{"pages":[{"id":1,"text":"0234. BALASAN AMAL KEBAJIKAN\rPERTANYAAN :\rAni Fah\r\"Innamaa yuwaffaas shoobiruuna ajrohum bighoiri hisab\". Penggalan ayat di atas terdapat dalam surat apa & ayat berapa ???\rJAWABAN :\rMasaji Antoro\rقُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ [39/10]\rKatakanlah: \"Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu\". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (QS. Az-zumar ayat 10 ). Kebaikan yang dibalas dengan kebaikan oleh Allah disebut dalam beberapa ayat :\r{لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ} [39/10]\r{لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ وَلا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلا ذِلَّةٌ..} الآية[10/26]\rوالحسنى: الجنة. والزيادة: النظر إلى وجه الله الكريم.\r{وَيَجْزِيَ الَّذِينَ أَحْسَنُوا بِالْحُسْنَى} [53/31]\r{هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِِحْسَانُ} [55/60]\r{مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ خَيْرٌ مِنْهَا} [28/84]\r{ مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً\rوَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ } [النحل: 97] ،\rArti kebaikan yang dibalas kebaikan menurut beberapa tafsiir Quran :\rأي: من أحسن عمله في الدنيا أحسن الله إليه في الدنيا والآخرة.\rBarangsiapa yang memperbaiki amalnya didunia,Allah membalas kebaikannya di dunia dan akhirat. [ Tafsiir Ibnu katsir IV/568 ].","part":1,"page":1},{"id":2,"text":"{ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا } أي: آمنوا وأحسنوا العمل، { حَسَنَة } يعني: الجنة، قاله مقاتل. وقال السدي: في هذه الدنيا حسنة يعني: الصحة والعافية،\r“Artinya orang-orang yang beriman dan memperbaiki amalnya dibalas Allah dengn kebaikan (menurut Imam Muqaatil artinya surga, menurut as-Sidy artinya berbuat baik di dunia ini adalah sehat wal afiat. [ Tafsiir Ibnu katsir VII/111 ].\r{ للذين أحسنوا في هذه الدنيا حسنة } أي للذين أحسنوا بالطاعات في الدنيا مثوبة حسنة في الآخرة وقيل معناه للذين أحسنوا حسنة في الدنيا هي الصحة والعافية وفي هذه بيان لمكان\rOrang-orang yang berbuat baik di dunia ini artinya dengan ketaatan didunia dibalas dengan kebaikan diakhirat, ada pendapat juga mendapatkan kebaikan didunia berupa sehat wal afiat. [ Tafsiir al-Baedhoowy I/60 ].\r{ للذين أحسنوا في هذه الدنيا } بالطاعة { حسنة } هي الجنة\rOrang-orang yang berbuat baik di dunia ini dengan ketaatan dibalas kebaikan (surga). [ Tafsiir al-Jalaalain I/607 ].\rللذين أحسنوا في هذه الدنيا حسنة ( يعني الذين أتوا بالأعمال الصالحة الحسنة ثوابها حسنة مضاعفة من الواحد إلى العشرة إلى السبعمائة إلى أضعاف كثيرة , وقال الضحاك : هي النصر والفتح. وقال مجاهد : هي الرزق الحسن.فعلى هذا يكون معنى الآية للذين أحسنوا ثواب إحسانهم في هذه الدنيا حسنة , وهي النصر والفتح والرزق الحسن , وغير ذلك مما أنعم الله به على عباده في الدنيا","part":1,"page":2},{"id":3,"text":"Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan artinya orang-orang yang berbuat kesalehan didunia ini ganjarannya kebaikan yang dilipatgandakan dari satu hingga sepuluh hingga 700 hingga hitungan yang tak ternilai saking banyaknya. Menurut ad-Dhohaak memperoleh kebaikan artinya pertolongan dan kemenangan. Menurut al-Mujaahid memperoleh kebaikan artinya rizki yang baik. Bila berdasarkan dua pendapat ini arti memperoleh kebaikan dapat diartikan juga dia memperoleh saat hidup di dunia berupa pertolongan, kemenangan, rizki yang baik dan lain sebagainya yang termasuk segala kenikmatan yang diberikan oleh Allah pada hamba-hambaNya di dunia. [ Tafsiir al-Khoozin IV/88 ]. Wallaahu A’lam\r0315. TAFSIR : ALLAH SWT SANG PENGUASA 'ARSY\rPERTANYAAN :\rAhmad Rifki Mubarok\rAssalaamu 'alaikum. Tolong di-share tafsir serangkaian kata \"ISTAWA 'ALAL 'ARSYI\" surah Toha.\rJAWABAN :\rMbah Jenggot II\rWa`alaikum salam\r.بسم الله الرحمن الرحيم\rالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد\rAllah berfirman:\rلَيْسَ كَمِثْلِهِ شَىءٌ ( سورة الشورى : 11 )\r“Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya (baik dari satu segi maupun semua segi), dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya”. (QS. as-Syura: 11).","part":1,"page":3},{"id":4,"text":"Penjelasan : Ayat ini adalah ayat yang paling jelas dalam al Qur'an yang berbicara tentang tanzih (mensucikan Allah dari menyerupai makhluk), at-Tanzih al Kulliy; pensucian yang total dari menyerupai makhluk. Jadi maknanya sangat luas, dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa Allah maha suci dari berupa benda, dari berada pada satu arah atau banyak arah atau semua arah. Allah maha suci dari berada di atas arsy, di bawah arsy, sebelah kanan atau sebelah kiri arsy. Allah juga maha suci dari sifat-sifat benda seperti bergerak, diam, berubah, berpindah dari satu keadaan ke keadaan yang lain dan sifat-sifat benda yang lain. Al-Imam Abu Hanifah berkata :\rأنّى يُشْبِهُ الْخَالِقُ مَخْلُوْقَهُ\r\"Mustahil Allah menyerupai makhluk-Nya\".\rDengan demikian Allah tidak menyerupai makhluk-Nya, dari satu segi maupun semua segi. Al-Imam Malik berkata:\rوَكَيْفَ عَنْهُ مَرْفُوْعٌ\r\"Kayfa ( bagaimana; sifat-sifat benda) itu mustahil bagi Allah\".\rPerkataan al-Imam Malik ini diriwayatkan oleh al-Hafizh al-Bayhaqi dengan sanad yang kuat. Maksud perkataan al-Imam Malik ini adalah bahwa Allah maha suci dari al Kayf (sifat makhluk) sama sekali. Definisi al Kayf adalah segala sesuatu yang merupakan sifat makhluk seperti duduk, bersemayam, berada di atas sesuatu dengan jarak dan lain–lain.\rالْمَحْدُوْدُ عِنْدَ عُلَمَاءِ التّوْحِيْدِ مَا لَهُ حَجْمٌ صَغِيْرًا كَانَ أوْ كَبِيْرًا، وَالْحَدُّ عِنْدَهُمْ هُوَ الْحَجْمُ إنْ كَانَ صَغِيْرًا وَإنْ كَانَ كَبِيْرًا، الذَّرَّةُ مَحْدُوْدَةٌ وَاْلعَرْشُ مَحْدُوْدٌ وَالنُّوْرُ وَالظَّلاَمُ وَالرِّيْحُ كُلٌّ مَحْدُوْدٌ.","part":1,"page":4},{"id":5,"text":"\"Menurut ulama tauhid yang dimaksud dengan al-mahdud (sesuatu yang berukuran) adalah segala sesuatu yang memiliki bentuk baik kecil maupun besar. Sedangkan pengertian al-hadd (batasan) menurut mereka adalah bentuk baik kecil maupun besar. Adz-Dzarrah (sesuatu yang terlihat dalam cahaya matahari yang masuk melalui jendela) mempunyai ukuran dan disebut Mahdud demikian juga arsy, cahaya, kegelapan dan angin masing-masing mempunyai ukuran dan disebut Mahdud \".\rPenjelasan : Allah berfirman :\rالْحَمْدُ للهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ (سورة الأنعام : 1)\r\"Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menjadikan kegelapan dan cahaya\" (QS. al An'am : 1).\rDalam ayat ini Allah ta'ala menyebutkan langit dan bumi, keduanya termasuk benda yang dapat dipegang oleh tangan (Katsif). Allah juga menyebutkan kegelapan dan cahaya, keduanya termasuk benda yang tidak dapat dipegang oleh tangan (Lathif). Ini memberikan pemahaman kepada kita bahwa pada Azal (keberadaan tanpa permulaan) tidak ada sesuatupun selain Allah, baik itu benda katsif maupun benda lathif. Dan ini berarti bahwa Allah tidak menyerupai benda lathif maupun benda katsif.\rAllah ta'ala menciptakan alam ini terbagi menjadi dua bagian: benda dan sifat benda. Benda terbagi menjadi dua: Pertama: benda katsif yaitu benda yang dapat dipegang oleh tangan seperti pohon, manusia, air dan api. Kedua: Benda Lathif, yaitu benda yang tidak dapat dipegang oleh tangan seperti cahaya, kegelapan, ruh, udara. Masing-masing benda memiliki batas, ukuran, dan bentuk, Allah berfirman:","part":1,"page":5},{"id":6,"text":"وَكُلُّ شَىْءٍ عِندَهُ بِمِقْدَارٍ ( سورة الرعد : 8 )\r\"Segala sesuatu bagi Allah memiliki ukuran (yang telah ditentukan)\" (QS. ar-Ra'd: 8)\rBahwa benda katsif memiliki ukuran adalah hal yang sudah jelas. Sedangkan mengenai bahwa benda lathif memiliki ukuran adalah sesuatu yang memerlukan pengamatan dan penelitian yang seksama. Cahaya misalnya memiliki tempat dan ruang kosong yang diisi olehnya, cahaya matahari menyebar ke areal/jarak yang sangat luas yang diketahui oleh Allah, ukurannya sangat luas. Sementara cahaya lilin ukurannya sangat kecil. Cahaya kunang–kunang yang berjalan di rerumputan di malam hari, Allah jadikan cahayanya sekecil itu. Cahaya yang paling luas adalah cahaya surga. Jadi masing-masing cahaya tersebut memiliki batas dan ukuran yang membatasinya. Kegelapan juga memiliki ukuran dan ruang kosong yang diisi olehnya. Kadang tempat kegelapan tersebut sempit dan kadang luas. Demikian juga angin memiliki tempat yang diisi olehnya. Para Malaikat diperintahkan oleh Allah untuk menimbangnya dan mengirimkannya sesuai dengan perintah dan ketentuan Allah. Ada angin yang dingin, angin yang panas. Ada angin yang Allah kirimkan untuk menghancurkan suatu kaum, begitu juga ada angin yang dikirimkan sebagai rahmat. Jadi masing-masing angin tersebut memiliki timbangan yang telah ditentukan oleh Allah. Demikian juga, ruh memiliki ukuran. Ketika ruh berada pada tubuh manusia, ruh berukuran sama dengan badan orang tersebut dan ketika ruh berpisah, meninggalkan badan seseorang ia bertempat di udara tanpa menyatu dengan jasadnya. Kesimpulannya; setiap makhluk pasti memiliki","part":1,"page":6},{"id":7,"text":"tempat, baik tempat yang besar maupun yang kecil.\rBenda paling kecil yang diciptakan oleh Allah dan bisa dilihat oleh mata adalah haba'. Haba' adalah sesuatu yang kecil yang terlihat apabila sinar matahari masuk ke dalam rumah dari jendela, nampak seperti debu yang kelihatan oleh mata, benda ini disebut haba'. Memang masih ada lagi benda yang lebih kecil dari haba', yang bahkan tidak dapat dilihat oleh mata karena sangat kecilnya, walaupun demikian tetap saja benda tersebut memiliki bentuk yaitu bentuk yang paling kecil yang diciptakan oleh Allah yang disebut dalam istilah tauhid al-Jawhar al-Fard; bagian yang tidak bisa dibagi-bagi lagi. Al-Jawhar al-Fard adalah benda yang paling kecil yang diciptakan oleh Allah, al-Jawhar al-Fard adalah asal bagi semua benda.\rSemua benda ini memilki batas dan ukuran dan karenanya membutuhkan kepada yang menjadikannya dalam ukuran tersebut, dan dengan begitu benda tidak sah menjadi tuhan. Ketuhanan hanya sah berlaku bagi yang tidak memiliki ukuran sama sekali, yaitu Allah yang maha suci dari status Mahdud (Allah tidak memiliki batas dan ukuran). Makna Mahdud di sini tidak hanya berlaku bagi sesuatu yang memiliki bentuk kecil saja akan tetapi sesuatu yang memiliki bentuk yang besar juga disebut Mahdud.","part":1,"page":7},{"id":8,"text":"Sedangkan al-A'radl adalah sifat benda seperti bergerak, diam, warna, rasa dan lain–lain. Jadi di antara sifat benda adalah bergerak dan diam, sebagian benda terus-menerus bergerak, yaitu bintang, bahkan an-Najm al-Quthbi (bintang yang bisa menunjukkan arah kiblat) sekalipun bergerak, hanya saja gerakannya pelan dan bergerak di tempatnya. Sebagian benda lagi ada yang terus–menerus diam seperti tujuh langit yang ada. Sebagian benda lagi kadang diam dan kadang bergerak seperti manusia, malaikat, jin dan binatang.\rTermasuk di antara sifat benda juga adalah berwarna kadang sesuatu berwarna putih, ada yang berwarna merah, kuning atau hijau. Matahari juga memiliki sifat, di antara sifatnya adalah panas. Angin juga memiliki sifat di antara sifatnya adalah dingin, panas, berhembus dengan kuat atau pelan.\rJadi Allah ta'ala yang menciptakan alam ini dengan berbagai macam jenis dan bentuknya, maka Dia tidak menyerupainya, dari satu segi maupun semua segi. Allah ta'ala tidak menyerupai benda katsif maupun benda lathif dan juga tidak bersifat dengan sifat–sifat benda, Allah tidak menyerupai satupun dari segala sesuatu yang diciptakan-Nya, oleh karena itu Ahlussunnah mengatakan:\rاللهُ مَوْجُوْدٌ بِلاَ مَكَانٍ وَلاَ جِهَةٍ\r\"Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah\".","part":1,"page":8},{"id":9,"text":"Allah menjadikan arah atas sebagai tempat bagi arsy dan para Malaikat yang mengelilinginya dan juga sebagai tempat bagi al-Lauh al-Mahfuzh dan lain-lain. Allah menjadikan manusia, binatang, serangga dan lain-lain bertempat di arah bawah. Jadi Dzat yang menciptakan sebagian makhluk bertempat di arah arsy dan sebagian yang lain di arah bawah mustahil bagi-Nya memiliki arah. Karena seandainya dikatakan dia berada di salah satu arah atau bertempat di semua arah niscaya akan ada banyak serupa bagi-Nya, padahal Allah telah berfirman:\rلَيْسَ كَمِثْلِهِ شَىءٌ ( سورة الشورى : 11 )\r\"Tidak ada satupun yang menyerupai-Nya\". Inilah aqidah yang diyakini oleh semua kaum muslimin di negara-negara muslim; Indonesia, Mesir, Irak, Turki, Maroko, AlJazair, Tunisia, Yaman, Somalia dan daratan Syam, mereka semua dan yang lain di negara-negara lain semua mengajarkan keyakinan ini.","part":1,"page":9},{"id":10,"text":"Sedangkan orang yang meyakini bahwa Allah adalah benda yang sama besarnya dengan arsy, memenuhi arsy atau separuh dari arsy atau meyakini bahwa Allah lebih besar dari arsy dari segala arah kecuali arah bawah atau bahwa Allah adalah cahaya yang bersinar gemerlapan atau bahwa Allah adalah benda yang besar dan tidak berpenghabisan atau berbentuk seorang yang muda atau remaja atau orang tua yang beruban, maka semua orang ini tidak mengenal Allah. Mereka tidak menyembah Allah, meskipun mereka mengira diri mereka muslim. Mereka bukanlah orang yang menyembah (beribadah) Allah, yang mereka sembah adalah sesuatu yang mereka bayangkan dan gambarkan dalam diri mereka, sesuatu yang sesungguhnya tidak ada. Musibah mereka yang paling besar adalah bahwa mereka tidak memahami adanya sesuatu yang bukan benda. Oleh karena itu mereka –dengan segenap upaya- berusaha menjadikan Allah benda yang bersifat dengan sifat-sifat benda pula, lalu bagaimana bisa mereka mengaku mengenal dan memahami firman Allah: Laysa Ka Mitsli Syai’ (QS. Asy-Syura: 11) dan beriman kepadanya?!! Seandainya mereka benar-benar mengetahui ayat tersebut dan beriman dengannya niscaya mereka tidak akan menjadikan Allah sebagai benda, karena alam ini seluruhnya adalah benda dan sifat-sifat yang ada padanya.","part":1,"page":10},{"id":11,"text":"Seandainya terjadi perdebatan antara orang-orang Musyabbihah (orang-orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya) seperti orang Wahhabi -yang meyakini bahwa Allah adalah benda, yang memiliki ukuran- dengan orang yang menyembah matahari. Orang Wahhabi akan mengatakan kepada penyembah matahari: Anda, wahai penyembah matahari, matahari yang engkau sembah ini tidak berhak untuk menjadi tuhan. Penyembah matahari akan menjawab dan berkata kepada orang Wahhabi: bagaimana mungkin matahari tidak berhak untuk disembah, padahal bentuknya indah, manfaatnya sangat besar, anda bisa melihatnya dan saya juga melihatnya dan semua orang melihatnya, semua orang mengetahui dengan baik manfaatnya. Bagaimana mungkin agama saya batil dan agamamu benar, sementara anda menyembah sesuatu yang anda bayangkan dalam diri anda, anda tidak melihatnya dan kami juga tidak melihatnya, anda mengatakan tuhan anda adalah bentuk yang besar yang duduk di atas arsy ?!!.\rOrang Wahhabi tidak akan memiliki dalil 'aqli (argumen rasional), seandainya orang Wahhabi mengatakan : al Qur'an telah menegaskan bahwa Allah adalah pencipta alam, Dia-lah yang berhak untuk disembah, tidak ada sesuatu selain-Nya yang berhak untuk disembah. Maka orang yang menyembah matahari tersebut akan mengatakan kepadanya: Saya tidak beriman dengan kitab suci anda, berikan kepada saya dalil 'aqli bahwa matahari tidak berhak untuk dijadikan tuhan yang disembah dan bahwa apa yang anda sembah yang anda bayangkan (dalam benak anda) itu berhak untuk disembah! Maka orang Wahabi akan terdiam dan membisu.","part":1,"page":11},{"id":12,"text":"Sedangkan kita, Ahlussunnah memiliki jawaban yang rasional. Kita akan mengatakan kepada penyembah matahari : matahari yang anda sembah, yang mempunyai ukuran tertentu dan bentuk tertentu, pasti membutuhkan kepada yang menjadikannya dalam ukuran dan bentuk tersebut. Sedangkan tuhan kami, Ia adalah sesuatu yang ada tetapi tidak menyerupai segala sesuatu yang ada, tidak menyerupai sesuatupun dari makhlukNya, Dia tidak memiliki ukuran, tidak memiliki bentuk, tidak memiliki arah, tidak memilki tempat dan tidak memiliki permulaan. Inilah Dzat yang ada, yang kami sembah yang dinamakan Allah. Dialah yang berhak untuk disembah. Dia yang menciptakan matahari yang anda sembah, manusia dan segala sesuatu yang lain.\rSeorang Sunni; penganut akidah Ahlussunnah ketika mengeluarkan hujjah 'aqli ini tanpa mengatakan: Allah ta'ala berfirman demikian, telah mampu mengalahkan orang kafir yang menyembah matahari tersebut. Maka segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita petunjuk kepada keyakinan yang benar ini, kita tidak akan menemukan kebenaran dan petunjuk semacam ini seandainya tidak karena mendapat petunjuk Allah. Al-Imam Ali ibn Abi Thalib -semoga Allah meridlainya- berkata:\rمَنْ زَعَمَ أنَّ إِلهََنَا مَحْدُوْدٌ فَقَدْ جَهِلَ الْخَالِقَ الْمَعْبُوْدَ (رَوَاه أبُو نُعَيم)\r\"Barang siapa beranggapan (berkeyakinan) bahwa Tuhan kita berukuran maka ia tidak mengetahui Tuhan yang wajib disembah (belum beriman kepada-Nya)\" (Diriwayatkan oleh Abu Nu'aym (W 430 H) dalam Hilyah al-Auliya, juz 1, h. 72).","part":1,"page":12},{"id":13,"text":"Penjelasan : Maksud dari perkataan sayyidina Ali ini adalah bahwa orang yang berkeyakinan atau beranggapan bahwa Allah adalah benda yang besar atau kecil maka dia adalah kafir, tidak mengenal Allah, seperti orang yang meyakini bahwa Allah menempati salah satu arah seperti arah atas. Karena dengan keyakinan seperti ini orang tersebut telah menjadikan Allah mahdud (memiliki ukuran), padahal setiap yang mahdud (berukuran besar atau kecil) pasti membutuhkan kepada yang menjadikannya dalam ukuran tersebut, sementara yang membutuhkan itu lemah dan yang lemah mustahil menjadi tuhan.\rDengan demikian dalam perkataan sayyidina Ali ini terdapat dalil yang jelas bahwa Allah maha suci dari hadd (ukuran) sama sekali. Maka barangsiapa yang menyandarkan kepada Allah sifat duduk, bersemayam, berada di atas sesuatu dengan jarak maka sesungguhnya dia tidak mengenal Allah, dan barangsiapa berkeyakinan demikian terhadap Allah maka sesungguhnya ia seorang kafir yang rusak akidahnya.\rHaba' memiliki ukuran, semut memiliki ukuran, manusia memiliki ukuran, matahari memiliki ukuran, langit memiliki ukuran, arsy memiliki ukuran. Jadi masing-masing yang disebutkan memiliki ukuran dan membutuhkan kepada yang menjadikannya dengan ukuran tersebut.","part":1,"page":13},{"id":14,"text":"Jadi, setiap sesuatu yang memiliki ukuran pasti dia adalah makhluk, yang membutuhkan (kepada selainnya) dan lemah maka tidaklah sah baginya sifat ketuhanan. Ketuhanan hanya sah bagi yang tidak memiliki bentuk dan ukuran; yaitu Dialah Allah yang tidak membutuhkan kepada seluruh alam, Dialah yang tidak mempunyai bentuk dan ukuran. Al-Imam al-Ghazali (semoga Allah merahmatinya) berkata:\rلاَ تَصِحُّ الْعِبَادَةُ إلاّ بَعْدَ مَعْرِفَةِ الْمَعْبُوْدِ\r“Tidak sah ibadah (seorang hamba) kecuali setelah mengetahui (Allah) yang wajib disembah”.\rArtinya barangsiapa yang tidak mengenal Allah dengan menjadikan-Nya memiliki ukuran yang tidak berpenghabisan misalnya maka dia adalah kafir. Dan tidak sah bentuk-bentuk ibadahnya seperti shalat, puasa, zakat, haji dan lainnya. Al-Imam Abu Ja'far ath-Thahawi ( 227-321 H) berkata:\rتَعَالَى (يَعْنِي اللهَ) عَنِ الْحُدُوْدِ وَالغَايَاتِ وَالأرْكَانِ وَالأعْضَاءِ وَالأدَوَاتِ لاَ تَحْوِيْهِ الْجِهَاتُ السِّتُّ كَسَائِرِ الْمُبْتَدَعَاتِ\r\"Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar, jadi Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya). Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang) tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi enam arah penjuru tersebut\".","part":1,"page":14},{"id":15,"text":"Penjelasan : Al-Imam ath-Thahawi adalah Ahmad bin Muhammad bin Sallamah, lahir tahun 227 H. Jadi beliau masuk dalam makna hadits yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam :\rخَيْرُ الْقُرُوْنِ قَرْنِي ثُمَّ الّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ )رَوَاهُ التّرمِذِي(\r\"Sebaik–baik abad adalah abad-ku, kemudian satu abad setelahnya, kemudian satu abad setelahnya\" (HR. at-Tirmidzi)\rAl-Imam ath-Thahawi menyebutkan perkataannya tersebut dalam kitab penjelasan aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah, yang kitab ini telah dianggap baik dan diterima oleh seluruh ummat Islam dari generasi ke generasi.\rMakna dari “Ta'ala” adalah bahwa Allah maha suci\rMaksud perkataan ath-Thahawi bahwa Allah maha suci dari ”Hudud” adalah bahwa Allah maha suci dari Hadd sama sekali. Hadd adalah benda dan ukuran, besar maupun kecil. Suatu benda pasti berada pada suatu tempat dan arah. Sedangkan Allah maha suci dari berupa benda, berarti Allah ada tanpa tempat. Seandainya Allah adalah benda niscaya akan ada banyak serupa bagi-Nya, padahal Allah ta'ala telah berfirman:\rفَلاَ تَضْرِبُوْا لِلّهِ الأمْثَالَ (سورة النحل : 74)\r\"Janganlah kalian membuat serupa-serupa bagi Allah\"(QS. an-Nahl: 74)","part":1,"page":15},{"id":16,"text":"Dengan demikian barangsiapa mengatakan bahwa Allah memiliki hadd yang hadd tersebut tidak ketahui oleh kita, hanya Allah saja yang mengetahuinya maka sungguh orang ini adalah seorang yang kafir, karena dengan demikian dia telah menetapkan Allah sebagai benda yang memiliki bentuk dan ukuran. Maksud perkataan ath-Thahawi ”La Tahwihi al-Jihat as-Sittu...” bahwa Allah mustahil berada di salah satu arah atau di semua arah karena Allah ada tanpa tempat dan arah. Enam arah yang dimaksud adalah adalah atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang. Maksud perkataan ath-Thahawi ”Ka Sa-ir al-Mubtada’at” adalah bahwa semua makhluk diliputi oleh arah, sedangkan Allah tidak menyerupai makhluk-Nya dari satu segi maupun semua segi dan Allah tidak bisa digambaarkan dalam hati dan benak manusia. al-Imam Ahmad ibn Hanbal mengatakan:\rمَهْمَا تَصَوَّرْتَ بِبَالِكَ فاللهُ بِخِلاَفِ ذَلِكَ (روَاه أبُو الفَضْلِ التَّمِيْمِيُّ)\r\"Apapun yang terlintas dalam benak kamu (tentang Allah), maka Allah tidak seperti itu\". (Diriwayatkan oleh Abu al Fadll at-Tamimi).","part":1,"page":16},{"id":17,"text":"Jika ada pertanyaan: Bagaimana hal demikian itu bisa terjadi (bahwa ada sesuatu yang ada tetapi tidak bisa dibayangkan dan digambarkan dengan benak)? Jawab: Bahwa di antara makhluk ada yang tidak bisa kita bayangkan akan tetapi kita harus beriman dan meyakini adanya. Yaitu bahwa cahaya dan kegelapan keduanya dulu tidak ada. Tidak ada satupun di antara kita yang bisa membayangkan pada dirinya bagaimana ada suatu waktu atau masa yang berlalu tanpa ada cahaya dan kegelapan di dalamnya?! Meski demikian kita wajib beriman dan meyakini bahwa telah ada suatu masa yang berlalu tanpa dibarengi dengan cahaya dan kegelapan, karena Allah berfirman:\rوَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنّوْرَ (سورةالأنعام : 1)\r\"...dan Dia yang telah menjadikan kegelapan dan cahaya\" (QS. Al-An'am: 1). Artinya bahwa Allah yang telah menciptakan kegelapan dan cahaya dari yang sebelumnya tidak ada. Jika demikian halnya yang terjadi pada makhluk, maka lebih utama kita beriman dan percaya tentang Allah Yang mengatakan tentang Dzat-Nya: Laysa Kamitslihi Syai’ (QS. Asy-Syura: 11), maka Allah tidak tergambar dalam benak dan tidak diliputi oleh akal, Allah ada, maha suci dari bentuk dan ukura, ada tanpa tempat dan arah. Al-Imam ath-Thahawi juga berkata:\rوَمَنْ وَصَفَ اللهَ بِمَعْنًى مِنْ مَعَانِي الْبَشَرْ فَقَدْ كَفَرَ\r“Barangsiapa menyifati Allah dengan salah satu sifat manusia maka ia telah kafir”.","part":1,"page":17},{"id":18,"text":"Penjelasan : Barangsiapa menyifati Allah dengan salah satu sifat manusia maka ia telah kafir. Sifat–sifat manusia banyak sekali. Sifat yang paling nyata adalah baharu, yakni ”ada setelah sebelumnya tidak ada”. Di antara sifat manusia juga adalah mati, berubah, berpindah dari satu keadaan ke keadaan yang lain, bergerak, diam, infi'al (merespon peristiwa dengan kegembiraan atau kesedihan atau semacamnya yang nampak dalam raut muka dan gerakan anggota tubuh), turun dari atas ke bawah, naik dari bawah ke atas, berpindah, memiliki warna, bentuk, panjang, pendek, bertempat pada suatu arah dan tempat, membutuhkan, memperoleh pengetahuan yang baru, terkena lupa, bodoh, duduk, bersemayam, berada di atas sesuatu dengan jarak, berjarak, menempel, berpisah dan lain–lain. Jadi barangsiapa mensifati Allah dengan salah satu sifat manusia tersebut maka dia telah kafir. Al-Imam Ahmad ar-Rifa'i (W 578 H) dalam al-Burhan al-Mu-ayyad berkata:\rصُوْنُوْا عَقَائِدَكُمْ مِنَ التَّمَسُّكِ بِظَاهِرِ مَا تَشَابَهَ مِنَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ أُصُوْلِ الْكُفْرِ\r“Hindarkan aqidah kamu sekalian dari berpegang kepada zhahir ayat al Qur'an dan hadits yang mutasyabihat, sebab hal demikian merupakan salah satu pangkal kekufuran”.","part":1,"page":18},{"id":19,"text":"Penjelasan : Al-Imam ar-Rifa'i hidup pada abad ke enam hijriyyah, beliau adalah seorang ahli hadits, ahli tafsir, pengikut al-Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari dalam rumusan aqidah dan pengikut madzhab Syafi'i dalam fiqih. Beliau adalah orang paling mulia dan paling alim di masanya. Beliau sangat menekankan tanzih (mensucikan Allah ta'ala dari menyerupai makhluk). Di antara perkataan beliau dalam masalah tanzih adalah perkataan yang beliau sebutkan dalam kitab al-Burhan al-Muayyad tersebut. Maksud perkataan beliau adalah bahwa orang yang mengambil zhahir sebagian ayat al Qur'an dan hadits Nabi, yang memberikan persangkaan bahwa Allah adalah benda yang bersemayam di atas arsy atau bahwa Allah berada di arah bumi atau bahwa Allah mempunyai anggota badan, bergerak dan yang semacamnya maka orang tersebut telah kafir. Seperti orang yang menafsirkan ayat:\rالرّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى (طه: 5)\rdengan duduk maka orang tersebut telah kafir. Karena mengatakan duduk bagi Allah adalah cacian terhadap-Nya sebab duduk adalah sifat malaikat, Jin, manusia, anjing, babi dan monyet. Makna ayat tersebut yang benar adalah bahwa Allah maha menguasai arsy. Makna ini layak bagi Allah karena Allah telah menamakan Dzat-Nya:\rاللهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّار (يوسف: 39)","part":1,"page":19},{"id":20,"text":"”Allah maha esa lagi maha berkuasa”. Oleh karena itu orang-orang Islam biasa menamakan anak mereka dengan Abdul Qahir atau Abdul Qahhar, tidak ada seorangpun yang menamakan anaknya Abdul Jalis atau Abdul Qa'id. Demikian pula orang yang mengatakan bahwa Allah berada di atas arsy dengan ada jarak antara Allah dengan arsy, artinya tanpa menyentuhnya maka tetap saja dia seorang yang kafir. Karena setiap sesuatu yang berada di atas sesuatu yang lain pasti berkemungkinan berukuran sama dengan sesuatu tersebut atau lebih besar atau lebih kecil. Dan segala sesuatu yang menerima ukuran maka dia adalah makhluk, yang membutuhkan kepada yang menjadikannya dalam ukuran tersebut.\rAdapun pernyataan sebagian kaum Musyabbihah seperti kaum Wahhabiyah sekarang bahwa Allah berada di atas arsy yang di atas arsy tersebut tidak ada tempat pernyataan ini terbantahkan dengan hadits riwayat al-Bukhari, al-Bayhaqi dan lainnya bahwa Rasulullah bersabda:\rإنّ اللهَ لَمَا قَضَى الْخَلْقَ كَتَبَ فِي كِتَابٍ فَهُوَ مَوْضُوْعٌ عِنْدَهُ فَوْقَ العَرْشِ إنَّ رَحْمَتِيْ غَلَبَتْ غَضَبِيْ\r\"Sesungguhnya Allah ketika menciptakan makhluk menciptakan kitab (tulisan) yang terletak di atas arsy dan dimuliakan oleh Allah yang berbunyi sesungguhnya (tanda-tanda) rahmat-Ku lebih banyak dari (tanda-tanda) murka-Ku\" (HR. al-Bukhari, al-Bayhaqi dan lainnya). Dan dalam riwayat Ibnu Hibban dengan redaksi:\rوَهُوَ مَرْفُوْعٌ فَوْقَ الْعَرْشِ\r\"Dan dia arsy terangkat (diletakan) di atas arsy\".","part":1,"page":20},{"id":21,"text":"Dengan demikian hadits ini adalah dalil bahwa di atas arsy terdapat tempat. Karena bila di atas arsy tidak ada tempat maka tentu Rasulullah tidak akan mengatakan bahwas kitab tersebut diletakkan di atasnya. Adapun kata “’Indahu” dalam hadits tersebut adalah dalam makna “dimuliakan”, karena penggunaan kata “’Inda” mengandung makna untuk memuliakan, sebagaimana firman Allah tentang orang-orang yang saleh:\rوَإنّهُمْ عِنْدَنَا لَمِنَ الْمُصْطَفَيْنَ الأخْيَارِ (ص: 47)\rKata “’Indana…” dalam ayat ini artinya untuk memuliakan bukan untuk menyatakan bahwa Allah berada pada tempat yang bertetanggaan atau bersampingan dengan tempat orang-orang saleh tersebut. Dengan demikian dalam keyakinan kaum Musyabbihah yang menetapkan Allah bertempat di atas arsy telah menjadikan kitab tersebut di atas sebagai keserupaan bagi-Nya. Ini artinya sama saja mereka telah mendustakan firman Allah: “Laysa Kamitslihi Syai’ (Qs. Asy-Syura: 11). Demikian juga orang yang memahami firman Allah:\rإِنَّ رَبَّكُمُ اللهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ (الآعراف: 54)\rdengan menafsirkan bahwa Allah berada pada arah bawah atau arah bumi kemudian naik ke arah atas lalu menciptakan langit, kemudian Dia naik ke arsy lalu bersemayam (bertempat) maka orang ini telah menjadi kafir. Makna ayat yang benar adalah bahwa Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dan bahwa Allah sebelum menciptakannya telah menguasai arsy. Kata “tsumma” artinya dalam makna ”wa”; maknanya “dan”. Al-Imam Abu Manshur al-Maturidi berkata: Firman Allah:\rثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ","part":1,"page":21},{"id":22,"text":"artinya adalah \" sungguh Allah telah menguasai arsy \" .\rBegitu pula orang yang menafsirkan firman Allah:\rفَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ (البقرة: 115)\rdiartikan dengan anggota tubuh atau bahwa Dia berada pada arah bumi maka dia seorang yang kafir. Makna yang benar; Wajhullah adalah Kiblat Allah, sebagaimana dinyatakan oleh al-Imam Mujahid; murid dari sahabat Abdullah ibn Abbas.\rDemikian pula orang yang memahami firman Allah:\rكُلُّ شَيءٍ هَالِكٌ إلاّ وَجْهَهْ (القصص: 88)\rdengan mengartikan bahwa alam ini adalah sesuatu maka ia akan punah, begitu pula Allah adalah sesuatu maka Dia akan punah, dan tidak ada sesuatu yang kekal dari Allah kecuali bagian wajah saja maka orang ini dihukumi kafir. Pemahaman buruk seperti ini sebagaimana penafsiran seorang Musyabbih yang bernama Bayan ibn Sam'an at-Tamimi. Adapun makna yang benar dari kata ”Wajhahu..” di atas adalah dalam makna ”kerajaan”, atau dalam makna ”sesuatu yang bisa mendekatkan diri kepada Allah” sebagaimana takwil ini telah dinyatakan oleh al-Imam al-Bukhari dan al-Imam Sufyan ats-Tsauri.\rDemikian juga orang menafsirkan firman Allah tentang perahu Nabi Nuh:\rتَجْرِيْ بأعْيُنِنَا (القمر: 14)\rdengan anggota tubuh (mata) maka orang tersebut telah kafir. Adapun makna yang benar adalah ”memelihara”, artinya bahwa perahu Nabi Nuh tersebut berjalan dengan ”pemeliharan” dan ”penjagaan” dari Allah sebagaimana hal ini telah dinyatakan oleh para ahli tafsir.\rDemikian pula orang yang memahami firman Allah:\rيَدُ اللهِ فَوْقَ أيْدِيْهِمْ (الفتح: 10)","part":1,"page":22},{"id":23,"text":"dalam pengertian anggota tubuh maka orang tersebut telah kafir. Makna yang benar kata ”yad” di sini adalah ”al-’ahd”; artinya ”janji” sebagaimana telah ditafsirkan oleh para ulama.\rDemikian pula orang yang menafsirkan firman Allah:\rوَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا (الفجر: 22)\rdalam makna bahwa Allah bergerak dan berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain maka orang tersebut telah kafir. Makna yang benar adalah ”datang kekuasaan Allah”, artinya tanda atau pengaruh dari sifat kuasa-Nya, sebagaimana demikian telah ditafsirkan oleh al-Imam Ahmad ibn Hanbal (sebagaimana telah diriwayatkan oleh al-Hafidz al-Baihaqi dengan sanad yang kuat dari al-Imam Ahmad).\rDemikian juga dengan orang yang menafsirkan firman Allah:\rأأمِنْتُمْ مَنْ فِي السّمَاءِ أنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الأرْضَ (الملك: 16)\rdengan mengatakan bahwa Allah mengambil tempat dilangit maka orang tersebut telah kafir. Makna yang benar dari maksud ”man fi as-sama’” adalah ”Malaikat”, sebagaimana pemahaman ini telah dinyatakan oleh Syaikh al-Huffadz al-Imam Zainuddin Abdrrahim al-Iraqi dalam kitab al-Amaliy al-Mishriyah. Dalam menafsirkan hadits:\rارْحَمُوْا مَنْ فِي الأرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ\r”Sayangilah oleh kalian orang yang berada di bumi niscaya kalian akan disayangi oleh yang berada di langit”, al-Imam al-’Iraqi menafsirkannya dengan hadits riwayat lain dengan redaksi:\rارْحَمُوْا أهْلَ الأرْضِ يَرْحَمْكُمْ أهْلُ السّمَاءِ","part":1,"page":23},{"id":24,"text":"\"Sayangilah oleh kalian penduduk bumi niscaya kalian akan disayangi oleh penduduk langit\", karena hadits yang kedua ini sangat jelas memberikan pemahaman bahwa yang dimaksud adalah para Malaikat.\rDemikian juga orang yang menafsirkan hadits al-Jariyah as-Sauda yang terdapat dalam riwayat al-Imam Muslim dengan berkesimpulan bahwa Allah mengambil tempat di arah atas (berada di langit) maka orang ini telah kafir. Hadits ini oleh sebagian ulama tidak diambil dengan alasan bahwa hadits tersebut adalah mutharib (hadits yang memiliki banyak redaksi yang satu sama lainnya berbeda-beda), karenanya mereka manganggapnya cacat, disamping karena telah menyalahi dasar keyakinan. Sesungguhnya Rasulullah tidak pernah menghukumi ke-islam-an seseorang hanya karena mengatakan ”Allah di langit”, karena kata-kata ini adalah keyakinan orang-orang Yahudi dan Nasrani. Bagaimana mungkin kata-kata ”Allah di langit” sebagai tanda bagi keimanan seseorang?!\rSebagian ulama lainnya menerima hadits ini; namun tidak dipahami dalam makna zhahirnya, tetapi mereka mentakwilkannya. Bahwa pertanyaan Rasulullah kepada budak perempuan tersebut adalah dalam makna ”Bagaimana engkau mengagungkan Allah?”. Dan makna jawaban budak tersebut ”Fi as-Sama’” adalah dalam pengertian ”sangat tinggi derajat-Nya”. Maka berdasarkan pemahaman dua pendapat ulama tersebut di atas tidak ada jalan bagi orang-orang Wahhabi untuk membatah kita.\rBegitu juga dengan orang yang menafsirkan hadits Nabi:","part":1,"page":24},{"id":25,"text":"يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السّمَاءِ الدُّنْيَا حِِيْنَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرِ يَقُوْلُ مَنْ يَدْعُوْنِي فأسْتَجِيْبَ لَهُ منْ يَسْألُنِيْ فأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ\rdengan menafsirkan bahwa Allah bergerak dan turun dari atas ke langit dunia dan berdiam di sana sampai terbit fajar kemudian setelah itu Dia naik ke arah arsy maka orang tersebut telah menjadi kafir. Yang sangat mengherankan dari kaum Musyabbihah, seperti kaum Wahhabiyyah sekarang, mereka meyakini bahwa Allah sama besar dengan arsy, lalu mereka mengatakan bahwa Allah turun ke langit dunia, padahal mereka tahu bahwa besarnya langit dunia dibanding besarnya arsy seperti setetes air dibanding lautan luas, ini artinya dalam keyakinan mereka bahwa Allah ketika turun ke langit dunia menjadi sangat kecil, na’udzu Billah. Ini merupakan bukti nyata akan kebodohan akal mereka. Lalu dengan pemahaman tersebut mereka juga berarti menetapkan bahwa perbuatan Allah hanya turun dan naik saja agar bersesesuaian dengan masing-masing sepertiga akhir malam di setiap bagian bumi ini oleh karena sepertiga akhir malam itu berbeda–beda satu wilayah dengan lainnya. Ini juga merupakan bukti nyata akan kebodohan akal mereka.","part":1,"page":25},{"id":26,"text":"Makna yangbenar dari hadits tersebut adalah bahwa Malaikat turun dengan perintah Allah ke langit dunia, hingga ketika datang sepertiga akhir malam maka mereka menyeru bagi penduduk bumi sesuai apa yang diperintahkan oleh Allah sehingga terbit fajar: “Sesungguhnya Tuhan kalian berkata: Barangsiapa yang meminta kepada-Ku maka akan Aku beri ia, barangsiapa yang berdo’a kepada-Ku maka akan Aku kabulkan baginya, barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku maka akan Aku ampuni ia”. Pemahaman ini sebagaimana terdapat dalam riwayat al-Imam an-Nasa-i dengan riwayat shahih bahwa Rasulullah bersabda:\rإنَّ اللهَ يُمْهِلُ حَتَّى يَمْضِيَ شَطْرُ اللّيْلِ الأوَّلُ فَيأْمُرُ مُنَادِيًا فَيُنَادِيْ ....\r“Sesungguhnya Allah membiarkan malam berlalu hingga lewat separuh malam pertama, setelah itu lalu Allah memerintahkan kepada malaikat untuk menyeru (bagi penduduk bumi), maka ia berseru:…..”.\rKemudian dari pada itu sebagian para perawi al-Imam Bukhari telah memberi harakat “Dlammah” pada kata “Yanzilu..” menjadi “Yunzilu…”, dengan demikian maknanya semakin jelas bahwa yang turun ke langit dunia tersebut adalah adalah malaikat; dengan perintah Allah. Kesimpulannya, siapapun yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, walaupun hanya dengan satu sifat saja, maka dia digolongkan sebagai Musyabbih Mujassim, dan sesuangguhnya seorang Mujassim itu seorang yang kafir sebagaimana dikatakan oleh al-Imam asy-Syafi’i.","part":1,"page":26},{"id":27,"text":"Adapun makna perkataan al-Imam ar-Rifa’i tersebut di atas adalah bahwa berpegangteguh dengan makna-makna zhahir dari teks-teks mutasyabihat, baik yang terdapat dalam al-Qur’an maupun hadits, maka hal itu telah menjatuhkan banyak orang dalam kekufuran, karena hal itu telah menjatuhkan mereka dalam keyakinan tasybih. Al-Imam Ahmad ar-Rifa’i juga berkata:\rغَايَةُ الْمَعْرِفَةِ بِاللهِ الإيْقَانُ بِوُجُوْدِهِ تَعَالَى بِلاَ كَيْفٍ وَلاَ مَكَانٍ\r“Puncak pengetahuan seseorang itu kepada Allah adalah dengan berkeyakinan bahwa Allah ada tanpa sifat benda dan tanpa tempat“.\rMaksudnya adalah bahwa puncak yang dapat diraih oleh seorang hamba untuk mengenal Allah adalah meyakini keberadaan-Nya tanpa mensifati-Nya dengan sifat-sifat benda, dan meyakini bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah. Sesungguhnya ini inilah puncak pengetahuan (ma’rifah) kepada Allah dari para Nabi dan para Malaikat, serta para wali Allah. Karena mengenal (ma’rifah Allah) Allah bukan dengan cara membayangkan, bukan dengan cara memprakirakan, dan juga bukan dengan cara menyerupakan-Nya. Allah bukan benda dan Allah juga tidak dapat diperumpamakan oleh gambaran dan pikiran manusia. Sesuatu yang memiliki bentuk dan ukuran maka pasti bisa digambarkan oleh akal pikiran, sementara Allah bukan benda yang memiliki bentuk dan ukuran maka Dia tidak dapat digambarkan oleh akal pikiran manusia. Mengenal Allah cukup dengan meyakini-Nya bahwa Dia Maha ada, tidak dengan membayangkan-Nya berada pada arah tertentu; seperti arah atas.","part":1,"page":27},{"id":28,"text":"Jika orang Wahabiy mengatakan: “Sesuatu yang ada itu harus memiliki arah dan tempat, bagaimana kalian mengatakan bahwa Allah ada tanpa arah dan tempat?!”, kita katakan kepadanya bahwa jika Allah memiliki arah dan tempat niscaya Dia akan mempunyai banyak keserupaan, juga jika Dia memiliki arah maka berarti ada yang menjadikan-Nya pada arah tersebut, padahal setiap yang ”dijadikan” itu pastilah dia itu makhluk, bukan Tuhan. Demikian inilah makna yang dimaksud dari perkataan al-Imam Ahmad ar-Rifa’i di atas, dan beliau adalah seorang yang sangat mendalam dalam ilmu akidah, beliau telah mengungkapkan perkataannya tersebut dalam kitab “Halatu Ahl al-Haqiqah Ma’a Allah “ . Sebagian ulama berkata:\rعَلَيْكَ بِطُوْلِ الصَّمْتِ يَا صَاحِبَ الْحِجَا لِتَسْلَمَ فِي الدُّنْيَا وَيَوْم القِبَامَة\r“Hendaklah anda memperpanjang diam wahai orang yang punya akal, agar selamat di dunia dan akhirat / kiamat.”\rPerkataan ini diambil dari sabda Rasulullah kepada Abu Dzar:\rعَلَيْكَ بِطُوْلِ الصَّمْتِ إلاّ مِنْ خَيْرٍ فَإنّهُ مَطْرَدَةٌ لِلشّيْطَانِ عَنْكَ وَعَوْنٌ لَكَ عَلَى أمْرِ دِيْنِكَ (رواه ابن حبان)\r“Hendaklah kamu memperpanjang diam kecuali kepada hal yang baik, karena demikian itu dapat megalahkan syaitan dan menolong kamu dalam urusan agamamu “ (HR. Ibnu Hibban).\rSeorang yang memiliki akal cerdas adalah orang yang selalu menghadirkan makna firman Allah:\rمَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إلاّ لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ (ق: 18)","part":1,"page":28},{"id":29,"text":"“Tidaklah seseorang itu berucap dari sebuah perkataan kecuali dicatat oleh Malaikat Raqib dan Atid“ (QS. Qaf: 18). Dia tidak akan berkata-kata kecuali bila ada manfaatnya. Wa Allah A’lam Bi Ash-Shawab, Wa Ilaih at-Tuklan Wa al-Ma’ab.\r0328. TAFSIR : ALIF LAAM MIIM\rPERTANYAAN :\rAL-Astafi'una Mazhab Imam Syafi'i\rAdakah yang tau makna aalif lam mim ?\rArif Vidic Nemandja\rMbah sekalian mau nanya, kalau Yaa Sin mbah ?\rJAWABAN :\rZaine Elarifine Yahya\rWallohu a'lamu bimuroodihi :)\rMbah Jenggot II\rوقال أبو جعفر الرّازي، عن الرّبيع بن أنس، عن أبي العالية في قوله تعالى: { الم } قال: هذه الأحرف الثلاثة من التسعة والعشرين حرفًا دارت فيها الألسن كلها، ليس منها حرف إلا وهو مفتاح اسم من أسمائه، وليس منها حرف إلا وهو من آلائه وبلائه، وليس منها حرف إلا وهو في مدة أقوام وآجالهم. قال عيسى ابن مريم، عليه السلام، وعَجب، فقال: وأعْجَب أنهم ينطقون بأسمائه ويعيشون في رزقه، فكيف يكفرون به؛ فالألف مفتاح اسم الله، واللام مفتاح اسمه لطيف (1) والميم مفتاح اسمه مجيد (2) فالألف آلاء الله، واللام لطف الله، والميم مجد الله، والألف (3) سنة، واللام ثلاثون سنة، والميم أربعون [سنة] (4) . هذا لفظ ابن أبي حاتم\rTafsir Yaa Siin :\rورُوي عن ابن عباس وعِكْرِمَة، والضحاك، والحسن وسفيان بن عُيَيْنَة (1) أن \"يس\" بمعنى: يا إنسان. وقال سعيد بن جبير: هو كذلك في لغة الحبشة. وقال مالك، عن زيد بن أسلم: هو اسم من أسماء الله تعالى.\rMasaji Antoro\rAlif laam miim \"Hanya Allah lah yang mengetahui maksudnya\" (QS, Al-Baqarah Ayat 1).","part":1,"page":29},{"id":30,"text":"Biasanya tiap satu kata terdiri dari beberapa huruf, dan memberikan arti tertentu. Akan tetapi Allah swt telah memulai 29 surat dari 114 surat di dalam Kitab-Nya dengan huruf-huruf (ada pula dengan sebuah huruf) di mana setiap huruf di baca sendiri-sendiri, seperti ayat pertama dari surat Al-Baqarah ini. Sebagai contoh, الم kita tidak membacanya \"alam\" Akan tetapi kita membacanya \"alif laam miim\". Huruf-huruf semacam ini, yang tak pernah ada sebelumnya di dalam bahasa Arab, di dalam istilah ulama Mufassiriin disebut \"huruf Muqotto'ah\", artinya huruf yang terpotong-potong, karena ia dibaca sendiri-sendiri, tak menyambung.\r\"Alif Lam Mim\" termasuk huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan beberapa surah Alquran. Ada dua hal yang perlu dibicarakan tentang huruf-huruf abjad yang disebutkan pada permulaan beberapa surah dari Alquranul Karim itu, yaitu apa yang dimaksud dengan huruf ini, dan apa hikmahnya menyebutkan huruf-huruf ini ?\rTentang soal pertama, maka para Mufassir berlainan pendapat, yaitu:\r1. Ada yang menyerahkan saja kepada Allah, dengan arti mereka tidak mau menafsirkan huruf-huruf itu. Mereka berkata, \"Allah sajalah yang mengetahui maksudnya.\" Mereka menggolongkan huruf-huruf itu ke dalam golongan ayat-ayat mutasyabihat yang tujuan Allah menurunkan huruf muqoththo’ah ini adalah untuk menguji para hambanya, apakah mereka akan beriman atau ragu-ragu dan mengingkarinya.","part":1,"page":30},{"id":31,"text":"Pendapat pertama ini sebagaimana diriwayatkan dari Abu Bakar As Siddiq, Umar bin Khattab, Ustman bin Affan, Ali bin Abu Thalib, dan Abdullah bin Mas’ud, - mengatakan bahwa huruf muqoththo’ah ini adalah rahasia Allah di dalam Al Qur’an, kita tidak mengetahui maksud dan artinya. Akan tetapi kita tetap harus membacanya dan beriman bahwa huruf muqoththo’ah tersebut diturunkan oleh Allah swt.\r2. Ada yang menafsirkannya. Mufassirin yang menafsirkannya ini berlain-lain pula pendapat mereka, yaitu:\ra. Ada yang berpendapat bahwa huruf-huruf itu adalah isyarat (keringkasan dari kata-kata), umpamanya Alif Lam Mim. Maka \"Alif\" adalah keringkasan dari \"Allah\", \"Lam\" keringkasan dari \"Jibril\", dan \"Mim\" keringkasan dari Muhammad, yang berarti bahwa Alquran itu datangnya dari Allah, disampaikan oleh Jibril kepada Muhammad. Pada Alif Lam Ra; \"Alif\" keringkasan dari \"Ana\", \"Lam\" keringkasan dari \"Allah\" dan \"Ra\" keringkasan dari \"Ar-Rahman\", yang berarti: Saya Allah Yang Maha Pemurah.\rb. Ada yang berpendapat bahwa huruf-huruf itu adalah nama dari surah yang dimulai dengan huruf-huruf itu.\rc. Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan huruf-huruf abjad ini adalah huruf-huruf abjad itu sendiri. Maka yang dimaksud dengan \"Alif\" adalah \"Alif\", yang dimaksud dengan \"Lam\" adalah \"Lam\", yang dimaksud dengan \"Mim\" adalah \"Mim\", dan begitu seterusnya.\rd. Huruf-huruf abjad itu untuk menarik perhatian. Menurut para mufassir ini, huruf-huruf abjad itu disebut Allah pada permulaan beberapa surah dari Alquranul Karim, hikmahnya adalah untuk \"menantang\".","part":1,"page":31},{"id":32,"text":"Tantangan itu bunyinya kira-kira begini: Alquran itu diturunkan dalam bahasa Arab, yaitu bahasa kamu sendiri, yang tersusun dari huruf-huruf abjad, seperti Alif Lam Mim Ra, Ka Ha Ya Ain Shad, Qaf, Tha Sin dan lain-lainnya. Maka kalau kamu sekalian tidak percaya bahwa Alquran ini datangnya dari Allah dan kamu mendakwakan datangnya dari Muhammad, yakni dibuat oleh Muhammad sendiri, maka cobalah kamu buat ayat-ayat yang seperti ayat Alquran ini. Kalau Muhammad dapat membuatnya tentu kamu juga dapat membuatnya.\rMaka ada \"penantang\", yaitu Allah, dan ada \"yang ditantang\", yaitu bahasa Arab, dan ada \"alat penantang\", yaitu Alquran. Sekalipun mereka adalah orang-orang yang fasih berbahasa Arab, dan mengetahui pula seluk-beluk bahasa Arab itu menurut naluri mereka, karena di antara mereka itu adalah pujangga-pujangga, penyair-penyair dan ahli-ahli pidato, namun demikian mereka tidak bisa menjawab tantangan Alquran itu dengan membuat ayat-ayat seperti Alquran. Ada juga di antara mereka yang memberanikan diri untuk menjawab tantangan Alquran itu, dengan mencoba membuat kalimat-kalimat seperti ayat-ayat Alquran itu, tetapi sebelum mereka ditertawakan oleh orang-orang Arab itu, lebih dahulu mereka telah ditertawakan oleh diri mereka sendiri. Wallahu a’lam bis showaab.( Sumber : Tafsiir Ibn Katsiir surat alBaqarah ayat 1 www.fb.com/notes/135823006459305 ).\rFiq Khachu Jumfunk","part":1,"page":32},{"id":33,"text":"Saudara aL dari awal kan sudah ada jawabannya \"allahu a'lamu bimurodihi/allah lah yang maha tau akan artinya\". La ya'lamu ta'wilahu illa allah.\"tidak ada yang tau ta'wilannya kecuali allah\"coba lihat di suroh ali imron ayat 6. Adapun ulama yang mengatakan alifnya allah, lam nya latip,itu bkan arti tapi asrorul huruf / rahasia huruf.\r3973. HURUF ALIF LAM MIM PADA AWAL SURAT AL-BAQOROH\rPERTANYAAN :\r> Ani Fah ( Sxyberz Al-haqiqi Qo'imun )\rAssalamualaikum. Titip : ALif Laam Mimm ( surat pertama al-baqoroh), itu alifnya namanya alif apa ? terima kasih.\rJAWABAN :\r> Mas Hamzah\rAlif Lam Mim, dalam kitab tafsir alqurtuby dijelaskan bahwa ulama' ahli ta'wil qur'an berbeda pendapat mengenai huruf-huruf yang berada di awal surat,menurut 'amir, as sya'bi, sufyan as tsauri dan segolongan ulama' ahli hadis bahwa huruf-huruf tsb adalah rahasia Allah di dalam alqur'an, dan dalam setiap kitab dari kitab-kitab-Nya Allah memiliki rahasia di dalamnya, huruf-huruf tersebut termasuk al mutasyabih hanya Allah sendiri yang mengetahuinya, kita tdk wajib membicarakannya tetapi kita mengimani dan membacanya sebagaimana datangnya.pendapat ini juga datang dari abu bakar as siddiq dan ali bin abu talib -semoga Allah meridhoi keduanya -\rAbul laits as samarqondi menuturkan dari umar, usman dan ibnu mas'ud bahwa mereka berkata,\" huruf-huruf muqoto'ah termasuk rahasia yang tdk perlu ditafsirkan\"abu hatim berkata,\" kami tdk menemukan huruf muqoto'ah di dalam alqur'an kecuali hanya di awal-awal surat, dan kami tdk mengetahui apa yang dikehendaki oleh Allah dengannya.\"","part":1,"page":33},{"id":34,"text":"Segolongan ulama' besar berkata : \" bahkan kita wajib membicarakannya dan mengambil faedah dan makna-makna yang tersembunyi didalamnya .\"segolongan ulama' ini juga berbeda pendapat, diriwayatkan dari ibnu abbas dan ali -semoga Allah meridhoi keduanya- berkata :\" sesungguhnya huruf muqoto'ah dalam alquran adalah asma' Allah yang agung,hanya saja kita tidak tahu susunanya darinya.\"qotrub, al farro' dan selain keduanya berkata :\" iyu adalah isyaroh thd huruf hija'iyah, Allah memberitahukannya kepada orang arab ketika Allah menjelaskan kepada mereka tentang alqur'an bahwa sesungguhnya Alqur'an tersusun dari huruf-huruf yang menjadi dasar kalam mereka, tujuannya agar ketidak mampuan mereka darinya menjadi lebih besar sebagai hujjah atas mereka, karena alqur'an tdk keluar dari kalam mereka.\"\rSegolongan ulama' yang lain berpendapat bahwa huruf-huruf tersebut menunjukkan pada nama-nama, diambil darinya dan dibuang sisanya,sebagaimana ucapan ibnu abbas dan juga selain beliau :\" alif dari nama Allah, lam dari nama jibril, dan mim dari nama muhamamd shollallohu alaihi wasallam. \"waqila : \" alif adalah kunci asma-Nya Allah, lam adalah kunci asma-Nya Latiif, dan mim adalah kunci nama-Nya Majiid \"","part":1,"page":34},{"id":35,"text":"Abud dhuha meriwayatkan dari ibnu abbas tentang firman Allah alif lam mim, ibnu abbas berkata :\" alif lam mim anallohu a'lam (aku Allah yang maha tahu), alif lam ro anallohu aro (aku Allah yang maha melihat )alif lam mim shod anallohu afsholu ( aku Allah yang maha memisah) jadi alif disitu menujukkan makna Ana /aku, lam menunjukan nama Alllah, dan mim makna a'lam .\"pendapat inilah yang dipilih oleh az zujaj. Wallohu a'lam. (ALF)\r- kitab tafsir al qurtuby (1/151-152) :\rقوله تعالى : الم . ذلك الكتاب لا ريب فيه هدى للمتقين اختلف أهل التأويل في الحروف التي في أوائل السورة ; فقال عامر الشعبي وسفيان الثوري وجماعة من المحدثين : هي سر الله في القرآن ، ولله في كل كتاب من كتبه سر . فهي من المتشابه الذي انفرد الله تعالى بعلمه ، ولا يجب أن يتكلم فيها ، ولكن نؤمن بها ونقرأ كما جاءت . وروي هذا القول عن أبي بكر الصديق وعن علي بن أبي طالب رضي الله عنهما . وذكر أبو الليث السمرقندي عن عمر وعثمان وابن مسعود أنهم قالوا : الحروف المقطعة من المكتوم الذي لا يفسر . وقال أبو حاتم : لم نجد الحروف المقطعة في القرآن إلا في أوائل السور ، ولا ندري ما أراد الله جل وعز بها .","part":1,"page":35},{"id":36,"text":"وقال جمع من العلماء كبير : بل يجب أن نتكلم فيها ، ونلتمس الفوائد التي تحتها ، والمعاني التي تتخرج عليها ; واختلفوا في ذلك على أقوال عديدة ; فروي عن ابن عباس وعلي أيضا : أن الحروف المقطعة في القرآن اسم الله الأعظم ، إلا أنا لا نعرف تأليفه منها . وقال قطرب والفراء وغيرهما : هي إشارة إلى حروف الهجاء أعلم الله بها العرب حين تحداهم بالقرآن أنه مؤتلف من حروف هي التي منها بناء كلامهم ; ليكون عجزهم عنه أبلغ في الحجة عليهم إذ لم يخرج عن كلامهم . قال قطرب : كانوا ينفرون عند استماع القرآن ، فلما سمعوا : الم و المص استنكروا هذا اللفظ ، فلما أنصتوا له صلى الله عليه وسلم أقبل عليهم بالقرآن المؤتلف ليثبته في أسماعهم وآذانهم ويقيم الحجة عليهم . وقال قوم : روي أن المشركين لما أعرضوا عن سماع القرآن بمكة وقالوا : لا تسمعوا لهذا القرآن والغوا فيه نزلت ليستغربوها فيفتحون لها أسماعهم فيسمعون القرآن بعدها فتجب عليهم الحجة . وقال جماعة : هي حروف دالة على أسماء أخذت منها وحذفت بقيتها ; كقول ابن عباس وغيره : الألف من الله ، واللام من جبريل ، والميم من محمد صلى الله عليه وسلم . وقيل : الألف مفتاح اسمه الله ، واللام مفتاح اسمه لطيف ، والميم مفتاح اسمه مجيد . وروى أبو الضحى عن ابن عباس في قوله : ( الم ) قال : أنا الله أعلم ، ( الر ) أنا الله أرى ، المص أنا الله أفصل . فالألف تؤدي عن معنى أنا ، واللام تؤدي عن اسم الله ، والميم تؤدي عن معنى أعلم . واختار هذا القول الزجاج وقال : أذهب إلى أن كل حرف منها يؤدي عن معنى\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/934532359902906/\rwww.fb.com/notes/934694186553390\r0360. TAFSIR : IHDINAS SHIROTOL MUSTAQIM","part":1,"page":36},{"id":37,"text":"Kata ihdinaa (tunjukkanlah kami) dalam ayat di atas merupakan bentuk kata perintah (fi’lu al-amr) dari kata hadâ-yahdii. Hadâ-yahdii sendiri artinya adalah memberi petunjuk kepada hal-hal yang benar. Kata hidayah merupakan bentuk fi’lu al masdar dari kata ini. Dalam “Tafsir Munir” karya Dr. Wahbah Az Zuhaily, hidayah ada lima macam. Satu hidayah ke hidayah yang lain bersifat hierarkis, di mana hidayah yang ada di bawahnya akan menyempurnakan hidayah yang ada di atasnya. Jadi semakin ke bawah maka semakin tinggi nilainya. Adapun kelima hidayah tersebut adalah sebagai berikut :\rPertama, Hidayah Ilhami. Hidayah ini adalah fitrah yang Allah SWT berikan kepada semua makhluk ciptan-Nya. Contohnya, Allah SWT memberikan hidayah ilhami kepada lebah yang suka hinggap di bunga untuk mengambil saripatinya, dapat membangun sarang yang menurut para ahli adalah desain yang paling sempurna berdasarkan fungsinya.\rSeorang bayi yang lapar diberi hidayah ilhami oleh Allah SWT untuk menangis dan merengek-rengek pada ibunya agar diberi ASI. Siapakah yang mengajari lebah dan bayi tadi untuk melakukan hal tersebut? Tentunya kita yang beriman kepada Allah SWT akan menjawab: itulah kekuasaan Allah SWT yang telah memberikan hidayah ilhami kepada makhluk-Nya. Semua makhluk yang diciptakan Allah SWT akan menerima hidayah ini. Dalam bahasa kita, hidayah ilhami ini adalah insting, yang merupakan tingkat inteligensi paling rendah.","part":1,"page":37},{"id":38,"text":"Kedua, Hidayah Hawasi. Hidayah hawasi adalah hidayah yang membuat makhluk Allah SWT mampu merespon suatu peristiwa dengan respon yang sesuai. Contohnya adalah, ketika manusia mendapatkan kebahagiaan maka ia akan senang dan jika mendapatkan musibah maka ia akan sedih. Dalam istilah kita, hidayah hawasi ini adalah kemampuan inderawi.\rHidayah hawasi sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Maka respon yang ditimbulkan dari sebuah peristiwa sangat tergantung dengan lingkungan kita. Jika lingkungan itu normal maka respon kita akan normal. Misalnya, orang yang mendapatkan musibah akan sedih karena lingkungannya mengajarkan untuk merespon peristiwa tersebut dengan bersedih. Di lain tempat dan waktu mungkin saja respon ini berubah karena lingkungannya merespon dengan hal yang berbeda. Maka untuk mendapatkan hidayah hawasi ini kita harus membuat atau mengondisikan agar lingkungan kita normal alamiah.\rKetiga, Hidayah Aqli (akal). Hidayah akal adalah hidayah yang diberikan khusus pada manusia yang membuatnya bisa berfikir untuk menemukan ilmu dan sekaligus merespon peristiwa dalam kehidupannya dengan respon yang bermanfaat bagi dirinya. Hidayah akal akan bisa kita miliki manakala kita selalu mengambil pelajaran dari segala sesuatu, segala peristiwa, dan seluruh pengalaman hidup kita ataupun orang lain. Allah SWT berfirman:","part":1,"page":38},{"id":39,"text":"“Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli Kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran yang pertama. kamu tidak menyangka, bahwa mereka akan keluar dan merekapun yakin, bahwa benteng-benteng mereka dapat mempertahankan mereka dari (siksa) Allah; Maka Allah mendatangkan bagi mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Allah melemparkan ketakutan dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang mukmin. Maka ambillah (kejadian itu) sebagai pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai wawasan”. (QS. Al-Hasyr [59]: 2).\rYang dimaksud dengan ahli Kitab dalam ayat ini ialah orang-orang Yahudi Bani Nadhir pada masa Nabi Muhammad SAW di Madinah. Merekalah yang mula-mula dikumpulkan untuk diusir keluar dari Madinah karena mereka mengingkari Piagam Madinah.\rAyat ini memerintahkan kita untuk senantiasa mengambil hikmah dan ‘ibroh dari segala kejadian dalam kehidupan ini, dengan harapan kita tidak terjebak pada permasalahan yang sama. Hidayah akal ini akan bekerja dengan ilmu yang diperoleh, dari proses pembelajaran kehidupan yang telah dilakukan, yang kemudian digunakan untuk memilih respon yang terbaik bagi diri di masa mendatang. Semakin banyak kita mengambil pelajaran maka semakin tinggi kualitas hidayah akal kita.","part":1,"page":39},{"id":40,"text":"Namun Hidayah akal ini mempunyai keterbatasan dalam menyeragamkan respon terhadap sebuah kejadian untuk seluruh manusia. Ada pepatah “lain ladang, lain pula belalangnya. Lain kepala, lain pula isinya.” Mungkin respon tertentu baik menurut kita, akan tetapi belum tentu baik menurut orang lain. Maka diperlukan sebuah standar untuk menyeragamkan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang hak dan mana yang batil. Jawaban untuk hal ini ada pada tingkatan hidayah selanjutnya.\rKeempat, Hidayah Dien (agama). Hidayah agama adalah sebuah panduan ilahiyah yang membuat manusia mampu membedakan antara yang hak dan yang batil, antara yang baik dan yang buruk. Hidayah agama ini merupakan standard operating procedure (SOP) untuk menjalani kehidupan. Tentunya yang membuatnya adalah yang Maha segala-galanya, yang menciptakan manusia itu sendiri, yaitu Allah SWT. Karena yang Allah SWT tentukan, pastilah itu yang terbaik. Allah SWT berfirman :\r“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 216).\rMaka apa saja yang ditentukan oleh agama, pastilah itu yang terbaik untuk kita. Hidayah agama ini bisa kita peroleh manakala kita selalu belajar dan memperdalan agama Islam ini.\rSeperti Allah SWT tegaskan dalam Al Qur’an:","part":1,"page":40},{"id":41,"text":"”Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” Akan tetapi (Dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbani, karena kamu selalu mengajarkan al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” (QS. Ali Imran : 79).\rSemua orang mampu mempelajari agama ini (Al Qur’an dan As Sunnah), akan tetapi tidak semua orang berkemauan untuk mengamalkan agama ini. Kemauan untuk mengamalkan agama akan berbanding lurus dengan sejauh mana kita bisa manggapai hidayah taufiq.\rKelima, Hidayah Taufiq. Hidayah taufiq adalah adalah hidayah yang membuat manusia hanya akan menjadikan agama sebagai panduan hidup dalam menjalani kehidupannya. Hidayah taufiq ibarat benih yang Allah SWT semaikan di hati yang tidak hanya bersih dari segala hama penyakit, tetapi juga subur dengan tetesan robbani. Bersih dan suburnya hati akan terlihat dari pohon-pohon kebaikan dan amal yang tumbuh di atasnya. Hanya kesungguhan yang akan membuat kita pantas menerima hidayah taufiq dari Allah SWT. Firman Allah SWT :\r”Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar- benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabuut : 69).\rMaka tidak ada jalan lain agar kita mendapatkan Hidayah Taufiq Allah SWT, kecuali dengan jalan bersungguh-sungguh dan berjihad untuk menjalankan dan mengamalkan agama yang indah ini.\rPenutup","part":1,"page":41},{"id":42,"text":"Hidayah Allah SWT memerlukan perjuangan untuk mendapatkannya. Semakin besar perjuangan dan kesungguhan kita, maka insya Allah kita akan semakin mudah mendapatkannya, karena semuanya tergantung kepada usaha kita. Hidayah Allah SWT ibarat sinar matahari yang menyinari seluruh alam ini, dan kita adalah penerima sinar tersebut. Jika kita membuka diri dengan hati yang bersih, maka kita akan mudah untuk mendapatkan sinar hidayah Allah SWT. Tapi jika kita menutupi hati dan diri kita dengan kotoran dan hama penyakit hati maka kita akan sulit untuk mendapatkan sinar hidayah-Nya. [ Hakam elChudrie ].\r0365. HERMENEUTIKA\rOleh Muhib Aman Aly\rLatar belakang","part":1,"page":42},{"id":43,"text":"Al-Qur'an sebagai kitab suci dan pedoman hidup kaum muslimin telah sedang dan akan selalu ditafsirkan. Karena itu, dalam pandangan kaum muslimin, tafsir al-Qur'an adalah istilah yang sangat mapan. Akhir-akhir ini di negeri kita, hermeneutika sebagai metode penafsiran teks, sedang digandrungi oleh para intlektual dan para orientalis negeri seberang, dan digemakan oleh para pemikir islam moderenis seperti, Hasan Hanafi, Fazlur Rahman, Muhamad Arkoun, Nasr Hamid Abu Zaid dan lain-lain. padahal istilah hermeneutika adalah kosa kata filsafat barat yang juga sangat terkait dengan interpretasi Bibel. Oleh karena itu hermeneutika tidak layak disinonimkan dengan tafsir al-Qur'an yang memiliki konsep yang jelas, berurat dan berakar dalam Islam. Hermeneutika dibangun atas faham relatifisme. Hermeneutika menggiring kepada gagasan bahwa segala penafsiran al-Qur'an itu relatif, padahal fakta empiris menunjukkan para mufassir yang terkemuka sepanjang masa tetap memiliki kesepekatan-kesepakatan. Jika hermeneutika tetap digunakan sebagai sinonim terhadap tafsir, akan mengimplikasikan berbagai problematika yang ada didalam hermeneutika, juga terjadi didalam al-Qur'an. Tulisan di bawa ini akan mengungkap bahwa hermeneutika tidaklah layak untuk di anggap sebagai tafsir.\rHermeneutika, Tafsir dan Ta'wil","part":1,"page":43},{"id":44,"text":"Secara etimologis, kata tafsir berasal dari bahasa Arab, Fassara, yang bermakna menerangkan atau menjelaskan. Kata tafsir disbutkan secara eksplisit di dalam al-Qur'an surat Al-Furqon (25: 33) yang artinya: Tidaklah engkau orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan kami datangkan kepadamu sesuatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya. Secara terminologis, tafsir dimaksud adalah ilmu yang dengannya, pemahaman terhadap kitab Allah swt yang diturunkan kepada Rasulullah saw, penjelasan mengenai makna-makna kitab Allah swt dan penarikan hukum-hukum beserta hikmahnya itu dapat diketahui.","part":1,"page":44},{"id":45,"text":"Kata hemeneutika merupakan derivasi dari bahasa Yunani dari akar kata hermCneui, yang berarti menafsirkan. Hermeneutika di asosiasikan kepada Hermes, seorang utusan dewa dalam mitologi Yunani Kuno yang bertugas menyampaikan dan menerjemahkan pesan dewata yang masih samar-samar kedalam bahasa yang dipahami manusia. Sumber-sumber perkamusan menyatakan, Istilah hermeneutika dimulai dari usaha para ahli teologi Yahudi dan Kristen dalam mengkaji ulang secara kritis teks-teks dalam kitab suci mereka untuk mencari \"nilai kebenaran Bible\". Mengapa dengan hermeneutika itu para teologi bertujuan mencari nilai kebenaran dadalam Bible? Jawabannya adalah, karena mereka memiliki sejumlah masalah dengan teks-teks kitab suci mereka. Mereka mempertanyakan apakah secara harfiyah Bible itu bisa dianggap Kalam Tuhan atau perkataan manusia. Hal itu disebabkan adanya perbedaan gaya dan kosa kata yang ditemukan pada berbagai pengarang Bible. Adanya perbedaan itulah yang menyebabkan Bible tidak bisa dikatakan Kalam Tuhan. Oleh sebab itu para teolog Kristen, memerlukan hermeneutika untuk memahami Kalam Tuhan yang sebenarnya. Mereka hampir bersepakat, bahwa Bible secara harfiyahnya bukanlah Kalam Tuhan. Keadaan ini berbeda dengan kaum Muslimin, yang yang telah bersepakat bahwa al-Qur'an adalah Kalam Allah swt yang diturunkan kepada Rasulullah saw.","part":1,"page":45},{"id":46,"text":"Kaum Muslimin juga bersepakat, bahwa secara harfiyah al-Qur'an itu dari Allah swt. Juga, kaum Muslimin sepakat, membaca al-Qur'an secara harfiyah adalah termasuk ibadah dan mendapat pahala, menolak bacaan harfiyah adalah kesalahan, membacanya secara harfiyah didalam sholat adalah syarat. Oleh sebab itu kaum Muslimin, berbeda dengan Yahudi dan Kristen, tidak pernah bermasalah dengan lafadz-lafadz harfiyah al-Qur'an. Perbedaan selanjutnya adalah, bahwa Bible kini ditulis dan dibaca bukan lagi dengan bahasa asalnya. Bahasa asal Bible adalah Hebrew untuk Perjanjian Lama, Greek untuk Perjanjian Baru, dan Nabi Isa sendiri berbicara dengan bahasa Aramic. Teks-teks Hebrew Bible pula mempunyai masalah dengan isu Orginality. Mengenai bahasa Hebrew sendiri, saat ini tak ada seorangpun yang masih aktif menggunakan bahasa Hebrew kuno.","part":1,"page":46},{"id":47,"text":"Oleh sebab ketiadaan bahasa Hebrew pada saat ini, maka wajarlah para teolog Yahudi dan Kristen mencari jalan lain untuk memahami kembali Bible melalui hermeneutika. Dalam hal ini hermeneutika kemungkinannya dapat membantu suatu karya terjemahan, lebih-lebih lagi, jika bahasa asalnya sudah tidak ditemukan lagi. Friedrich Schleiermacher (1768-1834), filosof Protestan dari Jerman, yang dipercaya sebagai pendiri hermeneutika secara umum, menyatakan bahwa, diantara tugas hermeneutika itu adalah untuk memahami teks \"sebaik atau lebih baik dari pada pengarangnya sendiri\". Maka wajarlah Bible yang dikarang oleh banyak orang itu memerlukan hermeneutika untuk memahaminya dengan cara yang lebih baik dari pengarangnya Bible itu sendiri. Adapun al-Qur'an, bagaimana mungkin terfikir oleh kaum Muslimin bahwa mereka dapat memahami al-Qur'an lebih baik dari Allah swt atau Rasulullah saw ?. Oleh sebab itu, dalam upaya pemahaman lebih dalam mengenai al-Qur'an, kaum Muslimin hanya memerlukan tafsir, bukan hermeneutika, karena mereka telah menerima kebenaran harfiyah al-Qur'an sebagai Kalam Allah swt.","part":1,"page":47},{"id":48,"text":"Kalau perlu lebih mendalam lagi, seperti dalam ayat-ayat Mutasyabihat, maka yang diperlukan adalah ta'wil. Perlu ditegaskan, dalam tradisi Islam, ta'wil tidaklah sama dengan hermeneutika, karena ta'wil, mestilah berdasakan dan tidak bertentangan dengan tafsir, dan tafsir berdiri diatas lafadz-lafadz harfiyah al-Qur'an. Jadi, sebagai suatu istilah, ta'wil dapat berarti, pendalaman makna. Imam Al-Jurjani (w. 816/1413) dalam kitab Ta'rifatnya menyatakan tentang hubungan tafsir dan ta'wl sebagi berikut : Ta'wil secara asalnya bermakna kembali. Namun secara syara' ia brmakna memalingkan lafadz dari maknanya yang dhohir kepada makna yang mungkin terkandung didalamnya, apabila makna yang mungkin itu sesuai dengan Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah. Contohnya seperti firman Allah swt \"Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati \" (al-Anbiya': 95), apabila yang dmaksudkan disitu adalah mengeluarkan burung dari telur, maka itulah tafsir. Tetapi apabila yang dimaksud disitu adalah mengeluarkan orang yang berilmu dari orang yang bodoh, maka itulah ta'wil .\rDari penjelasan diatas, jelaslah bahwa ta'wil lebih dalam dari tafsir, dan tafsir itu berdasarkan kepada makna dhohir lafadz harfiyah ayat-ayat al-Qur'an. Jadi, sebenarnya terdapat banyak perbedaan antara tafsir dan hermeneutika. Bahkan terdapat ketidakmungkinan jika mengaplikasikan hermeneutika kedalam tafsir al-Qur'an.","part":1,"page":48},{"id":49,"text":"Dari sisi epistemologis, hermeneutika bersumber dari akal semata-mata, oleh karenanya hermeneutika memuat dhon (dugaan), syak (keraguan), mira' (asumsi), sedangkan didalam tafsir, sumber epistemologi adalah wahyu al-Qur'an. Karena itu, tafsir terikat dengan apa yang telah disampaikan, diterangkan dan dijelaskan oleh Rasulullah saw. Allah berfirman dalam surat al-Nahl (44). yang artinya : Telah kami turunkan kepadamu (Muhammad) Kitab tersebut, agar kamu jelaskan kepada umat manusia tentang apa yang telah diturunkan (Allah) kepada mereka, dan agar mereka memikirkannya. Rasulullah saw menyampaikan, menerangkan dan menjelaskan isi al-Qur'an, jika ada diantara para sahabat yang bersilisih atau tidak mengerti mengenai kandungan ayat al-Qur'an, mereka merujuk langsung kepada Rasulullah saw, akal tidak dibiarkan lepas landas melanglang buana, sebagaimana yang terjadi didalam hermeneutika. Akal yang liberal tanpa ikatan, akan dengan mudah menyalah tafsirkan ayat-ayat al-Qur'an. Setelah Rasulullah saw wafat, para sahabat menafsirkan ayat al-Qur'an dengan sangat hati-hati. Abu Bakar ra misalnya, mengatakan : \"Bumi mana yang akan membawaku, dan langit mana yang akan menaungiku, jika aku mengatakan didalam Kitab Allah apa yang aku tidak ketahui\" .","part":1,"page":49},{"id":50,"text":"Para sahabat menafsirkan al-Qur'an dengan berpegang kepada penafsiran yang telah diberikan oleh Rasulullah saw. Ketika menafsirkan al-Qur'an, para sahabat pertama-tama menelitinya dalam ayat-ayat al-Qur'an yang lain, karena ayat-ayat al-Qur'an satu sama yang lain saling menafsirkan. Setelah itu mereka merujuk pada penafsiran Rasulullah saw, sesuai dengan fungsi beliau sebagai penjelas terhadap ayat-ayat al-Qur'an. Sekiranya penjelasan tertentu tidak ditemukan didalam al-Qur'an dan Hadits, maka para sahabat berijtihad. Setelah generasi para sahabat, para tabi'in menafsirkan al-Qur'an dengan al-Qur'an, Hadits dan pendapat para sahabat, setelah itu baru dilakukan ijtihad. Pada masa para tabi'in, tafsir, belum merupakan disiplin ilmu tersendiri. Tafsir merupakan bagian dari Hadits. Ini menunjukkan dengan jelas bahwa tafsir tidaklah semena-mena, namun selalu terkait dengan apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya.","part":1,"page":50},{"id":51,"text":"Pada abad keempat hijryah, Imam Ibnu Jarir al-Thobari, menulis kitab Jami' al-Bayan 'an Ta'wil al-Qur'an yang mengumpulkan segala berita dari para otoritas sebelumnya yang berkaitan dengan al-Qur'an. Al-Thobari menggunakan sistem isnad untuk menafsirkan al-Qur'an. Tujuannya adalah untuk menjaga agar penafsiran tidak dilakukan secara sembarangan dan tetap bersandar kepada penafsiran yang otoratif. Pendekatan al-Thobari ini kemudian diikuti oleh para mufassir yang lain, seperti Ibnu Katsir dengan Tafsir al-Qur'an al-Karim, al-Suyuthi dengan tafsirnya al-Durr al-Mantsur fi Tafsir bi al-Ma'tsur dan lain-lain. Berbeda dengan tafsir yang sudah mapan didalam Islam, hermeneutika muncul didalam konteks peradaban Barat, yang didominasi oleh konsep ilmu yang skeptik. Karena itu konsep yang ditawarkan oleh para hermeneut tentang makna, kandungan, teori hermeneutika itu sendiri, terus menerus mengalami berbagai perubahan, perbedaan dan bahkan pertentangan. Teori hermeneutika dibangun atas spekulasi akal. Karena itu, konsep dan teorinya tidak jelas sebagaimana penggunaan tafsir yang selalu terkait dengan al-Qur'an dan Hadits.\r'Ulumul Qur'an dan Kredibilitas Mufassir","part":1,"page":51},{"id":52,"text":"Selain tafsir al-Qur'an, ilmu-ilmu yang membantu dalam menafsirkan al-Qur'an sudah wujud dengan sangat mapan. Kajian secara lebih mendalam dan khusus serta sistimatis mencakup berbagi aspek didalam al-Qur'an, seperti al-Qira'ah, asbab al-nuzul, nasikh wa al-mansukh, tarikh al-Qur'an, al-muhkan wa al-mutasyabihat, dan lain-lain. Ilmu-ilmu yang telah disebutkan diatas, harus dimiliki oleh para mufassir, agar isi al-Qur'an tidak ditafsirkan semena-mena. Para mufassir harus memiliki kredibilitas supaya tidak terjadi penyimpangan penafsiran. Jika penafsiran al-Qur'an dilakukan dengan sesuka hati oleh siapa saja, maka akan terjadi banyak kebingungan dan kerancuan penafsiran, sebagaimana yang terjadi dalam kelompok Ahmadiyah, yang menafsirkan al-Qur'an sesuai dengan kepentingan golongannya. Menghindari hal-hal seperti itu, para penafsir harus memenuhi berbagai pra syarat. Imam al-Suyuthi menyebutknan bahwa, seorang mufassir harus menguasi nahwu, shorrof, istihqoq, ma'ani, bayan, badi', qiro'ah, ushuluddin, ushul al-fiqh, asbab al-nuzul, qishosh, nasikh wa al-mansukh, fiqh, dan hadits-hadits yang menerangkan al-Qur'an, disamping itu ia juga harus mengamalkan ilmunya . Pra syarat ini juga, yang membedakan dengan hermeneutika, yang membuka penafsiran seluas mungkin bagi siapa saja untuk menginterpretasikan teks.","part":1,"page":52},{"id":53,"text":"Saat ini para orientalispun sangat getol menafsirkan al-Qur'an. Karena itu, sangat banyak sekali ditemukan penafsiran yang memuat kepentingan mereka. Padahal para ulama' kita sejak dulu sudah menetapkan bahwa diantara syarat-syarat para mufassir adalah berkaitan dengan keberagamaan dan akhlaq, yaitu memiliki akidah yang sahih, komitmen dengan kewajiban agama dan akhlaq Islami. Al-Thabari, misalnya, mengemukakan bahwa syarat utama seorang mufassir adalah akidah yang benar dan komitmen mengikuti sunnah. Orang yang akidahnya cacat, tidak dapat dipercaya bisa mengemban amanah yang berkaitan dengan urusan keduniawian apalagi urusan keagamaan.\rKesimpulan","part":1,"page":53},{"id":54,"text":"Walhasil, hermaneutika jelas berbeda dengan tafsir ataupun ta'wil, hermeneutika tidak sesuai untuk kajian al-Qur'an, baik dalam arti teologis atau filosofis. Dalam arti teologis, hermeneutika akan brakhir dengan mempersoalkan ayat-ayat yang sudah dhohir dari al-Qur'an dan menganggapnya sebagai problematik. Diantara kesan hermeneutika teologis ini adalah adanya kesan keragu-raguan terhadap Mushaf Utsmani yang telah disepakati oleh kaum Muslimin. Keinginan para pemikir moderen, Muhammad Arkon misalnya, untukmen-\"Deconstruct\" (merubah ulang) Mushaf Utsmani , adalah pengaruh dari hermeneutika teologis ini. Pendapat Nasr Hamid Abu Zaid yang menyatakan bahwa, posisi Nabi Muhammad saw, sebagai semacam pengarang al-Qur'an, Nabi Muhammad saw sebagai seorang Ummiy, bukanlah penerima wahyu pasif, tetapi mengolah redaksi al-Qur'an, sesuai dengan kondisinya sebagai manusia biasa, setelah al-Qur'an disampaikan oleh Rasulullah saw kepada umatnya, maka telah berubah menjadi teks Insani bukan teks Ilahi yang suci dan sakral , adalah kesan yang muncul dari hermeneutika filosofis.","part":1,"page":54},{"id":55,"text":"Dalam posisi yang lebih ekstrim, filsafat hermeneutika telah memasuki dataran epistemologis yang berakhir pada pemahaman Shophist yang bertentangan dengan pandangan hidup Islam. Filsafat hermeneutika berujung pada kesimpulan universal bahwa, setiap pemahaman teks adalah bentuk dari interpretasi, dan karena interpretasi itu tergantung kepada orangnya, maka hasil pemahaman tersebut menjadi subyektif. Dengan kata lain, tidak ada orang yang dapat memahami apapun secara obyektif. Aqidah al-Nasafi, pada pragraf pertamanya menyatakan : Semua hakikat segala perkara itu tsabit adanya, dan pengetahuan akan dia adalah yang sebenarnya, berbeda dengan pendapat kaum Sufasta'iyyah . Salah satu golongan Sufasta'iyyah itu adalah golongan 'indiyyah (Subyektifisme) yang menganut faham bahwa tidak ada kebenaran obyektif dalam ilmu, semua ilmu adalah subyektif, dan kebenaran mengenai sesuatu hanyalah semata-mata pendapat seseorang. Apabila semua ini dikaitkan dengan kajian al-Qur'an, maka akibatnya tidak ada kaum Muslimin yang mempunyai pemahaman yang sama mengenai al-Qur'an, karena semua pemahaman itu tergantung pada interpretasi masing-masing.","part":1,"page":55},{"id":56,"text":"Gagasan Schleiermacher bahwa penafsir dapat lebih mengerti lebih baik dari pengarang, sangat tidak tepat untuk di aplikasikan pada al-Qur'an. Tidak seorangpun dari kalangan mufassir mengatakan bahwa dia akan lebih mengerti dari pada \"pengarang\" al-Qur'an, Allah swt. Juga gagasan Wilhem Dilthey yang menggambarkan bahwa pengarang tidak mempunyai otoritas atas makna teks, tapi sejarahlah yang menentukan maknanya. Pendapat semacam ini jelas tidak dapat diaplikasikan didalam tafsir al-Qur'an. Bagi Mufassir, Allah swt, justru mengubah sejarah, bukan malah dipengaruhi oleh sejarah. Begitu juga gagasan Gadamer yang menyatakan bahwa penafsiran senantiasa terikat oleh konteks tradisinya masing-masing, Penafsir tidak mungkin melakukan penafsiran dari sisi yang netral. Penafsir merupakan \"reinterpretation\", memahami lagi teks secara baru dan makna yang baru pula. Pendapat Gadamer sebagaimana diatas, akan menggambarkan bahwa para penafsir tidak akan terlepas daripada latar belakang situasi, budaya dan sosial. Bagi kaum Muslimin, para mufassir, baik dahulu, sekarang dan yang akan datang, tidak akan terjebak dengan latar belakang sosial dan budaya. Tafsir dilakukan melampaui batas budaya dan lokal. Oleh karena itu, masih banyak kesepakatan diantara para mufassir, meskipun latar belakang sosial dan budaya mereka berbeda.","part":1,"page":56},{"id":57,"text":"Terakhir, sebagai penutup, berikut saya kutip sedikit tulisan yang terdapat dalam buku \"Hermeneutika Transdental : Dari Konfigurasi Filosofis menuju Praksis Islamic Studies\" yang telah banyak beredar, sebagai contoh dari dampak gagasan mengusung Hermeneutik ke al-Qur'an. Berikut tulisannya : \"….kiranya tidak ada salahnya jika digulirkan gerakan re-orientasi penafsiran al-Qur'an dari yang berwacana superioritas menuju Qur'an yang komunikatif. Artinya : pandangan tentang al-Qur'an yang mau mengakomodir pandangan-pandangan yang bernuansa kemanusiaan. Sehingga manusia \"ada\" ketika berhadapan dengan al-Quran. Jika selama ini penafsiran tentang al-Qur'an sudah menempatkan al-Qur'an sebagai \"benda suci\" yang tak bisa salah, maka saat ini diperlukan sebuah paradigma yang tak bisa melepaskan al-Qur'an sebagai produk budaya manusia dalam menagkap keber\"ada\"an Tuhan. Inilah yang disebut dengan Qur'an komunikatif, dimana manusia diberi ruang kebebasan dalam menafsirkannya, terlepas dari adiprasangka al-Qur'an yang sudah terlanjur sudah dianggap Maha Suci bahkan anti kritik.","part":1,"page":57},{"id":58,"text":"Sekali lagi, kebenaran al-Qur'an adalah kebenaran menurut ukuran manusia. Al-Qur'an tidak bisa menunjukkan kebenarannya tanpa mengikut sertakan pandangan kebenaran dari manusia. Jadi, kebenaran al-Qur'an adalah kebenaran yang bersifat manusiawi. Sudah sewajarnya jika manusia diberi ruang dalam menginterpretasikan al-Qur'an. Namun, jika al-Qur'an kita pandang secara absolut, maka tidak ada nilai guna yang kreatif bagi perkembangan manusia…..(hal: 204-205). Pernyataan diatas jelas sekali membeo hermeneutika Kritisnya Habermas tanpa mengetahui konsekuensi epistemologisnya. Atau barangkali penulisnya tidak tahu bagaimana posisi epistemologis al-Qur'an. Menganggap al-Qur'an bukan suci lagi dan bisa salah, telah mereduksi kalau tidak menafikan status al-Qur'an sebagi wahyu Allah swt.\rTulisan ini saya akhiri dengan peringatan Rasulullah saw: \" Kamu akan mengikuti jalan-jalan kaum sebelum kamu, sehasta demi sehasta, sejengkal demi sejengkal, sehingga apabila mereka masuk lubang biawak sekalipun, kamu akan mengikutinya jua \". Kemudian Rasullah saw ditanya : \"Apakah mereka (yang diikuti) itu kaum Yaudi dan Nasrani ?, Rasulullah saw menjawab : \"Siapa lagi (kalau bukan mereka). (HR.Bukhori Muslim.) Wallohu A'lam bi al-Showab.\r0520. Pengertian Ahli Kitab ( Kaitan Dengan Nikah Lintas Agama )\rPERTANYAAN :\rMuhammad Alatas\rAssalamualaikum wr wb, afwan bisa minta tolong penjelasannya/tafsirnya surah al-maidah ayat 5, sama asbabun nuzulnya ayat tersebut ?\rJAWABAN :\rMasaji Antoro\rWaalaikumsalam wr wb.","part":1,"page":58},{"id":59,"text":"الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ إِذَا آَتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ وَلَا مُتَّخِذِي أَخْدَانٍ وَمَنْ يَكْفُرْ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ\rPada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar maskawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barang siapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi. (QS. 5:5).\rلما ذكر تعالى ما حرمه على عباده المؤمنين من الخبائث، وما أحله لهم من الطيبات\rSetelah Allah Taala menjelaskan tentang hal-hal yang di halalkan dan di haramkan bagi orang2 Mukmin (lihat ayat sebelumnya) kemudian Allah menjelaskan tentang makanan dan wanita-wanita yang halal bagi orang-orang mukmin. [Tafsiir Ibnu Katsiir III/39 ].\rAda dua POINT penting dalam bahasan ayat ini :","part":1,"page":59},{"id":60,"text":"يريد ذبائح اليهود والنصارى ومن دخل في دينهم من سائر الأمم قبل مبعث النبي محمد صلى الله عليه وسلم حلال لكم، فأما من دخل في دينهم بعد مبعث محمد صلى الله عليه وسلم فلا تحل ذبيحته\rTafsir Baghowi QS Almaidah ayat 5\rوقوله تعالى : ( وطعام الذين أوتوا الكتاب حل لكم ( يعني وذبائح أهل الكتاب حل لكم وهم اليهود والنصارى ومن دخل في دينهم من سائر الأمم قبل مبعث النبي ( صلى الله عليه وسلم ) .\rفأما من دخل في دينهم بعد مبعث النبي ( صلى الله عليه وسلم ) وهم منتصروا العرب من بني تغلب فلا تحل ذبيحته.\rروي عن علي بن أبي طالب قال : لا تأكل من ذبائح نصارى العرب بني تغلب فإنهم لم يتمسكوا بشيء من النصرانية إلا بشرب الخمر.\rوبه قال ابن مسعود.\rومذهب الشافعي : أن من دخل في دين أهل الكتاب بعد نزول القرآن , فإنه لا تحل ذبيحته.\r1. Yang dimaksud disini adalah daging semebelihan orang2 Ahli Kitab (Yahudi, Nasrani dan orang2 yang masuk agama mereka) dihalalkan bagi orang2 mukmin saat sebelum terutusnya Nabi Muhammad SAW, sedangkan daging semebelihanorang2 Ahli Kitab (Yahudi, Nasrani dan orang2 yang masuk agama mereka) setelah di utusnya Nabi Muhammad menjadi Nabi maka tidak halal. [ Tafsiir Khozin II/14 ].\r2. Point yang kedua ini masih berhubungan dengan pertanyaan Kakang kemarin yang sebenarnya andaikan salah satu referensi rujukan kitab kemarin telah Kakang buka, mungkin tidak akan ada lagi pertanyaan ini, Hehe\rومن دخل في دين اليهود والنصارى بعد التبديل لا يجوز للمسلم أن ينكح حرائرهم ولا أن يطأ إماءهم بملك اليمين لانهم دخلوا في دين باطل فهم كمن ارتد من المسلمين","part":1,"page":60},{"id":61,"text":"Pemeluk agama yahudi dan Nasrani setelah terjadinya perubahan, maka lelaki muslim tidak boleh menikahi wanita2 merdeka dan bersetubuh dengan budak2 mereka karena mereka telah masuk dalam agama yamg bathil seperti hukumnya orang muslim yang murtad. [ AlMuhaddzab II/44 ].\rفَصْلٌ : فَإِذَا تَقَرَّرَ أَنَّ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَهْلُ كِتَابٍ يَحِلُّ نِكَاحُ حَرَائِرِهِمْ فَهُمْ ضَرْبَانِ : بَنُو إِسْرَائِيلَ ، وَغَيْرُ بَنِي إِسْرَائِيلَ .\rفَأَمَّا بَنُو إِسْرَائِيلَ : وَهُوَ يَعْقُوبُ بْنُ إِسْحَاقَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِمُ السَّلَامُ ، فَجَمِيعُ بَنِيهِ الَّذِينَ دَخَلُوا فِي دِينِ مُوسَى حِينَ دَعَاهُمْ ، دَخَلَ مِنْهُمْ فِي دِينِ عِيسَى مَنْ دَخَلَ مِنْهُمْ ، فَقَدْ كَانُوا عَلَى دِينِ حَقٍّ دَخَلُوا فِيهِ قَبْلَ تَبْدِيلِهِ ، فَيَجُوزُ إِقْرَارُهُمْ بِالْجِزْيَةِ ، وَأَكْلُ ذَبَائِحِهِمْ وَنِكَاحُ حَرَائِرِهِمْ .","part":1,"page":61},{"id":62,"text":"وَأَمَّا غَيْرُ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِمَّنْ دَخَلَ فِي الْيَهُودِيَّةِ مِنَ النَّصْرَانِيَّةِ مِنَ الْعَرَبِ وَالْعَجَمِ وَالتُّرْكِ ، فَهُمْ ثَلَاثَةُ أَصْنَافٍ : صِنْفٌ دَخَلُوا فِيهِ قَبْلَ التَّبْدِيلِ كَالرُّومِ حِينَ دَخَلُوا النَّصْرَانِيَّةَ ، فَهَؤُلَاءِ كَبَنِي إِسْرَائِيلَ فِي إِقْرَارِهِمْ بِالْجِزْيَةِ وَأَكْلِ ذَبَائِحِهِمْ وَنِكَاحِ حَرَائِرِهِمْ : لِأَنَّ النَّبِيَّ {صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ} كَتَبَ إِلَى قَيْصَرَ الرُّومِ كِتَابًا ، الجزء التاسع < 223 > قَالَ فِيهِ : قُلْ يَاأَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ [ آلِ عِمْرَانَ : 64 ] الْآيَةَ ، فَجَعَلَهُمْ أَهْلَ الْكِتَابِ : وَلِأَنَّ الْحُرْمَةَ لِلدِّينِ وَالْكِتَابِ لَا لِلنَّسَبِ : فَلِذَلِكَ مَا اسْتَوَى حُكْمُ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَغَيْرِهِمْ فِيهِ .\rوَالصِّنْفُ الثَّانِي : أَنْ يَكُونُوا قَدْ دَخَلُوا فِيهِ بَعْدَ التَّبْدِيلِ ، فَهَؤُلَاءِ لَمْ يَكُونُوا عَلَى حَقٍّ ، وَلَا تَمَسَّكُوا بِكِتَابٍ صَحِيحٍ ، فَصَارُوا إِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ حُرْمَةٌ كَعَبَدَةِ\rالْأَوْثَانِ فِي أَنْ لَا تُقْبَلَ لَهُمْ جِزْيَةٌ ، وَلَا يُؤْكَلُ لَهُمْ ذَبِيحَةٌ ، وَلَا تُنْكَحُ مِنْهُمُ امْرَأَةٌ .","part":1,"page":62},{"id":63,"text":"وَالصِّنْفُ الثَّالِثُ : أَنْ يُشَكَّ فِيهِمْ هَلْ دَخَلُوا فِيهِ قَبْلَ التَّبْدِيلِ أَوْ بَعْدَهُ كَنَصَارَى الْعَرَبِ ، كَوَجٍّ وَفِهْرٍ وَتَغْلِبَ ، فَهَؤُلَاءِ شَكَّ فِيهِمْ عُمَرُ فَشَاوَرَ فِيهِمُ الصَّحَابَةَ ، فَاتَّفَقُوا عَلَى إِقْرَارِهِمْ بِالْجِزْيَةِ حَقْنًا لِدِمَائِهِمْ : وَأَنْ لَا تُؤْكَلَ ذَبَائِحُهُمْ وَلَا تُنْكَحَ نِسَاؤُهُمْ لِأَنَّ الدِّمَاءَ مَحْقُونَةٌ ، فَلَا تُبَاحُ بِالشَّكِّ وَالْفُرُوجَ مَحْظُورَةٌ فَلَا تُسْتَبَاحُ بِالشَّكِّ .\rفَهَذَا حُكْمُ أَهْلِ الْكِتَابِ مِنَ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى .\rAhli Kitab terbagi atas :\r1. BANI ISRAEL\rAdalah mereka yang keturunan Nabi Ya'qub bin Ishaq bin Ibrahim AS. setiap keturunannya yang masuk di Agama Nabi musa as masuk juga sebagiannya di agama nabi Isa As (kala itu), mereka ada dalam agama yang benar (diakui hak2 mereka dengan penarikan pajak sebagai jaminan keselamatanya dan hukum menikahi dan makan daging sembelihannya halal)\r2. SELAIN BANI ISRAEL\rMereka terbagi atas :\rA. Sekelompok orang yang yang masuk nasrani sebelum terjadinya perubahan kitab, seperti orang RUM, hukumnya seperti orang2 Bani israel.\rB. Sekelompok orang yang masuk Nasrani setelah terjadinya perubahan, mereka tidak berada pada kebenaran dan tidak berpegang pada kitab yang akurat maka tidak diakui hak2 mereka dengan penarikan pajak sebagai jaminan keselamatanya dan hukum menikahi dan makan daging sembelihannya tidak boleh","part":1,"page":63},{"id":64,"text":"C. Sekelompok orang yang diragukan apakah dia masuk nasrani setelah terjadi perubahan/belum seperti orang2 nasrani arab, bani wajj, fihr, dan tsa'lab maka sahabat umar ragu2 memutusinya, kemudian bermusyawarah dengan para shohabat diakui hak2 mereka dengan penarikan pajak sebagai jaminan keselamatanya tapi hukum menikahi dan makan daging sembelihannya tidak boleh. [ KITAB AL-HAWY AL-KABIIR IX/572 ].\rBayangkan,, berarti orang nasrani yang sekarang berarti masuk dibagian yang mana ? Apakah boleh kita menikahi mereka ?\r0579. TAFSIR QS AL-AN'AM 130 : ADA ROSUL UNTUK JIN ?\rPERTANYAAN :\rChabib Musthofa\rAssalamu'alaikum. Apakah Allah juga mengutus Nabi untuk bangsa jin dari jenis jin? Apa maksud dari ayat berikut ? \"Wahai golongan jin dan manusia! Bukankah sudah datang kepadamu rasul-rasul dari kalanganmu sendiri,....\" (QS. Al-An'aam : 130). Mohon pencerahannya. Jazakallah...\rJAWABAN :\rEdi Kartono","part":1,"page":64},{"id":65,"text":"Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayatKu dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini? Mereka berkata: \"Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri\", kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir. ( QS. Al-An'aam : 130 ). mungkin maksud dari ayat ( hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golonganmu sendiri ) ini adalah di tujukan hanya satu golongan saja yaitu manusia. karena penjelasan ayat tersebut tidak ada kata dari golongan kamu masing2. Wallahu a'lam.\rMasaji Antoro\rWa'alaikumsalam. Menurut mayoritas ulama para Rasul hanya terdiri dari bangsa manusia, sedang dari bangsa jin menurut Ibn Abbas terdapat istilahnya nudzur (jin yang memberi peringatan pada kaumnya dengan ajaran yang dia peroleh dari seorang Rosulnya bangsa manusia). Sedikit uraiannya sebagai berikut :\r{يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْأِنْسِ أَلَمْ يَأْتِكُمْ} أي يوم نحشرهم نقول لهم ألم يأتكم رسل فحذف ؛ فيعترفون بما فيه افتضاحهم. ومعنى {مِنْكُمْ} في الخلق والتكليف والمخاطبة.","part":1,"page":65},{"id":66,"text":"ولما كانت الجن ممن يخاطب ويعقل قال : {مِنْكُمْ} وإن كانت الرسل من الإنس وغلب الإنس في الخطاب كما يغلب المذكر على المؤنث. وقال ابن عباس : رسل الجن هم الذين بلغوا قومهم ما سمعوه من الوحي ؛ كما قال : {وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ} [الأحقاف : 29]. وقال مقاتل والضحاك : أرسل الله رسلا من الجن كما أرسل من الإنس. وقال مجاهد : الرسل من الإنس ، والنذر من الجن ؛ ثم قرأ {إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ} [الأحقاف : 29]. وهو معنى قول ابن عباس ، وهو الصحيح على ما يأتي بيانه في \"الأحقاف\". وقال الكلبي : كانت الرسل قبل أن يبعث محمد صلى الله عليه وسلم يبعثون إلى الإنس والجن جميعا.\rقلت : وهذا لا يصح ، بل في صحيح مسلم من حديث جابر بن عبدالله الأنصاري قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : \"أعطيت خمسا لم يعطهن نبي قبلي كان كل نبي يبعث إلى قومه خاصة وبعثت إلى كل أحمر وأسود\" الحديث. على ما يأتي بيانه في \"الأحقاف\". وقال ابن عباس : كانت الرسل تبعث إلى الإنس وإن محمدا صلى الله عليه وسلم بعث إلى الجن والإنس ؛ ذكره أبو الليث السمرقندي. وقيل : كان قوم من الجن : استمعوا إلى الأنبياء ثم عادوا إلى قومهم وأخبروهم ؛ كالحال مع نبينا عليه السلام. فيقال لهم رسل الله ، وإن لم ينص على إرسالهم.\r“Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri” (QS. 6:130)\rKarena bangsa Jin juga golongan berakal dan dikhitobi (terkena hukum) maka dikatakan dalam ayat diatas dengan “minkum” dari golongan kamu sendiri, meskipun para rasul adanya dari kalangan manusia bangsa manusia ditaghlib (dimenangkan) dalam ayat diatas sebagaimana biasa ditaghlibnya isim mudzakar (laki-laki) atas isim muannats (perempuan).","part":1,"page":66},{"id":67,"text":"Ibn Abbas berkata “Rasul dari kalangan jin adalah mereka yang menyampaikan pada kaum mereka wahyu yang mereka dengarkan dari para rasul manusia” sebagaimana firman Allah “mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan”. (QS. 46:29)…..\rNabi Muhammad bersabda “Aku diberikan lima perkara yang tidak diberikan pada nabi sebelumku, adalah nabi sebelumku diutus sebatas kaumnya sedang aku diutus pada setiap yang merah dan hitam” (HR. Muslim)\rIbn Abbas berkata “Adalah para rasul di utus pada bangsa manusia dan sesungguhnya Muhammad shallallaahu alaihi wa sallam diutus pada bangsa jin dan manusia” (dituturkan oleh Abu Laits as-samarqandy)\rDikatakan “Adalah kaum jin mendengarkan wahyu dari para nabi kemudian mereka kembali memberitahukan pada kaumnya seperti keadaan pada nabi kita alaihis salam, kemudian mereka disebut utusan Allah meskipun tidak tertetapkan dalil nash atas kerasulan mereka”. [ Al-Jaami’ li Ahkaam al-Quraan VII/87 ].\r{ يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالإنْسِ أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ } أي: من جملتكم. والرسل من الإنس فقط، وليس من الجن رسل، كما [قد] (1) نص على ذلك مجاهد، وابن جُرَيْج، وغير واحد من الأئمة، من السلف والخلف.\rوقال ابن عباس: الرسل من بني آدم، ومن الجن نُذُر.","part":1,"page":67},{"id":68,"text":"وحكى ابن جرير، عن الضحاك بن مُزاحم: أنه زعم أن في الجن رسلا واحتج بهذه الآية الكريمة وفي الاستدلال بها على ذلك نظر؛ لأنها محتملة وليست بصريحة، وهي -والله أعلم -كقوله [تعالى] (2) { مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِ . بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لا يَبْغِيَانِ } إلى أن قال: { يَخْرُجُ مِنْهُمَا اللُّؤْلُؤُ وَالْمَرْجَانُ } [الرحمن : 19 -22] ، ومعلوم أن اللؤلؤ والمرجان إنما يستخرج (3) من الملح (4) لا من الحلو. وهذا واضح، ولله الحمد. وقد نص هذا الجواب بعينه ابن جرير (5) .","part":1,"page":68},{"id":69,"text":"والدليل على أن الرسل إنما هم من الإنس قوله تعالى: { إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَى نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ [وَأَوْحَيْنَا ] } (6) إلى أن قال: { رُسُلا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ [بَعْدَ الرُّسُلِ (7) ] } [النساء : 163 -165] ، وقال تعالى عن إبراهيم: { وَجَعَلْنَا فِي ذُرِّيَّتِهِ النُّبُوَّةَ وَالْكِتَابَ } [العنكبوت : 27] ، فحصر النبوة والكتاب بعد إبراهيم في ذريته، ولم يقل أحد من الناس: إن النبوة كانت في الجن قبل إبراهيم الخليل [عليه السلام] (8) ثم انقطعت عنهم ببعثته. وقال تعالى: { وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ إِلا إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَيَمْشُونَ فِي الأسْوَاقِ } [الفرقان : 20] ، وقال [تعالى] (9) : { وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلا رِجَالا نُوحِي إِلَيْهِمْ مِنْ أَهْلِ الْقُرَى } [يوسف : 109] ، ومعلوم أن الجن تبع للإنس في هذا الباب؛ ولهذا قال تعالى إخبارًا عنهم: { وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ . قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنزلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَى مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَى طَرِيقٍ مُسْتَقِيمٍ * يَا قَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ وَآمِنُوا بِهِ يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُجِرْكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ * وَمَنْ لا يُجِبْ دَاعِيَ اللَّهِ فَلَيْسَ بِمُعْجِزٍ فِي الأرْضِ وَلَيْسَ لَهُ مِنْ دُونِهِ أَولِيَاءُ أُولَئِكَ فِي ضَلالٍ مُبِينٍ } [الأحقاف : 29 -32] .","part":1,"page":69},{"id":70,"text":"“Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri” (QS. 6:130) artinya dari golongan kamu sendiri, rasul-rasul (para utusan) dari bangsa manusia saja, bangsa jin tidak memiliki para utusan seperti apa yang telah ditetapkan menjadi nash oleh Imam Mujahid, Ibn Juraij dan ulama-ulama lain baik kuno maupun modern.\rIbn Abbas berkata “Rosul dari keturunan anak Adam sedangkan dari bangsa Jin terdapat NUDZUR (jin yang memberi peringatan pada kaumnya dengan ajaran yang dia peroleh dari seorang Rosulnya bangsa manusia)\rIbn Jariir menceritakan dari ad-Dhahaak Bin Muzaakhim “Bangsa Jin juga terdapat rosul” berdasarkan firman Allah “Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Dari keduanya keluar mutiara dan marjan” (QS. 55:19-22), sandaran dengan dalil ini perlu pertimbangan sebab dalilnya masih ihtimal (mirip-mirip) tidak jelas sama sekali.\rSedang dalil yang menunjukkan rasul hanya dari bangsa manusia adalah firman-firman Allah Ta’aala :\r1. Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya, Isa, Ayub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud.","part":1,"page":70},{"id":71,"text":"Dan (kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.\r(Mereka kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. 4:163-165).\r2. Dan Kami anugrahkan kepada Ibrahim, Ishak dan Yaqub, dan Kami jadikan kenabian dan Al Kitab pada keturunannya, (QS. 29:27) dalam ayat ini Allah membatasi bahwa kenabian dan al-kitab setelah Ibrahim As. Hanya diberikan pada keturunannya, dan tidak seorangpun yang menyatakan adanya nubuwwah dari bangsa jin yang kemudian terputus dengan kenabiaannya Ibrahim AS.\r3. Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. (QS. 25:20).\r4. Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya di antara penduduk negeri. (QS. 12:109).\rDan sudah diketahuai bersama bahwa jin dalam hal ini selalu mengikuti terhadap manusia, Allah berfirman : “Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Qur'an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: \"Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)\". Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan.","part":1,"page":71},{"id":72,"text":"Mereka berkata: \"Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al Qur'an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.\rHai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih.\rDan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah maka dia tidak akan melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata\".(46:29-32). [ Tafsiir Ibn Katsiir III/340 ]. Wallaahu A'lamu Bis Showaab.\r0665. Taubat Dengan Bunuh Diri\rPERTANYAAN :\rUmi Af-idah\rAssalamu'alaykum wr.wb. Niat Saya di sini juga ingin belajar, saya akan menjelaskan di coment arti dari surat Albaqoroh ayat 54. Apabila ada yang lebih tahu, tolong bantu menjelaskan. Sebelumnya saya ucapkan terimakasih.\rJAWABAN :\rMasaji Antoro\rWa'alaikumsalam wr wb\rوَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ إِنَّكُمْ ظَلَمْتُمْ أَنْفُسَكُمْ بِاتِّخَاذِكُمُ الْعِجْلَ فَتُوبُوا إِلَى بَارِئِكُمْ فَاقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ عِنْدَ بَارِئِكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ","part":1,"page":72},{"id":73,"text":"Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: \"Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), maka bertobatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; maka Allah akan menerima tobatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.\" (QS. 2:54).\r{ فاقتلوا أَنفُسَكُمْ } الفاء للتعقيب ، والمتبادر من القتل القتل المعروف من إزهاق الروح وعليه جمع من المفسرين والفعل معطوف على سابقه ، فإن كانت توبتهم هو القتل إما في حقهم خاصة ، أو توبة المرتد مطلقاً في شريعة موسى عليه السلام\r(Keterangan bunuhlah dirimu) DiterimanyA pertaubatan atas dosa yang terbuat dengan cara bunuh diri memang hanya tertentu pada kaum Bani Israel (kaum nabi Musa Alaihi Salam), atau taubat dari perbuatan murtad dengan cara demikian hanya berlaku di syariat Nabi Musa 'Alaihi Salam. [ Tafsiir al-Aluusy I/318 ].\rفوفقكم لفعل ذلك وأرسل عليكم سحابة سوداء لئلا يبصر بعضكم بعضا فيرحمه حتى قتل منكم نحو سبعين ألفا\rKemudian mereka menyetujuinya dan kemudian Allah mengirimkan mendung hitam pekat sehingga kaum nabi Musa Alaihi Salam antara satu dan lainnya saling tidak dapat melihat dan terbunuhlah 70.000 jiwa dari mereka. [ Tafsiir al-Jalaalain I/11 ].\rفاقتلوا أنفسكم ( يعني ليقتل البريء منكم المجرم. فإن قلت التوبة عبارة عن الندم على فعل القبيح والعزم على أن لا يعود إليه وهذا مغاير للقتل. فكيف يجوز تفسير التوبة بالقتل.","part":1,"page":73},{"id":74,"text":"قلت : ليس المراد تفسير التوبة بالقتل بل بيان أن توبتهم لا تتم إلا بالقتل , وإنما كان كذلك لأن الله أوحى إلى موسى عليه الصلاة والسلام أن توبة المرتد لا تتم إلا بالقتل. فإن قلت : التائب من الردة لا يقتل فكيف استحقوا القتل وقد تابوا من الردة. قلت ذلك مما تختلف فيه الشرائع فلعل شرع موسى كان يقتضي أن يقتل التائب من الردة إما عاماً في حق الكل أو خاصاً في حق الذين عبدوا العجل\r(Keterangan bunuhlah dirimu) artinya Allah akan membunuh pendosa diantara diri kalian.\rPertanyaan : Taubat adalah penyesalan atas perbuatan kotor dan berjanji untuk tidak mengulanginya dikemudian hari, bukankan pengertiannya jauh panggang dengan arti pembunuhan ?\rJawaban : Bukan maksudnya taubat ditafsiri dengan pembunuhan namun pertaubatan kaum Nabi Musa Alaihi Salam saat itu tidak dapat sempurna tanpa kematian sebab Allah Ta'aalaa telah memberi wahyu pada Nabi Musa Alaihi Salam “Taubatnya orang murtad tidak sempurna tanpa kematian”\rPertanyaan : Orang yang telah bertaubat tidak boleh dibunuh, bagaimana dengan kaum Nabi Musa Alaihi Salam yang telah bertaubat dari perbuatan murtad kenapa berhak dibunuh ?\rJawaban : Hal tersebut berkaitan dengan perbedaan-perbedaan syariat yang diemban oleh setiap nabi dan utusan Allah, karena dimungkinkan disyariat nabi Musa Alaihi Salam memang diperlakukan bagi siapa saja yang murtad secara keseluruhan atau bagi pelaku murtad dengan menyembah anak lembu berhak dibunuh. [ Tafsiir al-Khoozin I/61 ]. Wallaahu A'lamu Bis Showaab.\r[http://0.facebook.com/notes/www.piss-ktb.com/287449351277880]\r0677. Penggunaan Aku dan Kami Sebagai Kata Ganti Allah\rPERTANYAAN :\rVarist Varish","part":1,"page":74},{"id":75,"text":"Assalamuaalaikum,.ndrek tangklet mbah,knapa ALLAH dalam berfirman dalam al qur'an menggunakan kata KAMI&AKU,CONTOH.kami turunkan al qur'an pada mlm lailatul qadar&tidak aku ciptakn jin dan manusia kecuali untuk beribdah kepadaaKU,.mhon pencerahannya..suwun\rJAWABAN :\rMasaji Antoro\rWa'alaikumsalam\r( نحن ) ضمير يعبر به الاثنان أو الجمع المخيرون عن أنفسهم وقد يعبر به الواحد عند إرادة التعظيم\r[ Kami ] Adalah kata pengganti yang menunjukkan arti dua atau jamak namun demikian dapat juga digunakan untuk satu orang saat dikehendaki penghormatan. [ Al-Mu’jam al-Wasiith II/907 ]\rDengan demikian tidak berarti kata “kami” memiliki arti banyak karena dapat juga digunakan untuk kata pengganti bagi yang mengagungkan dirinya (mu’azhzhom nafsahu) seperti contoh dalam firman Allah :\rإِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ} [15/9]\rSesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya (QS. 15:9).\rDalam ayat ini artinya Allah mengagungkan terhadap diriNya sendiri dan penggunaan kata pengganti semacam dalam bahasa arab (bahkan dalam bahasa kita, Indonesia) sudah sangat maklum.\r0787. TAFSIR QS HUUD 114 : KEBAIKAN MENGHAPUS KEBURUKAN ?\rPERTANYAAN :\r> Wafa Noer\rO Inna lhasanaat yudzhibnas sayiaat O ini hadits/qoul ulama ngih para ustad ? terus artinya dan maksudnya apa ? Assalamu 'alaikum Warahmatullah Wabarokatuh...\rJAWABAN :\r> A Ramdhan Ab\rQoul tersebut itu adalah ayat Alqur'an surat hud 114 :\rوَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّالْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ","part":1,"page":75},{"id":76,"text":"Artinya: “Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang dan pada bahagian permulaan malam. Sesungguhnya perbuatan- perbuatan yang baik itu menghapuskan perbuatan- perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat (QS. Huud : 114).\r> Masaji Antoro\rBISMILLAAH\rأَقِمِ الصَّلاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفاً مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ\r“Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang dan pada bahagian permulaan malam. Sesungguhnya perbuatan- perbuatan yang baik itu menghapuskan perbuatan- perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat” (QS. Huud : 114)\rMAKSIAT dan SYAHADAT\rالمعصية والشهادة: المعصية لا تمنع الاتصاف بالشهادة، فيكون الميت شهيداً عاصياً؛ لأن الطاعة لا تلغي المعصية إلا في الصغائر، قال تعالى: {إن الحسنات يذهبن السيئات} [هود:114/11] أي إن الحسنات بامتثال الأوامر، خصوصاً في العبادات التي أهمها الصلاة يذهبن السيئات، قال صلّى الله عليه وسلم : «وأتبع السيئة الحسنة تمحها» (2) .\r(2) حديث حسن رواه الترمذي عن أبي ذر جُندُب بن جُنادة، وأبي عبد الرحمن معاذ بن جبل رضي الله عنهما.","part":1,"page":76},{"id":77,"text":"Maksiat tidak dapat menghilangkan status SYAHADAT seseorang, maka kemungkinan bisa terjadi seorang yang telah mati berstatus mati syahid sekaligus ahli maksiat karena ketaatan tidak dapat menghilangkan kemaksiatan kecuali sebatas dosa-dosa kecil, Allah berfirman : “Sesungguhnya perbuatan- perbuatan yang baik itu menghapuskan perbuatan- perbuatan yang buruk” (QS. Huud : 114). Artinya segala kebaikan dengan menjalankan perintah-perintah Allah terlebih lagi berupa ibadah yang paling special yakni shalat dapat menghilangkan perbuatan-perbuatan yang buruk, Nabi bersabda “Ikutkan kebaikan pada kejelekan niscaya akan meleburnya” (HR. at-Tirmidzi). [ Al-Fiqh al-Islaam II/700 ].\rASBAAB AN-NUZUUL","part":1,"page":77},{"id":78,"text":"نزلت هذه الآية في أبي اليسر عمرو بن غزية الأنصاري وكان يبيع التمر فأتته امرأة تبتاع تمراً فقال : إن هذا التمر ليس بجيد وفي البيت أجود منه ، فهل لك فيه ، فقالت : نعم ، فذهب بها إلى بيته فضمها إليه وقبّلها ، فقالت له : اتق الله فتركها وندم على ذلك ، فأتى النبي ( صلى الله عليه وسلم ) وقال : يا رسول الله ، ما تقول في رجل راود امرأة عن نفسها ولم يبق شيئاً مما يفعل الرجال بالنساء إلاّ ركبه غير أنه لم يجامعها ، فقال عمر بن الخطاب : لقد ستر الله عليك لو سترت على نفسك ، فلم يردّ عليه رسول الله ( صلى الله عليه وسلم ) شيئاً ، وقال : أنظر فيه أمر ربي ، وحضرت صلاة العصر ، فصلّى النبي ( صلى الله عليه وسلم ) العصر ، فلما فرغ أتاه جبريل بهذه الآية ، فقال النبي ( صلى الله عليه وسلم ) ( أين أبو اليسر ؟ ) فقال : ها أناذا يا رسول الله ، قال : ( أشهدت معنا هذه الصلاة ؟ ) قال : نعم ، قال : ( اذهب فإنها كفارة لما عملت ) فقال عمر : يا رسول الله أهذا له خاصّة أم لنا عامة ؟ فقال ( صلى الله عليه وسلم ) ( بل للناس عامة ) .\rAyat tersebut diturunkan pada sahabat Abu al-Yusr ‘Amr Bin Ghozyah al-Anshaari, adalah ia seorang penjual buah kurma, datanglah seorang wanita berkehendak membeli kurmanya\r“Kurma ini tidak bagus, dirumah ada yang lebih bagus darinya, adakah engkau menginginkannya ?” Tanya Abu al-Yusr\r“Ya..!!” Jawab wanita tersebut\rMaka Abu al-Yusr mengajak wanita tersebut menuju rumahnya, sesampainya dalam rumah Abu al-Yusr malah memeluk erat dan menciuminya\r“Takutlah engkau pada Allah… !!” Jerit wanita tadi\rTersadarlah Abu al-Yusr dan ia melepaskannya.\rAbu al-Yusr sangat menyesali perbuatannya dan mendatangi Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam","part":1,"page":78},{"id":79,"text":"“Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat Tuan atas perbuatan seorang pria yang hendak ‘menodai’ seorang wanita, ia tidak meninggalkan apapun perbutan selayaknya pria dan wanita terkecuali hanya senggama ?” Tanya Abu al-Yusr pada Nabi Muhammad\rUmar Bin Khatthaab berkata “Sungguh Allah telah menutupimu bila engkau menutupi dirimu atas perbuatanmu..!!”\rBaginda nabi tidak memberi jawaban apapun selain berkata\r“Aku menunggu perintah Tuhanku..!”\rSaat itu, tiba masanya menjalankan shalat ashar, kemudian Nabi menjalankan shalat, setelah rampung datanglah Malaikat Jibril As. Dengan menurunkan ayat diatas, kemudian Nabi bertanya\r“Dimana Abu al-Yusr ?”\r“Saya, wahai Rasulullah” Jawab Abu al-Yusr\r“Apakah engkau menjalani shalat ashar ini bersamaku” Tanya nabi\r“ Ya” Jawab Abu al-Yusr\r“Pergilah… sesungguhnya shalat asharmu sebagai penebus atas apa yang engkau kerjakan” Sabda Nabi\r“Wahai Rasulullah, apakah yang demikian hanya khusus buatnya (Abu al-Yusr) atau juga bagi kami ?” Tanya Umar\rNabi Menjawab “Tidak… Tapi untuk semua orang”\r[ Al-Kasyfu wal Bayaan V/193 ]. Wallaahu A'lamu Bis Showaab\r0877. DEFINISI AYAT MUHKAMAT DAN MUTASYABIHAT\rPERTANYAAN :\rRobi Herdian\rAssalamu,alaikum, apa yang di mksud ayat muhkamat dan mu'tasyabihat. . . ? Mhn penjlsanny. . .\rJAWABAN :\rMuhammad Mujtahid Muthlaq\rMuhkamat : almuttadhihul ma'na ; yang jelas maknanya.\rMutasyaabihaat : maa laisa bi muttadhihil ma'na ; yang tidak jelas maknanya.","part":1,"page":79},{"id":80,"text":"Ayat-ayat Muhkamat : ayat yang dari sisi kebahasaan memiliki satu makna saja dan tidak memungkinkan untuk ditakwil ke makna lain. Atau ayat yang diketahui dengan jelas makna dan maksudnya. Seperti firman Allah :\r? لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَىءٌ ? (سورة الشورى: ??)\rMaknanya: “Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya (baik dari satu segi maupun semua segi, dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya)”. (Q.S. asy-Syura: 11)\r? وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ ? (سورة الإخلاص :4)\rMaknanya: “Dia (Allah) tidak ada satupun yang menyekutui-Nya”. (Q.S. al Ikhlash : 4)\r? هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا ? (سورة مريم :65)\rMaknanya: “Allah tidak ada serupa bagi-Nya”. (Q.S. Maryam : 65)\rAyat-ayat Mutasyabihat : ayat yang belum jelas maknanya. Atau yang memiliki banyak kemungkinan makna dan pemahaman sehingga perlu direnungkan agar diperoleh pemaknaan yang tepat yang sesuai dengan ayat-ayat muhkamat. Seperti firman Allah :\r? الرّحْمانُ عَلَى العَرْشِ اسْتَوَى ? (سورة طه :5)\rPenafsiran terhadap ayat-ayat mutasyabihat harus dikembalikan kepada ayat-ayat muhkamat. Ini jika memang berkait dengan ayat-ayat mutasyabihat yang mungkin diketahui oleh para ulama. Sedangkan mutasyabih (hal yang tidak diketahui oleh kita) yang dimaksud dalam ayat\r? وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيْلَهُ إِلاَّ اللهُ ? (سورة ءال عمران : 7)\rMenurut bacaan waqaf pada lafazh al Jalalah الله adalah seperti saat kiamat tiba, waktu pasti munculnya Dajjal, dan bukan mutasyabih yang seperti ayat tentang istiwa') Q.S. Thaha : 5). Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam bersabda :","part":1,"page":80},{"id":81,"text":"\" اعْمَلُوْا بِمُحْكَمِهِ وَءَامِنُوْا بِمُتَشَابِهِهِ\" (حديث ضعيف ضعفا خفيفا)\rMaknanya: “Amalkanlah ayat-ayat muhkamat yang ada dalam Al Qur'an dan berimanlah terhadap yang mutasyabihat dalam Al Qur'an\". Artinya jangan mengingkari adanya ayat-ayat mutasyabihat ini melainkan percayai adanya dan kembalikan maknanya kepada ayat-ayat yang muhkamat. Hadits inidla'if dengan kedla'ifan yang ringan.\rAz-Zabidi mengatakan menukil dari al Qusyairi : \"Bukankah ada pendapat yang mengatakan bahwa bacaan ayat (tentang takwil) tersebut adalah\r[ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيْلَهُ إِلاَّ اللهُ وَالرَّاسِخُوْنَ فِي الْعِلْمِ],\rseakan Allah menyatakan \"orang yang mendalam ilmunya juga mengetahui takwilnya serta beriman kepadanya\" karena beriman kepada sesuatu itu hanya dapat terwujud setelah mengetahui sesuatu itu, sedang sesuatu yang tidak diketahui tidak akan mungkin seseorang beriman kepadanya. Karenanya, Ibnu Abbas mengatakan : \"Saya termasuk orang-orang yang mendalam ilmunya\".\r0943. TAFSIR QS ALBAQARAH 106 : NABI LUPA WAHYUNYA ?\rPERTANYAAN :\r> Fabil Masihsetia Menunggudyadisini\rAssalamu'alaikum, mau tanya tafsiran dari Q.S ALBAQOROH ayat 106 saya belum mengerti tafsir yang saya baca, matur suwun.\rJAWABAN :\r> Toni Imam Tontowi\rMaap mau nambahin dikit. Asbaabun nuzul dalam tafsir jalaalain:\rقوله تعالى -ماننسخ-الاية، أخرج ابن ابى حاتم عن\rطريق عكرمة عن ابن عباس قال ؛ كان ربماينزل على البي صلعم الوحي باليل ونسيه بالنهار,,\rMaka turunlah ayat tersebut ..... Sedang Asbaabun nuzulnya dalam tafsir jalaalain :","part":1,"page":81},{"id":82,"text":"قوله تعالى -ماننسخ-ا?ية، أخرج ابن ابى حاتم عن طريق عكرمة عن ابن عباس قال ؛ كان ربماينزل على البي صلعم الوحي باليل ونسيه بالنها\rTentang ayat ini : hadits dikeluarkan oleh ibnu abi hatim dari jalan 'ikrimah diriwayatkan diri sahabat ibnu 'abbas beliau bersabda : \"tekadang wahyu turun kepada Nabi pada malam hari dan Beliau lupa pada siang harinya\"\rالكتب « أسباب النزول الجزء ا?ول دار الكتب العلمية سنة النشر1421 :هـ 2000 /م\rقوله تعالى ) : ما ننسخ من آية أو ننسها نأت بخير منها ( . 49 - قال المفسرون : إن المشركين قالوا : أ? ترون إلى محمد يأمر أصحابه بأمر ثم ] ص: [ 20 ينهاهم عنه ويأمرهم\rبخ?فه ، ويقول اليوم قو? ويرجع عنه غدا ؟ ! ما هذا القرآن إ? ك?م محمد يقوله من تلقاء نفسه ، وهو ك?م يناقض بعضه بعضا فأنزل الله : ) وإذا بدلنا آية مكان آية ( ا?ية : وأنزل أيضا ) : ما ننسخ من آية أو ننسها نأت بخير منها أو مثلها ( ا?ية\rdalam kitab asbaabun nuzul mengenai ayat\rما ننسخ من آية أو ننسها نأت بخير منها\rpara ahli tafsir berkata : sesungguhnya orang orang musyrik berkata \" tidakkah kamu lihat bahwasanya Muhammad memerintahkan sesuatu kepada sahabat sahabatnya kemudian melarangnya lalu Dia memerintahkan kebalikannya, hari ini Dia mengatakan sesuatu dan besok mengingkarinya ? Al-quran in hanyalah perkataan Muhammad yang dia ucapkan dari dirinya sendiri\" ini adalah cibiran mereka, maka Allah menurunkan ayat :\r) وإذا بدلنا آية مكان آية ( ا?ية\rdan juga ayat :\rما ننسخ من آية أو ننسها نأت بخير منها أو مثلها ( ا?ية\r1069. AYAT MUTASYABIHAT\rPERTANYAAN :\rAji Wisurya MQ\rassalamu'alaikum mohon pencerahan nya...apa itu ayat mutsyabihat..Jazakallah khair.\rJAWABAN :\rMbah Jenggot II","part":1,"page":82},{"id":83,"text":"Ayat Mutasyabihat adalah ayat yang tidak jelas maksudnya.Mutasyabihat artinya nash-nash al Qur'an dan hadits Nabi Muhammad saw. yang dalam bahasa arab mempunyai lebih dari satu arti dan tidak boleh diambil secara zhahirnya, karena hal tersebut mengantarkan kepada tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya), akan tetapi wajib dikembalikan maknanya sebagaimana perintah Allah dalam al Qur'an pada ayat-ayat yang Muhkamat, yakni ayat-ayat yang mempunyai satu makna dalam bahasa Arab, yaitu makna bahwa Allah tidak menyerupai segala sesuatu dari makhluk-Nya.\rAyat Mutasyabihat dibagi menjadi dua :\r1.…Pertama, ayat Mutasyabihat yang hanya Alloh yang mengetahui maksudnya, seperti ayat-ayat yang berhubungan dengan hal yang ghaib.\r2.…Kedua, ayat Mutasyabihat yang dapat diketahui oleh orang-orang yang mendalam ilmunya (ar rasikhun fil ‘ilm), sesudah menyelidikinya secara mendalam. Seperti maksud dari al istiwa’ dalam ayat: ”Ar Rahmanu ‘ala al ‘arsyi istawa”. QS Thaha: 5. Para ulama ar rasikhun fil ‘ilm menafsirkan istawa di atas dengan ‘menguasai’ (al Qahr), bukan bersemayam; sebagaimana diungkapkan oleh Syekh Abdulloh al Harari dalam al Syarh al Qawim fi Hall Alfadz al Shirath al Mustaqim.\rAl Imam Ahmad ar-Rifa'i dalam al Burhan al Muayyad berkata: \"Jagalah aqidah kamu sekalian dari berpegang kepada zhahir ayat al Qur'an dan hadits Nabi Muhammad saw. yang Mutasyabihat sebab hal ini merupakan salah satu pangkal kekufuran\".","part":1,"page":83},{"id":84,"text":"Adapun dalilnya : Dialah yang menurunkan al Kitab (al Quran) kepadamu. Di antarnya ada ayat-ayat yang Muhkamat, itulah pokok-pokok isi al Quran, dan yang lain (ayat-ayat) Mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang Mutasyabihat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-car ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Alloh. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: ‘Kami beriman kepada ayat-ayat mutsyabihat, semuanya dari sisi Tuhan kami.’ Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.” QS Ali Imran: 7.\rAyat di atas menerangkan bahwa di antara isi al Quran terdapat ayat-ayat yang Muhkamat dan Mutasyabihat. Ayat Muhkamat adalah ayat-ayat yang terang dan jelas maksudnya, dapat dipahami dengan mudah. Sedangkan ayat Mutasyabihat adalah ayat yang tidak jelas maksudnya.\rFirman Allah swt. surat Thaha: 5: “Ar Rahmanu ‘ala ‘arsyi istawa”.\rAyat ini tidak boleh ditafsirkan bawa Allah duduk (jalasa) atau bersemayam atau berada di atas 'Arsy dengan jarak atau bersentuhan dengannya. Juga tidak boleh dikatakan bahwa Allah duduk tidak seperti duduk kita atau bersemayam tidak seperti bersemayamnya kita, karena duduk dan bersemayam termasuk sifat khusus benda sebagaimana yang dikatakan oleh al Hafizh al Bayhaqi, al Imam al Mujtahid Taqiyyuddin as-Subki dan al Hafizh Ibnu Hajar dan lainnya.","part":1,"page":84},{"id":85,"text":"Kemudian kata istawa sendiri dalam bahasa Arab memiliki 15 makna. Karena itu kata istawa tersebut harus ditafsirkan dengan makna yang layak bagi Allah dan selaras dengan ayat-ayat Muhkamat. Berdasarkan ini, maka tidak boleh menerjemahkan kata istawa ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa lainnya karena kata istawa mempunyai 15 makna dan tidak mempunyai padan kata (sinonim) yang mewakili 15 makna tersebut. Yang diperbolehkan adalah menerjemahkan maknanya, makna kata istawa dalam ayat tersebut adalah qahara (menundukkan atau menguasai).\rAl Imam Ali ra. mengatakan: \"Sesungguhnya Allah menciptakan 'Arsy untuk menampakkan kekuasaan-Nya bukan untuk menjadikannya tempat bagi Dzat-Nya\".\rMaka ayat tersebut (surat Thaha: 5) boleh ditafsirkan dengan qahara (menundukkan dan menguasai) yakni Allah menguasai 'Arsy sebagaimana Dia menguasai semua makhluk-Nya. Karena al Qahr adalah merupakan sifat pujian bagi Allah. Dan Allah menamakan dzat-Nya al Qahir dan al Qahhar dan kaum muslimin menamakan anak-anak mereka 'Abdul Qahir dan 'Abdul Qahhar. Tidak seorangpun dari umat Islam yang menamakan anaknya 'Abd al jalis (al jalis adalah nama bagi yang duduk). Karena duduk adalah sifat yang sama-sama dimiliki oleh manusia, jin, hewan dan malaikat.","part":1,"page":85},{"id":86,"text":"Penafsiran di atas tidak berarti bahwa Allah sebelum itu tidak menguasai 'arsy kemudianmenguasainya, karena al Qahr adalah sifat Allah yang azali (tidak mempunyai permulaan) sedangkan 'arsy adalah merupakan makhluk yang baru (yang mempunyai permulaan). Dalam ayat ini, Allah menyebut 'arsy secara khusus karena ia adalah makhluk Allah yang paling besar bentuknya.\r1136. SEPUTAR ILMU TENTANG QUR'AN\rPERTANYAAN :\rYanuar Hasana Puthra Alfadani\rAssalamu'alaikum piss-ktb.Pertanyaan titipan dari teman (Ima):Apakah pengertian daripada:\r1 Israiliyat,\r2 Ilmu Munasyabah,\r3 Ilmu qira'at qur'an,\r4 Rasmul qur'an,\r5 Qishashul qur'an,\r6 Aqsamul qur'an.\rTerima kasih atas jawabannya.\rJAWABAN :\rMasaji Antoro\rWa'alaikumsalam\r1. ISRAAILIYYAT\rوالإسرائيليات معناها باختصار: القصص التي جاءتنا من كتب السابقين، وهي على ثلاثة أقسام، إما أن تكون الإسرائيليات توافق شرعنا فهذا نقبله، فقصة الأبرص والأقرع والأعمى من قصص السابقين، وقصة الرجل الذي قتل تسعة وتسعين نفساً من قصص السابقين، وقصة غلام أصحاب الأخدود من قصص السابقين، وهذه القصص جاءت على لسان نبينا محمد صلى الله عليه وسلم، فهذا هو القسم الأول من الإسرائيليات. القسم الثاني: إسرائيليات تعارض ما عندنا من الشرع، ترد ولا تقبل. القسم الثالث: إسرائيليات مسكوت عنها عندنا، يقول في حقها النبي صلى الله عليه وسلم: (لا نصدقهم ولا نكذبهم). فهذا هو منهجنا في تلقي الإسرائيليات، أما الإسرائيليات التي تصطدم مع شرعنا فكثيرة وعديدة\rIsrailiyat arti secara ringkasnya adalah ceritera-ceritera yang diadopsi dari kitab-kitab terdahulu sebelum alQuran. Secara garis besar Israiliyat dapat digolongkan ke dalam tiga kategori :","part":1,"page":86},{"id":87,"text":"• Israiliyat yang sesuai dengan syariat kita karena ditegaskan oleh baginda nabi maka dapat diterima seperti ceritera orang lepra, buta yang diambil dari kisah-kisah terdahulu, kisah lelaki yang membunuh hingga 99 jiwa dll.\r• Israiliyat yang tidak sesuai dengan syariat kita sesuai penjelasan baginda nabi maka tidak dapat diterima.\r• Israiliyat yang tidak dikenali baik kebenarannya atau kesalahannya, dalam hal ini baginda nabi menyatakan “Kami tidak membenarkan dan menyalahkan mereka”.\r2. MUNAASABAH\rKata munasabah secara etimologis, berarti kedekatan (al-muqarabah) dan kemiripan atau keserupaan. Ia juga berarti hubungan atau persesuaian. Adapun menurut pengertian terminolologis, munasabah adalah ilmu al-quran yang digunakan untuk mengetahui hubungan antara ayat atau surat dalam alquran secara keseluruhan dan latar belakang penempatan tartib ayat dan suratnya. munasabah dapat di definisikan sebagai berikut:\r1. Munurut Az-Zarkasyi:\rMunasabah adalah suatu hal yang dapat di pahami. Tatkala di hadapkan kepada akal, pasti akal akan menerimanaya.\r2. Menurut Manna’ Al-Qaththan:\rMunasabah adalah sisi keterikatan antara beberapa ungkapan di dalam satu ayat, atau antar ayat pada beberapa ayat, atau antar surat (di dalam Al-Qur’an).\r3. Menurut Ibn Al;’Arabi:\rMunasabah adalah keterikatan ayat-ayat Al-Qur’an sehingga seolah-olah merupakan suatu ungkapan yang mempunyai kesatuan makna dan keteraturan redaksi. Munasabah merupakan ilmu yang sangat agung.\r4. Menurut Al-Biqa’i","part":1,"page":87},{"id":88,"text":"Munasabah adalah suatu ilmu yang mencoba mengetahui alasan-alasan di balik susunan atau urutan bagian-bagian Al-Qur’an, baik ayat dengan ayat, atau surat dengan surat.Jadi, dalam konteks ‘Ulum Al-Qur’an, munasabah berarti menjelaskan korelasi antar ayat atau antar surat, baik korelasi itu bersifat umum atau khusus; rasional (‘aqli), persepsi (hassy), atau imajinatif (khayali); atau korelasi berupa sebab-akibat, illat dan ma’lul, perbandingan, dan perlawanan.\rUntuk meneliti keserasian susunan ayat dan surat (munasabah) dalam Al-Qur’an di perlukan ketelitian dan pemikiran yang mendalam.\rAs-Suyuthi menjelaskan beberapa langkah yang perlu di perhatikan untuk menemukan munasabah ini, Yaitu:\r1. Memperhatikan tujuan pembahasan suatu surat yang menjadi obyek pencarian\r2. memperhatikan uraian ayat-ayat yang sesuai dengan tujuan yang di bahas dalam surat\r3. menentukan tingkatan uraian-uraian itu, apakah ada hubungannya atau tidak, dan\r4. dalam mengambil kesimpulannya, hendaknya memperhatikan ugkapan-ungkapan bahasanya dengan benar dan tidak berlebihan.\rالمناسبة وهي إما مناسبة المتقدم لسياق الكلام كقوله ولكم فيها جمال حين تريحون وحين تسرحون فإن الجمال بالجمال وإن كان ثابتا حالتي السراح والإراحة إلا أنها حالة إراحتها وهو مجيئها من المرعى آخر النهار يكون الجمال بها أفخر إذ هي فيه بطان وحالة سراحها للمرعى أول النهار يكون الجمال بها دون الأول إذ هي فيه خماص ونظيره قوله والذين إذا أنفقوا لم يسرفوا ولم يقتروا قدم نفي الإسراف لأن الشرف في الإنفاق\r[ Al-Itqaan fii ‘Uluum al-Quraan II/36 ].\r3. ILMU QIRAAT ALQURAAN\"","part":1,"page":88},{"id":89,"text":"في مبادئ علم القراءات \"تعريفه: هو علم يعرف به كيفية النطق بالكلمات القرآنية، وطريق أدائها اتفاقا واختلافا مع عزو كل وجه لناقله.\rPERMULAAN-PERMULAAN ILMU QIRAAT\rDefinisi ilmu Qiraat ialah ilmu untuk mengetahui tatacara mengucapkan kalimat-kalimat Quraniyyah, cara memraktekkannya baik yang disepakati atau yang diperselisihkan ulama ahli baca Quran dengan disertai penisbatan setiap metode yang ia gunakan pada yang menuqilnya (meriwayatkannya dari nabi)\r4. RASMUL QURANI","part":1,"page":89},{"id":90,"text":"stilah rasmul al-Quran terdiri dari dua kata yaitu rasm dan al-Quran. Kata rasm berarti bentuk tulisan. Dapat juga diartikan dengan ‘atsar dan ‘alamah. Sedangkan al-Quran adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW., dengan perantaraan malaikat Jibril, ditulis dalam mushaf-mushaf dan disampaikan kepadaumat manusia secara mutawatir (oleh Banyak Orang) dan mempelajarinya suatuibadah, dimulai dengan surat al-Fatihah dan di akhiri dengan surat an-Nas.Dengan demikian, rasm al-Quran berarti bentuk tulisan al-Quran. Para ulamalebih cendrung menamakannya dengan istilah rasm mushaf , Ada pula yangmenyebutnya rasmul utsmani. Ini wajar karena khalifah Utsman lah yang merestui dilakukannya penulisan al-Quran. Rasmul mushaf merupakan ketentuan atau pola yang digunakan oleh Utsman bin Affan beserta sahabat- sahabat lainya dalam penulisan al-Quran yang berkaitan dengan susunan huruf- hurufnya yang terdapat dalam mushaf-mushaf yang dikirim ke berbagi daerah dan kota serta mushaf al-imam yang berada di tangan khalifah Utsman bin Affan itu sendiri. Jadi dapat disimpulkan bahwa rasmul al-Quran itu adalah bentuk penulisan al-Quran yang sebagian ulama menyebutnya dengan rasm mushaf dan sebagian ulamayang lain menyebutnya denganRasm Utsmani. Terlepas dari apapun namanya katakuncinya adalah “bentuk tulisan” dari al-Quran itu sendiri\r5. QISHASHUL QURAAN\rAl-Buduur az-Zaahirah I/4 :\rوأصل القصص تتبع الشيء ، ومنه قوله تعالى وَقالَتْ لِأُخْتِهِ قُصِّيهِ فالقاص يتتبع الآثار ويخبر بها.\rAl-Kasyf wal Bayaan V/196 :","part":1,"page":90},{"id":91,"text":"وأصل القصص تتبع الشيء ، ومنه قوله تعالى : { وَقَالَتْ لأُخْتِهِ قُصِّيهِ} [القصص : 11] أي تتبعي أثره ؛ فالقاص ، يتبع الآثار فيخبر بها.\rAl-Jaami’ Li Ahkaam al-Quraan IX/119 : Qashash artinya meneliti sesuatu seperti dalam firman Allah “Dan berkatalah ibu Musa kepada saudara Musa yang perempuan: \"Ikutilah dia\"(QS. 28:11). Artinya ikutilah jejaknya, maka Qaash artimya meneliti jejak-jejak atsar dan mengkhabarkannya, berarti Qashash alQuran adalah ilmu jejak-jejak orang terdahulu yang diceritakan oleh alQuran. (Al-Kasyf wal Bayaan V/196, Al-Jaami’ Li Ahkaam al-Quraan IX/119)\r1140. Sejarah Ulumul Qur'an\rA. Pengertian Sejarah\rSejarah secara etimologi dapat ditelusuri dari asal kata sejarah yang sering dikatakan berasal dari Arab syajarah, artinya “pohon”. Untuk menyebut sejarah dalam ilmu pengetahuan sebetulnya berasal dari bahasa Yunani (istoria) yang berarti pengetahuan tentang gejala-gejala alam, khususnya manusia yang bersifat kronologis. Makna sejarah bisa mengacu kepada dua konsep yaitu : Pertama, sejarah memberikan pemahaman akan arti objektif tentang masa lampau, dan hendaknya dipahami sebagai aktualitas atau peristiwa itu sendiri. Kedua, sejarah menunjukkan maknanya yang subjektif, sebab masa lampau itu telah menjadi sebuah kisah atau cerita tentang suatu hal yang di dalam proses pengkisahan itu terdapat kesan yang dirasakan oleh sejarahwan berdasarkan pengalaman dan lingkungan pergaulannya.\rB. Pengertian Qur’an","part":1,"page":91},{"id":92,"text":"Ulumul Qur’an adalah susunan idhafah yang terdiri dari kata Ulum dan kata Al- Qur’an. Hal ini menuntut kita agar mengetahui dua kata di atas masing-masing, baik dari segi bahasa (leksikal) maupun dari segi istilah (gramatikal), kemudian perlu dijelaskan pengretian yang dimaksud dengan rangkaian kata-kata yang tesusun secara idhafi.\rAl-Ulum\rAl-ulum merupakan bentuk jamak dari Al-ilm (ilmu), yang mempunyai arti lawan dari al-jahl (bodoh). Al-‘ilm semakna dengan kata al-fahm dan kata al-ma’rifah. Makna yang dikehendaki disini adalah “pengetahuan terhadap sesuatu dengan sebenar-benarnya atau dengan dilandasi keyakinan, yakni adanya an-Nur yang datangnya dari Allah untuk menyinari hati sanubari.”1\rKemudian kata ilmu secara mutlak diartikan mempunyai fungsi yang membahas suatu permasalahan dan pokok-pokoknya yang berkaitan dengan satu bidang tertentu, seperti ilmu nahwu, ilmu kedokteran, ilmu kimia, dan sebagainya.\rUlum dari jamak dari beberapa ilmu yang saling berkaitan antara lain ilmu bahasa arab (meliputi ilmu nahwu, saraf, bayan, badi’, balaghah, ‘arudh, dan sebagainya,- ed), ilmu-ilmu eksak (meliputi zoology, biologi, teknik, matemtika, kimia, dan sebagainya) dan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan dan membutuhkan eksperimen.\rAl-Qur’an\rPada saat Allah SWT menciptakan hamba-hambanya, Dia memberikan pertolongan dan bimbingan ke jalan yang lurus dan berpegang teguh ke jalan yang benar. Dan dalam jiwa hamba-hamba Nya tertanam fitrah yang berfungsi sebagai pembimbing yang menunjukkan ke jalan yang selalu benar.","part":1,"page":92},{"id":93,"text":"“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan Adam dari sulbi mereke dan Allah mengambil kesaksian kepada jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “betul (Engkaulah Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap kesaksian ini.” (Q.S Al-A’raf:172).\rDan Allah mengutus rasul-rasul-Nya kepada mereka, yang berfungsi untuk meluruskan keyakinan, membimbing mereka kepada hal-hal yang baik, baik yang berkaitan dengan kehidupan dunia maupun akhirat. Secara Etimologi ada terdapat perbedaan pendapat dari sebagian para ulama tenteng lafal Al-Qur’an, tetapi setelah dilakukan kajian mereka sepakat bahwa lafal Al-Qur’an adalah ism (isim/ kata benda), bukan fi’il (fi’il / kata kerja) atau harf (huruf). Isim yang dimaksud dalam[1] bahasa Arab sama dengan keberadaan isim-isim yang lain, kadang berupa isim jamid atau disebut isim musytaq. Sebagian ulama juga ada yang berpendapat, bahwa Al-Qur’an tersebut adalah ismu jamid ghairu mahmuz, yaitu sebuah isim yang bersangkutan dengan nama yang khusus diberikan kepada Taurat dan Injil. Pendapat ini diwakili oleh Ibnu Katsir dari mazhab Syafi’i. Sebagian ulama lain berpendapat, bahwa lafal Al-Qur’an adalah ismu musytaq, namun mereka masih terbagi ke dalam dua golongan:","part":1,"page":93},{"id":94,"text":"1.…Golongan pertama diwakili, antara lain oleh Al-Asy’ari (Zarkasyi,1, 1400:278). Yang berpendapat kata Al-Qur’an diambil dari kalimat “Qaranat asy-syai’u bis-sya’i idza dhammamatuh ilaihi.” Ada juga berpendapat, diambil dari kalimat “Qarana baina al-ba’irain, idza jama’a bainahuma”. Dari kalimat terakhir ini muncul sebutan Qiran terhadap pengumpulan pelaksanaan ibadah haji dan umrah dengan hanya satu ihram.\r2.…Golongan kedua diwakili, antara lain oleh al-Farra (Suyuthi,1,1343:87). Berpendapat bahwa lafal Al-Qur’an musytaq dari kata qara’un, jamak dari kata qarinah, karena ayat-ayat al-Qur’an (lafalnya) banyak yang sama antara yang satu dengan yang lain.\r3.…F. Sejarah Al-Qur’an\r4.…1. Masa Rasulullah","part":1,"page":94},{"id":95,"text":"Dalam sejarah kehidupan Rasulullah SAW. Kita temui pribadi yang seluruh kehidupannya menyerupai lembaran buku terbuka dari kulit ke kulit, dari saat lahir yang yatim hingga masa kanak-kanak, masa remaja, masa kerasulan dan saat-saat menjadi pengusaha seluruh Arabia, hingga akhrinya ke saat wafatnya. Beliau dicatat sebagai seorang yang tidak mampu membaca tulisan, seorang yang ummi. Karena itu, ayat yang pertama kali turun kepada Rasulullah SAW. Perintah membaca ini turun pada saat ia sedang dalam perenungannya di Gua Hira dekat Jabal Nur. Allah Maha Pengasih memanggilnya, dan Allah mengutus malaikat Jibril untuk menyampaikan wahyu kepada Rasulullah S.A.W. “ Baca! Atas nama Tuhan Yang Mencipatkan segalanya; Mencipatakan manusia dari segumpal darah; Baca! Tuhanmu Maha Mukya; Yang telah mengajar menggunakan pena; mengajar manusia segala yang belum diketahui”. (QS. Al-‘Alaq: 1-5). Kejadian yang baru dialami beliau tersebut diceritakan kepada isteri beliau yaitu Siti Khadijah. Dan juga beliau membacakan ayat-ayat Al-Qur’an yang dihafalnya kepada Siti Khadijah.","part":1,"page":95},{"id":96,"text":"Ketika Allah SWT. memerintahkan kepada Nabi Muhammad SAW agar melaksanakan secara terang-terangan terhadap apa yang diperintahkan, agar mempublikasikan dakwah Islam, maka Nabi melaksanakan perintah tersebut. Dalam hal ini beliau tidak sendirian dalam menyebarkan agama Islam, beliau juga dapat dukungan dari kakek Abu Mutholib, Zaid bin Tsabit, Abu Bakar Ashidiq, Umar bin Khattab, Ustman bin Affan, Ali bin Abu Tholib, dan beberapa sahabat lainnya. Dengan merekalah perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam mengajak umat manusia untuk masuk Islam, yakni menerima Islam sebagai agamanya dan juga menerima Al-Qur’an. mereka (yang mendapat hidayah dengan memeluk Islam) membacanya dengan benar, dan mereka selalu berkumpul dirumah Arqam bin Abi al-Arqam. untuk menghafal al-Qur’an dan mempelajari ayat-ayat secara detail. mereka adalah orang-orang Arab asli. Hal inilah yang memudahkan mereka memahami al-Qur’an, karena bahasa al-Qur’an merupakan bahasa yang sudah menjadi satu jiwa mereka. Jika[2] mereka menemukan kesulitan makna yang trekandung dalam al-Qur’an ataupun ada yang terasa kurang jelas tujuannya, mereka bias saling bertanya. Hal ini disebabkan, diantara mereka ada yang lebih tahu dari yang lain dan kadar pengetahuannya berbeda. Apabila belum mendapatkan jawaban yang memuaskan, mereka langsung bertanya kepada Nabi, dan beliau memberikan penjelasan secara detail.","part":1,"page":96},{"id":97,"text":"Sejak agama Islam mulai di dakawahkan oleh Nabi Muhammad SAW bisa dikatakan mulai saat itu juga Ulum al-Qur’an telah tumbuh. Hal ini dikarenakan adanya penghafal, penyalinan, dan penafsiran, yang kesemuanya termasuk ilmu-ilmu al-Qur’an yang sangat penting. Akan tetapi istilah disiplin ilmu Ulum al-Qur’an belum dikenal pada masa ini.\r1.…2. Masa Sahabat\rPada masa sahabat memperhatikan situasi dan kondisi pembelajaran al-Qur’an (Ulum al-Qur’an) sangat baik secara lisan. Walaupun pada masa itu istilah kodifikasi masih belum dikenal. Ada beberapa factor yang melatar belakangi para sahabat untuk tidak melakukan kodifikasi pada saat itu, yaitu: pertama, karena para sahabat pada umumnya adalah ummi (tidak bisa baca), bahkan kurang mengenal adanya bacaan dari tulisan; kedua, keterbatasan alat-alat tulis di kalangan mereka; ketiga, apabila ada masalah dalam memahami al-Qur’an mereka langsung menanyakan kepada Rasul; keempat Rasulullah melarang para sahabat menulis selain al-Qur’an, lewat sabdanya yang terkenal: “Jangan kamu menulis selain apa yang kusampaiakan (Hadits). Barang siapa yang menulis sesuatu dariku selain al-Qur’an, hendaknya menghapusnya”. (H.R. Muslim). Sebagian orang mempunyai asumsi bahwa Rasulullah SAW melarang para sahabat menulis apapun selain al-Qur’an, disebabkan kekhawatiran beliau akan bercampurnya al-Qur’an dengan yang bukan al-Qur’an. Menurut pendapat saya, bahwa asumsi tersebut tidak benar dan terkesan kurang menghargai kecendikiawan para sahabat. Padahal larangan tersebut menunjukkan bahwa para sahabat adalah orang-orang yang mempunyai kecerdasan dalam","part":1,"page":97},{"id":98,"text":"bersikap, dan mampu merasakan nikmatnya gaya penjelasan al-Qur’an. Mereka juga mempunyai kemampuan menilai gaya bahasa dan wazan kalimatnya. Mereka juga bisa mengetahui kemukjizatan al-Qur’an secara sempurna meskipun hanya melalui proses mendengarkan, sementara sebagian yang lain menguasainya dengan hati. Jadi, bagaimana baik dengan sesuatu yang bukan bersumber dari al- Qur’an, semisal hadits-hadits Nabi, apalagi dengan ungkapan yang dibikin manusia. Alasan peperangan itu dlatarbelakangi oleh Rasulullah SAW. yang menginginkan adanya tanggnug jawab seluruh sahabat tanpa pandang bulu dalam menyampaikan dan meneruskan dakwah beliau. Seaindainya upaya penulisan selain al-Qur’an diberi izin, maka mereka yang tidak bisa membaca dan menulis akan mempunyai asumsi bahwa tanggung jawab dalam menyampaikan dakwah hanya terbatas bagi para penulis saja. Sebab para penulis bisa memelihara nash-nash hukum lewat tulisan-tulisan mereka, dan tanggung jawab benar-benar dibebankan ke pundak mereka. Maka ketika Rasulullah SAW. jadikan para sahabat menerima segala sesuatu dari Rasulullah SAW. untuk disampaikan kepada yang belum mendengarkan, dan tidak terdapat perbedaan antara orang yang pandai menulis dengan yang buta huruf. Karena itu da’wah Islam merupakan kewajiban seluruh para sahabat, dan hal ini sangat penting mengingat bahwa dakwah yang baik adalah menyebarkannya dengan melibatkan[3] seluruh sahabat, tidak terbatas pada mereka yang pandai menulis saja. Jika anda mengatakan, “seandainya yang terjadi adalah seperti hipotesa di atas, mengapa Rasulullah SAW. mengizinkan mereka menulis","part":1,"page":98},{"id":99,"text":"al-Qur’an?”. Saya berpendapat, bahwa upaya menyampaikan al-Qur’an tidak sama dengan saya menyampaikan sesuatu yang bukan al-Qur’an. sebagian dari para sahabat yang ummi tidak mempunyai asumsi bahwa menyampaikan pesan moral al-Qur’an hanya diwajibkan kepada para sahabat membacda al-Qur’an, baik dengan suara yang lirih maupun dengan suarau yaring-di rumah-rumah mereka dan masjid. Mereka juga membacanya saat sendirian maupun bersama-sama bahkan dalam shalat. Oleh karena itu, bahwa menyampaikan pesan moral al-Qur’an mempunyai berbagai media yang tidak dimiliki oleh selain al-Qur’an. juga tidak terbatas pad para sahabat yang menulis saja, sebab semua para sahabat senantiasa membaca al-Qur’an malam dan siang, maka tidak mungkin mereka yang mungkin mereka yang ummi mewakilkan kepada yang mampu membacda dan menulis dalam menyampaikan da’wah islam. Oleh karena itu, para sahabat mempunyai kemampuan akan sebab-sebab dilarangnya upaya kondifikasi ilmu-ilmu al-Qur’an sesuai dengan keyakinan dan kemampuan mereka terhadap al-Qur’an. para sahabat dalam penguasaannya terhadap ilmu-ilmu al-Qur’an sama dengan kekuatan hafalan mereka terhadap ayat-ayat al-Qur’an imam at-Thabari meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud : Jika para sahabat mempelajari ayat al-Qur’an, mereka pasti mengetahui betul makna-maknanya dan mengamalkannya. dalam riwayat lain Abu ‘Abdurrahman as-Salami berkata: orang-orang yang selalu membacakan hadits kepada kami, mengabarkan bahwa mereka selalu meminta Nabi","part":1,"page":99},{"id":100,"text":"untuk membaca al-Qur’an. Apabila mempelajari ayat dari al-Qur’an, mereka tidak akan menyikapinya secara berbeda (menyalahinya), sebelum mereka mengetahui amalan yang terdapat pada bacaaan tersebut, sehingga kami mempelajari sekaligus mengamalkannya al-Qur’an (Thabari, I, 1328:80). Abdullah berkata: “Demi Allah tidak ada Tuhan selain Dia, sesungguhnya setiap surat Al-Qur’an yang turun, pasti aku mengetahui dimana turunnya. Setiap ayat Al-Qur’an yang turun pasti aku mengetahui tentang hal apa yang ia turunkan. seandianya aku mengetahui ada seseorang yang pengetahuannya tentang Al-Qur’an melebihi pengetahuanku, sementara untuk menemuinya harus mengendarai unta, maka aku pastilah kesana untuk menemuinya” (Bukhari,VI, 1979: 102). Oleh karena larangan tersebut, para sahabat mempunyai kemampuan yang luar biasa didalam mengahafalkan Al-Qur’an dan menguasai ilmu-ilmu Al-Qur’an, bahkan bisa dikatakan seimbang penguasaannya. Sebagaimana pendapat Al-tabari, “Jika para sahabat mempelajari sepuluh ayat Al-Qur’an mereka pasti mengetahui betul maknanya dan mengamalkannya” (Abdurrahman Rumi, 1996 : 56). Kondisi ini berlangsung selama kepemimpinjan Nabi, Abu Bakar dan Umar. Pada kepemimpinan Utsman, karena wilayah kekuasaan Islam telah tersebar luas di beberapa negeri dengan dialek, adat dan budaya yang berbeda. mak untuk menjaga kemurnian al-Qur’an, tidak bisa hanya dengan hafalan saja. oleh karena itu, khalifah Utsman mempelopori pengumpulan Al-Qur’an dalam satu mushaf, yang kemudian terkenal dengan mushaf Utsamani. Setelah dikumpulkan dalam satu mushaf, maka khalifah Utsman juga","part":1,"page":100},{"id":101,"text":"memerintahkan untuk membuat salianan beberapa naskah lagi yang dikirimkan ke semua Negara-negara Islam.\rSedangkan mushaf-mushaf selain mushaf Utsmani diperintahkan untuk dibakar. Dengan Usahanya itu, beliau dianggap sebagai peletak dasar Ilmu Rasm Al-Qur’an atau Ilmu Rasm al-Utsmani. (Abdul Djalal, 1998:28-29) pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib, usaha untuk menjaga eksistensi Al-Qur’an ini dilanjutkan. Beliau mempunyai perhatian yang besar terhadap orang-orang asing yang suka menodai kemurnian bahasa Arab. beliau khawatir akan terjadinya kerusakan dalam bahasa Arab itu. untuk itu beliau memerintahkan sahabat Aswad al-Dawli untuk membuat sebagian kaidah-kaidah guna memelihara kemurnian bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an. Dengan usahanya ini, khlifah Ali dianggap sebagai peletak dasar Ilmu Nahwu atau Ilmu I’rab Al-Qur’an. (Abdul Djalal, 1998 : 28-29).[4]\r1.…3. Masa Tabi’in","part":1,"page":101},{"id":102,"text":"Ketika wilyah islam telah tersebar luas, para sahabat juga telah tersebar diberbagai penjuru negeri yang telah berada dalam wilayah kekuasaan islam. pada massa ini para sahabat mengajarkan al-Qur’an lengkap dengan bacaan, isi/penafsiran dan ilmu-ilmu yan terkandung di dalamnya. pada masa ini juga telah muncul adanya lembaga-lembaga yang yang lazim disebut dengan Madrasyah al-Tafsir dan banyak sekali jumlahnya. Akan tetapi, hanya tiga yang terkenal yaitu : Madrasah Ibn Abbas di Makkah, Madrasah Ubay bin ka’ab di Madinah dan Madrasah ‘Abd Allah bin Mas’ud di Kufah. (Abdurrahman Rumi, 1996 : 58). Ketiga tokoh (yang namanya dijadikan sebagai nama madrasah) tersebut, merupakan sahabat yang mempunyai keahlian dalam bidan tafsir. Murid-murid dari ketiga tokoh yang terkenal itu, termasuk dalam golongan tabi’in mereka adalah sa’id bin Jabir, Mujahid bin Jabar, Ikrimah, Tha’wus,","part":1,"page":102},{"id":103,"text":"dan Atha’ bin Abu Rabah (murid Ibnu Abbas), Zaid bin Aslam, Abu al-aliyah, Muhammad bin Ka’ab dan sebagainya. Pada tabi’in tersebut, merupakan tokoh-tokoh yang meletakkan dasar-dasar ilmu tafsir seperti ; Ilmu Gharib, Al-Qur’an, Ilmu Asbab Al-Nuzul, Nasikh Mansukh, Ilmu Makkiyah dan Madaniyah dan lain-lain. Sistem dan metodologi penafsiran yang dikaji para tabi’in pada masa ini, tidak hanyaterbatasa pada penafsiran dengan pengertiannya yang secara khusus, tetapi system dan metodologi nya telah meliputi berebagai segi keilmuan dalam penafsiran seperti Ilmu Gharib Al-Qur’an, Ilmu Asbab Al-Nuzul, dan lain sebagainya. Proses penyampaian ilmu pada masa ini seperti Al-Qur’an melalui periwayatan dan belum dikodifikasikan.\r4. Masa Kodifikasi","part":1,"page":103},{"id":104,"text":"Setelah dirintis dasar-dasar ‘ulum Al-Qur’an, maa para mufassir mulai melakukan kodifikasi/penulisan ‘ulum Al-Qur’an. Tetapi sebelum cita-cita ini dilakukan, terlebih dahulu mereka melakukan pembukuan tafsir Al-Qur’an. sebab tafsir Al-Qur’an yang alin. Orang-orang yang pertama melakukan ini adalah Yazid bin Harun Al-Salami (w. 117H), Syu’bah bin al-Hajjaj (w.160H), Waki’ bin al-Jarrah (w.197H) dan lain-lain. Tafsir-tafsir yang mereka tulis berupa koleksi pendapat-pendapat sahabat dan tabi’in yang kebanyakan belum dicetak, sehingga tidak sampai pada generasi sekarang. Setelah itu muncul penafsir-penafsir yang masyhur seperti Ibn Majah (w.273H), Ibnu Jarir Al-Qur’an-Thabari (w.310), Abu Bakar bin Al-Qur’an-Mundzir An-Nisaburi (w.318 H), Ibn Abi hatim (w.327 H) dan Ibn Hibban (w.369 H), Al-Hakim (w.369 H) dan lain-lain. Tafsir Al-Qur’an-Thabari merupakan tafsir yang paling besar dengan memakai metode muqaran. Sebab beliau adalah orang pertama yang melakukan penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an dengan mengemukakan pendapat-pendapat para ulama’ dan membandingkan pendapat sebagian dengan sebagian yang lain. kitab tafsir Al-Thabari itu adalah kitab Jami Al-Bayan fi Tafsiir Al-Qur’an. setelah itu cabang-cabang “ulum Al-Qur’an yang lain mulai bermunculan teruatama pada abad ketiga Hijriyah. Pada abad inilah lahir ilmu asbab al-nuzul, ilmu nasikh dan mansukh dan ilmu tentang ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah. Ulama semisal Ali Ibnul Madini 234 H, guru imam al-Bukhari, adalah penulis kitab asbab al-nuzul, Abu Ubayd al-Qasim bin Salam 224 H menulis kitab Ilmu Nasikh wa al-Manuskh. Kemudian","part":1,"page":104},{"id":105,"text":"Muhammad Ayyub al-Dharis (294 H), menulis kitab ilmu Makki wa al-Madani, dan Muhammad Khalaf ibn al-Mirzaban (309 H) yang menulis kitab al-haawii fii ‘ulum al-Qur’an yang terdiri atas 27 juz. Sedangkan pada abad ke-IV Hijriah ada lima ulama’ yang giat mengarang ‘uluum al-Qur’an yang menyusun kitab-kitabnya yaitu : (a) Abu Bakar al-Sijistani 330 H, menulis karya Ilmu Gahrib al-Qur’an, (b) Abu Bakar Bin Qasim al-Ambari 328 H dengan kitabnya Aja’ib Ulum al-Qur’an, (c) Abu Hasan al-asy’ari 324 H menulis kitab Mukhtazan fi ‘ulum al-Qur’an, (d) Abu Muhammad bin Ali al-Adfawi 388 H menulis kitab al-Istigha’ fi ‘ulum al-Qur’an 20 jilid. Kemudian pada VI juga ada satu tokoh yang termashyur, yaitu: Abu al-Qasim Abd al-Rahman al-Suhayli 581 H yang menulis kitab ilmu Mubbamat al-Qur’an. Selanjutnya pada abad VII H. Ada tokoh yang pertama yang menulis kitab ilmu I’jaz al-Qur’an, yaitu Abd al-salam 660 H dan orang yang pertama kali ilmu Qira’at yaitu Alam al-Din al-sakhawi 643 H, lalu diikuti oleh Abu Syamah Abd al-Rahman Ibn Ismail al-Maqdisi 665 H, yang menulis kitab al-mursyid Wajiz fi ma Yata’allaq bi al-Qur’an al-azhim. Demikian semangat para mufassir, sehingga menimbulkan lahirnya ilmu-ilmu al-Qur’an yang baru, yang membuat orang heran karena melihat buku-buku memenuhi gedung perpustakaan besar di dunia setelah itu pada abad selanjutnya atau abad VIII H, juga muncul pengarang-pengarang ‘ulum al-Qur’an, yaitu (a) Imam Ahmad Ibn Zubayr 708 H, yang mengarang kitab al-Burhan fi Tartib suwar al-Qur’an, (b) Imam Najm al-Din al-Thufi, menulis kitab ilmu Jidal al-Qur’an; (c) Ibn Qayyim","part":1,"page":105},{"id":106,"text":"al-jawzirah 751H menulis kitab al-Tibyan fi Aqsham al-Qur’an dan beberapa kitab lainnya (Abdurrahman Rumi, 1996:32-33). Kecermerlangan Ulum al-Quran ini berlanjut pada abad IX H. dengan munculnya pengarang-pengarang kenamaan yaitu: (a) Imam Jalal al-Din al-Bulqini (W.824 H) yang menulis kitab Mawaqi’ al-ulum min mawaqi al-Nujum, yang berisi tentang 50 cabang Ulum al-Qur’an; Imam Muhammad bin Sualiman al-Kafiaji (879 H) yang menulis kitab Ulum al-Qur’an; (b) Imam Muhammad al-Buqa’i(885 H) yang menulis kitab Nuzhumat al-Durar fi Tanasuh Ayat wa Suwar. (Abdurrahman Rumi, 1996:36). Kemudian pada Abad X kecermelangan Ulum al-Qur’an ini berakhir di pakar ulum al-Qur’an, yaitu: Imam Jalal al-Din abd Rahman al-Suyuthi (991 H) yang sempat mengarang tiga buah kitab, yaitu: Tanasuqud Durar fi Tanasub al-Suwari, al-Tabbir fi ulum al-Tafsir, yang membahas 102 cabang ulum al-Qur’andan al-Itqam fi ‘ulum al-Qur’an yang terdiri dari dua juz, tetapi dibukukan menjadi satu jilid. Setelah abad X ini, kegiatan pembukuan ulum al-Qur’an berlanjut sampai abad XI, yaitu: al-Banna (w. 923 H), menulis kitab Ittihaf Fudhala’I al- basyar fi Qira’at al-Arba’a Asyara; As-Syaikh Mar’i al-Karami (w1033 H), menyusun kitab Qala’id al-Marjan fi an-Nasikh wa al- Mansukh min al-Qur’an; Ahmad bin Muhammad al-Maqqari (w. 1041 H), menyusun kitab I’rab al-Qur’an. Beberapa ulama yang penulis tidak sebutkan satu-satu, hingga abad XIV H. Pada abad XIV H ini, banyak mufassir yang menulis kitab di sekitar al-Qur’an, sejarahnya dan ilmu-ilmunya, yaitu: (a) Syaikh Thahir al-Jazari, menulis kitab al-Tibyan fi Ba’d Mabahit","part":1,"page":106},{"id":107,"text":"al-Muta’alliqat bi al-Qur’an; (b) Jamal al-Din al-Qasimi (w.1322), menuli kitab al-Ta’wil; (c) Muhammad ‘Abd al- Azhim al-Zarqani, menulis kitab Manahil al-Irfan fi ulum al-Qur’an; (d) Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha, menulis kitab Tafsir al-Qur’an al-Hakim yang terkenal Tafsir al-Manar. (Hasbi Ash-Shiddiqy, 10-11).\rDemikan sekilas beberapa ulama dan buah karangannya yang berkenaan dengan pembahasan ulumul Qur’an di masa lampau, yang relatife cukup banyak jumlahnya. Ketika anda memperhatikan kitab-kitab yang ditulis tersebut, anda akan menemukan kenyataan bahwa masing-masing tulisan hanya mendapatkan satu ilmu saja dari berbagai ilmu-ilmu al-Qur’an.\r5. Munculnya Istilah Ulumul-Qur’an\rSeiring dengan kamjuan perkembangan ‘ulum al-Qur’an . Tahap demi tahap ilmu-ilmu yang menjadi bagian dari disiplin ilmu ini juga mengalami perkembangan,","part":1,"page":107},{"id":108,"text":"seperti ilmu Tafsir, ilmu rasm al-Qur’an, ilmu Qira’at ilmu Gharib al-Qur’an, dan seterusnya (Ramli Abdul Wahid, 2002:22). Ilmu-ilmu ini kemudian membentuk kesatuan yang mempunyai hubungan dengan al-Qur’an, baik dari segi keberadaan al-Qur’an maupun dari segi pemahamannya. Karena itu ilmu-ilmu ini disenut dengan ilmu-ilmu al-Qur’an yang dalam bahasa Arab disebut ‘ulum al-Qur’an (baca: ulumul Qur’an). Akan tetapi pengertian ‘ulumul-Qur’an dalam konteks sebagai sebuah istilah, baru dikenal pada periode-periode akhir, yaitu pada akhir abad ketiga atau menjelang awal abad keeempat Hijri, ketika seorang ulama bernama Muhammad bin Khalaf bin al-Muazban (w. 309 H) menyusun sebuah kitab berjudul Al-Hawi fi Tafsir al-Qur’an (Nadim, t.t.:214; dan Daudi,t.t.:141). Sedangkan sebagian ahli meyakini bahwa permulaan periode dikenalnya istilah ‘ulumul –Qur’an adalah pada permulaan abad V Hijri, yaitu ketika Ali bin Ibrahim al-Haufi (w.430 H) menulis sebuah kitab bertajuk Al-Burhan fi ‘Ulum al-Qur’an. Asumsi ini kurang valid, sebab nama kitab yang dikarang al-Haufi adalah Al-Burhan fi Tafsir al-Qur’an (Zadah, t.t.:108; Humawi, XII, t.t.:222, dan Khulaifah, I, t.t.: 241). Disamping itu, banyak bermunculan kitab-kitab yang ditulis para ulama pada kurun sebelumnya, yang secara tersirat menunjukkan adanya istilah Ulumul-Qur’an dalam konteks kodifikatif. hal ini diperjelas oleh kitab yang disusun Ibnu al-Murazban dan ulama lain. [5]\r6. Kesimpulan","part":1,"page":108},{"id":109,"text":"a) Nabi menerima wahyu dari Allah berupa Al-Qur’an, lalu beliau dapat perintah dari Allah untuk menyampaikan kepada umat manusia. Pada zaman ini belum ada kajian tentang ulum al-Qur’an, pengikut beliau hanya menghafal dan kalau ada masalah langsung menanyakan pada beliau.\rb) Khulafa’ur Rasyidin, setelah kejadian 70 pengahfal al-Qur’an tewas dalam peperangan. Adanya kekhawatiran tentang hilangnya orang-orang pengahafal al-Qur’an, dan beberapa sahabat mengusulkan disusun menjadi sebuah mushaf. setelah mengalami kodifikasi dan juga adanya kekhawatiran pemahaman tentang al-Qur’an.\rc) Pada zaman Tabi’in mulai adanya kajian-kajian tentang al-Qur’an dan beberapa ilmu yang termasuk dalam al-Qur’an, Tetapi belum begitu mengkajinya secara mendalam. Pada jaman tabi’in kecil baru mengkaji secara mendalam pembagian tentang ilmu-ilmu yang ada dalamnya.\rd) Dalam perkembangannya ilmu ini disebut ulumul Qur’an. Serta kajian detail dan ulama-ulama sudah banyak membahas tentang ulumul Qur’an.\rDAFTAR PUSTAKA\rSiti Maryam dkk, Sejarah Peradaban Islam dari Masa Klasik Hingga Modern, Yogyakarta, 2002\rSaifullah dkk, Ulumul Qur’an, Prodial Pratama Sejati (PPS) Press; Ponorogo,2004\rDr.Fadh bin Abdurrahman Ar-Rumi, Ulumul Qur’an Studi Kompleksitas Al-Qur’an, Titian Ilahi Press; Yogyakarta\rKamaluddin, Ulumul Qur’an, Pt. Remaja Rosdakarya; Bandung, 1992\r1 Siti Maryam dkk, Sejarah Peradaban Islam dari Masa Klasik Hingga Modern, Yogyakarta, 2002\rDr.Fadh bin Abdurrahman Ar-Rumi, Ulumul Qur’an Studi Kompleksitas Al-Qur’an, Yogyakarta: Titian Ilahi Press","part":1,"page":109},{"id":110,"text":"[1] Saifullah dkk, Ulumul Qur’an, Prodial Pratama Sejati (PPS) Press; Ponorogo,2004\rDr.Fadh bin Abdurrahman Ar-Rumi, Ulumul Qur’an Studi Kompleksitas Al-Qur’an, Titian Ilahi Press; Yogyakarta\r[2] [2] Saifullah dkk, Ulumul Qur’an, Prodial Pratama Sejati (PPS) Press; Ponorogo,2004\rDr.Fadh bin Abdurrahman Ar-Rumi, Ulumul Qur’an Studi Kompleksitas Al-Qur’an, Titian Ilahi Press; Yogyakarta Kamaluddin, Ulumul Qur’an, Pt. Remaja Rosdakarya; Bandung, 1992\r[3] Saifullah dkk, Ulumul Qur’an, Prodial Pratama Sejati (PPS) Press; Ponorogo,2004\rDr.Fadh bin Abdurrahman Ar-Rumi, Ulumul Qur’an Studi Kompleksitas Al-Qur’an, Titian Ilahi Press; Yogyakarta\r[4] Saifullah dkk, Ulumul Qur’an, Prodial Pratama Sejati (PPS) Press; Ponorogo,2004\rDr.Fadh bin Abdurrahman Ar-Rumi, Ulumul Qur’an Studi Kompleksitas Al-Qur’an, Titian Ilahi Press; Yogyakarta\r[5] [5] Saifullah dkk, Ulumul Qur’an, Prodial Pratama Sejati (PPS) Press; Ponorogo,2004\rDr.Fadh bin Abdurrahman Ar-Rumi, Ulumul Qur’an Studi Kompleksitas Al-Qur’an, Titian Ilahi Press; Yogyakarta\r[ Indrawan Cahyadi ].\r1333. TAFSIR QS HUD 108 : KEKEKALAN SURGA\rPERTANYAAN :\r> Muhammad Mandalla Al-Haq\rAssalamu'alaikum. Mau naya nih, Tafsir surat HUD ayat 108 itu bagaimana????\rJAWABAN :\r> Mbah Ceméng","part":1,"page":110},{"id":111,"text":"108 - { وأما الذين سعدوا } بفتح السين وضمها { ففي الجنة خالدين فيها ما دامت السماوات والأرض إلا } غير { ما شاء ربك } كما تقدم ودل عليه فيهم قوله { عطاء غير مجذوذ } مقطوع وما تقدم من التأويل هو الذي ظهر وهو خال من التكلف والله أعلم بمراده الكتاب : تفسير الجلالينالمؤلف : جلال الدين محمد بن أحمد المحليوجلال الدين عبدالرحمن بن أبي بكر السيوطيالناشر : دار الحديث - القاهرةالصحيفة 300\rOrang-orang yang beruntung akan berada dalam sorga selamanya, selam masih ada langit dan bumi -tidak termasuk waktu yang alloh kehendaki- selain waktu yang telah di kehendaki Alloh.. Kurang lebih maksud illa ma syaa'a robbuka itu, waktu selain waktu keberadaan langit dan bumi... wallohu a'lam.\rوالنكتة في الاستثناء بيان أن هذه الأمور الثابتة الدائمة إنما كانت كذلك بمشيئة الله تعالى بطبيعتها في نفسها ، ولو شاء تعالى أن يغيرها لفعل .وقد أشار لهذا ابن كثير بقوله : يعني أن دوامهم ليس أمراً واجباً بذاته ، بل موكول إلى مشيئته تعالى .وابن عطية بقوله : هذا على طريق الاستثناء الذي ندب الشارع إلى استعماله في كل كلام ، كقوله : { لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ } [ الفتح : من الآية 27 ] فليس يحتاج أن يوصف بمتصل ولا منقطع\rالكتاب : محاسن التأويل\rأي : غير مقطوع ، ولكنه ممتد إلى غير نهاية .\rKarunia yang tiada putus-putus -tanpa batas\r> Mbah Godek\rDalam tafsir munir ILLA disitu brmakna siwa {selain}.. SIWA MA SYA'A ROBBUKA ZA'IDAN ALA DZALIKA WAHUWA LA MUNTAHA LAHU. Selain apa yang telah dikehendaki TUHANmu lebih dari itu {selama langit bumi msh ada} yaitu tiada akhirnya.\r> Masaji Antoro\rWa'alaikumsalam","part":1,"page":111},{"id":112,"text":"وأما الذين سعدوا ففي الجنة خالدين فيها ما دامت السماوات والأرض إلاّ ما شاء ربك ( . الضحّاك : إلاّ ما مكثوا في النار حتى أُدخلوا الجنة ، أبو سنان إلاّ ما شاء ربك من الزيادة على قدر مدة دوام السماء والأرض ، وذلك هو الخلود فيها\rAdapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.(QS. 11:108).\rMenurut ad-Dhohaak : Kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain) artinya kecuali zaman yang mereka (sebelumnya) telah lalui dengan menetap dineraka sampai mereka dimasukkan kedalam surga.\rMenurut Abu Sanaan : Kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain) artinya kecuali masa yang melebihi atas kadar kelanggengan langit dan bumi yang artinya berarti keabadian dalam surga. [ Al-Kasyf wa al-Bayaan V/190 ].\rDitafsir yang ini malah lebih jelas GAN..... !!","part":1,"page":112},{"id":113,"text":"وأما الذين سعدوا ففي الجنة خالدين فيها ما دامت السموات والأرض إلا ما شاء ربك ( أن يدخله النار أولاً ثم يخرجه منها فيدخله الجنة فحاصل هذا القول إن الاستثناءين يرجع كل واحد منهما إلى قوم مخصوصين هم في الحقيقة سعداء أصابوا ذنوباً استوجبوا بها عقوبة يسيرة في النار ثم يخرجون منها فيدخلون الجنة لأن إجماع الأمة على أن من دخل الجنة لا يخرج منها أبداً وقيل إن الاستثناءين يرجعان إلى الفريقين السعداء والأشقياء وهو مدة تعميرهم في الدنيا واحتباسهم في البرزخ وهو ما بين الموت إلى البعث ومدة وقوفهم للحساب ثم يدخل أهل الجنة الجنة وأهل النار النار فيكون المعنى خالدين في الجنة والنار إلا هذا المقدار , وقيل : معنى إلا ما شاء ربك سوى ما شاء ربك فيكون الامعنى خالدين فيها ما دامت السموات والأرض إلا ما شاء ربك من الزيادة على ذلك وهو كقولك لفلان علي ألف إلا ألفين أي سوى ألفين وقيل إلا بمعنى الواو بمعنى وقد شاء ربك خلود هؤلاء في النار وخلود هؤلاء في الجنة فهو كقوله تمجدو تعالى لئلا يكون للناس عليكم حجة إلا فيها , قال الفراء : هذا استثناء استثناه الله ولا يفعله كقوله والله لأضربنك إلا أن أرى غير ذلك وعزمه أن يضربه فهذه الأقوال في معنى الاستثناء ترجع إلى الفريقين والصحيح هو القول الأول ويدل عليه قوله سبحانه وتعالى : ( إن ربك فعال لما يريد ( يعني من إخراج من أراد من النار وإدخالهم الجنة فهذا على الإجمال في حال الفريقين فأما على التفصيل فقوله إلا ما شاء ربك في جانب الأشقياء يرجع إلى الزفير والشهيق وتقريره أن يفيد حصول الزفير والشهيق مع خلود لأنه إذا دخل الاستثناء عليه وجب أن يحصل فيه هذا المجموع والاستثناء في جانب السعداء يكون بمعنى الزيادة يعني إلا ما شاء ربك من الزيادة لهم من النعيم بعد الخلود , وقيل : إن الاستثناء الأول في جانب الأشقياء معناه إلا ما شاء ربك من الزيادة لهم من النعيم بعد الخلود , وقيل","part":1,"page":113},{"id":114,"text":": إن الاستثناء الأول في جانب الأشقياء معناه إلا ما شاء ربك من أن يخرجهم من حرّ النار إلى البرد والزمهرير وفي جانب السعداء معناه إلا ما شاء ربك أن يرفع بعضهم إلى منازل أعلى منازل الجنان ودرجاتها والقول الأول هو المختار ويدل على خلود أهل الجنة في الجنة أن الأمة مجتمعة على من دخل الجنة لا يخرج منها بل هو خالد فيها.\r[ Tafsiir al-Khoozin III/245 ].\rWallaahu A'lamu Bis showaab.\rLink Diskusi > www.fb.com/groups/piss.ktb/348852541804227/\r1579. TAFSIR QS AL-BAQOROH AYAT 41 : MENUKAR AYAT DENGAN MURAH ?\rPERTANYAAN :\rNur Aini\rPada QS.ALBAQOROH ayat 41, terdapat arti...dan janganlah kmu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang murah...Itu maksutnya bagaimana ya ustadz ?\rJAWABAN :\r> محمد إسماعيل\rPada surat al-baqarah 41 ada hubungannya dengan ayat sebelumnya (40) dimana mukhotobnya adalah kaum yahudi yang gengsi dengan tidak mengakui & tidak mau beriman dengan mengikuti ajaran islam yang dibawa Rasulullah SAW . Tafsir jalalain :\rوآمنوا بما أنزلت { من القرآن } مصدِّقاً لما معكم {من التوراة بموافقته له في التوحيد والنبوة } و?تكونوا أوَّل كافر به { من أهل الكتاب ?نَّ خلفكم تبعلكم فإثمهم عليكم } و? تشتروا { تستبدلوا } بآياتي {التي في كتابكم من نعت محمد } ثمناً قلي? { عوضاًيسيرا من الدنيا أي ? تكتموها خوف فوات ماتأخذونه من سفلتكم } وإياي فاتقون { خافون فيذلك دون غيري","part":1,"page":114},{"id":115,"text":"Sehingga mereka rela menjual keyakinan mereka untuk mengikuti Rasulullah dengan harga yang murah yakni bondo dunyo. Maksudnya mereka takut seandainya mrk mengikuti Rasulullah maka apa apa yang mrk dapat ketika selama menjadi yahudi akan hilang . maka mrk memilih ttp sebagai yahudi drpd mengikuti Rasulullah agar spy kedudukan & penghasilan mereka ttp lumintu. Wallahu a'lam.\r> Masaji Antoro\rMaksud ayat tersebut pada beberapa tafsiir Ulama :\r{ ولا تشتروا بآياتي ثمنا قليلا } ولا تستبدلوا بالإيمان بها والاتباع لها حظوظ الدنيا فإنها وإن جلت قليلة مسترذلة بالإضافة إلى ما يفوت عنكم من حظوظ الآخرة بترك الإيمان\r“Dan janganlah kalian menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah” artinya dan janganlah kalian mengganti iman dengan harga yang rendah dan mengikutkannya dengan bagian-bagian duniawi karena sebesar apapun harta benda hanyalah remeh dan hina bila dibandingkan dengan apa yang hilang dari kalian yakni bagian akhirat sebab raibnya iman dari kalian. [ Tafsir al-Baedhawy I/300 ].\r{ ولا تشتروا بآياتي } ولا تستبدلوا بأحكامي التي أنزلتها { ثمنا قليلا } هو الرشوة والجاه\r(Dan janganlah kalian menukar ayat-ayat-Ku) artinya janganlah mengganti hukum-hukum yang telah Aku turunkan (dengan harga yang rendah) yakni uang suap dan kedudukan. [ Tafsir al-Baedhawy I/321 ].\rولا تشتروا بآياتى ثمناً قليلاً ( يعني ولا تستبدلوا بآيات الله وأحكامه ثمناً قليلاً يعني الرشوة فى الأحكام والجاه عند الناس ورضاهم والمعنى كما نهيتكم عن تغير الأحكام لأجل خوف الناس كذلك أنهاكم عن التغيير والتبديل لأجل الطمع فى المال والجاه وأخذ الرشوة فإن كل متاع الدنيا قليل","part":1,"page":115},{"id":116,"text":"“Dan janganlah kalian menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah”Artinya janganlah mengganti hukum-hukum yang telah Aku turunkan dengan uang suap dan kedudukan dimata manusia serta pengakuan mereka, artinya sebagaimana dilarang merubah hukum-hukum Allah sebab takut pada manusia demikian juga dilarang merubahnya dengan berharap harta, kedudukan, suap dari mereka karena setiap harta benda dunia amatlah remeh. [ Tafsiir al-Khooziin II/57 ].\r{ وَلاَ تَشْتَرُواْ بآياتي ثَمَنًا قَلِيلاً } [ البقرة : 41 ] وقد مر ذلك وبالجملة فكان غرضهم من ذلك الكتمان : أخذ الأموال بسبب ذلك ، فهذا هو المراد من اشترائهم بذلك ثمناً قليلاً .\r“Dan janganlah kalian menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah” (QS. 2,41). Adalah tujuan menyembunyikan hukum-hukum Allah tersebut demi mengambil harta, inilah maksud menjual ayat-ayat Allah dengan harga remeh dalam ayat ini. [ Tafsiir ar- Roozy III/39 ]. Wallaahu A'lamu Bis Showaab.\r> Abu Zaki\rوقوله: { وَلا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلا } يقول: لا تعتاضوا عن الإيمان بآياتي وتصديق رسولي بالدنيا وشهواتها، فإنها قليلة فانية، كما قال عبد الله بن المبارك: أنبأنا عبد الرحمن بن يزيد بن جابر، عن هارون بن زيد (4) قال: سُئِل الحسن، يعني البصري، عن قوله تعالى: { ثَمَنًا قَلِيلا } قال: الثمن القليل الدنيا بحذافيرها.وقال ابن لَهِيعة: حدثني عطاء بن دينار، عن سعيد بن جبير، في قوله: { وَلا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلا } وإن آياته: كتابه الذي أنزله (5) إليهم، وإن الثمن القليل: الدنيا وشهواتها.وقال السدي: { وَلا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلا } يقول: لا تأخذوا طمعًا قليلا ولا تكتموا\rLink Asal : www.fb.com/groups/piss.ktb/423407584348722/","part":1,"page":116},{"id":117,"text":"1580. TAFSIR QS ALI IMRON AYAT 113 : SIAPA ITU AHLI KITAB ?\rPERTANYAAN :\rAbdullah Hasan Albashary\rSiapa yang dimaksud ahli kitab disini ?\r\" لَيْسُوا? سَوَا?ءً? ? مِّنْ أَهْلِ الْكِتَبِ أُمَّةٌ? قَا?ئِمَةٌ? يَتْلُونَ ءَايَتِ اللَّهِ ءَانَا?ءَ الَّيْلِ وَهُمْ يَسْجُدُونَ |\rMereka tidak sama; di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (sembahyang).\" (QS. ALI IMRAN:113).\rJAWABAN :\rMasaji Antoro\rAdalah orang-orang ahli kitab yang berperilaku lurus, konsekuen dengan ajarannya yang kemudian beriman dan membenarkan Nabi Muhammad SAW.\r{مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ أُمَّةٌ قَائِمَةٌ يَتْلُونَ آيَاتِ اللَّهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَهُمْ يَسْجُدُونَ} من آمن مع النبي صلى الله عليه وسلم. وقال ابن إسحاق عن ابن عباس لما أسلم عبدالله بن سلام ، وثعلبة بن سعية ، وأسيد بن سعيه ، وأسيد بن عبيد ، ومن أسلم من يهود ؛ فآمنوا وصدقوا ورغبوا في الإسلام ورسخوا فيه ، قالت أحبار يهود وأهل الكفر منهم : ما آمن بمحمد ولا تبعه إلا شرارنا ، ولو كانوا من خيارنا ما تركوا دين آبائهم وذهبوا إلى غيره ؛ فأنزل الله عز وجل في ذلك من قولهم : {لَيْسُوا سَوَاءً مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ أُمَّةٌ قَائِمَةٌ يَتْلُونَ آيَاتِ اللَّهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَهُمْ يَسْجُدُونَ} إلى قوله : {وَأُولَئِكَ مِنَ الصَّالِحِينَ} . وقال الأخفش : التقدير من أهل الكتاب ذو أمة ، أي ذو طريقة حسنة.","part":1,"page":117},{"id":118,"text":"“Di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (sembahyang).(QS. 3:113)Ialah orang-orang ahli kitab yang kemudian beriman pada Nabi Muhammad SAW.Ibn Ishaq dari Ibn Abbas berkata “Saat Abdullah Bin Salama’yah, Usaid Bin ‘Ubaid dan orang-orang yahudi yang kemudian beriman, para pendeta yahudi dan ahli Kufur mereka berkata “Tidak beriman dan mengikuti agama Muhammad kecuali orang-orang rendahan dari kami, bila mereka orang-orang pilihan kami niscaya mereka tidak meninggalkan agama moyang-moyang mereka dan berpaling pada agama lainnya, kemudian Allah Azza Wa Jalla menurunkan ayat “Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (sembahyang).( QS. 3:113) sampai pada ayat “mereka itu termasuk orang-orang yang saleh.(QS. . 3:114).\rOleh karena itu al-Akhfasy berkata “di antara Ahli Kitab itu ada golongan umat yakni golongan yang memiliki perilaku lurus”. [ Al-Jaami’ Li Ahkaam al-Quraan IV/175 ].\rوقال عطاء: \"ليسوا سواء من أهل الكتاب أمةٌ قائمة\" الآية يريد: أربعين رجلا من أهل نجران من العرب واثنين وثلاثين من الحبشة وثمانية من الروم كانوا على دين عيسى وصدّقوا محمدًا صلى الله عليه وسلم","part":1,"page":118},{"id":119,"text":"“Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus”, Yang dikehendaki adalah 40 laki-laki dari Najran, 32 dari Habasyah dan 8 orang dari negeri Rum, adalah mereka berada pada agama nabi Isa As, dan membenarkan keberadaan Muhammad SAW. [ Tafsiir al-Baghaawy II/93 ].\r{ من أهل الكتاب أمة قائمة } استئناف لبيان نفي الاستواء والقائمة المستقيمة العادلة من أقمت العود فقام وهم الذين أسلموا منهم\r“Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus”. Yang dimaksud adalah orang-orang yang kemudian memeluk agama islam dari kalangan ahli kitab. [ Tafsiir al-Baedhawy I/80 ].\r( ليسوا سواء من أهل الكتاب أمة قائمة ) قال ابن عباس : قائمة أي مهدية قائمة على أمر الله تعالى لم يضعوه ولم يتركوه , وقيل قائمة أي عادلة وقيل قائمة على كتاب الله عز وجل وحدوده وقيل : قائمة في الصلاة ....وقال عطاء في قوله تعالى : ( ليسوا سواء من أهل الكتاب أمة قائمة ( يريد أربعين رجلاً من أهل نجران من العرب واثنين وثلاثين من الحبشة وثمانية من الروم كانوا على دين عيسى عليه الصلاة والسلام وصدقوا بمحمد ( صلى الله عليه وسلم ) وآمنوا به وكانوا عدة نفر من الأنصار منهم أسعد بن زرارة والبراء بن معرور ومحمد بن مسلمة وأبو قيس صرمة بن أنس كانوا قبل الإسلام موحدين يغتسلون من الجنابة ويقومون بما عرفوا من شرائع الحنيفية حتى جاءهم الله عز وجل بالنبي صلىالله عليه وسلم فآمنوا به وصدقوه","part":1,"page":119},{"id":120,"text":"“Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus”. Ibn Abbas berkata : berperilaku lurus artinya senantiasa konsekuen menjalani perintah Allah dan tidak melenakannya, pendapat lain “Berlaku adil”, pendapat lain “Konsekuen pada kitab Allah”, pendapat lain “Konsekuen dengan shalatnya”...... Imam ‘Atha’ berkata dalam maksud ayat ini “Yang dikehendaki adalah 40 laki-laki dari Najran, 32 dari Habasyah dan 8 orang dari negeri Rum, adalah mereka berada pada agama nabi Isa As, dan membenarkan keberadaan Nabi Muhammad SAW dan beriman pada beliau.Adalah segolongan orang-orang Anshar diantaranya As’ad Bin zararah, Barraa’ bin Ma’ruur, Muhammad Bin Maslamah dan Abu Qais Sharmah Bin Anas sebelum masuk islam menjalani agama tauhid, mereka mandi saat janabat dan menjalani dengan istiqamah ajaran-ajaran yang mereka kenal dari syariat hanifiyyah (ajaran Nabi Ibrahim AS) hingga kemudian datanglah Nabi Muhammad SAW dan mereka beriman serta membenarkan kenabian beliau”. [ Tafsiir al-Khoozin I/407 ]. Wallaahu A'lamu Bis Showaab.\rLink Asal : www.fb.com/groups/piss.ktb/424244070931740/\r1629. MAKNA \" HANIF \"\rPERTANYAAN :\rYahya Suaidi\rAssalamu'alaikum..tolong uraikan arti hanif..\rJAWABAN :\r> Cecep Furqon\rحنف\rالحَنَفُ : هو ميل عن الضّلال إلى الاستقامة ، والجنف : ميل عن الاستقامة إلى الضّلال ، والحَنِيف هو المائل إلى ذلك ، قال عزّ وجلّ :\rقانِتاً لِلَّهِ حَنِيفاً [النحل / 120] ، وقال :\rحَنِيفاً مُسْلِماً [آل عمران / 67] ، وجمعه حُنَفَاء ، قال عزّ وجلّ : وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ حُنَفاءَ لِلَّهِ [الحج / 30 - 31] ، وتَحَنَّفَ فلان ، أي :","part":1,"page":120},{"id":121,"text":"تحرّى طريق الاستقامة ، وسمّت العرب كلّ من حجّ أو اختتن حنيفا ، تنبيها أنّه على دين إبراهيم صلّى اللّه عليه وسلم ،\rKata Haniif berakar dari kata “ hanafa” yang memliki makna cenderung (berpaling) dari kesesatan menuju arah Istiqomah(lurus), Berbeda dngan kata janafa yang memiliki maka terbalik dengan kata hanafa Allah ber firman “ Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang Imam, patuh kepada Allah dan haniif( selalu berpegang kepada kebenaran atau selalu lurus) “ An-nahl 120. Bentuk jamak kata itu adalah hunafaa, allah berfirman ; Jauhilah olehmu perkataan keji /dusta serta selalu Berpeganglah kepada perintah (ibadah) Allah atau selalulah untuk bersikap lurus (hunafaa)- berpaling dari kesesatan-.\rDari sini lahir kata\r، وتَحَنَّفَ فلان:\rmaksudnya Bersungguh-sungguh dalam menapaki jalan yang lurus. Orang arab suka memberikan ciri kepada orang yang berangkat Haji atau berkhitan dengan kata Haniifaa, ini memberi peringatan bahwasanya orang itu mengikuti agama nabi Ibrahim(ajaran haniif yang maknanya ajaran yang lurus). [ Al Mufrodat 1/260 ]. Mudah-mudahan membantu.\r> Masaji Antoro\rWa'alaikumsalam\rوما الحنيف قال دين إبراهيم لم يكن يهوديا ولا نصرانيا وكان لا يعبد إلا الله\rApakah yang dimaksud Haniif ?Ialah agama nabi Ibrahim As. Yang bukan agama Yahudi ataupun Nashrani, pengikut haniif tidak menyembah kecuali hanya pada Allah. [ Dalaail an-Nubuwwah Li Ismaa’iil I/81 ].","part":1,"page":121},{"id":122,"text":"الحنيف المستقيم على الحق ، والأحنف هو المستقيم في حلقة الرِّجْل ، ويسمى مائل القَدَم بذلك على التفاؤل وإبراهيم عليه السلام كان حنيفاً لا مائلاً عن الحق ، ولا زائغاً عن الشرع ، ولا مُعَرِّجاً على شيء وفيه نصيب للنفس ، فقد سَلَّم مَالَه ونَفْسَه ووَلدَه ، وما كان له به جملةً - إلى حكم الله وانتظار أمره .\rHANIIF adalah orang yang konsekuen dengan agamanya.. Dan Ibrahim As. Adalah orang yang haniif tidak melenceng dari kebenaran , tidak melenceng dari syariat dan memenuhi keinginan-keinginan nafsunya, ia rela berkorban menyerahkan hartanya, nyawanya dan anaknya demi menetapi hukum Allah. [ Tafsiir alQusyairy I/330 ].\r{ بَلْ مِلَّةَ إبراهيم حَنِيفًا } أي مخالفاً لليهود والنصارى منحرفاً عنهما ، وأما المفسرون فذكروا عبارات ، أحدها : قول ابن عباس والحسن ومجاهد : أن الحنيفية حج البيت . وثانيها : أنها اتباع الحق ، عن مجاهد . وثالثها : اتباع إبراهيم في شرائعه التي هي شرائع الإسلام . ورابعها : إخلاص العمل وتقديره : بل نتبع ملة إبراهيم التي هي التوحيد عن الأصم قال القفال : وبالجملة فالحنيف لقب لمن دان بالإسلام كسائر ألقاب الديانات ، وأصله من إبراهيم عليه السلام .","part":1,"page":122},{"id":123,"text":"“Bahkan agama Ibrahim adalah Haniif” yang berbeda dengan orang yahudi ataupun Nashrani, menyalahi keduanya.Menurut beberapa pendapat Ulama tafsiir tentang HANIIF1. Pendapat Ibn Abbas, al-Hasan al-Basyri dan Mujahid, haniif menjalani ibadah haji di Baitullah2. Mengikuti kebenaran3.Mengikuti syariat-syariat Ibrahim As. Yang berarti syariat-syariat Islam4. Mengikhlaskan amal perbuatan dan takdirnya yang inti amal perbuatannya mengikuti syariat Nabi Ibrahim yakni Tauhid. Menurut al-Qaffal “Haniif adalah julukan bagi mereka yang mengikuti ajaran Islam yang asal ajarannya dari Nabi Ibrahim As. [ Tafsiir ar-Rooziy II/370 ].\rأن الحنيف اسم لمن دان بدين إبراهيم عليه السلام ومعلوم أنه عليه السلام أتى بشرائع مخصوصة ، من حج البيت والختان وغيرهما ، فمن دان بذلك فهو حنيف ، وكان العرب تدين بهذه الأشياء . ثم كانت تشرك ، فقيل من أجل هذا : { حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ المشركين\rHaniif adalah nama julukan bagi orang yang mengikuti agama Ibrahim As. Yang seperti telah maklum bahwaa beliau datang dengan membawa syariat dari Allah SWT, seperti Haji, Khitan dsb,Orang yang beragama demikian disebut HANIIF, adalah orang-orang arab beragama semacam ini namun kemudian mereka syirik karena Allah berfirmn “Ibrahim adalah haniif dan tidak tergolong orang-orang yang musyrik”. [ Tafsiir ar-Rooziy II/371 ].\rقال أبو العالية : الحنيف الذي يستقبل البيت في صلاته\rAbu ‘Aaliyah berkata “Haniif adalah orang yang saat shalatnya menghadap kiblat”. [ Tafsiir ar-Rooziy VI/354 ].\rو « الحنيف » : المستقيم في الدِّين ، أو المائل إلى الحق بالكلية .","part":1,"page":123},{"id":124,"text":"Haniif adalah orang yang lurus dalam agamanya atau condong pada kebenaran secara keseluruhan. [ Tafsiir alQusyairy IV/220 ].\rالحنيف المائلُ إلى الحق عن الباطل في القلبِ والنَّفْسِ ، في الجهر وفي السِّرِّ ، في الأفعال وفي الأحوال وفي الأقوال { غَيْرَ مُشْرِكِينَ بِهِ } : الشِّركُ جَلِيٌّ وخَفِيٌ .\rHaniif adalah orang yang condong pada kebenaran jauh dari kebatilan dalam hati dan nafsunya baik saat dalam kondisi terang-terangan atau menyendiri, dalam perbuatan, haliyah dan ucapan serta tidak musyrik baik syirk yang jelas atau samar. [ Tafsiir alQusyairy V/195 ]. Wallaahu A’lamu Bis showaab.\rLink Asal : www.fb.com/groups/piss.ktb/434621009894046/\r1845. MAKNA \" AS-SULTHAAN \" DALAM QS. AR-RAHMAN : 33\rPERTANYAAN :\rNgaji-nyo Ngaji\rAssalamualaikum, saya mau nanya, pada lafadz, ''laa tanfudzuu illa bi sulthon'' (QS AR ROHMAN). APAKAH BOLEH lafadz \"SHULTON\" diartikan ilmu pengetahuan ? sebagaimana yang ada di buku-buku agama di sekolah. terima kasih\rJAWABAN :\r> Mbah Jenggot II\rWa`alaikum salam. Dalam tafsir Arrozi :\rوالسلطان هو القوة الكاملة\r> Masaji Antoro\rWa'alaikumsalam. Dalam beberapa literatur kitab tafsir arti AS-SULTHAAN dalam ayat di atas memang terdapat dua penafsiran, dan penafsiran AS-SULTHAAN dengan \"ilmu pengetahuan\" berpijak pada riwayat dari Sahabat Ibn Abbas ra. berikut sedikit uraiannya :\rيَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانْفُذُوا لَا تَنْفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ","part":1,"page":124},{"id":125,"text":"“Hai jemaah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan.” (QS. 55:33).\r{ لا تَنْفُذُونَ إِلا بِسُلْطَانٍ } أي: بملك، وقيل بحجة، والسلطان: القوة التي يتسلط بها على الأمر، فالملك والقدرة والحجة كلها سلطان، يريد حيثما توجهتم كنتم في ملكي وسلطاني. وروي عن ابن عباس قال: معناه: إن استطعتم أن تعلموا ما في السموات والأرض فاعلموا ولن تعلموه إلا بسلطان أي ببينة من الله عز وجل\r“kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan.” (QS. 55:33)” artinya dengan kekuasaan, menurut pendapat lain artinya bukti kuat, AS-SULTHAN adalah kekuatan untuk menguasai suatu perkara, kekuasaan, kemampuan dan bukti-bukti semua tergolong AS-SULTHAN. Yang dimaksudkan pengertiannya dimanapun kalian berada kalian berada pada kekuasaan dan kekuatan-Ku. Diriwayatkan dari Ibn Abbas ra. Ia berkata “Arti ayat diatas adalah, bila kalian mampu mengetahui apa-apa yang dibumi dan dilangit maka ketahuilah...!!, sesuangguhnya kalian tak akan mampu mengetahuinya kecuali dengan bukti autentik dari Allah Ta’ala. [ Tafsiir al-Baghowi VII/447 ].\rقال تعالى : ( لا تنفذون إلا بسلطان ( يعني لا تقدرون على النفوذ إلا بقوة وقهر وغلبة وأني لكم ذلك لأنكم حيثما توجهتم كنتم في ملكي وسلطاني وقال ابن عباس معناه إن استطعتم أن تعلموا ما في السموات والأرض فاعلموا ولن تعلموه إلا بسلطان أي بينة من الله تعالى","part":1,"page":125},{"id":126,"text":"Firman Allah Ta’ala “kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan” artinya artinya kalaian tidak akan mampu menembusnya melainkan dengan kekuatan, pemaksaan dan penguasaan dan AKU bagi kalian adalah segalanya karena dimanapun kalian berada kalian berada pada kekuasaan dan kekuatanKu. Ibn Abbas ra berkata “Arti ayat diatas adalah, bila kalian mampu mengetahui apa-apa yang dibumi dan dilangit maka ketahuilah...!!, sesuangguhnya kalian tak akan mampu mengetahuinya kecuali dengan bukti autentik dari Allah Ta’ala. [ Tafsiir al-Khoziin VII/7 ].\rوقال ابن عباس : يعني : إن استطعتم أن تعلموا ما في السموات والأرض فاعلموا ، ولن تعلموه إلاّ بسلطان يعني البيّنة من الله سبحانه . ) لا تنفذون إلاّ بسلطان ( أي حجة .\rIbn Abbas ra berkata “Arti ayat diatas adalah, bila kalian mampu mengetahui apa-apa yang dibumi dan dilangit maka ketahuilah...!!, sesuangguhnya kalian tak akan mampu mengetahuinya kecuali dengan bukti autentik dari Allah Ta’ala. [ Al-Kasyf wal Bayaan IX/186 ].\rوالسلطان : القوة التي يتسلّط بها على الأمر والملك والقدرة والحجة كلها سلطان ، يريد : حيث ما توجهتم كنتم في ملكي .\rPengertian AS-SULTHAN dalam ayat tersebut adalah kekuatan untuk menguasai suatu perkara, kekuasaan, kemampuan dan bukti-bukti semua tergolong AS-SULTHAN. [ Al-Lubaab fii ‘Uluum al-Kitaab 18/331 ].\rإن استطعتم أن تنفذوا من أقطار السموات والأرض فانفذوا لا تنفذون إلا بسلطان \" يعني لا تنجون إلا بحجة وبرهان","part":1,"page":126},{"id":127,"text":"“jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan.” (QS. 55:33). Artinya kalian tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan bukti dan tanda-tanda yang nyata. [ Bahr al-’Uluum, Tafsiir as-Samarqandy III/36 ].\rLebih transparan Abu Abdillah Muhammad Bin Umar Bin Hasan Bin Husein at-Taymy ar-Razi dalam tafsirnya menyebutkan :\r{ إِنِ استطعتم أَن تَنفُذُواْ مِنْ أقطار السموات والأرض فانفذوا لاَ تَنفُذُونَ إِلاَّ بسلطان } [ الرحمن : 33 ] فعلى هذا يكون المراد منه سعة العلم\r“Jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan.” (QS. 55:33). Maka yang dimaksud darinya adalah kelapangan dan kedalaman ilmu... [ Tafsiir ar-Razi II/306 ]. Wallaahu A'lamu Bis Showaab.\r> Sunde Pati\rSulthon adalah hujjah yang diambil dari kata ASSALITH yang artinya sesuatu yang dijadikan terangnya lampu.\rأيسر التفاسير لكلام العلي الكبير (1/ 391) السلطان: الحجة لأن الحق يؤخذ بالحجة ويؤخذ بالسلطان، وهل السلطان مأخوذ من السليط، وهو ما يضاء السراج، وهو دهن السمسم، وسمي الحاكم سلطاناً للاستضاءة به في إظهار الحق وقمع الباطل؟ نعم، وجائز\rLink Asal : www.fb.com/groups/piss.ktb/467725766583570/\r1865. TAFSIR QS AN-NISA' 43 : MENYENTUH WANITA\rPERTANYAAN :\rYudhistira Aga Nugraha\rAsslmualaikum wr wb, kepada seluruh penghuni piss-ktb, tolong jelaskan tafsir ayat \"aw laamastumunnisa`\",\rJAWABAN :\rMasaji Antoro","part":1,"page":127},{"id":128,"text":"Wa'alaikumsalam. Terdapat perbedaan persepsi antara Ulama Fiqh dalam menafsiri ayat diatas, Malikiyyah, Syafiiyyah dan Hanabilah memaknainya dengan laki-laki dan wanita tanpa adanya penghalang sedang menurut kalangan Hanafiyyah memaknainya dengan persenggamaan...\rPERSENTUHAN KULIT ANTARA PRIA WANITA DEWASA TANPA PENGHALANG\r- مِنْ نَوَاقِضِ الْوُضُوءِ عِنْدَ جُمْهُورِ الْفُقَهَاءِ ( الْمَالِكِيَّةِ وَالشَّافِعِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ ) لَمْسُ الرَّجُل الْمَرْأَةَ وَعَكْسُهُ دُونَ حَائِلٍ . لِقَوْلِهِ تَعَالَى : { أَوْ لاَمَسْتُمُ النِّسَاءَ } (3) ….\rوَقَال الْحَنَفِيَّةُ : لاَ يَنْتَقِضُ الْوُضُوءُ بِمَسِّ الْمَرْأَةِ وَلَوْ بِغَيْرِ حَائِلٍ ؛ لِمَا رُوِيَ عَنْ عَائِشَة رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبَّل بَعْضَ نِسَائِهِ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الصَّلاَةِ وَلَمْ يَتَوَضَّأْ (3) . وَقَالُوا : إِنَّ الْمُرَادَ مِنَ اللَّمْسِ فِي الآْيَةِ الْجِمَاعُ ، كَمَا فَسَّرَهَا ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ (4) .\r__________\r(3) سورة النساء / 43 .\r(3) حديث عائشة : \" أن النبي صلى الله عليه وسلم قبل بعض نسائه ثم خرج إلى الصلاة ولم يتوضأ \" . أخرجه الترمذي ( 1 / 133 - ط الحلبي ) ، وقال الزيلعي : \" وقد مال أبو عمر بن عبد البر إلى تصحيح هذا الحديث \" . نصب الراية ( 1 / 72 - ط المجلس العلمي ) .\r(4) الاختيار لتعليل المختار 1 / 10 ، 11 .\r“Termasuk hal membatalkan wudhu menurut mayoritas ulama fiqh (Malikiyyah, Syafiiyyah dan Hanabilah) adalah persentuhan kulit antara laki-laki dan wanita tanpa adanya penghalang berdasarkan firman Allah “Atau kamu telah menyentuh perempuan” (QS. 4:43).","part":1,"page":128},{"id":129,"text":"Namun menurut kalangan Hanafiyyah persentuhan kulit antara laki-laki dan wanita meskipun secara langsung dan tanpa adanya penghalang tidak membatalkan wudhu berdasarkan hadits riwayat dari ‘Aisyah ra “Rosulullah shallallaahu ‘alaihio wasallam mencium sebagian istrinya kemudian keluar menjalankan shalat tanpa berwudhu” (HR. Turmudzi I/13)\rMenurut kalangan Hanafiyyah maksud ayat “menyentuh perempuan” dalam surat an-Nisaa yang membatalkan diatas adalah bersenggama seperti penafsiran Ibnu ‘Abbas ra. (al-Ikhtiyaar Li ta’liil alMukhtaar I/10-11). [ alFiqh alMausuu’ah XVI/238 ]. Wallaahu A’lamu Bis showaab.\rLink Asal : www.fb.com/groups/piss.ktb/463857033637110/\r1894. TAFSIR QS AN-NISA' 3 DAN 129 : ANIAYA BATIN ATAU LAHIR ?\rPERTANYAAN :\r> Dyah Alydya\rAssalamu`alaykum, saya mau brty tentang poligami... Dalam al qur'an disebutkan. . . Jika tak bisa berbuat adil maka disuruh ambil 1 aja karena itu lebh baik dan janganlah berbuat aniaya. Maksud dari berbuat aniaya di sini aniaya secara lahir apa aniaya batin ? ditunggu jawabannya mbah, mbak, mas, ibu, bapak..... warga piss tercinta... barokallahulakum...\rJAWABAN :\r> Yupiter Jet\rSumbangan... walau pun kurang\rوَآتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً\rالحكمة من تعدد الزوجات:\rالوضع الطبيعي وهو الأشرف والأفضل أن يكون للرجل زوجة واحدة، لأن الغيرة مشتركة بين الزوج والزوجة، فكما أن الزوج يغار على زوجته، كذلك الزوجة تغار على زوجها.\rولكن الإسلام أباح التعدّد لضرورة أو حاجة وقيّده بقيود: القدرة على الإنفاق، والعدل بين الزّوجات، والمعاشرة بالمعروف.\rوالإباحة لأحوال استثنائية منها:","part":1,"page":129},{"id":130,"text":"- عقم الزوجة: الرّجل بالفطرة يحبّ 7 نجاب الولد وأن تذهب ثروته ونتيجة جهوده لأولاده فإذا كانت المرأة عاقرا لا تلد، فأيهما أولى: الطلاق أم تعدد الزوجات؟ لا شك بأن الزواج من امرأة ثانية أخفّ ضررا على الزوجة الأولى بشرط صون كرامتها، وأداء حقوقها كاملة غير منقوصة.\r2- كثرة النساء: إن المواليد من الإناث أكثر من الذكور في غالب البلاد، وقد تكثر النساء ويقل الرجال عقب أزمات الحروب، فيكون الأفضل تعدد الزوجات تحقيقا لعفاف المرأة وصونا لها عن ارتكاب الفاحشة، وتطهيرا للمجتمع من آثار الزنى وما يعقبه من انتشار الأمراض وكثرة المشردين واللقطاء.\r3- الحالة الجنسية: قد تصاب المرأة بالبرود الجنسي ولا سيما عقب بلوغ سن اليأس أو قبله عند استئصال الرحم بسبب مرض. وقد يكون الرجل ذا قدرة جنسية زائدة أو شبق دائم مستمر، وهو لا يكتفي بامرأة واحدة، لعدم استجابتها أحيانا، أو لطروء الحيض عليها أسبوعا في كل شهر على الأقل، فيكون اللجوء للتزوج بزوجة ثانية حاجزا له عن الوقوع في الزنى الذي يضيّع الدّين والمال والصّحة، ويسيء إلى السّمعة.\r[ at-tafsir al-munir 4/242 ]","part":1,"page":130},{"id":131,"text":"ومعنى الآية: إن خفتم أيها الأولياء من الظلم أو عدم العدل في أموال اليتامى وتحرجتم من أكلها بالباطل، فخافوا من الوقوع في ظلم آخر أشد ضررا وهو ظلم النساء بالتزوج بنساء كثيرات، فكان العربي في الجاهلية يتزوج العشر وأكثر وأقل، وفي هذا ظلم مؤكد، وطريق إنهاء هذا الظلم هو بالاقتصار على الزواج عند الحاجة أو الضرورة على أربع كحد أقصى دون تجاوز، بشرط توافر العدل المادي في المعاملة، وبشرط توافر القدرة على الإنفاق. وبما أن تحقق العدل بين النساء أمر صعب ونادر، فإن الشريعة أمرت بالاقتصار على زوجة واحدة، وهذا هو الأصل العام في الإباحة كما قال الله تعالى هنا: فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَواحِدَةً وقال في آية أخرى: وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّساءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ فَلا تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوها كَالْمُعَلَّقَةِ وَإِنْ تُصْلِحُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كانَ غَفُوراً رَحِيماً (129) [النساء: 4/ 129] .\rومن الظلم في مجال الزواج ما يفعله كثير من الرجال من إلجاء المرأة للتنازل عن مهرها كله أو بعضه ليوافق على طلاقها، فالله تعالى أمر بإعطاء النساء كامل مهورهن دون أخذ شيء منه، المعجل والمؤجل، فإن حدث التنازل عن بعض المهر من الزوجة أو من وليها تلقائيا وبرضا مطلق واختيار، دون إكراه مادي أو أدبي، جاز ذلك.\rإن تعدد الزوجات جائز مباح في الإسلام، وليس كل مباح مرغوبا فيه، فهو غير رغوب فيه إلا لحاجة أو ضرورة، مثل معالجة ظرف طارئ عقب الحروب وقتل الرجال وكثرة النساء الأرامل، فيكون التعدد عملا إنسانيا وإنقاذا. وقد يكون التعدد بسبب عقم المرأة، أو بسبب نهم الرجل، أو لأغراض تتعلق بنشر الدعوة الإسلامية مثل تعدد زوجات الرسول صلّى الله عليه وسلّم\r[ at-tafsir al-wasiith 1/282 ].\rLink Asal : www.fb.com/groups/piss.ktb/380428011980013/","part":1,"page":131},{"id":132,"text":"1912. TAFSIR QS FAATHIR 14 : MEREKA TAK DENGAR DAKWAHMU ?\rPERTANYAAN :\rAnfa Hasbiya\rAssalamu'alaikum, mau nanya nih pak ustadz mohon penjelasannya dong dengan ayat ini kadang aku masih bingung meskipun aku juga senang berziaroh kemakam simbah kyai khudlori dan mbah dalhar tolong dijelaskan lagi biar saya tambah mantap ustadz. “Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalaupun mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan pada hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui.” ( QS. Faathir: 14 ).\rJAWABAN :\r> Masaji Antoro\rWa'alaikumsalam Wr Wb\rإِنْ تَدْعُوهُمْ لا يَسْمَعُوا دُعاءَكُمْ وَ لَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجابُوا لَكُمْ وَ يَوْمَ الْقِيامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَ لا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ (14)\rJika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan dihari kiamat mereka akan mengingkari kemusyirikanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui. (QS 35:14).","part":1,"page":132},{"id":133,"text":"قوله تعالى : { إِنْ تَدْعُوهُمْ لا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ } أي إن تستغيثوا بهم في النوائب لا يسمعوا دعاءكم ؛ لأنها جمادات لا تبصر ولا تسمع. { وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا } إذ ليس كل سامع ناطقا. وقال قتادة : المعنى لو سمعوا لم ينفعوكم. وقيل : أي لو جعلنا لهم عقولا وحياة فسمعوا دعاءكم لكانوا أطوع لله منكم ، ولما استجابوا لكم على الكفر. { وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ } أي يجحدون أنكم عبدتموهم ، ويتبرؤون منكم\rFirman Allah Ta’ala “Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu” artinya bila kalian meminta pertolongan pada berhala dan sesembahan selain Allah dalam segala musibah mereka tidak akan mendengarkan doa-doa kalian karena mereka hanyalah benda mati yang tidak dapat melihat dan mendengar.\rFirman Allah Ta’ala “dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu” karena tidak semua yang dapat mendengar dapat berbicara,\rAl-Qataadah berkata artinya bila mereka mampu mendengar niscaya juga tidak bermanfaat untuk kalian, dan sebagian pendapat ulama berkata “Artinya bila Aku (Allah) memberikan akal dan kehidupan untuk mereka kemudian mereka mendengarkan permintaan kalian niscaya mereka lebih taat kepada Allah ketimbang kalian dan tidak akan membenarkan kekufuran kalian.\rFirman Allah Ta’ala “Dan dihari kiamat mereka akan mengingkari kemusyirikanmu” artinya mereka akan mengingkari bahwa kalian pernah menyembahnya dan membersihkan diri dari kalian. [ Al-Jaami’ Li Ahkaam al-Quran 14/337 ].","part":1,"page":133},{"id":134,"text":"أخرج عبد بن حميد وابن جرير وابن المنذر وابن أبي حاتم عن قتادة في قوله { إن تدعوهم لا يسمعوا دعاءكم ولو سمعوا ما استجابوا لكم } أي ما قبلوا ذلك منكم { ويوم القيامة يكفرون بشرككم } قال : لا يرضون ولا يقرون به.... وأخرج ابن أبي حاتم عن السدي في قوله { إن تدعوهم لا يسمعوا دعاءكم } قال : هي الآلهة\rلا تسمع دعاء من دعاها وعبدها من دون الله تعالى { ولو سمعوا ما استجابوا لكم } قال : ولو سمعت الآلهة دعاءكم ما استجابوا لكم بشيء من الخير { ويوم القيامة يكفرون بشرككم } قال : بعبادتكم إياهم\rAbd Bi Hamid, Ibn Jariir, Ibn Mundzir dan Ibn Abu Hatim meriwayatkan dari Qataadah : “Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan dihari kiamat mereka akan mengingkari kemusyirikanmu”. (QS 35:14). Artinya mereka tidak akan rela dan mengakui kalian.... Artinya Tuhan-tuhan sesembahan selain Allah tidak akan mendengar doa-doa orang yang menyembahnya dan bilapun mampu mendengar mereka juga tidak akan dapat memperkenankan kebaikan atas doa-doa kalian. (“Dan dihari kiamat mereka akan mengingkari kemusyirikanmu” )artinya ingkar atas pengabdian yang kalian jalani atas mereka. [ Ad-Durr an-Mantsuur VII/15 ]. Wallaahu A'lamu Bis Showaab.\r> Abdullah Afif\rImam Thabari dalam tafsirnya 20/452-453, maktabah syamilah:","part":1,"page":134},{"id":135,"text":"قوله( إِنْ تَدْعُوهُمْ لا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ يقول تعالى ذكره: إن تدعوا أيها الناس هؤلاء الآلهة التي تعبدونها من دون الله لا يسمعوا دعاءكم؛ لأنها جماد لا تفهم عنكم ما تقولون( وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ ) يقول: ولو سمعوا دعاءكم إياهم، وفهموا عنكم أنها قولكم، بأن جعل لهم سمع يسمعون به، ما استجابوا لكم؛ لأنها ليست ناطقة، وليس كل سامع قولا متيسرًا له الجواب عنه\rMereka' juga berhujjah dengan :\rإِنَّكَ لَا تُسْمِعُ الْمَوْتَى\rINNAKA LAA TUSMI'UL MAUTAA. “Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar”. QS An Naml (27) : 80, dan :\rوَمَا أَنتَ بِمُسْمِعٍ مَّن فِي الْقُبُورِ\rWA MAA ANTA BIMUSMI'IN MAN (BIMUSMI'IMMAN) FIL QUBUUR. “Dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang didalam kubur dapat mendengar”. QS Faathir (35) : 22\rDijawab oleh al Hafizh Ibn Rajab al Hanbali dalam kitab Ahwaalul Qubuur (أهوال القبور ) halaman 132, maktabah syamilah :\rوأما قوله : { إنك لا تسمع الموتى } وقوله : { وما أنت بمسمع من في القبور }\rWA AMMAA QAULUHUU INNAKA LAA TUSMI'UL MAUTAA WAQAULUHUU WA MAA ANTA BIMUSMI'IN MAN FIL QUBUUR. Adapun firman Allah : INNAKA LAA TUSMI'UL MAUTAA ( Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar ) dan firman Allah : WA MAA ANTA BIMUSMI'IN MAN FIL QUBUUR ( Dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang didalam kubur dapat mendengar ).\rفأن السماع يطلق ويراد به إدراك الكلام وفهمه ويراد به أيضا الإنتفاع به والإستجابة له","part":1,"page":135},{"id":136,"text":"FA INNASSAMAA`A YUTHLAQU WA YURAADU BIHII IDRAAKUL KALAAM WA FAHMUHUU, WA YURAADU BIHII AIDHAN AL INTIFAA'U BIHII WAL ISTIJAABAH BIHII. Maka sesungguhnya SAMAA` (mendengar) dikatakan (dimutlakkan), sementara yang dikehendaki mengerti dan memahami kalam (ucapan/omongan), dan dikehendaki juga mengambil manfaat dengan kalam (ucapan / omongan) dan menjawabnya.\rوالمراد بهذه الآيات نفي الثاني دون الأول\rWAL MURAAD BIHAADZIHIL AAYAAT NAFYUTSTTSAANII DUUNAL AWWAL. Dan yang dikehendaki dengan ayat-ayat tersebut adalah menafikan yang kedua (mengambil manfaat dengan ucapan / omongan dan menjawabnya), bukan yang pertama (mengerti dan memahami ucapan/omongan).\rفإنها في سياق خطاب الكفار الذين لا يستجيبون للهدى ولا للإيمان إذا دعوا إليه\rFA INNAHAA FII SIYAAQI KHITHAABIL KUFFAAR ALLADZIINA LAA YASTAJIIBUUNA LIL HUDAA WA LAA LIL IIMAAN IDZAA DU'UU ILAIHI. Ayat-ayat tersebut adalah dalam hubungannya dengan mengajak berbicara dengan kuffar yang tidak mau menjawab / menerima petunjuk dan tidak mau menerima iman ketika mereka diseru kepada iman tersebut. Wallaahu A'lam.\rLink Asal :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/477024318987048/","part":1,"page":136}],"titles":[{"id":1,"title":"Piss-Ktb (5)","lvl":1,"sub":0}]}