{"pages":[{"id":1,"text":"Daftar Isi\rDaftar Isi ........................................................................................ 3\rKomisi Waqi’iyah ........................................................................... 5\r.1 Operasi Bariatrik Sebagai Tindakan Solutif bagi Pengidap Obesitas\r| LBM PCNU Kota Kediri ..................................................................5\r.2 Fenomena Haji Berulang di Tengah Keterbatasan Kuota | LBM\rPCNU Kota Kediri .......................................................................... 14\r.3 Amil dalam Zakat Fitrah | LBM PCNU Kab. Nganjuk .................... 17\r.4 Kontroversi Ayat Kursi Sachet untuk Ruqyah | LBM PCNU Kota\rKediri ............................................................................................ 29\rKomisi Maudlu’iyah ..................................................................... 37\rI. Kekerasan di Dunia Pendidikan dalam Tinjauan Fiqh .................. 38\rA. Bentuk Kekerasan yang Terjadi di Dunia Pendidikan ............... 38\r.1 Kekerasan Fisik .................................................................... 39 Pandangan Fiqh terhadap Kekerasan Fisik ......................... 40\rPandangan Fiqh terhadap Kekerasan Fisik yang Dilakukan\rGuru .................................................................................... 41\r.2 Kekerasan Psikis .................................................................. 51 Pandangan Fiqh terhadap Kekerasan Psikis........................ 52\rBeda Gojlokan dan Kekerasan Psikis................................... 55","part":1,"page":1},{"id":2,"text":"Cyber Bullying .....................................................................\rPandangan Fiqh terhadap Kekerasan Psikis yang Dilakukan\rGuru ....................................................................................\rTinjauan Fiqh Tentang Perlindungan Korban Bullying ............. 61\rTinjauan Fiqh Tentang Penanganan Pelaku Bullying ............... 62\rTinjauan Fiqh Tentang Pencegahan Kekerasan Dalam Dunia\rPendidikan ............................................................................... 63\rKomisi Qonuniyah ........................................................................ 69\r.1 Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dan Pengelolaan Royalti | LBM\rPCNU Kab. Tuban ......................................................................... 69\r.2 Pemerintah Menaikkan Pajak Sewenang-wenang | LBM PCNU\rKab. Mojokerto ............................................................................. 82\rKeputusan Bahtsul Masail Syuriyah PWNU Jatim | Daftar Isi\rKomisi Waqi’iyah\r.1 Operasi Bariatrik Sebagai Tindakan Solutif bagi Pengidap\rObesitas | LBM PCNU Kota Kediri\rDeskripsi Masalah","part":1,"page":2},{"id":3,"text":"Tren operasi pemotongan lambung untuk menurunkan berat badan semakin populer belakangan ini. Demi mendapatkan berat badan ideal orang-orang banyak yang melakukan prosedur ini, khususnya bagi mereka yang memiliki indeks massa tubuh (ATT) di atas 40 (obesitas). Namun, seiring dengan meningkatnya popularitas prosedur ini, apakah prosedur ini bisa menjadi solusi permanen bagi mereka yang ingin menurunkan berat badan? Operasi pemotongan lambung adalah salah satu jenis dari prosedur bariatrik. Operasi bariatrik umumnya disarankan bagi pasien dengan obesitas berat, terutama yang memiliki indeks massa tubuh (IMI) di atas 40, atau yang memiliki masalah kesehatan serius terkait obesitas, seperti diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, dan sleep apnes parah. Prosedur ini biasanya dipertimbangkan jika metode non-bedah seperti diet, olahraga, dan obat-obatan tidak berhasil. Namun tidak jarang ada beberapa orang yang tidak memiliki masalah kesehatan serius juga melakukan prosedur ini, yang mana tujuannya adalah agar bisa mendapatkan postur/berat badan yang ideal.","part":1,"page":3},{"id":4,"text":"Menurut dr. Dion Haryadi, seorang dokter umum dan Certified Nutrition & Health Coach, operasi bariatrik memiliki berbagai jenis, masing-masing dengan teknik yang berbeda, namun tujuannya sama. Yakni, untuk mengurangi volume lambung sehingga pasien merasa lebih cepat kenyang dan makan dalam porsi yang lebih kecil. \"Operasi bariatrik dilakukan dengan tujuan membantu penurunan berat badan, dan ada banyak jenis operasi ini.\" Jelas dr. Dion. la juga menyebutkan beberapa jenis prosedur bariatrik yang umum dilakukan, di antaranya sebagai berikut:\r.1 Gastric Band: Pada prosedur ini, bagian atas lambung diikat menggunakan pita atau band yang bisa diatur. Dengan band\rini, pasien akan merasa kenyang lebih cepat karena volume lambung yang efektif menjadi lebih kecil.\r.2 Intragastric Balloon: Dalam prosedur ini, balon dimasukkan ke dalam lambung untuk mengurangi volumenya. Balon itu membantu pasien merasa kenyang lebih cepat sehingga mengurangi jumlah makanan yang dikonsumsi.\r.3 Gastric Bypass: Prosedur ini melibatkan pemotongan bagian atas lambung dan menyambungkannya langsung ke usus halus. Dengan bypass ini, makanan melewati sebagian besar lambung dan usus kecil sehingga penyerapan nutrisi dan kalori berkurang.\r.4 Sleeve Gastrectomy Pada operasi ini, sehagian besar lambung diangkat sehingga hanya tersisa lambung berbentuk seperti tabung kecil. Prosedur ini membuat pasien makan dalam porsi yang jauh lebih kecil karena lambungnya sudah berkurang volumenya secara signifikan","part":1,"page":4},{"id":5,"text":"Seperti halnya operasi besar lainnya, bypass lambung memiliki efek samping, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang yakni\r)1 Pendarahan;\r)2 Infeksi,\r)3 Darah menggumpal;\r)4 Masalah paru-paru;\r)5 Pernapasan;\r)6 Kebocoran di sistem pencernaan;\r)7 Kematian (walau kasusnya jarang terjadi)\rNamun, efek samping yang ada dapat diminimalisir dengan prosedur operasi yang sesuai dengan kode etik kedokteran, dan juga dalam pelaksanaan operasi penurunan berat badan, pasien harus bersedia melakukan perubahan permanen untuk menjalani gaya hidup yang lebih sehat dan mau ikut merencanakan tindak lanjut jangka panjang yang mencakup pemantauan nutrisi, gaya hidup, dan kondisi medis. …\r| Keputusan Bahtsul Masail Syuriyah PWNU Jatim | Komisi Waqi’iyah\rPertanyaan\rBagaimana hukum melakukan operasi bariatrik bagi pasien yang tidak memiliki masalah kesehatan serius (untuk memiliki berat badan yang ideal) atau bagi pasien yang mengalami obesitas berat?\rJawaban\rOperasi bariatrik dengan cara Intragastric Balloon diperbolehkan mutlak.\rUntuk cara selain Intragastric Balloon tidak diperbolehkan kecuali dalam rangka pengobatan dengan syarat berikut.\rSebagai alternatif terakhir yang efektif digunakan\rdilakukan oleh dokter yang kompeten\rtidak menimbulkan efek yang membahayakan\rSedangkan operasi bariatrik yang digunakan selain pengobatan tidak diperbolehkan.\rReferensi\rتحفة المحتاج في شرح المنهاج مع حواشي الشرواني (جـ 1 صـ 235)","part":1,"page":5},{"id":6,"text":"(وَ) تَخْلِيلُ (أَصَابِعِهِ) الْيَدَيْنِ بِالتَّشْبِيكِ، وَالرِّجْلَيْنِ بِأَيِّ كَيْفِيَّةٍ كَانَتْ ... وَتَجِبُ فِي مُلْتَفَّةٍ لَا يَصِلُ إِلَى بَاطِنِهَا إِلَّا بِهِ، كَتَحْرِيكِ خَاتَمٍ، وَيَحْرُمُ فَتْقُ مُلْتَحِمَةٍ. قوله: (ويحرم فتق ملتحمة) أي: لأنه تعذيب بلا ضرورة، أي إن خاف محذورًا تيمم فيما يظهر أخذا من التعليل. اهـ نهاية وشيخنا. زاد الإيعاب: إن قال له طبيبان عدلان إنه يمكن فتقها ورُجِيَ به قوة على العمل، اتجه أن يأتي فيه ما سيأتي من التفصيل في قطع السلعة. اهـ. وعقب السيد البصري كلام النهاية بما نصه: فيه نظر، بل الذي يظهر ويؤخذ من إطلاق التعذيب في العلة عدم اشتراط ما ذكراه، وفيه توقف، إذ مطلق التعذيب وإن لم يبح التيمم لا يقتضي الحرمة، لا سيما إذا كان لغرض.\rإعانة الطالبين (جـ 1 صـ 75)\r(قوله: ويحرم فتق الملتحم) أي من أصابع اليدين والرجلين؛ لأنه ليس من ظاهر البدن. وعبارة النهاية في مبحث سنن الوضوء: ولو كانت أصابعه ملتفة بحيث لا يصل الماء إليها إلا بالتخليل ونحوه وجب، أو ملتحمة حرم فتقها؛ لأنه تعذيب بلا ضرورة، أي إن خاف محذورًا تيمم فيما يظهر أخذا من العلة. انتهت.\rمغني المحتاج إلى معرفة ألفاظ المنهاج (جـ 17 صـ 172)","part":1,"page":6},{"id":7,"text":"ولم يُسْتَقِلَّ قَطْعُ سِلْعَةٍ إِلَّا مَخُوفَةً، لا خطر في تركها، أو الخطر في قطعها أكثر. ولأبٍ وجَدٍّ قطعها من صبي ومجنون مع الخطر إن زاد خطر الترك، لا لسلطان. وله وللسلطان قطعها بلا خطر، وفضله الحجامة، فلو مات بغير ذلك فلا ضمان في الأصح، ولو فعل سلطان بصبي ما مُنِعَ فدية مغلظة في ماله. (والمستقل) بأمر نفسه، وهو الحر البالغ العاقل كما قال البغوي والماوردي وغيرهما ولو سفيهًا، (قطع سلعة) منه، وهي بكسر السين، وحكي فتحها، وهي خراج كهيئة الغدة يخرج بين الجلد واللحم يكون من الحمصة إلى البطيخة، وله فعل ذلك بنفسه وبنائبه؛ لأن له غرضًا في إزالة الشيء. (إلا سلعة مخوفة) قطعها بقول اثنين من أهل الخبرة أو واحد كما بحثه الأذرعي، (لا خطر في تركها أصلًا، أو الخطر في قطعها أكثر) منه في تركها فيمتنع عليه القطع في هاتين الصورتين؛ لأنه يؤدي إلى هلاك نفسه، وقد قال تعالى: ?وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ?. أما التي خطر تركها أكثر أو القطع والترك فيها سيان، فيجوز له قطعها على الصحيح في الأولى، والأصح في الثانية كما في الروضة وأصلها، كما يجوز قطعه لغير المخوفة لزيادة رجاء السلامة مع إزالة الشيء، وإن نازع اللقيني في الجواز عند استوائهما، وقال: لو قال الأطباء إن لم تقطع حصل أمر يفضي إلى الهلاك وجب القطع كما يجب دفع المهلكات، ويحتمل الاستحباب، وهذا الثاني أوجه.\rالمجموع (جـ 6 صـ 177)\rفرع: الكي بالنار إن لم تدع إليه حاجة حرام؛ لدخوله في عموم تغيير خلق الله، وفي تعذيب الحيوان، وسواء كوى نفسه أو غيره من آدمي أو غيره، وإن دعت إليه حاجة وقال أهل الخبرة إنه موضع حاجة جاز في نفسه وفي سائر الحيوان، وتركه في نفسه للتوكل أفضل.\r.2 Fenomena Haji Berulang di Tengah Keterbatasan Kuota | LBM\rPCNU Kota Kediri\rDeskripsi Masalah","part":1,"page":7},{"id":8,"text":"Ibadah haji merupakan rukun Islam kelima yang diwajibkan sekali seumur hidup bagi setiap muslim yang memenuhi syarat, yakni mampu secara finansial, fisik, dan memiliki jaminan keamanan dalam perjalanan. Kendati demikian, setelah kewajiban haji satu kali itu ditunaikan, syariat Islam tetap menganjurkan untuk melaksanakan haji berulang kali bagi mereka yang mampu, sebagaimana ditunjukkan dalam banyak atsar dan doa-doa dari para ulama dan salaf as-salih.\rDalam konteks kekinian, muncul tantangan besar terkait keterbatasan kuota haji yang ditetapkan oleh Pemerintah Arab Saudi. Bagi negara-negara dengan populasi muslim besar seperti Indonesia, dampaknya sangat nyata. Berdasarkan data Kemenag RI, antrean jemaah haji reguler mencapai 4.719.092 orang, dengan estimasi masa tunggu yang bisa mencapai puluhan tahun. Di sisi lain, ada sekitar 127.257 pendaftar haji khusus yang masa tunggunya jauh lebih singkat.","part":1,"page":8},{"id":9,"text":"Pada tahun 2025, Indonesia mendapat total kuota haji sebanyak 221.000 jemaah, terdiri atas 203.320 jemaah reguler dan 17.680 jemaah haji khusus. Kuota reguler ini mencakup jemaah sesuai nomor porsi, jemaah lansia prioritas, pembimbing dari Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU), serta petugas haji daerah. Pelunasan Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BIP??) telah dilakukan secara bertahap, dengan jumlah jemaah yang melunasi hingga akhir April 2025 mencapai 212.998 orang. Ironisnya, dari total antrean tersebut, terdapat lebih dari 28.000 orang yang sudah pernah berhaji tetapi ikut kembali dalam antrean reguler, serta lebih dari 1.000 orang di antrean haji khusus yang juga sudah berhaji sebelumnya. Hal ini memunculkan ketimpangan akses, di mana mereka yang mampu secara finansial bisa berhaji berkalikali, sementara banyak umat Islam belum pernah berhaji sama sekali. Fenomena ini pun menimbulkan pertanyaan serius tentang keadilan dalam pelaksanaan ibadah haji, sebuah ibadah yang idealnya menjangkau seluruh umat Islam secara merata. Kewajiban melaksanakan haji ialah satu kali sebagaimana keterangan yang disampaikan oleh Imam Asy-Syirbini bahwa: Rasulullah tidak berhaji setelah datangnya kewajiban haji kecuali sekali, yaitu Haji Wada'. Ketika ada sahabat bertanya, \"Apakah ini haji untuk tahun ini saja atau untuk selamanya?” Beliau menjawab: “Untuk selamanya.” Namun, syariat memberikan anjuran untuk melakukan haji berulang kali juga disampaikan dalam literatur kutub at-turats yang mengutip sabdanya Rasulullah:","part":1,"page":9},{"id":10,"text":"من حجَّ حجَّةً أدَّى بها فرضَه، ومن حجَّ ثانيةً فهي دينٌ على ربِّه، ومن حجَّ ثالثةً حرَّم اللهُ شعرَه وبشرتَه على النارِ.\rPara ulama mengartikan hadits ini sebagai landasan motivasi umat Islam untuk tidak hanya melakukan haji satu kali seumur hidup. Di samping syariat memberikan anjuran haji berulang kali, secara hukum fikih seseorang mempunyai kewajiban melaksanakan haji ketika memenuhi syarat, di antaranya adalah istitho'ah. Sedangkan seseorang yang masih dalam antrian, walaupun sudah mendaftar haji belum dikatakan istitho'ah.\rMenanggapi realitas ini, Menteri Agama RI, Yaqut Cholil Qoumas, menyampaikan wacana pembatasan pelaksanaan haji hanya satu\rkali seumur hidup. Menurutnya, ini adalah solusi realistis untuk menyelesaikan masalah masa tunggu yang panjang dan menciptakan pemerataan akses. Wacana ini didukung pula oleh Tubagus Ace Hasan Syadzily, Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, yang menyatakan bahwa kebijakan ini akan dibahas dalam revisi UU Penyelenggaraan Haji dan Umrah yang telah masuk Prolegnas. Meski begitu, wacana ini tentu menimbulkan pro dan kontra. Di satu sisi, ia dianggap akan membuka peluang lebih luas bagi umat Islam yang belum berhaji. Namun di sisi lain, ada kekhawatiran bahwa kebijakan ini akan mengurangi dimensi spiritual dan kerinduan umat Islam terhadap Tanah Suci.\rPertanyaan\r.1 Apakah wacana pembatasan haji bagi orang yang sudah berhaji dapat dibenarkan secara syar'i dengan memandang kondisi di atas?\rJawaban\r.1 Dibenarkan.\rReferensi\rالأحكام السلطانية (صـ 108-109، دار الفكر)","part":1,"page":10},{"id":11,"text":"باب الولاية على الحج: هذه الولاية على الحج ضربان: أحدهما أن تكون على تسيير الحجيج، والثاني على إقامة الحج. فأما تسيير الحجيج فهو ولاية سياسة وزعامة وتدبير. والشروط المعتبرة في المولى أن يكون مطاعًا ذا رأي وشجاعة وهيبة وهداية. والذي عليه في حقوق هذه الولاية عشرة أشياء: أحدها جمع الناس في مسيرهم ونزولهم حتى لا يتفرقوا فيخافوا النوى والتغرير. والثاني ترتيبهم في المسير والنزول بإعطاء كل طائفة منهم مقادًا حتى يعرف كل فريق منهم مقاده إذا سار، ويألف مكانه إذا نزل، فلا يتنازعون فيه ولا يضلون عنه.\rPertanyaan\r.2 Apa saja yang seharusnya menjadi pertimbangan Pemerintah dalam menentukan daftar antrian tunggu haji (waiting list) menurut fiqih?\rJawaban\r.2 Tidak dibahas. Termasuk pembahasan komisi maudlu’iyah.\r3. Amil dalam Zakat Fitrah | LBM PCNU Kab. Nganjuk\rDeskripsi Masalah\rBaru-baru ini beredar kontroversi berkaitan dengan pemberlakuan amil dan hak jatahnya dalam zakat fitrah. Sebagian ulama berpendapat bahwa konsep amil hanya berlaku dalam zakat mal, tidak dalam zakat fitrah. Hal ini karena istilah amil dalam ayat والعامليْ عليها itu dimaksudkan pada zakat mal saja. Adapun untuk zakat fitrah, maka alokasinya terbatas pada fakir-miskin. Sebagaimana dinyatakan dalam hadits Ibn Abbas berikut:\rعَنِ ابنِْ عَبَّاسٍ قاَلَ: فَرَضَ رسَُولُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيَْهِ وسََلَّمَ زَكََةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً للِصَّائِمِ مِنَ اللََّغْوِ وَالرَّفثَِ وَطُعْمَةً للِمَْسَاكِيِْ، مَنْ أدَّاهَا قَبلَْ الصَّلاَةِ فَهِيَ زَكََةٌ مَقْبُولةٌَ، وَمَنْ أدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِيَ صَدَقةٌَ مِنَ الصَّدَقاَتِ. رواه أبو داو د","part":1,"page":11},{"id":12,"text":"Artinya: Diriwayatkan dari Ibn Abbas, ia berkata: “Rasulullah saw mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan orang yang berpuasa dari kata-kata yang tidak berfaidah dan buruk dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Barang siapa membayarkannya sebelum shalat (hari raya) maka itu adalah zakat (fitrah) yang diterima, dan barang siapa membayarkannya setelah shalat maka itu merupakan sedekah dari sedekah-sedekah (biasa).” [HR. Abu Dawud]\rHadits di atas dengan jelas menyatakan bahwa zakat fitrah itu diperuntukkan kepada orang-orang miskin saja, bukan delapan golongan sebagaimana dalam zakat mal. Dengan demikian, maka dalam zakat fitrah tidak berlaku konsep amil yang memperoleh bagian dari zakat fitrah (atas nama amil), kecuali jika amil tersebut termasuk dalam golongan fakir-miskin.\rPertanyaan\r1. Apakah dalam zakat fitrah dapat menerapkan konsep amil dan\rmendapatkan jatah dari zakat fitrah?\rJawaban\r.1 Konsep amil dapat diterapkan dalam zakat fitrah hanya dalam menerima dan membagikan pada mustahiq (tidak boleh menarik kepada muzakki secara paksa). Amil juga mendapatkan\rjatah dari zakat fitrah hanya sesuai dengan upah kerja.\rمشكاة المصابيح مع شرحه مرعاة المفاتيح (جـ 6 صـ 104)","part":1,"page":12},{"id":13,"text":"(وطُعْمَةٌ) بضم الطاء وسكون العين، وهو الطعام الذي يؤكل (للمساكين)، استُدل به على أن الفطرة تُصرف في المساكين دون غيرهم من مصارف الزكاة، وقيل: هي كالزكاة، رواه أبو داود، فتصرف في الأصناف الثمانية لعموم قوله تعالى: ?إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ? ]التوبة: 60[، والتنصيص على بعض الأصناف لا يلزم منه التخصيص، فإنه قد وقع ذلك في الزكاة ولم يقل أحد بتخصيص مصرفها، ففي حديث معاذ: «أمرت أن آخذها من أغنيائكم وأردها في فقرائكم». قال الخرقي: ويعطي صدقة الفطر لمن يجوز أن يعطى صدقة الأموال. قال ابن قدامة (جـ 3 صـ 78): إنما كانت كذلك لأن صدقة الفطر زكاة، فكان مصرفها مصرف سائر الزكوات، ولأنها صدقة فتدخل في عموم قوله تعالى: ?إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ?، ولا يجوز دفعها إلى من لا يجوز دفع زكاة المال إليه، ولا يجوز دفعها إلى ذمي، وبهذا قال مالك والليث والشافعي وأبو ثور. وقال أبو حنيفة: يجوز، وعن عمرو بن ميمون وعمرو بن شرحبيل ومرة الهمداني أنهم كانوا يعطون منها الرهبان. ولنا إنها زكاة فلم يجز دفعها لغير المسلمين كزكاة المال، ولا خلاف في أن زكاة المال لا يجوز دفعها إلى غير المسلمين. وقال ابن المنذر: أجمع أهل العلم على أن لا يُجزئ أن يُعطى من زكاة المال أحد من أهل الذمة. واستُدل بقوله «طهرة للصائم» على أنها تجب على الفقير كما تجب على الغني. قال الخطابي في المعالم (جـ 2 صـ 47): قد عللت بأنها طهرة للصائم من الرفث واللغو، فهي واجبة على كل صائم غني ذي جدة ويسر أو فقير يجدها فضلًا عن قوته، إذ كان وجوبها عليه بعلة التطهير، وكل من الصائمين محتاج إليها، فإذا اشتركوا في العلة اشتركوا في الوجوب.\rسبل السلام (جـ 1 صـ 54)","part":1,"page":13},{"id":14,"text":"وعن ابن عباس رضي الله عنهما قال: «فرض رسول الله صلى الله عليه وسلم زكاة الفطر طهرةً للصائم من اللغو والرفث، وطعمةً للمساكين، فمن أداها قبل الصلاة فهي زكاة مقبولة، ومن أداها بعد الصلاة فهي صدقة من الصدقات» رواه أبو داود وابن ماجه وصححه الحاكم. فيه دليل على وجوبها لقوله: «فرض»، ودليل على أن الصدقات تكفِّر السيئات، ودليل على أن وقت إخراجها قبل صلاة العيد، وأن وجوبها مؤقت، فقيل: تجب من فجر أول شوال لقوله: «أغنوهم عن الطواف في هذا اليوم»، وقيل: تجب من غروب آخر يوم من رمضان لقوله: «طهرة للصائم»، وقيل: تجب بمضي الوقتين عملًا بالدليلين. وفي جواز تقديمها أقوال: منهم من ألحقها بالزكاة فقال: يجوز تقديمها ولو إلى عامين، ومنهم من قال: يجوز في رمضان لا قبله؛ لأن لها سببين: الصوم والفطر، فلا تتقدم عليهما، وقيل: لا تقدم على وقت وجوبها.\rعون المعبود شرح سنن أبي داود (جـ 5 صـ 3)\r(وكان أبو يزيد) شيخ صدق، بإضافة الشيخ إلى صدق، وكان بن وهب يروي عنه، أي عن أبي يزيد إلى هنا مقولة عبد الله بن عبد الرحمن، وهذا توثيق منه لأبي يزيد. قال محمود في روايته: الصدفي، أي قال محمود في روايته سيار بن عبد الرحمن الصدفي. (طهرة) أي تطهيرًا لنفس من صام رمضان. (من اللغو) وهو ما لا ينعقد عليه القلب من القول. (والرفث) قال ابن الأثير: الرفث هنا الفحش من الكلام. (وطعمة) بضم الطاء، وهو الطعام الذي يؤكل، وفيه دليل على أن الفطرة تصرف في المساكين دون غيرهم من مصارف الزكاة. (من أداها قبل الصلاة) أي قبل صلاة العيد (فهي زكاة مقبولة) المراد بالزكاة صدقة الفطر (ومن أداها بعد الصلاة فهي صدقة من الصدقات) يعني التي يتصدق بها في سائر الأوقات، وأمر القبول فيها موقوف على مشيئة الله تعالى.\rالموسوعة الفقهية الكويتية (جـ 23 صـ 344)","part":1,"page":14},{"id":15,"text":"مصارف زكاة الفطر: اختلف الفقهاء فيمن تُصرف إليه زكاة الفطر على ثلاثة آراء: ذهب الجمهور إلى جواز قسمتها على الأصناف الثمانية التي تُصرف فيها زكاة المال، وذهب المالكية، وهي رواية عن أحمد واختارها ابن تيمية، إلى تخصيص صرفها بالفقراء والمساكين، وذهب الشافعية إلى وجوب قسمتها على الأصناف الثمانية، أو من وجد منهم\r.\rفتح الوهاب (جـ 2 صـ 94)\rفصل في حكم استيعاب الأصناف والتسوية بينهم وما يتبعهما: (يجب تعميم الأصناف) الثمانية في القسم (إن أمكن) بأن قسم الإمام ولو بنائبه ووجدوا لظاهر الآية، سواء في ذلك زكاة الفطر وزكاة المال، (وإلا) أي وإن لم يكن بأن قسم المالك إذ لا عامل أو الإمام ووجد بعضهم، (فتعميم من وجد) منهم؛ لأن المعدوم لا سهم له، فإن لم يوجد أحد منهم حفظت الزكاة حتى يوجدوا أو بعضهم. (وعلى الإمام تعميم الآحاد) أي آحاد كل صنف من الزكوات الحاصلة عنده، إذ لا يتعذر عليه ذلك، (وكذا المالك) عليه التعميم (إن انحصروا بالبلد) بأن سهل ضبطهم، ومعرفة عددهم (ووفى بهم المال)، فإن أخل أحدهما بصنف ضمن، لكن الإمام إنما يضمن من مال الصدقات لا من ماله. (وإلا) بأن لم ينحصروا أو لم يف بهم المال (وجب إعطاء ثلاثة فأكثر من كل صنف)، ويجوز إعطاء واحد إن حصلت به الكفاية. (وتجب التسوية بين الأصناف) غير العامل، (لا بين آحاد الصنف)، إلا إن قسم الإمام وتتساوى الحاجات فتجب التسوية.\rمنهاج القويم هامش الحواشي المدنية (جـ 2 صـ 158)\rويجب صرف الزكاة إلى الموجودين من الأصناف الثمانية، فإن وجدوا كلهم بمحل الزكاة وجب الصرف إليهم، ولا يجوز حرمان بعض الأصناف، ولو كانت زكاة فطر\rالمهذب (جـ 1 صـ 170)\r(فصل) ويجب صرف جميع الصدقات إلى ثمانية أصناف، وهم: الفقراء، والمساكين، والعاملون عليها، والمؤلفة قلوبهم، وفي الرقاب، والغارمون، وفي سبيل الله، وابن السبيل.\rالأحكام السلطانية للماوردي (صـ 179)","part":1,"page":15},{"id":16,"text":"الباب الحادي عشر: ولاية الصدقات. الصدقة زكاة، والزكاة صدقة، يفترق الاسم ويتفق المسمى، ولا يجب على المسلم في ماله حق سوى الزكاة، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «ليس في المال حق سوى الزكاة». والزكاة تجب في الأموال المرصدة للنماء، إما بأنفسها أو بالعمل فيها، طهرة لأهلها ومعونة لأهل السهام. والأموال المزكاة ضربان: ظاهرة وباطنة، فالظاهرة ما لا يمكن إخفاؤه كالزرع والثمار والمواشي، والباطنة ما يمكن إخفاؤه كالنقد وعروض التجارة.\rكفاية النبيه في شرح التنبيه (جـ 6 صـ 65)\rأحدهما: أن زكاة الأموال الباطنة والظاهرة كانت تحمل إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم وإلى خلفائه، إلا أن عثمان رضي الله عنه فوض صرف زكاة المال الباطن إلى أربابه باجتهاده، فإذا ظهر منه التقصير كان للإمام المطالبة، وعلى هذا لو وجب على شخص نذر أو كفارة لا يطالبه الإمام بإخراجها.\rالنجم الوهاج في شرح المنهاج (جـ 3 صـ 247)\r(والثالث: يمنع في المال الباطن، وهو النقد والعرض) وكذا زكاة الفطر أيضًا، ولا تمنعها الأموال الظاهرة، وهي المواشي والزروع والثمار والمعادن، والفرق أن الظاهرة تنمو بنفسها أو هي نماء في نفسها، والباطنة ليس كذلك.\rتحفة المحتاج في شرح المنهاج وحواشي الشرواني والعبادي (جـ 3 صـ 344)\r(وله) أي للمالك الرشيد أو ولي غيره (أن يؤدي بنفسه زكاة المال الباطن) وليس للإمام أن يطلبها إجماعًا، نعم يلزمه إذا علم أو ظن أن المالك لا يزكي أن يقول له: أدها، وإلا فادفعها إلي لأفرقها. (وكذا الظاهر على الجديد)، فإن طلبها الإمام وجب الدفع له اتفاقًا، ولو جائرًا، (وله التوكيل) في أدائها، (والصرف إلى الإمام أفضل)؛ لأنه أعرف بالمستحقين وأقدر على التعميم، إلا أن يكون جائرًا فالأفضل أن يفرق بنفسه\rPertanyaan\r.2 Apakah pemahaman sebagian ulama sebagaimana dalam\rdeskripsi dapat dibenarkan?\rJawaban","part":1,"page":16},{"id":17,"text":".2 Dapat dibenarkan menurut Madzhab Malikiyah akan tetapi\rtidak berdasarkan hadits dalam deskripsi.\rمواهب الجليل في شرح مختصر خليل | جـ 2 جـ 637\r)وإنما تدفع لحر مسلم فقير( ش: ختم الِاب ببيان مصرف زكَة الفط ر، فقال: وإنما تدفع لحر مسلم فقير يعني أنه يشترط فيمن تدفع له زكَة الفطر ثلاثة شروط: )الأول( الحرية، )والثاني( الإسلام، )والثالث( الفق ر ولا خلاف في ذلك عندنا فلا تدفع لعبد ولا لمن فيه شائبة ولا لكافر ولا لغني، قال في المدونة: ولا يعطاها أهل الذمة ولا العبد، قال أبو الحسن: يريد: ولا الأغنياء فإن أعطاها من لا يجوز له أخذهاعالما بذلك لم يجزه ولا ضمان عليهم، وإن لم يعلم نظر فإن كانت قائمة بأيديهماسترجعها، وإن أكلوها وصانوا بها أموالهم ضمنوها، وإن هلكت بسبب من الله نظرفإن غروا ضمنوا، وإن لم يغروا لم يضمنوا، انتهى. )تنبيهات الأول( قال اللخمي: واختلف في صفة الفقير الذي تحل له فقيل: هو من تحل له زكَة العيْ، وقال أبو مصعب لا يعطاها من أخرجها ولا يعطى فقير أكثر من زكَة إنسان وهو صاع، وهذا هو الظاهر لقوله - عليه السلام - «أغنوهم عن طواف هذا الْوم» فالقصد غناء ذلك الْوم، والقصد بما سواها من الزكَة ما يغنيه عما يَتاجه من النفقة والكسوة في المستقبل، وقد قيل: يعطى ما فيه كفاف لسنة، ولذا قيل: لا بأس أن يعطى الزكَة من له نصاب لا كفاية فيه ولا أعلمهم يختلفون أنه لا يعطى زكَاة الفطر من يملك نصابا، انتهى. فأول كلامه يخالف آخره لأن قوله \" لا تحل له زكَة العيْ \" يقتضي جواز دفعها لمالك النصاب، وقال في آخر كلامه: لا أعلمهم يختلفون أنها لا تعطى لمن يملك نصابا إلا أن يقيد أول كلامه بآخره، والظاهر من كلام ابن بشير أنه لم يعتبر ما قاله اللخمي آخرا فإنه قال: واختلف في صفة من يَل له أخذها على قوليْ: أحدهما - أنه من يَل له أخذ الزكَة، والثاني - أنه الفقير الذي لم يأخذ منها في يومه ذلك، وعلى الأول","part":1,"page":17},{"id":18,"text":"يجوز أن يعطى أكثر من صدقة إنسان واحد، وعلى الثاني لا يجوز أن يأخذ أكثر من ذلك، انتهى. ونحوه في الجواهر والذخيرة وهو ظاهر كلام ابن راشد في الِاب الآتي، وقال ابن عرفة: وفي كون مصرفها فقير الزكَة أو عادم قوت يومه نقل اللخمي، وقال أبو مصعب: وخرج عليها إعطاؤها من ملك عبدا فقط ولا يتم إلا بعجز قيمته عن نصاب أو كونه محتاجا إلْه، انتهى. فانظره فالذي تحصل من كلامهم أن الفقير الذي تصرف له الفطرة هو فقير الزكَة على المشهور على ما قاله الجماعة ،وقيل ما قاله اللخمي بأن لا يكون مالكا للنصاب، والله أعلم. )الثاني( قال ابنالحاجب: ومصرفها مصرف الزكَة، وقيل الفقير الذي لم يأخذ منها وعلى المشهوريعطى الواحد عن متعدد، قال في التوضيح: ظاهر كلامه أنها تصرف في الأصنافالثمانية وليس كذلك فقد نص في الموازية على أنه لا يعطى منه ا\rلوامع الدرر في هتك استار المختصر | محمد بن سالم المجلسي | جـ 3 صـ 626 الثاني: علم مما مر أن مصرف زكَة الفطر ليس كمصرف زكَة الأموال؛ إذ تلك تصرف إلى الأصناف الثمانية كما مر، وهذه لا تصرف إلا إلى اثنيْ منها وهما الفقير والمسكيْ، ويعطى منها ابن السبيل إذا كان فقيرا بموضعه ولو كان غنيا ببلده، لقوله عليه الصلاة والسلام: )أغنوهم عن طواف هذا الْوم\r.4 Kontroversi Ayat Kursi Sachet untuk Ruqyah | LBM PCNU Kota\rKediri\rDeskripsi Masalah","part":1,"page":18},{"id":19,"text":"Ayat Kursi merupakan salah satu ayat dalam Al-Qur'an yang paling terkenal dan dianggap memiliki kekuatan spiritual yang signifikan. Namun, belakangan ini, muncul perdebatan mengenai Ayat Kursi pada kemasan produk (sachet), seperti makanan dan minuman yang digunakan untuk pengobatan ruqyah. Mengutip dari X @ikramarki, terlihat sebuah video yang memperlihatkan sebuah bungkus plastik berwarna hijau yang bertuliskan “Ayat Kursi Ruqyah Paper” seperti gambar berikut:\rSelain kasus di atas ada juga yang cara penggunaannya dengan cara dilebur yakni setelah ayat kursi ditulis di kertas kemudian kertas disebut dipotong kecil-kecil kemudian dimasukan atau dicampur dengan air minum.\rBanyak orang merasa khawatir bahwa Ayat Kursi yang dicetak di kemasan produk dapat dipandang sebagai tindakan yang tidak pantas atau bahkan penghinaan jika kemasan tersebut dibuang atau diperlakukan secara tidak semestinya. Selain itu, terdapat keprihatinan bahwa Ayat Kursi bisa disalahgunakan sebagai strategi pemasaran yang tidak etis.\rRespon masyarakat terhadap isu ini beragam, ada yang berpendapat bahwa penggunaan Ayat Kursi dalam kemasan produk tidak diperkenankan karena bisa dianggap merendahkan ayat dalam Al-Qur'an. Namun, ada pula yang berargumen bahwa penggunaan Ayat Kursi di kemasan produk diperbolehkan asalkan dilakukan dengan pendekatan yang sopan dan menghormati. Diingatkan bahwa pandangan mengenai kontroversi ini dapat bervariasi tergantung pada sudut pandang dan tafsiran masingmasing individu atau kelompok.\rPertanyaan","part":1,"page":19},{"id":20,"text":"Bagaimana hukum memproduksi dan memperjual-belikan ayat kursi sachet sebagaimana deskripsi di atas dalam pandangan syariat?\rHukum memproduksi dan memperjualbelikan Ayat Kursi dalam bentuk sachet diperbolehkan, namun makruh. Dan jika ada dugaan akan dipotong-potong, dibuang sembarangan, atau tidak dijaga kehormatannya, maka hukumnya tidak diperbolehkan. Referensi:\rفتح الكريم المنان | صـ 33 | للشيخ علي الضباع بن محمد الازهر ي\rوأما ما كتب تميمة للتبرك فلا يَرم مسها ولا حملها لكن بشرط أن تجعل حرزايقيها من كل أذى ، ولا يجوز جعل صحيفة بالْة منه وقاية لكتاب بل يجب محوهابماء طاهر ويصب في بحر أو نهر جار. ويَرم كتب القرآن وكذا أسماء الله تعالى بنجس أو على نجس ومسه به إذا كان غير معفو عنه. ويكره كتبه عل حائط ولو لمسجد وثياب وطعام ونحو ذلك. ويجوز هدم الحائط ولبس الثياب وأكل الطعام ولا تضر ملاقاته ما في المعدة بخلاف ابتلاع قرطاس فإنه يَرم عليه. ولا يجوز كتبه على الأرض و لا على بساط ونحوه مما يوطأ بالأقدام ، ولا يكره كتب شيء منه في إناء ليسقى ماؤه للشفاء خلافا لما وقع للإمام ابن عبد السلام في فتاويه من التحريم ويسن كتبه وإيضاحه إكراما له\rحاشية البجيرمي على شرح المنهج | جـ 2 صـ 176\rويكر ه للمسلم بيع المصحف، وشراؤه ذكر ذل ك في المجمو ع.\r)قول: ويكره للمسلم بيع المصحف( أي: ما يسمَّ عرفا وإن كتب عل هيئة التميمة؛ لأن في ذلك نوع امتهان حيث جعل المصحف كالسلع التي تعرض للبيع، والشراء انتهى.\rالفتاوى الفقهية الكبرى | جـ 1 صـ 35","part":1,"page":20},{"id":21,"text":"وسئل فسح الله في مدته عمن وجد ورقة ملقاة في الطريق فيها اسم الله ما الذي يفعل بها. فأجاب بقوله: قال ابن عبد السلام الأولى غسلها لأن وضعها في الجدار تعريض لسقوطها والاستهانة بها، وقيل: تجعل في حائط، وقيل: يفرق حروفها ويلقيها ذكره الزركشي. فأما كلام ابن عبد السلام فهو متجه لكن مقتضى كلامه حرمة جعلها في حائط والذي يتجه خلافه وأن الغسل أفضل فقط، وأما التمزيق فقد ذكر الحليمي في منهاجه أنه لا يجوز تمزيق ورقة فيها اسم الله أو اسم رسوله لما فيه من تقطيع الحروف وتفريق الكلمة وفي ذلك إزراء بالمكتوب، فالوجه الثالث شاذلا ينبغي أن يعول عليه. فإن قلت وجه الضعيف أيضا أن هذه الحروف لما ركب منهاهذا الاسم المعظم ثبت لها التعظيم فتفريقها بعد ذلك لا يوجب إهدار ما ثبت لها،قلت: إنما يأتي ذلك على ما مال إلْه السبكي من أن الحروف المقطعة حكمها حكم الكلمات الشريفة ومقتضى كلامهم خلافه.\rحاشية الشبراملسي | جـ 1 صـ 128\rوفي حج: ويَرم تمزيق المصحف عبثاء لأنه إزراء به وترك رفعه عن الأر ض، وينبغي أن لا يجعله في شق؛ لأنه قد يسقط فيمتهن اهـ وقوله وترك رفعه المراد منه أنه إذا رأى ورقة مطروحة على الأرض حرم عليه تركها، والقرينة عليه قوله عقب ذلك وينبغي إلخ، وليس المراد كما هو ظاهر أنه يَرم عليه وضع المصحف على الأرض والقراءة فيه خلافا لِعض ضعفة الطلبة\rالفتاوي الحديثية | صـ 164\rوبحث ابن العماد أنه يَرم أن يضع عليه نعلا جديدا أو يضعه فيه لأن فيه نوع امتهان وقلة احترا م والأولى أن لا يستدبره ولا يتخطاه ولا يرميه بالأرض بالوضع ولا حاجة تدعو لذلك بل لو قيل بكراهة الأخير لا يبعد ورد النهي عن تصغير لفظه كالمسجد فينب غي اجتنابه قال الزركشي ويسن تطييبه وجعله على الكرسي انتهى\rتحفة الحبيب على شرح الخطيب | جـ 5 صـ 109","part":1,"page":21},{"id":22,"text":"والفعل المكفر ما تعمده صاحبه استهزاء صريَا بالدين أو جحودا له كإلقاء مصحف وهو اسم للمكتوب بيْ الدفتيْ بقاذورة.\rقوله: )كإلقاء مصحف( أو نحوه مما فيه شيء من القرآن بل اسم معظم من الحديثقال الروياني: أو من علم شرعي والإلقا ء ليس بقيد بل المدار على مماسته بقذر ولوطاهرا والحديث في كلامه شامل للضعيف وهو ظاهر لأن في إلقائه استخفافا بم ننسب إلْه وخرج بالضعيف الموضوع اه. وعبارة ق ل كإلقاء مصحف بالفعل أو بالعزم به وألحق به بعضهم وضع رجله عليه وكإلقاء ذلك على القذر إلقاء القذر عليه قال شيخنا الرمل: ولا بد في غير القرآن من قرينة تدل على الإهانة وإلا فلا. واختلف مشايخنا في مسح القرآن من لوح المتعلم بالِصاق فأفتى بعضهم بحرمته مطلقا وبعضهم بحله مطلقا وبعضهم بحرمته إن بصق على القرآن ثم مسحه وبحله إن بصق على نحو خرقة ثم مسح بها قاله سم قال: ع ش على م روما جرت به العادة من الِصاق على اللوح لإزالة ما فيہ ليس بكفر. ونوز ع فيه.\rقوله: )بقاذورة( أي قذر ولو ظاهراكبصاق ومَاط ومني على وجه الاستخفاف لا لخوف أخذ نحو كافر له وإن حرم\rبغية المسترشدين | صـ 124\r)مسألة: ي( لا يصح بيع نحو الكتب والثياب والأواني المكتوب فيها قرآن أو اسم معظم أو علم شرعي ولو معلقا في تميمة لكاف ر وإن تحقق احترامه له اتفاقا، وكَلِيع نحو النذر والهبة من كل تملك اختيارا، نعم تجوز معاملته بالدراهم المكتوب عليها ذلك، وكذا بيع الِيوت المكتوب على سقفها شيء من ذلك، قاله في الإمداد و)م ر( خلافا للتحفة: أما بيعها للمسلم فيحل مطلقا، نع م إن ظن أنه لا يصونها عن النجاسة حرم لإعانته على معصية أولا يَترمها كإدخالها الخلاء كره.\rالشرواني | جـ 1 صـ 125","part":1,"page":22},{"id":23,"text":")فائدة( وقع السؤال في الدرس عما لو جعل المصحف في خرج أو غيره وركب عليههل يجوز أم لا فأجبت عنه بأن الظاهر أنه إن كان على وجه يعد إزراء به كأن وضعهتحته بينه وبيْ البرذعة أو كان ملاقيا لا على الخرج مثلا من غير حائل ب يْالمصحف وب يْ اخرج وعد ذلك إزراء له ككون الفخذ صار موضوعا عليه حرم وإلا فلا فتنبه له فإنه يقع كثير ا.\rالنجم الوهاج في شر ح المنهاج | جـ 1 صـ 128\rمهمة: الصواب: أنه لا يجوز إحراق الخشب الني كتب عليه القرآن كما قاله في )الِاب التاسع( من )التبيان(، وما وقع له في )الِاب السابع( منه وفي )شرح المهذب( و)الروضة( و)التحقيق( من الكراهة خلاف الصواب.\rفتاوى الأزهر | جـ 7 صـ 477\rتحدث العلماء عن مظاهر تكريم القرآن والمصحف الذي يَويه فأمروا بالطهارة عند مسه وحمله، وذلك له موضع لتفصيله، ومن مظاهر التكريم عدم وضعه تحت الوسادة عند النوم، أو وضع أمتعة أو كتب فوقه ،أو عمل أي شيء يعتبر عرفا إهانة له، بل جاء في كتاب «المصاحف( لا بن أبي داود ان وضع المصحف على الأرض غ ير لا ئق، وأورد في ذلك اثرا لم يب يْ درجته م ن القبول والرفض، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال فيمن وضع كتابا من ذكر الله في الأرض لعن الله من فعل هذا، لا تضعو ا ذك ر الله في غير موضعه.\rبغية المسترشدين | جـ 1 صـ 125","part":1,"page":23},{"id":24,"text":")مسألة: ي(: كل معاملة كبيع وهبة ونذر وصدقة لشيء يستعمل في مباح وغ يره، فإن علم أو ظنّ أن آخذه يستعمله في مباح كأخذ الحرير لمن يَل له، والعنب للأكل، والعبد للخدمة، والسلاح للجهاد والذب عن النفس، والأفيون والحشيشة للدوا ءوالرفق حلت هذه المعاملة بلا كراهة، وإن ظن أنه يستعمله في حرام كالحرير للبالغ، ونحو العنب للسكر، والرقيق للفاحشة، والسلا ح لقطع الطريق والظلم، والأفيون والحشيشة وجوزة الطيب لاستعمال المخذِّر حرمت هذه المعاملة، وإن شكّ ولا قرينة كرهت، وتصحّ المعاملة في الثلاث، لكن المأخوذ في مسألة الحرمة شبهته قوية، وفي مسألة الكراهة أخف\r.\rزاد المعاد الرسالة الثاني | جـ 4 صـ 157\rورأى جماعة من السلف أن تكتب له الآيات من القرآن ثم يشربها. قال مجاهد: لا بأس أن يكتب القرآن، ويغسله، ويسقيه المريض، ومثله عن أبي قلابة. ويذكر عن ابن عباس: )أنه أمر أن يكتب لامرأة تعسر عليها ولادها أثر من القرآن ثم يغسل وتسقى( وقال ايو ب: )ر أيت ابا قلابة كتب كتابا من القرآن، ثم غسله بماء وسقاه رجلا كان به وجع(\rDiputuskan di Malang\rTanggal 26 Jumadil Ula 1447 H/17 November 2025\rKoordinator\rK. M. Ali Ramzi\rModerator\rK. Ahmad Muzakki\rK. M. Ali Ramzi\rNotulen\rK. M. Masykur Junaidi\rMuhammad Umar Faruq\rMushahih\rKH. Ardani Ahmad\rKH. Mukhlis Dimyathi\rKH. M. Arsyad Bushoir\rKH. Ali Mas’adi\rKH. Safrijalla Subadar\rKH. M. Mughis Al Iroqy Miftahul Akhyar\rKH. Hadziqunuha\rPerumus\rKH. M. Suhaeri Badrus Soleh\rK. M. Thohari Muslim\rKH. M. Syihabuddin Sholeh, S.Ag. K. Luqmanul Hakim, S.Pd.I. K. Ahmad Muzakki\rKH. Muhammad Ali Marzuqi\rK. Ahmad Muzakki Aziz\rKH. Moch. Sunarto\rTim Ahli\rDr. dr. Muhammad S. Niam, M.Kes, FINACS, Sp.B., SubspBD (K)\rKomisi Maudlu’iyah","part":1,"page":24},{"id":25,"text":"I. …Kekerasan di Dunia Pendidikan dalam Tinjauan Fiqh A. Bentuk Kekerasan yang Terjadi di Dunia Pendidikan\r.1 Kekerasan fisik\rPandangan Fiqh terhadap Kekerasan Fisik\rPandangan Fiqh terhadap Kekerasan Fisik yang Dilakukan Guru\r.2 Kekerasan psikis\rPandangan Fiqh terhadap Kekerasan Psikis\rBeda Gojlokan dan Kekerasan Psikis\rCyber Bullying\rPandangan Fiqh terhadap Kekerasan Psikis yang Dilakukan Guru\rB. Tinjauan Fiqh Tentang Perlindungan Korban Bullying\rC. Tinjauan Fiqh Tentang Penanganan Pelaku Bullying D. Tinjauan Fiqh Tentang Pencegahan Kekerasan Dalam Dunia Pendidikan\rI. Kekerasan di Dunia Pendidikan dalam Tinjauan Fiqh\rDunia pendidikan tak pernah sepi dari berbagai pemberitaan kasus kekerasan, di mana korbannya selain siswa, juga guru dan tenaga kependidikan. Kekerasan itu bisa melibatkan guru sebagai pelaku ketika menghukum muridnya, atau siswa senior yang ingin 'mendisiplinkan' juniornya, dan juga antarmurid yang saling melecehkan dan melakukan perundungan atau bullying, bahkan kekerasan bisa melibatkan guru sebagai korban. Konflik yang berujung pada kekerasan yang terjadi di sekolah—baik yang dilakukan oleh guru terhadap siswa atau sebaliknya, maupun antarsiswa sendiri—bisa disebabkan oleh berbagai faktor, namun pada umumnya konflik tersebut terjadi karena relasi yang tidak seimbang di antara pelaku kekerasan dengan korbannya. Relasi yang tidak seimbang dapat terjadi karena pelaku kekerasan memiliki fisik yang lebih kuat, atau secara sosial memiliki wewenang dan struktur hierarki lebih tinggi, atau juga merasa lebih superior sehingga mampu mendominasi korbannya.","part":1,"page":25},{"id":26,"text":"Oleh karena itu, diperlukan upaya pembahasan dan pengkajian berbagai bentuk kekerasan di dunia pendidikan serta menawarkan pemikiran-pemikiran konstruktif untuk mengeliminasi terjadinya kekerasan dengan menggunakan perspektif fiqh. Variabel-variabel kekerasan di dunia pendidikan yang perlu dikaji dengan tinjauan fiqh, adalah sebagai berikut:\rA. Bentuk Kekerasan yang Terjadi di Dunia Pendidikan\rKekerasan adalah setiap perbuatan, tindakan, dan/atau keputusan terhadap seseorang yang berdampak menimbulkan rasa sakit, luka, atau kematian, penderitaan seksual/reproduksi, berkurang atau tidak berfungsinya sebagian dan/atau seluruh anggota tubuh secara fisik, intelektual atau mental, hilangnya kesempatan untuk mendapatkan pendidikan atau pekerjaan dengan aman dan optimal, hilangnya kesempatan untuk pemenuhan hak asasi manusia, ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, kerugian ekonomi, dan/atau bentuk kerugian lain yang sejenis.1\rDengan pengertian ini dapat dipahami bahwa tindakan kekerasan pada dasarnya adalah perbuatan yang diharamkan. Dalam praktiknya, terjadinya kekerasan bisa melalui perkataan maupun perbuatan, dan bentuknya dapat diklasifikasikan menjadi tiga kategori, yaitu: kekerasan fisik, kekerasan psikis, dan kekerasan seksual.\r.1 Kekerasan Fisik","part":1,"page":26},{"id":27,"text":"Kekerasan fisik adalah kekerasan yang menimpa fisik atau bagian-bagian tubuh seseorang, seperti ditampar, dicubit, dipukul, dijewer, ditendang, atau berbagai bentuk kekerasan fisik lainnya, termasuk juga kekerasan seksual. Akibat dari kekerasan fisik dapat dilihat dari luka atau bekas luka yang tampak secara kasat mata, seperti memar, lebam, luka atau berdarah di bagian-bagian tubuh yang mengalami kekerasan, dan bahkan mungkin juga hilangnya nyawa. Kekerasan fisik ini bisa dilakukan oleh guru terhadap siswa atau sebaliknya, maupun antarsiswa sendiri.\r1 Pengertian ini sesuai dengan apa yang tertulis dalam Pasal 1, Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 46 Tahun 2023 Tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan.\rAdapun dalam Pasal 1, Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik …Indonesia …Nomor …82 …Tahun …2015 …Tentang …Pencegahan …dan\rPenanggulangan Tindak Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan, yang dimaksud dengan tindak kekerasan adalah perilaku yang dilakukan secara fisik, psikis, seksual, dalam jaringan (daring), atau melalui buku ajar yang mencerminkan tindakan agresif dan penyerangan yang terjadi di lingkungan satuan pendidikan dan mengakibatkan ketakutan, trauma, kerusakan barang, luka/cedera, cacat, dan atau kematian.\rPandangan Fiqh terhadap Kekerasan Fisik\rMelakukan kekerasan fisik terhadap orang lain tanpa disertai alasan yang benar, hukumnya dosa besar, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:","part":1,"page":27},{"id":28,"text":"صنفان من أمتي من أهل النار لم أرهما قوم معهم سياط كأذناب الِقر يضربون بها الناس ونساء كاسيات عاريات. )رواه مسلم(\rDua golongan dari umatku yang termasuk penghuni neraka, aku belum pernah melihat keduanya: [1] Kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi, yang mereka gunakan untuk memukul manusia. [2] Para wanita yang berpakaian tetapi telanjang. (HR. Muslim)\rIbn Q?sim al-‘Abb?diy menafsirkan hadis di atas dengan menyatakan bahwa kekerasan fisik yang dimaksud termasuk dosa besar dan mencakup seluruh bentuk kekerasan fisik, baik yang berat maupun ringan, sebagaimana dikutip dalam ??syiyah al-\r‘A???r berikut\rوضرب المسلم( بلا حق قال - صلى الله عليه وسلم - «صنفان من أمتي من أهل النار لم أرهما قوم معهم سياط كأذناب الِقر يضربون بها الناس ونساء كاسيات عاريات» إلخ رواه مسلم.\r)قوله: وضرب المسلم( قال الزركشي خص المسلم لكونه أفحش أنواعه، وإلا فالذمي كذلك اهـ. قال العراقي إن أراد في التحريم فمسلم أو في كونه كبيرة فممنوع اهـ. زكريا قال سم وعندي أن الأوجه كونه كبيرة كما هو صريح كلام الزركشي وشمل الضرب اليسير وذكر الأوزاعي أن الضربة والخدشة إذا عظم ألمها أو كان أحدهما بوالد أو ولي ينبغي أن يلحق بالكبائر. اهـ\rحاشية العطار على شرح الجلال المحلي على جمع الجوامع) 2/ 186(\rPandangan Fiqh terhadap Kekerasan Fisik yang Dilakukan Guru\rPara ulama menyatakan bahwa hukuman fisik yang dilakukan guru terhadap siswa boleh dilakukan dengan tujuan tarbiyah (mendidik), menumbuhkan disiplin, dan i?l?? (memperbaiki akhlak) siswa, selama memenuhi syarat-syarat dan ketentuan tertentu yang harus terpenuhi pada pihak guru, siswa, serta alat yang digunakan.","part":1,"page":28},{"id":29,"text":"Para ulama mendasarkan hal itu pada hadis-hadis Rasulullah SAW yang membolehkan memberikan hukuman fisik pada anak untuk tujuan pendidikan apabila memang diperlukan, di antaranya adalah:\rعلقو ا السوط حيث يراه أهل الِيت فإنه أدب لهم. )رواه الطبراني(\rGantungkanlah cambuk di tempat yang dapat dilihat oleh anggota keluarga, karena hal itu menjadi sarana pendidikan bagi mereka. (HR. a?-?abr?niy)\rمروا أولادكم بالصلاة وهم أبناء سبع سنيْ واضربوهم عليها وهم أبناء عشر .)رواه أبو داود(\rPerintahkanlah anak-anak kalian untuk melaksanakan salat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka (jika meninggalkan salat) ketika berusia sepuluh tahun. (HR. Abu\rD?wud)\rRasulullah SAW sendiri pernah menerapkan punishment fisik dalam proses pendidikan dengan menjewer telinga. Hal itu beliau lakukan kepada beberapa sahabat seperti Abdullah bin Busr dan Ibnu ‘Abb?s, sebagaimana diungkap Imam an-Nawawi dalam alAdzk?r:\rروينا في كتاب ابن السني عن عبد الله بن بسر المازني الصحابي رضي الله عنه\r- وهو بضم الِاء الموحدة وإسكان السيْ المهملة - قال: \" بعثتني أمي إلى رسول الله )صلى الله عليه وسلم( بقطف من عنب، فأكلت منه قبل أن أبلغه إياه، فلما جئت به أخذ بأذني وقال: يا غدر.\rAbdullah bin Busr al-M?zini RA berkata: Ibuku mengutusku kepada Rasulullah untuk membawa setangkai anggur, tapi aku makan sebelum sampai kepada beliau. Ketika aku datang, beliau menjewer telingaku dan berkata: Hai pelanggar amanah.\rDalam ?a??? al-Bukh?ri dicantumkan sebuah hadis di mana Rasulullah SAW menjewer telinga Ibnu ‘Abb?s sebagai berikut","part":1,"page":29},{"id":30,"text":":حدثنا عبد الله بن مسلمة، عن مالك بن أنس، عن مَرمة بن سليمان، عن كريب، أن ابن عباس أخبره: أنه بات عند ميمونة وهي خالته فاضطجعت في عرض وسادة «واضطجع رسول الله صلى الله عليه وسلم وأهله في طولها، فنام حتى انتصف الليل - أو قريبا منه - فاستيقظ يمسح النوم عن وجهه، ثم قرأ عشر آيات من آل عمران، ثم قام رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى شن معلقة، فتوضأ، فأحسن الوضوء، ثم قام يصل»، فصنعت مثله، فقمت إلى جنبه ،«فوضع يده الْمنى على رأسي وأخذ بأذني يفتلها، ثم صلى ركعتيْ، ثم ركعتيْ ثم ركعتيْ، ثم ركعتيْ، ثم ركعتيْ، ثم ركعتيْ، ثم أوتر، ثم اضطجع حتى جاءه المؤذن، فقام، فصلى ركعتيْ، ثم خرج، فصلى الصبح.\rIbn ‘Abb?s berkata: Rasulullah SAW meletakkan tangan kanannya di atas kepalaku, lalu memegang telingaku dan memelintirnya (menjewernya).\rMengenai jewer telinga ini, Imam Ibnu Hajar al-‘Asqal?iy dalam Fat? al-B?r? menjelaskan di antara faidahnya adalah bisa mencerdaskan siswa dalam memahami ilmu, sebagai berikut\r: وقد قيل إن المتعلم إذا تعوهد بفتل أذنه كان أذكى لفهمه. اهـ فتح الباري لابن حجر العسقلاني) 2 / 485 (\rMeskipun demikian, dalam pandangan fiqh, hukuman fisik yang dilakukan guru terhadap siswa boleh dilakukan sebagai sarana pendidikan dalam kondisi darurat dan terkendali, bukan sebagai bentuk kekerasan atau pelampiasan emosi. Artinya, hukuman fisik bukan sebagai langkah pertama, melainkan jalan terakhir (أخر الدواء) setelah semua bentuk pendidikan dengan caracara lembut—seperti nasihat, teguran, dan peringatan—gagal memperbaiki perilaku siswa. Ibn Hajar al-Haitami mengatakan","part":1,"page":30},{"id":31,"text":": إذا جاز للمعلم التعزير فالضرب الجائز، ويلزمه أن يكون على حسب ما يراه كافيا بالنسبة لجريمة الولد، فلا يجوز له أن يرقى إلى مرتبة وهو يرى أن ما دونها كافيا كدفع الصائل. اهـ\rتحرير المقال في آداب وأحكام وفوائد يحتاج إليها مؤدبوا 71 الأطفال للشيخ ابن حجر الهيتمي صـ\rSyarat-syarat dan ketentuan yang harus terpenuhi pada pihak guru, siswa, serta alat yang digunakan dalam menerapkan hukuman fisik untuk tujuan tarbiyah (mendidik) dan i?l?? (memperbaiki akhlak) siswa adalah sebagai berikut:\r.1 Hukuman harus secara bertahap dimulai dari yang paling ringan dan harus proporsional dengan menyesuaikan bentuk serta kadar pelanggaran siswa.\r.2 Hukuman harus tidak membahayakan (salamat al-‘aqibah) baik pada nyawa ataupun fungsi anggota tubuh.\r.3 Perkara yang dilanggar siswa berkaitan dengan perintah dan larangan agama, etika atau hal-hal yang berkaitan dengan proses belajar.\r.4 Apabila hukuman berupa tindakan fisik, seperti memukul dan sejenisnya, maka disyaratkan:\rSudah mendapatkan izin dari wali siswa.\rUsia siswa tersebut minimal genap berusia 10 tahun menurut pendapat mu’tamad. Menurut sebagian ulama, minimal sudah tamyiz. Adapun siswa yang sudah baligh, …menurut …Syaikh …Zainuddin …Al-‘Iraqiy diperbolehkan.\rJumlah hukuman fisik, apabila dalam bentuk pukulan dan sejenisnya, disesuaikan dengan kebutuhan, tetapi menurut sebagian ulama, maksimal 3 kali.\rHukuman fisik tidak di bagian wajah atau bagian tubuh yang berisiko bahaya.\rHukuman fisik tidak sampai menimbulkan rasa sakit (mubarri?) yang pada umumnya tidak bisa ditahan, seperti memar, luka berdarah atau patah tulang.","part":1,"page":31},{"id":32,"text":"Menggunakan cara dan atau alat ringan yang tidak berbahaya.\rDapat memberikan efek jera.\rSyarat-syarat dan ketentuan di atas berdasarkan penjelasan para ulama dalam al-kutub al-mu’tabarah sebagai berikut:\rوقوله: الرابع أن لا يَصل المقصود بالتهديد، والتخويف إلخ عبارة العباب كالروض في هذا ولا يجاوز رتبة ودونها كاف قال في الروض بل يعزر بالأخف فالأخف قال في شرحه كما في دفع الصائل اهـ سم. اهـ حاشية الجمل على شرح المنهج) 5 / 164 (\r)ولو عزر ولي( ولده )ووال( من رفع إلْه )وزوج( زوجته فيما يتعلق به من نشوز وغيره، )ومعلم( صبيه ويسمَّ في غير الوالِ تأديبا أيضا )فمضمون( تعزيرهم\rعلى العاقلة إذا حصل به هلاك لأنه مشروط بسلامة العاقبة قوله: )ولو عزر ولي ولده( أي مولْه قوله: )وزوج زوجته( أي الحرة وكذا الأمة بلا إذن سيدها قوله: )ومعلم صبية( الأولى متعلما منه ولو غير صب وسواء أذن له الولي أو لا إذ له التأديب، ولو بالضرب بغير إذن الولي على المعتمد . اهـ حاشيتا قليوبي وعميرة - )ج 15 / ص 813 (\rوعزر أب وإن علا وألحق به الرافعي الأم وإن علت. ومأذونه أي من أذن له فيالتعزير كالمعلم صغيرا وسفيها بارتكابهما ما لا يليق زجرا لهما عن سيءالأخلاق. وللمعلم تعزير المتعلم منه .\r)قوله: وعزر أب( أي بضرب وغيره وهذا و ما بعده كالاستثناء من قوله ويعزر أي الإمام أو نائبه لمعصية الخ. وصرح في المغني بالاستثناء المذكور وعبارته:\rوقضية كلامه أنه لا يستوفيه: أي التعزير إلا الامام، واستثنى منه مسائل:","part":1,"page":32},{"id":33,"text":"الاولى: للاب والام ضرب الصغير والمجنون زج را لهما عن سئ الاخلاق، وإصلاحا لهما. قال شيخنا: ومثلهما السفيه. وعبارة الدميري: وليس للاب تعزير الِالغ وإن كان سفيها على الاصح، وتبعه ابن شهبة، الثانية: للمعلم أن يؤدب من يتعلم منه، لكن بإذن الولي، الثالثة: للزوج ضرب زوجته لنشوزها ،ولما يتعلق به من حقوقه عليها، وليس له ذلك لحق الله تعالى لانه لا يتعلق به، الرابعة: للسيد ضرب رقيقه لحقه اه. بحذف )قوله: وألحق به الخ( أي وألحق الرافعي الام بالاب في تعزيرها الصغير. قال ع ش: ظاهره وإن لم تكن وصية ،وكَن الاب والجد موجودين، ولعل وجهه أن هذا لكونه ليس تصرفا في المال، بل لمصلحة تعود على المحجور عليه، سومح فيه ما لم يسامح في غيره. اه. )قوله: وإن علت( أي الام فلها أن تعزر )قوله: ومأذونه( معطوف على أب: أي وعزر مأذون الاب أيضا )قوله: كالمعلم( أي فإذا أذن له الاب بالتعزير فله ذلك ولو كان بالغا، وإذا لم يأذن له فيه، فليس له ذلك - كما في التحفة والنهاية - وقال في شرح الروض: قال الأذرعي وسكت الخوارزمي وغيره عن هذا التقييد، والاجماع الفعل مطرد من غير إذن. اه. وشمل المعلم: الشيخ مع الطلبة، فله تأديب من حصل منه ما يقتضي تأديبه فيما يتعلق بالتعلم. قال الِجيرمي: وليس منه ما جر ت به العادة من أن المتعلم إذا توجه عليه حق لغيره يأتيصاحب الحق للشيخ، ويطلب منه أن يخلصه من المتعلم منه، فإذا طلبه الشيخمنه ولم يوفه فليس له ضربه ولا تأديبه على الإمتناع من توفية الحق، فلو عزره الشيخ بالضرب وغيره حرم عليه ذلك لأنه لا ولاية له عليهم اهـ . اهـ إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين) 4/ 190(","part":1,"page":33},{"id":34,"text":")ويضرب( ضربا غير مبرح وجوبا ممن ذكر )عليها( أي على تركها ولو قضاء، أو ترك شرط من شروطها، أو شيء من الشرائع الظاهرة ولو لم يفد إلا المبرح تركهما وفاقا لابن عبد السلام وخلافا لقول الِلقيني يفعل غير المبرح كالحد، والفرق ظاهر وسيذكر الصوم في بابه )لعشر( أي عقب تمامها لا قبله على المعتمد للحديث الصحيح «مروا الصب بالصلاة إذا بلغ سبع سنيْ وإذا بلغ عشر سنيْ فاضربوه عليها» وفي رواية «مروا أولادكم»\rوحكمة ذلك التمرين عليها لْعتادها إذا بلغ وأخر الضرب للعشر؛ لأنه عقوبة ،والعشر زمن احتمال الِلوغ بالاحتلام مع كونه حينئذ يقوى ويَتمله غالِا )قوله: أي عقب تمامها( هذا ظاهر كلامهم لكن قال الصيمري أنه يضرب في أثنائها وصححه الإسنوي وجزم به ابن المقري وينبغي اعتماده؛ لأن ذلك مظنة الِلوغ مغني ونهاية واعتمده ع ش والِجيرمي وشيخنا، ثم قالوا المراد بالأثناء ما بعد التاسعة فيصدق بأول العاشرة اهـ تحفة المحتاج في شرح المنهاج وحواشي الشرواني والعبادي) 1/ 145 (\rقوله: )أو بشئ من الشرائع الخ( هذا مصرح بوجوب الضرب على ترك نحو السواكمن السنن المتأكدة لكن في شرح الروض عن المهمات المراد بالشرائع ما كانفي معنى الطهارة والصلاة كالصوم ونحوه لانه المضروب على تركه وذكر نحوهالزركشي اه ثم رأيت الشارح في شرح العباب ذكر أن ظاهر كلام القموليالضرب على السنن المذكورة أيضا وأنه ليس ببعيد ونظر في كلام المهمات ونازع م ر في الضرب على السنن بأن الِالغ لا يعاقب على السنن فالصب أولى اه بحذف واعتمد النزاع الرشيدي حيث قال ولا يضرب على السواك ونحوه من السنن كما نقله سم عن الشارح م ر اهـ واعتمد شيخنا والِجيرمي ما في شرح العبا ب. اهـ حواشي الشرواني والعبادي - )2/ 62 - 63 (","part":1,"page":34},{"id":35,"text":"عن عبد الرحمن بن القاسم عن أبيه «عن عائشة أنها قالت: خرجنا مع رسول الله - صلى الله عليه وسلم - في بعض أسفاره حتى إذا كنا بالِيداء أو بذات الجيش انقطع عقد لِ فأقام رسول الله - صلى الله عليه وسلم - على التماسه وأقام الناس معه وليسوا على ماء وليس معهم ماء فأتى الناس أبا بكر فقالوا ألا ترى ما صنعت عائشة؟ أقامت برسول الله - صلى الله عليه وسلم - وبالناس وليسوا على ماء وليس معهم ماء فجاء أبو بكر ورسول الله - صلى الله عليه وسلم - واضع رأسه على فخذي قد نام فقال: حبست رسول الله - صلى الله عليه وسلم -، والناس ليسوا على ماء وليس معهم ماء قالت: فعاتبني أبو بكر وقال ما شاء الله أن يقول وجعل يطعن بيده في خاصرتي فلا يمنعني من التحرك إلا مكان رأس رسول الله - صلى الله عليه وسلم - على فخذي فنام رسول الله - صلى الله عليه وسلم - حتى أصبح على غير ماء فأنزل الله تعالى آية التيمم فتيمموا قال أسيد بن الحضير، وهو أحد النقباء: ما هي بأول بركتكم يا آل أبي بكر قالت عائشة: فبعثنا الِعير الذي كنت عليه فوجدنا العقد تحته. »\rفيه فوائد -الى ان قال- )السادسة عشر( فيه تأديب الرجل ولده بالقول ،والفعل، والضرب وإن كان بالغا أو امرأة كبيرة متزوجة، وهو كذلك. اهـ طرح التثريب في شرح التقريب لأبي الفضل زين الدين عبد الرحيم بن العرا ق )2/ 92(","part":1,"page":35},{"id":36,"text":"فإن قلتَ: قد جوّزتم للمعلم الضرب من غير تقرير، وإن زاد على الثلاثة بل العشرة، وقد مرّ وجه ردّ القائل بالعشرة، فما وجه ردّ القائل بأنه لا يجوز للمعلم الزيادة في ضرب الولد على الثلاث؟ قلتُ: امتناع الزيادة على الثلاث قال به شريح القاضي أخذًا مما في حديث الِخاري عن عائشة ـ رضي الله تعالى عنها ـ أن جبريل ـ عليه السلام ـ لما جاء النب ? بغار حراء، فقال له: اقرأ، قال: ما أنا بقارئ، فأخذه وعظه حتى بلغ منه الجهد، ثم أرسله وقال له: اقرأ، ما أنا بقارئ، فأخذه وعظه الثالثة حتى بلغ منه الجهد، ثم أرْسله فقالَ: ?اقْرَأْ باِسْ مِ رَبكَِّ الَّذِي خَلَقَ ? خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ ? اقْرَأ وَرَبُّكَ الْأكْرَمُ?. فرجع لها رسول الله ?. اهـ تحرير المقال في آداب وأحكام وفوائد يحتاج إليها مؤدبوا الأطفال للشيخ ابن حجر الهيتمي صـ 67\r)قوله: بنحو حبس وضرب( ولا يجوز بأخذ المال قال في الخادم واعلم أنه إنما يجوز الضرب بشروط أحدها أن لا يكون بشيء يجرح الثاني أن لا يكسر العظم الثالث أن ينفع الضرب ويفيد وإلا لم يجز الرابع أن لا يَصل المقصود بالتهديد، والتخويف الخامس أن لا يكون في الوجه السادس أن لا يكون في مقتل السابع أن يكون لمصلحة الصب فإن أدبه الولي لمصلحته أو المعلملمصلحته دون مصلحة الصغير لم يجز لأنه يَرم استعماله في مصالحه التيتفوت بها مصالح الصب الثامن أن يكون بعد التمييز اهـ. اهـ حاشية الجمل على شرح المنهج) 5/ 164 (","part":1,"page":36},{"id":37,"text":"قوله: )أي يجب على كل الخ( قال في شرح العباب وإنما خوطبت به الام مع وجود الاب وإن لم يكن لها ولاية لانه من الامر بالمعروف ولذا وجب ذلك على الاجانب أيضا على ما ذكره الزركشي وعليه فإنما خصوا الابوين ومن يأتي بذلك لانهم أخص من بقية الاجانب اه وهل يجري ذلك في الضرب أيضا فيه نظر ويستبعد جريانه. تنبيه: إذا كان هذا من قبيل الامر بالمعروف فقد يشكل الترتيب الآتي إلا أن يكون باعتبار الآكد وقال م ر أن ما ذكر لم يتمحض للامر بالمعروف بل يراعي معنى الولاية الخاصة الشاملة لنحو الوديع والمستعير انتهى اه سم. اهـ حواشي الشرواني والعبادي - ج 1 ص 944\rويشترط أيضًا في جواز التعزير للمعلم، أن يظنهّ زاجرًا له من غير ضربٍ مبرّح، أمّا إذا ظنّ أنهّ لا يفيد فيه إلا المبرّح، ويظهر من كلامهم ضبطه بأنّ الشديد الإيذاء بحيث لا يَتمل عادة — والعقوبة إنما جازت لنحو الصب على خلاف الأصل لظنّ إفادتها، زجرًا وإصلاحًا .فإذا ظنّ انتفاء فائدتها فلا مقتضى لجوازها. ثمّ رأيتُ الأذرعي قال: وفسّروا المبرّح الذي يخُشى منه تلف نفسٍ أو عضوٍ، والمرمى بالذي يخرج الدم لموالاته في موضوع واحد أو لغير ذلك . انتهى وفيه نظر والأوجه تفسيره بما ذكرته .","part":1,"page":37},{"id":38,"text":"ويلزم الفقيه أن يتّقي في ضربه الوجه والمقاتل لخبر مسلم: أنهّ ? قال:) إذا ضرب أحدكم فليتق الوجه( ولأنّ القصد ردعه لا قتله. ثم كيفية ضربه أن يكون مفرّقاً لا مجموعاً في محلٍّ واحد، وأن يكون في غير وجه، وفي غير مقتل، لا كالفرج، وتحت الأذن، وعند ثغرة النحر، وأن يكون بيْ الضربتيْ زمنٌ يخُفّ فيه ألم الأولى، وأن يرفع الضارب ذراعه لْثقل الوسط لا عضده حتى يرى يرى بياض إبطه، فلا يرفعه لذلك لئلا يعُظِّم ألمه، ولا يضعه عليه وضعًا لا يتُألم به، ويجب في نحو السوط أن يكون معتدل الحجم، فيكون بيْ القضيب والعصا، وأن يكون معتدل الرطوبة، فلا يكون رطباً فيشقّ الجلد لثقله، ولا شديد الْبوسة فلا يؤلم لخفّته. اهـ تحرير المقال في آداب وأحكام وفوائد يَتاج إلْها مؤدبوا الأطفال للشيخ ابن حجر الهيتمي صـ 72-73\rذكر ابن عرفة عن القابسي أن على المعلم زجر الولد في تكاسله بالوعيد والتقريع لا بالشتم نحو يا قرد، فإن لم يفد فالضرب بالسوط من واحد إلى ثلاثة ضرب إيلام دون تأثير في العضو، فإن لم يفد زاد إلى العشرة فإن لم يفد فلا بأس بالزيادة عليها. اهـ حاشية الصاوي على الشرح الصغير) 4/ 35 (\r)فرع( للأب وإن علا تعزير مولْه بارتكابه ما لا يليق قال الرافعي ويشبه أن تكون الأم مع صب تكفله كذلك وللسيد تعزير رقيقه لحقه وحق الله ،وللزوج تعزير زوجته لحقه كنشوز، وللمعلم تعزير المتعلم منه","part":1,"page":38},{"id":39,"text":")قوله: ما لا يليق( ظاهره ولو غير معصية ح ل )قوله: لحقه( لا لحقه تعالى إن لم يبطل أو ينقص شيئا من حقوقه كما لا يخفى شرح م ر فقوله: إن لم يبطل أي حق الله وقوله: من حقوقه أي الزوج كأن شربت الزوجة خمرا فحصل نفور منه بسبب ذلك أو نقص تمتعه بها بسبب رائحة الخمر فله ضربها على ذلك إن أفاد وإلا فلا. ولا يجوز ضربها على ترك الصلاة على المعتمد م ر سم )قوله:وللمعلم إلخ( هل المراد لحقه كالذي قبله؟ وظاهره وإن لم يأذن الولي وفي شرحشيخنا أنه لا بد من إذنه ح ل ومثله ز ي ومن ذلك الشيخ مع الطلبة فله تأديب من حصل منه ما يقتضي تأديبه فيما يتعلق بالتعلم وليس منه ما جرت به العادة من أن المتعلم إذا توجه عليه حق لغيره يأتي صاحب الحق للشيخ ويطلب منه أن يخلصه من المتعلم منه فإذا طلبه الشيخ منه ولم يوفه فليس له ضربه ولا تأديبه على الامتناع من توفية الحق ع ش على م ر )قوله: والمتعلم منه( شامل للبالغ وفيه أنه لا يزيد على الأب، والأب لا يؤدب الِالغ غير السفيه سم على حج وقد يقال هو من حيث تعلمه واحتياجه للمعلم أشبه المحجور عليه بالسفه وهو لولْه تأديبه ع ش على م ر اهـ حاشية البجيرمي على شرح\rالمنهج )4/237 (\r.2 Kekerasan PsikisYang dimaksud dengan kekerasan psikis, adalah setiap perbuatan nonfisik yang dilakukan bertujuan untuk merendahkan, menghina, menakuti, atau membuat perasaan tidak nyaman, sebagaimana disebutkan dalam Pasal 8 Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia\rNomoKekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan.r 46 Tahun 2023 Tentang Pencegahan dan Penanganan\rBeberapa contoh kekerasan jenis ini di antaranya adalah: memarahi, mengintimidasi, memaki dengan kata-kata kasar atau kotor, menyindir atau mengejek, melecehkan atau menghina, dan sejenisnya.","part":1,"page":39},{"id":40,"text":"Akibat dari kekerasan psikis cenderung membuat seseorang mengalami trauma secara psikis dan psikologis, seperti: menjadi rendah diri, pasif atau apatis, jika itu menimpa siswa, maka ia enggan untuk terus belajar, apalagi pada mata pelajaran yang diajarkan oleh guru yang melakukan kekerasan, merasa ketakutan, mual atau muntah, sulit berkonsentrasi, terlihat murung dan lebih senang menyendiri, atau murid tidak memiliki ekspresi dan daya kreasi, bahkan mungkin yang lebih ekstrem anak melakukan bunuh diri. Akibat secara fisik memang tidak terlihat pada jenis kekerasan ini, tetapi dampaknya dapat menahun dan bahkan ‘membunuh’ potensi terbentuknya karakter baik pada diri siswa.\rKekerasan psikis ini bisa dilakukan oleh guru terhadap siswa atau sebaliknya, maupun antar siswa sendiri.\rPandangan Fiqh terhadap Kekerasan Psikis\rDalam pandangan fiqh, kekerasan psikis sebagaimana dimaksud termasuk bentuk sukhriyyah (mengejek), ta?q?r (merendahkan), dan as-sabb (memaki atau mengumpat); semua itu adalah perbuatan tercela yang dilarang secara tegas oleh syariat Islam, sebagaimana secara jelas disebutkan dalam Al-Qur’an:\r?ياَ أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَاَ يسَْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسََ أنَْ يكََُونوُا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نسَِاءٌَ مِنْ نسَِاءٍ عَسََ أنْ يكَُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تلَمِْزُوا أنفُْسَكُمْ وَُلَا تَناَبزَُوا باِلْألقَْابِ بئِسَْ الِاسْمُ الفُْسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَنْ لمَْ يَتبُْ فَأولئَكَِ هُمُ الظَّالمُِونَ? ]الحجرات: 11[.","part":1,"page":40},{"id":41,"text":"“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka (yang diejek) lebih baik daripada mereka (yang mengejek); dan jangan pula para wanita (mengolok-olok) wanita lain, boleh jadi mereka (yang diejek) lebih baik daripada mereka (yang mengejek). Dan janganlah kalian saling mencela, dan janganlah saling memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk-buruk nama adalah (panggilan) fasik setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. al-\r?ujur?t [49]: 11)\rYang dimaksud sukhriyah adalah meremehkan, menghina, dan menyoroti kekurangan atau cacat seseorang dengan tujuan membuat orang lain tertawa, baik melalui tindakan maupun ucapan. Perbuatan semacam ini hukumnya haram dan pelakunya berdosa besar, sebab termasuk ?dz?’ (menyakiti) perasaan dan merusak kondisi mental seseorang sebagaimana dijelaskan dalam Ihy?’ ‘Ul?m ad-D?n dan Tu?fat al-Mu?t?j:","part":1,"page":41},{"id":42,"text":")الآفة الحادية عشر(: السخرية والاستهزاء وهذا محرم مهما كان مؤذيا كما قال تعالى: يا أيها الذين آمنوا لا يسخر قوم من قوم عسَ أن يكونوا خيرا منهم ولا نساء من نساء عسَ أن يكن خيرا منهن, ومعنى السخرية الاستهانة والتحقير والتنبيه على العيوب والنقائص على وجه يضحك منه وقد يكون ذلك بالمحاكاة في الفعل والقول وقد يكون بالإشارة والإيماء وإذا كان بحضرة المستهزأ به لم يسم ذلك غيبة وفيه معنى الغيبة وهذا إنما يَرم في حق من يتأذى به فأما من جعل نفسه مسخرة وربما فرح من أن يسخر به كانت السخرية في حقه من جملة المزاح وقد سبق ما يذم منه وما يمدح وإنما المحرم استصغار يتأذى به المستهزأ به لما فيه من التحقير والتهاون وذلك تارة بأن يضحك على كلامه إذا تَبط فيه ولم ينتظم أو على أفعاله إذا كنت مشوشة كالضحك على خطه وعلى صنعته أو على صورته وخلقته إذا كان قصيرا أو ناقصا لعيب من العيوب فالضحك من جميع ذلك داخل في السخرية المنهى عنها.\r)قوله على وجه يضحك منه( على الملا )قوله وقد يكون ذلك بالمحاكاة في الفعل والقول الخ( وهو بِميع انواعه حرام لانه ايذاء )قوله لم يسم ذلك غيبة( لانها كما سياتي ذكر العيب على الغيب. اهـ اتحاف السادة المتقين مع إحياء علوم الدين جـ 9 صـ 233\r)وإكثار حكايات مضحكة( للحاضرين أو فعل خيالات كذلك بأن يصير ذلك عادة له بل جاء في الخبر الصحيح «من تكلم بالكلمة يضحك بها جلساءه يهوي بها في النار سبعيْ خريفا» ما يفيد أنه حرام بل كبيرة لكن يتعيْ حمله على كلمة في الغير بباطل يضحك بها أعداءه؛ لأن في ذلك من الإيذاء ما يعادل ما في كبائر كثيرة منه. اهـ تحفة المحتاج في شرح المنهاج وحواشي الشرواني والعبادي) 10/ 225 (","part":1,"page":42},{"id":43,"text":"Adapun yang dimaksud dengan as-sabb adalah mencaci orang lain dan menyerang kehormatannya. Perbuatan semacam ini hukumnya haram dan pelakunya berdosa besar, karena dilarang secara tegas oleh Rasulullah SAW di samping kehormatan orang lain harus dijaga. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam al-kutub al-mu’tabarah berikut:\rومنها الشتم لمسلم من المسلميْ اي الاستطالة في عرضه اذ الشتم معناه السب في الوجه وتمزيق العرض. اهـ اسعاد الرافق الجزء الثاني صحـ 83\rوأما معنى الحديث: فسب المسلم بغير حق حرام بإجماع الأمة وفاعله فاسق. اهـ شرح صحيح مسلم للنووي) 2/ 54 (\rسباب المسلم فسوق؛ لأن عرضه حرام كتحريم دمه وماله، والفسوق في لسان العرب: الخروج من الطاعة، فينبغي للمؤمن أن لا يكون سباَّباً ولا لعَّاناً للمؤمنيْ، ويقتدي في ذلك بالنب عليه السلام؛ لأنَّ السب سبب الفرقة والِغضة. اهـ شرح صحيح البخاري) 9/ 124 (","part":1,"page":43},{"id":44,"text":")الكبيرة التاسعة والثمانون والتسعون والحادية والتسعون بعد المائتيْ: سب المسلم والاستطالة في عرضه وتسبب الإنسان في لعن أو شتم والديه وإن لم يسبهما ولعنه مسلما( تنبيه: عد هذه الثلاثة هو صريح هذه الأحاديث الصحيحة للحكم فيه على سباب المسلم بأنه فسق. وأنه يؤدي إلى الهلكة وأن فاعله شيطان وغير ذلك وعلى لعن الوالدين بأنه من أكبر الكبائر ولذا أفردتهبالذكر وإن دخل في سباب المسلم أو لعنه، وعلى أن لعن المؤمن كقتله وعلى أن من لعن أخاه أتى بابا من الكبائر، وعلى أن اللعنة ترجع إلى قائلها بغير حق وعلى أن اللعان لا يكون شفيعا ولا شهيدا ولا صديقا وهذا كله غاية في الوعيد الشديد فظهر به ما ذكرته من عد هذه الثلاثة كذلك وبه في الأول صرح جماعة من أئمتنا لكن المعتمد عند أكثرهم خلافه وحملوا حديث: }سباب المسلم فسوق{ على ما إذا تكرر منه بحيث يغلب طاعته، وأما الثلاثة فهي ظاهر قول شرح مسلم: }لعن المسلم كقتله{: أي في الإثم. اهـ الزواجر عن اقتراف الكبائر )2/ 92 (\rBeda Gojlokan dan Kekerasan Psikis\rIstilah “gojlokan” sudah sangat akrab terjadi lingkungan pendidikan, khususnya di kalangan para santri. Gojlokan atau lelucon berupa ejekan ringan ini merupakan bentuk candaan yang dilontarkan seseorang kepada orang lain dengan tujuan bercanda atau bersenda gurau. Biasanya, hal itu dilakukan sekadar untuk hiburan, tanpa ada niat merendahkan atau menjatuhkan martabat orang lain.","part":1,"page":44},{"id":45,"text":"Gojlokan dan bullying (atau kekerasan verbal) tampak serupa dalam bentuk, namun berbeda dalam suasana batin dan tujuan pelakunya. Jika gojlokan dilakukan sebagai candaan ringan untuk menghibur dan menimbulkan tawa di antara teman, maka bullying justru merupakan tindakan intimidatif yang dapat melukai perasaan dan merusak kondisi mental seseorang. Keduanya jelas tidak dapat disamakan, sebab gojlokan sering menjadi bentuk ungkapan keakraban, rasa sayang, dan persahabatan antar teman.\rDalam pandangan fiqh, gojlokan yang dilakukan tidak sampai melukai perasaan pihak yang digojlok, hukumnya masih diperbolehkan dan termasuk kategori miz??, bahkan dianjurkan apabila diyakini dengan adanya praktik gojlokan justru dapat mempererat hubungan pertemanan antarindividu dan proses pelatihan kedewasaan emosional. Penjelasan ini dapat dipahami\rmelalui literatur tur?ts berikut:\rوهذا إنما يَرم في حق من يتأذى به فأما من جعل نفسه مسخرة وربما فرح من أن يسخر به كانت السخرية في حقه من جملة المزاح وقد سبق ما يذم منه وما يمدح وإنما المحرم استصغار يتأذى به المستهزأ به لما فيه من التحقير والتهاون. اهـ إحياء علوم الدين الجزء الثالث صـ 131","part":1,"page":45},{"id":46,"text":")و( منها )إيذاء الجار( جاره )ولو( كان )كافرا( لكن إذا كان )له أمان إيذاء ظاهرا( كأن يشرف على حرمه أو يبنى ما يؤذيه مما لا يسوغ شرعا لقوله عليه الصلاة والسلام \"من كان يؤمن بالله والْوم الآخر فلا يؤذ جاره \"-إلى أن قال- )تنبيه( المراد بالأذى الظاهر ما يعد فى العرف إيذاء ففى الزواجر أن إيذاء المسلم مطلقا كبيرة ووجه التخصيص بالجار أن إيذاء غيره لا يكون كبيرة إلا إن كان له وقع بحيث لا يَتمل عادة بخلاف الجار فإنه لا يشترط كونه كبيرة الا أن يصدق عليه عرفا أنه إيذاء ووجهه ظاهر لما فى الأحاديث الصحيحة من تأكيد حرمته ورعاية حقه. اهـ إسعاد الرفيق جـ 2 صـ 119\rوروينا فى كتاب الترمذى عن ابن عباس )عن النبى قال ولا تمار أخاك ولا تمازحه ولا تعده موعدا فتخلفه قال العلماء المزاح المنهى عنه هو الذى فيه إفراط ويداوم عليه فإنه يورث الضحك وقسوة القلب ويشغل عن ذكر الله تعالى والفكر فى مهمات الدين ويؤول فى كثير من الأوقات إلى الإيذاء ويورث الأحقاد ويسقط المهابة والوقار فأما ما سلم من هذه الأمور فهو المباح الذى كان رسول الله )يفعله فإنه )إنما كان يفعله فى نادر من الأحوال المصلحةوتطييب نفس المخاطب ومؤانسته وهذا لا منع منه قطعا بل هو سنة مستحبة إذا كان بهذه الصفة فاعتمد ما نقلناه عن العلماء وحققناه فى هذه الأحاديث وبيان أحكامها فإنه مما يعظم الاحتياج إلْه وبالله التوفيق. اهـ الأذكار النووية صـ 927","part":1,"page":46},{"id":47,"text":")والخامس( الكلام فيما لا ينبغي مثل حكاية أسفارك وما رأيت فيها من جبال وأنهار وأطعمة وثياب ومنه السؤال عما لا يهم وهذا إذا خلا عن الكذب والغيبة والرياء ونحوها من المحرمات لا يَرم بل قد يستحب إذا قارنه نية صالحة مثل دفع التهمة بالكبر والعجب بعدم التكلم واحتقار من في المجلس أو دفع المهابة والحياء حتى يتكلم صاحبه تمام مراده من الاستفتاء وغيره أو دفع الحزن عن المحزون والمصاب أو تسلية وحسن المعاشرة معهن أو التلطف بالصبيان أو لعدم إدراك ألم السفر أو أو نحو ذلك وكذا يستحب المزاح في هذه المواضع نعم بهذه النيات يخرج عن حد ما لا يعني فكل ما لا يعني يستحب تركه. اهـ الطريقة المحمدية والسيرة الأحمدية صـ 163 - 164 Cyber Bullying\rCyber bullying adalah kekerasan psikis yang direncanakan dan dilancarkan dengan sengaja melalui media-media sosial atau aplikasi, ataupun sarana-sarana teknologi modern lainnya yang bertujuan untuk merugikan ataupun menjatuhkan pihak lain. Sama halnya dengan perundungan yang lain, bullying lewat dunia maya atau internet juga ditujukan untuk pihak-pihak yang lemah dimana pelaku berkeinginan untuk menunjukkan dominasinya. Kegiatan menyebarkan gambar, video, ataupun percakapan yang bersifat pribadi tanpa seijin yang memilikinya bisa dikategoikan pada perundungan cyber bullying. Parahnya lagi, jejak cyber bullying lebih cepat tersebar dan sulit dihilangkan karena keberadaannya yang bukan pada dunia nyata.","part":1,"page":47},{"id":48,"text":"Aksi cyber bullying tersebut tidak dapat dibenarkan dalam ajaran Islam. Bahkan keharamannya bisa melebihi kekerasan psikis secara langsung. Sebab, cyber bullying meninggalkan jejak digital yang ‘abadi’ atau sulit dihilangkan. Di sisi lain, bisa dimungkinkan terjadinya unsur-unsur keharaman yang lainnya, seperti ifsy?’ assirr, gh?bah, nam?mah dan lain sebagainya.\rو( منها )كتابة ما يَرم النطق به( قال فى الِداية لأن القلم أحد اللسانيْ( فاحفظه عما يجب حفظ اللسان منه أى من غيبة وغيرها فلا يكتب به ما يَرم النطق به من جميع ما مر وغيره وفى الخطبة وكَللسان فى ذلك كله أى ما ذكر من آفات اللسان القلم إذ هو أحد اللسانيْ بلا ج رم أى شك بل ضرره أعظم وأدوم فليصن الإنسان قلمه عن كتابة الحيل والمخادعات ومنكرات حادثات المعاملات. اهـ إسعاد الرفيق الجزء الثانى صـ105\rPandangan Fiqh terhadap Kekerasan Psikis yang Dilakukan Guru\rPada dasarnya, pendidikan harus dilakukan dengan kelembutan. Inilah yang menjadi pedoman Nabi Muhammad SAW dalam mendidik para sahabatnya. Dalam sebuah Hadis disebutkan\r:عن معاوية بن الحكم السلمي -رضي الله عنه - قال :بينا أنا أصل مع رسول الله -صلى الله عليه وسلم- إذ عطس رجل من القوم، فقلت يرحمك الله ،فرماني القوم بأبصارهم، فقلت واثكل أمياه، ما شأنكم تنظرون إلِ؟ فجعلوا يضربون بأيديهم على أفخاذهم، فلما رأيتهم يصمتونني، لكني سكت، فلما صلى رسول الله -صلى الله عليه وسلم- فبأبي هو وأمي: ما رأيت معلما قبله، ولا بعده أحسن تعليما منه، فوالله ما كهرني، ولا ضربني، ولا شتمني، قال: إن هذه الصلاة لا يصلح فيها شيء من كلام الناس، إنما هو التسبيح، والتكبير، وقراءةالقرآن )رواه مسلم (","part":1,"page":48},{"id":49,"text":"Dari Mu’awiyah bin al-?akam as-Silmiy, ia berkata: ketika aku sedang salat bersama Rasulullah SAW, tiba-tiba ada seorang lelaki di antara jamaah yang bersin, maka aku berkata, ‘Yar?amukall?h (semoga Allah merahmatimu)’. Maka para jamaah memandangku dengan tajam. Aku pun berkata, ‘Celaka ibuku! Ada apa dengan kalian, mengapa kalian memandangku begitu?’ Mereka pun menepuk paha mereka (sebagai isyarat agar aku diam). Ketika aku melihat mereka menyuruhku diam, aku pun terdiam. Setelah Rasulullah SAW selesai salat, demi ayah dan ibuku, aku belum pernah melihat seorang guru sebelum dan sesudah beliau yang lebih lembut dalam mengajar daripada beliau. Demi Allah, beliau tidak membentakku, tidak memukulku, dan tidak mencaciku. Beliau hanya berkata: “Sesungguhnya salat ini tidak pantas di dalamnya terdapat ucapan manusia, karena ia hanyalah untuk tasbih, takbir, dan membaca Al-Quran.” (HR. Muslim)\rGuru dalam mendidik tidak boleh melakukan kekerasan verbal dalam bentuk sukhriyyah (mengejek), ta?q?r (merendahkan), dan as-sabb (memaki atau mengumpat) terhadap siswanya. Apabila kesalahan atau pelanggaran siswa cukup sering dilakukan, dan nasihat serta teguran dengan kata-kata lembut tidak lagi bermanfaat, maka guru dapat menggunakan taub?kh/teguran keras dengan kalimat-kalimat yang keras, namun tetap menjaga adab dengan tujuan ta’d?b, tanpa mengandung cacian, mengeluarkan kata-kata kotor, atau penghinaan terhadap siswa. Imam Abu ?asan al-Q?bisi dalam ar-Ris?lah al-Mufa??ilah li A?w?l al-Muta’allim?n mengatakan\r:","part":1,"page":49},{"id":50,"text":"واذا استاهل الضرب فاعلم ان الضرب من واحدة الى ثلاث فليستعمل اجتهاده لئلا يزيد في رتبة فوق استئهالها، وهذا هو ادبه اذا فرط، فتثاقل عن الاقبال على المعلم، فتباطأ في حفظه، او اكثر الخطأ في حزبه، او في كتابة لوحه، من نقص حروفه، وسوء تهجيه، وقبح شكله، وغلطه في نقطه، فنبه مرة بعد مرة، فاكثر التغافل ولم يغن فيه العذل والتقريع بالكلام الذي فيه التواعد من غير شتم ولا سب لعرض كقول من لا يعرف لأطفال المؤمنيْ حقا فيقول: يا مسخ، يا قرد. فلا يفعل هذا ولا ما كان مثله في القبح، فان قلت له واحدة فلتستغفر الله منها ولتنته عن معاودتها. وانما تجري الالفاظ القبيحة من لسان التقي تمكّن الغضب من نفسه. وليس هذا مكان الغضب. وقد نهي الرسول عليه السلام ان يقضي القاضي وهو غضبان. وأمر عمر بن عبد العزيز رحمة الله عليه بضرب انسان، فلما اقيم للضرب قال: اتركوه. فقيل له في ذلك فقال: وجدت في نفسي عليه غضب فكرهت ان اضربه وأنا غضبان. اهـ الرّسالة المُفصِّلةُ لأحوالِ المتعلِّمين وأحكام المُعلِّمين والمُتعلِّمين للإمام القابسي صـ 161-160\rويجوز للآمر بالمعروف، والناهي عن المنكر، وكل مؤدب أن يقول لمن يخاطبه في ذلك الأمر: ويلك، أو يا ضعيف الحال، أو يا قليل النظر لنفسه، أو يا ظالم نفسه، وما أشبه ذلك بحيث لا يتجاوز إلى الكذب، ولا يكون فيه لفظ قذف، صريَا كان أو كناية، أو تعريضا، ولو كان صادقا في ذلك، وإنما يجوز ما قدمناه ،ويكون الغرض منه التأديب والزجر، ولْكون الكلام أوقع في النفس. ا هـ الأذكار للنووي ت الأرنؤوط )صـ 354 (\rB. Tinjauan Fiqh Tentang Perlindungan Korban Bullying\r…Perlindungan …terhadap …anak …korban …bullying …yang\rmengalami dampak, baik secara psikis, mental, maupun fisik, dapat diwujudkan melalui upaya-upaya agar korban dapat mengatasi dan terhindar dari bullying, seperti melakukan pembinaan dan","part":1,"page":50},{"id":51,"text":"rehabilitasi. Hal ini sesuai dengan prinsip keadilan Islam yang tidak hanya fokus pada penghukuman pelaku, tetapi juga pemulihan dan perlindungan korban. Upaya-upaya seperti konseling, terapi\rpsikologis, dan pembimbingan smengatasi trauma dan kembali berkembang secara sehat.piritual dapat membantu korban والثالث أن يَب لطالِه ما يَب لنفسه كما ورد في الحديث ويكره له ما يكره لنفسه ، ويعتني بمصالح الطالب ، ويعامله بما يعامل أعز أولاده من الحنو والشفقة عليه والإحسان إلْه والصبر على جفاه وعلى ما وقع منه من نقص لا يكاد يخلو الإنسان عنه وسوء أدب في بعض الأحيان، ويبسط عذره بحسب الإمكان ويوقفه مع ذلك على ما صدر منه بنصح وتلطف لا بتعنيف وتعسف ، ويقصد بذلك حسن تربيته وتحسيْ خلقه وإصلاح شأنه. اهـ آداب العالم والمتعلم لحضرة الشيخ هاشم أشعري صـ 84\rويأخُذ عليهم أنْ لا يؤُذِْيَ بعضُهم بعضا، فإنْ شَكا بعضُهم أذََى بعضٍَ، فقد سُئل سَحنون عن المعلّم يأخذُ الصّبيان بقولِ بعضهم على بعضٍ في الأذى قال: ما أرى هذا مِن ناحيةِ الحكُْمِ، وإنَّما على المُعلّم أن يؤُدَِّبهَم إذا آذى بعضُهم بعضا. وذلك عندي إذا اسْتفاضَ على الإِيذاءِ من الجمَاعةِ منهم، أو كان الاعِترافُ، إلّا أن يكونوا صبيانا قدَ عرَفهم بالصِّدقِ فيقَبلََ قولهَم، ويُعاقبَ على ذلك، ولا يجاوز في الأدب كما أعْلَمْتكَُ. اهـ الرّسالة المُفصِّلةُ لأحوالِ المتعلِّمين وأحكام المُعلِّمين والمُتعلِّمين للإمام القابسي صـ 166\rC. Tinjauan Fiqh Tentang Penanganan Pelaku Bullying\rBerdasarkan kajian fiqh, upaya penanganan terhadap pelaku bullying dapat dilakukan melalui cara-cara berikut:\r.1 Pelaku bullying dituntut untuk meminta maaf terhadap korban bullying.","part":1,"page":51},{"id":52,"text":".2 Pelaku bullying diberi hukuman (ta’z?r) yang tegas sesuai dengan perbuatannya agar dapat memberikan efek jera dan mencegah terjadinya kasus bullying di masa depan.\r.3 Apabila pelaku bullying melakukan tindakan pemerasan dan pengambilan harta-benda milik korban, maka pelaku dituntut mengembalikan atau mengganti rugi.\r.4 Apabila pelaku bullying melakukan tindakan kekerasan psikis sehingga mengakibatkan korbannya ketakutan, depresi atau tertekan secara psikologi, atau melakukan tindakan penganiayaan sehingga mengakibatkan luka-luka atau dapat menghilangkan nyawa korban, maka pelaku dituntut bertanggung jawab atas kerugian yang dialami korban, baik secara kekeluargaan atau pidana.\rوأما المظالم التي كانت في العرض ففيها تفصيل فإن أغتبته أي الإنسان أو بهتهّ بفتحتيْ مع تشديد التاء للمخاطب وبابه نفع أي قذفه واقتريت عليه الكذب أو شتمته فحكك أن تكذب نفسك بيْ يدي من فعلت ذلك أي ما ذكر من الغيبة أو الِهتان أو الشتم عنده أي عند من فعلت ذلك بأن تقول كذبت في قولي كذا وكذا في حق ذلك الإنسان وحقك أيضان أن تستحل أي تطلب الاستحلال من صاحبه أي المذكور من الغيبة وما بعده والصاحب هو الإنسان الذي أغتبته أو نسبته إلى الِهتان أو شتمته والاستحلال المذكور هو مع التفصيل وذلك بأن تعرفه قدر جنايتك وتعرضك له لأن الاستحلال المبهم لا يكفي كما قاله في الإحياء وربما لو عرف ذلك ذلك وكثرة تعديك عليه لم تطب نفسه بالاحلال وادخر ذلك في الفيامة دخيرة يأخذك من حسناتك أو يَملك من سيئاته هذا إن أمكنك الاستحلال","part":1,"page":52},{"id":53,"text":"والا بأن لم يمكنك ذلك لخوف فتنة أو موت أو غائب فقد فات أمر المستحق فلا سبيل لك الا بتكثير الحسنات لتؤخذ منك عواضا في القيامة عند المحاسبة أو يرضيه الله عنك كما أشار بقوله رحمه الله تعالى هذا اي وحوب الاستحلال عليك إذا لم تَش زيادة غيظ أي غضب أو هيج فتنة أي إثارتها وتحركها في إظهار ذلك أي ما فعلته من الجناية القلبية أو تجديده أي تجديد غيظ ئاو إثارة فتنة بسبب الذكر والتعريف لأن هذا سيئة جديدة يجب الاستحلال منها فغن خشي ذلك أي زيادة الغيظ وما بعدها بسبب الإظهار فلا سبيل لك يلا الرجوع إلى الله سبحانه وتعالى ليرضيه عنك ويجعل له أي لصاحب الحق خيرا كثيرا في مقابلته أي معارضته ما فعلته مما ذكر والا الاستغفار الكثير لصاحبه هذا طريق تائب عن المظالم يتعذر عليه الاستحلال. اهـ سراج الطالِيْ 1/ 162 ولو لم يرض صاحب الحق في الغيبة والزنا ونحوهما ان يعفو الا ببذل مال فله بذله سببا في خلاص ذمته. ا هـ البجيرمى على الخطيب 3/ 117\r]فصل[ يعزر في كل معصية لا حد لها ولا كفارة بحبس أو ضرب أو صفع أو توبيخ ويجتهد الإمام في جنسه وقدره وقيل إن تعلق بآدمي لم يكف توبيخ .اهـ مغني المحتاج الجزء الخامس صـ 525\rD. Tinjauan Fiqh Tentang Pencegahan Kekerasan Dalam Dunia\rPendidikan\rIbnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya menyatakan bahwa pendidikan dengan kekerasan dapat membunuh potensi kemanusiaan. Guru dan orang tua hendaknya menjadi pendidik yang bijak dan sabar, bukan seperti penguasa yang otoriter.\rPendidik harus mengutamakan pendekatan lembut sebelum menjatuhkan hukuman, dan menyadari bahwa jiwa anak didik\rharus dijaga martabatnya, agar dapat tumbuh menjadi manusia merdeka, berakhlak, dan berdaya. Ibn Khaldun mengatakan:","part":1,"page":53},{"id":54,"text":"الفصل الأربعون في أن الشدة على المتعلميْ مضرة بهم. وذلك أن إرهاف الحد في التعليم مضمر بالمتعلم، سيما في أصاغر الولد، لأنه من سوء الملكة. ومن كان مرباه بالعسف والقهر من المتعلميبن أو الممالْك أو الخدم، سطا به القهر وضيق على النفس في انبساطها، وذهب بنشاطها ودعاه إلى الكسل وحمل على الكذب والخبث، وهو التظاهر بغير ما في ضميره، خوفاً من انبساط الأيدي بالقهر عليه، وعلمه المكر والخديعة لذلك، وصارت له هذه عادة وخلقاً، وفسدت معاني الإنسانية التي له من حيث الاجتماع والتمدن، وهي الحمية والمدافعة عن نفسه أو منزله. وصار عيالاً على غيره في ذلك، بل وكسلت النفس عن اكتساب الفضائل والخلق الجميل، فانقبضت عن غايتها ومدى انسانيتها، فارتكس وعاد في أسفل السافليْ. وهكذا وقع لكل أمة حصلت في قبضة القهر ونال منها العسف، واعتبره في كل من يملك أمرة عليه. ولا تكون الملكة الكافلة له رفيقة به. وتجد ذلك فيهم استقراء. وانظره في الْهود وما حصل بذلك فيهم من خلق السوء حتى إنهم يوصفون في كل أفق وعصر بالخرج، ومعناه في الاصطلاح المشهور التخابث والكيد، وسببه ما قلناه. فينبغي للمعلم في متعلمه والوالد في ولده أن لا يستبدوا عليهم في التأديب. وقد قال محمد بن أبي زيد في كتابه، الذي ألفه في حكم المعلميْ والمتعلميْ: \" لا ينبغي لمؤدب الصبيان أن يزيد في ضربهم إذا احتاجوا إلْه على ثلاثة أسواط شيئا \".","part":1,"page":54},{"id":55,"text":"ومن كلام عمر رضي الله عنه: \" من لم يؤدبه الشرع لا أدبه الله \" . حرصا على صون النفوس عن مذلة التأديب، وعلما بأن المقدار الذي عينه الشرع لذلك أملك له، فإنه أعلم بمصلحته. ومن أحسن مذاهب التعليم، ما تقدم به الرشيد لمعلم ولده. قال خلف الأحمر: بعث إلِ الرشيد في تأديب ولده محمد الأميْ فقال: \" يا أحمر إن أمير المؤمنيْ قد دفع إلْك مهجة نفسه وثمرة قلبه، فصير يدك عليه مبسوطة وطاعته لك واجبة، فكن له بحيث وضعك أمير المؤمنيْ. أقرئه القرآن وعلمه الأخبار وروه الأشعار وعلمه السنن، وبصره بمواقع الكلام وبدئه وامنعه من الضحك إلا في أوقاته، وخذه بتعظيم مشايخ بني هاشم، إذا دخلوا عليه، ورفع مجالس القواد، إذا حضروا مجلسه. ولا تمرن بك ساعة إلا وأنت مغتنم فائدة تفيده إياها من غير أن تحزنه، فتميت ذهنه. ولا تمعن في مسامحته، فيستحل الفراغ ويألفه. وقومه ما استطعت بالقرب والملاينة، فإن أباهما فعليك بالشدة والغلظة. انتهى. اهـ مقدمة ابن خلدون صـ 347\rOleh karena itu, perlu adanya upaya preventif dalam mencegah kasus kekerasan dan bullying yang marak terjadi dalam dunia pendidikan pada masa kini. Untuk meminimalisir kekerasan dan bullying membutuhkan kerja sama dari berbagai pihak dengan menanamkan sikap toleransi dan memupuk kerukunan bersama.\rDalam pencegahan kekerasan dan bullying, nilai-nilai agama Islam memberikan landasan yang kuat dalam membentuk","part":1,"page":55},{"id":56,"text":"lingkungan belajar yang aman, ramah, inklusif, dan beradab. Ajaran Islam menekankan pentingnya menghormati dan peduli terhadap sesama, serta menolak segala bentuk diskriminasi dan penindasan. Dengan memahami dan menerapkan nilai-nilai Islam secara konsisten, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah, diharapkan dapat tercipta lingkungan yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan siswa secara holistik.\rMelalui penerapan nilai-nilai Islam, seperti kesetaraan, keadilan, empati, dan toleransi, diharapkan dapat mencegah tindakan kekerasan dan bullying, serta menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi semua anak. Peran guru, orang tua, dan sekolah sangat penting dalam menjalankan peran mereka dalam mendidik anak-anak agar memahami dan menginternalisasi nilainilai kemaslahatan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan langkahlangkah konkret, seperti merancang kurikulum anti-bullying yang berbasis pada nilai-nilai kemaslahatan, melibatkan semua pihak terkait, serta memonitor dan mengevaluasi efektivitas strategi pencegahan, diharapkan dapat menciptakan lingkungan pendidikan yang berlandaskan pada prinsip-prinsip keadilan, kasih sayang, dan kesetaraan.\rDiputuskan di Malang\rTanggal 26 Jumadil Ula 1447 H/17 November 2025\rKoordinator\rK. Fauzi Hamzah Syam\rModerator\rK. Nidzom Subki\rK. Saiful Anwar\rNotulen\rK. Vaurak Tsabat\rK. M. Abdul Razaq\rMushahih\rKH. Ramadhan Khatib\rKH. Muhibbul Aman Ali\rK. Fauzi Hamzah Syam\rPerumus\rK. Muhammad Hamim Hr\rKH. Abdurrozaq Sholeh\rK. M. Aris Alwan\rK. M. Aminullah Mahin\rKH. Misbahul Munir\rK. Hambali Zufadz\rK. Ahmad Thohir\rKomisi Qonuniyah","part":1,"page":56},{"id":57,"text":".1 Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dan Pengelolaan Royalti | LBM\rPCNU Kab. Tuban\rDeskripsi Masalah\rFenomena terbaru di industri musik Indonesia menimbulkan polemik fikih seputar hak kekayaan intelektual (HKI) dan pengelolaan royalti. Semisal pemilik lagu yang harus mendaftarkan hasil karyanya di Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN) melalui Lembaga Manajemen Kolektif (LMK) bila ingin mendapatkan royalti, masalah lain yakni adanya beberapa musisi Indonesia seperti Uan Juicy Luicy, Charlie Vanhouten, dan Ari Laso yang secara terbuka menyatakan secara lisan bahwa lagu-lagu mereka bebas diputar tanpa harus membayar royalti meski sudah menjadi anggota LMK. Namun, pernyataan ini bertentangan dengan mekanisme pengelolaan hak cipta yang dijalankan oleh LMK dan LMKN, yang berdasarkan pada regulasi negara pengguna komersil tetap harus membayarkan royalti dari karya-karya mereka. Dan masalah-masalah lain yang timbul dari regulasi itu.\rPertanyaan\r.1 Apa kedudukan/status LMKN, LMK, dan pemilik lagu/musik?\rJawaban\r.1 Status LMKN adalah Lembaga Manajemen Kolektif Nasional yang ditetapkan pemerintah melalui UU no 28 pasal 1 ayat 2 tahun 2014, dan Peraturan Pemerintah No 56 tahun 2021 Pasal 1 ayat 11.\rDi dalam fikih LMKN identik dengan istilah Syakhsiah I’tibariyah yang ditetapkan pemerintah dalam upaya melindungi mal maknawi pemilik hak royalti sekaligus sebagai penerima kuasa dari pemilik hak royalti untuk menarik, menghimpun dan mendistribusikan royalti kepada pemiliknya.\rSedangkan bunyi UU dan Peraturan Pemerintah dimaksud adalah sebagai berikut:","part":1,"page":57},{"id":58,"text":".1 Undang-undang No 28 Pasal 1 ayat 22\rLembaga Manajemen Kolektif adalah institusi yang berbentuk badan hukum nirlaba yang diberi kuasa oleh Pencipta, Pemegang Hak Cipta, dan/atau pemilik Hak Terkait guna mengelola hak ekonominya dalam bentuk menghimpun dan mendistribusikan royalti.\r.2 Peraturan Pemerintah No 56 tahun 2021 Pasal 1 ayat 11 Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN) adalah lembaga bantu pemerintah non-APBN yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Hak Cipta untuk menarik, menghimpun, dan mendistribusikan royalti serta mengelola kepentingan hak ekonomi pencipta dan pemilik hak terkait di bidang lagu dan/atau musik\rAdapun status dan kedudukan LMK adalah Lembaga Manajemen Kolektif yang mendapatkan kuasa dari pemilik hak royalti untuk menerima pendistribusian royalti dari LMKN sesuai dengan Peraturan Menteri Hukum RI Nomor 27 Tahun 2025 Tentang Peraturan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2021 Tentang Pengelolaan Royalti Hak Cipta Lagu Dan/Atau Musik, pasal 27.\rSebagaimana LMKN, LMK dalam istilah fikih identik dengan istilah syakhsiyah i’tibariyah sebagai penerima kuasa atau wakil dari pemilik royalti.\rBunyi kutipan Permenkumham No 27 tahun 2025 tentang\rPendistribusian Royalti Pasal 27 adalah sebagai berikut.\rPendistribusian Royalti sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (2) huruf c dilaksanakan oleh LMKN melalui LMK.","part":1,"page":58},{"id":59,"text":"Dalam melakukan pendistribusian Royalti sebagaimana dimaksud pada ayat (1), LMKN Pencipta dan LMKN pemilik Hak Terkait wajib melakukan koordinasi dan menetapkan besaran Royalti yang menjadi hak masing-masing LMK sesuai dengan kelaziman dalam praktik berdasarkan keadilan.\rPendistribusian Royalti sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan kepada Pencipta, Pemegang Hak Cipta,atau pemilik Hak Terkait yang telah menjadi anggota LMK.\rDalam hal Pencipta, Pemegang Hak Cipta, atau pemilik Hak Terkait belum menjadi anggota dari suatu LMK maka pendistribusian royaltinya hanya dapat dilakukan oleh LMKN Pencipta dan LMKN pemilik Hak Terkait.\rPendistribusian Royalti sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diberikan berdasarkan klaim dan verifikasi data dari Pencipta, Pemegang Hak Cipta, atau pemilik Hak Terkait yang belum menjadi anggota LMK.\rAdapun status dan kedudukan pemilik lagu/musik selaku pemilik royalti adalah pihak yang dilindungi oleh LMKN melalui kerjasama diantara kedua belah fihak. Pemilik royalti meliputi pencipta, penyanyi dan semua pihak terkait yang bekerja sama dengan LMK. Hal ini sesuai dengan UU No 8 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, Peraturan Pemerintah No 56 Tahun 2021 tentang Pengelolaan Royalti Hak Cipta Lagu dan/atau Musik, Permenkumham No 27 tahun 2025 tentang Pengelolaan Royalti.\rSedangkan bunyi petikan Permenkumham No 27 tahun 2025\rTentang royalti adalah sebagai berikut.\r.1 Royalti adalah imbalan atas pemanfaatan hak ekonomi suatu ciptaan atau produk hak terkait yang diterima oleh pencipta atau pemilik hak terkait.","part":1,"page":59},{"id":60,"text":".2 Pengelolaan Royalti Hak Cipta Lagu dan/atau Musik yang selanjutnya disebut Pengelolaan Royalti adalah penarikan, penghimpunan, dan pendistribusian Royalti hak cipta lagu dan/atau musik.\r.3 Hak Cipta adalah hak eksklusif pencipta yang timbul secara otomatis berdasarkan prinsip deklaratif setelah suatu Ciptaan diwujudkan dalam bentuk nyata tanpa mengurangi pembatasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.\r.4 Ciptaan adalah setiap hasil karya cipta di bidang ilmu pengetahuan, seni, dan sastra yang dihasilkan atas inspirasi, kemampuan, pikiran, imajinasi, kecekatan, keterampilan, atau keahlian yang diekspresikan dalam bentuk nyata.\r.5 Pencipta adalah seorang atau beberapa orang yang secara sendiri-sendiri atau bersama-sama menghasilkan suatu Ciptaan yang bersifat khas dan pribadi.\r.6 Pemegang Hak Cipta adalah Pencipta sebagai pemilik Hak Cipta, pihak yang menerima hak tersebut secara sah dari Pencipta, atau pihak lain yang menerima lebih lanjut hak dari pihak yang menerima hak tersebut secara sah.\r.7 Hak Terkait adalah hak yang berkaitan dengan Hak Cipta yang merupakan hak eksklusif bagi pelaku pertunjukan, produser fonogram, atau lembaga penyiaran.\r.8 Lembaga Manajemen Kolektif Nasional yang selanjutnya disingkat LMKN adalah lembaga bantu pemerintah nonAPBN yang dibentuk oleh Menteri berdasarkan Undang-Undang mengenai Hak Cipta yang memiliki kewenangan untuk menarik, menghimpun, dan mendistribusikan Royalti serta mengelola kepentingan hak ekonomi Pencipta dan pemilik Hak Terkait di bidang lagu dan/atau musik.","part":1,"page":60},{"id":61,"text":".9 Lembaga Manajemen Kolektif yang selanjutnya disingkat LMK adalah institusi yang berbentuk badan hukum nirlaba yang diberi kuasa oleh Pencipta, Pemegang Hak Cipta, dan/atau pemilik Hak Terkait guna mengelola hak ekonominya dalam bentuk menghimpun dan mendistribusikan Royalti.\rPertanyaan\r.2 Apa akad yang terjadi antara pemilik hak royalti dengan LMK, dan antara LMKN dengan pengguna hak cipta yang bersifat komersial?\rJawaban\r.2 Berdasarkan kedudukan dan fungsi LMK dan hubungannya dengan pemilik royalti, tugas dan wewenang LMKN dan kewajiban pengguna lagu/musik komersil, yang diatur di dalam:\r.1 UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta terutama pasal 87 ayat (2), (4), dan (5)\r.2 Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2021 maka akad antara pemilik royalti dengan LMK, pengguna hak cipta dengan LMKN adalah akad ijaroh.\rPertanyaan\r.3 Bagaimana hukum LMKN tetap menarik royalti kepada pengguna sedangkan pemilik hak sudah mengikhlaskannya secara lisan?\rJawaban\r.3 LMKN sudah tidak boleh lagi menarik royalti terhadap pengguna. Namun demikian pemilik hak cipta yang membebaskan hak royaltinya harus membuat pernyataan secara tertulis sesuai dengan UU.\rRekomendasi\rUU Nomor 28 tahun 2014 dan Peraturan Pemerintah Nomor 56 tahun 2021 yang menyatakan bahwa pemilik lagu yang sudah keluar dari keanggotaan LMK, atau yang tidak menjadi anggota LMK, maupun yang sudah mengikhlaskan lagunya untuk dikomersilkan secara gratis, namun bagi pengguna tetap dikenakan royalti maka harus direvisi atau dicabut.\rالأشباه والنظائر لجلال الدين السيوطي | الشافعي صـ 327","part":1,"page":61},{"id":62,"text":"خاتمة: في ضبط المال والمتمول. أما المال, فقال الشافعي: لا يقع اسم مال إلا على ما له قيمة يباع بها وتلزم متلفه, وإن قلت وما لا يطرحه الناس, مثل الفلس وما أشبه ذلك انتهى. وأما المتمول: فذكر الإمام له في باب اللقطة ضابطيْ: أحدهما: أن كل ما يقدر له أثر في النفع فهو متمول, وكل ما لا يظهر له أثر في الانتفاع فهو لقلته خارج عما يتمول. الثاني: أن المتمول هو الذي تعرض له قيمة عند غلاء الأسعار. والخارج عن المتمول: هو الذي لا يعرض فيه ذلك\rنهاية المطلب في دراية المذهب | جـ 5 صـ 894","part":1,"page":62},{"id":63,"text":"فصل أكثر أئمتنا ذِكْرَ المالْة وأجرَوْا في أثناء الكلام ما يتموّل وما لا يتمول، ورأوَْا ذلك قاعدةً متبعة في تصحيح الِيع ونفيه. ونحن نفصل القول في هذا على إيجاز وبيانٍ، إن شاء الله تعالى. فممّا يسميه الفقيه غيرَ متمول ما لا يقبل الِيع في جنسهِ، وهو ينقسم إلى نجسٍ وإلى محترم: أما الأعيان النجسة قد )2( سبق القول فيها، وأمّا المحترم الذي لا يتمول كالحرّ وما يَرز بالشرع كبقعة الكعبة، أو حرز كالِقاع التي اتَذت مساجد. ثم ما لا يتمول لجنسه، وهو الأعيان النجسة لا قيمة لها، ولا تضمن بالإتلافِ، وما لا يتمول لحرمته، فلها أبدال عند الإتلاف. ومقصودنا من هذا الفصل شيء آخر. فإذا قلنا: هذا لا يتمول لقدره، فليقع الاعتناء به، وإن كان جنسه مالاً. والضّابط فيه أن كل ما ليس للانتفاع به على حياله وقع محسوس، فهو الذي يقال: إنه لا يتمول، كالحبة والحبتيْ فصاعداً. ولْعتبر وقعه منسوب اً إلى كل جهة؛ فإن حبات معدودة قد لا يكون لها وقع في الإنسان، وهي تقيم عصفورة، أو تسد منها مسدا. فكل ما فيه نفع محسوس، فهو مال، وكل ما ليس فيه نفع محسوس، فهو غير متمولٍ. وكل منتفع به طاهرٌ غير محترم إذا تحقق الاحتواء عليهِ، فهو مال. وإنكان الناس لا يتمولونه لكثرته ورخاءِ السّعر. فليكن التعويل في الفرق بيْ ما يتمول وما لا يتموّل على المنفعة في الأجناس الطاهرة غير المحترمة. فلو أجدَّ الرجل صخرة، وكَن فيها منفعة ظاهرة، فيجوز أن يبيعها بآلاف ممن يشتريها: وهم في شعاب جبال مفعمة بالصخور. وعليه يخرج تجويز بيَع ]هذِه[ في أمثال هذه الِلاد.","part":1,"page":63},{"id":64,"text":"فأما الحبة من الحنطة فلا، ولا يختلف هذا بسِنِي الأزْم والمَجاعة ورخاء الأسعار. ولكن ما يقال فيه: إنهّ لا يتمول لقلته فيه حق لصاحبهِ، فلا يجوز أخذ حبة من مال إنسان بناء على أنها لا تتمول. ومن أخذها لزمه ردُّها. قال شيخي: كان القفال يقول: إن تلفت لم يبعد أن أوجب مثلَها. وإنْ منعتُ بيعها. نعم لو كان كذلك القليل من جنس متقوم، فلا قيمة. فهذا حَاصل القول في ضبط ما يتمول. وما لا يتمول .\rالمعاملة المالية المعاصرة للشيخ وهبة زحيلي | صـ 658- 495\rويرى السيوطي الشافعي أن العرف أساس في اعتبار المالْة، أي في ثبوت مالْة الأشياء، وذلك حيث عرف المال بأنه: كل ما له قيمة، يباع بها، ويلزم متلفه ضمانه، وإن قلت، وما لا يطرحه الناس .\rالأشباه والنظائر | جـ 1 صـ 121\rالقاعدة الخامسة تصرف الإمام على الرعية منوط بالمصلحة هذه القاعدة نص عليها الشافعي وقال منزلة الإمام من الرعية منزلة الولي من الْتيم قلت وأصل ذلك ما أخرجه سعيد بن منصور في سننه قال حدثنا أبو الأحوص عن أبي إسحاق عن البراء بن عازب قال قال عمر رضي الله عنه إني أنزلت نفسي من مال الله بمنزلة والِ الْتيم إن إحتجت أخذت منه فاذا أيسرت رددته فان استغنيت استعففت ومن فروع ذلك أنه إذا قسم الزكَة على الأصناف يَرم عليه التفضيل مع تساويالحاجات\rالتشريع الجنائي في الإسلام | جـ 1 صـ 627","part":1,"page":64},{"id":65,"text":"الحق الأول: حق التحريم والإيجاب والعقاب: لولي الأمر أن يَرم إتيان أفعال معينة أو يوجب إتيان أفعال معينة، وأن يعاقب على مَالفة الأمر الذي حرم الفعل أو أوجبه. وإذا كان لولي الأمر حق العقاب فله أن يعاقب على الجريمة بعقوبة واحدة أو بأكثر، وأن يَدد مبدأ العقوبة ونهايتها.وولي الأمر مقيد في استعمال هذا الحق بعدم الخروج على نصوص الشريعة، أو مبادئها العامة، أو روحها التشريعية، وبأن يكون قصده في التحريم والإيجاب والعقاب تحقيق مصلحة عامة، أو دفع مضرة أو مفسدة وعلى هذا فعمل ولي الأمر صحيح كلما كان في حدود حقه، فإن خرج عن هذه الحدود فهو باطل فيما خرج فيه عن حدود حقه وصحيح فيما عدا ذلك فليس لولي الأمر أن يهمل نصوص الشريعة، أو أن يمنع تطبيقها، فإن فعل فعمله باطل.\rالأحكام السلطانية | جـ 1 صـ 63\rوَالوَْزَارَةُ علَىَ ضَرْبَيِْْ : وَزَارَةُ تَفْوِيضٍ وَوَُزَارَةُ تَنْفِْيذٍ .فَأمََّا وَزَارَةُ التَّفْوِيضِ فَهُوَ أنَْ يسَْتَوْزِرَ الْإِمَامُ مَنْ يُفَوِّضُ إلَْهِْ تدَْبِيرَ الْأمُورِ بِرَأيهِِ وَإِمْضَاءَهَا علَىَ اجْتِهَادِهِ ، وَليَسَْ يَمْتنَِعُ جَوَازُ هَذِهِ الوَْزَارَةِ ، قاَلَ الَلهَُّ تَعَالَى حِكَاَيةًَ عَنْ نبَِيهَِِّ مُوسَََ عَليَهِْ الصََّلَاةُ وَالسَّلَامُ : } وَاجْعَلْ لِِ وَزِيرًا مِنْ أهْلِ هَارُوَنَ أخِِ اشَُْدُدْ بهِِ أزْرِي وَأشْرِكْهُ فِي أمْرِي { .فُإَِذَا جَازَ ذَلكَِ فِي النبُُّوَّ ةِ كاَنَ فِي الْإِمَامَةِ أجْوَزُ ، وَلِأنَّ مَا وُكِّلَ إلَى الْإِمَامِ مِنْ تدَْبِيرِ الْأمَّةِ لَا يَقْدِرُ علَىَ مُباَشَرَةِ جمَِيعِهِ إلَّا باِسْتنِاَبةٍَ ، وَنِيَابةَُ الوَْزِيرِ المُْشَارِكِ لَهُ فِي التَّ دْبِيرِ أَصَحُّ فِيَ تَنْفِيذِ الْأُمُورِ مِنْ تَفَرُّدِهِ بهَِا ليِسَْتَظْهِرَ بهِِ علَىَ نَفْسِهِ وَبِهَا يكَُونُ أَبْعَدَ مِنْالزَّللَِ وَأمْنَعَ مِنْ الخْلَلَِ","part":1,"page":65},{"id":66,"text":"بغية المسترشدين | صـ 189\r)مسألة : ك( : يجب امتثال أمر الإمام في كل ما له فيه ولاية كدفع زكَة المال الظاهر\r، فإن لم تكن له فيه ولاية وهو من الحقوق الواجبة أو المندوبة جاز الدفع إلْه والاستقلال بصرفه في مصارفه ، وإن كان المأمور به مباحا أو مكروها أو حراما لم يجب امتثال أمره فيه كما قاله )م ر( وتردد فيه في التحفة ، ثم مال إلى الوجوب في كل ما أمر به الإمام ولو محرما لكن ظاهرا فقط ، وما عداه إن كان فيه مصلحة عامة وجب ظاهرا وباطنا وإلا فظاهرا فقط أيضا، والعبرة في المندوب والمباح بعقيدة المأمور ، ومعنى قولهم ظاهر أنه لا يأثم بعدم الامتثال ، ومعنى باطنا أنه يأثم اهـ.\rقلت : وقال ش ق: والحاصل أنه تجب طاعة الإمام فيما أمر به ظاهرا وباطنا مما ليس بحرام أو مكروه ، فالواجب يتأكد ، والمندوب يجب، وكذا المباح إن كان فيه مصلحة كترك شرب التنباك إذا قلنا بكراهته لأن فيه خسة بذوي الهيئا ت ، وقد وقع أن السلطان أمر نائبه بأن ينادي بعدم شرب الناس له في الأسواق والقهاوي، فخالفوه وشربوا فهم العصاة ، ويَرم شربه الآن امتثالاً لأمره ، ولو أمر الإمام بشيء ثم رجع ولو قبل التلبس به لم يسقط الوجوب اهـ.\rموهبة ذي الفضل | جـ 3 صـ 355\rيؤيد ما بحثه قولهم تجب طاعة الإمام في أمره ونهيه ما لم يخالف الشرع ثم قال ما حاصله الذي يظهر أن ما أمر به مما ليس فيه مصلحة عامة لا يجب إمتثاله غلا ظاهرا وما فيه ذلك يجب باطنا أيضا وأن الوجوب في ذلك على كل صالح له عينا لا كفاية إلا إن خصص أمره بطائفة فيخت ص بهم فعلم أن قولهم إن جوزناه في قولهم يجب إمتثال أمره في التسعير إن جوزناه أي كما هو رأي ضعيف قيد لوجوب امتثالهظاهرا وإلا فلا إلا إن خاف فتنة فيجب ظاهرا فقط وكذا في كل أمر محرم عليهبأن كان بمباح فيه ضرر عظيم على المأمور ب ه\rالمجموع شرح المهذب | جـ 9 صـ 168","part":1,"page":66},{"id":67,"text":"وقد ذكرنا أن الوكَلة تجوز بِعل وبغير جعل، ولا يصح الجعل إلا أن يكون معلوما، فلو قال: قد وكلتك في بيع هذا الثوب على أن جعلك عشر ثمنه أو من كل مائة درهم من ثمنه درهم لم يصح للجهل بمبلغ الثمن وله أجرة مثله، فلو وكله في بيع كتاب بأجر معلوم فباعه بيعا فاسدا فلا جعل له، لان مطلق الاذن بالِيع يقتضى ما صح منه، فصار الفاسد غير مأذون فيه فلم يستحق جعلا عليه بغية المسترشدين | جـ 1 صـ 035\r(مسألة : ك( : انكسر مركب في الِحر فأمر صاحبه أن كل من أخرج من المتاع شيئا فله ربعه مثلاً ، فإن كان المجعول عليه معلوما عند الجعيل بأن شاهده قبل الغرق أو وصفه له صح العقد واستحق ، وإلا فسد واستحق أجرة المثل.\rأسنى المطالب شرح روض الطالب | جـ 12 صـ 932","part":1,"page":67},{"id":68,"text":"الرُّكْنُ ) الرَّابِعُ الجْعُْلُ يشُْتَرَطُ ( وَفِي نَسُْخَةٍ \" وََيشُْتَرَطُ \" ) كَُوْنهُُ مَعْلُومًا كاَلْأجُْرَةِ ( فِي الْإجَِارَةِ ) فلََوْ كاَنَ مجَهَُْولًا ( كَثَوبٍْ ) أوْ خمَْرًا أوْ مَغْصُوباً فَأجْرَةُ المِْثلِْ ( تجَِبُ لفَِسَادِ العَْقْدِ بَِِهْ لِ الجْعُْلِ أوَْ بنَِجَاسَةِ عَينْهِِ أوَْ بِعَدَمِ القُْدْرَةِ علَىَ تسَْلِيمِهِ كَمَا فِي الْإجَِارَةِ وَوجَْهَُ فَسَادِهِ باِلجْهَْلِ أنهَُّ لَا حَاجَةَ إلَى احْتِمَالِهِ فِيهِ كاَلْإجَِارَةِ بِخِلَافهِِ فِي العَْمَلِ وَالعَْامِ لِ ، وَلِأنَّهُ لَا يكََادُ يرَغََْبُ فِي العَْمَلِ مَعَ جَهْلِهِ باِلجْعُْلِ فلََا يََصُْلُ مَقْصُودُ العَْقْدِ وَيسُْتثَْنَى مِنْ ذَلكَِ مَسْألةَُ العِْلجِْ وسََتَأتِْي فِي السِّيَرِ ) فإَنِْ قاَلَ مَنْ ردََّهُ فلَهَُ ثِياَبهُُ - وَهِيَمَعْلُومَةٌ - اسْتَحَقَّهَا ، أوَْ مجَهُْولةٌَ فَأجُْرَةُ المِْثلِْ ( وحََذَفَ قَوْلَ أَصْلِهِ نَقْلًا عَنْ المُْتَوَلِّيوَلوَْ وصََفَهَا بِمَا يفُِيدُ العِْلمَْ اسَْتَحَقَّهَا لقَِوْلِ الْإسِْنَوِيِّ فإَِنهَُّ خِلَافُ الصَّحِيحِ فَقَدْ تَقَرَّرَفُِي الَِْ يْعِ وَالْإِجَارَةِ وغََيْرَِهِمَا أنَّ الشَّيَْءَ المُْعَيََّْ لَا يُغْنِي وصََْفُهُ عَنْ رُؤْيتََهِِ وحَِينئَذٍِ فلَهَُأجْرَةُ المِْثلِْ انتَْهَى وَالْأوجَْهُ قَوْلُ الْأصْلِ وَبهِِ جَزَمَ فِي الْأنوَْارِ وَيفَُرَّقُ بِأنَّ تلِكَْ العُُْقُودَ عُقُودٌ لَا زِمَةٌ بِخِلَافِ الجْعََالةَِ فاَحْتيِطَ لهََا مَا لمَْ يَُْتَطْ للِجَْعَالةَِ ) وَكَذَا ( يسَْتَحِقُّ أجْرَةَ المِْثلِْ ) لوَْ قاَلَ ( مَنْ ردََّهُ ) فلَهَُ رُبُعُهُ ( مَثَلًا وَقِيلَ يسَْتَحِقُّ المَْشْرُو طَ\rفتح المعين | جـ 3 صـ 109","part":1,"page":68},{"id":69,"text":") تصح إجارة في منفعة متقومة ( أي لها قيمة ) معلومة ( عينا وقدرا وصفة ) واقعة للمكتري غير متضمن لاستيفاء عيْ قصدا ( بأن لا يتضمنه العقد وخرج بمتقومة ما ليس لها قيمة فلا يصح اكتراء بياع للتلفظ بمحض كلمة أو كلمات يسيرة على الأوجه ولو إيجابا وقبولا وإن روجت السلعة إذ لا قيمة لها ومن ثم اختص هذا بمبيع مستقر القيمة في الِلد كالخ بخلاف نحو عبد وثوب مما يختلف ثمنه باختلاف متعاطيه فيختص بيعه من الِياع بمزيد نفع فيصح استئجاره عليه\rالأشباه والنظائر - شافعي | جـ 1 صـ 196\rو أما دخول الحمام فإنه يوجب الأجرة لانه لم يجر لها ذكر قطعا لأن الداخل مستوف منفعة الحمام بسكوته و هناك صاحب المنفعة صرفها\rتحفة المحتاج في شرح المنهاج | جُـ 24 صـ 135","part":1,"page":69},{"id":70,"text":") قَوْلُهُ نَعَمْ يجَُوزُ دُخُولُ الحْمََّامِ بِأجْرَةٍ إجمْاَعاً إلَخْ ( انُْظُرْ صُوْرَةَ المُْعَاقدََةِ الصَّحِيحَةِ علَىَ دُخُولِ الحْمََّامِ مَعَ تَعَدُّدِ الدَّاخِلِيَْ فإَِنهَُّ مَثَلًا لوَْ قاَلَ اسْتَأجَرْت مِنكْ هَذَا الحْمََّامَبِكَذَا وَقَدَّرَ مُدَّةً اسْتَحَقَّ مَنفَْعَةَ جمَِيعِهِ فَلَا يُمْكِنُ المُْعَاقدََةُ مَعَ غَيْرِهِ أيَضًْا أوَْ لمَْيُقَدِّرْ مُدَّةً فَبَعْدَ تسَْلِيمِ الصِّحَّةِ يسَْتَحِقُّ مَنْفَعَةَ الجْمَِيعِ أيَضًْا وَلَا تُمْكِنُ المُْعَاقدََةُمَعَ غَيْرِهِ وَ لَعَلَّ مِنْ صُوَرهَِا أَذِنتْ لكَ فِي دُخُولِ الحْمََّامِ بدِِرهَْمٍ فَيقَْبلَُ أوَْ ائذَْنْ لِِ فِيدُخُولِ الحْمََّامِ بدِِرهَْمٍ فَيقَُولُ أَذِنتْ فلَيُْتَأمََّلْ ) قَوْلُهُ لَكِنْ الْأجُْرَةُ فِي مُقَابلَةَِ الْآلَاتِ ( ظَاهِرُ الْإِطْلَاقِ عَدَمُ وجُُ وبِ تَعْيِيِْ الْآلَاتِ ) قَوْلُهُ ثُمَّ إذَا وجُِدَتْ الشُّرُوطُ فِي المَْنفَْعَةِ ( قدَْ يُقَالُ مِنْ الشُّرُوطِ كَوْنُهَا مَعْلُومَةً باِلتَّقْدِيرِ الْآتِي فلَيْنُْظَرْ بَعْدَ ذَلكَِ حَاصِلُ المَْعْنَى وَقوَْلُهُ أوَْ تَطْيِيٍْ قدَْ يُقَالُ مَا المَْانِعُ مِنْ ضَبْطِهِ باِلعَْمَلِ كَتَطْيِيِْ هَذَا الجِْدَارِ تَطْييِناً سُمْكُهُ قدَْرُ شِبْرٍ وَكَذَا يُقَالُ فِي قَوْلِهِ وَآنِيةٍَ وَنحَْوهِِ مَا المَْانِعُ فِي نحَْوِ الْآ نِيةَِ مِنْ التَّقْدِيرِ باِلعَْمَلِ كلًُّا نَقَلَ بهِِ هَذَا المَْاءَ مِنْ هَذَا المَْحَلِّ إلَى ذَلكَِ المَْحَلِّ ) التاج والإكليل | جـ 7 صـ 19\rوجََوَازُ دُخُولِ الحْمََّامِ مَعَ اخْتِلَافِ قدَْرِ مَاءِ الناَّسِ وَلُِثِْهِمْ فِيهِ وَالشُّرْبِ مِنْ السَّاقِي إجمْاَعاً فِي الجْمَِيعِ دَلِْلٌ علَىَ إلغَْاءِ مَا هُوَ يسَِيرٌ غَيْرُ مَقْصُودٍ دَعَتْ الضَّرُورَةُ للَِغْوهِِ .","part":1,"page":70},{"id":71,"text":"الفقه الإسلامي وأدلته للزحيلي | جـ 4 صـ 2842\rويقر الفقه الإسلامي ما يسمَّ قانونا: الشخصية الاعتبارية، أو المعنوية أو الشخصية المجردة عن طريق الاعتراف لِعض الجهات العامة كالمؤسسات والجمعيات والشركَت والمساجد بوجود شخصية تشبه شخصية الأفراد الطبيعييْ في أهلية التملك وثبوت الحقوق، والالتزام بالواجبات، و افتراض وجود ذمة مستقلة للجهة العامة بقطع النظر عن ذمم الأفراد التابعيْ لها، أو المكونيْ لها. والأدلة كثيرة على هذا الإقرار، سواء من النصوص أو من الاجتهادات الفقهية. فمن النصوص:\rالحديث النبوي: «ذمة المسلميْ واحدة يسعى بها أدناهم) »1( أي أن الأمان الصادرللعدو من أحدهم يسري على جماعة المسلميْ. ومنها نصوص الأمر بالمعروفوالنهي عن المنكر، والتي تقضي بِواز رفع ما يسمَّ بدعوى الحسبة من أي فردلقمع غش وإزالة منكر أو أذى عن الطريق، وتفريق بيْ زوجيْ بينهما علاقةمحرمة، وإن لم يكن للمدعي مصلحة شخصية.\rومن الاجتهادات: فصل بيت المال عن مال الحاكم الخاص، وقولهم: بيت المال وارث من لا وارث له، واعتبار الحاكم نائباً عن الأمة في التصرف بالأموال العامة على وفق المصلحة، كما يتصرف الوصي بمال الْتيم. وهو نائب عن الأمة\rبغية المسترشدين | صـ 150 | دار الفكر\rويجب على الوكيل موافقة ماعيْله الموكل من زمان ومكان وجنس ثمن وقدره كالأجل والحلول وغيرها أو دلت عليه قرينة قوية من كلام الموكل أو عرف أهل ناحيته فإن لم يكن شىء من ذلك لزمه العمل بالأحوط اهـ المهذب | جـ 1 صـ 035 | دار الفك ر","part":1,"page":71},{"id":72,"text":"فصل فيما يملك الوكيل التصرف فيه ولا يملك الوكيل من التصرف إلا ما يقتضيه إذن الموكل من جهة النطق أو من جهة العرف لان تصرفه بالإذن فلا يملك إلا ما يقتضيه الإذن والإذن يعرف بالنطق وبالعرف فإن تناول الإذن تصرف يْ وفي أحدهما إضرار بالموكل لم يج ز ما فيه إضرار لقوله - صلى الله عليه وسلم - لا ضرر ولا إضرار فإن تناول تصرفيْ وفي أحدهم ا نظ ر للموكل لزمه ما فيه النظ ر للموكل لما رو ى ثوبا ن مولى رسول الله - صلى الله عليه وسلم - قال قال رسول ا لله - ص لى ا لله عليه وسلم - رأس الدين النصيحة قلنا يا رسول الله لم ن قال لله ولرسو له ولكتابه ولامة المسلميْ وللمسلميْ عامة وليس من النص ح أن يتر ك ما فيه الحظ والنظ ر للموكل.\rالغاية في اختصار النهاية | جـ 4 صـ 146 | عز الدين بن عبد السلام )ت 660(\rفصل في العزل. لا يقف العزل على القبول اتفاقا، ولا على علم الوكيل على الأصح ،وفيه قول مَرج. وفيه قول مَرج. وإن مات الموكل، أو جن، أو أعتق العبد الذي وكل في بيعه، أو باعه بيعا لازما، ولم يشعر الوكيل، نفذ التصرف، وانعزل الوكيل، ولا ينعزل الحاكم قبل بلوغ الخبر؛ لما في ذلك من الضرر، وقيل: فيه القولان - فر ع: إذا لم يشرط العلم بالعزل، فتصرف الوكيل، فادعى الموكل أنه عزله قبل التصرف، لم يقبل إلا ببينة.\r.2 Pemerintah Menaikkan Pajak Sewenang-wenang | LBM PCNU\rKab. Mojokerto\rDeskripsi Masalah","part":1,"page":72},{"id":73,"text":"Akhir-akhir ini banyak masyarakat yang mengeluh pendapatannya semakin menurun dan ekonomi makin sulit. Apa lagi tidak sedikit sebagian masyarakat memiliki sebagian sumber modal usahanya dari hutang. Banyak pengusaha mulai kelas kaki lima sampai pabrik sekalipun tidak luput dari kesulitan mencari pendapatan, bahkan tidak sedikit yang alih usaha dan bahkan juga sampai gulung tikar, sehingga banyak masyarakat yang merasa kesusahan, baik pelaku usaha atau pekerjanya.\rDi era krisis global tersebut ada sebagian bupati/wali kota yang menaikkan pajak yang dianggap gila-gilaan oleh masyarakat. Ada yang naik 250%, 300% bahkan ada yang sampai 1000% dan ada juga membidik objek pajak yang dulunya tidak terkena pajak sekarang malah terkena wajib pajak.\rOleh karena itu, banyak masyarakat demo atau protes di tengah sulitnya mencari rezeki malah ketambahan beban pajak yang semakin berat.\rPertanyaan\r.1 Bagaimana hukum pemerintah menaikkan pajak atau mengenakan pajak terhadap sesuatu yang dulunya obyek itu tidak dikenakan pajak, padahal masyarakat merasa kesulitan?\rJawaban\r.1 Hukumnya tidak diperbolehkan. Sebab pemerintah masih bisa menempuh cara lain untuk menutupi kebutuhan dan atau defisit anggaran negara, dengan menempuh beberapa upaya. Di antaranya:\r)1 Mengurangi gaji dan tunjangan pejabat untuk efisiensi anggaran.\r)2 Mengoptimalkan dari sektor non pajak, semisal sektor pertambangan dan ekspor impor.\r)3 Mengurangi kebocoran pendapatan negara dengan memberlakukan hukuman berat bahkan hukuman mati bagi pengemplang dan koruptor pajak.\rCatatan","part":1,"page":73},{"id":74,"text":"Dalam hal upaya-upaya pemenuhan kebutuhan dan atau defisit anggaran negara di atas sudah dilakukan secara maksimal namun belum terpenuhi, pemerintah bisa menaikkan dan atau mengenakan pajak obyek baru, akan tetapi pada sektor-sektor khusus yang tidak menyasar pada masyarakat ekonomi menengah ke bawah. Semisal pajak mobil mewah, pajak perhotelan, menaikkan Pph (pajak penghasilan) bagi pejabat yang bergaji besar, dan lain-lain.\rReferensi\rالضرورة الشرعية | صـ 025-125 | مؤسسة الرسالة\rإذا جاز للحاكم العادل فرض ضرائب جديدة أو الزيادة في مقدار ضريبة مفروضة فعليه أن يلتزم حد الاعتدال بما يناسب مع أمكانيات الناس ودرجة الغنا واليسر فلا يجوز له إلزام المكلفيْ بالضريبة بما يثقل كاهلهم ويرهقهم لأن الشريعة تقصد إقامة العدل والحكم بالقسط بيْ الناس والضرورة تقدر بقدرها. وكذلكاستقراض الدولة من الأعنياء أو من دولة أخرى في الأزمات الاقتصادية إنما يكون على حد تعبير الشاطب حيث يرجى لِيت المال دخل ينتظر أو يرتجى وأما إذا لم تنتظر شيئ وضعفت وجوه الدخل بحيث لا غني كبير شيئ فلا بد من جريان حكم التوظيف أي فرض ضرائب جديدة على الأغنياء حسب الكفاية في الحال\rالمعيار المعرب | جـ 11 صـ 127-129 | دار الغرب الإسلام\r)حكم فرض الخراج على الرعية( وسئل القاضي أبو عمر ابن منظور بما نصه: الحمد لله والصلاة السلام على رسول الله - رضي الله عنه - سيدنا رضي الله عنكم تفضلوا بِوابكم الشاف عن مسألة وهي أن الوظائف الموظفة على الأرضيْ بِزيرة الأندلس المسماة بالمعونة كانت موضوعة ف القديم على نسبة الدراهيم السبعينية بل على الستينية وظفت عليها لتقوم بها مصالح الوطن ووظف أيضا على الكسب ف ذلك","part":1,"page":74},{"id":75,"text":"العهد بنسبة درهم ونصف إلى رأس من الغنم ثم إن السكة تبدلت ونقصت على ما ف عملكم ثم ظهر الآن المعيار الحق وهي السكة الجديدة فهل يؤخذون بها إذا ظهر ما قد كان لزمهم ف قديم الأزمان بعد أن تحط عنهم الأجعال وما لزمهم من الملازم الثقال وما أحدث بعد تلك الأعصار أو يتركون على ما هم عليه من أخذ الدرهم باسمه دون معناه وحقيقته؟ بينوا لنا ما الحكم ف ذلك مأجورين مثابيْ بفضل الله تعالى؟ والسلام على سيادتكم ورحمة الله تعالى وبركَته )فأجاب( الجواب وبالله التوفيق إن الأصل أن لا يطالب المسلمون بمغارم غير واجبة بالشرع وإنما يطالِون بالزكَة وما أوجبه القرآن والسنة كالفيئ والركَز وإرث من يرثه بيت المال وهذا ما أمكن به حمل الوطن وما يَتاج له من جند ومصالح المسلميْ وسد ثلم الإسلام فإذا عجز بيت المال عن أرزاق الجند وما يَتاج إلْه من آلة حرب وعدةفيوزع على الناس ما يَتاج إلْه من ذلك وعند ذلك يقال يخرج هذا الحكم ويستنبط من قوله تعالى )قالوا يا ذالقرنيْ إن يأجوج ومأجوج مفسدون ف الأرض فهل نجعل لك خرجا( الآية لكن لا يجوز هذا إلا بشروط )الأول( أن تتعيْ الحاجة فلو كان ف بيت المال ما يقوم به لم يجز أن يفرض عليهم شيء لقوله - رضي الله عنه - )ليس على المسلميْ جزية( وقال - رضي الله عنه - )لا يدخل الجنة صاحب مكر( وهذا يرجع إلى إغرام المال ظلما )الثاني( أن يتصرف فيه بالعدل ولا يجوز أن يستأثر به دون المسلميْ ولا أن ينفقه ف سرف ولا أن يعطي من لا يستحق ولا يعطي أحدا أكثر مما يستحق )الثالث( أن يصرف مصرفه بحسب المصلحة والحاجة لا بحسب الغرض )الرابع( أن يكون الغرم على من كان قادرا من غير ضرر ولا إجحاف ومن لا شيء له أو له شيء قليل فلا يغرم شيئا )الخامس( أن يتفقد هذا ف كل وقت فربما جاء وقت لا يفتقر فيه لزيادة على ما ف بيت المال فلا يوزع وكما يتعيْ المال ف التوزيع فكذلك إذا تعينت الضرورة للمعونة بلأبدان ولم يكف المال فإن","part":1,"page":75},{"id":76,"text":"الناس يجبرون على التعاون على الأمر الداعي للمعونة بشرط القدرة وتعيْ المصلحة والافتقار إلى ذلك فإذا تقرر هذا فتقول ف المسألة المسؤولة عنها: إذا جزم أمير المسلميْ نصره الله وعزم على رفع الظلمات وأخذ على أيدي الأخذين للأجعال ورفع ما احدث ف هذا الأزمان الفارطة القريبة مما لا خفاء بظلمه ولا ريب ف جوره وسلك بالمأخوذ الشروط التي ذكرناها حتى يعلم الناس أنهم لا يطالِون إلا ما جرت به العوائد وسلك بهم مسلك العدل ف الحكم ولا يزال أيده الله يتفقد رعيته وولاته حتى يسيروا على نهج قومهم فله أن يوزع من المال على النسبة المفسرة وما يراه صوابا ولا إجحاف فيه حسبما ذكرناه أصلح الله أمورهوكَن له وجعله من الأئمة الراشدين\rبغية المسترشدين | صـ 273 | دار الفكر\r)مسئلة ى( أرزاق القضاة كغيرهم من القائميْ بالمصالح العامة من بيت المال يعطى كل منهم قدر كفايته اللائقة من غير تبذير فان لم يكن أو استولت يد عادية ألزم بذلك مياسر المسلميْ وهم من عنده زيادة على كفاية سنة ولا يجوز أخذ شيئ من المتداعييْ أو ممن يَلفه أو يعقد له النكاح قال السبكى فما وقع لِعضهم من الأخذ شاذ مردود متأول بصورة نادرة بشروط تسعة ومعلوم انه لا يجوز العمل بالشاذ إ هـ\rحاشية البجيرمي على المنهاج | جـ 11 صـ 285","part":1,"page":76},{"id":77,"text":") فيعطي ( الإمام وجوبا ) كلا ( من المرتزقة وهؤلاء ) بقدر حاجة ممونه ( من نفسه وغيرها كزوجاته ؛ لْتفرغ للجهاد ويراعي في الحاجة الزمان ، والمكان ، والرخص، والغلاء وعادة الشخص مروءة وضدها ، ويزاد إن زادت حاجته بزيادة ولد ، أو حدوث زوجة فأكثر. ومن لا عبد له يعطى من العبيد ما يَتاجه للقتال معه ، أو لخدمته إن كان ممن يخدم ، ويعطى مؤنته. ومن يقاتل فارسا ولا فرس له يعطى من الخيل ما يَتاجه للقتال ويعطى مؤنته بخلاف الزوجات يعطى لهن مطلقا ؛ لانحصارهن في أربع ، ثم ما يدفع إلْه لزوجته وولده الملك فيه لهما حاصل من الفي ء ، وقيل : يملكه هو ويصير إلْهما من جهته\rتحرير الأحكام في تدبير أهل الإسلام | فني شموا | طبعة مكتبة دار المنهاج\rويفرض السلطان لكل واحد من الأمراء والأجناد من العطاء أو الإقطاع قدر مايَتاج إلْه في كفايته اللائقة بحاله، ومروءته، ومنزلته في الزوجات والأولاد والعبيد والإماء والخدم والدواب من مؤنة كسوة ومسكن، وخيل وسلاح، وحاجة سفر ويراعى في ذلك الزمان والمكان، والرخص، والغلاء، وعادة الِلد في المطاعم والملابس الشرعية، فيكفيه بذلك المؤونات كلها لْتفرغ للجهاد، والاستعداد له، وإرصاد] ? /??[ نفسه له.\rوكذلك إذا نفقت دابته أو تلف سلاحه في الحرب ولم يكن محسوباً عليه في عطائه أو إقطاعه عوضه عنه. ولا يعطى لعبيد أو دواب أو ملابس محرمة يتخذها للزينة المجردة من غير مصلحة تتعلق بالجهاد؛ فإن كان فيهم مصلحة في الجهاد جاز .\rالدر المختار | جـ 6 صـ 641\rوالفرق بيْن العطية والرزق أن الرزق ما يفرض في بيت المال بقدر الحاجة والكفاية مشاهرة أو مياومة، والعطاء ما يفرض في كل سنة لا بقدر الحاجة بل بصبره وعنائه في أمر الدين )في ثلاث سنيْ( من وقت القضاء،\rبغية المسترشدين | جـ 1 صـ 533","part":1,"page":77},{"id":78,"text":"فائدة : قال المحب الطبري في كتابه التفقيه : يجوز قتل عمال الدولة المستوليْ على ظلم العباد إلحاقا لهم بالفواسق الخمس ، إذ ضررهم أعظم منها ، ونقل الأسنوي عن ابن عبد السلام أنه يجوز للقادر على قتل الظالم كالمكاس ونحوه من الولاة الظلمة أن يقتله بنحو سمّ ليستريح الناس من ظلمه ، لأنه إذا جاز دفع الصائل ولو على درهم حتى بالقتل بشرطه فأولى الظالم المتعدي اهـ.\rتكملة المجموع على شرح المهذب | جـ 62 صـ 124-242 | المكتبة السلفي ة","part":1,"page":78},{"id":79,"text":")القتل( وهو أشد أنواع التعزير كذلك كان جزاء على أفخش الجرائم وأعظمها ضررابمصالح المجتمع والجرائم الهادمة لكيان المجتمع المقوضة لأركَن النظام -إلى أنقال- فقد نص الحنفية على جواز التعزير بالقتل لمن لايزول فساده الا بالقتل كمنتكرر منه اغتيال النفوس لأخد المال مثلا وكذلك قالوا الساعي الى الحكام بالإفساد والظلمة والسارق وأمثالهم ممن يتعدى ضررهم الى الناس وكذلك روى عن مالك وبعض أصحاب أحمد جواز القتل تعزيرا كما في القتل الجاسوس المسلم إذا إقتضت المصلحة ذلك وأما عند الشافعية فقد إختلف النقل عنهم فها هو الغزالِ في الوجيز يقول ولا يجوز ان يقتل في التعزير والإستصلاح وهذا النص صريح فى عدم جواز القتل تعزيرا عندهم ولكن إبن القيم يقول روي عن بعض أصحاب الشافعي جواز قتل الداعية إلى الِدعة كالتهجم والرفض وإنكار القدر وهذا صريح أيضا في أن بعض أصحاب الشافعى يجيزون القتل تعزيرا والمقصود من ذلك انه يوجد من العلماء من لا يرى القتل تعزيرا وإن كان هذا الرأي ضعيفا فى نظرنا إذ كيف يسوغ الإبقاء على من اعتاد الإجرام واتَد إزهاق الأرواح صناعة والسعي بالمسلميْ والتجسس عليهم تجارة لذلك قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم -: إذا بويع لخليفتيْ فاقتلوا الأخر منهما وقال من جاءكم وأمركم على رجل واحد يريد أن يفرق جماعتكم فاضربوا عنقه بالسيف كائنا من كان وروي أحمد في مسنده عن ديلم الحميدي - رضي الله عنه - قال سألت رسول الله - صلى الله عليه وسلم - فقلت يا رسول الله: إنا بأرض نعالج فيها عملا شدسدا وإنا نتخد شرابا من القمح نتقوى به على أعمالنا وعلى برد بلادنا فقال هل يسكر ؟ قلت نعم قال فاجتنبوه قلت إن الناس غير تاركيه قال فإن لم يتركوه فاقتلوهم وهكذا كان عمله - صلى الله عليه وسلم - إلى أن قال وقد جرى عمل المسلميْ على ذلك فقد قتل عمر بن عبد العزيز - رضي الله عنه - غيلان القدري لأنه كان داعية إلِ بدعة فمن هذا كله","part":1,"page":79},{"id":80,"text":"يتبيْ أن القتلتعزيرا أيدته السنة القولْة و العملية\rالَفِْقْهُ الْاسِْلَامِىُّ | جـ 6 صـ 012 | دار الفكر\rوَمَنْ لمَْ يَندَْفِعْ فَسَادُهُ فِى الْاَرضِْ اِلَّا باِلقَْتلِْ قُتلَِ مِثلُْ المُْغْرِقِ ِلجمََاعَةِ المُْسْلِمِيَْْ وَالدَّاعَةِ إِلَى الِْدَِعِ فىِ الدِّينِْ قال تعالى \"من أجل ذلك كتبنا على بنى اسرائيل أنه من قتل نفسا بغير نفس أو فساد فى الأرض فكأنما قتل الناس جميعا\" وفى الصحيح عن النبى ) انه قال \"اذا بويع لخليفتيْ فاقتلوا الآخر منهما\" وروى مسلم فى صحيحه عن عروة الاشجعى ) \"من أتاكم وأمركم جميع على رجل واحد يريد ان يشق عصاكم أو يفرق جماعتكم فاقتلوه\" وأمر النبى ) بقتل رجل تعمد عليه الكذب والخلاصة: أنه يجوز القتل سياسة لمعتادى الاجرام كمدمنى الخمر ودعاة الفساد ومجرمى آمن الدولة ونحوهم\rالمذاهب الاربعة | جـ 5 صـ 135\rوقالوا: إن للحاكم أن يعزر بالقتل، فإن عقوبة اللواكة عندهم من باب التعزير ،ومع ذلك فإنهم يقولون: إذا تكررت هذه الفاحشة من شخص فإنه يعزر بالإعدام. إذ لا يليق أن يوجد بيْ النوع الإنساني من تنقلب طبيعته إلى هذا الحد، ولا يخفى ما في هذا من سلطة واسعة يتصرف فيها الحاكم بما يرى فيه المصلحة\rالفقه الإسلامي وأدلته | جـ 7 صـ 32","part":1,"page":80},{"id":81,"text":"أوجب الإسلام على المسلميْ الإسهام بالإنفاق في سبيل الله، والمقصود به الإنفاق على كل مايتطلبه المجتمع من مصالح ضرورية كالدفاع عن الِلاد، وتزويد الجيش العامل بالمؤن والسلاح، وبناء المؤسسات الخيرية العامة التي لاغنى لأي بلد متحضر عنها. وللحاكم كيفية تنظيم الحصول على هذه الموارد الكافية لسد العجزفي موازنة الخزينة العامة، من طريق وضع نظام ضريب عادل يلتزم خطة التصاعدبحيث يرتفع سعر الضريبة كلما زاد دخل المكلف، وبحسب درجة الغنى واليسار ،ونص فقهاء الإسلام كالغزالِ والشاطب والقرطب على مشروعية طرح ضرائب جديدة على الأغنياء والغلات والثمار وغيرها بقدر مايكفي حاجات الِلاد العامة، وأقر ذلك مجمع الِحوث الإسلامية في مؤتمره الأول المنعقد سنة 1964م في قراره الخامس) 1( .والخلاصة: إن الشريعة الإسلامية قيدت المالك في استعمال سلطاته على ملكيته، وفي حق التملك ذاته بقيود كثيرة، تحقيقاً لمبادئ المصلحة والعدل والمساواة بقدر الإمكان.\rالفتاوى الفقهية الكبرى | جـ 4 صـ 243","part":1,"page":81},{"id":82,"text":"وسَُئلَِ رحَمِهَُ اللهَُّ تَباَرَكَ وَتَعَالَى في كل ما يَعُمُّ نََفْعُهُ الََِْلَدَ كَعِمَارَةِ مَسَاجَِدِهَا وعَِمَارَةِ سُورهَِا وَمُؤْنةََِ القَْائِمِيَْ بِحصُُونِهَا ذَكَرَ الْأَئِمَّةُ أنهَُّ على أهْلِ الَقُْدْرَةِ من أهْلِ تلِكَْ الَِْلَدِ فما المُْ رَادُ بِأهَْلِ القُْدْرَةِ هل هُمَْ كُلُّ من لَا تحَِلُّ له الزَّكاَةُ أمْ لهم حَدٌّ غَيْرُ ذلك وَهَلْ يجَُوزُ للِوَْالِِ أصْلَحَهُ اللهَُّ تَعَالَى أنْ يخَُصَّ بَعْضَهُمْ باِلقِْياَمِ بذَِلكَِ دُونَ بَعْضٍ أو يخَُصَّ الَِْعْضَ في وَقتٍْ وَالَِْعْضََ الْآ خَرَ في وَقتٍْ آخَرَ أو يجَِبُ عليهَ التَّوْزِيعُ بيَنَْهُمْ لِأَنَّ المُْؤْنةََ تََْتَلِفُ باِخْتِلَافِ الْأوْقاَ تِ وَهَلْ التَّوْزِيعُ على قدَْرِ المَْالِ أمْ على الرُّءَُوسِ وحََيثُْ قِيلَ إنهَُّ على قدَْرِ المَْالِ بدَِلِْلِ أنََّ الفَْقِيرَ لَا شَيْءَ عليه فلََوْ كانت الْأمْوَالُ عَقَارًا فَهَلْ","part":1,"page":82},{"id":83,"text":"التَّوْزِيعُ على قدَْرِ مِسَاحَةَِ الْأَرضِْ أو قِيمَتِهَاَ وَكَذَا في النَّخِيلَِ وَنحَْوهَِا هل الِاعْتبِاَرُ باِلقِْيمَةِ أوَ العَْدَدِ فاَلمَْسْألةَُ وََاقِعَةٌ وَإلَِْْكَُمْ أحْكاَمُهَا رَاجِعَةٌ فَأجَابَ ر حَمَِهُ اللهَُّ تَباَرَكَ وَتَعَالَى بِأنَّ الذي يَتَّجِهُ هُناَ أنَّ المُْرَادَ بِأهْلِ القُْدْرَةِ الَّذِينَ يَمْلِكُونَ ما زَاَدَ على الكِْفَايةَِ سَنَةً كما يصَُرِّحُ بهِِ كلََامُ الشَّيْخَيِْْ وغََيْرِهِمَا وعَِباَرَةُ الرَّوضَْةِ وَمِنْهَا أيْ من فُرُوضِ الكِْفَاياَ تِ ما يَتَعَلَّقُ بِمَصَالِحِ المَْعَايشِِ وَانتِْظَامِ أُمُورِ الناس كَدَفْعِ الضَّرَرِ عنالمُْسْلِمِيَْ وَإزَِالةَِ فاَقتَِهِمْ كَسَتْرِ العَْوْرََةِ وَإطِْعَامِ الجْاَئِعِيَْ وَإِغاَثةَِ المُْسْتَغِيثِيَْ فيالناَّئبِاَتِ فكَُلُّ ذلك فَرْضُ كِفَايةٍَ في حَ قِّ أصْحَابِ الثَّرْوَةِ وَالمُْرُوءَةِ إذَا لم تفَِ الصَّدَقاَتُالوَْاجِبَةُ بسَِدِّ حَاجَاَتِهِمْ ولم يكَُنْ في بَيتِْ المَْالِ ما يصُْرَفُ إلَْْهَا فلََوْ انسَْدَّتْ الضَّرُورَةُ فَهَلْ يكَْفِي ذلك أمْ تحُْجَبُ الزِّياَدَةُ إلَى تَمَامِ الكِْفَايةَِ التي يَقُومُ بها من تلَزَْمُهُ النفََّقَةُ وجَْهَانِ قُلتْ قال الْإِمَامُ في كِتاَبهِِ الغِْياَثِِِّ يجَِبُ على المُْوسِرِ المُْوَاسَاةُ بِمَا زَادَ على اُلكِْفَايةَِ سَنةٌَ وَالَلهَُّ سُبْحَانهَُ وَتَعَالَى أعَْلَمُ ا هـ فَقَوْلُهُ ما يَتَعَلَّقُ بِمَصَالِحِ المَْعَاشِ وَانتِْظَامِ أمُورِ الناس كَدَفْعِ الضَّرَرِ عن المُْسْلِمِيَْ وَإِغاَثةَِ المَُْسْتَغِيثِيَْ في الناَّئبِاَتِ يشَْمَلُ عِمََارَةَ السُّورِ وَنحَْوَهَا مِمَّا يضَْطَرُّ الناس إلَْْهَا وقد بَيََّْ أنَّ ذَلك لَا يجََِبُ إلَّا على ال مُْوسِرِ وَأنَّ المُْرَادَ بهِِ من عِندَْهُ فاَضِلٌ عن كِفَايةَِ سَنةٍَ فَعُلِمَ أنَّ المَْسْألةََ","part":1,"page":83},{"id":84,"text":"مَنقُْولةٌَ في كلََامِ الشَّيْخَيِْْ وَالمُْرَادُ بكِِفَايةَِ السَّنةَِ هُناَ كما هو ظَاهِرٌ كِفَايَتهُُ وَكفَِايةَُ مُمَوَّنهِِ مَطْعَمًَا وَمَلبْسًَا وَمَ سْكَناً ودََوَاءً وغََيْرَهُمَا مِمَّا يَُتْاَجُ إلَْهِْ وَيسُْتفََادُ من كلََامِهِمَا هذا أنَّ المُْوسِرِينَ لَا يخُاَطَبُونَ بنَِحْوِ عَِمَارَةِ السُّورِ إلَّا إذَا لم يكَُنْ في بَيتِْ المَْالِ شَيْءٌ أو كَان فيه شَيْءٌ وجََارَ الناَّظِرُ في أمْرِهِ فلم يصَْرِفهُْ في مَصَارِفهِِ أو احُْتيِجَ لصَِرْفهِِ فِيمَا هو أهَمُّ من ذلك كَسَدِّ ثَغْرٍ يَعْظُمُ ضَرَرهُُ لوَ ترُِكَ أو حَالتَْ الظُّلمَْةُ دُونهَُ وَالرَّاجِحُ من الوْجَْهَيِْْ المُْطْلقََيِْْ أوََّلهُُمَا وَمِنهُْ يؤُخَْذُ أنَّ الوَْاَجِبَ في عِمَارَةِ السُّورِ إنَّمَا هو القَْدْرُ الذي يَندَْفِعُ بهِِ الضَّرَُورَةُ فَقَطْ وَبِهَذَا تَعْلَمُ أنَّ من جَعَلَ عِمَارَةَ المَْسْجِدِ كَعِمَارَةِ السُّورِ فَقَدْ أَبعَْدَ لِأنَّ المَْسْجِدَ لَا يضُْطَرُّ إلَْهِْ إذْ لَا تَتَوَقَّفُ صَلَاةٌ على صِحَّتهِِ وَلَا نَ ظَرَ لتَِوَقفُِّ الِاعْتِكاَفِ عليه لِأَنَّ الِاعْتِكاَفَ ناَدِرٌ وغََيْرُ وَاجِبٍ وَالوَْاجِبُ منه بنِذَْرٍ نذُِرَ فَلَا يصَْلُحُ حِينئَذٍِ غَيْرُ المََْسْجِدِ مِمَّا يضُْطَرُّ إلَْهِْ حتى يلُزَْمَ المُْوسِرُونَ ببِِناَئهِِ وَيُؤخَْذُ من تَعْبِيرهِِ بدَِفْ عِ الضَّرَرِ أنَّ عِمَارَةَ ذلك لَا يخُاَطَبُ بها المُْوسِرُونَ إلَّا إنْ تحَقََّقَ أو غَلبََ على الظَّنِّ أنََّ عَدَمَ عِمَارَتهِِ يكَُونُ سَببَاً لتِلََفِ نَفْسٍ أو مَالٍ محُتَْرَمٍ فإَنِْ قلُتْاعْتبِاَرُ المُْوسِرِ هُناَ بِمَنْ زَادَ مَالُهُ على كِفَايةَِ سَنةٍَ يُناَفِيهِ جَعْلُهُمْ المُْوسِرَ في العَْاقلَِةَِمن يَمْلِكُ عِشْرِينَ دِ يناَرًا قلُتْ يُفَرَّقُ بيَنَْهُمَا بِأنََّ مَلحَْظَ التَّحَمُّلَِ في","part":1,"page":84},{"id":85,"text":"العَْاقلِةََِ أنَّالقَْباَئلَِ فَي الجْاَهِلِيةَِّ كاَنوُا يَقُومُونَ بنُِصْرَةِ الجْاَنِي منهم وَيَمْنَعُونَ أوْلِْاَءَ الدَّمِ أخْذَ حَقِّهِمْ فَأبدَْلَ الشَّرْعُ تلِكَْ النُّصْرَةِ ببِدََلِ المَْالِ وَمَلحَْظُ سَدِّ الضَّرُورَةِ هُناَ وِقاَيةََُ النَفَّْسِ من التَّلفَِ أو نحَْوهِِ من غَيْرِ تسََببٍُّ من المُْحْتَمَلِ في ذلك بِوجَْهٍ لَا باِعْتبَِاَرِ أمْرٍ أصْلٍِّ وَلَا عاَرضٍِ وَمِنْ غَيْرِ نَفْعٍ يََعُودُ عليه في رحَمِِهِ وَقَرَاباَتِهِ فَلَِِلكَِ وسُِّعَ في أمْرِهِ ولم يلُزَْم بذَِلكَِ إَلَّا حَيثُْ كان مَن أهْلِ المُْوَاسَاةِ وَلَا يكَُونُ منهم إلَّا إذَا زَادَتْ كِفَايَتهُُ على سَنةٍَ لِأنَّ كَثِيرِينَ من أئِمَّتنَِا حََرَّمُوا عليه الزَّكاَةَ حِينئَذٍِ بِخِلَافِ التَّحَمُّلِ في العَْاقلَِةِ فإن سَببَهَُ من المُْحْتَمَلِ في الْأصْلِ وَهو مَنَْعُ الجْاَنِي وَبِعَودِْ نَفْعٍَ على القَْرِيبِ بِحِفْظِهِ من القَْتلِْ باَِعْتبِاَرِ ما كان فضَُويِقَ في أمْرِهِ وَألزَْمَ بهِِ غير الغَْنِيِّ أيضًْا وهو المُْتَوسَِّطُ الذي يَمْلِكُ أكْ ثَرَ من رُبْعِ دِيناَرٍَ وَالََّذِي يؤُخَْذُ منَه وَلوَْ بشَِيْءٍ قلَِيلٍ فَإنِْ قلُتْ قد يكَُونُ معه كِفَايةَُ سَنةٍَ وَيََِلُّ له أخْذُ الزَّكاَةِ فَهُوَ أهْلٌ لَأََنْ يوَُاسِيَهِ الناس فكََيْفَ مع ذَلك يجَِبُ عليه مُوَاسَاةُ غَيْرِهِ قلُتْ لَا مَانِعَ من ذلك أ لَا ترََى أنَّ من معه نصَِابٌ أو أكْثَرُ وَقَامَ بهِِ وصََْفٌ يجَُوزُ له أخَْذُ الزَّكاَةِ لَا يَقْتضَِي ذلك سُقُوطُهَا عنه وَلَا مَانِعَ من كَوْنهِِ يجَُوزُ له الْأخْذُ أو يجَِبُ عليه بِاعْتِباَرٍ وَيجَِبُ عليه الْإِعْطَاءُ باِعْتبِاَرٍ آخَرَ وَالْأ حَْكاَمُ تََتْلَِفُ باِخْتِلَافِ الِاعْتبَِارَاتِ وَإنِْ اتحَّدََتْ الذَّوَاتَُ كما هو جَلٌِّ وَقَوْلُ السَّائلِِ نَفَعَ اَللهَُّ","part":1,"page":85},{"id":86,"text":"سُبَْحَانهَُ وَتَعَالَىَ بهِِ وَهَلْ يجَُوزُ للِوَْلِيِّ إلَخْ جَوَابهُُ أنَّ مُقْتضََى كلََامِهِمْ في باَبِ اللقَِّيطِ\rأنَّ ا لْأغْنيِاَءَ إنْ أمْكَنَ اسْتيِعَابُهُمْ قسطها على رءُُوسِهِمْ فإَنِْ تَعَذَّرَ اسْتيِعَابُهُمْ لكَِثرَْتِهِمْ قَسَّطَهَا على من رَآَهُ منهم باِجْتِهَادِهِ فإَنِْ اسْتَوُوا في اجْتِهَادِهِ تَََيَّرَ وَإِنَّمَا قلُنَْا إنهَُّ يُقَسِّطُهُ على رءُُوسِهِمْ لِأنَّهُمْ اسْتَوَوْا كلهم في مِلكٍْ فاَضِلٍ عن السَّنةَِ فكَلُهُُّمْ من أَفلََهْزِلِ مَاهُ لتَّحَحَيمُّ لِثُْ وَأمْحََيكَنثُْهَُ اكاَنسْوُتا يِعَكلاهبَهُم مْ كَأذََلنْ يكَِ وَُفَزتَعَِّخْهُ صِعيليهصُ مأ بحََاِدِعْهِتبِمْاَ ترِ رَرجِْءُُيوحٌ سِهِله مْ مدُن وغَنَ يْرِأَ مْمُوَرالجَِّهِِحٍمْبِخِلَافِ ما إذَا لم يُمْكِنهُْ اسْتيِعَابَهُُمْ فإنه يجَْتَهِدُ في التَّخْصِيصِ فإََِنْ اسْتَوَوْا تَََيَّرَ وَلَانََظَرَ إلَى ما يتَََرَتبَُّ على الحْاَلةَِ الْأولَى من اسْتِوَاءِ غُرْمِ صَاحِبِ ألفٍْ وصََاحِبِ مِائةَِ ألفٍْ مَثَلًا لِأَناَّ لَا نَعْتَبِرُ قدَْرَ الزِّياَدَةِ على كِفَاي ةَِ سَنةٍَ حتى نوَُزِّعَ المَْغْرُومَ على نسِْبتَهِِ وَإِنَّمَا نَعْتَبِرُ أنْ يكَُونَ معه فاَضِلٌ عن كِفَايتَِهَا من غَيْرِ اعْتبِاَرِ قدَْرهِِ ثُمَّ إذَا خَصَّهُ في التَّوْزِيعِ شَيْءٌ لم يلَزَْمْهُ إلَّا إذَا كان الفَْاضِلَ فإَِنْ كان بَعْضُهُ من الفَْاضِلِ وَبَعْضُهُ من كِفَايةَِ السَّنةَِ لم يلَزَْمْهُ إلَّا الَِْعْضُ الذي من الفَْاضِلِ وسََقَطَ عنه ما هو من كِفَايةَِ السَّنةَِ وَوُزِّعَ على غَيْرِهِ مِمَّنْ لو خَصَّهُ غرمهُ من الفَْاضِلِ","part":1,"page":86},{"id":87,"text":"فإَنِْ قُلتْ إنَّمَا يَتَّجِهُ القِْياَسَُ على ما قاَلوُهُ في اللقَِّيطِ إذَا كان مُرَادُهُمْ باِلغِْنَى فيه ما قاَلوُهُ في بَاَبِ السِّيَرِ في المَْسْألةَِ السَّابقَِةِ وهو من معه فاَضِلٌ عن كِفَايةَِ سَنةٍَ قلُتْ الظَّاهِرُ أنَّ مُرَادَهُمْ في الِْاَبيَِْْ وَاحِدٌ وهو من معَه ما ذَكَرَ لِاتحِّاَدِ مَلحَْظِهِمَا وهو سََدُّ الضَّرُورَةِ عن ذَوِيهَا بلَْ ما فيَ اللقَِّيطِ فَرْدٌ من أفْرَادِ ما في السِّيَرِ كما هو ظَاهِرٌ لِأنَّ نَفَقَةَ اللقَِّيطِ إنَّمَا لزَِمَتْ الْأغْنيِاَءَ لِدَفْعِ ضَرُورَتِهِ فَهُوَ من إطْعَامِ الجْاَئِعِ المَْذْكُورِ في السِّيَرِ لَكِنَّهُمْ في اللقَِّيطِ ذَكَرُوا حُكَْمَ تَعَدُّدِ المُْنفِْقِ ولم يذَْكَُرُوهُ في السِّيَرِ إحَالةًَ على ما قدََّمُوهُ في اللقَِّيطِ ثُمَّ المُْرَادُ باِلْأغْنيِاَءِ في اللقَِّيطِ ما يَعُمُّ أَغْنيِاَءَ بلََدِ هِ وغََيْرََهُمْ وَكَذَا يُقَالُ المُْرَادُ بِهِمَْ في السِّيَرِ ذلك فما في السُّؤَالِ من أنَهَُّ علىَ أهْلِ القُْدْرَةِ من أهْلِ تلِكَْ الَِْلَدِ لَا ينَبَْغِي أنْ يُفْهَمَ منه التَّخْصِيصُ حتى لو اضَُْطُرَّ أهْلُ بلََدٍ لِعِمَارَةِ سُورهَِا وَلَا غَنِيَّ فِيهِمْ لم يسَْقُطْ الخِْطَابُ بَِعِمَارَتهِِ عن بقَِيةَِّ اَلْأغْنيِاَءِ الَّذِينَ في غَيْرِ تلِكَْ الَِْلَدِ بلََْ يخُاَطَبُونَ بهِِ وكَن تََصِْيصُ أهْلِ الَِْلَدِ لِأَنهَُّ الْأيسَْرُ فَهُوَ نظَِيرُ ما قاَلَهُ جمَْعٌ من أنَّ تَََصِْيصََهُمْ الِاقْتِرَاضَ وَالْإِنفَْاقَ إلَىَ اللقَِّيطِ بِأغَْنيِاَءِ بلََدِهِ ليس للِاِخْتصَِاصِ بِهِمْ بلَْ لِأنهَُّ الْأيسَْرُ وَالَلهَُّ سُبْحَانهَُ وَتَعَالَى أعْلَم\rPertanyaan\r.2 Jika praktik tersebut haram tapi tetap dilakukan, apakah hukum pemanfaatan dana pajak untuk kemaslahatan umat juga haram?\rJawaban","part":1,"page":87},{"id":88,"text":".2 Pemanfaatan dana pajak untuk kemaslahatan umat dalam masalah ini hukumnya boleh, karena sulit atau tidak memungkinkannya mengembalikan kembali kepada rakyat yang sudah membayar.\rKesulitan-kesulitan itu semisal membuat UU sebagai dasar hukum pengembalian, pembentukan panitia dan petugas pengembalian, penyediaan dana untuk biaya proses pengembalian, dan lain-lain. Di sisi lain dalam pengembalian pajak tersebut terdapat efekSemisal pemerintah disudutkan dengan kebijakan yang-efek negatif bagi pemerintah. salah dan tergesa-gesa tanpa kajian dan lain-lain.\rSehingga penggunaan dana pajak tersebut untuk kemaslahatan masyarakat sudah sangat tepat, sebab hakikatnya dana tersebut juga dikembalikan kepada kemaslahatan masyarakat.\rبغية المسترشدين | صـ 632\r)مسألة : ك( : عيْ السلطان على بعض الرعية شيئا كل سنة من نحو دراهم يصرفها في المصالح إن أدوه عن طيب نفس لا خوفا وحياء من السلطان أو غيره جاز أخذه ، وإلا فهو من أكل أموال الناس بالِاطل ، لا يَل له التصرف فيه بوجه من الوجوه، وإرادة صرفه في المصالح لا تصيره حلالا.\rإسعاد الرفيق | جـ 2 صـ 57\r)ومن معاصي البِطن أكل الربا( -إلى أن قال- )و( منها أكل ما يذخل على الشخصبسب )المكس( وهو ما ترتبه الظلمة من السلاطيْ فى أموال الناس بقوانيْ ابتدعوها وقد عد في الزواجر جباية المكوس والدخول في شيء من توابعها كالكتابة عليها إلا بقصد حفظ حقوق الناس إلى أن ترد عليهم إن تيسر من الكبائر قال فيها هو داخل في آية \"إنما السبيل على الذين يظلمون\" الأية والمكس بسائر أنواعه من جاني المكس وكَتبه وشاهده ووازنه وكَئله وغيرها من أكبر أنواع الظلمة بل هو منهم.\rبغية المسترشدين (صـ 104)","part":1,"page":88},{"id":89,"text":"(مسألة ب ج ك) يجوز دفع الزكاة للسلطان وإن كان جائرًا أو يصرفها في غير مصارفها إذا أخذها بنية الزكاة وقد صحت ولايته وقويت شوكته وانعقدت إمامته باستخلاف أو بيعة أو تغلب، لكن التفريق بنفسه أو بوكيله أولى ما لم يطلبها الإمام من الأموال الظاهرة وهي النعم والمعشرات والمعدن، وإلا وجب الدفع إليه فضلًا عن الجواز وإن صرح بصرفها في الفسق. وأما ما يلزمه التجار كل سنة من الخرس، فإن أعطوه إياه عن طيب نفس لا نحو خوف جاز له أخذه، وإلا فلا يملكه ولا التصرف فيه ولا تبرأ به ذمتهم عن الزكاة وإن نووها به.\rالمجموع شرح المهذب | جـ 9 صـ 135","part":1,"page":89},{"id":90,"text":")فرع( قال الغزالِ إذا كان معه مال حرام وأراد التوبة والبراءة منه فإن كان له مالك معيْ وجب صرفه إلْه أو إلى وكيله فإن كان ميتا وجب دفعه إلى وارثه وإن كان لمالك لا يعرفه ويئس من معرفته فينبغي أن يصرفه في مصالح المسلميْ العامة كالقناطر والربط والمساجد ومصالح طريق مكة ونحو ذلك مما يشترك المسلمون في ه وإلا فيتصدق به على فقير أو فقراء وينبغي أن يتولى ذلك القاضي إن كان عفيفا فإن لم يكن عفيفا لم يجز التسليم إلْه فإن سلمه إلْه صار المسلم ضامنا بل ينبغي أنيَكم رجلا من أهل الِلد دينا عالما فان التحكم أولى من الانفراد فإن عجز عن ذلك تولاه بنفسه فإن المقصود هو الصرف إلى هذه الجهة وإذا دفعه إلى الفقير لا يكون حراما على الفقير بل يكون حلالا طيبا وله أن يتصدق به على نفسه وعياله إذا كان فقيرا لأن عياله إذا كانوا فقراء فالوصف موجود فيهم بل هم أولى من يتصدق عليه وله هو أن يأخذ منه قدر حاجته لأنه أيضا فقير وهذا الذي قاله الغزالِ في هذا الفرع ذكره آخرون من الأصحاب وهو كما قالوه ونقله الغزالِ أيضا عن معاوية بن أبي سفيان وغيره من السلف عن أحمد بن حنبل والحارث المحاسب وغيرهما من أهل الورع لأنه لا يجوز إتلاف هذا المال ورميه في الِحر فلم يبق إلا صرفه في مصالح المسلميْ والله سبحانه وتعالى أعلم.\rالفتاوى الفقهية الكبرى (جـ 2 صـ 25)","part":1,"page":90},{"id":91,"text":"وسُئِلَ رضي الله عنه: هل يجوز لأحدٍ الأخذُ من حجارة القبور لسدِّ فَتْحِ لَحَدٍ، أو لبناء قَبرٍ آخر؟ فأجاب: إن كان ذلك من القبور المندرسة التي بَلِيَتْ ولم يبقَ لها أثرٌ، جاز الانتفاعُ بحجارتها؛ لأنها صارت كالموات، ولم يَعُدْ لها حُرْمَةُ القبور. وأما إن كانت القبور قائمةً أو يُتَوَقَّعُ عودُ أصحابها أو معرفةُ أربابها، فلا يجوز أخذُ شيءٍ منها.وأما الأموال الضائعة فأمرُها إلى الإمام، إن رأى حفظَها حتى يظهر مالكُها، أو بيعَها وحفظَ ثمنها فعل، وله أن يُقرضَه - أي الثمن - على بيت المال. ومحلُّ حفظِه إلى ظهور مالكه كما في الخادم عن ابن عبد السلام إذا تُوُقِّع ظهورُه، وهو متعيِّن. ومن ثم جزم به ابن سُرَاقَة، فإن أُيِسَ من ظهور مالكه صُرِفَ في المصالح. وقيل: يتخيَّر الإمام بين حفظه وصرفه. وبهذا يُعلَم ما في الأموال التي يأخذها المكّاسون من أموال بيت المال.\rPertanyaan\r.3 Apakah Masyarakat berdosa pada pemerintah, jika dia sebenarnya mampu membayar pajak tapi tidak mau membayarnya sebab banyaknya kasus korupsi uang pajak yang dilakukan oknum pejabat pemerintah?\rJawaban\r.3 Pada dasarnya wajib dan tidaknya membayar pajak, itu tergantung pada kebijakan yang dibuat oleh pemerintah terkait obyek pajak, besaran pajak dan tujuan-manfaatnya. Sedangkan penyelewengan oknum pejabat terhadap uang pajak tidak mempengaruhi hukumnya. Sekalipun oknum-oknum tersebut harus dihukum seberat-beratnya. Sehingga hukum membayar\rpajak d1) Wajib taat dlohir batiniperinci sebagai berikut. jika kebijakan pajak berdasarkan maslahah ammah\r)2 Wajib taat dlohir saja jika kebijakan pajak tidak berdasar maslahah atau ada dugaan kuat pajak tersebut akan diselewengkan penggunaannya.\rبغية المسترشدين (صـ 189)","part":1,"page":91},{"id":92,"text":"(مسألة ك) يجب امتثال أمر الإمام في كل ما له فيه ولاية، كدفع زكاة المال الظاهر، فإن لم تكن له فيه ولاية وهو من الحقوق الواجبة أو المندوبة جاز الدفع إليه والاستقلال بصرفه في مصارفه، وإن كان المأمور به مباحًا أو مكروهًا أو حرامًا لم يجب امتثال أمره فيه كما قاله (م ر)، وتردد فيه في التحفة، ثم مال إلى الوجوب في كل ما أمر به الإمام ولو محرّمًا لكن ظاهرًا فقط، وما عداه إن كان فيه مصلحة عامة وجب ظاهرًا وباطنًا، وإلا فظاهرًا فقط أيضًا، والعبرة في المندوب والمباح بعقيدة المأمور، ومعنى قولهم ظاهرًا أنه لا يأثم بعدم الامتثال، ومعنى باطنًا أنه يأثم. اهـ. قلت: وقال ش ق: والحاصل أنه تجب طاعة الإمام فيما أمر به ظاهرًا وباطنًا مما ليس بحرام ولا مكروه، فالواجب يتأكد، والمندوب يجب، وكذا المباح إن كان فيه مصلحة، كترك شرب التنباك إذا قلنا بكراهته؛ لأن فيه خسة بذوي الهيئات، وقد وقع أن السلطان أمر نائبه بأن ينادي بعدم شرب الناس له في الأسواق والقهاوي، فخالفوه وشربوا فهم العصاة، ويحرم شربه الآن امتثالًا لأمره، ولو أمر الإمام بشيء ثم رجع ولو قبل التلبس به لم يسقط الوجوب.\rموهبة ذي الفضل | جـ 3 صـ 355\rيؤيد ما بحثه قولهم تجب طاعة الإمام في أمره ونهيه ما لم يخالف الشرع ثم قال ما حاصله الذي يظهر أن ما أمر به مما ليس فيه مصلحة عامة لا يجب إمتثاله غلا ظاهرا وما فيه ذلك يجب باطنا أيضا وأن الوجوب في ذلك على كل صالح له عينا لا كفاية إلا إن خصص أمره بطائفة فيخت ص بهم فعلم أن قولهم إن جوزناه في قولهم يجب إمتثال أمره في التسعير إن جوزناه أي كما هو رأي ضعيف قيد لوجوب امتثاله ظاهرا وإلا فلا إلا إن خاف فتنة فيجب ظاهرا فقط وكذا في كل أمر محرم عليه بأن كان بمباح فيه ضرر عظيم على المأمور ب ه\rDiputuskan di Malang\rTanggal 26 Jumadil Ula 1447 H/17 November 2025\rKoordinator\rKH. Zahro Wardi\rModerator","part":1,"page":92},{"id":93,"text":"KH. M Luthfil Hakim, M.Pd.I. K. M. Nur Fuad, M.Pd.I.\rNotulen\rKH. Muhammad Anas, S.Pd.I.\rMushahih\rKH. Athoillah Anwar\rKH. Asyhar Shofwan\rKH. Firjaun Barlaman\rKH. Moh. Chusnan Ali\rPerumus\rKH. Zahro Wardi KH. M. Arifuddin, M.Pd.I. K. Fatkul Chodir, M.H.I.\rKH. Muhammad Anas, S.Pd.I. K. Syamsuddin, M.H.I.\rK. Fathoni Muhammad, Lc., M.Si. KH. M. Luthfil Hakim, M.Pd.I. K. M. Nur Fuad, M.Pd.I.\rKH. M. Alauddin, Lc, M.SEI.","part":1,"page":93}],"titles":[{"id":1,"title":"BMS PWNU JATIM_Malang_2025","lvl":1,"sub":0}]}