{"pages":[{"id":1,"text":"37\r2130. BOLEHKAH ISTRI MENOLAK ORAL TANPA JIMA'\rPERTANYAAN :\rTarkam Sriatun\rAs'salamu alaikum wr wb. Jangan bosan2 menjawab pertanya dari sya. sebelum bertanya ijinkan sya crita dlu karenaa ini kaitanya dengan agama. Aku jga blm bsa memjelaskannya. Ada seorang perempuan bertanya sma sya, perempuan: mas sya mls dengan tingkah laku suami sya tiap mlm maunya oral mulu multku dah skt tapi slalu di pksa,aku suruh masukin slalu ga mau sedangkan sya kan pingin di jimak. tapi suami maunya oral munkin dalam kurung suami pya penyakit kelainan maunya oral mlu ga mau jimak aku. Pertanyaannya adalah :\r1. kalau istri nolak dosa ga...?\r2. Istri Ingin menceraikan karena setiap malam hanya diperlakukan seperti itu..? Aku bth jwban tapi bla status ini ga layak/ga sopan silahkan di apus tapi jangan lpa inbok dlu ya mksh.\rJAWABAN :\rKhodim Piss-ktb II\rWa'alaikum salam warahmatullah wabarakatuh.\r1. Tidak berdosa, sebab yang diwajibkan hanya pelayanan agar bisa disetubuhi bukan dicumbui.\r2. Khilaf. Bagi syafi'iyah perilaku kasar dari suami, bila sampai taraf menyakiti (dharbun mubarrihun) hanya berakibat pisah rumah, tidak mengakibatkan thalaq / fasakh. Bagi malikiyah perilaku kasar suami bisa berimbas pada thalaq.\rCatatan versi malikiyah:\r- Thalaq akibat dharar cukup dijatuhkan satu kali dan tergolong thalaq bain.\r- Dharar untuk memperbolehkan thalaq disyaratkan terjadi berulang kali pada dharar khafif (tidak menyakiti) dan cukup terjadi satu kali pada dharar fahisy (menyakiti).","part":1,"page":1},{"id":2,"text":"وَسُئِلَ عَمَّا إذَا طَلَبَ الزَّوْجُ من زَوْجَتِهِ عِنْدَ الْجِمَاعِ رَفْعَ الْفَخِذَيْنِ وَالتَّحْرِيكَ هل يَجِبُ عليها ذلك فَتَكُونُ نَاشِزَةٌ إذَا امْتَنَعَتْ فَأَجَابَ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى بِقَوْلِهِ الْوَاجِبُ عليها هو التَّمْكِينُ من الْوَطْءِ بِحَيْثُ يَسْهُلُ على الزَّوْجِ وَلَا يَجِبُ عليها ما وَرَاءَ ذلك مِمَّا هو مَعْرُوفٌ وَإِنْ تَرَتَّبَ عليه مَزِيدُ قُوَّةٍ لِهِمَّةِ الرَّجُل وَتَنْشِيطٌ لِلْجِمَاعِ هذا هو الذي يُتَّجَهُ وَيُحْتَمَلُ أَنْ يَجِبَ عليها ما يَتَوَقَّفُ عليه الْإِنْزَالُ أو ما يَتَرَتَّبُ على تَرْكِهِ ضَرَرٌ لِلرَّجُلِ وَأَفْتَى بَعْضُهُمْ بِأَنَّهُ لو كان بِهِ عِلَّةٌ لَا يَقْدِرُ مَعَهَا على الْجِمَاعِ إلَّا مُسْتَلْقِيًا فَسَأَلَهَا أَنْ تَرْكَبَهُ وَتَكُونُ هِيَ الْفَاعِلَةُ لم يَلْزَمْهَا ذلك وَلَا تَسْقُطُ نَفَقَتُهَا إذَا امْتَنَعَتْ وَفِيهِ نَظَرٌ وَالْأَوْجَهُ خِلَافُهُ حَيْثُ لَا ضَرَرَ عليها في ذلك\r\"Ditanyakan : Hukum dari suami yang meminta istrinya ketika bersetubuh untuk mengangkat paha dan menggoyang-goyangkannya, apakah itu diwajibkan bagi istri sehingga bisa dianggap nusyuz bila menolak ?","part":1,"page":2},{"id":3,"text":"Dijawab olehnya -rahimahullah ta'ala- : Yang diwajibkan atas istri yaitu memungkinkan dirinya untuk disetubuhi dengan sekira mudah bagi suami (melakukan hal itu). Tidak diwajibkan selain hal tersebut pada perkara yang sudah diketahui bersama, meskipun itu sifatnya menambah semangat lelaki serta membuat persetubuhan lebih bergairah. Ini pendapat yang lebih layak dikedepankan. Namun ada peluang wajib atas perkara yang menentukan keberhasilan orgasme atau perkara yang berimbas negatif pada suami bila tidak dipenuhi. Sebagian ulama memfatwakan bila suami menderita suatu penyakit tertentu serta tidak mampu bersetubuh selain pada posisi terlentang, lalu dia meminta istri naik ke atasnya dan menjadi pihak yang aktif dalam bersetubuh maka hal itu tidak wajib dituruti, serta tidak menggugurkan hak nafkah bila istrinya itu menolak. Fatwa ini perlu ditinjau ulang, menurut qaul awjah adalah kebalikannya selama tidak berdampak negatif bagi istri ketika mengiyakannya.\" (Fatawa al-Kubra, 4/208).\rالتَّفْرِيقُ لِسُوءِ الْمُعَاشَرَةِ : نَصَّ الْمَالِكِيَّةُ عَلَى أَنَّ الزَّوْجَةَ إِذَا أَضَرَّ بِهَا زَوْجُهَا كَانَ لَهَا طَلَبُ الطَّلاَقِ مِنْهُ لِذَلِكَ ، سَوَاءٌ تَكَرَّرَ مِنْهُ الضَّرَرُ أَمْ لاَ ، كَشَتْمِهَا وَضَرْبِهَا ضَرْبًا مُبَرِّحًا . وَهَل تَطْلُقُ بِنَفْسِهَا هُنَا بِأَمْرِ الْقَاضِي أَوْ يُطَلِّقُ الْقَاضِي عَنْهَا ؟ قَوْلاَنِ لِلْمَالِكِيَّةِ, وَلَمْ أَرَ مِنَ الْفُقَهَاءِ الآْخَرِينَ مَنْ نَصَّ عَلَيْهِ بِوُضُوحٍ ، وَكَأَنَّهُمْ لاَ يَقُولُونَ بِهِ مَا لَمْ يَصِل الضَّرَرُ إِلَى حَدِّ إِثَارَةِ الشِّقَاقِ ، فَإِنْ وَصَل إِلَى ذَلِكَ ، كَانَ الْحُكْمُ كَمَا تَقَدَّمَ","part":1,"page":3},{"id":4,"text":"\"Perpisahan suami-istri karena tingkah pergaulan yang buruk. Kalangan malikiyah menegaskan bahwa seorang istri ketika suaminya menimbulkan madharat baginya maka dia boleh menuntut thalaq atas hal tersebut, baik dharar itu terjadi berulang kali ataupun tidak. Misalnya pada suami yang mengumpati istrinya serta suami yang melakukan pemukulan yang menyakitkan. Kemudian apakah istri memiliki hak thalaq sendiri atas perintah qadhi ataukah qadhi yang melakukan thalaq atasnya? Ada dua pendapat dari malikiyah. Aku tidak mengetahui fuqaha lainnya mengungkit masalah ini secara jelas. Seakan-akan mereka tidak berkomentar selama kasusnya tidak sampai pada taraf dharar yang mendorong pada perpisahan. Ketika sampai pada taraf itu maka hukumnya sebagaimana yang telah disebutkan.\" (al-Mausu'ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyah, 29/57).","part":1,"page":4},{"id":5,"text":"الثالث : لا بد من تكرار الضرر حيث كان أمراً خفيفاً فإن كان ضرباً فاحشاً كان لها التطليق به ولو لم يتكرر كما مر أول الفصل عن المتيطية وقول ( خ ) ولها التطليق بالضرر ولو لم تشهد البينة بتكرره لا يعول عليه ، بل لا بد من التكرار حيث كان خفيفاً كما مر . ولذا قال بعضهم : هو على حذف الصفة أي : ولها التطليق بالضرر البين أي الفاحش ، والقول الثاني في النظم صريح في اشتراط التكرير إلا أن ظاهره أنه لا بد من الزجر والتكرار ولو كان بيناً فاحشاً وليس كذلك كما في النقل . قال ابن عبد الصادق المذكور معترضاً على ظاهر لفظ ( خ ) ما نصه : والعجب كيف تطلق المرأة نفسها بالمرة الواحدة من تحويل وجهه عنها وقطع كلامه ومشاتمته إلى غير ذلك مما عدوه من الضرر بالمرة الواحدة إذ لا يخلو عنه الأزواج مع أن مسائل مبنية على ثبوت التكرار كالسكنى بين قوم صالحين وبعث الحكمين واختبارهما أمور الزوجين المرة بعد المرة قال : وقد نزلت فاحتج بعض المفتين بظاهر ( خ ) وخالفه غيره فعظم الأمر حتى وصل إلى أمير الوقت فحكم بأنه لا بد من التكرار .","part":1,"page":5},{"id":6,"text":"\"Catatan ketiga : Wajib berulang kalinya dharar pada dharar yang ringan, jika dhararnya berat maka boleh baginya hak thalaq meskipun belum terjadi berulang kali sebagaimana di awal perincian yang diambil dari kitab al-mutaithiyyah. Pendapat al-Khalil 'baginya terdapat hak thalaq sebab terkena dharar meskipun tidak menghadirkan persaksian atas berulang kalinya dharar' merupakan pendapat tidak bisa dijadikan pegangan. Bahkan wajib atas berulang kalinya dharar bila berupa dharar ringan sebagaimana yang telah dijelaskan. Atas hal ini sebagian ulama membela: pada redaksi ucapan al-Khalil terjadi pembuangan sifat, yakni 'baginya terdapat hak thalaq sebab terkena dharar yang nyata, yaitu dharar yang berat. Namun fakta kutipannya sudah jelas berbeda. Ibnu Abdish Shadiq berkomentar bahwa pembelaan ulama tersebut bertentangan dengan zhahirnya fatwa al-Khalil. Adapun isi komentar Ibnu Abdish Shadiq: Mengherankan bagaimana mungkin seorang wanita berhak atas thalaq terhadap dirinya sendiri hanya dengan kejadian satu kali dari memalingkannya wajah suami atas istri, tidak mengajaknya bicara, mengumpat padanya, dan kejadian dharar semacamnya sementara hanya terjadi satu kali? Memandang karena kejadian seperti ini selalu ada di antara rumah-tangga suami istri, memandang juga pada kasus ini telah dijelaskan atas syarat terjadi berulang kalinya, sebagaimana pada seorang warga yang tinggal di antara orang shalih lalu hakim bisa menyelidiki ihwal rumah tangga mereka secara bertahap. Ibnu Abdish Shadiq meneruskan: Masalah ini pernah terjadi dan sebagian mufti mengambil hujjah atas zhahir ucapan","part":1,"page":6},{"id":7,"text":"al-Khalil. Namun sebagian mufti lainnya menentangnya maka hebohlah kasus tersebut dan sampai ke hadapan penguasa waktu itu, akhirnya sang penguasa menghukumi wajibnya dharar yang berulang kali.\" (al-Bahjah fi syarh at-Tuhfah, 1/487).\rوقوله أعسر الخ الحاصل شروط هذه المسألة خمسة تعلم من كلامه الأول الإعسار فخرج ما إذا امتنع مع عدم الإعسار الثاني كونه بالنفقة أو الكسوة أو المسكن أو المهر بشرطه الآتي فخرج ما إذا أعسر بنحو الأدم الثالث كون النفقة لها فخرج ما إذا أعسر بنفقة الخادم الرابع كون الإعسار بنفقة المعسر فخرج ما إذا أعسر بنفقة الموسر أو المتوسط مع القدرة على نفقة المعسر الخامس كون النفقة مستقبلة فخرج ما لو أعسر بالنفقة الماضية\r\"Perkataan mushannif: Kesusahan dst, kesimpulan yang diambil dari perkataannya yaitu ada lima syarat fasakh. Pertama, kesusahan. Maka mengecualikan pengabaian yang tidak sampai mengakibatkan taraf kesusahan. Kedua, kesusahannya dalam hal nafkah, sandang , papan, ataupun mahar dengan syarat yang akan dijelaskan. Maka mengecualikan kesusahan dalam lauk pauk. Ketiga, kesusahan nafkah pada istri. Maka mengecualikan suami yang susah menafkahi pembantu. Keempat, kesusahan diukur dari nafkah mendasar. Maka mengecualikan suami yang susah memberi nafkah mewah atau menengah ketika dia masih mampu memberi nafkah mendasar. Kelima, nafkah prioritas ke depan. Maka mengecualikan suami yang kesusahan atas nafkahnya yang lampau.\" (I'anatuth Thalibin, 4/98).","part":1,"page":7},{"id":8,"text":"( وَالْخُرُوجُ مِنْ بَيْتِهِ بِلَا إذْنٍ ) مِنْهُ ( نُشُوزٌ ) لِأَنَّ لَهُ عَلَيْهَا حَقَّ الْحَبْسِ فِي مُقَابِلَةِ وُجُوبِ النَّفَقَةِ ، ( إلَّا أَنْ يُشْرِفَ عَلَى انْهِدَامٍ ) فَتَخْرُجُ خَوْفًا مِنْ الضَّرَرِ ( وَسَفَرُهَا بِإِذْنِهِ مَعَهُ ) لِحَاجَتِهِ أَوْ لِحَاجَتِهَا ، ( أَوْ ) وَحْدَهَا ( لِحَاجَتِهِ لَا يُسْقِطُ ) النَّفَقَةَ ( وَلِحَاجَتِهَا يُسْقِطُ فِي الْأَظْهَرِ ) لِانْتِفَاءِ التَّمْكِينِ وَالثَّانِي لَا تَسْقُطُ لِإِذْنِهِ فِي السَّفَرِ وَمِنْهُمْ مَنْ أَجْرَى الْقَوْلَيْنِ فِي سَفَرِهَا لِحَاجَتِهَا مَعَهُ .\rقَوْلُهُ : ( خَوْفًا مِنَ الضَّرَرِ ) وَيُلْحَقُ بِهِ خَوْفُهَا مِنْ سَارِقٍ أَوْ فَاسِقٍ أَوْ مِنْ ضَرْبِهِ الْمُبَرِّحِ\r\"[Keluarnya istri dari rumah suami tanpa izin] darinya [termasuk nusyuz] sebab pada suami terdapat hak menahan istri menetap di rumah sebagai timbal balik dari kewajiban nafkah. [Kecuali bila dia hampir kejatuhan tertimpa reruntuhan bangunan] maka boleh baginya keluar karena khawatir tertimpa dharar, [serta pada kepergiannya bersama suami dengan seijinnya] untuk kepentingan suaminya atau kepentingannya sendiri, [atau] pergi sendirian [untuk kepentingan suaminya semata maka tidak akan membuat gugur] hak nafkah, [sedang bila untuk kepentingannya sendiri maka gugur hak nafkahnya menurut qaul azhar] sebab menjadi tiadanya peluang digauli oleh suaminya (ketika pergi, pen). Menurut qaul kedua tidak gugur nafkahnya sebab kepergiannya atas seijin suami. Di antara para ulama ada yang memberlakukan khilafiyah dua qaul ini dalam kepergiannya bersama suami untuk memenuhi kepentingan dirinya sendiri.","part":1,"page":8},{"id":9,"text":"Ucapan mushannif [karena khawatir tertimpa dharar], disamakan dengan itu kekhawatirannya dari pencuri, orang fasiq, atau dari pukulan suaminya yang menyakiti.\" (Hasyiyah Qulyubi ma'a syarhihi, 4/79).\rالاحوال الدائرة في هذه الفنون بين الزوجين تنقسم ثلاثة أقسام: أحدها أن يصدر العدوان من الرجل في إيذائها والإضرار بها فإذا تحقق ذلك منه منعناه من الإضرار واستوفينا منه ما يمتنع عنه الحقوق وإن كان جسورا لم نأمن أن يضربها ضربا مبرحا وقد يفضي ذلك إلى هلاكها فنحول بينها\rوإذا لم يتحقق إيذاؤه إياها بل ششظننا ذلك ظنا فالوجه أن يأمر الحاكم من يراقبها في السر والعلن ولا يشترط أن يتحقق ذلك ولا يضرب القاضي حيلولة بينهما بمجرد الظن إذا لم تبدر منه بادرة فإذا بدرت فقد يديم الحيلولة إلى ظهور الظن بالأمر وإذا تحققنا الإضرار بها فليس إلا الحيلولة فأما إلزام الطلاق فلا\r\"Keadaan seputar hubungan suami-istri di bab ini terbagi menjadi tiga : Salah satunya, terlihatnya sikap permusuhan dari suami ketika menyakitinya. Ketika hal itu terbukti maka kita akan mencegahnya berbuat dharar dan meminta agar hak-hak yang diabaikannya agar dipenuhi. Jika suami itu tergolong lelaki tak bermoral dan kita khawatir dia akan menganiaya istrinya dengan kasar yang terkadang bisa berakibat fatal pada istrinya maka akan kita pisahkan (pertemuan) keduanya.","part":1,"page":9},{"id":10,"text":"Bila perbuatan menyakiti istrinya belum terbukti dan sebatas persangkaan maka hakim bisa mengutus seseorang untuk menyelidiki ihwal pihak wanita secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, tidak disyaratkan penyelidikan ini harus sampai terbukti nyata. Namun hakim tidak boleh memisahkan antara suami dan istri hanya berlandaskan persangkaan semata ketika situasi tidak mendesak. Sedangkan bila situasi mendesak maka boleh bagi hakim memisahkan keduanya sampai jelas kebenaran dari persangkaannya. Ketika sudah terbukti maka hakim hanya berhak memisahkan bukan menthalaq.\" (Nihayat al-Mathlab, 13/280). Wallahu a'lam.\rLink Asal :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/482747028414777/\r2145. BERSETUBUH SAAT ISTIHADZHOH\rPERTANYAAN :\rMuhammad Bin Ahmad\rAssalamualaikum, maaf sebelumnya saya mau tanya karena saya tidak bisa menjawab pertanyaannya teman saya \"bolehkah seorang suami menjimak istrinya yang lagi istihadhah\", syukran.... Mohon bantuannya.\rJAWABAN :\r> Oet Toomo","part":1,"page":10},{"id":11,"text":"Wa'alikumussalaam, bismillah, para Ulama ikhtilaf di dalam permasalahan ini, berbeda pendapat dalam kebolehannya pada kondisi bila ditinggalkan tidak di khawatirkan menyebabkan Zina. maka yang Shahih adalah boleh secara mutlaq.karenaa ada bnyk wanita,mencapai sepuluh atau bahkan lbih mngalami Istihadhah pada zaman nabi shalallohu Alayhi wassallam sementara Alloh dan RasulNYA tidak melarang Jima' dengan mereka lihat Dalil alqur'an pada surah(al-baqarah222) ayat ini menunjukkan diluar keadaan haid,suami tidaklah wajib menjauhkan diri dari istri,kalau sholat saja boleh dilakukan wanita mustahadhah maka maka Jima'pun tentu lebih blh lagi,dan tidak benar bila jima' wanita mustahadhah dikiaskan dengan jima' wanita Haid karena keduanya tidak sama,bahkan menurut pendapat Ulama yang menyatakan haram.sebab,mengkiaskan ssuatu dengan hal yang berbeda adalah tidak sah..wallahu a'laam.\r> Masaji Antoro\rWa'alaikumsalam\rعِبَارَةُ الْمَجْمُوعِ يَجُوزُ عِنْدَنَا وَطْءُ الْمُسْتَحَاضَةِ في الزَّمَنِ الْمَحْكُومِ بِأَنَّهُ طُهْرٌ وَإِنْ كان الدَّمُ جَارِيًا وَهَذَا لَا خِلَافَ فيه عِنْدَنَا وَنَقَلَهُ جَمْعٌ عن أَكْثَرِ الْعُلَمَاءِ انْتَهَتْ\rRedaksi dalam kitab al-Majmuu’ “Boleh menurut kami (syafi’iyyah) menggauli istri dalam kondisi sedang istihadhah dalam masa yang ia dihukumi keadaan suci meskipun darahnya sedang mengalir, yang demikian tidak ada perbedaan pendapat diantara kami (syafi’iyyah) dan bhkan segolongan ulama menyatakan keterangan tersebut sesuai mayoritas ulama”. [ Al-Fataawa al-Fiqhiyyah al-Kubra I/20 ].","part":1,"page":11},{"id":12,"text":"ويجوز وطء المستحاضة في الزمن المحكوم عليه بأنه طهر ولا كراهة في ذلك وإن كان الدم جاريا\rBoleh menggauli istri dalam kondisi sedang istihadhah dalam masa yang ia dihukumi keadaan suci dan yang demikian tidaklah makruh meskipun darahnya sedang mengalir. [ Mughni al-Muhtaaj I/112 ]. Wallaahu A'lamu Bis Showaab.\rLink Asal :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/472173489472131/\r2150. HUKUM MENYETUBUHI MAYAT ISTRI\rPERTANYAAN :\rKakek Jhosy\rPertanyaan Titipan :\r1. Bagaimana Hukum menjimak istrinya yang meninggal\r2. Apakah dinamakan zina, Mohon Dijelaskan\rJAWABAN :\rIbnu Toha\rBagaimana Hukum menjimak istrinya yang meninggal ? HARAM. Demikian juga haram suami melihat mayat istri dengan syahwat sebagaimana melihat orang lain dengan syahwat. sedangkan kalau melihatnya tidak dengan syahwat maka hukumnya sebagaimana ketika masih hidup. Ibarot (AL-MAJMU') :\rقال الشيخ أبو حامد في تعليقه مذهبنا أن المرأة إذا ماتت كان حكم نظر الزوج إليها بغير شهوة باقيا وزال حكم نظره بشهوة\rfokus :\rوزال حكم نظره بشهوة\r[ Al-Majmu' juz 5 hal 139 ].\rالناشر: دار الفكر (طبعة كاملة معها تكملة السبكي والمطيعي) [ترقيم الكتاب موافق للمطبوع]\rLink Asal :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/461832737172873\r2162. MENJIMAK ISTRI SAAT PINGSAN BOLEHKAH ?\rPERTANYAAN :\rSunde Pati\rAssalamu alaikum, bolehkan menjimak istri yang lagi pingsan ???\rJAWABAN :\r> Mbah Njawi\rMenjimak istri yang lagi tidur atau tidak sadarkan diri tidak apa-apa, karena dalam hal jimak itu tidak disyaratkan harus dapat izin sang istri\rالسؤال ماهو حكم الممارسات الجنسية مع الزوجة وهي نائمة؟","part":1,"page":12},{"id":13,"text":"الفتوى الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أما بعد: فلا حرج على الزوج في الاستمتاع بزوجته نائمة كانت أو مستقيظة، لأنه لا يحق لها الامتناع عنه ولا يطلب إذنها في ذلك. والله أعلم.\r[ alfatawi al mu'ashiroh filhayatiz zaujiyyah karya syeh ali bin nayif ].\r> Sunde Pati\rEntah nyambung pa tidak aku kurang tahu, nemu ibaroh ini\rوذكر الزرقانى أنه صلى الله عليه وسلم قام ليلة فوطئ على زينب بنت أم سلمة بقدمه وهى نائمة، فبكت .\rImam Azzarqoni menyebutkan bahwa sesungguhnya Rosululloh SAW terjaga disuatu malam lalu menyetubuhi zainab binti ummi salamah yang ada di depan beliau dalam keadaan tidur, lalu zainab menangis. [ Azzarqoni alal mawahib juz 4 hal 83 ].\r2241. Asal Air Mani / Sperma\rPERTANYAAN :\rKonfirmasi-Donk'Skrg OrangyangMungkin'Anda-kenal DanHalaman-yang Yakin'andaSukai\rAssalamu'alaiku m. Tanya' lagi OM + Mbah - Yai + Nyai - Gus+ Nenk Dari apakah Mani Di Ciptakan...?\rJAWABAN :\rMasaji Antoro\rWa'alaikumsalam\rوفى قوت القلوب اصل المنى هو الدم يتصاعد فى خرزات الصلب وهناك مسكنه فتنضجه الحرارة فيستحيل أبيض فاذا امتلأت منه خرزات الصلب وهو الفقار طلب الخروج من مسلكه وهو عرقان متصلان الى الفرج منهما ينزل المنى\rDalam Kitab Quut al-Quluub disebutkan sperma berasal dari darah yang naik pada rusuk kiri disanalah kemudian ia menetap, akibat suhu yang panas menjadikannya berubah berwarna putih, saat sperma yang berada dirusuk tersebut telah penuh maka ia menuntut untuk bisa keluar dari salurannya yaitu dua otot yang bersambung dengan alat kemaluan, dari sanalah akhirnya sperma meluar. [ Ruuh al-Bayaan X17/168 ]. Wallaahu A’lam.\rLINK DISKUSI :","part":1,"page":13},{"id":14,"text":"www.fb.com/groups/piss.ktb/555394704483342/\r2304. MENGKONSUMSI MAKANAN PERANGSANG\rPERTANYAAN :\rChasbulLoh EL Achyak\rAssalamu'alaikum. . Numpang tanya semua. . Ini masalah tentang permen CINTA. .ato permen perangsang wanita yang marak dberitakan itu. . Sudah ada yang membuktikan se orang wani ingin mencoba dya ragu dengan pada efek permen karet itu. .tp trnyata memang benar permen it membuatnya rasa ingin berhubungan intim. . Dan tidak dpungkiri permen ini bsa menambah ketahanan dranjang. Seperti ganja narkoba dll. yang bisa membuat se'org menjadi lebih kuat. Pertanyaan :\r1. Bagaimana hukum menkonsumsi permen tersebut. Dengan berbagai motif kebutuhan atau sekedar coba-coba. ??\r2. Sebatas mana mabuk atau dloror yang menyebabkan haramnya makanan ?? Mohon beserta dalilnya. . Syukron. .\rJAWABAN :\r> Aslim Tas'ad Sie Pengajian\rIbarot : Qurrotul ‘Ain Bi Fatawi Isma’il Az-Zain, Hal : 72\rوالتقوي له بأدوية مباحة مع رعاية القوانين الطبية مع قصد صالح كعفة ونسل, ?نه وسيلة لمحبوب فيكون محبوبا فيما يظهر\r\" Mencari kekuatan dengan obat itu diperbolehkan beserta aturan dokter, juga disertai tujuan yang baik seperti 'iffah dan keturunan \".\r> Sunde Pati\rDisunnahkan bagi suami mencari perangsang kekuatan dengan pakai obat yang tak terlarang serta menjaga komitmen dan bertujuan baik sperti menjaga kehormatan dan keturunan karena hal itu jadi wasilah untuk kesenangan (kepuasan) maka hal itu juga membuat pasangan jadi puas / suka dan kebanyakan manusia meninggalkan kekuatan perangsang yang menjadikan kerepotan sekali dalam bersenggama","part":1,"page":14},{"id":15,"text":"إعانة الطالبين (3/ 274) ويندب التقوي له بأدوية مباحة مع رعاية القوانين الطبية ومع قصد صالح كعفة ونسل لأنه وسيلة لمحبوب فليكن محبوبا وكثير من الناس يترك التقوي المذكور فيتولد من الوطء مضار جدا\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/571662899523189/\rF0008. TIPS DIKARUNIAI ANAK CANTIK\rOleh Mbah Jenggot\rAnda ingin punya anak berparas cantik (fisik dan hatinya), tentu tips dari Rasulullah solusinya.Apa sajakah itu ? Hubungan (biologis) suami istri berpengaruh pada jasmani dan rohani anak. Seorang perempuan mendatangi Rasulullah SAW, seraya berkata : “Wahai Rasulullah, bagaimana Allah SWT dapat dikatakan adil, padahal Dia telah memberikan anak yang buta kepadaku?”. Dalam menjawab protesnya beliau menjawab: “Apakah ketika kalian berhubungan, suamimu meminum minuman keras (khamar)?”. “Ya, wahai Rasulullah.” Jawabnya. Lantas beliau kembali bersabda: “Jika demikian maka cercalah diri kalian sendiri.”\rUntuk itu, inilah beberapa tips islami hubungan suami istri agar dikaruniai anak yang berparas cantik sekaligus berakhlak baik :\r• MEMILIH WAKTU\rDalam sebuah riwayat Rasulullah SAW bersabda: “Wahai Ali, janganlah melakukan hubungan biologis dengan istrimu pada awal bulan (bulan hijriyah), pertengahan dan akhir bulan. Karena ada kemungkinan besar akan menyebabkan gila, terkena penyakit kusta, cacat anggota tubuh dan akal istri dan anak.” (Makarimal Akhlak)\r• BERWUDHU\rDiantara hal-hal yang hendaknya dilakukan sebelum melakukan hubungan suami istri ialah berwudhu atau dalam keadaan suci, menyebut nama Allah SWT dan berdoa akan mencegah dari campur tangan setan\r• BACA BASMALAH","part":1,"page":15},{"id":16,"text":"Setan memang selalu mengganggu manusia. Pertanyaannya, apa yang dimaksud campur tangan setan dalam anak-anak kita ? Dalam tafsir Shafi karya Faiz Kasyani, telah dinukil dari Imam Shadiq bahwa beliau berkata: “Sewaktu kalian memulai hubungan suami istri dengan nama Allah SWT maka setan akan menjauh dari kalian. Namun jika tidak memulai dengan menyebut nama Allah SWT maka setan akan ikut campur dalam perbuatan kalian.”\r• TENANG\rIman Ali Zainal Abidin berkata: ”Jika seorang suami melakukan hubungan biologis dengan istrinya dalam keadaan tenang, tidak dalam keadaan rasa khawatir dan tidak grogi maka sperma akan masuk ke dalam rahim istrinya dalam keadaan tenang pula. Dan paras anak akan mirip dengan ayah dan ibunya. Namun jika seorang suami melakukan hubungan biologis dengan istrinya dalam keadaan tidak tenang, ada rasa khawatir dan grogi maka sperma akan masuk ke dalam rahim dalam keadaan tidak tenang pula. Serta paras anak mirip dengan paman, bibi, dari kedua belah pihak dan anggota keluarga lainnya.” (Sayyid Ali Husaini Zadeh).\r• RAHASIA","part":1,"page":16},{"id":17,"text":"Agar kita dikaruniai anak cantik lahir batin (saleha), hendaknya merahasiakan hubungan itu dari anak-anak. Jangan sampai anak-anak mengetahuinya. Dalam sebuah riwayat Imam Shadiq as yang telah dinukil dari kakeknya Rasulullah SAW berkata: “Sumpah demi Tuhan yang jiwaku berada di bawah kekuasaannya, jika seorang suami hubungan biologis dengan istrinya, sementara anaknya ada di kamarnya melihatnya, mendengar omongan dan desah nafasnya, ketahuilah anak tersebut tidak akan bahagia, baik anak laki-laki maupun perempuan maka akan menjadi pezina.” (Wasa’il Asy-Syi’ah). Mudah-mudahan doa dan ikhtiar kita diijabah (dikabulkan) oleh Allah SWT. Amin.\rDoa agar Anak Salehah: QS. Al Ahqaaf (46): 15\rرَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ\r“Rabbi auzi’nii an-asykura ni’matakallatii an-amta ‘alayya wa ‘alla waalidayya wa an ‘a’mala shaalihan tardhaahu washlih lii fii dzurriyyatii, innii tubtu ilaika wa innii minal muslimiin.”\r\"Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri\".\r2558. IKHTILAM (MIMPI BASAH) ADALAH GANGGUAN SYAITHAN ?\rPERTANYAAN :\r> Muhsin Rock Ahmad","part":1,"page":17},{"id":18,"text":"Assalaamu'alaykum. Tadz 'mohon dijelaskan kronologinya ikhtilam / mimpi enak keluar mani ... Apakah ikhtilam itu dari setan atau anugrah ? .suwun\rJAWABAN :\r> Syauqo Nadrillah At-tijaniy\rWa'alaikumussalaam, ada tiga macam akhiy....\r1). ihtilam nikmah, ialah mimpi yang tidak memiliki gambaran jima tapi mengeluarkan mani...tegesna tidur tanpa mimpi tapi mengeluarkan mani....\r2). ukubah, seorang yang bermimpi jima' dengan rupa yang diharamkan .maaf seperti kita bermimpi jima' dengan gambaran yang diharamkan oleh agama dan tidak menimbulkan kenikmatan dalam mimpi tersebut..dsb ihtilam ukubah yang biasanya timbul akibat kita melihat sesuatu yang diharamkan atau berhayal yang diharamkan ataupun mimpi ini datang dari guguyon syetan yang diakibatkan oleh ketoledaran kita yang tidak membaca doa sebelum tidur...\r3). karomah, tatkala kita bermimpi jima dengan gambaran atau tatacara yang disyariatkan agama dan timbul kenikmatan didalamnya .\rBisa akhiy lihat di kurotul uyun shohifah 83...\r> Ghufron Bkl\rIhtilam / mimpi basah adalah akibat dari permainan / gangguan syaithon. :\r.وكذا يكره للزوج أن يأتي زوجته بعد الإحتلام____وذلك يورث الجنون في الولد إه أى لبقاء مني الإحتلام الذي هو أثر تلاعب الشيطان به فإذا نشأ عنه ولد تسلط عليه الشيطان. قرة العيون ص : 55\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/593122167377262\r3208. HUKUM MENJIMA ISTRI DALAM KAMAR YANG BANYAK KALIGRAFI AL-QURAN\rPERTANYAAN :\r> Tgk Aswaja\rAssalamu'alaikum. Jika dinding kamar penuh dengan kaligrafi ayat al quran, bolehkah kita menjimak istri di dalamnya ? Trmksh\rJAWABAN :\r> Ghufron Bkl","part":1,"page":18},{"id":19,"text":"Wa alaikumus salaam warohmatulloh. Boleh menjima' istri dalam kamar yang banyak kaligrafi qur'an.\rالإقناع1/90\rويكره كتب القرأن على حائط ولو لمسجد و ثياب و طعام و نحو ذلك و يجوز هدم الحائط و لبس الثوب وأكل الطعام.\rالباجوري 1/117\rويحل لبس الثياب التي نقش عليها شيئ من القرأن والنوم فيها ولو للجنب.\rDan makruh hukumnya menulis alqur'an pada tembok walaupun untuk masjid, dan baju, dan makanan dan yang semisalnya.dan boleh merusak tembok, memakai baju dan memakan makanan. [ Iqna' juz 1 hal 90 ].\rDan halal memakai baju yang bertuliskan alqur'an dan tidur memakai baju tersebut walaupun bagi orang yang junub. [ Al bajuri juz 1 hal 117. Wallohu a'lam bis showab\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/778686452154165/\r3383. SALAH SATU ADAB SYAR'IYYAH SEBELUM SENGGAMA\rPERTANYAAN :\r> Nona Arya\rAssalamualaikum... \"Apabila mempelai perempuan telah masuk ke rumahmu, lepaskanlah kedua sandalnya dan bersihkanlah kakinya dengan air. Dan kemudian siramkanlah air itu ke sudut sudut rumahmu. Niscaya 70 keberkahan dan rahmat akan memasuki rumahmu\"\r(Koreksi jika salah). Pertanyaannya :\r1. apa kedudukan haditsnya?\r2. mohon tuliskan matannya sanadnya rowinya\r3. yang harus mencuci itu suaminya a tau mempelai perempuan itu sendiri?\r4. bagaimana kalau pulang ke rumah istrinya? Maksud hadits itu berlaku juga kah? Terima kasih\rJAWABAN :\r> Ical Rizaldysantrialit\rReferensi dari kitab QURROTUL 'UYUUN hal : 46 karangan IBNU YAMUN, dua bait nadzom nya :\rوغسلك اليدين والرجلين - آنية منها فهاك واقتف ورشه في كل ركن جآء - فاحفظ وقيت البأس والضرآء","part":1,"page":19},{"id":20,"text":"فقد ورد ان فعل ذلك ينفى الشروالشيطان فضل الله تعالى ورد عن سيدنا على ان النبي ص.م.قال له إذا دخلت العروسة بيتك فاخلع نعليها واغسل رجليها بالماء ورش به اركان البيت يدخل بيتك سبعون نوعا من البركة والرحمة\rMaka telah warid bahwa aktifitas tersebut mampu menolak keburukan dan syetan,semata-mata karena fadhol Allah ta'ala.\rkabar ini (atsar) datang dari sayyidina 'Ali ,Bahwasanya Rosulullah SAW berkata kepada Ali : ketika masuk mempelai/isterimu ke rumah (kamarmu) maka lepaskanlah kedua alas kakinya dan basuhlah kedua kakinya dengan air dan cipratkanlah ke seluruh pemjuru rumahmu,maka akan masuk kerumahmu tujuh puluh macam keberkahan dan rohmat.\rAtsar ini juga di muat dalam kitab FAWAIDUL MAJMU'AH karangan Imam Syaukani :\r\" يَا عَلِيُّ ، إِذَا دَخَلَتِ الْعَرُوسُ بَيْتَكَ فَاخْلَعْ نَعْلَيْهَا حِينَ تَجْلِسْ , وَاغْسِلْ رِجْلَيْهَا وَصُبَّ الْمَاءَ مِنْ بَابِ دَارِكَ \" ، رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ ، مَرْفُوعًا ، وَذَكَرَ حَدِيثًا طَوِيلا فِي نَحْوِ وَرَقَتَيْنِ وَهُوَ مَوْضُوعٌ ، وَآفَتُهُ مِنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ وَهْبٍ النَّسَوِيِّ\rDiriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban dari abi sa'id (hadits marfu'). Dan ada yang menganggapnya lemah dari segi sanadnya, yaitu pada rowi yang bernama Abdillah bin wahab an-nasawiyyi.\rPengarang kitab asal dari qurrotul 'uyuun adalah syeikh Idris Al-hasany r.a ,beliau adalah seorang waliyulloh yang disebutkan maqomnya adalah Al-'Alim Al-Robbaani wal 'Arif Al-Shomadaany.","part":1,"page":20},{"id":21,"text":"Begitu dahsyatnya kekuatan cinta dan kasih sayang antara suami isteri dalam praktek yang disebutkan di atas,dengan fadhol Allah SWT hingga kekuatan dan keberkahan itu (melaksanakan pernikahan dan adab syar'iyah sebelum melakukan aktifitas jima') mampu mengusir keburukan dan syetan. Wallahu A'lam, semoga pertanyaan dari no 1-4 bisa terjawab.\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/803833829639427/\r3800. HUKUM JIMA' HINGGA KELUAR WAKTU SHOLAT\rPERTANYAAN :\r> Iyaan Pangeran Blega\rAssalamualaikum warahmatullahi wabararakatuh, saya ingin bertanya :\r1.…jika seorang istri sedang haid ,kemudian sudah suci namun belum mandi besar (janabah) dan pada saat itu juga digauli oleh suaminya . Apakah itu pelanggaran? Bolehkan hal semacam itu dilakukan ?\r2.…jika suami istri berjimak ketika menjelang subuh, dan disampingnya dinyalakan musik yang lumayan keras, alasan agar tidak didengar orang, sehingga adzanpun tidak didengar, dan karena kenikmatan mereka lupa waktu subuh telah habis. Apakah perbuatan jimaknya termasuk dosa ? Sedang yang membuatnya lupa adalah kenikmatan jimak itu sendiri. Atas jawabannya terimakasih. Wassalam.\rJAWABAN :\r> Ust Ro Fie\rWa alaikum Salam Warohmatullohi wabarokatuh!\r1. Apa bila darah haid sudah tuntas (mampet) maka dia (perempuan yang tuntas dari haid) sebelum mandi jinabah boleh melakukan puasa dan tidak boleh malakukan jima, beda hal nya dengan pendapat imam assuyuti beliau menyatakan boleh dijima meskipun belum mandi jinabat. Wallahu a'lam\rفتح المعين 27)\rوإذا انقطع دمها حل لها قبل الغسل صوم لا وطء خلافا لما بحثه العلامة الجلال السيوطي رحمه الله","part":1,"page":21},{"id":22,"text":"حاشية إعانة الطالبين (1/ 89)\r(قوله: خلافا لما بحثه العلامة الجلال السيوطي) أي من حل الوطئ أيضا بالانقطاع.\r2. Tidak berdosa\rتحفة الحبيب على شرح الخطيب (1/ 453)\rويجوز للرجل جماع أهله وإن علم عدم الماء وقت الصلاة فيتيمم ويصلي من غير إعادة اه . أقول : وهو ظاهر حيث كانا مستنجيين بالماء ، وإلا لم يجز له جماعها لما فيه من التضمخ بالنجاسة ، ولما يترتب عليه من بطلان تيممه إذا علم أنه لم يجد ماء في وقت الصلاة إلا أنه قد مر في باب الغسل أنه لا يكلف غسل الذكر من المذي ، لأنه ربما فترت شهوته عن جماع يريده ، وتقدم أنه يعفى عنه بالنسبة للجماع لا لما أصاب بدنه منه أو ثوبه ، وعليه فلو علم أنه لا يجد ماء يغسل به ما أصابه منه بعد الجماع ، فينبغي حرمته\rإذا كان الجماع بعد دخول الوقت لا قبله ، فلا يحرم لعدم مخاطبته بالصلاة الآن وهو لا يكلف تحصيل شروطه الصلاة قبل دخول وقتها اه ا ط ف\r> Imam Tontowi\rIni ibaroh pendukung dari Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab VI / 245 cet. Beirut :","part":1,"page":22},{"id":23,"text":"قال المصنف رحمه الله تعالى: وإن طلع الفجر وهو مجامع، فاستدام مع العلم بالفجر، وجبت عليه الكفارة لأنه منع صوم يوم من رمضان بجماع من غير عذر، فوجبت عليه الكفارة، كما لو وطىء في أثناء النهار، وإن جامع وعنده إن الفجر لم يطلع وكان قد طلع، أو أن الشمس قد غربت ولم تكن غربت، لم تجب عليه الكفارة لأنه جامع وهو يعتقد أنه يحل له ذلك وكفارة الصوم عقوبة تجب مع المأثم فلا تجب مع اعتقاد الإباحة كالحد وإن أكل ناسياً فظن أنه أفطر بذلك ثم جامع عامداً فالمنصوص في الصيام أنه لا تجب الكفارة، لأن وطىء وهو يعتقد أنه غير صائم فأشبه إذا وطىء وعنده أنه ليل ثم بان أنه نهار، وقال شيخنا القاضي أبو الطيب الطبري رحمه الله: يحتمل عندي أنه يجب عليه الكفارة لأن الذي ظنه لا يبيح الوطء بخلاف ما لو جامع وظن أن الشمس غربت، لأن الذي ظن هناك يبيح له الوطء، فإن أفطر بالجماع وهو مريض أو مسافر لم تجب الكفارة، لأنه يحل له الفطر فلا تجب الكفارة مع إباحة الفطر، وإن أصبح المقيم صائماً ثم سافر وجامع وجبت عليه الكفارة، لأن السفر لا يبيح له الفطر في هذا اليوم، فكان وجوده كعدمه، وإن أصبح الصحيح صائماً ثم مرض وجامع لم تجب الكفارة، لأن المريض يباح له الفطر في هذا اليوم، وإن جامع ثم سافر لم تسقط عنه الكفارة، لأن السفر لا يبيح له الفطر في يومه فلا يسقط عنه ما وجب فيه من الكفارة، وإن جامع ثم مرض أو جن ففيه قولان أحدهما: لا تسقط عنه الكفارة، لأنه معني طرأ بعد وجوب الكفارة فلا يسقط الكفارة كالسفر والثاني: أنه تسقط لأن اليوم يرتبط بعضه ببعض، فإذا خرج آخره عن أن يكون الصوم فيه مستحقاً خرج أوله عن أن يكون صوماً أو يكون الصوم فيه مستحقاً، فيكون جماعه في يوم فطر، أو في يوم صوم غير مستحق فلا تجب به الكفارة.\rFokus :","part":1,"page":23},{"id":24,"text":"وإن جامع وعنده إن الفجر لم يطلع وكان قد طلع، أو أن الشمس قد غربت ولم تكن غربت، لم تجب عليه الكفارة لأنه جامع وهو يعتقد أنه يحل له ذلك وكفارة الصوم عقوبة تجب مع المأثم فلا تجب مع اعتقاد الإباحة كالحد\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/862644760425000/\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/notes/914368075252668\r3885. KENAPA JIMA' MALAM JUM'AT ?\rPERTANYAAN :\r> Najih Ibn Abdil Hameed\rAssalamu'alaikum. Katanya jima' malam jum'at pahalanya seperti membunuh kafir. Ada dasarnya tidak ?\rJAWABAN :\r> Mbah Jenggot\rWa`alaikum Salam.Syekh Muallif menjelaskan, bahwa senggama dapat dilakukan setiap saat, baik siang maupun malam, kecuali pada waktu yang nanti akan dijelaskan, sebagaimana petunjuk yang terdapat dalam Al-Quran yaitu firman Allah Swt.: \"Istri-istri kalian adalah (seperti) tempat tanah kalian bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanam kalian itu bagaimana saja kalian kehendaki\" (Qs. Al-Baqarah: 223).\rMaksudnya, kapan saja kalian mau, baik siang maupun malam menurut beberapa tafsir atas ayat diatas. Ayat ini jugalah yang dimaksudkan oleh kata-kata Muallif, seperti penjelasan pada surat An-Nisa', akan tetapi, bersenggama pada permulaan malam lebih utama. Oleh karena itu Syekh penazham mengingatkan dalam bait berikut ini : \"Namun senggama diawal malam lebih utama, ambillah pelajaran ini, Pendapat lain mengatakan sebaliknya, maka yang awal itulah yang dipilih\".","part":1,"page":24},{"id":25,"text":"Al-Imam Abu Abdullah bin Al-Hajji didalam kitab Al-Madkhal mengatakan, bahwa dipersilahkan memilih dalam melakukan senggama, baik diawal atau akhir malam. Akan tetapi, diawal malam lebih utama, sebab, waktu untuk mandi jinabat masih panjang dan cukup. Lain halnya kalau senggama dilakukan diakhir malam, terkadang waktu untuk mandi sangat sempit dan berjamaah shalat subuh terpaksa harus tertinggal, atau bahkan mengerjakan shalat subuh sudah keluar dari waktu yang utama, yaitu shalat diawal waktu. Disamping itu, senggama diakhir malam sudah barang tentu dilakukan sesudah tidur, dan bau mulut pun sudah berubah tidak enak, sehingga dikhawatirkan akan mendatangkan rasa jijik dan berkurangnya gairah untuk memadu cinta kasih. Akibatnya, senggama dilakukan hanya bertujuan senggama, lain tidak. Padahal maksud dan tujuan senggama tidaklah demikian, yaitu untuk menanamkan rasa ulfah dan mahabbah, rasa damai dan cinta, serta saling mengasihi sebagai buah asmara yang tertanam didalam lubuk hati suami istri.\rPendapat tersebut ditentang oleh Imam Al-Ghazali. Beliau berpendapat, bahwa senggama yang dilakukan pada awal malam adalah makruh, karena orang (sesudah bersenggama) akan tidur dalam keadaan tidak suci. Selanjutnya Syekh Muallif menjelaskan beberapa malam, dimana disunahkan didalamnya melakukan senggama, sebagaimana diuraikan pada bait nazham berikut ini: \"Senggama dimalam Jumat dan Senin benar-benar di sunahkan, karena keutamaan malam itu tidak diragukan.\"","part":1,"page":25},{"id":26,"text":"Syekh Muallif menjelaskan, bahwa disunahkan bersenggama pada malam Jumat. Karena malam Jumat adalah malam yang paling utama diantara malam-malam lainya. Ini juga yang dimaksudkan Syekh penazham: bi lailatil ghuruubi dengan menetapkan salah satu takwil hadits berikut ini : \"Allah Swt. memberi rahmat kepada orang yang karena dirinya orang lain melakukan mandi dan ia sendiri melakukannya\".\rSyekh Suyuti mengatakan, bahwa hadits tersebut dikuatkan oleh hadits dari Abu Hurairah berikut ini : \"Apakah seseorang diantara kalian tidak mampu bersenggama bersama istrinya pada setiap hari Jumat? Sebab, baginya mendapat dua macam pahala, pahala dia melakukan mandi dan pahala istrinya juga melakukan mandi.\" (HR. Baihaqi).","part":1,"page":26},{"id":27,"text":"Bersenggama itu disunahkan lebih banyak dilakukan dari pada hari-hari dan waktu yang telah disebutkan diatas. Hal itu dijelaskan oleh Syekh Muallif melalui nazhamnya berikut ini : \"Senggama dilakukan setelah tubuh terangsang, hai pemuda, tubuh terasa ringan dan tidak sedang dilanda kesusahan\". Syekh penazham menjelaskan, bahwa termasuk kedalam tata krama bersenggama adalah senggama dilakukan setelah melakukan pendahuluan, misalnya bermain cinta, mencium pipi, tetek, perut, leher, dada, atau anggota tubuh lainnya, sehingga pendahuluan ini mampu membangkitkan nafsu dan membuatnya siap untuk memasuki pintu senggama yang sudah terbuka lebar dan siap menerima kenikmatan apapun yang bakal timbul. Hal ini dilakukan karena ada sabda Nabi Saw.: \"Janganlah salah seorang diantara kalian (bersenggama) dengan istrinya, seperti halnya hewan ternak. Sebaiknya antara keduanya menggunakan perantara. Ditanyakan, 'Apakah yang dimaksud dengan perantara itu?' Nabi Saw. menjawab,'Yakni ciuman dan rayuan.\"\rDiantara tata krama senggama lainya adalah bersenggama dilakukan setelah perut terasa ringan dan tubuh benar-benar segar. Karena senggama dalam keadaan perut kenyang akan dapat menimbulkan rasa sakit, mengundang penyakit tulang, dan lain-lain. Oleh karena itu, bagi orang yang selalu menjaga kesehatan hal-hal seperti itu sebaiknya dihindari.\rDikatakan, bahwa ada tiga perkara yang terkadang dapat mematikan seseorang, yaitu:\r1. Bersetubuh dalam keadaan lapar.\r2. Bersetubuh dalam keadaan sangat kenyang.\r3. Bersetubuh setelah makan ikan dendeng kering.","part":1,"page":27},{"id":28,"text":"Kata-kata Syekh penazham diatas diathafkan pada lafazh al-a'dhaa-u, yang berarti ringannya rasa susah, maksudnya, kesusahan tidak sedang melanda dirinya. Oleh karena itu sebenarnya susunan kata tersebut (ringannya rasa susah) tidak diperlukan lagi, karena ada kata-kata penazham: \"Setelah tubuh terasa ringan\". Jadi seolah-olah susunan kata tersebut hanya untuk menyempurnakan bait nazham. [ Qurratul Uyun, Syarah Nazham Ibnu Yamun ].\rSumber : www.fb.com/PISS.KTB/posts/665001750219908\rJIMA' DI MALAM JUMAT PAHALANYA SEPERTI MEMBUNUH ORANG KAFIR (JIHAD)\rAda yang tanya di inbox :\rAssalamu'alaikum mbak,\rSaya sering mendengar kalo berhubungan intim pada malam Jumat pahalanya seperti membunuh kaum kafir, itu ada dasarnya gak sih mbak? saya bingung juga mbak, saya coba searching di google tapi nihil. makasih sebelumnya.\rJawab :\rWa'alaikumsalam wr wb.\rSependek sepengetahuan saya, mungkin riwayat ini dapat menjawab rasa penasaran mbak akan pemahaman masyarakat tsb. Dalam kitab Ihya' Ulumiddin disebutkan sebuah riwayat:\rروي عن النبي صلى الله عليه وسلم إن الرجل ليجامع أهله فيكتب له بجماعه أجر ولد ذكر قاتل في سبيل الله فقتل.\rDiriwayatkan dari Nabi Muhammad SAW bahwa “Sesungguhnya seorang suami yang menggauli (Jima') istrinya, maka jima'nya itu dicatat memperoleh pahala seperti pahalanya anak lelaki yang berperang (dgn Kaum Kuffar) di jalan Allah lalu terbunuh\"[1]","part":1,"page":28},{"id":29,"text":"Meskipun riwayat tsb dinilai 'tidak ada asalnya' (لم أجد له أصلا) oleh Al-Iraqi, tp paling tidak riwayat dalam kitab ini yang menjadi pijakan masyarakat demi menggalakkan Jima' yang juga salahsatu sunnah Rasul dimalam Jum'at, demikian seperti yang dijelaskan oleh Imam Ghazali dihalaman lain kitab ini:\rومن العلماء من استحب الجماع يوم الجمعة وليلته تحقيقاً لأحد التأويلين من قوله صلى الله عليه وسلم: \" رحم الله من غسل واغتسل الحديث\rDan ada sebagian ulama yg menyukai jima' pd hari dan malam jumat, sbg aplikasi dari salah satu takwil hadits; \"Allah merahmati orang yg membersihkan dan mandi (pada hari jumat)\".[2]\rDemikian juga dalam syarah Sunan At-Tirmidzy, disebutkan :\rوبقوله اغتسل غسل سائر بدنه ، وقيل : جامع زوجته .\rDan dgn sabdanya “mandi” (pada hari jumat), yaitu memandikan seluruh badannya, dan dikatakan pula maknanya adalah menjima’ istrinya\".[3]. Wallahu a'lam\r[1] Kitab Ihya' Ulumiddin Lil Ghozali, Juz 2 Hlm. 326\r[2] Ibid, Ihya', juz 2 hlm 324\r[3] Tuhfatul Ahwadziy Lil Mubarakfuri, Juz 3 hlm 3\rKeutamaan Menggauli Istri di Hari Jum'at\rJima' atau hubungan seks dalam pandangan Islam bukanlah hal aib dan hina yang harus dijauhi oleh seorang muslim yang ingin menjadi hamba yang mulia di sisi Allah. Hal ini berbeda dengan pandangan agama lain yang menilai persetubuhan sebagai sesuatu yang hina. Bahkan, sebagian ajaran agama tertentu mewajibkan untuk menjauhi pernikahan dan hubungan seks guna mencapai derajat tinggi dalam beragama.","part":1,"page":29},{"id":30,"text":"Diriwayatkan dalam shahihain, dari Anas bin Malik pernah menceritakan, ada tiga orang yang datang ke rumah istri-istri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam untuk menanyakan tentang ibadah beliau. Ketika diberitahukan, seolah-olah mereka saling bertukar pikiran dan saling bercakap bahwa mereka tidak bisa menyamai Nabi shallallahu 'alaihi wasallam karena dosa beliau yang lalu dan akan datang sudah diampuni. Lalu salah seorang mereka bertekad akan terus-menerus shalat malam tanpa tidur, yang satunya bertekad akan terus berpuasa setahun penuh tanpa bolong, dan satunya lagi bertekad akan menjauhi wanita dengan tidak akan menikah untuk selama-lamanya. Kabar inipun sampai ke telinga baginda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, lantas beliu bersabda kepada mereka, \"Apakah kalian yang mengatakan begini dan begitu? Adapun saya, Demi Allah, adalah orang yang paling takut dan paling takwa kepada Allah di bandingkan kalian, tapi saya berpuasa dan juga berbuka, saya shalat (malam) dan juga tidur, serta menikahi beberapa wanita. Siapa yang membenci sunnahku bukan bagian dari umatku.\" (Muttafaq 'alaih)\rBahkan dalam hadits lain disebutkan bahwa seks atau hubungan badan di jalan yang benar akan mendatangkan pahala besar. Diriwayatkan dari Abu Dzar, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:\rوَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَأتِي أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ قَالَ أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلَالِ كَانَ لَهُ أَجْرًا","part":1,"page":30},{"id":31,"text":"\"Dan pada kemaluan (persetubuhan) kalian terdapat sedekah. Mereka (para sahabat) bertanya, 'Ya Rasulullah, apakah salah seorang dari kami yang menyalurkan syahwatnya lalu dia mendapatkan pahala?' Beliau bersabda, 'Bagaimana pendapat kalian seandainya hal tersebut disalurkan pada tempat yang haram, bukankah baginya dosa? Demikianlah halnya jika hal tersebut diletakkan pada tempat yang halal, maka dia mendapatkan pahala.\" (HR. Muslim)\rDi dalam perkawinan terdapat kesempurnaan hidup, kenikmatan dan kebaikan kepada sesama....\rIbnul Qayyim, sebagaimana yang dinukil oleh Al-Istambuli dalam Tuhfatul 'Arus, mengatakan, \"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajak kepada umatnya agar melaksanakan pernikahan, senang dengannya dan mengharapkan (padanya) suatu pahala serta sedekah bagi yang telah melaksanakannya. Di dalam perkawinan terdapat kesempurnaan hidup, kenikmatan dan kebaikan kepada sesama. Di samping itu, juga mendapatkan pahala sedekah, mampu menenangkan jiwa, menghilangkan pikiran kotor, menyehatkan menolak keinginan-keinginan yang buruk.\"\rKesempurnaan nikmat dalam perkawinan dan jima' akan diraih oleh orang yang mencintai dan dengan keridlaan Rabbnya dan hanya mencari kenikmatan di sisinya serta mengharapkan tambahan pahala untuk memperberat timbangan kebaikannya. Oleh karena itu yang sangat disenangi syetan adalah memisahkan suami dari kekasihnya dan menjerumuskan keduanya ke dalam tindakan yang diharamkan Allah.","part":1,"page":31},{"id":32,"text":"Disebutkan dalam Shahih Muslim, bahwa Iblis membangun istana di atas air (tipu muslihat), kemudian menyebarkan istananya itu kepada manusia. Lalu iblis mendekatkan rumah mereka dan membesar-besarkan keinginan (hayalan) mereka. Iblis berkata, 'Tidak ada perubahan kenikmatan sampai terjadi perzinaan'. Yang lainnya berkata, 'Aku tidak akan berpaling sampai mereka berpisah dari keluarganya.' Maka iblis menenangkannya dan menjadikan dirinya berseru, 'Benarlah apa yang telah engkau lakukan'.\rKenapa Iblis begitu bersemangat untuk menjerumuskan orang ke dalam perzinaan dan perceraian? Karena pernikahan dan berjima dalam balutan perkawinan adalah sangat dicintai Allah dan Rasul-Nya. Makanya hal ini sangat dibenci oleh musuh manusia. Ia selalu berusaha memisahkan pasangan yang berada berada dalam naungan ridla ilahi dan berusaha menghiasi mereka dengan segala sifat kemungkaran dan perbuatan keji serta menciptakan kejahatan di tengah-tengah mereka.\rUntuk itu hendaknya bagi suami-istri agar mewaspai keinginan syetan dan usahanya dalam memisahkan mereka berdua. Ibnul Qayim berkata dalam menta'liq hadits anjuran menikah bagi pemuda yang sudah ba'ah, \"Setiap kenikmatan membantu terhadap kenikmatan akhirat, yaitu kenikmatan yang disenangi dan diridlai oleh Allah.\"","part":1,"page":32},{"id":33,"text":"Seorang suami dalam aktifitasnya bersama istrinya akan mendapatkan kenikmatan melalui dua arah. Pertama, dari sisi kebahagiaan suami yang merasa senang dengan hadirnya seorang istri sehingga perasaan dan juga penglihatannya merasakan kenikmatan tersebut. Kedua, dari segi sampainya kepada ridla Allah dan memberikan kenikmatan yang sempurna di akhirat. Oleh karena itu, sudah selayaknya bagi orang berakal untuk menggapai keduanya. Bukan sebaliknya, menggapai kenikmatan semu yang beresiko mendatangkan penyakit dan kesengsaraan serta menghilangkan kenikmatan besar baginya di akhirat. (Lihat: Ibnul Qayyim dalam Raudhatul Muhibbin, hal. 60)\rJima' di hari Jum'at\rUraian keutamaan hubungan suami istri di atas sebenarnya sudah cukup menunjukkan pahala besar dalam aktifitas ranjang. Lalu adakah dalil khusus yang menunjukkan keutamaan melakukan jima' di hari Jum'at dengan pahala yang lebih berlipat?\rMemang banyak pembicaran dan perbincangan yang mengarah ke sana bahwa seolah-olah malam Jum'at dan hari Jum'at adalah waktu yang cocok untuk melakukan hubungan suami-istri. Keduanya akan mendapatkan pahala berlipat dan memperoleh keutamaan khusus yang tidak didapatkan pada hari selainnya. Kesimpulan tersebut tidak bisa disalahkan karena ada beberapa dalil pendukung yang menunjukkan keutamaan mandi janabat pada hari Jum'at. Sedangkan mandi janabat ada dan dilakukan setelah ada aktifitas percintaan suami-istri.\rDari Abu Hurairah radliyallhu 'anhu, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :","part":1,"page":33},{"id":34,"text":"مَنْ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غُسْلَ الْجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الْخَامِسَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً فَإِذَا خَرَجَ الْإِمَامُ حَضَرَتْ الْمَلَائِكَةُ يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ\r\"Barangsiapa mandi di hari Jum’at seperti mandi janabah, kemudian datang di waktu yang pertama, ia seperti berkurban seekor unta. Barangsiapa yang datang di waktu yang kedua, maka ia seperti berkurban seekor sapi. Barangsiapa yang datang di waktu yang ketiga, ia seperti berkurban seekor kambing gibas. Barangsiapa yang datang di waktu yang keempat, ia seperti berkurban seekor ayam. Dan barangsiapa yang datang di waktu yang kelima, maka ia seperti berkurban sebutir telur. Apabila imam telah keluar (dan memulai khutbah), malaikat hadir dan ikut mendengarkan dzikir (khutbah).” (HR. Bukhari no. 881 Muslim no. 850).","part":1,"page":34},{"id":35,"text":"Para ulama memiliki ragam pendapat dalam memaknai \"ghuslal janabah\" (mandi janabat). Sebagaian mereka berpendapat bahwa mandi tersebut adalah mendi janabat sehingga disunnahkan bagi seorang suami untuk menggauli istrinya pada hari Jum'at. karena hal itu lebih bisa membantunya untuk menundukkan pandangannya ketika berangkat ke masjid dan lebih membuat jiwanya tenang serta bisa melaksanakan mandi besar pada hari tersebut. Pemahaman ini pernah disebutkan oleh Ibnu Qudamah dari Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah dan juga disebutkan oleh sekelompok ulama Tabi'in. Imam al-Qurthubi berkata, \"sesungguhnya dia adalah pendapat yang peling tepat.\" (Lihat: Aunul Ma'bud: 1/396 dari Maktabah Syamilah)\rPendapat di atas juga mendapat penguat dari riwayat Aus bin Aus radliyallah 'anhu yang berkata, \"Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:\rمَنْ غَسَّلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاغْتَسَلَ ثُمَّ بَكَّرَ وَابْتَكَرَ وَمَشَى وَلَمْ يَرْكَبْ وَدَنَا مِنْ الْإِمَامِ فَاسْتَمَعَ وَلَمْ يَلْغُ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةٍ أَجْرُ صِيَامِهَا وَقِيَامِهَا\r\"Barangsiapa mandi pada hari Jum'at, berangkat lebih awal (ke masjid), berjalan kaki dan tidak berkendaraan, mendekat kepada imam dan mendengarkan khutbahnya, dan tidak berbuat lagha (sia-sia), maka dari setiap langkah yang ditempuhnya dia akan mendapatkan pahala puasa dan qiyamulail setahun.\" (HR. Abu Dawud no. 1077, Al-Nasai no. 1364, Ibnu Majah no. 1077, dan Ahmad no. 15585 dan sanad hadits ini dinyatakan shahih).","part":1,"page":35},{"id":36,"text":"Menurut penjelasan dari Syaikh Mahmud Mahdi Al-Istambuli dalam Tuhfatul 'Arus, bahwa yang dimaksud dengan mandi jinabat pada hadits di atas adalah melaksanakan mandi bersama istri. Ini mengandung makna bahwa sebelumnya mereka melaksanakan hubungan badan sehingga mengharuskan keduanya melaksanakan mandi. Hikmahnya, hal itu disinyalir dapat menjaga pandangan pada saat keluar rumah untuk menunaikan shalat Jum'at. Adapun yang dimaksud dengan bergegas pergi menuju ke tempat pelaksanaan shalat Jum'at pada awal waktu, adalah untuk memperoleh kehutbah pertama. (Lihat: Tuhfatul Arus dalam Edisi Indonesia Kado Perkawinan, hal. 175-176). Wallahu a'lam.\rJawaban dikutip dari artikel WAKTU TERBAIK BERCINTA\rBaca juga DALIL KESUNAHAN JIMA' MALAM JUM'AT\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/886655481357261/\rwww.fb.com/notes/pustaka-ilmu-sunni-salafiyah-ktb-piss-ktb/3885-fiqih-munakahat-jima-malam-jumat/929287647094044\r3934. POSISI JIMA' YANG BENAR\rPERTANYAAN :\r> Kebo Mercoet\rAssalamu'alaikum...Maaf sebelum'y kalo pertanyaan ini terlalu fulgar...Pertanyaannya begini...ketika suami istri melakukan jimak, bolehkah posisi sang istri berada di atas dan suami di bawah....Syukron.\rJAWABAN :\r> Mas Hamzah\rwa alaikumus salaam boleh, yang penting masuknya ke dalam farji istri. Wallahu a'lam. (Di)\r- kitab tafsir al qurtuby (3/88)\rالثانية : هذه الأحاديث نص في إباحة الحال والهيئات كلها إذا كان الوطء في موضع الحرث ، أي كيف شئتم من خلف ومن قدام وباركة ومستلقية ومضطجعة ، فأما الإتيان في غير المأتى فما كان مباحا ، ولا يباح!\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/929798023709673/","part":1,"page":36},{"id":37,"text":"www.fb.com/notes/932409523448523\r4226. HUKUM MERINDUKAN SESEORANG BUKAN MAHRAM\rPERTANYAAN :\r> Vinny Priyani\rAssalammualaikum...?! Apakah rasa rindu pada orang yang bukan muhrim itu termasuk dosa? Kalau memang dosa apa ada solusinya? Karena rasa rindu itu datang di luar kuasa manusia, kalaupun bisa memilih, mungkin tidak ingin merindukannya... belajar_move_on\rJAWABAN :\r> Rampak Naung\rWa'alaykumussalaam... ibnu hazam berkata dalam thuqul hamamah : Tidaklah cinta itu dilarang dan dosa di mata manusia dan dan hukum, karena hati dalam kekuasaan Alloh azza wajalla..\rقَالَ ابنُ حَزمٍ في طَوقِ الحَمامةِ وليسَ ـ الحُب ـ بمُنكَرٍ في الدِّيانةِ و?َ بِمحظُورٍ فِي الشَّريعةِ ، إذِ القُلوبُ بيدِ اللهِ عزَّ وجلَّ .\r> Anake Garwane Pake, Abu Cenghood\rAdapun syahid akhirat saja... dan pembagian syahid akhirat itu banyak di antaranya adalah wanita yang mati saat melahirkan meski dia hamil sebab zina... dan orang yang mati karena rindu, meski terhadap orang yang tidak boleh diwath'i seperti (lelaki) rindu kepada amrod (mairil/cowo remaja guanteng), dengan syarat 'iffah (menjaga diri dari maksiat) bahkan sampai menjaga diri pandangan sekiranya dia berduaan dengan orang yang dicintainya maka ia tidak melewati batasan syariat & dengan syarat menyembunyikan kerinduannya bahkan terhadap yang dirindukan sekalipun. Adapun khobar : \"Jika salah satu dari kalian mencintai saudaranya maka kabarkanlah kepadanya\", maka diarahkan kepada selain malarindu. Betapa eloknya perkataan sebagian penyair :\rKAFA ALMUHIBBIINA ADZAABUHUM*TALLOHI LAA ADZDZABATHUM BA'DAHAA SAQOR","part":1,"page":37},{"id":38,"text":"(cukuplah bagi para pecinta adzab mereka di dunia * demi Allah neraka saqor takkan menyiksa setelah adzab dunia),\rBAL JANNATUL KHULDI MA'WAHUM MUZAKHROFAH*YUN'AMUNA BIHA HAQQON BIMAA SHOBARU\r(akan tetap surga khuldi yang dihias tempat mereka * mereka benar-benar mendapat nikmat di dalamnya sebab kesabaran mereka).\rوالميت عشقا ولو لمن لم يبح وطؤه كأمرد بشرط العفة حتى عن النظر بحيث لو اختلى بمحبوبه لم يتجاوز الشرع وبشرط الكتمان حتى عن معشوقهحاشية الباجوري على ابن قاسم الغزي جزء 1 ص 244\rAplikasi rindu kayak gimana seng haram niku ? yang haram bukan rindunya, tapi pelampiasan rindunya yang bisa ada yang haram misalnya berciuman bibir dengan pacarnya, dan ada yang halal seperti berciuman bibir dengan istrinya. Wallahu a'lam.(DA)\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/944282458927896\rwww.fb.com/notes/4226/958293260860149\r4264. HUKUM PEREMPUAN JIMA' DENGAN HEWAN\rPERTANYAAN :\r> Kaka Risna\rAssalaamu'alaikum.. mohon pencerahannya tentang contoh kasus di bawah ini : jika seorang wanita bersetubuh dengan hewan seperti Kambing/anjeng/kuda dsb, apakah harem tsb wajib mandi junub ? mohon disertakan ibarohnya.. suwun, wassalaamu'aalaikum\rJAWABAN :\r> Ulilalbab Hafas\rWa alaikum salaam. Bersetubuh dengan hewan hukumnya haram. Namun jika dilanggar wanita tersebut tetap wajib mandi. (Roudoh... bab yang mewajibkan mandi).","part":1,"page":38},{"id":39,"text":".والرابع : الجنابة ، وهي بأمرين : الجماع ، والإنزال . أما الجماع ، فتغييب قدر الحشفة في أي فرج كان ، سواء غيب في فرج امرأة ، أو بهيمة ، أو دبرهما ، أو دبر رجل ، أو خنثى ، صغير أو كبير ، حي أو ميت . ويجب على المرأة بأي ذكر دخل فرجها ، حتى ذكر البهيمة ، والميت ، والصبي . وعلى الرجل المولج في دبره . ولا يجب إعادة غسل الميت المولج فيه على الأصح .\r> Mas hamzah\rSedikit tarjim dari ta'bir di atas\rويجب على المرأة بأي ذكر دخل فرجها ، حتى ذكر البهيمة ، والميت ، والصبي .\rDan wajib mandi atas perempuan sebab masuknya dzakar mana saja kedalam farjinya hingga dzakarnya HEWAN, mayyit dan anak kecil. Wallohu a'lam bis showab (NN)\rKeterangan serupa dari kitab kifayatul akhyar (1/40) :\rوَيجب أَيْضا على الْمَرْأَة بِأَيّ ذكر دخل فِي فرجهَا حَتَّى ذكر الْبَهِيمَة وَالْمَيِّت وَالصَّبِيّ\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/954668364555972/\rwww.fb.com/notes/www.piss-ktb.com/965813373441471\r0132. Mengucapkan Salam Kepada Lawan Jenis\rPERTANYAAN :\rSecercah Harapan\rBagaimana hukum pria uluk salam kepada wanita bukan mahrom dan bagaimana pula hukum menjawabnya ?\rJAWABAN :\rMbah Jenggot\r1. Antar lawan jenis yang terdapat hubungan suami istri. Karena hubungan di antara keduanya adalah legal, maka berucap salam di antara keduanya diperbolehkan. Bahkan, sunah untuk memulai salam dan wajib dalam menjawabnya, karena ada anjuran untuk menjaga keharmonisan di antara keduanya.\r2. Antar lawan jenis yang terdapat hubungan mahram (keharaman menikah di antara keduanya karena hubungan kekerabatan, sesusuan atau besanan). Dianjurkan ucapan salam di antara keduanya, sunah memulai salam, dan wajib menjawabnya.","part":1,"page":39},{"id":40,"text":"3. Antar lawan jenis ajnaby – ajnabiyyah, akan tetapi salah satu pihak berusia lanjut (‘ajuz). Diriwayatkan dari Sahl bin Sa’d radliyallahu anhu, dia berkata, ”Ada seorang wanita tua yang memunguti batang talas dan memasukkannya dalam tempayan, lalu membuat tepung dari gandum. Seusai salat Jum’at, kami berucap salam kepadanya dan dia menyuguhkan makanan itu pada kami,” (HR. Bukhari)\r4. Antar lawan jenis ajnaby – ajnabiyyah, akan tetapi salah satu pihak adalah sekumpulan orang. Yakni antara satu orang lelaki ajnabiy dan sekumpulan wanita ajnabiyyah. Atau sebaliknya, antara satu orang wanita ajnabiyyah dan sekumpulan lelaki ajnabiy, dengan syarat aman dari potensi fitnah. Diriwayatkan dari Asma’ binti Yazid radliyallahu anha, dia berkata, ”Rasulullah Saw lewat di depan kami beserta para perempuan, lalu beliau mengucapkan salam kepada kami,” (HR. Abu Dawud)\r5. Ucapan salam lelaki ajnaby kepada wanita ajnabiyyah di hadapan mahram dari wanita tersebut. Hal ini diperbolehkan, sebagaimana dituturkan Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim.","part":1,"page":40},{"id":41,"text":"Perincian hukum di atas adalah ketika salam diucapkan secara langsung atau face to face. Bagaimana jika ucapan salam antar lelaki ajnabiy dan wanita ajnabiyyah dilakukan melaui media tulisan atau titipan melalui orang lain? Dalam referensi Syafi'iyyah dipaparkan, bahwasanya disunahkan berucap salam lewat tulisan atau titipan kepada seseorang yang dianjurkan (masyru') untuk diucapi salam secara langsung. Dan, sebagaimana paparan sebelumnya, ucapan salam antar lawan jenis ajnabiy – ajnabiyyah adalah bukan sesuatu yang dianjurkan, akan tetapi makruh bagi lelaki, dan haram bagi wanita.\rHanya saja, terdapat penjelasan secara sharih atau tekstual dari kalangan madzhab Hanbali, seperti dalam Kasysyâf al-Qinâ', bahwa seorang lelaki yang menitipkan salam kepada wanita ajnabiyyah tidaklah mengapa. Karena dalam salam tersebut terdapat kemaslahatan (yakni kandungan doa) dengan pertimbangan ketiadaan sisi negatif yang berupa fitnah atau potensi zina dan pendahuluannya. Demikian referensi fiqh klasik memaparkan. Namun, dalam penerapan keseharian, hendaklah diperhatikan kemungkinan sisi negatif yang bakal ditimbulkan. Apalagi di zaman teknologi komunikasi yang serba canggih ini, sisi negatif akan lebih banyak merongrong interaksi antar lawan jenis. Sedangkan kaedah fiqh menyatakan bahwa dar'ul mafâsid muqaddam 'ala jalb al-mashâlih, mengantisipasi dampak negatif harus diprioritaskan dari mengakomodir kemaslahatan.\rReferensi:\r1.As-Sayyid Abu Bakar al-Bakriy bin Muhammad Syatha, I’anah at-Thâlibîn, Surabaya: Al-Haramain, tt.","part":1,"page":41},{"id":42,"text":"2.Abu Zakariyya Yahya bin Syaraf al-Nawawi, Al-Majmû’ Syarh al-Muhadzdzab, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah, 2002.\r3.Abu Zakariyya Yahya bin Syaraf al-Nawawi, Al-Adzkâr, Surabaya: Al-Hidayah, tt.\r4.Muhammad bin ‘Alân, Al-Futûhât ar-Rabbâniyyah, Beirut: Dar al-Fikr, tt.\r5.As-Sayyid ‘Alawiy bin Ahmad as-Saqqaf, Fath al-Allâm fî Ahkâm al-Salâm, dalam Sab’ah Kutub Mufîdah, Surabaya: Al-Hidayah, tt.\r6.Muhammad Abdurrahman bin Abdirrahman al-Mubarakfuriy, Tuhfah al-Ahwadziy, Beirut: Darul Fikr,\r0157. HUKUM JABAT TANGAN NON MAHROM\rPERTANYAAN :\rD'java Areta\rAssalamualaikum. Mohon pencerahannya kepada sesepuh piss ktb terutama para admin gmn hukumnya laki-laki yang bersentuhan dengan wanita yang bukan maghromnya ataupun sebaliknya?? silahkan dipon kupas,,\rJAWABAN :\rNur Hasyim S. Anam\rJabat tangan lain jenis haram. Bersentuhan dalam pengobatan boleh. Baca fathul qorib\rMbah Jenggot\rBerikut Ta`bir yang memperbolehkan melihat /menyentuh laen jenis karena ada hajat, dengan syarat harus ada mahrom yang menemani, tidak ada dokter yang tunggal jenis dll.\rالعزيز على شرح الوجيز الجزء السابع ص : 482","part":1,"page":42},{"id":43,"text":"ومنها: انه يجوز النظر والمس للفصد والحجامة والمعالجة لعلة وليكن ذلك بحضور المحرم ويشترط فى جواز نظر الرجل الى المرأة أ لا يكون هناك امرأة تعالج وفى جواز نظر المرأة الى الرجل ألا يكون هناك رجل يعالجه كذلك ذكره ابو عبد الله الزبيري والقاضى الروياني ايضا وعن ابن القاص خلافه ثم اصل الحاجة كاف فى النظر الى الوجه واليدين ولذلك جاز النظر بسبب الرغبة فى النكاح وفى النظر الى سائر الأعضاء يعتبر التأكد وضبطه الإمام فقال مايجاوز الإنتقال بسببه من الماء الى التراب وفاقا او خلافا كشدة الضنى وما فى معنها يجوز النظر بسببه وفى النظر الى السوءتين يعتبر مزيد تأكد قال فى الوسيط :وذلك بأن تكون الحاجة بحيث لايعد التكشف بسببها هتكا للمروءة ويعذر فى العادات والى هذاالترتيب اشار فى تاكتاب بقوله: وليمن الظر الى السوءتين لحاجة مؤكدة. الشروانى الجزء التاسع ص : 39-41\rويباحان أي النظر المس لفصد وحجامة وعلاج للحاجة لكن بحضرة مانع خلوة كمحرم أو زوج أو إمرأة ثقة لحل خلوة رجل بامرأة ثقة لحل خلوة رجل بامرأتين ثقتين يحتشمها، إلى ان قال وبشرط عدم امرأة تحسن ذلك كعكسه وأن لا يكون غير أمين مع وجود أمين ولا ذميا مع وجود مسلم أو ذمية مع وجود مسلمة وبحث البلقينى إنه يقدم فى المرأة مسلمة فصبى مسلم غير مراهق فمراهق فكافر غير مراهق فمراهق فامرأة كافرة فمحرم مسلم فمحرم كافر فأجنبي مسلم فكافر اهـ ووافقه الأذرعىعلىتقديم الكافرةعلىالمسلم وفى تقديم المحرم نظر ، والذى يتجه تقديم نحو محرم مطلقا على كافرة لنظره ما لا تنظر هى وممسوح على مراهق وأمهر ولومن غير الجنس والدين على غيره ووجود من لا يرضى إلا بأكثر من أجرة المثل كالعدم فيما يظهر ،بل لو وجد كافر يرضى بدونها ومسلم لا يرضى إلا بها احتمل ان المسلم كالعادم أيضا.\rDari 4 madzhab semua mengharamkan jabat tangan pria-wanita non mahrom,berikut ta`birnya\r1). Madzhab Hanafiyah","part":1,"page":43},{"id":44,"text":"تحفة الفقهاء لِعلاء الدين السمرقندي - (ج 3 / ص 333)\rوأما المس فيحرم سواء عن شهوة أو عن غير شهوة وهذا إذا كانت شابة فإن كانت عجوزا فلا بأس بالمصافحة إن كان غالب رأيه أنه لا يشتهي ولا تحل المصافحة إن كانت تشتهي وإن كان الرجل لا يشتهي\r2). Madzhab Malikiyah\rحاشية الصاوي على الشرح الصغير - (ج 11 / ص 279)\rوَلَا تَجُوزُ مُصَافَحَةُ الرَّجُلِ الْمَرْأَةَ أَيْ الْأَجْنَبِيَّةَ وَإِنَّمَا الْمُسْتَحْسَنُ الْمُصَافَحَةُ بَيْنَ الْمَرْأَتَيْنِ لَا بَيْنَ رَجُلٍ وَامْرَأَةٍ أَجْنَبِيَّةٍ، وَالدَّلِيلُ عَلَى حُسْنِ الْمُصَافَحَةِ مَا تَقَدَّمَ وَقَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَنْ قَالَ لَهُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ الرَّجُلُ مِنَّا يَلْقَى أَخَاهُ أَوْ صَدِيقَهُ أَيَنْحَنِي لَهُ قَالَ : لَا .\r3). Madzhab Syafi’iyyah\rحاشية البجيرمي على الخطيب – (ج 10 / ص 113)\rوَتُسَنُّ مُصَافَحَةُ أَيْ عِنْدَ اتِّحَادِ الْجِنْسِ، فَإِنْ اخْتَلَفَ فَإِنْ كَانَتْ مَحْرَمِيَّةً أَوْ زَوْجِيَّةً أَوْ مَعَ صَغِيرٍ لَا يُشْتَهَى أَوْ مَعَ كَبِيرٍ بِحَائِلٍ جَازَتْ مِنْ غَيْرِ شَهْوَةٍ وَلَا فِتْنَةٍ؛ نَعَمْ يُسْتَثْنَى الْأَمْرَدُ الْجَمِيلُ فَتَحْرُمُ مُصَافَحَتُهُ كَمَا قَالَهُ الْعَبَّادِيُّ ا هـ مَرْحُومِيٌّ .\r4). Madzhab Hambaliyah\rالإقناع في فقه الإمام لأحمد الحجاوي- (ج 1 / ص239)\rولا يجوز مصافحة المرأة الأجنبية الشابة وأن سلمت شابة على رجل رده عليها وإن سلم عليها لم ترده وإرسال السلام إلى الأجنبية وإرسالها إليه لا بأس به للمصلحة وعدم المحذور.\rKesimpulan :\r1. Hukum jabat tangan antar lawan jenis secara langsung adalah haram, kecuali bagi anak kecil atau yang sudah lanjut usia yang tidak berpotensi menimbulkan efek negativ (syahwat dan fitnah).","part":1,"page":44},{"id":45,"text":"2. Hukum jabat tangan antar lawan jenis non-mahram dengan menggunakan kaos tangan dan penutup sejenisnya, berhukum jawaz asalkan tidak berpotensi menimbulkan syahwat dan fitnah.\rRaden Mas LeyehLeyeh\rTambahan hukum berjabat tangan dengan orang tua. Hukum berjabat tangan baik antara perempuan muda dengan laki-laki tua, laki-laki muda dengan perempuan tua, perempuan tua dengan laki-laki tua haram menurut syafi'iyah dan malikiyah. Boleh menurut hanafiyah dan hanabilah (Mausu'ah Fiqhiyyah 37/359).\rSebagaimana dimaklumi persentuhan ini menurut versi yang membolehkan hanya jika tidak disertai syahwat. Seandainya kita hendak beralih madzhab dengan memilih halal berjabat tangan dengan orang tua maka tentunya harus mengetahui detail persoalan dalam perspektif madzhab tersebut. Ambillah contoh madzhab hanafi. 'Ajuuz dalam hanafiyah diistilahkan dengan \"kabir ma'mun minasy syahwat\" alias orang tua yang terjaga dari disyahwati (Ibnu Najim al-Hanafi dalam Bahr al-Ra-iq 8/219). Berkata Ibnu 'Abidin, yang dikehendaki syahwat dalam permasalahan melihat dan menyentuh adalah:\r> Bagi laki-laki : condongnya hati di mana terkadang organ vitalnya ikut bereaksi. Menurut qaul lain (dan inilah yang mu'tamad) cukup dengan condongnya hati tanpa embel2 ikut bereaksinya organ vital pria. Lalu oleh Abdul Ghani dijelaskan: maksud dari tanpa ada syahwat seperti halnya kita memandang ajnabi/ajnabiyah seolah sama saja dengan memandang putra-putri kandung kita.\r> Bagi wanita: tergeraknya hati dalam artian ada gelagat menikmati jbt tangan itu. (Hasyiyah Ibnu 'Abidin 1/407 & 3/33).","part":1,"page":45},{"id":46,"text":"Kesimpulannya: masih diperbolehkan berjabat tangan dengan orang tua dengan mengikuti madzhab hanafi/hanbali. dengan memandang kriteria syahwat yang ketat di atas tentunya yang dimaksud orang tua di sini adalah kakek/nenek tua renta. Bukan bapak-bapak separuh baya.\rBersalaman dengan anak kecil.\rHukumnya boleh menurut hanafiyah, hanabilah, syafi'iyah dalam qaul ashah, dan malikiyah dengan definisi tersendiri tentang 'anak kecil'. Sebagaimana dimaklumi kebolehan ini terlaku jika tidak disertai syahwat. (al-Mausu'ah al-Fiqhiyyah 37/360-361, Bujairumi 'ala Khatib 4/119-120).\r[ by Gus Umam Zein @ Older version PISS-KTB ]\r3830. DISKUSI SEPUTAR MUSHOFAHAH DAN CIUM TANGAN\rPERTANYAAN :\rMari kita bermudzakaroh, hukumnya mushofahah atau bersalaman cium tangan ? (Yusuf Abi).\rJAWABAN :\rMushofahah (bersalaman) sambil membungkukkan badan diperbolehkan selama tidak mencapai posisi sebagaimana orang ruku' ketika sholat (bila mencapai posisi ruku' maka hukumnya makruh namun tidak sampai haram apalagi syirik). Bahkan menurut Al-Hafidz Al-'Iroqi mencium tangan atau kaki orang orang mulia dengan maksud tabarruk merupakan perbuatan baik dan terpuji berdasarkan tujuan dan niatnya. Wallahu A'lam.\rLihat artikel yang berkaitan dengan masalah ini :\r1322. ETIKA : DALIL MENCIUM TANGAN HABAIB, ULAMA, KYAI DAN USTADZ\r1154. MASALAH SYATTA : MENCIUM TANGAN PEJABAT\rSebagaimana kita ketahui dan juga setelah membaca kedua dokumen di atas bahwa hukum mencium tangan dapat kita bagi menjadi dua hukum :","part":1,"page":46},{"id":47,"text":"1.…Mencium tangan seseorang karena dunianya, ataupun pangkatnya, seperti halnya pejabat (gubernur bupati, dsb), orang orang kaya dan sebagainya hukumnya makruh\r2.…Mencium tangan seseorang karena akhiratnya, dan sebagainya, seperti para ‘alim, guru dan para kerabat yang lebih tua adalah sunnah dan dianjurkan\rReferensi detailnya silakan klik kedua artikel di atas.\rMUDZAKAROH :\r> Yusuf Abi\rSeakan akan cium tangan ada yang direndahkan. Budaya cium tangan dari kerajaan kerajaan yang ada di Indonesia. Faidahnya adalah :\r1.…Agar tidak menjadikannya kebiasaan yangmenjadikan seorang ‘alim bertabia mengulurkan tangannya kepada murid-muridnya, yang kemudian menjadi tabi’at (simurid) untuk bertabarruk dengannya. Karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam meskipun tangan beliau dicium para shahabat, maka kejadian itu sangatlah jarang. Jika demikian,maka tidak diperbolehkan menjadikan hal itusebagai sunnah yang dilakukan secara terus-menerus sebagaimana diketahui dalam kaidah fiqhiyyah.\r2.…Agar tidak membiarkan hal menjadi kesombongan seorang ‘alim kepada yang lainnya dan pandangannya terhadap dirinya sendiri sebagaimana hal itu terjadi pada sebagian masyaikh saat ini.\rا?جابة تقبيل يد الوالد أو الوالدة , أباحه بعض العلماء ومنعه آخرون . وهذا ? يسمى خضوعًا و? انحناءً لغير الله ؛ ?نه لم يقصد ا?نحناء لغير الله , ولكن ا?ولى أن يقبل رأسيهما.","part":1,"page":47},{"id":48,"text":"Jawaban:“Mencium tangan ayah atau ibu itu dibolehkan oleh sebagian ulama dan dilarang oleh sebagian ulama yang lain. Merundukkan badan yang terjadisaat mencium tangan ortu itu tidak bisa disebut sebagai merendahkan diri dan membungkuk(baca: ruku) kepada selain Allah karena pelakunya tidak meniatkan dengan hal tersebut sebagai ruku kepada selain Allah\"\rفا?مام مالك يقول : إن تقبيل اليد هو السجدة الصغرى. وا?مام الشافعي يمنع ذلك. وأباح بعض أهل العلم أيضًاتقبيل يد الوالدين , أو يد العالم . لكن ا?ولى ترك ذلك لله , فتقبيل رأس أمك أو رأس أبيك أفضل, و? بأس. والله أعلم .\rImam Malik mengatakan, “Sesungguhnya cium tangan itu adalah sujud kecil-kecilan”. ImamSyafii juga melarang cium tangan. Namun sebagian ulama membolehkan cium tangan ortu atau cium tangan ulama. Namun yang lebih baik adalah meninggalkan hal tersebut karena Allah.Cium dahi ibu atau ayah (sebagai bentuk penghormatan) itulah yang lebih afdhol dan tidak mengapa untuk dilakukan”\r.مصدر الفتوى : فتاوى سماحة الشيخ عبد الله بن حميدص256 رقم الفتوى في مصدرها : 272\rFatwa ini dikutip dari buku Fatawa Samahatus Syeikh Abdullah bin Humaid hal 256 dengan nomor fatwa di buku tersebut 272","part":1,"page":48},{"id":49,"text":"Cium tagan posisi tubuh bungkuk atau ruku tidak boleh, ruku dan sujud hanya kepada Alloh. Dari Anas bin Malik R.A, bahawa ada seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah S.A.W, \"Ya Rasulullah, apabila ada di antara kami bertemu saudara atau kawan, bolehkah ia membongkok dirinya terhadapnya sebagai tanda hormat ? \" Rasulullah S.A.W menjawab: \"tidak\" Orang itu bertanya lagi: \"Boleh dia dipeluk dan dicium? \"Rasulullah S.A.W menjawab: \"tidak.\" Orang itu bertanya lagi: \"Bolehkah memegang tangan lalu menjabat tangannya? \"Rasulullah S.A.W menjawab: \"Benar.\"(Hadith riwayat At-Tirmidzi berstatus Hasan).\r> Abdullah Afif\rDalam kitab Asnaa al-Mathaalib III/114 disebutkan : Dan disunahkan mencium tangan orang yang masih hidup karena kebaikannya dan sejenisnya yang tergolong kebaikan-kebaikan yang bersifat ‘diniyyah' (agama), kealimannya, kemuliaannya sebagaimana yang dilakukan oleh para sahabat pada baginda nabi Muhammad shallallaahu alaihi wa sallam dalam hadits riwayat Abu Daud dan lainnya dengan sanad hadits yang shahih. Baca :\rوَيُسْتَحَبُّ تَقْبِيلُ يَدِ الْحَيِّ لِصَلَاحٍ وَنَحْوِهِ من الْأُمُورِ الدِّينِيَّةِ كَزُهْدٍ وَعِلْمٍ وَ شَرَفٍ كما كانت الصَّحَابَةُ تَفْعَلُهُ مع النبي صلى اللَّهُ عليه وسلم كما رَوَاهُ أبو دَاوُد وَغَيْرُهُ بِأَسَانِيدَ صَحِيحَةٍ\rDan dimakruhkan mencium tangan seseorang karena kekayaannya atau lainnya yang bersifat duniawi seperti lantaran butuh dan hajatnya pada orang yang memiliki harta dunia berdasarkan hadits “Barangsiapa merendahkan hati pada orang kaya karena kekayaannya hilanglah 2/3 agamanya” :","part":1,"page":49},{"id":50,"text":"وَيُكْرَهُ ذلك لِغِنَاهُ وَنَحْوِهِ من الْأُمُورِ الدُّنْيَوِيَّةِ كَشَوْكَتِهِ وَوَجَاهَتِهِ عِنْدَ أَهْلِ الدُّنْيَا لِخَبَرِ من تَوَاضَعَ لِغَنِيٍّ لِغِنَاهُ ذَهَبَ ثُلُثَا دِينِهِ\r> Yusuf Abi\rAnas r.a meriwayatkan:\rكان أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم إذا ت?قواتصافحوا ، وإذا قدموا من سفر تعانقوا .\r\"Maksudnya: “Bahawa para sahabat Nabi SAW apabila bertemu mereka bersalam-salaman dan apabila pulang dari safar (perjalanan jauh)mereka berpeluk-pelukan”. Hadis shohih riwayat Al-Tobrani.\rDi dalam hadis yang lain diriwayatkan bahawaAisyah r.a berkata:\rوالله ما أخذ رسول الله صلى الله عليه وسلم النساءقط إ? بما أمره الله تعالى، وما مست كف رسول الله صلى الله عليه وسلم كف امرأة قط، وكان يقول لهن إذا أخذ عليهن البيعة : \" قد بايعتكن ك?م .\r\"Maksudnya: “Demi Allah! Rasulullah SAW tidak pernah mengambil wanita melainkan apa yang diperintahkan Allah Taala ke atasnya dan tangan Rasulullah SAW tidak pernah menyentuh tangan wanita (bukan mahram), dan apabila berbai’ah baginda SAW akan berkata: Sesungguhnya aku telah berbai’ah dengan kamu secara percakapan sahaja”\rPendapat ini adalah berdasarkan hadis Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Ma’qal bin Yasaar:\r?ن يطعن في رأس أحدكم بمخيط من حديد خير له من أن يمس امرأة ? تحل له \" رواه الطبراني والبيهقي.\rMaksudnya: Jika seorang dari pada kamu dicucuk kepalanya dengan jarum daripada besi lebih baik baginya daripada bersalaman dengan wanita yang tidak halal baginya (mahram)”. Hadis riwayat Al-Tobrani dan Al-Baihaqi.\r> Abdullah Afif\rHadits ini tidak ada kaitaannya dengan cium tangan mas...","part":1,"page":50},{"id":51,"text":"والله ما أخذ رسول الله صلى الله عليه وسلم النساء قط إ? بما أمره الله تعالى، وما مست كف رسول الله صلى الله عليه وسلم كف امرأة قط، وكان يقول لهن إذا أخذ عليهن البيعة : \" قد بايعتكن ك?م .\" \" ?ن يطعن في رأس أحدكم بمخيط من حديد خير له من أن يمس امرأة ? تحل له \" رواه الطبراني والبيهقي.\rPara shahabat mencium tangan Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam\r1. Imam Ahmad meriwayatkan dalam kitab Musnadnya juz 8 halaman 372 hadits nomor 4750\rحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ عَنْ يَزِيدَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَبَّلَ يَدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ\rTelah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudlail dari Yazid dari Abdurrahman bin Abu Lailai dari Ibnu Umar, bahwa ia pernah mencium tangan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam\r2. Imam Abu Dawud meriwayatkan dalam kitab Sunannya juz 4 halaman 524 hadits nomor 5225\rحدثنا أحمد بن يونس حدثنا زهير حدثنا يزيد بن أبى زياد أن عبد الرحمن بن أبى ليلى حدثه أن عبد الله بن عمر حدثه وذكر قصة قال فدنونا - يعنى - من النبى -صلى الله عليه وسلم- فقبلنا يده.\rTelah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus berkata, telah menceritakan kepada kami Zuhair berkata, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Abu Ziyad bahwa 'Abdurrahman bin Abu Laila menceritakan kepadanya bahwa Abdullah bin Umar menceritakan kepadanya…lalu ia menyebutkan kisahnya. Ia berkata, \"Kami mendekat kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, lalu kami mencium tangannya.\rDiriwayatkan bahwa Imam Malik tidak menyukai cium tangan....","part":1,"page":51},{"id":52,"text":"Dijelaskan dalam Kitab 'Aunul Ma'bud, syarh Sunan Abu Dawud juz 14 halaman 90, mengutip dari penjelasan al hafizh Al-Mundziri, bahwa maksudnya jika dilakukan dengan alasan takabbur dan ta'zhim, tapi jika dilakukan dengan alasan mendekatkan diri kepada Allah karena agamanya, ilmunya atau kemuliannya maka itu diperbolehkan. Teks selengkapnya sbb:\rوقال الأبهري إنما كرهها مالك إذا كانت على وجه التكبر والتعظيم لمن فعل ذلك به فأما إذا قبل إنسان يد إنسان أو وجهه أو شيئا من بدنه ما لم يكن عورة على وجه القربة إلى الله لدينه أو لعلمه أو لشرفه فإن ذلك جائز\rوتقبيل يد النبي صلى الله عليه و سلم يقرب إلى الله وما كان من ذلك تعظيما لدنيا أو لسلطان أو لشبهه من وجوه التكبر فلا يجوز\r> Rizalullah Santrialit\rAbi Yusuf Pendapat ini adalah berdasarkan hadis Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Ma’qal bin Yasaar:\r?ن يطعن في رأس أحدكم بمخيط من حديد خير لهمن أن يمس امرأة ? تحل له \" رواه الطبرانيوالبيهقي.\rMaksudnya: Jika seorang daripada kamu dicucuk kepalanya dengan jarum daripada besi lebih baik baginya daripada bersalaman dengan wanita yang tidak halal baginya (mahram)”. Hadis riwayat Al-Tobrani dan Al-Baihaqi.\rKenapa أن يمس dima'nai \"bersalaman\" ?\rAl hafidz Al-Mundziri dalam At-Targhib\rفقد ذكره الحافظ المنذري في الترغيب في غض البصر والترهيب من إطلاقه ومن الخلوة بالأجنبية ولمسها،\rوأتبعه بحديث: ولأن يزحم رجل خنزيرا متلطخا بطين أو حمأة خير له من أن يزحم منكبه منكب امرأة لا تحل له. رواه الطبراني.\rHadits diatas bukan untuk \"haram salaman\" , tapi untuk hukum kholwah dengan ajnabiyah dan lams ajnabiyah\rDalam Majma'u Al-Zawaa-id\rمجمع الزاوئد ومنبع الفوائد","part":1,"page":52},{"id":53,"text":"عن أبي أمامة عن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - قال : \" إياك والخلوة بالنساء والذي نفسي بيده ما خلا رجل بامرأة إلا دخل الشيطان بينهما ولأن يزحم رجل خنزيرا متلطخا بطين أو حمأة خير له من أن يزحم منكبه منكب امرأة لا تحل له \" .\rرواه الطبراني ، وفيه علي بن يزيد الألهاني ، وهو ضعيف جدا ، وفيه توثيق .\r> Abdullah Afif\rO ya di atas dikatakan bahwa Imam Syafi'i melarang cium tangan.:\rوا?مام الشافعي يمنع\rini sumbernya dari mana.... ? Sementara Imam Nawawi dari kalangan Madzhab Syafi'i berpendapat mustahab (lihat Kitab Majmu', Syarh Muhadzdzab juz 4 halaman 636)\r> Yusuf Abi\rMbah, ini terjadi pada masa persiden Soekarno, kunjungan ke Jepang beliau didampingi mentri agama, menteri agama tidak membungkukkan tubuhnya, dikarenakn posisi bungkuk posisi ruku', kita tau sendiri posisi ruku dan sujud hanya kepada Alloh, afwan.\r> Abdullah Afif\rItu bukan berkaitan dengan cium tangan mas.... Judul diatas:hukumnya mushopahah atau bersalaman ciun tangan,?\r> Mbah Jenggot II\rMang Abi, pertanyaan saya tidak berkaitan dengan pak Karno, saya hanya menanyakan apakah membungkuk didekat manusia mutlak haram ?\r> Rizalullah Santrialit\rDalam fiqh ada istilah ruku' ada istilah inhina , tidak selalu posisi membungkuk dikatakan Ruku'.O ya diatas dikatakan bahwa Imam Syafi'i melarang cium tangan. Ini sumbernya dari mana....? Sumber aslinya : http://islamlight.net/alhomaid/index2.php\rIsinya dinukil ustadz Zaris, pemilik \"Tegar diatas sunah\" : http://ustadzaris.com/hukum-sungkeman.\rTETANGGA !!! (Wahabi : edition)\rموقع فضيلة الدكتور سعد بن عبدالله الحميد\r> Yusuf Abi","part":1,"page":53},{"id":54,"text":"Untuk ikhtiat, bisa ke arah musyrik, haram, begitu pun seperti posisi mencium tangan tidak sadar tubuh menjadi ruku.\r> Mbah Jenggot II\rMang abi, Jadi membungkuk didekat manusia mutlak haram ya? Kalo ada dokter membungkuk mau nyuntik pasien juga haram ya? He...he.. Ibarot yg anda sampaikan rancu. Monggo ditanggapi respon yai Afif dan kang Ical Rizaldysantrialit. Saya cukup nyimak saja.\r> Abdullah Afif\rKalau ta'bir Mughnil Muhtaj ini memasukkan dokter ketika nyuntik nggak Mbah Jenggot II\rويكره حني الظهر مطلقا لكل أحد من الناس\r> Mbah Jenggot II\rKadose Mboten yi, sebab tujuanya bukan inhinak tapi nyuntik\r> Abdullah Afif\rKalau ta'bir Mausu'ah ini cukup shorih Mbah Jenggot II\rقال العلماء: ما جرت به العادة من خفض الرأس والانحناء إلى حد لا يصل به إلى أقل الركوع - عند اللقاء - لا كفر به ولا حرمة كذلك , لكن ينبغي كراهته\r> Mbah Jenggot II\rNjeh yai Abdullah Afif sebab wonten mriku wonten unsur pengagungan.\r> Rizalullah Santrialit\rKalau sakral, bagaimana anda memahami ayat berikut ? Al-Baqoroh ayat 34\rوإذ قلنا للملائكة اسجدوا لآدم فسجدوا إلا إبليس أبى واستكبر وكان من الكافرين\rSujud seperti apa dan dgn maksud apa ? lihat tafsir Al-Baghowi\rوالأصح أنه مع جميع الملائكة لقوله تعالى : \" فسجد الملائكة كلهم أجمعون \" ( 30 - الحجر ) وقوله ( اسجدوا ) فيه قولان الأصح أن السجود كان لآدم على الحقيقة وتضمن معنى الطاعة لله عز وجل بامتثال أمره وكان ذلك سجود تعظيم وتحية لا سجود عبادة كسجود إخوة يوسف له في قوله عز وجل \" وخروا له سجدا \" ( 100 - يوسف ) ولم يكن فيه وضع الوجه على الأرض إنما كان الانحناء فلما جاء الإسلام أبطل ذلك بالسلام\rTapi pembahasan terlalu melebar, kembali ke laptop...","part":1,"page":54},{"id":55,"text":"Hukum mushofahah menurut madzhab Syafi'i dan lintas madzhab empat silahkan kesini :\rمصافحة الرجل للمرءة\rحكم مصافحة المصلين عقب الصلوات\rCatatan :\rKami tidak mampu mentarjih hadits dan hukum didalamnya sendiri , yang kami lakukan adalah mengutip ulama' kredibel dengan pangkat mujtahid tarjih sekelas Imam Nawawi dan lain lain, dan hukum fiqihnya menurut Imam madzhab dan ashabnya yang termaktub dalam kitab-kitab mu'tabaroh.\r> Yusuf Abi : Menyuntik posisi membungkuk terus lihat aurat, ,pasiennya istri tdk ada makhrom, hehe\r> Abdullah Afif : Itu bukan membungkuknya mas, tapi lihat aurotnya\r> Yusuf Abi : Imam Maliki berkata ritual musopahah adalah sujud kecil kecilan\r> Abdullah Afif\rItu bukan perkataan Imam Malik , tapi perkataan Imam Sulaiman Bin Harb (lihat kitab Al-Wara' juz 1 halaman 144, karya Imam Ahmad)\rعن عبد الرحيم أبي العباس السامي قال: قال سليمان بن حرب: تقبيل يد الرجل السجدة الصغرى\rMusofahah itu artinya jabat tangan lho\r> Yusuf Abi : Intinya penghormatan\r> Abdullah Afif : Musopahah = penghormatan, kata siapa .... ?\r> Yusuf Abi : Musopahah bagian dari ma'na shilaturahmi, saling memulyakan, ikrom\r> Rizalullah Santrialit : yang mau anda pakai yang mana ? mushofahah = sujud kecil-kecilan atau mushofahah = ikrom ?\r> Yusuf Abi : Tujuan musopahah bersalaman: memper erat, meperkuat silaturahim, menyambungkn kasih sayang Alloh, saling menduakan, saling trasfer energi motifasi\r> Abdullah Afif\rHukum membungkukkan badan diluar madzhab Syafi'i. Dalam kitab al Fawakihuddawani 'ala Risalati Ibn Abi Zaid al Qairawani (Kitab Malikiyyah) juz 8 halaman 296:","part":1,"page":55},{"id":56,"text":"وَأَفْتَى بَعْضُ الْعُلَمَاءِ بِجَوَازِ الِانْحِنَاءِ إذَا لَمْ يَصِلْ إلَى حَدِّ الرُّكُوعِ الشَّرْعِيِّ\rSebagian ulama berfatwa bolehnya membungkukkan badan jika tidak sampai pada batas rukuk syar’iy\rDan dalam Kitab Ghidzaa`ul Albab Syarh Manzhumatil Adab (Kitab Hanabilah) juz 1 halaman 256:\rوقدم في الآداب الكبرى عن أبي المعالي أن التحية بانحناء الظهر جائز وقيل هو سجود الملائكة لآدم\rTelah berlalu dalam Al-Aadaabul-Kubra dari Abul-Ma’aaliy bahwasannya penghormatan dengan membungkukkan punggung diperbolehkan. Ada yang mengatakan itu merupakan sujudnya Malaikat terhadap Nabi Adam\r> Abi Yusuf\rDari Anas bin Malik R.A, bahawa ada seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah S.A.W, \"Ya Rasulullah, apabila ada di antara kami bertemu saudara atau kawan, bolehkah ia membongkok dirinya terhadapnya sebagai tanda hormat?\" Rasulullah S.A.W menjawab: \"tidak\" Orang itu bertanya lagi: \"Boleh dia dipeluk dan dicium? \"Rasulullah S.A.W menjawab: \"tidak.\" Orang itu bertanya lagi: \"Bolehkah memegang tangan lalu menjabat tangannya? \"Rasulullah S.A.W menjawab: \"Benar.\" (Hadith riwayat At-Tirmidzi berstatusHassan).\rTanggapan kami :\rHadits diatas diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam Kitab Sunannya juz 5 halaman 75 hadits nomor 2728 beliau menghasankankanya\rBerikut sanad dan matannya:\rحدثنا سويد أخبرنا عبد الله أخبرنا حنظلة بن عبيد الله عن أنس بن مالك قال قال رجل : يا رسول الله الرجل منا يلقي أخاه أو صديقه أينحني له ؟ قال لا قال أفيلتزمه ويقبله ؟ قال لا قال أفيأخذ بيده ويصافحه ؟ قال نعم قال أبو عيسى هذا حديث حسن","part":1,"page":56},{"id":57,"text":"Hadits diatas juga diriwayatkan oleh Imam Ibn Majah dalam kitab sunannya juz 2 halaman 1220 hadits nomor 3702\rBerikut sanad dan matannya :\rحدثنا علي بن محمد . حدثنا وكيع عن جرير بن حازم عن حنظلة بن عبد الرحمن السدوسي عن أنس بن مالك قال قلنا يا رسول الله أينحني بعضنا لبعض ؟ : قال ( لا ) . قلنا أيعانق بعضنا بعضا ؟\rCatatan:\rAl-Hafidz Al-'Iroqi dalam tahkrij hadits Ihya juz 4 halaman 433 mengatakan bahwasanya hadits diatas didho'ifkan oleh Imam Ahmad dan Imam Baihaqi\rBerikut teks selengkapnya:\rحديث أنس : قلنا يا رسول الله أينحني بعضنا لبعض ؟ قال \" لا \" قال : فيقبل بعضنا بعضا ؟ قال \" لا \" قال : فيصافح بعضنا بعضا ؟ قال \" نعم \"** أخرجه الترمذي وحسنه وابن ماجه وضعفه أحمد والبيهقي .\rSyeikh Syu'eib Al-Arnauth dalam ta'liqnya atas Musnad Ahmad (juz 3 halaman 265 hadits nomor 13067) mengatakan bahwa sanad hadits tersebut adalah dho'if\rBerikut teks selengkapnya:\rحدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا مروان بن معاوية ثنا حنظلة بن عبد الله السدوسي قال ثنا أنس بن مالك قال قال رجل : يا رسول الله أحدنا يلقى صديقه أينحني له قال فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم لا قال فيلتزمه ويقبله قال لا قال فيصافحه قال نعم ان شاءتعليق شعيب الأرنؤوط : إسناده ضعيف\rKenapa sanadnya dho'if ? Karena ada rawi yang bernama Hanzholah. Imam Baihaqi dalam Kitab Sunan Kubro juz 7 halaman 100 menjelaskan:","part":1,"page":57},{"id":58,"text":"وَأَمَّا الْحَدِيثُ الَّذِى أَخْبَرَنَا أَبُو الْحَسَنِ : عَلِىُّ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِىٍّ الْمُقْرِئُ أَخْبَرَنَا الْحَسَنُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ حَدَّثَنَا يُوسُفُ بْنُ يَعْقُوبَ حَدَّثَنَا أَبُو الرَّبِيعِ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ حَدَّثَنَا حَنْظَلَةُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ قَالَ سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قِيلَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَنْحَنِى بَعْضُنَا لِبَعْضٍ إِذَا الْتَقَيْنَا؟ قَالَ :« لاَ ». قِيلَ : فَيَلْتَزِمُ بَعْضُنَا بَعْضًا؟ قَالَ :« لاَ ». قِيلَ : فَيُصَافِحُ بَعْضُنَا بَعْضًا؟ قَالَ :« نَعَمْ ». {ج} فَهَذَا يَتَفَرَّدُ بِهِ حَنْظَلَةُ السَّدُوسِىُّ وَكَانَ قَدِ اخْتَلَطَ تَرَكَهُ يَحْيَى الْقَطَّانُ لاِخْتِلاَطِهِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ.\rImam Bukhori dalam kitab Adhdhu'afa Ashshaghier halaman 39 menerangkan:\rحنظلة بن عبيد الله أبو عبد الرحيم السدوسي يعد في البصريين عن أنس وشهر روى عنه حماد بن زيد وجرير بن حازم وهشام بن حسان نسبه بن المبارك قال يحيى القطان رأيته وتركته على عمد وكان قد اختلط\r> Ghufron Bkl\rImam Hafidz Al-Iraqi Ra. berkata : Mencium badan, tangan atau kaki orang-orang yang dianggap mulia dengan maksud mendapatkan berkah, adalah perbuatan baik dan terpuji berdasarkan tujuan dan niatnya. Bughyah Al-Mustarsyidin hal 296 :\rوَقَالَ اَلْحَافِظْ اَلْعِرَاقِيْ : وَتَقْبِيْلُ اْلأَمَاكِنِ الشَّرِيْفَةِ عَلَى قَصْدِ التَّبَرُّكِ وَأَيْدِيْ الصَّالِحِيْنَ وَأَرْجُلِهِمْ حَسَنٌ مَحْمُوْدٌ بِاعْتِبَارِ الْقَصْدِ وَالنِّيَةِ اهـ.","part":1,"page":58},{"id":59,"text":"Kesimpulan : Mushofahah (bersalaman) sambil membungkukkan badan diperbolehkan selama tidak mencapai posisi sebagaimana orang ruku' ketika sholat (bila mencapai posisi ruku' maka hukumnya makruh namun tidak sampai haram apalagi syirik). Bahkan menurut Al-Hafidz Al-'Iroqi mencium tangan atau kaki orang orang mulia dengan maksud tabarruk merupakan perbuatan baik dan terpuji berdasarkan tujuan dan niatnya. Wallahu A'lam\rLink Diskusi :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/881017591921050/\r0172. Hukum Telepon dan Sms dengan Non Mahram\rPERTANYAAN :\rAthoillah Alawiyyin\rAssalamualaikum..... ustadz dan ustadzah saya mau tanya perihal hukum sms dan telfon laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim tanpa keperluan (hanya bosa-basi atau ngobrol), itu diperbolehkan apa termasuk kholwah atau berduaan, tolong kalau bisa diberi sumber, dan kalau pertanyaan ini sudah dibahas di sini sebelumnnya tolong dikasi link, syukron katsiiron\rJAWABAN :\rMbah Jenggot\rKomunikasi via HP pada dasarnya sama dengan komunikasi secara langsung. Hukum komunikasi dengan lawan jenis tidak diperbolehkan kecuali ada hajat seperti dalam rangka khitbah, muamalah, dan lain sebagainya.\rR E F E R E N S I\r1. Bariqah Mahmudiyyah vol. IV hal. 7\r2. Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah vol. I hal. 12763\r3. Ihya ‘Ulumiddin vol. III hal. 99\r4. Hasyiyah al-Jamal vol. IV hal. 120\r5. Is’adur Rafiq vol. II hal. 105\r6. Al-Fiqhul Islamy vol. IX hal. 6292 7. I’anatut Thalibin vol. III hal. 301\r8. Qulyuby ‘Umairah vol. III hal. 209\r9. I’anatut Thalibin vol. III hal. 260\r10. Al-Fatawi al-Fiqhiyyah al-Kubra vol. I hal. 203\r11. Tausyih ‘ala ibn Qosim hal.197","part":1,"page":59},{"id":60,"text":"1.…1. بريقة محمودية الجزء الرابع صحـ 7\r( السادس والخمسون التكلم مع الشابة الأجنبية فإنه لا يجوز بلا حاجة ) لأنه مظنة الفتنة فإن بحاجة كالشهادة والتبايع والتبليغ فيجوز ( حتى لا يشمت ) العاطسة ( ولا يسلم عليها ولا يرد سلامها جهرا بل في نفسه ) إذا سلمت عليه ( وكذا العكس ) أي لا تشمته الشابة الأجنبية إذا عطس قال في الخلاصة أما العطاس امرأة عطست إن كانت عجوزا يرد عليها وإن كانت شابة يرد عليها في نفسه وهذا كالسلام فإن المرأة الأجنبية إذا سلمت على الرجل إن كانت عجوزا رد الرجل عليها السلام بلسانه بصوت يسمع وإن كانت شابة رد عليها في نفسه وكذا الرجل إذا سلم على امرأة أجنبية فالجواب فيه يكون على العكس ( لقوله صلى الله تعالى عليه وسلم واللسان زناه الكلام ) أي يكتب به إثم كإثم الزاني كما في حديث العينان تزنيان واليدان تزنيان والرجلان تزنيان والفرج يزني وما في القنية يجوز الكلام المباح مع المرأة الأجنبية فمحمول على الضرورة أو أمن الشهوة أو العجوز التي ينقطع الميل عنها\r1.…2. الموسوعة الفقهية الجزء الأول صحـ 12763\rالكلام مع المرأة الأجنبية ذهب الفقهاء إلى أنه لا يجوز التكلم مع الشابة الأجنبية بلا حاجة لأنه مظنة الفتنة وقالوا إن المرأة الأجنبية إذا سلمت على الرجل إن كانت عجوزا رد الرجل عليها لفظا أما إن كانت شابة يخشى الافتنان بها أو يخشى افتنانها هي بمن سلم عليها فالسلام عليها وجواب السلام منها حكمه الكراهة عند المالكية والشافعية والحنابلة وذكر الحنفية أن الرجل يرد على سلام المرأة في نفسه إن سلمت عليه وترد هي في نفسها إن سلم عليها وصرح الشافعية بحرمة ردها عليه\r1.…3. إحياء علوم الدين الجزء الثالث صحـ 99","part":1,"page":60},{"id":61,"text":"وهذا يدل على أنه لا يجوز للنساء مجالسة العميان كما جرت به العادة في المأتم والولائم فيحرم على الأعمى الخلوة بالنساء ويحرم على المرأة مجالسة الأعمى وتحديق النظر إليه لغير حاجة وإنما جوز للنساء محادثة الرجال والنظر إليهم لأجل عموم الحاجة\r1.…4. الجمل الجزء الرابع ص 120\r(و) سن (نظر كل) من المرأة والرجل (للآخر بعد قصده نكاحه قبل خطبته غير عورة) في الصلاة وإن لم يؤذن له فيه أو خيف منه الفتنة للحاجة إليه فينظر الرجل من الحرة الوجه والكفين وممن بها رق ما عدا ما بين سرة وركبة كما صرح به ابن الرفعة في الأمة وقال أنه مفهوم كلامهم وهما ينظرانه منه فتعبيري بما ذكر أخذا من كلام الرافعي وغيره أولى من تعبير الأصل كغيره بالوجه والكفين واحتج لذلك بقوله صلى الله عليه وسلم للمغيرة وقد خطب امرأة \"انظر إليها فإنه أحرى أن يؤدم بينكما\" أي أن تدوم بينكما المودة والألفة رواه الترمذي وحسنه والحاكم وصححه وقيس بما فيه عكسه وإنما اعتبر ذلك بعد القصد لأنه لا حاجة إليه قبله ومراده بخطب في الخبر عزم على خطبتها لخبر أبي داود وغيره \"إذا ألقي في قلب امرئ خطبة امرأة فلا بأس أن ينظر إليها\" وأما اعتباره قبل الخطبة فلأنه لو كان بعدها لربما أعرض عن منظوره فيؤذيه","part":1,"page":61},{"id":62,"text":"(قوله بعد قصده نكاحه إلخ) أي وقد رجا الإجابة رجاء ظاهرا كما قاله ابن عبد السلام لأن النظر لا يجوز إلا عند غلبة الظن المجوز ويشترط أيضا أن يكون عالما بخلوها عن نكاح وعدة تحرم التعريض وإلا فغاية النظر مع علمها به كونه كالتعريض اهـ شرح م ر (قوله : قبل خطبة) فلا يسن بعدها على ما هو ظاهر كلامهم لكن الأوجه كما قال شيخنا استحبابه فالتقييد بالقبلية للأولوية على المعتمد – إلى أن قال – (قوله عزم على خطبتها) أي وإن كانت خطبتها حينئذ غير جائزة بأن كانت معتدة فيجوز له الآن نظر المعتدة لخطبتها بعد العدة وإن كان بإذنها أو علمها بأنه لرغبته في نكاحها ثم رأيت في شرح الإرشاد الصغير ولا بد في حل النظر من تيقن خلوها من نكاح وعدة وخطبة ومن أن يغلب على ظنه أنه يجاب ومن أن يرغب في نكاحها اهـ ومثله في شرح شيخنا لكن قيد العدة بكونها تحرم التعريض اهـ شوبري\r0258. PENDIDIKAN AKHLAK UNTUK ANAK-ANAK\rDalam siklus kehidupan manusia, masa kanak – kanak merupakan sebuah periode yang paling penting, namun sekaligus juga merupakan suatu periode yang sangat berbahaya dalam artian sangat memerlukan perhatian dalam kesungguhan dari pihak – pihak yang bertanggung jawab mengenai kehidupan anak – anak. Sebab, seorang anak pada hakekatnya telah tercipta dengan kemampuan untuk menerima kebaikan maupun keburukan. Kedua orang tuanyalah yang membuatnya cenderung kearah salah satu dari keduanya. Sebagaimana dalam sabda Nabi Saw :\rما من مولود إلا يولد على الفطرة وإنما أبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه (رواه مسلم)\rArtinya : “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah ( bersih dan suci ); maka kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani ataupun Majusi”. (HR. Muslim) [1]","part":1,"page":62},{"id":63,"text":"Oleh karena itu, penanaman pendidikan pada masa itu sangatlah penting agar anak memiliki bekal dalam hidup selanjutnya. Dan pendidikan yang relevan ditanamkan pada masa ini adalah pendidikan akhlak. Pendidikan akhlak harus dilakukan sejak dini, sebelum kerangka watak dan kepribadian seorang anak yang masih suci itu diwarnai oleh pengaruh lingkungan (millieu) yang belum tentu paralel dengan tuntunan agama.[2]\rAl-Qur’an telah memberikan gambaran yang jelas mengenai pendidikan akhlak pada anak – anak yang tertuang dalam surat Lukman.\r1. Akhlak Kepada Allah\rوَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَابُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (لقمان : 13)\rArtinya : “Dan (ingatlah) ketika Luqman mengatakan kepada anak-anaknya untuk memberikan pelajaran : Hai anakku ! janganlah engkau menyekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan Allah itu adalah suatu kesalahan besar”. (Q.S. Luqman : 13). [3]\rAyat tersebut mengisyaratkan bagaimana seharusnya para orang tua mendidik anaknya untuk mengesakan penciptanya dan memegang prinsip tauhid dengan tidak menyekutukan Tuhannya. Kemudian anak – anak hendaklah diajarkan untuk mengerjakan sholat. Sehingga terbentuk manusia yang senantiasa kontak dengan penciptanya.\rيَابُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ (لقمان: 17)\rArtinya : “Hai anakku, dirikanlah sholat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan mencegah (mereka) dari perbuatan yang munkar…”. (Q.S. Luqman : 17). [4]\r2. Akhlak Kepada Orang Tua","part":1,"page":63},{"id":64,"text":"وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ (لقمان : 14)\rArtinya : “Dan kamu perintahkan kepada manusia (berbuat baik) terhadap dua orang ibu bapaknya : ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah lemah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada Akulah kamu kembali ”. (Q.S. Luqman : 14). [5]\rIslam mendidik anak-anak untuk selalu berbuat baik terhadap orang tua sebagai rasa terima kasih atas perhatian, kasih sayang dan semua yang telah mereka lakukan untuk anak-anaknya. Bahkan perintah untuk bersyukur kepada orang tua menempati posisi setelah perintah bersyukur kepada Allah.\r3. Akhlak Kepada Orang Lain\rوَلاَ تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَ تَمْشِ فِي الاَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّه َ لاَ يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ(لقمان18)\rArtinya : “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan dimuka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”. (Q.S. Luqman :18). [6]\rKaitannya dengan kehidupan bermasyarakat. Anak-anak haruslah dididik untuk tidak bersikap acuh terhadap sesama, sombong atas mereka dan berjalan dimuka bumi ini dengan congkak. Karena perilaku-perilaku tersebut tidak disenangi oleh Allah dan dibenci manusia.\r4. Akhlak Kepada Diri Sendiri\rوَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ (لقمان : 19)","part":1,"page":64},{"id":65,"text":"Artinya : “Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk – buruk suara ialah suara keledai”. (Q.S. Luqman : 19). [7]\rBerbarengan dengan larangan berjalan dengan congkak. Allah memerintahkan untuk sederhana dalam berjalan, dengan tidak menghempaskan tenaga dalam bergaya, tidak melengak-lengok, tidak memanjangkan leher karena angkuh, akan tetapi berjalan dengan sederhana, langkah sopan dan tegap. Memelankan suara adalah budi yang luhur. Begitu pula percaya diri dan tenang karena berbicara jujur. Suara lantang (melengking) dalam berbicara termasuk perangai yang buruk.\rDemikian Allah Swt telah memberikan contoh kongkret mendidik akhlak anak-anak. Jika setiap orang tua dapat melaksanakannya dengan baik, maka besar harapan anak-anak akan tumbuh menjadi manusia-manusia muslim yang berakhlak luhur. (Hakam Ahmed)\r[1] Imam Abi Husain Muslim Bin Hajaj, Shahih Muslim, Dar al Fikr, Mesir, t.th. hal. 46\r[2] M. Fuat Nasar, Agama di Mata Remaja, Angkasa Raya, Padang, 1991, hal. 44\r[3] Depag RI, Op. Cit., hal. 670\r[4] Ibid,., hal. 655\r[5] Ibid.., hal. 654\r[6] Ibid,., hal. 655\r[7] Ibid\r0330. MENAMBAHKAN NAMA SUAMI PADA NAMA ISTRI\rPERTANYAAN :\rAcris Vienistra Daisy\rAssalammua'alaikum, sepengetahuan saya penambahan nama suami dibelakang nama istri itu tidak diperbolehkan? tetapi mengapa masih banyak saudara muslim yang melakukannya ? Seperti: nama suami Ari Rahman, sehingga nama istri menjadi Yana rahman.. Apa Ada hadist, atau dalil yang melarangnya ? Jazakallahu Khairon..\rJAWABAN :\rZaine Elarifine Yahya","part":1,"page":65},{"id":66,"text":"Wa'alaikum salam.. insya Allah sependek pengetahuanku tidak ada larangannya .. semua perbuatan pada asalnya mubah hingga ada benturan dengan ketentuan larangan syariat.. afwan :)\rMbah Jenggot II\rMemangnya siapa yang melarang hal itu dilakukan ?\rLuthfi Ahmad El-Wadasy\rKata istri, aku bangga dengan suamiku maka kusandingkan namanya dengan namaku... :)\rAcris Vienistra Daisy\rOh, begitu ya, sya pernah mendengar kalau yang diperbolehkan itu hnya penambahan nama ayah.. Syukron Akhi atas jawabanya.\rLuthfi Ahmad El-Wadasy\rNasab dalam doktrinal dan hukum Islam merupakan sesuatu yang sangat urgen, nasab merupakan nikmat yang paling besar yang diturunkan oleh Allah SWT kepada hamba-Nya, sebagaimana firman dalam surat al-Furqan ayat 54 yang berbunyi : “Dan dia pula yang menciptakan manusia dari air, lalu dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah (hubungan kekeluargaan yang berasal dari perkawinan) dan adalah tuhanmu yang maha kuasa.”[1]\rDalam ayat di atas dijelaskan bahwa nasab merupakan suatu nikmat yang berasal dari Allah. Hal ini dipahami dari lafaz “fa ja‘alahu nasabaa.” Dan perlu diketahui bahwasanya nasab juga merupakan salah satu dari lima maqasid al-syariah.[2]","part":1,"page":66},{"id":67,"text":"Nasab adalah legalitas hubungan kekeluargaan yang berdasarkan pertalian darah, sebagai salah satu akibat dari pernikahan yang sah, atau nikah fasid, atau senggama syubhat (zina). Nasab merupakan sebuah pengakuan syara’ bagi hubungan seorang anak dengan garis keturunan ayahnya sehingga dengan itu anak tersebut menjadi salah seorang anggota keluarga dari keturunan itu dan dengan demikian anak itu berhak mendapatkan hak-hak sebagai akibat adanya hubungan nasab. Seperti hukum waris[3], pernikahan, perwalian dan lain sebagainya.\rSeseorang boleh menasabkan dirinya kepada seseorang atau ayahnya apabila sudah terpenuhi syarat-syaratnya, adapun syarat-syaratnya adalah sebagaimana berikut ; Seorang anak yang lahir dari seorang perempuan memang benar hasil perbuatannya dengan suaminya. Ketika perempuan hamil, waktunya tidak kurang dari waktu kehamilan pada umumnya. Suami tidak mengingkari anak yang lahir dari istrinya.[4]\rSalah satu bukti bahwa nasab adalah hal yang sangat penting bisa dilihat dalam sejarah Islam, ketika Nabi Muhammad SAW mengangkat seorang anak yang bernama Zaid bin Haritsah sebelum kenabian. Kemudian anak tersebut oleh orang-orang dinasabkan kepada Nabi Muhammad saw, sehingga mereka mendapatkan teguran dari Allah SWT. Dalam al-Qur’an surat al-Ahzab ayat 4 -5 yang berbunyi :","part":1,"page":67},{"id":68,"text":"مَا جَعَلَ اللَّهُ لِرَجُلٍ مِنْ قَلْبَيْنِ فِي جَوْفِهِ وَمَا جَعَلَ أَزْوَاجَكُمُ اللَّائِي تُظَاهِرُونَ مِنْهُنَّ أُمَّهَاتِكُمْ وَمَا جَعَلَ أَدْعِيَاءَكُمْ أَبْنَاءَكُمْ ذَلِكُمْ قَوْلُكُمْ بِأَفْوَاهِكُمْ وَاللَّهُ يَقُولُ الْحَقَّ وَهُوَ يَهْدِي السَّبِيلَ ادْعُوهُمْ لِآَبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ فَإِنْ لَمْ تَعْلَمُوا آَبَاءَهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا\r“Allah sekali-sekali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hatidalam rongganya; dan dia tidak menjadikan isteri-isterimu yang kamu dzibar itu sebagai ibumu, dan dia t[i]idak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak-anak kandungmua (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu dimulut saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya. Dan dia menunjukkan jalan (yang benar). Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka, itulah yang lebih adil pada sisi allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka maka (panggillah) mereka sebagai) saudara-sauadaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf kepadanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah maha pengampun lagi maha penyayang”.[5]","part":1,"page":68},{"id":69,"text":"Dalam ayat di atas dijelaskan bahwa anak angkat tidak dapat menjadi anak kandung, ini dipahami dari lafaz “wa maja‘ala ad‘iya-akum abna-akum”. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya Tafsir Qura’n Al-Adzim, di sana dijelaskan bahwasanya yang dimaksud dalam kalimat “Wa ma Ja’ala Ad’iyaakum Abnaukum” adalah bahwasanya anak angkat tidak bisa dinasabkan kepada ayah (orang yang mengangkatnya).[6]\rDan kemudian dijelaskan bahwa anak angkat tetap dinasabkan kepada ayah kandungnya, bukan kepada bapak angkatnya. Ini dipahami dari lafaz “ud‘uhum li abaihim.“[7] Dalam sebuah hadist Nabi Muhammad SAW bersabda:\rعَنْ سَعْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ غَيْرُ أَبِيهِ فَالْجَنَّةُ عَلَيْهِ حَرَامٌ\r“Barang siapa menisbatkan dirinya kepada selain ayah kandungnya padahal ia mengetahui bahwa itu bukanlah ayah kandungnya, maka diharamkan baginya surga”[8]","part":1,"page":69},{"id":70,"text":"Dalam hadist di atas dijelaskan bahwa, seseorang tidak boleh menasabkan dirinya kepada selain ayah kandunganya, apabila ia tahu siapa ayahnya. Hal ini dipahami dari lafaz “fal jannatu „alaihi haramum“. Orang yang tidak boleh masuk surga adalah orang yang berdosa. Jadi apabila seseorang menasabkan dirinya kepada selain ayah kandungnya, sedangkan dia tahu bahwa itu bukan ayahnya maka dia termasuk orang yang berdosa, sehingga diharamkan untuknya surga. Islam tidak pernah mengakui status anak angkat yang berubah menjadi anak kandung secara hukum. Tabanni atau mengangkat anak memang tidak pernah dibenarkan dalam Islam.\rDahulu Rasulullah SAW pernah mengangkat Zaid bin Haritsah sebagai anak angkat dengan segala konsekuensinya termasuk menerima warisan. Namun Allah menegur dan menetapkan bahwa status anak angkat tidak ada dalam Islam. Dan untuk lebih menegaskan hukumnya, Allah telah memerintahkan Rasulullah SAW untuk menikahi janda atau mantan istri Zaid yang bernama Zainab binti Jahsy.?…\rفَلَمَّا قَضَى زَيْدٌ مِنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا لِكَيْ لَا يَكُونَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ حَرَجٌ فِي أَزْوَاجِ أَدْعِيَائِهِمْ إِذَا قَضَوْا مِنْهُنَّ وَطَرًا وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولًا\r“Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya , Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mu’min untuk isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya . Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.?(QS. Al-Ahzab :37)","part":1,"page":70},{"id":71,"text":"Dengan menikahi Zainab yang notabene mantan istri ?anak angkatnya sendiri, ada ketegasan bahwa anak angkat tidak ada kaitannya apa-apa dengan hubungan nasab dan konsekuensi syariah. Anak angkat itu tidak akan mewarisi harta seseorang, juga tidak membuat hubungan anak dan ayah angkat itu menjadi mahram. Dan ayah angkat sama sekali tidak bisa menjadi wali nikah bagi anak wanita yang diangkat. Dan juga tidak boleh bernasab dan menisbahkan nama seseorang kepada ayah angkat. Islam telah mengharamkan untuk menyebut nama ayah angkat di belakang nama seseorang. Allah SWT telah menegaskan di dalam Al-Quran keharaman hal ini :\rادْعُوهُمْ لِآَبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ فَإِنْ لَمْ تَعْلَمُوا آَبَاءَهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا\r“Panggilah mereka dengan nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab :5)\r===============================\r[1] . QS. Al-Furqan : 54.\r[2] . Al-Syathibi, al-Muwafaqat fi Ushul al-Syari\"ah, (Beirut: Dar al-Kutub al-Islamiyah, t.t), juz. II, hal 12-23.\r[3] . Muhammad Ali ash-Shabuni Pembagian waris menurut Islam terj. AM. Basalamah (Gema Insani Press) hal 39.","part":1,"page":71},{"id":72,"text":"[4] . DR. Abdul Karim Zaidan Al-Mufassol fi Ahkam al-Mar’ah (Beirut, Muassasah ar-Risalah tahun 1413 H/ 1993 M) cet. Ke-1 juz 9 hal 321.\r[5] . QS. Al-Ahzab : 4-5.\r[6] . Ibnu Katsir Tafsir Qur’an Al-Adzim jil\r[7] . Imam Thabari Jami’ul Bayan an Ta’wil Ayil Qur’an (Kairo, Dar as-Salam tahun 1428 H/2007 M) cet. Ke-2 jilid 8 hal 6612.\r[8] . HR. Bukhari, Shahih Bukhari Kitab Faraid, Bab “Barang siapa yang menisbatkan kepada selain bapaknya” jilid 4 hal 15 hadits no. 6766. dan Muslim\rMbah Jenggot II\rKesimpulannya yangg tidak boleh adalah menisbatkan / menasabkan < diri sendiri atau diri orang lain > pada selain ayah, sedang penambahan nama suami di belakang nama istri bukan yang dimaksud dalam pelarangan ini.\r0373. HUKUM BONCENGAN MOTOR NON MAHROM\rPERTANYAAN\rEfy Iysha\rAssalamu'alaikum ? Hukum boncengan motor dengan lawan jenis bukan mahrom apa yaa ??\rErni Setyaningsih\rAssalamu'alaikum...maaf mau ikut nanya sekalian, kalau misalnya ada perantara seorak anak ditengah apakah juga haram hkumnya?...trmakasih..wassalamu 'alaikum.\rJAWABAN\rMasaji Antoro\rWaalaikumsalam. Hukum berboncengan ria tersebut tidak diperbolehkan kecuali bila bisa terhindar dari fitnah (hal-hal yang diharamkan) seperti :\r• Tidak terjadi ikhtilath (persinggungan badan)\r• Tidak terjadi kholwah (berkumpulnya laki-laki dan wanita di tempat sepi yang menurut kebiasaan umum sulit terhindar dari perbuatan yang diharamkan)\r• Tidak melihat aurat selain dalam kondisi dan batas-batas yang diperbolehkan syara’\r• Tidak terjadi persentuhan kulit\r1. الموسوعة الفقهية الكويتية الجزء الثالث صحـ 91","part":1,"page":72},{"id":73,"text":"“إرداف التعريف” 1 – الإرداف مصدر أردف وأردفه أركبه خلفه ولا يخرج استعمال الفقهاء عن هذا المعنى “الحكم الإجمالي” 2 – يجوز إرداف الرجل للرجل والمرأة للمرأة إذا لم يؤد إلى فساد أو إثارة شهوة لإرداف الرسول للفضل بن العباس ويجوز إرداف الرجل لامرأته والمرأة لزوجها لإرداف الرسول لزوجته صفية رضي الله عنها وإرداف الرجل للمرأة ذات الرحم المحرم جائز مع أمن الشهوة وأما إرداف المرأة للرجل الأجنبي والرجل للمرأة الأجنبية فهو ممنوع سدا للذرائع واتقاء للشهوة المحرمة\r“Definisi IRDAAF (BONCENGAN)” kata IRDAAF adalah mashdar dari lafadz ARDAFA, ARDAFAHU yang bermakna menaikkan/membonceng seseorang di belakanya dan istilah ini tidak digunakan di kalangan Ulama Ahli Fiqh.\rHUKUM secara GLOBAL\rDiperbolehkan seorang pria membonceng pria lain, wanita membonceng wanita lain bila memang tidak menimbulkan bahaya atau menimbulkan syahwat karena Rasulullah pernah membonceng sahabat fadhl Bin Abas, boleh juga suami membonceng istrinya, istri membonceng membonceng suaminya karena Rasulullah pernah membonceng istrinya Shofiyyah Ra. Seorang pria membonceng wanita mahramnya hukumnya boleh dengan syarat aman dari gejolak nafsu, sedang seorang wanita membonceng pria yang bukan mahramnya dan seorang pria membonceng wanita yang juga bukan mahramnya hukumnya di larang untuk menghindari hal-hal yang menjadi perantara dan timbulnya syahwat yang di haramkan. [ Al-Mausû’ah al-Fiqhiyyah vol. III hal. 91 ].\rMasalah ketentuan syarat-syarat yang lain yang telah di sebutkan diatas bisa di lihat di : Syarh Muslim vol. XIV hal. 164-166, I’ânah at-Thâlibîn vol. I hal. 272, Al-Mausû’ah, alFiqhiyyah vol. II hal. 290-291","part":1,"page":73},{"id":74,"text":"Untuk jawaban Ning Erni Setyaningsih. Bila persinggungannya secara langsung, maka haram bila tidak maka makruh........\rوَمِنْهُ الْوُقُوْفُ لَيْلَةَ عَرَفَةَ أَوِ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ وَالْاِجْتِمَاعُ لَيَالِيَ الْخُتُوْمِ آخِرَ رَمَضَانَ وَنَصْبُ الْمَنَابِرِ وَالْخُطَبُ عَلَيْهَا فَيُكْرَهُ مَا لَمْ يَكُنْ فِيْهِ اخْتِلَاطُ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ بِأَنْ تَتَضَامَّ أَجْسَامُهُمْ فَإِنَّهُ حَرَامٌ وَفِسْقٌ\r“diantaranya adalah saat wuquf dimalam arafah atau saat di masy’ar al-haram (muzdalifah), berkumpul diakhir malam pada bulan ramadhan, mendengarkan khutbah bersama-sama maka dimakruhkan selagi tidak terjadi percampuran antara pria dan wanita dengan gambaran jasad-jasad mereka antara satu dan lainnya salaing bersinggungan maka termasuk hal yang diharamkan dan perbuatan fasiq”. [ I’aanah at-Thoolibiin I/313 ].\rاخْتِلَاطَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ إذَا لَمْ يَكُنْ خَلْوَةً لَيْسَ بِحَرَامٍ\rPercampuran antara wanita dan pria asalkan tidak terjadi khalwat tidak diharamkan. [ Al-majmuu’ IV/350 ].\rوَضَابِطُ الْخَلْوَةِ اجْتِمَاعٌ لَا تُؤْمَنُ مَعَهُ الرِّيبَةُ عَادَةً بِخِلَافِ مَا لَوْ قُطِعَ بِانْتِفَائِهَا عَادَةً فَلَا يُعَدُّ خَلْوَةً ا هـ . ع ش عَلَى م ر مِنْ كِتَابِ الْعِدَدِ\rBatasan yang dinamai khalwat adalah pertemuan yang tidak diamankan terjadinya kecyrigaan kearah zina secara kebiasaan berbeda saat dipastikan tidak akan terjadi hal yang demikian secara kebiasaannya maka tidak dinamai khalwat. [ Hasyiyah al-jamal IV/124 ]. Wallaahu A'lamu Bis Showaab...\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/417309358291878/\r0560. LARANGAN TIDUR SETELAH ASHAR\rPERTANYAAN :\rChabib Musthofa","part":1,"page":74},{"id":75,"text":"Mohon penjelasannya tentang larangan tidur setelah ashar. Suwun.\rJAWABAN :\rAan Farhan\rSecara psikologi benar, sinar uv saat matahari mengarah tenggelam ga baik buat syaraf diam, dengar-dengar dulu begitu..\rMbah Jenggot II\rWaktu Tidur Yang Dianjurkan\rTerkait dengan waku tidur, disinyalir bahwa tidur siang menimbulkan penyakit akibat kelembaban tubuh, semisal merusak pigmen tubuh, menyebabkan penyakit empedu, menyebabkan kemalasan dan melelahkan syahwat.\rDalam hal ini, tidur siang digolongkan menjadi tiga macam: khuluq, khuruq, dan humuq.\r1. khuluq adalah tidur di tengah hari. Disebut khuluq (ahklak) karena itu adalah kebiasaan Rasulullah SAW.\r2. khuruq adalah (perusak) adalah tidur di waktu dhuha.\r3. humuq (kebodohan) adalah tidur di waktu ashar.\rSeorang ahli syair mengatakan: “sesungguhnya tidur di waktu dhuha adalah dapat menyebabkan kemalasan bagi para pemuda, tidur ashar dapat menimbulkan gila”.\r0573. BERKHALWAT KARENA ADA HAJAT\rPERTANYAAN :\rEdy Humaidi\rAssalamu'alaikum..Tanya : apa hukumnya kholwat karena ada hajat (misal ngaji)...\rJAWABAN :\rAghitsNy Robby\rWA'ALAIKUM SALAM, BOLEH, dengan syarat :\r1. tidak ada guru perempuan atau mahrom atau suami yang bisa / mau mengajarkannya\r2. aman dari fitnah\r3. dengan hijab\rNamun kalau ngajar kaifiat yang wajib(bukan yang sunah), yang kalau make hijab ga mungkin bisa maka boleh saling memandang tapi hanya terbatas pada keperluan pengajaran. Bisa dilihat di kitab 'uqudullujain hal. 3. Tetapi mungkin masih ada ikhtilaf......\rMbah Jenggot\rBoleh dengan catatan :\r> Tidak diyakini atau diduga kuat menimbulkan fitnah","part":1,"page":75},{"id":76,"text":"> Tidak sampai khalwah\r> Tidak ada nadzor yang diharamkan\r> Tidak ada tabarruj (menghias diri) dan kasyful (buka) aurat\r> Tidak memakai wangi-wangian\r> Dilakukan sesuai dengan kadar kebutuhannya\r> Serta menjadi alternatif terakhir.\rTa`birnya :\rالموسوعة الفقهية الجزء الثاني ص: 290\rاختلاط الرجال بالنساء يختلف حكم اختلاط الرجال بالنساء بحسب موافقته لقواعد الشريعة أو عدم موافقته فيحرم الاختلاط إذا كان فيه أ – الخلوة بالأجنبية والنظر بشهوة إليها ب – تبذل المرأة وعدم احتشامها ج – عبث ولهو وملامسة للأبدان كالاختلاط في الأفراح والموالد والأعياد فالاختلاط الذي يكون فيه مثل هذه الأمور حرام لمخالفته لقواعد الشريعة قال تعالى (قل للمؤمنين يغضوا من أبصارهم) . . . (وقل للمؤمنات يغضضن من أبصارهن } وقال تعالى عن النساء { ولا يبدين زينتهن } وقال { إذا سألتموهن متاعا فاسألوهن من وراء حجاب } ويقول النبي صلى الله عليه وسلم{ لا يخلون رجل بامرأة فإن ثالثهما الشيطان } { وقال صلى الله عليه وسلم لأسماء بنت أبي بكر يا أسماء إن المرأة إذا بلغت المحيض لم يصلح أن يرى منها إلا هذا وهذا وأشار إلى وجهه وكفيه } كذلك اتفق الفقهاء على حرمة لمس الأجنبية إلا إذا كانت عجوزا لا تشتهى فلا بأس بالمصافحة ويقول ابن فرحون في الأعراس التي يمتزج فيها الرجال والنساء لا تقبل شهادة بعضهم لبعض إذا كان فيه ما حرمه الشارع لأن بحضورهن هذه المواضع تسقط عدالتهن ويستثنى من الاختلاط المحرم ما يقوم به الطبيب من نظر ولمس لأن ذلك موضع ضرورة , والضرورات تبيح المحظورات 5 – ويجوز الاختلاط إذا كانت هناك حاجة مشروعة مع مراعاة قواعد الشريعة ولذلك جاز خروج المرأة لصلاة الجماع وصلاة العيد وأجاز البعض خروجها لفريضة الحج مع رفقة مأمونة من الرجال كذلك يجوز للمرأة معاملة الرجال ببيع أو شراء أو إجارة أو غير ذلك ولقد سئل الإمام مالك عن المرأة","part":1,"page":76},{"id":77,"text":"العزبة الكبيرة تلجأ إلى الرجل فيقوم لها بحوائجها ويناولها الحاجة هل ترى ذلك له حسنا قال لا بأس به وليدخل معه غيره أحب إلي ولو تركها الناس لضاعت قال ابن رشد هذا على ما قال إذا غض بصره عما لا يحل له النظر إليه .\rالمجموع الجزء الرابع صحـ 484\r(الشرح) حديث جابر رواه أبو داود والبيهقي وفى إسناده ضعف ولكن له شواهد ذكرها البيهقى وغيره ويغنى عنه حديث طارق بن شهاب السابق والاجماع فقد نقل ابن المنذر وغيره الاجماع أن المرأة لا جمعة عليها وقوله ولانها تختلط بالرجال وذلك لا يجوز لبس كما قال فانها لا يلزم من حضورها الجمعة الاختلاط بل تكون وراءهم وقد نقل ابن المنذر وغيره الاجماع علي انها لو حضرت وصلت الجمعة جاز وقد ثبتت الاحاديث الصحيحة المستفيضة أن النساء كن يصلين خلف رسول الله صلي الله عليه وسلم في مسجده خلف الرجال ولان اختلاط النساء بالرجال إذا لم يكن خلوة ليس بحرام\rنهاية المحتاج الجزء السابع صحـ 163\rوفي التوسط عن القفال لو دخلت امرأة المسجد على رجل لم يكن خلوة لأنه يدخله كل أحد اهـ حج وإنما يتجه ذلك في مسجد مطروق لا ينقطع طارقوه عادة ومثله في ذلك الطريق أو غيره المطروق كذلك بخلاف ما ليس مطروقا كذلك اهـ حج ويؤخذ منه أن المدار في الخلوة على اجتماع لا تؤمن معه الريبة عادة بخلاف ما لو قطع بانتفائها في العادة فلا يعد خلوة\rBatasan Kholwah :\rتوشيح على ابن قاسم صحـ 197\rالفتنة هي ميل النفس ودعاؤها إلى الجماع أو مقدماته والشهوة هو أن يلتذ بالنظر\r0600. MEMANGGIL ORANG TUA DENGAN SEBUTAN ABI DAN UMI\rPERTANYAAN :\rTeguh Satriyono\rAssalamu'alaikum....Panggilan Anak ke ayahnya dengan Panggilan ABI dan Ummi ( menurut tata Bahasa Arab ) adakah yang salah, Mohon Pencerahannya.....sukron. Jazakumulloh...\rJAWABAN :\rMasaji Antoro","part":1,"page":77},{"id":78,"text":"Wa'alaikumsalam. Dalam Kitab Minhaj At-Tarbiyah Ash-Shalihah panggilan ABI dan UMMI memang termasuk hal yang mesti dibiasakan saat seseorang mendidik anaknya di usia pertama hingga 6 tahun, namun demikian bila panggilan tersebut tidak berlaku atau sesuai dengan kondisi setempat dapat diubah disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Berikut Minhaj At-Tarbiyah Ash-Shalihah (cara membentuk kader shalih/shalihah) sesuai kitab diatas :\rMEMPERHATIKAN ANAK PADA USIA ENAM TAHUN PERTAMA\rPeriode pertama dalam kehidupan anak (usia enam tahun pertama) merupakan periode yang amat kritis dan paling penting. Periode ini mempunyai pengaruh yang sangat mendalam dalam pembentukan pribadinya. Apapun yang terekam dalam benak anak pada periede ini, nanti akan tampak pengaruh-pengaruhnya dengannyata pada kepribadiannya ketika menjadi dewasa. (Aisyah Abdurrahman Al Jalal, Al Muatstsirat as Salbiyah.). Karena itu, para pendidik perlu memberikan banyak perhatian pada pendidikan anak dalam periode ini.\rAspek-aspek yang wajib diperhatikan oleh kedua orangtua dapat kami ringkaskan sebagai berikut :\r1. Memberikan kasih sayang yang diperlukan anak dari pihak kedua orangtua, terutama ibu.","part":1,"page":78},{"id":79,"text":"Ini perlu sekali, agar anak belajar mencintai orang lain. Jika anak tidak merasakan cintakasih ini,maka akan tumbuh mencintai dirinya sendiri saja dan membenci orang disekitamya. “Seorang ibu yang muslimah harus menyadari bahwa tidak ada suatu apapun yang mesti menghalanginya untuk memberikan kepada anak kebutuhan alaminya berupa kasih sayang dan perlindungan. Dia akan merusak seluruh eksistensi anak, jika tidak memberikan haknya dalam perasaan-perasaan ini, yang dikaruniakan Allah dengan rahmat dan hikmah-Nya dalam diri ibu, yang memancar dengan sendirinya untuk memenuhi kebutuhan anak.” (Muhammad Quthub,Manhaiut Tarbiyah Al Islamiyah, juz 2.)\rMaka sang ibu hendaklah senantiasa memperhatikan hal ini dan tidak sibuk dengan kegiatan karir di luar rumah, perselisihan dengan suami atau kesibukan lainnya.\r2. Membiasakan anak berdisiplin mulai dari bulan-bulan pertama dari awal kehidupannya.\rKami kira, ini bukan sesuatu yang tidak mungkin. Telah terbukti bahwa membiasakan anak untuk menyusu dan buang hajat pada waktu-waktu tertentu dan tetap, sesuatu yang mungkin meskipun melalui usaha yang berulang kali sehingga motorik tubuh akan terbiasa dan terlatih dengan hal ini.\rKedisiplinan akan tumbuh dan bertambah sesuai dengan pertumbuhan anak, sehingga mampu untuk mengontrol tuntutan dan kebutuhannya pada masa mendatang.\r3. Hendaklah kedua orangtua menjadi teladan yang baik bagi anak dari permulaan kehidupannya.","part":1,"page":79},{"id":80,"text":"Yaitu dengan menetapi manhaj Islam dalam perilaku mereka secara umum dan dalam pergaulannya dengan anak secara khusus. Jangan mengira karena anak masih kecil dan tidak mengerti apa yang tejadi di sekitarnya, sehingga kedua orangtua melakukan tindakan-tindakan yang salah di hadapannya. Ini mempunyai pengaruh yang besar sekali pada pribadi anak. “Karena kemampuan anak untuk menangkap, dengan sadar atau tidak, adalah besar sekali. Terkadang melebihi apa yang kita duga. Sementara kita melihatnya sebagai makhluk kecil yang tidak tahu dan tidak mengerti. Memang, sekalipun ia tidak mengetahui apa yang dilihatnya, itu semua berpengaruh baginya. Sebab, di sana ada dua alat yang sangat peka sekali dalam diri anak yaitu alat penangkap dan alat peniru, meski kesadarannya mungkin terlambat sedikit atau banyak.\rAkan tetapi hal ini tidak dapat merubah sesuatu sedikitpun. Anak akan menangkap secara tidak sadar, atau tanpa kesadaran puma, dan akan meniru secara tidak sadar, atau tanpa kesadaran purna, segala yang dilihat atau didengar di sekitamya.”\r4. Anak dibiasakan dengan etiket umum yang mesti dilakukan dalam pergaulannya.\rAntara lain:\r• Dibiasakan mengambil, memberi, makan dan minum dengan tangan kanan. Jika makan dengan tangan kiri, diperingatkan dan dipindahkan makanannya ke tangan kanannya secara halus.\r• Dibiasakan mendahulukan bagian kanan dalam berpakaian. Ketika mengenakan kain, baju, atau lainnya memulai dari kanan; dan ketika melepas pakaiannya memulai dari kiri.\r• Dilarang tidur tertelungkup dan dibiasakan tidur dengan miring ke kanan.","part":1,"page":80},{"id":81,"text":"• Dihindarkan tidak memakai pakaian atau celana yang pendek, agar anak tumbuh dengan kesadaran menutup aurat dan malu membukanya.\r• Dicegah menghisap jari dan menggigit kukunya.\r• Dibiasakan sederhana dalam makan dan minum, dan dijauhkan dari sikap rakus.\r• Dilarang bermain dengan hidungnya.\r• Dibiasakan membaca Bismillah ketika hendak makan.\r• Dibiasakan untuk mengambil makanan yang terdekat dan tidak memulai makan sebelum orang lain.\r• Tidak memandang dengan tajam kepada makanan maupun kepada orang yang makan.\r• Dibiasakan tidak makan dengan tergesa-gesa dan supaya mengunyah makanan dengan baik.\r• Dibiasakan memakan makanan yang ada dan tidak mengingini yang tidak ada.\r• Dibiasakan kebersihan mulut denganmenggunakan siwak atau sikat gigi setelah makan, sebelum tidur, dan sehabis bangun tidur.\r• Dididik untuk mendahulukan orang lain dalam makanan atau permainan yang disenangi, dengan dibiasakan agar menghormati saudara-saudaranya, sanak familinya yang masih kecil, dan anak-anak tetangga jika mereka melihatnya sedang menikmati sesuatu makanan atau permainan.\r• Dibiasakan mengucapkan dua kalimat syahadat dan mengulanginya berkali-kali setiap hari.\r• Dibiasakan membaca “Alhamdulillah” jika bersin, dan mengatakan\r“Yarhamukallah” kepada orang yang bersin jika membaca “Alhamdulillah”.\r• Supaya menahan mulut dan menutupnya jika menguap, dan jangan sampai bersuara.\r• Dibiasakan berterima kasih jika mendapat suatu kebaikan, sekalipun hanya sedikit.\r• Tidak memanggil ibu dan bapak dengan namanya, tetapi dibiasakan memanggil dengan kata-kata: Ummi (Ibu), dan Abi (Bapak).","part":1,"page":81},{"id":82,"text":"• Ketika berjalan jangan mendahului kedua orangtua atau siapa yang lebih tua darinya, dan tidak memasuki tempat lebih dahulu dari keduanya untuk menghormati mereka.\r• Dibiasakan bejalan kaki pada trotoar, bukan di tengah jalan.\r• Tidak membuang sampah dijalanan, bahkan menjauhkan kotoran darinya.” Mengucapkan salam dengan sopan kepada orang yang dijumpainya dengan mengatakan “Assalamu ‘Alaikum” serta membalas salam orang yang mengucapkannya.\r• Diajari kata-kata yang benar dan dibiasakan dengan bahasa yang baik.\r• Dibiasakan menuruti perintah orangtua atau siapa saja yang lebih besar darinya, jika disuruh sesuatu yang diperbolehkan.\r• Bila membantah diperingatkan supaya kembali kepada kebenaran dengan suka rela, jika memungkinkan. Tapi kalau tidak, dipaksa untuk menerima kebenaran, karena hal ini lebih baik daripada tetap membantah dan membandel.\r• Hendaknya kedua orangtua mengucapkan terima kasih kepada anak jika menuruti perintah dan menjauhi larangan. Bisa juga sekali-kali memberikan hadiah yang disenangi berupa makanan, mainan atau diajak jalan-jalan.\r• Tidak dilarang bermain selama masih aman, seperti bermain dengan pasir dan permainan yang diperbolehkan, sekalipun menyebabkan bajunya kotor. Karena permainan pada periode ini penting sekali untuk pembentukan jasmani dan akal anak.\r• Ditanamkan kepada anak agar senang pada alat permainan yang dibolehkan seperti bola, mobil-mobilan, miniatur pesawat terbang, dan lain-lainnya. Dan ditanamkan kepadanya agar membenci alat permainan yang mempunyai bentuk terlarang seperti manusia dan hewan.","part":1,"page":82},{"id":83,"text":"• Dibiasakan menghormati milik orang lain, dengan tidak mengambil permainan ataupun makanan orang lain, sekalipun permainan atau makanan saudaranya sendiri. (Ahmad Iuuddin AlBayanuni, Minhaj At-Tarbiyah Ash-Shalihah). Wallaahu A'lamu Bis Showaab.\r0612. MENCIPTAKAN KELUARGA SAKINAH MAWADDAH WAROHMAH\rPERTANYAAN :\rAthiyyah Ilahiyyah\rAssalamu'alaikum para kyai, gus, ustad, neng dan semuanya.. Saya mau nanya, bagaimana cara untuk menciptakan keluarga yang sakinah, mawaddah wa rohmah ? Mohon bimbingannya, buat bekal nanti.. Terimakasih..\rJAWABAN :\rMbah Jenggot\rWa`alaikum salam. Kesalahpahaman, ketidaksesuaian, pertentangan dan pergesekan lain sering terjadi pada keluarga muda. Wajar, karena masing-masing berlatar belakang berbeda. Bagaimana menyelesaikannya ?\rKenali keluarga\rItulah sebabnya jauh sebelum seorang pemuda berniat mengawini muslimah, Rasulullah berpesan untuk mempelajari bentuk asal usul calon pasangan hidup. Mengenal pribadi-pribadi dalam keluarga si calon, mengenal cara hidup, prinsip hidup, dan kebiasaan-kebiasaan yang sudah mentradisi dalam keluarga itu. Bisa jadi, pengenalan terhadap keluarga ini jauh lebih penting daripada kenal terhadap calon pasangan itu sendiri! Tidak percaya?\rIbnu Majah dan Ad-Dhailami meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:\r\"Pilihlah untuk air mani kamu sekalian, karena sesungguhnya keturunan itu kuat pengaruhnya.\"\rBegitu juga Ibnu Adi dan Ibnu Syakir telah meriwayatkan dari Aisyah secara marfu' tentang hadits Rasulullah :","part":1,"page":83},{"id":84,"text":"\"Pilihlah untuk air mani kamu sekalian. Karena sesungguhnya wanita-wanita itu melahirkan orang-orang yang menyerupai saudara laki-laki dan perempuan mereka\".\rKeluarga, bagi setiap orang adalah lingkungan khusus yang punya ciri khas tersendiri. Ini menyebabkan para anggota keluarga mempunyai kesatuan emosional yang kuat dan jadilah keluarga sebagai sebuah kelompok yang menyenangkan. Kebiasaan-kebiasaan yang ada di dalamnya bisa tetap berakar hingga akhir hayat.\rBetapa kuat pengaruh lingkungan keluarga, pernah diselidiki oleh para ahli terhadap sebuah keluarga yang punya kebiasaan berbuat jahat, mulai berjudi, mencuri dan merampok. Ternyata sampai tujuh generasi berikutnya, sebagaian besar anggota keluarga mewarisi kebiasaan buruk tersebut. Rata-rata mereka menjadi pejudi,ada yang meneruskan profesi sebagai pencuri dan rampok.\rSeorang yang berasal dari keluarga cukup, tentunya terbiasa hidup serba bersih. Ibarat tak ada sehelai rambut pun yang belum tersapu setiap hari di rumahnya. Tak sesudut ruangan pun yang ditata tanpa cita rasa seni. Orang yang seperti ini bisa muntah karena bau kamar mandi yang kehabisan kapur barus, atau ia segera menjadi tak kerasan bila keadaan rumah berantakan.","part":1,"page":84},{"id":85,"text":"Sebaliknya, orang yang dibesarkan dalam rumah kecil dengan kehidupn sederhana, sudah terbiasa dengan tali jemuran malang melintang di dalam rumah dengan bau baju yang pengap karena hari hujan. Pakaian pun ditumpuk sekedarnya, karena tak memiliki lemari yang cukup untuk menyimpan pakaian sembilan orang anggota keluarga. Orang dengan kebiasaan hidup seperti ini seringkali tak lagi bisa menghargai keindahan. Bagi mereka, rumah yang bersih dan menawarkan keindahan adalah mubazir. Yang penting rumah bisa berlindung, tempat makan, tidur, itu sudah cukup. Kedua golongan ini akan mempunyai banyak masalah jika bertemu dan menjadi pasangan hidup. Masalah-masalah sepele, tapi karena telah terjadi hampir setiap hari, bisa menjadi besar.\rBekas yang hilang\rSelain kebiasaan umum yang berlaku dalam sebuah keluarga, ada juga hal-hal khusus yang dialami seseorang di masa kecil yang turut menentukan perkembangan wataknya. Satu misal tentang kedudukannya dalam anggota keluarga. Seorang anak perempuan di antara enam bersaudara kandung laki-laki mungkin akan tumbuh gadis tomboy yang kasar. Si anak sulung tumbuh menjadi orang yang terbiasa kerja keras, misalnya, sementara si bungsu bisa jadi terbiasa dilayani.","part":1,"page":85},{"id":86,"text":"Ada juga peristiwa-peristiwa khusus yang menimbulkan pengaruh besar atau bahkan trauma, sehingga membekaskan satu sifat khas, ada istri yang sulit untuk bisa mempercayai suaminya. Segala tindakan suami ditanggapi penuh kecurigaan dan prasangka buruk. Ternyata istri ini mempunyai pengalaman buruk terhadap ayahnya di masa kecil. Sebelum kedua orang tuanya bercerai, selama bertahun-tahun ia menyaksikan bagaimana ayahnya sering marah-marah, menampar, memukul ibu di depan matanya, hanya karena persoalan-persoalan kecil.\rSeorang anak yang menderita sakit parah hingga bertahun-tahun di masa kecil, menjadi terbiasa dilindungi dan dilayani oleh kakak-kakak dan orang tuanya. Ketika dewasa ia tetap meminta hampir setiap orang untuk melayani dan menyenangkan dirinya. Ia tumbuh menjadi orang yang tak mau tahu perasaaan orang lain.\rSaling pengertian\rSetiap orang pasti mempunyai kelebihan dan kekurangan. Ini adalah prinsip utama dalam hidup bersuami istri. Saling memahami kekurangan masing-masing, saling tenggang rasa dan penuh pengertian, tidak membesar-besarkan kekurangan pasangan hidupnya. Sebaliknya, berusaha memahami dan menutup mata terhadap kekurangan teman hidup itu, sambil terus mencari-cari kelebihannya, memperhatikan dan memikirkan segi-segi baiknya.\rJanganlah terlalu menuntut suami atau istri untuk mau mengubah sifat dan kebiasaan hidupnya. Apalagi jika sifat dan kebiasaan itu bentukan dari keluarga semenjak masa kecil. Dapat diibaratkan dengan sebuah revolusi besar dan butuh proses amat panjang.","part":1,"page":86},{"id":87,"text":"Kunci penting lainnya dalam masalah ini adalah keterbukaan antara suami dan istri. Suami harus tahu sifat-sifat mana saja darinya yang tak disukai istri. Begitu juga sebaiknya, jangan sampai ada ketidaksenangan yang mengganjal di hati. Selanjutnya, saling memahami dan mau mengerti kekurangan masing-masing. Lebih baik lagi jika ada keinginan untuk mau sedikit menyesuaikan diri.\rMengharap memperoleh pasangan yang sempurna tidaklah mungkin ada. Mencari yang sesuai sifat dan kebiasaan pun teramat sulit. Jauh lebih penting mencari pasangan yang seide, seaqidah, karena di sanalah pokok dari segala permasalahan. Jika pokoknya sudah sama, persoalan-persoalan selanjutnya bisalah diatasi. Tapi jika pokoknya saja sudah bertentangan, ikatan kebahagiaan mudah sekali goyah.\rNasihat terakhir bagi segenap insan yang telah menikah, kesiapan anda untuk berkerluarga sama artinya dengan kesiapan untuk berkorban, lebih mementingkan kepentingan keluarga baru daripada kepentingan pribadi. Bersiaplah untuk mengubah diri, sifat, dan kebiasaan lama, untuk disesuaikan dengan kebutuhan keluarga baru anda. Kemudian bersama istri dan anak-anak, menentukan sebuah langkah baru, sifat, dan kebiasaan kekeluargaan yang islami. SEMOGA MEMBANTU.\r0643. MENCUKUR RAMBUT KETIAK DAN KEMALUAN\rPERTANYAAN :\rZhuvryatna Mencoba Berubah\rAssalamualaikum, mo nanya neh, tapi MAAF kalau kurang sopan, adab mencukur bulu ketiak dan bulu kemaluan tuh, ada aturannya tidak ya dalam islam,terus baiknya berapa hari, bulan skali ? Sekali lagi maaf jika pertanyaan aneh.\rJAWABAN :\rTeguh Satriyono","part":1,"page":87},{"id":88,"text":"Disunahkan setiap 40 hari dicukur, ada haditsnya di dalam kitab Riyadus sholihin.... Maaf jika salah *kitabnya tertinggal di rumah ortu*\rArwandi Arwan\r40 hri sekali. tetapi kalau blm 40 udh terlalu bnyak ya tidak hrs tggu 40 hari. [Bajuri bil ma'na]\rAlif Jum'an Azend\rSunan Turmudzi :\rحدثنا قُتَيْبَةُ ، حدثنا جعفر بنُ سُلَيْمَانَ ، عن أَبي عِمْرَانَ الْجَوْنِيِّ ، عن أَنَسِ بنِ مَالِكٍ ، قَالَ: «وُقِّتَ لَنَا رسول الله في قصِّ الشَّارِبِ وَتَقْلِيمِ الأَظْفَارِ وَحَلْقِ الْعَانَةِ وَنَتْفِ الإِبِطِ أَنْ لاَ نَتْرُكَ أَكْثَرَ مِنْ أَرْبَعِينَ يَوْماً» .\rBercerita pada kami Qutaibah, Bercerita pada kami Ja’far bin Sulaiman, Bercerita pada kami Abi Imram al-Juwainy, Bercerita pada kami Anas Bin Malik ra, ia berkata, berkata padaku Rasulullah SAW “kami memberi batas waktu dalam mencukur kumis, memotong, membersihkan bulu ketiak dan mencukur bulu kemaluan agar tidak ditinggalkan lebih dari batas waktu 40 hari” (HR. Muslim)\rMughnil Muhtaj :\rوأن يحلق العانة ويقلم الظفر وينتف الإبط، ويجوز حلق الإبط ونتف العانة ويكون آتياً بأصل السنة. قال المصنف في تهذيبه: والسنة في الرجل حلق العانة، وفي المرأة نتفها والخنثى مثلها كما بحثه شيخنا. والعانة الشعر النابت حول الفرج والدبر","part":1,"page":88},{"id":89,"text":"Dan hendaknya dicukur bulu kemaluan, dipotong kuku, dicabuti bulu ketiak dan boleh bila bulu ketiak dicukur, bulu kemaluan dicabuti dan yang demikian justru lebih sesuai asal kesunahan.Pengarang berkata dalam kitab at-Tahdziib “Yang disunahkan bagi pria mencukur bulu kemaluan, bagi wanita mencabutinya, bagi banci seperti wanita seperti yang telah dibahas oleh guru kami”.‘Aanah adalah bulu yang tumbuh disekitar kemaluan dan dubur.\rFatawi Ibnu Hajar AlHaitami :\rوَمِنْ ثَمَّ قَالَ الأَئِمَّةُ فِي حَلْقِ الْعَانَةِ وَالإِبْطِ وَالْقَلْمِ وَقَصِّ الشَّارِبِ : (أَنَّ ذَلِكَ لا يَتَقَيَّدُ بِمُدَّةٍ بَلْ يَخْتَلِفُ بِاخْتِلافِ الأَبَدَانِ وَالْمَحَالِّ فَيُعْتَبَرُ وَقْتُ الْحَاجَةِ إلَى إزَالَةِ ذَلِكَ فِي حَقِّ كُلِّ أَحَدٍ بِمَا يُنَاسِبُهُ\rKarenanya para imam-imam (tokoh-tokoh ulama) berkata dalam hal mencukur bulu kemaluan, ketiak, memotong kuku dan kumis “Yang demikian tidak dibatasi dengan masa namun akan berbeda masanya di masing-masing tubuh seseorang dan kondisinya, maka yang menjadi pertimbangan dalam kesunahannya adalah waktu yang sesuai saat dibutuhkan menghilangkannya pagi setiap personal individu seseorang”.\rFathul Bari juz 11 hal 523 :\rويفترق الحكم في نتف الإبط وحلق العانة أيضاً بأن نتف الإبط وحلقه يجوز أن يتعاطاه الأجنبي، بخلاف حلق العانة فيحرم إلا في حق من يباح له المس والنظر كالزوج والزوجة","part":1,"page":89},{"id":90,"text":"Dan dibedakan hukum dalam mencabuti bulu ketiak dengan mencukur bulu kemaluan yakni bahwa mencabut dan mencukur bulu ketiak boleh dilakukan orang lain berbeda dengan mencukur bulu kemaluan maka haram dilakukan orang lain kecuali bagi orang yang punya hak diperbolehkan memegang serta melihatnya seperti sepasng suami istri.\rSyarah Nawawi 'ala shahih muslim :\rأما نتف الإبط فسنة بالاتفاق والأفضل فيه النتف لمن قوي عليه ويحصل أيضاً بالحلق وبالنورة. وحكي عن يونس بن عبد الأعلى قال: دخلت على الشافعي رحمه الله وعنده المزين يحلق إبطه فقال الشافعي: علمت أن السنة النتف ولكن لا أقوى على الوجع. ويستحب أن يبدأ بالإبط الأيمن\rSedang dalam mencabuti bulu ketiak maka sunah hukumnya atas kesepakatan ulama, yang utama mencabutinya bagi orang yang kuat (menahan sakitnya) dan kesunahannya juga sudah diperoleh dengan dicukur dan (dihilangkan memakai) kapur.Dihikayahkan dari Yunus Bin Abd al-A’laa “aku mendatangi as-Syafi’i dan didekatnya al-Muziin yang sedang mencukur bulu ketiaknya, as-Syafi’i berkata “Aku tahu bahwa yang sunah mencabutinya namun aku tidak kuat sakit”. Dan disunahkan memulai dengan bulu ketiak bagian kanan.\r1855. HUKUM QAZA' ( MENCUKUR SEBAGIAN RAMBUT KEPALA )\rPERTANYAAN :\rAli Mustofa\rQaza' adalah haram ,\" Sesungguhnya Rasulullah SAW mencegah daripada melakukan qaza' ( mencukur sebagian daripada rambut kepala )\". [ HR.Bukhari dan Muslim ]. Nopo injih , ngoten ?\rJAWABAN :\r> Mumu Bsa\rJangan galak-galak kang.. qaza hukumnya makruh, ga sampai haram.. dalam kitab zubad disebutkan:\rلبالغ ساتر كمرة قطع ** والاسم من أنثى ويكره القزع\rDan syarahnya ghoyatul bayan menjelaskan :","part":1,"page":90},{"id":91,"text":"قال النووي في شرح مسلم أجمع العلماء على كراهة القزع إذ كان في مواضع متفرقة إلا أن يكون لمداواة أو نحوها وهى للتنزيه وقال بعض أصحاب مالك لا بأس به في القصة أو القفا للغلام\rقال العلماء : والحكمة في كراهته أنه يشوه الخلق ; وقيل : لأنه [ ص: 161 ] زي أهل الشرك . وقيل : لأنه زي اليهود ، وقد جاء هذا مصرحا به في رواية لأبي داود انتهى\r> Ibnu Toha\rKalau sekedar gaya, hukumnya makruh tanzih sebagaimana di (ghayatul bayan syarah zubad) :\rقَالَ النَّوَوِيّ فِي شرح مُسلم أجمع الْعلمَاء على كَرَاهَة القزع إِذْ كَانَ فِي مَوَاضِع مُتَفَرِّقَة إِلَّا أَن يكون لمداواة أَو نَحْوهَا وهى للتنزيه\rLink Asal : www.fb.com/photo.php?fbid=371849612874831\r1518. HUKUM MEMELIHARA DAN MEMOTONG JENGGOT\rPERTANYAAN :\rMugiwara Ruppy\rApa hukum memelihara jenggot dan kumis.......\rJAWABAN :\r> Masaji Antoro\rوأما إعفاء اللحية: فلا شك بأنه سنة مطلوبه لقوله صلّى الله عليه وسلم : «خالفوا المشركين، أحْفُوا الشوارب، وأوفوا اللِّحى» ، «جُزُّوا الشوارب وأرْخُوا اللحى، خالفوا المجوس» وروت عائشة: «عشر من الفطرة: قص الشارب، وإعفاء اللحية، والسواك...» الحديث، وعن ابن عمر عن النبي صلّى الله عليه وسلم : «أنه أمر بإحفاء الشوارب، وإعفاء اللحية» (2) .ومعنى إحفاء الشوارب: قص ما طال على الشفتين، حتى يبين بياضهما.ومعنى إعفاء اللحية: توفيرها، خلافاً لما كان من عادة الفرس من قص اللحية، فنهى الشرع عن ذلك.وقد حرم المالكية والحنابلة حلقها، واعتبر الحنفية حلقها مكروهاً تحريمياً، والمسنون في اللحية هو القبضة، وأما الأخذ منها دون ذلك أو أخذها كلها فلا يجوز (3) . وقال الشافعية بكراهية حلقها، فقد ذكر النووي أن العلماء ذكروا عشر خصال مكروهة في اللحية، بعضها أشد من بعض، منها حلقها إلا إذا نبت للمرأة لحية، فيستحب لها حلقها (4) .","part":1,"page":91},{"id":92,"text":"Sedang hukum membiarkan jenggot maka tidak diragukan lagi bahwa sesungguhnya adalah sunah yang dianjurkan berdasarkan sabda Nabi Muhammad SAW :“Bedailah orang-orang musyrik, Cukurlah kumis kalian dan biarkanlah jenggot kalian”. “Cukurlah kumis kalian dan biarkanlah jenggot kalian, maka kalian akan menyelisihi orang-orang majusi”. Dan ‘Aisyah meriwayatkan, bersabda Rasulullah saw. “Sepuluh yang termasuk fitrah : Mencukur kumis, membiarkan janggut, menggosok gigi, berkumur, memotong kuku, membersihkan kotoran di badan, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan dan bercebok”.\rDari Ibn Amr dari Nabi SAW “Sesungguhnya Nabi memerintahkan menyamarkan kumis dan membiarkan jenggot”. Arti menyamarkan kumis adalah memotong rambut kumis yang memanjang dari kedua bibir hingga terlihat warna putih dari kedua bibirnya, sedang arti membiarkan jenggot adalah menyempurnakannya/tidak menguranginya, berbeda dengan kebiasaan orang-orang persia yang mencukur jenggot mereka, maka syara’ melarangnya.\rPERNYATAAN PARA ULAMA TENTANG HUKUM MENCUKUR JENGGOT DARI DALIL-DALIL HADITS DIATAS\rKalangan Malikiyyah dan Hanabilah memilih hukum haram mencukur jenggot bagi pria, sedang kalangan Hanafiyyah menghukuminya makruh tahrim, yang disunahkan dalam jenggot menurut mereka tersisa segenggam tangan, sedang mengambil lebih sedikit dari ukuran tersebut atau menghilangkannya sama sekali maka tidak diperbolehkan.","part":1,"page":92},{"id":93,"text":"Kalangan Syafi’iyyah lebih cenderung memilih hukum makruh mencukur jenggot, Imam an-Nawawy bahkan menuturkan bahwa terdapat sepuluh hal yang oleh para ulama dipandang makruh dalam hal jenggot diantaranya adalah mencukur jenggot kecuali bagi wanita yang tumbuh jenggotnya maka dianjurkan baginya untuk mencukurnya. [ al-Fiqh al-Islaam IV/208 ]. Wallaahu A'lamu Bis showaab.\r> Ibnu Toha\rMencukur jenggot hukumnya haram menurut imam yang empat (hanafi, maliki, hambali, syafi'i) kecuali yang mu'tamad dari madzhab syafi'i hukumnya makruh :\rYang menghukumi makruh dari madzhab syafi'i :\r1. Nawawi\r2. Rofi'i3. Romli\r4. Zakariya Al-Anshori\r5. Ghazali\r6. Al-Akiti\rYang menghukumi haram dari madzhab syafi'i :\r1. Al-Quffal2. al-Halimi\r3. Al-Adzro'i\r4. Ibnu Ar-Rifa'ah\r5. Al-Ashkhar\rLink Asal :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/416098161746331/\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/416180611738086/\r0655. GOYANG NGEBOR\rPERTANYAAN :\rTarkam Sriatun\rKlo kalian smua anggota piss ktb tlong jwb pertanyaanku ya. Terus terang saya sebagai manusia awam melihat artis panggung bergoyang ngebor atau exsotis terus trang bwt saya mengundang sahfat. Trus gmana kalian smua stuju ga kalau goyangan yang eksotis di haramkan mggo pencerahannya.\rJAWABAN :\rMasaji Antoro\rPORNOGRAFI dan PORNOAKSI\rDiskripsi masalah","part":1,"page":93},{"id":94,"text":"Belum hilang dalam ingatan kita dengan munculnya “Goyang Ngebor”, goyangan ini di anggap sebagai embrio munculnya beragam goyangan yang berkonotasi seksi dan memberikan magis sensual. Belakangan ini kalangan artis, ulama, bahkan anggota dewan ramai membicarakan Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP) seiring dengan di launchingkannya majalah Playboy versi Indonesia edisi perdana pada bulan April 2006, majalah yang perpusat di Amerika itu konon banyak menampilkan gambar-gambar syur. Sebenarnya DPR pada periode lalu telah membuat pengertian pornoaksi dalam draf RUU. Antara lain: kegiatan yang di nilai mengandung unsur erotisme atau mempertontonkan aurat di muka publik dan larangan berciuman di muka umum. RUU tersebut masih menjadi polemik dikalangan DPR, karena masih bisa menimbulkan interprestasi beragam.\rPertanyaan:\ra. Apa pengertian pornografi dan pornoaksi menurut pandangan agama?\rb. Sebatas mana wanita boleh bertingkah laku dan berpakaian di depan umum dan dalam beraktifitas apa?\rJawaban 4 a:\rIstilah pornografi dan pornoaksi tidak di temukan di kalangan ulama’ fiqih akan tetapi substansinya dari pengertian pornografi dan pornoaksi dapat di jumpai dalam kitab fikih. Keterangan kitab:\rTafsir Al-Qosimi juz 3 halaman 48 – 49\rتفسير القاسمي جزء 3 ص 48 – 49\rقوله تعالى: \"ولا تبرجنا تبرج الجاهلية الاولى \" أي تبرج النساء ايام الجاهلية الاولى اذ لا دين يمنعهم ولا ادب يزعمهم والتبرج فسر بالتبختر والتكسر بالمشي وباظهار الزينة وما يستدعي به شهوة الرجل اهـ","part":1,"page":94},{"id":95,"text":"“Yakni para wanita di masa Jahiliyah pertama memper-elok diri dalam berjalan, sebab tidak ada agama yang melarangnya dan tak ada etika yang mengatur mereka. Kata ‘Tabarruj’ diinterpretasikan dengan melenggang, berlenggak-lenggok dalam melangkah, menampakkan perhiasannya, dan setiap hal yang dapat menarik hasrat para lelaki”.\rمذاهب الاربعة جزء 2 ص 43\rاما رقص النساء امام من لايحل لهن فانه حرام بالاجماع لما يترتب عليه من اثارة للشهوة والافتنان ولما فيه من التهتك والمحون ومثلهن الغلملن المراد امام من يشتهيهم ويفتتن بهم اهـ\r“Adapun hukum wanita menari-nari di depan lelaki yang bukan mahramnya adalah haram sesuai dengan konsensus para Ulama. Karena adanya faktor negatif yang ditimbulkan dari perbuatan tersebut, seperti meningkatkan libido (syahwat), fitnah, merusak kehormatan dan petaka. Sebagaimana wanita, lelaki muda belia (Amrod) pun diharamkan berdendang di depan lelaki yang menyukai sesama jenis (homosexual)”.\rJawaban 4 b:\rDalam segala hal wanita di haruskan berpegang dan menta’ati peraturan syari’ah baik dalam aspek tingkah laku, berpakaian, maupun profesi. Keterangan kitab: Seorang perempuan muslimah yang beraktifitas diluar rumah wajib baginya melaksanakan beberapa ketentuan syariat Islam, diantaranya:\r1. Keluar rumah karena adanya keperluan\r2. Mendapat izin suami atau muhrimnya\r3. Terjamin dan aman dari fitnah\r4. Menutup aurat\r5. Menghindari bercampur dengan lawan jenis yang bukan muhrimnya\r6. Tidak berpenampilan seperti orang laki-laki\r7. Tidak berpakaian ketat dengan menonjolkan bentuk tubuh\r8. Profesi yang di lakukan tidak bertentangan dengan syari’ah","part":1,"page":95},{"id":96,"text":"اداب حياة الزوجية ص 163\rليس في الاسلام ما يمنع المرأة ان تكون تاجرة او طبيبة او مدرسة او محترفة لأي حرفة تكسب منها الرزق الحلال ما دامت الضرورة تدعو الى ذالك وما دامت تختار لنفسها الاوسط الفاضلة وتلتزم خصائص العفة التى اسفلنا بعضها اهـ\r“Di dalam Islam tidak ada larangan yang mencegah wanita untuk menjadi usahawan, dokter, guru atau menjadi pekerja di profesi apapun yang ditujukan mencari rezeki yang halal, selama ada unsur darurat yang menuntutnya seperti itu, dan selama ia sanggup menerima persyaratan iffah (menjaga diri dari al-hal yang haram), seperti yang telah kami terangkan sebagiannya”.\rاسعاد الرفيق جزء 2 ص 136\rومنهاخروج المرأة من بيتها متعطرة او متزينة ولوكانت مستورة وكان خروجها باذن زوجها اذا كانت تمر في طريقها على رجال اجانب –الى ان قال- قال في الزواجر وهو من الكبائر لصريح هذه الحديث وينبغي حمله ليوافق قواعدنا على ما اذا تحققت الفتنة اما مجرد خشيتها فانما هو مكروه ومع ظنها حرام غير كبيرة كما هو ظاهر وعد من الكبائر ايضا خروجها بغير اذن زوجها ورضاه لغير ضرورة شرعية كاستفتاء لم يكفها اياه او خشية نحو فجارة او انهدام المنزل","part":1,"page":96},{"id":97,"text":"“Diantara maksiat tubuh (badan) adalah keluarnya wanita dari rumahnya dengan cara memakai wewangian atau berhias meskipun memakai penutup, dan keluar rumah atas izin suaminya tetapi ternyata ia melewati jalanan para lelaki yang bukan mahramnya…Ibn Hajar berkata dalam kitabnya, Zawajir : Hal ini adalah bagian dari dosa besar karena sudah dinyatakan dalam hadis secara jelas. Dan selayaknya hadis ini diarahkan (agar dapat selaras dengan kaidah kita) pada permasalahan dimana fitnah bisa terjadi secara pasti. Kalau hanya kekhawatiran terjadinya fitnah saja maka masuk dalam hukum makruh. Sedangkan bila ada dugaan kuat fitnah akan terjadi maka hukumnya adalah haram, tetapi tidak mencapai taraf ‘dosa besar’. Termasuk dalam kategori dosa besar adalah keluarnya wanita tidak dengan seizin dan restu dari suaminya tanpa ada faktor darurat secara syar’i, contohnya, meminta fatwa (pada Ulama, misalnya mengenai haid) dimana suaminya sendiri tidak memiliki pengetahuan di bidang ini, atau karena khawatir pada semisal godaan orang lain, robohnya rumah dll”.\rhttp://solusinahdliyin.net/daerah/lbm-surabaya/248-pornografi-dan-pornoaksi.html\r0809. HUKUM CEMBURU\rPERTANYAAN :\rRacheel Mee\rAssalamu 'alaykum. bagaiman hukumnya cemburu ?\rJAWABAN :\rKang As'ad","part":1,"page":97},{"id":98,"text":"Suami cemburu pada istrinya harus, sedangkan istri pada suaminya tidak boleh( Keterangan dari seorang kyai)......ta'birnya nyusul, atau nunggu bawah saya, seingat saya dari keterngan kyai saya, apabila seorang suami tidak memiliki rasa cemburu pada istrinya maka suami tersebut bisa disebut sebagai ad-Dayyuts \"الديوث\", yaitu orang yang cuek bebek dengan kelakun buruk yang dilakukan keluarganya sedangkan dia tau. contohnya; si suami tau bahwa istrinya lirik2 pada laki-laki lain tetapi dia diam saja, kenapa istri tidak boleh cemburu, karena apabila sudah bersuami seorang istri tidak boleh nikah lagi, sedangkan suami yang telah beristri boleh untuk menikah lagi....begitu seingat saya. Dalam sebuah hadits; ad-Dayyuts diancam dengan tidak akan pernah masuk surga.....\rوروى البزار ، والحاكم ، وقال صحيح الإسناد عن ابن عمر رضي الله عنهما قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم { : ثلاثة لا يدخلون الجنة : العاق لوالديه ، والديوث ، ورجلة النساء } . قال الحافظ المنذري : الديوث بفتح الدال المهملة وتشديد المثناة تحت هو الذي يعلم الفاحشة في أهله ويقرهم عليها . قلت : وهو في حديث عمار رضي الله عنه مفسر في المرفوع ولفظه { ثلاثة لا يدخلون الجنة أبدا : الديوث ، والرجلة من النساء ، ومدمن الخمر . قالوا يا رسول الله : أما مدمن الخمر فقد عرفناه ، فما الديوث ؟ قال [ ص: 171 ] الذي لا يبالي من دخل على أهله . قلنا : فما الرجلة من النساء ؟ قال : التي تتشبه بالرجال } رواه الطبراني . قال الحافظ المنذري : ورواته لا أعلم فيهم مجروحا . والله أعلم .\rثلاثة لا يدخلون الجنة : العاق لوالديه ، والديوث ، ...ورجلة النساء","part":1,"page":98},{"id":99,"text":"Tiga orang yang tidak akan masuk surga selamanya: ad-dayyuts (cuek bebek dengan keburukan yang dilakukan keluarganya sedangkan dia tahu), ar-Rijlah min an-Nisa’, dan orang yang terus-terusan minum khomer. Para sahabat berkata; “Adapun orang yang terus2an minum khomer kami sungguh sudah tau, tetapi kalau ad-Dayyuts itu apa?, Nabi menjawab; “ad-Dayyuts adalah seseorang yang tidak perduli dengan masuknya orang lain pada keluarganya. Kami berkata (sahabat); ar-Rijlah min an-Nisa’ itu apa?, Nabi menjawab; “wanita yang menyerupai laki-laki”.\r1013. TUNTUNAN CARA MEMOTONG KUKU\rPERTANYAAN :\rWachzoeny Srie\rAssalamu'alaikum. . Saya mau tanya nie. . .bagaimana cara memotong kuku yang benar ala Rasulullah. . . .mohon jawabanya ya. . !!\rJAWABAN :\rMasaji Antoro\rWa'alaikumussalaam. Diawali dari tangan kanan kemudian tangan kiri kemudian kaki kanan dan di akhiri kaki kiri. Namun menurut Imam Al-Ghozali dalam kitab IHYA berkata “sebaiknya di awali dari jari telunjuk kemudian jari tengah, jari manis, jari kelingking dan di akhiri dengan ibu jari”\rأما تقليم الاظفار فمجمع علي انه سنة: وسواء فيه الرجل والمرأة واليدان والرجلان: ويستحب ان يبدأ باليد اليمني ثم اليسرى ثم الرجل اليمني ثم اليسرى قال الغزالي في الاحياء يبدأ بمسبحة اليمني ثم الوسطي ثم البصر ثم خنصر اليسرى إلى ابهامها ثم ابهام اليمنى وذكر فيه حديثا وكلاما في حكمته………….\rثم معنى هذا الحديث اتهم لا يؤخرون فعل هذه الاشياء عن وقتها فان اخروها فلا يؤخرونها اكثر من اربعين يوما وليس معناه الاذن في التأخير اربعين مطلقا","part":1,"page":99},{"id":100,"text":"Sedangkan masalah memotong kuku disepakati oleh Ulama hukumnya sunnat bagi pria, wanita, kuku kedua tangan atau pun kaki, disunnatkan cara memotongnya di awali dari tangan kanan kemudian tangan kiri kemudian kaki kanan dan di akhiri kaki kiri. Namun menurut Imam AlGhozali dalam kitab IHYA berkata “sebaiknya di awali dari jari telunjuk kemudian jari tengah, jari manis, jari kelingking dan di akhiri dengan ibu jari” dalam kitab tersebut beliau menuturkan hadits dan hikmah memotong kuku dengan praktek yang beliau tuturkan………………………dst.\rعن أنس رضى الله عنه قال وقت لنا في قص الشارب وتقليم الاظفار ونتف الابط وحلق العانة ان لا نترك اكثر من اربعين ليلة رواه مسلم\rKemudian pengertian hadits dari sahabat Anas Ra, “kami memberi batas waktu dalam mencukur kumis, memotong, membersihkan bulu ketiak dan mencukur bulu kemaluan agar tidak ditinggalkan lebih dari batas waktu 40 malam” (HR. Muslim)\rArtinya para sahabat dalam praktik membersihkan diri tadi tidak sampai mengakhirkan hingga batas akhir 40 hari, andaikan mereka mengakhirkan tidak pernah lewat hingga sampai masa 40 hari, bukan maksudnya membersihkannya di izinkan 40 hari sekali (tetapi setiap saat terlihat panjang meskipun belum sampai 40 hari sunah untuk di potong/dicukur). [ AlMajmu’ Alaa Syarh Almuhadzzab I/287 ].\r1044. AURAT ANAK KECIL YANG BELUM BALIGH\rPERTANYAAN :\rBadru Zaman\rApakah termasuk Aurat bila anak kecil belum baligh ga pake baju ??? sampai manakah batasan aurat bagi anak kecil ???\rJAWABAN :\rMasaji Antoro","part":1,"page":100},{"id":101,"text":"Menurut pendapat yang paling shahih kemaluan bocah wanita kecil haram di lihat kecuali bagi seorang ibunya dimasa usia menyusui, sedang kemaluan bocah lelaki kecil menurut mayoritas pengikut syafi'i boleh dilihat.\rفتح المعين بشرح قرة العين ج 3 - الصفحة 260 زين الدين بن عبد العزيز المليباري\rوالمعتمد عند الشيخين عدم جواز نظر فرج صغيرة لا تشتهى وقيل يكره ذلك وصحح المتولي حل نظر فرج الصغير إلى التمييز وجزم به غيره وقيل يحرم ويجوز لنحو الام نظر فرجيهما ومسه زمن الرضاع والتربية للضرورة\rالكتاب : حاشية إعانة الطالبين ج 3 - الصفحة 320 المؤلف : أبو بكر (المشهور بالبكري) بن محمد شطا الدمياطي (المتوفى : بعد 1302هـ) [ هو حاشية على حل الفاظ فتح المعين لشرح قرة العين بمهمات الدين / لزين الدين بن عبد العزيز المعبري المليباري (المتوفى : 987 هـ) ]\r(قوله: والمعتمد عند الشيخين) عبارة المنهاج مع المغني: والاصح حل النظر إلى صغيرة لا تشتهي إلا الفرج، فلا يحل نظره. قال الرافعي، كصاحب العمدة، اتفاقا. ورده في الروضة بأن القاضي جوزه جزما، فليس ذلك اتفاقا، بل فيه خلاف.اه. بحدف (قوله: وصحح المتولي حل نظر فرج الصغير) أي قبله، كما هو ظاهر، اه سم. والفرق بين فرج الصغير - حيث حل النظر إليه - وفرج الصغيرة - حيث حرم النظر إليه - أن فرجها أفحش\r(Keterangan menurut pendapat Mu’tamad (yang dapat dijadikan pegangan) menurut as-Syaikhaani) redaksi dalam kitab al-Manhaj dan al-Mughni “Pendapat yang paling shahih boleh melihat bocah wanita yang belum menimbulkan gelora syahwat kecuali kemaluannya, maka tidak halal.","part":1,"page":101},{"id":102,"text":"Ar-Roofi’i dan pengarang kitab al-‘Umdah menyatakan “dengan kesepakatan ulama” namun dalam ar-Raudhah diterangkan bahwa alQadhy membolehkannya, berarti tidak terjadi kesepakatan ulama tetapi ada khilaf dalam masalah ini.\r(Keterangan Al-Mutawaaly menshahihkan pendapat yang menyatakan bolehnya melihat kemaluan bocah laki-laki) perbedaan diantara kedua kelamin bocah ini hingga mengakibatkan halalnya melihat kelamin bocah laki-laki dan haramnya melihat kelamin bocah wanita adalah kelamin wanita bentuknya lebih cabul.\rMenurut pendapat Mu’tamad (yang dapat dijadikan pegangan) menurut as-Syaikhaani (an-Nawaawy dan ar-Roofi’i) tidak bolehnya melihat kemaluan bocah kecil wanita yang belum mengundang syahwat, menurut Qiil (sebuah pendapat) makruh.\rAl-Mutawaaly menshahihkan pendapat yang menyatakan bolehnya melihat kemaluan bocah laki-laki hingga ia usia tamyiz (usia saat ia bisa makan, minum, tidur, buang air kotoran dengan sendiri). menurut Qiil (sebuah pendapat) haram.\rDan bagi semisal Ibu boleh melihat dan memegang kemaluan kedua bocah tersebut saat usia menyusui dan mendidik karena adanya darurat. [ Fath al-Mu’in III/260, Hasyiyah I’aanah at-Thoolibiin III/320 ].\rفتح الوهاب بشرح منهج الطلاب ج 2 - الصفحة 55 زكريا بن محمد بن أحمد بن زكريا الأنصاري أبو يحيى سنة الولادة 823/ سنة الوفاة 926\r( وحل بلا شهوة نظر لصغيرة ) لا تشتهي ( خلا فرج ) لأنها ليست في مظنة شهوة\rأما الفرج فيحرم نظره وقطع القاضي بحله عملا بالعرف وعلى الأول استثنى ابن القطان الأم زمن الرضاع والتربية للضرورة أما فرج الصغير فيحل النظر إليه ما لم يميز كما صححه المتولي وجزم به غيره ونقله السبكي عن الأصحاب","part":1,"page":102},{"id":103,"text":"Dan halal melihat bocah wanita kecil yang belum menimbulkan gelora syahwat kecuali kemaluannya yang haram melihatnya sedang alQaadhy (Husein) memutuskan diperbolehkannya dengan mempertimbangkan kebiasaan yang terjadi dimasyarakat. Ibn al-Qatthaan membolehkan melihatnya bagi seorang ibu saat usia menyusui dan mendidik karena adanya darurat. Sedang kemaluan bocah laki-laki halal melihatnya selagi ia belum tamyiz, pendapat ini dishahihkan oleh al-Mutawally dan lainnya dan dinuqil oleh as-Subky dari para Ashaab (pengikut as-Syaafi’i). [ Fath al-Wahhaab II/55 ].\rمغني المحتاج إلى معرفة معاني ألفاظ المنهاج ج 3 - الصفحة 130 محمد الخطيب الشربيني\r( و ) الأصح حل النظر ( إلى صغيرة ) لا تشتهى لأنها ليست في مظنة الشهوة والثاني يحرم لأنها من جنس الإناث قال ابن الصلاح حكاية الخلاف في وجه الصغيرة التي لا تشتهى يكاد أن يكون خرقا للإجماع ( إلا الفرج ) فلا يحل نظره قال الرافعي كصاحب العدة اتفاقا ورده في الروضة بأن القاضي جوزه جزما فليس ذلك اتفاقا بل فيه خلاف لا أنه رد الحكم كما فهمه ابن المقري فصرح بالجواز\rوأما فرج الصغير فكفرج الصغيرة على المعتمد وإن قال المتولي بجواز النظر إليه إلى التمييز وتبعه السبكي على ذلك واستثنى ابن القطان الأم زمن الرضاع والتربية لمكان الضرورة وهو ظاهر وينبغي أن تكون المرضعة غير الأم كالأم\rAURAT ANAK KECIL","part":1,"page":103},{"id":104,"text":"الشافعية قالوا : إن عورة الصغير في الصلاة ذكرا كان أو أنثى مراهقا أو غير مراهق كعورة المكلف في الصلاة أما خارج الصلاة فعولة الصغير المراهق ذكرا كان أو أنثى كعورة البالغ خارجها في الأصح وعورة الصغير غير المراهق إن كان ذكرا كعورة المحارم إن كان ذلك الصغير يحسن وصف ما يراه من العورة بدون شهوة فإنه أحسنه بشهوة فالعورة بالنسبة له كالبالغ وإن لم يحسن الوصف فعورته كالعدم الا أنه يحرم النظر إلى قبله ودبره لغير من يتولى تربيته أما إن كان غير المراهق أنثى فإن كانت مشتهاة عند ذوي الطباع السليمة فعورتها عورة البالغة . وإلا فلا لكن يحرم النظر إلى فرجها لغير القائم بتربيتها\rKalangan Syafi’iyyah berpendapat : Aurat anak-anak baik pria atau wanita dalam shalat baik ia telah muraahiq (usia menjelang dewasa) atau belum seperti halnya aurat orang dewasa.Sedang aurat mereka diluar shalat menurut pendapat yang paling shahih juga seperti orang dewasa.\rAurat anak kecil yang belum murahiq bila ia pria maka seperti aurat diantara para mahram bila ia sudah mampu mensifati aurat yang ia lihat namun tanpa disertai syahwat, bila disertai syahwat maka auratnya seperti halnya orang dewasa.Sedang auratnya bila masih belum mensifati aurat yang ia lihat maka auratnya seperti tidak ada hanya saja diharamkan melihat kelamin dan duburnya bagi selain pengasuhnya.\rAurat anak kecil yang belum murahiq bila ia telah menimbulkan pesona syahwat menurut ukuran akal normal maka seperti wanita dewasa bila belum menimbulkan pesona maka tidak, namun haram melihat kemaluannya bagi selain pengasuhnya. [ Al-Fiqh alaa Madzaahib al-Arba’ah I/198 ].","part":1,"page":104},{"id":105,"text":"نظر الرجل إلى الصغيرة :9 - اتفق الفقهاء على أن النظر إلى الصغيرة بشهوة حرام ، مهما كان عمرها ، ومهما كان العضو المنظور إليه منها ، واتفقوا أيضا على أنه يجوز للرجل أن ينظر بغير شهوة إلى جميع بدن الصغيرة التي لم تبلغ حد الشهوة سوى الفرج منها .\rSemua Ulama sepakat bahwa melihat aurat anak kecil wanita dengan disertai syahwat maka haram hukumnya, usia berapapun anak kecil tersebut dan dibagian tubuh manapun yang ia lihat, dan Ulama juga sepakat bahwa diperbolehkan bagi pria dewasa melihat dengan tanpa syahwat terhadap anak kecil wanita yang belum sampai pada usia yang menimbulkan gelora kecuali pada kemaluannya. [ Al-Mausuu’h al-Fiqhiyyah 40/347 ].\rLink Asal : www.fb.com/groups/piss.ktb/380465528642928/\r1160. ANTARA CINTA, PERASAAN DAN KEMATIAN\rPERTANYAAN :\rOreng Posang\rAssalamu'alaikum. apakah masalah perasaan cinta masuk dalam ranah fiqih yang menimbulkan dampak hukum (halal/haram)?misalnya kita sudah punya istri, tetapi kita masih mencintai wanita lain walaupun kita tidak pernah melakukan hah-hal yang dilarang seperti berduaan, berciuman atau lainnya. tapi hati qta slalu ingat pada wanita itu. bagaimana hukumnya?\rJAWABAN :\rMasaji Antoro\rWa'alaykumsalam. Antara CINTA, PERASAAN DAN KEMATIAN\r[ ص 180 ] 8853 - (من عشق فكتم وعف ومات مات شهيدا) قال ابن عربي : العشق التقاء الحب بالمحب حتى خالط جميع أجزائه واشتمل عليه اشتمال الصماء.\r“Barangsiapa yang jatuh cinta lantas dia menahannya hingga ia mati, maka dia mati syahid”. [ Faidh alQadiir VI/233 ].","part":1,"page":105},{"id":106,"text":"( من عشق ) من يتصور حل نكاحها لها شرعا لا كامرد ( فعف ثم مات مات شهيدا ) أي يكون من شهداء الاخرة لان العشق وان كان مبدؤه النظر لكنه غيرموجب له فهو فعل الله بالعبد بلا سبب ( خط عن عائشةمن عشق فكتم ) عشقه عن الناس ( وعف فمات فهو شهيد ) والعشق التفاف الحب بالمحب حتى يخالط جميع أجزائه ( خط عن ابن عباس ) واسناده كالذي قبله ضعيف\r“Barangsiapa yang jatuh cinta (pada wanita yang semestinya halal untuk ia nikahi secara syara’ tidak jatuh cinta pada semacam amraad (pemuda tampan tanpa kumis) lantas dia menahannya hingga ia mati, maka dia mati syahid” artinya dirinya tergolong syahid diakhirat karena jatuh cinta meskipun berseminya diawali dari pandangan tapi termasuk hal yang tiada dapat ia hindari, jatuh cinta adalah karya Allah pada hambanya tanpa suatu sebab”“Barangsiapa yang jatuh cinta lantas dia menyimpannya (dari terlihat orang-orang) hingga ia mati, maka dia mati syahid”Jatuh cinta adalah berseminya rasa pada kekasih hingga bercampur diseluruh anggaauta tubuhnya.Sanad hadits ini dan hadits sebelumnya adalah dho’if. [ At-Taysiir Bi Syarh al-Jamii’ as-Shoghir II/833 ].\rSYARAT JATUH CINTA TERGOLONG SYAHID\rDisyaratkan kematian yang dapat membawa seseorang tergolong syahid akhirat adalah :\r• Iffah ialah tidak sampai menjerumuskannya pada perbuatan maksiat meskipun sekedar melihat yang diharamkan\r• Kitmaan ialah tidak diekspresikan dengan bentuk ungkapan namun ia pendam dalam hati, meskipun mengungkap perasaan kala seseorang jatuh cinta hukumnya sunnah\r• Yang ia cintai halal untuk dinikahi secara syara’","part":1,"page":106},{"id":107,"text":"نعم الميت عشقا شرطه العفة والكتمان لخبر من عشق وعف وكتم فمات مات شهيدا وإن كان الأصح وقفه على ابن عباس قال شيخنا ويجب أن يراد به من يتصور إباحة نكاحها له شرعا ويتعذر الوصول إليها كزوجة الملك وإلا فعشق المرد معصية فكيف تحصل بها درجة الشهادة اه.\r[ Mughni al-Muhtaaj I/350 ].\r( قَوْلُهُ وَالْمَيِّتُ عِشْقًا ) أَيْ بِشَرْطِ الْعِفَّةِ عَنْ الْمُحَرَّمَاتِ بِحَيْثُ لَوْ اخْتَلَى بِمَحْبُوبِهِ لَمْ يَقَعْ بَيْنَهُمَا فَاحِشَةٌ وَبِشَرْطِ الْكِتْمَانِ حَتَّى عَنْ مَحْبُوبِهِ وَإِنْ كَانَ يُسَنُّ إعْلَامُهُ بِأَنَّهُ يُحِبُّهُ وَمَعَ ذَلِكَ لَوْ أَعْلَمَهُ فَاتَتْهُ رُتْبَةُ الشَّهَادَةِ ا هـ ...وَعِبَارَةُ الشَّوْبَرِيِّ قَوْلُهُ وَالْمَيِّتُ عِشْقًا أَفْتَى الْوَالِدُ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى بِأَنَّهُ لَا فَرْقَ بَيْنَ عِشْقِ مَنْ يُتَصَوَّرُ نِكَاحُهُ شَرْعًا أَوْ لَا كَالْأَمْرَدِ حَيْثُ عَفَّ وَكَتَمَ إذْ الْمَحَبَّةُ لَا قُدْرَةَ عَلَى دَفْعِهَا وَقَدْ يَكُونُ الصَّبْرُ عَلَى الثَّانِي أَشَدَّ إذْ لَا وَسِيلَةَ لَهُ لِقَضَاءِ وَطَرِهِ بِخِلَافِ الْأَوَّلِ.\r[ Hasyiyah al-Jamaal VII/155 ].\rMembayangkan wanita lain saat berhubungan ‘intim’ dengan istrinya menurut kalangan Malikiyyah, Hanabilah, Hanafiyyah dan sebagian kalangan Syafi’iyyah hukumnya haram dan berdosa namun sebagian kalangan Syafi’iyyah tidak sampai menghukuminya haram karena bayangan dan perasaan adalah sesuatu yang tidak dapat ia kuasai.\r> MAALIKIYYAH","part":1,"page":107},{"id":108,"text":"ويتعين عليه أن يتحفظ على نفسه بالفعل، وفي غيره بالقول من هذه الخصلة القبيحة التي عمت بها البلوى في الغالب، وهي أن الرجل إذا رأى امرأة أعجبته، وأتى أهله جعل بين عينيه تلك المرأة التي رآها، وهذا نوع من الزنا، لما قاله علماؤنا فيمن أخذ كوزاً من الماء فصور بين عينيه أنه خمر يشربه، أن ذلك الماء يصير عليه حراماً، وهذا مما عمت به البلوى؛ حتى لقد قال لي من أثق به: إنه استفتى في ذلك من ينسب إلى العلم، فأفتى بأن قال: إنه يؤجر على ذلك، وعلله بأن قال: إذا فعل ذلك صان دينه، فإنا لله وإنا إليه راجعون على وجود الجهل والجهل بالجهل، وما ذكر لا يختص بالرجل وحده بل المرأة داخلة فيه بل هو أشد، لأن الغالب عليها في هذا الزمان الخروج أو النظر، فإذا رأت من يعجبها تعلق بخاطرها، فإذا كانت عند الاجتماع بزوجها، جعلت تلك الصورة التي رأتها بين عينيها، فيكون كل واحد منهما في معنى الزاني، نسأل الله العافية\rAl-Madkhaal II/195\r> HANABILAH\rوقد ذكر ابن عقيل وجزم به في الرعاية الكبرى: أنه لو استحضر عند جماع زوجته صورة أجنبية محرمة أنه يأثم.. ) انتهى من الآداب (1/98)\rAl-Aadaab I/98\r> HANAFIYYAH\rولم أر من تعرض للمسالة عندنا (يعني الحنفية) وإنما قال في الدرر: إذا شرب الماء وغيره من المباحات بلهو وطرب على هيئة الفسقة حرم، والأقرب لقواعد مذهبنا عدم الحلِّ، لأن تصور تلك الأجنبية بين يديه يطؤها فيه تصوير مباشرة المعصية على هيئتها، فهو نظير مسألة الشرب، ثم رأيت صاحب تبيين المحارم من علمائنا نقل عبارة ابن الحاج وأقرها\rHasyiyah Ibn ‘Aabidiin 6/372\r> SYAFI'IYYAH\rقال: العراقي لو جامع أهله وفي ذهنه مجامعة من تحرم عليه، وصور في ذهنه أنه يجامع تلك الصورة المحرمة فإنه يحرم عليه ذلك، وكل ذلك لتشبهه بصورة الحرام. والله أعلم. انتهى.\rThoroh at-Tatsriib II/19","part":1,"page":108},{"id":109,"text":"( فَرْعٌ ) وَطِئَ حَلِيلَتَهُ مُتَفَكِّرًا فِي مَحَاسِنِ أَجْنَبِيَّةٍ حَتَّى خُيِّلَ إلَيْهِ أَنَّهُ يَطَؤُهَا فَهَلْ يَحْرُمُ ذَلِكَ التَّفَكُّرُ وَالتَّخَيُّلُ اخْتَلَفَ فِي ذَلِكَ جَمْعٌ مُتَأَخِّرُونَ بَعْدَ أَنْ قَالُوا إنَّ الْمَسْأَلَةَ لَيْسَتْ مَنْقُولَةً فَقَالَ جَمْعٌ مُحَقِّقُونَ كَابْنِ الْفِرْكَاحِ وَجَمَالِ الْإِسْلَامِ ابْنِ الْبِزْرِيِّ وَالْكَمَالِ الرَّدَّادِ شَارِحِ الْإِرْشَادِ وَالْجَلَالِ السُّيُوطِيّ وَغَيْرِهِمْ يَحِلُّ ذَلِكَ وَاقْتَضَاهُ كَلَامُ التَّقِيِّ السُّبْكِيّ فِي كَلَامِهِ عَلَى قَاعِدَةِ سَدِّ الذَّرَائِعِ وَاسْتَدَلَّ الْأَوَّلُ لِذَلِكَ بِحَدِيثِ { إنَّ اللَّهَ تَعَالَى تَجَاوَزَ لِأُمَّتِي مَا حَدَّثَتْ بِهِ أَنْفُسَهَا } وَلَك رَدُّهُ بِأَنَّ الْحَدِيثَ لَيْسَ فِي ذَلِكَ بَلْ فِي خَاطِرٍ تَحَرَّكَ فِي النَّفْسِ هَلْ يَفْعَلُ الْمَعْصِيَةَ كَالزِّنَا وَمُقَدَّمَاتِهِ ، أَوْ لَا فَلَا يُؤَاخَذُ بِهِ إلَّا إنْ صَمَّمَ عَلَى فِعْلِهِ بِخِلَافِ الْهَاجِسِ وَالْوَاجِسِ وَحَدِيثِ النَّفْسِ وَالْعَزْمِ وَمَا نَحْنُ فِيهِ لَيْسَ بِوَاحِدٍ مِنْ هَذِهِ الْخَمْسَةِ ؛ لِأَنَّهُ لَمْ يَخْطُرْ لَهُ عِنْدَ ذَلِكَ التَّفَكُّرِ وَالتَّخَيُّلِ فِعْلُ زِنًا وَلَا مُقَدِّمَةٌ لَهُ فَضْلًا عَنْ الْعَزْمِ عَلَيْهِ وَإِنَّمَا الْوَاقِعُ مِنْهُ تَصَوُّرُ قَبِيحٍ بِصُورَةِ حَسَنٍ فَهُوَ مُتَنَاسٍ لِلْوَصْفِ الذَّاتِيِّ مُتَذَكِّرٌ لِلْوَصْفِ الْعَارِضِ بِاعْتِبَارِ تَخَيُّلِهِ وَذَلِكَ لَا مَحْذُورَ فِيهِ إذْ غَايَتُهُ أَنَّهُ تَصَوُّرُ شَيْءٍ فِي الذِّهْنِ غَيْرُ مُطَابِقٍ لِلْخَارِجِ فَإِنْ قُلْت يَلْزَمُ مِنْ تَخَيُّلِهِ وُقُوعَ وَطْئِهِ فِي تِلْكَ الْأَجْنَبِيَّةِ أَنَّهُ عَازِمٌ عَلَى الزِّنَا بِهَا قُلْت مَمْنُوعٌ كَمَا هُوَ وَاضِحٌ وَإِنَّمَا","part":1,"page":109},{"id":110,"text":"اللَّازِمُ فَرْضُ مَوْطُوءَتِهِ هِيَ تِلْكَ الْحَسْنَاءُ وَقَدْ تَقَرَّرَ أَنَّهُ لَا مَحْذُورَ فِيهِ عَلَى أَنَّا لَوْ فَرَضْنَا أَنَّهُ يَضُمُّ إلَيْهِ خُطُورَ الزِّنَا بِتِلْكَ الْحَسْنَاءِ لَوْ ظَفَرَ بِهَا حَقِيقَةً لَمْ يَأْثَمْ إلَّا إنْ صَمَّمَ عَلَى ذَلِكَ فَاتَّضَحَ أَنَّ كُلًّا مِنْ التَّفَكُّرِ وَالتَّخَيُّلِ حَالُ غَيْرِ تِلْكَ الْخَوَاطِرِ الْخَمْسَةِ ، وَأَنَّهُ لَا إثْمَ إلَّا إنْ صَمَّمَ عَلَى فِعْلِ الْمَعْصِيَةِ بِتِلْكَ الْمُتَخَيَّلَةِ لَوْ ظَفَرَ بِهَا فِي الْخَارِجِ .","part":1,"page":110},{"id":111,"text":"قَالَ ابْنُ الْبِزْرِيِّ وَيَنْبَغِي كَرَاهَةُ ذَلِكَ وَرُدَّ بِأَنَّ الْكَرَاهَةَ لَا بُدَّ فِيهَا مِنْ نَهْيٍ خَاصٍّ أَيْ ، وَإِنْ اُسْتُفِيدَ مِنْ قِيَاسٍ ، أَوْ قُوَّةِ الْخِلَافِ فِي وُجُوبِ الْفِعْلِ فَيُكْرَهُ تَرْكُهُ كَغُسْلِ الْجُمُعَةِ أَوْ حُرْمَتِهِ فَيُكْرَهُ كَلَعِبِ الشِّطْرَنْجِ إذْ لَمْ يَصِحَّ فِي النَّهْيِ عَنْهُ حَدِيثٌ وَنَقَلَ ابْنُ الْحَاجِّ الْمَالِكِيِّ عَنْ بَعْضِ الْعُلَمَاءِ أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ فَيُؤْجَرُ عَلَيْهِ ؛ لِأَنَّهُ يَصُونُ بِهِ دِينَهُ وَاسْتَقَرَّ بِهِ بَعْضُ الْمُتَأَخِّرِينَ مِنَّا إذَا صَحَّ قَصْدُهُ بِأَنْ خَشِيَ تَعَلُّقَهَا بِقَلْبِهِ وَاسْتَأْنَسَ لَهُ بِمَا فِي الْحَدِيثِ الصَّحِيحِ مِنْ أَمْرِ { مَنْ رَأَى امْرَأَةً فَأَعْجَبَتْهُ أَنَّهُ يَأْتِي امْرَأَتَهُ فَيُوَاقِعُهَا } ا هـ وَفِيهِ نَظَرٌ ؛ لِأَنَّ إدْمَانَ ذَلِكَ التَّخَيُّلِ يُبْقِي لَهُ تَعَلُّقًا مَا بِتِلْكَ الصُّورَةِ فَهُوَ بَاعِثٌ عَلَى التَّعَلُّقِ بِهَا لَا أَنَّهُ قَاطِعٌ لَهُ وَإِنَّمَا الْقَاطِعُ لَهُ تَنَاسِي أَوْصَافِهَا وَخُطُورِهَا بِبَالِهِ وَلَوْ بِالتَّدْرِيجِ حَتَّى يَنْقَطِعَ تَعَلُّقُهُ بِهَا رَأْسًا وَقَالَ ابْنُ الْحَاجِّ الْمَالِكِيِّ يَحْرُمُ عَلَى مَنْ رَأَى امْرَأَةً أَعْجَبَتْهُ وَأَتَى امْرَأَتَهُ جَعْلُ تِلْكَ الصُّورَةِ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَهَذَا نَوْعٌ مِنْ الزِّنَا كَمَا قَالَ عُلَمَاؤُنَا فِيمَنْ أَخَذَ كُوزًا يَشْرَبُ مِنْهُ فَتَصَوَّرَ بَيْنَ عَيْنَيْهِ أَنَّهُ خَمْرٌ فَشَرِبَهُ أَنَّ ذَلِكَ الْمَاءَ يَصِيرُ حَرَامًا عَلَيْهِ ا هـ وَرَدَّهُ بَعْضُ الْمُتَأَخِّرِينَ بِأَنَّهُ فِي غَايَةِ الْبُعْدِ وَلَا دَلِيلَ عَلَيْهِ وَإِنَّمَا بَنَاهُ عَلَى قَاعِدَةِ مَذْهَبِهِ فِي سَدِّ الذَّرَائِعِ وَأَصْحَابُنَا لَا يَقُولُونَ بِهَا","part":1,"page":111},{"id":112,"text":"وَوَافَقَهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ الزَّاهِدُ ، وَهُوَ شَافِعِيٌّ غَفْلَةً عَنْ هَذَا الْبِنَاءِ ا هـ وَقَدْ بَسَطْت الْكَلَامَ عَلَى هَذِهِ الْآرَاءِ الْأَرْبَعَةِ فِي الْفَتَاوَى وَبَيَّنْت أَنَّ قَاعِدَةَ مَذْهَبِهِ لَا تَدُلُّ لِمَا قَالَهُ فِي الْمَرْأَةِ وَفَرَّقَتْ بَيْنَهَا وَبَيْنَ صُورَةِ الْمَاءِ بِفَرْقٍ وَاضِحٍ لَا غُبَارَ عَلَيْهِ فَرَاجِعْ ذَلِكَ كُلَّهُ فَإِنَّهُ مُهِمٌّ فَإِنْ قُلْت يُؤَيِّدُ التَّحْرِيمَ قَوْلُ الْقَاضِي حُسَيْنٍ كَمَا يَحْرُمُ النَّظَرُ لِمَا لَا يَحِلُّ يَحْرُمُ التَّفَكُّرُ فِيمَا لَا يَحِلُّ لِقَوْلِهِ تَعَالَى { وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ } فَمَنَعَ مِنْ التَّمَنِّي لِمَا لَا يَحِلُّ كَمَا مَنَعَ مِنْ النَّظَرِ لِمَا لَا يَحِلُّ قُلْت اسْتِدْلَالُ الْقَاضِي بِالْآيَةِ وَقَوْلُهُ عَقِبَهَا فَمَنَعَ مِنْ التَّمَنِّي إلَخْ صَرِيحَانِ فِي أَنَّ كَلَامَهُ لَيْسَ فِيمَا نَحْنُ فِيهِ مِنْ التَّفَكُّرِ وَالتَّخَيُّلِ السَّابِقَيْنِ وَإِنَّمَا هُوَ فِي حُرْمَةِ تَمَنِّي حُصُولِ مَا لَا يَحِلُّ لَهُ بِأَنْ يَتَمَنَّى الزِّنَا بِفُلَانَةَ ، أَوْ أَنْ تَحْصُلَ لَهُ نِعْمَةُ فُلَانٍ بَعْدَ سَلْبِهَا عَنْهُ وَمِنْ ثَمَّ ذَكَرَ الزَّرْكَشِيُّ كَلَامَهُ فِي قَاعِدَةِ حُرْمَةِ تَمَنِّي الرَّجُلِ حَالَ أَخِيهِ مِنْ دِينٍ ، أَوْ دُنْيَا قَالَ وَالنَّهْيُ فِي الْآيَةِ لِلتَّحْرِيمِ وَغَلَّطُوا مَنْ جَعَلَهُ لِلتَّنْزِيهِ نَعَمْ إنْ ضَمَّ فِي مَسْأَلَتِنَا إلَى التَّخَيُّلِ وَالتَّفَكُّرِ تَمَنِّيَ وَطْئِهَا زِنًا فَلَا شَكَّ فِي الْحُرْمَةِ ؛ لِأَنَّهُ حِينَئِذٍ مُصَمِّمٌ عَلَى فِعْلِ الزِّنَا رَاضٍ بِهِ وَكِلَاهُمَا حَرَامٌ وَلَمْ يَتَأَمَّلْ كَلَامَ الْقَاضِي هَذَا مَنْ اسْتَدَلَّ بِهِ لِلْحُرْمَةِ وَلَا مَنْ","part":1,"page":112},{"id":113,"text":"أَجَابَ عَنْهُ بِأَنَّهُ لَا يَلْزَمُ مِنْ تَحْرِيمِ التَّفَكُّرِ تَحْرِيمُ التَّخَيُّلِ إذْ التَّفَكُّرُ إعْمَالُ النَّظَرِ فِي الشَّيْءِ كَمَا فِي الْقَامُوسِ ا هـ .\rTuhfah al-Muhtaaj 29/272-275\rMbah Godek\rPak yai Masaji Antoro mantap kang.....mbah mau menambahi dikit ya,,nanti diangan2 lebih enak mana ibarohnya....\rوسئل في رجل جامع زوجته متفكراً في محاسن أجنبية فهل يحرم؟. فأجاب بقوله: الذي أفتى به أبو القاسم بن البرزي بأنه لا يحل، وقد بسط الكلام على ذلك في ترجمته ابن السبكي في طبقاته، ورجح عدم التأثيم لحديث: «إن الله تجاوز لي عن أمتي ما حدثت به أنفسها ما لم تتكلم أو تعمل به» أي بالعمل الذي عزم عليه، وهذا لم يعمل بما عزم عليه اهـ. ويؤيد التحريم قول القاضي في الصوم من تعليقه كما لا يحل النظر لما لا يحل له يحرم التفكر فيه لقوله تعالى: {ولا تيمموا الخبيث منه} (البقرة: 267)، فمنع من التيمم مما لا يحل كما منع من النظر إلى ما لا يحل، والله سبحانه وتعالى أعلم.\r[ fatawi ibnu hajar alhaitami...kitabunnikah juz 5 hal 265 ].\r1185. AURAT : PRIA BERTELANJANG DADA DI DEPAN WANITA\rPERTANYAAN\rAlief Az-Zamranie Noer\rAssalamu'alaikum wr.wb. mau tax, mhon pencerahanx. . .\"dalam islam, aurat s'0rg laki-laki hanya dari pusar sampek k lutut, bgaimana hukumnya apabila s'0rg laki-laki membuka dadanya kemudian membuat para wanita merangsang?\"\rJAWABAN\rMasaji Antoro","part":1,"page":113},{"id":114,"text":"Wa’alaikumsalam wr wb. Anggauta tubuh antara pusat dan lutut adalah aurat pria saat ia shalat, bersama pria lain dan saat bersama wanita mahramnya, namun saat ia bersama wanita lain diwajibkan baginya juga menutupi seluruh anggauta tubuhnya (pendapat lain mengatakan wajah pria bukanlah aurat saat bersama wanita lain kecuali bila dikhawatirkan menimbulkan fitnah).\rDengan demikian haram bagi pria membuka dadanya di hadapan wanita lain dan bagi wanita tersebut juga diharamkan melihatnya namun terdapat pendapat mengatakan boleh melihat selain anggauta antara pusat dan lututnya dengan jaminan tidak mengakibatkan rangsangan atau fitnah.\rREFERENSI :\rMujalli Anwar Mf\rوحاصل القول فيما يتعلق بالعورة أن الرجل له ثلاث عورات إحداها ما بين سرته وركبته وهي عورته في الصلاة ولو في الخلوة وعند الذكور وعند النساء المحارم\rثانيتها السوءتان أي القبل والدبر وهي عورته في الخلوة\rثالثتها جميع بدنه وشعره حتى قلامة ظفره وهي عورته عند النساء الأجانب فيحرم على المرأة الأجنبية النظر إلى شيء من ذلك ولو علم الشخص أن الأجنبية تنظر إلى شيء من ذلك وجب حجبه عنها\rولسنا نقول إن وجه الرجل في حقها عورة كوجه المرأة في حقه بل هو كوجه الصبي الأمرد في حق الرجل فيحرم النظر عند خوف الفتنة فقط فإن لم تكن فتنة فلا إذ لم يزل الرجال على ممر الزمان مكشوفي الوجوه والنساء يخرجن متنقبات ولو كان وجوه الرجال عورة في حق النساء لأمروا بالتنقيب أو منعوا من الخروج إلا لضرورة\rKesimpulan pmbahasan tntang aurot lelaki adalah, lelaki punya tiga hal dalam aurot :\r1- aurotnya adalah antara pusar dan lutut, yaitu aurotnya dalam shalat, di sesama lelaki, dan saat wanita mahromnya sendiri","part":1,"page":114},{"id":115,"text":"2- hanya kubul dan duburnya saja, yitu saat dia sendirian, cntoh ketika mandi di kamar mand\r3- ADALAH SEMUA BADANNYA, smp rambut dan kukunya, yaitu aurotnya di saat ada wanita lain/ajnabiy\rMaka haram bagi wanita untuk melihatnya. Andai ada orang yang tau, bahwa akan ada wanita yang akan melihatnya, maka ia wajib menutupinya. Spert kasus dalam pertanyaan ini, ia udh tau bahwa di depan rumahnya banyak wanita lewat, maka ia wajib menutup badannya, tidak boleh dia trlanjang dada di situ, Beda halnya kalau cuma wajah Maka wajah bukan aurot. [ Nihayah az-Zain I/47 ].\rوكذا الرجل له ثلاث عورات : عورة في الصلاة وقد تقدمت وهي أيضاً عورته عند الرجال ومحارمه من النساء ، وعورة النظر وهي جميع بدنه بالنسبة للأجنبية ، وعورة الخلوة السوأتان فقط على المعتمد زي\rBegitu pula seorang pria, baginya memiliki tiga aurat :\r1. AURAT SHALAT\rIalah aurat yang wajib ditutupinya saat menjalani shalat yakni anggauta tubuhnya antara pusat dan lutut dan ini juga auratnya saat bersama sesama pria dan wanita-wanita mahramnya\r2. AURAT NADHRAH\rIalah aurat yang harus ia tutupi dari pandangan wanita lain yakni keseluruhan tubuhnya dinisbatkan pada wanita lain (bukan mahramnya)\r3. AURAT KHALWAH\rIalah auratnya saat ia sendirian yakni dua anggauta cabulnya (kemaluan dan dubur) menurut pendapat mu’tamad (yang bisa dijadikan pegangan)\r[ Tuhfah al-Habiib II/184 ].\rBuka juga keterangan di Kitab lain :\rHasyiyah al-Bujairomi ala al-Khothiib IV/79,\rHawaasyi as-Syarwaany II/112\rTuhfah al-Muhtaaj VI/246\rDewan Masjid Assalaam\rوا?ما نظرها ا?لى غير زوجها ومحرمها فحرام كنظره ا?ليها، وقيل يحل ا?ن تنظر منه ما عدا عورته عند الا?من","part":1,"page":115},{"id":116,"text":"Dan adapun melihatnya seorang wanita kepada selain suami dan mahramnya adalah haram sebagaimana melihatnya laki-laki kepadanya. Namun ada pendapat pula bahwa halal melihat selain auratnya (antara pusar dan lutut) ketika aman dari fitnah (syahwat termasuk fitnah). [ Umdatussalik wa uddatunnasik. Kitab Nikah hal 213 ].\rKor Ngocol Kor Mettat\r.ويحرم عليها النظر الى الرجل عند خوف الفتنة قطعا روضة الطالبين للنووي\rWanita haram melihat lelaki saat merasa dirinya akan tergoda, apalagi merangsang. Wallaahu A'lamu Bis Showaab\rLink ASLI diskusi : www.fb.com/groups/piss.ktb/336546616368153\r1253. PENGERTIAN MADHINNATIS SYAHWAT\rPERTANYAAN :\rEdogawa Maria\rAssallamualykm warhmatullah wabarokatuh..pa kiyai mau nanya nih, madzinnatu as syahwat.. itu apa tlong minta dijelaskan...\rJAWABAN :\r> Ulilalbab Hafas\rMungkin yang dimaksud si sa'il adalah mudzinnatussyahwat (perkara yang bisa menimbulakan syahwat) dalam artian dzon akan terjadinya syahwat.\r>Taufiq El-rahman\rMadhinnatussyahwat ialah tempt syahwat seperti contoh tidak dharamkan melihat farji hewan karena pada urf (umum) bkn madhinnatusyahwat atau tidak menimbulkan syahwat. karena cma wanita yang diannggap madhinnatussyahwat.\r> Masaji Antoro\rWa'alaikumsalam. Jawaban diatas alhamdulilah semuanya sudah pas...sekedar nambahi referensi\rMadhinnatis Syahwat = Tempat yang diduga dapat membangkitkan syahwat/birahi.\r( قوله لاكتفاء مظنة الشهوة ) أي لانتفاء المحل الذي يظن فيه وجود الشهوة قال في القاموس مظنة الشيء بكسر الظاء موضع يظن فيه وجود الشيء اه وضابط الشهوة انتشار الذكر في الرجل وميل القلب في المرأة","part":1,"page":116},{"id":117,"text":"(Keterangan karena tidak adanya madhinnatis Syahwat) artinya karena tidak adanya tempat yang diduga dapat membangkitkan birahi. Dalam kamus dijelaskan “Madhinnatis Sya-i” artinya tempat yang diduga wujudnya sesuatu didalamnya.Sedang batasan syahwat adalah ereksinya kemaluan bagi pria dan terpikatnya hati bagi wanita. [ I’aanah at-Thoolibiin I/64 ]. Wallahu A'lam Bishowaab.\rLink Diskusi > www.fb.com/groups/piss.ktb/366179380071543/\r1279. PEMASANGAN ALAT KONTRASEPSI (IUD) OLEH DOKTER\rPERTANYAAN :\rIe Pos\rAssalamu'alaikum.. Masalah : Sudah umum jika IUD/spiral di pasang oleh bidan/dkter. Sdgkn farj tidak blh dlhat oleh selain suami. Pertnyaan: Apakah pemasangan IUD tersebut halal di lakukan olh orang lain(dokter)?\rJAWABAN :\r> Masaji Antoro\rHasil Bahts Masail PWNU 1997 di PP. Ketapang Malang\rIUD adalah alat yang berbentuk huruf T yang ditempatkan di dalam rahim yang menyebabkan terjadinya perubahan di dalam rahim tersebut yang mencegah sel telur dari kondisi siap untuk menghadapi pembuahan. Alat pencegah kehamilan tersebut dapat berada didalam uterus untuk kurun waktu beberapa tahun dan merupakan alat pengatur jarak kehamilan yang paling efektif.\rPertanyaan : Bagaimana hukumnya menggunakan kontrasepsi spiral (IUD) dalam KB mengingat caranya dengan melihat aurat?\rJawaban:","part":1,"page":117},{"id":118,"text":"Pada dasarnya menggunakan spiral (IUD) itu hukumnya boleh, sama dengan 'azl atau alat-alat kontrasepsi yang lain, tetapi karena cara memasangnya harus melihat aurat mugholadzoh maka hukumnya haram. Oleh karena itu diusahakan dengan cara yang dibenarkan oleh syara’ seperti dipasang oleh suaminya sendiri. Dasar Pengambilan Hukum:\r1. Sullamu al-Taufiq\rوَمِنْ مَعَاصِى اْلعَيْنِ النَّظَرُ اِلىَ النِّسَاءِ اْلاَجْنَبِيَّاتِ وَكَذَا نَظَرُ هُنَّ اِلَيْهِمْ وَنَطَرُ اْلعَوْرَاتِ فَيَحْرُمُ نَظَرُ شَيْئٍ مِنْ بَدَنِ اْلمَرْأَةِ اْلاَجْنَبِيَّةِ غَيْرِ الْحَلِيْلَةِ وَيَحْرُمُ عَلَيْهَا كَشْفُ شَيْئٍ مِنْ بَدَنِهَا بِحَضْرَةِ مَنْ يَحْرُمُ نَظَرُهُ اِلَيْهَا وَيَحْرُمُ عَلَيْهِ وَعَلَيْهاَ كَشْفُ شَيْءٍ مِمَّا بَيْنَ السُّرَّةِ وَالرُّكْبَةِ بِحَضْرَةِ مُطَّلِعٍ عَلىَ اْلعَوْرَاتِ وَلَوْ مَعَ جِنْسٍ وَمَحْرَمِيَّةٍ غَيْرِ حَلِيْلَةٍ\r“Termasuk diantara maksiat mata yaitu memandang kepada wanita lain dan demikian juga mereka memandang laki-laki lain dan melihat aurat. Maka haram melihat bagian dari tubuh wanita lain kecuali perempuan yang halal dan haram pula atas dia membuka bagian dari badannya dihadapan orang yang haram melihatnya. Haram atas laki-laki dan perempuan membuka bagian diantara pusar dan lutut dihadapan orang yang melihat aurat sekalipun bersama jenis dan ada hubungan mahram kecuali perempuan yang halal”\r2. Hasyiatu al-Qulyubi, Juz III, Hlm, 212\r(وَمَتَى حَرُمَ النَّظَرُ حَرُمَ الْمَسُّ) لِأَنَّهُ أَبْلَغُ فِي اللَّذَّةِ مِنْهُ\r“Dan ketika melihat itu haram, maka menyentuh juga haram karena menyentuh itu lebih sempurna daripada melihat dlam kenikmatannya”","part":1,"page":118},{"id":119,"text":"3. Mughni al-Muhtaj, Juz IV, Hlm, 215\rاعْلَمْ أَنَّ مَا تَقَدَّمَ مِنْ حُرْمَةِ النَّظَرِ وَالْمَسِّ هُوَ حَيْثُ لاَ حَاجَةَ إلَيْهِمَا وَأَمَّا عِنْدَ الْحَاجَةِ فَالنَّظَرُ وَالْمَسُّ (مُبَاحَانِ لِفَصْدٍ وَحِجَامَةٍ وَعِلاَجٍ) وَلَوْ فِيْ فَرْجٍ لِلْحَاجَةِ الْمُلْجِئَةِ إلَى ذَلِكَ؛ ِلأَنَّ فِي التَّحْرِيْمِحِيْنَئِذٍ حَرَجًا، فَلِلرَّجُلِ مُدَاوَاةُ الْمَرْأَةِ وَعَكْسُهُ، وَلْيَكُنْ ذَلِكَ بِحَضْرَة مَحْرَمٍ أَوْ زَوْجٍ أَوْ امْرَأَةٍ ثِقَةٍ إنْ جَوَّزْنَا خَلْوَةَ أَجْنَبِيٍّ بِامْرَأَتَيْنِ، وَهُوَ الرَّاجِحُ\r“Ketahuilah sesungguhnya apa yang telah lalu bahwa keharaman melihat dan menyentuh ketika tidak hajat untuk melihat dan menyentuh. Adapun ketika ada hajat maka melihat dan menyentuh hukumnya boleh kerena bertujuan cantuk dan mengobati walaupun pada farji, karena hajat yang mendesak untuk itu, karena jika diharamkan dalam kondisi seperti ini akan menimbulkan kesulitan. Jadi seorang laki-laki boleh mengobati orang perempuan dan sebaliknya dan hendaknya hal itu dilakukan dihadapan mahram atau suami atau perempuan yang dipercaya jika kita mengikuti ulama yang membolehkan khalwat satu orang laki-laki dengan dua orang perempuan dan ini pendapat yang rajih”.\rSumber : http://solusinahdliyin.net/sehat/387-pemasangan-alat-kontrasepsi-iud.html\rLink Diskusi > www.fb.com/groups/piss.ktb/369173873105427/\r1442. ALASAN BAYI MENANGIS KETIKA LAHIR\rPERTANYAAN :\rKoes AL Jawawi\rAssalamualaikum.......Maw tanya kenapa setiap BAYI yang baru lahir itu menangis.....? Mohon pencerahan matur suwun.\rJAWABAN :\rMasaji Antoro","part":1,"page":119},{"id":120,"text":"Wa'alaikumsalam Wr Wb. Karena tertikam oleh syaitan, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW :“Setiap anak adam ditusuk oleh syaitan dilambungnya dengan kedua jarinya saat dilahirkan selain Isa Bin Maryam”. Diantara solusi agar terhindar dari tikaman syetan pada anak yang hendak terlahirkan kelak, saat senggama jangan lupa berdoa: ALLAAHUMMA JANNIBNAA WA JANNIBIS SYAITHAANA MAA ROZAQTANAA\rقوله : (ما من بني آدم) أي ما من أولاده ، والمراد هذا الجنس (مولود إلا يمسه الشيطان) رفع مولود على أنه فاعل الظرف لاعتماده على حرف النفي ، والمستثنى منه أعم عام الوصف فالاستثناء مفرغ ، يعني ما وجد من بني آدم مولود متصف بشيء من الأوصاف حال ولادته إلا بهذا الوصف أي مس الشيطان له ، والمراد بالمس الحقيقي أي الحسي لقوله {صلى الله عليه وسلم} في رواية للبخاري : ((كل بني آدم يطعن الشيطان في جنبه بإصبعيه حين يولد غير عيسى بن مريم ، ذهب يطعن فطعن في الحجاب)). قال القرطبي : هذا الطعن من الشيطان هو ابتداء التسليط ، فحفظ الله مريم وابنها ببركة دعوة أمها. (فيستهل) أي يصيح (صارخاً) رافعاً صوته بالبكاء ، وهو حال مؤكدة ، أو مؤسسة أي مبالغة في رفعه ، أو المراد بالاستهلال مجرد رفع الصوت وبالصراخ البكاء (من مس الشيطان) أي لأجله ، يعني سبب صراخ الصبي أول ما يولد الألم من مس الشيطان إياه. قال الطيبي : وفي التصريح بالصراخ إشارة إلى أن المس عبارة عن الإصابة بما يؤذيه","part":1,"page":120},{"id":121,"text":"“Tidak terdapat dari anak cucu adam saat terlahirkan kecuali ia tersentuh oleh syaitan”Rasulullah SAW bersabda “Setiap anak adam ditusuk oleh syaitan dilambungnya dengan kedua jarinya saat dilahirkan selain Isa Bin Maryam”. Imam al-Qurthubi berkata “Penikaman syaithan tersebut adalah awal penguasaannya pada manusia, kemudian Allah menjaga Maryan dan puteranya berkah doanya dari hal yang demikian”Karenanya kemudian bayi menangis sekuat-kuatnya akibat tikaman syetan tersebut. At-Thiby berkata “Dalam penjelasan jeritan bayi tersebut menandakan bahwa sentuhan syetan pada mengena pada hal yang menyakitkannya”. [ Misykah al-Mashaabih I/377 ].\rقال رسول الله صلى الله عليه وسلم { لو أن أحدهم : إذا أراد أن يأتي أهله قال : بسم الله اللهم جنبنا الشيطان ، وجنب الشيطان ما رزقتنا فإنه إن يقدر بينهما ولد في ذلك ، لم يضره الشيطان أبدا } .","part":1,"page":121},{"id":122,"text":"وقع في رواية أحمد (ج1 : ص217) (( لم يضر ذلك الولد الشيطان أبدًا )) وفي أخرى له (ج1 : ص287) ولمسلم ، وابن ماجة (( لم يسلط عليه الشيطان أو لم يضره )) وهكذا وقع معرفًا في بعض الروايات عند البخاري وغيره . قال الحافظ : واللام للعهد المذكور في لفظ الدعاء ، وفي مرسل الحسن عند عبد الرزاق إذا أتى الرجل أهله فليقل بسم الله اللهم بارك لنا فيما رزقتنا ، ولا تجعل للشيطان نصيبًا فيما رزقتنا فكان يرجى ، إن حملت أن يكون ولدًا صالحًا ( أبدًا ) . قال القاري : فيه إيماء إلى حسن خاتمة الولد ببركة ذكر الله في ابتداء وجود نطفته في الرحم . فالضر مختص بالكفر . وقال السندي : لم يحمل أحد حديث الباب على العموم الضرر لعموم ضرر الوسوسة للكل ، وقد جاء كل مولود يمسه الشيطان ، إلا مريم وابنها ، فقيل لا يضره بالإغواء والإضلال بالكفر ، وقيل بالكبائر ، وقيل : بالصرف عن التوبة إذا عصى ، قيل إنه يأمن مما يصيب الصبيان من جهة الجان ، وقيل لا يكون للشيطان عليه سلطان ، فيكون من المحفوظين ، قال تعالى : \" إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ \" (15 : 42) انتهى\r“Kalau sekiranya seorang dari kalian apabila ia hendak mendatangi istrinya mengucapkan doa: ALLAAHUMMA JANNIBNAA WA JANNIBIS SYAITHAANA MAA ROZAQTANAA“ Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan, dan jauhkanlah setan dari rezki yang Engkau berikan kepada kami,“ maka sesungguhnya jika di takdirkan baginya anak saat itu maka setan tidak akan dapat menimpakan madharat terhadapnya selama-lamanya“. (HR: Bukhari Muslim).","part":1,"page":122},{"id":123,"text":"(Maksud madharat terhadapnya selama-lamanya) adalah kekufuran.As-Sanadi berkata “tidak satupunn Ahli hadits yang memberi pengertian hadits ini dengan kemadharatan yang bersifat umum sebab kenyataan rasa was-was teralami oleh stiap manusia”. Dalam sebuah hadits dikatakan “Setiap anak yang dilahir tersentuh oleh syaitan kecuali Maryam dan anaknya”.\rAda pendapat yang menyatakan arti madharat diatas adalah madharat berupa penyesatan dengan kekufuran, pendapat lain penyesatan dengan menjalani dosa besar, pendapat lain penyesatan melalaikan taubat saat menjalani maksiat, pendapat lain tidak tersentuh oleh jin yang sering mengganggu bocah kecil, pendapat lain, syetan tidak akan mampu menguasainya maka ia tergolong orang-orang yang terjaga sebagaimana firman Allah Ta’alaa : “Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat.” (QS. 15:42). [ Misykah al-Mashaabih VIII/346 ]. Wallaahu A'lamu Bis showaab.\rLink Diskusi > www.fb.com/groups/piss.ktb/390315134324634/\r1501. MU'ASYAROH : KRITERIA TASYABUH\rPERTANYAAN :","part":1,"page":123},{"id":124,"text":"Seringkali kita dengar keputusan hukum syara’ yang berbeda beda (jawaz makruh haram) dengan tendensi timbul keserupaan (تشبه ) dengan kebiasaan adat dari golonganj etnis gender tertentu. Dan dalam perkembanganya adat/kebiasaan tersebut tidak menjadi ciri khas dari golongan tertentu. Pertanyaan : Bagaimanakah penyerupaan (tasyabbuh) secara definitif di dalam menimbulkan konsekwensi hukum (jawaz makruh dan haram) menurut prespektif hukum fiqh ? Apabila suatu kebiasaan sudah tidak menjadi ciri khas karenan banyaknya golongan lain melakukan hal yang sama apakah melakukan hal tersebut masih dikatakan tasyabbuh ?\rJAWABAN :\rMelakukan sesuatu yang bisa dianggap menyerupai kebiasaan atau adat dari golongan etnis jender tertentu baik disengaja atau tidak konsekwensi hukumnya haram bila ada unsur kesengajaan dan boleh atau makruh ketika tidak ada kesengajaan atau maksud tertentu untuk menyerupai.\rReferensi :\rحواشي الشرواني الجزء الثالث ص: 26 دار الفكر","part":1,"page":124},{"id":125,"text":"وقد ضبط ابن دقيق العيد ما يحرم التشبه بهن فيه بأنه ما كان مخصوصا بهن في جنسه وهيئته أو غالبا في زيهن وكذا يقال في عكسه نهاية قال ع ش ومن العكس ما يقع لنساء العرب من لبس البشوت وحمل السكين على الهيئة المختصة بالرجال فيحرم عليهن ذلك وعلى هذا فلو اختصت النساء أو غلب فيهن زي مخصوص في إقليم وغلب في غيره تخصيص الرجال بذلك الزي كما قيل إن نساء قرى الشام يتزيين بزي الرجال الذين يتعاطون الحصاد والزراعة ويفعلن ذلك فهل يثبت في كل إقليم ما جرت به عادة أهله أو ينظر لأكثر البلاد فيه نظر والأقرب الأول ثم رأيت في أن ابن حج نقلا عن الإسنوي ما يصرح به وعليه فليس ما جرت به عادة كثير من النساء بمصر الآن من لبس قطعة شاش على رؤوسهن حراما لأنه ليس بتلك الهيئة مختصا بالرجال ولا غالب فيهم فليتنبه له فإنه دقيق وأما ما يقع من إلباسهن ليلة جلائهن عمامة رجل فينبغي فيه الحرمة لأن هذا الزي مخصوص بالرجال اهـ\rبغية المسترشدين ص: 283-284 دار الفكر\r(مسئلة) ضابط التشبه المحرم من تشبه الرجال بالنساء وعكسه ما ذكروه فى الفتح والتحفة والإمداد وشن الغارة وتبعه الرملى فى النهاية هو أن يتزيا أحدهما بما يختص بالآخر أو يغلب اختصاصه به فى المحل الذى هما فيه -إلى أن قال- وما ذكره من التصفيق وما بعده فقد اختلف فى تحريمه أما التصفيق باليد خارج الصلاة من الرجل فقال م ر بحرمته حيث كان للهو أو قصد به التشبه بالنساء ومال ابن حجر إلى كراهته ولو بقصد اللعبب وأماالضرب بالدف فصرح ابن حجر بأن المعتمد حله بلا كراهة ونقل عن بعض مشايخنا حرمته إن أكثر منه أم هو بتكسر وتثن فحرام مطلقا حتى على النساء كما صرح به فى كف الرعاع إلخ\rفيض القدير الجزء السادس ص: 104 المكتبة التجارية الكبرى","part":1,"page":125},{"id":126,"text":"من تشبه بقوم أى تزيا فى ظاهره بزيهم وفى تعرفه بفعلهم وفى تخلقه بخلقهم وسار بسيرتهم وهديهم فى ملبسهم وبعض أفعالهم أى وكان التشبه بحق قد طابق فيه الظاهر الباطن فهو منهم وقيل المعنى من تشبه بالصالحين وهو من أتباعهم يكرم كما يكرمون ومن تشبه بالفساق يهان ويخذل كهم ومن وضع عليه علامة الشرف أكرم وإن لم يتحقق شرفه وفيه أن من تشبه من الجن بالحيات وظهر بصورتهم قتل وأنه لا يجوز الآن لبس عمامة زرقاء أو صفراء كذا ذكره ابن رسلان وبأبلغ من ذلك صرح القرطبى فقال لو خص أهل الفسوق والمجون بلباس منع لبسه لغيرهم فقد يظن به من لا يعرفه أنه منهم فيظن به ظن السوء فيأثم الظان والمظنون فيه بسبب العون عليه وقال بعضهم قد يقع التشبه فى أمور قلبية من الاعتقادات وإرادات وأمور خارجية من أقوال وأفعال قد تكون عبادات وقد تكون عادات فى نحو طعام ولباس ومسكن ونكاح واجتماع وافتراق وسفر وإقامة وركوب وغيرها وبين الظاهر والباطن ارتباط ومناسبة وقد بعث الله المصطفى e بالحكمة التى هى سنة وهى الشرعة والمنهاج الذي شرعه له فكان مما شرعه له من الأقوال والأفعال ما يباين سبيل المغضوب عليهم والضالين فأمر بمخالفتهم فى الهدى الظاهر فى هذا الحديث وإن لم يظهر فيه مفسدة لأمور منها أن المشاركة فى الهدى فى الظاهر تؤثر تناسبا وتشاكلا بين المتشابهين تعود إلى موافقة ما فى الأخلاق والأعمال وهذا أمر محسوس فإن لابس ثياب العلماء مثلا يجد من نفسه نوع انضمام إليهم ولابس ثياب الجند المقاتلة مثلا يجد من نفسه نوع تخلق بأخلاقهم وتصير طبيعته منقادة لذلك إلا أن يمنعه مانع ومنها أن المخالفة في الهدي الظاهر توجب مباينة ومفارقة توجب الانقطاع عن موجبات الغضب وأسباب الضلال والانعطاف على أهل الهدى والرضوان ومنها أن مشاركتهم في الهدي الظاهر توجب الاختلاط الظاهر حتى يرتفع التمييز ظاهرا بين المهديين المرضيين وبين المغضوب عليهم والضالين إلى غير ذلك من","part":1,"page":126},{"id":127,"text":"الأسباب الحكيمة التي أشار إليها هذا الحديث وما أشبهه وقال ابن تيمية هذا الحديث أقل أحواله أن يقتضي تحريم التشبه بأهل الكتاب وإن كان ظاهره يقتضي كفر المتشبه بهم فكما في قوله تعالى ومن يتولهم منكم فإنه منهم المائدة وهو نظير قول ابن عمرو من بنى بأرض المشركين وصنع نيروزهم ومهرجانهم وتشبه بهم حتى يموت حشر يوم القيامة معهم فقد حمل هذا على التشبه المطلق فإنه يوجب الكفر ويقتضي تحريم أبعاض ذلك وقد يحمل منهم في القدر المشترك الذي شابههم فيه فإن كان كفرا أو معصية أو شعارا لها كان حكمه كذلك في اللباس\rفيض القدير الجزء الخامس ص: 269 المكتبة التجارية الكبرى","part":1,"page":127},{"id":128,"text":"لعن الله الرجل يلبس لبسة المرأة والمرأة تلبس لبسة الرجل فيه كما قال النووى حرمة تشبه الرجال بالنساء وعكسه لأنه إذا حرم فى اللباس ففى الحركات والسكنات والتصنع بالأعضاء والأصوات أولى بالذم والقبح فيحرم على الرجال التشبه بالنساء وعكسه فى لباس اختص به المشبه بل يفسق فاعله للوعيد عليه باللعن قال جمع ليس المراد هنا حقيقة اللعن بل التنفير فقط ليرتدع من سمعه عن مثل فعله ويحتمل كونه دعاء بالإبعاد وقد قيل إن لعن المصطفى لأهل المعاصي كان تحذيرا لهم عنها قبل وقوعها فإذا فعلوها استغفر لهم ودعا لهم بالتوبة وأما من أغلظ له ولعنه تأديبا على فعل فعله فقد دخل فى عموم شرطه حيث قال سألت ربى أن يجعل لعنى له كفارة ورحمة د ك فى اللباس عن أبى هريرة قال الحاكم على شرط مسلم وأقره الذهبى فى التلخيص وقال في الكبائر إسناده صحيح وقال فى الرياض إسناده صحيح لعن الله الرجلة من النساء أي المترجلة وهو بفتح الراء وضم الجيم التى تتشبه بالرجال فى زيهم أو مشيهم أو رفع صوتهم أو غير ذلك أما فى العلم والرأى فمحمود ويقال كانت عائشة رجلة الرأى قال الذهبى فتشبه المرأة بالرجل بالزى والمشية ونحو ذلك من الكبائر ولهذا الوعيد قال ومن الأفعال التى تلعن عليها المرأة إظهارها الزينة والذهب واللؤلؤ من تحت الثياب وتطيبها بنحو مسك وعنبر ولبسها المصبغات والمداس إلى ما أشبه ذلك من الفضائح د فى اللباس عن عائشة وسكت عليه أبو داود ورمز المصنف لحسنه وأصله قول الذهبى فى الكبائر إسناده حسن\rقرة العين ص: 323","part":1,"page":128},{"id":129,"text":"ما قولكم فى الرجل يلبس إزار المرأة او المرأة تلبس لباس الرجل أو تلبس يبلونا او ثوبا مثل ثوب الرجل شكلا وصورة فهل ذلك كله داخل فى الحديث لعن رسول الله e الرجل يلبس لبسة المراة او المرأة تلبس لبسة الرجل او لا ؟ والله الهادى إلى الصواب: أن لباس الرجل الخاص به إذا لبسته المرأة وصارت بحيث أنها سببه تشبه الرجل وقصت التشبه به فتكون داخلة فيما ورد فى الحديث من الوعيد الشديد وكذلك الرجل إذا لبس لباس المراة الخاص به بحيث يظهر أمام الناس كأنه امراة وقصد التشبه بذلك فإنه يدخل فى الوعيد الشديد المذكور ففى الحديث الصحيح لعن رسول الله e المتشبهين من الرجال بالنساء والمتشبهات من النساء بالرجال والله سبحانه وتعالى اعلم\rSudah tidak termasuk kategori tasyabuh karena sudah tidak menjadi ciri khas\rReferensi :\rالشرقاوى على التحرير الجزء الثانى ص: 430\r(قوله والمترجلات) اى المتشبهات بالرجال فى أقوالهن وأحوالهن كلبس الطرابيس إلا إن غلب عرف بلبس ذلك للرجال والنساء كما هو حاصل الآن بمصرى فهو جائز لهن\rفيض القدير الجزء الخامس ص: 271\rلعن الله لمتشبهات من النساء بالرجال فيما يختص به من نحو لباس وزينة وكلام وغير ذلك والمتشبهين من الرجال بالنساء كذلك قال ابن جرير فيحرم على الرجل لبس المقانع والخلاخل والقلائد ونحوها والتخنث في الكلام والتأنث فيه وما أشبهه قال ويحرم على الرجال لبس النعال الرقاق التي يقال لها الحذو والمشي بها في المحافل والأسواق اهـ وما ذكره في النعال الرقيقة لعله كان عرف زمنه من اختصاصها بالنساء أما اليوم فالعرف كما ترى أنه لا اختصاص وقال ابن أبي جمرة ظاهر اللفظ الزجر عن التشبه في كل شيء لكن عرف من أدلة أخرى أن المراد التشبه في الزي وبعض الصفات والحركات ونحوها لا التشبه في الخير وحكمة لعن من تشبه إخراجه الشيء عن صفته التي وضعها عليه أحكام الحكماء","part":1,"page":129},{"id":130,"text":"فتح الباري الجزء العاشر ص:274- 275 دار المعرفة\rوقد ثبت أنه قال من تشبه بقوم فهو منهم كما تقدم معلقا في كتاب الجهاد من حديث بن عمرو وصله أبو داود وعند الترمذي من حديث أنس ليس منا من تشبه بغيرنا وقد ثبت عند مسلم من حديث النواس بن سمعان في قصة الدجال يتبعه اليهود وعليهم الطيالسة وفي حديث أنس أنه رأى قوما عليهم الطيالسة فقال كأنهم يهود خيبر وعورض بما أخرجه بن سعد بسند مرسل وصف لرسول الله e الطيلسان فقال هذا ثوب لا يؤدي شكره أخرجه وإنما يصلح الاستدلال بقصة اليهود في الوقت الذي تكون الطيالسة من شعارهم وقد ارتفع ذلك في هذه الأزمنة فصار داخلا في عموم المباح وقد ذكره ابن عبد السلام في أمثلة البدعة المباحة وقد يصير من شعائر قوم فيصير تركه من الإخلال بالمروءة كما نبه عليه الفقهاء أن الشيء قد يكون لقوم وتركه بالعكس ومثل بن الرفعة ذلك بالسوقي والفقيه في الطيلسان\r1602. SYUKURAN 40 HARI SETELAH MELAHIRKAN\rPERTANYAAN :\rRaihan Abdulhakim\rAssalamu'alaikum. Pada admin piss tolong dok di tag tentang syukuran 40 hari sesudah melahirkan / marhabaan ibarat nya.\rJAWABAN :\rDewan Masjid Assalaam\rUlama madzhab 4 berbeda pandangan tentang syukuran / makan-makan / walimah.\r(الشافعية - قالوا: يسن صنع الطعام والدعوة إليه عند كل حادث سرور، سواء كان للعرس أوللختان أوللقدوم من السفر إلى غير ذلك مما ذكر، فليست السنة خاصة بوليمة الطعام وكما أن الوليمة تصدق على طعام العرس، فكذلك تصدق على غيره، ولكن صدقها على وليمة العرس أكثر. وإنما يسن عمل الطعام عند القدوم من السفر إذا كان السفر طويلاً عرفاً في بعض النواحي البعيدة، فإن كان يسيراً أو كان في ناحية قريبة فإنه لا يسن. أما الوضيمة وهي الطعام الذي يعمل عند الموت فإنه يسن أن يكون من جيران الميت","part":1,"page":130},{"id":131,"text":"Syafi'iyyah berkata : sunnah membuat makanan dan mengundang makan setiap ada kegembiraan baik karena pernikahan, khitan, datang dari perjalanan atau selainnya. Tidak dikhususkan kesunnahannya pada walimah makanan saja, sebagaimana walimah pernikahan merupakan shadaqah makanan pernikahan maka boleh juga shadaqah dengan selain makanan. Adapun kesunnahan walimah saat dari perjalanan adalah jika perjalanannya lama atau jaraknya jauh, jika sebentar atau jaraknya dekat maka tidak disunnahkan. Adapun makanan yang disediakan saat kematian, disunnahkan jika berasal dari para tetangga. Dari madzhab Maliki sukup ringkas :\rالمالكية - قالوا: إن المندوب هووليمة العرس فقط كما تقدم، وأما غيره كطعام الختان فإنه جائز ليس بواجب ولا مستحب\rMalikiyyah berkata : Yang disunnahkan adalah walimah pernikahan saja, sedang yang lainnya seperti walimah khitan hukumnya boleh namun tidak wajib maupun sunnah. Referensi :\rالفقه على المذاهب الأربعة\rDari madzhab Hanbali dan Hanafi :\rالحنابلة - قالوا: إن المسنون هو الدعوة إلى طعام العرس خاصة، أما غيرها من الأنواع التي ذكرت فإن الدعوة إليه جائزة ما عدا الدعوة إلى طعام المأتم فإنها مكروهة، وفي الدعوة إلى الختان قولان: فقيل مكروهة، وقيل جائزة. أما الدعوة إلى طعام العقيقة فإنها سنة\rHanabilah berkata : Yang disunnahkan adalah khusus undangan untuk walimah pernikahan, sedang selainnya hukumnya boleh kecuali undangan makan kematian hukumnya makruh. Sednagkan undangan khitan ada 2 pendapat, ada yang berkata makruh dan ada yang berkata boleh. Adapun undangan makan aqiqah hukumnya sunnah.","part":1,"page":131},{"id":132,"text":"الحنفية - قالوا: السنة هي وليمة العرس، وهي أن الرجل إذا بنى بامرأته فإنه يسن أن يدعو الأقارب والجيران والأصدقاء ويصنع لهم طعاماً ويذبح لهم. أما الدعوة إلى طعام غير العرس كالدعوة إلى طعام الختان ونحوه مما ذكر، فإنها جائزة متى كانت خالية من محظور ديني، أما الطعام الذي يصنع للمأتم فإنه يجوز أن يصنعه لأهل الميت غيرهم ويحمله إليهم ويأكل معهم في اليوم الأول لأنهم مشغولون، أما في اليوم الثاني وما بعده فإنه مكروه. ولا تباح الضيافة ثلاثة أيام في أيام المصيبة، وإذا فعل فلا بأس من الأكل منه. وإن عمل طعام للفقراء كان حسناً بشرط أن لا يكون من مال القاصر\rHanafiyyah berkata : Yang disunnahkan adalah walimah pernikahan, yaitu saat lelaki dan perempuan menikah disunnahkan mengundang kerabat, tetangga dan shahabat, dan membuat makanan untuk mereka dan membuat sembelihan. Adapun undangan selain pernikahan semisal khitan dan sejenisnya hukumnya boleh ketika tidak terdapat larangan-larangan agama. Adapun makanan saat kematian hukumnya boleh jika dibuat untuk keluarga mayyit oleh selain mereka, dan boleh dibawa ke tempat mereka dan makan bersama mereka di hari pertama karena hari itu mereka penuh kesibukan. Sedang di hari kedua dan seterusnya hukumnya makruh. Dan tidak boleh menyediakan makanan untuk tetamu selama 3 hari dari hari musibah, dan jika disediakan makanan maka boleh memakannya. Dan jika membuat makanan untuk para fakir miskin maka hal itu bagus dengan syarat tidak dari harta peninggalan yang sedikit (dari orang yang kekurangan). Wallaahu A'laamu Bis Showaab.\rLink Asal : www.fb.com/groups/piss.ktb/429738860382261/\r3072. KEWAJIBAN ORANG TUA TERHADAP ANAK\rPERTANYAAN :\r> Afhaen Dhie","part":1,"page":132},{"id":133,"text":"Assalamu'alaikum, mau tanya, ada berapa dan apa saja kewajiban orang tua kepada anak kandung nya ? Wassalamu'alaikum\rJAWABAN :\r> Ical Rizaldysantrialit\rAda hadits yang ditakhrij oleh Ibnul Mubarok dan Ibnu Aby dunya : Hak anak atas orang tuanya yaitu memberikan nama yang bagus / baik, mengajarkan baca tulis, dan menikahkannya ketika sudah baligh.\rوقد جاء في حديث أخرجه ابن المبارك في البر والصلة وابن أبي الدنيا قول النبي صلى الله عليه وسلم : ((حق الولد على الوالد أن يحسن اسمه ويعلمه الكتابة ويزوجه إذا بلغ))\rDalam Mirqotul Mafatih :\rوعن أبي سعيد وابن عباس - رضي الله عنه - ما قالا : قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم - من ولد له ولد فليحسن اسمه وأدبه فإذا بلغ فليزوجه فإن بلغ ولم يزوجه فأصاب إثما فإنما إثمه على أبيه .الحاشية رقم: 13138 - ( وعن أبي سعيد وابن عباس قالا : قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم - : من ولد له ولد ) أي : ذكرا أو أنثى ( فليحسن ) بالتخفيف والتشديد ( اسمه وأدبه ) أي : معرفة أدبه الشرعي ( وإذا بلغ ) وفي نسخة صحيحة بالفاء ( فليزوجه ) وفي معناه التسري ( إن بلغ ) أي : وهو فقير ( ولم يزوجه ) أي : الأب وهو قادر ( فأصاب ) أي : الولد ( إثما ) أي : من الزنا ومقدماته ( فإنما إثمه على أبيه ) أي : جزاء الإثم عليه لتقصيره وهو محمول على الزجر والتهديد للمبالغة والتأكيد ، قال الطيبي - رحمه الله - : أي جزاء الإثم عليه حقيقية ودل هنا الحصر على أن لا إثم على الولد مبالغة لأنه لم يتسبب لما يتفادى ولده من أصابه الإثم .\rDalam kitab Syu'bul Iman :","part":1,"page":133},{"id":134,"text":"(حديث مرفوع) أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ عَبْدَانَ ، أنا أَحْمَدُ بْنُ عُبَيْدٍ ، نا إِسْحَاقُ بْنُ الْحَسَنِ الْحَرْبِيُّ ، نا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ ، نا شَدَّادُ بْنُ سَعِيدٍ الْجُرَيْرِيُّ ، عَنْ أَبِي نَضْرَةَ ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ ، وَابْنِ عَبَّاسٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : \" مَنْ وُلِدَ لَهُ وَلَدٌ فَلْيُحْسِنِ اسْمَهُ وَأَدَبَهُ ، فَإِذَا بَلَغَ فَلْيُزَوِّجْهُ فَإِنْ بَلَغَ وَلَمْ يُزَوِّجْهُ فَأَصَابَ إِثْمًا ، فَإِنَّمَا إِثْمُهُ عَلَى أَبِيهِ \" .\r(Hadits marfu') Rosulullah berssabda : Barang siapa yang terlahir atasnya seorang anak, maka baguskanlah nama dan adabnya,dan jika telah baligh maka nikahkanlah, maka jika telah baligh dan belum dinikahkan ketika sianak melakukan satu dosa, maka dosanya ditanggung oleh bapaknya.\r> Ghufron Bkl\rاعانة الطالبين 3/254 :\rعن أبي سعيد وابن عباس رضي الله عنهم قالا: قال رسول الله (ص): من ولد له ولد فليحسن اسمه وأدبه، وإذا بلغ فليزوجه، فإن بلغ ولم يزوجه فأصاب إثما فإنما إثمه على أبيه :\rRosulullah berssabda : Barang siapa yang terlahir atasnya seorang anak, maka baguskanlah nama dan adabnya, dan jika telah baligh maka nikahkanlah, maka jika telah baligh dan belum dinikahkan ketika si anak melakukan satu dosa, maka dosanya ditanggung oleh bapaknya. Wallahu a'lam\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/762523200437157/\r1411. KEWAJIBAN MEMBERI NAMA PADA ANAK\rPERTANYAAN :\rM Noer Q?lby\rAssalaamu 'alaykum wr wb\rSetiap benda pasti mempunyai nama. Pertanya'anya\rApa ada hukumnya memberi nama kepada anak manusia?????\rMonggo..\rJAWABAN :\r>> Masaji Antoro\rWa'alaikumsalam\rWajib","part":1,"page":134},{"id":135,"text":"أ - تسمية المولود :\r6 - ذكر ابن عرفة أن مقتضى القواعد وجوب التسمية ، ومما لا نزاع فيه أن الأب أولى بها من الأم ، فإن اختلف الأبوان في التسمية فيقدم الأب . (2)\r(2) مواهب الجليل 3 / 256 ط . النجاح ، وتحفة المودود ص 106 .\rPEMBERIAN NAMA PADA ANAK\rIbn ‘Irfah menuturkan bahwa tuntutan kaidah-kaidah menyatakan kewajiban akan pemberian nama pada anak dan seorang ayah dalam pemberian nama lebih berhak ketimbang seorang ibu, bila kedua orang tua berselisih dalam pemberian nama maka didahulukan nama yang diberikan seorang ayah.\rAl-Mausuuah al-Fiqhiyyah XI/328\r________________________\rNyuplik kitab rujukan tetangga sebelah...^^\rفحقيقة الاسم للمولود : التعريف به، وعنونته بما يميزه على وجه يليق بكرامته آدمياً مسلماً.ولهذا اتفق العلماء على وجوب التسمية للرجال والنساء. (1)وعليه، فإذا لم تكن تسمية، بقى المولود مجهولاً غير معلوم، مختلطاً بغيره غير متميز، إذ الاسم يحدد المولود ويميزه ويعرف به.وانظر كيف كان الإسناد عند المحدثين إذا جاء فيه من أيهم اسمه أو أهمل ، صار السند من قسم الضعيف حتى يعرف، للوقوف على حاله\r__________\r(1) \" مراتب الإجماع لابن حزم \" (ص154).","part":1,"page":135},{"id":136,"text":"Hakikat penamaan pada seorang anak adalah memberikan tanda pengenal padanya, memberi tanda yang dapat membedakannya dengan lainnya dengan cara yang layak dengan kemuliaan anak adam yang muslim, karenanya ulama sepakat bahwa memberi nama pada anak baik untuk anak laki-laki atau wanita hukumnya wajib.Andai anak terbiarkan tanpa nama, maka ia akan tidak dikenal dan diketahui , bercampur dengan lainnya dengan tanpa pembeda karena dengan nama dapat ditentukan keberadaan anak, dibedakan dan dikenal oleh lainnya, lihatlah bagaimana sanad sebuah hadits pun bila salah seorang dari nara sumbernya tidak dikenal namanya maka hadits tersebut menjadi dha’if hingga nara sumbernya menjadi dikenal karena berhenti keabsahan hadits tersebut pada keadaan nara sumbernya yang tidak diketahui namanya.\rTasmiyah al-Mauluud I/8.\rWallaahu A'lamu Bis Showaab.\r>> Mbah Jenggot II\rإِنَّ أَحَبَّ أَسمَائِكُمْ إِلَى اللَّهِ عَبدُاللَّهِ وَ عَبدُ الرَّحْمَنِ\r“Sesungguhnya nama yang paling dicintai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman.” (HR. Muslim no. 2132\rLink Diskusi >>\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/387048494651298/\r1615. MEMBERI NAMA JIBRIL PADA ANAK\rPERTANYAAN :\rPerempuan Miskin\rAssalamu'alaykum waroh matullohi wabarokatuhu . . . Bolehkah jika aku punya anak laki laki nanti, kuNAMAI dengan nama MUHAMMAD JIBRIL, Bolehkah nama nama malaikat itu dipakai ?\rJAWABAN :\r> Cecep Furqon\rBoleh......!\rوَلَا تُكْرَهُ التَّسْمِيَةُ بِأَسْمَاءِ الْمَلَائِكَةِ وَالْأَنْبِيَاءِ وَيس وَطَه خِلَافًا لِمَالِكٍ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى","part":1,"page":136},{"id":137,"text":"Tidak makruh memberikan nama dengan nama malaikat dan para nabi atau Yasiin atau tohaa, berbeda halnya dengan pandangan Imam Malik Rohomahullah.... [ Mughnil Muhtaj 18/160 ].\r> Masaji Antoro\rWa'alaikumsalam warohmatullohi wabarokatuhu. Kalangan pengikut Madzhab Syafi’i dan mayoritas ulama membolehkan dan tidak memakruhkannya. Sedang al-Hard Bin Maskan memakruhkan penggunaan nama-nama malaikat secara umum dan Imam Malik (Malikiyyah) memakruhkan penggunaan nama JIBRIL pada anak.\r* (فرع) مذهبنا ومذهب الجمهور جواز التسمية باسماء الانبياء والملائكة صلوات الله وسلامه عليهم أجمعين ولم ينقل فيه خلاف الا عن عمر بن الخطاب رضى الله عنه أنه نهى عن التسمية بأسماء الانبياء وعن الحرد بن مسكن انه كره التسمية باسماء الملائكة وعن مالك كراهة التسمية بجبريل وياسين\r[ SUB BAHASAN ] Dalam Madzhab Kami (Syafi’iyyah) serta mayoritas Ulama Fiqh membolehkan pemberian nama dengan nama para nabi dan malaikat Shalawat Allah semoga tercurah pada mereka dan tidak terdapati perbedaan pendapat kecuali yang diriwayatkan dari Umar Bin Khotthob Ra yang melarang pemberian nama menggunakan nama-nama para nabi. al-Hard Bin Maskan memakruhkan penggunaan nama-nama para Malaikat sedang Imam Malik memakruhkan pemakaian nama JIBRIL dan YAASIIN. [ Al-Majmuu’ Alaa Syarh al-Muhadzdzab VIII/438 ]. Wallaahu A’lamu Bis Showaab\rLink Awal > www.fb.com/groups/piss.ktb/433809453308535/\r3207. HUKUM MENGGANTI NAMA YANG JELEK\rPERTANYAAN :\r> Ayatul Husnah","part":1,"page":137},{"id":138,"text":"Assalamu'alaikum ...Numpang tanya... Apabila orang tua memberi nama anaknya, setelah anak dewasa baru tahu nama itu dirasa kurang bagus / tepat menurut syariat bolehkah merubahnya ?? misalnya Nama Ayatul Husnah, mungikn lebih bagus / tepatnya Ayatul Husna atau Ayatul Hasanah. Matur Nuhun ...\rJAWABAN :\r> Syarwani\rWa alaikumus salaam warohmatulloh. Jika seseorang diberi nama dengn nama-nama yang jelas-jelas diharamkan seperti : 'abdul ka'bah, dll ...Maka merubahnya hukumnya wajib. Lihat Hasiyyah bajuri 2/305 :\rو يجب تغيير الاسم الحرام علي الاقرب لانه من ازاله المنکر و ان تردد الرحماني في وجوبه و ندبه\r> Ghufron Bkl\r* Hukum mengganti nama adalah mubah/boleh, bahkan sunah mengganti nama yang jelek menjadi nama yang bagus :\rالموسوئة فقهية الجزء الحادى عشر ص: 337\r” تغيير الإسم و تحسنه” 15- يجوز تغيير الإسم عموما ويسنّ تحسينه, فقدأخرج أبو داود فى سننه عن أبي الدرداء رضي الله عنه قال: (5) قال رسو ل الله صّلعم:\rإنّكم تدعون يوم القيامة بأسمائكم وأسماء أبائكم فأحسنوا أسماءكم وأخرج مسلم في صحيحه عن إبن عمر رضي الله عنهم: إنّ ابنة لعمر رضي الله عنه كانت يقال لها: إلى أن قال……. وقد {غير النبي صلى الله عليه وسلم الاسم الذي يدل على التزكية إلى غيره فقد غير اسم برة إلى جويرية أو زينب}. (15)\rوقال أبو داود: {وغير النبي صلى الله عليه وسلم اسم العاص وعزيز وعتلة وشيطان والحكم وغراب وحباب وشهاب فسماه: هشاما وسمى حربا: سلما وسمى المضطجع: المنبعث وأرضا تسمى عفرة سماها: خضرة وشعب الضلالة سماه: شعب الهدى وبنو الزنية سماهم: بني الرشدة وسمى بني مغوية: بني رشدة }. هذا والفقهاء لايختلفون في جواز تغيير الإسم إلى إسم أخر وفى أنّ تغيير الإسم القبيح إلى الحسن هو من الأمور المطلوبة الّتي عليها ألشرع.","part":1,"page":138},{"id":139,"text":"وأجاز الحنابلة التّسميّة بأكثر من إسم. إه\r* Makruh mempunyai nama nama yang buruk tapi tidak berdosa, dan sunnah mengganti nama buruk tersebut.\r(18) مغني المحتاج الجزء الرابع ص:371 المؤلف:الشيخ شمس الدين، محمد بن أحمد الخطيب الشربيني الشافعي (المتوفى: 977هـ)\rوتكره الأسماء القبيحة كالشيطان والظالم والشهاب وحمار وكليب وما يتطير بنفيه عادة كنجيح وبركة (6) لخبر لا تسمين غلامك أفلح ولا نجيحا ولا يسارا ولا رباحا فإنك إذا قلت أثم هو ؟ قال لا ويسن أن تغير الأسماء القبيحة وما يتطير بنفيه (7) لخبر مسلم أنه صلى الله عليه وسلم غير إسم عاصية وقال أنت جميلة.\r* Sunnah hukumnya mengganti nama yang buruk atau tidak disukai menjadi nama yang baik.\rشرح النووي على مسلم الجزء السابع صحـ 261\rحدثنا أبو بكر بن أبي شيبة حدثنا الحسن بن موسى حدثنا حماد بن سلمة عن عبيد الله عن نافع عن ابن عمر أن ابنة لعمر كانت يقال لها عاصية فسماها رسول الله صلى الله عليه وسلم جميلة قوله أن ابنة لعمر كان يقال لها عاصية فسماها رسول الله صلى الله عليه وسلم جميلة .\rوفي الحديث الآخر ( كانت جويرية اسمها برة فحول رسول الله صلى الله عليه وسلم اسمها جويرية وكان يكره أن يقال خرج من عند برة ) وذكر في الحديثين الآخرين أن النبي صلى الله عليه وسلم غير اسم برة بنت أبي سلمة وبرة بنت جحش فسماهما زينب وزينب وقال ( لا تزكوا أنفسكم الله أعلم بأهل البر منكم ) معنى هذه الأحاديث تغيير الاسم القبيح أو المكروه إلى حسن وقد ثبت أحاديث بتغييره صلى الله عليه وسلم أسماء جماعة كثيرين من الصحابة وقد بين صلى الله عليه وسلم العلة في النوعين وما في معناهما وهي التزكية أو خوف التطير\rWallohu a'lam bis showab .\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/780996218589855/\r3760. HUKUM MENAMAI ANAK DENGAN ASMAUL HUSNA\rPERTANYAAN :\r> Muhammad Syukry","part":1,"page":139},{"id":140,"text":"Assalamu'alaikum. Apa hukum menamakan anak dengan asmaul husna tanpa meletakkan \"abdu\" di hadapan nama ? Contoh diberi nama as-Salam bukannya Abdus Salam, tidak diberi nama Abdurrohman tapi dinamakan Ar-Rohman, Bagaimana hukumnya ?\rJAWABAN :\r> Mas Hamzah\rWa'alaikumussalaam. Hukumnya haram, lihat Kitab Mausu'ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyah XI / 336 :\rما تحرم التسمية به من الأسماء\rتحرم التسمية بكل اسم خاص بالله سبحانه وتعالى ، كالخالق والقدوس ، أو بما لا يليق إلا به سبحانه وتعالى كملك الملوك وسلطان السلاطين وحاكم الحكام ، وهذا كله محل اتفاق بين الفقهاء .\r\"Haram memberi nama anak dengan nama nama yang hanya khusus untuk Allah ta'ala atau nama nama yang tidak pantas kecuali hanya untuk Allah ta'ala misalnya Al-Kholiq (maha pencipta) Al-Quddus (maha suci), Malikul Muluk (rajanya para raja), Hakimul Hukkam (hakimnya para hakim) dan lain lain, dan ini sudah menjadi kesepakatan ulama \". Wallaahu A'lam.\rLink Diskusi :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/882327475123395/\r4036. HUKUM MENAMAI ANAK DENGAN NAMA SURAT AL-QUR'AN\rPERTANYAAN :\r> Evan Tiyank Allit\rAssalamu'alaikum wr.wb, maaf mau tanya bolehkah memberi nama anak dengan nama surat surat yang terdapat di dalam al-qur'an ? terima kasih sebelumnya.\rJAWABAN :\r> Uzlah\rWa'alaikum salam wr.wb. boleh\rوَلَا تُكْرَهُ التَّسْمِيَةُ بِأَسْمَاءِ الْمَلَائِكَةِ وَالْأَنْبِيَاءِ وَيس وَطَه خِلَافًا لِمَالِكٍ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى\rTidak makruh memberikan nama dengan nama malaikat dan para nabi atau Yasiin atau tohaa, berbeda halnya dengan pandangan Imam Malik .... [Mughnil Muhtaj 18/160].","part":1,"page":140},{"id":141,"text":"فرع) مذهبنا ومذهب الجمهور جواز التسمية باسماء الانبياء والملائكة صلوات الله وسلامه عليهم أجمعين ولم ينقل فيه خلاف الا عن عمر بن الخطاب رضى الله عنه أنه نهى عن التسمية بأسماء الانبياء وعن الحرد بن مسكن انه كره التسمية باسماء الملائكة وعن مالك كراهة التسمية بجبريل وياسين\r[SUB BAHASAN] Dalam Madzhab Kami (Syafi’iyyah) serta mayoritas Ulama Fiqh membolehkan pemberian nama dengan nama para nabi dan malaikat Shalawat Allah semoga tercurah pada mereka dan tidak terdapati perbedaan pendapat kecuali yang diriwayatkan dari Umar Bin Khotthob Ra yang melarang pemberian nama menggunakan nama-nama para nabi.al-Hard Bin Maskan memakruhkan penggunaan nama-nama para Malaikat sedang Imam Malik memakruhkan pemakaian nama Jibril dan Yaasin. [Al-Majmuu’ Alaa Syarh al-Muhadzdzab VIII/438]. Wallaahu A’lam. (ALF)\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/937249162964559/\rwww.fb.com/notes/937744146248394\r1618. TIDUR BARENG SESAMA LELAKI / SESAMA PEREMPUAN HARAM ?\rPERTANYAAN :\rAhmad Syafi'i Latief\rAssalamu alaikum. Mau nanya, maksud ibaroh ini bagaimana nggeh ? Matur suwun\rيحرم على الرجل ان يضاجع الرجل، و كذا يحرم على المراة ان تضاجع المراة فراش واحد وان كان كل واحد منهما فى جانب الفراش\rJAWABAN :\r> Su Kakov\rالكتاب : حاشية الرملي على أسنى المطالب شرح روض الطالب المؤلف : أبي العباس أحمد الرملي الأنصاري\rوقال في الرجلين يكره للرجل أن يضاجع الرجل بإزار واحد ما بين بدنهما ثوب واعلم أنه ينبغي تقييد الجواز بما إذا كان الحائل بينهما صفيقا فإن كان خفيفا لا يمنع وصول الحرارة من أحدهما إلى الآخر فيحرم ثم محل الجواز ما إذا لم يخش من النوم مع صاحبه فتنة فإن خاف حرم وإن وجد حائل","part":1,"page":141},{"id":142,"text":"الكتاب : كفاية الأخيارفي حل غاية الإختصار المؤلف : تقي الدين أبي بكر بن محمد الحسيني الحصيني الدمشقي الشافعي\rالفرع الرابع يحرم على الرجل أن يضاجع الرجل وكذا يحرم على المرأة أن تضاجع المرأة في فراش واحد وإن كان كل واحد منهما في جانب الفراش كذا أطلقه الرافعي وتبعه النووي على ذلك في الروضة\rوقيد النووي التحريم في شرح مسلم بما إذا كانا عاريين وهذا القيد صرح به القاضي حسين والهروي وغيرهما وقد ورد في بعض الروايات ذلك وإذا بلغ الصبي والصبية عشر سنين وجب التفريق بينه وبين أمه وأبيه وأخته وأخيه في المضجع للنصوص الواردة في ذلك والله أعلم\r> Cecep Furqon\rAku cermati ibarot Hasyiah romli yang dibawa gus kakov\rوقال في الرجلين يكره للرجل أن يضاجع الرجل بإزار واحد ما بين بدنهما ثوب واعلم أنه ينبغي تقييد الجواز بما إذا كان الحائل بينهما صفيقا فإن كان خفيفا لا يمنع وصول الحرارة من أحدهما إلى الآخر فيحرم ثم محل الجواز ما إذا لم يخش من النوم مع صاحبه فتنة فإن خاف حرم وإن وجد حائل\rMenurutku terdapat 3 ketentuan dalam pernyataan ibarot di atas berkenaan dengan tidur bersama baik laki-laki maupun perempuan..\r1.…terhukum makruh tidur bersama dengan satu selimut.\r2.…boleh dengan sarat jika terdapat penghalang yang tebal. Jika penghalang itu tipis di saratkan tidak sampai suhu badan yang lain sampai ke yang lain, kalau sampai haram. Kemudian disaratkan juga harus aman dari fitnah,jika tidak maka haram.\r3.…haram, sebagaimana keterangannya di atas.( Taqyid jawaznya hilang). silahkan kritisi para yai !\rLink Asal : www.fb.com/groups/piss.ktb/432332413456239/\r1668. BATASAN AURAT BAGI KHUNTSA\rPERTANYAAN :\rJauhar Nur lathiefah","part":1,"page":142},{"id":143,"text":"Assalaamu'alaykum. ana Mau Tanya' Batasan Aurat Khuntsa itu sampai mana ? Makasih\rJAWABAN :\rAbdullah Al-Bughisy\rWa'alaikum salam. Aurat khuntsa hukumnya adalah seperti aurat perempuan baik budak/hamba sahaya atau wanita merdeka.\rوَخُنْثَى كَأُنْثَى رِقًّا وَحُرِّيَّةً\r(Hasyiah al-Jamal, Juz 4 hal. 12-14)\rوَظَاهِرٌ أَنَّ الْخُنْثَى كَالْمَرْأَةِ\r(Nihayah al-Muhtaj ila Syarkhi al-Minhaj, juz 4 hal 414)\rKemudian menurut pendapat yang shahih seperti keterangan Syekh Abdul Hamid al-Tsarwani aurat khuntsa adalah seperti perempuan merdeka kecuali wajah, kedua telapak tangan dan kepalanya. [ Khawasyi al-Tsarwani, Juz 2 hal 120 ].\rوَ الْخُنْثَى ) فِي اْ?َصَحِّ ( عَوْرَتُهَا كَالْحُرَّةِ إلَّا رَأْسَهَا ، أَيْ عَوْرَتُهَا مَا عَدَا الْوَجْهَ وَالْكَفَّيْنِ وَالرَّأْسَ\rWallahu a'lamu bish-showaab.\rLink Asal : www.fb.com/groups/piss.ktb/436975216325292/\r1710. MENGAJARKAN TARI-TARIAN KEPADA ANAK\rPERTANYAAN :\rSi Mbok\rAssalamu'alaykum, Mas, Mbak, Si Mbah, Ust. Tolong saya diajarin ngaji ya... Apa hukumnya mengajarkan menari nyanyian islami kepada anak2, yang di niatkan untuk:\r1. Memberitau bahwa hiburan tidak harus dengan hiburan yang berpakaian tak menutup aurat, tapi dengan berbusana muslim pun bisa menghibur.\r2. Dijadikan Bisnis.\r3. Stelah anak2 yang saya ajarkan menari tumbuh besar, & tidak dalam bimbingan saya, mereka menari tanpa jilbab. Berdosakah saya?\rSebelumnya saya ucapkan Matornuwon, Trima kasih, Thank'u, Syukron.\rJAWABAN :\rMasaji Antoro","part":1,"page":143},{"id":144,"text":"Wa'alaikumsalam Warohmatullahi Wabarakaatuh. Coba baca hasil KEPUTUSAN MUKTAMAR NASIONAL NU KE 1 tentang Tari-tarian dengan Lenggak-lenggok di bawah ini :\rS : Bagaimana hukum tari-tarian dengan lenggak-lenggok dan gerak lemah gemulai?\rJ : Muktamar memutuskan bahwa tari-tarian itu hukumnya boleh meskipun dengan lenggak-lenggok dan gerak lemah gemulai selama tidak terdapat gerak yang menyerupai gerak wanita bagi kaum laki-laki, dan menyerupai gerak laki-laki bagi kaum wanita. Apabila terdapat gaya-gaya tersebut maka hukumnya haram. Keterangan dari kitab :\r1. Ithaf Sadat al-Muttaqin [40] :","part":1,"page":144},{"id":145,"text":"وَلْنَذْكُرْ مَا لِلْعُلَمَاءِ فِيْهِ أَيْ فِي الرَّقْصِ مِنْ كَلاَمٍ فَذَهَبَتْ طَائِفَةٌ إِلَى كَرَاهَتِهِ مِنْهُمُ الْقَفَّالُ حَكَاهُ عَنْهُ الرُّوْيَانِيُّ فِي الْبَحْرِ. وَقَالَ الْأُسْتَاذُ أَبُوْ مَنْصُوْرِ تَكَلُّفُ الرَّقْصِ عَلَى الإِيْقَاعِ مَكْرُوْهٌ وَهَؤُلاَءِ احْتَجُّوْا بِأَنَّهُ لََعِبٌ وَلَهْوٌ وَهُوَ مَكْرُوْهٌ وَذَهَبَتْ طَائِفَةٌ إِلَى إِبَاحَتِهِ قَالَ الْفَوْرَانِي فِي كِتَابِهِ الْعُمْدَةِ الْغِنَاءُ يُبَاحُ أَصْلُهُ وَكَذَلِكَ ضَرْبُ الْقَضِيْبِ وَالرَّقْصُ وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ. قَالَ إِمَامُ الْحَرَمَيْنِ الرَّقْصُ لَيْسَ بِمُحَرَّمٍ فَإِنَّهُ مُجَرَّدُ حَرَكَاتٍ عَلَى اسْتِقَامَةِ أَوِ اعْوِجَاجٍ وَلَكِنْ كَثِيْرُهُ يُحَرِّمُ الْمُرُوْءَةَ وَكَذَلِكَ قَالَ الْمَحَلِّي فِي الذَّخَائِرِ وَابْنُ الْعِمَادِ السَّهْرَوَرْدِي وَالرَّافِعِيُّ وَبِهِ جَزَمَ الْمُصَنِّفُ فِي الْوَسِيْطِ وَابْنُ أَبِي الدَّمِ وَهَؤُلاَءِ احْتَجُّوْا بِأَمْرَيْنِ، السُّنَّةُ وَالْقِيَاسُ. أَمَّا السُّنَّةُ فَمَا تَقَدَّمَ مِنْ حَدِيْثِ عَائِشَةَ قَرِيْبًا فِي زَفْنِ الْحَبَشَةِ وَحَدِيْثُ عَلِيُّ فِي حِجْلِهِ وَكَذَا جَعْفَرٍ وَزَيْدٍ. وَأَمَّا الْقِيَاسُ فَكَمَا قَالَ إِمَامُ الْحَرَمَيْنِ حَرَكَاتٌ عَلَى اسْتِقَامَةٍ أَوِ اعْوِجَاجٍ فَهِيَ كَسَائِرِ الْحَرَكَاتِ. وَذَهَبَ طَائِفَةٌ إِلَى تَفْصِيْلٍ فَقُلْتُ إِنْ كَانَ فِيْهِ نَتْنٌ وَتَكَسُّرٌ فَهُوَ مَكْرُوْهٌ وَإلاَّ فَلاَ بَأْسَ بِهِ وَهَذَا مَا نَقَلَهُ ابْنُ أَبِي الدَّمِ عَنِ الشَّيْخِ أَبِي عَلِيِّ ابْنِ أَبِي هُرَيْرَةَ، وَكَذَا مَا نَقَلَهُ الْحَلِيْمِي فِي مِنْهَاجِهِ. وَهَؤُلاَءِ احْتَجُّوْا بِأَنَّ فِيْهِ التَّشَبُّهَ بِالنِّسَاءِ وَقَدْ لُعِنَ الْمُتَشَبِّهُ بِهِنَّ. وَذَهَبَ طَائِفَةٌ إِلَى أَنَّهُ إِنُ","part":1,"page":145},{"id":146,"text":"كَانَ فِيْهِ نَتْنٌ وَتَكَسُّرٌ فَهُوَ مَكْرُوْهٌ وَإِلاَّ فَلاَ. وَهَذَا مَا أَوْرَدَهُ الرَّافِعِيُّ فِي الشَّرْحِ الصَّغِيْرِ وَحَكَاهُ فِي الشَّرْحِ الْكَبِيْرِ عَنِ الْحَلِيْمِي وَحَكَاهُ الْجِيْلِي فِي الْمُحَرَّرِ.\r“Para ulama berbeda pendapat tentang tarian, sebagian ada yang memakruhkan seperti Imam al-Qaffal dan al-Rauyani dalam kitab al-Bahr. Demikian halnya menurut ustadz Abu Manshur, memaksakan tarian agar serasi dengan irama itu hukumnya makruh. Mereka berargumen bahwa nyanyian itu termasuk la’ibun dan lahwun yang dimakruhkan.\rSebagian ulama yang lain berpendapat bahwa tarian itu hukumnya mubah. Menurut al-Faurani dalam kitab al-Umdah, nyanyian itu pada dasarnya adalah mubah demikian pula permainan al-Qadlib, tarian dan yang semisalnya.\rMenurut Imam al-Haramain, tarian itu tidak haram karena hanya sekedar gerakan olah gerak lurus dan goyang, akan tetapi jika terlalu banyak, dapat menyebabkan rusaknya kehormatan diri. Pendapat ini senada dengan al-Mahalli dalam kitab al-Dzakhair, Ibnu al-Imad al-Sahrawardi dan Imam al-Rafi’i. Pendapat ini juga yang menjadi pegangan pengarang al-Wasiith dan Ibnu Abi al-Dam.\rMereka beralasan dengan dua hal: Hadits dan Qiyas. Adapun hadits, adalah sebagaimana yang telah dijelaskan dari hadits Aisyah tentang tarian orang-orang Habasyah. Demikian halnya dengan hadits Ali tentang gerak lompatannya yang dilakukan bersama Ja’far dan Zaid. Adapun qiyasnya adalah, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam al-Haramain bahwa gerakan-gerakan yang merupakan olah gerak lurus dan miring, sama dengan gerakan-gerakan lainnya.","part":1,"page":146},{"id":147,"text":"Menurut sebagian ulama tarian tersebut harus dirinci, saya berpendapat (al-Zabidi), jika dalam tarian itu ada unsur goyang dan lenggak-lenggok (seperti perempuan), maka hukumnya makruh. Jika unsur tersebut tidak ada, maka tarian itu boleh (tidak apa-apa). Inilah yang dikuptip oleh Ibnu Abi al-Dam dari Syeikh Abu Ali bin Abu Hurairah.\rAl-Halimi juga mengutip seperti itu dalam kitab Minhaj-nya. Mereka berargumen bahwa dalam tarian itu ada kecenderungan untuk bergaya perempuan, padahal orang yang meniru gaya perempuan itu dilaknat. Kelompok ulama lain berpendapat bahwa tarian yang mengandung unsur goyang dan lenggak-lenggok (seperti perempuan), maka hukumnya haram. Jika unsur tersebut tidak ada, maka hukumnya tidak haram. Demikian yang disampaikan oleh Imam Rafi’i dalam kitab Syarah al-Shaghir dan beliau meriwayatkan statemen di atas dalam Syarah al-Kabir dari Imam Halimi, dan al-Jili meriwayatkan statemen tersebut dalam kitab al-Muharrar”.\r2. Mauhibah Dzi al-Fad l [41] :\rوَفِي الْبُخَارِي لَعَنَ اللهُ الْمُخَنِّثِيْنَ مِنَ الرِّجَالِ وَ الْمُتَرَجِّلاَتِ مِنَ النِّسَاءِ. قَالَ الْعَزِيْزِيُّ فَلاَ يَجُوْزُ لِرَجُلٍ تَشَبُّهٌ بِامْرَأَةٍ فِي نَحْوِ لِبَاسٍ أَوْ هَيْئَةٍ وَلاَ عَكْسُهُ لِمَا فِيْهِ مِنْ تَغْيِيْرِ خَلْقِ اللهِ تَعَالَى.","part":1,"page":147},{"id":148,"text":"“Al-Bukhari meriwayatkan hadits: “Allah melaknat laki-laki yang bergaya menyerupai perempuan, dan perempuan yang bergaya menyerupai laki-laki. Al-Azizi menyatakan: (oleh karena itu) laki-laki dilarang menyerupai perempuan dalam berpakaian atau pun tingkah lakunya, begitu juga sebaliknya (perempuan dilarang menyerupai laki-laki), karena hal itu termasuk mengubah ciptaan Allah SWT”.\rLink Asal : www.fb.com/groups/piss.ktb/438437622845718/\r1738. TIDUR DENGAN POSISI KAKI MENJULUR KEARAH KIBLAT\rPERTANYAAN :\rSugeng Erlangga\rAssalamu'alaikum, to the point ya ? Apakah boleh kita tidur dengan posisi kepala di arah timur,dan kaki di posisi kiblat <barat> atas jwbnya. terimakasih\rJAWABAN :\rMasaji Antoro\rWa'alaykum salaam\rوَيُكْرَهُ مَدُّ الرِّجْلِ إلَى الْقِبْلَةِ وَإِلَى الْمُصْحَفِ وَإِلَى كُتُبِ الْفِقْهِ فِي النَّوْمِ وَغَيْرِهِ .\r“Dan dimakruhkan menjulurkan kaki kearah kiblat, mushaf, kitab-kitab brisi ilmu-ilmu fiqh baik sewaktu tidur atau lainnya”. [ Tabyiin al-Haqaaiq II/299 ].\rبَلْ صَرَّحَ الزَّرْكَشِيُّ بِحُرْمَةِ مَدِّ الرِّجْلِ لِلْمُصْحَفِ ، فَقَدْ يُقَالُ إنَّ الْكَعْبَةَ مِثْلُهُ لَكِنْ الْفَرْقُ أَوْجَهُ انْتَهَتْ .\r“Bahkan az-Zarkasyi menegaskan akan keharaman menjulurkan kaki pada mushaf, ada pendapat yang menyatakan menjulurkan kaki kearah ka’bah juga sama, namun perbedaan hukum antara keduanya lebih kuat”. [ Hasyiyah al-jamal IX/179 ].","part":1,"page":148},{"id":149,"text":"ذكر غير واحد من الحنفية رحمهم الله أنه يكره مد الرجلين إلى القبلة في النوم وغيره وهذا إن أرادوا به عند الكعبة زادها الله شرفا فمسلم وإن أرادوا مطلقا كما هو ظاهر فالكراهة تستدعي دليلا شرعيا وقد ثبت في الجملة استحبابه أو جوازه كما هو في حق الميت قال في المفيد من كتبهم ولا يمد رجليه يعني في المسجد لأن في ذلك إهانة به ولم أجد أصحابنا ذكروا هذا ولعل تركه أولى ولعل ما ذكره الحنفية رحمهم الله من حكم هاتين المسألتين قياس كراهة الامام احمد رحمه الله الاستناد إلى القبلة كما سبق فإن هاتين المسألتين في معنى ذلك\r[ Al-Aadaab as-Syar’iyyah III/395 ].\rWallaahu A'laamu Bis Showaab\rLink Asal :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/450927814930032/\r1753. GUGURKAH KEWAJIBAN ANAK KE ORANG TUA SAAT SUDAH DIGANTIKAN CUCU\rPERTANYAAN :\rHasanul Zain\rAssalamu'alaikum wr wb...! Amanat Sa'il ( PENTING ) mohon kiranya poro Yai lan Poro Ustadz seng engkang Kulo Mulyoaken Sudi untuk Berbagi 'Ilmunya sebelumnya saya Ucapkan Syukron Jazakumullohu Wa Ahsanal Jaza Aamiin.Deskripsi : Seorang Ibu Tua renta mempunyai anak 3 laki-laki dan beberapa Cucu sekarang beliau (Ibu) lagi sakit Keras sedangkan di antara Anak yang 3 yang 1 sakit juga dan yang 2 enggan merawatnya yang merawat justru cucu/Salah stu dari anak yang Ketiganya. Pertanyaannya : Gugurkah kewajiban anaknya?\rJAWABAN :\r> Abdurrahman As-syafi'i\rWa'alaikumussalaam, pendahuluan :\rو قضى ربك الا تعبدوا الا اياه و بالوالدين احسانا، اما يبلغن عندك الكبر احدهما او كلاهما فلا تقل لهما اف، ولا تنهرهما و قل لهما قولا كريما الاسراء 23","part":1,"page":149},{"id":150,"text":"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duany sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan \"ah\" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. [ Q.s. Al-Isro juz 15 ayat 23 ].\rKewajiban berbakti kepada orang tua,takkan habis meski mereka telah meninggal. Adapun untuk hal yang berkaitan dengan nafakoh,dalam ilmu2 fiqih ada beberapa syarat,seorang anak wajib menafaqohi orang tua,diantaranya\rو انما تجب نفقة الوالدين بشرط منها يسار الولد و الموسر من فضل عن قوته وقوت عياله فى يومه و ليلته ما يصرفه اليهما فان لم يفضل فلا شئ عليه لا عساره........و منها لهما المال فان مان و يكفيهما فلا تجب سواء كان زمنين او مجنونين او بهما مرض و عمى ام لا لعدم الحاجة و منها ان لا يكونا مكتسبين فان كانا مكتسبين لم تجب نفقتهما لان الاكتساب بمنزلة المال العتيد\rكفاية الاخيار 2/141\rSyarat syarat anak berkewajiban memberi nafakah orang tua :\r- Berkecukupan, yakni mempunyai kelebihan setelah dia mencukupi kebutuhan keluarga sehari semalamnya\r- Ke-2 orang tuanya tidak mampu, bila dia punya harta yang cukup untuk mencukupi keperluannya maka tidak wajib\r- Kedua orang tuanya pengangguran. Dll.\rMeski demikian, sebagai anak yang baik, yang pernah dibesarkan dan di rawat, dalam kondisi apapun kita hendaknya memperhatikan mereka. Jikalau kita tidak sempat karena harus mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan, hal tersebut boleh di lakukan oleh cucu2nya.","part":1,"page":150},{"id":151,"text":"و للولد على الوالد وان سفل لصدق الابوة و البنوة ولا فرق فى ذلك بين الذكور و الاناث ولا بين الوارث و غيره و لا فرق بين اتفاق الدين والاختلاف فيه و فى وجه لا تجب على مسلم نفقة كافر\r> Ibnu Toha\rJadi kesimpulannya : karena ini adalah kewajiban bersama di antara anak-anaknya terutama keberadaannya yang lebih mampu. maka tidak gugur kewajiban atas yang lain selama dibutuhkan untuk menafkahi kedua orang tuanya yang miskin dan udzur. Wallaahu A'laamu Bis Showaab.\rLink Asal : www.fb.com/groups/piss.ktb/453310718025075/\r2212. HUKUM NAIK ANGKUTAN UMUM\rPERTANYAAN :\rNabilah Az-Zahrah\rAs-salamu alaikum, hukum naik angkot (bus,kreta, dll),dengan melihat umumnya senggal-senggol, ikhtilath dan tidak menutup memungkinkan menyenggol bagian yang....??\rJAWABAN :\r> Ubaid Bin Aziz Hasanan\rWa'alaikumussalaam.. Coba baca dulu..\rHASIL KEPUTUSAN MUSYAWAROH MASAIL DINIYYAH PONDOK PESANTREN “ MUS “ SARANG REMBANG ( Sabtu, 1-2 Desember 1995 M/1416 H. )\rSebagaimana kita ketahui bersama bahwa angkutan umum di negara kita tidak membatasi penumpang laki-laki atau perempuan, sehingga terjadilah percampuran diantara mereka dalam satu kendaraan. Pertanyaan :\ra. Apakah perjalanan tersebut dikatakan Madzinnatul Ikhtilath (Tempat disangkanya percampuran laki-laki dan perempuan) ? Dan bagaimana hukumnya perjalanan dengan menggunakan angkutan umum tersebut ?\rb. Apakah yang harus dilakukan oleh si Musafir ketika hal tersebut terjadi ditengah perjalanan (turun atau meneruskan perjalanan) ?","part":1,"page":151},{"id":152,"text":"c. Apakah hal itu bisa menggugurkan kewajiban bepergian (seperti membayar hutang , Nadzar atau Walimatul Ursyi) ? (DEMU MGS Sarang)\rJawaban a :\rTermasuk Madzinnatul Ikhtilath. Dan hukumnya di tafsil / perinci sebagai berikut :\r1. HARAM dan termasuk dosa besar apabila yakin akan adanya fitnah (seperti berciuman, bersentuhan, berpacaran, dan lain lain).\r2. HARAM yang bukan termasuk dosa besar apabila ada prasangka kuat akan terjadinya fitnah.\r3. MAKRUH apabila ada kekhawatiran akan terjadinya fitnah.\r4. MUBAH (Boleh) apabila yakin tidak adanya fitnah.\rReferensi : Ihya’ ‘Ulumuddin Juz IV Hal. 36., I’anatuth Tholibin Juz III Hal 263., Al majmu’ Juz IV Hal. 484., Is’adurrofiq Juz II Hal. 67 dan 136.\r1- وفى احياء علوم الدين للإمام الغزالى مانصه :\rوتحصل مظنة المعصية ونعنى بالمظنة ما يتعرض الإنسان به لوقوع المعصية غالبا إهـ.\r2-وفى إعانة الطالبين للعلامة أبى بكر السيد بن محمد شطا الدمياطى مانصه :\rقال ابن الصلاح : وليس المعنى بخوف الفتنة غلبة الظن بوقوعها بل يكفى أن لايكون ذلك نادرا إهـ.\r3-وفى المجموع للامام زكريا محي الدين بن شرف النووى مانصه :\rوقد نقل ابن المنذر وغيره الإجماع على أنها لو حضرت وصلت الجمعة جاز وقد ثبتت الأحاديث الصحيحة المستفيضة ان النساء كن يصلين خلف رسول الله صلى الله عليه وسلم فى مسجده خلف الرجال ولأن اختلاط النساء بالرجال إذا لم يكن خلوة ليس بحرام إهـ.\r4-وفى إسعاد الرفيق للشيخ محمد بن سالم بن سعيد با بصيل الشافعى ما نصه :\r{خاتمة} من أقبح المحرمات وأشد المحظورات اختلاط الرجال بالنساء فى الجموعات لما يترتب على ذلك من المفاسد والفتن القبيحة إهـ.\r5- وفى اسعاد الرفيق للشيخ محمد بن سالم بن سعيد با بصيل الشافعى مانصه :","part":1,"page":152},{"id":153,"text":"قال فى الزواجر وهو من الكبائر لصريح هذا الحديث وينبغى حمله ليوافق قواعدنا على ما اذا تحققت الفتنة أما مجرد خشيتها فإنما هو مكروه ومع ظنها حرام غير كبيرة كما هو ظاهر إهـ.\rJawaban b :\rBoleh meneruskan perjalanan apabila hatinya ingkar dan bisa menghindar dari maksiat tersebut bahkan harus menghilangkan kemungkaran bilamana mampu. Apabila tidak mampu, maka harus turun selama tidak ada bahaya yang lebih besar.\rReferensi : Mughni Al Muhtaj Juz III Hal. 247., Kifayatul Akhyar Juz II Hal. 70\r1-وفى مغنى المحتاج للشيخ العلامة محمد الخطيب الشربينى مانصه :\rفإن كان المنكر يزول بحضوره فليحضر حتما إجابة للدعوة وإزالة للمنكر - الى أن قال – فإن لم يعلم به حتى حضر نهاهم فإن لم ينتهوا وجب الخروج الا ان خاف منه كأن كان فى ليل وخاف وقعد كارها بقلبه ولا يسمع لما يحرم استماعه إهـ\r2-وفى كفاية الأخيار للإمام تقي الدين أبى بكر بن محمد الحسين مانصه :\rفعلى الصحيح لو لم يعلم بالمنكر حتى حضر نهاهم فان لم ينتهوا فليخرج فان قعد حرم عليه القعود على الصحيح فإن تعذر عليه الخروج بأن كان فى ليل وهو يخاف من الخروج قعد وهو كارهه ولا يستمع إهـ.\rJawaban c :\rPerjalanan dengan angkutan umum yang menimbulkan ikhtilat tersebut tidak bisa menggugurkan bepergian yang wajib (seperti bepergian untuk membayar hutang.\rReferensi : 1. Fatawy Al Kubro Juz II Hal. 24.\r1-وفى فتاوى الكبرى للشيخ ابن حجر الهيتمى مانصه :","part":1,"page":153},{"id":154,"text":"{وسئل} رضي الله عنه عن زيارة قبور الأولياء فى زمن معين مع الرحلة اليها هل يجوز مع أنه يجتمع عند تلك القبور مفاسد كثيرة كاختلاط النساء بالرجال واسراج السرج الكثيرة وغير ذلك . {فأجاب} بقوله زيارة قبور الأولياء قربة مستحبة – إلى أن قال – وما أشار اليه السائل من تلك البدع أو المحرمات فالقربات لا تترك لمثل ذلك بل على الإنسان فعلها وانكار البدع بل وإزالتها ان أمكنه وقد ذكر الفقهاء فى الطواف المندوب فضلا عن الواجب انه يفعل ولو مع وجود النساء وكذا الرمل لكن أمروه بالبعد عنهن فكذا الزيارة يفعلها لكن يبعد عنهن وينهى عما يراه محرما بل ويزيله ان قدر كما مر هذا ان لم تتيسر له الزيارة الا مع وجود تلك المفاسد فإن تيسرت مع عدم المفاسد فتارة يقدر على ازالتها كلها أو بعضها فيتأكد له الزيارة مع وجود تلك المفاسد ليزيل منها ما قدر عليه وتارة لا يقدر على ازالة شيء منها فالأولى له الزيارة فى غير زمن تلك المفاسد بل لو قيل يمنع منها حينئذ لم يبعد . ومن أطلق المنع من الزيارة خوف تلك الإختلاط يلزمه اطلاق منع نحو الطواف والرمل بل والوقوف بعرفة او مزدلفة والرمي اذا خشي الإختلاط او نحوه فلما لم يمنع الأئمة شيئا من ذلك مع أن فيه اختلاطا أي اختلاط . وانما منعوا نفس الإختلاط لا غير فكذلك هنا ولا تغتر بخلاف من أنكر الزيارة خشية الإختلاط فإنه يتعين حمل كلامه على ما فصلناه وقررناه والا لم يكن له وجه إهـ\rWalloohu a'lamu bishshawaab.\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/525242954165184\r2242. Ikhtilat Dalam Facebook ( FB ) Dan Media Sosial Lain\rPERTANYAAN :\rManyap Elfurqon\rBagaimanakah fban yang mana di situ terdapat iklhtilat saat main comen-comenan ?\rJAWABAN :\rAlif Jum'an Azend\rCoba baca HASIL BAHTSUL MASA’IL : Hukum “Pedekate” dengan Facebook dan Alat Komunikasi Lainnya [ NUonline, 08/06/2009 ]","part":1,"page":154},{"id":155,"text":"Berikut ini adalah salah satu hasil bahtsul masail diniyyah atau pembahasan masalah keagamaan oleh Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri (FMP3) se-Jawa Timur di Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadiat Lirboyo Kediri 20-21 Mei 2009 lalu. Beberapa media massa sempat memberitakan bahwa forum ini mengharamkan Facebook, sebuah jaringan komunikasi dunia maya. Ternyata tidak sesederhana itu. ***(Teks Arab tidak disertakan. Redaksi)\rDewasa ini, perubahan yang paling ngetop dengan terciptanya fasilitas komunikasi ini adalah tren hubungan muda-mudi (ajnabi) via HP yang begitu akrab, dekat dan bahkan over intim. Dengan fasilitas audio call, video call, SMS, 3G, Chatting, Friendster, facebook, dan lain-lain. Jarak ruang dan waktu yang tadinya menjadi rintangan terjalinnya keakraban dan kedekatan hubungan lawan jenis nyaris hilang dengan hubungan via HP.\rLebih dari itu, nilai kesopanan dan keluguan seseorang bahkan ketabuan sekalipun akan sangat mudah ditawar menjadi suasana fair dan vulgar tanpa batas dalam hubungan ini. Tren hubungan via HP ini barangkali dimanfaatkan sebagai media menjalin hubungan lawan jenis untuk sekedar \"main-main\" atau justru lebih ekstrim dari itu. Sedangkan bagi mereka yang sudah mengidap \"syndrome usia,\" hubungan lawan jenis via HP sangat efektif untuk dimanfaatkan sebagai media PDKT (pendekatan) untuk menjajaki atau mengenali karakteristik kepribadian seseorang yang dihasrati yang pada gilirannya akan ia pilih sebagai pasangan hidup atau hanya berhenti pada hubungan sahabat.","part":1,"page":155},{"id":156,"text":"Pertanyaan pertama : Bagaimana hukum PDKT via HP (telpon, SMS, 3G, chatting, friendster, facebook, dan lain-lain) dengan lawan jenis dalam rangka mencari jodoh yang paling ideal atau untuk penjajakan dan pengenalan lebih intim tentang karakteristik kepribadian seseorang yang diminati untuk dijadikan pasangan hidup, baik sebelum atau pasca khitbah (pertunangan)?\rJawaban : Komunikasi via HP pada dasarnya sama dengan komunikasi secara langsung. Hukum komunikasi dengan lawan jenis tidak diperbolehkan kecuali ada hajat seperti dalam rangka khitbah, muamalah, dan lain sebagainya.\rMengenai pengenalan karakter dan penjajakan lebih jauh terhadap lawan jenis seperti dalam deskipsi tidak dapat dikategorikan hajat karena belum ada ‘azm(keinginan kuat untuk menikahi orang tertentu). Sedang hubungan via 3G juga tidak diperbolehkan bila menimbulkan syahwat atau fitnah.\r(Kitab-kitab rujukan: Bariqah Mahmudiyyah vol. IV hal. 7, Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah vol. I hal. 12763, Ihya ‘Ulumiddin vol. III hal. 99, Hasyiyah al-Jamalvol. IV hal. 120, Is’adur Rafiq vol. II hal. 105, Al-Fiqhul Islamy vol. IX hal. 6292, I’anatut Thalibin vol. III hal. 301, Qulyuby ‘Umairah vol. III hal. 209,I’anatut Thalibin vol. III hal. 260, Al-Fatawi al-Fiqhiyyah al-Kubra vol. I hal. 203, Tausyih ‘ala ibn Qosim hal.197)\rPertanyaan kedua : Mempertimbangkan ekses negatif yang ditimbulkan, kontak via HP (telpon, SMS, 3G, chatting, Friendster, facebook, dan lain-lain) dengan ajnaby (bukan muhrim), bisakah dikategorikan atau semakna dengan khalwah (mojok) jika dilakukan di tempat-tempat tertutup?","part":1,"page":156},{"id":157,"text":"Jawaban : Kontak via HP sebagaimana dalam deskripsi di atas yang dapat menimbulkan syahwat atau fitnah tidak dapat dikategorikan khalwah namun hukumnya haram.\r(Beberapa kitab yang dirujuk: Hasyiyah Al-Jamal vol. IV hal. 125, Al-Qamus al-Fiqhy vol. I hal. 122, Bughyatul Mustarsyidin hal. 200, Asnal Mathalib vol. IV hal. 179, Al-Mausu’atul Fiqhiyyah vol. IXX hal. 267, Hasyiyah Al-Jamal vol. IV hal. 467, Al-Fatawi al-Fiqhiyyah al-Kubra vol. IV hal. 107-107, Hasyiyah Jamalvol. IV hal. 121, Is’adur Rafiq vol. II hal. 93, dan Hasyiyah Al-Jamal vol. IV hal. 121 I’anatut Thalibin vol. III hal. 301, Qulyuby ‘Umairah vol. III hal. 209)\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/546631475359665/\r2342. NAFAQOH ANAK ZINA\rPERTANYAAN :\rIlmatul Mukarramach\rAssalamualaikum. Anak hasil zina wajibkah diberi nafkah ? kalau emang wajib siapakah yang berkewajiban : ibu atau laki-laki yang menghamilnya ?\rJAWABAN :\rGhufron Bkl\rWa'alaikum salam. Nafkahya anak zina wajib pada ibunya saja karena tidak ada hubungan nasab pada orang yang menghamili :\r.وشمل قوله من تلزمه نفقة فرعه أم ولد زنا فيندب لها أن تعق عنه لكن تخفيها خوف الهتيكة. إعانة الطالبين 2/335\rأما المخلوقة من ماء زنا شخص فتحل له على الأصح_____بدليل انتفاء سائر الأحكام عنها من إرث وغيره. الباجوري 2/111\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb580530631969749\r3796. ANAK HASIL ZINA TIDAK TERMASUK YATIM\rPERTANYAAN\r> Fahri Msy\rAssalamualaikum..... Numpang nanya poro ulama'..... Anak hasil zina , apakah statusnya bisa dibilang anak yatim..? Kan dia gk bernasab pada ayahnya? Terimakasih....\rJAWABAN :\r> Ghufron Bkl","part":1,"page":157},{"id":158,"text":"Anak zina secara syara' tidak termasuk yatim , hanya saja anak hasil zina mendapatkan bagian ghonimah karna di samakan dgn anak yatim :\rحاشية البجيرمي على الخطيب : ويندرج في تفسيرهم اليتيم ولد الزنا واللقيط والمنفي بلعان ولا يسمون أيتاما لأن ولد الزنا لا أب له شرعا فلا يوصف باليتيم\rالإقناع للشربيني : ويندرج في تفسيرهم اليتيم ولد الزنا واللقيط والمنفي بلعان ولا يسمون أيتاما لأن ولد الزنا لا أب له شرعا فلا يوصف باليتيم\rمغني المحتاج : ويندرج في تفسيرهم اليتيم ولد الزنا واللقيط والمنفي بلعان ولا يسمون أيتاما لأن ولد الزنا لا أب له شرعا فلا يوصف باليتيم . . .\rWallahu A'lam\rbaca juga Link Terkait :\rwww.piss-ktb.com/2011/11/613-fikih-status-anak-zina.html?m=1\rLINK ASAL\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/889681414388001/\rwww.fb.com/notes/913802368642572\r2504. NAFKAH SEORANG ANAK\rPERTANYAAN :\r> Iv Bageur\rAssalamu 'alaikum wr wb, langsung sajah yah !\r1. sebagai anak perempuan sebelum menikah, itu mash dalam tanggung jawab siapa ?\r2. salah tidak, jika anak perempuan di atas, pengen berhenti kerja, dengan alasan pengen di rumah bantuin ema bapak .\r3. bagaimana hukum bekerja ke luar kota, negeri bagi seorang anak perempuan ?\r4. ditunggu jawabannya. terimakash banyak\rJAWABAN :\r> Ghufron Bkl\rWa'alaikumussalaam warahmatullaah wabarakaatuh. Jawaban no. 1 dan 2. kalau sudah dewasa dan mampu bekerja maka bukan tanggung jawab orang tuanya bahkan harus bekerja sendiri, kecuali anak tersebut sibuk dengan menuntut ilmu syara' yang tidak ada kesempatan bekerja maka bagi ortunya wajib untuk memberi nafaqoh :","part":1,"page":158},{"id":159,"text":".فالغني الصغير أو الفقير الكبير لا تجب نفقته___وقد استفيد مما تقدم أن الولد القادر على الكسب اللائق به لا تجب نفقته بل يكلف الكسب بل قد يقال أنه داخل في الغني المذكور ويستثنى مالوكان مشتغلا بعلم شرعي ويرجى منه النجابة والكسب يمنعه منه فتجب نفقته حينئذ ولا يكلف الكسب. الباجوري 2/187\rJawaban no. 3. Buka link ini :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/203178293038320\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/592242994131846\r3238. NAFAQOH ORANG TUA KETIKA ANAKNYA TIDAK HANYA SATU\rPERTANYAAN :\r> Tin Tin Whee\rAssalamua'laykum, ma'af orang awam mau tanya\r1. apakah menafkahi orang tua harus adil sama rata ?\r2. apakah kemulian anak perempuan dalam rumah? Atas penjelasannya, matur suwun\rJAWABAN :\r> Langlang Buana\rUntuk no.1 : Jika sama rata itu bagus.\rwww.piss-ktb.com/2012/02/765-akidah-cara-berbakti-kpd-orang-tua.html\rوَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَهُمَا قَوْلاً كَرِيمًا وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّل مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَبِّي ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا\rDan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan \"ah\" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.","part":1,"page":159},{"id":160,"text":"Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: \"Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil\". (QS. 17:23-24)\rUntuk no.2 : Mungkin jarang yang tahu, jika mengutamakan anak perempuan maka akan mendapatkan pahala yang lebih.\rwww.piss-ktb.com/2012/02/644-fadhilah-menjadi-wanita-sholehah.html\rPoint-point ini terdapat di dalam kitab Kanzul ‘Ummal, Misykah, Riadlush Shalihin, Uqudilijjain, Bhahishti Zewar, Al-Hijab, dan lain-lain,\r- Barangsiapa yang menggembirakan anak perempuannya, derajatnya diibaratkan seperti orang yang senantiasa menangis karena takut kepada Allah SWT dan orang yang takut Allah SWT akan diharamkan api neraka ke atas tubuhnya.\r- Barang siapa yang membawa hadiah (barang makanan dari pasar ke rumah) lalu diberikan kepada keluarganya, maka pahalanya seperti bersedakah. Hendaklah mendahulukan anak perempuan terhadap anak laki-laki. Maka barangsiapa yang menyukakan anak perempuan seolah-olah dia memerdekakan anak Nabi Ismail AS\r- Barang siapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan, lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa taqwa serta bertanggung jawab, maka baginya adalah syurga.\r- Dari ‘Aisyah r.ha. “Barang siapa yang diuji dengan sesuatu dari anak-anak perempuannya, lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya dari api neraka\r> Yai Abdullah Afif\rWa'alaikumussalaam warahmatullaah\r1. Dalam Kitab al Iqna' 2/480-481","part":1,"page":160},{"id":161,"text":"قال ابن المنذر وأجمعوا على أن نفقة الوالدين اللذين لا كسب لهما ولا مال واجبة في مال الولد\rIbnul Mundzir berkata: \"Ulama sepakat bahwasanya memberi nafkah untuk kedua orang tua yang tidak mempunyai pekerjaan adalah wajib didalam harta anak\rويعتبر حاله في سنه وزهادته ورغبته\r(Pemberian nafkah terhadap kerabat) memperhitungkan kondisi kerabat tsb dalam hal usia, kezuhudan dan kesenangan.\r2. Teks arab dari terjemah hadits yang ditulis oleh yai Langlang:\rDari ‘Aisyah r.ha. “Barang siapa yang diuji dengan sesuatu dari anak-anak perempuannya, lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya dari api neraka\rحَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي بَكْرٍ أَنَّ عُرْوَةَ بْنَ الزُّبَيْرِ أَخْبَرَهُ أَنَّ عَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَتْهُ قَالَتْ جَاءَتْنِي امْرَأَةٌ مَعَهَا ابْنَتَانِ تَسْأَلُنِي فَلَمْ تَجِدْ عِنْدِي غَيْرَ تَمْرَةٍ وَاحِدَةٍ فَأَعْطَيْتُهَا فَقَسَمَتْهَا بَيْنَ ابْنَتَيْهَا ثُمَّ قَامَتْ فَخَرَجَتْ فَدَخَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَحَدَّثْتُهُ فَقَالَ مَنْ يَلِي مِنْ هَذِهِ الْبَنَاتِ شَيْئًا فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنْ النَّارِ\rSumber:\rShahih Bukhari 15/169, maktabah syamilah\rWallaahu A'lam\r> Yai Ghufron Bkl\rMenafkahi orang tua memjadi kewajiban anak-anaknya dengan dibagi rata (bilamana anaknya lebih dari satu) :\rالبجيرمي على الخطيب 4/65\rولو تعدد المنفق من المولودين كاثنين فإن استويا كابنين أو بنتين فعليهما النفقة بالسوية فإن غاب أحدهما أخذ قسطه من ماله فإن لم يكن مال إقترض عليه.","part":1,"page":161},{"id":162,"text":"LINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/718865191469625\r3327. STATUS HUKUM ANAK HASIL PERSELINGKUHAN\rPERTANYAAN :\r> Elang Biru\rAssalaamu'alaikum ... Mohon jawabannya poro sedulur... : istri melakukan perselingkuhan dengan 1 lelaki karena ditinggal merantau suami ( kurang lebih 2 tahun tanpa kembali ) dan melahirkan anak, masalahnya :\rSiapakah yang berhak menjadi wali nikah anak tersebut apakah ayah biologis (lelaki yang berselingkuh dengan wanita tersebut) atau suami wanita tersebut atau wali hakim ..? Dalam hal waris apakah anak tersebut berhak atas warisan kedua ayah tersebut atau malah tidak mendapat warisan ..?\rTerimakasih atas jawabannya kalau sudah ada di dokumen mohon bantuan untuk di-share ... maaf kalau bahasanya agak belibet.\rJAWABAN :\r> Nur Hasyim S.Anam\rWa'alaikumussalaam.\r1. Wali anak tersebut adalah suami dari wanita tersebut karena secara nasab dia bernasab kepada suami wanita tersebut\r2. Anak tersebut tidak ada hubungan dengan ayah biologisnya.\r- Anak tersebut bernasab kepada suami wanita tersebut jika anak tersebut lahir tidak lebih dari 4 tahun setelah berhubungan terakhir dengan suaminya.\r- Kalau lahir setelah 4 tahun maka tidak bernasab kepada siapa-siapa.\r> Langlang Buana\rLihat juga Al-Qolyubi IV / 32 :\rولو أتت بولد عُلِمِ أنه ليس منه مع إمْكَانِه مِنْهُ ( لَزِمَهُ نَفْيُهُ ) لِأَنَّ تَرْكَ النَّفْيِ يَتَضَمَّنُ اسْتِلْحَاقَ مَنْ لَيْسَ مِنْهُ حَرَامٌ.","part":1,"page":162},{"id":163,"text":"Apabila seoarang perempuan datang dengan membawa anak, dan diketahui bahwa anak tersebut bukan dari suaminya, dan dapat mungkin dari suaminya (namun secara yakin tidak dari suaminya). Maka wajib meniadakan (menolak mengakui), karena bila tidak dilaksanakan penolakan, dapat dimasukan nasab dari orang yang tidak haram (suaminya).\rJika dilahirkan kurang dari enam bulan atau lebih dari empat tahun, maka anak tersebut tidak bisa dinasabkan kepada suami dan tidak wajib bagi suami untuk meli’an istrinya. Bagi anak tidak berhak mendapatkan waris karena tidak ada sebab-sebab yang mendukung hubungan nasab\r- Bughyatul Mustarsyidin halaman 235 - 236 :","part":1,"page":163},{"id":164,"text":"مسئلة ي ش ) نكح حاملا من الزنا فولدت كاملا كان له أربعة أحوال إما منتف عن الزوج ظاهرا وباطنا من غير ملاعنة وهو المولود لدون ستة أشهر من إمكان الإجتماع بعد العقد أو لأكثر من أربع سنين من آخر إمكان الإجتماع وإما لاحق به وتثبت له الأحكام إرثا وغيره ظاهرا ويلزم نفيه بأن ولدت لأكثر من الستة وأقل من الأربع السنين وعلم الزوج أو غلب على ظنه أنه ليس منه بأن لم يطأ بعد العقد ولم تستدخل ماءه أو ولدت لدون ستة أشهر من وطئه أو لأكثر من أربع سنين منه أو لأكثر من ستة أشهر بعد استبرائه لها بحيضه وثم قرينة بزناها ويأثم حينئذ بترك النفي بل هو كبيرة وورد أن تركه كفر وإما لاحق به ظاهرا أيضا لكن لا يلزمه نفيه إذا ظن أنه ليس منه بلا غلبة بأن استبرأها بعد الوطء وولدت به لأكثر من ستة أشهر بعده وثم ريبة بزناها إذ الاستبراء أمارة ظاهرة على أنه ليس منه لكن يندب تركه لأن الحامل قد تحيض وإما لاحق به ويحرم نفيه بل هو كبيرة وورد أنه كفر إن غلب على ظنه أنه منه أو استوى الأمران بأن ولدت لستة أشهر فأكثر إلى أربع سنين من وطئه ولم يستبرئها بعده أو استبرأها وولدت بعده بأقل من الستة بل يلحقه بحكم الفراش كما لو علم زناها واحتمل كون الحمل منه أو من الزنا ولا عبرة بريبة يجدها من غير قرينة فالحاصل أن المولود على فراش الزوج لاحق به مطلقا إن أمكن كونه منه ولا ينتقي منه إلا بللعان والنفي تارة يجب وتارة يحرم وتارة يجوز ولاعبرة بإقرار المرأة بالزنا وإن صدقها الزوج وظهرت أماراته .بغية المسترشدين ص235 – 236\r> Ical Rizaldysantrialit\r- Ibnu Abdil Bar , At-Tamhid 8/183\r- Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni 9/123; lihat juga pendapat senada dalam Al-Istidzkar 7/171; Al-Hawi al-Kabir 8/162\r- Hadits riwayat Muslim dalam “Kitab Radha” Sahih Muslim, hadits no. 1458, 2/1080.","part":1,"page":164},{"id":165,"text":"Apabila seorang perempuan bersuami berselingkuh, dan melakukan hubungan zina dengan lelaki selingkuhannya sampai hamil, maka status anaknya saat lahir adalah anak dari suaminya yang sah; bukan anak dari pria selingkuhannya. Bahkan, walaupun pria yang menzinahinya mengklaim (Arab, istilhaq) bahwa itu anaknya. Sebagai anak dari laki-laki yang menjadi suami sah ibunya, maka anak berhak atas segala hak nasab (kekerabatan) dan hak waris termasuk wali nikah apabila anak tersebut perempuan. Ini adalah pendapat ijmak (kesepakatan) para ulama dari keempat madzhab sebagaimana disebut dalam kitab At-Tamhid demikian:\rوأجمعت الأمة على ذلك نقلاً عن نبيها، وجعل رسول الله كل ولد يولد على فراش لرجل لاحقًا به على كل حال، إلا أن ينفيه بلعان على حكم اللعان… وأجمعت الجماعة من العلماء أن الحرة فراش بالعقد عليها مع إمكان الوطء وإمكان الحمل، فإذا كان عقد النكاح يمكن معه الوطء والحمل فالولد لصاحب الفراش، لا ينتفي عنه أبدًا بدعوى غيره، ولا بوجه من الوجوه إلا باللعان","part":1,"page":165},{"id":166,"text":"(Ulama sepakat atas hal itu berdasarkan hadits Nabi di mana Rasulullah telah menjadikan setiap anak yang lahir atas firasy [istri] bagi seorang laki-laki maka dinasabkan pada suaminya dalam keadaan apapun, kecuali apabila suami yang sah tidak mengakui anak tersebut dengan cara li’an berdasar hukum li’an. Ulama juga sepakat bahwa wanita merdeka menjadi istri yang sah dengan akad serta mungkinnya hubungan intim dan hamil. Apabila dimungkinan dari suatu akad nikah itu terjadinya hubungan intim dan kehamilan, maka anak yang lahir adalah bagi suami [sahibul firasy]. Tidak bisa dinafikan darinya selamanya walaupun ada klaim dari pria lain. Juga tidak dengan cara apapun kecuali dengan li’an).\rPandangan ini disepakati oleh madzhab Hanbali di mana Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni mengatakan:\rوأجمعوا على أنه إذا ولد على فراش رجل فادعاه آخر أنه لا يلحقه، وإنما الخلاف فيما إذا ولد على غير فراش\r(Ulama sepakat bahwa apabila seorang anak lahir dari perempuan yang bersuami kemudian anak itu diakui oleh lelaki lain maka pengakuan itu tidak diakui. Perbedaan ulama hanya pada kasus di mana seorang anak lahir dari perempuan yang tidak menikah).\rKesepakatan ulama atas kasus ini didasarkan pada sebuah hadits sahih riwayat Muslim yang menyatakan الولد للفراش وللعاهر الحجر (Anak bagi suami yang sah, bukan pada lelaki yang menzinahi). Wallahu A'lam.\rSumber : http://www.fatihsyuhud.net/2013/03/status-anak-dari-perkawinan-hamil-zina/\rRefarensi :\r1. At-Tamhid","part":1,"page":166},{"id":167,"text":"وأجمعت الأمة على ذلك نقلاً عن نبيها، وجعل رسول الله كل ولد يولد على فراش لرجل لاحقًا به على كل حال، إلا أن ينفيه بلعان على حكم اللعان… وأجمعت الجماعة من العلماء أن الحرة فراش بالعقد عليها مع إمكان الوطء وإمكان الحمل، فإذا كان عقد النكاح يمكن معه الوطء والحمل فالولد لصاحب الفراش، لا ينتفي عنه أبدًا بدعوى غيره، ولا بوجه من الوجوه إلا باللعان\rhttp://library.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?bk_no=78&ID&idfrom=406&idto=441&bookid=78&startno=9\r2. Hukmu Nisbatil Mauludi","part":1,"page":167},{"id":168,"text":"أجمع العلماء على أن الزانية إذا كانت فراشًا لزوج أو سيد، وجاءت بولد، ولم ينفه صاحب الفراش، فإنه لا يلحق بالزاني ولو استلحقه، ولا ينسب إليه، إنما ينسب لصاحب الفراش، قال ابن عبد البر: \"وأجمعت الأمة على ذلك نقلاً عن نبيها ×، وجعل رسول الله × كل ولد يولد على فراش لرجل لاحقًا به على كل حال، إلا أن ينفيه بلعان على حكم اللعان... وأجمعت الجماعة من العلماء أن الحرة فراش بالعقد عليها مع إمكان الوطء وإمكان الحمل، فإذا كان عقد النكاح يمكن معه الوطء والحمل فالولد لصاحب الفراش، لا ينتفي عنه أبدًا بدعوى غيره، ولا بوجه من الوجوه إلا باللعان\"(65)، وقال ابن قدامة: \"وأجمعوا على أنه إذا ولد على فراش رجل فادعاه آخر أنه لا يلحقه، وإنما الخلاف فيما إذا ولد على غير فراش\"(66). مستند الإجماع: وقد استند هذا الإجماع على أحاديث صحيحة صريحة منها: 1 - ما روته عائشة رضي الله عنها قالت: \"كان عتبة ابن أبي وقاص عَهِد إلى أخيه سعد بن أبي وقاص: إن ابن وليدة زمعة مني، فاقبضه إليك، فلما كان عام الفتح أخذه سعد فقال: ابن أخي قد كان عَهِد إليّ فيه، فقام عبد بن زمعة فقال: أخي وابن أمة أبي، ولد على فراشه، فتساوقا إلى رسول الله ×، فقال سعد: يا رسول الله! ابن أخي كان عَهِدَ إليّ فيه، فقال عبد بن زمعة: أخي وابن وليدة أبي، وقال رسول الله ×: هو لك يا عبد بن زمعة، الولد للفراش وللعاهر الحجر، ثم قال لسودة بنت زمعة: احتجبي منه، لما رأى من شبهه بعتبة، فما رآها حتى لقي الله\"(67). 2 - ما رواه أبو هريرة رضي الله عنه أن رسول الله × قال: \"الولد للفراش وللعاهر الحجر\"(68). 3 - ما رواه عمرو بن شعيب عن أبيه عن جده قال: \"قام رجل فقال: يا رسول الله، إن فلانًا ابني، عَاهَرْتُ بأمه في الجاهلية، فقال رسول الله ×: لا دعوة في الإسلام، ذهب أمر الجاهلية، الولد للفراش، وللعاهر الحجر\"(69).\rhttp://islamport.com/w/fqh/Web/4661/12.htm\r3. Al-Mughni","part":1,"page":168},{"id":169,"text":"وأجمعوا على أنه إذا ولد على فراش رجل فادعاه آخر أنه لا يلحقه، وإنما الخلاف فيما إذا ولد على غير فراش\rhttp://library.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?bk_no=15&ID&idfrom=4146&idto=4319&bookid=15&startno=103\r4. Ihkamul ihkam syarh umdatul ahkam\r- Hadits\rالولد للفراش وللعاهر الحجر\rhttp://library.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?idfrom=890&idto=891&bk_no=80&ID=578\r5. Nailul Author\rhttp://www.al-eman.com/الكتب/نيل%20الأوطار%20شرح%20منتقى%20الأخبار%20**/باب%20أن%20الولد%20للفراش%20دون%20الزاني/i226&d128466&c&p1\r6. Al-Raudhoh Al-Nadyah Syarah Al Duror Al Bahiyah\rhttp://ar.wikisource.org/wiki/الروضة_الندية_شرح_الدرر_البهية/كتاب_النكاح/فصل_الولد_للفراش_ولا_عبرة_لشبهه_بغير_صاحبه\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/794473787242098\r2606. KETENTUAN MENGADOPSI ANAK YANG DIPERBOLEHKAN\rPERTANYAAN :\r> Alifah Ummina Nafishasnahaaniyah\rAssalamu'alaikum.. Buat admin atau teman-teman di grup ini mohon sharenya mengenai hukum anak adopsi, lalu mengenai jenis kelamin anak yang diadopsi ini adalah perempuan, apakah nanti ketika sudah baligh apabila hendak shalat lalu bersentuhan dengan sang bapak dia harus wudhu lagi ? catatan : anak diadopsi begitu lahir, lalu apakah menjadi mahrom kalau disusui adik sang bapak (karena mengingat adik sang bapak juga sedang menyusui bayinya) terimakasih atas jawbannya...\rJAWABAN :\r> Ghufron Bkl (edited)","part":1,"page":169},{"id":170,"text":"Wa'alaikumussalaam, jika yang dimaksud mengadopsi adalah memelihara anak orang lain dan menjadikan nasabnya ke orang yang memelihara, maka hal itu tidak boleh, karena sudah merusak nasab seseorang. Misal aslinya Ahmad bin Jalaluddin, lalu di-aktekan dan diumumkan jadi Ahmad bin Abdul Jalil, padahal Abdul Jalil bukanlah ayahnya, hanya yang memeliharanya, ini haram. Jika mengadopsi hanya dimaknai memelihara anak orang lain dan tidak merubah nasab ayah ibunya ke pemelihara, serta tidak dianggap seperti anak sendiri / tetap bukan mahrom (tidak berhaq waritsan, haram ihthilat dll), maka hal itu tentu dianjurkan. [ Al Halal wal Harom fil Islam hlm 218 ]. Dan anak adopsi bisa menjadi mahrom bila disusui oleh ibu pengadopsi dengan catatan anak tersebut belum berumur 2 tahun dan tidak kurang dari 5 kali susuan. [ Al Bajuri 2/181 ].\r.التبني بمعنى التربية والرعاية ذلك هو التبني الذي هو أبطله الإسلام هو الذي يضم فيه الرجل طفلا إلى نفسه يعلم أنه ولد غيره ومع هذا يلحقه بنسبه وأسرته ويثبت له كل أحكام النبوة وأثارها من إباحة إحتلاط وحرمة زواج واستحقاق ميراث، وهناك نوع يظنه الناس تبنيا وليس هو بالتبني الذي حرمه الإسلام وذلك أن يضم الرجل إليه طفلا يتيما أو لقيطا ويجعله كابنه في الحنو عليه والعناية به والتربية له فيحضنه ويطعمه ويكسوه ويعلمه ويعامله كأنه إبنه من صلبه ومع هذا لم ينسبه لنفسه ولم يثبت له أحكام النبوة المذكورة فهذا أمر محمود في دين الله يستحق صاحبه عليه المثوبة في الجنة. الحلال والحرام في الإسلام ص : 218","part":1,"page":170},{"id":171,"text":".وإذا أرضعت المرأة بلبنها ولدا سواء شرب في حياتها أو بعد موتها وكان محلوبا في حياتها صار الرضيع ولدها بشرطين أحدهما أن يكون له دون الحولين بالأهلة____والشرط الثاني أن ترضعه أى المرضعة خمس رضعات متفرقة. الباجوري 2/181\r> Brandal Loka Jaya\rHukum mengadopsi anak itu Boleh, selama tidak melanggar hal-hal yang dilarang syara' seperti terjadinya Ikhtilat, dan pengakuan Nasab pada Anak Tersebut. [ fatawy zain hal 194 ].\r> Mbah Godek\rWa alaikum salam.. dalam soal di atas, anak yang diadopsi tidak menjadi mahrom walau disusui adiknya bapak.\r> Timur Lenk\rSebagai umat Islam kita merasa beruntung mempunyai visi yang jelas dan masuk akal tentang adopsi, apa yang boleh dan apa yang dilarang. Dalam Fatwa Majelis Ulama Inonesia tentang Adopsi (Pengangkatan Anak) tahun 1984 disebut diantaranya: Mengangkat anak (adopsi) dengan pengertian anak tersebut putus hubungan keturunan (nasab) dengan ayah dan ibu kandungnya adalah bertentangan dengan syari’ah Islam (butir 2). Dan dalam butir 4 dikatakan: “Pengangkatan anak Indonesia oleh Warga Negara Asing selain bertentangan dengan UUD 1945 Pasal 34, juga merendahkan martabat bangsa”.\rhttp://www.as-salafiyyah.com/2011/12/sebenarnya-saya-ini-anak-siapa.html\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/578122242210588/\r2839. DEFINISI DAN RUKUN RADHA'\rPERTANYAAN :\r> Asnawi Hakim","part":1,"page":171},{"id":172,"text":"Assalamu alaikum....\" lama gk jumpa.. hehe jarang ngonline soale.. kemaren pas pulang kampung... saya liat seorang nenek menyusui cucunya yang masih bayi tapi tidak keluar air susunya.. katanya sekedar untuk menunggu ibunya dateng biar gak nangis karna pengen netek... yang jadi pertanyaan apa kah dengan menyusui ke nenek nya walau pun tak keluar asi nya bisa menjadikan si anak ( cucunya si nenek ) dengan si ibu nya bayi jadi saudara sepersusuan...\"kiranya mendapat kan petromakxs dari para ustadz yai lan saudara semua..wa alaikum salam waroh matuloh wa barokaatuh..\rJAWABAN :\r> Abdullah Afif\rWa'alaikumussalaam. Karena tidak memenuhi definisi rodho', dimana air susu harus sampai ke perut bayi, maka tak bisa menjadi saudara sepersusuan. Definisi & rukun RADHA' (penyusuan) dalam Kitab Al Iqna' (Hasyiyah Bujairimi 11/316& 319) :\rفَصْلٌ : فِي الرَّضَاعِ هُوَ بِفَتْحِ الرَّاءِ وَيَجُوزُ كَسْرُهَا وَإِثْبَاتُ التَّاءِ مَعَهُمَا لُغَةً اسْمٌ لِمَصِّ الثَّدْيِ وَشُرْبِ لَبَنِهِ وَشَرْعًا اسْمٌ لِحُصُولِ لَبَنِ امْرَأَةٍ أَوْ مَا حَصَلَ مِنْهُ فِي مَعِدَةِ طِفْلٍ أَوْ دِمَاغِهِ\r.....radha' menurut syara' yaitu berhasil masuknya air susu seorang perempuan ke dalam perut besar anak kecil ........\rوَأَرْكَانُهُ ثَلَاثَةٌ : مُرْضِعٌ وَرَضِيعٌ وَلَبَنٌ\rRukun radha' ada tiga:\r- murdhi' (wanita yang menyusui)\r- radhi' (anak yang disusui)\r- laban (air susu)\rdst....\rWallaahu A'lam.\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/670632816292863\r3003. HUKUM MEMEGANG HIDUNG BUKAN MAHROM\rPERTANYAAN :","part":1,"page":172},{"id":173,"text":"Assalamu'alaikum. Mau nanya ini kalau berjabat tangan lawan jenis dan bukan mahrom kan gak boleh ya .... nah kalau megang hidung nya boleh gak ? [ Zanzanti Yanti Andeslo ]\rJAWABAN :\r> Ical Rizaldysantrialit\rBetul. Sebenarnya bukan masalah jabat tangannya, tapi bersentuhan kulitnya., PANDANGAN ULAMA Imam an-Nawawi berkata :\rأن ك?م ا?جنبية يباح سماعه عند الحاجة وأن صوتها ليس بعورة وأنه ?يلمس بشرة ا?جنبية من غير ضرورة كتطبب وقصد وحجامة وقلع ضرس وكحل عين ونحوها مما ? توجد امرأة تفعله جاز للرجل ا?جنبىفعله للضرورة وفى قط خمس لغات\rPerkataan (suara) wanita ajnabiyah boleh kita dengar ketika ada keperluan dan suaranya tidak termasuk aurat, menyentuh kulit wanita ajnabiyah tidak dibolehkan tanpa adanya alasan darurat seperti sebab pengobatan, pendarahan, bekam, mencabut gigi, dan seumpamanya, di mana tidak ada wanita yang sanggup melakukannya. Lelaki yang bukan mahram dibenarkan melakukannya disebabkan alasan darurat tertentu. (Imam an-Nawawi, Syarah Shohih Muslim, 13/10) Beliau juga berkata:\rحيث حرم النظر حرم المس بطريق ا?ولى ?نه أبلغ لذة فيحرم\rDisebabkan melihat wanita yang bukan mahram itu diharamkan, sudah tentu menyentuh kulitnya lebih diharamkan lagi. Ini adalah karena menyentuh lebih mudah membangkitkan syahwat.(Imam an-Nawawi, Raudhatut Tholibin wa ‘Umdatul Muftiin, 7/27) Al-Hafiz Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullah berkata tentang hadis pembai’atan para wanita kepada Rasulullah tanpa bersalaman:\rومنع لمس بشرة ا?جنبية من غير ضرورة لذلك","part":1,"page":173},{"id":174,"text":"Hadis tersebut mengandungi penjelasan larangan menyentuh wanita ajnabiyah (yang bukan mahram) tanpa adanya alasan darurat untuk menyentuhnya. (al-Hafiz Ibnu Hajar, Fathul Bari, 13/204). Wallahu ‘alam.\r> Hariz Jaya\rTidak boleh menyentuh kulit wanita ajnabiyah, tanpa keperluan darurat, seperti karena pengubatan dan hal lainnya bila memang tidak di dapatkan dokter wanita yang bias menanganinya karena keadaan darurat, seorang wanita boleh berobat kepada dokter laki-laki ajnabi. Setiap yang di haramkan untuk di pandang, maka haram haram untuk di sentuh namun ada keadaan yang membolehkan seseorang memandang tapi tidak membolehkan memandang seseorang memandang tapi tidak boleh menyentuh yaitu ketika bertransaksi jual beli, ketika serah terima barang, dan semisalnya. Tapi sekali lagi di tegaskan bahwa tetap tidak boleh menyentuh dalam keadaan-keadaan tadi. Wallahu A'lam Bish Showab.\rIbaratnya :\r- Kitab Al-Minhaj Juz 10 Halaman 10-11 :","part":1,"page":174},{"id":175,"text":"فيه أن بيعة النساء بالكلام من غير أخذ كف وفيه أن بيعة الرجال بأخذ الكف مع الكلام وفيه أن كلام الأجنبية يباح سماعه عند الحاجة وأن صوتها ليس بعورة وأنه لايلمس بشرة الأجنبية من غير ضرورة كتطبب وقصد وحجامة وقلع ضرس وكحل عين ونحوها مما لا توجد امرأة تفعله جاز للرجل الأجنبى فعله للضرورة وفى قط خمس لغات فتح القاف وتشديد الطاء مضمومة ومكسورة وبضمهما والطاء مشددة وفتح القاف مع تخفيف الطاء ساكنة ومكسورة وهى لنفى الماضى قولها فى الرواية الأخرى ( ما مس رسول الله صلى الله عليه و سلم بيده امرأة قط إلا أن يأخذ عليها فإذا أخذ عليها فأعطته قال اذهبى فقد بايعتك ) هذا الاستثناء منقطع وتقدير الكلام ما مس امرأة قط لكن يأخذ عليها البيعة بالكلام فأذا أخذها بالكلام قال اذهبى فقد بايعتك وهذا التقدير مضرح به فى الرواية الأولى ولا بد منه والله أعلم\r- Kitab Majmu’ Syarah Muhadzdzab Juz 4 Halaman 635 :\rوقد قال أصحابنا كل من حرم النظر إليه حرم مسه وقد يحل النظر مع تحريم المس فانه يحل النظر إلى الاجنبية في البيع والشراء والاخذ والعطاء ونحوها ولا يجوز مسها في شئ من ذلك\r- Kitab Raudhatuth Thalibin Juz 7 Halaman 27-28 :\rفرع حيث حرم النظر حرم المس بطريق الأولى لأنه أبلغ لذة فيحرم الرجل دلك فخذ رجل بلا حائل فإن كان ذلك فوق إزار جاز إذا لم يخف فتنة وقد يحرم المس دون النظر فيحرم مس وجه الأجنبية وإن جاز النظر ومس كل ما جاز النظر إليه من المحارم والإماء بل لا يجوز للرجل مس بطن أمه ولا ظهرها ولا أن يغمز ساقها ولا رجلها ولا أن يقبل وجهها حكاه العبادي عن القفال قال وكذا لا يجوز للرجل أن يأمر ابنته أو أخته بغمز رجله وعن القاضي حسين أنه كان يقول العجائز اللاتي يكحلن الرجال يوم عاشوراء مرتكبات للحرام\r- Kitab I’anatuth Thalibin Juz 3 Halaman 261 :","part":1,"page":175},{"id":176,"text":"وحيث حرم نظره حرم مسه وكان الأولى ذكر هذا عقبه لأنه مندرج في مفهومه ( قوله نعم مس ظهر أو ساق محرمة ) استدرك من جوازه مس ما وراء السرة والركبة من المحرم أو المماثل وعبارة م ر وقد يحرم مس ما حل نظره من المحرم كبطنها ورجلها وتقبيلها بلا حائل لغير حاجة ولا شفقة بل كيدها على مقتضى عبارة الروضة لكن قال الإسنوي إنه خلاف إجماع الأمة\r- Kitab Kifayatul Akhyar Halaman 353 :\rأنه حيث حرم النظر حرم المس بطريق الأولى لأنه أبلغ لذة فيحرم على الرجل مس فخذ الرجل بلا حائل فإن كان من فوق حائل وخاف فتنة حرم أيضا وقد يحرم المس وإن لم يحرم النظر فيحرم مس المحارم حتى يحرم على الشخص مس بطن أمه وظهرها وكذلك يحرم عليه أن يكبس ساقها ورجلها وكذا يحرم تقبيل وجهها قاله القفال وكذا لا يجوز للرجل أن يأمر ابنته أو أخته أن تكبس رجله ولهذا قال القاضي حسين العجائز اللاتي يكحلن الرجال يوم عاشوراء مرتكبات الحرام والله أعلم\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/704900969532714/\rwww.fb.com/notes/746990348657109\r3063. FADILAH PEMBACAAN QS. AL-QODAR PADA ANAK YANG BARU LAHIR\rPERTANYAAN :\r> Rom Beng A Moh\rAssalamu'alaykum. Sering saya jumpai dalam acara walimah wiladah, ada pembacaan surat al-qodar dan surat alam nasyroh.\r- Adakah ta'bir mengenai hal tersebut ?\r- Apakah fadilah ke 2 surat tersebut ? Mohon penginclongnya, Matur suwuuun.\rJAWABAN :\r> Ghufron Bkl\rAnak yang baru dilahirkan sunah dibacakan surat alqodar supaya terjaga dari perbuatan zina selama hidupnya :\r: اعانة الطالبين 2/338 :\rونقل عن الشيخ الديربي أنه يسن أن يقرأ في أذن المولود اليمنى: * (إنا أنزلناه) * لأن من فعل به ذلك لم يقدر الله عليه زنا طول عمره. : وكذا في الباجوري 2/305\rWALLOHU A'LAM\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/757351474287663/","part":1,"page":176},{"id":177,"text":"3231. KESUNAHAN MEN'TAHNIK' BAYI YANG BARU LAHIR\rPERTANYAAN :\r> Vi Chania\rAssalamua'laikum. Ada yang tahu tidak bagaimana cara tahnik (pemberia kurma) pada bayi baru lahir..? Harus ustad / kyai atau cukup orangtua yang melakukannya..?? Makasih. Wassalam.\rJAWABAN :\r> Hariz Jaya\rIbnu Hajar Al-Asqalani berkata dalam kitabnya fathul bari juz 9 hal 558, tahnik ialah mengunyah sesuatu, kemudian meletakkan / memasukkannya ke mulut bayi lalu menggosok-gosokkan ke langit-langit mulut. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar bayi terlatih dengan makanan, dan untuk menguatkan atasnya. Dan yang mesti dilakukan dari mentahnik hendaklah mulut bayi tersebut dibuka sehingga sesuatu yang telah dikunyah masuk ke dalam perutnya. Mentahnik lebih utama dilakukan dengan kurma kuning, jika tidak mendapatkan maka dengan kurma basah, kalau tidak ada kurma bisa diganti dengan sesuatu yang manis (madu).\rAbu Burdah dari Abu Musa, ia berkata:\rولدلى غلام فأتيت به النبى صلى الله عليه وسلم فسماه ابراهيم وحنكه بتمرة.\rArtinya : Pernah dikaruniakan kepadaku seorang anak laki-laki lalu aku membawanya ke hadapan Rasulullah saw maka beliau memberinya nama Ibrahim dan mentahniknya dengan sebuah kurma. (HR. Bukhari dan Muslim).","part":1,"page":177},{"id":178,"text":"Imam Nawawi berkata dlm kitab Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim juz 14 hal 124 adalah hadist ini adalah anjuran mentahnik atau mengunyah anak yang baru lahir dan ini merupakan sunnah dengan ijma'. Hendaknya yang mentahnik adalah orang yang shalih dari kalangan laki-laki atau wanita. Tahnik dilakukan dengan kurma dan ini mustahab (sunnah) tp apabila ada yang mentahnik dengan selain kurma mk telah terjadi perbuatan tahnik. Sedangkan tahnik dengan kurma adalah lebih utama. Faidahnya adalah menyerahkan pemberian nama untuk anak kepada orang yang shalih dan ia memilihkan untuk si anak nama yang kamu senangi. Wallahu a'lam.\r> Ical Rizaldysantrialit\rTahnik adalah melolohkan kurma yang sudah dikunyah oleh orang tuanya atau orang sholih/sholihah dengan menggerak-gerakkan dari kiri ke kanan hingga merata di langit-langit mulut bayi dengan lembut seraya berdoa dan berzdikir.\rMelolohkan (memasukkan) buah kurma ke dalam mulut bayi adalah sebuah perkara menakjubkan karena di dalamnya terdapat manfaat kesehatan yang besar. Terbukti buah kurma mengandung unsur-unsur penting yang dapat melindungi bayi dari penyakit dan menguatkan daya tahan tubuh. Kurma juga berkhasiat melindungi dan membentengi anak sepanjang hidupnya, terlebih dari itu hikmah melolohkan (memasukkan) kurma ke dalam mulut bayi berguna untuk menguatkan saraf-saraf mulut bayi berguna untuk menguatkan saraf-saraf mulut dan gerakan lisan beserta tenggorokan dan dua tulang rahang bawah dengan jilatan sehingga anak siap untuk menghisap air susu ibunya dengan kuat dan alami.\rManfaat Buah Kurma Untuk Kesehatan","part":1,"page":178},{"id":179,"text":"1. Menguatkan imunity 2. Mencerdaskan otak 3. Meningkatkan daya tahan (antibody) 4. meningkatkan Hemoglobin (Baik untuk penderita animea) 5. Meningkatkan jumlah trombosit 6. Sebagai multivitamin 7. Anti bakteri dan virus 8. Baik untuk masa pertumbuhan 9. Mengatur kepadatan tulang 10. Meningkatkan nafsu makan 11. Memelihara ketajaman mata dan pendengaran 12. Menenangkan dan menguatkan syaraf 13. Menstabilkan kejiwaan anak 14. Melancarkan BAB 15. Mengobati cacingan 16. Mengobati panas (demam), flu, batuk 17. menghaluskan kulit.\rAdapun dalil-dalil yang menunjukkan kesunahan tahnik, diantaranya :\rImam Bukhori meriwayatkan, Abu Musa r.a berkata:\rوُلِدَ لِى غُلاَمٌ فَأَتَيْتُ بِهِ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَسَمَّاهُ إِبْرَاهِيمَ وَحَنَّكَهُ بِتَمْرَةٍ.\r“(Suatu saat) aku memiliki anak yang baru lahir, kemudian aku mendatangi Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau memberi nama padanya dan beliau mentahnik dengan sebutir kurma.”\rDari ‘Aisyah, beliau berkata:\rأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يُؤْتَى بِالصِّبْيَانِ فَيُبَرِّكُ عَلَيْهِمْ وَيُحَنِّكُهُمْ.\r“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangkan anak kecil, lalu beliau mendoakan mereka dan mentahnik mereka.”\rAn Nawawi menyebutkan dua hadits di atas dalam Shahih Muslim :\rاستحباب تحنيك المولود عند ولا دته وحمله إلى صالح يحنكه وجواز تسميته يوم ولا دته واستحباب التسمية بعبدالله وإبراهيم وسائر أسماء الأنبياء عليهم السلام","part":1,"page":179},{"id":180,"text":"”Dianjurkan mentahnik bayi yang baru lahir, bayi tersebut dibawa ke orang sholih untuk ditahnik. Juga dibolehkan memberi nama pada hari kelahiran. Dianjurkan memberi nama bayi dengan Abdullah, Ibrahim dan nama-nama nabi lainnya.”\rMakanan yang dijadikan media Tahnik adalah Kurma,jika tidak ada maka boleh menggunakan yang manis-manis seperti madu dan atau makanan manis yang tanpa melalui pengolahannya dengan api.\rOrang yang mentahnik adalah orang tuanya,jika tidak maka oleh orang yang sholih atau sholihah. [ I'anatu Al-Tholibin ].\r(قوله: وأن يحنكه) أي وسن أن يحنك المولود ذكرا أو أنثى لانه (ص): أتى بابن أبي طلحة..حين ولد وتمرات، فلاكهن، ثم فغرفاه، ثم مجه فيه، فجعل يتلمظ، فقال (ص): حب الانصار التمر، وسماه: عبد الله. رواه مسلم. والتحنيك: هو مضغ نحو التمر، وذلك حنك المولود به لينزل منه شئ إلى الجوف.\rوقوله: حب الانصار هو بكسر الحاء أي محبوبهم.\r(قوله: رجل، فامرأة من أهل الخير) أفاد سن كون المحنك له رجلا، فإن لم يوجد فامرأة. وأن يكونا من أهل الخير والصلاح.\rوعبارة شرح الروض: قال في المجموع: وينبغي أن يكون المحنك له من أهل الخير، فإن لم يكن رجل فامرأة صالحة. اه.\r(وقوله: بتمر) في معناه الرطب. قال في النهاية: والاوجه تقديم الرطب على التمر نظير ما مر في الصوم. اه. ومثله في التحفة.\r(وقوله: فحلو) أي فإن لم يوجد تمر فبحلو لم يمسه النار أي كزبيب.\r- Busyrol Karim :\r(وتحنيكه بتمر) ذكراً أو أنثى بأن يمضغه ويدلك به حنكه حتى يصل بعضه لجوفه، ويقدم الرطب على التمر كما في الصيام (ثم حلو) لم تمسه نار.\rوينبغي كون المحنك من أهل الصلاح؛ لتحصل للمولود بركة ريقه.","part":1,"page":180},{"id":181,"text":"فإن تحنيك المولود سنة ثابتة فعلها رسول الله صلى الله عليه وسلم، فقد أخرج الإمام أحمد في المسند و ابن حبان في صحيحه: أن أبا طلحة الأنصاري لما ولد له ولد من أم سليم أمر أنس بن مالك بحمله إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم ومعه تمرات، فوضع النبي صلى الله عليه وسلم الولد في حجره ثم مضغ بعض التمر وحنكه به مصحوباً بريقه صلى الله عليه وسلم، وسماه عبد الله، ودعا له.\rفلا ينبغي ترك هذه السنة، وينبغي أن يكون من يتولاها من أهل الفضل والصلاح، ممن ترجى بركة دعائه ولن يترتب على فعل هذه السنة إلا خير إن شاء الله تعالى.\rويستحب أن يكون المحنك من أهل الصلاح والفضل رجلاً كان أو امرأة، قال الشوكاني نقلاً عن النووي: اتفق العلماء على استحباب تحنيك المولود عند ولادته بتمر، فإن تعذر فما في معناه أو قريب منه من الحلو، قال: ويستحب أن يكون من الصالحين وممن يتبرك به رجلاً كان أو امرأة.\r- Imam Asyaukani dalam Nailul Author :\rقال الإمام الشوكاني في نيل الأوطار 5 / 320 :\r\"قال الإمام النووي :اتفق العلماء على استحباب تحنيك المولود عندولادته بتمر فان تعذر فما في معناه أو قريب منه من الحلو\r- Syarah Muslim\rقال : ويستحب أن يكون المحنك من الصالحين وممن يتبرك به رجلا كان أو امرأة فان لم يكن حاضرا عند المولود حمل اليه \"\rوانظره في شرح مسلم14 / 122\r- Imam Nawawi dalam Al-Majmu'\rوقال الإمام النووي في المجموع 8 /335 : \"وينبغي أن يكون المحنك من أهل الخير، فإن لم يكن رجل فامرأة صالحة\"\rWallahu A'lam\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/722431407779670\rwww.fb.com/notes/785098881512922\r3246. PERIHAL ZINA MATA DAN ZINA HATI\rPERTANYAAN :\r> Dyah Alydya\rSaya mau bertanya :\r1. apa sih pengertian zina mata dan zina hati itu ?\r2. contoh zina mata dan zina hati itu apa aja sih ?","part":1,"page":181},{"id":182,"text":"3. sisi dan sosro pacaran mereka saling tukar foto, sosro zina hatinya karena memandang foto pacarnya, kebagian dosa gak sisi nya ? makasih\rJAWABAN :\r> Hariz Jaya\rيعلم خائنة الاعين وما تخفى الصدور\rArtinya : Dan (Allah) mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang di sembunyikan oleh hati. (QS. Ghaafir : 19).\rDari Jabir bin Abdillah, ia berkata:\rسألت رسول الله صلى الله عليه وسلم عن نظر الفجاءة فأمرنى ان اصرف بصرى\rArtinya : Aku bertanya kepada Rasulullah saw dari pandangan tiba-tiba (tidak sengaja) maka beliau memerintahkanku untuk memalingkan pandanganku. (HR. Muslim).\rMakna pandangan tiba-tiba adalah pandangan kepada wanita ajnabiyah tanpa sengaja, tidak ada dosa baginya pada pandangan pertama dan wajib untuk memalingkan pada saat itu juga. Apabila dipalingkan pada saat itu juga maka tidak berdosa tapi apabila terus-menerus memandang, maka berdosa berdasarkan hadist ini.\rSeorang penyair berkata:\rكل الحودث مبدأها من النظر * ومعظم النار من مستصغر الشرر.\rكم نظرة بلغت فى قلب صاحبها * كمبلغ السهم بين القوس والوتى.\rوالعبد ما دام ذا طرف يقلبه * فى اعين الناس موقوف على الخطر.\rيسر مقلته ماضر مهجته * لا محر حبا بسر ورعاد بالضرر.\rArtinya :\rSeluruh malapetaka sumbernya berasal dari pandangan * dan besarnya nyala api berasal dari bunga api yang kecil.\rBetapa banyak pandangan yang jatuh menimpa hati yang memandang * sebagaimana jatuhnya anak panah yang terlepaskan antara busur dan talinya.\rSelama seorang hamba masih memiliki mata yang bisa ia bolak balik * maka ia sedang berada di atas bahaya di antara pandangan manusia.","part":1,"page":182},{"id":183,"text":"Menyenangkan mata apa yang menjadikan penderitaan jiwa * sungguh tidak ada kelapangan dan keselamatan dengan kegembiraan yang mendatangkan penderitaan.\r> Ical Rizaldysantrialit\r- Dalam shohih bukhori, disebutkan :\rالْعَيْنُ تَزْنِي، وَالْقَلْبُ يَزْنِي، فَزِنَا الْعَيْنِ النَّظَرُ، وَزِنَا الْقَلْبِ التَّمَنِّي، وَالْفَرْجُ يُصَدِّقُ مَا هُنَالِكَ أَوْ يُكَذِّبُهُ\r“Mata itu berzina, hati juga berzina. Zina mata dengan melihat (yang diharamkan), zina hati dengan membayangkan (pemicu syahwat yang terlarang). Sementara kemaluan membenarkan atau mendustakan semua itu.” (HR. Ahmad)\r- Syarah 'Uquudul lujain :\r(وَقَالَ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كُتِبَ عَلَىَ ابْنِ آدَمَ) أي قضى عليه وأثبت في اللوح المحفوظ (نَصِيبُهُ مِنَ الزّنَا) أي مقدماته كما نقله العزيزي عن المناوي (مُدْرِكٌ) أي فهو مدرك (ذَلِكَ) أي ما كتب عليه (لاَ مَحَالَةَ) بفتح الميم أي لا بد ولا شك (فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النّظَرُ) إلى ما لا يحل (وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ) إلى ما لا ينبغى شرعا (وَاللّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ) بما لا ينفع دنيا ولا دينا (وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ) أي القهر والأخذ بالعنف (وَالرّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا) بضم الخاء المعجمة أي نقل الأقدام إلى مل لا يحل (وَالْقَلْبُ يَهْوَى) بفتح الواو أي يحبّ (وَيَتَمَنَّى) مالايحل (وَيُصَدّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ أَوْ يُكَذّبُه) أي بالإتيان بما < ص 17 > هو المقصود من ذلك، أو بالترك. رواه مسلم عن أبي هريرة.","part":1,"page":183},{"id":184,"text":"Rosulullah SAW bersabda : Telah di tetapkan atas bani adam,jika tertulis di lauhil mahfudz ia berzina,maka itu akan terjadi, pasti ! Zina kedua mata adalah melihat pada hal yang tidak halal baginya,Zina kedua kuping adalah ketika diperdengarkan pada hal yang tak sepantasnya di dengar menurut syara'. Zina lisan adalah digunakan untuk mengatakan sesuatu yang tidak ada manfaatnya bagi dunia dan agamanya. Zina tangan adalah merebut paksa. Zina kaki adalah digunakan untuk melangkah / berjalan menuju tempat yang tidak halal baginya. Dan hati ketika ditumpangi syahwat dan berharap sesuatu yang tak halal, adakalanya farjinya ikut membenarkan atau menganggap itu hanya dusta\rوقال عليه السلام: {لِكُلِّ ابْنِ آدَمَ حَظٌّ مِنَ الزِّنَا، فَالعَيْنَانِ تَزْنِيَانِ وَزِنَاهُمَا النَظَرُ، وَاليَدَانِ تَزْنِيَانِ وَزِنَاهُمَا البَطْشُ، وَالرِّجْلاَنِ تَزْنِيَانِ وَزِنَاهُمَا المَشْيُ، وَالفَمُ يَزْنِيْ وَزِنَاهُ القُبْلَةُ، وَالْقَلْبُ يَهُمّ أَوْ يَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الفَرْجُ أَوْ يُكَذِّبَهُ} كذا في الإحياء.\rRosul SAW bersabda : Pada setiap bani adam ada bagian dari zina.Kedua mata berzina dan zina keduanya adalah melihat, Kedua tangan berzina dan zina keduanya adalah merampas (mengambil paksa / tanpa hak). Kedua kaki berzina dan zina keduanya adalah digunakan berjalan ke tempat yang tak halal. Mulut berzina dan zinanya adalah melakukan ciuman. Dan hati berangan-angan atau mengharap/menghayalkan sesuatu yang tak halal baginya.\r> Ghufron Bkl","part":1,"page":184},{"id":185,"text":"Anggota badan itu memang berpotensi unt berbuat zina : Zina mata adalah penglihatan yang digunakan untuk melihat hal-hal yang diharamkan oleh Allah. Sedangkan zina hati adalah hati mempunyai keinginan pada yang diharamkan kepada ALLAH.\r.كتب على ابن آدم نصيبه من الزنا مدرك له لا محالة العينان زناهما النظر والأذنان زناهما الإستماع واللسان زناه الكلام واليد زناها البطش والرجل زناها الخطا والقلب يهوي و يتمنى و يصدق ذلك الفرج أو يكذبه. الحديث. إسعاد الرفيق : ص : 67\rMemandang foto yang mengumbar aurat hukumnya adalah harom :\rالحلال والحرام في الإسلام : ص : 113 :\r.فتصوير النساء عاريات أو شبه عاريات و إبراز موانع الأنوثة و الفتنة منهن و رسمهن أو تصويرهن في أوضاع مثيرة للشهوات موقظة للغوائر الدنيا كما ترى ذلك واضحا في المجلة والصحف و دور السينما كل ذلك مما لا شك في حرمته و حرمة تصويره وحرمة نشره على الناس وحرمة إقتنائه واتخاذه في البيوت أو المكاتب والمجلات وتعليقه على الجدران وحرمة القصد إلى رؤيته ومشاهدته.\rSisi yang memberi foto jga ikut berdosa krn Sisi termasuk membantu dan pelantara pada perbuatan ma'siat :\rإسعاد الرفيق 2/127\rومنها الإعانة على المعصية أى على معصية من معاصي الله بقول أو فعل أو غيره تم إن كانت المعصية كبيرة كانت الإعانة عليها كذلك\rأصول الفقه لمحمد أبو زهرة : ص : 288\rو بيان ذلك أن موارد الأحكام قسمان مقاصد وهي الأمور المكونة للمصالح والمفاسد في أنفسها أى التي هي في ذاتها مصالح أو مفاسد و وسائل وهي الطرق المقضيةإليها وحكمها حكم ما أفضت إليه من تحليل أو تحريم غير أنها أخفض رتبة من المقاصد في حكمها\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/719313374758140\r3560. HUKUM CIPIKA-CIPIKI (CIUM PIPI KANAN CIUM PIPI KIRI)\rOleh Iki Alawiy Rek","part":1,"page":185},{"id":186,"text":"Disebutkan dalam Hasyiyah Al-Bujairimi 'Alal Khothib III / 386 :\rالكتاب : حاشية البجيرمي على الخطيب ج 3 ص 386 المكتبة الشاملة\rقَوْلُهُ : ( وَتُكْرَهُ الْمُعَانَقَةُ وَالتَّقْبِيلُ ) وَالْأَصَحُّ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ أَنَّ مُعَانَقَةَ الْغَائِبِ إذَا قَدِمَ مِنْ السَّفَرِ سُنَّةٌ لِكُلِّ أَحَدٍ ، وَلَيْسَ ذَلِكَ مِنْ الْخُصُوصِيَّاتِ ؛ لِأَنَّهَا لَا تَثْبُتُ إلَّا بِدَلِيلٍ خَاصٍّ وَلَا دَلِيلَ هُنَا عَلَيْهَا ا هـ مُنَاوِيٌّ .\rقَوْلُهُ : ( وَتُكْرَهُ الْمُعَانَقَةُ وَالتَّقْبِيلُ ) أَيْ لِغَيْرِ مُشْتَهَاةٍ ، وَإِلَّا فَيَحْرُمُ كَمَا يَحْرُمُ بِغَيْرِ حَائِلٍ فِي الْأَجَانِبِ مُطْلَقًا ق ل .\rقَوْلُهُ : ( فَسُنَّةٌ ) أَيْ عِنْدَ اتِّحَادِ الْجِنْسِ ، وَيُسْتَثْنَى الْأَمْرَدُ كَمَا تَقَدَّمَ .\r> Imam Tontowi\rBila tiba tiba main cium makruh. Lihat Asnal Matholib halaman 278 Cet Beirut :","part":1,"page":186},{"id":187,"text":"ـ (وَتُكْرَهُ الْمُعَانَقَةُ وَالتَّقْبِيلُ) فِي الرَّأْسِ وَالْوَجْهِ وَلَوْ كَانَ الْمُقَبِّلُ أَوْ الْمُقَبَّلُ صَالِحًا [قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ: الرَّجُلُ مِنَّا يَلْقَى أَخَاهُ أَوْ صَدِيقَهُ أَيَنْحَنِي لَهُ ؟ قَالَ: لَا, قَالَ: أَفَيَلْزَمُهُ وَيُقَبِّلُهُ ؟ قَالَ: لَا, قَالَ: فَيَأْخُذُ بِيَدِهِ فَيُصَافِحُهُ ؟ قَالَ: نَعَمْ] رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ (وَهُمَا لِقَادِمٍ) مِنْ سَفَرٍ أَوْ تَبَاعُدِ لِقَاءٍ (سُنَّةٌ) لِلِاتِّبَاعِ رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ, نَعَمْ الْأَمْرَدُ الْجَمِيلُ الْوَجْهُ يَحْرُمُ تَقْبِيلُهُ مُطْلَقًا ذَكَرَهُ النَّوَوِيُّ فِي أَذْكَارِهِ ثُمَّ قَالَ: وَالظَّاهِرُ أَنَّ مُعَانَقَتَهُ كَتَقْبِيلِهِ أَوْ قَرِيبَةٍ مِنْهُ (كَتَقْبِيلِ الطِّفْلِ) وَلَوْ وَلَدَ غَيْرِهِ (شَفَقَةً) فَإِنَّهُ سُنَّةٌ ; [لِأَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبَّلَ ابْنَهُ إبْرَاهِيمَ وَشَمَّهُ وَقَبَّلَ الْحُسَيْنَ بْنَ عَلِيٍّ وَعِنْدَهُ الْأَقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ التَّمِيمِيُّ فَقَالَ الْأَقْرَعُ إنَّ لِي عَشَرَةً مِنْ الْوَلَدِ مَا قَبَّلْت مِنْهُمْ أَحَدًا فَنَظَرَ إلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ: مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ] وَقَالَتْ عَائِشَةُ [قَدِمَ نَاسٌ مِنْ الْأَعْرَابِ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا تُقَبِّلُونَ صِبْيَانَكُمْ ؟ فَقَالَ: نَعَمْ, قَالُوا: لَكِنَّا وَاَللَّهِ مَا نُقَبِّلُ فَقَالَ: أَوَأَمْلِكُ إنْ كَانَ اللَّهُ تَعَالَى نَزَعَ مِنْكُمْ الرَّحْمَةَ] رَوَاهَا الْبُخَارِيُّ وَغَيْرُهُ (قَوْلُهُ ذَكَرَهُ النَّوَوِيُّ فِي أَذْكَارِهِ) أَشَارَ إلَى تَصْحِيحِهِ وَكَذَا قَوْلُهُ ثَمَّ قَالَ وَالظَّاهِرُ إلَخْ\r> Ghufron Bkl","part":1,"page":187},{"id":188,"text":"Cipika cipiki bila dilakukan pada tunggal jenis maka hukumnya makruh, cipika cipiki bisa sunah dengan catatan di atas bila dilakukan pada orang yang baru datang dari bepergian atau lama tidak jumpa dan atau orang tua pada anaknya :\r. كما في حواشي الشرواني الجزء السابع صحيفة 208 ما نصه :\rوتسن مصافحة الرجلين والمرأتين نعم على ما تقدم من حرمة نظر الأمرد الجميل تحرم مصافحته لما مر أن المس أبلغ من النظر قال العبادي ويكره مصافحة من به عاهة كجذام أو برص وتكره المعانقة والتقبيل في الرأس والوجه ولو كان المقبل أو المقبل صالحا إلا لقادم من سفر أو تباعد لقاء عرفا فهما سنة ويأتي في تقبيل الأمرد ما مر ويسن تقبيل العربي ولو ولد غيره شفقة ولا بأس بتقبيل وجه الميت الصالح ويسن تقبيل يد الحي الصالح ونحوه من الأمور الدينية كعلم وشرف وزهد ويكره ذلك لغناه أو نحوه من الأمور الدنيوية كشوكته ووجاهته ثم أهل الدنيا ويكره حتى الظهر. إهـ.\r2. كما في روضة الطالبين الجزء السابع صحيفة 28 ما نصه :\rقال البغوي وتكره المعانقة والتقبيل إلا تقبيل الولد شفقة وقال أبو عبد الله الزبيري لا بأس أن يقبل الرجل رأس الرجل وما بين عينيه ثم قدومه من سفره أو تباعد لقائه قلت المختار أن تقبيل يد غيره إن كان لزهده وصلاحه أو علمه أو شرفه وصيانته ونحو ذلك من الأمور الدينية فهو مستحب وإن كان لغناه ودنياه وشوكته ووجاهته ثم أهل الدنيا ونحو ذلك فمكروه وقال المتولي في باب صلاة الجمعة لا يجوز وتقبيل الصغار شفقة سنة سواء ولده وولد غيره إذا لم يكن بشهوة والسنة معانقة القادم من سفر وتقبيله. إهـ.\r> Fatih ElMufid\rKalau anak kecil sunnah, kalau dewasa sejenis jika baru datang dari perjalanan sunnah jika tidak karena itu makruh. Jika tidak sejenis, atau motif dunia atau menimbulkan syahwat haram. Lihat Majmu' syarah muhaddzab 4/637 :","part":1,"page":188},{"id":189,"text":"يُسْتَحَبُّ مُصَافَحَةُ الرَّجُلِ الرَّجُلَ، وَالْمَرْأَةِ الْمَرْأَةَ. قَالَ الْبَغَوِيُّ: وَتُكْرَهُ الْمُعَانَقَةُ وَالتَّقْبِيلُ، إِلَّا تَقْبِيلَ الْوَلَدِ شَفَقَةً. وَقَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الزُّبَيْرِيُّ: لَا بَأْسَ أَنْ يُقَبِّلَ الرَّجُلُ رَأْسَ الرَّجُلِ وَمَا بَيْنَ عَيْنَيْهِ، عِنْدَ قُدُومِهِ مِنْ سَفَرِهِ أَوْ تَبَاعُدِ لِقَائِهِ.\rقُلْتُ: الْمُخْتَارُ أَنَّ تَقْبِيلَ يَدِ غَيْرِهِ إِنْ كَانَ لِزُهْدِهِ وَصَلَاحِهِ أَوْ عِلْمِهِ أَوْ شَرَفِهِ وَصِيَانَتِهِ، وَنَحْوِ ذَلِكَ مِنَ الْأُمُورِ الدِّينِيَّةِ، فَهُوَ مُسْتَحَبٌّ. وَإِنْ كَانَ لِغِنَاهُ وَدُنْيَاهُ وَشَوْكَتِهِ وَوَجَاهَتِهِ عِنْدَ أَهْلِ الدُّنْيَا وَنَحْوِ ذَلِكَ، فَمَكْرُوهٌ. وَقَالَ الْمُتَوَلِّي فِي بَابِ صَلَاةِ الْجُمُعَةِ: لَا يَجُوزُ. وَتَقْبِيلُ الصِّغَارِ شَفَقَةً سُنَّةٌ، سَوَاءٌ وَلَدُهُ وَوَلَدُ غَيْرِهِ إِذَا لَمْ يَكُنْ بِشَهْوَةٍ. وَالسُّنَّةُ مُعَانَقَةُ الْقَادِمِ مِنْ سَفَرٍ وَتَقْبِيلُهُ. وَلَا بَأْسَ بِتَقْبِيلِ وَجْهِ الْمَيِّتِ الصَّالِحِ، وَيُكْرَهُ حَنْيُ الظَّهْرِ فِي كُلِّ حَالٍ لِكُلِّ أَحَدٍ، وَلَا بَأْسَ بِالْقِيَامِ لِأَهْلِ الْفَضْلِ","part":1,"page":189},{"id":190,"text":"وَأَمَّا تَقْبِيلُ خَدِّ وَلَدِهِ الصَّغِيرِ وَوَلَدِ قَرِيبِهِ وَصَدِيقِهِ وَغَيْرِهِ مِنْ صِغَارِ الْأَطْفَالِ الذَّكَرِ وَالْأُنْثَى عَلَى سَبِيلِ الشَّفَقَةِ وَالرَّحْمَةِ وَاللُّطْفِ فَسُنَّةٌ وَأَمَّا التَّقْبِيلُ بِالشَّهْوَةِ فَحَرَامٌ سَوَاءٌ كَانَ فِي وَلَدِهِ أَوْ فِي غَيْرِهِ بَلْ النَّظَرُ بِالشَّهْوَةِ حَرَامٌ عَلَى الْأَجْنَبِيِّ وَالْقَرِيبِ بِالِاتِّفَاقِ وَلَا يستثني من تحريم القبلة بِشَهْوَةٍ إلَّا زَوْجَتُهُ وَجَارِيَتُهُ وَأَمَّا تَقْبِيلُ الرَّجُلِ الميت والقادم من سفره ونحوه فسنة ومعانقة القادم من سفر ونحوه سنة وَأَمَّا الْمُعَانَقَةُ وَتَقْبِيلُ وَجْهِ غَيْرِ الْقَادِمِ مِنْ سَفَرٍ وَنَحْوِهِ غَيْرِ الطِّفْلِ فَمَكْرُوهَانِ صَرَّحَ بِكَرَاهَتِهِمَا الْبَغَوِيّ وَغَيْرُهُ وَهَذَا الَّذِي ذَكَرْنَا فِي التَّقْبِيلِ وَالْمُعَانَقَةِ أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ عِنْدَ الْقُدُومِ مِنْ سَفَرٍ وَنَحْوِهِ وَمَكْرُوهٌ فِي غَيْرِهِ\r> Ical Rizaldysantrialit\rLihat Al-Binayah syarah al-hidayah :\r[يقبل الرجل فم الرجل أو يده أو شيئا منه أو يعانقه]","part":1,"page":190},{"id":191,"text":"م: (قال: ويكره أن يقبل الرجل فم الرجل أو يده أو شيئا منه أو يعانقه) ش: قال في \" الجامع الصغير \": وصورتها فيه: محمد عن يعقوب - رَحِمَهُ اللَّهُ - عن أبي حنيفة - رَحِمَهُ اللَّهُ - أنه قال: أكره أن يقبل الرجل من الرجل فمه، أو يده، أو شيئا منه، وأكره المعانقة ولا أرى بالمصافحة، ولم يذكر الخلاف كما ترى، ولهذا قال المصنف - رَحِمَهُ اللَّهُ - م: (وذكر الطحاوي) ش: أي في \" شرح الآثار \": م: (أن هذا قول أبي حنيفة ومحمد -رحمهما الله- وقال أبو يوسف - رَحِمَهُ اللَّهُ - لا بأس بالتقبيل والمعانقة) ش: ذكره الطحاوي في \" شرح الآثار \" بإسناده إلى «أنس بن مالك قال: قالوا يا رسول الله: \"أينحني بعضنها بعضا إذا التقينا؟ قال: \"لا\"، قالوا: فيعانق بعضنا بعضا؟ قال: \"لا\"، قالوا: فيصافح بعضنا بعضا؟ قال: \"تصافحوا» . قال الطحاوي:\rوذهب قوم إلى هذا فكرهوا المعانقة، منهم أبو حنيفة ومحمد -رحمهما الله-، وخالفهم آخرون ولم يروا به بأسا، منهم أبو يوسف، وأخذ الطحاوي يقول أبي يوسف في \" شرح معاني الآثار \" فمن أراد ذلك فليعاود إليه في \" شرح الآثار \"، وقد أمعنا الكلام في هذا الباب في \" شرح مباني الأخبار في شرح معاني الآثار \": فمن أراد ذلك فليعاود إليه.","part":1,"page":191},{"id":192,"text":"م: (لما روي أن «النبي - عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ - عانق جعفرا - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - حين قدم من الحبشة وقبل بين عينيه» ش: هذا الحديث رواه جماعة من الصحابة - رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمْ -، منهم: عبد الله بن عمر - رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمَا -، أخرج حديثه الحاكم في \"مستدركه \"، عن حيوة ابن شريح، عن يزيد بن أبي حبيب عن نافع، عن ابن عمر - رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمَا - قال: «وجه رسول الله - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - جعفر بن أبي طالب - رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ - إلى بلاد الحبشة، فلما قدم منها اعتنقه النبي - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - وقبل بين عينيه» . قال الحاكم: إسناده صحيح.\rومنهم جابر أخرج حديثه - رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ - الحاكم أيضا عن الأجلح، عن الشعبي عن جابر قال: «لما قدم رسول الله - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - من خيبر، وقدم جعفر من الحبشة، تلقاه رسول الله - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - وقبل جبهته، وقال: \"والله ما أدري بأيهما أفرح؟ بفتح خيبر أم بقدوم جعفر وسكت عنه» .\rثم أخرجه عن سفيان، حدثنا إسماعيل بن أبي خالد، وزكريا بن أبي زائدة عن الشعبي قال: لما قدم رسول الله - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، الحديث، وقال: هذا مرسل صحيح، وأخرجه الطحاوي أيضا مرسلا، ورواه البيهقي في \" دلائل النبوة في باب: غزوة خيبر \"، أخبرنا أبو عبد الله الحافظ، حدثنا الحسن بن إسماعيل أبي العلوي، حدثنا أحمد بن محمد البيروني، حدثنا محمد بن أحمد بن أبي طيبة حدثني مكي بن إبراهيم الرعيني حدثنا سفيان الثوري، عن أبي الزبير، عن جابر - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - فذكره، وقال: في إسناده إلى الثوري من لا يعرف.\rWallohu A'lam Bis-Showab\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/856310017725141/\rwww.fb.com/notes/862331660456310","part":1,"page":192},{"id":193,"text":"3634. YATIM DAN PIATU DALAM SANTUNAN ANAK YATIM\rPERTANYAAN :\rAssalaamu'alaikum. Pertanyaan titipan : Dalam berbagai literatur kitab fiqih maupun syarah hadits, dsb, definisi yatim adalah , kurang lebih :\rواليتيم من مات أبوه قبل بلوغه\r\"Yatim adalah anak yang ditinggal mati ayahnya sebelum dia baligh\". (Mughnil Muhtaj III / 78 Cet Beirut).\rSedang dalam istilah Bahasa Indonesia : Yatim : Anak yang ditinggal mati ayahnya. Piatu : Anak yang ditinggal mati ibunya\rPertanyaan :\rPada santunan anak yatim, bolehkah memasukkan piatu pada daftar anak yang disantuni ? Mengingat ini sudah umum terjadi di masyarakat. Sedang niat dari para penyumbang adalah untuk santunan anak yatim. Mohon jawaban beserta ta'bir yang shorih, terimakasih (Imam Tontowi). Sebagai bahan muqobalah : 'Aunul Ma'bud Syarah Sunan Abi dawud, kitab Adab :\rباب في من ضم يتيماً ـ (أنا وكافل اليتيم): أي القيم بأمره ومصالحه ومربيه، واليتيم من مات أبوه وهو صغير يستوي فيه المذكر والمؤنث\rJAWABAN :\rWa'alaikumsalaam. Para ulama khilaf (terjadi beda pendapat) dalam hal ini :\r1. Menurut Qoul Adzhar definisi yatim adalah anak yang ditinggal mati ayahnya sebelum usia baligh. Pendapat ini didukung oleh mayoritas ulama tanpa khilaf.\r2. Menurut Qoul Muqobilul Adzhar, Yatim adalah anak yang ditinggal mati oleh salah satu dari ayah atau ibunya, pendapat ini diusung oleh Imam Abu 'Abdillah Az-Zarkasyi dalam kitabnya Al-Mantsuur Fi Al-Qawaa'id III / 368, dan Imam Ibnu Abi Huroiroh, namun demikian pendapat ini boleh diikuti dan diamalkan.\rMusyawirin :","part":1,"page":193},{"id":194,"text":"Ustadz Rampak Naung, KH. Abdullah Afif, Gus Umam Zein, Ustadz Ghufron Bkl, Ustadz Hasan Dhoif, dan lain lain\rReferensi :\r- Al-Mantsuur Fi Al-Qawaa'id III / 368\rالمشهور أنه الصغير الذي لا أب له وأن التيتم في الآدمي بموت الآباء وفي لبهائم بموت الأمهات قال الماوردي لأن البهيمة تنسب إلى أمها فكان بموت الأم يتمها والآدمي ينسب إلى أبيه فكان يتمه بموت الأب وقال ابن أبي هريرة في كتاب الحجر من تعليقه التيتم من لا أب له ولا أم بلا خلاف وكذلك من لا أب له يلزمه اسم اليتيم قولا واحدا فأما إذا لم يكن له أم وكان له\rأب فعلى وجهين أحدهما أنه يتيم وهو على القول الذي يقول أن الأم تلي أمر ابنها انتهى\rBerikut ta'rif yatim menurut mayoritas ulama dalam berbagai literatur kitab salaf :\r1. Kitab Ashsihhaah V / 342\r. واليتم في الناس من قبل الاب، وفي البهائم من قبل الام.\r2. Lisanul Arab XII / 645\rواليَتَمُ فِقْدانُ الأَب وقال ابن السكيت اليُتْمُ في الناس من قِبَل الأَب وفي البهائم من قِبَل الأُم ولا يقال لمن فَقَد الأُمَّ من الناس يَتيمٌ ولكن منقطع قال ابن بري اليَتيمُ الذي يموت أَبوه والعَجِيُّ الذي تموت أُمه واللَّطيم الذي يموتُ أَبَواه\r3. Al Mishbahul Munier II / 679\r( اليُتم في الناس من قبل الأب فيقال صغير ( يَتِيمٌ ) و الجمع ( أيْتَامٌ ) و ( يَتَامَى ) و صغيرة ( يَتِيمَةٌ ) و جمعها ( يَتَامَى ) و في غير الناس من قبل الأم و ( أَيْتَمَت ) المرأة ( إيتَاماً ) فهي ( مُوِتمٌ ) صار أولادها ( يَتَامَى ) فإنْ مات الأبوان فالصغير ( لَطِيمٌ ) و إن ماتت أمه فقط فهو ( عجيٌّ )\r4. Tajul Arus 34 / 134","part":1,"page":194},{"id":195,"text":"( *!اليُتْمُ ، بِالضَّمِّ : الانْفِرَادُ ) ، عَنْ يَعْقُوبَ ، وهذا هُوَ أصْلُ المَعْنَى ، كَمَا أَشَار إليه الرَّاغِبُ ، ( أوْ ) هُوَ ( فِقْدَانُ الأبِ ، ويُحَرَّكُ ) ، واقْتصَرَ الجَوْهَرِيُّ عَلَى الضَّمِّ ، وقَالَ الحَرَالِّيُّ : اليُتْمُ : فِقْدَانُ الأَبِ حِينَ الحَاجَةِ ، ولِذلِكَ أثْبَتَهُ مُثْبِتٌ في الذَّكَرِ إِلَى البُلُوغِ ، والأنْثى إِلَى الثُّيُوبَةِ ، لِبَقَاءِ حَاجَتِها بَعْدَ البُلُوغِ . | ( و ) اليُتْمُ ( في البَهَائِمِ : فِقْدَانُ الأُمِّ ) ، أشَارَ له الجَوْهَرِيُّ ، وهُوَ قَوْلُ ابنِ السِّكِّيتِ ، زَادَ ، وَلاَ يُقَالُ لِمَنْ فَقَدَ الأُمَّ مِنَ النَّاسِ : *!يَتِيمٌ ، ولكِنْ : مُنْقَطِعٌ ، وقَالَ ابنُ بَرِّي : *!اليَتِيمُ : الذِي يَمُوتُ أَبُوهُ ، والعَجِيُّ : الذِي تَمُوتُ أُمُّهُ ، واللَّطِيمُ : الذِي يَمُوتُ أبَوَاهُ\r5. Al Mufradaat Fii Ghariibil Quraan halaman 715\rاليتم انقطاع الصبي عن أبيه قبل بلوغه وفي سائر الحيوانات من قبل أمه\r6. Raudhatut Tholibin VI / 356\rواليتيم الصغير الذي لا أب له قيل ولا جد\r7. Asnal Mathalib III / 88\rالثَّالِثُ لِلْيَتَامَى لِلْآيَةِ وَهُمْ كُلُّ صَغِيرٍ ذَكَرٍ أو أُنْثَى أو خُنْثَى لَا أَب له وَلَوْ كان له أُمٌّ وَجَدٌّ أَمَّا كَوْنُهُ صَغِيرًا فَلِخَبَرِ لَا يُتْمَ بَعْدَ احْتِلَامٍ رَوَاهُ أبو دَاوُد وَحَسَّنَهُ النَّوَوِيُّ لَكِنْ ضَعَّفَهُ الْمُنْذِرِيُّ وَغَيْرُهُ وَأَمَّا كَوْنُهُ لَا أَبَ له فَلِلْوَضْعِ وَالْعُرْفِ\r8. Tafsir At- Thabari 13 / 560\rوأما \"اليتامى\"، فهم أطفال المسلمين الذين قد هلك آباؤهم\r9. Tafsir Al-Baghawi II / 159\rواليتامى: جمع يتيم، واليتيم: اسم لصغير لا أب له ولا جد\rWallaahu A'lam\rLink Diskusi :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/879192728770203/","part":1,"page":195},{"id":196,"text":"3672. HUKUM SESUATU YANG TUMBUH MEMANJANG MELEBIHI BATAS AURAT\rPERTANYAAN :\r> Abahe ?zil\rالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَا تُهُ\r\"Gondrong\". Ada seorang unik dan antik yang suka memanjangkan rambutnya. Saking antik nya, rambut kemaluan pun dipelihara hingga memanjang sampe ke tanah (uuppss, ngapunten). Celana ataupun sarung nya masih kalah panjang dengan rambut nya itu. Yang jadi pertanyaan adalah, apakah rambut panjang tersebut termasuk aurat ??? Baik saat sholat ataupun kesehariannya. Monggo poro kyai muda...\rJAWABAN :\r> Ical Rizaldysantrialit\rوَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه\rJika ada perkara yang memanjang,diarea antara pusar dan dengkul maka wajib ditutupi karena termasuk aurot,dengan alasan \"amalan bil ashli\" ikut hukum asalnya. contoh jika dzakar seorang laki-laki,saking panjangnya melewati batas aurot (melewati dengkul ) atau kutil yang tumbuh memanjang , atau rambut/bulu kemaluan baik qubul maupun dubur , maka ketika melewati batas aurot sholat ketika sholat, maka wajib ditutupi. Wallahu a'lam. Lihat Nihayatul muhtaj :\r[ فرع ]","part":1,"page":196},{"id":197,"text":"لو طال ذكره بحيث جاوز نزوله الركبتين فالوجه وجوب ستر جميعه ، ولا يجب ستر ما يحاذيه من الركبتين وما نزل عنهم ا من الساقين ، وكذا يقال في سلعة أصلها في العورة وتدلت حتى جاوزت الركبتين ، وكذا يقال في شعر العانة إذا طال وتدلى وجاوز الركبتين ا هـ سم على حج . لكن في حاشية شيخنا العلامة الشوبري على التحرير بعد قول سم المتقدم آخر الفرع الأول أو بالعكس ما نصه : قلت ويحتمل ، وهو الوجه عدم وجوب الستر في الأولى ; لأنها ليست من أجزاء العورة ، ووجوبه في الثانية اعتبارا بالأصل ، والفرق أن أجزاء العورة لها حكمها من حرمة نظره وإن انفصل من البدن بالكلية ، ولا كذلك المنفصل عن محل الفرض ، ويؤيد الفرق أنه لا يجب ستر ما يحاذي محل العورة مما نبت في غيرها ، ويجب غسل محاذي محل الفرض فالوجه الفرق بين البابين والمصير لما ذكرناه فليتأمل . ا هـ بحروفه . ( قوله : أو مبعضة ) في إدخالها في الأمة تجوز ولهذا فصلها الشارح المحلي رحمه الله بكذا .\r> Ghufron Bkl\rSeandainya dzakar seseorang panjang turun melewati kedua lutut, maka wajib menutup keseluruhannya...dst.\rتحفة المحتاج : ( فرع آخر ) لو طال ذكره بحيث جاوز نزوله الركبتين فالوجه وجوب ستر جميعه ولا يجب ستر ما يحاذيه من الركبتين وما نزل عنهما من الساقين ، وكذا يقال في سلعة أصلها في العورة وتدلت حتى جاوزت الركبتين ، وكذا يقال في شعر العانة إذا طال وتدلى حتى جاوز الركبتين\r> Iki Alawiy Rek\r( قَوْلُهُ : مَا بَيْنَ سُرَّةٍ وَرُكْبَةٍ ) شَعْرًا وَبَشَرًا فَلَوْ طَالَ الشَّعْرُ مِنْ الْعَانَةِ إلَى أَنْ جَاوَزَ الرُّكْبَةَ ، وَجَبَ سَتْرُهُ وَلَوْ تَدَلَّتْ سِلْعَةٌ فِي الْعَوْرَةِ كَأُنْثَيَيْنِ وَجَاوَزَتْ مَا ذُكِرَ وَجَبَ سَتْرُهَا مِنْ أَعْلَى وَجَوَانِبَ لَا مِنْ أَسْفَلِهَا ح ل الكتاب : حاشية البجيرمي على المنهج","part":1,"page":197},{"id":198,"text":"فَرْعٌ : لَوْ طَالَ ذَكَرُهُ أَوْ نَبَتَتْ سَلْعَةٌ أَصْلُهَا فِي الْعَوْرَةِ أَوْ طَالَ شَعْرُ الْعَانَةِ ، وَجَاوَزَ الرُّكْبَتَيْنِ وَجَبَ سَتْرُ مَا خَرَجَ عَنْ حَدِّ الرُّكْبَتَيْنِ ؛ لِأَنَّهُ مِمَّا بَيْنَ السُّرَّةِ وَالرُّكْبَةِ وَمِثْلُهُ الْأُنْثَيَانِ ا هـ . الكتاب : حاشية البجيرمي على الخطيب\rKESIMPULAN :\rRambut kemaluan yang panjangnya melebihi batas aurat termasuk aurat jadi wajib ditutup sebagaimana aurat lainnya. Wallohu a'lam bis showab\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/notes/887594677930008\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/881042418585234/\r3949. SAUDARA IPAR LEBIH BERBAHAYA DARI PADA AJNABI ?\rPERTANYAAN :\r> Lili Mbolo Al Faqirah\rAssalaamu'alaikum.... afwan, mohon pencerahannya..... suami kakak perempuan termasuk mahram apa bukan...?? syukron katsir atas ilmu dan pencerahannya..\rJAWABAN :\r> Mas Hamzah\rWa'alaikum salam wr.wb, saudara ipar termasuk ajnaby malah lebih bahaya daripada ajnaby yang dilarang untuk kholawat bersamanya.\r- Kitab syarah nawawy alal muslim\rعن عقبة بن عامر أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال إياكم والدخول على النساء فقال رجل من الأنصار يا رسول الله أفرأيت الحمو قال الحمو الموت\rDari Uqbah bin 'amir sesungguhnya Rasululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda:\"Jangan kamu sekalian masuk ke dalam (ruang) wanita. \"seorang lelaki anshor bertanya, “Ya Rasulullah bagaimana dengan saudara ipar?”. Rasulullah menjawab, “Saudara ipar adalah kematian”.\r- Penjelasan imam nawawy :","part":1,"page":198},{"id":199,"text":"وأما قوله صلى الله عليه وسلم ( الحمو الموت ) فمعناه أن الخوف منه أكثر من غيره ، والشر يتوقع منه ، والفتنة أكثر لتمكنه من الوصول إلى المرأة والخلوة من غير أن ينكر عليه ، بخلاف الأجنبي . والمراد بالحمو هنا أقارب الزوج غير آبائه وأبنائه . فأما الآباء والأبناء فمحارم لزوجته تجوز لهم الخلوة بها ، ولا يوصفون بالموت ، وإنما المراد الأخ ، وابن الأخ ، والعم ، وابنه ، ونحوهم ممن ليس بمحرم . وعادة الناس المساهلة فيه ، ويخلو بامرأة أخيه ، فهذا هو الموت ، وهو أولى بالمنع من الأجنبي لما ذكرناه .\rAdapun sabda Rasululloh shollallohu alaihi wasallam \" ipar adalah kematian \" maknanya adalah kekhawatiran darinya lebih banyak daripada dari selainnya, keburrukan bisa terjadi darinya, dan fitnah lebih banyak karena ipar memungkinkan untuk bisa sampai kepada perempuan dan kholwat dengannya tanpa ada yang mengingkarinya, berbeda dengan ajnaby. Yang dimaksud ipar disini adalah saudara dekatnya suami selain ayahnya dan anak-anaknya. Adapun para ayah dan para anak maka termasuk mahram bagi istri dan boleh kholwat dengan mereka dan tdk disifati dengan 'kematian', dan yang dimaksud dengan ipar disini adalah saudara laki-laki, anak laki-lakinya saudara laki-laki, paman, anaknya paman dan semisalnya dari orang yang bukan mahram.\rUmumnya orang-orang menganggap gampang hal ini dan kholwat bersama dengan istri saudara lelakinya, maka inilah yang namanya maut/kematian, dan ini lebih utama untuk dicegah daripada ajnaby sebab hal yang telah kami sebutkan tadi. Wallohu a'lam. (AS)\rLINK DISKUSI:\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/932928803396595/\rwww.fb.com/notes/933269816695827\rLINK TERKAIT:","part":1,"page":199},{"id":200,"text":"www.piss-ktb.com/2012/02/299-detail-mahrom-haram-dinikah.html\r3951. NASAB ANAK HASIL ZINA DENGAN IBU KANDUNG\rPERTANYAAN :\r> Ahmad Beri\rAsalamualaikum. Kepada para kiyai dan ustadz. Mohon dalil dan penjelasan Tentang Anak laki-laki yang menghamili ibu kandungnya sendiri . Pertanyaannya : Bernasabkah anak yang lahir tersebut kepada keduanya ? Terimakasih\rJAWABAN :\r> Ghufron Bkl\rWa'alaikum salam. Anak yang terlahir dari hasil perzinahan tersebut tetap bernasab hanya kepada ibu yang melahirkannya. Bagi si ibu, anak yang terlahir tersebut berstatus sebagai anak. Bagi Anak yang menzinahi, anak yang terlahir tersebut berstatus sebagai adik se-ibu. Wallohu a'lam (Rz) :\r(قوله من ماء زناه) المراد به ما خرج على وجه محرم كاستمنائه بيده أو يد أجنبية بخلافه بيد زوجته أو أمته. والمراد زناه بأجنبية بخلاف ما لو زنى بأمه أو بنته أو أخته فإن المخلوقة منه تحرم عليه لكن لوصف آخر غير الزنا وهو كونها أخته مثلا و يحرم على المرأة ولدها من الزنا والفرق بينها وبين الرجل أنه كالعضو منها وانفصل منها انسانا ولذا ورثها.الشرقاوي 2/219-220\r( قوله وأما المرأة فلا يحل لها ولدها من الزنا ) بل يحرم عليها وعلى سائر محارمها ويرث منها وترث منه بالإجماع والفرق بين الرجل حيث لا تحرم عليه البنت المخلوقة من ماء زناه وبين المرأة حيث يحرم عليها الولد المخلوق من ماء زناها أن البنت انفصلت من الرجل وهي نطفة قذرة لا يعبأ بها والولد انفصل من المرأة وهو انسان كامل.الباجوري 2/111\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/776622505693893/\rwww.fb.com/notes/933272253362250\r4014. SIAPAKAH SEBENARNYA KHUNTSA ITU ?\rPERTANYAAN :\r> Syamsul Fuad","part":1,"page":200},{"id":201,"text":"Assalamu'alaikum ustadz, saya mau tanya. Sebenarnya apa dan siapa itu khuntsa (wandu) menurut syari'at serta apakah keberadaannya diakui islam ? Terimakasih.\rJAWABAN :\r> Muhib Salaf Soleh\rWa'alaykumussalaam ... khuntsa adalah orang yang punya 2 alat kelamin, atau orang yang tidak punya kelamin laki-laki ataupun wanita sama sekali, tapi dia punya suatu lobang untuk mengeluarkan air seni.\rالموسوعة الكويتية وفي الاصطلاح : من له آلتا الرّجال والنّساء ، أو من ليس له شيء منهما أصلاً ، وله ثقب يخرج منه البول.\r> Mas Hamzah\rMenurut imam nawawi, khuntsa ada dua macam, yaitu :\r1.…khuntsa yang mempunyai alat kelamin perempuan dan mempunyai alat kelamin laki-laki.\r2.…khuntsa yang tidak mempunyai keduanya, tetapi punya lubang yang darinya keluar perkara yang keluar, dan lubang ini tidak menyerupai alat kelamin laki-laki maupun alat kelamin perempuan. Wallaahu a'lam. (DA)\r- kitab asbah wan nadhoir 241 :\rقال النووي : الخنثى ضربان : ضرب له فرج المرأة ، وذكر الرجال . وضرب ليس له واحد منهما . بل له ثقبة يخرج منها الخارج ، ولا تشبه فرج واحد منهما\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/notes/936257869730355\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/933063010049841/\r4116. BATAS DAN TINGKATAN USIA (UMUR) MANUSIA\rPERTANYAAN :\r> Agus Winarno\rAssalâmu'alaykum. Pada usia (batas usia) berapakah seseorang disebut sebagai: Anak, remaja, dewasa, dan tua ? Monggo dibahas.\rJAWABAN :\r> Muhib Salaf Soleh\rTelah berkata sebagian dari para ulama : umur manusia itu ada 4 derajat :\r1.…masa perkembangan dan terus tumbuh yaitu dari awal umur sampai 30 tahun atau 33 tahun.\r2.…masa tetap yaitu dari umur 33 sampai 40","part":1,"page":201},{"id":202,"text":"3.…masa sedikit pengurangan pengurangan kekuatan fungsi tubuh akan tetapi tidak begitu terasa pengurangannya yaitu dari 40 sampai 60.\r4.…masa tua atau semakin berkurang nya fungsi dan kekuatan tubuh yaitu semenjak umur 60 sampai akhir hayat.\rتفسير الخازن ج 3 ص 88.\rقال بعض العلماء: عمر ا?نسان له أربع مراتب:\rأولها من النشوء والنماء، وهو من أول العمر إلى بلوغ ث?ث وث?ثين سنة، وهو غاية سن الشباب وبلوغ ا?شد .\rثم المرتبة الثانية: سن الوقوف، وهو من ث?ث وث?ثين سنة إلى أربعين سنة، وهو غاية القوة وكمال العقل.\rثم المرتبة الثالثة: سن الكهولة وهو من ا?ربعين إلى الستين وهذه المرتبة يشرع ا?نسان في النقص لكنه يكون نقصا خفيا ? يظهر.\rثم المرتبة الرابعة: سن الشيخوخة وا?نحطاط من الستين إلى آخر العمر. و الله أعلم\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/941499875872821/\rwww.fb.com/notes/944435728912569\r4169. PERBEDAAN USIA BALIGH\rPERTANYAAN :\r> Nurul Halimah\rAssalamu'alaikum wr wb. Numpang nanya, Kenapa usia baligh pada perempuan dan laki-laki berbeda ?\rJAWABAN :\r> Muhib Salaf Soleh\rWa'alaikum salam. Kalau sebab usia laki laki dan wanita sama sama baligh pada umur 15 tahun. Sebagaimana di kitab safinah :\rتمام خمس عشرة سنة في الذكر و الأنثى و الله أعلم\r> Mas Hamzah\rTanda atau alamat baligh bisa diketahui dengan 3 hal :\r1. Umur\r2. Ihtilam/keluarnya air mani\r3. Haidh\rKalau dalam umur maka alamat baligh untuk laki laki dan perempuan itu sama yaitu 15 tahun. Sedangkan untuk ihtilam, dalam usia juga sama yaitu umur 9 tahun bagi lelaki dan perempuan. Adapun haid maka untuk perempuan adalah umur 9 tahun. Wallohu A'lam.\r- Kitab Kasyifah :\rفصل: في بيان بلوغ المراهق والمعصر","part":1,"page":202},{"id":203,"text":"(فصل): في بيان بلوغ المراهق والمعصر (علامات البلوغ ثلاث) في حق الأنثى واثنان في حق الذكر أحدها (تمام خمس عشرة سنة) قمرية تحديدية باتفاق (في الذكر والأنثى) وابتداؤها من انفصال جميع البدن. (و) ثانيها (الاحتلام) أي الإمناء وإن لم يخرج المني من الذكر كأن أحسب بخروجه فأمسكه وسواء خرج من طريقه المعتاد أو غيره مع الانسداد الأصلي وسواء كان في نوم أو يقظة بجماع أو غيره. (في الذكر والأنثى لتسع سنين) قمرية تحديدية عند البيجوري والشربيني والذي اعتمده ابن حجر وشيخ الإسلام أنها تقريبية، ونقل عبدالكريم عن الرملي أنها تقريبية في الأنثى وتحديدية في الذكر. (و) ثالثها (الحيض في الأنثى لتسع سنين) تقريبية بأن كان نقصها أقل من ستة عشر يوماً ولو بلحظة وأما حبلها فليس بلوغاً بل علامة على بلوغها بالإمناء قبله\rDokumen terkait :\r2410. THOHAROH : BALIGH SEBAB ONANI\r2833. ANAK 9 TAHUN MIMPI KELUAR MANI TAPI DITAHAN SAAT MAU KELUAR, JADI BALIGH\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/946688845353924/\rwww.fb.com/notes/952136151475860\r4132. APA UBAN NON MUSLIM JUGA CAHAYA ISLAM ?\rPERTANYAAN :\r> Vinny Priyani\rAssalammualaikum wr wb. Apa benar ada hadist yang menyebutkan melarang mencabut uban karena uban adalah tanda cahaya islami ? Saya pernah melihat orang tua non muslim yang rambutnya banyak ubannya, apa itu juga termasuk cahaya islam ?\rJAWABAN :\r> Mas Hamzah\rWa'alaikum salam.Ada hadits larangan tersebut, dan non muslim tidak mendapatkan cahayanya karena yang mendapatkan hanya orang islam. Lihat Kitab Majmu' (1/344) :","part":1,"page":203},{"id":204,"text":"\" يُكْرَهُ نَتْفُ الشَّيْبِ ، لِحَدِيثِ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ عَنْ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : ( لَا تَنْتِفُوا الشَّيْبَ ، فَإِنَّهُ نُورُ الْمُسْلِمِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ) حَدِيثٌ حَسَنٌ رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَالتِّرْمِذِيُّ وَالنَّسَائِيُّ وَغَيْرُهُمْ بِأَسَانِيدَ حَسَنَةٍ . هَكَذَا قَالَ أَصْحَابُنَا يُكْرَهُ , صَرَّحَ بِهِ الْغَزَالِيُّ وَالْبَغَوِيُّ وَآخَرُونَ , وَلَوْ قِيلَ : يَحْرُمُ لِلنَّهْيِ الصَّرِيحِ الصَّحِيحِ لَمْ يَبْعُدْ , وَلَا فَرْقَ بَيْنَ نَتْفِهِ مِنْ اللِّحْيَةِ وَالرَّأْسِ \" انتهى .\rMencabut uban dimakruhkan berdasarkan hadits dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya Dari Nabi shollallohu alaihi wasallam : \" Janganlah mencabut uban karena uban adalah cahayanya orang islam pada hari kiamat nanti\". Hadits hasan riwayat abu dawud, at tirmidzi, an nasa'i dan selain mereka dengan sanad hasan.\rPara ulama Syafi’iyah mengatakan bahwa mencabut uban adalah makruh dan hal ini ditegaskan oleh Al Ghozali , Al Baghowi dan selainnya. Seandainya mau dikatakan haram karena adanya larangan tegas mengenai hal ini, maka ini juga benar dan tidak mustahil.\rDan tidak ada bedanya antara mencabut uban yang ada di jenggot dan kepala (yaitu sama-sama terlarang).\rDari ‘Abdullah bin ‘Umar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :\rالشيب نور المؤمن لا يشيب رجل شيبة في الإسلام إلا كانت له بكل شيبة حسنة و رفع بها درجة","part":1,"page":204},{"id":205,"text":"“Uban adalah cahaya bagi seorang mukmin. Tidaklah seseorang beruban dalam Islam melainkan setiap ubannya akan dihitung sebagai suatu kebaikan dan akan meninggikan derajatnya”. (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman.)\rDari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, :\rلا تنتفوا الشيب فإنه نور يوم القيامة ومن شاب شيبة في الإسلام كتب له بها حسنة وحط عنه بها خطيئة ورفع له بها درجة\r“Janganlah mencabut uban karena uban adalah cahaya pada hari kiamat nanti. Siapa saja yang beruban dalam Islam walaupun sehelai, maka dengan uban itu akan dicatat baginya satu kebaikan, dengan uban itu akan dihapuskan satu kesalahan, juga dengannya akan ditinggikan satu derajat”. (HR. Ibnu Hibban dalam Shahihnya. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Wallohu A'lam\rLINK TERKAIT : 0091. LAIN-LAIN : Hukum Mencabut Uban\rLINK ASAL\rwww.fb.com/groups/piss.ktb//946416918714450/\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/946416918714450/\rwww.fb.com/notes/946767118679430\r4137. KESEHATAN : MANFAAT BEKAM (HIJAMAH)\rPERTANYAAN :\r> Raden Mas LeyehLeyeh\rAssalamu'alaikum, Tanya : Apa hukumnya hijamah / bekam? apa saja manfaatnya & sakit nggak yah ? Matur nuwun\rJAWABAN :\r> Mas Hamzah\rWa'alaikum salam. Bekam menurut fuqoha' hukumnya mustahab bagi yang hajat untuk kesembuhan penyakit dan terkadang malah wajib. Jika tidak ada hajat maka tidak dianjurkan melakukannya, karena terkadang malah membahayakan. Rasululloh shollallohu alaihi wasallam melakukan bekam ketika butuh saja.","part":1,"page":205},{"id":206,"text":"وقد نص الفقهاء على أن الحجامة سنة مستحبة لمن احتاج إليها، ففي الشرح الصغير:وتجوز الحجامة بمعنى تستحب عند الحاجة اليها وقد تجب.\rوقال العدوي في حاشيته 2/ 493: قوله: الحجامة حسنة-أي عند الحاجة إليها-.\rفإذا انتفت الحاجة الداعية إلى التداوي با لحجامة فلا يستحب فعلها لأنه قد يتضرر الإنسان بها، وقد فعلها صلى الله عليه وسلم عند حاجته إلى ذلك.\r- Kitab Fathul Bary :\rعن أنس رضي الله عنه أنه سئل عن أجر الحجام فقال احتجم رسول الله صلى الله عليه وسلم حجمه أبو طيبة وأعطاه صاعين من طعام وكلم مواليه فخففوا عنه وقال إن أمثل ما تداويتم به الحجامة والقسط البحري وقال لا تعذبوا صبيانكم بالغمز من العذرة وعليكم بالقسط\rوقد اشتمل هذا الحديث على مشروعية الحجامةوالترغيب في المداواة بها ولا سيما لمن احتاج إليها\r> Santrialit\rWa'alaikum salam. Hukum bekam dalam islam. Bekam (Arab, hijamah) adalah metode pengobatan yang dibolehkan dalam Islam. Bahkan sebagian ulama menganggapnya sunnah. Hadits seputar bekam cukup banyak antara lain sebagai berikut :\rPertama :\rخَيْرُ مَا تَدَاوَيْتُمْ بِهِ الْحِجَامَةُ\rArtinya : Sebaik-baik pengobatan yang kalian gunakan adalah bekam. [Hadis dari Musnad Imam Ahmad]\rKedua :\rإِنَّ أَمْثَلَ مَا تَدَاوَيْتُمْ بِهِ الْحِجَامَةُ\rArtinya : Sesungguhnya pengobatan paling ideal yang kalian gunakan adalah bekam. [Hadits Muttafaq ‘alaih: Bukhari dan Muslim]\rRosulullah SAW juga pernah melakukan bekam sebagaimana disebut dalam hadits sahih riwayat Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik sebagai berikut :\rاحتجم رسول الله - صلى الله عليه وسلم حجمه أبو طيبة\rArtinya: Rasulullah pernah dibekam oleh Abu Taibah","part":1,"page":206},{"id":207,"text":"Al-Qori dalam Jam'ul Wasail fi Syarhil Syamail II/219 menyatakan bahwa hadits di atas dapat bermakna bahwa Nabi sering melakukan bekam atau bisa juga hanya sekali. Wallohu A'lam\rSumber : HUKUM BEKAM DALAM ISLAM (www.alkhoirot.net/2013/06/hukum-bekam-dalam-islam.html)\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/197086363647513/\rwww.fb.com/notes/947988131890662\r4307. MEMBUKA AURAT SEKITAR PUSAR DAN LUTUT DEPAN MAHROM\rPERTANYAAN :\r> Mario Elfando\rAssalamualaikum wa rahmatullah wa barakatuh. Apa hukumnya seorang laki-laki yang membuka paha di depan ayah tirinya?\rJAWABAN :\r> Muhib Salaf Soleh\rWa'alaikumussalaam... jangankan ayah tiri pak...ayah kandung saja tidak boleh... kalau paha yang dibuka...karena aurat laki laki di depan laki laki yaitu antara lutut dan pusar... maka paha termasuk bagian yang haram diperlihatkan...\r> Ghufron Bkl\rHarom seorang laki-laki yang membuka paha di depan ayah tirinya. Wallahu a'lam bish-showaab.(DA).\rاعانة الطالبين :\r.ويجوز لنحو الام نظر فرجيهما ومسه زمن الرضاع والتربية - للضرورة - وللعبد العدل النظر إلى سيدته المتصفة بالعدالة ما عدا ما بين السرة والركبة كهي.ولمحرم - ولو فاسقا أو كافرا - نظر ما وراء سرة وركبة منها، كنظرها إليه، ولمحرم ومماثل مس ما وراء السرة والركبة.نعم: مس ظهر أو ساق محرمة كأمه وبنته وعكسه لا يحل إلا لحاجة أو شفقة","part":1,"page":207},{"id":208,"text":". ( قوله : ولمحرم ) أي ويجوز لمحرم بنسب أو رضاع أو مصاهرة . وقوله نظر ما وراء سرة وركبة أي نظر غير السرة والركبة ، أي وغير الذي بينهما أيضا بالأولى ، فلا يقال إن ما وراءهما صادق بكل البدن حتى ما بينهما . وانظر لم عبر فيما قبله بما عدا ما بين السرة والركبة وهنا بما وراء ذلك مع أن الحكم واحد فيهما؟ وعبارة الإرشاد التعبير في الكل بما وراء السرة والركبة ونصها : ولا نظر ممسوح وعبدها ومحرم وراء سرة وركبة . اه . وهي ظاهرة . وقال في فتح الجواد : وما أفادته عبارته ، من حرمة نظر السرة والركبة في هذه واللتين قبلها متجه لأنه الأحوط . اه . وقوله منها : أي من قريبته المحرم ( قوله : كنظرها إليه ) أي كجواز نظرها إلى ما وراء سرة وركبة من محرمها ( قوله : ولمحرم ومماثل ) أي امرأة مع امرأة ورجل مع رجل . وقوله مس ما وراء السرة والركبة ، أي لأنه يحل نظره ، وما حل نظره حل مسه ، كما يفهم من قوله بعد وحيث حرم نظره حرم مسه وكان الأولى ذكر هذا عقبه لأنه مندرج في مفهومه ( قوله : نعم مس ظهر أو ساق محرمة ) استدرك من جوازه مس ما وراء السرة والركبة من المحرم أو المماثل .\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/961976307158511\rwww.fb.com/notes/4307/970516959637779\r4333. BATASAN AURAT LELAKI\rPERTANYAAN :\r> Wahid\rAssalamu'alaykum, minta penjelasan batasan aurat dalam sholat dan di luar sholat menurut 4 madzhab fiqih\rJAWABAN :\r> Pencari Ilmu\rWa'alaikum salam.\rوكذا الرجل له ثلاث عورات : عورة في الصلاة وقد تقدمت وهي أيضاً عورته عند الرجال ومحارمه من النساء ، وعورة النظر وهي جميع بدنه بالنسبة للأجنبية ، وعورة الخلوة السوأتان فقط على المعتمد زي\rSeorang pria, baginya memiliki tiga aurat :\r1. AURAT SHALAT","part":1,"page":208},{"id":209,"text":"Ialah aurat yang wajib ditutupinya saat menjalani shalat yakni anggauta tubuhnya antara pusat dan lutut dan ini juga auratnya saat bersama sesama pria dan wanita-wanita mahramnya\r2. AURAT NADHRAH\rIalah aurat yang harus ia tutupi dari pandangan wanita lain yakni keseluruhan tubuhnya dinisbatkan pada wanita lain (bukan mahramnya)\r3. AURAT KHALWAH\rIalah auratnya saat ia sendirian yakni dua anggauta cabulnya (kemaluan dan dubur) menurut pendapat mu’tamad (yang bisa dijadikan pegangan). Tuhfah al-Habiib II/184, wallaahu a'lam\rSumber : www.piss-ktb.com/2012/02/1185-aurat-pria-bertelanjang-dada-di.html\r> Mas Hamzah\rAurat lelaki : Aurat lelaki menurut imam malik, imam syafi'i dan imam hanafi adalah apa saja yang berada di antara pusar sampai lutut, sebagian qaum berpendapat bahwa aurat lelaki adalah dua sautan (qubul dan dubur) saja, sebab perbedaan mereka adalah adanya dua atsar yang bertentangan dan dua-duanya shohih, salah satunya adalah hadisnya jarhad bahwa Nabi shollallohu alaihi wasallam bersabda : \" paha adalah aurat \".\rKedua adalah haditsnya anas bahwa nabi shollallohu alaihi wasallam pernah terbuka pahanya dan beliau sedang duduk bersama para sahabatnya \". Al bukhori berkata bahwa hadisnya anas adalah asnad sedangkan hadisnya jarhad lebih berhati hati. Sebagian ulama' telah berkata bahwa aurat adalah dubur, farji dan paha.","part":1,"page":209},{"id":210,"text":"Aurat perempuan : Sedangkan aurat perempuan menurut kebanyakan ulama' adalah seluruh badannya selain wajah dan kedua telapak tangan, menurut abu hanifah bahwa dua telapak kakinya perempuan tdk termasuk aurat, sedangkan menurut abu bakar bin abdurrahman dan imam ahmad bahwa seluruh badan perempuan adalah aurat. Wallohu a'lam.\r- kitab bidayatul mujtahid ibnu rusydi :\r[ المسألة الثانية ] [ عورة الرجل ]\rوأما المسألة الثانية وهي حد العورة من الرجل فذهب مالك والشافعي إلى أن حد العورة منه ما بين السرة إلى الركبة ، وكذلك قال أبو حنيفة ، وقال قوم : العورة هما السوأتان فقط من الرجل .\rوسبب الخلاف في ذلك أثران متعارضان كلاهما ثابت : أحدهما حديث جرهد أن النبي - صلى الله عليه وسلم - قال : \" الفخذ عورة \" . والثاني : حديث أنس \" أن النبي - صلى الله عليه وسلم - حسر عن فخذه ، وهو جالس مع أصحابه \" قال البخاري : وحديث أنس أسند وحديث جرهد أحوط ، وقد قال بعضهم : العورة الدبر ، والفرج ، والفخذ.\r[ المسألة الثالثة ] [ عورة المرأة ]\rوأما المسألة الثالثة وهي حد العورة في المرأة ، فأكثر العلماء على أن بدنها كله عورة ما خلا الوجه والكفين ، وذهب أبو حنيفة إلى أن قدمها ليست بعورة ، وذهب أبو بكر بن عبد الرحمن ، وأحمد إلى أن المرأة كلها عورة .","part":1,"page":210},{"id":211,"text":"وسبب الخلاف في ذلك احتمال قوله تعالى : ( ولا يبدين زينتهن إلا ما ظهر منها ) هل هذا المستثنى المقصود منه أعضاء محدودة ، أم إنما المقصود به ما لا يملك ظهوره ؟ فمن ذهب إلى أن المقصود من ذلك ما لا يملك ظهوره عند الحركة قال : بدنها كله عورة حتى ظهرها ، واحتج لذلك بعموم قوله تعالى : ( ياأيها النبي قل لأزواجك وبناتك ونساء المؤمنين ) الآية . ومن رأى أن المقصود من ذلك ما جرت به العادة بأنه لا يستر وهو الوجه والكفان ذهب إلى أنهما ليسا بعورة واحتج لذلك بأن المرأة ليست تستر وجهها في الحج\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/980678978621577/\rhttps://m.facebook.com/notes/980908811931927/\rMUSLIMAH\rBab ini berisi dokumen tanya jawab dan diskusi tentang permasalahan para muslimah, terutama masalah haid, nifas, istikhadhah dan masalah fiqh yang berseinggungan dengan mereka..\rHAID - NIFAS\rBab ini berisi dokumen tanya jawab dan diskusi tentang permasalahan haid para muslimah.\r0052. Tinjauan Kedokteran Tentang Menstruasi\rPengertian Menstruasi\rMenstruasi adalah perdarahan periodik pada uterus yang dimulai sekitar 14 hari setelah ovulasi (Bobak, 2004). Menstruasi adalah perdarahan vagina secara berkala akibat terlepasnya lapisan endometrium uterus. Fungsi menstruasi normal merupakan hasil interaksi antara hipotalamus, hipofisis, dan ovarium dengan perubahan-perubahan terkait pada jaringan sasaran pada saluran reproduksi normal, ovarium memainkan peranan penting dalam proses ini, karena tampaknya bertanggung jawab dalam pengaturan perubahan-perubahan siklik maupun lama siklus menstruasi (Greenspan, 1998).\rSiklus Menstruasi\r1) Gambaran klinis menstruasi","part":1,"page":211},{"id":212,"text":"Sebagian besar wanita pertengahan usia reproduktif, perdarahan menstruasi terjadi setiap 25-35 hari dengan median panjang siklus adalah 28 hari. Wanita dengan siklus ovulatorik, selang waktu antara awal menstruasi hingga ovulasi – fase folikular – bervariasi lamanya. Siklus yang diamati terjadi pada wanita yang mengalami ovulasi. Selang waktu antara awal perdarahan menstruasi – fase luteal – relatif konstan dengan rata-rata 14 ± 2 hari pada kebanyakan wanita (Grenspan, 1998).\rLama keluarnya darah menstruasi juga bervariasi; pada umumnya lamanya 4 sampai 6 hari, tetapi antara 2 sampai 8 hari masih dapat dianggap normal. Pengeluaran darah menstruasi terdiri dari fragmen-fragmen kelupasan endrometrium yang bercampur dengan darah yang banyaknya tidak tentu. Biasanya darahnya cair, tetapi apabila kecepatan aliran darahnya terlalu besar, bekuan dengan berbagai ukuran sangat mungkin ditemukan. Ketidakbekuan darah menstruasi yang biasa ini disebabkan oleh suatu sistem fibrinolitik lokal yang aktif di dalam endometrium.\rRata-rata banyaknya darah yang hilang pada wanita normal selama satu periode menstruasi telah ditentukan oleh beberapa kelompok peneliti, yaitu 25-60 ml. Konsentrasi Hb normal 14 gr per dl dan kandungan besi Hb 3,4 mg per g, volume darah ini mengandung 12-29 mg besi dan menggambarkan kehilangan darah yang sama dengan 0,4 sampai 1,0 mg besi untuk setiap hari siklus tersebut atau 150 sampai 400 mg per tahun (Cunningham, 1995).\r2) Aspek hormonal selama siklus menstruasi","part":1,"page":212},{"id":213,"text":"Mamalia, khususnya manusia, siklus reproduksinya melibatkan berbagai organ, yaitu uterus, ovarium, vagina, dan mammae yang berlangsung dalam waktu tertentu atau adanya sinkronisasi, maka hal ini dimungkinkan adanya pengaturan, koordinasi yang disebut hormon. Hormon adalah zat kimia yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin, yang langsung dialirkan dalam peredaran darah dan mempengaruhi organ tertentu yang disebut organ target. Hormon-hormon yang berhubungan dengan siklus menstruasi ialah ;\ra) Hormon-hormon yang dihasilkan gonadotropin hipofisis :\ro Luteinizing Hormon (LH)\ro Folikel Stimulating Hormon (FSH)\ro Prolaktin Releasing Hormon (PRH)\rb) Steroid ovarium\rOvarium menghasilkan progestrin, androgen, dan estrogen. Banyak dari steroid yang dihasilkan ini juga disekresi oleh kelenjar adrenal atau dapat dibentuk di jaringan perifer melalui pengubahan prekursor-prekursor steroid lain; konsekuensinya, kadar plasma dari hormon-hormon ini tidak dapat langsung mencerminkan aktivitas steroidogenik dari ovarium.\r3) Fase-fase dalam siklus menstruasi\rSetiap satu siklus menstruasi terdapat 4 fase perubahan yang terjadi dalam uterus. Fase-fase ini merupakan hasil kerjasama yang sangat terkoordinasi antara hipofisis anterior, ovarium, dan uterus. Fase-fase tersebut adalah :\ra) Fase menstruasi atau deskuamasi\rFase ini, endometrium terlepas dari dinding uterus dengan disertai pendarahan dan lapisan yang masih utuh hanya stratum basale. Fase ini berlangsung selama 3-4 hari.\rb) Fase pasca menstruasi atau fase regenerasi","part":1,"page":213},{"id":214,"text":"Fase ini, terjadi penyembuhan luka akibat lepasnya endometrium. Kondisi ini mulai sejak fase menstruasi terjadi dan berlangsung selama ± 4 hari.\rc) Fase intermenstum atau fase proliferasi\rSetelah luka sembuh, akan terjadi penebalan pada endometrium ± 3,5 mm. Fase ini berlangsung dari hari ke-5 sampai hari ke-14 dari siklus menstruasi.\rFase proliferasi dibagi menjadi 3 tahap, yaitu :\ro Fase proliferasi dini, terjadi pada hari ke-4 sampai hari ke-7. Fase ini dapat dikenali dari epitel permukaan yang tipis dan adanya regenerasi epitel.\ro Fase proliferasi madya, terjadi pada hari ke-8 sampai hari ke-10. Fase ini merupakan bentuk transisi dan dapat dikenali dari epitel permukaan yang berbentuk torak yang tinggi.\ro Fase proliferasi akhir, berlangsung antara hari ke-11 sampai hari ke-14. Fase ini dapat dikenali dari permukaan yang tidak rata dan dijumpai banyaknya mitosis.\rd) Fase pramenstruasi atau fase sekresi\rFase ini berlangsung dari hari ke-14 sampai ke-28. Fase ini endometrium kira-kira tetap tebalnya, tetapi bentuk kelenjar berubah menjadi panjang berkelok-kelok dan mengeluarkan getah yang makin lama makin nyata. Bagian dalam sel endometrium terdapat glikogen dan kapur yang diperlukan sebagai bahan makanan untuk telur yang dibuahi.\rFase sekresi dibagi dalam 2 tahap, yaitu :\ro Fase sekresi dini, pada fase ini endometrium lebih tipis dari fase sebelumnya karena kehilangan cairan.","part":1,"page":214},{"id":215,"text":"o Fase sekresi lanjut, pada fase ini kelenjar dalam endometrium berkembang dan menjadi lebih berkelok-kelok dan sekresi mulai mengeluarkan getah yang mengandung glikogen dan lemak. Akhir masa ini, stroma endometrium berubah kearah sel-sel; desidua, terutama yang ada di seputar pembuluh-pembuluh arterial. Keadaan ini memudahkan terjadinya nidasi (Hanafiah, 1997).\r4) Mekanisme siklus menstruasi\rSelama haid, pada hari bermulanya diambil sebagai hari pertama dari siklus yang baru. Akan terjadi lagi peningkatan dari FSH sampai mencapai kadar 5 ng/ml (atau setara dengan 10 mUI/ml), dibawah pengaruh sinergis kedua gonadotropin, folikel yang berkembang ini menghasilkan estradiol dalam jumlah yang banyak. Peningkatan serum yang terus-menerus pada akhir fase folikuler akan menekan FSH dari hipofisis. Dua hari sebelum ovulasi, kadar estradiol mencapai 150-400 pg/ml. Kadar tersebut melebihi nilai ambang rangsang untuk pengeluaran gonadotropin pra-ovulasi. Akibatnya FSH dan LH dalam serum akan meningkat dan mencapai puncaknya satu hari sebelum ovulasi. Saat yang sama pula, kadar estradiol akan kembali menurun. Kadar maksimal LH berkisar antara 8 dan 35 ng/ml atau setara dengan 30-40 mUI/ml, dan FSH antara 4-10 ng/ ml atau setara dengan 15-45 mUI/ml.","part":1,"page":215},{"id":216,"text":"Terjadinya puncak LH dan FSH pada hari ke-14, maka pada saat ini folikel akan mulai pecah dan satu hari kemudian akan timbul ovulasi. Bersamaan dengan ini dimulailah pembentukan dan pematangan korpus luteum yang disertai dengan meningkatnya kadar progesteron, sedangkan gonadotropin mulai turun kembali. Peningkatan progesteron tersebut tidak selalu memberi arti, bahwa ovulasi telah terjadi dengan baik, karena pada beberapa wanita yang tidak terjadi ovulasi tetap dijumpai suhu basal badan dan endometrium sesuai dengan fase luteal.\rAwal fase luteal, seiring dengan pematangan korpus luteum. Sekresi progesteron terus menerus meningkat dan mencapai kadar antara 6 dan 20 ng/ml. Estradiol yang dikeluarkan terutama dari folikel yang besar yang tidak mengalami atresia, juga tampak pada fase luteal dengan konsentrasi yang lebih tinggi daripada selama permulaan atau pertengahan fase folikuler. Produksi estradiol dan progesteron maksimal dijumpai antara hari ke-20 dan 23 (Jacoeb, 1994).\rSeks saat Menstruasi\rSaat menstruasi perempuan bukan dalam kondisi sakit dan menstruasi sendiri bukanlah suatu penyakit. Tapi jika dilihat dari kacamata estetika dan kesehatan, hubungan seksual yang dilakukan pada saat menstruasi sangat tidak dianjurkan. Kenapa?","part":1,"page":216},{"id":217,"text":"Tim Inti Mitra dalam bukunya “Kesproholic” menjelaskan, saat menstruasi terjadi peluruhan dari lapisan endometrium (lapisan dinding rahim bagian dalam) yang mengandung berbagai macam protein serta asam amino. Namun jika ternyata tidak terjadi pembuahan, maka endometrium tersebut bisa menjadi media yang sangat baik bagi pertumbuhan berbagai penyakit. Kuman penyakit bisa dipastikan masuk ke endrometrium melalui vagina. Selain vagina, penis juga bisa membawa kuman penyakit dari luar.\rAlasan lain yang perlu diperhatikan, jika perempuan menderita salah satu dari IMS, seperti herpes atau gonore, maka darah menstruasi merupakan media yang sangat baik untuk berpindahnya virus atau bakteri penyebab penyakit tersebut kepada pasangan.\rSelain itu, saat menstruasi, vagina dipastikan dalam kondisi yang sangat sensitif. Jika dipaksakan terjadi penetrasi, biasanya perempuan akan merasa kesakitan dan perih karena terkoyak, dan bila terjadi demikian maka akan membutuhkan waktu yang lama untuk penyembuhan.\rMenurut para ahli di bidang kedokteran, saat terjadinya penetrasi dikhawatirkan akan ada udara masuk ke dalam rahim perempuan sehingga mengakibatkan gangguan kesehatan bahkan bisa mengantar kematian. [ Bebek Mandi Dikali ].\r0119. Dalil Wajibnya Qodho` Sholat Yang Bisa Dijama’ Saat Suci Dari Haid\rPERTANYAAN :\rAfif Yang Khoir","part":1,"page":217},{"id":218,"text":"Pada waktu sholat ashar menyisakan 3 menit, darah haidl NITA mampet, karena waktunya mepet membuat dia tidak bisa shalat ashar, maka menurut ilmu haidl NITA wajib qodlo' sholat ashar plus sholat dluhur, yang sampe skr blm ku paham kenapa dzuhur wajib di qodlo', padahal dia masih haidl.....monggo bolo2 tanggapane !\rJAWABAN :\rMasaji Antoro\rحدثنا هشيم عن مغيرة وعبيدة أخبراه عن إبراهيم وعن حجاج عن عطاء والشعبي وعن عبد الملك عن عطاء في الحائض إذا طهرت قبل غروب الشمس صلت الظهر والعصر وإذا طهرت قبل الفجر صلت المغرب والعشاء\rMushonnaf Ibnu Syaibah No 7206\r( ويجب ) أيضا ( قضاء ما قبلها إن جمعت معها ) كالظهر مع العصر والمغرب مع العشاء لأن وقتها لها حالة العذر فحالة الضرورة أولى\rMinhaj alQowiim I/128\rKenapa sholat sebelumnya harus disertakan ? :\r1. Berdasarkan atsar dari Hasyim dari Mughirah dari ‘ubaidah dari Ibrahim dari Hajjaj dari ‘Athoo’ dan Assyi’by dari Abdul Malik dari ‘Athoo’ : “Bila wanita haid suci sebelum terbenamnya matahari (masih waktu ashar) sholatlah dhuhur dan ashar dan bila suci sebelum fajar (masih waktu isya’) sholatlah maghrib dan isya’ “.\r2. Karena waktu shalat yang kedua (yaitu ashar bila dinisbatkan dengan dhuhur, atau isya bila dinisbatkan dengan maghrib) merupakan waktu shalat yang pertama tatkala ada UZUR (seperti ketika dijamak ta’khir dalam keadaan safar), maka saat DARURAT (seperti haid) lebih keadaan semacam itu lebih berhak untuk didapatkan.\r0143. Bercumbu Rayu Selain Jima' Saat Haid\rPERTANYAAN:\rMoh Zaini\rBolehkah mencumbu wanita disekitar antara pusar dan lutut DI SELAIN FARJI ISTERI sewaktu sang isteri sedang haidh ?\rJawaban:\r1. Abdullah Afif","part":1,"page":218},{"id":219,"text":"Khilaf, ada Ulama yang membolehkan dan ada pula yang mengharamkan. Ta’bir dari kitab Syarah Mahalli ‘alal Minhaaj :\rوَيَحْرُمُ بِهِ) أَيْ بِالْحَيْضِ (مَا حَرُمَ بِالْجَنَابَةِ) مِنْ الصَّلَاةِ وَغَيْرِهَا إِلَى أَنْ قَالَ (وَمَا بَيْنَ سُرَّتِهَا وَرُكْبَتِهَا) أَيْ مُبَاشَرَتُهُ بِوَطْءٍ أَوْ غَيْرِهِ (وَقِيلَ لَا يَحْرُمُ غَيْرُ الْوَطْءِ) وَاخْتَارَهُ الْمُصَنِّفُ فِي التَّحْقِيقِ وَغَيْرِهِ،\r\"Diharamkan sebab haid apa-apa yang haram sebab janabah, seperti shalat dan lainnya….. (begitu juga haram) anggota badan antara pusar dan lutut, maksudnya menyentuhnya (mencumbunya) dengan bersenggama atau lainnya. WAQIILA (ada satu qil / pendapat) tidak haram kecuali bersenggama. Pendapat ini dipilih oleh Mushannif (Imam Nawawi) dalam kitab At Tahqiq dan lainnya.\" (Syarh al-Mahalli, 1/115). Sumber Kitab : Syarah Mahalli ‘alal Minhaaj juz I halaman 115, maktabah syamilah ( juz II halaman 6, bersama Hasyiyah Qalyubi, maktabah syamilah). Sumber Link : http://www.kl28.net/knol6/?p=view&post=1185710.\rDari Kitab al Iqna lil Maawardi:\rوَيَحَرُمُ بِالْحَيْضِ ثَمَانِيَةُ أَشْيَاءَ اَلصَّلَاةُ وَالصِّيَامُ وَالْإِعْتِكَافُ وَالطَّوَافُ وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ وَحَمْلُ الْمُصْحَفِ وَدُخُوْلُ الْمَسْجِدِ وَوَطْءُ الزَّوْجِ وَلَا تَحْرُمُ مُؤَاكَلَةُ الْحَائِضِ وَلَا الْإِسْتِمْتَاعُ بِمَا دُوْنَ الْفَرْجِ مِنْهَا","part":1,"page":219},{"id":220,"text":"\"Diharamkan sebab haid delapan macam : Shalat, puasa, i`tikaf, thawaf, membaca Al Quran, membawa Mushaf, masuk masjid dan bersenggama. Tidak haram makan bersama wanita haid, dan tidak haram pula berlezat-lezat (bercumbu) dengan anggota badan selain vagina.\" (al-Iqna fi al-Fiqh asy-Syafi'i: 27-28). Sumber kitab : Al Iqna’ Fil fiqh asy Syafi’i karya Imam al Maawardi halaman 27-28 maktabah syamilah. Sumber Link : http://www.kl28.net/knol6/?p=view&post=1151411&page=2.\r2. Masaji Antoro\rAda yang membolehkan melakukan percumbuan diantara pusar dan lutut selain farji isteri yaitu Pendapat beberapa ulama kalangan Madzhab Hanabilah, pendapat Abu Ishaq al-Marwazy, Abu Ali Bin Khairon dan Imam Ruyani namun Jumhur Ulama (mayoritas ulama’) dan kesepakatan 3 madzab lainnya (Maliki, Hanafi dan Syafi’i) mengharamkannya. Ta’bir dari Kitab al Majmu’, Syarh al Muhadzdzab :\r(أَمَّا) حُكْمُ الْمَسْأَلَةِ فَفِي مُبَاشَرَةِ الْحَائِضِ بَيْنَ السُّرَّةِ وَالرُّكْبَةِ ثَلَاثَةُ أَوْجُهٍ أَصَحُّهَا عِنْدَ جُمْهُوْرِ الْأَصْحَابِ أَنَّهَا حَرَامٌ وَهُوَ الْمَنْصُوْصُ لِلشَّافِعِيِّ رَحِمَهُ اللهُ فِي الْأُمِّ وَالْبُوَيْطِيِّ وَأَحْكَامِ الْقُرْآنِ قَالَ صَاحِبُ الْحَاوِي وَهُوَ قَوْلُ أَبِي الْعَبَّاسِ وَأَبِي عَلِيِّ بْنِ أَبِيْ هُرَيْرَةَ وَقَطَعَ بِهِ جَمَاعَةٌ مِنْ أَصْحَابِ الْمُخْتَصَرَاتِ","part":1,"page":220},{"id":221,"text":"\"Adapun hukum permasalahan ini : Dalam masalah persentuhan (percumbuan) wanita haid antara pusar dan lutut ada tiga wajah : Pertama : Pendapat yang ashah (paling shahih) menurut jumhur (mayoritas) ashab adalah haram. Dan ini yang ditulis Imam Syafi’i dalam kitab al Umm, al Buwaithi dan Ahkaamul Quran. Pemilik kitab al Haawi (Imam al Maawardi) berkata: Ini adalah pendapat Abul Abbas dan Abu Ali ibn Abu Hurairah. Dan dengan pendapat ini sejumlah ulama yang mempunyai mukhtashar memutuskan.\rوَاحْتَجُّوْا لَهُ بِقَوْلِهِ تَعَالَى: (فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيْضِ) وَبِالْحَدِيْثِ الْمَذْكُوْرِ وَلِأَنَّ ذَلِكَ حَرِيْمٌ لِلْفَرْجِ: وَمَنْ يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يُخَالِطَ الْحِمَى\rMereka berhujjah untuk pendapat ini dengan firman Allah ta’ala :\r(فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيْضِ)\r“Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh”.\rDan dengan hadits yang telah dituturkan yaitu :\rمَا رَوَى عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا يَحِلُّ لِلرَّجُلِ مِنْ امْرَأَتِهِ وَهِيَ حَائِضٌ فَقَالَ مَا فَوْقَ الازار /\rHadits yang diriwayatkan Umar radhiyallaahu ‘anhu, berkata : Aku bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam tentang apa yang dihalalkan bagi seorang laki-laki terhadap istrinya yang sedang haid. Beliau menjawab: “(Boleh melakukan) apa yang di atas sarung\".\rDan juga sesungguhnya anggota tersebut adalah harimnya (yang melingkupi) kemaluan. Barang siapa yang menggembala di sekitar daerah larangan maka dia akan masuk kedalam daerah larangan tersebut.","part":1,"page":221},{"id":222,"text":"وَأَجَابَ الْقَائِلُوْنَ بِهَذَا عَنْ حَدِيثِ أَنَسٍ الْمَذْكُورِ بِأَنَّهُ مَحْمُوْلٌ عَلَى الْقُبْلَةِ وَلَمْسِ الْوَجْهِ وَالْيَدِ وَنَحْوِ ذَلِكَ مِمَّا هُوَ مُعْتَادٌ لِغَالِبِ النَّاسِ فَإِنَّ غَالِبَهُمْ إذَا لَمْ يَسْتَمْتِعُوْا بِالْجِمَاعِ اِسْتَمْتَعُوْا بِمَا ذَكَرْنَاهُ لَا بِمَا تَحْتَ الْإِزَارِ\rDengan ini orang-orang yang berpendapat di atas menjawab hadits Anas yang telah dituturkan yaitu:\rاِصْنَعُوْا كُلَّ شَيْئٍ غَيْرَ النِّكَاحِ\r“Perbuatlah segala sesuatu selain nikah.” Bahwasanya itu diarahkan pada perbuatan kecupan, menyentuh wajah dan tangan dan yang lainnya dari apa-apa yang biasa dilakukan oleh kebanyakan orang. Karena kebanyakan ketika mereka tidak bisa bersenang-senang dengan bersenggama maka mereka melakukan hal yang telah saya sebutkan, tidak dengan anggota badan yang ada di bawah sarung (kain).\rوَالْوَجْهُ الثَّانِي أَنَّهُ لَيْسَ بِحَرَامٍ وَهُوَ قَوْلُ أَبِيْ اِسْحَاقَ اَلْمَرْوَزِيِّ وَحَكَاهُ صَاحِبُ الْحَاوِي عَنْ أَبِي عَلِيِّ بْنِ خَيْرَانَ وَرَأَيْته أَنَا مَقْطُوْعًا بِهِ فِي كِتَابِ اللَّطِيفِ لِأَبِي الْحَسَن بْنِ خَيْرَانَ مِنْ أَصْحَابِنَا وَهُوَ غَيْرُ أَبِي عَلِيِّ بْنِ خَيْرَانِ وَاخْتَارَهُ صَاحِبُ الْحَاوِيْ فِي كِتَابِهِ الْإِقْنَاعِ وَالرُّوْيَانِيُّ فِي الْحِلْيَةِ","part":1,"page":222},{"id":223,"text":"Kedua : Sesungguhnya hal itu (percumbuan dengan wanita haid antara pusar dan lutut wajah) tidak haram. Ini adalah pendapat Abu Ishaq al Marwazi. Pengarang kitab Al Haawi menceritakannya dari Abu Ali ibn Khairan. Dan aku melihatnya dengan pasti di dalam kitab Al Lathif karya Abul Hasan ibn Khairan, dia termasuk ashab kami, dia bukan Abu Ali ibn Khairan. Pendapat ini dipilih oleh pengarang kitab Al Haawi (Imam al Maawardi) didalam kitabnya, al Iqna’ (ta’birnya di atas sudah dikutip. Pen), dan Ar ruyani dalam kitab al Hilyah.\rوَهُوَ الْأَقْوَى مِنْ حَيْثُ الدَّلِيلُ لِحَدِيثِ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فَإِنَّهُ صَرِيْحٌ فِي الْإِبَاحَةِ وَأَمَّا مُبَاشَرَةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوْقَ الْإِزَارِ فَمَحْمُولَةٌ عَلَى الِاسْتِحْبَابِ جَمْعًا بَيْنَ قَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِعْلِهِ\rDan pendapat ini yang lebih kuat dari segi dalilnya, karena adanya hadits Anas radhiyalllaahu ‘anhu. Hadits tersebut sharih memperbolehkan. Adapun mubasyarah (persentuhan) Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam diatas kain, diarahkan atas hukum kesunnahannya untuk memadukan antara ucapan dan perbuatan beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam. Sumber Kitab : Al Majmuu’ Alaa Syarh al Muhaddzab juz II halaman 392-393, cetakan Maktabah Al Irsyad Jeddah / juz II halaman 362-363, maktabah syamilah. Sumber Link : http://www.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?flag=1&bk_no=14&ID=1074\r- Dari kitab al Mausuu’atul Fiqhiyyah al Kuwaitiyyah:","part":1,"page":223},{"id":224,"text":"وَاخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِي الاِسْتِمْتَاعِ بِمَا بَيْنَ السُّرَّةِ وَالرُّكْبَةِ ، فَذَهَبَ جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ - الْحَنَفِيَّةُ وَالْمَالِكِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ إِلَى حُرْمَةِ الاِسْتِمْتَاعِ بِمَا بَيْنَ السُّرَّةِ وَالرُّكْبَةِ ، لِحَدِيثِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ : كَانَتْ إِحْدَانَا إِذَا كَانَتْ حَائِضًا فَأَرَادَ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُبَاشِرَهَا أَمَرَهَا أَنْ تَتَّزِرَ ثُمَّ يُبَاشِرُهَا . قَالَتْ : وَأَيُّكُمْ يَمْلِكُ إِرْبَهُ كَمَا كَانَ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمْلِكُ إِرْبَهُ وَعَنْ مَيْمُونَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا نَحْوُهُ . وَفِي رِوَايَةٍ كَانَ يُبَاشِرُ الْمَرْأَةَ مِنْ نِسَائِهِ وَهِيَ حَائِضٌ إِذَا كَانَ عَلَيْهَا إِزَارٌ وَلأِنَّ مَا بَيْنَ السُّرَّةِ وَالرُّكْبَةِ حَرِيمٌ لِلْفَرْجِ ، وَمَنْ يَرْعَى حَوْل الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يُخَالِطَ الْحِمَى .وَقَدْ أَجَازَ الْحَنَفِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ الاِسْتِمْتَاعَ بِمَا بَيْنَ السُّرَّةِ وَالرُّكْبَةِ ، مِنْ وَرَاءِ حَائِلٍوَمَنَعَهُ الْمَالِكِيَّةُ . كَمَا مَنَعَ الْحَنَفِيَّةُ النَّظَرَ إِلَى مَا تَحْتَ الإْزَارِ ، وَصَرَّحَ الْمَالِكِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ بِجَوَازِهِ وَلَوْبِشَهْوَةٍ\rوَنَصَّ الْحَنَفِيَّةُ عَلَى عَدَمِ جَوَازِ الاِسْتِمْتَاعِ بِالرُّكْبَةِ لاِسْتِدْلاَلِهِمْ بِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَا دُونَ الإْزَارِ وَمَحَلُّهُ الْعَوْرَةُ الَّتِي يَدْخُل فِيهَا الرُّكْبَةُ . وَأَجَازَ الْمَالِكِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ الاِسْتِمْتَاعَ بِالسُّرَّةِ وَالرُّكْبَةِ .","part":1,"page":224},{"id":225,"text":"وَقَدْ ذَكَرَ الْحَنَفِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ حُكْمَ مُبَاشَرَةِ الْحَائِضِ لِزَوْجِهَا ، وَقَرَّرُوا أَنَّهُ يَحْرُمُ عَلَيْهَا مُبَاشَرَتُهَا لَهُ بِشَيْءٍ مِمَّا بَيْنَ سُرَّتِهَا وَرُكْبَتِهَا فِي جَمِيعِ بَدَنِهِ .\rوَذَهَبَ الْحَنَابِلَةُ إِلَى جَوَازِ الاِسْتِمْتَاعِ مِنَ الْحَائِضِ بِمَا دُونَ الْفَرْجِ ، فَلَهُ أَنْ يَسْتَمْتِعَ بِمَا بَيْنَ السُّرَّةِ وَالرُّكْبَةِ ، وَهَذَا مِنْ مُفْرَدَاتِ الْمَذْهَبِ\rوَيُسْتَحَبُّ لَهُ حِينَئِذٍ سَتْرُ الْفَرْجِ عِنْدَ الْمُبَاشَرَةِ ، وَلاَ يَجِبُ عَلَى الصَّحِيحِ مِنَ الْمَذْهَبِ ، قَال فِي النُّكَتِ : وَظَاهِرُ كَلاَمِ إِمَامِنَا وَأَصْحَابِنَا أَنَّهُ لاَ فَرْقَ بَيْنَ أَنْ يَأْمَنَ عَلَى نَفْسِهِ مُوَاقَعَةَ الْمَحْظُورِ أَوْ يَخَافَ ، وَصَوَّبَ الْمِرْدَاوِيُّ أَنَّهُ إِذَا لَمْ يَأْمَنْ عَلَى نَفْسِهِ مِنْ ذَلِكَ حَرُمَ عَلَيْهِ لِئَلاَّ يَكُونَ طَرِيقًا إِلَى مُوَاقَعَةِ الْمَحْظُورِ .\r\"Para ulama berbeda pendapat tentang bercumbu di antara pusar dan lutut. Jumhur fuqaha hanafiyah, malikiyah dan syafi'iyah memilih keharamannya, berlandaskan hadits 'Aisyah radhiyallah 'anha berkata: Ketika kami haidh dan Rasulullah ingin bercumbu maka Rasulullah memerintahkannya untuk memakai sarung lalu mencumbunya. 'Aisyah berkata: Siapakah di antara kalian yang pandai menahan hasratnya sebagaimana yang Rasulullah pandai menahannya ?.","part":1,"page":225},{"id":226,"text":"Dari Maimunah radhiyallah 'anha diriwayatkan hadits serupa. Dalam riwayat lain: Rasulullah mencumbu salah satu istinya yang haidh ketika memakai sarung, dan sesungguhnya daerah antara pusar dan lutut adalah yang melingkupi kemaluan, barangsiapa menggembala di sekitar tanah larangan dikhawatirkan akan terjerumus ke dalamnya.\rGolongan hanafiyah dan syafi'iyah memperbolehkan bercumbu di antara pusar dan lutut dengan memakai penghalang sementara malikiyah tidak melarangnya. Sedangkan hanafiyah melarang melihat anggota tubuh di balik sarung sementara malikiyah dan syafi'iyah memperbolehkannya meskipun dengan syahwat.\rHanafiyah tidak memperbolehkan percumbuan pada lutut berlandaskan hadits: Diperbolehkan melakukan yang selain di balik sarung, tempatnya adalah aurat tertentu termasuk di dalamnya lutut. Sementara malikiyah dan syafi'iyah memperbolehkan pada pusar dan lututnya.\rTelah disebutkan dari hanafiyah dan syafi'iyah mengenai hukum percumbuan antara wanita haidh dengan suaminya. Mereka menetapkan haram baginya bercumbu dengan suaminya pada bagian sekitar pusar dan lutut dengan bagian tubuh manapun dari suaminya.\rDi sisi lain kalangan hanabilah berpendapat kebolehan bercumbunya wanita haidh selain pada farjinya. Maka bagi suami boleh mencumbu antara pusar dan lutut. Ini adalah pendapat madzhab yang berbeda sendiri dengan madzhab lainnya.","part":1,"page":226},{"id":227,"text":"Mengikuti pendapat hanabilah maka sunah, tidak wajib menurut qaul shahih madzhab tersebut, untuk menutupi farji ketika bercumbu. Dijelaskan dalam kitab an-Nakat: Dari zhahir ucapan imam dan ashab kami tidak ada perbedaan hukum kebolehan itu baik bagi orang yang merasa aman ataupun khawatir terjerumus pada percumbuan yang terlarang (pada farji). Namun Imam al-Mirdawi membenarkan pendapat keharaman bagi orang yang hatinya tidak merasa aman, agar tidak membuka peluang terjerumus pada percumbuan yang dilarang tersebut.\". Sumber kitab : AlMausuu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah juz 18 halaman 324 , maktabah syamilah. Sumber Link : http://islamport.com/d/2/fqh/1/35/820.html\rDalil dari Al Hadits :\rDALIL YANG MEMBOLEHKAN\r720 - وَحَدَّثَنِى زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِىٍّ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ حَدَّثَنَا ثَابِتٌ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ الْيَهُودَ كَانُوا إِذَا حَاضَتِ الْمَرْأَةُ فِيهِمْ لَمْ يُؤَاكِلُوهَا وَلَمْ يُجَامِعُوهُنَّ فِى الْبُيُوتِ فَسَأَلَ أَصْحَابُ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى ( وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيْضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِى الْمَحِيْضِ) إِلَى آخِرِ الآيَةِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « اِصْنَعُوا كُلَّ شَىْءٍ إِلاَّ النِّكَاحَ ». فَبَلَغَ ذَلِكَ الْيَهُودَ فَقَالُوا مَا يُرِيدُ هَذَا الرَّجُلُ أَنْ يَدَعَ مِنْ أَمْرِنَا شَيْئًا إِلاَّ خَالَفَنَا فِيهِ","part":1,"page":227},{"id":228,"text":"\"Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah telah menceritakan kepada kami Tsabit dari Anas bahwa kaum Yahudi dahulu apabila kaum wanita mereka haidh, mereka tidak makan bersama dengan wanita mereka dan tidak mempergauli wanita mereka di rumah. Maka para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bertanya kepada Nabi Shallallahu'alaihiwasallam. Lalu Allah menurunkan : “Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: 'Haidh itu adalah suatu kotoran'. Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” {QS Al Baqarah (2) : 222}. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Perbuatlah segala sesuatu kecuali nikah.”\rMaka hal tersebut sampai kepada kaum Yahudi, maka mereka berkata, Laki-laki ini tidak ingin meninggalkan sesuatu dari perkara kita melainkan dia menyelisihi kita padanya.\" Sumber Kitab : Shahih Muslim juz I halaman 138-139, cetakan al Ma’arif Bandung (bersama Syarah Imam Nawawi juz II halaman 211, cetakan ke III tahun 1398 H – 1978 M, Daar al Fikr) / juz I halaman 169, hadits nomor 720, maktabah syamilah. Sumber Link : http://www.islamweb.net/hadith/display_hbook.php?bk_no=158&pid=40735&hid=460.\rCatatan:\rDalam Shahih Muslim, kalimatnya menggunakan:","part":1,"page":228},{"id":229,"text":"اِصْنَعُوا كُلَّ شَىْءٍ إِلاَّ النِّكَاحَ\rPerbuatlah segala sesuatu kecuali nikah. Dalam Sunan Ibnu Majah, kalimatnya menggunakan:\rاِصْنَعُوْا كُلَّ شَيْءٍ إِلَّا الْجِمَاعَ\rPerbuatlah segala sesuatu kecuali jima’. Berikut sanad dan matan Ibn Majah:\r644 حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ\r- أَنَّ الْيَهُوْدَ كَانُوْا لَا يَجْلِسُوْنَ مَعَ الْحَائِضِ فِيْ بَيْتٍ . وَلَا يَأْكُلُوْنَ وَلَا يَشْرَبُوْنَ . قَالَ فَذُكِرَ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فَأَنْزَلَ اللهُ { وَيَسْأَلُوْنَكَ عَنِ الْمَحِيْضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِى الْمَحِيْضِ } فَقَالَ رَسُوْلُ اللهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ ( اِصْنَعُوْا كُلَّ شَيْءٍ إِلَّا الْجِمَاعَ ) .","part":1,"page":229},{"id":230,"text":"\"Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya, telah menceritakan kepada kami Abu al-Walid, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah, dari Tsabit, dari Anas bahwa kaum Yahudi dahulu tidak diam bersama wanita mereka yang haidh, tidak makan bersama dengan wanita mereka, dan tidak minum bersama mereka. Maka hal itu disampaikan kepada Nabi Shallallahu'alaihiwasallam. Lalu Allah menurunkan : “Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: 'Haidh itu adalah suatu kotoran'. Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” {QS Al Baqarah (2) : 222}. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Perbuatlah segala sesuatu kecuali jima'.”. Sumber Kitab: Sunan Ibnu Majah juz I halaman 211, hadits nomor 644, cetakan Toha Putera Semarang / makabah syamilah. Sumber Link: http://www.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?bk_no=54&ID=139&idfrom=1046&idto=1229&bookid=54&startno=78\rDALIL YANG MENGHARAMKAN\r1. Dari Shahih Muslim\rحَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ إِسْحَقُ أَخْبَرَنَا وَقَالَ الْآخَرَانِ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ الْأَسْوَدِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ إِحْدَانَا إِذَا كَانَتْ حَائِضًا أَمَرَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَأْتَزِرُ بِإِزَارٍ ثُمَّ يُبَاشِرُهَا","part":1,"page":230},{"id":231,"text":"\"Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Zuhair bin Harb serta Ishaq bin Ibrahim, Ishaq berkata, telah mengkhabarkan kepada kami, sedangkan dua orang lainnya berkata, telah menceritakan kepada kami Jarir dari Manshur dari Ibrahim dari al-Aswad dari A’isyah, dia berkata: \"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan salah seorang di antara kami yang sedang haid supaya memakai sarung, kemudian beliau mencumbunya.\". Sumber Kitab: Shahih Muslim juz I halaman 136, cetakan al Ma’arif Bandung (bersama Syarah Imam Nawawi juz II halaman 203, cetakan ke III tahun 1398 H – 1978 M, Daar al Fikr) / juz I halaman 166, hadits nomor 705, maktabah syamilah. Sumber Link: http://www.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?idfrom=826&idto=1029&bk_no=53&ID=141\r2. Dari al Muwaththa:\rحَدَّثَنِي يَحْيَى ، عَنْ مَالِك ، عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ ، أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَ : مَا يَحِلُّ لِي مِنَ امْرَأَتِي وَهِيَ حَائِضٌ ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَّ لِتَشُدَّ عَلَيْهَا إِزَارَهَا ثُمَّ شَأْنَكَ بِأَعْلَاهَا","part":1,"page":231},{"id":232,"text":"\"Telah menceritakan kepada saya Yahya, dari Malik, dari Zaid ibn Aslam, bahwasanya seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam seraya berkata: Apakah yang dihalalkan untuk saya dari isteri saya yang sedang haid ?. Beliau bersabda: “Hendaklah engkau kencangkan sarungnya, kemudian dibolehkan bagimu bagian atasnya.”. Sumber Kitab: Al Muwaththa` (bersama syarahnya, Tanwiirul Hawaalik juz I halaman 77, cetakan Toha Putera Semarang). Sumber Link: http://www.islamweb.net/hadith/display_hbook.php?bk_no=19&hid=123&pid=1226\rDerajat Hadits:\ral Hafizh As Suyuthi dalam Tanwiirul Hawaalik mengutip penjelasan Imam Ibn ‘Abdil Barr:\rلَا أَعْلَمُ أَحَدًا رَوَاهُ بِهَذَا اللَّفْظِ مُسْنَدًا وَمَعْنَاهُ صَحِيْحٌ ثَابِتٌ\r\"Aku tidak menemukan satu orangpun meriwayatkan dengan lafazh ini secara musnad. Maknanya shahih dan tsabit (tetap).\"\r3. Dari Sunan Abu Dawud:\r212 - حَدَّثَنَا هَارُونُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ بَكَّارٍ حَدَّثَنَا مَرْوَانُ - يَعْنِى ابْنَ مُحَمَّدٍ - حَدَّثَنَا الْهَيْثَمُ بْنُ حُمَيْدٍ حَدَّثَنَا الْعَلاَءُ بْنُ الْحَارِثِ عَنْ حَرَامِ بْنِ حَكِيمٍ عَنْ عَمِّهِ أَنَّهُ سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَا يَحِلُّ لِى مِنَ امْرَأَتِى وَهِىَ حَائِضٌ قَالَ « لَكَ مَا فَوْقَ الإِزَارِ ». وَذَكَرَ مُؤَاكَلَةَ الْحَائِضِ أَيْضًا وَسَاقَ الْحَدِيثَ.","part":1,"page":232},{"id":233,"text":"\"Telah menceritakan kepada kami Harun bin Muhammad bin Bakar, telah menceritakan kepada kami Marwan, yakni Ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami al-Haitsam bin Humaid, telah menceritakan kepada kami 'Ala bin al-Harits, dari Haram ibn Hakiim, dari pamannya, bahwasanya dia bertanya kepada Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam tentang apa yang dihalalkan bagi saya terhadap istri saya yang sedang haid. Beliau menjawab: “Kamu boleh melakukan apa yang di atas sarung (kain). Muhaddits lainnya menuturkan tentang makan bersama wanita haidh dan mendatangkan hadits atasnya.\" (HR. Abu Dawud). Sumber Kitab: Sunan Abu Dawud juz I halaman 54, hadits nomor 212, cetakan ke I tahun 1410 H – 1990 M, Daar al Fikr / juz I halaman 85, hadits nomor 212, maktabah syamilah. Sumber Link: http://islamport.com/d/1/mtn/1/48/1552.html (1/104).\rDerajat Hadits:\rDalam kitab Majma'uzzawaa`id:\rعَنْ عَاصِمِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ عُمَرَ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا يَحِلُّ لِلرَّجُلِ مِنْ إِمْرَأَتِهِ وَهِيَ حَائِضٌ قَالَ مَا فَوْقَ الْأِزَارِ. رَوَاهُ أَبُوْ يَعْلَى وَرِجَالُهُ رِجَالُ الصَّحِيْحِ","part":1,"page":233},{"id":234,"text":"\"Dari Ashim ibn Umar, sesungguhnya Umar berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam tentang apa yang dihalalkan bagi seorang laki-laki terhadap istrinya yang sedang haid. Beliau menjawab: “Boleh melakukan apa yang di atas sarung (kain).”. HR. Abu Ya’la, semua rijalnya adalah rijal shahih. Sumber Kitab: Majma’uzzawaa`id lil Hafizh al Haitsami juz I halaman 181, maktabah syamilah. Sumber Link: http://islamport.com/d/1/krj/1/80/1165.html (1/181). Wallaahu A’lamu Bishshawaab. [ UZ ]\r0264. Wanita Haidh dan Qodho Puasa\rPERTANYAAN:\rGhufron Bkl\rAssalamu ‘alaikum. Adakah pendapat yang mengatakan orang haid tidak wajib qodho puasa?\rJAWABAN:\r1. Abdullah Afif\rWa’alaikumussalaam Warahmatullaah. Dalam shahih Muslim:\rحَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ، عَنْ عَاصِمٍ، عَنْ مُعَاذَةَ، قَالَتْ: \" سَأَلْتُ عَائِشَةَ، فَقُلْتُ: مَا بَالُ الْحَائِضِ، تَقْضِي الصَّوْمَ، وَلَا تَقْضِي الصَّلَاةَ؟ فَقَالَتْ: أَحَرُورِيَّةٌ أَنْتِ؟ قُلْتُ: لَسْتُ بِحَرُورِيَّةٍ، وَلَكِنِّي أَسْأَلُ، قَالَتْ: كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ، وَلَا نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلَاةِ","part":1,"page":234},{"id":235,"text":"\"Dan telah menceritakan kepada kami ‘Abd ibn Humaid telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdurrazzaq telah mengkhabarkan kepada kami Ma'mar dari ‘Ashim dari Mu'aadzah dia berkata: \"Saya bertanya kepada ‘Aisyah seraya berkata: “Kenapa gerangan wanita yang haid mengqadha' puasa dan tidak mengqadha' shalat?” Maka Aisyah menjawab: “Apakah kamu dari golongan Haruriyah ? “ Aku menjawab: “Aku bukan Haruriyah, akan tetapi aku hanya bertanya.” Dia menjawab,: “Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqadha puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha shalat.\" (HR. Muslim). Sumber Kitab: Shahih Muslim juz I halaman 150, cetakan al Ma’arif Bandung / juz I halaman 182, hadits nomor 787, maktabah syamilah. Sumber Link: http://www.islamweb.net/hadith/display_hbook.php?bk_no=158&hid=513&pid=40747\rCatatan : Haruriyah ialah sekelompok dari Khawarij yang mewajibkan qadha shalat atas wanita haid ketika sudah suci. (Hamisy Shahih Muslim, 1/149)\r2. Masaji Antoro\rWa’alaikumsalam. Sepertinya terjadi kesepakatan ulama dalam masalah ini. Ta’bir dari kitab:\r1. Al-Ijma’ libnil Mundzir\rوَأَجْمَعُوْا عَلَى أَنَّ عَلَيْهَا قَضَاءَ مَا تَرَكَتْ مِنَ الصَّوْمِ فِيْ أَيَّامِ حَيْضَتِهَا\r\"Mereka (Ulama) sepakat bahwasanya wajib atas wanita mengqadha puasa yang dia tinggalkan pada hari-hari haidnya.\" (Al-Ijma': 39)\rCatatan: di sebagian naskah:\rوَأَجْمَعُوْا عَلَى أَنَّ قَضَاءَ مَا تَرَكَتْ مِنَ الصَّوْمِ فِيْ أَيَّامِ حَيْضَتِهَا وَاجِبُ عَلَيْهَا","part":1,"page":235},{"id":236,"text":"\"Mereka (Ulama) sepakat bahwasanya mengqadha puasa yang dia tinggalkan pada hari-hari haidnya wajib atas wanita.\" (Al-Ijma': 39). Sumber Kitab: 1. Al Ijma’ karya Abu Bakr Muhammad ibn Ibrahim ibn al Mundzir (wafat tahun 318 H) halaman 39, cetakan ke II tahun 1420 H – 1999 M, Maktabah al Furqaan UEA. Sumber Link: http://islamport.com/d/2/fqh/1/5/18.html (1/2)\r2. Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab:\rوَأَجْمَعَتِ الْأُمَّةِ أَيْضًا عَلَى وُجُوْبِ قَضَاءِ صَوْمِ رَمَضَانَ عَلَيْهَا ، نَقَلَ الْإِجْمَاعَ فِيْهِ التِّرْمِذِيُّ وَابْنُ الْمُنْذِرِ وَابْنُ جَرِيْرٍ وَأَصْحَابُنَا وَغَيْرُهُمْ\r\"Ulama juga telah ijma’ atas wajibnya mengqadha puasa Ramadhan atas wanita haid dan wanita nifas. Telah menukil ijma dalam hal diatas , at Tirmidzi, Ibnul Mundzir, Ibn Jarir, ash_hab kami dan yang lainnya.\" (Al-Majmu', 2/355). Sumber Kitab: Al Majmu’, Syarh al Muhadzdzab, karya Imam Muhyiddin Abu Zakariyya Yahya ibn Syaraf an Nawawi (wafat tahun 676 H), cetakan Maktabah Al Irsyaad Jeddah / juz II halaman 386 / juz II halaman 355, maktabah syamilah. Sumber Link: http://www.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?bk_no=14&ID=686&idfrom=1054&idto=1182&bookid=14&startno=3\r3. Mughnil Muhtaajj:\r( وَيَجِبُ قَضَاؤُهُ بِخِلَافِ الصَّلَاةِ ) لِقَوْلِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهَا كَانَ يُصِيْبَنَا ذَلِكَ أَيِ الْحَيْضُ فَنُؤمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلَا نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلَاةِ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَانْعَقَدَ الْإِجْمَاعُ عَلَى ذَلِكَ وَفِيْهِ مِنَ الْمَعْنَى أَنَّ الصَّلَاةَ تَكْثُرُ فَيَشَقُّ قَضَاؤُهَا بِخِلَافِ الصَّوْمِ","part":1,"page":236},{"id":237,"text":"\"(Dan haram sebab haid apa yang haram sebab janabah dan haram juga puasa). Dan wajib mengqadha puasa tidak wajib menqadha shalat, berdasarkan perkataan ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anhu: “Kami mengalami haid. Kami diperintahkan untuk mengqodho puasa dan kami tidak diperintahkan untuk mengqodho’ shalat. Dan terjadi kesepakatan ulama dalam masalah tersebut. Makna yang terkandung dalam riwayat diatas bahwasanya shalat itu banyak sehingga berat mengqadhanya, berbeda dengan puasa.\" (Mughnil Muhtaj, 1/109). Sumber Kitab: Mughnil Muhtaaj Ilaa Ma’rifati alfaazhil Minhaaj juz I halaman 109, maktabah syamilah. Sumber Link: http://islamport.com/d/2/shf/1/36/2091.html (2/32).\r4. AL Mausuu’atul Fiqhiyyah al Kuwaitiyyah:\rوَالْإجْمَاعُ مُنْعَقِدٌ عَلَى مَنْعِهِمَا مِنَ الصَّوْمِ ، وَعَلَى وُجُوْبِ الْقَضَاءِ عَلَيْهِمَا\r\"Kesepakatan ulama terjadi atas dilarangnya wanita haid dan nifas berpuasa dan wajibnya mengqadha puasa yang mereka berdua tinggalkan.\" (al-Mausu'ah al-Fiqhiyyah, 28/21). Sumber Kitab: AL Mausuu’atul Fiqhiyyah al Kuwaitiyyah juz 28 halaman 21, maktabah syamilah. Sumber Link: http://islamport.com/d/2/fqh/1/35/868.html (29/15). Wallaahu A'lamu Bishshawaab. [ UZ ]\r0326. HAID : Rambut dan kuku wanita haidh\rPERTANYAAN :\rBambang Isnadi\rApakah wanita yang sedang haid boleh bersisir dan meninggalkan rambut yang sudah jatuh lepas darinya ataukah harus disimpan dan disucikan dikala haidnya sudah berhenti ?\rJAWABAN :\r1. Mbah Jenggot II","part":1,"page":237},{"id":238,"text":"Seorang yang junub atau perempuan yang haid sebaiknya tidak memotong kuku, rambut atau anggota tubuh yang lainnya. Alasan dari haI ini dijelaskan oleh Imam al-Ghazali dan Abu Thalib al-Makky:\rوَلَا يَنْبَغِي أَنْ يَحْلِقَ أَوْ يُقَلِّمَ أَوْ يَسْتَحِدَّ أَوْ يُخْرِجَ دَمًا أَوْ يُبِيْنَ مِنْ نَفْسِهِ جُزْءًا وَهُوَ جُنُبٌ إِذْ تُرَدُّ إِلَيْهِ سَائِرُ أَجْزَائِهِ فِي اْلآخِرَةِ فَيَعُوْدُ جُنُباً وَيُقاَلُ إِنَّ كُلَّ شَعْرَةٍ تُطَالِبُهُ بِجِناَبَتِهَا\r\"Tidak seyogyanya seseorang mencukur rambut, memotong kuku, mencukur bulu kemaluannya atau membuang sesuatu dari badannya disaat dia sedang berjunub karena seluruh bagian tubuhnya akan dikembalikan kepadanya di akhirat kelak, lalu dia akan kembali berjunub. Dikatakan bahwa setiap rambut akan menuntutnya dengan sebab junub yang ada pada rambut tersebut.\" (Ihya Ulumaddin, 2/325). Sumber kitab : Ihyaa ‘Uluum ad Dien karya Hujjatul Islam Abu Hamid al Ghazali (wafat tahun 505 H) juz II halaman 52, cetakan Daar Ihya al Kutub al ‘Arabiyyah Mesir / juz II halaman 325, maktabah syamilah. Sumber link : http://islamport.com/d/1/akh/1/17/40.html (1/401)\rوَأَنَا أَكْرَهُ أَنْ يَحْلِقَ الرَّجُلُ رَأْسَهُ أَوْ يُقَلِّمَ ظُفْرَهُ أَوْ يَسْتَحِدَّ أَوْ يَتَوَرَّى وَيُخْرِجَ دَمًا وَهُوَ جُنُبٌ، فَإِنَّ الْعَبْدَ يُرَدُّ إِلَيْهِ جَمِيْعُ شَعَرِهِ وَظُفْرِهِ وَدَمِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَمَا سَقَطَ مِنْهُ مِنْ ذَلِكَ وَهُوَ جُنُبٌ رَجَع إِلَيْهِ جُنُباً. وَقِيْلَ: طَالَبَتْهُ كُلُّ شَعْرَةٍ بِجَنَابَتِهَا","part":1,"page":238},{"id":239,"text":"\"Saya membenci seorang laki-laki mencukur kepalanya atau memotong kukunya atau mencukur bulu kemaluannya atau mengeluarkan darahnya dalam keadaan dia junub, karena seorang hamba akan dikembalikan kepadanya seluruh rambutnya, kukunya dan darahnya besok pada hari kiamat. Apa yang jatuh darinya dari hal-hal diatas dalam keadaan dia junub maka akan kembali kepadanya dalam keadaan junub. Dikatakan setiap rambut akan menuntutnya dengan sebab junub yang ada pada rambut tersebut.\" (Qutil Qulub, 2/236). Sumber kitab : Quut al Quluub Fii Mu’aamalah al Mahbuub karya Imam Abu Thalib al Makky juz II halaman 236, maktabah syamilah. Sumber link: http://islamport.com/d/1/akh/1/108/776.html (2/236).\rNamun ulama lain tidak sependapat perihal anggota tubuh dalam alasan tersebut. Imam al-Bujairimi, mengutip pendapat al-Qalyubi, menjelaskan bahwa anggota tubuh yang dikembalikan padanya di hari kiamat adalah anggota yang ada pada saat dia meninggal dunia, bukan yang telah terpotong sebelumnya. Al-Madabighi menambahkan bahwa kuku, rambut, dan semacamnya tidak dikembalikan menyatu dengan tubuh melainkan dikembalikan dalam keadaan terpisah. Disebutkan dalam Hasyiyah Syarwani :\rقَوْلُهُ تَعُوْدُ إِلَيْهِ فِي الْآخِرَةِ ) هَذَا مَبْنِيٌّ عَلَى أَنَّ الْعَوْدَ لَيْسَ خَاصًّا بِالْأَجْزَاءِ الْأَصْلِيَّةِ وَفِيْهِ خِلَافٌ ، وَقَالَ السَّعْدُ فِي شَرْحِ الْعَقَائِدِ النَّسَفِيَّةِ الْمَعَادُ إنَّمَا هُوَ الْأَجْزَاءُ الْأَصْلِيَّةُ الْبَاقِيَةُ مِنْ أَوَّلِ الْعُمُرِ إلَى آخِرِهِ ع ش","part":1,"page":239},{"id":240,"text":"عِبَارَةُ الْبُجَيْرَمِيِّ فِيهِ نَظَرٌ ، لِأَنَّ الَّذِي يُرَدُّ إلَيْهِ مَا مَاتَ عَلَيْهِ لَا جَمِيعُ أَظْفَارِهِ الَّتِي قَلَّمَهَا فِي عُمُرِهِ ، وَلَا شَعْرِهِ كَذَلِكَ فَرَاجِعْهُ قليوبي\rوَعِبَارَةُ الْمَدَابِغِي قَوْلُهُ لِأَنَّ أَجْزَاءَهُ إلخ أَيْ الْأَصْلِيَّةُ فَقَطْ كَالْيَدِ الْمَقْطُوعَةِ بِخِلَافِ نَحْوِ الشَّعْرِ وَالظُّفْرِ ، فَإِنَّهُ يَعُودُ إلَيْهِ مُنْفَصِلًا عَنْ بَدَنِهِ لِتَبْكِيتِهِ أَيْ تَوْبِيخِهِ حَيْثُ أُمِرَ بِأَنْ لَا يُزِيلَهُ حَالَةَ الْجَنَابَةِ أَوْ نَحْوِهَا\rانتهت ا هـ .\r\"Ucapan Mushannif : anggota badan kembali kepada orang tersebut di akherat. Ini adalah mengikuti pendapat bahwa anggota tubuh yang kembali tidak tertentu anggota-anggota tubuh yang asli. Didalam hal ini ada perbedaan. Berkata Imam Sa’ad didalam Syarah al Aqa’id an Nasafiyyah: “Yang dikembalikan adalah anggota-anggota tubuh yang asli yang masih ada mulai awal sampai dengan akhir umur. (‘AIN SYIIN / Ali Asy Syibramullisi).\rIbarot Al Bujairami : Perlu dipertimbangkan dalam pendapat tersebut, karena anggota tubuh yang dikembalikan adalah adalah anggota yang ada pada saat dia meninggal dunia, bukan seluruh kuku yang dia potong selama hayatnya begitu juga bukan seluruh rambutnya. Coba cek kembali. Al Qalyubi.\rIbarot al Madaabighi : Ucapan Mushannif “Karena anggota-anggota tubuhnya…dst”","part":1,"page":240},{"id":241,"text":"Maksudnya hanya anggota tubuh yang asli seperti tangan yang terpotong. Berbeda semisal rambut dan kuku, kalau yang ini akan kembali kepada orang tersebut terpisah dari tubuhnya sebagai teguran untuknya, dia diperintah untuk tidak menghilangkannya disaat junub dan sebagainya.\" (Hasyiyah Syarwani, 1/284). Sumber kitab : Hasyiyah Syarwani juz I halaman 284, cetakan Mathba’ah Mushtafa Ahmad Mesir. Sumber link : http://main.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?ID=421&startno=10&start=10&idfrom=417&idto=455&bookid=20&Hashiya=2\r2. Ahmad Khabibi\rMemotong rambut dan menggunting kuku bagi wanita haid hukumnya makruh. Jika dikerjakan tidak mendapat dosa. Adapun yang wajib di cuci setelah haid berhenti adalah tempat potongan rambut dan kuku bukan rambut dan kuku yang telah terpotong. jadi kalau sudah terlepas dari badan tidak perlu dicuci. Ta’bir dari kitab :\r1. Nihayatuzzain:\rوَمَنْ لَزِمَهُ غُسْلٌ يُسَنُّ لَهُ أَلَّا يُزِيْلَ شَيْئاً مِنْ بَدَنِهِ وَلَوْ دَمًا أَوْ شَعَرًا أَوْ ظُفْرًا حَتَّى يَغْتَسِلَ لِأَنَّ كُلَّ جُزْءٍ يَعُوْدُ لَهُ فِي اْلآخِرَةِ فَلَوْ أَزَالَهُ قَبْلَ الْغُسْلِ عَادَ عَلَيْهِ الْحَدَثُ الْأَكْبَرُ تَبْكِيْتًا لِلشَّخْصِ","part":1,"page":241},{"id":242,"text":"\"Barang siapa yang wajib mandi maka agar tidak menghilangkan satupun dari anggota badannya walaupun berupa darah atau kuku sehingga mandi, karena semua anggota badan akan kembali kepadanya di akherat. Jika dia menghilangkannya sebelum mandi maka hadats besar akan kembali kepadanya sebagia teguran kepadanya.\" (Nihayatuzzain, 1/31). Sumber kitab : Nihayatuzzain juz I halaman 31, cetakan Al Ma’aarif Bandung / halaman 31, maktabah syamilah. Sumber link : http://sh.rewayat2.com/fkhshafey/Web/6146/001.htm\r2. Fathul Mu'in:\rوَ ) ثاَنِيْهِمَا ( تَعْمِيْمُ ) ظَاهِرُ ( بَدَنٍ حَتىَّ ) َاْلأَظْفاَرَ وَماَ تَحْتَهاَ وَ ( الشَّعْرَ ) ظَاهِرًا وَباَطِناً وَإِنْ كَثِفَ وَماَ ظَهَرَ مِنْ نَحْوِ مَنْبَتِ شَعْرَةٍ زَالَتْ قَبْلَ غَسْلِهاَ\r\"Syarat yang kedua yaitu meratakan air pada seluruh anggota dzohir badan hingga kuku dan di bagian bawahnya, rambut bagian luar dan dalam, yakni tempat tumbuhnya rambut yang telah lepas sebelum mandi.\" (Fathul Mu'in, 1/31). Sumber kitab : Fat_hul Mu’in (Hamisy I’anatuththalibin juz I halaman 75, cetakan al ‘Alawiyyah) / 1/31, maktabah syamilah. Sumber link : http://islamport.com/w/shf/Web/1226/87.htm\r3. Hasyiyah Syarwani:\rأَنَّ الْأَجْزَاءَ الْمُنْفَصِلَةَ قَبْلَ الْإِغْتِسَالِ لَا يَرْتَفِعُ جَنَابَتُهَا بِغُسْلِهَا","part":1,"page":242},{"id":243,"text":"\"Bahwasanya anggota tubuh yang terpisah sebelum mandi, janabahnya tidak hilang dengan memandikannya.\" (Hasyiyah Syarwani, 1/84). Sumber kitab : Hasyiyah Syarwani juz I halaman 84, cetakan Mathba’ah Mushtafa Ahmad Mesir. Sumber Link : http://main.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?ID=421&startno=10&start=10&idfrom=417&idto=455&bookid=20&Hashiya=2\rCatatan : Ada juga ulama yang tidak memakruhkan.\rوَقَالَ عَطَاءٌ : يَحْتَجِمُ الْجُنُبُ ، وَيُقَلِّمُ أَظْفَارَهُ ، وَيَحْلِقُ رَأْسَهُ ، وَإِنْ لَمْ يَتَوَضَّأْ . وَمَا حَكاهُ عَنْ عَطَاءٍ ، مَعْنَاهُ : أَنَّ الْجُنُبَ لَا يُكْرَهُ لَهُ الْأَخْذُ مِنْ شَعَرِهِ وَظُفْرِهِ فِيْ حَالِ جَنَابَتِهِ ، وَلَا أَنْ يُخْرِجَ دَمَهُ بِحِجَامَةٍ وَغَيْرِهَا\rوَلَا نَعْلَمُ فِيْ هَذَا خِلَافاً إِلَّا مَا ذَكَرَهُ بَعْضُ أَصْحَابِنَا وَهُوَ أَبُو الْفَرَجِ الشَّيْرَازِيِّ ، أَنَّ الْجُنُبَ يُكْرَهُ لَهُ الْأَخْذُ مِنْ شَعَرِهِ وَأَظْفَارِهِ","part":1,"page":243},{"id":244,"text":"‘Atha berkata: “Orang junub berbekam, ,mencukur kepalanya walaupun tidak berwudhu”. Apa yang diceritakan dari ‘Atha maknanya ialah bahwasanya orang junub tidak dimakruhkan memotong rambut dan kukunya ketika dia junub, dan tidak makruh mengeluarkan darahnya dengan berbekam atau lainnya. Kami tidak mengetahui adanya perbedaan dalam hal ini keculai apa yang dituturkan sebagaian ash_hab kami yaitu Abul Faraj asy Syairazi bahwasanya orang junub makruh memotong rambut dan kuku. (Fathul Bari Li Ibni Rajab, 1/346). Sumber kitab : Fat_hul Bari, Syarhu Shahihil Bukhari karya al Hafizh Ibn Rajab al Hanbali juz I halaman 346, maktabah syamilah. Sumber link : http://islamport.com/w/srh/Web/67/173.htm (2/54). Wallaahu A’lamu bishshawaab.\r0361. Wanita haid berpahala dengan meninggalkan perkara haram\rSeorang wanita terhalang dari berbagai amal ibadah seperti shalat dan puasa ketika haid. Kemudian apakah dia bisa mendapat pahala sebagaimana orang yang sakit mendapat pahala shalatnya ketika sedang udzur sakit ?\rAn-Nawawi berkata tidak. Namun al-Qalyubi menambahkan tidak mendapat pahala bila ditinjau dari perbandingan terhadap udzur sakit, namun dimungkinkan mendapat pahala bila ditinjau dari tarkul mahzhur, yakni dengan cara wanita itu meniatkan meninggalkan shalat dan semacamnya karena patuh mengikuti perintah syari'at (imtitsalan).\rوَهَلْ تُثَابُ عَلَى التَّرْكِ كَمَا يُثَابُ الْمَرِيضُ عَلَى تَرْكِ النَّوَافِلِ الَّتِي كَانَ يَفْعَلُهَا فِي صِحَّتِهِ وَشَغَلَهُ الْمَرَضُ عَنْهَا","part":1,"page":244},{"id":245,"text":"قَالَ الْمُصَنِّفُ لَا ؛ لِأَنَّ الْمَرِيضَ يَنْوِي أَنَّهُ يَفْعَلُهُ لَوْ كَانَ سَلِيمًا مَعَ بَقَاءِ أَهْلِيَّتِهِ وَهِيَ غَيْرُ أَهْلٍ فَلَا يُمْكِنُهَا أَنْ تَفْعَلَ ؛ لِأَنَّهُ حَرَامٌ عَلَيْهَا ا هـ شَرْحِ م ر ا هـ شَوْبَرِيٌّ وَفِي ق ل عَلَى الْمَحَلِّيِّ وَتُثَابُ الْحَائِضُ عَلَى تَرْكِ مَا حَرُمَ عَلَيْهَا إذَا قَصَدَتْ امْتِثَالَ الشَّارِعِ فِي تَرْكِهِ لَا عَلَى الْعَزْمِ عَلَى الْفِعْلِ لَوْلَا الْحَيْضُ بِخِلَافِ الْمَرِيضِ ؛ لِأَنَّهُ أَهْلٌ لِمَا عَزَمَ عَلَيْهِ حَالَةَ عُذْرِهِ ا هـ\r\"Dan apakah perempuan yang sedang haid diberi pahala atas ibadah yang ia tinggalkan seperti diberi pahalanya orang yang sakit yang meninggalkan kesunnahan-kesunnahan yang dia lakukan di saat dia masih sehat dan sakit yang membuat dia meninggalkannya ?\rAl Mushannif (Imam Nawawi) berkata : “dia (perempuan yang haid) tidak mendapat-kan pahala, karena orang sakit berniat akan melakukannya jika dia sembuh beserta orang sakit itu masih tetap pada sifat ahli-nya. Sementara perempuan yang haid bukanlah orang yang ahli sehingga tidak bisa dimungkinkan dia melakukannya, karena perkara itu diharamkan atas dia. Telah selesai dari Syarah MIIM RA` (Imam Muhammad Ramli), telah selesai Asy Syaubari.","part":1,"page":245},{"id":246,"text":"Dan dalam Al-Qalyubi ‘Ala Al Mahalli diterangkan bahwa perempuan itu akan mendapat pahala karena telah meningggalkan perkara yang diharamkan untuknya jika memang dia mempunya niat mengikuti perintah syari’at dalam meninggalkannya itu, tidak karena ada niat untuk melakukannya seandainya dia tidak haid. Berbeda dengan orang sakit, karena dia adalah ahli pada apa yang dia niati disaat dia mendapatkan udzur. Telah selesai ibarot Hasyiyah qalyubi.\" (Hasyiyah Jamal, 1/239). Sumber kitab : Hasyiyah Al Jamal, juz I hal 239, cetakan Daar Ihya at Turats al ‘Arabi, Beirut / 2/373-374, maktabah syamilah.\rوَالْمَحْظُوْرُ مِنْ حَيْثُ وَصْفُهُ بِالْحَظْرِ أَيْ الْحُرْمَةِ مَا يُثَابُ عَلَى تَرْكِهِ إِمْتِثَالًا وَيُعَاقَبُ عَلَى فِعْلِهِ قَوْلُهُ إِمْتِثَالًا أَيْ بِأَنْ يَكُفَّ نَفْسَهُ عَنْهُ لِدَاعِى نَهْىِ الشَّرْعِ\r\"Haram, ditinjau dari sifat keharamannya, yaitu perkara yang diberi pahala atas ditinggalkannya keharaman tersebut karena patuh pada syari'at serta disiksa atas dijalaninya keharaman itu. Perkataan 'karena patuh pada syari'at': yakni pengekangan dirinya dari hal yang diharamkan tersebut dikarenakan adanya seruan larangan syariat.\" (an-Nafahat 'ala Syarh al-Waraqat: 20-21). Wallaahu A’lamu bishshawaab. [ Ayda Az-zahra dan Hakam Ahmed ElChudrie ].\r0363. PEREMPUAN HAID MEMBACA AL QUR'AN\rMengenai hukum wanita haidh membaca al-Qur'an, berikut uraian selengkapnya dari kitab Hasyiyah al-Bujairimi 'ala al-Iqna' karya Sulaiman bin Umar bin Muhammad al-Bujairimi :","part":1,"page":246},{"id":247,"text":"( وَ ) الثَّالِثُ ( قِرَاءَةُ ) شَيْءٍ مِنْ ( الْقُرْآنِ ) بِاللَّفْظِ أَوْ بِالْإِشَارَةِ مِنْ الْأَخْرَسِ كَمَا قَالَ الْقَاضِي فِي فَتَاوِيهِ ، فَإِنَّهَا مُنَزَّلَةٌ مَنْزِلَةَ النُّطْقِ هُنَا وَلَوْ بَعْضَ آيَةٍ لِلْإِخْلَالِ بِالتَّعْظِيمِ ، سَوَاءٌ أَقَصَدَ مَعَ ذَلِكَ غَيْرَهَا أَمْ لَا لِحَدِيثِ التِّرْمِذِيِّ وَغَيْرِهِ : { لَا يَقْرَأْ الْجُنُبُ وَلَا الْحَائِضُ شَيْئًا مِنْ الْقُرْآنِ }\rالشَّرْحُ قَوْلُهُ : ( وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ ) وَعَنْ مَالِكٍ : يَجُوزُ لَهَا قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ ، وَعَنْ الطَّحَاوِيِّ يُبَاحُ لَهَا مَا دُونَ الْآيَةِ كَمَا نَقَلَهُ فِي شَرْحِ الْكَنْزِ مِنْ كُتُبِ الْحَنَفِيَّةِ\r\"Keharaman sebab haid yang ketiga adalah membaca sesuatu dari al-Qur’an, dengan diucapkan atau dengan isyarah dari orang bisu, seperti yang dikatakan Qadhi Husein dalam Fatawinya. Mengingat konteks isyarah diletakkan pada konteksnya hukum berucap pada permasalahan ini, meskipun yang dibaca hanyalah sebagian ayat saja dikarenakan hal itu menunjukkan pada unsur penghinaan. Baik bacaan itu diniati bersama dengan niat yang lain ataupun tidak, berdasarkan hadits riwayat Tirmidzi dan lainnya, “Orang yang sedang junub dan orang yang haid tidak diperbolehkan membaca sesuatu dari al-Qur’an.\rKomentar pensyarah: [Membaca al-Qur’an] dari Imam Malik dijelaskan bahwa diperbolehkan bagi perempuan haid membaca al-Qur’an. Dan dari Ath-Thahawi diterangkan bahwa diperbolehkan bagi dia untuk membaca al-Qur’an namun kurang dari satu ayat, seperti yang dia kutipkan dalam Syarah Al-Kanzu dari kitabnya mazhab Hanafi.\" (Hasyiyah Bujairimi, 3/259-261)","part":1,"page":247},{"id":248,"text":"تَنْبِيهٌ : يَحِلُّ لِمَنْ بِهِ حَدَثٌ أَكْبَرُ أَذْكَارُ الْقُرْآنِ وَغَيْرُهَا كَمَوَاعِظِهِ وَأَخْبَارِهِ وَأَحْكَامِهِ لَا بِقَصْدِ الْقُرْآنِ كَقَوْلِهِ عِنْدَ الرُّكُوبِ : { سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ } أَيْ مُطِيقِينَ ، وَعِنْدَ الْمُصِيبَةِ : { إنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إلَيْهِ رَاجِعُونَ } وَمَا جَرَى بِهِ لِسَانُهُ بِلَا قَصْدٍ فَإِنْ قَصَدَ الْقُرْآنَ وَحْدَهُ أَوْ مَعَ الذِّكْرِ حُرِّمَ ، وَإِنْ أَطْلَقَ فَلَا .\rكَمَا نَبَّهَ عَلَيْهِ النَّوَوِيُّ فِي دَقَائِقِهِ لِعَدَمِ الْإِخْلَالِ بِحُرْمَتِهِ ؛ لِأَنَّهُ لَا يَكُونُ قُرْآنًا إلَّا بِالْقَصْدِ قَالَهُ النَّوَوِيُّ وَغَيْرُهُ ، وَظَاهِرُهُ أَنَّ ذَلِكَ جَارٍ فِيمَا يُوجَدُ نَظْمُهُ فِي غَيْرِ الْقُرْآنِ كَالْآيَتَيْنِ الْمُتَقَدِّمَتَيْنِ وَالْبَسْمَلَةِ وَالْحَمْدَلَةِ ، وَفِيمَا لَا يُوجَدُ نَظْمُهُ إلَّا فِيهِ كَسُورَةِ الْإِخْلَاصِ وَآيَةِ الْكُرْسِيِّ ، وَهُوَ كَذَلِكَ ، وَإِنْ قَالَ الزَّرْكَشِيّ : لَا شَكَّ فِي تَحْرِيمِ مَا لَا يُوجَدُ نَظْمُهُ فِي غَيْرِ الْقُرْآنِ ، وَتَبِعَهُ عَلَى ذَلِكَ بَعْضُ الْمُتَأَخِّرِينَ كَمَا شَمِلَ ذَلِكَ قَوْلَ الرَّوْضَةِ ، أَمَّا إذَا قَرَأَ شَيْئًا مِنْهُ لَا عَلَى قَصْدِ الْقُرْآنِ فَيَجُوزُ .\rالشَّرْحُ\rقَوْلُهُ : ( تَنْبِيهٌ إلَخْ ) هَذَا التَّنْبِيهُ بِمَنْزِلَةِ قَوْلِهِ مَحَلُّ حُرْمَةِ الْقِرَاءَةِ إذَا كَانَتْ بِقَصْدِ الْقُرْآنِ أَوْ بِقَصْدِ الْقُرْآنِ وَالذِّكْرِ ، و َإِلَّا فَلَا حُرْمَة .\rقَوْلُهُ : ( يَحِلُّ إلَخْ ) كَلَامُهُ فِي الْحَائِضِ وَالنُّفَسَاءِ فَدُخُولُ غَيْرِهِمَا مَعَهُمَا اسْتِطْرَادِيٌّ تَأَمَّلْ ق ل .\rقَوْلُهُ : ( كَمَوَاعِظِهِ ) أَيْ مَا فِيهِ تَرْغِيبٌ أَوْ تَرْهِيبٌ .","part":1,"page":248},{"id":249,"text":"قَوْلُهُ : ( وَأَخْبَارِهِ ) أَيْ عَنْ الْأُمَمِ السَّابِقَةِ .\rقَوْلُهُ : ( وَأَحْكَامِهِ ) أَيْ مَا تَعَلَّقَ بِفِعْلِ الْمُكَلَّف .\rقَوْلُهُ : ( وَمَا جَرَى بِهِ لِسَانُهُ بِلَا قَصْدٍ ) بِأَنْ سَبَقَ لِسَانُهُ إلَيْهِ .\rقَوْلُهُ : ( وَإِنْ أَطْلَقَ فَلَا ) كَمَا لَا يَحْرُمُ إذَا قَصَدَ الذِّكْرَ فَقَطْ ، فَالصُّوَرُ أَرْبَعَةٌ يَحِلُّ فِي ثِنْتَيْنِ ، وَيَحْرُمُ فِي ثِنْتَيْنِ وَأَمَّا لَوْ قَصَدَ وَاحِدًا لَا بِعَيْنِهِ فَفِيهِ خِلَافٌ ، وَالْمُعْتَمَدُ الْحُرْمَةُ ؛ لِأَنَّ الْوَاحِدَ الدَّائِرَ صَادِقٌ بِالْقُرْآنِ فَيَحْرُمُ لِصِدْقِهِ بِهِ . قَوْلُهُ : ( لَا يَكُونُ قُرْآنًا إلَخْ ) أَيْ لَا يَكُونُ قُرْآنًا تَحْرُمُ قِرَاءَتُهُ عِنْدَ وُجُودِ الصَّارِفِ إلَّا بِالْقَصْدِ ، وَإِلَّا فَهُوَ قُرْآنٌ مُطْلَقًا ، أَوْ الْمَعْنَى لَا يُعْطَى حُكْمَ الْقُرْآنِ إلَّا بِالْقَصْدِ ، وَمَحَلُّهُ مَا لَمْ يَكُنْ فِي صَلَاةٍ كَأَنْ أَجْنَبَ وَفَقَدَ الطَّهُورَيْنِ وَصَلَّى لِحُرْمَةِ الْوَقْتِ بِلَا طُهْرٍ ، وَقَرَأَ الْفَاتِحَةَ ، فَلَا يُشْتَرَطُ قَصْدُ الْقُرْآنِ ، بَلْ يَكُونُ قُرْآنًا عِنْدَ الْإِطْلَاقِ لِوُجُوبِ الصَّلَاةِ عَلَيْهِ فَلَا صَارِفَ فَاحْفَظْهُ وَاحْذَرْ خِلَافَهُ كَمَا ذَكَرَهُ ابْنُ شَرَفٍ عَلَى التَّحْرِيرِ .\r\"(Tanbih): Diperbolehkan bagi orang yang mempunyai hadats besar untuk membaca dzikir al-Qur’an dan yang lainnya, seperti mauizhahnya, cerita, dan hukum yang ada di dalam al-Qur’an, dengan tidak diniatkan pada al-Qur’annya. Seperti perkataanya ketika naik kendaraan :\r(سبحان الذي سخر لنا هذا و ما كنا له مقرنين)\rdan ketika mendapat musibah dia mengucapkan :\r(إنا لله و إنا اليه راجعون).","part":1,"page":249},{"id":250,"text":"Serta pada apa yang tanpa dikehendaki terucap oleh lisannya. Namun jika dia memaksudkan al-Qur’an saja atau memaksudkan al-Qur’an beserta dzikirnya, maka diharamkan. Kemudian jika dia memutlakkannya maka tidak diharamkan, sesuai dengan peringatan an-Nawawi dalam kitab Daqaiq, sebab tidak ada unsur penghinaan pada kemuliaan al-Qur'an di sini. Memandang bahwasanya al-Qur'an tidak akan diberlakukan hukum al-Qur'an kecuali ketika dengan wujudnya niat.\rSecara zahir pendapat tersebut berlaku baik pada ayat yang bisa ditemukan susunan kalimatnya di luar al-Qur'an semisal dua ayat di atas, juga basmalah dan al-fatihah. Serta pada ayat yang tidak akan ditemukan susunan kalimatnya selain di al-Qur'an semisal surat al-Ikhlas dan ayat kursi. Benarlah demikian, meski az-Zarkasyi berpendapat tidak diragukannya keharaman pada ayat yang tidak akan ditemukan susunan kalimatnya selain di al-Qur'an. Pendapat az-Zarkasyi ini dianut oleh sebagian ulama mutaakhirin.\rKeterangan an-Nawawi tentang kemutlakan tersebut juga terkandung dalam kitab ar-Raudhah. Sedangkan ketika membaca al-Qur'an itu tidak diniatkan pada membaca al-Qur'annya maka diperbolehkan.\rKomentar pensyarah :\r[Tanbih dst.] Tanbih ini menempati perkataan mushannif, “Tempat keharaman membaca al-Qur’an adalah ketika dalam pembacaan itu dengan maksud al-Qur’an atau dengan maksud al-Qur’an dan dzikir. Jika tidak memaksudkan dengan itu semua maka tidak diharamkan.\"\r[Diperbolehkan dst.] Pembahasan penulis tentang wanita haidh dan nifas, namun bisa dikonfirmasikan juga pembahasan selain keduanya. Cermatilah. (al-Qulyubi)","part":1,"page":250},{"id":251,"text":"[Seperti mauizhah] Yakni perkara tentang anjuran dan ancaman.\r[Cerita] Yakni dari kisah umat terdahulu.\r[Dan hukum yang ada di dalam al-Qur'an] Yakni perkara yang berkaitan dengan perbuatan mukallaf.\r[Serta pada apa yang tanpa dikehendaki terucap oleh lisannya] Dengan kelepasan bicara.\r[Kemudian jika dia memutlakkannya maka tidak diharamkan] Sebagaimana tidak pula diharamkan ketika diniatkan pada dzikirnya saja. Sehingga bisa disimpulkan ada empat situasi pembacaan al-Qur'an di sini. Dua diperbolehkan, dan dua lainnya diharamkan.\rSedangkan ketika dia meniatkan pada salah satunya namun tanpa dijelaskan yang mana maka hukumnya khilaf. Menurut qaul Mu'tamad dihukumi haram. Sebab unsur salah satunya bisa dimungkinkan niat pada al-Qur'annya sehingga diharamkan memandang adanya kemungkinan tersebut. [Al-Qur'an tidak akan diberlakukan hukum al-Qur'an dst.] Yakni ketika muncul qarinah pembeda maka tidak dianggap sebagai al-Qur'an yang haram dibaca kecuali dengan wujudnya niat. Atau bisa juga diartikan tidak diberlakukan hukum al-Qur'an kecuali dengan wujudnya niat. Konteks ini mengesampingkan pada kasus shalat, semisal pada orang junub yang tidak bisa bersuci dengan wudhu dan tayammum, lantas dia shalat li hurmatil waqti, membaca al-Fatihah, maka tidak berlaku persyaratan niat membaca al-Qur'an. Bahkan tetap dianggap sebagai hukum bacaan al-Qur'an ketika dimutlakkan sebab tidak ada qarinah pembeda di sini. Camkanlah dan hati-hati terhadap kesalahpahaman tentang hal itu, sebagaimana dituturkan oleh an-Nawawi dalam kitab at-Tahrir.\" (Hasyiyah al-Bujairimi, 1/259-264).","part":1,"page":251},{"id":252,"text":"Elaborasi tentang khilafiyah Imam Malik dituturkan dalam kitab al-Mausu'ah:\rوَذَهَبَ الْمَالِكِيَّةُ إِلَى أَنَّ الْحَائِضَ يَجُوزُ لَهَا قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ فِي حَال اسْتِرْسَال الدَّمِ مُطْلَقًا ، كَانَتْ جُنُبًا أَمْ لاَ ، خَافَتِ النِّسْيَانَ أَمْ لاَ . وَأَمَّا إِذَا انْقَطَعَ حَيْضُهَا ، فَلاَ تَجُوزُ لَهَا الْقِرَاءَةُ حَتَّى تَغْتَسِل جُنُبًا كَانَتْ أَمْ لاَ ، إِلاَّ أَنْ تَخَافَ النِّسْيَانَ .\rهَذَا هُوَ الْمُعْتَمَدُ عِنْدَهُمْ ، لأَنَّهَا قَادِرَةٌ عَلَى التَّطَهُّرِ فِي هَذِهِ الْحَالَةِ ، وَهُنَاكَ قَوْلٌ ضَعِيفٌ هُوَ أَنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا انْقَطَعَ حَيْضُهَا جَازَ لَهَا الْقِرَاءَةُ إِنْ لَمْ تَكُنْ جُنُبًا قَبْل الْحَيْضِ . فَإِنْ كَانَتْ جَنْبًا قَبْلَهُ فَلاَ تَجُوزُ لَهَا الْقِرَاءَةُ .\r\"Kalangan malikiyah berpendapat bahwa wanita haidh diperbolehkan membaca al-Qur'an di masa sedang keluarnya darah haidh secara mutlak, baik disertai junub maupun tidak, entah karena khawatir lupa ataupun tidak. Sedangkan di masa darah haidh sedang berhenti maka tidak diperbolehkan membaca al-Qur'an sampai dia mandi bersuci, baik kondisinya disertai junub maupun tidak, kecuali bila khawatir lupa (maka boleh membaca, pen).","part":1,"page":252},{"id":253,"text":"Pendapat di atas adalah qaul mu'tamad, sebab seorang wanita dipandang mampu bersuci dalam kondisi darah sedang berhenti tersebut. Namun dalam hal ini ada qaul dha'if yang berpendapat seorang wanita ketika darahnya sedang berhenti tetap diperbolehkan membaca al-Qur'an asalkan kondisinya tidak disertai junub sebelum haidh. Ketika sebelum haidh telah disertai junub maka tidak diperbolehkan membaca al-Qur'an (sampai dia mandi bersuci, pen)\" (al-Mausu'ah al-Fiqhiyyah al-Kuwatiyyah, 18/322)\rKesimpulan :\rDalam mazhab syafi'iyah terdapat tujuh pembahasan yang berkaitan dengan hukum wanita haidh membaca al-Qur'an :\r?…Bila membaca al-Qur'an diniati untuk membaca al-Qur'annya maka haram.\r?…Bila membaca al-Qur'an diniati untuk membaca al-Qur'annya besertaan niat lainnya maka juga dihukumi haram.\r?…Bila membaca al-Qur'an diniati selain untuk membaca al-Qur'an seperti untuk menjaga hafalan, membaca zikirnya, kisah-kisah, mauizah, hukum-hukum, maka diperbolehkan.\r?…Bila membaca al-Qur'an karena kelepasan bicara maka diperbolehkan.\r?…Bila membaca al-Qur'an diniati secara mutlak, yakni sekedar ingin membaca tanpa niat tertentu maka diperbolehkan.\r?…Bila membaca al-Qur'an diniati secara mutlak atau niat selain al-Qur'an, namun yang dibaca adalah susunan kalimat khas al-Qur'an atau satu surat panjang atau keseluruhan al-Qur'an maka khilaf. Menurut an-Nawawi, ar-Ramli Kabir, dan Ibnu Hajar diperbolehkan, sedangkan bagi az-Zarkasyi dan as-Suyuthi diharamkan.","part":1,"page":253},{"id":254,"text":"?…Bila membaca al-Qur'an diniatkan pada salah satunya tanpa dijelaskan yang mana maka khilaf. Menurut qaul mu'tamad diharamkan sebab adanya kemungkinan niat pada bacaan al-Qur'an.\rSedangkan dalam mazhab malikiyah boleh bagi wanita haidh membaca al-Qur'an. Lebih jelasnya tentang hal ini terdapat dua pembahasan:\r?… Boleh secara mutlak, yakni ketika membacanya dalam kondisi darah haidh sedang merembes keluar.\r?… Tidak diperbolehkan sebelum mandi hadats, yakni ketika membacanya dalam kondisi darah haidh sedang mampet. Kecuali bila khawatir lupa, atau kecuali dengan menengok pada qaul dha'if yang memperbolehkannya asalkan haidhnya tidak disertai junub.\rWallahu subhanahu wata'ala a'lam. [ Ayda Az-zahra dan Hakam Ahmed ElChudrie ].\r0661. Saat Haid Memegang dan Mengajar IQRO' & QIRAATI\rPERTANYAAN :\rSalim Ridho\rAssalamu'alaikum. . Pertanyaan titipan. . .Saat tidak suci bolehkah kita membaca Iqro, Qiraati, An-Nahdhiyi atau memegangnya. .? Makasih. .\rJAWABAN :\rMasaji Antoro\rWa'alaikumsalam.\r?…Hukum membawa buku buku TPA seperti IQRO’, QIRAATI, DIROSATI, TARTILI, An-NAHDHIYI dan sejenisnya bagi wanita yang sedang haidl diperbolehkan (Tidak Haram) .Dikarenakan penyusunan dari buku-buku tersebut untuk belajar/mengajar Al Qur?n.\r( والرابع مس المصحف ) وهو اسم للمكتوب من كلام الله بين الدفتين ( وحمله ) إلا إذا خافت عليه ( قوله وهو ) أى المصحف وقوله اسم للمكتوب من كلام الله بين الدفتين أى بين دفتى المصحف وهذا التفسير ليس مرادا هنا وإنما المراد به هنا كل ما كتب عليه قرآن لدراسته ولو عمودا أو لوحا أو نحوهما الى أن قال .... والعبرة بقصد الكاتب إن كان يكتب لنفسه وإلا فقصد الآمر أو المستأجر","part":1,"page":254},{"id":255,"text":"[ Yang ke-empat Memegang Mushaf ] Mushaf ialah nama dari tulisan firman Allah diantara dua lampiran. Juga haram membawanya kecuali saat ia menghawatirkannya.(keterangan Mushaf ialah nama dari tulisan firman Allah diantara dua lampiran) yang dikehendaki adalah setiap perkara yang ditulis alQuran untuk dibaca meskipun berupa tiang, papan atau lainnya…. Pertibangannya diserahkankan pada penulis bila tujuan penulisannya untuk pribadi bila tidak maka diserahkan yang berwenang atau pun penyewa jasa. [ Haasyiyah al-Baajuri I/117 ].\r( و ) حمل ومس ( ما كتب لدرس قرآن ) ولو بعض آية ( كلوح فى الأصح ) لأنه كالمصحف وظاهر قولهم بعض آية أن نحو الحرف كاف وفيه بعد بل ينبغى فى ذلك البعض كونه جملة مفيدة\rDan haram membawa serta memegang tulisan quran untuk dibaca meskipun hanya sebagian ayat seperti halnya yang berupa papan menurut pendapat yang paling shahih karena ia seperti mushaf. (keterangan meskipun hanya sebagian ayat) tidak semacam huruf KAAF, pengertian ini terlalu jauh semestinya batasan dikatakan sebagian ayat adalah susunan kalimat yang berfaedah. [ Tuhfah al-Muhtaaj I/149 ].\r?…Hukum membacanya juga diperbolehkan apabila tidak qoshdul qiro?h (bertujuan membaca)\r( مسألة ى ) يكره حمل التفسير ومسه إن زاد على القرآن وإلا حرم. وتحرم قراءة القرآن على نحو جنب بقصد القراءة ولو مع غيرها لا مع الإطلاق على الراجح ولا بقصد غير القراءة كرد غلط وتعليم وتبرك ودعاء .","part":1,"page":255},{"id":256,"text":"Makruh membawa dan memegang Tafsir yang jumlahnya melebihi tulisan qurannya bila tidak maka haram. Dan haram membacanya bagi semisal orang junub bila bertujuan untuk membacanya meskipun alQurannya bersama tulisan lain tapi tidak haram baginya bila memutlakkan tujuannya menurut pendapat yang kuat dan juga tidak haram tanpa adanya tujuan membacanya seperti saat membenarkan bacaan yang salah, mengajar, mencari keberkahan dan berdoa. [ Bughyah al-Mustarsyidiin hal0 26 ].\rوحكى وجه أن للجنب أن يقرأ ما لم يدخل فى حد الإعجاز وهو ثلاث آيات ونقل الترمذى فى الجامع عن الشافعى أنه قال لا يقرأ الحائض والجنب شيئا إلا طرف الآية والحرف ونحو ذلك أفاده فى البكرى.\rDihikayahkan sebuah pendapat bahwa bagi orang junub diperbolehkan membaca alQuran asal tidak dalam batasan ‘hal yang dapat melemahkan’ dari alQuran yakni berupa tiga ayat, Imam at-Turmudzi menyadur dari Imam Syafi’i yang berkata “Wanita haid dan orang junub tidak boleh membaca sesuatu dari alQuran kecuali ujung ayat , huruf dan sejenisnya. [ At-Turmusy hal. 427-428 ].\rقوله: ( ولو بعض آية ) صادق بالحرف الواحد وهو كذلك لكون صورته فى الحرف أن يقصد به القرآن فيأثم, وإن اقتصر عليه لأنه نوى معصية وشرع فيها, فالتحريم من هذه الجهة لا من حيث إنه يسمى قرآنا كما فى حاشيته م ر على الروض .","part":1,"page":256},{"id":257,"text":"(keterangan meskipun sebagian ayat) dapat berarti satu huruf, memang demikianlah adanya namun penjabarannya satu huruf yang disengaja dengan tujuan membaca alQuran, maka berdosalah dirinya meskipun hanya berupa satu huruf karena ia telah berniat dan menjalani maksiat. Dengan demikian keharaman karena melihat unsure ini bukan karena melihat berupa quran atau tidaknya. [ Bujairomi alaa al-Khothiib I/314 ].\rWANITA HAID & ALQURAN\r?…Memegang/membawa al-Quran bagi wanita haid haram hukumnya kecuali saat ia menghawatirkan tersia-siakannya al-Qur'an\r( والرابع مس المصحف ) وهو اسم للمكتوب من كلام الله بين الدفتين ( وحمله ) إلا إذا خافت عليه ( قوله وهو ) أى المصحف وقوله اسم للمكتوب من كلام الله بين الدفتين أى بين دفتى المصحف وهذا التفسير ليس مرادا هنا وإنما المراد به هنا كل ما كتب عليه قرآن لدراسته ولو عمودا أو لوحا أو نحوهما الى أن قال .... والعبرة بقصد الكاتب إن كان يكتب لنفسه وإلا فقصد الآمر أو المستأجر\r[ Yang ke-empat dari hal yang diharamkan bagi wanita haid adalah memegang Mushaf ]. Mushaf ialah nama dari tulisan firman Allah diantara dua lampiran.\rJuga haram membawanya kecuali saat ia menghawatirkannya. (keterangan Mushaf ialah nama dari tulisan firman Allah diantara dua lampiran) yang dikehendaki adalah setiap perkara yang ditulis alQuran untuk dibaca meskipun berupa tiang, papan atau lainnya…. Pertibangannya diserahkankan pada penulis bila tujuan penulisannya untuk pribadi bila tidak maka diserahkan yang berwenang atau pun penyewa jasa. [ Haasyiyah al-Baajuri I/117 ].","part":1,"page":257},{"id":258,"text":"( و ) حمل ومس ( ما كتب لدرس قرآن ) ولو بعض آية ( كلوح فى الأصح ) لأنه كالمصحف وظاهر قولهم بعض آية أن نحو الحرف كاف وفيه بعد بل ينبغى فى ذلك البعض كونه جملة مفيدة\rDan haram membawa serta memegang tulisan quran untuk dibaca meskipun hanya sebagian ayat seperti halnya yang berupa papan menurut pendapat yang paling shahih karena ia seperti mushaf. (keterangan meskipun hanya sebagian ayat) tidak semacam huruf KAAF, pengertian ini terlalu jauh semestinya batasan dikatakan sebagian ayat adalah susunan kalimat yang berfaedah. [ Tuhfah al-Muhtaaj I/149 ].\r?…Membaca al-Quran bagi wanita haid juga haram hukumnya, kecuali bila tidak terdapat unsur qoshdul qiro?h (bertujuan membaca) seperti saat bertujuan membenarkan bacaan yang salah, mengajar, mencari keberkahan atau berdoa.\r( مسألة ى ) يكره حمل التفسير ومسه إن زاد على القرآن وإلا حرم. وتحرم قراءة القرآن على نحو جنب بقصد القراءة ولو مع غيرها لا مع الإطلاق على الراجح ولا بقصد غير القراءة كرد غلط وتعليم وتبرك ودعاء .\rMakruh membawa dan memegang Tafsir yang jumlahnya melebihi tulisan qurannya bila tidak maka haram. Dan haram membacanya bagi semisal orang junub bila bertujuan untuk membacanya meskipun alQurannya bersama tulisan lain tapi tidak haram baginya bila memutlakkan tujuannya menurut pendapat yang kuat dan juga tidak haram tanpa adanya tujuan membacanya seperti saat membenarkan bacaan yang salah, mengajar, mencari keberkahan dan berdoa. [ Bughyah al-Mustarsyidiin hal. 26 ].\r?…Memegang/membawa al-Quran yang ada tafsirnya bagi wanita haid haram hukumnya kecuali bila jumlah kalimat tafsirnya lebih banyak ketimbang huruf alQurannya","part":1,"page":258},{"id":259,"text":"Sedang memegang/membawa al-Quran yang ada terjemahnya muthlak haram kecuali saat ia menghawatirkan tersia-siakannya alQuran\rأما ترجمة المصحف المكتوبة تحت سطوره فلا تعطي حكم التفسير بل تبقى للمصحف حرمة مسه وحمله كما أفتى به السيد أحمد دحلان حتى قال بعضهم إن كتابة ترجمة المصحف حرام مطلقا سواء كانت تحته أم لا فحينئذ ينبغي أن يكتب بعد المصحف تفسيره بالعربية ثم يكتب ترجمة ذلك التفسير\rTerjemah Al-qur'an yang ditulis dibawahnya tidak bisa disamakan dengan hukum tafsir Quran (dimana kalau Qurannya lebih banyak ketimbang tafsirnya tidak boleh dipegang orang yang menanggung hadats), hukum yang berlaku untuk terjemah Alquran sama dengan alquran dalam arti tidak boleh dibawa/dipegang oleh orang hadats seperti yang difatwakan oleh Sayyid Ahmad dahlan, bahkan sebagian ulama menyatakan menterjemah Alquran dibawahnya atau dimana saja hukumnya haram secara mutlak, karena sebaiknya setelah alquran baru ditulis terjemahannya kemudian baru diterjemahkan tafsirnya (Nihaayah Azzain I/33). Wallaahu A'lamu Bis Showaab\r0727. Wanita HAID & AL-QURAN\rPERTANYAAN :\rSenja Kalanienk\rAssalamualaikum, Lagi nyari refrensi untuk ''boleh tidaknya wanita haidhl membaca alquran dan memegang alquran dengan terjemahan / tafsiran / syarah...'' silahkan ilmunya ustadz ustadzah,,\rJAWABAN :\rMasaji Antoro\rWANITA HAID & ALQURAN\r1. Memegang/membawa al-Quran bagi wanita haid haram hukumnya kecuali saat ia menghawatirkan tersia-siakannya al-Qur'an.","part":1,"page":259},{"id":260,"text":"( والرابع مس المصحف ) وهو اسم للمكتوب من كلام الله بين الدفتين ( وحمله ) إلا إذا خافت عليه ( قوله وهو ) أى المصحف وقوله اسم للمكتوب من كلام الله بين الدفتين أى بين دفتى المصحف وهذا التفسير ليس مرادا هنا وإنما المراد به هنا كل ما كتب عليه قرآن لدراسته ولو عمودا أو لوحا أو نحوهما الى أن قال .... والعبرة بقصد الكاتب إن كان يكتب لنفسه وإلا فقصد الآمر أو المستأجر\rYang No. 4 dari hal yang diharamkan bagi wanita haid adalah memegang Mushaf. Mushaf ialah nama dari tulisan firman Allah diantara dua lampiran. Juga haram membawanya kecuali saat ia menghawatirkannya. (keterangan Mushaf ialah nama dari tulisan firman Allah diantara dua lampiran) yang dikehendaki adalah setiap perkara yang ditulis alQuran untuk dibaca meskipun berupa tiang, papan atau lainnya…. Pertibangannya diserahkankan pada penulis bila tujuan penulisannya untuk pribadi bila tidak maka diserahkan yang berwenang atau pun penyewa jasa. [ Haasyiyah al-Baajuri I/117 ].\r( و ) حمل ومس ( ما كتب لدرس قرآن ) ولو بعض آية ( كلوح فى الأصح ) لأنه كالمصحف وظاهر قولهم بعض آية أن نحو الحرف كاف وفيه بعد بل ينبغى فى ذلك البعض كونه جملة مفيدة\rDan haram membawa serta memegang tulisan quran untuk dibaca meskipun hanya sebagian ayat seperti halnya yang berupa papan menurut pendapat yang paling shahih karena ia seperti mushaf. (keterangan meskipun hanya sebagian ayat) tidak semacam huruf KAAF, pengertian ini terlalu jauh semestinya batasan dikatakan sebagian ayat adalah susunan kalimat yang berfaedah. [ Tuhfah al-Muhtaaj I/149 ].\r2. Membaca al-Quran bagi wanita haid juga haram hukumnya.","part":1,"page":260},{"id":261,"text":"Kecuali bila tidak terdapat unsur qoshdul qiro?h (bertujuan membaca) seperti saat bertujuan membenarkan bacaan yang salah, mengajar, mencari keberkahan atau berdoa.\r( مسألة ى ) يكره حمل التفسير ومسه إن زاد على القرآن وإلا حرم. وتحرم قراءة القرآن على نحو جنب بقصد القراءة ولو مع غيرها لا مع الإطلاق على الراجح ولا بقصد غير القراءة كرد غلط وتعليم وتبرك ودعاء .\r[ Masalah ] Makruh membawa dan memegang Tafsir yang jumlahnya melebihi tulisan qurannya bila tidak maka haram. Dan haram membacanya bagi semisal orang junub bila bertujuan untuk membacanya meskipun alQurannya bersama tulisan lain tapi tidak haram baginya bila memutlakkan tujuannya menurut pendapat yang kuat dan juga tidak haram tanpa adanya tujuan membacanya seperti saat membenarkan bacaan yang salah, mengajar, mencari keberkahan dan berdoa. [ Bughyah al-Mustarsyidiin hal. 26 ].\r3. Memegang/membawa al-Quran yang ada tafsirnya bagi wanita haid haram hukumnya kecuali bila jumlah kalimat tafsirnya lebih banyak ketimbang huruf al-Qur'annya.\rSedang memegang/membawa al-Quran yang ada terjemahnya muthlak haram kecuali saat ia menghawatirkan tersia-siakannya alQuran\rأما ترجمة المصحف المكتوبة تحت سطوره فلا تعطي حكم التفسير بل تبقى للمصحف حرمة مسه وحمله كما أفتى به السيد أحمد دحلان حتى قال بعضهم إن كتابة ترجمة المصحف حرام مطلقا سواء كانت تحته أم لا فحينئذ ينبغي أن يكتب بعد المصحف تفسيره بالعربية ثم يكتب ترجمة ذلك التفسير","part":1,"page":261},{"id":262,"text":"Terjemah Alquran yang ditulis dibawahnya tidak bisa disamakan dengan hukum tafsir Quran (dimana kalau Qurannya lebih banyak ketimbang tafsirnya tidak boleh dipegang orang yang menanggung hadats), hukum yang berlaku untuk terjemah Alquran sama dengan alquran dalam arti tidak boleh dibawa/dipegang oleh orang hadats seperti yang difatwakan oleh Sayyid Ahmad dahlan, bahkan sebagian ulama menyatakan menterjemah Alquran dibawahnya atau dimana saja hukumnya haram secara mutlak, karena sebaiknya setelah alquran baru ditulis terjemahannya kemudian baru diterjemahkan tafsirnya (Nihaayah Azzain I/33). Wallaahu A'lamu Bis Showaab\r0769. Wanita Haid Tidak Wajib Mengqodho' Sholat\rPERTANYAAN :\rHasanul Zain\rAssalamu'alaikum wr wb...! permisi ada pertanyaan titipan wanita yang sedang haid diharamkan untuk sholat dan puasa romadhon, tapi kenapa setelah suci puasanya wajib di qodho,sedangkan sholatnya tidak wajib, kan sama-sama ibadah wajib... silahkan pencerahanipun syukron....\rJAWABAN :\rMasaji Antoro\rWa'alaikumsalam wr wb. KARENA BISA MENIMBULKAN MASYAQQAT BAGI WANITA BILA DIWAJIBKAN MENGQADHA SHALAT YANG IA TINGGALKAN SETIAP BULANNYA DI HARI-HARI HAID BERBEDA DENGAN PUASA...\r( قوله ويجب قضاؤه ) أي الصوم لخبر عائشة رضي الله عنها كنا نؤمر بقضاء الصوم ولا نؤمر بقضاء الصلاة أي للمشقة في قضائها لأنها تكثر ولم يبن أمرها على التأخير ولو بعذر بخلاف الصوم ( قوله بل يحرم قضاؤها ) أي الصلاة ولا يصح عند ابن حجر ويكره قضاؤها عند الرملي فعليه يصح وتنعقد الصلاة نفلا مطلقا من غير ثواب","part":1,"page":262},{"id":263,"text":"Dan wajib mengqadha puasanya berdasarkan hadits riwayat ‘Aisyah : “Kami (para wanita) diperintahkan mengqadha puasa dan tidak diperintahkan mengqadha shalat”. Karena dapat menimbulkan masyaqqat baginya bila diwajibkan mengqadha shalatnya sebab banyaknya shalat dan karena tidak dijelaskan dalam dalil nash hukum saat menunda qadha shalat meskipun karena halangan berbeda dalam hal qadha puasa. Bahkan menurut Ibn hajar mengqadha shalat haram baginya, shalatnya juga tidak sah sedang menurut Imam ar-Romli bila ia mengqadha shalatnya hukumnya makruh dan shalatnya menjadi shalat sunah muthlak tanpa pahala. [ I’aanah at-Thoolibiin I/70 ].\rLalu yang dimaksud dengan Masyaqqat itu apa ?\r(و) *!شق عليه الأمر يشق *!شقاً *!ومشقة إذا صعب عليه وثقل وشق عليه إذا أوقعه في *!المشقة والاسم *!الشق بالكسر قال الأزهري ومنه الحديث لولا أن *!أشق على أمتي لأمرتهم بالسواك عند كل صلاة المعنى لولا أن أثقل على أمتي من *!المشقة وهي الشدة قلت وكذا الآية وما أريد أن *!أشق عليك\rMasyaqqat = Kesulitan, Kesukaran, pemberatan (kangelan-java-pent,) Seperti dalam contoh hadits “Bila aku tidak khawatir akan masyaqqat atas umatku niscaya aku perintahkan mereka bersiwak setiap menjalankan shalat” artinya khawatir ‘memberatkan umatku’. Seperti juga dalam al-Quran :\rوَمَا أُرِيدُ أَنْ أَشُقَّ عَلَيْكَ} [28/27]\r“Maka aku tidak hendak memberati kamu” (QS. 28.27). [ Taaj al-‘Aruus 25/511 ].\r0973. WUDHU DAN BACA AL-QURAN BAGI WANITA HAID\rPERTANYAAN\rDé??dr? Sh?lsh?by\r[ KONTROVERSI ] Barusan saya..menghadiri kajian..trs ada yang tanya\r1. Bolehkah berwudhu bagi wanita haid..?","part":1,"page":263},{"id":264,"text":"2 .Bolehkah wanita haid itu membaca ,memegang dan melafal Al qur'an dalam 1 mushaf,?\rAlasan yang membolehkan.. Haid adalah fitrah.. tidak boleh karena kotor..(tidak suci). walau badan kita bersih. Ini yang saya dengar tadi.. Terus jelasnya macam mana.!\rJAWABAN\rMasaji Antoro\r1. WUDHU WANITA HAID\r> Bila wudhunya untuk menghilangkan hadats atau untuk ibadah maka haram karena akan menimbulkan TANAAQUD (fungsi wudhu bertentangan dengan keadaannya yang sedang hadats) dan menimbulkan TALAA'UB (mempermainkan ibadah sebab dia tahu wudhunya tidak bisa menghilangkan hadats berupa haidnya)\r> Bila wudhunya untuk menghilangkan hadats atau untuk ibadah setelah berhentinya darah maka sunnah karena fungsinya TAQLIIL ALHADATS (meringankan dan mengecilkan hadats) dan NASYAATH LI ALGHUSLI (Untuk merangsang segera mandi)\r> Bila wudhunya tidak untuk menghilangkan hadats/ibadah melainkan wudhu yang tujuannya untuk 'AADAH/kebiasaan seperti Tabarrud (menyejukkan dirinya) dan nazhoofah (kebersihan) maka sunnah karena fungsi rof'i alhadats (menghilangkan hadats) atau taqliil alhadats (meringankan/mengecilkan hadats tidak terjad dalam wudhu semacam inii dan tidak menimbulkan tanaaqud (fungsi wudhu bertentangan dengan keadaannya yang sedang hadats)\rReferensi dari :\rوللحائض بعد انقطاع حيضها الوضوء لنوم أو أكل أو شرب أو جماع أو نحو ذلك تقليلا للحدث وهذا الوضوء لا تبطله نواقض الوضوء كالبول ونحوه وإنما يبطله جماع آخر ولهذا يلغز فيقال لنا وضوء لا تبطله الأحداث\rAljamal I/486\rأما الطهارة المقصودة للتنظيف كأغسا...ل الحج فإنها تأتي بها\ralMughni I/110","part":1,"page":264},{"id":265,"text":"ومما يحرم عليها أي الحائض الطهارة عن الحدث بقصد التعبد مع علمها بالحرمة لتلاعبها فإن كان المقصود النظافة كأغسال الحج لم يمتنع\rفِي ( عب ) : مِثْلُهُ الْحَائِضُ بَعْدَ انْقِطَاعِ الدَّمِ لَا قَبْلَهُ وَهَذَا عَلَى أَنَّ الْعِلَّةَ رَجَاءُ نَشَاطِهِ لِلْغُسْلِ\rهذا الذى ذكرناه من أنه لا تصح طهارة حائض هو في طهارة لرفع حدث سواء كانت وضوءا أو غسلا واما الطهارة المسنونة للنظافة كالغسل للاحرام والوقوف ورمى الجمرة فمسونة للحائض بلا خلاف\rAlmajmuu’ II/349\r1 - تحرم على الحائض والنفساء الطهارة بنية رفع الحدث أو نية العبادة كغسل الجمعة أما الطهارة المسنونة للنظافة كالغسل للإحرام وغسل العيد ونحوه من الأغسال المشروعة التي لا تفتقر إلى طهارة فلا تحرم والدليل عليه قوله صلى الله عليه و سلم لعائشة رضي الله عنها حين حاضت في الحج : ( افعلي كما يفعل الحاج غير أن لا تطوفي بالبيت حتى تطهري ) ( البخاري ج 2 / كتاب الحج باب 80 / 1567 )\rFiqh al-Ibaadaat li as-Syaafi’I I/200\rمثلاً الوضوء يكون عبادة إذا قصد به التوصل للعبادة كالصلاة والطواف ونحوهما مما يفتقر إلى ذلك، ويكون عادة للنظافة والتبرد ونحوهما، فإذا نوى استباحة الصلاة باستعمال الماء في أعضاء الوضوء، أو فرض الغسل، صح الوضوء.\rFiqh al-Islaam wa adillatuh I/146\r1 - يغتسل تنظفاً، أو يتوضأ، والغسل أفضل؛ لأنه أتم نظافة، ولأنه عليه الصلاة والسلام اغتسل لإحرامه (1) ، وهو للنظافة لا للطهارة، ولذا تفعله المرأة الحائض والنفساء، لما روى ابن عباس مرفوعاً إلى النبي صلّى الله عليه وسلم : «أن النفساء والحائض تغتسل وتُحرم، وتقضي المناسك كلها، غير أن لا تطوف بالبيت» (2) وأمر النبي صلّى الله عليه وسلم أسماء بنت عميس، وهي نفساء أن تغتسل (3) .\r__________","part":1,"page":265},{"id":266,"text":"(1) رواه الدارمي والترمذي وغيرهما عن زيد بن ثابت: أن رسول الله صلّى الله عليه وسلم اغتسل لإحرامه (نصب الراية: 17/3).\r(2) رواه أبو داود والترمذي عن ابن عباس (نيل الأوطار: 303/4).\r(3) رواه مسلم عن جابر.\rFiqh al-Islaam wa adillatuh III/503 :\rوقيس بالجنب الحائض والنفساء إذا انقطع دمهما وبالأكل والشرب والحكمة في ذلك تخفيف الحدث غالبا والتنظيف وقيل لعله ينشط للغسل\ralMughni I/63 :\rوَسُئِلَ نَفَعَ اللَّهُ بِهِ بِمَا صُورَتُهُ إذَا أتى الْمُغْتَسِلُ بِالْأَكْمَلِ في الْغُسْلِ وَقَدَّمَ الْوُضُوءَ فَهَلْ يُسْتَحَبُّ له أَنْ يَنْوِي عِنْدَ غَسْلِ الْكَفَّيْنِ نِيَّةَ رَفْعِ الْجَنَابَةِ وَنِيَّةَ رَفْعِ الْحَدَثِ الْأَصْغَرِ إنْ لم تَتَجَرَّدْ جَنَابَتُهُ عنه أو نِيَّةُ الْغُسْلِ إنْ تَجَرَّدَتْ وَيَسْتَصْحِبُ نِيَّةَ كُلٍّ مِنْهُمَا إلَى فَرَاغِهِ كما هو مُقْتَضَى كَلَامِهِمْ أو يَكْتَفِي بِنِيَّةِ الْغُسْلِ عن الْجَنَابَةِ أو ما الْحُكْمُ فيها فَأَجَابَ بِقَوْلِهِ إنَّ جَنَابَتَهُ تَارَةً تَتَجَرَّدُ عن الْحَدَثِ الْأَصْغَرِ كَأَنْ يَلُوطَ أو يَطَأَ بَهِيمَةً أو يُنْزِلَ بِنَحْوِ ضَمِّ امْرَأَةٍ بِحَائِلٍ وَحِينَئِذٍ فَيَنْوِي بِالْوُضُوءِ سُنَّةَ الْغُسْلِ وَتَارَةً لَا تَتَجَرَّدُ وَحِينَئِذٍ فَيَنْوِي بِهِ رَفْعَ الْحَدَثِ الْأَصْغَرِ وَإِنْ قُلْنَا إنَّهُ يَنْدَرِجُ في الْغُسْلِ خُرُوجًا من خِلَافِ من أَوْجَبَهُ وَتَصْرِيحُ ابن الرِّفْعَةِ كَابْنِ خَلَفٍ الطَّبَرِيِّ بِمَا ظَاهِرُهُ يُخَالِفُ ذلك مُؤَوَّلٌ وَلَيْسَتْ النِّيَّةُ الْمَذْكُورَةُ في الْقِسْمَيْنِ وَاجِبَةٌ بَلْ مَنْدُوبَةٌ في أَوَّلِ كُلٍّ وَلَا يُشْتَرَطُ اسْتِصْحَابُهَا إلَى آخِرِهِ قِيَاسًا على نَحْوِ الطَّوَافِ في الْحَجِّ لِشُمُولِ نِيَّةِ الْغُسْلِ لِلْوُضُوءِ وَقَوْلُ الْإِسْنَوِيِّ لَا يُتَصَوَّرُ شُمُولُ","part":1,"page":266},{"id":267,"text":"نِيَّةِ الْغُسْلِ لِلْوُضُوءِ لِأَنَّهُ إذَا نَوَى رَفْعَ الْحَدَثِ ارْتَفَعَتْ الْجَنَابَةُ عن الْمَغْسُولِ من أَعْضَاءِ الْوُضُوءِ فَيَكُونُ الْمَأْتِيُّ بِهِ غُسْلًا لَا وُضُوءً غَلَطٌ كما قَالَهُ الزَّرْكَشِيُّ لِأَنَّ رَفْعَ الْجَنَابَةِ لَا يُنَافِي الْإِتْيَانَ بِصُورَةِ الْوُضُوءِ\rوإذا تَقَرَّرَ أَنَّ حُصُولَ صُورَتِهِ لَا يُنَافِي ارْتِفَاعَ الْجَنَابَةِ في أَعْضَائِهِ فَبَحَثَ ابن الرِّفْعَةِ عَدَمَ ارْتِفَاعِهَا لِأَنَّهُ غَسَلَهَا بِنِيَّةِ السُّنَّةِ يُرَدُّ بِأَنَّ قَصْدَ ذلك لَا يُنَافِي نِيَّةَ رَفْ\r2. WANITA HAID & ALQURAN\r• Memegang/membawa al-Quran bagi wanita haid haram hukumnya kecuali saat ia menghawatirkan tersia-siakannya alQuran\r( والرابع مس المصحف ) وهو اسم للمكتوب من كلام الله بين الدفتين ( وحمله ) إلا إذا خافت عليه ( قوله وهو ) أى المصحف وقوله اسم للمكتوب من كلام الله بين الدفتين أى بين دفتى المصحف وهذا التفسير ليس مرادا هنا وإنما المراد به هنا كل ما كتب عليه قرآن لدراسته ولو عمودا أو لوحا أو نحوهما الى أن قال .... والعبرة بقصد الكاتب إن كان يكتب لنفسه وإلا فقصد الآمر أو المستأجر\rYang No. 4 dari hal yang diharamkan bagi wanita haid adalah memegang Mushaf\rMushaf ialah nama dari tulisan firman Allah diantara dua lampiran.\rJuga haram membawanya kecuali saat ia menghawatirkannya\r(keterangan Mushaf ialah nama dari tulisan firman Allah diantara dua lampiran) yang dikehendaki adalah setiap perkara yang ditulis alQuran untuk dibaca meskipun berupa tiang, papan atau lainnya…. Pertibangannya diserahkankan pada penulis bila tujuan penulisannya untuk pribadi bila tidak maka diserahkan yang berwenang atau pun penyewa jasa. [ Haasyiyah al-Baajuri I/117 ].","part":1,"page":267},{"id":268,"text":"( و ) حمل ومس ( ما كتب لدرس قرآن ) ولو بعض آية ( كلوح فى الأصح ) لأنه كالمصحف وظاهر قولهم بعض آية أن نحو الحرف كاف وفيه بعد بل ينبغى فى ذلك البعض كونه جملة مفيدة\rDan haram membawa serta memegang tulisan quran untuk dibaca meskipun hanya sebagian ayat seperti halnya yang berupa papan menurut pendapat yang paling shahih karena ia seperti mushaf.\r(keterangan meskipun hanya sebagian ayat) tidak semacam huruf KAAF, pengertian ini terlalu jauh semestinya batasan dikatakan sebagian ayat adalah susunan kalimat yang berfaedah. [ Tuhfah al-Muhtaaj I/149 ].\r• Membaca al-Quran bagi wanita haid juga haram hukumnya kecuali bila tidak terdapat unsur qoshdul qiro?h (bertujuan membaca) seperti saat bertujuan membenarkan bacaan yang salah, mengajar, mencari keberkahan atau berdoa.\r( مسألة ى ) يكره حمل التفسير ومسه إن زاد على القرآن وإلا حرم. وتحرم قراءة القرآن على نحو جنب بقصد القراءة ولو مع غيرها لا مع الإطلاق على الراجح ولا بقصد غير القراءة كرد غلط وتعليم وتبرك ودعاء .\rMakruh membawa dan memegang Tafsir yang jumlahnya melebihi tulisan qurannya bila tidak maka haram.\rDan haram membacanya bagi semisal orang junub bila bertujuan untuk membacanya meskipun alQurannya bersama tulisan lain tapi tidak haram baginya bila memutlakkan tujuannya menurut pendapat yang kuat dan juga tidak haram tanpa adanya tujuan membacanya seperti saat membenarkan bacaan yang salah, mengajar, mencari keberkahan dan berdoa. [ Bughyah al-Mustarsyidiin hal. 26 ].\r• Memegang/membawa al-Quran yang ada tafsirnya bagi wanita haid haram hukumnya kecuali bila jumlah kalimat tafsirnya lebih banyak ketimbang huruf alQurannya","part":1,"page":268},{"id":269,"text":"Sedang memegang/membawa al-Quran yang ada terjemahnya muthlak haram kecuali saat ia menghawatirkan tersia-siakannya alQuran\rأما ترجمة المصحف المكتوبة تحت سطوره فلا تعطي حكم التفسير بل تبقى للمصحف حرمة مسه وحمله كما أفتى به السيد أحمد دحلان حتى قال بعضهم إن كتابة ترجمة المصحف حرام مطلقا سواء كانت تحته أم لا فحينئذ ينبغي أن يكتب بعد المصحف تفسيره بالعربية ثم يكتب ترجمة ذلك التفسير\rTerjemah Alquran yang ditulis dibawahnya tidak bisa disamakan dengan hukum tafsir Quran (dimana kalau Qurannya lebih banyak ketimbang tafsirnya tidak boleh dipegang orang yang menanggung hadats), hukum yang berlaku untuk terjemah Alquran sama dengan alquran dalam arti tidak boleh dibawa/dipegang oleh orang hadats seperti yang difatwakan oleh Sayyid Ahmad dahlan, bahkan sebagian ulama menyatakan menterjemah Alquran dibawahnya atau dimana saja hukumnya haram secara mutlak, karena sebaiknya setelah alquran baru ditulis terjemahannya kemudian baru diterjemahkan tafsirnya (Nihaayah Azzain I/33). Wallaahu A'lamu Bis Showaab\rNur Hasyim S. Anam\rBoleh baca al-Qur'an bagi orang haid atau junub dengan niat dzikir\rولا فرق بين ما لا يوجد نظمه الا فيه كآية الكرسي وسورة الاخلاص وبينما يوجد فيه وفي غيره على المعتمد عند العلامة م ر تبعا لوالده وهو الاقرب ... قال الشيخ الخطيب أفتى الشيخ السهاب الرملي أنه لو قرأ القرأن جميعه لا بقصد القرأن جاز وهو المعتمد ... ومعنى عدم القصد أن يقصد بالقراءة التعبد لاننا متعبدون بذكر القرآن جميعه ... وهل يشترط في قصد الذكر بالقراءة ملاحظة الذكر في جميع القراءة قياسا على تكبير الانتقالات أو يكفي قصد الذكر في الأول وان غفل عنه في الأثناء فيه نظر والاقرب الثاني اهـ حاشية الجمل 1/157","part":1,"page":269},{"id":270,"text":"Dan tidak ada beda antara ayat yang tidak ada pemakainnya kecuali di dalam al-Qur’an semisal ayat kursi dan surat al-ikhlash dan ayat yang biasa dipakai di selain al-qur’an (semisal hamdalah atau basmalah) menurut pendapat yang Mu’tamad (yang bisa dibuat pegangan) yang dikemukakan oleh Imam Romli mengikuti pendapat ayahnya. Pendapat inilah yang lebih dekat.\rBerkata syekh Khotib : Berfatwa syekh as-Syihab al-Romli bahwasannya jika membaca al-Qur’an selururhnya tidak dengan tujuan baca al-Qur’an boleh, dan inilah pendapat yang mu’tamad.\rYang dimaksud dengan “tidak dengan tujuan baca al-Qur’an” ialah membaca al-Qur’an dengan tujuan ibadah. Karena kita bisa beribadah dengan dzikir al-Qur’an seluruhnya.\rApakah dalam niat dzikir ini harus ingat niat tersebut pada seluruh bagiannya diqiyaskan dengan niat takbir pada saat takbir intiqal? Ataukah cukup dengan niat dzikir di awalnya saja walaupun di pertengahan lupa? Dalam masalah ini terjadi pemikiran, dan yang lebih mendekati “benar” adalah yang kedua\r1126. DARAH ISTIHADLOH","part":1,"page":270},{"id":271,"text":"Yang dinamakan darah istihadloh adalah darah penyakit yang keluar dari vagina perempuan dibukan harinya haid, artinya kurang dari sehari semalam atau lebih dari lima belas hari, dan bukan diharinya nifas, artinya melewati enam puluh hari. Perempuan yang mengeluarkan darah istihadloh dinamakan perempuan mustahadloh, yang hukumnya sama seperti orang yang beser (selalu mengeluarkan hadats), artinya masih berkewajiban melakukan sholat dan puasa boleh disetubuhi karena dlarurat, sebelum berwudlu wajib mencuci vaginanya dan jika dalam keadaan tidak berpuasa wajib bagi dia untuk menyumbat vaginanya dengan kapas atau yang lain, mengikatnya dengan kencang, dan wajib cepat-cepat melakukan sholat. Seandainya tidak cepat-cepat sholat maka dia wajib mengulang wudlunya, selama tidak cepat-cepatnya dia sholat itu bukan karena kemaslahatan sholat seperti menutup aurat dan menanti berjama’ah. Dan wudlunya harus dilakukan setelah masuknya waktu sholat dan hanya untuk satu sholat fardlu dan boleh melakukan sholat sunnah sebanyak yang dia mau. Setiap satu fardlu, wajib bagi dia untuk memperbaharui wudlunya, mencuci vaginanya, menyumbat dan lain-lainya, sekiranya banyak terkena darah.\r(Muhimmah):","part":1,"page":271},{"id":272,"text":"Seandainya darah istihadloh berhenti setelah wudlu, maka perempuan itu harus mengulang mencuci vaginanya, mengulang wudlunya dan wajib mengulang sholat yang dilakukan dengan menggunakan wudlu yang pertama. Demikian itu, sekiranya didalam berhentinya darah itu cukup untuk melakukan bersuci dan sholat, sebab darah itu tidak keluar lagi atau keluar lagi tapi didalam masanya darah tidak keluar masih cukup untuk bersuci dan sholat. Namun seandainya didalam masanya darah tidak keluar itu tidak cukup untuk melakukan bersuci dan sholat, maka dia tidak diwajibkan untuk mengulang bersuci dan sholatnya.Wallahu a’lam.\rPembagian mustahadloh\rSeandainya ada perempuan mengeluarkan darah haid selama 2 hari kemudian berhenti selama 10 hari lalu keluar lagi selama 3 hari, maka itu semua dinamakan haid, meskipun hari tidak keluarnya darah juga dihukumi haid. Seandainya ada perempuan mengeluarkan darah selama 3 hari kemudian berhenti selama 12 hari lalu keluar lagi selama 3 hari, maka darah yang keluar pada 3 hari yang terakhir dinamakan darah istihadloh. Adapun darah yang keluar pada 3 hari yang pertama dan 12 hari yang ada ditengah dinamakan haid. Seandainya ada perempun mengeluarkan darah lebih dari 15 hari, maka perlu dilihat terlebih dahulu, karena perempauan yang mengeluarkan darah itu ada kalanya :\r1. Mubtada’ah mumayyizah, artinya baru mengeluarkan darah dan dia bisa membedakan darah kuat dan darah lemah.\r2. Mubtada’ah ghoiru mumayyizah, artinya baru mengeluarkan darah dan dia tidak bisa membedakan darah kuat dan lemah, namun diketahuinya darah hanya satu sifat.","part":1,"page":272},{"id":273,"text":"3. Mu’tadah ghoiru mumayyizah, artinya sudah pernah haid dan suci serta dia mengingat pada kira-kiranya waktu haid dan suci, namun tahuya dia pada darah hanya satu sifat.\r4. Mu’tadah mumayyizah, artinya sudah pernah haid dan suci, dan dia bisa membedakan darah kuat dan lemah.\r5. Mutahayyiroh, artinya sudah pernah haid dan suci, dan dia lupa pada kira-kiranya haid atau waktunya haid atau lupa pada kira-kiranya dan waktunya haid.\rJika yang mengeluarkan darah adalah mubtada’ah mumayyizah, maka darah yang dihitung sebagai haid adalah darah yang kuat, jika keluarnya darah itu tidak kurang dari sehari semalam dan tidak melebihi 15 hari. Dan darah yang dihitung istihdloh adalah darah yang lemah, jika keluarnya darah itu tidak kurang dari 15 hari secara berurutan.\rJadi, jika ada perempuan baru mengeluarkan darah dan berwarna hitam selama 6 hari lalu mengeluarkan darah merah selama 15 hari ke atas, maka yang dihitung sebagai haid adalah darah hitam selama 6 hari sedangkan darah merah dihitung istihadloh.\rJika ada perempuan baru mengeluarkan darah dan berwarna hitam selama 5 hari lalu mengeluarkan darah merah selama 5 hari kemudian mengeluarkan darah merah kekuning-kuningan selama 5 hari lalu mengeluarkan darah kuning secara terus menerus, maka yang dihitung sebagai haid adalah darah hitam, darah merah dan darah merah kekuning-kuningan, sedangkan darah kuning dihitung istihadloh.","part":1,"page":273},{"id":274,"text":"Jika ada perempuan baru mengeluarkan darah dan berwarna merah selama 5 hari lalu mengeluarkan darah hitam selama 5 hari lalu mengeluarkan darah merah lagi terus-terusan sampai akhir satu bulan, maka yang dihitung sebagai haid adalah darah hitam selama 5 hari yang ada ditengah.\rJika ada perempuan baru mengeluarkan darah dan berwarna merah selama 15 hari lalu mengeluarkan darah hitam selama 15 hari, maka yang dihitung sebagai haid adalah darah hitam selama 15 hari.\rJika adaperempuan baru mengeluarkan darah dan berwarna hitam selama 10 hari lalu mengeluarkan darah merah selama 6 hari, maka yang dihitung sebagai haid adalah darah hitam selama 10 hari.\rJika ada perempuan baru mengeluarkan darah dan berwarna hitam selama 5 hari lalu mengeluarkan darah merah selama 5 hari lalu mengeluarkan darah kuning terus-terusan, maka yang dihitung sebagai haid adalah darah hitam selama 5 hari dan darah merah 5 hari.darah\rJika ada perempuan baru mengeluarkan darah dan berwarna hitam selama 5 hari lalu mengeluarkan darah kuning selama 5 hari lalu mengeluarkan darah merah terus-terusan, maka yang dihitung haid adalah darah hitam selama 5 hari.\rJika ada perempuan baru mengeluarkan darah dan berwarna hitam sehari semalam lalu berhenti sehari semalam lalu mengeluarkan darah hitam lagi sehari semalam lalu berhenti lagi sehari semalam seperti itu berlangsung sampai 15 hari lalu mengeluarkan darah merah terus-terusan sampai 15 hari, maka yang dihitung sebagai haid adalah 15 hari yang pertama.","part":1,"page":274},{"id":275,"text":"Jika ada perempuan baru mengeluarkan darah dan berwarna hitam selama sehari semalam lalu mengeluarkan darah merah sehari semalam lalu mengeluarkan darah hitam lagi sehari semalam lalu mengeluarkan darah merah lagi sehari semalam, bergantian sampai 15 hari, kemudian keluar darah merah terus-terusan, maka yang dihitung sebagai haid adalah 15 hari yang pertama.\rJika yang mengeluarkan darah istihadloh adalah mubtada’ah ghoiru mumayyizah atau mumayyizah, artinya perempuan yang baru mengeluarkan darah dan tidak tahu bedanya darah atau tahu bedanya darah tapi dia tidak menetapi syaratnya mengembalikan pada membedakan darah, maka jika terjadi seperti itu yang dihitung haid hanyalah sehari semalam dan 29 hari sisanya dihitung suci, jika perempuan itu tahu waktunya permulaannya darah. Dan jika dia tidak tahu waktu permulaannya darah, maka dia seperti wanita mutahayyiroh yang nanti akan dijelaskan. Insya Allah.\rJika ada perempuan baru mengeluarkan darah dan darah keluar secara terus-terusan tanpa terputus dan dia masih ingat permulaan keluarnya darah, maka yang dihitung haid hanya sehari semalam. Tapi dia supaya bersabar terlebih dahulu jangan keburu mandi dan sholat sampai 15 hari didalam bulan pertama, mungkin nanti darahnya akan berhenti. Dan setelah lewat 15 hari maka supaya dia mandi wajib dan mengqodlo’ sholat yang ketinggalan sehari semalam. Sedangkan dibulan kedua supaya dia mandi setelah lewatnya sehari semalam.","part":1,"page":275},{"id":276,"text":"Jika ada perempuan baru mengeluarkan darah dan berwarna hitam selama kurang dari sehari semalam lalu mengeluarkan darah merah terus-terusan, maka yang dihitung haid hanya sehari semalam.\rJika ada perempuan baru mengeluarkan darah dan berwarna hitam selama sehari semalam lalu keluar darah merah selama 14 hari lalu keluar darah hitam sehari semalam, maka yang dihitung haid adalah sehari semalam yang pertama.\rJika ada perempuan baru mengeluarkan darah dan berwarna merah yang keluarnya darah itu sampai 15 hari lalu keluar darah hitam terus-terusan, maka yang dihitung haid adalah sehari semalam setiap bulannya.\rJika yang mengeluarkan darah istihadloh adalah perempuan mu’tadah ghoiru mumayyizah, artinya perempuan yang sudah pernah haid dan suci, dan dia masih ingat pada haid dan sucinya namun tidak bisa membedakan darah, maka yang seperti itu yang dihitung haid adalah kebiasaan dia mengeluarkan darah, jika kebiasaan dia mengeluarkan darah adalah cocok (artinya tidak berbeda), atau berbeda kebiasaannya tapi masih urut dan dia tahu urutannya, seperti ada perempuan sudah pernah mengeluarkan darah selama 6 hari dan suci 24 hari lalu tiba-tiba dia mengeluarkan darah lebih dari 15 hari, maka yang dihitung haid adalah darah 6 hari saja.","part":1,"page":276},{"id":277,"text":"Jika ada perempuan sudah pernah mengeluarkan darah haid selama 7 hari dan suci 23 hari, lalu tiba-tiba dia mengeluar-kan darah istihadloh, maka yang dihitung haid adalah 7 hari. tetapi dipermulaan dia mengeluarkan darah istihadloh dia jangan mandi dan sholat dahulu sampai lewat 15 hari. Dan setelah lewat 15 hari maka dia mandi dan mengqodlo’ sholat yang tertinggal selama 7 hari. Sedangkan dibulan kedua supaya dia mandi setelah lewatnya masa kebiasaan dia haid, yaitu 7 hari.\rJika ada perempuan mengeluarkan darah haid dibulan pertama selama 3 hari, dibulan kedua 5 hari, dibulan ketiga 7 hari, dibulan keempat 3 hari lagi, dibulan kelima 5 hari dan dibulan keenam 7 hari kemudian dibulan ketujuh dia mengeluarkan darah istihadloh, maka yang dihitung haid adalah 3 hari, dibulan kedelapan yang dihitung haid adalah 5 hari dan dibulan kesembilan yang dihitung haid adalah 7 hari dan begitu seterusnya sesuai dengan putaran, seandainya dia masih ingat urutannya.\rDan jika masa kebiasaan keluarnya darah tidak urut dan dia tidak ingat pada giliran yang terakhir atau urut tapi tidak berulang-ulang putarannya dan dia tidak ingat urutannya, maka yang dihitung haid adalah giliran yang paling sedikit. Jadi, dia mandi ketika lewat giliran yang paling sedikit, tapi dia juga harus mandi lagi setelah sampai pada giliran yang kedua dan mandi lagi setelah lewat giliran ketiga untuk berhati-hati seandainya berhentinya darah seperti kebiasaan giliran kedua dan ketiga.","part":1,"page":277},{"id":278,"text":"Misalnya, jika ada perempuan mengeluarkan darah haid di bulan pertama 3 hari, dibulan kedua 5 hari, dibulan ketiga 7 hari, di bulan keempat 7 hari, dibulan kelima 3 hari dan dibulan keenam 5 hari kemudian dibulan ketujuh dia mengeluarkan darah istihadloh dan dia lupa pada giliran yang terakhir, maka yang dihitung haid adalah giliran yang paling sedikit, yaitu 3 hari. Jadi, dia harus mandi setelah lewatnya 3 hari dan mandi lagi setelah lewatnya 5 hari dan mandi lagi setelah lewatnya 7 hari.\rJika ada perempuan dibulan pertama mengeluarkan darah haid 5 hari, bulan kedua 7 hari, bulan ketiga 9 hari lalu dibulan keempat dia mengeluarkan darah istihadloh dan dia lupa pada giliran yang terakhir, maka yang dihitung haid adalah 5 hari.\rJika ada perempuan mengeluarkan darah haid dibulan pertama 3 hari, dibulan kedua 5 hari, dibulan ketiga 7 hari, dibulan keempat kembali 3 hari, dibulan kelima 5 hari, dibulan keenam 7 hari kemudian dibulan ketujuh dia mengeluarkan istihadloh dan dia lupa pada urutan keluarnya darah yang telah lalu, artinya dia tidak ingat pada urutan kebiasaan keluarnya darah, maka yang dihitung haid adalah 3 hari. Jadi, dia harus mandi setelah berlalunya 3 hari dan mandi lagi setelah 5 hari dan mandi lagi setelah 7 hari.","part":1,"page":278},{"id":279,"text":"Jika ada perempuan mengeluarkan darah haid dibulan pertama 5 hari, dibulan kedua 7 hari, dibulan ketiga 9 hari, di bulan keempat kembali 9 hari, dibulan kelima 5 hari, dibulan keenam 7 hari kemudian di bulan ketujuh dia mengeluarkan istihadloh dan dia masih ingat pada giliran yang terakhir, maka yang dihitung haid adalah giliran yang terakhir, yaitu 7 hari.\rJika ada perempuan mengeluarkan darah haid dibulan pertama 3 hari, dibulan kedua 5 hari, dibulan ketiga 7 hari lalu di bulan keempat dia mengeluarkan istihadloh dan dia masih ingat pada giliran yang terakhir, maka yang dihitung haid adalah giliran yang terakhir, yaitu 7 hari.\r(Far’u):\rJika ada perempuan biasanya kalau haid selama 7 hari. Tiba-tiba dia mengeluarkan darah sampai 15 hari, maka 15 hari itu semuanya dihitung haid.\rJika ada perempuan biasanya kalau haid selama 6 hari lalu dia mengeluarkan darah sehari semalam lalu berhenti sehari semalam kemudian keluar lagi sehari semalam, seperti itu terjadi hingga 15 hari, maka semuanya dihitung haid.\rJika ada perempuan mengeluarkan darah 3 hari lalu berhenti 3 hari kemudian keluar lagi 12 hari, maka yang dihitung haid adalah darah 3 hari yang ada didepan.\rJika ada perempuan mengeluarkan darah 12 hari lalu berhenti 3 hari kemudian keluar lagi 3 hari, maka yang dihitung haid adalah darah 12 hari yang ada didepan.","part":1,"page":279},{"id":280,"text":"Jika yang mengeluarkan darah istihadloh adalah mu’tadah mumayyizah, artinya perempuan yang sudah pernah haid, artinya sudah punya kebiasaan haid, dan dia tahu bedanya darah, maka yang dihukumi haid adalah darah yang kuat bukan kebiasaan dia mengeluarkan darah, yaitu sekiranya antara kebiasaannya dan darah kuat itu tidak diselani 15 hari keatas. Dan jika diselani 15 hari ke atas, maka yang dihitung haid adalah kira-kiranya kebiasaan, seperti permasalahan dibawah ini :\rJika ada perempuan kebiasaan dia haid adalah 5 hari, tiba-tiba dia mengeluarkan darah hitam selama 10 hari lalu mengeluarkan darah merah 20 hari, maka yang dihitung haid adalah darah hitam 10 hari.\rJika ada perempuan kebiasaan dia haid adalah 5 hari, tiba-tiba setelah dia mengeluarkan darah kebiasaannya selama 5 hari dia\rmengeluarkan darah merah 20 hari lalu mengeluarkan darah hitam 5 hari lalu darah merah lagi 5 hari, maka yang dihitung haid adalah 5 hari yang didepan, karena sudah menjadi kebiasaan, dan darah hitam 5 hari yang ada dibelakang, karena kuatnya darah. Adapun darah merah 20 hari dihitung istihadloh.\rJika ada perempuan kebiasaan dia haid adalah 5 hari, tiba-tiba setelah dia mengeluarkan darah kebiasaannya selama 5 hari dia\rmengeluarkan darah lebih kuat terus-terusan, maka yang dihitung haid adalah darah kebiasaan 5 hari setiap bulan.\rJika ada perempuan kebiasaan dia haid adalah 15 hari, tiba-tiba setelah dia mengeluarkan darah kebiasaannya selama 15 hari dia mengeluarkan darah lebih kuat 15 hari lagi, maka yang dihitung haid adalah darah yang lebih kuat.","part":1,"page":280},{"id":281,"text":"Jika ada perempuan kebiasaan dia haid adalah 15 hari, tiba-tiba setelah dia mengeluarkan darah kebiasaannya selama 15 hari dia mengeluarkan darah lebih kuat terus-terusan, maka dia jangan mandi dahulu menanti sampai 45 hari, yaitu kumpulnya dengan darah kebiasaan 15 hari. Setelah sampai 45 hari, maka dia mandi wajib lalu mengqodlo’ sholat 15 hari yang ada ditengah, sedangkan darah 15 hari yang ada di depan dan belakang dihitung haid.\rJika ada perempuan kebiasaan haidnya 5 hari. Di situ dia mengeluarkan darah 5 hari lalu berhenti 14 hari lalu keluar lagi terus-terusan, maka darah 5 hari itu dihitung haid, darah sehari semalam setelah 14 hari dihitung istihadloh dan 5 hari setelah sehari semalam itu termasuk haid dan 15 hari setelah 5 hari itu dihitung istihadloh dan seperti itu seterusnya.\r(Far’u):\rSeandainya ada perempuan mengeluarkan darah hitam 7 hari lalu mengeluarkan darah merah 7 hari lalu mengeluarkan darah hitam lagi 7 hari, maka yang dihitung haid adalah darah hitam 7 hari yang ada didepan dan darah merah 7 hari ditengah.","part":1,"page":281},{"id":282,"text":"Jika yang mengeluarkan darah istihadloh adalah perempuan mutahayyiroh, artinya perempuan yang punya kebiasaan haid dan dia lupa pada kira-kira kebiasaannya atau waktunya, maka hukumnya sama seperti perempuan haid (di dalam keharaman disetubuhi, dijadikan untuk bersenang-senang, membaca al Qur’an diselain sholat, membawa mushaf dan menyentuhnya), tetapi tidak haram dicerai, melakukan ibadah yang ada niatnya seperti sholat, puasa dan thowaf, baik fardlu maupun sunnah. Dan lagi dia harus mandi untuk setiap fardlu setelah masuk waktunya fardlu, jika dia tidak ingat waktunya berhenti ketika belum istihadloh.\rJika dia ingat waktunya berhenti, seperti misalnya waktu terbenamnya matahari, maka dia harus mandi sewaktu matahari terbenam kemudian cepat-cepat melakukan sholat maghrib. Jika dia tidak cepat-cepat melakukan sholat maghrib maka dia harus wudlu, sekiranya tidak cepat-cepatnya dia itu bukan karena kemaslahatan sholat, dan dia harus wudlu untuk setiap fardlu.\rDan lagi perempuan mutahayyiroh itu harus tetap melakukan puasa ramadlan, karena ada kemungkinan sucinya dia, kemudian puasa lagi sebulan penuh (yaitu 30 hari). dan hasil puasanya setiap bulan adalah 14 hari. jadi, penjumlahan puasa 2 bulan adalah 28 hari, maka masih kurang 2 hari. Makanya adanya puasa yang sah hanya 14 hari setiap bulannya, karena perempuan mutahayyiroh mungkin haid 15 hari.","part":1,"page":282},{"id":283,"text":"Jadi, seandainya sehari semalam mengeluarkan darah dan sehari semalam berhenti, begitu terjadi berulang-ulang sampai 15 hari, maka harinya berhenti ada 7 hari dan harinya keluar darah ada 8 hari. Jumlah setiap sebulan harinya berhenti adalah 14 hari dan harinya keluar adalah 16 hari. Contoh jadwalnya seperti di bawah ini :\rDan ketika puasanya perempuan mutahayyiroh kurang 2 hari, maka cara mengqodlo’nya adalah dia puasa 3 hari di dalam permulaan 18 hari dan 3 hari lagi diakhir 18 hari supaya bisa hasil mengqodlo’ puasa 2 hari. Karena haid ketika datangnya ditanggal 1, maka berhentinya pasti hari tanggal 16. Jadi, yang hasil sah puasanya adalah hari tanggal 17 dan 18.\rDan jika datangnya haid tanggal 2, maka berhentinya tanggal 17. jadi, yang hasil puasa adalah tanggal 1 dan puasa tanggal 18. jika datangnya haid tanggal 3 maka yang sah puasanya adalah tanggal 1 dan 2. jika datangnya haid tanggal 16 maka yang sah puasanya adalah tanggal 2 dan 3. jika datangnya haid tanggal 17 maka yang sah puasanya adalah tanggal 16 dan 3. jika datangnya haid tanggal 18 maka yang sah puasanya adalah tanggal 16 dan 17, seperti contoh tabel di bawah ini :\r(Muhimmah):","part":1,"page":283},{"id":284,"text":"Wajib atas perempuan yang haid atau nifas, jika sudah ber-henti mengeluarkan darah didalam waktunya sholat fardlu, untuk cepat-cepat mandi lalu melakukan sholat untuk waktu itu dan sholat yang harus diqodlo’. Jangan ditunda-tunda sampai datangnya waktu sholat lagi sehingga dia akan berdosa. Terlebih sampai untuk membeli sampo atau membakar merang untuk berkeramas, seperti itu sangat tidak diperbolehkan jika sampai mengeluarkan waktu sholat.\r(Tanbih):\rJika ada perempuan ketika akan tidur dia masih dalam keadaan suci lalu setelah bangun tidur setelah masuknya waktu shubuh dia sudah haid kemudian dia ragu, apakah keluarnya darah itu sebelum waktu shubuh atau sesudahnya, maka dihukumi kalau keluarnya darah itu adalah sesudah masuknya waktu shubuh. Jadi, besok jika sudah berhenti, dia wajib meng-qodlo’ sholat shubuh. Jika ada perempuan haid ketika akan tidur darahnya belum berhenti keluar, lalu dia bangun tidur paginya darah sudah berhenti, maka dia harus sholat shubuh untuk berhati-hati. Wallahu a’lam. [Hakam elChudrie]\r1278. NAJIS KEPUTIHAN DAN TATA CARA SHOLAT WANITA YANG KEPUTIHAN\rPERTANYAAN :\rElbey Magebay\rالسلام عليكم و رحمة الله و بركاته\rKami ingin menanyakan, Apakah darah keputihan termasuk ruthubah alfarji / رطوبة الفرج, sehingga di–hukumi Najis ?Terima kasih atas Jawabannya\rJAWABAN :\r> Masaji Antoro\rWa'alaikumsalam . Shalat Wanita Yang Keputihan dalam Hasil Bahts Masail LBM NU Mojokerto","part":1,"page":284},{"id":285,"text":"Permasalahan : Cairan putih yang keluar dari kemaluan seorang wanita, akibat penyakit keputihan apakah termasuk haid? Najis ataukah tidak? Dan bagaimana caranya shalat bagi wanita tersebut?\rJawaban:\rTidak termasuk haid. Cairan putih sebab keputihan hukumnya najis, karena keluar dari dalam farji. Untuk masalah shalat bagi wanita yang menderita keputihan, apabila cairan itu keluar terus menerus seperti orang beser, maka berlaku hukum seperti orang yang beser.\rCara yang harus dilakukan adalah dengan mensucikan kemaluan/farji, setelah itu disumbat dengan pembalut atau kapas. Barulah kemudian berwudlu dengan menyegerakan shalat. Penderita keputihan dan orang yang beser tidak boleh menunda-nunda shalat setelah berwudlu, kecuali untuk kemaslahatan shalat seperti menjawab adzan atau menunggu jamaah. Dasar Pengambilan :\rHasyiyah Jamal II hal. 149 :\r( قَوْلُهُ وَرُطُوبَةٍ فَرْجٍ ) هِيَ مَاءٌ أَبْيَضُ مُتَرَدِّدٌ بَيْنَ الْمَذْيِ وَالْعَرَقِ وَمَحِلُّ ذَلِكَ إذَا خَرَجَتْ مِنْ مَحَلٍّ يَجِبُ غَسْلُهُ ، فَإِنْ خَرَجَتْ مِنْ مَحِلٍّ لَا يَجِبُ غَسْلُهُ فَهِيَ نَجِسَةٌ ؛ لِأَنَّهَا رُطُوبَةٌ جَوْفِيَّةٌ وَهِيَ إذَا خَرَجَتْ إلَى الظَّاهِرِ يُحْكَمُ بِنَجَاسَتِهَا وَإِذَا لَاقَاهَا شَيْءٌ مِنْ الطَّاهِرِ تَنَجَّسَ","part":1,"page":285},{"id":286,"text":"(pernyataan cairan dalam kemaluan) yaitu cairan putih yang ambigu antara madzi dan keringat. Titik tekan masalah ini, yaitu ketika cairan itu keluar dari tempatnya yang wajib membersihkannya. Apabila cairan itu keluar dari tempat yang tidak wajib dibersihkan maka dihukumi najis, karena hal itu merupakan cairan dari dalam. Apabila cairan itu keluar dari anggota dzahir, maka dihukumi najis. Apabila sesuatu yang suci bersentuhan dengannya maka menjadi mutanajis.\rMinhaj al Tullab I hal 26 :\rوالاستحاضة كسلس فلا تمنع ما يمنعه الحيض فيجب أن تغسل مستحاضة فرجها فتحشوه فتعصبه بشرطهما فتطهر لكل فرض وقته وتبادر به ولا يضر تأخيرها لمصلحة كستر وانتظار جماعة\rIstihadzah (darah penyakit) itu seperti orang yang beser, maka orang yang istihadzah tidak tercegah melakukan sesuatu yang tidak boleh dilakukan oleh orang yang haid. Maka wajib bagi seorang yang istihadzah untuk mensucikan farjinya, menyumpal dan membalutnya sesuai dengan syarat-syaratnya, kemudian berwudlu. Hal ini wajib dilakukan setiap akan menjalankan shalat fardlu dan bersegera menjalankannya. Mengakhirkan shalat (setelah wudlu) diperboleh bila untuk kemaslahatan seperti menutup aurat atau menunggu jamaah.\rSumber : http://solusinahdliyin.net/daerah/lbm-kab-mojokerto/290-shalat-wanita-yang-keputihan.html\rLink Diskusi > www.fb.com/groups/piss.ktb/369184329771048/\r1343. SENGGAMA SETELAH BERHENTI HAID NAMUN BELUM MANDI\rPERTANYAAN :\rBagoes Setiawan\rApakah wanita yang telah berenti haidnya tapi belum mandi boleh dijimak suaminya ??\rJAWABAN :\r> Masaji Antoro","part":1,"page":286},{"id":287,"text":"HARAM, HINGGA ISTRI TERLEBIH DAHULU MELAKSANAKAN MANDI MESKIPUN DARAH HAIDNYA TELAH USAI\rوتستمر حرمة الوطء والاستمتاع بما بين السرة والركبة عند المالكية والشافعية حتى تغتسل، أي تطهر بالماء لا بالتيمم، إلا في حال فقد الماء أوالعجز عن استعماله، فيباح الوطء بالتيمم. واستدلوا بقوله تعالى: {فاعتزلوا النساء في المحيض، ولا تقربوهن حتى يطهرن، فإذا تطهرن فأتوهن من حيث أمركم الله} [البقرة:222/2] فالله تعالى شرط لحل الوطء شرطين: انقطاع الدم، والغسل، الأول من قوله تعالى: {حتى يطهرن} [البقرة:222/2] أي ينقطع دمهن، والثاني: من قوله عز وجل: {فإذا تطهرْن} أي اغتسلن بالماء {فأتوهن} [البقرة:222/2] فتصير إباحة وطئها موقوفة على الغسل. وهذا هو رأي الحنابلة أيضاً في حرمة الوطء (الجماع).\rMalikiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah berpendapat “Dan keharaman menyetubuhi dan mencumbui anggauta tubuh antara pusat dan lutut istri terus berlangsung hingga ia menjalani mandi bukan menjalani tayammum terkecuali saat tidak ada air atau tidak dapat menggunakan air karena suatu sebab yang memperbolehkan baginya tayammum maka boleh menyetubuhinya dengan menjalani tayammum,berdasarkan firman Allah : “Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci” (QS. 2.222).\rDalam ayat diatas Allah menghalalkan kehalalan menyenggamai istri dengan dua syarat :\r• Terputusnya darah haid\r• MandiDengan demikian kebolehan menggaulinya ditangguhkan hingga istri melaksanakan mandi. [ Al-Fiqh al-Islaam I/553 ].","part":1,"page":287},{"id":288,"text":"Demikian pendapat dalam 3 madzhab besar (Malikiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah), Namun dalam kitab fath al-mui'in terdapat keterangan bahwa Imam Jalaluddin as-Suyuthy menghalalkan jima setelah berhentinya haid meskipun belum mandi.\rوقال في فتح المعين أعلى الصفحة من اعانة الطالبين 1/85 ما نصه ويحرم به (أي بالحيض) ما يحرم بالجنابة ... واذا انقطع دمها حل لها قبل الغسل صوم لا وطء حلافا لما بحثه العلامة الجلال السيوطي رحمه الله وقال في اعانة الطالبين 1/85 قوله (خلافا لما بحثه العلامة الجلال السيوطي) أي من حل الوطء أيضا بالانقطاع اهـ\rDalam kitab fathul muin dijelaskan: Dan haram sebab haid semua yang diharamkan sebab junub.... dan ketika darahnya sudah bersih maka halal baginya sebelum mandi untuk berpuasa tidak halal jima. Haramnya jima ini berbeda dengan pendapat imam Jalaluddin As-Suyuthi. [ I'aanah at-Thaalibiin I/85 ].\rوإذا طهرت من الحيض وتم الإستبراء بقي تحريم الوطء حتى تغتسل ويحل الإستمتاع قبل الغسل على الصحيح.\rDan bila ia telah suci dari haidnya, sempurna istibra’nya maka masih tetap hukum keharaman menggaulinya hingga ia melaksanakan mandi. Dan halal mencumbuinya (bukan setubuh, sekedar frenc kiss misalnya) sebelum ia mandi menurut pendapat yang shahih. [ Raudhah at-Thoolibiin III/263 ].\r( فَائِدَةٌ ) الْوَطْءُ قَبْلَ الْغُسْلِ فِي الْحَيْضِ أَوْ بَعْدَهُ يُورِثُ الْجُذَامَ فِي الْوَلَدِ كَمَا قِيلَ ، وَاَللَّهُ أَعْلَمُ\r[ FAEDAH ] Menyetubuhi istri sebelum ia mandi saat haid atau setelah usai haid menyebabkan penyakit lepra pada anak seperti dikatakan oleh sebuah pendapat. Wallaahu A’lam. [ Hasyiyah al-Qalyubi II/52 ].\r> Sholeh Punya\rJawabanya ada dua : boleh dan tidak","part":1,"page":288},{"id":289,"text":"الكتاب : شرح صحيح البخارى المؤلف : أبو الحسن علي بن خلف بن عبد الملك بن بطال البكري القرطبيكِتَاب الْحَيْض قَالَ اللَّه تَعَالَى : ( يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى ( إِلَى : ( الْمُتَطَهِّرِينَ ) [ البقرة : 222 ] . اختلف العلماء فى تأويل هذه الآية ، فقالت طائفة : لا يجوز وطء الحائض ، وإن انقطع دمها حتى تغتسل بالماء ، روى هذا عن الحسن ، والنخعى ، ومكحول ، وسليمان بن يسار ، وعكرمة ، ومجاهد ، وهو قول مالك ، والليث ، والثورى ، والشافعى ، وأحمد ، وإسحاق ، وأبى ثور .\rواختلف العلماء فى الحائض هل يجوز وطؤها إذا انقطع دمها قبل أن تغتسل أم لا ؟ فقال مالك ، والليث ، والثورى ، والشافعى ، وأحمد ، وإسحاق ، وأبو ثور : لا توطأ حتى تغتسل بالماء ، وهو قول الشعبى ، ومجاهد ، والحسن ، ومكحول ، وسليمان بن يسار ، وعكرمة . وقال أبو حنيفة وأصحابه : إن انقطع دمها بعد عشرة أيام ، الذى هو عنده أكثر الحيض ، جاز له أن يطأها قبل الغسل ، وإن انقطع دمها قبل العشرة لم يجز حتى تغتسل أو يمر عليها وقت صلاة ، لأن الصلاة تجب عنده آخر الوقت ، فإذا مضى عليها آخر الوقت ووجبت عليها الصلاة ، علم أن الحيض قد زال ، لأن الحائض لا يجب عليها صلاة . وقال الأوزاعى : إن غسلت فرجها جاز لزوجها وطؤها ، وإن لم تغسله لم يجز ، وبه قالت طائفة من أصحاب الحديث ، وروى مثله عن عطاء ، وطاوس ، وقتادة .","part":1,"page":289},{"id":290,"text":"واحنج أهل هذه المقالة بقوله : ( حتى يطهرن ) [ البقرة : 222 ] أى حتى ينقطع دمهن ، فجعل تعالى غاية منع قربها انقطاع دمها ، والدليل على ذلك أن الصوم قد حل لها بانقطاع دمها ، فوجب أن يحل وطؤها قبل الغسل ، كالجنب يجوز مجامعتها قبل الغسل ، قالوا : ولا يخلو بعد انقطاع الدم وقبل الغسل أن تكون طاهرًا أو حائضًا ، فإن كانت حائضًا فالغسل ساقط عنها ، وفى اتفاقهم أن الغسل عليها واجب بانقطاع الدم دليل أنها قد طهرت من حيضتها ، والطاهر جائز وطؤها ، وقوله تعالى : ( فإذا تطهرن ) [ البقرة : 222 ] إباحة ثانية ، وابتداء كلام غير الأول ، لأن الطهر شىء والتطهير غيره ، مثال ذلك ، لو أن رجلا صائمًا قال لرجل : لا تكلمنى حتى أفطر ، فإذا صليت المغرب كلمنى ، وإنما وقع التحريج فى المخاطبة فى وقت الصوم ، لأن غاية التحريج كانت إلى الإفطار ، ثم إباحة أن يكلمه بعد وجوب الإفطار وبعد أن يصلى المغربن كما أبيح وطء الحائض بعد الطهر ، وبعد التطهير تأكيدًا للتحليل ، غير أن قوله : ( يحب التوابين ويحب المتطهرين ) [ البقرة : 222 ] دلالة أن الذى يأتى زوجته بعد أن تنتظف بالماء أحمد عند الله ، كمن توضأ ثلاثًا ثلاثًا كان أحمد ممن توضأ مرة مرة .\ribarot tambahan tentang bolehnya jima' setelah ingkitho..\r.الجامع لأحكام القرآن - (ج 3 / ص 90)والحائض لا يجوز وطؤها اتفاقا. وأيضا فإن ما قالوه يقتضي إباحة الوطء عند انقطاع الدم للأكثر وما قلناه يقتضي الحظر\r> Masaji Antoro\rNambah lagi GAN...^^ Terusan Ibarah Ustadz Sholeh diatas dalam kitab Al-Jammi’Li Ahkaam al-Quraan, al-Qurthuby juga memilih hukum haram : “Bila terjadi pertentangan dalam satu masalah antara hukum haram dan halal ‘Dimenangkan hukum haram’","part":1,"page":290},{"id":291,"text":"وإذا تعارض ما يقتضي الحظر وما يقتضي الإباحة ويغلب باعثاهما غلب باعث الحظر ، كما قال علي وعثمان في الجمع بين الأختين بملك اليمين ، أحلتهما آية وحرمتهما أخرى ، والتحريم أولى. والله أعلم.\rBila terjadi perselisihan antara hukum melarang dan hukum membolehkan dan pendorong keduanya ghalib maka dimenangkan pendorong hukum pelarangan seperti yang dikatakan Sayyidina Ali dan Utsman ra saat memeutuskan masalah mengumpulkan dua saudara wanita dengan penguasaan tangan kanan (keduanya menjadi sahaya), satu ayat menghalalkannya diayat lain melarangnya maka mengambil keputusan haram lebih baik. [ Al-Jammi’Li Ahkaam al-Quraan III/90 ].\rDalam pernyataan lainnya :\rونحن نحمل كل واحدة منهما على معنى ، فنحمل المخففة على ما إذا انقطع دمها للأقل ، فإنا لا نجوز وطأها حتى تغتسل ، لأنه لا يؤمن عوده\rDan kami membawa masing-masing dari kedua lafadz YATHHURNA dan TATHOHHARNA pada maknanya masing-masing...Sesungguhnya kami tidak membolehkan menggaulinya hingga ia mandi terlebih dahulu Karena kami tidak merasa aman akan kembalinya darah haid\rDalam Tafsiir al-Baghowy dijelaskan :\rوأكثر أهل العلم على التحريم ما لم تغتسل أو تتيمم عند عدم الماء، لأن الله تعالى علق جواز وطئها بشرطين: 36/أ بانقطاع الدم والغسل، فقال { حتى يطهرن } يعني من الحيض { فإذا تطهرن } يعني اغتسلن { فأتوهن } ومن قرأ يطهرن بالتشديد فالمراد من ذلك: الغسل كقوله تعالى \"وإن كنتم جنبا فاطهروا\"( 6-المائدة ) أي فاغتسلوا فدل على أن قبل الغسل لا يحل الوطء.","part":1,"page":291},{"id":292,"text":"Mayoritas dan kebanyakan Ahl Ilmu menghukumi haram menggauli istri saat terputus darah haidnya sebelum ia menunaikan mandi atau tayammum saat tidak terdapatnya air, karena Allah ta’ala menggantungkan kelegalan menggauli istri yang haid dengan dua syarat “Berhenti darahnya dan mandi” Allah menyatakannya dengan “Hingga mereka suci” artinya putus dari haid dan “apabila mereka telah bersuci” artinya bersuci adalah mandi maka bila telah terpenuhi dua syarat tersebut datangilah mereka.Bagi orang yang membaca ayat ‘HATTAA YATHHURN’ dengan mentasydid nunnya ‘HATTAA YATHHURONNA’ arti suci adalah mandi sebagaimana firman Allah lainnya ‘Bila kalian janabat maka bersucilah’, dengan demikian sebelum dilaksanakannya mandi tidak dihalalkan menggaulinya. [ Tafsiir al-Baghowy I/259 ].\rSedang kalangan ulama Fiqh dalam memutuskan masalah ini seperti uraian dalam komen saya pertama “Malikiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah berpendapat haram” sedang Abu Hanafi dari Hanafiyyah berpendapat “Bila darah telah terputus pada masa lebih banyak ketimbang masa haidnya boleh menggaulinya namun bila kurang masanya dari masa haidnya maka tidak boleh hingga ia menjalani mandi”\rBerikut petikan dari beberapa redaksi lintas madzhab dalam masalah ini :","part":1,"page":292},{"id":293,"text":"مسألة : قال : فان انقطع دمها فلا توطأ حتى تغتسل وجملته أن وطء الحائض قبل الغسل حرام وان انقطع دمها في قول أكثر أهل العلم قال ابن المنذر : هذا كالإجماع منهم وقال أحمد بن محمد المروذي : لا أعلم في هذا خلافا وقال أبو حنيفة : أن انقطع الدم لأكثر من الحيض حل وطؤها وان انقطع لدون ذلك لم يبح حتى تغتسل أو تتيمم أو يمضي عليها وقت صلاة لأن وجوب الغسل لا يمنع من الوطء بالجنابة ولنا قول الله تعالى : { ولا تقربوهن حتى يطهرن فإذا تطهرن فاتوهن من حيث أمركم الله } يعني إذا اغتسل هكذا فسره ابن عباس ولأن الله تعالى قال في الآية : { ويحب المتطهرين } فأثنى عليهم فيدل على أنه فعل منهم أثنى عليهم به وفعلهم هو الاغتسال دون انقطاع الدم فشرط لأباحة الوطء شرطين انقطاع الدم والاغتسال فلا يباح إلا بهما\r[ MASALAH ] “Saat darah haidnya telah berhenti maka haram menggaulinya hingga ia menjalani mandi”Sesungguhnya menggauli istri yang haid sebelum ia mandi adalah haram meskipun darahnya telah berhenti, ini pendapat mayoritas Ahl Ilmu.Ibn al-Mundzir berkata “Masalah ini seperti terjadi kesepakan dari kalangan ulama”Ahmad Bin Muhammad al-marwadzi berkata “Aku tidak melihat dalam masalah ini terjadi perbedaan pendapat”\rSedang Abu Hanifah (Hanafiyyah) berkata “Bila darah telah terputus pada masa lebih banyak ketimbang masa haidnya boleh menggaulinya namun bila kurang masanya dari masa haidnya maka tidak boleh hingga ia menjalani mandi atau tayammum atau telah berlalu waktu shalat karena waktu kewajiban mandi tidak terhalang dari persetubuhan sebab janabat.","part":1,"page":293},{"id":294,"text":"Allah berfirman :“Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah bersuci, maka campurilah mereka di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu” (QS. 2:222). Artinya bersuci adalah saat mereka telah mandi, demikian penafsiran Ibn Abbas ra.\rDan karena Allah berfiraman :“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. 2:222). Lihatlah dalam ayat ini Allah memuji mereka, pujian Allah berarti atas perbuatan yang telah mereka kerjakan yakni mandi bukan atas perbuatan yang mereka tidak kerjakan yakni terputusnya darah haid (karena yang demikian bersifat alami).\rDengan demikian diperbolehkannya menggauli istri yang haid bila telah terpenuhi dua syarat “Berhenti haidnya dan telah mandi” dan tidak diperbolehkan tanpa keduanya. [ Al-Mugni I/387 ]. Wallaahu A'lamu Bis showaab.\r> Wiro Sableng\rWa'alaikum salam. Hukumnya haram. bila itu tetap saja dilakukan karena ngebet banget, si suami itu harus bersedekah setengah dinar emas (1 dinar = 3,879 gram). [ Majmu' Juz 2 Halaman 375 ].\r... فَعَلى قَول الجُمْهُورِ: لَو وَطِئَ بَعْدَ الإِنْقِطَاعِ وَقَبْلَ الإِغْتِسَالِ لَزِمَهُ نِصفُ دِنَارٍ\rMaka menurut mayoritas ulama; kalau seseorang mengumpuli isteri setelah usainya masa haid tetapi belum mandi maka dia wajib sedekah setengah dinar. Wallahu A'lamu Bish-showaab\rLink Diskusi :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/373371029352378/\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/428431983846282/\r1393. WANITA HAID ZIARAH KUBUR\rPERTANYAAN :\rWong Awam","part":1,"page":294},{"id":295,"text":"Mohon bantuan, Hukum ziarah kubur bagi wanita haid,Kemarin ada teman saya nanya. Saya cuma bisa diam, kepada saudara2 yang punya pengetahuan tentang hal ini sekiranya mau sumbang pikiran. Trims\rJAWABAN :\r> Awan As-Safaritiyy Asy-syaikheriyy\rKemakruhan wanita ziyaroh karena mreka mudah menangis dan meninggikan suara,hal itu karena tidak trlalu kuat menerimaya hati,trlalu sedih/putus asa trhdap musibah,dan tidak trlalu bisa menerima musibah2 yang ia alami.tp,hkum ini hanya di makruhkan tidak di haramkan karena nabi pernah lewat dengan ketemu seorg wanita yang menangis di atas quburan anakya yang msh kecil,kmudian nabi SAW brsbda kepadaya : brtqwalah kepada allah dan brsabarlah. Dalam hadis ini mnjelaskan jika ziyaroh qubur bagi wnt di haramkan pasti nabi akan melarang wanita itu.\rMakruh jika tidak di kuatirkan fitnah tetapi jika di kuatirkan fitnah maka haram ziarahya.yang di sunahkan bagi wanita dan laki-laki menziyarohi makam nabi2,org 'alim,org shalih. [ i'anatut tholibin 2/142 ].\r> Salim Ridho","part":1,"page":295},{"id":296,"text":"باب استحباب زيارة القبر للرجال و ما يقوله الزائرعن بريدة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : كنت نهيتكم عن زيارة القبور فزوروها. رواه مسلم. و في رواية : فمن أراد أن يزور القبور فليزر, فانها تذكر نا الأخرةالحديث رواه مسلم فى الجنائز (باب استئذان النبي صلى الله عليه و سلم ربه عز و جل في زيارة قبر أمهأفاد الجديث : مشروعية زيارة القبور, و اتفق العلماء على أنها مندوبة للرجال و خاصة لأداء حق نحو والد و صديق, لما فيها من تذكير بالأخرة و ترقيق للقلوب بذكر الموت و أحواله, كما ورد فى الأحاديث * و أما النساء فتكره لهن الزيارة, لما ورد من النهي عن ذلك, و قد تحرم اذا اقترنت زيارتهن بمحظور شرعي, كما اذا خشيت الفتنة أو رفعن أصواتهن بالبكاء, و قد تباح لهن الزيارة اذا قرب المصاب و لم يكن ثمة محظور شرعي * يندب زيارة قبر النبي صلى الله عليه و سلم * جواز النسخ في الشريعة الاسلامية, فقد حرم صلى الله عليه و سلم زيارة القبور أول الأمر لقرب عهد الناس بالجاهلية و ما كان فيها من وثنية و ما كانوا يفعلونه عند القبور من نياحة و غيرهما مما حرم الاسلام, ثم نسخ التحريم بعد أن اتضحت عقيدة التوحيد و رسخت قواعد الاسلام و استبانت أحكامه * على المؤمن أن يذكر نفسه بالموت, و أنه سيكون فى عداد الموتى ان عاجلا أو أجلا","part":1,"page":296},{"id":297,"text":"Artinya : Bab sunah ziarah kubur bagi laki-laki dan bacaan yang diucapkan oleh penziarah.Dari Buraidah radiyallahu 'anhu telah berkata: Rasulullah saw bersabda: \"Tadinya aku melarang kalian berziarah, tapi kini berziarahlah kalian ! (Hadits Riwayat Muslim)\"Dalam riwayat lain dikatakan: \"Maka barangsiapa yang ingin ziarah kubur, maka berziarahlah ! Karena, sesungguhnya ziarah kubur itu dapat mengingatkan akherat\".Hadits Riwayat Muslim Menerangkan Tentang Jenazah (Bab meminta izin Nabi saw kepada Allah swt dalam masalah ziarah ke makam ibu beliau).","part":1,"page":297},{"id":298,"text":"Faedah(maksud) Hadits : Ziarah kubur disyari'atkan dalam Islam. Para ulama telah sepakat menyatakan bahwa ziarah kubur hukumnya disunnahkan bagi kaum laki-laki, khususnya untuk melaksanakan hak seperti: ayah dan teman, mengingat mati, dan melembutkan hati dengan cara mengingat mati berikut tingkah-tingkahnya, sebagaimana keterangan-keterangan yang berlaku di dalam hadits-hadits Nabi saw.Adapun wanita hukumnya dimakruhkan dalam ziarah kubur. Karena, ada hadits Nabi tentang pelarangan tersebut. Juga ziarah kubur hukumnya diharamkan bagi wanita bilamana diiringi dengan sesuatu yang dilarang menurut syara'. Seperti bilamana takut terjadi fitnah atau kerasnya suara wanita dengan menangis. Begitupula, ziarah kubur hukumnya diperbolehkan bagi wanita bilamana dekat dengan orang yang terkena musibah dan tidak adanya ciri fitnah yang dilarang oleh syara'.Demikian pula, ziarah ke makam Nabi saw hukumnya disunnahkan. Karena, bolehnya nasakh (perubahan hukum Islam) dalam syari'at Islam. Memang, pada awal perintahan Nabi saw ziarah kubur itu hukumnya diharamkan, karena umat Islam pada masa itu masih ada kedekatannya dengan kebiasaan mereka pada zaman jahiliyah.Juga masih adanya kebiasaan menyembah berhala. Selain itu, mereka juga suka berbuat niyahah (meratapi mayit) atau lainya yang diharamkan ketika melakukan ziarah kubur. Kemudian, hukum haram ziarah kubur tersebut diganti dengan hukum sunnah setelah adanya kejelasan dalam aqidah Islam, tertancapnya kaedah-kaedah dan hukum-hukum Islam di dada mereka.Dengan demikian, seorang mukmin harus selalu mengingat mati. Karena, mengingat mati","part":1,"page":298},{"id":299,"text":"adalah persiapannya orang-orang yang akan mati, baik untuk saat ini maupun saat yang akan datang. [ Nuzhatul Muttaqin Syarah Riyadhus Shalihin jilid 1 ].\r> Masaji Antoro\rقال الشيخ عبد المعطي السقا في ( الارشادات السنية ) ص 111 : زيارة قبور المسلمين مندوبة للرجال لخبر مسلم : كنت نهيتكم عن زيارة القبور فزوروها فإنها تذكركم الآخرة : أما زيارة النساء فمكروهة إن كانت لقبر غير نبي وعالم و صالح وقريب ، أما زيارة القبر النبي ومن ذكر معه فمندوبة لهن بدون محرم إن كانت القبور داخل البلد ، ومع محرم إن كانت خارجة ، ومحل ندب زيارتهن أو كراهتها إذا أذن لهن الحليل أو الولي وأمنت الفتنة ولم يترتب على اجتماعهن مفسدة كما هو الغالب ، بل المحقق في هذا الزمان ، وإلا فلا ريبة في تحريمها. ويستحب الاكثار من الزيارة لتحصيل الاعتبار والعظة وتذكر الآخرة ، وتتأكد الزيارة عشية يوم الخميس ويوم الجمعة بتمامه وبكرة يوم السبت.\rBerkata as-Syaikh ‘Abdul Mu’thi as-Saqaa dalam kitab al-Irsyaadaat as-Sunniyah “Berziarah dikuburan orang-orang muslim disunahkan bagi para pria berdasarkan hadits riwayat Muslim “Aku (dulu) melarang kalian berziarah kubur, (sekarang) berziarahlah karena ia mengingatkan kalian pada akhirat”.\rSedang bagi para wanita ziarah kubur hukumnya makruh bila bukan kuburan nabi,orang alim, orang shalih atupun kerabat, sedang menziarahi kuburan nabi dan orang yang telah disebutkan sunah baginya bila kuburannya masih dalam satu daerah atau diluar daerah saat ia bersama mahramnya.","part":1,"page":299},{"id":300,"text":"Kesunahan ziarah baginya dengan ketentuan seizin suaminya atau walinya, aman dari fitnah dan dalam perkumpulannya tidak menimbulkan kerusakan seperti pada umumnya bahkan yang menjadi kenyataan dizaman ini, bila tidak demikian maka keharaman ziarah baginya tidak dapat disangsikan.\rDisunahkan memperbanyak ziarah dengan tujuan supaya dapat mengambil pertimbangan, peringatan serta teringat kehidupan akhirat.Kesunahan ziarah menjadi mauakad dihari kamis sore dan hari jumat dan makruh dihari sabtu”. [ al-Irsyaadaat as-Sunniyah hal. 111 ].\rزيارة القبور مندوبة للاتعاظ وتذكر الآخرة وتتأكد يوم الجمعة ويوما قبلها ويوما بعدها عند الحنفية والمالكية وخالف الحنابلة والشافعية فانظر مذهبيهما تحت الخط ( الحنابلة قالوا : لا تتأكد الزيارة في يوم دون يوم الشافعية قالوا : تتأكد من عصر يوم الخميس إلى طلوع شمس يوم السبت . وهذا قول راجح عند المالكية\rZiarah kubur disunahkan agar dapat mengambil pertimbangan, peringatan serta teringat kehidupan akhirat, kesunahannya menjadi mauakad dihari hari jumat dan hari sebelumnya (kamis) serta hari setelahnya menurut kalangan Hanafiyah dan Malikiyyah berbeda menurut kalangan Hanabilah yang menyatakan “ziarah tidak muakad, tidak dihari tertentu juga hari lainnya” dan kalangan Syafi’iyyah yang menyatakan “Menjadi sunah yang muakkad mulai asharnya hari kamis hingga terbitnya matahari dihari sabtu” dan pernyataan ini sesuai pendapat yang unggul dikalangan Malikiyyah. [ Al-Fiqh ala Madzaahib al-Arbaah I/855 ].\rPADA KETENTUAN DI ATAS TIDAK TERDAPAT PERBEDAAN HUKUM ANTARA WANITA YANG SEDANG HAID ATAU TIDAK. Wallaahu A'lamu Bis Showaab.","part":1,"page":300},{"id":301,"text":"Link Diskusi > www.fb.com/groups/piss.ktb/386282368061244/\r1450. NIFAS PADA WANITA YANG KEGUGURAN\rPERTANYAAN :\rFhariela Sangpenahluk Chientha\rAssalamu'alakum Wr wb. Mbah mau nanyak apabila ada seorang perempuan yang sedang hamil 4 bulan terus kandungan itu mengalami keguguran tetapi belum berupa apapun hanya berbentuk gumpalan belum sampai jadi bayi apakah darah yang keluar bersamaan gumpalan tadi dinamakan darah nifas juga.....???\rJAWABAN :\rMbah Jenggot II\rWa`alaikum salam.darah yang keluar setelah keguguran tetap dihukumi Nifas. Meski masih berupa Gumpalan darah yang dilahirkan tetap dihukumi Nifas.\rقول الشارح : ( أي الدم الذي أوله يعقب الولادة ) مثله لو ولدت ولدا جافا ثم رأت الدم قبل خمسة عشر فإنها نفساء من حين الولادة على الأصح ، وقوله : الولادة ، أي ولو علقة أو مضغة ، .\rLink Asal : www.fb.com/groups/piss.ktb/390959474260200/\r1606. ISTIMTA' ANTARA PUSAR DAN LUTUT SAAT ISTRI SEDANG HAID\rPERTANYAAN :\rAhmad Baqilaniy\rBolehkah suami menikmati selangkangan istrinya tanpa memasukan hasafah ke dalam lobang farjinya ketika istri dalam keadaan haid ?\rJAWABAN :\rKang As'ad\rIstimta’ dengan anggota tubuh istri yang sedang haidl antara udel dan dengkul (suroh wa rukbah) adalah boleh asal tidak sampai jima’, hal ini sesuai dengan ibaroh yang disampaikan oleh imam as-Suyuthi di dalam kitab al-Asybah wa an-Nadzoir juz 1 hlm 279.\rوحريم الواجب : ما لا يتم الواجب إلا به\rومن ثم وجب غسل جزء من الرقبة والرأس مع الوجه ليتحقق غسله وغسل جزء من العضد ، والساق مع الذراع وستر جزء من السرة والركبة مع العورة ، وجزء من الوجه مع الرأس للمرأة ، وحرم الاستمتاع بما بين السرة والركبة في الحيض لحرمة الفرج","part":1,"page":301},{"id":302,"text":"ضابط كل محرم فحريمه حرام إلا صورة واحدة ، لم أر من تفطن لاستثنائها ، وهي دبر الزوجة ، فإنه حرام ، وصرحوا بجواز التلذذ بحريمه ، وهو ما بين الأليتين\rQoul senada dengan yang disampaikan oleh imam as-Suyuthi ini juga disampaikan oleh imam an-Nawawi di dalam kitab Raudlah at-Thalibin juz 7 hlm 204\rالباب التاسع فيما يملك الزوج من الإستمتاع وفيه مسائل إحداها له جميع أنواع الإستمتاع إلا النظر إلى الفرج ففيه خلاف سبق في حكم النظر وإلا الإتيان في الدبر فإنه حرام ويجوز التلذذ بما بين الإليتين والإيلاج في القبل من جهة الدبر\rMenurut ibaroh yang disampaikan oleh imam an-Nawawi di dalam kitab Raudloh at-Thalibin juz 1 hlm 136 di dalam masalah ini terdapat tiga qoul, tetapi qoul yang ashoh menurut beliau adalah qoul yang menyatakan tentang keharamannya.\rالضرب الثاني الاستمتاع بغير الجماع وهو نوعان :\rأحدهما الاستمتاع بما بين السرة والركبة والأصح المنصوص أنه حرام والثاني لا يحرم والثالث إن أمن على نفسه التعدي إلى الفرج لورع أو لقلة شهوة لم يحرم وإلا حرم وحكي القاضي قولا قديما\rالنوع الثاني ما فوق السرة وتحت الركبة وهو جائز أصابه دم الحيض أم لم يصبه وفي وجه شاذ يحرم الاستمتاع بالموضع المتلطخ بالدم\rWallaahu A'laamu Bis Showaab.\rLink Asal : www.fb.com/groups/piss.ktb/431890193500461/\r1831. HAID BAGI WANITA HAMIL\rPERTANYAAN :\r? Haidir Malakat\rAssalaamu'alaykum... Apakah orang yang sedang Hamil itu mengalami haid ? syukron...\rJAWABAN :\r? Ubaid Bin Aziz Hasanan","part":1,"page":302},{"id":303,"text":"( وَالْأَظْهَرُ أَنَّ دَمَ الْحَامِلِ وَالنَّقَاءَ بَيْنَ ) دِمَاءِ ( أَقَلِّ الْحَيْضِ ) فَأَكْثَرَ ( حَيْضٌ ) أَمَّا فِي الْأُولَى فَلِأَنَّهُ بِصِفَةِ دَمِ الْحَيْضِ ، وَمُقَابِلُهُ فِيهَا يَقُولُ : هُوَ دَمُ فَسَادٍ إذْ الْحَمْلُ يَسُدُّ مَخْرَجَ دَمِ الْحَيْضِ .\rMemang khilaf seperti jawabaan temen menurut qoul adzhar wanita hamil itu bisa haid, sedangkan muqobilul adzhar ialah darah fasid. [ khasiyah qolyubi wa umairoh 2/46 ].\rBongkar-bongkar FK dapat ibarat ini sebagai tambahan saja khilafnya : Berkata ulama' sebab keluarnya darah dari wanita hamil ialah karena lemahnya anak (bayi) maka sesungguhnya anak tersebut mengambil makanan darah haid maka tatkalanya melahirkan maka keluarlah darah tersebut dengan luber (mengalir banyak) maka sesungguhnya kelemahan (anak ini) itu terjadi pada bulan genap (masa kehamilan) conto bulan ke 2, ke 4 dll, maka ketahuilah anak itu mengambil makanan pokoknya (yaitu berupa darah haid)terjadi pada bulan-bulan ganjil masa kehamilan yaitu bulan 1 ,3 dll , dan disebabkan ini anak yang lahir pada bulan-bulan ganjil : contoh bulan ke 9 / ke 7 pokoknya ganjil akan hidup sedangkan anak yang lahir pada bulan2 genap contoh bulan ke 8 ke akan mati. [ referensi al mizan al kubra juz 1 hal 140 ]. wallahu a'lam.Ini juga menurut peniltian dokter","part":1,"page":303},{"id":304,"text":"وسبب اختلافهم في ذلك عسر الوقوف على ذلك بالتجربة واختلاط الأمرين فإنه مرة يكون الدم الذي تراه الحامل دم حيض وذلك إذا كانت قوة المرأة وافرة والجنين صغيرا وبذلك أمكن أن يكون حمل على حمل على ما حكاه بقراط وجالينوس وسائر الأطباء ومرة يكون الدم الذي تراه الحامل لضعف الجنين ومرضه التابع لضعفها ومرضها في الأكثر فيكون دم علة ومرض وهو في الأكثر دم علة.\r[ bidayatul mujtahid 1/53 ].\rfokus :\rوبذلك أمكن أن يكون حمل على حمل على ما حكاه بقراط وجالينوس وسائر الأطباء ومرة يكون الدم الذي تراه الحامل لضعف الجنين ومرضه التابع لضعفها ومرضها في الأكثر فيكون دم علة ومرض وهو في الأكثر دم علة.\rpoin dokter :\rوسائر الأطباء\rPenelitian dokter menyebutkan :\rومرة يكون الدم الذي تراه الحامل لضعف الجنين ومرضه التابع لضعفها ومرضها في الأكثر فيكون دم علة ومرض وهو في الأكثر دم علة.\rCoba bandingkan ama ibarat di kitab al mizan kubra , ibaratnya hampir sama ama kitab bidayatul mujtahid.\r? Mazz Rofii\rحاشية البجيرمي على الخطيب (3/ 236)\r( والأظهر أن دم الحامل حيض ) وهو قول مالك والشافعي في أرجح قوليهما أنها تحيض ، وقال أبو حنيفة وأحمد : إن الحامل لا تحيض وما تراه من الدم فهو دم فساد ، وفائدة الخلاف أنها على الأول لا تصوم ولا تلزمها الصلاة ، وعلى الثاني تصوم وتصلي\rLink Asal : www.fb.com/groups/piss.ktb/465661096790037/\r2051. WANITA HAID MEMBACA DO'A AKHIR TAHUN\rPERTANYAAN:\rGadiEz Penggemar HafidzHafidzoh\rAssalamualaikum.. Admin serta member di PISS ana mau tanya nih. Titipan dari saudara… Wanita yang lagi dtang bulan, apa boleh baca doa awal dan akhir tahun. Makasih. wassalam..\rJAWABAN:\r> Soesilo Bambang Yudhoyono\rAL-MAJMU’ hlm. 357 :\rوأجمع العلماء علي جواز التسبيح والتهليل وسائر الاذكار غير القرآن للحائض والنفساء","part":1,"page":304},{"id":305,"text":"> Umi Davin\rWa'alaykumussalam wr.wb. Afwan, apakah ini membantu...\r( مسألة ى ) يكره حمل التفسير ومسه إن زاد على القرآن وإلا حرم. وتحرم قراءة القرآن على نحو جنب بقصد القراءة ولو مع غيرها لا مع الإطلاق على الراجح ولا بقصد غير القراءة كرد غلط وتعليم وتبرك ودعاء .\rMakruh membawa dan memegang Tafsir yang jumlahnya melebihi tulisan qurannya bila tidak maka haram. Dan haram membacanya bagi semisal orang junub bila bertujuan untuk membacanya meskipun al-Qurannya bersama tulisan lain tapi tidak haram baginya bila memutlakkan tujuannya menurut pendapat yang kuat dan juga tidak haram tanpa adanya tujuan membacanya seperti saat membenarkan bacaan yang salah, mengajar, mencari keberkahan dan berdoa. (Bughyah al-Mustarsyidiin hal. 26).\r> Sunde Pati\rاجمع العلماء على جواز الذكر بالقلب واللسان للمحدث والجنب والحائض والنفاس وذلك فى التسبيح والتهليل والتحميد والتكبير والصلاة على رسول الله صلى الله عليه وسلم والدعاء وغير ذلك\rUlama' sepakat atas diperbolehkannya dzikir lewat hati dan lisan bagi orang yang berhadas kecil, orang junub, haid dan nifas, dan hal itu pada tasbih, tahlil, tahmid, takbir dan sholawat pada Rosulallah saw juga boleh berdoa dan lain-lain. (Al-adzkar hal. 10)\rLINK TERKAIT :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/497634343592712/\r2100. WANITA HAID DI DALAM MASJID\rPERTANYAAN :\rBin Leiden\rAssalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh.. mohon izin bertanya : orang haid yang memakai pembalut.... apa tetep diharamkan berdiam di masjid ? misal untuk menghadiri pengajian dll.... ? kalau sudah pernah dibahas mohon disundulkan.... maturnuwun.... Jazakumullah khayran....\rJAWABAN :\r1. Sunde Pati","part":1,"page":305},{"id":306,"text":"Jika hanya lewat dan tidak hawatir menetes darahnya maka boleh, tapi jika berdiam diri di dalam masjid maka haram. [ Albajuri juz 1 hal 114-115 cetakan al-hidayah ].\rواما المكث فحرام عليهما ومثله التردد لقوله صلى الله عليه وسلم لا احل المسجد لحائض ولا لجنب رواه ابو داود\rAdapun berdiam diri di masjid maka haram bagi keduanya (orang haid dan junub). Sebagaimana haram berdiam diri adalah berlalu lalang karena ada hadis Nabi SAW tidak dihalalkan masjid bagi orang yang haid dan orang yang junub. [ HR.Abu dawud ].\r2. Awan As-Safaritiyy Asy-syaikheriyy\rWanita yang sedang dalam kaedaan haid dengan memakai pembalut masuk ke dalam masjid hukumnya makruh karena untuk menjaga kehormatan masjid. hukum Wanita yang sedang haidl memakai pembalut masuk ke dalam masjid, ditafshil :\r- jika tidak kuatir darahnya mengotori (menetesi) masjid maka tidak haram melainkan hukumnya makruh jika tdak ada udzur atau hajat, jika ada hajat maka boleh masuk masjid.\r- jika kuatir darahnya menetesi masjid walaupun sudah memakai pembalut maka hukumnya haram, jika tidak dikuatirkan maka hukumnya makruh kecuali ada hajat. Ibarot :\r(قوله :أيضا إن خافت تلويثه) أي ولو بمجرد الإحتمال ويفرق بينه وبين اشتراط الظن فى حرمة بيع نحو العنب لمتخذه خمرا بأن المسحد يحتاط له لا سيما مع وجود قرينة التلويث هنا انتهى برماوي.(قوله بمثلثة قبل الهاء) دفع به توهم قراءته بالنون الموهم أنه إذا لوثه من غير ظهور لون فيه كحمرة لم يحرم انتهى ع ش(قوله:فإن أمنته جاز لها العبور كالجنب) التشبيه فى مطلق الجواز وإلا فعبور الجنب خلاف الأولى و عبورها مكروه ومحله فيهما إذا لم يكن لحاجة وإلا فلا كراهة ولا خلاف الأولى انتهى\rحاشية الجمل ج 2 ص 370","part":1,"page":306},{"id":307,"text":"(قوله المكث)أي اللبس لمسم بالغ (قوله فى المسجد) ولو فى هوائه وهو ما فوقه الى السماء السابعة ويكفي فى المسجد قدر أقل الطمأنينة احتراما للمسجد.\rستين مسئلة ص 28\r(وقوله الخمس دخول المسجد)ولو بمجرد العبور لغلط حدثها وبهذا فارقت الجنب حيث لم يحرم فى حقه مجرد العبور وأما المكث فحرام عليهما ومثله التردد لقوله صلى الله عليه وسلم لا أحل المسجد لحائض ولا لجنب رواه أبو داود عن عائشة ومن المسجد سطحه ورحبته وروشنه وخرج به غيره كالربط والمدارس والخانقاه وهي معبد الصوفية فلا يحرم دخولها إلا إن نجستها بالفعل وأما ملك الغير فيجوز تنجيسه بما جرت به العادة كتربية دجاج ونحوه بخلاف تنجيسه بما لم تجر به العادة (قوله للحائض)إلا حاجة اليه لأن الكلام فى الحائض لكنه صرح به للإيضاح وليشعر بمخالفتها للخنب فى مجرد الدخول كما علمت (قوله إن خافت تلويثه) بالمثلثة لا بالنون لأنها متى خافت التلويث حرم عليه الدخول وإن لم يوجد التلويث لقلة الدم والمراد بالخوف ما يشمل التوهم فإن لم تخف تلويثه بل أمنته لم يحرم بل يكره لها حينئذ وهو خلاف الأولى للجنب إلا لعذر فيهما فتنتفي الكراهة لها وكونها خلاف الأولى للجنب للعذر ومثلها كل ذي نجاسة فإن خاف التلويث المسجد حرم وإلا كره إلا لحاجة\rحشية الباجوري ج 1 ص 114-115\rLink Asal :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/505140779508735/\r2155. KEPUTIHAN [ RUTHUBATUL FARJI ] DAN HUKUMNYA\rPERTANYAAN :\rRampak Naung\rApa yang dimaksud basahannya Farji'\rرطوبة الفرج\rApa peluh/keringat ? Atau lendir ? Atau ? Apa suci atau najis ?\rJAWABAN :\r? Awan As-Safaritiyy Asy-syaikherriyy\rKeputihan (rutubatul farji) adalah lendir normal pada tiap perumpuan dan dapat pula karena infeksi,maka bila normal di tafshil:","part":1,"page":307},{"id":308,"text":"- lendir atau kelembaban yang keluar dari organ farji yang wajib di basuh ketika istinja'(organ farji yang tampak ketika wanita duduk) maka hukumnya suci.\r- bila keluar dari balik farji (organ farji yang tidak tersentuh dzakar mnjami') maka hukumnya najis karena tergolong keluar dari dalam (jauf).\r- bila keluar dari organ farji yang tidak wajib di basuh namun dapat terjangkau dzakar mujami' maka hukumnya suci menurut qoul ashoh.\r(قوله رطوبة فرج)معطوف على بلغم.أي فهي طاهرة أيضا,سواء خرجت من آدمي أو من حيوان طاهر غيره.(قوله:على الأصح)مقابله أنها نجاسة.(قوله:وهي)أي رطوبة الفرج الطاهرة على الأصح.(قوله:متردد بين المذي ووالعرق)أي ليس مذيا محضا ولا عرقا كذالك.(قوله:الذي لايجب غسله)خالف فى ذالك الجمال الرملي,وقال:إنها إن خرجت من محل لايجب غسله فهي نجسة,لأنها حينئذ رطوبة جوفية.وحاصل ما ذكره الشارح فيها أنها ثلاثة أقسام:طاهرة قطعا,وهي ما تخرج مما يجب غسله فى الإستنجاء,وهو ما يظهر عند جلوسها.ونجسة قطعا,وهي ما تخرج من وراء باطن الفرج,وهو ما لايصله ذكر المجامع.وطاهرة على الأصح,وهي ما تخرج مما لايجب غسله ويصله ذكر المجامع.وهذا التفصيل هو ملخض ما فى التحفة.وقل العلامة الكردي :أطلق فى شرحي الإرشاد نجاسة ما تحقق خروجه من الباطن,وفى شرح العباب بعد كلام طويل.والحاصل أن الأوجه مادل عليه كلام المجموع.أنها متى خرجت مما لايجب غسله كانت نجسة.\rFokus :\rوحاصل ما ذكره الشارح فيها أنها ثلاثة أقسام:طاهرة قطعا,وهي ما تخرج مما يجب غسله فى الإستنجاء,وهو ما يظهر عند جلوسها.ونجسة قطعا,وهي ما تخرج من وراء باطن الفرج,وهو ما لايصله ذكر المجامع.وطاهرة على الأصح,وهي ما تخرج مما لايجب غسله ويصله ذكر المجامع إعانة الطالبين ج 1 ص 106\rLink Asal :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/506370006052479/","part":1,"page":308},{"id":309,"text":"3734. BOLEHKAH WANITA YANG KEPUTIHAN MEMBACA AL-QUR'AN ?\rPERTANYAAN :\r> Ria Si Hati Salju\rAssalamu'alaikum.... Pertanyaan titipan :\r1. Bolehkah wanita yang keputihan memegang &membaca yasinan kecil & kalau al-qur'an terjemah tapi sebelumnya bersuci dulu & wudhu?\r2. Bolehkah wanita yang keputihan membaca al-qur'an karena mengajar al-qur'an\r3. Bolehkah wanita haid mengajar al-qur'an & membaca ayat al-qur'an untuk membenarkan bacaan yang salah. Atas jawabannya Syukron ktsiir.\rJAWABAN :\r> Ro Fie\r1. Boleh kalau sudah wuduk, karena keputihan ada yang membatalkan wudhu,\r2. Boleh kalau hanya membaca asal tidak menyentuh mushaf nya, kalau menyentuh maka sama dengan pertanyaan yang pertama\rKEPUTIHAN ada Yang membatalkan wuduk ada yang Tidak :\r?…Yang membatalkan wudhu, yaitu yang keluar dari dalam kemaluan wanita atau kemaluan anda sendiri heee dari dinding kemaluan wanita bagian dalam yang tidak wajib terkena air ketika mandi jinabah\r?…Dan yang tidak mebatalkan wuduk yaitu yang keluar dari dinding kemaluan yang yang wajib terkena air saat mandi jinabah\rDan tentang kenajisan air lendir keputihan khilaf antara imam ibnu hajar dan imam Romli.\rLihat Bughyah al-Mustarsyidiin :\rبغية المسترشدين في تلخيص فتاوى بعض الأئمة من العلماء المتأخرين – ( ص6 10) المكتبة الشاملة","part":1,"page":309},{"id":310,"text":"مسألة) : حاصل كلامهم في رطوبة فرج المرأة التي هي ماء أبيض متردد بين المذي والغرق ، أنها إن خرجت من وراء ما يجب غسله في الجنابة يقينا إلى حد الظاهر ، وإن لم تبرز إلى خارج نقضت الوضوء ، أو من حد الظاهر وهو ما وجب غسله في الجنابة ، أعني الذي يظهر عند قعودها لقضاء حاجتها لم تنقض ، وكذا لو شكت فيها من أيهما هي على الأوجه ، وأما حكمها نجاسة وطهارة فما كان من حد الظاهر فطاهر قطعا ، وما وراءه مما يصله ذكر المجامع فطاهر على الأصح ، وما وراء ذلك فنجس قطعا ، هذا ما اعتمده في التحفة وغيرها ، واعتمد في الفتاوى و (م ر) أن الخارجة من الباطن نجسة مطلقا ، لكن يعفى عما على ذكر المجامع.\r> Ghufron Bkl\r3. Membaca al-Quran bagi wanita haid juga haram hukumnya, kecuali bila tidak terdapat unsur qoshdul qiro?h (bertujuan membaca) seperti saat bertujuan membenarkan bacaan yang salah, mengajar, mencari keberkahan atau berdoa.\r( مسألة ى ) يكره حمل التفسير ومسه إن زاد على القرآن وإلا حرم. وتحرم قراءة القرآن على نحو جنب بقصد القراءة ولو مع غيرها لا مع الإطلاق على الراجح ولا بقصد غير القراءة كرد غلط وتعليم وتبرك ودعاء .\rMakruh membawa dan memegang Tafsir yang jumlahnya melebihi tulisan qurannya bila tidak maka haram. Dan haram membacanya bagi semisal orang junub bila bertujuan untuk membacanya meskipun alQurannya bersama tulisan lain tapi tidak haram baginya bila memutlakkan tujuannya menurut pendapat yang kuat dan juga tidak haram tanpa adanya tujuan membacanya seperti saat membenarkan bacaan yang salah, mengajar, mencari keberkahan dan berdoa. [Bughyah al-Mustarsyidiin hal. 26]\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/893536590669150/\rwww.fb.com/notes/905417022814440","part":1,"page":310},{"id":311,"text":"2165. Perawan niat mandi agar halal disenggama, sah kah ?\rPERTANYAAN :\rZaine Elarifine Yahya\rAssalaamu 'alaikum. Tamara masih perawan saat usai haidh lalu hendak mandi, sewaktu mandi ia berniat sbb : ''aku berniat mandi guna menuntut agar halal disenggama'', absahkah niat dan mandinya?\rJAWABAN :\r> Soesilo Bambang Yudhoyono\rWa'alaikum salam, sah.\rولو نوت الحائض استباحة الوطء صح على الأصح\r[ Roudhah 1/87 ].\r> Ghufron Bkl\rMandi bagi haid dengan niat untuk di perbolehkn di waathi' hukumy boleh/sah. [ Al Iqnaa' !/58 busyroo al karim 1/38 ].\r> Ibnu Toha (Terjemah : Nabilah Az-Zahrah)\rIBAROT UMUM (AT-TANBIH) :\rومن أراد الغسل نوى الغسل من الجنابة، أو الحيض، أو نوى الغسل لاستباحة ما لا يستباح إلا بالغسل،\rBarang siapa yang ingin mandi maka niatlah mandi dari jinabah atau haid.atau niat mandi untuk kebolehan sesuatu yang tidak boleh kecuali dengan mandi.\rIBAROT KHUSUS (ALMAJMU) :\rفرع: إذا نوت المغتسلة في الحيض استباحة وطء الزوج فثلاثة أوجه الأصح يصح غسلها وتستبيح الوطء والصلاة وغيرهما، لأنها نوت ما لا يستباح إلا بطهارة\rApabila seorang wanita niat mandi karena haid dengan niat kebolehan jima' dengan suami maka ada tiga wajah (pendapat),menurut qoul ashoh sah mandinya baik niat untuk kebolehan jima' ,sholat atau lainya karena ia niat dengan sesuatu yang tidak di perbolehkan saat haid kecuali dengan mandi.\rTambahan ibarot khusus (AL-MAJMU) :\rأما إذا نوى إستباحة مس المصحف أو نوى الجنب أو المنقطع حيضها قراءة القرآن واللبث في المسجد، أو نوت إستباحة الوطء فإنهم يستبيحون ما نووا ـــ على المذهب الصحيح المشهور ـــ وبه قطع الأصحاب","part":1,"page":311},{"id":312,"text":"Adapun apabila seseorang niat untuk kebolehan memegang mushaf atau niat seseorang yang junub atau seorang wanita yang terputus haidnya dengan niat kebolehan membava al qur'an ,diam di dalam masjid atau wanita yang haid dengan niat di perbolehkanya jima' maka mereka semua di perbolehkan niat seperti itu (artinya mandinya sah).\rIBAROT LEBIH KHUSUS (TUHFATUL MUHTAJ) : sekalipun untuk berzina :\rوَنِيَّةُ مُنْقَطِعَةِ حَيْضٍ اسْتِبَاحَةَ الْوَطْءِ وَلَوْ مُحَرَّمًا وَنَحْوَهَا نِهَايَةٌ وَقَوْلُهُ م ر وَلَوْ مُحَرَّمًا أَيْ كَالزِّنَا\rNiat wanita yang terputus haidnya dengan niat kebolehan jima' walaupun jima'nya di haramkan seperti zina (mandinya sah)\rLink Asal :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/511479485541531/\r2204. HUKUM JIMA' SUAMI ISTRI YANG BEDA MADZHAB TENTANG HAID\rPERTANYAAN :\rAlEiy MencHary ArtTea II\rAslamualaykum ,, (sungkem yai lan poro ustadz sesepuh ) badhe nyuwun pirso yi ,, mohon dijelaskan tentang : saya mo tanya ada suatu masa'il : AlEiy seorang yang bermadzhab syafi'i,beristri seorang wanita brmadzhab HANAFI .. Dalam mazhab hanafi paling sedikit waktu haid iitu tiga hari paling banyaknya sepuluh hari... Pertanyaannya : kalau istri mas ALEiy yang bermazhab hanafi apakah hari kesebelas boleh jimak ?\rJAWABAN :\r> Ubaid Bin Aziz Hasanan\rWa'alaikumussalaam..\rوَلَوْ اخْتَلَفَ اعْتِقَادُهُمَا فَالْعِبْرَةُ بِعَقِيدَةِ الزَّوْجِ لَا الزَّوْجَةِ ع ش","part":1,"page":312},{"id":313,"text":"Kalo seandainya berselisih pendapat (dalam masalah haid, bab istihadhoh mutahayyiroh ) antara keyaqinan suami dan istrinya maka yang dianggap (dipakai) ialah keyaqinan suami bukan istrinya menurut ali syibromilisi. [khawasi as syarwani 4/299].\rYang dimaksud i'tiqod, adalah i'tiqod kebolehannya dijima', lihat asybah wan nadzhoir 1/424 :\rقال الأذرعي : و لو اعتقد الزوج إباحة الوطء فالظاهر أن ليس لها المنع\rPada khawasi asysarwani :\r(قَوْلُهُ عَلَى حَلِيلِهَا) أَيْ مِنْ زَوْجِهَا وَسَيِّدِهَا نِهَايَةٌ، وَلَوْ اخْتَلَفَ اعْتِقَادُهُمَا فَالْعِبْرَةُ بِعَقِيدَةِ الزَّوْجِ لَا الزَّوْجَةِ ع ش.\r> Hasanul Zain\rDengan demikian kasus di atas Hukumnya Haidh dan Haram diJima' sebab suami Taqlid pada Imam Syafi'i.\r> Ki Brojol Tuo\rSaya dari tadi mencari ibarot yang jauh dari kemungkinan yang mengarah pada beberapa ragam pemahaman, tapi tak satupun saya temukan ibarot yang menyatakan bahwa andai madzhab suami dan istri itu berbeda, maka pedoman suamilah yang dimenangkan meskipun istri sudah nyata suci dari haid. Ataupun ibarot yang menyatakan bahwa andai istri sudah suci menurut batasan madzhabnya, maka suami boleh menjima'nya.\rSampai sekarang saya masih belum berani mengarahkan ibarot:\rوَلَوْ اخْتَلَفَ اعْتِقَادُهُمَا فَالْعِبْرَةُ بِعَقِيدَةِ الزَّوْجِ لَا الزَّوْجَةِ ع ش","part":1,"page":313},{"id":314,"text":"pada permasalahan lintas madzhab. Dan saya hanya menduga bahwa itu perselisihan dalam 1 madzhab dalam menentukan status istri ketika mengalami kebingungan, lupa, atau tidak tau sama sekali mengenai hal yang berkaitan dengan dirinya. Seperti dalam contoh kasus: \"suami bersikeras mengajak untuk bermesraan di antara pusar dan lutut dengan bertendensi pada Qaul yang memperbolehkan istimta' selain jima'. Sementara sang istri menolaknya dengan berpegangan pada Qaul yang mengharamkan istimta' secara muthlak\", maka jelas dengan ibarot tersebut pijakan suami yang dimenangkan dalam timbangan hukum fiqh. Walloohu a'lam bishshawaab.\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/528127720543374/\r2237. PENGERTIAN \" SUCI DIANTARA DUA HAID \"\rPERTANYAAN :\rAdy Selakoh Aolenk\rYang dimaksud suci di antara dua haid itu apa dan bagaimana ?\rJAWABAN :\r1. Abdullah Afif\rDalam kitab al Iqna' (Hasyiyah Bujairimi 3/247)\rوَأَقَلُّ ) زَمَنِ ( الطُّهْرِ ) الْفَاصِلِ ( بَيْنَ الْحَيْضَتَيْنِ ) ( خَمْسَةَ عَشَرَ يَوْمًا ) لِأَنَّ الشَّهْرَ غَالِبًا لَا يَخْلُو عَنْ حَيْضٍ وَطُهْرٍ ، وَإِذَا كَانَ أَكْثَرُ الْحَيْضِ خَمْسَةَ عَشَرَ يَوْمًا لَزِمَ أَنْ يَكُونَ أَقَلُّ الطُّهْرِ كَذَلِكَ\rPaling sedikit masa suci yang memisahkan antara dua haid adalah 15 hari, karena biasanya setiap bulan tidak sepi dari haid dan suci. Jika paling lama haid 15 hari maka paling sedikit suci seperti demikian (15 hari juga).\rوَلَا حَدَّ لِأَكْثَرِهِ ) أَيْ الطُّهْرِ\rTidak ada batas untuk masa paling lama untuk suci antara dua haid. Saya tambahkan ta'bir dari Hasyiyah Jamal 2/366 :","part":1,"page":314},{"id":315,"text":"لِأَنَّ الشَّهْرَ إمَّا أَنْ يَجْمَعَ أَكْثَرَ الْحَيْضِ وَأَقَلَّ الطُّهْرِ أَوْ عَكْسَهُ أَوْ أَقَلَّهُمَا أَوْ أَكْثَرَهُمَا لَا سَبِيلَ إلَى الثَّانِي وَالرَّابِعِ\rLI ANNASYSYAHRA IMMAA AN YAJMA'A AKTSARAL HAIDHI WA AQALLATHTHUHRI AU 'AKSAHUU AU AQALLAHUMAA AU AKTSARAHUMAA LAA SBIILA ILATSTSAANII WARRAABI'I\r2. Aslim Tas'ad Sie Pengajian\rLihat safinah najah :\rأقل الح?ض: . ?وم ول?لھ وغالبة. ستة أوسبع وأکثره خمسة عشرة ?وما بل?ال?ھا . أقل. الطھر ب?ن الح?ضت?ن خمسة عشرة ?\rAQALLUL HAIDHI YAUMUN WA LAILATUN WA GHAALIBUHUU SITTATUN AU SAB'UN WA AKTSARUHUU KHAMSATA 'ASYARA YAUMAN BILAYAALIIHAA, AQALLUTHTHUHRI BAINAL HAIDHATAINI KHAMSATA 'ASYARA. Wallaahu A'lam.\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/546326698723476/\r2363. WANITA HAID MELAKUKAN SUJUD SYUKUR\rPERTANYAAN :\rAna Sholihah\rAssalamu'alaikum ustadz.. bolehkan wanita haid melakukan sujud syukur ? terima kasih sebelumnya atas pencerahannya..\rJAWABAN :\r> Nimas\rWa'alaykum salaam... Sujud Syukur adalah sujud yang di lakukan di luar shalat karena ada beberapa sebab. Sujud ini hukumnya adalah sunah. Berikut ini beberapa sebab di sunahkannya melakukan sujud syukur :\r1.…Mendapatkan ni’mat yang tidak di sangka sebelumnya baik ni’mat pada dirinya sendiri, kerabat, teman atau umat islam secara umum. maka tidak sunah karena mendapat ni’mat yang terus menerus seperti ni’mat islam.\r2.…Terhindar dari bencana atau musibah yang tidak di duga-duga sebelumnya seperti selamat dari tertimpa bangunan yang roboh akibat gempa atau selamat dari tenggelamnya kapal.","part":1,"page":315},{"id":316,"text":"3.…Ketika melihat orang lain melakukan kemaksiatan sebagai rasa syukur bahwa dirinya tidak melakukannya.\rAdapun cara melakukan sujud syukur yaitu di lakukan di luar shalat dengan satu kali sujud di syaratkan dalam keadaan suci menutupi aurot dan menghadap qiblat.\rNiat sujud syukur :\rنَوَيْتُ سُجُوْدَ الشُّكْرِ سُنَةَ للهِ تَعَالَى\rBacaan sujud syukur sebagai berikut :\rسَجَدَ وَجْهِِى لِلَّذِى خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ وَشَقَ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ بِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ فَتَبَا رَكَ اللهُ اَحْسَنُ الْخَالِقِيْنَ.\rApabila terdapat hal-hal yang mensunahkan sujud syukur sementara dia tidak dalam kondisi suci di sunahkan membaca.\rسُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ ِللهِ وَلاَ اِلَهَ اِلاَّ للهُ وَاللهُ اَكْبَرَ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ اِلاَّ بِاللهِ اْلعَظِيْمِ 4×\rFokus: Saat Haid, untuk bersyukur, cukup mengucapkan\rسُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ ِللهِ وَلاَ اِلَهَ اِلاَّ للهُ وَاللهُ اَكْبَرَ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ اِلاَّ بِاللهِ اْلعَظِيْمِ 4×\r> Ibnu Ma'mun\rSyarat-syarat sujud syukur sama seperti syarat-syarat sujud di dalam sholat. seperti harus suci. menutup aurat. menghadap kiblat. Jadi wanita haid tidak boleh melakukan sujud sukur, lihat kitab Mahali juz 1 halaman 237 :","part":1,"page":316},{"id":317,"text":"ومن سجد خارج الصلاة) أي أراد السجود (نوى) سجدة التلاوة (وكبر للإحرام) بها (رافعا يديه) كالرفع لتكبيرة الإحرام (ثم) كبر (للهوي بلا رفع) ليديه (وسجد) سجدة (كسجدة الصلاة ورفع) رأسه (مكبرا) وجلس (وسلم) من غير تشهد كتسليم الصلاة (وتكبيرة الإحرام شرط على الصحيح، وكذا السلام في الأظهر) أي لا بد منهما وتشترط النية أيضا، وقيل: لا. ومدرك الخلاف في هذه الثلاثة أن السجدة تلحق بالصلاة أو لا تلحق بها، ولا يستحب التشهد في الأصح. (وتشترط شروط الصلاة) قطعا كالطهارة والستر والاستقبال\rfokus :\rوتشترط شروط الصلاة) قطعا كالطهارة والستر والاستقبال\rApa bila tidak memungkinkan sujud karena ada kesibukan atau lainnya maka di anjurkan baca tasbih 4x . Sebagai pengganti sujud tilawah.\rفَإِن لم يتَمَكَّن من فعلهَا لشغل قَالَ أَربع مَرَّات سُبْحَانَ الله وَالْحَمْد لله وَلَا إِلَه إِلَّا الله وَالله أكبر وَلَا حول وَلَا قُوَّة إِلَّا بِاللَّه الْعلي الْعَظِيم\rكتاب نهاية الزين ص 88\r> Brojol Gemblung\rBismillah\rالمجموع - محيى الدين النووي - ج - 2 الصفحة 353 :\rفرع : قال أصحابنا: وفى معنى الص?ة سجود الت?وة والشكر فيحرمان على الحائض والنفساء كما تحرم ص?ة الجنازة ?ن الطهارة شرط.\rCabang : Sahabat kami (Syafi'iyyah) berkata: Dan searti dengan shalat ialah sujud Tilawah dan sujud Syukur, maka haram dikerjakan oleh yang sedang haid dan nifas sebagaimana keharaman melakukan shalat janazah karena suci merupakan syarat.\rا?قناع في حل ألفاظ أبي شجاع - محمد بن أحمد الشربيني - ج - 1 الصفحة 91 :\rفي ما يحرم بالحيض والنفاس ثم شرع في أحكام الحيض فقال: ويحرم الحيض ولو أقله ثمانية أشياء: ا?ول الص?ة فرضها ونفلها، وكذا سجدة الت?وة والشكر. انتهى","part":1,"page":317},{"id":318,"text":"Penjelasan tentang sesuatu yang haram sebab haid dan nifas, kemudian pengarang memulainya dengan hukum-hukum terkait haid, lalu berkata: Ada delapan perkara yang haram untuk haid meskipun dalam usia minimalnya. Yang pertama adalah shalat, baik fardhu ataupun sunnah, demikian juga sujud tilawah dan syukur. Selesai.\r> IImam Cakep Aja Deeh\rOrang haid haram melakukan sujud syukur... lihat kitab al bajuri juz1/113-114...\rWA YAHRUMU 'ALAL HAIDI TSAMANIYATU ASYA A AHADUHA ASSHOLATU FARDON AU NAFLAN WA KADZA SAJADATUT TILAWATI WAS SYUKRI..\r> Timur Lenk\rHaram sebab hadats, sebagaimana orang berhadats haram Sholat, sujud tilawah, sujud Syukur, Khutbah jum'ah, sholat janazah, thowaf membawa mushaf, dan lain-lain. Lihat Minhajul qowim :\rفصل: فيما يحرم بالحدث والمراد به الأصغر عند الإطلاق. \"ويحرم بالحدث الصلاة\" إجماعًا \"ونحوها\" كسجدة تلاوة وشكر وخطبة جمعة وصلاة جنازة. \"والطواف\", ولو نفلا لأنه صلاة كما في الحديث4 \"وحمل المصحف ومس ورقه وحواشيه وجلده\" المتصل به لا المنفصل عنه، وإنما حرم الاستنجاء به وإن انفصل لأنه أفحش وجلده وخريطته وعلاقته وصندوقه وما كتب لدرس قرآن ولو بخرقة، ويحل حمله في أمتعة لا بقصده وفي تفسير أكثر منه وقلب ورقه بعود، ولا يمنع الصبي المميز من حمله ومسه للدراسة، ومن تيقن الطهارة وشك في الحدث أو تيقن الحدث وشك في الطهارة بني على يقينه\rSebab hadats besar haram melakukan perkara yang diharamkan karena sebab hadats kecil, lihat Minhajul qowim pada fasal mujibul ghusli","part":1,"page":318},{"id":319,"text":"\"ويحرم بالجنابة ما يحرم بالحدث\" وقد مر \"ومكث\" المسلم \"في المسجد\" ورحبته وهوائه وجناح بجداره وإن كان كله في هواء الشارع وبقعة وقف بعضها مسجدًا شائعًا لقوله صلى الله عليه وسلم: \"لا أحل المسجد لحائض ولا جنب\" 1 حسنه ابن القطان2. \"وتردد فيه\" أو في نحوه مما ذكر لأنه يشبه المكث بخلاف العبور، نعم هو خلاف الأولى إلا لعذر كقرب ومحل حرمة المكث والتردد إذا كانا \"لغير العذر\" فإن كانا لعذر كأن احتلم فأغلق عليه باب المسجد أو خاف من الخروج على تلف نحو مال جاز له المكث للضرورة ويجب عليه التيمم ويحرم بتراب المسجد وهو الداخل في وقفه، أما الكافر فلا يمنع من المكث فيه لأنه لا يعتقد حرمته. \"و\" يحرم على المسلم أيضًا \"قراءة القرآن\" بلسانه ولو لحرف منه \"بقصد القراءة\" وحدها أو مع غيرها لقوله صلى الله عليه وسلم: \"لا يقرأ الجنب ولا الحائض شيئًا من القرآن\" 3، حسنه المنذري4 أما إذا لم يقصدها بأن قصد ذكره أو موعظته أو حكمه كالبسملة أو أطلق فلا يحرم لأنه لا يكون قرآنًا إلا بالقصد، نعم يجب قراءة الفاتحة في صلاة جنب فقد الطهورين لضرورة توقف صحة الصلاة عليها.\rLINK TERKAIT :\rwww.piss-ktb.com/2012/03/f0025-macam-macam-sujud.html\rLINK DISKUSI:\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/584346328254846/\rF0055. SHOLAT YANG WAJIB DI QADHA BAGI WANITA HAID DAN NIFAS\rالشافعية قالوا :...... أما إذا طرأ الجنون ونحوه كالحيض بعد أن مضى من أول الوقت ما يسع الصلاة وطهرها بأسرع ما يمكن فإنه يجب قضاء الصلاة وإذا ارتفع العذر وكان الباقي من الوقت قدر تكبيرة الإحرام فأكثر وجب قضاء تلك الصلاة مع ما قبلها إن كانت تجمع معها كالظهر مع العصر بشرط أن يستمر ارتفاع العذر زمنا متصلا يسع الطهر والصلاتين زيادة على ما يسع الصلاة المؤداة وطهرها","part":1,"page":319},{"id":320,"text":"هذا إذا كان الطهر بالوضوء فإن كان بالتيمم فيشترط أن يسع قدر طهرين وصلاتين فإن لم يسع إلا طهرا واحدا وصلاة واحدة لم تجب ما قبلها\rMenurut Madzhab SYAFI'IYYAH :\r1. SHALAT SAAT DATANGNYA UDZUR\rBila datangnya udzur (haid dan nifas) telah masuk waktu shalat sekira cukup menjalankan shalat dengan bersucinya (wudhu, tayammum atau mandi) secepat mungkin tetapi ia belum mengerjakan shalat tersebut.\r2. SHALAT SAAT HILANGNYA UDZUR\rBila hilangnya udzur (haid dan nifas) masih menyisakan waktu shalat sekedar takbiratul ihram.\r3. SHALAT SEBELUM HILANGNYA UDZUR\rDan juga diwajibkan mengqadha shalat sebelum hilangnya udzur bila memenuhi ketentuan :\r1.…Masih menyisakan waktu shalat sekedar takbiratul ihram.\r2.…Sholat sebelumnya dapat di jama' dengan sholat yang dirinya berhenti haid, (misalkan ia berhenti pada waktu asyar atau isya’ maka dzuhur atau maghribnya juga wajib di Qodho berbeda saat ia berhenti haid pada waktu shubuh, magrib, dhuhur maka tidak wajib baginya menQodho sholat sebelumnya).\r3.…Udzurnya hilang (tidak kembali lagi) dalam waktu minimal cukup untuk mengerjakan dua sholat fardhu dan bersucinya.\r[ al-Fiqh 'Alaa Madzaahib al-Arba'ah I/752 by Masaji Antoro ].\rحدثنا هشيم عن مغيرة وعبيدة أخبراه عن إبراهيم وعن حجاج عن عطاء والشعبي وعن عبد الملك عن عطاء في الحائض إذا طهرت قبل غروب الشمس صلت الظهر والعصر وإذا طهرت قبل الفجر صلت المغرب والعشاء\r[ Mushonnaf Ibnu Syaibah No 7206 ].\r( ويجب ) أيضا ( قضاء ما قبلها إن جمعت معها ) كالظهر مع العصر والمغرب مع العشاء لأن وقتها لها حالة العذر فحالة الضرورة أولى\r[ Minhaj alQowiim I/128 ].\rKenapa sholat sebelumnya harus disertakan di Qodho ??","part":1,"page":320},{"id":321,"text":"1.…Berdasarkan atsar dari Hasyim dari Mughirah dari ‘ubaidah dari Ibrahim dari Hajjaj dari ‘Athoo’ dan Assyi’by dari Abdul Malik dari ‘Athoo’ “Bila wanita haid suci sebelum terbenamnya matahari (masih waktu ashar) sholatlah dhuhur dan ashar dan bila suci sebelum fajar (masih waktu isya’) sholatlah maghrib dan isya’ “.\r2.…Karena waktu shalat yang kedua (yaitu ashar bila dinisbatkan dengan dhuhur, atau isya bila dinisbatkan dengan maghrib) merupakan waktu shalat yang pertama tatkala ada UZUR (seperti ketika dijamak ta’khir dalam keadaan safar), maka saat DARURAT (seperti haid) keadaan semacam itu lebih berhak untuk didapatkan.\r2401. SHALAT WANITA YANG ISTIKHADOH TAK PERLU DIULANG / DIQODHO\rPERTANYAAN :\r> Khaconk Cilik\rAssalamu'alaiku m.. *pertanyaan titipan* Apakah sholatnya cewek yang lagi istihadhoh harus diqodho' / diganti...? Mohon pencerahannya, trim's\rJAWABAN :\r> Ghufron Bkl\rWanita yang istihadloh tetap berkewajiban untuk melaksanakan shalat disaat istihadloh tersebut dan shalat yang dikerjakan saat istihadloh tersebut tidak wajib diulang / diqodlo'. :\r.وأما النادر فقسمان قسم يدوم غالبا وقسم لا يدوم فالأول كالمستحاضة و سلس البول والمذي ومن به جرح سائل أو رعاف دائم أو استرخت مقعدته فدام خروج الحدث منه و من أشبههم فكلهم يصلون مع الحدث والنجس ولا يعيدون للمشقة والضرورة. المجموع شرح المهذب 2/333\rUntuk lebih jelasnya, silahkan buka di sini :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/433085310047616\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/594952890527523\rF0086. Tata Cara Shalat Bagi Mustahadlat Dan Orang Beser\rOleh Mbah Jenggot\rKAJIAN FIQH WANITA BAGIAN 16","part":1,"page":321},{"id":322,"text":"Tata Cara Shalat Bagi Mustahadlat (wanita yang Istikahadoh) dan Beser (selalu Hadast)\rIstihadlat tidak sama hukumnya dengan haid atau nifas. Istihadlat itu termasuk bagian hadas kecil yang sifatnya terus-menerus seperti beser air seni atau beser air madzi. Maka mustahadlat tetap di-wajibkan shalat fardlu dan puasa Ramadlan, dan tidaklah diharamkan membaca al-Qur’an, bersetubuh dan lain-lain (Syarhu al-Minhaj pada Ha-misy Hasyiyah al Jamal: 1/242).\rMustahadlat dan orang yang beser itu terus-menerus mengeluarkan hadas dan najis, maka ketika akan mendirikan shalat, ia hendaklah lebih dulu mensucikan kemaluannya lalu di sumbat dengan kapuk atau kain sekiranya tidak sakit dan ketika tidak mengerjakan puasa Ramadlan.\rApabila darahnya masih terus mengalir keluar di permukaan sumbatan, maka ia diwajibkan membalut. Apabila karena banyaknya darah, hingga tetap keluar ke permukaan pembalut, maka dimaafkan. Dan apabila ia sedang mengerjakan puasa, hendaklah supaya membuat pembalut saja, karena menyumbat itu menyebabkan batal puasanya (Minhajul Qawim: 30, dan Fathul Wahab pada Hamisy Hasyiyah Al-Jamal: 1/242).\rSetelah dibalut, lalu wudlu dengan niat sepaya diperkenankan mengerjakan shalat fardlu. Bukan niat karena menghilangkan hadas atau niat bersuci dari hadas (Fathul Wahhab pada Hamisy Hasyiyah Sulaiman al-Jamal:1/105).","part":1,"page":322},{"id":323,"text":"Sejak mulai mensucikan kemaluan hingga wudlu, wajib dilakukan setiap akan mengerjakan shalat fardlu dan setelah masuk waktu shalat. Semua pekerjaan, mulai dari mensucikan kemaluan hingga shalat far-dlu, wajib dilaksanakan dengan segera. Maka apabila sesudah wudlu lalu berhenti lebih dulu, karena keperluan selain maslahatnya shalat, seperti makan, minum dan lain-lain, maka ia diwajibkan kembali mensucikan kemaluan dan seterusnya. Namun apabila berhentinya karena untuk kemaslahatan shalat, seperti menutup aurat, menjawab muadzin, me-nunggu jamaah, menunggu shalat Jum’at dan lain-lain, maka hal itu diperkenankan Syara’ (tidak perlu kembali bersuci lagi).\rOrang yang beser mani, ia diwajibkan mandi setiap akan menger-jakan shalat fardlu dengan niat supaya diperkenankan mengerjakan shalat fardlu. Tidak diperkenankan niat menghilangkan hadas atau niat bersuci dari hadas.\rBagi orang yang hadasnya, seumpama untuk shalat, bisa dengan duduk, lalu hadasnya bisa berhenti, maka ia diwajibkan shalat dengan duduk. Nanti setelah sembuh tidak perlu mengqadla shalatnya (Minhaj al-Qawim: 30).\rPERTANYAAN : Bahwa wudlunya orang Da’aimul Hadats, yaitu orang yang terus-menerus berhadas, seperti orang yang beser dan mustahadlat, seluruh tubuhnya di syaratkan suci dari najis atau tidak?\rJawabnya : para ulama berbeda pendapat. Yang pertama mensyaratkan seleruh tubuh harus suci dari najis. Yang kedua, tidak mensyaratkan harus suci tubuhnya dari najis (Hasyiyah al-Jamal ala Syarhi al-Minhaj: 1/242).\rPeringatan !","part":1,"page":323},{"id":324,"text":"Bagi seorang yang istihadlat dan orang beser, yang kebiasannya, pada akhir shalat ada berhentinya yang cukup untuk wudlu dan shalat, maka di dalam mengerjakan shalat wajib diakhirkan (Hasyiyah Al-Jamal ala Syarhi al-Minhaj: 1/245).\rBagi orang yang beser, sah menjadi imam shalat, sekalipun, mak-mum tidak beser. Dan bagi orang istihadlat yang selain mutahayyirat, juga sah menjadi imam shalat, walaupun si makmum tidak istihadlat. Adapun orang istihadlat yang mutahayyirat tidak sah menjadi imam shalat, sekalipun makmumnya sama-sama mustahadlat mutahayyirat (Mughnil Muhtaj: 1/241).\rPerkara Yang Diharamkan Bagi Orang Haid dan Nifas\rSeorang wanita yang sedang haid atau nifas, diharamkan menger-jakan 11 perkara, yaitu sebagai berikut:\r1. Mengerjakan shalat fardlu maupun shalat sunnah,\r2. Mengerjakan thawaf di Baitullah Makkah, baik thawaf rukun, thawaf wajib atau thawaf sunnah.\r3. Mengerjakan rukun-rukun khutbah Jum’at\r4. Menyentuh lembaran al-Qur’an Apalagi kitab al-Qur’an\r5. Membawa lembaran al-Qur’an. Apalagi kitab al-Qur’an.\r6. Membaca ayat al-Qur’an, kecuali karena mengharap barakah, seperti membaca Bismillahirrahmaanirrahiim, memulai pekerjaan yang baik, Alhamdulilahi Rabbil ‘Alamiin, karena bersyukur dan Innaa Lillaahi wa Innaa Ilaihi Raaji’uun karena terkena musibah.\r7. Berdiam diri di dalam masjid, sekiranya dikhawatikan darahnya tertetes didalamnya.\r8. Mundar mandir didalam masjid, sekiranya dikahawatirkan darah-nya tertetes didalamnya.\r9. Mengerjakan puasa Ramadlan, tetapi diwajibkan qadla. Adapun shalat tidak diwajibkan qadla.","part":1,"page":324},{"id":325,"text":"10. Meminta cerai kepada suaminya, atau sebaliknya.\r11. Melakukan Istimta’, bersenang-senang suami istri dengan pertemuan kulit antara pusar sampai dengan kedua lutut, baik bersyahwat atau tidak. Apalagi bersetubuh, meskipun kemaluannya lelaki di bungkus dengan kain / kondom, hukumnya jelas haram dosa besar.\rApabila haid atau nifas sudah berhenti, tetapi belum mandi, maka larangan 11 perkara ini tetap berlaku, kecuali puasa dan thalaq (Mahali serta Hasyiyah Al-Qalyubi: 1/100 dan Abyanal Hawaij: 11/269-270).\rDikatakan oleh ulama Fuqaha: bahwa suami yang menyetubuhi istrinya sebelum mandi, baik istrinya masih dalam keadaan haid atau sudah berhenti akan mengakibatkan terkena penyakit lepra (buduken: Jawa) terhadap anaknya (Hasyiyah Al-Qalyubi: 1/110).\rSeseorang yang haid atau nifas nanti setelah berhenti, diwajibkan mengqadla puasa Ramadlan yang ditinggalkan, dan tidak wajib mengqa-dla shalat fardlu secara Ijma’ dalam keduanya, karena kesukaran di dalam qadla shalat ank arena berulang-ulangnya shalat. Tidak demi-kian halnya qadla puasa (Al-Mihajul Qawim serta Hasyiyah Al-Turmu-si:1/548 dan Husnul Mathalib: 70).\rHukum-hukum yang berpautan dengan haid, ada 20 perkara, 12 berupa hukum haram, yaitu:\r1. Mengerjakan shalat,\r2. Melakukan sujud tilawah (bacaan dalam al-Qur’an), sujud syukur,\r3. Melakukan thawaf rukun, wajib, atau sunnah,\r4. Mengerjakan puasa wajib maupun sunnah,\r5. Melakukan I’tikaf di dalam masjid,\r6. Memasuki masjid sekira kuatir akan tetesnya darah haid,\r7. Membaca al-Qur.an.\r8. Menyentuh al-Qur’an.\r9. Menulis al-Qur’an menurut sebagian ulama,","part":1,"page":325},{"id":326,"text":"Sembilan perkara ini yang diharamkan bagi seorang wanita yang sedang haid. Adapun yang tiga selanjutnya, diharamkan bagi lelaki suaminya, yaitu:\r10. Melakukan persetubuhan\r11. Menceraikan istrinya dalam keadaan haid\r12. Melakukan istimta’, atau besenang-senang dengan cara memper-mukan kulit antara pusar sampai dengan lutut istrinya dengan selain bersetubuh.\rAdapun delapan perkara yang lain tidak berupa hukum haram ialah sebagai berikut:\r1. Usia balig karena haid\r2. Kewajiban mandi, setelah haidnya berhenti\r3. Melaksanakan Iddat, apabila cerai atau suaminya meninggal\r4. Istibra’ atau menunggu seorang wanita amat yang baru dimiliki\r5. Bersihnya kandungan bayi\r6. Diterima ucapannya apabila wanita itu sudah haid\r7. Gugurnya kewajiban shalat ketika keluar darah haid\r8. Gugurnya thawaf wada’ ketika dalam keadaan haid.\r(Hasyiyah Al-jamal ala Syarhi Al-Minhaj: 1/227). Ri’ayatul Himmah: 1/152 153).\rPeringatan!\rBerhubungan dengan orang yang mempunyai hadas besar, dibolehkan membaca zikir / do'a yang diambil dari al-Qur’an, dengan tidak berniat membaca al-qur'an, seperti ketika makan atau minum membaca lafadl\rبسم الله الرحمن الرحيم\r“Dengan menyebut nama Allah Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang”.\rKetika menerima nikmat dari Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa lalu membaca lafad\rالحمد لله رب العالمين\r“Segala puji bagi Allah seru sekalian alam semesta”.\rKetika naik kendaraan membaca bacaan al-Qur’an dengan harapan semoga selamat dengan lafad\rسبحان الذى سخر لنا هذا وما كناله مقرنين, وإنا إلى ربنا لمنقلبون","part":1,"page":326},{"id":327,"text":"“Maha Suci Dzat yang telah menundukkan semua ini bagi kami sebelumnya tidak mampu mengasainya. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami,. Sesungguhnya yang mewajibkan kepadamu Alqur’an, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali”.\rKetika mendapat musibah atau cobaan sabar dan ridla dengan mengucapkan lafad:\rإنالله وإنا إليه راجعون\rSesungguhnya kami kepunyaan Allah, dan sesungguhnya kepada Allah lah tempat kami kembali. (Al-Iqna’ pada Hamisy Hasyiyah Al-Bujarami:1/315 dan Abyanal Hawaij: 11/269).\r3855. TATA CARA WANITA ISTIHADHOH SEBELUM SHOLAT\rPERTANYAAN :\r> Fiqoh\rAssalamu'alaikum....Maaf mau tanya apa yang harus dilakukan perempuan yang sedang istihadloh sebelum melakukan sholat? Terima kasih.\rJAWABAN :\r> Muhib Salaf Soleh\rBerikut hal-hal yang harus dilakukan perempuan yang sedang istihadloh sebelum melakukan sholat :\r1.…wajib bagi dia untuk membersihkan dulu najis yang ada padanya dari darah atau yang lainnya.\r2.…wajib bagi dia menutupi tempat keluarnya darah denga kapas atau selainnya, Ini jika dia tidak merasa terganggu dan juga dia tidak sedang berpuasa karena dengan memasukan kapas ke kemaluannya dapat membatalkan puasanya.\r3.…harus cepat cepat wudlu tapi jika sudah masuk waktunya solat dan juga mesti muwalah(langsung wudlu kemudian sholat ).\r4.…harus cepat cepat solat setelah wudlu dan jangan sampai ada pekerjaan pemisah antara wudlu dan solat yang akan dia kerjakan kecuali pekerjaan itu untuk kemaslahatan seperti menjawab adzan atau sholat sunnah qobliyah.\rالتقريرات السديدة ج 1 ص 171.","part":1,"page":327},{"id":328,"text":"الخطوات التي تتخذها المستحاضة إذا أرادت الصلاة :1. يجب عليها أن تتطهر من النجاسة الدم أو غيره.2. يجب عليها الحشو في موضع خروج الدم بقطن أو نحوه إلا إذا كانت تتأذى أو كانت صائمة لأن ذلك يفطرها و يجب عليها التعصيب إن لم يكف الحشو.3.يجب عليها المبادرة بعد ذلك بالوضوء و شرطه أن يكون بعد دخول الوقت و الموالاة فيه .4. و يجب عليها المبادرة إلى الصلاة فلا يجوز تأخيرها إلا إذا كانت التأخير لمصلحة الصلاة كإجابة المؤذن و نافلة قبلية و انتظار جماعة.\rLINK DISKUSI:\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/928082010547941/\rwww.fb.com/notes/928151697207639\r2463. LARANGAN SAAT HAID\rPERTANYAAN :\r> Ilma Alvin Ramadan\rAssalamu'alaikum, aku mo tanya pertanyaan titipan. amalan apa saja yang boleh dilakukan wanita saat haid? trims...\rJAWABAN :\r> Toni Imam Tontowi\rWa'alaikum salaam... dalam kitab Ghoyatul Ikhtishor dijelaskan :\r(ويحرم بالحيض) وفي بعض النسخ ويحرم على الحائض (ثمانية أشياء) أحدها (الصلاة) فرضاً أو نفلاً وكذا سجدة التلاوة والشكر (و) الثاني (الصوم) فرضاً أو نفلاً (و) الثالث (قراءة القرآن و) الرابع (مس المصحف) وهو اسم للمكتوب من كلام الله بين الدفتين (وحمله) إلا إذا خافت عليه (و) الخامس (دخول المسجد) للحائض إن خافت تلويثه (و ) السادس (الطواف) فرضاً أو نفلاً (و) السابع (الوطء) ويسن لمن وطىء في إقبال الدم التصدق بدينار، ولمن وطىء في إدباره التصدق بنصف دينار (و) الثامن (الاستمتاع بما بين السرة والركبة) من المرأة فلا يحرم الاستمتاع بهما ولا بما فوقهما على المختار في شرح المهذب\rDiharamkan bagi orang yang haidl ada 8 :\r- sholat\r- puasa\r- membaca Al-qur'an (dengan niat membaca)\r- menyentuh mush-haf Al-qur'an\r- membawa mush-haf Al-qur'an\r- masuk masjid bila khawatir darahnya netes didalamnya","part":1,"page":328},{"id":329,"text":"- thowaf- wathi / jima'\r- istimta' (bersenang-senang) di antara pusar sampai lutut\rSelain ini semua BOLEH.\r> Mbah Jenggot II\rPerkara Yang Diharamkan Bagi Orang Haid dan Nifas. Seorang wanita yang sedang haid atau nifas, diharamkan menger-jakan 11 perkara, yaitu sebagai berikut:\r1. Mengerjakan shalat fardlu maupun shalat sunnah,\r2. Mengerjakan thawaf di Baitullah Makkah, baik thawaf rukun, thawaf wajib atau thawaf sunnah.\r3. Mengerjakan rukun-rukun khutbah Jum’at\r4. Menyentuh lembaran al-Qur’an Apalagi kitab al-Qur’an\r5. Membawa lembaran al-Qur’an. Apalagi kitab al-Qur’an.\r6. Membaca ayat al-Qur’an, kecuali karena mengharap barakah, seperti membaca Bismillahirrahm aanirrahiim, memulai pekerjaan yang baik, Alhamdulilahi Rabbil ‘Alamiin, karena bersyukur dan Innaa Lillaahi wa Innaa Ilaihi Raaji’uun karena terkena musibah.\r7. Berdiam diri di dalam masjid, sekiranya dikhawatikan darahnya tertetes didalamnya.\r8. Mundar mandir didalam masjid, sekiranya dikahawatirkan darah-nya tertetes didalamnya.\r9. Mengerjakan puasa Ramadlan, tetapi diwajibkan qadla. Adapun shalat tidak diwajibkan qadla.\r10. Meminta cerai kepada suaminya, atau sebaliknya.\r11. Melakukan Istimta’, bersenang-senang suami istri dengan pertemuan kulit antara pusar sampai dengan kedua lutut, baik bersyahwat atau tidak. Apalagi bersetubuh, meskipun kemaluannya lelaki di bungkus dengan kain, hukumnya jelas haram dosa besar.","part":1,"page":329},{"id":330,"text":"Apabila haid atau nifas sudah berhenti, tetapi belum mandi, maka larangan 11 perkara ini tetap berlaku, kecuali puasa dan thalaq. (Mahali serta Hasyiyah Al-Qalyubi: 1/100 dan Abyanal Hawaij: 11/269-270).\rHukum-hukum yang berpautan dengan haid, ada 20 perkara, 12 berupa hukum haram, yaitu:\r1. Mengerjakan shalat,\r2. Melakukan sujud tilawah (bacaan dalam al-Qur’an), sujud syukur,\r3. Melakukan thawaf rukun, wajib, atau sunnah,\r4. Mengerjakan puasa wajib maupun sunnah,\r5. Melakukan I’tikaf di dalam masjid,\r6. Memasuki masjid sekira kuatir akan tetesnya darah haid,\r7. Membaca al-Qur.an.\r8. Menyentuh al-Qur’an.\r9. Menulis al-Qur’an menurut sebagian ulama,\rSembilan perkara ini yang diharamkan bagi seorang wanita yang sedang haid. Adapun yang tiga selanjutnya, diharamkan bagi lelaki suaminya, yaitu:\r10. Melakukan persetubuhan\r11. Menceraikan istrinya dalam keadaan haid\r12. Melakukan istimta’, atau besenang-senang dengan cara memper-mukan kulit antara pusar sampai dengan lutut istrinya dengan selain bersetubuh.\rAdapun delapan perkara yang lain tidak berupa hukum haram ialah sebagai berikut:\r1. Usia balig karena haid\r2. Kewajiban mandi, setelah haidnya berhenti\r3. Melaksanakan Iddat, apabila cerai atau suaminya meninggal\r4. Istibra’ atau menunggu seorang wanita amat yang baru dimiliki\r5. Bersihnya kandungan bayi\r6. Diterima ucapannya apabila wanita itu sudah haid\r7. Gugurnya kewajiban shalat ketika keluar darah haid\r8. Gugurnya thawaf wada’ ketika dalam keadaan haid.\r(Hasyiyah Al-jamal ala Syarhi Al-Minhaj: 1/227) Ri’ayatul Himmah: 1/152 153).","part":1,"page":330},{"id":331,"text":"Peringatan! Berhubungan dengan orang yang mempunyai hadas besar, dibo-lehkan membaca zikir yang diambil dari al-Qur’an, seperti ketika makan atau minum membaca lafadl :\rبسم الله الرحمن الرحيم\r“Dengan menyebut nama Allah Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang”.\rKetika menerima nikmat dari Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa lalu membaca lafad\rالحمد لله رب العالمين\r“Segala puji bagi Allah seru sekalian alam semesta”.\rKetika naik kendaraan membaca bacaan al-Qur’an dengan harapan semoga selamat dengan lafad :\rسبحان الذى سخر لنا هذا وما كناله مقرنين, وإنا إلى ربنا لمنقلبون\r“Maha Suci Dzat yang telah menundukkan semua ini bagi kami sebelumnya tidak mampu mengasainya. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami,. Sesungguhnya yang mewajibkan kepadamu Alqur’an, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali”.\rKetika mendapat musibah atau cobaan sabar dan ridla dengan mengucapkan lafad :\rإنالله وإنا إليه راجعون\rSesungguhnya kami kepunyaan Allah, dan sesungguhnya kepada Allah lah tempat kami kembali. (Al-Iqna’ pada Hamisy Hasyiyah Al-Bujarami:1/ 315 dan Abyanal Hawaij: 11/269).\rLINK TERKAIT :\rwww.piss-ktb.com/2012/03/f0086-kajian-fiqh-wanita-bag-16.html\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/583851691637643/\r2465. HAID : TIADA BATAS UMUR MONOPAUSE\rPERTANYAAN :\r> Nadif Sogol","part":1,"page":331},{"id":332,"text":"Ada seorang wanita yang kira kira umur 83 tahun,ia udah lama mengalami masa monopause(tidak keluar darah),akan ttp akhir akhir ini ia mengeluarkan darah lagi bahkan sekarang uda lewat dua hari. Apakah darah tersebut bisa di namakan darah haid? Kalau iya maka ia dalam kategori mubtadiah atau mu'tadah?\rJAWABAN :\r> Nur Hasyim S.Anam\rSecara fiqih, maka darah itu termasuk haid, (mu'tadah)\r> Ghufron Bkl\rTetap di namakan haid karena monopause itu hanya gholib saja, karena usia wanita haid tidak ada akhirnya.\r:.و سن اليأس من الحيض إثنان و ستون سنة هو المعتمد وهذا باعتبار الغالب فلا ينافي ما صرحوا به من أنه لا آخر لسن الحيض فهو ممكن ما دامت حية. الشرقاوي 1/147\rLINK DISKUSI:\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/603590796330399\r2528. SEDEKAH EMAS KARENA MENJIMAK ISTRI YANG SEDANG HAID\rPERTANYAAN :\r> Kholid Bin Walid\rAssalamu'alaikum wr-wb. Mohon maaf sebelum nya, mau tanya kepada para alim disini. adakah cara khusus meminta ampun kepada Allah ketika kita melanggar larangan-Nya seperti menjima' istri ketika lagi haid. Semoga dapat petunjuk terima kasih.\rJAWABAN :\r> Ghufron Bkl\rWa'alaikumussalaam, orang yang menjima' istrinyang yang sedang haid, bila jima' tersebut dilakukan disaat derasnya darah maka disunahkan bersedekah sebanyak 1 dinar (1 dinar = 3,875 gram emas), dan bila jima' tersebut dilakukan darah haid hampir berhenti atau sudah berhenti tapi belum mandi maka disunahkan bersedekahs ebanyak 1/2 dinar. :\r.ويسن لمن وطئ في إقبال الدم التصدق بدينار ولمن وطئ في إدباره أى تناقصه ومثله ما بعد انقطاعه إلى الطهر التصدق بنصف دينار. الباجوري 1/115\rLINK DISKUSI :","part":1,"page":332},{"id":333,"text":"www.fb.com/groups/piss.ktb/589794067710072\r2578. KENAPA DZUHUR IKUT DIQODHO SAAT HAID BERHENTI WAKTU 'ASHAR ?\rPERTANYAAN :\r> Ceng Anoom\rAssalaamu'alaikum, saya mau tanya, di dalam kitab sulam munajat diterangkan Bahwa ketika seorang wanita suci dari haid di waktu ashar atau 'isya, maka sholat sebelumnya (dzuhur atau maghrib) juga harus diqodho :\rبقدر مايسع ألله أكبر وجب قضاء ذلك الفرض والذي قبله\rNah pertanyaannya : Apakah keterangan ini mu'tamad atau tidak ??? soalnya kan waktu dhuhur atau maghrib masih dalam waktu haram sholat (haid ???? mohon penjelasannya... Permasalahannya apakah alasan LITTIHAADZIL WAQTAINI menjadikaan illat membolehkan mengqodo sholat yang di waktu haram ( Dhuhur / Maghrib ) ????? terimakasih.\rTerus bagaimana kalau dihubungkan dengan keterangan dalam kitab kasyful ghummah karya syekh 'abdul wahhab asy-sya'roni :\rوكان ابن عباس رضي الله عنهما يقول : اذا طهرت الحائض قبل أن تغرب الشمس صلت الظهر والعصر جميعا,واذا طهرت قبل الفجر صلت المغرب والعشاء جميعا,,وكان أبوهريرة رضي الله عنه يقول : اذا أسلم الكافر أوطهرت الحائض فى أخرالوقت لزمتها تلك الصلاة فقط,, لقوله صلى الله عليه وسلم : من أدرك ركعة من الصلاة فقد أدرك الصلاة,,, انتهى كشف الغمة عن جميع الأمة للشيخ عبدالوهاب الشعراني,,ألجزء الأول صحيفة 90,,,,,\rDisini jelas qoul yang mewajibkan mengqodlo sholat asar dan dhuhur juga maghrib dan 'isya merupakan pendapat ibnu 'abbas, sedangkan qaul abu hurairoh hanya mewajibkan menngqodo sholat yang tidak sempatnya saja dalam hal ini 'ashar atau 'isya, nah mana yang lebih mu'tamad untuk kita ??? mohon jawaban beserta dalil-dalil yang menguatkan salah satu qaul tersebut.","part":1,"page":333},{"id":334,"text":"JAWABAN :\r> Korong Emmas\rWa'alaikumussaalm. Alasannya karena shalat dzuhur ashar bisa di-jama'. Demikian juga magrib dan isya'... Oleh karena demikian jika suci di waktu ashar, maka dhuhurnya ikut dan jika di waktu isya', magribnya ikut.. Pendapat masyhur Itu wajib diqadla', karena tidak dikerjakan pada waktunya, bagaimana mungkin lah wong waktunya cukup setakbiran saja, sementara ia masih wajb mandi besar dan lain semacamnya.. Jadi memang tidak memungkinkan untuk dikerjakan dalam waktu sehingga wajb diqadla'.. Tidak ada hubungannya dengan waktu haram, intinya si haid itu wajib mengqadla' karena suci.nya masih dalam waktu ashar, seandainya sesudah lepas waktu, maka tidak wajib mengqadla'. Misal suci setelah masuk waktu maghrib, maka ashar dan dhuhur tidak wajib diqadla'... Coba dipahami baik-baik..Begitu pula, jika perempuan haid setelah masuk waktu dhuhur misalnya, yang sebenar.nya seandainya sebelum haid mau shalat dhuhur memungkinkan, ternyata tidak shalat, kemudian haid, maka ia wajib mengqadla' dhuhur dan asharnya..Ringkasnya demikian, mohon diluruskan jika salah.","part":1,"page":334},{"id":335,"text":"Adapun madzhab para shahabat, maka tidak ada istilah mu'tamad atau tidak. yang ada bahasan mu'tamad atw tidak itu dalam madzhab yang 4, dari madzhab syafi'e, begitulah yang mu'tamad... Adapun alasan.nya, yang sbatas itu atau sekedar begitu, itu dalilnya yang ibnu abbas, kalau mau ikut yang abu hurairah misalnya ? Ya tidak apa-apa, cuma tidak mu'tamad dalam madzhab syafi'e. Terus mana lebih unggul kkuatan hadisnya? Dsinilah ilmu hadits bicara,, dipersilahkan ahlinya. dan dengan dalil apa madzhab syafi'e memu'tamadkan yang ibnu abbas? Di sinilah ushul fiqh bicara..\rLepas dari semua.nya abdul wahhab assya'rani dalam mizan.nya menyatakan kembali.nya syari'at islam itu kepada dua drajat mizan, yaitu mukhaffaf dan musyaddad yang dua-dua.nya ada ahli.nya masing-masing.. maka Di dapat kesimpulan, bahwa yang ibn abbas Musyaddad dan yang Abu hurairah Mukhaffaf. yang ibn abbas untuk golongan akaabir dan yang abu hurairah untuk golongan ashaaghir.. Ya, dua-duanya wajib diqadla', sesuai ketetapan madzhab.. Tapi saya katakan kembali, ini dalam madzhab syafi'e. Jelasnya begini : Alasan dari ulama, \"imtidaadu waqti dlarurah ila thulu'il fajr\" dengan berdalil hadis sahih bahwa rasulullah pernah menjama' maghrib dan isya' tidak karenaa khauf dan safar.\rHakadza qaluu, wa-illa fa-innahu law kaanal bahru midaadan likalimaati rabbii lanafidal bahru qabla an tanfada kalimaatu rabbi walaw ji'naa bimitslihii madadaa... Semoga diberkahi Allah, tingkatkan ustads, untuk ilmu allah. Kira-kira demikian, referensi: semua kitab madzhb syafi'e. Silahkan dibaca... Hehe, salam. Semoga diberkahi Allah..","part":1,"page":335},{"id":336,"text":"> Ulilalbab Hafas\rKenapa duhur harus di-qodlo kalau sucinya di waktu asar walopun cuma 1 menit ? karena ashar & dzuhur bisa di-jama' baik taqdim atau ta'chir. kalau sucinya di waktu salat magrib maka asar tidak wajib diqada'... Karena magrib dan asar tidak bisa dijama' .. kalau sucinya di waktu subuh maka isya' tidak wajib diqada'. kalau sucinya di waktu duhur maka subuh tidak wajib diqada'.. Begitu juga dalam dateng haid.. Contoh... Haid di waktu dzuhur.. Dan belum melakukan salat duhur maka maka yang wajib diqada' adalah duhur dan asar.. karena duhur dan ashar bisa dijama' taqdim..\rMari baca Jawaban Masaji Antoro dalam dokumen berikut :\rMushonnaf Ibnu Syaibah No 7206 :\rحدثنا هشيم عن مغيرة وعبيدة أخبراه عن إبراهيم وعن حجاج عن عطاء والشعبي وعن عبد الملك عن عطاء في الحائض إذا طهرت قبل غروب الشمس صلت الظهر والعصر وإذا طهرت قبل الفجر صلت المغرب والعشاء\rMinhaj alQowiim I/128 :\r( ويجب ) أيضا ( قضاء ما قبلها إن جمعت معها ) كالظهر مع العصر والمغرب مع العشاء لأن وقتها لها حالة العذر فحالة الضرورة أولى\rKenapa sholat sebelumnya harus disertakan :\r1. Berdasarkan atsar dari Hasyim dari Mughirah dari ‘ubaidah dari Ibrahim dari Hajjaj dari ‘Athoo’ dan Assyi’by dari Abdul Malik dari ‘Athoo’ “Bila wanita haid suci sebelum terbenamnya matahari (masih waktu ashar) sholatlah dhuhur dan ashar dan bila suci sebelum fajar (masih waktu isya’) sholatlah maghrib dan isya’ “","part":1,"page":336},{"id":337,"text":"2. Karena waktu shalat yang kedua (yaitu ashar bila dinisbatkan dengan dhuhur, atau isya bila dinisbatkan dengan maghrib) merupakan waktu shalat yang pertama tatkala ada UZUR (seperti ketika dijamak ta’khir dalam keadaan safar), maka saat DARURAT (seperti haid) lebih keadaan semacam itu lebih berhak untuk didapatkan.\rPermasalahannya apakah alasan LITTIHAADZIL WAQTAINI menjadikaan illat membolehkan mengqodo sholat yang di waktu haram(Dhuhur/Maghrib) ?????Bukan, ini illatnya :\rلأن وقتها لها حالة العذر فحالة الضرورة أولى\rTentang qoul Abu Huroiroh, Ibarat dalam hadits di atas ini masih umum..\rأوطهرت الحائض فى أخرالوقت لزمتها تلك الصلاة فقط,,\rKarena ketentuan yang wajib diqodo' hanya yang bisa dijama' saja... Sehingga kalau saya pribadi make yang ibarat di kitab sulamul munajat di atas. Yaitu yang dua-duanya diqadha', tidak memakai qoul Abu Huroiroh RA..\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/585648511457961\r2860. TATA CARA WANITA ISTIHADLOH KETIKA AKAN SHOLAT\rPERTANYAAN :\r> Zanzanti Yanti Andeslo\rAssalamu'alaikum, wanita istihadhoh setiap mau solat ..wajib kah mengganti pembalut yang baru ? kalo tidak diganti sah tidak solat nya ?\rJAWABAN :\r> Afa Aviefah\rSebenarnya ketika istihadhoh memakai pembalut itu tidak wajib, yang diwajibkan adalah menyumbat, maaf, farji dengan menggunakan KAPAS... Jadi setelah menyumbt farji dgn menggunakan kapas, baru nanti boleh ditambahi dengan pembalut.. Kapas dan pembalut ini, harus ganti setiap melakukan sholat fardlu.\rDalam masalah penyumbatan farji dgn kapas, ketika puasa, ada 2 pendapat :","part":1,"page":337},{"id":338,"text":"1.…Dalam kitab BUJAIROMI juz 1 hal. 135.. Penyumbatan tidak boleh dilakukan hanya ketika puasa FARDLU.. Jadi kalo puasa sunah, istihadloh, maka dia tidak boleh puasa, karena dimenangkan kewajiban dia untuk menyumbat farji...\r2.…Tapi kalo dalam KITAB QULYUBI juz.1 hal. 101, MUTLAK baik puasa sunah atau wajib, tetap tidak boleh menyumbt farji.\r> Ahmad Nasih Amien\rWajib tiap hendak melaksanakan shalat untuk membersihkan farji, menyumbatnya Jika tidak sakit atau tidak sedang puasa jika demikian maka cukup dibalut dengan potongan kain / pembalut masa kini, wudlu' lalu menyegerakan shalat . . . . Selengkapnya di ibarot :","part":1,"page":338},{"id":339,"text":"حاشية البجيرمي علي المنهج ج 2 ص 59 (والإستحاضة كسلس) أي كسلس بول أو مذي فيما يأتي (فلاتمنع ما يمنعه الحيض) من صلاة وغيرها للضرورة، وتعبيري بذلك أعم من قوله: فلاتمنع الصوم والصلاة وإن كان في المتحيرة تفصيل يأتي ( فيجب أن تغسل مستحاضة فرجها فتحشوه) بنحو قطن (فتعصبه) بأن تشده بعد حشوه بذلك بخرقة مشقوقة الطرفين تخرج احدهما أمامها والآخر وراءها، وتربطهما بحرقة تشد بها وسطها كالتكة بشرطهما أي: الحشو، والعصب أي: بشرط وجوبها بأن احباجتها ولن تتأذي بهما ولو تكن في الحشو صائمة وإلا فلايجب، بل يجب علي الصائمة ترك الحشو نهارا، ولو خرج الدم بعد العصب لكثرته لم يضر أولتقصيرها فيه ضر. (فتتطهر) بأن توضأ أو تتيمم وتفعل جميع ما ذكر (لكل فرض)، وإن لم تزل العصابة عن محلها ولم يظهر الدم علي جوانبها كالتيمم في غير دوام الحدث في التطهر وقياسا عليه في الباقي (وقته) لاقبله كالتيمم وذكر الحشو والترتيب مع قولي بشرطهما من زيادتي وأفاد تعبير بالفاء ما شرطه في التحقيق وغيره من تعقيب الطهر بما قبله، وتعبيري بالطهر أعم من تعبيره بالوضوء (و)أن(تبادر به) أي بالفرض بعد تطهر تقليلا للحدث بخلاف المتيمم في غير دوام الحدث (ولايضر تأخيرها) الفرض (لمصلحة كستر وانتظار جماعة) وإجابة مؤذن واجتهاد في قبلة لأنها غير متصرة بذلك والتصريح بالوجوب في غير الوضوء والعصب من زيادتي\r> Awan As-Safaritiyy Asy-syaikheriyy","part":1,"page":339},{"id":340,"text":"Wajib diganti pembalutnya dan kapas yang dijadikan untuk menyumbatanya setiap melaksanakan 1 perkara fardlu / misal 1 sholat fardlu. Darah istihadloh adalah darah penyakit yang keluar dari farji wanita yang keluar dari ketentuan maksimal haidl dan nifas.dan bagi wanita yang istihadloh yang selalu hadas atau mengeluarkan cairan tetap berkewajiban sholat,puasa atau lainya yang di haramkan bagi wanita haid,bagi wanita mustahadloh tetap wajib melaksanakan kewajiban ibadahnya.adapun jika ingin melaksanakan sholat hukumnya tidak wajib mandi namun jika ingin melaksanakan ibadahnya maka yang perlu diperhatikan langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:\r1.…Pertama yaitu membasuh farjinya dari hadats / cairan yang keluar\r2.…Yang ke dua harus menyumbatnya semisal dengan kapas,ini harus dilakukan jika memang membutuhkanya agar cairan bisa tersumbat pada kapas dan tidak merasa kesakitan saat menyumbatnya dan di lakukan selain waktu puasa karena penyumbataan seperti ini dapat membatalkan puasa,kalau sedang puasa maka jangan menyumbatnya.dalam menyumbatnya harus masuk ke bagian dalam,tidak hanya pada bagian yang tidak wajib di basuh saja namaun bagian dalam juga wajib di sumbat hal ini tujuanya agar ketika sholat tidak di hukumi membawa najis,jikalau nantinya banyak darah yang keluar setelah menyumbatnya maka ini tidak membahayakan karena dlorurot\r3.…Setelah itu silahkan wudlu/tayammum jika ada udzur yang membolehkan tayaamum untuk melaksanakan ibadahnya","part":1,"page":340},{"id":341,"text":"4.…Harus di lakukan setelah masuknya waktu sholat,segera di laksanakan dan hanya boleh di lakukan buat 1 perkara fardlu misal 1 sholat fardlu tapi kalo buat sholat sunnah maka boleh berulang-ulang.dan wajib mengganti kapas yang di buat sumbatan dengan yang baru jika ingin melaksanakan sholat fardlu walaupun sumbatanya tidak bergeser pada tempatnya sehingga tidak ada cairan yang keluar. jika tidak segera di laksanakan sebab selain kemasllahatan mengenai/terkait sholatnya sehingga hadastnya datang kembali dan ia mampu untuk cepat-cepat melaksanakan ibadahnya maka wudlunya batal dan harus mengulanginya serta wajib mengganti sumbatanya .jadi urutan-urutan di atas harus di laksanakan sesuai urutanya jika tidak maka wajib mengulangi dari awal sebab ia lengah terhadap kewajibanya.\r5.…Namun boleh diakhirkan sholatnya yang artinya tidak di haruskan karena maslahat dalam sholatnya misal karena menutup aurot, ijtihad dalam menentukan qiblat , menjawab adzan,berangkat ke masjid, menunggu jama’ah (bukan buat wanita mustahdloh karena tidak disunatkan jama’ah), dll.\r6.…Untuk masalah wudlu karena sebab istihadloh yaitu daimul hadast maka niatnya :\rنويت الوضوء لاستباحة الصلاة فرضا لله تعالى\rSemua urutan-urutan di atas harus di lakukan ketika waktu sholat yang akan di laksanakan sudah masuk waktunya karena sesuci semacam ini adalah sesuci dlorurot sehingga jika di lakukan sebelum masuk waktunya maka tidak sah sesucinya dan ibadahnya/sholatnya.","part":1,"page":341},{"id":342,"text":"(وَالِاسْتِحَاضَةُ هُوَ) الدَّمُ (الْخَارِجُ) لِعِلَّةٍ مِنْ عِرْقٍ مِنْ أَدْنَى الرَّحِمِ يُقَالُ لَهُ الْعَاذِلُ بِذَالٍ مُعْجَمَةٍ وَيُقَالُ بِمُهْمَلَةٍ كَمَا حَكَاهُ ابْنُ سِيدَهْ وَفِي الصِّحَاحِ بِمُعْجَمَةٍ وَرَاءٍ (فِي غَيْرِ أَيَّامِ) أَكْثَرِ (الْحَيْضِ وَ) غَيْرِ أَيَّامِ أَكْثَرِ (النِّفَاسِ) سَوَاءٌ أَخَرَجَ إثْرَ حَيْضٍ أَمْ لَا, وَالِاسْتِحَاضَةُ حَدَثٌ دَائِمٌ فَلَا تَمْنَعُ الصَّوْمَ وَالصَّلَاةَ وَغَيْرَهُمَا مِمَّا يَمْنَعُهُ الْحَيْضُ كَسَائِرِ الْأَحْدَاثِ لِلضَّرُورَةِ فَتَغْسِلُ الْمُسْتَحَاضَةُ فَرْجَهَا قَبْلَ الْوُضُوءِ أَوْ التَّيَمُّمِ إنْ كَانَتْ تَتَيَمَّمُ وَبَعْدَ ذَلِكَ تَعْصِبُهُ وَتَتَوَضَّأُ بَعْدَ عَصْبِهِ, وَيَكُونُ ذَلِكَ وَقْتَ الصَّلَاةِ لِأَنَّهَا طَهَارَةُ ضَرُورَةٍ فَلَا يَصِحُّ قَبْلَ الْوَقْتِ كَالتَّيَمُّمِ, وَبَعْدَ مَا ذُكِرَ تُبَادِرُ بِالصَّلَاةِ تَقْلِيلًا لِلْحَدَثِ, فَلَوْ أَخَّرَتْ لِمَصْلَحَةِ الصَّلَاةِ كَسِتْرِ عَوْرَةٍ وَانْتِظَارِ جَمَاعَةٍ وَاجْتِهَادٍ فِي قِبْلَةٍ وَذَهَابٍ إلَى مَسْجِدٍ وَتَحْصِيلِ سُتْرَةٍ لَمْ يَضُرَّ ; لِأَنَّهَا لَا تُعَدُّ بِذَلِكَ مُقَصِّرَةً, وَإِذَا أَخَّرَتْ لِغَيْرِ مَصْلَحَةِ الصَّلَاةِ ضَرَّ فَيَبْطُلُ وُضُوءُهَا وَيَجِبُ إعَادَتُهُ, وَإِعَادَةُ الِاحْتِيَاطِ لِتَكَرُّرِ الْحَدَثِ وَالنَّجِسِ مَعَ اسْتِغْنَائِهَا عَنْ احْتِمَالِ ذَلِكَ بِقُدْرَتِهَا عَلَى الْمُبَادَرَةِ, وَيَجِبُ الْوُضُوءُ لِكُلِّ فَرْضٍ وَلَوْ مَنْذُورًا كَالتَّيَمُّمِ لِبَقَاءِ الْحَدَثِ, وَكَذَا يَجِبُ لِكُلِّ فَرْضٍ تَجْدِيدُ الْعِصَابَةِ, وَمَا يَتَعَلَّقُ بِهَا مِنْ غَسْلٍ قِيَاسًا عَلَى تَجْدِيدِ الْوُضُوءِ, وَلَوْ انْقَطَعَ دَمُهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ وَلَمْ تَعْتَدْ انْقِطَاعَهُ وَعَوْدَهُ, أَوْ اعْتَادَتْ","part":1,"page":342},{"id":343,"text":"ذَلِكَ وَوَسِعَ زَمَنُ الِانْقِطَاعِ بِحَسَبِ الْعَادَةِ الْوُضُوءَ وَالصَّلَاةَ وَجَبَ الْوُضُوءُ, وَإِزَالَةُ مَا عَلَى الْفَرْجِ مِنْ الدَّمِ. البيجرمي على الخطيب ج 1 ص 242\r(والاستحاضة كسلس) أي كسلس بول أو مذى فيما يأتي (فلا تمنع ما يمنعه الحيض) من صلاة وغيرها للضرورة. وتعبيري بذلك أعم من قوله. فلا تمنع الصوم والصلاة، وإن كان في المتحيرة تفصيل يأتي (فيجب أن تغسل مستحاضة فرجها فتحشوه) بنحو قطنة (فتعصبه)، بأن تشده بعد حشوه بذلك بخرقة مشقوقة الطرفين تخرج أحدهما أمامها والآخر وراءها، وتربطهما بخرقة تشد بها وسط كالتكة (بشرطهما) أي الحشو والعصب، أي بشرط وجوبهما بأن احتاجتهما ولم تتأذ بهما ولم تكن في الحشو صائمة، وإلا فلا يجب. بل يجب على الصائمة ترك الحشو نهاراً ولو خرج الدم بعد العصب لكثرته لم يضر أو لتقصيرها فيه ضر (فتطهر) بأن تتوضأ أو تتيمم وتفعل جميع ما ذكر (لكل فرض). وإن لم تزل العصابة عن محلها ولم يظهر الدم على جوانبها كالتيمم في غير دوام الحدث في التطهر وقياساً عليه في الباقي (وقته) لا قبله كالتيمم وذكر الحشو والترتيب مع قولي بشرطهما من زيادتي.فتح الوهاب ج 1 ص 32\r> Hariz Jaya\r- KITAB MAJMU' SYARAH MUHADZDZAB JUZ 2 HALAMAN 537 :\rنية الوضؤ اصحها تجب نية استباحة الصلاة ولا تجب نية رفع الحدث ولاتجزئ والثانى يكفيها نية رفع الحدث او الاستباحة والثالث يجب الجمع بينهما والله اعلم\r- KITAB AL-MINHAJ JUZ 4 HALAMAN 19 :\rانه لايجب على المستحاضة الغسل لشيئ من الصلاة ولا فى وقت من الاوقات الامرة واحدة فى وقت انقطاع حيضها وبهذا قال جمهور العلماء\r- KITAB MAJMU' SYARAH MUHADZDZAB JUZ 2 HALAMAN 535 :\rمذهبنا ان طهارة المستحاضة الوضوء ولا يجب عليها الغسل لشيئ من الصلوات الامرة واحدة فى وقت انقطاع حيضهاوبهذا قال جمهور.\r- KITAB MUHADZDZAB FI FIQH SYAFI'I JUZ 1 HALAMAN 45 :","part":1,"page":343},{"id":344,"text":"ويجب على المستحاضة ان تغتسل الدم وتعصب الفرج وتستوثق بالشد والتلجم\r- KITAB TUHFATUL MUHTAJ JUZ 1 HALAMAN 397 :\r(ويجب الوضوء لكل فرض) ولو منذور او تتنفل ماشاءت كالمتيمم بجامع دوام الحدث فيهما وصح قوله صلى الله عليه وسلم لمستحاضة (تتوضألكل صلاة) (وكذا) يجب لكل فرض (تجديد) غسل الفرج ولحشو و(العصابة في الأصح) كتجديد الوضوء، ولو ظهر الدم على العصابة او زالت عن محلها زوالاله وقع وجب التجديد قطعا لكثرة الخبث مع امكان بل سهولة تقليله\r- KITAB MUHADZDZAB FI FIQH SYAFI'I JUZ 1 HALAMAN 46 :\rولا يجوز ان تتوضأ لفرض الوقت قبل الدخول لأنه طهارة ضرورة فلا يجوز قبل وقت الضرورة فإن توضأت فى اول الوقت واخرت الصلاة فإن كان لسبب يعود الى مصلحة كانتظار الجماعة وستر العورة والإقامة صحت صلاتها وإن كان لغير ذلك ففيه وجهان احدهما ان صلاتها باطلة لأنها تصلى مع نجاسة يمكن حفظ الصلاة منها\r> Ahmad Nasih Amien\rTambahan : Semua ibarot di atas, dirangkum dalam nadzom ini Dalilun Nisaa' 'Ala Anwa'id Dima' Shohifah 20, 21 :\rدليل النساء علي انواع الدماء ص\rباب ما يجب علي المستحاضة\rيجب غسل فرج مستحاضة :: بعد دخول الوقت عن نجاسة\rوحشوه بقطنة ونحوها :: الا اذا به تأذي فرجها\rوكونها صائمة يوجبها :: شدافقط لآالحشوحفظاصومها\rنهار إن لم تكفها تعصبه :: بحرقة فتوضاء بعده\rاو فعلت تيمما مبادرة :: عقبه بفرضها مقتصرة\rلكل فرض هذه الكيقية :: كذاك ان تجدد العصابة\rذاإن تنجست بغيرما عفي :: وبعد ذلك طهارة تفي\rولانتقاض ظهرهاقبل الصلاة :: تأخيرها عنه كذا بلااشتباه\rلغير مصلحتها وإلا :: فلا تعبده كما تجلي\rولخروج الدم للتقصير :: في نحو شد لتعد للطهر\rثم اذا انقطع بعد ما ذكر :: وبعد ان صلت صلاة تستقر\rوادركت وقتا بحيث يسع :: طهارة مع صلاة تقع\rوجب طهر واعادة لما :: صلت بطهر اول قد حتا\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/665358053487006","part":1,"page":344},{"id":345,"text":"3137. ALASAN HAID TIDAK MEWAJIBKAN QODHO' SHOLAT\rPERTANYAAN :\r> Shiefan Setthong\rAssalamu 'alaikum, saya mau bertanya, Sholat dan puasa itu wajib kiat kerjakan,yang jadi pertanyaannya, kenapa wanita yang lagi haid di bulan puasa hanya mengantikan puasanya saja, sementara sholatnya tidak, padahal itu sama wajibnya kan ?. Tolong dijawab.\rJAWABAN :\r> Alvin Hadi\rWa alaikumus salaam warohmatulloh, ini berdasarkan hadits dari sayyidah 'Aisyah.. hikmahnya adalah,bila sholat yang berulang\" ini diwajibkan qodho'..maka akan merepotkan.\rلما روت عائشة رضى الله عنها قالت \" في الحيض كنا نؤمر بقضاء الصوم ولا نؤمر بقضاءالصلاة \" وان حكمته تكرر الصلاة فيشق قضاؤها بخلاف الصوم\r> Ghufron Bkl\rOrang yang haid tidak wajib mengqodlo' sholat karena sholat banyak dan berulang ulang maka memberatkan untuk mengqodlo'nya, berbeda dengan puasa, karena tidak berulang / hanya sekali dalam setahun maka mengqodlo'nya tidak memberatkan / merepotkan :\rالشرقاوي 1/150\r.قوله الصلاة : ولا يلزمها قضاؤها فلو قضتها كره و تنعقد نفلا مطلقا لا ثواب فيه على المعتمد خلافا للخطيب و فارقت الصوم حيث يجب قضاؤه بتكررها كثيرا فيشق قضاؤها ولا كذلك الصوم فلا يشق قضاؤه ولذلك قالت عائشة رضي الله عنها \" كنا نؤمر بقضاء الصوم ولا نؤمر بقضاء الصلاة. الباجوري 1/113 : و عدم لزوم قضاء فرض صلاة بالإجماع بخلاف فرض الصوم يلزمها قضاؤه لخبر الصحيحين عن عائشة رضي الله عنها كنا نؤمر بقضاء الصوم و لا نؤمر بقضاء الصلاة ولأن الحيض يكثر فلو أوجبنا قضاءها لشق.\rWallohu a'lam bis showab.\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/720456357977175/\r3140. BATASAN UMUR WANITA BERHENTI HAID\rPERTANYAAN :\r> Ishaq Nuruddin","part":1,"page":345},{"id":346,"text":"Assalamualaikum warohmatulloh.. sampai umur berapakah seorang perempuan tidak akan haid / datang bulan lagi : 50 tahun ke atas apa 60 tahun ke atas ? terima kasih.\rJAWABAN :\r> Ical Santrialit\rWa alaikumus salaam warohmatulloh, wanita normal usia menopause antara 50-60 tahun sebelum haidl berhenti total, jika pada usia 58 tahun masih keluar darah, itu masih darah haidl, namun siklusnya sudah tidak beraturan... sedang dalam proses menopouse. (jika seumpama wanita pada proses menopause / 58 atau berapapun tsb hamil, masih memungkinkan walau kemungkinannya kecil)\rPara ulama, berbeda pendapat tentang apakah ada batasan tertentu bagi usia haid, dimana seorang wanita tidak mendapatkan haid sebelum atau sesudah usia tersebut? Ad-Darimi, setelah menyebutkan perbedaan pendapat dalam masalah ini, mengatakan: \"Hal ini semua, menurut saya, keliru. Sebab, yang menjadi acuan adalah keberadaan darah. Seberapa pun adanya, dalam kondisi bagaimana pun, dan pada usia berapapun, darah tersebut wajib dihukumi sebagai darah haid. Dan hanya Allah Yang Maha Tahu. (Al-Majmu' Syarhul Muhadzdzab, Juz 1, hal 486)\rBila dalam pemeriksaan medis / bukti medis dinyatakan wanita ini sehat, saya cenderung ikut qoul ad-darimiy (keluar darahnya masih teratur atau dalam masa transisi menuju menopause). Wallahu a'lam.\r> Ghufron Bkl","part":1,"page":346},{"id":347,"text":"Mengenai usia monopause seorang wanita ulama' khilaf : dari yang paling sedikit yaitu 50 tahun sampai pada yang paling banyak yaitu 85 tahun, umur-umur tersebut dengan meninjau yang umum bagi wanita, akan tetapi tidak menutup kemungkin bahwa usia wanita haid itu tidak ada akhirnya (tidak dibatasi), yakni selagi masih hidup mungkin saja wanita masih bisa mengalami haid\r: وهو أى سن اليأس إثنتان و ستون سنة و قيل خمسون___ وفيه أقوال أخر أقصاها خمس و ثمانون سنة و أدناها خمسون. إعانة الطالبين 4/41\rالثرقاوي 1/ 147\rو سن اليأس من الحيض إثنان و ستون سنة هو المعتمد و هذا باعتبار الغالب فلا ينافي ما صرحوا به من أنه لا آخر له لسن الحيض فهو ممكن ما دامت حية.\rWallohu a'lam bis showab.\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/716327021723442/\r3896. DARAH NIFAS PUTUS SEBELUM EMPAT PULUH HARI\rPERTANYAAN :\r> Imron Rosadi\rAssalamu'alaikum,ada pertanyaan mohon di jawab : Tentang darah nifas (darah setelah melahirkan). ada keterangan, paling sedikit 1 tetes, umumnya 40 hari paling banyak 60 hari. pertanyaanya: bagaimana jika pada 30 hari sudah bersih. sudah tidak ada warna coklatnya. apakah harus menunggu sampai 40 hari atau bisa langsung suci dan melakukan sholat? jika harus menunggu sampai 40 hari, maka harus sesuci kapan untuk mulai sholatnya ? trimakasih.\rJAWABAN :\r> Ghufron Bkl\rWa'alaikum salam, Dalam kitab Raudhoh disebutkan :\rروضة الطالبين : وإذا انقطع دم النفساء واغتسلت أو تيممت حيث يجوز فللزوج وطؤها في الحال بلا كراهة حتى قال صاحب الشامل و البحر لو رأت الدم بعد الولادة ساعة وانقطع لزمه الغسل وحل الوطء فإن خافت عود الدم استحب له التوقف احتياطا والله أعلم.","part":1,"page":347},{"id":348,"text":"Apabila darah nifas sudah mampet dan si perempuan tersebut sudah mandi atau tayammum sekirannya dibolehkan bertayammum,maka bagi suaminya boleh menjima' nya tanpa indikasi makruh, hingga pemilik kitab berkata : \"Kalau perempuan melihat darah setetes setelah melahirkan dan darah tersebut berhenti maka bagi dia wajib mandi dan halal di jima', apabila dia kawatir akan kembalinya darah(takut darah keluar lagi) maka bagi si suami di sunnahkan menunggu karna untuk kehati-hatian. [Terjemah : Ria Si Hati Salju]\r> Mbah Jenggot II\rWa'alaikum salam. Jika sudah bersih tidak keluar darah atau bercak bercak ya ndak usah nunggu 40 hari.Langsung mandi bersuci aktifitas layaknya orang suci. Dikatakan bersih ga keluar darah cara ngeceknya Dengan memasukkan semisal kapas ke vagina, sekiranya kapas masih terkena darah walau hanya bercak bercak atau warna kuning maka belum dikatakan suci. Wallahu A'lam (Rz)\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/885575681465241/\rwww.fb.com/notes/929835763705899\r4154. CARA NIAT MENGHILANGKAN HADATS BESAR KETIKA MANDI HAIDH\rPERTANYAAN :\r> Syamsulz Al Jajariyyi\rAssalamu'alaikum. Bagi perempuan yang mandi dari haidh apakah wajib niat menghilangkan hadast besar sebab haidh atau cukup niat menghilangkan hadast besar saja tanpa menyebut haidh ?\rJAWABAN :\rMenurut qoul ashoh : Niat menghilangkan hadats besar tanpa menyebutkan junub atau sebab hadats besar lainnya, maka hukum mandinya SAH. Wallohu A'lam. Lihat Kitab Raudhoh :","part":1,"page":348},{"id":349,"text":"أحدهما : النية ، وهي واجبة ، وتقدم ذكر فروعها في صفة الوضوء . و? يجوز أن يتأخر عن أول الغسل المفروض ، فإن اقترنت به كفى ، و? ثواب له في السنن المتقدمة . وإن تقدمت على المفروض وعزبت قبله ، فوجهان ، كما في الوضوء ، ثم إن نوى رفع الجنابة ، أو رفع الحدث عن جميع البدن ، أو نوت الحائض رفع حدث الحيض ، صح الغسل . وإن نوى رفع الحدث ، ولم يتعرض للجنابة و? غيرها ، صح غسله على ا?صح ، ولو نوى رفع الحدث ا?صغر متعمدا ، لم يصح غسله على ا?صح ، وإن غلط ، فظن حدثه ا?صغر ، لم ترتفع الجنابة عن غير أعضاء الوضوء . وفي أعضاء الوضوء وجهان ، أحدهما : ? يرتفع ، وأصحهما : يرتفع عن الوجه واليدين والرجلين ، دون الرأس على ا?صح ، ولو نوى استباحة ما يتوقف عن الغسل ، كالص?ة ، والطواف ، وقراءة القرآن ، أجزأه . ولو نوت الحائض استباحة الوطء ، صح على ا?صح . وإن نوى ما ? يستحب له الغسل ، لم يصح . وإن نوى ما يستحب له ، كالعبور [ ص: 88 ] في المسجد ، وا?ذان ، وغسل الجمعة ، والعيد ، لم يجزئه على ا?صح ، كما سبق في الوضوء . ولو نوى الغسل المفروض ، أو فريضة الغسل ، أجزأه قطعا\rMUJAAWIB : Ulilalbab Hafas, Ibni Abi Ubaidah, Wong Awam\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/936223376400471/\rwww.fb.com/notes/949449548411187\r4477. APAKAH DARAH YANG KELUAR SETELAH OPERASI CESAR DIHUKUMI NIFAS ?\rPERTANYAAN :\r> Cholilah\rAssalamu'alaikum wr wb. Muhun, saya mau tanya : Apabila seorang wanita melahirkan dengan melalui operasi Sesar ( Cesar ) apakah itu masih nifas seperti hal nya wanita yang melahirkan dengan normal ? Terimakasih banyak, sebelum nya. Tsummasalamu'alaikum wr wrb.\rJAWABAN :\r> Ghufron Bkl","part":1,"page":349},{"id":350,"text":"Wa'alaikumussalaam. Darah yang keluar dari farji wanita yang habis melahirkan dengan jalan operasi caesar tetap dinamakan darah nifas :\rالشافعية قالوا : يشترط في تحقق أنه دم نفاس أن يخرج الدم بعد فراغ الرحم من الولد بأن يخرج كله فلو خرج بعض الولد أو أكثره لا يكون دم نفاس ومعنى كونه عقب الولادة أن لا يفصل بينه وبينها خمسة عشر يوما فأكثر وإلا كان دم حيض أما الدم الذي يصاحب الولد وينزل قبل الطلق فليس هو دم نفاس بل هو دم حيض إن كانت حائضا لأن الحامل قد تحيض عندهم كما تقدم وإن لم تكن حائضا فهو دم فاسد\rislamport.com/w/fqh/Web/2793/111.htm\rKalau keluar darah dari farjinya maka darah yang keluar dari farji sehabis operasi caesar tsb dinamakan nifas, jika keluar bukan lewat farji maka itu bukan nifas :\rالموسوعة الفقهية :\r18 - لما كان النفاس هو الدم الخارج من الفرج عقب الولادة ، فقد نص الحنفية على أنه إذا ولدت من سرتها- مثلا- وسال منها دم لا تكون نفساء ، بل هي صاحبة جرح ما لم يسل من فرجها ، لكن يتعلق بالولد سائر أحكام الولادة .\r> Zulkifli Basmalah\rWa'alaikumussalaam. (Jawaban ini dinukil dari hasil keputusan bahtsul masai'il LBM Sumenep, Madura)\rStatus Nifas Wanita yang Melahirkan Sesar\rPertanyaan :\r1. Bagaimana hukumnya persalinan dengan cara operasi bedah sesar ?\r2. Apakah diwajibkan bagi wanita tersebut untuk melakukan mandi wiladah setelah melakukan operasi ?\r3. Bagaimana status nifas wanita tersebut ?\rJawaban :\rJawaban dari tiga pertanyaan di atas adalah sebagai berikut :\rPertama, Operasi sesar adalah operasi yang bertujuan untuk mengeluarkan janin dari perut ibunya, baik itu dilakukan setelah janin tersebut sempurna penciptaannya atau sebelumnya.","part":1,"page":350},{"id":351,"text":"Terdapat dua kondisi diperbolehkannya melakukan operasi sesar :\r1. Dhorurot, yaitu keadaan dikhawatirkannya keselamatan ibu, janinnya atau keselamatan keduanya, seperti pada kondisi kehamilan diluar rahim, kematian ibu yang sedang mengandung dan tergoncangnya rahim.\rDalam kondisi seperti ini operasi cesar boleh dilakukan, bahkan wajib jika memang itumerupakan jalan satu-satunya untuk menyelamatkan bayi atau wanita yang mengandungnya.\r2. Hajat, yaitu keadaan dimana dokter merasa perlu untuk melakukan operasi yang disebabkan sulitnya melahirkan secara normal, dan akan menimbulkan bahaya yang menghawatirkan akan menyebabkan kematian bayi atau ibunya, seperti operasi yang dilakukan karena sempitnya rahim atau rahim sang ibu lemah.\rPada keadaan seperti ini para dokter lah yang memutuskan apakah melakukan operasi atau tidak, bukan atas permintaan wanita yang akan melahirkan atau suaminya yang menginginkan terhindar dari kesakitan saat melahirkan. Dokter yang memutuskan untuk melakukan operasi dengan mempertimbangkan kondisi wanita tersebut, apakah mampu untuk melahirkan secara normal atau tidak, selain itu dipertimbangkan juga tentang efek yang akan ditimbulkan, jika memang bahaya yang akan ditimbulkan diluar kemampuan wanita tersebut atau akan membahayakan keselamatan janin maka diperbolehkan untuk melakukan operasi jika memang tak ada cara lain yang bisa dilakukan.","part":1,"page":351},{"id":352,"text":"Kedua, Para Fuqoha’ dalam hal ini berbeda pendapat. Sebagian menggolongkan persalinan dengan jalan operasi sebagai wiladah, dengan demikian tetap wajib mandi wiladah. Sedangkan sebagian lagi yang lain, menganggapnya bukan wiladah, maka mandi wiladah tidak lagi menjadi sebuah kewajiban.\rKetiga, Darah yang keluar setelah melakukan kelahiran bayi dengan jalan operasi tersebut tidak termasuk darah nifas dan bukan pula darah haidl, maka tidak ada konsekuensi hukum apapun kecuali ia adalah sesuatu yang najis.\rReferensi :\r1. Ahkamul Jirohah Ath Thibbiyyah Wal Atsar Al Mutarottibah Alaiha, Hal : 154-158\r2. Qutul Habib Al Ghorib, Hal : 25\r3. Hasyiyah Al Bujairomi Ala Syarhil Manhaj, Juz : 1 Hal : 90\r4. Hasyiyah Bujairomi Alal Khotib, Juz : 1 Hal : 205\r5. Hasyiyah Al Baijuri Ala Syarhi Ibnul Qosim, Juz : 1 Hal : 74\r6. Al Mausu'ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, Juz : 14 Hal : 16\r7. Al Fiqhu Alal Madzahib Al Arba'ah, Juz : 1 Hal : 121\rIbarot :\r- Ahkamul Jirohah Ath Thibbiyyah Wal Atsar Al Mutarottibah Alaiha, Hal. 154-158 :\rالمبحث الثالث في جراحة الولادة\rوهي الجراحة التي يقصد منها إخراج الجنين من بطن أمه، سواء كان ذلك بعد اكتمال خلقه، أو قبله، ولا تخلو الحاجة الداعية إلى فعلها من حالتين\rالحالة الأولى\rأن تكون ضرورية، وهي الحالة التي يخشى فيها على حياة الأم، أو جنينها، أو هما معًا، ومن أمثلتها ما يلي:\r(1) جراحة الحمل المنتبذ.\r(2) جراحة استخراج الجنين الحي بعد وفاة أمه.\r(3) الجراحة القيصرية في حال التمزق الرحمي\rفهذه الحالات تعتبر فيها جراحة الولادة ضرورية، لأن المقصود منها إنقاذ حياة الأم، أو الجنين، أو هما معاً","part":1,"page":352},{"id":353,"text":"ففي المثال الأول: يتكون الجنين خارج الرحم في قناة المبيض، ويسمى بالحمل المهاجر، أو القنوي، وهذا الموضع الذي تكون فيه الجنين يستحيل بقاؤه فيه حيًا، وغالبًا ما ينفجر في القناة التي بداخلها، وحينئذ تصبح حياة الأم مهددة بالخطر، فيرى الأطباء ضرورة إجراء الجراحة، واستخراجه قبل انفجاره، وذلك كله إنقاذًا لحياة الأم\rوفي المثال الثاني: تموت الأم بعد اكتمال خلق الجنين، وحياته، فيضطر الأطباء إلى شق بطنها لاستخراج ذلك الجنين قبل موته.\rوهذه الصورة ليست بحديثة بل هي صورة كانت موجودة من القدم وهي محل خلاف بين أهل العلم -رحمهم الله- سيأتي بيانه إن شاء الله تعالى في مباحث العمل الجراحي، وأنه لا حرج في فعل هذا النوع من الجراحة إنقاذًا لحياة الجنين\rوفي المثال الثالث: يتعرض الرحم إلى التمزق الذي يهدد حياة الأم، وجنينها وذلك بعد اكتمال خلقه، فيضطر الأطباء إلى إجراء الجراحة واستخراج الجنين. حتى لا تتعرض الأم وجنينها للهلاك\rفهذه ثلاث صور من صور جراحة الولادة الضرورية، الأولى قصد منها إنقاذ حياة الأم، والثانية قصد منها إنقاذ حياة الأثنين، والثالثة قصد منها إنقاذ حياتهما معًا\rوهذا النوع من الجراحة يعتبر مشروعًا وجائزًا، نظرًا لما يشتمل عليه من إنقاذ النفس المحرمة الذي هو من أجلِّ ما يتقرب به إلى الله عز وجل، وهو داخل في عموم قوله سبحانه: {وَمَن أحْيَاهَا فَكَأنَّمَا أحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا} (1)، ولأنه كما جاز استئصال الداء الموجب للهلاك من جسم المريض كذلك يجوز استخراج الجنين إذا كان بقاؤه موجبًا لهلاك أمه، بجامع دفع الضرر في كل.\rوكذلك شق بطن المرأة الحامل الميتة من أجل إنقاذ جنينها الحي، فكما يجوز شق البطن للعلاج والتداوي، كذلك يجوز شقها لإنقاذ النفس المحرمة، ولأن بقاءها في البطن بدون ذلك يعتبر ضررًا محضًا، فتشرع إزالته بالجراحة اللازمة للقاعدة الشرعية التي تقول: الضرر يزال","part":1,"page":353},{"id":354,"text":"قال الإمام ابن حزم -رحمه الله-: \"ولو ماتت امرأة حامل، والولد حي يتحرك قد تجاوز ستة أشهر فإنه يشق عن بطنها طولاً، ويخرج الولد، لقوله تعالى: {وَمَنْ أحْيَاهَا فَكَأنمَا أحْيَا الناسَ جَمِيعًا} ومن تركه عمدًا حتى يموت فهو قاتل نفس\" (3) اهـ.\rفاعتبر -رحمه الله- فعل هذا النوع من الجراحة فرضًا لازمًا على الطبيب إذا امتنع من فعله عمدًا كان قاتلاً، لامتناعه من فعل السبب الموجب للنجاة مع قدرته على فعله\rولا يشكل على القول بجواز الجراحة في الصورة الأولى ما تتضمنه من إتلاف الجنين وتعريضه للهلاك، وذلك لأن حياة الأم مهددة ببقائه، وبقاؤه في الغالب غير منته بسلامته وخروجه حيًا، ومن ثم كانت حياة الجنين موهومة، وحياة الأم متيقنة فلا يجوز تعريض الحياة المتيقنة للهلاك طلبًا لحياة موهومة، وجاز استخراج الجنين بالجراحة على هذا الوجه ارتكابًا لأخف الضررين للقاعدة الشرعية التي تقول: إذا تعارض مفسدتان روعي أعظمهما ضرراً بارتكاب أخفهما\rفالضرر المترتب على بقاء الجنين في هذه الصورة يعرض الأم والجنين للهلاك، بخلاف الضرر المترتب على استخراجه فإنه مختص بالجنين فهو أخفهما.\rوينبغي على الأطباء أن يتقوا الله عز وجل، وأن يبذلوا كل ما في وسعهم لعلاج هذه الحالات بالوسائل التي تنتهي بسلامة الأم وجنينها، وألا يقدموا على فعل هذا النوع من الجراحة إلا إذا تعذرت تلك الوسائل، وتحققوا من أن بقاء الجنين مفض إلى هلاكه وأمه، أو غلب على ظنهم ذلك ... والله تعالى أعلم\rالحالة الثانية\rأن تكون حاجية: وهي الحالة التي يحتاجها الأطباء فيها إلى فعل الجراحة بسبب تعذر الولادة الطبيعية، وترتب الأضرار عليها إلى درجة لا تصل إلى مرتبة الخوف على الجنين أو أمه من الهلاك.","part":1,"page":354},{"id":355,"text":"ومن أشهر أمثلتها: الجراحة القيصرية التي يلجأ إليها الأطباء عند خوفهم من حصول الضرر على الأم أو الجنين أو هما معًا، إذا خرج المولود بالطريقة المعتادة, وذلك بسبب وجود العوائق الموجبة لتلك الأضرار، ومن أمثلتها: ضيق عظام الحوض، أو تشوهها أو إصابتها ببعض الآفات المفصلية، بحيث يتعذر تمدد مفاصل الحوض.\rأو يكون جدار الرحم ضعيفًا، ونحو ذلك من الأمور الموجبة للعدول عن الولادة الطبيعية دفعًا للضرر المترتب عليها\rوالحكم بالحاجة في هذا النوع من الجراحة راجع إلى تقدير الأطباء، فهم الذين يحكمون بوجودها، ولا يعد طلب المرأة أو زوجها مبررًا لفعل هذا النوع من الجراحة طلبًا للتخلص من آلام الولادة الطبيعية، بل ينبغي للطبيب أن يتقيد بشرط وجود الحاجة، وأن ينظر في حال المرأة وقدرتها على تحمل مشقة الولادة الطبيعية وكذلك ينظر في الآثار المترتبة على ذلك، فإن اشتملت على أضرار زائدة عن القدر المعتاد في النساء ووصلت إلى مقام يوجب الحوج والمشقة على المرأة، أو غلب على ظنه أنها تتسبب في حصول ضرر للجنين، فإنه حينئذ يجوز له العدول إلى الجراحة وفعلها، بشرط ألا يوجد بديل يمكن بواسطته دفع تلك الأضرار وإزالتها ... والله تعالى أعلم\r- Qutul Habib Al Ghorib, Hal. 25 :\rويجب الغسل على من ولدت من غير الطريق المعتاد، لثبوت أمية الولدمنه\r- Hasyiyah Al Bujairomi Ala Syarhil Manhaj, Juz. 1 Hal. 90 :\rقوله ونحو ولادة ) ظاهره ولو من غير محلها المعتاد لانه أطلق فيه، وفصل فيما بعده ع ن، وقيد إبن قاسم بكون الفرج منسدا\r- Hasyiyah Bujairomi Alal Khotib, Juz 1 Hal. 205 :","part":1,"page":355},{"id":356,"text":"قال الشوبري فيما كتبه على المنهاج ولو ولدت من غير طريقه المعتاد فالذي يظهر وجوب الغسل أخذا مما قالوه من ثبوت أمية الولدبه ومما بحثه م ر فيما لوقال إن ولدت فأنت طالق فألقته من غير طريقه المعتاد حيث لم يقع، فليحرر، وقد يتجه عدم وجوب الغسل، لأن علته خروج المني، ولاعبرة بخروجه من غير طريقه المعتاد مع إنفتاح الأصلي. وقد يفرق بينه وبين ما مر. إنتهى ما قاله ق ل ( ألشهاب أحمد ألقليوبي )، أ ج ( عطية الأجهوري ) . وقوله وقد يفرق بينه أي بين عدم وجوب الغسل وبين ثبوت أمية الولد ووقوع الطلاق. وصورة الفرق أن أمية الولد منوطة بالولادة وقدحصلت، ولو من غير طريقها المعتاد. ووجوب الغسل بخروج المني من طريقه ولم يوجد. قلت؛ وقد يرد الفرق، ويقال بوجوب الغسل بأنه إنما وجب هنا للولادة لا لخروج المني، بقيده الذي ذكره ، فالولادة غير خروج المني، والغسل يجب بكل منهما. فإذا كان الخارج منيا تقيد بمحله كما ذكر، والولادة لا تتقيد, إذ المقصود خروج الولد من أي محل ، فليتأمل، ذكر ذلك م د ( محمد المدابغي ). وعبارة الاطفيحي : وينبغي أن يأتي فيه ما تقدم من التفصيل في إنسداد الفرج بين الأصلي و العارض، فإن كان الإنسداد أصليا: قيل لها ولادة وكانت مو جبة للغسل ، و إلا فلا، لأن خروج الولد من جنبها مثلا مع إنفتاح فرجها لا يسمى ولادة\r- Hasyiyah Al Baijuri Ala Syarhi Ibnul Qosim, Juz 1 Hal. 74 :\rولو ولدت من غير الطريق المعتاد فالذي يظهر وجوب الغسل أخذا مما بحثه الرملي فيما لو قال؛ إن ولدت فأنت طالق، فولدت من غير طريقه المعتاد، وقال بعضهم : قد يتجه عدم الوجوب، لأن علته أن الولد مني منعقد، ولاعبرة بخروجه من غير طريقه المعتاد مع إنفتاح الاصلي، ورد، بأن الولادة نفسها صارت موجبة للغسل، فهي غير خروج المني\r- Al Mausu'ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, Juz 14 Hal. 16 :\rالولادة بجرح في البطن","part":1,"page":356},{"id":357,"text":"لما كان النفاس هو الدم الخارج من الفرج عقب الولادة، فقد نص الحنفية على أنه إذا ولدت من سرتها - مثلا - وسال منها دم لا تكون نفساء، بل هي صاحبة جرح ما لم يسل من فرجها، لكن يتعلق بالولد سائر أحكام الولادة\r- Al Fiqhu Alal Madzahib Al Arba'ah, Juz 1 Hal. 121 :\rولو شق بطن المرأة ، ولو خرج منها الولد، فإنها لاتكون نفساء\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/1046783938677747/\rwww.fb.com/notes/1053691091320365","part":1,"page":357}],"titles":[{"id":1,"title":"Piss-Ktb (37)","lvl":1,"sub":0}]}