{"pages":[{"id":1,"text":"365. HERMENEUTIKA\rOleh Zaine Elarifine Yahya pada 16 Agustus 2011 pukul 2:47\rMuhib Aman Aly >>\rLatar belakang\rAl-Qur'an sebagai kitab suci dan pedoman hidup kaum muslimin telah sedang dan akan selalu ditafsirkan. Karena itu, dalam pandangan kaum muslimin, tafsir al-Qur'an adalah istilah yang sangat mapan. Akhir-akhir ini di negeri kita, hermeneutika sebagai metode penafsiran teks, sedang digandrungi oleh para intlektual dan para orientalis negeri seberang, dan digemakan oleh para pemikir islam moderenis seperti, Hasan Hanafi, Fazlur Rahman, Muhamad Arkoun, Nasr Hamid Abu Zaid dan lain-lain. padahal istilah hermeneutika adalah kosa kata filsafat barat yang juga sangat terkait dengan interpretasi Bibel. Oleh karena itu hermeneutika tidak layak disinonimkan dengan tafsir al-Qur'an yang memiliki konsep yang jelas, berurat dan berakar dalam Islam. Hermeneutika dibangun atas faham relatifisme. Hermeneutika menggiring kepada gagasan bahwa segala penafsiran al-Qur'an itu relatif, padahal fakta empiris menunjukkan para mufassir yang terkemuka sepanjang masa tetap memiliki kesepekatan-kesepakatan. Jika hermeneutika tetap digunakan sebagai sinonim terhadap tafsir, akan mengimplikasikan berbagai problematika yang ada didalam hermeneutika, juga terjadi didalam al-Qur'an. Tulisan di bawa ini akan mengungkap bahwa hermeneutika tidaklah layak untuk di anggap sebagai tafsir.\rHermeneutika, Tafsir dan Ta'wil","part":1,"page":1},{"id":2,"text":"Secara etimologis, kata tafsir berasal dari bahasa Arab, Fassara, yang bermakna menerangkan atau menjelaskan. Kata tafsir disbutkan secara eksplisit di dalam al-Qur'an surat Al-Furqon (25: 33) yang artinya: Tidaklah engkau orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan kami datangkan kepadamu sesuatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya. Secara terminologis, tafsir dimaksud adalah ilmu yang dengannya, pemahaman terhadap kitab Allah swt yang diturunkan kepada Rasulullah saw, penjelasan mengenai makna-makna kitab Allah swt dan penarikan hukum-hukum beserta hikmahnya itu dapat diketahui","part":1,"page":2},{"id":3,"text":"Kata hemeneutika merupakan derivasi dari bahasa Yunani dari akar kata hermCneui, yang berarti menafsirkan. Hermeneutika di asosiasikan kepada Hermes, seorang utusan dewa dalam mitologi Yunani Kuno yang bertugas menyampaikan dan menerjemahkan pesan dewata yang masih samar-samar kedalam bahasa yang dipahami manusia. Sumber-sumber perkamusan menyatakan, Istilah hermeneutika dimulai dari usaha para ahli teologi Yahudi dan Kristen dalam mengkaji ulang secara kritis teks-teks dalam kitab suci mereka untuk mencari \"nilai kebenaran Bible\". Mengapa dengan hermeneutika itu para teologi bertujuan mencari nilai kebenaran dadalam Bible? Jawabannya adalah, karena mereka memiliki sejumlah masalah dengan teks-teks kitab suci mereka. Mereka mempertanyakan apakah secara harfiyah Bible itu bisa dianggap Kalam Tuhan atau perkataan manusia. Hal itu disebabkan adanya perbedaan gaya dan kosa kata yang ditemukan pada berbagai pengarang Bible. Adanya perbedaan itulah yang menyebabkan Bible tidak bisa dikatakan Kalam Tuhan. Oleh sebab itu para teolog Kristen, memerlukan hermeneutika untuk memahami Kalam Tuhan yang sebenarnya. Mereka hampir bersepakat, bahwa Bible secara harfiyahnya bukanlah Kalam Tuhan. Keadaan ini berbeda dengan kaum Muslimin, yang yang telah bersepakat bahwa al-Qur'an adalah Kalam Allah swt yang diturunkan kepada Rasulullah saw. Kaum Muslimin juga bersepakat, bahwa secara harfiyah al-Qur'an itu dari Allah swt. Juga, kaum Muslimin sepakat, membaca al-Qur'an secara harfiyah adalah termasuk ibadah dan","part":1,"page":3},{"id":4,"text":"mendapat pahala, menolak bacaan harfiyah adalah kesalahan, membacanya secara harfiyah didalam sholat adalah syarat. Oleh sebab itu kaum Muslimin, berbeda dengan Yahudi dan Kristen, tidak pernah bermasalah dengan lafadz-lafadz harfiyah al-Qur'an. Perbedaan selanjutnya adalah, bahwa Bible kini ditulis dan dibaca bukan lagi dengan bahasa asalnya. Bahasa asal Bible adalah Hebrew untuk Perjanjian Lama, Greek untuk Perjanjian Baru, dan Nabi Isa sendiri berbicara dengan bahasa Aramic. Teks-teks Hebrew Bible pula mempunyai masalah dengan isu Orginality. Mengenai bahasa Hebrew sendiri, saat ini tak ada seorangpun yang masih aktif menggunakan bahasa Hebrew kuno. Oleh sebab ketiadaan bahasa Hebrew pada saat ini, maka wajarlah para teolog Yahudi dan Kristen mencari jalan lain untuk memahami kembali Bible melalui hermeneutika. Dalam hal ini hermeneutika kemungkinannya dapat membantu suatu karya terjemahan, lebih-lebih lagi, jika bahasa asalnya sudah tidak ditemukan lagi. Friedrich Schleiermacher (1768-1834), filosof Protestan dari Jerman, yang dipercaya sebagai pendiri hermeneutika secara umum, menyatakan bahwa, diantara tugas hermeneutika itu adalah untuk memahami teks \"sebaik atau lebih baik dari pada pengarangnya sendiri\". Maka wajarlah Bible yang dikarang oleh banyak orang itu memerlukan hermeneutika untuk memahaminya dengan cara yang lebih baik dari pengarangnya Bible itu sendiri. Adapun al-Qur'an, bagaimana mungkin terfikir oleh kaum Muslimin bahwa mereka dapat memahami al-Qur'an lebih baik dari Allah swt","part":1,"page":4},{"id":5,"text":"atau Rasulullah saw ?. Oleh sebab itu, dalam upaya pemahaman lebih dalam mengenai al-Qur'an, kaum Muslimin hanya memerlukan tafsir, bukan hermeneutika, karena mereka telah menerima kebenaran harfiyah al-Qur'an sebagai Kalam Allah swt.\rKalau perlu lebih mendalam lagi, seperti dalam ayat-ayat Mutasyabihat, maka yang diperlukan adalah ta'wil. Perlu ditegaskan, dalam tradisi Islam, ta'wil tidaklah sama dengan hermeneutika, karena ta'wil, mestilah berdasakan dan tidak bertentangan dengan tafsir, dan tafsir berdiri diatas lafadz-lafadz harfiyah al-Qur'an. Jadi, sebagai suatu istilah, ta'wil dapat berarti, pendalaman makna. Imam Al-Jurjani (w. 816/1413) dalam kitab Ta'rifatnya menyatakan tentang hubungan tafsir dan ta'wl sebagi berikut : Ta'wil secara asalnya bermakna kembali. Namun secara syara' ia brmakna memalingkan lafadz dari maknanya yang dhohir kepada makna yang mungkin terkandung didalamnya, apabila makna yang mungkin itu sesuai dengan Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah. Contohnya seperti firman Allah swt \"Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati \" (al-Anbiya': 95), apabila yang dmaksudkan disitu adalah mengeluarkan burung dari telur, maka itulah tafsir. Tetapi apabila yang dimaksud disitu adalah mengeluarkan orang yang berilmu dari orang yang bodoh, maka itulah ta'wil .","part":1,"page":5},{"id":6,"text":"Dari penjelasan diatas, jelaslah bahwa ta'wil lebih dalam dari tafsir, dan tafsir itu berdasarkan kepada makna dhohir lafadz harfiyah ayat-ayat al-Qur'an. Jadi, sebenarnya terdapat banyak perbedaan antara tafsir dan hermeneutika. Bahkan terdapat ketidakmungkinan jika mengaplikasikan hermeneutika kedalam tafsir al-Qur'an.\rDari sisi epistemologis, hermeneutika bersumber dari akal semata-mata, oleh karenanya hermeneutika memuat dhon (dugaan), syak (keraguan), mira' (asumsi), sedangkan didalam tafsir, sumber epistemologi adalah wahyu al-Qur'an. Karena itu, tafsir terikat dengan apa yang telah disampaikan, diterangkan dan dijelaskan oleh Rasulullah saw. Allah berfirman dalam surat al-Nahl (44). yang artinya : Telah kami turunkan kepadamu (Muhammad) Kitab tersebut, agar kamu jelaskan kepada umat manusia tentang apa yang telah diturunkan (Allah) kepada mereka, dan agar mereka memikirkannya. Rasulullah saw menyampaikan, menerangkan dan menjelaskan isi al-Qur'an, jika ada diantara para sahabat yang bersilisih atau tidak mengerti mengenai kandungan ayat al-Qur'an, mereka merujuk langsung kepada Rasulullah saw, akal tidak dibiarkan lepas landas melanglang buana, sebagaimana yang terjadi didalam hermeneutika. Akal yang liberal tanpa ikatan, akan dengan mudah menyalah tafsirkan ayat-ayat al-Qur'an. Setelah Rasulullah saw wafat, para sahabat menafsirkan ayat al-Qur'an dengan sangat hati-hati. Abu Bakar ra misalnya, mengatakan : \"Bumi mana yang akan membawaku, dan langit mana yang akan menaungiku, jika aku","part":1,"page":6},{"id":7,"text":"mengatakan didalam Kitab Allah apa yang aku tidak ketahui\" . Para sahabat menafsirkan al-Qur'an dengan berpegang kepada penafsiran yang telah diberikan oleh Rasulullah saw. Ketika menafsirkan al-Qur'an, para sahabat pertama-tama menelitinya dalam ayat-ayat al-Qur'an yang lain, karena ayat-ayat al-Qur'an satu sama yang lain saling menafsirkan. Setelah itu mereka merujuk pada penafsiran Rasulullah saw, sesuai dengan fungsi beliau sebagai penjelas terhadap ayat-ayat al-Qur'an. Sekiranya penjelasan tertentu tidak ditemukan didalam al-Qur'an dan Hadits, maka para sahabat berijtihad. Setelah generasi para sahabat, para tabi'in menafsirkan al-Qur'an dengan al-Qur'an, Hadits dan pendapat para sahabat, setelah itu baru dilakukan ijtihad. Pada masa para tabi'in, tafsir, belum merupakan disiplin ilmu tersendiri. Tafsir merupakan bagian dari Hadits. Ini menunjukkan dengan jelas bahwa tafsir tidaklah semena-mena, namun selalu terkait dengan apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya. Pada abad keempat hijryah, Imam Ibnu Jarir al-Thobari, menulis kitab Jami' al-Bayan 'an Ta'wil al-Qur'an yang mengumpulkan segala berita dari para otoritas sebelumnya yang berkaitan dengan al-Qur'an. Al-Thobari menggunakan sistem isnad untuk menafsirkan al-Qur'an. Tujuannya adalah untuk menjaga agar penafsiran tidak dilakukan secara sembarangan dan tetap bersandar kepada penafsiran yang otoratif. Pendekatan al-Thobari ini kemudian diikuti oleh para mufassir yang lain, seperti Ibnu Katsir dengan Tafsir","part":1,"page":7},{"id":8,"text":"al-Qur'an al-Karim, al-Suyuthi dengan tafsirnya al-Durr al-Mantsur fi Tafsir bi al-Ma'tsur dan lain-lain. Berbeda dengan tafsir yang sudah mapan didalam Islam, hermeneutika muncul didalam konteks peradaban Barat, yang didominasi oleh konsep ilmu yang skeptik. Karena itu konsep yang ditawarkan oleh para hermeneut tentang makna, kandungan, teori hermeneutika itu sendiri, terus menerus mengalami berbagai perubahan, perbedaan dan bahkan pertentangan. Teori hermeneutika dibangun atas spekulasi akal. Karena itu, konsep dan teorinya tidak jelas sebagaimana penggunaan tafsir yang selalu terkait dengan al-Qur'an dan Hadits.\r'Ulumul Qur'an dan Kredibilitas Mufassir","part":1,"page":8},{"id":9,"text":"Selain tafsir al-Qur'an, ilmu-ilmu yang membantu dalam menafsirkan al-Qur'an sudah wujud dengan sangat mapan. Kajian secara lebih mendalam dan khusus serta sistimatis mencakup berbagi aspek didalam al-Qur'an, seperti al-Qira'ah, asbab al-nuzul, nasikh wa al-mansukh, tarikh al-Qur'an, al-muhkan wa al-mutasyabihat, dan lain-lain. Ilmu-ilmu yang telah disebutkan diatas, harus dimiliki oleh para mufassir, agar isi al-Qur'an tidak ditafsirkan semena-mena. Para mufassir harus memiliki kredibilitas supaya tidak terjadi penyimpangan penafsiran. Jika penafsiran al-Qur'an dilakukan dengan sesuka hati oleh siapa saja, maka akan terjadi banyak kebingungan dan kerancuan penafsiran, sebagaimana yang terjadi dalam kelompok Ahmadiyah, yang menafsirkan al-Qur'an sesuai dengan kepentingan golongannya. Menghindari hal-hal seperti itu, para penafsir harus memenuhi berbagai pra syarat. Imam al-Suyuthi menyebutknan bahwa, seorang mufassir harus menguasi nahwu, shorrof, istihqoq, ma'ani, bayan, badi', qiro'ah, ushuluddin, ushul al-fiqh, asbab al-nuzul, qishosh, nasikh wa al-mansukh, fiqh, dan hadits-hadits yang menerangkan al-Qur'an, disamping itu ia juga harus mengamalkan ilmunya . Pra syarat ini juga, yang membedakan dengan hermeneutika, yang membuka penafsiran seluas mungkin bagi siapa saja untuk menginterpretasikan teks.","part":1,"page":9},{"id":10,"text":"Saat ini para orientalispun sangat getol menafsirkan al-Qur'an. Karena itu, sangat banyak sekali ditemukan penafsiran yang memuat kepentingan mereka. Padahal para ulama' kita sejak dulu sudah menetapkan bahwa diantara syarat-syarat para mufassir adalah berkaitan dengan keberagamaan dan akhlaq, yaitu memiliki akidah yang sahih, komitmen dengan kewajiban agama dan akhlaq Islami. Al-Thabari, misalnya, mengemukakan bahwa syarat utama seorang mufassir adalah akidah yang benar dan komitmen mengikuti sunnah. Orang yang akidahnya cacat, tidak dapat dipercaya bisa mengemban amanah yang berkaitan dengan urusan keduniawian apalagi urusan keagamaan.\rKesimpulan","part":1,"page":10},{"id":11,"text":"Walhasil, hermaneutika jelas berbeda dengan tafsir ataupun ta'wil, hermeneutika tidak sesuai untuk kajian al-Qur'an, baik dalam arti teologis atau filosofis. Dalam arti teologis, hermeneutika akan brakhir dengan mempersoalkan ayat-ayat yang sudah dhohir dari al-Qur'an dan menganggapnya sebagai problematik. Diantara kesan hermeneutika teologis ini adalah adanya kesan keragu-raguan terhadap Mushaf Utsmani yang telah disepakati oleh kaum Muslimin. Keinginan para pemikir moderen, Muhammad Arkon misalnya, untukmen-\"Deconstruct\" (merubah ulang) Mushaf Utsmani , adalah pengaruh dari hermeneutika teologis ini. Pendapat Nasr Hamid Abu Zaid yang menyatakan bahwa, posisi Nabi Muhammad saw, sebagai semacam pengarang al-Qur'an, Nabi Muhammad saw sebagai seorang Ummiy, bukanlah penerima wahyu pasif, tetapi mengolah redaksi al-Qur'an, sesuai dengan kondisinya sebagai manusia biasa, setelah al-Qur'an disampaikan oleh Rasulullah saw kepada umatnya, maka telah berubah menjadi teks Insani bukan teks Ilahi yang suci dan sakral , adalah kesan yang muncul dari hermeneutika filosofis.","part":1,"page":11},{"id":12,"text":"Dalam posisi yang lebih ekstrim, filsafat hermeneutika telah memasuki dataran epistemologis yang berakhir pada pemahaman Shophist yang bertentangan dengan pandangan hidup Islam. Filsafat hermeneutika berujung pada kesimpulan universal bahwa, setiap pemahaman teks adalah bentuk dari interpretasi, dan karena interpretasi itu tergantung kepada orangnya, maka hasil pemahaman tersebut menjadi subyektif. Dengan kata lain, tidak ada orang yang dapat memahami apapun secara obyektif. Aqidah al-Nasafi, pada pragraf pertamanya menyatakan : Semua hakikat segala perkara itu tsabit adanya, dan pengetahuan akan dia adalah yang sebenarnya, berbeda dengan pendapat kaum Sufasta'iyyah . Salah satu golongan Sufasta'iyyah itu adalah golongan 'indiyyah (Subyektifisme) yang menganut faham bahwa tidak ada kebenaran obyektif dalam ilmu, semua ilmu adalah subyektif, dan kebenaran mengenai sesuatu hanyalah semata-mata pendapat seseorang. Apabila semua ini dikaitkan dengan kajian al-Qur'an, maka akibatnya tidak ada kaum Muslimin yang mempunyai pemahaman yang sama mengenai al-Qur'an, karena semua pemahaman itu tergantung pada interpretasi masing-masing.","part":1,"page":12},{"id":13,"text":"Gagasan Schleiermacher bahwa penafsir dapat lebih mengerti lebih baik dari pengarang, sangat tidak tepat untuk di aplikasikan pada al-Qur'an. Tidak seorangpun dari kalangan mufassir mengatakan bahwa dia akan lebih mengerti dari pada \"pengarang\" al-Qur'an, Allah swt. Juga gagasan Wilhem Dilthey yang menggambarkan bahwa pengarang tidak mempunyai otoritas atas makna teks, tapi sejarahlah yang menentukan maknanya. Pendapat semacam ini jelas tidak dapat diaplikasikan didalam tafsir al-Qur'an. Bagi Mufassir, Allah swt, justru mengubah sejarah, bukan malah dipengaruhi oleh sejarah. Begitu juga gagasan Gadamer yang menyatakan bahwa penafsiran senantiasa terikat oleh konteks tradisinya masing-masing, Penafsir tidak mungkin melakukan penafsiran dari sisi yang netral. Penafsir merupakan \"reinterpretation\", memahami lagi teks secara baru dan makna yang baru pula. Pendapat Gadamer sebagaimana diatas, akan menggambarkan bahwa para penafsir tidak akan terlepas daripada latar belakang situasi, budaya dan sosial. Bagi kaum Muslimin, para mufassir, baik dahulu, sekarang dan yang akan datang, tidak akan terjebak dengan latar belakang sosial dan budaya. Tafsir dilakukan melampaui batas budaya dan lokal. Oleh karena itu, masih banyak kesepakatan diantara para mufassir, meskipun latar belakang sosial dan budaya mereka berbeda.","part":1,"page":13},{"id":14,"text":"Terakhir, sebagai penutup, berikut saya kutip sedikit tulisan yang terdapat dalam buku \"Hermeneutika Transdental : Dari Konfigurasi Filosofis menuju Praksis Islamic Studies\" yang telah banyak beredar, sebagai contoh dari dampak gagasan mengusung Hermeneutik ke al-Qur'an. Berikut tulisannya : \"….kiranya tidak ada salahnya jika digulirkan gerakan re-orientasi penafsiran al-Qur'an dari yang berwacana superioritas menuju Qur'an yang komunikatif. Artinya : pandangan tentang al-Qur'an yang mau mengakomodir pandangan-pandangan yang bernuansa kemanusiaan. Sehingga manusia \"ada\" ketika berhadapan dengan al-Quran. Jika selama ini penafsiran tentang al-Qur'an sudah menempatkan al-Qur'an sebagai \"benda suci\" yang tak bisa salah, maka saat ini diperlukan sebuah paradigma yang tak bisa melepaskan al-Qur'an sebagai produk budaya manusia dalam menagkap keber\"ada\"an Tuhan. Inilah yang disebut dengan Qur'an komunikatif, dimana manusia diberi ruang kebebasan dalam menafsirkannya, terlepas dari adiprasangka al-Qur'an yang sudah terlanjur sudah dianggap Maha Suci bahkan anti kritik. Sekali lagi, kebenaran al-Qur'an adalah kebenaran menurut ukuran manusia. Al-Qur'an tidak bisa menunjukkan kebenarannya tanpa mengikut sertakan pandangan kebenaran dari manusia. Jadi, kebenaran al-Qur'an adalah kebenaran yang bersifat manusiawi. Sudah sewajarnya jika manusia diberi ruang dalam menginterpretasikan al-Qur'an. Namun, jika al-Qur'an kita pandang secara absolut, maka tidak ada nilai guna yang kreatif bagi perkembangan","part":1,"page":14},{"id":15,"text":"manusia…..(hal: 204-205). Pernyataan diatas jelas sekali membeo hermeneutika Kritisnya Habermas tanpa mengetahui konsekuensi epistemologisnya. Atau barangkali penulisnya tidak tahu bagaimana posisi epistemologis al-Qur'an. Menganggap al-Qur'an bukan suci lagi dan bisa salah, telah mereduksi kalau tidak menafikan status al-Qur'an sebagi wahyu Allah swt.\rTulisan ini saya akhiri dengan peringatan Rasulullah saw: \" Kamu akan mengikuti jalan-jalan kaum sebelum kamu, sehasta demi sehasta, sejengkal demi sejengkal, sehingga apabila mereka masuk lubang biawak sekalipun, kamu akan mengikutinya jua \". Kemudian Rasullah saw ditanya : \"Apakah mereka (yang diikuti) itu kaum Yaudi dan Nasrani ?, Rasulullah saw menjawab : \"Siapa lagi (kalau bukan mereka). (HR.Bukhori Muslim.) Wallohu A'lam bi al-Showab.\r366. DIBALIK FAHAM LIBERAL\rOleh Zaine Elarifine Yahya pada 16 Agustus 2011 pukul 19:45\rMuhib Aman Aly >>\rLiberalisasi Pemusnah Islam Sekularisasi dan liberalisasi sampai saat ini terus belangsung dalam berbagai sisi kehidupan sosial, ekonomi, politik dan bahkan pemikiran keagamaan. Kini setelah 30 Tahun sejak dikampanyekan oleh Nurkholis Madjid, arus besar itu semakin sulit dekendalikan, dan berjalan semakin liar. Penyebaran paham “pluralisme agama”, ”dekonstruksi agama”, “dekonstruksi kitab suci” dan sebagainya, kini justru berpusat dikampus-kampus dan organisasi Islam bahkan mulai merambah pesantren. Paham ini menusuk jantung dan merobohkan Islam dari pondasinya yang paling dasar.\rAkar Liberalisme","part":1,"page":15},{"id":16,"text":"Untuk menelurusi Islam Liberal, tidak bisa terlepas dari Sekularisasi Agama. Sekularisasi merupakan gagasan penting yang berasal dari kelompok Islam Liberal. Jika kita mencermati tulisan-tulisan mereka, kita akan mengetahui bahwa gagasan ini terus menerus diperjuangkan secara konsisten.\rTidak diragukan lagi bahwa sekularisasi adalah gagasan yang berasal dari warisan sejarah perkembangan peradaban Barat. Hal ini dapat ditelusuri mulai abad pertengahan Barat ketika peradaban mereka ditandai dengan adanya dominasi gereja yang menghambat kemajuan penelitian ilmiah. Penyebabnya adalah Bible mengandung hal-hal yang bertentangan dengan akal. Harvey Cox (ahli teologi Kristen dari Harvard) membuka buku terkenalnya, The Secular City, dengan bab “The Biblical Source of Secularizatioan”, yang diawali kutipan pendapat teolog Jerman Friedrich Gogarten: ”Bahwa sekularisasi adalah akibat logis dari dampak kepercayaan Bible terhadap sejarah”.\rSekularisasi kata Harvey Cox, mengimplikasikan proses sejarah. Masyarakat perlu dibebaskan dari kontrol agama. Sekularisasi adalah pembebasan manusia dari asuhan agama dan metafisika, pengalihan perhatiannya dari dunia lain. Jadi, intinya sekularisasi adalah perkembangan yang membebaskan (liberal).","part":1,"page":16},{"id":17,"text":"Sekularisasi dibidang agama adalah penyingkiran nilai-nilai agama. Penganut paham sekuler menyatakan kebenaran adalah relativ. Tidak ada kebenaran yang mutlak. Manusia sekuler percaya bahwa \"wahyu langit\" dapat dipahami karena hal itu terjadi dalam sejarah yang dibentuk oleh kondisi sosial politik tertentu.\rJadi sebenarnya, semua sistem nilai terbentuk oleh sejarah yang mengikuti ruang dan waktu tertentu. Sekularisasi akan menjadikan sejarah dan masa depan cukup terbuka untuk perubahan dan kemajuan karena manusia akan bebas membuat perubahan secara proaktif dalam proses evolusi (perubahan secara lambat).\rDengan konsep ini manusia sekuler dapat tidak mengakui kebenaran Islam yang mutlak. Mereka akan menolak konsep-konsep Islam yang yang tetap (tsawabit) karena semua hal dianggap relatif.\rSumber utama pemikiran ini apabila diurut akan berujung pada aliran Sufastha'iyyah (kaum sophist). Dalam aqidah annasafi dinyatakan :\rحقيقة الأشياء ثابتة والعلم بها متحقق خلافا لسفسطائية\r\"Semua hakikat segala perkara itu tsabit adanya, dan pengetahuan kita akan dia adalah yang sebenarnya kecuali menurut kaum sufastha'iyyah \" .\rSalah satu golongan Sufastha'iyyah itu adalah golongan 'Indiyyah (Subyektifisme) yang menganut faham bahwa tidak ada kebenaran obyektif dalam ilmu. Semua ilmu adalah subyektif, dan kebenaran mengenai sesuatu hanyalah semata-mata pendapat seseorang. Maka kebenaran bagi mereka adalah segala yang berlaku di masyarakat dan bukan yang dikonsepkan dalam al-Qur'an.\rLiberalisasi Islam","part":1,"page":17},{"id":18,"text":"Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa paham Islam liberal adalah paham yang membongkar kemapanan dalam ajaran Islam yang sudah baku. Setiap manusia mempunyai kewenangan dalam menilai baik dan buruk tanpa harus ada campur tangan siapapun. Paham ini sejalan dengan kaum Mu'tazilah. Ulil Abshar Abdallah, tokoh liberal, pimpinan JIL, secara tegas mengakui bahwa kaum liberalis adalah penerus aliran Mu’tazilah. Bahkan kalau kita melihat pemikiran-pemikirannya mereka justru melebihi aliran Mu’tazilah, mereka sudah jauh melampaui ayat-ayat al-Qur'an dan hadits.\rIsu-isu yang mereka lemparkan tidak hanya seputar, gender (peran wanita di ruang publik), pluralisme (kesetaraan semua agama), demokrasi, HAM, bahkan sudah berani menggugat ke-otentikan al-Qur'an.\rSecara umum ada tiga bidang penting dalam ajaran Islam yang menjadi sasaran liberalisasi, yaitu; (1) leberalisasi bidang aqidah dengan penyebaran paham pluralisme agama, (2) liberalisasi bidang syari’ah dengan melakukan perubahan metodologi ijtihad, dan (3) liberalisasi konsep wahyu dengan melakukan dekonstruksi terhadap al-Qur’an.\rLiberalisasi Akidah Islam","part":1,"page":18},{"id":19,"text":"Liberalisasi aqidah islam dilakukan dengan penyebaran paham “pluralisme agama”. Paham ini pada dasarnya menyatakan, bahwa semua agama adalah jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan yang sama. Jadi, menurut penganut paham ini, semua agama adalah jalan yang berbeda-beda menuju Tuhan yang sama. Atau mereka menyatakan, bahwa agama adalah persepsi relativ terhadap Tuhan yang mutlak, sehingga – karena kerelativannya – maka setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim atau meyakini, bahwa agamanya sendiri yang lebih benar atau lebih baik dari agama lain; atau mengklaim bahwa agamanya sendiri yang benar.\rDi majalah Gatra edisi 21 Desember 2002. Ulil Abshar mengatakan: \"Semua agama sama, semuanya menuju jalan kebenaran. Jadi Islam bukan yang paling benar \".\rNuryamin Aini, dosen Fakultas Syari’ah UIN Jakarta mengatakan: “Tapi ketika saya mengatakan agama saya benar, saya tidak punya hak untuk mengatakan bahwa agama orang lain salah, apalagi kemudian menyalah-nyalahkan atau memaki-maki.","part":1,"page":19},{"id":20,"text":"Dalam buku Teologi Inklusif Cak Nur ditulis : Bangunan epistemologis teologi inklusif Cak Nur diawali dengan tafsiran al-Islam sebagai sikap pasrah kehadirat Tuhan. Kepasrahan ini, kata Cak Nur, menjadi karakteristik pokok semua agama yang benar. Inilah World view al-Qur’an, bahwa semua agama yang benar adalah al-Islam, yakni sikap pasrah diri kehadirat Tuhan. (QS 29:46). Selanjutnya dikatakan : “Dalam konteks inilah sikap pasrah menjadi kualifikasi signifikan pemikiran teologi inklusif Cak Nur”. Bukan saja kualifikasi seorang yang beragama Islam, tetapi “muslim” itu sendiri (secara generik) juga dapat menjadi kualifikasi bagi penganut agama lain, khususnya bagi penganut Kitab Suci baik Yahudi maupun Kristen. Maka konsekuensi secara teologis bahwa siapapun diantara kita – baik sebagai orang Islam, Kristen, Yahudi - yang benar-benar beriman kepada Tuhan dan hari kemudian serta berbuat kebaikan maka akan mendapat pahala di sisi Tuhan (QS.2:62, 5:69). Dengan kata lain sesuai firman Tuhan ini, terdapat jaminan teologi bagi umat beragama apapun “agama”-nya, untuk menerima pahala (surga) dari Tuhan.","part":1,"page":20},{"id":21,"text":"Sukidi, alumnus Fakultas Syari’ah IAIN Ciputat, menulis di koran Jawa Pos (11/1/2004): “Dan konsekuensinya, ada banyak kebenaran dalam tradisi dan agama-agama. Nietzsche menegaskan adanya kebenaran tunggal dan justru bersikap afirmatif terhadap banyak kebenaran. Mahatma Gandhi pun seirama dengan mendeklarasikan bahwa semua agama baik Hinduisme, Budhisme, Yahudi, Kristen, Islam maupun lainnya adalah benar. Dan konsekuensinya kebenaran ada dimana-mana dan ditemukan pada semua agama. Agama-agama itu diibaratkan dalam nalar pluralisme Gandhi seperti pohon yang memiliki banyak cabang tapi berasal dari satu akar. Akar yang satu itulah yang menjadi asal dan orientasi agama-agama. Karena itu mari kita memproklamirkan kembali bahwa pluralisme agama sudah menjadi hukum tuhan (sunnatullah) yang tidak mungkin berubah, dan karena itu mustahil pula kita melawan dan menghindar. Sebagai muslim kita tidak punya jalan lain kecuali bersikap positif dan optimistis dalam menerima pluralisme agama sebagai hukum Tuhan.\rPada kesempatan lain Ulil Abshar mengatakan: \"Saya ini terlahir sebagai orang NU. Tetapi saya yakin seyakin-yakinnya bahwa keimanan saya seperti sekarang ini sudah tidak lagi memadai untuk dibungkus dalam sebuah label. Bahkan kalau mau ditarik lebih jauh lagi, keimanan saya bisa berinteraksi dengan keimanan orang-orang dari agama lain; bahkan Islampun sebagai sebuah 'label sosiologi' kerapkali tak memadai untuk menampung semangat lintas batas ini \".","part":1,"page":21},{"id":22,"text":"Prof.Dr. Abdul Munir Mulkan, dosen UIN Yogyakarta, menulis: “Jika semua agama memang benar sendiri, penting diyakini bahwa surga Tuhan yang satu itu sendiri terdiri dari banyak pintu dan kamar. Tiap pintu adalah jalan pemeluk tiap agama memasuki kamar surganya. Syarat memasuki surga ialah keikhlasan pembebasan manusia dari kelaparan, penderitaan, kekerasan, dan ketakutan, tanpa melihat agamanya. Inilah jalan universal surga bagi semua agama.\rPenting diketahui oleh umat Islam, khususnya kalangan lembaga pendidikan Islam, bahwa hampir seluruh LSM dan proyek yang dibiyayai oleh LSM-LSM Barat, seperti The Asia Foundation, Ford Foundation, adalah mereka yang bergerak menyebarkan paham Pluralisme Agama. Ini bisa dilihat dalam artikel-ertikel yang diterbitkan oleh jurnal Tashwirul Afkar yang diterbitkan oleh Lakspedam PBNU (periode lalu) bekerjasama dengan Ford Foundation, dan Jurnal Tanwir yang diterbitkan oleh Pusat Studi Agama dan Peradaban Muhammadiyah bekerjasama dengan The Asia Foundation. Mereka tidak menyebarkan paham ini secara asongan tetapi memiliki program yang sistematis untuk mengubah kurikulum pendidikan Islam yang saat ini masih mereka anggap belum inklusif-pluralis.","part":1,"page":22},{"id":23,"text":"Sebagai contoh, Jurnal Tashwirul Afkar edisi No 11 tahun 2001, menulis laporan utama berjudul “Menuju Pendidikan Islam Pluralis”. Ditulis dalam Jurnal ini: “Filosofi pendidikian Islam yang hanya membenarkan agamanya sendiri, tanpa mau menerima kebenaran agama lain mesti mendapat kritik untuk selanjutnya dilakukan reorientasi. Konsep iman-kafir, muslim-nonmuslim, dan baik-benar, yang sangat berpengaruh terhadap cara pandang Islam terhadap agama lain, mesti dibongkar agar umat Islam tidak lagi menganggap agama lain sebagai agama yang salah dan tidak ada jalan keselamatan”.\rPluralisme dan Pluralitas\rKemajemukan (pluralitas) adalah sebuah keniscayaan yang tak dapat dinafikan. Itu memang benar. Di dalamnya ada kaum pria dan wanita, tua dan muda, yang berkulit hitam dan putih, dengan beragam agama dan kepercayaan. Demikian seterusnya.\rAkan tetapi, menarik garis lurus, bahwa kemajemukan itu identik dengan pluralisme, tentu merupakan kesalahan, kalau tidak mau dianggap penyesatan. Memang, pluralisme adalah paham yang berangkat dari konteks pluralitas. Akan tetapi, sebagai paham, pluralisme jelas berbeda dengan pluralitas (kemajemukan) itu sendiri.\rDalam konteks pluralitas (kemajemukan), al-Quran bahkan telah menyatakannya dengan jelas, sebagai sebuah keniscayaan:\r•• • •","part":1,"page":23},{"id":24,"text":"\"Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal\".(QS al-Hujurat: 49: 13).\rPluralitas ini tidak hanya terjadi dalam konteks fisik, tetapi juga non-fisik. Banyaknya pandangan, aliran, paham, agama dan ideologi, misalnya, jelas merupakan kenyataan yang tidak dapat dilepaskan dari fenomena pluralitas di atas.","part":1,"page":24},{"id":25,"text":"Hanya saja, dalam konteks pluralitas yang pertama, ia umumnya dapat diterima sebagai keniscayaan, seperti apa adanya. Ini berbeda dengan konteks pluralitas yang kedua karena yang terakhir ini melibatkan pandangan, aliran, paham, agama, dan ideologi yang menjadi anutan. Dianut, karena diyakini oleh penganutnya benar. Nah, di sinilah kemudian muncul persoalan seputar klaim kebenaran, yang sering dilontarkan oleh kelompok liberal. Sebab, dalam bayangan mereka, kalau masing-masing penganut paham tersebut mengklaim dirinya benar, dan yang lain salah, pasti akan terjadi pemaksaan kebenaran yang dianutnya kepada orang lain; sesuatu yang - menurut bayangan mereka - akan menyebabkan hilangnya pluralitas dan kebebasan. Karena itu, untuk mencegah terjadinya hal itu, tidak boleh ada klaim kebenaran. Kebenaran harus direlatifkan. Dengan begitu, masing-masing pihak tidak akan merasa terancam dengan pihak lain, yang mengklaim benar. Inilah yang melatarbelakangi lahirnya paham pluralisme, yang intinya menyatakan bahwa semua pandangan, aliran, paham, agama dan ideologi itu sama-sama benar. Mengapa semuanya harus disama-dudukkan dan disama-benarkan? Karena, menurut mereka, hanya dengan cara itulah pandangan, aliran, paham, agama, dan ideologi lain tidak akan saling merasa terancam. Dengan cara seperti itu pula, kehidupan yang plural bisa tetap dipertahankan dalam keharmonisan. Akan tetapi, apa memang demikian?","part":1,"page":25},{"id":26,"text":"Paham seperti itu justru utopis. Ia jelas mengingkari kebenaran yang diyakini oleh masing-masing penganut pandangan, aliran, paham, agama dan ideologi yang memang plural tersebut. Sebab, betapapun tolerannya penganut paham tertentu, dia tetap berkeyakinan, bahwa apa yang dianutnya adalah benar. Baginya, kebenaran yang dianutnya itu bukanlah klaim. Karena itu, orang Kristen, Hindu, atau yang lain pasti akan marah, kalau kebenaran yang mereka yakini itu dianggap klaim. Apa lagi kemudian masing-masing disuruh melakukan kompromi, dengan merelatifkan kebenaran yang mereka yakini, itu pasti tidak akan mereka terima. Itulah yang ditunjukkan oleh Magnis Suseno. Karena itu, dengan keras Magnis Suseno menolak pluralisme. Jadi, paham pluralisme dengan gagasan klaim kebenarannya itu jelas utopis, tidak membumi, dan justru bertentangan dengan fitrah keyakinan manusia.\rDalam pandangan Islam, paham Pluralisme Agama ini jelas merupakan paham syirik modern, karena menganggap semua agama adalah benar.\rKeyakinan akan kebenaran Dinul Islam sebagai satu-satunya agama yang benar dan diridloi Allah swt, adalah konsep yang sangat mendasar dalam Islam. Iman adalah kata lain dari tashdiq, yakni kepercayaan yang mengakar kuat. Iman tidak mungkin berkumpul menjadi satu dengan keragu-raguan.","part":1,"page":26},{"id":27,"text":"Jika seorang muslim tidak boleh meyakini bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar, dan agama lain adalah salah, maka kita bertanya-tanya, untuk apa ada konsep teologi Islam? Jika seorang tidak yakin dengan kebenaran yang dibawanya – karena semua kebenaran dianggapnya relativ – maka untuk apa ia berdakwah atau berada dalam organisasi dakwah? Untuk apa ia menyeru orang lain mengikuti kebenaran dan menjauhi kemungkaran, sedangkan ia sendiri tidak meyakini apa yang disebut benar dan apa yang disebut salah. Pada akhirnya, golongan “ragu-ragu” akan “berdakwah” mengajak orang untuk bersikap “ragu-ragu” juga. Mereka sejatinya telah memilih satu jenis “keyakinan” baru, bahwa tidak ada agama yang benar atau semuanya benar.\rLiberalisasi Al-Qur’an\rSalah satu wacana yang berkembang pesat dalam tema liberalisasi Islam di Indonesia saat ini adalah tema “dekonstruksi Kitab suci”. Di kalangan Yahudi dan Kristen, fenomena ini sudah berkembang pesat. Kajian Biblical Criticism atau studi tentang kritik Bible dan kritik teks Bible telah berkembang pesat di Barat.","part":1,"page":27},{"id":28,"text":"Pesatnya studi kritis Bible ini telah mendorong kalangan Kristen-Yahudi untuk “melirik” al-Qur’an dan mengarahkan hal yang sama terhadap al-Qur’an. Pada tahun 1972, Alphonse Mingana, pendeta Kristen asal Irak dan guru besar di Universitas Brimingham Inggris, mengumumkan bahwa, “sudah tiba saatnya sekarang untuk melakukan kritik teks terhadap al-Qur’an sebagimana telah kita lakukan terhadap kitab suci Yahudi yang berbahasa Ibrani-Arami dan kitab suci Kristen yang berbahasa Yunani.\rHampir satu abad yang lalu, para orientalis dalam bidang studi al-Qur’an bekerja keras untuk menunjukkan bahwa al-Qur’an adalah kitab bermasalah sebagaimana Bible. Mereka tidak pernah berhasil. Tapi anehnya, kini imbauan itu diikuti oleh banyak sarjana muslim sendiri.\rSesuai paham pluralisme agama, maka semua agama harus didudukkan pada posisi yang sejajar, sederajat, tidak boleh ada yang mengklaim lebih tinggi, lebih benar, atau paling benar sendiri. Begitu juga dengan pemahaman tentang Kitab Suci. Tidak boleh ada kelompok yang mengklaim hanya kitab suci agamanya saja yang suci dan benar.\rLiberalisasi Islam tidak akan lengkap jika tidak menyentuh aspek kesucian al-Qur’an. Mereka berusaha keras meruntuhkan keyakinan kaum muslim, bahwa al-Qur’an adalah Kalamullah, bahwa al-Qur’an adalah satu-satunya Kitab Suci yang suci, bebas dari kesalahan. Meraka mengabaikan bukti-bukti al-Qur’an yang menjelaskan tentang otentitas al-Qur’an dan kekeliruan kitab-kitab agama lain.","part":1,"page":28},{"id":29,"text":"Ulil Abshar Abdallah, menulis di Harian Jawa Pos, 11 Januari 2004: ”Tapi bagi saya, semua kitab suci adalah mukjizat.”\rTaufik Adnan Amal, dosen Ulumul Qur’an di IAIN Makasar, menulis satu makalah berjudul “Edisi Kritis al-Qur’an”, yang isinya menyatakan: “Uraian dalam pragraf-pragraf berikut mencoba mengungkapkan secara ringkas proses pemantapan teks dan bacaan al-Qur’an, sembari menegaskan bahwa proses tersebut masih meninggalkan sejumlah masalah mendasar, baik dalam ortografi teks maupun pemilihan bacaannya, yang kita warisi dalam mushaf tercetak dewasa ini. Karena itu, tulisan ini juga akan menggagas bagaimana menyelesaikan itu lewat suatau upaya penyuntingan Edisi Kritis al-Qur’an”.\rTaufik berusaha meyakinkan, bahwa al-Qur’an saat ini masih bermasalah, tidak kritis, sehingga perlu diedit lagi. Dosen itupun menulis sebuah buku serius berjudul ”Rekonstruksi sejarah al-Qur’an” yang meragukan keabsahan dan kesempurnaan Mushaf Utsmani. Penulis buku ini mencoba meyakinkan bahwa Mushaf Utsmani masih bermasalah, dan tidak layak disucikan.","part":1,"page":29},{"id":30,"text":"Aktivis Islam Liberal, Dr.Luthfi Assyaukanie juga berusaha membongkar konsep dasar Islam tentang al-Qur’an, dia menulis: ”Sebagian besar kaum muslim meyakini bahwa al-Qur’an dari halaman pertama hingga terakhir merupakan kata-kata Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad secara verbatim, baik kata-katanya (lafdhan) maupun maknanya (ma’nan). Kaum muslim juga meyakini bahwa al-Qur’an yang mereka lihat dan baca hari ini adalah persis seperti yang ada pada masa Nabi lebih dari seribu empat ratus tahun silam. Keyakinan semacam itu sungguh lebih merupakan formulasi dan angan-angan teologis (al-khayal al-dini) yang dibuat oleh para ulama sebagi bagian dari formulasi doktrin-doktrin Islam. Hakikat dan sejarah penulisan al-Qur’an sendiri sesungguhnya penuh dengan berbagai nuansa yang delicate (rumit) dan tidak sunyi dari perdebatan, pertentangan, intrik (tipu daya), dan rekayasa”.\rSumanto al-Qurthubhy, alumnus Fakultas Syari’ah IAIN Semarang berkata: “Al-Qur’an adalah perangkap bangsa Quraisy”. Lebih mengerikan lagi, Sumanto secara terang-terangan menyatakan, bahwa al-Qur’an adalah karangan Muhammad. Dia menulis: “Dengan demikian, wahyu sebetulnya ada dua: “wahyu verbal” (“wahyu eksplisit” dalam bentuk redaksional bikinan Muhammad) dan “wahyu non verbal” (“wahyu implisit” berupa konteks sosial waktu itu).","part":1,"page":30},{"id":31,"text":"Nasr Hamid Abu Zaid, tokoh senior liberal, menyatakan bahwa, posisi Nabi Muhammad SAW, sebagai semacam pengarang al-Qur'an. Nabi Muhammad SAW sebagai seorang Ummiy (tidak bisa baca tullis), bukanlah penerima wahyu pasif, tetapi mengolah redaksi al-Qur'an, sesuai dengan kondisinya sebagai manusia biasa, setelah al-Qur'an disampaikan oleh Rasulullah SAW kepada umatnya, maka telah berubah menjadi teks Insani bukan teks Ilahi yang suci dan sakral.\rCara yang lebih halus dan tampak akademis dalam menyerang al-Qur’an juga dilakukan dengan mengembangkan studi kritik al-Qur’an dan studi hermeneutika di Perguruan Tinggi Islam. Padahal metode ini jelas berbeda dengan ilmu tafsir dan bersifat dekonstruktif terhadap al-Qur’an dan syari’at Islam.\rLiberalisasi Syari’at Islam\rInilah aspek liberalisasi yang paling banyak muncul dan menjadi pembahasan dalam bidang liberalisasi Islam. Hukum-hukum Islam yang sudah pasti, dibongkar dan dibuat hukum baru yang dianggap sesuai dengan perkembangan zaman. Seperti disebutkan oleh Dr. Greg Barton, salah satu program liberalisasi Islam di Indonesia adalah “kontekstualisasi ijtihad”. Para tokoh liberal biasanya memang menggunakan metode “kontekstualisasi” sebagai salah satu mekanisme dalam hukum Islam. Salah satu hukum Islam yang banyak dijadikan obyek liberalisasi adalah hukum dalam bidang keluarga, Misalnya, dalam masalah perkawinan antar agama, khususnya antara wanita muslimah dan non muslim.","part":1,"page":31},{"id":32,"text":"Di harian Kompas, Senin 18 November 2002, di artikel yang berjudul \"Meneyegarkan Kembali Pemahaman Islam\", Ulil Abshar menulis : \"Kita harus bisa membedakan mana ajaran Islam yang merupakan pengaruh kultur Arab dan mana yang tidak \". Selanjutnya pada dua alinea berikutnya ia melanjutkan: \" Aspek-aspek Islam yang merupakan cerminan kebudayaan Arab misalnya, tidak usah diikuti. Contoh soal jilbab, potong tangan, qishash, rajam, jenggot, jubah, tidak wajib diikuti, karena hanya ekspresi lokal partikular Islam di Arab \" . Pada baigian lain dia menulis: \"Larangan kawin beda agama, dalam hal ini perempuan Muslimah dan lelaki non Muslim, sudah tidak relevan lagi \".\rDalam buku Fiqh Lintas agama ditulis: ”Soal pernikahan laki-laki non muslim dengan wanita muslimah merupakan wilayah ijtihad dan terikat konteks tertentu, diantaranya konteks dakwah Islam pada saat itu. Yang mana jumlah umat Islam tidak sebesar saat ini, sehingga pernikahan antar agama merupakan sesuatu yang terlarang. Karena kedudukannya sebagai hukum Islam lahir atas proses ijtihad, maka amat dimungkinkan bila dicetuskan pendapat baru, bahwa wanita muslimah boleh menikah dengan laki-laki non muslim, atau pernikahan beda agama secara lebih luas amat diperbolehkan, apapun agama dan aliran kepercayaannya.","part":1,"page":32},{"id":33,"text":"Nuryamin Aini, dosen Fakultas Syari’ah UIN Jakarta, menulis: “Maka dari itu, kita perlu meruntuhkan mitos fiqh yang mendasari larangan bagi perempuan muslimah untuk menikah dengan laki-laki non muslim. Isu yang paling mendasar dari larangan pernikahan beda agama adalah masalah sosial politik. Hanya saja, ketika yang berkembang kemudian adalah logika agama, maka konteks sosial-politik munculnya larangan pernikahan beda agama itu menjadi tenggelam oleh hegemoni cara berpikir teologis”.\rBahkan lebih dari itu, Dr. Zainun Kamal, dosen UIN Jakarta, kini tercatat sebagai \"penghulu swasta\" yang menikahkan puluhan bahkan sudah ratusan pasangan beda agama.","part":1,"page":33},{"id":34,"text":"Apabila hukum-hukum yang pasti sudah dirombak sedemikian rupa, maka terbukalah pintu membongkar seluruh sistem nilai dan hukum dalam Islam. Muhidin M. Dahlan misalnya, aktivis dari IAIN Yogyakarta, pengagum berat Pramudya ini menulis buku memoar berjudul “Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur” . Dia menulis: “Pernikahan yang dikatakan sebagai pembirokrasian seks ini, tak lain tak bukan adalah lembaga yang berisi tong-tong sampah penampung sperma yang secara anarkis telah membelah-belah manusia dengan klaim-klaim yang sangat menyakitkan. Istilah pelacur anak haram pun muncul dari rezim ini. Perempuan yang melakukan seks diluar lembaga ini dengan sangat kejam diposisikan sebagai perempuan yang sangat hina, tuna, lacur, dan tidak pantas menyandang harga diri. Padahal apa bedanya pelacur dengan perempuan yang berstatus sebagai istri ? Posisinya sama. Mereka adalah penikmat dan pelayan seks laki-laki. Seks akan tetap bernama seks meski dilakukan dengan satu atau banyak orang. Tidak, pernikahan adalah konsep aneh, dan menurutku mengerikan untuk bisa kupercaya.”","part":1,"page":34},{"id":35,"text":"Dari Fakultas Syari’ah IAIN Semarang, bahkan muncul gerakan legalisasi perkawinan homoseksual. Mereka menerbitkan buku berjudul: Indahnya Kawin Sesama Jenis: Demokratisasi dan Perlindungan Hak-hak Kaum Homoseksual. Buku ini adalah kumpulan artikel di jurnal justisia Fakultas Syari’ah IAIN Semarang edisi 25, Th Xl, 2004. dalam buku ini ditulis: “Hanya orang primitif saja yang melihat perkawinan sejenis sebagi sesuatu yang abnormal dan berbahaya. Bagi kami, tiada alasan kuat bagi siapapun dengan dalih apapun, untuk melarang perkawinan sejenis. Sebab, Tuhan pun sudah maklum, bahwa proyeknya menciptakan manusia sudah berhasil bahkan kebablasan.”\rDr.Luthfi Assyaukanie, petinggi JIL berkata: \"Saya pribadi menganggap bahwa konsep syari'at Islam tidak ada. Itu adalah karangan orang-orang yang datang belakangan yang memiliki idealisasi yang berlebihan terhadap Islam \" .\rPenutup\rBahaya ancaman pemikiran liberal saat ini sudah amat sangat menghawatirkan. Lembaga-lembaga pendidikan Islam tidak luput dari ancaman bahaya ini.\rDi fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Jati Bandung misalnya, pada hari jum'at 27 September 2004, mahasiswa baru disambut dengan slogan \"Selamat bergabung di area bebas Tuhan\". Presiden Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Aqidah Filsafat bahkan mengajak para mahasiswa baru, sambil mengepalkan tangan, berteriak \"Kita dzikir bersama! Anjing-hu Akbar!\".","part":1,"page":35},{"id":36,"text":"Yang sedikit menggembirakan, salah satu keputusan Muktamar NU ke XXXl di Asrama Haji Donohudan Solo Desember 2004 lalu, telah mengeluarkan tausihiyah (rekomendasi) membasmi wacana liberalisme di tubuh NU, serta menolak metode tafsir Hermeneutika. Isi rekomendasi PBNU itu sendiri pada intinya menghimbau seluruh warga NU agar menolak ide-ide Islam Liberal dengan segala variannya, dan kembali kepada bangunan akidah NU ala Ahlussunnah wal jama'ah.\rWallohul Muwaffiq ila Aqwamit Thoriq\r364. Kemuliyaan Bulan Rajab\rOleh Aryz As-Salafi Al-Indunisia pada 2 Juni 2011 pukul 17:37\rSegala puji bagi Allah Rabb Semesta Alam, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan para pengikut beliau hingga akhir zaman.\rAlhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah Ta’ala karena beberapa hari lagi kita akan memasuki salah satu bulan haram yaitu bulan Rajab. Apa saja yang ada di balik bulan Rajab dan apa saja amalan di dalamnya? Insya Allah dalam artikel yang singkat ini, kita akan membahasnya.\rSemoga Allah memberi taufik dan kemudahan untuk menyajikan pembahasan ini di tengah-tengah pembaca sekalian.\rRajab Di Antara Bulan Haram\rBulan Rajab terletak antara bulan Jumadil Akhir dan bulan Sya’ban. Bulan Rajab sebagaimana bulan Muharram termasuk bulan haram. Allah Ta’ala berfirman,\rإِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ","part":1,"page":36},{"id":37,"text":"”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At Taubah: 36)\rIbnu Rajab mengatakan, ”Allah Ta’ala menjelaskan bahwa sejak penciptaan langit dan bumi, penciptaan malam dan siang, keduanya akan berputar di orbitnya. Allah pun menciptakan matahari, bulan dan bintang lalu menjadikan matahari dan bulan berputar pada orbitnya. Dari situ muncullah cahaya matahari dan juga rembulan. Sejak itu, Allah menjadikan satu tahun menjadi dua belas bulan sesuai dengan munculnya hilal.\rSatu tahun dalam syariat Islam dihitung berdasarkan perpuataran dan munculnya bulan, bukan dihitung berdasarkan perputaran matahari sebagaimana yang dilakukan oleh Ahli Kitab.” (Latho-if Al Ma’arif, 202)\rLalu apa saja empat bulan suci tersebut? Dari Abu Bakroh, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,\rالزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ","part":1,"page":37},{"id":38,"text":"”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679)\rJadi empat bulan suci yang dimaksud adalah (1) Dzulqo’dah; (2) Dzulhijjah; (3) Muharram; dan (4) Rajab.\rDi Balik Bulan Haram\rLalu kenapa bulan-bulan tersebut disebut bulan haram? Al Qodhi Abu Ya’la rahimahullah mengatakan, ”Dinamakan bulan haram karena dua makna.\rPertama, pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orang-orang Jahiliyyah pun meyakini demikian.\rKedua, pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan tersebut. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan.” (Lihat Zaadul Maysir, tafsir surat At Taubah ayat 36)\rKarena pada saat itu adalah waktu sangat baik untuk melakukan amalan ketaatan, sampai-sampai para salaf sangat suka untuk melakukan puasa pada bulan haram. Sufyan Ats Tsauri mengatakan, ”Pada bulan-bulan haram, aku sangat senang berpuasa di dalamnya.” (Latho-if Al Ma’arif, 214)","part":1,"page":38},{"id":39,"text":"Ibnu ’Abbas mengatakan, ”Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan sholeh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.” (Latho-if Al Ma’arf, 207)\rBulan Haram Mana yang Lebih Utama?\rPara ulama berselisih pendapat tentang manakah di antara bulan-bulan haram tersebut yang lebih utama. Ada ulama yang mengatakan bahwa yang lebih utama adalah bulan Rajab, sebagaimana hal ini dikatakan oleh sebagian ulama Syafi’iyah. Namun An Nawawi (salah satu ulama besar Syafi’iyah) dan ulama Syafi’iyah lainnya melemahkan pendapat ini. Ada yang mengatakan bahwa yang lebih utama adalah bulan Muharram, sebagaimana hal ini dikatakan oleh Al Hasan Al Bashri dan pendapat ini dikuatkan oleh An Nawawi. Sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa yang lebih utama adalah bulan Dzulhijjah. Ini adalah pendapat Sa’id bin Jubair dan lainnya, juga dinilai kuat oleh Ibnu Rajab dalam Latho-if Al Ma’arif (hal. 203).\rHukum yang Berkaitan dengan Bulan Rajab","part":1,"page":39},{"id":40,"text":"Hukum yang berkaitan dengan bulan Rajab amatlah banyak, ada beberapa hukum yang sudah ada sejak masa Jahiliyah. Para ulama berselisih pendapat apakah hukum ini masih tetap berlaku ketika datang Islam ataukah tidak. Di antaranya adalah haramnya peperangan ketika bulan haram (termasuk bulan Rajab). Para ulama berselisih pendapat apakah hukum ini masih tetap diharamkan ataukah sudah dimansukh (dihapus hukumnya). Mayoritas ulama menganggap bahwa hukum tersebut sudah dihapus. Ibnu Rajab mengatakan, ”Tidak diketahui dari satu orang sahabat pun bahwa mereka berhenti berperang pada bulan-bulan haram, padahal ada faktor pendorong ketika itu. Hal ini menunjukkan bahwa mereka sepakat tentang dihapusnya hukum tersebut.” (Lathoif Al Ma’arif, 210)\rBegitu juga dengan menyembelih (berkurban). Di zaman Jahiliyah dahulu, orang-orang biasa melakukan penyembelihan kurban pada tanggal 10 Rajab, dan dinamakan ’atiiroh atau Rojabiyyah (karena dilakukan pada bulan Rajab). Para ulama berselisih pendapat apakah hukum ’atiiroh sudah dibatalkan oleh Islam ataukah tidak. Kebanyakan ulama berpendapat bahwa ’atiiroh sudah dibatalkan hukumnya dalam Islam. Hal ini berdasarkan hadits Bukhari-Muslim, dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,\rلاَ فَرَعَ وَلاَ عَتِيرَةَ\r”Tidak ada lagi faro’ dan ’atiiroh.” (HR. Bukhari no. 5473 dan Muslim no. 1976). Faro’ adalah anak pertama dari unta atau kambing, lalu dipelihara dan nanti akan disembahkan untuk berhala-berhala mereka.","part":1,"page":40},{"id":41,"text":"Al Hasan Al Bashri mengatakan, ”Tidak ada lagi ’atiiroh dalam Islam. ’Atiiroh hanya ada di zaman Jahiliyah. Orang-orang Jahiliyah biasanya berpuasa di bulan Rajab dan melakukan penyembelihan ’atiiroh pada bulan tersebut. Mereka menjadikan penyembelihan pada bulan tersebut sebagai ’ied (hari besar yang akan kembali berulang) dan juga mereka senang untuk memakan yang manis-manis atau semacamnya ketika itu.” Ibnu ’Abbas sendiri tidak senang menjadikan bulan Rajab sebagai ’ied.\r’Atiiroh sering dilakukan berulang setiap tahunnya sehingga menjadi ’ied (sebagaimana Idul Fitri dan Idul Adha), padahal ’ied (perayaan) kaum muslimin hanyalah Idul Fithri, Idul Adha dan hari tasyriq. Dan kita dilarang membuat ’ied selain yang telah ditetapkan oleh ajaran Islam. Ada sebuah riwayat,\rكَانَ النَّبِيُّ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَنْهَى عَن صِيَامِ رَجَبٍ كُلِّهِ ، لِاَنْ لاَ يَتَّخِذَ عِيْدًا.\r“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang berpuasa pada seluruh hari di bulan Rajab agar tidak dijadikan sebagai ‘ied.” (HR. ’Abdur Rozaq, hanya sampai pada Ibnu ’Abbas (mauquf). Dikeluarkan pula oleh Ibnu Majah dan Ath Thobroniy dari Ibnu ’Abbas secara marfu’, yaitu sampai pada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam)","part":1,"page":41},{"id":42,"text":"Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, ”Intinya, tidaklah dibolehkan bagi kaum muslimin untuk menjadikan suatu hari sebagai ’ied selain apa yang telah dikatakan oleh syari’at Islam sebagai ’ied yaitu Idul Fithri, Idul Adha dan hari tasyriq. Tiga hari ini adalah hari raya dalam setahun. Sedangkan ’ied setiap pekannya adalah pada hari Jum’at. Selain hari-hari tadi, jika dijadikan sebagai ’ied dan perayaan, maka itu berarti telah berbuat sesuatu yang tidak ada tuntunannya dalam Islam (alias bid’ah).” (Latho-if Al Ma’arif, 213)\rHukum lain yang berkaitan dengan bulan Rajab adalah shalat dan puasa.\rPermulaan Al-Quran diturunkan\rOleh Zaine Elarifine Yahya pada 16 Agustus 2011 pukul 3:06\rAbdullah Afif >>\rKAPAN NUZULUL QURAN ?\rAda perbedaan dikalangan Ulama mengenai tanggal berapa al Quran diturunkan. Ada yang berpendapat al Quran diturunkan pada tanggal 17 Ramadhan, ada pula yang mengatakan pada tanggal 24 Ramadhan.\rPENDAPAT PERTAMA\rUlama yang berpendapat bahwa Al-Quran diturunkan pada tanggal 17 Ramadhan adalah berdasarkan QS 8 (Al-Anfal) :41\r….وَمَا أَنزَلْنَا عَلَى عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ……\r“….. yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) dihari Furqaan, yaitu dihari bertemunya dua pasukan…”.\rKeterangan:","part":1,"page":42},{"id":43,"text":"\"Furqaan\" ialah pemisah antara yang haq dan yang batil. Yang dimaksud dengan hari Al-Furqaan ialah hari jelasnya kemenangan orang Islam dan kekalahan orang kafir, yaitu hari bertemunya dua pasukan di peperangan Badar, pada hari Jumat tanggal 17 Ramadhan tahun kedua Hijrah.\rSebagian Mufassirin berpendapat bahwa ayat ini mengisyaratkan pada hari permulaan turunnya al Quranul Kariem pada malam 17 Ramadhan.\r(Al-Quran dan Terjemahannya, Kemenag RI halaman 267)\rImam Thabari dalam tafsirnya (13/562 / 6/248) meriwayatkan sebagai berikut:\rحدثنا ابن حميد قال، حدثنا يحيى بن واضح قال، حدثني يحيى بن يعقوب أبو طالب، عن أبي عون محمد بن عبيد الله الثقفي، عن أبي عبد الرحمن السلمي، عبد الله بن حبيب قال: قال الحسن بن علي بن أبي طالب رضي الله عنه: كانت ليلة \"الفرقان يوم التقى الجمعان\"، لسبع عشرة من شهر رمضان\r….QAALA AL HASAN IBN ‘ALI IBN ABI THAALIB –radhiyallaahu ‘anhu- : KAANAT LAILATUL FURQAAN YAUMALTAQAL JAM’AAN LISAB’A ‘ASYRATA MIN SYAHRI RAMADHAAN\rAl Hasan bin Ali bin Abi Thalib =raadhiyallaahu ‘anhu- berkata: Adalah malam Furqaan hari bertemunya dua pasukan pada 17 bulan Ramadhan.”\rSumber:\rالكتاب : جامع البيان في تأويل القرآن\rالمؤلف : محمد بن جرير بن يزيد بن كثير بن غالب الآملي، أبو جعفر الطبري،\r[ 224 - 310 هـ ]\rالمحقق : أحمد محمد شاكر\rالناشر : مؤسسة الرسالة\rالطبعة : الأولى ، 1420 هـ - 2000 م\rCatatan:\rDerajat riwayat diatas, bisa dilihat pada catatan kaki Tafsir Thabari\rAl Hafidh Ibnu Katsir dalam kitab Al Bidayah wa An Nihayah (3/11) meriwayatkan sebagai berikut:","part":1,"page":43},{"id":44,"text":"وروى الواقدي بسنده عن أبي جعفر الباقر أنه قال: كان ابتداء الوحي إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم الاثنين، لسبع عشرة ليلة خلت من رمضان وقيل في الرابع والعشرين منه\rWA RAWAA ALWAAQIDI BISANADIHII ‘AN ABII JA’FAR AL BAAQIR ANNAHUU QAALA: KAANA IBTIDAA`UL WAHYI ILAA RASUULILLAAH –shallaahu ‘alaihi wasallam- YAUMAL ITSNAIN LISAB’A ‘ASYRATA LAILATAN KHALAT MIN RAMADHAAN WA QIILA FIRRAABI’I WAL ‘ISYRIIN MINHU\r“…..dari Abi Ja'far al Baqir, beliau berkata: “Adalah permulaan wahyu kepada Rasulullah –shallaahu ‘alaihi wasallam- pada hari Senin 17 Ramadhan, WA QIILA 24 Ramadhan .”\rSumber:\rالبداية والنهاية (Al-Bidayah wa An-Nihayah)\rPENDAPAT KEDUA\rUlama yang berpendapat bahwa Al-Quran diturunkan pada tanggal 24 Ramadhan adalah berdasarkan:\rDalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan sebagai berikut:\rيمدح تعالى شهر الصيام من بين سائر الشهور، بأن اختاره من بينهن لإنزال القرآن العظيم فيه\rAllah memuji bulan Ramadhan dan memilihnya diantara bulan-bulan yang lain untuk menurunkan al Quran yang Agung didalamnya\rوكمااختصه بذلك قد ورد الحديث بأنه الشهر الذي كانت الكتب الإلهية تنزل فيه على الأنبياء.\rDan sebagaimana Allah menkhususkannya dengan hal yang demikian, maka Hadits meriwayatkan bahwa Ramadhan adalah bulan dimana kitab-kitab ilahiyyah diturunkan didalamnya atas para Nabi","part":1,"page":44},{"id":45,"text":"قال الإمام أحمد بن حنبل، رحمه الله: حدثنا أبو سعيد مولى بني هاشم، حدثنا عمران أبو العوام، عن قتادة، عن أبي المليح، عن واثلة -يعني ابن الأسقع-أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: \"أنزلت صحف إبراهيم في أول ليلة من رمضان. وأنزلت التوراة لست مضين من رمضان، والإنجيل لثلاث عشرة خلت من رمضان وأنزل الله القرآن لأربع وعشرين خلت من رمضان\"\rImam Ahmad ibn Hanbal berkata:\r\".. ’AN WAATSILAH,YA’NII IBNAL ASQA’ ANNA RASUULALLAAH –shallallaahu ‘alaihi wasallam- QAAALA:\rUNZILAT SHUHUFU IBRAAHIIM FII AWWALI LAILATIN MIN RAMADHAAN. WA UNZILAT ATTAURAATU LISITTIN MADHAINA MIN RAMADHAAN, WAL INJIIL LITSLAATSATA ‘ASYRATA KHALAT MIN RAMADHAAN,\rWA ANZALALLAAHU AL QURAANA LI ARBA’IN WA ‘ISYRIIN KHALAT MIN RAMADHAAN\r”……dari Watsilan ibn Al Asqa’, sesungguhnya Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Shuhuf Ibrahim diturunkan pada awal malam Ramadhan. Taurat diturunkan pada 6 Ramadhan. Injil pada 13 Ramadhan. Allah menurunkan Al-Quran pada 24 Ramadhan.”\rSumber:\rالكتاب : تفسير القرآن العظيم\rالمؤلف : أبو الفداء إسماعيل بن عمر بن كثير القرشي الدمشقي [ 700 -774 هـ ]\rالمحقق : سامي بن محمد سلامة\rالناشر : دار طيبة للنشر والتوزيع\rالطبعة : الثانية 1420هـ - 1999 م\rSementara pendapat lain ada yang mengatakan Al-Quran diturunkan pada tanggal 18 Ramadhan dan ada pula yang menatakan tanggal 19 Ramadhan.\rSyeikh 'Izzuddin 'Ali ibn al Atsiir dalam kitabnya \"AL KAAMIL\" (1/646) , beliau berkata:","part":1,"page":45},{"id":46,"text":"وكان نزول الوحي عليه يوم الإثنين بلا خلاف . واختلفوا في أي الإثنين كان ذلك ، فقال أبو قلابة الجرمي : أنزل الله الفرقان علي النبي صلي الله عليه وآله وسلم لثمان عشرة ليلة خلت من رمضان وقال آخرون كان ذلك لتسع عشرة مضت من رمضان\rWAKAANA NUZUUL WAHYI ‘ALAIHI YAUMAL ITSNAIN BILAA KHILAAFIN\rWAKHTALAFUU FII AYYIL ITSNAINI KAANA DZAALIKA FAQAALA ABUU QILAABAH AL JURMIYYU ANZALALLAAHU AL FURQAANA ‘ALANNABIYYI SHALLALLAAHU ‘ALAIHI WASALLAM LITSAMAANA ‘ASYRATA LAILATAN KHALAT MIN RAMADHAANA WAQAALA AAKHARUUNA KAANA DZAALIKA LITIS’A ‘ASYRATA MADHAT MIN RAMADHAANA\rTurunnya wahyu atas beliau (Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wasallam-) adalah pada hari Senin tanpa ada perbedaan. Mereka berbeda Senin kapan terjadinya hal itu. Abu Qilaabah berkata: Allah menurunkan ِAl-Furqan atas Nabi –shallallaahu ‘alaihi wasallam- pada 18 Ramadhan, yang lain berkata 19 Ramadhan.\rSumber:\rالكامل في التاريخ\rعز الدين أبو الحسن علي المعروف بابن الأثير\rدار الكتاب العربي\rسنة النشر: 1417هـ / 1997م\rWallaahu A’lam\rSemoga bermanfaat\r16 Ramadhan 1432 H / 15 Agustus 2011 M\rAbdullah Afif>> Sumber rujukan :\rhttp://islamport.com/d/1/tfs/1/41/2251.html\rhttp://www.yasoob.com/books/htm1/m024/28/no2828.html\rhttp://islamport.com/d/1/tfs/1/27/1157.html\rhttp://www.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?idfrom=247&idto=263&bk_no=126&ID=161\rالموسوعة الشاملة - تفسير الطبري\rislamport.com\rصدر هذا الكتاب آليا بواسطة الموسوعة الشاملة (اضغط هنا للانتقال إلى صفحة الموسوعة الشاملة على الإنترنت)","part":1,"page":46},{"id":47,"text":"Abdullah Afif >>Berikut derajat hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad:\rAl Hafidh Al Haitsami dalam Majma'uz Zawaid menerangkan sebagai berikut:\r959-وعن واثلة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال:\r\"أنزلت صحف إبراهيم في أول ليلة من رمضان وأنزلت التوراة لست مضين من رمضان والإنجيل لثلاث عشرة خلت من رمضان وأنزل القرآن لأربع وعشرين خلت من رمضان\".\rرواه أحمد والطبراني في الكبير والأوسط وفيه عمران بن داود القطان ضعفه يحيى،ووثقه ابن حبان وقال أحمد: أرجو أن يكون صالح الحديث. وبقية رجاله ثقات\r.....RAWAAHU AHMAD WA ATH THABARANI FI AL KABIIR WA AL AUSATH WAFIIHI 'IMRAAN IBN DAAWUD AL QATHTHAAN DHA''AFAHUU YAHYAA WA WATSTSAQAHUU IBNU HIBBAAN WA QAALA AHMAD ARJUU AN YAKUUNA SHAALIHAL HADIITS WA BAQIYYATU RIJAALIHII TSIQAATUN\r\".....Hadits diriwayatkan oleh Ahmad dan Ath Thabarani dalam kitab al Mu'jam al Kabir dan al Mu'jam al Ausath,\rDidalamnya ada Imran ibn Dawud al Qaththan, didha'ifkan oleh Yahya, dan tsiqahkan oleh Ibnu Hibban, Ahmad berkata: Aku berharap beliau sebagai yang bagus haditsnya..........\"\rSumber:\rhttp://islamport.com/d/1/mtn/1/81/2959.html\rWallaahu A'lam\rالموسوعة الشاملة - مجمع الزوائد ومنبع الفوائد . محقق\rislamport.com\rصدر هذا الكتاب آليا بواسطة الموسوعة الشاملة (اضغط هنا للانتقال إلى صفحة الموسوعة الشاملة على الإنترنت)\r·\r375. ZAKAT : Ngaji bab Zakat Fitrah\rOleh Ibnu Abdillah Al-Katibiy pada 17 Agustus 2011 pukul 13:46\rزَكاَةُ اْلفِطْرِ\rZAKAT FITRAH\rSyarat wajib zakat fitrah :\r1. Islam\r2. Merdeka (bukan budak, hamba sahaya)","part":1,"page":47},{"id":48,"text":"3. Mempunyai kelebihan makanan atau harta dari yang diperlukan di hari raya dan malam hari raya. Maksudnya mempunyai kelebihan dari yang diperlukan untuk dirinya sendiri dan orang-orang yang wajib ditanggung nafkahnya, pada malam dan siang hari raya. Baik kelebihan itu berupa makanan, harta benda atau nilai uang.\r4. Menemui waktu wajib mengeluarkan zakat fitrah. Artinya menemui sebagian dari bulan Ramadhan dan sebagian dari awalnya bulan Syawwal (malam hari raya).\rKeterangan:\rYang dimaksud “ mempunyai kelebihan di sini “ adalah kelebihan dari kebutuhan pokok sehari-harinya. Maka barang yang menjadi kebutuhan sehari-hari, seperti rumah yang layak, perkakas rumah tangga yang diperlukan, pakaian sehari-hari dan lain-lain tidak menjadi perhitungan. Artinya, jika tidak mampu membayar zakat fitrah, harta benda di atas tidak wajib dijual guna mengeluarkan zakat.\rJenis dan kadar zakat fitrah :\r1. Berupa bahan makanan pokok daerah tersebut (bukan uang)\r2. Sejenis. Tidak boleh campuran\r3. Jumlahnya mencapai satu Sho’ untuk setiap orang\r1 Sho’ = 4 mud = 3 Kilo (kurang lebih)\r4. Diberikan di tempatnya orang yang dizakati.\rMisalnya, seorang ayah yang berada di Surabaya dengan makanan pokok beras, menzakati anaknya yang berada di Kediri dengan makanan pokok jagung. Maka jenis makanan yang digunakan zakat adalah jagung dan diberikan pada faqir miskin di Kediri.\rCatatan :\r- Menurut Imam Abu Hanifah, zakat fitrah boleh dikeluarkan dalam bentuk qimah atau uang.","part":1,"page":48},{"id":49,"text":"- Jika tidak mampu 1 sho’, maka semampunya bahkan jika tidak mempunyai kelebihan harta sama sekali, maka tidak wajib zakat fitrah.\rWaktu mengeluarkan zakat fitrah\rWaktu pelaksanaan mengeluarkan zakat fitrah terbagi menjadi 5 kelompok :\r1. Waktu wajib.\rYaitu, ketika menemui bulan Ramadhan dan menemui sebagian awalnya bulan Syawwal. Oleh sebab itu orang yang meninggal setelah maghribnya malam 1 Syawwal, wajib dizakati. Sedangkan bayi yang lahir setelah maghribnya malam 1 Syawwal tidak wajib dizakati.\r2. Waktu jawaz.\rYaitu, sejak awalnya bulan Ramadhan sampai memasuki waktu wajib.\r3. Waktu Fadhilah.\rYaitu, setelah terbit fajar dan sebelum sholat hari raya.\r4. Waktu makruh.\rYaitu, setelah sholat hari raya sampai menjelang tenggelamnya matahari pada tanggal 1 Syawwal kecuali jika ada udzur seperti menanti kerabat atau orang yang lebih membutuhkan, maka hukumnya tidak makruh.\r5. Waktu haram.\rYaitu, setelah tenggelamnya matahari tanggal 1 Syawwal kecuali jika ada udzur seperti hartanya tidak ada ditempat tersebut atau menunggu orang yang berhak menerima zakat, maka hukumnya tidak haram. Sedangkan status dari zakat yang dikeluarkan tanggal 1 Syawwal adalah qodho’.\rSyarat sahnya zakat :\r1. Niat.\rHarus niat di dalam hati ketika mengeluarkan zakat, memisahkan zakat dari yang lain, atau saat memberikan zakat kepada wakil untuk disampaikan kepada yang berhak atau antara memisahkan dan memberikan.\r- Niat zakat untuk diri sendiri :","part":1,"page":49},{"id":50,"text":"نَوَيْتُ اَنْ اُخْرِجَ زَكاَةَ اْلفِطْرِعَنْ نَفْسِي / هَذَا زَكاَةُ مَالِي اْلمَفْرُوْضَةْ\r\" Saya niat mengeluarkan zakat untuk diriku / ini adalah zakat harta wajibku “\rJika niat zakat fitrah atas nama orang lain, hukumnya diperinci sebagai berikut :\ra. Jika orang lain yang dizakati termasuk orang yang wajib ditanggung nafkah dan zakat fitrahnya, seperti istri, anak-anaknya yang masih kecil, orang tuanya yang tidak mampu dan setrusnya, maka yang melakukan niat adalah orang yang mengeluarkan zakat tanpa harus minta idzin dari orang yang dizakati. Namun boleh juga makanan yang akan digunakan zakat diserahkan oleh pemilik kepada orang-orang tersebut supaya diniati sendiri-sendiri.\rb. Jika mengeluarkan zakat untuk orang yang tidak wajib ditanggung nafkahnya, seperti orang tua yang mampu, anak-anaknya yang sudah besar (kecuali jika dalam kondisi cacat atau yang sedang belajar ilmu agama), saudara, ponakan, paman atau orang lain yang tidak ada hubungan darah dan seterusnya, maka disyaratkan harus mendapat idzin dari orang-orang tersebut. Tanpa idzin dari mereka , maka zakat yang dikeluarkan hukumnya tidak sah.\r- Niat atas nama anaknya yang masih kecil :\rنَوَيْتُ اَنْ اُخْرِجَ زَكاَةَ اْلفِطْرِعَنْ وَلَدِي الصَّغِيْرِ...\r“ Saya niat mengeluarkan zakat atas nama anakku yang masih kecil…”\r- Niat atas nama ayahnya :\rنَوَيْتُ اَنْ اُخْرِجَ زَكاَةَ اْلفِطْرِعَنْ اَبِي ...\r“ Saya niat mengeluarkan zakat atas nama ayahku…”\r- Niat atas nama ibunya :\rنَوَيْتُ اَنْ اُخْرِجَ زَكاَةَ اْلفِطْرِعَنء اُمِّي ...","part":1,"page":50},{"id":51,"text":"“ Saya niat mengeluarkan zakat atas nama ibuku…”\r- Niat atas nama anaknya yang sudah besar dan tidak mampu :\rنَوَيْتُ اَنْ اُخْرِجَ زَكاَةَ اْلفِطْرِعَنْ وَلَدِي اْلكَبِيْرِ...\r“ Saya niat mengeluarkan zakat atas nama anakku yang sudah besar…”\r2. Dikeluarkan kepada orang-orang yang berhak menerima zakat\rOrang-orang yang berhak menerima zakat :\rAda 8 golongan yang berhak menerima zakat dalam Al-Quran Allah Swt berfirman :\rإِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ.\ra. Faqir\rFaqir adalah orang yang tidak mempunyai harta atau pekerjaan sama sekali, atau orang yang mempunyai harta atau pekerjaan namun tidak bisa mencukupi kebutuhannya.\rMisalnya dalam sebulan ia butuh biaya sebesar Rp; 500.000, namun penghasilannya hanya mendapat Rp; 200.000 (tidak mencapai separuh yang dibutuhkan).\rYang dimaksud dengan harta dan pekerjaan di sini adalah harta yang halal dan pekerjaan yang halal dan layak. Dengan demikian yang termasuk golongan faqir adalah :\rTidak mempunyai harta dan pekerjaan sama sekali\rMempunyai harta, namun tidak mempunyai pekerjaan. Sedangkan harta yang ada sangat tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan selama umumnya usia manusia.","part":1,"page":51},{"id":52,"text":"Mempunyai harta dan pekerjaan, harta saja atau pekerjaan saja namun harta atau pekerjaan tersebut haram menurut agama. Bagi orang yang mempunyai harta yang melimpah atau pekerjaan yang menjanjikan, namun haram menurut agama, maka orang tersebut termasuk faqir sehingga berhak dan boleh menerima zakat.\rTidak mempunyai harta dan mempunyai pekerjaan, namun tidak layak baginya. Seperti pekertjaan yang bisa merusak harga diri, kehormatan dan lain-lain.\rb. Miskin.\rMiskin adalah orang yang mempunyai harta atau pekerjaan yang tidak bisa mencukupi kebutuhannya dan orang-orang yang ditanggung nafkahnya.\rMisalnya dalam sebulan ia butuh biaya sebesar Rp; 500.000, namun penghasilannya hanya mendapat Rp; 400.000 (mencapai separuh yang dibutuhkan).\rc. Amil.\rAmil zakat yaitu orang-orang yang diangkat oleh Imam atau pemerintah untuk menarik zakat kepada orang yang berhak menerimanya dan tidak mendapat bayaran dari baitul mal atau Negara.\rAmil zakat meliputi bagian pendataan zakat, penarik zakat, pembagi zakat dan lain-lain. Jumlah zakat yang diterima oleh amil disesuaikan dengan pekerjaan yang dilakukan alias memakai standart ujroh mistly (bayaran sesuai tugas kerjaannya masing-masing).\rSyarat-syarat amil zakat :\rIslam\rLaki-laki\rMerdeka\rMukallaf\rAdil\rBisa melihat\rBisa mendengar\rMengerti masalah zakat (faqih / menguasai)\rd. Muallaf\rSecara harfiyah, muallaf qulubuhum adalah orang-orang yang dibujuk hatinya. Sedangkan orang-orang yang termasuk muallaf, yang nota bene berhak menerima zakat adalah :","part":1,"page":52},{"id":53,"text":"1. Orang yang baru masuk Islam dan Iman (niat) nya masih lemah\r2. Orang yang baru masuk Islam dan imannya sudah kuat, namun dia mempunyai kemuliaan dikalangan kaumnya. Dengan memberikan zakat kepadanya, diharapkan kaumnya yang masih kafir mau masuk Islam.\r3. Orang Islam yang melindungi kaum muslimin dari gangguan dan keburukan orang-orang kafir\r4. Orang Islam yang membela kepentingan kaum muslimin dari kaum muslim yang lain yang dari golongan anti zakat atau pemberontak dan orang-orang non Islam.\rSemua orang yang tergolong muallaf di atas berhak menerima zakat dengan syarat Islam. Sedangakan membujuk non muslim dengan menggunakan harta zakat itu tidak boleh.\re. Budak mukatab\rBudak mukatab yaitu budak yang dijanjikan merdeka oleh tuannya apabila sudah melunasi sebagian jumlah tebusan yang ditentukan dengan cara angsuran. Tujuannya untuk membantu melunasi tanggungan dari budak mukatab.\rf. Ghorim (orang yang berhutang)\rGhorim terbagi menjadi 3 bagian :\r1. Orang yang berhutang untuk mendamaikan dua orang atau dua kelompok yang sedang bertikai.\r2. Orang yang berhutang untuk kemaslahatan diri sendiri dan keluarga.\r3. Orang yang berhutang untuk kemaslahatan umum, seperti berhutang untuk membangun masjid, sekolah, jembatan dan lain-lain.\r4.Orang yang berhutang untuk menanggung hutangnya orang lain.\rg. Sabilillah","part":1,"page":53},{"id":54,"text":"Sabilillah yaitu orang yang berperang di jalan Allah dan tidak mendapatkan gaji. Sabilillah berhak menerima zakat untuk seluruh keperluan perang. Sejak berangkat sampai kembali, sabilillah dan keluarganya berhak mendapatkan tunjangan nafkah yang diambilkan dari zakat. Sedangkan yang berhak memberikan zakat untuk sabilillah adalah imam (penguasa) bukan pemilik zakat.\rKeterangan :\rDikalangan ulama terdapat khilaf tentang makna fii sabilillah; Ada pendapat mengatakan bahwa yang dimaksud fii sabilillah tiada lain adalah orang-orang yang menjadi sukarelawan untuk berperang di jalan Allah Swt dan tidak mendapatkan gaji, dan inilah pendapat mayoritas para ulama (pendapat yang kuat). Sebagian ulama mengatakan bahwa fii sabilillah adalah semua aktifitas yang menyangkut kebaikan untuk Allah sebagaimana dikatakan oleh Imam Al-Qaffal, seperti untuk sarana-sarana pendidikan dan peribadatan Islam. Dan pendapat ini adalah lemah.\rh. Ibnu sabil (musafir)\rIbnu sabil yaitu orang yang memulai bepergian dari daerah tempat zakat atau musafir yang melewati daerah tempat zakat dengan syarat :\r1. Bukan bepergian untuk maksyiat\r2. Membutuhkan biaya atau kekurangan biaya. Walaupun ia mempunyai harta di tempat yang ia tuju.\rOrang-orang yang tidak berhak menerima zakat :\r1. Orang kafir atau murtad\r2. Budak / hamba sahaya selain budak mukatab\r3. Keturunan dari bani Hasyim dan Bani Muthalib (para habaib), sebagaimana hadits shohih, Nabi Saw bersabda :","part":1,"page":54},{"id":55,"text":"إِنَّ هَذِهِ الصَّدَقَاتِ إِنَّمَا هِيَ أَوْسَاخُ النَّاسِ وَإِنَّهَا لَا تَحِلُّ لِمُحَمَّدٍ وَلَا لِآلِ مُحَمَّدٍ\r“ Sesungguhya shodaqah ini (zakat) adalah kotoran manusia dan tidak dihalalkan bagi Muhammad dan keluarga Muhammad “.\r4. Orang kaya. Yaitu orang yang penghasilannya sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok hidupnya.\r5. Orang yang ditanggung nafkahnya. Artinya, orang yang berkewajiban menanggung nafkah, tidak boleh memberikan zakatnya kepada orang yang ditanggung tersebut.\rMekanisme pembagian zakat\rApabila zakat dibagikan sendiri oleh pemilik atau wakilnya, maka perinciannya sebagai berikut :\r- Jika orang yang berhak menerima zakat terbatas (bisa dihitung), dan harta zakat mencukupi, maka mekanisme mengeluarkan zakatnya harus mencakup semua golongan penerima zakat yang ada di daerah tempat kewajiban zakat. Dan dibagi rata antar golongan penerima zakat.\r- Jika orang yang berhak menerima zakat tidak terbatas atau jumlah harta zakat tidak mencukupi, maka zakat harus diberikan pada minimal tiga orang untuk setiap golongan penerima zakat.\rPemilik zakat tidak boleh membagikan zakatnya pada orang-orang yang bertempat di luar daerah kewajiban zakat. Zakat harus diberikan pada golongan penerima yang berada di daerah orang yang dizakati meskipun bukan penduduk asli wilayah tersebut.\rSedangkan jika pembagian dilakukan oleh Imam (penguasa), baik zakat tersebut diserahkan sendiri oleh pemilik kepada Imam atau diambil oleh Imam, maka harus dibagi dengan cara sebagai berikut :","part":1,"page":55},{"id":56,"text":"a. Semua golongan penerima zakat yang ada harus mendapat bagian\rb. Selain golongan amil, semua golongan mendapat bagian yang sama.\rc. Masing-masing individu dari tiap golongan penerima mendapat bagian (jika harta zakat mencukupi)\rd. Jika hajat dari masingf-masing individu sama, maka jumlah yang diterima juga harus sama.\rCatatan :\rMenurut pendapat Imam Ibnu Ujail Rh adalah :\r1. Zakat boleh diberikan pada satu golongan dari beberapa golongan yang berhak menerima zakat.\r2. Zakatnya satu orang boleh diberikan pada satu yang berhak menerima zakat.\r3. Boleh memindah zakat dari daerah zakat.\rTiga pendapat terakhir boleh kita ikuti (taqlid) walaupun berbeda dengan pendapat dari Imam Syai’i . Mengingat sulitnya membagi secara rata pada semua golongan, apalagi zakat fitrah yang jumlahnya tidak begitu banyak.\rTanya jawab seputar masalah zakat :\r? Soal. Sah kah panitia zakat / amil yang dibentuk oleh kelurahan ?\rJawab. Jika memenuhi persyaratan-persyaratannya seperti diangkat oleh Imam dan panitia itu termasuk orang yang menguasai bab zakat, maka dapat disebut amil zakat.\r( Buka kitab Al-Bajury, jilid 1 hal: 290 )\r? Soal. Apakah pengurus panitia zakat yang didirikan oleh suatu organisasi Islam itu termasuk amil menurut Syare’at, ataukah tidak ?\rJawab. Panitia pembagian zakat yang ada pada waktu ini tidak termasuk amil zakat menurut agama Islam, sebab mereka tidak diangkat oleh Imam (kepala negara).\r(Buka kitab Al-Bajuri 1/283 dan At-Taqrirat : 424)","part":1,"page":56},{"id":57,"text":"? Soal. Bolehkah zakat fitrah dijual oleh panitia zakat dan hasil penjualannya dipergunakan menurut kebijaksanaan panitia ?\rJawab. Zakat fitrah tidak boleh dijual kecuali oleh mustahiqnya.\r(Buka kitab Al-Anwar juz 1 bab zakat)\r? Soal. Bolehkah zakat atau sebagiannya dijadikan modal usaha bagi panitia-panitia zakat atau badan-badan sosial tersebut ?\rJawab. Tidak boleh zakat atau sebagiannya dijadikan modal usaha bagi panitia-panitia atau badan-badan sosial.\r(Buka kitab Al-Muhadzdzab, jilid 1 hal : 169)\rReferensi :\r1. Bulughul Maram\r2. Fathul Qorib\r3. Tanwirul Qulub\r4. Hasyiah Al-Bajuri\r5. Bughyatul Mustarsyidin\r6. I’anah At-Tholibin\r7. Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab\r8. Tuhfatul Muhtaj\r9. Ihya Ulumuddin\r10. Ahkamul Fuqaha\r(Ibnu Abdillah Al-Katibiy)\r377. JIHAD 1000 BULAN\rOleh Zaine Elarifine Yahya pada 18 Agustus 2011 pukul 6:39\rIfaq Abdillahnatagama >>\rlailatul qodar menurut sebagian mufassir adalah terkait erat dengan suatu amal jihad nabi syam'uun yg berjihad dalam rentang waktu 1000 BULAN dengan bersenjatakan rahang keledai dan berhasil menumpas jutaan kafir harobiy.\rMaka begitulah saat seseorang dikaruniakan Fadhol-Nya di malam laIlatul qodar maka sejatinya ia mendapatkan pahala berjihad seribu tahun lamanya.\rAkhir cerita nabi syam'uun yang perkasa ini dikalahkan oleh kelicikan raja romawi yg mengirim delilah untuk menanyakan kelemahan kekuatan nabi syam'uun yg ternyata mudah dikalahkan jika dirantai dengan rambutnya sendiri... ( kitab qishoshul anbiya).","part":1,"page":57},{"id":58,"text":"Dalam versi barat diambil dari injil dan taurat, nabi ini dipopulerkan dengan nama samson dan ceritanya dikemas sedemikian rupa untuk mengaburkan fakta yang sebenarnya dari kemuliaan islam dibalik kebohongan hikayat versi mereka itu..wallohu 'alam.\rMumu Bsa >>\r001. (Sesungguhnya Kami telah menurunkannya) yaitu menurunkan Alquran seluruhnya secara sekali turun dari lohmahfuz hingga ke langit yang paling bawah (pada malam kemuliaan) yaitu malam Lailatulkadar, malam yang penuh dengan kemuliaan dan kebesaran.\r002. (Dan tahukah kamu) Hai Muhammad (apakah malam kemuliaan itu?) ungkapan ini sebagai pernyataan takjub atas keagungan yang terdapat pada Lailatulkadar.\r003. (Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan) yang tidak ada malam lailatulkadarnya; beramal saleh pada malam itu pahalanya jauh lebih besar dan lebih baik daripada beramal saleh yang dilakukan selama seribu bulan yang tidak mengandung malam lailatulkadar.","part":1,"page":58},{"id":59,"text":"004. (Turunlah malaikat-malaikat) bentuk asal dari lafal Tanazzalu adalah Tatanazzalu, kemudian salah satu huruf Ta-nya dibuang, sehingga jadilah Tanazzalu (dan Ar-Ruh) yakni malaikat Jibril (di malam itu) artinya pada malam kemuliaan/lailatulkadar itu (dengan izin Rabbnya) dengan perintah dari-Nya (untuk mengatur segala urusan) atau untuk menjalankan ketetapan Allah buat tahun itu hingga tahun berikutnya, hal ini terjadi pada malam kemuliaan itu. Huruf Min di sini bermakna Sababiyah atau sama artinya dengan huruf Ba; yakni mereka turun dengan seizin Rabbnya dengan membawa segala urusan yang telah menjadi ketetapan-Nya untuk tahun itu hingga tahun berikutnya.\r005. (Malam itu penuh dengan kesejahteraan) lafal ayat ini sebagai Khabar Muqaddam atau Khabar yang didahulukan, sedangkan Mubtadanya ialah (sampai terbit fajar) dapat dibaca Mathla'al Fajri dan Mathla'il Fajri, artinya hingga waktu fajar. Malam itu dinamakan sebagai malam yang penuh dengan kesejahteraan, karena para malaikat banyak mengucapkan salam, yaitu setiap kali melewati seorang mukmin baik laki-laki maupun perempuan mereka selalu mengucapkan salam kepadanya.(Tafsir al-Jalaalain)","part":1,"page":59},{"id":60,"text":"Mumu Bsa >>> \"، قال عطاء عن ابن عباس: \"ذكر لرسول الله صلى الله عليه وسلم رجل من بني إسرائيل حمل السلاح على عاتقه في سبيل الله ألف شهر، فعجب رسول الله صلى الله عليه وسلم لذلك وتمنى ذلك لأمته، فقال: يا رب جعلت أمتي أقصر الأمم أعماراً وأقلها أعمالاً؟ فأعطاه الله ليلة القدر، فقال: \"ليلة القدر خير من ألف شهر\"، التي حمل فيها الإسرائيلي السلاح في سبيل الله، لك ولأمتك إلى يوم القيامة\"\rMumu Bsa >>\rBerkata atho dari Ibn abbas, disebutkan kepada Nabi tentang seseorang dari Bani isroil yg telah membawa pedang dipundaknya untuk berjihad di jalan Allah selama 1000 BULAN , maka Rasulullah merasa ta'jub akan hal ini dan berharap hal itu diberikan kepada Umatnya, lalu beliau bersabda: Ya rabb Engkau menjadikan umatku umat yg paling pendek umurnya dan yg paling sedikit amalnya, kemudian Allah memberikan lailatul qodri, dan berfirman ''Lailatu qodri khoirun min alfi sahrin'' (Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan) orang yg membawa pedang di jalan Allah, untukmu dan untuk umatmu sampai hari kiamat. (tafsir baghowi)\r378. Salah kaprah dalam ber I'tikaf\rOleh Ibnu Abdillah Al-Katibiy pada 18 Agustus 2011 pukul 12:04","part":1,"page":60},{"id":61,"text":"Begitu banyak keutamaan dan keitsimewaan bulan Romadhan yang telah Allah sediakan bagi umat muslim, pahala sunnah ditulis menjadi pahala fardhu, dan pahala fardhu menjadi berlipat-lipat, demikian juga amalan ibadah lainnya menjadi nilai tinggi saat dilakukan di bulan Romadhan, apalagi di malam harinya, karena sbgaimana telah dating haditsnya bahwa di antara malam bulan Romadhan terdapat malam kemuliaan yg lebih dikenal dengan Lailatul Qodr dan Nabi lebih menekankan lagi untuk mencarinya di 10 malam terakhir terutama di malam-malam ganjilnya.\rI’tikaf menjadi ibadah pilihan di dalam menemui dan mencari malam kemuliaan tersebut, melihat begitu besarnya pahala yang Allah janjikan bagi orang yang beri’tikaf terlebih lagi di bulan Romadhan. Tradisi yang ada di Indonesia biasanya saat sepuluh malam terakhir, trutama di malam-malam ganjilnya, umat muslim berangkat ke masjid umum atau pun masjid jami’ untuk melakukan ibadah I’tikaf yang di isi dengan berbgaia macam ketaatan.","part":1,"page":61},{"id":62,"text":"Namun sangat disayangkan, banyak kekeliruan yang kita temui saat beri’tikaf. Diantaranya adanya persoalan-persoalan yang memalingkan dari tujuan ber’itikaf, misalnya di saat-saat malam ganjil malam 21, 23, 25 dst banyak saudara kita yang berangkat dari rumah lengkap menggunakan busana muslim namun tujuan beri’tikafnya menjadi dilupakan sebab ia terlebih dahulu mampir diemperan-emperan jalan yang di isi oleh para pedagang yang bermacam-macam barang dagangannya di ssekitar masjid atau alun-alun untuk berbelanja atau sekedar melihat-lihat saja.\rLebih disayangkan lagi, pada para remaja putra-putri kita, mereka berangkat dari rumah dengan mengunakan busana muslim mengajak teman atau gadisnya dengan menggunakan busana muslim yang sedikit terlihat bodynya. Entah tujuan mereka I’tikaf atau memang sengaja untuk berbelanja di sekitar masjid atau alun-aliun tsb. Atau terkadang mereka dating ke sana hanya sekedar mampir untuk nongkrong atau makan-makan bersama pasangannya masing-masing, sunnguh sangat ironis sekali di bulan Romadhan yang seharusnya lebih menjaga anggota tubuh dari sgla maksyiat malah terlumuri dengan noda-noda dosa. Ahh, semoga Allah mengampuni aku dan mereka..\rDi sini al-Faqir akan sedikit membahas definisi I’tikaf dan persoalannya, agar kita tahu makna I’tikaf secara syar’I dan dapat meraih pahala yang banyak dengan I’tikaf yang benar sesuai tuntunannya.\rDefinisi I’tikaf :\rSecara syare’at adalah :\rمكث مخصوص لشخص مخصوص فى مكان مخصوص بنية مخصوصة","part":1,"page":62},{"id":63,"text":"“ Berdiam diri secara tertentu, bagi orang tertentu di tempat tertentu dengan niat tertentu “\rKeutamaannya :\rNabi Saw bersabda :\rمن مشى فى حاجة اخيه كان خيرا له من اعتكاف عشر سنين ومن اعتكف يوما ابتغاء وجه الله عزوجل جعل الله بينه وبين النار ثلاث خنادق كل خندق ابعد مما بين الخافقين\r(رواه الطبراني, المعجم الاوسط : 7322\rو قال ايضا \" من اعتكف عشرا فى رمضان كان كحجتين وعمرتين\rرواه البيهقي, شعب الايمان ?: ???\r“ Barangsiapa yang berjalan di dalam membangtu keperluan saudara muslimnnya, maka itu lebih baik baginya dari I’tikaf sepuluh tahun lamanya. Dan barangsiapa yang beri’tikaf satu hari karena mengharap ridho Allah Swt, maka Allah menjadikan di anatara dia dan api neaka jarak sejauh tiga khondaq / parit. Setiap khondaq dari khondak lainnya jaraknya sejauh langit dan bumi “\r(HR. Thabrani, mu’jam Al-Awsath : 7322)\rNabi juga bersabda “ Barangsiapa yang beri’tikaf sepuluh hari di bulan Romadhan, maka baginya apahala dua haji dan dua umroh “\r(HR. Al-Baihaqi, Syu’abil iman : 3 : 425)\rHukum I’tikaf ada 4 :\r1. WAJIB, jika dinadzarkan\r2. SUNNAH, dan inilah hukum asalnya dan lebih dtekankan lagi di bulan Romadhan\r3. MAKRUH, Yaitu I’tikafnya perempuan yang masih memiliki body dengan idzin suami dan aman dari fitnah.\r4. HARAM tapi sah yaitu I’tikafnya perempuan tanpa idzin suami atau dengan idzin suami tapi tidak aman dari fitnah.\rHaram dan tidak sah yaitu I’tikafnya orang yang junub atau perempuan yang haidh.\rSyarat I’tikaf :\r1. Niat. Yaitu dalam hati mengatakan :\rنويت الاعتكاف في هذا المسجد لله تعالى","part":1,"page":63},{"id":64,"text":"“ Saya niat I’tikaf di masjid ini karena Allah Ta’ala “\r2. Suci dari hadats besar.\r3. Berakal. Jika di tengah-tengah I’tikaf dia menjadi gila, maka batal I’tikafnya.\r4. Islam\r5. Berdiam diri minimal seukuran tuma’ninah sholat lebih sedikit ( Sekitar 5 detikkan )\r6. Berada di dalam masjid. Maka tidak sah I’tikaf di mushollah, ribath atau pesantren.\rCatatan :\rMelihat hukum I’tikaf bagi perempuan adalah MAKRUH itupun jika tidak dikhawatirkan timbulnya fitnah misalnya menyebabkan laki-laki yang memandangnya syahwat atau terjadinya kholwat atau pacaran.\rJika dikhawatirkan akan timbulnya fitnah, maka hukumnya menjadi haram, maka alangkah baiknya bagi perempuan terutama para gadisnya hendaknya berada di dalam rumah saja, melakukan aktifitas ibadah lainnya semisal, membaca al-quran, berdzikir, membaca buku-buku agama atau lainnya. Ini lebih utama dan lebih aman bagi mereka.\rI’tikaf di dalam rumah sah ?\rKemudian tak usah khawatir bagi kaum hawa yang tidak beri’tikaf di masjid, masih bisa ber’itikaf di dalam rumah dan pahalanya pun sama sbgaimana I’tikaf di dalam masjid.\rAda pendapat di dalam madzhab Hanafi dan bahkan pendapat ini dinilai mu’tamad (kuat) dan beoleh diikuti mengingan situasi dan kondisi sekarang ini bagi wanita yang keluar dari rumah sering terjadi fitnah. Yaitu :\rانه يصح الاعتكاف للمرأة فقط اذا عينت مكانا في بيتها للصلاة, وهو معتمد مذهب الامام أبي حتيفة","part":1,"page":64},{"id":65,"text":"“ Sesungguhnya sah bagi perempuan saja, I’tikaf di tempat yang ia khususkan untuk sholat di dalam rumah, dan ini pendapat mu’tamad madzhab imam Abu Hanifah “.\rPerhatian :\r- Bagi yang sholat terawikh di masjid, maka ketika masuk masjid niatkanlah I’tikaf, agar merangkap pahala I’tikaf.\r- Bagi kaum pria yang melaksanakan sholat jum’at, maka niatkanlah I’tikaf saat memasuki masjid, agar meraih pahalanya I’tikaf trutama di bulan Romadhan ini.\r- Bagi yang lupa niat I’tikaf, maka tidaklah mengapa meniatkan I’tikaf ditengah-tengah ia melakukan sholat terawikh namun di dalam hati tidak boleh dilafadzkan.\rSemoga bermanfa’at..\rSumber :\rKitab : At-Taqrirat As-Sadidah Fil masail mufidah halaman : 460\r(Ibnu Abdillah Al-Katibiy)\r385. Renungan ramadhan : Usaid ben Hudhair\rOleh Zaine Elarifine Yahya pada 19 Agustus 2011 pukul 17:20\rMalaikat Turut Mendengarkan\roleh Ahmad Fuady\rTengah malam itu suasana tenang dan hening sekali. Usaid bin Hudhair duduk di beranda belakang rumahnya.Putranya, Yahya, yang masih balita sudah lama terlelap di sampingnya. Tidak jauh dari tempatnya duduk, seekor kuda siap tertambat.\rSewaktu-waktu jika perintah perang fisabilillah dari Rasulullah keluar, dia dapat dengan sigap menunggangnya. Di keheningan malam itu, Usaid membaca Alquran dengan khusyuk dan penuh penghayatan. Ayat demi ayat dia lantunkan dengan suara merdu. Ia membaca surah al-Baqarah ayat 1-4.","part":1,"page":65},{"id":66,"text":"Ketika melantunkan ayat-ayat suci tersebut, kudanya lari berputar-putar hampir memutuskan tali pengikatnya. Sampai di ujung ayat keempat al-Baqarah tersebut, Usaid menghentikan bacaannya, ingin tahu apa yang terjadi pada kudanya. Usaid tidak melihat apa pun.\rBersamaan dengan berhentinya Usaid melantunkan ayat-ayat suci, kudanya kembali tenang. Usaid kembali melanjutkan bacaannya. “Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka dan merekalah orangorang yang beruntung.” (QS [2]: 5).\rKudanya kembali meronta, berputar-putar lebih hebat dari yang pertama. Usaid pun kembali menghentikan bacaannya. Kudanya kembali diam. Demikianlah terjadi berulang-ulang. Setiap kali Usaid membaca Alquran kudanya meronta, setiap kali Usaid diam kudanya juga diam.\rKhawatir dengan keselamatan anaknya, Usaid membangunkan anaknya. Ketika itulah dia melihat ke langit, terlihat awan seperti payung yang mengagumkan, belum pernah dia lihat sebelumnya. Esok paginya, hal itu dia ceritakan kepada Rasulullah SAW.\rRasul bersabda, “Hai Usaid, itu malaikat yang turun mendengarkan engkau membaca Alquran. Seandainya engkau teruskan bacaanmu, pastilah orang banyak akan melihatnya pula. Pemandangan itu tidak akan tertutup bagi mereka.”","part":1,"page":66},{"id":67,"text":"Usaid sangat mencintai Alquran, bahkan sejak pertama kali mendengarkan ayat-ayat Alquran dilantunkan oleh Mush’ab bin Umair, dai muda yang dikirim Rasulullah SAW sebagai perintis dakwah di Kota Yatsrib. Saat itu, Mush’ab sedang menyampaikan Islam kepada orang-orang yang sudah masuk Islam, tiba-tiba Usaid datang.\rUsaid berkata dengan nada menuding, “Apa maksud Tuan da tang ke sini? Tuan hendak mempengaruhi rakyat kami yang bodoh-bodoh. Pergilah Tuan sekarang, jika Tuan masih ingin hidup!” Dengan wajah tenang karena pantulan iman, Mush’ab menjawab, “Wahai pemimpin, silakan duduk bersama kami, mendengarkan apa yang kami bicarakan. Jika Anda suka apa yang kami bicarakan, silakan ambil. Dan jika Anda tidak suka, kami akan meninggalkan Anda dan tidak kembali lagi ke kampung Anda ini.”\rUsaid setuju, lalu mulai mendengarkan Mush’ab menjelaskan Islam sambil membaca ayat-ayat Alquran. Rasa gembira terpancar di wajah Usaid. Dia langsung mengaguminya.\r“Alangkah indahnya apa yang Tuan baca,” kata Usaid. “Apa yang dapat saya lakukan jika aku ingin memeluk Islam?” katanya lebih lanjut. Di bawah bimbingan Mush’ab, Usaid masuk Islam. Sejak itu Usaid mencintai Alquran seperti seseorang mencintai kekasihnya. Itulah Usaid bin Hudhair yang malaikatpun turun mendengarkan bacaannya.\rProf Dr Yunahar Ilyas\r386. BERPOLA PRILAKU DAN GAYA HIDUP MIRIP ORANG KAFIR\rOleh Zaine Elarifine Yahya pada 19 Agustus 2011 pukul 6:08\rHafa Zubair","part":1,"page":67},{"id":68,"text":"Sebatas mana meniru pola prilaku dengan orang kafir (tasyabbuh bil kuffar) yg di haramkan syari'at?\rDhimas Zaki >>\rBatasan sederhana, bahwa sepanjang kita tidak memakai atau melakukan sesuatu yang merupakan \"ciri khusus\" sebagai identitas suatu agama (non islam) atau \"golongan\" ( NON MUSLIM ) tertentu,maka itu bukan lagi disebut \"tasyabbuh\", kecuali kita memakai atau melakukan yang merupakan ciri khusus dari \"kelompok\" (NON MUSLIM) itu.\rBerdasarkan referensi yang ada, dulu di zaman penjajahan, seorang muslim yang berpakaian lengkap, jas dan dasi, termasuk perbuatan \"tasyabbuh\", sehingga diharamkan oleh sebagian ulama', tetapi karena sekarang pakaian jas dan dasi bukan ciri khusus milik golongan tertentu, maka berpakaian yang oleh sebagan ulama dulu dianggap \"tasyabbuh\", sekarang tentu bukan dianggap \"tasyabbuh\" lagi.\rMasaji Antoro >>\rBERIKUT SEDIKIT RINCIAN TASYABBUH dengan ORANG KAFIR\rBila penyerupaan (TASYABBUH) nya dengan tujuan meniru orang kafir untuk turut menyemarakkan kekafirannya maka hukumnya menjadi kafir.\rBila penyerupaan (TASYABBUH) nya dengan tujuan hanya meniru tanpa disertai untuk turut menyemarakkan kekafirannya hukumnya tidak kafir namun berdosa.\rBila TASYABBUH nya tidak sengaja meniru sama sekali tetapi sekedar menjalani sesuatu yang kebetulan sama dengan mereka maka tidak haram tetapi makruh.","part":1,"page":68},{"id":69,"text":"(مسألة : ي) : حاصل ما ذكره العلماء في التزيي بزي الكفار أنه إما أن يتزيا بزيهم ميلاً إلى دينهم وقاصداً التشبه بهم في شعائر الكفر ، أو يمشي معهم إلى متعبداتهم فيكفر بذلك فيهما ، وإما أن لا يقصد كذلك بل يقصد التشبه بهم في شعائر العيد أو التوصل إلى معاملة جائزة معهم فيأثم ، وإما أن يتفق له من غير قصد فيكره كشد الرداء في الصلاة.\rKesimpulan dari pernyataan ulama tentang berbusana dengan menyerupai orang-orang kafir adalah jika dalam berbusana dengan mereka itu karena adanya rasa suka kepada agama mereka dan bertujuan untuk bisa serupa dengan mereka dalam syiar-syiar kafir atau agar bisa bepergian bersama mereka ketempat-tempat peribadatan mereka maka dalam dua hal diatas dia menjadi kafir, namun jika tidak bertujuan semacam itu yakni hanya bisa sekedar menyerupai mereka dalam syiar-syiar hari raya atau sebagai media agar bisa bermuamalah berhubungan dengan mereka dalam hal-hal yang diperkenankan maka ia berdosa (tidak sampai kafir, red), atau ia setuju dengan busana orang kafir tanpa suatu tujuan apapun maka hukumnya makruh seperti mengikat selendang dalam shalat.\rBughyah al-Mustarsyidiin I/529\rفَالْحَاصِلُ أَنَّهُ إِنْ فَعَلَ ذَلِكَ بِقَصْدِ التَّشَبُّهِ بِهِمْ فِي شِعَارِ الْكُفْرِ كَفَرَ قَطْعاً أَوْ فِي شِعَارِ الْعِيْدِ مَعَ قَطْعِ النَّظَرِ عَنِ الْكُفْرِ لَمْ يَكْفُرْ، وَلَكِنَّهُ يَأْثَمُ وَإِنْ لَمْ يَقْصِدِ التَّشَبُّهَ بِهِمْ أَصْلاً وَرَأْساً فَلاَ شَيْءَ عَلَيْهِ","part":1,"page":69},{"id":70,"text":"\"Ketika berpakaian (tingkah laku) menyerupai orang kafir, untuk syi’ar kekafirannya maka ia kafir dengan pasti ….s/d … seandainya tidak bertujuan menyerupai mereka sama sekali tidak apa-apa baginya tetapi itu makruh\".\rقَالَ الشَّيْخُ أَبُوْ مُحَمَّدٍ بْنُ أَبِي حَمْزَةَ نَفَعَ اللهُ مَا مُلَخَّصُهُ ظَاهِرًا لِلَفْظِ الزَّجْرِ عَنِ التَّشَبُّهِ فِي كُلِّ شَيْئٍ، كَذَا عُرِفَ مِنَ اْلأَدِلَّةِ اْلأُخْرَى أَنَّ الْمُرَادَ التَّشَبُّهُ فِي الزِّيِّ وَبَعْضِ الصِّفَاتِ وَنَحْوِهَا لاَ التَّشَبُّهُ فِي أُمُوْرِ الْخَيْرِ.\r\"Syekh Abu Muhammad bin Abi Hamzah berkata menurut dhoirnya lafadz adalah melarang menyerupai pada setiap sesuatu (dari kafir) begitu juga dalil-dalil lain mengatakan. Maksudnya menyerupai (orang-orang kafir yang dihukumi haram) adalah menyerupai dalam pakaian, hiasan, sifat-sifatnya dan sesamanya bukan menyerupai dalam urusan kebaikan\".\rfathul barri X/ 273\rWallaahu A'lamu Bis Showaab\r387. HIKMAH DIBALIK UJIAN HIDUP\rOleh Neil Elmuna pada 15 Agustus 2011 pukul 22:37\rErizal Adjie Pratama\rassalamu'alaikum.\rbagaimana caranya bersabar dalam menghadapi cobaan allah.\rwassalamu'alaikum\rMbah Jenggot II >>Wa'alaikum salam.pelajari keutamaan sabarHakam Ahmed ElChudrie >> wa'alaikum salam..\rQt slalu ingat bhwa d blik cobaan ada hikmah yg tersembunyi..\rOrg bsa d ktakan ikhlas stl dia mendapatkan cobaan dan bersbar..","part":1,"page":70},{"id":71,"text":"Mbah Jenggot II >> Berikut ini sebagian Hadist yg menjelaskan keutamaan sabar.1. Besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian dan cobaan. Sesungguhnya Allah ‘Azza wajalla bila menyenangi suatu kaum Allah menguji mereka. Barangsiapa bersabar maka baginya manfaat kesabarannya dan barangsiapa murka maka baginya murka Allah. (HR. Tirmidzi)\r2. Tiada seorang muslim tertusuk duri atau yang lebih dari itu, kecuali Allah mencatat baginya kebaikan dan menghapus darinya dosa. (HR. Bukhari)\r3. Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah Saw, “Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berat ujian dan cobaannya?”Nabi Saw menjawab, “Para nabi kemudian yang meniru mereka dan yang meniru mereka. Seseorang diuji menurut kadar agamanya. Kalau agamnya tipis (lemah) dia diuji sesuai dengan itu (ringan) dan bila imannya kokoh dia diuji sesuai itu (berat). Seorang diuji terus-menerus sehingga dia berjalan di muka bumi bersih dari dosa-dosa. (HR. Bukhari)\r4. Barangsiapa dikehendaki Allah kebaikan baginya maka dia diuji (dicoba dengan suatu musibah). (HR. Bukhari)\r5. Seorang hamba memiliki suatu derajat di surga. Ketika dia tidak dapat mencapainya dengan amal-amal kebaikannya maka Allah menguji dan mencobanya agar dia mencapai derajat itu. (HR. Ath-Thabrani)\r6. Apabila Allah menyenangi hamba maka dia diuji agar Allah mendengar permohonannya (kerendahan dirinya). (HR. Al-Baihaqi)","part":1,"page":71},{"id":72,"text":"7. Apabila Aku menguji hambaKu dengan membutakan kedua matanya dan dia bersabar maka Aku ganti kedua matanya dengan surga. (HR. Ahmad)\r8. Tiada seorang mukmin ditimpa rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyakit atau kesedihan (kesusahan) sampai pun duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah menghapus dosa-dosanya. (HR. Bukhari)\r9. Seorang mukmin meskipun dia masuk ke dalam lobang biawak, Allah akan menentukan baginya orang yang mengganggunya. (HR. Al Bazzaar)\r10. Tidak semestinya seorang muslim menghina dirinya. Para sahabat bertanya, “Bagaimana menghina dirinya itu, ya Rasulullah?” Nabi Saw menjawab, “Melibatkan diri dalam ujian dan cobaan yang dia tak tahan menderitanya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)\r11. Bukanlah dari (golongan) kami orang yang menampar-nampar pipinya dan merobek-robek bajunya apalagi berdoa dengan doa-doa jahiliyah. (HR. Bukhari)\rDari ‘Abdullah bin Mas’ud r.a, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Bukan dari golongan kamiorang yang menampar-nampar pipi, mengoyak-ngoyak baju dan meratap dengan ratapan Jahiliyyah’,” (HR Bukhari [1294] dan Muslim [103]).\rPenjelasan:\rDilakukan pada saat kematian anggota keluarga pada jaman jahiliyah.","part":1,"page":72},{"id":73,"text":"12. Allah menguji hambaNya dengan menimpakan musibah sebagaimana seorang menguji kemurnian emas dengan api (pembakaran). Ada yang ke luar emas murni. Itulah yang dilindungi Allah dari keragu-raguan. Ada juga yang kurang dari itu (mutunya) dan itulah yang selalu ragu. Ada yang ke luar seperti emas hitam dan itu yang memang ditimpa fitnah (musibah). (HR. Ath-Thabrani)\r13. Salah seorang dari mereka lebih senang mengalami ujian dan cobaan daripada seorang dari kamu (senang) menerima pemberian. (HR. Abu Ya’la)\r14. Sesungguhnya Allah Azza Wajalla menguji hambanya dalam rezeki yang diberikan Allah kepadanya. Kalau dia ridho dengan bagian yang diterimanya maka Allah akan memberkahinya dan meluaskan pemberianNya. Kalau dia tidak ridho dengan pemberianNya maka Allah tidak akan memberinya berkah. (HR. Ahmad)\r15. Barangsiapa ditimpa musibah dalam hartanya atau pada dirinya lalu dirahasiakannya dan tidak dikeluhkannya kepada siapapun maka menjadi hak atas Allah untuk mengampuninya. (HR. Ath-Thabrani)\r16. Bencana yang paling payah ialah bila kamu membutuhkan apa yang ada di tangan orang lain dan kamu ditolak (pemberiannya). (HR. Ad-Dailami)\r17. Barangsiapa diuji lalu bersabar, diberi lalu bersyukur, dizalimi lalu memaafkan dan menzalimi lalu beristighfar maka bagi mereka keselamatan dan mereka tergolong orang-orang yang memperoleh hidayah. (HR. Al-Baihaqi)\r389. ADAB ADAB TERHADAP AL-QUR'AN\rOleh Alkannas Sadja pada 19 Agustus 2011 pukul 21:33","part":1,"page":73},{"id":74,"text":"Setiap muslim harus meyakini kesucian Kalamulloh, keagungannya, dan keutamaannya di atas seluruh kalam (ucapan). Al-Qur’anul Karim itu Kalamulloh yang di dalamnya tidak ada kebatilan. Al-Qur’an memberi petunjuk jalan yang lurus dan memberi bimbingan kepada umat manusia di dalam menempuh perjalanan hidupnya, agar selamat di dunia dan di akhirat, dan dimasukkan dalam golongan orang-orang yang mendapatkan rahmat dari Alloh Ta’ala.\rUntuk itulah tiada ilmu yang lebih utama dipelajari oleh seorang Muslim melebihi keutamaan mempelajari Al-Qur’an. Sebagaimana sabda Nabi ShallAllohu ‘alaihi wa sallam, yang artinya: “Sebaik-baik kamu adalah orang yg mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).\rDalam riwayat Imam Muslim dijelaskan, yang artinya: “Bacalah Al-Qur’an, sesungguhnya Al-Qur’an itu akan menjadi syafa’at di hari Qiyamat bagi yang membacanya (ahlinya).” (HR. Muslim).\rWajib bagi kita menghalalkan apa yang dihalalkan Al-Qur’an dan mengharamkan apa yang diharamkannya. Diwajibkan pula beradab dengannya dan berakhlaq terhadapnya. Untuk mendapatkan kesempurnaan pahala dalam membaca Al-Qur’an, di saat membaca Al-Qur’an seorang Muslim perlu memperhatikan adab-adab yang akan disampaikan pada tulisan berikut ini.","part":1,"page":74},{"id":75,"text":"Agar membacanya dalam keadaan yang sempurna, suci dari najis, dan dengan duduk yang sopan dan tenang. Dalam membaca Al-Qur’an dianjurkan dalam keadaan suci. Namun apabila dia membaca dalam keadaan najis, diperbolehkan dengan Ijma’ umat Islam. Imam Haromain berkata; orang yang membaca Al-Qur’an dalam keadaan najis, dia tidak dikatakan mengerjakan hal yang makruh, akan tetapi dia meninggalkan sesuatu yang utama. (At-Tibyan, hal.58-59).\rMembacanya dengan pelan (tartil) dan tidak cepat, agar dapat menghayati ayat yang dibaca. Rasulullah ShallAllohu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: “Siapa saja yang membaca Al-Qur’an (khatam) kurang dari tiga hari, berarti dia tidak memahami” (HR. Ahmad dan para penyusun Kitab-KitabSunan).\rDan sebagian kelompok dari generasi pertama membenci pengkhataman Al-Qur’an sehari semalam, dengan dasar hadits di atas. Rasulullah telah memerintahkan Abdullah Ibnu Umar untuk mengkhatamkan Al-Qur’an setiap satu minggu (7 hari). (Muttafaq Alaih). Sebagaimana yang dilakukan Abdullah bin Mas’ud, Utsman bin Affan, Zaid bin Tsabit g, mereka mengkhatamkan Al-Qur’an sekali dalam seminggu.\rDi dalam sebuah ayat Al-Qur’an, Alloh Ta’ala menjelaskan sebagian dari sifat-sifat hambaNya yang shalih, yang artinya: “Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’ (QS. Al-Isra’: 109).","part":1,"page":75},{"id":76,"text":"Agar membaguskan suara di dalam membacanya, sebagaimana sabda Rasulullah ShallAllohu ‘alaihi wa sallam, yang artinya: “Hiasilah Al-Qur’an dengan suaramu” (HR Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Hakim).\rDi dalam hadits lain dijelaskan: “Tidak termasuk umatku orang yang tidak melagukan Al-Qur’an” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).\rMaksud hadits di atas, membaca Al-Qur’an dengan susunan bacaan yang jelas dan terang makhroj huruf nya, panjang pendeknya bacaan, tidak sampai keluar dari ketentuan kaidah Tajwid.\rMembaca Al-Qur’an dimulai dengan Isti’adzah.Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Dan bila kamu akan membaca Al-Qur’an, maka mintalah perlindungan kepada Alloh dari (godaan-godaan) syaithan yang terkutuk” (QS. An-Nahl: 98).\rApabila ayat yang dibaca dimulai dari awal surat, setelah isti’adzah terus membaca Basmalah, dan apa bila tidak di awal surat cukup membaca isti’adzah. Khusus surat At-Taubah walaupun dibaca mulai awal surat tidak usah membaca Basmalah, cukup dengan membaca isti’adzah saja.\rMembaca Al-Qur’an dengan berusaha mengetahui artinya dan memahami inti dari ayat yang dibaca dengan beberapa kandungan ilmu yang ada di dalam nya. Firman Alloh Ta’ala, yang artinya: “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an, ataukah hati mereka terkunci? (QS. Muhammad: 24).","part":1,"page":76},{"id":77,"text":"Membaca Al-Qur’an dengan tidak mengganggu orang yang sedang shalat, dan tidak perlu membacanya dengan suara yang terlalu keras atau di tempat yang banyak orang. Bacalah dengan suara yang lirih atau dalam hati secara khusyu’. Rasulullah ShallAllohu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: “Orang yang terang-terangan (di tempat orang banyak) membaca Al-Qur’an, sama dengan orang yang terang-terangan dalam shadaqah” (HR. Tirmidzi, Nasa’i, dan Ahmad).\rDalam hadits lain dijelaskan, yang artinya: “Ingatlah bahwasanya setiap hari dari kamu munajat kepada Rabbnya, maka janganlah salah satu dari kamu mengganggu yang lain, dan salah satu dari kamu tidak boleh mengangkat suara atas yang lain di dalam membaca (Al-Qur’an)” (HR. Abu Dawud, Nasa’i, Bai haqi dan Hakim), ini hadits shahih dengan syarat Shaikhani (Bukhari-Muslim).\rJadi jangan sampai ibadah yang kita lakukan tersebut sia-sia karena kita tidak mengindahkan sunnah Rasulullah dalam melaksanakan ibadah membaca Al-Qur’an. Misalnya, dengan suara yang keras pada larut malam, yang akhirnya mengganggu orang yang istirahat dan orang yang shalat malam.\rDengarkan bacaan Al-Qur’an. Jika ada yang membaca Al-Qur’an, maka dengarkanlah bacaannya itu dengan tenang, Alloh Ta’ala berfirman, yang artinya: “Dan tatkala dibacakan Al-Qur’an, maka dengar kanlah dan diamlah, semoga kamu diberi rahmat” (QS. Al-A’raaf: 204).","part":1,"page":77},{"id":78,"text":"Membaca Al-Qur’an dengan saling bergantian yang bertujuan untuk pendidikan atau mempelajari Al Qur’an. Yang mendengarkannya harus dengan khusyu’ dan tenang. Rasulullah bersabda, yang artinya: “Tidaklah berkumpul suatu kaum di dalam rumah-rumah Alloh, mereka membaca Al-Qur’an dan saling mempelajarinya kecuali akan turun atas mereka ketenangan, dan mereka diliputi oleh rahmat (Alloh), para malaikat menyertai mereka, dan Alloh membang-ga-banggakan mereka di kalangan (malaikat) yang ada di sisiNya.” (HR. AbuDawud).\rSetiap orang Islam wajib mengatur hidupnya sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan harus dipelihara kesucian dan kemuliaannya, serta dipelajari ayat-ayatnya, dipahami dan dilaksanakan sebagai konse kuensi kita beriman ke-pada Al-Qur’an.\r(Minhajul Muslim, Fiqih Sunnah, At-Tibyan Fi Adaabi Hamlatil Qur’an)\rhttp://cintaislam.wordpress.com/2007/07/06/adab-adab-terhadap-al-quran\r390. Pancaran Sinar Tawadhu'\rOleh Ibnu Abdillah Al-Katibiy pada 20 Agustus 2011 pukul 1:34\rPancaran sinar Tawadhu’ yang mengguncang hati dari para pecinta sang Nabi Saw, samudera kesempurnaan akhlak.\rNabi Saw bersabda “ Barangsiapa yang merasa rendah hati maka Allah akan mengangkat derajatnya dan barangsiapa yang merasa sombong, maka Allah akan merendahkannya “.\r? Ali bin Abi Tholib Ra berkata “ Barangsiapa yang ingin melihat ahli neraka, maka lihatlah kepada seseorang yang duduk sedangkan di hadapannya ada kaum yang berdiri “.","part":1,"page":78},{"id":79,"text":"? Suatu kaum berjalan di belakang Hasan Al-Bashri Rh maka beliau malarang mereka dan berkata “ Ini tidak sepatutnya ada di hati seorang mukmin “.\r? Ibnu Wahab Rh berkata “ Suatu hari aku duduk di dekat Abdul Aziz Ar-Rawwad lalu lututku menyentuh lututnya, maka aku alihkan lagi lututku dari lututnya, kemudian ia malah menarik bajuku dan mendekatkanku kembali padanya dan berkata “ kenapa anda berbuat padaku seperti perbuatan orang yang sombong, sesungguhnya aku tidak melihatmu lebih buruk dari aku “.\r? Umar bin Abdul Aziz Ra suatu hari kedatangan tamu, sedangkan beliau sedang menulis dan tiba-tiba lampu obornya hampir padam. Si tamu berkata “ Biarkan aku yang berdiri dan memperbaikinya “. Beliau berkata “ Bukan termasuk sifat dermawan jika ia meminta bantuan kepada tamunya “. Si tamu itu berkata lagi “ Biar aku bangunkan pelayan ?”. Beliau menjawab “ Dia baru saja tidur “. Kemudian beliau berdiri, mengambil lampu obor itu dan mengisinya dengan minyak “. Si tamu berkata padanya “ Engkau melakukan semua ini sendiri wahai Amirul mukminin (pak perisiden)? Beliau menjawab “ Aku berjalan dan aku Umar, aku kembali dan aku tetap Umar, tidak ada yang kurang dariku sedikitpun dan sebaik-baik manusia di sisi Allah adalah yang merasa rendah hati “.\r? Syekh Umar Al-Muhdor bin Abdurrahman as-Segaf : \" Andai aku tahu kalau satu sujudku diterima oleh-Nya, niscaya kujamu seluruh penduduk Tarim, bahkan ternak-ternak mereka sekalian.”","part":1,"page":79},{"id":80,"text":"? Habib Abu Bakar bin Abdullah Al-Aydrus Al-Adny berkata “ Mencium tanganku seperti menampar wajahku dan mencium kakiku seperti mencongkel mataku “.\rBeliau juga berkata “ Aduhai andai saja aku tidak dikenal seoranpun dan aku tidak mengenal seorangpun. Andai saja aku tidak lahirkan “. Padahal beliau adalah seorang wali besar yang bertabur karamah.\r? Sahl At-Tusturi sering berjalan di atas air tanpa sedikitpun kakinya menjadi basah. Seseorang berkata kepada Sahl: “ Orang-orang berkata bahwa engkau dapat berjalan di atas air “.\rBeliau menjawab “ Tanyakanlah kepada muadzdzin di masjid ini, ia adalah seorang yang dapat dipercayai”. Kemudian orang itu mengisahkan : “ Telah kutanyakan kepada si muadzdzin dan ia menjawab “ Aku tak pernah menyaksikan hal itu. Tetapi beberapa hari yang lalu ketika hendak bersuci Sahl tergelincir ke dalam sumur dan seandainya aku tidak ada di tempat itu niscaya aia telah binasa “. Ketika Abu Ali bin Daqqaq mendengar kisah ini, ia pun barkata “ Sahl mempunyai berbagai karamah tetapi ia ingin menyembunyikan hal itu “\r? Pada suatu hari pelayan wanita Rabi’ah Al-Adawiyyah hendak memasak sup bawang karena telah beberapa lamanya mereka tidak memasak makanan. Ternyata mereka tidak mempunyai bawang. Si pelayan berkata kepada Rabi’ah “ Aku hendak meminta bawang kepada tetangga sebelah “.","part":1,"page":80},{"id":81,"text":"Tetapi Rabi’ah mencegah “ Telah 40 tahun aku berjanji kepada Allah tidak akan meminta sesuatu pun selain kepada-Nya. Lupakanlah bawang itu “. Segera setelah Rabi’ah berkata demikian, seekor burung meluncur dari angkasa, membawa bawang yang telah terkupas di paruhnya, lalu menjatuhkannya ke dalam belangga.\rMenyaksikan peristiwa itu Rabi’ah berkata “ Aku takut jika semua ini semacam tipu muslihat (istidraj) “. Rabi’ah tidak mau menyentuh sup bawang tersebut. Hanya roti sajalah yang dimakannya.\r? Orang-orang bertanya kepada Malik bin Dinar “ Tidakkah engkau keluar bersama kami untuk minta hujan ? “ ia menjawab “ Aku takut akan turun hujan batu karena aku. Kalian sedang menanti hujan air sedangkan aku merasa khawatir turun hujan batu sebab keluarnya aku bersama kalian “.\r? Muhammad bin Wasi’ Rh berkata “ Kami telah tenggelam dalam dosa. Seandainya seseorang di antara kalian dapat mencium bau dosa niscaya ia tidak akan mampu duduk bersamaku “.\r? Utbah Al-Ghulam Rh suatu hari pernah melewati suatu tempat lalu ia bergemetar keras hingga keringatnya bercucuran. Teman-temannya bertanya kepadanya “ Kenapa engkau seperti itu ? Beliau menjawab “ Ini adalah tempat aku pernah bermaksyiat dulu sewaktu aku masih kecil “.","part":1,"page":81},{"id":82,"text":"? Malik bin Dinar Rh berangkat haji dari Bushro ke Makkah dengan berjalan kaki. Ketika ditanya “ Kenapa engkau tidak menaiki kendaraan ? Beliau menjawab “ Apakah seorang budak yang bersalah dan melarikan diri tidak merasa puas dengan berjalan kaki menuju tuannya untuk meminta maaf ? Demi Allah seandainya aku menuju Makkah dengan melewati bara api, pasti akan aku lakukan dan hal itu belum seberapa “.\r? Yusuf bin Asbath Rh berkata “ Puncak tawadhu’ adalah engkau keluar dari rumah dan engkau tidak melihat / berprasangka kepada orang lain kecuali orang itu lebih baik darimu “\rDinukil dari kitab Tanbih Al-Mughtarrin, karya Syaikh Abdul Wahhab Asy-Sya'roni dan kitab Syarh 'Ainiyyah karya Habib Abdullah Al-Haddad.\r(Ibnu Abdillah Al-Katibiy)\r396. Percik embun Ramadhan : Raih kemenangan sejati.\rOleh Neil Elmuna pada 21 Agustus 2011 pukul 7:34\rNgaji Adalah Tidur, Tidur Adalah Ngaji\roleh Dody Ide pada 16 Agustus 2011 jam 21:44\r( Nuzulul Qur'an terindah )\rSeorang sahabat tercinta dengan segala kesungguhannya ingin mengkhatamkan bacaan Al Quran dalam satu bulan Ramadhan ini. Bahkan dengan terkantuk-kantuk di sela kerepotannya, ia ingin tuntas khatam 30 Juz. Hmmh...luar biasa... Memang ini bukan urusan hakikat makrifat dan segala tetek bengeknya tentang pemahaman apa itu khatam. Tetapi sebuah mahalnya pengorbanan niat karier non duniawi yang terus terang saya sendiri tak mampu.","part":1,"page":82},{"id":83,"text":"Yup, niat sangat berhubungan dengan stamina. Apalagi kalau niat baik, biasanya di tengah jalan staminanya sering rontok, entah kenapa... Dan gejala yang umum terjadi untuk urusan perontokan niat pengajian adalah ngantuk...\rEmm.. tapi ngantuk itu sesungguhnya adalah nikmat yang tak tergantikan. Sebab Allah sendiri memfirmankan bahwa tiada sesuatu yang diciptakan sia-sia. Otomatis ngantuk bukanlah barang yang sia-sia...\rNgantuk adalah sebuah nikmat yang tak perlu banting tulang dan berfikir keras untuk mendapatkannya. Ngantuk adalah tanda terhebat, ngantuk adalah penyelamat jiwa, ngantuk adalah jembatan kesadaran hidup dan mati...asal mau memaknainya.\rGak percaya? Bayangkan bila seorang sopir yang lagi mengendarai bus tiba-tiba tertidur pulas tanpa didahului ngantuk...grobyak...! ludeslah puluhan nyawa...\rNgantuk adalah kemampuan hipnotis alami bawaan sejak lahir yang ada dalam diri. Ngantuk adalah pertanda bahwa tubuh sudah waktunya untuk tidak meladeni keinginan indera kepala. Ngantuk menginginkan kita memasuki pesan kesejatian yang lebih tinggi daripada urusan kebutuhan ragawi.\rDan semua itu akan termaknai dengan jelas saat proses menuju ngantuk dan tidur itu disadari dan diprogram dengan baik. Pemrograman inilah yang kata para psikolog disebut self hypnosis.","part":1,"page":83},{"id":84,"text":"Dalam hal ini, program hypnosis dengan manfaat tertinggi adalah pemasukan afirmasi-afirmasi yang berasal dari kalimat-kalimat atau firman suci. Sebab tentunya, kalimat itu berasal dari sebuah pencapain perjalanan tertinggi proses sebuah penguakan spiritual pejalan suci.\rPara pejalan suci atau nabi yang telah sampai pada puncak, pastilah setelah kembali dari perjalanan itu membawa tanda-tanda, gambaran-gambaran peta dan medan. Dan semua itu disimpulkan dengan sesuatu yang kita sebut Kitab Suci.\rDengan berbekal peneguhan afirmasi atas kalam itu, maka alam bawah sadar dan synap syaraf kita ikut mengarahkan atau mendompleng pada perjalanan itu. Kebiasaan ini kita sebut do'a, wirid shalawat dan sejenisnya. Sehingga walaupun kita terkantuk-kantuk, sesungguhnya perjalanan bawah sadar itu telah melakukan tugas sesuai jalan para nabi.\rUntungnya, ngantuk yang didahului dengan niat akan sangat lain buah ruhaninya dengan ngantuk karena kemalasan. Ngantuk yang didahului dengan niat, persis seperti sistem auto pilot pada penerbangan. Kita tinggal programkan mana koordinat yang akan menjadi sasaran landing, pasti mendarat dengan selamat. Walau kita tertidur dalam perjalanan...\rTetapi kelemahannya, kita jadi tak mengerti proses rute sebuah perjalanan. Sehingga kita tak bisa menyampaikan dan bercerita atas pengalaman-pengalaman perjalanan itu. Padahal terkadang sanak kerabat atau anak cucu butuh sebuah gambaran cerita akan lelaku penerbangan itu...","part":1,"page":84},{"id":85,"text":"Ngantuk yang sebelumnya diprogram dengan baik tetapi bablas menuju tidur beneran sampai tak sadar bagai hikayat Ashabul Kahfi. Tiba-tiba ketika terbangun, kita sudah dalam keadaan fisik dan pikiran yang segar yang ditamsilkan dengan makmurnya sebuah negara yang diridhoi Allah. Dan sesungguhnya negara itu adalah tamsil tubuh kita, baik fisik maupun ruhani.\rSedangkan ngantuk yang tetap disadari sampai perpindahan pada kesadaran yang lebih tinggi adalah perwujudan Ayat Kursi. Dimana ngantuk ini hanya menidurkan segala alat inderawi. Sedangkan hati selalu bangun menyimak segala lewatan-lewatan perjalanan spiritual.\rInilah salah satu point Nuzulul Quran yang turun ke dada kita masing-masing. Dimana kesadaran inderawi telah tertutup, tetapi kesadaran hati masih terjaga. Sehingga terjadilah seperti yang termaktub dalam ayat Kursi bahwa kita menjadi sadar gandeng renteng dengan Allah yang tidak ngantuk dan tidur, yang mengerti kejadian di depan dan belakang dan menguasai atas segala ilmunya.\rSo, Ostomatis lah kita ikut kecipratan limpahan ilmu-ilmu itu sesuai tugas kekhalifahan masing-masing individu. Ilmu inilah yang sering disebut ilmu laduni, ilmu tulis tanpa papan alias kitab yang terbaca dengan jelas walau tak berhuruf...","part":1,"page":85},{"id":86,"text":"Dan ini semua bisa dicapai bila kita tak lagi gampang mengumbar kesenangan indera kepala. Sehingga ketika kita sudah melatih fase ini dengan berpuasa Ramadhan secara sesungguhnya, otomatis di tengah bulan Ramadhan kita akan mulai terkonekkan dengan perjalanan para Rasul. Maka diturunkanlah Nuzulul Qur'an pemahaman-pemahaman atas perjalanan para rasul ke dalam dada kita. Sehingga setengah bulan sesudahnya kita mulai tercerahkan setahap demi setahap.\rSampai pada titik paling cerah yaitu malam seribu bulan, lailatu Qadr....hmmhh...ck...ck...ck....\rDan akhirnya berhaklah kita berhari raya Idul Fitri yang sejati...dimana perayaan itu adalah perayaan sesungguhnya atas keberhasilan menguak rahasia hidup....\rBalik lagi, Jadi kesimpulannya, ngaji yang berhasil adalah ngaji yang bikin kita ngantuk bahkan tertidur....tentu yang dimaksud tidur adalah tidurnya segala hawa nafsu kita. Tanda keberhasilannya dapat dilihat dari dominanya kesadaran utama keseharian yang hampir selalu di atas wilayah umum manusia rata-rata. Dimana wilayah ini kita sudah tak begitu terikat dengan aksi reaksi indera.\rTak heran juga, kata Kanjeng Rasul bahwa tidur di bulan puasa adalah ibadah. Sebab di dalam proses tidurnya hawa nafsu yang disadari, mampu menguak segala keajaiban ruh...keajaiban yang memaksa kita menjadi abdi yang sangat tunduk...keajaiban pengabdi tertahlukkan oleh perjalannnya sendiri ...alias proses ibadah...","part":1,"page":86},{"id":87,"text":"Wa ba'du, semoga di malam Nuzulul Quran yang bertepatan dengan hari kemerdekaan Indonesia ini mampu memerdekakan keterjajahan atas diri sendiri. Masalah negara ini masih gini-gini aja ya biarin aja...toh semua akan berubah sejalan dengan kemerdekaan diri kita...\rMerdeka...!!!! zzz...zzz...zzz...zzz....\rWassalam, makmum ngantukan\rDody Ide\r397. MERAIH LAILATUL QODAR\rOleh Kaka Atsaury pada 21 Agustus 2011 pukul 1:15\rDalam bulan Ramadhan, ada malam seribu bulan. Wah sangat senang sekali bila amal ibadah yang semalam itu dihitung seperti amalan seribu bulan. Semua pasti ingin dan ingin. Di malam itu Allah SWT benar-benar melipatgandakan pahala. Akankah kita bisa meraihnya..\rAnda mungkin bertanya, apakah malam Lailatul Qadar hanya khusus untuk orang alim saja...Kalau bukan, bagaimana orang awam seperti kita bisa meraihnya..Mungkin dari beberapa catatan berikut bisa memberikan tips untuk meraih malam seribu bulan dalam bulan Ramadhan ini.\rBangunlah Malam Hari.\rPara ulama menjelaskan, salah satunya adalah Yusuf Qaradawi yang mengatakan bahwa malam itu datang untuk semua orang yang benar-benar menginginkannya. Di malam itu kebaikan terbuka untuk siapa pun yang mencarinya.\rRasulullah SAW bersabda,\"Barang siapa yang melakukan shalat Isya' berjamaah, seolah-olah ia berqiyam (bangun malam) di separuh malam. Dan barang siapa yang shalat shubuh berjamaah, seolah-olah ia melakukan di sepanjang malam tersebut.\" (HR. Ahmad Muslim).","part":1,"page":87},{"id":88,"text":"Salah satu cara untuk meraih pahalanya adalah dengan shalat malam. Sebagaimana disebutkan dalam shahih Bukhari dari Abu Hurairah, \"Barang siapa yang berqiyam di malam Al Qadar dengan penuh keimanan dan bersungguh-sungguh, maka telah diampunkannya apa yang telah lalu dari dosanya.\" (HR. Bukhari).\rPenuh Berdzikir.\rSyeikh Atiyah Saqr menganjurkan, hidupkanlah malam mulia itu dengan shalat, membaca Al Qur'an, berdzikir, beristighfar, dan berdoa dari terbenam matahari hingga terbit fajar. Hidupkanlah Ramadhan dengan bershalat Tarawih di dalamnya. Berkata Aisyah r.a,\"Ya Rasulullah, di waktu Lailatul Qadar apakah yang harus aku lakukan?Katakanlah, Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan suka pada pengampunan, maka ampunilah aku.\"\rAneka Ibadah.\rNabi Muhammad SAW bersabda, \"Barang siapa menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan berbagai amal ibadah secara yakin dan percaya kepada pahala yang disediakan Allah dan dengan secara ikhlas, maka Allah akan mengampunkan segala dosanya yang telah lalu.\" Kita semua memang tidak tahu kapan malam itu akan datang. Ada ulama yang berpendapat bahwa Lailatul Qadar itu bisa saja terjadi sejak dari awal masuknya bulan Ramadhan sampai akhir, namun kapan pastinya, Allah merahasiakannya. Dengan dirahasiakan itulah kita makin termotivasi untuk menghidupkan seluruh bulan Ramadhan dengan berbagai macam ibadah, seperti Tarawih, Tadarrus, shalat sunnah dan lain sebagainya.","part":1,"page":88},{"id":89,"text":"Ada juga yang berpnedapat bahwa Lailatul Qadar itu ada pada sepuluh hari yang terakhir di bulan Ramadhan (Madzhab Imam Syafi'i). Bahkan ada yang mengkhususkannya di malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir. Tak sepatutnya kita sebagai umat Islam saling memperdebatkan kapan pastinya malam Lailatul Qadar itu akan terjadi.\rNamun yanmg jelas dan pasti, hanya terjadi di malam bulan Ramadhan, Allah merahasiaknnya. Namun, pada malam itu ada ciri-ciri alam yang menandakan bahwa malam itu adalah malam Lailatul Qadar (akan dibahas selanjutnya saja).\rSo...jangan dikendurkan niat ibadahnya selama bfyak mungkin.\rMari....ber'iitikaf di mesjid di 10 akhir Ramadhan dengan dzikir ato membaca Al-Qur'an....\r398. SEBAB NABI IDRIS MASUK SURGA\rOleh Hakam Ahmed ElChudrie pada 21 Agustus 2011 pukul 23:34","part":1,"page":89},{"id":90,"text":"Ada sebuah cerita yang mengatakan bahwa sebab masuknya Idris as kedalam surga adalah karena telah dinaikkan setiap hari dan siang amal dia yang banyaknya seperti amalnya seluruh penghuni bumi. Kemudian malaikat maut sangat suka kepadanya dan meminta kepada Allah untuk memberi ijin mengunjungi Idris as. Allah lalu memberinya ijin dan diapun pergi mengunjungi Idris as dalam bentuk manusia dan duduk disampingnya. Pada saat itu Idris as sedang melakukan puasa satu tahun, dan ketika waktu bebruka sudah dekat, maka malaikat akan datang dengan membawa makanan dari surga dan Idris memakannya. Dia berkata kepada malaikat maut, “Kamu juga makan makanan itu.” Namun malaikat maut tidak memakannya. Kemudian idris berdiri dan bersibuk diri dengan ibadah sedangkan malaikat maut duduk didekatnya hingga fajar muncul dan matahari sudah keluar dari tempatnya. Idris menjadi heran dan berkata, “Hei kamu! Maukah kamu berjalan-jalan bersamaku hingga kamu menjadi bahagia?” malaikat maut berkata, “Aku mau.” Keduanya lalu berdiri dan berjalan hingga keduanya sampai pada perkebunan. Malaikat maut berkata, “Apakah kamu memberi ijin aku untuk mengambil dari perkebunan ini beberapa bulir saja untuk kita makan?” Idris berkata, “Subhanallah. Kemarin kamu tidak mau memakan makanan yang halal, tetapi sekarang kamu ingin memakan barang haram.” Keduanya lalu berjalan hingga empat hari dan Idris melihat sesuatu yang tidak biasanya pada diri orang yang menyertai dia itu. Dia berkata, “Sebenarnya kamu itu siapa?” Dia menjawab, “Aku","part":1,"page":90},{"id":91,"text":"adalah malaikat maut.” Idris bertanya, “Apakah kamu yang mencabut para ruh?” Dia menjawab, “Iya.” Idris bertanya, “Kamu telah bersamaku selama empat hari, lalu apakah kamu telah mencabut ruh seseorang?” Dia menjawab, “Iya, aku telah mencabut banyak sekali ruh. Ruh semua makhluk bagiku adalah seperti nampan yang aku mengambilnya seperti kamu mengambil suapan makanan.” Idris bertanya, “Hei malikat mau! Apakah kamu datang kemari untuk berkunjung ataukah untuk mencabut nyawaku?” Dia menjawab, “Aku datang kemari untuk berkunjung dengan ijin Allah.” Idris berkata, “Hei malaikat maut! Aku punya hajat kepadamu.” Dia bertanya, “Apa hajatmu.” Idris berkata, “Hajatku adalah kamu mencabut ruhku kemudian Allah menghidupkan aku lagi hingga aku bisa beribadah kepada Allah setelah aku merasakan pahitnya kematian.” Dia menjawab, “Aku tidak akan mencabut ruh seseorang kecuali dengan mendapatkan ijin Allah ta’ala.” Kemudian Allah menurunkan wahyu, “cabutlah ruh idris.” Seketika itu juga malaikat maut mencabut ruh Idris as dan Idris pun menjadi mati. Malaikat maut kemudian menangis dan bertadlarru’ kepada Allah dan meminta supaya dia menghidupkan kembali shohibnya Idris. Allah lalu mengabulkannya dan menghidupkan Idris. Malaikat maut bertanya, “Hei saudaraku! Bagaimana kamu menemukan rasanya kematian?” Idris menjawab, “Hewan ketika dikelupas kulitnya pada saat dia masih hidup, maka rasa pahitnya kematian seribu kali lipat sakitnya dari itu.” Malaikat maut berkata, “Yang aku lakukan kepadamu adalah yang paling halus","part":1,"page":91},{"id":92,"text":"yang belum pernah aku lakukan sebelumnya.” Idris berkata, “Hei malaikat maut! Aku punya hajat lain kepadamu, yaitu aku ingin melihat neraka Jahannam sehingga aku bisa beribadah kepada Allah dengan bersungguh-sungguh setelah aku melihat siksa, belenggu dan segala sesuatu yang ada didalamnya.” Dia menjawab, “Bagaimana aku bisa pergi bersamamu ke neraka Jahannam tanpa mendapatkan ijin.” Kemudian Allah memberikan wahyu, “Pergilah bersama Idris keneraka Jahannam.” Dia lalu pergi bersama Idris ke neraka Jahannam dan dia bisa melihat segala sesuatu yang telah diciptakan oleh Allah untuk musuh-musuh-Nya yang berupa rantai, belenggu dan siksa berupa ular, kalajengking, api, kayu zaqum dan air panas. Kemudian keduanya kembali dan Idris berkata lagi, “Aku punya hajat lagi, yaitu aku ingin kamu membawaku ke surga hingga aku melihat apa yang ada didalamnya yang telah diciptakan oleh Allah untuk hamba-Nya sehingga akan menjadi bertambah ketaatanku.” Malaikat maut berkata, “Bagaimana aku bisa bergi membawa kamu ke surga tanpa mendapatkan ijin dari Allah?” Lalu Allah menurunkan wahyu, “Pergilah bersama Idris ke surga.” Keduanya lalu pergi dan berhenti dipintu surga. Idris lalu melihat kenikmatan yang ada didalam surga, malaikat yang agung, pemberian yang sempurna, pepohonan dan buah-buahan. Idris berkata, “Wahai saudaraku! Aku telah merasakan pahirnya kematian dan aku telah melihat menakutkannya jahannam, lalu mengapakah tidak kamu meminta kepada Allah untuk memberi aku ijin masuk kedalam surga dan aku meminum","part":1,"page":92},{"id":93,"text":"airnya supaya menjadi hilang rasa pahitnya kematian dan menakutkannya Jahannam.” Lalu malaikat maut meminta ijin kepada Allah dan Allah memberinya ijin untuk masuk kedalam surga lalu keluar lagi. Idris lalu masuk kedalam surga dan menaruh kedua sandalnya dibawah sebuah pohon surga lalu dia keluar dari surga. Dia kemudian berkata kepada malaikat maut, “Aku telah meninggalkan sandalku didalam surga. Kembalikan aku kesurga lagi.” Dia lalu kembali dan masuk kedalam surga dan tidak mau lagi keluar darinya. Malaikat maut lalu berteriak, “Hei Idris! Keluarlah.” Idris menjawab, “Aku tidak mau keluar, karena Allah telah berfirman (“Semua yang bernyawa pasti akan merasakan kematian”) dan aku telah merasakannya. Dia telah berfirman, (“Sesungguhnya pasti akan mendatangi neraka jahannam”) dan aku juga telah mendatanginya, dan Dia telah berfirman, (“dan tidaklah mereka akan dikeluarkan dari surga”). Lalu siapa yang akan mengeluarkan aku dari surga.” Kemudian Allah menurunkan wahyu kepada malaikat maut, “Biarkan dia, karena aku telah memutuskan dia sejak zaman azali kalau dia termasuk penghuni surga.” Dan Allah telah memberi tahu tentang kisah Idris kepada rasul-Nya dengan bersabda (“Dan sebutkanlah dalam al kitab cerita Idris”).\r400. Tetapnya Karamah bagi Selain Nabi\rOleh Hakam Ahmed ElChudrie pada 21 Agustus 2011 pukul 23:48","part":1,"page":93},{"id":94,"text":"Ahli ilmu telah meriwayatkan tentang karamah itu bagi sebagian orang salaf yang sholeh yang mereka dapatkan setelah mereka meninggal. Orang-orang yang bisa dipercaya telah menuqil karamah-karamah itu dari orang-orang yang bisa dipercaya lainnya yang melihatnya dengan mata kepala mereka sendiri, dan disini aku akan menuqil sebagian dari karamah itu dari Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab, dia berkata dalam kitab Ahkam Tamanni Al Maut (Hukum mengharap kematian) yang terkandung didalam kumpulan karangan dia:\r* Shalat didalam Kubur\rDari Ahmad dari ‘Affan dari Hammad dari Tsabit, dia berkata, “Ya Allah, jika Engkau memberikan kepada seseorang bisa shalat didalam kuburnya maka berikanlah aku karunia untuk shalat didalam kuburku.”\rDari Abu Na’im dari Jubair, dia berkata, “Aku –demi Allah dzat yang tiada Tuhan selain Dia- telah memasukkan Tsabit Al Bunnani kedalam liang kuburnya dan bersamaku adalah Hamid al Thawil. Ketika aku memeratakan batu bata yang belum dibakar (gelu: jawa) salah satu dari batu bata itu terjatuh dan ternyata aku melihat dia sedang shalat didalam kuburnya.”\r* Membaca Al Qur’an\rDari Abu Na’im dan Ibnu Jarir dari Ibrahim bin al Mahlabi, dia berkata, “Telah bercerita kepadaku orang-orang yang telah melewati makam diwaktu sahur. Mereka berkata, “Ketika kami sedang melewati makam Tsabit al Bunnani, kami mendengar bacaan Al Qur’an dari dalam kuburnya.”","part":1,"page":94},{"id":95,"text":"Dari al Tirmidzi dan dia menghasankannya dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Sebagian sahabat Nabi saw telah membangun tendanya diatas makam dan dia tidak menyangka kalau itu adalah sebuah makam. Dan ternyata didalamnya terdapat seseorang yang sedang membaca surat al Mulk hingga selesai. Kemudian dia mendatangi Nabi saw dan menceritakan kejadian itu kepada beliau lalu beliau bersabda, (“Surat al Mulk adalah yang mencegah dan yang menyelamatkan. Surat itu menyelamatkan dia dari siksa kubur.”).\rDari al Nasa’i dan al Hakim dari Aisyah, dia berkata, “Rasulullah saw telah bersabda,\rنُمْتُ فَرَأَيْتُنِي فِي الْجَنَّةِ –وَ لَفْظُ النَّسَائِي دَخَلْتُ الْجَنَّةَ- فَسَمِعْتُ صَوْتَ قَارِئٍ يَقْرَأُ فَقُلْتُ مَنْ هَذاَ قَالُوا حَارِثَةُ بْنُ النُّعْمَانِ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه و سلم كَذاكَ الْبِرُُّ كَذاَكَ الْبِرُّ كَذَاكَ الْبِرُّ\r(“Aku tertidur kemudian aku melihat diriku berada disurga, –Lafal Al Nasa’i: aku masuk surga- lalu aku mendengar suara orang yang sedang membaca. Aku bertanya, “Siapa dia?” Para penghuni surga menjawab, “Dia adalah Haritsah bin Al Nu’man.”) Lalu Rasulullah saw bersabda, (“Akan seperti itulah orang yang berbakti kepada orang tuanya.”), Kalimat itu beliau ucapkan sebanyak tiga kali. Dan Haritsah bin Al Nu’man adalah orang yang paling berbakti kepada ibunya.”","part":1,"page":95},{"id":96,"text":"Dari Ibnu Abu al Dunia dari al hasan, dia berkata, “Telah sampai kepadaku bahwa seorang mukmin ketika meninggal dan dia belum hapal al Qur’an, maka malaikat penjaganya akan disuruh untuk mengajarkan kepada dia al Qur’an didalam kuburnya hinnga Allah membangkitkan dia dihari kiamat beserta keluarganya.” Dan dari Ibnu Abu al Dunia dari Yazid al Raqasyi semisal cerita itu dan al Salafi telah meriwayatkan cerita yang semakna dengan cerita itu dari marasil-nya Athiyyah al ‘Aufa.\r* Saling Berkunjungnya Para Penghuni Kubur\rDari Ibnu Abu Syaibah dari Ibnu Sirin, dia berkata, “Dia sangat meyukai kain kafan yang bagus.” Dia berkata, “Mereka –para penghuni kubur- saling berkunjung dengan memakai kafan mereka.” Arti cerita itu, seperti dijelaskan dalam Musnad Ibnu Abu Usamah dari Jabir secara marfu’, adalah mereka saling membanggakan kain kafannya dan saling berkunjung didalam kuburnya.\rDari al Tirmidzi, Ibnu Maajah dan Muhammad bin Yahya al Hamdani dalam shahihnya dari Abu Qatadah secara marfu’, (Ketika salah satu dari kalian menjadi wali dari saudaranya maka perbaguslah kain kafannya, karena mereka -para penghuni kubur- akan saling berkunjung didalam kuburnya.)\r* Kiriman Dari Dunia Ke alam Barzah Bersama Mayit","part":1,"page":96},{"id":97,"text":"Ibnu Abu al Dunia telah mengeluarkan dengan sanad yang tidak ada cacat didalamnya dari Rasyid bin Sa’ad, Sesungguhnya seseorang telah meninggal istrinya lalu didalam mimpinya dia melihat banyak wanita, namun dia tidak melihat istrinya bersama mereka. Dia bertanya kepada mereka tentang keadaan istrinya dan mereka menjawab, “Kalian telah sangat pendek dalam mengkafani dia, makanya dia malu untuk keluar bersama kami.” Lalu orang itu mendatangi Nabi saw dan menceritakan kejadian itu kepada beliau. Beliau bersabda, (“Lihatlah apakah ada orang bisa dipercaya untuk bisa menyampaikannya?”) Dia lalu mendatangi seorang lelaki dari Anshor yang sedang sakaratul maut. Dia lalu bercerita kepada orang itu tentang kejadian yang telah menimpa kepadanya. Lelaki Anshor itu lalu berkata, “Jika ada seseorang yang bisa menyampaikan kepada orang yang sudah mati, maka pasti aku akan menyampaikannya.” Orang Anshor itu kemudian meninggal. Kemudian orang itu datang dengan membawa dua kain kafan baru yang diberi minyak za’faran lalu dia menaruh kain itu dikafan orang Anshor yang baru meninggal itu. Ketika malam tiba, dia melihat para wanita dan ada bersama mereka istrinya dengan memakai dua baju kuning.”","part":1,"page":97},{"id":98,"text":"Ibnu Al Juzy telah meriwayatkan cerita dari Muhammad bin Yusuf al Faryabi tentang perempuan yang melihat ibunya didalam mimpi yang mengadukan kafannya kepada dia. Perempuan itu lalu mengadukannya kepada Muhammad dan bertanya kepadanya. Dalam cerita itu ibunya bertanya kepada dia, “Belikan kain kafan untukku dan kirimkan kain itu bersama Fulanah.” Al Faryabi berkata, “Lalu aku ingat pada hadits, (“Sesungguhnya mereka saling berkunjung dengan memakai kafan mereka.”) Kemudian aku berkata, “Belikan untuknya kain kafan kemudian titipkan kepada perempuan itu.” Kemudian seorang wanita dihari yang sang ibu sebut itu meninggal, lalu perempuan itu menaruh kafan itu bersamanya.\r* Cahaya Diatas Kubur","part":1,"page":98},{"id":99,"text":"Dari Ibnu Abu al Dunia dari Abu Ghalib -teman Abu Umamah- Sesungguhnya seorang pemuda di Syam sedang sakaratul maut. Dia berkata kepada pamannya, “Beritahu aku kalau Allah menyerahkan aku kepada ibuku, maka apa yang akan dia perbuat?” Dia menjawab, “Ketika itu benar terjadi, demi Allah, dia akan memasukkan kamu kedalam surga.” Pemuda itu berkata, “Demi Allah, Sesungguhnya Allah adalah dzat yang lebih sayang kepadaku dibandingkan ibuku.” Pemuda itu kemudian meninggal. Aku dan pamannya yang memasukkan dia kedalam liang kuburnya lalu aku berkata, “Berikan batu bata mentah kepadaku.” Kami pun menatanya kemudian sebuah batu bata jatuh dan pamannya melompat kebelakang dan aku berkata kepadanya, “Ada apa denganmu?” Dia menjawab, “Kubur dia dipenuhi dengan cahaya dan Allah telah melonggarkan kuburnya sepanjang mata memandang.”\rDari Abu Daud dan lainnya dari Aisyah, dia berkata, “Ketika al Najasyi meninggal, kami sedang berbincang: “Tidak henti-hentinya cahaya berada diatas kuburnya.”\rDalam Tarikh Ibnu ‘Asakir dari Abdurrahman bin Ammarah, dia berkata, “Telah datang jenazahnya al Ahnaf bin Qays dan aku termasuk orang yang turun kedalam kuburnya. Ketika aku memeratakannya aku melihat kuburnya telah menjadi longgar sepanjang mata memandang. Kemudian aku menceritakan kejadian itu kepada teman-temanku dan mereka tidak pernah melihat apa yang telah aku lihat.”\rDari Ibrahim al Ahnafi, dia berkata, “Ketika Mahan al Hanafi disalib dipintunya, maka kami melihat cahaya berada disisinya dimalam hari.”","part":1,"page":99},{"id":100,"text":"KUMPULAN TANYA JAWAB KEAGAMAAN ala Error! Hyperlink reference not valid..\rDaftar Isi Dokumen\r401. Tauhid : Mengesakan Allah swt\rNeil Elmuna > Daftar Isi Dokumen Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah - KTB (PISS-KTB)\r401. Tauhid : Mengesakan Allah swt\rKitab at-Tauhid\rKitab at-Tauhid\rDalam ranah Ilmu Kalam, al-Maturidi adalah nama yang sudah tidak asing lagi. Ia adalah pendiri aliran Maturidiyyah yang diketegorikan sebagai representasi teologi ahli sunnah, di samping Asy’ariyyah yang digawangi Abu al-Hasan al-Asy’ari. Al-Maturidi dikenal sebagai seorang teolog, dan faqih dari Madzhab Hanafi, bahkan seorang ahli tafsir.\rNama lengkap al-Maturidi adalah Abu Manshur Muhammad bin Muhammad bin Mahmud al-Maturidi. Ia dilahirkan di Maturid, sebuah desa (qaryah) yang masuk ke dalam wilayah Samarqand. Ia acap kali dijuluki Imam al-Mutakallimin (Imam Para Teolog) dan masih banyak lagi yang kesemuanya menunjukkan kelas intelektual dan jihadnya dalam membela sunnah, akidah, dan menghidupkan syari’at Islam.\rTak ada penjelasan pasti dari para sejarawan tentang tahun kelahiran al-Maturidi. Tetapi menurut Dr. Ayyub Ali, al-Maturidi lahir sekitar tahun 238 H / 852 M. Alasan yang dikemukakannya adalah bahwa salah satu murid al-Maturidi, yaitu Muhammad bin Muqatil ar-Razi wafat pada tahun pada tahun 248 H / 862 M. [Ayyub Ali, A History of Muslim Philosophy, vol. I, h. 260].","part":1,"page":100},{"id":101,"text":"Jika pandangan Dr. Ayyub Ali itu benar, maka al-Maturidi kurang lebih hidup selama seratus tahun. Sebab, para sejarawan sepakat bahwa al-Maturidi wafat pada tahun 333 H / 944 M dan dimakamkan di Samarqand. Salah satu guru al-Maturidi adalah Abu Nash al-'Ayyadhi yang merupakan teman seperguruannya di majlis yang diselenggarakan oleh Abu Bakr Ahmad al-Jauzani. Nama al-Maturidi memang tidak sementereng al-Asy’ari, tetapi kendatipun demikian ia banyak mewariskan karya-karya bermutu. Di antara peninggalannya adalah Kitab at-Tauhid.\rAl-Maturidi mengawali kitabnya dengan pembahasan tentang pembatalan taklid dan keniscayaan mengetahui agama dengan dalil. Dalam bagian ini al-Maturidi tidak menerima apapun alasan taqlid. Sebab taqlid bisa menimbulkan adanya pandangan yang berbeda dengan orang yang di-taqlid-i. Pada bagian selanjutnya al-Maturidi menjelaskan bahwa dasar yang dijiadikan untuk mengetahui agama adalah as-sam’ (wahyu) dan al-‘aql. [H. 3-4].\rPandangan teologi yang kembangkan al-Maturidi pada dasarnya adalah sama dengan al-Asy’ari. Metodologi yang digunakan keduanya adalah moderatisme. Dengan kata lain, pendekatan mereka adalah pendekatan yang berdiri di antara kelompok tekstualis -seperti kalangan Hasywiyyah, Musyabbihah, dan Mujassimah dan kelompok rasionalis seperti Mu’tazilah.","part":1,"page":101},{"id":102,"text":"Misalnya, ketika al-Asy’ari membicang tentang atribut-atribut (shifat) Allah. Kalangan Mu’tazilah menegasikan atribut-atribut tersebut. Mereka mengatakan: “Tidak ada (atribut, penerjemah) ilmu, kuasa, mendengar, melihat, hidup, kekal, dan kehendak bagi Allah”. Sedang kalangan Hasywiyyah dan Mujassimah mengatakan: “Allah memiliki ilmu sebagaimana ilmu-ilmu lainya, pendengaran sebagaimana pendengaran-pendengaran lainya, dan penglihatan sebagaimana penglihatan-penglihatan lainnya”.\rKedua pandangan di atas saling bertabrakan satu sama lainnya. Lantas al-Asy’ari mengajukan sebuah pandangan yang berdiri di tengah-tengah. Ia mengatakan: “Sesunguhnya Allah memilik ilmu tetapi tidak sama dengan ilmunya makhluk, kekuasaan tetapi tidak sama dengan kekuasaanya makhluk, pendengaran tetapi tidak sama dengan pendengaran makhluk, dan penglihatan tetapi tidak sama dengan penglihatan makhluk”. [Ibn ‘Asakir, Tabyin Kidzb al-Muftari, H. 149].","part":1,"page":102},{"id":103,"text":"Sikap al-Asy’ari mengenai atribut-atribut di atas juga diikuti oleh al-Maturidi. Hal ini terlihat dalam Kitab at-Tauhid-nya: “Kemudian ditetapkan atribut (shifat) bagi Allah, yaitu Yang Mampu, Mengetahui, Hidup, Mulia, dan Yang Dermawan. Penamaan dengan atribut atribut tersebut adalah hak baik menurut sam’ (wahyu) dan akal sekaligus….hanya saja ada suatu kelompok yang melekatkan nama-nama tersebut kepada selain Allah karena menyangka bahwa penetapan nama-nama tersebut mengandung tasyabuh (keserupaan) antara Allah dengan setiap yang diberi nama…akan tetapi kami telah menjelaskan ketiadaan tasyabuh dengan Allah karena kesuaian nama. Sebab, Allah dinamai dengan nama yang Ia buat sendiri dan diatributi dengan atribut yang Ia berikan sendiri”. [H. 44].\rDari semua yang dibicarakan al-Maturudi dalam Kitab at-Tauhid-nya hemat saya ada satu hal yang menarik. Yaitu pembahasan mengenai nadhariyah al-ma’rifah (teori ilmu pengetahuan). Dalam hal ini, al-Maturidi mendiskusikan tentang nilai pengetahuan dan parameter kebenaran dalam pengetahuan yang sampai kepada kita melaui indera, khabar, dan akal. Menurutnya, indera, khabar, dan akal merupakan jalan atau sumber bagi kita untuk mengetahui hakikat segala sesuatu. [H. 7].","part":1,"page":103},{"id":104,"text":"Untuk memperoleh pengetahuan kita tidak mungkin bisa lepas dari salah satu ketiga sumber di atas. Misalnya, dengan indera kita bisa merasakan rasa enak, sakit dan lain-lain. Dengan khabar kita bisa mengetahui nama-nama kita, nasab, dan kejadian-kejadian masa lalu. Sedang dengan akal kita bisa memahami apa yang diperintahkan Allah.\rSepanjang yang saya ketahui, kitab-kitab yang membincang mengenai Ilmu Kalam yang ditulis oleh para ulama sebelum al-Maturidi tidak menyinggung persoalan nadhariyyah al-ma’rifah. Jadi, hemat saya hal ini menjadi satu kelebihan tersendiri bagi al-Maturidi.\rKitab ini merupakan salah satu rujukan primer bagi pendangan teologi Sunni. Karenanya harus dibaca dan dikaji secara mendalam. Dengan membaca kitab ini, kita akan merasakan bagaimana akrobatik teologis al-Maturidi dalam mempertahankan keyakinan teologi kalangan Sunni. Salam…\rTentang Kitab\rJudul : Kitab at-Tauhid Penulis : Abu Manshur al-Maturidi Penerbit : Bairut-Dar al-Masyriq Cet : Ke-3 tahun 1986 M Tebal : 411\rKUMPULAN TANYA JAWAB KEAGAMAAN ala Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah - Kenapa Takut Bid'ah.\rDaftar Isi Dokumen\r404. MAKALAH : Siapakah yang paling berpengaruh dalam sejarah? Michael H. Hart\rShe'Jasmine Ayda Az-zahra > Daftar Isi Dokumen Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah - KTB (PISS-KTB)\r404. MAKALAH : Siapakah yang paling berpengaruh dalam sejarah? Michael H. Hart\rNabi Muhammad","part":1,"page":104},{"id":105,"text":"Jatuhnya pilihan saya kepada Nabi Muhammad dalam urutan pertama daftar Seratus Tokoh yang berpengaruh di dunia mungkin mengejutkan sementara pembaca dan mungkin jadi tanda tanya sebagian yang lain. Tapi saya berpegang pada keyakinan saya, dialah Nabi Muhammad satu-satunya manusia dalam sejarah yang berhasil meraih sukses-sukses... luar biasa baik ditilik dari ukuran agama maupun ruang lingkup duniawi.\rBerasal-usul dari keluarga sederhana, Muhammad menegakkan dan menyebarkan salah satu dari agama terbesar di dunia, Agama Islam. Dan pada saat yang bersamaan tampil sebagai seorang pemimpin tangguh, tulen, dan efektif. Kini tiga belas abad sesudah wafatnya, pengaruhnya masih tetap kuat dan mendalam serta berakar.","part":1,"page":105},{"id":106,"text":"Sebagian besar dari orang-orang yang tercantum di dalam buku ini merupakan makhluk beruntung karena lahir dan dibesarkan di pusat-pusat peradaban manusia, berkultur tinggi dan tempat perputaran politik bangsa-bangsa. Muhammad lahir pada tahun 570 M, di kota Mekkah, di bagian agak selatan Jazirah Arabia, suatu tempat yang waktu itu merupakan daerah yang paling terbelakang di dunia, jauh dari pusat perdagangan, seni maupun ilmu pengetahuan. Menjadi yatim-piatu di umur enam tahun, dibesarkan dalam situasi sekitar yang sederhana dan rendah hati. Sumber-sumber Islam menyebutkan bahwa Muhamnmad seorang buta huruf. Keadaan ekonominya baru mulai membaik di umur dua puluh lima tahun tatkala dia kawin dengan seorang janda berada. Bagaimanapun, sampai mendekati umur empat puluh tahun nyaris tak tampak petunjuk keluarbiasaannya sebagai manusia.\rUmumnya, bangsa Arab saat itu tak memeluk agama tertentu kecuali penyembah berhala Di kota Mekkah ada sejumlah kecil pemeluk-pemeluk Agama Yahudi dan Nasrani, dan besar kemungkinan dari merekalah Muhammad untuk pertama kali mendengar perihal adanya satu Tuhan Yang Mahakuasa, yang mengatur seantero alam. Tatkala dia berusia empatpuluh tahun, Muhammad yakin bahwa Tuhan Yang Maha Esa ini menyampaikan sesuatu kepadanya dan memilihnya untuk jadi penyebar kepercayaan yang benar.","part":1,"page":106},{"id":107,"text":"Selama tiga tahun Muhammad hanya menyebar agama terbatas pada kawan-kawan dekat dan kerabatnya. Baru tatkala memasuki tahun 613 dia mulai tampil di depan publik. Begitu dia sedikit demi sedikit punya pengikut, penguasa Mekkah memandangnya sebagai orang berbahaya, pembikin onar. Di tahun 622, cemas terhadap keselamatannya, Muhammad hijrah ke Madinah, kota di utara Mekkah berjarak 200 mil. Di kota itu dia ditawari posisi kekuasaan politik yang cukup meyakinkan.\rPeristiwa hijrah ini merupakan titik balik penting bagi kehidupan Nabi. Di Mekkah dia susah memperoleh sejumlah kecil pengikut, dan di Medinah pengikutnya makin bertambah sehingga dalam tempo cepat dia dapat memperoleh pengaruh yang menjadikannya seorang pemegang kekuasaan yang sesungguhnya. Pada tahun-tahun berikutnya sementara pengikut Muhammad bertumbuhan bagai jamur, serentetan pertempuran pecah antara Mektah dan Madinah. Peperangan ini berakhir tahun 630 dengan kemenangan pada pihak Muhammad, kembali ke Mekkah selaku penakluk. Sisa dua setengah tahun dari hidupnya dia menyaksikan kemajuan luar-biasa dalam hal cepatnya suku-suku Arab memeluk Agama Islam. Dan tatkala Muhammad wafat tahun 632, dia sudah memastikan dirinya selaku penguasa efektif seantero Jazirah Arabia bagian selatan.","part":1,"page":107},{"id":108,"text":"Suku Bedewi punya tradisi turun-temurun sebagai prajurit-prajurit yang tangguh dan berani. Tapi, jumlah mereka tidaklah banyak dan senantiasa tergoda perpecahan dan saling melabrak satu sama lain. Itu sebabnya mereka tidak bisa mengungguli tentara dari kerajaan-kerajaan yang mapan di daerah pertanian di belahan utara. Tapi, Muhammadlah orang pertama dalam sejarah, berkat dorongan kuat kepercayaan kepada keesaan Tuhan, pasukan Arab yang kecil itu sanggup melakukan serentetan penaklukan yang mencengangkan dalam sejarah manusia. Di sebelah timurlaut Arab berdiri Kekaisaran Persia Baru Sassanids yang luas. Di baratlaut Arabia berdiri Byzantine atau Kekaisaran Romawi Timur dengan Konstantinopel sebagai pusatnya.\rDitilik dari sudut jumlah dan ukuran, jelas Arab tidak bakal mampu menghadapinya. Namun, di medan pertempuran, pasukan Arab yang membara semangatnya dengan sapuan kilat dapat menaklukkan Mesopotamia, Siria, dan Palestina. Pada tahun 642 Mesir direbut dari genggaman Kekaisaran Byzantine, dan sementara itu balatentara Persia dihajar dalam pertempuran yang amat menentukan di Qadisiya tahun 637 dan di Nehavend tahun 642.\rTapi, penaklukan besar-besaran –di bawah pimpinan sahabat Nabi dan penggantinya Abu Bakr dan Umar ibn al-Khattab– itu tidak menunjukkan tanda-tanda stop sampai di situ. Pada tahun 711, pasukan Arab telah menyapu habis Afrika Utara hingga ke tepi Samudera Atlantik. Dari situ mereka membelok ke utara dan menyeberangi Selat Gibraltar dan melabrak kerajaan Visigothic di Spanyol.","part":1,"page":108},{"id":109,"text":"Sepintas lalu orang mesti mengira pasukan Muslim akan membabat habis semua Nasrani Eropa. Tapi pada tahun 732, dalam pertempuran yang masyhur dan dahsyat di Tours, satu pasukan Muslimin yang telah maju ke pusat negeri Perancis pada akhirnya dipukul oleh orang-orang Frank. Biarpun begitu, hanya dalam tempo secuwil abad pertempuran, orang-orang Bedewi ini -dijiwai dengan ucapan-ucapan Nabi Muhammad- telah mendirikan sebuah empirium membentang dari perbatasan India hingga pasir putih tepi pantai Samudera Atlantik, sebuah empirium terbesar yang pernah dikenal sejarah manusia. Dan di mana pun penaklukan dilakukan oleh pasukan Muslim, selalu disusul dengan berbondong-bondongnya pemeluk masuk Agama Islam.","part":1,"page":109},{"id":110,"text":"Ternyata, tidak semua penaklukan wilayah itu bersifat permanen. Orang-orang Persia, walaupun masih tetap penganut setia Agama Islam, merebut kembali kemerdekaannya dari tangan Arab. Dan di Spanyol, sesudah melalui peperangan tujuh abad lamanya akhirnya berhasil dikuasai kembali oleh orang-orang Nasrani. Sementara itu, Mesopotamia dan Mesir dua tempat kelahiran kebudayaan purba, tetap berada di tangan Arab seperti halnya seantero pantai utara Afrika. Agama Islam, tentu saja, menyebar terus dari satu abad ke abad lain, jauh melangkah dari daerah taklukan. Umumnya jutaan penganut Islam bertebaran di Afrika, Asia Tengah, lebih-lebih Pakistan dan India sebelah utara serta Indonesia. Di Indonesia, Agama Islam yang baru itu merupakan faktor pemersatu. Di anak benua India, nyaris kebalikannya: adanya agama baru itu menjadi sebab utama terjadinya perpecahan.","part":1,"page":110},{"id":111,"text":"Apakah pengaruh Nabi Muhammad yang paling mendasar terhadap sejarah ummat manusia? Seperti halnya lain-lain agama juga, Islam punya pengaruh luar biasa besarnya terhadap para penganutnya. Itu sebabnya mengapa penyebar-penyebar agama besar di dunia semua dapat tempat dalam buku ini. Jika diukur dari jumlah, banyaknya pemeluk Agama Nasrani dua kali lipat besarnya dari pemeluk Agama Islam, dengan sendirinya timbul tanda tanya apa alasan menempatkan urutan Nabi Muhammad lebih tinggi dari Nabi Isa dalam daftar. Ada dua alasan pokok yang jadi pegangan saya. Pertama, Muhammad memainkan peranan jauh lebih penting dalam pengembangan Islam ketimbang peranan Nabi Isa terhadap Agama Nasrani. Biarpun Nabi Isa bertanggung jawab terhadap ajaran-ajaran pokok moral dan etika Kristen (sampai batas tertentu berbeda dengan Yudaisme), St. Paul merupakan tokoh penyebar utama teologi Kristen, tokoh penyebarnya, dan penulis bagian terbesar dari Perjanjian Lama.","part":1,"page":111},{"id":112,"text":"Sebaliknya Muhammad bukan saja bertanggung jawab terhadap teologi Islam tapi sekaligus juga terhadap pokok-pokok etika dan moralnya. Tambahan pula dia “pencatat” Kitab Suci Al-Quran, kumpulan wahyu kepada Muhammad yang diyakininya berasal langsung dari Allah. Sebagian terbesar dari wahyu ini disalin dengan penuh kesungguhan selama Muhammad masih hidup dan kemudian dihimpun dalam bentuk yang tak tergoyangkan tak lama sesudah dia wafat. Al-Quran dengan demikian berkaitan erat dengan pandangan-pandangan Muhammad serta ajaran-ajarannya karena dia bersandar pada wahyu Tuhan. Sebaliknya, tak ada satu pun kumpulan yang begitu terperinci dari ajaran-ajaran Isa yang masih dapat dijumpai di masa sekarang. Karena Al-Quran bagi kaum Muslimin sedikit banyak sama pentingnya dengan Injil bagi kaum Nasrani, pengaruh Muhammad dengan perantaraan Al-Quran teramatlah besarnya. Kemungkinan pengaruh Muhammad dalam Islam lebih besar dari pengaruh Isa dan St. Paul dalam dunia Kristen digabung jadi satu. Diukur dari semata mata sudut agama, tampaknya pengaruh Muhammad setara dengan Isa dalam sejarah kemanusiaan.\rLebih jauh dari itu (berbeda dengan Isa) Muhammad bukan semata pemimpin agama tapi juga pemimpin duniawi. Fakta menunjukkan, selaku kekuatan pendorong terhadap gerak penaklukan yang dilakukan bangsa Arab, pengaruh kepemimpinan politiknya berada dalam posisi terdepan sepanjang waktu.","part":1,"page":112},{"id":113,"text":"Dari pelbagai peristiwa sejarah, orang bisa saja berkata hal itu bisa terjadi tanpa kepemimpinan khusus dari seseorang yang mengepalai mereka. Misalnya, koloni-koloni di Amerika Selatan mungkin saja bisa membebaskan diri dari kolonialisme Spanyol walau Simon Bolivar tak pernah ada di dunia. Tapi, misal ini tidak berlaku pada gerak penaklukan yang dilakukan bangsa Arab. Tak ada kejadian serupa sebelum Muhammad dan tak ada alasan untuk menyangkal bahwa penaklukan bisa terjadi dan berhasil tanpa Muhammad. Satu-satunya kemiripan dalam hal penaklukan dalam sejarah manusia di abad ke-13 yang sebagian terpokok berkat pengaruh Jengis Khan. Penaklukan ini, walau lebih luas jangkauannya ketimbang apa yang dilakukan bangsa Arab, tidaklah bisa membuktikan kemapanan, dan kini satu-satunya daerah yang diduduki oleh bangsa Mongol hanyalah wilayah yang sama dengan sebelum masa Jengis Khan","part":1,"page":113},{"id":114,"text":"Ini jelas menunjukkan beda besar dengan penaklukan yang dilakukan oleh bangsa Arab. Membentang dari Irak hingga Maroko, terbentang rantai bangsa Arab yang bersatu, bukan semata berkat anutan Agama Islam tapi juga dari jurusan bahasa Arabnya, sejarah dan kebudayaan. Posisi sentral Al-Quran di kalangan kaum Muslimin dan tertulisnya dalam bahasa Arab, besar kemungkinan merupakan sebab mengapa bahasa Arab tidak terpecah-pecah ke dalam dialek-dialek yang berantarakan. Jika tidak, boleh jadi sudah akan terjadi di abad ke l3. Perbedaan dan pembagian Arab ke dalam beberapa negara tentu terjadi -tentu saja- dan nyatanya memang begitu, tapi perpecahan yang bersifat sebagian-sebagian itu jangan lantas membuat kita alpa bahwa persatuan mereka masih berwujud. Tapi, baik Iran maupun Indonesia yang kedua-duanya negeri berpenduduk Muslimin dan keduanya penghasil minyak, tidak ikut bergabung dalam sikap embargo minyak pada musim dingin tahun 1973 – 1974. Sebaliknya bukanlah barang kebetulan jika semua negara Arab, semata-mata negara Arab, yang mengambil langkah embargo minyak.\rJadi, dapatlah kita saksikan, penaklukan yang dilakukan bangsa Arab di abad ke-7 terus memainkan peranan penting dalam sejarah ummat manusia hingga saat ini. Dari segi inilah saya menilai adanya kombinasi tak terbandingkan antara segi agama dan segi duniawi yang melekat pada pengaruh diri Muhammad sehingga saya menganggap Muhammad dalam arti pribadi adalah manusia yang paling berpengaruh dalam sejarah manusia.\r`Umar Ibn al-Khattab","part":1,"page":114},{"id":115,"text":"Umar Ibn al-Khattab adalah khalifah kedua, dan mungkin terbesar dari semua khalifah Islam. Dia sejaman namun lebih berusia muda ketimbang Nabi Muhammad. Dan seperti juga Muhammad, dia kelahiran Mekkah. Tahun kelahirannya tidak diketahui, tetapi menurut taksiran tahun-586.\rAsal-muasalnya `Umar Ibn al-Khattab merupakan musuh ...yang paling ganas dan beringas, menentang Muhammad dan Agama Islam habis-habisan. Tetapi, mendadak dia memeluk agama baru itu dan berbalik menjadi pendukung gigih. (Ini ada persamaannya yang menarik dengan ihwal St. Paul terhadap Kristen). `Umar Ibn al-Khattab selanjutnya menjadi penasihat terdekat Nabi Muhammad dan begitulah dilakukannya sepanjang umur Muhammad.","part":1,"page":115},{"id":116,"text":"Tahun 632 Muhammad wafat, tanpa menunjuk penggantinya. Umar dengan cepat mendukung Abu Bakr sebagai pengganti, seorang kawan dekat Nabi dan juga mertua beliau. Langkah ini mencegah ada kekuatan dan memungkinkan Abu Bakr secara umum diakui sebagai khalifah pertama, semacam “pengganti” Nabi Muhammad. Abu Bakar merupakan pemimpin yang berhasil tetapi beliau wafat sesudah jadi khalifah hanya selama dua tahun. Tetapi, Abu Bakr menunjuk `Umar jadi khalifah tahun 634 dan memegang kekuasaan hingga tahun 644 tatkala dia terbunuh di Madinah oleh perbuatan seorang budak Persia. Di atas tempat tidur menjelang wafatnya, `Umar menunjuk sebuah panita terdiri dari enam orang untuk memilih penggantinya. Dengan demikian lagi-lagi kesempatan adu kekuatan untuk kekuasaan terjauh. Panitia enam orang itu menunjuk `Uthman selaku khalifah ke-3 yang memerintah tahun 644-656.","part":1,"page":116},{"id":117,"text":"Dalam masa kepemimpinan sepuluh tahun `Umar itulah penaklukan-penaklukan penting dilakukan orang Arab. Tak lama sesudah `Umar pegang tampuk kekuasaan sebagai khalifah, pasukan Arab menduduki Suriah dan Palestina, yang kala itu menjadi bagian Kekaisaran Byzantium. Dalam pertempuran Yarmuk (636), pasukan Arab berhasil memukul habis kekuatan Byzantium. Damaskus jatuh pada tahun itu juga, dan Darussalam menyerah dua tahun kemudian. Menjelang tahun 641, pasukan Arab telah menguasai seluruh Palestina dan Suriah, dan terus menerjang maju ke daerah yang kini bernama Turki. Tahun 639, pasukan Arab menyerbu Mesir yang juga saat itu di bawah kekuasaan Byzantium. Dalam tempo tiga tahun, penaklukan Mesir diselesaikan dengan sempurna.\rPenyerangan Arab terhadap Irak yang saat itu berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Persia telah mulai bahkan sebelum `Umar naik jadi khalifah. Kunci kemenangan Arab terletak pada pertempuran Qadisiya tahun 637, terjadi di masa kekhalifahan `Umar. Menjelang tahun 641, seseluruh Irak sudah berada di bawah pengawasan Arab. Dan bukan cuma itu: pasukan Arab bahkan menyerbu langsung Persia dan dalam pertempuran Nehavend (642) mereka secara menentukan mengalahkan sisa terakhir kekuatan Persia. Menjelang wafatnya `Umar di tahun 644, sebagian besar daerah barat Iran sudah terkuasai sepenuhnya. Gerakan ini tidak berhenti tatkala `Umar wafat. Di bagian timur mereka dengan cepat menaklukkan Persia dan bagian barat mereka mendesak terus dengan pasukan menyeberang Afrika Utara.","part":1,"page":117},{"id":118,"text":"Sama pentingnya dengan makna penaklukan-penaklukan yang dilakukan `Umar adalah kepermanenan dan kemantapan pemerintahannya. Iran, kendati penduduknya masuk Islam, berbarengan dengan itu mereka memperoleh kemerdekaannya dari pemerintahan Arab. Tetapi Suriah, Irak dan Mesir tidak pernah peroleh hal serupa. Negeri-negeri itu seluruhnya di-Arabkan hingga saat kini.\r`Umar sudah barangtentu punya rencana apa yang harus dilakukannya terhadap daerah-daerah yang sudah ditaklukkan oleh pasukan Arab. Dia memutuskan, orang Arab punya hak-hak istimewa dalam segi militer di daerah-daerah taklukan, mereka harus berdiam di kota-kota tertentu yang ditentukan untuk itu, terpisah dari penduduk setempat. Penduduk setempat harus bayar pajak kepada penakluk Muslimin (umumnya Arab), tetapi mereka dibiarkan hidup dengan aman dan tenteram. Khususnya, mereka tidak dipaksa memeluk Agama Islam. Dari hal itu sudahlah jelas bahwa penaklukan Arab lebih bersifat perang penaklukan nasionalis daripada suatu perang suci meskipun aspek agama bukannya tidak memainkan peranan.","part":1,"page":118},{"id":119,"text":"Keberhasilan `Umar betul-betul mengesankan. Sesudah Nabi Muhammad, dia merupakan tokoh utama dalam hal penyerbuan oleh Islam. Tanpa penaklukan-penaklukannya yang secepat kilat, diragukan apakah Islam bisa tersebar luas sebagaimana dapat disaksikan sekarang ini. Lebih-lebih, kebanyakan daerah yang ditaklukkan dibawah pemerintahannya tetap menjadi Arab hingga kini. Jelas, tentu saja, Muhammadlah penggerak utamanya jika dia harus menerima penghargaan terhadap perkembangan ini. Tetapi, akan merupakan kekeliruan berat apabila kita mengecilkan saham peranan `Umar. Penaklukan-penaklukan yang dilakukannya bukanlah akibat otomatis dari inspirasi yang diberikan Muhammad. Perluasan mungkin saja bisa terjadi, tetapi tidaklah akan sampai sebesar itu kalau saja tanpa kepemimpinan `Umar yang brilian.\rMemang akan merupakan kejutan –buat orang Barat yang tidak begitu mengenal `Umar– membaca penempatan orang ini lebih tinggi dari pada orang-orang kenamaan seperti Charlemagne atau Julius Caesar dalam urutan daftar buku ini. Soalnya, penaklukan oleh bangsa Arab di bawah pimpinan `Umar lebih luas daerahnya dan lebih tahan lama dan lebih bermakna ketimbang apa yang diperbuat oleh Charlemagne maupun Julius Caesar.\r3 orang menyukai ini.\rDAFTAR ISI\rKUMPULAN TANYA JAWAB KEAGAMAAN ala Error! Hyperlink reference not valid..\rDaftar Isi Dokumen\r413. MAKALAH: Kami sampaikan berlandaskan persaudaraan sesama muslim\rZon Jonggol > Daftar Isi Dokumen Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah - KTB (PISS-KTB)","part":1,"page":119},{"id":120,"text":"413. MAKALAH: Kami sampaikan berlandaskan persaudaraan sesama muslim\rKami sampaikan berlandaskan persaudaraan sesama muslim\rSebagaimana yang telah kami sampaikan dalam tulisan sebelumnya pada Error! Hyperlink reference not valid. bahwa dua kemungkinan besar akibat negative jika mengikuti akal pikiran sendiri bersandarkan kepada muthola'ah (menelaah kitab) adalah\r1. Ibadah fasidah (ibadah yang rusak) , ibadah yang kehilangan ruhnya atau aspek bathin\r2. Tasybihillah Bikholqihi , penyerupaan Allah dengan makhluq Nya\rPara ulama yang mereka ikuti pada mulanya umumnya bermazhab Imam Ahmad bin Hambal namun pada akhirnya ulama mereka mengikuti akal pikiran mereka sendiri karena bersandarkan kepada muthola'ah (menelaah kitab) daripada talaqqi (mengaji) kepada para ulama yang bermazhab atau ulama yang bersanad ilmu yang tersambung kepada lisannya Sayyidina Muhammad Shallallahu alaihi wasallam.\rContoh uraian mereka semula bermazhab dalam tulisan pada Error! Hyperlink reference not valid.\r***** awal kutipan *****\rمطلب في عقيدة الإمام أحمد رضي الله عنه وأرضاه\rوسئل رضي الله عنه ونفعنا به : في عقائد الحنابلة ما لا يخفى على شريف علمكم ، هل عقيدة الإمام أحمد بن حنبل رضي الله عنه كعقائدهم ؟\rSyaikhul Islam Ibnu Hajar Al Haitami pernah ditanya tentang akidah mereka yang semula para pengikut Mazhab Hambali, apakah akidah Imam Ahmad bin Hambal seperti akidah mereka ?\rBeliau menjawab:","part":1,"page":120},{"id":121,"text":"فأجاب بقوله : عقيدة إمام السنة أحمد بن حنل رضي الله عنه وأرضاه وجعل جنان المعارف متقلبه ومأواه وأقاض علينا وعليه من سوابغ امتنانه وبوأه الفردوس الأعلى من جنانه موافقة لعقيدة أهل السنة والجماعة من المبالغة التامة في تنزيه الله تعالى عما يقول الظالمون والجاحدون علوا كبيرا من الجهة والجسمية وغيرهما من سائر سمات النقص ، بل وعن كل وصف ليس فيه كمال مطلق ، وما اشتهر به جهلة المنسوبين إلى هذا الإمام الأعظم المجتهد من أنه قائل بشيء من الجهة أو نحوها فكذب وبهتان وافتراء عليه ، فلعن الله من نسب ذلك إليه أو رماه بشيء من هذه المثالب التي برأه الله منها\rAkidah imam ahli sunnah, Imam Ahmad bin Hambal –semoga Allah meridhoinya dan menjadikannya meridhoi-Nya serta menjadikan taman surga sebagai tempat tinggalnya, adalah sesuai dengan akidah Ahlussunnah wal Jamaah dalam hal menyucikan Allah dari segala macam ucapan yang diucapkan oleh orang-orang zhalim dan menentang itu, baik itu berupa penetapan tempat (bagi Allah), mengatakan bahwa Allah itu jism (materi) dan sifat-sifat buruk lainnya, bahkan dari segala macam sifat yang menunjukkan ketidaksempurnaan Allah.\rAdapun ungkapan-ungkapan yang terdengar dari orang-orang jahil yang mengaku-ngaku sebagai pengikut imam mujtahid agung ini, yaitu bahwa beliau pernah mengatakan bahwa Allah itu bertempat dan semisalnya, maka perkataan itu adalah kedustaan yang nyata dan tuduhan keji terhadap beliau. Semoga Allah melaknat orang yang melekatkan perkataan itu kepada beliau atau yang menuduh beliau dengan tuduhan yang Allah telah membersihkan beliau darinya itu.","part":1,"page":121},{"id":122,"text":"وقد بين الحافظ الحجة القدوة الإمام أبو الفرج ابن الجوزي من أئمة مذهبه المبرئين من هذه الوصمة القبيحة الشنيعة أن كل ما نسب إليه من ذلك كذب عليه وافتراء وبهتان ، وأن نصوصه صريحة في بطلان ذلك وتنزيه الله تعالى عنه ، فاعلم ذلك فإنه مهم .\rوإياك أن تصغي إلى ما في كتب ابن تيمية وتلميذه ابن قيم الجوزية وغيرهما ممن اتخذ إلهه هواه وأضله الله على علم ، وختم على سمعه وقلبه وجعل على بصره غشاوة فمن يهديه من بعد الله ، وكيف تجاوز هؤلاء الملحدون الحدود وتعدوا الرسوم وخرقوا سياج الشريعة والحقيقة فظنوا بذلك أنهم على هذى من ربهم وليسوا كذلك بل هم على أسوإ الضلال وأقبح الخصال وأبلغ المقت والخسران وأنهى الكذب والبهتان فخذل الله متبعه وطهر الأرض من أمثالهم\rAl Hafizh Al Hujjah Al Imam, Sang Panutan, Abul Faraj Ibnul Jauzi, salah seorang pembesar imam mazhab Hambali yang membersihkan segala macam tuduhan buruk ini, telah menjelaskan tentang masalah ini bahwa segala tuduhan yang dilemparkan kepada sang imam adalah kedustaan dan tuduhan yang keji terhadap sang imam. Bahkan teks-teks perkataan sang imam telah menunjukkan kebatilan tuduhan itu, dan menjelaskan tentang sucinya Allah dari semua itu. Maka pahamilah masalah ini, karena sangat penting.\rJanganlah sekali-kali kamu dekati buku-buku karangan Ibnu Taimiyah dan muridnya, Ibnul Qayyim dan orang seperti mereka berdua. Siapa yang bisa memberikan petunjuk orang seperti itu selain Allah?","part":1,"page":122},{"id":123,"text":"Bagaimana orang-orang atheis itu melampaui batas-batas, menabrak aturan-aturan dan merusak tatanan syariat dan hakikat, lalu mereka menyangka bahwa mereka berada di atas petunjuk dari tuhan mereka, padahal tidaklah demikian. Bahkan mereka berada pada kesesatan paling buruk, kemurkaan paling tinggi, kerugian paling dalam dan kedustaan paling besar. Semoga Allah menghinakan orang yang mengikutinya dan membersihkan bumi ini dari orang-orang semisal mereka.\rSumber : Al Fatawa Al Haditsiyah 1/480 karya Syaikhul Islam al-Imam Ibnu Hajar al-Haitami.\r***** akhir kutipan *****\rApa yang disampaikan oleh Syaikhul Islam al-Imam Ibnu Hajar al-Haitami tentang pemahaman ulama mereka, disampaikan pula oleh ulama-ulama lainnya, contohnya dapat ditemukan dalam tulisan pada Error! Hyperlink reference not valid.\rKami hanya bisa menyampaikan dengan semangat persaudaraan sesama muslim. Tujuan kami agar saudara-saudara muslim kami yang tidak mau bermazhab dan hanya mengikuti pemahaman ulama-ulama seperti ulama Ibnu Taimiyyah, Ibnu Qoyyim al Jauziah, Muhammad bin Abdul Wahhab atau ulama Al Abani agar terhindar dari kesyirikan yang tanpa disadari atau kesyirikan karena kesalahpahaman\rSayyidina Ali Ibn Abi Thalib ra berkata : “Sebagian golongan dari umat Islam ini ketika kiamat telah dekat akan kembali menjadi orang-orang kafir.“\rSeseorang bertanya kepadanya : “Wahai Amirul Mukminin apakah sebab kekufuran mereka? Adakah karena membuat ajaran baru atau karena pengingkaran?”","part":1,"page":123},{"id":124,"text":"Sayyidina Ali Ibn Abi Thalib ra menjawab : “Mereka menjadi kafir karena pengingkaran. Mereka mengingkari Pencipta mereka (Allah Subhanahu wa ta’ala) dan mensifati-Nya dengan sifat-sifat benda dan anggota-anggota badan.” (Imam Ibn Al-Mu’allim Al-Qurasyi (w. 725 H) dalam Kitab Najm Al-Muhtadi Wa Rajm Al-Mu’tadi)\rImam Ahmad ar-Rifa’i (W. 578 H/1182 M) dalam kitabnya al-Burhan al-Muayyad, “Sunu ‘Aqaidakum Minat Tamassuki Bi Dzahiri Ma Tasyabaha Minal Kitabi Was Sunnati Lianna Dzalika Min Ushulil Kufri”, “Jagalah aqidahmu dari berpegang dengan dzahir ayat dan hadis mutasyabihat, karena hal itu salah satu pangkal kekufuran”.\rImam besar ahli hadis dan tafsir, Jalaluddin As-Suyuthi dalam “Tanbiat Al-Ghabiy Bi Tabriat Ibn ‘Arabi” mengatakan “Ia (ayat-ayat mutasyabihat) memiliki makna-makna khusus yang berbeda dengan makna yang dipahami oleh orang biasa. Barangsiapa memahami kata wajh Allah, yad , ain dan istiwa sebagaimana makna yang selama ini diketahui (wajah Allah, tangan, mata, bertempat), ia kafir secara pasti.”\rUlama mereka memang kadang mengutip dari kitab Imam Mazhab namun kita harus dapat membedakan apa yang disampaikan oleh Imam Mazhab antara menyampaikan sebagaimana dalil naqli atau mereka menyampaikan penjelasan atas dalil naqli. Apa yang dikutip oleh ulama mereka pada hakikatnya ketika Imam Mazhab menyampaikan sebagaimana dalil naqli bukan penjelasan mereka.\rContoh bagian penjelasan","part":1,"page":124},{"id":125,"text":"Imam Malik bin Anas ra menghadapi hadis ”Allah turun di setiap sepertiga malam” adalah, yanzilu amrihi ( turunnya perintah dan rahmat Allah ) pada setiap sepertiga malam “adapun Allah Azza wa Jalla, adalah tetap tidak bergeser dan tidak berpindah, maha suci Allah yg tiada tuhan selainNya“ lihat pada “at tamhid” 8/143, “siyaru a’lamun nubala” 8/105 “arrisalatul wafiyah” hal 136 karangan Abi Umar Addani dan dalam kitab syarah an-nawawi ala shohih muslim 6/37 dan juga al-inshaaf karangan ibnu sayyit al-bathliyusi hal 82.\rContoh penjelasan dari pemimpin ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak) lainnya yakni Imam Asy-Syafi’i Muhammad ibn Idris (w 204 H), berkata:\rإنه تعالى كان ولا مكان فخلق المكان وهو على صفة الأزلية كما كان قبل خلقه المكان ولا يجوز عليه التغير في ذاته ولا التبديل في صفاته (إتحاف السادة المتقين بشرح إحياء علوم الدين, ج 2، ص 24)\r“Sesungguhnya Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat. Kemudian Dia menciptakan tempat, dan Dia tetap dengan sifat-sifat-Nya yang Azali sebelum Dia menciptakan tempat tanpa tempat. Tidak boleh bagi-Nya berubah, baik pada Dzat maupun pada sifat-sifat-Nya” (LIhat az-Zabidi, Ithâf as-Sâdah al-Muttaqîn…, j. 2, h. 24). Penjelasan lebih lengkapnya dalam tulisan pada Error! Hyperlink reference not valid.\rBegitupula penjelasan yang disampaikan oleh ulama negeri kita sendiri, Habib Munzir Al Musawa sebagai berikut,\r****awal kutipan *****","part":1,"page":125},{"id":126,"text":"Hadirin hadirat, sampailah kita kepada Hadits Qudsi, dimana Sang Nabi Saw bersabda menceritakan firman Allah riwayat Shahih Bukhari “Yanzilu Rabbuna tabaaraka wa ta’ala fi tsulutsullailil akhir…” (Allah itu turun ke langit yang paling dekat dengan bumi pada sepertiga malam terakhir).\rMaksudnya bukan secara makna yang dhohir Allah itu ke langit yang terdekat dg bumi, karena justru hadits ini merupakan satu dalil yang menjawab orang yang mengatakan bahwa Allah Swt itu ada di satu tempat atau ada di Arsy.\rYang dimaksud adalah Allah itu senang semakin dekat, semakin dekat, semakin dekat kepada hamba hamba Nya disaat sepertiga malam terakhir semakin dekat Kasih Sayang Allah.\rAllah itu dekat tanpa sentuhan dan jauh tanpa jarak. Berbeda dengan makhluk, kalau dekat mesti ada sentuhan dan kalau jauh mesti ada jarak. “Allah laysa kamitslihi syai’un” (Allah tidak sama dengan segala sesuatu) (QS Assyura 11)\rAllah Swt turun mendekat kepada hamba Nya di sepertiga malam terakhir maksudnya Allah membukakan kesempatan terbesar bagi hamba hamba Nya di sepertiga malam terakhir.\rSepertiga malam terakhir kira kira pukul 2 lebih dinihari.., kalau malam dibagi 3, sepertiga malam terakhir kira kira pukul 2 lebih, sampai sebelum adzan subuh itu sepertiga malam terakhir, waktu terbaik untuk berdoa dan bertahajjud.","part":1,"page":126},{"id":127,"text":"Disaat saat itu kebanyakan para kekasih lupa dengan kekasihnya. Allah menanti para kekasih Nya. Sang Maha Raja langit dan bumi Yang Maha Berkasih Sayang menanti hamba hamba yang merindukan Nya, yang mau memisahkan ranjangnya dan tidurnya demi sujudnya Kehadirat Allah Yang Maha Abadi. Mengorbankan waktu istirahatnya beberapa menit untuk menjadikan bukti cinta dan rindunya kepada Allah.\rHadirin hadirat, maka Allah Swt berfirman (lanjutan dari hadits qudsi tadi) “Man yad u’niy fa astajibalahu” (siapa yang menyeru kepada Ku maka aku akan menjawab seruannya).\rApa maksudnya kalimat ini?\rMaksudnya ketika kau berdoa disaat itu Allah sangat….,. sangat… ingin mengabulkannya untukmu. “Man yasaluniy fa u’thiyahu” (barangsiapa diantara kalian adakah yang meminta pada Ku maka Aku beri permintaannya).\rSeseorang yang bersungguh sungguh berdoa di sepertiga malam terakhir sudah dijanjikan oleh Allah ijabah (terkabul).\rKalau seandainya tidak dikabulkan oleh Allah berarti pasti akan diberi dengan yang lebih indah dari itu. “Wa man yastaghfiruniy fa aghfira lahu” (dan siapa yang beristighfar mohon pengampunan pada Ku disaat itu, akan Kuampuni untuknya).\rBetapa dekatnya Allah di sepertiga malam terakhir. Hadirin hadirat, disaat saat itu orang orang yang mencintai dan merindukan Allah pasti dalam keadaan bangun dan pasti dalam keadaan berdoa.\rSumber: Error! Hyperlink reference not valid.\r****akhir kutipan*****","part":1,"page":127},{"id":128,"text":"Habib Munzir Al Musawa adalah salah satu ulama yang mendapatkan didikan langsung dari orang tua-orang tuanya terdahulu yang tersambung kepada didikan Imam Sayyidina Ali ra yang mendapatkan didikan langsung dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Selain itu dalam mendalami ilmu agama, Beliau ber-talaqqi (mengaji) pada para ulama bermazhab , bersanad ilmu tersambung kepada lisannya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.\rDalam masalah i'tiqod selain dapat kita ketahui dan yakini dari para pemimpin ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak) alias Imam Mazhab dan penjelasan dari ulama pengikut Imam Mazhab, kita dapat pula bertanya kepada para Habib atau para Sayyid\rContoh lainnya jika kita ingin mengetahui cara Sholat Rasulullah dapatlah kita bertanya kepada para Habib dan Sayyid karena sholat adalah perbuatan yang dilatih sejak kecil oleh orang tua para Habib dan para Sayyid.\rPara Imam Mazhab yang empat pun menuliskan fiqih tentang sholat, setelah mereka mendapatkan latihan dari para guru mereka yang tersambung kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan merekapun masih sempat bergaul dengan para Salafush Sholeh, minimal Tabi'ut Tabi'in. Dari pelatihan langsung dan mengumpulkan hadits-hadits tentang sholat maka mereka menuliskannya pada kitab fiqih, sebagai pedoman bagi kita yang masa kehidupannya telah terpaut jauh dengan masa kehidupan para Salafush Sholeh.","part":1,"page":128},{"id":129,"text":"Sebaiknya jangan mengikuti cara sholat Rasulullah melalui upaya pemahaman ulama yang berupaya mengetahuinya dari memahami lafaz atau tulisan. Dimana setiap upaya pemahaman, bisa benar dan bisa pula salah. Terlebih lagi kalau upaya pemahaman tersebut dilakukan oleh ulama yang tidak dikenal berkompetrensi sebagai Imam Mujtahid Mutlak maka kemungkinan salahnya akan lebih besar dan berakibat ibadah fasidah (ibadah yang rusak) , ibadah yang kehilangan ruhnya atau aspek bathin. Kalau kita ibaratkan belajar berenang, mana yang lebih besar kemungkinan bisa berenangnya, apakah yang belajar berenang melalui latihan dengan pelatih (guru) atau belajar berenang sendiri melalui memahami atau muthola'ah (menelaah) buku penuntun berenang ?\rTulisan kali ini kami akhiri dengan pesan dari Habib Munzir Al Musawa yang mengingatkan kita akan pesan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika haji wada. Pesan Beliau disampaikan dalam tulisan pada Error! Hyperlink reference not valid. terkait dengan note kami kali ini, berikut kutipannya\r****Awal kutipan*****","part":1,"page":129},{"id":130,"text":"أَقْبَلَ رَجُلٌ، غَائِرُ الْعَيْنَيْنِ، مُشْرِفُ الْوَجْنَتَيْنِ، نَاتِئُ الْجَبِينِ، كَثُّ اللِّحْيَةِ، مَحْلُوقٌ، فَقَالَ، اتَّقِ اللَّهَ يَا مُحَمَّدُ، فَقَالَ رسنول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : منْ يُطِعْ اللَّهَ إِذَا عَصَيْتُ؟، أَيَأْمَنُنِي اللَّهُ، عَلَى أَهْلِ الْأَرْضِ، فَلَا تَأْمَنُونِي؟، فَسَأَلَهُ رَجُلٌ قَتْلَهُ، أَحْسِبُهُ خَالِدَ بْنَ الْوَلِيدِ، فَمَنَعَهُ، فَلَمَّا وَلَّى، قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِنَّ مِنْ ضِئْضِئِ هَذَا، أَوْ فِي عَقِبِ هَذَا، قَوْمًا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ، لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ، مُرُوقَ السَّهْمِ مِنْ الرَّمِيَّةِ، يَقْتُلُونَ أَهْلَ الْإِسْلَامِ، وَيَدَعُونَ أَهْلَ الْأَوْثَانِ، لَئِنْ أَنَا أَدْرَكْتُهُمْ، لَأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ عَادٍ.\r(صحيح البخاري)","part":1,"page":130},{"id":131,"text":"Berkata Abu sa’id Al Khudriy ra saat Nabi saw sedang membagi bagi harta pada beberapa orang, maka datanglah seorang lelaki, matanya membelalak, kedua pelipisnya tebal cembung kedepan, dahinya besar, janggutnya sangat tebal, rambutnya gundul, sarungnya pendek, berkata: Bertakwalah pada Allah wahai Muhammad…!, Sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: “Siapa yang taat pada Allah kalau aku bermaksiat??, apakah Allah mempercayaiku untuk mengamankan penduduk bumi dan kalian tidak mempercayaiku??” dan berkata Khalid bin Walid ra: Wahai Rasulullah, kutebas lehernya..!, Rasul shallallahu alaihi wasallam melarangnya, lalu beliau shallallahu alaihi wasallam melirik orang itu yang sudah membelakangi Nabi shallallahu alaihi wasallam, dan Rasul shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sungguh akan keluar dari keturunan lelaki ini suatu kaum yang membaca Alqur’an namun tidak melewati tenggorokannya (tidak kehatinya), mereka semakin jauh dari agama seperti menjauhnya panah dari busurnya, mereka memerangi orang islam dan membiarkan penyembah berhala”, jika kutemui kaum itu akan kuperangi seperti diperanginya kaum ‘Aad” (Shahih Bukhari)\rعَنْ جَرِيرٍ:أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهُ : فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ، اسْتَنْصِتْ النَّاسَ، فَقَالَ: لَا تَرْجِعُوا بَعْدِي، كُفَّارً،ا يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ، رِقَابَ بَعْضٍ.\r(صحيح البخاري)","part":1,"page":131},{"id":132,"text":"Dari Jarir ra: “Sungguh Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda padanya, pada Haji Wada’ (Haji perpisahan/haji Nabi shallallahu alaihi wasallam yang terakhir). Simaklah dengan baik wahai orang-orang, lalu beliau bersabda: “Jangan kalian kembali kepada kekufuran setelah aku wafat, saling bunuh dan memerangi satu sama lain” (Shahih Bukhari)\rWassalam\rZon di Jonggol, Kab Bogor 16830\r3 orang menyukai ini.\rDAFTAR ISI\rKUMPULAN TANYA JAWAB KEAGAMAAN ala Error! Hyperlink reference not valid..\rDaftar Isi Dokumen\r414. TA’DZIM : DIANTARA IBADAH DAN ETIKA\rHakam Ahmed ElChudrie > Daftar Isi Dokumen Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah - KTB (PISS-KTB)\r414. TA’DZIM : DIANTARA IBADAH DAN ETIKA\rBanyak orang yang salah dalam memahami hakikat ta’dzim / penghormatan dan hakikat ibadah. Sehingga mereka mencampur diantara keduanya dan mengatakan bahwa segala bentuk ta’dzim adalah suatu ibadah atau pengabdian kepada orang yang dihormati. Maka, berdiri, mencium tangan, menghormati Nabi saw dengan menggunakan kata “Ya Sayyidina” dan “Ya Nabiyallah”, kesemuanya menurut mereka adalah suatu hal yang mendatangkan pada bentuk penyembahan pada selain Allah ta’ala. Sebenarnya, itu adalah suatu pemahaman yang sangat bodoh dan melebih-lebihkan yang tidak diridhoi Allah dan RasulNya serta suatu bentuk pemberatan yang sangat tidak disukai oleh syariat Islam.","part":1,"page":132},{"id":133,"text":"Ketahuilah, Adam, manusia pertama dan hamba Allah pertama yang sholih dari jenis manusia. Allah telah memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepadanya sebagai bentuk pemuliaan dan penghormatan terhadap ilmu yang ada padanya dan sebagai pemberitahu kepada para malaikat akan terpilihnya Adam diantara para makhlukNya. Allah ta’ala berfirman, (“Dan ketika Aku berkata kepada para malaikat, ‘Bersujudlah kalian kepada Adam.’ Maka mereka bersujud kecuali iblis. Iblis berkata, ‘Apakah aku harus bersujud kepada makhluk yang dicipta dari tanah?’). Dalam ayat yang lain dijelaskan, (“Aku (: iblis) lebih baik dari dia (: Adam). Engkau ciptakan aku dari api dan Engkau ciptakan dia dari tanah.”). dalam ayat yang lain, (“Kemudian kesemua malaikat bersujud kecuali iblis. Dia tidak mau bila termasuk diantara orang-orang yang bersujud.”).\rPara malaikat menghormati / memuliakan makhluk yang dimuliakan Allah, sedangkan iblis sombong dan tidak mau bersujud kepada makhluk yang dicipta dari tanah. Iblis adalah makhluk pertama yang melakukan qiyas dalam urusan agama dengan pendapatnya sendiri dan berkata, “Aku lebih baik darinya.” Alasan yang dia pakai adalah iblis dicipta dari api sedangkan adam dicipta dari tanah, sehingga dia tidak mau memuliakannya dan tidak mau bersujud kepadanya.","part":1,"page":133},{"id":134,"text":"Iblis adalah makhluk pertama yang sombong dan tidak mau memuliakan makhluk yang dimuliakan Allah, sehingga iblis tertolak dari rahmat Allah karena kesombongannya terhadap seorang hamba yang sholih. Itu adalah sebuah bentuk kesombongan terhadap Allah, karena bersujud sebenarnya adalah kepada Allah karena Dia telah memerintahkannya. Allah telah menjadikan sujud kepada Adam sebagai bentuk pemuliaan dan penghormatan kepada Adam dan Adam termasuk golongan yang meng-esakan Allah.\rDiantara dalil yang menjelaskan tentang penghormatan kepada orang-orang sholih, antara lain, Allah berfirman dalam haknya Yusuf, (“Dan dia mendudukkan ayahnya diatas singgasana dan mereka bersujud kepadanya (: Yusuf)”, adalah sebagai bentuk penghormatan dan pemuliaan terhadap Yusuf dari saudara-saudaranya. Dimungkin bersujud diperbolehkan dalam syariat mereka, atau seperti sujudnya para malaikat kepada Adam sebagai bentuk pemuliaan, penghormatan dan bentuk kepatuhan terhadap perintah Allah sebagai bentuk tafsiran dari mimpi Yusuf, karena mimpi seorang nabi adalah wahyu.","part":1,"page":134},{"id":135,"text":"Adapun nabi Muhammad saw, maka Allah berfirman, (“Sesungguhnya Aku telah mengutusmu sebagai saksi, pembawa kabar gembira dan yang menakut-nakuti, supaya mereka beriman kepada Allah dan RasulNya dan mereka memuliakannya”). Allah berfirman, (“Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian mendahului dihadapan Allah dan RasulNya”). Allah berfirman, (“Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian meninggikan suara kalian diatas suara Nabi”). Allah juga berfirman, (“Janganlah kalian menjadikan panggilan kepada rasul diantara kalian seperti panggilan sebagian kalian kepada yang lainnya”). Allah telah melarang mendahului beliau dalam perkataan dan adab yang buruk adalah mendahului beliau dalam ucapan. Sahl ibn Abdillah berkata, “Janganlah kalian berkata sebelum beliau bersabda dan ketika beliau bersabda, maka dengarkanlah dan perhatikanlah.”\rPara sahabat melarang dari mendahulukan dan tergesa-gesa mendatangi suatu urusan sebelum beliau mendatanginya dan tidaklah mereka memfatwakan suatu hal dari berperang atau urusan agama lainnya melainkan dengan perintah beliau dan mereka tidak berani mendahului beliau. Kemudian Allah menasehati dan menakut-nakuti mereka dengan berfirman, (“Bertaqwalah kalian kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha mendengar lagi maha tahu”). Salma berkata, “Bertaqwalah kalian kepada Allah dalam menyia-nyiakan hak hakNya dan menelantarkan kemulianNya. Sesungguhnya Dia maha mendengar perkataan kalian dan maha mengetahui perbuatan kalian.”","part":1,"page":135},{"id":136,"text":"Kemudian Allah melarang umat dari menaikkan suara diatas suara beliau, seperti sebagian dari mereka yang mengeraskan suaranya kepada yang lain. Abu Muhammad Makki berkata, “Artinya, janganlah kalian mendahului beliau dalam perkataan, mengeraskan suara ketika berbincang dan memanggil nama beliau seperti diantara kalian memanggil yang lainnya. Akan tetepi, muliakanlah beliau, agungkanlah dan panggillah beliau dengan panggilan yang mulia, seperti ‘Ya Rasulallah’ atau ‘Ya Nabiyallah’ seperti yang telah difirmankan Allah, (“Janganlah kalian menjadikan panggilan kepada Rasul diantara kalian seperti panggilan diantara kalian kepada yang lainnya.”)\rKemudian Allah menakut-nakuti mereka dengan terhapusnya amal mereka jika mereka melakukan itu semua. Ayat tersebut turun dalam jama’ah yang mendatangi Nabi saw lalu mereka menyeru beliau, “Ya Muhammad! Keluarlah dan temui kami.” Kemudian Allah menghina mereka dengan ‘bodoh’ dan mensifati mereka dengan ‘kebanyakan mereka adalah orang-orang yang tidak berakal.’\rAmr ibn al ‘Ash berkata, “Tidak seorangpun yang lebih aku cintai dibandingkan Rasulullah dan tidaklah ada yang lebih mulia dibandingkan beliau. Tidaklah aku mampu memenuhi mataku ini dari beliau karena memuliakan beliau. Seandainya aku diminta untuk mensifati beliau, maka sudah tentu aku tidak akan mampu karena aku tidak pernah memenuhi mataku ini dengan melihat beliau.” (HR. Muslim dalam al-Shahih kitab iman bab islam menghancurkan agama sebelumnya)","part":1,"page":136},{"id":137,"text":"At-Tirmidzi telah meriwayatkan dari Anas, Sesungguhmya Rasulullah saw suatu hari keluar menemui para sahabat muhajirin dan anshar dan pada saat itu mereka sedang duduk. Diantara mereka ada Abu Bakar dan Umar. Tidak seorangpun dari mereka yang mengangkat pandangannya kepada beliau melainkan Abu Bakar dan Umar, karena keduanya melihat beliau dan beliaupun melihat mereka berdua. Keduanya tersenyum kepada beliau dan beliaupun tersenyum kepada keduanya.”\rUsamah ibn Syarik berkata, “Aku mendatangi Nabi saw dan para sahabat berada disekeliling beliau yang seakan-akan diatas kepala mereka terdapat burung. Mengenai sifat beliau, ketika beliau bersabda maka orang-orang yang duduk disitu akan menundukkan kepalanya yang seakan-akan ada burung diatas kepala mereka. Diantara penghormatan yang dilakukan para sahabat kepada beliau adalah tidaklah beliau berwudhu melainkan mereka akan memperebutkan air sisa wudhu beliau dan hampir-hampir saja mereka berkelahi untuk mendapatkannya. Tidaklah beliau meludah melainkanludah itu akan jatuh ditangan mereka lalu mereka menggosok-gosokkannya dimuka dan tubuh mereka. Tidaklah sehelai rambut beliau jatuh melainkan mereka akan berebut untuk mendapatkannya. Ketika beliau berkata-kata, maka mereka akan memelankan suara mereka ketika berada disamping beliau. Dan tidak pernah mereka menajamkan pandangannya kepada beliau.”","part":1,"page":137},{"id":138,"text":"Ketika Usamah kembali ke Quraisy, dia berkata, “Wahai kaum Quraisy! Sesungguhnya aku telah mengunjungi Kisra di istananya, Qaishar di istananya dan Najasyi di istananya. Demi Allah, belum pernah aku melihat seorang rajanya kaum seperti Muhammad dimata para sahabatnya.”\rAl Thabrani dan ibn Hibban dalam kitab shohinya telah meriwayatkan dari Usamah ibn Syarik, dia berkata, “Kami duduk disisi Nabi saw yang seakan-akan ada burung diatas kepala kami. Tidak ada orang diantara kami yang berkata kemudian orang-orang mendatangi beliau dan bertanya, ‘Diantara para hamba Allah, siapakah yang paling disukai Allah?’ beliau menjawab, ‘Yang paling baik akhlaknya.” Seperti yang telah dijelaskan dalam al Targhib (juz 4 halaman 187).\rAbu Ya’la dalam kitab shahihnya telah meriwayatkan dari al Barra’ ibn ‘Azib, dia berkata, “Suau hari aku sangat ingin bertanya kepada Rasulullah tentang suatu perkara, namun aku mengakhirkannya selama dua tahun karena kewibawaan yang beliau meliki.”","part":1,"page":138},{"id":139,"text":"Al Baihaqi telah meriwayatkan dari al Zuhri, dia berkata, “Seorang sahabat anshor telah bercerita kepadaku, sesungguhnya Rasulullah saw ketika berwudhu atau berludah, maka para sahabat akan memperebutkan ludah beliau kemudian mereka mengusapkannya ke muka dan kulit mereka. Rasulullah saw bertanya, “Kenapa kalian melakukan itu?” mereka menjawab, “Kami mencari berkahmu.” Kemudia rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa ingin dicintai Allah dan RasulNya, maka benarkanlah hatids, penuhilah amanah dan jagan sakiti tetangga kalian.” Seperti yang dijelaskan dalam al Kanz (juz 8 halaman 228)\rKesimpulannya, terdapat dua perkara besar yang harus dikaji. Pertama, kewajiban memuliakan Nabi saw dan meninggikan derajat beliau melebihi makhluk yang lain. Kedua, mengesakan sifat ketuhanan berkeyakinan bahwa Allah adalah esa dalam dzat, sifat dan perbuatanNya. Barangsiapa memiliki keyakinan bahwa ada yang menyekutui Allah dalam dzat, sifat atau perbuatan, maka dia telah melakukan perbuatan syirik seperti orang-orang musyrik yang telah meyakini sifat Tuhan bagi berhala dan mereka menyembahnya. Dan barangsiapa yang merendahkan martabat Rasulullah maka dia telah melakukan kemaksiatan atau melakukan kekufuran.\rAdapun orang yang berlebih-lebihan dalam memuliakan beliau dengan bentuk apapun dan tidak mensifati beliau dengan sifat-sifat Tuhan, maka dia telah benar dan telah menjaga dari sisi ketuhanan dan kerasulan. Itu adalah perkataan yang sangat pas, tidak lebih dan tidak kurang.","part":1,"page":139},{"id":140,"text":"Ketika ditemukan dalam perkataan orang mukmin tentang penyandaran suatu hal kepada selain Allah, maka diwajibkan untuk membawanya pada majaz ‘aqli dan tidak ada jalan untuk mengkafirkannya, karena majaz ‘aqli juga digunakan dalam al Qur’an dan sunnah.\rMbah Jenggot II dan 10 orang lainnya menyukai ini.\rKaka Atsaury\rpetamax.... ^_^\r2 September · Suka · Hapus\rHakam Ahmed ElChudrie\rdikutip dari kitab MAFAHIM YAJIBU 'AN TUSHOHHAH, SYEKH MUHAMMAD AL MAKKI, hlm. 100-103\r3 September · Suka · Hapus\rJohn Seven d'Fortunate\rAllohumma sholli 'alaa habibika sayyidinaa Muhammadin wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa barrik wa sallim ajma'iin\r3 September · Suka · 1 orang · Hapus\rMargo No Jr.\rShallallahu 'alaihi wa 'alaa alihi shahbihi wa sallam\r3 September · Suka · 1 orang · Hapus\rDAFTAR ISI\rKUMPULAN TANYA JAWAB KEAGAMAAN ala Error! Hyperlink reference not valid..\rDaftar Isi Dokumen\r417. Dan Mu'adz r.a. pun Menangis\rImam Syufa'at > Daftar Isi Dokumen Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah - KTB (PISS-KTB)\r417. Dan Mu'adz r.a. pun Menangis","part":1,"page":140},{"id":141,"text":"Ibnu Mubarak menceritakan bahwa Khalid bin Makdam berkata kepada Mu’adz radliyallahu ‘anhum ajma’in, “Mohon, engkau kisahkan sebuah hadits Rasulullah yang engkau hafal dan yang engkau anggap paling berkesan!” Kata Mu’adz, “Baik, aku akan mengisahkan.” Belum lagi memulai kisahnya, Mu’adz tampak menangis. Katanya kemudian, “Hhmmm... rindu sekali rasanya aku kepada Rasulullah. Ingin sekali aku dapat bertemu beliau.” Dia lalu melanjutkan perkataannya, “Ketika aku menghadap Rasulullah shollallaahu ‘alayhi wa sallama, beliau sedang menunggang unta, dan beliau memintaku agar naik di belakang beliau. Kemudian berangkatlah kami dengan menunggang unta itu. Di tengah perjalanan, sekonyong-konyong beliau menengadah ke langit dan bersabda:\r“Puji syukur ke hadirat Allah yang telah menentukan qadla’ atas makhluk menurut kehendak-Nya, hai Mu’adz.”\rJawabku, “Benar, ya Sayyidil Mursalin.”\rSabda beliau shollallaahu ‘alayhi wa sallama kemudian, “Aku ingin mengisahkan sebuah riwayat kepadamu. Apabila kamu menghafalnya, akan sangat berguna bagimu. Tetapi jika kamu memandangnya remeh, maka kelak kamu tidak akan memiliki hujjah di hadapan Allah.","part":1,"page":141},{"id":142,"text":"Hai, Mu’adz! Sebelum menciptakan langit dan bumi, Allah telah menciptakan tujuh malaikat. Pada setiap langit terdapat satu malaikat pengawal pintu menurut derajat pintu dan keagungannya. Kemudian, naiklah malaikat Hafadhah (malaikat yang bertugas mengawasi amal hamba) membawa amalan si hamba dengan kemilau cahaya bagaikan matahari. Sesampainya pada langit bumi, malaikat Hafadhah memuji-muji amalan itu. Tetapi setibanya pada pintu langit pertama, malaikat pengawal berkata kepada malaikat Hafadhah, ‘Tamparkan amal ini ke muka pemiliknya! Aku adalah pengawas orang-orang yang suka mengumpat. Aku diperintahkan oleh Tuhanku agar menolak amalan-amalan orang yang suka mengumpat, dan supaya aku tidak membiarkannya melewatiku.’","part":1,"page":142},{"id":143,"text":"Keesokan harinya, kembali malaikat Hafadhah naik ke langit membawa amal shaleh yang berkilau yang dipandangnya sangat banyak dan terpuji. Sesampainya ke langit kedua (ia lolos dari malaikat penjaga pintu langit pertama, sebab pemiliknya bukan seorang pengumpat), malaikat pengawal berkata, ‘Berhenti, dan lemparkanlah amalan ini ke muka pemiliknya! Sebab, dia beramal dengan mengharapkan dunia, aku diperintahkan oleh Tuhanku agar tidak membiarkannya melewatiku.’ Maka, para malaikat melaknat orang itu. Hari berikutnya, kembali malaikat Hafadhah naik ke langit membawa amalan seorang hamba yang sangat memuaskan, penuh sedekah, puasa dan berbagai kebajikan, yang oleh malaikat Hafadhah dianggapnya sangat mulia dan terpuji. Sesampai di langit ketiga (ia lolos dari malaikat penjaga pintu langit pertama dan kedua, sebab pemiliknya bukan seorang pengumpat/pengharap dunia), malaikat pengawal berkata, ‘Berhenti! Tamparkan amal itu ke muka pemiliknya. Aku malaikat penjaga sifat sombong. Aku diperintahkan oleh Tuhanku agar aku tidak membiarkannya melewatiku. Sesungguhnya dia telah bersikap sombong kepada manusia dalam majelis-majelis mereka.’ Hari berikutnya, kembali malaikat Hafadhah naik ke langit membawa amal hamba lainnya yang terang berkilauan bagaikan bintang dan mengeluarkan suara gemuruh, penuh tasbih, puasa, salat, haji dan umrah. Sesampainya di langit keempat (ia lolos dari malaikat pengawal pintu pertama, kedua dan ketiga, sebab pemiliknya bukan seorang pengumpat/pengharap dunia/sombong), malaikat","part":1,"page":143},{"id":144,"text":"pengawal berkata, ‘Berhenti! Tamparkan amal itu ke muka pemiliknya. Aku adalah malaikat penjaga ujub. Aku diperintahkan oleh Tuhanku agar tidak membiarkannya melewatiku. Sesungguhnya dia beramal dengan disertai ujub.\rHari berikutnya, kembali malaikat Hafadhah naik ke langit membawa amalan hamba lainnya, yang sangat baik dan mulia, penuh jihad, haji, umrah, sehingga bercahaya seperti kilauan matahari. Sesampainya di langit kelima (ia lolos dari malaikat pengawal pintu pertama, kedua, ketiga dan keempat, sebab pemiliknya bukan orang pengumpat/pengharap dunia/sombong/ujub), malaikat pengawal berkata, ‘Aku malaikat penjaga hasud. Walaupun amalannya amat bagus, namun dia suka hasud kepada orang lain yang memperoleh kenikmatan dari Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Dengan demikian, berarti dia membenci Dzat yang meridhai. Sesungguhnya aku diperintahkan oleh Tuhanku agar tidak membiarkannya melewatiku.’","part":1,"page":144},{"id":145,"text":"Hari berikutnya, kembali malaikat Hafadhah naik ke langit membawa amalan hamba lainnya, yang berupa wudlu’ yang sempurna, shalat yang banyak, puasa, haji dan umrah. Sesampainya di langit keenam (ia lolos dari malaikat pengawal pintu langit pertama, kedua, ketiga, keempat, kelima, sebab pemiliknya bukan seorang pengumpat/pengharap dunia/sombong/ujub/hasud), malaikat pengawal berkata, ‘Aku malaikat penjaga rahmat belas-kasih. Berhenti! Tamparkan amal ini ke muka pemiliknya. Selama hidupnya, orang ini tidak pernah mengasihi orang lain, bahkan dia merasa senang jika melihat yang lainnya ditimpa musibah. Aku diperintahkan oleh Tuhanku agar tidak membiarkannya melewatiku.’","part":1,"page":145},{"id":146,"text":"Hari berikutnya, kembali malaikat Hafadhah naik ke langit tujuh, membawa amalan yang lebih baik dari yang lalu, berupa sedekah, puasa, shalat, jihad dan wara’. Suaranya menggelegar bagai petir menyambar-nyambar dan bercahaya bagai kilat. Sesampainya di langit tujuh, malaikat pengawal berkata, ‘Aku malaikat penjaga sum’at (tidak ingin terkenal). Sesungguhnya pemilik amal ini menginginkan kemasyhuran dalam setiap perkumpulan; menginginkan derajat tinggi di waktu berkumpul dengan kawan-kawan sebaya; ingin mendapatkan pengaruh dari para pemimpin. Aku diperintahkan oleh Tuhanku agar tidak membiarkannya melewatiku. Sebab, ibadah yang bukan karena Allah adalah riya’, dan Dia tidak menerima amal ibadah orang-orang ahli riya’.’ Kemudian malaikat Hafadhah kembali naik ke langit membawa amal dan ibadah seorang hamba berupa ibadah shalat, puasa, haji, umrah, akhlak mulia, pendiam, suka berdzikir kepada Allah, dengan diiringi para malaikat dari tujuh lapis langit, hingga terbukalah seluruh hijab menuju kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Dan para malaikat itu mengantarkan serta mempersaksikan padaNya akan amal sholih (yang dilakukan dengan) ikhlas karena Allah Ta’ala.","part":1,"page":146},{"id":147,"text":"Allah Subhaanahu wa Ta’ala kemudian berfirman, “Hai, Hafadhah! Malaikat Pencatat Amal HambaKu! Aku-lah yang Maha Mengetahui akan segala isi hatinya. Sesungguhnya dia beramal bukan untukku, tetapi diperuntukkan bagi selain Aku, bukan diniatkan dan diikhlaskan untuk-Ku. Aku adalah lebih Mengetahui daripada kalian. Aku laknat mereka yang telah menipu orang lain dan menipu kalian (para malaikat Hafadhah). Tetapi Aku tidaklah akan pernah tertipu olehnya. Aku-lah Yang Maha Mengetahui akan hal-hal yang ghaib; Aku Maha Mengetahui akan segala isi hatinya; yang samar tidaklah samar bagiKu; setiap yang tersembunyi tidaklah tersembunyi bagiKu; Pengetahuan-Ku atas yang telah terjadi sama dengan Pengetahuan-Ku atas sesuatu yang belum terjadi; Pengetahuan-Ku atas segala sesuatu yang telah lewat sama dengan Pengetahuan-Ku atas yang akan datang; Pengetahuan-Ku atas orang-orang terdahulu sama dengan Pengetahuan-Ku atas orang-orang kemudian. Aku lebih Mengetahui atas segala sesuatu yang samar dan terahasiakan. Bagaimana bisa hambaKu menipu dengan amalannya. Mereka dapat saja menipu sesama makhluk, tetapi Aku Maha Mengetahui akan hal-hal yang ghaib. Aku laknat dia!!’ Tujuh malaikat di antara tiga ribu malaikat berkata, ‘Ya, Tuhan! Dengan demikian, tetaplah laknatMu dan laknat kamu atasnya!’ Kemudian, semua yang berada di langit sama mengucapkan, ‘Tetaplah laknat Allah kepadanya dan laknat semua yang melaknat!!”","part":1,"page":147},{"id":148,"text":"Demi mendengar semua itu, Mu’adz lantas menangis tersedu-sedu, kemudian berkata, “Ya, Rasulallah! Bagaimana kita dapat selamat dari semua yang engkau sebutkan tadi?”\rJawab beliau shollallaahu ‘alayhi wa sallama, “Hai, Mu’adz! Ikutilah Nabimu dalam perkara agama!”\rAku (Mu’adz) berkata, “Engkau adalah Rasulullah, sedangkan aku hanyalah Mu’adz bin Jabal. Bagaimana aku dapat selamat dari bahaya itu?”\rBeliau shollallaahu ‘alayhi wa sallama bersabda, “Kamu benar, hai Mu’adz.\rApabila dalam amal perbuatanmu terdapat kekurangan, maka tahanlah lidahmu jangan sampai menjelek-jelekkan orang, terutama saudara-saudaramu sesama penganut ajaran Al-Qur’an. Janganlah kamu jelek-jelekkan mereka, sebab pada dirimu pun terdapat cela.\rJanganlah kamu sok suci dengan memandang hina saudara-saudaramu.\rJanganlah kamu perlihatkan amal perbuatanmu dengan tujuan agar diketahui oleh banyak orang.\rJanganlah kamu terlalu jauh memasuki urusan dunia sehingga membuat dirimu lupa akan perkara akhirat.\rJanganlah kamu mendoakan seseorang dengan ucapan yang berbeda dengan apa yang ada di hatimu.\rJanganlah kamu memandang agung akan dirimu terhadap manusia, maka akan putuslah bagimu segala kebaikan dunia dan akhirat.\rJanganlah kamu berlaku nista dalam majelismu sehingga orang-orang pergi menjauh karena keburukan perangaimu.\rJanganlah kamu suka mengungkit-ungkit kebajikan kepada manusia.","part":1,"page":148},{"id":149,"text":"Janganlah kamu merobek-robek perihal pribadi orang lain, niscaya dirimu kelak akan dirobek-robek pula oleh anjing-anjing Jahannam. Sebagaimana firman Allah Subhaanahu wa Ta’ala., ... dan (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah lembut.’ (QS. An-Nazi’at : 2).\rYakni, ia akan mengupas daging dari tulangmu.”\rAku (Mu’adz bin Jabal r.a.) bertanya, “Ya, Rasulallah! Lalu, siapakah orang yang sanggup menanggung penderitaan ini?”\rJawab beliau, “Hai, Mu’adz! Sesungguhnya apa yang aku sebutkan kepadamu tadi sangatlah mudah bagi orang yang diberi kemudahan oleh Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Yaitu, cukuplah kamu dengan jalan mencintai untuk orang lain apa-apa yang kamu cintai untuk dirimu sendiri, dan membenci untuk mereka apa yang kamu benci untuk dirimu sendiri. Dengan demikian, maka kamu dapat selamat.”\rKhalid bin Makdan rahimahullah meriwayatkan, “Mu’adz senantiasa membaca hadits di atas seperti dia selalu membaca kitab Al-Qur’an, dan mempelajari hadits tersebut sebagaimana mempelajari Al-Qur’an di dalam majelis”.\rHakam Ahmed ElChudrie dan 16 orang lainnya menyukai ini.\rLihat komentar sebelumnya\rHakam Ahmed ElChudrie\rsholluu 'alan nabi Muhammad..\r4 September · Suka · 1 orang · Hapus\rKorban Perang\rShollallooh 'alayhi wa 'alaa aalih\r4 September · Suka · 1 orang · Hapus\rImam Syufa'at\rAllaahumma sholli wa sallim 'alaa sayyidinaa Muhammad.","part":1,"page":149},{"id":150,"text":"Kang Hakam@ Kalo zaman skrg ada yg membaca, mempelajari, dan merenungi hadits sperti itu sbagaimana mempelajari Al-Qur'an sebagaimana diterangkan diatas, bisa2 (oleh aliran tertentu) dibilang bidengah / menyerupai syari'at. ^_^\r4 September · Suka · 1 orang · Hapus\rA Badai AbdAz\rhingga sekarang, saya pribadi baru bertemu satu orang yg bila diceritakan kisah hidup Rosululloh muhammad shollallohu 'alaihi wasallm, maka dia menagis sesenggukan, dia seorang mantan artis kade-i (perempuan) merubah drastis lifestyle dan carapandang thd islam setelah bermimpi bertemu dengan Nabi Musa 'alaihissalam, subhanalloh..\r4 September · Suka · 3 orang · Hapus\rA Badai AbdAz\rshollallohu 'alaihi wa 'alaa alihi\r4 September · Suka · 2 orang · Hapus\rImam Syufa'at\rHadits ini sering 'menghantui' saya. :')\r4 September · Suka · 3 orang · Hapus\rA Badai AbdAz\rmas Haydar Ali, tolong kirim ke inbox saya \"coretan\" hadits ini (yang masih text arab) makasih sebelumnya :)\r4 September · Suka · Hapus\rImam Syufa'at\rKang A Badai AbdAz : Maaf Kang, saya belum tuntas ngetik arabnya (jarinya blum lancar buat ketik arab). Insya Allaah, kalau udah saya inbok, sekalian nanti mohon diluruskan jika ada salah translete. :-)\r4 September · Suka · Hapus\rA Badai AbdAz\roke, maaf sudah merepotkan, barokallohu fiik...\r4 September · Suka · 1 orang · Hapus\rThayfoer Isa\rKang Haydar@ tLng jwb ini:\rkLo hrs mEnunggu ampe 100% steril dr virus hati lantas kpn kita bribadah ayoo ?\r4 September · Suka · 2 orang · Hapus\rHakam Ahmed ElChudrie","part":1,"page":150},{"id":151,"text":"itulah ahli sunnah wal jama'ah..\rBila ada org yg mengatakan bidengah, maka dialah yg tdk punya pedoman...\r4 September · Suka · 1 orang · Hapus\rImam Syufa'at\rKang Thayfoer Isa : Maaf, saya belum menangkap maksud pertanyaan njenengan dan keterkaitannya dengan saya. Bisa diperjelas? :-)\r4 September · Suka · Hapus\rHakam Ahmed ElChudrie\rkang haidar@ syariat tlah menyuruh Qt buat bribdah. Mau d terima atau tdk itu hak Alloh. Yg pnting Qt tlah skuat tenaga berusaha.\rSiapa tahu ada amal Qt yg d terima meski secuil, shg seluruh kesalahan Qt terampuni..\r4 September · Suka · 1 orang · Hapus\rThayfoer Isa\rMksd aNe: apa qta hrs mEnunggu hati bErsih sbLm bribadah gto ?\rKrn aNe tdk pErcaya hati bisa 100% bersih kLo bLm wusul.\r4 September · Suka · 1 orang · Hapus\rImam Syufa'at\rKang Hakam & Kang Thayfoer : Yang saya maksudkan dengan 'terhantui' di atas adalah lebih pada pertanyaan yang diajukan pada diri sendiri, seperti: apakah saya sudah berusaha menjaga diri dari riya', sudah berusaha untuk menjaga diri dari penyakit2 hati sebagaimana dijelaskan diatas?\rBukan berarti dalam proses beribadah harus menunggu 100% hati menjadi bersih, akan tetapi ada proses dialektis dan evaluatif yang kita upayakan secara sinergis antara ibadah yang bersifat dhohir dengan haal bathin.\r- mohon penginclongannya dari Akang2 yang ada -\r4 September · Suka · 1 orang · Hapus\rThayfoer Isa\rKang Haydar@ sorry,aNe ga'LEPEL bngt kLo hrs kalam soal ini.\rIni dunia milik senior2,aNe nyimak wae Kang.hee\rMonggO->>\r4 September · Suka · Hapus","part":1,"page":151},{"id":152,"text":"Hakam Ahmed ElChudrie\rkang haidar@ semua btuh proses dan thapan. Mungkin skarang riya tp bla d benahi trus insyAlloh bsa ikhlas. Itulah saran dr Syekh Ismail Zen al Yamani dlm fatwa ismail zen..\rYg trpenting berusha dan berusaha ke arah yg lbih baik..\r4 September · Suka · 2 orang · Hapus\rDody Sopyan Shaury\rKang Haydar ,, ijin copas yach biar kagak lupa,, syukron atas tanbih nya,, semoga Allah selalu memberikan kekuatan tuk senantiasa belajar menjadi pribadi yang ikhlas...^_^\r5 September · Suka · Hapus\rImam Syufa'at\rAamiin...\rUtk aturan copast, ngikut aturan Group aja. :)\rAllaahu yubaarik fiik...\r5 September · Suka · Hapus\rDAFTAR ISI\rKUMPULAN TANYA JAWAB KEAGAMAAN ala Error! Hyperlink reference not valid..\rDaftar Isi Dokumen\r423. TIPS : PATAHKAN BELENGGU HUTANG\rRaden Mas LeyehLeyeh > Daftar Isi Dokumen Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah - KTB (PISS-KTB)\r423. TIPS : PATAHKAN BELENGGU HUTANG\r•• Patahkan belenggu HUTANG ••\roleh Masaji Antoro pada 10 Agustus 2010 jam 8:23\r“Orang yang hidup dengan banyak masalah adalah orang yang wajar, orang hidup tanpa masalah adalah justru orang yang bermasalah.”\rPernyataan tersebut memang benar, namun tidak sepenuhnya benar. Karena orang hidup dengan terlalu banyak masalah adalah orang yang patut dikasihani. Salah satu permasalahan yang sangat dominan dalam hidup ini adalah masalah keuangan, lebih spesifik lagi adalah masalah hutang. Begitu rumitnya masalah hutang ini, sehingga sampai mati pun kita akan terus dikejar-kejar olehnya.","part":1,"page":152},{"id":153,"text":"Hidup di dunia modern nyaris berhimpit dengan utang. Bahkan, untuk sebagian orang, utang menjadi gaya hidup. Orang bisa dikatakan maju jika mampu berutang. Semakin banyak utang, semakin tinggi status sosialnya. Orang kian dimanja dengan utang. Sekaligus ditipu dan dijatuhkan dengan utang. Na’uzdubillah min dzalik!\rSeorang mukmin adalah manusia yang tidak tertutup kemungkinan tergiring dalam pola hidup seperti itu. Bisa banyak sebab yang menjadikan utang begitu dekat. Bahkan, menjadi incaran. Mungkin, masalah kemampuan ekonomi sehingga utang menjadi pilihan terakhir.\rMasalahnya, mampukah seorang mukmin mengendalikan utang dalam kematangan dirinya. Utang beredar dalam batasan sarana yang hanya sebagai salah satu pilihan. Bukan sebagai tujuan. Jika utang menjadi tujuan, ia akan mengendalikan diri seseorang sehingga terpuruk dalam jurang kehancuran.\rBetapa utang punya nilai bahaya yang lebih dahsyat daripada sebuah senjata yang mematikan. Bisa lebih ganas dari hewan buas mana pun. Di antara bahaya yang mengiringi belitan utang pada seseorang adalah:\r1. Membuat diri menjadi hina\rHarga diri seorang mukmin begitu tinggi. Tak seorang pun yang mampu merendahkannya. Karena, mukmin punya keterikatan dengan Dzat Yang Maha Tinggi dan Agung. Dan, seorang mukmin yang meninggal dunia demi mempertahankan kemuliaan itu, ganjarannya adalah surga.","part":1,"page":153},{"id":154,"text":"Namun, kemuliaan itu kadang memudar manakala ada cacat dalam diri seorang mukmin. Di antara cacat itu adalah ketidakberdayaan membayar utang. Saat itu juga, terselip dalam diri seorang mukmin itu perasaan rendah. Bahkan, hina. Bayang-bayang ketidakmampuan itu menjadikan dirinya tak lagi berdaya di hadapan orang lain. Terutama, orang yang memberi utang. Ia tak lagi mampu menangkis marah, celaan, bahkan gugatan hukum sekali pun.\r2. Mudah berdusta\rDusta adalah sesuatu yang tak mungkin dilakukan seorang mukmin. Rasulullah saw mengatakan seorang mukmin mungkin saja bermaksiat. Tapi, ia tak mungkin berdusta.\rLain halnya ketika utang sudah mengepung. Mau bayar tak ada uang. Mau menghindar terlanjur janji. Akhirnya, ada satu pilihan aman. Dan pilihan itu adalah berdusta. “Besok, ya!” Atau, “Oh iya. Saya lupa!” Itulah ungkapan-ungkapan yang kerap keluar tanpa lagi terkendali. Suatu saat, ucapan bohong itu menjadi biasa. Dan, orang-orang pun memberikan cap pada kita bukan hanya sebagai pengutang. Melainkan, juga sebagai pembohong. Nau’dzubillah!\rPernah para sahabat bertanya kenapa Rasulullah begitu banyak berdoa agar terhindar dari utang. Beliau saw bersabda, “Sesungguhnya jika seseorang terlilit utang ia akan berbicara lalu berdusta, dan berjanji lalu mengingkari.” (Mutafaq ‘alaih)\r3. Memutuskan hubungan silaturahim","part":1,"page":154},{"id":155,"text":"Seorang mukmin dengan mukmin lainnya memang seperti satu tubuh. Satu anggota tubuh sakit, yang lain pun ikut sakit. Tapi, ada satu hal yang membuat tubuh itu menjadi cerai berai. Tak ada satu hal yang paling rawan mampu menceraiberaikan keutuhan tubuh itu kecuali masalah uang. Dan di antara masalah uang itu adalah utang.\rTiba-tiba, seorang saudara menjadi asing dengan saudara lainnya disebabkan karena utang. Muncullah sesuatu yang sebelumnya tak mungkin ada. Ada rasa benci, marah, bahkan permusuhan. Terbanglah perasaan simpati, cinta, dan rindu layaknya seorang mukmin dengan saudara seakidahnya. Persaudaraan yang begitu sulit dan lama terbina, bisa terhapus hanya dengan satu masalah: utang.\r4. Terjebak tindak kriminal\rPada tingkat tertentu, utang mampu menjerumuskan seorang mukmin pada tindakan yang sama sekali di luar perkiraannya. Sama sekali tak pernah tersirat kalau ia akan tega melakukan tindakan yang lebih buruk. Mungkin, di sinilah setan menuai sukses atas langkah-langkahnya.\rOrang yang sudah dikendalikan utang tidak lagi merasa ragu melakukan tindak kriminal. Di antaranya, penipuan dan pencurian. Bayang-bayang hitam tentang utangnya menjadikan pandangan nuraninya menjadi keruh. Bahkan, gelap sama sekali. Tak ada satu tindakan yang lebih mendominasi dirinya kecuali bayar utang, dengan cara apa pun. Atau, tindakan yang tidak kalah parah: lari dari utang dengan cara apa pun.","part":1,"page":155},{"id":156,"text":"Pada tingkatan ini, seorang mukmin mengalami kemerosotan kualitas diri yang luar biasa. Kejujurannya hilang, kemuliaannya sebagai mukmin menguap entah kemana, cahaya imannya pun kian redup. Dan, kenikmatan hidup tak lagi terasa. Bumi Allah yang begitu luas terasa sempit dan menyesakkan.\r5. Meninggalkan beban kepada ahli waris\rAlangkah berat duka anggota keluarga yang ditinggal pergi ayah atau ibu selamanya. Mereka begitu kehilangan seorang yang amat dicintai. Bahkan, seseorang yang menjadi andalan ekonomi keluarga.\rPenderitaan pun kian berat manakala mereka tahu kalau almarhum mewariskan utang. Bagi mereka, tidak ada tawar menawar, kecuali membayar utang. Masalahnya, mampukah mereka membayar? Atau, utang menjadi warisan turunan.\r6. Tertunda masuk surga\rTernyata, bahaya utang tidak melulu dalam wilayah dunia. Di akhirat pun, para pengutang akan mendapat cela yang tidak mengenakkan. Rasulullah saw pernah menasihati para sahaba soal ini. Beliau bersabda,\r“Demi Tuhan yang jiwaku berada di tanganNya, seandainya seseorang terbunuh di jalan Allah, kemudian hidup lagi dan terbunuh lagi, kemudian hidup lagi dan terbunuh lagi sedangkan ada tanggungan utang padanya maka ia tidak akan masuk surga sampai melunasi utangnya.” (Nasai, Ath-Thabrani, Al-Hakim)\r===>>\rTips praktis 8 langkah terbebas dari lilitan hutang:","part":1,"page":156},{"id":157,"text":"1. Kalkulasikan Seluruh Hutang. Apakah Anda mengetahui jumlah total hutang Anda sekarang, berapa tingkat bunganya dan berapa lamawaktu yang Anda butuhkan untuk melunasinya? Sebagian besar orang tidak tahu. Kumpulkan semua catatan tagihan bulanan dan buatlah daftar. Dengan begitu, Anda akan mendapatkan gambaran menyeluruh tentang kewajiban Anda dala membayar hutang.\r2. Rem Nafsu Belanja. Untuk melunasi utang, terlebih dahulu Anda perlu tahu, kemana saja larinya uang Anda. Evaluasilah money diary Anda. Mungkin, Anda akan terkejut ketika menyadari bahwa selama ini Anda membelanjakan uang lebih banyak dari yang Anda bayangkan da untuk hal yang tidak perlu. Setelah itu, tulis setiap rupiah yang akan Anda belanjakan bulan depan, sehingga Anda tidak mengulang pola belanja gila-gilaan.\r3. Negosiasikan Hutang. Ajukan permohonan penurunan suku bunga kredit pinjaman kepada pihak bank. Ceritakan kondisi keuangan Anda yang sedang sulit. Setiap bank biasanya memiliki beberapa alternatif cara pembayaran pinjaman, yang bisa Anda pilih sesuai dengan kondisi keuangan Anda. Cermati pola perubahan tingkat suku bunga. Jangan terjebak pada pola pinjaman yang awalnya terlihat ‘indah’, namun ternyata bunganya bakal meningkat di bulan-bulan berikutnya. Jika pihak bank keberatan atas permohonan Anda, pertimbangkan untuk memindahkan kredit ke bank lain yang memiliki suku bunga lebih rendah.","part":1,"page":157},{"id":158,"text":"4. Membagi Penghasilan Bulanan. 35%: sewa atau cicilan kredit rumah (termasuk pajak, asuransi dan perawatan); 15%: transportasi (termasuk bensin, asuransi dan cicilan kredit kendaraan); 10%: tabungan harian; 15%: membayar utang lain (termasuk kartu kredit); 25% : hari depan Anda (investasi). Namun demikian, formula persentase ini fleksibel diterapkan sesuai dengan kondisi keuangan masing-masing keluarga.\r5. Prioritaskan Pelunasan. Pertama: utang mendesak, yaitu yang bernilai tinggi, berbunga tinggi dan penting untuk aktivitas sehari-hari, misalnya cicilan kredit, rumah atau mobil -yang jika tidak dilunasi mungkin akan disita, sehingga mengganggu produktifitas Anda. Kedua: Hutang yang menyangkut kepentingan keluarga, misalnya pinjaman untuk sekolah anak -yang jika tidak dibayar, mungkin akan membuat anak Anda tercoret dari daftar murid. Ketiga: Hutang kartu kredit. Jika punya lebih dari satu, prioritaskan yang berjumlah dan berbunga tinggi dulu.\r6. Cari Uang Lebih Banyak. Kapan terakhir kali Anda mengevaluasi pendapatan dari pekerjaan yang sekarang? jika Anda seorang pengusaha, kapan terakhir kali keuntungan Anda meningkat? Tak ada salahnya menaikkan harga dagangan hingga 10%. Biasanya, hal ini masih bisa diterima pelanggan. untuk menambah uang cair, lihat juga barang-barang milik Anda. Mungkin ada yang berharga untuk dijual. Adakan garage sale di rumah atau bergabunglah dengan kegiatan serupayang terorganisasi. Kalau sukses, tak mustahil Anda pulang mengantongi, uang lebih dari sejuta rupiah.","part":1,"page":158},{"id":159,"text":"7. Tempuh Pilihan Tersulit. Jika 6 langkah di atas belum cukup, mungkin sudah waktunya Anda menjual mobil mewah dan menggantinya dengan yang lebih murah (baik harga maupun biaya operasionalnya). Atau, pindah ke rumah yang harga belinya atau sewanya lebih murah. Bahkan, apa boleh buat, mungkin Anda harus memindahkan sekolah anak ke sekolah yang lebih murah.\r8. Isi Ulang Kebutuhan. Ketika dana darurat sudah terpenuhi, Anda harus segera mulai berinvestasi. Jika Anda bisa menyisihkan Rp 10.000,- per hari dan anggaplah bunga tetap investasi adalah 8% per tahun. Anda akan punya Rp 57 juta dalam 10 tahun atau 180 juta dalam 20 tahun. Jika investasi ini tidak Anda utak-atik, dalam 30 tahun Anda sudah mengumpulkan setengah milyar rupiah. Sudah terbebas hutang, hidup Anda pun makin mapan. Ini rumusnya: Tahun I: investasi awal + (investasi awal+bunga) = Rp10.000 x 365 hari + (Rp10.000 x 365 x 8%) = Rp3.942.000, Tahun II: Hasil investasi tahun pertama + (hasil investasi tahun pertama + Investasi tahun kedua) x bunga) = Rp3.942.000 + (Rp3.942.000 + (10.000 x 365) x 8%) = Rp 8.199.360. dan seterusnya.\rPOJOK “PESAN”™ (PEtuah Solusi KeuangAN) EUREKA\rUtang berkepanjangan disebabkan oleh banyak hal dan terjadi karena tidak ditangani dengan bijak. Sebelum Anda terlilit olehnya, kenali berbagai tanda-tanda yang mungkin membawa Anda dalam kesulitan.\rMulailah untuk merubah kebiasaan buruk Anda berkenaan dengan keuangan, khususnya utang. Jalani hidup secara sederhana harus menjadi moto keluarga.","part":1,"page":159},{"id":160,"text":"Sesuaikan pembayaran cicilan dengan penghasilan bersih yang Anda dapatkan setiap bulannya. Jangan melebihi dari 30% dari penghasilan bersih. Inilah ukuran umum yang perlu diperhatikan.\rBila Anda terlilit utang berkepanjangan, coba lakukan langkah-langkah manajemen utang.\rSaran kami, utamakan membayar utang dengan bunga yang tertinggi terlebih dahulu. Bila dirasa kondisi keuangan sangat sulit, pertimbangkan untuk melikuidasi beberapa aset yang Anda miliki.\rError! Hyperlink reference not valid.\r>>> The End\rTubagus Abu Suja dan 8 orang lainnya menyukai ini.\rLihat komentar sebelumnya\rTubagus Abu Suja\rthanks...izin copy..\r10 September · Suka · Hapus\rUdel Laki\rsyukron ilmu nya, ALLOHUMMA INNA NA'UDZU BIKA MIN GHOLABATID DAEN AMIN\r10 September · Suka · Hapus\rAbdurrahman Alif Sanjaya\ri like it...\rUdel#amin,..\r10 September · Suka · Hapus\rTiton Bejo\rHati2 dgn riba..dosa besar yg sudah biasa terjadi d masyarakat,naudzubillah..\r10 September · Suka · Hapus\rEmka Burhani\rTerakhir adalah SODAQOH. Karena sodaqoh adalah kunci menuju kekayaan. Makin banyak sedekah, makin terbuka pintu rejeki. Insya Allah...\rSedekah ndak perlu ikhlas kok. Yg penting banyak. hehehehehehe...\r25 September · Suka · Hapus\rDAFTAR ISI\rKUMPULAN TANYA JAWAB KEAGAMAAN ala Error! Hyperlink reference not valid..\rDaftar Isi Dokumen\r428. MAKALAH: Memfungsikan SDM menuju kesadaran Tauhid\rNeil Elmuna > Daftar Isi Dokumen Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah - KTB (PISS-KTB)\r428. MAKALAH: Memfungsikan SDM menuju kesadaran Tauhid\rMualimin Ali >>","part":1,"page":160},{"id":161,"text":"Assalamualaikum wr wb,\rKuwalitas jiwa amat bergantung pada kualitas akal dan kesadaran,\rkesadaran dimaksud bukan sekedar melek akan tetapi berkemampuan memahami dan merasakan adanya interaksi.\rkalau akal dan kesadaran baik dan sehat maka jiwapun sehat, begitupun sebaliknya.\rMaka kesimpulannya, jiwa seseorang amat bergantung pada akal dan kesadaran. Dan akal, serta kesadaran seseorang tidaklah statis melainkan bertingkat-tingkat seiring dengan kesadarannya.\rkualitas jiwa ada 4 tingkatan : 1. Kesadaran Indrawi, 2. Kesadaran Rasional atau Ilmiah. 3. Kesadaran spiritual dan 4. Kesadaran tauhid. Dimana masing-masing tingkatan adalah menunjukkan pula kesadaran dan kualitas jiwa seseorang.\r~>>> Kesadaran Indrawi adalah : Kesadaran terendah bagi seseorang, yang berfungsi ketika berinteraksi dengan lingkungannya, karena kesadaran mewakili jiwa maka kesadaran indrawi juga menggambarkan kualitas jiwa maka kesadaran indrawi juga menggambarkan kualitas jiwa terrendah. Dimana jiwa mampu berinteraksi dengan lingkungannya melalui panca indra yang cenderung materialis.\r~>>> Kesadaran rasional / ilmiyah : Seseorang yang banyak pengalaman, akan berusaha memahami realitas kehidupan dengan mengeksplorasi lebih jauh daripada bertumpu pada panca indra, dan akan lebih banyak ambil pelajaran dari pengalaman orang lain. Bahkan akan menyimpulkan dari berbagai penelitian. Khasanah menghadapi berbagai pengalaman hidup inilah yang kemudian disebut ilmu pengetahuan.","part":1,"page":161},{"id":162,"text":"Ia dikembangkan berdasar rasionalitas persoalan kebutuhan hidup manusia. Maka orang yang menggunakan berbagai khasanah keilmuan untuk memahami realitas hidupnya ini telah mencapai kesadaran rasional alias ilmiah. “Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” (Al Ankabut 43), dan Ali Imran 190, 191, Ar Ra’at 19, Al Ankabut 35, dll.\r~>>> Kesadaran spiritual : Kesadaran Tingkat ini pemahamannya mulai bergeser dari rasionalitas menuju pemahaman yang lebih mendalam. Ia melihat adanya realitas tidak teramati oleh ilmu empiric dan pendekatan rasional. Sehingga rasionalnya bergeser bertumpu pada “RASA”. Rasa kekaguman yang mendalam terhadap realitas yang tidak diduga-duganya.\rIa melihat dan merasakan suatu yang Maha Perkasa dibalik realitas yang dieksplorasinya, ia bertemu dengan sebuah Kekuasan yang tiada terperikan, yang mengatur, mengendalikan seluruh semesta dengan kecerdasan yang Maha luar biasa, dan ia melihat semesta ini sebuah Maha Karya yang diciptakan oleh yang Maha Pencipta. “Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?.” (Al Mulk 03), “Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadi (susunan tubuhmu), seimbang.” (Al Infitar 07), dan An Nahl 12, Al Haj 46, Al Ankabut 63, Al Mukmin 67 dll.","part":1,"page":162},{"id":163,"text":"~>>> Kesadaran Tauhid : Inilah kesadaran tingkat tertinggi manusia, kesadaran ini didapat dari proses kesadaran spiritual dan membutuhkan cukup waktu untuk mencapainya. Cirinya adalah menyatunya seluruh pemahaman menjadi Tauhidullah, alias mengesakan Allah semata melalui seluruh sikap dan perbuatannya. Yang dalam islam disebut muslimun.\rKesadaran tauhid muncul dari sebuah surprice dari perjalanan panjang dalam pencarian Tuhannya yang tidak kenal lelah, kemanapun kita menghadap selalu ketemu dengan Allah.\r“Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap disitulah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.” (Al Baqarah 115),\r“Kepunyaan Allah-lah apa yang dilangit dan apa yang dibumi, dan adalah Allah Maha Meliputi segala sesuatu.” (An Nisa’ 126).\rBetapa Allah meliputi segala sesuatu, kemanapun kita menghadap disitulah wajah Allah, dengan benda atau dengan apapun kita berinteraksi disitu juga ada Allah, sedang menghadapi apapun kita juga berhadapan dengan Allah, bahkan Allah hadir disekujur tubuh kita, mulai denyut jantung, tarikan nafas, geliat otot, percikan sinyal-sinyal listrik syaraf dan otak dll. Allah hadir diseluruh penjuru sisi kehidupan.\rKita tidak bisa membayangkan jika Allah tidak hadir pada satu sisi saja walau sekecil apapun dalam kehidupan kita, maka akan menjadi awal keamburadulan kehidupan dan kengerian amat sangat tak terperikan.","part":1,"page":163},{"id":164,"text":"Allah berfirman “Allah tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (mahluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur, kepunyaan-Nya apa yang ada dilangit dan di bumi”.\rAllah selalu dalam kesibukan mengurus mahluk-Nya “Semua yang ada dilangit dan dibumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.” (Ar Rahman 29). Apakah anda masih ada keberanian untuk berbuat sesuatu yang tidak disukai Allah?.\rSandra Al G dan 7 orang lainnya menyukai ini.\rAbul Hasbullah Al-ghozali\rini yg aku tunggu\"\rmakasih bah yai\rKamis pukul 8:06 · Suka · Hapus\rDAFTAR ISI\rKUMPULAN TANYA JAWAB KEAGAMAAN ala Error! Hyperlink reference not valid..\rDaftar Isi Dokumen\r440. MAKALAH : Problematika dan Human Error\rJohaeri Irhas Nyongker > Daftar Isi Dokumen Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah - KTB (PISS-KTB)\r440. MAKALAH : Problematika dan Human Error\rAl-quran telah menjelaskan kelebihan dan kesempurnaan manusia, bahkan kekurangan manusia yang lebih hina dari hewan. Manusia memiliki beberapa potensi besar untuk mengembangkan dirinya sendiri menjadi khalifah di muka bumi ini, tetapi pertanyaan mendasar yaitu apa manusia itu?Dan apa problematika jiwanya?","part":1,"page":164},{"id":165,"text":"Mahmud Abbas Al-Uqqad dalam Almajmû’ah al-kâmilahnya jilid 5 hlm. 80 menyebutkan bahwa manusia adalah hewan yang berbicara, hewan madani dengan tabiatnya, roh tinggi yang jatuh ke bumi dari langit, hewan yang luhur. Definisi tersebut menurutnya diantara definisi-definis yang masyhur dan universal karena universal dari segi keistimewaan akalnya, universal dari segi hubungannya dengan sosial, melihat definisi manusia dengan sifat ini kepada kisah kesalahan yang terjadi pada Adam ketika memakan dari sebagian pohon pengetahuan sebab disesatkan oleh syaitan, melihat kepada runtutan manusia di antara macam-macam hidup menurut madzhab perkembangan (madzhab al-tathawwur). Tetapi dalam coretan ini tidak akan di paparkan pendapat para pemikir tentang manusia melalui buku-bukunya yang diterjemahkan dalam bahasa arab seperti buku\r(ستاس) مصير الإنسان الغربي, (دونوي) ألضمير الإنساني, (نيقولا بردياتيق) مصير الإنسان, (أندريه مالروم) قدر الإنسان dan lain- lain.","part":1,"page":165},{"id":166,"text":"Unsur yang terkandung dalam manusia ada dua, membangun dan merusak, kedua unsur ini pasti terjadi dalam diri manusia disadari ataupun tidak. Manusia berakal sehat tidak akan membuat dirinya rusak bahkan binasa dari muka bumi ini, oleh karena itu, problematika jiwa manusia yang mendasar berasal dari diri sendiri, baik dalam merespon sebuah kehidupan pribadi maupun hubungan kehidupan pribadi dengan orang lain. Karena sepintar apapun seseorang, maka tidak akan terlepas dari problematika hidup, sehingga dalam dirinya mempunyai beberapa pengalaman berharga yang bisa dijadikan acuan atau nilai tersendiri untuk menghadapi kehidupan berikutnya. Penulis yakin setiap orang mempunyai jawaban masing-masing dari pertanyaan kedua, oleh karena itu, perlu dikemukakan secara global jawabannya melalui coretan ini yang membuat pembaca mengerutkan kening untuk memahami makna dari problematika yang dituangkan secara global, diantara problematika jiwa manusia yaitu ketakutannya menghadapi kematian dan terpisah dari dunia serta orang-orang tercinta, merasa sia-sia dan tidak ada dari manifestasi hidup, merasa terisolasi di muka bumi, kelemahan manusia untuk menghadapi suka dan duka, takut lapar dan hilangnya rizki, was-was yang mengguncang jiwa manusia, iri dan dengki yang mengakibatkan permusuhan dan perpecahan, gelisah jiwa dan pengaruh-pengaruhnya yang merusak, egoisme,sombong dan mengikuti kedzaliman dan tindak kesewenang-wenangan, sifat ingkar dan perpecahan manusia, putus asa dan patah semangat, hilangnya kejujuran","part":1,"page":166},{"id":167,"text":"dan keikhlasan, terburu-buru dan tidak sabar.\rSetiap manusia mempunyai mindset sendiri dalam menghadapi problematika melalui sifat, konsep dan tataran aplikatif masing-masing, senantiasa bergumul dan berinteraksi demi terciptanya masyarakat yang berpotensi dan melangkah lebih maju dalam strata kehidupannya. Disinilah manusia tertantang untuk memahami hidup sebaik-baiknya. Good luck!!!\r(Tidak ada istilah gagal, yang ada adalah belajar. Kalau kita tidak mendapat pelajaran dari kegagalan itulah kegagalan yang sesungguhnya)","part":1,"page":167},{"id":168,"text":"(function(){/* * FB Chat Sidebar Disabler v1.8-ffbuild1 * Copyright (C) 2011 VittGam.net. All rights reserved. * * This work is licensed under a Creative Commons * Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License * Error! Hyperlink reference not valid. * * UNLESS OTHERWISE MUTUALLY AGREED BY THE PARTIES IN WRITING, * LICENSOR OFFERS THE WORK AS-IS AND MAKES NO REPRESENTATIONS * OR WARRANTIES OF ANY KIND CONCERNING THE WORK, EXPRESS, IMPLIED, * STATUTORY OR OTHERWISE, INCLUDING, WITHOUT LIMITATION, WARRANTIES * OF TITLE, MERCHANTIBILITY, FITNESS FOR A PARTICULAR PURPOSE, * NONINFRINGEMENT, OR THE ABSENCE OF LATENT OR OTHER DEFECTS, * ACCURACY, OR THE PRESENCE OF ABSENCE OF ERRORS, WHETHER OR NOT * DISCOVERABLE. SOME JURISDICTIONS DO NOT ALLOW THE EXCLUSION OF * IMPLIED WARRANTIES, SO SUCH EXCLUSION MAY NOT APPLY TO YOU. * EXCEPT TO THE EXTENT REQUIRED BY APPLICABLE LAW, IN NO EVENT * WILL LICENSOR BE LIABLE TO YOU ON ANY LEGAL THEORY FOR ANY SPECIAL, * INCIDENTAL, CONSEQUENTIAL, PUNITIVE OR EXEMPLARY DAMAGES ARISING * OUT OF THIS LICENSE OR THE USE OF THE WORK, EVEN IF LICENSOR HAS * BEEN ADVISED OF THE POSSIBILITY OF SUCH DAMAGES. * * Changelog: * * Version 1.8-ffbuild1 (2011/08/05): * - Fixed empty list in Firefox when searching in buddy list. * * Version 1.8 (2011/08/05): * - The script doesn't run anymore if FB didn't enable the * sidebar to the user. * - Added version number in buddy list title, shown on mouse over. * - Changed license to CC BY-NC-ND 3.0. * - Fixed disappearing contacts","part":1,"page":168},{"id":169,"text":"after some time. * - Fixed FB beta changes. * - Fixed some minor issues. * * Version 1.7 (2011/07/31): * - Added manual buddy list refresh option. * - Added restartless feature in Firefox wrapper. * - Fixed long names not showing when contacts are typing. * - Fixed popped out chat closing after some seconds. * - Fixed FB rendering function that made buddy list always * showing \"Loading...\" in some cases. * - Fixed empty list when searching in buddy list. * - Fixed some minor issues. * * Version 1.6 (2011/07/28): * - Fixed auto-like, now it runs correctly only on first run * and doesn't forbid users to unlike my fanpage anymore. * Sorry users it was my mistake! :( * - Fixed FB comparing function that made buddy list always * showing \"Loading...\" in some cases. * - Fixed buddy list scrolling bug. * - Fixed some minor issues. * * Version 1.5 (2011/07/27): * - Fixed buddy list not showing or always showing \"Loading...\". * - Fixed pollution of FB notes creation/editing. * * Version 1.4 (2011/07/26): * - Added Bulgarian localization, thanks to Petar Stani. * - Added link to contact profile in chat tab titlebar. * - Fixed some issues with old-style chat tabs. * - Fixed some minor issues. * * Version 1.3 (2011/07/25): * - Added old-style chat tabs. * * Version 1.2 (2011/07/25): * - Added Opera support. * - Added Changelog. * - Fixed FB latest changes. * - Fixed loading bug. * * Version 1.1 (2011/07/24): * - Fixed localization in English and Italian * - Now works in Chrome and Firefox 3.6.17 - 5.0 * *","part":1,"page":169},{"id":170,"text":"Version 1.0: * - First public release. * */ (function(){ if (!(/^https?:\\/\\/.*\\.facebook\\.com\\/.*$/.test(window.location.href))) { return; } if (window.top!==window.self) { return; } var fbsidebardisabler=function(){ var localstore; if (typeof window.fbsidebardisabler_localstore!=\"undefined\") { localstore=window.fbsidebardisabler_localstore; window.fbsidebardisabler_localstore=null; delete window.fbsidebardisabler_localstore; } if (!localstore) { localstore={ getItem:function(itemName,callback){ try { callback(window.localStorage.getItem(itemName)); return; } catch (e) {} callback(null); }, setItem:function(itemName,itemValue){ try { window.localStorage.setItem(itemName,itemValue); } catch (e) {} }, is_fbsidebardisabler_localstore:false }; } var workerfunc=function(){ if ((!window.Env) || (!window.CSS) || (!window.Chat) || (!window.ChatSidebar) || (!window.ChatConfig) || (!window.ChatBuddyList) || (!window.BuddyListNub) || (!window.ChatDisplayInterim) || (!window.chatDisplay) || (!window.ChatTab) || (!window.presence) || (!window.AvailableList) || (!window.Dock) || (!window.Toggler) || (!window.Selector) || (!Function.prototype.defer)) { window.setTimeout(workerfunc,100); return; } if (presence.poppedOut && (/^https?:\\/\\/.*\\.facebook\\.com\\/presence\\/popout\\.php.*$/.test(window.location.href))) { window.setInterval(function(){ if (!presence.poppedOut) { presence.popout(); presence.poppedOut=true; } },10); return; } if (!ChatConfig.get('sidebar')) { return; } var","part":1,"page":170},{"id":171,"text":"currlocale=window.location.href.match(/[?&]locale=([a-z]{2})/); if (currlocale) { currlocale=currlocale[1]; } else { currlocale=Env.locale.substr(0,2); } if (currlocale==\"it\") { var lang={ \"chat\": \"Chat\", \"friendlists\": \"Liste di amici\", \"friendlists_show\": \"Mostra in chat le seguenti liste:\", \"friendlists_none\": \"Nessuna lista di amici disponibile.\", \"friendlists_new\": \"Crea una nuova lista:\", \"friendlists_typename\": \"Scrivi il nome di una lista\", \"options\": \"Opzioni\", \"options_offline\": \"Passa offline\", \"options_reorder\": \"Riordina le liste\", \"options_popout\": \"Apri chat in finestra separata\", \"options_updatelist\": \"Aggiorna la lista manualmente\", \"options_sound\": \"Attiva suono per i nuovi messaggi\", \"options_sticky\": \"Tieni aperta la finestra degli amici online\", \"options_compact\": \"Mostra solo i nomi degli amici online\", \"options_oldchatstyle\": \"Utilizza il vecchio stile della chat\", \"loading\": \"Caricamento in corso...\", \"remove\": \"Rimuovi\", \"searchfieldtext\": \"Amici in Chat\", \"errortext\": \"Si è verificato un problema. Stiamo cercando di risolverlo il prima possibile. Prova più tardi.\", \"save_error\": \"Impossibile salvare le impostazioni per la Chat\" }; } else if (currlocale==\"bg\") { var lang={ \"chat\": \"???\", \"friendlists\": \"?????? ? ????????\", \"friendlists_show\": \"?????? ???? ??????? ? ????:\", \"friendlists_none\": \"???? ?????? ? ????????.\", \"friendlists_new\": \"?????? ??? ??????:\", \"friendlists_typename\": \"?????? ??? ?? ???????\", \"options\": \"?????????\", \"options_offline\": \"???? ????? ?????\",","part":1,"page":171},{"id":172,"text":"\"options_reorder\": \"??????????? ?????????\", \"options_popout\": \"?????? ????\", \"options_updatelist\": \"Manually Update Buddy List\", \"options_sound\": \"??????? ???? ??? ???? ?????????\", \"options_sticky\": \"???? ????????? ? ?????????? ?? ????? ???????\", \"options_compact\": \"???????? ???? ??????? ?? ?????????? ?? ?????\", \"options_oldchatstyle\": \"????????? ?????? ??? ???\", \"loading\": \"?????????...\", \"remove\": \"??????\", \"searchfieldtext\": \"???????? ? ????\", \"errortext\": \"Something went wrong. We're working on getting this fixed as soon as we can. You may be able to try again.\", \"save_error\": \"Unable to save your Chat settings\" }; } else { var lang={ \"chat\": \"Chat\", \"friendlists\": \"Friend Lists\", \"friendlists_show\": \"Display these lists in Chat:\", \"friendlists_none\": \"No friend lists available.\", \"friendlists_new\": \"Create a new list:\", \"friendlists_typename\": \"Type a list name\", \"options\": \"Options\", \"options_offline\": \"Go offline\", \"options_reorder\": \"Re-order Lists\", \"options_popout\": \"Pop out Chat\", \"options_updatelist\": \"Manually Update Buddy List\", \"options_sound\": \"Play Sound for New Messages\", \"options_sticky\": \"Keep Online Friends Window Open\", \"options_compact\": \"Show Only Names in Online Friends\", \"options_oldchatstyle\": \"Use Old-Style Chat\", \"loading\": \"Loading...\", \"remove\": \"Remove\", \"searchfieldtext\": \"Friends on Chat\", \"errortext\": \"Something went wrong. We're working on getting this fixed as soon as we can. You may be able to try again.\", \"save_error\": \"Unable to save your Chat settings\" }; }","part":1,"page":172},{"id":173,"text":"var chatstyle=document.createElement('style'); chatstyle.setAttribute('type','text/css'); csstext='#Daftar Isi Dokumen .hidden_elem.fbChatTypeahead{display:block!important}.fbDockWrapper{z-index:1000!important}.fbChatBuddyListDropdown{display:inline-block}.fbChatBuddyListDropdownButton{height:16px}#sidebardisabler_elm_36 i{background-image:url(Error! Hyperlink reference not valid.);background-repeat:no-repeat;background-position:-91px -152px;display:inline-block;width:8px;height:14px;margin-top:2px;margin-right:5px;vertical-align:top}#sidebardisabler_elm_36 .selected i{background-position:-83px -152px}#sidebardisabler_elm_38 i{background-image:url(Error! Hyperlink reference not valid.);background-repeat:no-repeat;background-position:-68px -245px;display:inline-block;width:10px;height:14px;margin-top:2px;margin-right:5px;vertical-align:top}#sidebardisabler_elm_38 .selected i{background-position:-58px -245px}.bb .fbDockChatBuddyListNub.openToggler{z-index:100}.bb.oldChat .fbDockChatBuddyListNub.openToggler .fbNubButton,.bb.oldChat .fbDockChatTab.openToggler .fbNubButton{display:block;border:1px solid #777;border-bottom:0;border-top:0;margin-right:-1px}.bb.oldChat .fbDockChatBuddyListNub.openToggler .fbNubButton .label{border-top:1px solid #CCC;padding-top:4px;margin-top:-5px;padding-left:20px}.bb.oldChat .fbDockChatTab.openToggler .fbChatTab{border-top:1px solid #CCC;padding-top:4px;margin-top:-5px}.bb.oldChat .fbNubFlyoutTitlebar{border-color:#254588}.bb.oldChat .fbNubFlyoutHeader,.bb.oldChat","part":1,"page":173},{"id":174,"text":".fbNubFlyoutBody,.bb.oldChat .fbNubFlyoutFooter{border-color:#777}.bb.oldChat .fbDockChatBuddyListNub .fbNubFlyout{bottom:25px;width:201px;left:0}.bb.oldChat .fbDockChatTab .fbDockChatTabFlyout{bottom:25px;width:260px;margin-right:-1px;border-bottom:1px solid #777;-webkit-box-shadow:0 1px 1px #777}.bb.oldChat .fbDockChatTab .uiTooltip .right{background-position:left bottom!important}.bb.oldChat .fbDockChatTab.openToggler{width:160px}.bb.oldChat .fbDockChatBuddyListNub{width:200px}.bb.oldChat .rNubContainer .fbNub{margin-left:0}.bb.oldChat .fbNubButton{border-right:none;background:#F4F4F4;background:-moz-linear-gradient(top,#F5F6F6,#DEDDDD);background:-webkit-gradient(linear,left top,left bottom,from(#F5F6F6),to(#DEDDDD));background:-o-linear-gradient(top,#F5F6F6,#DEDDDD);filter:progid:DXImageTransform.Microsoft.Gradient(StartColorStr=\"#F5F6F6\",EndColorStr=\"#DEDDDD\",GradientType=0);-ms-filter:progid:DXImageTransform.Microsoft.Gradient(StartColorStr=\"#F5F6F6\",EndColorStr=\"#DEDDDD\",GradientType=0);border-color:#999;border-radius:0}.bb.oldChat .fbNubButton:hover,.bb.oldChat .openToggler .fbNubButton{background:white}.bb.oldChat .fbDock{border-right:1px solid #999}.bb.oldChat .fbDockChatTab.highlight .fbNubButton,.bb.oldChat .fbDockChatTab.highlight:hover .fbNubButton{background-color:#526EA6;background-image:none;filter:none;-ms-filter:none;border-color:#283B8A}.bb .fbDockChatTab .titlebarText a{color:white}.bb .fbDockChatTab .titlebarText a:hover{text-decoration:none}.bb.oldChat .fbDockChatTab","part":1,"page":174},{"id":175,"text":".titlebarText a:hover{text-decoration:underline}.bb.oldChat .fbDockChatTab.openToggler.typing .fbNubButton .fbChatUserTab .wrapWrapper{max-width:113px}.bb.oldChat .fbDockChatTab.openToggler .funhouse{margin-left:0}#sidebardisabler_elm_33{position:static}#sidebardisabler_elm_33 ul{border:none;padding:0}#sidebardisabler_elm_33 li img{margin-top:1px}#sidebardisabler_elm_33 li .text{line-height:25px}.fbNubFlyoutTitlebar .versiontext{display:none}.fbNubFlyoutTitlebar:hover .versiontext{display:inline}.fbChatBuddyListPanel{background-color:#EDEDED;border-bottom:1px solid gray}.fbChatBuddyListDropdown .fbChatBuddyListDropdownButton,.fbChatBuddyListDropdown .fbChatBuddyListDropdownButton:active,.fbChatBuddyListDropdown .fbChatBuddyListDropdownButton:focus,.fbChatBuddyListDropdown .fbChatBuddyListDropdownButton:hover{background-image:none !important;border:0 !important;border-right:1px solid #999 !important;padding-right:6px !important}.fbChatBuddyListFriendListsDropdown .nameInput{width:100%}.fbChatBuddyListOptionsDropdown .uiMenuItem .itemLabel{font-weight:normal;white-space:normal;width:140px}.fbChatBuddyListOptionsDropdown .uiMenuItem .img{display:inline-block;height:11px;margin:0 5px 0 -16px;width:11px}.fbChatBuddyListOptionsDropdown .offline .img{background-image:url(Error! Hyperlink reference not valid.);background-repeat:no-repeat;background-position:-111px -307px}.fbChatBuddyListOptionsDropdown .reorder .img{background-image:url(Error! Hyperlink reference not","part":1,"page":175},{"id":176,"text":"valid.);background-repeat:no-repeat;background-position:-88px -307px}.fbChatBuddyListOptionsDropdown .popout .img{background-image:url(Error! Hyperlink reference not valid.);background-repeat:no-repeat;background-position:-65px -307px}.fbChatBuddyListOptionsDropdown .async_saving a,.fbChatBuddyListOptionsDropdown .async_saving a:active,.fbChatBuddyListOptionsDropdown .async_saving a:focus,.fbChatBuddyListOptionsDropdown .async_saving a:hover{background-image:url(Error! Hyperlink reference not valid.);background-position:1px 5px;background-repeat:no-repeat}'; if (chatstyle.styleSheet) { chatstyle.styleSheet.cssText=csstext; } else { chatstyle.innerHTML=csstext; } (document.body||document.head||document.documentElement).appendChild(chatstyle); var oldchatstyle=true; var fbdockwrapper=document.getElementsByClassName('fbDockWrapper'); if (fbdockwrapper && fbdockwrapper[0]) { fbdockwrapper=fbdockwrapper[0]; } localstore.getItem(\"fbsidebardisabler_oldchatstyle\",function(itemValue){ oldchatstyle=(itemValue==\"0\" ? false : true); localstore.setItem(\"fbsidebardisabler_oldchatstyle\",(oldchatstyle ? \"1\" : \"0\")); if (fbdockwrapper) { CSS.conditionClass(fbdockwrapper,'oldChat',oldchatstyle); } }); ChatSidebar.disable(); ChatSidebar.isEnabled=function(){return false}; var oldChatConfigGet=ChatConfig.get; ChatConfig.get=function(arg){ if (arg=='sidebar') { return 0; } if (arg=='sidebar.minimum_width') { return 999999; } return oldChatConfigGet.apply(this,arguments); }; var tabProfileLinkAdder=function(that){ var","part":1,"page":176},{"id":177,"text":"anchor=DOM.create('a'); DOM.setContent(anchor,that.name); anchor.href=that.getProfileURI(); anchor.onclick=function(){ if (!oldchatstyle) { return false; } }; var titlebartext=DOM.find(that.chatWrapper,'.titlebarText'); DOM.setContent(titlebartext,anchor); }; var oldChatTabLoadData=ChatTab.prototype.loadData; ChatTab.prototype.loadData=function(){ var retval=oldChatTabLoadData.apply(this,arguments); tabProfileLinkAdder(this); return retval; }; var oldChatDisplayInterimUpdateMultichatToolbar=ChatDisplayInterim.prototype.updateMultichatToolbar; ChatDisplayInterim.prototype.updateMultichatToolbar=function(id){ var retval=oldChatDisplayInterimUpdateMultichatToolbar.apply(this,arguments); tabProfileLinkAdder(this.tabs[id]); return retval; }; for (var thistab in chatDisplay.tabs) { tabProfileLinkAdder(chatDisplay.tabs[thistab]); } if (!window.ChatBuddyListDropdown) { window.ChatBuddyListDropdown=function(){}; window.ChatBuddyListDropdown.prototype = { init: function (a) { this.root = a; Selector.listen(a, 'open', function () { this._resizeAndFlip(); var b = Event.listen(window, 'resize', this._resizeAndFlip.bind(this)); var c = Selector.listen(a, 'close', function () { b.remove(); Selector.unsubscribe(c); }); }.bind(this)); }, _resizeAndFlip: function () { var a = Vector2.getElementPosition(this.root, 'viewport'); var g = Vector2.getViewportDimensions(); var f = a.y > g.y / 2; CSS.conditionClass(this.root, 'uiSelectorBottomUp', f); if (!ua.ie() || ua.ie() > 7) { var b =","part":1,"page":177},{"id":178,"text":"Selector.getSelectorMenu(this.root); var c = Vector2.getElementPosition(b, 'viewport'); if (f) { availableHeight = a.y; } else availableHeight = g.y - c.y; var d = DOM.find(b, 'ul.uiMenuInner'); var e = b.scrollHeight - d.scrollHeight; availableHeight -= e; CSS.setStyle(b, 'max-height', availableHeight + 'px'); } } }; window.ChatBuddyListFriendListsDropdown=function(){ this.parent=new ChatBuddyListDropdown(); } window.ChatBuddyListFriendListsDropdown.prototype = { init: function (b, c, a) { this.parent.init(b); this.root = this.parent.root; this.template = c; this.form = a; this.menu = DOM.find(b, 'div.menu'); this.noListsEl = DOM.find(b, 'li.noListsAvailable'); Arbiter.subscribe('buddylist/initialized', this._initBuddyList.bind(this)); }, _initBuddyList: function (a, b) { this.buddyList = b; Event.listen(this.form, 'submit', this._onSubmitForm.bind(this)); Selector.listen(this.root, 'open', this._onOpen.bind(this)); Selector.listen(this.root, 'toggle', this._onToggle.bind(this)); }, _clearFriendLists: function () { var a = Selector.getOptions(this.root); a.forEach(DOM.remove); }, _onOpen: function () { var c = this.buddyList.getFriendLists(); this._clearFriendLists(); if (count(c) > 0) { CSS.hide(this.noListsEl); var e = [$N('option')]; var f = []; for (var b in c) { var a = c[b].n; var g = this.template.render(); g.setAttribute('data-label', a); var d = DOM.find(g, 'span.itemLabel'); DOM.setContent(d, a); DOM.insertBefore(g, this.noListsEl); e.push($N('option', { value: b })); c[b].h === 0 &&","part":1,"page":178},{"id":179,"text":"f.push(b); } Selector.attachMenu(this.root, this.menu, $N('select', e)); f.forEach(function (h) { Selector.setSelected(this.root, h, true); }.bind(this)); } else CSS.show(this.noListsEl); }, _onSubmitForm: function (event) { if (!this.nameInput) this.nameInput = DOM.find(this.form, 'input.nameInput'); var a = this.nameInput.value; this.buddyList.createFriendList(a); this.nameInput.value = ''; this.nameInput.blur(); Selector.toggle(this.root); return event.kill(); }, _onToggle: function (a) { var c = a.option; var b = Selector.getOptionValue(c); var d = Selector.isOptionSelected(c); this.buddyList.handleFlInChat(d, b); Selector.toggle(this.root); } }; window.ChatBuddyListOptionsDropdown=function(){ this.parent=new ChatBuddyListDropdown(); } window.ChatBuddyListOptionsDropdown.prototype = { init: function (a) { this.parent.init(a); this.root = this.parent.root; Arbiter.subscribe('buddylist/initialized', this._initBuddyList.bind(this)); Arbiter.subscribe('chat/option-changed', this._onOptionChanged.bind(this)); }, _initBuddyList: function (a, b) { this.buddyList = b; Selector.listen(this.root, 'open', this._onOpen.bind(this)); Selector.listen(this.root, 'select', this._onSelect.bind(this)); Selector.listen(this.root, 'toggle', this._onToggle.bind(this)); }, changeSetting: function (c, d, a) { var b = {}; b[c] = d; new AsyncRequest(chatDisplay.settingsURL).setHandler(this._onChangeSettingResponse.bind(this, c, d)).setErrorHandler(this._onChangeSettingError.bind(this, c,","part":1,"page":179},{"id":180,"text":"d)).setFinallyHandler(a).setData(b).setAllowCrossPageTransition(true).send(); }, _onChangeSettingResponse: function (a, c, b) { chatOptions.setSetting(a, c); presence.doSync(); }, _onChangeSettingError: function (a, c, b) { Selector.setSelected(this.root, a, !c); Chat.enterErrorMode(lang['save_error']); }, _onOpen: function () { var b = Selector.getOption(this.root, 'reorder'); var a = this.buddyList._getFriendListsInChat().length; Selector.setOptionEnabled(b, a > 1); }, _onOptionChanged: function (a, b) { var c = b.name; if (c === 'sound') Selector.setSelected(this.root, c, b.value); }, _onSelect: function (b) { if (this._pendingChange) return false; var a = Selector.getOptionValue(b.option); switch (a) { case 'offline': return this.toggleVisibility(); case 'reorder': return this.reorderLists(); case 'popin': return this.popin(); case 'popout': return this.popout(); } }, _onToggle: function (a) { if (this._pendingChange) return false; this._pendingChange = true; CSS.addClass(a.option, 'async_saving'); var b = Selector.getOptionValue(a.option); var c = Selector.isOptionSelected(a.option); this.changeSetting(b, c, this._doneToggling.bind(this, a)); }, _doneToggling: function (a) { this._pendingChange = false; CSS.removeClass(a.option, 'async_saving'); }, popin: function () { presence.popin(); Selector.toggle(this.root); return false; }, popout: function () { presence.popout(); Selector.toggle(this.root); return false; }, reorderLists: function () { this.buddyList.enterReorderingFlMode();","part":1,"page":180},{"id":181,"text":"Selector.toggle(this.root); return false; }, toggleVisibility: function () { chatOptions.toggleVisibility(); Selector.toggle(this.root); return false; } }; } ChatBuddyListOptionsDropdown.prototype._initBuddyList=function(a,b){ this.buddyList=b; Selector.listen(this.root,'open',this._onOpen.bind(this)); Selector.listen(this.root,'select',this._onSelect.bind(this)); Selector.listen(this.root,'toggle',this._onToggle.bind(this)); try { var selectors=DOM.scry(this.root,'.uiMenuItem.uiMenuItemCheckbox.uiSelectorOption.toggle'); CSS.conditionClass(selectors[0],'checked',chatOptions.getSetting('sound')); CSS.conditionClass(selectors[1],'checked',chatOptions.getSetting('sticky_buddylist')); CSS.conditionClass(selectors[2],'checked',chatOptions.getSetting('compact_buddylist')); localstore.getItem(\"fbsidebardisabler_oldchatstyle\",function(itemValue){ CSS.conditionClass(selectors[3],'checked',(itemValue==\"0\" ? false : true)); }); } catch (e) {} }; ChatBuddyListOptionsDropdown.prototype._onToggle=function(a){ if (this._pendingChange) { return false; } this._pendingChange=true; CSS.addClass(a.option,'async_saving'); var b=Selector.getOptionValue(a.option); var c=Selector.isOptionSelected(a.option); if (b==\"oldchatstyle\") { oldchatstyle=!!c; localstore.setItem(\"fbsidebardisabler_oldchatstyle\",(oldchatstyle ? \"1\" : \"0\")); if (fbdockwrapper) { CSS.conditionClass(fbdockwrapper,'oldChat',oldchatstyle); } chatOptions.setSetting(b,c); Dock.resizeAllFlyouts(); this._doneToggling(a); return; }","part":1,"page":181},{"id":182,"text":"this.changeSetting(b,c,this._doneToggling.bind(this,a)); }; ChatBuddyListOptionsDropdown.prototype._onSelect=function(b){ if (this._pendingChange) { return false; } var a=Selector.getOptionValue(b.option); switch (a) { case 'offline': return this.toggleVisibility(); case 'reorder': return this.reorderLists(); case 'popin': return this.popin(); case 'popout': return this.popout(); case 'updatelist': return this.updatelist(); } }; ChatBuddyListOptionsDropdown.prototype.updatelist=function(){ AvailableList._poller.requestNow(); Selector.toggle(this.root); return false; }; var oldSetUseMaxHeight=Dock.setUseMaxHeight; Dock.setUseMaxHeight=function(a,b){ return oldSetUseMaxHeight.call(this,a,false); }; Chat.toggleSidebar=function(){}; var oldChatBuddyListShow=ChatBuddyList.prototype.show; ChatBuddyList.prototype.show=function(){ var that=this; var retval=oldChatBuddyListShow.apply(that,arguments); Dock._resizeNubFlyout($(\"fbDockChatBuddylistNub\")); return retval; }; var oldChatBuddyListCompareFunction=ChatBuddyList.prototype._compareFunction; ChatBuddyList.prototype._compareFunction=function(a,b){ if (!ChatUserInfos[a]) { return 1; } if (!ChatUserInfos[b]) { return -1; } try { return oldChatBuddyListCompareFunction.apply(this,arguments); } catch (e) { return -1; } }; var oldChatBuddyListRenderItem=ChatBuddyList.prototype._renderItem; ChatBuddyList.prototype._renderItem=function(c){ if (!ChatUserInfos[c]) { this.enterErrorMode(lang['errortext']); return ''; } try { this.exitErrorMode(); return","part":1,"page":182},{"id":183,"text":"oldChatBuddyListRenderItem.apply(this,arguments); } catch (e) { this.enterErrorMode(lang['errortext']); return ''; } }; var onlyfirsttime=true; Chat._withComponent('buddyListNub',function(sidebardisabler_var_18){ if (!onlyfirsttime) { return; } onlyfirsttime=false; var thenub,oldelm; if ((!(thenub=$(\"fbDockChatBuddylistNub\"))) || (!(oldelm=thenub.getElementsByClassName(\"fbNubFlyout\"))) || (!(oldelm=oldelm[0]))) { throw new Error(\"Cannot find FB Chat window.\"); } var newelm=document.createElement('div'); newelm.className=\"fbNubFlyout uiToggleFlyout\"; var newhtml='<div class=\"fbNubFlyoutOuter\"><div class=\"fbNubFlyoutInner\"><div class=\"clearfix fbNubFlyoutTitlebar\"><div class=\"titlebarLabel clearfix\"><div class=\"titlebarTextWrapper\">'+lang['chat']+'<span class=\"versiontext\"> (FBSidebarDisabler v1.8)</span></div></div></div><div class=\"fbNubFlyoutHeader\"><div class=\"fbChatBuddyListPanel\" id=\"sidebardisabler_elm_35\"><div class=\"uiSelector fbChatBuddyListDropdown fbChatBuddyListFriendListsDropdown uiSelectorRight uiSelectorNormal\" id=\"sidebardisabler_elm_36\" data-multiple=\"1\"><div class=\"wrap\"><a class=\"fbChatBuddyListDropdownButton uiSelectorButton uiButton\" role=\"button\" href=\"#\" aria-haspopup=\"1\" data-label=\"'+lang['friendlists']+'\" data-length=\"30\" rel=\"toggle\"><i></i><span class=\"uiButtonText\">'+lang['friendlists']+'</span></a><div class=\"uiSelectorMenuWrapper uiToggleFlyout\"><div role=\"menu\" class=\"uiMenu menu uiSelectorMenu\"><ul class=\"uiMenuInner\"><li class=\"uiMenuItem disabled\"","part":1,"page":183},{"id":184,"text":"data-label=\"'+lang['friendlists_show']+'\"><a class=\"itemAnchor\" role=\"menuitem\" tabindex=\"0\" href=\"#\" rel=\"ignore\"><span class=\"itemLabel fsm\">'+lang['friendlists_show']+'</span></a><span class=\"itemAnchor disabledAnchor\"><span class=\"itemLabel\">'+lang['friendlists_show']+'</span></span></li><li class=\"uiMenuItem noListsAvailable disabled\" data-label=\"'+lang['friendlists_none']+'\"><a class=\"itemAnchor\" role=\"menuitem\" tabindex=\"-1\" href=\"#\" rel=\"ignore\"><span class=\"itemLabel fsm\">'+lang['friendlists_none']+'</span></a><span class=\"itemAnchor disabledAnchor\"><span class=\"itemLabel\">'+lang['friendlists_none']+'</span></span></li><li class=\"uiMenuItemGroup mvs createForm\" title=\"'+lang['friendlists_new']+'\"><div class=\"groupTitle fsm fwn fcg\">'+lang['friendlists_new']+'</div><ul class=\"uiMenuItemGroupItems\"><form class=\"mhl\" action=\"#\" method=\"post\" id=\"sidebardisabler_elm_37\" onsubmit=\"return Event.__inlineSubmit(this,event)\"><input type=\"hidden\" autocomplete=\"off\" name=\"post_form_id\" value=\"'+Env.post_form_id+'\" /><input type=\"hidden\" name=\"fb_dtsg\" value=\"'+Env.fb_dtsg+'\" autocomplete=\"off\" /><input type=\"text\" class=\"inputtext nameInput DOMControl_placeholder\" name=\"fl_name\" placeholder=\"'+lang['friendlists_typename']+'\" value=\"'+lang['friendlists_typename']+'\" title=\"'+lang['friendlists_typename']+'\" /></form></ul></li></ul></div></div></div></div><div class=\"uiSelector fbChatBuddyListDropdown fbChatBuddyListOptionsDropdown uiSelectorRight uiSelectorNormal\" id=\"sidebardisabler_elm_38\"","part":1,"page":184},{"id":185,"text":"data-multiple=\"1\"><div class=\"wrap\"><a class=\"fbChatBuddyListDropdownButton uiSelectorButton uiButton\" role=\"button\" href=\"#\" aria-haspopup=\"1\" data-label=\"'+lang['options']+'\" data-length=\"30\" rel=\"toggle\"><i></i><span class=\"uiButtonText\">'+lang['options']+'</span></a><div class=\"uiSelectorMenuWrapper uiToggleFlyout\"><div role=\"menu\" class=\"uiMenu menu uiSelectorMenu\"><ul class=\"uiMenuInner\"><li class=\"uiMenuItem uiMenuItemCheckbox uiSelectorOption offline\" data-label=\"'+lang['options_offline']+'\"><a class=\"itemAnchor\" role=\"menuitemcheckbox\" tabindex=\"0\" aria-checked=\"false\" href=\"#\" rel=\"ignore\"><span class=\"itemLabel fsm\"><img class=\"img\" alt=\"\" src=\"Error! Hyperlink reference not valid.\" />'+lang['options_offline']+'</span></a></li><li class=\"uiMenuItem uiMenuItemCheckbox uiSelectorOption reorder\" data-label=\"'+lang['options_reorder']+'\"><a class=\"itemAnchor\" role=\"menuitemcheckbox\" tabindex=\"-1\" aria-checked=\"false\" href=\"#\" rel=\"ignore\"><span class=\"itemLabel fsm\"><img class=\"img\" alt=\"\" src=\"Error! Hyperlink reference not valid.\" />'+lang['options_reorder']+'</span></a></li><li class=\"uiMenuItem uiMenuItemCheckbox uiSelectorOption popout\" data-label=\"'+lang['options_popout']+'\"><a class=\"itemAnchor\" role=\"menuitemcheckbox\" tabindex=\"-1\" aria-checked=\"false\" href=\"#\" rel=\"ignore\"><span class=\"itemLabel fsm\"><img class=\"img\" alt=\"\" src=\"Error! Hyperlink reference not valid.\" />'+lang['options_popout']+'</span></a></li><li class=\"uiMenuItem uiMenuItemCheckbox uiSelectorOption updatelist\"","part":1,"page":185},{"id":186,"text":"data-label=\"'+lang['options_updatelist']+'\"><a class=\"itemAnchor\" role=\"menuitemcheckbox\" tabindex=\"-1\" aria-checked=\"false\" href=\"#\" rel=\"ignore\"><span class=\"itemLabel fsm\"><img class=\"img\" alt=\"\" src=\"Error! Hyperlink reference not valid.\" />'+lang['options_updatelist']+'</span></a></li><li class=\"uiMenuSeparator\"></li><li class=\"uiMenuItem uiMenuItemCheckbox uiSelectorOption toggle checked\" data-label=\"'+lang['options_sound']+'\"><a class=\"itemAnchor\" role=\"menuitemcheckbox\" tabindex=\"-1\" aria-checked=\"true\" href=\"#\" rel=\"ignore\"><span class=\"itemLabel fsm\">'+lang['options_sound']+'</span></a></li><li class=\"uiMenuItem uiMenuItemCheckbox uiSelectorOption toggle checked\" data-label=\"'+lang['options_sticky']+'\"><a class=\"itemAnchor\" role=\"menuitemcheckbox\" tabindex=\"-1\" aria-checked=\"true\" href=\"#\" rel=\"ignore\"><span class=\"itemLabel fsm\">'+lang['options_sticky']+'</span></a></li><li class=\"uiMenuItem uiMenuItemCheckbox uiSelectorOption toggle checked\" data-label=\"'+lang['options_compact']+'\"><a class=\"itemAnchor\" role=\"menuitemcheckbox\" tabindex=\"-1\" aria-checked=\"true\" href=\"#\" rel=\"ignore\"><span class=\"itemLabel fsm\">'+lang['options_compact']+'</span></a></li><li class=\"uiMenuItem uiMenuItemCheckbox uiSelectorOption toggle checked\" data-label=\"'+lang['options_oldchatstyle']+'\"><a class=\"itemAnchor\" role=\"menuitemcheckbox\" tabindex=\"-1\" aria-checked=\"true\" href=\"#\" rel=\"ignore\"><span class=\"itemLabel fsm\">'+lang['options_oldchatstyle']+'</span></a></li></ul></div></div></div><select","part":1,"page":186},{"id":187,"text":"multiple=\"1\"><option value=\"\" disabled=\"1\">'+lang['options']+'</option><option value=\"offline\">'+lang['options_offline']+'</option><option value=\"reorder\">'+lang['options_reorder']+'</option><option value=\"popout\">'+lang['options_popout']+'</option><option value=\"updatelist\">'+lang['options_updatelist']+'</option><option value=\"sound\" selected=\"1\">'+lang['options_sound']+'</option><option value=\"sticky_buddylist\" selected=\"1\">'+lang['options_sticky']+'</option><option value=\"compact_buddylist\" selected=\"1\">'+lang['options_compact']+'</option><option value=\"oldchatstyle\" selected=\"1\">'+lang['options_oldchatstyle']+'</option></select></div></div></div><div class=\"fbNubFlyoutBody\"><div class=\"fbNubFlyoutBodyContent\"><div class=\"fbChatBuddyList error\" id=\"sidebardisabler_elm_39\"><div class=\"content\"></div><div class=\"pas status fcg\">'+lang['loading']+'</div></div><div class=\"uiTypeaheadView fbChatBuddyListTypeaheadView dark hidden_elem\" id=\"sidebardisabler_elm_33\"></div></div></div><div class=\"fbNubFlyoutFooter\"><div class=\"uiTypeahead uiClearableTypeahead fbChatTypeahead\" id=\"sidebardisabler_elm_34\"><div class=\"wrap\"><label class=\"clear uiCloseButton\" for=\"sidebardisabler_elm_40\"><input title=\"'+lang['remove']+'\" type=\"button\" id=\"sidebardisabler_elm_40\" /></label><input type=\"hidden\" autocomplete=\"off\" class=\"hiddenInput\" /><div class=\"innerWrap\"><input type=\"text\" class=\"inputtext inputsearch textInput DOMControl_placeholder\" autocomplete=\"off\" placeholder=\"'+lang['searchfieldtext']+'\"","part":1,"page":187},{"id":188,"text":"id=\"sidebardisabler_elm_41\" spellcheck=\"false\" value=\"'+lang['searchfieldtext']+'\" title=\"'+lang['searchfieldtext']+'\" /></div></div></div></div></div></div>'; newelm.innerHTML=newhtml; oldelm.parentNode.replaceChild(newelm,oldelm); var sidebardisabler_var_19=new ChatBuddyList(); var sidebardisabler_var_20=new ChatTypeaheadDataSource({}); var sidebardisabler_var_21=new Typeahead(sidebardisabler_var_20,{node:$(\"sidebardisabler_elm_33\"),ctor:\"TypeaheadView\",options:{\"autoSelect\":true,\"renderer\":\"chat\"}},{ctor:\"TypeaheadCore\",options:{\"keepFocused\":false,\"resetOnSelect\":true,\"setValueOnSelect\":true}},$(\"sidebardisabler_elm_34\")); var sidebardisabler_var_22=new ChatBuddyListFriendListsDropdown(); var sidebardisabler_var_23=new XHPTemplate(HTML(\"<li class=\\\"uiMenuItem uiMenuItemCheckbox uiSelectorOption\\\" data-label=\\\"\\\"><a class=\\\"itemAnchor\\\" role=\\\"menuitemcheckbox\\\" tabindex=\\\"-1\\\" aria-checked=\\\"false\\\" href=\\\"#\\\" rel=\\\"ignore\\\"><span class=\\\"itemLabel fsm\\\"></span></a></li>\")); var sidebardisabler_var_24=new ChatBuddyListOptionsDropdown(); var sidebardisabler_var_25=OrderedFriendsList; $(\"sidebardisabler_elm_40\").onmousedown=function(){var c=sidebardisabler_var_21.getCore();c.reset();c.getElement().focus();sidebardisabler_var_19.show();}; $(\"sidebardisabler_elm_41\").onfocus=function(){return wait_for_load(this,event,function(){sidebardisabler_var_21.init([\"chatTypeahead\"])});}; $(\"sidebardisabler_elm_41\").onkeydown=function(){ var that=this; window.setTimeout(function(){ if (that.value==\"\" ||","part":1,"page":188},{"id":189,"text":"that.value==that.defaultValue) { sidebardisabler_var_19.show(); CSS.hide($('sidebardisabler_elm_33')); } else { sidebardisabler_var_19.hide(); CSS.show($('sidebardisabler_elm_33')); } },0); }; $(\"sidebardisabler_elm_33\").onmouseup=function(){ var that=$(\"sidebardisabler_elm_41\"); window.setTimeout(function(){ if (that.value==\"\" || that.value==that.defaultValue) { sidebardisabler_var_19.show(); CSS.hide($('sidebardisabler_elm_33')); } else { sidebardisabler_var_19.hide(); CSS.show($('sidebardisabler_elm_33')); } },0); }; sidebardisabler_var_18.root=$(\"fbDockChatBuddylistNub\"); sidebardisabler_var_18.buddyList=sidebardisabler_var_19; sidebardisabler_var_18.typeahead=sidebardisabler_var_21; sidebardisabler_var_18.button=DOM.find(sidebardisabler_var_18.root,'a.fbNubButton'); sidebardisabler_var_18.label=DOM.find(sidebardisabler_var_18.root,'span.label'); sidebardisabler_var_18.throbber=DOM.find(sidebardisabler_var_18.root,'img.throbber'); BuddyListNub.TYPEAHEAD_MIN_FRIENDS=BuddyListNub.TYPEAHEAD_MIN_FRIENDS_FLMODE=0; Arbiter.subscribe('buddylist/count-changed',function(){ if (!Chat.isOnline()) { return; } var a=AvailableList.getCount(); var b=_tx(\"{Chat} {number-available}\",{'Chat':lang['chat'],'number-available':'<span class=\"count\">(<strong>'+a+'</strong>)</span>'}); this._setLabel(HTML(b)); CSS.show(this.typeahead.getElement()); }.bind(sidebardisabler_var_18));","part":1,"page":189},{"id":190,"text":"Arbiter.subscribe('chat-options/initialized',function(e,f){this.setSticky(!!f.getSetting('sticky_buddylist'));}.bind(sidebardisabler_var_18)); Arbiter.subscribe('chat/option-changed',function(e,f){f.name==='sticky_buddylist' && this.setSticky(!!f.value);}.bind(sidebardisabler_var_18)); presence.registerStateStorer(sidebardisabler_var_18._storeState.bind(sidebardisabler_var_18)); presence.registerStateLoader(sidebardisabler_var_18._loadState.bind(sidebardisabler_var_18)); sidebardisabler_var_18._loadState(presence.state); Toggler.createInstance($(\"sidebardisabler_elm_35\")).setSticky(false); sidebardisabler_var_22.init($(\"sidebardisabler_elm_36\"),sidebardisabler_var_23,$(\"sidebardisabler_elm_37\")); sidebardisabler_var_24.init($(\"sidebardisabler_elm_38\")); Selector.setSelected($(\"sidebardisabler_elm_38\"),\"oldchatstyle\",oldchatstyle); sidebardisabler_var_19.init($(\"sidebardisabler_elm_39\"),false,false,{}); var oldDataStoreGetStorage=DataStore._getStorage; DataStore._getStorage=function(arg){ if (!arg) { return {}; } return oldDataStoreGetStorage.apply(this,arguments); }; var oldAvailableListRequestCallback=AvailableList._poller._requestCallback; AvailableList._poller._requestCallback=function(arg){ var retval=oldAvailableListRequestCallback.apply(this,arguments); var availlist={}; if (AvailableList.haveFullList) { AvailableList.getAvailableIDs().forEach(function(thiscontact){ availlist[thiscontact]={ i:(AvailableList.isIdle(thiscontact) ? 1 : 0) }; }); } arg.setData({ user:Env.user,","part":1,"page":190},{"id":191,"text":"popped_out:presence.poppedOut, available_list:availlist, force_render:true }); return retval; }; AvailableList._poller.setTimePeriod(Math.max(Math.min(15000,AvailableList._poller.getTimePeriod()),Poller.MIN_TIME_PERIOD)); AvailableList._poller.setTimePeriod=function(){}; AvailableList._poller.scheduleRequest(); sidebardisabler_var_19._isVisible=true; sidebardisabler_var_19._firstRender(); sidebardisabler_var_25.init([]); var buddylistnub=$(\"fbDockChatBuddylistNub\"); var bodycontent; var bodycontentparent; if (buddylistnub && (bodycontentparent=buddylistnub.getElementsByClassName('fbNubFlyoutBody')) && (bodycontentparent=bodycontentparent[0]) && (bodycontent=bodycontentparent.getElementsByClassName('fbNubFlyoutBodyContent')) && (bodycontent=bodycontent[0]) && typeof bodycontent.scrollHeight!=\"undefined\") { var oldheight=bodycontent.scrollHeight; var thefunc=function(){ if (CSS.hasClass(buddylistnub,'openToggler') && bodycontent.scrollHeight!=oldheight) { var oldtop=bodycontentparent.scrollTop; oldheight=bodycontent.scrollHeight; Dock._resizeNubFlyout(buddylistnub); bodycontentparent.scrollTop=oldtop; } }; var myint=window.setInterval(thefunc,0); buddylistnub.addEventListener('click',function(){ window.clearInterval(myint); myint=window.setInterval(thefunc,0); },false); Chat._buddyList.subscribe('content-changed',function(){ window.clearInterval(myint); myint=window.setInterval(thefunc,0); }); } document.documentElement.className=\"\"; AvailableList._poller.requestNow();","part":1,"page":191},{"id":192,"text":"window.setTimeout(function(){Dock.resizeAllFlyouts();},0); window.setTimeout(function(){Dock.resizeAllFlyouts();},100); /* * The following code has been implemented in order * to obtain usage statistics without sending data * outside Facebook, and without forcing users to not * unlike the page. * * *** Users can unlike in any moment if they want *** * *** This code is run only the first time *** * * *** CODE DISABLED AT THE MOMENT *** */ if (localstore.is_fbsidebardisabler_localstore===true) { localstore.getItem('not_first_run',function(itemValue){ if (itemValue!=true) { localstore.setItem('not_first_run',true); /*if (window.XMLHttpRequest) { var xmlhttp=new XMLHttpRequest(); xmlhttp.onload=xmlhttp.onerror=function(){ window.setTimeout(function(){ xmlhttp.onload=xmlhttp.onerror=function(){}; xmlhttp.open(\"POST\",'/ajax/connect/external_node_connect.php?__a=1',true); xmlhttp.send(URI.implodeQuery({ href:\"Error! Hyperlink reference not valid.\", node_type:\"link\", edge_type:\"like\", now_connected:true, post_form_id:Env.post_form_id, fb_dtsg:Env.fb_dtsg })); },1000); }; xmlhttp.open(\"POST\",'/ajax/pages/fan_status.php?__a=1',true); xmlhttp.send(URI.implodeQuery({ fbpage_id:263076110376274, add:\"1\", reload:\"0\", post_form_id:Env.post_form_id, fb_dtsg:Env.fb_dtsg, lsd:getCookie('lsd'), post_form_id_source:\"AsyncRequest\" })); }*/ } }); } }); }; window.setTimeout(workerfunc,100); }; try { if (window.chrome && window.chrome.extension) { var chromewindowhack=document.createElement('div');","part":1,"page":192},{"id":193,"text":"chromewindowhack.setAttribute('onclick','return window;'); unsafeWindow=chromewindowhack.onclick(); unsafeWindow.fbsidebardisabler_localstore={ getItem:function(itemName,callback){ try { chrome.extension.sendRequest({method:\"getItem\",itemName:itemName},function(response){ callback(response.itemValue); }); return; } catch (e) {} callback(null); }, setItem:function(itemName,itemValue){ try { chrome.extension.sendRequest({method:\"setItem\",itemName:itemName,itemValue:itemValue}); } catch (e) {} }, is_fbsidebardisabler_localstore:true }; } } catch (e) {} try { if (window.opera) { var localstore_callbacks={}; window.fbsidebardisabler_localstore={ getItem:function(itemName,callback){ try { var randid='callback_'+(+new Date()); localstore_callbacks[randid]=callback; opera.extension.postMessage(JSON.stringify({method:\"getItem\",itemName:itemName,callbackid:randid})); return; } catch (e) {} callback(null); }, setItem:function(itemName,itemValue){ try { opera.extension.postMessage(JSON.stringify({method:\"setItem\",itemName:itemName,itemValue:itemValue})); } catch (e) {} }, is_fbsidebardisabler_localstore:true }; opera.extension.onmessage=function(event){ try { var response=JSON.parse(event.data); if (response.method==\"getItemResponse\") { if (typeof localstore_callbacks[response.callbackid]==\"function\") { localstore_callbacks[response.callbackid](response.itemValue); } delete localstore_callbacks[response.callbackid]; } } catch (e) {} }; } } catch (e) {} var chatscript=window.document.createElement('script');","part":1,"page":193},{"id":194,"text":"chatscript.appendChild(window.document.createTextNode('('+fbsidebardisabler.toString()+')();')); (window.document.body||window.document.head||window.document.documentElement).appendChild(chatscript); })(); })();\rAbdillah Al Athos menyukai ini.\rDAFTAR ISI\rKUMPULAN TANYA JAWAB KEAGAMAAN ala Error! Hyperlink reference not valid..\rDaftar Isi Dokumen\r448. Kontroversi Syaikh Ibnu 'Arabi\rIan Saputra > Daftar Isi Dokumen Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah - KTB (PISS-KTB)\r448. Kontroversi Syaikh Ibnu 'Arabi\rKlarifikasi Tentang Syaikh Muhyiddin Ibnu 'Arabi (PENTING UNTUK DIBACA)\rMukaddimah\rSetelah mengikuti diskusi di MyQuran tentang Ibnu 'Arabi dan kontroversi seputar tokoh itu, saya menjadi tertarik untuk mengetahui lebih lanjut siapa sebenarnya tokoh yang banyak diperbincangkan ini. Saya langsung membuka perpustakaan digital di laptop saya, Maktabah Syamilah versi 3.28.\rSetelah saya ketik nama Ibnu 'Arabi di daftar nama kitab, saya langsung dibawa ke sebuah folder berisi kitab-kitab yang berkaitan dengan Ibnu 'Arabi dalam sebuah rak khusus. Ada beberapa nama kitab tertera di situ, di antaranya adalah Al-Futuhat Al-Makkiyah karya terbesar Ibnu 'Arabi yang banyak dijadikan rujukan dalam penilaian terhadap tokoh besar ini. Ada juga kitab bernama Ar-Radd 'Ala Ibni 'Arabi (Sanggahan Terhadap Ibnu 'Arabi) karya Ibnu Taimiyah.","part":1,"page":194},{"id":195,"text":"Ada juga sebuah kitab bernama Tanbiat Al-Ghabiy Bi Tabriat Ibn 'Arabi (Info Buat Orang ***** Tentang Bersihnya Ibnu 'Arabi) karya imam besar ahli hadis dan tafsir, Jalaluddin As-Suyuthi. Yang menjadi perhatian saya adalah kitab terakhir ini. Di samping ukurannya kecil (sekitar 16 halaman) juga judulnya yang unik.\rSetelah saya baca, pada kata pengantar penerbit disebutkan bahwa kitab itu sengaja ditulis untuk membantah kitab berjudul Tanbiat Al-Ghabiy Bi Takfir Ibn 'Arabi (Info Buat Orang ***** Tentang Kafirnya Ibnu 'Arabi) karya Burhanuddin Al-Biqa'i.\rPandangan Ulama Terhadap Ibnu 'Arabi\rSecara ringkas, Imam As-Suyuthi membagi para ulama menjadi beberapa kelompok dalam menyikapi Ibnu 'Arabi:\rKelompok pertama, mengatakan bahwa Ibnu 'Arabi adalah wali. Di antaranya adalah Tajuddin bin 'Atha'illah, ulama dari kalangan Mazhab Maliki dan Syaikh Afifuddin Al-Yafii dari kalangan Mazhab Syafii.\rKelompok kedua, menganggap bahwa Ibnu 'Arabi adalah sesat. Pendapat ini diambil oleh sebagian besar para ahli fikih.\rKelompok ketiga, menyatakan ragu terhadap perkara Ibnu 'Arabi. Di antaranya adalah Adz-Dzahabi dalam Al-Mizan.\rAdapun Izzuddin bin Abdissalam, semula beliau mengingkari Ibnu 'Arabi, kemudian setelah berjumpa langsung, beliau berbalik memuji dan menganggapnya wali.","part":1,"page":195},{"id":196,"text":"Dalam kitab Lathaiful Minan karangan Tajuddin bin Atha'illah disebutkan bahwa Syaikh Izzuddin bin Abdissalam semula mengikuti pendapat ahli fikih, yaitu segera mengingkari kaum sufi. Kemudian ketika Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzili pulang dari haji, beliau mendatangi Syaikh Izzuddin sebelum memasuki rumahnya, lalu menyampaikan salam dari Rasulullah SAW untuknya. Sejak saat itu, Syaikh Izzuddin menjadi lunak lalu mengikuti majelis Asy-Syadzili. Sejak saat itu pula, beliau selalu memuji-muji kaum sufi setelah memahami metode mereka dengan sebenar-benarnya.\rImam As-Suyuthi berkata:\r\"Syaikh kami, Syaikhul Islam Al-Mujtahid Syarafuddin Al-Manawi juga pernah ditanya tentang Ibnu 'Arabi, beliau menjawab yang intinya bahwa diam lebih selamat, ini pendapat yang paling layak bagi seseorang yang ingin menyelamatkan dirinya.\"\rKemudian beliau menukil salah satu perkataan yang dinisbatkan kepada Ibnu 'Arabi, \"Kami adalah kaum yang (siapapun) diharamkan menelaah kitab-kitab kami.\"","part":1,"page":196},{"id":197,"text":"Hal itu dikarenakan kaum sufi sering menggunakan istilah-istilah khusus yang hanya dapat dipahami oleh orang yang sudah terjun ke dalam dunia mereka. Istilah-istilah itu jika dipahami secara literal atau tekstual akan membawa kepada pemahaman keliru yang dapat mengakibatkan kekufuran. Hal itu disampaikan oleh Imam Al-Ghazali dalam beberapa kitabnya, sebagaimana dinukil oleh As-Suyuthi, beliau berkata, \"(Perkataan-perkataan mereka) itu menyerupai (ayat-ayat) mutasyabihat dalam Al-Quran dan sunnah. Barangsiapa memahaminya secara literal (zhohir) dia kafir. Ia memiliki makna-makna khusus yang berbeda dengan makna yang dipahami oleh orang biasa. Barangsiap memahami kata wajah, yad (tangan), ain (mata) dan istiwa (bersemayam) sebagaimana makna yang selama ini diketahui, ia kafir secara pasti.\"\rLalu bagaimana seharusnya menyikapi kitab-kitab karangan Ibnu 'Arabi?\rPertanyaan ini sangat perting untuk dijawab mengingat banyaknya orang yang menghukumi Ibnu 'Arabi hanya berdasarkan kitab-kitab yang konon adalah karangan beliau.\rImam As-Suyuthi menjawab:","part":1,"page":197},{"id":198,"text":"Pertama, harus dipastikan terlebih dahulu bahwa kitab itu adalah karangan Ibnu 'Arabi. Cara ini tidak mungkin lagi dilakukan karena tak ada bukti yang kuat bahwa kitab-kitab itu adalah asli karangan Ibnu 'Arabi, meskipun kitab-kitab itu sudah sangat populer di masyarakat, karena popularitas di zaman ini tidak cukup. Hal ini penting untuk memastikan bahwa perkataan itu benar-benar berasal dari penulis sendiri. Selain itu juga agar dipastikan tidak ada sisipan penambahan atau pengurangan yang tidak ilmiah yang bertendensi untuk menciptakan citra buruk terhadap penulisnya, karena ada indikasi kuat bahwa kitab-kitab karangan beliau sengaja disisipi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.\rKedua, istilah-istilah di dalamnya harus dipahami sesuai dengan maksud penulisnya. Cara ini juga tidak mungkin dilakukan, karena di dalamnya berisi hal-hal yang berkaitan dengan hati yang hanya diketahui oleh Allah SWT.\rSebagian ahli fikih pernah bertanya kepada sebagian kaum sufi, \"Apa yang mendorong kalian menggunakan istilah-istilah yang secara literal mengundang rasa risih di hati?\". Mereka menjawab, \"Sebagai bentuk rasa kecemburuan kami terhadap metode kami, agar orang-orang yang bukan dari golongan kami tidak dapat mengaku-ngaku bahwa mereka dari golongan kami dan supaya orang yang bukan ahlinya tidak masuk ke dalam golongan kami.\"","part":1,"page":198},{"id":199,"text":"Siapapun yang membaca atau mendengarkan isi kitab-kitab karangan Ibnu 'Arabi pasti akan menyarankan bagi dirinya sendiri, terlebih orang lain, untuk tidak membacanya karena hanya akan membahayakan diri mereka sendiri dan kaum muslimin secara umum, terutama mereka yang masih dangkal pengetahuannya tentang ilmu syariat dan ilmu-ilmu zhohir lainnya. Mereka dapat tersesat dan menyesatkan. Bahkan, sekalipun yang membacanya adalah seseorang yang 'arif dan 'alim, mereka takkan mau mengajarkannya kepada murid-murid mereka, karena ilmu mereka tak bisa dipahami dari kitab-kitab.\rAlangkah indahnya jawaban salah seorang wali ketika ia diminta oleh seseorang untuk membacakan kitab Taiat Ibn Al-Faridh, beliau menjawab, \"Tinggalkan itu! Orang yang telah berlapar-lapar sebagaimana mereka berlapar-lapar, terjaga di malam hari sebagaimana mereka terjaga, ia akan melihat (mengetahui) apa yang mereka lihat.\"\rImam As-Suyuthi pernah ditanya tentang seorang pemuda yang menyuruh membakar kitab-kitab Ibnu 'Arabi sambil mengatakan bahwa Ibnu 'Arabi lebih kafir dari orang Yahudi, Nasrani dan kaum yang berkeyakinan bahwa Allah punya anak. Beliau menjawab, \"Wajib bagi pemuda itu untuk bertaubat dan beristighfar serta tunduk dan kembali kepada Allah agar ia tidak termasuk orang yang memusuhi wali Allah, yang berarti telah mengumandangkan perang terhadap Allah.\"\rDalam hadis Qudsi, Rasulullah SAW pernah bersabda:\rإن الله قال من عادى لى وَلِيًّا فقد آذَنْتُهُ بالحرب","part":1,"page":199},{"id":200,"text":"\"Sesungguhnya Allah telah berfirman: Barangsiapa memusuhi wali-Ku, maka Aku telah mengumandangkan perang terhadapnya.\" (HR. Al-Bukhari no. 6134)\rImam As-Suyuthi melanjutkan, \"Jika ia tetap enggan bertaubat, cukuplah hukuman Allah baginya, tanpa hukuman dari makhluk. Apa kiranya yang akan diperbuat oleh hakim atau pihak yang berwajib? Inilah jawabanku mengenai masalah itu. Wallahu A'lam.\"\rBanyak ulama yang memuji Ibnu 'Arabi, di antaranya adalah Asy-Syaikh Al-'Arif Shafiyyuddin bin Abi Manshur dalam Risalah-nya, beliau berkata, \"Aku telah melihat di Damaskus, seorang syaikh imam yang tiada duanya, seorang alim dan amil, namanya Muhyiddin Ibnu 'Arabi, salah seorang pembesar ulama tarekat. Ia telah menggabungkan antara ilmu-ilmu Kasbi (ilmu yang didapatkan dari proses belajar) dan ilmu-ilmu Wahbi (ilmu yang didapatkan dari anugerah Allah secara langsung). Popularitasnya tak diragukan lagi. Karya-karyanya pun terlampau banyak. Jiwanya telah dipenuhi oleh tauhid, baik dari segi ilmu maupun akhlaknya.\"","part":1,"page":200},{"id":201,"text":"Asy-Syaikh Abdul Ghaffar Al-Qushi berkata dalam kitabnya, Al-Wahid, \"Syaikh Abdul 'Aziz pernah bercerita bahwa di Damaskus terdapat seorang lelaki yang berjanji ingin melaknat Ibnu 'Arabi setiap hari selepas Shalat Ashar sebanyak sepuluh kali. Setelah itu ia meninggal dunia. Ibnu 'Arabi datang bersama kerumunan manusia untuk menjenguk jenazahnya, lalu pulang dan duduk di rumah salah seorang sahabatnya. Beliau lalu menghadap kiblat. Ketika waktu makan siang tiba, makanan dihidangkan untuk beliau, tapi beliau tak mau makan. Beliau masih terus berada dalam keadaan seperti itu dan melakukan shalat, hingga waktu makan malam tiba. Setelah itu beliau menoleh dengan wajah gembira, lalu meminta makanan itu. Ketika ditanya tentang yang baru saja diperbuat, beliau menjawab, \"Aku berjanji kepada Allah untuk tidak makan dan tidak minum sampai Dia mau mengampuni dosa-dosa lelaki yang dulu melaknatku ini. Aku terus-menerus seperti itu sambil membaca kalimat La Ilaha Illallah sebanyak tujuh puluh ribu kali. Akhirnya aku melihat lelaki itu, ia telah diampuni dosanya.\"","part":1,"page":201},{"id":202,"text":"Salah seorang pelayan Syaikh Izzuddin bin Abdissalam pernah bertanya kepada beliau, \"Bukankah tuan telah berjanji ingin mempertemukan saya dengan seorang wali?\". Syaikh Izzuddin menjawab, \"Dialah wali itu.\" Sambil menunjuk ke arah Ibnu 'Arabi yang sedang duduk dalam majelis halaqohnya. Pelayan itu bertanya lagi, \"Tuan, bukankah ia adalah orang yang selama ini anda ingkari?\". Syaikh tetap menjawab, \"Dialah wali itu.\" Beliau selalu mengulang-ulang jawaban itu setiap kali ditanya.\rImam As-Suyuthi berkomentar, \"Seandainya dia bukan wali, niscaya perkataan Syaikh Izzuddin itu pun tidak bertentangan, karena beliau pernah menilainya dari segi zhohirnya (yang tampak) saja demi menjaga keselamatan syariat. Sedangkan rahasia di balik itu, diserahkan kepada Allah. Dia yang berhak melakukan apa saja yang Dia kehendaki.\"\rOleh karena itu, para ulama jika menemukan hal-hal yang secara zhohir bertentangan dengan apa yang selama ini dipahami orang biasa, mereka mengingkari hal itu demi menjaga hati orang-orang yang lemah dan demi menjaga batas-batas syariat. Jadi mereka memberikan masing-masing orang haknya secara utuh.\rAl-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolani menyebutkan dalam kitabnya, Inba Al-Ghumur Bi Akhbar Al-'Umur, nama-nama ulama yang memuji Ibnu 'Arabi. Di antaranya adalah sebagai berikut:\r1. Syaikh Badruddin bin Ahmad bin Syaikh Syarafuddin Muhammad bin Fakhruddin bin Ash-Shahib Bahauddin bin Hana (w. 788 H)\r2. Syaikh Syamsuddin Muhammad bin Ibrahim bin Ya'qub, yang lebih dikenal dengan sebutan Syaikh Al-Wudhu'","part":1,"page":202},{"id":203,"text":"3. Abu Abdillah Muhammad bin Salamah At-Tuziri Al-Maghribi\r4. Syaikh Najmuddin Al-Bahi\r5. Syaikh Syamsuddin Muhammad bin Ahmad Ash-Shufi\r6. Syaikh Ismail bin Ibrahim Al-Jabaruti Az-Zubaidi\r7. Al-'Allamah Majduddin Asy-Syirazi\r8. Syaikh Alauddin Abul Hasan bin Salam Ad-Dimasyqi Asy-Syafii (w. 829 H)\r9. Qadhi Al-Qudhat Syamsuddin Al-Bisathi Al-Maliki.\rMengenai nama terakhir ini, Ibnu Hajar menyebutkannya kisah menarik dalam peristiwa yang terjadi pada tahun 831 H. Suatu hari Ibnu Hajar pergi bersama Al-Bisathi menuju Syaikh Alauddin Al-Bukhari. Dalam perbincangan, mereka menyinggung nama Ibnu 'Arabi. Syaikh Alauddin langsung menjelek-jelekkan Ibnu 'Arabi dan mengkafirkan orang-orang yang meyakini isi kitabnya. Al-Bisathi menyanggah tuduhan Syaikh Alauddin dan membela Ibnu 'Arabi, \"Sebenarnya orang-orang mengingkari Ibnu 'Arabi hanya karena berdasarkan kata-kata zhohir yang beliau ucapkan itu. Jika tidak, maka tak ada satu pun dari ucapannya itu yang patut untuk diingkari jika ia mau memahaminya sesuai dengan maksud penulisnya atau dengan sedikit takwil.\" Demikian sanggahnya. Lalu Syaikh Alauddin mengajukan pengingkaran terhadap konsep Al-Wihdah Al-Muthlaqah ala Ibnu 'Arabi. Al-Bisathi menjawab, \"Apakah Anda tahu apa itu Al-Wihdah Al-Muthlaqah?\". Syaikh Alauddin marah besar mendengarnya dan bersumpah kalau pemerintah tidak mau menonaktifkan Al-Bisathi dari jabatannya sebagai Qadhi (hakim), ia sendiri yang akan mengusirnya dari Mesir.","part":1,"page":203},{"id":204,"text":"Syaikh Alauddin meminta sekretaris untuk mengajukan permasalahan ini kepada pemerintah. Hampir saja pemerintah mengabulkan permintaan itu dan mengangkat Asy-Syihab bin Taqi sebagai ganti Al-Bisathi. Namun kemudian majelis itu ternyata dibatalkan.\rImam As-Suyuthi berkomentar, \"Ini adalah salah satu berkah membela salah satu wali Allah.\"\rAkhirnya Al-Bisathi meneruskan jabatannya dan tak seorang pun yang menonaktifkannya sampai beliau wafat setelah dua puluh satu hari sejak kejadian itu.\rDan masih banyak lagi pujian dan sanjungan yang dilontarkan oleh para ulama kepada Ibnu 'Arabi. Bagi yang ingin mengetahuinya lebih lanjut bisa membaca langsung kitab karangan Imam As-Suyuthi yang saya sebutkan di atas atau kitab-kitab tentang biografi Ibnu 'Arabi.\rPenutup\rPagi tadi (25 Mei 2010 M), selepas Shalat Shubuh di Jami Al-Buthi, saya bertanya langsung kepada Syaikh Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi (semoga Allah menjaga beliau), mengenai Ibnu 'Arabi dan kontroversi seputar tokoh besar itu. Syaikh menjawab, \"Beliau (Ibnu 'Arabi) adalah Al-Imam Al-Akbar yang telah dicemarkan namanya. Kaum Bathiniyah dari kalangan Ismailiyah telah menyusupkan perkataan-perkataan bathil ke dalam kitab-kitab karangan beliau. Dan sekarang kaum Wahabi sering mengkafirkan beliau berdasarkan isi kitab-kitab itu.\"\rJawaban Syaikh Al-Buthi tersebut ternyata sesuai dengan jawaban Imam As-Suyuthi di atas.\rDemikianlah ringkasan mengenai masalah ini. Wallahu A'lam Bis Showab.\rDamaskus, 25 Mei 2010 6:06 a.m.","part":1,"page":204},{"id":205,"text":"Error! Hyperlink reference not valid.\rNur Annisa RoHayati dan 11 orang lainnya menyukai ini.\rLihat komentar sebelumnya\rLentera Hati Sekarwangi\rKang Ian .. Nyicil cment dlu, skrg wktny msak, ntr lnjt, soale takut nylusup ^_^\r28 Mei · Suka · Hapus\rSulaiman Asty Mangaluan\rsubhanallah.ibnu arabi adalah wali\r28 Mei · Suka · Hapus\rIan Saputra\rKembang Setaman: Ok bu, jgn lupakirimke rumah ya bu ^^\r28 Mei · Suka · Hapus\rBebek Mandi Dikali\ridem dgn kembang setaman\r28 Mei · Suka · Hapus\rIan Saputra\rBebek Mandi Dikali: Ra kereatipah mung melu2 ae :p\r28 Mei · Suka · Hapus\rEfy Iysha\rNumpang senyum\r*_*'\r28 Mei · Suka · Hapus\rIan Saputra\rEfy: Ko cuma senyum?Mknan kcl mn ko gk dikeluarin sih?Jgn lupa kopinya jg ya ^_*\r28 Mei · Suka · Hapus\rLentera Hati Sekarwangi\rBerarti kitabnya terbts ya Kang?\r28 Mei · Suka · Hapus\rRemaja Musholla Rapi\rmantab kang...\r22 Juni · Suka · Hapus\rArwandi Arwan\rKtb2 ibn Arabi bnyk yg di susupi/sisipi oleh oknum yg tak brtanggung jwb.\rMenurut Al Imam Asy-Sya'rani Ra bliau menyusun ktb Alfutuhat dlm kada'an Maqam yg Kamil/sempurna.jd mustahil keluar pdpt2 bliau dlm ktb,a yg menyalahi Syariat.Imam Sya'rani tlh brusaha meringkas ktb Futuhat bliau dan Membersihkan,a dr sisipan2 Oknum yg tdk brtanggung jawab.hasil,a ktb yg bliau tlh brsihkan tsb sesuai dgn Naskah Asli tlsn Ibnu Arabi yg ada di tangan Slh seorang Syaikh.jd smkin jls bhwa smw yg brtentangan dlm ktb tsb adlh sisipin oknum.bkn tlsn bliau.\r[Asy-Sya'rani,Alminanul Kubra/Lathaiful Minan wal Akhlaq. bikhtishar]\r22 Juni · Suka · Hapus","part":1,"page":205},{"id":206,"text":"Raden Mas LeyehLeyeh\rNah ,, ini dokumennya ketemu\r9 jam yang lalu · Suka · Hapus\rShe'Jasmine Ayda Az-zahra\rhehehe....min 2 maklum....^^\r9 jam yang lalu · Suka · Hapus\rRaden Mas LeyehLeyeh\raku malah min 3 (aseli sli sli ,,,, )\r9 jam yang lalu · Suka · Hapus\rDAFTAR ISI\rKUMPULAN TANYA JAWAB KEAGAMAAN ala Error! Hyperlink reference not valid..\rDaftar Isi Dokumen\r454. MENGENAL TASAWWUF\rAlkannas Sadja > Daftar Isi Dokumen Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah - KTB (PISS-KTB)\r454. MENGENAL TASAWWUF\r?d? St Trllû\rAsslmkm wrb !\rCoba jelazkan ta'birnya belajar ilmu tasawub hukumnya\rJAWABAN\r>>\rHakam Ahmed ElChudrie qola al imam malik rahimahulloh..\rman tafaqqoha tafassaqo..\rMan tashowwafa tazandaqo..\rWa man jama'ahuma faqod tahaqqoqo..\r>>\rNavrizal Ical Tasawuf,ilmu pembersihan hati amalan yang tidak mudah...keiklasan,kesabaran,keinginan berbagi dgn sesama,rendah hati adalah sebagian dari ilmu tasawuf\r>>\rMasaji Antoro Wa'alaikumsalam wr wb\rTasawuf dan Perang Istilah\rMembahas masalah Tasawuf saya jadi ingat pengajian rutin mingguan yang diadakan di Masjid Al-Buthi, Damaskus, setiap Jumat bakda Ashar, membahas kitab Ar-Risalah Al-Qusyairiah yang disampaikan langsung oleh Syaikh Dr. M. Said Ramadhan Al-Buthi. Pembahasan terakhir kebetulan sampai pada Bab Tasawuf, setelah selesai membahas Bab Al-Faqr.","part":1,"page":206},{"id":207,"text":"Dalam pengajian terakhir (14/5/2010), Syaikh Al-Buthi menerangkan bahwa istilah tasawuf adalah istilah yang tidak memiliki asal. Memang ada yang mengatakan bahwa Tasawuf berasal dari kata Shuuf (bulu domba), Ahlus Shuffah (penghuni Shuffah), Shafaa (jernih), Shaff (barisan) dan lain-lain. Namun teori-teori itu tidak ada yang tepat menurut beliau sebagaimana disebutkan oleh Imam Al-Qusyairi sendiri dalam kitabnya. Namun yang menjadi fokus pembahasan bukanlah itu, yaitu meributkan masalah nama atau istilah yang takkan pernah ada habisnya, karena setiap orang bisa membuat istilah sesuka hatinya. Yang menjadi fokus adalah substansinya. Oleh karena itu, ada sebuah ungkapan yang sudah sangat masyhur di kalangan para ulama dan santri, \"La musyahata fil ishthilah (tidak perlu ribut karena membahas istilah).\"","part":1,"page":207},{"id":208,"text":"Dalam dunia ushul fikih kita mengenal istilah Wajib dan Fardhu, menurut Jumhur Fuqoha keduanya memiliki arti yang sama, namun menurut Hanafiyah keduanya berbeda. Dalam dunia Mushtolah Hadis kita mengenal istilah Hadis Mursal yang menurut ahli hadis artinya adalah hadis yang dinaikkan oleh seorang tabii tanpa menyebutkan siapa perantaranya kepada Nabi SAW, namun menurut ahli ushul artinya adalah hadis yang terputus secara mutlak, di mana pun letaknya dan berapa pun jumlah perawinya, mirip Hadis Munqathi'. Imam Asy-Syafii mengingkari Istihsan dan mengatakan bahwa \"Barangsiapa ber-istihsan maka ia telah membuat syariat (baru)\", sedangkan Ulama Hanafiyah paling banyak menggunakan Istihsan. Setelah diselidiki dan diteliti ternyata perbedaan mereka hanya sampai pada tataran istilah saja (ikhtilaf lafzhi), namun pada substansinya mereka sepakat. Istihsan yang dimaksud oleh Imam Asy-Syafii bukanlah Istihsan yang selama ini dipakai oleh Ulama Hanafiyah. Kata Sunnah pun memiliki pengertian yang bebeda-beda menurut ahli fikih, ushul fikih dan mustholah hadis. Demikianlah seterusnya, perdebatan dalam masalah istilah takkan pernah menemui titik temu dan takkan memberikan manfaat yang signifikan.","part":1,"page":208},{"id":209,"text":"Demikian pula dalam masalah Tasawuf. Banyak orang berbondong-bondong mengumandangkan genderang dan mengibarkan bendera perang terhadap apa yang disebut Tasawuf. Buku-buku ditulis, pengajian-pengajian digelar, perang opini dikobarkan. Semuanya dengan satu tujuan, memberangus Tasawuf dari muka bumi. Sementara itu, di sisi lain berbondong-bondong pula orang yang siap membela mati-matian Tasawuf. Padahal, banyak di antara mereka yang tidak mengerti dan tidak memahami apa hakikat dari istilah Tasawuf itu sendiri. Ironis.\rSyaikh Al-Buthi berkata, \"Jika Tasawuf yang kalian maksud itu adalah pelanggaran-pelanggaran terhadap syariat seperti ikhtilath (campur baur) laki-laki dengan perempuan dan lain-lain, maka aku akan berdiri bersama kalian dalam memerangi Tasawuf. Namun jika yang kalian perangi adalah perkara-perkara yang memang berasal dari Islam seperti tazkiyatun nafs (penyucian jiwa), akhlak dan lain-lain, maka berhati-hatilah!\"\rBeliau juga sering mengulang-ulang perkataan ini, \"Namailah sesuka kalian: Tasawuf, Tazkiyah, Akhlak atau yang lainnya selama substansinya sama.\"Ya, ternyata istilah tidaklah sedemikian penting dibandingkan dengan subtansinya selama dalam batas-batas yang bisa ditolerir. Syaikh Al-Buthi bahkan menegaskan dalam ceramahnya, \"Saya sengaja berusaha sebisa mungkin untuk tidak menggunakan istilah tasawuf dalam kitab saya, Syarah Hikam Athoillah, demi menjaga perasaan saudara-saudara kami yang sudah termakan opini bahwa tasawuf bukanlah dari Islam.\"","part":1,"page":209},{"id":210,"text":"Namun, apakah dengan demikian beliau mengingkari inti atau substansi Tasawuf? Jawabannya seperti yang sudah saya sebutkan di atas. Apapun istilahnya, jika memang terbukti berupa pelanggaran terhadap syariat maka kita harus berdiri dalam satu barisan untuk memeranginya. Namun jika hal-hal itu adalah bagian dari Islam atau bahkan inti ajaran Islam, maka tidak semestinya kita menolaknya.\rJadi, kita mesti banyak berhati-hati dalam menggunakan istilah sebelum memahami makna sebenarnya. Jangan sampai kita terjebak dalam perangkap musuh yang sengaja mengkotak-kotakkan umat Islam dengan cara menciptakan istilah-istilah agar umat Islam disibukkan membahasnya lalu terlupakan akan tugas yang lebih penting dan lebih besar manfaatnya daripada itu. Jangan sampai kita terpecah-pecah karena masalah furu'iyyah sementara kita melupakan prinsip-prinsip agama kita. Wallahu a'lam.\rDamaskus, 26 Mei 2010 7:26 a.m.\rMengenal Tasawuf dan Sufi\rTulisan ini adalah lanjutan dari tulisan saya sebelumnya berjudul \"Tasawuf dan Perang Istilah\".\rSetelah menyinggung masalah asal-usul kata Tasawuf yang tak satu kata pun tepat sesuai kaidah bahasa, Syaikh Al-Buthi melanjutkan pembahasan dengan memasuki materi mengenai substansi Tasawuf.","part":1,"page":210},{"id":211,"text":"Imam Al-Qusyairi berkata dalam Risalah-nya, \"Sesungguhnya kalangan ini (sufi) sudah terlalu populer untuk sekedar membutuhkan identitas dari pecahan kata yang diambil dari bahasa.\" Artinya, istilah Tasawuf dan identitas Sufi sudah lebih dikenal dan masyhur sehingga tidak membutuhkan definisi lagi. Beliau melanjutkan, \"Tasawuf adalah makna (substansi)nya, sedangkan Sufi adalah orang (pelaku)nya. Setiap orang mengungkapkan sesuai dengan apa yang dialaminya. Menyebutkan semuanya satu-persatu hanya akan mengeluarkan kita dari topik pembicaraan sebenarnya, yaitu ringkasan. Saya hanya akan menyinggung beberapa di antaranya saja.\" Kemudian beliau menyebutkan riwayat-riwayat yang beliau dapatkan mengenai definisi Tasawuf.\r>>\rDi antaranya adalah definisi yang diberikan oleh Abu Muhammad Al-Jariri, \"Tasawuf adalah masuk ke dalam budi pekerti yang luhur dan keluar dari perilaku yang tercela.\" Ya, Tasawuf tak lain dan tak bukan adalah akhlaqul karimah alias etika atau moral. Semakin tinggi moral seseorang, semakin tinggi pula kadar Tasawufnya. Tentu saja untuk masuk ke dalam akhlak terpuji, seseorang tidak dapat lepas dari agama, karena agama adalah sumber moral. Maka, sangat keliru jika meneriakkan moral tapi di satu sisi mengabaikan agama.","part":1,"page":211},{"id":212,"text":"Riwayat kedua, dari Al-Junaid, beliau berkata ketika beliau ditanya tentang Tasawuf, \"Dia (Tasawuf) adalah apabila kau dimatikan oleh Al-Haq (Allah SWT) darimu, dan dihidupkan bersama-Nya.\" Definisi ini agak dalam maknanya sehingga cukup sulit dicerna. Syaikh Al-Buthi menjelaskan maksud perkataan Al-Junaid bahwa jika Allah telah mematikan segala macam rasa yang ada pada diri seseorang sehingga ia seolah-olah telah mati dan tak merasakan apapun, kemudian ia dihidupkan lagi dan merasa hidup berduaan saja dengan Allah, maka itulah Tasawuf. Kata \"darimu\" maksudnya adalah dari segala macam keinginan dalam dirimu. Ketika seseorang sudah tidak memiliki keinginan apapun terhadap dunia karena ia telah merasa cukup dengan Allah, maka saat itu ia telah merasakan hakikat Tasawuf.","part":1,"page":212},{"id":213,"text":"Definisi lain dikemukakan oleh Al-Husain bin Manshur atau lebih dikenal dengan panggilan Al-Hallaj, beliau berkata ketika ditanya tentang Sufi, \"Dia adalah seseorang yang sendirian saja, tidak diterima dan tidak menerima orang lain.\" Artinya, dalam hidupnya ia tidak merasakan kehadiran apapun dan siapapun. Syaikh Al-Buthi tampaknya agak kurang setuju dengan makna ini. Beliau menyanggah, \"Sebenarnya untuk merasakan kesendirian, seseorang tidak perlu harus menyendiri dalam goa-goa atau tempat terpencil karena manusia adalah makhluk sosial. Justru ketika seseorang mampu bergaul dengan orang lain –dengan tetap menjaga kesendirian hati hanya bersama Allah, itulah yang lebih baik.\" Artinya, untuk menjaga kesendirian bersama Allah, seseorang tidak perlu menyendiri secara fisik. Karena kesendirian itu letaknya di hati, bukan di badan. Jadi yang mesti dikosongkan adalah hati, tidak mesti harus memisahkan jasad dari manusia.","part":1,"page":213},{"id":214,"text":"Definisi lain dikemukakan oleh Abu Hamzah Al-Baghdadi, beliau berkata, \"Ciri-ciri Sufi sejati adalah merasa fakir setelah kaya, merasa hina setelah mulia dan bersembunyi setelah tenar. Sedangkan ciri-ciri Sufi palsu adalah merasa kaya setelah miskin, merasa mulia setelah hina dan mencari popularitas setelah bersembunyi.\" Definisi ini juga cukup dalam maknanya. Kalimat \"merasa fakir setelah kaya\" maksudnya adalah merasa diri tak memiliki apapun. Bagaimana tidak, sedangkan dirinya sendiri adalah milik Tu(h)annya yaitu Allah. Seseorang yang masih merasa bahwa dirinya memiliki sesuatu, maka ia bukan hamba, melainkan orang merdeka. Padahal setiap manusia adalah hamba Allah. Maka, Sufi sejati adalah orang yang merasa tidak memiliki apa-apa alias fakir setelah sebelumnya ia merasa memiliki sesuatu. Selanjutnya, kalimat \"merasa hina setelah mulia\" maksudnya adalah tawadhu' dan merasa rendah diri di hadapan makhluk, lebih lagi di hadapan Sang Khalik. Ketika seseorang merasa bahwa dirinya tak lebih dari segumpal darah dan daging yang berasal dari setetes air yang hina dan akan kembali menjadi tanah, maka ia telah menjadi seorang Sufi sejati. Kemudian, kalimat \"bersembunyi setelah tenar\" maksudnya adalah menenggelamkan diri dalam ketiadaan dari pandangan makhluk sehingga ia hanya bersama Allah saja. Hal ini sangat penting untuk menjaga keikhlasan. Itulah ciri-ciri Sufi sejati. Sedangkan Sufi palsu adalah orang yang melakukan sebaliknya, merasa kaya dan tidak membutuhkan Allah lagi setelah ia mengakui","part":1,"page":214},{"id":215,"text":"kefakirannya, merasa mulia setelah ia mengakui kehinaannya dan mencari popularitas di mata manusia setelah sebelumnya ia adalah orang tak dikenal.\rDalam pertemuan kedua pada Bab Tasawuf ini, Syaikh Al-Buthi hanya berhenti sampai di sini. Insyaallah jika ada kesempatan akan kita lanjutkan lagi pembahasan ini. Mohon doanya.\rPertemuan Ketiga (Bab Tasawuf)\rPada pertemuan ketiga, Syaikh Al-Buthi memulai penjelasan dari ucapan 'Amr bin Utsman Al-Makki tentang tasawuf. Amr bin Utsman Al-Makky ditanya tentang tasawuf, \"Tasawuf adalah si hamba berbuat sesuai dengan apa yang paling baik pada saat itu.\"\rSyaikh Al-Buthi menjelaskan maksud ucapan itu bahwa seorang muslim seharusnya melakukan perbuatan yang terbaik sesuai dengan waktu, situasi dan kondisi di mana ia berada. Beliau mengutip ungkapan Arab yang berbunyi, \"Setiap tempat punya perkataannya dan setiap perkataan punya tempatnya.\"\rBeliau memberikan contoh seseorang yang baru pulang dari kerja atau aktivitas di luar rumah, lalu sesampai di rumah langsung memegang buku atau membaca Al-Quran dengan alasan ia punya target ibadah yang harus ia capai dalam waktu tertentu, sehingga ia menggunakan waktu yang semestinya ia gunakan untuk keluarga. Padahal, istrinya sudah lama menunggu kepulangannya dan merindukan kehadirannya.","part":1,"page":215},{"id":216,"text":"Syaikh Al-Buthi mengkritik perbuatan semacam itu dan mengatakan bahwa orang itu tidak memahami hakikat ibadah. Padahal, bercanda dan bersenda gurau dengan istri juga merupakan salah satu bentuk ibadah jika dilakukan pada tempat dan waktunya.\rTidakkah kita memperhatikan hadis yang berbunyi, \"Setiap yang melenakan seorang muslim adalah kebatilan, kecuali tiga hal: melempar panah, melatih kuda dan bercanda dengan keluarga (istri). Ketiga hal itu adalah haq (kebenaran)\" (HR. Tirmidzi)\rDalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda, \"Dalam kemaluan istrimu ada sedekah.\" Sebagian sahabat bertanya, \"Wahai Rasulullah, apakah seseorang di antara kami mendatangi istrinya lalu mendapatkan pahala?\" Rasulullah SAW menjawab, \"Tidakkah kau lihat seandainya ia meletakkan kemaluannya di tempat yang haram, apakah ia mendapatkan dosa?\" Sahabat menjawab, \"Ya.\" Beliau melanjutkan, \"Begitu juga jika ia meletakkannya di tempat yang halal, dia mendapatkan pahala.\" (HR. Muslim)\r>>\rJadi, seorang muslim seharusnya senantiasa melakukan perbuatan yang terbaik dan sesuai dengan tempat, waktu dan kondisinya. Di setiap tempat ada perbuatan dan di setiap waktu ada haknya masing-masing. Adakalanya sebuah ibadah tidak cocok jika dilakukan tidak pada tempat dan waktunya.\rSelanjutnya, Muhammad bin Ali Al-Qashab berkata, \"Tasawuf adalah akhlak mulia yang muncul di zaman mulia dari pribadi mulia bersama kaum mulia.\"","part":1,"page":216},{"id":217,"text":"Syaikh Al-Buthi menjelaskan bahwa yang dimaksud \"zaman mulia\" adalah zaman Nabi SAW, \"pribadi mulia\" adalah Nabi SAW itu sendiri, sedangkan \"kaum mulia\" adalah para sahabat.\rSumnun pernah ditanya tentang tasawuf lalu menjawab, \"Kau tidak memiliki sesuatu apapun dan kau tak dimiliki oleh sesuatu apapun.\"\rSyaikh Al-Buthi menjelaskan maksud kalimat pertama bahwa seorang muslim seharusnya selalu merasa tidak memiliki sesuatu apapun, karena segala sesuatu adalah milik Allah SWT. Bahkan dirinya sendiri pun hamba milik Allah SWT. Sedangkan kalimat kedua maksudnya adalah seorang muslim seharusnya tidak terikat oleh apapun, baik materi maupun non-materi. Ketika ia terikat oleh sesuatu, maka ia bukan lagi hamba yang taat kepada Allah SWT, karena hanya Allah sajalah satu-satunya Tuhan yang berhak untuk ditaati sehingga ia harus terikat pada Allah SWT semata.\rRuwaim pernah ditanya tentang tasawuf lalu menjawab, \"Melepaskan jiwa bersama apa yang dikehendaki oleh Allah SWT.\"\rSyaikh Al-Buthi menjelaskan maksud \"dikehendaki\" adalah \"diridhoi\". Artinya, seorang muslim seharusnya menjadikan hawa nafsunya tunduk kepada apa yang diridhoi Allah saja, meskipun adakalanya tidak sesuai dengan kehendak makhluk.\rAl-Junaid pernah ditanya tentang tasawuf lalu menjawab, \"Kau bersama Allah tanpa ada ikatan apapun.\"\rSyaikh Al-Buthi menjelaskan bahwa seorang muslim seharusnya bersama Allah saja tanpa menduakan-Nya dengan sesuatu apapun, itulah yang dimaksud dengan \"tanpa ikatan\" yaitu tanpa keterikatan dengan selain-Nya.","part":1,"page":217},{"id":218,"text":"Ruwaim bin Ahmad Al-Baghdadi berkata, \"Tasawuf dibangun di atas tiga hal: komitmen terhadap kefakiran dan ketergantungan kepada Allah, mewujudkan pengorbanan dan pemberian, meninggalkan usaha dan ikhtiar.\"\rSyaikh Al-Buthi menjelaskan maksud kalimat pertama bahwa seharusnya seorang muslim senantiasa berkomitmen dengan rasa kemiskinan dan ketergantungan hanya kepada Allah SWT. Sedangkan kalimat kedua adalah refleksi dari kalimat pertama, yaitu mewujudkan pengorbanan dan pemberian sebanyak mungkin. Sebaik-baik orang adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain. Sedangkan kalimat ketiga merupakan puncak dari sebelumnya, yaitu menjauhi segala macam campur tangan dan usaha yang dapat menggeser atau menghilangkan makna kalimat sebelumnya.\rMa'ruf Al-Karkhi berkata, \"Tasawuf adalah meraih hakikat kebenaran, dan meninggalkan apa yang ada di tangan makhluk.\"\rDemikianlah ringkasan pengajian pada pertemuan ketiga Bab Tasawuf yang diadakan di Masjid Jami Al-Buthi, Damaskus, setiap Jumat bakda Ashar oleh Syaikh Prof. Dr. M. Said Ramadhan Al-Buthi hafizhohullah.\rWalhamdulillahi rabbil 'alamin.\rMengenal Tasawuf dan Sufi (III)\rOct 26, '10 5:34 AM\runtuk\rPertemuan Keempat\rAl Junayd berkata, \"Tasawuf adalah perang tanpa kompromi.\" Maksudnya adalah kesungguhan tiada akhir. Tasawuf adalah usaha dan kerja keras yang tak kenal henti dalam melaksanakan ketaatan dan kepatuhan terhadap Allah SWT.","part":1,"page":218},{"id":219,"text":"Dia berkata pula, \"Para Sufi adalah anggota dari satu keluarga yang tidak bisa dimasuki oleh orang-orang selain mereka.\" Maksudnya, mereka memiliki ciri khas yang tak dimiliki oleh selain mereka dalam akhlak, pergaulan dan lain-lain.\rSelanjutnya dia juga menjelaskan lagi, \"Tasawuf adalah dzikir bersama, ekstase yang disertai penyimakan, dan tindakan yang didasari Sunnah.\" Dalam hadis disebutkan, \"Sesungguhnya Allah memiliki pasukan malaikat yang bertugas untuk mencari dan mengikuti halaqoh-halaqoh majelis dzikir di bumi.\" (HR. Al-Hakim, Sahih Al-Isnad)\rAl Junayd menyatakan, \"Kaum Sufi adalah seperti bumi, selalu semua kotoran dicampakkan kepadanya, namun tidak menumbuhkan kecuali segala tumbuhan yang baik.\" Dia juga mengatakan, \"Seorang Sufi adalah bagaikan bumi, yang diinjak orang saleh maupun pendosa; juga seperti mendung, memayungi segala yang ada; seperti air hujan, mengairi segala sesuatu.\" Semua itu disebabkan oleh rasa tawadhunya (perasaan hina) di hadapan Allah SWT.\rDia melanjutkan, \"Jika engkau melihat seorang Sufi menaruh kepedulian kepada penampilan lahiriahnya, maka ketahuilah wujud batinnya rusak.\" Karena perhatian terhadap lahiriah akan melalaikan perhatian terhadap batin. Seseorang yang disibukkan memperbaiki kulitnya akan terlupakan memperhatikan isinya.","part":1,"page":219},{"id":220,"text":"Sahl bin Abdullah berkata, \"Sufi adalah orang yang memandang darah dan hartanya tumpah secara gratis.\" Ini adalah kiasan. Maksudnya ia merasa tak memiliki apapun karena dirinya sendiri adalah milik Tuhannya. Bukan berarti ia memanggil setiap orang untuk membunuhnya, karena hal itu mustahil dan dilarang syariat. Juga bukan berarti keputusasaan terhadap rahmat Allah SWT karena hal itu merupakan kekufuran.\rAhmad an-Nury berkata, \"Tanda seorang Sufi adalah dia merasa rela manakala tidak punya, dan peduli orang lain ketika ada.\" Artinya ketika dalam keadaan sulit ia diam, rela dan tidak mengeluh, namun ketika dalam keadaan lapang ia mendahulukan orang lain daripada dirinya sendiri.\rMuhammad bin Ali al-Kattany menegaskan, \"Tasawuf adalah akhlak yang baik. Barangsiapa yang melebihimu dalam akhlak yang baik, berarti la melebihimu dalam tasawuf.\" Ya, tasawuf adalah akhlak yang terpuji, barangsiapa bertambah akhlaknya, bertambah pulalah tasawufnya.\rAhmad bin Muhammad ar-Rudzbary mengatakan, \"Tasawuf adalah tinggal di pintu sang kekasih sekalipun engkau diusir.\" Ini merupakan kiasan. Maksudnya seseorang pasrah di hadapan pintu rahmat Allah SWT, melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya tanpa peduli apakah ia akan diterima atau ditolak. Ia hanya percaya terhadap kemurahan Allah dan sama sekali tidak mengandalkan amalannya. Dalam hadis, \"Amalan seseorang takkan dapat memasukkannya ke dalam surga.\" Karena yang dapat memasukkan seseorang ke dalam surga hanyalah kemurahan Allah semata.","part":1,"page":220},{"id":221,"text":"Dia juga mengatakan, \"Tasawuf adalah sucinya taqarrub setelah kotornya kejauhan dari-Nya.\" Karena indahnya kedekatan terhadap Allah SWT hanya dapat dirasakan setelah seseorang bersusah-payah dalam mencapainya. Pepatah Arab mengatakan, \"Tiada kenikmatan kecuali setelah kelelahan.\"\rDikatakan, \"Orang yang paling kotor adalah seorang Sufi yang amat kikir.\" Maksudnya seseorang yang mengaku sufi namun kikir, maka sebenarnya ia bukanlah sufi. Karena tidak mungkin bersatu antara seorang sufi dengan sifat kikir.\rDikatakan, \"Tasawuf adalah tangan yang kosong dan hati yang baik.\" Maksudnya tangan yang tidak menyisakan sedikitpun dunia kecuali diinfakkannya di jalan Allah, sedangkan hatinya tetap bersih hanya untuk Allah semata.\rDemikianlah ringkasan pengajian pada kali ini. Semoga bermanfaat.\rDamaskus, 9 July 2010\r>>\rMengenal Tasawuf dan Sufi (IV)\rOct 26, '10 5:35 AM\runtuk\rPertemuan Kelima\rIni adalah ringkasan pertemuan kelima dalam serial Mengenal Tasawuf dan Sufi. Disarikan dari pengajian Syaikh Dr. M. Said Ramadan Al-Buthi.\rAsy-Syibly mengatakan, \"Tasawuf adalah duduk bersama Allah SWT tanpa kegelisahan.\" Maksudnya adalah seseorang merasa yakin dengan rahmat dan kasih sayang Allah SWT tanpa ada kekhawatiran sedikit pun. Bagaimana bisa khawatir sedangkan kekasihnya selalu berada di sampingnya.","part":1,"page":221},{"id":222,"text":"Ketika ia diberikan kesehatan, ia merasa yakin bahwa kesehatan itu merupakan nikmat yang terbaik untuknya. Begitu juga sebaliknya, ketika ia ditimpa sakit atau musibah lainnya, ia merasa tenang dan yakin bahwa semua itu adalah yang terbaik dari Allah untuk dirinya. Ketika ia diuji dengan kemiskinan, ia yakin bahwa kondisi itulah yang terbaik menurut Allah SWT. Begitu juga ketika ia diuji dengan kekayaan, ia yakin bahwa itulah pemberian terbaik dari Allah SWT.\rAllah SWT berfirman, \"Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.\" (QS. Yunus: 62)\rAbu Manshur berkata, \"Sufi adalah orang yang mengisyaratkan dari Allah SWT, sedangkan manusia mengisyaratkan kepada Allah SWT.\" Maksudnya, seorang sufi selalu mengingatkan kita tentang nikmat-nikmat yang datangnya dari Allah SWT, sementara orang-orang hanya mengingatkan kita tentang kewajiban-kewajiban kita terhadap Allah SWT.","part":1,"page":222},{"id":223,"text":"Asy-Syibly mengatakan, \"Sufi terpisah dari manusia dan bersambung dengan Allah SWT.\" Maksudnya adalah hatinya terpisah dari makhluk dan hanya terpaut dengan Allah saja. Keterpisahan ini tidak bermakna keterpisahan secara fisik dan materi. Boleh jadi fisiknya membaur dengan manusia di pasar, kantor, madrasah dan lain-lain, tapi hatinya hanya bersama Allah saja. Ini benar-benar hidup dalam keterasingan di tengah-tengah keramaian. Jasadnya berjalan di muka bumi, namun hatinya melayang-layang di kerajaan Allah. Orang semacam ini seolah-olah diciptakan untuk menjadi kekasih-Nya.\rAllah SWT berfirman, \"dan Aku telah memilihmu (Musa) untuk diri-Ku.\" (QS. Thaha: 41). Yaitu memutusnya dari dari semua makhluk.\rKemudian Allah SWT berfirman, \"Kau (Musa) takkan dapat melihat-Ku.\" (QS. Al-A'raf: 143). Karena kedekatan seseorang terhadap kekasih akan mengundang rasa rindu untuk melihatnya. Namun sayang, di dunia ini tak satupun yang diizinkan oleh Sang Kekasih untuk melihat-Nya, bahkan Nabi Musa sekalipun. Hanya di akhirat saja tempat paling indah itu.\rAllah SWT berfirman, \"Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya.\" (QS. Yunus: 26). Tambahan itu berupa melihat wajah Allah secara langsung. (Tafsir Ibnu Katsir)","part":1,"page":223},{"id":224,"text":"Asy-Syibly juga mengatakan, \"Para Sufi adalah anak-anak di pangkuan Al-Haq (Allah SWT).\" Ini adalah kiasan, karena seorang anak selalu merasa aman dan nyaman bersama ayahnya. Ia merasa tenang dari segala macam gangguan. Ia menyadari kelemahan dirinya, sekaligus mengakui kekuatan ayahnya. Demikian pula keadaan para sufi, mereka merasa tenang dan aman bersama Allah. Mereka menyadari kelemahan diri mereka sekaligus mengakui kekuatan dan kehebatan Allah. Oleh karena itu, mereka menyerupai anak-anak yang berada di pangkuan ayah mereka.\r\"Dan Allah mempunyai sifat yang Maha Tinggi; dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.\" (QS. An-Nahl: 60)\r\"Dan bagi-Nya lah sifat yang Maha Tinggi di langit dan di bumi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.\" (QS. Ar-Rum: 27)\rDemikian ringkasan pengajian kali ini. Walhamdulillahi rabbil 'alamin.\rDamaskus, 16 July 2010\r>>\rMengenal Tasawuf dan Sufi (V)\rOct 26, '10 5:36 AM\runtuk\rPertemuan Keenam\rInilah ringkasan pertemuan keenam dari pengajian Syaikh Dr. M. Said Ramadan Al-Buthi tentang Tasawuf.","part":1,"page":224},{"id":225,"text":"Asy-Syibli berkata, \"Tasawuf adalah kilat yang menyala.\" Maksudnya adalah kondisi batin yang berubah-rubah dengan sangat cepat sehingga menyerupai kilat. Kadangkala kondisi roja' (harap) menguasai seorang sufi sehingga ia teringat akan rahmat Allah SWT yang sangat luas, lalu ia pun senang. Di saat seperti itu, tiba-tiba kondisi batinnya berubah menjadi khouf (takut) yang sangat dahsyat sehingga ia teringat akan siksa Allah SWT yang amat pedih, sehingga ia pun gemetar. Kondisi itu berubah-rubah dengan sangat cepat sehingga menyerupai kilat yang menyala.\rAsy-Syibli juga berkata, \"Tasawuf adalah terlindung dari memandang makhluk.\" Maksudnya, Allah SWT melindungi penglihatan anda dari memandang makhluk. Ketika anda melihat alam dengan segala macam warna-warninya, langit biru, bumi yang terbentang luas, pepohonan yang rindang, sungai yang mengalir, awan yang berarak, maka anda hanya akan melihat Sang Pencipta jagad raya Yang Maha Besar itu, yaitu Allah SWT. Anda sama sekali tidak melihat makhluk-makhluk itu. Yang ada di pandangan anda hanyalah Dzat yang menciptakan semua itu, yaitu Allah SWT. Lalu bibir anda pun melantunkan kalimat-kalimat pujian yang indah, \"Subhanallah. Maha Suci Allah.\"\rAllah SWT berfirman:\r\"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,","part":1,"page":225},{"id":226,"text":"(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): \"Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.\" (QS. Ali Imran: 190-191)\rSeorang sufi berjalan di atas muka bumi, berjual-beli dengan manusia di pasar, bercocok tanam di sawah, namun ia tak melihat apa-apa selain Allah SWT. Matanya melihat dunia, namun hatinya melihat Allah SWT yang menciptakan dunia itu. Inilah yang dinamakan dengan Wihdatu Al-Syuhud, yaitu tunggalnya penglihatan. Seorang sufi mengakui adanya wujud selain Allah SWT, yaitu makhluk-makhluk seperti bumi, langit, gunung, manusia, air, batu dan lain-lain, namun ia tidak melihatnya. Yang ia lihat hanyalah Allah SWT.\rBerbeda dengan Wihdatu Al-Wujud (tunggalnya wujud) yang menafikan segala wujud selain Allah SWT. Ini berarti menafikan adanya malaikat, nabi, kitab suci dan lain-lain. Jelas ini bukan ajaran Islam. Sedangkan yang pertama tadi merupakan inti ajaran Islam.","part":1,"page":226},{"id":227,"text":"Ruwaym berkata, \"Para Sufi akan tetap berada dalam kebaikan selama mereka bertengkar satu dengan yang lain. Tapi setelah mereka berdamai, maka tak ada lagi kebaikan pada mereka.\" Maksud bertengkar di sini adalah saling mengingatkan satu sama lain ketika sedang lalai, seolah-olah tidak ada kompromi di antara mereka. Dalam kondisi seperti itu, mereka berada dalam kebaikan. Namun ketika mereka sudah mulai berbasa-basi dan melupakan nasehat, maka saat itulah kebaikan itu pergi. Rasulullah SAW bersabda, \"Agama itu adalah nasehat.\"\rAl Jurairy mengatakan, \"Tasawuf adalah memantau setiap kondisi dan berpegang pada adab.\" Maksudnya memantau kondisi batin agar senantiasa selaras dengan syariat.","part":1,"page":227},{"id":228,"text":"Khouf dan roja' adalah dua sikap yang harus seimbang pada diri setiap mukmin, ibarat dua sayap yang tidak boleh pincang salah satunya. Khouf yang berlebihan akan menyebabkan seseorang mengalami Al-Ya's (keputusasaan), sehingga ia terputus dari rahmat Allah SWT. Kita mungkin pernah mendengar seseorang mengatakan, \"Sudahlah, Allah tidak akan mungkin mengampuni dosa-dosa saya yang terlampau banyak.\" Sebaliknya, rasa roja' yang berlebihan juga dapat menyebabkan seseorang tidak sopan terhadap Allah SWT. Orang seperti ini akan mengatakan, \"Sudahlah, tidak apa-apa berbuat dosa sebanyak-banyaknya. Allah Maha Luas ampunan-Nya. Allah Maha Pemurah dan Maha Penyayang. Allah Maha Mengampuni Dosa dan Maha Menerima taubat. Dia tidak akan menyiksa hamba-Nya.\" Jadi, harus keduanya seimbang. Nah, seorang sufi selalu mengawasi kondisi dirinya sendiri di setiap waktu agar tidak terjadi kepincangan.\rSedangkan makna \"berpegang pada adab\" adalah berpegang teguh pada syariat. Adab takkan mungkin tegak tanpa syariat, karena adab berdiri di atas syariat. Sufi adalah orang yang paling taat menjalankan syariat, karena tak mungkin ia dapat menjadi seorang sufi tanpa melewati fase syariat. Seseorang yang mengaku sufi namun syariatnya masih terbengkalai bukanlah sufi sebenarnya.\rAl-Muzayyin menegaskan, \"Tasawuf adalah kepasrahan kepada Al-Haq.\" Maksudnya adalah kepasrahan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.","part":1,"page":228},{"id":229,"text":"Abu Turab an-Nakhsyaby menyatakan, \"Seorang Sufi tidak dapat dikotori oleh sesuatu pun, bahkan segala sesuatu menjadi jernih karenanya.\" Ketika seorang sufi dicela, dihina dan dicacimaki, ia tidak bergeming, bahkan mengatakan, \"Saya lebih buruk daripada yang anda tuduhkan itu.\" Ketika ia dipuji, disanjung dan dimuliakan, ia pun tak bergeming dan mengatakan, \"Diamlah, saya tidak seperti yang anda sangka itu. Saya lebih tahu diri saya sendiri daripada anda. Anda hanya melihat penampilan luar saya. Adapun dalamnya, hanya saya dan Allah saja yang tahu.\"\rSuatu hari, seorang ustadz bersama para muridnya sedang berjalan. Tiba-tiba mereka tertimpa kotoran dari atas mereka. Siapa yang melemparkan, sengaja atau tidak, tak seorang pun yang tahu. Sebelum para murid mulai berbicara, sang ustadz memulainya terlebih dahulu, \"Tahukah kalian bahwa kita masih lebih buruk daripada kotoran ini.\"\rDi tempat lain, dua orang sedang bersengketa mengenai suatu permasalahan. Lalu datanglah seorang sufi menengahi mereka. Tak lama kemudian, masing-masing di antara dua orang yang bersengketa itu berhenti bersengketa dan tidak mau menuntut lawannya.\rDemikianlah, semestinya setiap muslim menjadi sosok yang jernih dan menjernihkan. Kehadirannya di komunitas apapun seharusnya dapat memberikan kontribusi positif dan konstruktif. Pujian maupun celaan tak dapat mengotori hatinya.\rAllah SWT berfirman:","part":1,"page":229},{"id":230,"text":"\"…kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.\" (QS. Al-Maidah: 54)\rDemikianlah ringkasan kali ini.\rDamaskus, 23 July 2010\r>>\rMengenal Tasawuf dan Sufi (VI)\rOct 26, '10 5:37 AM\runtuk\rPertemuan Ketujuh\rIni adalah ringkasan pertemuan ketujuh dari pengajian Syaikh Dr. M Said Ramadan Al-Buthi tentang Tasawuf dan Sufi.\rDikatakan, \"Pencarian tidaklah meletihkan sang Sufi, dan hal-hal duniawi tidaklah mengganggunya.\" Maksudnya, bagi seorang sufi, usaha dalam melakukan ketaatan bukanlah sebuah beban. Sebaliknya, ia merupakan sebuah kebutuhan, sehingga usaha tersebut tidak membuatnya merasa lelah. Di samping itu, usaha-usaha itu tidaklah mengganggunya dalam mempertahankan tawakkal. Seorang sufi berusaha tanpa kenal lelah seolah-olah usahanya itulah satu-satunya yang dapat menyelamatkannya dari api neraka dan memasukkannya ke dalam surga. Namun di saat yang sama, ia bertawakkal, pasrah dan menyerahkan segala sesuatu kepada Allah SWT seolah-olah usahanya tersebut tidaklah berarti apa-apa.","part":1,"page":230},{"id":231,"text":"Ketika Dzun Nuun Al-Mishry ditanya tentang orang-orang Sufi, dia menjawab, \"Mereka adalah kaum yang mengutamakan Allah SWT di atas segala-galanya sehingga Allah mengutamakan mereka di atas segala-galanya.\" Maksudnya, orang-orang sufi mampu menekan hawa nafsu mereka demi menjalankan ketaatan terhadap Allah, sehingga Allah pun meridhoi mereka. Seorang sufi tahu bahwa bangun di malam hari di musim dingin untuk shalat tahajjud merupakan sebuah amalan yang berat. Namun ia tahu bahwa amalan itu disukai Allah, maka ia pun menjalaninya dei mendapatkan cinta-Nya. Seorang sufi tahu bahwa berpuasa di siang hari pada musim panas merupakan pekerjaan berat yang tidak disukai semua orang. Namun karena ia tahu bahwa amalan itu disukai Allah, maka ia pun melaksanakannya. Semua itu demi cinta-Nya. Seorang sufi selalu mengutamakan Allah di atas segala-galanya. Kerelaan Allah merupakan impiannya. Kemurkaan Allah merupakan musibah besar yang harus dihindari dan patut disesalkan.\rOleh karena itu, Allah pun mengutamakan mereka di atas segala sesuatu. Kedekatan mereka terhadap Allah telah menghilangkan jarak antara mereka dengan Allah. Keridhoan mereka adalah keridhoan Allah. Begitu juga kemurkaan mereka merupakan kemurkaan Allah juga.\rAllah SWT berfirman:","part":1,"page":231},{"id":232,"text":"\"…kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Maidah: 54)\rRasulullah SAW bersabda:\r\"Alloh berfirman, “Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka Aku mengumumkan perang terhadapnya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari apa-apa yang Aku wajibkan kepadanya, dan hamba-Ku itu tetap mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Bila Aku mencintainya, Aku akan menjadi pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk menggenggam, dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta pasti Aku beri, jika ia meminta perlindungan, niscaya Aku lindungi.” (HR. Bukhari)","part":1,"page":232},{"id":233,"text":"Muhammad al-Wasithy mengatakan, \"Dahulu mereka memiliki isyarat, kemudian lama-kelamaan menjadi gerakan-gerakan, dan sekarang tak ada sesuatu pun yang tinggal selain kesedihan.\" Ini merupakan sebuah ungkapan hati dari seorang sufi yang prihatin melihat kondisi manusia yang semakin hari semakin memburuk. Dahulu pada masa sahabat, ketakwaan merupakan hiasan mereka, sehingga mendapatkan pujian dari Allah dan Rasul-Nya. Kesalihan mereka mampu mendatangkan karomah-karomah yang tak dimiliki oleh sembarang orang. Inilah yang dimaksud dengan \"isyarat\". Kemudian ketika zaman bergeser ke tabiin, spirit itu pun berkurang sedikit demi sedikit. Begitu juga ketika masa tabiut tabiin dan seterusnya hingga sekarang.\rNilai-nilai tasawuf yang dahulu merupakan substansi dinul Islam yang melekat dan mendarahdaging dalam diri para salafus sholih, lama-kelamaan berubah menjadi rutinitas dan ritualitas tanpa ruh. Itulah yang dimaksud dengan \"gerakan-gerakan\", yaitu formalitas tanpa esensi. Tasawuf menjadi sebuah profesi yang digunakan untuk mengeruk popularitas dan mencari keuntungan-keuntungan duniawi lainnya.\rNamun kondisi itu juga akhirnya lenyap sama sekali sehingga tak tersisa sedikit pun. Nilai-nilai Islam yang dahulu menjadi motor penggerak pada diri setiap muslim, kini hanya menjadi cerita-cerita dan kisah-kisah yang tertulis di buku-buku. Sejarah telah menjadi bukti bahwa umat ini telah mengalami degradasi kualitas.","part":1,"page":233},{"id":234,"text":"An-Nury ditanya tentang Sufi, dan dia menjawab, \"Sufi adalah manusia yang menyimak pendengaran dan yang mengutamakan sebab-sebab.\" Maksudnya, seorang sufi selalu menyimak nasihat-nasihat, baik dari Al-Quran, hadis, syair maupun yang lainnya, kemudian mereka berkomitmen terhadap hal-hal yang dapat menyampaikan mereka kepada keridhoan Allah. Hal-hal itulah yang dimaksud \"sebab-sebab\".\rAbu Nashr as-Sarraj ath-Thausy berkata, \"Aku bertanya kepada All al-Hushry `Siapakah, menurutmu, Sufi itu?’ Dia menjawab, `Yang tidak dibawa bumi dan tidak dinaungi langit.’ Dengan ucapannya, menurut saya, ini Al-Hushry merujuk kepada nuansa keleburan.\"\rSyaikh Al-Buthi berkata, \"Penjelasan mengenai kalimat itu sangat panjang.\"\rDemikianlah ringkasan pertemuan kali ini. Sampai jumpa pada pertemuan mendatang.\rDamaskus, 30 July 2010\rError! Hyperlink reference not valid.\r================\rTubagus Abu Suja dan 12 orang lainnya menyukai ini.\rLihat komentar sebelumnya\rImam Syufa'at\rMakasih ya, Kang Admint... :D\r17 September · Suka · Hapus\rHakam Ahmed ElChudrie\rtolong sya d tag kang..\r17 September · Suka · Hapus\rAlkannas Sadja\rsaya seksi dokumentasi kang....:D\r17 September · Suka · Hapus\rAlkannas Sadja\rgus hakam: alafu gus...saya ga tau cara ngetaggnya...hehehehe\r17 September · Suka · Hapus\rImam Syufa'at\rJangan lupa, saya jg di-tag ya Kang Admint yg kurang seksi. :D\r17 September · Suka · 1 orang · Hapus\rAlkannas Sadja\rkang haydar....klo k sampean, otomatis ngetagg sendiri jew...heheh ^^\r17 September · Suka · Hapus\rWafa Noer","part":1,"page":234},{"id":235,"text":"Aq y njaluk kang,\r:D\r17 September · Suka · Hapus\rAlkannas Sadja\rkang wafa...silakan add saya dulu.. :D\r17 September · Suka · Hapus\rLamya Nun\rkang AL,tag akuuuuu......\r17 September · Suka · Hapus\rLamya Nun\rkang AL,tag akuuuuu......\r17 September · Suka · Hapus\rAlkannas Sadja\rkang lamya: tak jitagg wae yo kang...hahahaha :D\rkang imam n kang rahmat: add ana dulu biar bisa ngatagg...heheheh\rsyarat.com ^^\r17 September · Suka · Hapus\rSalim Ridho\rAku mencintai orang orang sholeh meski aku tidak seperti mereka, aku membenci kemaksiatan walau aku termasuk didalamnya. .\r17 September · Suka · 1 orang · Hapus\rMisbachuf Munir\rsekian banyak kata...baru..simpang siur masalah definisi...tasauf itu adalah ihsan...merasa selalu dilihat Allah..lahir batin...\r17 September · Suka · 1 orang · Hapus\rWafa Noer\rUmpan Datar\r25 November · Suka · Hapus\rDAFTAR ISI\rKUMPULAN TANYA JAWAB KEAGAMAAN ala Error! Hyperlink reference not valid..\rDaftar Isi Dokumen\r456. KEAJAIBAN LAILATUL QODAR\rZaine Elarifine Yahya > Daftar Isi Dokumen Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah - KTB (PISS-KTB)\r456. KEAJAIBAN LAILATUL QODAR\rDwi Puspitasari >>\rAssalamu 'alaikum\rMalam lailatul qodar lebih baik dari seribu bulan.\rpertanyaannya:\r- yang dimaksud seribu bulan itu , seribu bulan seperti bulan ramadhan atau bagaimanakah?\r-yang dimaksud malam itu dari selesai maghrib sampai tengah malam ataukah hanya beberapa jam diwaktu malam dimaksud?\rMayyit Edan >>1000 bln pd hr biasa.\rDari maghrib - subuh/ tenggelam matahari-terbit.","part":1,"page":235},{"id":236,"text":"Mayyit Edan >> dalam 1 malam,yg paling utama adl 1/3 terakhir : sktar jam 2-subuh wib.\rArwandi Arwan >> wa'alaikumsalam.wr.wb..\r1] seribu bln yg di maksud adlh seribu bln yg didalam,a tdk ada mlm qadar yaitu yg bkn ddlm,a bln ramadhan.adapun jika ada didalam,a bln ramadhan mka tdk bisa dibandingkan.\rKlo tdk khlaf ketERANGANNYa ada dlm ktb Ianatut THalibin.\r2] dari slps magrib smpai trbit fajar sbgmana tsb dlm surat Alqadar.______________________________________________________________________\r______________________________________________________________________Imron Rosyadi II >>Error! Hyperlink reference not valid.\rRAHASIA LAILATUL QADAR","part":1,"page":236},{"id":237,"text":"إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَام هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (5 1. Sesungguhnya kami Telah menurunkannya (AlQuran) pada malam kemuliaan ( Lailatul Qodr ) 2. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? 3. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. 4. Pada malam itu turun malaikat-malaikat danmalaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. 5. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbitfajar. Salah satu keistimewaan bulan Ramadhan adalah satu malam yang paling ditunggu-tunggu oleh umat Islam di seluruh dunia, Lailatul Qadar.Banyak ayat didalam Al-Quran yang menceritakan tentang barakahnya malam ini, dimana pada malam ini diturunkan Al-Quran.Banyak diantara orang menunggu kedatangan Lailatur Qadar dalam sepuluh hari terakhir. Tafsir Surat Al-Qadar Satu surat yang begitu signifikan menceritakan mengenai peristiwa malam tersebut ialah surahAl-Qadar yang berisi 5 ayat. Surat Al-Qadar adalah surat ke 97 menurut susunannya didalam Mushaf. Ada diantara ulama-ulama mengatakan bahwa surat Al-Qadar ini turun selepas hijrah Nabi saw ke Madinah. Didalam membicarakan pentafsiran ayat, amatlah bijak jika kita mengambil penafsiran yang diambil dari Tafsir Jalalain: Kesimpulannya bahwa malam Al-Qadar itu secara sejarahnya di turunkan Al-Quran dari Lauhul Mahfuz kelangit dunia. Kemuliaan","part":1,"page":237},{"id":238,"text":"malam tersebut telah dikhabarkan kepada Rasulullah SAW. Bulan itu dikatakan satu bulan dengan barakah seperti 1000 bulan. Dimalam tersebut para malaikat-malaikat dan Jibril turun ke bumi dan memohon Allah mengkabulkan doa'-do'a hambanya. Kemuliaan malam tersebut berakhir dengan terbitnya fajar. Pentafsiran yang lebih terperinci sedikit mengenai ayat pertama surah Al-Qadar ini dapat kita lihat dari Tafsir Ibnu Katsir: AllahSWT telah mengkhabarkan sesungguhnya Ia telah menurunkan Al-Quran padamalam Lailatul Qadar. Dimana Allah berfirman, \"Sesungguhnya kami turunkannya di malam yg barakah\". Inilah yang kemudian dikenal sebagai malam Al-Qadar yg berada didalam bulan Ramadan sebagaimana firmannya,\"Pada bulan Ramadan yang diturunkan didalamnya Al-Quran\". Berkata Ibnu Abbas bahwa Allah SWT telah menurunkan Al-Quran keseluruhannya (secara total) dari Lauhul Mahfuz ke Baitul 'Izzah dari langit dunia kemudian ia diturunkan secara berpisah dan berperingkat selama 23 tahun keatas Nabi SAW, kemudian firman Allah beliau memuliakan Lailatul Qadar dimana Allah SWT telah mengizinkan penurunan Al-Quran. Penamaan Lailatul Qadar ada dua faktor kenapa malam ini disebut Lailtul qodar, Faktor pertama: adalah karna malam Lailtul qodar merupakan malam yang agung derajatnya, disebut agung adalah karana beberapa sebab: Sebab pertama; karna pada malam ini ALLAH S.W.T menurunkan Al Quran secara keseluruhan di Baitul 'izzah dilangit dunia sebelum diturunkan secara terpisah-pisah, hal ini sebagaimana di sebutkan dalam Q.S Al","part":1,"page":238},{"id":239,"text":"Baqoroh: 185 \"bulan ramadhan yang telah diturunkan didalamnya alquran sebagai petunjuk bagi manusia\", kemudian merujuk pada Q.S Al Qodr: 1 ,\" dan KAMI telah turunkan AL Quran pada malam Lailtul qodar\". Bahkan Allah swt menyebutnya \"malam barokah\"sebagaimana dalam QS. Al Dukhon:3 \"Kami telah turnkan alQuran pada malam barakah\". Sebab Kedua; karna pada malam ini lebiah utama dari seribu bulan, makna seribu adalah ibarat dari keagungan bulan ini dengan maksud \"mubalghoh\" sedangkan bilangan tidak bermafhum, dan menurut qoul yang mu'tamad makna seribu adalah hakiki denagn demikina malam lailatul qodar adalah malam yang lebih utama dari seribu bulan yang tidak ada didalamnya lailatul qodar. Sebab Ketiga; adalah karena malam lailatul qodar merupakan malam turunnya malikat dan ruh, QS. Al Qodr: 4, disebut Ruh adalah jibril a.s dan menurut qoul yang lain adalah malaikat yng hanya tapak pd malam itu. Sebab Keempat; karna malam ini adalah malam \"salam\" QS.al Qodr: 5, disebut salam adalah karena setan tiada mampu membuat kerusuhan pada malam ini, hingga malam ini dipenuhi kebaikan sampai terbitnya fajar. Faktor kedua: adalah karna pada malam ini di pastikannya \"kullu amrin hakim\" yaitu ditentukannya rizq manusia, ajal dan kematian manusia, hujan dan kemarau hingga haji dan tidaknya manusia. Sebagaimana ALLAH S.W.T berfirman dalam QS.al Dukhon: 4 \"didalamnya(Lailtul qodar) di realisasikan setiap perkara yang telah di putuskan\", sebagian mufassirin memang mengatakan: bahwa yang di maksud ayat ini adalah malam","part":1,"page":239},{"id":240,"text":"ishfu sya'ban, namun hal ini sangat keliru sbgai mana yang dijelaskan imam nawawi dalam al majmu'. Malam Lailatul Qadar special bagi umat Nabi Muhammad SAW Ummat MUHAMMAD saw adalah umat yang makhsus mendapat malam lailatul qodar dengan makna bahwa ummat sebelumnnya tdak mendapatkan lailatul qodar, hal ini sesuai dengan Qoul shahih dari jumhur Ulama. Sesuai dengan asbabu nuzul bahwa ketika Rasul saw berisra' dan mi'raj Allah swt memerintahkan semua Nabi dan Rasul a.s beserta ummatnya bekumpul di masjidil aqsho, maka Rasul saw melihat diantara mereka ada yang sujud, ada yang ruku', dan Rasul s.a.w melihat ada yang punya pengikut seratus, seribu dan ada yang lebih banyak atau sedikit, maka ketika pandangan Rasul saw bertemu dengan ummat yang sngat banyak, sedang umur mereka daiatara 300-900 tahuna, Rasul bertanya: \" ummat siapakah ini?? Dikatakan: \"inilah ummat Musa as Rasul saw bertanya: \"lalku dimanakah ummatKu??? Lalu ditunjukkanlah ummat yang lebih jauh banyak, dan ketika umur mereka hanya berkisar 63-100 tahun maka Rasul saw mengeluh dan gundah, ummatNya saw tidak bisa menyamai ibadahnya ummat Nabi Musa as. Lalu Allah swt menberikan 'lailatul qodr' yang lebih utama dari seribu bulan, dengan arti: jika ummat Muhammad saw dapat menemuinya dalam tiap tahun maka seolah2 dia telah beribadah selama 83,34 tahun dan jika dia berumur 63 tahun maka seolah2 dia telah beribadah selama 4000 tahun jika baligh di umur 25 tahun. Keistimewaan Lailatul Qadar merujuk kepada surah Al-Qadar didalam membicarakan","part":1,"page":240},{"id":241,"text":"persoalan keistimewaan Lailatul Qadar, : \"Allah telah memuliakan Al-Quran dimalam ini, dan ditambahnya dengan maqam yang mulia, yaitu kedudukan dan kemuliaannya yang sangat banyak dari kebaikan dan kelebihan dari 1000 bulan.ketaatan dan ibadah didalamnya menyerupai 1000 bulan yang bukan Lailatul Qadar. 1000 bulan ini menyamai 83 tahun 4 bulan. Hanya di satu malam ini lebih baik dari umur seseorang yang menghampiri 100 tahun, jika tambah berapa tahun beliau baligh dan dipertanggung jawabkan\". Dan pada malam itu turunnya malaikat-malaikat dengan rahmat Allah dengan kesejahteraan dan barakahnya. Dan kesejahteraanya melimpah sehingga ke terbit fajar. banyak hadist-hadist yang menyebutkan mengenai keutamaan Lailatul Qadar ini. Yang banyak dianjurkan untuk mencarinya pada 10 malam terakhir. Dalam Sahih Bukhari dari Hadis Abu Hurarirah,\"Barangsiapa yang berqiam dimalam Al-Qadar dengan penuh keimanan dan bersungguh-sungguh maka telah diampunkannya apa yang telah lalu dari dosanya\". (Riwayat Bukhari didalam Kitab Al-Saum). Rasulullah SAW telah memberi penjelasan kepada siapa yang lalai dan tidak memperhatikan malam tersebut, yaitu sama seperti menghalang diirinya dari menerima kebaikannya dan ganjarannya. Berkata para sahabat \"Sesungguhnya bulan ini telahhadir kepada kamu didalamnya mengandung malam yang lebih baik dari 1000bulan. Siapa yang memuliakannya maka beliau akan dimuliakan kebaikan semua perkara. Dan siapa yang tidak memuliakannya maka kebaikannya akan dihalang\". (Riwayat Ibnu Majah dari Hadis","part":1,"page":241},{"id":242,"text":"Anas, isnad Hassan sebagaimana didalam Sahih Jaami' Al-Saghir). Tanda-tanda Lailatul Qadar Nabi Muhammad Saw juga pernah mengkhabarkan kepada kita di beberapa sabda beliau tentang tanda-tanda lailatul qadar, yaitu: 1. Udara dan suasana pagi yang tenang Ibnu Abbas radliyallahu’anhu berkata: Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Lailatul qadar adalah malam tentram dan tenang, tidak terlalu panas dan tidak pula terlalu dingin, esok paginya sang surya terbit dengan sinar lemah berwarna merah” (Hadist Hasan) Angin dalam keadaan tenang pada malam Lailatul Qodar, tidak berhembus kencang (tidak ada badai) dan tidak ada guntur. Hal ini berdasarkan hadits dari shohabat Jabir bin Abdillah sesungguhnya Rosululloh bersabda (yang artinya), “Sesungguhnya Aku melihat Lailatul-Qodar kemudian dilupakannya, Lailatul-Qodar turun pada 10 akhir (bulan Romadlon) yaitu malam yang terang, tidak dingin dan tidak panas serta tidak turun hujan”. (HR. Ibnu Khuzaimah no.2190 dan Ibnu Hibban no.3688 dan dishohihkan oleh keduanya). Kemudian, hadits dari shohabat ‘Ubadah bin Shomit sesungguhnya Rosululloh bersabda (yang artinya) “Sesungguhnya alamat Lailatul-Qodar adalah malam yang cerah dan terang seakan-akan nampak didalamnya bulan bersinar terang, tetap dan tenang, tidak dingin dan tidak panas. Haram bagi bintang-bintang melempar pada malam itu sampai waktu subuh. Sesungguhnya termasuk dari tandanya adalah matahari terbit pada pagi harinya dalam keadaan tegak lurus, tidak tersebar sinarnya seperti bulan pada malam","part":1,"page":242},{"id":243,"text":"purnama, haram bagi syaithon keluar bersamanya (terbitnya matahari) pada hari itu”. (HR. Ahmad 5/324, Al-Haitsamy 3/175 dia berkata : perawinya tsiqoh) 2. Cahaya mentari lemah, cerah tak bersinar kuat keesokannya Dari Ubay bin Ka’ab radliyallahu’anhu, bahwasanya Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Keesokan hari malam lailatul qadar matahari terbit hingga tinggi tanpa sinar bak nampan” (HR Muslim) 3. Terkadang terbawa dalam mimpi Seperti yang terkadang dialami oleh sebagian sahabat Nabi radliyallahu’anhum. 4. Bulan nampak separuh bulatan Abu Hurairoh radliyallahu’anhu pernah bertutur: Kami pernah berdiskusi tentang lailatul qadar di sisi Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam, beliau berkata, “Siapakah dari kalian yang masih ingat tatkala bulan muncul, yang berukuran separuh nampan.” (HR. Muslim) 5. Malam yang terang, tidak panas, tidak dingin, tidak ada awan, tidak hujan, tidak ada angin kencang dan tidak ada yang dilempar pada malam itu dengan bintang (lemparan meteor bagi setan) Sebagaimana sebuah hadits, dari Watsilah bin al-Asqo’ dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam: “Lailatul qadar adalah malam yang terang, tidak panas, tidak dingin, tidak ada awan, tidak hujan, tidak ada angin kencang dan tidak ada yang dilempar pada malam itu dengan bintang (lemparan meteor bagi setan)” (HR. at-Thobroni dalam al-Mu’jam al-Kabir 22/59 dengan sanad hasan) 6. Orang yang beribadah pada malam tersebut merasakan lezatnya ibadah, ketenangan hati dan kenikmatan bermunajat kepada Rabb-nya tidak","part":1,"page":243},{"id":244,"text":"seperti malam-malam lainnya. Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad at-Thusi al-Ghazali yang dikenal dengan sebutan Imam Al-Ghazali, beliau memberikan jawaban yang jelas dan gamblang, bahwa sebenarnya Lailatul Qadr dapat diketahui dari hari awal bulan puasa Ramadhan itu di mulai. Kemudian beliau menuturkan : “Jika awal bulan Ramadhan dimulai hari Ahad atau Rabu, maka Lailatul Qadr jatuh pada malam 29 Ramadhan. Jika awal bulan Ramadhan hari Senin, maka ia jatuh pada malam 21 Ramadhan. Jika awal Ramadhan hari Selasa atau Jum’at, maka ia jatuh pada malam 27 Ramadhan, dan jika awal Ramadhan hari Kamis maka ia jatuh pada malam 25 Ramadhan dan jika awal Ramadhan hari Sabtu maka ia jatuh pada malam 23 Ramadhan”.(Hasyiah Jamal Ala Syarkhil Minhaj, Juz II, hal. 357). Mengapa Lailatul Qadar disembunyikan ? Ada beberapa kemungkinan jawaban, sebagaimana terpapar dalam Tafsir Ar-Razi. Yang menarik diantara kemungkinan-kemungkinan itu adalah sebagai berikut. Yakni bahwa Allah menyembunyikan Lailatul Qadar agar hambaNya tak bertambah-tambah dosa. Karena, jika Allah memberitahukan kapan Lailatul Qadar, maka kalau seorang hamba melakukan ketaatan di malam itu, akan dilipatgandakan seperti pahala ketaatan 1000 bulan. Maka, sebagaimana pula ketaatan, kemaksiatan pun akan dilipatgandakan dosanya. Allah tahu bahwa sebagian hambaNya, jika diberitahu kapan Lailatul Qadar pun, akan tetap berbuat maksiat. Berlipatgandanya dosa ini tak akan terjadi jika si hamba tak tahu bahwa malam itu (yakni malam di mana ia","part":1,"page":244},{"id":245,"text":"berbuat maksiat) adalah malam Lailatul Qadar. Selaras dengan kasih sayang Allah seperti ini, adalah apa yang dilakukan oleh Rasulullah. Diriwayatkan bahwa Rasullah shallallahu alaihi wa sallam masuk masjid, lalu melihat orang yang sedang tidur. Lalu beliau berkata pada Ali bin Abi Thalib, “Wahai Ali, bangunkan dia agar segera berwudlu!”. Ali menjawab, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Anda gemar berlomba berbuat kebaikan. Mengapa tak Anda bangunkan sendiri?” Nabi pun menjelaskan, “Karena penolakan dia atasmu (saat kau bangunkan) bukanlah kekafiran. Aku lakukan itu (yakni tak membangunkan sendiri, tapi menyuruh Ali), agar dosanya ringan jika dia melakukan penolakan”. Demikianlah, jika semacam inilah kasih sayang Rasul, maka begitu juga kasih sayang Allah. Seakan Allah berkata: “Jika kamu tahu Lailatul Qadar, dan kamu melakukan ketaatan di waktu itu, maka kamu akan mendapatkan pahala 100 bulan. Dan jika kamu melakukan kemaksiatan, maka kamu akan dapatkan siksa 1000 bulan. Dan, menolak siksa lebih utama daripada menarik pahala” * Tafsir Al-Fakhr ar-Razi Disunahkan bagi orang yang melihat lailatul Qodr untuk merahasiakannya.Termasuk tanda-tanda lailatul qodr adalah; bahwa malam itu adalah malam yang sedang-sedang saja. Tidak panas dan juga tidak dingin dan matahari dipagi harinya terbit dengan sinar putih dan tidak terlalu sinarnya (agak redup). Lailatul Qodr ini hanya dalam waktu sangat singkat, sepeti sambaran kilat saja, namun demikian menjadikan seluruh malam mendapatkan keutamaan. Selain itu para","part":1,"page":245},{"id":246,"text":"malaikat bolak-balik naik turun membawa rohmat Allah dengan mendatangi hajat hamba-hambanya di bumi. Dan pada seluruh malam itu, Allah pun menampakkan diri (rahmatnya) , pada seluruh malam itu tidak seperti malam-malam selain Lailatul Qodr –dimana Allah hanya menampakkan diri pada sepertiga malam saja-Disunahkan menghidupkan sepuluh malam terakhir dari bulan Romadlon dengan berbagai bentuk ibadah, supaya ia bisa menemui Lailatul Qodr.Lailatul Qodr adalah malam dimana keajaiban-keajaiban dari kerajaan langit \"nampak\" pada malam itu. Manusiapun pengalaman \"kasyf\" nya berbeda-beda\rOleh: Imron Rosyadi II____________________________________________________________________________________________________________________________________________ Mbah Jenggot II >>>\rSesudah disyariatkannya ibadah shaum, dan agar umat Islam dapat merealisasikan nilai taqwa, Allah SWT melengkapi nikmat-Nya dengan memberikan adanya \"Lailat al qodr\". Allah berfirman : \" Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur'an pada \" Lailat al qodr\". Tahukah kalian apakah \" Lailat al qodr\" ?. Itulah malam yang lebih utama dari pada seribu bulan\" (QS. Al Qodr : 1-3)\rKeutamaan Lailat al Qodr","part":1,"page":246},{"id":247,"text":"Ayat yang dikutip di atas jelas menunjukkan nilai utama dari \" Lailat al qodr\". Mengomentari ayat di atas Anas bin Malik ra menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan keutamaan disitu adalah bahwa amal ibadah seperti shalat, tilawah al-Qur'an, dan dzikir serta amal sosial (seperti shodaqoh dana zakat), yang dilakukan pada malam itu lebih baik dibandingkan amal serupa selama seribu bulan (tentu di luar malam lailat al qodr sendiri). Dalam riwayat lain Anas bin Malik juga menyampaikan keterangan Rasulullah SAW bahwa sesungguhnya Allah mengkaruniakan \" Lailat al qodr\" untuk umatku, dan tidak memberikannya kepada umat-umat sebelumnya.","part":1,"page":247},{"id":248,"text":"Sementara berkenaan dengan ayat 4 surat al qodr, Abdullah bin Abbas ra menyampaikan sabda Rasulullah bahwa pada saat terjadinya lailat al qodr, para malaikat turun kebumi menghampiri hamba-hamba Allah yang sedang qiyam al lail, atau melakukan dzikir, para malaikat mengucapkan salam kepada mereka. Pada malam itu pintu-pintu langit dibuka, dan Allah menerima taubat dari para hambaNya yang bertaubat. Dalam riwayat Abu Hurairah ra, seperti dilaporkan oleh Bukhori, Muslim dan al Baihaqi, Rasulullah SAW juga pernah menyampaikan , \"barangsiapa melakukan qiyam (shalat malam) pada lailat al qodr, atas dasar iman serta semata-mata mencari keridloan Allah, maka Allah akan mengampuni dosa-dosa yang pernah dilakukannya\". Demikian banyaknya keutamaan lailat al qodr, sehingga Ibnu Abi Syaibah pernah menyampaikan ungkapan al Hasan al Bashri, katanya : \" Saya tidak pernah tahu adanya hari atau malam yang lebih utama dari malam yang lainnya, kecuali ' Lailat al qodr', karena lailat al qodr lebih utama dari (amalan) seribu bulan\".\rHukum \"Menggapai\" Lailat al Qodr.","part":1,"page":248},{"id":249,"text":"Memperhatikan pada arahan (taujih) Rasulullah SAW, serta contoh yang beliau tampilkan dalam upaya \"menggapai\" lailat al qodr, dalam hal ini misalnya Umar pernah menyampaikan sabda Rasulullah SAW : \" Barangsiapa mencari lailat al qodr, hendaknya ia mencarinya pada malam kedua puluh tujuh\" (HR. Ahmad). Maka para ulama' berkesimpulan bahwa berupaya menggapai lailat al qodr hukumnya sunnah. IV. Kapankah terjadinya Lailat al Qodr Sesuai dengan firman Allah pada awal surat Al Qodr, serta pada ayat 185 surat Al Baqoroh, dan hadits Rasulullah SAW. Maka para ulama' bersepakat bahwa \" Lailat al qodr\" terjadi pada malam bulan Ramadhan. Bahkan seperti diriwayatkan oleh Ibnu Umar, Abu Dzar, dan Abu Hurairah, lailat al qodr bukannya sekali terjadi pada masa Rasulullah SAW saja, malainkan ia terus berlangsung pada setiap bulan Ramadhan untuk mashlahat umat Muhammad, sampai terjadinya hari qiyamat. Adapun tentang penentuan kapan persis terjadinya lailat al qodr, para ulama berbeda pendapat disebabkan beragamnya informasi hadits Rasulullah, serta pemahaman para shahabat tentang hal tersebut.\rSebagaimana tersebut dibawah ini :\r1.Lailat al qodr terjadi pada malam 17 Ramadhan, malam diturunkannya Al Qur'an. Hal ini disampaikan oleh Zaid bin Arqom, dan Abdullah bin Zubair ra. (HR. Ibnu Abi Syaibah, Baihaqi dan Bukhori dalam tarikh).","part":1,"page":249},{"id":250,"text":"2.Lailat al qodr terjadi pada malam-malam ganjil disepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Diriwayatkan oleh Aisyah dari sabda Rasululah SAW: \"Carilah lailat al qodr pada malam-malam ganjil disepuluh hari terakhir bulan Ramadhan\" (HR. Bukhori, Muslim dan Baihaqi)\r3.Lailat al qodr terjadi pada malam tanggal 21 Ramadhan, berdasarkan hadits riwayat Abi Said al Khudri yang dilaporkan oleh Bukhori dan Muslim.\r4.Lailat al qodr terjadi pada malam tanggal 23 bulan Ramadhan, berdasarkan hadits riwayat Abdullah bin Unais al Juhany, seperti dilaporkan oleh Bukhori dan Muslim.\r5.Lailat al qodr terjadi pada malam tanggal 27 bulan Ramadhan, berdasarkan hadits riwayat Ibnu Umar, seperti dikutip oleh Ahmad. Dan seperti diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, bahwa Umar bin al Khoththob, Hudzaifah serta sekumpulan besar shahabat, yakin bahwa lailat al qodr terjadi pada malam 27 bulan Ramadhan. Rasulullah SAW seperti diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, juga pernah menyampaikan kepada shahabat yang telah tua dan lemah tak mampu qiyam berlama-lama dan meminta nasehat kepada beliau kapan ia bisa mendapatkan lailat al qodr, Rasulullah SAW kemudian menasehati agar ia mencarinya pada malam ke 27 bulan Ramadhan (HR. Thabroni dan Baihaqi).","part":1,"page":250},{"id":251,"text":"6.Seperti difahami dari riwayat Ibnu Umar dan Abi Bakrah yang dilaporkan oleh Bukhori dan Muslim, terjadinya lailat al qodr mungkin berpindah-pindah pada malam-malam ganjil sepanjang sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Sesuai dengan informasi terakhir ini, dan karena langka dan pentingnya lailat al qodr, maka selayaknya setiap muslim berupaya selalu mendapatkan lailat al qodr pada sepanjang sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.\rTanda-tanda terjadinya Lailat al qodr\rSeperti diriwayatkan Oleh Imam Muslim, Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: \" Pada saat terjadinya lailat al qodr itu, malam terasa jernih, terang, tenang, cuaca sejuk tidak terasa panas tidak juga dingin. Dan pada pagi harinya matahari terbit dengan jernih terang benderang tanpa tertutup sesuatu awan\".\rApa yang perlu dilakukan pada lailat al qodr dan agar dapat menggapai lailat al qodr\r1. Lebih bersungguh-sungguh dalam menjalankan semua bentuk ibadah pada hari-hari Ramadhan, menjauhkan diri dari semua hal yang dapat mengurangi keseriusan beribadah pada hari-hari itu. Dalam peribadatan ini juga dengan mengikutsertakan keluarga. Hal itulah yang dahulu dicontohkan Rasulullah SAW.\r2. Melakukan i'tikaf dengan berupaya sekuat tenaga. Itulah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW.\r3. Melakukan qiyamu al lail berjama'ah, sampai dengan rekaat terakhir yang dilakukan imam, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dzar ra.","part":1,"page":251},{"id":252,"text":"4. Memperbanyak do'a memohon ampunan dan keselamatan kepada Allah dengan lafal : \"Allahumma innaka 'afuwun tuhibul afwa fa'fu 'anni\". Hal inilah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada Aisyah ra ketika beliau bertanya : ' wahai Rasulullah, bila aku ketahui kedatangan lailat al qodr, apa yang mesti aku ucapkan\"? (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Tirmidzi)\rMenggapai \" Lailat al qodr\" bagi Muslimah\rSebagaimana tersirat dari dialog Rasulullah SAW dengan Aisyah, istri beliau itu, maka mudah disimpulkan bahwa kaum muslimah-pun disyari'atkan dan diperbolehkan menggapai lailat al qodr . Dengan melakukan maksimalisasi ibadah yang memang diperbolehkan untuk dilakukan seorang muslimah. VIII. Khotimah Demikian panduan ringkas ini, mudah-mudahan pada bulan Ramadhan tahun ini Allah memperkenankan kita meraih \" Lailat al qodr\", malam yang utama dari 1000 bulan alias 83 tahun itu.\rShe'Jasmine Ayda Az-zahra dan 5 orang lainnya menyukai ini.\rDAFTAR ISI\rKUMPULAN TANYA JAWAB KEAGAMAAN ala Error! Hyperlink reference not valid..\rDaftar Isi Dokumen\r470. Piagam Jakarta dan Sikap Kristen\rأنس رشدى > Daftar Isi Dokumen Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah - KTB (PISS-KTB)\r470. Piagam Jakarta dan Sikap Kristen\rPosted in Opini by Abdul Shaheed on the June 26th, 2009\rSudah bukan zamannya lagi menuduh kaum Muslimin “anti-Pancasila”.? Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke-264\rOleh:\rDr. Adian Husaini","part":1,"page":252},{"id":253,"text":"Tanggal 22 Juni biasanya dikenang oleh umat Muslim Indonesia sebagai hari kelahiran Piagam Jakarta. Tetapi, tampaknya, kaum Kristen di Indonesia masih tetap menjadikan Piagam Jakarta sebagai momok yang menakutkan. Padahal, Piagam Jakarta bukanlah barang haram di negara ini. Bahkan, dalam Dekritnya pada 5 Juli 1959, Presiden Soekarno dengan tegas mencantumkan, bahwa? “Piagam Jakarta tertanggal 22 Juni 1945 menjiwai dan merupakan suatu rangkaian kesatuan dengan konstitusi tersebut.”\rTapi, entah kenapa, kaum Kristen di Indonesia begitu alergi dan ketakutan dengan Piagam Jakarta. Sebagai contoh,? Tabloid Kristen REFORMATA edisi 103/Tahun VI/16-31 Maret? 2009 menurunkan laporan utama berjudul “RUU Halal dan Zakat: Piagam Jakarta Resmi Diberlakukan?”? Dalam pengantar redaksinya, tabloid Kristen yang terbit di Jakarta ini menulis bahwa dia mengemban tugas mulia untuk mengamankan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang pluralis, sebagaimana diperjuangkan oleh para pahlawan bangsa.","part":1,"page":253},{"id":254,"text":"“Hal ini perlu terus kita? ingatkan sebab akhir-akhir ini kelihatannya makin gencar saja upaya orang-orang yang ingin merongrong negara kita yang berfalsafah Pancasila, demi memaksakan diberlakukannya syariat agama tertentu dalam seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagaimana kita saksikan, sudah banyak produk perundang-undangan maupun peraturan daerah (perda) yang diberlakukan di berbagai tempat, sekalipun banyak rakyat yang menentangnya. Para pihak yang memaksakan kehendaknya ini, dengan dalih membawa aspirasi kelompok mayoritas, saat ini telah berpesta pora di atas kesedihan kelompok masyarakat lain, karena ambisi mereka, satu demi satu berhasil dipaksakan. Entah apa jadinya negara ini nanti, hanya Tuhan yang tahu,” demikian kutipan sikap Redaksi Tabloid Kristen tersebut.","part":1,"page":254},{"id":255,"text":"Cornelius D. Ronowidjojo, Ketua Umum DPP PIKI (Persekutuan Inteligensia Kristen Indonesia), seperti dikutip tabloid Reformata menyatakan, bahwa Piagam Jakarta sekarang sudah dilaksanakan dalam realitas ke-Indonesian melalui Perda dan UU. “Sekarang tujuh kata yang telah dihapus itu, bukan hanya tertulis, tapi sungguh nyata sekarang,” tegasnya. Yang menggemaskan, demikian Cornelius, yang melakukan hal itu, bukan lagi para pejuang ekstrim kanan, tapi oknum-oknum di pemerintahan dan DPR. “Ini kecelakaan sejarah. Harusnya penyelenggara negara itu bertobat, dalam arti kembali ke Pancasila secara murni dan konsekuen,” kata Cornelius lagi. Bahkan, tegasnya, “Saya mengatakan bahwa mereka sekarang sedang berpesta di tengah puing-puing keruntuhan NKRI.”\rBagi umat Islam Indonesia, sikap antipati kaum Kristen terhadap syariat Islam tentulah bukan hal baru. Mereka – sebagaimana sebagian kaum sekular – berpendapat, bahwa penerapan syariat Islam di Indonesia bertentangan dengan Pancasila. Pada era 1970-1980-an, logika semacam ini sering kita jumpai. Para siswi yang berjilbab di sekolahnya, dikatakan anti Pancasila. Pegawai negeri yang tidak mau menghadiri perayaan Natal Bersama, juga bisa dicap anti Pancasila. Pejabat yang enggan menjawab tes mental, bahwa ia tidak setuju untuk menikahkan anaknya dengan orang yang berbeda, juga bisa dicap anti-Pancasila. Kini, di era reformasi, sebagian kalangan juga kembali menggunakan senjata Pancasila untuk membungkam aspirasi keagamaan kaum Muslim.","part":1,"page":255},{"id":256,"text":"Rumusan Pancasila yang sekarang adalah: 1. Ketuhanan Yang Maha Esa, 2. Kemanusiaan yang adil dan beradab, 3. Persatuan Indonesia, 4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, dan 5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Rumusan Pancasila tersebut adalah yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 yang merupakan hasil dekrit Presiden 5 Juli 1959, yang dengan tegas menyatakan: “Bahwa kami berkeyakinan? bahwa Piagam Jakarta tertanggal 22 Juni 1945 menjiwai dan merupakan suatu rangkaian kesatuan dengan konstitusi tersebut.”\rJadi, Dekrit Presiden Soekarno itulah yang menempatkan Piagam Jakarta sebagai bagian yang sah dan tak terpisahkan dari Konstitusi Negara NKRI, UUD 1945. Dekrit itulah yang kembali memberlakukan Pancasila yang sekarang. Prof. Kasman Singodimedjo, yang terlibat dalam lobi-lobi tanggal 18 Agustus 1945 di PPKI, menyatakan, bahwa Dekrit 5 Juli 1959 bersifat “einmalig”, artinya berlaku untuk selama-lamanya (tidak dapat dicabut). “Maka, Piagam Jakarta sejak tanggal 5 Juli 1959 menjadi sehidup semati dengan Undang-undang Dasar 1945 itu, bahkan merupakan jiwa yang menjiwai Undang-undang Dasar 1945 tersebut,” tulis Kasman dalam bukunya, Hidup Itu Berjuang, Kasman Singodimedjo 75 Tahun (Jakarta: Bulan Bintang, 1982).","part":1,"page":256},{"id":257,"text":"Karena itu, adalah sangat aneh jika masih saja ada pihak-pihak tertentu di Indonesia yang alergi dengan Piagam Jakarta. Dr. Roeslan Abdulgani, tokoh utama PNI, selaku Wakil Ketua DPA dan Ketua Pembina Jiwa Revolusi, menulis: “Tegas-tegas di dalam Dekrit ini ditempatkan secara wajar dan secara histories-jujur posisi dan fungsi Jakarta Charter tersebut dalam hubungannya dengan UUD Proklamasi dan Revolusi kita yakni: Jakarta Charter sebagai menjiwai UUD ’45 dan Jakarta Charter sebagai merupakan rangkaian? kesatuan dengan UUD ’45.” (Dikutip dari Endang Saifuddin Anshari, Piagam Jakarta 22 Juni 1945: Sebuah Konsensus Nasional Tentang Dasar Negara Republik Indonesia (1945-1949), (Jakarta: GIP, 1997), hal. 130).\rDalam pidatonya pada hari peringatan Piagam Jakarta tanggal 29 Juni 1968 di Gedung Pola Jakarta, KHM Dahlan, yang juga Menteri Agama ketika itu mengatakan: “Bahwa di atas segala-galanya, memang syariat Islam di Indonesia telah berabad-abad dilaksanakan secra konsekuen oleh rakyat Indonesia, sehingga ia bukan hanya sumber hukum, malahan ia telah menjadi kenyataan, di dalam kehidupan rakyat Indonesia sehari-hari yang telah menjadi adat yang mendarah daging. Hanya pemerintah kolonial Belandalah yang tidak mau menformilkan segala hukum yang berlaku di kalangan rakyat kita itu, walaupun ia telah menjadi ikatan-ikatan hukum dalam kehidupan mereka sehari-hari.” (Ibid, hal. 135).","part":1,"page":257},{"id":258,"text":"Meskipun Piagam Jakarta adalah bagian yang sah dan tidak terpisahkan dari UUD 1945, tetapi dalam sejarah perjalanan bangsa, senantiasa ada usaha keras untuk menutup-nutupi hal ini. Di zaman Orde Lama, sebelum G-30S/PKI, kalangan komunis sangat aktif dalam upaya memanipulasi kedudukan Piagam Jakarta. Ajip Rosidi, sastrawan terkenal menulis dalam buku, Beberapa Masalah Umat Islam Indonesia (1970): “Pada zaman pra-Gestapu, PKI beserta antek-anteknyalah yang paling takut kalau mendengar perkataan Piagam Jakarta… Tetapi agaknya ketakutan akan Piagam Jakarta, terutama ke-7 patah kata itu bukan hanya monopoli PKI dan antek-anteknya saja. Sekarang pun setelah? PKI beserta antek-anteknya dinyatakan bubar, masih ada kita dengar tanggapan yang aneh terhadapnya.” (Ibid, hal. 138).\rJadi, sikap alergi terhadap Piagam Jakarta jelas-jelas bertentangan dengan Konstitusi Negara RI, UUD 1945. Meskipun secara verbal “tujuh kata” (dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya) telah terhapus dari naskah Pembukaan UUD 1945, tetapi kedudukan Piagam Jakarta sangatlah jelas, sebagaimana ditegaskan dalam Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Setelah itu, Piagam Jakarta juga merupakan sumber hukum yang hidup. Sejumlah peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan setelah tahun 1959 merujuk atau menjadikan Piagam Jakarta sebagai konsideran.","part":1,"page":258},{"id":259,"text":"Sebagai contoh, penjelasan atas Penpres 1/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama, dibuka dengan ungkapan: “Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959 yang menetapkan Undang-undang Dasar 1945 berlaku lagi bagi segenap bangsa Indonesia ia telah menyatakan bahwa Piagam Jakarta tertanggal 22 Juni 1945 menjiwai dan merupakan suatu rangkaian kesatuan dengan konstitusi tersebut.”\rDalam Peraturan Presiden No 11 tahun 1960 tentang Pembentukan Institut Agama Islam Negeri (IAIN), juga dicantumkan pertimbangan pertama: “bahwa sesuai dengan Piagam Djakarta tertanggal 22 Djuni 1945, yang mendjiwai Undang-undang Dasar 1945 dan merupakan rangkaian kesatuan dengan Konstitusi tersebut…”.\rSebuah buku yang cukup komprehensif tentang Piagam Jakarta ditulis oleh sejarawan Ridwan Saidi, berjudul Status Piagam Jakarta: Tinjauan Hukum dan Sejarah (Jakarta: Mahmilub, 2007). Ridwan menulis, bahwa hukum Islam adalah hukum yang hidup di tengah masyarakat Muslim. Tanpa UUD atau tanpa negara pun, umat Islam akan menjalankan syariat Islam. Karena itu, Piagam Jakarta, sebenarnya mengakui hak orang Islam untuk menjalankan syariatnya. Dan itu telah diatur dalam Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang dituangkan dalam Keppres No. 150/tahun 1959 sebagaimana ditempatkan dalam Lembaran Negara No. 75/tahun 1959.","part":1,"page":259},{"id":260,"text":"Hukum Islam telah diterapkan di bumi Indonesia ini selama ratusan tahun, jauh sebelum kauh penjajah Kristen datang ke negeri ini. Selama beratus-ratus tahun pula, penjajah Kristen Belanda berusaha menggusur hukum Islam dari bumi Indonesia. C. van Vollenhoven dan Christian Snouck Hurgronje, misalnya, tercatat sebagai sarjana Belanda yang sangat gigih dalam menggusur hukum Islam.? Tapi, usaha mereka tidak berhasil sepenuhnya. Hukum Islam akhirnya tetap diakui sebagai bagian dari sistem hukum di wilayah Hindia Belanda. Melalui RegeeringsReglement, disingkat RR, biasa diterjemahkan sebagai Atoeran Pemerintahan Hindia Belanda (APH), pasal 173 ditentukan bahwa: “Tiap-tiap orang boleh mengakui hukum dan aturan agamanya dengan semerdeka-merdekanya, asal pergaulan umum (maatschappij) dan anggotanya diperlindungi dari pelanggaran undang-undang umum tentang hukum hukuman (strafstrecht).” (Ridwan Saidi, Status Piagam Jakarta hal. 96).\rJadi, meskipun sudah berusaha sekuat tenaga,? Belanda akhirnya tidak berhasil sepenuhnya menggusur syariat Islam dari bumi Indonesia. Ridwan menulis: “Sampai dengan berakhirnya masa VOC tahun 1799, VOC terus berkutat untuk melakukan unifikasi hukum dengan sedapat mungkin menyingkirkan hukum Islam, tetapi sampai munculnya Pemerintah Hindia Belanda usaha itu sia-sia belaka.”? (Ibid, hal. 94).","part":1,"page":260},{"id":261,"text":"Kegagalan penjajah Kristen Belanda untuk menggusur syariat Islam, harusnya menjadi pelajaran berharga bagi kaum Kristen di Indonesia. Mereka harusnya menyadari bahwa kedudukan syariat Islam bagi kaum Muslim sangat berbeda dengan kedudukan hukum Taurat bagi Kristen. Dengan mengikuti ajaran Paulus, kaum Kristen memang kemudian berlepas diri dari hukum Taurat dengan berbagai pertimbangan.\rDalam bukunya yang berjudul Syariat Taurat atau Kemerdekaan Injil? (Mitra Pustaka, 2008), Pendeta Herlianto menguraikan bagaimana kedudukan hukum Taurat bagi kaum Kristen saat ini. Dalam konsep Kristen, menurut Herlianto, keselamatan dan kebenaran bukanlah tergantung dari melakukan perbuatan hukum-hukum Taurat, melainkan karena Iman dan Kasih Karunia dengan menjalankan hukum Kasih.? Jadi, hukum Kasih itulah yang kemudian dipegang kaum Kristen. Hukum sunat (khitan), misalnya, meskipun jelas-jelas disyariatkan dalam Taurat, tetapi tidak lagi diwajibkan bagi kaum Kristen. ‘Sunat’ yang dimaksud, bukan lagi syariat sunat sebagaimana dipahami umat-umat para Nabi sebelumnya, tetapi ditafsirkan sebagai “sunat rohani”. (Rm. 2:29). (Herlianto, Syariat Taurat atau Kemerdekaan Injil? Hal. 16-17).","part":1,"page":261},{"id":262,"text":"Babi, misalnya, juga secara tegas diharamkan dalam Kitab Imamat, 11:7-8. Tetapi, teks Bibel versi Indonesia tentang babi itu sendiri memang sangat beragam, meskipun diterbitkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Dalam Alkitab versi LAI, tahun 1968 ditulis: “dan lagi babi, karena sungguh pun kukunya terbelah dua, ia itu? bersiratan kukunya, tetapi dia tiada memamah biak, maka haramlah ia kepadamu. Djanganlah kamu makan daripada dagingnya dan djangan pula kamu mendjamah bangkainya, maka haramlah ia kepadamu.” (Dalam Alkitab versi LAI tahun 2007, kata babi berubah menjadi babi hutan: “Demikian juga babi hutan, karena memang berkuku belah, yaitu kukunya bersela panjang, tetapi tidak memamah biak, haram itu bagimu. Daging binatang-binatang itu janganlah kamu makan dan bangkainya janganlah kamu sentuh; haram semuanya itu bagimu.”). Pada tahun yang sama, 2007, LAI juga menerbitkan Alkitab dalam Bahasa Indonesia Masa Kini, yang menulis ayat tersebut: “Jangan makan babi. Binatang itu haram, karena walaupun kukunya terbelah, ia tidak memamah biak. Dagingnya tak boleh dimakan dan bangkainya pun tak boleh disentuh karena binatang itu haram.”","part":1,"page":262},{"id":263,"text":"Jika dibaca secara literal, maka jelaslah, harusnya babi memang diharamkan. Tetapi, kaum Kristen mempunyai cara tersendiri dalam memahami kitabnya. Menurut Herlianto, Rasul Paulus telah memberikan pengertian hukum Taurat dengan jelas: “Tetapi sekarang kita telah dibebaskan dari hukum Taurat, sebab kita telah mati bagi dia, yang mengurung kita, sehingga kita sekarang melayani dalam keadaan baru dan bukan dalam keadaan lama menurut hukum-hukum Taurat.” (Rm. 7:6). (Herlianto, Syariat Taurat atau Kemerdekaan Injil?? Hal. 20).\rPandangan kaum Kristen terhadap hukum Taurat tentu saja sangat berbeda dengan pandangan dan sikap umat Islam? terhadap syariat Islam. Sampai kiamat, umat Islam tetap menyatakan, bahwa babi adalah haram. Teks al-Quran yang mengharamkan babi juga tidak pernah berubah sepanjang zaman, sampai kiamat. Hingga kini, tidak ada satu pun umat Islam yang menolak syariat khitan, dan menggantikannya dengan “khitan ruhani”. Sebab, umat Islam bukan hanya menerima ajaran, tetapi juga mempunyai contoh dalam pelaksanaan syariat, yaitu Nabi Muhammad saw. Karena sifatnya yang final dan universal, maka syariat Islam berlaku sepanjang zaman dan untuk semua umat manusia. Apa pun latar belakang budayanya, umat Islam pasti mengharamkan babi dan mewajibkan shalat lima waktu. Apalagi, dalam pandangan Islam, syariat Islam itu mencakup seluruh aspek kehidupan manusia; mulai tata cara mandi sampai mengatur perekonomian.","part":1,"page":263},{"id":264,"text":"Pandangan dan sikap umat Islam terhadap syariat Islam semacam ini harusnya dipahami dan dihormati oleh kaum Kristen. Sangat disayangkan, tampaknya, kaum Kristen di Indonesia masih saja melihat syariat Islam dalam perspektif yang sama dengan penjajah Kristen Belanda, dahulu. Padahal. sudah bukan zamannya lagi menuduh kaum Muslimin yang melaksanakan ajaran Islam sebagai “anti-Pancasila”, “anti-NKRI”, dan sebagainya. [Depok, 16 Juni 2009/www.hidayatullah.com]\rCatatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini adalah hasil kerjasama antara Radio Dakta dan www.hidayatullah.com\r5 orang menyukai ini.\rDAFTAR ISI\rKUMPULAN TANYA JAWAB KEAGAMAAN ala Error! Hyperlink reference not valid..\rDaftar Isi Dokumen\r489. MUSYAWARAH PARA BURUNG\rHakam Ahmed ElChudrie > Daftar Isi Dokumen Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah - KTB (PISS-KTB)\r489. MUSYAWARAH PARA BURUNG\rDikisahkan, segala burung di dunia, yang dikenal atau tidak dikenal, datang berkumpul. Mereka sama-sama memiliki satu pertanyaan, siapakah raja mereka? Di antara mereka ada yang berkata, “Rasanya tak mungkin negeri dunia ini tidak memiliki raja. Maka rasanya mustahil bila kerajaan burung-burung tanpa penguasa! Jadi, kita semua memiliki Raja, ya, Raja.”\rSemua burung tertegun, seperti ada keraguan yang mengawang-awang.\r“Keadaan semacam ini tak bisa dibiarkan terus menerus. Hidup kita ini akan percuma bila sepanjang hayat kita, kita tidak pernah mengetahui, dan mengenal siapa Raja kita sesungguhnya.”","part":1,"page":264},{"id":265,"text":"Masing-masing dari mereka masih berfikir dan terdiam. Lalu kembali ada yang berteriak, “Lalu apa yang harus kita lakukan?”\rmusyawarah burung 1“Tentu saja kita harus berusaha bersama-sama mencari seorang raja untuk kita semua; karena tidak ada negeri yang memiliki tatanan yang baik, tanpa seorang raja.· Mereka pun mulai berkumpul dan bersidang untuk memecahkan persoalan. Burung Hudhud dengan semangat dan penuh rasa percaya diri, tampil ke depan dan menempatkan diri di tengah majelis burung-burung itu. Di dadanya tampak perhiasan yang melambangkan bahwa dia telah memiliki pancaran ruhaniah yang tinggi. Dan jambul di kepalanya tegak berdiri mahkota yang melambangkan keagungan dan kebenaran, dan dia juga memiliki pengetahuan luas tentang baik dan buruk.\rBurung-burung sekalian, kata Hudhud, kita mempunyai raja sejati, ia tinggal jauh di balik gunung-gunung Qaf. Ribuan daratan dan lautan terbentang sepanjang perjalanan menuju tempatnya. Namanya Simurgh. Aku kenal raja itu dengan baik, tapi aku tak bisa terbang sendiri menemuinya. Bebaskan dirimu dari rasa malu, sombong, dan ingkar. Dia pasti akan melimpahkan cahaya bagi mereka yang sanggup melepaskan belenggu diri. Mereka yang demikian akan bebas dari baik dan buruk, karena berada di jalan kekasih-Nya. Sesungguhnya Dia dekat dengan kita, tapi kita jauh dari-Nya.","part":1,"page":265},{"id":266,"text":"musyawarah burung 3Dikisahkan, pada suatu malam sang Maharaja Simurgh terbang di kegelapan malam. Tiba-tiba jatuhlah sehelai bulunya yang membuat geger seluruh penduduk bumi. Begitu mempesonanya bulu Simurg hingga membuat tercengang dan terheran-heran. Semua penduduk gegap gempita ingin menyaksikan keindahan dan keelokannya. Dan dikatakan kepada mereka, “Andaikata sehelai bulu tersebut tidak jatuh, niscaya tidak akan ada makhluk yang bernama burung di muka bumi ini.”\rKemudian burung Hudhud melanjutkan pembicaraannya, bahwa untuk menggapai istana Simurg mereka harus bersatu, saling bekerja sama dan tidak boleh saling mendahului. Setelah mendengar cerita yang disampaikan oleh burung Hudhud, semua burung-burung bersemangat ingin sekali secepatnya pergi menghadap sang Maharaja Simurg. Namun, burung Hudhud menambahkan, bahwa perjalanan menuju istana Simurg tidak semudah yang dibayangkan, melainkan harus melewati ribuan rintangan dan guncangan dahsyat. Perjalanan juga sarat dengan penderitaan, kepedihan dan kesengsaraan.\r“Apakah kalian sudah siap ?” kata burung Hudhud, menguji keseriusan mereka. Setelah mereka mendengarkan penjelasan bagaimana suka dukanya, pahit getirnya perjalanan menuju istana Simurg, ternyata semangat sebagian burung menjadi pudar dan turun.","part":1,"page":266},{"id":267,"text":"musyawarah burung 2Namun, di antara burung-burung, ada seekor burung Kenari yang memberanikan diri menyampaikan pendapatnya, “Aku adalah Imamul Asyiqin, imamnya orang-orang yang asyik dan rindu. Aku sangat keberatan untuk ikut berangkat, bagaimana nanti orang-orang rindu dengan kemerduan kicauanku bila aku harus meninggalkan mereka. Bagaimana mungkin aku dapat berpisah dari kembang-kembang mekarku ?” demikian alasan burung Kenari.\rSelanjutnya, burung Merak berkata, “Dulu aku hidup di syurga bersama Adam, lantas aku diusir dari syurga, rasanya aku ingin kembali ke tempat tinggalku lagi. Karena itu, aku tidak mau ikut dalam rombongan.”\rKemudian disusul oleh Itik, “Aku sudah biasa hidup dalam kesucian, dan aku juga terbiasa berenang di tempat yang kering kerontang. Aku tidak mungkin hidup tanpa air,” kilah Itik.\rBegitu juga burung Garuda, “Saya sudah biasa hidup senang di gunung, bagaimana mungkin aku sanggup meninggalkan tempatku yang menyenangkan”, alasan Garuda.\rKemudian disusul burung Gelatik, “Aku hanya seekor burung kecil, dan lemah, takkan mungkin sanggup ikut mengembara sejauh itu,” kata burung Gelatik.\rLantas burung Elang ikut menyahut, “Semua orang sudah tahu kedudukanku yang tinggi ini, maka tidak mungkin aku meninggalkan tempat dan kedudukan yang mulia ini, ” kata burung Elang.","part":1,"page":267},{"id":268,"text":"Burung Hudhud sebagai pemimpin sangat bijak dan sabar mendengar semua keluhan dan alasan burung-burung yang enggan berangkat. Namun demikian, burung Hudhud tetap bersemangat memberikan dorongan dan motivasi kepada mereka. “Kenapa kalian harus berberlindung di balik dalil-dalil nafsumu, sehingga semangatmu yang sudah membara menjadi padam? Padahal kalian tahu bahwa perjalanan menuju istana Simurgh adalah perjalanan suci, kenapa harus takut dan bimbang dengan prasangka yang ada pada dirimu?” ucap Hudhud.\rKemudian ada seekor burung menyela, “Dengan cara apa kita bisa sampai ke tempat Maharaja Simurgh yang jauh dan sulit itu? “Dengan bekal himmah (semangat) yang tinggi, kemauan yang kuat, dan tabah menghadapi segala cobaan dan rintangan. Bagi orang yang rindu, seperti apapun cobaan akan dihadapi, dan seberapa pun rintangan akan dilewati. Perlu diketahui bahwa Maharaja Simurg sudah jelas dan dekat, laksana matahari dengan cahayanya,” jawab Hudhud meyakinkan. Sabarlah, bertawakkallah, karena bila kalian telah sanggup menempuh perjalanan itu, kalian akan tetap berada dalam jalan yang benar,·demikian lanjut Hudhud.\rSetelah itu, bangkitlah semangat burung-burung seolah-olah baru saja mendapatkan kekuatan baru untuk terus melangkah menuju istana Simurg. Akhirnya, burung-burung yang berjumlah ribuan sepakat untuk berangkat bersama-sama tanpa satupun yang tertinggal.","part":1,"page":268},{"id":269,"text":"Perjalanan panjang telah dimulai, perbekalan telah disiapkan. Burung Hudhud yang didaulat menjadi pemimpin mereka telah mengatur persiapan, dengan membagi rombongan menjadi beberapa kelompok. Setelah perjalanan cukup lama menembus lorong-lorong waktu, kegelisahan mulai datang menimpa mereka. “Mengapa perjalanan sudah lama dan jauh, kok tidak sampai-sampai?” guman mereka di dalam hati. Mulailah mereka dihinggapi rasa malas karena menganggap perjalanan terlalu lama, mereka bosan karena tidak lekas sampai. Perasaan mereka diliputi keraguan dan kebimbangan. Kemudian sebagian burung ada yang memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan.\rNamun burung-burung lain yang masih memiliki stamina kuat dan himmah yang tinggi tidak menghiraukan penderitaan yang mereka alami, dan melanjutkan perjalanan yang maha panjang itu.\rTiba-tiba rintangan datang kembali, terpaan angin yang sangat kencang menerpa mereka sehingga membuat bulu-bulu indah yang dibanggakan berguguran. Kegagahan burung-burung perkasa pun mulai pudar. Kedudukan dan pangkat yang tinggi sudah tidak terpikirkan. Berbagai macam penyakit mulai menyerang mereka, kian lengkaplah penderitaan yang dirasakan oleh para burung tersebut. Badan mereka kurus kering, penyakit datang silih berganti membuat mereka makin tidak berdaya. Semua atribut duniawi yang dulu disandang dan dibanggakan, sekarang tanggal tanpa sisa, yang ada hanyalah totalitas kepasrahan dalam ketidak berdayaan. Mereka hanyut dalam samudera iradatullah dan tenggelam dalam gelombang fana’.","part":1,"page":269},{"id":270,"text":"Pada akhirnya Cuma sedikit dari mereka yang benar-benar sampai ke tempat yang teramat mulia dimana Simurg membangun mahligainya. Dari ribuan burung yang pergi, tinggal 30 ekor yang masih bertahan dan akhirnya sampai di gerbang istana Simurgh. Namun kondisi mereka sangat memprihatinkan, tampak gurat-gurat kelelahan di wajah mereka. Bahkan bulu-bulu yang menempel di tubuh mereka rontok tak bersisa. Di sini terlihat, meski mereka berasal dari latar belakang berbeda, namun pada proses puncak pencapaian spiritual adalah sama, yaitu dalam kondisi telanjang bulat dan lepas dari pakaian basyariyah.\rKemudian di depan gerbang istana mereka beristirahat sejenak sambil mengatur nafas. Tiba-tiba datang penjaga istana menghampiri mereka, “Apa tujuan kalian susah payah datang ke istana Simurgh?” kata penjaga istana. Serentak mereka menjawab, “Saya datang untuk menghadap Maharaja Simurg, berilah kami kesempatan untuk bertemu dengannya.”\rTanpa diduga, terdengar suara sayup-sayup menyapa mereka dari dalam istana, “Salaamun qaulam min rabbir rahiim” sembari mempersilahkan mereka masuk ke dalam. Lalu mereka masuk secara bersama-sama. Kemudian terbukalah kelambu hijab satu demi satu yang berjumlah ribuan. Mata mereka terbelalak memandang keindahan yang amat mempesona, keindahan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya, keindahan yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.","part":1,"page":270},{"id":271,"text":"Tatkala seluruh hijab tersingkap, ternyata yang dijumpai adalah wujud dirinya. Burung-burung pun saling bertanya dan terkagum-kagum, “Lho kok aku sudah ada disini?” begitu guman mereka dalam hati. Seolah-olah mereka berada di depan cermin sehingga yang ada adalah wujud dirinya. Maka datanglah suara lembut menjawabnya, “Mahligai Simurgh ibarat cermin, maka siapapun yang sampai pada mahligai ini, tidak akan melihat wujud selain wujud diri sendiri. Perjumpaan ini di luar angan dan pikirmu, dan juga tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata, namun hanya dapat dirasakan dengan rasa. Karena itu, engkau harus keluar dari dalam dirimu sehingga engkau menjadi sosok pribadi Insan Kamil.”\rAkhirnya, mereka memahami hakikat dirinya, setelah melewati tahapan fana’ billah hingga mencapai puncak baqa’ billah. Maka hilanglah sifat-sifat kehambaan dan kekal dalam ketuhanan.\r6 orang menyukai ini.\rHari Whank\rBuku favorit ana,. Musyawarah burung karya Al-Attar,.\r4 Desember pukul 12:34 · Suka · Hapus\rDAFTAR ISI\rKUMPULAN TANYA JAWAB KEAGAMAAN ala Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah - Kenapa Takut Bid'ah.\rDaftar Isi Dokumen\r490.TASAWUF : MUSIK DAN TARIAN SEBAGAI PEMBANTU KEHIDUPAN KEAGAMAAN\rHakam Ahmed ElChudrie > Daftar Isi Dokumen Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah - KTB (PISS-KTB)\r490.TASAWUF : MUSIK DAN TARIAN SEBAGAI PEMBANTU KEHIDUPAN KEAGAMAAN","part":1,"page":271},{"id":272,"text":"Hati manusia diciptakan oleh Yang Maha Kuasa bagai sebuah batu api. Ia mengandung api tersembunyi yang terpijar oleh musik dan harmoni serta menawarkan kegairahan bagi orang lain, di samping dirinya. Harmoni-harmoni ini adalah gema dunia keindahan yang lebih tinggi, yang kita sebut dunia ruh. Ia mengingatkan manusia akan hubungannya dengan dunia tersebut, dan membangkitkan emosi yang sedemikian dalam dan asing dalam dirinya, sehingga ia sendiri tak berdaya untuk menerangkannya. Pengaruh musik dan tarian amat dalam, menyalakan cinta yang telah tidur di dalam hati – cinta yang bersifat keduniaan dan inderawi, ataupun yang bersifat ketuhanan dan ruhaniah.","part":1,"page":272},{"id":273,"text":"Sesuai dengan itu, terjadi perdebatan di kalangan ahli teologi mengenai halal dan haramnya musik dan tarian dalam kegiatan-kegiatan keagamaan. Suatu sekte, Zhahariah, berpendapat bahwa Allah sama sekali tak dapat dibandingkan dengan manusia, seraya menolak kemungkinan bahwa manusia bisa benar-benar merasakan cinta kepada Allah. Mereka berkata bahwa manusia hanya bisa mencinta sesuatu yang termasuk dalam spesiesnya. Jia ia “benar-benar” merasakan sesuatu yang ia pikir sebagai cinta kepada Sang Khalik, kata mereka hal itu tak lebih daripada sekadar proyeksi belaka, atau bayang-bayang yang diciptakan oleh khayalannya, atau suatu pantulan cinta kepada sesama mahluk. Musik dan tarian, menurut mereka, hanya berurusan dengan cinta kepada makhluk, dan karenanya haram dala mkegiatan keagamaan. Jika kita tanya mereka, apakah arti “cinta kepada Allah” yang diperintahkan oleh syariat, mereka menjawab bahwa hal itu berarti ketaatan dan ibadah. Kesalahan ini akan kita sanggah pada bab yang akan membahas kecintaan kepada Allah. Saat ini, baiklah kita puaskan diri kita dengan berkata bahwa musik dan tari tidak memberikan sesuatu yang sebelumnya tidak ada di dalam hati, tapi hanyalah membangunkan emosi yang tertidur. Oleh karena itu, menyimpan cinta kepada Allah di dalam hati yan gdiperintahkan oleh syariat itu sama sekali dibolehkan. Malah ikut serta dala mkegiatan-kegiatan yang memperbesarnya patut dipuji. Di pihak lain, jika hatinya penuh dengan nafsu inderawi, musik dan tarian hanya akan menambahnya; karena","part":1,"page":273},{"id":274,"text":"itu, terlarang baginya. Sementara itu, jika mendengarkan musik hanyalah sebagai hiburan belaka, maka hukumnya mubah. Karena, sekadar kenyataan bahwa musik itu menyenangkan tidak lantas membuatnya haram, sebagaimana mendengarkan seekor burung berbunyi; atau melihat rumput hijau dan air mengalir tidak diharamkan. Watak tak-berdosa dari musik dan tarian yang diperlakukan sekadar sebagai hiburan, juga dibenarkan oleh hadis shahih yang kita terima dari Siti Aisyah yang meriwayatkan:\rPada suatu hari raya, beberapa orang Habsyi menari di masjid. Nabi berkata kepadaku, “Inginkah engkau melihatnya?” Aku jawab, “Ya”. Lantas aku diangkatnya dengan tangannya sendiri yang dirahmati, dan aku menikmati pertunjukan itu sedemikian lama, sehingga lebih dari sekali beilau berkata, “Belum cukupkah?”\rHadis lain dari Siti Aisyah adalah sebagai berikut:\rPada suatu hari raya, dua orang gadis datang ke rumahku dan mulai bernyanyi dan menari. Nabi masuk dan berbaring di sofa sambil memalingkan mukanya. Tiba-tiba Abu Bakar masuk dan, melihat gadis-gadis itu bermain, dia berseru: “Hah! Seruling setan di rumah Nabi!” Nabi menoleh karenanya dan berkata: “Biarkan mereka, Abu Bakar, hari ini adalah hari raya.”","part":1,"page":274},{"id":275,"text":"Terlepas dari kasus-kasus yang melibatkan musik dan tarian yang membangunkan nafsu-nafsu setan yang telah tidur di dalam hati, kita dapati adanya kasus-kasus yang menunjukkan mereka sama sekali halah. Misalnya nyanyian orang-orang yang sedang menjalankan ibadah haji yang merayakan keagungan Baitullah di Makkah, yang dengan demikian mendorong orang lain untuk pergi haji; dan musik yang membangkitkan semangat perang di dara para pendengarnya dan memberikan mereka semangat untuk memerangi orang-orang kafir. Demikian pula, musik-musik sendu yang membangkitkan kesedihan karena telah berbuat dosa dan kegagalan dalam kehidupan keagamaan juga diperbolehkan: seperti misalnya musik Nabi Daud, nyanyian penguburan yang menambah kesedihan karena kematian tidak diperbolehkan, karena tertulis dalam al-Qur’an: “Jangan bersedih atas apa yang hilang darimu.” Di pihak lain, musik-musik gembira di pesta-pesta, seperti perkawinan dan khitanan atau kembali dari perjalanan, hukumnya halal.","part":1,"page":275},{"id":276,"text":"Sekarang kita sampai pada penggunaan musik dan tarian yang sepenuhnya bersifat keagamaan. Para sufi memanfaatkan musik untuk membangkitkan cinta yan glebih besar kepada Allah dalam diri mereka, dean dengannya mereka seringkali mendapatkan penglihatan dan kegairanan ruhani. Dalam keadaan ini hati mereka menjadi sebersih perak yan gdibakar dalam tungku, dan mencapai suatu tingkat kesucian yang tak akan pernah bisa dicapai oleh sekadar hidup prihatin, walau seberat apapun. Para sufi itu kemudian menjadi sedemikian sadar akan hubungannya dengan dunia ruhani, sehingga mereka kehilangan segenap perhatiannya akan dunia ini dan kerapkali kehilangan kesadaran inderawinya.\rMeskipun demikian, para calon sufi dilarang ikut ambil bagian dalam tarian mistik ini tanpa bantuan pir (syaikh atau guru ruhani)nya. Diriwayatkan bahwa Syaikh Abul-Qasim Jirjani, ketika salah seorang muridnya meminta izin untuk ambil bagian dalam tarian semacam itu, berkata: “Jalani puasa yang ketat selama tiga hari, kemudian suruh mereka memasak makanan-makanan yang menggiurkan. Jika kemudian engkau masih lebih menyukai tarian itu, engkau boleh ikut.” Bagaimanapun juga, seorang murid yang hatinya belum seluruhnya tersucikan dari nafsu-nafsu duniawi – meskipun mungkin telah mendapat penglihatan sepintas akan jalur tasawwuf – mesti dilarang oleh syaikhnya untuk ambil bagian dalam tarian-tarian semacam itu, karena hal itu hanya akan lebih banyak mendatangkan mudharat daripada mashlahatnya.","part":1,"page":276},{"id":277,"text":"Orang-orang yang menolak hakikat ekstase (kegairahan) dan pengalaman-pengalaman ruhani para sufi, sebenarnya hanya mengakui kesempitan pikiran dan kedangkalan wawasan mereka saja. Meskipun demikian, mereka haruslah dimaafkan, karena mempercayai hakikat suatu keadaan yang belum dialami secara pribadi adalah sama sulitnya dengan memahami kenikmatan menatap rumput hijau dan air mengalir bagi seorang buta, atau bagi seorang anak untuk mengerti kenikmatan melaksanakan pemerintahan. Karenanya seorang bijak, meskipun ia sendiri mungkin tidak mempunyai pengalaman tentang keadaan-keadaan tersebut, tak akan menyangkal hakikatnya. Sebab, kesalahan apa lagi yang lebih besar daripada orang yang menyangkal hakikat sesuatu hanya karena ia sendiri belum mengalaminya! Mengenai orang-orang ini, tertulis dalam al-Qur’an: “Orang-orang yang tidak mendapatkan petunjuk akan berkata, ‘Ini adalah kemunafikan yang nyata’.”","part":1,"page":277},{"id":278,"text":"Sedang mengenai puisi erotis yang dibaca pada pertemuan-pertemuan para sufi – yang banyak orang merasa keberatan terhadapnya – mesti kita ingat bahwa jika dalam puisi seperti ini disebut-sebut tentang pemisahan dari atau persekutuan dengan yang dicintai, maka para sufi – yang amat cinta pada Allah – menggunakan ungkapan semacam itu untuk menjelaskan pemisahan dan persekutuan dengan Dia. Demikian pula, “jalan-jalan buntuk yang gelap” dipakai untuk menjelaskan kegelapan kekafiran; “kecerahan wajah” untuk cahaya keimanan; dan “mabuk” sebagai ekstase (kegairanan) sang sufi. Ambil sebagai misal, bait dari sebuah puisi berikut ini:\rMungkin sudah kuatur anggur beribu takaran\rTapi, sampai ‘kau habis mereguknya tiada kegembiraan kaurasakan\rDengan itu penulisnya bermaksud untuk mengatakan bahwa kenikmatan agama yang sejati taka akan bisa diraih lewat perintah resmi, tapi dengan rasa tertarik dan keinginan. Seseorang boleh jadi telah banyak berbicara dan menulis tentang cinta, keimanan, ketakwaan dan sebagainya, tapi sebelum ia sendiri memiliki sifat-sifat ini, semuanya itu tak bermanfaat baginya. Jadi, orang-orang yang mencari-cari kesalahan para sufi, karena sufi-sufi tersebut sangat terpengaruh – bahkan sampai mencapai ekstase – oleh bait-bait seperti itu, hanyalah orang-orang dangkal dan tak toleran. Onta sekalipun kadang-kadang terpengaruh oleh lagu-lagu Arab yang dinyanyikan penunggangnya sehingga ia akan berlari kencang, memikul beban berat, sampai akhirnya tersungkur kelelahan.","part":1,"page":278},{"id":279,"text":"Meskipun demikian, orang-orang yang mendengar syair pada sufi berada dalam bahaya dikutuk, jika ia menerapkan syair-syair yang didengarnya itu untuk Allah. Misalnya, ketika ia dengar syair seperti “Engkau berubah dari kecenderungan-semulamu”, ia tak boleh menerapkannya untuk Allah – yang tak boleh berubah – melainkan untuk dirinya dan ragam suasana hatinya sendiri. Allah bagaikan mentari yang selalu bersinar, tetapi bagi kita kadang-kadang cahaya-Nya terhalang oleh beberapa obyek yang ada di antara kita dan Dia.\rDiriwayatkan bahwa beberapa ahli mencapai tingkat ekstase sedemikian rupa sehingga diri mereka hilang dalam Allah. Demikian halnya dengan Syaikh Abul-Hasan Nuri yang ketika mendengar seuntai syair tertentu, terjatuh dalam keadaan ekstase dan menerobos ke dalam ladang yan gpenuh dengan batang-batang tebu yang baru dipotong, berlari kian-kemari sampai kakinya berdarah penuh luka dan akhirnya mati tak lama sesudah itu. Dalam kasus-kasus semacam itu, beberapa orang berpendapat bahwa Tuhan telah benar-benar turun ke dalam manusia, tapi ini adalah kesalahan yang sama besar dengan yang dilakukan oleh seseorang yang ketika pertama kali melihat bayangannya di cermin, berpendapat bahwa ia telah tersatukan dengan cermin itu, atau bahwa warna-warni merah-putih yang dipantulkan oleh cermin adalah sifat-sifat bawaan cermin itu.","part":1,"page":279},{"id":280,"text":"Keadaan-keadaan ekstase yang dialami para sufi beragam, sesuai dengan emosi-emosi yang dominan di dalamnya, yakni cinta, ketakutan, nafsu, tobat dan sebagainya. Keadaan-keadaan ini, sebagaimana kita sebut di atas, dicapai seringkali tidak hanya sebagai hasil mendengarkan ayat-ayat al-Qur’an, tetapi juga syair yang merangsang. Sementara orang keberatan terhadap pembacaan syair, sebagaimana juga al-Qur’an, pada kesempatan-kesempatan seperti itu. Tapi mesti diingat bahwa tidak seluruh ayat al-Qur’an dimaksudkan untuk membangkitkan emosi – seperti misalnya, perintah bahwa seorang laki-laki mesti mewariskan seperenam hartanya untuk ibunya dan sebagainya untuk saudara perempuannya, atau bahwa seorang wanita yang ditinggal mati suaminya mesti menunggu empat bulan sebelum boleh menikah lagi dengan orang lain. Sangat sedikit orang dan hanya yang sangat peka sajalah yang bisa tercebur ke dalam ekstase keagamaan oleh ayat-ayat seperti itu.","part":1,"page":280},{"id":281,"text":"Alasan lain yang membenarkan penggunaan syair, juga ayat-ayat al-Qur’an, dalam kesempatan-kesempatan seperti ini adalah bahwa orang-orang telah sedemikian akrab dengan al-Qur’an, banyak di antaranya bahkan telah menghafalnya, sehingga pengaruh pembacannya telah sedemikian ditumpulkan oleh perulangan yang berkali-kali. Seseorang tidak bisa selalu mengutip ayat-ayat al-Qur’an baru sebagaimana yang bisa dilakukan dengan syair. Suatu kali ketika beberapa orang Arab Badul mendengarkan al-Qur’an untuk pertama kalinya dan menjadi sangat tergerak olehnya, Abu Bakar berkata kepada mereka, “Kami dulu pernah seperti kamu, tetapi sekarang hati kami telah mengeras,” berarti bahwa al-Qur’an telah kehilangan sebagian pengaruhnya atas orang-orang yang akrab dengannya. Dengan alasan yang sama, Khalifah Umar biasa memerintahkan para peziarah haji ke Makkah agar segera meninggalkan tempat itu secepatnya. “Karena,” katanya, “saya khawatir, jika kalian menjadi terlalu akrab dengan Kota Suci itu, ketakjuban kalian terhadapnya akan sirna dari hati-hati kalian.”","part":1,"page":281},{"id":282,"text":"Ada pula penggunaan nyanyian dan peralatan musik – sepreti seruling dan genderang – secara tak berbobot dan sembrono, paling tidak di mata masyarakat awam. Keagungan al-Qur’an tak pantas, meskipun sementara, dikaitkan dengan hal-hal seperti ini. Diriwayatkan bahwa sekali waktu Nabi saw. memasuki rumah Rai’ah putri Mu’adz. Beberapa orang gadis-penyanyi yang ada di sana secara tiba-tiba mulai mengalunkan nyanyiannya untuk menghormati beliau. Beliau dengan segera meminta mereka untuk berhenti, karena puji-pujian bagi Nabi adalah tema yang terlalu sakral untuk diperlakukan demikian. Akan timbul pula bahaya jika ayat-ayat al-Qur’an dipergunakan secara khusus, sehingga pendengar-pendengarnya akan mengaitkannya dengan penafsiran mereka sendiri, dan hal ini terlarang. Di pihak lain, tak ada bahaya yang mungkin timbul dalam menafsirkan baris-baris syair dengan berbagai cara, karena memang makna yang diberikan seseorang atas suatu syair tak harus sama dengan yang diberikan oleh penulisnya.","part":1,"page":282},{"id":283,"text":"Bentuk lain dari tarian-tarian mistik ini adalah dengan melukai diri sendiri sembari mengoyak-ngoyakkan pakaian. Jika hal ini adalah hasil dari suatu keadaan ekstase murni, maka tak ada sesuatu yang bisa dikatakan untuk menentangnya. Tapi jika hal ini dilakukan oleh orang-orang yang sok disebut “ahli”, maka hal ini adalah suatu kemunafikan belaka. Dalam setiap hal, orang yang paling ahli adalah yang mampu mengendalikan dirinya, hingga ia benar-benar berasa wajib untuk memberikan penyaluran kepada perasaan-perasannya. Diriwayatkan bahwa seorang murid Syaikh Juaid, ketika mendengar sebuah nyanyian pada suatu pertemuan para sufi, tak bisa menahan diri sehingga mulai memekik dalam keadaan ekstase. Junaid berkata kepadanya: “Jika kaulakukan hal itu sekali lagi, jangan tinggal bersamaku lagi.” Setelah kejadian itu, sang anak muda berusaha untuk menahan dirinya. Tapi pada akhirnya pada suatu hari emosinya sedemikian kuat terbangkitkan sehingga, setelah sedemikan lama dan sedemikian kuat tertekan, ia melontarkan pekikan dan kemudian mati.","part":1,"page":283},{"id":284,"text":"Kesimpulannya, dalam menyelenggarakan pertemuan-pertemuan semacam itu, perhatian mesti diberikan kepada tempat dan waktu, dan bahwa tidak ada pemirsa dengan niat yang tak patut ikut hadir di dalamnya. Orang-orang yang ikut serta di dalamnya mesti duduk berdiam diri, tidak saling melihat, menundukkan kepala – sebagaimana dalam shalat – dan memusatkan pikiran mereka kepada Allah. Setiap orang mesti waspada terhadap segala sesuatu yang mungkin terilhamkan ke dalam hatinya, dan tidak melakukan gerakan-gerakan apa pun yang bersumber dari rangsangan sadar-diri belaka. Tetapi jika ada seseorang di antara mereka yang bangkit dalam keadaan ekstase murni, maka segenap orang yang hadir mesti bangkit pula bersamanya, dan jika ada sorban seseorang yang tanggal, maka orang lain pun mesti meletakkan sorbannya.","part":1,"page":284},{"id":285,"text":"Meskipun hal ini merupakan hal baru dalam Islam dan tidak diterima dari para sahabat, mesti kita ingat bahwa tidak semua hal itu terlarang, melainkan hanya yang secara langsung bertentangan dengan syariat. Misalnya, shalat Tarawih. Shalat ini dilembagakan pertama kali oleh Khalifah Umar. Nabi saw. bersabda: “Hiduplah dengan setiap orang sesuai dengan kebiasaan dan wataknya.” Oleh karena itu, kita dibenarkan untuk mengerjakan hal-hal tertentu demi menyenangkan orang, jika sikap tidak-berkompromi akan menyakitkan hati mereka. Memang benar bahwa para sahabat tidak mempunyai kebiasaan untuk berdiri ketika Nabi saw. masuk, karena mereka tidak menyukai praktek ini; tetapi di daerah-daerah yang mempunyai kebiasaan seperti ini, dan tidak melakukannya akan bisa menimbulkan rasa tidak senang, lebih baik berkompromi dengannya. Orang-orang Arab punya kebiasaan sendiri, orang-orang Persia pun demikian, dan Allah tahu mana yang paling baik.\rdikutip dari Kimiya Sa'adah Lil Nawawi.....\rAlkannas Sadja dan 10 orang lainnya menyukai ini.\rLihat komentar sebelumnya\rAbdul Yasir\rmenarik sekali....\r26 September · Suka · 1 orang · Hapus\rMick Luke Maccy\rabunawas suka musik ga yaa'???\r8 Oktober · Suka · Hapus\rHakam Ahmed ElChudrie\rHoby..\r8 Oktober · Suka · Hapus\rAthoillah Alawiyyin\rmudah2an semua yang ada disekitar kita termasuk musik bisa menjadikan kita semakin dekat dengan-Nya bukan sebaliknya\r9 Oktober · Suka · 1 orang · Hapus\rWafa Noer\rUmpan Lambung\r25 November · Suka · Hapus\rZu El Syamsa","part":1,"page":285},{"id":286,"text":"kalo musik aq setuju kalo ada yg membantu keagamaan. klo tarian. aq baru denger dpt membantu keagamaan? yg kyk gimana itu ya?\r25 November · Suka · 1 orang · Hapus\rHakam Ahmed ElChudrie\rTarian sufi (sema).\rMau praktek kang zu?\rKemarin pukul 15:01 · Suka · Hapus\rZu El Syamsa\rselain tarian sufi ada tidak tarian lain yg ad kaitannya dg keagamaan qt, mas ElChudrie? mf ane cm tanya...\rKemarin pukul 15:43 · Suka · Hapus\rHakam Ahmed ElChudrie\rSetau saya diafrika ada cuma namanya kurang tahu..\rKemarin pukul 15:45 · Suka · Hapus\rNur Hasyim S. Anam\rSubin Ae Ezt Pasal 16\rPenyuntingan Dokumen\rPenyuntingan Dokumen hanya dapat dilakukan oleh atau atas izin Admin. Member yang kedapatan menyunting dokument bisa mendapatkan sanksi dikeluarkan dari grup setelah mendapatkan peringatan dari admin melalui inbox.\rKemarin pukul 15:48 · Suka · 1 orang · Hapus\rHabib Asnawi\rKANG ........, datanglah KE Pondok Pesantren HASYIM ASY'ARI Tebu Ireng JOMBANG JATIM. kitabnya baca sendiri......!\rKemarin pukul 15:53 · Suka · Hapus\rZu El Syamsa\rjudul yg aku baca diatas kesannya trlalu umum... (ini mnurutku lho y)... pdhal kn gk semua tarian yg berkaitan dg agama, itu di islam saja, contoh tarian yg dilakukan utk pemanggilan Roh2 dari para pnganut pagan ato lainnya...\rterus, tarian berkaitn sama agama tapi yg nari nya wanita itu gmn?\rKemarin pukul 15:59 · Suka · Hapus\rHakam Ahmed ElChudrie\rMusik jg bgt khan?\rMusik buat pemujaan, spt di india dan suku indian?\rKemarin pukul 16:03 · Suka · Hapus\rZu El Syamsa","part":1,"page":286},{"id":287,"text":"kalau boleh tau, pesan tesirat dari tulisan diatas sebenarnya bagaimana mas Hakam?mf tny mulu...^^\rKemarin pukul 16:11 · Suka · Hapus\rHakam Ahmed ElChudrie\rSemua bisa dijadikan sarana utk bisa wushul kpd Alloh..\rKemarin pukul 17:07 · Suka · 1 orang · Hapus\rDAFTAR ISI\rKUMPULAN TANYA JAWAB KEAGAMAAN ala Error! Hyperlink reference not valid..\rDaftar Isi Dokumen\r494. Apa yang tidak didapat dari sebagian besar pondok pesantren modern\rZon Jonggol > Daftar Isi Dokumen Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah - KTB (PISS-KTB)\r494. Apa yang tidak didapat dari sebagian besar pondok pesantren modern\rApa yang tidak didapat dari sebagian besar pondok pesantren modern\rDalam tulisan sebelumnya pada Error! Hyperlink reference not valid. dapat kita ambil pelajaran dari tragedi pada Universitas Darul Hadits Dammaj Yaman pertengkaran antara dua kelompok manusia yang telah bersyahadat yakni sekte para pengaku pengikut Salafush Sholeh dengan sekte para pengaku pengikut Imam Sayyidina Ali ra.\rKepala Universitas Darul Hadits Dammaj, Yaman, Syeikh al-Hajuri Yahya, mengatakan bahwa mereka berjihad terhadap Syiah Rafida al Houti\rBenarkah Syiah yang menyerang Darul Hadits Dammaj adalah Syiah Rafidhoh ?\rDari situs Error! Hyperlink reference not valid. didapat keterangan bahwa Syiah yang menyerang adalah Syiah Zaidiyah","part":1,"page":287},{"id":288,"text":"Ulama Ibnu Taimiyah berpendapat tentang Imam Zaid (pendiri sekte Syiah Zaidiyah) bahwa beliau menganut ajaran Ahlu Sunnah, sebagaimana ucapannya: \"Tidak semua keturunan Fatimah itu diharamkan dari api Neraka, sebab diantara mereka ada yang baik dan ada pula yang buruk, dan nampaknya mayoritas yang buruk dari keturunan Fatimah adalah dari kalangan Syi’ah Rafidah. Adapun Syi’ah Zaidiyah yang diprakarsai oleh imam Zaid bin Ali bin Husein bin Ali bin Abi Thalib dan keturunan Fatimah yang baik-baik, mereka ini adalah Ahlu Sunnah dan mereka mengakui kepemimpinan Abu Bakar dan Umar, sebab mereka tidak bermasalah (tidak mengkafirkan) khalifah Abu Bakar dan Umar\".\rSenada dengan pandangan ibnu Taimiyah, syekh Mahmud Syukri al-Alusi juga menegaskan: \"Sesungguhnya imam-imam Ahlu Bait termasuk imam Zaid hakikatnya adalah beraqidah Ahlu Sunnah. Sebab mereka mengikut jejak Ahlu Sunnah dan respek kepada dakwah mereka. Dan para imam Syi’ah pun sejalan dengan Ahlu Sunnah, bagaimana tidak, imam Abu Hanifah dan imam Malik dan imam lainnya, merekapun belajar dari para imam mereka\"\rSumber: Error! Hyperlink reference not valid.\rDalam hal ini kami tidaklah memihak salah satu sekte manapun namun kita bisa bayangkan bagaimana pendapat kaum non muslim terhadap manusia-manusia yang telah bersyahadat.\rAndaikan semua itu karena kepentingan atau kekuasaan, hal itu seharusnya tidak terjadi jika kedua sekte tersebut memahami Al Qur'an dan As Sunnah dengan baik dan benar.","part":1,"page":288},{"id":289,"text":"Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku takuti atas kalian, tetapi aku takut pada kalian dibukakannya dunia bagi kalian sebagaimana telah dibuka bagi umat sebelum kalian. Kemudian kalian berlomba-lomba sebagaimana mereka berlomba-lomba, dan menghancurkan kalian sebagaimana telah menghancurkan mereka.” (Muttafaqun ‘alaihi)\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “mencela seorang muslim adalah kefasikan, dan membunuhnya adalah kekufuran”. (HR Muslim).\rAl-Bukhari meriwayatkan dalam bab “Pengutusan Ali dan Khalid bin Walid ke Negeri Yaman”: Seorang laki-laki berdiri seraya berkata, “Ya Rasulullah, takutlah kepada Allah! (Bertindaklah secara adil!).” Jawab Nabi Shallallahu alaihi wasallam: “Celakalah engkau, bukankah aku orang yang paling berhak dari penduduk bumi ini untuk takut kepada Allah?!” Mendengar itu Khalid berkata: “Ya Rasulullah, izinkan aku memenggal lehernya!” Jawab Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam: “Tidak, barangkali ia mengerjakan shalat.”\rImam Al-’Asqallani dalam kitab Al-Ishabah di bagian biografi Sarhuq si Munafik, yaitu ketika ia dihadapkan untuk dibunuh, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bertanya: “Apakah ia mengerjakah shalat?” Jawab mereka: “Hanya bila dilihat orang.” Sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam: “Sungguh aku dilarang membunuh orang yang menegakkan shalat!”","part":1,"page":289},{"id":290,"text":"\"Peperangan\" tidak akan timbul jika tidak ada penyebabnya, pastilah semua itu diwali dengan saling menyakiti di antara kedua sekte tersebut.\rBerdasarkan informasi yang kami peroleh, Yaman Utara, tepatnya propinsi So'dah sejak lama didiami oleh sekte Syiah kaum Sayyid Al Houti dan kaum Sunni bermazhab Imam Syafi'i yakni kaum Sayyid Al Ahdal dan kaum-kaum lainnya.\rKaum Sayyid (sadah) Al Hutsi berikut Qobail Syimaliyyin (Syimal panggilan Qobilah Yaman Utara) memusuhi Darul Hadits itu dikarenakan ulama Muqbil bin Hadi Al Wadi'i rohimahulloh pendatang baru (1978) di So'dah dan menyulut api permusuhan dengan menyebarkan pemahamannya dan ini berlangsung lama, sedangkan Zaidiyyah tidak terima apa yang disebarkan oleh Salafiyyin karena banyak fatwa-fatwa Salafiyyin takfir, tabdi' pada mereka, namun bagaimanapun kejadian ini sudah berlangsung lama. Pada tragedi kali ini, kami tidak mengetahui apa penyebab sebenarnya hingga terjadi \"peperangan\" tersebut.\rNamun bagaimanapun \"buah\" dari Universitas Darul Hadits tampaknya adalah menghasilkan muslim yang \"keras\" , muslim yang tidak dapat mengelola kebencian terhadap kaum muslim yang tidak sepemahaman dengan mereka. Boleh jadi disebabkan indoktrinisasi ulama panutan mereka seperti ulama Ibnu Taimiyyah bahwa pemahaman yang disampaikannya adalah pemahaman Salafush Sholeh mengakibatkan mereka merasa bahwa pemahaman mereka yang pasti benar. Padahal apa yang disampaikan oleh ulama-ulama mereka adalah pemahaman mereka sendiri.","part":1,"page":290},{"id":291,"text":"Memang ulama mereka membaca Al Qur’an , Tafsir bil Matsur, Hadits Shohih, Sunan, Musnad, lalu ulama mereka pun berjtihad dengan pendapat mereka. Apa yang ulama mereka katakan tentang kitab-kitab tersebut, pada hakikatnya adalah hasil ijtihad dan ra’yu ulama mereka sendiri. Sumbernya memang Al Quran dan As Sunnah, tapi apa yang ulama-ulama mereka sampaikan semata-mata lahir dari kepala mereka sendiri. Setiap upaya pemahaman bisa benar dan bisa pula salah. Kemungkinan salahnya semakin besar jika yang melakukan upaya pemahaman (ijtihad) tidak dikenal oleh jumhur ulama berkompetensi sebagai Imam Mujtahid Mutlak.\rKesalahpahaman besar telah terjadi ketika ulama-ulama mereka mengatakan bahwa apa yang mereka pahami dan sampaikan adalah pemahaman Salafush Sholeh. Jika apa yang ulama mereka pahami dan sampaikan sesuai dengan pemahaman Salafush Sholeh tentu tidaklah masalah namun ketika apa yang ulama mereka pahami dan sampaikan tidak sesuai dengan pemahaman sebenarnya Salafush Sholeh maka pada hakikatnya ini termasuk fitnah terhadap para Salafush Sholeh. Fitnah akhir zaman.\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam memberikan nasehat kepada kaum muslim bila telah terjadi fitnah antara lain\rDiriwayatkan dari Ibnu Abi al-Shoif dalam kitab Fadhoil al-Yaman, dari Abu Dzar al-Ghifari, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Kalau terjadi fitnah pergilah kamu ke negeri Yaman karena disana banyak terdapat keberkahan’","part":1,"page":291},{"id":292,"text":"Diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah al-Anshari, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Dua pertiga keberkahan dunia akan tertumpah ke negeri Yaman. Barang siapa yang akan lari dari fitnah, pergilah ke negeri Yaman, Sesungguhnya di sana tempat beribadah’\rAbu Said al-Khudri ra meriwayatkan hadits dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, ‘Pergilah kalian ke Yaman jika terjadi fitnah, karena kaumnya mempunyai sifat kasih sayang dan buminya mempunyai keberkahan dan beribadat di dalamnya mendatangkan pahala yang banyak’\rAbu Musa al-Asy’ari meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, ‘Allah akan mendatangkan suatu kaum yang dicintai-Nya dan mereka mencintai Allah. Bersabda Nabi shallallahu alaihi wasallam : mereka adalah kaummu Ya Abu Musa, orang-orang Yaman’.\rFirman Allah ta’ala yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” (QS Al Ma’iadah [5]:54)\rDari Jabir, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ditanya mengenai ayat tersebut, maka Rasul menjawab, ‘Mereka adalah ahlu Yaman dari suku Kindah, Sukun dan Tajib’.","part":1,"page":292},{"id":293,"text":"Ibnu Jarir meriwayatkan, ketika dibacakan tentang ayat tersebut di depan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau berkata, ‘Kaummu wahai Abu Musa, orang-orang Yaman’.\rDalam kitab Fath al-Qadir, Ibnu Jarir meriwayat dari Suraikh bin Ubaid, ketika turun ayat 54 surat al-Maidah, Umar berkata, ‘Saya dan kaum saya wahai Rasulullah’. Rasul menjawab, ‘Bukan, tetapi ini untuk dia dan kaumnya, yakni Abu Musa al-Asy’ari’.\rPara Habib dan para Sayyid , keturunan cucu Rasulullah, pada saat ini merubah kiblat ilmu ke para ulama Hadramaut, Yaman\r\"Kekerasan\" dari apa yang dihasilkan Universitas Darrul Hadits Dammaj dapat kita pelajari dari perilaku-perilaku diantara mereka para pengaku pengikut pemahaman Salafush Sholeh sebagaimana yang terlukiskan dalam tulisan pada\rError! Hyperlink reference not valid.\rError! Hyperlink reference not valid.\rError! Hyperlink reference not valid.\rError! Hyperlink reference not valid.\rError! Hyperlink reference not valid.\rContohnya kami kutipkan dari Error! Hyperlink reference not valid.\r*****awal kutipan****","part":1,"page":293},{"id":294,"text":"Telah di ketahui bersama apa yang di lontarkan oleh Dzul Akmal (alias : Marhain) terhadap Syaikh Yahya hafidhohulloh dan beberapa ikhwah lain, terkhusus untuk ana secara pribadi, berupa lontaran-lontaran yang keluar dari orang yang sakit jiwanya, ndongkol hatinya, panas temperaturnya, dan tak terkontrol mulutnya, maka ketika ikhwah banyak yang meminta ana untuk memberi sedikit komentar akan kelacutannya, yang pada mulanya ana tidak begitu respon dengan hal itu –dikarenakan– sudah mutawatir akan siapa dan ada apa serta bagaimana si Dzul Kumal ini, baik dari sisi mulut besarnya, otak dan atau akhlaqnya yang tidak terpuji dimata orang-orang sholih- akhirnya dengan sedikit rasa malas anapun tulis risalah ini dengan judul “ KUMAL-KUMAL DZUL AKMAL’’ .\r******akhir kutipan******\rPadahal Ust Dzul Akmal juga ulama yang mengaku-aku mengikuti pemahaman Salafush Sholeh, sebagaimana contohnya terlukiskan pada Error! Hyperlink reference not valid.\rMereka tuliskan 10 keistimewaan Darul Hadits Dammaj, Error! Hyperlink reference not valid.\rMereka tuliskan kurikulum yang diajarkan Error! Hyperlink reference not valid.\rApakah yang tidak di ajarkan pada Darul Hadits Dammaj ?\rHampir kebanyakan pondok pesantren modern tidak mengajarkan bagaimana cara (tharikat) memperjalankan diri kepada Allah ta'ala\rIlmu yang banyak tidak menjamin dekat kepada Allah Azza wa Jalla sebagaimana yang telah diuraikan dalam tulisan pada Error! Hyperlink reference not valid.","part":1,"page":294},{"id":295,"text":"Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang bertambah ilmunya tapi tidak bertambah hidayahnya, maka dia tidak bertambah dekat kepada Allah melainkan bertambah jauh“.\rUrutannya adalah Ilmu --> Amal ---> Akhlak\rManusia yang dekat Allah hanyalah 4 golongan manusia yakni para Nabi (yang utama Rasulullah), para Shiddiqin, para Syuhada, dan orang-orang sholeh atau manusia yang berakhlakul karimah.\rTidak sebagaimana ilmu-ilmu lainnya yang dipelajari dalam bangku sekolah yang hanya membutuhkan pemahaman secara ilmiah menggunakan akal pikiran / rasio / logika, dalam hal ilmu agama atau memahami Al Qur'an dan As Sunnah sangat dibutuhkan pemahaman secara hikmah menggunakan akal qalbu atau hati. Pemahaman secara hikmah tergantung akan hidayah atau karunia dari Allah Azza wa Jalla.\rAllah Azza wa Jalla berfirman yang artinya “Allah menganugerahkan al hikmah (pemahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya Ulil Albab yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)“. (QS Al Baqarah [2]:269 ).\rMereka yang dikarunia pemahaman secara hikmah dapat mempergunakan akal qalbu.\rHati tidak pernah berdusta. Firman Allah ta’ala yang artinya, ‘Fu’aad (hati) tidak pernah mendustai apa-apa yang dilihatnya’ (QS An Najm [53]:11).","part":1,"page":295},{"id":296,"text":"Wabishah bin Ma’bad r.a. berkata: Saya datang kepada Rasulullah Saw., beliau bersabda, “Apakah engkau datang untuk bertanya tentang kebaikan?” Saya menjawab, “Benar.”Beliau bersabda, “Mintalah fatwa kepada hatimu sendiri. Kebaikan adalah apa-apa yang menenteramkan jiwa dan hati, sedangkan dosa adalah apa-apa yang mengusik jiwa dan meragukan hati, meskipun orang-orang memberi fatwa yang membenarkanmu.” Ini adalah hadits yang kami riwayatkan dari dua imam, yaitu Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Ad-Darami dengan sanad hasan\rNawas bin Sam’an r.a. meriwayatkan dari Nabi Saw., beliau bersabda, “Kebaikan adalah akhlak yang baik, sedangkan dosa adalah segala hal yang mengusik jiwamu dan engkau tidak suka jika orang lain melihatnya. “(Diriwayatkan oleh Imam Muslim).\rMereka yang dapat mempergunakan akal qalbu adalah mereka yang membersihkan hati (tazkiyatun nafs) yang berarti mengosongkan dari sifat sifat yang tercela (takhalli) kemudian mengisinya dengan sifat sifat yang terpuji (tahalli) yang selanjutnya beroleh kenyataan Tuhan (tajjalli) atau mencapai muslim yang berma'rifat atau melihat Rabb dengan hatinya.\rManusia terhalang atau menghijabi dirinya sehingga tidak dapat melihat Rabb dengan hatinya adalah karena dosa mereka. Setiap dosa merupakan bintik hitam hati (ketiadaan cahaya), sedangkan setiap kebaikan adalah bintik cahaya pada hati Ketika bintik hitam memenuhi hati sehingga terhalang (terhijab) dari melihat Allah. Inilah yang dinamakan buta mata hati.\rSebagaimana firman Allah ta’ala yang artinya,","part":1,"page":296},{"id":297,"text":"“Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).” (QS Al Isra 17 : 72)\r“maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (al Hajj 22 : 46)\rMereka yang telah berma'rifat, bertemu dan berkomunikasi dengan Allah Azza wa Jalla dibelakang tabir/hijab cahaya dan dipahami oleh qalbu sehingga dapat memahami cahayaNya/petunjukNya atau memahami segala firmanNya atau dapat memahami Al Qur'an dan As Sunnah.\rDiriwayatkan dari Abu Musa al-‘Asy’ari:\rقَامَ فِيْنَا رَسُوْلُ اللهِِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِخَمْسِ كَلِمَاتٍ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَنَامُ وَلاَ يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَنَامَ يَخْفَضُ الْقِسْطَ وَيَرْفَعُهُ. يَرْفَعُ إِلَيْهِ عَمَلَ اللَّيْلِ قَبْلَ عَمَلِ النَّهَارِ وَعَمَلَ النَّهَارِ قَبْلَ عَمَلِ اللَّيْلِ حِجَابُهُ النُّوْرُ. (رواه مسلم)\rBerdiri Rasulullah صلى الله عليه وسلم di depan kami dengan menyampaikan lima kalimat. Beliau berkata: “Sesungguhnya Allah tidak tidur dan tidak layak bagi-Nya tidur, menurunkan timbangan dan mengangkatnya, diangkat kepadanya amalan malam sebelum amalan siang, dan amalan siang Sebelum amalan malam, dan hijab-Nya adalah cahaya. (HR. Muslim)","part":1,"page":297},{"id":298,"text":"وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلاَّ وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولاً فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ.\r(“Dan tidak mungkin bagi seorang manusia bahwa Allah berkata dengannya kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizinNya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana). (HR. Bukhari-Muslim).\rJadi pemahaman secara hikmah diperoleh dengan memperjalankan diri hingga sampai (wushul) kepada Allah Azza wa Jalla.\rPondok Pesantren Traditional (Salafiyyah), Kyai mengajarkan ilmu agama langsung kepada santri dengan cara sorogan (individual) dan bandongan (kelompok), tidak ada penjenjangan belajar, pengajaran berdasarkan kompetensi santri (sistem berbasis kompetensi). Kyai memiliki otoritas besar dan mutlak ditaati, serta kebanyakan tidak memberikan ijazah sebagai tanda keberhasilan belajar. Bahkan santri \"bekerja\" atau membantu Kyai dalam kehidupan sehari-hari seperti mencangkul sawah, mengurus kebun, kolam ikan dan lain sebagainya.\rPara Kyai pada hakikatnya membantu, membimbing, menghantarkan santri menuju kepada Allah sedangkan semuanya terpulang pada kemauan dan upaya santri memperjalankan dirinya kepada Allah Azza wa Jalla. Para Kyai mempunyai kompetensi untuk mengetahui perjalanan ruhani para santrinya.\rRasulullah mengkiaskanya \"aku mendengar derap sandalmu di dalam surga\" (HR Muslim 4497)","part":1,"page":298},{"id":299,"text":"Selengkapnya telah kami uraikan pada Error! Hyperlink reference not valid.\rKesimpulan kami sebagian besar pondok pesantren modern memang berhasil mencetak ulama (ahlli ilmu) namun belum tentu alim ulama atau ulama yang sholeh, ulama yang berakhlakul karimah, ulama yang telah mencapai Ihsan, ulama yang telah berma'rifat.\rCara / Jalan / Thariqat untuk mencapai ulama yang Ihsan atau berma'rifat adalah dengan menjalankan tasawuf dalam Islam.\rTasawuf hanyalah sebuah istilah. Memang istilah ini ditemukan dalam keyakinan kaum non muslim dan semua sepakat bahwa tasawuf adalah istilah untuk cara/jalan mengenal atau mendekatkan diri kepada Tuhan. Tasawuf dalam Islam adalah thariqat (jalan) untuk mencapai muslim yang Ihsan atau muslim yang berakhlakul karimah. Sejak dahulu kala di perguruan tinggi Islam, tasawuf adalah pendidikan akhlak.\rAhmad Shodiq, MA-Dosen Akhlak & Tasawuf, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, menceritakan kisah sedih pendidikan akhlak dalam sistem pendidikan. Ia merupakan dilema, antara jauhnya standar akhlak menurut kualitas hidup sufi, dengan angkuhnya sistem pendidikan. Dilema sistemik ini dipersedih oleh fakta bahwa para gurupun ternyata jauh dari standar akhlak, dalam sebuah ruang kelas, dimana para murid hanya mencari coretan nilai, atau sebatas titik absensi. Selengkapnya dalam tulisan pada Error! Hyperlink reference not valid.","part":1,"page":299},{"id":300,"text":"Universitas Darul Hadits dan kebanyakan pondok pesantren modern hanya mempelajari perkara syariat. Padahal para pemimpin ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak) alias Imam Mazhab yang empat telah memperingatkan kita bahwa janganlah hanya mendalami perkara syariat semata.\rImam Malik ra menyampaikan nasehat (yang artinya) “Dia yang sedang tasawuf tanpa mempelajari fikih (perkara syariat) rusak keimanannya , sementara dia yang belajar fikih tanpa mengamalkan Tasawuf rusaklah dia ., hanya dia siapa memadukan keduanya terjamin benar” .\rImam Syafi’i ra menyampaikan nasehat (yang artinya) ,”Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya. Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mahu menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelezatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mahu mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik (ihsan)?”\r[Diwan Al-Imam Asy-Syafi'i, hal. 47]\rCiri-ciri mereka yang menjalani tasawuf dan berhasil mencapai muslim yang Ihsan atau muslim berma'rifat, diistilahkan oleh Imam Syafi'i ra adalah mereka yang merasakan \"kelezatan takwa\". Mereka yang mendapatkan kenikmatan bertemu dengan Tuhan, kenikmatan yang dirasakan oleh muslim kebanyakan di akhirat kelak.","part":1,"page":300},{"id":301,"text":"Diriwayatkan oleh Anas Ra, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata “….kesenanganku dijadikan dalam shalat”\rMereka yang dikatakan oleh Rasulullah sebagai \"Ash-shalatul Mi’rajul Mu’minin“, “sholat itu adalah mi’rajnya orang-orang mukmin“. yaitu naiknya jiwa meninggalkan ikatan nafsu yang terdapat dalam fisik manusia menuju ke hadirat Allah\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya kalian apabila sholat maka sesungguhnya ia sedang bermunajat (bertemu) dengan Tuhannya, maka hendaknya ia mengerti bagaimana bermunajat dengan Tuhan”\rAllah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya sembahyang (Sholat) itu memang berat kecuali bagi mereka yang khusyu’ yaitu mereka yang yakin akan berjumpa dengan Tuhan mereka, dan sesungguhnya mereka akan kembali kepadaNya”. (QS. Al-Baqarah 2 : 45).\rSholat adalah saat-saat utama bertemu dengan Allah Azza wa Jalla,\rPada hakikatnya dengan dzikrullah kita dapat memperjalankan diri kita kepada Allah.\rDalam suatu riwayat. ”Qoola a’liyy bin Abi Thalib: Qultu yaa Rosuulolloh ayyun thoriiqotin aqrobu ilallohi? Faqoola Rasullulohi: dzikrullahi”. artinya; “Ali Bin Abi Thalib berkata; “aku bertanya kepada Rasullulah, jalan/metode(Thariqot) apakah yang bisa mendekatkan diri kepada Allah? “Rasullulah menjawab; “dzikrulah.”\rDzikrullah yang memperjalankan diri kita agar sampai (wushul) kepada Allah Azza wa Jalla atau jalan (tharikat) menedekatkan diri kita kepada Allah Azza wa Jalla","part":1,"page":301},{"id":302,"text":"Banyak dzikrullah dapat dilakukan setiap saat, setiap waktu, setiap detik , setiap detak jantung kita sebagaimana Ulil Albab “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (QS Ali Imran [3] : 191)\rDengan menjalankan tasawuf, mereka mencapai muslim yang ihsan, muslim yang berma'rifat, minimal mereka yang selalu merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla atau yang terbaik mereka yang dapat melihat Allah dengan hati maka mereka mencegah dirinya dari melakukan sesuatu yang dibenciNya , menghindari perbuatan maksiat, menghindari perbuatan keji dan mungkar hingga terbentuklah muslim yang berakhlakul karimah sesuai dengan tujuan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diutus oleh Allah Azza wa Jalla\rRasulullah menyampaikan yang maknanya “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad).\rMuslim yang berma'rifat tidak ada kekhawatiran dan tidak (pula) mereka bersedih hati menghadapi segala permasalahan hidup karena mereka tahu bahwa apapun permasalahan hidup yang dialami pada hakikatnya telah \"disodorkan\" oleh Allah Azza wa Jalla sehingga apapun yang telah disodorkanNya mereka hadapi dengan sikap dan perbuatan yang dicintaiNya pula.\rWassalam\rZon di Jonggol, Kab Bogor 16830\r3 orang menyukai ini.\rDAFTAR ISI","part":1,"page":302},{"id":303,"text":"KUMPULAN TANYA JAWAB KEAGAMAAN ala Error! Hyperlink reference not valid..\rDaftar Isi Dokumen\r495. MAKALAH: BAGI SIAPAKAH GELAR SAYYID\rKacunk Japoera > Daftar Isi Dokumen Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah - KTB (PISS-KTB)\r495. MAKALAH: BAGI SIAPAKAH GELAR SAYYID\rGELAR SAYYID BAGI NABI MUHAMMAD SAW\rMUKADIMAH\rDalam tinjauan bahasa, kata سَيِّدٌ berasal dari سَيْوِدٌ (wazan فَيْعِلٌ ) dengan fi’il madhi سَادَ . Huruf واوdiganti dengan huruf ياء (1) lalu diidghamkan. Kata Sayyid memiliki beberapa pengertian yang antara lain; (I) orang yang memiliki banyak pengikut, (II) orang yang paling unggul diantara kaumnya, (III) orang yang menjadi rujukan dalam urusan-urusan penting masyarakat dan (IV) orang yang memiliki pribadi luhur dan bijak.(2) Selain itu dalam tradisi arab Sayyid merupakan panggilan seorang budak pada majikannya.\rRasulullah SAW adalah seseorang memiliki kepribadian luhur dan bijaksana. Beliau menjadi tempat curahan hati para umatnya, beliau melebihi raja bagi mereka. Maka tidak berlebihan bila gelar Sayyidina (tuan kami) dilekatkan pada nama Rasulullah SAW. Justru sangat aneh bila ada orang yang berasumsi bahwa menyematkan gelar Sayyidina adalah haram. Apalagi menganggap-nya sebagai bid’ah yang dapat menyebabkan kekufuran seperti asumsi sebagian pihak dewasa ini, dengan dalih bahwa Nabi SAW sendiri melarang para sahabat memanggil-nya dengan sebutan Sayyid.(3)\rTINJAUAN HUKUM PENYEMATAN GELAR SAYYID BAGI NABI SAW\r1.Penyematan Gelar Sayyid Bagi Nabi Muhammad SAW","part":1,"page":303},{"id":304,"text":"Para ulama telah sepakat (ijma’) atas keabsahan penyematan gelar Sayyid bagi Nabi Muhammad SAW. Bahkan menurut asy-Syarqawi kata Sayyid telah menjadi nama bagi Nabi Muhammad SAW.(4) Beliau sendiri telah berulang kali menyebutkan gelar Sayyid di hadapan para sahabatnya. Beliau bersabda:\rأَنَا سَيِّدُ النَّاسِ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ\r“Aku adalah Sayyid (Pemimpin) manusia di hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)\rسَيِّدُ وَلَدِ أَدَمَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ وَأَوَّلُ مَنْ يَنْشَقُّ عَنْهُ اْلقَبْرُ وَأَوَّلُ شَافِعٍ وَأَوَّلُ مُشَفَّعٍ أَنَا\r“Aku adalah Sayyid (Pemimpin) keturunan Nabi Adam di hari kiamat, orang pertama yang kuburannya terbuka, orang pertama yang memberi syafa’atnya diterima.’ (HR. Muslim)\rأَنَا سَيِّدُ وَلَدِ أَدَمَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ وَلَافَخْرَ وَبِيَدِيْ لِوَاءُ اْلحَمْدِ وَلَافَخْرَ وَمَامِنْ نَبِيٍّ يَوْمَئِذٍ أَدَمُ فَمَنْ سِوَاهُ إِلَّا تَحْتَ لِوَاءِيْ\r“Aku adalah Sayyid (Pemimpin) keturunan Nabi Adam di hari kiamat dan bukan bangga diri dariku, dan tiada sorang nabi pun di hari itu, Adam dan selainnya, melainkan di bawah benderaku.” (HR. at-Turmudzi)","part":1,"page":304},{"id":305,"text":"Maksud sabda Nabi SAW di atas adalah mengisahkan nikmat yang telah diberikan Allah SWT kepadanya dan agar umat Islam mengetahui derajat beliau disisiNya. Tidak ada seorang pun makhluk yang menyamai atau mengungguli keagungan derajat Nabi Muhammad SAW setelah derajat Allah Yang Maha Agung. Selain Allah SWT, semuanya dibawah kepemimpinan Rasulullah SAW, baik didunia mau-pun diakhirat. Meskipun dalam Hadits-hadits di atas hanya disebutkan kepemimpinan Nabi SAW pada hari kiamat saja, bukan berarti bahwa diselain hari kiamat ada yang mengunggulinya. Namun lebih disebabkan pada hari kiamat kepemimpinan beliau sangat dibutuhkan oleh seluruh manusia. Tidakkah Allah SWT sendiri menyebut Nabi Yahya dengan gelar Sayyid?\rفَنَادَتْهُ اْلمَلَائِكَةُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّىْ فِىْ اْلمِحْرَابِ أَنَّ اللهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيَىْ مُصَدِّقًا بِكَلِمَةٍ مِنَ اللهِ وَسَيِّدًا وَحَصُوْرًا وَنَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِيْنَ\r“Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia sedang berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya): “Sesungguhnya Allah SWT menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah SWT, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh.”\r(Ali Imran: 39)\r2. Menambah Lafadz Sayyidina dalam Shalat","part":1,"page":305},{"id":306,"text":"Seperti pendapat yang telah disampaikan oleh Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Barinya, penambahan dzikir ghair al-ma’tsur (bukan anjuran langsung dari Nabi SAW) dalam shalat di perbolehkan, selama tidak bertentagan dengan dzikir al-ma’tsur. Begitu pula di perbolehkan menambahkan gelar Sayyidina sebelum nama akhir. Yaitu saat membaca shalawat ibrahimiyyah. Bahkan penambahan itu lebih utama, sebagaimana hemat para ulama semisal Syaikh Izzuddin bin Abdissalam, Imam ar-Ramli, Imam al-Qulyubi, Imam asy-Syarqawi dari madzhab Syafi-’iyah, Imam al-Hashkafi dan Imam Ibn ‘Abidin dari kalangan Hanafiyah, serta Imam an-Nafrawi dari Malikiyah, meskipun penambahan Sayyidina tersebut memang tidak ma’tsur dari Nabi SAW.(5) Sebab, dengan demikian berarti seseorang telah melaksanakan perintah membaca shalawat sekaligus mengikrarkan pengakuannya atas keagungan derajat Nabi Muhammad SAW dan Nabi Ibrahim AS. Penambahan tersebut tidak pula bertentangan dengan penghormatan kepada beliau yang merupakan tujuan pembacaan shalawat. Dalam Nihayah al-Muhtaj Imam ar-Ramli menerangkan:\rوَاْلأَفْضَلُ اْلإتْيَانِ بِلَفْظِ السِّيَادَةِ كَمَا قَالَهُ إِبْنُ ظَهِيْرَةِ وَصَرَّحَ بِهِ جَمْعٌ وَبِهِ أَفْتَىْ الشَّارِحُ لِأَنَّ فِيْهِ أَلْإِتْيَانُ بِمَا أَمَرَنَا بِهِ وَزِيَادَةُ اْلأَخْبَارِ بِاْلوَاقِعِ الَّذِيْ هُوَ أَدَبٌ فَهُوَ أَفْضَلْ مِنْ تَرْكِهِ","part":1,"page":306},{"id":307,"text":"“Dan lebih utama membaca (shalawat ibrahimiyah saat shalat) dengan lafadz Sayyid, seperti hemat Ibn Dhahir dan dijelaskan (pula) oleh segolongan ulama serta difatwakan oleh asy-Syarih (Jalaluddin al-Mahalli). Sebab dengan menambahkannya berarti telah melaksanakan hal yang diperintahkan kepada kita dan menambah pengungkapan (pengakuan keagungan derajat Nabi Muhammad SAW dan Nabi Iibrahim AS) yang merupakan suatu etika. Maka menambah gelar Sayyidina lebih utama dari pada meninggalkannya.”(6)\rAndaikan memang Nabi SAW memerintahkan pembacaan shalawat tersebut tampa penambahan, bukan berarti kita tidak boleh menambahkannya. Sebab, selama perintah tersebut bukan perintah wajib, maka etika mesti diprioritaskan. Para ulama menyebutkan:\rإِعَارَةُ اْلأَدَبِ خَيْرٌ مِنْ امْتِثَالِ اْلأَمْرِ\r“Menjaga etika lebih baik dari pada mengikuti perintah.”\rTerbukti, jauh-jauh hari para sahabat lbih mementingkan etika kepada Nabi Muhammad SAW dari pada mengikuti perintahnaya. Seperti Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang tidak mau menghapus tulisan Rasulullah SAW dalam naskah Perdamaian Hudaibiyah, meskipun diperintahkan. Saat itu Nabi SAW memerintahkan Ali:\rامْحُ رَسُوْلُ اللهِ قَالَ لَا وَاللهِ لَا أَمْحُوْكَ أَبَدًا\r“Hapuslah (nama) Rasulullah. “Ali menjawab: “Demi Allah SWT saya tidak akan menghapusmu selamanya.” (HR. Bukhari)\rDalam kesempatan lain Sayyidina Abu Bakar memilih mundur dan mempersilahkan Nabi SAW mengimami shalat, meskipun telah diperintah meneruskan oleh beliau. Rasulullah SAW bersabda:","part":1,"page":307},{"id":308,"text":"يَا أَبَا بَكْرٍ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَثْبُتَ إِذْ أَمَرْتُكَ فَقَالَ أَبُوْبَكْرٍ مَا كَانَ لِابْنِ أَبِيْ قُحَافَةَ أَنْ يُصَلِّيَ بَيْنَ يَدَيْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ\r“Wahai Abu Bakar! Apakah yang mencegahmu untuk tetap (menjadi imam shalat) saat aku perintahkan?,” Lalu Abu Bakar menjawab: “Tidaklah bagi Ibnu Abi Quhafah (Abu Bakar) berhak mengimami shalat di hadapan Rasulullah SAW.” (HR. Bukhari)\rBegitu pula penambahan gelar Sayyidina di dalam shalat. Kendati Nabi SAW tidak mengajarkannya secara langsung, namun lebih utama dilakukan.\rMeskipun begitu, sering muncul pertanyaan apakah penambahan tersebut tidak membatalkan shalat? Bagai mana dengan Hadits Nabi SAW yang menyatakan larangan beliau agar tidak menyebutnya Sayyid di dalam shalat? Maka jawabannya adalah penambahan Sayyidina tidak membatalkan shalat dan Hadits tersbut adalah Hadits yang tidak berdasar alias palsu. Imam ar-Ramli menegaskan:\rوَأَمَّا حَدِيْثُ لَاتُسَيِّدُوْنِيْ فِى الصَّلَاةِ فَبَاطِلٌ لَا أَصْلَ لَهُ كَمَا قَا لَهُ بَعْضُ مُتَأَخِّرِيِّ اْلحُفَّاظِ وَقَوْلُ الطُّوْسِيِّ إِنَّهَا مُبْطِلَةٌ غَلَطٌ\r“Dan sementara Hadits : “Jangan kalian sebut Sayyid diriku di dalam shalat!” adalah Hadits batil yang tidak mempunyai dasar, seperti yang di utarakan oleh sebagian ahli Hadits mutaakhirin. Dan asumsi ath-Thusi: “Niscaya tambahan Sayyidina itu membatalkan shalat.” adalah salah(7)\r3. Pemahaman Hadits السَّيِّدُ اللهُ","part":1,"page":308},{"id":309,"text":"Argumen pokok yang sering dijadikan dalil larangan penyebutan Sayyid bagi Nabi Muhammad SAW adalah Hadits riwayat Abu Dawud berikut ini:\rعَنْ مُطَرَّفٍ قَالَ أَبِيْ انْطَلَقْتُ فِى وَفْدِ بَنِيْ عَامِرٍ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْنَا أَنْتَ سَيِّدُنَا فَقَالَ السَّيِّدُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قُلْنَا وَأَفْضَلُنَا فَضْلاً وَأَعْظَمُنَا طُوْلًا فَقَالَ قُوْلُوْا بِقَوْلِكُمْ أَوْبَعْضِ قَوْلِكُمْ وَلَايَسْتَجْرِيَنَّكُمْ الشَّيْطَانُ\r“Dari Mutharrif ia berkata: “Ayahku pernah berkata: “Aku pergi bersama utusan Bani Amir menuju ke (kediaman) Rasulullah SAW, kami berkata: “Engkau adalah Sayyid kami. Lalu beliau bersabda: “Yang Sayyid hanayalah Allah SWT yang memiliki keberkahan lagi luhur.” Kami barkata: “Dan kami hanya mengutamakan derajatmu dan mengagungkan anugrahmu.” Beliau berkata: “Berkatalah kalian dengan apa yang kalian katakan atau sebagiannya dan jangan sampai syaitan menjerumuskan kalian.” (HR. Abu Dawud)\rDalam memahami Hadits tersebut para ulama berpendapat bahwa Nabi SAW tidak melarang beliau dipanggil dengan sebutan Sayyidina dengan larangan tahrim (pengharaman). Hal ini ditinjau dari dua kajian.","part":1,"page":309},{"id":310,"text":"Pertama, kata السَّيِّدُ اللهُ pada Hadits tersebut hanyalah penjelasan Nabi SAW tentang siapa yang berhak menyandang sebutan Sayyid secara hakiki dan mutlak tanpa batas. Yang mengatur segala urusan mahluknya.(8) Hadits tersebut tidak menafikan makna Sayyid yang lainnya seperti yang telah disebutkan di awal bab yang bisa pula disandang oleh Nabi SAW. Artinya, gelar ini layak disandang oleh Allah SWT atau pun mahlukNya, seperti kata الرَّبُّ (yang memiliki kekuasaan). Allah SWT berfirman:\rوَقَالَ لِلَّذِيْ ظَنَّ أَنَّهُ نَاجٍ مِنْهُمَا اذْكُرْنِيْ عِنْدَ رَبِّكَ فَأَنْسَىهُ الشَيْطَانُ ذِكْرَ رَبِّهِ فَلَبِثَ فِى السِّجْنِ بِضْعَ سِنِيْنَ\r“Dan Yusuf berkata kepada orang yang diketahuinay akan selamat diantara mereka berdua: “Terangkanlah keadaanku kepada tuan-mu!” Maka syaitan manjadikan dia lupa menarangkan (kadaan Yusuf) kepada tuannya. Karena itu tetaplah Yusuf dalam penjara beberapa tahun lamanya.” (QS. Yusuf: 42)\rوَقَالَ اْلَملِكُ ائْتٌوْنِيْ بِهِ فَلَمَّاجَاءَهُ الرَّسُوْلُ ق ارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَسْئَلْهُ مَابَالُ النِّسْوَةِ الَّتِىْ قَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ إِنَّ رَبِّي بِكَيْدِهِنَّ عَلِيْمٌ\r“Dan Raja berkata: “Bawalah dia kepadaku.” Maka tatkala utusan itu datang kepeda Yusuf, berkatalah Yusuf: “Kembalilah kepada Tuanmu dan tanyakanlah kepadanya bagaimana halnya wanita-wanita yang telah melukai tangannya. Sesungguhnya Tuhanku maha mengetahui tipu daya mereka.”(QS. Yusuf:50)","part":1,"page":310},{"id":311,"text":"Yang dikehendaki oleh Nabi Yusuf AS dengan mengatakan rabb jelaslah bukan rabb yang berarti “Tuhan”, akan tetapi rabb yang berarti tuan, sebagaimana dikatakan رَبُّ الدَّارِyang berarti tuan rumah. Demikian pula sebutan Sayyid. Dalam surat Ali Imran Allah SWT menghormati Nabi Yahya AS dengan sebutan Sayyid, ia berfirman:\rفَنَادَتْهُ اْلمَلَائِكَةُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّىْ فِىْ اْلمِحْرَابِ أَنَّ اللهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيَىْ مُصَدِّقًا بِكَلِمَةٍ مِنَ اللهِ وَسَيِّدًا وَحَصُوْرًا وَنَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِيْنَ\r“Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia sedang berdir melakukan shalat di mihrab (katanya): “Sesungguhnya Allah SWT menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah SWT, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh.”\r(Ali Imran: 39)\rMeskipun muatan maknanya hampir sama, sebutan Sayyid disandang oleh Rasulullah SAW jelas tidak sepadan dengan sebutan Sayyid yang disandang Allah SWT. Gelar Sayyid bagi Nabi SAW disematkan atas kepemimpinannya bagi umat dengan derajat kenabian dan kerasulannya, sementara bagi Allah SWT atas penguasaannya dijagat raya.(9)","part":1,"page":311},{"id":312,"text":"Kedua, kalau pun ada kesan larangan Rasulullah SAW dalam Hadits diatas, yang tersurat dalam teks قُوْلُوْا بِقَوْلِكُمْ أَوْبَعْضِ قَوْلِكُمْ وَلَايَسْتَجْرِيَنَّكُمْ الشَّيْطَانُ (berkatalah dengan ucapan kalian atau sebagai ucapan kalian dan jangan biarkan setan menjerumuskan kalian), itu pun disebabkan beliau tidak ingin dipuji secara berlebihan alias muncul dari ketawadlu’an yang beliau miliki dan disebabkan pula oleh kekhawatiaran beliau atas kesalah pahaman Bani Amir dalam memahami arti Sayyid. Sebab, mereka masih mu’allaf yang belum lama masuk Islam. Beliau khawatir mereka memahami makna Sayyid yang beliau sandang atas kemuliaan derajat Nabi dan Rasul sederajat dengan Sayyid yang ada dalam kultur mereka sebelumnya. Yakni kesayyidan yang diperoleh karena sebab-sebab duniawi yang selalu mereka agung-agungkan. Lebih jelasnay, dengan ucapan tersebut seakan-akan beliau bersabda: “Bertutur katalah dengan bahasa yang dipakai orang-orang yang seagama dengan kalian (agama Islam) dan panggilah aku Nabi dan Rasul sebagaimana Allah SWT menyebutku dalam kitabNya. Jangan kalian menyebutku sebagai Sayyid sebagaiman kalian menyebut para pembesar kalian (sebelum masuk Islam). Jangan kalian samakan aku dengan mereka karena aku tidak sama dengan seorangpun di antara mereka. Sebab, mereka tidak lebih rendah dari kalian dalam hal-hal duniawi, dan sesungguhnya aku menjadi Sayyid kalian atas kenabian dan kerasulan. Maka sebutkan aku sebagai Nabi dan Rasul, atau hindari ebagian perkataan kalian (itu) dan","part":1,"page":312},{"id":313,"text":"bersikaplah sederhana didalamnya tanpa berlebihan atau hindarilah panggilan Sayyid dan katakanlah Nabi dan Rasul...”demikian penafsiran as-Suyuthi.(10)\rKendati begitu, mengingat larangan tersebut disebabkan ketawadlu’an beliau dan kekhawatiran atas kesalah pahaman para sahabatnay, maka pada hakikatnya beliau tidak melarang penyebutan gelar Sayyid pada dirinya. Terbukti beliau sendiri memberi suri tauladan dalam penghormatan pada orang-orang terpandang dengan penyebutan gelar Sayyid, sebagaimana sanjungan beliau beliau pada cucunya, Hasan bin ‘Ali:\rإِنَّ ابْنِيْ هَذَا سَيِّدٌ وَلَعَلَّ اللهَ أَنْ يُصْلِحَ بِهِ بَيْنَ فِئَتَيْنِ عَظِيْمَتَيْنِ مِنَ اْلمُسْلِمِيْنَ\r“Sungguh anakku ini adalah Sayyid, semoga Allah mendamaikan di antara dua golongan besar dari orang-orang Islam dengannya.” (HR. Bukhari)\rBegitu pula pengakuan beliau pada Sa’d bin Mu’adz: قُوْمُوْا إِلَى سَيِّدِكُمْ\r“Berdirilah pada Sayyid kalian.” (HR. Bukhari)\rTidak ketinggalan para sahabat pun mencontohnya, semisal do’a shalawat Ibn Mas’ud, pelayan setia Rasulullah SAW:\rاللَّهُمَّ اجْعَلْ صَلَاتَكَ وَرَحْمَتَكَ وَبَرَكَاتِكَ عَلَى سَيِّدِاْلمُرْسَلِيْنَ وَإِمَامِ اْلمُتَّقِيْنَ وَخَاتَمِ النَّبِيِّيْنَ\r“Ya Allah, limpahkanlah shalawat, rahmat dan berkahmu pada pemimpin para utusan, pemimpin orang-orang yang bertaqwa dan pamungkas para Nabi.” (HR. Ibnu Majjah)\rBahkan Sahl bin Hunaif memanggil Nabi SAW dengan berseru يَا سَيِّدِيْ\r“Wahai tuanku!”(HR. Abu Dawud)","part":1,"page":313},{"id":314,"text":"Begitu pula pujian Sayyidina ‘Umar kepada Sayyidina Abu Bakar dan Bilal: أَبُوْ بَكْرٍ سَيِّدُنَا وَأَعْتَقَ سَيِّدَنَا يَعْنِىْ بِلَالًا\r“Abu Bakar adalah tuanku dan memerdekakan tuanku (Bilal).” `\rPerlu kita renungkan, apakah layak kita memanggil ayah dan ibu kita langsung dengan namanya? Apakah pantas kita menyebut guru-guru kita dengan namanya secara langsung, tanpa mencerminkan penghormatan kepada mereka? Tidakkah Alla SWT berfirman: لَاتَجْعَلُوْا دُعَاءَ الرَّسُوْلِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا\r“Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian yang lain.” (QS. An-Nur: 63)\rTidakkah dalam al-Qur’an Allah SWT selalu menghormati beliau dengan gelar kenabian dan kerasulannya tanpa menyebut langsung namanya?\rOleh sebab itu, Hadits diatas tidak bisa dipahami sebagai larangan penyebutan Sayyid kepada beliau. Pengakuan langsung Nabi SAW atas kesayyidannya, persetujuan kepada para sahabat atas panggilan Sayyid kepadanya dan ijma’ para ulama merupakan dasar yang kokoh atas keabsahan penyematan gelar Sayyid baginya. Wallahu a’lam.\r(1)Dalam gramatika arab, sangat dihindari peletakan wawu dengan ya’ dalam satu kata, sehingga wawu harus diganti dengan ya’.\r(2) Sulaiman al-Bujairami, op. Cit., Juz I, hlm. 36.\r(3) Shalih bin Fauzan, “I’anah al-Mustafid bi Syarh Kitab at-Tauhid”, Juz IV, hlm. 51. CD al-Maktabah as-Syamilah.","part":1,"page":314},{"id":315,"text":"(4) Saulaiman al-Bujairami, loc. Cit. Dan Wuzarah al-Auqaf wa asy-Syu’un al-Islamiyah bi al-Kuwait, “al-Mausu’ah al-Fiqhiyah”, Juz XI, hlm. 347. CD al-Fiqh al-Islami.\r(5) Wuzarah al-Auqaf wa as-Syu’un al-Islamiyah bi al-Kuwait, loc. Cit.\r(6)Ar-Ramli, Nihayatul al-Muhtaj, Bairut: Dar al-Kutub al-Islamiyah, 2003, Juz I, hlm. 530.\r(7)Ar-Ramli, Nihayatul al-Muhtaj, Bairut: Dar al-Kutub al-Islamiyah, 2003, Juz I, hlm. 530\r(8)Muhammad al-Qari, op. Cit., Juz IX hlm. 115 – 116.\r(9)Muhammad al-Qari, op. Cit., Juz IX hlm. 115 – 116, al-Munawi, Faid al-Qadir, Beirut: Dar al-Fikr, tt, Juz IV, hlm. 152.\r(10)Al-‘Adzim Abbadi, ‘Aun al-Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud, Beirut: Dar al-Fikr, 1979, Juz XIII, hlm. 162.\r3 orang menyukai ini.\rDAFTAR ISI\rKUMPULAN TANYA JAWAB KEAGAMAAN ala Error! Hyperlink reference not valid..\rDaftar Isi Dokumen\r497. TARIKH: HAKIKAT MAZHAB ASY'ARIYAH\rHakam Ahmed ElChudrie > Daftar Isi Dokumen Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah - KTB (PISS-KTB)\r497. TARIKH: HAKIKAT MAZHAB ASY'ARIYAH\rBanyak orang yang tidak tahu akan hakikat mazhab Asy’ariyah dan tidak mengenal siapakah ulama’ Asy’ariyah dan jalan mereka dalam urusan akidah. Bahkan, ada diantara mereka yang berani menisbatkan ulama’ mazhab Asy’ariyah pada kesesatan atau mendakwakan bahwa para ulama’ tersebut telah melakukan pencacatan terhadap agama dan menghina kesucian Allah.","part":1,"page":315},{"id":316,"text":"Ketidak-tahuan mereka akan mazhab Asy’ariyah adalah sebagai penyebab terpecahnya kesatuan (Ahli Sunnah) dan tercerai berainya mereka hingga sekarang ini diantara orang Islam yang mengikuti (Mazhab Asy’ariyah) dianggap sebagai golongan yang sesat. Tidaklah aku melihat bagaimana cara mensinkronkan antara ahli iman dengan golongan mu’tazilah yang merupakan pengikut aliran Juhmiyah? (“Apakah Aku akan menjadikan orang-orang Islam seperti orang-orang yang berdosa?”)\rKaum Asy’ariyah adalah kumpulan para ulama’ Islam yang menjadi benderanya hidayah, yaitu orang-orang yang ilmunya telah memenuhi bumi dari timur sampai barat yang umat manusia telah mengakui kemuliaan, ilmu dan agama mereka. Mereka adalah para pembesar ulama’ ahli sunnah wal jama’ah yang mulia yang berusaha membendung penyebaran aliran mu’tazilah.\rMereka adalah orang-orang yang Ibnu Taimiyyah telah berkata, “Para ulama’ adalah para penolong ilmu agama dan para ulama’ Asy’ariyah adalah para penolong akidah agama.” Seperti yang telah dijelaskan dalam Al Fatawa juz 4.\rSesungguhnya mereka merupakan perkumpulan para muhadditsin, fuqaha’ dan mufassirin. Diantara mereka adalah :","part":1,"page":316},{"id":317,"text":"Seandainya disini dihitung dan ditulis nama-nama para muhadditsin, mufassirin dan fuqaha’ yang merupakan para imam mazhab Asy’ariyah, maka sudah pasti akan menjadi berjilid-jilid buku untuk menulis nama-nama mereka para ulama’ yang mulia yang ilmu mereka telah memenuhi bumi dari timur hingga barat. Namun yang harus dilakukan disini adalah kita mengetahui beberapa pembesar mazhab Asy’ariyah yang sudah masyhur dan kita mengetahui kemuliaan para ahli ilmu dan keutamaan mereka yang telah melayani syariat nabi Muhammad saw.\rLalu kebaikan mana yang bisa diharapkan pada diri kita bila kita menuduh para ulama’ yang mulia dan para pendahulu kita yang sholih dengan sesat dan menyimpang dari ajaran yang benar?\rBagaimana bisa Allah membukakan untuk kita untuk dapat mengambil faidah dari ilmu mereka, ketika ada pada diri kita keyakinan bahwa dalam ilmu-ilmu mereka terdapat penyimpangan dari ajaran Islam?\rSyeikh Muhammad al Maliki berkata, “Apakah ada ulama’ di zaman sekarang ini yang bergelah (Doktor) atau (Profesor) yang mampu menempati posisi Syeikh Ibnu Hajar al Asqalani dan imam an Nawawi dalam melayani sunnah Nabi yang suci seperti yang telah dilakukan oleh beliau berdua?Semoga Allah menyelimuti keduanya dengan rahmat dan ridho. Lalu bagaimana bisa kita menuduh keduanya dan ulama’ mazhab Asy’ariyah lainnya dengan sesat, sedangkan kita membutuhkan ilmu mereka ?","part":1,"page":317},{"id":318,"text":"Bagaimana kita bisa mengambil ilmu mereka, jika mereka berada dalam kesesatan ? sedangkan Imam al Zuhri telah berkata, (“Sesungguhnya ilmu adalah agama. Maka lihatlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.”)\rTidakkah cukup bagi orang yang kontra untuk mengatakan, “Sesungguhnya mereka telah berijtihad lalu mereka salah dalam menta’wili sifat”. Lebih baik mereka orang-orang yang kontra mengikuti jalan tersebut sebagai pengganti dari menuduh para ulama’ dengan menyimpang dan sesat. Dan kita sangat membenci bila ada orang yang menganggap mereka, para pengingkar, sebagai bagian dari golongan ahli sunnah wal jama’ah.\rSeandainya Imam an Nawawi, Imam al Asqalani, al Qurthubi, Imam al Baqilani, Imam al Fakhr ar Razi, Imam al Haitami, Imam Zakariya al Anshari dan ulama’-ulama’ besar lainnya tidak termasuk bagian dari golongan ahli sunnah wal jama’ah, lalu siapakah ahli sunnah kalau begitu ?\rSesunggungnya, kami mengajak kepada para da’i dan orang-orang yang kecimpung dalam urusan da’wah Islam supaya takutlah kalian kepada Allah dalam umat Muhammad, terlebih dalam urusan para ulama’nya yang mulia, karena umat Muhammad tetap berada dalam kebaikan hingga datangnya hari kiamat. Dan tidak ada kebaikan bagi kita ketika kita tidak mengenal derajat dan kemuliaan para ulama’ kita.”\rDikutip dari, Mafahim Yajibu ‘an Tushahhah, Syeikh Muhammad al Maliki, hlm. 120-122\rMarini Terima TaqdirNya dan 11 orang lainnya menyukai ini.\rLihat komentar sebelumnya\rMuhammad El Zagazigy\rAllahu akbar :)\r25 September · Suka · Hapus","part":1,"page":318},{"id":319,"text":"Hakam Ahmed ElChudrie\rwaduch.. Malah takbir.. Ky ngajak perang wae kang..\r25 September · Suka · Hapus\rMuhammad El Zagazigy\rperang melawan org2 bodoh kang\r25 September · Suka · Hapus\rMuhammad El Zagazigy\rtapi jika imam syafi'i ra kalah berdebat sama org bodoh, apa lagi kita kang, ana baru dengar seminggu yg lalu di tv ar-rahmah ulama salafy menghujat habis-habisan asya'irah.\r25 September · Suka · Hapus\rHakam Ahmed ElChudrie\rorg salafi bkan orang bodoh kang. Tp org MAGHRUR\r25 September · Suka · 1 orang · Hapus\rMuhammad El Zagazigy\rterjebak dalam pendapat salah :)\r25 September · Suka · Hapus\rHakam Ahmed ElChudrie\rnah.. Itulah mreka..\r25 September · Suka · Hapus\rSoftoch Uwie\rAlhamdulillah .......\rYa robb...\r1 Oktober · Suka · 1 orang · Hapus\rWafa Noer\r:D\r8 November · Suka · Hapus\rWafa Noer\rNi Kang Trexz\r13 November · Suka · Hapus\rSi Trexz\rSedot\r13 November · Suka · 1 orang · Hapus\rSi Trexz\rWah,blm menjawab ptyaan... :/\r13 November · Suka · Hapus\rDAFTAR ISI\rKUMPULAN TANYA JAWAB KEAGAMAAN ala Error! Hyperlink reference not valid..\rDaftar Isi Dokumen\r500. Hukum Qishash\rأنس رشدى > Daftar Isi Dokumen Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah - KTB (PISS-KTB)\r500. Hukum Qishash\rA. PEMBUNUHAN\rMacam-macam pembunuhan dan hukumnya :\rPembunuhan ada 3 macam (1) Pembunuhan yang disengaja (Qatlul ‘amad); (2) Pembunuhan yang tidak disengaja (Qatlul syibhul ‘amad); dan (3) Pembunuhan yang tidak ada unsur membunuh (Qatlul Khatha’)\r1. Pembunuhan yang disengaja (Qatlul ‘Amad)","part":1,"page":319},{"id":320,"text":"Ialah pembunuhan yang direncanakan, dengan cara dan alat yang bisa (biasa) mematikan. Seperti :\r· Membunuh dengan ; menembak, melukai dengan alat yang tajam, memukul dengan alat-alat yang berat, dan alat-alat yang lain.\r· Membunuh dengan ; memasukkan dalam sel yang tidak ada udaranya, disekap dalam es dll.\r· Membunuh dengan ; diberi racun, diberi obat yang tidak sesuai, disuntik dengan obat yang bisa mematikan.\r· Membunuh dengan ; dibiarkan tidak diberi makan, minum dll.\rPembunuhan yang disengaja tersebut wajib diqishash, sebagaimana firman Allah QS. An Nisaa: 93 dan dipertegas dengan hadits rasulullah, ‘’Tidak halal (haram) membunuh orang muslim, kecualiada (salah satu) 3 sebab : kafir sesudah iman, berzina sesudah kawin dan membunuh oran g tanpa hak, baik karena dhalim dan permusuhan. (HR. Tirmidzy dan Nasaâ’i)","part":1,"page":320},{"id":321,"text":"Orang yangmembunuh tanpa ada hak, harus diqishash, harus dibunuh juga. Kalau ahli waris (yang terbunuh) memaafkan pembunuhan tersebut, pembunuhan tidak diqishash (dihukum bunuh) tetapi harus membayar diyah yang besar, yaitu harus membayar dengan seharga 100 ekor unta tunai, pada waktu itu juga. Hal ini selaras dengan hadits rasulullah, ‘Barang siapa yang membunuh dengan sengaja, maka ia diserahkan pada keluarga terbunuh. Apabila mereka mengkehendaki maka membunuhnya atau minta diyah dengan 30 ekor unta hiqqah, 30ekor unta jadzaâ’ah dan 40 ekor unta khalafah (jumlahnya 100 ekor unta). Hasil perdamaian itu untuk mereka (ahli waris si terbunuh). Demikian itu untuk memperkeras terhadap pembunuhan. (HR. Tirmidzi)\r2. Pembunuhan tidak sengaja (Qatlul syibhul ’amad)\rPembunuhan tidak sengaja ialah perbuatan terhadap diri seseorang dengan alat atau sesuatu yang biasanya tidak mematikan. Tetapi seseorang itu mati karena perbuatan atau tindakannya. Contoh orang memukul oran g lain dengan sapu lidi kemudian yang dipukul mati.\rPembunuhan tidak sengaja tidak kena hukuman qishash tetapi pembunuhnya harus membayar diyat besar, sebagaimana diyat bagi pembunuh sengaja yang dimaafkan ahli waris terbunuh. Diyat itu boleh dibayar selama 3 tahun dengan angsuran setiap tahun 1/3-nya.\r3. Pembunuhan tidak ada unsur membunuh (Qatlul Khathaâ’)","part":1,"page":321},{"id":322,"text":"Pembunuhan yang tidak ada unsur membunuh ialah perbuatan yang tidak ditujukan kepada seseorang tetapi seseorang mati karena perbuatannya. Misalnya orang melempar batu ke hutan tiba-tiba oran g mati terkena batu tersebut.\rOrang membunuh orang lain tidak sengaja wajib memerdekakan seorang budak mu’min adil\rB. QISHASH\r1. Pengertian Qishash\rMenurut syaraâ’ qishash ialah pembalasan yang serupa dengan perbuatan pembunuhan melukai merusakkan anggota badan/menghilangkan manfaatnya, sesuai pelangarannya.\r2. Qishash ada 2 macam :\ra. Qishash jiwa, yaitu hukum bunuh bagi tindak pidana pembunuhan.\rb. Qishash anggota badan, yakni hukum qishash atau tindak pidana melukai, merusakkan anggota badan, atau menghilangkan manfaat anggota badan.\r3. Syarat-syarat Qishash\ra. Pembunuh sudah baligh dan berakal (mukallaf). Tidak wajib qishash bagi anak kecil atau orang gila, sebab mereka belum dan tidak berdosa.\rb. Pembunuh bukan bapak dari yang terbunuh. Tidak wajib qishash bapak yang membunuh anaknya. Tetapi wajib qishash bila anak membunuh bapaknya.\rc. Oran g yang dibunuh sama derajatnya, Islam sama Islam, merdeka dengan merdeka, perempuan dengan perempuan, dan budak dengan budak.\rd. Qishash dilakukan dalam hal yang sama, jiwa dengan jiwa, anggota dengan anggota, seperti mata dengan mata, telinga dengan telinga.\re. Qishash itu dilakukan dengn jenis barang yang telah digunakan oleh yang membunuh atau yang melukai itu.","part":1,"page":322},{"id":323,"text":"f. Oran g yang terbunuh itu berhak dilindungi jiwanya, kecuali jiwa oran g kafir, pezina mukhshan, dan pembunuh tanpa hak. Hal ini selaras hadits rasulullah, ‘Tidakklah boleh membunuh seseorang kecuali karena salah satu dari tiga sebab: kafir setelah beriman, berzina dan membunuh tidak dijalan yang benar/aniaya’ (HR. Turmudzi dan Nasaâ’)\r4. Pembunuhan olah massa / kelompok orang\rSekelompok oran g yang membunuh seorang harus diqishash, dibunuh semua..\r5. Qishash anggota badan\rSemua anggota tubuh ada qishashnya. Hal ini selaras dengan firman-Nya, ‘Dan kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka (pun) ada kisasnya. barangsiapa yang melepaskan (hak kisas) nya, Maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.’ (QS. Al-Maidah : 45)\rC. HIKMAH QISHASH\rHikmah qishash ialah supaya terpelihara jiwa dari gangguan pembunuh. Apabila sesorang mengetahui bahwa dirinya akan dibunuh juga. Karena akibat perbuatan membunuh oran g, tentu ia takut membunuh oran g lain. Dengan demikian terpeliharalah jiwa dari terbunuh. Terpeliharalah manusia dari bunuh-membunuh.","part":1,"page":323},{"id":324,"text":"Ringkasnya, menjatuhkan hukum yang sebanding dan setimpal itu, memeliharakan hidup masyarakat: dan Al-Quran tiada menamai hokum yang dijatuhkan atas pembunuh itu, dengan nama hukum mati atau hukum gantung, atau hukum bunuh, hanya menamai hukum setimpal dan sebanding dengan kesalahan. Operasi pemberantasan kejahatan yang dilakukan pemerintah menjadi bukti betapa tinggi dan benarnya ajaran islam terutama yang berkenaan hukum qishash atau hukum pidana Islam.\rD. DIYAT\r1. Pengertian Diat\rDiyat ialah denda pengganti jiwa yang tidak berlaku atau tidak dilakukan padanya hukuman bunuh.\ra. Bila wali atau ahli waris terbunuh memaafkan yang membunuh dari pembalasan jiwa.\rb. Pembunuh yang tidak sengaja\rc. Pembunuh yang tidak ada unsur membunuh.\r2. Macam-macam diyat\rDiyat ada dua macam :\ra. Diyat Mughalazhah, yakni denda berat\rDiyat Mughalazhah ialah denda yang diwajibkan atas pembunuhan sengaja jika ahli waris memaafkan dari pembalasan jiwa serta denda aas pembunuhan tidak sengaja dan denda atas pembunuhan yang tidak ada unsur-unsur membunuh yang dilakukan dibulan haram, ditempat haram serta pembunuhan atas diri seseorang yang masih ada hubungan kekeluargaan. Ada pun jumlah diat mughallazhah ialah : 100 ekor unta terdiri 30 ekor unta berumur 3 tahun, 30 ekor unta berumur 4 tahun serta 40 ekor unta berumur 5 tahun (yang sedang hamil).\rDiat Mughallazah ialah :\r· Pembunuhan sengaja yaitu ahli waris memaafkan dari pembalasan jiwa.\r· Pembunuhan tidak sengaja / serupa","part":1,"page":324},{"id":325,"text":"· Pembunuhan di bulan haram yaitu bulan Zulqaidah, Zulhijjah, Muharram dan Rajab.\r· Pembunuhan di kota haram atau Mekkah.\r· Pembunuhan orang yang masih mempunyai hubungan kekeluargaanseperti Muhrim, Radhâ’ah atau Mushaharah.\r· Pembunuhan tersalahdengan tongkat, cambuk dsb.\r· Pemotongan atau membuat cacat angota badan tertentu.\rb. Diyat Mukhaffafah, yakni denda ringan.\rDiyat Mukhoffafah diwajibkan atas pembunuhan tersalah. Jumlah dendanya 100 ekor unta terdiri dari 20 ekor unta beurumur 3 tahun, 20 ekor unta berumur 4 tahun, 20 ekor unta betina berumur 2 tahun, 20 ekor unta jantan berumur 2 tahun dan 20 ekor unta betina umur 1 tahun.\rDiyat Mukhoffafah dapat pula diganti uang atau lainya seharga unta tersebut. Diat Mukhoffafah adalah sebagai berikut :\r· Pembunuhan yang tersalah.\r· Pembunuhan karena kesalahan obat bagi dokter.\r· Pemotongan atau membuat cacat serta melukai anggota badan.\r3. Ketentuan-ketentuan lain mengenai diat :\ra. Masa pembayaran diyat, bagi pembunuhan sengaja dibayar tunai waktu itu juga. Sedangkan pembunuhan tidak sengaja atau karena tersalah dibayar selama 3 tahun dan tiap tahun sepertiga.\rb. Diyat wanita separo laki-laki.\rc. Diyat kafir dhimmi dan muâ’hid separo diat muslimin.\rd. Diyat Yahudi dan Nasrani sepertiga diat oran g Islam.\re. Diyat hamba separo diat oran g merdeka.\rf. Diyat janin, sepersepuluh diat ibunya, 5 ekor unta.\r4. Diyat anggota badan :\rPemotongan, menghilangkan fungsi, membuat cacad atau melukai anggota badan dikenakan diyat berikut :","part":1,"page":325},{"id":326,"text":"Pertama : Diyat 100 (seratus) ekor unta. Diat ini untuk anggota badan berikut :\ra. Bagi anggota badan yang berpasangan (kiri dan kanan) jika keduan-duanya potong atau rusak, yaitu kedua mata, kedua telinga, kedua tangan, kedua kaki, kedua bibir (atas bawah) dan kedua belah buah zakar.\rb. Bagi anggota badan yang tunggal, seperti : hidung, lidah, dll..\rc. Bagi tulang sulbi ( tulang tempat keluar air mani laki-laki)\rKedua : Diyat 50 ekor unta. Diyat ini untuk anggota badan yang berpasangan, jika salah satu dari keduanya ( kanan dan kiri) terpotong.\rKetiga : Diat 33 ekor unta ( sepertiga dari diatyang sempurna). Diyat ini terhadap :\ra. Luka kepala sampai otak\rb. Luka badan sampai perut\rc. Sebelah tangan yang sakit kusta\rd. Gigi-gigi yang hitam\rGigi satu bernilai 5 ekor unta. Kalau seseorang meruntuhkan satu gigi orang lain harus membayar dengan 5 ekor unta. Kalau meruntuhkan 2, harus membayar 10 ekor. Bagaimana kalau seseorang meruntuhkan semua gigiorang lain, apakah harus membayar 5 ekor unta kali jumlah gigi tersebut ? Ulama berbeda pendapat. Sebagian berpendapat : cukup membayar diyat 60 ekor unta (dewasa). Ulama lain berpendapat harus membayar 5 ekor unta kali jumlah gigi.\rHal Sumpah\rOrang yang menuduh membunuh harus mengemukakan bukti dan oran g yang menolak tuduhan harus bersumpah. Apabila ada pembunuhan yang tidak diketahui pembunuhnya, wali dari yang terbunuh bisa menuduh kepada sesorang atatu suatu kelompok yang mempunyai kaitan dengan pembunuhan, yaitu menyebutkan data-data.","part":1,"page":326},{"id":327,"text":"Data-data yang dikemukakan seperti :\rü Orang yang dituduh pernah bertengkar pada hari-hari sebelumnya\rü Orang yang dituduh pernah disakitkan hatinya.\rü Adanya alat yang hanya dimiliki oleh tertuduh\rü Adanya berita dari seseorang tertuduh kalau tidak menerima tuduhan bisa membela diri dengan bersumpah, bahwa ia betul-betul tidak membunuh.\rE. KIFARAT PEMBUNUHAN\rPembunuh disamping dia wajib menyerahkan diri unutk dibunuh atau diat (denda) maka ia diwajibkan juga membayar kifarat. Diyat adalah jenis denda sebagai tanda penyesalan atau belasungkawa kepada keluarga korban. Sedang kifarat adalah jenis denda sebagai tanda taubat kepada Allah SWT.\rAda pun kifarat akibat pembunuhan adalah memerdekakan hamba yang Islam atau dia wajib puasa dua bulan secara berturut-turut. Hal ini selaras dengan QS. An Nisaa: 92\r5 orang menyukai ini.\rLihat komentar sebelumnya\rأنس رشدى\rBukannya nt menyatakan demikian dgn ngomong senjata makan tuan ?? KArena kebanyakan khan bilang hukum warisan kafir di Indonesia sudah benar hanya tinggal prakteknya saja yg salah. Begitupula dgn Hukum Adat.\rKalau memang begitu kesimpulannya. Kenapa tidak memakai Syareat Islam yg jelas2 sesuai Ahlussunah wal Jamaah meskipun menilai ada penyimpangan di negara2 lain\r27 September · Suka · Hapus\r?matz Van Dee Ivz\runtuk pengukuran keamana suatu negara itu ada yg namnaya GPI (Global Peace Index) ....\r27 September · Suka · Hapus\rGofarona Subhan\rni geuleuh\r27 September · Suka · Hapus\r?matz Van Dee Ivz","part":1,"page":327},{"id":328,"text":"Anas Rosyadi Bukannya nt menyatakan demikian dgn ngomong senjata makan tuan ?? KArena kebanyakan khan bilang hukum warisan kafir di Indonesia sudah benar hanya tinggal prakteknya saja yg salah. Begitupula dgn Hukum Adat.\rKalau memang begitu kesimpulannya. Kenapa tidak memakai Syareat Islam yg jelas2 sesuai Ahlussunah wal Jamaah meskipun menilai ada penyimpangan di negara2 lain\r^\r^\rlha diulang lagi... maaf neh saya tanya sebenarnya yg disuruh oleh agama ini membikin hukum islam atau hukum islami?\r27 September · Suka · Hapus\rAgus Aja\rDah ribut aje si tentang syariat islam. Kalo cuman diobrolin aje mang bakalan tau2 negara ini nerapin syariat islam. Jangan teori n gembar gembor terus. Aplikasiin dari diri sendiri, lalu keluarga, br bs nular ke lingkungan\r27 September · Suka · 2 orang · Hapus\rأنس رشدى\rCoba baca Al Quran Umat Dhoif.....\r27 September · Suka · Hapus\r?matz Van Dee Ivz\rlha.... hufttt......\r27 September · Suka · Hapus\rأنس رشدى\rAn Nisa 61. Apabila dikatakan kepada mereka : \"Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul\", niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.\r27 September · Suka · Hapus\r?matz Van Dee Ivz\rsaya sepakat itu ama kang agus.....\r27 September · Suka · Hapus\rAgus Aja\rNato..nato..\r27 September · Suka · Hapus\rأنس رشدى","part":1,"page":328},{"id":329,"text":"Agus Aja, justru diskusi ini utk membuka mata kita akan pentingnya syareat islam di Indonesia. Karena Hukum Islam berlaku melalui peradilan. Bukan oleh Kepala Rumah Tangga.\r27 September · Suka · Hapus\rأنس رشدى\rAgus Aja n Umat Dhoif .. silahkan artikan ayat diatas :\rAn Nisa 61. Apabila dikatakan kepada mereka : \"Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul\", niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.\r27 September · Suka · 1 orang · Hapus\r?matz Van Dee Ivz\rkang anas : kita ini hanya umat n rakyat saja..... gk perlu byk teori yg penting aplikasi deh.... lha sampeyan teori segudang ditanya aplikasi gk prnah bisa jwab.... gmn org mau beli klo salesnya bgni?\r27 September · Suka · Hapus\rأنس رشدى\rTeori ?? Hukum Allah cuman Teori yak ?? Tsumma Naudzubillah....\r27 September · Suka · Hapus\r?matz Van Dee Ivz\rmaaf neh saya yg dhoif mo tanya : yg dimksd hukum di ayat trsebut itu apa?apakah hukum dalam artian hukum kriminal?hukum pemerintahan?hukum alam?hukum sebab akibat atau apa?\r27 September · Suka · Hapus\rAyi Hidayat Baharuddin\rUmat Dhoif, Banyak negara yang termasuk aman di dunia meskipun ia bukan negara muslim Seperti Slandia Baru dan Monaco. Akan tetapi hal itu bukan karena hukumnya semata, tetapi karena warga negaranya mempunyai kesadaran sosial yang tinggi.","part":1,"page":329},{"id":330,"text":"Sementara warga Arab Saudi mempunyai watak yang keras dibanding warga negara yang lain. Jika hukum yang berlaku di Selandia Baru dan Monaco diterapkan di kerajaan Arab Saudi, saya yakin Arab Saudi menjadi negara yang mempunyai tingkat kriminal tertinggi di dunia. Dengan jawaban ini semestinya anda paham kelebihan hukum Islam. Tidak layak seorang muslim meragukan apalagi menetang hukum yang dibuat oleh Pencipta manusia dan Yang paling mengetahui apa yang terbaik bagi manusia.\r27 September · Suka · Hapus\r?matz Van Dee Ivz\rAnas Rosyadi Teori ?? Hukum Allah cuman Teori yak ?? Tsumma Naudzubillah....\r^\r^\rnah nuduh lagi\rsaya bilang teorinya benr pelaksanaanya itu bgmana?nte ditanya pelaksaan juga gk bisa kok nuduh org\r27 September · Suka · Hapus\rAgus Aja\rYa salah tempat. Obrolin dong ma pemerintah n berwenang. Sy yakin semua disini tau pentingnya penerapan\rsyariat islam\r27 September · Suka · Hapus\r?matz Van Dee Ivz\rSementara warga Arab Saudi mempunyai watak yang keras dibanding warga negara yang lain. Jika hukum yang berlaku di Selandia Baru dan Monaco diterapkan di kerajaan Arab Saudi, saya yakin Arab Saudi menjadi negara yang mempunyai tingkat kriminal tertinggi di dunia. Dengan jawaban ini semestinya anda paham kelebihan hukum Islam. Tidak layak seorang muslim meragukan apalagi menetang hukum yang dibuat oleh Pencipta manusia dan Yang paling mengetahui apa yang terbaik bagi manusia.\r^\r^\rlha... emang siapa yg bilang ragu ama hukum islam..waduh nuduh lagi","part":1,"page":330},{"id":331,"text":"saya bilang hukum islam itu bnar tpi pelaksanaan n pemahaman teorinya yg mpe skrg saya belum nemuin org yg bisa mnjelaskan dgn pas....\ryg salah bukan hukumnya tapi yg menjabarkan hukum tersebut n pelaksananya...nte pernah denger pelaksanaan hukum islam oleh taliban?\r27 September · Suka · Hapus\rAyi Hidayat Baharuddin\rUmat Dhoif, tolong dibaca komentar saya untuk anda di atas.\r27 September · Suka · Hapus\rأنس رشدى\rTolong dong jawab stu pertanyaan ane diatas.... Tolong diartikan ayat diatas :\rAn Nisa 61. Apabila dikatakan kepada mereka : \"Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul\", niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.\rMau pake Heurmeneutika juga boleh....\rAne pengen lihat dari tulisan Umat Dhoif dan Agus Aja arti dan maksud dari ayat tsb.\r27 September · Suka · Hapus\r?matz Van Dee Ivz\r@kang anas ; saya umat bukan ulama.... silakan say nunggu saja nte artiin itu\r27 September · Suka · Hapus\rأنس رشدى\rLho koq ?\rAnda kan meragukan \"TEORI\" Hukum Islam pasti anda tahu apa arti ayat itu.\r27 September · Suka · Hapus\r?matz Van Dee Ivz\rnunggu ah.... ;\r27 September · Suka · Hapus\rأنس رشدى\rKalau memang benar2 tidak tahu (bukan pura-pura) maka ya wajar nt banyak berkomentar seperti diatas....\r27 September · Suka · Hapus\r?matz Van Dee Ivz\ryoda anggap tdk tau...silakn mz\r27 September · Suka · Hapus\rAgus Aja\rNas, yg ngeraguin dari awal siape? Jangan fitnah ah\r27 September · Suka · Hapus\r?matz Van Dee Ivz","part":1,"page":331},{"id":332,"text":"kang agus : biarin aje kang..... difitnah kita bisa ngurangi pahala\r27 September · Suka · Hapus\r?matz Van Dee Ivz\rsaya pengen tau neh kata2 hukum Allah n hukum rasul yg dimksd dalam ayat itu apa.....\r27 September · Suka · Hapus\rأنس رشدى\r:)\r27 September · Suka · Hapus\rAyi Hidayat Baharuddin\rSeperti penjelasan Allah dalam Q.S 4:61 tersebut, maka seorang muslim tidak akan pernah merasa berat jika diajak untuk berhukum dengan hukum-hukum yang telah Allah turunkan seperti halnya Hukum Qishas, rajam dan potong tangan.\rMelaksanakan hukum Allah, bukan semata-mata untuk membuat masyarakat menjadi aman melainkan menjadi jalan penebus dosa bagi si pelaku kejahatan jika ia menyadari kesalahannya. Sebaliknya, sebaik apapun hukum yang dibuat oleh manusia, ia hanya dapat membuat masyarakat menjadi aman atau merasa aman, namun hal itu tidak menjadi penebus dosa baginya bahkan ia telah tergolong dzalim dan kafir dihadapan Allah. Penjelasan Allah dalam Q.S 4:61 tersebut bukan untuk menuduh munafik terhadap seseorang melainkan ia merupakan peringatan bagi orang-orang yang beriman agar tidak menjadi orang yang munafik dengan sebab meragukan hukum yang telah Allah tetapkan apalagi sampai menghalangi dilaksanakannya hukum Islam.\rSemoga penjelasan ini dapat dimengerti dengan baik.\r27 September · Suka · Hapus\r?matz Van Dee Ivz\rmaaf lho mz krna sepanjang saya berbincang dgn teman2 yg mengusung khilafah seakan2 saya hanya menemukan hukum islam itu kalau gk RAJAM, QISHASH, POTONG TANGAN...","part":1,"page":332},{"id":333,"text":"seakan2 jika belum melaksanakan ini dianggap tdk islami bahkan dianggap menolak hukum Allah n rasul (saya pinjem istilah sampeyan)\rnah pertanyaan tambahan saya apakah ini parameter hukum islam itu tegak n tdk?\rapakah bner jika suatu negara belum bisa menegakkan 3 hal ini dianggap gk islam n menolak hukum Allah?\rtrus bgmaa dgn kami yg hidup di negeri kafir?\rselanjutnya boleh tau gk bgmana cara sampeyan pribadi menerapkan hukum islam?apakah masi dalam tataran pribadi sampeyan sndiri?keluargasampeyan?keluarga besar?taraf RT?RW? atau sdah sejauh mana?\r27 September · Suka · 1 orang · Hapus\rImam Syufa'at\rIya, saya juga jadi gak respek melihat hukum islam direduksi menjadi sebuah label dan kemudian dijadikan alat fitnah pada kita.\rJangan mereduksi ssubtansi hukum Islam dong kang anas...!!!\rBtw..., sampean pernah dilarang untuk melaksanakan sholat atau puasa kah di negri ini? Sampean tahu siapa yang memperjuangkan hukum zakat dan nikah di Indonesia? ketidaknyamanan seperti apa yang anda dapati di negeri tercinta ini? kalau anda merasa nyaman di saudi, kenapa gak ngajukan pindah negara aja?\r27 September · Suka · 3 orang · Hapus\r?matz Van Dee Ivz\rnah bnerkan yg saya ilang apakah hukum Allah yg dimksd disitu adalah 3 hukum itu doang...atau semua hukum2 yg lain termasuk hukum alam?\r27 September · Suka · Hapus\rAgus Aja","part":1,"page":333},{"id":334,"text":"Setiap muslim wajib berhukum islam secara kaffah. Dan kita nas, alhamdulillah sebagian hukum2 islam bisa dijalankan dan tanpa dihalangi. Dan bahkan sudah ada yg masuk kedalam sistem administrasi negara.\r27 September · Suka · 1 orang · Hapus\rAyi Hidayat Baharuddin\rUmat Dhoiff, tiga hal itu hanyalah contoh daripada hukum Islam. Sebagai seorang muslim apalagi mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, maka sudah seharusnya kita menginginkan hukum-hukum yang telah ditetapkan oleh Allah-lah yang ditegakkan karena ia menjadi jalan penebus dosa bagi kita. Bahkan dengan meridhoi hukum-hukum yang telah Allah tetapkan, meskipun belum terwujud, kita sudah orang yang beriman.\rAdapun jika kita hidup di negara orang kafir, hal itu diluar tanggung jawab kita karena kita mempunyai kekuasaan apa-apa. Menjadi hal yang berat dihadapan Allah kelak, adalah jika satu negeri yang penduduknya masyoritas muslim, namun hukum-hukum yang digunakan bukan hukum Islam atau hukum yang telah Allah tetapkan. Bagaimana anda akan menjawab dihadapan Allah kelak?.\r27 September · Suka · Hapus\rAyi Hidayat Baharuddin\rMaaf saya tinggal dulu ada tugas..\r27 September · Suka · Hapus\rImam Syufa'at\rGini aja kalo gak, usulkan pada pemerintah, agar kalian dan yang seide dgn kalian (para pengusung khilafah misalnya) bisa membuat desa atau area mukim sendiri di Indonesia dgn melaksanakan hukum yang kalian idealkan.... nanti kita lihat penerapannya.\rAtau kalian pindah ke tempat saya (Aceh)...?\r27 September · Suka · Hapus\r?matz Van Dee Ivz","part":1,"page":334},{"id":335,"text":"mbok ya udah gtu lho... ngefitnah mulu habinya... jgnlah seakan2 kalian2 ini plg islami n plg ngerti hukum islam.... setau ane pelaksanaan hukum itukan juga diliat kondisiny kang....\r27 September · Suka · 1 orang · Hapus\rأنس رشدى\rnah pertanyaan tambahan saya apakah ini parameter hukum islam itu tegak n tdk?\rapakah bner jika suatu negara belum bisa menegakkan 3 hal ini dianggap gk islam n menolak hukum Allah?\rtrus bgmaa dgn kami yg hidup di negeri kafir?\rselanjutnya boleh tau gk bgmana cara sampeyan pribadi menerapkan hukum islam?apakah masi dalam tataran pribadi sampeyan sndiri?keluargasampeyan?keluarga besar?taraf RT?RW? atau sdah sejauh mana?\r===> Ambil Hukum Allah seutuhnya bukan dipilih-pilih.\rMenerapkan 3 hal tsb ditataran prbadi, keluarga dst ??? Emangnya yg memutuskan hukum dalam syareat islam itu siapa ?\r27 September · Suka · Hapus\rأنس رشدى\rBagi yg katanya pernah tinggal di Arab puluhan tahun... Menyimpangnya diapanya Syareat Islam disana ??\r27 September · Suka · Hapus\r?matz Van Dee Ivz\r===> Ambil Hukum Allah seutuhnya bukan dipilih-pilih.\r^\r^\rsaya gk nanya dipilih2...\rsaya nanya klo yg 3 iu belum bisa dilaksanakan apa akan dihukumi mnolak hukum Allah?\ryg kemudian apakah jika seperti model saudi yg melaksanakan 3 hal itu tapi hanya utk kondisi n golongan tertentu bgmana hukumnya?\rMenerapkan 3 hal tsb ditataran prbadi, keluarga dst ??? Emangnya yg memutuskan hukum dalam syareat islam itu siapa ?\r^\r^\rkalau bgtu nte juga belum ngelaksanain dunk?\r27 September · Suka · Hapus\rأنس رشدى","part":1,"page":335},{"id":336,"text":"Alhamdulillah dikeluarga sy tidak ada yg mencuri, membunuh dan memerkosa....\r27 September · Suka · Hapus\rAgus Aja\rAnas : di indonesia tercinta ini, apa hukum2 islam yg berskala individual yg tdk bs dijalani oleh setiap muslim dinkri? Shalat..bisa, zakat...bisa, shaum...bisa, haji..bisa, nikah,talaq,rujuq...bisa, ekonomi syariat...bisa, waris..bisa.\r27 September · Suka · Hapus\rAgus Aja\rJangan jd jama'ah takfiri, krna beberapa bagian hukum blum bisa dijalani tapi mereka sudah mengkafirkan kepada yg mereka anggap tidak berhukum kepada hukum Allah.\r27 September · Suka · Hapus\r?matz Van Dee Ivz\rAnas Rosyadi Alhamdulillah dikeluarga sy tidak ada yg mencuri, membunuh dan memerkosa....\r^\r^\rseperti pertanyaan saya diatas...apakah bner hukum islam itu hanya 3 hal ini saja?coba dunk sekali2 bahas lainnya.... bnerkan saya bilang seakan2 klo tdk melksanakan 3 hukum diatas blum dianggap islami\roh ya bgmana jwab2an prtanyaan saya\r27 September · Suka · Hapus\rImam Syufa'at\rAnas Rosyadi Alhamdulillah dikeluarga sy tidak ada yg mencuri, membunuh dan memerkosa....\r=====================================\rYaa sudah, itu dijaga baik-baik. Kemudian kerabat dekat, tetangga, family, dll... Sudahkah anda ajarkan nilai-nilai Islam: tauhidnya, fiqihnya, akhlak/tasawufnya, dll...???\rKalau belum, jangan maen vonis temen2 yang berjuang di pesantren tdk sepakat dgn hukum islam. Jauh panggang dari api.\r27 September · Suka · Hapus\rAgus Aja\rKalimatu haqqin uriduul bathil.\r27 September · Suka · 1 orang · Hapus\rأنس رشدى","part":1,"page":336},{"id":337,"text":"kagak kebalik tuh ??\r27 September · Suka · Hapus\r?matz Van Dee Ivz\rwadoh... dalem bos.... qqeqeqeeq...disamain ma khawarij neh\r27 September · Suka · 1 orang · Hapus\rDAFTAR ISI","part":1,"page":337}],"titles":[{"id":1,"title":"makalah piss","lvl":1,"sub":0}]}