{"pages":[{"id":1,"text":"…MUSHOHIH ……PERUMUS …MODERATOR\r2. 3.\r.4\r.5 …KH. Atho’illah S. Anwar\rKH. M Syamsul Mu’in\rAgus Muhammad Dahlan\rRidlwan\rKH. Muhlis Dimyati\rKH. M. Mujab Mashudi, M. …2. 3. 4. 5.\r.6 …Agus Aminulloh Mahin\rUst. Mudaimulloh Azza\rUst. Ulul Basoir\rUst. Mahrus Ali\rUst. Abdul Kafi Ridho\rUst. Rohmatulloh …Ust. Mudaimullah Azza\rNOTULEN\rTh., Ph.D\r.6 KH. Syafrijalla Subadar\r.7 KH. Ahmad Bahrul Huda\r.8 KH. Muhibbul Aman Ali\r.9 K. Zahro Wardi\r.01 K. Nawawi Asyhari\r.11 K. Fahmi Basya\r.21 K. Hisbulloh Al-Haq\r.31 K. Anass Rifa’i.\r…8.\r.9 …Ust. Saifuddin Masykuri Ust. Ahmad Muntaha AM Ust. Zainul Millah M. …Agus Rosyid al-Fuadi\rMasruhan Rizqi Nur Zaman\rJalsah Ula\rMemutuskan\r.1 KECAMUK DI BUMI PALESTINA | PANITIA\rDeskripsi Masalah\rKonflik yang terjadi antara kelompok Hamas dengan Israel kembali menjadi sorotan dunia, mulanya kelompok Hamas melepaskan 5.000 tembakan roket serta senjata di luar jalur Gaza, juru bicara Hamas mengungkapkan alasan serangan tersebut sebagai bentuk respon atas kekejaman yang dialami rakyat Palestina selama beberapa tahun. Perdana Menteri Israel meyebutkan bahwa akan membalas serangan Hamas dan mendeklarasikan perang. Sejumlah jet tempur Israel membombardir 150 target bawah tanah di wilayah jalur Gaza. Pada hari Sabtu 28 Oktober 2023 jumlah korban serangan Israel ke jalur Gaza menembus angka 7 ribu orang. Total warga Palestina yang telah terbunuh sejak konflik terbaru adalah 7.028 orang dimana 66% diantaranya adalah perempuan dan anak-anak.\r…Akibat serangan yang bertubi-tubi dari Israel, Kementerian Kesehatan Palestina mengeluarkan","part":1,"page":1},{"id":2,"text":"pernyataan tentang situasi krisis yang melanda rumah sakit al-Shifa di jalur Gaza. Kekurangan pasokan medis dan obat-obatan menjadi masalah serius, pemadaman listrik juga meyebabkan rumah sakit hanya bergantung pada generator yang tidak bisa digunakan secara terus menerus. Kondisi tersebut diperparah dengan krisis makanan dan air bersih imbas dari blokade Israel.\rSejak era Presiden Soekarno hingga Presiden Jokowi, pemerintah Indonesia selalu konsisten memberikan dukungan sepenuhnya terhadap Palestina, “Sekali lagi saya tegaskan komitmen Indonesia untuk terus mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina,” kata Presiden Jokowi. Akan tetapi hingga hari ini mengapa pemerintah Indonesia seolah hanya diam, tidak memberikan bantuan yang nyata kepada Palestina dengan mengirimkan pasukan perdamaian? Padahal tidak sedikit pihak yang mendesak agar pemerintah Indonesia mau mengirimkan pasukannya di jalur Gaza. Aksi yang diikuti oleh ribuan massa di\rSolo yang juga diikuti oleh Abu Bakar Ba’asyir meminta pemerintah untuk bersikap tegas. Ba'asyir juga berharap para pemuda yang ada di lokasi mau dikirim ke Palestina. Bahkan dirinya juga sempat menanyakan kesiapan ke massa yang hadir. \"Maka mudah-mudahan di antara pemuda ada yang siap dikirim ke sana (Palestina),\" ujarnya. \"Siap?\" tanya Ba'asyir ke massa yang hadir dan disambut teriakan siap dan pekikan takbir.","part":1,"page":2},{"id":3,"text":"Wakil Ketua Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI Sukamta memberikan tanggapan atas tragedi Palestina dan sikap pemerintah Indonesia. \"PBB selalu mengalami kelumpuhan akut ketika berhadapan dengan kejahatan Israel terhadap Palestina. Padahal Israel negara penjajah telah melakukan kejahatan luar biasa dengan menyerang Palestina tanpa membedakan antara tentara dengan rakyat sipil termasuk perempuan dan anak-anak”. Lebih lanjut, Politisi Fraksi PKS ini menegaskan adalah suatu alasan klasik bahwa negara Indonesia dan negara-negara di dunia tidak bisa mengirimkan pasukan perdamaian ke Palestina karena tidak ada persetujuan dari Dewan Keamanan PBB. Persetujuan pengiriman pasukan perdamaian, urainya, tidak akan pernah terjadi selama Amerika Serikat selalu melindungi Israel dengan melakukan penolakan (Veto) terhadap resolusi PBB untuk mengirimkan pasukan perdamaian. Oleh karena itu, butuh langkah revolusioner dari Indonesia.\rMeski tidak bisa mengirimkan bantuan pasukan perdamaian, sejumlah negara, seperti Turki, Qatar dan diantaranya Indonesia telah mengirimkan sejumlah bantuan berupa kebutuhan medis, obat-obatan, makanan dan minuman ke jalur Gaza. PMI (Palang Merah Indonesia) yang bekerjasama dengan Kementerian Luar Negeri RI mengirimkan sejumlah peralatan medis senilai 2,9 miliar yang dikirim lewat Bandara Halim Perdana Kusuma. Sementara di sejumlah daerah melaksanakan doa Bersama demi keselamatan warga yang tinggal di Palestina. Di Jombang, bahkan lebih dari 5000 massa melakukan salat Ghaib yang dilanjutkan doa bersama.6","part":1,"page":3},{"id":4,"text":"Sementara itu, aksi boikot juga santer terdengar di Indonesia. Di media sosial, tak sedikit warganet yang pro Palestina menyerukan untuk memboikot semua produk buatan Israel maupun produk yang mendukungnya. Tak bisa dipungkiri bahwa saat ini ada banyak produk pro Israel di Indonesia, mulai dari makanan, minuman, perangkat elektronik, hingga perlengkapan rumah tangga. Aksi boikot seperti ini bertujuan untuk menekan perekonomian Israel. Perlahan tapi pasti, aksi boikot ini telah memberikan dampak tersendiri terhadap Israel. Selain itu, adanya aksi boikot juga diharapkan masyarakat Indonesia beralih ke produk lokal sehingga dapat memajukan UMKM dalam negeri.\rNamun, produk-produk yang menjadi sasaran boikot warga indonesia sementara ini, merupakan produk yang diberitakan telah membantu Israel meskipun sejatinya produk tersebut adalah milik negara lain seperti USA dan lain-lain. Contoh kabar yang memberitakan boikot ialah yang ditulis di laman okezone.com, 7 dan beberapa kabar di media sosial. Meskipun kebenaran tentang kabar dukungan itu juga masih belum jelas, masyarakat menjadikan berita-berita di atas sebagai pijakan untuk melampiaskan kekesalan mereka terhadap aksi bejat Israel kepada saudara-saudara mereka di Palestina.\rPertanyaan\ra. Apa langkah yang tepat bagi pemerintah Indonesia atas konflik Palestina & Israel?\rJawaban:","part":1,"page":4},{"id":5,"text":"a. Mengupayakan gencatan senjata, menghentikan konflik, dan memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Yaitu melalui berbagai jalur diplomasi negara-negara dan kelompok-kelompok keagamaan di dunia, mendorong Dewan Keamanan PBB untuk lebih efektif mewujudkan perdamaian serta menggalang dana bantuan kemanusiaan untuk rakyat Palestina.\rReferensi\r….1 Fiqh As-Siroh An-Nabawiyyah h. 160. ….3 Qo’idah Mukhtashoroh Fi Qitaal Al-Kuffar\r….2 Tuhfah Al-Muhtaj, vol. 9, h. 304. …Wa Muhaadanatihim Wa Tahriimi\rQotlihim Li Mujarrodi Kufrihim h. 37-40.\r.4 Dan lain-lain.\r1. فقه السيرة النبوية مع موجز لتاريخ الخلافة الراشدة 1/160 — محمد سعيد البوط ي\rوعندما نتأمل رسول الله ? إلى كيف يجلس أصحابه ليشاورهم في الأمر الذي فوجئوا به بعد أن أفلت منهم العير وطلع عليهم النفير العظي م المدجج بالسلاح الكامل، نقف على دلالتين شرعيتين لكل منهما أهمية بالغة: -الى ان قا ل - الدلالة الثانية: خضوع حالات الغزو والمعاهدات و الصلح بين المسلمين وغيرهم لما يسمى بالسياسة الشرعية أو ما يسميه بعضهم ب )حكم الإمامة( . -الى أن قا ل -. فإذا رأى الحاكم أنّ من الخير للمسلمين أن لا يجابهوا أعداءهم بالحرب والقوة، وتثبّت من صلاحية رأيه بالتشاور والمذاكرة في ذلك، فله أن يجنح إلى سلم معهم لا يصا دم نصّا من النصوص الشرعية الثابتة، ريثما يأتي الظرف المناسب والملائم للقتال والجهاد. وله أن يحمل رعيته على القتال والدفع إذا ما رأى المصلحة وا لسياسة الشرعية السليمة في ذلك الجان ب.\r2. تحفة المحتاج في شرح المنهاج )9/ 236(\r3. قاعدة مختصرة في قتال الكفار ومهادنتهم وتحريم قتلهم لمجرد كفرهم صـ 37 – 40 لابن تيمية\r4. تحفة المحتاج في شرح المنهاج) 9/ 304(","part":1,"page":5},{"id":6,"text":")عقدها( لجميع الكفار أو )لكفار إقليم( كَلهند )يختص بالإمام( ...إلى أن قال) ...وإنما يعقدها لمصلحة( لما فيها من ترك القتال، ولا يكف انتفاء المفسدة قال تعالى }فلا تهنوا وتدعوا إلى السلم وأنتم الأعلون{ ]محمد: 35[ والمصلحة )كضعفنا بقلة عدد، وأهبة( لأنه الحامل على المهادنة عم\rالحديبية )أو( عطف على ضعف )رجاء إسلام أو بذل جزية( أو إعنت هم لنا أو كفهم عن الإعنة علينا أو بعد داره م وإن كنا أقوياء في الكل للاتباع في الأو ل\r5. التعايش الإنساني والتسامح الديني في الإسلام لعبد الفتاح بن صالح قديش اليافعي الشافعي\rالفرع الرابع مسائل تتعل ق بالمعاه د المسألة الأولى ذلك أغلب الدول الآن قد دخلت مع بعضها البعض في عهود صلح وهدنة، وقد تعارفوا على بوجود التمثيل الدبلوماسي، بل مجرد الانتساب إلى هيئة الأمم المتحدة يعني الدخول في عهد وصلح وهدنة مع ك الدول الأعضاء، كما ينص على ذ لك نظامها الداخ ل، وقد أجاز الحنفية وهو وجه عند الحنابلة اختاره ابن تيمية وتل ميذه ابن القيم وهو قول لإمام الشافعي: الدخول في هدنة مطلقة من غير تحديد المدة، وتكو ن هذه الهدنة جائزة من الطرفين فلكل واحد منهما النبذ على سواء مت شاء، أما الهدنة المؤقتة فهي واجبة الوفاء إلى ا نتهاء المد ة. صحيح أن الفقهاء قد منعوا من التنصيص على تأيد الهد نة، ولكن العرف الدول الآن على أن قطع العلاقات الدبلوماسية بين بلين تعني إلغاء الهدنة بين البلين، فلا تأبيد إذ ن.\rPertanyaan b. Apa langkah yang tepat bagi warga muslim Indonesia, dalam menyikapai konflik di atas, apakah\rdengan memboikot produk-produk yang pro-Israel atau cukup dengan mendoakannya saja?\rJawaban:","part":1,"page":6},{"id":7,"text":"b. Pada dasarnya, langkah yang tepat bagi warga muslim Indonesia adalah mendukung segala bentuk perjuangan rakyat Palestina. Termasuk mendukung pemerintah melakukan upaya-upaya sebagaimana Sub A.\rAdapun boikot, sebagai bentuk dukungan terhadap rakyat Palestina harus dilakukan pada produk yang nyata-nyata mendukung dan menyuplai dana agresi Israel terhadap Palestina.\r1. الأحكام السلطانية للماوردي )ص: 42(\rفصل: \"واجبات الأمة نحو الخليفة\" وإذا قام الإمام بما ذكرناه من حقوق الأمة، فقد أدى حق الله تعالى فيما لهم وعليهم، ووجب له عليهم حقان:\rالطاعة والنصة ما لم يتغير حاله.\r2. الأحكام السلطانية للماوردي )ص: 19(","part":1,"page":7},{"id":8,"text":"القسم السادس من أحكام هذه الإمارة: السيرة في نزال العدو وقتاله، ويجوز لأمير الجيش في حصار العدو أن ينصب عليهم العرادات والمنجنيقات، قد نصب رسول الله -صلى الله عليه وسل م - على أهل الطائف منجنيقا، ويجوز أن يهدم عليهم منازلهم، ويضع عليهم البيات والتحري ق، وإذا رأى في قطع نخلهم وشجرهم صلاحا يستضعفهم به؛ ليظفر بهم عنوة أو يدخلوا في السلم صلحا فعل، ولا يفعل إن لم ير فيه صلاح ا. قد قطع رسول الله -صلى الله عليه وسل م - كروم أهل الطائف، فكان سببا في إسلامهم، وأمر في حرب بني النضير بقطع نوع من النخل يقال له الأصفر، يرى نواه من وراء اللحاء، وكانت اللحاء منها أحب إليهم من الوضيع، فقطع بهم وحزنوا له وقالوا: إنما قطعت نخلة وأحرقت نخل ة . . . ويجوز أن يغور عليهم المياه ويقطعها عنهم، وإن كَن فيهم نساء وأطفال؛ لأنه من أقوى أسباب ضعفه م والظفر بهم عنوة وصلحا، وإذا استسقى منهم عطشان كَن الأمير مخيرا بين سقيه أو منعه كما كَن مخيرا فيه بين قتله أو تركه، ومن قتل منهم واراه عن الأ بصار ولم يلزم تكفينه، قد أمر رسول الله -صلى الله عليه وسل م - بقتلى بدر فألقوا في القليب، ولا يجوز أن يحرق بالنار حيا ولا ميتا.\r3. مع الناس مشورات وفتاوى للشيخ الشهيد الدوكتو سعيد رمضان البوطي صـ 52\rما حكم شراء البضائع الأمريكية علما أنني سمعت فتوى من الدوكتور الكبش بتحريمها بل التغليظ في تحريمها ؟ يجب وجوبا عينيا مقاطعة الأغذية والبضائع الأمريكية ، والإسرائلية أيضا . إذ هو الجهاد الذي يتسنى لكل مسلم القيام به في مواجهة العدوان الإسرائل ومن ي دعمه . وهو كما هو معروف وثابت فرض عين في حدود الإمكان ، وهذ ا ممكن.\r4. فتاوى معاصرة الشيخ يوسف القرضاوي جـ 1 | صـ 600","part":1,"page":8},{"id":9,"text":"التعامل مع الأعداء س: أود أن تتفضلوا بالإفاد ة عن حكم الشريعة الإسلامية في الشخص المسلم الذي يتعامل مع أعداء دينه ووطنه معاملات تجارية أو اقتصادية أو غيرها تعود بالنفع على العدو، سواء كَن ذلك في وقت ال سلم أو في وقت الحر ب ؟\rج: لا شك أن المسلم مأمور بمجاهدة أعداء دينه ووطنه، بكل ما يستطيع من ألوان الجهاد، الجهاد باليد، والجهاد باللسان، والجهاد بالقلب، والجهاد بالمقاطعة. . ك ما يضعف العدو ويخضد شوكته يجب على المسلم أن يفعله، ك إنسان بقدر استطاعته، وفي حدود إمكانياته، ولا يجوز لمسلم بحال أن يكون رداءًا أو عوناً لعدو دينه وعدو بلاده، سواء كَن هذا العدو يهودياً أم وثن ي ا أو غير ذلك فالمسلم يقف ضد أعدائه الذين يريدون أن ينت قصوا حقوقه وينتهكوا حرماته بكل ما يستطيع، وكل من والى أعداء الله وأعداء الدين وأعداء الوطن فهو منهم، كما قال الله تعالى: )ومن يتو لهم منكم فإنه منهم( )المائدة: 51( أي من كَن موالياً لهم بقلبه أو بلسان ه أو بمعاملته أو بماله، أو بأي طريقة من الطرق أو أسلوب من الأساليب فهو منهم..","part":1,"page":9},{"id":10,"text":"يصبح في زمرتهم. .وهذا ما حذّر القرآن منه في أكثر من سورة، وفي أكثر من آية، جعل الذين يتولون الكفار جزءًا منهم وبعضًا منهم . )والذين كفروا بعضهم أولياء بعض( )الأنفال: 73(، فالمسلم لا يوالي الكافر، والب لا يوالي الفاجر، فإذا والاه كَن د ليلاً على نقص إيمانه أو على زوال إسلامه والعياذ بالله، فهو نوع من الردة، ولون من المروق عن الإسلام، المفروض أن المسلم إذا لم يستطع أن يجاهد أعداءه بالسيف، فعلى الأقل يجاهده م بالمقاطعة، لا يتسبب في أن ينفعهم اقتصادياً أو مادياً أو تجارياً، لأن ك دينار أو ك ريال أو ك قرش أو ك روبية تذهب إلى العدو، معناه: أنك أعطيتهم رصاصة أو ثمن رصاصة تتحول بعد ذلك إلى صدر مسلم وإلى قلب مسلم ومن هنا كَن اليهود حينما يجمعون تبعت في أمريكا وفي غيرها كَن شعارهم لافتة معروفة: ادفع دينارًا تقتل عربياً. فالمال هو الذي سيشتري السلاح الذي يقتل. . . وهكذا .. أنت إذا عونت مشركاً أو كَفرًا أو فاجرًا يحارب المسلمين، فأنت بذلك تقتل نفسًا مسلمة، وهذه كبيرة من الكبائر العظ مى )ومن قتلها فكأنما قتل الناس جميعا( )المائدة: 32(. )ومن يقتل مؤمنا متعمدًا فجزاؤه جهنم خالدًا فيها، وغضب الله عل يه ولعنه، وأعد له عذاباً عظيمًا(. )النساء: 93(. فالمفروض في المسلم ألا يكون مع أعدائه أبدًا، مهما أظهروا من حسن النوايا فهذا كذب - يقول الله تعالى: )وإن الظالمين بعضهم أولياء بعض( )الجاثية: 19(، )ومن يتولهم منكم فإنه منهم( )المائدة: 51( ويقول: )لتجدن أشد ا لناس عداوة للذين آمنوا اليهود والذين أشركوا( )المائدة: 82(، فلابد أن نعرف هذا جيدًا، وأن يكون ك مسلم مع أمته الإسلامية، ومع دينه. . وهذا أقل شي ء. .وهو أمر فطري في الأمم. .فالإنسان إذا حارب سواه، لا يحاربه بالسلاح فقط، بل بأكثر من ذلك بالمقاطعة .. المشركون حينما أرادوا في مكة أن يحاربوا النبي صلى الله عليه وسلم أول ما حاربوه، لم يكن حرب","part":1,"page":10},{"id":11,"text":"السلاح، وإنما كَنت حرباً اقتصادية بالمقاطعة. .قاطعوه وأصحابه، وأهله، ممن انتصوا، من بني المطلب وبني هاشم. حاصروهم، وقاطعوهم ولم يبيعوا لهم ولم يشتروا منهم، ولم يزوجوهم، ولم يتزوجوا منهم، وذلك معناه: الحرب الاقتصادي معناه الإعداد. .فهكذا .. وهؤلاء مشركون. فالمسلمون أولى بأن يعرفوا ذلك وأن يقاطعوا ك عدو لله، وكل عدو للمسلمين، وكل من خرج على ذلك فقد خان الله ورسوله وجماعة المسلمين.\r5. الفتاوي الإسلامية صـ 260 جـ 27 المفتي: فضيلة الإمام الأكبر أحمد محمد الطيب شيخ الأزهر\r]حكم مقاطعة شركات البيبسي وغيرها[ المبادئ: المقاطعة الاقتصادية واجبة لمنتجات وبضائع الشركات التي تحارب المسلمين والدول ال تي تساندها إلا إذا كَن في حاجة ماسة لبعض هذه المنتجات ولا يمك ن الاستغناء عنها ولا يوجد لها بدليل داخل الدول الاسلامية كَلأدوية مثلا.\rالسؤال اطلعنا على الفاكس المقيد برقم 829 لسنة 2002 المتضمن: رجاء إحاطتنا بما صدر من دار الإفتاء المصية حاليا أو في العهد السابق بشأن مقاطعة سلع معينة أو شركات معينة؛ نظرا لاستمرار البلبلة بشأن مقاطعة سلع بيبسي كولا أو الكوكاكولا أو الإيريال المنظف ...إلخ. الجواب:\rالإسلام دين العدل والرحمة لكل البشر لقوله تعالى سمحوَمَ ا أر?َسَل?نََا كَ إلَِّ رَح?مَ ة لِ ل?عَالََمِي نَ 107سمح ]الأنبياء: 107[. والإسلام يمنع الاعتداء على\rالآخرين فهو دين ا لسلام لكل البشر مصدقا لقوله تعالى: سمحيَا أَيَهَُّا الَذِي نَ ءَامَنوُا اد?خُلوُ ا فِي ال سِل?مِ كَا فَ ة وَلَّ تتَبَِعوُا خُطوََُاتِ الشَي?طََا ?ِنِ إنَِهُ? لَكُم? عَدُ وّ?\rمُّبيِنّ? 208سمح ]البقرة: 208 [ وقوله تعالى: سمحوَقَاتَلِوُ ا فِي سَبيِلِ ا للَِّ الَ ذِي نَ يقَُاتَِلوُنَكُم? وَ لَّ تعَ?تدَُ و?ِا إِ نَ ا للََّ لَّ يحُِبُّ ال?مُع?تدَِي نَ 190 سمح ]البقرة:","part":1,"page":11},{"id":12,"text":"190[ فإذا ما حدث اعتداء على المسلمين كما هو واضح الآن بأي صورة وفي أي مكان يكون الجهاد مشروع بكل الطرق المتاحة للفاع عن الدين ومقدساته وعن النفس والمال والأهل والعرض، ومن وسائل الجهاد المشروع مقاطعة أعداء الإسلام والمسلمين اقتصاديا بما لا يترتب عليه ضَر للمس لمين ولا للوطن والمواطنين، والمقاطعة الاقتصادية المشروعة في الإسلام لا تكون لمنتجات المصانع والشركات التي بداخل الدول والديار الإسلامية والعربية إذا كَنت مملوكة للمواطنين وذلك لأن هذه المصانع والشركات تعود منافعها ومصالحها المباشرة على المواطنين والع املين بها ولأوطنهم وتكمل على تدعيم قوتهم المادية والإقتصادية والتنمية البشرية والمالية الوطنية في مواجهة التكتل الإقتصادي الأجنبي العا لمي بما يساعد ذلك في تحقيق التكامل الإقتصادي العربي والإسلامي وتحقيق السوق العربية والإسلامية المشتركة، وعلى ذلك يكون شراء المن تجات المحلية (produk lokal)واجبا وطنيا حت إن كَنت أقل جودة وأعلى سعرا وذلك لتشجيع الصناعة الوطنية وتنميتها وحمايتها من الإغراق لتقف على قدميها وتنافس المنتجات الأجنبية جودة وسعرا وتكون المقاطعة الإقتصادية واجبة لمنتجات وبضائع الشركة التي تحارب المسلمين و الدول التي تساندها إلا إذا كَن في حاجة ماسة لها وضَورية لبعض هذه المنتجا ت ولا يمكن الاستغناء عنها ولا يوجد لها بديل داخل الدول العربية والإسلامية كَلأدوية مثلا، فف هذه الحالة لا مانع نزولا على حكم الضرورة تقدر بقدرها. والله أعل م\rJalsah Tsaniyah\r…MUSHOHIH ……PERUMUS …MODERATOR\r.1 2.\r.3\r.4 …KH. Atho’illah S. Anwar\rAgus HM. Shobich Al-\rMuayyad Aziz\rKH. Muhlis Dimyati\rKH. M. Mujab Mashudi, M. Th., Ph.D ….1 2. 3. 4. 5.\r.6 …Agus Aminulloh Mahin\rUst. Mudaimulloh Azza\rUst. Ulul Basoir\rUst. Mahrus Ali\rUst. Abdul Kafi Ridho\rUst. Saifuddin Masykuri …Ust. Zainul Millah M","part":1,"page":12},{"id":13,"text":"NOTULEN\r….5 KH. Aly Mustofa Said …7. Ust. Ahmad Muntaha AM …M. Masruhan Rizqi\r….6 KH. Syafrijalla Subadar … …Nur Zaman\r.7 K. Anang Darunnaja\r.8 KH. Ahmad Bahrul Huda\r.9 KH. Muhibbul Aman Ali\r.01 K. Zahro Wardi\r.11 K. Nawawi Asyhari\r.21 K. Fahmi Basya\r.31 K. Hisbulloh Al-Haq\r.41 K. Anas Rifa’i\rMemutuskan\r.2 TAHQIQ PENDAPAT MALIKIYYAH PERIHAL SOLUSI HAID | MA’HAD ALY SMT. VI\rDeskripsi Masalah\rPersoalan mengenai hukum darah yang keluar dari kelamin perempuan merupakan salah satu hukum yang penting dipahami oleh setiap kaum hawa, sebab hal itu berkaitan erat dengan keabsahan ritual ibadahnya. Selama ini, beragam pendapat Ulama dalam menghukumi status setiap darah yang keluar, sebagian menggunakan riset terhadap beberapa Perempuan seperti yang dilakukan Imam Syafii, sehingga status haid ditentukan melalui masa keluarnya darah, warna, tingkat kuat dan lemahnya darah yang menjadikan persoalan ini menjadi agak rumit.\rNamun, sebagian Ulama yang lain cenderung menyederhanakan persoalan ini pada satu kaidah dasar, yaitu di saat keluar darah maka dihukumi haid dan di saat berhentinya darah maka dihukumi suci. Pendapat ini diklaim sebagi pendapat madzhab Maliki sebagaimana yang dikutip dalam kitab Tadzkiroh anNas berikut:\r? تذكير الناس صـ: 06 وأعدل مذهب في الحيض مذهب الإمام مالك تطهر وقت الطهر وتحيض ما دام الدم.\rPertanyaan\ra. Bolehkah mengamalkan keterangan yang menyatakan bahwa setiap keluar darah adalah haidl dan setiap tidak keluar darah adalah suci, sebagaimana dalam kitab Tadzkiir An-Naas?\rJawaban:","part":1,"page":13},{"id":14,"text":"a. Tidak diperbolehkan mengamalkan kemutlakan redaksi tersebut, karena dapat menafikan konsep istihadloh yang telah disepakati ulama’.\rDan berdasarkan keterangan Imam Al-Fakhr Ar-Rozi dan Syaikh Salim Ibn Sa’id Ba Ghoitsan, redaksi dari Imam Malik tersebut yang dimaksud adalah, bahwa darah yang bisa menetapkan hukum haid hanyalah darah yang memiliki sifat sebagaimana berikut:\r?…Warna hitam.\r?…Bau anyir.\r?…Keluarnya terasa menyengat (Lahdah al Qowiyyah).\rSedangkan darah yang tidak memiliki sifat seperti ketentuan ini maka dihukumi istihadloh.\rCatatan :\rMenurut madzhab Malikiyyah konsep haidl diperinci sebagai berikut:\r?…Haidl adalah darah yang keluar dengan sendirinya dari vagina perempuan yang dalam usia bisa hamil secara adat (Minimal usia 9 tahun dan sebelum masa menopouse)\r?…Tidak ada batasan paling sedikitnya haidl\r?…Batas maksimal haidl bagi mubtadi’ah (wanita yang baru pertama kali mengalami haidl) yang sedang tidak hamil terjadi khilaf diantara ulama. Ada yang berpendapat 15 hari, ada yang berpendapat mengikuti adat haidl wanita sebayanya tanpa istidzhhar (kehati-hatian memastikan haidl) dan ada yang berpendapat mengikuti adat haidl wanita sebayanya ditambah istidzhhar (kehati-hatian memastikan haidl) 3 hari.\rBatas maksimal haidl bagi mu’tadah (wanita yang sudah pernah mengalami haidl) yang sedang tidak hamil terjadi khilaf diantara ulama, ada yang berpendapat menambahkan 3 hari atas adat yang paling banyak, ada yang berpendapat 15 hari.","part":1,"page":14},{"id":15,"text":"Batas maksimal haidl bagi perempuan yang sedang hamil dua bulan sampai enam bulan adalah 20 hari. Batas maksimal haidl bagi perempuan yang sedang hamil enam bulan ke atas adalah 30 hari.\r?…Mukhtalithoh, yaitu perempuan yang darahnya keluar terputus-putus, hukumnya adalah hari tidak melihat darah dihitung suci dan hari melihat darah dihitung haidl sesuai dengan perincian di atas.\r?…Batas minimal suci diantara dua haidl menurut pendapat yang kuat adalah 15 hari, sedangkan menurut pendapat lain adalah 10 hari atau 5 hari.\r?…Darah yang melebihi batas maksimal ketentuan diatas maka disebut istihadloh.\r?…Darah istihadloh dapat menjadi haidl apabila terjadi perubahan sifat darah setelah melebihi durasi minimal suci. Kemudian, jika sifat darah tidak kembali ke asalnya maka haidlnya sesuai dengan adat ditambah tiga hari (istidzhar). Jika sifat darah kembali ke asalnya maka haidlnya sesuai dengan adat tanpa ada penambahan (istidzhar).\rReferensi\r1. تفسير الرازي = مفاتيح الغيب أو التفسير الكبير) 6/ 417(","part":1,"page":15},{"id":16,"text":"المسألة الخامسة: اختلف الناس في مدة الحيض فقال الشافعي رحمه الله تعالى: أقلها يوم وليلة، وأكثرها خمسة عشر يوما، وهذا قول علي بن أبي طالب وعطاء بن أبي رباح والأوزاعي وأحمد وإسحاق رضي الله عنهم، وقال أبو حنيفة والثوري: أقله ثلاثة أيام ولياليهن فإن نقص عنه فهو دم فاسد، وأكثره عشرة أيام، قال أبو بكر الرازي في أحكام القرآن: وقد كَن أبو حنيفة يقول بقول عطاء: إن أقل الحيض يوم وليلة وأكثره خمسة عشر يوما، ثم ترك ه وقال مالك لا تقدير لذلك في القلة والكثرة، فإن وجد ساعة فهو حيض، وإن وجد أياما فكذلك، واحتج أبو بكر الرازي في أحكام القرآن على فساد قول مالك فقال: لو كَن المقدار ساقطا في القليل والكثير لوجب أن يكون الحيض هو الدم الموجود من المرأة فكان يلزم أن لا يوجد في ا لدنيا مستحاضة، لأن ك ذلك الدم يكون حيضا على هذا المذهب وذلك باطل بإجماع الأمة ، - إلى أن قال - واعلم أن هذه الحجة ضعيفة لأن لقائل أن يقول: إنما يميز دم الحيض عن دم الاستحاضة بالصفا ت «التي ذكرها رسول الله صلى الله عليه وسلم لدم الحيض، فإذا علمنا ثبوتها حكمنا بالحيض، وإذا علمن ا عدمها حكمنا بعدم الحي ض، وإذا ترددنا في الأمرين كَن طريان الحيض مجهولا وبقاء التكليف الذي هو الأصل معلوم والمشكوك لا يعارض المعلوم، فلا جرم حكم ببقاء التكاليف الأصلية، فبهذا الطريق يميز الحيض عن الاستحاضة وإن لم يجعل للحيض زمان مع ين، وحجة مالك من وجهين الأول: أن النبي صلى الله عليه وسلم بين علامة دم الحيض وصفته بقوله: «دم الحيض هو الأسود المحتدم» فمت كَن الدم موصوفا بهذه الصفة كَن الحيض حاص لا، فيدخل تحت قوله تعالى: فاعتزلوا النساء في المحيض وتحت قوله عليه السلام لفاطمة بنت أبي حبيش: «إذا أقبلت الحيضة فدعي الصلاة» . الحجة الثانية: أنه تعالى قال في دم الحيض: هو أذى فاعتزلوا النسا ء في المحيض ذكر وصف كونه أذى في معرض بيان العلة لوجوب الاعتزال،","part":1,"page":16},{"id":17,"text":"وإنما كَن أذى للرائحة المنكرة التي فيه، واللون الفاسد وللحدة القوية التي فيه، وإذا كَن وجوب الاعتزال معللا بهذه المعا ن فعند حصول هذه المعان وجب الاحتراز عملا بالعلة المذكورة في كتاب الله تعالى على سبيل التصيح، وعندي أن قول مالك قوي جد ا »\r2. فتح الإله المنان صـ 25-26\r)سئل رحمه الله( عن امرأة كَن دم الحيض يجيها في ك شهر سبعة أيام، ومن شهر القعدة أي سنة 1377 هـ يجيها ساعة خم… س ايام، وطهر ثمانية أيام، وسوع يجيها ثمانية أيام وطهر ثمان، شي قول فيه في أيام الطهر طهر، وأيام الحيض حيض، أو ما شي فيه قول. أفيدونا ؟ فأجاب رحمه الله بقوله: جاء في تفسير الفخر الرازي لما ذكر اختلاف العلماء في مدة الحي… ض ما صورته، وقال مالك: لا تقدير لذلك في القلة والكثرة فان وجد ساعة فهو حيض وان وجد أياما فكذلك، ثم ذكر رد بعض العلماء لقول الامام مالك هذا بانه لو كَن المقدار ساقطا في القليل والكثير لوجب أن يكون الح يض هو الدم الموجود من المرأة فيلزم ان لا يوجد في الدنيا مستحاضة، وهذا باطل باجماع الامة. -إلى أ ن قا ل - ثم قال: وعندي أن قول مالك قوي جدا، اذا عرفت هذا علمت ان من الائمة من يقول ان وقت الطهر طهر مطلقا ووقت الدم حيض لكن لا على ا لإطلاق، بل اذا وجدت فيه علامة الحيض وهي سواده واحتدامه وإلا فهي استحاضة، لها حكم الطاهر والله أعل م.\r3. شرح الياقوت النفيس صـ 121\rوقد تبتلى بعض النساء بالاستحاضة، ولكن نحن سنحكي لكم مذهب الإمام مالك، ولا نفتي به، وهناك عبارة تقول: )فإن كَن حاكيا لا مفتيا جاز( والإمام مالك يقول: إذا كَن الدم موجودا فهو حيض، وإذا كَن غير موجود فهو طهر بشرو ط، وكثير من العلماء خففوا على المتحيرة، منهم السيد العلامة أحمد بن حسن العطاس يقول: )اتركوا النساء وعداتهن ولا تسألوهن( وبعضهم يطلقون ما ذكرته عن مالك. 1","part":1,"page":17},{"id":18,"text":"قال في كتاب تذكير الناس صـ 06: )واعدل مذهب في الحيض مذهب الامام مالك تطهر وقت الطهر وتحيض ما دام الدم( وكما يفيد هذا إطلاق عبارة البارزي في فتواه -وهو من أئمة الشافعي ة - في موضوع طريقة طواف الحائض، على أن إطلاقه ربما احتاج إلى بح ث.\r4. شرح مختصر خليل للخرشي )1/ 203(\rفصل الحيض دم )ش( -إلى أن قا ل - وأشار بقوله )كصفرة أو كدرة( إلى أنهما حيض كَلدم قال ابن القاسم وإذا رأت صفرة أو كدرة في أيام حيضها أو في غيرها فهو حيض وإن لم تر معه دما قال إمام الحرمين: الصفرة شيء كَلصديد تعلوه صفرة وليس على شيء من ألوان الدماء ال قوية والضعيفة، والكدرة بضم الكاف شيء كدر ليس على ألوان الدماء -إلى أن قا ل - )ص( خرج بنفسه من قبل من تحمل عدة )ش( يعني أن من شرط الدم وما معه أن يخرج بنفسه لا بسبب ولادة ولا علاج وأ ن يكون من قبل لا من دبر أو ثقبة وأن يكون خروجه ممن تحمل عدة لا صغيرة ولا آي سة كسبعين سنة ويسأل النساء في خمسين. )ص( وإن دفعة )ش( لما كَن المذهب لا حد لأقل الحيض بالزمان بين أقله بالمقدار وهي دفعة بضم الدال وهي من المطر وغيره والدفعة بفتح الدال المرة وكلاهما هنا صحيح فهي حيض تحرم به الصلاة، وبقية العبادات ويجب بانقطاعها الغسل وليس ت حيضة يحتسب بها في العدة والاستباء وقال أبو حنيفة أقله ثلاثة أيام والشافعي يوم وليلة\rMubtadaah","part":1,"page":18},{"id":19,"text":")ص( وأكثره لمبتدئة نصف شهر )ش( لما كَنت النساء مستويات في أقله مفترقات في أكثره من مبتدأة وحامل بين ما لكل واحدة فبدأ بالمبت دأة وهي التي لم يتقدم لها حيض قبل ذلك فإذا تمادى بها الدم فالمشهور أنها تمكث خمسة عشر يوما وهو مراده بنصف شهر أخذا بالأحوط وكلام ا لمؤلف حيث لم تكن حاملا بدليل ما بعده وليس المراد بتماديه استغراقه النهار وليله بل لو رأت من الدم في يوم أو ليلة قطرة حسبت ذلك اليو م أو صبيحة تلك الليلة يوم دم. )ص( كأقل الطهر )ش( يريد أن أقل الطهر خمسة عشر يوما على المشهور وقيل عشرة أيام وقيل خمسة أيام وتظهر فائدة التحديد لأقل الطهر فيما لو حاضت مبتدأة وانقطع عنها دون خمسة عشر يوما ثم عودها قبل تمام طهر تام فتضم هذا الثان للأول لتتم م نه خمسة عشر يوما بمثابة ما إذا لم ينقطع ثم هو دم علة وإن عودها بعد تمام الطهر فهو حيض مؤتنف\rMu’tadah\r)ص( ولمعتاد ثلاثة استظهارا على أكثر عدتها ما لم تجاوزه ثم هي طاهر )ش( أي وأكثر لمعتادة غير حامل سبق لها حيض ولو مرة ثلاثة استظهارا على أكثر عدتها أياما لا وقوع فإن اختلف وإن كَنت تارة ثلاثا وتارة أربعة وتارة خمسا، والثلاثة والأربعة أكثر وقوع استظهرت على الخمسة لأنها أكثرها أياما ومحل الاستظهار ما لم تجاوز نصف شه ر فإن تجاوزته طهرت حينئذ فتستظهر بثلاثة أيام إذا كَنت عدتها اثني عشر يوما وبيومين إذا كَنت عدتها ثلاثة عشر يوما وبيو م إن كَنت عدتها أربعة عشر يوما، فإن كَنت عدتها خمسة عشر يوما فلا استظهار وتكون المرأة بعد أيام الاستظهار وقبل تمام الخمسة عشر يوما طاهرا فتصوم وتطوف فيما بينهما وتصل وتوطأ ولا يجب مطلقها على الرجعة وتبتدئ العدة من الآن ولا يجب عليها غسل بعد الخمسة عشر يوما ولا قضاء الصوم بل يستحبان وقياسه أنه يستحب لزوجها عدم إتيانها\rHamil","part":1,"page":19},{"id":20,"text":")ص( ولحامل بعد ثلاثة أشهر النصف ونحوه وفي ستة فأكثر عشرون يوما ونحوها وهل ما قبل الثلاثة كما بعدها أو كَلمعتادة قولان )ش( لم ا كَنت الحامل عندنا تحيض خلافا للحنفية، ودلالة الحيض على براءة الرحم ظنية اكتفى بها الشارع رفقا بالنساء وقال مالك ليس أول الحمل كآخره ولذلك كثرت الدماء بكثرة أشهر الحمل لأنه كلما عظم الحمل كثر الدم والمعنى أن الحامل في ثلاثة أشهر أو أربعة أو خمسة أو ستة تمكث عشرين يوما وفي سبعة أشهر إلى غاية حملها تمكث ثلاثين يوم ا ثم هي مستحاض ة واختلف إذا رأت الدم في شهر أو شهرين من حملها وتمادى بها هل تمكث النصف ونحوه كما إذا كَنت حاملا في ثلاثة إلى ستة وهو قول الإبيان أو كغير الحامل لعدم ظهور الحمل في الشهر والشهرين فتمكث المعتادة عدتها ولا استظهار، والمبتدئة التي حملت من غير تقد م حيض نصف شهر فقط وهو اختيار ابن يون س فإن قيل: إذا كَن الحمل لا يظهر إلا في ثلاثة أشهر فكيف يقال على القول الأول إنها تمكث خمسة عشر يوما ونحوها مع أنه غير ظاهر فالجواب أن فائدة هذا تظهر فيما إذا صامت بعد الخمسة عشر يوما حيث كَنت مبتدئة أو قبل ذلك حيث مك ثت عدتها واستظهرت فإنه إذا ظهر الحمل تقضي الصوم لأنه وقع في أيام الحيض فهو كَلعدم، أو القول الأول مبني على أنه يلزمها ما يلزم الحامل بعلمها بالحمل بقرينة كَلوحم المعلوم عند النساء لظهور الحمل الثان مبني على أنه إنما يلزمها ما يلزم الحامل إذا ظهر الحمل وه و إنما يظهر في الثالث وما بعده وعلى هذا الجواب فمبنى القولين مختلف\rMukhtalithoh","part":1,"page":20},{"id":21,"text":")ص( وإن تقطع طهر لفقت أيام الدم فقط على تفصيلها )ش( يع ني أن المرأة إذا أتاها الحيض في وقته وانقطع بعد يوم أو يومين أو ساعة وأتاها بعد ذلك قبل طهر تام فإنها تلفق أيام الدم بعضه ا إلى بعض على تفصيلها السابق فإن كَنت معتاد ة فتلفق عدتها واستظهارها وإن كَنت مبتدئة لفقت نصف شهر وإن كَنت حاملا في ثلاثة أشهر فأكثر لفقت نصف شهر ونحوه وبعد ستة أشهر لفقت عشرين يوما ونحوها وفي الشهر الأول والثان لفقت ما يلزمها على الخلاف المتقدم وألغت في الجميع أيام الطهر إن نقصت عن أيام الدم اتفاقا إذ لا يكون الطهر أقل من أيام الحيض أصلا وكذا إن ساوت أو زادت على المشهور وقد علمت مما مر أن المراد بأيام الدم ما حصل فيه الدم أو في ليله ولو قطرة لا استيعاب جميعه ولما كَن الحيض لا حد لأقله ولأقل الطهر حد حسن إ ضافة التقطع إليه دون الدم، فإن قيل ما ذكره هنا من نسبة التقطع للطهر ينافي قوله فيما يأتي وتقطعه ومنعه كَلحيض فإنه يفيد نسبة التقطع للحيض قلت لا شك أن كلا من الطهر والحيض تقطع بالآخر فأشار المؤلف إلى ذل ك\rIstihadloh","part":1,"page":21},{"id":22,"text":")ص( ثم هي مستحاضة وتغتسل كلما انقطع وتصوم وتصل وتوطأ )ش( أي ثم إن حصل من ضم أيام الدم بعضها إلى بعض ما يحكم بأنه أكثر الحيض على ما مر تفصيله صارت بعد ذلك مستحاضة وتغتسل كلما انقطع لأنها لا تدري هل يعاودها أم لا وتصوم وتبأ وتصل وتوطأ على الم عروف ولو علمت أن الدم يعود إليها لم تؤمر بالاغتس ال حيث يعود إليها بالقرب في وقت الصلاة فلو قال المؤلف عقب قوله كلما انقطع إلا أن تعلم إتيانه قبل انقضاء وقت الصلاة التي هي به لأفاد ذلك. )ص( والمميز بعد طهر ثم حيض ) ش( المستحاضة إن لم تميز بين الدمين فلا إشكال أنها على حكم الطاهر ولو أقامت طول عمرها وتعتد عدة المرتابة وإن كَنت تميزه فالمميز من ا لدم إما أن يكون قبل طهر تام ولا حكم له وأما بعد طهر تام من يوم حكم لها بالاستحاضة فالمميز حيض في العبادة اتفاقا وفي العدة على المشهور فقوله: والمميز بفتح الياء صفة لموصوف محذوف أي وا لدم المميز برائحة أو لون أو رقة أو ثخن لا بكثرة أو قلة لأنهما تابعان للأكل والشرب والحرارة والبودة ومفهوم قوله مميز لو لم يميز فهو استحاضة، ومفهوم بعد طهر أن المميز قبل طهر ثم استحاض ة )ص( ولا تستظهر على الأصح )ش( أي إذا ثبت أن الدم المميز بعد طهر تم حيض واستمر بها فإنها تمكث أكثر عدتها ف قط وترجع مستحاضة كما كَنت قبل التمييز ولا تحتاج لاستظهار لأنه قد ثبت لها حكم الاستحاضة وهو قول ابن القاسم ومالك وكلام المؤلف مقيد بما إذا دام ما ميزته بعد أيام عدتها لا بصفة الحيض أما إن دام بصفة الحيض المميز فإنها تستظهر بعد مضي عدته ا على المعتمد كما في المواق وغير ه\r.3 TASHIH NASKAH | PANITIA\rDeskripsi Masalah","part":1,"page":22},{"id":23,"text":"Umar, adalah seorang ustadz yang gemar membacakan (mengorek) kitab klasik. Tak jarang ia menemukan teks yang dirasa tidak sesuai dengan kaidah nahwu atau bahkan hukum fikihnya, seperti adanya mudhof tanpa mudof ilaih, pengurangan huruf Nafi dan lain-lain.\rMenyikapi hal tersebut, apabila sedang rajin, maka umar akan mengecek kebenarannya pada kitab cetakan lain yang telah ditashih oleh Ulama yang kredibel, mengingat bahwa kitab yang dipakainya merupakan kitab dari percetakan kecil yang tidak disertai pentashih. Namun, apabila dalam keadaan sibuk, maka umar akan membiarkan kejanggalan itu dengan memaknainya sesuai teks yang terdapat dalam kitabnya tadi, tanpa mencari tahu kebenarannya.\rSecara historis, dualisme teks kitab ini sudah ditemukan sejak dulu, seperti teks dalam kitab Fatawi al-Ghozali, dalam permasalahan jual beli tanah yang terdapat pohon di dalamnya. Sebagian redaksi berbunyi “laa yajibu” yakni tidak wajib mengosongkan tanah itu dari pohon, namun teks redaksi yang lain mengatakan “yajibu” tanpa kalimat laa. Hal itupun menjadi bahan tumpuan pembahasan bagi ulama generasi selanjutnya seperti Imam an-Nawawi dan lain-lain.\rPertimbangan\r)1 Ditemukan beberapa cetakan yang berbeda-beda, sebagian mencantumkan pentashih sebagian yang lain tidak mencantumkannya.\r)2 Beberapa ustadz hanya mengungkapkan fi badi nusakh dengan tanpa meneliti lebih dalam dan hanya menisbatkan kebenaran kepada kitab dengan cetakan yang berbeda.\rPertanyaan:\ra. Apa hukum seorang ustadz membacakan/ mengkaji sebuah kitab tanpa mentashihnya terlebih dahulu?\rJawaban :","part":1,"page":23},{"id":24,"text":"a. Boleh dengan prinsip kehati-hatian dengan memilih kitab yang mautsuq bih.\rAdapun ketsiqohan kitab dapat diketahui dari:\r?…Mushonnif (pengarangnya).\r?…Nisbat kitab terhadap mushonifnya\r?…Isi kitab, yaitu meliputi redaksi dan substansi muatan yang aman dari tabdil dan takhrif.\r?…Cetakan yang terpercaya dengan membandingkan beberapa naskah.\rReferensi\r1. فتاوى ابن الصلاح) 1/ 52(\rالحادية عشرة لا يجوز لمن كَنت فتياه نقلا لمذهب إمامه إذا اعتمد في نقله على الكتب أن يعتمد إلا على كتاب موثوق بصحته وجاز ذلك كما جاز اعتماد الراوي على كتابه و اعتماد المستفتي على ما يكتبه المفتي ويحصل له الثقة بما يجده من نسخه غير موثوق بصحتها بأن يجده في نسخ عدة من أمثالها وقد يحصل له الثقة بما يجده في الثقة بما يجده في النسخة غير الموثوق بها بأن يراه كلاما منتظما وهو خبير فط ن لا يخفى عليه في الغالب مواقع الإسق اط والتغيير وإذا لم يجده إلا في موضع لم يثق بصحته نظر فإن وجده موافقا لأصول المذهب وهو أهل التخريج مثله على المذهب لو لم يجده منقولا فله أن يفتي به فإن أراد أن يحكيه عن إمامه فلا يقل قال الشافعي مثلا كذا وكذا وليقل وجدت عن الشافعي كذا وكذا أو بلغني عنه كذا وكذا أو ما أشبه هذا من العبارات أو إذا لم يكن أهلا لتخريج مثله فلا يجوز له ذلك فيه وليس له أن يذكره بلفظ جازم مطلق فإن سبيل مثله النقل المحض ولم يحصل له فيه ما يجوز له مثل ذلك ويجوز له أن يذكره في غير مقام الفتوى مفصحا بحاله فيه فيقول وجدته في نسخة من الك تاب الفلان أو من كتاب فلان ما لا أعرف صحتها أو وجدت عن فلان كذا وكذا أو بلغني عنه كذا وكذا وما ضاهى ذلك من العبارا ت والله أعل م\r2. قرة العين بفتاوى علماء الحرمين ص: 326","part":1,"page":24},{"id":25,"text":")ما قولكم( دام فضلكم في قراءة القرأن والأحاديث كصحيح البخاري ومسلم والصلوات كدلائل الخيرات والأدعية المأثورة إذا كَن ذلك مضبوطا بالقلم من غير سند من أحد ولاإذن ولانقل وأن يعمل بما فهم ويفهم غيره ويعما بظهور المعنى أو بتفهيم الشارح له ويترك ما لم يفهمه فهل يجوز ذلك أو لا إلا في كتب الفقه أو لايجوز ذلك كله إلا بسند وإذن ونقل من شيخ أفتونا )الجواب( أما القرآن فلا تجوز تلاوته بغير تلق من عرف متلق لأمرين أحدهما حرمة اللحن فيه لقوله تعالى قرآن عربيا غير ذي عوج والثان فرضية تجويده الثابتة بالكتاب وهو قوله تعالى ورتل القرآن ترتي لا - إلى أن قا ل - وأما الأحاديث والصلوات كدلائل الخيرات والأدعية المأثورة ف من أن اللحن فيها يقتضي الكذب في نسبتها معه للنبي صلى الله عليه وسلم أو لمن أثرت عنه والكذب من الكبائر سيما على النبي صلى الله عليه وسلم يتوقف جواز قرائتها بلاتلق على أحد أمرين أحدهما كون النسخة صحيحة مضبوطة بضبط عرف بالعربية أو متلق لها من عرف وثانيهما ك ون القارئ ذكيا فطنا متقنا للعربة ومع هذا فقرائتها بالتلقي ممن ثبت تلقيه بالسند أدعى لحصوله بركة المشايخ ونفحاتهم وأسلم من أن يحوم حول الحمى الكذب عليه صلى الله عليه وسلم أو على من أثر عنه ذلك فيوشك أن يو اقعه فيدخل تحت وعيده وأما العمل بما فهم وتفهيمه للغير فمحل جوازه في القرآن وخلافه إذا كَن اللفظ ظاهر الدلالة وهو معلوم الصحة لكل أحد لم يخالف أصلا من أصول الشريعة المطهرة ومع هذا فالفهم والتفهيم من التلقي والواقف على أصول الشريعة المطهرة أسلم لكونهما حينئذ رمي ة من رام وأما كتب الفقه فمدار جواز قرائتها والعمل بما يفهم منها وتفهيمه للغير على فطنة القارئ والعامل أو وضوح العبارة ومع هذا فكون القارئ والعامل متلقيا أولى وأسل م والله أعل م\r3. الفتاوى الحديثية لابن حجر الهيتمي )ص36( دار الفكر","part":1,"page":25},{"id":26,"text":"فقد حكى جماعة من أئمة النقل عن ابن عبد الحكم عن أشهب: قال: سألت مالكا أيؤخذ العلم عمن لا يحفظ وهو ثقة صحيح؟ قال: لا، قلت له: أن يخرج كتابه ويقول هو سماعي؟ قال: أما أنا فلا أرى أن يحمل عنه فإن لا آمن أن يكتب في كتابه ما ليس منه بالليل وهو لا يدري انتهى. ووافقه على ذلك بعض الشافعية، لكن المعتمد عند الجمهور جواز الاعتماد على الأصل المسموع المحفوظ، وإن لم تتعدد أصوله التي قوبل عليها كما يأ تي عن النووي وابن الصلاح رحمهما الله، وإنما سقت مع ذل ك كلام مالك لأنه صريح في المنع في مسألتنا والتشديد على من اعتمد مجرد الوجود في نسختين مثلا؛ ويوافق ذلك ولعل الأصل فيما قاله مالك رضي الله عنه، ما أخرجه الخطيب عن ابن عبد الرحمن السلمي أن عمر رضي الله عنه قال: إ ذا وجد أحدكم كتابا فيه علم لم يسمعه عن علم فليدع بإناء وماء فلينقعه فيه حت يختلط سواده في بياضه، هذا كله فيما إذا اعتمد في كون ذلك رواية على مجرد وجوده في نسخة مثلا فلا يجوز ذلك، لأن الرواية لا تثبت بذلك كما يأتي التصيح به أيضا عن غير واحد ،أما إذا ذكر ذلك لا على جهة الرواية ولا على جهة الجزم بل على جهة الوجادة فإن ذلك يجوز كما صرحوا به حيث قالوا: ما وجد في نسخة من تصنيف، فإن وثق بصحة النسخة بأن قابلها المصنف أوثقه غيره بالأصل، أو بفرع مقابل بالأصل وهكذا جاز الجزم بنسبتها إلى صاحب ذلك الكتاب، وإن لم يوثق بصحة تلك النسخة لم يجزم بنسبتها إليه بل يقال بلغني عن فلان أنه ذكر كذا أو وجد في نسخة من الكتاب الفلان كذا، وما أ شبه ذلك من العبارات التي لا تقتضي الجزم، نعم يجوز ذلك للعالم الفطن الذي لا يخفى عليه في الغالب مواضع الإسقاط والسقط وما أحيل عن جهته، وقالوا أيضا: إن نسخ صحيح الترمذي كثيرة الخلاف في الحكم على الحديث فف بعضها حسن صحيح وفي أخرى صحيح غريب، وإذا أريد نسبة شي ء منها للترمذي لم يجز الجزم بنسبتها إليه إلا إذا رأى في نسخة","part":1,"page":26},{"id":27,"text":"صحيحة مقابلة على أصل معتب. وفي )شرح المهذب( ما ملخصه: لا يجوز الاعتماد على كتاب إلا إذا وثق بصحته فإن وجد منه نسخة غير معتمدة فلتستظهر بنسخ منه متفقة، وإن لم يوجد غير تلك النسخة الغير المعتمدة. قال ابن الصلاح: فإن أراد حكايته عن قائله فلا يقل قال فلان كذا وليقل وجدت عن فلان كذا، وبلغني عنه ونحو ذلك، هذا إن كَن أهلا للتخريج، وإلا لم يجز له ذلك فإن سبيله النقل المحض، ولم يحصل له ما يجوز له ذلك، نعم إن ذكره مفصحا بحالته، فقال: وجدته في نسخة من الكتا ب الفلان ونحو ذلك جاز انتهى. قال ابن الصلاح أيضا: وقد تسامح كثيرون بإطلاق اللفظ الجازم في ذلك من غير تحر ولا تثبت فيطالع أحدهم كتابا منسوبا إلى مصنف معين وينقل عنه من غير أن يثق بصحة النسخة قائلا عن فلان كذا ونحو ذلك، والصواب أن ذلك لا يجوز انتهى. قال بعض الحفاظ: ويلتحق بذلك ما يوجد بحواشي الكتب من الفوائد والتقييدات ونحوها فإن كَنت بخط معروف فلا بأس بنقلها وعزوها إلى من هي له، وإلا فلا يجوز اعتمادها إلا لعالم متقن. وقال ابن الصلاح أيضا ما ملخصه: لا يجوز لأحد أخذ حديث من كتاب معتمد لعمل أو احتجاج إلا بعد م قابلته على أصول متعددة وقد تكثر تلك الأصول المقابل بها كثرة تنزل منزلة التواتر أو الاستفاضة، وخالفه النووي فقال: لا يشترط تعدد الأصول بل يكف المقابلة على أصل واحد لكن بشرط أن يكون صحي حا معتمدا أي بأن يقابل على أصل صحيح وهكذا إلى المؤلف. وكلام ابن الصلاح م وافق له على عدم اشتراط تعدد الأصل المقابل عليه إذا كَن النقل منه للرواية، والفرق أن العمل والاحتجاج يحتاط لهما أكثر. -الى ان قا ل - وحاصله: أن الواو ضَورية الثبوت رواية وعملا واحتجاجا، وأن الفاء إن صحت النسخة التي وجدت فيها بأن قابلها خبير ثقة على أصل معتمد، بأن صححه حافظ ثقة، جاز الاعتماد عليها عملا، وكذا رواية إن رآها في أصله المحفوظ عنده المقابل كما ذكره، أو سمعها من لفظ","part":1,"page":27},{"id":28,"text":"شيخ له خبة بالحديث متنا وإسنادا، فإن فقد بعض هذه الشروط لم تجز قراءتها على أ نها من الحديث ولا الجزم بأنها في كتاب مسلم، وإنما الذي يجوز في ذلك أن يقول: رأيت أو وجدت في بعض نسخ مسلم كذا بالفاء.\r4. تحفة المحتاج الجزء الأول ص : 56 دار الكتب العلمية\r]تنبيه[ ما أفهمه كلامه من جواز النقل من الكتب المعتمدة ونسبة ما فيها لمؤلفيه ا مجمع عليه وإن لم يتصل سند الناقل بمؤلفيه ا نعم النقل من نسخة كتاب لا يجوز إلا إن وثق بصحتها أو تعددت تعددا يغلب على الظن صحتها أو رأى لفظها منتظما وهو خبير فطن يدرك السقط والتحري ف فإن انتفى ذلك قال وجدت كذا أو نحوه ومن جواز اعتماد المفتي ما يراه في كتاب معتمد فيه تفصيل لا بد منه، ودل عليه كلام المجموع وغيره وهو أن الكتب ا لمتقدمة على الشيخين لا يعتمد شيء منها إلا بعد مزيد الفحص والتحري حت يغلب على الظن أنه المذهب ولا يغتر بتتابع كتب متعددة على ح كم واحد فإن هذه الكثرة قد تنتهي إلى واحد ألا ترى أن أصحاب القفال أو الشيخ أبي حامد مع كثرتهم لا يفرعون ويؤصلون إلا على طريقته غالبا، وإن خالفت سائر الأصحاب فتعين سب كتبهم هذا كله في حكم لم يتعرض له الشيخان أو أحدهما، وإلا فالذي أطبق عليه محققو المتأخرين ولم تز ل مشايخنا يوصون به وينقلونه عن مشايخهم وهم عمن قبلهم.\r5. حاشية العطار الجزء الثانى ص: 202","part":1,"page":28},{"id":29,"text":")خاتمة مهمة( قال ابن برهان في الأوسط ذهب الفقهاء كَفة إلى أنه لا يتوقف العمل بالحديث على سماعه بل إذا صح عنده النسخة جاز له العمل بها وإن لم يسمع وحكى الأستاذ أبو إسحاق الإسفراييني الإجماع على جواز النقل من الكتب المعتمدة ولا يشترط اتصال السند إلى مصنفها وذلك شامل لكتب الأحاديث والفقه وقال الطبي من وجد حديثا في كتاب صحيح جاز له أن يرويه ويحتج ب ه وقال قوم من أصحاب الحديث لا يجوز له أن يرويه لأنه لم يسمعه وهذا غلط وكذا حكاه إمام الحرمين في البهان عن بعض المحدثين وقال هم عصبة لا مبالاة بهم اهـ وكتب الشيخ ع ز الدين بن عبد السلام جوابا عن سؤال كتبه إليه أبو محمد عبد الحميد وأما الاعتماد على كتب الفقه الصحيحة الموثوق بها فقد اتفق العلماء في هذا العص على جواز الاعتماد عليها والاستناد إليها لأن الثقة قد حصلت بها كما تحصل بالرواية وبعد التدليس ومن اعتقد أن الناس قد اتفقوا على الخطأ في ذلك فهو أولى بالخطأ منهم ولولا جواز الاعتماد على ذلك لتعطل كثير من المصالح المتعلقة بها وقد رجع الشارع إلى قول الأطباء في صور وليست كتبهم مأخوذة في الأصل إلا عن قوم كفار ولكن لما بعد التدليس فيها اعتمد عليها كما اعتمد في اللغة على أش عار العرب وهم كفار لبعد التدلي س قال وكتب الحديث أولى بذلك من كتب الفقه وغيرها لاعتنائهم بضبط النسخ وتحريرها فمن قال إن شرط التخريج من كتاب يتوقف على اتصال السند إليه فقد خرق الإجماع وغاية المخرج أن ينقل الحديث من أصل موثوق بصحته وينسبه إلى من رواه ويتكلم على علته وغريبه وفقهه قال وليس الناقل للإجماع مشهورا بالعلم مثل اشتهار هؤلاء الأئمة بل نص الشافعي في الرسالة على أنه يجوز أن يحدث بالخب وإن لم يعلم أنه سمعه فليت شعري أي إجماع بعد ذلك ا ه\r6. الفتاوى الفقهية الكبرى) 4/ 183(","part":1,"page":29},{"id":30,"text":"يحرم التساهل في الفتوى، ومن عرف به يحرم استفتاؤه فمن التساهل أن لا يتثبت ويسرع بالفتوى قبل استيفاء حقها من النظر والفكر ثم ق ال: ومن التساهل أن تحمله الأغراض الفاسدة على تتبع الحيل المحرمة أو المكروهة والتمسك بالشبهة طلبا للترخيص لمن يروم نفعه، أو التغليظ … على من يريد ضَه ثم قال: ومن الحيلة التي فيها شبه ويذم فاعلها الحيلة السريجية في سد باب الطلاق. اه.\rJalsah Tsalitsah\rMUSHOHIH ……PERUMUS …MODERATOR\r.1 KH. Atho’illah S. Anwar\r.2 Agus HM. Shobich AlMuayyad Aziz\r.3 KH. Muhlis Dimyati\r.4 KH. M. Mujab Mashudi, ….1 2. 3. 4. 5.\r.6 …Ust. Mudaimulloh Azza\rUst. Ulul Basoir\rUst. Abdul Kafi Ridho\rUst. Saifuddin Masykuri\rUst. Ahmad Muntaha AM\rUst. Zainul Millah M …Ust. Mahrus Ali\rNOTULEN\r…M. Th., Ph.D … …M. Masruhan Rizqi\r….5 KH. Aly Mustofa Said …Nur Zaman\r.6 KH. Syafrijalla Subadar\r.7 K. Anang Darunnaja\r.8 KH. Ahmad Bahrul Huda\r.9 KH. Muhibbul Aman\rAli\r.01 K. Zahro Wardi\r.11 K. Nawawi Asyhari\r.21 K. Fahmi Basya\r.31 K. Hisbulloh Al-Haq\r.41 K. Anas Rifa’i\rMemutuskan\r.4 PENYEMBELIHAN HEWAN SECARA MEKANIK | III ALIYAH\rDeskripsi Masalah\rMenyembelih hewan merupakan salah satu cara yang harus dilakukan agar hewan yang dikonsumsi hukumnya menjadi halal. Islam telah mengatur secara sempurna mengenai tata cara menyembelih hewan, terutama hewan kurban. Penyembelihan hewan kurban memang harus dilakukan sesuai syariat Islam. Di antaranya adalah dengan memotong leher kerongkongan dan tenggorokan serta dua urat nadi dengan alat yang tajam, kecuali gigi dan tulang.","part":1,"page":30},{"id":31,"text":"Namun seiring berkembangnya teknologi alat penyembelihan hewan tidak lagi menggunakan alat tradisional, melainkan menggunakan alat berupa mesin pemotongan hewan. Alat ini dalam waktu sekejap dapat menyembelih puluhan hewan.\rTata cara penyembelihan hewan yang dilakukan secara mekanik ialah sebagai berikut:\r)1 Mempersiapkan mesin pemotong yang tajam dan tidak bergigi agar tidak menyiksa hewan yang akan disembelih.\r)2 Mempersiapakan tempat yang nanti dialirkan darah hewan yang disembelih agar darah hewan tersebut tidak melebar kemana-mana.\r)3 Binatang yang hendak disembelih dibaringkan dan dihadapkan ke arah kiblat.\r)4 Hewan disembelih menggunakan mesin pemotong seraya penyembelih (operator mesin) menggucapkan basmalah.\rNamun juga terdapat praktek lain yaitu menggunakan mesin gantung artinya mesin penyembelihnya sudah hidup dan terdapat mesin lain yang membawa ayam berjalan menuju mesin penyembelih lalu pekerja tinggal meletakkan ayam pada mesin tersebut. Dan mesin akan berjalan sendiri membawa ayam ke mesin penyembelihan\rPertanyaan a. Apakah praktek penyembelihan seperti di atas sudah dianggap cukup?\rJawaban:\ra. praktek penyembelihan di atas sudah dianggap cukup, dengan ketentuan:\r?…Alat penyembelihan adalah benda tajam selain tulang dan kuku\r?…Operator mesin merupakan orang yang sah sembelihannya\r?…Terdapat kesengajaan dalam penyembelihan .\r?…Sembelihan masih dinisbahkan kepada operator mesin.\r?…Hasil sembelihan sesuai dengan ketentuan syara`, yakni terputusnya saluran pernapasan\r(hulqum) dan makanan (mari’).\rCatatan:","part":1,"page":31},{"id":32,"text":"Praktek penyembelihan hewan tersebut dilakukan satu per satu, yakni setiap satu tombol untuk satu hewan (adapun jika disembelih bersamaan, masih belum dibahas)\rReferensi\r1. المفصل في أحكام المرأة للشيخ د.ر عبد الكريم زيدان ج 3 ص 29-30\rالتذكية بالآلات الكهربائية : وجدت في الوقت الحاضـ ر وسائل وآلات حديثة في ذبح الحيوانات ومن هذه الوسائل : استعمال الآلات الكهربائية لذبح الحيوانات على اختلاف أنواعها وغالباً ما يتم الذبح بقطع رأس الحيوان، وقد يكون من قفاه، وقد يسبق ذلك تخديره بزرق إبرة تخد ير في جسمه، فهل تصح التذكية بهذه الآلات الكهربائية، وبهذه الكيفية أم لا؟","part":1,"page":32},{"id":33,"text":"جواب السؤال : والجواب : إن الشرط في آلة التذكية أن تكون محددة تقطع وتنفذ وتجرح بحدها لا بثقلها كما قلنا، وأنه يستحب الذبح بالسكين؛ لأنها محددة وتسرع في إزهاق روح الحيوان، ولا تعذبه بإطالة مدة ذبحه . ولا شك أن هذه الآلات الكهربائية حادة وسريعة في عملها وفي إتمام عملية الذبح، فهي إذن صالحة للتذكي ة . وأما الذبح بقطع رأس الحيوان، فقد قلنا: إن ذلك جائز . وأما الذبح من القفا، فإنه بمنزلة ذبح الحيوان بقطع رأسه ؛ لأن لهذا الذبح ـ من القفا ـ يقطع رأس الحيوان حالاً لحدة الآلة وسرعتها. فيكون ق د اجتمع في هذا الذبح قطع ما تبقى الحيا ة معه مع الذبح ـ أي مع قطع الحلقوم والمربىء الذي هو محل الذبح ـ، فيجوز لأن هذه الآلات الكهربائية حادة جداً فتأتي على قطع الرأس كله مرة واحدة، فلا يتصور موت الحيوان وإزهاق روحه قبل قطع الحلقوم والمربىء حت يقال : التذكي ة لا تجو ز. كيف تلاحظ شروط المذكي في الذبح بهذه الآلات الكهربائية : وأما بالنسبة لشروط المذكي، فهذه تلاحظ فيمن يحرك الآلة، فيشترط فيه أن يكون مسلماً، أو كتابياً، ذكر كَن أو أنثى، وأن يقصد التذكية وهو يحرك ويستعمل آلات ذبح الحيوان وهذ ا الشرط متوفر عدة؛ لأن تحريك هذه الآلات يقترن بها عدة قصد محركها ذبح الحيوانات المراد ذبحها، وأن الذي يحركها عدة شخص بالغ، أو صبي عقل في الأقل يعقل الذبح ويقصد ه.\r2. روضة الطالبين وعمدة المفتين) 3/ 251(\rولو رمى إلى شاته الربيطة سهما جارحا، فأصاب الحلقوم والمريء وفاقا، وقطعهما، فف حل الشاة مع القدرة على ذبحها احتمال للإمام، وقال: ويجوز أن يفرق بين أن يقصد المذبح بسهمه، وبين أن يقصد الشاة فيصيب المذبح. قلت: الأرجح: الحل. والله أعلم.\r3. التهذيب في فقه الإمام الشافعي) 8/ 15(","part":1,"page":33},{"id":34,"text":"والآلة التي يصطاد بها قسمان: أحدهما: الآلات المحددة من السهام، وغيرها. والثان: الجوارح من السباع من الفهد، والكلب وغيرهما، ومن الطيور كَلبازي، والصقر، وغيرهما. أما الأول: إذا رمى إلى صيد بشء محدد سوى العظم من سهم أو رمح، أو سكين، أو خشب محدد الطرف، أو مروة محددة فأصابه وجرحه بحده، فما ت -: حل أكله. ولو رمى إليه بسهم لا نصل له، ولا رأسه محددة، قذفه فقتله، أو كَن فيه نصل، ولكن أصابه ثقله ]بحرفه[، أو أصابه النصل، ولم يجرحه، فمات: لا يحل، كما لو رمى إليه بندقة، فقتله.روي عن عدي بن حاتم الطائي قال: سألت رسول الله صلى الله عليه وسل م -: عن صيد المعراض؟ فقال: \"إذا أصبت بحده فكل، وإذا أصبت بعرضه فلا تأكل؛ فإنه وقيذ. وكذلك: لو نصب أحبولة، وفيها حديدة، فوقع فيها صيد، فجرحته الحديدة، فقتلته: لا يحل؛ لأنه مات بغير فعل من أحد، إنما هو تسبيب، ولا تحل الذبيحة بالقتل بالتسبيب. وكذلك: لو كَن رأس الحبل بيده، فتعلق به ا لصيد فجره فما ت -: لم يحل، ولو كَن الصيد يعدو، وبيده محدد، فضرب ه -: يحل.\r4. الحاوي الكبير) 15/ 25(","part":1,"page":34},{"id":35,"text":"قال الماوردي: اعلم أن الصيد الممتنع لتعذر القدرة عليه يتوصل إليه بأسباب تجعل حيلا في القدرة عليه، وهو يتنوع بأنواع: أحدها: الجوارح المرسلة عليه، وقد ذكرناه ا. والثان: السلاح الذي يرمي به، فإن قتل بثقله كَلحجر والخشب، فهو وقيذ لا يؤكل وإن قطع بحده أو بعد تدمية، فهو مأكول، فأما المعراض. فهو آلة تجمع خشبا وحديدا، فإن أصاب بحده أكل، وإن أصاب بعرضه فهو وقيذ. والنوع الثالث: ما نصب له من الآلة التي تفارق آلته، فتضغطه، وتمسكه كَلفخ والشرك والشبكة والأحبولة، فإذا وقع فيه وأدركت ذكَته حل، وإن فاتت ذكَته ومات لم يؤكل سواء كَن في الآلة س لاح قطع بحد أو لم يكن فيها سلاح، فمات بضغطه. ودليلنا: ما علل به الشافعي أنها ذكَة بغير فعل أحد. وبيانه: أن الذكَة تكون بفعل فاعل مباشر، ولا تحل بغير فعل مباشر. وتحريره أنها ذكَة، فوجب أن تحل بالمباشرة دون السبب كمن نصب سكينا، فاحتكت بها شاة فانذبحت لم تؤكل.\r5. أسنى المطالب في شرح روض الطالب) 1/ 556(","part":1,"page":35},{"id":36,"text":"الركن الرابع نفس الذبح وقد سبق بيانه في الأضحية والعقر وقد بيناه هنا وتقدم أنه لا بد فيه من القصد ومثله الذبح فلا بد فيهما من قصد العين بالفعل وإن أخطأ في الظن أو من قصد الجنس وإن أخطأ في الإصابة كما سيأتي تصويرهما والتصيح بالقصد في الذبح من زيادته فإن لم يقصد الفعل أصلا بأن سقطت السكين من يده على مذبح شاة ف انجرحت به وماتت أو نصبها فانعقرت بها وماتت أو تحككت بها وهي في يده فانقطع حلقومها ومريئها حرمت وإن شاركها في الحركة لعدم القصد في غير المشاركة ولحصول الموت بحركة الذاب ح والشاة في المشاركة في إدخال هذه في عدم القصد نظر وخالف ذلك وجوب الضمان لأنه أوسع من باب الذكَة بدليل أنه لو قتل بمثقل وجب القصاص ولو قتل الصيد به لم يحل فإن رمى ما ظنه حجرا أو خنزيرا فكان صيدا فأصابه ومات أو رمى صيدا فأصاب صيدا غيره ولو من غير جنسه ومات حل ولا يضر خطأ الظن في الأولى ولا خطأ الإصابة في الثانية كما مر لوجود قصد الصيد فيهم ا\r6. تحفة المحتاج في شرح المنهاج وحواشي الشرواني والعبادي) 9/ 332(\r)وإن أصابه( أي: الصيد )سهم بإعنة ريح( طرأ هبوبها بعد الإرسال، أو قبله كما اقتضاه إطلاقهم، وكأن يقص عنه لو لا الريح )حل( لتعذر الاحتراز عنها فلم يتغير بها حكم الإرسال، وكذا لو أصابه مع انقطاع وتره، أو صدمه بحائط مثلا؛ لأن أثر الرامي باق مع ذلك بخلاف ما لو وقع بالأرض، ثم ازدلف منها إليه، وقتله، فإنه يحرم لانقطاع حكمه بوقوعه عليها، وخرج بإعنتها تمحض الإصابة بها ف لا يح ل\r)قوله: مع انقطاع وتره( الوتر محركة شرعة القوس، ومعلقها اه. قاموس )قوله: فإنه يحرم( خلافا للمغني، والروض مع شرحه عبارتهما، ولو أصاب السهم الأرض، أو جدارا، أو حجرا فازدلف، ونفذ فيه، أو انقطع الوتر عند نزع القوس فصدم الفوق فارتمى السهم، وأصاب الصيد في الجميع حل؛ لأن ما يتولد من فعل الرامي منسوب إليه؛ إذ لا اختيار للسهم اه. وأقرها س م","part":1,"page":36},{"id":37,"text":"Jalsah Ula\r…MUSHOHIH ……PERUMUS …MODERATOR\r.1\r.2 3. 4.\r.5 …KH. M. Ibrahim A.\rHafidz\rK. Saifudin Zuhri\rKH. Munir Akromin\rK. Anang Darunnaja\rK. Ridlwan Qoyyum ….1 2. 3. 4.\r.5 …K. Syahrul Munir\rK. Makrifatussolihin\rUst. Ahid Yasin\rUst. Nuril Izza\rMuzakky\rAgus. M. Hamim HR …Agus Arif Ridlwan\rAkbar Imam\rNOTULEN\r…Sa’id …6. …Ust. Mubasysyarum …Bpk. Khozinatul Asror\r….6 K. Saiful Anwar …Bih Ridlwan …Bpk. Abdullah Iyadh\r.7 K. M. Thohari Muslim …7. …Ust. Miftahul Huda …Bpk. Irfan Saiful Muarif 8. Ust. Gufron AT …\rMemutuskan\r.1 MONEY POLITICS & COST POLITICS | PANITIA\rDeskripsi Masalah\rCost Politics atau biaya politik dianggap sebagai bagian dari pembiayaan yang mencakup biaya politik pemenangan, diantaranya untuk kampanye, mobilisasi saksi hingga pengawasan yang lebih teknis atas penyelenggaraan kontestasi demokrasi, dan karenanya, Cost Politics dianggap legal dan harus dilaporkan penerimaan dan pemanfaatannya. Sedangkan Money Politics adalah pemberian uang atau barang kepada pemilih atau calon pemilih untuk mempengaruhi pilihan mereka.\rKendati demikian ada yang menilai bahwa, jika saat berkampanye calon legislatif atau kepala daerah memberikan uang atau bantuan lain pada masyarakat atau kelompok masyarakat maka tidak masuk kategori Money Politics, akan tetapi Cost Politics. Begitupun ketika kandidat turun dan membantu berbagai kepentingan masyarakat, seperti pembangunan rumah ibadah, kegiatan pemuda, kesenian dan lainnya, ini juga bukan Money\rPolitics tapi Cost Politics.","part":1,"page":37},{"id":38,"text":"Demikian juga halnya dengan pemberian uang transportasi dan serta konsumsi pada masyarakat atau perorangan merupakan Cost Politics, karena siapapun masyarakatnya tentu ketika akan datang kesebuah acara, memenuhi undangan baik menyangkut kampanye atau lainnya, tentu mengeluarkan uang transportasi dan lainnya, ini tentunya mendapatkan penggantian, sehingga tidak bisa dikatakan Money Politics.\rYang pada intinya, setiap yang diberikan saat para kandidat bertemu masyarakat atau kelompok masyarakat, merupakan Cost Politics atau pengeluaran anggaran politik, tapi bukan merupakan Money Politics, karena artian dari pemberian bantuan tidak satu, melainkan banyak, sesuai dengan person masing-masing. Sedangkan bisa dikatakan Money Politics, jika uang atau bantuan dalam bentuk lainnya diberikan pada masyarakat dengan sebuah perjanjian tertulis akan memilih kandidat, maka itu menjadi Money Politics dan wajib ditindak.\rContoh, ketika juru kampanye atau langsung kandidat datang pada seseorang atau kelompok masyarakat, mengatakan “kami akan membantu kelompok ini, dengan syarat harus memilih saya”. Jika tujuannya jelas memberi untuk menekan atau merayu agar memilih kandidat, maka masuk kategori Money Politics, namun jika tidak ada perjanjian mengikat apalagi membantu karena niat baik, itu hanya bagian dari Cost Politics, bukan Money Politics. Hal inilah yang membuat resah sebagian masyarakat, sebenarnya manakah yang disebut suap atau risywah dalam kaca mata fikih.","part":1,"page":38},{"id":39,"text":"Ditengah kebingungan di atas, terdapat sebagian masyarakat yang kurang mampu beranggapan bahwa \"kalau uang yang jelas haramnya, maka saya sebagai orang miskin justru berhak untuk menerimanya\", bertendensi dari ibarot berikut:\r? الفتاوى الفقهية الكبرى الجزء الثالث ص: 97 دار الفك ر\r)وسئل( عن مغصوب تحقق جهل مالكه هل هو حرام محض أو شبهة وهو يحل التصرف فيه كاللقطة أو كغيرها؟\r)فأجاب( بقوله لا يحل التصرف فيه ما دام مالكه مرجوّ الوجود بل يوضع عند قاض أمين إن وجد وإلا فعالم كذلك فإن أيس من معرفة مالكه صار من جملة أموال بيت المال كما فى شرح المهذب فإنه قال ما ملخصه من معه مال حرام وأيس من معرفة مالكه وليس له وارث وينبغى أن يصرفه فى المصالح العامة كالقناطر والمساجد وإلا فيتصدق له على فقير أو فقراء ويتولى تصرفه القاضى إن كان عفيفا وإلا حرم التسليم إليه وضمنه المسلم بل ينبغى أن يحكم رجلا من أهل البلد دينِّا عالما فإن فقد تولاه بنفسه وأخذ الفقير للمدفوع إليه حلال طيب وله أن يتصدق به على نفسه وعياله إن كانوا فقرا ء والوصف موجود فيهم بل هم أولى من يتصدق عليهم وله أن يأخذ منه قدر حاجته لأنه أيضا فقير كذا ذكره الأصحاب ونقل عن معاوية والأحمد والحارث المحاسبي وغيرهم من أهل الورع لأنه لا يجوز\rإتلاف المال ولا رميه فى البحر فلم يبق إلا مصالح المسلمين إ ه\rPertanyaan:\ra. Bagaimana hukum menerima pemberian berupa uang atau lainnya dari calon pemimpin sebagaimana deskripsi di atas?\rJawaban:\rSegala bentuk pemberian berupa uang atau lainnya dari calon pemimpin kepada rakyat yang memiliki hak pilih hukumnya haram karena secara fakta pemberian tersebut tidak akan terwujud bila dilakukan diluar masa pemilu.","part":1,"page":39},{"id":40,"text":"Sedangkan hukum Cost Politics seperti kerja tim sukses yang pemberiannya dimaksudkan sebagai imbalan dari kerja-kerja pemenangan maka diperbolehkan dengan syarat pekerjaan yang dilakukan bukan merupakan kerja yang diharamkan oleh syariat seperti kampanye hitam.\rReferensi\r1. سلم التوفيق ص ـ: 74\r)وأخذ الرشوة( بكسر الراء وهو ما يعطيه الشخص لحاكم أو غيره ليحكم له أو يحمله على ما يريد.\r2. اسعاد الرفيق جـ: 2 صـ: 100\r3. اتحاف السادة المتقين جـ : 6 صـ: 160 - 161","part":1,"page":40},{"id":41,"text":"قال التقي السبكي الهدية لا يقصد بها إلا استمالة القلب والرشوة يقصد بها الحكم الخاص مال القلب أم لم يمل فإن قلت العاقل إنما يقصد استمالة قلب غيره لغرض صحيح أما مجرد استمالة القلب من غير غرض أجر فلا قلت صحيح لكن استمالة القلب له بواعث منها أن ترتب عليه مصلحة مخصوصة معينة كالحكم مثلا فههنا المقصود تلك المصلحة وصارت استمالة القلب وسيلة غير مقصود لأن القصد متى علم بعينه لايقف على سببه فدخل هذا في قسم الرشوة – إل أن قال - أن تكون دنيوية كالتوصل بذلك إل أغراض له لا تنحصر بأن يكون المستمال قلبه صاحب جاه فإن كان جاهه بالعلم والدين فذلك جائز و هل هو جائز بلا كراهة أو بكراهة تنزيه اقتضى كلام الغزالي في الإحياء الثاني و مراد ه في القبول في الهدية وهو صحيح لأنه قد يكون أكل بعلم ه أو دينه أما الباذل فلايكره له ذلك وإن كان جاهه بأمر دنيوي فإن لم يكن ولاية بل كان له وجاهة بمال أو صلة عندالأكابر و يقدر على نفعه فهذا لايكره الإهداء إليه لهذا الغرض و أما قبوله فهو أقل كراهة من الذي قبله بل لا تظهر فيه كراهة لأنه لم يأكل بعلمه و لا دينه و إنما هو أمر دنيوي ولم يخرج من حد الهدية فلا كراه ة فإن كان جاهه لولاية تولاها من قضاء أو عمل أو ولاية صدقة أو جباية مال أو غيره من الأعمال السلطانية حتى ولاية الأوقاف مثلا وكان لولا تلك الولاية لكان لايهدي إليه فهذه رشوة عرضت في معرض الهدية إذ القصد بها في الحال طلب التقرب و اكتساب المحبة و لكن لأمر ينحصر في جنسه إذ ما يمكن التوسل إليه بالولايات لايخفي وآية أنه لا ينبغي المحبة أنه لو ولي في الحال غيره لسلم المال إل ذلك الغير فهذا مما اتفقوا على أن الكراهة ش ديد ة واختلفوا كونه حراما و المعنى فيه متعارض فإن ه دائر بين لهدية المحضة وبين الرشوة.\r4. روضة الطالبين صـ : 11 صـ : 144","part":1,"page":41},{"id":42,"text":"فرع قد ذكرنا أن الرشوة حرام مطلقاً والهدية جائزة في بعض الأحوال فيطلب الفرق بين حقيقتيهما مع أن الباذل راض فيهما والفرق من وجهين أحدهما ذكر ه ابن كج أن الرشوة هي التي يشرط على قابلها الحكم بغير الحق أو الامتناع عن الحكم بحق والهدية هي العطية المطلق ة. والثا ني قا ل الغزا لي في الإحيا ء الما ل إم ا يبذ ل لغر ض آج ل فه و قرب ة وصدق ة وإم ا لعاج ل وه و إم ا ما ل فه و هب ة بشر ط ثوا ب أ و لتوق ع ثوا ب وإم ا عم ل فإ ن كا ن عم لا محرم ا أ و واجب ا متعين ا فه و رشو ة وإ ن كا ن مباح ا فإجار ة أ و جعال ة وإم ا للتقر ب والتود د إ ل المبذو ل له فإ ن كا ن بمجر د نفس ه فهدي ة وإ ن كا ن ليتوس ل بجاه ه إ ل أغرا ض ومقاص د فإ ن كا ن جاه ه بالعل م أ و النس ب فه و هدي ة وإ ن كا ن بالقضا ء والعم ل فه و رشوة. إيضاح الأحكام لما يأخذه .\r5. إيضاح الأحكام لما يأخده العمال والحكام للشيخ إبن هجر ص ـ: 179\rويؤيده ما مر عن السبكي أن المعنى الذي أشار إليه الشافع والأصحاب المتقدمون اعتبار المعنى الذي قصده المهدي وإذا كان هذا هو المعتبر اتجه ما ذكره الأذراعي وتعين اعتماده واعتقاد أنه ليس محض بحث لما تقرر أن كلام الشافع والأصحاب المتقدمين دال عليه ويؤيده أيضا قول السبكي متعقبا قول الرافع عن ابن كج : العطية للحاكم إن كانت على أن يحكم بباطل أو يقف عن الحكم بالحق فهي الرشوة وإن كانت مطلقة فهي الهدية هذا فيه قصور فإن لم يذكر ما يأخذه على أن يحكم بالحق فهو رشوة محرمة كما نص عليه الشافع رضي الله ع نه أي والأصحاب بل مرت حكاية الاجماع فيه وقوله إن كانت مطلقة فهي الهدي ة إن عن بالاطلاق ان لا يقترن بها لفظ يدل على الشرط فالهدايا لا يشترط فيها لفظ وإنما الاعتبار فيها بالفعل والقصد وليست كالعقود نحو البيع والهبة مما ينظر فيه للفظ لا للقص د.\r6. المجموع شرح المهذب) 20/ 130(","part":1,"page":42},{"id":43,"text":"ولا يقبل هدية ممن لم يكن له عادة أن يهدى إليه قبل الولاية لما روى أبو حميد الساعدي قال: استعمل رسول الله صلى الله عليه وسلم رجلا من بنى أسد يقال له ابن اللتبية على الصدقة فلما قدم قال هذا لكم وهذا أهدى إلي، فقام النبي صلى الله عليه وسلم على المنبر فقال: م ا بال العامل نبعثه على بعض أعمالنا فيقول هذا لكم وهذا أهدى إلي: ألا جلس في بيت أبيه أو أمه فينظر أيهدى إليه أم لا، والذى نفسي بيده لا يأخذ أحد منها شيئا الا جاء يوم القيامة يحملة على رقبته، فدل على أن ما أهدى إليه بعد الولاية لا يجوز قبوله، وأما من كانت له عادة بأن يهدى إليه قبل الولاية برحم أو مودة فإنه ان كانت له في الحال حكومة لم يجز قبولها منه لانه لا يأخذ في حال يتهم فيه وإن لم يكن له حكومة فإن كان أكثر مما كان يهدى إليه أو أرفع منه لم يجز له قبولها لان الزيادة حدث بالولاية، وان لم يكن أكثر ولا أرفع مما كان يهدى إليه جاز قبولها لخروجها عن تسبب الولاية والاولى أن لا يقبل لجواز أن يكون قد أهدى إليه لحكومة منتظرة.\r7. فتاوى ابن الصلاح) 1/ 50(\rوذكر أبو القاسم الصيمري أنه لو آجتمع أهل البلد على أن جعلوا له رزقا من أموالهم ليتفرغ لفتياهم جاز ذلك وأما الهدية فقد أطلق السمعاني الكبير أبو المظفر أنه يجوز له قبول الهدية بخلاف الحاكم فإنه يلزم حكمه. قلت: ينبغي أن يقال يحرم عليه قبولها إذا كانت رشوة على أن يفتيه بما يريده كما في الحاكم وسائر ما لا يقابل بعوض والله أعلم.\r…\rJalsah Tsaniyah\r…MUSHOHIH ……PERUMUS …MODERATOR\r.1 2. 3.\r.4 …KH. Romadlon Khotib\rKH. Munir Akromin\rK. M. Najib Abdul\rGhoni\rK. Ridlwan Qoyyum\rSa’id ….1 2. 3.\r.4\r.5 …K. Syahrul Munir Ust. Ahid Yasin\rUst. Nuril Izza\rMuzakky\rUst. A. Zaimul Abror\rAgus. M. Hamim HR …Ust. Mubasysyarum Bih\rRidlwan\rNOTULEN\r….5 K. Saiful Anwar …6. …Ust. Miftahul Huda …Bpk. Khozinatul Asror","part":1,"page":43},{"id":44,"text":"….6 K. M. Thohari Muslim …Bpk. Abdullah Iyadh ZA\r….7 Ust. Gufron AT …Bpk. Irfan Saiful Muarif\r…\rMemutuskan\rPertanyaan:\rb. Bagaimana hukum orang miskin menerima Money Politics & Cost Politics?\rJawaban:\rHaram, karena status kemiskinan tidak mempengaruhi rumusan hukum menerima pemberian dari calon pemimpin sebagaimana jawaban dalam sub a.\rReferensi\r….1 Fatawa As-Subki, vol. 01 hal. 205. ….3 Al-Bayan, vol. 7 hal. 27.\r….2 Idhoh Al-Ahkam, hal. 164. …4. Dan lain-lain.\r1. فتاوي السبكي ج ـ ـ: 1 ص ـ: 205\rوملخص كلام العلماء فيما يعطي الحكام الأئمة والأمراء والقضاة والولاة وسائر من ولي أمرا من أمور المسلمين أنه إما رشوة وإما هدي ة أما الرشوة فحرام بالإجماع على من يأخذها وعلى من يعطيها وسواء كان الأخذ لنفسه أو وكيلا وكذا المعطي سواء أكان عن نفسه أو وكيلا، ويجب ردها على صاحبها ولا تجعل في بيت المال إلا إذا جهل مالكها فتكون كالمال الضائع، وفي احتمال لبعض متأخري الفقهاء أنها تجعل في بي ت المال ؛ والمراد بالرشوة التي ذكرناها ما يعطى لدفع حق أو لتحصيل باطل وإن أعطيت للتوصل إل الحكم بحق فالتحريم على من يأخذها كذلك، و أما من لم يعطها فإن لم يقدر على الوصول إل حقه إلا بذلك جاز وإن قدر إل الوصول إليه بدونه لم يجز.\r2. إيضاح الأحكام لما يأخده العمال والحكام للشيخ إبن هجر صـ 164","part":1,"page":44},{"id":45,"text":"قال السبكي إن جهل صاحبها وضعت لبيت المال وقيل هي ملك لمن أهديت له وإن علم صاحبها فالأصح عند النووي وغيره من المتأخرين ردها إليه وقيل توضع في بيت المال وهو المختار لحديث ابن اللتبية وقال صاحب البيان إنه ظاهر المذهب والمعنى الذي أشار إليه الشافع والأصحاب ا لمتقدمون والحنفية من اعتبار المعنى الذي قصده المهدي فكأنها للمسلمين يرشد إليه هذا كله في الهدية أما الرشوة فالذي ينبغي أنه إن جهل صاحبها ردت لبيت المال قطعا وإن عرف ردت إليه قطعا لأنه لم يخرج عنها الا ما قصد من الحكم الذي لم يحصل له ولا يملكها المهدى إلي ه بلا خلا… ف.\r3. البيان صـ : 10 ص ـ : 27\r4. كفاية النبيه في شرح التنبيه ) 18/ 107(","part":1,"page":45},{"id":46,"text":"ولو كانت الهدية في عمله من غير أهل عمله بأن أرسل بها رسول، فإن كان للمهدي حكومة حرم القبول، وكذا لو دخل بها ]المهدي[ بنفسه ولا حكومة له؛ لأنه صار من عمله بالدخول ]فيه[، وإن أرسل بها ولا حكومة له؛ ففي جواز قبولها وجهان في \"الحاو ي\" . فرع: ما حكم المال المأخوذ إذا قلنا: لا يجوز أخذه؟ أطلق ابن الصباغ فيه وجهين إتباعاً للقاضي أبو الطيب : أحدهما: يرد إل بيت المال للمصالح؛ لأنه أهدى إليه لمكان ولايته، وهو منتصب لمصلحة المسلمين، وكأن المهدي أهداه للمسلمين يصرف في مصالحهم. والثاني: يرد إل صاحبه، ثم قال: وكذلك العام ل في الصدقات إذا أهدى له، فيه وجهان: أحدهما: يرد إل الصدقا ت. والثاني: يرد إل مالك ه. والمذهب في \"تعليق\" البندني ج في الصورتين: الأول، وفي \"الحاوي\" تخصيص الوجهين في الهدية للقاضي بالهدية المبتدأة التي لا مقابل لها، وقال فيما إذا وقعت قبل الحكم: فهي رشوة، فترد إل مالكها وينفذ الحكم على المهدي إذا ردها قبله أو بعده، وكذلك ينفذ له إن ردها قبل الحكم، وإن ردها بعده ففي ن فوذه وجهان. وقال فيما إذا وقعت الهدية بعد الحكم جزاء لما جرى: إنها ترد على مهديها، وإن الحكم معها ناف ذ. وقد حكى المراوزة فيما يفعل بالمال مع القول بالتحري م - وجه ين: أحدهما: يرد لمالكه، وهو الذي عليه الأكثرون؛ كما حكاه الإما م. والثاني: أن القاضي يملكه؛ لأن ا لهبة صدرت من مطلق، وكذلك القبول والتحريم محمول على التعريض للتهمة في الأمر الظاهر، فالملك بالإضافة إل التحريم كالصلاة في الدار المغصوبة، وهذا ما اختاره صاحب \"التقريب\"؛ كما حكاه الفوراني.\r5. قواعد الأحكام في مصالح الأنام) 1/ 71(","part":1,"page":46},{"id":47,"text":"فصل: فيما يجوز أخذه من مال بيت المال إن قال قائل: إذا دفع الظلمة مما بأيديهم من الأموال إل إنسان شيئا فهل يجوز له أخذه منهم أم لا؟ قيل له: إن علم المبذول له أن ما يدفع له مغصوب فله حالان: الأولى: أن يكون ممن يقتدى به ولو أخذ لفسد ظن الناس فيه بحيث لا يقت دون به ولا يقبلون فتياه، فلا يجوز له أخذه لما في أخذه من فساد اعتقاد الناس في صدقه ودينه، لا يقبلون له فتيا، فيكون قد ضيع على الناس مصالح الفتيان. ولا شك أن حفظ تلك المصالح العامة الدائمة أولى من أخذ المغصوب ليرده على صاحبه. وكذلك الشهود والحكام ما لم يصرحوا بأنهم أخذوه للرد على مالكه. الحالة الثانية: ألا يكون المبذول له كذلك، فإن أخذه لنفسه حرم عليه، وإن أخذه ليرده إل مالكه جاز ذلك، وإن جهل مالكه بحث عنه إل أن يعرفه، فإن تعذرت معرفته صرفه في المصالح العامة أهمها فأهمها، وأصلحها فأصلحها، فإن لم يعرف تلك المصالح دفعه إل من يعرفها، فإن لم يجد من يعرفها تربص بها إل أن يجده فيتعرفها منه، أو يدفعها إليه ليصرفها في مصالحها إن كان عد لا، وإن كان المال الذي يبذلونه مأخوذا بحق، فإن كان المال لمصالح خاصة كالزكاة لأربابها والخمس لأربابه، والفيء للأجناد على قول، فإن كان المبذول له من أهل ذلك المال الخاص فإن أعطي قدر حقه فليأخذه، وإن أعطي زائدا على حقه فليأخذ قدر حقه ويكون حكم الزائد على حقه ما ذكرناه في المال المغصوب، وإن كان ذلك من الأموال العامة فليأخذه إن لم تفت بأخذه مصلحة الفتيا، وليصرفه في المصارف العامة أصلحها فأصلحها، وإن لم يكن من أهل ذلك فعل ما ذكرنا في المال المغصوب، وإن بذل له المال من جهة مجهولة فإن يئس من معرفة مستحقه فقد صار باليأس للمصالح العامة فليأخذه ويصرفه فيها، وإن توقع معرفة مستحقيه فليأخذه بنية البحث عن مستحقيه، فإن تعذرت معرفتهم بعد البحث التام صار كمال المصالح العام ة.\rPertanyaan:","part":1,"page":47},{"id":48,"text":"c. Jika tidak boleh, bagaimana alokasi yang benar apabila terlanjur diterima?\rJawaban:\rwajib dikembalikan pada pemiliknya.\rReferensi\r….1 Fatawa As-Subki, vol. 01 hal. 205. ….3 Idhoh Al-Ahkam, hal. 15.4\r….2 Idhoh Al-Ahkam, hal. 164. …4. Dan lain-lain\r1. فتاوي السبكي ج ـ : 1 صـ: 205\rوملخص كلام العلماء فيما يعطي الحكام الأئمة والأمراء والقضاة والولاة وسائر من ولي أمرا من أمور المسلمين أنه إما رشوة وإما هدي ة أما الرشوة فحرام بالإجماع على من يأخذها وعلى من يعطيها وسواء كان الأخذ لنفسه أو وكيلا وكذا المعطي سواء أكان عن نفسه أو وكيلا، ويجب ردها على صاحبها ولا تجعل في بيت المال إلا إذا جهل مالكها فتكون كالمال الضائع، وفي احتمال لبعض متأخري الفقهاء أنها تجعل في بي ت المال ؛ والمراد بالرشوة التي ذكرناها ما يعطى لدفع حق أو لتحصيل باطل وإن أعطيت للتوصل إل الحكم بحق فالتحريم على من يأخذها كذلك، و أما من لم يعطها فإن لم يقدر على الوصول إل حقه إلا بذلك جاز وإن قدر إل الوصول إليه بدونه لم يجز.\r2. إيضاح الأحكام لما يأخده العمال والحكام للشيخ إبن هجر: 164\rقال السبكي إن جهل صاحبها وضعت لبيت المال وقيل هي ملك لمن أهديت له وإن علم صاحبها فالأصح عند النووي وغيره من المتأخرين ردها إليه وقيل توضع في بيت المال وهو المختار لحديث ابن اللتبية وقال صاحب البيان إنه ظاهر المذهب والمعنى الذي أشار إليه الشافع والأصحاب ا لمتقدمون والحنفية من اعتبار المعنى الذي قصده المهدي فكأنها للمسلمين يرشد إليه هذا كله في الهدية أما الرشوة فالذي ينبغي أنه إن جهل صاحبها ردت لبيت المال قطعا وإن عرف ردت إليه قطعا لأنه لم يخرج عنها الا ما قصد من الحكم الذي لم يحصل له ولا يملكها المهدى إلي ه بلا خلا ف.\r3. إيضاح الاحكام لما يأخده العمال والحكام للشيخ إبن هجر ص ـ: 154","part":1,"page":48},{"id":49,"text":"حيث جوزنا قبول الهدية للقاضي أو غيره ممن يأتي ملكها المهدى إليه وحيث حرمناه على القاضي أو غيره ممن يأتي لم يملكها ويلزمه ردها لمالكها فأن أتلفها صارت دينا عليه فيلزمه رد مثلها إن كانت مثلية وقيمتها إن كانت متقومة فإن مات قبل أدائها أديت من تركته فإن لم يع لم مالكها ردت لبيت المال لأنها حينئذ في حكم الضال هذا هو المنقول المعتمد إليه ذهب الأكثرون ووراءه أراء ضعيفة منها ما حكاه الإمام أن من الأصحاب من قال ويملك \" وإن حرم القبول لكونها صدرت من أهلها وإن تفرض التهمة بقبولها فتحرم كالصلاة في أرض مغصو ب قال الزركشي ونازع بعهم في إجراء هذا الوجة الضعيف القائل بالملك على ظاهره وقال: إنه مصادم للإجماع الذي حكاه ابن عبد البر ومحل الخرق )الخلاف( أيضا في غير الرشوة والتي وقعت جزاء لحكم سابق كما أفهمه كلام الماوردي أم هما فلا يخرجان عن ملك مالكهما قطعا وأقره الأذرعي وغيره لكن ذكر شريح أنه من دفع له شيء ليحكم الحق على سبيل الإجارة ولم يكن له رزق جاز له قبول ومر وسيأتي ما في ذلك قال الفوراني لو أهدى له أحد المتحاكمين أو كلاهما لم يحل له ولم يملك على الأصح وقال صاحب \"التقريب\": \"يملك\" ومنها ما قاله القفال أن الطريقة المشهورة ل لأصحاب أن الهدية إذا لم تكن في حال خصومة فهي ملكه فلا يطلق إل الكراه ة.\r.2 TALFIQ DAN SYADZ UNTUK MASYARAKAT | II ALIYAH\rDeskripsi Masalah","part":1,"page":49},{"id":50,"text":"Secara bahasa, talfiq berarti melipat. Sedangkan yang dimaksud dengan talfiq secara syar’i adalah mencampur antara dua pendapat dalam satu qadliyah (masalah), baik sejak awal, pertengahan dan seterusnya, yang nantinya akan menimbulkan satu amaliyah yang tak pernah dikatakan oleh kedua pendapat tadi. Seperti menyembelih dam haji di Indonesia mengikuti pendapat Muqobil Ashoh madzhab Syafi’iyyah dan membagikannya pada rakyat di Indonesia mengikuti pendapat Abu Hanifah. Padahal menurut Syafi’iyyah harus dibagikan pada fuqoro’ tanah haram dan menurut Abu Hanifah harus disembelih di tanah haram.\rMembayar Zakat Fitrah menggunakan uang mengikuti pendapat Hanafiyyah dan uang tersebut senilai 2,5 kg beras mengikuti Syafi’iyyah. Padahal menurut Hanafiyyah kadar uang yang dibayarkan harus sesuai dengan harga bahan–bahan makanan yang manshush (disebut dalam teks hadits) sebagai Zakat Fitrah, yaitu 1 sha’ kurma kering, 1 sha’ sya’ir (jelai–hordeum vulgare), 0,5 sha’ anggur kering, dan 0,5 sha’ hinthah (gandum-triticum spelta). Sedangkan menurut Syafi’iyyah tidak boleh menggunakan uang.\rPendapat Syadz yaitu pendapat yang luar biasa atau langka, tidak pernah ditemukan ulama lain yang mendukungnya, sehingga tidak boleh digunakan sebagai sandaran hukum. Seperti dam yang wajib disebabkan perkara mubah, semisal Haji Tamattu’, maka boleh disembelih dan dibagikan di luar tanah haram.","part":1,"page":50},{"id":51,"text":"Contoh Qoul Tabi’in yang masyhur ialah pendapat Syekh Hasan Bashri berpendapat bahwa yang diharamkan bagi perempuan iddah hanyalah nikah. Sedangkan Qoul sahabat ialah seperti Sahabat Ibnu Abbas yang berpendapat bahwa dicukupkan dalam kurban dengan menggunakan setiap hewan yang halal dimakan meskipun ayam.\rNamun, sudah maklum diketahui bahwa Talfiq, mengamalkan Qoul Syadz, Qoul Tabi’in, dan Qoul Sahabat tidak diperbolehkan, akan tetapi terkadang pendapat tersebut sangat dibutuhkan sebagai solusi atas problematika yang terjadi di masyarakat, seperti beberapa contoh yang sudah masyhur di atas.\rPertanyaan\ra. Dalam kondisi darurat atau masyaqat, bolehkah mengamalkan talfiq seperti dalam deskripsi di atas?\rJawaban:\rBerkaitan dengan hukum talfiq, Dr. Wahbah Al-Zuhaili membagi hukum-hukum syariat menjadi tiga:\rPertama; Dalam permasalahan ubudiyah murni di mana prinsip dalam hal ini adalah terlaksananya perintah syariat dan tidak memberatkan, dengan demikian diperbolehkan untuk melakukan talfiq.\rSedangkan jika berkaitan dengan ibadah maliyah (bekaitan dengan harta) seperti zakat tidak diperolehkan talfiq karena prinsip utama dalam ibadah maliyah adalah menghindari terbengkalainya hak-hak orang fakir. Dengan demikian, dalam kasus zakat fitrah sebagaimana dalam deskripsi tidak diperbolehkan talfiq karena akan menyebabkan hak-hak orang fakir tidak terpenuhi dengan maksimal.","part":1,"page":51},{"id":52,"text":"Kedua; Dalam permasalahan hal-hal yang dilarang syariat yang secara prinsip harus mengedepankan ikhtiyat (kehati-hatian) maka dengan demikian tidak diperbolehkan untuk talfiq kecuali dalam kondi terdesak (darurat). Adapun larangan syariat yang berkaitan dengan hak adami sama sekali tidak diperbolehkan talfiq secara mutlak.\rKetiga; Dalam persoalan muamalah, hudud atau munakahah. Khusus dalam persoalan pernikahan prinsipnya adalah menjaga keutuhan rumah tangga maka dalam kasus ini diperbolehkam talfiq dengan syarat tidak dijadikan sebagai alat untuk meremehkan hukum-hukum talak dalam pernikahan. Sedangkan untuk persoalan muamalah dimana prinsip utamanya adalah mengedepankan kemaslahatan kehidupan manusia maka dalam kasus ini diperbolehkan talfiq dengan syarat tidak mencederai terhadap prinsip utama muamalah dan salah satu dari maqasid as-syariyyah.\rReferensi\r1. الفقه الإسلامي وأدلته91( /1)","part":1,"page":52},{"id":53,"text":"حكم التلفيق) 1( في التكاليف الشرعية: تنقسم الفروع الشرعية إل ثلاثة أنواع: (2) الأول ـ ما بني في الشريعة على اليسر والتسامح مع اختلافه باختلاف أحوال المكلف ين. الثاني ـ ما بني على الورع والاحتيا ط. الثالث ـ ما يكون مناطه مصلحة العباد وسعادته م. أما النوع الأول ـ فهو العبادات المحضة، وهذه يجوز فيها التلفيق، لأن مناطها امتثال أمر الله تعال والخضوع له مع عدم الحرج، فينبغي عدم الغلو بها؛ لأن التنطع يؤدي إل الهلا ك. أما العبادات المالي ة: فإنها مما يجب التشديد بها احتياطاً خشية ضياع حقوق الفقرا ء، فلا يؤخذ بالقول الضعيف أو يلفق من كل مذهب ماهو أقرب لمصلحة المزكي لإضاعة حق الفقير، وإنما يجب الإفتاء بالأحوط والأنسب لمصلحة الفقراء. وأما النوع الثاني ـ فهو المحظورات: وهي مبنية على مراعاة الاحتياط والأخذ بالورع مهما أمكن )3( ، لأن الله تعال لا ينهى عن شيء إلا لمضرته، فلا يجوز فيها التسامح أو التلفيق إلا عند الضرورات الشرعية، لأن ) الضرورات تبيح المحظورات(. وعليه لايجوز التلفيق في المحظورات المتعلقة بحقوق الله )أو حقوق المجتمع( حفاظاً على النظام العام في الشريعة، واهتماماً برعاية المصالح العامة. كما لا يجوز التلفيق في المحظورات المتعلقة بحقوق العباد )حقوق الأشخاص الخاصة( منعاً من الاحتيال على حقوق الناس وإلح اق الضرر بهم والاعتداء عليهم. وأما النوع الثالث ـ فهو المعاملات المدنية: والعقوبات الشرعية )الحدود والتعزيرات(، وأداء الأموال الواجبة شرعاً من عشر المزرو عات، وخراج الأراضي، وخمس المعادن المكتشفة، والمناكحات )أو الأحوال الشخصية(. فعقود الزواج )المناكحات( وما يتبعها من أنواع الفرقة الزوجية: مبناها سعادة الزوجين وأولادهما. ويتحقق ذلك بالحفاظ على الرابطة الزوجية، وتوفر الحياة الطيبة فيها، كما قرر القرآن الكريم: }فإمساك بمعروف، أو تسريح بإحسان{","part":1,"page":53},{"id":54,"text":"]البقرة:229/2[. فكل ما يؤيد هذا الأصل يعمل به، ولو أدى في بعض الوقائع إل التلفيق الجائ ز.\r2. الفقه الإسلامي وأدلته) 1/ 93(\rقال الشرنبلا لي الحنفي في العقد الفريد بعد أن ذكر فروعاً من أصل المذهب صريحة بجواز التلفيق: فتحصل مما ذكرناه أنه ليس على الإنسان التزام مذهب معين، وأنه يجوز له العمل بما يخالف ما عمله على مذهب ه، مقلداً فيه غير إمامه، مستجمعاً شروطه، ويعمل بأمرين متضادين في حادثتين لا تعلق لواحدة منهما بالأخرى. وليس له إبطال عين ما فعله بتقليد إمام آخر، لأن إمضاء الفعل كإمضاء القاضي لا ينقض.\r3. الشرح الكبير للشيخ الدردير وحاشية الدسوقي المالكي )1/ 20(\rإن المراد بتتبع الرخص رفع مشقة التكليف باتباع كل سهل وفيه أيضا امتناع التلفي ق ، والذي سمعناه من شيخنا نقلا عن شيخه الصغير وغيره أن الصحيح جوازه وهو فسحة اهـ وبالجملة ففي التلفيق في العبادة الواحدة من مذهبين طريقتان: المنع وهو طريقة المصاروة والجواز وهو طريقة المغاربة ورجحت.\r…\rJalsah Tsalitsah\r…MUSHOHIH ……PERUMUS …MODERATOR\r.1 2. 3. 4.\r.5 …KH. Romadhon Khotib\rKH. Munir Akromin\rK. Masruhan\rK. Saiful Anwar\rK. M. Thohari Muslim ….1 2. 3. 4.\r.5 …K. Syahrul Munir\rK. Makrifatussolihin\rUst. Ahid Yasin\rUst. Nuril Izza\rMuzakky\rUst. Zaimul Abror …Ust. Miftahul Huda\rNOTULEN\r….6 K. M. Najib …6. …Agus. M. Hamim HR …Bpk. Khozinatul Asror\r….7 Ust. Gufron AT …7. …Ust. Mubasysyarum …Bpk. Abdullah Iyadh ZA\r….8 K. Masruhan …Bih Ridlwan …Bpk. Irfan Saiful Muarif\r… …\rMemutuskan\rpertanyaan\rb. Bolehkah mengamalkan dan menyampaikan Qoul Syadz, Qoul Tabiin dan Qoul Sahabat kepada khalayak umum?\rJawaban","part":1,"page":54},{"id":55,"text":"Mengamalkan dan menyampaikan qaul syadz hukumnya tidak diperbolehkan. Adapun Pendapat sahabat, Tabi’in serta pendapat di luar empat madzhab ketentuannya adalah sebagai berikut:\r•…Menurut pendapat Imam Al-Asykhor tidak boleh dipakai secara mutlak baik untuk pribadi ataupun kepentingan fatwa dan putusan hukum (qadla’)\r•…Menurut pendapat Imam Ibn Hajar dan Imam Ramli boleh dipakai untuk pribadi dengan syarat diketahui keabsahan penisbatan pendapat tersebut kepada ulama yang di-taqlidi.\rCatatan: Meyampaikan pendapat qaul Tabi’in, Sahabat dan ulama Mujtahid di luar Madzhab empat yang terkonfirmasi penisbatannya kepada ulama yang di-taqlidi dalam rangka irsyad (memberi petunjuk atau solusi) hukumnya diperbolehkan dengan menyebutkan sosok ulama di luar mazhab empat yang diikutinya.\r…\rReferensi\r1. بغية المسترشدين - ) 581(\r)مسألة: ي(: أرزاق القضاة كغيرهم من القائمين بالمصالح العامة من بيت المال، يعطى كل منهم قدر كفايته اللائقة من غير تبذير، فإن لم يكن أو استولت عليه يد عادية ألزم بذلك مياسير المسلمين، وهم من عنده زيادة على كفاية سنة، ولا يجوز أخذ شيء من المتداعيين، أو ممن يحلفه أو يعقد له النكاح، قال السبكي: فما وقع لبعضهم من الأخذ شاذ مردود متأوّل بصورة نادرة بشروط تسعة، ومعلوم أنه لا يجوز العمل بالشا ذ.\r2. تحفة المحتاج في شرح المنهاج وحواشي الشرواني والعبادي) 10/ 109(","part":1,"page":55},{"id":56,"text":"(فروع) في التقليد يضطر إليها مع كثرة الخلاف فيها، وحاصل المعتمد من ذلك أنه يجوز تقليد كل من الأئمة الأربعة، وكذا من عداهم ممن حفظ مذهبه في تلك المسألة ودون حتى عرفت شروطه وسائر معتبراته، فالإجماع الذي نقله غير واحد على منع تقليد الصحابة يحمل على ما فقد فيه شرط من ذلك، ويشترط لصحة التقليد أيضا أن لا يكون مما ينقض فيه قضاء القاضي، هذا بالنسبة لعمل نفسه لا لإفتاء أو قضاء، فيمتنع تقليد غير الأربعة فيه إجماعا كما يعلم مما يأتي لأنه محض تشبه وتغرير، ومن ثم قال السبكي: إذا قصد به المفتي مصلحة دينية جاز أي مع تبيينه للمستفتي قائل ذلك. (قوله: وكذا من عداهم ممن حفظ مذهبه إلخ) هذا مع قوله الآتي: هذا بالنسبة لعمل نفسه لا لإفتاء أو قضاء صريح في أن من عدا الأربعة ممن حفظ مذهبه في تلك المسألة ودون حتى عرفت شروطه وسائر معتبراته يمتنع تقليده في غير العمل من الإفتاء والحكم فليتنبه لذلك وليحفظ مع أنه في نفسه لا يخلو عن إشكال. (قوله: ويشترط لصحة التقليد أيضا أن لا يكون مما ينقض فيه قضاء القاضي) قد يشكل هذا بأنه يلزم منه بطلان تقليد مقلدي بقية الأئمة الأربعة فيما قلنا بنقضه من مذاهبهم. (قوله: أي مع تبيينه للمستفتي قائل ذلك) أي ليقلده فيكون قول المفتي حينئذ إرشادا لا إفتاء.\r3. الفتاوى الفقهية الكبرى) 4/ 307(","part":1,"page":56},{"id":57,"text":")وسئل( - رحمه الله تعال - هل يجوز تقليد الصحابة رضوان الله تعال عليهم أم لا فما الدليل عليه ؟ )فأجاب( نفعنا الله تعال بعلومه بقوله نقل إمام الحرمين عن المحققين امتناعه على العوام لارتفاع الثقة بمذاهبهم إذ لم تدون وتحرر وجزم به ابن الصلاح. وألحق بالصحابة التابعين وغيرهما ممن لم يدون مذهبه وبأن التقليد متعين للأئمة الأربعة فقط قال لأن مذاهبهم انتشرت حتى ظهر تقييد مطلقها وتخصيص عامها بخلاف غيرهم ففيه فتاوى مجردة لعل لها مكملا أو مقيدا لو انبسط كلامه فيها لظهر خلاف ما يبدو منه فامتنع التقليد إ ذا لتعذر الوقوف على حقيقة مذاهبهم. اه. والقول الثاني جواز تقليدهم كسائر المجتهدين قال ابن السبكي وهو الصحيح عندي. غير أني أقول لا خلاف في الحقيقة بل إن تحقق مذهب لهم جاز وفاقا وإلا فلا. اه. ويؤي ده ما نقله الزركشي عن جمع من العلماء المحققين أنهم ذهبوا إل جواز تقليدهم واستدل له ثم قال وهذا هو الصحيح إن علم دليله وصح طريق ه ، ولهذا قال ابن عبد السلام في فتاويه إذا صح عن صحابي ثبوت مذهب جاز تقليده وفاقا وإلا فلا؛ لا لكونه لا يقلد بل لأن مذهبه لم يثبت كل الثبوت. اه. كلام الزركشي فتأمله مع قول ابن عبد السلام وفاقا يتضح لك اعتماد ما ذكره ابن السبكي ومقتضى قول المجموع فعلى هذا أي وجوب التمذهب بمذهب معين يلزم أن يجتهد في إثبات مذهب إل أن قال وليس له التمذهب بمذهب أحد من الصحابة - رضي الله تعال عنهم - وبس ط دليله وبين أن مذهب الشافع - رضي الله تعال عنه - أقوم المذاهب إن ذلك مفرع على القول الضعيف ويدل له قول ابن برهان تقليد الصحابة مبني على جواز الانتقال في المذاهب فمن منعه منع تقليدهم لأن فتاويهم لا يقدر على استحضارها في كل واقعة حتى يمكن الاكتفاء بها فيؤدي إل الانتقال ومذاهب المتأخرين تمهدت فيكفي المذهب الواحد المكافئ طول عمره. اه. وهو حسن بالغ وبه يع لم جواز تقليدهم في مسائل إذ لا يجب التمذهب","part":1,"page":57},{"id":58,"text":"بمذهب معين خلافا للحنفي ة.\r4. مناهل العرفان صـ 382 فضل بن عبد الرحمن بافضل\rهل يجوز تقليد غير الأئمة الأربعة في عمل النفس أم لا؟\rالجواب: اختلف العلماء في هذه المسألة، فقال بعضهم: يجوز تقليد غير الأئمة الأربعة في عمل النفس خاصة لا في قضاء أو إفتاء، فقد نقل في التحفة والنهاية عن السبكي جواز ذلك بشرط أن تعلم نسبته لمن يجوز تقليده وتجمع شروطه عنده، وحملوا قول ابن الصلاح: لا يجوز تقليد غير الأئمة الأربعة، أي في قضاء أو إفتاء، ومحل ذلك وغيره من سائر صور التقليد ما لم يتتبع الرخص بحيث تنحل ربقة التكاليف، وإلا أثم به بل قيل فسق. وقال بعضهم: لا يجوز تقليد غير الأئمة الأربعة مطلقا حتى في عمل النفس، جرى على ذلك الأشخر كما نقله في بغية المسترشدين، والله أعلم.\rوالجواب: اللهم وفقني للصواب وجنبني الخطأ إنك كريم وهاب، إن تلك المسألة مما اختلف فيه، فقد جاء في البغية في مسألة عن العلامة الأشخر نقل فيها عن ابن الصلاح الإجماع على عدم جواز تقليد غير الأئمة الأربعة، أي حتى في العمل لنفسه، وعلله بعدم الثقة بنسبتها لأربابها. وذكر شيخ الإسلام ابن حجر تلك المسألة في مواضع من التحفة وصرح فيها بجواز تقليد غير الأئمة الأربعة في أفراد المسائل في عمل النفس خاصة كما قاله الإمام السبكي، وحمل ما نقل عن ابن الصلاح من عدم الجواز على الإفتاء والقضاء، وكذلك نقل شيخ الإسلام زكريا في عماد الرضا عن السبكي ما ذكره وأقره، لكن قيد ذلك ابن حجر بشروط كما يعلم من كلامه في التحفة.","part":1,"page":58},{"id":59,"text":"وحاصلها: علم نسبة ذلك إلى من يجوز تقليده من المجتهدين، ومعرفة المقلد بكسر اللام شروط المسألة وجميع معتبراتها عند المقلد بفتحها، وأن يدون مذهبه ويحفظ حتى تعرف شروطه عنده، وألا يكون مما ينقض فيه قضاء القاضي بأن خالف النص أو الإجماع أو القياس الجلي أو القواعد الكلية، وألا يتتبع الرخص، وألا يلفق بين قولين تتولد منهما حقيقة لا يقول بها كل من القائلين، وزاد بعضهم أن تكون هناك مشقة لا تحتمل عادة في ترك التقليد.\rوكأن وجه من منع تقليد غير الأربعة هو عدم أو ندرة اجتماع هذه الشروط، لا سيما فقد تدوين مذاهب غيرهم وتحريرها وإثباتها بأسانيد قوية إلى المجتهد الأول. على أن ابن قاسم استشكل عدم جواز تقليد غير الأربعة في الإفتاء والقضاء إذا عرف مذهب الغير ودون وحفظ، إذ كل الأئمة المجتهدين على هدى من ربهم سواء كانوا من الأربعة أو من غيرهم، كما قال صاحب الزبد: وغيرهم من سائر الأئمة على هدى والاختلاف رحمة.\rوبفقد شرط التدوين قال العلامة الشرقاوي: لا يجوز تقليد ابن عباس وغيره من الصحابة ممن هجرت مذاهبهم، وذلك في ذكره ما نقل عن ابن عباس من جواز التضحية بالديك، مع أن الشيخ الباجوري ذكر عن شيخه أنه كان يأمر الفقير بتقليده، وكأن هذا بلغه صحة ذلك عن ابن عباس، والله أعلم.\rJalsah Ula\r…MUSHOHIH ……PERUMUS …MODERATOR\r.1\r.2\r.3\r.4\r.5 …K. Fauzi Hamzah\rKH. Munawwar Zuhri\rAgus H. Adibussholeh\rAnwar\rKH. Darul Azka\rK. Rofiq Ajhuri ….1\r.2\r.3\r.4\r.5\r.6 …Agus HM. Aris Alwan\rK. Kholid Afandi\rK. Anang Muhsin\rUst. M. Masruhan\rUst. Syibromalisi\rUst. Adhim Fadlan …Ust. M. Vaurak Tsabat\rNOTULEN\r….6 K. Zainul Mufid …7. Ust. Musta’in …Muhammad Mundzir\r….7 K. Yazid Fattah …8. Ust. Amin Taqiyuddin …Arif Malika\r….9 Ust. Ainul Yaqin …M. Bagus Fatichurridho\r…Asy’ari …\rMemutuskan","part":1,"page":59},{"id":60,"text":".1 KAMPANYE ANTI KEKERASAN DI SEKOLAH | PP. ROUDLOTUL ULUM BESUK\rDeskripsi Masalah\rBaru-baru ini ramai diperbincangkan tentang seorang guru Pendidikan Agama Islam di SMKN 1 Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), Nusa Tenggara Barat (NTB) yang dilaporkan oleh wali murid ke polisi. Bermula dari teguran dan tindakan fisik, Akbar kini harus berhadapan dengan hukum.\rKekerasan yang terjadi di sekolah menjadi perhatian serius di lingkungan pendidikan. Fenomena ini ditangkap oleh tim dari Universitas Brawijaya yang kemudian mengadakan pelatihan pencegahan dan pembelajaran anti kekerasan dan perundungan bagi guru dan staf di SMP NU Hasyim Asy’ari Kota Malang.\rSerupa dengan kegiatan di atas, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kubar Dra Yohana didampingi Kepala Seksi Perlindungan Perempuan Anastasia Bety S. Pi. laksanakan kegiatan kampanye anti kekerasan di sekolah. Kegiatan yang dilaksanakan di SMPN 2 Sendawar Barong Tongkok, disampaikan Yohana bertujuan untuk mengurangi tingkat kekerasan pada anak dalam dunia pendidikan. Agar anak sekolah peduli terhadap kekerasan yang terjadi di sekolah, baik dari sesama murid ataupun guru.","part":1,"page":60},{"id":61,"text":"Di sisi lain, Banyaknya kasus pelaporan orang tua murid ke Polisi atas tindakan tegas guru ke anak didiknya, membuat masyarakat menjadi latah, sedikit-sedikit lapor ke polisi atau pihak lainnya. Banyak berita di medsos yang memuat kasus-kasus seperti ini. Padahal dalam rangka melaksanakan tugas profesionalnya, saat ini profesi guru dihadapkan pada tantangan yang semakin kompleks, seiring dengan adanya perubahan cara pandang masyarakat yang secara sadar terpengaruh oleh doktrin perlindungan hukum terhadap anak, termasuk anak didik. Apa gunanya tata tertib sekolah dibuat, jika\rpada akhirnya timbul perseteruan hebat antara guru dengan orang tua dan jika pada akhirnya orang tua melaporkan sang guru kepada polisi bahkan sampai\rmemenjarakannya.\rPertanyaan:\ra. Bagaimana hukum mengampanyekan anti kekerasan dalam dunia pendidikan?\rJawaban:\ra. Pada dasarnya guru mempunyai hak untuk menghukum muridnya sebagai bentuk pendidikan, namun hukuman itu tidak boleh bertentangan dengan\rketentuan berikut\r….1 …Tidak menimbulkan rasa sakit yang berlebihan\r….2 …Tidak berdampak pada psikis murid\r.3 Menghindari anggota-anggota yang rawan Jika tidak demikian, maka termasuk tindak kekerasan yang tidak dilegalkan syariat, sehingga hukum mengkampanyekan anti kekerasan dalam dunia pendidikan diperbolehkan dengan cara-cara yang edukatif dan tetap menjaga kehormatan serta memberikan perlindungan kepada guru menjalankan\rprofesinya dalam mendisiplinkan peserta didik sesuai aturan syariat.\rReferensi\r….1 Fathul Muin, h. 190. ….3 Bujairomi ala al-Khotib, vol.3, h. 476.","part":1,"page":61},{"id":62,"text":"….2 Tuhfah al-Muhtaj, vol.5. h. 6. …4. Dan lain-lain.\r1. فتح المعين ص 190\rويجب أن ينقص التعزير عن أربعين ضربة في الحر وعن عشرين في غيره )وعزر أب( وإن علا وألحق به الرافعي الام وإن علت )ومأذونه( أي من أذن له في التعزير كالمعلم )صغيرا( وسفيها بارتكابهما ما لا يليق زجرا لهما عن سئ الاخلاق وللمعلم تعزير المتعلم منه\r2. تحفة المحتاج في شرح المنهاج جـ 5 صـ 6\r(ويضر به إلخ) إلى أن قال: (قوله ضربا غير مبرح) أي وإن كثر خلافا لما نقل عن ابن سريج من أنه لا يضرب فوق ثلاث ضربات، عبار ة شيخنا قال بعضهم: ولا يتجاوز الضارب ثلاثا وكذا المعلم فيسن له أن لا يتجاوز الثلاث، والمعتمد أن يكون بقدر الحاجة وإن زاد على الثلاث لكن بشرط أن يكون غير مبرح، ولو لم يفد إلا المبرح تركه على المعتمد خلافا للبلقيني، ولو تلف الولد بالضرب ولو معتادا ضمنه الضارب لأن التأديب مشروط بسلامة العاقبة اه بحذف، وفي البجيرمي نحوه. (قوله وجوبا) اعتمده شيخنا وكذا ع ش، ثم قال: ومحل وجوب الضرب ما لم يترتب عليه هربه وضياعه، فإن ترتب عليه ذلك تركه اه.\r3. حاشية البجيرمي على الخطيب = تحفة الحبيب على شرح الخطيب) 3/ 476 (\rوالمبرح هو ما يعظم ألمه بأن يخشى منه مبيح تيمم، فإن لم تنزجر به حرم المبرح وغير ه. ويؤيد تفسيري للمبرح بما ذكر قول الأصحاب بضربها بمنديل ملفوف أو بيده لا بسوط ولا بعصا. اه. ابن حجر. وف شرح م ر: أنه يضرب بنحو العصا والسوط، قال الحلبي: ولا يبلغ ضرب الحرة أربعين وغيرها عشرين اه.\r4. إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين) 4/ 191 (\r«وإنما يعزر من مر بضرب غير مبرح، فإن يفد تعزيره إلا بمبرح ترك لانه مهلك وغيره لا يفيد»","part":1,"page":62},{"id":63,"text":")قوله: ترك( أي التعزير رأسا، وهذا بخلاف التعزير الصادر من الامام فإنه يعزر بضرب غير مبرح، وإن لم يفد كما مر عن المغن نقلا عن الرافعي. وف فتح الجواد: ويعزر من مر، وإن لم يفد إلا نحو الزوجة إذا لم يفد تعزيره إلا بمبرح فيترك لانه مهلك، أي قد يؤدي إلى الهلاك، ومنه يؤخذ حد المبرح بأنه ما خشي منه هلاك ولو نادرا. ا ه\r5. فيض القدير) 3/ 555 (\r)الين النصيحة( أي عماده وقوامه النصيحة عل وزان الحج عرفة فبولغ في النصيحة حتى جعل الين كله إياها وبقية الحديث كما في صحيح مسلم قالوا: لمن يا رسول الله قال: لله وكتابه ورسوله وأئمة المسلمين وعامتهم قال بعضهم: هذا الحديث ربع الإسلام أي أحد أحاديث أربعة يدور عليها وقال النووي: بل المدار عليه وحده ولما نظر السلف ]ص: 556[ إلى ذلك جعلوا النصيحة أعظم وصاياهم قال بعض العارفين: أوصيك بالنصح نصح الكلب لأهله فإنهم يجيعونه ويطردونه ويأبى إلا أن يحوطهم ويحفظهم وظاهر الخبر وجوب النصح وإن علم أنه لا يفيد في المنصوح ومن قبل النصيحة أمن الفضيحة ومن أبى فلا يلومن إلا نفسه <تنبيه> قال بعض العارفين: النصاح الخيط والمنصحة الأبرة والناصح الخائط والخائط هو الذي يؤلف أجزاء الثوب حتى يصير قميصا أو نحوه فينتفع به بتأليفه إياه وما ألفه إلا لنصحه والناصح في دين الله هو الذي يؤلف بين عباد الله وبين ما فيه سعادتهم عند الله وبين خلقه وقال القاضي: الين في الأصل الطاعة والجزاء والمراد به الشريعة أطلق عليها لما فيها من الطاعة والانقيا د\r6. التشريع الجنائي الإسلامي مقارنا بالقانون الوضعي) 1/ 492 (","part":1,"page":63},{"id":64,"text":"ماهية الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر: المعروف هو كل قول أو فعل ينبغي قوله أو فعله طبقا لنصوص الشريعة الإسلامية ومبادئها العامة وروحها، كالتخلق بالأخلاق الفاضلة، والعفو عند المقدرة، والإصلاح بين المتخاصمين، وإيثار الآخرة عل النيا، والإحسان إلى الفقراء والمساكين، وإقامة المعاهد والملاجئ والمستشفيات، ونصرة المظلوم، والتسوية بين الخصوم في الحكم، والعوة إلى الشورى، والخضوع لرأي الجماعة وتنفيذ مشئتها، وصرف الأموال العامة في مصارفها، إلى غير ذلك.\r7. تحفة المحتاج في شرح المنهاج وحواشي الشرواني والعبادي) 1/ 450 (\r)ويضر ب( ضرب ا غ ير مبر ح وجوب ا مم ن ذكر )قوله: وجوبا( اعتمده شيخنا، وكذا ع ش، ثم قا ل ومحل وجوب الضرب ما لم يترتب عليه هربه وضياعه فإن ترتب عليه ذلك تركه اه.\r8. إحياء علوم الدين - )ج 2 / ص 182 (","part":1,"page":64},{"id":65,"text":"ومن ذلك التعليم و النصيحة فليس حاجة أخيك إلى العلم بأقل من حاجته إلى المال فإن كنت غنيا بالعلم فعليك مواساته من فضلك وإرشاده إلى كل ما ينفعه في الين و النيا فإن علمته وأرشدته ولم يعمل بمقتضى العلم فعليك النصيحة وذلك بأن تذكر آفات ذلك الفعل وفوائد تركه وتخوفه بما يكرهه في النيا و الآخرة لينزجر عنه وتنبهه عل عيوبه وتقبح القبيح في عينه وتحسن الحسن ولكن ينبغي أن يكون ذلك في سر لا يطلع عليه أحد فما كان عل الملأ فهو توبيخ وفضيحة وما كان في السر فهو شفقة و نصيح ة إذ قال صلى الله عليه و سلم المؤمن مرآة المؤمن حديث المؤمن مرآة المؤمن أخرجه أبو داود من حديث أبي هريرة بإسناد حسن أي يرى منه ما لا يرى من نفسه فيستفيد المرء بأخيه معرفة عيوب نفسه ولو انفرد لم يستفد كما يستفيد بالمرآة الوقوف عل عيوب صورته الظاهرة و قال الشافعي رضي الله عنه من وعظ أخاه سرا فقد نصحه وزانه ومن وعظه علانية فقد فضحه وشانه - الى ان قا ل- فالفرق بين التوبيخ و النصيحة بالإسرار و الإعلان كما أن الفرق بين المداراة و المداهنة بالغرض الباعث عل الإغضاء فإن أغضيت لسلامة دينك ولما ترى من إصلاح أخيك بالإغضاء فأنت مدار وإن أغضيت لحظ نفسك واجتلاب شهواتك وسلامة جاهك فأنت مداه ن\r9. المجموع شرح المهذب) 1/ 36 (\rوينبغي أن ينظر معلمه بعين الاحترام ويعتقد كمال أهليته ورجحانه عل اكث طبقته فهو أقرب إلى انتفائه به ورسوخ ما سمعه منه في ذهن ه: وقد كان بعض المتقدمين إذا ذهب إلى معلمه تصدق بشئ وقال اللهم استر عيب معلمي عن ولا تذهب بركة علمه من: وقال الشافعي رحمه الله كنت أصفح الورقة بين يدي مالك رحمه الله صفحا رفيقا هيبة له لئلا يسمع وقعه ا\r10.… الموسوعة الفقهية الكويتية الجزء الثالث عشر صحـ 13","part":1,"page":65},{"id":66,"text":"الضرب للتعليم : للمعلم ضرب الصبي الذي يتعلم عنده للتأديب وبتتبع عبارات الفقهاء يتبين أنهم يقيدون حق المعلم في ضرب الصبي المتعلم بقيود منها :أ - أن يكون الضرب معتادا للتعليم كما وكيفا ومحلا ، يعلم المعلم الأمن منه ، ويكون ضربه باليد لا بالعصا ، وليس له أن يجاوز الثلاث ، ب - أن يكون الضرب بإذن الولي ، لأن الضرب عند التعليم غير متعارف ، وإنما الضرب عند سوء الأدب ، فلا يكون ذلك من التعليم في شيء ، وتسليم الولي صبيه إلى المعلم لتعليمه لا يثبت الإذن في الضرب ، فلهذا ليس له الضرب ، إلا أن يأذن له فيه نصا ونقل عن بعض الشافعي ة قولهم : الإجماع الفعلي مطرد بجواز ذلك بدون إذن الو لي\r11.… الآداب الشرعية الجزء الأول صحـ 293","part":1,"page":66},{"id":67,"text":"وقال في شرح مسلم في قوله صلى الله عليه وسل م: } ومن ستر مسلما ستره الله عز وجل يوم القيامة { قا ل: وأما الستر المندوب إليه هنا فالمراد به الستر عل ذوي الهيئات ونحوهم ممن ليس هو معروفا بالأذى والفساد ، وأما المعروف بذل ك فيستحب أن لا يستر علي ه بل ترفع قصته إلى ولي الأمر إن لم يخف من ذلك مفسد ة لأن الستر عل هذا يطمعه في الإيذاء والفساد وانتهاك الحرمات وجسارة غيره عل مثل فعله ، وهذا كله في ستر معصية وقعت وانقضت ، أما معصية رآه عليها وهو بعد متلب س فتجب المبادرة بإنكارها عليه ومنعه عل من قدر عل ذل ك فلا يحل تأخيره ا فإن عجز لزمه رفعها إلى ولي الأمر إذا لم يترتب عل ذلك مفسد ة وأما جرح الرواة والشهود والأمناء عل الصدقات والأوقاف والأيتام ونحوهم فيجب عند الحاجة ولا يحل الستر عليهم إذا رأى منهم ما يقدح في أهليته م وليس هذا من الغيبة المحرم ة بل من النصيحة الواجبة وهذا مجمع عليه قال العلماء في القسم الأول الذي يستر في ه: هذا الستر مندوب فلو رفعه إلى السلطان ونحوه لم يأثم بالإجما ع لكن هذا الأولى وقد يكون في بعض صوره ما هو مكروه انتهى كلام ه وإذا لم يأثم برفع فاعل معصية انقضت فرفع من هو متلبس بها ابتداء مثل ه أو أولى وما ذكره من الإجماع فيه نظر لما سبق ولما يأ ت وقد ذكر هو وغيره قصة حاطب بن أبي بلتعة فيها هتك ستر المفسدة إذا كان فيه مصلح ة أو كان في الستر مفسد ة وإن الأحاديث في السنن تحمل عل ما إذا لم تكن فيه مفسد ة ولا تفوت به مصلح ة وقد ذكر المهدوي في تفسيره أنه لا ينبغي لأحد أن يتجسس عل أحد من المسلمين قا ل: فإن اطلع منه عل ريبة وجب أن يسترها ويعظه مع ذلك ويخوفه بالله تعا لى\r12.… الموسوعة الفقهية الكويتية الجزء 24 ص 169","part":1,"page":67},{"id":68,"text":"أما من عرف بالأذى والفساد والمجاهرة بالفسق وعدم المبالاة بما يرتك ب ولا يكترث لما يقال عنه فيندب كشف حاله للناس وإشاعة أمره بينهم حتى يتوقوه ويحذروا شره ، بل ترفع قصته إلى ولي الأمر إن لم يخف مفسدة أكبر ؛ لأن الستر عل هذا يطمعه في الإيذاء والفساد وانتهاك الحرمات وجسارة غيره عل مثل فعله . فإن اشتد فسقه ولم يرتدع من الناس فيجب أن لا يستر عليه بل يرفع إلى ولي الأمر حتى يؤدبه ويقيم عليه ما يترتب عل فساده شرعا من حد أو تعزير ما لم يخش مفسدة أكبر. وهذا كله في ستر معصية وقعت في الماضي وانقضت\r…\rJalsah Tsaniyah\r…MUSHOHIH ……PERUMUS …MODERATOR\r.1\r.2\r.3\r.4 …K. Fauzi Hamzah\rKH. Darul Azka\rK. Rofiq Ajhuri\rK. Zainul Mufid\r….1\r.2\r.3\r.4\r.5\r.6 …Agus HM. Aris Alwan\rK. Kholid Afandi\rK. Anang Muhsin\rUst. M. Masruhan\rUst. Syibromalisi\rUst. Musta’in …Ust. Adhim Fadlan\rNOTULEN\r….7 Ust. Amin Taqiyuddin …Muhammad Mundzir\r….8 Ust. M. Vaurak Tsabat …Arif Malika\rM. Bagus Fatichurridho\rMemutuskan\r.2 POSTINGAN PENARIK SIMPATI | MA’HAD ALY SMT. IV\rDeskripsi Masalah\rAkhir-akhir ini dunia sedang dipenuhi dengan kabar konflik Palestina-Israel yang kembali memanas. Berbagai kecaman mengalir dari berbagai pihak dari berbagai negara mengenai kekejaman Israel yang jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Berbagai upaya dilakukan untuk menyampaikan bentuk simpati terhadap para korban. Mulai dari donasi, doa bersama, pemboikotan, hingga menyuarakan dukungan lewat sosial media.","part":1,"page":68},{"id":69,"text":"Dari dukungan yang bertebaran di sosial media, dapat kita temui berbagai foto dan video kekejaman Israel terhadap masyarakat sipil palestina. Siapapun yang melihat postingan-postingan tersebut dapat merasakan kegeraman yang luar biasa serta empati yang mendalam terhadap korban. Komentar para netizen terhadap postingan-postingan tersebut serempak mengutuk kebiadaan yang dilakukan Israel.\rNamun, di sisi lain foto dan video kekejaman tersebut rata-rata secara jelas memperlihatkan wajah dan identitas korban yang berada dalam kondisi tidak layak. Meski tujuan pemostingan tersebut untuk menyatakan simpati dan dukungan terhadap rakyat palestina yang menjadi korban, namun secara sekilas tindakan demikian tidaklah tepat sebab terkesan tidak menghormati perasaan para keluarga korban.\rPertanyaan:\ra. Bagaimana hukum memposting dukungan terhadap palestina disertai dengan foto atau video para korban?\rJawaban:\ra. Pada dasarnya, hukum memposting dukungan kepada Palestina ialah wajib, karena termasuk bagian dari jihad dan upaya nahi mungkar yang paling memungkinkan.\rAdapun jika disertai dengan foto dan video yang menampilkan aib jenazah, aurat dan foto potongan tubuh yang hancur, maka hukumnya tidak diperbolehkan karena termasuk ghibah dan dapat merusak kehormatan mayat, sedangkan mengundang simpati dunia dapat dicapai melalui cara lain seperti narasi dan beberapa foto dan video yang tidak mengenaskan atau disensor.\rReferensi\r….1 Ilmu Ushul al-Fikhi, vol. 1, h. 109. ….3 Al-Mausu’ah al-Fikhiyyah al-\r….2 Nihayah al-Muhtaj, vol. 8, h. 314. …Kuwaitiyyah, vol. 40, h. 352.\r.4 Dan lain-lain.","part":1,"page":69},{"id":70,"text":"1. علم اصول الفقه للخضري بك ج 1 صـ 109\rفلو را ى غريقا يستغيث وفيهم من يحسنون السباحة ويقدرون عل انقاذه وفيهم من لا يحسنون السباحة ولا يقدرون عل انقاذه فالواجب عل م ن يحسنون السباحة ان يبذل بعضهم جهده في انقاذه واذا لم يبادر من تلقاء نفسه الى القيام بالواجب فعلى الاخرين حثه وحمله عل اداء واجب ه فاذا ادى الواجب فلا اثم عل احد واذا لم يؤد الواجب اثموا جميعا.\r2. نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج )8/ 314 (\r(فإن رأى الغاسل من بدن الميت خيرا كاستنارة وجهه وطيب رائحته ذكره ندبا ليكون أدعى إلى كثرة المصلين عليه والدعاء له، أو غيره كسواد وتغير رائحة وانقلاب صورة حرم ذكره لأنه غيبة لمن لا يتأتى الاستحلال منه، وفي صحيح مسلم: من ستر مسلما ستره الله في الدنيا والآخرة، وفي سنن أبي داود والترمذي: اذكروا محاسن موتاكم وكفوا عن مساوئهم، وفي المستدرك: من غسل ميتا وكتم عليه غفر الله له أربعين مرة، إلا لمصلحة كأن كان الميت مبتدعا مظهرا لبدعته فلا يجب ستره بل يجوز التحدث به لينزجر الناس عنها، والخبر خرج مخرج الغالب، وينبغي كما قاله الأذرعي أن يتحدث بذلك عن المستتر ببدعته عند المطلعين عليها المائلين إليها لعلهم ينزجرون)\r3. الموسوعة الفقهية الكويتية) 40/ 352 (","part":1,"page":70},{"id":71,"text":"الأول: لا يحل للرجل أن ينظر إلى العضو المبان من المرأة إذا كان مما لا يحل النظر إليه قبل انفصاله، ولا فرق في ذلك إن كان انفصاله في حال الحياة أم بعد الموت، والقاعدة عند أصحاب هذا القول أن كل عضو لا يجوز النظر إليه قبل الانفصال لا يجوز بعده، فلا يجوز للرجل أن ينظر من الأجنبية يدا ولا ذراعا ولا شعر رأس ولا ساقا وإن أبين ذلك منها حية أو ميتة، بل قالوا: لا يجوز له أن ينظر إلى عظم ذراع أو ساق أو قلامة ظفر الرجل دون اليد، وقاسوا المنفصل عل المتصل، لأن حرمة الآدم وأجزائه لا تفارقه بعد الموت، وإلى هذا القول ذهب الحنفية وعبر عنه في الفتاوى الهندية وف مجمع الأنهر بالأصح.\rوكذلك ذهب إليه الشافعية في الأصح 4. المجموع شرح المهذب) 5 /113 (\rقال المصنف رحمه الله تعالى ينبغي أن يكون الغاسل أمينا لما روي عن ابن عمر أنه قال )لا يغسل موتاكم إلا المأمونو ن ( ولأنه إذا لم يكن أمينا لم نأمن أ ن لا يستوف الغسل وربما ستر ما يظهر من جميل أو يظهر ما يرى من قبيح ويستحب أن يستر الميت من العيون لأنه قد يكون في بدنه عيب كان يكتمه وربما اجتمع في موضع من بدنه دم فيراه من لا يعرف ذلك فيظنه عقوبة وسوء عاقب ة ا ه\r5. الفقه الإسلامي وأدلته للزحيلي) 8/ 6455 (\rحرمة المي ت المادة الرابعة والعشرو ن حرمة الموت واجبة شرعاً وعل الولة والمجتمع حماية جثمان الميت ودفنه وتنفيذ وصاياه وفقاً لأحكام دينه، ومنع التشهير ب ه.\r6. قليوبي عميرة الجزء الأول صحـ 395\r)ولو وجد عضو مسلم علم موته صلى عليه( بعد غسله ومواراته بخرقة بنية الصلاة عل جملة الميت كما صلت الصحابة رضي الله عنهم عل يد عبد الرحمن بن عتاب بن أسيد رضي الله عنه ألقاها طائر نسر بمكة من وقعة الجمل وعرفوا أنها يده بخاتمه رواها الزبير بن بكار في الأنساب وذكرها الشافعي بلاغا ووقعة الجمل في جمادى سنة ست وثلاثين ولو لم يعلم موت صاحب العضو لم يصل عليه لكن يدفن كالأول.","part":1,"page":71},{"id":72,"text":"7. الفوائد الشاطرية من النفحات الحرمية للحبيب سالم بن عبد الله بن عمر الشاطري ص 245 -\r248)قسم التفسير(\r}وجَاهِدُوا فِي اللهِ حَقَّ جِهادِهِ هُوَ اِجْتَباكُمْ وَما جَعَلَ عَليَكُْمْ فِي الِّينِ مِنْ حَرَجٍ مِلَّةَ أبَِيكَُمْ إبِ رْاهِيمَ هُوَ سَمّاكُمُ المُْسْلِمِينَ مِنْ قَبلُْ وَفِ هذا لِيكَُونَ الرَّسُولُ شَهِيداً عَليَكُْمْ وَتكَُونوُا شُهَداءَ عَلَ النّاسِ فَأقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتوُا الزَّكاةَ وَاِعْتَصِمُوا باِللهِ هُوَ مَوْلاكُمْ فنَِعْمَ المَْوْلى وَنعِْمَ النَّصِيرُ{ )78( ]الحج: 78[ .","part":1,"page":72},{"id":73,"text":"ولما كان الجهاد ذروة الين وسنامه؛ لأن بالجهاد ينَتشر الإسلام قال تعالى: )وجََهدُواْ ( أي: قاتلوا أعداء الله، ويشمل الجهاد بالسهام وكل آلات الجهاد قديما وحديثا لقوله )وَأعِدُّوا لهَُم مَّا اسْتطََعْتُم مِّن قوة ( ]الأنفال: 60[ واستعمل النبي ? الخندق ولم ي ك ن العرب تفعله، ولكنه من مكائد الفرس واستعمل النبي ? المنجنيق، ورمى به سور الطائف، والمنجَنيق لا تعرفه العرب لكنه من أسلحة الفرس، وهكذا كلما يحدث وينفع يجب عل المسلمين أن يعُدُّوه لقوله تعالى: )وَأعِدُّوا لهَُم مَّا اسْتطََعْتُم ... الآية ]الأنفال: 60[ و« ما» من صيغ العموم، وقد قال النبي : )ألا إن القوة الرم(، وليس المراد أن القوة خاصة بالرم باليد فقط لا بل يشمل الرم بالقنابل والصواريخ والمدافع وغيرها، نسأل الله أن يحفظ المسلمين، فالإسلام دين عمل، ولذاك تأخر عنه المتكاسلون، وأحجم عنه المتقاعسون، فعلينا أن نجد ونرفض لباس الخمول والكسل، فإن الله يقول : ) وَقلُِ اعْمَلوُا فسََيَرَى الله عملك ... الآية ]التوبة: 510[ .قو له تعالى: )و جََ اهِدُواْ ( يشمل جهاد العلماء وذلك بألسنتهم بنشر الإسلام وبيان أسرار الشريعة، ويشمل الجهاد بالأقلام فإنهم إذا رأوا أحداً أظهر قاعدة تخالف قواعد الإسلام فإنهم كَرُّوْا عليه بالأقلام وأبطلوا دعواه، فكل مسلم يجاهد بحرفته فالحدادون يجاهدون بها، والخياطون يجاهدون بخياطة الثياب للجند، والعلماء يجاهدون ببيان الأحكام وإرشاد الجنود، والأمراء يجاهدون برسم الخطب والمحافل، فما من أحد من المسلمين عوام وغيرهم إلا وهو عل ثغرة من ثغور الإسلام يجاهد ويكافح عل حسب اجتهاده وقدرته، نسأل الله أن يجعلنا من الم جاهدي ن ففي الحديث: من مات ولم يجاهد ولم يحدث نفسه بالجهاد مات عل شعبة من شعب النفاق) »?( .قو له تعالى: )وجََهِدُوا فِي اللهِ حَقَّ جِهَادِه ( اعلم أن الجهاد كما يشمل الجهاد بالسلاح يشمل الجهاد للنفس وهو","part":1,"page":73},{"id":74,"text":"تخليتها عن العيوب كالكبر والحسد وغير ذلك، فهذا هو علم التصوف الاع إلى صقل النفس حتى تستعد لتلقي الفيوضات الربانية، وليس التصوف لبس الصو ف\r.3 NASAB ANAK HUBUNGAN GELAP | I ALIYAH\rDeskripsi Masalah\rKasus kehamilan di luar nikah yang terjadi di Indonesia semakin memprihatinkan.\rContoh kasus pertama, Angga sosok pemuda yang menghamili Nisa saat masih duduk di bangku SMA. Karena dituntut oleh Nisa, akhirnya Angga terpaksa menikahi Nisa. Setelah keduanya menikah, karena penasaran dengan kandungannya, pihak keluarga mengajak Nisa untuk melakukan tes USG. Dokter menyatakan bahwa usia kandungan Nisa kira-kira sekitar 2 bulan, padahal keduanya baru menikah selama 1 bulan. 8 bulan setelah melaksanakan USG, Nisa melahirkan anaknya di rumah sakit.\rKasus kedua, musibah yang hampir sama menimpa pasangan Deden dan Rere.\rKeduanya dinikahkan atas kesepakatan keluarga karena perut Rere yang semakin membuncit karena kehamilan yang sebelumnya telah diketahui keduanya lewat tes pack dan gejala kehamilan seperti muntah-muntah. Rere mengaku telah melakukan hubungan intim dengan Deden 3 bulan yang lalu sebelum mereka dinikahkan. 9 bulan setelah pernikahan, anak Rere kemudian lahir.","part":1,"page":74},{"id":75,"text":"Kasus ketiga, Rendi dan Mawar diketahui tertangkap basah warga sekitar sedang melakukan hubungan terlarang di sebuah rumah kosong. Begitu malang nasib Anton, selang 1 bulan kemudian setelah kejadian menghebohkan itu, demi menjaga martabat keluarganya ia harus menikahi Mawar yang menjadi korban hubungan di luar nikah oleh kakaknya Rendi yang melarikan diri dan tidak diketahui keberadaannya. Setelah menjalani rumah tangga selama 10 bulan dengan Anton, Mawar akhirnya melahirkan anak yang berada dalam kandungannya.\rAnton yang penasaran serta ingin tahu apakah anak yang dilahirkan oleh istrinya adalah anak kandungnya atau bukan, lantas melakukan tes DNA. Akan tetapi hasil dari tes DNA ternyata tidak sesuai dengan harapannya, golongan darah anak Mawar berbeda dengan Anton yang memiliki golongan darah O dan juga Mawar yang golongan darahnya A. Hasil tes DNA menunjukkan bahwa golongan darah anak mereka justru sama dengan Rendi yang memiliki golongan darah B.\rSeperti yang dilansir oleh berbagai sumber, hasil dari tes DNA untuk membuktikan garis keturunan memiliki akurasi ketepatan yang begitu besar. Dokter forensik RSCM Jakarta, Ade Firmansyah menyebutkan bahwa akurasi tes DNA tergantung dengan jumlah lokasi yang diperiksa serta pembandingnya. \"Apabila dibandingkan dengan kedua orang tua, maka pemeriksaan DNA dapat mencapai 99,9999 persen. Persentase akurasi akan turun apabila dibandingkan dengan salah satu orang tua atau saudara,\" ujar Ade.","part":1,"page":75},{"id":76,"text":"Beberapa kejadian di atas kemudian menyisakan pemasalahan yang pelik dalam penentuan nasab. Secara medis, penentuan nasab dalam kasus-kasus di atas sudah dapat diputuskan dengan adanya berbagai pembuktian medis mulai dari USG, test pack, dan tes DNA. Sementara dalam pandangan syariat, standar nasab ditentukan dengan standar bulan dan imkan ijtimak (adanya potensi berhubungan badan).\rPertanyaan:\ra. Apakah tes pack, USG, dan hasil DNA sebagaimana kasus dalam deskripsi dapat berpengaruh dalam penentuan nasab?\rJawaban:\ra. Pedoman penentuan nasab dalam syariat islam berdasarkan pada dua hal, yaitu hubungan yang diakui syariat (firosy shohih) dan ada kemungkinan untuk menisbatkan nasab (imkanul luhuq).\rSedangkan Hasil USG dan tes pack, hanya sebatas petunjuk pada dugaan wujudnya kandungan, sehingga tidak dapat berpengaruh dalam penentuan nasab, dan nasab anak tetap dinisbatkan kepada suami secara dhohir.\rSelain itu, Hasil USG dan tes pack Juga dapat menjadi qorinah yang menghantarkan boleh tidak nya nafyul walad (menafikan anak).\rAdapun hasil tes DNA, maka setara dengan Qoif (ahli nasab), sehingga hanya berpangaruh dalam penentuan nasab apabila terjadi pertentangan di antara dua firosy shohih.\rReferensi\r….1 Bughyah al-Mustarsyidin, h. 531. ….3 Al-Mausu’ah al-Fikhiyyah al-\r….2 Fatawi Ibn as-Sholah, vol. 1, h. 271. …Kuwaitiyyah, vol. 40, h. 352.\r.4 Dan lain-lain.\r1. بغية المسترشدين )ص: 531 (","part":1,"page":76},{"id":77,"text":")مسألة( ملخصة مع زيادة من الإكسير العزيز للشريف محمد بن أحمد بن عنقاء في حديث الول للفراش الخ إذا كانت المرأة فراشاً لزوجها أو سيدها فأتت بول من الزنا كان الول منسوباً لصاحب الفراش لا إلى الزا ن فلا يلحقه الول ولا ينسب إليه ظاهراً ولا باطناً وإن استلحقه ومن هنا يعلم شدة ما اشتهر أنه إذا زنى شخص بامرأة وأحبلها تزوّجها واستلحق الول فورثه وورّثه زاعماً ستره ا\r2. بغية المسترشدين 235\rنكح حاملاً من الزنا فولت كاملاً كان له أربعة أحوال :\r1( إما منتف عن الزوج ظاهراً وباطناً من غير ملاعنة وهو المولود لون ستة أشهر من إمكان الاجتماع بعد العقد أو لأكث من أربع سنين من آخر إمكان الاجتماع\r2( وإما لاحق به وتثبت له الأحكام إرثاً وغيره ظاهراً ، ويلزمه نفيه بأن ولته لأكث من الستة وأقل من الأربع السنين ، وعلم الزوج أو غلب عل ظنه أنه ليس منه بأن لم يطأ بعد العقد ولم تستدخل ماءه أو ولت لون ستة أشهر من وطئه ، أو لأكث من أربع سنين منه ، أو لأكث من ستة أشهر بعد استبرائه لها بحيضة وثم قرينة بزناها ، ويأثم حينئذ بترك النفي بل هو كبيرة ، وورد أن تركه كفر\r3( وإما لاحق به ظاهراً أيضاً لكن لا يلزمه نفيه إذا ظن أنه ليس منه بلا غلب ة بأن استبرأها بعد الوطء وولت به لأكث من ستة أشهر بعده وثم ريبة بزناها إذ الاستبراء أمارة ظاهرة عل أنه ليس منه لكن يندب تركه لأن الحامل قد تحيض","part":1,"page":77},{"id":78,"text":"4( وإما لاحق به ويحرم نفيه بل هو كبير ة وورد أنه كفر إن غلب عل ظنه أنه من ه أو استوى الأمران بأن ولته لستة أشهر فأكث إلى أربع سنين من وطئه ولم يستبرئها بعده أو استبرأه ا وولت بعده بأقل من الستة بل يلحقه بحكم الفراش كما لو علم زناها واحتمل كون الحمل منه أو من الزنا ، ولا عبرة بريبة يجدها من غير قرينة، فالحاصل أن المولود عل فراش الزوج لاحق به مطلقاً إن أمكن كونه منه ولا ينتفي عنه إلا باللعان والنفي تارة يجب وتارة يحرم وتارة يجوز ولا عبرة بإقرار المرأة بالزنا وإن صدقها الزوج وظهرت أماراته.\r3. فتاوى ابن الصلاح) 1/ 271 (\rمسألة رجل اشترى جارية وبعد أيام يسيرة ذكرت أنها طهرت عن الحيض فوطئها وبعد ثمانية أيام ظهر أنها حامل حملا شهد جماعة من القوابل أنه من مدة تزيد عل الشهر وباستحالة كونه من ذلك الوطىء عادة مع أن العادة أيضا تحيل ظهور الحمل بعد المعلوق بثمانية أيام ثم وضعت الحمل بعد ثمانية أشهر وخمسة أيا م والمشتري يقطع بأن الول ليس منه فهل يحل له بيعها باطنا وإن لم يحل له ظاهرا بوضعها الول عل فراشه بعد مدة هي مدة الإمكان وهي ثمانية أشهر وخمسة أيا م ؟","part":1,"page":78},{"id":79,"text":"أجاب رضي الله عنه هذا الول لاحق بالمشتري حكما وقطعه بأنه ليس منه اعتماد عل ما ذكر ليس في محله فإن إمارات الحمل لا توجب أكث من الظن لكونه قد تخلف فإ ذًا يكون ما ظهر أولا بهذه الجارية من أمارات الحمل كاذب ة ثم حملت من وطىء المشتري واتصلت أمارات الحمل الصادقة بالأمارات الكاذبة وعند هذا فلا يحصل بذلك أكث من ظن يجري في جواز اعتماده في نفي الول من الخلاف ما جرى في الظن الحاصل من الاستبراء بعد الوطىء والأحوط للمشتري والحالة هذه أن لا ينتفي من الول ويلتزم لأمة حكم أمية الول وعل تقدير حصول تحقق القطع باطنا يك ون هذا الول ليس منه فينظر فإن سبق من مالك قبله الإقرار بوطىء تقتضي أن يكون هذا الول منه فلا يجوز والحالة هذه لهذا المشتري بيع الجارية لكونها أم ول لذلك الواطىء وحكمها الرد عليه وإن لم يكن كذلك والحال هذا للمشتري بيعها وبيع ولها فان أمية الوال تثبيت مع مثل هذا الشك مع كراهية شديدة لاحتمال أن يكون الول من مالك أو شبهه وثبوت الاستيلاء لأمة والله أعل م\r4. بغية المسترشدين )ص: 502 (","part":1,"page":79},{"id":80,"text":")مسألة( : تنقضي عدة الحامل بوضعه ولو ميتاً أو مضغة ، قال القوابل : إنها مبدأ خلق آدم ، ولو مات في بطنها واستمر أكث من أربع سنين لم تنقض إلا بوضعه أيضاً ، وإن تضررت وخافت الزنا ولم تسقط نفقتها ، كما لو استمر حياً في بطنها حيث ثبت وجوده ولم يحتمل وضع ولا وطء ، ولا ينافي ذلك قولهم أكث مدة الحمل أربع سنين لأنه في مجهول البقاء ، حتى لا يلحق المطلق إذا زاد عل الأربع ، وكلامنا في معلومه زيادة عل الأربع ، هذا هو الذي يظهر وهو الحق إن شاء الله تعالى، قاله سم. وقال ع ش وهو ظاهر : لكن يبقى الثبوت بماذا ؟ لأنه حيث علم أن أكث مدته أربع سنين ، وزادت المدة كان الظاهر من ذلك انتفاء الحمل ، وأن ما تجده في بطنها من نحو الحركة ليس مقتضياً لكونه حملاً ، نعم إن ثبت بقول معصوم كعيسى عليه السلام وجب العمل به اه. ولو شكت حال العدة في الحمل لنحو ثقل وحركة حرم نكاحها حتى تزول الريبة بأمارة قوية ، فلو تزوجّت بعد انقضاء العدة مع بقاء الريبة ، ثم بان أن لا حمل صح النكاح ، خلافاً لـ )م ر( وإن شكت بعد انقضائها سنّ لها التوقف .\r5. تحفة المحتاج في شرح المنهاج وحواشي الشرواني والعبادي) 8/ 215 (\r)ولو علم زناها واحتمل كون الول منه ومن الزنا( عل السواء بأن ولته لستة أشهر فأكث من وطئه ومن الزنا ولا استبراء\r)حرم النفي( لتقاوم الاحتمال ين «والول للفراش» والنص عل الحل يحمل عل ما إذا كان احتماله من الزنا أغلب لوجود قرينة تؤكد ظن وقوعه )وكذا( يحرم )القذف واللعان عل الصحيح( إذ لا ضرورة إليهما للحوق الول به والفراق ممكن بالطلاق ولأنه يتضرر بإثبات زناها لانطلاق الألسنة فيه وقيل يحلان انتقاما منها وأطال جمع في تصويبه ويرده ما تقرر إذ كيف يحتمل ذلك الضرر العظيم لمجرد غرض انتقام وكالزنا فيما ذكر وطء الشبه ة\r6. أسنى المطالب - )ج 17 / ص 327 (","part":1,"page":80},{"id":81,"text":")وإن صدقه( في الوطء )وادعاه( أي الول وأقيمت البينة عل الوطء عل ما سيأت في باب إلحاق القائف )عرض عل القائف، فإن ألحقه بالمعين لحقه ولا لعان وإلا( بأن ألحقه بالزوج )لحق الزوج وليس له نفيه باللعان( لأنه كان له طريق آخر لنفيه وهو أن يلحقه القائف بالمعين فتعين ولهذا لا يلاعن لنفي ول الأمة لإمكان نفيه بدعوى الاستبراء )وإن أشكل( الحال عل القائف الزوج )فله نفيه باللعان( لتعينه الآن طريقا والفرق بينهما وبين التي قبلها مشكل كما نبه عليه الرافعي لا جرم جزم صاحب المهذب والماوردي والرويان وابن الرفعة وغيرهم بأن للزوج أن يلاعن إذا ألحقه به القائف وصوبه البلقين وقال ما في الروضة وأصلها عن البغوي وغيره ليس بمعتمد بل له اللعان كما جزم به جمع من الأصحاب؛ لأن قول القائف إنما جعل حجة لأحد المتداعيين لا أنه أثبت نسبا لازما عل منكر انتهى ويجاب بأن إلحاق القائف أقوى من الانتساب كما مر، أما إذا انتسب إلى المعين فينقطع نسبه عن الزوج بلا لعا ن\r7. مذاهب الأربعة الجزء الرابع ص: 430 دار الفك ر\rأما إذا أمكن نسبة الول لهما معاً بأن جاءت به لستة أشهر فأكث من وطء الثان ولأقل من أربع سنين من تاريخ طلاقها من الأول فإن الول يبحث بمعرفة القافة بأن ينظر القائف في الواطئين وف الول فإذا ألحقوه بواحد منهما كان ابنه وانقضت به عدتها وبقيت عليها عدة الآخر ثلاثة قروء والمراد بالقافة من لهم خبرة بشبه الول بأبيه هذا ما قاله الفقهاء ولعله يقوم مقامه في زماننا تحليل الم فإذا أمكن معرفة كون دم الطفل من دم واله يكون حسناً وإذا لم يمكن معرفة شبهه بواحد منهما أو اختلف القافة في أمره فإن عليها أن تعتد بثلاث حيض بعد وضعه عل أي حا ل\r8. قضايا الفقه والفكر المعاصر للشيخ وهبة الزحيل ي\rويمكن الاستفادة من البصمة الوراثية في حال اللعان عل النحو الآت:","part":1,"page":81},{"id":82,"text":"اً - التأكيد في حال النفي: إذا كانت نتيجة البصمة الوراثية نفي النسب فإنها تؤكد اللعان الحاصل بين الزوجين وتثبت صدق ادعاء الزوج\rب - لإقرار الحقيقة في حال الإثبا ت: فإذا أثبتت البصمة نسب الابن من أبيه مع نفيه له، ثبت النسب في الحقيقة، وانتفى في الظاهر، وظهر خطأ الأب.\r…\rJalsah Tsalitsah\r…MUSHOHIH ……PERUMUS …MODERATOR\r.1\r.2\r.3\r.4\r…K. Fauzi Hamzah\rKH. Darul Azka\rK. Rofiq Ajhuri\rK. Zainul Mufid ….1\r.2\r.3\r.4\r.5\r.6 …Agus HM. Aris Alwan\rK. Kholid Afandi\rK. Anang Muhsin\rUst. M. Masruhan\rUst. Syibromalisi\rUst. Adhim Fadlan …Ust. Fathurrohman\rMudhoffar\rNOTULEN\r….7 Ust. Musta’in …Muhammad Mundzir\r….8 Ust. Amin Taqiyuddin …Arif Malika\r….9 Ust. M. Vaurak Tsabat …M. Bagus Fatichurridho\r…\rMemutuskan\rPertanyaan:\rb. Siapakah wali nasab dari anak yang dilahirkan dari tiga kasus dalam deskripsi di atas?\rJawaban:\rb. Konsep wali nasab dalam islam adalah suami yang sah. Sehingga, wali dalam kasus pertama dan kedua adalah angga dan deden sebagai ayah sah dari kedua anak yang dilahirkan. Sedangkan dalam kasus ketiga, wali nasabnya adalah anton, sebab kelahiran anak dalam ketiga kasus di atas melebihi waktu enam bulan dari pernikahan dan ada kemungkinan untuk menisbatkan nasab kepada mereka bertiga (imkanul luhuq). Adapun USG, tes pack dan DNA, hanya sebagai pengantar dugaan yang mempengaruhi hukum boleh tidaknya nafyul walad.\rReferensi\r….1 Bughyatul Mustarsyidin, h. 235 ….2 Fatawi Syar’iyyah lil al-Allamah Ibn\r… …Yahya, h. 317-319\r1. بغية المسترشدين 235 نكح حاملاً من الزنا فولت كاملاً كان له أربعة أحوال :","part":1,"page":82},{"id":83,"text":"1…(… إما منتف عن الزوج ظاهراً وباطناً من غير ملاعنة وهو المولود لون ستة أشهر من إمكان الاجتماع بعد العقد أو لأكث من أربع سنين من آخر إمكان الاجتماع\r2…( وإما لاحق به وتثبت له الأحكام إرثاً وغيره ظاهراً ، ويلزمه نفيه بأن ولته لأكث من الستة وأقل من الأربع السنين ، وعلم الزوج أو غلب عل ظنه أنه ليس منه بأن لم يطأ بعد العقد ولم تستدخل ماءه أو ولت لون ستة أشهر من وطئه ، أو لأكث من أربع سنين منه ، أو لأكث من ستة أشهر بعد استبرائه لها بحيضة وثم قرينة بزناها ، ويأثم حينئذ\rبترك النفي بل هو كبيرة ، وورد أن تركه كفر\r3…(… وإما لاحق به ظاهراً أيضاً لكن لا يلزمه نفيه إذا ظن أنه ليس منه بلا غلب ة بأن استبرأها بعد الوطء وولت به لأكث من ستة أشهر بعده وثم ريبة بزناها إذ الاستبراء أمارة ظاهرة عل أنه ليس منه لك ن يندب تركه لأن الحامل قد تحيض\r4…( وإما لاحق به ويحرم نفيه بل هو كبيرة وورد أنه كفر إن غلب عل ظنه أنه منه أو استوى الأمران بأن ولته لستة أشهر فأكث إلى أربع سنين من وطئه ولم يستبرئها بعده أو استبرأها وولت بعده بأقل من الستة بل يلحقه بحكم الفراش كما لو علم زناها واحتمل كون الحمل منه أو من الزنا ، ولا عبرة بريبة يجدها من غير قري نة فالحاصل أن المولود عل فراش الزوج لاحق به مطلقاً إن أمكن كونه منه ولا ينتفي عنه إلا باللعان والنفي تارة يجب وتارة يحرم وتارة يجوز ولا عبرة بإقرار المرأة بالزنا وإن صدقها الزوج وظهرت أماراته.\r2. فتاوي شرعية للعلامةعبد الله بن عمر بن يحيى باعلوي الحضرمي الشافعي ص 317-319","part":1,"page":83},{"id":84,"text":"مسألة رجل زنى بامرأة حرة فحملت منه فلما مضى عليها شهر أو شهران أو ثلاثة أشهر مثلا ع قد عليها فهل يصير الول حلالا ن س ي با يرث أباه ويرثه أبوه بسباب ذلك العقد أم لا لأن رجلا من أهل ديارنا يقول بصيرورة الول حلالا بسبب ذلك العقد قبل لا ينفخ الروح فيه وزعم أنه نقل هذا القول من بعض الفتاوى وابن شهبة وحاشية المصابي ح فهل نقله المذكور صحيح أم لا فإن قلتم إنه غير صحيح فهل يجب عل و الي البلد استتابته أم لا فإن قلتم نعم فماذا نفعل به إذ ا لم يتب بينوا لنا حكم الله في ذلك أثابكم الله الجواب الكلام عل هذا السؤال في مقام ين :\r)الأو ل( كل امرأة لها زوج يمكن إحبالها إذا أ تت بول بعد ستة أشهر ولحظتين من إمكان اجتماعه بها وقبل م ضي أربع سنين منه لحقه نسبه ظاهرا\rوترتب عليه أحكامه كلها) قال في التنبي ه( ومن تزوج امرأة فأنت بول يمكن أنه منه لحقه نس ب ه اهـ. وقرر ذلك ابن حجر في فتاويه )وقال في التحف ة( ولوجهل حال الحمل ولم يمكن لح وقه بالزوج حمل عل أنه من زنا كما نقلاه وأقراه أما إذا أ تت به للامكان منه فيلحقه كما اقتض ا ه اطلاقهم وصرح به البلقين وغيره ولم ينتف عنه إلا باللعان انت هى )وقو له ( حمل عل أنه من زنا أ ي بالنسبة للعدة والوطء والنكاح لا الحد كما يأ ت تقييده بذلك في الجواب الذي بعد هذا ع ن الفتح والنهايه.","part":1,"page":84},{"id":85,"text":")الثا ن( الول الذى تأت به لأقل من ستة أشهر من إمكان الاجتماع أو فوق أربع سنين منه فهذا لا يلحقه نسبه ولا يترتب عليه شيء من أحكام النسب إذا علمت هذين المقامين فالمرأة الزانية إذا حبلت من الزنا ثم تزوجت وولت إن كان الول من القسم الثان لم ي لحقه الزوج ظاهرا وباطناً وذلك بأن تلد لأقل من ستة أشهر من إمكان الاجتماع بالزوج بعد العقد أو لأكث من أربع سنين منه وإن كان الول من القسم الأول بأن ولته لستة أشهر فأكث وأقل من أربع سنين لحقه نسبه في الظاهر وإن أقرت أنه من الزنا وصادقها الزوج وظهرت أمارات الحمل قبل العق د\r)قال في التحف ة( ولو عفت عن الحد أو صدقته ولا ول ولا حمل فلا لعان أما مع ول أو حمل ينفيه في لاعن جزما ا هـ بح ذف ومثله في النهاية والفتح وغير ه ما ثم إن علم الزوج أنه ليس منه أو غلب عل ظنه أنه ليس منه لزمه نفيه ولا ينتفى إلا بال لعان وإن غلب عل ظنه أنه منه أو استوى الأمران حرم عليه نفيه والحاصل أن لحمل هذه المرأة أربعة أحوال) الأو ل( أن يكون منفيا ع ن الزوج ظاهرا وباطنا من غير ل عان وهو المولود لأقل من ستة أشهر من إمكا ن الاجتماع بعد العقد أو أكث من أرب ع سنين من ه )الثا ن( المولود لستة أشه ر ولحظتين من ذلك وأقل من أربع سنين لكن يعلم الزوج أو يغلب عل ظنه أنه ليس منه فهذا لاحق به ظاهرا ويجب عليه نفيه بال ل عان وترك نفيه من الكبائر وقد جاء في الأحاديث الصحيحة ما يدل عل أن ترك النفى كفر) الثال ث( مثل الثان لكن يظن الزوج أنه ليس منه من غير غلبة فهذا لاحق به ظاهرا ويجوز له نفيه باللعان) الراب ع( مثل الثان لكن يغلب عل ظنه أنه منه أو يستوى عنده ظن كونه منه ومن غيره فهذا لاحق به ويحرم عليه نفيه وهو من الكبائر ب ل جاء في أحاديث صحيحة أنه كفر","part":1,"page":85},{"id":86,"text":")إذا تقرر هذا( فالرجل القائل ان حمل المرأة يصير حلالا بزواجها إن فصل كما فصلناه فما غلط فى الحكم و إنما غلط في اللفظ إذ حقه أن يقول يصير لاحقا به لا حلالا إذ الحرام لا ينقلب حلالا وإنما أحكام الظاهر تختلف والحقائق لا تختلف وغلط أيضاً بتقييده بما قبل نفخ الروح إذ التفصيل الذي ذكرناه لا يختلف فيه ما قبل النفخ وما بعده وإن عمم الحكم مطلقا فقد افترى عل إمامنا الشافعي رضى الله عنه وخرق إجماع الأئمة الأربعة وغيرهم فعلى الوا لي منعه من ا لإفتاء والتعليم وتعزيره التعزير الشديد لأن كلامه هذا دال عل جهله وسوء فهمه أو خبث طويته لكن يكون تعزيره في حال التفصيل أخف إذ الغلط فيه والضرر أخف من التعميم وإسناده النقل المذكور إلى مذهب إمامنا الشافعي كذب بل إما أن يكون اختلق هذا الكلام وافتراه أو فهمه عل خلاف الصواب إذ كثير من أهل هذا الزمان خصوصا من أهل جاوه يفهمون م ن عبارات العلماء خلاف المراد لعدم أخذهم العلم عن المشائخ المتقنين وسوء فهمهم وبذلك عمت المفاسد بكلام هؤلاء وإقدامهم عل الفتوى فلا حول ولا قو ة إلا بالله والله أعل م\r…","part":1,"page":86}],"titles":[{"id":1,"title":"BMK Lirboyo Induk Kediri_2023","lvl":1,"sub":0}]}