{"pages":[{"id":1,"text":"…ASWAJA NU CENTER\r… PCNU Kabupaten Malang\rSekertariat: Jalan Sumbertaman Karangsuko Pagelaran Malang\rTelp: 085723402161/08121736361\rNomor …: 01/D/ASWAJACENTERKABMALANG/VIII/2019\rHal … …: Maklumat\rKeputusan Hasil Halaqah Perdana\rAswaja NU Center PCNU Kabupaten Malang\rDi Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Nurul Huda Tlogosari Tirtoyudo\rTanggal 8 Agustus 2019\rHukum Bermazhab\rPada masa sekarang, wajib bagi umat Islam mengikuti salah satu dari empat mazhab yang populer dan aliran mazhabnya telah dikodifikasikan (mudawwan). Empat mazhab tersebut adalah: a. Mazhab Hanafi\rYaitu mazhab Imam Abu Hanifah al-Nu’man bin Tsabit, (lahir di Kufah pada tahun 80 H. dan meninggal pada tahun 150 H.).\rMazhab Maliki\rYaitu mazhab Imam Malik bin Anas bin Malik, (lahir di Madinah pada tahun 90 H. dan meninggal pada tahun 179 H.).\rMazhab Syafi’i\rYaitu mazhab Imam Abu Abdillah bin Idris bin Syafi’i, (lahir di Gazza pada tahun 150 H. dan meninggal pada tahun 204 H.).\rMazhab Hanbali\rYaitu mazhab Imam Ahmad bin Hanbal, (lahir di Marwaz pada tahun 164 H. dan meninggal pada tahun 241 H.).\rDan tidak boleh memberi hukum syareat dengan langsung mengambil dalil al-Qur’an dan hadits, dengan tanpa memperhatikan rumusan hukum dari kitab-kitab fiqh, seperti Fath al-Qarib, Fath al-Mu’in, dan lain-lain. Karena hal itu, bisa sesat dan menyesatkan.\rReferensi:\rAbdul Wahhab al-Sya’rani, al-Mizan al-Kubra, (Mesir: Maktabah Musthafa al-Halabi, t.th), Cet I, Juz 1, h. 34.","part":1,"page":1},{"id":2,"text":"كَانَ سَيِّدِي عَلِيٌّ الخَوَّاصُ رَحِمَهُ اللَّهُ إِذَا سَأَلَهُ إِنْسَانٌ عَنِ التَّقَيُّدِ بِمَذْهَبٍ مُعَيَّنٍ الآنَ: هَلْ هُوَ وَاجِبٌ أَوْ لَا؟ يَقُولُ لَهُ: يَجِبُ عَلَيْكَ التَّقَيُّدُ بِمَذْهَبٍ مَا دُمْتَ لَمْ تَصِلْ إِلَى شُهُودِ عَيْنِ الشَّرِيعَةِ الْأُولَى، خَوْفًا مِنَ الْوُقُوعِ فِي الضَّلَالِ، وَعَلَيْهِ عَمَلُ النَّاسِ الْيَوْمَ.\r“Jika tuanku yang mulia Ali al-Khawash rahimahullah ditanya oleh seseorang tentang mengikuti mazhab tertentu sekarang ini, apakah wajib atau tidak? Beliau berkata: “Anda harus mengikuti suatu mazhab selama Anda belum sampai mengetahui inti agama, karena khawatir terjerumus pada kesesatan”. Dan begitulah yang harus diamalkan oleh orang zaman sekarang ini.”\r,Ibn Hajar al-Haitami, al-Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyah, (Beirut: Dar al-Fikr, 1403 H/1983 M), Jilid IV h. 307\rوَبِأَنَّ التَّقْلِيدَ مُتَعَيِّنٌ لِلْأَئِمَّةِ الْأَرْبَعَةِ، وَقَالَ: لِأَنَّ مَذَاهِبَهُمْ انْتَشَرَتْ حَتَّى ظَهَرَ تَقْيِيدُ مُطْلَقِهَا وَتَخْصِيصُ عَامِّهَا، بِخِلَافِ غَيْرِهِمْ.\r“Sesungguhnya bertaklid (mengikuti suatu mazhab) tertentu kepada imam empat (Maliki, Syafi’i, Hanafi, Hanbali), karena mazhab-mazhab mereka telah tersebar luas sehingga nampak jelas pembatasan hukum yang bersifat mutlak dan pengkhususan hukum yang bersifat umum, berbeda dengan mazhab-mazhab yang lain.”\rMuhammad Bahith al-Muthi’i, Sullam al-Wushul Syarah Nihayah al-Sul (Mesir: Bahrul Ulum, t.th.), jilid III, h. 921 dan jilid IV h. 580- 581.","part":1,"page":2},{"id":3,"text":"قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اتَّبِعُوا السَّوَادَ الْأَعْظَمَ، وَلَمَّا انْدَرَسَتِ الْمَذَاهِبُ الْحَقَّةُ بِانْقِرَاضِ أَئِمَّتِنَا إِلَّا الْمَذَاهِبَ الْأَرْبَعَةَ الَّتِي انْتَشَرَتْ أَتْبَاعُهَا، كَانَ اتِّبَاعُهَا اتِّبَاعًا لِلسَّوَادِ الْأَعْظَمِ، وَالْخُرُوجُ عَنْهَا خُرُوجًا عَنِ السَّوَادِ الْأَعْظَمِ.\r“Rasulullah Saw bersabda: “Ikutlah kalian kepada al-Sawad al-A’zham”. Ketika mazhab-mazhab yang benar telah punah dengan kematian para imamnya kecuali empat mazhab (Maliki, Hanafi, Syafi’i dan Hanbali) yang pengikutnya tersebar luas, maka mengikuti empat mazhab tersebut berarti mengikuti al-Sawad al-A’zham, dan keluar dari empat mazhab tersebut berarti keluar dari al-Sawad al-A’zham.”\rMuhammad Amin al-Kurdi Al-Irbili, Tanwir al-Qulub fi Mu’ammalah ‘Allam al-Ghuyub, (Beirut: Dar\rوَمَنْ لَمْ يُقَلِّدْ وَاحِدًا مِنْهُمْ، وَقَالَ: أَنَا أَعْمَلُ بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ مُدَّعِيًا فَهْمَ الْأَحْكَامِ مِنْهُمَا، فَلَا يُسَلَّمُ لَهُ، بَلْ هُوَ مُخْطِئٌ ضَالٌّ مُضِلٌّ، لَا سِيَّمَا فِي هَذَا الزَّمَانِ الَّذِي عَمَّ فِيهِ الْفِسْقُ وَكَثُرَتْ فِيهِ الدَّعْوَى الْبَاطِلَةُ، لِأَنَّهُ اسْتَظْهَرَ عَلَى أَئِمَّةِ الدِّينِ، وَهُوَ دُونَهُمْ فِي الْعِلْمِ وَالْعَدَالَةِ وَالِاطِّلَاعِ.","part":1,"page":3},{"id":4,"text":"“Dan bagi siapapun yang tidak mengikuti salah satu dari mereka (imam-imam mazhab) dan berkata: “Saya beramal berdasarkan al-Qur’an dan hadits”, dan mengaku telah mampu memahami hukum-hukum al-Qur’an dan hadits, maka pernyataan orang tersebut tidak bisa diterima, bahkan termasuk orang yang bersalah, sesat dan menyesatkan, terutama pada masa sekarang ini dimana kefasikan merajalela dan banyak tersebar dakwah-dakwah yang salah, karena ia ingin mengungguli para pemimpin agama padahal ia di bawah mereka dalam ilmu, amal, keadilan dan analisis.\rAlawi al-Saqqaf, al-Fawaid al-Makkiyah dalam Majmu’ah Sab’ah al-Kutub al-Mufidah, (Mesir: Musthafa al-Halabi, t.th.), h. 50.\rوَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا بُدَّ لِلْمُكَلَّفِ غَيْرِ الْمُجْتَهِدِ الْمُطْلَقِ مِنَ الْتِزَامِ التَّقْلِيدِ لِمَذْهَبٍ مُعَيَّنٍ مِنْ مَذَاهِبِ الْأَئِمَّةِ الْأَرْبَعَةِ، وَلَا يَجُوزُ لَهُ الِاسْتِدْلَالُ بِالْآيَاتِ وَالْأَحَادِيثِ، لِقَوْلِهِ تَعَالَى: ?وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ? [النساء: 83]، هُمُ الَّذِينَ تَأَهَّلُوا لِلِاجْتِهَادِ دُونَ غَيْرِهِمْ، كَمَا هُوَ مَبْسُوطٌ فِي مَحَلِّهِ.","part":1,"page":4},{"id":5,"text":"“Dan ketahuilah, sungguh bagi seorang mukallaf yang bukan mujtahid mutlak harus menetapi taqlid pada madzhab tertentu dari madzhab imam empat. Dia tidak diperbolehkan mengambil dalil ayat-ayat dan hadits-hadits (sacara langsung), karena firman Allah Ta’ala: “Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil Amri).” (Al-Nisa’: 83), mereka (ulil amri) tersebut adalah yang ahli ijtihad, bukan yang lainnya, seperti diuraikan luas dalam tempatnya.\rHukum Mushafahah Setelah Salat\rHukum mushafahah adalah sunnah. Hal ini berdasarkan hadis\rقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلَّا غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَفْتَرِقَا، رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ.\rRasulullah saw bersabda: tidak ada bagi dua orang muslim yang bertemu lalu bersalaman kecuali“ ”.diampuni dosanya sebelum mereka berdua berpisah (HR. Abi Dawud)\rعَنْ قَتَادَةَ، قَالَ: قُلْتُ لِأَنَسِ بْنِ مَالِكٍ: هَلْ كَانَتِ الْمُصَافَحَةُ فِي أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ قَالَ: نَعَمْ، رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ.\r-Qatadah bertanya pada sahabat Anas: “apakah musafahah itu telah ada (menjadi tradisi) Sahabat“ sahabat Rasul?. Anas menjawab: “Betul.” (HR. Tirmidzi\rقَالَ: إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا لَقِيَ الْمُؤْمِنَ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ، وَأَخَذَ بِيَدِهِ فَصَافَحَهُ، تَنَاثَرَتْ خَطَايَاهُمَا كَمَا يَتَنَاثَرُ وَرَقُ الشَّجَرِ، رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ.","part":1,"page":5},{"id":6,"text":"Sesungguhnya seorang mukmin yang berjumpa dengan mukmin lain lalu mengucapkan salam seraya berjabat tangan guna bersalaman, maka dosa keduanya gugur sebaimana gugurnya daun dari pohon. (HR. Tabrani)\rSelain sebagai pelaksanaan sunnah yang agung, mushafahah juga memiliki manfaat berupa menghilangkan permusuhan, menumbuhkan rasa kepedulian dan kasih sayang serta memperkokoh tali silaturrahim diantara sesama muslim.\rAdapun musafahah setelah shalat hukumnya tetap sunnah, karena termasuk dalam kategori hukum asal sunnah musafahah. Di samping itu orang yang shalat diibaratkan sedang pergi untuk bertemu dengan Allah Swt. Sehingga tatkala ia usai mengerjakan shalat, mushafahah hukumnya sunnah karena dianggap sebagai orang yang baru bertemu dengan yang lain.\rReferensi: Ibnu Battal, Syarah Sahih Bukhrai Libni Battal (Maktabah Rusydu, Riyadh, 2003) Juz 9 H. 44\rالْمُصَافَحَةُ حَسَنَةٌ عِنْدَ عَامَّةِ الْعُلَمَاءِ، وَقَدِ اسْتَحَبَّهَا مالك بن أنس بَعْدَ كَرَاهَةٍ، وَهِيَ مِمَّا تُثْبِتُ الْوُدَّ وَتُؤَكِّدُ الْمَحَبَّةَ، وَقَدْ قَالَ أنس بن مالك: إِنَّ الْمُصَافَحَةَ كَانَتْ فِي أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ، وَهُمْ الْحُجَّةُ وَالْقُدْوَةُ الَّذِينَ يَلْزَمُ اتِّبَاعُهُمْ، وَقَدْ وَرَدَ فِي الْمُصَافَحَةِ آثَارٌ حِسَانٌ.","part":1,"page":6},{"id":7,"text":"“Mushafahah adalah sebuah kebaikan menurut mayoritas ulama. Imam Malik meghukumi sunnah musafahah setelah sebelumnya memakruhkannya. Mushafahah termasuk hal-hal yang menumbuhkan rasa kepedulian dan kasih sayang. Imam Ans bin malik berkata: sesungguhnya mushafahah telah menjadi tradisi bagi sahabat-sahabat nabi dan mereka adalah tedalan dan tuntunan yang harus kita ikuti. Serta telah nyata dampak-dampak positif dalam musafahah.”\r51 Abdurrahman Ba’alawi, Bughyatul Musytarsyidin, (Darul Kutub Ilmiah, Beirut\rفائدة: الْمُصَافَحَةُ الْمُعْتَادَةُ بَعْدَ صَلَاتَيِ الصُّبْحِ وَالْعَصْرِ لَا أَصْلَ لَهَا، وَذَكَرَ العز بن عبد السلام أَنَّهَا مِنَ الْبِدْعَةِ الْمُبَاحَةِ، وَاسْتَحْسَنَهُ النووي، وَيَنْبَغِي التَّفْصِيلُ بَيْنَ مَنْ كَانَ مَعَهُ قَبْلَ الصَّلَاةِ فَمُبَاحَةٌ، وَمَنْ لَمْ يَكُنْ مَعَهُ فَمُسْتَحَبَّةٌ؛ إِذْ هِيَ سُنَّةٌ عِنْدَ اللِّقَاءِ إِجْمَاعًا، وَقَالَ بَعْضُهُمْ: إِنَّ الْمُصَلِّي كَالْغَائِبِ فَعَلَيْهِ يُسْتَحَبُّ عَقِبَ الْخَمْسِ مُطْلَقًا. اهـ","part":1,"page":7},{"id":8,"text":"“(Faidah) Bersalaman yang menjadi tradisi setelah shalat subuh dan ashar tidak mempunyai dalil, dan Ibnu Abdul Salam menyebutnya sebagai bid’ah yang diperbolehkan, sedangkan Imam Nawawi menganggapnya baik. Dan seharusnya dibedakan antara bersalaman dengan orang yang sudah bersua sebelum shalat yang hukumnya mubah dengan orang yang baru bersua setelah shalat yang hukum salamannya adalah sunah karena bersalaman hukumnya sunnah ketika saling berjumpa menurut kesepakatan ulama. Sebagian ulama berkata: Sesunggunya orang yang shalat sebagaimana orang yang bepergian, maka disunnahkan bersalaman setelah shalat lima waktu secara mutlak.”\rIbnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bari Syarah Sahih Bukhari (Darul Makrifat, Beirut) Juz 11 H. 54\rقَالَ النووي: وَأَمَّا تَخْصِيصُ الْمُصَافَحَةِ بِمَا بَعْدَ صَلَاتَيِ الصُّبْحِ وَالْعَصْرِ فَقَدْ مَثَّلَ العز بن عبد السلام فِي الْقَوَاعِدِ الْبِدْعَةَ الْمُبَاحَةَ بِهَا، قَالَ النووي: وَأَصْلُ الْمُصَافَحَةِ سُنَّةٌ، وَكَوْنُهُمْ حَافَظُوا عَلَيْهَا فِي بَعْضِ الْأَحْوَالِ لَا يُخْرِجُ ذَلِكَ عَنْ أَصْلِ السُّنَّةِ.\rImam nawawi berkata: adapun mengkhususkan salaman setelah shalat shubuh dan ashar telah dicontohkan oleh imam Izzudin Bin Abdissalam termasuk dalam kategori bid’ah yang mubah. Imam nawawi juga menyebutkan: Hukum asal mushafahah adalah sunnah. Tradisi orang-orang yang melakukan mushafahah pada waktu-waktu tertentu tidak mengeluarkannya dari hukum asal sunnah mushafahah.","part":1,"page":8}],"titles":[{"id":1,"title":"LBM Asnuter PCNU Malang_Agustus_2019","lvl":1,"sub":0}]}