{"pages":[{"id":1,"text":"HASIL KEPUTUSAN BAHTSUL MASAIL FMPP SE-JAWA MADURA XXVIII\rDi PP. Lirboyo Kota Kediri Jatim 15-16 April 2015 M / 25-26 Jumadil Akhir 1436 H.\rKomisi A\rJalsah Ula\rMUSHOHIH KH. M. Mahin Thoha KH. Muhibbul Aman KH. Azizi Hasbullah KH. Atho’illah S. Anwar KH. Sunandi KH. Munir Akromin Agus Iffatul Latho`if Agus Abdul Mu’id Shohib Agus Syamsul Mu’in\rPERUMUS Agus HM. Sa’id Ridlwan Agus H. Fahim Ruyani Agus H. Abdurrohman Kautsar Agus Abdul Wahab yahya Bpk. Zahro Wardi Bpk. Rofiq Ajhuri Bpk. M. Khoid Afandi Bpk. Muh. Anas Bpk. A. Walid Fauzi Bpk. Abdullah AN.\rMODERATOR Bpk. Mudaimullah Azza NOTULEN 1. Bpk. Amin Taqiyuddin 2. Bpk. M. Zainul Millah\r1. ANCAMAN RADIKALISME GLOBAL (PANITIA)","part":1,"page":1},{"id":2,"text":"Deskripsi Masalah Radikalisme adalah suatu paham yang menghendaki adanya perubahan/pergantian terhadap suatu sistem di masyarakat sampai ke akarnya, jika perlu dilakukan dengan menggunakan cara-cara kekerasan. Atau menginginkan adanya perubahan total terhadap suatu kondisi atau semua aspek kehidupan masyarakat. Di Indonesia, aksi kekerasan (teror) yang terjadi selama ini kebanyakan dilakukan oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan/mendompleng agama tertentu. Agama dijadikan tameng oleh mereka untuk melakukan aksinya. Selain itu mereka juga memelintir sejumlah pengertian dari kitab suci. Teks agama dijadikan dalih oleh mereka untuk melakukan tindak kekerasan atas nama jihad. Di antara yang paling terlihat baru-baru ini adalah ISIS. Negara Islam Irak dan Syiria (ISIS) dikenal sebagai Negara Islam yang berorientasi di Irak dan Syiria, juga merupakan kelompok militan jihad atau negara baru yang tidak diakui. ISIS dideklarasikan oleh Abu Bakar al-Baghdadi pada tanggal 9 April 2013 M. Awalnya para Mujahidin ketika itu terdiri dari dari lima jama’ah jihad yang berbeda, dipelopori oleh jama’ah jihad Al Qaeda di Irak telah bersama-sama menghadapi Amerika, dengan tujuan agar terjadinya keseragaman dalam menghadapi musuh, hingga akhirnya lahirlah ISIS. Sejarah Singkat berdirinya ISIS Negara Islam Irak dan Suriah ISIS merupakan kelompok Jihadis yang aktif di Irak dan Suriah. ISIS dibentuk pada April 2013 dan cikal bakalnya berasal dari al-Qaida di Irak (AQI), tetapi kemudian dibantah oleh al-Qaida. Demikiran reportase yang dikutip dari laman BBC Indonesia. Kelompok ini menjadi","part":1,"page":2},{"id":3,"text":"kelompok jihad utama yang memerangi pasukan pemerintah di Suriah dan membangun kekuatan militer di Irak. Huruf \"S\" dalam singkatan ISIS berasal dari bahasa arab \"al-Sham\", yang merujuk ke wilayah Damaskus (Suriah) dan Irak. Tetapi dalam konteks jihad global disebut Levant yang Lirboyo, 15-16 April 2015 M / 25-26 Jumadil Akhir 1436 H.\rMerujuk kepada wilayah di Timur Tengah yang meliputi Israel, Yordania, Lebanon, wilayah Palestina, dan juga wilayah Tenggara Turki. Jumlah mereka tidak diketahui secara pasti, tetapi diperkirakan memiliki ribuan pejuang, termasuk jihadis asing. Koresponden BBC mengatakan tampaknya ISIS akan menjadi kelompok jihadis yang paling berbahaya setelah al-Qaida. Siapa Abu Bakr al-Baghdadi ? Organisasi ini dipimpin oleh Abu Bakr al-Baghdadi. Hanya sedikit yang mengetahui tentang dia, tetapi dia diyakini lahir di Samarra, bagian utara Baghdad, pada 1971 dan bergabung dengan pemberontak yang merebak sesaat setelah Irak diinvasi oleh AS pada 2003 lalu. Pada 2010 dia menjadi pemimpin al-Qaida di Irak, salah satu kelompok yang kemudian menjadi ISIS. Baghdadi dikenal sebagai komandan perang dan ahli taktik, analis mengatakan hal itu yang membuat ISIS menjadi menarik bagi para jihadis muda dibandingkan al-Qaeda, yang dipimpin oleh Ayman alZawahiri, seorang teolog Islam. Prof Peter Neumann dari King's College London memperkirakan sekitar 80% pejuang Barat di Suriah telah bergabung dengan kelompok ini. ISIS mengklaim memiliki pejuang dari Inggris, Prancis, Jerman, dan negara Eropa lain, seperti AS, dunia Arab dan negara Kaukakus. Sumber dana Tak seperti","part":1,"page":3},{"id":4,"text":"pemberontak di Suriah, ISIS tampak akan mendirikan kekhalifahan Islam di Suriah dan Irak. Kelompok ini tampak berhasil membangun kekuatan militer. Pada 2013 lalu, mereka menguasai Kota Raqqa di Suriah - yang merupakan ibukota provinsi pertama yang dikuasai pemberontak. Juni 2014, ISIS juga menguasai Mosul, yang mengejutkan dunia. AS mengatakan kejatuhan kota kedua terbesar di Irak merupakan ancaman bagi wilayah tersebut. Kelompok ini mengandalkan pendanaan dari individu kaya di negara-negara Arab, terutama Kuwait dan Arab Saudi, yang mendukung pertempuran melawan Presiden Bashar al-Assad. Saat ini, ISIS disebutkan menguasai sejumlah ladang minyak di wilayah bagian timur Suriah, yang dilaporkan menjual kembali pasokan minyak kepada pemerintah Suriah. ISIS juga disebutkan menjual benda-benda antik dari situs bersejarah. ISIS menguasai kota Raqqa dan kota utama Mosul di Irak utara. Prof Neumann yakin sebelum menguasai Mosul pada Juni lalu, ISIS telah memiliki dana serta aset senilai US$900 juta dollar, yang kemudian meningkat menjadi US$2 milliar. Kelompok itu disebutkan mengambil ratusan juta dollar dari bank sentral Irak di Mosul. Dan keuangan mereka semakin besar jika dapat mengontrol ladang minyak di bagian utara Irak. Kelompok ini beroperasi secara terpisah dari kelompok jihad lain di Suriah, al-Nusra Front, afiliasi resmi al-Qaeda di negara tersebut, dan memiliki hubungan yang \"tegang\" dengan pemberontak lain. Baghdadi mencoba untuk bergabung dengan alNusra, yang kemudian menolak tawaran tersebut. Sejak itu, dua kelompok itu beroperasi secara terpisah. Zawahiri telah","part":1,"page":4},{"id":5,"text":"mendesak ISIS fokus di Irak dan meninggalkan Suriah kepada al-Nusra, tetapi Baghdadi dan pejuangnya menentang pimpinan al-Qaida. Di Suriah, ISIS menyerang pemberontak lain dan melakukan kekerasan terhadap warga sipil pendukung opoisisi Suriah. Tentang ISIS : 1. Memiliki interpretasi Ideologi ekstrem garis keras Islam dan ekstrim anti Barat. 2. Meyakini sebagai otoritas sah yang dapat melakukan kepemimpinan perang jihad melawan negara-negara non Muslim dan menyerukan kepada seluruh umat Islam untuk mengikuti. 3. Membina kaum Muslim untuk menegakkan syariat demi berdirinya cita-cita khilafah. 4. Mempromosikan kekerasan agama dengan Menerapkan hukuman mati massal terhadap para tawanan, melakukan pembantaian jalanan dll. 5. Menganggap mereka yang tidak setuju dengan tafsirannya sebagai kafir dan murtad. 6. Sebagian sumber pendapatan berasal dari hasil penculikan, pemerasan harta jarahan terhadap Muslim syiah atau non Muslim yang menurut mereka sebagai fai’ atau ghânimah dan kegiatan lainnya secara rutin.\r??Pertanyaan :?? ?? ?a. Apa status “ISIS” menurut pandangan syari’at?? ??\rJawaban :?? ??Status ISIS menurut pandangan syari’at adalah kelompok gerakan islam yang dianggap bertentangan?? ??dengan ajaran islam ahlus sunah wal jama’ah??.\r??Adapun kesalahan isis dapat ditinjau dari tiga aspek :?? ??","part":1,"page":5},{"id":6,"text":"1.…Dari aspek tujuan politik (siyasah), sebagaimana penjelasan dalam deskripsi yaitu berencana akan?? ??menegakkan hukum islam dapat digolongkan dalam kelompok pemberontak (ahli baghyi). Adapun?? ??agenda politik yang sebenarnya ingin dicapai oleh mereka, perlu ada kajian lebih mendalam.??\r2.…Dari aspek ideologi (aqidah), tergolong ahli bid’ah wad dlolal.?? ??\r3.…Dari aspek aksi (Harokah), tindakan kelompok ISIS dalam mewujudkan tujuan politiknya dengan?? ??kekerasan, seperti pembantaian massal, perampasan harta, penganiaan kepada sesame muslim,?? ??sebagaimana dalam deskripsi adalah tergolong tindakan kejahatan berat dalam hukum islam.?? ??\rb. Bagaimana pesantren menyikapi gerakan Islam radikal sebagaimana deskripsi di atas?? ??Jawaban :?? ??Menjalankan amar ma’ruf nahi munkar dengan memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai?? ??penyimpangan kelompok isis sebagaimana dalam deskripsi serta menguatkan doktrin aswaja?? ??dimasyarakat dan melakukan upaya pencegahan perkembangan kelompok ISIS dilingkungan masing????masing??\r1. المجموع شرح المهذب جزء 19 صحيفة 197 ما نصه :\rأما الأحكام فإنه إذا بغت على الإمام طائفة من المسلمين - إلى أن قال - ولاتثبت هذه الأحكام فى حقهم إلا بشروط توجد فيهم - إلى أن قال - الشرط الثالث أن يكون لهم تأويل سائغ - إلى أن قال - فإذا لم يكن لهم تأويل سائغ فحكمهم حكم قطاع الطريق.\r2. الباجورى على ابن قاسم جزء 2 صحيفة 254 ما نصه :","part":1,"page":6},{"id":7,"text":"(و) الثالث (أن يكون لهم) أى للبغاة (تأويل سائغ) أى محتمل كما عبر به بعض الأصحاب كمطالبة بعض صفين بدم عثمان (قوله تأويل) أى بأن يتمسكوا بشيء من الكتاب أو السنة ليأخذوا بظاهره ويستندوا إليه (وقوله سائغ) مهملة في أوله وفسره الشارح بقوله أى محتمل للصحة بحسب الظاهر وهو باطل\r3. الببجيرمى على الخطيب الجزء الرابع ص : 233 دار الفكر\rتنبيه: يشترط فى التأويل أن يكون فاسدا لا يقطع بفساده بل يعتقدون به جواز الخروج كتأويل الخارجين من أهل الجمل والصفين على على رضى الله تعالى عنه بأنه يعرف قتلة عثمان رضى الله تعالى عنه ولا يقتص منهم لمواطأته إياهم وتأويل بعض مانعى الزكاة من أبى بكر رضى الله تعالى عنه بأنهم لا يدفعون الزكاة إلا لمن صلاته سكن لهم أى دعاؤهم رحمة لهم وهو النبى صلى الله عليه وسلم فمن فقدت فيه الشروط المذكورة بأن خرجوا بلا تأويل كمانعى حق الشرع كالزكاة عنادا أو بتأويل يقطع بطلانه كتأويل المرتدين أو لم تكن لهم شوكة بأن كانوا أفرادا يسهل الظفر بهم أو ليس فيهم مطاع فليسوا بغاة لانتفاء حرمتهم فيترتب على أفعالهم مقتضاها على تفصيل فى ذى الشوكة يعلم مما يأتى حتى لو تأولوا بلا شوكة وأتلفوا شيئا ضمنوه مطلقا كقطاع الطريق\r4. الأشباه والنظائر - (ج 1 / ص 488)\rقاعدة قال الشافعي لا يكفر أحد من أهل القبلة واستثنى من ذلك المجسم ومنكر علم الجزئيات وقال بعضهم المبتدعة أقسام الأول ما نكفره قطعا كقاذف عائشة رضي الله عنها ومنكر علم الجزئيات وحشر الأجساد والمجسمة والقائل بقدم العالم الثاني مالا نكفره قطعا كالقائل بتفضيل الملائكة على الأنبياء وعلي على أبي بكر الثالث والرابع ما فيه خلاف والأصح التكفير أو عدمه كالقائل بخلق القرآن صحح البلقيني التكفير والأكثرون عدمه وساب الشيخين صحح المحاملي التكفير والأكثرون عدمه\r5. الإعلام بقواطع الإسلام صحـ 340-343","part":1,"page":7},{"id":8,"text":"ومعنى كفر الرجل أخاه نسبته إياه إلى الكفر وصيغة الخبر نحو أنت كافر أو بصيغة النداء نحو ياكافر أو باعتقاد ذلك فيه كاعتقاد الخوارج تكفير المؤمنين بالذنوب وليس من ذلك تكفير جماعة من أهل السنة أهل الأهواء لما قام عندهم من الدليل على ذلك\r6. تحفة الحبيب على شرح الخطيب ـ مشكول )12 /374)\rقوله : ( وأما الخوارج ) وهم صنف من المبتدعة قائلون : بأن من أتى كبيرة كفر وحبط عمله وخلد في النار وأن دار الإسلام بظهور الكبائر فيها تصير دار كفر وإباحة . ا هـ . ز ي .\r7. حاشية البجيرمي على الخطيب - (ج 12 / ص 313)\rفصل : في قاطع الطريق الأصل فيه آية { إنما جزاء الذين يحاربون الله ورسوله } وقطع الطريق هو البروز لأخذ مال أو لقتل أو لإرعاب مكابرة اعتمادا على القوة مع البعد عن الغوث ويثبت برجلين لا برجل وامرأتين وقاطع الطريق ملتزم للأحكام ولو سكران أو ذميا مختار مخيف للطريق يقاوم من يبرز هو له بأن يساويه أو يغلبه بحيث يبعد معه غوث لبعد عن العمارة أو ضعف في أهلها وإن كان البارز واحدا أو أنثى أو بلا سلاح وخرج بالقيود المذكورة أضدادها فليس المتصف بها أو بشيء منها من حربي ولو معاهدا وصبي ومجنون ومكره ومختلس ومنتهب قاطع طريق وقد علم مما تقرر أنه لا يشترط فيه إسلام وإن شرطه في المنهاج كأصله ، ولو دخل جمع بالليل دارا ومنعوا أهلها من الاستغاثة مع قوة السلطان وحضوره فقطاع .\r1. قواعد الأحكام الجزء الأول ص : 77","part":1,"page":8},{"id":9,"text":"المثال السادس والثلاثون التقرير على المعاصي كلها مفسدة لكن يجوز التقرير عليها عند العجز عن إنكارها باليد واللسان ومن قدر على إنكارها مع الخوف على نفسه كان إنكاره مندوبا إليه ومحثوثا عليه لأن المخاطرة بالنفوس في إعزاز الدين مأمور بها كما يعذر بها في قتال المشركين وقتال البغاة المتأولين وقتال مانعي الحقوق بحيث لا يمكن تخليصها منهم إلا بالقتال وقد قال عليه السلام \"أفضل الجهاد كلمة حق عند سلطان جائر\" جعلها أفضل الجهاد لأن قائلها قد جاد بنفسه كل الجود بخلاف من يلاقي قرنه من القتال فإنه يجوز أن يقهره ويقتله فلا يكون بذله نفسه مع تجويز سلامتها كبذل المنكر نفسه مع يأسه من السلامة .\r2. الأشباه والنظائر ص: 414\rومنها الامر بالمعروف والنهى عن المنكر ولا يختص بأرباب الولايات ولا بالعدل ولا بالحر ولا بالبالغ ولا يسقط بظن انه لا يفيد او علم ذلك عادة ما لم يخف على نفسه أو ماله أو على غيره مفسدة أعظم من ضرر المنكر الواقع إهـ\r3. بغية المسترشدين ص : 251 - 252 دار الفكر","part":1,"page":9},{"id":10,"text":"(مسألة ج) ونحوه ى الأمر بالمعروف والنهى عن المنكر قطب الدين فمن قام به من أى المسلمين وجب على غيره إعانته ونصرته ولا يجوز لأحد التقاعد عن ذلك والتغافل عنه وإن علم أنه لا يفيد وله أركان: الأول المحتسب وشرطه الإسلام والتمييز ويشترط لوجوبه التكليف فيشمل الحر والعبد والغنى والفقير والقوى والضعيف والدنىء والشريف والكبير والصغير ولم ينقل عن أحد أن الصغير لا ينكر على الكبير وأنه إساءة أدب معه بل ذلك عادة أهل الكتاب نعم شرط قوم كونه عدلا ورده آخرون وفصل بعضهم أن يعلم قبول كلامه أو تكون الحسبة باليد فيلزمه وإلا فلا وهو الحق ولا يشترط إذن السلطان الثانى ما فيه الحسبة وهو كل منكر ولو صغيرة مشاهد فى الحال الحاضر ظاهر للمحتسب بغير تجسس معلوم كونه منكرا عند فاعله فلا حسبة للآحاد فى معصية انقضت نعم يجوز لمن علم بقرينة الحال أنه عازم على المعصية وعظه ولا يجوز التجسس إلا إن ظهرت المعصية كأصوات المزامير من وراء الحيطان ولا لشافعى على حنفى فى شربه النبيذ ولا لحنفى على شافعى فى أكل الضب مثلا الثالث المحتسب عليه ويكفى فى ذلك كونه إنسانا ولو صبيا ومجنونا الرابع نفس الاحتساب وله درجات التعريف ثم الوعظ بالكلام اللطيف ثم السب والتعنيف ثم المنع بالقهر والأولان يعمان سائر المسلمين والأخران مخصوصان بولاة الأمور زاد ج وينبغى كون المرشد عالما ورعا حسن الخلق إذ بها تندفع المنكرات وتصير الحسبة من القربات وإلا لم يقبل منه بل ربما تكون الحسبة منكرة لمجاوزة حد الشرع\r4. حاشية الجمل على شرح المنهج الجزء الخامس ص : 182 - 183 دار الفكر","part":1,"page":10},{"id":11,"text":"(وبأمر ب ونهى عن منكر) أى الأمر بواجبات الشرع والنهى عن محرماته إذا لم يخف على نفسه أو ماله أو على غيره مفسدة أعظم من مفسدة المنكر الواقع (قوله ونهى عن منكر) والإنكار يكون باليد فإن عجز فباللسان فعليه أن يغيره بكل وجه أمكنه ولا يكفى الوعظ لمن أمكنه إزالته باليد ولا كراهة القلب لمن قدر على النهى باللسان ويستعين عليه بغيره إذا لم يخف فتنة من إظهار سلاح وحرب ولم يمكنه الاستقلال فإن عجز عنه رفع ذلك إلى الوالى فإن عجز عنه أنكره بقلبه إهـ من الروض وشرحه (قوله إذا لم يخف على نفسه أو ماله الخ) عبارة شرح م ر وشرط وجوب الأمر بال أن يأمن على نفسه وعضوه وماله وإن قل كما شمله كلامهم بل وعرضه كما هو ظاهر وعلى غيره بأن يخاف عليه مفسدة أكثر من مفسدة المنكر الواقع ويحرم مع الخوف على الغير ويسن مع الخوف على النفس والنهى عن الإلقاء باليد إلى التهلكة مخصوص بغير الجهاد ونحوه كمكره على فعل حرام غير زنا وقتل وأن يأمن أيضا أن المنكر عليه لا يقطع نفقته وهو محتاج إليها ولا يزيد عنادا ولا ينتقل إلى ما هو أفحش وسواء فى لزوم الإنكار أظن أن المأمور يمتثل أم لا انتهت\r?2) RENTAL PLAY STATION (PP. MANBA’UL HIKAM – MANTENAN BLITAR??\r??Deskripsi Masalah?? ??Demi memenuhi kebutuhan hidupnya banyak cara yang ditempuh seseorang dalam berusaha. Di?? ??antaranya dengan menyediakan penyewaan Play Station (PS). Bagi para penggila game, permainan ini?? ??cukup banyak digemari, utamanya dari kalangan anak-anak. Tarif sewa PS pada umumnya dibanderol Rp.?? ??2000,00 per-jam untuk PS 2 dan Rp.5000,00 per-jam untuk PS 3. Rental PS ini dinilai cukup menyita?? ??waktu anak-anak di usia belia yang selayaknya diarahkan untuk tekun belajar.??\r??Pertanyaan :?? ?? ?a. Bagaimana hukum berbisnis penyewaan PS??","part":1,"page":11},{"id":12,"text":"??Jawaban :?? ??Bisnis penyewaan PS termasuk transaksi ijaroh shohihah dan diperbolehkan selama tidak disertai?? ??dengan hal-hal yang diharamkan seperti meninggalkan shalat dsb.?? ??Catatan : bisnis dengan anak kecil menurut kalangan hanafiyyah dan sebagian syafi’iyyah diperbolehkan.?? ??\rb. Bagaimana hukum uang yang dihasilkan ?\rJawaban : Hukumnya halal, akan tetapi apabila ada dugaan kuat akan menimbulkan hal-hal yang negative seperti meninggalkan shalat, dll. maka menjadi syubhat.\r? c. Bagaimana sikap yang harus dilakukan orang tua terhadap anaknya yang sering main PS ? Apakah harus melarangnya ?\rJawaban : Permainan PS atau GAME ada dua macam :\r1.…Permainan yang mengandung unsur edukasi atau melatih ketangkasan dan kecerdasan otak, maka hukumnya boleh dengan syarat tidak ada unsur judi (qimar) dan tidak melalaikan kewajiban.\r2.…Permainan yang tidak mengandung edukasi sama sekali, tetapi hanya bersifat adu nasib?? ??sebagaimana permainan dadu, dll. Maka hukumnya haram, dan orang tua wajib melarang anak?? ??mereka.?? ??Dengan demikian orang tua harus membatasi dan mengawasi anak mereka dalam bermain PS agar?? ??tidak ketagihan yang berdampak melalaikan kewajiban atau merusak akhlak.??\r?\r5. اعانة الطالبين للعلامة أبى بكر السيد البكرى بن محمد شطا الدمياطى الجزء : 3 صحـ 110\rإنما تصح الإجارة فى منفعة وذكر لها أربعة شروط كونها متقومة وكونها معلومة وكونها واقعة للمكترى وكونها غير متضمة استفاء عين قصدا\r6. أسنى المطالب في شرح روض الطالب (2 /406)","part":1,"page":12},{"id":13,"text":"ولو استأجر الشجرة وفي نسخة الشجر لظلها أي للاستظلال بظلها أو الربط بها أو طائرا للأنس بصوته كالعندليب أو لونه كالطاوس جاز لأن المنافع المذكورة مقصودة متقومة وترجيح الجواز في الثلاثة من زيادته لا بياعا على كلمة لا تعب فيها وإن روجت السلعة إذ لا قيمة لها لكن إن تعب فيها بتردد أو كلام فله أجرة المثل واستشكل بأن ذلك غير معقود عليه فهو متبرع به وقد يجاب بأنه لما كان المعقود عليه لا يتم إلا به عادة نزل منزلته ويصح الاستئجار فيما يقتضي التعب من الكلمات كما في بيع الثياب والعبيد ونحوهما مما يختلف ثمنه باختلاف المتعاقدين وهذا تصريح بما أفهمه قوله لا تعب فيها وصنعه أولى من صنع أصله حيث جعل هذا مفيدا لحكم ذاك ويصح الاستئجار في الهرة لدفع الفأر والشبكة والفهد والبازي للصيد إذ لمنافعها قيمة لا في الكلب لصيد أو حراسة زرع أو ماشية أو درب أو غيره إذ لا قيمة لمنفعته شرعا ولأن اقتناءه ممنوع إلا لحاجة وما جوز للحاجة لا يجوز أخذ العوض عليه كركوب البدنة المهداة\r7. الإنصاف الجزء السادس ص 90","part":1,"page":13},{"id":14,"text":"(فائدتان) إحداهما في كراهة لعب غير معين على عدو وجهان وأطلقهما في الفروع قلت الأولى الكراهة اللهم إلا أن يكون له في ذلك قصد حسن قال في المستوعب وكل ما يسمى لعبا مكروه إلا ما كان معينا على قتال العدو ذكره ابن عقيل واقتصر عليه وذكر في الوسيلة يكره الرقص واللعب كله ومجالس الشعر وذكر ابن عقيل وغيره يكره لعبه بأرجوحة ونحوها وقال أيضا لا يمكن القول بكراهة اللعب مطلقا وقال الآجري في النصيحة من وثب وثبة مرحا ولعبا بلا نفع فانقلب فذهب عقله عصى وقضى الصلاة وقال الشيخ تقي الدين رحمه الله يجوز ما قد يكون فيه منفعة بلا مضرة قال في الفروع وظاهر كلامه لا يجوز اللعب المعروف بالطاب والنقيلة وقال الشيخ تقي الدين أيضا كل فعل أفضى إلى محرم كثيرا حرمه الشارع إذا لم يكن فيه مصلحة راجحة لأنه يكون سببا للشر والفساد وقال أيضا وما ألهى وشغل عما أمر الله به فهو منهي عنه وإن لم يحرم جنسه كبيع وتجارة ونحوها الثانية يستحب اللعب بآلة الحرب\r8. الفقه الإسلامي وأدلته جـ 4 صـ 215","part":1,"page":14},{"id":15,"text":"ضابط ما يجوز وما يحرم من اللهو واللعب عند الشافعية :الضابط المميز للهو واللعب عند الشافعية: هو أن كل ما لا يترك أثراً نافعاً فهو مباح، وكل ما يترك أثراً ضاراً فهو حرام. وأساس التفرقة في أنواع اللعب: هو أن ما يقوم على تشغيل الذهن وتحريك الفكر كالشطرنج فهو مكروه، وكل ما يقوم على المصادفة وحجب الفكر والعقل كالنرد فهو حرام. وعلى هذا يكون الاسترسال في مجالس اللهو والمزاح مكروهاً ، فإن انضم إليه الكذب أو التهاون في الأخلاق فهو حرام. وتكون مجالس الغناء المقرونة بالآلات الموسيقية حراماً، والشطرنج مكروه لأنه رياضة للذهن، فإن فوت الواجبات الدينية فهو حرام، ولعب الشدَّة أو الورق مكر وه لأنه يلهي عن ذكرالله ويصبح حراماً إن كان على شرط المال. والنرد حرام ولو بغير قمار أو عوض مالي لاعتماده على المصادفة، وذلك يترك أثراً ضاراً في النفس؛ لأنه يجعل العقل يتخيل كون المصادفة مؤثرة في أعمال الحياة.\r9. اسعاد الرفيق الجزء الثانى ص 101 الهداية\rومنها اللعب بنحو الطاب من كل ما فيه حزر وتخمين وهو ان يأخذ اربع قصبات اوجريدات لكل واحدة بطن وظهر فيرمى بها ثم ينظر كم فيها بطنا وكم فيها ظهرا ثم يترتب عليه ما اتفقا عليه او اقتضته قاعدة هذا اللعب فليس فيه اعتماد على حساب ولا فكر البتة وانما هو على ما تخرجه تلك من ظهر وثلاثة بطون او عكسه او بطنين وظهرين او محض بطون او عكسه وجزم الأذرعى بحرمته كالنرد وهو واضح جلي لا غبار عليه واعتمده الزركشى وغيره\r10. تقريرات السديدة ص 52\rحكم تصرفاته: لا تصح تصرفاته لأنه مسلوب العبارة والولاية. وقيل: يصح بيعه إذا كان بإذن وليه. وقيل: يصح في المحقرات ولو بغير إذن وليه.\r11. بغية المسترشدين - (ج 1 / ص 256)","part":1,"page":15},{"id":16,"text":"فائدة : قال في القلائد : نقل أبو فضل في شرح القواعد عن الجوري الإجماع على جواز إرسال الصبي لقضاء الحوائج الحقيرة وشرائها ، وعليه عمل الناس بغير نكير ، ونقل في المجموع صحة بيعه وشرائه الشيء اليسير عن أحمد وإسحاق بغير إذن وليه وبإذنه حتى في الكثير عنهما ، وعن الثوري وأبي حنيفة ، وعنه رواية ولو بغير إذنه ، ويوقف على إجازته ، وذاكرت بذلك بعض المفتين فقال : إنما هو في أحكام الدنيا ، أما الآخرة إذا اتصل بقدر حقه بلا غبن فلا مطالبة اهـ.\r12. الفقه الإسلامى وأدلته الجزء الخامس ص : 419 (دار الفكر)\rوقال الشافعية والحنابلة: تعتبر التصرفات المالية من الصبى مميزا أو غير مميز باطلة لكن الشافعية قالوا لا تصح تصرفات المميز وإن أذن له الولى ويعتبر إذن الصبى المميز فى إذن الدخول وإيصال الهدية ويصح إحرامه بإذن وليه وتصح عبادته وله إزالة المنكر ويثاب عليه كالبالغ كما يعتبر إسلامه كإسلام سيدنا على كرم الله وجهه أما الحنابلة فقالوا يصح تصرف المميزبإذن الولى وينفك عنه الحجرفىما أذن له فيه من تجارةوغيرها ويصح إقراره فيما أذن له فيه\r1. إحياء علوم الدين )2 /111(\rوأما مثال اللواحق : فهو كل تصرف يفضي في سياقه إلى معصية وأعلاه بيع العنب من الخمار وبيع الغلام من المعروف بالفجور بالغلمان وبيع السيف من قطاع الطريق وقد اختلف العلماء في صحة ذلك وفي حل الثمن المأخوذ منه والأقيس أن ذلك صحيح والمأخوذ حلال والرجل عاص بعقده كما يعصي بالذبح بالسكين المغصوب والذبيحة حلال ولكنه يعصي عصيان الإعانة على المعصية إذ لا يتعلق ذلك بعين العقد فالمأخوذ من هذا مكروه كراهية شديدة وتركه من الورع المهم وليس بحرام\r2. بغية المسترشدين ص : 126 (دار الفكر)","part":1,"page":16},{"id":17,"text":"(مسألة ى) كل معاملة كبيع وهبة ونذر وصدقة لشىء يستعمل فى مباح وغيره فإن علم أو ظن أن آخذه يستعمله فى مباح كأخذ الحرير لمن يحل له والعنب للأكل والعبد للخدمة والسلاح للجهاد والذب عن النفس والأفيون والحشيشة للدواء والرفق حلت هذه المعاملة بلا كراهة وإن ظن أنه يستعمله فى حرام كالحرير للبالغ ونحو العنب للسكر والرقيق للفاحشة والسلاح لقطع الطريق والظلم والأفيون والحشيشة وجوزة الطيب لاستعمال المخدر حرمت هذه المعاملة وإن شك ولا قرينة كرهت وتصح المعاملة فى الثلاث لكن المأخوذ فى مسئلة الحرمة شبهته قوية وفى مسئلة الكراهة أخف\r1. إسعاد الرفيق ج 1 صـ 73\r(يجب على ولي الصبي والصبية المميزين ان يأمرهما بالصلاة) ولو قضاء وبغيرهما من أمور الشرع الظاهرة ولو سنة كسواك وبنهاهما عن منهياته ولو مكروها كالشرب قائما\r2. إحياء علوم الدين (2/ 175، بترقيم الشاملة آليا)\r\" وكما يجب منع الصبي من شرب الخمر - لا لكونه مكلفاً، لكن لأنه يأنس به، فإذا بلغ عسر عليه الصبر عنه - فكذلك شهوة التزين بالحرير تغلب عليه إذا اعتاده، فيكون ذلك بذراً للفساد يبذر في صدره، فتنبت منه شجرة من الشهوة راسخة يعسر قلعها بعد البلوغ\r3. إسعاد الرفيق الجزء الثانى صـ 101 – 102","part":1,"page":17},{"id":18,"text":"(ومنها اللعب بالنرد) ويسمى النرد شير بالشين المعجمة والراء نسبة لأول ملوك الفرس لأنه اول من وضع له وهو حرام كما فى الأم وجرى عليه الأصحاب والشيخان وغيرهما وقيل مكروه وزيف بان الأخبار صريحة فى التحريم بل فى كونه كبيرة فلايعول عليه كيف وقدقال القرطبى اتفاق العلماء على تحريم اللعب به قال - صلى الله عليه وسلم - من لعب بالنردشير فقد عصى الله ورسوله -الى ان قال- وحكمة تحريمه ان فيه حرزا وتخمينا فيؤدى للتخاصم والفتن التى لاغاية لها ففطم الناس عنه حذرا من الشرور المترتبة عليه وكل ما كان كذلك فهوحرام واما اللعب بالشطرنج فالمعتمد عندنا انه مكروه وحرام عند الأكثر وكذا عندنا ان لعبه مع من يعتقد تحريمه او اقترن به قمار اواخراج صلاة عن وقتها اوسباب اونحوذلك من الفواخش الغالبة على اهله وماورد من الأحاديث الدالة على التحريم فليس فيها حديث صحيح ولاحسن بل اقلها الضعيف واكثرها المنكر كماقاله الحفاظ ولذا قال الحافظ ابن حجر العسقلانى وغيره لم يثبت فى الشطرنج عن النبى - صلى الله عليه وسلم - شىء وما ورد عن بعض الصحابة من ذمه فغير صحيح كما بينه ابن حجر فى كف الرعاع قال فيه وقياسه على النرد ممنوع للفرق بينهما اذ هو موضوع لصحة الفكروصواب التدبير ونظام السياية فهو معين على تدبير الحروب والحساب والنرد موضوع لما يشبه الالزام - الى ان قال - (و) منها اللعب بنحو ذلك من (كل ما فيه قمار) وصورته المجمع عليها ان يخرج العوض من الجانبين مع تكافئهما وهو المراد من الميسر فى الاية ووجه حرمته ان كل واحد متردد بين ان يغلب صاحبه فيغرم فان عدلا عن ذلك الى حكم السبق والرمى بان ينفرد احد اللاعبين باخراج العوض ليأخذ منه ان مغلوبا وعكسه ان كان غالبا فالأصح حرمته ايضا والفرق بينه هنا وبين جوازه فى المسابقة ان الغرض فيها الحذق فى الفروسسية والرماية بخلافه فى الشطرنج اذ ليس فيه كبير غرض - الى ان قال- قال فى كف الرعاع وحقيقة","part":1,"page":18},{"id":19,"text":"اللعب بالخاتم والجوز والمداحة لااعرفها ولكن قد علمت ان الضابط الذى عليه المعول ان ما كان معتمده الحساب والفكر حلال وماكان معتمده الحزر والتخمين حرام فان وجد فى شىء من ذلك حزر وتخمين فحرام على المعتمد.\r4. فتح المعين مع إعانة الطالبين الجزء الرابع ص: 285 دار الفكر\rواللعب بالشطرنج بكسر أوله وفتحه معجما ومهملا مكروه إن لم يكن فيه شرط مال من الجانبين أو أحدهما أو تفويت صلاة ولو بنسيان بالاشتغال به أو لعب مع معتقد تحريمه وإلا فحرام ويحمل ما جاء في ذمه من الأحاديث والآثار على ما ذكر (وقوله فحرام) وجه الحرمة في الصورة الأولى أن فيها اشتراط المال من الجانبين وهو قمار وفي الثانية أن فيها اشتراط مال من أحدهما وهو وإن كان ليس بقمار عقد مسابقة فاسدة لأنه على غير آلة قتال وتعاطي العقود الفاسدة حرام\r5. نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج (28/ 284)\r( ويحرم اللعب بالنرد على الصحيح ) لخبر مسلم { من لعب بالنرد فكأنما غمس يده في لحم خنزير ودمه } وفي رواية لأبي داود { فقد عصى الله ورسوله } وهو صغيرة ، وفارق الشطرنج بأن معتمده الحساب الدقيق والفكر الصحيح ففيه تصحيح الفكر ونوع من التدبير ، ومعتمد النرد الحزر والتخمين المؤدي إلى غاية من السفاهة والحمق .","part":1,"page":19},{"id":20,"text":"قال الرافعي ما حاصله : ويقاس بهما ما في معناهما من أنواع اللهو ، فكل ما اعتمد الحساب والفكر كالمنقلة حفر أو خطوط ينقل منها وإليها حصى بالحساب لا يحرم ومحلها في المنقلة إن لم يكن حسابها تبعا لما يخرجه الطاب الآتي وإلا حرمت ، وكل ما معتمده التخمين يحرم ، ومن القسم الثاني كما أفاده السبكي والزركشي وغيرهما لطاب وهو عصى صغار ترمى وينظر للونها ويرتب عليه مقتضاه الذي اصطلحوا عليه ، ومن ذلك أيضا الكنجفة ، ويجوز اللعب بالحمام والخاتم حيث خليا عن عوض ، لكن متى كثر الأول ردت به الشهادة لما عرف من أهله من خلعهم جلباب الحياء والمروءة والتعصب ، ويقاس بهم ما كثر واشتهر من أنواع حدثت كالجري وحمل الأحمال الثقيلة والنطاح بنحو الكباش وغير ذلك من أنواع اللهو والسفه ، ومقابل الصحيح أنه مكروه فقط ( ويكره ) اللعب ( بشطرنج ) بكسر أوله وفتحه معجما ومهملا لأنه يلهي عن الذكر والصلاة في أوقاتها الفاضلة بل كثيرا ما يستغرق فيه لاعبه حتى يخرجها عن وقتها وهو حينئذ فاسق غير معذور بنسيانه كما ذكره الأصحاب.\rوالحاصل أن الغفلة نشأت من تعاطيه الفعل الذي من شأنه أن يلهي عن ذلك فكان كالمتعمد لتفويته ، ويجري ذلك في كل لهو ولعب مكروه مشغل للنفس ومؤثر فيها تأثيرا يستولي عليها حتى تشتغل به عن مصالحها الأخروية ، ومحل ما تقرر من الكراهة إذا لعبه مع معتقد حله وإلا حرم كما رجحه جمع متأخرون لإعانته على معصية حتى في ظن الشافعي لأنا نعتقد أنه يلزمه العمل باعتقاد إمامه ، وإنما اعتبر في الحاكم اعتقاد نفسه لا الخصم لأنه ملزم ، ولو نظرنا لاعتقاد الخصم تعطل القضاء ، ولأنه يلزمه الإنكار عليه لما مر أن من فعل ما يعتقد حرمته يجب الإنكار عليه ولو ممن يعتقد إباحته\rJalsah Tsalitsah??\r?MODERATOR?? ??KH. M. Najib Abdul Ghoni?? ??NOTULEN?? ??1. Bpk. Amin Taqiyuddin?? ??2. Bpk. M. Zainul Millah??","part":1,"page":20},{"id":21,"text":"??PERUMUS?? ??Bpk. KH. Sunandi?? ??Bpk. Zahro Wardi?? ??Bpk. Ridlwan Qoyyum?? ??Bpk. Abdul Wahab?? ??Bpk. M. Khoid Afandi?? ??Bpk. Muh. Anas?? ??Bpk. A. Walid Fauzi?? ??Bpk. Abdullah AN.?? ??Bpk. M. Makhsus??\r??MUSHOHIH?? ??KH. M. Arsyad Bushoiri?? ??KH. Atho’illah S. Anwar?? ??KH. Muhibbul Aman?? ??KH. Badrul Huda?? ??KH. Misbahul Munir?? ??KH. Bahrul Munir?? ??KH. Munir Akromin?? ??K. Ma’shum??\r?3.…PROBLEMATIKA BERTAMU (III TSANAWIYYAH MHM LIRBOYO?? ??Deskripsi Masalah?? ??Rasulullah Saw bersabda :?? ?من كان يؤمن بالله واليوم الخر فليكرم ضيفه? ??”Barang siapa yang beriman (sempurna) pada Allah Swt dan hari akhir, maka hendaknya memuliakan?? ??tamunya”.?? ??Demikianlah penghargaan dan penghormatan yang sangat sempurna, sekira menghormati tamu?? ??merupakan bagian dari kesempurnaan seorang mukmin. Sementara tuan rumah kadang memiliki?? ??rutinitas aurad atau amaliyah pada waktu tertentu baik berdasarkan ijazah atau inisiatif sendiri yang?? ??terkadang lumayan panjang. Tidak jarang saat melakukan rutinitas tersebut, bersamaan dengan?? ??datangnya para tamu yang hendak menemuinya. Terkadang ada tamu datang mengucapkan salam,?? ??namun tuan rumah dalam kondisi lelah, tidak siap menerima tamu. Kadang tuan rumah juga tak?? ??berkenan menemui tamu karena berbagai hal seperti tamu yang menagih hutang. Sementara di?? ??Indonesia, salam berfungsi ganda sekaligus sebagai “pengetuk pintu” yang ketika dijawab, berarti?? ??dipahami tuan rumah siap menerima kedatangannya.?? ??\rPertanyaan :?? ?? ?a. Mana yang lebih utama antara menemui tamu dan melaksanakan rutinitas wazhifah tertentu??","part":1,"page":21},{"id":22,"text":"??Jawaban :?? ??Lebih utama melanjutkan wadzifahnya manakala tamunya masih dalam rangka meminta izin. Dan bila?? ??sudah di izinkan menjadi tamu, maka yang lebih utama meninggalkan wadzifahnya.??\r??b. Ketika ada tamu mengucapkan salam sementara tuan rumah dalam kondisi lelah, tidak siap atau?? ??tidak mau menerima tamu, apakah termasuk ‘udzur yang menggugurkan kewajiban menjawab?? ?? ?salam??\r??Jawaban :?? ??Termasuk udzur disaat salam itu disampaikan pada situasi yang tidak dianjurkan (mathlub), seperti?? ??meminta izin (isti’dzan) sementara tidak diketahui dalam rumah itu ada orang atau tidak, atau yang?? ??memberi salam tahu bahwa tuan rumah dalam kondisi tidak patut\r?? ?? ?c. Sebatas mana memuliakan tamu yang dimaksud dalam hadits di atas??\r??Jawaban :?? ??Sebatas pelayanan yang memadahi dengan mempertimbangkan tradisi yang berlaku dan tidak?? ??memberatkan tuan rumah, seperti menemui tamu dengan wajah yang ramah, menghidangkan suguhan?? ??semampunya, dll.?? ??\r1. فيض القدير - (ج 3 / ص 228)","part":1,"page":22},{"id":23,"text":"3053 (الاستئذان) للدخول وهو استدعاء الإذن أي طلبه (ثلاث) من المرات (فإن أذن لك فادخل وإلا) أي وإن لم يؤذن لك (فارجع) لأنه سبحانه وتعالى أمر بالاستئذان بقوله * (فلا تدخلوها حتى يؤذن لكم) * قال ابن العربي رحمه الله تعالى ولا يتعين هذا اللفظ-الى أن قال- صورة الاستئذان أن يقول السلام عليكم أدخل ؟ ثم هو مخير بين أن يسمي نفسه أو لا قال ابن العربي : ولا يتعين هذا اللفظ وفيه انه لا يجوز الزيادة في الاستئذان على الثلاثة نعم إن علم أنه لم يسمع زاد على الأصح عند الشافعية وحكمة كون الاستئذان ثلاثا تكفل ببيانها الحديث الآتي على أثره وفيه أن لرب المنزل إذا سمع الاستئذان أن لا يأذن إذا كان في شغل ديني أو دنيوي كذا قيده الحافظ ابن حجر وليس على ما ينبغي بل الصواب فك القيد.\r3054 (الاستئذان ثلاث) من المرات (فالأولى تستمعون) بالتاء المثناة الفوقية أوله بضبط المصنف أي يستمعون أهل المنزل الاستئذان عليهم (والثانية يستصلحون) أي يصلحون المكان ويسوون عليهم ثيابهم ونحو ذلك (والثالثة يأذنون) للمستأذن عليهم (أو يردون) عليه بالمنع\r2. الفتوحات الربانيات على شرح الأذكار - النووي (ص: 154-155)\rفصل : في أحوال تعرض للذاكر يستحب له قطع الذكر بسببها ثم يعود إليه بعد زوالها) : منها إذا سلم عليه رد السلام ثم عاد إلى الذكر ، وكذا إذا عطس عنده عاطس شمته ثم عاد إلى الذكر، وكذا إذا سمع الخطيب ، وكذا إذا سمع المؤذن أجابه في كلمات الأذان والإقامة ثم عاد إلى الذكر ، وكذا إذا رأى منكرا أزاله ، أو معروفا أرشد إليه ، أو مسترشدا أجابه ثم عاد إلى الذكر ، كذا إذا غلبه النعاس أو نحوه.وما أشبه هذا كله","part":1,"page":23},{"id":24,"text":"(قوله وما اشبه ذلك) اي من كل أمر مهم عرض والاشتغال به يمنع من الذكر الاهمية فيه اما لكونه يفوت أو لعظيم فائدته وكثرة مصلحته كالأمر بالمعروف ونحوه على ان القصد من الذكر انما هو عمارة الجنان بذكر الرحمن والقائم بأوامره من أرباب هذه المقام قال الجنيد الصادق يتقلب في اليوم أربعين مرة والمراعي يثبت على حالة واحدة أربعين سنة قال المصنف في شرح المهذب معناه أن الصادق يدور مع الحق حيث دار فإذا كان الفضل الشرعي في الصلاة مثلا صلى وإذا كان في مجالسة العلماء والصالحين والضيفان والعيال وقضاء حاجة مسلم وجبر قلب مكسور ونحو ذلك فعل ذلك الأفضل وترك عادته: وكذلك الصوم والقراءة والذكر والأكل والشرب والجد والمزح والاختلاط والاعتزال والتنعم والا بتذال والمرائي بضد ذلك ولا يترك عادته فهو مع نفسه لا مع الحق اهـ وقال في كتابه بستان العارفين الذي جمعه قال في الرقائق وتوافى قبل اكمال معناه ان الصادق مع الحق كيف كان فإذا كان الفضل في أمر عمل به وإن خالف ما كان عليه وخالف عادته وإذا عارض أهم منه في الشرع ولا يمكنه الجمع بينهما انتقل الى الأفضال ولا يزال هكذا وربما كان في اليوم الواحد عمل مائة حال او ألف أو أكثر على حسب تمكنه من المعارف وظهور الدقائق واللطائف قال وأما المراعي فيلزم حالة واحدة بحيث لو عرض له مهم يرجحه الشرع عليها في بعض الأحوال لم يأت بهذا المهم بل يحافظ على حالته لأنه يراعي بعبادته وحالته المخلوقين فيخاف من التغيير ذهاب محبتهم إياه فيحافظ على بقائها والصادق يريد بعبادته وجه الله تعالى فحيث رجح الشرع حالا صار إليه ولا يعرج على المخلوقين أهـ وقريب من عبارة الجنيد هذه في وصف العارف فقال لون الماء لون الاناء أي ان يكون في كل حال بما هو اولى به فيختلف حاله باختلاف الأحوال كاختلاف لون الماء لاختلاف لون الأناء وقد بسط القونوي في شرح التعرف","part":1,"page":24},{"id":25,"text":"3. تذكير الناس للحبيب الإمام العارف بالله أحمد ابن حسن بن عبد الله العطاس ص 117\rوقال سيدي رضي الله عنه : لبعض زائريه من السادة العلويين إذا جاءني أحد ممن أحبه أترك أورادي وأجلس معه, وكان بعض السلف وهو السيد علوي بن عبد الله العيدروس صاحب ثبي يقول : الأوراد تقضى, ومجالسة الإخوان لا تقضى.\r4. بغية المسترشدين ص: 67\r(فائدة): يندب تأخير الصلاة عن أول وقتها في سبع وعشرين صورة: الصبي علم بلوغه أثناء الوقت بالسن، ولمن غلبه النوم مع سعة الوقت، ومن رجا زوال عذره قبل فوات الجمعة، ومن تيقن الجماعة، ولدائم حدث رجا الانقطاع، وللخروج من الأمكنة التي تكره فيها الصلاة، ولمن عنده ضيف حتى يطعمه ويؤويه،\r1. تفسير الفخر الرازى - (ج 1 / ص 312)\rالسؤال الأول : الاستئناس عبارة عن الأنس الحاصل من جهة المجالسة ، قال تعالى ولا مستأنسين لحديث ، وإنما يحصل ذلك بعد الدخول والسلام فكان الأولى تقديم السلام على الاستئناس فلم جاء على العكس من ذلك ؟","part":1,"page":25},{"id":26,"text":"والجواب : عن هذا من وجوه : أحدها : ما يروى عن ابن عباس وسعيد بن جبير ، إنما هو حتى تستأذنوا فأخطأ الكاتب ، وفي قراءة أبي : حتى تستأذنوا لكم والتسليم خير لكم من تحية الجاهلية والدمور ، وهو الدخول بغير إذن واشتقاقه من الدمار وهو الهلاك كأن صاحبه دامر لعظم ما ارتكب ، وفي الحديث \"من سبقت عينه استئذانه فقد دمر ، واعلم أن هذا القول من ابن عباس فيه نظر لأنه يقتضي الطعن في القرآن الذي نقل بالتواتر ويقتضي صحة القرآن الذي لم ينقل بالتواتر وفتح هذين البابين يطرق الشك إلى كل القرآن وأنه باطل وثانيها : ما روي عن الحسن البصري أنه قال إن في الكلام تقديماً وتأخيراً ، والمعنى : حتى تسلموا على أهلها وتستأنسوا ، وذلك لأن السلام مقدم على الاستئناس ، وفي قراءة عبدالله : حتى تسلموا على أهلها وتستأذنوا ، وهذا أيضاً ضعيف لأنه خلاف الظاهر وثالثها : أن تجري الكلام على ظاهره. ثم في تفسير الاستئناس وجوه : الأول : حتى تستأنسوا بالإذن وذلك لأنهم إذا استأذنوا وسلموا أنس أهل البيت ، ولو دخلوا بغير إذن لاستوحشوا وشق عليهم الثاني : تفسير الاستئناس بالاستعلام والاستكشاف استفعال من آنس الشيء إذا أبصره ظاهراً مكشوفاً ، والمعنى حتى تستعلموا وتستكشفوا الحال هل يراد دخولكم. ومنه قولهم استأنس هل ترى أحداً ، واستأنست فلم أر أحداً أي تعرفت واستعلمت ، فإن قيل وإذا حمل على الأنس ينبغي أن يتقدمه السلام كما روي أنه عليه الصلاة والسلام كان يقول : \"السلام عليكم أأدخل\" قلنا المستأذن ربما لا يعلم أن أحداً في المنزل فلا معنى لسلامه والحالة هذه ، والأقرب أن يستعلم بالاستئذان هل هناك من يأذن ، فإذا أذن ودخل صار مواجهاً له فيسلم عليه والثالث : أن يكون اشتقاق الاستئناس / من الإنس وهو أن يتعرف هل ثم إنسان ، ولا شك أن هذا مقدم على السلام والرابع : لو سلمنا أن الاستئناس إنما يقع بعد السلام ولكن الواو لا توجب الترتيب ، فتقديم","part":1,"page":26},{"id":27,"text":"الاستئناس على السلام في اللفظ لا يوجب تقديمه عليه في العمل.\r2. مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح - (ج 13 / ص 457)\rباب الاستئذان بسكون الهمز ويبدل ياء ومعناه طلب الإذن والأصل فيه قوله تعالى يا أيها الذين آمنوا لا تدخلوا بيوتا غير بيوتكم حتى تستأنسوا وتسلموا على أهلها النور الآيات قال الطيبي وأجمعوا على أن الاستئذان مشروع وتظاهرت به دلائل القرآن والسنة والأفضل أن يجمع بين السلام والاستئذان واختلفوا في أنه هل يستحب تقديم السلام أو الاستئذان والصحيح تقديم السلام فيقول السلام عليكم أدخل وعن الماوردي أن وقعت عين المستأذن على صاحب المنزل قبل دخوله قدم السلام وإلا قدم الاستئذان قلت وهو بظاهره يخالف ما سبق من حديث السلام قبل الكلام\rالفصل الأول عن أبي سعيد الخدري رضي الله تعالى عنه قال أتانا أبو موسى أي الأشعري قال أي أبو موسى استئناف بيان لعله الإتيان أن عمر رضي الله تعالى عنه أرسل إلي أن آتيه أي بأن أجيئه فأتيت بابه فسلمت ثلاثا أي ثلاث مرات غير متواليات على ما هو الظاهر من الأدب المتعارف والمراد به سلام الإيذان وهو قد يكون مع أدخل وقد يتجرد عنه اكتفاء وسيأتي بيان حكمة التثليث فلم يرد أي عمر أو أحد علي أي الجواب فرجعت أي لقوله تعالى وإن قيل لكم ارجعوا فارجعوا هو أزكى لكم النور والسكوت في هذا المقام دليل على الإعراض فهو في معنى الأمر بالرجوع فرجعت\r3. مغني المحتاج - (ج 5 / ص 249)\rولو كتب كتابا وسلم عليه فيه أو أرسل رسولا فقال : سلم على فلان فإذا بلغه خبر الكتاب والرسالة لزمه الرد ، وهل صيغة إرسال السلام مع الغير السلام على فلان أو يكفي سلم لي على فلان كما هو ظاهر ما مر ؟ يؤخذ من كلام التتمة الثاني ، وعبارته أنه لو ناداه من وراء ستر أو حائط وقال : السلام عليك يا فلان ، أو كتب كتابا وسلم عليه فيه أو أرسل رسولا فقال : سلم على فلان\r4. روضة الطالبين - (ج 10 / ص 231)","part":1,"page":27},{"id":28,"text":"الحادية عشرة قال المتولي ما يعتاده الناس من السلام عند القيام ومفارقة القوم دعاء وليس بتحية فيستحب الجواب عنه ولا يجب قلت هذا الذي قاله المتولي قاله شيخه القاضي حسين وقد أنكره الشاشي فقال هذا فاسد لأن السلام سنة عند الانصراف كما هو سنة عند القدوم واستدل بالحديث الصحيح في سنن أبي داود والترمذي أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال إذا انتهى أحدكم إلى المجلس فليسلم فإذا أراد أن يقوم فليسلم فليست الأولى بأحق من الآخرة قال الترمذي حديث حسن والله أعلم\r5. مغني المحتاج إلى معرفة ألفاظ المنهاج [17/ 254]\rو (لا) يسن ابتداؤه (على قاضي حاجة) للنهي عنه في سنن ابن ماجه، ولأن مكالمته بعيدة عن الأدب، والمراد بالحاجة حاجة البول والغائط، ولا على المجامع بطريق الأولى (و) لا على (آكل) - بالمد - لشغله به (و) لا على من (في حمام) لاشتغاله بالاغتسال، وهو مأوى الشياطين، وليس موضع تحية. واستثنى مع ذلك مسائل كثيرة، منها المصلي، ومنها المؤذن، ومنها الخطيب، ومنها الملبي في النسك، ومنها مستغرق القلب بالدعاء، وبالقراءة كما بحثه الأذرعي، ومنها النائم أو الناعس، ومنها الفاسق والمبتدع؛ لأن حالتهم لا تناسبه. والضابط كما قال الإمام أن يكون الشخص على حالة لا يجوز أو لا يليق بالمروءة القرب منه (ولا جواب) واجب (عليهم) لو أتي به لوضعه السلام في غير محله لعدم سنه. واستثنى الإمام من الأكل ما إذا سلم عليه بعد الابتلاع وقبل وضع لقمة أخرى فيسن السلام عليه ويجب عليه الرد، وكذا من كان في محل نزع الثياب في الحمام كما جرى عليه الزركشي وغيره.\r1. فيض القدير - (ج 1 / ص 417)\r(إذا جاءكم الزائر) أي المسلم الذي قصد زيارتكم (فأكرموه) ندبا مؤكدا ببشر وطلاقة وجه ولين جانب وقضاء حاجة وضيافة بما يليق بحال الزائر والمزور\r2. فتح الباري - ابن حجر (10 /446)","part":1,"page":28},{"id":29,"text":"ثم الأمر بالإكرام يختلف باختلاف الأشخاص والأحوال فقد يكون فرض عين وقد يكون فرض كفاية وقد يكون مستحبا ويجمع الجميع أنه من مكارم الأخلاق قوله ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليكرم ضيفه زاد في حديث أبي شريح جائزته قال وما جائزته يا رسول الله قال يوم وليلة والضيافة ثلاثة أيام الحديث وسيأتي شرحه بعد نيف وخمسين بابا في باب إكرام الضيف إن شاء الله تعالى\r3. إحياء علوم الدين - (ج 2 / ص 17)\rالخامس أن يقدم من الطعام قدر الكفاية فإن التقليل عن الكفاية نقص في المروءة والزيادة عليه تصنع ومراءاة لا سيما إذا كانت نفسه لا تسمح بان يأكلوا الكل إلا أن يقدم الكثير وهو طيب النفس لو أخذوا الجميع ونوى أن يتبرك بفضلة طعامهم\r4. فيض القدير - (ج 6 / ص 272)\r(ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر) أي يوم القيامة وصفه به لتأخره عن أيام الدنيا ولأنه أخر إليه الحساب والإيمان به تصديق ما فيه من الأحوال والأهوال (فليكرم ضيفه) الغني والفقير بطلاقة الوجه والإتحاف والزيارة وقد عظم شأن الجار والضيف حيث قرر حقهما بالإيمان بالله واليوم الآخر قال ابن تيمية : ولا يحصل الامتثال إلا بالقيام بكفايته فلو أطعمه بعض كفايته وتركه جائعا لم يكن له مكرما لانتفاء جزء الإكرام وإذا انتفى جزءه انتفى كله وفي كتاب المنتخب من الفردوس عن أبي الدرداء مرفوعا إذا أكل أحدكم مع الضيف فليلقمه بيده فإذا فعل ذلك كتب له به عمل سنة صيام نهارها وقيام ليلها ، ومن حديث قيس بن سعد من إكرام الضيف أن يضع له ما يغسل به حين يدخل المنزل ومن إكرامه أن يركبه إذا انقلب إلى منزله إن كان بعيدا ومن إكرامه أن يجلس تحته ، وأخرج ابن شاهين عن أبي هريرة يرفعه من أطعم أخاه لقمة حلوة لم يذق مرارة يوم القيامة\r5. دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين (2 /443)","part":1,"page":29},{"id":30,"text":"(ومن كان يؤمن با واليوم الآخر) إيماناً كاملاً (فليكرم ضيفه) الغني والفقير بحسن البشر والمبادرة بما تيسر عنده من الطعام من غير كلفة ولا إضرار بأهله إلا أن يرضوا وهم بالغون عاقلون، وعليه يحمل ما ورد من الثناء على الأنصاري وامرأته في إيثارهما الضيف على أنفسهما. والضيف لغة يشمل الواحد والجمع من أضفته وضيفته: إذا أنزلته بك ضيفاً، وضفته وتضيفته: إذا نزلت عليه ضيفاً\r6. تحفة الأحوذي - (ج 6 / ص 86)\r( أبصرت عيناي رسول الله صلى الله عليه و سلم وسمعته أذناي حين تكلم به ) فائدة ذكره التوكيد ( من كان يؤمن بالله واليوم الاخر ) المراد بقوله يؤمن الايمان الكامل وخصه بالله واليوم الاخر إشارة إلى المبدأ والمعاد أي من امن بالله الذي خلقه وامن بأنه سيجازيه بعمله ( فليكرم ضيفه ) قالوا إكرام الضيف بطلاقة الوجه وطيب الكلام والإطعام ثلاثة أيام في الأول بمقدوره وميسوره والباقي بما حضره من غير تكلف ولئلا يثقل عليه وعلى نفسه وبعد الثلاثة يعد من الصدقات إن شاء فعل وإلا فلا ( جائزته ) هي العطاء مشتقة من الجواز لأنه حق جوازه عليهم وانتصابه بأنه مفعول ثان للإكرام لأنه في معنى الاعطاء أو هو كالظرف أو منصوب بنزع الخافض أي بجائزته ( قال يوم وليلة ) أي جائزته يوم وليلة\r?)?4) “AKU INGIN JADI JUTAWAN“ (PP. TARBIYATUN NASYI’IN - PACULGOWANG?? ??","part":1,"page":30},{"id":31,"text":"Deskripi Masalah?? ??Akibat himpitan zaman, niat bekerja yang awalnya adalah untuk memenuhi kewajiban sebagai?? ??kepala keluarga berubah menjadi bekerja untuk kaya seperti semboyan para pengusaha “Aku Ingin?? ??Kaya”. Sebut saja pak Dino yang kesehariannya bekerja sebagai pedagang asongan. Pada suatu hari dia?? ??dititipi tahu bungkusan oleh tetangganya (Pak Angga). Pak Dino dititipi tahu bungkusan berisi 8 buah?? ??tahu dengan harga Rp. 2000 perbungkusnya dan pak Dino dititipi 21 bungkus. Pak Dino mendapat upah?? ??Rp 500 dari tiap bungkus. Ternyata Pak Dino merasa kurang akan upahnya. Akhirnya dengan tanpa?? ??sepengetahuan pak Angga, ia membongkar bungkusan tahu dan membungkus ulang dengan isi 6 buah?? ??tahu perbungkus. Secara otomatis, yang awalnya berjumlah 21 menjadi 28 bungkus. Berarti pak Dino?? ??mendapatkan keuntungan tambahan sebanyak 7 bungkus. Parahnya lagi pak Dino merubah harga jual?? ??yang tadinya Rp. 2000 menjadi Rp. 2500 perbungkus yang secara otomatis dia mendapatkan?? ??keuntungan tambahan sebanyak Rp. 500 dari setiap bungkusnya dan sekali lagi dia melakukan semua itu?? ??tanpa sepengetahuan pak angga, si empu tahu tersebut.?? ??\rPertanyaan :?? ?? ?a. Bolehkah tindakan sepihak Pak Dino mengotak-atik bungkusan dan harga tahu itu??\r??Jawaban :?? ??Tidak boleh kecuali hal itu tidak bertentangan dengan izin atau maksud pak angga (muwakkil).??\rApakah Pak Dino wajib membagi hasil jual dari bungkusan yang baru (tujuh bungkus) dan laba dari harga yang awalnya Rp. 2000 menjadi Rp.2500 kepada Pak Angga?\rJawaban :?? ??","part":1,"page":31},{"id":32,"text":"Ditafsil:?? ??1. Jika tidak mendapatkan izin dari pak Angga maka transaksi pak dino dengan para pembeli tergolong?? ??bai’ fasid yang konsekwensinya masing-masing wajib mengembalikan mabi’ dan tsaman atau?? ??penggantinya jika mabi’ atau tsaman tersebut telah rusak.?? ??\r2.…Jika telah mendapat izin dari pak Angga maka transaksinya dihukumi sah dan pak dino wajib?? ?)?menyerahkan semua hasil kepada pak Angga kecuali kadar yang di izini oleh pak Angga (muwakkil?? ??\r1. مغني المحتاج - (ج 8 / ص 351)\r( وإن قال بع ) هذا ( بمائة لم يبع بأقل ) منها ولو يسيرا وإن كان بثمن مثله ؛ لأنه مخالف للإذن وهذا بخلاف النقص عن ثمن المثل بما يتغابن به عند الإطلاق ؛ لأنه قد يسمى ثمن المثل بخلاف دون المائة لا يسمى مائة .\r( وله أن يزيد ) عليها ؛ لأن المفهوم من ذلك عرفا إنما هو منع النقص ، وقيل لا يزيد ؛ لأن المالك ربما كان له غرض في إبرار قسم ، وكما لو زاد في الصفة : بأن قال : بمائة درهم مكسرة فباع بمائة صحيحة .\rتنبيه : قوله : له يشعر بجواز البيع بالمائة وهناك راغب بزيادة وليس مرادا ، فإن الأصح في زيادة الروضة المنع ؛ لأنه مأمور بالاحتياط والغبطة ، فلو وجده في زمن الخيار لزمه الفسخ ، فلو لم يفسخ انفسخ المبيع قياسا على ما مر ( إلا أن يصرح بالنهي ) عن الزيادة فتمتنع ؛ لأن النطق أبطل حق العرف\r2. المجموع شرح المهذب - (ج 14 / ص 109)","part":1,"page":32},{"id":33,"text":"(فصل)ولا يملك الوكيل من التصرف إلا ما يقتضيه اذن الموكل من جهة النطق أو من جهة العرف لان تصرفه بالاذن فلا يملك الا ما يقتضيه الاذن والاذن يعرف بالنطق وبالعرف فان تناول الاذن تصرفين. وفى أحدهما اضرار بالموكل لم يجز ما فيه ضرار لقوله صلى الله عليه وسلم \" لا ضرر ولا ضرار \" فان تناول تصرفين وفى أحدهما نظر للموكل لزمه ما فيه النظر للموكل لما روى ثوبان مولى رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم رأس الدين النصيحة: قلنا يا رسول الله لمن قال لله ولرسوله ولكتابه ولائمة المسلمين وللمسلمين عامة وليس من النصح أن يترك ما فيه الحظ والنظر للموكل.\r3. بغية المسترشدين - (ج 1 / ص 310)\r(مسألة : ي) : لا يصح توكيل غيره فيما وكل فيه ، إلا أن يأذن له الموكل ، أو لا تليق به مباشرته ، أو لا يحسنه ، أو يشق عليه مشقة لا تحتمل أو يعجز عنه ، وعلمه الموكل في الكل ، ويجب على الوكيل موافقة ما عين له الموكل من زمان ومكان وجنس ثمن ، وقدره كالأجل والحلول وغيرها ، أو دلت عليه قرينة قوية من كلام الموكل أو عرف أهل ناحيته ، فإن لم يكن شيء من ذلك لزمه العمل بالأحوط ، نعم لو عين الموكل سوقاً أو قدراً أو مشترياً ، ودلت القرائن على ذلك لغير غرض أو لم تدل وكانت المصلحة في خلافه ، جاز للوكيل مخالفته ولا يلزمه فعل ما وكل فيه ،\r4. الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي (7/ 134)","part":1,"page":33},{"id":34,"text":"الوكالة المقيدة بالبيع: وذلك بأن يوكِّله ببيع شئ يملكه ، ويقيده بشخص أو زمن أو مكان أو ثمن. فإن قيّده بشخص ، كأن قال : بِعْ هذا لفلان ، تعيّن عليه البيع له ، لأن تخصيصه قد يكون لغرض يقصده، كأن يكون ماله أبعد عن الشبهة ، فإن دلّت قرينة على أن مراده الربح، وأنه لا غرض له في التعيين إلا ذلك، جاز بيعه لغير ذلك الشخص الذي عيّنه. وإن قيّده بزمن ، كأن قال: بِعْه يوم الجمعة مثلاً، تعيّن هذا ، ولم يجز أن يبيع قبله ولا بعده ، لأنه قد يُؤثر البيع في زمان لحاجة خاصة فيه، ولا يؤثره في غيره .\rوإن قيّده بمكان، كسوق كذا، يُنظر: فإن كان له في التعيين غرض صحيح، كأن يكون الثمن فيه أكثر، أو النقد فيه أجود، لم يجز البيع في غيره ، لأنه لا يجوز تفويت غرضه عليه. وإن لم يكن في التعيين غرض صحيح ، كأن يكون الثمن فيه وفي غيره واحداً، فالراجح أن له البيع فيه وفي غيره، لأن مقصوده يتحقق في أيّ مكان، فكان الإذن بالبيع بمكان إذناً بالبيع في غيره.\rوإن قيده بثمن، كأن قال له: بِعْ بمائة مثلاً، فليس له أن يبيع بأقل منها، ولو كان ثمن المثل أو كان النقص قليلاً، لأنه مخالف للإذن. والأصح أنَ له أن يبيع بأكثر منها ، لأن المفهوم من ذلك عُرْفاً هو عدم النقص، بل لا يجوز له أن يبيع بالمائة إن وجد مَن يرغب شراءه بأكثر منها ، لانه مأمور بالأنفع للموكِّل ، حتى لو وجد الراغب بالزيادة زمن الخيار لزمه الفسخ، وإذا لم يفسخه هو انفسخ بنفسه.فإذا صرّح له بالمنع من البيع بزيادة عمّا قيده به ، كأن قال له : بِعْه بمائة ، ولا تَبعْ بأكثر من ذلك، لم يصحّ بيعه بزيادة ، لأنه لا عبرة للدلالة مع التصريح، فقد أبطل النطق دلالة العُرْف.\r5. الحاوى الكبير ـ الماوردى - دار الفكر - (ج 6 / ص 1219)","part":1,"page":34},{"id":35,"text":"فأما العدد من الثياب إذا وكله في بيعها ، وأمكن أن تباع صفقة وتفاريق فعلى الوكيل أن يعمل على أحظ الأمرين لموكله من بيع جميعها صفقة أو إفراد كل واحد منهما بعقد فإن عدل عن أحظهما لم يجز ما لم يكن من الموكل تصريح به .\r1. الفتاوى الفقهية الكبرى (3/ 85)\rوسئل عن الوكيل إذا أخل بشرط بأن قال له لا تبع بالنسيئة ولا تدخل البلدة الفلانية ونحو ذلك وخالف فهل تفسد الوكالة فإذا قلتم بفسادها وتصرف فيها بعد الفساد فهل يكون تصرفه هذا صحيحا وربح ذلك لمن يكون وإذا تلف المال هل يضمن وهل الوكالة والإذن سيان بمعنى واحد أو بينهما فارق كقوله أذنت له ببيع هذا أو وكلته ببيع هذا أوضحوا لنا ذلك فأجاب إذا أخل الوكيل بالشرط كأن قال له موكله لا تبع أو لا تشتر بنسيئة فباع أو اشترى بها بطل البيع أو الشراء ولا ربح للوكيل ولا لموكله بل العين باقية على ملك مالكها لم تخرج عنه فلا يتصور هنا ربح لأن العقود الواردة عليها من الموكل والوكيل وفروعهما كلها باطلة وإذا خالف الوكيل الشرط وباع فاسدا وسلم المبيع ضمنه لتعديه وكذا لو استرده وتلف في يده والوكالة أخص من مطلق الإذن بدليل قولهم حيث فسدت الوكالة ولم يفسد الإذن فتصرف الوكيل على وفقه صح التصرف رعاية لعموم الإذن دون خصوص الوكالة وفائدة صحة الوكالة مع نفوذ التصرف في فاسدها استقرار الجعل المسمى إن كان بخلافه في الفاسدة فإنه يسقط وتجب أجرة المثل والله أعلم\r2. مغني المحتاج - (ج 8 / ص 326)\rفصل الوكيل بالبيع مطلقا ليس له البيع بغير نقد البلد ، ولا بنسيئة ولا بغبن فاحش ، وهو ما لا يحتمل غالبا ، فلو باع على أحد هذه الأنواع ، وسلم المبيع ضمن .","part":1,"page":35},{"id":36,"text":"( فلو ) خالف ، و ( باع على أحد هذه الأنواع ) لم يصح على المذهب ( و ) إذا ( سلم المبيع ضمن ) لتعديه ، ويسترده إن بقي وإلا غرم الموكل من شاء من المشتري والوكيل قيمته سواء أكان مثليا أم متقوما كما ذكره الرافعي ، وإن بحث بعض المتأخرين التفصيل بين المثلي والمتقوم ، وقرار الضمان على المشتري\r3. روضة الطالبين الجزء الثالث صـ : 407\rفصل إذا اشترى شيئا شراء فاسدا إما لشرط فاسد وإما لسبب آخر قبضه لم يملكه بالقبض ولا ينفذ تصرفه فيه ويلزمه رده كالمغصوب ولا يجوز حبسه لاسترداد الثمن ولا يقدم به على الغرماء على المذهب .\r4. الفتاوي الرملى الجزء الثاني صـ: 188\r(سئل) هل المأخوذ بالبيع الفاسد مع رضا المتبايعين حلال أم لا ؟ (فأجاب) بأنه لا يحل للآخذ له التصرف فيه لأنه يجب على كل منهما رد ما أخذه على مالكه.\r6. حواشي الشرواني والعبادي - (5 / 180(\rوقال ع ش: وخرج بالولي غيره كالوكيل الذي لم يجعل له موكله شيئا على عمله فليس له الاخذ لما يأتي أن الولي إذا جاز له الاخذ لانه أي أخذه تصرف في مال من لا يمكن معاقدته وهو يفهم عدم جواز أخذ الوكيل لامكان مراجعة موكله في تقدير شئ له أو عزله من التصرف ومنه يؤخذ امتناع ما يقع كثيرا من اختيار شخص حاذق لشراء متاع فيشتريه بأقل من قيمته لحذقه ومعرفته ويأخذ لنفسه تمام القيمة معللا ذلك بأنه هو الذي وفره لحذقه وبأنه فوت على نفسه أيضا زمنا كان يمكنه فيه الاكتساب فيجب عليه رد ما بقي لمالكه لما ذكر من إمكان مراجعته الخ فتنبه له فإنه يقع كثيرا اه.\r7. قرة العين في فتاوي اسماعيل زين ص 168","part":1,"page":36},{"id":37,"text":"سؤال : لو وكل شخص أخر في بيع البقرة أو غيرها ولم يقل له شيئا فباعها الوكيل بنحو عشرة ألاف روبية فأعطاه خمس آلاف روبية أي بأن نقص منها فهل له أخذ الزائد منها او لا الجواب والله أعلم بالصواب : ان الوكيل أمين فيجب عليه دفع الثمن كاملا للموكل وليس له أن يأخذ منه شيئا إلا برضا المالك فان أخذ شيئا بغير رضاه سواء كان زائدا عن ثمن المثل أولا فهو حينئذ خائن فيجب عليه أن يتوب ويرد المال الى صاحبه\r5. قرة العين بفتاوي إسماعيل الزين صـ 146\r(مسألة) لو وكل شخص آخر شراء شاة الفدية فأعطاه نحو ستة ريالات ثم اشتراه الوكيل بأنقص منها فهل له أخذ الزائد منها أو لا (الجواب) أما الزائد المذكور فلا شك أنه حق الموكل إلا أن للوكيل إذا غلب على ظنه رضاه أكله كما في فتاوي ابن حجر قال ثم إن بان خلاف ظنه لزمه رده وإلا فلا وقال الجمل في حاشيته على المنهج في باب الوليمة ج 4 ص 284 لكل أحد أن يأخذ من مال غيره حاضرا أو غائبا نقدا أو مطعوما أو غيرهما ما يظن رضاه به ولو بقرينة قوية إهـ بحروفه والله أعلم بالصواب إهـ والله أعلم\rKomisi B\rJalsah Ula\rMUSHOHIH…PERUMUS…MODERATOR\r1. KH. Bahrul Huda…1. Agus H. Adibussoleh…Ust. Misbakhul Khoir\r2. KH. Muh. Ali Masyhudi N.…2. Ust. M. Thohari Muslim…\r3. KH. Romadlon Khotib…3. Ust. Hisbulloh Alkhaq…NOTULEN\r…4. Ust. Bishri Mustofa…1.…Zakaria Khoirul Hasan\r…5. Ust. Darul Azka…2. Ahmad Thohar\r…6. Ust. Muh. Syahrul Munir…3. Muh. Amiqo Ilmi\r…7. Ust. H. Nawawi Ashari…\r…8. Ust. M. Dinul Qoyim…\r…9. Ust. M. Halimi…\r…10. Ust. Arif Ridwan…\r…11. Ust. M. Masrukhan…\r1)…POLITIK PENCITRAAN (III ALIYAH MHM LIRBOYO)\rDeskripsi Masalah","part":1,"page":37},{"id":38,"text":"Politik pencitraan adalah politik yang dibuat untuk menggambarkan seseorang, pejabat, partai, ormas, dll. Baik positif atau negatif. Politik pencitraan positif digunakan untuk mengangkat elektabilitas diri dan golongannya sedangkan pencitraan negatif untuk menjatuhkan musuh / lawannya. Di setiap negara, politik pencitraan ini biasa dimanfaatkan untuk memunculkan tokoh yang diinginkan suatu golongan atau untuk mengangkat derajat dan kepangkatan dalam militer maupun dalam jabatan sipil.\rKarena namanya politik, tidak jarang dilakukan dengan jalan yang sangat radikal. Sebagai contoh, bila ada kolonel yang dirancang dalam 4 tahun naik pangkat menjadi Jenderal bintang 4, maka dibentuklah sebuah tim sukses lengkap dengan biaya yang sangat besar. Bergeraklah tim ini merancang sebuah kerusuhan di tingkat masyarakat tertentu dan terciptalah kerusuhan besar itu. Si kolonel dirancang menyelesaikan kerusuhan besar itu dan bereslah dengan cepat, hingga tercapailah target menjadi bintang 4 dalam 4 tahun.","part":1,"page":38},{"id":39,"text":"Pemilihan kepala daerah (gubernur/bupati/walikota) secara langsung hakikatnya adalah kontes popularitas. Popularitas seseorang pada dasarnya adalah produk pencitraan yang terbentuk sebagai akibat dari interaksinya yang intensif dengan masyarakat/publik. Setiap orang bagi orang lain, memiliki citra positif dan citra negatif sekaligus di mata publik yang mengenalnya. Perbedaan dari masing-masing orang adalah porsi persentasenya, apakah citra positif atau citra negatif yang dominan di mata publik. Dalam hal ini, popularitas seseorang yang kemudian menjadi tokoh/figur, terbentuk dari akumulasi seluruh interaksinya.\rCENDEKIA Communications merupakan perusahaan konsultan pencitraan politik yang bertujuan membantu para pemimpin menemukan potensi dirinya, membangkitkannya, dan mengkomunikasikan kepada rakyat apa yang bisa diperbuatnya untuk mengubah keadaan/daerah menjadi jauh lebih baik, dan meraih dukungan/suara hati nurani rakyat untuk meraih kesempatan dan kepercayaan memimpin daerah.\rPeran CENDEKIA Communications :\r1)…Merencanakan, mengelola, dan mengendalikan kegiatan komunikasi langsung antara kandidat kepala daerah dengan rakyat pemilih melalui serangkaian kegiatan pencitraan politik yang alamiah, simpatik, interaktif, responsif, dan berpengaruh luas. dan kehumasan dan periklanan yang efektif, hemat, berdampak positif yang luas.","part":1,"page":39},{"id":40,"text":"2)…Penanganan krisis citra, yaitu penanganan suatu keadaan di mana kepercayaan masyarakat / konstituen politik terhadap kandidat kepala daerah mengalamai kemerosotan / kemunduran / bahkan kehilangan kepercayaan dikarenakan kejadian / peristiwa tertentu yang mendapat perhatian publik. Dalam membangun citra, kandidat kepala daerah akan menghadapi issue seputar kredibilitas, masa lalu, politik, pribadi dsb. Hal ini harus dapat di-counter dengan baik agar tidak berkembang merusak citra positif yang sudah dan sedang dibangun.\r3)…Analisis media, membantu kandidat kepala daerah menganalisis media agar tidak dirugikan akibat pemberitaan yang salah dan bias yang disebabkan oleh; sudut pandang wartawan yang negatif dalam penulisan berita, pilihan bahasa dan cara penyampaian oleh wartawan yang kurang tepat, prasangka tersembunyi, bias waktu, kesalahan wartawan memahami konteks, persfektif wartawan yang dangkal, dan berbagai bentuk interes kepentingan sehingga dalam menonjolkan isu dan fakta tidak berimbang dan merugikan kandidat kepala daerah.\r4)…Menjual citra positif dan program yang sesuai keunikan, kompetensi, dan prestasi kandidat kepala daerah sebagai pemimpin, yang memiliki jiwa kepemimpinan sesuai kultur budaya Indonesia; santun, agamis, jujur, dan bertanggungjawab kepada Tuhan YME.\rPertanyaan :\ra.…Bagaimana hukum melaksanakan politik pencitraan, baik dalam dunia birokrasi atau bukan ?\rJawaban :\rTafsil sebagai berikut :\r1.…Tidak boleh, jika :","part":1,"page":40},{"id":41,"text":"?…Langkah-langkah yang ditempuh tidak di benarkan syariat, seperti : penipuan (talbis), menyebutkan ‘aib atau kejelekan lawan, mengadu domba dan lain-lain.\r?…Kebaikan-kebaikan yang dicitrakan ternyata tidak ada di tokoh yang dicitrakan.\r2.… Boleh, jika :\r?…Tidak terdapat hal-hal yang diharamkan sebagaimana di atas\r?…Dalam rangka memberikan informasi tentang calon agar pemilih bisa membedakan mana yang layak dan tidak.\rREFERENSI\r1.…Ihya ‘Ulumudin, juz 03, hal. 380…2.…Bariqoh Mahmudiyah, juz 04, hal. 23-26\r3.…Tasyri’ Aljinaie, juz 01,hal. 328-329…4.…Is’adurrofiq, juz01, hal. 72\r5.…Tasyri’ Aljinaie, juz 01,hal. 325-326…\r1.…إحياء علوم الدين جـ 3 صـ 380","part":1,"page":41},{"id":42,"text":"فإن قلت طلبه المنزلة والجاه في قلب أستاذه وخادمه ورفيقه وسلطانه ومن يرتبط به أمره مباح على الإطلاق كيفما كان أو يباح إلى حد مخصوص على وجه مخصوص فأقول يطلب ذلك على ثلاثة أوجه وجهان مباحان ووجه محظور . أما الوجه المحظور فهو أن يطلب قيام المنزلة في قلوبهم باعتقادهم فيه صفة وهو منفك عنها مثل العلم والورع والنسب فيظهر لهم أنه علوي أو عالم أو ورع وهو لا يكون كذلك فهذا حرام لأنه كذب وتلبيس إما بالقول أو بالمعاملة .أما أحد المباحين فهو أن يطلب المنزلة بصفة هو متصف بها كقول يوسف صلى الله عليه و سلم فيما أخبر عنه الرب تعالى اجعلني على خزائن الأرض إني حفيظ عليم فإنه طلب المنزلة في قلبه بكونه حفيظا عليما وكان محتاجا إليه وكان صادقا فيه .والثاني أن يطلب إخفاء عيب من عيوبه ومعصية من معاصيه حتى لا يعلم فلا تزول منزلته به فهذا أيضا مباح لأن حفظ الستر على القبائح جائز ولا يجوز هتك الستر وإظهار القبيح .وهذا ليس فيه تلبيس بل هو سد لطريق العلم بما لا فائدة في العلم به كالذي يخفي عن السلطان أنه يشرب الخمر ولا يلقي إليه أنه ورع فإن قوله إني ورع تلبيس وعدم إقراره بالشرب لا يوجب اعتقاد الورع بل يمنع العلم بالشرب . ومن جملة المحظورات تحسين الصلاة بين يديه ليحسن فيه اعتقاده فإن ذلك رياء وهو ملبس إذ يخيل إليه أنه من المخلصين الخاشعين لله وهو مراء بما يفعله فكيف يكون مخلصا فطلب الجاه بهذا الطريق حرام وكذا بكل معصية وذلك يجري مجرى اكتساب المال الحرام من غير فرق وكما لا يجوز له أن يتملك مال غيره بتلبيس في عوض أو غيره فلا يجوز له أن يتملك قلبه بتزوير وخداع فإن ملك القلوب أعظم من ملك الأموال.\r2.…بريقة محمودية جـ 4 صـ 23-26","part":1,"page":42},{"id":43,"text":"( والثاني ) من شروط جواز المدح ( الاحتراز عن الإفراط ) في المدح والغلو فيه ( المؤدي إلى الكذب ) لعدم خارج له ( والرياء ) أي إراءة السامعين أو الممدوح أنه محب مخلص في دعواه وليس كذلك في نفس الأمر ( و ) الاحتراز عن ( القول بما لا يتحققه ) أي بما لا يعلم حقيقته ........ الى ان قال ... ( فلا يجزم القول بمثلها بل يقول أحسب ) أظن ( ونحوه ) وهذه الآفة تتطرق إلى المدح بالأوصاف المطلقة التي تعرف بالأدلة كما ذكر في المثال .وأما إذا قال رأيته يصلي بالليل ويتصدق ويحج فهذه أمور متيقنة ومن ذلك قوله أنه عدل فلا ينبغي أن يجزم القول به أيضا إلا بعد خبره بباطنه وسمع عمر رضي الله تعالى عنه رجلا يثني على رجل قال أسافرت معه قال لا قال أخالطته في المبايعة والمعاملة قال لا قال فأنت جاره صباحه ومساءه قال لا قال والذي لا إله إلا هو ما تعرفه . ( والثالث أن لا يكون الممدوح فاسقا ) لعل أنه إذا مدحه للخلاص عن ظلمه أو لينال حقه من جهته أو من جهة الغير بإعانته فلا يضر إذ الضرورة مبيحة للمحظورة ....... الى ان قال ..... ( والرابع أن يعلم أنه ) أي المدح ( لا يحدث في الممدوح كبرا أو عجبا أو غرورا ) يعلم ذلك بالقرائن والأمارات وسوء الظن إنما يمنع عند عدم دليله وقرينته فلا ينافي حسن الظن المأمور به وقد سمعت مرارا أن للوسائل حكم المقاصد وأن ما يفضي إلى الحرام حرام وأما إذا أحدث في الممدوح كمالا وزيادة مجاهدة وسعي طاعة فلا منع بل له استجاب كما في الجامع على رواية أسامة بن زيد { إذا مدح المؤمن في وجهه ربا الإسلام في قلبه } أي زاد إيمانه لمعرفة نفسه وإدلاله بها فالمراد المؤمن الكامل الذي عرف نفسه وأمن عليها من نحو كبر وعجب بل يكون ذلك سببا لزيادته في العمل الصالح المؤدي لزيادة إيمانه ورسوخ إيقانه وأما من لم يكن بهذه الصفة فمدحه من أعظم الآفات كما في خبر { إياكم والمدح } ... الى ان قال .... ( والخامس أن لا يكون","part":1,"page":43},{"id":44,"text":"المدح لغرض حرام أو مفضيا إلى فساد.\r3.…التشريع الجنائي في الإسلام جـ 1 صـ 328-329\rفكل إنسان يستطيع أن يطعن في أعمال الموظفين العموميين والنواب والمكلفين بخدمات عامة وينسب إليهم عيوبهم ما دام يستطيع إثبات مطاعنه، وله أن يتعدى أعمالهم العامة إلى أعمالهم وحياتهم الخاصة ما دام يستطيع إثبات مطاعنه، وليس لهم أن يتضرروا من عيوبهم ولا من الصفات القائمة في أعمالهم أو أشخاصهم. ولم تحم الشريعة الإسلامية الحياة الخاصة للموظفين العموميين ومن في حكمهم كما تفعل القوانين الوضعية؛ لأن الشريعة لا تحمي النفاق والرياء والكذب، ولأن الشخص الذي لا يستطيع أن يسير سيرة حسنة في حياته الخاصة ليس أهلاً - في نظر الشريعة - لأن يتولى شيئاً من أمور الناس في حياتهم العامة. وكل إنسان في وقت الانتخاب وفي غير وقت الانتخاب يستطيع طبقاً للشريعة أن يقول للمحسن هذا محسن، وللمسيء هذا مسيء، ما دام يستطيع أن يثبت إساءة المسيء، وكل إنسان سواء كان عضواً في البرلمان أو في أي هيئة أخرى، أو كان عاطلاً من عضوية الهيئات على الإطلاق، له الحق في أن ينسب ما يشاء إلى من شاء، ما دام يستطيع أن يثبت ما ينسبه إلى هؤلاء. فليس في الشريعة كما في القانون ما يدعو إلى تحليل الصدق في وقت الانتخاب، وتحريمه في غير ذلك من الأوقات؛ لأن الشريعة توجب الصدق على الدوام، ولا تحرمه في أي ظرف من الظروف أو زمن من الأزمان.\r4.…إسعاد الرفيق جـ 1 صـ 72","part":1,"page":44},{"id":45,"text":"(تنبيه) عد فى الزواجر الغيبة والسكوت عليها رضا أو تقريرا من الكبائر قال وعدها هو ما جرى عليه كثيرون ويلزمه أن السكوت عليها رضا بها كبيرة ثم رأيت الأذرعى صرح به نعم لو لم يمكنه دفعها فيلزمه عند الأمكنية مفارقة المغتاب وما قيل أنها صغيرة ضعيف أو باطل وقد نقل القرطبى وغيره الإجماع على أنها كبيرة وهو الذى تدل عليه الأحاديث الصحيحة لكنها تختلف بحسب المفسدة خفة وثقلا ثم أن الأصل فيها الحرمة وقد تجب أو تباح لغرض صحيح شرعى لا يتوصل إليه إلا بها وينحصر فى ستة أسباب: الأول المتظلم فلمن ظلم أن يشكو لمن يظن قدرته على إزالته بنحو فلان يعمل كذا فازجره بقصد التوصل لإزالة المنكر وإلا كان غيبة محرمة ما لم يكن جاهلا -إلى أن قال- الرابع تحذير المسلمين من الشر ونصحهم كجرح الرواة والشهود والمصنفين والمتصدين لإفتاء أو علم أو قراءة مع عدم أهلية أو مع نحو فسق أو بدعة وهم دعاة إليها ولو سرا فتجوز إجماعا بل تجب وكأن يشير وإن لم يستشر على مريد تزوج أو مخالطة لغيره فى أمر دينى أو دنيوى وقد علم فى ذلك الغير قبيحا منفرا كفسق أو بدعة أو طمع أو غير ذلك كفقر فى الزوج بترك تزوجه ثم إن اكتفى بنحو لا يصلح لك لم يزد عليه وإن توقف على ذكر عيب ذكره بلا زيادة كإباحة ميتة لمضطر ولا بد أن يقصد بذلك بذل النصيحة لله دون حظ آخر وكثيرا ما يغفل عن ذلك ومن ذلك أن يعلم فى ذى ولاية قادحا فيجب عليه ذكر ذلك لمن يقدر على عزله وتولية غيره أو على نصحه وحثه على الاستقامة إهـ\r5.…التشريع الجنائي في الإسلام – جـ 1 صـ 325-326","part":1,"page":45},{"id":46,"text":"فالقانون الوضعي يقوم في جرائم القول على قاعدة النفاق والرياء، ويعاقب الصادق والكاذب على السواء، والمبدأ الأساسي في القانون أنه لا يجوز أن يقذف امرؤ أخر أو يسبه أو يعيبه، فإن فعل عوقب سواء كان صادقاً فيما قال أو كاذباً. وإذا كان هذا المبدأ يحمي البرآء من ألسنة الكاذبين الملفقين، فإنه يحمي أيضاً الملوثين والمجرمين والفاسقين من ألسنة الصادقين. وبهذا المبدأ الذي قام عليه القانون انعدام الفرق بين الخبيث والطيب، والمسيء والمحسن، وانعدام الحد بين الرذيلة والفضيلة، وبهذا المبدأ انحط المستوى الأخلاقي بين الشعوب، فالطيب لا يستطيع أن ينقد الخبيث، والخبيث سادر في غيه، ذاهب إلى نهاية طوره؛ لأنه لا يخشى رقيباً ولا حسيباً من الجماهير، ولا يستطيع امرؤ طبقاً لهذا المبدأ القانوني أن يسمي الأسماء بمسمياتها، وأن يصف الموصوفات بأوصافها، لا يستطيع أن يقول لمن زنى يا زاني، ولا يستطيع أن يقول لمن سرق يا سارق، ولا يستطيع أن يقول للمفتري يا كاذب، فإن قالها باء بالعقوبة، وباء الزاني والسارق والكاذب فوق حماية القانون بالتعويض المالي على ما نسب إليهم من قول هو عين الحق والصدق . ذلك هو مبدأ القانون في جرائم القول يحرم على الناس أن يقولوا الحق وأن لايتناهوا عن المنكر، وأن يحطوا من قدر المسيء ليرفعوا من قدر المحسن والإحسان. وقد شعر واضعوا القانون المصري بخطورة هذا المبدأ على الشعب إذا طبق على إطلاقه، فاستثنوا منه حالات أربع هي :\r1 - حالة الطعن في أعمال موظف عام أو شخص ذي صفة نيابية أو مكلف بخدمة عامة: فإن الطاعن لا يعاقب على طعنه إذا حصل بسلامة نية، وكان لا يتعدى أعمال الوظيفة أو النيابة أو الخدمة العامة، بشرط أن يثبت الطاعن حقيقة كل فعل أُسند إلى المقذوف، وقد تقرر هذا الاستثناء لإشعار الموظف والنائب والمكلف بخدمة عامة أن أعمالهم معرضة للانتقاد، فيدعوهم ذلك إلى الإحسان ما استطاعوه.","part":1,"page":46},{"id":47,"text":"2 - حالة دعوة الأمة إلى الانتخاب: فإن نص المادة 68 من قانون الانتخاب يبيح الأقوال الصادقة عن سلوك المرشح وأخلاقة أثناء المعركة الانتخابية بالرغم من تحريم قانون العقوبات هذه الأقوال في الأوقات العادية، وقد جعلت هذه الإباحة ليستطيع كل مرشح وكل ناخب أن يقول ما يعرف عن سلوك المرشح وأخلاقه دون خوف من العقاب، وليسهل على الناخبين أن يميزوا بين المرشحين ويختاروا من يصلح للنيابة عنهم بعد أن يسمعوا عنه كل ما يتعلق بسلوكه وأخلاقه.\r3 - حالة انعقاد البرلمان: فإن أعضاءه لا يؤاخذون على ما يبدونه من الأفكار والآراء في المجلسين طبقاً لنص المادة 109 من الدستور، وقد وضع هذا النص لتمكين نواب الأمة من أن يقولوا ما يشاءون دون تحرج أو خوف من المحاكمة والعقاب. ويلاحظ أن هذه الحالة تختلف عن الحالتين السابقتين في أن القاذف في الحالتين السابقتين لا ينجو من العقاب إلا إذا كان صادقاً فيما قال، أما عضو البرلمان فلا يحاكم ولا يعاقب سواء كان صادقاً فيما قال أو مختلقاً لما قال.\r4 - حالة المحاكمة والتقاضي: فالمادة 309 من قانون العقوبات تنص على الإعفاء من العقاب على القذف أو السب الذي يحدث من الخصوم أو وكلائهم في دفاعهم الشفوي أو الكتابي أمام المحاكم، ولا يترتب عليه إلا المقاضاة المدنية أو المحاكمة التأديبية.\rb.…Bagaimana hukum kontrak kerja dengan CENDEKIA Communications seperti di atas ?\rJawaban :\rHukumnya haram dan tidak sah, bila isi kontrak (‘amal) berupa perkara haram seperti dalam sub. A.\rREFERENSI\r1.…Fathil Qorib, hal. 98…2.…Albayan, juz 07, hal. 248\r3.…Kifayatul Akhyar, juz 01, hal. 295…4.…Fiqh Islami, juz 05, hal. 468\r5.…At-tanbih, juz 01, hal. 123…6.…Roudlotuttolibhin, juz 08, hal. 92\r1.…فتح القريب صـ 98","part":1,"page":47},{"id":48,"text":"(فصل) في أحكام الإجارة وهي بكسر الهمزة في المشهور وحكى ضمها وهي لغة اسم للأجرة، وشرعاً عقد على منفعة معلومة مقصودة قابلة للبذل والإباحة بعوض معلوم، وشرط كل من المؤجر والمستأجر الرشد، وعدم الإكراه وخرج بمعلومة الجعالة وبمقصودة استئجار تفاحة لشمها، وبقابلة للبذل منفعة البضع فالعقد عليها لا يسمى إجارة، وبالإباحة إجارة الجواري للوطء، وبعوض الإعارة، وبمعلوم عوض المساقاة\r2.…البيان جـ 7 صـ 248\rولا يجوز الإجارة على المنافع المحرمة مثل أن يستأجر رجلا ليحمل له خمرا لغير الإراقة وقال أبو حنيفة : يصح دليلنا قوله عليه الصلاة والسلام لعن الله الخمرة وحاملها وإذا كان حمله محرما قلنا منفعته محرمة فلم يجز أخذ العوض عليها كالميتة والدم .\r3.…كفاية الأخيار جـ 1 صـ 295\rوقولنا قابلة للبذل والإباحة فيه احتراز عن استئجار الآت اللهو كالطنبور والمزمار والرباب ونحوها فإن استئجارها حرام ويحرم بذل الأجرة في مقابلتها ويحرم اخذ الأجرة لأنه من قبيل أكل أموال الناس بالباطل وكذا لا يجوز استئجار المغاني ولا استئجار شخص لحمل خمر ونحوه ولا لجبي المكوس والرشا وجميع المحرمات عافانا الله تعالى منها .\r4.…الفقه الإسلامي وأدلته جـ 5 صـ 468\rأن تكون المنفعة المعقود عليها مباحة شرعاً: كاستئجار كتاب للنظر والقراءة فيه والنقل منه، واستئجار دار للسكنى فيها، وشبكة للصيد ونحوها. يتفرع على هذا الشرط أنه باتفاق الفقهاء : لا يجوز الاستئجار على المعاصي كاستئجار الإنسان للعب واللهو المحرم وتعليم السحر والشعر المحرم وانتساخ كتب البدع المحرمة، وكاستئجار المغنية والنائحة للغناء والنوح، لأنه استئجار على معصية، والمعصية لا تستحق بالعقد. أما الاستئجار لكتابة الغناء والنوح فهو جائز عند الحنفية فقط؛ لأن الممنوع عنه نفس الغناء والنوح، لا كتابتهما. فالقاعدة الفقهية إذن: أن «الاستئجار على المعصية لا يجوز» .\r5.…التنبيه جـ 1 صـ 123","part":1,"page":48},{"id":49,"text":"وتصح على كل منفعة مباحة في استئجار الكلب للصيد والفحل للضراب والدراهم والدنانير وجهان أظهرهما أنه لا يجوز في جميع ذلك ولا يصح على منفعة محرمة كالغناء والزمر وحمل الخمر .\r6.…روضة الطالبين جـ 8 صـ 92\rكتاب القضاء فيه ثلاثة أبواب الأول في التولية وفيه طرفان الأول في التولية وفيه مسائل الأولى القضاء والإمامة فرض كفاية بالإجماع فإن قام به من يصلح سقط الفرض عن الباقين وإن امتنع الجميع أثموا وأجبر الإمام أحدهم على القضاء وقيل لا يجبر والصحيح الأول ثم من لا يصلح للقضاء تحرم توليته ويحرم عليه التولي والطلب .\rJalsah Tsaniyah\rMUSHOHIH…PERUMUS…MODERATOR\r1. KH. Bahrul Huda…1. Agus H. Adibussoleh…Agus Arif Ridlwan\r2. KH. M. Azizi Hasbulloh…2. Ust. M. Thohari Muslim…\r3. KH. Romadlon Khotib…3. Ust. Aris Alwan…NOTULEN\r…4. Ust. Hisbulloh Alhaq…Zakaria Choirul Hasan\r…5. Ust. Bishri Mustofa…A. Thohar\r…6. Ust. Muh. Syahrul Munir…Syamsul Bahri\r…7. Ust. H. Nawawi Ashari…\r…8. Ust. M. Dinul Qoyim…\r…9. Ust. Hanif Abdul Ghofir …\r…10. Ust. Darul Azka…\r…11. Ust. M. Masrukhan…\r…12. Ust. M. Halimi…\r…13. Ust. Adibuddin…\r2)…REALITA TRANSAKSI BOS (PP. DARUSSALAM – SUMBERSARI PARE)\rDeskripsi Masalah\rMencari rizqi yang halal merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Oleh karena itu, al Habib Abdullah Bin Husain Bin Thahir melarang melakukan bentuk bisnis sebelum mengetahui hal-hal yang dilarang syara’. Dalam hadits riwayat imam Baihaqi, Rasulullah Saw bersabda kepada Sahabat Hakim Bin Hizam RA :\rلَا تَبِيعَنَّ شَيْئًا حَتَّى تَقْبِضَهُ رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ\r“Janganlah engkau menjual sesuatu sampai menerimanya” (HR. Imam Baihaqi).","part":1,"page":49},{"id":50,"text":"Realita transaksi bisnis para bos dengan para konsumennya, biasanya dilakukan sebelum barangnya diterima pihak penjual. Di mana dalam prakteknya, pihak penjual cukup menghubungi produsen barang yang ia butuhkan, lantas kemudian langsung dikirimkan kepada pihak konsumen.\rPertanyaan :\ra.…Bagaimana hukum transaksi para bos sebagaimana dalam deskripsi ?\rJawaban :\rHukumnya sah, baik pembayaran dilakukan di awal atau setelah barang dikirimkan, karena para bos sudah dianggap melakukan qobdlu (menerima) dengan mengizinkan produsen mengirimkan barang kepada konsumen.\rREFERENSI\r1.…Al Iqna’, juz 06, hal 09…2.…Al majmu’ Syarah Muhadzab, juz 09, hal 275\r3.…I’anah Tholibin, juz 03 hal 09…4.…Hasyiyah Asy-Syarqawiy, juz.2, hal.16-17\r5.…Al-Fiqh Al-Islamiy wa Adillatuh, juz.6, hal.60…6.…Nihayah Al-Muhtaj, juz.3, hal.415\r7.…Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, juz.9, hal.303…8.…Hasyiyah Ianah Al-Thalibin, juz.3, hal.25\r1.…الاقناع في حل ألفاظ أبى شجاع ـ مفهرس جـ 6 صـ 9\rوهذا التفصيل إنما هو في القبض المتوقف على صحة التصرف في المبيع، فيتوقف على النقل في المنقول والتخلية في غيره وعلى إذن البائع في التصرّف إن كان له حق الحبس وعلى تفريغ كل من أمتعة غير المشتري وعلى تقدير كل إن كان مقدراً وعلى مضي زمن من حين الإذن في القبض يمكن فيه الوصول إليه إن كان غائباً بيد المشتري أو بيد غيره. أما القبض الناقل للضمان عن يد البائع إلى يد المشتري فمداره على استيلاء المشتري عليه\r2.…المجموع شرح المهذب جـ 9 صـ 275","part":1,"page":50},{"id":51,"text":"(والقبض فيما ينقل النقل لما روى زيد بن ثابت أن رسول الله صلى الله عليه وسلم (نهى أن تباع السلع حيث تبتاع حتى يحوزها التجار إلى رحالهم وفيما لا ينقل كالعقار والثمر قبل أوان الجذاذ التخلية لان القبض ورد به الشرع وأطلقه فحمل على العرف والعرف فيما ينقل النقل وفيما لا ينقل التخلية)\r* (الشرح) أما حديث زيد فسبق بيانه قريبا في فرع مذاهب العلماء في بيع المبيع قبل القبض وفى التجار لغتان - كسر التاء مع تخفيف الجيم - وضمها مع التشديد - والجذاذ - بفتح الجيم وكسرها - (أما) الاحكام فقال أصحابنا الرجوع في القبض إلى العرف وهو ثلاثة أقسام (أحدها) العقار والثمر على الشجرة فقبضه بالتخلية (والثانى) ما ينقل في العادة كالاخشاب والحبوب والحيتان ونحوها فقبضه بالنقل إلى مكان لا اختصاص للبائع به سواء نقل إلى ملك المشترى أو موات أو شارع أو مسجد أو غيره وفيه قول حكاه الخراسانيون أنه يكفى فيه التخلية وهو مذهب أبى حنيفة (والثالث) ما يتناول باليد كالدراهم والدنانير والمنديل والثوب والاناء الخفيف والكتاب ونحوها فقبضه بالتناول بلا خلاف صرح بذلك الشيخ أبو حامد في تعليقه والقاضى أبو الطيب والمحاملى والماوردي والمصنف في التنبيه والبغوى وخلائق لا يحصون وينكر على المصنف كونه أهمله هنا مع شهرته ومع ذكره له في التنبيه والله تعالى أعلم\r3.…إعانة الطالبين جـ 3 صـ 9","part":1,"page":51},{"id":52,"text":"( قوله ورؤيته ) معطوف على ملك أي وشرط رؤيته ( وقوله أي المعقود عليه ) أي ثمنا أو مثمنا ( قوله إن كان معينا ) قيد في اشتراط الرؤية أي يشترط الرؤية إن كان المعقود عليه معينا أي مشاهدا حاضرا فهو من المعاينة لا من التعيين لأنه صادق بما عين بوصفه وليس مرادا فلو كان المعقود عليه غير معين بأن كان موصوفا في الذمة لا تشترط فيه الرؤية بل الشرط فيه معرفة قدره وصفته ( قوله فلا يصح بيع معين لم يرده العاقدان ) أي لا يصح بيع معين غائب عن رؤية المتعاقدين أو أحدهما ولو كان حاضرا في المجلس وعلم من ذلك امتناع بيع الأعمى وشرائه للمعين كسائر تصرفاته فيوكل في ذلك حتى في القبض والإقباض بخلاف ما في الذمة\r4.…الشرقاوى على التحرير الجزء 2 صحـ 16- 17","part":1,"page":52},{"id":53,"text":"(وَ) الْعَيْنُ (اَلَّتِي فِى الذِّمَّةِ يَصِحُّ بَيْعُهَا بِذِكْرِهَا مَعَ جِنْسِهَا وَصِفَتِهَا كَعَبْدِ حَبَشِيٍّ خمُاَشِيّ) مَعَ بَقِيَّةِ الصِّفَاتِ الَّتِي تُذْكَرُ فِى السَّلَمِ (وَعُدَّ) هَذَا (بَيْعًا لا سَلَمًا مَعَ أَنَّهَا) أَىْ الْعَيْنَ (فِى الذِّمَّةِ إِعْتِبَارًا بِلَفْظِهِ فَلا يُشْتَرَطُ فِيْهِ تَسْلِيْمُ الثَّمَنِ قَبْلَ التَّفَرُّقِ) إِلا أَنْ يَكُوْنَ ذَلِكَ فِى رِبَوَيِيْنَ فَيُشْتَرَطُ فِيْهِ التَّقَابُضِ قَبْلَهُ كَمَا فِى الْعَيْنِ الْحَاضِرَةِ وَهَذَا إِذَا لْمَ يُذْكَرْ مَعَ ذَلِكَ لَفْظُ السَّلَمِ فَإِنْ ذُكِرَ كَأَنْ قَالَ بِعْتُكَ كَذَا سَلَمًا أَوْ إِشْتَرَيْتُهُ مِنْكَ سَلَمًا وَعَلَى كَوْنِ ذَلِكَ بَيْعًا يُشْتَرَطُ تَعْيِيْنُ أَحَدِ الْعِوَضَيْنِ فِى الْمَجْلِسِ وَإِلا يَصِيْرُ بَيْعَ دَيْنٍ بِدَيْنٍ وَهُوَ بَاطِلٌ (قَوْلُهُ فَلا يُشْتَرَطُ) تَفْرِيْعٌ عَلَى كَوْنِهِ بَيْعًا أَىْ بَلْ يُشْتَرَطُ التَّعْيِيْنَ فَقَطْ عَلَى مَا سَيَأْتِى وَيَتَفَرَّعُ عَلَيْهِ أَيْضًا صِحَّةَ الْحِوَالَةِ بِهِ وَعَلَيْهِ وَالإِسْتِبْدَالِ عَنْهُ بِخَلافِهِ عَلَى كَوْنِهِ سَلَمًا فَإِنَّهُ يُشْتَرَطُ تَسَلِيْمُ الثَّمَنِ قَبْلَ التَّفَرُّقِ وَلا يَصِحُّ فِيْهِ شَيْئٌ مِمَّا ذُكِْرَ - إِلَى أْنَ قَالَ - (قَوْلُهُ يُشْتَرَطُ تَعْيِيْنُ أَحَدِ الْعِوَضَيْنِ) أَىْ الْغَيْرِ الرِّبَوِيِيْنَ أَىْ وَلا يُشْتَرَطُ قَبْضُهُ فِى الْمَجْلِسِ لانَّ التَّعْيِيْنَ بِمَنْزِلَةِ الْقَبْضِ لِصَيْرُوْرَةِ الْمُعِيْنَ حَآلا لايَدْخُلُهُ أَجَلٌ أَبَدًا اهـ\r5.…الفقه الإسلامي الجزء 6 صحـ 60","part":1,"page":53},{"id":54,"text":"كَيْفِيَّةُ إِبْرَامِ التَّعَاقُدِ بِالْهَاتِفِ وَالْلاِسْلَكِيِّ وَنَحْوِهِمَا مِنْ وَسَائِلِ الإِتِّصَالِ الْحَدِيْثَةِ لَيْسَ الْمُرَادُ مِنِ اتِّحَادِ الْمَجْلِسِ الْمَطْلُوْبِ فِي كُلِّ عَقْدٍ كَمَا بَيَّنَّا كون الْمُتَعَاقِدَيْنِ فِي مَكَانٍ وَاحِدٍ لانَّهُ قَدْ يَكُوْنُ مَكَانُ أَحَدِهِمَا غَيْرَ مَكَانِ الآخِرِ إِذَا وُجِدَ بَيْنِهِمَا وَاسِطَةُ اتِّصَالٍ كَالتَّعَاقُدِ بِالْهَاتِفِ أَوْ اللاسلكي أَوْ بِالْمَرَاسِلَةِ (اَلْكِتَابَة) وَإِنَّمَا الْمُرَادُ بِاِتِّحَادِ الْمَجْلِسِ اِتِّحَادُ الزَّمَنِ أَوِ الْوَقْتِ الَّذِي يَكُوْنُ الْمُتَعَاقِدَانِ مُشْتَغِلَيْنِ فِيْهِ بِالتَّعَاقُدِ فَمَجْلِسُ الْعَقْدِ هُوَ الْحَالُ الَّتِي يَكُوْنُ فِيْهَا الْمُتَعَاقِدَانِ مُقْبِلَيْنِ عَلَى التَّفَاوُضِ فِي الْعَقْدِ وَعَنْ هَذَا قَالَ الْفُقَهَاءُ إِنَّ الْمَجْلِسَ يَجْمَعُ الْمُتَفَرِّقَاتِ اهـ وَعَلَى هَذَا يَكُوْنُ مَجْلِسُ الْعَقْدِ فِي الْمَكَالَمَةِ الْهَاتِفِيَّةِ أَوْ الْلاِسْلَكِيَّةِ هُوَ زَمَنُ الإِتّصَالِ مَا دَامَ الْكَلامُ فِي شَأْنِ الْعَقْدِ فَإِنِ انْتَقَلَ الْمُتَحَدِّثَانِ إِلَى حَدِيْثٍ آخَرَ اِنْتَهَى الْمَجْلِسُ اهـ\r6.…نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج الجزء 3 صحـ 415","part":1,"page":54},{"id":55,"text":"( وَالأَظْهَرُ أَنَّهُ لا يَصِحُّ ) فِي غَيْرِ نَحْوِ الْفُقَّاعِ كَمَا مَرَّ ( بَيْعُ الْغَائِبِ ) وَهُوَ مَا لَمْ يَرَهُ الْمُتَعَاقِدَانِ أَوْ أَحَدُهُمَا ثَمَنًا أَوْ مُثَمَّنًا وَلَوْ كَانَ حَاضِرًا فِي مَجْلِسِ الْبَيْعِ وَبَالِغًا فِي وَصْفِهِ أَوْ سَمْعِهِ بِطَرِيقِ التَّوَاتُرِ كَمَا يَأْتِي أَوْ رَآهُ فِي ضَوْءٍ إنْ سَتَرَ الضَّوْءُ لَوْنَهُ كَوَرَقٍ أَبْيَضَ فِيمَا يَظْهَرُ وَلا يُنَافِي ذَلِكَ مَا صَرَّحَ بِهِ ابْنُ الصَّلاحِ مِنْ أَنَّهُ يَكْتَفِي بِالرُّؤْيَةِ الْعُرْفِيَّةِ مَعَ أَنَّ هَذَا مِنْهَا لانَّهُ لَيْسَ الْعُرْفُ الْمُطَّرِدُ ذَلِكَ عَلَى أَنَّ كَلامَهُ مُقَيَّدٌ بِمَا إذَا لَمْ يَكُنْ الْعَيْبُ ظَاهِرًا بِحَيْثُ يَرَاهُ كُلُّ مَنْ نَظَرَ إلَى الْمَبِيعِ وَحِينَئِذٍ فَالْمُرَادُ بِالرُّؤْيَةِ الْعُرْفِيَّةِ هِيَ مَا تَظْهَرُ لِلنَّاظِرِ مِنْ غَيْرِ مَزِيدِ تَأَمُّلٍ وَرُؤْيَةُ نَحْوِ الْوَرَقِ لَيْلا فِي ضَوْءٍ يَسْتُرُ مَعْرِفَةَ بَيَاضَهُ لَيْسَتْ كَذَلِكَ أَوْ مِنْ وَرَاءِ نَحْوِ زُجَاجٍ وَكَذَا مَاءٌ صَافٍ إلا الأَرْضَ وَالسَّمَكَ لانَّ بِهِ صَلاحُهُمَا وَصَحَّتْ إجَارَةُ أَرْضٍ مَسْتُورَةٍ بِمَاءٍ وَلَوْ كَدِرًا لانَّهَا أَوْسَعُ بِقَبُولِهَا التَّأْقِيتَ وَوُرُودِهَا عَلَى مُجَرَّدِ الْمَنْفَعَةِ وَذَلِكَ لِلنَّهْيِ عَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ لانَّ الرُّؤْيَةَ تُفِيدُ مَا لَمْ تُفِدْهُ الْعِبَارَةُ كَمَا يَأْتِي ( وَالثَّانِي ) وَبِهِ قَالَ الأَئِمَّةُ الثَّلاثَةُ ( يَصِحُّ ) الْبَيْعُ إنْ ذَكَرَ جِنْسَهُ وَإِنْ لَمْ يَرَيَاهُ ( وَيَثْبُتُ الْخِيَارُ ) لِلْمُشْتَرِي ( عِنْدَ الرُّؤْيَةِ ) لِحَدِيثٍ فِيهِ ضَعِيفٍ بَلْ قَالَ الدَّارَقُطْنِيّ بَاطِلٌ وَيَنْفُذُ قَبْلَ الرُّؤْيَةِ الْفَسْخُ دُونَ الإِجَازَةِ وَيَمْتَدُّ الْخِيَارُ امْتِدَادَ مَجْلِسِ","part":1,"page":55},{"id":56,"text":"الرُّؤْيَةِ اهـ\r7.…المجموع الجزء 9 صحـ 353\r( الْمَسْأَلَةُ الثَّالِثَةُ ) إذَا جَوَّزْنَا بَيْعَ الْغَائِبِ فَعَلَيْهِ فُرُوعٌ ( أَحَدُهَا ) إذَا لَمْ تُشْتَرَطْ الرُّؤْيَةُ اُشْتُرِطَ ذِكْرُ الْجِنْسِ وَالنَّوْعِ فَيَقُولُ بِعْتُكَ عَبْدِي التُّرْكِيَّ وَفَرَسِي الْعَرَبِيَّ أَوْ الأَدْهَمَ أَوْ ثَوْبِي الْمَرْوِيَّ أَوْ الْحِنْطَةَ الْجَبَلِيَّةَ أَوْ السَّهْلِيَّةَ وَنَحْوَ ذَلِكَ , فَلَوْ أَخَلَّ بِالْجِنْسِ وَالنَّوْعِ فَقَالَ بِعْتُكَ مَا فِي كَفِي أَوْ كُمِّي أَوَخِزَانَتِي أَوْ مِيرَاثِي مِنْ فُلانٍ وَلَمْ يَكُنْ الْمُشْتَرِي وَالْبَائِعُ يَعْرِفُ ذَلِكَ لَمْ يَصِحَّ الْبَيْعُ هَذَا هُوَ الْمَذْهَبُ وَبِهِ قَطَعَ الْمُصَنِّفُ وَالْجُمْهُورُ وَفِيهِ وَجْهٌ أَنَّهُمَا لا يُشْتَرَطَانِ فَيَصِحُّ بَيْعُ مَا فِي الْكُمِّ وَنَحْوِهِ وَوَجْهٌ ثَالِثٌ أَنَّهُ يُشْتَرَطُ ذِكْرُ الْجِنْسِ دُونَ النَّوْعِ فَيَقُولُ عَبْدِي وَهَذَانِ الْوَجْهَانِ حَكَاهُمَا الْخُرَاسَانِيُّونَ وَهُمَا شَاذَّانِ ضَعِيفَانِ وَإِذَا ذَكَرَ الْجِنْسَ وَالنَّوْعَ فَفِي افْتِقَارِهِ مَعَ ذَلِكَ إلَى ذِكْرِ الصِّفَاتِ ثَلاثَةُ أَوْجُهٍ مَشْهُورَةٍ ذَكَرَهَا الْمُصَنِّفُ بِأَدِلَّتِهَا ( أَصَحُّهَا ) عِنْدَ الأَصْحَابِ لا يَفْتَقِرُ وَهُوَ الْمَنْصُوصُ فِي الْقَدِيمِ وَالإِمْلاءِ وَالصَّرْفِ ( وَالثَّانِي ) يَفْتَقِرُ إلَى ذِكْرِ مُعْظَمِ الصِّفَاتِ وَضَبَطَ الأَصْحَابُ ذَلِكَ بِمَا يَصِفُ بِهِ الْمُدَّعِي عِنْدَ الْقَاضِي ( وَالثَّالِثُ ) يَفْتَقِرُ إلَى ذِكْرِ صِفَاتِ السَّلَمِ وَهَذَانِ الْوَجْهَانِ ضَعِيفَانِ وَالثَّالِثُ أَضْعَفُ مِنْ الثَّانِي وَالثَّانِي قَوْلُ الْقَاضِي أَبِي حَامِدٍ الْمَرْوَزِيِّ وَالثَّالِثُ قَوْلُ أَبِي عَلِيٍّ الطَّبَرِيِّ اهـ\r8.…حاشية إعانة الطالبين جـ 3 صـ 25","part":1,"page":56},{"id":57,"text":"ويصح السلم حالا ومؤجلا بأجل معلوم لا مجهول ومطلقه حال ومطلق المسلم فيه جيد\r(قوله: ويصح السلم حالا) أي بأن صرح بالحلول. (وقوله: ومؤجلا) أي بأن صرح بالتأجيل بالنسبة للمسلم فيه، أما رأس المال، فلا يصح فيه الاجل، ويجب قبضه حقيقة في المجلس - كما تقدم - أما المؤجل: فبالنص، وأما الحال: فبالاولى - لبعده عن الغرر - (فإن قيل) الكتابة تصح بالمؤجل ولا تصح بالحال. (أجيب) بأن الاجل إنما وجب فيها لعدم قدرة الرقيق على نحو الكتابة، والحلول يقتضي وجوبها حالا. (وقوله: بأجل معلوم) متعلق بمؤجل، أي مؤجل بأجل معلوم للعاقدين، أو للعدلين، كإلى شهر رمضان. (قوله: لا مجهولا) أي لا مؤجل بأجل مجهول، فلا يصح. فلو قال أسلمت إليك بهذا إلى قدوم زيد: لم يصح، للجهل بوقت الحلول. (قوله: ومطلقه إلخ) أي أن مطلق السلم، أي الذي لم يصرح فيه بحلول أو أجل. (وقوله: حال) أي ينعقد حالا، كما أنه إذا أطلق البيع، ينعقد حالا. قال سم: وإن ألحقا به أجلا في المجلس: لحق، أو ذكرا أجلا ثم أسقطاه في المجلس: سقط.\rاه. (قوله: ومطلق المسلم فيه جيد) أي أن المسلم فيه إذا لم يقيد بجودة ولا رداءة: ينصرف للجيد - للعرف، ولكن ينزل على أقل درجات الجيد لا على أعلاها.\rb.…Bagaimana hukum uang yang dihasilkan dari transaksi tersebut ?\rJawaban :\rTercakup dalam jawaban sub A\rREFERENSI\rIdem Sub A\r3)…MENGHADIRI WALIMAH (II TSANAWIYYAH MHM LIRBOYO)\rDeskripsi Masalah\r“ Barang siapa yang diundang dalam acara walimah, maka datangilah “. Demikian pesan singkat dalam sebuah hadits yang dijadikan tendensi ulama’ untuk merumuskan anjuran menghadiri walimah. Realita di masyarakat, terdapat beraneka ragam cara mereka menghadiri walimah. Di antaranya :","part":1,"page":57},{"id":58,"text":"1)…Datang ke walimah dengan menemui tuan rumah, makan, kemudian langsung pamit, tanpa mengikuti acara secara penuh. Sebelum pulang, sebagian terlebih dahulu menyempatkan diri untuk foto-foto bareng kedua mempelai. Karena beberapa pertimbangan, ada juga yang tidak pamit terlebih dahulu.\r2)…Sebagian menghadiri walimah dengan menemui penerima tamu, tanpa bertemu langsung dengan pihak tuan rumah karena memandang shohibul hajah bukan orang sembarangan seperti pejabat tinggi atau tokoh masyarakat, menikmati hidangan, kemudian pamit pulang. Ada juga yang menyempatkan foto-foto terlebih dahulu dengan kedua mempelai. Karena berbagai faktor, sebagian bahkan tidak pamit terlebih dahulu.\r3)…Karena berbagai kendala, sebagian tidak dapat memasuki area acara walimah. Biasanya hanya berada di masjid, musholla, atau hanya di tempat parkir.\rPertanyaan :\ra.…Apakah model-model di atas sudah dianggap cukup dalam menghadiri walimah baik yang wajib maupun sunnah ?\rJawaban :\rSudah cukup dianggap menghadiri walimah karena yang menjadi tolok ukur dalam ijabah (menghadiri) adalah hadir di tempat walimah.\rREFERENSI\r1.…Takmilatul Majmu’, juz 18 hal 63…2.…Nihayatul Muhtaj, juz 21, hal 378\r3.…Qurrotul Ain Fatawa Ismail Zain, hal 131…4.…Asna Al Matholib, juz 3 hal 225\r1.…تكملة المجموع شرح المهذب جـ 18 صـ 63","part":1,"page":58},{"id":59,"text":"وان كان المدعو مفطرا فهل يلزمه الاكل ؟ فيه وجهان.(أحدهما) يلزمه أن يأكل لما روى أبو هريرة مرفوعا (فإذا دعى أحدكم إلى طعام فليجب، فإن كان مفطرا فليأكل، وان كان صائما فليصل)) ولان الاجابة المقصود منها الاكل فكان واجبا.(والثانى) لا يجب عليه الاكل لما روى جابر رضى الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال (إذا دعى أحدكم إلى طعام فليجب، فان شاء فليأكل، وان شاء ترك) ولانه لو كان واجبا لوجب عليه ترك التطوع لانه ليس بواجب، ولان التكثر والتبرك يحصل بحضوره وقد حضر.\r2.…نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج جـ 21 صـ 378\rوَعُلِمَ مِمَّا تَقَرَّرَ حُرْمَةُ التَّطَفُّلِ وَهُوَ الدُّخُولُ لِمَحَلِّ غَيْرِهِ لِتَنَاوُلِ طَعَامِهِ بِغَيْرِ إذْنِهِ وَلَا عُلِمَ رِضَاهُ أَوْ ظَنُّهُ بِقَرِينَةٍ مُعْتَبَرَةٍ ( قَوْلُهُ وَهُوَ الدُّخُولُ لِمَحَلٍّ غَيْرِهِ ) وَكَحِرْمَةِ الدُّخُولِ لِأَكْلِ طَعَامِ الْغَيْرِ دُخُولُهُ مِلْكَ غَيْرِهِ بِلَا إذْنٍ مُطْلَقًا وَإِنَّمَا اقْتَصَرَ عَلَى مَا ذُكِرَ لِأَنَّهُ مُسَمَّى التَّطَفُّلِ ثُمَّ الْمُرَادُ بِمَحَلِّهِ مَا يَخْتَصُّ بِهِ بِمِلْكٍ أَوْ غَيْرِهِ ، وَيَنْبَغِي أَنَّ مِثْلَ ذَلِكَ مَا لَوْ وَضَعَهُ فِي مَحَلٍّ مُبَاحٍ كَمَسْجِدٍ فَيَحْرُمُ عَلَى غَيْرِ مَنْ دَعَاهُ ذَلِكَ\r3.…قرة العين في فتاوي اسماعيل الزين صـ 131\rوحيث علم أنها فرض عين أو سنة عين فلا تقبل النيابة أصلا لوجوه كثيرة. منها أن كل ما سقط بالعذر لايقبل النيابة. ومنها أن المقصود مجرد الحضور لا الأكل بدليل أن الصائم إذا دعي يجب عليه الحضور وإن لم يأكل لكونه صائما ولو كان التوكيل جائزا لكان الصائم يوكل غيره في الحضور بدله .\r4.…أسنى المطالب شرح روض الطالب جـ 3 صـ 225","part":1,"page":59},{"id":60,"text":"( فَإِنْ أَصَرُّوا ) عَلَى ارْتِكَابِهِمْ الْمُنْكَرَ الْمُحَرَّمَ عَلَيْهِمْ ( خَرَجَ ) وُجُوبًا ( فَإِنْ تَعَذَّرَ الْخُرُوجُ ) كَأَنْ كَانَ لَيْلًا وَخَافَ ( قَعَدَ كَارِهًا ) بِقَلْبِهِ وَلَا يَسْتَمِعُ لِمَا يَحْرُمُ اسْتِمَاعُهُ ( كَمَا لَوْ كَانَ ذَلِكَ فِي جِوَارِ بَيْتِهِ ) لَا يَلْزَمُهُ التَّحَوُّلُ وَإِنْ بَلَغَهُ الصَّوْتُ ( وَلَا يَحْرُمُ الدُّخُولُ ) لِمَكَانِ الْوَلِيمَةِ ( وَفِي الْمَمَرِّ صُورَةٌ بَلْ لَا يُكْرَهُ ) دُخُولُهُ وَلَا ( دُخُولُ حَمَّامٍ بِبَابِهِ صُوَرٌ ) لِأَنَّهَا خَارِجَةٌ عَنْ مَحَلِّ الْحُضُورِ فَكَانَتْ كَالْخَارِجَةِ عَنْ الْمَنْزِلِ وَالتَّصْرِيحُ بِعَدَمِ الْكَرَاهَةِ مِنْ زِيَادَتِهِ\rJalsah Tsalitsah\rMUSHOHIH…PERUMUS…MODERATOR\r1. KH. M. Azizi Hasbulloh…1. Agus H. Adibussoleh…Ust. Ashabul Kahfi\r2. KH. Muh. Ali Masyhudi N.…2. Ust. M. Thohari Muslim…\r3. KH. Romadlon Khotib…3. Ust. Hisbulloh Alkhaq…NOTULEN\r…4. Ust. Hanif Abdul Ghofir…Muh. Amiqo Ilmi\r…5. Ust. Darul Azka…Zakaria Khoirul Hasan\r…6. Ust. Muh. Syahrul Munir…Ahmad Thohar\r…7. Ust. Nawawi Ashari…\r…8. Ust. M. Dinul Qoyim…\r…9. Ust. Aris Alwan…\r…10. Ust. Adibuddin…\r…11. Ust. M. Masrukhan…\rb.…Mempertontonkan mempelai wanita dalam majlis walimah, apakah dapat menggugurkan kewajiban menghadiri walimah ?\rJawaban :\rTafsil sebagai berikut :\r?…Jika ditempat tersebut berpotensi (berpeluang) ada saling melihat antara laki-laki dan perempuan yang diharamkan, maka menggugurkan kewajiban menghadiri walimah, namun tidak mengharamkan untuk datang.\r?…Jika dipastikan (tahaqquq) terjadi saling memandang yang diharamkan, maka haram untuk menghadiri walimah tersebut.","part":1,"page":60},{"id":61,"text":"1.…الفتاوى الفقهية الكبرى جـ 4 صـ 119\rوسئل عن قول الأنوار في الوليمة العاشر أن لا يكون هناك منكر كالخمر والملاهي والنساء على السقوف يدل على تحريم حضور مكان به نساء يشرفن على الرجال وبالأولى إذا كن في خلال الرجال أو بجانبهم فهل هذا معتمد فأجاب بقوله الذي دلت عليه عبارته التي اعتمدها جمع أن وجود النساء بمحل ينظرن الرجال نظرا محرما يمنع وجوب الإجابة لأنه منكر إذ نظر الأجنبية للأجنبي حرام وأما تحريم الحضور فليس فيها تصريح به وإنما هو مقتضى الحكم على ذلك بأنه منكر إذ من المعلوم حرمة حضور المنكر اختيارا لمن يقدر على إزالته ولكن ليس ذلك على إطلاقه بل شرط الحرمة أن يعلم تعمد نظر امرأة أجنبية له نظرا محرما وعلم ذلك بعيد إذ من الجائز أنهن ينظرن نظرا غير محرم كأن يقصرن نظرهن على غير البدن من اللباس ونحوه أو يقلدن من يجيز ذلك وكما احتمل في نظر عائشة رضي الله تعالى عنها للحبشة وهم يلعبون نحو ذلك فكذلك هنا فإن قلت لو نظرنا لذلك وجبت الإجابة قلت لا يلزم من عدم حرمة الحضور وجوب الإجابة وإنما لم تجب حينئذ لأن اجتماع النساء ونظرهن إلى الرجال مظنة الفتنة والفساد فيسمى منكرا وإن لم يتحقق حينئذ منهن نظرا نظرمحرمافإن قلت قد قرروه في الإجماع على جواز خروج النساء سافرات وعلى الرجال غض البصر مالم يصرح بأنه لا يحرم على الرجل الحضور وإن تحقق نظرا نظر محرما إليه قلت قد قيدت ذلك في شرح الإرشاد وغيره أخذا من قولهم الإعانة على محرم والتمكين منه اختيارا محرمان بما إذا لم تعلم المرأة أن أجنبيا ينظر إليها نظرا محرما وإلا حرم عليها بقاء كشف وجهها أو غيره مما ينظر إليه لأن قدرتها على ستره منه يصيرها إذا لم تستره معينة له على محرم وممكنة له منه وقد صرح الأصحاب بأنه يحرم على الحلال تمكين الحليل المحرم من الجماع ونحوه وصرح النووي وغيره بأنه يحرم كشف العورة بحضرة من يعلم أنه ينظر إليها نظرا محرما خلافا لمن وهم","part":1,"page":61},{"id":62,"text":"في ذلك زاعما أن الناظر عليه غض البصر فلا يكلف المنظور التحفظ منه وهذا خيال باطل وحال حائل وعبارة شرحي للإرشاد عطفا على الأعذار أو كان ثم زحام يؤذي خلافا للروياني أو نساء بنحو أسطحة الدار أو مرافقها ينظرن للرجال أو يختلطن بهم\r4)…PROBLEMATIKA BOCAH BELUM DIKHITAN (PPHM. NGUNUT - TULUNGAGUNG)\rDeskripsi Masalah\rSebagaimana maklum diketahui dalam literatur salaf bahwa orang tua berkewajiban mengajari dan memerintahkan anaknya untuk menjalani ibadah-ibadah fardlu beserta syarat rukunnya seperti shalat, puasa, dll. ketika si buah hati sudah berumur 7 tahun. Lebih dari itu, wajib juga mengajarkan amaliyyah syari’at yang tampak jelas (syarai’ al-zhahirah) seperti bersiwak.\rSuatu masalah terbersit dalam benak Pak Budi Mubarak. Suatu malam di saat beliau menelaah seperti di atas (memerintahkan anaknya shalat). Namun ia merasa bingung ketika akan memerintahkan anaknya untuk melaksanakan sholat, sementara anaknya belum di-khitan. Padahal anak yang belum di-khitan masih membawa najis di dalam kunclup-nya (Jawa). Sementara itu khitan belum diwajibkan jika belum berusia baligh. Pak Budi bimbang, kalau tetap diperintah, apa ya tidak sama seperti memerintahkan orang shalat dengan membawa najis ?. Kalau tidak diperintahkan, padahal sangat jelas itu adalah kewajiban orang tua terhadap anaknya. Sempat terpikir di benak hati Pak Budi, apakah Ia wajib menyunat anaknya terlebih dahulu sebelum diperintahkan shalat.","part":1,"page":62},{"id":63,"text":"Dalam persoalan lain, sering kita jumpai di berbagai sekolah TPQ para siswa shalat berjama’ah dengan diimami pengajarnya. Padahal rata-rata siswa tersebut belum dikhitan. Di sisi lain, hal tersebut sebagai bentuk pengajaran terhadap para siswa agar terlatih melakukan shalat berjama’ah.\rPertanyaan :\ra.…Apa yang harus dilakukan orang tua terhadap anaknya yang belum dikhitan ? Apakah tetap wajib memerintahnya untuk shalat meskipun belum di-khitan, atau wajib di-khitan terlebih dahulu sebelum diperintah shalat ?.\rJawaban :\rWajib memerintah anaknya untuk sholat, serta mengajari syarat-syaratnya yang mungkin diwujudkan dan tidak wajib khitan terlebih dahulu.\rREFERENSI\r1.…Is’adurrofiq, juz.1, hal.73…2.…Hasyiyah Sulaiman Al-Jamal, juz.3, hal.59\r3.…Tuhfah Al-Muhtaj fii Syarh Al-Minhaj, juz.4, hal.497…4.…Hasyiyah Ianah Al-Thalibin, juz.4, hal.198\r1.…اسعاد الرفيق جـ 1 صـ 73","part":1,"page":63},{"id":64,"text":"( فصل ) فيما يلزم اولياء نحو الصبيان وفى حكم تارك الصلاة( يجب على ولى الصبى والصبية المميزين ) من كل من الأبوين وان علا ولو من جهة الأم على المكفاية فيسقط بفعل احدهما عن الأخر لأنه من الأمر بالمعروف, ولذا خوطبت به الأم ولا ولاية لها ثم الوصى فالقيم فالملتقط ومثله السيد والمودع والمستعير( ان يأمرهما )اى الصبى والصبية ( بالصلاة) ولو قضاء وبغيرها من امور الشرع الظاهرة, ولو سنة كسواك وينهاهما عن منهياته, ولو مكروها كالشرب قائما ولابد مع الأمر من التهديد لكن بغير ضرب ( و ) أن ( يعلمهما ) بنفسه او نائبه أحكامها اي الصلاة من شروط واركان, وانما يجب ذلك ( بعد ) اي عقب تمام ( سبع سنين ) ان ميزا كما فهم من قوله اولا المميزين بحيث يأكل كل منهما ويشرب ويستنجى وحده ولا يجب قبلها وان ميزا لندرته قبلها . ( و ) يجب عليه أيضا أن ( يضربهما على تركها ) أو ترك شيئ من واجبتها أو المجمع عليه من غيرها ضربا غيرمبرح ، فإن لم يفد إلا هو تركه ، ويسن للمؤدب ولومؤلم القرأن أن لايزيد على ثلاث ، ويحرم تبليغه أدنى الحد ، لكن لايجب الضرب عليها إلا ( بعد ) أى عقب تمام ( عشر سنين ) عند حج ، وعند ابتدائها عند م ر لخبر \" مروا أولادهم بالصلاة وهم أبناء سبع ، واضربوهم عليها وهم أبناءعشر ، وفرقوا بينهم فى المضاجع \" الى أن قال وحكمة ذلك التمرين لهما حتى يألفاه بعد الوجوب عليهما الى أن قال وكذا تعليمهما مايحرم عليهما كاالجهل بمامر ، والزنا واللواط والغيبة والنميمة وغير ذلك .\r2.…حاشية الجمل جـ 3 صـ 59\r( قَوْلُهُ : وَيُؤْمَرُ بِهَا ) أَيْ بِفِعْلِهَا وَفِعْلِ مَا تَتَوَقَّفُ عَلَيْهِ مِنْ وُضُوءٍ وَنَحْوِهِ وَبِجَمِيعِ شُرُوطِهَا أَيْضًا وَلَا يَقْتَصِرُ عَلَى مُجَرَّدِ صِيغَتِهِ بَلْ لَا بُدَّ مَعَ ذَلِكَ مِنْ التَّهْدِيدِ إنْ تَوَقَّفَ الْحَالُ عَلَيْهِ ا هـ بِرْمَاوِيٌّ .\r3.…تحفة المحتاج في شرح المنهاج جـ 4 صـ 497","part":1,"page":64},{"id":65,"text":"{ مُرُوا الصَّبِيَّ بِالصَّلَاةِ إذَا بَلَغَ سَبْعَ سِنِينَ وَإِذَا بَلَغَ عَشْرَ سِنِينَ فَاضْرِبُوهُ عَلَيْهَا } وَفِي رِوَايَةٍ { مُرُوا أَوْلَادَكُمْ } وَحِكْمَةُ ذَلِكَ التَّمْرِينُ عَلَيْهَا لِيَعْتَادَهَا إذَا بَلَغَ وَأَخَّرَ الضَّرْبَ لِلْعَشْرِ ؛ لِأَنَّهُ عُقُوبَةٌ ، وَالْعَشْرُ زَمَنُ احْتِمَالِ الْبُلُوغِ بِالِاحْتِلَامِ مَعَ كَوْنِهِ حِينَئِذٍ يَقْوَى وَيَحْتَمِلُهُ غَالِبًا نَعَمْ بَحَثَ الْأَذْرَعِيُّ فِي قِنٍّ صَغِيرٍ لَا يُعْرَفُ إسْلَامُهُ أَنَّهُ لَا يُؤْمَرُ بِهَا أَيْ وُجُوبًا لِاحْتِمَالِ كُفْرِهِ وَلَا يُنْهَى عَنْهَا لِعَدَمِ تَحَقُّقِ كُفْرِهِ ، وَالْأَوْجَهُ نَدْبُ أَمْرِهِ لِيَأْلَفَهَا بَعْدَ الْبُلُوغِ وَاحْتِمَالُ كُفْرِهِ إنَّمَا يَمْنَعُ الْوُجُوبَ فَقَطْ وَلَا يَنْتَهِي وُجُوبُ ذَيْنِك عَلَى مَنْ ذُكِرَ إلَّا بِبُلُوغِهِ رَشِيدًا\r4.…إعانة الطالبين جـ 4 صـ 198\r(ووجب ختان) للمرأة والرجل حيث لم يولدا مختونين لقوله تعالى: * (أن اتبع ملة إبراهيم) * ومنها الختان، إختتن وهو إبن ثمانين سنة، وقيل واجب على الرجال، وسنة للنساء. ونقل عن أكثر العلماء. (ببلوغ) وعقل إذ لا تكليف قبلهما فيجب بعدهما فورا. وبحث الزركشي وجوبه على ولي مميز وفيه نظر.","part":1,"page":65},{"id":66,"text":"(قوله: فيجب) أي الختن بعدهما: أي البلوغ والعقل فورا. قال في التحفة: إلا إن خيف عليه منه فيؤخر، حتى يغلب على الظن سلامته منه، ويأمره به حينئذ الامام، فإن امتنع أجبره ولا يضمنه إن مات إلا أن يفعله به في شدة حر أو برد فيلزمه نصف ضمانه. ولو بلغ مجنونا لم يجب ختانه. اه. (قوله: وبحث الزركشي الخ) عبارة فتح الجواد: وبحث الزركشي وجوبه على ولي مميز توقفت صحة صلاته عليه لضيق القلفة، وعدم إمكان غسل ما تحتها من النجاسة فيه نظر، لانه لم يخاطب بوجوب الغسل حتى يلزم وليه ذلك. اهـ. (قوله: وإلا) أي وإن لم يختن في الاربعين، فيختن في السنة السابعة. قال ع ش: وبعدها ينبغي وجوبه على الولي إن توقفت صحة الصلاة عليه. اهـ.وهو مؤيد لبحث الزركشي السابق.\rHASIL KEPUTUSAN\rBAHTSUL MASAIL FMPP SE-JAWA MADURA XXVIII\rDi PP. Lirboyo Kota Kediri Jatim\r15-16 April 2015 M / 25-26 Jumadil Akhir 1436 H.\rKomisi C\rJalsah Ula\rMUSHOHIH…PERUMUS…MODERATOR\r1.…KH. Mukhlis Dimyati\r2.…KH. A Asyhar Shofwan\r3.…KH. Bahauddin Jumadi\r4.…KH. Safrijalla Subadar\r5.…Bpk. Anang Darunnaja\r6.…K. Fauzi Hamzah…1.…H Agus Ibrahim A Hafidz\r2.…Bpk. Saiful Anwar\r3.…K. Ali Romzi\r4.…Bpk. A Fadhil Khozin\r5.…Bpk. Fathurrozi\r6.…Bpk. Nur Hakim …\rBpk. M. Syibromulisi Alfah…\rNOTULEN\r1.…Bpk. M. Adzim Fadlan\r2.…Bpk. Hafidz Alwi\r3.…Bpk. M Hilmi Mubarak\r1)…SHALAT 3 WAKTU (PANITIA)\rDeskripsi Masalah","part":1,"page":66},{"id":67,"text":"Kota Jombang dihebohkan dengan beredarnya stiker berisi ajakan melakukan salat tiga waktu. Misalnya, salat dzuhur dan ashar, dilakukan pada waktu dzuhur lalu salat magrib dan isya dilakukan pada waktu isya. Salat tiga waktu itu disebut salat jamak. Namun bedanya, salat jamak itu bisa dilakukan meski tidak dalam bepergian dan salat itu diperuntukkan pada petani, pedagang kaki lima dan pekerja lainnya.\r“Jamak boleh dilakukan tiap hari meski tidak bepergian,” tulisan dalam stiker tersebut sebagaimana dikutip Beritajatim.com, Selasa (17/2/2015). Stiker itu diterbitkan oleh PPUW (Pondok Pesantren Urwatul Wutsqo) Desa Bulurejo, Kecamatan Diwek. Bukan kali ini saja pondok itu membuat heboh kota santri tersebut. Sebelumnya PPUW juga membuat sensasi dengan menerapkan hukum cambuk di pesantren.\rHj Quratul Ayun, istri dari KH Qoyim Ya’qub, pengasuh PPUW menjelaskan stiker yang mereka edarkan itu khusus untuk para pekerja yang sibuk seperti sopir, tukang becak, dan para buruh tani. Karena mereka tidak bisa tepat waktu untuk melaksankan salat lima waktu.\rMenurut Quratul Ayun, dasar hukum tentang ajaran salat tiga waktu itu, yakni surat Al Isra’ ayat 78. Dalam surat itu, kata dia, ada tiga waktu salat. Pertama, saat tergelincirnya matahari, kemudian gelap malam, dan terang fajar. “Salat jamak juga ada dalam hadits nabi,” katanya.","part":1,"page":67},{"id":68,"text":"Selain itu, qurrotul juga mengatakan ada dasar hadits nabi yang menyatakan agar umat manusia tidak berat menunaikan sholat. Meskipun pada dasarnya pada hadits nabi, sholat lima waktu memang lebih utama. “ Maka dari itu, karena Allah tidak memberatkan dan nabi tidak memberatkan dari pada tidak sholat, maka ditolerir sholat tiga waktu. Tapi sekali lagi sholat dengan lima waktu adalah yang terbaik”, paparnya.\rSekretaris MUI Jombang, KH Junaidi Hidayat, membenarkan beredarnya stiker salat tiga waktu. MUI menilai stiker iitu meresahkan masyarakat. “Kami sangat menyesalkan beredarnya stiker itu, karena berpotensi menyesatkan,” kata Junaidi. MUI akan segera memanggil pengasuh PPUW untuk mengetahui alasan PPUW menerbitkan himbauan salat tiga waktu.\rPertanyaan :\ra.…Bagaimana hukum ‘memfatwakan’ shalat 3 waktu sebagaimana dalam deskripsi ?\rJawaban :\rHukumnya tidak boleh sebab menimbulkan dampak negatif. Diantaranya :\r1.…Menimbulkan kecerobohan masyarakat dalam urusan agama (التساهل فى الدين)\r2.…Menimbulkan fitnah di masyarakat, dsb.\rREFERENSI\r1.…بغية المسترشدين الجزء الاول ص: 10\r(مسألة : ي) : لا يحل لعالم أن يذكر مسألة لمن يعلم أنه يقع بمعرفتها في تساهل في الدين ووقوع في مفسدة ، إذ العلم إما نافع : كالواجبات العينية يجب ذكره لكل أحد ، أو ضار : كالحيل المسقطة للزكاة ، وكل ما يوافق الهوى ويجلب حطام الدنيا ، لا يجوز ذكره لمن يعلم أنه يعمل به ، أو يعلمه من يعمل به ، أو فيه ضرر ونفع ، فإن ترجحت منافعه ذكره وإلا فلا ، ويجب على العلماء والحكام تعليم الجهال ما لا بد منه مما يصح به الإسلام من العقائد ، وتصح به الصلاة والصوم من الأحكام الظاهرة ، وكذا الزكاة والحج حيث وجب.","part":1,"page":68},{"id":69,"text":"2.…المجموع الجزء الأول ص: 46\rيحرم التساهل في الفتوى ومن عرف به حرم استفتاؤه: فمن التساهل أن لا يتثبت ويسرع بالفتوى قبل استيفاء حقها من النظر والفكر فان تقدمت معرفته بالمسئول عنه فلا بأس بالمبادرة وعلى هذا يحمل ما نقل عن الماضين من مبادرة: ومن التساهل أن تحمله الاغراض الفاسدة على تتبع الحيل المحرمة أو المكروهة والتمسك بالشبه طلبا للترخيص لمن يروم نفعه أو التغليظ على من يريد ضره واما من صح قصده فاحتسب في طلب حيلة لا شبهة فيها لتخليص من ورطة يمين ونحوها فذلك حسن جميل: وعليه يحمل ما جاء عن بعض السلف من نحو هذا كقول سفيان انما العلم عندنا الرخصة من ثقة فأما التشديد فيحسنه كل احد: ومن الحبل التى فيها شبهة ويذم فاعلها الحيلة السريجية في سد باب الطلاق\r3.…بريقة محمودية في شرح طريقة محمدية وشريعة نبوية الجزء الرابع ص: 270","part":1,"page":69},{"id":70,"text":"( الثامن والأربعون الفتنة وهي إيقاع الناس في الاضطراب أو الاختلال والاختلاف والمحنة والبلاء بلا فائدة دينية ) وهو حرام لأنه فساد في الأرض وإضرار بالمسلمين وزيغ وإلحاد في الدين كما قال الله تعالى { إن الذين فتنوا المؤمنين والمؤمنات } الآية وقال صلى الله تعالى عليه وسلم { الفتنة نائمة لعن الله من أيقظها } قال المناوي الفتنة كل ما يشق على الإنسان وكل ما يبتلي الله به عباده وعن ابن القيم الفتنة قسمان فتنة الشبهات وفتنة الشهوات وقد يجتمعان في العبد وقد ينفردان ( كأن يغري ) من الإغراء ( الناس على البغي ) من الباغي – الى ان ثال - ( أو ) كأن ( لا يحتاط في التأمل والمطالعة فيخطئ في فهم مسألة أو نحوها ) من معنى الآية أو الحديث ( ومن الكتاب فيذكر ) من التذكر ( للناس ) ما لا يعرف بكنهه فيضلهم ويوقع الفتنة بينهم كما هو شأن أكثر القصاص والوعاظ في زماننا ( أو يذكر ويفتي قولا مهجورا ) في التتارخانية ولا يفتى بالأقوال المهجورة لجر منفعته لأنه ضرر في الدين وقال أبو يوسف لا يسوغ لأحد أن يفتي بالرأي إلا من عرف أحكام الكتاب والسنة والناسخ والمنسوخ وأقاويل الصحابة والمتشابه ووجوه الكلام وعن محمد إذا كان صواب الرجل أكثر من خطئه جاز له أن يفتي حكي أن رجلا سأل نضر بن يحيى عن مسألة طلاق فقال اذهب إلى محمد بن سلمة فسأله فقال اذهب إلى نضر بن يحيى فسأله فقال كالأول فمل الرجل وقال امرأتي طالق ثلاثا هل بقي فيه لأحد إشكال ( أو ضعيفا أو قولا يعلم أن الناس لا يعلمون به ) قيل كأن يقول لا يجوز البيع بالدنانير والدراهم بلا وزن وكذا الاستقراض لأنه نص عليه الصلاة والسلام على الوزنية فيها فلا يخرجان عنها أبدا وإن ترك الناس فهذا القول وإن كان في نفسه أقوى لأنه قول الإمامين وقول أبي يوسف أيضا في ظاهر الرواية لكن الناس لا يعملون به في زماننا قطعا بل العمل بالرواية الغير الظاهرة عنه وهي خروجهما عن الوزنية بتعامل","part":1,"page":70},{"id":71,"text":"الناس إلى العددية وهذه الرواية وإن كانت ضعيفة رواية قوية دراية فالقول بها ألزم فرارا من الفتنة ( بل ينكرونه أو يتركون بسببه طاعة أخرى كمن يقول لأهل القرى ) الظاهر أنه من قبيل إخراج الكلام مخرج العادة أو من قبيل أن المفرد يلحق بالأعم والأغلب وإلا فكثيرا ما يوجد في المصر بل الأكثر في أهل البادية (والعجائز والإماء ) أما الإماء فلخدمة مولاهن وأما العجائز فلانتفاء قابلية التعلم بكبر السن بل بوصولهن إلى سن الانحطاط وكذا الشيوخ بالمقايسة وخصها للكثرة فيهن بالنسبة إلى الشيوخ ( لا تجوز ) مقول لقول ( الصلاة بدون التجويد وهم ممن يعلم أنهم لا يقدرون على التجويد ) للكنة ألسنتهم ( أو لا يتعلمونه ) لمجرد التساهل ( فيتركون الصلاة رأسا ) لعل من هذا القبيل القول لمثلهم أنه لا تجوز الصلاة بدون تعديل الأركان ( وهي ) أي الصلاة بدون تجويد ( جائزة عند البعض ) إذ المعتبر عنده قرب المخرج فيجوز قراءة \" الخمد لله \" بالخاء أو بالهاء ونحوهما ( وإن كان ضعيفا ) عند الجمهور ومن لم يتعلم شيئا من القرآن تكاسلا مع القدرة لا تجوز صلاته بدون القراءة بخلاف الأمي الذي لا يقدر على القراءة أصلا وعليه يحمل قوله عليه الصلاة والسلام { إذا قرأ القارئ فأخطأ أو لحن أو كان أعجميا كتبه الملك كما أنزل } قال المناوي أي قومه الملك ولا يرفع إلا قرآنا عربيا غير ذي عوج وفيه أن القارئ يكتب له ثواب قراءته وإن أخطأ ولحن إذا لم يتعمد ولم يقصر في التعلم كما مر ( فالعمل به أولى من الترك أصلا فعلى الوعاظ والمفتين معرفة أحوال الناس وعادتهم في القبول والرد والسعي والكسل ونحوها ) كما يقال لكل مقام مقال ولكل ميدان رجال وكما قيل من لم يعرف عرف زمانه فهو جاهل فإن الأحكام قد تتغير بتغير الأزمان والأشخاص كما فهم من الزيلعي ( فيتكلمون بالأصلح والأوفق لهم حتى لا يكون كلامهم فتنة للناس ) إما بعدم الفهم أو بعدم القبول أو بترك العمل بالكلية لكن","part":1,"page":71},{"id":72,"text":"يشكل بقاعدة الأمر بالمعروف بل اللائق للمحتسب أن يجتهد في تعليم ضرورياتهم بالرفق والكلام اللين أو الغلظة والتشديد أو بإعلام الحاكم أو الولي على حساب حالهم وإن ظن عدم قبول سوء الظن فليتأمل ( وكذا الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر ) بحسب معرفة أحوال الناس وطبائعهم وعاداتهم ( إذ قد يكون سببا لزيادة المنكر ) تعنتا وتعصبا قال في النصاب ينبغي للآمر بالمعروف أن يأمر في السر إن استطاع ليكون أبلغ في الموعظة والنصيحة .\r4.…الميزان الكبرى الجزء الأول ص: 3","part":1,"page":72},{"id":73,"text":"إن سائر أئمة المسلمين على هدى من ربهم فى كل حين وأوان وكل من لم يصل إلى هذه الإعتقاد من طريق الكشف والعيان وجب عليه اعتقاد ذلك من طريق التسليم والإيمان وكما لا يجوز لنا الطعن فيما جاءت به الأنبياء مع اختلاف شرائعهم فكذلك لا يجوز لنا الطعن فيما استنبطه الأئمة المجتهدين بطريق الإجتهاد والإستحسان ويوضح لك ذلك أن تعلم يا أخي أن الشريعة جاءت من حيث الأمر والنهي على مرتبتي تخفيف وتشديد لا إلى مرتبة واحدة كما سيأتى إيضاحه في الميزان فإن جميع المكلفين لا يخرجون عن قسمين قوي وضعيف من حيث إيمانه أو جسمه في كل عصر وزمان فمن قوي منهم خوطب بالتشديد والأخذ بالعزائم ومن ضعف خطب بالتخفيف والأخذ بالرخص وكل منهما حينئذ على شريعة من ربه وتبيان فلا يؤمر القوي بالنزول إلى الرخصة ولا يكلف الضعيف بالصعود للعزيمة وقد رفع الخلاف في جميع أدلة الشريعة وأقوال علمائها عند كل من عمل بهذه الميزان وقول بعضهم إن الخلاف الحقيقي بين طائفتين مثلا لا يرتفع الحمل محمول علىمن لم يعرف قواعد هذا الكتاب لأن الخلاف الذي لا يرتفع من بين أقوال أئمة الشريعة مستحيل عند صاحب هذه الميزان فامتحن يا أخي ما قلته لك في كل حديث ومقابله أو كل قول ومقابله تجد كل واحد منهما لا بد أن يكون مخففا والآخر مشددا ولكل منهما رجال في حال مباشرتهم الأعمال ومن المحال أن لا يوجد لنا قولان معا في حكم واحد مخففان أو مشددان وقد يكون في المسئلة الواحدة ثلاثة أقوال أو أكثر أو قول مفصل فالحاذق يرد كل قول إلى ما يناسبه ويقاربه في التخفيف والتشديد حسب الإِمكان وقد قال الإمام الشافعي وغيره إن إعمال الحديثين أو القولين أولى من إلغاء أحدهما وأن ذلك من كمال مقام الإيمان\r5.…التهذيب الجزء الأول ص: 51 - 52","part":1,"page":73},{"id":74,"text":"وفي المسلك العدل شرح با فضل ورفع للعلامة السيد عمر سؤال من الإحساء فيما يختلف فيه ابن حجر والجمال الرملي فما المعول عليه من الترجيحين؟ فأجاب إن كان المفتى من أهل الترجيح أفتى بما ترجح عنده قال وإن لم يكن كذلك كما هو الغالب في هذه الأعصار المتأخرة فهو راو لا غير فيتخير في رواية أيهما شاء أو جميعا أو بأيها من ترجيحات أجلاء المتأخرين ثم الأولى بالمفتى التأمل في طبقات العامة فإن كان السائلون من الأقوياء الآخذين بالعزائم وما فيه الاحتياط اختصهم برواية ما يشتمل على التشديد وإن كانوا من الضعفاء الذين هم تحت أسر النفوس بحيث لو اقتصر في شأنهم على رواية التشديد أهملوه ووقعوا في وهدة المخالفة لحكم الشرع روي لهم ما فيه التخفيف شفقة عليهم من الوقوع في ورطة الهلاك لا تساهلا في دين الله أو لباعث فاسد كطمع أو رغبة أو رهبة ثم قال وهذا الذي تقرر هو الذي نعتقده وندين الله به\r6.…بغية المسترشدين - (ج 1 / ص 167)\rويلزم العالم إذا استفتى في إقامة الجمعة مع نقص العدد أن يقول : مذهب الشافعي لا يجوز ، ثم إن لم يترتب عليه مفسدة ولا تساهل جاز له أن يرشد من أراد العمل بالقول القديم إليه\r7.…المزان الكبرى الجزء الاول ص: 199 الهداية","part":1,"page":74},{"id":75,"text":"ومن ذلك قول الشافعي بعدم جواز الجمع للمرض والخوف مع قول احمد بجوازه واختاره جماعة من متأخر اصحاب الشافعي وقال النواوي انه قوي جدا, وامن الجمع من غير خوف ولا مرض فجوزه ابن سيرين لحاجة مالم يتخذه ذلك عادةوكذلك اختار ابن المنذر وحماعة جواز الجمع في الحضر من غير خوف ولا مرض ولا مطر مالم يتخذه ديدنا , فقول الشافعي مشدد وقول احمد مخففة وكذلك قول ابن سيرين وابن المنذر فرحع الأمر الى مرتبتي المزان ووحه الأول عدم ورود نص بحوازه ووحه قول احمد ومن وافقه كون المرض والخوف أعظم مشقة من المطر والوحل غالبا ولم أعرف دليلا لقول ابن سيرين وابن المنذر وكان الأولى منهما عدم التصريح بحواز ذلك مطلقا , وتأمل يا أخي قول مالك لما قيل له ان الرسول الله صلى الله عليه وسلم جمع بالمدينة من غير خوف ولا مرض فقال اراه بعذر المطر ولن يجزم من حهة نفسه تحده في غاية الأدب فاياك ياأخي ان تنقل ما ذكر عن ابن سيرين او عن ابن المنذر الا مع بيان ضعفه وبيان ان التقديم المذكور انما هو الصلاة التي ورد الشرع بحواز جمعها بخلاف ما لا يحوز الجمع فيه اجماعا كجمع الصبح مع العشاء او المغرب مع العصر ونحو ذلك\r8.…المجموع شرح المهذب الجزء الرابع ص: 384\rفي مذاهبهم في الجمع في الحضر بلا خوف ولا سفر ولا مرض: مذهبنا ومذهب ابي حنيفة ومالك واحمد والجمهور انه لا يجوز وحكى ابن المنذر عن طائفة جوازه بلا سبب قال وجوزه بن سيرين لحاجة أو ما لم يتخذه عادة\r9.…شرح البهجة الوردية الجزء الرابع ص: 462","part":1,"page":75},{"id":76,"text":"وذهب جماعة من الأئمة إلى جواز الجمع في الحضر للحاجة لمن لا يتخذه عادة ، وهو قول ابن سيرين وأشهب من أصحاب مالك وحكاه الخطابي عن القفال والشاشي الكبير من أصحاب الشافعي عن أبي إسحاق المروزي عن جماعة من أصحاب الحديث ، واختاره ابن المنذر ويؤيده قول ابن عباس حين سئل أراد أن لا يحرج أمته فلم يعلله بمرض ولا غيره ا هـ وسواء في هذا الجمع التقديم والتأخير كما هو ظاهر الإطلاق فليحرر\rb.…Bagaimanakah sikap kita terhadap fatwa tersebut ?\rJawaban :\rMengingat dampak negatif yang ditimbulkan dari penyebaran stiker (munculnya tasahul Fiddin dan fitnah ditengah masyarakat) maka sikap kita adalah amar ma’ruf nahi munkar sesuai prosedurnya, semisal :\r?…Dengan memberi himbauan kepada pihak penyebar agar menghentikan penyebaran tersebut baik dalam bentuk stiker atau yang lain.\r?…Memberitahu kepada masyarakat bahwa pendapat dalam stiker tersebut lemah.\r5.…بغية المسترشدين الجزء الاول ص: 536","part":1,"page":76},{"id":77,"text":"(مسألة : ج) : ونحوه ي : الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر قطب الدين ، فمن قام به من أيّ المسلمين وجب على غيره إعانته ونصرته ، ولا يجوز لأحد التقاعد عن ذلك والتغافل عنه وإن علم أنه لا يفيد ، وله أركان : الأوّل المحتسب وشرطه الإسلام والتمييز- الى ان قال - الثاني : ما فيه الحسبة وهو كل منكر ولو صغيرة مشاهد في الحال الحاضر ، ظاهر للمحتسب بغير تجسس معلوم ، كونه منكراً عند فاعله ، فلا حسبة للآحاد في معصية انقضت ، نعم يجوز لمن علم بقرينة الحال أنه عازم على المعصية وعظه ، ولا يجوز التجسس إلا إن ظهرت المعصية ، كأصوات المزامير من وراء الحيطان ، ولا لشافعي على حنفي في شربه النبيذ ، ولا لحنفي على شافعي في أكل الضب مثلاً. الثالث : المحتسب عليه ويكفي في ذلك كونه إنساناً ولو صبياً ومجنوناً الرابع : نفس الاحتساب وله درجات : التعريف ، ثم الوعظ بالكلام اللطيف ، ثم السب والتعنيف ، ثم المنع بالقهر ، والأولان يعمان سائر المسلمين ، والأخيران مخصوصان بولاة الأمور ، زاد ج : وينبغي كون المرشد عالماً ورعاً وحسن الخلق ، إذ بها تندفع المنكرات وتصير الحسبة من القربات ، وإلا لم يقبل منه ، بل ربما تكون الحسبة منكرة لمجاوزة حدّ الشرع\r6.…الموسوعة الفقهية الكويتية الجزء السادس ص: 249 - 251","part":1,"page":77},{"id":78,"text":"أركان الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر :4 - عقد الغزالي في إحياء علوم الدين مبحثا جيدا لأركانه ، وحاصله ما يلي : الأركان اللازمة للأمر بالمعروف والنهي عن المنكر أربعة ، وهي :( أ ) الأمر .( ب ) ما فيه الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر ( المأمور فيه ) .( ج ) نفس الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر ( الصيغة ) .( د ) المأمور . ثم بين أن لكل ركن من الأركان شروطه الخاصة به على النحو التالي : أولا : الآمر وشروطه : أ - التكليف ، ولا يخفى وجه اشتراطه ، فإن غير المكلف لا يلزمه أمر ، وما ذكر يراد به شرط الوجوب ، فأما إمكان الفعل وجوازه فلا يستدعي إلا العقل ب - الإيمان ، ولا يخفى وجه اشتراطه ، لأن هذا نصرة للدين ، فكيف يكون من أهله من هو جاحد لأصله ومن أعدائه ج - العدالة : وقد اختلفوا في هذا الشرط ، فاعتبرها قوم ، وقالوا : ليس للفاسق أن يأمر وينهى ، واستدلوا بقوله تعالى : { أتأمرون الناس بالبر وتنسون أنفسكم } وقوله تعالى : { كبر مقتا عند الله أن تقولوا ما لا تفعلون } وقال آخرون : لا تشترط في الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر العصمة من المعاصي كلها ، وإلا كان خرقا للإجماع ، ولهذا قال سعيد بن جبير : إذا لم يأمر بالمعروف وينه عن المنكر إلا من لا يكون فيه شيء لم يأمر أحد بشيء . وقد ذكر ذلك عند مالك فأعجبه .واستدل أصحاب هذا الرأي بأن لشارب الخمر أن يجاهد في سبيل الله ، وكذلك ظالم اليتيم ، ولم يمنعوا من ذلك لا في عهد الرسول صلى الله عليه وسلم ولا بعده .ثانيا : محل الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر وشروطه : أ - كون المأمور به معروفا في الشرع ، وكون المنهي عنه محظور الوقوع في الشرع .ب - أن يكون موجودا في الحال ، وهذا احتراز عما فرغ منه .ج - أن يكون المنكر ظاهرا بغير تجسس ، فكل من أغلق بابه لا يجوز التجسس عليه ، وقد نهى الله عن ذلك فقال : { ولا تجسسوا } وقال : { وأتوا البيوت من أبوابها } وقال : { لا","part":1,"page":78},{"id":79,"text":"تدخلوا بيوتا غير بيوتكم حتى تستأنسوا وتسلموا على أهلها } .د - أن يكون المنكر متفقا على تحريمه بغير خلاف معتبر ، فكل ما هو محل اجتهاد فليس محلا للإنكار ، بل يكون محلا للإرشاد ، ينظر مصطلح ( إرشاد ) ثالثا : الشخص المأمور أو المنهي : وشرطه أن يكون بصفة يصير الفعل الممنوع منه في حقه منكرا ، ولا يشترط كونه مكلفا ، إذ لو شرب الصبي الخمر منع منه وأنكر عليه ، وإن كان قبل البلوغ . ولا يشترط كونه مميزا ، فالمجنون أو الصبي غير المميز لو وجدا يرتكبان منكرا لوجب منعهما منه . رابعا : نفس الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر : وله درجات وآداب . أما الدرجات فأولها التعريف ، ثم النهي ، ثم الوعظ والنصح ، ثم التعنيف ، ثم التغيير باليد ، ثم التهديد بالضرب ، ثم إيقاع الضرب ، ثم شهر السلاح ، ثم الاستظهار فيه بالأعوان والجنود . وسيأتي تفصيل ذلك مراتب الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر : يرى جمهور الفقهاء أن المراتب الأساسية للأمر بالمعروف والنهي عن المنكر ثلاث ، وذلك لحديث أبي سعيد الخدري ، قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : من رأى منكم منكرا فليغيره بيده ، فإن لم يستطع فبلسانه ، فإن لم يستطع فبقلبه ، وذلك أضعف الإيمان فمن وسائل الإنكار التعريف باللطف والرفق ، ليكون أبلغ في الموعظة والنصيحة ، وخاصة لأصحاب الجاه والعزة والسلطان وللظالم المخوف شره ، فهو أدعى إلى قبوله الموعظة . وأعلى المراتب اليد ، فيكسر آلات الباطل ويريق المسكر بنفسه أو يأمر من يفعله ، وينزع المغصوب ، ويرده إلى أصحابه بنفسه ، فإذا انتهى الأمر بذلك إلى شهر السلاح ربط الأمر بالسلطان وقد فصل الغزالي في الإحياء مراتب الأمر والنهي وقسمها إلى سبع مراتب ، تنظر في مصطلح ( حسبة ) هذا ويجب قتال المقيمين على المعاصي الموبقات ، المصرين عليها المجاهرين بها على كل أحد من الناس إذا لم يرتدعوا - وهذا بالنسبة للإمام - لأننا مأمورون بوجوب","part":1,"page":79},{"id":80,"text":"التغيير عليهم ، والنكير بما أمكن باليد ، فإذا لم يستطع فلينكر بلسانه ، وذلك إذا رجا أنه إن أنكر عليهم بالقول أن يزولوا عنه ويتركوه ، فإن خاف على نفسه أو على عضو من أعضائه ، أنكر بقلبه . فلو قدر واحد باليد وآخرون باللسان تعين على الأول ، إلا أن يكون التأثير باللسان أقرب ، أو أنه يتأثر به ظاهرا وباطنا ، في حين لا يتأثر بذي اليد إلا ظاهرا فقط ، فيتعين على ذي اللسان حينئذ 6 - ولا يسقط الإنكار بالقلب عن المكلف باليد أو اللسان أصلا ، إذ هو كراهة المعصية ، وهو واجب على كل مكلف ، فإن عجز المكلف عن الإنكار باللسان وقدر على التعبيس والهجر والنظر شزرا لزمه ، ولا يكفيه إنكار القلب ، فإن خاف على نفسه أنكر بالقلب واجتنب صاحب المعصية . قال ابن مسعود رضي الله عنه : جاهدوا الكفار بأيديكم فإن لم تستطيعوا إلا أن تكفهروا في وجوههم فافعلوا\r7.…المزان الكبرى الجزء الاول ص: 199 الهداية","part":1,"page":80},{"id":81,"text":"ومن ذلك قول الشافعي بعدم جواز الجمع للمرض والخوف مع قول احمد بجوازه واختاره جماعة من متأخر اصحاب الشافعي وقال النواوي انه قوي جدا, وامن الجمع من غير خوف ولا مرض فجوزه ابن سيرين لحاجة مالم يتخذه ذلك عادةوكذلك اختار ابن المنذر وحماعة جواز الجمع في الحضر من غير خوف ولا مرض ولا مطر مالم يتخذه ديدنا , فقول الشافعي مشدد وقول احمد مخففة وكذلك قول ابن سيرين وابن المنذر فرحع الأمر الى مرتبتي المزان ووحه الأول عدم ورود نص بحوازه ووحه قول احمد ومن وافقه كون المرض والخوف أعظم مشقة من المطر والوحل غالبا ولم أعرف دليلا لقول ابن سيرين وابن المنذر وكان الأولى منهما عدم التصريح بحواز ذلك مطلقا , وتأمل يا أخي قول مالك لما قيل له ان الرسول الله صلى الله عليه وسلم جمع بالمدينة من غير خوف ولا مرض فقال اراه بعذر المطر ولن يجزم من حهة نفسه تحده في غاية الأدب فاياك ياأخي ان تنقل ما ذكر عن ابن سيرين او عن ابن المنذر الا مع بيان ضعفه وبيان ان التقديم المذكور انما هو الصلاة التي ورد الشرع بحواز جمعها بخلاف ما لا يحوز الجمع فيه اجماعا كجمع الصبح مع العشاء او المغرب مع العصر ونحو ذلك\r8.…عمدة المفتي والمستفتي الجزء الاول ص: 200\rسئل شيخنا المؤلف هل قال أحد بجواز الجمع من غير سفر ولا مرض ولا مطر ؟ وهل يجوز تقليد القائل بذلك ؟ فشرع في تاليف رسالة كتب خطبتها ثم ترك وللفقير مختصر هذه الفتاوي جواب بينت فيه عدم جواز العمل بهذا القول وبينت ضعف مأخذ القائل بذلك من السنة وبيان بطلان تمسكه بذلك بالسنة الصحيحة وللفاضل الشوكاني رسالة سماها تشنيف السمع بابطال أدلة الجمع والحاصل أنه لا يجوز تقليد القائل به وقد حرم فضل الصلاة الوسطى من يجمعها مع الظهر وارتكب اثما لانه لم يصلها\r9.…بغية المسترشدين الجزء الاول ص: 535","part":1,"page":81},{"id":82,"text":"وليس لعامي يجهل حكم ما رآه أن ينكره حتى يعلم من فاعله أنه حال ارتكابه حتى يعلم أنه مجمع عليه أو في اعتقاد الفاعل ، ولا لعالم أن ينكر مختلفاً فيه حتى يعلم من فاعله أنه حال ارتكابه معتقد تحريمه لاحتمال أنه قلد من يرى حله أو جهل حرمته.\r10.…الموسوعة الفقهية الكويتية الجزء السابع عشرة ص: 263\rثالثا - احتساب التلميذ على الشيخ ، والزوجة على زوجها ، والتابع على المتبوع : 38 - عقد النووي في الأذكار بابا في وعظ الإنسان من هو أجل منه وقال : اعلم أن هذا الباب مما تتأكد العناية به ، فيجب على الإنسان النصيحة ، والوعظ ، والأمر بالمعروف والنهي عن المنكر لكل صغير وكبير ، إذا لم يغلب على ظنه ترتب مفسدة على وعظه وألحق الإمام الغزالي الزوجة بالنسبة لزوجها بالولد بالنسبة لأبيه وقال في باب ما يقوله التابع للمتبوع إذا فعل ذلك أو نحوه : اعلم أنه يستحب للتابع إذا رأى شيخه وغيره ممن يقتدي به شيئا في ظاهره مخالفة المعروف أن يسأله عنه بنية الاسترشاد ، فإن كان فعله ناسيا تداركه ، وإن فعله عامدا وهو صحيح في نفس الأمر بينه له ، وأورد جملة آثار في ذلك وللإمام الغزالي تفصيل ، فبعد أن قرر كأصل عام أن المحترم هو الأستاذ المفيد للعلم من حيث الدين ، ولا حرمة لعالم لا يعمل بعلمه ويعامله بموجب علمه الذي تعلمه منه . قال بسقوط الحسبة على المتعلم إذا لم يجد إلا معلما واحدا ولا قدرة له على الرحلة إلى غيره ، وعلم أن المحتسب عليه قادر على أن يسد عليه طريق الوصول إليه ، ككون العالم مطيعا له أو مستمعا لقوله ، فالصبر على الجهل محذور ، والسكوت على المنكر محذور ، ولا يبعد أن يرجح أحدهما ويختلف ذلك بتفاحش المنكر وشدة الحاجة إلى العلم لتعلقه بمهمات الدين. وناط الاحتساب وتركه باجتهاد المحتسب حتى يستفتي فيها قلبه ، ويزن أحد المحذورين بالآخر ويرجح بنظر الدين لا بموجب الهوى والطبع","part":1,"page":82},{"id":83,"text":"2)…MUNAROH SELFIE DI FACEBOOK (PP. AL-FALAH – PLOSO)\rDeskripsi Masalah\rSebut saja Munaroh (bukan nama sebenranya), santriwati ayu yang juga sekaligus aktivis di dunia Facebook dengan akun “ Munaroh_chyankOchid “, dengan jumlah pertemanan hampir 2500 teman. Belakangan ini (pas liburan maulud), dia sering upload foto selfie di FB. Katanya sih biar nggak kelihatan ketinggalan jaman (kudet, kurang update).\rDan dari sekian banyak fotonya, banyak teman pria yang ngelike dan komen memuji kecantikannya, semisal komen “ MasyaAllah ayune anake sapa ci” dari akun joKo_ingindicint4. Tak jarang Mbak Munaroh juga update status yang pada intinya mengumbar perasaan galaunya.\rPertanyaan :\ra.…Sebenarnya apa hukum upload foto dan update status di mana terkadang mengumbar perasaannya di FB seperti contoh kasus di atas ?\rJawaban :\rHukum mengupload foto di jejaring social:\r?…Apabila ada keyakinan atau dugaan akan menimbulkan fitnah atau terjadinya kemaksiatan maka haram.\r?…Apabila hanya sebatas keraguan maka makruh.\r?…Apabila yakin atau ada dugaan kuat tidak akan menimbulkan fitnah atau terjadinya maksiat maka boleh.\rNB: Yang dimaksud fitnah adalah ketertarikan hati atau dorongan untuk melakukan zina atau muqoddimahnya. Dan mengundang orang lain untuk berkomentar yang negative menurut syara’ seperti berkomentar yang tidak senonoh.","part":1,"page":83},{"id":84,"text":"Sedangkan hukum update status ditentukan oleh isi dari status tersebut, bisa haram apabila mengandung keharaman seperti ghibah (menggunjing), namimah (adu domba), kebohongan, provokasi atau status tersebut ditujukan untuk kepada perorangan yang lawan jenis, meskipun isinya tidak haram. Bisa sunnah apabila status mengandung unsur kebaikan seperti nasihat, tahadduts binni’mah dll.\rREFERENSI\rHukum upload foto.\rبغية المسترشدين الجزء الاول ص: 260\r(مسألة : ي) : كل معاملة كبيع وهبة ونذر وصدقة لشيء يستعمل في مباح وغيره ، فإن علم أو ظنّ أن آخذه يستعمله في مباح كأخذ الحرير لمن يحل له ، والعنب للأكل ، والعبد للخدمة ، والسلاح للجهاد والذب عن النفس ، والأفيون والحشيشة للدواء والرفق حلت هذه المعاملة بلا كراهة ، وإن ظن أنه يستعمله في حرام كالحرير للبالغ ، ونحو العنب للسكر ، والرقيق للفاحشة ، والسلاح لقطع الطريق والظلم ، والأفيون والحشيشة وجوزة الطيب لاستعمال المخذِّر حرمت هذه المعاملة ، وإن شكّ ولا قرينة كرهت ، وتصحّ المعاملة في الثلاث ، لكن المأخوذ في مسألة الحرمة شبهته قوية ، وفي مسألة الكراهة أخف.\r11.…فتح الوهاب الجزء الثانى ص: 176 – 177\r(وبيع نحو رطب) كعنب (لمتخذه مسكرا) بأن يعلم منه ذلك أو يظنه فإن شك فيه أو توهمه منه فالبيع له مكروه وإنما حرم أو كره؛ لأنه سبب لمعصية محققة أو مظنونة أو لمعصية مشكوك فيها أو متوهمة وتعبيري بما ذكر أعم وأولى من قوله وبيع الرطب والعنب لعاصر الخمر.\r12.…الزواجر عن اقتراف الكبائر الجزء الثانى ص: 329","part":1,"page":84},{"id":85,"text":"الكبيرة التاسعة والسبعون بعد المائتين : خروج المرأة من بيتها متعطرة متزينة ولو بإذن الزوج – الى ان قال - والنسائي وابن خزيمة وابن حبان في صحيحيهما : أيما امرأة استعطرت فمرت على قوم ليجدوا ريحها فهي زانية وكل عين زانية ورواه الحاكم وصححه – الى ان قال - تنبيه : عد هذا هو صريح هذه الأحاديث ، وينبغي حمله ليوافق قواعدنا على ما إذا تحققت الفتنة ، أما مع مجرد خشيتها فهو مكروه أو مع ظنها فهو حرام غير كبيرة كما هو ظاهر .\r13.…توشيح على ابن قاسم ص: 197\rالفتنة هي ميل النفس ودعاؤها إلى الجماع أو مقدماته والشهوة هو أن يلتذ بالنظر\r14.…فتح البارى الجزء الثالث عشر ص: 3\rالفتنة وقال غيره اصل الفتنة الاختبار ثم استعمل فيما اخرجته المحنة والاختبار الى المكروه ثم اطلقت على كل مكروه او آيل اليه كالكفر والاثم والتعريض والفضيحة والفجور وغير ذلك\r15.…بريقة محمودية في شرح طريقة محمدية وشريعة نبوية الجزء الرابع ص: 270\r( الثامن والأربعون الفتنة وهي إيقاع الناس في الاضطراب أو الاختلال والاختلاف والمحنة والبلاء بلا فائدة دينية ) وهو حرام لأنه فساد في الأرض وإضرار بالمسلمين وزيغ وإلحاد في الدين كما قال الله تعالى { إن الذين فتنوا المؤمنين والمؤمنات } الآية وقال صلى الله تعالى عليه وسلم { الفتنة نائمة لعن الله من أيقظها } قال المناوي الفتنة كل ما يشق على الإنسان وكل ما يبتلي الله به عباده وعن ابن القيم الفتنة قسمان فتنة الشبهات وفتنة الشهوات وقد يجتمعان في العبد وقد ينفردان\r16.…تحفة الحبيب على شرح الخطيب الجزء الرابع ص: 101","part":1,"page":85},{"id":86,"text":"( أحدها نظره ) أي الرجل ( إلى ) بدن امرأة ( أجنبية ) غير الوجه والكفين ولو غير مشتهاة قصدا ( لغير حاجة ) مما سيأتي ( فغير جائز ) قطعا وإن أمن الفتنة ، وأما نظره إلى الوجه والكفين فحرام عند خوف فتنة تدعو إلى الاختلاء بها لجماع أو مقدماته بالإجماع كما قاله الإمام ، ولو نظر إليهما بشهوة وهي قصد التلذذ بالنظر المجرد وأمن الفتنة حرم قطعا ، وكذا يحرم النظر إليهما عند الأمن من الفتنة فيما يظهر له من نفسه من غير شهوة على الصحيح كما في المنهاج كأصله ووجهه الإمام باتفاق المسلمين على منع النساء من الخروج سافرات الوجوه ، وبأن النظر مظنة الفتنة ومحرك للشهوة وقد قال تعالى : { قل للمؤمنين يغضوا من أبصارهم } واللائق بمحاسن الشريعة سد الباب والإعراض عن تفاصيل الأحوال كالخلوة بالأجنبية\rقوله : ( وإن أمن الفتنة ) هي ميل النفس ودعاؤها إلى الجماع أو مقدماته – الى ان قال - قوله : ( عند خوف فتنة ) أي بأن يفتن عقله ، وهذا قيد لأجل قوله ( بالإجماع ) . وقوله ( تدعو إلى الاختلاء ) كان الأولى حذف ذلك ويقول من جماع أو مقدماته ، وقال بعضهم : تدعو صفة كاشفة للفتنة لأنها ميل النفس إلى الاختلاء بها بجماع أو مقدماته\r17.…إحياء علوم الدين الجزء الثاني ص: 160\rوتحصيل مظنة المعصية معصية ونعني بالمظنة ما يتعرض الإنسان لوقوع المعصية غالبا بحيث لا يقدر على الإنكفاف عنها فإذا هو على التحقيق حسبة على معصية راهنة لا على معصية منتظرة.\r18.…الفتاوى الفقهية الكبرى الجزء الاول ص: 199","part":1,"page":86},{"id":87,"text":"وسئل رضي الله عنه أنه قد كثر في هذه الأزمنة خروج النساء إلى الأسواق والمساجد لسماع الوعظ وللطواف ونحوه في مسجد مكة على هيئات غريبة تجلب إلى الافتتان بهن قطعا وذلك أنهن يتزين في خروجهن لشيء من ذلك بأقصى ما يمكنهن من أنواع الزينة والحلي والحلل كالخلاخيل والأسورة والذهب التي ترى في أيديهن ومزيد البخور والطيب ومع ذلك يكشفن كثيرا من بدنهن كوجوههن وأيديهن وغير ذلك ويتبخترن في مشيتهن بما لا يخفى على من ينظر إليهن قصدا أو لا عن قصد فهل يجب على الإمام منعهن وكذا على غيره من ذوي الولايات والقدرة حتى من المساجد وحتى من مسجد مكة وإن لم يمكنهن الإتيان بالطواف خارجه بخلاف الصلاة أو يفرق بينهما بذلك وما الذي يتلخص في ذلك من مذاهب العلماء الموافقين والمخالفين أوضحوا الجواب عن ذلك فإن المفسدة بهن قد عمت وطرق الخير على المتعبدين والمتدينين قد انسدت أثابكم الله على ذلك جزيل المنة ورقاكم إلى أعلى غرف الجنة آمين فأجاب بأن الكلام على ذلك يستدعي طولا وبسطا لا يليق لا بتصنيف مستقل في المسألة وحاصل مذهبنا أن إمام الحرمين نقل الإجماع على جواز خروج المرأة سافرة الوجه وعلى الرجال غض البصر واعترض بنقل القاضي عياض إجماع العلماء على منعها من ذلك وأجاب المحققون عن ذلك بأنه لا تعارض بين الإجماعين لأن الأول في جواز ذلك لها بالنسبة إلى ذاتها مع قطع النظر عن الغير والثاني بالنسبة إلى أنه يجوز للإمام ونحوه أو يجب عليه منع النساء من ذلك خشية افتتان الناس بهن وبذلك تعلم أنه يجب على من ذكر منع النساء من الخروج مطلقا إذا فعلن شيئا مما ذكر في السؤال مما يجر إلى الافتتان بهن انجرارا قويا على أن ما ذكره الإمام يتعين حمله على ما إذا لم تقصد كشفه ليرى أو لم تعلم أن أحدا يراه أما إذا كشفته ليرى فيحرم عليها ذلك لأنها قصدت التسبب في وقوع المعصية وكذا لو علمت أن أحدا يراه ممن لا يحل له فيجب عليها ستره وإلا كانت معينة له","part":1,"page":87},{"id":88,"text":"على المعصية بدوام كشفه الذي هي قادرة عليه من غير كلفة وقد صرح جمع بأنه يحرم على المسلمة أن تكشف للذمية ما لا يحل لها نظره منها هذا مع أنها امرأة مثلها فكيف بالأجنبي وتخيل فرق بينهما باطل وبأنه يجب عليهن الستر عن المراهق مع جواز نظره فكيف بالبالغ الذي يحرم نظره فنتج من ذلك ومن غيره المعلوم لمن تدبر كلامهم أن الصواب حمل كلام الإمام على ما قدمته\r19.…القليوبي الجزء الثالث ص 209\rوالحاصل أنه يحرم رؤية شيء من بدنها وإن أبين كظفر وشعر عانة وإبط ودم حجم وفصد لا نحو بول كلبن والعبرة في المبان بوقت الإبانة فيحرم ما أبين من أجنبية وإن نكحها ولا يحرم ما أبين من زوجة وإن أبانها وشمل النظر ما لو كان من وراء زجاج أو مهلهل النسج أو في ماء صاف وخرج به رؤية الصورة في الماء أو في المرآة فلا يحرم ولو مع شهوة ويحرم سماع صوتها ولو نحو القرآن إن خاف منه فتنة أو التذ به وإلا فلا والأمرد فيما ذكر كالمرأة.\r20.…فتح العلام الجزء الثانى ص: 185 - 186 دار السلام\rالنظر بشهوة ليس خاصا بالجميل واعلم ان تحريم النظر بشهوة ليس خاصا بالامرد الجميل فيأتى فى غير الجميل ايضا بل هو عام فى كل منظور اليه الا الزوجة والامة كما فى شرحى الرملى والجلال والمراد: كل منظور اليه مما هو محل الشهوة لا نحو بهيمة وجدار قاله الزيادى وجعله بعضهم\r21.…تحفة المحتاج في شرح المنهاج الجزء السابع ص: 194\rخرج مثالها أى العورة فلا يحرم نظره فى نحو مرآة كما أفتى به غير واحد ويؤيد قولهم لو علق الطلاق برؤيتها لم يحنث برؤية خيالها فى نحو مرآة لأنه لم يرها ومحل ذلك أى عدم حرمة نظر المثال كما هو ظاهر حيث لم يخش فتنة ولا شهوة -إلى أن قال- وكذا عند النظر بشهوة بأن يلتذ به وإن أمن الفتنة قطعا\r22.…الفقه الإسلامي وأدلته الجزء الرابع ص: 224","part":1,"page":88},{"id":89,"text":"أما التصوير الشمسي أو الخيالي فهذا جائز، ولا مانع من تعليق الصور الخيالية في المنازل وغيرها، إذا لم تكن داعية للفتنة كصور النساء التي يظهر فيها شيء من جسدها غير الوجه والكفين، كالسواعد والسيقان والشعور، وهذا ينطبق أيضا على صور التلفاز وما يعرض فيه من رقص وتمثيل وغناء مغنيات، كل ذلك حرام في رأيي\r23.…الحلال و الحرام في الاسلام ص: 113\rفتصوير النساء عاريات أو شبه عاريات وإبراز موانع الانوثة والفتنة منهن و رسمهن أو تصويرهن في أوضاع مثيرة للشهوات موقظة للغوائر الدنيا كما ترى ذلك واضحا في بعض المجلة و الصحف ودور ( السينما ) كل ذلك مما لا شك في حرمته وحرمة تصويره وحرمة نشره على الناس وحرمة اقتنائه والتخاذه في البيوت أو المكاتب والمجلات وتعليقه على الجدران وحرمة القصد الى رؤيته ومشاهدته\r24.…روائع البيان في تفسير آيات الأحكام ص: 506\rفالصور العارية ، والمناظر المخزية ، والأشكال المثيرة للفتنة ، التي تظهر بها المجلات الخليعة ، وتملأ معظم صفحاتها بهذه الأنواع من المجون ، مما لا يشك عاقل في حرمته ، مع أنه ليس تصويرا باليد ، ولكنه في الضرر والحرمة أشد من التصوير باليد\rHukum update status\r25.…إسعاد الرفيق الجزء الثانى ص: 105\r(و) منها (كتابة ما يحرم النطق به) قال فى البداية لأن القلم أحد اللسانين فاحفظه عما يجب حفظ اللسان منه أى من غيبة وغيرها فلا يكتب به ما يحرم النطق به من جميع ما مر وغيره. وفى الخطبة وكاللسان فى ذلك كله أى ما ذكر من آفات اللسان القلم إذ هو أحد اللسانين بلا جرم أى شك بل ضرره أعظم وأدوم فليصن الإنسان قلمه عن كتابة الحيل والمخادعات ومنكرات حادثات المعاملات.\r26.…إتحاف السادة المتقين الجزء التاسع ص : 165","part":1,"page":89},{"id":90,"text":"(الآفة الثالثة الخوض في الباطل وهو الكلام في المعاصي كحكاية أحوال النساء) ممما يتعلق بهن كأن يقول قالت لي كذا وقلت لها كذا وما اشبه ذلك (ومجالس الخمر) مما يجري فيها من العربدة (ومقامات الفساق) وما يجري فيها من المخزيات (وتنعم الأغنياء وتجبر الملوك ومراسمهم المذمومة وأحوالهم المكروهة) المخالفة للشرع والعرف (فإن كل ذلك مما لا يحل الخوض فيه وهو حرام وأما الكلام فيما لا يعني أو أكثر مما يعني فهو ترك الأولى ولا تحريم فيه نعم من يكثر الكلام فيما لا يعني لا يؤمن عليه الخوض في الباطل وأكثر الناس يتجالسون للتفرج بالحديث ولا يعدو كلامهم التفكه بأعراض الناس أو الخوض في الباطل وأنواع الباطل لا يمكن حصرها لكثرتها وتفننها فلذلك لا مخلص منها إلا بالاقتصار علي ما يعني من مهمات الدين والدنيا وفي هذا الجنس تقع كلمات يهلك بها صاحبها وهو يستحقرها)\r27.…إسعاد الرفيق الجزء الثانى ص : 93- 94","part":1,"page":90},{"id":91,"text":"(و) منها (كل قول يحث) أحدا من الخلق (على) نحو فعل أو قول شىء أو استماع إلى شىء (محرم) فى الشرع ولو غير مجمع على حرمته (أو) على ما (يفتر)ه (عن) نحو فعل أو قول (واجب) عليه أو عن استماع إلى واجب فى الشرع كأن ينشطه لضرب مسلم أو سبه أو لاستماع لنحو مزمار أو يثبطه عن الصلاة أو عن رد السلام على من سلم عليه أو عن الاستماع لمن يعلمه ما وجب عليه تعلمه لأن ذلك من أوصاف المنافقين الذين وصفهم الله تعالى بقوله \"والمنافقون والمنافقات بعضهم من بعض يأمرون بالمنكر وينهون عن المعروف\" الآية وكفى بها زجرا لمن له أدنى تمييز وسيأتى أن ترك الأمر بالمعروف من الكبائر فكيف بالنهى عن المعروف والأمر بالممنكر فإنه أقبح وأشنع لما فيه من الإعانة على سخط الله وهو مذموم سواء كان فيه رضا الناس أم لا قال عليه الصلاة والسلام \"من التمس رضا الناس فى سخط الله سخط الله عليه وأسخط الناس عليه ومن أرضى الله فى سخط الناس رضى الله عنه وأرضى عنه من اسخطه رضاه\"\r28.…بريقة محمودية في شرح طريقة محمدية وشريعة نبوية الجزء الخامس ص: 192","part":1,"page":91},{"id":92,"text":"( السادس والخمسون التكلم مع الشابة الأجنبية فإنه لا يجوز بلا حاجة ) لأنه مظنة الفتنة فإن بحاجة كالشهادة والتبايع والتبليغ فيجوز ( حتى لا يشمت ) العاطسة ( ولا يسلم عليها ولا يرد سلامها جهرا بل في نفسه ) إذا سلمت عليه ( وكذا العكس ) أي لا تشمته الشابة الأجنبية إذا عطس قال في الخلاصة أما العطاس امرأة عطست إن كانت عجوزا يرد عليها وإن كانت شابة يرد عليها في نفسه وهذا كالسلام فإن المرأة الأجنبية إذا سلمت على الرجل إن كانت عجوزا رد الرجل عليها السلام بلسانه بصوت يسمع وإن كانت شابة رد عليها في نفسه وكذا الرجل إذا سلم على امرأة أجنبية فالجواب فيه يكون على العكس ( لقوله صلى الله تعالى عليه وسلم واللسان زناه الكلام ) أي يكتب به إثم كإثم الزاني كما في حديث العينان تزنيان واليدان تزنيان والرجلان تزنيان والفرج يزني وما في القنية يجوز الكلام المباح مع المرأة الأجنبية فمحمول على الضرورة أو أمن الشهوة أو العجوز التي ينقطع الميل عنها ( وسيجيء تمامه في آفات الأذن )\r29.…بشرى الكريم الجزء الثانى ص: 27…\rوتكره الشكوى الا لنحو صديق ليدعو له أو ليتعهده أو لنحو طبيب ليداويه فلا بأس بذلك والا كتبرمه من القضاء كقول بعضهم ما فعلت تحتك يارب فانه حرام بل يخشى منه الكفر ولايحرم التبرم من المقضي كالمرض والفقر دون القضاء والأنين خلاف الأولى إن لم يغلبه أو يحصل به استراحة من ألمه والا فهو مباح وينبغي أن يبدله بنحو تسبيح اهـ\r30.…فتح الجواد الجزء الاول ص : 341\rويكره كثرة الشكوى كذا اطلقوا وقال الأذرعي اصلها مكروه وكثرتها اشد كراهة وواضح ان المراد الخالية عن نحو الجزع من حيث التبرم بالقضاء اذ هو محرم مطلقا لا الانين الذي يجد به نوع استراحة كما هو ظاهر لكن الذكر اولى ولا بأس باخبار طبيب او صديق بما هو فيه من الشدة لا على صورة الجزع\r31.…فيض القدير شرح الجامع الصغير الجزء السادس ص: 89","part":1,"page":92},{"id":93,"text":"(من أصيب بمصيبة في ماله أو جسده فكتمها ولم يشكها إلى الناس كان حقا على الله أن يغفر له) لا يناقضه قول النبي صلى الله عليه وسلم في مرضه وارأساه وقول سعد قد اشتد بي الوجع يا رسول الله وقول عائشة وارأساه فإنه إنما قيل على وجه الإخبار لا الشكوى فإذا حمد الله ثم أخبر بعلته لم يكن شكوى بخلاف ما لو أخبر بها تبرما وتسخطا فالكلمة الواحدة قد يثاب عليها وقد يعاقب بالنية والقصد\r32.…إحياء علوم الدين الجزء الثالث ص: 111\rأن الكلام أربعة أقسام قسم هو ضرر محض وقسم هو نفع محض وقسم فيه ضرر ومنفعة وقسم ليس فيه ضرر ولا منفعة أما الذي هو ضرر محض فلا بد من السكوت عنه وكذلك ما فيه ضرر ومنفعة لا تفي بالضرر وأما ما لا منفعة فيه ولا ضرر فهو فضول والاشتغال به تضييع زمان وهو عين الخسران فلا يبقى إلا القسم الرابع فقد سقط ثلاثة أرباع الكلام وبقي ربع وهذا الربع فيه خطر إذ يمتزج بما فيه إثم من دقائق الرياء والتصنع والغيبة وتزكية النفس وفضول الكلام امتزاجا يخفي دركه فيكون الإنسان به مخاطرا\r33.…الموسوعة الفقهية الكويتية الجزء خمس وثلاثين ص: 122\rالكلام مع المرأة الأجنبية : - ذهب الفقهاء إلى أنه لا يجوز التكلم مع الشابة الأجنبية بلا حاجة لأنه مظنة الفتنة ، وقالوا إن المرأة الأجنبية إذا سلمت على الرجل إن كانت عجوزا رد الرجل عليها لفظا أما إن كانت شابة يخشى الافتتان بها أو يخشى افتتانها هي بمن سلم عليها فالسلام عليها وجواب السلام منها حكمه الكراهة عند المالكية والشافعية والحنابلة ، وذكر الحنفية أن الرجل يرد على سلام المرأة في نفسه إن سلمت عليه وترد هي في نفسها إن سلم عليها ، وصرح الشافعية بحرمة ردها عليه\r34.…إحياء علوم الدين الجزء الثالث ص: 99","part":1,"page":93},{"id":94,"text":"وهذا يدل على أنه لا يجوز للنساء مجالسة العميان كما جرت به العادة في المأتم والولائم فيحرم على الأعمى الخلوة بالنساء ويحرم على المرأة مجالسة الأعمى وتحديق النظر إليه لغير حاجة وإنما جوز للنساء محادثة الرجال والنظر إليهم لأجل عموم الحاجة\r35.…فيض القدير الجزء السادس ص: 273\r(ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرا) أي كلاما يثاب عليه قال الشافعي : لكن بعد أن يتفكر فيما يريد التكلم به فإذا ظهر له أنه خير لا يترتب عليه مفسدة ولا يجر إليها أتى به (أو ليسكت) وفي رواية للبخاري بدله يصمت قال القرطبي : معناه أن المصدق بالثواب والعقاب المترتبين على الكلام في الدار الآخرة لا يخلو إما أن يتكلم بما يحصل له ثوابا أو خيرا فيغنم أو يسكت عن شئ فيجلب له عقابا أو شرا فيسلم ، وعليه فأو للتنويع والتقسيم فيسن له الصمت حتى عن المباح لأدائه إلى محرم أو مكروه وبفرض خلوه عن ذلك فهو ضياع الوقت فيما لا يعنيه ومن حسن إسلام المرء تركه ما لا يعنيه وأثرها في رواية البخاري يصمت على يسكت لأنه أخص إذ هو السكوت مع القدرة وهذا هو المأمور به أما السكوت مع العجز لفساد آلة النطق فهو الخرس أو لتوقفها فهو العي ، وأفاد الخبر أن قول الخير خير من الصمت لتقديمه عليه وأنه إنما أمر به عند عدم قول الخبر قال القرطبي : وقد أكثر الناس الكلام في تفصيل آفات الكلام وهي أكثر من أن تدخل تحت حصر وحاصله أن آفات اللسان أسرع الآفات للإنسان وأعظمها في الهلاك والخسران فالأصل ملازمة الصمت إلى أن يتحقق السلامة من الآفات والحصول على الخيرات ، فحينئذ تخرج تلك الكلمة مخطومة وبأزمة التقوى مزمومة ، وهذا من جوامع الكلم لأن القول كله خير أو شر أو آيل إلى أحدهما فدخل في الخير كل مطلوب من فرضها وندبها فأذن فيه على اختلاف أنواعه ودخل فيه ما يؤول إليه وما عدا ذلك مما هو شر أو يؤول إليه فأمر عند إرادة الخوض فيه بالصمت [ ص 211 ] قال بعضهم : اجتمع","part":1,"page":94},{"id":95,"text":"الحديث على أمور ثلاثة تجمع مكارم الأخلاق ، وقال بعضهم : هذا الحديث من القواعد العظيمة العميقة لأنه بين فيه جميع أحكام اللسان الذي هو أكثر الجوارح عملا.\r36.…إسعاد الرفيق الجزء الثانى ص : 127 دار إحياء الكتب العربية\r(و) منها (الإعانة على المعصية) أى على معصية من معاصى الله بقول أو فعل أو غيره ثم إن كانت المعصية كبيرة كانت الإعانة عليها كبيرة كذلك كما فى الزواجر قال فيها وذكرى لهذين أى الرضا بها والاعانة عليها بأى نوع كان ظاهر معلوم مما سيأتى فى الأمر بالمعروف والنهى عن المنكر اهـ\r37.…إسعاد الرفيق الجزء الثانى ص : 50 دار إحياء الكتب العربية\r(و) منها (الفرح بالمعصية) والرضا بها سواء صدرت (منه أو) صدرت (من غيره) من خلق الله لأن الرضا بالمعصية معصية اهـ\rJalsah Tsaniyah\rMUSHOHIH…PERUMUS…MODERATOR\r1.…KH. Mukhlis Dimyati\r2.…KH. A Asyhar Shofwan\r3.…KH. Safrijalla Subadar\r4.…Bpk. Anang Darunnaja\r5.…K. Fauzi Hamzah\r6.…KH. Ali Mustofa…1.…Bpk. Saiful Anwar\r2.…K. Ali Romzi\r3.…Bpk. Rofiq Ajhuri\r4.…Bpk. A Fadhil Khozin\r5.…Bpk. Fathurrozi\r6.…Bpk. Nur Hakim …\rBpk. Zainal Abidin\rNOTULEN\r.…Bpk. M. Adzim Fadlan\r5.…Bpk. Hafidz Alwi\r6.…Bpk. M Hilmi Mubarak\rb.…Di mana terkadang dalam foto yang diupload menampilkan nuansa yang tak islami, kadang fotonya juga mengandung unsur kebohongan dan juga dalam suatu status terkadang ada nuansa fitnah & provokasi, Jadi ngelike dan komen atas suatu foto dan status itu apa hukumnya ?.\rJawaban :","part":1,"page":95},{"id":96,"text":"Hukum komentar ditafsil apabila isi komentarnya mengandung keharaman seperti menghina, menyetujui kemaksiatan dll, atau komentar ditujukan kepada perorangan lain jenis maka haram. Jika tidak demikian maka boleh atau bahkan sunnah juka mengandung unsur kebaikan atau bahkan wajib kalu dalam rangka amar ma’ruf nahi munkar.\rSedangkan hokum menge-like disesuaikan dengan hokum upload foto dan update status, bisa hukum haram, makruh boleh sebagaimana jawaban sub A, karena menge-like tergolong rela/ridho.\rREFERENSI\r1.…إسعاد الرفيق الجزء الثانى ص: 105\r(و) منها (كتابة ما يحرم النطق به) قال فى البداية لأن القلم أحد اللسانين فاحفظه عما يجب حفظ اللسان منه أى من غيبة وغيرها فلا يكتب به ما يحرم النطق به من جميع ما مر وغيره. وفى الخطبة وكاللسان فى ذلك كله أى ما ذكر من آفات اللسان القلم إذ هو أحد اللسانين بلا جرم أى شك بل ضرره أعظم وأدوم فليصن الإنسان قلمه عن كتابة الحيل والمخادعات ومنكرات حادثات المعاملات.\r2.…إسعاد الرفيق الجزء الثانى ص : 127\r(و) منها (الإعانة على المعصية) أى على معصية من معاصى الله بقول أو فعل أو غيره ثم إن كانت المعصية كبيرة كانت الإعانة عليها كبيرة كذلك كما فى الزواجر قال فيها وذكرى لهذين أى الرضا بها والاعانة عليها بأى نوع كان ظاهر معلوم مما سيأتى فى الأمر بالمعروف والنهى عن المنكر اهـ\r3.…إسعاد الرفيق الجزء الثانى ص : 50\r(و) منها (الفرح بالمعصية) والرضا بها سواء صدرت (منه أو) صدرت (من غيره) من خلق الله لأن الرضا بالمعصية معصية اهـ\r3)…KOLAM PEMANCINGAN ANEH (PP. TARBIYATUN NASYI’IN - JOMBANG)\rDeskripsi Masalah","part":1,"page":96},{"id":97,"text":"Sekelompok orang mempunyai kreativitas ekonomi yaitu dengan cara membuat jerambah kolam ikan di sungai umum dengan cara menutup sisi kanan kiri sungai dengan semacam kawat sehingga aliran sungai tetap mengalir tetapi ikan tidak bisa keluar dari pembatas yang terbuat dari kawat tersebut. Kemudian kolam ikan buatan yang berada di sungai tersebut dijadikan kolam pemancingan bagi masyarakat luas sehingga menghasilkan keuntungan bagi kelompok tersebut.\rPertanyaan :\ra.…Bagaimana hukumnya menggunakan sungai umum untuk dijadikan kolam pemancingan sebagaimana deskripsi masalah di atas ?\rJawaban :\rHukum pemasangan jaring di sungai umum untuk dijadikan kolam pemancingan adalah tidak boleh (haram) karena mengurangi kemanfaatan sungai dan dapat menghalangi orang lain memanfaatkan sungai ditempat pemasangan jaring tersebut.\rREFERENSI\r1.…الحاوي للفتاوي ـ للسيوطى - (ج 1 / ص 132)\rوفي فتاوي ابن الصلاح : مسألة إذا أراد رجل أن يبني عمارة سكر في النهر الكبير الذي ليس بمملوك ثم يبني عليه طاحونة وناعورة ولا يضر بمن هو فوقه ولا بمن هو أسفل منه هل له ذلك ويكون ذلك إحياء له ويكون بمنزلة الموات الذي يملك بالإحياء حتى يملك قرار النهر الذي يبني عليه العمارات ويملك حريمه أم لا ؟ أجاب : ليس له ذلك فإنه لا يخلو عن ضرر فإنه يمنع من أن ينحدر في مكانه بسباحة أو سفينة أو نحو ذلك ، وطريق الماء العام كطريق السلوك العام ، ولو أراد مريد أن يضع صخرة في طريق شارع واسع منع منه وهذا شر من ذلك من وجه ولو قدر خلو ذلك عن الضرر لم يجز ملك ذلك الموضع كما لا يملك شيئاً من الطرق الواسعة بشيء من الاختصاصات الجائزة .\r2.…حواشي الشرواني - (ج 6 / ص 226)","part":1,"page":97},{"id":98,"text":"قول المتن ( والمياه المباحة الخ ) عبارة الروض وهي أي المياه قسمان مختصة وغيرها فغير المختصة كالأودية والأنهار فالناس فيها سواء ثم قال\rفرع وعمارة هذه الأنهار من بيت المال ولكل من الناس بناء قنطرة ورحى عليها إن كانت في موات أو في ملكه فإن كانت من العمران فالقنطرة كحفر البئر للمسلمين في الشارع والرحى تجوز بناؤها إن لم يضر بالملاك اه وفيه أمور منها أنه يستفاد جواز ما جرت به العادة من بناء السواقي بحافات النيل لقوله لكل من الناس بناء قنطرة ورحى عليها بل وبحافات الخليج بين عمران القاهرة لقوله والرحى يجوز بناؤها الخ وأنها أنه ينبغي تقييد جواز الرحى في الموات بأن لا يضر المنتفع بالنهر لأن حريم النهر لا يجوز التصرف فيه بما يضر في الانتفاع به كما تقرر ومنها أنه قد يشكل جواز بناء القنطرة والرحى في الموات والعمران بامتناع إحياء حريم النهر والبناء فيه إلا أن يجاب بأن الممتنع الملك بالإحياء وأما مجرد الانتفاع بحريمه بشرط عدم الضرر فلا مانع منه وقد يقضي هذا جواز بناء نحو بيت في حريمه للارتفاق حيث لا تضرر لأحد به ويجري ذلك في بناء بيت بمنى لذلك حيث لا تضرر به اهـ سم\r3.…حواشي الشرواني - (ج 6 / ص 207)","part":1,"page":98},{"id":99,"text":"فرع الانتفاع بحريم الأنهار كحافاتها بوضع الأحمال والأثقال وجعل زريبة من قصب ونحوه لحفظ الأمتعة فيها كما هو الواقع اليوم في ساحل بولاق ومصر القديم ونحوهما ينبغي أن يقال فيه إن فعله للارتفاق به ولم يضر بانتفاع غيره ولا ضيق على المارة ونحوهم ولا عطل أو نقص منفعة النهر كان جائزا ولا يجوز أخذ عوض منه على ذلك وإلا حرم ولزمته الأجرة لمصالح المسلمين وكذا يقال فيما لو انتفع بمحل انكشف عنه النهر في زرع ونحوه اهـ عبارة البجيرمي وإن انحسر ماء النهر عن جانب من أرضه وصارت مكشوفة لم تخرج عما كانت عليه من كونها من حقوق النهر مستحقة لعموم المسلمين وليس للسلطان تمليكها ولا تمليك شيء من النهر أو حريمه لأحد وإن انكشف الماء عنه لأنه بصدد أن يعود إليه نعم له دفعها لمن يرتفق بها حيث لا يضر بالمسلمين كذا تحرر مع م ر في درسه بالمباحثة في ذلك انتهى سم اهـ\r4.…الحاوي للفتاوي ـ للسيوطى - (ج 1 / ص 131)","part":1,"page":99},{"id":100,"text":"ومما عظمت البلوى به اعتقاد بعض العوام أن أرض النهر ملك بيت المال وهذا أمر لا دليل عليه وإنما هو كالمعادن الظاهرة لا يجوز للإمام إقطاعها ولا تمليكها بل هو أعظم من المعادن الظاهرة في ذلك المعنى ، والمعادن الظاهرة إنما امتنع التملك والإقطاع فيها لشبهها بالماء وبإجماع المسلمين على المنع من إقطاع مشارع الماء لاحتياج جميع الناس إليها فكيف يباع ، قال : ولو فتح هذا الباب لأدى أن بعض الناس يشتري أنهار البلد كلها ويمنع بقية الخلق عنها ، فينبغي أن يشهر هذا الحكم ليحضر من يقدم عليه كائناً من كان ، ويحمل الأمر على أنها مبقاة على الإباحة كالموات وأن الخلق كلهم مشتركون فيها ، وتفارق الموات في أنها لاتملك بالإحياء ولا تباع ولا تقطع وليس للسلطان تصرف فيها بل هو وغيره فيها سواء ، فإن وجدنا نهراً صغيراً بيد قوم مخصوصين مستولين عليه دون غيرهم فهو ملكهم يتصرفون فيه بما شاؤوا ، وإن لم يكن ملكاً ولكن فيه مشارب لقوم مخصوصين فحقوقهم فيه على تلك المشارب يتصرفون فيها بالطريق الشرعي هذا كله كلام السبكي ، وهو تصريح بالنقل عن مذهبنا أن النهر له حريم لا يجوز تملكه ولا إحياؤه ولا البناء فيه ولا بيعه ولا إقطاعه ، وقال في فتاويه : الأنهار ومجاريها العامة ليست مملوكة بل هي إما مباحة لا يجوز لأحد تملكها وإما وقف على جميع المسلمين ، ولا شك إن الأنهار الكبار كالنيل والفرات مباحة كما صرح به الفقهاء في كتبهم ، ولا يجوز تملك شيء منها بالاحياء لا بالبيع من بيت المال ولا بغيره ، وكذلك حافاتها التي عموم الناس إلى الارتفاق بها لأجلها والأنهار الصغيرة التي حفرها قوم مخصوصون معروفون مملوكة لهم كسائر الأملاك المشتركة انتهى بحروفه ، وهو تصريح بالنقل عن الفقهاء إن حافات النيل لا يجوز تملكها ولا إحياؤها وقال في شرح المنهاج : فرع شخص أراد أن يغرس على حريمه على ماء جار شجرة جاز وإن كان النهر مشتركاً لأنه لا يضر بهم كما يتخذ","part":1,"page":100},{"id":101,"text":"على باب داره مشرعاً ، وفي فتاوى القفال رجل له دار في موضع ويجري نهر على باب داره فأراد أن يغرس شجرة على جانب النهر بحذاء داره لم يجز فقيل له هذا كما لو بنى دكة في الشارع فقال ليس كذلك انتهى فإذا منع القفال من غرس شجرة فما ظنك بالبناء ؟ وقال الزركشي في شرح المنهاج : حافات النيل والفرات لا يجوز تملك شيء منها بالاحياء ولا بالابتياع من بيت المال ولا غيره قال : وقد عمت البلوى بالأبنية على حافات النيل كما عمت بالقرافة مع أنها مسبلة ، وذكر الدميري في شرح المنهاج نحو ذلك ، وقد راجعت نص الشافعي فوجدته نص في مختصر المزني وفي الأم على أن النهر والماء الظاهر لا يملكه أحد من الناس ولا يصح لأحد أن يقطعه بحال والناس فيه شرع والمسلمون كلهم شركاء في ذلك هذا نصه في الكتابين ، زاد في الأم : ولو أحدث على شيء من هذا بناء قيل له حول بناءك ولا قيمة له فيما أحدث بتحويله .\r5.…الموسوعة الفقهية الكويتية - (ج 41 / ص 386)\rأقسام النهر : 4 - قسم الفقهاء النهر باعتبار المياه إلى قسمين : أحدهما : نهر غير مملوك لأحد ، أو غير مختص بأحد كما عبر بعض الفقهاء ، وذلك كنهر النيل ودجلة والفرات وسيحون وجيحون . والثاني : نهر مملوك لشخص أو أكثر ولكل من هذين القسمين أحكام تخصه وبيان ذلك فيما يلي :","part":1,"page":101},{"id":102,"text":"أن ينتفع به فيشرب ويسقي دوابه متى شاء وكيف شاء ، لأنه لا ملك لأحد في الماء ولا في رقبة النهر ، ولأن الماء موجود بإيجاد الله تعالى فيبقى على الإباحة وقد قال النبي - صلى الله عليه وسلم - : المسلمون شركاء في ثلاث : الماء والكلإ والنار ولكل أحد من الناس أن يشق من هذه الأنهار نهرا إلى أرضه ، بأن أحيا أرضا ميتة بإذن الإمام ، فله أن يشق إليها نهرا ، وليس للإمام ولا لأحد منعه إذا لم يضر بالنهر ، وله أن ينصب عليه رحى ودالية وسانية إذا لم يضر بالنهر ، لأن هذه الأنهار لم تدخل تحت يد أحد فلا يثبت الاختصاص بها لأحد فكان الناس فيها سواء ، وكل واحد بسبيل من الانتفاع ، لكن بشريطة عدم الضرر بالنهر كالانتفاع بطريق العامة فإن أضر بالنهر أو بعامة الناس كأن يفيض الماء ويفسد حقوق الناس ، أو ينقطع الماء عن النهر الأعظم أو يمنع جريان السفن فلكل واحد مسلما كان أو ذميا أو مكاتبا منعه ، لأنه حق لعامة المسلمين ، وإباحة التصرف في حقهم مشروطة بانتفاء الضرر كالتصرف في الطريق الأعظم وقد سئل أبو يوسف عن نهر مرو وهو نهر عظيم أحيا رجل أرضا كانت مواتا فحفر لها نهرا فوق مرو من موضع ليس يملكه أحد فساق الماء إليها من ذلك النهر فقال أبو يوسف : إن كان يدخل على أهل مرو ضرر في مائهم ليس له ذلك ، وإن كان لا يضرهم فله ذلك وليس لهم أن يمنعوه ، وسئل أيضا إذا كان لرجل من هذا النهر كوى معروفة هل له أن يزيد فيها ؟ فقال : إن زاد في ملكه وذلك لا يضر بأهل النهر فله ذلك ب - النهر الصغير وحق الانتفاع به : 7 - ذهب المالكية والشافعية والحنابلة إلى أنه إن كان النهر غير المملوك صغيرا يتزاحم الناس عليه ويتشاحون في مائه فلمن في أول النهر ( أي أعلاه ) أن يسقي أرضه ويحبس الماء إلى الكعب ، ثم يرسل الماء إلى الذي يليه ، ثم من الثاني إلى الثالث ، وهكذا إلى أن ينتهي سقي الأراضي كلها\rJalsah Tsalisah\rMUSHOHIH…PERUMUS…MODERATOR","part":1,"page":102},{"id":103,"text":"1.…KH. Mukhlis Dimyati\r2.…KH. Asyhar Shofwan\r3.…KH. Safrijalla Subadar\r4.…Bpk. Anang Darunnaja\r5.…K. Fauzi Hamzah\r6.…KH. Ali Mustofa…1.…Agus H. Ibrahim A. Hafidz\r2.…Bpk. Saiful Anwar\r3.…K. Ali Romzi\r4.…Bpk. Rofiq Ajhuri\r5.…Bpk. A Fadhil Khozin\r6.…Bpk. Fathurrozi\r7.…Bpk. Nur Hakim …\rBpk. Rofiq Ajhuri\rNOTULEN\r7.…Bpk. M. Adzim Fadlan\r8.…Bpk. Hafidz Alwi\r9.…Bpk. M Hilmi Mubarak\rb.…Kalau tidak boleh bagaimana status uang dari hasil penyewaan kolam pemancingan tersebut ? dan menjadi hak siapa, pemerintah atau masyarakat sekitar ?\rJawaban :\rMengingat pemasangan jaring dan menyewakan sungai umum untuk dijadikan kolam hukuknya tidak boleh, (haram), maka uang yang dihasilkan dari persewaan tersebut dikembalikan pada musta’jir (penyewa). Dan mu’jir (yang menyewakan ) wajib membayar ongkos pemanfaatan sungai umum, dan uangnya dikembalikan pada masholihul muslimin (kemaslahatan orang-orang islam). Tapi bila yang disewa adalah alat seperti pancing, maka hukumnya termasuk ijaroh sohihah (sewa sah) dan bagi orang yang menyewakan wajib membayar ongkos pemanfaatan karena pemanfaatannya adalah ghosob yang wajib dikembalikan pada kemaslahatan orang-orang Islam.\rREFERENSI\r1.…الحاوي للفتاوي ـ للسيوطى - (ج 1 / ص 131)","part":1,"page":103},{"id":104,"text":"ومما عظمت البلوى به اعتقاد بعض العوام أن أرض النهر ملك بيت المال وهذا أمر لا دليل عليه وإنما هو كالمعادن الظاهرة لا يجوز للإمام إقطاعها ولا تمليكها بل هو أعظم من المعادن الظاهرة في ذلك المعنى ، والمعادن الظاهرة إنما امتنع التملك والإقطاع فيها لشبهها بالماء وبإجماع المسلمين على المنع من إقطاع مشارع الماء لاحتياج جميع الناس إليها فكيف يباع ، قال : ولو فتح هذا الباب لأدى أن بعض الناس يشتري أنهار البلد كلها ويمنع بقية الخلق عنها ، فينبغي أن يشهر هذا الحكم ليحضر من يقدم عليه كائناً من كان ، ويحمل الأمر على أنها مبقاة على الإباحة كالموات وأن الخلق كلهم مشتركون فيها ، وتفارق الموات في أنها لاتملك بالإحياء ولا تباع ولا تقطع وليس للسلطان تصرف فيها بل هو وغيره فيها سواء ، فإن وجدنا نهراً صغيراً بيد قوم مخصوصين مستولين عليه دون غيرهم فهو ملكهم يتصرفون فيه بما شاؤوا ، وإن لم يكن ملكاً ولكن فيه مشارب لقوم مخصوصين فحقوقهم فيه على تلك المشارب يتصرفون فيها بالطريق الشرعي هذا كله كلام السبكي ، وهو تصريح بالنقل عن مذهبنا أن النهر له حريم لا يجوز تملكه ولا إحياؤه ولا البناء فيه ولا بيعه ولا إقطاعه ، وقال في فتاويه : الأنهار ومجاريها العامة ليست مملوكة بل هي إما مباحة لا يجوز لأحد تملكها وإما وقف على جميع المسلمين ، ولا شك إن الأنهار الكبار كالنيل والفرات مباحة كما صرح به الفقهاء في كتبهم ، ولا يجوز تملك شيء منها بالاحياء لا بالبيع من بيت المال ولا بغيره ، وكذلك حافاتها التي عموم الناس إلى الارتفاق بها لأجلها والأنهار الصغيرة التي حفرها قوم مخصوصون معروفون مملوكة لهم كسائر الأملاك المشتركة انتهى بحروفه ، وهو تصريح بالنقل عن الفقهاء إن حافات النيل لا يجوز تملكها ولا إحياؤها وقال في شرح المنهاج : فرع شخص أراد أن يغرس على حريمه على ماء جار شجرة جاز وإن كان النهر مشتركاً لأنه لا يضر بهم كما يتخذ","part":1,"page":104},{"id":105,"text":"على باب داره مشرعاً ، وفي فتاوى القفال رجل له دار في موضع ويجري نهر على باب داره فأراد أن يغرس شجرة على جانب النهر بحذاء داره لم يجز فقيل له هذا كما لو بنى دكة في الشارع فقال ليس كذلك انتهى فإذا منع القفال من غرس شجرة فما ظنك بالبناء ؟ وقال الزركشي في شرح المنهاج : حافات النيل والفرات لا يجوز تملك شيء منها بالاحياء ولا بالابتياع من بيت المال ولا غيره قال : وقد عمت البلوى بالأبنية على حافات النيل كما عمت بالقرافة مع أنها مسبلة ، وذكر الدميري في شرح المنهاج نحو ذلك ، وقد راجعت نص الشافعي فوجدته نص في مختصر المزني وفي الأم على أن النهر والماء الظاهر لا يملكه أحد من الناس ولا يصح لأحد أن يقطعه بحال والناس فيه شرع والمسلمون كلهم شركاء في ذلك هذا نصه في الكتابين ، زاد في الأم : ولو أحدث على شيء من هذا بناء قيل له حول بناءك ولا قيمة له فيما أحدث بتحويله .\r2.…حاشية البجيرمى على المنهج الجزء الثالث ص: 191 (دار الفكر)","part":1,"page":105},{"id":106,"text":"قوله: (الأمر فيه إلى رأى الإمام) ولو انحسر ماء النهر عن جانب من أرضه وصارت مكشوفة لم تخرج عما كانت عليه من كونها من حقوق النهر مستحقة لعموم المسلمين وليس للسلطان تمليكها لأحد فإنه ليس له تمليك شىء من النهر أو حريمه وإن انكشف عنه لأنه لا يخرج عما كان عليه بانكشاف الماء عنه لأنه بصدد أن يعود الماء إليه نعم له دفعها لمن يرتفق بها حيث لا يضر بالمسلمين ولو تعدى إنسان وزرعها ضمن أجرتها لمصالح المسلمين ولا يسقط عنه من الأجرة ما يخصه من المصالح كذا تحرر مع م ر فى درسه بالمباحثة فى ذلك وهو ظاهر وبالغ فى إنكار ما نقل له عن بعضهم من أن البحر لو انحسر عن أرض بجانب قرية استحقها أهل القرية اهـ سم وفى ق ل على الجلال أنه يسقط عنه قدر حصته إن كان له حصة فى مال المصالح وعبارة م ر فى شرحه: وحريم النهر كالنيل ما تمس الحاجة له لتمام الانتفاع به وما يحتاج لإلقاء ما يخرج منه فيه لو أريد تنظيفه فيمتنع البناء فيه ولو مسجدا ويهدم ما يبنى فيه كما نقل عن إجماع الأئمة الأربعة ولقد عمت البلوى بذلك فى عصرنا حتى ألف العلماء فى ذلك لينزجر الناس فلم ينزجروا ولا يغير هذا الحكم كما أفاده الوالد رحمه الله اهـ بحروفه\r3.…تحفة المحتاج في شرح المنهاج - (ج 24 / ص 300)","part":1,"page":106},{"id":107,"text":"( وكون المؤجر قادرا على تسليمها ) أي المنفعة بتسليم محلها حسا وشرعا والمستأجر قادرا على تسلمها كذلك أخذا مما مر في البيع ليتمكن المستأجر منها ومن القادر على التسليم المقطع فإن أقطع رقبتها صحت إجارته اتفاقا أو منفعتها فكذلك كما أفتى به المصنف ؛ لأنه مستحق للمنفعة وإن جاز للسلطان الاسترداد كما أن للزوجة إيجار الصداق قبل الدخول وإن كان متعرضا لزواله عنها إلى الزوج بانفساخ النكاح ، لكن خالفه علماء عصره محتجين بأنه لم يملك المنفعة بل أن ينتفع فهو كالمستعير والزوجة ملكت ملكا تاما قال الزركشي والحق أن الإمام إذا أذن له في الإيجار أو جرى به عرف عام كديار مصر صح وإلا امتنع ا هـ ، وبه يعلم أنه معتمد لعدم ملكه المنفعة وتوجه صحة إيجاره مع ذلك في الأخيرة بأن اطراد العرف بذلك منزل منزلة الإذن من الإمام وحينئذ فقد يجمع بما قاله بين الكلامين .\r4.…المجموع شرح المهذب - (ج 9 / ص 285)\r(فرع) قال الشافعي والاصحاب لا يجوز أن يستأجر البركة لاخذ السمك منها لان الاعيان لا تملك بالاجارة فلو استأجر البركة ليحبس فيها الماء ليجتمع فيها السمك ويصطاده فوجهان (أحدهما) لا يجوز قاله الشيخ أبو حامد (وأصحهما) عند الاصحاب جوازه وبه قطع صاحب الشامل وآخرون لان البركة يمكن الاصطياد بها فجازت اجارتها كالشبكة قالوا وقول الشافعي لا تجوز اجارة البركة للحيتان اراد به إذا حصل فيها سمك وأجرها لاخذ ما حصل فيها وهذه الاجارة باطلة لانها إجارة لاخذ الغير فأما البركة الفارغة (1) والله أعلم\r5.…تحفة المحتاج في شرح المنهاج - (ج 16 / ص 344)","part":1,"page":107},{"id":108,"text":"( الرابع الملك ) في المعقود عليه التام فخرج بيع نحو المبيع قبل قبضه ( لمن ) يقع ( له العقد ) من عاقد أو موكله أو موليه فدخل الحاكم في بيع مال الممتنع والملتقط لما يخاف تلفه ، والظافر بغير جنس حقه والمراد أنه لا بد أن يكون مملوكا لأحد الثلاثة . ( فبيع الفضولي ) وشراؤه وسائر عقوده في عين لغيره أو في ذمة غيره بأن قال اشتريته له بألف في ذمته وهو من ليس بوكيل ولا ولي عن المالك ( باطل ) للخبر الصحيح { لا بيع إلا فيما تملك } لا يقال عدوله عن التعبير بالعاقد إلى من له العقد أي الواقع كما علم مما تقرر ، وإن أفاد ما ذكر من أنه يشمل العاقد وموكله وموليه لكن يدخل فيه الفضولي ومراده إخراجه فإن العقد يقع للمالك موقوفا على إجازته عند من يقول بصحته ؛ لأنا نقول المراد من يقع له العقد بنفسه وعلى القديم لا يقع إلا بالإجازة فلا يرد\r6.…الفقه المنهجي - (ج 7 / ص 163)\rما يترتب على ضمان المغصوب:\rإذا ضمن الغاصب العين المغصوبة لمالكها، ودفع له البدل ، ترتب على ذلك: أ_ ان المغصوب منه يملك البدل الذي دفع له، فتصحّ جميع تصرفاته فيه من بيع وهبة وإجارة ونحو ذلك.ب-لا يملك الغاصب العين المغصوبة بضمانها، فلو ظن هلاك العين المغصوبة - كما لو ضاعت أ+و سرقت - ضمنها الغاصب ووجب عليه ردّ بدلها للمغصوب منه، لأنه حيلَ بينه وبين ملْكه، فاستحق بدله، فإذا وُجد بعد ذلك وعاد إلى يد الغاصب فإنه لا يملكه بضمانه، بل عليه ردّه إلى المغصوب منه، لأن الأصل أن الواجب ردّ عين المغصوب ، فحين تعذّر ذلك عُدل الى البدل ، وحيث تمكّن من ردّ الأصل لا يعدل عنه، فيجب ردّه، وبهذا يتبين أنه لم يملكه.فإذا ردّ العين المغصوبة الى المغصوبة منه جب عليه ردّ البدل الذي أخذه على الغاصب ، فإن كان قد زاد زيادة متصلة - كالسِّمَن مثلاً - رُدّت مع البدل ضرورة ، وإن كانت الزيادة منفصلة - كالولد أو أُجرة الدار - لم يردّها مع البدل، لأنها حدثت على ملكه.","part":1,"page":108},{"id":109,"text":"تصرفات الغاصب بالعين المغصوبة: إذا تصرّف الغاصب بالعين المغصوبة - بيعاً أو هبة أو إجارة أو إعارة أو وديعة ونحو ذلك - كان تصرفه باطلاً ، لا يترتب عليه أيّ أثر شرعي له، وسرى حكم الغصب على مَن انتقلت العين إلى يده فكان ضامناً للعين المغصوبة كما لو كانت في يد الغاصب، لأن كلاًّ من هؤلاء قد وضع يده على ملْك غيره بغير إذنه ، ولو كان يجهل أنها مغصوبة ، لن الجهل يُسقط الإِثم ولا يسقط الضمان، كما لو أتلف مال غيره بغير قصد أو علم ، فإنه يضمن وإن كان لا يأثم.\rc.…Bolehkah pemerintah memberikan izin kepada sekelompok orang tersebut menggunakan sungai untuk dijadikan kolam pemancingan seperti dalam kasus di atas ?\rJawaban :\rHukumnya : Gugur (sama dengan sub a)\r4)…DZIKIR JAMA’AH (PP HMC - LIRBOYO)\rDeskripsi Masalah","part":1,"page":109},{"id":110,"text":"Sering kali kita temui di masyarakat, setelah shalat jamaah selesai, dilanjutkan membaca dzikir bersama yang langsung dikomando oleh sang imam, sehingga sangat nampak jelas suara gemuruh dzikir dalam ruangan tersebut. Namun dalam aktifitas ini, ada beberapa hal yang butuh dipertegas secara hukum syariat. Antara lain, tidak sedikit di antara makmum yang tertinggal dari bacaan dzikir imam, ada juga yang hanya ikut bacaan imam tanpa mengetahui dengan pasti jumlah dzikir yang dibacanya. Yang pasti ketika imam berhenti dari bacaan dzikirnya, mereka juga ikut berhenti. Ada juga, makmum yang melampaui batas kecepatan imamnya. Sehingga kadang-kadang makmum bingung sendiri, apa yang harus ia lakukan di saat imamnya belum selesai melafalkan jumlah bacaan dzikir. Begitupun dengan sang imam, ia juga kadang-kadang berada dalam situasi dilematis antara melanjutkan target bilangan bacaan dzikirnya ataukah harus menyudahi untuk kemudian berlanjut pada jenis dzikir berikutnya.\rPertanyaan :\ra.…Ketika sudah selesai membaca dzikir, sementara imamnya belum, apa yang sebaiknya dilakukan makmum ? Dan bagaimana pula langkah terbaik bagi imam ?\rJawaban :\rDalam berszikir, Sunah berjamaah dan ketentuan yang sebaiknya diikuti diantaranya adalah:","part":1,"page":110},{"id":111,"text":"Selaras dengan bacaan imam. Dalam segi bacaan, naik turunnya suara dsb. Sehingga bila terjadi dalam dzikir jamaah tidak ada keseragaman makmum selesai terlebih dahulu, maka menurut pendapat pertama: Dia menghentikan dzikirnya sehingga tidak melebihi hitungan yang disyariatkan. Sebab dalam penentuan jumlah dzikir mengandung sirri yang bila ditinggalkan akan merusak sirri tersebut.\rDan pendapat kedua, Ma’mum boleh menambah jumlah dzikir yang telah dibatasi oleh syariat dan tetap mendapat pahala sesuai jumlah yang ditentukan dan pahala jumlah tambahannya. Akan tetapi dalam kaitan mana yang lebih baik yang harus dilakukan makmum, belum ditemukan keterangannya.\rREFERENSI\rالموسوعة اليوسفية لبيان أدلة الصوفية-يوسف خطار - (3 / 16)\rيقول ابن المنير في كتابه (تحفة السالكين) في معرض ذكر جملة من آداب الذكر: (وعليهم مراعاة الوفاق في الأصوات علوا وخفضا لأن في ذلك نشطة للنفس ولذة للروح وراحة للسر وقهرا للشيطان وفرارا ولا يكثر أحدهم الالتفات ولا يعبث بلحيته ولا يلعب بيده ولا بشيء من ثيابه لأنه مجلس الله عز وجل ولا ينظر بعضهم بعضا لأنه مانع من الحضور بل يغمض عينيه).\rالموسوعة الفقهية الكويتية - (21 / 252)","part":1,"page":111},{"id":112,"text":"الذكر الجماعي :41 - وهو ما ينطق به الذاكرون المجتمعون بصوت واحد يوافق بعضهم بعضا ، وقد جعله الشاطبي إذا التزم بدعة إضافية تجتنب قال : إذا ندب الشرع إلى ذكر الله فالتزم قوم الاجتماع عليه على لسان واحد وصوت واحد لم يكن في ندب الشرع ما يدل على هذا التخصيص الملتزم ؛ لأن التزام الأمور غير اللازمة يفهم على أنه تشريع ، وخصوصا مع من يقتدى به في مجامع الناس كالمساجد ، فإذا أظهرت هذا الإظهار ووضعت في المساجد كسائر الشعائر كالأذان وصلاة العيدين والكسوف ، فهم منها بلا شك أنها سنة إن لم تفهم منها الفرضية ، فلم يتناولها الدليل المستدل به ، فصارت من هذه الجهة بدعا محدثة . ونحوه لابن الحاج في المدخل\rتحفة المحتاج في شرح المنهاج - (ج 6 / ص 209)","part":1,"page":112},{"id":113,"text":"ويسن للإمام تطويل الثانية في مسألة الزحام وصلاة ذات الرقاع الآتية ( والذكر ) والدعاء ( بعدها ) وثبت فيها أحاديث كثيرة بينتها مع فروع كثيرة تتعلق بهما في شرح العباب بما لم يوجد مثله في كتب الفقه ويسن الإسرار بهما إلا لإمام يريد التعليم والأفضل للإمام إذا سلم أن يقوم من مصلاه عقب سلامه إذا لم يكن خلفه نساء فإن لم يرد ذلك فالسنة له أن يجعل ولو بالمسجد النبوي على مشرفه أفضل الصلاة والسلام كما اقتضاه إطلاقهم ويؤيده أن الخلفاء الراشدين ومن بعدهم كانوا يصلون بمحرابه صلى الله عليه وسلم ولم يعرف عن أحد منهم خلاف ما عرف منه فبحث استثنائه فيه نظر وإن كان له وجه وجيه لا سيما مع رعاية أن سلوك الأدب أولى من امتثال الأمر يمينه للمأمومين ويساره للمحراب ولو في الدعاء وانصرافه لا ينافي ندب الذكر له عقبها لأنه يأتي به في محله الذي ينصرف إليه على أنه يؤخذ من قوله بعدها أنه لا يفوت بفعل الراتبة وإنما الفائت بها كماله لا غير ( تنبيه ) كثر الاختلاف بين المتأخرين فيمن زاد على الوارد كأن سبح أربعا وثلاثين فقال القرافي يكره لأنه سوء أدب وأيد بأنهدواء وهو إذا زيد فيه على قانونه يصير داء وبأنه مفتاح وهو إذا زيد على أسنانه لا يفتح وقال غيره يحصل له الثواب المخصوص مع الزيادة ومقتضى كلام الزين العراقي ترجيحه لأنه بالإتيان بالأصل حصل له ثوابه فكيف يبطله زيادة من جنسه واعتمده ابن العماد بل بالغ فقال لا يحل اعتقاد عدم حصول الثواب لأنه قول بلا دليل يرده عموم { من جاء بالحسنة فله عشر أمثالها } ولم يعثر القرافي على سر هذا العدد المخصوص وهو تسبيح ثلاث وثلاثين والحمد كذلك والتكبير كذلك بزيادة واحدة تكملة المائة وهو أن أسماءه تعالى تسعة وتسعون وهي إما ذاتية كالله أو جلالية كالكبير أو جمالية كالمحسن فجعل للأول التسبيح لأنه تنزيه للذات وللثاني التكبير وللثالث التحميد لأنه يستدعي النعم وزيد في الثالثة التكبير أو لا","part":1,"page":113},{"id":114,"text":"إله إلا الله وحده لا شريك له إلخ لأنه قيل إن تمام المائة في الأسماء الاسم الأعظم وهو داخل في أسماء الجلال وقال بعضهم هذا الثاني أوجه نقلا ونظرا ثم استشكله بما لا إشكال فيه بل فيه الدلالة للمدعي وهو أنه ورد في روايات النقص عن ذلك العدد والزيادة عليه كخمس وعشرين وإحدى عشرة وعشرة وثلاث ومرة وسبعين ومائة في التسبيح وخمس وعشرين وإحدى عشرة وعشرة ومائة في التحميد وخمس وعشرين وإحدى عشرة وعشرة ومائة في التكبير ومائة وخمس وعشرين وعشرة في التهليل وذلك يستلزم عدم التعبد به إلا أن يقال التعبد به واقع مع ذلك بأن يأتي بإحدى الرواياتالواردة والكلام إنما هو فيما إذا أتى بغير الوارد نعم يؤخذ من كلام شرح مسلم أنه إذا تعارضت روايتان سن له الجمع بينهما كختم المائة بتكبيرة أو بلا إله إلا الله وحده إلخ فيندب أن يختمها بهما احتياطا وعملا بالوارد وما أمكن ونظيره قوله في ظلمت نفسي ظلما كثيرا في دعاء التشهد روي بالموحدة والمثلثة والأولى الجمع بينهما لذلك ورده العز بن جماعة بما رددته عليه في حاشية الإيضاح في بحث دعاء يوم عرفة ورجح بعضهم أنه إن نوى عند انتهاء العدد الوارد امتثال أمر ثم زاد أثيب عليهما وإلا فلا وأوجه منه تفصيل آخر وهو أنه إن زاد لنحو شك عذر أو لتعبد فلا لأنه حينئذ مستدرك على الشارع وهو ممتنع .","part":1,"page":114}],"titles":[{"id":1,"title":"FMPP 28_Lirboyo_Kediri_2015","lvl":1,"sub":0}]}