kali dai bagian perempuan dan ahliwaris yang asal menutupi cabangnya. an setiap cabang mengambil bagian dari asalnya saja.\rSecara substansial ketetapan hukum MA ini tidak keliru karena sesuai dengan madzhab Hanbali, tetapi ketetapan ini menjadi perlu dipertanyakan karena diputuskan pada orang yang bermadzhab Syafii yang tidak mengakui adanya wasiat wajibah.\rKaya Dengan Jalan Haram\rBanyak orang mendapat harta dengan cara haram menjadi kaya raya. Banyak juga orang yang ahli maksiat justru sehat wal afiat dan tenang hatinya. Sementara bila kita tanyakan hal itu kepada para ulama, selalu dijawab bahwa ia enak hanya di dunia sedang di akhirat ia akan disiksa.\rPertanyaan:\rAdakah jawaban selain di atas dan bisa diterima logika semua kalangan?\rAdakah alasan atau landasan nashnya, sehingga bisa memantapkan hati dan tidak ragu-ragu?\rJawab:","part":1,"page":459},{"id":460,"text":"Kalau seseorang itu bisa kaya melalui jalan haram maka mustahil seseorang itu bisa tenang hatinya dan dia tidak akan mungkin dapat beribadah dengan baik. Kalau dia sehat mungkin saja karena sehat itu terkait dengan kondisi fisik tetapi kalau afiat maka hal itu tidak mungkin karena terkait dengan ketenangan hati. Kalaupun dia bisa beribadah secara fisik, maka salatnya itu salat jasmani saja. Dan yang terpenting harta yang haram ini akan selalu mengajak untuk selalu maksiat dan berbuat curang. Anda dapat menganalogikan perbedaan kondisi sebuah mesin yang digerakkan oleh bahan bakar yang baik dengan yang digerakkan oleh bahan bakar yang jelek.\rDasar Pengambilan:\rإحْيَاء علُوم الدين جز 2 ص 92\rمَنْ أَكَلَ الحَرَامَ عَصَتْ جَوَارِحُهُ شَاءَ أَمْ أَبَى عَلِمَ أَو لَمْ يَعْلَمْ وَمَنْ كَانَتْ طُعْمَتُهُ حَلاَلاً أَطَاعَتْهُ جَوَارِحُهُ وَوُفِّقَتْ لِلْخَيْرَاتِ.\rBarangsiapa makan harta yang haram, maka tubuhnya akan maksiat suka atau tidak suka, tahu atau tidak tahu. Dan barang siapa yang makanannya halal maka tubuhnya akan membuatnya selalu taat dan tubuhnya tersebut akan dibantu Allah untuk menjalankan perbuatan-perbuatan yang baik.\rإحْيَاء علُوم الدين جز 2 ص 90\rقَالَ صَلَى اللهُ عَلَيه وَسَلَّم كُلُّ لَحْمٍ نَبَتَ مِنْ حَرَامٍ فَالنَّارُ أَولَى بِهِ\rNabi Muhammad SAW bersabda: setiap daging yang timbul dari harta yang haram maka neraka lebih utama baginya.\rMenarik Kembali Harta Waqaf","part":1,"page":460},{"id":461,"text":"Pemanfaatan harta wakaf tidak selalu efektif . Tidak jarang orang yang diserahi harta wakaf justru memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi.\rPertanyaan:\rBagaimana hukum menggunakan harta dari hasil sawah wakaf untuk kepentingan pribadi?\rApakah boleh menarik kembali harta yang diwakafkan, karena melihat pelaksana, organisasi, lembaga atau orang yang diberi amanat tidak melaksanakan sebagaimana mestinya?\rJawaban:\rNadzir tidak diperkenankan mempergunakan tanah wakaf untuk kepentingan pribadi, namun nadzir boleh mengambil gaji dari hasil pengelolaan tanah wakaf itu, bila hal itu dipersyaratkan ketika mewakafkan, bila tidak maka nadzir sama sekali tidak dapat mengambil apapun dari tanah wakaf. Seorang nadzir juga harus melaksanakan apa yang dipersyaratkan oleh wakif selama tidak melanggar aturan syariat.\rDasar Pengambilan\rنهاية الزين ص 271\r(وَلَو شَرَّطَ) أى الوَاقِفُ لِمِلْكِهِ (شَيْئًا) كَأنْ شَرَّطَ أَن لاَ يُؤْجَرَ الوَقْفُ أَصْلاً, أوْ سَنَةً, أَوْ أَنْ لاَيُؤْجَرَ مِنْ ذِى شَوكَةٍ أَوْ أَنَّ المَوقُوفَ عَلَيْهِ يَسْكُنُبِنَفْسِهِ (أُتُّبِعَ ) شَرْطُهُ فِى غَيْرِ حَالَةِ الضَّرُورَةِ كَسَائِرِ شُرُوطِهِ التِّى لَمْ تُخَالِفْ الشَّرْعَ.","part":1,"page":461},{"id":462,"text":"\"Andaikata orang yang berwakaf mensyaratkan sesuatu bagi miliknya, seperti apabila dia mensyaratkan bahwa barang wakaf tersebut sama sekali tidak boleh disewakan atau tidak boleh disewakan selama satu tahun, atau tidak boleh disewakan dari pemilik kekuasaan, atau bahwa orang yang diwakafi sendiri boleh tinggal di tempat itu, maka syaratnya harus diikuti selain dalam keadaan darurat, seperti seluruh syarat-syaratnya yang tidak menyalahi syara'.\rنهاية الزين ص273\rوَيَسْتَحِقُّ النَّاظِرُ مَا شُرِطَ مِنَ الأُجْرَةِ وَإِنْ زَادَتْ عَلَى أُجْرَةِ مِثْلِهِ مَالَمْ يَكُنْ هُوَ الوَاقِفُ , فَإِنْ لَمْ يُشْتَرَطْ لَهُ شَيْءٌ فَلاَ أُجْرَةَ لَهُ.\r\"Nadhir memiliki hak terhadap apa yang disyaratkan oleh wakif, seperti gaji, meskipun gaji itu melebihi gaji yang sesuai dengan pekerjaannya, selama nadhir terseut bukan orang yang mewakafkan (wakif). Jika tidak disyaratkan sesuatu pun bagi nadhir, maka sama sekali dia tidak boleh menerima gaji\".","part":1,"page":462},{"id":463,"text":"Harta yang diwakafkan tidak boleh ditarik kembali karena pada hakikatnya akad wakaf adalah memindahkan kepemilikan kepada Allah. Apabila yang menjadi nadhir adalah orang yang mewakafkan (wakif) maka dia diperkenankan memecat orang yang diberi tugas mengelola harta wakaf, tetapi apabila nadhir itu orang yang disyaratkan mengelola oleh wakif maka dia tidakbisa dipecat oleh siapapun karena syarat tidak bisa berubah. Apabila wakif tidak menjabat sebagai nadhir, maka dia tidak bisa menguasakan atau memecat seseorang karena penguasaan dan pemecatan adalah hak hakim. Hak hakim ini di Indonesia dikuasakan pada Kepala KUA sebagaimana ketentuan dalam kompilasi hukum Islam pasal 221.\rالفقه الإسلام وأدلته جز 8 ص 171\rأَنَّ المِلْكَ فِى رَقَبَةِ المَوقُوفِ يَنْتَقِلُ إِلَى اللهِ تَعَالَى, أَيْ يَنْفَكُّ عَنْ إِخْتِصَاص الآدَمِى.\r\"Sesungguhnya milik dalam pengawasan barang yang diwakafkan adalah berpindah kepada Allah ta'ala, artinya barang yang telah diwakafkan itu telah terlepas dari wewenang (kekuasaan) manusia\".\rالفقه الإسلام وأدلته جز 8 ص 238","part":1,"page":463},{"id":464,"text":">وَكَذَلِكَ رَأَى الشَّافِعِيَّةُ: لِلنَّاظِرِ عَزْلُ نَفْسِهِ, وَلِلْوَاقِفِ النَّاظِرِ عَزْلُ مَنْ وَلاَّهُ ونَصْبُ غَيْرِهِ مَكَانَهُ, كَمَا يَعْزُلُ المُوَكِّلُ وَكِيْلَهُ. وَيَنْصِبُ غَيْرَهُ , إِلاَّ أَنْ يَشْتَرِطَ الوَاقِفُ لِشَخْصٍ نَظْرَهُ أي إِشْرَافَهُ حَالَ الوَقْفِ. فَلَيْسَ لَهُ وَلاَ لِغَيْرِه عَزْلُهُ, وَلَو لِمَصلَحَةٍ. لأَنَّهُ لاَتَغْيِيْرَ لِمَا شَرَطَهُ, وَلأَنَّه لاَنَظْرَ لَهُ حيْنَئذِ. أَمَّا الوَاقِفُ غَيْرُ النَّاظِرِ فَلاَ يَصِحُّ مِنْهُ تَولِيَةٌ وَلاَ عَزْلٌ, بَلْ هِيَ لِلْحَاكِمِ.\r\"Demikian pula pendapat dari madzhab Syafi'i, nadhir boleh memecat dirinya sendiri (mengundurkan diri), dan wakif yang menjadi nadhir boleh memecat orang yang telah diangkat dan mengangkat orang lain, sebagaimana orang yang telah mewakilkan dapat memecat wakilnya dan mengangkat orang lain. Kecuali apabila wakif mensyaratkan seseorang untuk mengawasi wakaf pada saat dia mewakafkan, maka tidak boleh baginya dan tidak pula bagi orang lain memecatnya, meskipun untuk kemaslahatan. Karena sesungguhnya tidak boleh ada perubahan bagi apa yang telah disyaratkan dan karena sesungguhnya dengan pemecatan itu berarti tidak ada lagi pengawasan pada waktu itu. Adapun wakif yang bukan nadhir, tidak sah melakukan pengangkatan dan pemecatan, karena hak mengangkat dan memecat itu ada pada hakim.\rNikah Paksa\rDi masyarakat banyak terjadi nikah paksa. Si gadis dipaksa menikah orang tuanya dengan orang yang dikehendakinya, tanpa mempertimbangkan penolakan si gadis.\rPertanyaan:","part":1,"page":464},{"id":465,"text":"Apakah syarat-syarat bolehnya nikah paksa dan adakah Imam yang tidak membolehkannya?\rApakah hukumnya bila si perempuan berkumpul dengan suaminya, sementara yang terbayang adalah laki-laki lain?\rApakah perempuan tersebut boleh minta cerai, karena menikah dengan laki-laki yang tidak dicintainya? (bukankah tujuan pernikahan itu untuk mendapatkan ketenangan dan kasih sayang?)\rJawaban\rBapak atau kakek diperbolehkan menikahkan secara paksa seorang gadis meskipun tanpa kerelaan sang gadis dengan syarat calon mempelai prianya sederajat atau dalam bahasa fiqh disebut kafaah. Adapun unsur kafaah ini dari sudut pandang fiqh dilihat dari sisi pengetahuan agamanya, keturunan, kemerdekaan (budak atau bukan) dan pekerjaannya. Bila keempat unsur kafaah ini tidak terpenuhi maka harus mendapatkan izin dari gadis tersebut dan wali sang gadis yang lain. Dan sebaiknya seorang wali meneliti terlebih dahulu calon menantunya.\rDasar Pengambilan:\rمُهَذَّب جز 2 ص 39\rوَيَجُوزُ لِلأَبِ وَالجَدِّ تَزْوِيْجُ البِكْرِ مِنْ غَيْرِ رِضَاهاَ صَغِيْرَةً كَانَتْ أَوْ كَبِيْرَةً.\r\"Diperbolehkan bagi seorang ayah atau kakek menikahkan seorang gadis tanpa kerelaannya baik sang gadis itu masih kecil maupun sudah besar\".\rمُهَذَّب جز 2 ص 40\rوَلاَ يَجُوزُ لِلْوَالِى أَنْ يُزَوِّجَ المَنْكُوحَةَ مِنْ غَيْرِ كُفْؤٍ إِلاَّ بِرِضَاهَا وَرِضَا سَائِرِ الأَوْلِيَاء.\r\"Tidak diperkenankan bagi seorang wali menikahkan seorang gadis yang akan menikah dengan orang yang tidak sederajat kecuali dengan kerelaan sang gadis dan seluruh wali\".","part":1,"page":465},{"id":466,"text":"مُهَذَّب جز 2 ص 41\rوَالكَفَاءَ ةُ فِى الدِّيْنِ وَالنَّسَبِ وَالحُرِّيَّةِ وَالصَنْعَةِ فَأَمَّا الدِّيْنُ فَهُوَ مُعْتَبَرٌ فَالفَاسِقُ لَيْسَ بِكُفْءٍٍ لِلْعَفِيْفَةِ.\r\"Kesamaan derajat itu dipandang dari sisi agama, keturunan, kemerdekaan dan pekerjaan. Adapun kafaah dari sisi agama adalah yang dijadikan patokan. Maka seorang yang fasiq (sering melakukan dosa kecil atau pernah melakukan dosa besar), adalah tidak sederajat dengan wanita yang terjaga dari perbuatan mungkar\".\rإحيَاء علوم الدين جز 2 ص 40\rقَالَ الأَعْمَشْ كُلُّ تَزْوِيْجٍ يَقَعُ عَلَى غَيْرِ نَظْرٍ فَآخِرُهُ هَمٌّ وَغَمٌّ\rSyeikh Al-A'masy berkata: \"Setiap pernikahan yang dilakukan tanpa meneliti terlebih dahulu maka akhirnya akan menuai kesusahan dan kesedihan.\rHukumnya haram.\rDasar Pengambilan:\rنِهَايَةُ الزَّيْن ص 347\rفَيَحْرُمُ عَلَيْهِ وَطْءُ زَوْجَتِهِ إِذَا ظَنَّهَا أَجْنَبِيَةً كَمَا يَحْرُمُ وَطْؤُهَا مُمَثِّلاً لَهَا بِأَجْنَبِيَةٍ\r\"Maka diharamkan bagi seorang suami mengumpuli istrinya ketika dia menyangka istrinya tersebut adalah orang lain sebagaimana diharamkan mengumpulinya dengan menyerupakannya pada orang lain.","part":1,"page":466},{"id":467,"text":"Seorang istri bila sudah merasa tidak cocok dengan suaminya maka dapat mengajukan khulu' (dalam bahasa hukum di Indonesia disebut gugat cerai) dengan ketentuan memberikan iwad (ganti rugi) sesuai yang dikehendaki suami (di Indonesia iwad ditentukan pengadilan dan tidak diberikan pada suami) namun hukumnya sama dengan talak yaitu makruh apalagi bila tidak didasari alasan yang kuat. Sebagai orang yang berharap memiliki keimanan yang sempurna, maka rasa ketidak cocokan itu tidak didasari dari sisi duniawi (kurang tampan atau tidak kaya) tetapi harus didasari dari sudut pandang agama karena pada hakekatnya wanita atau laki-laki yang soleh adalah yang mampu mendekatkan pasangannya kepada Allah.\rDasar Pengambilan:\rالفقه الاسلامي وادلته جز 7 ص 484\rوَكَذَلِكَ قَالَ الشَّافِعِيَّةُ يَجُوزُ الخُلْعُ لِمَا فِيْهِ مِنْ دَفْعِ الضَّرَرِ عَنِ المَرْأَةِ غَالِبًا وَلَكِنَّهُ مَكْرُوهٌ لِمَا فِيْهِ مِنْ قَطْعِ النِّكَاح الذِى هو مَطْلُوبُ الشَّرْعِ لِقَولِهِ صلى الله عليه وسلم : أَبْغَضُ الحَلاَلِ إِلَى اللهِ الطَّلاَقُ\rBegitu juga ulama Syafi'iyah berpendapat: Diperbolehkan khuluk karena khuluk dapat menolak bahaya bagi seorang perempuan pada umumnya. Tetapi hukumnya makruh karena didalamnya terdapat pemutusan nikah yang dianjurkan oleh syara'. Hal tersebut berdasarkan sabda Nabi SAW: \"Pekerjaan halal yang paling dibenci oleh Allah adalah talak\".\rإحيَاء علوم الدين جز 2 ص 57\rقَال صلى الله عليه وسلم: أَ يُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زُوجَهَا طَلاَقَهَا مِنْ غَيْرِ مَا بَأِسَ لَمْ تُرِحْ رَائِحَةَ الجَنَّةِ","part":1,"page":467},{"id":468,"text":"\"Nabi SAW bersabda: \"Perempuan mana saja yang meminta talak pada suaminya tanpa ada sebab yang membahayakan, dia tidak akan mencium bau wangi surga\".\rمسند أحمد إبن حنبل\rعَنْ سَهْلِ بْنِ مُعَاذٍ الْجُهَنِيِّ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَعْطَى لِلَّهِ تَعَالَى وَمَنَعَ لِلَّهِ وَأَحَبَّ لِلَّهِ وَأَبْغَضَ لِلَّهِ وَأَنْكَحَ لِلَّهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ إِيمَانَهُ\r\"Dari Sahal Ibn Muadz Al-Juhani diceritakan dari bapaknya, katanya: \"Rasulullah SAW bersabda: \"Barang siapa memberi karena Allah, mencegah karena Allah, mencintai karena Allah, membenci karena Allah dan menikah karena Allah maka imannya telah benar-benar sempurna\".\rإحيَاء علوم الدين جز 2 ص 32\rقَالَ أَبُو سُلَيْمَانْ الدَّارَانِى رَحِمَهُ اللهُ: الزَّوجَةُ الصَّالِحَةُ لَيْسَتْ مِنَ الدُنْيَا فَإِنَّهَا تُفَرِّغُكَ لِلأَخِرَةِ\r\"Abu Sulaiman Ad-Daroni RA berkata: \"Isteri yang soleh tidaklah termasuk dunia. Sesungguhnya isteri yang soleh adalah membantu engkau untuk Akhirat\".\rIuran Qurban\rKetika tiba Hari Raya Idul Ad-ha, banyak kantor atau sekolah yang mengadakan iuran untuk membeli hewan Qurban. Iuran masing-masing individu jumlahnya sangat jauh dari harga beli hewan yang akan dikurbankan. Namun dengan alasan untuk sarana 'pembelajaran' atau Qurban sendiri, iuran itu pasti lancar dan sukses. Biasanya, kulit hasil sembelihan itu dijual untuk biaya operasional pelaksanaan qurban tersebut.\rPertanyaan\rBolehkah tindakan Panitia menarik dana dengan tujuan di atas?","part":1,"page":468},{"id":469,"text":"Apakah menyembelih hewan Qurban seperti diatas termasuk yang dimaksud dalam ajaran Islam?\rBolehkan menjual kulit Qurban untuk operasional?\rBagaimana memberikan 'pelajaran Qurban' ybenar?\rJawaban\rMenyembelih hewan qurban itu hukumnya sunnah, maka bila panitia mengharuskan dengan ketentuan yang tidak memenuhi syarat dalam fiqh maka hal itu tidak diperkenankan apalagi kalau tidak memenuhi syarat, maka tidak mendapat pahala kesunatan menyembelih qurban.\rMenyembelih hewan qurban menurut ajaran Islam adalah 1 kambing untuk 1 orang, sapi atau unta untuk 7 orang. Dan untuk orang miskin yang ingin berqurban, Imam Abu Yahya Zakariya Al-Ansori menganjurkan untuk mengikuti madzhab Ibn Abbas yang menganggap kesunatan berqurban itu cukup dengan mengalirkan darah meskipun darah ayam jago.\rKulit hewan qurban tidak boleh dijual ataupun disewakan dan hanya bisa dishodaqahkan, digunakan atau dipinjamkan.\rPanitia harus menjelaskan syarat rukun berqurban yang sesuai dengan tuntunan agama dan bila tidak mampu bisa mengikuti anjuran Imam Abu Yahya Zakariya Al-Ansori atau uang urunan tersebut dibelikan kambing yang kemudian diniatkan untuk qurban seseorang. Pada waktu menyembelih orang yang berqurban itu diminta meniatkan pahala qurban untuk orang yang membantu urunan membeli hewan qurban.\rفَتحُ الوهَّاب جز 2 ص 188\rالتَّضْحِيَةُ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ فِى حَقِّنَا عَلَى الكِفَايَةِ إِنْ تَعَدَّدَ أَهْلُ البَيْتِ وَإِلاَّ فَسُنّةُ عَيْنٍ","part":1,"page":469},{"id":470,"text":"\"Berqurban itu adalah sunnat yang dikukuhkan menurut kita (golongan Syafii) apabila jumlah anggota keluarga banyak hukumnya sunnat kifayah, apabila tidak banyak maka sunnat ‘aini (sunnat bagi setiap anggauta keluarga)\".\rفَتحُ الوهَّاب جز 2 ص 189\r(وَيَتَصَدَّقُ بِجِلْدِهَا أوْ يَنْتَفِعُ بِهِ) أي فِى اسْتِعْمَالِهِ وَإِعَارَتِهِ دُونَ بَيْعِهِ وَإِجَارَتِهِ\r\"Dan seseorang dapat bersedekah dengan kulit qurban atau memanfaatkannya, maksudnya menggunakan dan meminjamkan kulit, bukan menjualnya atau menyewakannya\".\rبغية المسترشدين ص 255\r(فَائِدَةٌ) عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ يَكْفِى فِى الأُضْحِيَةِ إِرَاقَةُ الدَمِ وَلَو مِنْ دَجَاجَةٍ وَأَوْزٍ كَمَا قَالَهُ المَيْدَنِى وَكَانَ شَيْخُنَا يَأَمُرُ الفَقِيْرَ بِتَقْلِيْدِهِ وَيَقِيْسُ عَلَى الأُضْحِيَةِ العَقِيْقَةَ وَيَقُولُ لِمَنْ وُلِدَ لَهُ مَولُودٌ عَقَّ بِالدِّيْكَةِ عَلَى مَذْهَبِ إِبْنِ عَبَّاس (مَسْأَلَةٌ) مَذْهَبُ الشَّافِعِي وَلاَ نَعْلَمُ لَهُ مُخَالِفًا عَدَمَ جَوَازِ التَضْحِيَّةِ بِالشَّاةِ عَنْ أَكْثَرَ مِنْ وَاحِدٍ … إِلَى أَنْ قَالَ قَالَ الخَطِيْبُ وَ م ر وَغَيْرُهُمَا لَو أَشْرَكَ غُيْرُهُ فِى ثَوَابِ أُضْحِيَةِ كَأَنْ قَالَ عَنِّى وَعَنْ فُلاَنٍ أَوْ عَنْ أَهْلِ بَيْتِى جَازَ وَحَصَلَ الثَوَابُ لِلْجَمِيْعِ","part":1,"page":470},{"id":471,"text":"(Faidah) dari Ibn Abbas ra: \"Sesungguhnya dalam berqurban cukup dengan mengalirkan darah meskipun dari ayam jago atau angsa sebagaimana dikatakan oleh Al-Maidani. Syaichuna (Imam Abu Yahya Zakariya Al-Ansori) menganjurkan orang-orang fakir untuk mengikuti madzhab tersebut, aqiqah juga di analogkan pada masalah qurban. Syaichuna juga mengatakan bagi orang yang melahirkan bayi dapat meng-aqiqahi dengan ayam jago menurut madzhab Ibn Abbas. (Masalah) Madzhab Syafii dan saya tidak mengetahui ulama yang berbeda pendapat dengannya tentang ketidakbolehan berqurban dengan seekor kambing untuk orang yang lebih banyak dari satu orang … sampai pada pernyataan pengarang, Imam Khatib, Imam Ramli dan ulama yang lainnya berpendapat kalau orang lain bersekutu dalam masalah pahala qurban seperti ucapan seseorang: untukku atau ahli baitku maka hukumnya boleh dan pahalanya dapat diperoleh semuannya.\rAdzan Shubuh Untuk Jenazah\rSudah menjadi kebiasaan di daerah kami, bila memandikan janazah sambil membaca kalimat thayyibah 'Laa ilaha Illallah' atau membaca 'Shollallahu ala Muhammad'. Dan yang memandikan selalu wanita yang terkadang bukan mahramnya. Sedang ketika di liang kubur diadzani dengan adzan subuh—ada lafadz 'Assolatu Khairun minannaum'.\rPertanyaan\rBolehkah kalimat thayyibah itu dibacakan ketika sedang memandikan janazah?\rBolehkah wanita memandikan janazah laki-laki?\rApakah dasarnya menggunakan Adzan Subuh untuk keperluan di atas?\rJawaban\rBoleh dan bahkan disunnahkan.\rDasar Pengambilan:\rالا ذكار ص 154","part":1,"page":471},{"id":472,"text":"يُسْتَحَبُّ الإِكْثَارُ مِنْ ذِكْرِ اللهِ تَعَالَى، وَالدُّعَاءِ لِلْمَيِّتِ فِي حَالِ غُسْلِهِ وَتَكْفِيْنِهِ.\r\"Disunnahkan memperbanyak dzikir pada Allah dan berdoa untuk mayit ketika memandikannya dan mengkafaninya\".\rWanita yang bukan mahram tidak diperkenankan memandikan dan bila tidak ada orang lain selain wanita yang bukan mahram maka jenazah tidak dimandikan tetapi di-tayammumi karena tidak adanya orang yang memandikan ini dianalogkan dengan tidak adanya air.\rDasar Pengambilan\rرحمة الأمة ص 67\rوَلَو مَاتَتْ اِمْرَأَةٌ وَلَيْسَ هُنَاكَ إِلاَّ رَجُلٌ أَجْنَبِيٌ أَوَ مَاتَ رَجُلٌ وَلَيْسَ هُنَاكَ إِلاَّ امْرَأَةٌ أَجْنَبِيَةٌ فَمَذْهَبُ أَبِى حَنِيفَةَ وَ مَالِكٍ – وَالأَصَحُّ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِى – أَنَّهُمَا يَُيمَّمَانِ.\r\"Kalau seorang perempuan wafat dan di sana tidak ada orang kecuali laki-laki yang bukan mahram atau seorang laki-laki yang wafat dan disana tidak ada orang kecuali perempuan yang bukan mahram maka dalam madzhab Abu Hanifah, Malik dan pendapat yang paling kuat dari madzhab As-Syafi'i, bahwa kedua mayat tersebut ditayammumi\".\rقُلْيُوبِى وَعَمِيْرَة جز 1 ص 326\r(يُمِّمَ فِى الأصَحِ) اِلْحَاقًا لِفَقْدِ الغَاسِلِ بِفَقْدِ المَاء\r\"(Ditayammumi menurut pendapat yang paling kuat) karena ketiadaan orang yang memandikan disamakan dengan ketiadaan air\".","part":1,"page":472},{"id":473,"text":"Mengumandangkan adzan ketika jenazah dikuburkan terdapat dua pendapat, yang pertama tidak mensunnahkan adzan ketika jenazah dikuburkan, pendapat yang kedua mensunahkan. Namun, ketika jenazah dikuburkan itu bersamaan dengan adzan yang dikumandangkan, maka jenazah diringankan dari pertanyaan di alam kubur. Mengenai apa yang dikumandangkan itu adzan subuh atau bukan, hal itu tidak masalah karena setiap hal yang baik yang tidak bertentangan dengan Quran dan Sunnah itu termasuk bid'ah hasanah.\rإِعَانَةُ الطَّالِبِيْن جُزْ 1ص 230\rوَاعْلَمْ أَنَّهُ لاَ يُسَنُّ الأَذَان عِنْدَ دُخُولِ القَبْرِ، خِلاَفًا لِمَنْ قَالَ بِنِسْبَتِهِ قِيَاسًا لِخُرُوجِهِ مِنَ الدُنْيَا عَلَى دُخُولِهِ فِيْهَا. قَالَ إبنُ حَجَرٍ: وَرَدَدْتُهُ فِى شَرْحِ العُبَابِ، لَكِنْ إِذَا وَافَقَ إِنْزَالُهُ القَبْرَ أَذَانٌ خَفَّفَ عَنْهُ فِى السُّؤَالِ.\r\"Ketahuilah bahwasanya adzan tidak disunahkan ketika masuk kubur, berbeda dengan orang yang menisbatkan adzan karena menganalogkan meninggal dunia dengan lahir ke dunia. Ibn Hajar berpendapat: \"Saya menolak pendapat ini dalam kitab Syarah ‘Ubab. Tetapi ketika jenazah diturunkan ke dalam kubur bersamaan dengan dikumandangkannya adzan maka jenazah tersebut diringankan dari pertanyaan kubur\".\rإِعَانَةُ الطَّالِبِيْن جُزْ 1ص271\rقَالَ الشَّافِعِى رَضِى اللهُ عَنْهُ مَا أَحْدَثَ وَخَالَفَ كِتَابًا أَوْ سُنَّةً أَوْ إِجْمَاعًا أَو أَثَرًا فَهُوَ البِدْعَةُ الضَّالَةُ وَمَا أَحْدَثَ مِنَ الخَيْرِ وَلَمْ يُخَالِفْ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَهُوَ البِدْعَةُ المَحْمُودَةُ","part":1,"page":473},{"id":474,"text":"Imam Syafi'i berpendapat: \"Perbuatan yang baru dan bertentangan dengan Quran, Sunnah, atau Atsar Shahabat, maka perbuatan tersebut adalah bid'ah yang sesat. Dan perbuatan yang baru yang tidak bertentangan dengan hal diatas, maka perbuatan itu adalah bid'ah yang dipuji.\rPerdagangan Lewat Internet dan Kuis TV\rBagaimana hukum perdagangan lewat internet (e-commerce)?\rBagaimana hukum kuis di televisi yang menentukan tarif telepon khusus untuk mendapatkan hadiah?\rJawab:\rPerdagangan lewat internet itu hukumnya boleh, karena dalam perdagangan tersebut telah diterangkan:\rTelah diterangkan sifat-sifat dari barang yang diperdagangkan.\rTelah ditetukan harga dari barang yang diperdagangkan.\rTerdapat ijab qabul lewat tulisan dalam internet tersebut.\rDasar Pengambilan:\rKitab At-Tadzhib halaman 123:\rوَبَيْعُ شَيْءٍ مَوْصُوْفٍ فِي الذِّمَّةِ فَجَائِزٌ اِذَا وُجِدَتِ الصِّفَةُ عَلَى مَا وُصِفَ بِهِ .\rMenjual sesuatu yang diterangkan sifatnya dalam tanggungan itu boleh apabila sifat tersebut didapati pada barang dagangan yang telah diterangkan sifatnya.\rKitab Al-Muhadzdzab juz 1 halaman 301:\r(فَصْلٌ) وَإِنْ كَتَبَ إِلَيْهِ وَهُوَ غَائِبٌ أَقْرَضْتُكَ هذَا أَوْ كَتَبَ إِلَيْهِ بِالْبَيْعِ فَفِيْهِ وَجْهَانِ أَحَدُهُمَا يَنْعَقِدُ لأَنَّ الْحَاجَةَ مَعَ الْغَيْبَةِ دَاعِيَةٌ إِلَى الْكِتَابَةِ.","part":1,"page":474},{"id":475,"text":"(Fasal). Jika seseorang menulis surat kepada orang lain, sedangkan orang lain tersebut gaib (tidak hadir): \"Aku qiradlkan kepada anda sejumlah uang ini\", atau menulis kepadanya mengenai jual beli, maka dalam hal ini ada dua segi. Yang pertama sah, karena hajat bersama seseorang yang tidak hadir itu adalah mengundang kepada tulisan.\rKuis di televisi lewat telepon dengan tarif pulsa yang jauh lebih tinggi dari pada pulsa biasa (premium), dan bagi yang beruntung mendapat hadiah, sedang yang tidak beruntung akan kehilangan banyak uang. Dari sifatnya yang demikian ini (untung-untungan), maka kuis di televisi ini termasuk perjudian yang dilarang oleh Allah swt. dalam surat Al Ma'idah ayat 90:\rيَآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأَنْصَابُ وَالأَزْلاَمُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ .\rWahai orang-orang yang beriman! Bahwa sesungguhnya arak, dan judi, dan pemujaan berhala, dan mengundi nasib dengan batang-batang anak panah, adalah (semuanya) kotor (keji) dari perbuatan syaithan. Oleh karena itu hendaklah kamu menjauhinya supaya kamu berbahagia.\rKhutbah Jum'at Yang Menghujat, Bacaan Basmalah dan Sumur Dekat WC\rBagaimana hukum dari shalat Jum'at jika khuthbah yang disampaikan oleh khotib berisi hal-hal yang kurang baik, misalnya menghujat atau menjelek-jelekkan seseorang?","part":1,"page":475},{"id":476,"text":"Sepengetahuan kami Bismillah harus dibaca pada surat Al Fatihah. Bagaimana jika berjamaah, sedangkan imamnya tidak memakai Bismillah (tidak diketahui, apa tidak dikeraskan atau memang tidak dibaca)?\rApakah suci, air yang digunakan wudlu dari air sumur yang berbau (banger)? Sebab sumur jarang dipakai dan letaknya dekat kakus atau WC sementara sumur dalam keadaan ditutup.\rJawab:\rHukum dari shalat Jum'at jika khutbah yang disampaikan oleh khotib berisi hal-hal yang kurang baik, misalnya menghujat atau menjelek-jelekkan seseorang, adalah tidak sah; sebab salah satu dari rukum khuthbah adalah memberi wasiat untuk berbuat taqwa, sedang khutbah itu adalah salah satu dari fardlu Jum'at, sehingga sholat Jum'at tidak sah tanpa khutbah. Jadi apabila kita melakukan sholat Jum'at, kemudian kita ketahui bahwa khotib dalam khutbahnya menghujat atau menjelek-jelekkan orang lain, maka setelah sholat Jum'at tersebut selesai, kita harus mengulang dengan melakukan sholat dhuhur (sholat mu'adah).\rDasar Pengambilan:\rKifayatul Akhyar juz 1 halaman 148:\rوَفَرَائِضُهَا ثَلاَثَةُ أَشْيَاءَ: خُطْبَتَانِ يَقُوْمُ فِيْهِمَا وَيَجْلِسُ بَيْنَهُمَا .\rKewajiban menjalankan shalat Jum'at itu ada tiga perkara: dua khutbah yang dilakukan dengan berdiri dan duduk di antara kedua khutbah.\rKifayatul Akhyar juz 1 halaman 149:\rوَلِلْخُطْبَةِ خَمْسَةُ أَرْكَانٍ … الثَّالِثُ الْوَصِيَّةٌ بِتَقْوَى اللهِ تَعَالَى.\rKhutbah itu mempunyai lima rukun ...\rYang ketiga adalah berwasiat dengan taqwa kepada Allah ta'ala.","part":1,"page":476},{"id":477,"text":"Orang yang berkeyakinan bahwa \"basmalah\" itu adalah salah satu ayat dari surat Fatihah seperti orang yang bermadzhab Syafi'i tidak sah makmum dengan orang yang sengaja tidak membaca basmalah dalam membaca Fatihah, seperti orang yang bermadzhab Hanafi.\rDasar Pengambilan:\rKitab Tausyih halaman 56:\rعَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّ النَّبٍيَّ صلى الله عليه وسلم عَدَّ بسم الله الرحمن الرحيم آيَةً .\rTelah diriwayatkan dari Ummu Salamah bahwa sesungguhnya Nabi saw. telah menghitung \"Bismillaahir Rahmaanir Rahiim\" satu ayat dari Fatihah.\rKitab Ihya' Ulumiddin juz 1 halaman 176:\rوَيَجْهَرَ بِبِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ وَالأَخْبَارُ فِيْهِ مُتُعَارِضَةٌ وَاخْتَارَ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ الْجَهْرَ .\rDan hendaknya imam mengeraskan bacaan \"Bismillaahir Rahmaa-nir Rahiim\". Sedangkan hadits-hadits dalam hal mengeraskan ini saling bertentangan, dan Imam Asy-Syafi'i ra. memilih mengeraskan.\rKitab Kasyifatus Saja halaman 84:\rلَوْ عَلِمَ أَوْ ظَنَّ أَنَّ الإِمَامَ الْحَنَفِيَّ مَثَلاً تَرَكَ الْبَسْمَلَةَ بِأَنْ لَمْ يَسْكُتْ بَعْدَ الإِحْرَامِ بِقَدْرِهَا فَلاَ يَصِحُّ اقْتَدَاؤُهُ .\rAndaikata makmum mengetahui atau menyangka bahwa imam yang bermadzhab Hanafi misalnya, dia meninggalkan basmalah dengan tidak diam sesudah takbiratul ihram sekedar bacaan basmalah, maka tidak sah makmum kepadanya.","part":1,"page":477},{"id":478,"text":"Air sumur tersebut sebaiknya diperiksakan dahulu ke laboratorium. Jika ternyata air sumur tersebut tidak tercemar oleh kakus atau WC yang ada didekatnya, dan bau tidak enak dari air sumur tersebut hanya karena jarang atau lama tidak dipakai, maka hukumnya tetap suci dan mensucikan dan dapat dipakai untuk berwudlu.\rDasar Pengambilan:\rKitab Nihayatuz Zain halaman 14:\rفَلاَ يَضُرُّ الْمَاءَ تَغْيِيْرُهُ بِطُوْلِ الْمُكْثِ وَلاَ بِالْمُجَاوِرِ الطَّاهِرِ وَلَوْ كَانَ التّغْيِيْرُ كَثِيْرًا.\rMaka tidaklah merusak kesucian air, perubahan dari bau air tersebut sebab lama tidak dipakai atau sebab berdampingan dengan barang yang suci, meskipun perubahan tersebut adalah banyak.\rJariyah Untuk Memperindah Masjid\rBagaimana hukumnya uang jariyah masjid digunakan untuk membuat kamar mandi WC dan pagar depan halaman masjid, taman-taman agar kelihatan indah?\rDi halaman masjid kadang ditanami buah-buahan kemudian hasilnya untuk yang menanam, apakah diperbolehkan?\rJawab:\rUang yang telah disedekahkan atau dijariyahkan kepada masjid dengan wakaf mutlak (tidak ditentukan penggunaannya), adalah menjadi milik masjid. Dan uang milik masjid tersebut dapat dipergunakan untuk kemaslahatan masjid, demikian pula hasil dari tanaman yang ditanam di tanah masjid.\rDasar Pengambilan:\rKitab Bughyatul Mustarsyidin halaman 66:","part":1,"page":478},{"id":479,"text":"(مسئلة ك) قَالَ الْخَطِيْبُ فِي الْمُغْنِي: وَيُصْرَفُ الْمَوْقُوْفُ عَلَى الْمَسْجِدِ وَقْفًا مُطْلَقًا عَلَى عِمَارَتِهِ فِي الْبِنَاءِ وَالتَّجْصِيْصِ اَلْمُحْكَمِ وَالسُّلَّمِ وَالسُّوَارَى لِلتَّظْلِيْلِ بِهَا وَالْمَكَانِسِ وَالْمَسَاحِي لِيُنْقَلَ بِهَا التُّرَابُ وَفِي ظِلَّةٍ تَمْنَعُ حَطَبَ الْبَابِ مِنْ نَحْوِ الْمَطَرِ إِنْ لَمْ تَضُرَّ بِالْمَارَّةِ وَفِيْ أُجْرَةِ قَيِّمٍ لاَمُؤَذِّنٍ وَإِمَامٍ وَحَصْرٍ وَدُهْنٍ لأَنَّ الْقَيِّمَ يَحْفَظُ الْعِمَارَةَ بِخِلاَفِ الْبَاقِي فَإِنْ كَانَ الْوَقْفُ لِمَصَالِحِ الْمَسْجِدِ صُرِفَ مِنْ رِيْعِهِ لِمَنْ ذُكِرَ لاَ لِتَزْوِيْقِهِ وَنَقْشِهِ بَلْ لَوْ وُقِفَ عَالَيْهَا لَم يَصِحَّ اهـ اِعْتَمَدَ فِي النِّهَايَةِ أَنَّهُ يُصْرَفُ وَمَا بَعْدَهُ فٍي الْوَقْفِ الْمُطْلَقِ أَيْضًا وَيُلْحَقُ بِالْمُؤَذِّنِ الْحَصْرُ وَالدُّهْنُ.","part":1,"page":479},{"id":480,"text":"(Mas'alah Kaf) Imam Khotib dalam kitab Al-Mughni berkata: Apa yang diwakafkan kepada masjid dengan wakaf yang mutlak, dapat dipergunakan untuk memakmurkan masjid, seperti membangun, melabur (melepo) yang sempurna, membuat tangga, membuat tembok yang tinggi untuk berteduh, membeli sapu-sapu, sekop-sekop untuk memindahkan tanah, membuat pelindung yang dapat melindungi kayu pintu dari hujan, jika tidak mengganggu lalu-lalang, untuk menggaji pengurus, dan tidak boleh untuk menggaji mu'adzdzin dan imam, dan untuk membeli tikar dan minyak lampu, karena pengurus itu menjaga kemakmuran masjid, berbeda dengan lainnya. Jika wakaf itu adalah untuk kemaslahatan masjid, maka hasilnya dapat dipergunakan untuorang-orang yang telah disebutkan, bukan untuk menghias masjid dan mengukirnya. Bahkan andaikata ada orang yang wakaf untuk menghias dan mengukir masjid, hukumnya tidak sah. Dalam kitab An-Nihayah pengarang berlandasan bahwa sesungguhnya dalam wakaf mutlak itu dapat dipergunakan juga untuk menggaji tukang adzan, membeli tikar dan minyak untuk lampu\rTradisi Membakar Kemenyan Untuk Roh","part":1,"page":480},{"id":481,"text":"Di daerah kami ada tradisi membakar kemenyan dalam beberapa hal, yakni kalau akan menggarap sawah (dibakar di sawah), kalau punya hajatan (kemanten, dll), dan selamatan. Dalam acara pembakaran kemenyan tersebut sangat disakralkan. Hal itu terlihat pada, yang membakar harus orang tertentu (tokoh, pimpinan tahlil). Setelah kemenyan dibakar di muka para hadirin lalu dimasukkan ke dalam dibawa keliling ke dapur atau ke dalam kamar (katanya untuk memanggil roh nenek moyang).\rBagaimana hukumnya membakar kemenyan dengan tujuan untuk mendapatkan keselamatan, memanggil roh nenek moyang?\rMohon penjelasan asal-usul tradisi membakar kemenyan?\rJawab:\rHukum membakar kemenyan dengan tujuan untuk mendapatkan keselamatan adalah haram, sebab memohon keselamatan dan lainnya bagi orang muslim hanyalah kepada Allah swt, sedangkan untuk memohon kepadaNya haruslah sedangkan untuk memohon kepada-Nya haruslah sesuai dengan ketentuan yang disebutkan oleh Allah swt. sebagaimana firman Allah dalam Al Qur'an surat Al Baqarah ayat 186 yang berbunyi:\rوَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَإِنِّيْ قَرِيْبٌ، أُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ، فَلْيَسْتِجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ.\rDan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.","part":1,"page":481},{"id":482,"text":"Dalam tafsir Al Qurthubi, disebutkan bahwa pengertian dari: فَلْيَسْتَجِيْبُوْا , adalah:\rفَلْيُجِيْبُوْا لِيْ فِيْمَا دَعَوْتُهُمْ إِلَيْهِ مِنَ الإِيْمَانِ: أَيِ الطَّاعَةِ وَالْعَمَلِ.\rMaka hendaklah mereka mengabulkan kepada-Ku mengenai apa yang Aku memanggil mereka kepada hal tersebut tentang iman, artinya ta'at dan beramal.\rJadi dalam ayat tersebut di atas ditegaskan, bahwa apabila do'a kita dikabulkan oleh Allah swt., kita harus ta'at kepada Allah mengenai ketentuan-ketentuan yang telah ditentukan olehNya dalam menncapai tujuan yang menjadi sasaran darido'a kita dan kita harus bekerja keras dalam mencapai do'a tersebut, dan bukan dengan membakar kemenyan.\rTentang membakar kemenyan untuk memanggil ruh nenek moyang, maka yang datang bisa datang sebab dibakarkan kemenyan tersebut adalah ruh-ruh jahat yang disebut syaithan atau jin-jin kafir yang mengaku-ngaku seperti nenek moyang. Adapun ruh-ruh nenek moyang itu sendiri, setelah meninggal dunia, semuanya ditahan di alam barzakh (alam kubur) dan tidak dapat keluar kecuali pada hari kiamat nanti. Memang ada nabi-nabi tertentu yang dapat memanggil ruh orang yang sudah mati untuk kembali ke jasadnya lagi, seperti nabi Musa yang memanggil ruh dari orang yang telah dibunuh untuk ditanyai siapa pembunuhnya sebagaimana yang diceriterakan dalam Al Qur'an dan nabi Isa yang dapat menghidupkan kembali orang yang sudah mati ratusan tahun untuk membuktikan bahwa beliau adalah utusan Allah, tetapi tidak untuk dimintai keselamatan dan lainnya.","part":1,"page":482},{"id":483,"text":"Dasar Pengambilan:\rAl Qur'an surat Al Mu'minun ayat 99 - 100:\rحَتَّى إِذَا جَآءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُوْنِ. لَعَلِّيْ أَعْمَلُ صَالِحًا فِيْمَا تَرَكْتُ، كَلاَّ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَآئِلُهَا، وَمِنْ وَّرَآئِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَ.\rSehingga apabila kematian telah datang kepada salah seorang dari mereka, makia dia berkata: Wahai Tuhanku, kembalikanlah daku; supaya aku mengerjakan amal-amal shalih dalam perkara-perkara yang telah aku tinggalkan. Tidak! Masakan dapat? Sesungguhnya perkataannya itu hanyalah kata-kata yang ia saja yang mengatakannya, sedang di hadapan mereka barzakh (yang mereka tinggal tetap padanya) hingga hari nereka dibangkitkan semula (pada hari kiamat).\rJadi kalau ada orang yang mengaku dapat mendatangkan ruh dengan membakar kemenyan atau dengan cara yang lain, maka yang datang itu adalah ruh dari jin atau syaithan yang mengaku sebagai ruh orang yang sudah meninggal dunia, seperti jin-jin yang dipanggil dalam permainan jailangkung atau nini thowok.","part":1,"page":483},{"id":484,"text":"Bahkan kalau ada orang yang mengaku bertemu dengan ruh seorang wali yang telah meninggal dunia sewaktu dia berziarah ke makamnya, maka belum tentu yang menemui itu adalah ruh dari wali tersebut dan kemungkinan besar dia adalah syaithan yang menjelma seperti wali tersebut; kecuali orang yang bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad saw, maka benar-benar dia bertemu dengan beliau, karena syaithan tidak mampu memjelma seperti Nabi Muhammad saw, sebagaimana hadits Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari sahabat Abu Hurairah sebagai berikut:\rعَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رع قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ ص م يَقُوْلُ: مَنْ رَآنِيْ فِي الْمَنَامِ فَسَيَرَانِيْ فِي الْيَقَظَةِ وَلاَ يَتَمَثَّلُ الشَّيْطَانُ بِيْ. قَالَ أَبُوْ عَبْدِ اللهِ: قَالَ ابْنُ سِيْرِيْن: إِذَا رَآهُ فِي صُوْرَتِهِ .\rDiriwayatkan dari Abu Hurairah ra. katanya: Saya mendengar Nabi saw. bersabda: Barangsiapa yang melihat saya dalam tidur, maka dia akan melihat saya pada waktu jaga, dan syaithan tidak dapat menjelma seperi saya. Abu Abdillah berkata: Ibnu Sirin berkata: Apabila dia melihat Nabi dalam rupanya.\rPembakaran dupa itu ada dua macam:\rDupa yang dibakar untuk pengharum ruangan yang berupa kayu garu yang sudah dirajang kecil-kecil seperti yang dilakukan oleh orang-orang Arab sampai sekarang pada waktu ada pertemuan.\rKemenyan atau yongsua (dupa cina) yang dibakar dalam upacara penyembahan berhala atau ruh nenek moyang.\rPenggunaan Barang Wakaf","part":1,"page":484},{"id":485,"text":"Sering terjadi di masjid-masjid pelosok desa menggunakan barang-barang wakaf milik masjid, seperti speaker (pengeras suara) untuk hal-hal yang tidak berhubungan dengan keperluan/kegiatan masjid. Misalnya, pengumuman ada orang meninggal di kampung itu, atau mengaji di masjid tersebut dengan menggunakan pengeras suara dan itu bukan kegiatan masjid.\rBagaimana hukum menggunakan barang-barang wakaf (speaker) tersebut?\rApakah memperoleh pahala orang yang mengaji di masjid dengan menggunakan speaker milik masjid?\rJawab:\rJika penggunaan barang-barang yang telah diwakafkan ke masjid tersebut tidak sesuai dengan niat orang yang mewakafkannya, maka hukumnya tidak boleh; dan jika sesuai dengan niat orang yang mewakafkannya, maka hukumnya boleh.\rDasar Pengambilan:\rKitab Bughyatul Mustarsyidin halaman 66:\r(فَائِدَةٌ) وَلاَ يَجُوْزُ لِلْقَيِّمِ بَيْعُ الْفَاضِلِ مِمَّا يُؤْتَى بِهِ لِنَحْوِ الْمَسْجِدِ مِنْ غَيْرِ لَفْظٍ وَلاَ صَرْفُهُ فِي نَوْعٍ آخَرَ مِنْ عِمَارَةٍ وَنَحْوِهَا وَإِنِ احْتِيْجَ إِلَيْهِ مَا لَمْ يَقْتَضِ لَفْظُ الآتِيْ بِهِ أَوْ تَدُلَّ قَرِيْنَةٌ عَلَيْهِ لأَنَّ صَرْفَهُ فِيْمَا جُعِلَ لَهُ مُمْكِنٌ وَإِنْ طَالَ الْوَقْتُ .","part":1,"page":485},{"id":486,"text":"Tidak boleh bagi pengurus untuk menjual apa yang lebih dari apa yang diberikan kepada seumpama masjid yang tidak sesuai dengan ucapan dari orang yang memberinya; dan tidak boleh pula mempergunakannya untuk kepentingan yang lain seperti untuk memakmurkan masjid dan lainnya meskipun diperlukan selama tidak sesuai dengan ucapan orang yang memberi wakaf tersebut atau selama tidak ada qarinah atau hubungan yang menunjukkannya; karena mempergunakan benda wakaf dalam hal yang telah ditentukan adalah mungkin, meskipun waktunya panjang.\rJika pengajian tersebut diperlukan untuk dikeraskan karena akan didengarkan oleh orang banyak, maka mempergunakan pengeras suara tersebut adalah sunnat, sehingga orang yang mewakafkan pengeras suara tersebut mendapat pahala dan orang yang mengaji dengan mempergunakan pengeras suara tersebut juga mendapat pahala. Sebaliknya, jika mengeraskan pengajian itu menimbulkan fitnah, seperti mengaji Al Qur'an pada malam Ramadlan setelah jam 22.00 WIB (saat masjid sudah akan tidur) atau bacaannya banyak yang salah sehingga membuat tidak enak bagi orang alim yang mendengarkannya, maka mempergunakan pengeras suara dalam hal ini adalah haram hukumnya.\rDasar Pengambilan:\rKitab Risalatu Taudlihil Maksud halaman 16:\rوَالْحَاصِلُ مِنْ جَمِيْعِ مَا ذَكَرْنَاهُ وَنَقَلْنَاهُ فِيْ هذَهَ الْوَرِيْقَاتِ أَنَّ اسْتِعْمَالَ مُكَبِّرَاتِ الصَّوْتِ فِي الآذَانِ وَغَيْرِهِ مِمَّا يُطْلَبُ فِيْهِ الْجَهْرُ أَمْرٌ مَحْمُوْدٌ شَرْعًا وَهذَا هُوَ الْحَقُّ وَالصَّوَابُ .","part":1,"page":486},{"id":487,"text":"Hasil dari semua hal yang telah kami sebutkan dan kami kutipkan dalam lembaran-lembaran ini adalah bahwa mempergunakan pengeras suara dalam adzan dan lainnya dari hal-hal yang dituntut untuk dikeraskan adalah perkara yang dipuji dalam syara'. Dan ini adalah yang hak dan yang benar.\rDeposito Bank\rSaya adalah seorang pelajar yang mendepositokan uang di sebuah bank, yang bunganya saya pakai untuk membayar sekolah/kuliah, makan, dll (termasuk alat-alat yang menunjangnya).\rBagaimaan hukum mendepositokan uang di bank?\rApakah Bank NUSUMA termasuk kriteria bank yang sehat menurut syar'i (yang notabene dalam naungan NU)?\rJika sistem (Bank NUSUMA) tidak sependapat dengan kitab syar'i. Apakah alasan syar'i pendirian bank tersebut? Bukankah rela terhadap hal yang ada itu termasuk rela terhadap sesuatu yang ditimbulkannya?\rTermasuk akad apakah pendepositoan di atas? Dan jika tidak boleh bagaimana jalan keluarnya?\rBagaimana hukum berinvestasi/menanam saham?\rJawab:\rHukum mendepositokan uang di bank itu hukumnya boleh, sebab pemberian bunga dari deposito itu tidak disebutkan dalam akad.\rDasar Pengambilan:\rKitab Jamal Fat-hul Wahhab juz 3 halaman 261:\rمَحَلُّ الْفَسَادِ إِذَا وَقَعَ الشَّرْطُ فِيْ صُلْبِ الْعَقْدِ . أَمَّا لَوْ تَوَافَقَا عَلَى ذلِكَ وَلَمْ شَرْطٌ فِي الْعَقْدِ فَلاَ فَسَادَ . وَلَوْ قَصَدَ إِقْرَاضَ مَنْ هُوَ مَشْهُوْرٌ فِيْ رَدِّ الزِّيَادَةِ لأَجْلِهَا فَفِيْ كَرَاهَتِهِ وَجْهَانِ .","part":1,"page":487},{"id":488,"text":"\"Tempat kerusakan akad pinjaman yang berbunga itu adalah apabila pemberian bunga itu disyaratkan dalam akad pinjam meminjam. Adapun apabila orang yang meminjam uang dan orang yang dipinjami telah sepakat keduanya terhadap bunga tersebut dan tidak terjadi syarat pemberian bunga dalam akad pinjam meminjam, maka akad tersebut tidak rusak. Andaikata seseorang bermaksud meminjamkan uang dengan maksud mendapat tambahan kepada orang yang sudah terkenal mengembalikan uang pinjaman dengan tambahan, maka mengenai kemakruhannya ada dua pendapat\".\rKitab Bughyatul Mustarsyidin halaman 186:\r(مسئلة ب): مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ أَنَّ مُجَرَّدَ الْكِتَابَةِ فِيْ سَائِرِ الْعُقُوْدِ وَالإِخْبَارَاتِ وَالإِنْشَاآتِ لَيْسَ حُجَّةً شَرْعِيَّةً .\r(Masalah Ba') Madzhab Syafi'i berpendapat bahwa tulisan semata-mata dalam semua akad, kabar-kabar dan pernyataan-pernyataan tidaklah termasuk hujjah syara'.\rKami tidak mengetahui, apakah bank NUSUMA itu termasuk bank yang sehat menurut syara' atau tidak. Sebab pendirian bank NUSUMA tersebut diprakarsai oleh salah seorang tokoh yang menjadi Pengurus Besar NU, tetapi bukan hasil keputusan Bahtsul Masa'l Syuriyah NU, baik Pengurus Besar, Pengurus Wilayah, dan Pengurus Cabang.","part":1,"page":488},{"id":489,"text":"Sebagaimana kami kemukakan di atas, bahwa pendirian bank NUSUMA itu diprakarsai oleh seorang tokoh yang pada waktu kebetulan menjadi Pengurus Besar NU, sedang kami yang pada waktu pendiriannya kebetulan menjadi Pengurus Syuriyah PWNU tidak diajak musyawarah atau dimintai pendapat, sehingga kami dan orang-orang lain yang seperti kami, tidak dapat dikatakan termasuk orang yang rela terhadap pendirian bank NUSUMA tersebut.\rMendepositokan uang di bank itu termasuk akad wadi'ah (titipan) dengan idzin men-tasarruf-kan uang titipan tersebut oleh pihak bank.\rKami tidak tahu persis apakah keuntungan yang diberikan oleh perusahaan kepada para pemegang saham adalah prosentasi dari keuntungan yang diperoleh oleh perusahaan yang menjual sahamnya ataukan prosentasi dari modal orang yang menanamkan sahamnya. Jika berasal dari keuntungan yang diperoleh oleh perusahaan yang menjual sahamnya, maka hukumnya halal, dan jika berasal dari prosentasi dari modal orang yang menanamkan sahamnya, maka hukumnya seperti bunga dari pinjaman.yang hukumnya haram; berdasarkan hadits yang berbunyi:\rكُلُّ قَرْضٍ جَرَّ نَفْعًا فَهُوَ الرِّبَا .\rSetiap pinjaman yang menarik manfa'at adalah riba.\rBeacukai dalam Islam\rBagaimana hukum menarik bea cukai dalam Islam?\rBagaimana hukum seorang muslim yang bekerja di departemen bea cukai?\rBagaimana apabila bagian yang menarik bea cukai?\rBagaimana apabila pada bagian yang tidak menarik bea cukai (misalnya pada bagian litbang)?","part":1,"page":489},{"id":490,"text":"Apa sebenarnya pengertian \"Shohibu Maksin\" pada hadits riwayat Abu Dawud, Ahmad, dan Al-Hakim berikut ini: \"Laa yadkhulul jannata shohibu maksin\"?\rApa pengertian dari kata 'Aasyiron dari hadits riwayat Ahmad dan Abdil Hakam ini: \"idzaa laqitum 'asyiron faqtuluhu\"?\rJawaban:\rHukum menarik bea cukai dalam Islam itu diperbolehkan selama bea cukai yang ditarik dan dikumpulkan oleh negara itu dipergunakan untuk biaya penyelenggaraan negara seperti yang dilakukan di Indonesia.\rJika penarikan bea cukai seperti tersebut pada jawaban nomor 1 adalah boleh, maka karyawan yang bekerja sebagai penarik bea cukai atau bagian lainnya (litbang) juga boleh.\rYang dimaksud dengan \"Shohibu Maksin\" dalam hadits yang telah anda sebutkan adalah penguasa yang menarik pajak atau bea cukai yang dipergunan sendiri karena menganggap bahwa bea cukai (pajak) itu adalah hak miliknya, seperti upeti yang ditarik oleh para raja.\rYang dimaksud dengan 'Aasyiron dalam hadits tersebut adalah orang yang memungut zakat tanpa memiliki hak, sebagaimana keterangan dari Qutaibah bin Sa'id dalam menafsiri hadits tersebut yang berbunyi:\rحَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيْدٍ بِهذَا الْحَدِيْثِ وَقَصَّرَ عَنْ بَعْضِ الإِسْنَادِ وَقَالَ: يَعْنِيْ بِذلِكَ الصَّدَقَةَ يَأْخُذُهَا عَلَى غَيْرِ حَقِّهَا.\r\"Qutaibah bin Sa'id telah menceriterakan kepada kami dan beliau meringkas sebagian dari isnad hadits tersebut dan berkata: \"Nabi saw. memaksudkan dengan kata 'Aasyiron tersebut: Orang yang memungut sedekah (zakat) tanpa memiliki hak untuk memungutnya\".","part":1,"page":490},{"id":491,"text":"mk:@MSITStore:G:\\untuk maktabah baru\\Kumpulan Bahtsul Masaail - Seri 2.CHM::/../../../../My Web Sites/NH/pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/masail/aula/tahun_2001/jun-07a180.html?seemore=y - top\rTato dan Anak Haram yang Menjadi Imam Shalat\rBagaimana hukumnya orang yang bertato atau orang/anak haram menjadi imam shalat?\rJawab:\rBertato itu hukumnya haram dan dilaknat.\rDasar Pengambilan:\rHadits Nabi Muhammad saw. yang disepakati oleh Bukhari dan Muslim:\rعَنِ ابْنِ عُمَرَ رع أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص م لَعَنَ الْوَاصِلَةَ والْمَوْصُوْلَةَ وَالْوَاشِمَةَ وَالْمُسْتَوْشِمَةَ . متفق عليه .\rDiriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra. bahwasanya Rasulullah saw. melaknat wanita yang menyambung rambut (sopak) dan wanita yang minta disambungkan rambutnya, dan wanita yang bertato dan yang minta ditato.\rDalam kitab-kitab hadits dan kitab-kitab fiqih, kami belum menjumpai hukum keharaman anak zina menjadi imam dalam shalat berjama'ah. Yang ada hanyalah hukum \"khilaful awla\" (hukum di bawah makruh), sebagaimana tersebut dalam kitab Tuhfatut Thullaab halaman 29 yang berbunyi:\rوَمِنْ إِمَامَتِهِ خِلاَفُ الأَوْلَى وَهُوَ وَلَدُ الزِّنَا وَوَلَدُ الْمُلاَعَنَةِ .\rDan dari pekerjaannya menjadi imam shalat adalah khilaful awla, yaitu imamah dari anak zina dan anak mula'anah.\rDalam kitab Al-Umm juz 1 halaman 193 juga disebutkan:\rوَأُكْرِهَ أَنْ يُنْصَبَ مَنْ لاَ يُعْرَفُ أَبُوْهُ إِمَامًا لأَنَّ الإِمَامَةَ مَوْضِعُ فَضْلٍ وَتَجْزِئُ مَنْ صَلَّى خَلْفَهُ صَلاَتُهُمْ .","part":1,"page":491},{"id":492,"text":"Dan dimakruhkan apabila orang yang tidak diketahui bapaknya dijadikan imam, karena imamah itu adalah tempat keutamaan. Sedangkan orang-orang yang shalat di belakangnya hukumnya sah.\rHukum Arisan Shilaturahim\rYayasan kami ini salah satu programnya akan membentuk arisan silaturrahim/taawun dengan tatacara pelaksanaannya sebagai berikut. Pelaksanaan arisan tiap bulan dengan jumlah anggota 200 orang @ Rp. 100.000.00 berarti masukan uang tiap bulan dan diatur sesuai kesepakatan anggota sebagai berikut:\rBulan ke 1 s/d ke 10 masing-masing memperoleh Rp. 2.000.000,00\rBulan ke 11 s/d ke 20 masing-masing memperoleh Rp. 3.000.000,00\rBulan ke 21 s/d ke 30 masing-masing memperoleh Rp. 4.000.000,00\rKeterangan: sisa uang tersebut tiap bulan diinvestasikan/digunakan untuk modal dagang atau disimpan di bank.\rBagi anggota yang telah mendapat undian utama tersebut langsung bebas membayar pada bulan-bulan berikutnya. Setelah arisan tuntas 30 bulan, maka sisa anggota yang tidak mendapat undian utama sebanyak 170 orang mendapat pengembalian uang arisan yang telah disetor sebesar Rp. 3.000.000,00 per orang. Ditambah dengan undian berhadiah khusus bagi bagi mereka dengan hadiah yang relatif tidak sama jumlahnya untuk masing-masing anggota.","part":1,"page":492},{"id":493,"text":"Perlu dimaklumi bahwa pada akhir pelaksanaan arisan ini, yayasan akan memperoleh manfaat/keuntungan besar dari sisa uang yang diinventariskan tiap bulan tersebut, dan keuntungan tersebut telah disepakati anggota untuk dimanfaatkan pada kepentingan yayasan ini atau kepentingan Islam lainnya sesuai kebutuhan.\rBolehkah arisan silaturrahim model ini? Jika tidak boleh, mohon solusinya berikut hukum dan dasar-dasarnya.\rJawaban\rArisan silaturrahim yang pelaksanaannya sebagaimana disebutkan dalam pertanyaan adalah muamalah yang di dalamnya terdapat hukum arisan dan riba nasa'i (undian pada bulan 11-20, dan 21-30). Kemudian dicampur dengan akad qiradl yang tidak diucapkan sebelumnya. Yaitu penggunaan uang untuk berdagang dan dibungakan melalui bank. Oleh karena itu hukum muamalah seperti ini adalah dilarang dalam agama Islam. Sebab mengumpulkan uang dari para anggota menurut ajaran Islam harus jelas. Apakah untuk qiradl, syirkah, atau arisan. Selama akadnya tidak jelas, maka hukumnya tidak boleh. Jadi kalau Anda ingin mencari solusinya, Anda harus memilih untuk menegaskan salah satu dari qiradl, syirkah, atau arisan yang jelas-jelas dibenarkan dalam ajaran Islam.\rDasar Pengambilan\rاعانة الطالبين ص 53 الجزء 3:","part":1,"page":493},{"id":494,"text":"وَاَمَّا الْقَرْضُ بِشَرْطِ جَرِّ نَفْعٍ لِمُقْرِضٍ فَفَاسِدٌ لِخَبَرِ \"كُلُّ قَرْضٍ جَرَّنَفْعًا فَهُوَ رِبَا\" (قَوْلُهُ فَفَاسِدٌ) قَالَ ع ش : وَمَعْلُوْمٌ اَنَّ مَحَلَّ الْفَسَادِ حَيْثُ وَقَعَ الشَّرْطُ فىِ صُلْبِ الْعَقْدِ اَمَّا لَوْ تَوَافَقَا عَلَى ذَلِكَ وَلَمْ يَقَعْ شَرْطٌ فىِ ذَلِكَ الْعَقْدِ فَلاَ فَسَادَ .\rAdapun pinjaman dengan syarat menarik keuntungan (manfaat) bagi orang yang meminjamkan, maka hukumnya tidak sah. Berdasarkan hadits, \"Setiap pinjaman yang menarik manfaat adalah riba.\" Ucapan pengarang 'tidak sah' berkata Imam Al-Syubromalisi: \"Dan dapat dimaklumi bahwa tempat ketidakabsahan akad tersebut adalah sekira persyaratan menarik manfaat tersebut diucapkan di tengah-tengah akad pinjam meminjam. Adapun apabila sang peminjam dan orang yang meminjamkan telah sepakat keduanya, terhadap manfaat tersebut dan tidak terjadi persyaratan dalam akad tersebut, maka hukumnya sah.\rالقليوب ص 260 الجزء 2\r(قَوْلُهُ وَلاَ يَجُوْزُ بِشَرْطٍ اِلَخْ) اَىْ لاَ يَجُوْزُ التَّلَفُظُ بِذلِكَ وَهُوَ حَرَامٌ بِالاِْجْمَاعَ وَيَبْطُلُ بِهِ وَاَمَّانِيَّةُ ذَلِكَ فَمَكْرُوْهَةٌ وَلَوْ لِمَنْ عَرَفَ بِرَدِّ الزِّيَادَةِ وَقَالَ كَثِيْرٌ مِنَ الْعُلَمَآءِ بِالْحُرْمَةِ .","part":1,"page":494},{"id":495,"text":"Ucapan pengarang: \"Dan tidak boleh dengan syarat ...dst.\" Artinya tidak boleh melafalkan penarikan manfaat tersebut. Melafalkan penarikan manfaat tersebut adalah haram berdasarkan ijma' para ulama dan akadnya menjadi batal. Adapun berniat untuk memberi manfaat maka niat tersebut hukumnya makruh meskipun bagi orang yang mengetahui akan tambahan dalam pengembalian hutang. Mayoritas ulama berpendapat bahwa hal ini haram.\rالقليوب ص 258 الجزء 2\r(فَرْعٌ) الْجُمُعَةُ الْمَشْهُوْرَةُ بَيْنَ النِّسَاءِ بِاَنْ تَأْخُذَ اِمْرَأَةٌ مِنْ كُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْ جَمَاعَةٍ مِنْهُنَّ قَدْرًا مُعَيَّنًا فىِ كُلِّ جُمُعَةٍ اَوْ شَهْرٍ وَتَدْفَعُهُ لِوَاحِدَةٍ بَعْدَ وَاحِدَةٍ اِلىَ آَخِرِهِنَّ جَائِزَةٌ كَمَا قَالَهُ الْوَلِيُّ الْعِرَاقِيُّ .\r(Cabang) Hari Jum'at yang termasyhur di antara para wanita, yaitu apabila seseorang wanita mengambil dari setiap wanita dari jama'ah para wanita sejumlah uang tertentu pada setiap hari Jum'at atau setiap bulan dan menyerahkan keseluruhannya kepada salah seorang, sesudah yang lain, sampai orang terakhir dari jamaah tersebut adalah boleh sebagaimana pendapat Al-Wali al-'Iraqi.\rKaidah Ushul Fiqih\rإِذَا اجْتَمَعَ بَيْنَ الْحَلاَلِ وَالْحَرَامِ غُلِبَ الْحَرَامُ\rJika berkumpul antara yang halal dan yang haram. maka dimenangkan yang haram.\rNishab Gabah\rBerapakah sebetulnya nisab padi (gabah) itu?\rApakah nisab padi (gabah) wajib zakat diperhitungkan waktu memetik saja?\rSeperti ayat Al-Quran yang artinya:\r\"Dan keluarkanlah haknya (zakatnya) pada hari pemotongan\".","part":1,"page":495},{"id":496,"text":"Sehingga kalau nisab padi misalnya 12 kuintal berarti berarti kalau ada orang yang sekali panen baru mendapat 6 kuintal berarti dia belum kewajiban zakat.\rTetapi ada kitab yang maksudnya demikian:\r'Dua tanaman dalam satu tahun itu dikumpulkan, apabila hari panen keduanya dikumpulkan dalam satu tahun'.\rKalau diartikan secara bebas menurut pendapat saya: kalau panen pertama misalnya mendapat 6 kuintal, dan panen kedua atau ketiga mendapat 5 kuintal dan 4 kuintal, asalkan panen-panen itu masih dalam satu tahun, maka hasil panennya itu dijumlah semua. Sehingga dapat mencapai satu nisab sebab semua dari (6 kuintal + 5 kuintal dan 4 kuintal ) = semua ada 15 kuintal. Dengan demikian orang tersebut wajib mengeluarkan zakat.\rDi antara uraian-uraian di atas, mana yang betul?\rJawaban\rDalam kitab \"Problematika Zakat dan Pemecahannya\" karangan KH. Masduqi Machfudh, halaman 31 dinyatakan oleh Imam Syafi'i bahwa:\rnisab beras putih 815,758 kg\rnisab padi biasa 1631,516 kg\rnisab padi butek 1323,132 kg\rDasar Pengambilan\rبغشة المسترشدين ص 48\r(مَسْئَلَةٌ) نِصَابُ الْعَلَسِ وَالأَرُزِ ِفى قَشْرَتِةِ وَلَوِ الْحَمْرَاءَ عِنْدَ جَحٍّ عَشْرَةُ أَوْسُقٍ ظَاهِرُ التُّحْفَةِ مُطْلَقًا وًَصَرَحَ بِهِ ِفى الاِيْعَابِ لَكِِنْ فِيْ غَيرِِْهمِاَ مِنْ كُتُبِهِ وَالأَسَنىَ وَالنِّهَابَةِ وَغيْرِهَا اَنَّ الْعِبْرَةَ بِحُصًوْلِ خَمْسَةِ أَوْسُقٍ مِنْ غَيْرِ الْعُشْرٍِ سَوَاءٌ حَصَلَتْ مِنْ عَشْرَةٍ اَوْ اَقَلَّ اَوْ اَكْثَرَ .","part":1,"page":496},{"id":497,"text":"(Masalah). Nisab gandum dan beras yang masih berkulit, meskipun berwarna merah menurut Imam Ibnu Hajar Al Haitami adalah sepuluh wasaq. Menurut nas yang nampak dari kitab At Tuhfah nisab tersebut adalah mutlak. Nisab tersebut dijelaskan oleh Ibnu Hajar Al Haitami dalam kitab Al Ii'aab. Akan tetapi dalam selain kedua kitab tersebut dari kitab-kitab beliau dan dalam kitab Asnal Mathalib, An Nihayah dan lainnya bahwa nisab yang dipakai adalah lima wasaq tanpa kulit, baik lima wasaq tersebut dihasilkan dari 10 wasaq, atau lebih sedikit atau lebih banyak.\rMenurut Al-Qur'an surat Al-An'am ayat 141 bahwa zakat dari tanaman itu harus dikeluarkan pada saat panen. Akan tetapi dalam kitab Ahkamul Qur'an jilid 2 halaman 287 dinyatakan bahwa para ulama berbeda pendapat mengenai pengertian dari hari panen atau hari pemotongan. Antara lain seperti yang dikemukakan dalam kitab Kasyifatus Saja halaman 109, yang berbunyi:\rكشفة السجا 109\rوعبارته . وَزَرْعَا الْعَامِ وَهُوَ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا تُضَمَّانِ اِنْ وَقَعَ حَصَادُهُمَا فىِ عَامٍ وَاحِدٍ بِأَنْ يَكُوْنَ بَيْنَ حَصَادِ اْلاَوَّلِ وَالثَّانِيْ اَقَلَّ مِنِ اثْنَيْ عَشَرَ شَهْرًا عَرَبِيَّةً وَاِنْ وَقَعَ زَرْعُهُمَا فىِ عَامَيْنِ بِاَنْ كَانَ بَيْنَ زَرْعِ اْلاَوَّلِ وَزَرْعِ الثَّانِيْ اِثْنَا عَشَرَ شَهْرًا وَبَيْنَ حَصَادِ الثَّانِي وَاْلاَوَّلِ اَقَلَّ مِنْ ذَلِكَ .","part":1,"page":497},{"id":498,"text":"Dan dua kali menanam dalam satu tahun-yakni dua belas bulan-itu harus digabung jika kedua panennya masih dalam satu tahun, dalam arti antara panen pertama dan panen kedua lebih sedikit dari dua belas bulan Qamariyah. Dan jika kedua menanamnya terjadi dalam dua tahun, yakni antara menanam pertama dan kedua itu dua belas bulan, dan antara panen pertama dan kedua kurang dari dua belas bulan.\rDasar Pengambilan\rفتح المعين ص 49\rوَلاَ يُضَمُ جِنْسٌ اِلىَ آخَرَ لِتَكْمِيْلِ النِّصَابِ بِخِلاَفِ اَنْوَاعِ الْجِنْسِ قَتُضَمُّ وَزَرْعَا الْعَامِ يُضَمَّانِ اِنْ وَقَعَ حَصَادُهُمَا فىِ عَامٍ .\rSatu jenis hasil panen tidak boleh digabungkan dengan yang lain untuk menyempurnakan nisab. Berbeda dengan bermacam-macam jenis, yang boleh digabungkan. Dua tanaman dalam satu tahun dapat digabungkan jika panen kedua tanaman tersebut terjadi dalam satu tahun.\rMenshalati Jenazah Orang Yang Tidak Shalat\rAda orang minum-minuman keras seperti bir, tuak, anggur, wiski, topi miring, dan semacamnya. Tapi minumnya itu hanya sedikit dan tidak memabukkan, bagaimanakah hukumnya, apakah haram? Mohon dasar pengambilannya juga.\rAda orang Islam meninggal dunia, tapi dia tidak pernah sholat, menurut pendapat Kiai apakah kita menyolati/mengantarkan ke kuburan, ataukah tidak?\rApakah perbedaan air madhi dan air wadi itu?\rJawaban\rHukumnya tetap haram.\rDasar Pengambilan\rفتح المعين ص 130","part":1,"page":498},{"id":499,"text":"(فائدة) كُلُّ شَرَابٍ اَسْكَرَ كَثِيْرُهُ مِنْ خَمْرٍ اَوْ غَيْرِهَا حَرَامٌ قَلِيْلُهُ وَكَثِيْرُهُ . لِخَبَرِ الصَّحِيْحَيْنِ كُلُّ شَرَابٍ اَسَكَرَ فَهُوَ حَرَامٌ وَخَبَرِ مُسْلِمٍ كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ وَكُلُّ خَمْرٍ حَرَامٌ وَيُحَدُّ شَارِبُهُ وَاِنْ لَمْ يَسْكُرْ اَىْ مُتَعَاطِيْهِ\r(Faedah) Setiap minuman yang memabukkan jumlahnya yang banyak dari arak atau lainnya adalah haram meminumnya sedikit atau banyak. Karena berdasarkan hadits riwayat Bukhari dan Muslim, \"Setiap minuman yang memabukkan, adalah haram.\" Dan hadits riwayat Muslim, \"Setiap yang memabukkan, adalah arak. Dan setiap arak hukumnya haram dan peminumnya dihukum meskipun tidak mabuk.\"\rSelama masih meyakini bahwa shalat itu hukumnya wajib, meskipun dia tidak pernah shalat, maka dia masih diperlakukan sebagaimana kaum muslim yang lain seperti dimandikan, dikafani dan dishalati.\rDasar Pengambilan\r1- فتح القريب\r(والثانى أَنْ يَتْرُكَهَا كَسْلاً) حَتَّى يَخْرُجَ وَقْتُهَا حَالَ كَونِهِ (مُعْتَقِدًا لِوُجُوبِهَا فَيُسْتَتَابُ فَإِنْ تَابَ وَصَلَّى) وَهُوَ تَفْسِيْرٌ لِلتَّوبَةِ (وإِلاَّ) وَإِنْ لَمْ يَتُبْ (قُتِلَ حَدًّا) لاَكُفْرًا (وَكَانَ حُكْمُ المُسْلِمِيْنَ) فِى الدَّفْنِ فِى مَقَابِرِهِمْ وَلاَ يُكْمَسُ قَبْرُهُ وَلَهُ حُكْمُ المُسْلِمِيْنَ أَيْضًا فِى الغُسْلِ وَالتَّكْفِيْنِ وَالصَّلاَةِ عَلَيْهِ.","part":1,"page":499},{"id":500,"text":"\"Kedua, ialah ia meninggalkan shalat karena malas sehingga waktunya habis selama ia beri'tikad akan kewajiban shalat atasnya. Maka ia diminta untuk taubat. Kemudian jika ia bertaubat, dan shalat-dan ini adalah penjabaran taubat-(maka ia tidak dibunuh. pent) tetapi bila ia tidak taubat, maka ia harus dibunuh sebagai hukuman, bukan karena kekafiran. Status hukumnya adalah status hukum muslimin dalam hal dimakamkan di pemakaman muslim serta makamnya tidak diratakan. Bagi orang tersebut juga berlaku hukum kaum muslimin dalam hal dimandikan, dikafani dan dishalati\".\rبغية المسترشدين ص 92\r(مسئلة ب) وَيَجِبُ تَجْهِيْزُ كُلِّ مُسْلِمٍ مَحْكُوْمٍ بِإِسْلاَمِهِ وَاِنْ فَحِشَتْ ذُنُوْبُهُ وَكَانَ تَارِكًا لِلصَّلاَةِ وَغَيْرِهَا مِنْ غَيْرِ جُحُوْدٍ وَيَأْ ثَمُ كُلُّ مَنْ عَلِمَ بِهِ لَوْقَصَّرَ فىِ ذَالِكَ لأَِنَّ لاَ اِلهَ اِلاَّ الله وِقَايَةٌ لَهُ مِنَ الْخُلُوْدِ فىِ النَّارِ هَذاَ مِنْ حَيْثُ الظَّاهِرِ وَاَمَّا بَاطِنًا فَمَحَلُّ ذَالِكَ حَيْثُ حَسُنَتِ الْخَاتِمَةُ بِالْمَوْتِ عَلَى الْيَقِيْنِ وَالثَّابَتِ عَلَى الدِّيْنِ فَاْلأَعْمَالُ عُنْوَانٌ","part":1,"page":500},{"id":501,"text":"(Masalah Ba') Wajib mengurus mayat setiap muslim yang telah ditetapkan keislamannya meskipun sangat keji dosa-dosa yang telah dilakukan dan dia meninggalkan shalat dan lainnya tanpa menentang kewajiban. Setiap orang yang mengetahuinya adalah berdosa atau bersikap teledor atau masa bodoh terhadap hal tersebut. Karena kalimah tauhid adalah penjagaan baginya dari kekal dalam neraka. Ini adalah dari segi lahir. Adapun dalam segi batin maka tempatnya adalah sekira dia memperoleh husnul khatimah dalam kematiannya secara yakin dan tetap dalam agama. Adapun amal-amal ibadah adalah tanda-tanda dari keyakinan tersebut.\rAir madhi yaitu air yang keluar pada waktu ada syahwat kecil. Rupanya bening dan kental. Sedangkan air wadi (keputihan) yaitu air yang keluar dari kemaluan wanita karena terlalu payah dan lainnya.\rDasar Pengambilan\rفتح المعين ص 11\r(وَمَاذِىٌ) بِمُعْمَةٍ لِْلأَمْرِ بِغُسْلِ الذَّكَرِ مِنْهُ وَهُوَ مَاءٌ اَبْيَضُ اَوْاَصْفَرُ رَقِيْقٌ يَحْرُجُ غَالِبًا عِنْدَ ثَوْرَانِ الشَّهْوَةِ بِغَيْرِ شَهْوَةٍ قَوِيَّةٍ . (وَوَدِىٌ) بِمُهْمَلَةٍ وَهُوَ مَاءٌ اَبْيَضُ كَدِرٌ ثَخِيْنٌ يِحْرُجُ غَالِبًا عَقِبَ الْبَوْلِ اَوْ عِنْدَ حَمْلِ شَيْئٍ ثَقِيْلٍ","part":2,"page":1},{"id":502,"text":"Dan madhi (dengan dititik dzalnya) karena perintah membasuh dzakar daripadanya yaitu air yang putih atau kuning yang agak encer yang biasanya keluar pada waktu berkobarnya syahwat tanpa syahwat yang kuat. Dan wadi (tanpa dititik dalnya) yaitu air yang putih yang kotor lagi kental yang keluar pada umumnya sesudah kencing atau pada waktu membawa sesuatu yang berat.\rmk:@MSITStore:G:\\untuk maktabah baru\\Kumpulan Bahtsul Masaail - Seri 2.CHM::/../../../../My Web Sites/NH/pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/masail/aula/tahun_2002/mar-03a180.html?seemore=y - top Memberi Salam di Tempat Pengajian\rAda sebuah acara kecil-kecilan, seperti: tahlilan, Yasinan dan Diba’an, yang sebelumnya diadakan acara pengajian/ceramah agama. Ketikan acara pengajian sudah dimulai ada orang yang datang.\rKetika orang yang baru datang tersebut masuk ke ruang tempat pengajian, apakah perlu menyampaikan salam?\rJawaban\rTidak perlu, sebab akan mengganggu ketenangan orang-orang yang sedang mendengarkan pengajian, sebagaimana orang-orang yang sedang sibuk berdzikir akan merasa terganggu untuk memusatkan perhatiannya karena mendengar salam.\rDasar pengambilan\rKitab Al Adzkar karangan Imam Nawawi, cetakan Darul Fikri, th. 1994 M, hal. 251:","part":2,"page":2},{"id":503,"text":"وَأَمَّا السَّلاَمُ عَلَى الْمُشْتَغِلِ بِقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ ، فَقَالَ الإِمَامُ أَبُو الْحَسَنِ الْوَاحِدِي : اَلأَوْلَى تَرْكُ السَّلاَمِ عَلَيْهِ لإِشْتِغَالِهِ بِالتِّلاَوَةِ، اِلَى أَنْ قَالَ : أَمَّا إِذَا كَانَ مُشْتَغِلاً بِالدُّعَاءِ، مُسْتَغْرِقًا فِيْهِ، مُجْمِعَ الْقَلْبِ عَلَيْهِ، فَيُحْتَمَلُ أَنْ يُقَالَ : هُوَ كَالْمُشْتَغِلِ بِالْقِرَاءَةِ عَلَى مَا ذَكَرْنَاهُ، وَالأَظْهَرُ عِنْدِيْ فِيْ هَذَا أَنَّهُ يُكْرَهُ السَّلاًمُ عَلَيْهِ .\r\"Adapun memberi salam kepada orang yang sibuk dengan bacaan Al Qur’an, maka Imam Abul Hasan Al Wahidi berkata: “Yang lebih utama adalah tidak memberi salam kepadanya karena kesibukannya dengan bacaan, …sampai ucapan pengarang…: “Adapun jika seseorang itu sibuk dengan do’a, lagi tenggelam dalam do’a tersebut dan memusatkan perhatiannya pada do’a, maka kemungkinan dapat dikatakan bahwa dia adalah seperti orang yang sibuk dengan bacaan Al Qur’an menurut apa yang telah kami tuturkan. Yang jelas menurut saya dalam masalah ini bahwasanya makruh mengucapkan salam kepadanya\".\rJeda Waktu Ijab Qabul\rSebagaimana yang sering dilakukan oleh petugas KUA, ketika meng-ijab-kan seorang pengantin, sambil memegang tangan pengantin pria, ia berkata : “nanti kalau tangan anda sudah saya tekan, anda harus segera menjawab”. Namun kadang-kadang qabulnya agak terlambat sedikit, akhirnya ijab diulang kembali.\rBerapakah lamanya waktu yang menjadikan putusnya persambungan antara ijab dan qabul.\rJawaban","part":2,"page":3},{"id":504,"text":"Sekira dianggap lama menurut adat kebiasaan atau cukup untuk mengucapkan sepatah kata yang dapat menyela antara ijab dan qabul.\rDasar pengambilan\rKitab Anwarul Masalik, Syeikh Muhammad Zuhri Al Ghamrawi, Maktabah Al Hidayah, Surabaya, t.t., hal. 214:\rوَلاَ يَصِحُّ أَيْضًا إِلاَّ بِقَبُوْلٍ مِنَ الزَّوْجِ عَلَى الْفَوْرِ مِنْ غَيْرِ فَصْلٍ بِسُكُوْتٍ طَوِيْلٍ أَوْ بِكَلاَمٍ أَجْنَبِيٍّ.\r\"Dan juga tidak sah akad nikah itu kecuali dengan qabul dari suami pada waktu seketika (setelah ijab) tanpa terpisah antara ijab dan qabul dengan diam yang lama atau terpisah dengan omongan yang lain.\"\rShalat Jum'at Beda Madzhab\rDalam sebuah jamaah shalat Jumat, para makmumnya adalah penganut madzhab Syafii, sedang khatibnya tidak bermadzhab atau bermadzhab Hanafi. Sahkah jumatannya?\rJawaban\rJika makmum mengetahui bahwa imamnya telah mengerjakan apa-apa yang wajib dilakukan dalam shalat Jum’at menurut makmum, maka Jum’atannya sah. Demikiian pula jika makmum tidak mengetahui imamnya telah melakukan hal-hal yang membatalkan shalat.\rDasar pengambilan:\rKitab Ghoyatu Talkhisil Murad, Ibnu Ziyad, Hamisy Bughyatul Mustarsyidin, Mesir, Musthofa Al Babil Al Halabi, t..t., hal. 99:\rمَسْئَلَةٌ : تَصِحُّ الْقُدْوَةُ بِالْمُخَالِفِِ إِذَا عَلِمَ الْمَأْمُوْمُ إِتْيَانَهُ بِمَا يَجِبُ عِنْدَهُ ، وَكَذَا إِنْ جَهِلَ .\r\"Masalah: Sah makmum dengan orang yang berbeda madzhab jika makmum mengetahui imam melakukan apa-apa yang wajib menurut makmum; demikian pula jika makmum tidak mengetahui\".","part":2,"page":4},{"id":505,"text":"Kasyifatus Saja, Muhammad Nawawi Al Jawi, Syirkatul Ma’arif, Bandung, t.t. hal.84:\rأَحَدُهَا أنْ لاَ يَعْلَمَ وَأَنْ لاَ يَظُنَّ ظَنًّا غَالِبًا بُطْلاَنَ صَلاَةَ إِمَامِهِِ بِحَدَثٍ أَوْ غَيْرِهِ، فَلاَ يَصِحُّ اقْتِدَاؤُهُ بٍمًنْ يَظُنُّ بُطْلاَنَ صَلاَتِهِ كَََشَافِعِيٍّ اِقْتَدَى بِحَنَفِِيٍّ مَسَّ فَرْجَهُ ...إِلَى أَنْ قَالَ : وَلَوْ عَلِمَ أَوْ ظَنَّ أَنَّ الإِمَامَ الْحَنَفِيَّ مَثَلاً تَرَكَ الْبَسْمَلَةَ بِأَنْ لَمْ يَسْكُتْ بَعْدَ الإِحْرَامِ بِقَدْرِهَا فَلاَ يَصِحُّ اقْتِدَاؤُهُ بِهِ .\r\"Salah satu dari sebelas syarat makmum adalah agar makmum tidak menge-tahui dan tidak menduga dengan dugaan yang kuat akan kebatalan dari shalat imam-nya sebab hadats atau lainnya. Maka tidak sah makmum dengan orang yang disang-ka batal shalatnya, seperti seseorang yang bermadzhab Syafi’i yang makmum dengan seseorang yang bermadzhab Hanafi yang menyentuh kemaluannya … sampai ucapan pengarang: Andaikata makmum mengetahui atau menyangka bahwa imam yang bermadzhab Hanafi misalnya, meninggalkan bacaan “basmalah” dengan cara tidak diam sesudah takbiratul ihram sekedar “basmalah”, maka tidak sah makmum dengan dia.\"\rWali dan Saksi Pernikahan Yang Adil\rSebagian dari syarat sahnya pernikahan adalah wali dan saksi yang adil. Sahkah suatu pernikahan yang saksinya taarikus solah? Dan apakah tarikus sholah itu disebut orang adil?\rJawaban","part":2,"page":5},{"id":506,"text":"Orang yang meninggalkan shalat itu adalah orang yang tidak adil, sehingga tidak sah menjadi saksi dalam pernikahan. Oleh karena itu kebijaksanaan dari para ulama pendahulu kita, sebelum pelaksanaan ijab dan qabul, semua yang hadir diajak untuk membaca istighfar (memohon ampun kepada Allah) dan dua kalimah syahadat sampai tiga kali, sehingga karenanya semua orang yang hadir yang telah membacanya menjadi orang yang baru masuk Islam dan belum berbuat maksiat, dan karenanya menjadi orang yang adil dan sah menjadi saksi.\rDasar pengambilan\rBacaan istighfar dan dua kalimah syahadat ini dapat kita saksikan dalam prosesi pernikahan.\rImam Shalat Dalam Keadaan Hadats\rAda seseorang menjadi Imam Shalat, setelah selesai shalat Imam baru ingat bahwa ia dalam keadaan hadats atau najis. Apa yang harus dilakukan oleh imam tersebut?\rJawaban\rImam harus memberi tahukan kepada semua makmumnya bahwa shalat yang telah dilakukan oleh Imam tidak sah, karena Imam melakukan shalat dalam keadaan hadats atau najis. Dan karena shalat imam tidak sah, maka shalat dari makmum juga tidak sah dan mereka wajib mengulangi shalat mereka beserta imam setelah imam dalam keadaan suci.\rDasar Pengambilan\rKaidah fiqhiyah yang berbunyi:\rالتّابِعُ تَابِعٌ\r\"Sesuatu yang mengikuti itu hukumnya mengikuti hukum dari yang diikuti.\"\rKitab Kasyifatus Saja, hal. 82:\rفَإِنْ لَمْ تَكُنْ صَحِيْحَةً وَجَبَتْ إِعَادَتُهَا .\r_\"Maka jika shalat yang dilakukan seseorang itu tidak sah, maka wajib mengulanginya\".\rGencarnya Penyiaran Shalawat Wahidiyah","part":2,"page":6},{"id":507,"text":"Akhir-akhir ini di wilayah Kaltim sangat gencar penyiaran jamaah shalawat Wahidiyah, sehingga menimbulkan pro kontra di kalangan Nahdliyin. Namun masih banyak yang kontra walaupun di dalam penyiarannya sudah mendapat ijin dari MUI Kaltim. Alhamdulillah dengan terbitnya Majalah Aula edisi Pebruari 2002/Dzulqoidah 1422 H. yang Kyai utarakan pada halaman 49 dan hasil Bahtsul Masail Ahli Thoriqoh al Mu'tabarah an Nahdliyah Tingkat Nasional, 2 hal tersebut kami jadikan sebagai penangkal serangan mereka di kalangan warga NU dan kami sebarkan ke ranting dan anak ranting maupun majlis ta'lim Muslimat dan Fatayat, agar warga NU tidak masuk anggota Shalawat Wahidiyah serta bagi yang sudah terlanjur masuk agar keluar dari Shalawat Wahidiyah. Namun setelah terbitnya Majalah Aula edisi September 2002 halaman 48 yang memuat tentang tanggapan Ketua Majelis Tahkim Pusat Penyiar Sholawat Wahidiyah a.n KH. M. Djazuly Yusuf, seakan-akan penangkal kami menjadi lumpuh.\rKami warga Nahdliyin Samarinda khususnya Kecamatan Palaran mengharapkan penjelasan dan fatwa Kyai, sekaligus dengan nash-nya. Bagaimana tanggapan Kyai tentang masalah ini?\rJawaban\rSaya mohon maaf bahwa karena kesibukan saya, saya tidak sempat membaca tanggapan dari Ketua Majlis Tahkim Pusat Penyiar Sholawat Wahidiyah, sdr. KH. M. Djazuli Yusuf yang dimuat dalam Majalah Aula edisi September 2002 halaman 48. Dan baru setelah ada pertanyaan dari MWC NU Palaran Samarinda, saya baru mencari majalah tersebut dan baru sempat saya baca pada tanggal 17 Juli 2003.","part":2,"page":7},{"id":508,"text":"Kami dan para tokoh ulama' NU, terutama alm. KH. Bisri Musthofa Rembang Jawa Tengah dan alm. KH. Mahrus Ali Lirboyo Kediri, sebenarnya tidak mempersoalkan bacaan dari Sholawat Wahidiyah, karena kita tidak dilarang untuk menyanjung-nyanjung Nabi Muhammad saw. sesuka hati kita, asalkan tidak seperti orang-orang Nasrani yang mengatakan bahwa Nabi Isa as itu adalah anak Tuhan, dan tidak seperti Golongan Syi'ah Saba'iyyah yang mengatakan bahwa dalam diri Sayyidina Ali itu terdapat unsur ke-Tuhan-an. Dalam Qasidah Burdah, Imam Al Busiri mengatakan:\rفَانْصُبْ إِلَى ذَاتِهِ مَا شِئْتَ مِنْ شَرَفٍ * وَانْصُبْ إِلَى قَدْرِهِ مَا شِئْتَ مِنْ عِظَمِ\r\"Maka bangsakanlah kepada dzat Nabi apa yang engkau sukai dari kemulia-an, dan bangsakanlah kepada derajat Nabi apa yang engkau sukai dari keagungan.\"\rYang kami pertanyakan dan kami persoalkan sejak permulaan kali Sholawat Wahidiyah ini dibuat dan disiarkan sampai sekarang ialah:\rApa dasar dan landasan hukum, baik nash dari kitab-kitab kuning, atau Al Qur'an, atau Al Hadits yang dipakai oleh pengarang Sholawat Wahidiyah dan para penyiarnya, sehingga berani menjanjikan bahwa barang siapa yang membaca Sholawat Wahidiyah selama 40 hari, maksud dan cita-citanya pasti tercapai; dan jika tidak, maka pengarangnya berani dituntut di dunia dan di akhirat; dan kemudian janji yang diberikan oleh para penyiar Sholawat Wahidiyah bahwa barang siapa yang membaca Sholawat Wahidiyah, dia pasti menjadi ahli makrifat?","part":2,"page":8},{"id":509,"text":"Ternyata sampai sekarang dasar dan landasan hukum yang kami pertanyakan dan persoalkan tersebut tidak pernah diberikan, baik oleh pengarangnya maupun oleh para penyiarnya. Dan dengan demikian, maka pengarang dan para penyiarnya telah melakukan kebohongan yang besar dan berarti pengarang dan para penyiar Sholawat Wahidiyah telah menetapkan hukum tanpa landasan Syari'at Islam, sehingga semua dalil yang telah dikemukakan oleh Ketua Majlis Tahkim Pusat Penyiar Sholawat Wahidiyah, sdr. KH. Moch. Djazuli Yusuf, yang ditujukan kepada saya, adalah lebih tepat untuk ditujukan kepada pengarang Sholawat Wahidiyah dan para penyiarnya.\rApa yang menjadi maksud dan tujuan yang sebenarnya dari pengarang dan para penyiar yang menjadi sebab Sholawat Wahidiyah ini dilahirkan dan seolah-olah harus disiarkan secara paksa, sehingga perlu dibentuk Majlis Tahkim Pusat Penyiaran Sholawat Wahidiyah, tidak seperti kelahiran Sholawat Badar yang waktu kelahirannya hampir bersamaan? Sholawat Badar lahir tanpa janji, tanpa tendensi dan tidak diajarkan seperti ajaran tharikat, sehingga Sholawat Badar tidak ditentang oleh para ulama' dan diterima oleh seluruh masyarakat tanpa persoalan. Maksud dan tujuan yang menjadi latar belakang Sholawat Wahidiyah ini dilahirkan, tidaklah pernah dijelaskan kepada masyarakat luas, sehingga kelahiran Sholawat Wahidiyah ini dipenuhi oleh misteri. Atau dengan kata lain, Sholawat Wahidiyah ini adalah Sholawat yang misterius yang penuh tendensi.","part":2,"page":9},{"id":510,"text":"Bahwa Sholawat Wahidiyah pernah diseminarkan di Islamic Centre Surabaya pada tanggal 28 Oktober 2000 dengan thema \"Mencari Hakekat Tharikat Sejati” adalah merupakan indikasi yang jelas bahwa para penyiar Sholawat Wahidiyah ini ingin menjadikan gerakan Sholawat Wahidiyah sebagai salah satu gerakan tarekat. Sedangkan menurut kitab-kitab yang dikarang oleh para ulama salaf ahli tarekat, bahwa tarekat yang benar dan muktabar itu harus mempunyai sanad yang shahih yang sampai kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib atau Sayyidina Abu Bakar As Siddiq; dan bahwa sanad tersebut harus melalui Imam Junaid Al Baghdadi. Sudahkah para penyiar Sholawat Wahidiyah dapat memenuhi persyaratan ini? Jika belum atau tidak memiliki persyaratan ini, maka tharikat yang dibentuk oleh para penyiar Sholawat Wahidiyah adalah tharikat bukan muktabar alias tharikat yang batal.\rMenikahi Wanita Hamil\rDalam Kitab Bughyatul Mustarsyidin, hal 242, dikatakan tentang absah-nya seorang pria menikahi wanita yang sedang hamil dari zina.\rنكح حاملا من الزنا فأتت بولد لزمن امكانه منه بأن ولدت لستة أشهر ولحظتين من عقده وامكان وطئه لحقه وكذا ان جهلت المدة ولم يدر هل ولدته لمدة الإمكان أو لدونها على الراجح وان ولدته لدونها لم يلحقه ..... لعل الصواب.","part":2,"page":10},{"id":511,"text":"Seorang laki-laki yang mengawini wanita hamil dari zina. Kemudian wanita itu melahirkan anak dalam masa yang mungkin anak itu dari laki-laki yang mengawininya, yaitu bahwa wanita itu melahirkan sesudah enam bulan dan dua detik dari mulai akad nikahnya dan kemungkinan persetubuhannya, terbangsalah anak itu kepada laki-laki yang menikahinya. Dan demikian pula jika tidak diketahui apakah perempuan itu melahirkan bayi dalam masa yang memungkinkan laki-laki yang menikahinya untuk menyetubuhinya atau kurang dari masa itu, menurut qaul yang lebih jelas. Dan jika wanita yang hamil itu melahirkan bayi kurang dari masa itu, maka bayi yang dilahirkan tidak dapat dibangsakan kepadanya kepada laki-laki yang mengawininya.\rBerhubung bayi yang lahir dibangsakan kepada ibunya;\rKalau anak itu lahir perempuan, setelah dewasa lalu dinikahkan, siapa walinya?\rTerhadap bapaknya (suami ibunya) menjadi mahram atau tidak?\rBagaimana hak warisnya?\rJawaban\rYang menjadi wali adalah HAKIM, berdasarkan hadits Nabi Muhammad saw yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At Tirmidzi dari ‘Aisyah ra.:\rفَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لاَ وَلِيَّ لَهُ\r\"Maka Sulthan (penguasa) itu adalah wali bagi orang yang sama sekali tidak mempunyai wali\"\rJika suami ibunya itu telah menyetubuhi ibunya, maka anak yang dilahirkan oleh ibunya itu menjadi mahram sebab mushaharoh dari suami ibunya. Jika belum disetubuhi, maka tidak menjadi mahram.\rDasar Pengambilan\rFirman Allah dalam Al Qur'an surat An Nisa' ayat 4 yang antara lain berbunyi:","part":2,"page":11},{"id":512,"text":"...وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمْ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمْ اللَّاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلَائِلُ أَبْنَائِكُم ْالَّذِينَ مِنْ أَصْلَابِكُمْ ...الآية\r\"(Dan diharamkan atas kamu sekalian mengawini) … dan ibu-ibu dari isteri-isteri kamu, dan anak-anak tiri yang dalam pemeliharaan kamu dari isteri-isteri kamu yang telah kamu setubuhi. Dan jika kamu belum menyetubuhi ibunya, maka tidak ada dosa bagi kamu ( mengawininya) dan isteri-isteri dari anak-anak bekas isteri kamu yang berasal dari benih kamu …\"\rJika anak yang lahir dari perempuan hamil yang dinikah oleh laki-laki itu dapat dibangsakan kepada suami ibunya, maka antara anak dan suami ibunya itu dapat saling mewarisi. Dan jika tidak dapat dibangsakan, maka antara keduanya tidak dapat saling mewarisi.\rBatas Jarak Shalat Ghaib\rPermasalahan\rBerapa kilometer batas jarak mayit yang diperbolehkan untuk mensholati mayit secara ghoib?\rJawaban\rAsalkan mayit itu berada di kota lain (kota Kecamatan), meskipun jaraknya dekat, maka boleh disholati ghoib.\rDasar Pengambilan\rKitab Anwarul Masalik, Syeikh Muhammad Zuhri Al Ghamrawi, Maktabah Al Hidayah, Surabaya, t.t., hal. 98\rوَيَجُوزُ أَنْ يُصَلِّيَ عَلَى الغَائِبِ عَنْ بَلَدٍ وَإِنْ قَرُبَتْ مَسَفَاتُهُ بِأَنْ كَانَ دُونَ مَسَافَةِ القَصْرِ وَلاَ يَجُوزُ عَلَى الغَائِبِ فِى البَلَدِ وَإِنِ اتَّسَعَتْ أَرْجَاؤُهُ .","part":2,"page":12},{"id":513,"text":"\"Dan boleh disholati ghoib, mayit yang tidak ada dalam kota meskipun jarak-nya dekat, yaitu kurang dari jarak yang membolehkan sholat qashar. Dan tidak boleh disholati ghoib mayit yang berada dalam kota meskipun kota itu luas wilayahnya\".\rApa Perbedaan Sifat Ma'ani dan Ma'nawiyah Bagi Allah\rPermasalahan\rApa bedanya sifat ma'ani dan ma'nawiyah bagi Allah?\rJawaban\rSifat ma'ani yaitu sifat yang ada pada dzat Allah yang sesuai dengan kesem-purnaan Allah. Sedang sifat ma'nawiyah adalah sifat yang selalu tetap ada pada dzat Allah dan tidak mungkin pada suatu ketika Allah tidak bersifat demikian. Sebagai contoh: Kalau dinyatakan bahwa Allah itu bersifat \"qudrah” yang berarti \"maha kuasa”, maka sifat ini disebut sifat \"ma'ani”, artinya mungkin pada suatu ketika Allah itu tidak lagi Maha Kuasa. Tetapi setelah dinyatakan \"kaunuhu Qadiran”, dan sifat ini adalah sifat \"ma'nawiyah”, maka artinya adalah: Keadaan Allah itu selalu Maha Kuasa, sehingga tidak mungkin pada suatu ketika tidak Maha Kuasa.\rDasar Pengambilan\rJala'ul Afham, Muhammad Ihya' Ulumuddin, Nurul Haramain, tt., hal 26","part":2,"page":13},{"id":514,"text":"صفات المعاني: وَسُمِيَتْ بِالمَعَانِى لأَنَّهَا أَثْبَتَتْ للهِ تَعَالَى مَعَانِي وُجُودِيَةً قَائِمَةً بِذَاتِهِ لاَئِقَةً بِكَمَالِهِ... صِفَاتُ مَعْنَوِيَةٌ: نِسْبَةٌ لِلسَّبْعِ المَعَانِي التِّى هِىَ فَرْعٌ مِنْهَا وَسُمِيَتْ مَعْنَوِيَة لأَنَّهَا لاَزِمَةٌ لِلْمَعَانِى...وَهِيَ كَوْنُهُ تَعَالَى قَادِرًا وَمُرِيْدًا, وَعَالِمًا وَحَيًّا وَسَمِيْعًا َوبَصِيْرًا وَمُتَكَلِّمًا. وَحِكْمَةُ ذِكْرِ هذِهِ الصِّفَاتِ الْمَعْنَوِيَّةِ مَعَ كَوْنِهَا دَاخِلَةً فِي صِفَاتِ الْمَعَانِي الْمَذْكُوْرَةِ مَا يَلِي : (ا) ذِكْرُ الْعَقَائِدِ عَلَى وَجْهِ التَّفْصِيْلِ لأَنَّ خَطْرْ َالْجَهْلِ فِيْهِ عَظِيْمٌ. (ب) اَلرَّدُّ عَلَى الْمُعْتَزِلَةِ فَإِنَّهُمْ أَنْكَرُوْهَا, فَقَالُوْا إِنَّهُ تَعَالَى قَادِرٌ بِذَاتِهِ مُرِيْدٌ بِذَاتِهِ مِنْ غَيْرِ قُدْرَةٍ وَلاَ إِرَادَةٍ وَهكَذَا إِلَى آخِرِهَا, وَقَصَدُوْا بِذَلِكَ التَّنْزِيْهُ ِللهِ تَعَالَى, وَقَالُوْا : وَصَفْنَاهُ تَعَالَى بِهذِهِ الصِّفَاتِ. فَإِمَّا أَنْ تَكُوْنَ حَادِثَةً وَإِمَّا أَنْ تَكُوْنَ قَدِيْمَةً. فَإِذَا كَانَتْ حَادِثَةً اسْتَحَالَتْ عَلَى اللهِ تَعَالَى أَوْ قَدِيْمَةً تَعَدَّدَتْ الْقُدَمَاءُ فَانْتَفَتْ الْوَحْدَاِنيَّةُ. وَالْجَوَابُ عَنْ ذلِكَ أَنْ نَقُوْلَ : إِنَّ هذِهِ الصِّفَاتِ لَيْسَتْ مُسْتَقِلَّةً عَنِ الذَّاتِ, وَإِنَّمَا هِيَ تَابِعَةٌ لَهَا فَهِيَ صِفَةٌ وُجُوْدِيَّةٌ قَائِمَةٌ بِهَا.\r\"Sifat-sifat ma'ani: Sifat-sifat itu disebut sifat ma'ani, karena sesungguhnya telah tetap bagi Allah ta'ala pengertian-pengertian yang ada lagi tegak pada dzat Allah serta sesuai dengan kesempurnaan-Nya.","part":2,"page":14},{"id":515,"text":"Sifat-sifat ma'nawiyah adalah pembangsaan bagi sifat ma'ani yang tujuh yang dia adalah cabang dari sifat-sifat ma'ani.\rDinamakan sifat ma'nawiyah, karena sifat tersebut adalah harus ada dan pengertian-nya terus-menerus ada pada dzat Allah; yaitu keadaan Allah ta'ala adalah Dzat Yang Maha Kuasa, Dzat Yang Maha Berkehendak, Dzat Yang Maha Mengetahui, Dzat Yang Maha Hidup, Dzat Maha Mendengar, Dzat Yang Maha Melihat, dan Dzat Yang Maha Berbicara.\rAdapun hikmah dari penuturan dari sifat-sifat ma'nawiyah ini beserta keada-annya adalah masuk pada sifat-sifat ma'ani yang telah disebutkan adalah sebagai berikut:\rMenuturkan akidah-akidah secara terperinci, karena sesungguhnya bahaya dari kebodohan terhadap hal tersebut adalah besar.","part":2,"page":15},{"id":516,"text":"Menolak faham Mu'tazilah, karena orang-orang Mu'tazilah itu mengingkarinya. Mereka berkata: \"Sesungguhnya Allah ta'ala itu adalah Maha Kuasa dengan Dzat-Nya sendiri, Maha berkehendak dengan dzat-Nya sendiri tanpa kekuasaan dan tanpa kehendak, dan seterusnya. Mereka bermaksud dengan demikian itu adalah untuk mensucikan Allah ta'ala. Dan mereka berkata: Kita telah mensifati Allah ta'ala dengan sifat-sifat ini. Maka kemungkinan sifat-sifat tersebut keadaannya didahului oleh ketiadaan dan mungkin sedia tanpa permulaan. Jika sifat-sifat itu keadaannya adalah didahului oleh ketiadaan, maka mustahil bagi Allah ta'ala. Atau jika keadaannya tidak didahului oleh ketiadaan, maka hal yang qadim (sedia tanpa permulaan) itu menjadi banyak, sehingga hilanglah ke-esa-an Allah. Kami menjawab: Sesungguhnya sifat-sifat ini tidaklah berdiri sendiri, tetapi mengikuti dzat-Nya, yaitu sifat yang ada dan tegak pada dzat-Nya.\rmk:@MSITStore:G:\\untuk maktabah baru\\Kumpulan Bahtsul Masaail - Seri 2.CHM::/../../../../My Web Sites/NH/pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/masail/aula/tahun_2003/jul-10a180.html?seemore=y - top\rMakna Istilah Dalam Tashawuf\rPermasalahan\rSering diucapkan oleh ahli tasawuf tentang kata-kata: takholli, tahalli dan tajalli. Apa arti dan maksudnya?\rJawaban\rTakholli artinya mengosongkan. Yang dimaksudkan adalah bahwa setiap orang ingin sampai pada keridlaan Allah itu pertama kali yang harus dilakukan adalah mengosongkan hatinya dari akhlak-akhlak yang tercela.","part":2,"page":16},{"id":517,"text":"Tahalli artinya menghiasi. Yang dimaksudkan adalah bahwa orang yang ingin sampai pada keridlaan Allah itu, setelah hatinya dikosongkan dari akhlak-akhlak jelek, maka hatinya harus dihiasi dengan akhlak yang baik dan terpuji.\rTajalli artinya menampakkan diri. Yang dimaksudkan adalah bahwa orang yang ingin sampai pada keridlaan Allah itu, setelah hatinya dikosongkan dari akhlak-akhlak yang tercela, kemudian sudah dihiasi dengan akhlak-akhlak yang mulia, maka dia harus selalu menampakkan dirinya pada setiap hal telah diperintahkan oleh Allah dan tidak boleh absen.\rTingkatan Yaqin\rPermasalahan\rApa arti dan maksudnya:\rIlmu Yaqin\rAinul yaqin\rHaqqul yaqin itu\rJawaban\rIlmu al yaqin\rAdalah keyakinan akan keberadaan Allah swt berdasar ilmu pengetahuan tentang sebab akibat atau melalui hukum kausalita, seperti keyakinan dari para ahli ilmu kalam. Misalnya apa saja yang ada di alam semesta ini adalah sebagai akibat dari sebab yang telah ada sebelumnya. Sedangkan sebab yang telah ada sebelumnya yang juga merupakan akibat dari sebab yang sebelumnya lagi, sehingga sampai pada satu sebab yang tidak diakibatkan oleh sesuatu sebab, yang disebabkan penyebab pertama atau causa prima. Dan itulah Tuhan.\rAinu al yaqin\rKeyakinan yang dialami oleh orang yang telah melewati tahap pertama, yaitu ilmu al yaqin, sehingga setiap kali dia melihat sesuatu kejadian, tanpa melalui proses sebab akibat lagi dia langsung meyakini akan wujud Allah; sebagaimana ucapan:\rSayyidina Abu Bakar As Siddiq ra.:","part":2,"page":17},{"id":518,"text":"مَا رَأَيْتُ شَيْئًا إِلاَّ وَرَأَيْتُ اللهَ فِيْهِ\r\"Tiadalah aku melihat sesuatu, kecuali aku melihat Allah pada sesuatu tersebut\"\rUcapan Sayyidina Umar bin Khattab ra.:\rمَا رَأَيْتُ شَيْئً إِلاَّ وَرَأَيْتُ اللهَ قَبْلَهُ\r\"Tiadalah aku melihat sesuatu, kecuali aku melihat Allah sebelumnya\"\rUcapan Sayyidina Usman bin Affan ra.:\rمَا رَأَيْتُ شَيْئًا إِلاَّ وَرَأَيْتُ اللهَ بَعْدَهُ .\r\"Tiadalah aku melihat sesuatu, keculai aku melihat Allah sesudahnya\".\rUcapan Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra.:\rمَا رَأَيْتُ شَيْئًا إِلاَّ وَرَأَيْتُ اللهَ مَعَهُ\r\"Tiadalah aku melihat sesuatu, kecuali aku melihat Allah beserta sesuatu tersebut\".\rHaqqul yaqin\rAdalah keyakinan dimiliki oleh orang yang telah menyadari bahwa alam semesta ini pada hakekatnya adalah bayangan dari Penciptanya, sehingga dia dapat merasakan wujud yang sejati itu hanyalah Allah, sedangkan lainnya hanyalah bukti dari wujud yang sejati tersebut, yaitu Allah swt.\rTaubat, Minta Maaf dan Ampunan\rPermasalahan\rDalam agama Islam diterangkan, bila manusia bersalah kepada Allah kemudian mau bertaubat maka Allah mengampuni. Bila manusia bersalah kepada sesamanya sebelum ia minta maaf, Allah tidak akan mengampuni.\rBagaimana cara minta maaf kepada orang tua atau sesama manusia sedangkan sebelum ia minta maaf sudah meninggal dunia? Masih bisakah Allah mengampuni dan bagaimana caranya?\rJawaban","part":2,"page":18},{"id":519,"text":"Caranya ialah dengan jalan memintakan ampun kepada Allah swt akan kesalahan-kesalahan dari orang tua atau orang yang telah didhalimi dan banyak berbuat amal dan doa yang pahalanya dikirimkan kepada orang tua dan orang yang didhalimi yang sudah meninggal dunia, sehingga apabila amal baiknya diberikan kepada orang yang didhalimi, dia tidak bangkrut karenanya.\rDasar Pengambilan\rIrsyadul 'Ibad, Syaikh Zainuddin, Surabaya, Maktabah Ahmad bin Sa'id bin Nabhan, t.t. hal. 80:","part":2,"page":19},{"id":520,"text":"عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ يُؤْخَذُ بِيَدِ الْعَبْدِ وَالأَمَةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُنَادَى بِهِ عَلَى رُؤُوْسِ الْخَلاَئِقِ هَذَا فُلاَنُ ابْنُ فُلاَنٍ مَنْ كَانَ لَهُ عَلَيْهِ حَقٌّ فَلْيَأْتِ إِلَى حَقِّهِ قَالَ فَتَفْرَحُ الْمَرْأَةُ أَنْ يَكُوْنَ لَهَا حَقٌّ عَلَى ابْنِهَا أَوْ أَخِيْهَا ثُمَّ قَرَأَ فَلاَ أَنْسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذً وَلاَ يَتَسَآءَلُوْنَ قَالَ فَيَغْفِرُاللهُ مِنْ حَقِّهِ مَا يَشَآءُ وَلاَ يَغْفِرُ مِنْ حُقُوْقِ النَّاسِ شَيْئًا فَيُقْضَى فَيُنْصَبُ الْعَبْدُ لِلنَّاسِ ثُمَّ يَقُوْلُ اللهُ لأَصْحَابِ الْحُقُوْقِ أُئْتُوْا إِلَى حُقُوْقِكُمْ قَالَ فَيَقُوْلُ الْعَبْدُ يَا رَبِّ فَنِيَتِ الدُّنْيَا فَمِنْ أَيْنَ أُوْتِيْهِمْ حُقُوْقَهُمْ فَيَقُوْلُ اللهُ لِمَلاَئِكَتِهِ خُذُوْا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَأَعْطُوْا كُلَّ ذِيْ حَقٍّ حَقَّهُ بِقَدْرِ طَلَبَتِهِ فَإِنْ كَانَ وَلِيًّا للهِ وَفَضُلَ لَهُ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ ضَاعَفَهَا اللهُ حَتَّى يَدْخُلَ الْجَنَّةَ بِهَا وَإِنْ كَانَ عَبْدًا شَقِيًّا يَفْضُلْ لَهُ شَيْءٌ فَيَقُوْلُ الْمَلاَئِكَةُ رَبَّنَا فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ وَبَقِيَ طَالِبُوْنَ فَيَقُوْلُ اللهُ خُذُوْا مِنْ سَيِّئَاتِهِمْ فَأَضِيْفُوْهُ إِلَى سَيِّئَاتِهِ ثُمَّ صُكُّوْا لَهُ صَكًّا إِلَى النَّارِ .\r\"Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra., Rasulullah saw. bersabda: 'Akan ditangkap tangan hamba laki-laki dan hamba perempuan kemudian diundangkan di hadapan makhluk:","part":2,"page":20},{"id":521,"text":"\"Inilah si Fulan anak dari Fulan. Barangsiapa yang memiliki hak atasnya, hendaklah dia datang untuk mengambil haknya. Maka bergembiralah orang perempuan andaikata dia mempunyai hak atas anaknya atau saudara laki-lakinya.\rKemudian Rasulullah membaca:\r\"Pada hari kiamat tidak ada hubungan keluarga di antara manusia dan mereka tidak dapat saling bertanya.\rRasulullah bersabda: \"Kemudian Allah mengampunkan dari hak-Nya apa yang Dia kehendaki dan tidak berkenan mengampunkan dari hak-hak manusia sedikitpun, kemudian hamba itu diputusi dan ditegakkan untuk manusia, kemudian Allah berfirman kepada para pemilik hak:\r\"Datanglah kalian untuk mengambil hak-hak kalian.\rRasulullah saw bersabda: \"Kemudian hamba tersebut berkata:\r\"Wahai Tuhanku, dunia telah rusak, maka dari manakah saya dapat memberi mereka akan hak-hak mereka?\"\rLalu Allah berfirman kepada para malaikat-Nya:\r\"Ambillah amal-amal baiknya dan berilah setiap orang akan haknya sebanyak tuntutannya\".\rMaka jika hamba itu adalah seorang kekasih Allah dan masih lebih baginya amal seberat atom, Allah akan melipat gandakan amal tersebut sehingga dia masuk sorga sebab amal tersebut. Dan jika dia seorang hamba yang celaka dan tidak lebih baginya amal sedikitpun, maka para malaikat berkata:\r\"Wahai Tuhan kami, telah habis amal-amal baiknya sedang masih tersisa orang-orang yang menuntut\".\rLalu Allah berfirman:\r\"Ambillah amal-amal jelek mereka dan tambahkanlah pada amal jeleknya, kemudian pukulkanlah kepadanya dengan pukulah yang keras menuju neraka\"","part":2,"page":21},{"id":522,"text":"Pencabutan dan Peralihan Warisan\rPermasalahan\rSeorang laki-laki mempunyai seorang bapak, ibu, dua saudara putri dan enam orang anak putera puteri. Sebelum meninggal, sang bapak sudah membagi warisan kepada seluruh ahli warisnya, termasuk seorang anak laki-lakinya. Setelah beberapa tahun berikutnya, seorang anak laki-laki tersebut meninggal dunia.\rPertanyaan:\rApakah harta warisan bagian dia dicabut kembali?\rAtaukah harta warisan itu sudah beralih kepada putera puterinya sendiri yang ditinggalkannya?\rJawaban\rHarta warisan itu adalah harta tirkah, tirkah itu sendiri adalah harta yang ditinggalkan seorang yang telah meninggal dunia. Harta yang dibagi ketika pemilik harta masih hidup bukan dinamakan harta warisan atau tirkah. Akad yang digunakan sang bapak yang masih hidup tersebut adalah hibah. Sementara hibah tersebut dapat ditarik kembali bila yang memberikan adalah orang tuanya sendiri. Jadi, selama sang bapak tidak menarik kembali harta tersebut, maka harta tersebut menjadi warisan putra putri sang anak karena telah dihibahkan.\rDasar Pengambilan\rUmdatus salik halaman 195\rفَإِذَا مَلَكَ لَمْ يَكُنْ لِلْوَاهِبِ الرُّجُوعُ إِلاَّ أَنْ يَهَبَ لِوَلَدِهِ أَوْ وَلَدِ وَلَدِهِ.\rketika seseorang sudah memilikinya, orang yang memberi tidak dapat menarik kembali kecuali seseorang memberi kepada anaknya atau cucunya.\rI'anah at Tholibin juz 3 halaman 223\rالتِّرْكَةُ ماَ خَلَفَهُ المَيِّتُ مِنْ مَالٍِ أو حَقٍّ\rTirkah adalah sesuatu yang ditinggalkan seorang yang mati dari harta atau hak.","part":2,"page":22},{"id":523,"text":"Menjual Jasa dan Hak Cipta\rPermasalahan\rBagaimana akad jual beli yang singkat dan bagaimana jika yang kita jual itu jasa (contoh: bengkel, rental komputer, tukang cukur) Apakah dalam Islam ada aturan tentang hak cipta dan bagaimana hukumnya jika memfoto copy suatu kitab/buku secara keseluruhan dalam jumlah banyak?\rJawab\rMenjual jasa dalam Islam dibenarkan.\rDasar Pengambilan\rHasiyah Taushih ala Ibn Qosim hal 130\rوَالبَيْعُ لُغَةً مُقَابَلَةُ شَيْءٍ بِشَيءٍ فَدَخَلَ مَا لَيْسَ بِمَالٍ كَخَمْرٍ وَأَمَّا شَرْعًا فَأَحْسَنُ مَا قِيْلَ فِى تَعْرِيْفِهِ أَنَّهُ تَمْلِيْكُ عَيْنٍ مَالِيَةٍ بِمُعَاوَضَةٍ بِإِذْنٍ شَرْعِيٍّ أَوْ تَمْلِيْكُ مَنْفَعَةٍ مُبَاحَةٍ عَلَى التَّأْبِيْدِ بِثَمَنٍ مَالِيٍّ.\rJual menurut bahasa adalah pertukaran sesuatu dengan sesuatu yang lain, maka termasuk katagori sesuatu yang lain yang bukan uang seperti khamr, adapun secara syara'/istilah, maka yang paling baik mengenai apa yang dikatakan dalam mendefinisikannya adalah: sesungguhnya jual adalah menyerahkan kepemilikan benda yang bernilai uang dengan sesuatu pengganti, dengan idzin yang dibenarkan syara' atau memberikan manfaat yang diperbolehkan untuk selamanya dengan harga yang bernilai harta.","part":2,"page":23},{"id":524,"text":"Secara konkrit hukum hak cipta dalam Islam tidak diatur. Tetapi secara umum hak cipta itu termasuk hak seseorang (ikhtisos) sehingga dilindungi dalam hukum Islam, yang kalau kita ambil tanpa izin dari yang berhak, maka dihukumi ghasab (haram), kecuali ada prasangka kuat bahwa yang punya hak telah mengizinkan. Islam melindungi hak-hak setiap orang. Dengan demikian, apabila dalam buku atau kitab tersebut terdapat tulisan ‘hak cipta dilindungi undang-undang' atau tulisan dilarang memperbanyak atau mencopy dan mencetak buku ini tanpa seizin pengarang' maka mengkopi atau memperbanyak, hukumnya haram.\rDasar Pengambilan\rHasyiyah Syarwani juz2 halaman 2\rالغَصْبُ هُوَ لُغَةً أَخْذُ الشَّيْءٍ ظُلْمًا مُجَاهِرَةً وَشَرْعًا الإِسْتِلاَءُ عَلَى حَقِّ الغَيْرِ عُدْوَانًا (قَوْلُهُ عَلَى حَقِّ الغَيْرِ) وَلَو خَمْرًا أَوْ كَلْبًا مُحْتَرَمَيْنِ وَسَائِرالحُقُوقِ وَالإِخْتِصَاصِ كَحَقٍّ وَكَإِقَامَةِ مَنْ قَعَدَ بِسُوقٍ أَوْ مَسْجِدٍ\rGhasab menurut bahasa adalah mengambil sesuatu secara dzalim dengan terang-terangan dan menurut istilah adalah merampas hak seseorang dengan cara permusuhan (pernyataan mushannif: atas hak orang lain) meskipun hak orang lain tersebut berupa arak atau anjing yang dihormati (haknya), dan seluruh hak-hak dan penentuan/pengkhususan adalam seperti hak, dan seperti menempatkan seseorang yang duduk di sebuah pasar atau masjid.\rFaidhul Qodir Juz 6 hal 272\rالمُسْلِمُونَ عِنْدَ شُرُوطِهِمْ مَا وَفَقَ الحَقَّ مِنْ ذَلِكَ يَعْنِى مَا وَافَقَ مِنْهَا كِتَابُ اللهِ","part":2,"page":24},{"id":525,"text":"Orang-orang Islam itu adalah harus tetap pada persyaratan-persyaratan mereka, selama sesuai dengan kebenaran dari hal tersebut, artinya selama kitab Allah sesuai dengan persyaratan tersebut.\rPilkades ; Janji Kepada Yang Memilih\rPermasalahan\rDalam proses pemilihan kepala desa, sering terjadi perjanjian antara calon kepala desa dengan calon pemilih yang isinya antara lain:\rCalon pemilih diminta suaranya untuk calon kepada desa tersebut dengan imbalan uang, dengan catatan imbalan uang itu akan ditarik kembali kalau ternyata calon kepada desa yang bersangkutan tidak terpilih.\rApakah perjanjian tersebut bisa dimasukkan kepada akad ju'alah, kalau tidak termasuk akad apa?\rWajibkah mengembalikan uang tersebut, jika ternyata calon tidak terpilih ?\rJelaskan pengertian risywah menurut bahasa dan syara' dan batasan-batasannya. Mohon disertai dalil-dalilnya.\rBenarkah orang haidl itu tidak boleh ke kuburan, dikarenakan ada yang mengatakan bahwa roh si mayit kepanasan?\rJawaban\rTidak termasuk akad Jua'alah (sayembara), karena si pemilih diminta melakukan sesuatu yang bertentangan dengan syara', sehingga dalam hal ini akad tersebut dikategorikan sebagai risywah (sogok).\rKarena hal tersebut termasuk risywah/sogok maka hukumnya haram dan uang yang diterimapun juga haram oleh sebab itu bagi pemilih, jadi atau tidak jadinya calon lurah tsb. wajib hukumnya mengembalikannya.","part":2,"page":25},{"id":526,"text":"Risywah menurut terminologinya mempunyai arti \"sesuatu yang diberikan kepada seseorang dengan syarat bisa membantu kepada orang yang memberi\" dan pemberian tersebut tidak bisa dikategorikan hadiah sebab bila hadiah pemberiannya bukan karena maksud tertentu.\rUnsur-unsur suap bisa disimpulkan sbb.:\rPenerima suap, yaitu orang yang menerima sesuatu dari orang lain, baik berupa harta atau uang, maupun jasa, agar dia bisa melaksanakan permintaan penyuap, padahal bertentangan dengan syara', baik berupa perbuatan atau justru tidak berbuat apa-apa.\rPemberi suap / penyuap, yaitu orang yang menyerahkan harta/uang atau jasa untuk mencapai tujuannya.\rSuapan, yaitu harta/uang atau jasa yang diberikan sebagi sarana untuk memperoleh sesuatu yang diinginkan.\rMacam-macam suap:\rSuap untuk membatilkan yang benar atau membenarkan yang batil\rSuap untuk mempertahankan kebenaran, dan menolak marabahaya\rSuap untuk memperoleh jabatan atau pekerjaan.\rUntuk dalilnya agar lebih jelas silahkan baca buku \"Hukum Suap Dalam Islam\" karangan Dr. Abdullah Ath-Thuraiqi yang sudah diterjemahkan oleh KH. Aziz Masyhuri yang diterbitkan oleh PT. Bina Ilmu, Surabaya.\rSaya belum pernah menemukan dalil yang melarang apa yang anda maksudkan itu. Secara umum seorang perempuan yang haid dilarang melakukan hal-hal yang mengharuskan suci atau berdiam di masjid karena dikhawatirkan untuk mengotorinya. Di kuburan tidak ada keharusan seseorang dalam keadaan suci.\rDasar Pengambilan\rKitab Tausyeh ala Ibnu Qosim","part":2,"page":26},{"id":527,"text":"فِى أَحْكَامِ الجُّعَالَةِ ....وَشَرْعًا اِلْتِزَامُ مُطْلَقِ التَّصَرُّفِ عِوَضًا مَعْلُوْمًا عَلَى عَمَلٍ مُعَيَّنٍ أَوْ مَجْهُوْلٍ عَسُرَ عِلْمُهُ كَرَدِّ الضَّالِ لِمُعَيَّنٍ أَوْ غَيْرِهِ وَهُوَ الْعَامِلُ\r\"Di dalam hukum-hukum ju'alah…… secara syara' adalah keharusan dari orang yang bebas mempergunakan harta bendanya sebagai ganti dari perbuatan yang jelas atau suatu perbuatan yang tidak jelas yang sulit mengetahuinya seperti mengembalikan barang yang hilang kepada orang tertentu atau lainnya sedangkan orang tersebut sebagai pelaku/melaksanakan pekerjaan\"\rMisbahul Munir halaman 244\rالرِّشْوَةُ- بِالكَسْرِ: مَا يُعْطِيْهِ الشَّحْصُ الحَاكِمَ وَغَيْرَهُ لِيَحْكُمَ لَهُ أَو يَحْمِلُهُ عَلَى مَا يُرِيْدُ.\rRisywah adalah apa yang diberikan oleh seseorang kepada hakim atau lainnya agar dia menetapkan hukum yang menguntungkan orang yang memberi atau hakim tersebut membawa dia sesuai dengan apa yang ia inginkan.\rHadiah Perlombaan\rPermasalahan","part":2,"page":27},{"id":528,"text":"Dalam kegiatan untuk memeriahkan hari ulang tahun RI ke 58, banyak warga mengadakan lomba-lomba yang mana biaya untuk hadiah tersebut yang dikeluarkan berasal dari peserta lomba atau berasal dari setiap kepala keluagra yang akan menjadi peserta lomba warganya diwajibkan, seperti lomba jalan santai nantinya mendapat hadiah sepeda motor, televisi dan lain-lain. Dalam hal ini sering sekali dilakukan oleh masyarakat khususnya orang Islam dan ini sangat membudaya sekali. Yang saya ketahui bahwa lomba dengan model itu adalah hukumnya haram dan termasuk judi seperti yang telah dijelskan pada rubrik bahtsul masail Muktamar XXX NU di PP Lirboyo di majalah Aula no. 03/ Tahun XXII Maret 2002.\rApakah lomba yang diadakan tersebut hukumnya judi (haram), apabila haram apakah peserta lomba atau kepala keluarga tersebut ikut menanggung dosa padahal dia diwajibkan untuk mengikuti lomba tersebut dan mengapa para ulama tidak melarangnya?\rJawaban","part":2,"page":28},{"id":529,"text":"Yang anda maksud mungkin Aula edisi Maret 2001, keputusan tersebut jelas-jelas mengkatagorikan praktek seperti yang anda maksud adalah memang termasuk judi. Dengan demikian seluruh yang terkait dengan kegiatan tersebut terkena dosa karena berdiam dari kemaksiatan tanpa ada udzur termasuk maksiat lisan. Kita juga tidak bisa beralasan karena diwajibkan, karena Rasulullah SAW, pernah bersabda bahwa kita memang harus taat dan patuh kepada pemerintah tetapi tidak dalam masalah kemaksiatan. Namun bila anda mencermati keputusan tersebut, Ulama tidak hanya mengharamkan, tetapi juga memberikan solusi.\rDasar Pengambilan\rIsy’adurrofiq juz 2 halaman 100\r(كُلُّ مَا فِيْهِ قِمَار) وَصُورَتُهُ المُجْمَعْ عَلَيْهَا أَنْ يَخْرُجَ العِوَضُ مِنَ الجَانِبَيْنِ مَعَ تَكَافُئِهِمَا وَهُوَ المُرَادُ مِنَ المَيْسِرُ فِى الآيَة\rArtinya: (Setiap apa yang padanya terdapat perjudian) Dan bentuknya yang sudah disepakati adalah apabila dikeluarkan sejumlah uang pengganti dari kedua belah fihak dengan jumlah yang sama. Dan inilah yang dimaksudkan dengan judi dalam ayat.\rHadits Bukhari Muslim\rعَلَى المَرْءِ المُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيْمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ إِلاَّ أَنْ يُؤْمَرُ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ. رَوَاهُ البُخَارِى وَ مُسْلِم\rWajib atas seorang muslim patuh dan taat (kepada pemerintah) mengenai apa saja yang ia suka dan ia benci, kecuali bila ia disuruh maksiat, maka tidak wajib mendengarkan dan tidak wajib taat. Hadits Riwayat Bukhari Muslim.\rIkan Masuk ke Tambah Orang lain\rPermasalahan","part":2,"page":29},{"id":530,"text":"Beberapa bulan terakhir ini curah hujan di beberapa wilayah Jawa Timur tidak seperti biasanya, hingga beberapa daerah terjadi banjir dan longsor. Di daerah kami yang pesisir yang rata-rata pengusaha tambak, banjir merupakan permasalahan tersendiri. Seringkali air pasang dan banjir membawa ikan-ikan ke beberapa tambak yang lain dan parit-parit kecil (sungai kecil)\rBagaimana hukumnya bila seseorang memiliki ikan yang masuk ke tambaknya dari tambak orang lain?\rBila ikan-ikan tambak itu jatuh ke sungai, bolehkah kami menjaringnya?\rJawaban\rBila kita bisa memilah ikan dari tambak yang lain dan ikan milik kita sendiri, maka kita harus mengembalikannya. Dan bila pemilik ikan diyakini tidak mengikhlaskan, maka kita tidak boleh mengambilnya.\rMengidentifikasi ikan yang ada di parit tentu tidak mudah, namun bila kita yakin ikan itu milik seseorang, dan orang itu tidak mengikhlaskannya, maka kita tidak boleh mengambilnya. Kalau ikan-ikan itu tidak jelas apakah hak milik seseorang atau bukan dan ikan yang memang ada di parit dan jumlahnya sangat banyak sehingga benar-benar diidentifikasi, maka boleh dimiliki.\rDasar Pengambilan\rAl Mahalli juz 4 halaman 237\rوَلَوْ تَحُولُ حَمَامَةٌ مِنْ بُرْجِهِ إِلَى بُرْجِ غَيْرِهِ المَُشْتَمِلِ عَلَى حَمَامَتِهِ لَزِمَهُ رَدُّهُ إِنْ تَمَيَّزَ عَنْ حَمَامَتِهِ إِلَى أَنْ قَالَ... فَإِنِ اخْتَلَطَا وَعُسْرُ التَمْيِيْزُ لَمْ يَصِحَّ بَيْعُ أَحَدِهِمَا وَهِبَّتُهُ شَيْئًا مِنْهُ لِثَالِثٍ لاَنَّهُ لاَيَتَحَقَّقُ المِلْكُ فِيْهِ.","part":2,"page":30},{"id":531,"text":"Andaikata ada seekor merpati berpindah dari sarangnya ke sarang orang lain yang memuat merpatinya, maka pemilik sarang itu harus mengembalikananya jika dia dapat membedakan dari merpatinya …. Sampai ucapan pengarang: Jika kedua merpati itu bercampur dan sulit membedakannya, maka tidak sah menjual salah satu dari kedua ekor merpati tersebut; dan sah memberikan sesuatu dari merpati itu kepada fihak ketiga karena tidak nyata kepemilikan padanya.\rmk:@MSITStore:G:\\untuk maktabah baru\\Kumpulan Bahtsul Masaail - Seri 2.CHM::/../../../../My Web Sites/NH/pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/masail/aula/tahun_2004/feb-05a180.html?seemore=y - top\rShalat Dhuhur Setelah Shalat Jum'at\rPada masjid tertentu di luar ibukota kabupaten/kota dibiasakan mengerjakan sholat dhuhur selepas menunaikan sholat Jum'at. Hal tersebut dikerjakan karena tokoh agama setempat beranggapan bahwa sholat Jum'at yang telah dikerjakan diragukan keabsahannya, sebab:\rJumlah jamaah Jumat kurang dari 40 orang\rJumlah masjid yang menyelenggarakan sholat Jum'at di desa tersebut lebih dari satu masjid, sedang jarak dari masjid yang satu dengan masjid yang lain kurang dari 1666 m\rMenganggap bahwa sholat Jumat itu tidak menggugurkan sholat dhuhur pada hari itu.\rKhutbahnya menggunakan bahasa 'ajam (bukan bahasa Arab).\rPertanyaan\rApakah benar sholat dhuhur pasca diselenggarakannya sholat Jum'at tergolong sholat i'adah yang disyari'atkan, berhubung satu di antara alasan:\rJumlah jama'ah kurang dari 40 orang.","part":2,"page":31},{"id":532,"text":"Jumlah masjid yang menyelenggarakan sholat Jum'ah di desa tersebut lebih dari satu masjid, sedang jarak dari masjid yang satu dengan yang lain kurang dari 1666 m.\rMenganggap bahwa sholat Jum'at itu tidak menggugurkan sholat dhuhur pada hari itu.\rKhutbahnya menggunakan bahasa 'ajam (bukan bahasa Arab).\rJawab\rJika melakukan sholat dhuhur setelah diselenggarakan sholat Jum'at itu karena ta'addud (jumlah sholat Jum'at yang diselenggarakan di satu kampung lebih dari satu), maka hukumnya ditafsil:\rApabila bilangan jama'ah sholat Jum'at kurang dari 40 orang yang memenuhi syarat, maka wajib sholat dhuhur.\rApabila memenuhi syarat-syarat ta'addud, maka hukumnya sunnat melakukan sholat dhuhur, untuk menghindarkan diri dari perbedaan pendapat.\rDasar Pengambilan","part":2,"page":32},{"id":533,"text":"بغية المسترشدين ص 80 ( مسئلة ي ) مَتَى كَمُلَتْ شُرُوْطُ الْجُمُعَةِ بِأَنْ كَانَ كُلٌّ مِنَ الْأَرْبَعِيْنَ ذَكَرًا حُرًّا مُكَلَّفًا مُسْتَوْطِنًا بِمَحَلِّهَا لاَ يَنْقُصُ فِيْهَا شَيْئًا مِنْ أَرْكَانِ الصَّلاَةِ وَشُرُوْطِهَا وَلاَ يَعْتَقِدُهُ سُنَّةً وَلاَ يَلْزَمُهُ الْقَضَاءُ وَلاَ يَبْدِلُ حَرْفًا بِأَخَرَ وَلاَ يَسْقُطُهُ وَلاَ يَزِيْدُ فِيْهَا مَا يُغَيِّرُ الْمَعْنَي وَلَا يُلْحِنُ بِمَا يُغَيِّرُهُ وَإِنْ لَمْ يَقْصُرْ فِيْ التَّعَلُّمِ, كَمَا قَالَ ابْنُ حَجَرَ خِلاَفًا لم ر لَمْ تَجُزْ إِعَادَتُهَا ظُهْرًا بِخِلاَفِ مَا إِذَا وَقَعَ فِيْ صِحَّتِهَا خِلاَفٌ وَلَوْ فِيْ غَيْرِ الْمَذْهَبِ فَتُسَنُّ إِنْ صَحَّتِ الظُّهْرُ عِنْدَ ذَالِكَ الْمُخَالِفِ كَكُلِّ صَلاَةٍ وَقَعَ فِيْهَا خِلاَفٌ غَيْرُ شَادٍ.وَيَلْزَمُ الْعَالِمُ إِذَاَ اسْتُفْتِيَ فِيْ إِقَامَةِ الْجُمْعَةِ مَعَ نَقْصِ الْعَدَدِ أََنْ يَقُوْلَ مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ لاَ يَجُوْزُ ثُمَّ إِنْ لَمْ يَتَرَتَّبْ عَلَيْهِ مَفْسَدَةٌ وَلاَ تَسَاهُلٌ جَازَ لَهُ أَنْ يُرْشِدَ مَنْ أَرَادَ الْعَمَلَ بِالْقَوْلِ الْقَدِيْمِ إِلَيْهِ وَيَجُوْزُ لِلْإِمَامِ إِلْزَامُ تَارِكِ الْجُمْعَةِ كَفَّارَةً إِنْ رَأَهُ مَصْلَحَةً وَيُصَرِّفُهَا لِلْفُقَرَاءِ اه وَعِبَارَةُ ك وَإِذَا فَقَدَتْ شُرُوْطُ الْجُمْعَةِ عِنْدَ الشَّافِعِيِّ لَمْ يَجِبْ فِعْلُهَا بَلْ يَحْرُمُ حِنَئِذٍ لِأَنَّهُ تَلْبَسُ بِعِبَادَةٍ فَاسِدَةٍ فَلَوْ كَانَ فِيْهِمْ أُمِّيٌّ تَمَّ الْعَدَدُ بِهِ لَمْ تَصِحَّ وَإِنْ لَمْ يَقْصُرْ فِيْ التَّعَلُّمِ كَماَ فِيْ التُّحْفَةِ خِلاَفاً لِشَرْحِ الْإِرْشَادِ وم ر بِخِلاَفِ مَا لَوْ كَانُوْا كُلُّهُمْ أُمِّيِّيْنَ وَالْإِمَامُ قَارِئٌ","part":2,"page":33},{"id":534,"text":"فَتَصِحَُّ وَإِذَا قَلَّدَ الشَّافِعِيَّ مَنْ يَقُوْلُ بِصِحَّتِهَا مِنَ الْأَئِمَّةِ مَعَ فَقْدِ بَعْدِ شُرُوْطِهَا تَقْلِيْدًا صَحِيْحًا مُسْتَجْمِعًا لِشُرُوْطِهِ جَازَ فِعْلُهَا بَلْ وَجَبَ حِنَئِذٍ ثُمَّ يُسْتَحَبُّ إِعَادَتُهَا ظُهْرًا وَلَوْ مُنْفَرِدًا خُرُوْجًا مِنْ خِلاَفِ مَنْ مَنَعَهَا إِذِالْحَقُّ أَنَّ الْمُصِيْبَ فِيْ الْفُرُوْعِ وَاحِدٌ وَالْحَقُّ لاَ يَتَعَدَّدُ فَيَحْتَمِلُ أَنَّ الَّذِيْ قَلَّدَهُ فِيْ الْجُمُعَةِ غَيْرُ مُصِيْبٍ وَهَذَا كَمَا لَوْ تَعَدَّدَتِ الْجُمُعَةُ لِلْحَاجَةِ فَإِنَّهُ لِكُلِّ مَنْ لَمْ يَعْلَمْ سَبْقَ جُمُعَتِهِ أَنْ يُعِيْدَهَا ظُهْرًا, وَكَذَا إِنْ تَعَدَّدَتْ لِغَيْرِ حَاجَةٍ وَشَكَّ فِيْ الْمَعِيَّةِ فَتَجِبُ إِعَادَتُهَا جُمُعَةً إِذِ الْأَصْلُ عَدَمُ وُقُوْعِ جُمُعَةٍ مُجْزِئَةٍ وَتُسَنُّ إِعَادَتُهَا ظُهْرًا أَيْضًا إِحْتِيَاطًا _ إِلَي أَنْ قَالَ – قَدْ صَرَحَ أَئِمَّتُنَا بِنَدْبِ إِعَادَةِ كُلِّ صَلاَةٍ وَقَعَ خِلاَفٌ فِيْ صِحَّتِهَا وَلَوْ مُنْفَرِدًا, وَمَنْ قَالَ إِنَّ الْجُمُعَةَ لاَ تُعَادُ ظُهْرًا مُطْلَقًا لِأَنَّ اللهَ تَعَالَى لَمْ يُوْجِبْ سِتَّةَ فُرُوْضٍ فِيْ الْيَوْمِ وَالليْلَةِ فَقَدْ أَخْطَأَ.أه.","part":2,"page":34},{"id":535,"text":"( Masalah Ya' ) \"Tatkala syarat-syarat sholat jum'at sudah sempurna, dengan adanya empat puluh orang laki-laki merdeka, yag mukallaf, berdomisili ditempatnya, dan masing-masing tidak mengurangi sedikitpun dari rukun-rukun sholat dan syarat-syaratnya dan tidak meyakininya sebagai sholat sunah dan tidak mengharuskan meng qodho' sholat tersebut dan imam tidak mengganti sesuatu huruf dengan yang lain dan tidak menggugurkannya dan tidak menambah didalam sholat sesuatu yang merubah ma'na dan tidak melagukan huruf dengan sesuatu yang merubah ma'na meskipun orang mukallaf tersebut tidak teledor dalam belajar. Sebagaimana pendapat Ibnu Hajar berbeda dengan pendapat imam Romli. Maka tidak boleh mengulangi sholat jum'at tersebut dengan sholat dhuhur berbeda dengan apa yang apabila terjadi dalam keabsahan jum'at sesuatu perbedaan ( pendapat ) meskipun dalam madzhab lain, maka disunnahkan I'adah jika sholat dzuhur telah sah menurut orang yang bebeda pendapat tersebut seperti setiap sholat yang terjadi padanya perbedaan pendapat yang tidak menyimpang. Orang alim apabila dimintai fatwa mengenai pendirian sholat jum'at beserta kekurangan bilangan jama'ah sholat jum'at harus mengucapkan : \"madzhab Syafi'i tidak membolehkan\", kemudian apabila tidak terjadi padanya suatu kerusakan kerusakan dan bermalas-malasan pada (si alim), maka boleh baginya untuk memberi petunjuk kepada orang yang ingin mengerjakan dengan qaul qadim kepadanya dan bagi kepala pemerintahan boleh mengharuskan orang yang meninggalkan sholat jum'at","part":2,"page":35},{"id":536,"text":"membayar kifarat jika imam melihatnya sebagai kemaslahatan ( kebaikan ) dan mentasarufkan hasil kifarat tersebut kepada orang-orang fakir. Menurut ibarat syeh Sulaiman al-Kurdi:\"apabila syarat-syarat sholat jum'at itu tidak didapati menurut madzhab Syafi'i maka tidak wajib mengerjakan sholat jum'at bahkan haram karena hal itu menjumbokan dengan ibadah yang rusak. Apabila dalam jama'ah sholat jum'at terdapat orang yang buta huruf al-Qur'an yang menjadi hitungan kesempurnaan jama'ah jum'at, maka sholat jum'at tersebut tidak sah meskipun orang yang buta huruf tersebut tidak teledor dalam belajar agama, sebagaimana keterangan dalam kitab Tuhfah yang berbeda dengan keterangan dalam syarah al-Irsyad dan imam ar-Romli, berbeda dengan apa yang apabila jama'ah keseluruhannya adalah orang-orang yang buta huruf al-Qur'an sedang imamnya dapat membaca al-Qur'an maka sholat jum'ahnya sah jika orang yang yang taklid kepada imam as-Syafi'i dari para imam berpendapat dengan kebsahannya sholat jum'at beserta ketiadan sebagian dari syarat-syarat orang jum'at dengan taklid yang benar yang mengumpulkan syarat-sarat taklid, maka boleh melakukan sholat jum'at bahkan wajib. Kemudian disunnahkan mengulangi sholat jum'at tersebut dengan sholat duhur meskipun sendirian karena keluar dari berbeda pendapat dengan orang yang melarang sholat jum'at tersebut. Karena yang benar bahwa apa yang sesuai dalam furu' itu adalah satu dan yang benar sholat jum'at itu tidak boleh berbilang. Maka dimungkinkan bahwa orang yang bertaklid","part":2,"page":36},{"id":537,"text":"kepada imam Syafi'i mengenai sholat jum'at itu adalah tidak sesuai. Ini adalah sebagaimana apabila sholat jum'at itu berbilang karena hajat, maka sesungguhnya bagi setiap orang yang tidak mengetahui sholat jum'atnya telah didahului sholat jum'at yang lain hendaklah mengulangi sholat jum'at tersebut dengan sholat duhur dan demikian pula apabila sholat jum'at tersebut berbilang tanpa hajat dan dia ragu-ragu mengenai sholat jum'at yang menyertainya maka wajib mengulangi sholat jum'at itu dengan sholat jum'at lagi karena hukum asal adalah meniadakan terjadinya sholat jum'at yang mencukupi syarat dan disunatkan mengulangi sholat jum'at dengan sholat duhur juga karena berhati-hati…sampai ucapan pengarang: Para imam kita telah menjelaskan dengan kesunnatan mengulangi setiap sholat yang dalam keabsahannya terjadi perbedaan pendapat meskipun sholatnya itu sholat sendirian dan orang yang berpendapat bahwa sesungguhnya sholat jum'at itu tidak boleh diulangi dengan sholat dhuhur secara mutlak karena sesungguhnya Allah ta'ala tidak mewajibkan enam kewajiban dalam sehari semalam maka orang tersebut benar-benar telah berbuat salah.\rApabila tidak memenuhi syarat-syarat ta'adud, maka di tafsil:\rJika takbirotul ihromnya bersamaan atau diragukan, apakah bersamaan atau ada yang mendahului, maka wajib mengulangi jum'atan lagi secara bersama-sama selama waktu sholat masih mencukupi. Jika tidak, maka jama'ah kedua masjid tersebut harus melakukan sholat dhuhur.","part":2,"page":37},{"id":538,"text":"Jika takbirotul ihromnya berurutan, maka jum'atan yang takbirotul ihromnya paling dahulu, hukumnya sah, dan sunnah i'adah ( mengulangi ) sholat dzuhur. Sedang yang lain batal, dan wajib melakukan sholat dzuhur.\rJika takbirotul ihromnya ada yang mendahului tapi tidak jelas mana yang lebih dahulu, atau sudah jelas tetapi lupa, maka semuanya wajib melakukan sholat dzuhur.\rDasar Pengambilan:\rI'anatut tholibin juz II hal. 72-74","part":2,"page":38},{"id":539,"text":"فَلَوْ سَبَقَهَا بِهِ جُمُعَةٌ صَحَّتْ الْجُمُعَةُ السَّابِقَةُ لاِجْتِمَاعِ شَرَائِطِهَا وَالَّاحِقَةُ بَاطِلَةٌ, فَيَجِبُ أَنْ تُصَلَّى ظُهْرًا أَوْ قَارَنَهَا جُمُعَةٌ أُخْرَى يَقِيْنًا أَوْ شَكًّا بَطَلَتْ الْجُمُعَتَانِ لِأَنَّ إِبْطَالَ إِحْدَاهُمَا لَيْسَ بِاُوْلَى مِنَ الْأُخْرَى فَوَجَبَ إِبْطَالُهُمَا.وَلِأَنَّ الْأََصْلَ فِىْ صُوْرَةِ الشَّكِّ عَدَمُ جُمُعَةٍ مُجْزِئَةٍ، وَتَجِبُ حِيْنَئِذٍ إِسْتِئْنَافُهَا جُمُعَةً إِنْ وَسِعَ الْوَقْتُ وَ إِلاَّ وَجَبَ أَنْ يُصَلُّوْا ظُهْرًا, فَإِنْ سَبَقَتْ إِحْدَاهُمَا وَالْتَبَسَتْ بِالْأُخْرى, كَأَنَْ سَمِعَ مَرِيْضَانِ أَوْ مُسَافِرَانِ خَارِجَ الْمَسْجِدِ تَكْبِيْرَتَيْنِ مَثَلاً فَأََخْبَرَا بِذَالِكَ وَلَمْ يَعْرِفَا الْمُسْتَقْدِمَةَ مِمَّنْ وَقَعَتْ صَلَّوْا كُلُّهُمْ ظُهْرًا. ( وَالْحَاصِلُ ) لِهَذِهِ الْمَسْئَلَةِ خَمْسَةُ أَحْوَالٍ: اَلْحَالَةُ الْأُوْلَى : أَنْ يَقَعَا مَعَا, فَيَبْطُلاَنِ فَيَجِبُ أَنْ يَجْتَمِعُوْا وَ يُعِيْدُوْهَا عِنْدَ اتِّسَاعِ الْوَقْتِ اَلْحَالَةُ الثَّانِيَةُ : أَنْ يَقَعاَ مُرَتِّبًا فَالسَّابِقَةُ هِيَ الصَّحِيْحَةُ, وَالَّاحِقَةُ بَاطِلَةٌ فَيَجِبُ عَلَى أَهْلِهَا صَلاَةُ الظُّهْرِ اَلْحَالَةُ الثَّالِثَةُ : أَنْ يُشَكَّ فِىْ السَّبْقِ وَالْمَعِيَّةِ فَيَجِبُ عَلَيْهِمْ أَنْ يَجْتَمِعُوْا وَ يُعِيْدُوْهَا جُمُعَةً عِنْدَ اتِّسَاعِ الْوَقْتِ لِأَنَّ الْأَصْلَ عَدَمُ وُقُوْعِ جُمُعَةٍ مُجْزِئَةٍ فِىْ حَقِّ كُلٍّ مِنْهُمْ. اَلْحَالَةُ الرَّابِعَةُ : أَنْ يُعْلَمَ السَّبْقُ وَلَمْ تُعْلَمْ عَيْنُ السَّابِقَةِ فَيَجِبُ عَلَيْهِمْ الظُّهْرُ لِأَنَّهُ لاَ سَبِيْلَ إِلَى إِعَادَةِ الْجُمُعَةِ مَعَ تَيَقُّنِ وُقُوْعِ","part":2,"page":39},{"id":540,"text":"جُمُعَةٍ صَحِيْحَةٍ فِىْ نَفْسِ الْأَمْرِ لَكِنْ لَمَّا كَانَتِ الطَّائِفَةُ الَّتِيْ صَحَّتْ جُمُعَتُهَا غَيْرَ مَعْلُوْمَةٍ وَجَبَ عَلَيْهِمْ الظُّهْرُ. اَلْحَالَةُ الْخَامِسَةُ: أَنْ يُعْلَمَ السَّبْقُ وَ تُعْلَمَ عَيْنُ السَّابِقَةِ وَلَكِنْ نُسِيَتْ وَهِيَ كَالْحَالَةِ الرَّابِعَةِ.\rSeandainya telah mendahului suatu sholat jum'at, maka sholat jum'at yang terlebih dahulu sah, karena terkumpul syarat-syaratnya dan sholat jum'at yang mengikutinya adalah batal maka wajib dilakukan sholat dzuhur, atau sholat jum'at yang lain berbarengan dengan sholat jum'at yang pertama secara yakin atau ragu-ragu maka kedua sholat jum'at tadi batal karena sesungguhnya membatalkan salah satu dari keduanya bukanlah lebih utama dari membatalkan yang lain sehingga wajib membatalkan keduanya . Karena yang asal dalam bentuk keraguan adalah ketiadaan sholat jum'at yang mencukupi. Dan ketika itu wajib memulai lagi sholat jum'at jika waktunya luas, jika tidak maka mereka wajib sholat dzuhur. jika salah satunya mendahului dan jumbo dengan sholat jum'at yang lain seperti apabila dua orang yang sakit atau dua orang musafir yang berada diluar masjid mendengar dua takbirotul ihrom misalnya dan keduanya memberitahukan hal tersebut sedang keduanya tidak mengetahui sholat jum'at yang lebih dahulu maka mereka semuanya sholat dhuhur. Wal hasil untuk masalah ini terdapat lima keadaan: apabila sholat jum'at terjadi bersama-sama maka keduanya batal sehingga wajib mereka mengulangi sholat jum'at pada saat waktunya mencukupi. Apabila","part":2,"page":40},{"id":541,"text":"kedua sholat itu terjadi berurutan maka sholat yang mendahului adalah sholat yang sah dan yang mengikuti adalah batal sehingga wajib bagi jama'ah yang melakukan sholat kedua melakukan sholat dhuhur. Apabila diragukan mengenai yang mendahului dan yang mengikuti maka wajib atas mereka untuk berkumpul dan mengulanginya dengan sholat jum'at pada saat waktunya cukup karena hukum yang asal adalah tidak terjadinya sesuatu sholat jum'at yang mencukupi bagi hak setiap orang dari mereka. Apabila diketahui sholat yang mendahului dan tidak diketahui wujud yang mendahului maka wajib atas mereka melakukan sholat duhur karena sesungguhnya sama sekali tidak ada jalan untuk mengulangi sholat jum'at beserta keyakinan terjadinya sholat jum'at yang sah dalam urusan tersebut akan tetapi tatkala kelompok yang sah sholat jum'atnya tidak diketahui maka wajib atas mereka melakukan sholat dhuhur Apabila diketahui yang mendahului dan diketahui wujud yang mendahului akan tetapi lupa maka hal ini seperti keadaan yang keempat.\rJika melakukan sholat dzuhur, setelah diselenggarakannya sholat jum'at karena berkeyakinan bahwa sholat jum'at tidak menggugurkan sholat dzuhur, maka hukumnya tidak dibenarkan, bahkan menjadi kufur apabila meyakini bahwa pada hari jum'at sholat fardlunya menjadi enam kali dengan asal syara', apabila tidak maka dita'zir.\rDasar Pengambilan\rI'anatut Tholibin Juz II hal. 63","part":2,"page":41},{"id":542,"text":"( لَطِيْفَةٌ ) سُئِلَ الشَّيْخُ الرَّمْلِى رَحِمَهُ اللهُ عَنْ رَجُلٍ قَالَ : أَنْتُمْ يَا شَافِعِيَّةُ خَالَفْتُمُ اللهَ وَرَسُوْلَهُ لِأََنَّ اللهَ تَعَالَى فَرَضَ خَمْسَ صَلَوَاتٍ وَأَنْتُمْ تُصَلُّوْنَ اللهَ سِتًّا بِإِعَادَتِكُمُ الْجُمُعَةَ ظُهْرًا فَمَاذَا يَتَرَتَّبُ عَلَيْهِ فِىْ ذَالِكَ، فَأَجَابَ بِأَنَّ هَذَا الرَّجُلَ كَاذِبٌ فَاجِرٌ جَاهِلٌ فَإِنِ اعْتَقَدَ فِى الشَّافِعِيَّةِ أَنَّهُمْ يُوْجِبُوْنَ سِتَّ صَلَوَاتٍ بِأَصْلِ الشَّرْعِ كُفْرٌ وَأَجْرَى عَلَيْهِ أَحْكَامُ الْمُرْتَدِّيْنَ وَإِلاَّ اسْتَحَقَّ التَّعْزِيْرَ الْلاَّئِقَ بِحَالِهِ الرَّادِعِ لَهُ وَلِأَمْثَالِهِ عَنِ ارْتِكَابِ مِثْلِ قَبِيْحِ أَفْعَالِهِ. وَنَحْنُ لاَ نَقُوْلُ بِوُجُوْبِ سِتِّ صَلَوَاتٍ بِأَصْلِ الشَّرْعِ وَإِنَّمَا تَجِبُ إِعَادَةُ الظُّهْرِ إِذَا لَمْ يُعْلَمْ تَقَدُّمُ جُمُعَةٍ صَحِيْحَةٍ.","part":2,"page":42},{"id":543,"text":"Syekh Ramli-Semoga Allah merahmatinya-ditanya tentang seorang laki-laki yang berkata :\" Kalian wahai pengikut Syafi'i, kalian telah menyalahi Allah dan rasulnya karena sesungguhnya Allah Ta'ala telah memfardlukan lima kali sholat sedangkan kalian sholat enam kali dengan kalian mengulangi sholat jum'at dengan sholat dzuhur, maka apakah yang menetapkan pada laki-laki tersebut dalam hal i'adah?\"maka syekh Ramli menjawab bahwasannya laki-laki ini adalah orang yang dusta, durhaka lagi bodoh. Jika dia beri'tikad dalam madzhab Syafi'i bahwa mereka mewajibkan enam kali sholat menurut asal syari'at, maka dia kafir dan harus berlaku atasnya hukum-hukum orang yang murtad dan jika dia tidak meyakini kewajiban tersebut dia harus dita'zir yang sesuai dengan keadaannya yang dapat mencegah baginya dan bagi orang-orang yang seperti dia dari melakukuan seperti kejelekan perbuatan-perbuatannya. Kami tidak berpendapat dengan kewajiban enam sholat menurut asal syari'at; dan sesungguhnya kewajiban mengulangi sholat dhuhur hanyalah jika tidak diketahui sholat jum'at yang sah yang mendahuluinya.\rMengulangi sholat dzuhur karena beralasan khutbah yang memakai bahasa selain arab sementara rukun-rukunnya berbahasa arab, maka hukumnya tidak dibenarkan.\rDasar Pengambilan\rRaudhotus Tholibin oleh Imam Nawawi Juz I Hal. 418.","part":2,"page":43},{"id":544,"text":"وَهَلْ يُشْتَرَطُ كَوْنُ الْخُطْبَةِ كُلُّهَا بِالْعَرَبِيَّةِ ؟ وَجْهَانِ : اَلصَّحِيْحُ اشْتِرَاطُهُ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْهِمْ مَنْ يُحْسِنُ بِالْعَرَبِيَّةِ، خَطَبَ بِغَيْرِهَا. وَيَجِبُ أَنْ يَتَعَلَّمَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ الخُطْبَةَ الْعَرَبِيَّةَ، كَالْعَاجِزِ عَنِ التَّكْبِيْرِ بِالْعَرَبِيَّةِ. فَإِنْ مَضَتْ مُدَّةُ إِمْكَانِ التَّعْلِيْمِ وَلَمْ يَتَعَلَّمُوْا،عَصَوْا كُلُّهُمْ، وَلاَ جُمْعَةَ لَهُمْ.\r\"Dan apakah disyaratkan keadaan khutbah semuanya berbahasa Arab ? dalam hal ini ada dua pendapat: pendapat yang benar mensyaratkan keadaan khutbah tersebut berbahasa Arab. Dan jika dalam jama'ah jum'at tersebut tidak ada orang yang dapat berbahasa Arab yang bagus, maka khotib berkhutbah dengan selain bahasa Arab dan masing-masing orang dari jama'ah jum'ah wajib mempelajari khutbah berbahasa Arab seperti orang yang tidak mampu membaca takbir berbahasa arab. Jika telah lalu masa kemungkinan belajar sedang mereka tidak mau belajar maka semua jama'ah jumat berdosa dan sholat jum'at tidak sah\".\rKifayatul Akhyar Juz I hal:122","part":2,"page":44},{"id":545,"text":"السَّادِسُ:.........وَهَلْ يُشْتَرَطُ كَوْنُهَا عَرَبِيَّةً؟ الصَّحِيْحُ نَعَمْ نَنْقُلُ الْخَلَفَ مِنَ السَّلَفِ ذَالِكَ. وَقِيْلَ لاَ يَجِبُ لِحُصُوْلِ الْمَعْنَى. فَعَلَى الصَّحِيْحِ لَوْ لَمْ يَكُنْ فِِِيْهِمْ يُحْسِنُ الْعَرَبِيَّةَ جَازَ بِغَيْرِهَا. وَ يَجِبُ عَلَى كُلِّ وَاحِدٍ أََنْ يَتَعَلَّمَهَا بِالْعَرَبِيَّةِكَالْعَاجِزِعَنِ التَّكْبِيْر ِبِالْعَرَبِيَّةِ. فَإِنْ مَضَتْ مُدَّةُ إِمْكَانِ التَّعْلِيْمِ وَلَمْ يَتَعَلَّمْ أََحَدٌ مِنْهُمْ عَصَوْا كُلُّهُمْ وَلاَجُمْعَةَ لَهُمْ بَلْ يُصَلُّوْنَ الظُّهْرَ، كَذَا قَالَهُ الرَّافِعِيُّ.\rYang keenam:.....dan apakah disyaratkan keadaan khutbah dengan bahasa Arab? Yang benar adalah ya. Kami menukil pendapat ulama' kholaf dari ulama' salaf dalam hal tersebut. Dan dikatakan tidak wajib berbahasa Arab, karena keberhasilan pengertian. Menurut pendapat yang benar adalah andaikata dalam jama'ah tidak ada orang dapat berbahasa Arab dengan baik, maka boleh menggunakan bahasa lain. Dan wajib atas setiap orang belajar khutbah dengan bahasa Arab seperti orang yang tidak mampu takbirotul ihrom dengan bahasa Arab. Jika masa yang memungkinkan belajar telah lewat dan salah seorang diantara mereka tidak belajar maka semuanya berdosa dan tidak sah bagi mereeka melakukan sholat jum'at tetapi wajiib bagi mereka melakukan sholat dzuhur. Demikianlah yang telah dikatakan Imam Rofi'i\".\rHamisy al-Muhibah dzil fadl Juz III hal: 231","part":2,"page":45},{"id":546,"text":"( قَوْلُهُ وَكَوْنُهَمَا أَيْ الْخُطْبَتَيْنِ بِالْعَرَبِيَّةِ ) أَيْ الْأَرْكَانُ كَمَا فِى النِّهَايَةِ وَغَيْرِهَا زَادَ فِى التُّحْفَةِ دُوْنَ مَا عَدَاهَا، قَالَ ابْنُ قَاسِمِ يُفِيْدُ أَنَّ كُوْنَ مَاعَدَا الْأَرْكَانِ مِنْ تَوَابِعِهَا بِغَيْرِ الْعَرَبِيَّةِ لاَ يَكُوْنُ مَانِعًا مِنَ الْمُوَالاَةِ.\r( Perkataan mushonnif Keadaan dua khutbah menggunakan bahasa Arab ) artinya rukun-rukun khutbah sebagaimana tersebut dalam kitab An-Nihayah dan lainnya. Dalam kitab at Tuhfah mushonnif menambahkan: \"bukan selain khutbah\" Ibnu Qosim berkata bahwa keadaan selain rukun-rukun memberi faedah terhadap hal-hal yang mengikuti khutbah tanpa berbahasa Arab tidaklah mencegah muwalat.\rPermasalahan Seputar Rukhshah\rBerhubung kondisi masyaqqat tertentu, tersedia pilihan rukhsoh, seperti kebolehan berbuka puasa (ifthar) pada bulan ramadhan, jama' takdim/ta'khir dan meng-qashar sholat rubaiyyah, bertayammum sebagai pengganti dari wudhu'/mandi wajib, membunuh binatang dengan tidak mengalirkan darah dari wajadain yang berada di leher hewan, pernikahan dengan wali hakim dsb.\rPengamalan hukum rukhshoh disepakati sepanjang tidak terkait kondisi maksiat, seperti terbaca pada kaidah \"Alrukhoshu laa tunathu bil ma'ashi\". Namun dalam terapan hukumnya muncul kesulitan mengenai ukuran pasti masyaqat dan kriteria maksiat.\rPertanyaan\rApakah wanita yang berhias diri (tazayyun) saat bepergian jauh di atas dua marhalah atau tanpa didampingi muhrimnya, dibenarkan mengamalkan hukum-hukum rukhshoh?","part":2,"page":46},{"id":547,"text":"Sekiranya kehamilan seorang wanita terjadi karena zina atau akibat diperkosa, apakah boleh mengamalkan hukum-hukum rukhshoh?\rApakah boleh menjama' sholat bagi seseorang sebelum menjalani operasi medis?\rHalalkah mengkonsumsi hewan yang ditembak dengan sanapan angin ?\rSahkan akad nikah \"kawin lari \"yang memanfaatkan jasa wali hakim ?\rJawaban\rSeorang wanita berhias diri (tazayyun) saat bepergian jauh di atas radius dua marhalah tanpa didampingi muhrimnya untuk mengamalkan hukum-hukum rukhshoh, ditafsil/diperinci:\rJika wanita yang berhias diri itu didampingi oleh mahrom atau suaminya, maka hukumnya boleh mengamalkan hukum-hukum rukhshoh agama. Karena berhias diri itu bukan tujuan bepergian maksiat (ma'siat bi al-safar).\rDasar Pengambilan\rSyarah Muhadzab Juz IV Hal 345-346","part":2,"page":47},{"id":548,"text":"\"فَرْعٌ \" فِيْ مَذاْهَبِ الْعُلَمَاءِ : مَذْهَبُنَا جَوَازُ الْقَصْرِ فِيْ كُلِّ سَفَرٍ لَيْسَ مَعْصِيَّةً سَوَاءٌ الوَاجِبُ وَ الطَّاعَةُ وَالْمُبَاحُ كَسَفَرِ التِّجَارَةِ وَنَحْوِهَا. وَلاَ يَجُوْزُ فِيْ سَفَرٍ مَعْصِيَّةٍ, وَبِهَذَا قَالَ مَالِكُ وَ أَحْمَدُ وَجَمَاهِيْرُ الْعُلَمَاءِ مِنَ الصَّحَابَةِ والتَّابِعِيْنَ وَمَنْ بَعْدَهُمْ .......وَقَالَ الْأَوْزَاعِيُّ وَأَبُوْ حَنِيْفَةَ وَالْمُزَنِّيُّ يَجُوْزُ الْقَصْرُ فِيْ سَفَرِ الْمَعْصِيَّةِ وَغَيْرِهِ. دَلِيْلُنَا عَلَى الْأَوَّلِيْنَ إِطْلاَقُ النُّصُوْصِ وَعَلَى الْأَخَرَيْنِ قَوْلُهُ تَعَالَى ( فَمَنِ اضْطُرَّ فِى مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِإِثْمٍ ), وَأَيْضًا مَا ذَكَرَهُ الْمُصَنِّفُ وَجَمِيْعُ رُخَصِ السَّفَرِ لَهَا حُكْمُ الْقَصْرِ فِي هَذَا فَلاَ يَسْتَبِيْحُ الْعَاصِى بِسَفَرٍ شَيْئًا مِنْهَا حَتَّى يَتُوْبَ. وَمِنْهَا أَكْلُ الْمَيْتَةِ وَجَوَّزَهُ لَهُ أَبُوْ حَنِيْفَةَ. دَلِيْلُنَا الْأََيَةَ.","part":2,"page":48},{"id":549,"text":"\"Cabang\" mengenai madzhab-madzhab ulama: Madzhab kami membolehkan qashor pada setiap perjalanan yang bukan maksiat sama saja perjalanan yang wajib, perjalanan ketaatan, perjalanan mubah seperti perjalanan dagang dan lainnya. Tidak boleh meng-qasor sholat dalam perjalanan maksiat dan dengan ini telah berpendapat Imam Malik, Imam Ahmad dan para jumhur ulama dari para sahabat dan tabi'in dan orang-orang sesudah mereka ... Imam al-Auza'i, Abu Hanifah dan al-Muzanni membolehkan qashor dalam perjalanan maksiat dan lainnya. Dalil kami terhadap dua pendapat yang pertama adalah kemutlakan nash-nash dan pada dua pendapat yang akhir adalah firman Allah ta'ala:\"Maka barangsiapa yang terpaksa karena kelaparan (memakan benda-benda yang diharamkan) sedang ia tidak cenderung hendak melakukan dosa (maka bolehlah ia memakannya)\", Dan juga apa yang disebutkan oleh mushonnif. Semua keringanan-keringanan perjalanan baginya terdapat hukum qashor dalam hal ini, sehingga orang yang berbuat maksiat dengan perjalanannya tidak boleh menganggap mubah sedikitpun dari keringanan-keringanan tersebut hingga ia bertaubat. Dan diantara keringanan –keringanan tersebut adalah memakan bangkai dan imam Abu Hanifah membolehkannya. Dan dalil kami adalah ayat tersebut.","part":2,"page":49},{"id":550,"text":"Jika wanita yang bepergian itu tidak didampingi oleh mahram atau suaminya, baik berhias diri atau tidak, maka tidak boleh mengamalkan hukum-hukum rukhshoh. Kecuali, perginya itu fardhu dan bersamaan dengan beberapa perempuan yang dipercaya (tsiqqah) atau sendirian dan dijamin aman dari fitnah, maka boleh mengamalkan hukum rukhshoh.\rDasar Pengambilan\rBughyatul Mustarsyidin Hal: 74\r( مَسْئَلَةُ ي ) ضَابِطُ مُبِيْحِ التَّرَخُصِ فِى السَّفَرِ مَا ذَكَرَهُ السُّيُوْطِي بِقَوْلِهِ فِعْلُ الرُّخْصَةِ مَتَى تَوَقَّفَ عَلَى وُجُوْدِ شَيْئٍ نُظِرَ فِى ذَالِكَ الشَّيْئِ فَإِنْ كَانَ تَعَاطِيْهِ فِي نَفْسِهِ حَرَامًا امْتَنَعَ مَعَهُ الرُّخْصَةُ وَإِلاَّ فَلاَ ا ه أَيْ فَالْقَصْرُ وَالْجَمْعُ رُخْصَةٌ مُتَوَقِّفَةٌ عَلَى السَّفَرِ وَالسَّفَرُ مَشْيٌ فِى الْاَرْضِ فَمَتَى حَرُمَ الْمَشْيُ كَأَنْ سَفَرَ مَعْصِيَّةً فَتَمْتَنِعُ جَمِيْعُ الرُّخَصِ وَتَحْرِيْمُ الْمَشْيِ إِمَّا لِتَضْيِيْعِ حَقِّ الْغَيْرِ بِسَبَبِهِ كَإِبَاقِ الْمَمْلُوْكِ وَنُشُوْزِ الزَّوْجَةِ وَسَفَرِ الْفَرْعِ وَالْمُدِيْنِ بِلاَ إِذْنِ أَصْلٍ وَدَائِنٍ حَيْثُ وَجَبَ اسْتِئْذَانُهُمَا وَإِمَّا لِتَعَدِِّيْهِ بِالْمَشْيِ عَلَى نَفْسِهِ أَوْ غَيْرِهِ كَإِتْعَابِ النَّفْسِ بِلاَ غَرْضٍ وَرُكُوْبِ الْبَحْرِ مَعَ خَشْيَةِ الْهَلاَكِ وَسَفَرِ الْمَرْأَةِ وَحْدَهَا أَوْ عَلَى دَابَّةٍ أَوْ سَفِيْنَةٍ مَغْصُوْبَتَيْنِ أَوْ مَعَ إتِْعَابِ الدَّابَةِ أَوْ بِمَالِ الْغَيْرِ بِلاَ إِذْنٍ وَإِمَّا لِقَصْدِ صَاحِبِهِ مُحَرَّمًا كَنَهْبٍ وَقَطْعِ طَرِيْقٍ وَقَتْلٍ بِلاَ حَقٍّ وَبَيْعِ حُرٍّ وَمُسْكِرٍ وَمُخَدَّرٍ وَحَرِيْرٍ لِاسْتِعْمَالِ مُحَرَّمٍ","part":2,"page":50},{"id":551,"text":"وَنَحْوِهَا هَذَا إِنْ كَانَ الْبَاعِثُ قَصْدَ الْمُحَرَّمِ الْمَذْكُوْرِ فَقَطْ أَوْ مَعَ الْمُبَاحِ لَكِنَّ الْمُبَاحَ تَبَعًا بِحَيْثُ لَوْ تَعَذَّرَ الْمُحَرَّمُ لَمْ يُسَافِرْ فَعُلِمَ أَنَّ مَنْ سَافَرَ بِنَحْوِ الْأَفِيُوْنَ قَاصِدًا بَيْعَهُ مَثَلاً لِمَنْ يَظُنُّ اسْتِعْمَالَهُ فِى مُحَرَّمٍ أَوْ يَيْعَهُ لِذَالِكَ إِنْ تَجَرَّدَ قَصْدُهُ بِأَنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ غَرْضٌ سِوَاهُ أَوْ كَانَ لَكِنْ لَوْ عَدِمَ قَصْدُ الْأَفِيُوْنَ لَمْ يُسَافِرْ لَمْ يَتَرَخَّصْ وَحُكْمُ صَاحِبِ السَّفِيْنَةِ فِي ذَالِكَ حُكْمُ الْمُسَافِرِ بِهِ فِى الْحُرْمَةِ وَالتَّرَخُّصِ وَعَدَمِهَا.","part":2,"page":51},{"id":552,"text":"\"(Masalah Ya') Ketetapan dari hal yang membolehkan rukhshoh dalam perjalanan adalah apa yang imam Suyuthi telah menuturkannya dengan ucapannya: Mengerjakan keringanan rukhshoh apabila berhenti pada wujud sesuatu maka diteliti sesuatu tersebut, apabila melakukan sesuatu tersebut sendiri adalah haram, maka terlarang melakukan rukhshoh beserta sesuatu tersebut, jika tidak haram maka tidak terlarang melakukan rukhshoh. Artinya, melakukan sholat qoshor dan jama' adalah rukhshoh ( keringanan ) yang terhenti pada safar( perjalanan ). Sedangkan safar itu adalah berjalan dimuka bumi. Maka tatkala berjalan itu haram, seperti orang yang bepergian karena ma'siat maka tercegah semua rukhshoh. Keharaman perjalanan itu terkadang untuk menyia-nyiakan hak orang lain sebab perjalanannya seperti pelarian budak belian dan pembangkangan istri terhadap suami, perjalanan anak dari budak belian dan orang yang berhutang tanpa izin orang yng menghutangi dan perjalanan orang yang berhutang pada waktu keduanya wajib minta izin dan terkadang perjalanan itu untuk mendatangkan penderitaan terhadap dirinya sendiri maupun orang lain seperti membuat payah diri sendiri tanpa tujuan dan mengarungi laut beserta takut terhadap kecelakaan, perjalanan wanita sendirian atau diatas kendaraan atau perahu yang dipinjam tanpa izin atau beserta membuat payah binatang yang dikendarai atau dengan membawa harta orang lain tanpa izin. Dan terkadang orang yang melakukan perjalanan itu memaksudkan hal yang diharamkan seperti merampas, membegal, dan","part":2,"page":52},{"id":553,"text":"membunuh tanpa hak, menjual orang merdeka, menjual minuman yang memabukkan, narkoba, dan menjual sutera untuk dipakai orang yang haram memakainya dan lainnya. Ini jika yang mendorong adalah memaksudkan hal yang diharamkan yang telah dituturkan saja. Atau beserta hal yang diperbolehkan akan tetapi hal yang diperbolehkan itu karena mengikuti sekira apabila hal yang diharamkan itu terhalang maka ia tidak bepergian. Maka diketahui bahwa orang yang bepergian dengan membawa afiun dengan bermaksud menjualnya umpamanya, kepada orang yang disangka mempergunakannya dalam hal yang haram atau menjualnya untuk keperluan haram apabila maksudnya semata-mata untuk hal tersebut dan tidak ada baginya tujuan lainnya atau ada tujuan lain tetapi andaikata tidak ada maksud untuk menjual afiun dan tidak bepergian maka dia tidak melakukan safar maka dia tidak boleh mengambil rukhshoh perjalanan, sedangkan hukum dari pemilik kapal dalam hal tersebut adalah seperti hukum orang yang bepergian dalam keharaman dan mengambil keringanan dan ketiaadaan dari keduanya.\rFatawa Ibnu Hajr Juz II Hal: 213\rوَالْمُرَادُ بِالْفِتْنَةِ الزِّنَا وَمُقَدَّماتُهَا مِنَ النَّظْرِ وَالْخَلْوَةِ وَالْلَمْسِ وَغَيْرِ ذَلِكَ\r\"Dan yang dimaksud dengan fitnah adalah zina dan pendahuluan-pendahuluannya seperti memandang, berduaan dengan non muhrim, bersentuhan dan selain dari hal tersebut\".\rTafsir Khozin Juz V Hal: 69","part":2,"page":53},{"id":554,"text":"قَوْلُهُ تَعَالَى ( وَلاَ يُبْدِيْنَ ) يَعْنِي لاَ يَظْهَرْنَ ( زِيْنَتَهُنَّ ) لِغَيْرِ الْمُحْرِمِ وَأَرَادَ بِالزِّيْنَةِ الْخَفِيَّةِ مَثْلُ الْخَلُخَالِ والْخِضَابِ فِى الرَّجُلِ وَالسِّوَارِ فِى الْمِعْصَمِ وَالْقُرْطِ فِى الْأُذُنِ وَالْقَلاَئِدِ فِى الْعُنُقِ فَلاَ يَجُوْزُ لِلْمَرْأَةِ إِظْهَارُهَا.\r\"Firman Allah Ta'ala ( janganlah para wanita menampakkan ) ya'ni memperlihatkan perhiasan-perhiasan mereka pada selain muhrim. Dan Allah memaksudkan dengan perhiasan yang tersembunyi seperti, gelang kaki dan pewarna kuku di kaki, gelang di pergelangan tangan, anting-anting di telinga, kalung di leher, maka tidak boleh bagi wanita menampakkannya\".\rAsy-Syarwani Juz III Hal: 73\r( أَيْ عَمَلٌ إلخ ) عِبَارَةُ الْمُغْنِي أَيْ مِهْنَةٌ وَهُوَ مِنْ إِضَافَةِ الْمَوْصُوْفِ إِلَى صِفَتِهِ أَيْ مَا يَلْبَسُ مِنَ الثِّيَابِ فِي وَقْتِ الشُّغْلِِ.\r( Yakni perbuatan dst ) Ibarot dari kitab al-Mughni yakni kesibukan ini termasuk idhofah dari isim yang disifati kepada sifatnya artinya apa ynag dipakai dari pakaian pada waktu sibuk.\rWanita hamil karena zina atau diperkosa hukumnya boleh mengamalkan hukum-hukum rukhshah agama.\rDasar Pengambilan Hukum\rSunan Abu Daud Kitab Puasa bab 43","part":2,"page":54},{"id":555,"text":"الفَرْعُ الثَّالِثُ : الحَبْلُ وَالْإِرْضَاعُ،عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكِ عَنْ رَجُلٍ عَنِ ابْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ كَعْبٍ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّ اللهَ وَضَعَ سَفَرَ الصَّلاَةِ عَنِ الْمُسَافِرِ وَأَرْخَصَ لَهُ فِى الْإِفْطَارِ وَأَرْخَصَ فِيْهِ لِمُرْضِعٍ وَحُبْلَى خَافَتَا عَلَى وَلَدِهِمَا. أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُوْدَ.\r\"Cabang yang ketiga: Tentang orang hamil dan menyusui. Dari Anas bin Malik dari seorang laki-laki dari Ibnu Abdillah bin Ka'ab bahwasannya Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya Allah telah meletakkan sholat dalam perjalanan bagi musafir dan Allah telah memberi keringanan bagi musafir dalam berbuka dan Allah telah memberi keringanan berbuka pada orang menyusui dan orang hamil karena menghawatirkan atas anak keduanya\". Diriwayatkan oleh Abu Daud.\rIttikhafu Ahlil Islam bikhushusiyyatis shiyami Hal: 275-276 karangan Imam Ahmad bin Hajar al-Haitami","part":2,"page":55},{"id":556,"text":"إِذَا تَقَرَّرَ ذَالِكَ فَإِنْ خَافَتْ حَامِلٌ أَوْ مُرْضِعٌ وَلَوْ مُسْتَأْجَرَةً أَوْ مُتَبَرِّعَةً أَوْ كَانَ هُنَاكَ غَيْرُهُمَا وَلَوْ مُتَبَرِّعًا عَلَى نَفْسِهَا بِأَنْ خَشِيَتْ مِنَ الصَّوْمِ مُبِيْحَ تَيَمُّمٍ أَوْ عَلَى الْوَلَدِ بِأَنْ أَضَرَّهُ الصَّوْمُ وَإِنْ لَمْ يَخْشَ هَلَكَهُ خِلاَفًا لِمَنْ عَبَّرَ بِهِ. وَمِنْ ثَمَّ قَالَ الْقَمُوْلِيْ وَغَيرُهُ: وَالْخَوْفُ عَلَى الْوَلَدِ بِأَنْ تُسْقِطَ الْحَامِلُ أَوْ يَقِلَّ الْلَبَنُ فِى هَلَكٍ أَوْ يَفْنَي وَالْفِطْرُ مَعَ مَا ذُكِرَ وَاجِبٌ نَظِيْرُ مَا مَرَّ فِى التَّيَمُّمِ. وَلَوْ كَانَ الْوَلَدُ مِنْ غَيْرِهَا وَلَوْ وَلَدٌ حَرْبِيٌّ علَى الْأَوْجُهِ لِأَنَّهُ مُحْتَرَمٌ خِلاَفًا لِلزَّرْكَشِيِّ.","part":2,"page":56},{"id":557,"text":"Apabila hal tersebut telah tetap, maka jika wanita yang sedang hamil atau sedang menyusui merasa khawatir meskipun dia mengambil upah atau suka rela atau disana terdapat orang lain selain yang mengambil upah dan sukarela meskipun dia menyusui suka rela dari dirinya sendiri dengan apabila takut sebab puasa terhadap hal yang membolehkan tayamum atau takut terhadap anak dengan apabila puasa itu membahayakan sang anak meskipun dia tidak takut akan kecelakaan anak, berbeda dengan orang yang telah mengungkapkan dengan kecelakaan, dari sana imam Qomuli dan lainnya berkata: Kekhawatiran terhadap anak adalah apabila orang yang hamil itu keguguran atau air susunya menjadi sedikit dalam satu kecelakaan atau hilang maka berbuka, serta apa yang telah disebutkan adalah wajib sebagai bandingan dari apa yang telah lalu mengenai tayamum meskipun anak itu adalah anak orang lain dan meskipun anaknya musuh menurut satu aspek karena anak musuh itu adalah dihormati berbeda dengan pendapat Imam Zarkasyi.\rKanzur Roghibin ala syarkhil minhaj wa khasyiyah al-Qalyubi juz II Hal: 60\rوَأَمَّا الْحَامِلُ وَالْمُرْضِعُ فَإِنْ أَفْطَرَتَا خَوْفًا مِنَ الصَّوْمِ عَلَى ( نَفْسِهِمَا ) وَحْدَهُمَا أَوْ مَعَ وَالِدَيْهِمَا كَمَا قَالَهُ فِي شَرْحِ الْمُهَذَّبِ وَجَبَ عَلَيْهِمَا الْقَضَاءُ بِلاَ فِدْيَةٍ كَالْمَرِيْضِ أَوْ خَوْفًا عَلَى الْوَلَدِ أَيْ وَلَدِ كُلٍّ مِنْهُمَا لَزِمَتْهُمَا مَعَ الْقَضَاءِ الْفِدْيَةُ فِي الْأَظْهَرِ.","part":2,"page":57},{"id":558,"text":"\"Adapun orang hamil dan menyusui jika keduanya berbuka karena takut sebab puasa terhadap diri mereka sendiri atau takut bersama kedua anaknya sebagaimana yang telah dikatakan dalam syarakh muhadzab, maka wajib atas keduanya mengqada' tanpa fidyah seperti orang sakit, atau berbuka karena takut terhadap anak yakni anak masing-masing dari keduanya maka wajib atas keduanya mengqadha' puasa beserta membayar fidyah menurut pendapat yang lebih jelas.\rBujairomi Khotib Juz I hal: 344-345\rوَالشَّيْخَانُ عَجَزَ عَنِ الصَّوْمِ كَأَنْ يَلْحَقَهُ بِهِ مَشَقَّةٌ شَدِيْدَةٌ ( يَفْطُرُ وَيُطْعِمُ عَنْ كُلِّ يَوْمٍ مُدًّا وَالْحَامِلُ ) وَلَوْ مِنْ زِنَا ( وَالْمُرْضِعُ ).\r\"Orang yang sangat tua yang tidak mampu puasa seperti sebab puasa dia akan menjumpai kesulitan yang berat, maka dia boleh berbuka dan memberi makan ornag lain untuk setiap satu hari satu mud bahan makanan pokok. Dan orang yang hamil meskipun dari zina dan orang yang menyusui\".\rMenjama' sholat bagi seseorang yang akan menjalani operasi hukumnya tidak boleh, kecuali jika sebelum operasi dia sudah dalam keadaan sakit yang membolehkan sholat fardhu dengan duduk, maka boleh menjama' sholat._\rDasar pengambilan hukum\rKhasyiyah al-Khaml ala Syarkhil Minhaj Juz I hal: 614","part":2,"page":58},{"id":559,"text":"وَعِبَارَةُ ح ل قَوْلُهُ أَيْضًا بِنَحْوِ مَطَرٍ خَرَجَ بِالسَّفَرِ وَالْمَطَرِ غَيْرُهُمَا فَلاَ جَمَعَ بِهِ كَالْمَرَضِ وَالْوَحْلِ وَالرِّيْحِ وَالظُّلْمَةِ وَالْخَوْفِ عَلَى الْمُعْتَمَدِ وَعَلَى جَوَازِهِ بِالْمَرَضِ لاَ بُدَّ أَنْ يَكُوْنَ مِمَّا يُبِيْحُ الْجُلُوْسَ فِى الْفَرِيْضَةِ عَلىَ الْأَوْجُهِ خِلاَفًا لِمَنْ ذَهَبَ إِلَى أَنَّهُ لاَ بُدَّ أَنْ يَشُقَّ مَعَهُ فِعْلُ كُلِّ فَرْضٍ فِى وَقْتِهِ كَمَشَقَّةِ الْمَطَرِ، اِنْتَهَتْ.\rIbarot al-Khalbi perkataannya juga dengan sebab seumpama hujan, keluar dari sebab perjalanan dan hujan selain keduanya. Maka tidak menjama' sebab selain keduanya\r( safar dan hujan ) seperti sakit, lumpur, angin, kegelapan, dan takut menurut qaul yang dapat dipegangi. Dan terhadap kebolehan jama' sebab sakit maka haruslah penyakit itu termasuk hal-hal yang membolehkan duduk dalam sholat fardhu, menurut pendapat yang lebih jelas, berbeda dengan orang yang berpendapat bahwa penyakit itu pasti menimbulkan kesulitan, melakukan sholat fardhu pada waktunya seperti kesulitan yang ditimbulkan oleh hujan.\rBughyatul Mustarsyidin hal: 99\rفَائِدَةٌ لَنَا قَوْلٌ بِجَوَازِ الْجَمْعِ فىِ السَّفَرِ الْقَصِيْرِ اخْتَارَهُ البَنْدَنِيْجِيْ وَظَاهِرُ الْحَدِيْثِ جَوَازُهُ وَلَوْ فِى حَضَرٍ كَمَا فِي شَرْحِ مُسْلِمٍ وَحَكَى الْخَطَّابِي عَنْ أَبي إِسْحَاق جَوَازُهُ فِي الْحَضَرِ لِلْحَاجَةِ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ خَوْفٌ وَلاَ مَطَرٌ وَلاَ مَرَضٌ وَبِهِ قَالَ ابْنُ الْمَنْذُرِ. أ ه.","part":2,"page":59},{"id":560,"text":"Faedah, kami punya pendapat dalam bolehnya bepergian yang dekat yang dipilih oleh al-Bandaniji. Yang nampak dari hadist adalah kebolehan jama' meskipun tidak bepergian dalam syarakh Muslim. Al-Khottobi menceritakan dari Abi Ishaq, kebolehan jama' meskipun tidak bepergian karena hajat, meskipun tidak ada rasa takut dan tidak ada hujan dan tidak sakit. Demikian pendapat Ibnul Mandur.\rI'anatut Tholibin Juz II hal: 104\r( قَوْلُهُ يَجُوْزُ الْجَمْعُ بِالْمَرَضِ ) أَيْ لِمَا صَحَّ أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَمَعَ بِالْمَدِيْنَةِ مِنْ غَيْرِ خَوْفٍ وَلاَ مَطَرٍ.\rUcapan mushonnif boleh menjama' sebab sakit, artinya karena kebenaran bahwa Rasulullah telah menjama' sholat di Madinah tanpa rasa takut dan hujan.\rKhasyiyah al- Jamal 'ala syarkhil minhaj Juz II hal: 332\r( وَيُبَاحُ تَرْكُهُ ) بِنِيَّةِ التَّرَخُّصِ ( لِمَرَضٍ يَضُرُّ مَعَهُ الصَّوْمُ ) قَوْلُهُ \"بِنِيَّةِ التَّرَخُّصِ\" هَذَا قَيِّدٌ فِي جَوَازِ فِطْرٍ لِمَرِيْضٍ وَالْمُسَافِرِ كَمَا فِي شَرْحِ الْبَهْجَةِ فَإِنْ أَفْطَرَ كُلٌّ مِنْهُمَا بِدُوْنِ هَذِهِ النِّيَّةِ أَثِمَ ا ه.\rBoleh meninggalkan puasa dengan niat mengambil keringanan karena penyakit, yang puasa itu berbahaya beserta penyakit tersebut. Ucapan mushonnif dengan niat mengambil keringanan ini adalah ikatan bagi kebolehan berbuka bagi orang yang sakit dan bepergian sebagaimana tersebut dalam syarakh kitab al-Bahjah. Maka jika masing-masing dari orang yang sakit dan bepergian berbuka dengan tanpa niat ini, maka dia adalah berdosa.\rQolyubi Juz I hal: 267","part":2,"page":60},{"id":561,"text":") قَوْلُهُ بِالْمَطَرِ ) خَرَجَ بِهِ الْوَحْلُ وَالرِّيْحُ وَالظُّلْمَةُ وَالْخَوْفُ فَلاَ جَمْعَ بِهَا وَكَذَا بِالْمَرَضِ خِلاَفًا لِمَا مَشَى عَلَيْهِ صَاحِبُ الرَّوْضِ تَبَعًا للرَّوْضَةِ مِنْ جَوَازِ الْجَمْعِ بِهِ تَقْدِيْمًا وَتَأْخِيْرًا وَإِنْ قَالَ الْأَذْرُعِيْ أَنَّهُ الْمُفْتِي بِهِ وَنُقِلَ أَنَّهُ نَصَّ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَبِهِ يُعْلَمُ جَوَازُ عَمَلِ الشَّخْصِ بِهِ لِنَفْسِهِ وَعَلَيْهِ فَلاَ بُدَّ مِنْ وُجُوْدِ الْمَرَضِ حَالَةَ الْإِحْرَامِ بِهِمَا وَعِنْدَ سَلاَمِهِ مِنَ الْأَوَّلِ وَبَيْنَهُمَا كَمَا فِي الْمَطَرِ.\rUcapan mushonnif dengan hujan mengecualikan lumpur, angin, kegelapan, dan takut. Maka tidak ada jama' sebab hal-hal tersebut. Demikian pula sebab sakit, berbeda dengan pendapat yang dikemukakan oleh pemilik kitab ar-Raudh karena mengikuti pendapat dari kitab ar-Roudhoh karena kebolehan jama' sebab sakit dengan jama' taqdim atau ta'khir meskipun al-Adru'i berpendapat bahwa dia telah memberi fatwa dengan hal tersebut dan dia telah menukil bahwa hal tersebut adalah ketetapan imam syafi'i dan dengan pendapat tersebut dapat diketahui kebolehan amal seseorang sebab sakit untuk dirinya sendiri dan penderitaan atasnya. Dan harus penyakit itu telah ada pada saat takbirotul ihrom pada kedua sholat dan pada salamnya dari sholat yang pertama dan dalam keadaan diantara dua sholat sebagaimana jama' dalam waktu hujan.\rMengkonsumsi hewan yang ditembak dengan senapan angin hukumnya ditafsil:\rJika binatang yang ditembak itu jinak hukumnya haram","part":2,"page":61},{"id":562,"text":"Jika binatangnya tidak jinak ( binatang buruan ):\rMenurut jumhur ulama' haram\rMenurut Malikiyyah halal dengan syarat membaca basmalah ketika menembak.\rDasar Pengambilan Hukum\rFathul Mu'in wa Khasyiyah tarsyikhul Mustafidin Hal: 50\rوَيَحْرُمُ قَطْعًا رَمْيُ الصَّيْدِ بِالْبُنْدُقِ الْمُعْتَادِ الْانَ وَهُوَ مَا يَضَعُ بِالْحَدِيْدِ وَيَرْمِيْ بِالنَّارِ لِأَنَّهُ مُحْرِقٌ مُدَقِّقٌ سَرِيْعًا غَالِبًا قَوْلُهُ ( قَطْعًا ) أَيْ بِلاَ خِلاَفٍ عِنْدَنَا بِخِلاَفِ الرَّمْيِ بِبُنْدُقِ الطِّيْنِ فَفِيْهِ خِلاَفٌ يَأْتِيْ. وَقَالَ الْمَالِكِيَّةُ بِجَوَازِ الرَّمْيِ بِبُنْدُقِ الرَّصَاصِ الْمَعْرُوْفِ الَْأَنَ وَحِلٌّ أَكْلُ مَا صِيْدَ بِهِ بِشَرْطِ التَّسْمِيَّةِ بِهِ عَنْدَ ( الرَمْيِ ) فَإِنْ تَرَكَهَا سَهْوًا لَمْ يَضُرَّ.\rDan haram secara pasti menembak binatang buruan dengan senapan yang sudah biasa sekarang ini, yaitu apa yang diletakkan dengan besi dan dilemparkan dengan api karena senapan itu membakar dan menghancurkan dengan cepat pada umumnya. Ucapan mushonnif secara pasti artinya tanpa ada perbedaan pendapat diantara kitab berbeda dengan melempar, menembak dengan senapan tanah dalam hal ini ada perbedaan pendapat yanga akan datang. Madzhab Maliki berpendapat mengenai kebolehan menembak dengan senapan timah yang telah diketahui sekarang ( senapan angin ) dan halal memakan apa yang diburu dengannya dengan syarat membaca basmalah pada waktu menembak, jika meninggalkan bacaan basmalah karena lupa tidak berbahaya.\rKhasyiyah ad-Dasuqi Juz II hal: 103","part":2,"page":62},{"id":563,"text":"اَلْحَاصِلُ أَنَّ الصَّيْدَ بِبُنْدُقِ الرَّصَاصِ لَمْ يُوْجَدْ فِيْهِ نَصٌّ لِلْمُتَقَدِّمِيْنَ لِحُدُوْثِ الرَّمْيِ بِهِ لِحُدُوْثِ الْبَارُوْدِ فِيْ وَسَطِ الْمِائَةِ الثَّامِنَةِ وَاخْتَلَفَ فِيْهِ الْمُتَأَخِّرُوْنَ فَمِنْهُمْ مَنْ قَالَ بِالْمَنْعِ قِيَاسًا عَلَى بُنْدُقِ الطِّيْنِ وَمِنْهُمْ مَنْ قَالَ بِالْجَوَازِ كَأَبِيْ عَبْدِ اللهِ الْقُوْرِيْ وَابْنِ الْمَنْجُوْرِ وَسَيِّدِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ الْقَادِرِ الْفَاسِيْ لِمَا فِيْهِ مِنَ الْإِنْهَارِ وَالْإِجْهَازِ بِسُرْعَةٍ الّذِيْ شُرِعَتِ الذَّكَاةُ لِأَجْلِهِ وَقِيَاسُهُ عَلَى بُنْدُقِِ الطِّيْنِ فَاسِدٌ لِوُجُوْدِ الْفَارِقِ وَهُوَ وُجُوْدُ الْخَرْقِ وَالنُّقُوْدِ فِي الرِّصَاصِ تَحْقِيْقًا وَعَدَمُ ذَالِكَ فِي بُنْدُقِ الطِّيْنِ وَإِنَّمَا شَأْنُهُ الرَّضُّ وَالْكَسْرُ وَمَاكَانَ هَذَا لَا يُسْتَعْمَلُ لِأَنَّهُ مِنَ الْوَفْدِ الْحَرَامِ بِنَصِّ الْقُرْأَنِ ِ.ا ه.","part":2,"page":63},{"id":564,"text":"Pada hasilnya bahwa berburu dengan senapan angin tidak didapati padanya nash/ketetapan hukum daripada ulama terdahulu karena menembak dengan senapan angin itu adalah hal yang baru karena kebaharuan bahan peledak pada pertengahan abad kedua. Dalam hal ini ulama' mutaakhir berbeda pendapat, diantara mereka ada yang berpendapat dengan kebolehan seperti Abu Abdillah al-Fauri Ibnul Manjur, Sayyid Abdur Rohman, Abdul Qodir al-Fasi, karena dalam peluru timah tersebut ada pengaliran darah dan pembunuhan yang cepat yang penyembelihan disyariatkan karenanya. Pengqiasan peluru timah dengan peluru tanah adalah rusak (tidak benar) karena wujud perbedaaan yaitu wujud lubang dan pecah pada peluru timah secara nyata dan ketiadaan hal tersebut pada peluru tanah. Hanyasanya kepentingan peluru tanah adalah meremukkan dan apa yang ada seperti ini tidak boleh dipergunakan karena peluru tanah itu melemparkan benda yang diharamkan menurut nash al-Qur'an.\rSyarah Shohih Muslim Fi Hamisy Irsyad as-Sari Juz II Hal: 136\rوَقَالَ مَحْكُوْلٌ وَالْأَوْزَعِيِّ وَغَيْرُهُمَا مِنْ فُقَهَاءِ الشَّافِعِيِّ بِحِلٍّ مُطْلَقًا كَذَا قَالَ هَؤُلاَءِ وَابْنُ أَبِيْ لَيْلَى أَنَّهُ يَحِلُّ مَاقَتَلَهُ بِالْبُنْدُقَةِ. إلخ\rMakhqul, Auzai'i dan selainnya berkata tentang kehalalan secara mutlak demikian pula pendapat mereka dan Ibnu Abi Laila bahwa sesungguhnya halal memakan binatang yang dibunuh dengan peluru.\rAl-Bujairimi alal Iqna' Juz IV hal: 275","part":2,"page":64},{"id":565,"text":"وَأَفْتَي ابْنُ عَبْدِ السَّلاَمِ بِحُرْمَةِ الرَّمْيِ بِالْبُنْدُقِ وَبِهِ صَرَحَ الدَّخَائِرُ لِكَيْ أَفْتَي النَّوَاوِيْ بِجَوَازِهِ---إِلَى أَنْ قَالَ---وَهَذَا كُلُّهُ بِالنّسْبَةِ لِحِلِّ الْمَرْمَى الَّذِيْ هُوَ الصَّيْدُ فَإِنَّهُ حَرَامٌ مُطْلَقًا.\rIbnu Abdis Salam telah memberi fatwa tentang keharaman menembak dengan peluru, dengan keharaman tersebut Ad-Dakhoir menjelaskan agar imam Nawawi memberi fatwa dengan kebolehannya, sampai katanya ini seluruhnya dibangsakan kepada kehalalan menembak. Adapun dihubungkan dengan kehalalan binatang yang ditembak yaitu binatang buruan maka binatang itu adalah haram secara mutlak.\rAkad nikah yang memanfaatkan jasa wali hakim hukumnya ditafsil:\rJika kepergiannya mencapai masafatil qashri, hukumnya boleh\rJika kurang dari masafatil qashri, hukumnya tidak boleh kecuali:\rta'adzurul murji'ah ( tidak bisa meminta izin wali seperti karena takut ).\rHarus kufu'\rAtas kemauan perempuan sendiri\rDasar Pengambilan hukum\rI'anatut Tholibin Juz III hal: 307\r(قَوْلُهُ لاَ لِحَاكِمٍ ) أَيْ لاَ يَنْقُلُهَا لِلْحَاكِمِ مَعَ وُجُوْدِ وَلِيٍّ مِنَ الْأَقْرِبَاءِ وَلَوْ كَانَ بَعِيْدًا وَذَلِكَ لِإَنَّ الْحَاكِمَ إِنَّمَا هُوَ وَلِيُّ مَنْ لاَوَلِيَ لَهُ وَالْوَلِيُّ هُنَا مَوْجُوْدٌ.ا ه.","part":2,"page":65},{"id":566,"text":"Ucapan mushonnif: tidak boleh pindah kepada hakim artinya ( perwalian itu tidak boleh pindah kepada hakim beserta wujud dari wali dari kerabat meskipun jauh. Yang demikian itu karena sesungguhnya hakim itu adalah wali dari orang yang sama sekali tidak ada wali baginya, sedangkan di sini wali itu ada.\rBughyatul Mustarsyidin Hal: 206\r(مَسْئَلَةُ ش ) غَابَ وَلِيُّهَا مَرْحَلَتَيْنِ مِنْ بَلَدِهَا فَأَذِنَتْ لِلْحَاكِمِ يَعْنِيْ الَّذِيْ شَمُلَ حُكْمُهُ لِبَلَدِهَا وَإِنْ لَمْ يَكُنْ بِهَا صَحَّ وَإِنْ قَرُبَ مِنْ مَحَلِّ الْوَلِيِّ أَوْ كَانَا فِيْ بَلَدٍ وَاحِدَةٍ بَلْ وَإِنْ كَانَ الْقَاضِيُ الْمَذْكُوْرُ أَبْعَدَ مِنْ مَحَلِّ الْوَلِيِّ إِلَى الْمَرْأَةِ لِأَنَّ الْعِلَّةَ وَهِيَ غِيْبَةُ الْوَلِيِّ الَّتِيْ هِيَ شَرْطٌ لِثُبُوْتِ وِلَايَةِ الْحَاكِمِ وُجِدَتْ وَلاَ عِبْرَةَ بِالْمَشَقَّةِ وَعَدَمِهَا.\r(Masalah syin) wali seorang perempuan pergi sejauh dua marhalah dari negeri perempuan tersebut, kemudian perempuan tersebut memberi izin kepada hakim yaitu yang hukum dari si hakim meliputi negeri dari perempuan tersebut. Dan jika hakim itu tidak berada dinegeri perempuan maka sah meskipun dekat dengan tempat wali atau keduanya wali dan hakim berada di satu kota bahkan meskipun qodhi yang telah disebutkan ( hakim ) lebih jauh tempatnya dari tempat si wali kepada perempuan tersebut karena yang menjadi alasan adalah kepergian wali yang menjadi syarat ketetapan bagi kewalian hakim yang telah didapati. Dan sama sekali tidak diperhitungkan mengenai masyaqqat( kesulitan) dan ketiadaannya.","part":2,"page":66},{"id":567,"text":"Nihayatul Mukhtaj Juz: 6 Hal: 241\rوَلَوْ غَابَ الْوَلِيُّ الْأَقْرَبُ نَسَبًا أَوْ وَلاَءً إِلَى مَرْحَلَتَيْنِ أَوْ أَكْثَرَ وَلَوْ بِحُكْمٍ بِمَوْتِهِ وَلَيْسَ لَهُ وَكِيْلٌ حَاضِرٌ فِيْ تَزْوِيْجِ مَوْلِيَتِهِ زَوَّجَ السُّلْطَانُ لاَ الْأَبْعَدُ وَإِنْ طَالَتْ غَيْبَتُهُ وَجَهُلَ مَحَلُّهُ وَحَيَاتُهُ لِبَقَاءِ أَهْلِيَّتِهِ الْغَائِبِ وَأَصْلِ بَقَائِهِ.\rAndaikata wali nasab yang paling dekat atau orang-orang yang memiliki hak perwalian pergi sampai dua marhalah atau lebih meskipun dihukumi kematian wali tersebut dan tidak ada bagi wali wakil yang hadir dalam menikahkan wanita yang dibawah perwaliannya maka sultanlah yang menikahkannya, bukan wali yang jauh meskipun lama kepergiannya dan tidak diketahui tempatnya dan kehidupannya karena ketetapan perwalian dari orang yang pergi dan asal dari ketetapannya.\rGhoyatu Talkhisil Murod Hal: 208","part":2,"page":67},{"id":568,"text":"أَخَذَ رَجُلٌ إِمْرَأَةً عَنْ أَهْلِهَا قَهْرًا وَبَعَّدَهَا عَنْ وَلِيِّهَا إِلَى مَسَافَةِ الْقَصْرِ وَكَذَا دُوْنََهُ إِنْ تَعَذَّرَتْ مُرَاجَعَتُهُ لِنَحْوِ خَوْفٍ صَحَّ نِكَاحُهَا بِإِذْنِهَا إِنْ زَوَّجَهاَ الْحَاكِمُ مَنْ كَفَءَ إِذْ لَمْ يُفَارِقِ الْأَصْحَابُ بَيْنَ غَيْبَةِ الْوَلِيِّ وَغَيبَتُهَا وَلاَ بَيْنَ غَيْبَتُهَا بين أَنْ تَكُوْنَ مَكْرُوْهَةً عَلَى السَّفَرِ أَوْ مُخْتَارَهُ بَلْ أَقُوْلُ لَوْ كَانَ لَهَا وَلِيٌّ بِالْبَلَدِ وَعَضِلِهَا بَعْدَ أَن دعته إِلَى كَفْئِ وَتَعَسَّرَ لَهَا إِثْبَاتُ عَضْلِهِ فَسَافَرَتْ إِلَى مَوْضِعٍ بَعِيْدٍ عَنِ الْوَلِيِّ وَأَذِنَتْ لِقَاضِ الْبَلَدِ الَّتِيْ انْتَقَلَتْ إِلَيْهِ فِيْ تَزْوِيْجِهَا مِنَ الْكَفْئِ صَحَّ النِّكَاحُ وَلَيْسَ تَزْوِيْجُ الْحَاكِمِ فِى الْأَوَّلِ مِنْ رُخَصِ السَّفَرِ الَّتِيْ لاَ تُنَاطُ بِالْمَعَاصِيْ كَمَا يَتَخَيَّلُ ذَالِكَ نَعَمْ قَدِ ارْتَكَبَ الْمُتَعَاطِيْ لِذَالِكَ بِقَهْرِهِ الْحُرَّىُ وَالسَّفَرُ بِهَا وَتَغْرِيْبِهَا عَنْ وَطَنِهَا مَالاَ يَحِلُّ فِي الدِّيْنِ وَلاَ يَرْتَضِي بَلْ ذَالِكَ مِنَ الْكَبَائِرِ الْعِظَامِ الَّذِيْ تَرَدَّدَ بِهَا الشَّهَادَةُ وَيَحْصُلُ بِهَا الْفِسْقُ.\rI'anatut Tholibin Juz:III Hal: 267","part":2,"page":68},{"id":569,"text":"( قَوْلُهُ لاَ تَزْوِيْجَ ......إلخ ) لَوْ عَينت لِلْوَالِيْ الْمُجْبِرِ كَفَأَ وَهُوَ عين لها كفئ أخر أو غير كفئها لاَ يَكُوْنُ عَاضِلاً بِذَالِكَ فَلاَ يُزَوِّجُهَا الْقَاضِيْ بَلْ تَبْقَى الْوِلاَيَةُ لَهُ وَذَالِكَ لِأَنَّ نَظْرَهُ عَلَى مَنْ نَظَرَهَا فَقَدْ يَكُوْنُ معينه أصلح لها من معينها أي إِنْ قَالَ لاَ يُزَوِّجُ الْقَاضِيْ حِيْنَئِذٍ وَإِنْ كَانَ من عينه المجبر أقل من الكفائة من عينته هي لأنه لا يكون عاضلا بذالكز\rHaji Tamattu' dan Umrahnya\rJama'ah eks Indonesia yang mengambil jalur haji tamattu' tentu menyelesaikan umroh wajib terlebih dahulu. Selesai tahallul dari umrohnya, yang bersangkutan tetap tinggal di Mekkah sambil menunggu saat pelaksanaan wukuf. Selama masa tunggu tersebut yang bersangkutan menganggap dirinya mukim. Terbukti miqat makani untuk mengawali ihram hajinya bergabung dengan para hadirin Masjidil Haram.\rPertanyaan\rApakah dikenal batasan waktu bepergian dalam kaitannya dengan kebolehan qasar atau jama' sholat, sehingga tidak berlaku istilah mudimus safar bagi jamaah eks Indonesia selama pelaksanaan ibadah haji?\rMemanfaatkan masa tunggu pasca tahallul umrah wajib dan pra wukuf, ada kecenderungan jemaah mengerjakan umrah berulangkali. Sebagian diniatkan umrah sunnah dan sebagian karena badal atau niabah untuk oranglain. Apakah perulangan umroh tersebut dibenarkan selama masa tunggu tersebut? Apakah dam tamattu'-nya cukup sekali atau sebanyak perulangan umroh yang dilaksanakan?","part":2,"page":69},{"id":570,"text":"Manakah yang lebih afdhal bagi jemaah haji tamattu' dalam menunaikan sholat maktubah selama masa tunggu pra wukuf, dengan cara qasar atau tam?\rJawaban\rDikenal batasan waktu dan tidak termasuk mudimus safar. Sedangkan batasan waktu dirinci dianggap berakhir safarnya bila: a. Sudah bermukim selama 4 hari di suatu tempat kecuali menurut madzhab Hanafi dianggap berakhir safarnya bila sudah bermukim selama 15 hari b. Niat mukim selama 4 hari atau lebih di suatu tempat. c. Untuk perjalanan wukuf ke Arafah, maka boleh meng-qasar sholat bagi selain penduduk Arafah menurut Malikiyyah.\rDapat dibenarkan, sedangkan dam tamattu'-nya cukup satu kali menurut qaul yang rojih. Sedangkan menurut Imam al-Roimi damnya berbilang sesuai dengan bilangan umroh yang dilakukan.\rBagi yang statusnya musafir maka lebih afdhol qashar, namun kalau mukim maka wajib itmam.\rDasar Pengambilan Hukum\rSyarakh al-Idhoh fii Manasikil Hajji, hal: 161-162","part":2,"page":70},{"id":571,"text":"( فَرْعٌ )......وَفِيْهِ يُقَالُ قِيَاسُ مَا قَالَهُ الْبَغَوِي أَنَّ الْمُتَمَتِّعَ لَوْ قَرَّرَ الْعُمْرَةَ قَبْلَ حَجِّهِ تَكَرَّرَ الدَّمُ وَهُوَ مَا أَفْتَى بِهِ الرَّمْلِى لَكِنْ قَالَ جَمْعٌ مِنْ مُتَأَخِّرِيْنَ بِعَدَمِهِ وَهُوَ الْأَوْجُهُ وَفِى الْمَجْمُوْعِ فِى مَبْحَثِ التَّمَتُّعِ عَنْ صَاحِبِ الْبَيَانِ مَا يَشْرَحُ بِهِ. وَالْفَرْقُ أَنَّ ْعِلَّةَ وُجُوْبِ الدَّمِ فِى الْقَارِنِ ترفهه بِأَحَدِ الْمِسْكِيْنِ وَهُوَ حَاصِلٌ هُنَا مَعَ رِبْحِهِ لِلْمِيْقَاتِ أَيْضًا فَوَجَبَ الدِّمَانُ. وَفِي الْمُتَمَتِّعِ ربحه لِلْمِيْقَاتِ لِأَنَّهُ لَوْ بَدَأَ بِالْحَجِّ لِاحْتِيَاجِ بَعْدِهِ إِلَى الْخُرُوْجِ لِأَد لِأَدنى الحل لِلِْإحْرَامِ بِالْعُمْرَةِ وَهُوَ غَيْرُ مُتَكَرِّرٍ. وَيُؤْخَذُ مِنْهُ مَعَ مَا مَرَّ وَيَأْتِيْ أَنَّ الْمُوْجِبَ لِدَمِ التَّمَتُّعِ هُوَ الْإِحْرَامُ بِالْعُمْرَةِ مَعَ الْإِحْرَامِ بِالْحَجِّ وَإِنَّهُ يَجُوْزُ تَقْدِيْمُ الدَّمِ عَلَيْهِ وَبَعْدَ الْإِحْرَامِ بِهَا وَإِنَّهَا لَوْ قَدَمَ الدَّمُ هُنَا عَلىَ بَعْضِ الْعُمْرَةِ الْمُتَكَرِّرَةِ لَمْ يَلْزَمْهُ لِلْمُتَأَخِّرَةِ عَنْهُ شَيْئٌ لِأَنَّهَا لَيْسَتْ هِيَ الْمُوْجِبِ وَإِنَّمَا الْمُوْجِبِ هُوَ الْأُوْلَى وَالْإِحْرَامُ بِالْحَجِّ كَمَا تَقَرَّرَ.ا ه .\rKhasyiyah asy-Syarqowi Juz I Hal: 166\rوَلَوْ تَكَرَّرَ الْمُتَمَتِّعُ فِيْ أَشْهُرِ الْحَجِّ لَمْ يَتَكَرَّرْ الدَّمُ عَلَى الرَّاجِحِ.ا ه.\rMinhaajut Tholibin Juz I Hal: 20","part":2,"page":71},{"id":572,"text":"وَلَوْ تَرَى إِقَامَةَ أََرْبَعَةِ أَيَّامٍ بِمَوْضِعٍ انْقَطَعَ سَفَرُهُ بِوُصُوْلِهِ وَلَا يُحْسَبُ مِنْهَا يَوْمُ دُخُوْلِهِ وَخُرُوْجِهِ عَلَى الصَّحِيْحِ لَوْ أَقَامَ بِبَلَدٍ بِنِيَّةِ أَنْ يَرْحِلَ إِذَا حَصَلَتْ حَاجَةٌ يَتَوَقَّعُهَا كُلَّ وَقْتِ قَصْرٍ ثَمَانِيَةَ عَشَرَ يَوْمًا وَقِيْلَ أَرْبَعَةٌ. ا ه.\rBughyatul Mustarsyidiin Hal: 76\r( مَسْئَلَةُ ش ) وَنَحْوُهُ ب : مَتَى انْقَطَعَ سَفَرُ الْمُسَافِرُ بِأَنْ أَقَامَ بِبَلَدِ أَرْبَعَةَ أَيَّامٍ صِحَاحٍ بِلَا تَوَقُّعِ سَفَرِهِ أَوْ ثَمَانِيَةَ عَشَرَ مِنَ التَّوَقُّعِ أَوْ نَوَى إِقَامَةَ الْأَرْبَعَةِ حَالَ دُخُوْلِهِ أَوْ اشْتَغَلَ نَحْوَ بَيْعٍ يَغْلِبُ عَلَى ظَنِّهِ أَنَّهُ يَحْتَاجُهَا انْقَطَعَ تَرَخُّصُهُ بِالْقَصْرِ وَالْجَمْعِ وَالْفِطْرِ وَغَيْرِ ذَالِكَ فَتَلْزَمُهُ الْجُمْعَةُ لَكِنْ حِيْنَئِذٍ لَا يُعَدُّ مِنَ الْأَرْبَعِيْنَ.\rMadzahibul Arba'ah Juz I Hal: 478\rاَلْحَنَفِيَّةُ قَالُوْا يَمْتَنِعُ الْقَصْرُ إِذَا نَوَى الْإِقَامَةَ خَمْسَةَ عَشَرَ يَوْمًا مُتَوَالِيَةً كَامِلَةً فَلَوْ نَوَى الْإِقَامَةَ أَقَلَّ ِمنْ ذَالِكَ وَلَوْ بِسَاعَةٍلَا يَكُوْنُ مُقِيْمًا.\rBughyatul Mustarsyidin Hal: 76","part":2,"page":72},{"id":573,"text":"( مَسْئَلَةُ ب ش ) أَقَامَ الْحَجُّ بِمَكَّةَ قَبْلَ الْوُقُوْفِ دُوْنَ أَرْبَعَةِ أَيَّامٍ صِحَاحٍ لَمْ يَنْقَطِعْ سَفَرُهُ وَحِيْنَئِذٍ فَلَهُ التَّرَخُّصُ فِيْ خُرُوْجِهِ بِعَرَفَاتٍ وَإِنْ كَانَ نِيَّتُهُ الْإِقَامَةَ بِمَكَّةَ بَعْدَ الْحَجِّ إِذْ لَا يَنْقَطِعُ سَفَرُهُ بِذَالِكَ حَتَّى يُقِيْمَ الْإِقَامَةُ الْمُؤَثِّرَةُ عَلَى الْمُعْتَمَدِ. زَادَ ش وَهَذَا كَمَا لَوْ خَرَجَ أَيْضًا فَالْحَاصِلُ فِي الْمُسَافِرِ الْخَارِجِ إِلَى عَرَفَاتٍ أَنَّهُ إِنْقَطَعَ سَفَرُهُ قَبْلََ خُرُوْجِهِ وَكَانَ نِيَّتُهُ الْإِقَامَةُ بَعْدَ الْحَجِّ لَمْ يَتَرَخَّصْ وَإِلَّا تَرَخَّصَ بِسَائِرِ الرُّخَصِ.\rAsy-Syarqowi Juz I Hal: 251\rنَعَمْ قَدْ يَكُوْنُ أَفْضَلُ مِنَ الْإِتْمَامِ فِيْمَا إِذَا بَلَغَ سَفَرُهُ ثَلَاثَةَ مَرَاحِلَ.\rAl-Khorsyi Juz II Hal: 59\rإِنَّ السَّفَرَ الْمُبِيْحَ لِلْقَصْرِ إِنَّمَا هُوَ أَرْبَعَةُ برد – ثُمَّ اسْتُثْنِيَ مِنْ ذَالِكَ مَسْئَلَةُ الْمَكِّيِّ وَالْمُحْصِبِيْ وَالْمَنْوِيْ وَالْمُزْدَلِفِي فَإِنَّهُ يُبَاحُ بَلْ يُسَنُّ لَهُ أَنْ يُقْصِرَ فِيْ خُرُوْجِهِ مِنْ وَطَنِهِ لِمُعَرَّفَةَِ لِلنُّسُكِ وَرُجُوْعِهِ مِنْهَا لِمَكَّةَ وَغَيْرِهَا مِنْ تِلْكَ الْأَوْطَانِ لِلسَّنَةِ وَأُفْهِمَ قَوْلُهُ فِيْ خُرُوْجِهِ وَ رُجُوْعِهِ إِنَّ كُلَّ خَارِجٍ مِنْ وَطَنِهِ يُقْصِرُ فِيْ خُرُوْجِهِ مِنْ رُجُوْعِهِ إِلَيْهِ لَا فِيْهِ فَلَا يُقْصِرُ مَكِيُّ وَمَنْوِيُّ وَمُزْدَلِفِيُّ وَمُحْصِبِيُّ بِمُحَالِهِمْ وَيُقْصِرُ الْمَكِيُّ إِذَ خَرَجَ لِمِنَى.\rHidayatus Saalik Juz III Hal: 993","part":2,"page":73},{"id":574,"text":"وَمَذْهَبُ الثَّلَاثَةِ غَيْرُ الْمَالِكِيَّةِ أَنَّهُ يَجُوْزُ الْقَصْرُ بِعَرَفَةٍ إِلَّا لِلْمُسَافِرِ مَسَافَةَ قَصْرٍ، وَمَذْهَبُ الْمَالِكِيَّةِ إِنَّهُ يُقْصِرُ بِمعرفة غَيْر أَهْلِهَا وَيُتِمُّ أَهْلُهَا،كَذَالِكَ يُتِمُّ أَهْلُ كُلِّ مَكَانٍ مِنْ مَنَاسِكِ الْحَجِّ الصَّلَاةَ فِيْ مَكَانِهِمْ وَيُقْصِرُوْنَ فِيْهِ مَا سِوَاهُ،أَمَّا تَجْوِيْزِ الْجَمْعِ وَالْقَصْرِ فِيْ مَنَاسِكِ الْحَجِّ لِكُلِّ أَحَدٍ كَمَا يَرَاهُ بَعْضُ النَّاسِ فَلَيْسَ عَلَيْهِ شَيْئٌ مِنَ الْمَذَاهِبِ.\rAl-Khawi al-Kabir Juz II Hal: 458\rفَإِذَا ثَبَتَ أَنَّ إِتْمَامَ الصَّلَاةِ فِي السَّفَرِ جَائِزٌ فَقَد اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي الْأَفْضَلِ وَالْأُوْلَى عَلَى مَذْهَبَيْنِ أَحَدُهُمَا الْقَصْرُ أَفْضَل اقْتِدَاءٍ بِأَكْثَرَ أَفْعَالِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَكْثَرَ أَفْعَالِهِ الْقَصْر وَلِيَكُوْنَ مِنَ الْخِلَافِ خَارِجًا وَهَذَا هُوَ ظَاهِرُ قَوْلِ الشَّافِعِيِّ وَعَلَيْهِ جُمْهُوْرُ أَصْحَابِهِ وَالثَّانِيُّ هُوَ قَوْلُ كَثِيْرٍ مِنْهُمْ أَنَّ الْإِتْمَامَ أَفْضَلُ لِأَنَّ الْإِتْمَامَ عَزِيْمَةٌ وَالْقَصْرُ رُخْصَةٌ وَالْأَخْذُ بِالْعَزِيْمَةِ أُوْلَى أَلَا تَرَى أَنَّ الصَّوْمَ فِي السَّفَرِ أَفْضَلُ مِنَ الْفِطْرِ وَغَسْلَ الرِّجْلَيْنِ أَفْضَلُ مِنَ الْمَسْحِ عَلَي الْخُفَّيْنِ.ا ه.\rCara Transaksi Jual Beli","part":2,"page":74},{"id":575,"text":"Dalam referensi hadist dikenal beberapa jenis mu'amalah jual beli yang karena caranya menjadi terlarang, misalnya bai' al najasi, bai' talaqqi al rukban, bai' hadhirin lilbadin dan lain modus transaksi tersebut pada periode nubuwwah, berbeda jauh dengan praktek bisnis pada masa sekarang, antara lain karena teknologi informasi dan pola-pola terobosan marketing. Pergeseran tersebut mengundang keraguan segi hukum keberlakuan larangan.\rPertanyaan\rTengkulak bermodal besar yang berdomisili di pusat kota tidak mungkin membuat harga semaunya sendiri, karena jaringan informasi radio/TV/media elektronik lain yang setiap waktu memberitakan perubahan harga berbagai komoditas hasil pertanian/perkebunan. Apakah terobosan pemodal besar ke sentral pertanian atau perkebunan tergolong bai' hadhirin li badin?\rPembelian produk pertanian/perkebunan oleh Dipo Logistik ( DOLOG ) atau institusi pengadaan pangan negara apakah termasuk bai' talaqqi al-rukban?\rPada acara lelang barang berharga lazim dimunculkan penawar pertama dengan harga tertentu guna memancing penawar baru. Penawar pertama sebenarnya sebatas \"combe\" belaka rekayasa memasarkan barang. Menempuh cara-cara sejenis itu apakah tidak tergolong bai' al najasy?\rJawab\rTidak tergolong bai' hadhir badin, akan tetapi hukum jual beli tersebut haram apabila:\rPenjual tidak mengetahui harga standar\rDibeli di bawah harga standar\rBukan kehendak penjual\rTidak termasuk bai' talaqqi al rukban. Adapun hukumnya seperti di atas pada poin a.","part":2,"page":75},{"id":576,"text":"Lelang pada dasarnya boleh, akan tetapi apabila memakai jasa \"combe\", maka tidak boleh karena termasuk bai' najasy.\rDasar Pengambilan\rFil Mausu'ah al-Fiqhiyyah Juz 9\rوَالْمُرَادُ بِبَيْعِ الْحَاضِرِ لِلْبَادِي عِنْدَ الْجُمْهُوْرِ أَنْ يَتَوَالَى الْحَضِرُ الْقُرَوِيُّ مِنَ الْبَيْعِ وَيَقُوْلُ لَهُ لَا تَبِعْ أَنْتَ أَنَا أَعْلَمُ بِذَالِكَ فِي تَوَكُّلِ لَهُ وَيَبِيْعُ وبغالي وَلَوْ تَرَكَ يَبِيْعُ بِنَفْسِهِ لِرُخَصٍ عَلَى النَّاسِ. فَالْبَيْعُ عَلَى هَذَا هُوَ مِنَ الْحَاضِرِ لِلْحَاضِرِ نِيَابَةً عَنِ الْبَادِيْ بِثَمَنٍ أَغْلَى وَعَلَى هَذَا التَّفْصِيْلِ تَكُوْنُ الْلاَمُ فِيْ ( وَلَا بَيِيْعُ حَاضِرٌ لِبَادٍ ) عَلَى حَقِيْقَتِهَا كَمَا يَقُوْلُ ابْنُ عَابِدِيْنَ. ا ه.\rFiqhul Mu'amalat","part":2,"page":76},{"id":577,"text":"بَيْعُ الْحَاضِرِ لِلْبَادِيْ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نتَلَقَّى الرُّكْبَانَ وَأَنْ يَبِيْعَ حَاضِرٌ لِبَادٍ فَقِيْلَ لِابْنِ عَبَّاسٍ: مَا قَوْلُهُ ( حَاضِرٌ لِبَادٍ ) ؟ قَالَ لَا يَكُوْنُ لَهُ ِسْمسَارًا. أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ. وَمَعْنَى السَّمْسَرَةُ هُوَ التَّوَسُّطُ بَيْنَ الْبَائِعِ وَالْمُشْتَرِي بِأُجْرَةٍ مَعْلُوْمَةٍ لِتَسْهِيْلِ الصُّفْقَةِ وَهِيَ جَائِزَةٌ شَرْعًا وَالْمَمْنُوْعُ مِنْهَا هُوَ مَا كَانَ بَيْنَ الْبَادِيْ وَأَهْلِ الْحَاضِرِ وَالْحِكْمَةِ مِنَ النَّهْيِ عَنْ أَنْ يَتَوَالَي الْحَاضِرُ ( الْمُقِيْمُ بِالْبَلَدِ ) عَمَلِيَّةُ بَيْعٍ مَا يَجْعَلُهُ الْبَادِي ( أَيْ الْقَادِمُ مِنَ الْبَادِيَّةِ أَوْ الْقُرَى ) وَالْحِكْمَةُ هِيَ دَفْعُ الضَّرَرِ عَنِ النَّاسِ لِأَنَّ تَوَسُّطَ شَخْصٍ بَيْنَ الْحَاضِرِ وَالْبَادِي يُؤَدِّي إِلَي زِيَارَةِ الْأَسْعَارِ عَمَّا كَانَ الْبَادِي مُسْتَعِدًّا لِلْبَيْعِ بِهِ. قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ( دَعُوْا النَّاسَ يَرْزُقُ اللهُ بَعْضَهُمْ مِنْ بَعْضٍ ) أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ. أَمَّا السَّمْسَرَةُ بَيْنَ الْحَاضِرِ وَالْحَاضِرُ فَلَيْسَ فِيْهَا ضَرَرٌ لِأَنَّ الْأَسْعَارَ مَعْلُوْمَةٌ لِلطَّرْفَيْنِ وَلَا تُؤَدِّي السَّمْسَرَةُ هُنَا إِلَى ارْتِفَاعِهَا وَحُدُوْثِ الْغَلَاءِ بَلْ تَقَرَّبَ وَجْهَاتُ نَظْرِِ الطَّرْفَيْنِ لِتَمَامِ الصَّفْقَةِ وَهِيَ عَمَلٌ نَافِعٌ لَهُمَا وَلِلسَّمْسَارِ لِأَنَّ كَثِيْرًا مِنَ النَّاسِ لَا يَعْرِفُ طُرُقَ الْوُصُوْلِ إِلَى شِرَاءٍ وَبَيْعٍ وَاسْتِجَارٍ مَا يَرْغَبُوْنَ فِيْهِ وَقَدْ أَصْبَحَ للسمسرة فِي","part":2,"page":77},{"id":578,"text":"الْعَصْرِ الْحَاضِرِ أَهَمِّيَّةً كَبِيْرَةً فِي التِّجَارَةِ وَالْأَسْوَاقِ الْمَالِيَّةِ. اه.\rFil Jumal 'ala Syarkhil Minhaj Juz III Hal: 87\rقَالَ الْقفالُ وَالْإِثْمُ عَلىَ الْبَلَدِ دُوْنَ الْبَادِي ( وَالْإِثْمُ عَلَى الْبَلَدِ) أَيْ إِثْمُ هَذَا الْإِرْشَادِ دُوْنَ الْبَدُوِّي لِأَنَّهُ بِمُوَافَقَتِهِ لَهُ يَكُوْنُ مُتَصَرِّفًا فِي مِلْكِهِ حَتَّي أَنَّ الْإِثْمَ حَاصِلٌ وَإِنْ لَمْ يُوَفِّقْهُ عَلَى ذَالِكَ اه ح ل وَعِبَارَةُ الْبرماوي قوله دُوْنَ الْبَدُوِيْ أَيْ لِأَنَّ غَرْضَ الرِّبْحِ لَهُ دَفْعُ الْإِثْمِ عَنْهُ وَالْإِعَانَةُ عَلىَ الْمَعْصِيَّةِ غَيْرُ مُحَقِّقَةٍ لِانْقِضَائِهَا بِانْقِضَاءِ كَلَامِ الصَّادِرِ إِذْ يَحْرُمُ عَلَيْهِ ذَالِكَ وَإِنْ لَمْ يُجِبْهُ.\rIhya' Ulumuddin Juz II Hal: 80\rالرَّابِعُ أَنْ يَصْدُقَ فِي سِعْرِ الْوَقْتِ وَلَا يَخْفَي مِنْهُ شَيْئًا- إِلَى أَنْ قَالَ –فَهَذِهِ الْمَنَاهِيْ تَدُلُّ عَلىَ أَنَّهُ لَا يَجُوْزُ أَنْ يَلْبَسَ عَليَ الْبَائِعِ وَالْمُشْتَرِيْ فِي سِعْرِ الْوَقْتِ وَيُكْتَمُ مِنْهُ أَمْرًا لَوْ عَلِمَهُ لِمَا أقدم عَلىَ الْعَقْدِ فَفَعَلَ هَذَا مِنَ الْغشِّ الْحَرَامِ الْمُضَادِ لِلنَّصِّ الْوَاجِبِ—إِلَى أَنْ قَالَ-وَالْحِكَايَاتُ تَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ لَيْسَ أَنْ يَغْتَنِمَ فُرْصة وبنتهز غفلة صاحب المتاع ويخفي مِنَ الْبَائِعِ غَلَاءُ السِّعْرِ أَوْ مِنَ الْمُشْتَرِيْ تراجع الْأَسْعَارُ فَإِنْ فَعَلَ ذَالِكَ كَانَ ظَالِمًا لِلْعَدْلِ وَالنَّصْحِ لِلْمُسْلِمِيْنَ.\rAsy-Syarqowi Juz II Hal: 10-11","part":2,"page":78},{"id":579,"text":"( والمحرم كبيع حاضر لباد ) للنهي عنه في خبر الصحيحين بأن يقدم شخص بمتاع تعم الحاجة إليه لبيعه بسعر يومه في قول له الحاضر ا تركه لأبيعه على التدريج بأعلى في وافقته علي ذالك والمعني في النهي ما يؤدي إليه من التضييق على الناس والإثم على الحاضر فقط ( وتلقى الركبان ) للنهي عنه في خبر الصحيحين بأن يتلقى طائفة يحملون متاعا إلى البلد في شتريه منهم قبل قدومهم ومعرفتهم بالسعر والمعنى في النهي عنه ( نيابة )غبنهم والإثم على المتلقي فقط. ( والنجش بأن يزيد في الثمن ) لسلعة ( لا لرغبة ) في شرائها بل ليغر غيره في شتريها للنهي عنه والمعنى فيه الإيذاء ولا خيار للمشتري ولو كان بمواطة لتفريطه.\rAsy Syarqowi Juz II Hal:11\rوتلقى الركبان للنهي عنه في خبر الصحيحين بأن يتلقي طائفة يحملون متاعا إلى البلد في شتريه منهم قبل قدومهم ومعرفتهم بالسعر والمعنى في النهي عنه غبنهم والإثم علي المتلقى ( غبنهم ) يفيد أنه اشتراه بدون سعر البلد ولا بد أيضا أن تكون بغير طلبهم فجملة القيود أربعة : فإن اشتراه منهم بطلبهم ولو مع الغبن أو بغير طلبهم لكن بعد قدومهم وتمكنهم من معرفة الشعر أو قبله وبعد معرفتهم بالسعر أو قبلها واشتراه به أو بأكثر فلا تحريم لانتفاء التغرير ولا خيار لانتفاء الغبن. ا ه.\rPrivatisasi Aset Negara","part":2,"page":79},{"id":580,"text":"Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang terus merugi, pemilik saham pemerintahan tertentu, aset yang disita, dijaminkan oleh perusahaan swasta. Karena pertimbangan kebijakan moneter, dilakukan privatisasi dan pelelangan secara terbuka. Pihak pembeli aset-aset eks milik negara RI, bisa jadi pengusaha asing atau WNA yang membuka bidang usaha di Indonesia. Kedaulatan pemerintah (tasarruf al-imam) seharusnya telah terkait dengan kepentingan orang banyak. Tapi tragisnya privatisasi pada obyek yang menyentuh hajat hidup rakyat seperti listrik, produksi BBM, eksplorasi tambang dan sejenisnya, justru lebih menguntungkan pihak swasta asing, sedangkan rakyat harus menerima kenaikan harga barang-barang kebutuhan hidup sehari-hari. Berbagai tekanan lembaga keuangan internasional (IMF, dll) lebih diperbandingkan oleh pihak eksekutif daripada kepentingan nasional.\rPertanyaan\rApakah kepemilikan negara terhadap badan usahanya dan berbagai kebijakan mengelolanya itu representatif mewakili kepemilikan rakyat?\rApakah privatisasi perusahaan eks BUMN menjadi PERSERO dan sejenisnya mutlak menjadi kewenangan negara tanpa memperdulikan kepentingan rakyat setempat, dibenarkan oleh kaidah hukum Islam ?\rBagaimana konsep mengedepankan \"mashalih al-raiyah\"terkait dengan aset milik negara?\rJawab\rKepemilikan negara terhadap badan usahanya termasuk mewakili rakyat?","part":2,"page":80},{"id":581,"text":"Tidak dibenarkan karena tashorruf imam harus bermanfaat pada rakyat? Konsepnya adalah dengan sistem pemerataan jika kebutuhannya sama dan mengedepankan paling penting jika kebutuhannya tidak sama, serta mengedepankan maslahah umum daripada maslahah individu. Maslahah yang dimaksud adalah hal yang menyangkut perlindungan agama dan kehidupan manusia.\rDasar Pengambilan hukum\rAdabun Nabawi Hal: 96\rأولوا الأمر الذين وكل إليهم القيام بالشؤون العامة والمصالح المهمة في دخل فيهم كل ولي أمر من أمور المسلمين من ملك ووزير ورئيس ومأمور وعمدة وقاض ونائب وضابط وجندي\rFiqh al-Daulah fil Islam Hal: 35\rوالحاكم في الإسلام وكيل عن الأمة بل أجير عندها ولاية الموكل علي الوكيل والمستأجر علي الأجير. دخل أبو المسلم الخولاني الفقيه التابعي الزاهد الجليل علي الخليفة معاوية ابن سفيان فقال له : السلام عليكم أيُّها الأجير ؟ فقال له من حول حول الخليفة : قل السلام عليك أيها الأمير ؟ فقال: السلام عليكم أيها الأجير فأعودوا قولهم وأعاد قوله فقال معاوية مه ! ادعوا أنا مسلم أعرف بما يقول. وقد نظم هذا المعنى أبو العلاء في شعره حين قال مديرا عن سخطه أمراء زمنه. مل المقام فكم أعاشر أمة # أمرت بغير صلاحها أمراءها ظلموا الرعية واستجازوا كيدها #معدو مصالحها وهم أجراءها\rAl-Ahkam as-Sulthoniyah al-Mawardi Hal: 31","part":2,"page":81},{"id":582,"text":"وإذا فضل من مال الخراج فاضل عن أرزاق جيشه حمله إلى الخليفة لوضعه في بيت المال العام المعد للمصالح العامة، وإذا فضل من مال الصدقات فاضل عن أهل عمله لم يلزمه حمله إلى الخليفة وصرفه في أقرب أهل الصدقات من عمله ، وإذا نقص مال الخراج عن أرزق جيشه طالب الخليفة بتمامه من بيت المال. ولو نقص مال الصدقات عن أهل عمله لم يكن له مطالبة الخليفة بتمامه لأن أرزاق الجيش مقدرة بالكفاية وحقوق أهل الصدقات معتبرة بالوجود.\rAsybah wan Nadhoir Hal: 83\rتصرف الإمام على الرعية منوط بالمصلحة –فليس للإمام أن يملك أحدا إلا ما ملكه الله وإنما وظيفة الإمام القسمة والقسمة لا بد أن تكون بالعدل ومن فروعها العدل تقديم الأحوج والتسوية بين مساوى الحاجات.\rAl-Imam 'inda Ahlis Sunnah wal Jama'ah Hal: 358\rالواجب على الإمام عند صرف الأموال أن يبتدئ في القسمة بالأهم فالأهم من مصالح المؤمنين كعطاء من يحصل للمسلمين منهم منفعة عامة أو المحتاجين.\rAl-Fiqh al-Islami wa Adillatihi Juz 8 Hal: 638\rقال الغزالي جامعا لمقاصد المذكور ( إن مقصود الشرع من الخلق خمسة : وهو أن يحفظ عليهم دينهم ونفسهم وعقلهم ونسلهم ومالهم ، فكل ما يتضمن حفظ هذه الأصول الخمسة فهي مصلحة وكل ما يفوت هذه الأصول فهو مفسدة ودفعها مصلحة.\rProfesionalisme Jabatan Strategis","part":2,"page":82},{"id":583,"text":"Kafa'ah (kecakapan dalam memangku suatu tugas jabatan ) dan al-adalah ( moralitas yang terpuji ) merupakan syarat prinsip kelayakan bagi seseorang untuk memangku jabatan tertentu, lebih-lebih jabatan publik. Abdullah ibnu al-Lutabiyah selaku amil zakat diberhentikan dari jabatannya karena terbukti menerima pemberian (hadiah) dari warga ditempat tugasnya. Sanksi yang dijatuhkan oleh Rasulullah SAW tersebut sangat mendasari komitmen fuqaha' pejabat negara tidak boleh curang, melakukan penyimpangan dalam tugasnya, atau lebih luasnya berkondite jelek dalam tataran moral kedinasan.\rPejabat negara diklasifikasikan sebagai wazaroh tanfidz (berkuasa penuh dalam tugasnya). Pelaksana tugas sangat bergantung pada penilaian pihak pemberi tugas. Seperti presiden terhadap para mentri dalam sistem UUD 1945. Adapun penguasa tugas penuh, seperti ketua MPR, DPR, gubernur, bupati, walikota dan sejenisnya terbuka bagi rakyat untuk menilai kecakapan dan adalahnya. Upaya mema'zulkan (menurunkan dari jabatan) berhubung cacat moral dan ketidakcakapan merupakan hak rakyat secara kolektif, terkait dengan usaha nahyi an al-munkar dan nashihah li al-imam.\rPertanyaan\rMenurut al-ahkam al-sulthoniyyah (fiqh siyasah) kapan dan atas dasar apa pejabat negara layak dima'zulkan dari jabatan publiknya ?\rApakah kriteria ke-fasiq-an pejabat negara yang masih berkenan diberikan toleransi sesuai ungkapan hadist \"aqilu dzawi lal-hai'ati atsaratihim\"?","part":2,"page":83},{"id":584,"text":"Upaya apa yang patut ditempuh umat sekiranya pejabat negara yang terbukti fasiq tetap bertahan dalam jabatannya?\rJawaban\rPejabat negara bisa dima'zulkan dari jabatannya apabila terbukti:\rCacat sifat keadilannya\rHilangnya kemampuan untuk mengemban tugas baik fisik maupun mental\rHilangnya kepercayaan publik\rAda yang lebih layak\rCatatan: Pema'zulan tersebut jika memang tidak menimbulkan mafsadah yang lebih besar.\rToleransi pada kefasiqan pejabat publik diberikan sebatas kesalahan tersebut tidak sampai pada kriteria tersebut diatas.\rPejabat negara yang terbukti fasiq dan belum terbukti tindak pidana hudud masih perlu disikapi dengan:\rPemberitahuan guna menyadarkan kesalahannya\rPenasehatan yang persuasif\rDikritik dengan keras secara terbuka.\rAdapun pejabat negara yang tindak kefasiqannya tergolong \"hudud\", maka agar diupayakan agar kemunkaran serupa tidak semakin berkembang dan diusahakan tegaknya supremasi hukum di negara setempat yang caranya bisa menyesuaikan dengan situasi dan kondisi.\rKefasikan yang tidak dapat ditoleransi adalah kefasikan yang dapat merusak tujuan dibentuknya negara (untuk menjaga kesejahteraan masyarakat dalam hal agama dan dunia).\rDasar Pengambilan\rAl-Ahkam al-Sulthoniyah Hal: 15-16","part":2,"page":84},{"id":585,"text":"وإذا قام الإمام بما ذكرناه من حقوق الأمة فقد أدى حق الله تعالى فيما لهم وعليهم ووجب له عليهم حقان الطاعة والنصرة ما لم يتغير حاله . والذي يتغير به حاله في خرج به عن الإمامة شيئان أحدهما جرح في عدالته، والثاني نقص في بدنه فأما الجرح في عدالته وهو الفسق فهو على ضربين أحدهما ما تابع فيه الشهوة والثاني ما تعلق فيه بشبهة . فأما الأول منهما فمتعلق بأفعال الجوارح وهو ارتكابه للمحظورات وإقدامه على المنكرات تحكيما للشهوة وانقيادا للهوي. فهذا فسق يمنع من انعقاد الإمامة ومن استدامتها ، فإذا طرأ على من انعقدت إمامته خرج منها فلو عاد إلى العدالة لم يعد إلى الإمامة إلا بعقد جديد.\rNihayatul Muhtaj Juz 8 Hal: 245\rوللإمام أي يجوز له ( عزل قاض ) لم يتعين ( ظهر منه خلل لا يقتضي انعزاله ككثرة الشكاوي أو ظن أنه ضعيف أو زالت هيبته في القلوب وذالك لما فيه من الإحتياط، أما ظهور ما يقتضي انعزاله وثبت ذالك في عزل به ولم يحتج لعزل وإن ظن بقرائن في حتمل أنه كالأول ويحتمل فيه ندب عزله وإطلاق ابن عبد السلام وجوب صرفه عند كثرة الشكاوي منه اختاره له ( أو لم يظهر ) منه خلل ( وهناك أفضل منه ) فله عزله من غير قيد كما يأتي في المثل رعاية للأصلح للمسلمين ولا يجب وإن قلنا إن ولاية المفضول غير منعقدة مع وجود الفاضل لأن الغرض حدوث الأفضل بعد الولاية فلم يقدح فيها ( أو هناك مثله ) أو دونه ( وفي عزله به مصلحة كتسكين فتنة ) لما فيه من المصلحة للمسلمين\rIttihafus Saadah al-Muttaqien Juz 8 Hal: 25","part":2,"page":85},{"id":586,"text":"وأما الرعية مع السلطان فلأمر فيه أشد من الوالد فليس معه إلا التعريف والنسخ اللطيف وأما الرتبة الثالثة أي السب والتعنيف ففيه نظر من حيث أن الهجوم على أخذ الأموال المغصوب من خزائنه وردها إلى الملاك وعلى تخليل الخيوط من ثيابه لحرير وكسر الخمر في بيته يكاد يفضي إلى خرق حجاب هيئته وإسقاط حشمته من أعين الرعية وذالك محذور ورد النهي وفي ذالك قوله صلى الله عليه وسلم من كانت عنده نصيحة لذي سلطان فلا يكلمه بها علانيته وليأخذ بيده فليخل به فإن قبلها قبلها وإلا قد كان أدى الذي عليه – إلى أن قال – فقد تعارض فيه أيضا محذوران والأمر فيه موكول إلى اجتهاده منشؤه النظر في تفاحش المنكر وعدمه ومقدار ما يسقط من حشمته بسبب الهجوم عليه وذالك لا يمكن ضبطه لاختلافه بحسب المواقع والأحوال والأشخاص والأزمان.\rAl-Mausuu'at al-Fiqhiyyah Hal: 22\rذهب الشافعي- في المعتمد-والحنابلة وأبو حنيفة والخصاف والطحاوي من الحنفية وابن القصار من المالكية إلى أن الحاكم ينعزل بفسقه، ومن ذالك قبوله الرشوة. قال أبو حنيفة : إذا ارتشى الحاكم انعزل في الوقت وإن لم يعزل وبطل كل حكم حكم به بعد ذالك ومذهب الأخرين أنه لا ينعزل بذالك بل ينعزل بعزل الذي ولاه.\rRoddul Mukhtar Juz 6 Hal: 415\rقال في المسايرة: وإذا قلد عدلا ثم جاز وفسق لا ينعزل ولكن يستحق العزل إن لم يستلزم فتنة. ا ه.\rFathul Wahhab Juz II Hal: 365\rوَلِلْإِمَامِ عُزْلَةٌ بِخِلَلٍ ظَهَرَ مِنْهُ وَيَكْفِي فِيْهِ غَلَبَةُ الظَّنِّ وَحَمَلَ هَذَا وَمَا قَبْلَهُ إِنْ وَجَدَ ثُم صالح غيره للقضاء وبأفضل منه وبمصلحة كتسكين فتنة سواء أعزلة بمثله أم بدونه وذكر حكم دونه من زيادتي وإلا بأن لم يكن شيئ من ذالك حرم عزله ولكنه ينفذ طاعة للإمام بقيد زدته بقولي إن وجدت ثم صالح غيره للقضاء وَإِلَّا فَلَا يَنْفَذُ.","part":2,"page":86},{"id":587,"text":"'Aunul Ma'bud Juz 12 Hal: 25\rأَقِيْلُوْا أَمْرًا مِنَ الْإِقَالَةِ أَيْ اعْفُوْا ذَوِي الْهَيْئَاتِ أَيْ أَصْحَابِ الْمُرُوْءَاتِ وَالْخِصَالِ الْحَمِيْدَةِ قَالَ ابْنُ الْمَلِكِ الْهَيْئَةِ الْحَالَةِ الَّتِيْ يَكُوْنُ عَلَيْهَا إِنْسَانٌ مِنَ الْأَخْلَاقِ الْمَرْضِيَّةِ عثراتهم بِفَتْحَتَيْنِ أَيْ زلاتهم إِلَّا الْحُدُوْدُ أَيْ إِلَّا مَا يُوْجَبُ الْحُدُوْدُ وَالْخِطَابُ مَعَ الْأَئِمَّةِ وَغَيْرِهِمْ مِنْ ذَوِي الْحُقُوْقِ مِمَّنْ يَسْتَحِقُّ الْمُؤَاخِذَةَ وَالتَّأْدِيْبَ عَلَيْهَا وَأَرَادَ مِنَ الْعَثَرَاتِ مَا يَتَوَجَّهُ فِيْهِ التَّعْزِيْزُ لِإِضَاعَةِ حَقٍّ مِنْ حُقُوْقِ اللهِ.\rPernikahan Melalui Telepon\rIjab qabul dalam akad nikah melalui telepon hukumnya tidak sah, sebab tidak ada pertemuan langsung antara orang yang melaksanakan akad nikah.\rDasar hukum\rKifayatul Akhyar II/5\r(فرع) يُشْتَرَطُ فِى صِحَّةِ عَقْدِ النِّكَاحِ حُضُورُ أَرْبَعَةٍ: وَلِىٍّ وَزَوْجٍ وَشَاهِدَيْ عَدْلٍ.\rArtinya: (Cabang) dan disyaratkan dalam keabsahan akad nikah hadirnya empat orang ; wali,calon pengantin dan dua orang saksi yang adil.\rTuhfatul Habib ala Syarhil Khatib III/335\rوَمِمَّاتَرَكَهُ مِنْ شُرُوطِ الشَّاهِدَيْنِ السَّمْعُ وَالبَصَرُ وَالضَبْطُ. (قوله والضبط) أَيْ لألْفَاظِ وَلِىِّ الزَّوْجَةِ وَالزَّوْجِ فَلاَ يَكْفِي سِمَاعُ أَلْفَاظِهِمَا فِي ظُلْمَةٍ لأَنَّ الأصْوَاتِ تَشْبِيْهٌ.","part":2,"page":87},{"id":588,"text":"mendengar, melihat dan (dlobith) membenarkan adalah bagian dari syarat diperkenankannya dua orang saksi. (pernyataan penyusun ‘wa al dlobthu) maksudnya lafadz (pengucapan) dari wali pengantin putri dan pengantin pria, maka tidaklah cukup mendengar lafadz (perkataan) mereka berdua dikegelapan, karena suara itu (mengandung) keserupaan).\rMemberikan Uang Pesangon Untuk Istri Yang Diceraikan\rMemberikan mut’ah (uang pesangon) kepada isteri yang difurqah/dicerai hukumnya wajib dengan ketentuan sebagai berikut:\rSebab perceraian bukan dari pihak isteri dan bukan karena kematian salah satu suami isteri dan juga bukan dari keduanya.\rSebelum terjadinya perceraian, isteri tersebut sudah pernah dikumpuli.\rAtau belum pernah dikumpuli, akan tetapi dia sebagai isteri yang mufawwidlah merelakan dikawin tanpa mahar dan dicerai sebelum adanya penentuan mahar.\rDasar Hukum\rI’anah al Tholibin juz 3 Hal. 356\rتتمة تجب عليه لزوجة وطوعة ولو أمة متعة بفراق بغير سببها وبغير موت أحدهما قوله (لزوجة موطوعة) وكذا غير الموطوعة التي لم يجب لهل شيء أصلا وهو المفوضة التي طلقت قبل الفرض والوطء فتجب لها المتعة لقوله تعالى: لا جناح عليكم إن طلقتم النساء مالم تمسوهن أو تفرضوا لهن فريضة و متعوهن. أماالتي وجب لها نصف المهر فلا متعة لها لأن النصف جابر للإيحاش الذي حصل لها بالطلاق مع سلامة بضعها ولو قال كغيره لزوجة لم يجب لها نصف مهر فقط بأن لم يجب لها المهر أصلا أو وجب لها المهر كله لكان أولى لها في عبارته من الإيهام الذي لا يخفى.\rPernikahan Pasangan Yang Tidak Sederajat","part":2,"page":88},{"id":589,"text":"Seorang gadis terhormat dan pemuda rendahan (tidak kufu ~ tidak sederajat) ingin menjalin hidup bersama, tetapi ayah gadis tersebut tidak merestuinya, kemudian mereka melarikan diri sejauh dua marhalah (82 km). Dalam masalah ini terjadi perbedaan pendapat, menurut pendapat yang kuat dan bisa dijadikan pegangan, kedua orang tersebut tidak bisa melangsungkan rencana pernikahan tersebut, bahkan hakim tidak sah menikahkannya. Menurut pendapat muqabil muktamad pendapat yang lemah, mereka bisa melangsungkan pernikahan tersebut.\rDasar Hukum\rFathul Muin\rأما القاضى فلا يصح له تزويجها لغير كفء وإن رضيت به على المعتمد إن كان ولي غائب أومفقود.\rI’anah al Tholibin juz 3 Hal. 339\r(قوله على المعتمد) إلى أن قال ومقابل المعتمد أنه يصح كما فى التحفة وقال الكاثرون اوالأكثرون يصح وأطال جمع المتأخرون فى ترجيحه وتزين الأول وليس قالوا. اه قوله وأطال جمع المتأخرون فى ترجيحه رأيت فى بعض هوامش فتح الجواه مانصه جماعة من الأصحاب الوجه القائل بالصحة مطلقا منهم الشيخ أبو محمد والإمام والفرالى والعبادى ومال إليه السبكى ورجحه البلقنى وغيره وعليه العمل.\rAkad Ulang Untuk Legalitas\rSering orang melakukan nikah siri, tidak melalui pemerintah. Di kemudian hari, dia meresmikan pernikahannya melalui pemerintah dan dalam peresmian tersebut dia melakukan akad nikah lagi. Hukum akad nikah yang kedua ini adalah MUBAH, dan dalam akad nikah kedua ini pengantin pria tidak wajib membayar mahar lagi. Nikah kedua ini juga tidak mempengaruhi terhadap haqqut thalaq menurut pendapat yang shahih.\rDasar Hukum\rFathul Bari XIII/159","part":2,"page":89},{"id":590,"text":"(باب من بايع مرتين) حدثنا أبو عاصم عن يزيد ابن ابى عبيدة عن سلمة رضي الله عنه قال: بايعنا النبي صلى الله عليه وسلم تحت الشجرة فقال لي سلمة الا تبايع قلت قد بايعت يا رسول الله فى الأول قال وفى الثانى رواه البخارى. قال ابن منير يستفاد من هذاالحديث أن إعادة عقد النكاح وغيره ليس فسخا للعقد الأول خلافا لمن زعم ذلك من الشافعية قلت الصحيح عندهم إنه لا يكون فسخا كما قال الجمهور اه.\rStatus Anak Hasil Perzinahan\rAda seorang perempuan melahirkan anak setelah sembilan bulan dari ijtimauz zaujain –kumpulnya suami isteri- kemudian isteri mengaku, bahwa sebelum kawin dia telah berbuat zina dengan orang laindan suami juga tidak mengakui anak tersebut, bahkan ada sebagian dukun bayi yang mengatakan bahwa pada waktu perkawinan si isteri sudah hamil. Meski demikian, anak itu tetap intisab (diakui anak kandung) dari suami sahnya tersebut. Karena suamilah yang dianggap shahibul firasy.\rDasar Hukum\rGhayatut Talkhis 246\rغاية التلخيص: نكح حاملا من الزنا فأتت بولد لزمن إمكان وطئه منه بأن ولدت لستة أشهر ولحظتين من عقده وإمكان وطئه لحقه.\rAl Hadits\rوفى الحديث: الولد لصاحب الفرش وللمصاهر لحجر.\rBerhenti Haidl Dalam Masa Iddah Karena Operasi","part":2,"page":90},{"id":591,"text":"Seorang perempuan dalam masa iddah tiga sucian menjalani operasi yang menyebabkan berhentinya haid selama dua tahun, padahal dia belum mencapai umur ya’si (menopause). Bila dia hendak menikah, dia harus menunggu haid lagi sebagai kelanjutan iddah yang telah dijalani. Apabila sudah tidak haid lagi, maka harus menunggu sampai batas umur ya’si dan beriddah tiga bulan, dengan cara meneruskan iddah yang lampau, umpama yang dijalani sudah satu sucian maka tinggal meneruskan dua bulan hilali.\rDasar Hukum\rAl Mahalli IV/42\r(ومن إنقطع دمها لعلة) تعرف كرضاع ومرض تصبر حتى تحيض فتعتد بالإقراء أو تياس فبالأشهر. إه\rMenggantikan Pernikahan Pada Kesejahteraan\rAda seorang mengatakan, “Jika perkawinan saya ini sejahtera maka akan saya teruskan tetapi jika tidak maka tidak saya teruskan. Perkataan yang seperti itu tidak termasuk ta’liqut talaq (menggantungkan perceraian) atau unsur-unsur talak. Jadi meski tidak ada masalah, maka harus hati-hati mengucapkannya.\rDasar Hukum\rAs Syarqawi II/253, 259\rوأركانه أربعة مطلق وصيغة وقصد وزوجةز إه\rMewakilkan Undangan Walimah","part":2,"page":91},{"id":592,"text":"Mendatangi undangan walimah yang wajib dihadiri hukumnya Fardlu Ain, dan ada yang mengatakan Fardlu Kifayah. Apabila seseorang berhalangan dan mewakilkan kepada orang lain secara hokum Islam itu tidak termasuk udzur yang bisa menggugurkan kewajiban. Lebih jelasnya; mendatangi undangan walimah yang sudah memenuhi persyaratan hukumnya fardlu ain. Dengan demikian, kewajiban tersebut tidak bisa gugur dengan datangnya wakil, kecuali udzur atau mengutarakan alasan yang kemudian diridloi oleh orang yang mengundang. Namun sebagian ulama ada yang mengatakan hukumnya fardlu kifayah, konsekuensinya kewajiban mendatangi undangan tersebut gugur dengan datangnya sebagian undangan.\rDasar Hukum\rKifayatul Akhyar II/71\rلواعتذر المدعو إلى صاحب الدعوة فرضي بتخافه زال الوجوب.\rMemperbaharui Nikah\rMenurut pendapat yang shahih, hukumnya jawaz (boleh) dan tidak merusak pada akad nikah yang telah terjadi. Karena memperbaharui akad itu hanya sekedar keindahan (tajammul) atau berhati-hati (ihtiyath). Menurut pendapat lain akad baru tersebut bisa merusak akad yang telah terjadi.\rDasar Hukum\rSyarah Minhaj Li Shihab Ibn Hajr juz 4 hal 391\rإن مجرد موافقة الزوج على صورة عقد ثان مثلا لا يكون إعترافا بانقضاء العصمة الأولى بل ولاكناية فيه وهو ظاهر لأنه مجرد تجديد طلب من الزوج لتجمل أو إحتياط فتأمل.\rSaksi Dalam Pernikahan\rSaksi dalam pernikahan tidak harus orang-orang yang telah ditunjuk sebelum akad, bahkan boleh secara umum (tidak ditentukan) yaitu orang-orang yang ahdir dalam majlis akad, yang mendengar ijab dan qabul.\rDasar Hukum","part":2,"page":92},{"id":593,"text":"(ولا يصح) النكاح (إلا بحضرة الشهيدين) قصدا او إتفاقا بأن يسمعا الإيجاب والقبول أي الواجب منهما المتوقف عليه صحة العقد لانحوذكر المهر كما هو ظاهر.\rWali Hakim\rWali hakim menjadi hak orang yang berkuasa di daerah calon pengantin putri baik kuasa secara umum, seperti imam, maupun secara khusus (terbatas) seperti qadli.\rDasar Hukum\rI’anatuth Thalibin III/314\r(قوله والمراد) أي بالسلطان من له ولاية أي عامة أو خاصة إلى أن قال: وحاصل الدفع ان المراد بالسلطان كل من له سلطانة و ولاية على المرأة عاما كانض كالإمام أو خاصا كالقاضى والمتوالى لعقود الأنكحة أو هذا النكاح بخصوصه. اه\rBatasan Nusyuz Istri\rSudah menjadi kebiasaan masyarakat bahwa memasak, mencuci dan menyapu adalah tugas isteri. Sebenarnya rutinitas tersebut adalah kewajiban suami. Andai rutinitas ini diperintahkan suami kepada isteri, maka isteri tidak wajib memenuhinya. Pengingkaran atas perintah ini tidak termasuk nusyuz (melawan). Adapun batasan ketaatan yang harus dijalani seorang isteri terhadap suami adalah sepanjang kewajiban-kewajiban isteri terhadap suami selama tidak berupa maksiat dan di luar kemampuan.\rDasar Hukum\rHasiyah al Bajuri juz 129\rوالثانى من جهة الزوجة ومعنى نشوزها إرتفاعها عن أداء الحق الواجب عليها (قوله إرتفاعها عن أداء الحق الواجب عليها) أي هو طاعته ومعاشرته بالمعروف وتسليم نفسها له وملازمة المسكن.\rHadirnya Wali Nikah Yang Sudah Mewakilkan","part":2,"page":93},{"id":594,"text":"Apabila seorang wali nikah telah mewakilkan akad nikah kepada orang lain, kemudian ikut hadir dalam majlis akad tersebut, maka akad tersebut dihukumi sah, apabila hadirnya si wali nikah tersebut tidak untuk menjadi saksi nikah.\rDasar Hukum\rHasiyah al Bajuri II/102\rفلو وكل الأب أو الأخ المنفرد فى العقد وحضر مع أخر ليكونا شاهدين لم يصح لأنه متعين للعقد فلا يكون شاهدا.\rKekeliruan penghulu atau orang yang mendapat wakalah menikahkan dalam menyebut nama wali, seperti Fatimah binti Utsman diucapkan Fatimah binti Umar, maka pernikahan itu hukumnya tetap sah apabila pada waktu akad tadi wali atau penghulu memberi isyarat kepada calon isteri atau si wali atau penghulu menyengaja terhadap calon isteri yang dimaksud.\rDasar Hukum\rBughyatul Mustarsyidin, hal 200\r(مسئلة ش) غيرت إسمها ونسبها عند إستئذانها فى النكاح وزوجها القاضى بذالك الإسم ثم ظهر أن إسمها ونسبها غير ما ذكرته فإن أشار إليها حال العقد بأن قال زوجتك هذه أو نوياها به صح النكاحث سواء كان تغيير الإسم عمدا أوسهوا منه أو منها إذالمدار على قصد الوالى ولو قاضيا والزوج كما قال زوجتك هندا ونويا دعدا عملا بنيتها.\rPasrah Bongko'an Pada Kiyai\rAda orang menyerahkan anak perempuannya kepada seorang Kyai secara total atau pasrah bongko’an. Dengan penyerahan ini, tidak cukup bagi Kyai menikahkan anak perempuan tersebut tanpa ada akad wakalah. Karena penyerahan secara total itu termasuk akad wakalah yang rusak (tidak sah) sebab perkara yang diwakilkan tidak maklum.\rDasar Hukum\rMadzahibul Arba’ah III/182","part":2,"page":94},{"id":595,"text":"وأما الموكل فيه فإنه يشترط فيه أمور أحدها أن يكون معلوما ولو بوجه ما إذا كان مجهولا جهالة تامة فإن التوكيل لايصح فمثال المجهول أن يقول وكلتك فى جميع أمورى أو فى كل كثير وقليل فهذا التوكيل لايصح لما فى الجهالة من الغرر المفضى للنزع.\rKiyai Menikahkan Karena Hakim Menolak\rSeorang wanita minta dinikahkan oleh hakim, karena walinya pergi dalam jarak dua marhalah (82 km), akan tetapi hakim tersebut tidak bersedia sehingga akhirnya dia minta seorang kyai untuk menikahkan. Pernikahan yang diijabkan kyai tersebut hukumnya sah apabila dia termasuk orang yang adil. Hal ini menurut pendapat yang lebih mendekati kebenaran.\rDasar Hukum\rAl Anwar II/54\rلو طلبت ولم يوجبها القاضى فهل لها تحكم عدل ويزوجها حينئذ منه للضرورة أو يمتنع عليه كالقاضى محل نظر ولعل الأول أقرب إن لم يكن فى البلد حاكم يرى ذلك لئلا يؤدى إلى فسدها.\rWali Yang Jauh Menikahkan Karena Wali Dekat Menolak\rBila seorang wali aqad tidak bersedia menikahkan anak wanitanya, wali yang lebih jauh tdak boleh menikahkan wanita tersebut tanpa seijin wali terdekat bahkan dia berdosa. Tetapi apabila penolakannya menimbulkan kefasikan dan kemaksiatannya lebih banyak dari ketaatannya maka hukumnya boleh.\rDasar Hukum\rI’anatuth Thalibin III/316-317","part":2,"page":95},{"id":596,"text":"وكذا يزوج السلطان إذا عضل القريب او المعتق أو عصبته إجماعا لكن بعد ثبوت العضل عنده بامتناعه منه أوسكمته بحضرته بعد أمره به والخاطب والمرأة حاضران أو وكيلها أو بينة عند تعززه أو توريه نعم إن فسق بعضله لتكرره منه مع عدم غلبة طاعاته على معاصيه أو قلنا بما قاله جمع أنه كبيرة زوج إلا بعد وإلا فلا لأن العضل صغيرة وإفتاء المصنف بأنه كبيرة بإجماع المسلمين مراده أنه عند عدم تلك الغاية فى حكمها لتصريحه هو وغيره بأنه صغيرة. وقوله لتكرره منه قال فى الر وض ولا يفسق إلا إذا تكرر ثلاث مرات.\rKawin Lari\rAda dua sejoli (Arif dan Desy) sepakat untuk menikah dan keluarga masing-masing merestuinya. Kemudian Arif mengedarkan undangan yang hari dan tanggalnya telah disepakati oleh keluarga Desy. Namun karena satu dan lain hal, keluarga Desy minta agar acara tersebut diundur. Karena undangan terlanjur beredar akhirnya pada saat pelaksanaan acara tersebut, keluarga Arif menculik Desy untuk diakadkan dengan menggunakan wali seorang Kyai. Mengenai keabsahan pernikahan ini, ulama berbeda pendapat. Ada yang mengatakan sah dengan catatan tidak ada hakim atau ada tetapi memungut bayaran. Ada yang mengatakan sah secara mutlak, baik ada hakim maupun tidak. Dengan syarat Kyainya harus adil.\rDasar Hukum\rBughyatul Mustarsyidin hal 207\rمسئلة ب ش الحاصل فى مسئلة التحكيم المجتهد فى غير نحو عقوبة الله تعالى جائز مطلقا أي ولو مع وجود القاضى المجتهد وتحكم الفقيه غير المجتهد مع فقد القاضى المجتهد وتحكيم العدل مع فقد القاضى أصلا أو طلبه مالا وإن قل لامع وجوده.\rMahar Membaca Al Qur'an Sampai Hatam","part":2,"page":96},{"id":597,"text":"Ada seorang laki-laki kawin dengan seorang wanita dengan mahar yang ditempokan berupa mambaca Al Quran sampai hatam. Mahar yang seperti ini sah apabila manfaatnya kembali kepada si isteri sebagaimana tatkala membaca berada di hadapan si isteri atau membacanya dengan niat untuk si isteri dan tidak sah apabila manfaatnya tidak kembali pada si isteri.\rDasar Hukum\rBughyatul Mustarsyidin, halaman 213\rوالذي يظهر في ضابط م يصح صداقا أن يقال كل ما قبل بعوض وكان معلوما ولم يكن بضعا صح صداقا وما لا فلا.\rWali Anak Hasil Pernikahan Syubhat\rSuami isteri yang sudah lama hidup bersama dan sudah mempunyai anak, ternyata diketahui bahwa antara keduanya masih ada hubungan mahrom. Pernikahan tersebut otomatis batal tetapi anak yang dihasilkan dari keduanya dinasabkan tetap kepada suami tersebut.\rDasar Hukum\rBughyatul Mustarsyidin 201\rولو نكح إمرأة فبانت محرمة برضاع ببينة أو قرار فرق بينهما، فإن حملت منه كان الولد نسيبا لاحقا بالواطئ لا يجوز نفيه وعليها عدة الشبهة ولها مهر المثل لا المسمى وللوطء المذكور حكم النكاح في الصهر والنسب لا في حال النظر والخلوة ولا في النقض فيحرم على الواطئ نكاح أصولهاوفروعها و تحرم هي على أصوله وفرعه ويجوز النظر إلى المحرم المذكورة بلا شهوة. إ هـ\rTalaq Tiga Dengan Sekali Ucap\rUcapan suami kepada isteri “Kamu haram bagiku”, jika diniati mentalaq tiga, maka talak tersebut jatuh tiga.\rDasar Hukum\rAt Tuhfah 2 halaman 17\rإذا قال أنتِ حرام و محرمة أو قال علي حرام أو نحو ذلك كتاب الطلاق. إهـ\rWanita Pada Masa Iddah Dilarang Keluar","part":2,"page":97},{"id":598,"text":"Wanita yang sedang menjalani masa iddah tidak boleh keluar dari rumahnya bahkan untuk ta’ziyah pada orang tua atau anaknya yang meninggal dunia.\rDasar Hukum\rBujairomi ‘Alal Khotib\r(تنبيه)إقتصر المصنف على الحاجة إعلاما بجوازه للضرورة من باب أولى كان خافت على نفسها تلفا أو فاحشة أو خافت على مالها أو ولدها من هدم أو غرق فيجوز لها الإنتقال للضرورة الداعية إلى ذلك وعلم من كلامه كغيره تحريم خروجها لغير حاجة وهو كذلك كخروجها لزيارة وعيادة وإستمناء مال تجارة ونحو ذلك (قوله ونحو ذلك) اي كخروجها لجنازة زوجها أو أبيها مثلا فلا يجوز.\rKeluar Rumah Karena Cekcok Dengan Mertua\rIsteri yang keluar rumah karena cekcok dengan mertua sehingga tidak krasan di rumah, dia tidak terkena dosa tetapi membuat tindakannya menggugurkan kewajiban suami untuk memberi nafkah.\rDasar Hukum\rBughyatul Mustarsyidin 241\r(مسئلة ج) مزوجة إذا دخلت على زوجها ‘عتلاها ضيق وكرب وصياح وإذا خرجت عن داره سكن روعها لم يلزمها تسليم نفسها للضرر لكن تسقط مؤنها.\rKafa'ah (Sederajat) Dalam Perkawinan\rPerempuan yang belum pernah sakit gila tetap sederajat dengan lelaki yang pernah gila.\rDasar Hukum\rI’anatut Thalibin III/331\rثم أن العبرة في هذه الخصال بحال العقد فلا يؤثر طروها بعده ما عدا الرق فإن طروه يبطل النكاح ولا وجودها مع زوالها قبله.\rHukum Orang Fasiq Menikahkan\rOrang yang fasik boleh menikahkan manten.\rDasar Hukum\rBughyatul Mustarsyidin 203\rوأفتى به المتأخرون وصححه إبن عبد السلام والغزالى وهو مذهب مالك وأبى حنيفة وجمعات أن الفاسق يلى مطلقا.\rIstri Ditinggal Suami, Menikah Lagi","part":2,"page":98},{"id":599,"text":"Seorang isteri yang ditinggal suaminya sampai beberapa tahun, lalu isteri tersebut menikah dengan lelaki yang lain, maka pernikahan tersebut tidak sah.\rDasar Hukum\rI’anatut Tholibin juz 4 halaman 83\r(قوله مهمة) من قوله زوجة المفقود. فصل زوجة المفقود المتوهم موته لاتتزوج غيره حتى يتحقق أى يثبت بعدلين موته أو طلاقه و تعتد.\rShalat Berjama'ah Dengan Tarjemah\rAkhir-akhir ini telah terjadi pelaksanaan sholat berjamaah dengan keharusan pembacaan terjemah mengiringi bacaan surat al fatihah dan surat pilihan, baik oleh imam maupun makmum. Seperti diketahui bahwa tuntunan model sholat tersebut telah disebar luaskan oleh Yusman Roy selaku Pengasuh Pondok I’tikaf Jamaah Lelaku Lawang Kabupaten Malang lewat CD. Menurut Yusman Roy model sholat ini ia lakukan berdasarkan keinginan untuk memahami makna bacaan sholat dan sholat itu sendiri. Menurutnya, banyak umat Islam yang melanggar ajarannya karena tidak memahami makna sholat.\rBahkan ia memperkuat argumennya tersebut dengan Firman Allah Surat An Nisa ayat 43 :\rيَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا لاَ تَقْرَبُوْا الصَّلاَةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوْا مَا تَقُوْلُوْنَ\rWahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu hampiri sembahyang (mengerjakannya) sedang kamu dalam keadaan mabuk, hingga kamu sedar dan mengetahui akan apa yang kamu katakan.\rSebagai akibat dari perbuatan Yusman Roy tersebut, timbullah beberapa masalah.\rStatus Hukum Keharusan Pembacaan Terjemah\rSoal","part":2,"page":99},{"id":600,"text":"Bagaimana status hukum keharusan pembacaan terjemah (salinan arti kedalam bahasa selain bahasa wahyu) mengiringi bacaan surat al fatihah dan surat pilihan dalam sholat berjamaah baik oleh imam maupun makmum ?\rJawaban\rSholat itu adalah tergolong ibadah mahdlah (murni) yang berdimensi melambangkan pendekatan diri yang murni dari seorang hamba kepada Tuhannya. Dan dalam pelaksanaannya harus mengacu kepada pedoman yang disyari’atkan Allah, baik melalui Al Quran maupun peragaan sunnah amaliyah oleh Rasulullah (Amrun Tauqiifiy) . Sehingga cara baku yang diperagakan Rasulullah saw setiap kali sholat harus dijadikan pedoman oleh segenap umat, termasuk gerak-gerik (hai’ah) dan bacaan Al Quran maupun redaksi doanya.\rDengan demikian mengharuskan pembacaan terjemah mengiringi bacaan al fatihah atau surat pilihan tergolong perbuatan “Bid’ah Haqiqiyah“ (Bid’ah yang nyata) atau “Bid’ah Dhalalah” (Bid’ah sesat dan tertolak) karena tidak ada petunjuk dalil syar’i, terutama sunnah amaliyah dari Rasulullah saw.\rDasar Pengambilan\rAl Quran Surat Al Hasyr : 7\rوَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْا وَاتَّقُوْا اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ\rDan apa jua perintah yang dibawa oleh Rasulullah (s.a.w) kepada kamu maka terimalah serta amalkan, dan apa jua yang dilarangNya kamu melakukannya maka patuhilah laranganNya. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah; sesungguhnya Allah amatlah berat azab seksaNya (bagi orang-orang yang melanggar perintahNya).\rNailul Awthar Juz 2 hal. 146 :","part":2,"page":100},{"id":601,"text":"وَعَنْ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّي (رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالْبُخَارِيُّ)\rDiriwayatkan dari Malik : Sesungguhnya Nabi saw bersabda : Sholatlah kamu sekalian sebagaimana kalian melihatku melakukannya. (HR. Ahmad dan Bukhori)\rRiyadhus Sholihin hal. 62 :\rعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هذَا مَالَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)\rDari Aisyah ra., ia berkata, Rasulullah saw bersabda; Barang siapa mengadakan sesuatu yang baru dalam urursanku (yakni agama ini) yang bukan dari agama maka ia ditolak. (HR. Bukhori-Muslim)\rI’anathut Thalibin Juz 1 hal 313 :\rوَقَالَ ابْنُ حَجَرٍ فِي فَتْحِ الْمُبِيْنِ فِي شَرْحِ قَوْلِهِ صَلَّىاللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هذَا مَالَيْسَ فِيْهِ فَهُوَ رَدٌّ) مَا نَصُّهُ : قَالَ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مَا اَحْدَثَ وَخَالَفَ كَِتَابًا أَوْسُنَّةً أَوْ إجْمَاعًا أَوْ أَثَرًا فَهُوَ الْبِدْعَةُ الضَّالَةُ.\rIbnu Hajar berkata dalam kitab Fathul Mubin dalam menjelaskan sabda Rasulullah saw (Barang siapa membuat baru dalam urursanku yakni agama ini yang tidak ada di dalamnya urrusanku maka ia tertolak) dengan teks berikut ini : As Syafi’i ra. berkata ; Sesuatu baru yang diadakan dan menyalahi Al Quran atau Sunnah atau Ijma’ atau Atsar (perkataan shahabat) maka ia dinamakan Bid’ah Dhalalah.","part":2,"page":101},{"id":602,"text":"Manhaj as Salaf fi Fahmi an Nushus baina an Nadhariyah wa Tathbiq, hal 430 :\rوَمِنْ هذِهِ الْقَوَاعِدِ الْجَامِعَةِ قَاعِدَةُ الْعِباَدَاتِ وَهِيَ أَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لاَ يُعْبَدُ إِلاَّ بِمَا شُرِّعَ وَلِذلِكَ كَانَتِ الْعِبَادَاتُ كُلُّهَا تَوْقِفِيَّةٌ لاَ تُعْلَمُ إِلاَّ مِنْ جِهَةِ اللهِ تَعَالَى.\rDan termasuk kaidah-kaidah yang menyeluruh yaitu kaidah ibadah. Yaitu bahwa sesungguhnya Allah SWT tidak disembah kecuali dengan hal-hal yang telah disyariatkan. Oleh karena itu setiap ibadah bersifat Tauqifiyyah (mengikuti ketentuan dan tata cara yang telah ditetapakan syariah) yang tidak diketahui kecuali dari petunjuk Allah SWT.\rHukum Shalat Berjama'ah Menggunakan Bahasa Terjemah\rSoal:\rBagaimana hukum sholat jamaah seperti hal di atas ?\rJawaban\rSholatnya tidak sah, baik bagi imam maupun makmum, karena tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw.\rDasar Pengambilan\rShohih Muslim Juz 1 hal 242 :\rعَنْ مُعَاوِيَةَ ابْنِ الْحَكَمِ السُّلَمِيِّ قاَلَ ... قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ هذِهِ الصَّلاَةَ لاَ يَصْلُحُ فِيْهَا مِنْ كَلاَمِ النَّاسِ إِنَّمَا هُوَ التَّسْبِيْحُ وَالتَّكْبِيْرُ وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ ...(رَوَاهُ مُسْلِمٌ)\rDari Mu’awiyah bin Al Hakam Al Sulami, ia berkata, Rasulullah saw bersabda: Tidak layak dalam shalat ini sedikitpun (untuk mengucapkan) perkataan manusia, kata-kata dalam sholat hanyalah berupa tasbih, takbir dan membaca Al Quran. (HR Muslim)\rShohih Muslim Juz 1 hal 243 :","part":2,"page":102},{"id":603,"text":"عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ قَالَ كُنَّا نَتَكَلَّمُ فِي الصًَّلاَةِ يُكَلِّمُ الرَّجُلُ صَاحِبَهُ وَهُوَ إِلَى جَنْبِهِ فِي الصَّلاَةِ حَتَّى نَزَلَتْ ( وَقُوْمُوْا للهِ قَانِتِيْنَ ) فَأُمِرْنَا بِالسُّكُوْتِ وَنُهِيْنَا عَنِ الْكَلاَمِ (رَوَاهُ مُسْلِمٌ).\rDari Zaid bin Arqam, ia berkata : Kami pernah berbicara saat sholat, salah seorang dari kami berbicara kepada temannya yang berada di sampingya saat sholat, hingga turun ayat, Berdirilah karena Allah (dalam sholatmu) dengan khusyu. (QS. Al Baqarah : 238). Maka kami diperintah agar diam dan dilarang berbicara.” (HR. Muslim)\rMughni al Muhtaj Juz 1 hal. 357 :\rوَلاَ التَّرْجَمَةُ لِقَوْلِهِ تَعَالَى {إِنّآ أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا}فَدَلَّ عَلَى أَنَّ الْعَجَمِيَّ لَيْسَ بِقُرْآنٍ.\rDan bukan terjemahan karena firman Allah (Sesungguhnya Kami menurunkan kitab itu sebagai Quran yang dibaca dengan bahasa Arab). Maka ayat tersebut menunjukkan bahwa perkataan ‘ajam (non arab) bukanlah termasuk Al Quran.\rBajuri Juz 1 hal 148 :\rوَشُرُوْطُ الْفَاتِحَةِ أَحَدَ عَشَرَ ... وَأَنْ يَقْرَأَهَا بِالْعَرَبِيَّةِ وَلاَ يُتَرْجِمَ عَنْهَا لِفَوَاتِ الإِعْجَازِ فِيْهَا\rSyarat-syarat membaca Al Fatihah ada 11,…: hendaknya musholli (orang yang sholat) membacanya dengan bahasa arab dan tidak menterjemahkannya karena hilangnya unsur i’jaz.\rSubulus Salam Juz 1 hal138 :","part":2,"page":103},{"id":604,"text":"وَلِلْحَدِيْثِ سَبَبٌ حَاصِلُهُ ... وَالْمُرَادُ مِنْ عَدَمِ الصَّلاَحِيَّةِ عَدَمُ صِحَّتِهَا وَمِنَ الْكَلاَمِ مُكَالَمَةُ النَّاسِ وَمُخَاطَبَتُهُمْ كَمَا هُوَ صَرِيْحُ السَّبَبِ. فَدَلَّ عَلَى أَنَّ الْمُخَاطَبَةَ فِي الصَّلاَةِ تُبْطِلُهَا سَوَاءٌ كَانَتْ لإِصْلاَحِ الصَّلاَةِ أَوْ غَيْرِهَا.\rDan Hadits ini memiliki sebab yaitu ……dan yang dimaksud dengan tidak adanya keabsahan adalah tidak sahnya sholat. Termasuk kalam yakni percakapan dan pembicaraan manusia (hal ini seperti kejelasan sebab hadits). Maka hadits ini menunjukkan bahwa pembicaraan di dalam sholat membatalkan sholat baik itu untuk kebaikan sholat atau lainnya.\rKifayatul Akhyar Juz 1 hal. 122 :\rإِذَا تَكَلَّمَ الْمُصَلِّي عَامِدًا بِمَا يَصْلُحُ لِخِطَابِ الآدَمِيِّيْنَ بَطَلَتْ صَلاَتُهُ سَوَاءٌ كَانَ يَتَعَلَّقُ بِمَصْلَحَةِ الصَّلاَةِ أَوْغَيْرِهَا وَلَوْ كَلِمَةً.\rJika orang yang sholat berbicara secara sengaja dengan apa-apa yang patut untuk pembicaraan dengan manusia maka sholatnya batal. Baik itu berhubungan dengan kemaslahatan sholat atau yang lainnya meskipun hanya satu kata.\rAlasan Menggunakan Bahasa Terjemah Dalam Shalat\rSoal\rBagaimana mengenai alasan bahwa penterjemahan itu untuk memahami makna bacaan sholat dan sholat itu sendiri ?\rJawab","part":2,"page":104},{"id":605,"text":"Nuansa “ta’abbudi” shalat amat mentolelir kemungkinan orang menunaikan shalat sementara ia belum mampu menghayati makna simbolik dari setiap gerak (hai’ah) maupun bacaan sholat termasuk bacaan ayat-ayat Al Quran. Dalam hal ini standar baku yang disepakati adalah adanya kemampuan untuk mengucapkan teks bacaan berbahasa Arab, baik bacaan Al Fatihah, bacaan ayat Al Quran atau yang lain. Walaupun tetap dianjurkan bagi setiap muslim untuk berusaha memahami makna bacaan sholat, tetapi tidak dengan jalan membaca terjemahannya ketika menjalankan sholat, melainkan dengan belajar memahami bahasa arab di luar sholat.\rDisamping itu segala macam bacaan sholat semuanya bersumber dari perintah Allah baik dalam Al Quran maupun Hadits, termsuk bacaan Al Fatihah dan surat pilihan. Sehingga korelasi bacaan Al Quran dengan sholat sebagai media komunikasi hamba dengan Tuhan-Nya menjadi efektif bila berunsurkan firman-firmann-Nya karena hal itu sesuai dengan kehendak-Nya terlepas hamba itu mampu memahami firman itu atau tidak.\rDasar Pengambilan\rAl Mizan Al Kubra Juz 1 hal. 153 :\rوَقَدْ سَمِعْتُ سَيِّدِيْ عَلِيًّا الْخَوَّاصَ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى يَقُوْلُ قَدْ كَلَّفَ اللهُ الأَكَابِرَ بِالاطِّلاَعِ عَلَى جَمِيْعِ مَعَانِي الْقُرْآنِ الظَّاهِرَةِ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ فَرَأَوْا ذلِكَ كُلَّهُ يَحْصُلُ لَهُمْ مِنْ قِرَاءَةِ الْفَاتِحَةِ فَلَزِمُوْا قِرَاءَتَهَا وَلَمْ يُكَلَّفِ الأَصَاغِرُ بِذلِكَ لِعَجْزِهِمْ عَنْ مِثْلِ ذلِكَ.","part":2,"page":105},{"id":606,"text":"Dan sungguh saya (Al Anshoriy) mendengar tuanku Ali Al Khowwas berkata, \"Sungguh Allah membebani para wali Allah dengan keharusan mengerti akan keseluruhan makna dhohir Al Quran dalam setiap rakaat.\" Kemudian para ulama berpendapat bahwa hal tersebut bisa berhasil dengan cara membaca al fatihah, sehingga mereka mewajibkan pembacaan al fatihah. Dan untuk orang awam tidak dibebani (diwajibkan) mengerti makna Al Quran dikarenakan ketidakmampuan mereka halam hal tersebut.\rDalil Tentang Pelaksanaan Shalat\rSoal\rApakah maksud dari surat An Nisa ayat 43 tersebut?\rJawaban\rAl Quran An Nisa ayat 43 memberikan pemahaman bahwa persiapan pelaksanaan sholat yang terpenting adalah kesadaran penuh (akal berfungsi sempurna), tidak terganggu ingatan, sehingga terkesan dan merasakan bahwa yang bersangkutan sedang menghadap Allah. Oleh karena itu orang yang mabuk setelah mengkonsumsi minuman keras atau mengkonsumsi narkoba tidak boleh menunaikan sholat. Karena dalam keadaan mabuk ia tidak mengerti apa yang diucapkannya, apakah ucapan (bacaan sholatnya) benar atau salah. Demikian juga orang yang tidak sadar karena dibius tidak dituntut menjalankan sholat.\rDasar Pengambilan\rRawai'u al Bayan Tafsir Ayati al Ahkam Min al Quran Juz 1 hal 480","part":2,"page":106},{"id":607,"text":"رَوَى التُّرْمِذِيُّ عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِيْ طَالِبٍ كَرَّمَ اللهُ وَجْهَهُ أَنَّهُ قَالَ صَنَعَ لَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ طَعَامًا فَدَعَانَا وَسَقَانَا مِنَ الْخَمْرِ فَأَخَذَتِ الْخَمْرُ مِنَّا وَحَضَرَتِ الصَّلاَةُ فَقَدَّمُوْنِي فَقَرَأْتُ قُلْ يَآأَيُّهَا الْكَافِرُوْنَ لآ أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُوْنَ وَنَحْنُ نَعْبُدُ مَا تَعْبُدُوْنَ قَالَ فَأَنْزَلَ اللهُ تَعَالَى (يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا لاَ تَقْرَبُوْا الصَّلاَةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوْا مَا تَقُوْلُوْنَ)\rAt turmudzi meriwayatkan dari Ali bin Abi Tholib beliau berkata ; Abdurrahman bin Auf membuatkan untuk kami makanan lalu mengundang kami serta memberikan kami minuman khomr (ketika masa minuman keras belum diharamkan) maka khomr itu pun telah mengambil kesadaran kami. Maka kemudian datang waktu sholat, saya menjadi imamnya maka saya membaca “qul yaa ayyuha al-kaafiruun laa a’budu maa ta’buduun, wa nahnu na’budu maa ta’buduun (surat al kafirun yang dibaca secara salah). Beliau berkata : maka Allah menurunkan ayat “ Yaa ayyuha al-ladziina aamanuu la taqrabuu al-sholaata wa antum sukaaroo hattaa ta’lamuu maa taquuluuna.”\rSoal\rBagaimana jika dikaitkan dengan surat Ibrahim ayat 4 yang artinya\r\"Dan Kami tidak mengutuskan seseorang Rasul melainkan dengan bahasa kaumnya supaya ia menjelaskan (hukum-hukum Allah) kepada mereka.\"_\rJawab\rوَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُوْلٍ إِلاَّ بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ...","part":2,"page":107},{"id":608,"text":"Surat Ibrahim ayat 4 di atas, memberikan pengetian bahwa para Rasul memiliki tugas menjelaskan risalah kepada kaumnya dengan menggunakan bahasa yang difahami oleh kaumnya. Hal ini merupakan segi rasionalitas dari metode dakwah untuk menyampaikan risalah yang diajarkan oleh Islam. Dengan bahasa kaumnya diharapkan agar mereka memahami tujuan risalah secara sempurna. Pemahaman ini tidak dapat ditafsirkan bahwa para ulama dan para da’I diharuskan membacakan terjemah Al Quran ketika menjadi imam sholat karena masalah tata caranya telah dijelaskan oleh Rasulullah secara rinci.\rBegitu pula merupakan tugas Rasulullah saw adalah menjelaskan lebih lanjut pelaksanaan perintah-perintah dalam Al Quran yang bersifat global (mujmal) seperti sholat, puasa, zakat, haji dan sebagainya dengan menjelaskan secara rinci tentang cara pelaksanaannya. Perintah sholat misalnya, dalam Al Quaran disebutkan antara lain dengan “wa aqiimuu al sholaata” (tegakkanlah sholat). Al Quran tidak menjelaskan secara rinci bagaimana tata cara pelaksanaan sholat. Maka Rasulullah saw. lah yang menjelaskan tata caranya sebagaimana sabdanya “ tunaikanlah sholat seperti kalian melihat tata caraku tengah menunaikan sholat “. Adapun selanjutnya yang bertanggung jawab melanjutkan tugas Rasulullah saw ini adalah para ulama, karena mereka adalah pewaris para Nabi. Disinilah keharusan para ulama dan dai memberikan penerengan kepada masyarakat berkaitan dengan ajaran Islam ini dengan cara yang difahami oleh masyarakatnya.\rDasar Pengambilan","part":2,"page":108},{"id":609,"text":"al Manhalu al Lathifu fi Ushuli al Hadits al Syarif hal. 12-13\rصِلَّةُ السُّنَّةِ بِالْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ عَظِيْمَةٌ وَوَثِيْقَةٌ جِدًّا إِذَا عَلِمْنَا أَنَّ وَظِيْفَةَ السُّنَّةِ النَّبَوِيَّةِ تَفْسِيْرُ الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَالْكَشْفُ عَنْ أَسْرَارِهِ وَتَوْضِيْحُ مُرَادِ اللهِ تَعَالَى مِنْ أَوَامِرِهِ وَأَحْكَامِهِ ... والثَّانِي أَنْ تَكُوْنَ بَيَانًا لِمَا أُرِيْدَ بِالْقُرْآنِ، وَأَنْوَاعُ هذَا الْبَيَانِ مَا يَأْتِي : (1) بَيَانُ الْمُجْمَلِ وَذَلِكَ مِثْلُ الأَحَادِيْثِ الَّتِيْ بَيَّنَتْ جَمِيْعَ مَا يَتَعَلَّقُ بِصُوَرِ الْعِبَادَاتِ وَالأَحْكَامِ مِنْ كَيْفِيَّاتٍ وَشُرُوْطٍ وَأَوْقَاتٍ وَهَيْئَاتٍ فَإِنَّ الْقُرْآنَ لَمْ يُبَيِّنْ عَدَدَ وَوَقْتَ وَأَرْكَانَ كُلِّ صَلاَةٍ مَثَلاً وَإِنَّمَا بَيَّنَتْهُ السُّنَّةُ.\rHubungan as sunnah dengan al Quran al Karim sangat besar dan erat sekali. Jika kita mengerti bahwa sesunguhnya fungsi sunnah nabi adalah menafsiri al Quran dan menguak (menyikap) rahasia-rahasia al Quran dan menjelaskan maksud dari perintah-perintah Allah dan hukum-hukum-Nya”(hal 12).","part":2,"page":109},{"id":610,"text":"Yang kedua (dari fungsi as sunnah) sebagai penjelas hal-hal yang dikehendaki Al Quran. Dan jenis-jenis penjelasan ini seperti hal berikut ini ; (1) Penjelasan akan hal-hal yang bersifat global (mujmal) seperti hadits-hadits yang menjelaskan segala sesuatu yang berhubungan dengan bentuk-bentuk ibadah dan hukum yakni dari segi tata cara, syarat, waktu dan keadaan. Karena sesunguhnya Al Quran tidak menjelaskan jumlah, waktu dan rukun-rukun dari setiap sholat, misalnya. Dan sesungguhnya yang menjelaskannya adalah as sunnah”.\r'Urf Syar'i tentang Jihad\rPertanyaan\rApakah kecenderungan umum peletakan istilah jihad dalam ungkapan Al-Qur'an dan Hadist nabawiy ?\rJawaban\rPengertian jihad menurut bahasa:\rMencurahkan segala kemampuan guna mencapai tujuan apapun.\rMenurut istilah syari'at Islam:\rmencurahkan segala kemampuan dalam upaya menegakkan masyarakat Islami dan agar kalimat Allah (kalimat tauhid dan dinul islam) menjadi mulia, serta agar syari'at Allah dapat dilaksanakan di seluruh penjuru dunia.\rAdapun istilah jihad dalam pengertian perang melawan kaum kuffar baru diperintahakan oleh Allah sesudah Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, sementara perintah jihad pada ayat-ayat Makkiyah tertuju pada selain perang.\rIbarat:\rالفقه المنهجى على مذهب الإمام الشافعى مجلد : 3 ص : 475 ف : لكتور مصطفى الخن , لكتور مصطفى البغا , على شريجى , ط : دار القلم , دار الشاميه دمشق 1416 - 1996 وعبارته :\rمعنى الجهاد :\rالجهاد فى اللغة : مصدر جاهد , أى بدل جهدا فى سبيل الوصول إلى غاية ما.","part":2,"page":110},{"id":611,"text":"والجهاد فى اصطلاح الشريعة الإسلامية : بذل جهاد فى سبيل إقامة المجتمع الإسلامي , وأن تكون كلمة الله هي العليا , وأن تسوج شريعة الله العالم كله .\rالفقه الإسلمى وادلته , ج : 8 , ص : 5846 وعبارته :\rوانسب تعريف للجهاد شرعا انه بذل الوسع والطاقة فى قتل الكفار ومدافعهم بالنفس والمال واللسان.\rتفسير القرطبى ج : 3 , ص : 38 ف : محمد بن ابى بكر بن فرح القرطبى ابو عبد الله ط : دار الشعب قاهرة 1372\rولم يؤذن للنبى صلى الله عليه وسلم فى القتال مدة إقامته بمكة فلما هاجر أذن له في قتال من يقاتله من المشركين فقال تعالى أذن للذين يقاتلون بأنهم ظلموا ثم أذن له فى قتال المشركين عامة.\rأحكم القرأن للشافعى ج : 2 , ص : 13 -14 ف : محمد بن ادريس الشافعى ابو عبد الله ط: دار الكتب العلمية بيروت 1400\rقال الشافعي وحمه الله فأذن لهم بأحد الجهادين بالهجرة قبل أن يؤذن لهم بأن يبتدئوا مشركا بقتال ثم أذن بأن يبتدئوا المشركين بقتال قال الله عز وجل أذن للذين يقاتلون بأنهم ظلموا وإن الله على نصرهم لقدير وأباح لهم القتال بمعنى أبانه في كتابه فقال وقاتلوا في سبيل الله اللذين يقاتلونكم ولا تعتدوا\rالفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي مجلد: 3 ص:119، ف: دكتور مصطفى الخن، دكتور مصطفى البغا، على الشريجى، ط : دار القلم ، دار الشامية دمشق، 1416-1996 وعبارته:","part":2,"page":111},{"id":612,"text":"اقام رسول الله في مكة ثلاثة عشر عاما يدعو الى الله سلما لايقال العدوان بمثله فلما هاجر عليه الصلاة والسلام الى المدينة شرع الله المرحلة الاولى من مراحل الجهاد وهي التصدى لرد عدوان المعتدين اي القتال الدفاعى ونزل في تشريع ذلك قوله تعالى أذن للذين يقاتلون بأنهم ظلموا-الأية (الحج:39) وقوله تعالى وقاتلوا في سبيل الله للذين يقاتلونكم ولا تعتدوا-(البقرة:190) ثم شرع الله تبارك وتعالى لنبيه جهاد المشركين ابتداء بالقتال ثم شرع الله تعالى بعد ذلك القتال جهادا من غير تقيد بشرط زمان ولا مكان\rPertanyaan\rApa amaliyah nyata sebagai media mengekspresikan jihad bagi individu dan kelompok muslim?\rJawaban\rBerdasarkan pengertian jihad di atas, maka amaliyah nyata yang dapat mengekspresikan tuntutan jihad adalah:\rMenunjukkan masyarakat kepada ajaran tauhid dan ajaran Islam, melalui penyelenggaraan pendidikan, diskusi dan meluruskan pemikiran-pemikiran keagamaan yang dapat mengaburkan kemurnian aqidah umat Islam.\rMembelanjakan harta untuk menjamin stabilitas keagamaan kaum muslimin dalam upaya membangun masyarakat Islami yang kuat.\rPerang defensif القتال الدفاع)), yaitu berperang demi mempertahankan diri dari serangan musuh.\rPerang offensif ((القتال الهجومى, yaitu memulai peperangan melawan musuh.\rMobilisasi perang secara umum (حالة النفير العام)\rTiga bentuk jihad yang terakhir ini, jika memang situasi menuntutnya serta imam sudah menginstruksikan untuk berperang.\rIbarat:","part":2,"page":112},{"id":613,"text":"الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي مجلد:3 ص:475،ف:دكتور مصطفى الخن، دكتور مصطفى البغا، على الشريجى، ط: دار القلم، دار الشامية دمشق، 1416-1996 وعبارته:\rإن التعريف الذي ذكرناه للجهاد، يتضح أن الجهاد أنواع، منها:\rالجهاد بالتعليم، ونشر الوعي الإسلامي، ورد الشبه الفكرية التي تعترض سبيل الإيمان به، وتفهم حقائقه.\rالجهاد ببذل المال لتأمين ما يحتاج إليه المسلمون في إقامة مجتمعهم الإسلامي المنشود.\rالقتال الدفاعي : وهو الذي يتصدى به المسلمون لمن يريد أن ينال من شأن المسلمين في دينهم.\rالقتال الهجومي : وهو الذي يبدؤه المسلمون عندما يتهجون بالدعوة الإسلامية إلى الأمم الأخرى في بلادها، فيصدهم حكامها عن أن يبلغوا بكلمة الحق سمع الناس.\rحالة النفير العام وذلك عندما يقتحم أعداء المسلمين ديارهم معتدين بذلك على دينهم وارضهم وحرية إعتقادهم.\rالفقه الإسلامي وأدلته،ج:8،ص:5846 وعبارته:\rفالجهاد يكون بالتعليم وتعلم أحكام الإسلام ونشرها بين الناس وببذل المال وبالمشاركة في قتال الأعداء إذا أعلن الإمام الجهاد، لقوله تعالى:\"جاهدوا المشركين بأموالكو وأنفسكم وألسنتكم\".\rPertanyaan\rBagaimana hukum berjihad di NKRI yang telah merdeka dan berdaulat?\rJawaban","part":2,"page":113},{"id":614,"text":"Dengan mencermati jawaban (tentang amaliyah nyata jihad) di atas, maka hukum berjihad dalam NKRI adalah wajib hukumnya tak terkecuali menghadapi kelompok terorganisir yang melawan pemerintah yang sah (bughat), atau yang ingin mendirikan negara dalam negara / memisahkan diri dari NKRI (sparatis), atau mereka yang melakukan tindakan kejahatan terhadap agama dan pihak negara lain ingin menguasai sebagian wilayah atau kekayaan alam negara kita. Adapun memerangi orang-orang non muslim dengan tanpa sebab-sebab di atas tidak diperbolehkan.\rIbarat:\rالفقه الإسلامي وأدلته:مجلد 8 ص:585\rفالجهاد فرض كفاية ومعناه أنه يفترض على جميع من هو أهل الجهاد لكن اذا قام به البعض سقط هن الباقين\rكشاف القناع ج:3 ص:34\rومن فروض الكفايات الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر والمعروف\rبيان حقوق ولاة الأمور على الأمة بالأدلة من الكتاب والسنة، 23، مانصه:\rولا يجوز الخروج على ولاة الأمور وشق العصا إلا إذا وجد منهم كفر بواح عند الخارجين عليه\rمغني المحتاج ج:4 ص:123،ت:محمد الخطيب الشربينى ط: دار الفكر بيروت\rقال الشافعي رضي الله تعالى عنه أخذت السيرة في قتال المشركين من النبي صلى الله عليه وسلم وفي قتال المرادين من أبي بكر رضي الله تعالى عنه وفي قتال البغاة من عليّ رضي الله تعالى عنه\rقرة العين للعلامة الشيخ محمد سليمان الكردي المدني الشافعي، ص:208-209 ،ما نصه:\rالذي يظهر للفقير أنهم حيث دخلوا بلدنا للتجارة معتمدين على العادة المطردة من منع السلطان من ظلمهم وأخذ أموالهم وقتل نفوسهم وظنوا أن ذلك عقد أمان صحيح لا يجوز إغتيالهم، بل يجب تبليغهم المأمن ... لآن السلطان فيها جرت عادته بالذب عنهم، وهو عين الأمان.\rPertanyaan","part":2,"page":114},{"id":615,"text":"Sarana (instrumen) apa yang efektif dalam jihad bagi WNI di dalam negeri sendiri?\rJawaban\rSarana (instrumen) jihad bisa melalui antara lain: orasi, pendidikan, tenaga dan jiwa, politik, harta benda, perdebatan, meluruskan aliran-aliran yang menyimpang dan karya-karya tulis.\rIbarat :\rجند الله ص:364\rان هناك جمسة أنواع من الجهاد اشير اليها بالكتاب او السنة الجهاد باللسان الجهاد التعليمي الجهاد باليد والنفس الجهاد السياسي الجهاد المالي\rفي فتاوى السبكي،ص:340-341،ما نصه:\rالأيات والأحاديث في ذلك كثيرة وذكرنا في ذلك مع قوله صلى الله عليه وسلم لعلي لما وجهه إلى خيبر: الآن يهدي الله بك رجلا واحدا خير من حمر\rالنعم) فرأينا قوله صلى الله عليه وسلم ذلك في هذه الحالة يشير إلى أن المقصود بالقتال إنما هو الهداية. والحكمة تقتضي ذلك فإن المقصود هداية الخلق ودعاؤهم إلى التوحيد وشرائع اللإسلامي وتحصيل ذلك لهم ولأعقابهم إلى يوم القيامة فلا يعد له شيئ فإن أمكان ذلك بالعلم والمناظرة وإزالة الشبهة فهو أفضل. ومن هنا، نأخذ أن مداد العلماء أفضل من دم الشهداء. وإن لم يمكن إلا بالقتال، قاتلنا إلى إحدى ثلاث غايات، إما هدايتهم وهي الرتبة العليا، وإما أن تستشهد دونهم وهي رتبة توسطة في المقصود ولكنها شريفة لبذل النفس التي هي أعز الأشياء أفضل من حيث أنها وسيلة لامقصود مفضولة والمقصود إنما هو إعلاء كلمة الله تعالى. وإما قتل الكافر وهي رتبة الثالثة وليست مقصودة لأنها تفويت نفس يترجى أن تؤمن وأن تخرج من صلبها من يؤمن، ولكنه هو الذي قتل نفسه بإصراره على الكفر.\rPertanyaan\rSiapakah musuh atau sasaran yang menjadi target akhir dalam jihad?\rJawaban","part":2,"page":115},{"id":616,"text":"Sasaran berjihad dengan tanpa kekerasan adalah seluruh lapisan masyarakat Indonesia, dan dalam situasi keamanan atau politik sedang terganggu, maka sasarannya para pengacau stabilitas dan mereka yang bertindak anarkis.\rIbarat:\rالفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي، ص:486،مانصه:\rأعلم ان قتال الكفار وسيلة وليس غاية فإذا تحقق الهدف المقصود بدون قتال فذلك هو المطلوب ولا يشرع القتال حينئذ الى-ان قال-و الوسيلة الاولى الى ذلك انما هي الدعوة القائمة على المنطق والحوار واستنهاض كوامن الانسانية والانصاف والحذر من العواقب في نفوسهم-الى ان قال-وان لم يتحقق الهدف المطلوب بان قوبلت الدعوة بالستنكار والعناد والصدر المنع حتى لم يكن من سبيل لابلاغها دهماء الناس وعامتهم فان على المسلمين ان يتبعوا هذه المرحلة بالمرحلة الثانية التى تليها بامر الحاكم المسلم وبشرك ان يأنس القدرة على ذلك وهي القتال المناجزة\rالفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي،ص:475،مانصه:\rإن التعريف الذي ذكرناه للجهاد يتضح أن الجهاد أنواع، منها الجهاد بالتعليم ونشر الواعي الإسلامي، ورد الشبه الفكرية التي تعترض سبيل الإمان به، وتفهم حقائقه.\rالقتال الدفاعي:وهو الذي يتصدى به المسلمون لمن يريد أن ينال من شأن المسلمين في دينهم.\rالقتال الهجومي:وهو الذي يبدؤه المسلمون عندما يتجهون بالدعوة الإسلامية إلى الأمم الأخرى في بلادها، فيصدهم حكامها عن أن يبلغوا بكلمة الحق سمع الناس.\rحالة النفير العام وذلك عندما يقتحم أعداء المسلمين ديارهم معتدين بذلك على دينهم وارضهم وحرية إعتقادهم.\rPertanyaan\rTepatkah tindak kekerasan (teror) merepresentasikan jihad kaum muslimin di Indonesia\rJawaban","part":2,"page":116},{"id":617,"text":"Mengingat tindak kekerasan (terror) hampir bias dipastikan menimbulkan korban nyawa dan harta diluar sasaran jihad, maka hal itu tidaklah tepat untuk diterapkan di Indonesia.\rIbarat:\rالموسوعة الفقهية جز 3 ص:167\rالاستبداد المفضى الى الضرر او الظلم ممنوع كالإستبداد في إقامة الحدود بغير إذن الإمام\rقرة العين بفتوى اسماعيل الزين ص:199\rحاصله ان بلادكم استقلت والحمدلله ولكن لايزال فيها الكثير من الكفار واكثر اهلها مسلمون ولكن الحكومة اعتبرت جميع اهلها مسلمهم وكافرهم على السواء وقلتهم ان شروط الذمة المعتبرة اكثرها مفقودة من الكافرين فهل يعتبر ذميين او حر بيين وهل لنا نعترض لايذائهم اذى ظاهرا الى اخر السؤال؟\rفاقول-الى ان قال-فاعلم ان الكفار الموجودين في بلادكم وفي بلاد غيركم من اقطار المسلمين كالباكستان والهند والشام واعراقوالسودان والمغرب وغيرها ليسو ذميين ولا معاهدين ولا مستامنين بل حربيون حرابة محضة-الى ان قال- لكن التصدى لايذائهم اذى ظاهرا كما ذكرتم في السؤال ينظر فيه الى قاعدة جلب المصالح ودرء المفاسد ويرجح درء المفاسد على جلب المصالح ولاسيما وأحاد الناس وافرادهم ليس في مستطاعهم ذلك كما هو الواقع والمشاهد\rقرة العين للعلامة الشيخ محمد سليمان الكردي والمدني الشافعي،ص:208-209،مانصه:\rالذي يظهر للفقير أنهم حيث دخلوا بلدنا للتجارة معتمدين على العادة المطردة من منع السلطان من ظلمهم وأخذ أموالهم وقتل نفوسهم وظنوا أن ذلك عقد أمان صحيح لا يجوز إغتيالهم، بل يجب تبليغهم المأمن ...لآن السلطان فيها جرت عادته بالذب عنهم، وهو عين الأمان.\rJihad Dalam Pandangan Bernegara dan Bermasyarakat\rPertanyaan","part":2,"page":117},{"id":618,"text":"Dapatkah dibenarkan menurut ajaran islam bila dilakukan jihad terhadap pemerintah RI dengan tuduhan sebagai negara kafir karena tidak menjalankan syariat islam sebagai hukum positif?\rJawaban\rBerjihad terhadap pemerintah RI dengan tuduhan sebagai negara kafir tidak bisa dibenarkan, karena NKRI sudah memenuhi tuntutan criteria sebagai Dar al Islam, disamping dalam pasal 29 ayat (2) UUD 1945 bahwa negara menjamin kebebasan beragama bagi warga negaranya.\rIbarat:\rسليمان الجمل،ج:207،مانصه:\rثم رأيت الرافعي وغيره ذكروا نقلا عن الأصحاب ان دار الإسلام ثلاثة أقسام: قسم يسكنه المسلمون، وقسم فتحوه وأقروه اهله عليه بجزية ملكوه أو لا، وقسم كانوا يسكنونه ثم غلب عليه الكفار. قال الرافعي: وعدهم القسم الثاني يبين أنه يكفي في كونها دار الإسلامي كونها تحت إستيلاء الإمام وإن لم يكن فيها مسلم. قال: وأما عدهم الثالث فقد يوجد في كلامهم ما يشعر بأن الإستيلاء القديمة يكفي لاستمرار الحكم.اه\rبغية المسترشدين :254\r(مسئلة ى) كل محل قدر مسلم ساكن به على الإمتناع من الحربيين في زمان من الأزمان يصير دار السلام تجرى عليه أحكام في ذلك الزمان وما بعده وان انقطع امتناع المسلمين بإستيلاء الكفار عليهم ومنعهم من دخوله واخراجهم منه وحينئذ فتسميته دار حرب صورة لاحكما فعلم ان أرض بتاوى بل وغالب أرض جاوة دار إسلام لاستيلاء المسلمين عليها سابقا قبل الكفار\rالجهاد في الإسلام 81","part":2,"page":118},{"id":619,"text":"ويلاحظ من معرفة هذه الأحكام أن تطبيق أحكام الشريعة الإسلامية ليس شرطا لاعتبار الدار دار الإسلام ولكنه حق من حقوق دار الإسلام في إعناق المسلمين فإذا قصر المسلمون في إجراء الأحكام الإسلامية على إختلافها في دارهم التى أورثهم الله اياهم فان هذا التقصير لايخرجها عن كونها دار السلام ولكنه يحمل المقصورين ذنوبا و اوزارا.\rPertanyaan\rBolehkah dilaksanakan jihad dengan target mengganti NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 menjadi Daulah Islamiyah?\rJawaban\rJihad dengan target mengganti NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dengan Daulah islamiyah tidak bisa dibenarkan, karena jika hal itu dilakukan sudah pasti menimbulkan kekacauan dalam berbagai aspek kehidupan bernegara dan bermasyarakat dimana-mana dan bahkan bisa terjadi perang saudara yang justru semakin jauh dari target jihad yang dicita-citakan.\rIbarat:\rالإمام العظمى عنداهل السنة والجماعة،ص:502،مانصه:\rذهب غالب أهل السنة والجماعة إلى أنه لايجوز الخروج على أئمة الظلم والجور بالسيف مالم يصل بهم ظلمهم وجورهم إلى الكفر البواح أو ترك الصلاة والدعوة إليها أوقيادة الأمة بغير كتاب الله تعالى كما نصت عليها الأحاديث السابقة في أسباب العزل\rالتشريع الجنائ الإسلامى جز 2 ص:677، ف:الشيخ عبد القادر عودة، ط:مؤسسة الرسالة\rومع ان العدالة شرط من شروط الامامة الا ان الرأي الراجح في المذاهب الاربعة ومذهب الشيعة الزيدية هو تحريم الخروج على الامام يؤدي عادة الى هو انكار مما فيه وبهذا يمتنع النهي عن المنكر لان من شروطه لايؤدي الانكار الى ما هو انكار من ذلك الى الفتن وسفك الدماء وبث الفساد واضطراب البلاد واضلال العباد وتوهين الامن وهدم النظام\rPertanyaan","part":2,"page":119},{"id":620,"text":"Adakah perintah jihad melawan WNA yang tinggal di Indonesia dalam jangka waktu lama/sementara dengan alasan negara asal mereka mengintimidasi umat Islam?\rJawaban\rBila yang dimaksud Jihad adalah qital (memerangi) maka tidak ada perintah untuk jihad dan bahkan ada kewajiban atas kita untuk berupaya menciptakan rasa aman bagi mereka\rIbarat:\rقرة العين للعلامة الشيخ محمد سليمان الكردي المدني الشافعي ص:208-209،مانصه:\rالذي يظهر للفقير أنهم حيث دخلوا بلدنا للتجارة معتمدين على العادة المطردة من منع السلطان من ظلمهم وأخذ أموالهم وقتل نفوسهم وظنوا أن ذلك عقد أمان صحيح لايجوز إغتيالهم، بل يجب تبليغهم ألمأمن...لآن السلطان فيها جرت عادته بالذب عنهم، وهو عين الأمان.\rPertanyaan\rLayakkah senjata organik TNI/Kepolisian RI distatuskan sebagai harta fai' dan boleh dilucuti dalam kerangka Jihad?\rJawaban\rTidak layak menjadi harta fai' (rampasan) karena tidak memenuhi kriteria sebagai harta fai'\rIbarat:\rاسعاد الرفيق جز 1 ص:66\rالفيء في اللغة الرجوع واصطلاحا هو المال اذى يؤخذ من الحربين من غير قتال اي بطريق الصلح كالجزية والخراج\rالبيان في فقه الإمام الشافعي.ج:12،ص:187، ف:العمرانى مانصه:","part":2,"page":120},{"id":621,"text":"الفيء هو المال الذي يأخذه المسلمون من الكفار بغير قتال، سمي بذلك لأنه يرجع من المشركين إلى المسلمين. يقال: فاء الفيء:إذا رجع، وفاء فلان: إذا رجع.والفيء ينقسم قسمين: أحدهما أن يتخلى الكفار عن أوطانهم خوفا من المسلمين ويتركوا فيها أموالا فيأخذها المسلمون، أو يبذلوا أموالا للكف عنهم، فهذا يخمس ويصرف خمسه إلى من يصرف إليه خمس الغنيمة على ما مضى. والثاني: الجزية التي تؤخذ من أهل الذمة وعشور تجارة أهل الحرب إذا دخلوا دار الإسلام ومال من مات منهم في دار الإسلام ولا وارث له، ومال من مات أو قتل على الردة.\rPertanyaan\rWajibkah diupayakan terbentuk pemerintahan Internasional berasas Islam dengan system kepemimpinan khalifah dan negara-negara yang berpenduduk muslim diberlakukan sebagai negara federal (manthiqi) pada masa sekarang ?\rJawaban\rDalam hal ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama:\rtidak boleh terjadi lebih dari satu pemimpin (imam) bahkan hanya ada satu pemimpin untuk seluruh dunia. Pada pendapat pertama ini masih terjadi perbedaan lagi, yaitu:\rtidak memperbolehkan secara mutlak, baik adanya wilayah kedaulatan Islam semakin meluas maupun tidak.\rTidak memperbolehkan jika memang tidak terdapat halangan untuk bersatu atas pemimpin (imam). Jadi jika terdapat halangan seperti makin meluasnya kawasan yang dihuni umat Islam yang tidak hanya satu pulau saja bahkan sampai ada pulau yang berbeda-beda yang tentu akan semakin jauh dari pengawasan imam, maka dalam kondisi seperti ini diperbolehkan membentuk pemimpin (imam) lebih dari satu orang.","part":2,"page":121},{"id":622,"text":"Memperbolehkan adanya lebih dari satu pemimpin (imam) secara mutlak.\rIbarat:\rالإمامة العظمى عند اهل السنة والجماعة،ص:551-561،ط: دار الفكر، مانصه:\rومن خلال هذه الدراسة إتضح أن في المسئلة مذهبين:المذهب الأول، وهو مذهب جماهير المسلمين من اهل السنة والجماعة وغيرهم قديما وحديثا،وهو أنه لا يجوز تعدد الأمة في زمان واحد وفي مكان واحد. قال الماوردي: إذا عقدت الإمامة لإمامين في بلدين لم تنعقد إمامتهما لأنه لايجوز أن يكون للأمة إمامان في وقت واحد وإن شذ قوم فجوزوه. وقال النووي: إتفق العلماء على أنه لا يجوز أن يعقد لخليفتين في عصر واحد، وهؤلاء القائلون بالمنع على مذهبين:\r* قوم قالوا بالمنع مطلقا سواء إتسعت رقعت الدولة الإسلامية أم لا، وإلى هذا القول ذهب أكثر أهل السنة والجماعة وبعض المعتزلة حتى زعم النووي إتفاق العلماء عليه\r* وهناك من قال بالمنع إلا أن يكون هناك سبب مانع من الإتحاد على إمام واحد ويقتضي هذا السبب التعدد.وفي هذه الحالة يجوزالتعدد\rوذكر إمام الحرمين الجويني أهم هذه الأسباب في (قوله منها إتساع الخطة وانسحاب الإسلامي على أقطار متباينة وجزائر في لجج متقاذفة. وقد يقع قوم من الناس نبذة من الدنيا لاينتهي إليهم نظر الإمام وقد يتولج خط من ديار الكفر بين خطة الإسلام وينقطع بسبب ذلك نظر الإمام عن الذين وراءه من المسلمين. قال: فإذا اتفق ماذكر ناه فقد صار صائرون عند ذلك","part":2,"page":122},{"id":623,"text":"إلى تجويز نصب الإمام في القطر الذي لا يبلغه اثر نظم الإمام. وعزا الجويني هذا القول إلى شيخه أبي الحسن الأشعري والأستاذ أبي إسحاق الإسفراييني وهو وجه لبعض أصحاب الشافعي ورجحه أبو منصور البغدادي، وإلى ذلك ذهب القرطبي في تفسيره فقال: لكن إذا تباعدت الأقطار وتباينت كالأندلس وخرسان حاز ذلك، لكن يلاحظ من أقوال المجيزين عند اتساع الرقعة إنما ذلك بسبب الضرورة، وإلا فإن وحدة الإمامة هي الأصل، وإن التعدد إنما أبيح على سبيل الإستثناء المحض ولضرورات نجيزه، والضرورة تقدر بقدرها وإذا زالت الضرورة زال حكمها وبقى الأصل. المذهب الثاني القائلون بجواز التعدد مطلقا، وإلى ذلك ذهب بعض المعتزلة كالجاحظ وبعض الكرامية وعلى رأسهم محمد بن كرام السجستاني الذي ينتسبون إليه، وكذلك أبو الصباح السمرقندي.\rالسيل الجرار جز 4 ص:512 ف:الشيخ محمد بن علي بن محمد الشوكانى","part":2,"page":123},{"id":624,"text":"واما بعد انتشار الإسلام واتساع رقعته وتباعد اطرافه فمعلوم انه قد صار لكل قطر او اقطار الولاية الى امام مو سلطان وفي القطر الاخر او الاقطر كذلك ولا ينفذ لبعضهم امر ولا نهي في القطر الاخر واقطاره التي رجعت الى ولايته فلا بأس بتعدد الأئمة واسلاطين ويجب الطاعة لكل واحد منهم بعد البيعة له على اهل القطر الذي ينقذ فيه او أمره ونواهيه وكذلك صاحب القطر الاخر فإذا قام من ينازعه في القطر الذي قد ثبتت فيه ولايته وبايعه اهله كان الحكم فيه ان يقتل اذا لم يتب ولايجب على اهل القطر الاخر طاعته ولا الدخول تحت ولايته لتباعد الاقطار وانه قدلايبلغ الى ما تباعد منها خبر امامها اوسلطانها ولايدرى من قام منهم او مات فالتكليف بالطاعة والحال هذه تكليف بما لا يطاق وهذا معلوم لكل من له اطلاع على احوال العباد والبلاد فان اهل الصين والهند لايدرون بمن له الولاية في ارض المغرب فضلا عن ان يتمكنوا من طاعته وهكذا العكس وكذلك اهل ماوراء النهر لا يدرون بمن له الولاية في اليمن وهكذا العكس فاعرف هذا فانه المناسب للقواعد الشرعية والمطابق لما تدل عليهالادلة ودع عنك ما يقال في مخالفته فان الفرق بين ما كانت عليه الولاية الإسلامية في أول الإسلام وما هي عليه الآن اوضح من شمس النهار ومن انكر هذا فهو مباهت لايستحق ان يخاطب بالحاجة لانه لايعقل\rPertanyaan\rApakah terhadap warga negara Indonesia yang menganut keyakinan/agama lain harus diposisikan sebagai musuh atau lawan dalam mengimplementasikan konsep Jihad?\rJawaban\rKita tidak diperkenankan memposisikan warga negara non muslim sebagai musuh yang boleh kita perangi, akan tetapi malah kita berkewajiban untuk mengupayakan mereka tetap merasa aman hidup berdampingan dengan kita\rIbarat:","part":2,"page":124},{"id":625,"text":"في قرة العين للعلامة االشيخ محمد سليمان الكردي المدني الشافعي ص :208-209، مانصه:\rالذي يظهر للفقير أنهم حيث دخلوا بلدنا للتجارة معتمدين على العادة المطردة من منع السلطان من ظلمهم وأخذ أموالهم وقتل نفوسهم وظنوا أن ذلك عقد امان صحيح لايجوز إغتيالهم، بل يجب تبليغهم المأمن ... لآن السلطان فيها جرت عادته بالذب عنهم، وهو عين الأمان.\rBeragama Islam Secara Kaffah\rPertanyaan\rBagaimana kecenderungan mufassinin (mutaqaddi-min-mutaakhirin) dalam menyimpulkan perintah memasuki Islam secara kaffah sesuai teks ayat: ادخلوا في السلم كافة (QS. Al-Baqarah : 208)\rJawaban\rKecenderungan mufassirin dalam menafsirkan perintah masuk Islam secara kaffah ada dua golongan yaitu:\rPerintah masuk Islam bagi seluruh umat manusia.\rPerintah terhadap umat Islam agar menerapkan syari'at secara penuh dengan segala kemampuannya.\rالمراجع:\rالتقسير الكبير للإمام فخرالدين محمد بن عمر الرازى (ط.دار الكتب العلمية)\r(يا آيها الذين آمنوا) بالألسنة (ادخلوا في السلم كافة) أى دوموا على الإسلام فيما يستأنفونه من العمر ولا تحرجوا عنه ولا عن شرائعه ... الى ان قال ... قال القفال (كافة) يصح أن يرجع الى المأمورين بالدخول اى ادخلوا بأجمعكم في السلم ولا تفرقوا ولا تختلفوا، قال قطرب: تقول العرب: رأيت القوم كافة وكافين ورأيت النسوة كافات، ويصلح أن يرجع الى الإسلام كله اى في كل شرائعه، قال الواحدى رحمه الله: هذاأليق بظاهرالتفسير لأنهم أمروا بالقيام كلها\rتفسير النسفى الجزء الأول ص.104-105","part":2,"page":125},{"id":626,"text":"يآيها الذين آمنوا ادخلوا في السلم وبفتح السين حجازى وعلى هو الاستسلام والطاعة أي استسلموا الله واطيعواه او الإسلام والخطاب لأهل الكتاب لأنهم أمنوا بنبيهم وكتابهم أو للمنافقين لأنهم آمنوا بألسنتهم كافة لا يخرجأحد منكم يده عن طاعته حال من الضمير في ادخلوا اي جميعا أو من السلم لانها تؤنث كأنهم أمروا أن يدخلوا في الطاعات كلها أو في شعب الإسلام وشرائعه كلها وكافة من الكف كأنهم كفوا أن يخرج منهم أحد بإجتماعهم\rبفسير إبن كثير-البقرة","part":2,"page":126},{"id":627,"text":"وأبوالعالية وعكرمة والربيع بن أنس والسدي ومقاتل بن حيان وقتادة والضحاك جميعا وقال مجاهد أي اعملوا بجميع الأعمال ووجوه البروزعم عكرمة أنها نزلت في نفر ممن أسلم من اليهود وغيرهم كعبد الله بن سلام و أسد بن عبيد وثعلبة وطائفة استأذنوا رسول الله صلى الله عليه وسلم في أن يسبتوا وأن يقوموا بالتوراة ليلا فأمرهم الله بإقامة شعائر الإسلام والإشتغال بها عما عداها وفي ذكر عبد الله بن سلام مع هؤلاء نظر إذ يبعد أن يستأذن في إقامة السبت وهو مع تمام إيمانه يتحقق نسخه ورفعه وبطلانه والتعويض عنه بأعياد الإسلام ومن المفسرين من يجعل قوله كافة حالا من الداخلين أي ادخلوا في الإسلام كلكم والصحيح الأول وهو أنهم أمروا كلهم أن يعملوا بجميع شعب الإيمان وشرائع الإسلام وهي كثيرة جدا ما استطاعوا منها كما قال ابن أبي حاتم أخبرنا علي بن الحسين أخبرنا أحمد بن الصباح أخبرني الهيثم بن يمان حدثنا إسماعيل بن زكريا حدثني محمد بن عون عن عكرمة عن ابن عباس يآأيها الذين أمنوا ادخلوا في السلم كافة كذا قرأها بالنصب يعني مؤمني أهل الكتاب فإنهم كانوا مع الإيمان بالله مستمسكين ببعض أمور التوراة والشرائع التي أنزلت فيهم فقال الله ادخلوا في السلم كافة يقول ادخلوا في شرائع دين محمد صلى الله عليه وسلم ولا تدعوا منها شيئا وحسبكم الإيمان بالتوراة وما فيها وقوله ولا تتبعوا خطوات الشيطان أي اعملوا بالطاعات واجتنبوا ما يأمركم به الشيطان ف إنما يأمركم بالسوء والفحشاء وأن تقولوا على الله ما لا تعملون وإنما يدعو حزبه ليكونوا من أصحاب السعير ولذا قال إنه لكم عدو مبين قال مطرف أغش عباد الله الشيطان\rPertanyaan","part":2,"page":127},{"id":628,"text":"Apakah manifestasi berislam secara kaffah mengharuskan pemberlakuan syari'at islam dalam kehidupan bernegara (konstritusional) dan kehidupan bermasyarakat (cultural) di Indonesia ?\rJawaban\rPenerapan syari'at islam dalam kehidupan bernegara (konstitusi) dan dalam kehidupan bermasyarakat (kultur) adalah tanggungjawab bersama setiap muslim. Usaha menerapkan hukum Islam dalam konstitusi negara harus dilaksanakan dengan cara-cara yang jauh dari kekerasan. Tahapan amar ma'ruf nahi munkar adalah satu-satunya cara yang dapat ditempuh dalam memperjuangkan berlakunya hukum Islam dalam negara\rبغية المسترشدين ص:271\rوالإسلام لايسمح المسلم ان يتخذ من غير شريعة الله قانونا وكل ما يخرج عن نصوص الشريعة او مبادئها العلية او روحها التشريعية محرم تحريما قاطعا على المسلم بنص القرآن الصريح\rبغية المسترشدين ص:271 دار الفكر\r(فائدة)-إلى ان قال-ومنها تجب أن تكون الأحكام كلها بوجه الشرع الشريف وأما أحكام السياسة فما هي إلا ظنون.\rتفسير ابن كثير جز 2 ص:16\rوقال علي بن ابي طلحة عن ابن عباس قوله ومن لم يحكم بما انزل الله فاؤلئك هم الكافرون قال ومن جحد ما انزل الله فقد كفر ومن اقربه ولم يحكم به فهو ظالم فاسق.\rغاية تلخيص المراد ص:263\rيجب على الحاكم الوقوف على احكام الشريعة التى اقيم لها ولا يتعداه الى احكام السياسة بل يجب عليه قصر من تعدى ذلك وزجره وتعزيره وتعريفه ان الحق كذا\rPertanyaan\rBerdosakah orang Islam di Indonesia karena membiarkan tidak diamalkannya ajaran syari'at Islam oleh negara tempat ia menetap tinggal ?\rJawaban","part":2,"page":128},{"id":629,"text":"Bagi yang mampu dan mempunyai akses untuk perjuangan berlakunya hukum Islam maka harus benar-benar melaksanakan tanggungjawabnya, sehingga apabila mereka (yang mampu) tidak ada usaha untuk berlakunya syari'at Islam di Indonesia, maka berdosa. Bagi masyarakat umum berkewajiban memberi dukungan penuh demi berlakunya hukum Islam.\rعن طارق بن شهاب قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول من رأى منكم منكرا فليغيره بيده فإن لم يستطع فبلسانه فإن لم يستطع فبقلبه وذلك اضعف الإيمان (رواه البخارى)\rالغنية لطالب طريق الحق جز 1 ص:51\rوقال الشيخ عبد القادير الجيلانى رضي الله عنه فالمنكرون ثلاثة اقسام قسم يكون انكاره باليد وهم الائمة والسلاطين والقسم الثانى انكارهم باللسان دون اليد وهم العلماء والقسم الثالث انكارهم بالقلب وهم العامة\rحاشية الجمل شرح المنهج جز ص:182-183\rوبأمر بمعروف ونهى عن المنكر اى الامر بواجبات الشرع والنهي عن محروماته اذا لم يخف على نفسه او ماله او على غيره قسدة المنكر الواقع\rتفسير البيضاوي ج:2ص:328\rومن لم يحكم بما أنزل الله مستهينا به منكرا له فأولئك هم الكافرون لاستهانتهم به وتمردهم بأن حكموا بغيره ولذلك وصفهم بقوله الكافرون والظالمون والفاسقون فكفرهم لإنكاره وظلمهم بالحكم على خلافه وفسقهم بالخروج عنه\rPertanyaan\rBolehkan masing-masing WNI yang beragama Islam atau kelompok mereka menerapkan secara sepihak hukum publik yang menjadi bagian dari syari'at Islam (seperti hukum jinayat)\rJawaban","part":2,"page":129},{"id":630,"text":"Penerapan syari'at Islam di bidang pemberlakuan hudud (hukuman mati, potong tangan, cambuk, dll.) adalah hak prerogratif negara. Masyarakat umum tidak boleh melaksanakan sendiri-sendiri atau pada kelompok masing-masing.\rTambahan:\rBagi organisasi-organisasi Islam seperti NU, diharapkan memberikan masukan-masukan kepada pemerintah untuk berlakunya hukum Islam dalam konstitusi negara.\rالفقه الإسلامى وادلته الجزء السادس ص:58\rثانيا لايقيم الحدود إلا الإمام او من فوض اليه الإمام بإتفاق الفقهاء لأنه لم يقم حد على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم إلا بإذنه ولا في أيام الخلفاء إلا بإذنهم ولأن الحد دق الله تعالى يفتقر الى اللإجتهاد ولا يؤمن فيه الحيف فلم يجز بغير إذن الإمام.\rالموسوعة الفقهية 3:167\rالإستبداد المفضى الى الضرر او الظبم ممنوع، كالإستبداد في احتكار الأقوات، واستبداد أحد الرعية فيما هو من اختصاص الإمام مثل الجهاد، والإستبداد في اقامة الحدود بغير اذن الامام\rالموسوعة الفقهية 240-17:242\rالشرط السادس: الإذن من الإمام:16-اشترط فريق من العلماء في المستحب أن يكون مأذونا من جهة الإمام أو الولي، وقالوا: ليس للاحاد من الرعية الحسبة،...الى ان قال ...ومن ذلك ما كان مختصا بالأئمة والولاة فلا يستقل بها الآحاد كالقصاص، فإن لايستوفى إلا بحضرة الإمام، لأن الإنفراد باستيفانه محرك للفتن\rPertanyaan\rSesuaikah dengan prinsip ahkam sulthaniyah bila secara diam-diam sekelompok umat Islam di Indonesia membaiat dan mengesahkan Amir/pemimpin Islam guna menjadi landasan legitimasi ibadah atau pengalaman agama kelompok tersebut ?\rJawaban","part":2,"page":130},{"id":631,"text":"Membaiat dan mengesahkan Amir/pemimpin Islam dengan tidak mengakui terhadap keabsahan kepemimpinan yang sudah ada tidak sesuai dengan prinsip hukum bernegara menurut Islam.\rمراجع:\rكشاف القناع للبهوتى الحنبلي الجزء السادس ص:205\rالرابع قوم من أهل الحق باينوا الإمام وراموا خلعه أي عزلع أو مخالفته بتأويل سائغ بصواب أو خطأ ولهم منعة وشوكة بحيث يحتاج في كفهم إلى جمع جيش وهم البغاة المقصودون بالترجمة فمن خرج على إمام عدل بأحد هذه الوجوه الأربعة باغيا وجب قتالته لما تقدم أول الباب وسواء كان فيهم واحد مطلع أو لا أو كانوا في طرف ولايته أو في موضع متوسط تحيط به ولايته أو لا لعموم الأدلة\rالتشريع الجنانى الإسلامى لعبد القادر عودة الجزء الثانى ص:675\rيشترط لوجود جريمة البغى الخروج على الإمام والخروج المقصود هو مخالفة الإمام والعمل لخلعه او الإمتناع عما وجب على الخارجين من حقوق ويستوى أن تكون هذه الحقوق الله اى مقررة لمصلحة الجماعة او للأشخاص اى مقررة لمصلحة الأفراد فيدخل تحتها كل حق تفرضه الشريعة للحكم على المحكوم وكل حق للجماعة على الأفراد وكل حق للفرد على الفرد فمن امتنع عن أداء الزكات فقد امتنع عن حق وجب عليهم ومن امتنع عن تنفيذ حكم متعلق بحكم الله كحد الزنا أو متعلق بحق الأفراد كالقصاص فقد امتنع عن حق وجب عليه ومن امتنع عن طاعة الإمام فقد امتنع عن الحق الذي وجب عليه وهكذا ولكم من المتفق عليه أن الإمتناع عنالطاعة في معصية ليس بغيا وإنما هو واجب على كل مسلم لأن الطاعة لم تفرض إلا في معروف ولا تجوز في معصية.\rPertanyaan","part":2,"page":131},{"id":632,"text":"Sebagai konsekuensi Islam kaffah, haruskah dilakukan jihad guna menangkal praktek kemungkaran oleh WNI non muslim, seperti lokalisasi PSK, penjualan/konsumsi minuman keras, budidaya hewan babi, arena hiburan yang penuh maksiat dan lain sebagainya?\rJawaban\rSebagai konsekuensi Islam kaffah dalam rangka menangkal praktek kemungkaran wajib dilakukan jihad dalam pengertian أمر معروف نهى منكر sesuai dengan tahapan-tahapannya, dan harus berupaya untuk tidak menimbulkan kemunkaran yang lebih besar atau fitnah.\rأحكام القرآن لإبن العربي ج:1ص:382،مانصه:\r(ولتكن منكم أمة) دليل على ان الأمر للمعروف والنهي عن المنكر فرض ويقوم به المسلمون ... المسئلة الرابعة في ترتيب الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر.\rالتشريع الجنائ الإسلامى جز 2 ص:677،ف:الشيخ عبد القادر عودة،ط:مؤسسة الرسالة\rومع ان العدالة شرط من شروط الامامة الا ان الرأي الراجح في المذاهب الأربعة ومذهب الشيعة الزيدية هو تحريم الخروج على الامام الفاسق الفاجر ولو كان الخروج للأمر بالمعروف والنهي عن المنكر لان مشروطه لايؤدي الإنكار الى ما هو انكر من ذلكالى الفتن وسفك الدماء وبث الفساد واضطراب البلاد واضلال العباد وتوهين الامن وهدم النظام\rبغية المسترشدين،ص:251،مانصه:\rوله درجتان. التعريف ثم الوعظ بالكلام اللطيف ثم السبب والتعنيف ثم المنع بالقهر، والأولان يعمان سائر المسلمين، والأخيران مخصوصا بولاة الامر اه.\rStatus Mati Syahid Pelaku Bom Bunuh Diri\rPertanyaan\rApa sajakah kriteria agar terpenuhi status mati syahid dengan prospek masuk surga menurut pandangan ulama ahli syari'at?\rJawaban\rKriteria syahid dengan prospek masuk surga mencakup 2 golongan :","part":2,"page":132},{"id":633,"text":"Syahid dunia akhirat: adalah orang yang mati dalam medan peperangan melawan orang kafir dan dia mati sebab perang.\rSyahid akhirat: adalah orang yang mati dengan sebab-sebab syahadah sebagaimana berikut, antara lain: tenggelam, sakit perut, tertimpa reruntuhan, dan lain-lain\rالمراجع:\rهامش القليوبى وعميره جز 1ص:337\rاعلم أن المصنف (النووي) وحمه الله ذكر في ضابط الشهيد ثلاث قيود الموت حال القتال وكونه قتال كفار وكونه بسبب قتال.\rمتن الشرقوي جز 1 ص: 338\rوخرج شهيد المعركة غيره من الشهداء كمن مات مبطونا أو محدودا أو غريقا أو غريبا أو مقتولا ظلما أو طالب علم فيغسل ويصلى عليه وإن صدق عليه إسم الشهيد فهو شهيد في ثواب الأخرة.\rPertanyaan\rSyahidkah jenazah gerakan separatis yang ingin memisahkan diri dari NKRI dan menciptakan negara Islam untuknya ?\rBerstatus mati syahidkah pelaku terror di Indoensia yang berdasar hukum positif (UU anti terorisme) harus dieksekusi sesuai putusan majelis hakim yang mengadilinya ?\rKarena dinyatakan bersalah secara hukum negara, benarkah terhadap jenazah teroris pasca eksekusi hukuman mati tidak perlu disholatkan dengan pertimbangan aksi terror itu dosa besar dan fasiq terbukti korban yang terbunuh ternyata sesama muslim ?\rJawaban :\rMayit pelaku gerakan separatis bukan termasuk syuhada', sehingga mayitnya tetap dimandikan dan disholati seperti layaknya mayit muslim\rالمراجع:\rمغني المحتاج معرفة الفاظ المنهاج للشيخ محمد بن احمد الشربيني الخطيب،ج ك 2 ص:35،مانصه:\rأما إذا كان المقتول من أهل البغي فليس بشهيد جزم\rروضة الطالبين للشيخ محي الدين يحي بن أبي زكريا النووي،ج:2،ص:42،مانصه:","part":2,"page":133},{"id":634,"text":"النوع الثاني ألشهداء العارون عن جميع الأوصاف المذكورة كالمبطون والمطعون والغريق والغريب والميت عشقا والميتة في الطلق ومن قتله مسلم أو ذمي أو باغ القتال فهم كسائر الموتى يغسلون ويصلى عليهم وإن ورد فيهم لفظ الشهداء وكذا المقتول قصاص أو حدا ليس بشهيد\rالموسوعة الفقهية ج:8 ص:152،مانصه:\rأما قتلى البغاة، فمذهب الملكية والشافعية والحنابلة: أنهم يغسلون ويكفنون ويصلى عليهم، لعموم قوله صلى الله عليه وسلم: (صلوا على من قال: لاإله إلا الله) ولأنهم مسلمون لم يثبت لهم حكم الشهادة، فيغسلون ويصلي عليهم. ومثله الحنيفة، سواء اكانت لهم فئة، أم لم تكن لهم فئة على الرأي الصحيح عندهم. وقد روي أن عليا رضي الله عنه لم يصل على أهل حروراء، ولكنهم يغسلون ويكفون ويدفنون. ولم يفرق الجمهور بين الخوارج وغيرهم من البغاة في حكم التغسيل والتكفين والصلاة.\rحاشية الجمل 2\rوتجهيزه أي الميت المسلم غير الشهيد بغسله وتكفينه وحمله والصلاة عليه ودفنه ولو قاتل نفسه فرض كفاية.\rPertanyaan\rBolehkah orang melakukan bunuh diri dengan memperjuangkan sesuatu yang menjadi keyakinan pribadinya ?\rJawaban\rBunuh diri tidak dibenarkan dalam syariat sekalipun dalam rangka memperjuangkan kebenaran. Akan tetapi dalam peperangan yang diizinkan syara' (jihad) menyerang musuh dengan keyakinan akan terbunuh untuk membangkitkan semangat juang kaum muslimin adalah diperbolehkan.\rالمراجع\rتفسير ابن كثير ج:1ص:481\rعن أبي صالح عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من قتل نفسه بحديدة في يده يجأ بها بطنه يوم القيامة في نار جهنم خالدا مخلدا فيها أبدا ومن قتل نفسه بسم تردى به فسمه في يده يتحساه في نار جهنم خالدا مخلدا فيها أبدا وهذا الحديث ثابت في الصحيح خ م","part":2,"page":134},{"id":635,"text":"أسعاد الرفيق جز 2 ص:\rتتمة من الكبائر قتل الإنسان نفسه لقوله عليه الصلاة والسلام من تردى من جبل فقتل نفسه فهو في نار جهنم يتردى فيما خالدا فخلدا فيها أبدا وقوله صلى الله عليه وسلم وعلى آله وصحبه أجمعين الذي نفسه يخنقها في النار\rتفسير فخر الرازى جز 8 ص:18\rفان قيل ان الإنسان قد يقتل نفسه وقد يرمي نفسه من شاهق جبل مع أنه يعلم أن ذلك من الخيرات بل من الشرور فنقول أن الإنسان لايقدم على قتل نفسه إلا اذا عتقد انه بسبب ذلك القتل يتخلص عن ضرر اعظم من ذلك القتل والضرار الاسهل بالنسبة الضرار يكون خيرا لاشرا وعلى هذا التقدير فالسؤال زائل\rPertanyaan\rHukuman bentuk apa dinilai tepat ditimpakan kepada promotor/pemberi indoktrinasi bunuh diri dengan pemahaman konsep jihad yang salah dan menanamkan keyakinan status mati syahid serta kepastian masuk surga kepada calon pelaku bom bunuh diri ?\rJawaban\rHukuman bagi promotor/pemberi indoktrinasi bunuh diri adalah ta'zir, bahkan bisa sampai hukuman mati, apabila dampak mafsadah dan madlaratnya merata dikalangan masyarakat luas serta humuman ta'zir yang lain sudah tidak efektif lagi.\rفتوى الكبرى لابن تيمية 5\rوهذا التعزيز ليس يقدر بل ينتني الى القتل كما في الصائل في أخد المال يجوز ان يمنع من الاخذ ولو بالقتل وعلى هذا فإذا كان المقصود دفع الفساد ولم يندفع الا بالقتل قتل. وحينئذ فمن تكرر منه فعل الفساد ولم يرتدع للحدود المقدرة بل استمرّ على ذلك الفساد فهو كالصائل الذى لا يندفع الا بالقتل فيقتل قيل ويمكن ان يخرج شارب الخمر في الرابعة على هذا\rالفقه الاسلامى 453517","part":2,"page":135},{"id":636,"text":"والعقوبات التعزيرية : هي التوبيخ اة الزجر بالكلام والحبس والنفى عن الوطن والضرب وقد يكون التعزير بالقتل سياسة في الرأي الحنيفة وبعض المالكية وبعض الشافعية إذا كانت الجريمة خطيرة تمس امن الدولة او النظام العام في الإسلام مثل قتل المفرّق جماعة المسلمين او الداعى الى غير كتاب الله وستة رسول الله صلى الله عليه وسلم او التجسس او انتهاك عرض امرأة بالاكراه اذا لم يكن هذاك وسيلة أخرى لقمعه وزجره.اه\rSulit Menghindari Najis\rPermasalahan:\rApakah kain ihram atau baju yang terkena najis harus segera diganti agar dapat digunakan shalat dengan sah, atau adakah dalil yang menyebutkan bahwa baju atau anggota tubuh yang kena najis sudah otomatis suci dengan sendirinya bila sudah terkena udara atau sinar matahari?\rAdakah jalan keluar yang lebih mudah bagi calon jamaah haji dalam menghadapi masalah tersebut?\rJawaban:\rSepanjang menunaikan ibadah (shalat dan berihram), kain ihram atau baju yang dipergunakan harus dalam keadaan suci. Keharusan tersebut sesuai dengan penegasan firman Allah Swt dalam Surat Al-Baqarah ayat 222:\rإِنَّ اللهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَ يُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ\rSesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang bersuci.\rDan sabda Nabi saw:\rعَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم : لاَ يَقْبَلُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ صَدَقَةً مِنْ غُلُوْلٍ ، وَلاَ صَلاَةً بِغَيْرِ طَهُوْرٍ . أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ وَأَبُوْ دَاوُدَ وَالنَّسَائِيْ وَابْنُ مَاجَه .","part":2,"page":136},{"id":637,"text":"Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar dari Nabi saw: \"Allah 'azza wa jalla tidak dapat menerima sedekah dari hasil yang tidak halal dan tidak dapat menerima shalat tanpa wudlu.\"\rPercikan air kencing yang mengenai kain ihram atau baju dihukumi sebagai najis ma'fu (dimaafkan), sepanjang bekas percikan itu tidak terlihat oleh mata yang berpenglihatan normal. Upaya menghindar kenajisan tersebut dipandang masyaqqat dan karenanya ibadah shalat dan sebagainya dapat dilaksanakan serta sah hukumnya.\rاَلْفِقْهُ اْلإِسْلاَمِيُّ وَأَدِلَّتُهُ ، وَهْبَة الزُّحَيْلِي جزء الأول صـ 173\rمَذْهَبُ الشَّافِعِيَّةِ : لاَ يُعْفىَ عَن شَيْءٍ مِنَ النَّجَاسَاتِ إِلاَّ مَا يَأْتِي : مَا لاَ يُدْرِكُهُ الْبَصَرُ الْمُعْتَدِلُ كَالدَّمِ الْيَسِيْرِ وَالْبَوْلِ الْمُتَرَشِّشِ .\r[الْمَجْمُوْعُ 1 : 266 ، 292 - مُغْنِي الْمُحْتَاجْ 1 : 81 ، 191 ، 194 - شَرْحُ الْبَاجُوْرِيْ : 1 : 104 ، 107 - شَرْحُ الشَّرْقَاوِيْ : 1 : 133]\rMadzhab Syafi'i: \"Tidak dapat dimaafkan sedikit pun dari najis-najis, kecuali berikut: apa yang tidak dapat dilihat oleh pandangan mata yang normal seperti darah yang sedikit dan air kencing yang memercik.\"\rAdapun anggota badan yang terkena percikan air kencing, harus diupayakan mensucikannya, antara lain dengan memanfaatkan kertas tisu yang telah dibasahi dengan air suci. Dengan demikian betapa telah mengering karena udara atau sinar matahari, tetap dihukumi sebagai najis ghairu al-mariah/ghairu al-'ainiyah.\rاَلْفِقْهُ اْلإِسْلاَمِيُّ وَأَدِلَّتُهُ ، وَهْبَة الزُّحَيْلِي ، جزء الأول صـ 168","part":2,"page":137},{"id":638,"text":"مَا لاَ يَكُوْنُ مَرْئِيًّا بَعْدَ الْجَفَافِ كَالْبَوْلِ وَنَحِوْهِ ، أَيْ مَا لاَ تَكُوْنُ ذَاتُهُ مُشَاهَدَةً بِحِسِّ الْبَصَرِ . وَطَهَارَتُهُ اَنْ يُغْسَلَ حَتَّى يَغْلِبَ عَلَى ظَنِّ الْغَاسِلِ أَنَّ الْمَحَلَّ قَدْ طَهُرَ .\r[فَتْحُ الْقَدِيْرِ : 1 : 145 - اَلدُّرُّ الْمُخْتَارُ : 1 : 303 - 307]\rApa yang tidak terlihat setelah kering seperti air kencing dan lainnya. Artinya, apa yang zatnya tidak dapat disaksikan oleh indera penglihatan. Dan mensucikannya hendaklah dibasuh, sehingga kuat pada dugaan orang yang membasuh bahwa tempat itu telah menjadi suci.\rفِقْهُ السُّنَّةِ : سَيِّدْ سَابِقْ : اَلثَّوْبُ وَالْبَدَنُ إِذَا أَصَابَتْهُمَا نَجَاسَةٌ يَجِبُ غَسْلُهُمَا بِالْمَاءِ حَتَّى تَزُوْلَ عَنْهُمَا إِنْ كَانَتْ مَرْئِيَّةً كَالدَّمِ . فَإِنْ بَقِيَ بَعْدَ الْغَسْلِ اَثَرٌ بَشُقُّ زَوَالُهُ فَهُوَ مَعْفُوٌّ عَنْهُ ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ مَرْئِيَّةً كَالْبَوْلِ فَإِنَّهُ يِكْتَفِي بِغَسْلِهِ وَلَوْ مَرَّةً وَاحِدَةً\r[اَلْجُزْءُ اْلأَوَّلُ صـ 26]\rFiqih Sunnah dari Sayyid Sabiq: \"Pakaian dan badan, apabila terkena najis maka wajib membasuhnya denan air sehingga najis itu lenyap darinya, jika najis itu kelihatan seperti darah. Jika sesudah dibasuh masih tetap bekasnya yang sulit menghilangkannya, maka dimaafkan. Jika tidak kelihatan seperti air kencing, maka sesungguhnya cukup dengan membasuhnya meskipun hanya satu kali.\"","part":2,"page":138},{"id":639,"text":"Apabila keadaan memungkinkan, segera mengganti kain ihram atau baju yang terkena najis dengan kain ihram atau baju yang suci. Sekira tidak memungkinkan, seperti dalam perjalanan di atas pesawat dan persediaan kain ihram/baju pengganti tersimpan di ruang bagasi dan kondisi kenajisan bukan lagi tergolong ma'fu, maka:\rSesuai pandangan ulama Hanafiyah bahwa shalat dapat ditunaikan seadanya tanpa harus meng-qadla.\rاَلْفِقْهُ اْلإِسْلاَمِيُّ وَأَدِلَّتُهُ ، وَهْبَة الزُّحَيْلِي : 1 صـ 574\rوَإِذَا لَمْ يَجِدِ الْمُسَافِرُ مَا يُزِيْلُ بِهِ النَّجَاسَةَ أَوْ وَيُقَلِّلُهَا ، صَلَّى مَعَهَا أَوْ عَارِيًا ، وَلاَ إِعَادَةَ عَلَيْهِ\r[اَلدُّرُ الْمُخْتَارُ : 1 : 283 ، البدائع : 1 : 117]\r\"Dan apabila seorang musafir tidak mendapatkan apa yang dapat menghilangkan najis atau menyedikitkannya, maka dia shalat beserta najis tersebut atau shalat dengan telanjang dan tidak wajib mengulangi shalat.\"\rSesuai pandangan ulama Syafi'iyah bahwa shalat tetap ditunaikan meskipun pada badan atau pakaian terdapat kenajisan yang tidak dimaafkan. Pelaksanaan shalat tersebut bernilai hurmatan li al-waqti dan kepadanya wajib mengulang shalatnya apabila telah mendapatkan baju yang suci. Jalan keluar tersebut seperti orang yang faqid al-thahurain.\rاَلْفِقْهُ اْلإِسْلاَمِيُّ وَأَدِلَّتُهُ ، وَهْبَة الزُّحَيْلِي : 1 صـ 572","part":2,"page":139},{"id":640,"text":"إِنْ لَمْ يَجِدِ الْمُصَلِّيْ غَيْرَ ثَوْبٍ عَلَيْهِ نَجَاسَةٌ غَيْرُ مَعْفُوٍّ عَنْهَا وَلَمْ يَتَيَسَّرْ غَسْلُ النَّجَاسَةِ ... لَمْ يَجُزْ لُبْسُ الثَّوْبِ النَّجِسِ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ ِلأَنَّهُ سُتْرَةٌ نَجِسَةٌ ... وَالمُعْتَمَدُ اْلإِعَادَةُ فيِ الْوَقْتِ إِنْ وَجَدَ ثَوْبًا طَاهِرًا\rJika orang yang shalat tidak mendapatkan selain pakaian yang ada najisnya yang tidak dimaafkan, dan tidak mudah membasuh najis tersebut ..., maka tidak boleh memakai pakaian yang najis menurut madzhab Syafi'i, karena pakaian itu adalah tutup yang najis ... Dan pendapat yang dapat dijadikan pegangan adalah mengulangi shalat pada waktunya jika dia mendapatkan pakaian yang suci.\rصـ 573 :\rلَكِنْ لَوْ كَانَ عِنْدَ بَدَنِهِ نَجَاسَةٌ غَيْرُ مَعْفُوٍّ عَنْهَا وَلَمْ يَجِدْ مَا يَغْسِلُ بِهِ ، وَصَلَّى وَاَعَادَ كَفَاقِدِ الطَّهُوْرَيْنِ ِلأَنَّ الصَّلاَةَ مَعَ النَّجَاسَةِ لاَ يَسْقُطُ بِهَا الْفَرْضُ\rAkan tetapi, andaikata pada badannya terdapat najis yang tidak dimaafkan dan tidak mendapatkan apa yang dapat dipergunakan untuk membasuh, maka dia shalat dan mengulangi shalatnya. Seperti orang-orang yang ketiadaan dua suci, karena shalat beserta najis tidaklah menggugurkan fardlu.\rIfrad atu Qiran Ganti Tamattu'\rPermasalahan:\rBolehkah calon jamaah haji mengubah niat dari ifrad atau qiran menjadi tamattu' dan menganggap thawaf qudum-nya sebagai thawaf 'umrah. Kemudian melakukan sa'i umrah dan tahallul?\rAdakah denda yang harus dibayar semisal dam atau fidyah agar pergantian niat tersebut tetap sah?\rJawaban:","part":2,"page":140},{"id":641,"text":"Jumhur ulama salaf dan khalaf termasuk Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Asy-Syafi'i, Ibnu al-Shabagh dan al-'Abdari melarang langkah pengubahan niat dari ifrad atau qiran menjadi haji tamattu'. Baik karena udzur atau tidak. Hal itu merupakan konsekuensi dari pelaksanaan perintah:\rوَاَتِمُّوْا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ ِللهِ (البقرة 196)\rالمجموع شرح المهذب 7 صـ 167-166\rإِذَا اَحْرَمَ بِالْحَجِّ لاَ يَجُوْزُ فَسْخُهُ وَقَلْبُهُ عُمْرَةً ، وَإِذَا اَحْرَمَ بِالْعُمْرَةِ لاَ يَجُوْزُ لَهُ فَسْخُهَا حَجًّا لاَ لِعُذْرٍ وَلاَ لِغَيْرِهِ ، وَسَوَآءٌ أَسَاقَ الْهَدْيَ أَمْ لاَ هَذَا مَذْهَبُنَا [اَلشَّافِعِيَّةُ] قَالَ ابْنُ الصِّبَاغِ وَالْعَبْدَرِيُّ وَآخَرُوْنَ\rApabila seseorang telah berihram haji, maka tidak boleh merusaknya dan menggantinya dengan umrah. Dan apabila telah berihram umrah, maka tidak boleh baginya merusaknya dan menggantinya dengan ihram haji. Tidak boleh karena udzur dan tidak pula karena lainnya. Dan baik dia telah menuntun binatang hadiah atau tidak. Ini adalah madzhab kami (Asy-Syafi'iyyah). Telah berpendapat demikian Ash-Shibagh, Al-'Abdariy, dan lain-lainnya.\rJumhur mengartikan perintah Nabi saw kepada para sahabat yang tidak membawa binatang hadiah agar segera ber-tahallul dengan menyelesaikan umrahnya, sebagai pengaturan khusus bagi para sahabat yang tahun itu mengikuti pelaksanaan haji wada' bersama Nabi saw.","part":2,"page":141},{"id":642,"text":"اَخْرَجَ أَبُوْ دَاوُدَ : أَنَّ أَبَا ذَرٍّ كَانَ يَقُوْلُ فِيْمَنْ حَجَّ ثُمَّ فَسَخَهَا بِعُمْرَةٍ : لَمْ يَكُنْ ذَلِكَ إِلاَّ لِلرَّكْبِ الَّذِيْنَ كَانُوْا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم ، وَفىِ رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ كَانَتِ الْمُتْعَةُ فيِ الْحَجِّ ِلأَصْحَابِ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم خَآصَّةً .\rAbu Dawud telah meriwayatkan bahwa sesungguhnya Abu Dzar telah berkata mengenai orang yang haji, kemudian merusaknya dengan umrah. Hal itu tidak ada kecuali bagi kafilah yang mereka itu adalah orang-orang yang menyertai Rasulullah saw. Dan dalam satu riwayat dari Imam Muslim, melakukan tamattu' dalam haji itu adalah khusus bagi para sahabat Nabi Muhammad saw.\rعَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ خَرَجْنَا مُهِلِّيْنَ بِالْحَجِّ فِيْ اَشْهُرِ الْحَجِّ وَحُرُمِ الْحَجِّ ، فَنَزَلْنَا سَرِفَ ، فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ِلأَصَحَابِهِ : \"مَنْ لَمْ يَكُنْ مَعَهُ هَدْيٌ فَأَحَبَّ أَنْ يَجْعَلَهَا عُمْرَةً فَليَفْعَلْ ، وَمَنْ كَانَ مَعَهُ هَدْيٌ فَلاَ\" . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ\r[اَللُّؤْلُؤُ والمرجان : جز 2 صـ 39 رقم : 755]","part":2,"page":142},{"id":643,"text":"Diriwayatkan dari 'Aisyah ra katanya: \"Kami telah keluar dalam keadaan ihram haji pada bulan-bulan haji dan dalam bulan-bulan suci haji. Kemudian kami singgah di desa Sarifa; kemudian Nabi saw bersabda kepada sahabat-sahabat beliau, \"Barangsiapa yang tidak membawa binatang hadiah dan senang untuk menjadikan ihramnya menjadi umrah, maka silakan dia mengerjakannya. Dan berangsiapa yang membawa binatang hadiah maka tidak boleh mengubah ihram hajinya menjadi umrah.\" Hadits ini disepakati oleh Bukhari dan Muslim.\rJumhur mujtahidin (Abu Hanifah, Imam Malik, Asy-Syafi'i) memahami perintah Nabi saw tersebut terkait dengan kepentingan menghapus pandangan orang Arab sejak zaman Jahiliyah yang berpantang melaksanakan umrah pada bulan-bulan ibadah haji.\rلَبَّيْكَ اللََّهُمَّ لَبَّيْكَ ، اَلسَيِّدْ مُحَمَّدْ بِنْ عَلْوِيْ الْمَالِكِيْ ،\rصـ 119\rوَإِنَّمَا اُمِرُوْا بِهِ تِلْكَ السَّنَةَ لِيُخَالِفُوْا مَا كَانَتْ عَلَيْهِ الْجَاهِلِيَّةُ مِنْ تَحْرِيْمِ الْعُمْرَةِ فِي أَشْهُرِ الْحَجِّ وَإِنَّهَا مِنْ أَفْجَرِ الْفُجُوْرِ .\r\"Hanyasanya mereka diperintahkan demikian pada tahun itu adalah agar mereka berbeda dengan apa yang terjadi pada zaman Jahiliyah mengenai keharaman umrah pada bulan-bulan haji dan sesungguhnya umrah tersebut termasuk perbuatan yang paling durhaka.\"\rDemikian pula jawaban Rasulullah saw terhadap pertanyaan Suraqah bin Jasy'am al-Mudlaji:","part":2,"page":143},{"id":644,"text":"أَلِعَامِنَا هََذَا اَمْ ِلأَبَدٍ ؟ فَشَبَّكَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم اَصَابِعَهُ وَاحِدَةً فيِ اْلأُخْرَى وَقَالَ : دَخَلْتُ الْعُمْرَةَ فيِ الْحَجِّ هََذَا - مَرَّتَينْ ِ- لاَ بَلْ ِلأَبَدِ أَبَدٍ .\r\"Adakah hal ini untuk tahun kita ini ataukah untuk selamanya?\" Kemudian Rasulullah memasukkan jari-jari beliau yang satu pada yang lain dan bersabda, \"Aku telah melakukan umrah pada bulan haji ini-dua kali-Tidak! Bahkan untuk selama-lamanya.\"\rDimaksudkan sebagai penegasan hukum bolehnya mengerjakan ibadah umrah dalam bulan-bulan haji. Atau amalan umrah bisa dikerjakan menyatu dengan amalan haji dalam praktek qiran. Jawaban Rasulullah saw tersebut bukan melegalisasi perkenan mengubah (fasakh) haji menjadi umrah.\rApabila calon jamaah haji ingin bertahan dengan niat ifrad-nya karena yang bersangkutan mengikuti pendapat jumhur, sedangkan ia ingin melepas kain ihramnya. Maka keinginan itu boleh dilakukan namun wajib disertai dengan membayar dam al-isa'ah. Walau demikian karena ifradnya tidak boleh mengerjakan ibadah selain thawaf qudum saja hingga saatnya wuquf di Arafah. Pelanggaran atas larangan-larangan yang lain berhubung ihramnya juga tetap tidak dibenarkan, dengan konsekuensi terkena dam isa'ah lainnya.","part":2,"page":144},{"id":645,"text":"Apabila calon jamaah haji ingin mengikuti pendapat Imam Ahmad bin Hanbal dan sekelompok ulama Zhahiri dengan cara mengubah niat ifrad atau qiran menjadi tamattu', maka yang bersangkutan harus membayar dam tamattu'. Dengan cara tersebut segera diteruskan mengerjakan thawaf wajib, sa'i serta tahallul umrah dalam kerangka tamattu'.\rCalon jamaah haji menggagalkan ifradnya. Kemudian kembali ke tapal batas miqat dan dari sana memulai dengan niat tamattu'. Dengan cara ini yang bersangkutan harus membayar dam tamattu'-nya.\rJama' dan Qashar Shalat Rubaiyah Bagi Calon Musafir\rPermasalahan:\rBolehkah men-jama' (taqdim) sekaligus meng-qashar shalat dluhur dan ashar pada waktu dluhur ketika masih di rumah sendiri tetapi siap akan bepergian jauh?\rJawaban:\rMenjama' shalat antara dluhur dan ashar, maghrib dan isya', menempuh cara taqdim atau ta'khir pada dasarnya diperkenankan apabila ada hajat (kebutuhan) tertentu. Tidak hanya karena alasan perang, hujan lebat atau menahan rasa sakit. Kebolehan tersebut juga berlaku saat seseorang tidak dalam perjalanan (musafir).\rبُغْيَةُ الْمُسْتَرْشِدِيْنَ : باعلوي صـ 77\rحَكَى الْخَطَّابِيُّ عَنْ اَبِي إِسْحَقَ جَوَازَهُ (الْجَمْعَ) فِيْ الْحَضَرِ لِلْحَاجَةِ وَإِنَ لَمْ يَكُنْ خَوْفٌ وَلاَ مَطَرٌ وَلاَ مَرَضٌ . وَبِهِ قَالَ ابْنُ الْمُنْذِرِ .\rImam Al-Khaththabi menghikayatkan dari Abu Ishaq akan kebolehan menjamak shalat (di rumah) tidak bepergian karena ada hajat, meskipun tidak ada ketakutan, tidak ada hujan, dan tidak sakit. Ibnu Mundzir telah berpendapat demikian.","part":2,"page":145},{"id":646,"text":"Nabi saw pernah men-jama' antara dluhur dan ashar, maghrib dan isya' di Madinah tidak terkait suasana perang atau hujan lebat. Kejadian itu dipahami oleh Abdullah bin Abbas sebagai wujud keinginan beliau untuk tidak mempersulit umatnya.\rرَوَى الْجَمَاعَةُ إِلاَّ الْبُخَارِي عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم جَمَعَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَبَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ بِالْمَدِيْنَةِ مِنْ غَيْرِ خَوْفٍ وَلاَ مَطَرٍ . قِيْلَ لاِبْنِ عَبَّاسٍ مَا أَرَادَ بِذ لِكَ ؟ قَالَ : أَرَادَ أَنْ لاَ يُحَرِّجَ أُمَّتَهُ .\rSekelompok ahli hadits, kecuali Bukhari telah meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas bahwa Nabi saw menjamak antara shalat dhuhur dan ashar dan antara shalat maghrib dan isyak tanpa ada ketakutan dan hujan. Dikatakan kepada Ibnu Abbas, \"Apa yang beliau kehendaki dengan demikian itu?\" Dia menjawab, \"Beliau menginginkan agar tidak menyusahkan umatnya\".\rShalat dengan jama' taqdim sudah bisa dilakukan oleh orang yang siap bepergian. Sekalipun ia masih berada di kampung tempat tinggalnya. Namun sebaiknya shalat jama' tersebut dilakukan di luar rumahnya, yaitu di masjid atau mushalla terdekat.","part":2,"page":146},{"id":647,"text":"Hal ini dimaksudkan agar yang bersangkutan nyata-nyata telah mengawali perjalanannya. Saran menunaikan shalat di luar rumah tempat tinggalnya merujuk pada pertimbangan lokasi Madinah yang sangat spekulatif untuk diartikan sebagai \"rumah kediaman Nabi saw\". Sebab tradisi beliau yang tidak pernah menunaikan shalat maktubah kecuali dengan berjamaah di masjid yang berada di sebelah barat rumah beliau.\rAdapun keinginan meng-qashar shalat rubaiyah, maka peluang mengamalkannya harus telah melintasi tapal batas desa. Karena kemutlakan shalat qashar harus terkait dengan kondisi bepergian (dharbun fi al-ardli) sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran surat An-Nisa ayat 101.\rفِقْهُ السُّنَّةِ : سَيِّدْ سَابِقْ ، 1 صـ 241\rقَالَ ابْنُ الْمُنْذِرِ : وَلاَ أَعْلَمُ اَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَصَرَ فِيْ سَفَرٍ مِنْ أَسْفَارِهِ إِلاَّ بَعْدَ خُرُوْجِهِ مِنَ الْمَدِيْنَةِ .\rIbnu Mundzir berkata, \"Saya tidak mengetahui bahwa Nabi saw meng-qashar shalat dalam satu perjalanan dari perjalanan-perjalanan beliau kecuali sesudah beliau keluar dari kota Madinah.\"\rوَقَالَ اَنَسُ بْنُ مَالِكٍ : صَلَّيْتُ الظُّهْرَ مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم بِالْمَدِيْنَةِ اَرْبَعًا ، وَبِذِى الْحُلَيْفَةِ رَكْعَتَيْنِ [رَوَاهُ الْجَمَاعَةُ]\rوَيَرَى بَعْضُ السَّلَفِ أَنَّ مَنْ نَوَى السَّفَرَ يَقْصُرُ وَلَوْ فِيْ بَيْتِهِ\rAnas bin Malik berkata, \"Saya shalat dhuhur beserta Nabi saw di Madinah empat rakaat dan di Dzul Hulaifah dua rakaat.\" Hadits riwayat sekelompok ahli hadits.","part":2,"page":147},{"id":648,"text":"عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ قَالَ : شَهِدْتُّ الْفَتْحَ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَكَانَ لاَيُصَلِّي إِلاَّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يَقُوْلُ ِلأَهْلِ الْبَلَدِ صَلُّوْا أَرْبَعًا فَأَنَا مُسَافِرٌ\r[اَخْرَجَهُ اَبُوْ دَاوُدَ]\rImran bin Hushain berkata, \"Saya menyaksikan pembebasan kota Makkah bersama Rasulullah saw; maka beliau tidak shalat kecuali dua rakaat, kemudian beliau bersabda kepada penduduk Makkah, \"Shalatlah kalian empat rakaat. Saya musafir.\" Hadits riwayat Abu Dawud.\rJama' dan Qashar Shalat Rubaiyah Bagi Calon Musafir\rPermasalahan:\rBolehkah men-jama' (taqdim) sekaligus meng-qashar shalat dluhur dan ashar pada waktu dluhur ketika masih di rumah sendiri tetapi siap akan bepergian jauh?\rJawaban:\rMenjama' shalat antara dluhur dan ashar, maghrib dan isya', menempuh cara taqdim atau ta'khir pada dasarnya diperkenankan apabila ada hajat (kebutuhan) tertentu. Tidak hanya karena alasan perang, hujan lebat atau menahan rasa sakit. Kebolehan tersebut juga berlaku saat seseorang tidak dalam perjalanan (musafir).\rبُغْيَةُ الْمُسْتَرْشِدِيْنَ : باعلوي صـ 77\rحَكَى الْخَطَّابِيُّ عَنْ اَبِي إِسْحَقَ جَوَازَهُ (الْجَمْعَ) فِيْ الْحَضَرِ لِلْحَاجَةِ وَإِنَ لَمْ يَكُنْ خَوْفٌ وَلاَ مَطَرٌ وَلاَ مَرَضٌ . وَبِهِ قَالَ ابْنُ الْمُنْذِرِ .\rImam Al-Khaththabi menghikayatkan dari Abu Ishaq akan kebolehan menjamak shalat (di rumah) tidak bepergian karena ada hajat, meskipun tidak ada ketakutan, tidak ada hujan, dan tidak sakit. Ibnu Mundzir telah berpendapat demikian.","part":2,"page":148},{"id":649,"text":"Nabi saw pernah men-jama' antara dluhur dan ashar, maghrib dan isya' di Madinah tidak terkait suasana perang atau hujan lebat. Kejadian itu dipahami oleh Abdullah bin Abbas sebagai wujud keinginan beliau untuk tidak mempersulit umatnya.\rرَوَى الْجَمَاعَةُ إِلاَّ الْبُخَارِي عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم جَمَعَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَبَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ بِالْمَدِيْنَةِ مِنْ غَيْرِ خَوْفٍ وَلاَ مَطَرٍ . قِيْلَ لاِبْنِ عَبَّاسٍ مَا أَرَادَ بِذ لِكَ ؟ قَالَ : أَرَادَ أَنْ لاَ يُحَرِّجَ أُمَّتَهُ .\rSekelompok ahli hadits, kecuali Bukhari telah meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas bahwa Nabi saw menjamak antara shalat dhuhur dan ashar dan antara shalat maghrib dan isyak tanpa ada ketakutan dan hujan. Dikatakan kepada Ibnu Abbas, \"Apa yang beliau kehendaki dengan demikian itu?\" Dia menjawab, \"Beliau menginginkan agar tidak menyusahkan umatnya\".\rShalat dengan jama' taqdim sudah bisa dilakukan oleh orang yang siap bepergian. Sekalipun ia masih berada di kampung tempat tinggalnya. Namun sebaiknya shalat jama' tersebut dilakukan di luar rumahnya, yaitu di masjid atau mushalla terdekat.","part":2,"page":149},{"id":650,"text":"Hal ini dimaksudkan agar yang bersangkutan nyata-nyata telah mengawali perjalanannya. Saran menunaikan shalat di luar rumah tempat tinggalnya merujuk pada pertimbangan lokasi Madinah yang sangat spekulatif untuk diartikan sebagai \"rumah kediaman Nabi saw\". Sebab tradisi beliau yang tidak pernah menunaikan shalat maktubah kecuali dengan berjamaah di masjid yang berada di sebelah barat rumah beliau.\rAdapun keinginan meng-qashar shalat rubaiyah, maka peluang mengamalkannya harus telah melintasi tapal batas desa. Karena kemutlakan shalat qashar harus terkait dengan kondisi bepergian (dharbun fi al-ardli) sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran surat An-Nisa ayat 101.\rفِقْهُ السُّنَّةِ : سَيِّدْ سَابِقْ ، 1 صـ 241\rقَالَ ابْنُ الْمُنْذِرِ : وَلاَ أَعْلَمُ اَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَصَرَ فِيْ سَفَرٍ مِنْ أَسْفَارِهِ إِلاَّ بَعْدَ خُرُوْجِهِ مِنَ الْمَدِيْنَةِ .\rIbnu Mundzir berkata, \"Saya tidak mengetahui bahwa Nabi saw meng-qashar shalat dalam satu perjalanan dari perjalanan-perjalanan beliau kecuali sesudah beliau keluar dari kota Madinah.\"\rوَقَالَ اَنَسُ بْنُ مَالِكٍ : صَلَّيْتُ الظُّهْرَ مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم بِالْمَدِيْنَةِ اَرْبَعًا ، وَبِذِى الْحُلَيْفَةِ رَكْعَتَيْنِ [رَوَاهُ الْجَمَاعَةُ]\rوَيَرَى بَعْضُ السَّلَفِ أَنَّ مَنْ نَوَى السَّفَرَ يَقْصُرُ وَلَوْ فِيْ بَيْتِهِ\rAnas bin Malik berkata, \"Saya shalat dhuhur beserta Nabi saw di Madinah empat rakaat dan di Dzul Hulaifah dua rakaat.\" Hadits riwayat sekelompok ahli hadits.","part":2,"page":150},{"id":651,"text":"عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ قَالَ : شَهِدْتُّ الْفَتْحَ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَكَانَ لاَيُصَلِّي إِلاَّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يَقُوْلُ ِلأَهْلِ الْبَلَدِ صَلُّوْا أَرْبَعًا فَأَنَا مُسَافِرٌ\r[اَخْرَجَهُ اَبُوْ دَاوُدَ]\rImran bin Hushain berkata, \"Saya menyaksikan pembebasan kota Makkah bersama Rasulullah saw; maka beliau tidak shalat kecuali dua rakaat, kemudian beliau bersabda kepada penduduk Makkah, \"Shalatlah kalian empat rakaat. Saya musafir.\" Hadits riwayat Abu Dawud.\rCalon Jama'ah Haji Tinggal Di Aziziyah Pada Hari Tasyriq\rPermasalahan:\rBagaimana agar calon jamaah haji bisa tinggal di Aziziyah tetapi tidak terkena dam disebabkan tidak mabit di Mina?\rBagaimana agar dapat mengatur lontar jumrah sekali jalan sudah mencukupi nafar awal?\rJawaban:\rHukum mabit (bermalam) di Mina menurut jumhur ulama adalah wajib. Karenanya jamaah haji yang tidak melaksanakannya 1 sampai 2 malam terkena fidyah. Sedangkan yang tidak melaksanakannya sama sekali terkena dam nusuk. Agar jamaah haji terhindar dari beban dam, maka dapat menyiasatinya dengan berusaha hadir di wilayah Mina selama mu'dhom al-layl. Batasan mu'dhom al-layl adalah melebihi ukuran separuh malam, terhitung saat terbenam matahari hingga menjelang tiba waktu shalat shubuh. Dalam rangka ihtiyath (sikap hati-hati), jamaah haji dianjurkan tetap bertahan di wilayah Mina saat memasuki waktu shubuh.\r[المغني : ابن قدامة المقدسى : 3 ص 449-450]\rاَلْمُغْنِي فِي فِقْهِ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ : ص 288-292","part":2,"page":151},{"id":652,"text":"فتح العلام شرح مرشد الإنام : سيد محمد عبد الله الجرداني : 17 : 357\rوَالْوَاجِبُ فِي الْمَبِيْتِ هُنَا الْحُصُوْلُ بِهَا مُعْظَمَ اللَّيْلِ ثَلاَثَ لَيَالِي اَيَّامِ التَّشْرِيْقِ ، وَيَتَحَقَّقُ الْمُعْظَمُ بِمَا زَادَ عَلَى النِّصْفِ وَلَوْ بِلَحْظَةٍ\rوَيُجْتَمَلُ أَنَّ الْمُرَادَ مَا يُسَمَّى مُعْظَمًا فِي الْعُرْفِ فَلاَ يَكْفِي ذَلِكَ قَالَهُ الشِّبْرَامَلِيْسِى وَفِي قَوْلٍ حَكَاهُ الْجَلاَلُ أَنَّ الْمُعْتَبَرَ كَوْنُهُ حَاضِرًا طُلُوْعَ الْفَجْرِ .\rBermula yang wajib dalam menginap di sini adalah berhasil berada di daerah Mina di sebagian besar dari malam pada tiga malam dari hari-hari Tasyriq. Dan menjadi nyata sebagian besar itu dengan waktu yang melebihi separuh malam, meskipun hanya lebih sekejap. Dan dimungkinkan bahwa yang dimaksudkan adalah apa yang disebut sebagian besar menurut ada kebiasaan sehingga hal itu tidak mencukupi. Demikian pendapat Asy-Syibromalisi. Dan menurut satu pendapat yang diceritakan oleh Al-Jalal adalah bahwa yang diperhitungkan adalah keberadaannya/kehadirannya pada saat terbit fajar.\rSebagian ulama yang lain berpendapat bahwa mabit di Mina hukumnya sunnah. Sehingga jamaah haji yang tidak melakukannya dan tetap tinggal di Aziziyah sunnah untuk membayar fidyah atau dam dan tidak mempengaruhi keabsahan ibadah hajinya.\rUntuk memenuhi nafar awal sekali jalan, dapat dilaksanakan dengan cara jama' pada tanggal 12 Dzulhijjah. Cara tersebut dianggap meninggalkan sunnah Rasulullah saw. Tata cara menjama' lontar jumrah dianjurkan sebagai berikut:","part":2,"page":152},{"id":653,"text":"Lontaran pertama (jumrah ula, wustha, dan aqabah) untuk tanggal 11 Dzulhijjah. Sedangkan lontaran berikutnya (jumrah ula, wustha, dan aqabah) diperuntukkan hari tersebut, yakni 12 Dzulhijjah. Berhubung yang bersangkutan mengambil nafar awal, maka harus meninggalkan wilayah Mina sebelum tiba waktu shalat maghrib.\rMasing-masing lontaran dikukuhkan dengan niat terpisah.\rmk:@MSITStore:G:\\untuk maktabah baru\\Kumpulan Bahtsul Masaail - Seri 2.CHM::/../../../../My Web Sites/NH/pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/masail/haji/04a180.html?seemore=y - top\rBerulang Mengerjakan Umrah Sunnah\rPermasalahan:\rBagaimana hukum mengerjakan umrah sunnah berulang kali sambil menunggu saat pelaksanaan wuquf di Arafah?\rApa alasan harus mengambil miqat umrah dari Ji'ranah atau Tan'im?\rApakah tidak boleh miqat umrah dari pondokan masing-masing?\rJawaban:\rPendapat yang populer di lingkungan madzhab Maliki menganjurkan pelaksanaan umrah sunnah. Bila dipaksakan mengerjakannya dihukumi makruh.\rالمغني لابن قدامة : 3 : ص 280\rرَوَي اَبُوْ دَاوُدَ بِإِسْنَادِهِ عَنْ سَعْيْدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ أَنَّ رَجُلاً مِنْ اَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم اَتَى عُمَرَ فَشَهِدَ عِنْدَهُ اَنَّهُ سَمِعَ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَنْهَى عَنِ الْعُمْرَةِ قَبْلَ الْحَجِّ .","part":2,"page":153},{"id":654,"text":"Abu Dawud meriwayatkan dengan isnadnya dari Sa'id bin Al-Musayyab bahwa ada seorang pria dari para sahabat Rasulullah saw datang pada Umar dan dia menyaksikan di sisi Umar, bahwa beliau mendengar Rasulullah saw melarang melakukan umrah sebelum haji.\rاَلْفِقْهُ اْلإِسْلاَمِيُّ وَأَدِلَّتُهُ ، وَهْبَة الزُّحَيْلِي : 3 : ص 16\rوَكَرِهَ الْمَالِكِيَّةُ تِكْرَارَ الْعُمْرَةِ فِي السَّنَةِ . وَقَالَ النَّخَعِيُّ : مَا كَانُوْا يَعْتَمِرُوْنَ فِي السَّنَةِ اِلاَّمَرَّةً . وَ ِلأَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم لَمْ يَفْعَلْهُ .\rMadzhab Maliki menghukumi makruh mengulang-ulang umrah dalam satu tahun. An-Nakho'i berkata, \"Mereka tidak melakukan umrah dalam satu tahun kecuali satu kali, karena Nabi saw tidak melakukannya.\"\rAsy-Syarqawi membolehkan perulangan umrah sunnah dan sebagian ulama Syafi'iyah memandang perulangan umrah sebagai hal yang sunnah hukumnya. Akibat dari perulangan umrah sunnah tidak mengakibatkan berbilangnya dam.\rالمغني لابن قدامة المقدسي : 2 : صـ 226\rلاَ بَأْسَ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ اَنْ يَعْتَمِرَ فِي السَّنَةِ مِرَارًا ، ِلأَنَّ عَائِشَةَ اِعْتَمَرَتْ فِي شَهْرٍ مَرَّتَيْنِ بِأَمْرِ النَّيِيِّ صلى الله عليه وسلم عُمْرَةً مَعَ قِرَانِهَا وَعُمْرَةً بَعْدَ حَجِّهَا ، وَ ِلأَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : اَلْعُمْرَةُ اِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَابَيْنَهُمَا","part":2,"page":154},{"id":655,"text":"Tidak apa-apa menurut madzhab Syafi'i dan madzhab Hambali untuk umrah dalam satu tahun berulang-ulang, karena sesungguhnya 'Aisyah melakukan umrah dalam satu bulan dua kali dengan perintah Nabi saw, satu kali umrah dengan haji qirannya, dan satu kali umrah sesudah hajinya. Karena sesungguhnya Nabi saw bersabda, \"Satu umrah sampai umrah yang lain adalah kafarat (tebusan dosa) bagi apa yang ada di antara keduanya.\"\rPerihal beban dam akibat perulangan umrah (sunnah), Imam Ar-Raimiy sependapat dengan Imam Al-Baghawi yang memfatwakan perlipatan dam (sesuai dengan jumlah perulangan umrah).\rكِفَايَةُ الْمُحْتَاجِ : فَخْرُ الدِّيْنِ اَبِى بَكْرٍ بْنِ عَلِي بِنْ ظَهِيْرَةْ الشَّافِعِى صـ 160\rمِمَّا يُسْأَلُ عَنْهُ كَثِيْرًا إِذَا كَرَّرَ الْمُتَمَتِّعُ الْعُمْرَةَ فِي اَشْهُرِ الْحَجِّ ، هَلْ يَتَكَرَّرُالدَّمُ أَمْ لاَ ؟ اَفْتىَ الرَّيْمِيُّ فِي شَرْحِ التَّنْبِيْهِ : بِالتَّكَرُّرِ تَبَعًا لِلإِْمَامِ الْبَغَوِيِّ . وَاْفَتىَ بَعْضُ مَشَايِخِنَا بَعَدَمِهِ وَهُوَ الظَّاهِرُ .\rDari apa-apa yang ditanyakan dengan sering adalah apabila orang yang melakukan haji tamattu', mengulang-ulang umrah dalam bulan-bulan haji. Apakah dia harus berulang-ulang membayar dam atau tidak? Ar-Raymi dalam Syarah At-Tanbih memberi fatwa dengan membayar dam berulang-ulang karena mengikuti Imam Al-Baghawi. Dan sebagian dari guru-guru kita memberi fatwa dengan tidak berulang-ulang membayar dam. Dan itulah pendapat yang jelas.\rحاشية الشرقاوي : 1 : ص 166","part":2,"page":155},{"id":656,"text":"وَلَوْ تَكَرَّرَ الْمُتَمَتِّعُ الْعُمْرَةَ فِي اَشْهُرِ الْحَجِّ لَمْ يَتَكَرَّرِ الدَّمُ عَلَى الرَّاجِحِ قَالَ صَاحِبُ كِفَايَةِ الْمُحْتَاجِ : قُلْتُ وَعَلَى تَقْدِيْرِ التَّكَرُّرِ فَالظَّاهِرُ التَّدَاخُلُ لأَِنَّ الدَّمَيْنِ مُتَجَانِسَانِ فَيَتَدَاخَلاَنِ كَمَا قَالَهُ السُّبْكِى\rAndaikata orang yang melakukan haji tamattu', berulang-ulang melakukan umrah dalam bulan-bulan haji. Maka dia tidak berulang-ulang membayar dam menurut pendapat yang jelas. Pengarang kitab \"Kifayatul Muhtaj\" berkata, \"Berdasar perkiraan berulang-ulang, maka yang jelas adalah saling masuk. Karena dua dam tersebut adalah sejenis sehingga saling masuk. Sebagaimana pendapat As-Subki.\"\rPenetapan Tan'im sebagai miqat umrah diperoleh dari perintah Nabi saw kepada 'Aisyah. Sedangkan Ji'ranah terbaca dari pelaksanaan umrah Nabi saw.\rاِبْنِ بَازْ : التَّحْقِيْقُ واْلإِيْضَاحُ صـ 24-25\rلَكِنْ مَنْ اَرَادَ الْعُمْرَةَ وَهُوِ فِي الْحَرَمِ فَعَلَيْهِ اَنْ يَخْرُجَ اِلِى الْحِلِّ وَيُحْرِمَ بِالْعُمْرَةِ فِيْهِ لأَِنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم لَمَّا طَلَبَتْ مِنْهُ عَائِشَةُ الْعُمْرَةَ اَمَرَ اَخَاهَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ اَنْ يَخْرُجَ بِهَا اِلَى الْحِلِّ فَتُحْرِمَ مِنْهُ . دَلَّ ذَلِكَ عَلَى اَنَّ الْمُعْتَمِرَ لاَ يُحْرِمُ بِالْعُمْرَةِ مِنَ الْحَرَمِ ، وَإِنَّمَا يُحْرِمُ بِهَا مِنَ الْحِلِّ .","part":2,"page":156},{"id":657,"text":"Akan tetapi orang yang ingin umrah sedangkan dia berada di tanah haram, maka dia wajib keluar ke tanah halal dan berihram umrah di tempat tersebut. Karena Nabi saw tatkala 'Aisyah meminta umrah dari beliau, beliau memerintahkan saudara laki-laki 'Aisyah, yaitu Abdurrahman untuk keluar dengan 'Aisyah ke tanah halal dan berihram dari tempat tersebut. Hal itu menunjukkan bahwa orang yang umrah itu tidak boleh berihram umrah dari tanah haram. Dan sesungguhnya dia berihram umrah hanya boleh dari tanah halal.\rلَبَّيْكَ اللََّهُمَّ لَبَّيْكَ ، اَلسَيِّدْ مُحَمَّدْ بِنْ عَلْوِيْ الْمَالِكِيْ صـ 121\rقَالَ فِي كَشَّافِ الْقَنَاعِ : مَنْ كَانَ فِي الْحَرَمِ مِنْ مَكِّيٍّ وَغَيْرِهِ خَرَجَ اِلَى الْحِلِّ فَأَحْرَمَ مِنْ اَدْنَاهُ ، وَمِنَ التَنْعِيْمِ اَفْضَلُ .\rقَالَ ابْنُ سِيْرِيْن : بَلَغَنِيَ اَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم وَقَّتْ لأَِهْلِ مَكَّةَ التَّنْعِيْمَ .\r/Dalam kitab \"Kasysyaaful Qona'\", Sayyid Muhammad Alwi Al-Maliki Al-Husaini berkata, \"Barangsiapa yang berada di tanah haram, dari penduduk Makkah atau lainnya, maka dia keluar ke tanah halal kemudian melakukan ihram dari tempat yang paling dekat. Dan dari Tan'im adalah lebih utama.\"\rIbnu Sirin berkata, \"Telah sampai kepadaku bahwa Nabi saw telah menentukan miqat bagi penduduk Makkah di Tan'im.\"/\rالقرى لقاصد ام القرى ص 615","part":2,"page":157},{"id":658,"text":"عَنْ مِحْرَشِ الْكَعْبِى اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم خَرَجَ مِنَ الْجِعْرَانَةِ لَيْلاً مُعْتَمِرًا وَجَاءَ مَكَّةَ لَيْلاً فَقَضَى عُمْرَتَهُ ثُمَّ خَرَجَ مِنْ لَيْلَتهِ وَاَصْبَحَ فِيْ الْجِعْرَانَةِ كَبَائِتٍ . أَخْرَجَهُ اَحْمَدُ وَالتِّرْمِذِي\rDiriwayatkan dari Mihrasy al-Ka'bi bahwa Rasulullah saw telah keluar dari Ji'ranah pada malam hari dalam keadaan umrah dan datang di Makkah pada malam hari. Kemudian menunaikan umrah beliau, kemudian keluar pada malam hari itu dan masuk pada waktu pagi di Ji'ranah seperti orang yang menginap. HR. Ahmad dan at-Tirmidzi.\rالمغنى في فقه الحج والعمرة : سعيد بن عبد القادر باشنفر ص 64\rأَمَّا الْمِيْقَاتُ الْمَكَانِيُّ : فَاْلأَفَقِيُّ مِيْقَاتُهُ لِلْحَجِّ هُوَ مِيْقَاتُهُ لِلْعُمْرَةِ ، أَمَّا الْمَكِّيُّ فَجَمَاهِيْرُ أَهْلِ الْعِلْمِ اَنْ لاَ يُهِلَّ بِالْعُمْرَةِ مِنْ مَكَّةَ بَلْ يَخْرُجُ اِلَى الْحِلِّ وَيُحْرِمُ مِنْهُ . وَهُوَ قَوْلُ اْلأَئِمََّةِ اْلأَرْبَعَةِ .\rAdapun miqat makani, maka orang-orang yang tidak mempunyai miqat tertentu, miqatnya untuk ihram haji adalah miqatnya untuk ihram umrah. Adapun orang Makkah, maka jumhur (sebagian besar ahli ilmu), sesungguhnya dia tidak boleh berihram untuk umrah dari kota Makkah, akan tetapi keluar ke tanah halal dan melakukan ihram dari tempat tersebut. Dan itulah pendapat dari imam madzhab empat.\rقَالَ الْمُحِبُّ الطَّبَرِيُّ : لاَ اَعْلَمُ اَحَدًا جَعَلَ مَكَّةَ مِيْقَاتًا لِلْعُمْرَةِ . وَكَذَا قَالَ الْحَافِظُ ابْنُ حَجَرٍ الْعَسْقَلاَنِيَّ فِي فَتْحِ الْبَارِي .","part":2,"page":158},{"id":659,"text":"Al-Muhib at-Thabari berkata, \"Saya tidak mengetahui seseorang pun yang menjadikan kota Makkah sebagai miqat untuk ihram umrah. Dan seperti inilah al-Hafidh Ibnu Hajar al-Asqalani berkata dalam kitab \"Fathul Bari\".\rTidak boleh. Karena tata laksana memulai ihram umrah berbeda dengan cara memulai ihram haji.\rاِبْنِ بَازْ : التَّحْقِيْقُ واْلإِيْضَاحُ صـ 34-35\rوَهَذَا الْحَدِيْثُ يُخَصِّصُ حَدِيْثَ ابْنِ عَبَّاسٍ الْمُتَقَدِّمَ \"مَنْ كَانَ دُوْنَ ذَلِكَ فَمُهَلُّهُ مِنْ اَهْلِهِ حَتىَّ اَهْلِ مَكَّةَ يُهِلُّوْنَ مِنْ مَكَّةَ\" اَخْرَجَهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ وَيَدُلُّ عَلَى اَنَّ الْمُرَادَ مِنْ قَوْلِهِ صلى الله عليه وسلم \"حَتىَّ اَهْلِ مَكَّةَ يُهِلُّوْنَ مِنْ مَكَّةَ\" هُوَ اْلإِهْلاَلُ بِالْحَجِّ لاَ عُمْرَةٍ . اِذْ لَوْ كَانَ اْلإِهْلاَلُ بِالْعُمْرَةِ جَائِزًا مِنْ الْحَرَمِ ِلأَذِنَ عَائِشَةَ رضي الله عنها فِي ذَلِكَ وَلَمْ يُكَلِّفْهَا بِالْخُرُوْجِ اِلَى الْحِلِّ . وَهَذَا اَمْرٌ وَاضِحٌ وَهُوَ قَوْلُ الْجُمْهُوْرِ. وَهُوَ اَحْوَطُ لِلْمُؤْمِنِ ، ِلأَنَّ فِيْهِ الْعَمَلَ بِالْحَدِيْثَيْنِ جَمِيْعًا .\r/Hadits ini adalah mentakhsis (mengkhususkan) hadits dari Ibnu 'Abbas yang terdahulu, yaitu, \"Barangsiapa yang tempat tinggalnya kurang dari jarak tersebut. Maka tempat ihramnya adalah dari keluarganya. Sehingga penduduk Makkah melakukan ihram dari kota Makkah.\" Hadits riwayat Bukhari dan Muslim.","part":2,"page":159},{"id":660,"text":"Hadits tersebut menunjukkan bahwa yang dimaksud dari sabda Nabi saw, \"Sehingga penduduk Makkah melakukan ihram dari kota Makkah\", adalah \"ihram haji dan bukan ihram umrah\". Karena andaikata ihram untuk umrah itu diperbolehkan dari tanah haram, niscaya Nabi saw mengizinkan 'Aisyah ra dalam hal tersebut dan tidak memaksanya keluar ke tanah halal. Dan ini adalah perkara yang jelas, dan inilah pendapat jumhur, dan pendapat yang lebih hati-hati bagi orang mukmin. Karena di dalamnya terdapat pengamalan bagi kedua hadits semuanya./\rلَبَّيْكَ اللََّهُمَّ لَبَّيْكَ ، اَلسَيِّدْ مُحَمَّدْ بِنْ عَلْوِيْ الْمَالِكِيْ صـ 121\rقَالَ اْلإِمَامُ الشَّافِعِيُّ فِي اْلأُمِّ : وَإِذَا اَهَلَّ بِحَجٍّ ثُمَّ اَرَادَ الْعُمْرَةَ ، اَنْشَأَ الْعُمْرَةَ مِنْ أَيِّ مَوْضِعٍ شَاءَ اِذَا خَرَجَ مِنَ الْحَرَمِ ، أَيْ اِلَى الْحِلِّ .\rImam Asy-Syafi'i dalam Kitab \"Al-Um\" berkata, \"Apabila seseorang berihram haji kemudian dia ingin umrah, maka dia memulai umrah dari tempat yang manapun dia inginkan apabila dia keluar dari tanah haram, artinya pergi ke tanah halal.\"","part":2,"page":160}],"titles":[{"id":1,"title":"KUMPULAN BM Vol 2 oleh KH. A. Masduqi Machfudh, (1979-2006) (cak@ZEN.Creatife)","lvl":1,"sub":0}]}