{"pages":[{"id":1,"text":"2207. MAKALAH : KEUTAMAAN MAULID\rOleh KH. Abdullah Afif\rوَقَالَ سُلْطَانُ الْعَارِفِيْنِ الْإِمَامُ جَلَالُ الدِّيْنِ اَلسُّيُوْطِيُّ قَدَّسَ اللهُ سِرَّهُ وَنَوَّرَ ضَرِيْحَهُ، فِيْ كِتَابِهِ اَلْمُسَمَّى بِالوَسَائِلِ فِيْ شَرْحِ الشَّمَائِلِ:\rSulthan ‘Arifin Imam Jalaluddin As-Suyuthi –qaddasallaahu sirrahuu wa nawwara dharihaahuu- dalam kitab beliau yang diber Al- nama “Al Wasaa`il Fii Syarhi Asy-Syamaa`il” berkata :\rمَا مِنْ بَيْتٍ أَوْ مَسْجِدٍ أَوْ مَحَلَّةٍ قُرِئَ فِيْهِ مَوْلِدُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا حَفَّتِ الْمَلاَئِكَةُ ذَلِكَ الْبَيْتَ أَوِ الْمَسِجْدَ أَوِ الْمَحَلَّةَ، وَصَلَّتِ الْمَلاَئِكَةُ عَلَى أَهْلِ ذَلِكَ الْمَكَانِ، وَعَمَّهُمُ اللهُ تَعَالَى بِالرَّحْمَةِ وَالرِّضْوَانِ، وَأَمَّا الْمُطَوَّقُوْنَ بِالنُّوْرِ يَعْنِيْ جِبْرَائِيْلَ وَمِيْكَائِيْلَ وَإِسْرَافِيْلَ وَعِزْرَائِيْلَ عَلَيْهِمُ السَّلاَمُ فَإِنَّهُمْ يُصَلُّوْنَ عَلَى مَنْ كَانَ سَبَبًا لِقِرَاءَةِ مَوْلِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ\rTiada dari suatu rumah atau masjid atau perkemahan yang dibacakan didalamnya Maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kecuali malaikat mengelilingi rumah, masjid dan kemah tersebut, dan malaikat meminta ampunan dosa terhadap penghuni tempat tersebut, dan Allah meliputi mereka dengan rahmat dan keridhaan(-Nya). Dan adapun malaikat yang dikelilingi dengan cahaya yakni Jibril, Mikail, Israfil dan ‘Izrail -‘alaihimussalam- maka mereka meminta ampunan dosa terhadap orang-orang yang menjadi penyebab bagi pembacaan Maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam وَقَالَ أَيْضًا: Dan Beliau juga berkata","part":1,"page":1},{"id":2,"text":"مَا مِنْ مُسِلِمٍ قَرَأَ فِي بَيْتِهِ مَوْلِدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا رَفَعَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الْقَحْطَ وَالْوَبَاءَ وَالْحَرْقَ وَالْغَرْقَ وَاْلآفَاتِ وَالْبَلِيَّاتِ وَالْبُغْضَ وَالْحَسَدَ وَعَيْنَ السُّوْءِ وَاللُّصُوْصَ عَنْ أَهْلِ ذَلِكَ الْبَيْتِ، فَإِذَا مَاتَ هَوَّنَ اللهُ عَلَيْهِ جَوَابَ مُنْكَرٍ وَنَكِيْرٍ، وَيَكُوْنُ فَي مَقْعَدِ صِدْقٍ عِنْدَ مَلِيْكٍ مُقْتَدِرٍ\rTiada dari seorang Islam yang membaca Maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dirumahnya kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengangkat kemarau, wabah, kebakaran, karam, penyakit, bala, murka, dengki, mata yang jahat dan pencuri dari ahli rumah tersebut. Jika orang tersebut meninggal dunia niscaya Allah memudahkan baginya menjawab pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir, dan adalah tempat duduknya pada tempat yang benar disisi Tuhan yang maha memiliki lagi kuasa. [ Sumber : Kitab Anni’matul Kubra ‘alal ‘aalam fii Maulidi Sayyidi Waladi Adam halaman 7 ]. Link download Kitab Anni’matul Kubra ‘alal ‘aalam fii Maulidi Sayyidi Waladi Adam :\rhttp://www.hakikatkitabevi.com/arabic/44-nimatalkubra.pdf\rقَالَ عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ إِسْمَاعِيْلَ كَانَ بِمِصْرَ رَجُلٌ يَصْنَعُ مَوْلِدًا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلَّ عَامٍ\rSyeikh Abdul Wahid bin Ismail bercerita, bahwa di Mesir dahulu, ada seorang laki-laki yang setiap tahun mengadakan peringatan Maulid Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam.","part":1,"page":2},{"id":3,"text":"وَكَانَ إِلَى جَانِبِهِ رَجُلٌ يَهُوْدِيٌّ فَقَالَتْ لَهُ زَوْجَةُ الْيَهُوْدِيِّ مَا بَالُ جَارِنَا الْمُسْلِمِ يُنْفِقُ مَالًا جَزِيْلًا فِيْ مِثْلِ هَذَا الشَّهْرِ فَقَالَ لَهَا زَوْجُهَا إِنَّهُ يَزْعُمُ أَنَّ نَبِيَّهُ قَدْ وُلِدَ فِيْهِ وَهُوَ يَفْعَلُ ذَلِكَ فَرْحَةً بِهِ وَكَرَامَةً لِمَوْلِدهِ\rDisebelah laki-laki tadi, ada tetangganya yang beragama Yahudi, Isteri Yahudi ini berkata kepada suaminya: “Mengapa, tetangga kita yang muslim itu, setiap bulan ini (Rabi’ul Awwal) membelanjakan harta yang banyak?” Suami Yahudi itu menjawab: “Itu adalah karena dia beranggapan bahwa dalam bulan inilah nabinya dilahirkan, dia melakukan hal tersebut karena senang dengan nabinya, dan memuliakan hari kelahirannya.”\rقَالَ فَسَكَتَا ثُمَّ نَامَا لَيْلَتَهُمَا فَرَأَتْ اِمْرَأَةُ الْيَهُوْدِيِّ فِي الْمَنَامِ رَجُلًا جَمِيْلا جَلِيْلًا عَلَيْهِ مَهَابَةٌ وَتَبْجِيْلٌ وَوَقَارٌ قَدْ دَخَلَ بَيْتَ جَارِهِ الْمُسْلِمِ وَحَوْلَهُ جَمَاعَةٌ مِنْ أَصْحَابِهِ وَهُمْ يُبَجِّلُوْنَهُ وَيُعَظِّمُوْنَ هُ\rSyeikh Abdul Wahid bin Ismail melanjutkan ceritanya : Kedua suami isteri pun diam, kemudian keduanya tidur. Dalam tidurnya, isteri Yahudi itu bermimpi ia melihat ada seorang laki-laki yang begitu tampan dan agung, berwibawa dan sangat dimuliakan memasuki rumah tetangganya yang Muslim itu. Dan di kanan kiri laki-laki tersebut ada serombongan dari sahabatnya. Mereka mengormati dan mengagungkan laki-laki tersebut","part":1,"page":3},{"id":4,"text":"فَقَالَتْ لِرَجُلٍ مِنْهُمْ مَنْ هَذَا الرَّجُلُ الْجَمِيْلُ الْوَجْهِ فَقَالَ لَهَا هَذَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ هَذَا الْمَنْزِلَ لِيُسَّلِمَ عَلَى أَهْلِهِمْ وَيَزُوْرَهُمْ لِفَرْحِهِمْ بِهِ فَقَالَتْ لَهُ هَلْ يُكَلِّمُنِيْ إِذَا كَلَّمْتُهُ فَقَالَ لَهَا نَعَمْ\rWanita itu pun bertanya kepada pada salah seorang diantara anggota rombongan itu: “Siapa laki-laki yang tampan ini ?”\rOrang itu menjelaskan bahwa itulah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Beliau masuk kerumah ini untuk mengucapkan salam kepada penghuni rumah ini dan menemui mereka yang telah menunjukkan rasa suka-cita mereka atas kelahiran beliau.\rWanita Yahudi itu pun berkata lagi, “Maukah orang itu berbicara denganku apabila aku mengajaknya bicara ?”, laki-laki tadi menjawab: “Sudah tentu beliau mau”.\rفَأَتَتْ إِلَيْهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ لَهُ يَا مُحَمَّدُ فَقَالَ لَهَا لَبَّيْكِ فَقَالَتْ لَهُ أَتُجِيْبُ لِمِثْلِيْ بِالتَّلْبِيَةِ وَأَنَا عَلَى غَيْرِ دِيْنِكَ وَمِنْ أَعْدَائِكَ فَقَالَ لَهَا وَالَّذِيْ بَعَثَنِيْ بِالْحَقِّ نَبِيًّا مَا أَجَبْتُ نِدَائَكِ حَتَّى عَلِمْتُ أَنَّ اللهَ قَدْ هَدَاكِ فَقَالَتْ إِنَّكَ لَنَبِيٌّ كَرِيْمٌ، وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيْمٍ، تَعِسَ مَنْ خَالَفَ أَمْرَكَ، وَخَابَ مَنْ جَهِلَ قَدْرَكَ، اُمْدُدْ يَدَكَ، فَأَنَا أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَنَّكَ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ\rWanita Yahudi itu pun lantas mendekati Nabi Muhammad dan menyapanya: “Wahai Muhammad !” , lantas Nabi pun menjawab: “LABBAIKI (aku sambut panggilanmu) “.","part":1,"page":4},{"id":5,"text":"Wanita itu pun berkata: ” Engkau menjawab orang sepertiku dengan TALBIYAH, sedangkan aku bukan mengikuti agamamu, dan akupun termasuk salah satu musuh-musuhmu.”\rNabipun bersabda kepadanya: “Demi Dzat Yang telah mengutusku dengan haq menjadi Nabi, aku tidak menjawab panggilanmu sehingga aku mengerti bahwasanya Allah telah memberi hidayah atasmu.”\rWanita itupun berucap: “Sesungguhnya tuan memang benar seorang Nabi yang mulia yang berpribadi agung, celakalah orang yang menselisihi perintahmu, dan merugilah orang yang tidak mengerti pangkatmu. Ulurkanlah tanganmu, aku bersaksi bahwa Tiada Tuhan selain Allah, dan Engkau adalah Rasulullah, shallallaahu ‘alaihi wasallam.”\rثُمَّ إِنَّهَا عَاهَدَتِ اللهَ فِيْ سِرِّهَا أَنَّهَا إِذَا أَصْبَحَتْ تَتَصَدَّقُ بِجَمِيْعِ مَا تَمْلِكُهُ وَتَصْنَعُ مَوْلِدًا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرْحَةً بِإِسْلَامِهَا وَشُكْرًا لِلرُّؤْيَا الَّتِيْ رَأَتْهَا فِيْ مَنَامِهَا\rDalam hatinya, wanita itu berjanji kepada Allah,berniat bahwa nanti besok pagi, ia akan bersedekah dengan seluruh harta yang ia miliki dan melaksanakan jamuan untuk memperingati Maulid Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, sekaligus sebagai perwujudan rasa syukur atas keIslamannya dan mimpinya malam itu.","part":1,"page":5},{"id":6,"text":"فَلَمَّا أَصْبَحَتْ رَأَتْ زَوْجَهَا قَدْ هَيَّأَ الْوَلِيْمَةَ وَهُوَ فِيْ هِمَّةٍ عَظِيْمَةٍ فَتَعَجَّبَتْ مِنْ أَمْرِهِ وَقَالَتْ لَهُ: مَالِيْ أَرَاكَ فِيْ هِمَّةٍ صَالِحَةٍ ؟ فَقَالَ لَهَا: مِنْ أَجْلِ الَّذِيْ أَسْلَمْتِ عَلَى يَدَيْهِ اَلْبَارِحَةَ، فَقَالَتْ لَهُ: مَنْ كَشَفَ لَكَ هَذَا السِّرَّ الْمَصُوْنَ وَمَنْ أَطْلَعَكَ عَلَيْهِ ؟ فَقَالَ اَلَّذِيْ أَسْلَمْتُ بَعْدَكِ عَلَى يَدَيْهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَهُوَ الْمُشَفَّعُ غَدًا فِيْمَنْ يُصَلِّيْ وَيُسَلِّمُ عَلَيْهِ\r(Akan tetapi, diluar dugaan, begitu bangun pagi) ia melihat suaminya sudah sibuk untuk menyiapkan suatu perjamuan, ia begitu rajin dan serius.\rWanita itupun heran dengan apa yang dilakukan suaminya seraya berkata: “Ada apa gerangan kulihat engkau begitu sibuk dan bersemangat pagi ini ? si suami menjawab, “Karena orang yang kau lihat malam tadi, yang mana engkau masuk islam dihadapan beliau.”\rDia bertanya kepada suaminya: “Siapa gerangan yang telah membukakan engkau rahasia ini (ihwal impiannya) dan memperlihatkann ya kepada engkau ?”\rSi suamipun berkata: “Yaitu Nabi Muhammad, yang mana aku masuk Islam setelah engkau dihadapan beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam. Beliaulah Nabi yang ditrerima syafaatnya kelak untuk orang yang bershalawat dan salam atas beliau”. [ Sumber : Kitab Maulid Syeikh Ahmad bin Al Qasim (terkenal dengan nama Maulid Syaraful Anam) , yang disyarahi oleh Syeikh Nawawi Al Jawi dengan nama : Fat_hush Shamad al Alim ‘alaa Maulidisysaikh Ahmad bin al Qasim, halaman 44-46 ]. Bersambung, Insya Allah..\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/532255656797247/","part":1,"page":6},{"id":7,"text":"www.fb.com/groups/piss.ktb/532258590130287/\r2208. MAKALAH : DALIL MAULID\rOleh KH. Abdullah 'Afif\rAllah berfirman:\rقُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا\r“Katakanlah: ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya hendaklah (dengan itu) mereka bergembira’ “. (QS.Yunus: 58) Allah Ta’ala memerintahkan kita bergembira atas rahmat_Nya dan Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam jelas merupakan rahmat Allah terbesar bagi kita dan semesta alam. Allah berfirman :\rوَمَا أرْسَلْنَاكَ إلَّا رَحْمَةً لِلعَالَمِيْنَ\r“Dan Kami tidak mengutusmu kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta”. (QS.Al-Anbiya:107) Didalam Tafsir Ruuhul Ma’aani juz VIII halaman 41, karya Syeikh Al Alusi (wafat tahun 1270 H) :\rوَأَخْرَجَ أَبُو الشَّيْخِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُمَا أَنَّ الْفَضْلَ اَلْعِلْمُ وَالرَّحْمَةَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ\rImam Abusysyeikh mengeluarkan (meriwayatkan) dari shahabat Ibnu Abbas –radhiyallaahu Ta’aalaa ‘anhumaa- : “Sesungguhnya AL FADHL (karunia Allah) adalah ilmu dan sesungguhnya ARRAHMAH (rahmat Allah) adalah Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam”. Sumber :\rhttp://islamport.com/d/1/tfs/1/28/1343.html\rDalam Kitab Shahih Bukhari juz VI halaman 125, cetakan Daar Al Fikr tahun 1401 H – 1981 M / juz I halaman 591, maktabah syamilah:","part":1,"page":7},{"id":8,"text":"قَالَ عُرْوَةُ وثُوَيْبَةُ مَوْلَاةٌ لِأَبِي لَهَبٍ كَانَ أَبُو لَهَبٍ أَعْتَقَهَا فَأَرْضَعَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا مَاتَ أَبُو لَهَبٍ أُرِيَهُ بَعْضُ أَهْلِهِ بِشَرِّ حِيبَةٍ قَالَ لَهُ مَاذَا لَقِيتَ قَالَ أَبُو لَهَبٍ لَمْ أَلْقَ بَعْدَكُمْ خَيْرًا غَيْرَ أَنِّي سُقِيتُ فِي هَذِهِ بِعَتَاقَتِي ثُوَيْبَةَ\rImam ‘Urwah bekata : “Tsuwaibah adalah hamba sahaya Abu Lahab. Dia memerdekakan Tsuwaibah, kemudian Tsuwaibah menyusui Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam. Ketika Abu Lahab meninggal, salah satu keluarganya bermimpi melihat dia dalam keadaan yang buruk. Sebagian keluarganya tersebut bertanya: “Apa yang engkau temui?”. Ia menjawab, “Setelah meninggalkan kamu, aku tidak menemui kebaikan kecuali aku diberi minuman didalam ini karena aku memerdekakan Tsuwaibah”. Sumber :\rhttp://hadith.al-islam.com/Page.aspx?pageid=192&BookID=24&PID=4908\rAl Hafizh Ibnu Hajar (wafat tahun 852 H) dalam kitab Fat_hul Bari (9/145-146) mengutip penjelasan Imam Baihaqi sebagai berikut:\rمَا وَرَدَ مِنْ بُطْلَانِ الْخَيْرِ لِلْكُفَّارِ فَمَعْنَاهُ أَنَّهُمْ لَا يَكُوْنَ لَهُمُ التَّخَلُّصُ مِنَ النَّارِ وَلَا دُخُوْلُ الْجَنَّةِ ، وَيَجُوْزُ أَنْ يُخَفَّفَ عَنْهُمْ مِنَ الْعَذَابِ الَّذِيْ يَسْتَوْجِبُوْنَهُ عَلَى مَا ارْتَكَبُوْهُ مِنَ الْجَرَائِمِ سِوَى الْكُفْرِ بِمَا عَمِلُوْهُ مِنَ الْخَيْرَاتِ","part":1,"page":8},{"id":9,"text":"Riwayat batalnya kebaikan untuk orang-orang kafir, maksudnya bahwasanya mereka tidak terbebas dari neraka dan tidak pula masuk syurga. Boleh saja mereka diringankan dari siksa yang mereka dapati atas dosa-dosa yang mereka lakukan selain kekufuran, dengan kebaikan-kebaikan yang mereka lakukan. Beliau juga mengutip keterangan Imam Qurthubi sebagai berikut:\rهَذَا التَّخْفِيْفُ خَاصٌّ بِهَذَا وَبِمَنْ وَرَدَ النَّصُّ فِيْهِ\rDiringankan ini khusus dengan orang ini (Abu Lahab.Pen), dan orang diriwayatkan adanya nash untuk hal yang demikian\rDan apa yang dikatakan oleh Imam Ibul Munir:\rلَمْ يَكُنْ عِتْقُ أَبِيْ لَهَبٍ لِثُوَيْبَةَ قُرْبَةً مُعْتَبَرَةً ، وَيَجُوْزُ أَنْ يَتَفَضَّلَ اللهُ عَلَيْهِ بِمَا شَاءَ كَمَا تَفَضَّلَ عَلَى أَبِيْ طَالِبٍ\rMemerdekakannya Abu Lahab terhadap Tsuwaibah tidak dianggap sebagai perbuatan yang mendekatkan diri kepada Allah. Boleh saja Allah memberi anugerah kepadanya dengan apa yang Dia kehendaki sebagaimana Dia memberi anugerah atas Abu Thalib.\rSelanjutnya al Hafizh menutup syarah riwayat diatas dengan ucapan beliau:\rوَتَتِمَّةُ هَذَا أَنْ يَقَعَ التَّفَضُّلُ الْمَذْكُوْرُ إِكْرَامًا لِمَنْ وَقَعَ مِنَ الْكَافِرِ اَلْبِرُّ لَهُ وَنَحْوُ ذَلِكَ ، وَاللهُ أَعْلَمُ.\rMelengkapi hal ini, pemberian anugerah tersebut merupakan bentuk memuliakan kepada orang yang mana orang kafir berbuat baik kepada orang tersebut dan sebagainya. Wallaahu A’lam. Sumber :\rhttp://islamport.com/d/1/srh/1/48/1775.html\rDalam Kitab ‘Arf ut-Ta’rif bil Maulidisysyarif halaman 21, karya al-Hafizh Syamsuddin bin al-Jazari (wafat tahun 823 H) :","part":1,"page":9},{"id":10,"text":"وَقَدْ رُوِيَ أَنَّ أَبَا لَهَبٍ رُؤِيَ بَعْدَ مَوْتِهِ فِي النَّوْمِ ، فَقِيْلَ لَهُ : مَا حَالُكَ ، فَقَالَ فِي النَّارِ ، إِلَّا أَنَّهُ يُخَفَّفُ عَنِّيْ كُلَّ لَيْلَةِ اثْنَيْنِ وَأَمُصُّ مِنْ بَيْنَ أَصْبُعِيْ مَاءً بِقَدْرِ هَذَا – وَأَشَارَ إِلَى نُقْرَةِ إِبْهَامِهِ - وَأَنَّ ذَلِكَ بِإِعْتَاقِيْ لِثُوَيْبَةَ عِنْدَمَا بَشَّرَتْنِيْ بِوِلَادَةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبِإِرْضَاعِهَا لَهُ\r“Abu Lahab diperlihatkan di dalam mimpi setelah ia mati, ditanyakan kepadanya, “Bagaimana keadaanmu?”. Ia menjawab, “Di dalam neraka, hanya saja azabku diringankan setiap malam Senin. Aku menghisap air diantara jari jemariku sekadar ini – ia menunjuk ujung ibu jarinya-. Itu aku dapatkan karena aku memerdekakan Tsuwaibah ketika ia memberikan kabar gembira kepadaku tentang kelahiran Muhammad dan ia menyusukan Muhammad”.\rإِذَا كَانَ أَبُوْ لَهَبٍ اَلْكَافِرُ الَّذِيْ نَزَلَ الْقُرْآنُ بِذَمِّهِ جُوْزِيَ فِي النَّارِ بِفَرْحِهِ لَيْلَةَ مَوْلِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَمَا حَالُ الْمُسْلِمِ الْمُوَحِّدِ مِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسَرُّ بِمَوْلِدِهِ وَيَبْذُلُ مَا تَصِلُ إِلَيْهِ قُدْرَتُهُ فِيْ مَحَبَّتِهِ ؛ لَعَمْرِيْ إِنَّمَا يَكُوْنُ جَزَاؤُهُ مِنَ اللهِ الْكَرِيْمِ أَنْ يُدْخِلَهُ بِفَضْلِهِ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ","part":1,"page":10},{"id":11,"text":"Jika Abu Lahab yang kafir, kecamannya disebutkan dalam al-Qur’an, ia diberi balasan di dalam neraka karena gembiranya pada malam kelahiran Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam, Lalu bagaimana keadaan orang Islam yang bertauhid dari umat Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam, yang mana dia gembira dengan kelahiran Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam, dan memberikan sekedar kemampuannya karena kecintaan kepada beliau. Maka demi usiaku, balasan bagi orang yang gembira dengan kelahiran Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam dari Allah Yang Maha Kariem adalah memasukkannya dengan anugerah_Nya ke dalam Jannah Na’iem. Link download kitab ‘Arf ut-Ta’rif bil Maulidisysyarif :\rhttp://archive.org/details/mawlid_ibnjazari\rAdapun orang yang bermimpi bertemu dengan Abu Lahab adalah shahabat Abbas –radhiyallaahu ‘anhu- Dalam kitab al Bidayah wa an Nihayah juz III halaman 407, karya Al Hafizh Ibnu Katsier (wafat tahun 774 H) dijelaskan :\rوَذَكَرَ السُّهَيْلِيُّ وَغَيْرُهُ : أَنَّ الرَّائِيَ لَهُ هُوَ أَخُوْهُ اَلْعَبَّاسُ وَكَانَ ذَلِكَ بَعْدَ سَنَةٍ مِنْ وَفَاةِ أَبِيْ لَهَبٍ بَعْدَ وَقْعَةِ بَدْرٍ\rImam Suhaili dan yang lainnya menuturkan bahwa orang yang bermimpi bertemu Abu Lahab adalah saudaranya, shahabat Abbas. Hal itu terjadi setelah setahun wafatnya Abu Lahab usai perang Badar. Sumber :\rhttp://www.islamweb.net/Newlibrary/display_book.php?flag=1&bk_no=59&ID=160\rAl Hafizh Ibnu Hajar (wafat tahun 852 H) berkata, sebagaimana diterangkan oleh al Hafizh As Suyuthi (wafat tahun 911 H) dalam kitab Al Haawi Lil Fataawi juz I halaman 282:","part":1,"page":11},{"id":12,"text":"وَ قَدْ ظَهَرَ لِي تَخْرِيجُهَا عَلَى أَصْلٍ ثَابِتٍ وَهُوَ مَا ثَبَتَ فِي الصَّحِيحَيْنِ مِنْ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ { قَدِمَ الْمَدِينَةَ فَوَجَدَ الْيَهُودَ يَصُومُونَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَسَأَلَهُمْ فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ أَغْرَقَ اللَّهُ فِيهِ فِرْعَوْنَ وَنَجَّى فِيهِ مُوسَى فَنَحْنُ نَصُومُهُ شُكْرًا للهِ تَعَالَى }\rTelah zahir bagi saya, mengeluarkan (mendasarkan) amaliyah maulid atas landasan yang kuat, yaitu hadits dalam hadist shahihain (shahih Bukhari dan shahih Muslim) bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, beliau menemukan orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura, maka beliau bertanya kepada mereka, dan mereka menjawab, “Itu hari dimana Allah menenggelamkan Firaun, menyelamatkan Musa, kami berpuasa sebagai ungkapan syukur kepada Allah Ta’ala.”\rفَيُسْتَفَادُ مِنْهُ فِعْلُ الشُّكْرِ لِلَّهِ عَلَى مَا مَنَّ بِهِ فِي يَوْمٍ مُعَيَّنٍ مِنْ إسْدَاءِ نِعْمَةٍ وَدَفْعِ نِقْمَةٍ وَيُعَادُ ذَلِكَ فِي نَظِيرِ ذَلِكَ الْيَوْمِ مِنْ كُلِّ سَنَةٍ\rDari situ dapat diambil kesimpulan bahwa boleh melakukan syukur kepada Allah atas apa yang Dia anugerahkan pada hari tertentu berupa pemberian nikmat dan penyelamatan dari mara bahaya, dan setiap tahun dilakukan setiap bertepatan pada hari itu.\rوَالشُّكْرُ لِلَّهِ يَحْصُلُ بِأَنْوَاعِ الْعِبَادَةِ كَالسُّجُودِ وَالصِّيَامِ وَالصَّدَقَةِ وَالتِّلَاوَةِ وَأَيُّ نِعْمَةٍ أَعْظَمُ مِنْ النِّعْمَةِ بِبُرُوزِ هَذَا النَّبِيِّ الَّذِي هُوَ نَبِيُّ الرَّحْمَةِ فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ","part":1,"page":12},{"id":13,"text":"Bersyukur kepada Allah bisa dicapai dengan macam-macam ibadah, seperti bersujud, berpuasa, bersedekah dan membaca Al Quran. Nikmat mana yang lebih agung melebihi datangnya Nabi ini pada hari itu. Beliau merupakan nabi rahmat.\rوَ عَلَى هَذَا فَيَنْبَغِي أَنْ يُتَحَرَّى الْيَوْمُ بِعَيْنِهِ حَتَّى يُطَابِقَ قِصَّةَ مُوسَى فِي يَوْمِ عَاشُورَاءَ وَمَنْ لَمْ يُلَاحِظْ ذَلِكَ لَا يُبَالِي بِعَمَلِ الْمَوْلِدِ فِي أَيِّ يَوْمٍ مِنْ الشَّهْرِ بَلْ تَوَسَّعَ قَوْمٌ فَنَقَلُوهُ إلَى يَوْمٍ مِنْ السَّنَةِ ..... إلخ\rAtas hal yang demikian, maka seyogyanya diusahakan Maulid dilaksanakan pada hari tersebut. Adapun orang yang tidak memperhatikan hal yang demikian maka dia tidak perduli dalam hari apa dari bulan tersebut dia mengadakan Maulid, bahkan ada orang-orang yang memperluas, mereka memindahkankannya ke hari dari setahun…dst. Sumber :\rhttp://www.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?flag=1&bk_no=130&ID=207\rCatatan : Berikut riwayat Imam Muslim tentang berpuasa Asyura yang dilakukan oleh orang Yahudi :","part":1,"page":13},{"id":14,"text":"وَحَدَّثَنِيْ ابْنُ أَبِيْ عُمَرَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ أَيُّوْبَ عَنْ عَبْدِ الهِة بْنِ سَعِيْدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ - رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا - أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قَدِمَ الْمَدِينَةَ فَوَجَدَ الْيَهُوْدَ صِيَامًا يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ فَقَالَ لَهُمْ رَسُوْلُ اللهِ - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - « مَا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِى تَصُومُونَهُ ». فَقَالُوْا هَذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ أَنْجَى الهُْ فِيْهِ مُوْسَى وَقَوْمَهُ وَغَرَّقَ فِرْعَوْنَ وَقَوْمَهُ فَصَامَهُ مُوْسَى شُكْرًا فَنَحْنُ نَصُوْمُهُ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- « فَنَحْنُ أَحَقُّ وَأَوْلَى بِمُوْسَى مِنْكُمْ ». فَصَامَهُ رَسُوْلُ اللهِ - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ.","part":1,"page":14},{"id":15,"text":"Telah menceritakan saya, Ibnu Abi Umar, telah menceritakan kami, Sufyan bin Ayyub, dari Abdullah bin Said bin Jubair, dari bapaknya, dari Ibnu Abbas –radhiyallaahu ‘anhumaa- : Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam tiba di Madinah mendapati kaum Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Maka Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: “Hari apakah ini sehingga kalian berpuasa padanya?” Mereka menjawab: ”Ini adalah hari agung dimana Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya serta menenggelamkan Fir’aun beserta kaumnya, lalu Musa berpuasa pada hari itu sebagai ungkapan syukur sehingga kamipun berpuasa.” Maka Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: ”Kami lebih berhak atas Musa daripada kalian. Maka Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam-pun berpuasa dan menyuruh berpuasa hari Asyura”. [ Sumber : Shahih Muslim juz III halaman 150, hadits nomor 2714, maktabah syamilah / juz I halaman 459, cetakan Al Ma’arif Bandung ]. Bersambung, Insya Allah. Link :\rhttp://www.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?flag=1&bk_no=53&ID=3219\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/531642863525193/\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/531660063523473/\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/531813923508087/\r2209. MAKALAH : ORANG YANG PERTAMA MENGADAKAN MAULID NABI\rOleh KH. Abdulah 'Afif\rAl Hafizh As Suyuthi (wafat tahun 911H) berkata dalam kitab al Hawi Lil Fatawi:","part":1,"page":15},{"id":16,"text":"وَأَوَّلُ مَنْ أَحْدَثَ فِعْلَ ذَلِكَ صَاحِبُ إِرْبِلَ اَلْمَلِكُ اَلْمُظَفَّرُ أَبُوْ سَعِيْدٍ كُوْكُبُرِيْ بْنُ زَيْنِ الدِّيْنِ عَلِيِّ بْنِ بُكْتِكِيْنَ أَحَدُ الْمُلُوْكِ الْأَمْجَادِ وَالْكُبَرَاءِ اَلْأَجْوَادَ وَكَانَ لَهُ آثارٌ حَسَنَةٌ وَهُوَ الَّذِيْ عَمَّرَ الْجَامِعَ الْمُظَفَّرِيَّ بِسَفْحِ قَاسِيُوْنَ\rOrang yang pertama mengadakan hal yang demikian (Maulid Nabi) adalah penguasa Irbil, Raja Muzhaffar Abu Sa’id Kuukuburi bin Zainuddin Ali Ibnu Buktikin, salah seorang raja yang mulia, agung dan demawan. Beliau memiliki peninggalan bagus dan beliau lah yang meneruskan pembangunan Masjid al- Mudhaffariy di kaki bukit Qasiyun”.\rقَالَ ابْنُ كَثِيْرٍ فِيْ تَارِيْخِهِ: كَان يَعْمَلُ الْمَوْلِدَ الشَّرِيْفَ فِيْ رَبِيْعِ الْأَوَّلِ وَيَحْتَفِلُ بِهِ اِحْتِفَالًا هَائِلًا وَكَانَ شَهْمًا شُجَاعًا بَطَلًا عَاقِلًا عَالِمًا عَادِلًا رَحِمَهُ اللهُ وَأَكْرَمَ مَثْوَاهُ\rAl Hafizh Ibnu Katsier berkata dalam tarikhnya (Al Bidayah wa Annihayah) : Raja Mudzaffar mengadakan Maulid yang mulia pada bulan Rabi’ul Awwal. Beliau merayakannya dengan perayaan yang sangat besar. Raja Mudhaffar adalah raja yang berotak cemerlang, gagah pemberani, pintar akalnya, alim dan adil. Rahimahullaah wa akrama Matswaah (semoga Allah mengasihinya dan menempatkannya ditempat yang paling baik).","part":1,"page":16},{"id":17,"text":"قَالَ وَقَدْ صَنَّفَ لَهُ الشَّيْخُ أَبُو الْخَطَّابِ بْنُ دِحْيَةَ مُجَلَّدًا فِي الْمَوْلِدِ النَّبَوِيِّ سَمَّاهُ (اَلتَّنْوِيْرَ فِيْ مَوْلِدِ الْبَشِيْرِ النَّذِيْرِ) فَأَجَازَهُ عَلَى ذَلِكَ بِأَلْفِ دِيْنَارٍ، وَقَدْ طَالَتْ مُدَّتُهُ فِي الْمُلْكِ إِلَى أَنْ مَاتَ وَهُوَ مُحَاصِرٌ لِلْفِرنْجِ بِمَدِيْنَةِ عَكَّا سَنَةَ ثَلَاثِيْنَ وَسِتِّمِائَةٍ مَحْمُوْدُ السِّيْرَةِ وَالسَّرِيْرَةِ،\rAl Hafizh melanjukan : Al Hafizh Syeikh Abul Khaththab Ibnu Dihyah mengarang sebuah karangan tentang Maulid satu jilid yang diberi nama “At-Tanwir fii Maulidilbasyiirinnazhiir” maka raja Mudhaffar menghadiahi beliau dengan 1000 dinar. Masa pemerintahan beliau lama, sampai dengan beliau wafat dalam keadaan beliau mengepung Ifrinj (orang Eropa) di kota Akkaa pada tahun 630 H. Beliau orang terpuji tingkah lakunya dan juga jiwanya.\rوَقَالَ سِبْطُ ابْنِ الْجَوْزِيِّ فِيْ مِرْآةِ الزَّمَنِ: حَكَى بَعْضُ مَنْ حَضَرَ سِمَاطَ الْمُظَفَّرِ فِيْ بَعْضِ الْمَوَالِدِ أَنَّهُ عَدَّ فِيْ ذَلِكَ السِّمَاطِ خَمْسَةَ آلَافِ رَأْسِ غَنَمٍ شَوِيٍّ وَعَشْرَةَ آلَافِ دَجَاجَةٍ وَمِائَةَ فَرَسٍ وَمِائَةَ أَلْفِ زُبْدِيَّةٍ وَثَلَاثِيْنَ أَلْفَ صَحْنِ حَلْوَى\r(Al Hafizh melanjukan) Cucu Imam Ibnul Jauzi berkata didalam Mir`aatuz Zaman : “Sebagian orang yang pernah menghadiri perjamuan Raja Muzhaffar dalam beberapa Maulid, dia menghitung dalam perjamuan tersebut sebanyak 5.000 kepala kambing bakar, 10.000 ayam, seratus kuda, 100.000 roti mentega dan 30.000 piring kue. [ Sumber Kitab : Al Haawi Lil Fataawi 1/272, maktabah syamilah ]. Link Kitab Al Haawi :","part":1,"page":17},{"id":18,"text":"http://www.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?flag=1&bk_no=130&ID=206\rDalam kitab Al Fat_hurrabbaani Min Fataawaa al Imam Asysyaukaani juz II halaman 1087 (maktabah al jail al jadid, Yaman) dikatakan:\rوَأَجْمَعُوْا أَنَّ الْمُخْتَرِعَ لَهُ اَلسُّلْطَانُ اَلْكُرْدِيُّ اَلْمُظَفَّرُ أَبُوْ سَعِيْدٍ كُوْكُبُوْرِي بْنُ زَيْنِ الدِّيْنِ عَلِي سَبَكْتِيْنَ صَاحِبُ إِرْبِلَ\rMereka (para Ulama) sepakat sesungguhnya orang yang pertama mengadakan Maulid adalah Sultan Kurdi al Muzhaffar Abu Sa’id Kuukubuuri bin Zainuddin Ali Sabaktin, penguasa Irbil. Wallaahu A’lam. Bersambung, Insya Allah..\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/531205800235566/\r2210. MAKALAH : NASAB NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM\rOleh KH. Abdullah 'Afif\rDalam Kitab al Barzanji (judul aslinya “al ‘Aqdul Jauhar Fii Maulidinnabiyyil Azhar”) karya: Assayyid Ja’far bin Hasan bin Abdul Kariem bin Muhammad bin Rasul bin Abdussayyid al Barzanji, lahir tahun 1126 H, wafat tahun 1177 H. Ditulis sebagai berikut :","part":1,"page":18},{"id":19,"text":"وَبَعْدُ فَأَقُوْلُ هُوَ سَيِّدُنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَاسْمُهُ شَيْبَةُ الْحَمْدِ، حُمِدَتْ خِصَالُهُ السَّنِيَّةُ، اِبْنِ هَاشِمٍ وَاسْمُهُ عَمْرُو بْنِ عَبْدِ مَنَافٍ وَاسْمُهُ الْمُغِيْرَةُ الَّذِيْ يَنْتَمِي الْإِرْتِقَاءُ لِعُلْيَاهُ، اِبْنِ قُصَيٍّ وَاسْمُهُ مُجَمِّعٌ سُمِّيَ بِقُصِيٍّ لِتَقَاصِيْهِ فِيْ بِلَادِ قُضَاعَةَ الْقَصِيَّةِ إِلَى أَنْ أَعَادَهُ اللهُ تَعَالَى إِلَى الْحَرَمِ الْمُحْتَرَمِ فَحَمَى حِمَاهُ اِبْنِ كِلَابٍ وَاسْمُهُ حَكِيْمٌ، اِبْنِ مُرَّةَ، اِبْنِ كَعْبِ بْنِ لُؤَيِّ بْنِ غَالِبِ بْنِ فِهْرٍ وَاسْمُهُ قُرَيْشٌ وَإِلَيْهِ تُنْسَبُ الْبُطُوْنُ الْقُرَشِيَّةُ وَمَا فَوْقَهُ كِنَانِيٌّ كَمَا جَنَحَ إِلَيْهِ الْكَثِيْرُ وَارْتَضَاهُ، اِبْنِ مَالِكِ بْنِ النَّضْرِ بْنِ كِنَانَةَ بْنِ خُزَيْمَةَ بْنِ مُدْرِكَةَ بْنِ اِلْيَاسَ وَهُوَ أَوَّلُ مَنْ أَهْدَى الْبُدْنَ إِلَى الرِّحَابِ الْحَرَمِيَّةِ وَسُمِعَ فِيْ صُلْبِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ اللهَ تَعَالَى وَلَبَّاهُ، اِبْنِ مُضَرَ بْنِ نِزَارِ بْنِ مَعَدِّ بْنِ عَدْنَانَ وَهَذَا سِلْكٌ نَظَمَتْ فَرَائِدَهُ بَنَانُ السُّنَّةِ السَّنِيَّةِ\rNabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa aalihii wasallam :\rbin Sayyid Abdullah\rbin Abdul-Muth¬thalib (namanya Syaibatul Hamdi)\rbin Hasyim (yang namanya Amr)\rbin Abdu Manaf ( namanya Al-Mughirah)\rbin Qushayy (namanya Mujammi’)\rbin Kilaab (namanya Hakiem)\rbin Murrah\rbin Ka'b\rbin Lu'ayy\rbin Ghaa¬lib\rbin Fihr ( namanya Quraisy dan menjadi cikal bakal nama suku Quraisy)\rbin Maalik\rbin An-Nadhr\rbin Kinaanah\rbin Khuzaimah\rbin Mudrikah\rbin Ilyaas\rbin Mudhar\rbin Nizaar\rbin Ma'add\rbin Adnaan","part":1,"page":19},{"id":20,"text":"Nasab berikutnya sebagaimana dalam kitab Tahqiiqul Maqaam ‘Alaa Kifaayatil ‘Awaamm Fii ‘Ilmil Kalaam, karya Syeikh Ibrahim al Baajuuri (lahir tahun 1198 H, wafat tahun 1277 H) halaman 85, cetakan al Ma’aarif Bandung :\rوَقَدْ ذَكَرَ الْعِرَاقِيُّ أَصَحَّهَا فِيْ أَلْفِيَةِ السِّيْرَةِ وَحَاصِلُهُ أَنَّ عَدْنَانَ بْنُ أُدّ بْنِ أُدَدْ بْنِ مُقَوَّمِ بْنِ نَاحُوْرِ بْنِ تَيْرَخْ بْنِ يَعْرُبْ بْنِ يَشْجُبْ بْنِ نَابِتِ بْنِ إِسْمَاعِيْلَ بْنِ إِبْرَاهِيْمَ (عَلَيْهِمَا السَّلَامُ) اِبْنِ تَارَخْ بْنِ نَاحُورْ بْنِ شَارُوخْ بْنِ أَرْغُوْ بْنِ فَالَخْ بْنِ عَيْبَرْ قَالَ بَعْضُهُمْ هُوَ سَيِّدُنَا هُوْدٌ (عَلَيْهِ السَّلَامُ) اِبْنِ شَالَخْ بْنِ أَرْفَخْشَدْ بْنِ سَامْ بْنِ نُوْحٍ (عَلَيْهِ السَّلَامُ) وَاسْمُهُ عَبْدُ الْغَفَّارِ اِبْنِ لَامَكْ بْنِ مَتُّوْ شَلْخَ بْنِ خَنُوخْ قَالَ ابْنُ إِسْحَاقَ إِنَّهُ إِدْرِيْسُ فِيْمَا يَزْعُمُوْنَ اِبْنِ يَرْدَ بْنِ مَهْلَايِيْلَ بْنِ قَيْنَنْ بْنِ يَانُشْ بْنِ شِيْثٍ (عَلَيْهِ السَّلَامُ) اِبْنِ آدَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ.\rLanjutan Nasab dari (Adnan) :\rbin Udd\rbin Udad\rbin Muqawwam\rbin Naahuur\rbin Tairakh\rbin Ya’ruub\rbin Yasyjub\rbin Naabit\rbin Nabi Isma’il ‘alaihissalaam\rbin Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam\rbin Taarakh\rbin Naahuur\rbin Syaaruukh\rbin Arghuu\rbin Faalakh\rbin ‘Aibar (ada yang mengatakan beiau adalah Nabi Hud ‘alaihissalaam)\rbin Syaalakh\rbin Arfakhsyad\rbin Saam\rbin Nabi Nuh ‘alaihissalaam\rbin Laamak\rbin Mattuusyalkha\rbin Khanuukh (ada yang mengatakan beliau adalah Nabi Idris ‘alaihissalaam)\rbin Yard\rbin Mahlaayiil\rbin Qainan\rbin Yaanusy\rbin Nabi Syits ‘alaihissalaam\rbin Nabi Adam ‘alaihissalaam","part":1,"page":20},{"id":21,"text":"Wallaahu A’lam. Bersambung, Insya Allah..\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/532679496754863/\r2211. HARI & TEMPAT KELAHIRAN NABI MUHAMMAD SAW\rOleh KH. Abdullah 'Afif\rI. HARI LAHIR\rAl Hafizh Ibnu Rajab (wafat tahun 795 H) menulis dalam Kitab Lathaa`iful Ma’aarif Fiimaa Li Mawaasimil ‘Aam Min Wazhaa`if halaman 101 :\rوَالْمَشْهُوْرُ الَّذِيْ عَلَيْهِ الْجُمْهُوْرُ أَنَّهُ وُلِدَ يَوْمَ الْإِثْنَيْنِ ثَانِيَ عَشَرَ رَبِيْعِ الْأَوَّلِ وَهُوَ قَوْلُ ابْنِ إِسْحَاقَ وَغَيْرِهِ\rPendapat yang masyhur menurut ulama jumhur, Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam dilahirkan pada hari Senin tanggal 12 Rabi’ul Awwal. Itu adalah pendapat Imam Ibnu Ishaq dan yang lainnya\rوَأَمَّا عَامُ وِلَادَتِهِ فَالْأَكْثَرُوْنَ عَلَى أَنَّهُ عَامُ الْفِيْلِ\rAdapun tahun kelahiran Nabi , kebanyakan ulama mengatakan tahun kelahiran beliau adalah tahun gajah. Link Kitab Lathaa`iful Ma’aarif Fiimaa Li Mawaasimil ‘Aam Min Wazhaa`if :\rhttp://www.islamport.com/w/akh/Web/2838/26.htm\rAl Hafizh Ibnu Katsier (wafat tahun 774 H) menulis dalam Kitab Al Bidayah wa Annihayah juz II halaman 319-320:\rبَابُ مَوْلِدِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ\rBab Maulid Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam\rوُلِدَ صَلَوَاتُ اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَامُهُ يَوْمَ الْإِثْنَيْنِ.\rRasulullah -shalawaatullaah ‘alaihi wasalaamuhuu- dilahirkan pada hari Senin","part":1,"page":21},{"id":22,"text":"لِمَا رَوَاهُ مُسْلِمٌ فِيْ صَحِيْحِهِ مِنْ حَدِيْثِ غَيْلَانَ بْنِ جَرِيْرِ بِنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَعْبَدٍ اَلزِّمَّانِيِّ عَنْ أَبِيْ قَتَادَةَ أَنَّ أَعْرَابِيًّا قَالَ يَارَسُوْلَ اللهِ، مَا تَقُوْلُ فِيْ صَوْمِ يَوْمِ الْاِثْنَيْنِ فَقَالَ: \" ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيْهِ وَأُنْزِلَ عَلَيَّ فِيْهِ\rKarena hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim didalam Shahihnya, dari haditsnya Ghailan bin Jarir bin Abdullah bin Ma’bad Azzimmaani dari Abu Qatadah, bahwasanya seorang A’rabi bertanya: “Wahai Rasulullah, Apa yang engkau sabdakan tentang puasa hari Senin ?”. Beliau menjawab: “Itu adalah hari dimana aku dilahirkan, dan diturunkan wahyu kepadaku pada hari itu”.\rثُمَّ الْجُمْهُوْر عَلَى أَنَّ ذَلِكَ كَانَ فِيْ شَهْرِ رَبِيْعِ الْأَوَّلِ\rMenurut Jumhur, lahirnya Nabi shallallaahu ‘alahi wasallam adalah pada bulan Rabi’ul Awwal\rفَقِيْلَ لِلَيْلَتَيْنِ خَلَتَا مِنْهُ قَالَهُ ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ فِي الْاِسْتِيْعَابِ\rAda yang mengatakan pada tanggal 2 Rabi’ul Awwal, demikian dikatakan oleh Imam Ibnu ‘Abdil Barr didalam kitab al Isti’ab\rوَقِيْلَ لِثَمَانٍ خَلَوْنَ مِنْهُ حَكَاهُ الْحُمَيْدِيُّ عَنِ ابْنِ حَزْمٍ. وَرَوَاهُ مَالِكٌ وَعَقِيْلٌ وَيُوْنُسُ بْنُ يَزِيْدَ وَغَيْرُهُمْ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ\rAda yang mengatakan tanggal 8 Rabi’ul Awwal, demikian diceritakan oleh Imam Humaidi dari Imam Ibnu Hazm.\rDan juga diriwayatkan oleh Imam Malik, Imam Aqil, Imam Yunus bin Yazid dan yang lainnya dari Imam Muhammad bin Jubair bin Muth’im","part":1,"page":22},{"id":23,"text":"وَقِيْلَ لِعَشْرٍ خَلَوْنَ مِنْهُ نَقَلَهُ ابْنُ دِحْيَةَ فِيْ كِتَابِهِ وَرَوَاهُ ابْنُ عَسَاكِرَ عَنْ أَبِيْ جَعْفَرٍ اَلْبَاقِرِ\rAda yang mengatakan tanggal 10 Rabi’ul Awwal, sebaimana dikutip oleh Imam Ibnu Dihyah didalam kitabnya. Dan diriwayatkan oleh Imam Ibnu Asakir dari Imam Abu Ja’far al Baqir\rوَقِيْلَ لِثِنْتَيْ عَشْرَةَ خَلَتْ مِنْهُ نَصَّ عَلَيْهِ اِبْنُ إِسْحَاقَ وَرَوَاهُ ابْنُ أَبِيْ شَيْبَةَ فِيْ مُصَنَّفِهِ عَنْ عَفَّانَ عَنْ سَعِيْدِ بْنِ مِيْنَا عَنْ جَابِرٍ وَابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُمَا قَالَا: وُلِدَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ الْفِيْلِ يَوْمَ الْاِثْنَيْنِ اَلثَّانِيَ عَشَرَ مِنْ شَهْرِ رَبِيْعِ الْأَوَّلِ وَفِيْهِ بُعِثَ وَفِيْهِ عُرِجَ بِهِ إِلَى السَّمَاءِ وَفِيْهِ هَاجَرَ وَفِيْهِ مَاتَ.\rAda yang mengatakan tanggal 12 Rabi’ul Awwal. Demikian ditetapkan oleh Imam Ibnu Ishaq. Dan diriwayatkan oleh Imam Ibnu Abu Syaibah didalam Kitab Mushannafnya, dari Affan, dari Sa’id bin Miinaa, dari shahabat Jabir dan shahabat Ibnu Abbas, sesungguhnya keduanya berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dilahirkan pada Tahun Gajah, hari Senin, tanggal 12 rabi’ul Awwal. Pada hari itu Nabi diutus, pada hari itu Nabi mi’raj ke langit, pada hari itu Nabi hijrah dan pada hari itu Nabi wafat.”\rوَهَذَا هُوَ الْمَشْهُوْرُ عِنْدَ الْجُمْهُوْرِ وَاللهُ أَعْلَمُ.\rInilah yang masyhur menurut ulama Jumhur. Wallaahu A’lam. Link Kitab Al Bidayah wa Annihayah :\rhttp://www.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?idfrom=156&idto=159&bk_no=59&ID=181","part":1,"page":23},{"id":24,"text":"Imam Suhaili (wafat tahun 581 H) menulis dalam kitab Ar Raudh Al Anif Fii Syarhi Assiirah An Nabawiyyah juz I halaman 283, maktabah syamilah:\rوَأَهْلُ الْحِسَابِ يَقُوْلُوْنَ: وَافَقَ مَوْلِدُهُ مِنْ الشُّهُوْرِ الشّمْسِيّةِ نَيْسَانَ، فَكَانَتْ لِعِشْرِيْنَ مَضَتْ مِنْهُ\rAhli hisab berkata: “Kelahiran Nabi bertepatan dengan Naisan (April) bulan syamsiyyah tanggal 20. Link Kitab Ar Raudh Al Anif Fii Syarhi Assiirah An Nabawiyyah :\rhttp://sh.rewayat2.com/sirah/Web/6864/002.htm\rSyeikh Muhammad Khudhari bin Syeikh Afifi al Bajuri (wafat tahun 1345 H) menulis dalam kitab Tarikhnya yang terkenal dengan nama Nuurul Yaqiin Fii Siirati Sayyidil Mursaliin halaman 9, maktabah syamilah:\rوَقَدْ حَقَّقَ اَلْمَرْحُوْمُ مَحْمُودْ بَاشَا اَلْفَلَكِيُّ أَنَّ ذَلِكَ كَانَ صَبِيْحَةَ يَوْمِ الْاِثْنَيْنِ تَاسِعَ رَبِيْعِ الْأَوَّلِ اَلْمُوَافِقُ لِلْيَوْمِ الْعِشْرِيْنَ مِنْ أَبْرِيْلَ /نَيْسَانَ سَنَةَ 571 مِنَ الْمِيْلَادِ، وَهُوَ يُوَافِق السَّنَةَ الْأُوْلَى مِنْ حَادِثَةِ الْفِيْلِ، وَكَانَتْ وِلَادَتُهُ فِيْ دَارِ أَبِيْ طَالِبٍ بِشِعْبِ بَنِيْ هَاشِمٍ\rAl Marhum Mahmud Basya, ulama ahli falak (wafat tahun 1885 M) melakukan penyelidikan bahwasanya hal itu (kelahiran Nabi) adalah pada pagi hari Senin tanggal 9 Rabi’ul Awwal, bertepatan dengan tanggal 20 April / Naisan tahun 571 M. Link Nuurul Yaqiin Fii Siirati Sayyidil Mursaliin :\rhttp://islamport.com/w/ser/Web/2744/5.htm\rII. TEMPAT LAHIR\rSyeikh Ali bin Burhanuddin al Halabi (wafat taun 841 H) menulis dalam kitab “Assiirah al Halabiyyah” juz I halaman 101:","part":1,"page":24},{"id":25,"text":"وَكَانَ مَوْلِدُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَكَّةَ فِي الدَّارِ الَّتِيْ صَارَتْ تُدْعَى لِمُحَمَّدِ بْنِ يُوْسُفَ أَخِي الْحَجَّاجِ أَيْ وَكَانَتْ قَبْلَ ذَلِكَ لِعَقِيْلِ بْنِ أَبِيْ طَالِبٍ وَلَمْ تَزَلْ بِيَدِ أَوْلَادِهِ بَعْدَ وَفَاتِهِ إِلَى أَنْ بَاعُوْهَا لِمُحَمَّدِ بْنِ يُوْسُفَ أَخِي الْحَجَّاجِ بِمِائَةِ أَلْفِ دِيْنَارٍ\rTempat kelahiran Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam adalah di Mekkah di dalam rumah yang menjadi milik Muhammad bin Yusuf, saudara Hajjaj bin Yusuf (Hajjaj bin Yusuf adalah seorang gubernur Raja Abdul Malik bin Marwan yang berkuasa pada tahun 26 s/d 86 H). Rumah tersebutnya sebelumnya milik shahabat Aqil bin Abu Thalib, dan sepeninggal beliau, rumah tersebut selalu berada ditangan anak-anaknya, sampai akhirnya mereka jual kepada Muhammad Yusuf , saudara Hajjaj dengan harga 100 ribu dinar. Wallaahu A’lam. Bersambung, Insya Allah..\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/532679226754890/\r2217. KERINGANAN SIKSA ABU LAHAB SETIAP HARI SENIN\rPERTANYAAN :\rSang Pemimpin\rMau nanya' . . . . orang yang mendapatkan keringanan siksaan pada hari senin dari keluarga rasul cp ? abu lahab apa abu jahal plus dengan refrensinya . . .syukron\rJAWABAN :\r1. Zacky Al-Damayyi\rAbu Lahab, Setiap malam senin dia diberikan keringan siksaan oleh Allah lantaran disaat dia mendapat khabar bahwa keponakannya telah dilahirkan, Abu Lahab gembira, senang, bahagia atas kabar yang diterimanya itu. Lalu diapun memerdekaan Tsuwaibatul Aslamiyyah. Ibarotnya ada di kitab madariju su'ud :","part":1,"page":25},{"id":26,"text":"وأرضعته صلى الله عليه وسلم أمه أياما ثم أرضعته ثويبة الأسلمية التى أعتقها أبو لهب حين وافته أى أتت أبالهب عند ميلاده أى بعد ولادته عليه الصلات والسلام ببشراه أى ببشارتها اياه به صلى الله عليه وسلم فقالت له أشعرت أن آمنة ولدت غلاما لأخيك عبد الله فقال لها اذهبى فأنت حرة أى والصحيح ان أبالهب أعتقها فى الحال عتقا منجزاثم جعلها ترضعه صلى الله عليه وسلم فخفف الله عنه من عذابه كل ليلة اثنين جزاء لفرحه فيها بمولده صلى الله عليه وسلم أوجزاء لامره لها بارضاعه صلى الله عليه وسلم\rوقد روى ان أخاه العباس رآه بعد سنة من موته فقال ماحالك قال فى عذاب ا? أنه يخفف عنى فى كل ليلة اثنين وأمص من بين أصبعى ماء بقدر هذا وأشار الى نقرة ابهامه وان ذلك باعتاقى لثويبة عند ما بشرتنى بولادة محمد صلى الله عليه وسلم وبأمرى بارضاعها له\r2. Abdullah Afif\rKeringanan siksa Abu Lahab setiap hari senin. Riwayat diatas termaktub dalam :\r1. Shahih Bukhari juz VI halaman 125, cetakan Daar Al Fikr tahun 1401 H – 1981 M / 1/591, maktabah syamilah, lafazhnya sbb :\rقَالَ عُرْوَةُ وثُوَيْبَةُ مَوْلَاةٌ لِأَبِي لَهَبٍ كَانَ أَبُو لَهَبٍ أَعْتَقَهَا فَأَرْضَعَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا مَاتَ أَبُو لَهَبٍ أُرِيَهُ بَعْضُ أَهْلِهِ بِشَرِّ حِيبَةٍ قَالَ لَهُ مَاذَا لَقِيتَ قَالَ أَبُو لَهَبٍ لَمْ أَلْقَ بَعْدَكُمْ خَيْرًا غَيْرَ أَنِّي سُقِيتُ فِي هَذِهِ بِعَتَاقَتِي ثُوَيْبَةَ\r2. ‘Arf ut-Ta’rif bil Maulidisysyarif halaman 21, karya al hafzih al Jazari, lafazhnya sbb :","part":1,"page":26},{"id":27,"text":"وَقَدْ رُوِيَ أَنَّ أَبَا لَهَبٍ رُؤِيَ بَعْدَ مَوْتِهِ فِي النَّوْمِ ، فَقِيْلَ لَهُ : مَا حَالُكَ ، فَقَالَ فِي النَّارِ ، إِلَّا أَنَّهُ يُخَفَّفُ عَنِّيْ كُلَّ لَيْلَةِ اثْنَيْنِ وَأَمُصُّ مِنْ بَيْنَ أَصْبُعِيْ مَاءً بِقَدْرِ هَذَا – وَأَشَارَ إِلَى نُقْرَةِ إِبْهَامِهِ - وَأَنَّ ذَلِكَ بِإِعْتَاقِيْ لِثُوَيْبَةَ عِنْدَمَا بَشَّرَتْنِيْ بِوِلَادَةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبِإِرْضَاعِهَا لَهُ .\r3. Al Bidayah wannihayah juz III halaman 407, karya al hafizh Ibnu Katsier, lafazhnya sbb :\rوذكر السهيلي وغيره : إن الرائي له هو أخوه العباس وكان ذلك بعد سنة من وفاة أبي لهب بعد وقعة بدر ، وفيه أن أبا لهب قال للعباس : إنه ليخفف علي في مثل يوم الاثنين قالوا : لأنه لما بشرته ثويبة بميلاد ابن أخيه محمد بن عبد الله أعتقها من ساعته فجوزي بذلك لذلك\rCatatan : Al hafizh Ibnu Hajar dalam Fat_hul Bari juz IX halaman 146 berkata :\rوتتمة هذا أن يقع التفضل المذكور اكراما لمن وقع من الكافر البر له ونحو ذلك والله أعلم\rSumber :\rhttp://www.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?bk_no=52&ID=2829&idfrom=9322&idto=9327&bookid=52&startno=2\rAl Hafizh Ibnul Jazari dalam kitab ‘Arf ut-Ta’rif bil Maulidisysyarif halaman 21, berkata :\rإِذَا كَانَ أَبُوْ لَهَبٍ اَلْكَافِرُ الَّذِيْ نَزَلَ الْقُرْآنُ بِذَمِّهِ جُوْزِيَ فِي النَّارِ بِفَرْحِهِ لَيْلَةَ مَوْلِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَمَا حَالُ الْمُسْلِمِ الْمُوَحِّدِ مِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسَرُّ بِمَوْلِدِهِ وَيَبْذُلُ مَا تَصِلُ إِلَيْهِ قُدْرَتُهُ فِيْ مَحَبَّتِهِ ؛ لَعَمْرِيْ إِنَّمَا يَكُوْنُ جَزَاؤُهُ مِنَ اللهِ الْكَرِيْمِ أَنْ يُدْخِلَهُ بِفَضْلِهِ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ","part":1,"page":27},{"id":28,"text":"Sumber :\rhttp://salou3alayhi.blogspot.com/2011/10/blog-post_16.html\rWallaahu A'lam\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/528539087168904/\r2219. AL-QUR'AN ADALAH QODIM\rPERTANYAAN :\rMOhammad Syahri\rSifat wajib allah yang ke 2 adalah qidam.....alqur'an qadim wahyu minulyo....mohon masukan/pencerahan\rJAWABAN :\r1. Abdur Rahman\rAlqur'an adalah qodim. Alqur'an adalah kalamulloh yang tidak mungkin dipisahkan dari Dzatnya. Segala sesuatu yang bersumber dari Dzatnya, maka bersifat qodim. Refrensi :\rو كل ما جاء من القديم يكون قديما) غير مخلوق (و كل ما جاء من المحدث يكون محدثا) قطر الغيث 15\rAndaikan alquran bukan qodim maka niscaya banyak pertentangan didalamnya. Begitupun kitab selain alquran adalah qodim.\rان الله انزل الكتب على انبيائه و هى) اى الكتب (منزل) على الرسل فى الالواح او على لسان ملك (غير مخلوقة) اى ان الكتب المنزلة من تاليفه تعالى لا من تاليفه الخلق (قديم) من حيث دلالتها على المعنى القديم (بغير تناقض) اى اختلاف فى معنى الكلام و التناقض بان يكون بعض الكلام فى محل يقتضى ابطال بعض فى محل اخر. قال تعالى \" افلا يتدبرون القران و لو كان من عند غير الله لوجدوا فيه اختلافا كثيرا \" قطر الغيث 6\r2. Abdurrahman As-syafi'i\rNyumplik sak ndulit\rو نزه القران اى كلامه # عن الحدوث و احذر انتقامه","part":1,"page":28},{"id":29,"text":"ونزه القران) اى و اعتقد ايها المكلف تنزه القران بمعنى كلامه تعالى عن الحدوث خلافا للمعتزلة القائلين بحدوث الكلام زعما منهم ان من لوازمه الحروف و الاصوات وذلك مستحيل عليه تعالى فكلام الله تعالى عندهم مخلوق لان الله خلقه فى بعض الاجرام و مذهب اهل السنة ان القران بمعنى الكلام النفسى ليس بمخلوق و اما القران بمعنى اللفظ الذى نقرؤه فهو مخلوق لكن يمتنع ان يقال القران مخلوق و يراد به اللفظ الذى نقرؤه الا فى مقام التعليم لانه ربما ا وهم ان القران بمعنى كلامه تعالى مخلوق و لذلك امتنعت الائمة من القول بخلق القران (عن الحدوث) اى الوجود بعد العدم فليس مخلوقا بل هو صفة ذاته العلية (و احذر انتقامه) اى و خف انتقام الله منك ان قلت بحدوثه جوهرة التوحيد 40_41\r\" Sucikanlah Al-Qur'an (kalam Allah) dari sifat khudust (baru) dan takut lah akan siksa-Nya\". Sebagai seorang mukalaf wajib berkeyakinan bahwa kalamulloh itu disucikan dari sifat khudust (baru). Berbeda dengan kaum Mu'tazilah yang beranggapan bahwa diantara keniscayaannya adalah suara dan huruf sedangkan suara dan huruf itu mustahil bagi Allah. Maka menurut mereka kalamulloh adalah mahluq karena Allah menciptakannya pada sebagian jirim.","part":1,"page":29},{"id":30,"text":"Sementara menurut pandangan Ahlu Sunah Al-qur'an yang berarti kalam nafsi itu bukan mahluq. Adapun alqur'an yang berarti lafal yang kita baca itu mahluk. Walaupun yang kita maksud dengan Al-quran adalah lafal yang kita baca, diluar kepentingan belajar mengajar tidak boleh kita mengatakan Al-quran itu mahluq karena dapat menimbulkan kesalah pahaman. Itulah mengap para imam tidak mau mengatakan bahwa Al-quran itu mahluq. Tetapi Alquran adalah sifat Allah yang agung. Dan takutlah akan siksa-Nya jika kau berucap tentang kekhudustan alquran\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/534662123223267/\r2222. ALLAH ADA TANPA TEMPAT DAN TANPA SERUPA\rOleh : Ust. Timur Lenk\rAllah ada tanpa tempat dan serupa\rقال الأستاذ السيد محمد حقى النازلى في كتابه خزينة الأسرار ص 145 في فصل الأحاديث الصحيحة الواردة و أقوال الأئمة فى تفسير آية الكرسي\rفالمراد بالعلو علو القدرة و المنزلة لا علو المكان لانه تعالى منزه عن التحيز و كذا عظمته انما هي بالمهابة و القهر و الكبرياء و يمنع أن يكون بحسب المقدار و الحجم لتعالى شأنه عن أن يكون من جنس الجواهر و الأجسام","part":1,"page":30},{"id":31,"text":"Berkata Al-Ustadz As-Sayyid Muhammad Haqqiy An-Naaziliy dalam kitabnya \" Khozinatul Asror \" halaman 145 terbitan Syirkah Al-Ma'arif Indonesia pada pasal yang menerangkan hadits-hadits shohih dan pendapat para Ulama mengenai tafsir ayat Kursiy : Adapun yang dimaksud \"Uluww\" / tinggi adalah tingginya kekuasaan dan kedudukan , bukan tingginya tempat karena sesungguhnya Allah ta'ala maha Luhur dari bertempat , begitu pula KeAgunganNya adalah keAgungan dengan kewibawaan , menguasai dan kesombongan dan dicegah/tidak mungkin adanya Allah dengan ukuran dan hajam karena Maha Luhurnya Allah dari keberadaanNya dari jenis Jauhar/atom dan Jisim-jisim / benda\rImam Muhammad bin Badruddin bin Balyan Ad-Dimasyqiyyi Al-Hanbaliy (wafat tahun 1083 H) dalam kitabnya \"Mukhtashor al-ifadat\" hal 489 mengatakan : Barang siapa meyakini atau mengucapkan \" sesungguhnya Allah dengan DzatNya ada dimana-mana atau disuatu tempat \" maka ia \" KAFIR\rقال الإمامُ مُحَمَّدُ بنُ بدرِ الدِّينِ بنِ بلبانَ الدِّمَشْقِيُّ الحنبليُّ المتوفَّى سنةَ 1083 للهجرة في كتابهِ[(مختصرُ الإفادات)/ص489]:\" مَنِ اعتقدَ أو قال إنَّ الله بذاتهِ في كُلِّ مكانٍ أو في مكانٍ فهو كافر\rLangit bukan tempat bagi Allah\rLangit adalah tempat para malaikat\rLangit adalah qiblat do'a\rقال الإمامُ النوويُّ في (شرح صحيح مسلم) ما نصُّه :\" إذا دَعَا الدَّاعِي رَبَّهُ استقبلَ السَّمَاءَ كما إذا صلَّى المصلِّي استقبلَ الكعبةَ . وليسَ ذلكَ لأنَّ الله منحصرٌ في السَّماء كما أنه ليسَ منحصرًا في جهةِ الكعبةِ لأنَّ السَّمَاءَ قِبْلَةُ الدَّاعِينَ كما أنَّ الكعبةَ قِبْلَةُ المصلِّين \"ا.هـ..\r.","part":1,"page":31},{"id":32,"text":"يقولُ رسولُ الله صلَّى الله عليه وسلَّم :\" ما السَّماواتُ السَّبْعُ مَعَ الكُرْسِيِّ ـ أيْ في جَنْبِ الكُرْسِيِّ ـ إلَّا كَحَلْقَةٍ مُلْقَاةٍ بأرضٍ فَلاةٍ ، وفَضْلُ العَرْشِ على الكُرْسِيِّ كَفَضْلِ الفَلاةِ على الحَلْقَةِ \" ؟؟.. رَوَى هذا الحديثَ الإمامُ ابنُ حِبَّانَ في (صحيحهِ) وصَحَّحَهُ ..\rفكيفَ يكونُ الله في ما يُشْبِهُ الحَلْقَةَ الملقاةَ في صحراءَ واسعة !!.\rالكُرْسِيُّ الذي ذَكَرَهُ الله في ءايةِ الكُرْسِيِّ التي في سورةِ البقرةِ هو جِرْمٌ كبيرٌ جدًّا خَلَقَهُ الله لحكمةٍ يَعْلَمُهَا هو . الكُرْسِيُّ جسمٌ موجودٌ فوقَ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وخارجَ الجَنَّة .\rالجَنَّةُ التي يدخلُها المؤمنونَ يومَ القيامة موجودةٌ فوقَ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ . والكُرْسِيُّ خارجَ الجَنَّة . لكنْ هو تحتَ العَرْشِ الذي هو سَقْفُ الجَنَّة . الجَنَّةُ لها سَقْفٌ . وسَقْفُهَا عَرْشُ الرَّحمانِ . سَقْفُ الجَنَّة يُقالُ له عَرْشُ الرَّحمانِ . أَيْ عَرْشُ الله . وهذا شيءٌ ثابتٌ عن رسول الله صلَّى الله عليه وسلَّم . والله لا يَسْكُنُ الكُرْسِيَّ ولا يَسْكُنُ العَرْشَ ولا يَسْكُنُ السَّمَاوَاتِ التي تبدُو أمام الكُرْسِيِّ كَحَلْقَةٍ مُلْقَاةٍ في صحراءَ واسعة .\rقال الله تعالى (( وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّماواتِ والأرضَ ))[البقرة/255].\rولا يَسْكُنُ رَبُّنَا الكُرْسِيَّ الذي يبدُو هو الآخَرُ ، أَمامَ العَرْشِ ، كَحَلْقَةٍ في صحراءَ واسعة .\rيقولُ رسولُ الله صلَّى الله عليه وسلَّم :\" ما السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ مَعَ الكُرْسِيِّ ـ أيْ في جَنْبِ الكرسيِّ ـ إلَّا كَحَلْقَةٍ مُلْقَاةٍ بأرضٍ فَلاةٍ ، وفَضْلُ العَرْشِ على الكُرْسِيِّ كَفَضْلِ الفَلاةِ على الحَلْقَةِ \" ؟؟.. رَوَى هذا الحديثَ الإمامُ ابنُ حِبَّانَ في (صحيحهِ) وصَحَّحَهُ ..","part":1,"page":32},{"id":33,"text":"الله تعالى لو كانَ حجمًا لكانَ له أمثال . والله لا مِثْلَ له . جهةُ فَوْق مَسْكَنُ الملائكة . هذا العَرْشُ أحاطَ بهِ ملائكةٌ لا يحصي عَدَدَهُمْ إلَّا الله تعالى . وهم أكثرُ من ملائكةِ الأرضِ والسَّمَاوَاتِ السَّبْعِ . العَرْشُ جَعَلَهُ الله للملائكةِ كعبةً يَطُوفُونَ بهِ كما نحنُ نطوفُ بالكعبةِ التي في مَكَّةَ . العَرْشُ ليسَ مركزًا لله تعالى ، كما أَنَّ الكعبةَ ليستْ مركزًا لله . العَرْشُ حَجْمٌ خَلَقَهُ الله تعالى ليكونَ كَعْبَةً للملائكةِ الذينَ حَوْلَهُ ليَطُوفُوا به . قال الله تعالى (( وتَرَى الملائكةَ حافِّينَ من حَوْلِ العَرْشِ يُسَبِّحُونَ بحمدِ رَبِّهِمْ ))[الزُّمَر/75\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/538956619460484/\r2224. PEDOMAN, FIQIH, DAN GURU DARI BANGSA JIN\rPERTANYAAN :\rSasan Al G\rPertanyaan keren, titipan juga :\r- al quran itu turun untuk manusia sajakah ?\r- bagaimana fiqhnya dsb jin ?\r- pada siapa bangsa jin berguru dalam hal islam ?\rJAWABAN :\r1. Ibnu Toha\rوَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ\rDan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (QS. AL-ANBIYA' 107).\rوَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ\rDan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. ADZDZARIYAAT 56).\rيَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَقُصُّونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِي وَيُنْذِرُونَكُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَذَا قَالُوا شَهِدْنَا عَلَى أَنْفُسِنَا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَشَهِدُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَنَّهُمْ كَانُوا كَافِرِينَ","part":1,"page":33},{"id":34,"text":"Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayatKu dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini? Mereka berkata: \"Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri\", kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir. (QS AL-AN'AM 130).\rوَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ\rDan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: \"Diamlah kamu (untuk mendengarkannya).\" Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. (Al Ahqaaf 29).\r2. Sunde Pati\rAlqur'an untuk semua umat (manusia dan jin). Sedang fiqihnya jin sama dengan kita dan gurunya jin adalah nabi Muhammad.\rأيسر التفاسير لكلام العلي الكبير (5/ 445)","part":1,"page":34},{"id":35,"text":"بسم الله الرحمن الرحيم قُلْ أُوحِيَ1 إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآناً عَجَباً (1) يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَداً (2) وَأَنَّهُ تَعَالَى جَدُّ رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَةً وَلا وَلَداً (3) وَأَنَّهُ كَانَ يَقُولُ سَفِيهُنَا عَلَى اللَّهِ شَطَطاً (4) وَأَنَّا ظَنَنَّا أَنْ لَنْ تَقُولَ الْأِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى اللَّهِ كَذِباً (5) وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْأِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقاً (6) وَأَنَّهُمْ ظَنُّوا كَمَا ظَنَنْتُمْ أَنْ لَنْ يَبْعَثَ اللَّهُ أَحَداً (7)\rشرح الكلمات: أنه استمع :أي إلى قراءتي. نفر من الجن :أي عدد من الجن ما بين الثلاثة والعشرة. قالوا إنا سمعنا قرآنا عجبا :أي لبعضهم بعضاً قرآنا عجبا أي يتعجب منه لفصاحته وغزارة معانيه. يهدي إلى الرشد :أي الصواب في المعتقد والقول والعمل. وأنه تعالى جد ربنا :أي تنزه جلال ربنا وعظمته عما نسب إليه. ما اتخذ صاحبة ولا ولدا :أي لم صاحبة ولم يكن له ولد. سفيهنا :أي جاهلنا. شططا :أي غلوا في الكذب بوصفه الله تعالى بالصاحبة والولد. على الله كذبا :حتى تبين لنا أنهم يكذبون على الله بنسبة الزوجة والولد إليه. يعوذون :أي يستعيذون. فزادوهم رهقا :أي إثما وطغيانا. أن لن يبعث الله أحدا :أي لن يبعث رسولا إلى خلقه.","part":1,"page":35},{"id":36,"text":"معنى الآيات: قوله تعالى {قُلْ أُوحِيَ1 إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ 2مِنَ الْجِنِّ} يأمر تعالى رسوله محمداً صلى الله عليه وسلم أن يقول معلنا للناس مؤمنهم وكافرهم أنه قد أوحى الله تعالى إليه نبأ مفاده أن نفرا من الجن ما بين الثلاثة إلى العشرة قد استمعوا إلى قراءته القرآن وذلك ببطن نخلة والرسول يصلي بأصحابه صلاة الفجر وكان الرسول صلى الله عليه وسلم عامدا مع أصحابه إلى سوق عكاظ. وكان يومئذ قد حيل بين الشياطين وخبر السماء حيث أرسلت عليهم الشهب فراجع الشياطين بعضهم بعضا فانتهوا إلى أن شيئا حدث لا محالة فانطلقوا يضربون في مشارق الأرض ومغاربها يتعرفون إلى هذا الحدث الجلل الذي منعت الشياطين بسببه من السماء فتوجه نفر منهم إلى تهامة فوجدوا الرسول صلى الله عليه وسلم يصلي الصبح بأصحابه فاستمعوا إلى قراءته في1صلاته فرجعوا إلى قومهم من الجن فقالوا {إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآناً عَجَباً يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَداً} فأنزل الله تعالى هذه السورة \"سورة الجن\" مفتتحة بقوله {قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ2 نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ} أي أعلن للناس يا رسولنا أن الله قد أوحى إليك خبرا مفاده أن نفرا من الجن قد استمعوا إلى قراءتك فرجعوا إلى قومهم وقالوا لهم {إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآناً عَجَباً} أي يتعجب من فصاحته وغزارة معانيه. يهدي إلى الرشد3 والصواب في العقيدة والقول والعمل {فَآمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَداً} وفي هذا تعريض بسخف البشر الذين عاش الرسول بينهم احدى عشرة سنة يقرأ عليهم القرآن بمكة وهو مكذبون به كارهون له مصرون على الشرك والجن بمجرد أن سمعوه آمنوا به وحملوا رسالته إلى قومهم وهاهم يدعون بدعاية الإسلام ويقولون {فَآمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَداً وَأَنَّهُ تَعَالَى جَدُّ4 رَبِّنَا} أي وآمنا بأنه تعالى أمر ربنا","part":1,"page":36},{"id":37,"text":"وسلطانه ما اتخذ صاحبة ولا ولدا وحاشاه وإنما نسب إليه ذلك المفترون. {وَأَنَّهُ كَانَ يَقُولُ سَفِيهُنَا عَلَى اللَّهِ شَطَطاً} هذا من قول الجن واصلوا حديثهم قائلين وأنه كان يقول جاهلونا على الله شططا أي غلوا في الكذب بوصفهم الله تعالى بالصاحبة والولد تقليدا للمشركين واليهود والنصارى {وَأَنَّا ظَنَنَّا أَنْ لَنْ تَقُولَ الْأِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى اللَّهِ كَذِباً} أي وقالوا لقومهم وإنا كنا نظن أن الإنس والجن لا يكذبون على الله ولا يقولون عليه إلا الصدق وقد علمنا الآن أنهم يكذبون على الله ويقولون عليه ما لم يقله وينسبون إليه ما هو منه براء. وقالوا {وَأَنَّهُ كَانَ 5رِجَالٌ مِنَ الْأِنْسِ\rيَعُوذُونَ 1بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقاً} يخبرون بخبر عجيب وهو أنه كان رجال من الناس من العرب وغيرهم إذا نزلوا منزلا مخوفا في واد أو شعب يستعيذون برجال من الجن كأن يقول الرجل أعوذ بسيد هذا الوادي من سفهاء قومه فزاد الإنس الجن بهذا اللجأ إليهم والاحتماء بهم رهقا2 أي إثما وطغيانا. إذ ما كانوا يطمعون أن الإنس تعظمهم هذا التعظيم حتى تستجير بهم. وأنهم ظنوا كما ظننتم أن لن يبعث الله أحدا أي وقالوا مخبرين قومهم وأنهم أي الإنس ظنوا كما ظننتم أنتم أيها الجن أن لن يبعث الله أحدا رسولا ينذر الناس عذاب الله ويعلمهم ما يكملهم ويسعدهم في الدنيا والآخرة\r3. Abdullah Afif\rImam Suyuthi dalam kitab Laqthul Marjaan fii Ahkaamil Jaann halaman 46 menerangkan:\rفصل\rFASHLUN\rبعثة محمد إلى الجن والإنس\rBI'TSATU MUHAMMADIN ILAL JINNI WAL INSI........\rلم يخالف أحد من طوائف المسلمين في أن الله تعالى أرسل محمدا إلى الإنس والجن وبه فسر حديث الصحيحين : بعثت إلى الأحمر والأسود","part":1,"page":37},{"id":38,"text":"LAM YUKHAALIF AHADUN MIN THAWAA`IFIL MUSLIMINN FII ANNALLAAHA TAAALAA ARSALA MUHAMMADAN ILAL INSI WALJINNI, WA BIHII FUSSIRA HADIITSUSHSHAHIIHAIN. Bu'itstu ilal ahmar wala aswad\rوروي وشمة بن موسى من حديث ابن عباس عن النبي صلى الله عليه وسلم أرسلت إلى الجن والإنس وإلى كل أحمر وأسود\rوَقَالَ الشَّيْخُ أَبُو الْعَبَاسِ : أَرْسَلَ اللهُ تَعَالَى مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إلَى جَمِيعِ الثَّقَلَيْنِ : الْإِنْسِ وَالْجِنِّ وَأَوْجَبَ عَلَيْهِمْ الْإِيمَانَ بِهِ وَبِمَا جَاءَ بِهِ وَطَاعَتَهُ وَأَنْ يُحَلِّلُوا مَا حَلَّلَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَيُحَرِّمُوا مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَأَنْ يُوجِبُوا مَا أَوْجَبَهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَيُحِبُّوا مَا أَحَبَّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَيَكْرَهُوا مَا كَرِهَهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَأَنَّ كُلَّ مَنْ قَامَتْ عَلَيْهِ الْحُجَّةُ بِرِسَالَةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ فَلَمْ يُؤْمِنْ بِهِ اسْتَحَقَّ عِقَابَ اللَّهِ تَعَالَى كَمَا يَسْتَحِقُّهُ أَمْثَالُهُ مِنْ الْكَافِرِينَ الَّذِينَ بُعِثَ إلَيْهِمْ الرَّسُولُ . وَهَذَا أَصْلٌ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ بَيْنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانِ وَأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَسَائِرِ طَوَائِفِ الْمُسْلِمِينَ : أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ وَغَيْرِهِمْ\rوقال (أي السبكي) في قوله تعالى \"ألم يأتكم رسل منكم\" قال جماعة الرسل كانت من الإنس ولكن الله كان يبعث قوما من الجن ليسمعوا كلام الرسل ويأتوا قومهم من الجن بما سمعوه ..... ثم قال السبكي ولا شك أن الجن مكلفون في الأمم الماضية كما هم مكلفون في هذه الملة والتكليف إنما يكون بسماعهم من رسول الله ........\rdst...dst. Wallaahu A'lam. Judul kitab :\rلقط المرجان في أحكام الجان","part":1,"page":38},{"id":39,"text":"للإمام الحافظ جلال الدين السيوطي 849 - 911\r4. Mbah Godek\rBismillah\rالتبويب الموضوعي للأحاديث (ص: 17807)\rأخبرنا إسحاق بن إبراهيم انا يزيد بن أبي حكيم حدثني الحكيم بن أبان عن عكرمة عن بن عباس قال * إن الله فضل محمد صلى الله عليه وسلم على الأنبياء وعلى أهل السماء فقالوا يا بن عباس بم فضله على أهل السماء قال إن الله قال لأهل السماء ومن يقل منهم إني إله من دونه فذلك نجزيه جهنم كذلك نجزي الظالمين الآية وقال الله لمحمد صلى الله عليه وسلم إنا فتحنا لك فتحا مبينا ليغفر لك الله ما تقدم من ذنبك وما تأخر قالوا فما فضله على الأنبياء قال قال الله عز وجل وما أرسلنا من رسول إلا بلسان قومه ليبين لهم الآية وقال الله عز وجل لمحمد صلى الله عليه وسلم وما أرسلناك إلا كافة للناس فأرسله إلى الجن والإنس\rالدارمي في سننه ج1/ص39 ح46\rالتبويب الموضوعي للأحاديث (ص: 17808)\rأخبرنا أبو زكريا يحيى بن محمد العنبري حدثنا محمد بن عبد السلام حدثنا إسحاق بن إبراهيم أنبأ يزيد بن أبي حكيم حدثنا الحكم بن أبان قال سمعت عكرمة يقول قال بن عباس رضي الله عنهما * إن الله فضل محمدا صلى الله عليه وسلم على أهل السماء وفضله على أهل الأرض قالوا يا بن عباس فبما فضله الله على أهل السماء قال قال الله عز وجل ومن يقل منهم إني إله من دونه فذلك نجزيه جهنم كذلك نجزي الظالمين وقال لمحمد صلى الله عليه وسلم إنا فتحنا لك فتحا مبينا ليغفر لك الله ما تقدم من ذنبك وما تأخر الآية قالوا فبما فضله الله على أهل الأرض قال إن الله عز وجل يقول وما أرسلنا من رسول إلا بلسان قومه الآية وقال لمحمد صلى الله عليه وسلم وما أرسلناك إلا كافة للناس بشيرا ونذيرا فأرسله إلى الجن والإنس هذا حديث صحيح الإسناد فإن الحكم بن أبان قد احتج به جماعة من أئمة الإسلام ولم يخرجه الشيخان\rالحاكم في مستدركه ج2/ص381 ح3335\rالسنن الكبرى للبيهقي وفي ذيله الجوهر النقي (2/ 433)","part":1,"page":39},{"id":40,"text":"- أَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرٍ : أَحْمَدُ بْنُ الْحَسَنِ الْقَاضِى حَدَّثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ : مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِىِّ بْنِ عَفَّانَ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا سَالِمٌ أَبُو حَمَّادٍ عَنِ السُّدِّىِّ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- :« أُعْطَيْتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ قَبْلِى مِنَ الأَنْبِيَاءِ : جُعِلَتْ لِىَ الأَرْضُ طَهُورًا وَمَسْجِدًا ، وَلَمْ يَكُنْ نَبِىٌّ مِنَ الأَنْبِيَاءِ يُصَلِّى حَتَّى يَبْلُغَ مِحْرَابَهُ ، وَأُعْطِيتُ الرُّعْبَ مَسِيرَةَ شَهْرٍ ، يَكُونُ بَيْنِى وَبَيْنَ الْمُشْرِكِينَ مَسِيرَةُ شَهْرٍ فَيْقَذِفُ اللَّهُ الرُّعْبَ فِى قُلُوبِهِمْ ، وَكَانَ النَّبِىُّ يُبْعَثُ إِلَى خَاصَّةِ قَوْمِهِ ، وَبُعِثْتُ أَنَا إِلَى الْجِنِّ وَالإِنْسِ ، وَكَانَتِ الأَنْبِيَاءُ يَعْزِلُونَ الْخُمُسَ ، فَتَجِىءُ النَّارَ فَتَأْكُلُهُ ، وَأُمِرْتُ أَنَا أَنْ أَقْسِمَهَا فِى فُقَرَاءِ أُمَّتِى ، وَلَمْ يَبْقَ نَبِىٌّ إِلاَّ أُعْطِىَ سُؤْلَهُ ، وَأَخَّرْتُ شَفَاعَتِى لأُمَّتِى »\rإعانة الطالبين (1/ 12)\r( قوله لكافة الثقلين الجن والإنس ) بل وإلى كافة الخلق من ملك وحجر ومدر بل وإلى نفسه\rوقول العلامة الرملي لم يرسل إلى الملائكة أي إرسال تكليف فلا ينافي أنه أرسل إليهم إرسال تشريف\r5. Muhammad Al-Muthohhar\rHati-hati dengan jin yang ber-aliran sesat,, qiqiqi...\rتفسير البغوي - (ج 8 / ص 240)","part":1,"page":40},{"id":41,"text":"{ وَأَنَّا لا نَدْرِي أَشَرٌّ أُرِيدَ بِمَنْ فِي الأرْضِ } برمي الشهب { أَمْ أَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَدًا } { وَأَنَّا مِنَّا الصَّالِحُونَ وَمِنَّا دُونَ ذَلِكَ } دون الصالحين { كُنَّا طَرَائِقَ قِدَدًا } أي: جماعات متفرقين وأصنافا مختلفة، والقِدَّة: القطعة من الشيء، يقال: صار القوم قددًا إذا اختلفت حالاتهم، وأصلها من القَدّ وهو القطع. قال مجاهد: يعنون: مسلمين وكافرين. وقيل: [ذوو] (1) أهواء مختلفة، وقال الحسن والسدي: الجن أمثالكم فمنهم قدرية ومرجئة ورافضة. وقال ابن كيسان: شيعًا وفرقًا لكل فرقة هوى كأهواء الناس.\rMbahas suargo ne jin sisan njih, *masuk surga-kah jin yang ta'at,?? Pendapat pertama : masuk surga. (pendapat kuat). Pendapat kedua: hanya mendapatkan keselamatan dari api neraka, dan mereka (yang ta'at) akan menjadi tanah/debu. (pendapat lemah).\rفتح القدير - (ج 7 / ص 102)\r{ فَبِأَىّ ءالاء رَبّكُمَا تُكَذّبَانِ } الخطاب للجنّ والإنس؛ لأن لفظ الأنام يعمهما وغيرهما ، ثم خصّص بهذا الخطاب من يعقل . وبهذا قال : الجمهور من المفسرين ، ويدلّ عليه قوله فيما سيأتي : { سَنَفْرُغُ لَكُمْ أَيُّهَا الثقلان } ويدلّ على هذا ما قدّمنا في فاتحة هذه السورة أن النبي صلى الله عليه وسلم قرأها على الجنّ والإنس ، وقيل : الخطاب للإنس\rفتح القدير - (ج 7 / ص 111)\rلما فرغ سبحانه من تعداد النعم الدنيوية على الثقلين ذكر نعمه الأخروية التي أنعم بها عليهم ، فقال : { وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبّهِ جَنَّتَانِ }\rتفسير البغوي - (ج 8 / ص 319)","part":1,"page":41},{"id":42,"text":"وعن [أبي الزناد عبد الله بن ذكوان] (1) قال: إذا قضى الله بين الناس وأمر أهل الجنة إلى الجنة، وأهل النار إلى النار، وقيل لسائر الأمم ولمؤمني الجن عودوا ترابًا فيعودون ترابًا، فحينئذ يقول الكافر: يا ليتني كنت ترابا. وبه قال ليث بن [أبي] (2) سليم، مؤمنو الجن يعودون ترابًا\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/535407919815354/\r2229. Pembagian Nyawa & Arti Sukma\rOleh : Sunde Pati\rPembagian nyawa\rوالروح ثلاثة اضرب اولها سلطانية و الثانى روحانية والثالث جسمانية فموضع السلطانية الفؤادى يعنى القلب وموضع الروحانية الكبد يعنى الصدر وموضع الجسمانية بين اللحم والدم وبين العظم والعروق فإن قيل إذا نام العبد خرج روحه ام لا؟ فإن قال قائل خرج فقد اخطأ وان قال لم يخرج فقد اخطأ . والجواب اذا نام العبد خرج روحه الجسمانى مع العقل ومشى بين السماء والارض فإن كان العقل معه رأى ما رأى فى المنام وإن لم يكن العقل معه رأى ما رأى ولكن لم يفهم\rNyawa dibagi menjadi 3 :\r1. sultoniyyah\r2. ruhaniyyah\r3. jismaniyyah\rSultoniyyah bermuara dihati,ruhaniyyah bermuara didada sedangkan jismaniyyh muaranya diantara daging dan darah dan diantara tulang dan otot-otot.\rJika ditanya, ketika seorang hamba tidur, apakah nyawanya keluar apa tidak ?\rJika ada yang menjawab keluar, maka salah, dan jika ada yang menjawab tidak keluar maka juga salah.\rJawaban yang tepat adalah,ketika seorang hamba tidur maka ruh jismaniyyahnya keluar bersama akal dan berkeliling antara langit dan bumi,jika akal bersama ruh jismani maka seorang hamba tersebut tau/mengerti apa yang ia lihat dalam mimpi,dan jika akal tidak bersamanya maka seorang hamba tersebut tetap bisa melihat mimpi akan tetapi tidak faham.\rRogo sukma","part":1,"page":42},{"id":43,"text":"فإن قيل ماالفرق بين الروح والروان؟ قلنا الروح لايذهب ولا يجئ والروان يذهب ويجئ وإذا زال الروان نام العبد وإذا زال الروح مات العبد\rJika ditanya apa bedanya nyawa dan sukma ? Maka kami jawab,nyawa itu tidak bisa keluar masuk sedangkan sukma bisa keluar masuk.\rJika sukma keluar maka seorang hamba tertidur/tak sadarkan diri dan jika nyawa keluar maka seorang hamba tadi jadi meninggal. [ Durrotun nasihin hal 177 cetakan darul fikr di bab bayanu alamil mauti ].\r> Kakang Prabu\rTentang ruh hanya sekedar menambah wawasan saja.. Jangan terlalu dibahas panjang lebar, karena hakekatnya belum tentu benar.. Dan takut su'ul adab! karena bahkan Nabi sendiri juga tidak tahu tentang ruh. Hanya Alloh yang maha mengetahuinya.\rواختلف في حقيقة الروح فقال أكثر أهل السنة والجماعة الأولى أن نمسك المقال عنها ونكف عن البحث فيها وأنها مما استأثر الله بعلمه ولم يطلع عليه أحدا من خلقه واليه أشار ابن رسلان في زبده بقوله والروح ما أخبر عنها المجتبى # فنمسك المقال عنها أدبا أي أن حقيقة الروح وهي النفس لم يخبر عنها المصطفى مع انه سئل عنها لعدم نرول الأمر ببيانها قال تعالى ويسألونك عن الروح قل الروح من أمر ربي فنمسك أدبا مع المصطفى صلى الله عليه وسلم (إعانة الطالبين جزء 2 صحيفة 107)\rUlama memperdebatkan dalam hakekat ruh.. Kemudian kebanyakan Ahli Sunnah Wal Jamaa'ah berkata : \"Lebih baik kita menahan pembicaraan kita tentang Ruh dan kita mencegah (jangan) membahas dalam masalah Ruh. Sesungguhnya hanya Alloh semata yang mengetahuinya dan Alloh tidak memberikan pengetahuan tentang ruh kepada satu makhlukpun!\". Karenanya, Ibnu Ruslan memberi isyarat dalam nadhom Zubad-nya dengan ucapannya:","part":1,"page":43},{"id":44,"text":"\"Ruh, adalah sesuatu yang tidak dikabarkan kepada Al-Mujtaba (Nabi). Karena ta'dduban kepada Nabi, maka cegahlah diri kita dari membicarakannya\". Maksudnya adalah, sesungguhnya hakekat Ruh itu Nabi sendiri juga tidak dikasih tahu padahal Beliau ditanya tentang Ruh. karena tidak ada nuzul yang menerangkannya. Alloh Taala berfirman \"Mereka bertanya kepadamu tentang Ruh. Katakan! Ruh adalah perkara Tuhanku\". Maka oleh sebab itu cegahlah diri kita membicarakan Ruh guna ta'adduban kepada Nabi. (I'anah Tholibin Juz 2 Hal. 106).\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/544437008912445/\r2244. LETAK NERAKA DAN SURGA\rPERTANYAAN :\rTukang-Sapu Piss-ktb\rAssalamu'alaykum.wr.wb. Afwan, saya mau tanya di sini, ada di kitab apakah tentang keberadaan NERAKA ? \"Bumi ada 7 lapisan, kita berada pada tingkat ke 7, & tingkat 6-5-4-3-2- di situ ada makhluq ALLOH juga, & Neraka ada pada tingkat 1/ di Dasar lapisan bumi, & sebenarnya inilah yang di maksud 6 masa, yaitu, kita di ciptakan setelah adanya makhluq2 ALLOH yang tidak sempurna, yang berada pada lapisan2 bumi itu\", Afwan, mohon keterangannya, adakah kebenarannya ? Sebelumnya saya ucapkan banyak terima kasih.\rJAWABAN :\rKhodim Piss-ktb II","part":1,"page":44},{"id":45,"text":"Wa'alaikum salam warahmatullah wabarakatuh. Rekomendasi utama adalah kitab 'Yaqzhatu Ulil I'tibar mimma Warada Fi Dzikrin Nar wa Ashhabin Nar' (Kewaspadaan bagi Orang yang Mau Mengambil Pelajaran dari Keterangan yang Menuturkan Tentang Neraka dan Para Penghuninya) karangan Shiddiq Hasan Khan. Saya tidak menjumpai keterangan semacam di atas. Yang agak serupa, terdapat pendapat neraka terdapat di bumi lapisan ke tujuh (bukan ke satu), di mana pendapat ini adalah salah satu dari sekian pendapat berbeda yang berupa :\r- Neraka terdapat di langit, mengambil dalil hadits Hudzaifah tentang Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sewaktu mi'raj di langit melihat surga dan neraka.\r- Neraka terdapat di bawah bumi lapisan ke tujuh, mengambil dalil dari hadits riwayat Ibnu Abbas dan Mu'adz.\r- Neraka terdapat di permukaan bumi tanpa diketahui lokasi persisnya, dikemukakan oleh al-Qurthubi. - Neraka pembahasannya mauquf, tidak bisa diketahui lokasinya dikarenakan semua hadits yang menyebutkan tempat neraka belum bisa dijadikan pegangan, ini adalah pendapat yang disepakati oleh banyak ulama seperti as-Suyuthi, Waliyullah ad-Dahlawi, dan Shiddiq Hasan Khan. Wallahu a'lam.\rوقيل إن النار فى السماء كالجنة لما روى أحمد من حديث حذيفة رضى الله عنه عن النبي قال أتيت بالبراق فلم نزايل طرفة عين أنا وجبريل حتى أتيت بيت المقدس وفتحت لنا أبواب السماء ورأيت الجنة والنار -الى أن قال- قال الحافظ ابن رجب وحديث حذيفة إن ثبت فالسماء ظرف للرؤية لا للمرئى وفى حديث ضعيف جدا أنه رأى الجنة والنار فوق السموات فلو صح على حمل ما ذكرنا","part":1,"page":45},{"id":46,"text":"والحاصل أن الجنة فوق السماء السابعة وسقفها العرش وإن النار فى الأرض السابعة على الصحيح المعتمد وبالله التوفيق انتهى -الى أن قال-\rومثله فى التذكرة للقرطبى قال فهذا يدل على أن جهنم على وجه الأرض والله أعلم بموضعها وأين هى من الأرض انتهى -الى أن قال-\rوتقف عن النار أي تقول فيها بالوقف أى محلها حيث لا يعلمه إلا الله فلم يثبت عندى حديث اعتمده فى ذلك -الى أن قال-\rوقال قال الشيخ أحمد ولى الله المحدث الدهلوى فى عقيدته ولم يصرح نص بتعين مكانهما بل حيث شاء الله تعالى إذ لا إحاطة لنا بخلق الله وعوالمه انتهى\rأقول وهذا القول أرجح الأقوال وأحوطها إن شاء الله تعالى\rالكتاب : يقظة أولي الاعتبار مما ورد في ذكر النار وأصحاب النار ص48-45\r> Tukang-Sapu Piss-ktb\rSyukron.. atas penjelasannya, Alhamdulilah, saya mendapat titik terangnya, Apabila Bumi yang kita pijak, adalah lapisan ke-1, itu berarti Neraka ada pada lapisan ke-7, Dari keterangan di atas, memang sangat bertentangan antara :\r- Neraka terdapat di langit, mengambil dalil hadits Hudzaifah tentang Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sewaktu mi'raj di langit melihat surga dan neraka.\r- Neraka terdapat di bawah bumi lapisan ke tujuh, mengambil dalil dari hadits riwayat Ibnu Abbas dan Mu'adz. Afwan, apakah yai punya hadist riwayat Ibnu Abbas & Mu'adz?\rAlhamdulilah, untuk keterangan 6 masa, saya sdah mendapatkan ini : Perpaduan Al Qur’an dengan hasil penelitian ilmiah tentang asal-usul manusia pertama. Terwujudnya alam semesta ini berikut segala isinya diciptakan oleh Allah dalam waktu enam masa. hal ini sesuai dengan firman Allah :","part":1,"page":46},{"id":47,"text":"الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرض وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ الرَّحْمَنُ فَاسْأَلْ بِهِ خَبِيراً\r\"Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada iantara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam diatas Arsy (Dialah) Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah itu kepada Yang Maha Mengetahui.\" (QS. Al Furqaan (25) : 59)\rKeenam masa itu adalah : Azoikum,... Ercheozoikum,... Protovozoikum,...Palaeozoikum,... Mesozoikum, dan Cenozoikum. Dari penelitian para ahli, setiap periode menunjukkan perubahan dan perkembangan yang bertahap menurut susunan organisme yang sesuai dengan ukuran dan kadarnya masing-masing. (tidak berevolusi).\rالَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَمْ يَتَّخِذْ وَلَداً وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيراً\r\"yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan [Nya], dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya\" (QS. Al Furqaan (25) : 2)\rDari perpaduan antara Al Qur’an dengan hasil penelitian ini maka teori evolusi Darwin tidak dapat diterima. Dari penelitian membuktikan bahwa kurun akhir (cenozoikum) adalah masa dimana mulai muncul manusia yang berbudaya dan Allah menciptakan lima kurun sebelumnya lengkap dengan segala isinya adalah untuk memenuhi kebutuhan yang diperlukan oleh manusia.\rwww.piss-ktb.com/2012/03/f0067-makhluk-sebelum-manusia.html\r> Khodim Piss-ktb II","part":1,"page":47},{"id":48,"text":"Keterangan 6 masa di atas ya demikian, yang tidak saya temukan adalah pada keterangan : yang di maksud 6 masa....yang berada pada lapisan-lapisa bumi itu. Dari keterangan di atas, memang sangat bertentangan.\rIsykal itu dijawab oleh Ibnu Rajab, bahwa yang berada di atas (sebagai zharaf) adalah penglihatan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, sedang neraka yang dilihat tidak harus di atas, melainkan di bumi (dari atas melihat ke bawah).\rقال الحافظ ابن رجب وحديث حذيفة إن ثبت فالسماء ظرف للرؤية لا للمرئى وفى حديث ضعيف جدا أنه رأى الجنة والنار فوق السموات فلو صح على حمل ما ذكرنا\rHadits riwayat Ibnu Abbas:\rوعن عبد الله ابن سلام قال قال أكرم خليفة الله أبو القاسم إن الجنة فى السماء أخرجه أبو نعيم وعنده أيضا عن ابن عباس أن الجنة فى السماء السابعة ويجعلها الله تعالى حيث شاء يوم القيامة وجهنم فى الأرض السابعة\rHadits riwayat Mu'adz ibn Jabbal:\rوعن معاذ بن جبل رضى الله عنه سئل رسول الله أين يجاء بجهنم يوم القيامة قال يجاء بها من الأرض السابعة لها سبعون ألف زمام يتعلق بكل زمام سبعون ألف ملك تصيح إلى أهلى إلى أهلى فإذا كانت من العباد على مسير مائة سنة زفرت زفرة فلا يبقى ملك مقرب ولا نبى مرسل إلا جثى على ركبتيه فيقول رب نفسى نفسى وأخرجه جويبر فى تفسيره\rAgar lebih memberikan pemahaman yang utuh, berikut adalah redaksi dan terjemahan satu bab utuh dari kitab Yaqzhah:\rباب فى ذكر مكان النار وأين هى على مقتضى الآثار وكذا مكان الجنة","part":1,"page":48},{"id":49,"text":"فاعلم أن الجنة فوق السماء السابعة وسقفها عرش الرحمن كما قال تعالى فى محكم القرآن ولقد رآه نزلة أخرى عند سدرة المنتهى عندها جنة المأوى وقد ثبت أن سدرة المنتهى فوق السماء السابعة وقال تعالى وفى السماء رزقكم وما توعدون قال مجاهد هو الجنة وتلقاه الناس عنه رواه ابن أبى نجيح وفى رواية عنه هو الجنة والنار حكاه ابن المنذر فى تفسيره\rوعن عبد الله ابن سلام قال قال أكرم خليفة الله أبو القاسم إن الجنة فى السماء أخرجه أبو نعيم وعنده أيضا عن ابن عباس أن الجنة فى السماء السابعة ويجعلها الله تعالى حيث شاء يوم القيامة وجهنم فى الأرض السابعة وعن ابن مسعود رضى الله عنه الجنة فى السماء السابعة فإذا كان يوم القيامة جعلها الله حيث شاء والنار فى الأرض السابعة فإذا كان يوم القيامة جعلها الله حيث شاء أخرجه ابن مندة\rوقال مجاهد قلت لابن عباس أين الجنة قال فوق سبع سموات قلت فأين النار قال تحت سبعة أبحر مطبقة رواه ابن منده قال الشوكانى فى فتح القدير والأولى الحمل على ما هو الأعم من هذه الأقوال فان جزاء الأعمال مكتوب فى السماء والقدر والقضاء ينزل منها والجنة والنار فيها انتهى\rوعن ابن عمر رضى الله عنه قال قال رسول الله إن جهنم محيطة بالدنيا وإن الجنة وراءها فلذلك كان الصراط على جهنم طريقا إلى الجنة أخرجه أبونعيم فى تاريخ أصبهان\rوعن معاذ بن جبل رضى الله عنه سئل رسول الله أين يجاء بجهنم يوم القيامة قال يجاء بها من الأرض السابعة لها سبعون ألف زمام يتعلق بكل زمام سبعون ألف ملك تصيح إلى أهلى إلى أهلى فإذا كانت من العباد على مسير مائة سنة زفرت زفرة فلا يبقى ملك مقرب ولا نبى مرسل إلا جثى على ركبتيه فيقول رب نفسى نفسى وأخرجه جويبر فى تفسيره","part":1,"page":49},{"id":50,"text":"وعن يعلى بن أمية رضى الله عنه أن النبي قال البحر هو جهنم أخرجه أحمد والبيهقى بسند رجاله ثقات وعن سعيد بن أبى الحسين قال البحر طبق جهنم أخرجه أحمد فى الزهد وعن على بن أبى طالب رضى الله عنه قال ما رأيت يهوديا أصدق من فلان زعم أن نار الله الكبرى هى البحر فاذا كان يوم القيامة جمع الله فيه الشمس والقمر والنجوم ثم بعث عليه الدبور فسعرته أخرجه أبو الشيخ فى العظمة والبيهقى من طريق سعيد بن المسيب\rوعن كعب فى قوله تعالى والبحر المسجور قال البحر يسجر فيصير جهنم أخرجه أبو الشيخ وعن وهب بن منبه أنه قال إذا قامت القيامة أمر بالفلق فيكشف عن سقر وهو غطاؤها فتخرج منه نار فاذا وصلت إلى البحر المطبق على شفير جهنم وهو بحر البحور نشفته أسرع من طرف العين وهو حاجز بين جهنم والأرضين السبع فاذا نشفت اشتعلت فى الأرضين السبع فتدعها جمرة واحدة أخرجه البيهقى فى شعب الإيمان\rوقيل إن النار فى السماء كالجنة لما روى أحمد من حديث حذيفة رضى الله عنه عن النبي قال أتيت بالبراق فلم نزايل طرفة عين أنا وجبريل حتى أتيت بيت المقدس وفتحت لنا أبواب السماء ورأيت الجنة والنار وأخرج أيضا عن النبي أنه قال رأيت ليلة أسرى بى الجنة والنار\rفى السماء وقرأ هذه الآية وفى السماء رزقكم وما توعدون فكأنى لم أقرأها\rقال السفارينى وليس فى هذا ونحوه حجة على أن النار فى السماء لجواز أن يراها فى الأرض وهو فى السماء وهذا الميت يرى وهو فى قبره الجنة والنار وليست الجنة فى الأرض وثبت أنه رآهما وهو فى صلاةالكسوف وهو فى الأرض\rقال الحافظ ابن رجب وحديث حذيفة إن ثبت فالسماء ظرف للرؤية لا للمرئى وفى حديث ضعيف جدا أنه رأى الجنة والنار فوق السموات فلو صح على حمل ما ذكرنا\rوالحاصل أن الجنة فوق السماء السابعة وسقفها العرش وإن النار فى الأرض السابعة على الصحيح المعتمد وبالله التوفيق انتهى","part":1,"page":50},{"id":51,"text":"أقول قال السيوطى فى اتمام الدراية شرح النقاية ونعتقد أن الجنة فى السماء وقيل فى الأرض وقيل بالوقف حيث لا يعلمه إلا الله والذى اخترته هو المفهوم من سياق القرآن والحديث كقوله تعالى فى قصة آدم قلنا اهبطوا منها وفى الصحيح سلوا الله الفردوس فإنه أعلى الجنة وفوقه عرش الرحمن ومنه تفجر أنهار الجنة وفى صحيح مسلم أرواح الشهداء في حواصل طيور خضر تسرح من الجنة حيث شاءت ثم تأوى إلى قناديل معلقة بالعرش وتقف عن النار أي تقول فيها بالوقف أى محلها حيث لا يعلمه إلا الله فلم يثبت عندى حديث اعتمده فى ذلك وقيل تحت الأرض لما روى ابن عبد البر وضعفه من حديث ابن عمر مرفوعا لا يركب البحر إلا غاز أو حاج أو معتمر فان تحت البحر نارا وروى عنه أيضا موقوفا لا يتوضأ بماء البحر لأنه طبق جهنم وضعفه وقيل هى على وجه الأرض لما روى وهب أيضا\rقال أشرف ذو القرنين على جبل قاف فرأى تحته جبالا صغارا إلى أن قال يا قاف أخبرنى عن عظمة الله فقال إن شأن ربنا لعظيم إن ورائى أرضا مسيرة خمسمائة عام فى خمسمائة عام من جبال ثلج يحطم بعضها بعضا ولولا هى لاحترقت من جهنم وروى الحارث بن أسامة فى مسنده عن عبد الله بن سلام قال الجنة فى السماء والنار فى الأرض وقيل محلها فى السماء انتهى كلام السيوطى ومثله فى التذكرة للقرطبى قال فهذا يدل على أن جهنم على وجه الأرض والله أعلم بموضعها وأين هى من الأرض انتهى\rوقال قال الشيخ أحمد ولى الله المحدث الدهلوى فى عقيدته ولم يصرح نص بتعين مكانهما بل حيث شاء الله تعالى إذ لا إحاطة لنا بخلق الله وعوالمه انتهى أقول وهذا القول أرجح الأقوال وأحوطها إن شاء الله تعالى\rBab Tentang Penuturan Letak Neraka Serta Di Mana Tempatnya Mengacu Pada Keterangan Hadits; Begitu Juga Letak surga","part":1,"page":51},{"id":52,"text":"Ketahuilah bahwa surga itu di atas langit ketujuh di mana atap surga adalah 'arsy Allah Ar-Rahman, sebagaimana firman Allah dalam ayat muhkamNya: \"Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain. (yaitu) Di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal,\" (QS. An-Najm: 13-15). Sedangkan telah diketahui bahwa sidratul muntaha terletak di atas langit ketujuh, Allah berfirman: \"Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rizqimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu\" (QS. Adz-Dzariyat: 22).\rDiriwayatkan dalam atsar oleh Ibnu Abi Nujaih, dari Mujahid berkata: Itu adalah surga, Allah melimpahkan rizqi dari surgaNya.\rDiceritakan oleh Ibnu Mundzir dalam Tafsirnya mengenai riwayat atsar lain dari Mujahid: Itu adalah surga dan neraka.\rDiriwayatkan dalam atsar oleh Abu Nu'aim, dari Abdullah ibn Salam berkata - semoga Allah memuliakan khalifahNya Abu Qasim shallallahu 'alaihi wasallam- Sesungguhnya surga ada di langit.\rDalam riwayat atsar lain olehnya, dari Ibnu Abbas: Sesungguhnya surga ada di langit yang ketujuh, dan Allah menjadikan surga sebagaimana yang Dia kehendaki di hari kiamat. Serta neraka jahannam ada di bumi yang ketujuh.\rDikeluarkan atsar oleh Ibnu Mandah dari Ibnu Mas'ud berkata: Surga ada di langit yang ketujuh, dan ketika datang hari kiamat maka Allah menjadikan surga sebagaimana yang Dia kehendaki. Serta neraka ada di bumi yang ketujuh, dan ketika datang hari kiamat maka Allah menjadikan neraka sebagaimana yang Dia kehendaki.","part":1,"page":52},{"id":53,"text":"Diriwayatkan oleh Ibnu Mandah, bahwa Mujahid berkata, aku bertanya pada Ibnu Abbas: Di manakah surga? Di atas langit yang tujuh. Lalu di mana neraka? Di bawah tujuh keseluruhan samudera. Asy-Syaukani dalam Fath al-Qadir berkomentar: Yang lebih utama adalah mengarahkan ucapan dalam atsar ini pada konsep umum. Mengingat balasan dari amal ditulis di langit, qadha dan qadar diturunkan dari langit, begitu juga surga dan neraka terletak di dalamnya.\rDikeluarkan hadits oleh Abu Nu'aim dalam Tarikh Ashbahan, dari Ibnu Umar berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya neraka jahannam diliputi oleh dunia dan surga ada di belakangnya, karena itu shirat terletak di atas neraka dan menjadi jalan menuju ke surga.\rDikeluarkan hadits oleh Juwaibir dalam kitab Tafsirnya, dari Mu'adz ibn Jabbal, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ditanya: Dari arah mana neraka jahannam akan didatangkan pada hari kiamat? Beliau menjawab: Akan didatangkan dari bumi yang ketujuh, pada neraka terdapat tujuh puluh ribu kendali, pada tiap kendali bergantungan tujuh puluh malaikat, neraka berseru 'arahkan ke penghuniku, arahkan ke penghuniku'. Ketika masih berjarak langkah seratus tahun dari manusia neraka berkobar-kobar. Saat itu sudah tidak tersisa lagi para hamba malaikat dan utusan nabi melainkan diriku yang bersimpuh pada kedua lututku dan berucap 'wahai rabbi, diriku diriku.'\rDikeluarkan hadits oleh Ahmad dan Baehaqi dengan sanad yang para rawinya tsiqah, dari Ya'la ibn Umayyah, sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Lautan adalah neraka jahannam.","part":1,"page":53},{"id":54,"text":"Dikeluarkan atsar oleh Ahmad dalam kitab az-Zuhd, dari Sa'id ibn Abi al-Husain berkata: lautan adalah wadah neraka jahannam.\rDikeluarkan atsar oleh Abu asy-Syaikh Ibnu Hayyan dalam kitab al-'Azhamah serta Baehaqi dari jalur Said ibn Musayyab, dari Ali ibn Abi Thalib berkata: Aku tidak mengetahui orang yahudi yang lebih benar dari seseorang yang menduga bahwa sesungguhnya neraka agung Allah adalah lautan. Ketika tiba hari kiamat maka di lautan Allah mengumpulkan matahari, bulan, dan bintang, lalu mengirimkan angin barat yang menyalakan lautan itu.\rDikeluarkan atsar oleh Abu asy-Syaikh Ibnu Hayyan, dari Ka'ab ketika mentafsiri ayat 'Dan lautan yang menyala' (QS. Ath-Thur: 6) berkata: Lautan menyala sehingga menjadi neraka jahannam.\rDikeluarkan atsar oleh Baehaqi dalam kitab Syu'ab al-Iman, dari Wahab ibn Munabbih bahwasanya dia berkata: Ketika kiamat terjadi Allah berfirman pada cakrawala dan terkuaklah neraka saqar yangmana langit semula menjadi tutupnya, lalu keluar api yang ketika sampai pada seluruh lautan -dimana laut menjadi tepi batas neraka jahannam- maka api itu mengeringkan lautan lebih cepat dari kedipan mata. Laut menjadi pembatas antara neraka jahannam dan tujuh bumi. Ketika mengering maka laut menyala pada tujuh bumi dan meninggalkannya menjadi onggokan bara api.","part":1,"page":54},{"id":55,"text":"Pendapat lain mengatakan neraka ada di langit sebagaimana surga, berlandaskan hadits Ahmad riwayat Hudzaifah, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Aku diberikan buraq, namun kami -aku dan Jibril- belum berpindah sekejapan mata sebelum dihantarkan pada Baitul Maqdis terlebih dahulu, lalu dibukakan bagiku pintu langit dan kulihat surga dan neraka. Dikeluarkan hadits lain oleh Ahmad, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda: Aku melihat pada malam yang kulalui surga dan neraka di langit. Lalu beliau shallallahu 'alaihi wasallam membaca ayat \"Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rizqimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu\" (QS. Adz-Dzariyat: 22). Maka seakan aku belum membacanya.\rAs-Safarini berkata: Hadits itu dan sejenisnya belum bisa menjadi hujjah bahwa letak neraka di langit, sebab boleh jadi neraka itu terlihatnya ada di bumi sementara Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berada di langit. Mayit diketahui bisa melihat surga dan neraka sementara mayit itu berada di dalam kubur, padahal keberadaan surga tidaklah di bumi. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga diketahui pernah melihat surga dan neraka saat shalat kusuf sementara shalat itu dilakukan di bumi.","part":1,"page":55},{"id":56,"text":"Al-Hafizh Ibnu Rajab berkata: Hadits itu, andaipun tsubut, maka kata 'langit' menjadi zharaf [keterangan waktu] dari penglihatan, bukan zharaf dari yang dilihat. Padahal hadits tentang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang melihat surga dan neraka di atas beberapa lapisan langit itu statusnya sangat dhaif. Seandainya shahih pun akan diarahkan pada pemahaman yang telah disebutkan tadi. Sehingga kesimpulannya surga terletak di atas langit lapisan ketujuh, atapnya adalah 'arsy Allah ar-Rahman, dan langit terletak di bumi lapisan ke tujuh, sesuai dengan pendapat shahih mu'tamad. Wabillahi taufiq. Demikian penuturan Ibnu Rajab.","part":1,"page":56},{"id":57,"text":"Aku [Shiddiq Hasan] tandaskan, bahwa as-Suyuthi dalam Itmam ad-Dirayah syarh an-Niqayah telah berkata: kita meyakini surga ada di langit, versi pendapat lain ada di bumi, versi lainnya lagi mauquf serta hanya Allah yang tahu. Pendapat yang aku [as-Suyuthi] pilih adalah sesuai mafhum dari redaksi al-Qur'an dan Hadits. Yakni pada semisal firman Allah tentang kisah Nabi Adam 'alaihi salam: Kami berfirman \"Turunlah kamu semuanya dari surga itu!\". Juga pada hadits shahih \"Mintalah surga firdaus. Sesungguhnya firdaus adalah surga yang paling tinggi. Di atasnya ada 'arsy Allah ar-Rahman. Dari firdaus memancar sungai-sungai surga.\" Pada hadits shahih Muslim disebutkan \"Arwah para syuhada berada dalam perut burung hijau, mereka dapat keluar masuk dari [tempat kediamannya di] surga sesuka hati, lalu kembali beristirahat menuju lentera-lentera yang digantungkan di [bawah] ‘Arsy. Kemudian kau mauqufkanlah pembahasan tentang neraka. Yakni kau katakanlah mauquf tentang letak neraka itu karena tidak ada yang tahu kebenarannya selain Allah. Aku [as-Suyuthi] tidak menemukan satu hadits pun yang bisa dijadikan pegangan tentang masalah itu. Pendapat lain mengatakan di bawah bumi, mengacu pada hadits marfu' dari Ibnu Umar yang diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr dan dinyatakan dhaif olehnya: \"Janganlah pergi melaut kecuali mereka yang akan berperang, haji, atau menunaikan umrah. Sesungguhnya di bawah lautan adalah neraka.\" Diriwayatkan juga hadits mauquf dari Ibnu Umar dan dinyatakan dhaif oleh Ibnu Abdil Barr: \"Janganlah berwudhu dengan air laut, sesungguhnya lautan adalah tangga bagi neraka.\"","part":1,"page":57},{"id":58,"text":"Ada pendapat lain mengatakan neraka ada di muka bumi, mengacu pada hadits riwayat Wahab ibn Munabbih, bahwa Dzul Qarnain mengamati Gunung Qaf lalu terlihat di bawahnya ada gunung lain yang lebih kecil...Dzul Qarnain berkata: Gunung Qaf, beritahukanlah padaku akan keagungan Allah. Jawabnya: Sesungguhnya urusan Tuhanku sungguh agung. Di belakangku berjarak langkah lima ratus tahun terdapat sebuah bumi, dimana pada jarak langkah lima puluh tahunnya terdapat pegunungan bersalju yang satu sama lain senantiasa runtuh. Jika bukan karena pegunungan es itu niscaya aku sudah terbakar oleh neraka. Diriwayatkan atsar oleh Harits ibn Usamah dalam musnadnya, dari Abdullah ibn Salam berkata: Surga ada di langit dan neraka ada di bumi. Versi pendapat lain surga ada di bumi. Demikan penuturan as-Suyuthi.\rKeterangan senada terdapat di kitab Tadzkirah karangan al-Qurthubi yang berkata: Hal itu menunjukkan bahwa neraka ada di permukaan bumi, hanya Allah yang tahu di mana letaknya dan di bagian bumi sebelah mana. Demikian penuturan al-Qurthubi.\rAs-Safarini berkata, bahwa Muhaddits Ahmad Waliyullah ad-Dahlawi dalam kitab aqidahnya berkata: nash tidak menjelaskan letak surga dan neraka, melainkan terserah kehendak Allah semata, karena kita memang tidak akan mampu meliputi terhadap penciptaan dan ilmu Allah. Demikian seluruh penuturan as-Safarini. Aku [Shiddiq Hasan] tandaskan, pendapat ad-Dahlawi ini adalah pendapat yang paling rajih dan paling hati-hati di antara sekian pendapat lainnya insya Allah ta'ala. Wallahu subhanahu wata'ala a'lam.\r2248. Lafazh Syahadat Yang Diucapkan Nabi Muhammad saw","part":1,"page":58},{"id":59,"text":"PERTANYAAN :\rSaif Ifuunk Johan Siruk\rAssalamu alaikum, saya mau nanya' ni ustdz, pertanyaan saya disini : sahadat nabi muhammad sollalohu aliwesallam itu ap? Ap sama dengan sahadat ummat nya. TERIMAKASIH\rJAWABAN :\rKhodim Piss-ktb II\rWa'alaikum salam. Bila yang dimaksud lafazh syahadat seperti ketika dalam shalat, maka lafazh syahadatnya sama dengan umatnya.\rأخبرنا الرَّبِيعُ قال أخبرنا الشَّافِعِيُّ قال أخبرنا يحيى بن حَسَّانَ عن اللَّيْثِ بن سَعْدٍ عن أبي الزُّبَيْرِ الْمَكِّيِّ عن سَعِيدِ بن جُبَيْرٍ وَطَاوُسٍ عن بن عَبَّاسٍ قال كان رسول اللَّهِ صلى اللَّهُ عليه وسلم يُعَلِّمُنَا التَّشَهُّدَ كما يُعَلِّمُنَا الْقُرْآنَ فَكَانَ يقول التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ سَلَامٌ عَلَيْك أَيُّهَا النبي وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ سَلَامٌ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رسول اللَّهِ\r\"Dikhabarkan dari Rabi' berkata, dikhabarkan dari Syafi'i berkata, dikhabarkan dari Yahya ibn Hassan, dari Laits ibn Sa'd, dari Abu Zubair al-Makkiy, dari Sa'id ibn Jubair dan Thawus, dari Ibnu Abbas berkata, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada kami tasyahud sebagaimana mengajarkan kami al-Qur'an. Maka beliau shallallahu 'alaihi wasallam berucap: attahiyyatul mubarakatush shalawatuth thayyibatu lillah. Salamun 'alaika ayyuhan nabiyyu warahmatullahi wabarakatuh. Salamun 'alaina wa 'ala 'ibadillahish shalihin. Asyhadu alla ilaha illallah. Wa asyhadu anna muhammadar rasulullah.\" (al-Um: 117). Wallahu a'lam.\rLINK DISKUSI :","part":1,"page":59},{"id":60,"text":"www.fb.com/groups/piss.ktb/554214164601396/\r2255. IMAM SYAFI'I: SANG NASHIRUS SUNNAH DAN PAKAR ILMU KALAM\rOleh Kayla Anwar\rSebagian pihak seperti golongan al-Wahhabiyyah (yang mengaku diri mereka sebagai al-Salafiyyah - sedangkan al-Salafus-Salih berlepas daripada mereka - ) mereka mengklaim bahwa al-Imam al-Shafi^i menolak dan mencela ilmu kalam secara mutlak. Mereka mendatangkan beberapa perkataan al-Imam al-Shafi^i – dengan sangkaan mereka – yang menunjukkan penentangan dan penolakan beliau terhadap ilmu kalam tersebut. Di Antara kata-kata yang dianggap sebagai pendapat al-Imam al-Shafi^i ialah:\rلأن يلقى الله العبدُ بكل ذنب ما عدا الشرك خير له من أن يلقاه بعلم الكلام:\r“Bahwa pertemuan seorang hamba dengan Allah dengan setiap dosa yang selain dosa syirik itu lebih baik baginya daripada dia bertemu Allah dengan ilmu kalam”.Sebenarnya lafaz di atas tidak thabit dari al-Imam al-Shafi^i. Lafaz yang thabit dari beliau ialah sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh al-Hafiz Ibn ^Asakir di dalam kitabnya Tabyin Kadhibil-Muftari[1] :\rلأن يلقى الله عزّ وجلّ العبدُ بكل ذنب ما خلا الشرك خير له من أن يلقاه بشىء من هذه الأهواء:\r“Bahwa pertemuan seorang hamba dengan Allah azza wa-jall dengan setiap dosa yang selain dosa syirik itu lebih baik baginya daripada dia bertemu Allah dengan sesuatu yang muncul daripada hawa nafsu (al-ahwa’)”.","part":1,"page":60},{"id":61,"text":"Kata-kata al-Imam al-Shafi^i yang diriwayatkan oleh al-Hafiz Ibn ^Asakir di atas menjelaskan pendirian yang sebenarnya dari al-Imam al-Shafi^i terhadap ilmu kalam. Sebenarnya perkara yang ditentang dan ditolak oleh al-Imam al-Shafi^i ialah ilmu kalam golongan al-Ahwa’ iaitu ilmu kalam golongan yang menyeleweng daripada ajaran Ahlus-Sunnah wal-Jama^ah seperti golongan al-Mujassimah, al-Mu^tazilah, Jabbariyyah dan yang sebagainya. Adapun ilmu kalam golongan Ahlus-Sunnah wal-Jama^ah maka itu tidak ditentang dan tidak ditolak al-Imam al-Shafi^i.\rAl-Imam al-Hafiz Ibn ^Asakir menyatakan dalam kitabnya Tabyin Kadhibil-Muftari[2]:\rوالكلامُ المذموم كلام أصحاب الأهوية وما يزخرفه أرباب البدع المُرْدية فأما الكلام الموافق للكتاب والسنة الموضح لحقائق الأصول عند ظهور الفتنة فهو محمود عند العلماء ومن يعلمه وقد كان الشافعي يحسنه ويفهمه وقد تكلم مع غير واحد ممن ابتدع وأقام الجحة عليه حتى انقطع:","part":1,"page":61},{"id":62,"text":"“Dan perbahasan kalam yang dicela ialah perbahasan kalam golongan Ahwiyyah (pengikut hawa nafsu yang juga digelari sebagai Ahlul-Ahwa’) dan sesuatu yang dianggap baik oleh ahli bidaah yang menyeleweng. Adapun perbahasan kalam yang selaras dengan al-Kitab (al-Quran) dan al-Sunnah yang menjelaskan hakikat-hakikat usul (tauhid) ketika munculnya fitnah (ketika berkeliarannya golongan sesat) maka ini suatu hal yang terpuji di menurut para ulama dan siapa yang mengetahuinya. Sesungguhnya al-Imam al-Shafi^i menguasai dengan baik dan memahami bahasan kalam ini, dan beliau juga membahas atau berbicara dengan ilmu kalam dengan seorang daripada golongan yang telah melakukan bidaah kalam dan beliau telah dapat mengalahkan hujah atas ahli bidaah tersebut sehingga putus”.\rAl-Imam al-Hafiz al-Bayhaqi telah meriwayatkan dalam kitabnya al-Asma’ was-Sifat[3] perdebatan panjang yang berlaku di antara al-Imam al-Shafi^i dengan seorang yang berfahaman Mu^tazilah yang bernama Hafs al-Fard sehingga al-Imam al-Shafi^i dapat mematahkan hujah-hujah lawannya. Perdebatan ini jelas membuktikan bahawa al-Imam al-Shafi^i seorang yang mahir dan pakar dalam ilmu kalam.","part":1,"page":62},{"id":63,"text":"Selain itu, al-Imam al-Hafiz al-Bayhaqi berkata dalam kitabnya Manaqib al-Shafi^i[4]bahawa beliau membaca suatu hikayat yang ada dalam kitab Abu Nu^aym al-Asbahani daripada al-Sahib ibn ^Abbad bahwa dia menyebut dalam kitabnya dengan isnad beliau daripada Ishaq bahawa dia (Ishaq) berkata: “Ayahku berkata kepadaku: “Pada suatu hari al-Shafi^i berbicara dalam ilmu kalam dengan sebagian fuqaha’ lalu beliau menghaluskannya dan menelitinya, bersungguh dan bersusah-payah dengan bahasannya. Lalu aku berkata kepada beliau: “Wahai Abu ^Abdullah! Ini adalah milik ahli kalam (mutakallimun) bukannnya milik ahli halal dan haram (fuqaha’). Lalu dia berkata:\rأحكمنا ذاك قبل هذا:\r“Kami telah menyempurnakan perkara itu (ilmu kalam) sebelum perkara ini (ilmu fiqh; hukum halal dan haram)”.\rIlmu kalam menurut Ahlus-Sunnah wal-Jama^ah al-Asha^irah dan al-Maturidiyyah adalah salah satu nama di antara nama-nama yang merujuk kepada ilmu tauhid. Namun, sebagian pihak seperti golongan al-Wahhabiyyah coba2 membedakan ilmu kalam dengan ilmu tauhid tanpa sebab yang kuat. Mereka menuduh bahawa ilmu kalam Ahlus-Sunnah al-Ashairah dan al-Maturidiyyah ini mengajar falsafah yang berbelit-belit dan bukannya mengajar ilmu tauhid. Tuduhan seperti ini acap kali dikeluarkan oleh syaikh wahabi dalam banyak tulisan dan ucapannya dengan bertaqlid kepada pendapat beberapa orang tokoh kegemarannya tanpa hujah dan bukti yang kukuh.","part":1,"page":63},{"id":64,"text":"Siapalah mereka syaikh wahabi yang mencela ilmu kalam al-Asha^irah jika dibandingkan dengan ketokohan dan keilmuan al-Imam al-Hafiz Ibn ^Asakir dan al-Imam al-Hafiz al-Bayhaqi yang membela ilmu kalam Ahlus-Sunnah wal-Jama^ah al-Asha^irah dan al-Maturidiyyah! inilah kerapuhan salafy yang mencela ilmu kalam.\r________________________________________\r[1] Ibn ^Asakir, Tabyin Kadhibil-Muftari, Dar al-Kitab al-^Arabi, Beirut, hlm. 337.[2] Ibid, hlm. 339.[3] Al-Bayhaqi, al-Asma’ was-Sifat, Dar Ihya’ al-Turath al-^Arabi, Beirut, hlm. 252.[4] Al-Bayhaqi, Manaqib al-Shafi^i, Dar al-Nasr lit-Tiba^ah, Kaherah, juz. 1, hlm. 457.\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/khazanahpesantren/posts/10151277429022000\r2258. TEMPAT MENGUNGSINYA JIN\rPERTANYAAN :\rJagad Abie Yakhsa\rBenarkah air terutama air sungai pada waktu malam hari dikuasai oleh jin ? mohon penjelasannya, matur suwun...\rJAWABAN :\r1. Ubaid Bin Aziz Hasanan\rYang benar itu bila malam hari itu tempat jin, maka dari itu makruhkan kencing atau berak di air yang tidak mengalir, dan sangat makruh bila di malam hari karena di tempati jin, lihat khasiyah al bujairomi ala khotib 2/137 :","part":1,"page":64},{"id":65,"text":"( وَيُجْتَنَبُ ) نَدْبًا ( الْبَوْلُ ) وَالْغَائِطُ ( فِي الْمَاءِ الرَّاكِدِ ) لِلنَّهْيِ عَنْ الْبَوْلِ فِيهِ حَدِيثُ مُسْلِمٍ وَمِثْلُهُ الْغَائِطُ بَلْ أَوْلَى ، وَالنَّهْيُ فِي ذَلِكَ لِلْكَرَاهَةِ وَإِنْ كَانَ الْمَاءُ قَلِيلًا لِإِمْكَانِ طُهْرِهِ بِالْكَثْرَةِ وَفِي اللَّيْلِ أَشَدُّ كَرَاهَةً ؛ لِأَنَّ الْمَاءَ بِاللَّيْلِ مَأْوَى الْجِنِّ ، ، أَمَّا الْجَارِي فَفِي الْمَجْمُوعِ عَنْ جَمَاعَةٍ الْكَرَاهَةُ فِي الْقَلِيلِ مِنْهُ دُونَ الْكَثِيرِ ، وَلَكِنْ يُكْرَهُ فِي اللَّيْلِ لِمَا مَرَّ\r2. Mbah Godek\rأسنى المطالب في شرح روض الطالب (1/ 48) أَمَّا الْجَارِي الْكَثِيرُ فَلَا يُكْرَهُ فيه ذلك لَكِنَّ الْأَوْلَى اجْتِنَابُهُ وقال في الْكِفَايَةِ يُكْرَهُ بِاللَّيْلِ لِأَنَّ الْمَاءَ بِاللَّيْلِ مَأْوَى الْجِنِّ\rAdapun air yang banyak dan mengalir maka tidak dimakruhkan buang hajat disitu akan tetapi lebih utamanya dihindari saja. Aan berpendapatlah (imam nawawi) didalam kitab kifayah bahwa hal itu dimakruhkan jika malam hari karena air diwaktu malam adalah tempat mengungsinya jin\rتحفة المحتاج في شرح المنهاج (2/ 210) وَيُكْرَهُ فِي الْمَاءِ بِاللَّيْلِ مُطْلَقًا كَالِاغْتِسَالِ لِمَا قِيلَ أَنَّهُ مَأْوَى الْجِن\rDimakruhkan buang hajat diair (sungai atau lobang yang ada airnya) diwaktu malam secara mutlak begitu juga mandi karena ada pendapat bahwa air diwaktu malam adalah tempatnya jin.\r3. Mazz Rofii","part":1,"page":65},{"id":66,"text":"حاشية إعانة الطالبين (1/ 130) (قوله: وأن لا يقضي حاجته إلخ) ويندب أن لا يقضي حاجته - بولا كانت أو غائطا - في ماء مباح راكد، للنهي عن البول في حديث مسلم، ومثله الغائط بل أولى، والنهي في ذلك للكراهة، وإن كان الماء قليلا لامكان طهره بالكثرة. وفي الليل أشد كراهة، لان الماء بالليل مأوى الجن\r4. Sunde Pati\rالاقناع في حل ألفاظ أبى شجاع (1/ 51) القول في آداب قاضي الحاجة (ويجتنب) ندبا (البول) والغائط (في الماء الراكد) للنهي عن البول فيه في حديث مسلم ومثله الغائط بل أولى، والنهي في ذلك للكراهة وإن كان الماء قليلا لامكان طهره بالكثرة وفي الليل أشد كراهة لان الماء بالليل مأوى الجن\rPendapat tentang tata cara yang sopan untuk buang hajat. Disunnahkan saat buang hajat entah kencing atau berak itu menjauhi di air yang tidak mengalir karena ada larangan kencing di air tersebut dalam hadis muslim, begitu juga lebih-lebih berak.sedangkan larangan tersebut adalah makruh walaupun pada air yang sedikit karena masih memungkinkan untuk buat sesuci dengan air banyak, dan pada malam hari malah lebih makruh karena air di malam hari adalah tempat mengungsinya jin.\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/558011094221703/\r2282. ARTIS DENGAN PERAN KAFIR MUSYRIK ?\rPERTANYAAN :\rHuurul Aini Addaroin\rAssalamu'alaikum, apakah akting seorang artis saat berperan mnyembah & memuja \"dewata / sang hyang widi\", termasuk pemusyrikan ?\rJAWABAN :\rKhodim Piss-Ktb II","part":1,"page":66},{"id":67,"text":"Wa'alaikum salam. Termasuk musyrik. Sebab aktingnya tersebut tidak dalam kondisi dharurat, serta masih bisa diperankan dalam alur 'dialog' (qauli). Sedangkan dalam mukaffirat qauli masih ada toleransi pembolehan selama tidak didapati unsur istihza (pelecehan simbol keagamaan).\rTindakan murtad adalah persoalan vital yang ada pembolehannya sebatas dalam keadaan dharurat. Pura-pura bukanlah bagian dari dharurat. Thalaq yang dilakukan dengan main-main akan tetap jatuh thalaq. Berikut penjelasan lebih lengkap dari hasil bahtsu masail FMPP Jawa-Madura di Jombang, Januari 2010 :\rDeskripsi Masalah : - MUKAFFIRAT DALAM DUNIA AKTING - Program sinetron di stasiun televisi adalah sebuah upaya memvisualkan beragam cerita, baik kisah nyata, fiktif maupun kisah-kisah sejarah masa lalu. Skenario dan akting menjadi komponen penting dalam sinetron. Skenario dengan model apapun menuntut akting maksimal dari pemeran. Seorang artis yang diplot memerankan pejuang Nasrani dalam sebuah sinetron, semisal, kadang mereka harus mencaci ‘Nabi Muhammad’, menginjak-injak ‘mushaf’ dan perbuatan biadab lainnya. Dari sinilah muncul problematika, dan hal ini tidak lepas dari adanya persimpangan penilaian dunia intertainment dan agama, masing-masing memiliki ‘urf’ berbeda. Padahal di sisi lain referensi yang kita kenal dalam kutub as-salaf hanya mengenalkan pola ‘hikayah’ dan hanya menampilkan contoh ucapan di dalamnya.\rPertanyaan : Apakah dihukumi murtad, artis memerankan lakon yang menuntut dia melakukan hal-hal seperti di atas ? [ Panitia FMPP ].","part":1,"page":67},{"id":68,"text":"Jawab : Memandang bahwa contoh-contoh dalam diskripsi masalah jelas-jelas hal-hal yang menyebabkan kufur, maka untuk memerankan lakon yang sifatnya \"fi'lu (pekerjaan)\" hukumnya murtad, sebab tidak dalam kondisi darurat dan alur cerita bisa di suguhkan dalam bentuk \"qouli\" sedangkan untuk lakon yang sifatnya \"qouli\" ( dialog ) hukumnya boleh selama tidak ada tujuan istihza' (pelecehan terhadap simbol-simbol agama).\r(وسجود لمخلوق) اختيارا من غير خوف ولو نبيا وإن أنكر الإستحقاق أو لم يطابق قلبه جوارحه لأن ظاهر حاله يكذبه وفي الروضة عن التهذيب من دخل دار الحرب فسجد لصنم أو تلفظ بكفر ثم ادعى إكراها فإن فعله في خلوته لم يقبل أو بين أيديهم وهو أسير قبل قوله أو تاجر فلا وخرج بالسجود الركوع لأن صورته تقع في العادة للمخلوق كثيرا بخلاف السجود\rقال شيخنا نعم يظهر أن محل الفرق بينهما عند الإطلاق بخلاف ما لو قصد تعظيم مخلوق بالركوع كما يعظم الله تعالى به فإنه لا شك في الكفر حينئذ اهـ\r(وسجود لمخلوق) معطوف على نفي صانع أي وكسجود لمخلوق سواء كان صنما أو شمسا أو مخلوقا غيرهما فيكفر به لأنه أثبت لله شريكا . قال في الاعلام: سواء كان السجود في دار الحرب أم في دار الإسلام بشرط أن لا تقوم قرينة على عدم استهزائه أو عذره وما في الحلية عن القاضي عن النص أن المسلم لو سجد للصنم في دار الحرب لم يحكم بردته ضعيف وواضح أن الكلام في المختار اهـ\r(قوله اختيارا ) خرج المكره كأن كان في دار الحرب وأكرهوه على السجود لنحو صنم وقوله من غير خوف لا حاجة إليه لأنه يغني عنه ما قبله ( قوله ولو نبيا ) أي ولو كان المخلوق نبيا فإنه يكفر بالسجود له ( قوله وإن أنكر الاستحقاق ) أي يكفر بالسجود للمخلوق وإن أنكر استحقاقه له واعتقد أنه مستحق لله تعالى خاصة\rالكتاب : إعانة الطالبين ج4 ص136\r.","part":1,"page":68},{"id":69,"text":"ومما له علاقة بهذا الموضوع مسألة حكاية الكفر، وهو أن يحكي أو ينقل مسلم قولا كفريا عن غيره مع عدم إيمانه بهذا القول الكفري أو تصديقه له، وإنما كانت هذه الحكاية أو النقل لغرض ما كأن يريد بيان حال القائل، أو غيره من القصود التي تختلف وتتنوع باختلاف وتنوع المكان والزمان والأحوال، فمن كان هذا حاله هل يكفر بهذه الحكاية أو لا؟\rلقد ناقش فقهاء الإسلام هذه المسألة وبينوا ألا تكفير في حكاية الكفر، فمن حكى قولا كفريا لايكفر به قال النووي في المجموع: \"لا يصير المسلم كافرا بحكايته الكفر\", وقال ابن مفلح في الفروع: \"ولا يكفر من حكى كفرا سمعه ولا يعتقده، ولعل هذا إجماع\".\rهذا وقد شرط بعضهم كالغزالي أن لا تقع الحكاية إلا في مجلس الحاكم، لكن قال ابن حجر الهيتمي: \"وفيه نظر بل ينبغي أنه حيث كان في حكايته مصلحة جازت\", ولهذا يحكي العلماء الحكايات الكفرية في كتاب الردة من الفقه، وفي الكتب العقدية وهم على هذا الحال منذ القدم دون نكير، ولو كانت الحكاية كفرا لما فعله العلماء وهذا يعني الإجماع على جواز ذلك وعد الكفر به، لكن ينبغي أن نفرق هنا بين مقامين: الأول حكاية الكفر قولا وهذا ما سبق الحديث عنه، والثاني حكايته فعلا كأن يشهد شاهد على آخر بأنه أخذ المصحف وداس عليه أو رآه يسجد لصنم ونحو هذا ففي هذه الحالة لا تجوز الحكاية بأن يقوم الشاهد ويحاكي تلك الأفعال، لأن الغرض معرفة الفعل وقد حصلت بالقول، كما أن فيه تكريرا للمنكر بغير داع.\rالكتاب : التكفير حكمه وضوابطه والغلو فيه ج1 ص40\rقوله : ( هي قطع الإسلام ) أي بعد وجوده حقيقة فخرج المنتقل لأنه يبلغ المأمن والزنديق والمنافق لعدم سبق الإسلام لهما وولد المرتد كذلك , ولكن لهم حكم المرتد فيما سيأتي ويعتبر في القطع المذكور كونه عمدا بلا عذر كما يأتي , فيخرج من سبق لسانه إليه أو وقع منه عن اجتهاد أو ذكره حاكيا له وإن حرمت حكايته عنه غير القاضي ولغير نحو تعليم","part":1,"page":69},{"id":70,"text":"الكتاب : حاشية قليوبي ج4 ص175\r(وحاصل أكثر تلك العبارة يرجع إلى أن كل عقد) بفتح أوله وسكون ثانيه أي اعتقاد (أو فعل أو قول) موصوف كل واحد منها بكونه (يدل على استهانة) ممن صدر منه (أو استخفاف بالله) سبحانه وتعالى (أو) بشيء من (كتبه) المائة والأربعة المارة (أو) بأحد من (أنبيائه) وفي نسخة بخط المؤلف أو رسله والأولى أعم (أو ملائكته) المجمع عليهم كما مر (أو) بشيء من (شعائره) جمع شعيرة وهي العلامة أي علامات دينه كالكعبة والمساجد فقوله رحمه الله تعالى (أو معالم دينه) بمعنى الشعائر كما قاله السيوطي (أو) بشيء من (أحكامه) تعالى أي أحكام دينه كالصلاة والصوم والحج والزكاة (أو) بشيء من (وعده) بالثواب للمطيع (أو) من (وعيده) بالعقاب لمن كفر به وعصاه (كفر) خبر أن أى إن قصد قائل ذلك الاستخفاف أو الاستهزاء بذلك أو معصية محرمة شديدة التحريم إن لم يقصد ذلك.\rالكتاب : إسعاد الرفيق ص61\rقوله أو حكاية قال الغزالي لا يجوز حكاية ذلك من الشاهد إلا عند القاضي ولو صرح بكلمة الردة وزعم تورية حكى الإمام عن الأصوليين أنه يكفر ظاهرا وباطنا للاستخفاف ا ه عميرة وهذا الكلام موضح في الزركشي فراجعه وانظر هل كزعم التورية ما لو زعم حكاية ولم يأت بأداة الحكاية كأن قال ثالث ثلاثة وزعم أنه قصد حكاية قول الكفار مال الطبلاوي إلى أنه كزعم التورية للاستخفاف وعبارة الزركشي ذكر في الإحياء أنه ليس له حكاية إلا في مجلس الحكم ومال الطبلاوي إلى أن المراد أن الأولى تركه وأنه لا يحرم قال وصورة حكايته أن يقول قال فلان كذا وكالشاهد في مجلس الحكم المستفتي والمفتي ونحوهما كما هو ظاهر ا هـ سم\rالكتاب : حاشية الجمل ج5 ص123\rWallaahu a'lam bishowaab\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/568528393169973","part":1,"page":70}],"titles":[{"id":1,"title":"Piss-Ktb (16)","lvl":1,"sub":0}]}