{"pages":[{"id":1,"text":"44\r1212. NEGERI IMPIAN NEGERI HARAPAN\rPERTANYAAN :\rRM AT DC\rAslm'alykm.wr.wb. sebelum-na maaf., ana minta' bantuan kepada ikhwan, jika ada yang tau/hafal sbwh hadist atau ayat yang menjelaskn tentang baldatan toyiba, tentang lingkungan, dan krukunan dalam hdp brmasyrkt,Mhn ajarkn pada ana.,Syukran katsir.\rJAWABAN :\rMasaji Antoro\rWa'alaikumsalam wr wb\rلَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ جَنَّتَانِ عَن يَمِينٍ وَشِمَالٍ كُلُوا مِن رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ\rSesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): \"Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun\".[QS. Saba' (34): 15]\r{بلدةٌ طيبةٌ} أي : هذه البلدة التي فيها رزقكم بلدة طيبة ، {وربُّ غفور} أي : وربكم الذي رزقكم وطلب شكركم ربٌّ غفور لمَن شكره. قال ابن عباس : كانت سبأ على ثلاثة فراسخ من صنعاء ، وكانت أخصب البلاد ، فتخرج المرأة على رأسها المكتل ، وتسير بين تلك الشجر ، فيمتلىء المِكْتَل مما يتساقط فيه من الشجر ولقد كان الرجل يخرج لزيارة أقاربه ، وعلى رأسه مكتل ، أو قُفة ، أو طبق فارغ ، فلا يصل إلى حيث يريد إلا والطبق قد امتلأ فاكهة ، مما تسقطه الرياح ، دون أن يمد يده إلى شيء من ثمرها. ومن طيبها : أنها لم تُرَ في بلدهم بعوضة قط ، ولا ذباب ، ولا برغوث ، ولا عقرب ، ولا حية. وإذا جاءهم الركب في ثيابهم القمل والدواب ؛ ماتت الدواب والقمل ؛ لطيب هواها.","part":1,"page":1},{"id":2,"text":"Ibn Abbas ra, berkata “Adalah SABA’ terletak jarak 3 farsakh dari Ibu kota Yaman, Saba’ adalah negeri yang subur, gemah ripah loh jinawi, aneka pepohonan tumbuh rindang dan berbuah lebat disana.\rDigambarkan saat seorang wanita keluar rumah dengan keranjang anyaman diatas kepalanya berjalan diantara pepohonan yang tumbuh dinegeri itu, dipastikan keranjangnya penuh dengan aneka buah-buahan yang berjatuhan.\rDigambarkan saat seorang pria keluar rumah hendak mengunjungi sanak familinya dengan keranjang anyaman atau pinggan diatas kepalanya, dipastikan pinggannya penuh dengan aneka buah-buahan sebelum ia sampai tujuan dengan aneka buah-buahan yang berjatuhan oleh hembusan angin tanpa perlu menjulurkan tangan meraihnya.\rSABA’ adalah negeri nyaman, bersih berudara segar hingga tiada tertemui seekor nyamuk, lalat, kutu, kalajengking dan ular pun disana. Saat datang rombongan tetamu dari negeri lain dengan hewan kutu dan binatang-binatang kotor dipakaiannya, dipastikan binatang-binatang tersebut akan mati oleh kesegaran dan kebersihan udara negeri SABA’. [ Al-Bahr al-Madiid VI/115 ].\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/358358550853626/\r1255. BAGAIMANA HUKUMNYA MENAIKKAN HARGA BBM\rPERTANYAAN :\rAl-Baqir Sun\rAssalamu'alaikum warohmatullohi wa barokatuhu. Bagaimana Hukumnya (Pemerintah) MENAIKKAN harga BBM..... ???... Mohon pencerahannya,,,,,,\rJAWABAN :\r> Abdurrahman As-syafi'i","part":1,"page":2},{"id":3,"text":"Kita diwajibkan taat kepada ulil amri/pemerintah...dengan catatan pemerintah bisa membuat keputusan2 yang membawa kemaslahatan bagi rakyatnya..tidak berbuat dholim disana sini. Masalah kenaikan harga BBM harus kita cermati efek yang timbul, jika mengandung mafsadat yang berat maka hal itu dilarang, tentu saja dengan memandang kepengn masyarakat dan negara, tidak hanya melihat dari satu sudut saja.\r> Dewan Masjid Assalaam\rHarga terbentuk dari mekanisme dalam jual beli, kalau penjual mau jual barangnya dengan harga berapapun ya terserah dia wong itu barang punya dia. Yang jadi kendala, BBM dimiliki oleh negara, sedang negara adalah milik rakyat. Jadi kenaikan harga BBM harus disetujui oleh rakyat yang representasinya ada di DPR.Mekanisme yang ada dalam penentuan harga BBM sudah sesuai dengan prinsip di atas, kalau DPR tidak setuju ya harga tidak akan naik.\r> Mbah Jenggot II\rAkar masalah harus di urai dulu,kenapa Harga BBM naik? karena subsidinya di kurangi. aslinya kan pemerintah menjual BBM di bawah harga (karena adanya subsidi) subsidi tersebut konon katanya akan di alokasikan untuk pendidikan dan pengobatan gratis (meski ini hanya OMDO karena kebocoran di sana-sini ) namun terlepas dari kebocoran yang ada hemat saya mengurangi subsidi BBM dan digunakan untuk hal yang lebih manfaat boleh2 saja.\rالإمامة العظمى الجزء الثانى صـ 357الواجب على الإمام عند صرف الأموال ان يبتدئ فى القسمة بلأهم فالأهم من مصالح المسلمين كعطاء من يخصل للمسلمين منهم منفعة عامة أو للمحتاجين إهـ","part":1,"page":3},{"id":4,"text":"الفوائد الجنية صـ 259إذا تعارض مفسدتان روعي أعظمهما ضررا ودليلنا بول الأعرابي في المسجد وذلك كما في فسق السلطان إذا طرأ ومسئلة التسعير إذا سعر الإمام فإنه يرتكب ولا يخالف ولا يجوز مخالفته (قوله إذا سعر الإمام) أي وفت تسعيره وذلك عند ما يتعدى أرباب الطعام تعديا فاحشا في القيمة ولكن بمشاورة أهل الخبرة وأما عند عدم التعدي الفاحشي فلا يجوز التسعير لحديث لا تسعروا فإن المسعر هو الله (فوله فإنه يرتكب) أي يجب العمل بمقتضى التسعير (قوله ولا يجوز مخالفته) صيانة لحقوق المسلمين من الضياع وقد قالوا إذا خاف الإمام على أهل المصر الهلاك أخذ الطعام من المحتكر وفرقه عليهم فإذا وجدوا ردوا مثله وليس هذا حجرا وإنما هو للضرورة قلت وقد جعلت الحنفية هذه المسئلة فرعا من قاعدة ذكروها في كتبهم وهي يتحمل الضررالخاص لأجل دفع الضرر العام فافهم\rLink Diskusi > www.fb.com/groups/piss.ktb/365891393433675/\r1273. SEPUTAR PEMILIHAN PEMIMPIN DAN UANG SUAPNYA\rPERTANYAAN :\rIkhwanul Khalem\rAssalaamu'alaikum.... InsyaAlloh besok pemilihan/pencoblosan pilkada untuk daerah bekasi. yang saya maw tanyakan adalah,..\r1. gmn hukumnya mnerima uang dari calon2 tersebut???\r2. minta sarannya yang hrz saya plh yang calon model gmn cz smw calon mengobral janji.\r3. ikut berdosakah saya kalau suatu saat calon yang trpilih itu dzholim cz saya wktu tu saya ikut memilihnya.\rKurang lebih demikian dan maturnuwun untuk jawaban dan sarannya.\rJAWABAN :\r> AsSyam Alfarigi\rWaaikumsalam...!\r1.…berdasarkan ajaran nabi Muhammad SAW,adalah haram hukumnya bagi yang menyogok dan yang disogok!","part":1,"page":4},{"id":5,"text":"2.…berdasarkan ajaran Beliau juga mengajarkan sholat istiqoroh, mintalah petunjuk kepada yang Maha tahu yaitu Allah Robbulalamin dalam menentukan pilihan2 tersebutt.\r3.…karena kita tlah memasrah diri kepada Nya dalam menentukan piiihan tersebutt,maka soal pertanggun jawabannya ketika yang terpilih berbuat dzolim,ia sendirilah yang menanggung dosanya sendiri.wasalam...! Wallaahu A'lam Bis showaab\r> Ghufron Bkl\r1. Bila pemberian tersebut untuk menarik simpati maka boleh menerimay tapi jka tjuany untuk di pilih dan terdpat perjanjian yang mengikat mka trmsuk sogok mka harom menerimanya.\r> Mbah Jenggot II\r1. Sepakat dengan kg gufron. pada dasarnya, memilih seorang pemimpin itu dengan tujuan agar mengamalkan kebenaran, menegakkan batasan-batasan agama, menyuruh kebaikan dan mencegah kemungkaran. Bukan memilih karena diberi uang. (Keterangan: Berdasarkan hadits di bawah, hukum haram ini tidak terbatas pada apabila si penerima hadiah tersebut adalah seorang tokoh. Akan tetapi hukum haram ini bersifat umum, baik si penerima rakyat biasa, tokoh masyarakat maupun partai politik). Dasar pengambilan;\r- Shahîh al-Bukhârî; Shahîh Muslim;\r- Fath al-Bârî Syarh al-Bukhârî, juz XIII, hal. 214 dan 218;\r- Faidh al-Qadîr Syarh al-Jâmi’ al-Shaghîr, juz III, hal. 330.","part":1,"page":5},{"id":6,"text":"عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يُزَكِّيْهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ : رَجُلٌ عَلَى فَضْلِ مَاءٍ بِالطَّرِيْقِ يَمْنَعُ مِنْهُ ابْنَ السَّبِيْلِ ، وَرَجُلٌ بَايَعَ إِمَامًا لاَ يُبَايِعُهُ إِلاَّ لِدُنْيَاهُ ، إِنْ أَعْطَاهُ مَا يُرِيْدُ وَفَى لَهُ ، وَإِلاَّ لمَ ْيَفِ لَهُ ، وَرَجُلٌ بَايَعَ رَجُلاً بِسِلْعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ ، فَحَلَفَ بِاللهِ لَقَدْ أُعْطِيَ بِهَا كَذَا وَكَذَا ، فَصَدَّقَهُ فَأَخَذَهَا ، وَلَمْ يُعْطَ بِهَا اهـ رواه البخاري ومسلم\rDari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah saw bersabda: \"Tiga orang yang tidak akan diajak berbicara oleh Allah kelak pada hari kiamat, Allah tidak akan membersihkan mereka dan mereka akan memperoleh siksa yang pedih. Pertama, orang yang memiliki air melebihi kebutuhan dalam perjalanan dan tidak memberikannya kepada musafir (yang membutuhkannya). Kedua, laki-laki yang membai'at seorang pemimpin hanya karena dunia. Apabila pemimpin itu memberinya, ia akan memenuhi pembai'atannya, tetapi apabila tidak diberi, dia tidak akan memenuhinya. Dan ketiga, orang yang menawarkan dagangannya kepada orang lain sesudah waktu asar, lalu dia bersumpah bahwa barang dagangan itu telah ditawar sekian oleh orang lain, lalu pembeli mempercayainya dan membelinya, padahal barang itu belum pernah ditawar sekian oleh orang lain.\" (HR. al-Bukhri dan Muslim).","part":1,"page":6},{"id":7,"text":"قَالَ الْحَافِظُ ابْنُ حَجَرٍ الْعَسْقَلاَنِيُّ الشَّافِعِيُّ فِيْ فَتْحِ الْبَارِيْ : وَاْلأَصْلُ فِيْ مُبَايَعَةِ اْلإِمَامِ أَنْ يُبَايِعَهُ عَلَى أَنْ يَعْمَلَ بِالْحَقِّ وَيُقِيْمَ الْحُدُوْدَ وَيَأْمُرَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ ، فَمَنْ جَعَلَ مُبَايَعَتَهُ لِمَالٍ يُعْطَاهُ دُوْنَ مُلاَحَظَةِ الْمَقْصُوْدِ فِي اْلأَصْلِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًا مُبِيْنًا وَدَخَلَ فِيْ الْوَعِيْدِ الْمَذْكُوْرِ وَحَاقَ بِهِ إِنْ لَمْ يَتَجَاوَزِ اللهُ عَنْهُ ، وَفِيْهِ أَنَّ كُلَّ عَمَلٍ لاَ يُقْصَدُ بِهِ وَجْهُ اللهِ وَأُرِيْدَ بِهِ عَرَضُ الدٌّنْيَا فَهُوَ فَاسِدٌ وَصَاحِبُهُ آثِمٌ، وَاللهُ الْمُوَفِّقُ اهـ فتح الباري شرح صحيح البخاري.\rAl-Hafizh Ibn Hajat al-'Asqalani al-Syafi'i berkata dalam Fath al-Bari: \"Pada dasarnya orang membai'at pemimpin itu bertujuan agar ia melakukan kebenaran, menegakkan batasan-batasan Allah, melakukan amar ma'ruf dan nahi mungkar. Oleh karena itu, barang siapa yang menjadikan pembai'atannya kepada pemimpin karena harta yang diterimanya tanpa melihat tujuan utama, maka dia telah mengalami kerugian yang nyata dan masuk dalam ancaman hadits di atas, serta ia akan celaka apabila Allah tidak mengampunya. Hadits tersebut menunjukkan bahwa setiap perbuatan yang tidak bertujuan mencari ridha Allah, tetapi bertujuan mencari kesenangan dunia, maka amal itu rusak dan pelakunya berdosa. Hanya Allah-lah yang memberikan taufiq-Nya.\"","part":1,"page":7},{"id":8,"text":"قَالَ الشَّيْخُ مُحَمَّدٌ بْنُ عُمَرَ نَوَوِي الْجَاوِيُ: وَأَخْذُ الرِّشْوَةِ بِكَسْرِ الرَّاءِ وَهُوَ مَا يُعْطِيْهِ الشَّخْصُ لِحَاكِمٍ أَوْ غَيْرِهِ لِيَحْكُمَ لَهُ أَوْ يَحْمِلَهُ عَلىَ مَا يُرِيْدُ كَذَا فِي الْمِصْبَاحِ وَقَالَ صَاحِبُ التَّعْرِيْفَاتِ وَهُوَ مَا يُعْطَى لإِبْطَالِ حَقٍّ أَوْ لإِحْقَاقِ بَاطِلٍ اهـ مرقاة صعود التصديق ص 74.\rSyaikh Muhammad bin Umar Nawawi al-Jawi (Syaikh Nawawi Banten) berkata: \"Termasuk perbuatan maksiat adalah menerima suap/risywah. Suap adalah sesuatu yang diberikan kepada seorang hakim atau lainnya, agar keputusannya memihak si pemberi atau mengikuti kemauan pemberi, sebagaimana yang terdapat dalam kitab al-Mishbab. Pengarang kitab al-Ta'rifat berkata: \"Suap adalah sesuatu yang diberikan karena bertujuan membatalkan kebenaran atau membenarkan kesalahan.\" (Mirqat Shu'ud al-Tashidiq, hal. 74).\r> Awan As-Safaritiyy Asy-syaikheriyy\rWa alaikum salam....\r?…jika pemberian itu hanya sekedar untuk menarik simpati maka di perbolehkan,dan bagi si penerima makruh mengambil uang tersebut.krena di dalamya serupa dengan penyuapan(ar risywah).\r?…jika tujuanya agar di pilih dan terdapat perjanjian yang mengikat maka hukumya trmasuk suap (risywah) yaitu haram.dan bagi si penerima haram menerimanya. [ ihya' ulumuddin 2/155-156 ].\rLink Diskusi > www.fb.com/groups/piss.ktb/367910139898467/\r1287. HUKUMAN BAGI KORUPTOR\rPERTANYAAN :\rNalwa Shol\rAssalamu'alaikum... Hukuman apa yang pantas bagi koruptor ?...\rJAWABAN :\r> Ghufron Bkl\rKorupsi termasuk pencuri / ghashab ? kalau pencuri hrus di ptong tangany klob harus mengemblikan harta hasil korupsi.","part":1,"page":8},{"id":9,"text":"> Abdullah Al-Bughisy\rDalam pandangan syari'at, korupsi merupakan pengkhianatan berat (ghulul) terhadap amanat rakyat. Dilihat dari cara kerja dan dampaknya, korupsi dapat dikategorikan sebagai pencurian (sariqoh) dan perampokan (nahb).\r> Masaji Antoro\rWa'alaikumsalam. Yang diperlakuakan dalam ajaran islam bagi seorang KORUPTOR adalah :\r1. Harus melunasi tanggungannya/mengembalikan harta yang ia korupsi\r2. Dihukum dengan potong tangan bahkan hingga hukuman mati.\rثم رأيت فى منهاج العابدين للغزالى أن الذنوب التى بين العباد إما فى المال ويجب رده عند المكنة فإن عجز لفقر استحله فإن عجز عن استحلاله لغيبته أو موته وأمكن التصدق عنه فعله وإلا فليكثر من الحسنات ويرجع إلى الله ويتضرع إليه فى أن يرضيه عنه يوم القيامة .اهـ\r“Kemudian aku melihat dalam kitab Minhaj al-‘Aabidiin karya al-Ghozaly dikatakan : Bahwa dosa yang terjadi antar sesama hamba-hamba Allah adakalanya berhubungan dengan harta benda Dan wajib mengembalikan harta tersebut (pada pemilik harta) bila dalam kondisi berkemungkinan, bila tidak mampu karena kefakirannya maka mintalah halal darinya, bila tidak mampu meminta halal karena ketiadaannya atau telah meninggalnya dan (pemilik tanggungan) berkemungkinan bersedekah, maka bersedekahlah dengan atas namanya, dan bila masih tidak mampu maka perbanyaklah berbuat kebajikan, kembalikan segalanya pada Allah, rendahkanlah diri dihadapanNya agar kelak dihari kiamat Allah meridhoi beban tanggungan harta (yang masih belum tertuntaskan)”. [ Hasyatul Jamal V/388 ].","part":1,"page":9},{"id":10,"text":"التعزير هو التأديب بنحو حبس وضرب غير مبرح كصفح ونفى وكشف رأس وتسويد وجه – إلى أن قال – أما التعزير لوفاء الحق المالى فإنه يحبس إلى أن يثبت إعساره وإذا امتنع من الوفاء مع القدرة ضرب إلى أن يؤديه أو يموت لأنه كالصائل .اهـ\rTa’zir adalah bentuk pembelajajaran tatakrama agar bisa menimbulkan efek jera, dapat dilakukan dengan semacam memenjarakan, memukul dengan tanpa merusakkan anggauata tubuh seperti dengan menampar, mengisolisir, membuka penutup kepala dan mencorengi hitam mukanya... Sedang ta’zir yang diberlakukan atas pengembalian harta benda dilakukan dengan mengekangnya hingga ia jatuh miskin, bila dalam kondisi mampu namun tidak mau mengembalikan harta tanggungannya dengan dipukuli hingga menyakitkannya atau membuatnya mati karena ia seperti SHO’IL (orang yang menjarah hak orang lain). [ Tanwirul Qulub hal. 392 ].\rوَقَالَ مَالِكٌ إنْ كَانَ غَنِيًّا ضَمِنَ وَإِلَّا فَلَا ، وَالْقَطْعُ لَازِمٌ بِكُلِّ حَالٍ وَلَوْ أَعَادَ الْمَالَ الْمَسْرُوقَ إلَى الْحِرْزِ لَمْ يَسْقُطْ الْقَطْعُ وَلَا الضَّمَانُ\rImam Malik berkata “Jika pelaku tindak pencurian merupakan orang kaya, maka ia menanggung pengembaliannyadan jika buka orang kaya maka tidak harus.Dan hukuman potongan tangan tetap berlaku pada semua kondisi, bila ia mengembalikan uang curia ketempat penyimpanan uang (semula) maka juga tidak menggugurkan hukuman potong tangan dan tanggiungjawab mengembalikannya. [ Hasyiyah al-Jamal 21/188 ].\rوالخلاصة: أنه يجوز القتل سياسة لمعتادي الإجرام ومدمني الخمر ودعاة الفساد ومجرمي أمن الدولة، ونحوهم.","part":1,"page":10},{"id":11,"text":"Dan kesimpulannya adalah sungguh boleh menghukum mati sebagai kebijakan bagi orang-orang yang sering melakukan tindakan kriminal, pecandu minuman keras, para penganjur tindakan kejahatan dan pelaku tindakan subversif yang mengancam keamanan negara dan semisalnya. [ Al-Fiqh al-Islaam VII/518 ]. Wallaahu A'lamu Bis Showaab.\rLink Diskusi > www.fb.com/groups/piss.ktb/373008249388656/\r1303. HUKUM DEMONSTRASI\rPERTANYAAN :\rWahyunya Indah\rAssalamu'alaikum..... Ijin tanya untuk para alim dan sedulur PISS-KTB bagaimana hukumnya demonstrasi jika dilihat dari sudut pandang Islam,salam ta'dzim untuk semua warga PISS-KTB,.... ^_^\rJAWABAN :\r> Ghufron Bkl\rDemo boleh bila tidak menimbulkan bahaya pada orang lain. [ Lihat ihya' ulumuddin 2/338 ].\r> Ilman Nafi'an\rAdapun brkata kasar pada pemerintah (yang korup) sepert mengatakan \"wahai pemerintah yang dzolim atau orang-orang yang takut kepada allah\"maka hal itu di tafshil:-kalau bahayanya berimbas kepda orang lain maka tidak di perbolehkam-apbila bahayanya hanya mengenai diri sendiri maka di perbolehkan dan bahkan di sunnahkan.","part":1,"page":11},{"id":12,"text":"Pertentangan yang beresiko dan untuk menjelaskan kemungkaran tanpa memperdulika kesalamatan jiwaya dan pertentangan krena adanya macam2 pnyiksaan mrupakan kebiasaan ulama salaf agar mereka menjadi syuhada'.nabi SAW brsabda:sebaik2ya syuhada' adalah hamzah bin 'abdul muthollib,kmudian sesorang yang brdiri menghdap pemimpin kmudian memerintah dan melarang apa yang di larang dan di perintah allah kemdian pemimpin itu membunuhya karena perbuatan laki-laki itu.nabi SAW brsbda:lebih utama2ya jihad adlah mengatakan yang haq di hadapan pemimpin yang sewenang2. [ ihya' 'ulumud din 2/337 ].\r> Mbah Jenggot II\rHasil Bahtsul Masail FMPP 1995 Ploso Kediri\rUnjuk rasa ( upaya melahirkan rasa kekecewaan serta tuntutan hak ) apabila hak tersebut dibenarkan syara’,dan dengan cara yang juga dibenarkan syara’, hukumnya boleh dan bahkan bisa wajib. Referensi :\r1. Is’adurrofiq juz 2 hal. 139\r2. Al Ihya’ Ulumuddin juz 2 hal. 347 – 348\r3. Tafsir Al Qur’anil ‘Adzim juz 1 hal. 229\r4. Al Majalisus Saniyah hal. 99\r5. Tafsir Ibnu Katsir juz 1 hal. 229\r6. Mafrohul Qulubil Mahzun hal. 63","part":1,"page":12},{"id":13,"text":"1. إسعاد الرفيق ج:2 ص:139 الهداية { ومنها الوصال} ولو نفلا للنهى عنه وفسره فى المجموع بأن يصوم يومين فأكثر من غير تناول مطعوم عمدا والتعبير بمطعوم للغالب فالجماع يمنعه وليست العلة الضعف فقط وإلا لم تزل الحرمة بتناول قطرة ماء ليلا بل مع مراعاة أن ذلك من خصوصياته عليه الصلاة والسلام ففطن الناس عنه ولذا لو ترك غير الصائم الأكل يومين لم يحرم 2. المجالس السنية ص :99 طه فوترا ولنذكر جملة من أنواع الظلم والضرر ليكون الشخص منها على حذر من ذلك المكس وأكل مال اليتيم والمماطلة بحق عليه مع قدرته على وفائه الى أن قال .... ومن الظلم والضرر أيضا عدم إيفاء الأجير حقه اهـ 3. التفسير لابن كثير ج :1 ص :229 شركة النور آسيا{وأنفقوا فى سيبل الله ولا تلقوا بأيديكم الى التهلكة} وذلك أن رجالا كانوا يخرجون فى بعوث يبعثها رسول الله صلى الله عليه وسلم بغير نفقة فإما أن يقطع بهم وإما كانوا عيالا فأمرهم الله أن يستنفقوا مما رزقهم الله ولا يلقوا بأيديهم الى التهلكة والتهلكة أن يهلك الرجال من الجوع والعطش او من المشى اهـ\rWallahu A'lam Bis showaab.\rLink Diskusi > www.fb.com/groups/piss.ktb/370058219683659/\r1328. LIBUR SEKOLAH DI HARI AHAD\rPERTANYAAN :\rFaiz Al Dablegi\rAssalamu alaikum...minta disundulke tentang libur sekolah di hari ahad. ditunggu ???\rJAWABAN :\r> Mbah Jenggot II\rHasil Bahts Masail PWNU Jatim 1981 di PP. Asembagus Situbondo\rPertanyaan : Dewasa ini banyak Madaris Diniyah Islamiyah yang hari liburnya hari ahad bukan hari jum’at.Apakah ini tidak termasuk dalam maqolah :\rمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ\rsehingga hukumnya haram? Dan apabila tidak termasuk dalam maqolah tersebut, sampai dimanakah batas-batas tasyabbuh yang haram itu?\rJawaban :","part":1,"page":13},{"id":14,"text":"Jika bertujuan untuk syi’ar kafir maka haram dan apabila tidak ada tujuan sama sekali maka hukumnya makruh.\rDasar Pengambilan Hukum :\r1. Ahkamu al-Fuqaha, masalah no. 33\rفَالْحَاصِلُ أَنَّهُ إِنْ فَعَلَ ذَلِكَ بِقَصْدِ التَّشَبُّهِ بِهِمْ فِي شِعَارِ الْكُفْرِ كَفَرَ قَطْعاً أَوْ فِي شِعَارِ الْعِيْدِ مَعَ قَطْعِ النَّظَرِ عَنِ الْكُفْرِ لَمْ يَكْفُرْ، وَلَكِنَّهُ يَأْثَمُ وَإِنْ لَمْ يَقْصِدِ التَّشَبُّهَ بِهِمْ أَصْلاً وَرَأْساً فَلاَ شَيْءَ عَلَيْهِ\r\"Ketika berpakaian (tingkah laku) menyerupai orang kafir, untuk syi’ar kekafirannya maka ia kafir dengan pasti ….s/d … seandainya tidak bertujuan menyerupai mereka sama sekali tidak apa-apa baginya tetapi itu makruh\".\r2. Ahkamu al-Fuqaha, juz II, Hlm. 239","part":1,"page":14},{"id":15,"text":"مَا هُوَ التَّشَبُّهُ فِي قَوْلِهِ e مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ فِي هَذَا الزَّمَانِ وَمَا حُكْمُ التَّشَبُّهِ وَهُوَ التَّلَبُّسُ بِمَا يَخْتَصُّ بِقَوْمٍ سَوَاءٌ كَانَ حَسَنًا أَوْ قَبِيْحًا كَالتَّحَلِّى بِوَسَامِ الصَّلِيْبِ وَكَلَبْسِ لِبَاسٍ يُشْعِرُ النَّاسَ بِأَنَّهُ غَيْرُ لِبَاسِ الْمُسْلِمِيْنَ وَكَإِغْلاَقِ الدُّكَّانِ يَوْمَ اْلأَحَدِ وَأَمْثَالِ ذَلِكَ مِمَّا يَطُوْلُ ذِكْرُهُ. وَأَمَّا حُكْمُ التَّشَبُّهِ فَقَدْ قَرَّرَهُ الْمُؤْتَمَرُ الثَّانِي (راجع مسألة 33). وَزِيَادَةٌ عَلَى ذَلِكَ مَا فِي الْجُزءِ الْعَاشِرِ مِنْ فَتْحِ الْبَارِى ص.?73 وَنَصُّهُ: قَالَ الشَّيْخُ أَبُوْ مُحَمَّدٍ بْنُ أَبِي حَمْزَةَ نَفَعَ اللهُ مَا مُلَخَّصُهُ ظَاهِرًا لِلَفْظِ الزَّجْرِ عَنِ التَّشَبُّهِ فِي كُلِّ شَيْئٍ، كَذَا عُرِفَ مِنَ اْلأَدِلَّةِ اْلأُخْرَى أَنَّ الْمُرَادَ التَّشَبُّهُ فِي الزِّيِّ وَبَعْضِ الصِّفَاتِ وَنَحْوِهَا لاَ التَّشَبُّهُ فِي أُمُوْرِ الْخَيْرِ.","part":1,"page":15},{"id":16,"text":"\"Apa pengertian tasabbuh (menyerupai) pada sabda Nabi saw: “Barang siapa yang menyerupai kaum, maka dia dari golongannya” di zaman sekarang, dan bagaimanakah hukum menyerupai seperti menggunakan sesuatu yang menjadi ciri khas sebuah kaum yang baik maupun yang buruk, seperti menggunakan hiasan salib, atau menggunakan pakaian yang menjadi simbol non muslim, atau menutup toko pada hari ahad, dan seterusnya. Adapun hukum menyerupai (non muslim) telah diputuskan dalam Muktamar ke 2, dan sebagaimana yang ada pada fathul barri, Juz X, Hlm. 273. \"Syekh Abu Muhammad bin Abi Hamzah berkata menurut dhoirnya lafadz adalah melarang menyerupai pada setiap sesuatu (dari kafir) begitu juga dalil-dalil lain mengatakan. Maksudnya menyerupai (orang-orang kafir yang dihukumi haram) adalah menyerupai dalam pakaian, hiasan, sifat-sifatnya dan sesamanya bukan menyerupai dalam urusan kebaikan\". [ Sumber : http://solusinahdliyin.net/satta/291-libur-madrasah-hari-ahad.html ]\rLink Diskusi :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/375738189115662/\r3100. HARI LIBUR BELAJAR\rPERTANYAAN :\r> Arif Fivers\rAssalamu'alaikum mau tanya.. Dalam mengaji ada gak yang namanya sunnah istirahat mengaji, Soalnya ada guru ngaji bilang begitu. Disebutkan bahwa sunnah istirahat mengaji itu malam minggu, malam sabtu, dan malam jum'at. Bener gak sih. Tolong jawab ya ustadz..\rJAWABAN :\r> Ical Rizaldysantrialit\rwa'alaikum salam warohmatulloh, lihat Bugyatul Musytarsyidin halaman 83 :","part":1,"page":16},{"id":17,"text":"[فائدة]: المتجة جواز ترك التعليم يوم الجمعة، لأنه يوم عيد مأمور فيه بالتبكير والتنظيف وقطع الأوساخ والروائح الكريهة، والدعاء إلى غروب الشمس رجاء ساعة الإجابة اهـ فتاوى ابن حجر. وفي : أن عمر رضي الله عنه طالت غيبته مدة حتى اشتاق إليه أهل المدينة، فلما قدم خرجوا للقائه، فأول من سبق إليه الأطفال، فجعل لهم ترك القرآن من ظهر يوم الخميس إلى يوم السبت، ودعا على من يغير ذلك اهـ ش ق.\rIni mungkin terjadi di setiap lembaga islam baik pondok pesantren atau tempat pengajian anak-anak di setiap tempat bahwa jika hari kamis sore atau malam jum'at pengajian diliburkan, inilah bedanya dengan pendidikan formal yang libur pada hari minggu, kenapa?\rMenurut pendapat yang diunggulkan, boleh berlibur pada hari jum'at, Karena hari tersebut adalah salah satu hari raya umat islam, dianjurkan tabkir (berangkat untuk sholat jum'at lebih pagi), juga melakukan bersih-bersih seperti mencukur rambut, memotong kuku dll.\rTermasuk kegiatan untuk menghilangkan aroma atau bau yang tidak sedap baik pada badan atau tempat, ada juga anjuran untuk memperbanyak berdo'a sampai matahari terbenam di hari jum'at dengan harapan bertepatan dengan waktu ijabah. Demikian tertulis dalam Fatawi Ibni Hajar.","part":1,"page":17},{"id":18,"text":"Dan dalam kitab I'aab : Bahwa Sayyidina Umar rodhiyallohu anhu suatu ketika melakukan perjalanan dalam waktu yang lama sehingga penduduk madinah merasa rindu, dan ketika Sayyidina Umar tiba, penduduk Madinah keluar untuk menyambut beliau, dan yang pertama menyambut beliau adalah anak-anak kecil, maka beliau meliburkan mereka untuk ta'lim Al-quran mulai wakktu dzuhur di hari Kamis sampai hari Sabtu. Wallohu a'lam bis showab\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/763581913664619/\r1482. KAJIAN KEISLAMAN : FIQIH DAN KEBEBASAN NEGARA\rDari tradisi keilmuagamaan seperti itu sudah tentu logis kalau lalu muncul pandangan kemasyarakatan yang tidak bercorak \"hitam-putih\". Perpautan kedua dimensi duniawi dan ukhrowi dalam kehidupan manusia tidak memungkinkan penolakan mutlak kepada kehidupan dunia maupun kehidupan akhirat. Dengan kata lain, seburuk-buruk kehidupan dunia, ia haruslah dijalani dengan kesungguhan dan ketulusan.\rHal ini sudah tentu ada implikasinya sendiri kepada pandangan kenegaraan yang dianut warga NU yang masih belum kehilangan tradisi keilmu-agamaannya. Kewajiban hidup bermasyarakat, dan dengan sendirinya bernegara, adalah sesuatu yang tidak boleh ditawar lagi. Eksisitensi negara meng-haruskan adanya ketaatan kepada pemerintah sebagai sebuah mekanisme pengaturan hidup, yang dilepaskan dari perilaku pemegang kekuasaan dalam kapasitas pribadi. Kesalahan tindakan atau keputusan pemegang kekuasaan tidaklah meng-haruskan adanya perubahan dalam sistem pemerintahan.","part":1,"page":18},{"id":19,"text":"Konsekuensi pandangan ini adalah keabsahan negara begitu ia berdiri dan mampu bertahan, dan penolakan sistem alternatif sebagai pemecahan masalah-masalah utama yang dihadapi suatu bangsa yang telah membentuk negara. Dengan demikian, cara-cara yang digunakan dalam melakukan per-baikan keadaan senantiasa bercorak gradual. Pandangan tentang negara barulah akan bersifat penolakan bentuk yang ada, jika keseluruhan tradisi keilmuagamaan yang dianut NU telah memberikan legitimasi untuk itu, seperti terjadi dengan \"fatwa perang jihad\" yang dikeluarkan Rais Akbar NU K.H. Hasyim Asy'ari pada permulaan perang kemerdeka-an, yang mendukung bentuk negara baru Republik Indonesia.\rKetentuan yang sama itu juga yang membuat NU menolak kehadiran \"Negara Islam Indonesia\" yang didirikan oleh Kartosuwiryo, bahkan sejak semula para ulama NU telah menyatakannya sebagai bughat(pemberontak) yang harus dibasmi. Untuk keperluan itulah, dikukuhkan kedudukan Kepala Negara Republik Indonesia menjadi waliyyul amri dharuri bissyaukah (pemegang pemerintahan sementara dengan kekuasaan penuh), oleh sebuah pertemuan ulama yang didominir ulama NU.","part":1,"page":19},{"id":20,"text":"Presiden Rl diterima sebagai pemegang pemerintahan, karena negara telah ada dan harus ada yang memimpin. Kedudukannya bersifat sementara (hingga hari kiamat), karena ia tidak di-pilih oleh ulama yang berkompeten untuk itu (ahlul halli wal aqdi), melainkan melalui proses lain, sehingga tidak sepenuhnya memiliki keabsahan dimata hukum fiqh. Namun kekuasaannya tetap harus efektif, karenanya ia berkuasa penuh. Atas dasar kekuasaannya itu, ia berwewenang meng-angkat pejabat-pejabat agama melalui pendelegasian wewenang itu kepada menteri agama. Misalnya saja, penunjukan ketua pengadilan agama sebagai wali hakim dalam kasus-kasus tidak adanya wali bagi gadis dalam pernikahan. Wali hakim (legal guardian) adalah keharusan dalam keadaan seperti itu, guna memperoleh keabsahan perkawinan yang diseleng-garakan dan sudut pandang fiqh.","part":1,"page":20},{"id":21,"text":"Pendekatan serba fiqh atas masalah-masalah kenegaraan itulah yang membuat NU relatif lebih mudah menerima ketentuan pemerintah tentang asas Pancasila dalam kehidupan berorganisasi dewasa ini. Dalam pandangan fiqh asas Pancasila adalah salah satu dan sekian buah persyaratan bagi keabsahan negara Republik Indonesia; hal itupun bukannya persyaratan keagamaan sama sekali. Dengan sendirinya tidak ada alasan apapun untuk menolaknya, selama ia tidak berfungsi mengganti-kan kedudukan agama dalam kehidupan organisasi yang bersangkutan. Islam sendiri dapat saja diletak-kan dalam kedudukan yang berbeda-beda dalam kehidupan organisasi, dalam kurun waktu yang berlainan. Pada suatu saat ia dijadikan asas, di waktu lain dijadikan landasan keimanan (aqidah), karena masalahnya hanyalah sekadar pencapaian legitimasi dalam pandangan fiqh.\rKarenanya, tuduhan oportunistik dalam watak politik NU tidaklah tepat. NU seringkali mengeluarkan keputusan yang secara sepintas lain tampak dibuat sembarangan, yang memenuhi selera penguasa pada satu saat, yang sangat bersifat akomodatif terhadap kepentingan pemerintah pada saat itu. Oportunisme NU itupun seringkali dijadikan kambing hitam bagi tidak konsistennya \"perjuangan Islam\" di Indonesia, dan menjadi casus belli perbedaan tajam dalam strategi perjuangan yang dianut sebagai gerakan Islam di negeri ini. Tuduhan itu dikatakan tidak tepat, karena bagi NU pedomannya bukanlah \"strategi perjuangan politik\" atau \"ideologi Islam\" dalam artiannya yang abstrak, melainkan keabsahan di mata hukum fiqh.","part":1,"page":21},{"id":22,"text":"Fiqh menentukan asas organisasi sebagai hanya salah satu persyaratan hidupnya, sedangkan \"landasan keagamaan\" dapat saja dirumuskan dibagian lain dari anggaran dasarnya, seperti dibuat Munas Alim Ulama NU di Situbondo yang meletakkannya dalam Mukaddimah Anggaran Dasar NU yang akan diubah oleh Muktamar XXVII nanti. Ini memungkinkan penerimaan asas Pancasila. Fiqh menentukan absahnya kekuasaan Presiden Rl sebagai pemegang pemerintahan, karena ia harus ditunduki dan dipatuhi, di hadapkan sebuah Negara Islam Indonesia sekalipun!\rDengan meletakkan kunci masalah pada pengesahan oleh hukum fiqh, NU mampu melaku-kan sebuah proses penyesuaian dengan tuntutan sebuah negara modern, walaupun dalam aspek kenegaraan pandangan serba fiqh itu juga sering merupakan hambatan bagi pemegang pemerintahan untuk melaksanakan wewenangnya. Yang jelas, pandangan seperti itu -bagaimanapun- juga akan sering berbenturan dengan pandangan yang mem-perlakukan Islam sebagai ideologi kemasyarakatan, apalagi ideologi politik. Upaya menampilkan Islam sebagai 'jalan hidup alternatif' yang membentuk sistem kemasyarakatan baru di luar yang telah ada, jelas sulit diterima oleh para ulama NU, kecuali jika telah menjadi bentuk kenegaraan yang memiliki wujud penuh dan mampu mempertahankan diri, seperti Iran, Libya dan Saudi Arabia dewasa ini.","part":1,"page":22},{"id":23,"text":"Landasan penolakan sistem alternatif 'Islam' itu adalah keabsahan bentuk negara yang telah ada. Namun, itu tidak berarti jalannya pemerintahan juga lain terlepas sama sekali dari kendala keagamaan. Bahkan oleh NU diajukan tuntutan agar kebijaksanaan pemerintah senantiasa disesuaikan kepada ketentuan-ketentuan fiqh, sehingga sikap itu sendiri sering diterima oleh kalangan pemerintahan sendiri sebagai \"hambatan\" di kala melaksanakan wewenang mereka. Untuk kepentingan penilaian apakah jalannya pemerintahan tidak bertentangan dengan ketentuan fiqh, digunakan tolok ukur berupa sejumlah kaidah fiqh, seperti \"kebijaksanaan kepala pemerintahan harus mengikufi kesejahteraan rakyat\" (tasharruful imam 'alarraiyyah manutun bil mashlahah).","part":1,"page":23},{"id":24,"text":"Bentuk formal pemerintahan dengan demikian fidaklah menjadi permasalahan bagi NU, selama masih diikuti pola perilaku formal negara yang tidak bertentangan dengan hukum fiqh. Kasus-kasus penyimpangan dari \"pola umum\" perilaku formal negara itu tidaklah sampai kepada penolakan bentuk kenegaraan dan proses pemerintahan yang sudah ada. Sebagaimana yang dikemukakan Menteri Agama Munawir Syadzali dalam sebuah kesempatan, pemikiran para teoretis politik yang besar dalam Islam bukanlah mencari pola idealisasi bentuk kenegaraan yang telah ada. lbn Abi Rubai’, al-Ghazali, lbn Taimiyyah, lbn Khaldun dan al-Mawardi jelas-jelas menempuh perbaikan keadaan secara gradual, dengan mencoba mencarikan masukan dari fiqh untuk menyempumakan bentuk-bentuk negara yang telah ada. Hanyalah al-Farabi yang mencoba menyusun sebuah Utopia berjudul \"Negara Utama\" (Al-Madinah Al-Fadhilah). Kasus-kasus penyimpangan haruslah ditangani secara kasuistik, bukannya dengan menolak kehadiran negara dan mengubah bentuk pemerintahannya.","part":1,"page":24},{"id":25,"text":"Pola berpikir seperti itu jelas harus dikaitkan dengan proses pengambilan keputusan di lingkungan NU sendiri, yang mengutamakan konsensus dalam artiannya yang paling luas. Fiqh, yang dirumuskan oleh para ulama NU sebagai \"pengetahuan tentang hukum-hukum agama yang ditarik dalil-dalil sumbernya\", memberikan peluang sebesar-besarnya bagi semua pendapat untuk muncul dalam perdebatan mengenai sesuatu permasalahan. Spektrum pandangan yang begitu luas, dari yang menyetujuhi hmgga kepada yang menolak sesuatu usul, kemudian akan mengendap menjadi hanya dua atau tiga pendapat utama saja, masih dalam pola setuju atau menolak. Namun, masing-masing memiliki alasannya sendiri yang kuat, sehingga tidak dapat demikian saja diabaikan. Dari posisi seperti itu, akhirnya dipertemukan dalam sebuah sidang yang akan menformalkan pendapat akhir, seperti terjadi pada Munas Alim Ulama di Situbondo.\rDalam keadaan tidak dapat dicarikan pe-mecahan dan disepakati bersama, diambil keputusan untuk mengakui dua atau tiga pendapat utama sebagai pendapat yang sama-sama mengandung kebenaran. Dalam keadaan seperti itu, maka pendapat manapun yang digunakan oleh para warga NU tidak akan disalahkan oleh pihak yang berbeda pendapat. Kasus ini dapat dilihat dalam pendapat tentang DPR-GR (Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royang) pada tahun 1960-an, dengan adanya dua pendapat yang saling bertentangan.","part":1,"page":25},{"id":26,"text":"Pendapat pertama menganggap adalah we-wenang kepala negara untuk membekukan lembaga-lembaga perwakilan, jika di nilainya keadaan mendesak dan dapat menjadi keadaan darurat (Al-haja yanzilu manzilatad dharurah). Jadi ada keperluan untuk membekukan lembaga perwakilan yang ada, dan dengan sendirinya diperlukan gantinya. Karena tidak mungkin diselenggarakan pemilihan umum, kepala negara menggunakan wewenangnya untuk menyusun keanggotaan lembaga perwakilan baru dari keanggotaan lembaga perwakilan yang lama.\rPendapat kedua menganggap tidak sah pembubaran DPR hasil pemilihan umum 1955, karena itu berarti kepala negara menyerobot hak rakyat tanpa alasan yang dapat dipertanggung jawabkan keabsahannya. Jika DPR tidak sah pembubarannya dengan sendirinya tidak dapat digantikan oleh DPR-GR. Dalam keadaan macet dan tidak dapat dipertemu-kan antra kedua pendapat itu, terbuka kemungkinan untuk menerima keanggotaan DPR-GR bagi yang menyetujui pembentukannya, dan juga disahkan penolakan oleh mereka yang tidak menerima keabsahan pembentukannya.","part":1,"page":26},{"id":27,"text":"Mekanisme \"setuju untuk tidak bersetuju\" (agree to disagree) itu menjamin adanya proses tolak-angsur yang sangat fleksibel di lingkungan pengambilan keputusan dalam NU, sehingga dapat terjaga keutuhan organisasi yang senantiasa dipenuhi perbedaan pendapat itu! Walaupun ada juga kelemahan mekanisme pengambilan konsensus untuk setuju (dan juga untuk tidak setuju) seperti itu, seperti lamanya proses pengambilan keputusan dan tidak jelasnya pendapat organisasi dalam suatu masalah; yang jelas ia berhasil menjamin keutuhan NU, tidak sampai pecah menjadi dua seperti oganisasi lain. Demikian pula, dalam hal yang di-sepakati keputusan atasnya, lalu terjadi penerimaan yang tuntas atasnya oleh semua kalangan.\rSebuah kelemahan lain dari sistem pengambilan keputusan berdasarkan konsensus itu adalah relatif mudahnya dijaga status quo dan sulitnya dilakukan perubahan dalam tubuh NU.\rMekanisme \"membenarkan dua pendapat\" di atas belum tentu berarti mudahnya dilakukan percobaan untuk mengubah keadaan. Sebuah cara yang digunakan untuk menembus status quo itu adalah dengan cara \"membudayakan terobosan\". Mereka yang ingin melakukan perubahan, harus memulai-nya di lingkungan sendiri, sudah tentu pula -dengan risiko ditanggung sendiri jika mengalami kegagalan. Jika telah dibuktikan hasil positif dari upaya rintisan itu, barulah akan muncul pengakuan (dan kemudian peniruan) dari kalangan warga NU yang lain, semuanya dalam waktu yang relatif tidak terlalu lama.","part":1,"page":27},{"id":28,"text":"Hal ini dapat dilihat dalam kasus madrasah nizamiah yang dirintis oleh K.H.A. Wahid Hasyim di Pesantren Tebuireng, Jombang, semasa hidup ayahnya, berupa sebuah sistem pendidikan agama dengan kurikulum campuran pada dasawarsa 1930-an. Temyata dalam waktu tidak sampai sepuluh tahun, upaya rintisan itu telah menjadi model utama bagi ratusan madrasah lain yang telah melihat sendiri kualitas tinggi dan para alumninya. Dengan \"budaya terobosan\" seperti itulah derajat toleransi terhadap inovasi di lingkungan NU temyata menjadi cukup besar.\r[ DIKUTIP DARI KUMPULAN ARTIKEL GUS DUR oleh Hakam elChudrie ].\r1491. KEISLAMAN : FATWA SEBAGAI TINDAKAN POLITIK ?\rSekitar tahun 1950 hingga 60-an NU (Nahdlatul Ulama) dituduh oleh sekelompok kalangan telah mengeluarkan Fatwa (pendapat agama) yang men-dukung mantan Presiden Soekarno. Mungkin yang dimaksudkan adalah salah sebuah keputusan Munas (Musyawarah Nasional) Ulama tahun 1957 di Medan, yang menyatakan bahwa Presiden Republik Indonesia adalah “Pejabat Tertinggi Negara Untuk Sementara, Dengan Kekuasaan Efektif” (Waliyul Amri Dlaruri Bissaukah), demikian penulisannya oleh Munas tersebut).","part":1,"page":28},{"id":29,"text":"Sebenarnya “gelar” ini memang dimotori oleh NU, alasanya harus ada kejelasan tentang kedudukan dan status Presiden Republik Indonesia dari sudut pandang hukum agama (fiqh). Tanpa kejelasan tersebut maka akan timbul kebalauan, siapakah yang memberikan wewenang kepada Menteri Agama untuk mengangkat Penghulu guna menetapkan jatuhnya hari-hari besar Islam dalam kehidupan kita tiap tahun. Tanpa Penghulu, tidak akan jelas siapa yang harus menentukan mereka yang memperoleh harta warisan dan mereka yang kawin, cerai dan rujuk.\rPejabat di bidang itu tidak akan bisa di tunjuk oleh Menteri Agama, kalau status dan kedudukan Presiden RI tidak jelas dari sudut pandangan agama. Dengan demikian, wewenang mengikat dari sudut pandang agama Islam untuk Menteri Agama tidak akan ada. Hal itu tidak boleh terjadi, sedangkan dengan status dan wewenang yang jelas, peranan pejabat-pejabat Departemen Agama masih sering “disaingi” oleh keputusan-keputusan yang dikeluar-kan oleh berbagai organisasi Islam, lihat saja PP Muhammadiyah dan PBNU tentang jatuhnya kedua Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha tiap tahun. Dengan membuat keputusan tersebut, kedua organisasi besar itu seolah-olah memerintahkan rakyat mengikuti keputusan mereka, bukan keputusan pemerintah.","part":1,"page":29},{"id":30,"text":"Berbeda dengan negeri-negeri di kawasan Timur Tengah, yang menghargai keputusan Mufhti (pembuat fatwa) dan tidak ada yang membantah atau mengabaikannya. Secara politis, memang ini adalah bukti toleransi pemerintah terhadap organisasi-organisasi Islam di negeri ini. Tetapi ini berarti kebalauan yang segera harus diatasi. Selama hal itu tidak dilakukan, maka kebalauan akan terus-menerus terjadi dalam penentuan hal-hal tersebut.\rUmpamanya, ditetapkan penunjukan seorang Muhfti pun tidak akan dapat memecahkan masalah ini, karena pada kenyataannya keputusan-keputusan itu apakah harus berdasarkan pendirian para pembaharu atau pendirian para pemuka tradisional, yang harus dipakai sebagai “keputusan Islam“?\rDengan perumpaan kasus penentuan hari besar tadi, jelaslah tidak ada satu pihak pun yang “bersalah” dalam hal ini, walaupun gencar sekali pada waktu itu dinyatakan NU sebagai mencampur-adukan masalah-masalah agama dan politik. Keinginan NU untuk memperjelas status dan kedudukan Presiden RI dalam pandangan Islam, dianggap sebagai dukungan terhadap Bung Karno. Hal itu dianggap sebagai “sikap politik”, padahal adalah “pandangan Islam”. Ini adalah salah satu bentuk reaksi terhadap “kegagalan” pembaharuan (reformasi) Islam -terutama diwakili NU- di negeri ini, di hadapan ketundukan masyarakat terhadap “kaum tradisionalis”.","part":1,"page":30},{"id":31,"text":"Seperti kekuatan “kaum pembaharu” dalam birokrasi pemerintah yang masih cukup besar tetapi mereka tidak dapat “menundukkan kaum tradisionalis”. Selama tidak ada ketegasan dari “kaum pembaharu” Islam, maka keadaan tidak menentu akan tetap ada. Ini bukanlah kesalahan satu pihak saja melainkan kesalahan semua pihak.Secara faktual, dalam tahun-tahun belakangan ini dengan semakin terdidiknya para birokrat Departemen Agama, semakin jelas bagi mereka bahwa tidak ada yang dapat melakukan “monopoli kebenaran” diantara umat Islam. Demikian pula jika mengguna-kan ukuran obyektif dari pendidikan yang me-mungkinkan munculnya orang-orang NU dalam deretan birokrat itu. Memang masih terasa adanya kebijakan sepihak dalam bentuk penempatan para birokrat Departemen Agama di tempat-tempat “strategis” dari kalangan pihak yang menguasai pemerintahan, namun hal itu tidak menghalangi tumbuhnya “obyektifitas” oleh lembaga tersebut dalam pengambilan keputusan atas nama agama.\rSebuah fakta lain yang tidak dapat diremehkan adalah adanya kebutuhan untuk mengambil keputusan bersama atas nama Islam diantara berbagai pemerintahan sejumlah negara di ASEAN. Ini mengharuskan pihak Departemen Agama meng-gunakan “ukuran obyektif” yang mengikat semua pihak. Dalam hal ini kedudukan sumber-sumber tertulis (Dalil Naqliyah) menjadi sangat penting, sehingga ia menjadi sumber satu-satunya dalam pengambilan keputusan.","part":1,"page":31},{"id":32,"text":"Peranan “argumentasi rasional” (Dalil ‘Aqliyah) dibuat semakin tidak lazim, sehingga dengan sendirinya ruang untuk bertikai menjadi hampir-hampir tidak ada. Proses ini sebenarnya juga mem-bahayakan, karena salah satu kekuatan Islam sebenarnya terletak pada “penafsiran baru” (re-interpertasi) atas sumber-sumber tertulis (Dalil Naqli) tersebut. Penulis belum dapat mengusulkan pemecahan bagi “proses berpikir keagamaan” ini, yang dalam jangka panjang akan mempersempit pandangan Islam sendiri.\rJelas dari uraian di atas, bahwa apa yang di-sangkakan sebagai “keputusan politik” yang dilaku-kan NU di masa lampau, sebenarnya adalah “keputusan agama” yang harus dimengerti sebab-sebabnya. Kalau tidak, tentu akan dianggap sebagai keputusan politik yang akan menciptakan ke-curigaan besar atas keputusan-keputusan itu sendiri. Tentu saja hal ini harus dikoreksi untuk mencapai “kebenaran relatif” dari keputusan-keputusan NU itu. Mengingat NU adalah organisasi agama Islam terbesar di dunia, tentu saja “obyektifitas” pandangan kita tentang keputusan-keputusan itu sangat diperlukan.\rTentu saja, “keperluan” seperti itu tidak hanya dilakukan secara Ilmiah dan historis belaka, tapi juga berdasarkan “tuntutan keadilan” masyarakat.","part":1,"page":32},{"id":33,"text":"Tiga buah keputusan penting dari NU segera terlintas dalam benak penulis. Pertama, keputusan Muktamar NU di Banjarmasin tahun 1935, dalam bentuk jawaban atas pertanyaan; “Wajibkah seorang muslim mempertahankan kawasan Kerajaan Hindia-Belanda -demikian Indonesia waktu itu dikenal- yang diperintah oleh orang-orang Non-Muslim (Belanda)? Dari Bughyat al-Mustarsydin diambil argumentasi, bahwa kawasan Kerajaan Hindia Belanda yang dahulunya adalah kerajaan Islam, harus dipertahan-kan oleh kaum Muslimin. Di samping itu, Muktamar tersebut mengemukakan sebuah argumentasi baru -yang merupakan reinterpertasi-, bahwa keharusan mempertahankannya juga karena kaum Muslimin di kawasan tersebut bebas melaksanakan ajaran-ajaran agama Islam, dengan tidak dicampuri oleh pemerintahan yang ada.\rArgumentasi tadi, oleh penulis digunakan dalam dua hal. Pertama, menyanggah pendapat Kapolda Jawa Tengah yang ingin membubarkan Pesantren al-Mukmin di Ngrungki, Solo. Penulis menentang hal itu, karena selayaknya pemerintah tidak campur tangan dalam menentukan nasib sebuah lembaga agama, biarlah masyarakat yang melakukan hal itu bukannya pemerintah. Kedua, penulis beranggapan bahwa Konghucu adalah sebuah agama karena masyarakat Tionghoa sendirilah (terutama pemeluknya) yang berhak menentukan, apakah Konghucu sebuah agama atau bukan. Bukannya pemerintah, yang seharusnya hanya berfungsi melayani saja dan tidak boleh menentukan faham tersebut sebuah agama atau bukan. Ini jelas berbeda dari pandangan para birokrat pemerintah, terutama dari Orde Baru. Pendapat ini cukup sederhana untuk diterapkan bukan?","part":1,"page":33},{"id":34,"text":"[ DIKUTIP DARI KUMPULAN ARTIKEL GUS DUR oleh Hakam elChudrie ].\r1492. KEISLAMAN : SEMUA BERSUMBER DARI PENDANGKALAN\rPada sebuah diskusi beberapa tahun yang lalu di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta, penulis dikritik oleh dari Yusril Ihza Mahendra, sekarang Menteri Kehakiman dan HAM. Kata Bang Yusril, ia kecewa dengan penulis karena bergaul terlalu erat dengan umat Yahudi dan Nasrani. Bukankah kitab suci al-Quran menyatakan salah satu tanda-tanda seorang muslim yang baik adalah “bersikap keras terhadap orang kafir dan bersikap lembut terhadap sesama muslim (Asyidda a’la al-kuffar ruhama baynahum).\rMenanggapi hal itu, penulis menjawab, sebaiknya bang Yusril mempelajari kembali ajaran Islam, dengan mondok di pesantren. Karena ia tidak tahu, bahwa yang dimaksud al-Qur'an dalam kata “kafir” atau “kuffar” adalah orang-orang musyrik (polytheis) yang ada di Mekkah, waktu itu. Kalau hal ini saja, bang Yusril tidak tahu, bagaimana ia berani mengemukakan hal itu?","part":1,"page":34},{"id":35,"text":"Berdasar kenyataan itu, penulis tidak begitu heran dengan terjadinya kekerasan di Maluku, Poso, Aceh dan Sampit. Penulis mengutuk peledakan bom di Legian, Bali, karena itu berarti pembunuhan atas begitu banyak orang yang tidak bersalah. Tetapi kutukan itu, tidak berarti penulis heran atas terjadi-nya peledakan bom itu. Karena dalam pandangan penulis, hal itu terjadi akibat para pelakunya tidak mengerti, bahwa Islam tidak membenarkan tindak kekerasan dan diskrimanatif. Satu-satunya pem-benaran bagi tindakan kekerasan secara individual adalah, jika kaum muslimin di usir dari rumahnya (Idza ukhrizu min diyarihim). Karena itulah, ketika harus meninggalkan Istana Merdeka, penulis me-minta Luhut Panjaitan mencari surat perintah dari Lurah sekalipun.\rSebabnya, karena ada perintah lain dalam Sunny tradisional yang diyakini penulis, untuk taat pada pemerintah. Berdasar ayat kitab suci itu, “taatlah kalian pada Allah, pada utusan-Nya dan pada pemegang kekuasaan pemerintahan” (Athi u’ allaha wa al-rasullah wa uli al-amri minkum). Pak Luhut Panjaitan mencarikan surat perintah itu dari seorang Lurah, dan penulis sebagai warga negara dan rakyat biasa –karena lengser dari jabatan kepresidenan— mengikuti perintah tersebut. Soal bersedianya penulis lengser dari jabatan kepresidenan, karena penulis mengaggap tidak layak jabatan setinggi apapun di negeri ini, dipertahankan dengan pertumpahan darah. Padahal waktu itu, sudah ada pernyataan yang ditandatangani 300.000 orang akan mendukung penulis mempertahankan jabatan kepresidenan, kalau perlu mengorbankan nyawa.","part":1,"page":35},{"id":36,"text":"Tindak kekerasan –walaupun atas nama agama— dinyatakan oleh siapapun dan dimana pun sebagai terorisme. Beberapa tahun sebelum menjabat sebagai Presiden, penulis merencanakan berkunjung ke Israel untuk menghadiri pertemuan para pendiri Pusat Perdamaian Shimon Peres di Tel Aviv. Sebelum keberangakatan ke Tel Aviv, penulis menerima rancangan pernyataan bersama, yang oleh Rabi Kepala Sevaflim Eli Bakshiloron. Dalam rancangan pernyataan itu, terdapat pernyataan penuli dan Rabai yang menyatakan “berdasarkan keyakinan agama Islam dan Yahudi, menolak penggunaan kekerasan yang berakibat pada matinya orang-orang yang tidak berdosa”. Pengurus Besar NU mengutus Wakil Rais Aam, KH Sahal Mahfudh untuk memeriksa rancangan pernyataan itu. KH Sahal Mahfudh meminta kata-kata “tidak berdosa” diubah menjadi “tidak bersalah”.\rMengapa demikian? Karena, yang menentukan seseorang itu berdosa atau tidak adalah Allah SWT. Sedangkan salah atau tidaknya seseorang oleh hakim atau pengadilan, berarti oleh sesama manusia. Penulis menerima keputusan itu dan perubahan rancangan pernyataan tersebut, juga diterima oleh Rabi Eli Bakshiloron.","part":1,"page":36},{"id":37,"text":"Ketika tiba di Tel Aviv, penulis bersama Rabi Eli langsung menuju kantornya di Yerusalem. Di tempat itu, penulis dan Rabi Eli menandatangani per-nyataan bersama itu di depan publik dan media massa. Ini menunjukkan bahwa, Nahdlatul Ulama sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia –bahkan menurut statistik sebagai organisasi Islam terbesar di dunia- menolak terorisme dan pengunaan kekerasan atas nama agama sekalipun. Karena itu, kita mengutuk peledakan bom di Bali dan meng-anggapnya sebagai “tindak kejahatan/kriminal” yang harus dihukum.\rKeseluruhan penolakan penulis itu, bersumber pada pendapat agama yang tercantum dalam literatur keagamaan (al-kutub al-muqarrahrah), jadi bukannya isapan jempol penulis sendiri. Mengapa demikian? Karena Islam adalah agama hukum, karenanya setipa sengketa seharusnya diselesaikan berdasarkan hukum. Dan karena hukum agama dirumuskan sesuai dengan tujuannya (al-amru bima qashidiha), maka kita patut menyimak pendapat mantan ketua Mahkamah Agung Mesir, al-Asmawi. Menurutnya, “hukum barat” dapat dijadikan “hukum Islam”, jika memiliki tujuan yang sama. Hukum pidana Islam (zarimah), menurut al-Asmawi, sama dengan hukum pidana barat, karena sama ber-fungsi dan bertujuan menahan (defences) dan meng-hukum (punishment).","part":1,"page":37},{"id":38,"text":"Namun, mengapa terorisme dan tindak kekerasan yang lain masih juga dijalankan oleh sebagian kaum muslimin? Kalau memang benar kaum muslimin melakukan tindakan-tindakan tersebut, jelas bahwa mereka telah melanggar ajaran-ajaran agama. Pertanyaan di atas dapat dijawab dengan sekian banyak jawaban, antara lain rendahnya mutu sumber daya manusia pada para pelaku tindak kekerasan dan terorisme itu sendiri. Mutu yang rendah di kalangan kaum muslimin, dapat dikembalikan kepada aktifitas imperalisme dan kolonialisme yang begitu lama menguasai kaum muslimin. Ditambah lagi dengan, orientasi pemimpin kaum muslimin yang sekarang menjadi elite politik nasional. Mereka selalu mementingkan kelompoknya sendiri dan membangun masyarakat Islam yang elitis.\rApa pun bentuk dan sebab tindak kekerasan dan terorisme, seluruhnya bertentangan dengan ajaran Islam. Hal ini adalah kenyataan yang tidak dapat dibantah, termasuk oleh para pelaku kekerasan dan terorisme yang mengatasnamakan Islam.\rPenyebab lain dijalankannya tindakan-tindakan yang telah dilarang Islam itu -sesuai dengan ajaran kitab suci al-Qur'an dan ajaran nabi Muhammad SAW- adalah proses pendangkalan agama Islam yang berlangsung sangat hebat. Walau kita lihat, adanya praktek imperialisme dan kolonialisme atau kapitalisme klasik di jaman ini terhadap kaum muslim, tidak berarti proses sejarah itu memper-kenankan kaum muslim untuk bertindak kekerasan dan terorisme.","part":1,"page":38},{"id":39,"text":"Harus kita pahami, bahwa dalam sejarah Islam yang panjang, kaum muslim tidak menggunakan kekerasan dan terorisme untuk memaksakan kehendak. Lalu, bagaimanakah cara kaum muslimin dapat mengadakan koreksi terhadap langkah-langkah yang salah, atau mencari “responsi yang benar” atas tantangan berat yang dihadapi?\rJawabannya, yaitu dengan mengadakan pe-nafsiran baru (re-interpretasi). Melalui mekanisme inilah, kaum muslimin melakukan koreksi atas kesalahan-kesalahan yang diperbuat sebelumnya, maupun memberikan responsi yang memadai atas tantangan yang dihadapi. Jelas, dengan demikian Islam adalah “agama kedamaian” bukannya “agama kekerasan”. Proses sejarah Islam di kawasan ini, adalah bukti nyata akan hal itu, walaupun di kawasan-kawasan lain, masih juga terjadi tindak kekerasan –atas nama Islam— yang tidak diharapkan. Mudah dalam prinsip, namun sulit dalam pelaksanaan bukan?\r[ DIKUTIP DARI KUMPULAN ARTIKEL GUS DUR oleh Hakam elChudrie ]\r1496. TAAT KEPADA PEMERINTAH\rPERTANYAAN :\rPatuh pada aturan pemerintah adalah wajib hukumnya, ketika aturan itu mengandung maslahat sebagaimana yang telah kita maklumi bersama. Penilaian siapakah (rakyat ataukah pemerintah) yang menjadi ukuran dari maslahat dimaksud ? Sehingga ketika menurut pemerintah maslahat tapi menurut rakyat tidak, apakah masih wajib taat ?\rJAWABAN :\rMenurut penilaian Imam dengan berpijak pada maslahah yang ditetapkan oleh syara’ hanya saja apabila Imam tidak mampu ijtihad sendiri maka harus bermusyawarah dengan tim ahlinya sehingga rakyat harus taat pada kebijakan Imam.\rReferensi :\r1. الاشباه والنظائر ص : 83","part":1,"page":39},{"id":40,"text":"تصرف الامام على الرعية منوط بالمصلحة هذه القاعدة نص عليها الامام الشافعي وقال منزلة الامام من الرعية منزلة الولي من اليتيم\r2. المواهب السنية ص : 185\rفيلزم الامام ونحوه في التصرف على الانام منهج أي طريق الشرع الوفى فما حلله فعله وما حرمه تركه فيحفظ أموال الغائبين ويفعل فيها ما فيه المصلحة\r3. أصول الفقه لأبى زهرة ص : 279\rقرر كل مصلحة تكون من جنس المصالح التى يقررها الشارع الإسلامى بأن يكون فيها محافظة على النفس أو الدين أو النسل أو المال ولكن لم يشهد لها أصل خاص حتى تصلح قياسا فإنها يؤخذ بها على دليل قائم بذاته وهذه هى التى تسمى مصلحة مرسلة أو استصلاحا\r4. قواعد الأحكام فى مصالح الأنام الجزء الأول ص : 28 – 29","part":1,"page":40},{"id":41,"text":"في بيان تقسيم المصالح والمفاسد المصالح والمفاسد أقسام: أحدها: ما تعرفه الأذكياء والأغبياء الثاني ما يختص بمعرفته الأذكياء الثالث ما يختص بمعرفته الأولياء لأن الله تعالى ضمن لمن جاهد في سبيله أن يهديه إلى سبيله فقال: والذين جاهدوا فينا لنهدينهم سبلنا ولأن الأولياء يهتمون بمعرفة أحكامه وشرعه فيكون بحثهم عنه أتم واجتهادهم فيه أكمل مع أن من عمل بما يعلم ورثه الله علم ما لم يعلم وكيف يستوي المتقون والفاسقون ؟ لا والله لا يستوون في الدرجات ولا في المحيا ولا في الممات والعلماء ورثة الأنبياء فينبغي أن يعرضوا عن الجهلة الأغبياء الذين يطعنون في علومهم ويلغون في أقوالهم ويفهمون غير مقصودهم كما فعل المشركون في القرآن المبين فقالوا: لا تسمعوا لهذا القرآن والغوا فيه لعلكم تغلبون فكما جعل لكل نبي عدوا من المجرمين , جعل لكل عالم من المقربين عدوا من المجرمين فمن صبر من العلماء على عداوة الأغبياء كما صبر الأنبياء نصر كما نصروا وأجر كما أجروا وظفر كما ظفروا وكيف يفلح من يعادي حزب الله ويسعى في إطفاء نور الله ؟ والحسد يحمل على أكثر من ذلك فإن اليهود لما حسدوا الرسول عليه السلام حملهم حسدهم على أن قاتلوه وعاندوه مع أنهم جحدوا رسالته وكذبوا مقالته\r5. المجموع الجزء التاسع ص : 351 – 352","part":1,"page":41},{"id":42,"text":"(فرع) قال الغزالي: إذا وقع في يده مال حرام من يد السلطان قال قوم: يرده إلى السلطان فهو أعلم بما يملك ولا يتصدق به واختار الحارث المحاسبي هذا وقال آخرون: يتصدق به إذا علم أن السلطان لا يرده إلى المالك لأن رده إلى السلطان تكثير للظلم قال الغزالي: والمختار أنه إن علم أنه لا يرده على مالكه فيتصدق به عن مالكه (قلت) المختار أنه إن علم أن السلطان يصرفه في مصرف باطل أو ظن ذلك ظنا ظاهرا لزمه هو أن يصرفه في مصالح المسلمين مثل القناطر وغيرها فإن عجز عن ذلك أو شق عليه لخوف أو غيره تصدق به على الأحوج فالأحوج وأهم المحتاجين ضعاف أجناد المسلمين وإن لم يظن صرف السلطان إياه في باطل فليعطه إليه أو إلى نائبه إن أمكنه ذلك من غير ضرر لأن السلطان أعرف بالمصالح العامة وأقدر عليها فإن خاف من الصرف إليه ضررا صرفه هو في المصارف التي ذكرناها فيما إذا ظن أنه يصرفه في باطل\r6. حواشى الشروانى وابن قاسم الجزء الأول ص : 471\rوقد صرحوا بأن الإمام إنما يفعل ما فيه مصلحة للمسلمين ومتى فعل خلاف ذلك لا يعتد بفعله ونقل عن م ر ما يوافق إطلاق شرحه من صحة توليته اهـ ويأتي عن الزيادي ما يوافق كلام الشارح\r7. تفسير المنير الجزء الأول ص : 174\rقوله إذا سعر الإمام أى وقت تسعيره وذلك عند ما يتعدى أرباب الطعام تعديا فاحشا فى القيمة لكن بمشاورة أهل الخبرة وأما عند عدم التعدى الفاحش فلا يجوز التسعير\r8. بغية المسترشدين ص : 91 دار الفكر","part":1,"page":42},{"id":43,"text":"(مسألة ك) يجب امتثال أمر الإمام فى كل ما له فيه ولاية كدفع زكاة المال الظاهر فإن لم تكن له فيه ولاية وهو من الحقوق الواجبة أو المندوبة جاز الدفع إليه والاستقلال بصرفه فى مصارفه وإن كان المأمور به مباحا أو مكروها أو حراما لم يجب امتثال أمره فيه كما قاله م ر وتردد فيه فى التحفة ثم مال إلى الوجوب فى كل ما أمر به الإمام ولو محرما لكن ظاهرا فقط وما عداه إن كان فيه مصلحة عامة وجب ظاهرا وباطنا وإلا فظاهرا فقط أيضا والعبرة فى المندوب والمباح بعقيدة المأمور ومعنى قولهم ظاهرا أنه لا يأثم بعدم الامتثال ومعنى باطنا أنه يأثم اهـ قلت وقال ش ق والحاصل أنه تجب طاعة الإمام فيما أمر به ظاهرا وباطنا مما ليس بحرام أو مكروه فالواجب يتأكد والمندوب يجب وكذا المباح إن كان فيه مصلحة كترك شرب التنباك إذا قلنا بكراهته لأن فيه خسة بذوى الهيآت وقد وقع أن السلطان أمر نائبه بأن ينادى بعدم شرب الناس له فى الأسواق والقهاوى فخالفوه وشربوا فهم العصاة ويحرم شربه الآن امتثالا لأمره ولو أمر الإمام بشىء ثم رجع ولو قبل التلبس به لم يسقط الوجوب اه\r> Bang Kumis\rPENGALOKASIAN SESUATU OLEH IMAM DIDASARKAN DENGAN KEMASHLAHATAN RAKYATNYA SEPERTI KAEDAH YANG TELAH DIJELASKAN OLEH IMAM SYAFI`I,KEDUDUKAN IMAM SEPERTI HALNYA KEDUDUKAN SEORANG WALI YATIM YANG HARUS SANGAT MEMPERHATIKAN HAL-HAL YANG BERKAITAN DENGAN SI YATIM TERSEBUT,BERARTI JIKA DALAM NEGARA,PEMERINTAH HARUS MEMPERTIMBANGKAN KEBAUKAN YANG YANG BISA MENSEJAHTERAKAN RAKYATNYA. [ LO SUMBRNYA DARI KITAB ASYBAH WAN NADLOIR HAL 83,MAWAHIB ASSANIYAH HAL:185,USUL FIQH LI ABI ZURUH HAL 279, QOWAIDUL AHKAM HAL 28-29 ].\r> Harum Merekah","part":1,"page":43},{"id":44,"text":"تعتبر القوانين والقرارات واللوائح مملكة التشريع الإسلام لأن الشريعة تعطي لأولي الأمر حق التشريع فيما يمس مصلحة الأفراد ومصلحة الجماعة بالنفع فللسلطة التشريعية في أي بلد الإسلامي إن تعاقب على أي فعل مباح إذا اقتضت المصلحة العامة ذلك --- إلى أن قال --- القوانين والقرارات واللوائح التي تصدها السلطة التشريعية تكون نافذة واجبة الطاعة شرعا بشرط أن لا يكون فيها يخالف نصوص الشريعة الصريحة أو يخرج على مبادئها العامة وروح التشريع فيها وإلا فهي باطلة بطلانا مطلقا. اهـ.\r“Undang-undang keputusan dan program pemerintah dianggap sebagai program penyempurna syari’at Islam karena syari’at memberikan hak kepada pemerintah untuk membuat undang-undang yang menyentuh kemaslahatan dan memberikan manfaat kepada individu dan kelompok. Kekuasaan perundang-undang dalam negeri Islam manapun diperbolehkan untuk memberikan sanksi hukum terhadap perbuatan mubah (yang dilakukan masyarakat), ketika kemaslahatan umum menuntut demikian....... undang-undang keputusan dan program yang dikeluarkan kekuasaan perundangan merupakan hal berlaku dan wajib ditaati secara syar’I dengan syarat tidak bertentanggan dengan nash-nash yang jelas, prinsip-prinsip umum dan subtansi syari’at, apabila bertentangan dengan hal-hal yang disebutkan terakhir, maka undang-undang keputusan dan program pemerintah tersebut batal” [ attasyri'' al jana'i juz 1 hal 181ـ ].\r1505. HUKUM MEMILIH PEMIMPIN NON MUSLIM\rPERTANYAAN :\rFarida Sya'bani\rKalau memilih calon tapi non muslim, pripun mbah...?\rJAWABAN :\r> Abdurrahman As-syafi'i\rTidak boleh memilih pemimpin non muslimBeberapa anjuran ini sudah banyak termaktub dalam alquran diantaranya;","part":1,"page":44},{"id":45,"text":"ياايها الذين امنوا لاتتخذوا اليهود و النصرى اولياء بعضهم او لياء بعض ومن يتولهم منكم فانه منهم ان الله لا يهدى القوم الظلمين المائدة 51\rHai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang yahudi dan nasroni menjadi pemimpin pemimpin (mu).Sebahagian mereka adalah pemimpin sebahagian yang lain.barang siapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin,maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.sesungguhnya Alah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang dholim.\rKeterangan ayat pendukung-. Surat annisa ayat 59,83,141-surat al imron 118\rتسليطه على المسلمين قوله ولا يستعان فيحرم الا لضرورة المحلي على المنهاج 4/172\rOrang islam tidak boleh meminta bantuan kepada orang kafir,karena haram menguasakan orang kafir terhadap umat islam kecuali karena dhorurot\rنعم ان قتضت المصلحة توليته في شىء لا يقوم به غيره من المسلمين او ظهر من المسلمين خيانة و امنت في ذمي فلا يبعد جواز توليته لضرورة القيام بمصلحة ما ولى فيه، و مع ذلك يجب على من ينصبه مراقبته و منعه من التعرض لاحد من المسلمين الشرواني على التحفة 9/72—73\rJika suatu kepentingan mengharuskan penyerahan yang tidak bisa dilakukan orang lain dari kalangan umat islam atau tampak adanya sifat khianat pada diri si pelaksana dari kalangan umat islam dan akan aman di tangan kafir dzimmi,maka boleh menyerahkannya karena darurat.Namun,bagi pihak yang menyerahkan harus ada pengawasan terhadap orang kafir tersebut dan mampu mencegahnya dari adanya gangguan terhadap siapapun dari kalangan umat islam.\r> Mbah Jenggot II\rTambahan ta`bir :","part":1,"page":45},{"id":46,"text":"الشروانى الجزء التاسع ص 72-73نعم ان اقتضت المصلحة توليته فى شئ لايقوم به غيره من المسلمين او ظهر فيمن بقوم به من المسلمين خيانة وامنت فى ذمى ولو لخوفه من الحاكم مثلا فلا يبعد جواز توليته لضرورة القيام بمصلحة ما ولى فيه, ومع ذلك يجب على من ينصبه مراقيتة ومنعه من التعرض لأحد من المسلمين بما فيه استعلاء المسلمين\rAde Afifah lebih mantap mana dengan ibaroh ini\rففي تفسير أيات الأحكام الجزء الأول صحيفة 403 ما نصه :\rالحكم الثالث : هل يجوز تولية الكافر واستعماله في شؤون المسلمين ؟ استدل بعض العلماء هذه الأيات الكريمة على أنه لا يجوز تولية الكافر شيئا من أمور المسلمين ولا جعلهم عمالا ولا خداما كما لا يجوز تعظيمهم وتوقيرهم في المجلس والقيام عند قدومهم فإن دلالته على التعظيم واضحة وقد أمرنا باحتقارهم (إنما المشركون نجس). اهـ.\r> Muhammad Ahmad\rKita ke Tuhfahnya dulu :\rولايستعان عليهم بكافر ذمي او غيره إلا إن اضطررنا لذلك. ظاهر كلامهم ان ذلك لا يجوز ولو دعت الضرورة. لكنه فى التتمة صرح بجواز الإستعانة به اى الكافر عند الضرورة\rSaya kutip dari kitab al talkhiish\r(التلخيص الحبير في تخريج أحاديث الرافعي الكبير)\rkarya al hafzh Ibnu Hajar........\rImam Rafi'i (pensyarah kitab al Wajiz) mengutip dua buah hadits: Pertama: Yang melarang minta tolong orang musyrik yaitu :\rأن النبي صلى الله عليه وسلم خرج إلى بدر ، فتبعه رجل من المشركين ، فقال : تؤمن بالله ورسوله ؟ قال : لا ، قال : فارجع فلن نستعين بمشرك\rdan juga :\rخرج رسول الله صلى الله عليه وسلم حتى إذا خلف ثنية الوداع ، إذا كتيبة قال : من هؤلاء ؟ قالوا : بني قينقاع رهط عبد الله بن سلام ، قال : وأسلموا ؟\rKedua: yang berbeda, yaitu :\rأن رسول الله صلى الله عليه وسلم استعان بناس من اليهود في حربه ، وأسهم لهم\rdan juga :","part":1,"page":46},{"id":47,"text":"أنه صلى الله عليه وسلم استعان بيهود بني قينقاع في بعض الغزوات ، ووضع لهم\rdan berikut komentar al Hafizh :\rويجمع بينه وبين الذي قبله بأوجه ذكرها المصنف ، منها : وذكرها البيهقي عن نص الشافعي : { أن النبي صلى الله عليه وسلم تفرس فيه الرغبة في الإسلام ، فرده رجاء أن يسلم فصدق ظنه } وفيه نظر من جهة التنكير في سياق النفي ، ومنها : أن الأمر فيه إلى رأي الإمام ، وفيه النظر بعينه ، ومنها : أن الاستعانة كانت ممنوعة ، ثم رخص فيها وهذا أقربها ، وعليه نص الشافعي .\rfokus :\rأن الاستعانة كانت ممنوعة ، ثم رخص فيها وهذا أقربها\r> Mbah Jenggot II\rالاستعانة hemat saya tidak sama dengan تولية .\rعبارة المغني والنهاية ظاهر كلامهم أن ذلك لا يجوز ولو دعت الضرورة إليه لكنه في التتمة صرح بجواز الاستعانة به أي الكافر عند الضرورة وقال الأذرعي وغيره أنه المتجه اهـ. قول المتن بكافر أي لأنه يحرم تسليطه على المسلم نهاية ومنهج زاد المغني ولذا لا يجوز لمستحق القصاص من مسلم أن يوكل كافرا في استيفائه ولا للإمام أن يتخذ جلادا كافرا لإقامة الحدود على المسلمين اهـ. وقال ع ش بعد نقل ما ذكر عن الزيادي أقول وكذا يحرم نصبه في شيء من أمور المسلمين نعم إن اقتضت المصلحة توليته في شيء لا يقوم به غيره من المسلمين أو ظهر فيمن يقوم به من المسلمين خيانة وأمنت في ذمي ولو لخوفه من الحاكم مثلا فلا يبعد جواز توليته فيه لضرورة القيام بمصلحة ما ولي فيه ومع ذلك يجب على من ينصبه مراقبته ومنعه من التعرض لأحد من المسلمين بما فيه استعلاء على المسلمين اهـ","part":1,"page":47},{"id":48,"text":"ولا يستعان عليهم بكافر ) ولو ذميا ؛ لأنه يحرم تسليطه على المسلم ، ولأن القصد ردهم للطاعة ، والكفار يتدينون بقتلهم ، نعم يجوز الاستعانة بهم عند الضرورة كما نقله الأذرعي وغيره عن المتولي وقالوا : إنه متجه ، وعلم أنه لا يجوز له أن يحاصرهم ويمنعهم الطعام والشراب ( ولا بمن يرى قتلهم مدبرين ) [ ص: 408 ] لعداوة أو اعتقاد كالحنفي والإمام لا يرى ذلك إبقاء عليهم ، فلو احتجنا للاستعانة به جاز إن كان فيه جراءة وحسن إقدام وتمكنا من منعه لو اتبع منهزما ، والأوجه أن ما ذهب إليه الإمام زيادة على ذلك من أن نشترط ذلك عليهم ونثق بوفائهم به ليس بشرط ؛ إذ في قدرتنا على دفعهم غنية عن ذلك\rLink Diskusi :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/409448409077973/\r1736. POLITIK UANG DALAM PILKADA\rPERTANYAAN :\rSunde Pati","part":1,"page":48},{"id":49,"text":"Suatu hari di salah satu ruangan di gedung MPR/DPR. Seorang anggota dewan yang baru diangkat, tampak masih canggung, lugu dan serba kikuk.Rupanya dia wakil dari daerah dan belum pernah bekerja atau punya ruangan yang megah. Beberapa saat kemudian, ada yang mengetuk pintu ruangannya.Setelah dibuka, berdiri dihadapannya 2 orang dengan kopor besar dan segulungan kabel. \"Wah..., ini pasti wartawan TV yang mau mewawancarai aku...\", pikirnya dalam hati.Agar tampak berwibawa dan membela rakyat, sambil melihat jam dan mengangkat telepon dia berkata: \"Maaf tunggu sebentar, saat ini saya harus menghubungi ketua fraksi untuk melaporkan hasil-hasil sidang hari ini...\"Kemudian selama beberapa puluh menit dia menelpon dan terlibat pembicaraan tingkat tinggi, sambil sekali-sekali menyebut-nyebut 'demi rakyat' atau 'kepentingan rakyat' keras-keras. Setelah selesai sambil meletakan gagang telepon dia berkata pada dua orang tamunya tersebut.\"Nah, sekarang wawancara bisa kita mulai...\"Kedua orang itu tampak bingung dan berpandangan satu sama lain. Akhirnya salah satunya berkata: \"Maaf pak..., kami datang kesini mau memasang saluran telepon bapak... pertanyaan :\r1. misalkan sebelum coblosan ada pembagian uang,kaos dan sembako,,apakah status pemberian tersebut?\r2. misalkan kita tidak mencoblos orang yang ngasih,apakh berdosa?3=apa hukum ikut pada pencoblosan?\rJAWABAN :\rMbah Jenggot II","part":1,"page":49},{"id":50,"text":"Deskripsi masalah : Politik Uang Dalam Pilkada. Pilihan kepala daerah secara langsung merupakan wujud nyata hidupnya sistem demokratis. Akan tetapi di samping itu juga semakin menyuburkan budaya politik uang, tidak hanya di kalangan para elit saja, tetapi juga masyarakat pemilihnya. Di masyarakat ada kecenderungan bahwa mereka kalau tidak di beri uang dari pasangan cabub/cawabub maupun cawali/cawawali tidak mau memilihnya. Ada suatu hadits sebagaimana berikut ini :\rسنن البيهقي الكبري ج : 5 ص : 33010577 عن ابي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ثم ثلاثة لا يكلمهم الله ولا يزكيهم ولهم عذاب اليم رجل بايع سلعة بعد العصر فحلف له بالله لأخذها بكذا وكذا فصدقة فأخذها وهو ذلك ورجل بايع اماما لايبايع الا للدنيا فان اعطاه منها وفى وان لم يعطه منها لم يف له ورجل على فضل ماء بالفلاة فيمنعه من ابن السبيل رواه مسلم في الصحيح عن ابن ابي شيبه عن ابي معاوية. ورجل بايع اماما لايبايعه الا للدنيا فان اعطاه منها نصره وان لم يعطه سخط (رواية اخرى). رجل بايع اماما للدنيا فان اعطاه وفى وان منعه نكث (رواية اخرى).\rPertanyaan : Apakah memilih karena uang seperti digambarkan di atas termasuk yang dimaksud dalam hadits :\rورجل بايع اماما لايبايعه الا للدنيا فان اعطاه منها وفى وان لم يعطه منها لم يف له.\rJika tidak, apa maksud sebenarnya dari hadits diatas ? [ BM Sidogiri 2005 ].\rJawaban : Melihat substansi dari pilkada sama dengan baiat al-imam, yakni mengangkat seorang pemimpin untuk menegakkan kebenaran dst, maka masalah ini (memilih karena uang) termasuk dalam hadits tersebut. Sudah terjawab dengan sendirinya.","part":1,"page":50},{"id":51,"text":"Referensi : Faidl al-qadir Syarh al-Jami’ al-Shaghir, 3/435 ta’lif al-Imam Muhammad Abdurrauf al-Manawi (cetakan darul kutub al-Ilmiah)Fath al-Bari, 13/216 (Kitab al-Ahkam) karya Imam al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani, cetakan dar al-Bayan BeirutUmdah al-Qari Syarh Sahih Bukhari, 12/279-280\rIbarat :\rفيض القدير 3/435 الإمام محمد عبد الرؤف المناوي (دار الكتب العلمية بيروت) (قال الخطابي) والأصل فى مبايعة الإمام أن يبايعه أن يعمل بالحق ويقيم الحدود ويأمر بالمعروف وينهى عن المنكر فمن جعل مبايعته لما يعطاه دون ملاحظة المقصود فقد دخل في الوعيد (حم ق 4 عن أبي هريرة) اهعمدة القاري شرح صحيح بخاري للإمام بدرالدين أبي محمد محمود بن أحمد العيني 12/279-280 (دار الكتب العلمية)حدثنا موسى بن اسماعيل قال حدثنا عبد الواحد بن زياد عن الأعمش قال سمعت أبا صالح يقول سمعت أبا هريرة رض يقول قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ثلاثة لاينظر الله اليهم يوم القيامة ولايزكيهم ولهم عذاب اليم رجل كان له فضل ماء بالطريق فمنعه من إبن السبيل ورجل بايع إماما لايبايعه إلا للدنيا فإن أعطاه منها رضي وإن لم يعطه سخط –الى ان قال- وقوله \"رجل\"اي الثاني من الثلاثة رجل بايع إماما المراد هو الإمام الأعظم وهذا هكذا في رواية الكشميهني ، وفي رواية غيره بايع إمامه والمراد من المبايعة هنا هو المعاقدة عليه والمعاهدة فكان كل واحد منهما باع ماعنده من صاحبه وأعطاه خالصة نفسه وطاعته ودخيلة أمره.\rhttp://solusinahdliyin.net/pemerintah/76-politik-uang-dalam-pilkada.html\r12. الأحكام السلطانية صـ 4(فصل) فإذا ثبت وجوب الإمامة ففرضها على الكفاية كالجهاد وطلب العلم فإذا قام بها من هو من أهلها سقط فرضها على الكفاية وإن لم يقم بها أحد خرج من الناس فريقان أحدهما أهل الاختيار حتى يختاروا إماما للأمة والثاني أهل ا","part":1,"page":51},{"id":52,"text":"لإمامة حتى ينتصب أحدهم للإمامة وليس على من عدا هذين الفريقين من الأمة في تأخير الإمامة حرج ولا مأثم وإذا تميز هذان الفريقان من الأمة في فرض الإمامة وجب أن يعتبر كل فريق منهما بالشروط المعتبرة فيه\rWallaahu A'laamu Bis Showaab\rLink Asal : www.fb.com/groups/piss.ktb/449504695072344/\r1956. Tanya Jawab Seputar Jihad, Syahid dan NKRI\rUrf Syar'i Tentang Jihad\r(1) Apakah kecenderungan umum perletakan istilah jihad dalam ungkapan Al-Qur'an dan Hadits Nabawiy ?\rJawaban:\rPengertian jihad menurut bahasa : mencurahkan segala kemampuan guna mencapai tujuan apapun.\rMenurut istilah syari'at Islam : mencurahkan segala kemampuan dalam upaya menegakkan masyarakat Islami dan agar kalimat Allah (kalimah tauhid dan dinul Islam) menjadi mulia, serta agar syari'at Allah dapat dilaksanakan di seluruh penjuru dunia.\rAdapun istilah jihad dalam pengertian perang melawan kaum kuffar baru diperintahkan oleh Allah sesudah Rasulullah saw hijrah ke Madinah, sementara perintah jihad pada ayat-ayat makkiyah tertuju pada selain perang.\rIbarat :\rالفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي مجلد : 3 ص : 475، ف : دكتور مصطفى الخن, دكتور مصطفى البغا, على الشريجى , ط : دار القلم, دار الشامية دمشق, 1416 – 1996 وعبارته :\rمعنى الجهاد : الجِهَادُ فِي اللُّغَةِ مَصْدَرُ جَاهَدَ، اَيْ بَذَلَ جُهْدًا فِي سَبِيْلِ الْوُصُوْلِ إِلىَ غَايَةٍ مَا.\rوَالْجِهَادُ فِي اصْطِلاَحِ الشَّرِيْعَةِ ألإِسْلاَمِيَّةِ : بَذْلُ الْجُهْدِ فِي سَبِيْلِ إِقَامَةِ الْمُجْتَمَعِ الإِْسْلاَمِيِّ ، وَأَنْ تَكُوْنَ كَلِمَةُ اللهِ هِيَ الْعُلْيَا ، وَأَنْ تَسْوَدَّ شَرِيْعَةُ اللهِ فِىالْعَالَمِ كُلِّهِ .\rTerjemah :","part":1,"page":52},{"id":53,"text":"Kata jihad yang merupakan bentu masdar dari kata kerja jaa-ha-da dalam pengertian bahasa adalah mencurahkan kesungguhan dalam mencapai tujuan apapun.\rKata jihad dalam istilah syariat Islam adalah mencurahkan kesungguhan dalam upaya menegakkan masyarakat yang Islami danm agar kalimah Allah (ajaran tauhid dinul Islam) menjadi mulia serta syari’at Allah dapat dilaksanakan diseluruh penjuru dunia.\rالفقه الإسلامي و أدلته ، ج : 8 ، ص : 5846 وعبارته :\rوَأَنْسَبُ تَعْرِيْفٍ لِلْجِهَادِ شَرْعًا أَنَّهُ بَذْلُ الْوُسْعِ وَالَّطاقَةِ فِي قَتْلِ الْكُفَّارِ وَمُدَ ا فَعَتِهِمْ بِِالنَّفْسِ وَالْمَالِ وَاللِّسَانِ\rTerjemah :\rBatasan jihad yang paling sesuai menurut istilah syari’at Islam mencurahkan kemampuan dan kekuatan guna memerangi dan menghadapi orang-orang kafir dengan jiwa, harta dan orasi.\rتفسير القرطبي ج: 3 ص: 38 ف : محمد بت أحمد بت أبى بكر بن فرح القرطبى ابو عبد الله ط : دار الشعب قاهرة 1372\rوَلَمْ يُؤْذَنْ لِلنَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْقِتَالِ مُدَّةَ إِقَامَتِهِ بِمَكَّةَ فَلَمَّا هَاجَرَ أُذِنَ لَهُ فِي قِتَالِ مَنْ يُقَاتِلُهُ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ فَقَالَ تَعَالَى أُذِنَ لِلَّذِيْنَ يُقَاتَلُوْنَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوْا ثُمَّ أُذِنَ لَهُ فِي قِتَالِ الْمُشْرِكِيْنَ عَامَّةً\rTerjemah :","part":1,"page":53},{"id":54,"text":"Nabi Muhammad saw tidak diizinkan berperang selama beliau menetap tinggal di Makkah, lalu ketika beliau berhijrah barulah diizinkan memerangi (melawan) orang-orang musyrik yang (memulai) memerangi beliau. Allah berfirma (artinya) : “Diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, sebab sesungguhnya mereka itu dianiaya” (al Hajj : 39). Kemudian Allah swt memberi izin kepada Nabi saw memerangi orang-orang musyrik secara umum.\rأحكام القرآن للشافعي ج: 2 ص: 13- 14 ف : محمد بن ادريس الشافعى ابو عبد الله ط : دارالكتب العلمية بيروت 1400\rقال الشافعي رحمه الله فأذن لهم بأحد الجهادين بالهجرة قبل أن يؤذن لهم بأن يبتدئوا مشركا بقتال ثم أذن لهم بأن يبتدئوا المشركين بقتال قال الله عز وجل أذن للذين يقاتلون بأنهم ظلموا وإن الله على نصرهم لقدير وأباح لهم القتال بمعنى أبانه في كتابه فقال وقاتلوا في سبيل الله الذين يقاتلونكم ولا تعتدوا\rTerjemah :\rImam Syafi’i ra berkata : Allah memberi izin kepada umat Islam dengan salah satu dua jihad yaitu hijrah sebelum mengizini umat Islam memulai perang melawan orang musyrik, kemudian Allah memberi izin memulai berperang melawan orang-orang musyrik. Allah berfirma (artinya) : “Di izinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, sebab sesungguhnya mereka itu dianiaya, dan sesungguhnya Allah benar-benar menolong mereka”. Kemudian Allah memperbolehkan umat berperang dengan arti Allah menerangkan dalam kitabNya seraya berfirman (artinya) : ”Berperanglah kalian dijalan Allah melawan orang-orang yang memerangi kalian dan jangan melampaui batas”.","part":1,"page":54},{"id":55,"text":"الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي مجلد : 3 ص : 119، ف : دكتور مصطفى الخن, دكتور مصطفى البغا, على الشريجى , ط : دار القلم, دار الشامية دمشق, 1416 – 1996 وعبارته :\rاقام رسول الله فى مكة ثلاثة عشر عاما يدعو الى الله سلما لايقابل العدوان بمثله فلما هاجر عليه الصلاة والسلام الى المدينة شرع الله المرحلة الاولى من مراحل الجهاد وهي التصدى لرد عدوان المعتد ين اي القتال الدفاعى ونزل في تشريع ذلك قوله تعالى أذن للذين يقاتلون بأنهم ظلموا – الاية (الحج : 39) وقوله تعالى وقاتلوا في سبيل الله الذين يقاتلونكم ولا تعتدوا – (البقرة : 190) ثم شرع الله تبارك وتعالى لنبيه جهاد المشركين ابتداء بالقتال ثم شرع الله تعالى بعد ذلك القتال جهادا من غير تقيد بشرط زمان ولامكان\rTerjemah :\rRasulullah saw tinggal di Makkah selama 13 tahun berda’wah secara damai dan tidak membalas permusuhan dengan sesamanya. Lalu ketika beliau berhijrah ke Madinah barulah Allah mensyariatkan tahapan pertama dari tahapan-tahapan jihad yaitu mengadakanperlawanan guna menangkal serang musuh yang menyerbu. Firman Allah tentang perang ini adalah (artinya) : “Di izinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, sebab sesungguhnya mereka itu dianiaya”.(al Hajj : 39) ”Berperanglah kalian dijalan Allah melawan orang-orang yang memerangi kalian dan jangan melampaui batas”.(al Baqarah :190) Kemudian Allah swt mensyariatkan berjihad melawan orang-orang musyrik dengan memulai penyerbuan, kemudian sesudah itu Allah mensyariatkan berjihad tanpa terikat oleh syarat masa dan tempat.\r(2) Apa amaliyah nyata sebagai media mengekspresikan jihad bagi individu dan kelompok muslim ?\rJawaban :","part":1,"page":55},{"id":56,"text":"Berdasarkan pengertian jihad diatas, maka amaliyah nyata yang dapat mengekpresikan tuntutan berjihad adalah :\rMenunjukkan masyarakat kepada ajaran tauhid dan ajaran Islam, melalui penyelenggaraan pendidikan, diskusi, dan meluruskan pemikiran-pemikiran keagamaan yang dapat mengaburkan kemurnian aqidah umat Islam.\rMembelanjakan harta untuk menjamin stabibitas keamanan kaum muslimin dalam uapaya membangun masyarakat Islami yang kuat.\rPerang defensif (القتال الد فاعي), yaitu berperang demi mempertahankan diri dari serangan musuh.\rPerang offensif (القتال الهجومي), yaitu memulai peperangan melawan musuh.\rMobilisasi perang secara umum ( حالة النفير العا م)\rTiga bentuk jihad yang terakhir ini, jika memang situasi menuntutnya serta imam sudah menginstruksikan untuk berperang.\rIbarat :\rالفقه الإسلامي و أدلته ، ج : 8 ، ص : 5846 وعبارته :\rفَالْجِهَادُ يَكُوْنُ بِالتَّعْلِيْمِ وَتَعَلُّمِ أَحْكَامِ الإِْسْلاَمِ وَنَشْرِهَا بَيْنَ النَّاسِ وَبِبَذْلِ الْمَالِ وَبِالْمُشَارَكَةِ فِي قِتَالِ الأَعْدَاءِ إِذَا أَعْلَنَ الإِمَامُ الْجِهَادَ ، لِقَوْلِهِ تَعَالَى : \" جَاهِدُوا الْمُشْرِكِيْنَ بِأَمْوَالِكُمْ وَ اَنْفُسِكُمْ وَأَلْسِنَتِكُمْ \" .\rTerjemah :\rJadi jihad bisa dilakukan dengan cara mengajar, mempelajari hukum-hukum Islam dan menyebarluaskannya, membelanjakan harta dan berpartisipasi berperang menghadapi musuh apabila imam / pimpinan telah meninstruksikan jihad (perang), karena berdasar firman Allah swt (artinya) : “Perangilah orang-orang musyrik dengan harta kalian, jiwa kalian dan lesan kalian”.","part":1,"page":56},{"id":57,"text":"الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي مجلد : 3 ص : 475، ف : دكتور مصطفى الخن, دكتور مصطفى البغا, على الشريجى , ط : دار القلم, دار الشامية دمشق, 1416 – 1996 وعبارته :\rمِنَ التَّعْرِيْفِ الَّذِيْ ذَكَرْنَاهُ لِلْجِهَادِ ، يَتَّضِحُ أَنَّ الْجِهَادَ أَنْوَاعٌ مِنْهَا :\rالْجِهَادُ بِالتَّعْلِيْمِ، وَنَشْرِ الْوَعْيِ ألإِسْلاَمِيِّ ، وَرَدِّ الشُّبَهِ الْفِكْرِيَّةِ الَّتِي تَعْتَرِضُ سَبِيْلَ الإِيْمَانِ بِهِ ، وَتَفَهُّمَ حَقَائِقِهِ .\rالْجِهَادُ بِبَذْلِ الْمَالِ لِتَأْمِيْنِ مَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ الْمُسْلِمُوْنَ فِي إِقَامَةِ مُجْتَمَعِهِمُ الإِسْلاَمِيِّ الْمَنْشُوْدِ .\rالْقِتَالُ الدِّفَاعِيُّ : وَهُوَ الَّذِيْ يَتَصَدَّى بِهِ الْمُسْلِمُوْنَ لِمَنْ يُرِيْدُ أَنْ يَنَالَ مِنْ شَأْنِ الْمُسْلِمِيْنَ فِي دِيْنِهِمْ .\rالْقِتَالُ الْهُجُوْمِيِّ : وَهُوَ الَّذِيْ يَبْدَؤُهُ الْمُسْلِمُوْنَ عِنْدَ مَا يَتَجَهَّوْنَ بِالدَّعْوَةِ الإِسْلاَمِيَّةِ إِلَى الأُمَمِ ألأُخْرَى فِي بِلاَدِهَا ، فَيَصُدُّهُمْ حُكَّامُهَا عَنْ أَنْ يُبَلِّغُوْا بِكَلِمَةِ الْحَقِّ سَمْعَ النَّاسِ .\rحَالَةُ النَّفِيْرِ الْعَام\r(Dikutip dari Bahtsul Mamail NU Jawa Timur th: 2006)\rStatus Syahid Bagi Pelaku Bom Bunuh Diri\rApa sajakah kriteria agar terpenuhi status mati syahid dengan prospek masuk surga menurut pandangan ulama ahli syari’at ?\rJawaban :\rKriteria Syahid, dengan prospek masuk surga mencakup 2 golongan:\ra) Syahid dunia akhirat:; adalah orang yang mati dalam medan peperangan melawan orang kafir dan dia mati sebab perang.\rb) Syahid akhirat; adalah orang yang mati dengan sebab-sebab syahadah sebagaimana berikut: antara lain: tenggelam , sakit perut, tertimpa reruntuhan, dll","part":1,"page":57},{"id":58,"text":".المراجع: هامش القليوبى و عميره جز 1 ص : 337إعْلَمْ أَنَّ المُصَنِّفَ (النَّوَويَّ) رَحِمَه اللهُ ذَكرَ فِي ضَابِطِ الشَّهيدِ ثلاثَ قُيُودٍ المَوتَ حَالَ القِتالِ وَكَونَهُ قِتالُ كُفَّارٍ وكَونَهُ بِسَببِ قِتالٍ.\rTerjemah :Ketahuilah bahwa sesungguhnya musonnif (Imam Nawawi) dalam hal definisi mati sahid menuturkan tiga syarat, yaitu mati ketika berperang, perangnya melawan kafir, dan matinya karena sebab berperang.\rمتن الشرقاوي جز 1 ص : 338 وَخَرَجَ بِشَهيدِ المَعْرِكَةِ غَيرُهُ مِن الشُّهَداءِ كَمَن مَاتَ مَبْطونًا أوْ مَحْدُودًا أوْ غَريْقًًا أوْ غَريْبًا أوْ مَقتُولاً ظُلْمًا أوْ طَالِبَ عِلمٍ فَيُغْسَلُ وَ يُصَليَّ عَليهِ وَ إنْ صَدَقَ عَليهِ إسْمُ الشَّهيدِ فَهُوَ شَهيدٌ فِي ثوَابِ الأخِرَةِ.\rTerjemah :Dikecualikan dari status mati syahid dalam peperangan ialah para syuhada’ selain dalam peraperangan, seperti halnya mati karena sakit perut (mabtun), atau di had (hukum), atau tenggelam (ghoriq), atau diasingkan, atau dibunuh karena dzalim, atau daalam waktu mencari ilmu. Maka mereka semua itu di mandikan, dan disholati, meskipun bersetatus mati sahid, karena dia mati sahid dalam perhitungan pahala diakhirat.\r2) Syahidkah jenazah gerakan separatis yang ingin memisahkan diri dari NKRI dan menciptakan negara Islam untuknya ?\r3) Berstatus mati syahidkah pelaku teror di Indonesia yang berdasar hukum positif (UU Anti Terorisme) harus dieksekusi sesuai putusan majelis hakim yang mengadilinya ?","part":1,"page":58},{"id":59,"text":"4) Karena dinyatakan bersalah secara hukum negara, benarkah terhadap jenazah teroris pasca eksekusi hukuman mati tidak perlu dishalatkan dengan pertimbangan aksi teror itu dosa besar dan fasiq terbukti korban yang terbunuh ternyata sesama muslim ?\rJawaban :\rMayit pelaku gerakan separatis bukan termasuk syuhada', sehingga mayitnya tetap dimandikan dan dishalati seperti layaknya mayit muslim.\rالمراجع:مغني المحتاج معرفة الفاظ المنهاج للشيخ محمد بن احمد الشربيني الخطيب ، ج ك 2 ص : 35 ، مانصه:أمَّا إذَا كَانَ المَقتُولُ مِنْ أهْلِ البَغْىِ فَليْسَ بِشَهيدٍ جَزْمًا\rTerjemah :Adapun orang yang terbunuh itu dari ahlul baghyi (pemberopntak) maka mereka bukan termasuk mati syahid dengan pasti.\rروضة الطالبين للشيخ محي الدين يحي بن أبي زكريا النووي ، ج : 2 ، ص : 42 ، مانصه :النَّوعُ الثانِي الشُّهَداءُ العَارُونَ عَن جَمِيعِ الأوْصَافِ المَذْكُورَةِ كَالمَبْطُونِ وَالمَطْعُونِ وَالغَرِيقِ وَالغَرِيبِ وَالمَيّتِ عِشْقا وَالمَيّتَةِ فِي الطَّلْقِ وَمَن قَتَلَهُ مُسْلِمٌ أوْ ذِمِّيٌّ أوْ بَاغِ القِتالِ فَهُم كَسَائِرِ المَوتىَ يُغْسَلونَ وَيُصَلىَّ عَليْهِمْ وَإنْ وَرَد فِيهِمْ لفْظُ الشَّهادَةِ وَكذَا المَقتُولُ قِصَاصًا أوْ حَدّا لَيسَ بِشَهيدٍ","part":1,"page":59},{"id":60,"text":"Terjemah :Macam yang kedua yaitu orang-orang yang mati syahid yang selain dari sifat-sifat tersebut diatas, seperti mati karena sakit perut, sakit tho’un (wabah), tenggelam, diasingkan, mati karena merindukan (kekasih), mati karena melahirkan dan orang yang mati karena dibunuh sesama muslim atau orang kafir dzimmy atau orang yang menentang berperang, maka mereka semua dihukumi seperti mati biasa, artinya harus disholati dan dimandikan. meskipun statusnya mati syahid (di akherat), begitu juga mati karena dihukum qisos atau dihukum had itu bukan mati syahid.\rالموسوعة الفقهية ج : 8 ص : 152، مانصه :أما قتلى البغاة، فمذهب الملكية والشافعية والحنابلة : أنهم يغسلون ويكفنون ويصلي عليهم، لعموم قوله صلى الله عليه وسلم : (صلوا على من قال لا إله إلا الله ) ولأنهم مسلمون لم يثبت لهم حكم الشهادة، فيغسلون ويصلي عليهم ومثله الحنفية، سواء اكانت لهم فئة أم لم تكن لهم فئة على الرأي الصحيح عندهم وقد روي أن عليا رضي الله عنه لم يصل على أهل حروراء، ولكنهم يغسلون ويكفنون ويدفنون ولم يفرق الجمهور بين الخوارج وغيرهم من البغاة في حكم التغسيل والتكفين والصلاة .","part":1,"page":60},{"id":61,"text":"Terjemah :Adapun orang-orang yang terbunuh dari para pembangkang (bughot) maka menurut ulama’madzab Maliki, Syaf’ii dan Hambali mereka itu harus dimandikan, dikafani dan sisholati karena keumuman sabda Rasulullah SAW (artinya) “Sholatilah orang-orang yang mati dan berkata Laa Ilaa Ha Illallaah”. Karena mereka adalah orang-orang Islam yang tidak berstatus mati syahid maka dia dimandikan dan disholati.Begitupula pendapata ulama’ madzab Hanafi, baik mereka itu mempunyai kelompok atau tidak, menurut pendapat yang sohih dikalangan ulam’ hanafiyyah. Diriwayatkan sesungguhnya sahabat Ali RA tidak melakukan sholat terhadap orang golongan Harurok, tetapi mereka itu dimandikan, dikafani dan dimakamkan ditempat pemakaman muslim. Juhur al ulama (kebanyakan ulama) tidak membedakan antara kaum khawarij dan lainnya dari golongan penentang pemerintahan yang sah di dalam hukum memandikan, mengkafani serta mensholati.\rحاشية الجمل 2 وَتَجْهِيزُهُ أيِ المَيّتِ المُسْلِمِ غَيرِ الشَّهيدِ بِغَسْلِهِ وَ تكْفِينِهِ وَ حَمْلِه وَ الصَّلاةُ عَليْهِ وَدَفنِهِ وَ لَوْ قَاتلَ نَفْسَهُ فَرضُ كِفَايَةٍ.\rTerjemah :Merawat jenazahnya orang Islam yang selain mati syahid dengan cara memandikan, mengkafani, membawa, menyolati dan mengkuburkan walaupun melakukan bunuh diri, hukumnya fardhu kifayah.\r5) Bolehkah orang melakukan bunuh diri guna memperjuangkan sesuatu yang menjadi keyakinan pribadinya ?","part":1,"page":61},{"id":62,"text":"Jawaban : Bunuh diri tidak dibenarkan dalam syariat sekalipun dalam rangka memperjuangkan kebenaran. Akan tetapi dalam peperangan yang dizinkan syara' (jihad) menyerang musuh dengan keyakinan akan terbunuh untuk membangkitkan semangat juang kaum muslimin adalah diperbolehkan.\rالمراجعتفسير ابن كثير ج: 1 ص: 481عَنْ أبِي صَالِحٍ عَن أبِي هُرَيرَةَ قالَ قالَ رَسُولُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَليهِ وَسَلمَ مَن قَتلَ نَفْسَهُ بِحَدِيدَةٍ فِي يَدِهِ يَجَأُ بِها بَطْنَهُ يَوْمَ القِيامَةِ فِي نَارِ جَهَنمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أبَدًا وَمَن قتلَ نَفسَهُ بِسُمٍّ تَرَدَّى بِه فَسَمَّهُ فِي يَدِهِ يَتَحَسَّاهُ فِي نَارِ جَهَنمَ خَالدًا مُخَلدًا فِيهَا أبَدًا وَهَذا الحَدِيثُ ثابِتٌ فِي الصَّحِيحَينِ خ م\rTerjemah :Dari Abi Sholeh dari Abi hurairoh berkata : Rosululloh SAW. bersabda : Barang siapa melakukan bunuh diri dengan cara membenamkan besi keperutnya sendiri besuk pada hari kiamat akan masuk neraka Jahannam selam-lamanya.Dan barang siapa melakukan bunuh diri dengan cara menaruh racun di tangannya dengan menghirupnya maka akan masuk neraka jahanam selam-lamanya. Hadits ini telah ditetapkan dalam dua kitab Shohih.\rاسعاد الرفيق جز 2 ص : تتِمَّة مِنَ الكَبَائِرِ قَتلُ الإنْسَانِ نَفسَهُ لِقَولِه عَليْهِ الصَّلاةُ وَالسَّلامُ مَنْ تَرَدَّى مِنْ جَبَلٍ فَقتَلَ نَفْسَه فَهُو فِى نَارِ جَهَنّمَ يَترَدَّى فِيهَا خَالِدًا مُخَلدًا فِيهَا ابَدًا\rTerjemah :Termasuk dosa besar adalah bunuh diri, sebagaimana sabda Nabi SAW. : “Barang siapa bunuh diri dengan menjatuhkan diri dari ketinggian gunung maka akan masuk neraka jahanam dengan terlempar selama-lamanya.","part":1,"page":62},{"id":63,"text":"الموسوعة الفقهية 6 ص : 285 – 286 الانتحار حرام بالاتفاق ويعتبر من اكبر الكبائر بعد الشرك بالله قال الله تعالى ولا تقتلوا النفس التى حرم الله الا بالحق وقال ولا تقتلوا انفسكم ان الله كان بكم رحيما وقد قرر الفقهاء ان المنتخر اعظم وزرا ممن قاتل غيره وهو فاسق وباغ على نفسه حتى قال بعضهم لايغسل ولايصلى عليه كالبغاة وقيل لاتقبل توبته تغليظا عليه كما ان ظاهر بعض الأحاديث يدل على خلوده في النار منها قوله من تردى من جبل فقتل نفسه فهو في نار جهنم يتردى فيها خالدا مخلدا فيها ابدا\rTerjemah : Bunuh diri adalah harom denga kesepakatan para ulama’ dan dipandang dosa yang paling besar setelah syirik kepada Allah. Allah berfirman ( artinya ): “ Janganlah kalian semua membunuh jiwa yang diharomkan oleh Allah kecuali dengan jalan yang haq”, dan firman Allah ( artinya ): “Janganlah kalian membunuh dirimu sendiri sesungguhnya Allah maha penyayang terhadap kamu semua”. Para Fuqoha’ menetapkan bahwa orang yang melakukan bunuh diri lebih besar dosanya dari pada orang yang memerangi orang lain, dan dialah orang fasiq dan menganiaya dirinya, hingga sebagian ulama’ mengatakan bahwa dia tidak dimandikan dan disholati sebagaimana para pembangkang. Ada pendapat lain bahwa dia tidak diterima taubatnya karena memberatkan atas kesalahannya sebagaimana dlohirnya sebagian hadits menunjukkan keabadiannya dalam neraka.","part":1,"page":63},{"id":64,"text":"الموسوعة الفقهية 6 ص : 285 – 286 ثانيا هجوم الواحد على صف العدو : 11 اختلف الفقهاء فى جوار هجوم رجل من المسلمين وحده على العدو مع التيقن بانه سيقتل فذهب الما لكية الى جواز اقدام الرجل المسلم على الكثير من الكفار ان كان قصده اعلاء كلمة الله وكان فيه قوة وظن تأثيره فيهم ولو علم ذهاب نفسه فلا يعتبر ذلك انتحارا – الى ان قال – وكذلك لو علم وغلب على ظنه انه يقتل لكن سينكى نكاية او سيبلى او يؤثر أثرا ينتفع به المسلمون ولا يعتبر هذا القاء النفس الى التهلكة المنهي عنه بقوله تعالى ولا تلقوا بأيديكم الى التهلكة – الى ان قال – كذلك قال ابن العربى والصحيح عندى جوازه لآن فيه اربعة اوجه الاول طلب الشهادة الثانى وجود النكاية الثالث تجرئة المسلمين عليهم الرابع ضعف نفوس الآعداء ليروا ان هذا صنع واحد منهم فما ظنك بالجميع","part":1,"page":64},{"id":65,"text":"Artinya :Kedua masuknya seseorang pada barisan musuh. Para Fuqoha’ berselisih pendapat tentang bolehnya seorang diri kaum muslimin masuk kebarisan pasukan musuh dengan keyakinan dia akan terbunuh. Ulama’ madzhab Maliki berpendapat bahwa boleh seorang muslim mendatangi pasukan kafir dalam jumlah banyak apabila bertujuan meninggikan kalimah Allah dan dia mempunyai kekuatan dan persangkaan adanya pengaruh dikalangan orang-orang kafir walaupun dia yakin akan kehilangan nyawa, maka yang demikian itu tidak dianggap bunuh diri. – sampai perkataan Mushonnif- demikian pula jika ia yakin dan menyangka dengan kuat bahwa ia akan dibunuh akan tetapi dia akan benar-benar dapat mengalahkan/ menghancurkan/menimbulkan pengaruh yang dapat diambil manfaat oleh kaum muslimin. Tindakan seperti ini tidak dipandang mencampakkan diri pada kebinasaan yang dilarang oleh firman Allah ( artinya) : “ Janganlah kalian mencampakkan dirimu pada kehancuran “. – sampai perkataan Mushonnif- Ibnul ‘Arobi berkata : yang shohih menurut saya tindakan tersebut boleh karena mengandung empat aspek (1) Mengharapkan mati syahid (2)Adanya kemenangan (3) Memberanikan umat Islam melawan orang kafir dan (4) melemahkan mental musuh.\r6) Hukuman bentuk apa dinilai tepat ditimpakan kepada promotor/pemberi indoktrinasi bunuh diri dengan pemahaman konsep jihad yang salah dan menanamkan keyakinan status mati syahid serta kepastian masuk surga kepada calon pelaku bom bunuh diri.\rJawaban :","part":1,"page":65},{"id":66,"text":"Hukuman bagi promotor / pemberi indoktrinasi bunuh diri adalah ta’zir, bahkan bisa sampai hukuman mati , apabila dampak mafsadah dan madlaratnya merata dikalangan masyarakat luas serta hukuman ta’zir yang lain sudah tidak efektif lagi.\rتفسير الطبري ج: 6 ص: 205 إنّمَا جَزَآءُ الذِينَ يُحَارِبُونَ اللهَ وَرسولَهُ وَيَسْعَونَ فِي الأرْضِ فَسَادًا أنْ يُقتلُوا أوْ يُصَلبُوا أوْ تُقَطَّع أيْدِيهِمْ وأرْجُلِهمْ مِنْ خِلافٍ أوْ يُنْفَوا مِنَ الأرْضِ ذَلكَ لَهُم خِزْيٌ فِي الدُنيَا وَلهُم فِي الآخِرَةِ عَذَابٌ عَظيمٌ\rTerjemah :Balasan bagi orang yang memusuhi Alloh dan utusan-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi adalah dibunuh atau disalib atau dipotong kedua tangan dan kakinya secara bergantian (selang seling) atau disingkirkan dari muka bumi. Itu semua adalah balasan di dunia sedangkan balasan di akhirat adalah adzab yang sangat besar.\rتفسير ابن كثير ج: 2 ص: 48المحاربة هي المضادة والمخالفة وهي صادقة على الكفر وعلى قطع الطريق وإخافة السبيل وكذا الإفساد في الأرض\rTerjemah :Muharobah (memerangi) ialah : perlawanan dan menentang, yaitu sesuai (pas) dengan kufur dan tindakan perampokan dijalanan, dan menakut-nakuti di jalan, begitu juga membikin kerusakan dibumi.\rتفسير الطبري ج: 6 ص: 211 وأما قوله ويسعون في الأرض فسادا فإنه يعني ويعملون في أرض الله بالمعاصي من إخافة سبل عباده المؤمنين به أو سبل ذمتهم وقطع طرقهم وأخذ أموالم ظلما وعدوانا والتوثب على جرمهم فجورا وفسوقا","part":1,"page":66},{"id":67,"text":"Terjemah :Adapun pengertian firman Allah (artinya) : “ Dan mereka melakukan kerusakan di muka bumi.” Itu artinya : mereka melakukan kemaksiatan di muka bumi ini, dengan cara menakut-nakuti (terror/ancaman) jalannya orang-orang mukmin, atau jalannya tanggungan orang-orang mukmin, dan menghadang perjalanannya, merampas harta bendanya dengan cara dzalim dan ceroboh (aniaya) dan berani melukainya dengan cara keterlaluan dan fasiq.\rتفسير القرطبي ج: 6 ص: 149إنّمَا جَزَآءُ الذِينَ يُحَارِبُونَ اللهَ وَرسولَهُ وَيَسْعَونَ فِي الأرْضِ فَسَادًا أنْ يُقتلُوا أوْ يُصَلبُوا الآية - الى ان قال - قال مالك والشافعي وأبو ثور وأصحاب الرأي الآية نزلت فيمن خرج من المسلمين يقطع السبيل ويسعى في الأرض بالفساد قال ابن المنذر قول مالك صحيح قال أبو ثور واحتج لهذا القول\rTerjemah :Firman Allah (artinya) : “Seseungguhnya balasan orang-orang yang memerangi Alloh dan Rosul-Nya dan berbuat kerusakan di bumi agar supaya dibunuh, atau disalib”, dan seterusnya - sampai perkataan mufassir- Berkatalah Imam Malik, Imam Syafi-ie, Imam Abu Tsur, dan Para pakar pendapat : Ayat ini diturunkan buat orang Islam yang keluar memisahkan diri ikatan kelompoknya dan berbuat kerusakan di bum.Bberkatalah Ibnu Mundzir : Perkataan Imam Malik betul, Abu Tsaur berkata : Perkataan ini dapat dibuat hujjah / dasar.\rتفسير القرطبي ج: 7 ص: 133ولا تقتلوا النفس التي حرم الله إلا بالحق – الى ان قال - من شق عصا المسلمين وخالف إمام جماعتهم وفرق كلمتهم وسعى في الأرض فسادا بانتهاب الأهل والمال والبغي على السلطان والامتناع من حكمه يقتل فهذا معنى قوله إلا بالحق","part":1,"page":67},{"id":68,"text":"Terjemah :Firman Allah (artinya) : “Janganlah kalian semua membunuh seseorang yang diharamkan Alloh kecuali dengan haq” (cara yang benar). -sampai perkataan mufassir- : Barang siapa meretakkan persatuan kaum muslimin, menentang pimpinan kelompok umat Islam dan memisah-misahkan kalimah mereka dan berbuat kerusakan dimuka bumi dengan jalan melakukan perampokan / perampasan keluargadan harta, dan membangkang terhadap pengusa dan menolak keputusannya, maka orang tersebut boleh dibunuh. Ini lah makna firman Illa bi al Haq.\rفتاوى الكبرى لابن تيمية 5\\وَهَذَا التعْزِيرُ ليْسَ يُقَدَّرُ بَلْ يَنْتهِى اِلىَ القَتْلِ كَمَا فِى الصَّائِلِ فِى اَخْذِ المَالِ يَجُوْزُ اَنْ يُمْنَعَ مِن الأخْذِ وَلوْ بِالقتْلِ وَعلَى هَذا فَاِذا كَانَ المَقصُودُ دَفْعَ الفَسَادِ وَلمْ يَنْدَفِعْ إلاِّ بِالقتْلِ قُتِلَ. وَحِينئِذٍ فَمَن تَكَرَّرَ مِنهُ فِعْلَ الفَسَادِ وَلمْ يَرْتَدِعْ لِلحُدُودِ المُقَدَّرَةِ بَلِ اسْتَمَرَّ علىَ ذَلِكَ الفَسَادِ فَهُو كَالصَّائِلِ الذِّى لاَ يَنْدَفِعُ إلاّ بِالقتْلِ فَيُقتَلُ قِيلَ وَيُمْكِنُ انْ يُخْرَجَ شَارِبُ الخَمْرِ فِى الرَّابِعَةِ علىَ هَذا","part":1,"page":68},{"id":69,"text":"Terjemah :Hukuman ta’zir (menjerakan) ini tidak ada kepastian bahkan bisa sampai kepada hukuman bunuh, sebagaimana dilakukan terhadap shoil (orang yang berbuat jahat) dalam mengambil harta, boleh menghadang dia dari mencuri harta meskipun dengan membunuh. Berdasarkan keterangan ini, ketika tujuan (ta’zir) adalah menolak kerusakan (bahaya) dan tidak tertangani kecuali dengan cara membunuh, ya dibunuh. Dengan demikian, orang yang berulang kali melakukan kejahatan, dan hukuman-hukuman yang diberikan tidak diindahkan, bahkan dia terus menerus berbuat jahat maka dia bagaikan shoil (penjahat) yang tidak bisa dihentikan kecuali dengan dibunuh, maka boleh dibunuh. Dikatakan, mungkin pemabuk menurut pendapat ini bisa dihukum sama dengan shoil (penjahat) dengan cara dibunuh.\rالفقه الاسلامى 7\\5354وَالعُقوبَاتُ التَّعْزِيرِيَّةُ : هِىَ التَّوْبِيخُ اوِ الزَّجْرُ بِالكَلاَمِ وَالحَبْسُ وَالنَّفْيُ عَنِ الوَطَنِ وَالضَّرْبُ وَقدْ يَكُونُ التَّعْزِيرُ بِالقتْلِ سِيَاسَةً فِى رَأيِ الحَنَفِيّةِ وَبَعضِ المَالِكِيّةِ وَبَعضِ الشَّافِعِيّةِ اِذَا كَانَتِ الجَرِيْمَةُ خَطِيرَةً تَمَسُّ اَمْنَ الدَّوْلَةِ اوِ النِّظَامَ العَامَّ فِى الاسْلامِ مِثلَ قَتْلِ المُفَرِّقِ جَماعَةَ المُسلِمِينَ اوِ الدَّاعِى الىَ غَيرِ كِتابِ اللهِ وَسُنّةِ رَسُولِهِ صلىَّ اللهُ عَليهِ وَسلّمَ اوِ التَّجَسُّسِ اوِ انْتِهَاكِ عِرْضِ امْرَأةٍ بِالإكْرَاهِ اذَا لمْ يَكُنْ هُناكَ وَسِيلةٌ اُخْرَى لِقَمْعِهِ وَزَجْرِهِ أهـ","part":1,"page":69},{"id":70,"text":"Terjemah :Hukuman / sanksi ialah : mencela, atau mencegah dengan ucapan, menahan (memenjara), diasingkan jauh dari tanah kelahian dan dipukul. Bahkan terkadang ta’zir itu bisa terjadi dengan cara dibunuh karena kepentingan siyasah didalam pendapat Hanafiyah, sebagian Malikiyah, serta sebagian Syafi’iyah. Ketika Jarimah (pidana)itu membahayakan yang menyangkut keselamatan negara, atau aturan umum dalam Islam, seperti membunuh orang yang memecah belah kelompok orang-orang Islam, atau orang yang mengajak kepada selain aturan Kitabulloh dan Sunnah Rosul-Nya SAW. atau meneror (menakut-nakuti), atau merusak harga diri perempuan dengan paksa ketika disana tidak ada cara lain untuk menanggulangi dan mencegahnya.\r(Dikutip dari Bahtsul Mamail NU Jawa Timur th: 2006)\riiii\rJihad Dalam Kehidupan Bernegara & Bermasyarkat\r1) Dapatkah dibenarkan menurut ajaran Islam bila dilakukan jihad terhadap Pemerintah RI dengan tuduhan sebagai negara kafir karena tidak menjalankan syari’at Islam sebagai hukum positif ?\rJawaban :\rBerjihad terhadap Pemerintah RI dengan tuduhan sebagai negara kafir tidak bisa dibenarkan, karena NKRI sudah memenuhi tuntutan kreteria sebagai dar al-Islam, disamping dalam pasal 29 ayat (2) UUD 1945 bahwa negara menjamin kebebasan beragama bagi warga negaranya. Ibarat :","part":1,"page":70},{"id":71,"text":"حاشية سليمان الجمل ، ج : 7 ، ص : 208، ما نصه :ثُمَّ رَأيْتُ الرَّافِعِي وَغَيْرَهُ ذَكَرُوا نَقْلاً عَنِ الأصْحَابِ أنَّ دَارَ الإسْلاَمِ ثَلاَثَةُ أقْسَامٍ : قِسْمٌ يَسْكُنُهُ المُسْلِمُونَ ، وَقِسْمٌ فَتَحُوهُ وَأقَرُّوا أهْلَهُ عَلَيْهِ بِجِزْيَةٍ مَلَكُوهُ أوْ لاَ ، وَقِسْمٌ كَانُوا يَسْكُنُونَهُ ثُمَّ غَلَبَ عَلَيْهِ الكُفَّارُ . قَالَ الرَّافِعِيُّ : وَعَدُّهُمُ القِسْمَ الثَّانِي يُبَيِّنُ أنَّهُ يَكْفِي فِي كَوْنِهَا دَارَ الإسْلاَمِ كَوْنُهَا تَحْتَ إسْتِيْلاءِ ألإمَامِ وَإنْ لَمْ يَكُنْ فِيهَا مُسْلِمٌ . قَالَ : وَأمَّا عَدُّهُمُ الثَّالِثَ فَقَدْ يُوْجَدُ فِي كَلاَمِهِمْ مَا يُشْعِرُ بِأنَّ الإسْتِيْلاءَ القَدِيْمَةَ يَكْفِي لاسْتِمْرَارِ الحُكْمِ . اهـ","part":1,"page":71},{"id":72,"text":"Terjemah :Kemudian saya melihat Imam Rafi’i dan yang lain menuturkan pendapat yang dinukil dari para ulama’madzhab Syafi”i bahwa dar al-Islam (negara Islam) itu ada tiga bagian : Negara yang dihuni umat Islam. Negara yang ditaklukkan umat Islam dan menetapkan penduduknya untuk tetap tinggal disana dengan membayar jizyah baik mereka itu memilikkannya atau tidak. Negara yang dihuni oleh umat Islam kemudian dikuasai oleh orang-orang kafir.Imam Rafi’i berkata : Para ulama’ menggolongkan bagian kedua sebagai negara Islam, hal itu menjelaskan bahwa tentang penganggapan sebagai negara Islam cukup adanya negara itu dibawah kekuasaan seorang imam walaupun disana tidak terdapat satupun orang muslim. Imam Rafi’i berkata : Adapun para ulama’ menggolongkan bagian ketiga sebagai negara Islam karena terkadang dijumpai dalam perbincangan para ulama’ suatu pendapat yang memberikan pengertian bahwa penguasaan yang sudah berlalu cukuplah untuk melestarikan hukum sebagai negara Islam.\rبغية المسترشدين ص : 254(مسئلة ى) كل محل قدر مسلم ساكن به على الامتناع من الحربيين فى زمن من الازمان يصير دار اسلام تجرى عليه احكام فى ذلك الزمان وما بعده وان انقطع امتناع المسلمين باستيلاء الكفار عليهم ومنعهم من دخوله واخراجهم منه وحينئذ فتسميته دار حرب صورة لا حكما فعلم أن أرض بتاوي بل وغالب أرض جاوة دار اسلام لاستيلاء المسلمين عليها سابقا قبل الكفار","part":1,"page":72},{"id":73,"text":"Terjemah :Setiap tempat dimana penduduk muslim disana kuasa mempertahankan dari ancaman orang-orang kafir harby pada suatu masa dari beberapa masa jadilah tempat itu dar al-Islam (negara Islam) yang boleh diberlakukan hukum-hukum Islam pada zaman itu dan sesudahnya sekalipun pertahanan kaum muslimin terputus sebab orang-orang kafir telah menguasai umat Islam, menghalangi memasuki negara itu dan mengusir umat Islam dari sana. Dalam keadaan seperti diatas maka tempat itu dinamakan dar al-harb secara de facto dan bukan dar al-harb secara de jure. Jadi bisa diketahui bahwa Betawi bahkan kebanyakan tanah Jawa adalah negara Islam karena umat Islam telah menguasainya jauh sebelum orang-orang kafir.\rالجهاد فى الاسلام 81 ويلاحظ من معرفة هذه الاحكام أن تطبيق احكام الشريعة الاسلامية ليس شرطا لاعتبار الدار دار الاسلام ولكنه حق من حقوق دار الاسلام فى اعناق المسلمين فاذا قصر المسلمون فى إجراء الاحكام الاسلامية غلى اختلافها فى دارهم التى أورثهم الله اياها فان هذا التقصير لا يخرجها عن كونها دار اسلام ولكنه يحمل المقصرين ذنوبا واوزارا.\rTerjemah :Dilihat dari mengetahui hukum-hukm ini bahwa menerapkan hukum syariat Islam bukan suatu syarat bagi negara dianggap sebagai negara Islam, akan tetapi merupakan salah satu dari hak-hak negara Islam yang menjadi tanggung jawab umat Islam. Jadi apabila umat Islam ceroboh dalam menjalankan hukum Islam atas cara yang berbeda-beda dinegara yang telah dianugerahkan oleh Allah kepadanya, maka kecerobohan ini tidak merusak adanya negara dinamakan negara Islam, akan tetapi kecorobohan itu membebani mereka dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan.","part":1,"page":73},{"id":74,"text":"(2) Bolehkah dilaksanakan jihad dengan target mengganti NKRI yang berdasar Pancasila dan UUD 1945 menjadi dawlat Islamiyah ?\rJawaban : Jihad dengan target mengganti NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dengan daulah Islamiyyah tidak bisa dibenarkan, karena jika hal itu dilakukan sudah pasti menimbulkan kekacauan dalam berbagai aspek kehidupan bernegara dan bermasyarakat dimana-mana dan bahkan bisa terjadi perang saudara yang justru semakin jauh dari target jihad yang dicita-citakan.Ibarat :\rالإمامة العظمى عند اهل السنة والجماعة ، ص : 502، ما نصه :ذَهَبَ غَالِبُ أهْلِ السُّنَّةِ وَالجَمَاعَةِ إلََى أنَّهُ لا يَجُوزُ الخُرُوجُ عَلَى أئِمَّةِ الظُّلْمِ وَالجَوْرِ بِالسَّيْفِ مَا لَمْ يَصِلْ بِهِمْ ظُلْمُهُمْ وَجَوْرُهُمْ إلَى الكُفْرِ البَوَاحِ أوْ تَرْكِ الصَّلاةِ وَالدَّعْوَةِ إلَيهَا أوْ قِيَادَةِ الأُمَّةِ بِغَيْرِ كِتَابِ اللهِ تَعالَى كَمَا نَصَّتْ عَلَيهَا الأحَادِيثُ السَّابِقَةُ فَِي أسْبَابِ العَزْلِِ\rTerjemah :Mayoritas golongan ahlussunnah wal jama’ah berpendapat bahwa tidak diperbolehkan membangkang terhadap pemimpin-pemimpin yang dhalim dan menyeleweng dengan jalan memerangi selama kedhaliman dan penyelewengannya tidak sampai kepada kekufuran yang jelas atau meninggalkan shalat dan da’wah kepadanya atau memimpin umat tanpa berdasarkan kitab Allah sebagaimana dijelaskan oleh hadits-hadits yang sudah lalu dalam menerangkan sebab-sebab pemecatan imam.","part":1,"page":74},{"id":75,"text":"التشريع الجنائ الاسلامى جز 2 ص :677 , ف : الشيخ عبد القادر عودة , ط : مؤسسة الرسالة ومع ان العدالة شرط من شروط الامامة الا ان الرأي الراجح في المذاهب الاربعة ومذهب الشيعة الزيدية هو تحريم الخروج على الامام الفاسق الفاجر ولو كان الخروج للامر بالمعروف والنهي عن المنكر لان الخروج على الامام يؤدي عادة الى ماهو انكر مما فيه وبهذا يمتنع النهي عن المنكر لان مشروطه لايؤدي الانكار الى ماهو انكر من ذلك الى الفتن وسفك الدماء وبث الفساد واضطراب البلاد واضلال العباد وتوهين الامن وهدم النظام\rTerjemah :Memang sikap adil merupakan salah satu syarat-syarat menjadi imam / pemimpin, hanya saja pendapat yang rajih (unggul) dalam kalangan madzhab empat dan madzhab Syi’ah Zaidiyyah mengharamkan bertindak makar terhadap imam yang fasik lagi curang walaupun makar itu dengan dalih amar ma’ruf nahi munkar. Karena makar kepada imam biasanya akan mendatangkan suatu keadaan yang lebih munkar dari pada keadaan sekarang. Dan sebab alasan ini maka tidak diperbolehkan mencegah kemungkaran, karena persyaratan mencegah kemungkaran harus tidak mendatangkan fitnah, pembunuhan, meluasnya kerusakan, kekacauan negara, tersesatnya rakyat, lemah keamanan dan rusaknya stabilitas.\r(3) Adakah perintah jihad melawan WNA yang tinggal di Indonesia dalam jangka waktu lama/sementara dengan alasan negara asal mereka mengintimidasi umat Islam ?\rJawaban : Bila yang dimaksud jihad adalah qital (memerangi) maka tidak ada perintah untuk jihad dan bahkan ada kewajiban atas kita untuk berupaya menciptakan rasa aman bagi mereka.Ibarat :","part":1,"page":75},{"id":76,"text":"قرة العين للعلامة الشيخ محمد سليمان الكردي المدني الشافعي ص : 208-209 ، ما نصه :اَلَّذِيْ يَظْهَرُ لِلْفَقِيْرِ أَنَّهُمْ حَيْثُ دَخَلُوْا بَلَدَنَا لِلتِّجَارَةِ مُعْتَمِدِيْنَ عَلَى الْعَادَةِ الْمُطَّرِدَةِ مِنْ مَنْعِ السُّلْطَانِ مِنْ ظُلْمِهِمْ وَأَخْذِ أَمْوَالِهِمْ وَقَتْلِ نُفُوْسِهِمْ وَظَنُّوْا أَنَّ ذَلِكَ عَقْدَ أَمَانٍ صَحِيْحٍ لاَ يَجُوْزُ إِغْتِيَالُهُمْ ، بَلْ يَجِبُ تَبْلِيْغُهُمُ ألْمَأْمَنَ ... لأَِنَّ السُّلْطَانَ فِيْهَا جَرَتْ عَادَتُهُ بِالذَّبِّ عَنْهُمْ، وَهُوَ عَيْنُ الأَمَانِ .\rTerjemah :Apa yang tampak bagi al Faqir (Syekh Muhammad Sulaiman al Kurdi) bahwa mereka (orang-orang kafir) sekiranya memasuki negara kita (umat Islam) untuk berbisnis dengan berpedoman pada adat yang berlaku yaitu larangan pemerintah menganiaya mereka, merampas hartanya, membunuh jiwanya dan mereka menduga bahwa hal yang demikian itu merupakan bentuk jaminan keamanan yang sah, maka tidak diperbolehkan menyerang mereka bahkan wajin berupaya menciptakan rasa aman pada mereka …. Karena adat kebiasaan pemerintah sudah berlaku melindungi mereka dan itulah hakikat jaminan keamanan.\r(4) Layakkah senjata organik TNI/Kepolisian RI distatuskan sebagai harta fa’i dan boleh dilucuti dalam kerangka jihad ?\rJawaban :\rTidak layak menjadi harta faik (rampasan), karena tidak memenuhi ktreteria sebagai harta fai’.Ibarat :\rاسعاد الرفيق جز 1 ص : 66 الفَيْءُ فِى اللُّغَةِ الرُّجُوعُ وَاصْطِلاحًا هُوَ المَالُ الَّذِي يُؤْخَذُ مِنَ الحَرْبِيِّينَ مِنْ غَيْرِ قِتَالٍ اي بِطَرِيقِ الصُّلْحِ كَالجِزْيَةِ وَالخَرَاجِ","part":1,"page":76},{"id":77,"text":"Terjemah :Fai’ menurut bahasa berati kembali dan menurut istilah adalah harta yang diambil dari orang-orang kafir harby (musuh) dengan tanpa melalui peperangan yakni denagn jalan damai seperti jizyah dan penghasilan.\rالبيان في فقه الإمام الشافعي . ج : 12 ، ص : 187، ف : العمرانى ما نصه :الفيء هو المال الذي يأخذه المسلمون من الكفار بغير قتال ، سمي بذلك لأنه يرجع من المشركين إلى المسلمين – الى ان قال- والفيء ينقسم قسمين : أحدهما أن يتخلى الكفار عن أوطانهم خوفا من المسلمين ويتركوا فيها أموالا فيأخذها المسلمون، أو يبذلوا أموالا للكف عنهم ، فهذا يخمس ويصرف خمسه إلى من يصرف إليه خمس الغنيمة على ما مضى . والثاني : الجزية التي تؤخذ من أهل الذمة وعشور تجارة أهل الحرب إذا دخلوا دار الإسلام ومال من مات منهم في دار الإسلام ولا وارث له ، ومال من مات أو قتل على الردة.","part":1,"page":77},{"id":78,"text":"Terjemah :Fai’ adalah harta yang diambil oleh kaum muslimin tidak dengan jalan perang. Dinamakan fai’ karena harta itu kembali dari orang-orang musyrik kepada kaum muslimin –sampai perkataan muallif- Fai’ ada dua bagian yaitu : (1) terjadi ketika orang-orang kafir mengosongkan tempat-tempat tinggal mereka karena takut terhadap kaum muslimin dan mereka meninggalkan hartanya lalu kaum muslimin mengambilnya atau mereka menyerahkan hartanya agar mereka mendapatkan perlindungan. Harta ini dibagi lima bagian dan yang seperlima ditasarufkan kepada orang-orang yang mendapat seperlima bagian dari harta rampasan perang sesuai keterang terdahulu. (2) jizyah (upeti) yang dipungut dari golongan kafir ahli dzimmah, sepersepuluh dari perdagangan golongan kafir harby apabila mereka masuk negara Islam, harta orang kafir yang mati dinegara Islam sementara mereka tidak mempunyai ahli waris dan harta orang yang mati atau dibunuh dalam keadaan murtad.\r(5) Wajibkah diupayakan terbentuk pemerintahan internasional berasas Islam dengan sistem kepemimpinan khalifah dan negara-negara yang berpenduduk muslim diberlakukan sebagai negara federal (manthiqi) pada masa sekarang?\rJawaban :\rDalam hal ini terdapat perbedaan pendapat dikalangan para ulama :\r1. Tidak boleh terjadi lebih dari satu pemimpin (imam) bahkan hanya ada satu pemimpin untuk seluruh dunia. Pada pendapat pertama ini masih terjadi perbedaan lagi, yaitu :\r?…Tidak memperbolehkan secara mutlak, baik adanya wilayah kedaulatan Islam semakin meluas maupun tidak.","part":1,"page":78},{"id":79,"text":"?…Tidak memperbolehkan jika memang tidak terdapat halangan untuk bersatu atas seorang pemimpin (imam). Jadi jika terdapat halangan seperti makin meluasnya kawasan yang dihuni umat Islam yang tidak hanya satu pulau saja bahkan sampai pada pulau yang berbeda-beda yang tentu akan semakin jauh dari pengawasan imam, maka dalam kondisi seperti ini diperbolehkan membentuk pemimpin (imam) lebih dari satu orang.\r2. Memperbolehkan adanya lebih dari satu pemimpin (imam) secara mutlak. Ibarat :","part":1,"page":79},{"id":80,"text":"الإمامة العظمى عند اهل السنة والجماعة ، ص : 551-561، ط : دار الفكر , ما نصه :وَمِنْ خِلالِ هَذِهِ الدِّرَاسَةِ إتَّضَحَ أنَّ فِي المَسْئَلَةِ مَذْهَبَيْنِ : المَذْهَبُ الأوَّلُ ، وَهُوَ مَذْهَبُ جَمَاهِيْرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ أهْلِ السُّنَّةِ وَالجَمَاعَةِ وَغَيْرِهِمْ قَدِ يمًا وَحَدِيْثًا، وَهُوَ أنَّهُ لاَيَجُوْزُ تَعَدُّدُ الأئِمَّةِ فِي زَمَانِ وَاحِدٍ وَفِي مَكَانٍ وَاحِدٍ . قَالَ المَاوَرْدِي : إذَا عُقِدَتْ الإمَامَةُ لإمَامَيْنِ فِي بَلَدَيْنِ لَمْ تَنْعَقِدْ إمَامَتُهُمَا ِلأنَّهُ لاَ يَجُوزُ أنْ يَكُونَ لِلأمَّةِ إمَامَانِ فِي وَقْتٍ وَاحِدٍ وَإنْ شَذَّ قَوْمٌ فَجَوَّزُوْهُ . وَقَالَ النَّوَوِيُّ : إتَّفَقَ العُلَمَاءُ عَلَى أنَّهُ لاَ يَجُوزُ أنْ يُعْقَدَ لِخَلِيْفَتَيْنِ فِي عَصْرٍ وَاحِدٍ، وَهَؤُلاَءِ القَائِلُونَ بِالمَنْعِ عَلَى مَذْهَبَيْنِ : قَوْمٌ قَالُوا بِالمَنْعِ مُطْلَقًا سَوَاءٌ إتَّسَعَتْ رَقْعَةُ الدَّوْلَةِ الإسْلاَمِيَّةِ أمْ لاَ ، وَإلَى هَذَا القَوْلِ ذَهَبَ أكْثَرُ أهْلِ السُّنَّةِ وَالجَمَاعَةِ وَبَعْضُ المُعْتَزِلَةِ حَتَّى زَعَمَ ألنَّوَوِيُّ إتِّفَاقَ العُلَمَاءِ عَلَيْهِ وَهُنَاكَ مَنْ قَالَ بِالمَنْعِ إلاَّ أنْ يَكُوْنَ هُنَاكَ سَبَبٌ مَانِعٌ مِنَ الإِتِّحَادِ عَلَى إمَامٍ وَاحِدٍ وَيَقْتَضِي هَذَا السَّبَبُ التَّعَدُّدَ . وَفِي هَذِهِ الحَالَةِ يَجُوْزُ التَّعَدُّدُ وَذَكَرَ إمَامُ الحَرَمَيْنِ الجُوَيْنِيُّ أَهَمُّ هَذِهِ الأسْبَابِ فِي (قَوْلِهِِ مِنْهَا إِتِّسَاعُ الخِطَّةِ وَانْسِحَابِ ألإسْلاَمِ عَلَى أقْطَارٍ مُتَبَايِنَةٍ وَجَزَائِرَ فِي لُجَجٍ مُتَقَاذِفَةٍ . وَقَدْ يَقَعُ قَوْمٌ مِنَ النَّاسِ نُبْذَةً مِنَ الدُّنْيَا لاَ يَنْتَهِي إلَيْهِمْ نَظَرُ الإمَامُ وَقَدْ يَتَوَلَّجُ خَطُّ مِنْ دِيَارِ الكُفْرِ بَيْنَ خِطَّةِ","part":1,"page":80},{"id":81,"text":"الإسْلاَمِ وَيَنْقَطِعُ بِسَبَبِ ذَلِكَ نَظَرُ الإمَامِ عَنِ الَّذِينَ وَرَاءَهُ مِنَ المُسْلِمِينَ . قَالَ : فَإذَا اتَّفَقَ مَاذَكَرْنَاهُ فَقَدْ صَارَ صَائِرُونَ عِنْدَ ذَلِكَ إِلَى تَجْوِيزِ نَصْبِ الإمَامِ فِي القُطْرِ الَّذِي لاَ يَبْلُغُهُ اَثَرُ نَظَرِ الإمَامِ . وَعَزَا الجُوَيْنِيُّ هَذَا القَوْلَ إلَى شَيْخِهِ أبِي الحَسَنِ الأشْعَرِيِّ وَالأسْتَاذِ أبِي إسْحَاقَ الإسْفِرَايِيْنِيِّ وَهُوَ وَجْهٌ لِبَعْضِ أصْحَابِ الشَّافِعِيِّ وَرَجَّحَهُ أبُو مَنْصُوْرُ البَغْدَادِيُّ ، وَإلَى ذَلِكَ ذَهَبَ القُرْطُبِيُّ فِي تَفْسِيْرِهِ فَقَالَ : لَكِنْ إذَا تَبَاعَدَتِ الأقْطَارُ وَتَبَايَنَتْ كَالأنْدَلُسِ وَ خُرَسَانَ جَازَ ذَلِكَ ، لَكِنْ يُلاَحَظُ مِنْ أقْوَالِ المُجِيْزِيْنَ عِنْدَ اتِّسَاعِ الرِّقْعَةِ إنَّمَا ذَلِكَ بِسَبَبِ الضَّرُورَةِ ، وَإلاَّ فَإنَّ وَحْدَة َالإمَامَةِ هِيَ الأصْلُ ، وَإنَّ التَّعَدُّدَ إنَّمَا أُبِيْحَ عَلَى سَبِيلِ الإسْتِثْنَاءِ المَحْضِ وَلِضَرُورَاتٍ تُجِيْزُهُ ، وَالضَّرُورَةُ تُقَدَّرُ بِقَدْرِهَا وَإذَا زَالَتِ الضَّرُورَةُ زَالَ حُكْمُهَا وَبَقِيَ الأصْلُ . المَذْهَبُ الثَّانِي القَائِلُونَ بِجَوَازِ التَّعَدُّدِ مُطْلَقًا ، وَإلَى ذَلِكَ ذَهَبَ بَعْضُ المُعْتَزِلَةُ كَالجَاحِظِ وَبَعْضُ الكَرَامِيَّةِ وَعَلَى رَأسِهِمْ مُحَمَّدُ بْنُ كَرَامٍ السَجَسْتَانِيُّ الَّذِي يَنْتَسِبُونَ إلَيْهِ ، وَكَذلِكَ أبُو الصَّبَاحِ السَمَرْقَنْدِيُّ .","part":1,"page":81},{"id":82,"text":"Khulasoh :Tentang boleh tidaknya imam lebih dari satu orang terdapat dua madzhab dikalangan para ulama’ : Madzhab mayoritas umat Islam dari golongan ahlussunnah wal jama’ah dan yang lain dimasa lalu dan sekarang, bahwa tidak diperbolehkan adanya pemimpin berbilangan dalam satu masa tempat. Madzhab pertama ini terpecah menjadi dua sub madzhab\r(1) tidak memperbolehkan secara mutlak. Pendapat ini disampaikan oleh al Mawardi, an Nawawi, kebanyakan kalangan ahlussunnah wal jama’ah dan sebagain golongan mu’tazilah, dan\r(2) tidak memperbolehkan terjadi lebih dari dari satu imam, kan tetapi dalam realitanya yang demikian itu tidak memungkinkan karena beberapa sebab yang menuntut adanya imam lebih dari satu orang.\rSebab-sebab itu antara lain semakin meluasnya daerah Islam, tersebarnya agama Islam sampai pada kawasan yang berbeda-beda dan pulau-pulau yang berjauhan sampai bahkan terpisahkan oleh negara kafir serta terputusnya jangkauan pantauan imam. Menurut pendapat kedua ini pada dasarnya imam itu harus satu, tetapi karena realita menuntut adanya imam lebih satu maka bolehlah hal itu dilakukan sebatas yang diperlukan. Pendapat ini disampaikan antara lain Imam Haramain, Abu Hasan al Asya’ari, Abu Ishaq al Isfirayini, Abu Manshur al Baghdadi dan al Qurthubi. Madzhab golongan yang memperbolehkan lebih dari stu imam secara mutlak. Pendapat ini didukung oleh sebagian kelompok mu’tazilah, sebagian kelompok Karamiyyah dan juga Abu Shabah as Samarqandi","part":1,"page":82},{"id":83,"text":".السيل الجرار جز 4 ص : 512 ف : الشيخ محمد بن على بن محمد الشوكانى واما بعد انتشار الاسلام واتساع رقعته وتباعد اطرافه فمعلوم انه قد صار لكل قطر او اقطار الولاية الى امام او سلطان وفى القطر الاخر او الاقطار كذلك ولاينفذ لبعضهم امر ولانهي في القطر الاخر واقطاره التى رجعت الى ولايته فلا بأس بتعدد الائمة واسلاطين ويجب الطاعة لكل واحد منهم بعد البيعة له على اهل القطر الذي ينقذ فيه اوامره ونواهيه وكذلك صاحب القطر الاخر فاذا قام من ينازعه فى القطر الذي قد ثبتت فيه ولايته وبايعه اهله كان الحكم فيه ان يقتل اذا لم يتب ولايجب على اهل القطر الاخر طاعته ولاالدخول تحت ولايته لتباعد الاقطار وانه قد لايبلغ الى ما تباعد منها خبر امامها او سلطانها ولا يدرى من قام منهم او مات فالتكليف بالطاعة والحال هذه تكليف بما لايطاق وهذا معلوم لكل من له اطلاع على احوال العباد والبلاد فان اهل الصين والهند لايدرون بمن له الولاية فى ارض المغرب فضلا عن ان يتمكنوا من طاعته وهكذا العكس وكذلك اهل ما وراء النهر لايدرون بمن له الولاية في اليمن وهكذا العكس فاعرف هذا فانه المناسب للقواعد الشرعية والمطابق لما تدل عليه الادلة ودع عنك ما يقال فى مخالفته فان الفرق بين ما كانت عليه الولاية الاسلامية فى اول الاسلام وما هي عليه الآن اوضح من شمس النهار ومن انكر هذا فهو مباهت لايستحق ان يخاطب بالحجة لانه لايعقل","part":1,"page":83},{"id":84,"text":"Khulasoh : Tersebarnya agama Islam, meluasnya kawasan Islam dan semakin jauhnya jarak daerah-daerah Islam menuntut adanya seorang imam/pemimpin disetiap kawasan. Konsekwensinya setiap umat Islam dikawasan itu berkewajiban menta’ati pemimpinnya dan siapa saja yang menentangnya layak dihukum bunuh jika ia tidak bertaubat. Keharusan umat Islam sedunia hanya dipimpin oleh seorang imam/khalifah adalah tuntutan yang tak mungkin direalisasikan mengingat lasan-alasan diatas. Realita yang seperti inilah yang sesuai dengan kaidah-kaidah syar’iyyah, berbeda halnya dengan wilayah kekuasaan Islam pada masa awal perkembangannya. Jadi barang siapa mengingkari kenyataan yang jelas-jelas berbeda dengan keadaan masa lalu, inilah orang yang tak pantas lagi diajak bicara dengan argumen-argumen karena dia itu tidak berakal.\r(6) Apakah terhadap warga negara Indonesia yang menganut keyakinan / agama lain harus diposisikan sebagai musuh atau lawan dalam mengimplementasikan konsep jihad ?\rJawaban :\rKita tidak diperkanankan memposisikan warga negara non muslim sebagai musuh yang boleh kita perangi, akan tetapi malah kita berkewajiban untuk mengupayakan mereka tetap merasa aman hidup berdampingan dengan kita.Ibarat :","part":1,"page":84},{"id":85,"text":"في قرة العين للعلامة الشيخ محمد سليمان الكردي المدني الشافعي ص : 208-209 ، ما نصه :اَلَّذِيْ يَظْهَرُ لِلْفَقِيْرِ أَنَّهُمْ حَيْثُ دَخَلُوْا بَلَدَنَا لِلتِّجَارَةِ مُعْتَمِدِيْنَ عَلَى الْعَادَةِ الْمُطَّرِدَةِ مِنْ مَنْعِ السُّلْطَانِ مِنْ ظُلْمِهِمْ وَأَخْذِ أَمْوَالِهِمْ وَقَتْلِ نُفُوْسِهِمْ وَظَنُّوْا أَنَّ ذَلِكَ عَقْدَ أَمَانٍ صَحِيْحٍ لاَ يَجُوْزُ إِغْتِيَالُهُمْ ، بَلْ يَجِبُ تَبْلِيْغُهُمُ ألْمَأْمَنَ ... لأَِنَّ السُّلْطَانَ فِيْهَا جَرَتْ عَادَتُهُ بِالذَّبِّ عَنْهُمْ، وَهُوَ عَيْنُ الأَمَانِ .\rTerjemah : Apa yang tampak bagi al Faqir (Syekh Muhammad Sulaiman al Kurdi) bahwa mereka (orang-orang kafir) sekiranya memasuki negara kita (umat Islam) untuk berbisnis dengan berpedoman pada adat yang berlaku yaitu larangan pemerintah menganiaya mereka, merampas hartanya, membunuh jiwanya dan mereka menduga bahwa hal yang demikian itu merupakan bentuk jaminan keamanan yang sah, maka tidak diperbolehkan menyerang mereka bahkan wajib berupaya menciptakan rasa aman pada mereka. Karena adalah merupakan kewajiban bagi pemerintah melindungi mereka dan itulah hakikat jaminan keamanan.\r(Dikutip dari Bahtsul Mamail NU Jawa Timur th: 2006 by Salman Azmi )\r2033. Khilafah dalam Perspektif Aswaja : Diskursus antara Idealisme dan Kemaslahatan\rProlog","part":1,"page":85},{"id":86,"text":"Penghapusan Khilafah Turki Utsmani pada 3 Maret 1924, yang sekaligus menandai berakhirnya dominasi Islam dalam pentas politik global selama lebih dari 13 abad sejak era Khulafa’ Arrasyidien, dan meroketnya hegemoni Barat atas dunia Islam, menegaskan keberadaan umat Islam mulai saat itu telah terpuruk ke dasar degradasi peradaban. Realitas keterpurukan umat Islam dalam kancah politik, ekonomi, militer, budaya, dan bayang-bayang kemajuan Barat dalam sains dan teknologi yang menyudutkan umat Islam, serta “penjajahan modern” yang dilancarkan Barat terhadap dunia Islam, disinyalir kuat menjadi faktor terpenting yang membangkitkan eskalasi “kerinduan” umat Islam akan kejayaan yang pernah dimilikinya di masa silam itu.\rEskalasi “kerinduan” seperti ini, membangkitkan sugesti (ghirah) keagamaan umat Islam untuk melakukan serangkaian koreksi atas faktor-faktor penyebab kemunduran tragis yang dialaminya, kemudian melakukan improvisasi dan ijtihad-ijtihad sosial sebagai upaya untuk bangkit mengembalikan kejayaan yang hilang.","part":1,"page":86},{"id":87,"text":"Dalam hierarki ijtihad mengembalikan kejayaan yang hilang ini, umat Islam setidaknya terpecah ke dalam dua limit (manhaj) perjuangan. Ada sebagian umat Islam yang berikhtiar melalui pendekatan-pendekatan metodologis, kontekstual, progresif, permisif, dan inklusif, bersedia membuka diri dan kompromi dengan nilai-nilai positif peradaban Barat. Dan ada sebagian ikhtiar umat Islam yang cenderung eksklusif, fundamental, anti Barat, dan memilih kembali pada nilai-nilai positif Islam konvensional, serta tak kenal kompromi dengan nilai-nilai kearifan lokal dan modernitas. Bagi kelompok kedua ini, mengembalikan Khilafah Islamiyah adalah satu-satunya pilihan politik yang tak bisa ditawar untuk memungkinkan membangun kembali kejayaan Islam yang hilang. Maka, sejak saat itulah term “khilafah” menjadi isu harakah (pergerakan) Islam dengan misi dan agenda politik membangun kembali Daulah Islamiyah internasional.\rDalam dinamika perjuangannya, ide khilafah internasional ini pertama kali diperankan oleh jamaah Ikhwanul Muslimin yang didirikan di Mesir pada tahun 1928, dan selanjutnya banyak dimainkan oleh jamaah Hizbut Tahrir yang didirikan di Jerusalem Timur tahun 1952.","part":1,"page":87},{"id":88,"text":"Di Indonesia, benih ide khilafah sudah ada sejak awal kemerdekaan tahun 1945, baik yang bersifat konstitusional, seperti Majlis Konstituante, atau bersifat militer, seperti dalam kasus DI/TII, yang berusaha mendirikan negara Islam dan menolak Pancasila. Era reformasi tahun 1998 yang memberikan ruang kebebasan publik, menjadikan isu khilafah di Indonesia kian vulgar dan menemukan momentumnya. Pembicaraan-pembicaraan yang mewacanakan isu khilafah semakin intens dan terbuka dikampanyekan, baik lewat opini-opini pemikiran maupun gerakan nyata.\rSebagai umat Islam, memimpikan idealisme sebuah sistem pemerintahan dan bentuk negara yang Islami, adalah suatu impian yang lumrah sebagai tuntutan dan konsekuensi logis atas keIslamannya. Dan hal ini harus dihormati karena merupakan bagian dari hak asasi manusia. Akan tetapi yang penting dimengerti adalah, bahwa umat Islam hidup tidak sendiri. Umat Islam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara bersama “orang lain” (non Muslim), yang tidak dibenarkan memaksakan mereka dengan aturan-aturan sepihak Islam saja.","part":1,"page":88},{"id":89,"text":"Terlepas dari prinsip kemaslahatan, dari segi teoretik, misi dan visi ide khilafah, sebenarnya tidak ada yang salah, bahkan baik, dan pantas diapresiasi. Karena ide ini merefleksikan kepedulian, niat baik, cita-cita, dan ghirah militan untuk memperjuangkan Islam. Akan tetapi, ketika cita-cita dan niat baik ini tidak diimbangi dengan pemahaman yang baik terhadap realitas sosial masyarakat —dan tentunya pemahaman keIslaman yang baik pula—, maka hanya akan menimbulkan benturan-benturan destruktif antara Islam itu sendiri dengan praktik-praktik kehidupan sosial masyarakat.\rDi sinilah arti pentingnya kearifan sikap, yang bersedia mengkompromikan antara idealisme sebuah ajaran dan tuntutan keIslaman dengan realitas sosio-kuktur masyarakat, sehingga setiap gerakan dan perjuangan keIslaman tidak menimbulkan gejolak dan benturan-benturan destruktif, melainkan perjuangan yang bernilai efektif (maslahah), konstruktif, dinamis, dan rahmatan lil ‘alamien.\rTinjauan Dalil dan Manifesto Khilafah\rDalam literatur fiqh siyasi konvensional, secara definitif, terminologi khilafah kerap dideskripsikan sebagai bentuk mobilitas umum berdasarkan asas-asas syar’i dalam meraih kemaslahatan duniawi dan ukhrawi. Secara esensial, jabatan seorang khalifah dipandang sebagai pemegang otoritas religius dan otoritas politik.[1]","part":1,"page":89},{"id":90,"text":"Secara hukum, mengangkat pemimpin (imâm) atau pemerintahan (imâmah) sebagai figur atau institusi pemegang otoritas ini merupakan kewajiban agama.[2] Satu-satunya pijakan yang tegas melandasi hukum wajib ini adalah konsensus umat (ijma’). Sementara dalil-dalil berupa nash (Alqur’an dan Hadits), dilibatkan lebih sebagai justifikasi terhadap konsensus ini dari pada sebagai landasan hukum itu sendiri.\rAyat-ayat yang menginstruksikan untuk menjalankan hukum-hukum Allah (QS. Alma'idah: 48, 49, dan 50), taat pada pemimpin (QS. Annisa’: 59), dan ayat-ayat yang berbicara tentang harta ghanimah (QS. Al’anfal: 41), tentang kewajiban menjalankan amanah dan keadilan (QS. Annisa’: 58), tentang hukum qishas dan pembunuhan (QS. Albaqarah: 178, 179, Annisa’: 92, 93), tentang vonis kafir, dhalim, dan fasiq bagi yang tidak menjalankan hukum Allah (QS. Alma’idah: 44, 45, dan 47), dll., tidak ada satu dari sekian ayat-ayat tersebut —ataupun yang senada—, yang secara eksplisit mewajibkan pengangkatan khalifah atau pendirian negara.\rSedangkan hadits yang familier dilibatkan dalam pembenaran (mendukung) ijma’ kewajiban mengangkat imam adalah hadits-hadits tentang baiat, seperti:\rوَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً\r“Barang siapa mati dan pada lehernya tidak ada baiat, maka ia mati dalam kondisi jahiliah”. (HR. Muslim)\rمَن مَاتَ وَلَيسَ لَهُ إِمَامٌ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً\r“Barang siapa mati dan ia tidak memiliki imam, maka ia mati dalam kondisi jahiliah”. (HR. Ibn Hibban)[3]","part":1,"page":90},{"id":91,"text":"Secara eksplisit, ayat-ayat tersebut tidak ada muatan instruksi penegakan sistem khilafah. Alqur’an dan Hadits tidak menentukan jenis sistem politik tertentu. Menjadikan hadits-hadits tentang baiat sebagai dalil mendirikan Negara Khilafah akan terkesan mempolitisir dan memaksakan. Secara spesifik, hadits-hadits itu sejatinya berkaitan dengan baiat agar para pemeluk Islam menjalankan rukun Islam, bukan pendirian sebuah negara. Dasar ijma’ sendiri pun sebenarnya dinilai problematik jika dipahami sebagai dasar membangun Negara Khilafah. Sebab ijma’ di sini berkaitan dengan nashbul imâmah, bukan konsensus mengenai membentuk negara tertentu. Hal ini ditandai dengan realitas sejarah yang membuktikan tak pernah ada kesepakatan sistem politik yang baku di kalangan sahabat.\rSampai di sini kiranya cukup jelas bahwa, mengangkat pemimpin (nashbul imâm) adalah wajib berdasarkan ijma’, bukan berdasarkan dalil nash yang sharih (eksplisit).[4] Dan sampai di sini pula, ulama telah mencapai kata mufakat. Pernyataan Asysyafi’i yang dikutip Aljuwaini dalam Alghiyatsi, bahkan menangguhkan kewajiban ini dengan kondisi yang mendukung dan memungkinkan.[5] Ini sekaligus menandaskan bahwa, kewajiban nashbul imâm tidak berlaku mutlak. Ada batas-batas kondisi tertentu di mana kewajiban ini tidak dibebankan.","part":1,"page":91},{"id":92,"text":"Perdebatan penting isu khilafah selanjutnya, sebenarnya terjadi tidak dalam wilayah seputar ada-tidaknya dalil syar’i yang menjadi pijakan kewajiban mengangkat pemimpin (nashbul imâm), melainkan dalam tataran manifesto imâmah (bentuk pemerintahan). Apakah imâmah harus diwujudkan dalam bentuk pemerintahan Islam konvensional (khilafah) seperti yang pernah ada dalam sejarah politik Islam? Ataukah imamah telah bisa dimanifestasikan dengan wujud seperti pemerintahan modern, demokrasi, misalnya? Perdebatan pada tataran ini, telah menyeret ke dalam polemik serius mengenai hubungan agama-negara.\rUntuk memberikan jawaban tanda tanya ini, kita perlu menilik sejarah dinamika pergolakan politik. Dari sana setidaknya didapati tiga model paradigma dalam memahami hubungan antara agama dan negara.\rParadigma sekularistik\rParadigma ini memberikan garis disparitas antara agama dan negara karena, menurut penganut paradigma ini, agama tidak mewajibkan mendirikan institusi negara. Agama hanya memberikan nilai moral-etik dalam membangun tatanan masyarakat. Penganut paradigma ini menyatakan, tidak ada dalil eksplisit dalam Alqur’an maupun hadits yang menunjukkan kewajiban mendirikan sebuah negara. Paradigma ini antara lain dianut oleh sebagian Khawarij dan Abi Bakar Al’asham serta Hisyam Alfuthi dari sekte Mu’tazilah.\rParadigma integralistik","part":1,"page":92},{"id":93,"text":"Dalam perspektif ini, relasi agama-negara adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Cakupan ajaran agama tidak hanya urusan ritual-speritual, tetapi sekaligus meliputi aturan-aturan sosial-politik. Doktrin esensial paradigma ini adalah, “inna al’islâm dîn wa daulah” (Islam adalah agama dan kekuasaan). Penganut paham ini adalah sekte Syiah. Syiah mengkategorisasi imâmah sebagai salah satu dari rukun iman.\rParadigma simbiotik\rMenurut pandangan ini, relasi antara agama dan negara bersifat timbal-balik. Artinya, agama tidak harus diformalkan dalam institusi negara, namun agama juga tidak boleh diceraikan sama sekali dari wilayah politik. Agama membutuhkan negara sebagai instrumen dakwah, dan negara membutuhkan agama sebagai sumber dasar. Penganut paradigma ini adalah mayoritas Ahlussunnah dan Mu’tazilah.\rSejauh ini, banyak pakar beranggapan, hubungan sekularistik agama-negara merupakan opsi terbaik. Baik dalam pengertian paling menjamin dari politisasi atau penyalahgunaan agama. Kendati demikian, sejak gagasan sekularisme ini didakwahkan ke Timur, umat Islam menjadi terbelah antara yang menerima dan yang menolak. Yang kontra umumnya karena kecurigaan terhadap apa saja yang datang dari Barat, tanpa mencoba mengerti kesulitan masyarakat Barat sendiri selama berabad-abad dalam menata hubungan agama-negara. Kelompok ini mencurigai sekularisme sebagai gagasan yang segaja diskenariokan untuk memarjinalkan Islam dari ruang publik. Sementara kelompok yang pro berdalih bahwa sekularisme adalah pilihan terbaik jika ingin membiarkan negara dan agama dalam kewajarannya.","part":1,"page":93},{"id":94,"text":"Seperti kita tahu, gagasan skularisme dalam konteks Barat abad pertengahan, dikonotasikan sebagai gagasan untuk menghukum otoritas agama dan mengurungnya di ruang privat. Dan hal ini beralasan, sebab dosa-dosa agama (baca: Gereja) telah menjadi instrumen dominatif bagi elit politik maupun ekonomi untuk mempertahankan “keuntungannya”. Pada saat yang sama, agama telah kehilangan wataknya sebagai pembela masyarakat lemah.\rMeskipun dosa-dosa demikian juga dijumpai dalam lembar sejarah politik Islam (khilafah), akan tetapi ada beberapa hal penting yang membedakan. Dalam Islam tidak ada otoritas tunggal yang memainkan dosa-dosa itu secara utuh dan terpusat. Pada saat sebagian ulama Islam berkolusi dengan penguasa, mayoritas ulama tetap setia hidup di tengah dan bersama rakyat. Di antara mereka ada yang sekadar apatis (uzlah) dari politik kekuasaan, sebagian terus melancarkan kritik, bahkan beberapa dengan tindakan dan gerakan.\rItulah sebabnya, hubungan agama-negara di dunia Islam di abad modern, tidak bisa begitu saja dijiplakkan kepada pengalaman dan gagasan Barat, sekularisme. Namun, bukan berarti sekularisme musti ditolak sama sekali dan memilih kembali ke teokratisme, seperti sikap para pengusung ide khilafah. Kita tahu bahwa dalam teokratisme, secara formalitas negara ditaklukkan demi kepentingan agama, padahal sejatinya, negara ditaklukkan demi kepentingan elitnya belaka. Namun kita juga tahu, mengkotakkan agama hanya terbatas pada ruang privat dan negara pada ruang publik, juga mengandung mafsadah tersendiri.","part":1,"page":94},{"id":95,"text":"Dinamika hubungan agama-negara telah menjadi faktor kunci dalam sejarah peradaban —atau kebiadaban— umat manusia. Di samping dapat melahirkan kemajuan besar, hubungan antara keduanya juga telah menimbulkan malapetaka besar. Tidak peduli, entah ketika negara bertahta di atas agama (pra abad pertengahan), ketika negara di bawah agama (abad pertengahan), atau ketika negara terpisah dari agama (abad modern).\rMaka jelaslah, dalam tataran praktis konsep teokratisme Islam atupun skularisme Barat, masing-masing memiliki nilai plus-minusnya sendiri-sendiri. Sebagai sikap bijaksana, tentu tidak seharusnya menunjukkan sikap emosional dengan memilih salah satunya dan mencampakkan yang lain, melainkan mengkompromikan sisi-sisi positifnya dan membenahi sisi-sisi negatifnya. Dalam internal ajaran Islam, kita bisa menggagas pemilahan beberapa tingkatan ajaran yang berimplikasi pada pola hubungan agama-negara yang ideal.\r1.…Ajaran yang bersifat privat, seperti soal keyakinan (aqidah) kepada Allah, Malaikat, takdir dan hari akhir. Keyakinan-keyakinan seperti ini adalah urusan yang benar-benar pribadi. Apa yang diyakini umat Islam tentang Tuhan atau hari akhir, misalnya, tidak mungkin bisa diseragamkan antara satu orang dengan yang lain. Dalam hal ini negara bukan saja tidak punya kewenangan untuk intervensi, bahkan tidak punya kemampuan untuk menjangkaunya.","part":1,"page":95},{"id":96,"text":"2.…Ajaran keagamaan yang bersifat ritual peribadatan, seperti shalat, pusa, haji, dll., atau hukum agama tentang keluarga (al`ahwâl asy-syakhshiyyat), maka negara tidak seharusnya memiliki hak intervensi penuh, kecuali terbatas dalam sekala tertentu.\r3.…Ajaran keagaman yang bersifat publik, misalnya ajaran-ajaran Islam tentang muamalah (perdata), jinayah (pidana) dan siyasah (politik atau pemerintahan). Pada tingkat ajaran, kategori inilah yang terbuka proses pengkayaan (enrichment) dan substansiasi hukum agama terhadap hukum negara.\rAkan tetapi, kita semua harus menyadari bahwa, sereligius dan sesuci apapun tawaran-tawaran hukum syariat tersebut tidak dapat diberlakukan begitu saja sebagai hukum positif. Dalam konteks negara kebangsaan, hukum agama, termasuk yang dianut oleh mayoritas sekalipun, baru merupakan bahan mentah seperti halnya hukum adat atau hukum-hukum import dari bangsa lain.\rUntuk bisa menjadi bagian dari hukum publik, hukum-hukum tersbut harus memenuhi dua syarat.\r1.…Syarat substansial, menyangkut isi hukum yang harus beroreintasi pada kepentingan publik, bukan hanya kepentingan kelompok tertentu.\r2.…Syarat prosedural, artinya hukum itu dapat meyakinkan nalar publik untuk diterima melalui prosedur penetapan hukum secara demokratis yang juga disepakati oleh publik.","part":1,"page":96},{"id":97,"text":"Hukum apapun yang memenuhi kedua syarat ini berhak mengisi bangunan hukum positif dan perundang-undangan suatau negara. Tidak terkecuali hukum yang berbasis agama. Bahkan untuk negara modern yang kini telah semakin represif, koruptif, ekploitatif dan tidak perduli dengan nasib masyarakat lemah, maka kontribusi agama-agama dengan kekayaan nilai-nilai etik dan moralnya sangatlah diperlukan. Kita butuh sekali kontribusi etika sosial Kristiani dengan basis kasihnya terutama bagi mereka yang terpinggirkan. Kita butuh sentuhan etika Hinduisme dengan semangat ahimsa (kelembutan); etika Budhis dengan etos kesederhanaan; dan etika Islam dengan spirit keadilannya.\rOleh sebab itu, tidak ada manfaat apapun bagi umat Islam untuk meributkan sistem pemerintahan ataupun bentuk negara, kecuali sekedar untuk trik-trik politik belaka. Jika memang sungguh-sungguh ingin memberikan kontribusi kepada agama, maka bangunlah negara dan sistem pemerintahan yang demokratis dengan prinsip kemaslahatan dan rahmatan lil ‘alamin. Karena itulah manifesto esensial khilafah dalam pandangan Aswaja.\rEksistensi NKRI dan Pancasila","part":1,"page":97},{"id":98,"text":"Semarak wacana formalisasi syariat Islam dan ide khilafah di bumi Nusantara pasca era Reformasi telah sampai pada pro-kontra yang cukup tajam. Ironisnya, sejauh ini nuansa argumentasi yang dibangun kedua pihak terkesan tidak lagi diproyeksikan untuk berusaha meyakinkan pihak lain, tetapi malah melakukan stigmatisasi satu sama lain. Di mata kelompok pro formalisasi syariat, mereka yang menolak dianggap Islamophobia. Sementara kelompok yang menolak formalisasi syariat, menuding kelompok pro formalisasi syariat sebagai kelompok yang hendak melakukan politisasi agama.\rUntuk menghindari ketidakefektifan polemik ini, di sini akan dipaparkan penjelasan hukum kedaulatan NKRI berdasarkan obyektifitas dalil-dalil ilmiah, yang selanjutnya diharapkan bisa digunakan pertimbangan bersama: masih perlu atau wajibkah mengkonversi NKRI dengan konsep Khilafah Islamiyah? Dan pastinya, setelah mempertimbangkan secara mendalam ekses maslahah dan mafsadahnya?\rDari sudut pandangan agama, kedaulatan pemerintahan NKRI adalah sah. Pandangan ini didasarkan pada setidaknya dua argumen:\r1.…Presiden Indonesia dipilih langsung oleh rakyat. Menurut Ibnu Katsir dalam Al Bidayah wan Nihayah, sistem pemilihan langsung oleh rakyat sama dengan prosedur pengangkatan Sahabat Ali ra. dalam menduduki jabatan khalifah ke IV.[6]\r2.…Presiden terpilih Indonesia dilantik oleh MPR, sebuah gabungan dua lembaga tinggi, DPR dan DPD yang dapat merepresentasikan ahlul halli wal ‘aqdi (electoral colledge) dalam konsep Al Mawardi dalam Al Ahkam Assulthaniyah.","part":1,"page":98},{"id":99,"text":"Keabsahan kedaulatan pemerintahan NKRI ini bukan hanya dapat dilihat dari sudut sistem pemilihan dan mekanisme pelantikan presiden saja, namun juga bisa dilihat dari terpenuhinya maqâshidus syari'ah (tujuan-tujuan syar'i) dari sebuah imâmah (pemerintahan) Indonesia, yakni demi menjaga kesejahteraan dan kemashlahatan umum. Terkait dengan ini, Imam Al Ghazali dalam Al'iqtishad fil 'Itiqad menyatakan, “Dengan demikian tidak bisa dipungkiri kewajiban mengangkat seorang pemimpin (presiden), karena mempunyai manfaat dan menjauhkan mudlarat di dunia ini”.[7] Dalam konteks ini, pemerintahan NKRI telah memenuhi tujuan syar'i di atas dengan adanya institusi pemerintahan, kepolisiaan, pengadilan dan instansi-instansi pemerintah lainnya.\rSenada dengan Imam Al Ghazali, Al Baidlawi juga berpandangan bahwa, esensi dari pemerintahan adalah menolak kerusakan, dan kerusakan itu tidak dapat ditolak kecuali dengan pemerintahan tersebut. Yaitu sebuah pemerintahan yang melakukan mobilitas pada ketaatan, mencegah kemaksiatan, melindungi kaum lemah, mewujudkan kesejahteraan dan keadilan bagi semua.[8]","part":1,"page":99},{"id":100,"text":"Alhasil, menurut Ahlussunnah wal Jama'ah, kedaulatan NKRI adalah pemerintah yang sah. Karena itu, mengkonversi sistem pemerintahan dengan sistem apapun, termasuk sistem khilafah sentral dengan memusatkan kepemimpinan umat Islam internasional pada pemimpin tunggal, adalah tidak diperlukan. Apalagi jika konversi sistem itu akan menimbulkan mudlarat yang lebih besar. Seperti timbulnya chaos dalam bidang sosial, politik, ekonomi dan keamanan, akibat timbulnya kevakuman pemerintahan atau pemerintah yang tidak mendapatkan dukungan rakyat luas, sehingga membuka peluang perang saudara antar anak bangsa.\rAdapun gagasan mendirikan khilafah internasional, dipastikan tidak memiliki nilai efektifitas dan bertentangan dengan prinsip-prinsip kemaslahatan. Penilaian ini bisa dinalar dari alasan-alasan sebagai berikut:\rKhilafah mendunia tidak memiliki akar pijak dalil syar'i yang qath'i\rAdapun yang wajib dalam pandangan agama, adalah wujudnya pemerintahan yang menjaga kesejahteraan dan kemashlatan dunia. Terlepas dari apa dan bagaimana bangunan dan sistem pemerintahannya. Karena itu, kita melihat para ulama di berbagai negara di belahan dunia memperbolehkan, bahkan tak sedikit yang ikut terlibat langsung dalam proses membidani pemerintahan di negaranya masing-masing.\rPersoalan imamah dalam pandangan Ahlussunnah wal Jama’ah bukanlah bagian dari aqidah","part":1,"page":100},{"id":101,"text":"Melainkan termasuk urusan siyayah syar’iyah atau fiqh muamalah. Karena itu, kita boleh berbeda pendapat dalam soal sistem pemerintahan, sesuai dengan kondisi ruang dan waktu, serta kenyataan masyarakatnya masing-masing dalam mempertimbangkan mashlahah dan mafsadah dari sebuah sistem yang dianutnya.\rMembangun pemerintahan agama di suatu wilayah, akan mengancam agama itu sendiri di wilayah lain\rMenegakkan Islam di suatu daerah di Indonesia, misalnya, sama halnya dengan membunuh Islam di daerah-daerah lain, seperti di Irian Jaya, Flores, Bali dan daerah minoritas Muslim lainnya. Daerah-daerah basis non Muslim akan menuntut hal yang serupa dalam proses penegakkan agamanya masing-masing. Di samping itu, mendirikan negara khilafah di Indonesia, juga rawan mengancam integritas NKRI yang telah dibangun oleh keringat dan darah para pejuang bangsa. Dan ancaman demikian sudah pernah kita saksikan dalam peristiwa penghapusan tujuh kata sila pertama di masa-masa awal kemerdekaan. Bentuk pemerintahan NKRI adalah wujud dan refleksi kearifan para pemimpin agama di Indonesia, yang menyadari kanyataan keragaman elemen bangsa, dan tidak ingin terjebak pada institusionalisasi agama yang berbahaya.","part":1,"page":101},{"id":102,"text":"Dalam konteks pemahaman seperti inilah kita umat Islam semestinya bisa mafhum, bahwa Pancasila yang menjadi ideologi NKRI adalah sebagai falsafah pemersatu dari keberagaman bangsa. Hidup bersama, bernegara, dan berbangsa dalam lingkungan keragaman masyarakat yang plural secara suku, ras, agama, budaya, dll., imposible dapat diseragamkan dengan satu aturan yang sepihak. Dibutuhkan suatu perangkat aturan sosial yang kompromis yang bisa menjadi titik-temu dan bisa mewadahi aspirasi-aspirasi dari perbedaan-perbedaan dan kepentingan-kepentingan semua pihak sebagai pranata dalam berperikemanusiaan dan berperikehidupan, seperti resolusi Piagam Madinah di era Rasulullah saw.\rSulitnya menilai atas tindakan seorang khalifah\rApakah merupakan suatu langkah politik atau sekedar pelampiasan ambisi kekuasaan, atau itu memang benar-benar melaksanakan perintah Allah ketika terjadi kekerasan dari khalifah yang berkuasa terhadap para ulama sebagaimana dialami oleh imam madzhab empat pada peristiwa Almihnah. Sejarah mencatat tidak sedikit dari para ulama yang mendapat perlakuan dhalim, diborgol, dipenjara, dan dianiaya, sementara khalifah dalam menjalankan hukuman tersebut melakukannya atas nama agama. Jika demikian yang terjadi, maka nyaris dipastikan ulama Nahdliyyin bakal memenuhi penjara-penjara di seluruh wilayah Indonesia. Maka dalam konteks seperti inilah negara demokrasi yang tidak sepenuhnya bertentangan dengan ajaran dan nilai-nilai luhur Islam lebih menjamin kemaslahatan dari pada negara agama.\rKondisi mental sosial masyarakat yang tidak siap","part":1,"page":102},{"id":103,"text":"Dalam hal melaksanakan syari'at Islam secara totalitas, terutama untuk menerapkan hukum pidana Islam. Dan kondisi seperti ini bukanlah suatu dosa yang tak termaafkan, lebih-lebih boleh divonis kafir. Sebab dalam menjalankan perintah agama, ada tolok ukur yang disesuaikan dengan kapasitas dan kemampuan, seperti sabda Nabi saw.:\rفَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَدَعُوهُ\r“Maka, apabila aku perintahkan sesuatu kepada kalian, lakukanlah semampu kalian. Dan apabila aku melarang sesuatu kepada kalian, maka tinggalkanlah”. (HR. Bukhari Muslim)\rFormalisasi syariat secara totalitas sebagai hukum positif tanpa mempertimbangkan kesiapan umat Islam justeru akan menimbulkan mafsadah terhadap umat Islam sendiri. Di Indonesia, yang kendati Muslim secara kuantitas menempati angka mayoritas, namun secara kualitas keIslaman masih relatif rendah, dipastikan akan banyak orang yang tangannya buntung, atau mati di tangan eksekutor ketika hukuman hudud diformalkan dalam hukum positif. Dan hal ini dikhawatirkan justeru akan menyebabkan banyak umat Islam yang lari tidak mengakui sebagai Muslim, karena ketakutan terhadap sanksi hukum tersebut. Formalisasi syariat di tengah ketidaksiapan umat justeru akan meningkatkan angka Muslim yang murtad, dan ini jelas merugikan umat Islam sendiri yang di Indonesia menduduki level lebih dari 80 persen.","part":1,"page":103},{"id":104,"text":"Sederhananya, apabila menginginkan Indonesia menjadi negara Islami, Islamikan terlebih dulu bangsanya. Memaksakan pendirian Negara Islam atau formalisasi syariat secara emosianal, tanpa didukung kesiapan mental-sosial rakyatnya, hanya akan menjadikan negara tanpa bangsa. Bangsa yang Islami jauh lebih baik dibanding negara Islami. Jauh lebih penting bagaimana membangun masyarakat sadar hukum, yang bersedia meninggalkan kejahatan pencurian, pembunuhan, dan perzinahan, dari pada ngotot bagaimana bisa menghukum para pencuri, pembunuh dan pezina dengan hukuman potong tangan, qishas, dan rajam.\rKetidakpastian Teori Syariat yang Diterapkan\rJika memang disepakati ide formalisasi syariat, maka teori syariah manakah yang akan diterapkan? Apakah model madzhab Wahabi di Saudi Arabia yang memberangus ajaran-ajaran sebagaimana amaliah kaum Nahdliyyin, tawassul, tahlil, talqin, dan lain sebagainya? Atau madzhab Syiah yang telah membunuh ratusan ulama dan umat Islam, menghancurkan masjid-masjid Ahlussunnah sebagaimana yang terjadi di teluk Persi, di bagian wilayah Timur Tengah, atau belahan lain di dunia? Kemudian pemerintah yang berkuasa melakukan semua itu, lagi-lagi, atas nama agama. Jika itu yang terjadi, niscaya pengikut Ahlussunnah atau Nahdliyyin di Indonesia, akan menjadi korban dari pemerintah yang berbeda madzhab dan aqidah tersebut.","part":1,"page":104},{"id":105,"text":"Pertimbangan-pertimbangan di atas kian meyakinkan bahwa cita-cita untuk mendirikan Khilafah Islamiyah akan membawa konsekuensi tersendiri, bukan hanya menyangkut tampilan wajah Indonesia, tetapi juga kondisi masyarakat yang akan diwarnai oleh konflik dan ketegangan dengan elemen bangsa yang lain. Dengan mempertimbangkan pendapat dari Imam Alghazali dan Albaidlawi di atas, maka mengkonversi sistem pemerintahan yang ada, yang secara substansial tidak betentangan dengan ajaran Islam, maka tidak diperbolehkan menurut syara’, mengingat besarnya ongkos sosial, politik, ekonomi, dan keamanan yang harus dibayar oleh pemerintah dan masyarakat. Dalam pandangan Ahlusunnah wal Jama’ah, menghindari mudlarat jauh lebih penting dari pada menerapkan kebaikan.\rدَرْءُ اْلمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ اْلمَصَالِحِ\r“Menghindari kerusakan harus diprioritaskan dari pada mengusahakan kemaslahatan”.\rKarena itu, menghindari madlarat yang besar lebih kita utamakan dari pada mendapati sedikit kemaslahatan. Sebaliknya, tidak mendapatkan sedikit kemaslahatan untuk menghindari mudlarat yang lebih besar merupakan sebuah kemaslahatan yang besar.","part":1,"page":105},{"id":106,"text":"KH. MA Sahal Mahfudh menyatakan, sikap NU pada saat Khutbah Iftitah Munas Alim Ulama dan Konbes NU di Sukolilo Surabaya, 28 Juli 2006: “NU juga sejak awal mengusung ajaran Islam tanpa melalui jalan formalistik, lebih-lebih dengan cara membenturkannya dengan realitas secara formal, tetapi dengan cara lentur. NU berkeyakinan bahwa syari’at Islam dapat diimplementasikan tanpa harus menunggu atau melalui institusi formal. NU lebih mengidealkan substansi nilai-nilai syari’ah terimplementasi di dalam kehidupan masyarakat ketimbang mengidealisasikan institusi. Kehadiran institusi formal bukan suatu jaminan untuk terwujudnya nilai-nilai syari’ah di dalam masyarakat”.\rDalam kaitan ini, sikap NU jelas, keinginan untuk mengkonversi sistem pemerintahan, tidak memiliki akar pijakan syar'i, bahkan bertentangan dengan serangkaian hasil ijtihad para ulama NU yang dirumuskan di berbagai institusi pengambilan keputusan dan kebijakan tertinggi organisasi. Bagi NU —sejauh ini—, Pancasila, UUD 1945 dan NKRI adalah formulasi final umat Islam Indonesia dari segala upaya mendirikan negara dan membentuk pemerintahan.\rKesimpulan\rDari diskursus yang telah dikemukakan di atas, ada beberapa poin penting yang patut kita garis bawahi sebagai kesimpulan:\r1.…Dalil-dalil yang dikemukakan pihak pro khilafah, tidak bisa diklaim sebagai dalil spesifik (khash) dan eksplisit (sharih) dijadikan pijakan dan landasan syar'i kewajiban mendirikan khilafah dalam pengertian mereka (Negara Islam), melainkan sebatas dalil-dalil yang bersifat umum (‘am) dan mafhum.","part":1,"page":106},{"id":107,"text":"2.…Dalil-dalil yang mewajibkan nashbul imamah (pengangkatan pemimpin), tidak bisa diinterpretasikan terbatas pada arti figur \"khalifah\" dan sistem \"khilafah\", melainkan memiliki konotasi longgar yang bisa ditafsirkan dengan figur kepala negara, presiden, perdana menteri, khalifah, bahkan raja, dan sebuah sistem teokrasi maupun demokrasi.\r3.…Urusan kepemimpinan (imamah) bukanlah urusan akidah, melainkan urusan fiqhiyah siyasiyah yang terbuka ruang ijtihad untuk mencari bentuk dan formulasi ideal sesuai dengan prinsip kemaslahatan. Oleh karena itu, seseorang tidak bisa divonis kafir hanya lantaran menolak atau tidak mendukung ide khilafah.\r4.…Terbentuknya sebuah institusi negara bukanlah tujuan akhir (maqashid), melainkan sebatas sarana (wasa'il) yang netral untuk mengatur ketertiban umum, melindungi dan menyejahterakan rakyat. Bentuk negara dan sistem pemerintahan apapun yang efektif (maslahah) dan tidak bertentangan dengan maqashidus syari'ah, maka tidak ada keharusan merubahnya, bahkan haram apabila dapat menimbulkan konflik dan kekacauan umum.","part":1,"page":107},{"id":108,"text":"5.…Formalisasi hukum-hukum syariat sebagai konstitusi, akan dihadapkan pada dilema pengakuan teori madzhab Islam tertentu sebagai madzhab resmi negara, dan tidak mengakui teori-teori madzhab lain, baik madzhab aqidah ataupun fiqh, yang rawan menimbulkan deskriminasi dan penindasan pada madzhab-madzhab tidak resmi. Lebih dari itu, formalisasi syariat akan kehilangan nilai efektifitasnya (tidak maslahah) jika tanpa didudukung kesiapan mental, sosial dan spiritual rakyatnya. Bahkan, institusi formal tidak menjamin terwujudnya nilai-nilai syariat di tengah masyarakat. Sedangkan nilai-nilai substansial bisa diwujudkan meskipun tanpa institusi formal.\r6.…Pancasila sebagai ideologi negara Indonesia merupakan bentuk penafsiran dan pengejawentahan nilai-nilai luhur ajaran Islam dalam berkeTuhanan dan berkemanusiaan. Falsafah bangsa yang mengandung nilai-nilai tauhid, kemanusiaan, keadaban, persatuan, kerakyatan, dan keadilan. Kedudukannya identik dengan Piagam Madinah, sebagai wadah pemersatu kebhinekaan bangsa.\r7.…Sistem demokrasi tidak sepenuhnya bertentangan dengan Islam, bahkan identik dengan nilai-nilai universal Islam. Seperti prinsip musyawarah, keadilan, persamaan, kebebasan, dll.\r8.…Upaya-upaya mengkonversi pemerintahan NKRI tidak memiliki pijakan absah dalil syar'i, bahkan nyata-nyata bertentangan dengan asas kemaslahatan.\r9.…Manifesto esensial Khilafah Islamiyah dalam pandangan Aswaja adalah sebuah sistem pemerintahan yang demokratis, maslahah dan rahmatan lil ‘alamien.|KD\r_________________","part":1,"page":108},{"id":109,"text":"Disampaikan Oleh : Mudaimullah Azza, dalam Dialog Terbuka dengan aktivis Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), di kabupaten Bojonegoro, tanggal 3 April 2011\r[1] Ibn Khaldun, Muqaddimah, vol. I hlm. 97.\r[2] Al Mawardi, Al Ahkam As-Sulthaniyyah, hlm. 5\r[3] Terkait dengan hadits ini, Abu Hatim mengatakan, \"dhahir dari hadits ini, bahwa seseorang yang mati dan ia tidak memiliki imam, maksudnya imam adalah Nabi saw., karena imam penduduk bumi di dunia adalah Rasulullah saw. Barang siapa tidak mengetahui imamnya (nabinya), atau meyakini imam lain yang perkataannya mengalahkan perkataan Nabi saw., lalu ia mati, maka ia mati dalam kondisi jahiliah\". Lihat Shahih Ibn Hibban, vol. X hlm. 434\r[4] Terkadang, aktivis pro Khilafah juga menyodorkan ayat\rوَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأرْضِ خَلِيفَةً\r(QS. Al Baqarah: 30) sebagai dalih kewajiban mendirikan khalifah, dengan mengacu secara redaksional kata khalifah dalam ayat tersebut. Perlu diketahui, para Mufassirin memahami kata khalifah itu terjadi perbedaan pendapat. Ada yang mengatakan yang dimaksud khalifah adalah nabi Adam as., dan ada yang mengatakan anak turun nabi Adam as. Penyebutan khalifah kepada nabi Adam pun ulama berbeda pendapat. Satu versi mengatakan karena Adam dijadikan Allah sebagai pengganti (khalifah) bangsa jin (Banul Jan) menjadi penduduk bumi. Versi lain mengatakan, karena Adam menjadi utusan Allah dalam menghukumi makhluk di bumi. Lihat Fakhruddin Arrazi, Mafatihul Ghaib, vol. I hlm. 441\r[5] Al Juwaini, Alghiyatsi, hlm. 15\r[6] Al Bidayah wan Nihayah 204 : 2001","part":1,"page":109},{"id":110,"text":"[7] Imam Al Ghazali, Al 'Iqtishad fil 'Itiqad, 147 th. 1988\r[8] Al Baidlawi, Thawali’ al-Anwar wa Mathali’ al-Andlar, 348: 1998\r2175. PEMILIHAN PEMIMPIN DENGAN MEMBAGIKAN UANG\rOleh : Umam Zein\rPerkenankanlah kami memberikan kesimpulan atas permasalahan berbobot yang pernah ditanyakan oleh saudari nabilah az-zahrah, meski yang bersangkutan sudah tidak berada di grup. Wal a'fwu minki. Watawashaw bish shabr :\rAssalamu'alaikum. Deskripsi : Akhir-akhir ini, cukup bnyak diadakan pemilihan pemimpin baik untuk tingkat prov, kabupaten, kota,bhkan RT/Rw, dan tidak di pungkiri dari para kandidat karena merasa persaingan bgaimanapun cranya di lakukan, salah satunya dengan membagi-bagikan uang. Pertanyaanya :\ra. bagaimana hukum pemilihan tersebut ?\rb. bagaimana hukum bagi warga yang memilih karena mendapat uang tersebut ?\rJawaban :\rMEMPERTIMBANGKAN\r* Definisi dzu syaukah\rومعنى ذى الشوكة انقياد الناس وطاعتهم وإذعانهم لأمره وإن لم يكن عنده ما عند السلطان من آلة الحرب والجند ونحوهما مما تقع به الرهبة كرؤساء البلد ورئيس الجماعة وصاحب الحوطة المطاع على الوجه الاعتقاد والاحتشام\r\"Pengertian konsep dzu syaukah (orang berpengaruh) adalah patuh, taat, dan tunduk pada perintahnya meskipun orang itu tidak memiliki kelengkapan negara layaknya sulthan, seperti alusista militer, tentara serdadu, dan semacamnya yang membuat kedudukannya diperhitungkan. Sebagaimana kelengkapan negara ini lazim dimiliki oleh para pemimpin negara, pemimpin massa, serta pemuka hauthah yang ditaati atas asas kepercayaan dan pengabdian.\" (Bughyah al-Mustarsyidin, hlm 527).\r* Definisi suap (risywah)","part":1,"page":110},{"id":111,"text":"Definisi suap yang lebih sesuai dengan konsep (teori) yakni :\rوقبول الرشوة حرام وهي ما يبذل للقاضي ليحكم بغير الحق أو ليمتنع من الحكم بالحق وإعطاؤها كذلك لأنه إعانة على معصية\r\"Menerima suap haram hukumnya. Suap adalah sesuatu yang diberikan kepada qadhi agar menetapkan hukum yang tidak benar, atau agar penyuap terbebas dari hukum yang benar. Memberi suap juga diharamkan sebab termasuk membantu terjadinya maksiat.\" (Nihayatuz Zain, hlm 370).\rSedang definisi suap yang lebih sesuai dengan konteks (realita) yakni :\rالرِّشْوَةُ -بِالكَسْرِ- مَا يُعْطِيْهِ الشَّحْصُ الحَاكِمَ وَغَيْرَهُ لِيَحْكُمَ لَهُ أَو يَحْمِلُهُ عَلَى مَا يُرِيْدُ\r\"Risywah -dengan harakat kasrah pada huruf ra'- adalah sesuatu yang diberikan seseorang kepada hakim atau selainnya agar menetapkan hukum yang memihak penyuap, atau agar menuruti apa yang diinginkan penyuap.\" (al-Mishbah al-Munir, 1/228).\r* Perbedaan risywah dan hadiah\rKeterangan dalam Raudhah :\rفرع قد ذكرنا أن الرشوة حرام مطلقا والهدية جائزة في بعض فيطلب الفرق بين حقيقتيهما مع أن الباذل راض فيهما والفرق من وجهين أحدهما ذكره ابن كج أن الرشوة هي التي يشرط على قابلها الحكم بغير الحق أو الامتناع عن الحكم بحق والهدية هي العطية المطلقة والثاني قال الغزالي في الإحياء المال إما يبذل لغرض آجل فهو قربة وصدقة وإما لعاجل وهو إما مال فهو هبة بشرط ثواب أو لتوقع ثواب وإما عمل فإن كان عملا محرما أو واجبا متعينا فهو رشوة وإن كان مباحا فإجارة أو جعالة وإما للتقرب والتودد إلى المبذول له فإن كان بمجرد نفسه فهدية وإن كان ليتوسل بجاهه إلى أغراض ومقاصد فإن كان جاهه بالعلم أو النسب فهو هدية وإن كان بالقضاء والعمل فهو رشوة","part":1,"page":111},{"id":112,"text":"\"Sub masalah : Telah kami jelaskan bahwa suap haram secara mutlak sedang hadiah boleh dalam sebagian masalah. Dari sini perlu dikemukakan perbedaan esensial antara keduanya ketika pihak pemberi rela baik dalam menyuap ataupun memberi hadiah.\rPerbedaannya ditinjau dari dua sisi. Pertama, dikatakan oleh Ibnu Kajj, bahwa suap adalah pemberian yang disyaratkan dalam penerimaannya untuk menetapkan hukum yang tidak benar atau pemberi terbebas dari tuntutan hukum yang benar. Sedangkan hadiah adalah pemberian semata.\rKedua, dikatakan oleh al-Ghazali dalam Ihya, suatu harta-benda adakalanya diberikan untuk tujuan jangka panjang, yakni dalam rangka ibadah dan shadaqah, dan adakalanya diberikan untuk tujuan jangka pendek. Yang jangka pendek ini orientasinya bisa berupa harta, maka dinamakan hibah yang disertai persyaratan/pengharapan timbal-balik, serta bisa juga berupa jasa. Bila jasa itu berupa amaliyah haram atau wajib 'ain maka dikategorikan suap, bila amaliyahnya mubah maka disebut ijarah atau ju'alah.\rAdakalanya juga harta-benda diberikan untuk mendekati atau meraih simpati dari orang yang diberi. Bila hal itu sebatas kedekatan pribadi maka disebut hadiah. Bila dimanfaatkan untuk meraih tujuan tertentu lewat kedudukan orang yang diberi maka disebut hadiah pada orang punya kedudukan lantaran ilmu atau nasabnya, serta disebut suap pada orang yang menyandang kedudukan hakim atau pejabat.\" (Raudhah ath-Thalibin, 11/144).\rKeterangan dalam Ittihaf, dikutip dari serangkaian analisa as-Subki dalam kitab karyanya Fashl al-Maqal fi Hidayah al-'Ummal yang membicarakan tentang:","part":1,"page":112},{"id":113,"text":"- Konsep Dasar Istilah Hadiah dan Risywah\rقال التقىي السبكي فإن قلت المهدي يتوصل بهديته الى محبة المهدى اليه والراشي يستميل المرتشي حتى يحكم له فلم اختص كل منها باسم؟ قلت المهدي ليس له غرض معين إلا استمالة القلب, والراشي له غرض معين وهو ذلك الحكم وليس غرضه استمالة القلب بل قد يكون يكرهه ويلعنه ففي الهدية تودد خاص بها وتوصل مشترك بينها وبين الرشوة وإن افترقا في المتوصل اليه, وفي الرشوة توصل خاص لا غير فخصصنا كلا منها باسم وميزنا بينهما بما اختصا به والغينا في الهدية المشترك\r\"Taqiyyudin as-Subki berkata : Bila kau mempertanyakan bahwa pemberi hadiah, dengan hadiah yang diberikannya, meraih simpati dari orang yang diberi, sementara pemberi suap membujuk orang yang disuap agar menetapkan hukum yang menguntungkannya, lantas kenapa kedua pemberian ini harus dibedakan istilahnya ?\rAku jawab bahwa seorang pemberi hadiah tidak punya tujuan khusus selain untuk meraih simpati, sedang seorang penyuap punya, yakni pada pamrih atas kasus hukum itu. Penyuap tidak bertujuan meraih simpati orang yang diberi, malah kadang sebenarnya benci dan menghujatnya. Sehingga bisa diketahui bahwa dalam istilah hadiah ada unsur simpati sebagai karakter asal, dan ada unsur pamrih yang menjadi karakter bersama dalam hadiah dan suap meskipun dalam bentuk yang berbeda. Sedang dalam suap ada unsur pamrih sebagai karakter asal. Karena itu kita membuat istilah yang berbeda untuk keduanya, dan kita membedakan keduanya berdasarkan karakter asal masing-masing, serta mengabaikan implikasi dari karakter bersama (simpati dan pamrih) yang ditemui dalam konsep hadiah.\" (Ittihaf as-Sadat al-Muttaqin, 6/160).","part":1,"page":113},{"id":114,"text":"Tinjauan Karakter Bersama Dalam Hadiah dan Risywah\rقال التقي السبكي الهدية لا يقصد بها إلا استمالة القلب والرشوة يقصد بها الحكم الخاص مال القلب أم لم يمل فإن قلت العاقل إنما يقصد استمالة قلب غيره لغرض صحيح أما مجرد استمالة القلب من غير غرض أجر فلا قلت صحيح لكن استمالة القلب له بواعث منها أن ترتب عليه مصلحة مخصوصة معينة كالحكم مثلا فههنا المقصود تلك المصلحة وصارت استمالة القلب وسيلة غير مقصود لأن القصد متى علم بعينه لا يقف على سببه فدخل هذا في قسم الرشوة ومنها أن ترتب عليه مصالح لا تنحصر إما أخروية كالأخوة في الله تعالى والمحبة وقيل ثوابها وما أشبه ذلك لعلم أو دين فهذه مستحبة والإهداء لها مستحب ومنها أن تكون دنيوية كالتوصل بذلك إلى أغراض له لا تنحصر بأن يكون المستمال قلبه صاحب جاه فإن كان جاهه بالعلم والدين فذلك جائز وهل هو جائز بلا كراهة أو بكراهة تنزيه اقتضى كلام الغزالي في الإحياء الثاني ومراده في القبول في الهدية وهو صحيح لأنه قد يكون أكل بعلمه أو دينه أما الباذل فلا يكره له ذلك وإن كان جاهه بأمر دنيوي فإن لم يكن ولاية بل كان له وجاهة بمال أو صلة عند الأكابر ويقدر على نفعه فهذا لا يكره الإهداء إليه لهذا الغرض وأما قبوله فهو أقل كراهة من الذي قبله بل لا تظهر فيه كراهة لأنه لم يأكل بعلمه ولا دينه وإنما هو أمر دنيوي ولم يخرج من حد الهدية فلا كراهة\r\"Taqiyyudin as-Subki berkata : Pemberian hadiah tidak memiliki tujuan utama selain untuk meraih simpati, sedang suap ditujukan untuk mencapai ketetapan hukum tertentu dan tak peduli akan mendapat simpati ataupun tidak.\rJika kau membantah : Logikanya yang namanya mencari simpati itu dikarenakan ada kepentingan (pamrih) tertentu, sedangkan murni mencari simpati tanpa ada kepentingan itu tidak logis.","part":1,"page":114},{"id":115,"text":"Aku jawab: Benar, hanya saja simpati dicari lantaran beberapa faktor. Di antaranya, bila faktor itu karena ada keperluan tertentu, kasus hukum misalnya, lalu kita tahu bahwa yang menjadi motif utama adalah keperluan itu dan simpati hanya menjadi batu loncatan bukan tujuan, dengan pertimbangan sekira keperluan itu bisa terkuak sendiri niscaya tidak akan peduli lagi dengan cara semula, maka yang seperti ini masuk dalam kategori suap.\rBila faktor itu dikarenakan ada keperluan secara umum, yang adakalanya bersifat ukhrawi seperti menjalin ikatan persaudaraan, kasih sayang karena Allah, ataupun pahala ukhrawi, serta yang semacamnya baik lantaran unsur alim ataupun shalihnya orang yang diberi, maka keperluan yang semacam itu dianjurkan oleh syariat, dan pemberian hadiahnya juga dianjurkan.\rBila keperluan itu bersifat duniawi, seperti dijadikan sarana memenuhi keperluan secara umum, di mana orang yang dibutuhkan simpatinya punya kedudukan tertentu dan kedudukannya itu:\r- Jika lantaran ilmu dan agama maka hukum pemberiannya diperbolehkan. Apakah boleh di sini dalam kerangka mubah atau makruh? Keterangan al-Ghazali dalam Ihya mengarah pada hukum yang kedua (makruh). Yang dikehendaki al-Ghazali dengan makruh adalah pada penerimaan hadiah itu, dan memang demikian, mengingat hadiah yang digunakan itu bisa dimungkinkan diberi lantaran sifat alim atau shalih pada dirinya (sementara dia belum tentu alim atau shalih, pen). Sedangkan bagi orang yang memberi hadiah hukumnya tidak makruh.","part":1,"page":115},{"id":116,"text":"- Jika lantaran perkara duniawi, dan bukan punya kedudukan karena punya semacam kekuasaan, melainkan karena banyak harta ataupun banyak relasi dengan para tokoh sehingga orang itu dianggap berguna, maka pemberian hadiah karena motif semacam ini tidak makruh. Menerima hadiahnya juga lebih sedikit kadar makruhnya dibanding situasi sebelumnya (kedudukan lantaran ilmu dan agama, pen). Bahkan boleh jadi dibilang tidak maruh sebab dia tidak mempergunakan hadiah itu dengan dilatar belakangi ilmu atau agama, melainkan karena perkara duniawi semata serta tidak keluar dari definisi hadiah. Dari sini bisa dipahami bila dikatakan menerima hadiahnya itu tidak makruh.\" (Ittihaf as-Sadat al-Muttaqin, 6/160).\rIllat Pamrih Yang Boleh dan Yang Dilarang Dalam Hadiah dan Risywah\rوفي فصل المقال للتقي السبكي فإن قلت فمن ليس متوليا إذا أهدى اليه ليتحدث له في امر جائز عند ذي سلطان قلت اذا كانت تلك الحاجة جائزة ولم يكن المتحدث مرصدا لإبلاغ مثلها بحيث يجب عليه, فان كان لحديثه فيها أجرة بأن يكون يحتاج الى عمل كثير جاز وإلا فلا. اما الجواز فلأنه اجارة او جعالة واما المنع فلأن الشرع لم يرد بالمعاوضة في هذا النوع وان كان قد قصده العقلاء. وقد بان بهذا الفرق يبن الرشوة والهدية\r\"Tercantum dalam kitab Fashl al-Maqal karangan Taqiyyudin as-Subuki : Jika kau bertanya: Lalu bagaimana pada orang yang bukan penguasa, ketika dia diberi hadiah sesuatu agar mau menyampaikan urusan yang sifatnya mubah di sisi sulthan ?","part":1,"page":116},{"id":117,"text":"Aku jawab : Jika keperluan itu memang bersifat mubah dan dia bukan berprofesi tetap sebagai penghubung urusan semacam itu, maka hal itu diperbolehkan bila kinerjanya pantas diberi upah semisal harus dilalui dengan banyak usaha, bila tidak demikian maka tidak diperbolehkan.\rDiperbolehkan karena hadiah itu diberlakukan sebagai upah ijarah maupun ju'alah. Dan dilarang karena dalam syariat tidak ditemui konsep timbal balik harta dengan bentuk semacam ini\" (Ittihaf as-Sadat al-Muttaqin, 6/158).\r- Asas Prinsipil Hadiah dan Risywah\rوايضا لما كان المتوصل اليه بالهدية محبوبا في الشرع كان هو المعتبر في التسمية ولم ينظر الي السبب ولما كان المتوصل اليه بالرشوة حراما في الشرع لم يعتبر, وانما أعتبر في التسمية السبب فقط لأنه لم يقصد الراشي والمسترشي غيره, فكانت تسمية كل منهما باعتبار مقصد فاعلمهما\r\"Di samping itu, mengingat muara pemberian hadiah adalah pada hal yang sudah dilegitimasi sebagai anjuran oleh syariat maka poin anjuran ini yang menjadi tolak ukur penamaan hadiah tanpa perlu melihat pada motif pemberiannya. Kemudian mengingat muara pemberian suap berkisar pada hal yang diharamkan syariat maka keharaman ini tidak menjadi standar penyebutan suap, melainkan tolak ukurnya perlu dilihat secara spesifik pada motif pemberian tersebut, sebab tujuan penyuap dan orang yang disuap selalu bermuara pada hal yang diharamkan. Jadi standar penyebutan istilah hadiah atau suap dilihat dari tujuan di dalamnya. Cermatilah.\" (Ittihaf as-Sadat al-Muttaqin, 6/160).\r* Status suap cukup dengan melihat qarinah","part":1,"page":117},{"id":118,"text":"وَلَوْ أَهْدَى لِمَنْ خَلَّصَهُ مِنْ ظَالِمٍ لِئَلَّا يَنْقُضَ مَا فَعَلَهُ لَمْ يَحِلَّ لَهُ قَبُولُهُ وَإِلَّا حَلَّ أَيْ : وَإِنْ تَعَيَّنَ عَلَيْهِ تَخْلِيصُهُ بِنَاءً عَلَى الْأَصَحِّ أَنَّهُ يَجُوزُ أَخْذُ الْعِوَضِ عَلَى الْوَاجِبِ الْعَيْنِيِّ إذَا كَانَ فِيهِ كُلْفَةٌ خِلَافًا لِمَا يُوهِمُهُ كَلَامُ الْأَذْرَعِيِّ وَغَيْرِهِ هُنَا ، وَلَوْ قَالَ خُذْ هَذَا وَاشْتَرِ لَك بِهِ كَذَا تَعَيَّنَ مَا لَمْ يُرِدْ التَّبَسُّطَ أَيْ : أَوْ تَدُلَّ قَرِينَةُ حَالِهِ عَلَيْهِ كَمَا مَرَّ ؛ لِأَنَّ الْقَرِينَةَ مُحَكَّمَةٌ هُنَا\r\"Jika seseorang memberikan hadiah pada orang lain yang menolong dirinya dari orang zhalim agar orang itu tidak mengurungkan pertolongannya, maka pemberian itu tidak boleh diterima. Bila bukan demikian maka boleh diterima, yakni meskipun orang itu menjadi pelaku tunggal yang diwajibkan menolong, berpegang pada qaul ashah yang menyatakan boleh mengambil imbalan atas amaliyah wajib 'ain yang butuh kerja keras. Hal ini berbeda dengan pendapat al-Adzra'i dan lainnya.\rUmpama ada orang berkata: Ambillah dan belilah barang itu dengan uang ini, maka menjadi wajib bagi yang diberi untuk memenuhi selama tidak ada kehendak keleluasaan tasharruf dari pemberi, atau tidak ada qarinah yang menunjukkannya, sebab qarinah dalam konsep hadiah bisa diberlakukan sebagai kepastian.\" (Tuhfatul Muhtaj, 26/205).\rSyarat suap yang diperbolehkan","part":1,"page":118},{"id":119,"text":"فمن اعطى قاضيا أوحاكما رشوة أو أهدى اليه هدية فان كان ليحكم له بباطل أو ليتوصل بها لنيل مالا يستحقه أو لأذية مسلم فسق الراشى والمهدى بالإعطاء والمرتشى والمهدى اليه بالاخذ والرائش بالسعى , وان لم يقع حكم منه بعد ذلك أو ليحكم له بحق أو لدفع ظلم أو لينال ما يستحقه فسق الآخذ فقط ولم يأثم المعطى لاضطراره للتوصل لحق بأى طريق كان\r\"Bagi orang yang memberikan suap atau hadiah pada qadhi atau hakim, bila ternyata diberikan untuk menghukumi secara bathil, atau sebagai sarana meraih sesuatu yang bukan haknya, atau berakibat menyakiti seorang muslim, maka penyuap dan pemberi hadiah menjadi fasiq sebab pemberiannya, orang yang disuap dan orang yang diberi menjadi fasiq sebab mengambilnya, serta kurir penyuap menjadi fasiq sebab perbuatannya.\rBila hukum di atas tidak terjadi, atau agar pemberi mendapatkan hukum yang benar, atau untuk menolak kezhaliman, atau untuk mendapatkan haknya maka hukum fasiq hanya berlaku pada orang mengambil pemberian itu. Pemberi tidak dianggap berdosa karena dia terpaksa melakukan hal itu sebagai sarana memperoleh hal yang benar dengan segala upaya.\" (Is'adur Rafiq, hlm 100).\rوالمراد بالرشوة التي ذكرناها ما يعطى لدفع حق أو لتحصيل باطل وإن أعطيت للتوصل إلى الحكم بحق فالتحريم على من يأخذها كذلك وأما من لم يعطها فإن لم يقدر على الوصول إلى حقه إلا بذلك جاز وإن قدر إلى الوصول إليه بدونه لم يجز","part":1,"page":119},{"id":120,"text":"\"Yang dimaksud dengan suap yang kita perbincangkan ini yaitu harta benda yang diberikan untuk menolak kebenaran atau mencapai hal yang bathil. Bila harta itu diberikan sebagai sarana mendapatkan hukum yang benar maka hukum haram hanya bagi yang mengambilnya. Sedangkan ketika orang itu belum memberikannya, ketika haknya tidak bisa dicapai selain dengan cara suap itu maka boleh memberikan harta tersebut, ketika masih bisa mendapatkan haknya dengan cara lain maka tidak diperbolehkan.\" (Fatawa as-Subki, 1/204).\r* Dalil berkaitan politik uang dalam pemilihan pemimpin\r- Hadits larangan suap pada pemilihan pejabat\rعَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يُزَكِّيْهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ : رَجُلٌ عَلَى فَضْلِ مَاءٍ بِالطَّرِيْقِ يَمْنَعُ مِنْهُ ابْنَ السَّبِيْلِ ، وَرَجُلٌ بَايَعَ إِمَامًا لاَ يُبَايِعُهُ إِلاَّ لِدُنْيَاهُ ، إِنْ أَعْطَاهُ مَا يُرِيْدُ وَفَى لَهُ ، وَإِلاَّ لمَ ْيَفِ لَهُ ، وَرَجُلٌ بَايَعَ رَجُلاً بِسِلْعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ ، فَحَلَفَ بِاللهِ لَقَدْ أُعْطِيَ بِهَا كَذَا وَكَذَا ، فَصَدَّقَهُ فَأَخَذَهَا ، وَلَمْ يُعْطَ بِهَا","part":1,"page":120},{"id":121,"text":"\"Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: \"Tiga orang yang tidak akan diajak berbicara oleh Allah kelak pada hari kiamat, Allah tidak mensucikan mereka dan mereka akan memperoleh siksa yang pedih. Pertama, orang yang memiliki air berlebih dalam perjalanan dan tidak mau memberikannya kepada musafir. Kedua, laki-laki yang membai'at seorang pemimpin hanya karena faktor duniawi. Apabila pemimpin itu memberinya, ia akan memenuhi pembai'atannya, tetapi apabila tidak diberi, dia tidak akan memenuhinya. Dan ketiga, orang yang menawarkan dagangannya kepada orang lain sesudah waktu ashar, lalu dia bersumpah bahwa barang dagangan itu telah ditawar sekian dan sekian oleh orang lain, lalu pembeli mempercayainya dan membelinya, padahal sebenarnya barang itu belum pernah ditawar\". (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Nasai, Baehaqi, Ibnu Jarir, dan Abdur Razak, lafazh dari Bukhari).\r- Pengecualian pada hadits\r(فإن تعين على شخص) بأن لم يتعدد الصالح له في الناحية (لزمه) قبوله إن وله الإمام ابتداء ولزمه (طلبه) إن لم يوله الإمام ابتداء, ولو على عدم الإجابة, ولو ببذل مال كثير وإن حرم اخذه منه. فالإعطاء جائز والأخذ حرام","part":1,"page":121},{"id":122,"text":"\"[Jika kedudukan qadhi hanya mampu disandang orang tertentu] ketika tidak banyak dijumpai orang shalih di daerah itu [maka wajib baginya] untuk menerima ketika imam melantiknya serta wajib baginya [untuk menuntut jabatan itu] ketika imam tidak menunjuknya, meski tuntutannya akan berujung pada penolakan, walau harus dicapai dengan memberikan banyak harta, meski nantinya harta itu haram diambil oleh orang lain. Hukum memberikannya mubah dan hukum mengambilnya haram.\" (Tausyikh 'ala Ibni Qasim, hlm 279).\r- Pendalaman materi berkaitan\rHasil bahtsu masail PWNU Jatim 2005 pada deskripsi: Pilkada dan Batas Money Politic\rHasil bahtsu masail PWNU Jatim 2008 pada deskripsi: Legitimasi Pemerintah Dalam Pemilu\rMENYIMPULKAN\r1.…Prinsip dasar perbedaan suap dan hadiah terletak pada haram dan tidaknya konsekuensi dari pemberian barang tersebut.\r2.…Suatu pemberian akan dikategorikan hadiah bila: untuk mendapat pahala, untuk meraih simpati, untuk mendapat imbalan materi (hadiah bi tsawab), untuk upah dari amaliyah yang patut diberi upah, atau tidak punya motif melainkan ikhlas lillahi ta'ala.\r3.…Suatu pemberian akan dikategorikan suap bila: untuk menetapkan hukum yang tidak benar, untuk lepas dari hukum yang benar, untuk perantara mencapai kepentingan yang haram, untuk upah dari amaliyah yang tidak pantas diberi upah yakni pada amaliyah yang tidak pantas dinilai materi (karena sudah menjadi kewajiban atau tidak ada banyak usaha atau kerja keras di dalamnya).\r4.…Pemberian diketahui sebagai suap lewat bukti langsung atau dengan dugaan (zhan) qarinah yang mengarah ke suap.","part":1,"page":122},{"id":123,"text":"5.…Pemberian harta agar memilih kandidat yang bersangkutan termasuk suap sesuai dengan nash sharih hadits.\r6.…Suap karena dharurat diperbolehkan bagi pemberi bila memenuhi sejumlah ketentuan: dalam rangka menegakkan hukum yang benar, yang bersangkutan adalah orang yang berhak, tidak menyakiti atau merugikan muslim lain yang juga berhak, serta tidak ada jalan lain mencapai haknya selain dengan menyuap.\r7.…Dalam prosesi pemilihan pemimpin konsep suap karena dharurat juga bisa diberlakukan dengan tiga persyaratan utama: kandidat memang layak menjadi pemimpin, tidak ada figur kandidat lain yang layak, serta money politic di daerah tersebut sudah sangat parah sehingga bila tidak menyuap tidak akan menang.\r8.…Prosesi pemilihan yang dicampuri suap, meskipun suap darurat, tetap termasuk dalam khitab hadits yang melarang suap dalam pemilihan imam, sehingga amaliyahnya fasid, dan konsepsi pemerintahan berjalan secara dzu syaukah.\rMERUMUSKAN\ra. Bagaimana hukum pemilihan trsebut ? Hukumnya bisa dianggap sah mengacu pada dharurat kepemimpinan dzu syaukah. Bila memungkinkan untuk diulang maka wajib diulang.\rb. Bagaimana hukum bagi warga yang memilih karena mendapat uang tersebut ? Menerima uang itu berdosa karena tergolong suap. Sedangkan memilih lantaran mendapat uang itu juga berdosa lantaran sama dengan menjual hak suaranya dan amaliyahnya fasid. Wallahu subhanahu wata'ala a'lam.","part":1,"page":123},{"id":124,"text":"قال السعد في شرح المقاصد وتنعقد الإمامة بطرق أحدها بيعة أهل الحل والعقد من العلماء والرؤساء ووجوه الناس إلى أن قال والثالث القهر والإستيلاء فإذا مات الإمام وتصدى للإمامة من يستجمع شرائطها من غير بيعة واستخلاف وقهر الناس بشوكته انعقدت الخلافة له إذا كان فاسقا أو جاهلا على الأظهر إلا أنه يعصى بما فعل وتلزم المسلمين طاعة هذا المتغلب للضرورة ومعنى هذا أن سلطة التغلب كأكل الميتة تنفذ عند الضرورة وتكون أقل حالا من الفوضى وأدنى من الهمجية ومقتضى ذلك أنه يجب السعي لإزالتها عند الإمكان فإن كان خلع المتغلب سهلا لا يترتب عليه مفاسد ولا ينجم عنه فتن خلع بلا تأجيل وإلا فإن كان خلعه يستوجب الفتن ويستلزم التفرقة وتزيد بسببه المفسدة على المصلحة فالواجب الصبر والضرورة تبيح المحظورات\r\"Imam Sa'd ad-Din at-Taftazani dalam Syarh al-Maqashid berkata : Kepemimpinan dinilai sah dengan beberapa hal. Pertama, dengan baiat ahlu hall wal 'aqd yang terdiri dari para ulama, para tokoh, dan sekelompok masyarakat...dst.\rKetiga, dengan pengambil alihan kekuasaan. Ketika pemimpin terdahulu telah wafat sementara muncul pemberontakan dari tokoh lain yang memenuhi syarat pemimpin tanpa melalui baiat atau pergantian kepemimpinan, serta memaksa masyarakat dengan pengaruhnya, maka kepemimpinannya bisa disahkan, begitu juga sah disertai berdosa menurut qaul azhar pada tokoh yang fasiq atau jahil.\rWajib bagi kaum muslimin untuk mentaati pemimpin macam ini karena dharurat. Kekuasaan dengan paksaan kasusnya seperti memakan bangkai yang dilegalkan karena dharurat, konteksnya sedikit lebih ringan dari situasi wilayah yang kacau serta lebih ringan dari situasi pemerintahan yang kejam.","part":1,"page":124},{"id":125,"text":"Konsekuensinya yaitu wajib menghilangkan kepemimpinan semacam ini ketika situasi memungkinkan. Bila suksesi berjalan mudah dan tidak berimbas pada banyak kerusakan dan fitnah maka harus dicopot. Namun bila ada kepastian menimbulkan banyak fitnah, perpecahan, dan mafsadah lain yang lebih besar dari mashlahahnya maka yang diwajibkan di sini adalah bersabar, sebab dharurat memperbolehkan hal yang sebenarnya diharamkan.\" (Ta'liqat Tahdzib, 7/271-275).\rوالأصل في مبايعة الامام ان يبايعه على ان يعمل بالحق ويقيم الحدود ويأمر بالمعروف وينهى عن المنكر فمن جعل مبايعته لمال يعطاه دون ملاحظة المقصود في الأصل فقد خسر خسرانا مبينا ودخل في الوعيد المذكور وحاق به ان لم يتجاوز الله عنه وفيه ان كل عمل لا يقصد به وجه الله وأريد به عرض الدنيا فهو فاسد وصاحبه آثم والله الموفق\r\"Prinsip asal dalam prosesi baiat imam adalah membaiat karena dia dinilai mampu bertindak secara benar, menegakkan hukum, dan menjalankan amar ma'ruf nahi munkar. Sehingga barang siapa yang membaiat karena harta yang diberikannya tanpa memperdulikan tujuan dalam prinsip asal maka dia sungguh merugi, masuk dalam ancaman hadits tersebut, serta akan celaka bila Allah tidak mengampuninya. Hadits itu juga menunjukkan bahwa setiap amaliyah yang tidak bertujuan mencari ridha Allah tetapi untuk mencari kesenangan dunia, maka amal itu dianggap fasid dan pelakunya berdosa. Hanya Allah Maha Pemberi Taufiq.\" (Fathul Bari, 13/203).\rوالمراد من المبايعة هنا هو المعاقدة عليه والمعاهدة، فكأن كل واحد منهما باع ما عنده من صاحبه وأعطاه خالصة نفسه وطاعته ودخيلة أمره","part":1,"page":125},{"id":126,"text":"\"Yang dimaksud dengan baiat di sini adalah akad dan perjanjian baiat. Seakan-akan setiap orang dari pemilih dan yang dipilih membeli aset pihak lainnya dan mau memberikannya demi melancarkan diri sendiri, serta mematuhi dan mengikuti perintah pemberi.\" ('Umdatul Qari, 12/199).\rLink Asal :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/515287215160758/\r2270. HUKUM MENGABAIKAN PERINGATAN PEMERINTAH\rPERTANYAAN :\rRampak Naung\rPeringatan pemerintah merokok dan memakai helem dan sabuk pengaman saat berkendara, apa wajib dan dosa bila dilanggar, dan bisa menyebabkan fasiq karena telah melakukannya terusmenerus ????\rوقال ش ق والحاصل انه تجب طعاعة الامام فيما امر به ظاهراوباطنا مما ليس بحرام او مكروه فالواجب يتأكد والمنذوب يجب وكذا المباح ان كان مصلحة كترك شرب التنباك_ بغية المسترشدين 91\rJAWABAN :\r1. Rampak Naung\rIngat pemerintah blm jelas melarang. Berbeda dengan aturan pemeritah dairah larangan merokok ditempat umum, maka wajib hukumnya.\rوقد وقع ان السلطان امرنائبه بأن ينادى بعدم شرب الناس له( اي التنباك )في الاسواق والقهاوي فخالفوه وشربوا فهم العصاة. ويحرم شربه الآن امتثالا لامره ولوامر الامام بشئ ثم رجع ولو قبل التلبس به لم يسقط الوجوب.\rDan telah terjadi seorang raja memerintah pada mentrinya diumumkan untuk tidak merokok dipasar dan warung kopi, tapi orang-orang melanggarnya dan merokok, maka orang-orang itu berdosa. Dan haramnya merokok tetap hingga sekarang, karena mengikuti perintahnya. Dan kalau pemerintah merintahkan sesuatu dan mencabut larangannya,maka hukum wajibnya tidak gugu walaupun blm sempat dikerjakan. [ Bughiyah mustarsyidin 91 ].\r2. Ibnu Toha","part":1,"page":126},{"id":127,"text":"أَنَّ مَا أَمَرَ بِهِ مِمَّا لَيْسَ فِيهِ مَصْلَحَةٌ عَامَّةٌ لَا يَجِبُ امْتِثَالُهُ إلَّا ظَاهِرًا فَقَطْ بِخِلَافِ مَا فِيهِ ذَلِكَ يَجِبُ بَاطِنًا أَيْضًا\r( tuhfatul muhtaj )\rAl Hasil : WAJIB taat terhadap perintah Imam, jikalau perintah tersebut berupa perkara yang sunnah menurut hukum syari'at atau perkara yang mubah yang mencakup kemaslahatan ummat. . dan selama perintah bukan suatau yang diharamkan atau yang dimakruhkan. Wallahu'alam.\r3. Fakhrur Rozy\rPertanyaan ke 2 dan bisa menyebabkan fasiq karena telah melakukannya terus-menerus ???? bisa menghilangkan sifat adil / menyebabkan fasiq\rالعدالة ملكة فى النفس تمنعها من اقراف الكبائر والرذائل المباح وللعدالة خمس شرائط ان يكون مجتنبا للكبائر وان يكون غير مصر على القليل من الصغائر فتح القريب في باب الشهادة\r4. Mbah Godek\rBismillah\rتعتبر القوانين والقرارات واللوائح مملكة التشريع الإسلام لأن الشريعة تعطي لأولي الأمر حق التشريع فيما يمس مصلحة الأفراد ومصلحة الجماعة بالنفع فللسلطة التشريعية في أي بلد الإسلامي إن تعاقب علىأي فعل مباح إذا اقتضت المصلحة العامة ذلك --- إلى أن قال --- القوانين والقرارات واللوائح التي تصدها السلطة التشريعية تكون نافذة واجبة الطاعة شرعا بشرط أن لا يكون فيها يخالف نصوص الشريعة الصريحة أو يخرج على مبادئها العامة وروح التشريع فيها وإلا فهي باطلة بطلانا مطلقا. اهـ.","part":1,"page":127},{"id":128,"text":"“Undang-undang keputusan dan program pemerintah dianggap sebagai program penyempurna syari’at Islam karena syari’at memberikan hak kepada pemerintah untuk membuat undang-undang yang menyentuh kemaslahatan dan memberikan manfaat kepada individu dan kelompok. Kekuasaan perundang-undang dalam negeri Islam manapun diperbolehkan untuk memberikan sanksi hukum terhadap perbuatan mubah (yang dilakukan masyarakat), ketika kemaslahatan umum menuntut demikian....... undang-undang keputusan dan program yang dikeluarkan kekuasaan perundangan merupakan hal berlaku dan wajib ditaati secara syar’I dengan syarat tidak bertentanggan dengan nash-nash yang jelas, prinsip-prinsip umum dan subtansi syari’at, apabila bertentangan dengan hal-hal yang disebutkan terakhir, maka undang-undang keputusan dan program pemerintah tersebut batal”. [ attasyri'' al jana'i juz 1 hal 181 ].\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/458311360858344/\r2393. HUKUM MEMILIH PEMIMPIN ITU FARDLU KIFAYAH\rPERTANYAAN :\rKhafidIbnu MalaeAljawiy\rBolehkah saya menghukumi bahwa pemilu cagub dll adalah fardhu kifayah..?\rJAWABAN :\r> Ulilalbab Hafas\rHukum memilih pemimpin adalah fardu kifayah..\r> Ghufron Bkl\rMemilih / mengangkat pemimpin adalah fardlu kifayah. :\r.بقي أن نقول أن وجوب نصب الخليفة الذي ذهب اليه جمهور العلماء ليس وجوبا عينيا بل هو وجوب كفائي شأنه شأن سائر الواجبات الكفائية من جهاد وطلب علم ونحو ذلك فإذا بهذه الوظيفة من يصلح لها سقط وجوبها على كافة المسلمين . مغني المحتاج 5/418\r> Abu Zaki\rKalau kita gulput, maka yang akan menang orang yang di dukung oleh partai yang membawa mudharat pada agama..\r> Ghufron Bkl","part":1,"page":128},{"id":129,"text":"Kalo begitu pembahasannya lain lagi\r> Fahman Zidny\r/ الأحكام السلطانية ص 5 :\r(فصل) فإذا ثبت وجوب الإمامة ففرضها على الكفاية كالجهاد وطلب العلم فإذا قام بها من هو من أهلها سقط فرضها على الكفاية وإن لم يقم بها أحد خرج من الناس فريقان أحدهما أهل الاختيار حتى يختاروا إماما للأمة. والثاني أهل الإمامة حتى ينتصب أحدهم للإمامة وليس على من عدا هذين الفريقين من الأمة في تأخير الإمامة حرج ولا مأثم. وإذا تميز هذان الفريقان من الأمة في فرض الإمامة وجب أن يعتبر كل فريق منهما بالشروط المعتبرة فيه\r/ سبعة كتب مفيدة ص 12 :\r(والثانى وهو فرض الكفاية ) ما إذا قام به البعض سقط الحرج عن الباقين إن حصل المقصود بفعل البعض رخصة و تخفيفا و من ثم كان القائم به أفضل من القائم بفرض العين على الأصح قال إبن أبى شريف واعلم أن التكليف فى فرض الكفاية موقوف على حصول الظن الغالب فإن غلب على ظن جماعة أن غيرهم يقوم بذلك سقط عنها الطلب وان غلب أن كل طائفة لا تقوم به وجب على كل طائفة القيام به\r/ البحر المحيط الجزء 1 ص 326 :\r( المسألة ) الرابعة ( التكليف بفرض الكفاية منوط بالظن لا بالتحقيق ) التكليف به منوط بالظن لا بالتحقيق , فإن ظن أنه قام به غيره سقط عنه الفرض , وإن أدى ذلك إلى أن لا يفعله أحد , وإن ظن أنه لم يقم به غيره وجب عليه فعله , وإن أدى ذلك إلى فعل الجميع , كذا قاله الإمام في ” المحصول ” مستدلا بأن تحصيل العلم بأن الغير هل يفعل أو لا ؟ غير ممكن إنما الممكن تحصيل الظن , ولك أن تقول : الوجوب على الكل معلوم فلا يسقط إلا بالعلم , وليس منه تكليف بما لا يمكن ; لأن الفعل يمكن إلى حصول العلم , ثم نقول : إنما لا يمكن العلم بعدم فعل الغير بالنسبة إلى الزمن المستقبل في المثال الذي ذكره ; لأنه قال : لو غلب على ظنها أن غيرها يقوم بذلك , ويكون قوله : سقط أي في الظاهر , أما بالنسبة إلى الماضي فيمكن العلم القطعي .","part":1,"page":129},{"id":130,"text":"/ البحر المحيط الجزء 1 ص 322 :\r( المسألة ) الثانية ( هل يتعلق فرض الكفاية بالكل أو البعض ؟ ) اختلفوا هل يتعلق فرض الكفاية بالكل أو البعض على قولين مع الاتفاق على أنه يسقط بفعل البعض ؟ . والجمهور على أنه يجب على الجميع ; لتعذر خطاب المجهول بخلاف خطاب المعين بالشيء المجهول , فإنه ممكن كالكفارة , ونص عليه الشافعي في مواضع من ” الأم ” : منها قوله : حق على الناس غسل الميت والصلاة عليه ودفنه , لا يسع عامتهم تركه , وإذا قام منهم من فيه كفاية أجزأه عنهم – إن شاء الله – وهو كالجهاد عليهم حق أن لا يدعوه , وإذا انتدب منهم من يكفي الناحية التي يكون بها الجهاد أجزأ عنهم , والفضل لأهل الولاية بذلك على أهل التخلف عنهم . وقال في باب السلف فيمن حضر كتاب حق بين رجلين : ولو ترك كل من حضر الكتاب خفت أن يأثموا بل لا أراهم يخرجون من الإثم وأيهم قام به أجزأ عنهم , وذكر مثله في الشهود إذا دعوا للأداء , وجرى عليه الأصحاب في طرقهم وإليه ذهب من الأصوليين أبو بكر الصيرفي , والشيخ أبو إسحاق , والقاضي , والغزالي . قالوا : والجملة مخاطبة , فإذا وقعت الكفاية سقط الحرج , ومتى لم تقع الكفاية فالكل آثمون , واختاره ابن الحاجب ونقله الآمدي عن أصحابنا , وأنه لا فرق بينه وبين الواجب من جهة الوجوب إلا أنهما افترقا في السقوط بفعل البعض . ثم عبارة الأكثرين أنه وجب على الجميع , ونقل إمام الحرمين في التلخيص ” عن القاضي أنه وجب على عين كل واحد , ولا بد من تأويله , ويخرج من ذلك إذا قلنا : إنه واجب على الجميع . قولان : أحدهما : أنه واجب على جميع المكلفين من حيث إنه جميع . والثاني : أنه واجب على كل واحد , فإن قام به بعضهم سقط التكليف عن الجميع , وإن لم يقم به أحد أثم الجميع . ويظهر تغاير القولين في كيفية التأثيم عند الترك , فعلى الأول تأثيم كل واحد يكون واقعا بالذات , وعلى الثاني بالعرض","part":1,"page":130},{"id":131,"text":"Menyerukan GOLPUT itu haram karena termasuk mengajak untuk meninggalkan sesuatu yang fardhu kifayah. R E F E R E N S I : Is’ad al-Rafiq vol.2 hal. 93 :\r/ إسعاد الرفيق الجزء 2 ص 93 :\rومنها :كل قول يحث احدامن الخلق على نحو فعل او قول شيء او استماع شيء محرم في الشرع ولو غير مجمع على حرمته اؤ على ما يفتره عن نحو فعل او قول واجب عليه او عن استماع واجب في الشرع كان ينشطه لضرب مسلم اوسبه او لاستماع لنحو مزمار او يثبطه عن الصلاة او رد السلام على من سلم عليه او عن الاستماع لمن يعلمه ما وجب عليه تعلمه لأن ذالك من اوصاف المنافقين اللذين وصفهم اللهتعالى بقوله والمنافقون والمنافقات بعضهم من بعض يأمرون بالمنكر وينهون عن المعروف الأية وكفى بها زجرا لمن له أدنى تمييز وسيأتي أن ترك الأمر بالمعروف من الكبائر فكيف بالنهي عن المعروف والأمر بالمنكر فإنه أقبح وأشنع لما فيه من الإعانة على سخط الله وهو مذموم سواء كان فيه رضا الناس أم لا قال عليه الصلاة والسلام “من التمس رضا الناس في سخط الله سخط الله عليه وأسخط الناس عليه ومن أرضى الله في سخط الناس رضي الله عنه وأرضى عنه من اسخطه رضاه”.\r> Timur Lenk\rKalau baca Ibaroh yang disampaikan kang Fahman zidni\r/ سبعة كتب مفيدة ص 12 :\r(والثانى وهو فرض الكفاية ) ما إذا قام به البعض سقط الحرج عن الباقين إن حصل المقصود بفعل البعض رخصة و تخفيفا و من ثم كان القائم به أفضل من القائم بفرض العين على الأصح قال إبن أبى شريف واعلم أن التكليف فى فرض الكفاية موقوف على حصول الظن الغالب فإن غلب على ظن جماعة أن غيرهم يقوم بذلك سقط عنها الطلب وان غلب أن كل طائفة لا تقوم به وجب على كل طائفة القيام به","part":1,"page":131},{"id":132,"text":"Hukum memilih pemimpin bisa menjadi fardlu 'ain dengan memilih pemimpin yang ahlinya yaitu saat diperkirakan kepemimpinan akan di pegang oleh orang yang tidak ahlinya jika tidak memilih pemimpin yang ahli , misal calonnya ada empat orang , 1. non muslim 2.orang muslim yang ahli 3. muslim yang tidak ahli 4. orang munafiq , maka memilih muslim yang ahli menjadi wajib 'ain jika diperkirakan kepemimpinan akan dipegang oleh selain muslim yang ahli jika muslim yang ahli tidak dipilih dengan bersama-sama.\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/594128543943291/\rF0039. HIZBUT TAHRIR DALAM SOROTAN\rJudul buku: HIZBUT TAHRIR DALAM SOROTAN\rPenulis: Ustadz Muhammad Idrus Ramli (Aktivis LBM NU Jember)\rEditor: Dr. Pujiono Abdul Hamid, at all.\rPenerbit: Bina Aswaja Surabaya, 087853372523\rHal. 146\rHarga: Rp. 22.000,-\rPemesanan: Bina Aswaja 087853372523, Khalista 081553572073\rHIZBUT TAHRIR PASTI GAGAL\rJika ada yang bertanya, tentang prospek dan masa depan Hizbut Tahrir dalam memperjuangkan khilafah al-Nubuwwah, maka bagaimana jawaban yang paling tepat? Jawaban yang paling tepat adalah, Hizbut Tahrir pasti memperoleh kegagalan, bukan kesuksesan dalam memperjuangkan khilafah al-nubuwwah yang mereka obsesikan. Mengapa demikian? Tentu, karena khilafah al-nubuwwah telah berlalu dan perjalanan sejarah. Berkaitan dengan khilafah al-nubuwwah tersebut ada dua hadits yang patut menjadi renungan kita, agar tidak terpengaruh Hizbut Tahrir. Pertama, hadits shahih berikut ini:","part":1,"page":132},{"id":133,"text":"عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُمْهَانَ قَالَ حدثني سَفِينَةُ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم الْخِلاَفَةُ فِي أُمَّتِي ثَلاَثُونَ سَنَةً ثُمَّ مُلْكٌ بَعْدَ ذَلِكَ ثُمَّ قَالَ لِي سَفِينَةُ أَمْسِكْ خِلاَفَةَ أَبِي بَكْرٍ ثُمَّ قَالَ وَخِلاَفَةَ عُمَرَ وَخِلاَفَةَ عُثْمَانَ ثُمَّ قَالَ لِي أَمْسِكْ خِلاَفَةَ عَلِيٍّ قَالَ فَوَجَدْنَاهَا ثَلاَثِينَ سَنَةً قَالَ سَعِيدٌ فَقُلْتُ لَهُ إِنَّ بَنِي أُمَيَّةَ يَزْعُمُونَ أَنَّ الْخِلاَفَةَ فِيهِمْ قَالَ كَذَبُوا بَنُو الزَّرْقَاءِ بَلْ هُمْ مُلُوكٌ مِنْ شَرِّ الْمُلُوكِ.\r“Sa’id bin Jumhan berkata: “Safinah menyampaikan hadits kepadaku, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Pemerintahan Khilafah pada umatku selama tiga puluh tahun, kemudian setelah itu dipimpin oleh pemerintahan kerajaan.” Lalu Safinah berkata kepadaku: “Hitunglah masa kekhilafahan Abu Bakar (2 tahun), Umar (10 tahun) dan Utsman (12 tahun).” Safinah berkata lagi kepadaku: “Tambahkan dengan masa khilafahnya Ali (6 tahun). Ternyata semuanya tiga puluh tahun.” Sa’id berkata: “Aku berkata kepada Safinah: “Sesungguhnya Bani Umayah berasumsi bahwa khilafah ada pada mereka.” Safinah menjawab: “Mereka (Bani Umayah) telah berbohong. Justru mereka adalah para raja, yang tergolong seburuk-buruk para raja”. (HR. Ahmad dan Tirmidzi).","part":1,"page":133},{"id":134,"text":"Hadits di atas menjelaskan dengan sangat gamblang bahwa kepemimpinan khilafah yang mengatur roda pemerintahan umat sesuai dengan ajaran kenabian (khilafah al-nubuwwah) dan menerapkan syariat Islam secara sempurna, hanya berjalan selama tiga puluh tahun, yaitu masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali -radhiyallahu ‘anhum. Sebagian ulama ada yang memasukkan masa pemerintahasan Sayidina Hasan bin Ali -radhiyallahu ‘anhuma-, ke dalam khilafah al-nubuwwah ini, karena masa kekuasaan beliau melengkapi masa tiga puluh tahun tersebut.\rKedua, hadits lain yang menjelaskan tentang khilafah al-nubuwwah, adalah hadits shahih berikut ini:","part":1,"page":134},{"id":135,"text":"عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ رضي الله عنه قَالَ إِنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: تَكُوْنُ النُّبُوَّةُ فِيْكُمْ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِذَا شَاءَ، ثُمَّ تَكُوْنُ الْخِلاَفَةُ عَلىَ مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُوْنُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ يَكُوْنُ مُلْكًا عَاضًّا فَتَكُوْنُ مُلْكًا مَا شَاءَ اللهُ، ثُمَّ يَرْفَعُهُ إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهُ ثُمَّ تَكُوْنُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً، ثُمَّ تَكُوْنُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ، ثُمَّ سَكَتَ. قَالَ حَبِيبٌ فَلَمَّا قَامَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ وَكَانَ يَزِيدُ بْنُ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ فِي صَحَابَتِهِ فَكَتَبْتُ إِلَيْهِ بِهَذَا الْحَدِيثِ أُذَكِّرُهُ إِيَّاهُ فَقُلْتُ لَهُ إِنِّي أَرْجُو أَنْ يَكُونَ أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ يَعْنِي عُمَرَ بَعْدَ الْمُلْكِ الْعَاضِّ وَالْجَبْرِيَّةِ فَأُدْخِلَ كِتَابِي عَلَى عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ فَسُرَّ بِهِ وَأَعْجَبَهُ.","part":1,"page":135},{"id":136,"text":"“Dari Hudzaifah bin al-Yaman radhyalahu ‘anhu, berkata: “Sesungguhnya Nabi SAW bersabda: “Kenabian akan menyertai kalian selama Allah menghendakinya, kemudian Allah mengangkat kenabian itu bila menghendakinya. Kemudian akan datang khilafah sesuai dengan jalan kenabian dalam waktu Allah menghendakinya. Kemudian Allah mengangkatnya apabila menghendakinya. Kemudian akan datang kerajaan yang menggigit dalam waktu yang Allah kehendaki. Kemudian Allah mengangkatnya apabila menghendakinya dan diganti dengan kerajaan yang memaksakan kehendaknya. Kemudian akan datang khilafah sesuai dengan jalan kenabian. Lalu Nabi SAW diam”. “Habib bin Salim berkata: “Setelah Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah, sedangkan Yazid bin al-Nu’man bin Basyir menjadi sahabatnya, maka aku menulis hadits ini kepada Yazid. Aku ingin mengingatkannya tentang hadits ini [yang aku riwayatkan dari ayahnya]. Lalu aku berkata kepada Yazid dalam surat itu: “Sesungguhnya aku berharap, bahwa Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz adalah khalifah yang mengikuti minhaj al-nubuwwah sesudah kerajaan yang menggigit dan memaksakan kehendak.” Kemudian suratku mengenai hadits ini disampaikan kepada Umar bin Abdul Aziz, dan ternyata beliau merasa senang dan kagum dengan hadits ini.” (HR. Ahmad, al-Bazzar, Abu Dawud, al-Baihaqi dan lain-lain).","part":1,"page":136},{"id":137,"text":"Hadits pertama membatasi khilafah selama tiga puluh tahun, yaitu masa khilafahnya khilafahnya Khulafaur Rasyidin. Sedangkan hadits Hudzaifah bin al-Yaman, menjanjikan adanya khilafah lagi, pasca kerajaan yang diktator dan otoriter. Akan tetapi semua ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan khilafah al-nubuwwah dalam hadits Hudzaifah tersebut adalah khilafahnya Umar bin Abdul Aziz. Oleh karena itu, al-Imam al-Syafi’i:\rاَلْخُلَفَاءُ خَمْسَةٌ أَبُوْ بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ وَعَلِيٌّ وَعُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيْزِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ.\r“Khalifah itu ada lima orang, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan Umar bin Abdul Aziz radhiyallahu ‘anhum.” (Ibnu Abi Hatim al-Razi, Adab al-Syafi’i wa Manaqibuhu, hal. 189).\rAl-Imam Sufyan al-Tsauri, juga berkata:\rاَلْخُلَفَاءُ أَبُوْ بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ وَعَلِيٌّ وَعُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيْزِ وَمَنْ سِوَاهُمْ فَهُوَ مُبْتَزٌّ.\r“Para Khalifah itu Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan Umar bin Abdul Aziz. Sedangkan selain mereka, itu adalah perampas atau pemeras.” (Ibnu Abi Hatim al-Razi, Adab al-Syafi’i wa Manaqibuhu, hal. 191).","part":1,"page":137},{"id":138,"text":"Dua hadits di atas menyatakan bahwa khalifah itu hanya tiga puluh tahun, ditambah dengan seorang khalifah setelah penguasa yang diktator. Kemudian para ulama seperti al-Imam al-Syafi’i dan al-Imam Sufyan al-Tsauri menyatakan, bahwa khalifah itu hanya lima orang, yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan Umar bin Abdul Aziz, sedangkan selain lima orang tersebut hanyalah penguasa yang merampas kekuasaan dengan tidak benar. Dengan demikian, berarti obsesi Hizbut Tahrir dalam memperjuangkan khilafah, pasti menemukan kegagalan, karena apa yang akan mereka raih –seandainya berhasil-, itu bukan khilafah, tetapi kekuasaan diktator dan perampas. Wallahu a’lam.\r(Disadur dari beberapa sumber, terutama buku HIZBUT TAHRIR DALAM SOROTAN, karya Ustadz Muhammad Idrus Ramli [Aktivis LBM NU Jember], terbitan Bina ASWAJA Surabaya, 087853372523 Mei 2011 by Bindhere Saot El-Madury).\r3000. AHLUL HALLI WAL 'AQDI\rPERTANYAAN :\r> S Al Farisi\rAssalamualaikum... Apa pengertian Ahlul halli wal aqdi ?\rJAWABAN :\r> Mas Hamzah\rAhlul hilli wal 'aqdi adalah para ulama', para pemimpin dan orang-orang terkemuka. Lihat kitab Nihayah imam Romli :\r( وتنعقد الإمامة ) بطرق : أحدها ( بالبيعة ) كما بايع الصحابة أبا بكر رضي الله تعالى عنهم ( والأصح ) أن المعتبر هو ( بيعة أهل الحل والعقد من العلماء والرؤساء ووجوه الناس الذين يتيسر اجتماعهم ) حالة البيعة بلا كلفة عرفا كما هو المتجه ؛ لأن الأمر ينتظم بهم ويتبعهم سائر الناس ، ويكفي بيعة واحد انحصر الحل والعقد فيه . والثاني يعتبر كونهم أربعين كالجمعة . والثالث يكفي أربعة أكثر نصب الشهادة .","part":1,"page":138},{"id":139,"text":"والرابع ثلاثة ؛ لأنها جماعة لا تجوز مخالفتهم . والخامس اثنان ؛ لأنهما أقل الجمع على قول . والسادس واحد وعلى هذا يعتبر في الواحد كونه مجتهدا ، أما بيعة غير أهل الحل والعقد من العوام فلا عبرة بها ، والأقرب عدم اشتراط القبول بل الشرط عدم الرد ، فإن امتنع لم يجبر إلا إن لم يصلح غيره\rImam/pemimpin itu bisa sah dengan bebrapa jalan, salah satunya dengan cara baiat sebagaimana para shohabat yg membaiat abu bakar -semoga Allah ta'ala meridhoi mereka- pendpat yg ashoh bahwa yg mu'tabar adalah baiatnya ahlul hill wal iqd yg terdiri dari para ulama', para pelopor dan orang2 terkemuka yaitu orang2 yg mudah berkumpul ketika baiat dengan tanpa beban secara adat,karena urusan itu menjadi teratur karena mereka dan orang yg lainnya mengikuti mereka.\rBaiatnya satu orang yg terhitung dalam hill wal iqd sudah cukup,pendapat kedua, yg di anggap adalah adanya ahlul hill wal iqd sebanyak 40 sperti sholat jum'at.pendapat ketiga, cukup empat orang, seperti jumah saksi yg terbanyak.pendapat ke empat, tiga orang karena ini adalah jama'ah yg tidak boleh menyelisihinya.pendapat kelima , dua orang karena dua adalah paling sedikitnya jama' menurut satu pendapat.pendapat ke enam cukup satu orang dan yg dianggap adalah seorang yg mujtahid.\rAdapun baiatnya ahlul hill wal iqd dari orang2 awam maka tidaklah di anggap.pendapat yg lebih dekat adalah tidak adanya syarat qobul bahkan syarat tidak adanya penolakan, jk tercegah maka tidak bisa diganti kecuali jika selainya tidak bagus. Wallohu a'lam.\r> Doa Bersama\rDalam kitab I'anah ath-thalibin juz 4, hal. 210 dijelaskan :","part":1,"page":139},{"id":140,"text":"؛{ قوله أهل الحل والعقد } أي حل الأمور وعقدها من العلماء ووجوه الناس المتيسر اجتماعهم\rAhlul hilli wal aqdi : terdiri dari para cendekiawan dan tokoh-tokoh masyarakat yang mudah untuk dikumpulkan.\rAl-majmu' syarh al-muhadzdzab juz 19 hal. 193 al-maktabah asy-syamilah :\rومن ثم فإن أهل الحل والعقد وهم الطليعة الواعية والفئة المستنيرة من أهل الاجتهاد من الأمة هم الجديرون باختيار الإمام لأنهم سيحملون وزره إذا لم يتحروا في اختياره الصواب ، وسيكونون شركاءه في مآثمه ومظالمه\rAhlul halli wal aqdi adalah orang-orang yang berada di garis depan/ pelopor yang memperhatikan dan memperingatkan, dan golongan yang memberikan pencerahan yang terdiri dari pakar dalam ijtihad (mencurahkan tenaga dan pikiran untuk mengambil hukum dari sebuah dalil) yang diambil dari bagian umat. Mereka lah yang mempunyai kemampuan untuk memilih pemimpin (imam), karena merekalah yang menanggung beban (dosa) imam ketika mereka tidak memeriksa dan memperbaiki dalam pemilihan imam terhadap perkara yang benar, dan mereka akan menjadi sekutu dalam dosa dan kedzaliman imam.\rوقال السيخ أبو إسحاق الشيرازي في كتابه التنبيه ؛ ولا يعقد إلا بعقد جماعة من أهل الحل والعقد ، ومقتضى كلامه أن أقلهم ثلاثة ، لأن ذلك أقل الجمع عندنا ، وعند القاضي أبي الفتوح ينعقد بواحد ، ومن شرط العاقد أن يكون ذكزا بالغا عاقلا مسلما عدلا مجتهدا","part":1,"page":140},{"id":141,"text":"Menurut syaikh Abu ishaq asy-syairozi dalam kitab at-tanbih beliau berkata : imam tidak diangkat kecuali dengan ketetapan jama'ah (sekelompok) dari ahlul halli wal aqdi.hal yang ditunjukkan dari ucapan beliau memberikan petunjuk bahwa paling sedikit (minimal) ahlul halli wal aqdi adalah 3 orang.karena sesungguhnya tiga adalah paling sedikitnya jama' (kelompok) menurut kami (ashhabusy syafii). Menurut al-qadhi abul futuh bahwa pengangkatan imam jadi dengan satu orang. Dan saratnya orang yang mengangkat (aqid) yaitu laki-laki, baligh, berakal, muslim, adil, dan mujtahid. Wallohu a'lam bishshowab.\r> Ghufron Bkl\rAhlul halli wal 'Aqdi ialah para ulama' dan tokoh-tokoh masyarakat yg keberadaannya berpungsi untuk memilih presiden, syarat-syaratnya antara lain :\r1. Adil yaitu menjaga muru'ah dan mengerjakan semua perintah ALLAH dan menjauhi semua laranganNYA.\r2. Mengetahui tata cara pengangkatan presiden yg sesuai dgn syarat-syarat yg telah di tentukan.\r3. Tegas dan bijaksana dalam memilih presiden yg lebih baik dan cerdas dalam menentukan program untuk mencapai masa depan yg lebih baik. :\rالفقه الإسلامي و أدلته 6/685-686","part":1,"page":141},{"id":142,"text":".أهل الحل والعقد : هم العلماء المختصون أى المجتهدون والرؤساء و وجوه الناس الذين يقومون باختيار الإمام نيابة عن الأمة قال الماوردي وإن لم يقم بها أى الإمامة أحد خرج من الناس فريقان أحدهما أهل الإختيار حتى إختاروا إماما للأمة والثاني أهل الإمامة حتى ينتصب أحدهم للإمامة وليس على من عدا هذين الفريقين من الامة في تأخير الإمامة جرح ولا مأثم. شروطهم يتحدد أهل الحل والعقد بالصفات أو الشرط المطلوبة فيهم وهي كما ذكر الماوردي ثلاثة وهي أولا العدالة الجامعة لشروطها والعدالة هي ملكة تحمل صاحبها على ملازمة التقوى والمروءة والمراد بالتقوى إمتثال المأمورات الشرعية واجتناب المنهيات الشرعية. ثانيا العلم الذي يتوصل به إلى معرفة من يستحق الإمامة على الشروط المعتبرة فيها. .ثالثا الرأي والحكمة المؤديان إلى اختيار من هو للإمامة أصلح، و بتدبير المصالح أقوم و أعرف.\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/738643249491819/\r3163. HUKUM MEMINTA JABATAN\rPERTANYAAN :\r> Ian Saputra\rAssalaamu'alaikum Warohmatullaahi Wabarokaatuh... Sekarang mulai marak anggota legislatif mencari dukungan dari masyarakat... Saya pernah mendengar bahwa \"Meminta sebuah jabatan hukumnya HARAM\".\r1. Apakah itu sebuah hadist sohih? Bisakah minta hadist itu secara lengkap...\r2. Apakah mencalonkan diri sebagai anggota legislatif/Presiden masuk kategori meminta jabatan?\rUntuk bantuan teman-teman semua saya ucapkan terimakasih banyak. •• Powered by PISS-KTB™ ••\rJAWABAN :\r> Abdullah Afif\rWa alaikumus salaam warohmatulloh. Disebutkan dalam Shahih Bukhari 18/59, maktabah syamilah :\rبَاب مَنْ سَأَلَ الْإِمَارَةَ وُكِلَ إِلَيْهَا","part":1,"page":142},{"id":143,"text":"حَدَّثَنَا أَبُو مَعْمَرٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ حَدَّثَنَا يُونُسُ عَنْ الْحَسَنِ قَالَ حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ سَمُرَةَ قَالَ قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ سَمُرَةَ لَا تَسْأَلْ الْإِمَارَةَ فَإِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا وَإِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا ........\rBab barang siapa meminta kepemimpinan maka dibebankan kepadanya\r“.....berkata (Abdurrahman bin Samurah): Rasululullah shallallaahu 'alaihi wasallam berkata kepadaku: \" Wahai Abdurrahman bin Samurah,janganlah engkau meminta kepemimpinan. jika diserahkan kepadamu karena permintaanmu niscaya akan dibebankan kepadamu, jika engkau diberi tanpa memintanya niscaya engkau akan ditolong .......”\r- Dalam Shahih Muslim 8/453, maktabah syamilah:\rحَدَّثَنَا شَيْبَانُ بْنُ فَرُّوخَ حَدَّثَنَا جَرِيرُ بْنُ حَازِمٍ حَدَّثَنَا الْحَسَنُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ سَمُرَةَ قَالَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ سَمُرَةَ لَا تَسْأَلْ الْإِمَارَةَ فَإِنَّكَ إِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا وَإِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا\rImam Nawawi dalam syarah Muslim 6/45:","part":1,"page":143},{"id":144,"text":"وَفِي هَذَا الْحَدِيث فَوَائِد : مِنْهَا : كَرَاهَة سُؤَال الْوِلَايَة سَوَاء وِلَايَة الْإِمَارَة وَالْقَضَاء وَالْحِسْبَة وَغَيْرهَا .وَمِنْهَا : بَيَان أَنَّ مَنْ سَأَلَ الْوِلَايَة لَا يَكُون مَعَهُ إِعَانَة مِنْ اللَّه تَعَالَى ، وَلَا تَكُون فِيهِ كِفَايَة لِذَلِكَ الْعَمَل ، فَيَنْبَغِي أَلَّا يُوَلَّى ، وَلِهَذَا قَالَ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : \" لَا نُوَلِّي عَمَلنَا مَنْ طَلَبَهُ أَوْ حَرَصَ عَلَيْهِ \" .\rdalam hadits ada beberapa faedah, diantaranya:makruh meminta kepemimpinan.......dst\r- juga dalam Shahih Muslim 9/344, maktabah syamilah:\rحَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ بُرَيْدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَدَخَلْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا وَرَجُلَانِ مِنْ بَنِي عَمِّي فَقَالَ أَحَدُ الرَّجُلَيْنِ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَمِّرْنَا عَلَى بَعْضِ مَا وَلَّاكَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَقَالَ الْآخَرُ مِثْلَ ذَلِكَ فَقَالَ إِنَّا وَاللَّهِ لَا نُوَلِّي عَلَى هَذَا الْعَمَلِ أَحَدًا سَأَلَهُ وَلَا أَحَدًا حَرَصَ عَلَيْهِ","part":1,"page":144},{"id":145,"text":"Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Muhammad bin Ala' dia berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Buraid bin Abdullah dari Abu Burdah dari Abu Musa dia berkata, \"Saya dan dua orang anak pamanku menemui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, salah seorang dari keduanya lalu berkata, \"Wahai Rasulullah, angkatlah kami sebagai pemimpin atas sebagian wilayah yang telah diberikan Allah Azza Wa Jalla kepadamu.\" Dan seorang lagi mengucapkan perkataan serupa, maka beliau bersabda: \"Demi Allah, sesungguhnya kami tidak akan memberikan jabatan bagi orang yang meminta dan yang rakus terhadapnya.\"\r- Dalam surat Yusuf ayat 55:\rقَالَ اجْعَلْنِي عَلَى خَزَائِنِ الأرْضِ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ\rBerkata Yusuf: \"Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan\".\rAl hafizh Ibn Katsier dalam tafsirnya 4/395, maktabah syamilah :\rوسأل العمل لعلمه بقدرته عليه، ولما في ذلك من المصالح للناس\rNabi Yusuf meminta jabatan sebagai bendahara karena beliau mengerti akan kemampuan beliau untuk hal tsb, dan karena ada kemaslahatan umat manusia didalam hal tsb.\rImam Baidhawi dalam tafsirnya (juz 3 halaman 137, Daarul Fikr) :\rوفيه دليل على جواز طلب التولية وإظهار أنه مستعد لها والتولي من يد الكافر إذا علم أنه لا سبيل إلى إقامة الحق وسياسة الخلق إلا بالاستظهار به","part":1,"page":145},{"id":146,"text":"Di dalam ucapan Nabi Yusuf merupakan dalil bolehnya meminta jabatan dan menampakkan bahwa dirinya siap untuk jabatan tsb, dan menjadi penguasa dari orang kafir, ketika orang tsb mengerti bahwasanya tidak ada cara untuk menegakkan kebenaran dan mengatur umat kecuali dengan menampakkan bahwa dirinya siap untuk jabatan tsb\r- Tafsir Jamal juz 2 halaman 462, Daarul Fikr :\rفإن قلت كيف طلب يوسف عليه الصلاة والسلام الإمارة والولاية مع ما ورد من النهي عنها مع كراهية طلبها لما صح من حديث عبد الرحمن بن سمرة قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم يا عبد الرحمن لا تسأل الإمارة فإنك إن أوتيتها عن مسألة وكلت إليها وإن أتيتها من غير مسألة أعنت عليها أخرجاه في الصحيحين\rقلت إنما يكره طلب الإمارة إذا لم يتعين عليه طلبها فإذا تعين عليها طلبها وجب ذلك عليه ولا كراهية فيه فأما يوسف عليه الصلاة والسلام فكان عليه طلب الإمارة لأنه مرسل من الله تعالى والرسول أعلم بمصالح الأمة من غيره وإذا كان مكلفاً برعاية المصالح ولا يمكنه ذلك إلا بطلب الإمارة وجب عليه طلبها ......إهـ خازن\r> Hariz Jaya\rDalam sebuah hadits disebutkan :\rحدثنا أبو النعمان محمد بن الفضل حدثنا جرير بن حازم حدثنا الحسن حدثنا عبد الرحمن بن سمرة قال : قال لي النبي صلى الله عليه و سلم ( يا عبد الرحمن بن سمرة لا تسأل الإمارة فإنك إن أوتيتها عن مسألة وكلت إليها وإن أوتيتها من غير مسألة أعنت عليها وإذا حلفت على يمين فرأيت غيرها خيرا منها فكفر عن يمينك وأت الذي هو خير )","part":1,"page":146},{"id":147,"text":"Artinya : Telah menceritakan kepada kami Abu An-Nu’man Muhammad bin Abdullah Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Umar bin Faris telah mengabarkan kepada kami Ibnu 'Aun dari Al Hasan dari Abdurrahman bin Samurah mengatakan, Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: janganlah kamu meminta kepemimpinan, sebab jika engkau diberi kepemimpinan bukan karena meminta, kamu akan ditolong, namun jika kamu diberi karena meminta, kamu akan ditelantarkan. Jika kamu bersumpah atas suatu sumpah, kemudian melihat ada yang lain lebih baik, maka lakukan yang lebih baik. (HR. Bukhori No. 6248 Juz 6 Halaman 2443)\r- KITAB NUZHATUL MUTTAQIN SYARAH RIYADUS H SHALIHIN HALAMAN 557\r..افاد الحديث: تحريم طلب الإمارة، وجواز قبولها ان اعطيها من غير طلب، فإن لم يكن غيره كفءا لها وجب عليه طلبها وتوليها وكان معانا عليها. استحب الحنث باليمين ان كان فعل ماحلف عليه اكثر نفعا ويجب الحنث ان كان حلف على معصية، ويستحب البر باليمين ان كان حلف على فعل طاعة، من حنث بيمينه وجبت عليه الكفارة، وهي اعتاق رقبة او اطعام عشرة مساكين مايكفى يوما واحدا في حد الوسط، او كسوتهم كذلك فإن كان فقيرا لايملك هذا صام ثلاث ايام.","part":1,"page":147},{"id":148,"text":"حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَإِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ كِلاَهُمَا عَنِ الْمُقْرِئِ قَالَ زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يَزِيدَ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِى أَيُّوبَ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِى جَعْفَرٍ الْقُرَشِىِّ عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِى سَالِمٍ الْجَيْشَانِىِّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِى ذَرٍّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « يَا أَبَا ذَرٍّ إِنِّى أَرَاكَ ضَعِيفًا وَإِنِّى أُحِبُّ لَكَ مَا أُحِبُّ لِنَفْسِى لاَ تَأَمَّرَنَّ عَلَى اثْنَيْنِ وَلاَ تَوَلَّيَنَّ مَالَ يَتِيمٍ »\r.Artinya : telah menceritakan kepada kami zuhair bin harb dan ishaq bin ibrahim, mereka berkata, dari al-mukri’, zuhair berkata, telah menceritakan kepada kami abdullah bin yazid, telah menceritakan kepada kami sa’id bin abi ayyub, dari abdillah bin abi ja’far al-quraisy, dari salim bin abi salim al-jaisyaniy, dari ayahnya, dari abi dzar, bahwa Rasulullah saw bersabda : Wahai Abu Dzar, aku memandangmu seorang yang lemah dan aku menyukai untukmu apa yang kusukai untuk diriku. Janganlah sekali-kali engkau memimpin dua orang dan jangan sekali-kali engkau menguasai pengurusan harta anak yatim. (HR. Muslim No. 4824 Juz 6 Halaman 7)\r- KITAB NUZHATUL MUTTAQIN SYARAH RIYADUS H SHALIHIN HALAMAN 557 :\r..افاد الحديث: تحريم الولاية لمن علم من نفسه الضعف عن القيامة بأعبائها، الجث على حقظ مال اليتيم وعدم الأكل منه بغير حق او تضييعه، حرص الإسلام على المصلحة العامة واموال اليتامى.","part":1,"page":148},{"id":149,"text":"حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَإِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ كِلاَهُمَا عَنِ الْمُقْرِئِ قَالَ زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يَزِيدَ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِى أَيُّوبَ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِى جَعْفَرٍ الْقُرَشِىِّ عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِى سَالِمٍ الْجَيْشَانِىِّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِى ذَرٍّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « يَا أَبَا ذَرٍّ إِنِّى أَرَاكَ ضَعِيفًا وَإِنِّى أُحِبُّ لَكَ مَا أُحِبُّ لِنَفْسِى لاَ تَأَمَّرَنَّ عَلَى اثْنَيْنِ وَلاَ تَوَلَّيَنَّ مَالَ يَتِيمٍ ».\rArtinya : telah menceritakan kepada kami zuhair bin harb dan ishaq bin ibrahim, mereka berkata, dari al-mukri’, zuhair berkata, telah menceritakan kepada kami abdullah bin yazid, telah menceritakan kepada kami sa’id bin abi ayyub, dari abdillah bin abi ja’far al-quraisy, dari salim bin abi salim al-jaisyaniy, dari ayahnya, dari abi dzar, bahwa Rasulullah saw bersabda : Wahai Abu Dzar, aku memandangmu seorang yang lemah dan aku menyukai untukmu apa yang kusukai untuk diriku. Janganlah sekali-kali engkau memimpin dua orang dan jangan sekali-kali engkau menguasai pengurusan harta anak yatim. (HR. Muslim No. 4824 Juz 6 Halaman 7).\r- KITAB NUZHATUL MUTTAQIN SYARAH RIYADUS H SHALIHIN HALAMAN 558 :\rافاد الحديث: من طلب الولاية لا يولى، واحق الناس بها من امتنع عنها وكرهها، الولاية امانة عظيمة ومسؤولية خطيرة، فعلى من وليها ان يرعاها حق رعيتها ولا يخن عهد الله فيها، فضل من تولى الولاية وكان اهلا لها، سواء كان اماما عادلا، او خازنا امينا او عاملا متقنا.\r- Kitab Fathul Bari Juz 13 Halaman 136","part":1,"page":149},{"id":150,"text":"..قال المهلب الحرص على الولاية هو السبب في اقتتال الناس عليها حتى سفكت الدماء واستبيحت الأموال والفروج وعظم الفساد في الأرض بذلك ووجه الندم انه قد يقتل أو يعزل أو يموت فيندم على الدخول فيها لأنه يطالب بالتبعات التي ارتكبها وقد فاته ما حرص عليه بمفارقته قال ويستثنى من ذلك من تعين عليه كأن يموت الوالي ولا يوجد بعده من يقوم بالأمر غيره وإذا لم يدخل في ذلك يحصل الفساد بضياع الأحوال قلت وهذا لا يخالف ما فرض في الحديث الذي قبله من الحصول بالطلب أو بغير طلب بل في التعبير بالحرص إشارة الى ان من قام بالأمر عند خشية الضياع يكون كمن أعطى بغير سؤال لفقد الحرص غالبا عمن هذا شأنه وقد يغتفر الحرص في حق من تعين عليه لكونه يصير واجبا عليه وتولية القضاء على الامام فرض عين وعلى القاضي فرض كفاية إذا كان هناك غيره\rKesimpulan saya : kalau penuh dengan ambisi tidak boleh, lihat ibarat yang ada dalam kitab fathul bari di atas, dan apabila tidak mempunyai kemampuan dalam pemerintahan juga tidak boleh, lihat ibaratnya di atas syarah riyadus salihin. Jadi semuanya sudah jelas bahwa yang diperbolehkan apabila mempunyai kemampuan dalam mengatur pemerintahan dan tidak berambisi serta tidak money pollitic. Wallohu a'lam bis showab.\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/714073261948818/\r3180. SYARAT MENJADI PRESIDEN\rPERTANYAAN :\r> Bunda Shozyka\rLATAR BELAKANG MASALAH PRESIDEN CACAT : Pada tahun 2004 terjadi perdebatan yang luarbiasa tentang capres yang kurang beruntung atau cacat, hal ini muncul polemik yang yang luar biasa. SOAL :\r1. Bagaimana hukumnya menjadikan orang cacat menjadi calon pesiden ?\r2. Bolehkah periden itu cacat ? (seperti; buta, buntung, dll..)","part":1,"page":150},{"id":151,"text":"3. Kalau cacat tidak boleh bagaimana kretria yang dimaksud ? Silahkan...nuwun.\rJAWABAN :\r> Abdur Rahman Assyafi'i\rMenurut Imam Al-Mawardi, ada 7 syarat untuk menjadi seorang pemimpin di antaranya adalah sehat panca indranya dan tidak cacat, meski demikian, mungkin ada kebolehan kebolehan yang menyebabkan orang orang yang tidak memenuhi syarat bisa masuk kedalamnya semisal tidak ada orang lain yang di pandang mampu dll. Terlebih lagi di jaman modern ini pembantu keprisedenan banyak sekali sehinga bisa mendukung kekurangan fisik dari sang presiden.\rأسئلة وأجوبة على باب الإمامة من الأحكام السلطانية للماوردي\rس: ما الشُّروطُ المعتبرةُ في أهلِ الإمامةِج: سبعةُ شروطٍ: 1) العدالةُ. 2) العلمُ المؤدي للاجتهادِ في النَّوازلِ. 3) سلامةُ الحواسِ من السَّمْعِ والبَّصَرِ واللِّسانِ. 4) سَلَامَةُ الْأَعْضَاءِ مِنْ نَقْصٍ يَمْنَعُ عَنْ اسْتِيفَاءِ الْحَرَكَةِ وَسُرْعَةِ النُّهُوضِ . 5) الرأيُ المفضي إلى التَّدبيرِ وسياسةِ الرَّعِيَّةِ. 6) الشجاعةُ والنَّجْدَةُ المؤديةُ إلى حمايةِ بيضةِ الإسلامِ وجهادِ العدوِّ. 7) أن يكون قرشيًا في النسب([5]). لقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ {الْأَئِمَّةُ مِنْ قُرَيْشٍ}([6]).\rالكتاب : الأحكام السلطانية المؤلف : الماوردي مصدر الكتاب : موقع الإسلام","part":1,"page":151},{"id":152,"text":"وأما أهل الإمامة فالشروط المعتبرة فيهم سبعة : أحدها : العدالة على شروطها الجامعة . والثاني : العلم المؤدي إلى الاجتهاد في النوازل والأحكام . والثالث سلامة الحواس من السمع والبصر واللسان ليصح معها مباشرة ما يدرك بها . والرابع : سلامة الأعضاء من نقص يمنع عن استيفاء الحركة وسرعة النهوض . والخامس : الرأي المفضي إلى سياسة الرعية وتدبير المصالح . والسادس : الشجاعة والنجدة المؤدية إلى حماية البيضة وجهاد العدو . والسابع : النسب وهو أن يكون من قريش لورود النص فيه وانعقاد الإجماع عليه ، ولا اعتبار بضرار حين شذ فجوزها في جميع الناس ، لأن أبا بكر الصديق رضي الله عنه احتج يوم السقيفة على الأنصار في دفعهم عن الخلافة لما بايعوا سعد بن عبادة عليها بقول النبي صلى الله عليه وسلم { الأئمة من قريش } فأقلعوا عن التفرد بها ورجعوا عن المشاركة فيها حين قالوا منا أمير ومنكم أمير تسليما لروايته وتصديقا لخبره ورضوا بقوله : نحن الأمراء وأنتم الوزراء ، وقال النبي صلى الله عليه وسلم : { قدموا قريشا ولا تقدموها } . وليس مع هذا النص المسلم شبهة لمنازع فيه ولا قول لمخالف له . (\r> Ghufron Bkl\rMengenai syarat presiden harus sehat panca indranya ulama' masih berbeda pendapat, sebagian mensyaratkan sehat panca indranya dan sebagian yang lain tidka mensyaratkan demikian .","part":1,"page":152},{"id":153,"text":"الموسوعة الفقهية : \" - الجزء السادس - \" شروط الإمامة : 10 - يشترط الفقهاء للإمام شروطا ، منها ما هو متفق عليه ومنها ما هو مختلف فيه . فالمتفق عليه من شروط الإمامة : أ - الإسلام ، لأنه شرط في جواز الشهادة . وصحة الولاية على ما هو دون الإمامة في الأهمية . قال تعالى : ( ولن يجعل الله للكافرين على المؤمنين سبيلا ) والإمامة كما قال ابن حزم : أعظم ( السبيل ) ، وليراعى مصلحة المسلمين . ب - التكليف : ويشمل العقل ، والبلوغ ، فلا تصح إمامة صبي أو مجنون ، لأنهما في ولاية غيرهما ، فلا يليان أمر المسلمين ، وجاء في الأثر « تعوذوا بالله من رأس السبعين ، وإمارة الصبيان ج - الذكورة : فلا تصح إمارة النساء ، لخبر : « لن يفلح قوم ولوا أمرهم امرأة ولأن هذا المنصب تناط به أعمال خطيرة وأعباء جسيمة تتنافى مع طبيعة المرأة ، وفوق طاقتها . فيتولى الإمام قيادة الجيوش ويشترك في القتال بنفسه أحيانا . \" - ص 219 -\" د - الكفاية ولو بغيره ، والكفاية هي الجرأة والشجاعة والنجدة ، بحيث يكون قيما بأمر الحرب والسياسة وإقامة الحدود والذب عن الأمة . هـ - الحرية : فلا يصح عقد الإمامة لمن فيه رق ، لأنه مشغول في خدمة سيده . و - سلامة الحواس والأعضاء مما يمنع استيفاء الحركة للنهوض بمهام الإمامة . وهذا القدر من الشروط متفق عليه . 11 - أما المختلف فيه من الشروط فهو : أ - العدالة والاجتهاد . ذهب المالكية والشافعية والحنابلة إلى أن العدالة والاجتهاد شرطا صحة ، فلا يجوز تقليد الفاسق أو المقلد إلا عند فقد العدل والمجتهد . وذهب الحنفية إلى أنهما شرطا أولوية ، فيصح تقليد الفاسق والعامي ، ولو عند وجود العدل والمجتهد . ب - السمع والبصر وسلامة اليدين والرجلين . ذهب جمهور الفقهاء إلى أنها شروط انعقاد ، فلا تصح إمامة الأعمى والأصم ومقطوع اليدين والرجلين ابتداء ، وينعزل إذا طرأت عليه ، لأنه غير قادر على القيام بمصالح المسلمين ،","part":1,"page":153},{"id":154,"text":"ويخرج بها عن أهلية الإمامة إذا طرأت عليه . وذهب بعض الفقهاء إلى أنه لا يشترط ذلك ، فلا يضر الإمام عندهم أن يكون في خلقه عيب جسدي أو مرض منفر ، كالعمى والصمم وقطع اليدين والرجلين والجدع والجذام ، إذ لم يمنع ذلك قرآن ولا سنة ولا إجماع .\rMenurut syaikh Sulayman Al Kurdiy As Syafi'iy presiden indonesia setara dengan kholifah / imam a'zhom :\rقرة العين في فتاوى الشيخ سليمان الكردي االشافعي : ص : 135-136 :\r[ وَالسُّلْطَانُ الْمَذْكُوْرُ فِيْ بُلْدَانِكُمْ : يُسَمَّى إِمَامًا أَعْظَمَ ، بِمَعْنَى : أَنَّهُ تَنْفُذُ أَحْكَامُهُ كَاْلإِمَامِ اْلأَعْظَمِ ، وَيَجْرِيْ مِنْهُ مَا قَرَّرُوْهُ فِي اْلإِمَامِ اْلأَعْظَمِ ، فَلَقَدْ صَرَّحَ أَئِمَّتُنَا : أَنَّ اْلإِمَامَةَ تَنْعَقِدُ بِطُرُقٍ : أَحَدُهَا : بِبَيْعَةِ أَهْلِ الْحَلِّ وَالْعَقْدِ مِنَ الْعُلَمَاءِ وَالرُّؤَسَاءِ وَوُجُوْهِ النَّاسِ الَّذِيْنَ يَتَيَسَّرُ اجْتِمَاعُهُمْ حَالَةَ الْبَيْعَةِ . وَثَانِيْهَا : بِاسْتِخْلاَفِ اْلإِمَامِ . وَثَالِثُهَا : بِاسْتِيْلاَءِ الشَّوْكَةِ ، وَإِنِ اخْتَلَّتْ فِيْهِ الشُّرُوْطُ كُلُّهَا . وَسَلاَطِيْنُ بِلاَدِكُمْ فِيْمَا بَلَغَنِيْ ، لاَيَخْرُجُوْنَ عَنْ هذِهِ اْلأَقْسَامِ ، فَمَنِ اسْتَجْمَعَ الشُّرُوْطَ الَّتِي اشْتَرَطُوْهَا فِي فِي اْلإِمَامِ اْلأَعْظَمِ ، فَهُوَ إِمَامٌ أَعءظَمُ حَقِيْقَةً ، وَإِلاَّ : فَهُوَ مُتَوَلِّ بِالشَّوْكَةِ ، فَلَهُ حُكْمُ اْلإِمَامِ اْلأَعْظَمِ فِيْ عَدَمِ انْعِزَالِهِ بِالْفِسْقِ وَغَيْرِهِ .\rوَاللهُ أَعْلَمُ ] :\rWallohu a'lam bis showab\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/773402902682520/\r3250. HUKUM MEMBERONTAK KEPADA PEMERINTAH YANG JAAIR ATAU DHOLIM\rPERTANYAAN :\r> Temmy Sulaeman Bakrie","part":1,"page":154},{"id":155,"text":"Assalamu'alaikum, bagaimana hukum dalam Islam jika berontak kepada pemerintah yang Jaairon, dan apabila pemimpin kafir yang akan merusak aqidah manusia itu wajib dibunuh?\rJAWABAN :\r> Ghufron Bkl\rWa alaikumus salaam warohmatulloh. Tidak boleh membangkang / memberontak pada pemerintah walaupun pemerintah tersebut JAAIRON/DLOLIM selagi pemerintah tersebut tidak memerintah pada sesuatu yang ma'shiat :\rالتشريع الجنائى الإسلامى الجزء الثانى ص: 675-682 662 –","part":1,"page":155},{"id":156,"text":"يشترط لوجود جريمة البغى الخروج على الإمام, والخروج المقصود هو مخالفة الإمام والعمل لخلعه, أو الامتناع عما وجب على الخارجين من حقوق. ويستوى أن تكون هذه الحقوق لله أى مقررة لمصلحة الجماعة, أو للأشخاص أى مقررة لمصلحة الأفراد. فيدخل تحتها كل حق تفرضه الشريعة للحاكم على المحكوم, وكل حق للجماعة على الأفراد, وكل حق للفرد على الفرد, فمن امتنع عن أداء الزكاة فقد امتنع عن حق وجب عليهم ومن امتنع عن تنفيذ حكم متعلق بحق الله كحد الزنا, أو متعلق بحق الأفراد كالقصاص فقد امتنع عن حق وجب عليه ومن امتنع عن طاعة الإمام فقد امتنع عن الحق الذى وجب عليه وهكذا. ولكن من المتفق عليه أن الامتناع عن الطاعة فى معصية ليس بغيا وإنما هو واجب على كل مسلم لأن الطاعة لم تفرض إلا فى معروف ولا تجوز فى معصية فإذا أمر الإمام بما يخالف الشريعة فليس لأحد أن يطيعه فيما أمر إذ الطاعة لا تجب إلا فيما تجيز ه الشريعة. والخروج قد يكون على الإمام وهو رئيس الدولة الأعلى وقد يكون على من ينوب عنه فمن امتنع عن طاعة الإمام فى معصية فليس بغيا لأن حق الأمر واجب الطاعة كلاهما مقيد غير مطلق فليس لآمر أن يأمر بما يخالف الشريعة وليس لمأمور أن يطيعه فيما يخالف الشريعة وذلك ظاهر من قوله تعالى: ( فإن تنازعتم فى شئ فردوه إلى الله والرسول ) ومن قول الرسول صلى الله عليه وسلم ( لا طاعة لمخلوق فى معصية الخالق ) وقوله ( من أمركم من الولاة بغير طاعة الله فلا تطيعوا ) وقوله ( لا طاعة فى معصية الله إنما الطاعة فى المعروف ) وقد احتاط الفقهاء لهذا فى تعريف البغاة. والإمام هو رئيس الدولة الإسلامى الأعلى أو من ينوب عنه من سلطان أو وزير أو حاكم أو غير ذلك من المصطلحات ويعبر بعض الفقهاء عن رئيس الدولة الإسلامية الأعلى بالإمام الذى ليس فوقه إمام, وعمن دونه بالإمام مطلقا إذا كان مستقلا بجزء من الدولة الإسلامية وبنائب الإمام إذا كان ينوب عن الإمام","part":1,"page":156},{"id":157,"text":"الأعظم. – إلى أن قال – ومع أن العدالة شرط من شروط الإمامة إلا أن الرأى الراجحة فى المذهب الأربعة ومذهب الشيعة الزيدية هو تحريم الخروج على الإمام الفاسق الفاجر ولو كان الخروج للأمر بالمعروف والنهى عن المنكر. لأن الخروج على الإمام يؤدى عادة إلى ما هو أنكر مما فيه وبهذا يمتنع النهى عن المنكر لأن من شرطه أن لا يؤدى الإنكار إلى ما هو أنكر من ذلك, إلى الفتن وسفك الدماء وبث الفساد واضطراب البلاد وإضلال العباد وتوهين الأمن وهدم النظام. وإذا كانت القاعدة أن للأمة خلع الإمام وعزله بسبب يوجبه كالفسق إلا أنهم يرون أن لا يعزل إذا استلزم العزل فتنة. وأما الرأى المرجوح فيرى أصحابه أن للأمة خلع وعزل الإمام بسبب يوجبه وأنه ينعزل بالفسق والظلم وتعطيل الحقوق فإذا وجد من الإمام ما يوجب اختلال أموال المسلمين وانتكاس أمور الدين كان للأمة خلعه كما كان لهم تنصيبه لانتظام شؤون الأمة وإعلائها ويرى بعض هذا الفريق أنه إذا أدى الخلع لفتنة احتمل أدنى الضررين.\rالباجوري2/252\rوعبارة المنهج مخالفو إمام قال في شرحه ولو جائرا ومثله الشيخ الخطيب فتجب طاعة الإمام ولوجائرا فيما لا يخالف الشرع من أمر أو نهي بخلاف ما يخالف الشرع لأنه لا طاعة لمخلوق في معصية الخالق كما في الحديث وفي شرح مسلم يحرم الخروج على الإمام الجائر إجماعا.\rWajib taat kepada imam walaupun imam tersebut jaair selama perintah dan larangannya tidak menyelisihi syara', jika menyelisihi syara' maka tiada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada kholiq sebagaimana dalam hadis.dalam shohih muslim \" keluar dari imam yang jaair hukumnya haram secara ijma'. Wallohu a'lam bis showab.\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/783229255033218/\r3272. HUKUM GOLPUT DALAM PEMILU DAN PILKADA\rPERTANYAAN\r> Hamidah Zain","part":1,"page":157},{"id":158,"text":"Assalamu'alykum...apa hukumnya golput ? ..mohon pencerahan. Jazakumullah khair\rJAWABAN :\r> Ghufron Bkl\rWa'alaikum salam. Perlu diingat bahwa memilih / mengangkat pemimpin adalah fardlu kifayah. :\r.بقي أن نقول أن وجوب نصب الخليفة الذي ذهب اليه جمهور العلماء ليس وجوبا عينيا بل هو وجوب كفائي شأنه شأن سائر الواجبات الكفائية من جهاد وطلب علم ونحو ذلك فإذا بهذه الوظيفة من يصلح لها سقط وجوبها على كافة المسلمين . مغني المحتاج 5/418\r> Toni Imam Tontowi\rWa'alaikum salam. Pemilihan Umum, merupakan “pesta demokrasi” untuk menentukan wakil rakyat yang diberi amanat, guna menjaga dan melestarikan kemaslahatan umat secara umum. Baik memilih legislatif atau memilih Presiden. Hal ini, disebut dengan intichabab alriqab wa ahli syura (memilih Pengawas Pemerintah dan Badan Musyawarah. Atau intichab raisul jumhur yang identik dengan nasbu al Imam (memilih Presiden yang identik dengan membentuk dengan atau mengangkat imam, dimana hukum wujudnya Dewan Suro dan Presiden adalah fardu kifayah. Artinya, kewajiban yang penting “hasilnya maksud”, dengan tanpa melihat pelakunya. Sebagaimana definisi fardu kifayah. Dalam Lubuul Ushul hal. 26:\rفَرْضُ الْكِفَايَةِ مُهِمٌّ يُقْصَدُ جَزْمًا حُصُوْلُهُ مِنْ غَيْرِ نَظْرٍ بِالذَّاتِ لِفَاعِلِهِ.\rArtinya: Fardu kifayah adalah sesuatu yang terpenting adalah tujuannya hasil dengan pasti dengan tanpa melihat pelakunya.\rYakni, jika tujuannya sudah berhasil, maka kita tidak dituntut untuk melakukan. Sebaliknya, jika tujuan tersebut belum berhasil, maka kita semua yang mampu dan tahu, di tuntut untuk mengusahakan terwujudnya sesuatu tersebut.","part":1,"page":158},{"id":159,"text":"A. Kronologi pemilihan umum di hukumi fardu kifayah sebagai berikut:\rSesungguhnya, Pemilihan Umum dalam rangka “pesta demokrasi” seperti di Indonesia, tidak pernah ada dalam sistem pemerintahan Islam. Dan sebenarnya, sitem Pilpres langsung, Pilgub langsung, perlu ditinjau ulang melihat dampak negatifnya lebih banyak. Tapi, yang wajib adalah terbentuknya kesejahteraan masyarakat, keamanan, dan berjalannya syariat Islam dengan utuh. Karena hal itu tidak dapat terwujud tanpa adanya pemerintahan yang adil dan bijaksana, maka wujudnya pemerintahan merupakan wajib.\rمَالاَيَتِمُّ اْلوَاجِبُ اِلاَ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ\r“Segala sesuatu yang sudah menjadi wajib, maka hukumnya wajib sebagaimana kewajiban tersebut”.\rSebenarnya, mewujudkan pemerintahan tersebut tidak harus dengan pemilihan umum, jika dapat direalisasikan dengan selain pemilihan umum. Akan tetapi, jika hanya dengan pemilihan umum sebagaimana yang terjadi di Indonesia tercinta ini, maka pemilihan umum menjadi fardu kifayah, karena berusaha mewujdukan cita-cita tersebut. Karenanya, memilih dalam pemilihan umum hukumnya fardu kifayah pula.\rLalu, apakah golput haram? Jika kita yakin atau punya dugaan bahwa dengan adanya kita golput, cita-cita di atas tidak terwujud maka golput haram. Jika kita yakin atau dhan (berprasangka) cita-cita tetap terlaksana walau kita golput, maka golput tidak masalah atau tidak haram. Demikian pula, jika kita yakin atau dhan golput atau memilih hasilnya sama, sama suksesnya atau sama tidak suksesnya. Jika kita ragu akan “dampak” golput kita, maka terjadi dua pendapat dikalangan ulama.","part":1,"page":159},{"id":160,"text":"1. Golput dihukumi haram, dengan mengacu bahwa “khitob” (tuntutan) fardu kifayah, asalnya di tetapkan pada individu dan akan gugur setelah ada keyakinan atau dhan bahwa kewajiban tersebut sudah berhasil tanpa kita , maka dalam keadaan ragu masih wajib.\r2. Golput tidak haram, melihat asal fardu kifayah bukan khitob untuk semua indifidu, tapi kepada sebagian kelompok yang tidak tertentu. Dan dapat menjadi kewajiban setiap indifidu, jika yakin atau dhan belum terlaksana, berarti kalau ragu belum menjadi wajib. Pendapat yang lebih benar yang pertama. Hal ini disebabkan kemungkinan arah khitob tersebut dengan melihat dua pandangan sebagai berikut:\rMelihat jika tidak ada yang melakukan sama sekali, yang berdosa adalah semua individu. Maka, arah khitob fardu kifayah pada indifidu.\rB. Melihat jika sudah ada orang lain yang mencukupi, kita tidak mendapat dosa. Berarti, pada dasarnya kita tidak wajib. Keterangan ini sama dengan fatwa al Syekh Zakaria al Anshari dalam kitab Ghoyatul Wusul hal 27;","part":1,"page":160},{"id":161,"text":"وَاْلأَصَحُّ اَنَّهُ اى فَرْضُ اْلكِفَايَةِ عَلَى اْلكُلِّ لإِثْمِهِمْ بِتَرْكِهِ كَمَا فِى فَرْضِ اْلعَيْنِ وَلِقَوْلِهِ تَعَالَى قاَتِلُوا الَّذِيْنَ لاَ يُؤْمِنُوْنَ باللهِ وَهَذَا مَا عَلَيْهِ الجُمْهُوْرُ وَنَصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِى فِى اْلأُمِّ وَيَسْقُطُ اَلْفَرْضُ بِفِعْلِ اْلبَعْضِ لأَنَّ اْلمَقْصُوْدَ كَمَا مَرَّ حُصُوْلُ اْلفِعْلِ لاَ ابْتِلاَءُ كُلِّ مُكَلَّفٍ بِهِ – اِلىَ اَنْ قاَلَ – وَقِيْلَ فَرْضُ اْلكِفَايَةِ عَلَى اْلبَعْضِ لاَ اْلكُلِّ وَرَجَّحَهُ الأَصْلُ . وِفَاقًا بِزَعْمِ اْلإِمَام الرَّازِى للإِكْتِفَاءِ بِحُصُوْلِهِ مِنَ اْلبَعْضِ وَِلأَيَةٍ وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ اُمَّةٌ يَدْعُوْنَ اِلَى اْلخَيْرِ – اِلىَ اَنْ قَالَ – ثُمَّ مَدَارُهُ عَلَى الظَّنِّ فَعَلَى قَوْلِ اْلكُلِّ مَنْ ظَنَّ اَنَّ غَيْرَهُ فَعَلَهُ أَوْ يَفْعَلُهُ سَقَطَ عَنْهُ وَمَنْ لاَ فَلاَ. وَعَلَى اْلقَوْلِ اْلبَعْضِ مَنْ ظَنَّ اَنَّ غَيْرَهُ لَمْ يَفْعَلْهُ وَلاَ يَفْعَلُهُ وَجَبَ عَلَيْهِ وَمَنْ لاَ فَلاَ.\rArtinya: Menurut pendapat yang lebih benar bahwa “fardu kifayah”, di arahkan kepada semua individu, kerena dosanya dibebankan kepadanya jika sama-sama tidak ada yang melakukan sebagaimana fardu ain. Dengan dasar firman Allah.\rوَقَاتِلُوا الَّذِيْنَ لاَ يُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ\rIni pendapat mayoritas ulama. Dan sebagaimana nashnya imam Syafi’i dalam kitab Um hanya saja fardu akan gugur dengan sebagian yang melakukan. Karena maksudnya yang penting hasil. Bukan bebannya terhadap mukallaf. Sebagian ulama berpendapat, kewajiban tersebut diarahkan kepada sebagian, bukan setiap indifidu. Sebagaimana pendapat Imam Fatchurrozi, dikarenakan dicukupkan pada sebagian dengan berdasarkan ayat;","part":1,"page":161},{"id":162,"text":"وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ اُمَّةٌ يَدْعُوْنَ اِلَى اْلخَيْرِ\rKemudian kisaran kewajiban tersebut pada dugaan masing-masing dengan mengikat kewajiban diarahkan kepada semua individu. Maka, barang siapa menduga bahwa orang lain telah melakukan atau dia sendiri melakukan, maka kewajiban telah gugur. Barang siapa tidak menduga dan tidak melakukan, maka tidak gugur atau tetap wajib. Jika mengikuti atas kewajiban sebagian, maka barang siapa menduga tidak ada orang lain yang melakukan dan ia tidak melakukan maka dia menjadi wajib jika tidak maka tidak wajib. [Ghoyatul wushul hal 27].\rSumber : http://misykat.lirboyo.net/hukum-golput/\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/744195938936550\r3282. CINTA TANAH AIR SEBAGIAN DARI IMAN (HUBBUL WATHON MINAL IMAN)\rPERTANYAAN :\r> Nona Arya\rAssalamualaikum, katanya hubbul wathon minal iman.Itu hadits atau apa? Apakah seorang nasionalis tidak dikategorikan \"mencintai tanah air\"? Bagaimana fiqih menjelaskan definisi \"mencintai tanah air\" niku?\rJAWABAN\r> Yai Langlang Buana\rPertanyaan : Benarkah kalimat \" Hubbul wathon minal iman \" itu hadits palsu? atau yg semakna dengannya..dan benar ga Istilah NASIONALIS itu produk Non Muslim, yg gunanya utk menkotak-kotakkan Muslimin?.. Jawaban :\r> Arwandi Arwan\rwa'alaikumsalam.wr.wb.. Dlm ktb Asnal Mathalib hadits ini memang masuk kategori Maudhu.tapi menurut pen-tahqiqnyaa Syaikh Mahmud Al Arnauthi,\"Imam Assakhawi dlm ktb Maqashidul Hasanah mengatakan tdk Mengenal Hadits ini.tapi Makna haditsnya Sohih\". Wallahu A'lam.\rAsnal Mathalib, hal 181.karya Almuhaddits Muhammad bin Darwisy Albayruti Rh.","part":1,"page":162},{"id":163,"text":"www.piss-ktb.com/2012/02/384-cinta-negeri-sebagian-ciri-beriman.html\r> Yai Abdullah Afif\rAl Hafizh Assuyuthi menulis dalam Kitab Addurar al Muntatsirah halaman 9 :\rحديث حب الوطن من الإيمان لم أقف عليه.\rHadits 'HUBBUL WATHAN MINAL IIMAAN' , Aku tidak menemukan asalnya\rAl Hafizh Assakhawi dalam Kitab 'Al maqashid al Hasanah halaman 100 menulis:\rحديث: حب الوطن من الإيمان، لم أقف عليه، ومعناه صحيح في ثالث المجالسة للدينوري من طريق الأصمعي، سمعت أعرابياً يقول: إذا أردت أن تعرف الرجل فانظر كيف تحننه إلى أوطانه، وتشوقه إلى إخوانه، وبكاؤه على ما مضى من زمانه\rHadits 'HUBBUL WATHAN MINAL IIMAAN' , aku tidak menemukan asalnya, maknanya shahih, didalam 'Tsalitsil Mujalasah' karya Addinawari, dari jalan al Ashmu'i, aku mendengar seorang A'rabi berkata: Jika engkau ingin mengetahui seorang laki-laki, maka lihatlah kecintaannya kepada tanah airnya......dst\rAl Hafizh Ibn Hajar dalam kitab Fathul Bari juz 3 halaman 261, ketika mensyarahi hadits Imam Bukhari dari shahabat Anas:\rكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ فَأَبْصَرَ دَرَجَاتِ الْمَدِينَةِ أَوْضَعَ نَاقَتَهُ وَإِنْ كَانَتْ دَابَّةً حَرَّكَهَا\rAdalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bila pulang dari bepergian dan melihat dataran tinggi kota Madinah, Beliau mempercepat jalan unta beliau dan bila menunggang hewan lain beliau memacunya”\rAl Hafizh berkata:\rوفي الحديث دلالة على فضل المدينة ، وعلى مشروعية حب الوطن والحنين إليه\rDidalam hadits menunjukkan tentang keutamaanya kota Madinah, dan disyari'atkannya cinta tanah air dan rindu kepadanya. Wallaahu A'lam\rLINK ASAL :","part":1,"page":163},{"id":164,"text":"www.fb.com/groups/piss.ktb/787353667954110/\r3733. HUKUM MENEMPATKAN AYAT ALQUR'AN & FOTO ULAMA PADA POSTER KAMPANYE\rPERTANYAAN :\r> Mas Muh Muh\rAsalamualaikum, pak ada yang tanya bagaimana hukum menempatkan ayat-ayat firman Alloh dan foto ulama pada poster atau kalender pada salah satu caleg, padahal setelah tak terpakai akan dibuang dan bahkan terinjak-injak (terhinakan). Terimakasih\rJAWABAN:\r> Ghufron Bkl\rHukumnya makruh :\rالإقناع1/90\rويكره كتب القرأن على حائط ولو لمسجد و ثياب و طعام و نحو ذلك و يجوز هدم الحائط و لبس الثوب وأكل الطعام\rBoleh disentuh dan membawanya dalam keadaan hadats :\rالإقناع للشربيني الجزء الأول ص: 104\rأما ما كتب لغير الدراسة كالتميمة وهي ورقة يكتب فيها شيء من القرآن وتعلق على الرأس مثلا للتبرك والثياب التي يكتب عليها والدراهم فلا يحرم مسها ولا حملها لأنه e كتب كتابا إلى هرقل وفيه يا أهل الكتاب تعالوا إلى كلمة سواء بيننا وبينكم الآية ولم يأمر حاملها بالمحافظة على الطهارة ويكره كتابة الحروز وتعليقها إلا إذا جعل عليها شمعا أو نحوه\rوأما ما كتب عليه شيء من القرآن لا للدراسة ، كالدراهم الأحدية ، والثياب ، والعمامة ، والطعام ، والحيطان ، وكتب الفقه ، والأصول ، فلا يحرم مسه ، ولا حمله على الصحيح روضة الطالبين وعمدة المفتين أبو زكريا يحيى بن شرف النووي\rPenyertaan Asma' Mu'adzom dalam alat kampanye hukumnya Khilaf, menurut Syafi'iyyah makruh, menurut Malikiyyah Haram, dan menurut sebagian Hanafiyyah boleh. Sedangkan menyertakan foto adalah boleh bila ada ijin atau qorinah kerelaan dari kyai tersebut. Wallahu A'lamu Bishawaab\rReferensi :\rالموسوعة الفقهية - (ج 16 / ص 234)\rكِتَابَةُ الْقُرْآنِ عَلَى الْحَائِطِ :","part":1,"page":164},{"id":165,"text":"8 - ذَهَبَ الشَّافِعِيَّةُ وَبَعْضُ الْحَنَفِيَّةِ إِلَى كَرَاهَةِ نَقْشِ الْحِيطَانِ بِالْقُرْآنِ مَخَافَةَ السُّقُوطِ تَحْتَ أَقْدَامِ النَّاسِ ، وَيَرَى الْمَالِكِيَّةُ حُرْمَةَ نَقْشِ الْقُرْآنِ وَاسْمِ اللَّهِ تَعَالَى عَلَى الْحِيطَانِ لِتَأْدِيَتِهِ إِلَى الاِمْتِهَانِ . وَذَهَبَ بَعْضُ الْحَنَفِيَّةِ إِلَى جَوَازِ ذَلِكَ (2) . وَلِلتَّفْصِيل : ( ر : قُرْآنٌ ) .\rمغني المحتاج - (ج 1 / ص 38)\rفوائد يكره كتب القرآن على حائط ولو لمسجد وثياب وطعام ونحو ذلك ويجوز هدم الحائط ولبث الثوب وأكل الطعام ولا يضر ملاقاته ما في المعدة بخلاف ابتلاع قرطاس عليه اسم الله تعالى فإنه يحرم\rولا يكره كتب شيء من القرآن في إناء ليسقى ماؤه للشفاء خلافا لما وقع لابن عبد السلام في فتاويه من التحريم\rحاشية الجمل –ج( 5 / ص 373)\rقال م ر , ولو تسبب فيما يسقط مروءته لم يحرم إلا إن ترتب عليه إسقاط حق لغيره بأن تعين ثبوته به ا هـ سم –الى ان قال - واعلم أنه قد اختلف في تعاطي خارم المروءة على أوجه أوجهها حرمته إن ترتب عليها رد شهادة تعلقت به وقصد ذلك ; لأنه يحرم عليه التسبب في إسقاط ما تحمله وصار أمانة عنده لغيره وإلا فلا ا هـ شرح م ر\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/902170259805783/\rwww.fb.com/notes/905379192818223\rADAB DAN AKHLAQ\rBab ini berisi dokumen tanya jawab dan diskusi tentang hal-hal yang berkaitan dengan etika, akhlaq, adab dan tashawuf.\rGAYA HIDUP\rBab ini berisi dokumen tanya jawab dan diskusi tentang hal-hal yang berkaitan dengan adat kebiasaan gaya hidup sehari-hari, termasuk berpakaian dan berhias.\r0033. HUKUM MENYEMIR RAMBUT\rPERTANYAAN :\rIerma Khoirun Ni'mah\rBagaimana hukumnya menyemir rambut ya ???\rJAWABAN :\rMasaji Antoro\rWaalaikum salam wr. wb\rPengecatan Rambut","part":1,"page":165},{"id":166,"text":"Memakai cat rambut warna HITAM tidak diperkenankan dalam ajaran islam berdasarkan Sabda Nabi SAW \"Dari Jabir ra, dia berkata, ”Pada hari penaklukan Makkah, Abu Quhafah (ayah Abu Bakar) datang dalam keadaan kepala dan jenggotnya telah memutih (seperti kapas, artinya beliau telah beruban). Lalu Rasulullah saw bersabda,\rغَيِّرُوا هَذَا بِشَيْءٍ وَاجْتَنِبُوا السَّوَادَ\r(GHAYYIRUU HAADZAA BI SYAIIN WA IJTANIBUU ASSAWAADA)\r“Ubahlah uban ini dengan sesuatu, tetapi hindarilah warna hitam.” (HR. Muslim).\rMenurut kalangan Syafiiyyah unsur pelarangan ini karena dikatagorikan TAGHYIIRUL KHILQOH (merubah penciptaan Allah) terkecuali bagi WANITA yang telah MENIKAH yang bertujuan khusus untuk menyenangkan hati suaminya dan atas izin suaminya maka yang seperti ini diperbolehkan. seperti halnya malah disunnahkan bagi wanita untuk mewarnai kuku tangan dan kakinya bila suaminya memang suka dengan hal yang demikian. (Itsmid al'Aini 78)\rPelarangan mengecat rambut dengan warna HITAM seperti yang tertera dihadits diatas sebenarnya dasarnya cukup banyak diantaranya sabda Nabi Muhammad SAW \"Pada akhir zaman nanti akan muncul suatu kaum yang bersemir dengan warna hitam seperti tembolok merpati. Mereka itu tidak akan mencium bau surga.” (HR. Abu Daud, An Nasa’i, Ibnu Hibban dalam shahihnya, dan Al Hakim. Al Hakim)","part":1,"page":166},{"id":167,"text":"Seputar warna hitam yang dimaksud dalam hadits ini memang ada pendapat bahwa yang mengatakan bahwa yang dimaksud Nabi adalah warna hitam murni, jika bukan murni diperkenankan (Lihat Hasyiyah assanady ala annasaai 8/138 dan Hasyiyah as-suyuuthi ala annasaai 6/646), namun untuk lebih berhati-hati alangkah baiknya juga kita hindari. Terkecuali bagi :\r1. WANITA yang telah MENIKAH yang bertujuan khusus untuk menyenangkan hati suaminya dan atas izin suaminya maka yang seperti ini diperbolehkan\r2. Lelaki yang bertujuan untuk IRHAAB AL'ADUWW (memberikan rasa gentar pada musuh islam dimedan perang) seperti yang pernah dilakukan oleh sahabat Utsman, Abi dujanaah, 'Uqbah bin 'Aamir, Hasan Husen dll hanya karena peperangan dizaman ini sudah tidak ada berarti alasan diperkenankannya dengan sendirinya juga tidak ada (Syarh Annawaawy ala Muslim 14/80)\r“Sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak menyemir uban mereka, maka selisilah mereka.” (Muttafaqun ‘alaihi, HR. Bukhari dan Muslim)\rDalam hadits ini diterangkan alasan disunnahkannya menyemir rambut dengan selain warna hitam demi menampakkan perbedaan dengan orang kafir (yang memang sangat dianjurkan), sebab meniru gaya dan kebiasaan orang kafir berarti sama halnya dengan mereka MAN TASYABBAHA BI QOUMIN FA WUHA MINHUM barang siapa menyerupai suatu kaum berati menjadi bagiannya.","part":1,"page":167},{"id":168,"text":"Namun Imam Al Ghozali menyatakan bila suatu kesunahan sudah menjadi sebuah TREND ahli bid'ah maka berarti tidak boleh dikerjakan lagi karena khawatir akan menyerupai mereka. Meskipun pendapat ini ditentang oleh sebagian ulama lain seperti Izzudin Ibn Abdis Salam.\rDengan demikian ketika semir warna-warni selain hitam telah menjadi trend para preman atau anak punk seperti sekarang maka terjadi khilaf, ada yang membolehkan dan ada yang melarang.\rHukum selengkapnya mengenai semir selain warna hitam ini telah dibahas dalam Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri se-Jawa Timur (FMP3) Di PP. Tahfidzil Qur'an Lirboyo Kediri tahun 2010.\rPertanyaan :\rBagaimana hukum semir merah, kuning, baik pada keseluruhan rambut kepala atau hanya sebagian saja?\rJawaban :\rHukum bersemir merah, kuning, baik pada keseluruhan rambut kepala atau hanya sebagian diperinci sebagai berikut :\r- Dalam kondisi rambut beruban dan pada saat model semir tersebut menyerupai (tasyabbuh) pada kebiasaan (adat) orang-orang fasik, maka hukum bersemir merah dan kuning bagi laki-laki atau wanita yang belum bersuami terjadi khilaf (perbedaan ulama). Menurut Imam Al-Ghazali hukumnya haram Dan menurut Imam ‘Izzuddin Ibnu ‘Abdissalam tetap diperbolehkan.","part":1,"page":168},{"id":169,"text":"- Dalam kondisi rambut tidak beruban, maka diperbolehkan bagi wanita yang sudah bersuami atas seijin suaminya. Namun bagi wanita yang belum bersuami terjadi khilaf (perbedaan ulama). Menurut sebagian ulama haram karena tasyabbuh bil fussaq (menyerupai kebiasaan orang-orang fasik). Dan menurut pendapat yang lain diperbolehkan apabila ada tujuan yang dibenarkan syariat (gharad shahih).\rR E F E R E N S I :\r1. Madzahibu Al-Arbaah vol II hal 46-47\r2. Fihusni As-Sair hal 11-12\r3. Ittihaf As-Sadah vol VII hal 591-592\r4. Al-Bahru Al-Muhith vol I hal 356\r5. Fath Al-Bari vol X hal 354\r6. Syarhu An-Nawawi vol VII hal 204\rhttp://solusinahdliyin.net/fmpp/kesehatan/188-rebonding-dan-cat-rambut.html\rالكتاب: إثمد العينين ص78\rيحرم على الولي خضب شعر الصغير ولو أتثى إذا كان أصهب بالسواد لما فيه من تغيير الخلقة\rمذاهب الأربعة الجزء الثاني صحـ 46 – 47\rحكم صباغة الشعر تفصيل المذاهب\rالشافعية- قالوا : يكرة صباغة اللحية والشعر بالسواد إلا الخضاب بالصفرة والحمرة فإنه جائز إذا كان لغرض شرعي كالظهور الشجاع أمام الأعداء في الغزو ونحوه. فإذا كان لغرض فاسد كالتشبه بأهل الدين فهو مذموم, وكذلك يكره صبغها بالبياض كي يظهر بمظهر الشيب ليتوصل بذلك إلى الأغراض المذمومة كتوقيره والإحتفاء به وقبول شهادته وغير ذلك وكما يكره تبييض اللحية بالصبغ فإنه يكره نتف شيبها.\rحسن السير فى بيان أحكام أنوع التشبه صحـ 11-12","part":1,"page":169},{"id":170,"text":"ما نصه فإن قلت فقد صرح هذا الخضاب شعارا الأعاجم وقد نهينا عن التشبه بهم لأن من تشبه بقوم فهو منهم فما تصنع فى هذا التعارض قلت أما حجة الإسلام الغزالى رضى الله عنه فإنه قال فى كتاب السماع من إحيائه مهما صارت السنة شعارا لأهل البدعة قلنا لتركها خوفا من التشبه بهم وأما سلطان العلماء العزالدين عبد السلام فإنه أشار إلى رده فى فتاوه إذا قال المراد بالأعاجم الذين نهينا عن التشبه بهم أتباع الأكثرة فى ذالك الزمان ويختص النهى بما يفعلون على خلاف مقتضى شرعنا فأما ما فعلوه على وفق الإيجاب أو الندب أو الإباحة في شرعنا فلا يترك لأجل تعاطيهم إياه فإن الشرع لا ينهى عن التشبه بما أذن الله فيه.\rإتحاف السادة المتقين الجزء السابع صحـ 591 – 592 ( دار الكتب العلمية)\rالعلة الثالثة الاجتماع عليها لما أن صار من عادة أهل الفسق ) والفجور ( فيمنع من التشبه بهم لان من تشبه بقوم فهو منهم) الى أن قال (وبهذه العلة نقول بترك السنة مهما صارت شعارا لأهل البدعة خوفا من التشبه بهم ) وقد نقل الرافعي عن بعض أئمة الشافعية أنه كان يقول الأولى ترك رفع اليدين في الصلاة في ديارنا يعني ديار العجم قال لأنه صار شعارا للرافضة وله أمثلة كثيرة لكن قد يقال ليس كل شيء يفعله الفساق يحرم فعله على غيرهم ولو كان هذا معتبرا لكان الضرب بالدفوف والشبابة حراما الى أن قال.فلما لم يحرم شيء من ذلك علمنا أن هذه العلة غير معتبرة فتأمل .\rالبحر المحيط الجزء الأول صحـ 356","part":1,"page":170},{"id":171,"text":"مسألة (لا يترك المندوب إذا صار شعارا للمبتدعة) ولا يترك لكونه صار شعارا للمبتدعة خلافا لابن أبي هريرة ولهذا ترك الترجيع في الأذان والجهر بالبسملة والقنوت في الصبح والتختم في اليمين وتسطيح القبور محتجا (بأنه صلى الله عليه وسلم ترك القيام للجنازة لما أخبر أن اليهود تفعله) وأجيب بأن له ذلك لأنه مشرع بخلاف غيره لا يترك سنة صحت عنه وفصل الغزالي بين السنن المستقلة وبين الهيئات التابعة فقال لا يترك القنوت إذا صار شعارا للمبتدعة بخلاف التسطيح والتختم في اليمين ونحوهما فإنها هيئات تابعة فحصل ثلاثة أوجه والصحيح المنع مطلقا .\rفتح الباري شرح صحيح البخاري الجزء العاشر صحـ 354\rوالثغامه بضم المثلثة وتخفيف المعجمة نبات شديد البياض زهره وثمره قال: فمن كان في مثل حال أبي قحافة استحب له الخضاب لانه لا يحصل به الغرور لاحد ومن كان بخلافه فلا يستحب في حقّه,ولكن الخضاب مطلقا اولي لانه فيها امتثال الامر في مخالفة اهل الكتاب\rشرح النووي على مسلم الجزء السابع صحـ 204\rومذهبنا استحباب خضاب الشيب للرجل والمرأة بصفرة أو حمرة ويحرم خضابه بالسواد على الأصح وقيل : يكره كراهة تنزيه والمختار التحريم لقوله صلى الله عليه وسلم : ( واجتنبوا السواد ) هذا مذهبنا .\rحاشيتا قليوبي وعميرة الجزء الثاني صحـ 480\rوأما الخضاب وصبغ نحو الشعر والنقش وتطريف نحو الأصابع وتحمير الوجه وتجعيد الشعر فحرام بالنجس مطلقا وكذا بالسواد إلا لحية الرجل المحارب لإرهاب العدو وكذا بغير السواد إن منع منه حليل ، وإلا فيجوز لكن مع الكراهة في الخلية ،\rحاشية الجمل الجزء الثاني صحـ 102\rوفي فتاوى السيوطي في باب اللباس خضاب الشعر من الرأس واللحية بالحناء جائز للرجل بل سنة صرح به النووي في شرح المهذب نقلا عن اتفاق أصحابنا قال السيوطي وأما خضاب اليدين والرجلين بالحناء فمستحب للمرأة المتزوجة وحرام على الرجل ا هـ","part":1,"page":171},{"id":172,"text":"إتحاف السادة المتقين الجزء الثاني صحـ 672\rالثانى الخضاب بالصفرة والحمرة وهو جائز ) إذا قرنته نية صالحة وهو أن يكون تلبيسا للشيب على الكفار فى الغزو عليهم والجهاد فيهم فإن لم يكن على هذه النية بل للتشبه بأهل الدين والصالحين وليس منهم فهو مذموم ولا يخفى أن مذهب المصنف أن الخضاب بغير السواد سنة سواء كان بحمرة أو صفرة وهذا لايحتاج فيه إلى نية الجهاد بل حاجة الجهاد تبيح السواد فضلا عن غيره كما تقدم فتأمل وقد قال رسول الله \"الصفرة خضاب المسلمين والخمرة خضاب المؤمنين \" – إلى أن قال – وفى الصحيحين من حيث ابن عمر أنه ويدل له ما رواه أبو داود في سننه مر رجل على النبي صلى الله عليه وسلم قد خضب بالحناء والكتم فقال هذا حسن فمر أخر خضب بالصفرة فقال هذا أحسن من هذا كله وما قال عياض من منع الخضاب مطلقا وعزاه لمالك والأكثرين لما روى من النهى عن تغيير الشيب ولأنه صلى الله عليه وسلم لم يغير شيبه وقد أجاب عنه النواوى بأنه ما مر من حديث ابن عمر وغيره لايمكن ولا تعليله قال والمختار أنه صلى الله عليه وسلم صبغ فى وقت وترك فى معظم الأوقات فأخبر كل بما رأى وهو صادق وهذا التأويل كالمتعين به بين الأحاديث.\rعون المعبود الجزء الحادى عشرة صحـ 249\rباب في الخضاب أي تغيير شيب الرأس واللحية يبلغ به أي يرفع الحديث إلى النبي صلى الله عليه وسلم إن اليهود والنصارى لا يصبغون أي لا يخضبون لحاهم وجاء صبغ من باب منع وضرب ونصر كما في القاموس فخالفوهم أي فأخضبوا لحاكم والحديث يدل على أن العلة في شرعية الخضاب هي مخالفة أهل الكتاب وبهذا يتأكد استحباب الخضاب وقد كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يبالغ في مخالفتهم ويأمر بها وهذه السنة قد كثر إشغال السلف بها ولهذا ترى المؤرخين في التراجم لهم يقولون وكان يخضب ولا تخضب قال النووي مذهبنا استحباب خضاب الشيب للرجل والمرأة بصفرة أو حمرة ويحرم بالسواد على الأصح انتهى","part":1,"page":172},{"id":173,"text":"إعانة الطالبين الجزء الثاني صحـ 339)\rوقوله بحمرة أو صفرة ) أي لا بسواد أما به فيحرم إن كان لغير إرهاب العدو في الجهاد وذلك لخبر أبي دواد والنسائي وابن حبان في صحيحه والحاكم عن ابن عباس رضي الله عنهما قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم يكون قوم يخضبون في آخر الزمان بالسواد كحواصل الحمام لا يريحون رائحة الجنة قال في الزبد :\rوحرموا خضاب شعر بسواد ** لرجل وامرأة لا للجهاد **\rقال الرملي في شرحه نعم يجوز للمرأة ذلك بإذن زوجها أو سيدها لأن له غرضا في تزينها به اهـ\rالكتاب: فتاوى عزالدين بن عبد السلام ص37\rمسئلة :\rاذا ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم سنة هل يجوز تركها لكون المبتدع يفعلها ام لا ؟\rالجواب : لا يجوز ترك السنة لمشاركة المبتدعين فيها اذ لا يترك الحق لأجل الباطل وما زال العلماء والصالحون يقيمون السنن مع العلم بمشاركة المبتدعين , واذا لم يترك الحق لأجل الباطل , فكيف يترك الحق لأجل المشاركة , ولو ساغ ذلك لترك الأذان , والاقامة والسنن الراتبة وصلاة الاعياد وعيادة المرضى والتسليم وتشميت العاطس والصدقات والضيافات وجميع المبرات المندوبات والله اعلم\r0064. ISBAL\rSalah satu maksiat badan adalah memanjangkan pakaian (sarung ataupun yang lainnya) yakni menurunkannya hingga ke bawah mata kaki dengan tujuan berbangga dan menyombongkan diri (al Fakhr). Hukum dari perbuatan ini adalah dosa besar kalau memang tujuannya adalah untuk menyombongkan diri, jika tidak dengan tujuan tersebut maka hukumnya adalah makruh. Jadi cara yang dianjurkan oleh syara' adalah memendekkan sarung atau semacamnya sampai di bagian tengah betis.","part":1,"page":173},{"id":174,"text":"Keterangan tersebut bisa dilihat dalam kitab Al-Adzkar An-Nawawi. Yang dimaksud Sombong adalah orang-orang kaya yang suka menyeretkan pakaiannya,, karena pada waktu itu orang kaya dan miskin di bedakan, juga bisa kesombongan itu agar dianggap orang besar atau orang alim. Sebab para pembesar yahudi dulu ketika memakai jubah kelombrohan, bahkan sampai menyentuh tanah, dan ini sebagai ciri bahwa yang memakai jubah kelombroh itulah para pembesar yahudi dengan kesombongannya (takabbur).\rHukum yang telah dijelaskan ini adalah hasil dari pemaduan (Taufiq) dan penyatuan (Jam') dari beberapa hadits tentang masalah ini. Pemaduan ini diambil dari hadits riwayat al Bukhari dan Muslim bahwa ketika Nabi r mengatakan :\r\"من جر ثوبه خيلاء لم ينظر الله إليه يوم القيامة \" رواه البخاري ومسلم\rMaknanya : \"Barang siapa menarik bajunya (ke bawah mata kaki) karena sombong, Allah tidak akan merahmatinya kelak di hari kiamat\" (H.R. al Bukhari dan Muslim)\rAbu Bakr yang mendengar ini lalu bertanya kepada Nabi : \"Wahai Rasulullah, sarungku selalu turun kecuali kalau aku mengangkatnya dari waktu ke waktu ?\" lalu Rasulullah SAW bersabda :\r\"إنك لست ممن يفعله خيلاء \" رواه البخاري ومسلم\rMaknanya : \"Sesungguhnya engkau bukan orang yang melakukan itu karena sombong\" (H.R. al Bukhari dan Muslim)\rJadi oleh karena Abu Bakr melakukan hal itu bukan karena sombong maka Nabi tidak mengingkarinya dan tidak menganggap perbuatannya sebagai perbuatan munkar; yang diharamkan.","part":1,"page":174},{"id":175,"text":"SUMBER : EBOOK MASA-IL DINIYYAH oleh Kholil Abou Fateh, Kompilasi ebook oleh: M. Luqman Firmansyah, Facebook Pages AQIDAH AHLUSSUNNAH : ALLAH ADA TANPA TEMPAT, Blog: allahadatanpatempat.wordpress.com\r0081. Lelaki Memakai Cincin Perak\rPERTANYAAN :\rFahmi Syecher Attarmasie\rAssalamu'alaikum... Mau tanya nih... Bagaimana hukumnya seorang laki-laki memakai cincin perak... dan bagaimna jika cincin tersebutt dicampur dan kadar campurannya lebih banyak dari peraknya ???\rJAWABAN :\rA Nafik Halim\rويسن التختم بالفضة للرجل ولو غير ذي منصب للاتباع، وإنما يسن له حيث كان دون مثقال لخبر أبي داود أنه صلى الله عليه وسلم قال لمن وجده لابس خاتم حديد\"مالي أرى عليك حلية أهل النار فطرحه وقال من أي شيء أتخذه قال من فضة ولا تبلغه مثقالا\" ولبسه في الخنصر اليمنى أو اليسرى أفضل للاتباع وكونه في اليمنى أفضل إذ حديث لبسه فيها أصح.\rبشرى الكريم جزء 2 صحيفة 14\rDisunnahkan bagi orang laki-laki memakai cincin yang terbuat dari perak dengan sarat tidak sampai satu mitsqol dan tidak dicampur dengan emas yang kadarnya lebih banyak dari peraknya. Dan yang paling baik cincinnya dipakai di jari kelingking kanan atau kiri. [ Busyrol karim juz 2 hal 14-15 ].\rZihad Hilmy\rولا اكره للرجل لبس اللؤلؤ إلا للادب وأنه من زى النساء لا للتحريم ولا أكره لبس ياقوت ولا زبرجد إلا من جهة السرف أو الخيلاء\r“Saya tidak memakruhkan bagi laki-laki yang memakai mutiara, kecuali karena adab saja sebab itu merupakan hiasan wanita, tidak menunjukkan haram. Dan saya tidak memakruhkan memakai yaqut dan permata, kecuali jika berlebihan dan sombong.” (Al Umm, 1/254. Darul Fikr)\rDari Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, dia berkata:","part":1,"page":175},{"id":176,"text":"أَنَّ رَجُلًا جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهِ خَاتَمٌ مِنْ شَبَهٍ فَقَالَ لَهُ مَا لِي أَجِدُ مِنْكَ رِيحَ الْأَصْنَامِ فَطَرَحَهُ ثُمَّ جَاءَ وَعَلَيْهِ خَاتَمٌ مِنْ حَدِيدٍ فَقَالَ مَا لِي أَرَى عَلَيْكَ حِلْيَةَ أَهْلِ النَّارِ فَطَرَحَهُ\r“Sesungguhnya ada seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan cincin terbuat dari kuningan. Lalu Beliau bersabda kepadanya: “Kenapa saya mencium darimu aroma berhala?” lalu dia membuangnya. Kemudian datang kepadanya yang memakai cincin dari besi, lalu Beliau bersabda kepadanya: “Kenapa saya melihatmu memakai perhiasan penduduk neraka?” lalu dia membuangnya. (HR. Abu Daud No. 4223. An Nasa’i No. 5159, lafaz ini milik Abu Daud).\rSementara dalam lafaz Imam At Tirmidzi, ada redaksi tambahan :\rثم أتاه وعليه خاتم من ذهب فقال مالي أرى عليك حلية أهل الجنة","part":1,"page":176},{"id":177,"text":"Kemudian datang kepadanya seseorang yang memakai cincin dari emas. Lalu Beliau bersabda: “Kenapa saya melihat padamu perhiasan penduduk surga?” (HR. At Tirmidzi No. 1785, katanya: gharib). Hadits ini sering dijadikan dalil keharaman memakai cincin buat laki-laki baik dari kuningan, besi, perak, dan emas. Tetapi, semua riwayat ini dhaif. (Lihat Adabuz Zifaf Hal. 128. Al Misykah No. 4396. Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 4223. Shahih wa Dhaif Sunan An Nasa’i No. 5159). Kedhaifan ini lantaran dalam sanadnya terdapat Abdullah bin Muslim Abu Thayyibah As Sulami Al Mawarzi. Abu Hatim Ar Razi mengatakan: haditsnya ditulis tetapi dia tidak bisa dijadikan hujjah. (Al Jarh wa Ta’dil, 5/165/671. Darul Kutub Al Mishriyah). Imam Ibnu Hibban mengatakan: dia melakukan kesalahan dan berselisih. (Imam Abu Thayyib Syamsul Haq Al Azhim Abadi, ‘Aunul Ma’bud, 11/191. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)\rMaka dalam masalah ini, ketiadaan dalil pengharaman, merupakan dalil bagi kebolehan. Kita mesti kembali kepada bara’atul ashliyah (kembali kepada hukum asal) yakni bolehnya memakai cincin selain emas, baik itu besi, kuningan, dan perak, atau logam lainnya walau berharga tinggi.\r0091. Hukum Mencabut Uban\rPERTANYAAN :\rNur Hafizah\rApa hukumnya buang (Mencabut) uban ??? Halal haram mubah sunnah makruh. . . . Ga tau besyukur kah ? Merubah ciptaan kah ?\rJAWABAN :\rMbah Jenggot","part":1,"page":177},{"id":178,"text":"فرع) يكره نتف الشيب لحديث عمرو بن شعيب عن أبيه عن جده عن النبي صلى الله عليه وسلم قال لا تنتفوا الشيب فانه نور المسلم يوم القيامة حديث حسن رواه أبو داود والترمذي والنسائي وغيرهم بأسانيد حسنة قال الترمذي حديث حسن هكذا: قال أصحابنا يكره صرح به الغزالي كما سبق والبغوي وآخرون: ولو قيل يحرم للنهي الصريح الصحيح لم يبعد: ولا فرق بين نتفه من اللحية والرأس\rAl-Majmu’ ‘ala syarh alMuhadzdzab I/292\rويكره نتف الشيب من المحل الذي لا يطلب منه إزالة شعره لخبر : لا تنتفوا الشيب فإنه نور المسلم يوم القيامة رواه الترمذي وحسنه وإن نقل ابن الرفعة تحريمه عن نص الأم وقال في المجموع : ولو قيل بتحريمه لم يبعد ونتف لحية المرأة وشاربها مستحب لأن ذلك مثلة في حقها\rMughni al-Muhtaaj I/191\rMAKRUH hukumnya mencabut uban dari tempat yang tidak dianjurkan oleh syar’i untuk menghilangkan rambutnya berdasarkan hadits “Janganlah kalian mencabut uban karena uban itu cahaya orang muslim di hari Qiyamat” (HR. Tirmidzi dan hadisnya di anggap hasan), meskipun Ibnu Rifah berpendapat sesuai nash kitab Al-Umm haramnya mencabut uban. Imam Nawawy dalam Kitab AlMajmu’ berkata “seandainya mau dikatakan haram karena adanya larangan tegas mengenai hal ini, maka ini juga benar dan tidak mustahil\". Mencabut jenggot dan kumis bagi wanita hukumnya sunnat karena jenggot dan kumis bagi wanita adalah siksaan. (Mughni alMuhtaaj I/191, Al-Majmu’ ‘ala syarh alMuhadzdzab I/292)","part":1,"page":178},{"id":179,"text":"Namun seyogyanya dihindari karena ada ulama yang mengharamkannya ALKHURUUJ MINAL KHILAF MUSTAHAB \"keluar dari perselisihan ulama adalah sunat\" semisal ulama A bilang makruh sedang ulama B berpendapat haram, disunnatkan bagi kita untuk keluar dari perbedaan pendapat tersebut dengan TIDAK MELAKUKAN MASALAH YANG DI PERSELISIHKAN.\r0125. Hukum Mengadakan Acara Ulang Tahun\rPERTANYAAN :\rBasron ElangLaut Matalino\rAssalamu'alaikum. . . Saya member baru, mau tanya nih. Merayakan ulang tahun itu bagaimana menurut pandangan Islam ? Dan menyambut ulang tahun yaag baik menurut Islam itu bagaimana ? Makasih sebelumnya, wasalamu'alaikum. . .\rJAWABAN :\rMasaji Antoro\rWa'alaikumussalam wr wb. Memang tidak ada kejelasan dalil yang pasti dalam ajaran islam mengenai perayaan acara ulang tahun baik yang mengaharamkan atau memperbolehkan namun dikalangan para sahabat Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam sudah biasa terjadi saling memberi ucapan selamat antara satu dengan yang lainnya terlebih bila salah satu dari mereka menerima kenikmatan. Berarti menurut sebatas pemahaman kami (sementara ini) hukum acara tersebut MUBAH (bahkan sebagian ulama ada yang mengatakan sunah) sepanjang di dalamnya tidak ada hal-hal yang munkar, terlebih bila memang acara tersebut dilakukan sebagai manifestasi rasa syukur atas kurniaNya dalam di berikannya usia atau kenikmatan yang lainnya.\rتتمة قال القمولي لم أر لأحد من أصحابنا كلاما في التهنئة بالعيد والأعوام والأشهر كما يفعله الناس لكن نقل الحافظ المنذري عن الحافظ المقدسي أنه أجاب عن ذلك بأن الناس لم يزالوا مختلفين فيه والذي أراه أنه مباح لا سنة فيه ولا بدعة","part":1,"page":179},{"id":180,"text":"وأجاب الشهاب ابن حجر بعد اطلاعه على ذلك بأنها مشروعة واحتج له بأن البيهقي عقد لذلك بابا فقال باب ما روي في قول الناس بعضهم لبعض في العيد تقبل الله منا ومنك\rوساق ما ذكر من أخبار وآثار ضعيفة لكن مجموعها يحتج به في مثل ذلك ثم قال ويحتج لعموم التهنئة بما يحدث من نعمة أو يندفع من نقمة بمشروعية سجود الشكر والتعزية وبما في الصحيحين عن كعب بن مالك في قصة توبته لما تخلف عن غزوة تبوك أنه لما بشر بقبول توبته ومضى إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقام إليه طلحة بن عبيد الله فهنأه\rKeterangan diambil dari : Iqna Li assyarbiiny I/188, Asna Almathoolib I/283, Nihaayah alMuhtaaj II/401, dan Mughni Almuhtaaj I/316.\rWallaahu A'lamu bis Showaabi\r0301. Rambut palsu < WIG >\rPERTANYAAN :\rCecep Setya\rBagaimana hukum membuat, mnjual dan memakai rambut palsu (wig) yang terbuat dari selain rambut anak adam ?\rJAWABAN :\rAghitsNy Robby\rMEMAKAI WIG :\rjika najis = haram\rjika suci tapi tidak seizin suami = haram\rjika berasal dari rambut manusia = haram\rjika suci tapi dengan seizin suami = halal\rووصل الشعر بشعر ادمي او نجس مطلقا و كذا بطاهر لم يأذن فيه حليل\r“dan haram menyambung rambut dengan rambut manusia, atau dengan najis semata-mata, dan demikian juga dengan yang suci yang tak diizinkan oleh suaminya” [ Busyrol karim juz 2 :131 ].\rMEMBUAT dan MENJUAL WIG :\rjika dari bulu hewan yang najis = haram\rjika berasal dari rambut manusia = haram\rjika dari bulu hewan yang suci = halal\rMasaji Antoro","part":1,"page":180},{"id":181,"text":"Sedikit ulasan tentang menyambung dan hal yang menyerupai rambut Menyambung rambut pada dasarnya di larang dalam hukum islam, karena mengkibatkan unsur zuur (penipuan) dan taghyiir alkhilqoh (merubah ciptaan Allah) dan tidak menghormati atas bagian tubuh rambut orang lain sedang Islam benci sekali terhadap perbuatan menipu dan tidak menerimakan karya Allah, karenanya Nabi muhammad SAW melarang perbuatan ini\rلَعَنَ اللَّهُ الْوَاصِلَةَ وَالْمُسْتَوْصِلَةَ\r“Rasulullah s.a.w. melaknat perempuan yang menyambung rambut atau minta disambungkan rambutnya.” (HR.Bukhari Muslim).\rNamun bila yang dipakai sebagai penyambung rambut tersebut bukan sesuatu yang menimbulkan kesan penipuan karena bentuk sambungannya bukan rambut atau hal yang menyerupai rambut, hukumnya boleh.\rووصل شعر الآدمي بشعر نجس أو شعر آدمي حرام للخبر السابق ولأنه في الأول مستعمل للنجس العيني في بدنه وفي الثاني مستعمل لشعر آدمي والآدمي يحرم الانتفاع به وبسائر أجزائه لكرامته وكالشعر الخرق والصوف كما قاله في المجموع قال : وأما ربط الشعر بخيوط الحرير الملونة ونحوها مما لا يشبه الشعر فليس بمنهي عنه","part":1,"page":181},{"id":182,"text":"Menyambung rambut dengan menggunakan rambut najis atau rambut anak adam hukumnya haram berdasarkan hadits diatas dan karena memakaikan barang najis dalam dirinya (dalam masalah pertama) serta mengambil keuntungan dari bagian tubuh (rambut) orang lain yang kemulyaannya haram dimanfaatkan. Seperti halnya rambut juga tidak boleh disambung dengan memakai sobekan kain, bulu wool. Sedang mengikat rambut memakai benang-benang sutera yang di warnai dan benang lain yang tidak menyerupai rambut hukumnya tidaklah di larang. [ Mughni AlMuhtaaj I/191 ].\rMbah jenggot\rDiperinci :\ra. Kalau penyambungan itu memakai rambut najis maka hukumnya haram secara mutlak.\rb. Apabila memakai rambut yang suci maka diperinci lagi :\r1). Apabila memakai rambut manusia, maka hukum penyambungannya haram\r2). Apabila memakai rambut buatan, maka hukumnya boleh atas izin suami.\rDasar Pengambilan Hukum\ra. Fathul Jawwad Halaman 27 :\rكوصل المرأة شعرها بشعر نجس حاصل مسئلة وصل الشعر كما قال شيخ مشايخنا الشيخ عطية الاجهوري انه ان كان بنجس حرم مطلقا وإن كان بطاهر فإن كان من أدمي ولو من نفسها حرم مطلقا وإن من غير أدمي فيحرم مطلقا بغير إذن الزوج ويجوز بإذنه.\rb. Bujairimi ala al Minhaj :\rقوله ( كوصل المرأة ) مثلها الرجل سم وحاصله أن وصل المرأة شعرها بشعر نجس أو شعر آدمي حرام مطلقا سواء كان طاهرا أم نجسا من شعرها أو شعر غيرها بإذن الزوج أو السيد أم لا وأما وصلها بشعر طاهر من غير آدمي فإن أذن فيه الزوج أو السيد جاز وإلا فلا كما يؤخذ جميعه من م ر والشوبري وقوله من شعرها لأنه بانفصاله منها صار محترما تجب مواراته ع ش على م ر\r0386. BERPOLA PRILAKU DAN GAYA HIDUP MIRIP ORANG KAFIR\rPERTANYAAN :\rHafa Zubair","part":1,"page":182},{"id":183,"text":"Sebatas mana meniru pola prilaku dengan orang kafir (tasyabbuh bil kuffar) yang diharamkan syari'at ?\rJAWABAN :\rDhimas Zaki\rBatasan sederhana, bahwa sepanjang kita tidak memakai atau melakukan sesuatu yang merupakan \"ciri khusus\" sebagai identitas suatu agama (non islam) atau \"golongan\" ( NON MUSLIM ) tertentu,maka itu bukan lagi disebut \"tasyabbuh\", kecuali kita memakai atau melakukan yang merupakan ciri khusus dari \"kelompok\" (NON MUSLIM) itu. Berdasarkan referensi yang ada, dulu di zaman penjajahan, seorang muslim yang berpakaian lengkap, jas dan dasi, termasuk perbuatan \"tasyabbuh\", sehingga diharamkan oleh sebagian ulama', tetapi karena sekarang pakaian jas dan dasi bukan ciri khusus milik golongan tertentu, maka berpakaian yang oleh sebagan ulama dulu dianggap \"tasyabbuh\", sekarang tentu bukan dianggap \"tasyabbuh\" lagi.\rMasaji Antoro\rBERIKUT SEDIKIT RINCIAN TASYABBUH dengan ORANG KAFIR :\r?… Bila penyerupaan (TASYABBUH) nya dengan tujuan meniru orang kafir untuk turut menyemarakkan kekafirannya maka hukumnya menjadi kafir.\r?… Bila penyerupaan (TASYABBUH) nya dengan tujuan hanya meniru tanpa disertai untuk turut menyemarakkan kekafirannya hukumnya tidak kafir namun berdosa.\r?… Bila TASYABBUH nya tidak sengaja meniru sama sekali tetapi sekedar menjalani sesuatu yang kebetulan sama dengan mereka maka tidak haram tetapi makruh.","part":1,"page":183},{"id":184,"text":"(مسألة : ي) : حاصل ما ذكره العلماء في التزيي بزي الكفار أنه إما أن يتزيا بزيهم ميلاً إلى دينهم وقاصداً التشبه بهم في شعائر الكفر ، أو يمشي معهم إلى متعبداتهم فيكفر بذلك فيهما ، وإما أن لا يقصد كذلك بل يقصد التشبه بهم في شعائر العيد أو التوصل إلى معاملة جائزة معهم فيأثم ، وإما أن يتفق له من غير قصد فيكره كشد الرداء في الصلاة.\rKesimpulan dari pernyataan ulama tentang berbusana dengan menyerupai orang-orang kafir adalah jika dalam berbusana dengan mereka itu karena adanya rasa suka kepada agama mereka dan bertujuan untuk bisa serupa dengan mereka dalam syiar-syiar kafir atau agar bisa bepergian bersama mereka ketempat-tempat peribadatan mereka maka dalam dua hal diatas dia menjadi kafir, namun jika tidak bertujuan semacam itu yakni hanya bisa sekedar menyerupai mereka dalam syiar-syiar hari raya atau sebagai media agar bisa bermuamalah berhubungan dengan mereka dalam hal-hal yang diperkenankan maka ia berdosa (tidak sampai kafir, red), atau ia setuju dengan busana orang kafir tanpa suatu tujuan apapun maka hukumnya makruh seperti mengikat selendang dalam shalat. [ Bughyah al-Mustarsyidiin I/529 ].\rفَالْحَاصِلُ أَنَّهُ إِنْ فَعَلَ ذَلِكَ بِقَصْدِ التَّشَبُّهِ بِهِمْ فِي شِعَارِ الْكُفْرِ كَفَرَ قَطْعاً أَوْ فِي شِعَارِ الْعِيْدِ مَعَ قَطْعِ النَّظَرِ عَنِ الْكُفْرِ لَمْ يَكْفُرْ، وَلَكِنَّهُ يَأْثَمُ وَإِنْ لَمْ يَقْصِدِ التَّشَبُّهَ بِهِمْ أَصْلاً وَرَأْساً فَلاَ شَيْءَ عَلَيْهِ","part":1,"page":184},{"id":185,"text":"\"Ketika berpakaian (tingkah laku) menyerupai orang kafir, untuk syi’ar kekafirannya maka ia kafir dengan pasti ….s/d … seandainya tidak bertujuan menyerupai mereka sama sekali tidak apa-apa baginya tetapi itu makruh\".\rقَالَ الشَّيْخُ أَبُوْ مُحَمَّدٍ بْنُ أَبِي حَمْزَةَ نَفَعَ اللهُ مَا مُلَخَّصُهُ ظَاهِرًا لِلَفْظِ الزَّجْرِ عَنِ التَّشَبُّهِ فِي كُلِّ شَيْئٍ، كَذَا عُرِفَ مِنَ اْلأَدِلَّةِ اْلأُخْرَى أَنَّ الْمُرَادَ التَّشَبُّهُ فِي الزِّيِّ وَبَعْضِ الصِّفَاتِ وَنَحْوِهَا لاَ التَّشَبُّهُ فِي أُمُوْرِ الْخَيْرِ.\r\"Syekh Abu Muhammad bin Abi Hamzah berkata menurut dhoirnya lafadz adalah melarang menyerupai pada setiap sesuatu (dari kafir) begitu juga dalil-dalil lain mengatakan. Maksudnya menyerupai (orang-orang kafir yang dihukumi haram) adalah menyerupai dalam pakaian, hiasan, sifat-sifatnya dan sesamanya bukan menyerupai dalam urusan kebaikan\". [ Fathul Barri X/ 273 ]. Wallaahu A'lamu Bis Showaab\r0531. Mengidolakan Artis Non Muslim\rPERTANYAAN :\rNur Hasyim Juragan EsKrim\rAssalamu'alaikum wr wb. Bagaimana hukumnya ngefans sama artis non muslim ? matur nuwun\rJAWABAN :\rMasaji Antoro\rKalau pengidolaannya berhubungan dengan keyakinan, aqidah dan kemaksiatannya maka tidak boleh tapi bila tidak berhubungan dengan itu semua maka tidak apa-apa.\rإسعاد الرفيق الجزء الثاني صـ 50\rومنها الفرح بالمعصية والرضا بها سواء صدرت منه أو صدرت من غيره من خلق الله لأن الرضا بالمعصية معصية بل هو من الكبائر كما في الزواجر\rواحذر مصاحبة الأشرار والحمقى والحاسدين ومن يلوي على الشغب","part":1,"page":185},{"id":186,"text":"لما امر الناظم فيما امر بمصاحبة الاخيار وانتخابهم حذرا ايضا منمصاحبة الاخيار لما فيها من الضرر الدنيوي والاخروي لان مشا هدتهم تهون الشر علي القلب وتبطل نفوره عنه والطبع مجبول علي التشبه والاقتداء بالمجالس والمصاحب\rHindarilah pergaulan dengan orang-orang yang berakhlak buruk, orang dungu, ahli hasut dan orang-orang yang gemar membikin kericuhan.\rSetelah Kyai nadzim menganjurkan bergaul dan memilih bersahabat dengan orang-orang yang berbudi pekeri baik, beliau melarang untuk bergaul dengan orang-orang yang berbudi jelek karena pergaulan akan mendatangkan efek negative baik dari segi duniawi maupun ukhrawi sebab melihat salut mereka (saja) memudahkan kejelekan ada dalam hati dan membuat hati sulit menghindar darinya, “tabiat manusia selalu cenderung ingin menyerupai dan mengikuti terhadap teman bergaul”. [ ‘Ilaaj Al-Amroodh ar-Rodiyyah Bi Syar’I al-wasyiyyah al-Hadaadiyyah 214 ].\r0535. Membuat Tato\rPERTANYAAN :\rAlech Najwa\rAsslm alaikum wrwrkth.. TATO.. skarenag jadi trend di kalangan anak2 muda , g cuma laki-laki yang prempuan Y pun g kalah banyak.. Kata Y seni.. Gmn nie khukum mnrut islam itu sendiri ?? Skarena kang akeh..\rJAWABAN :\rMbah Jenggot\rTato ada 2 macam :\r1. permanen sulit hilang.model ini tinta ada dibawah kulit cara masukkan tinta dngn jarum.yang jns ini wudhu/junub sah karena g menghalangi sampenya air kekulit.\r2. non permanen tinta diluar kulit.jns ini wudhunya g sah.\rDua-duanya Hukum membuatnya haram.\rRaden Mas LeyehLeyeh","part":1,"page":186},{"id":187,"text":"فرع لو دخلت شوكة في اسبعه مثلا وصار رأسها ظاهرا غير مستور فإن كانت بحيث لو قلعت بقى موضعها مجوفا وجب قلعها ولا يصح غسل اليدين او الرجلين مع بقائها وإن كانت لو قلعت لا يبقى موضعها مجوفا بل يلتحم وينطبق لم يجب قلعها وصح غسل اليدين\r[ Bujaiirimi alal manhaj 1/71 ].\rMasaji Antoro\rHukum membikin TATTO satu paket dengan hukum memakai BEHEL atau PANGUR, HARAM\rوَعَنْ اَبِيْ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ اَنَّهُ قَالَ: لَعنَ اللّهُ الْوَاشِمَاتِ وَالْمُسْتَوْشِِِمَاتِ وَالمُتَنَمِّصَاتِ وَالمُتَفَلِّجَاتِ لِلْحُسْنِ المُتَغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللهِ, فَقَالَتْ لَهُ إِمْرَاءَةٌ فِى ذَلِكَ، فَقَالَ: وَمَا لِى لأَلْعَنُ مَنْ لَعَنَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِى كِتَابِ اللهِ، قَال اللهٌ تَعَالَى: وَمَا آتَاكُمْ الرَسُولُ فَخُذُوه وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فانْتَهُوا. مُتَّفَقْ عَلَيْهِ","part":1,"page":187},{"id":188,"text":"Diriwayatkan dari Ibn Mas'ud ra bahwasanya beliau telah berkata: Allah melaknat para wanita yang bertato dan para wanita yang minta ditato, para wanita yang menyuruh wanita lain untuk mencabuti bulu alisnya agar menjadi tipis dan tampak indah dan para wanita yang merenggangkan gigi mereka sedikit untuk kecantikan dan para wanita yang mengubah ciptaan Allah. Ada seorang wanita yang berkata kepada beliau dalam hal tersebut, kemudian beliau berkata: \"Bagaimana aku tidak melaknat orang yang dilaknat oleh Rasulullah saw, sedangkan hal itu disebutkan dalam al Quran\", Allah ta’ala berfirman: Apa saja yang rasul datangkan kepadamu, maka ambillah dan apa saja yang Rasul melarang kepada kamu sekalian, maka hentikanlah. Telah disepakati kesahihannya oleh Imam Bukhori dan Muslim. [ Kitab Dalilul Falikhin juz 4 hal 494 ].\rويحرم نمص (وهو نتف الشعر من الوجه)، ووَشْر (أي برد الأسنان لتحدد وتفلج وتحسن)، ووشْم (وهو غرز الجلد بإبرة حتى يخرج الدم ثم حشوه كحلاً أو نيلة ليخضر أو يزرق بسبب الدم الحاصل بغرز الإبرة)، ووصل شعر بشعر، لقوله صلّى الله عليه وسلم : «لعن الله الواشمات والمستوشمات، والنامصات والمتنمصات، والمتفلجات للحسن، المغيرات خلق الله» (3) أي الفاعلة، والمفعول بها ذلك بأمرها، واللعنة على الشيء تدل على تحريمه؛ لأن فاعل المباح لا تجوز لعنته.\r__________","part":1,"page":188},{"id":189,"text":"(3) رواه الجماعة عن ابن مسعود، ورواه الجماعة أيضاً عن ابن عمر: «لعن الله الواصلة والمستوصلة،والواشمة والمستوشمة» وهم صحيحان (نيل الأوطار: 190/6) والواصلة: هي التي تصل شعر امرأة بشعر امرأة أخرى، لتكثر به شعر المرأة. والمستوصلة: هي التي تطلب أن يفعل بها ذلك، ويقال لها: موصولة. والوشم حرام على الفاعل والمفعول به. والمتنمصات: جمع متنمصة: وهي التي تطلب نتف الشعر من وجهها، والنامصة: المزيلة شعرها من نفسها أو من غيرها، والمتفلجات جمع متفلجة وهي التي تبرد ما بين أسنانها والثنايا والرباعيات. قال الطبري: لا يجوز للمرأة تغيير شيء من خلقتها التي خلقها الله عليها بزيادة أو نقص، التماس حسن، لا للزوج ولا لغيره، .كمن تكون مقرونة الحاجبين، فتزيل ما بينهما توهم البلج وعكسه (تحفة الأحوذي بشرح الترمذي: 67/1).\rAl-Fiqh al-Islaam I/410\r- وَمِنْ أَنْوَاعِ الْجِرَاحَةِ أَيْضًا مِنْ أَجْل التَّزَيُّنِ : مَا اعْتَادَهُ بَعْضُ النَّاسِ مِنَ الْوَشْمِ وَالْوَشْرِ الْوَارِدَيْنِ فِي حَدِيثِ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَال : قَال رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَعَنَ اللَّهُ الْوَاشِمَاتِ وَالْمُسْتَوْشِمَاتِ ، (2) وَالنَّامِصَاتِ وَالْمُتَنَمِّصَاتِ ، وَالْمُتَفَلِّجَاتِ لِلْحُسْنِ الْمُغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللَّهِ ، (1) وَفِي رِوَايَةٍ : نَهَى عَنِ الْوَاشِرَةِ (2) .\rقَال الْقُرْطُبِيُّ : هَذِهِ الأُْمُورُ مُحَرَّمَةٌ ، نَصَّتِ الأَْحَادِيثُ عَلَى لَعْنِ فَاعِلِهَا ؛ وَلأَِنَّهَا مِنْ بَابِ التَّدْلِيسِ ، وَقِيل : مِنْ بَابِ تَغْيِيرِ خَلْقِ اللَّهِ تَعَالَى . (3)\r__________\r(2) الوشم : أن يغرز في العضو إبرة أو نحوها حتى يسيل الدم ثم يحشي بنورة أو غيرها فيخضر . والواشمات جمع واشمة وهي : التي تشم ، والمستوشمات جمع مستوشمة وهي التي تطلب الوشم .","part":1,"page":189},{"id":190,"text":"(1) حديث : \" لعن الله الواشمات والمستوشمات . . . \" أخرجه مسلم ( 3 / 1678 - ط الحلبي ) من حديث عبد الله بن مسعود رضي الله عنه ، وفي رواية : نهى عن الواشرة . أخرجه أحمد في مسنده وصححه أحمد شاكر . ( المسند 6 / 22 - ط المعارف ) .\r(2) والوشر : أن تحد الأسنان بمبرد ليتباعد بعضها عن بعض قليلا تحسينا لها .\r(3) تفسير القرطبي 5 / 392 ، 393 ، وفتح الباري 10 / 372 .\rAl-Mausuu’ah al-Fiqhiyyah XI/273\r( تتمة ) تجب إزالة الوشم وهو غرز الجلد بالإبرة إلى أن يدمى ثم يذر عليه نحو نيلة فيخضر لحمله نجاسة هذا إن لم يخف محذورا من محذورات التيمم السابقة في بابه أما إذا خاف فلا تلزمه الإزالة مطلقا\rوقال البجيرمي إن فعله حال عدم التكليف كحالة الصغر والجنون لا يجب عليه إزالته مطلقا وإن فعله حال التكليف فإن كان لحاجة لم تجب الإزالة مطلقا وإلا فإن خاف من إزالته محذور تيمم لم تجب وإلا وجبت ومتى وجبت عليه إزالته لا يعفى عنه ولا تصح صلاته معه\rثم قال وأما حكم كي الحمصة فحاصله أنه إن قام غيرها مقامها في مداواة الجرح لم يعف عنها ولا تصح الصلاة مع حملها وإن لم يقم غيرها مقامها صحت الصلاة ولا يضر انتفاخها وعظمها في المحل ما دامت الحاجة قائمة وبعد انتهاء الحاجة يجب نزعها\rفإن ترك ذلك من غير عذر ضر ولا تصح صلاته اه\rI’aanah at-Thoolibiin I/107\rTATTO\rHukum bertatto HARAM. Menghilangkan tatto bila dilakukan saat seseorang sudah mukallaf (dewasa dan berakal), tidak dipaksa, tahu keharamannya, tanpa kepentingan, bisa dihilangkan maka wajib menghilangkannya, bila tidak maka tidak wajib. Wudhu, shalat dan menjadikan imam orang yang bertatto sah","part":1,"page":190},{"id":191,"text":"الكتاب : الإقناع في حل ألفاظ أبى شجاع 1/ 139القول في حكم الوشم فروع: الوشم وهو غرز الجلد بالابرة حتى يخرج الدم ثم يذر عليه نحو نيلة ليزرق أو يخضر بسبب الدم الحاصل بغرز الجلد بالابرة حرام للنهي عنه، فتجب إزالته إن لم يخف ضررا يبيح التيمم، فإن خاف لم تجب إزالته ولا إثم عليه بعد التوبة، وهذا إذا فعله برضاه بعد بلوغه وإلا فلا تلزمه إزالته، وتصح صلاته وإمامته ولا ينجس ما وضع فيه يده مثلا إذا كان عليها وشم.\rBAHASAN TATTO :\rTatto ialah tanda pada tubuh yang dihasilkan dengan cara menusukkan jarum pada tubuh hingga mengeluarkan darah kemudian meninggalkan warna membiru atau menghijau dari bekas tusukan jarum tersebut, perbuatan semacam ini dilarang berdasarkan hadits Nabi\rوَعَنْ اَبِيْ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ اَنَّهُ قَالَ: لَعنَ اللّهُ الْوَاشِمَاتِ وَالْمُسْتَوْشِِِمَاتِ وَالمُتَنَمِّصَاتِ وَالمُتَفَلِّجَاتِ لِلْحُسْنِ المُتَغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللهِ, فَقَالَتْ لَهُ إِمْرَاءَةٌ فِى ذَلِكَ، فَقَالَ: وَمَا لِى لأَلْعَنُ مَنْ لَعَنَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِى كِتَابِ اللهِ، قَال اللهٌ تَعَالَى: وَمَا آتَاكُمْ الرَسُولُ فَخُذُوه وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فانْتَهُوا. مُتَّفَقْ عَلَيْهِ","part":1,"page":191},{"id":192,"text":"Diriwayatkan dari Ibn Mas'ud ra bahwasanya beliau telah berkata: Allah melaknat para wanita yang bertato dan para wanita yang minta ditato, para wanita yang menyuruh wanita lain untuk mencabuti bulu alisnya agar menjadi tipis dan tampak indah dan para wanita yang merenggangkan gigi mereka sedikit untuk kecantikan dan para wanita yang mengubah ciptaan Allah. Ada seorang wanita yang berkata kepada beliau dalam hal tersebut, kemudian beliau berkata: \"Bagaimana aku tidak melaknat orang yang dilaknat oleh Rasulullah saw, sedangkan hal itu disebutkan dalam al Quran\", Allah ta’ala berfirman: Apa saja yang rasul datangkan kepadamu, maka ambillah dan apa saja yang Rasul melarang kepada kamu sekalian, maka hentikanlah. Telah disepakati kesahihannya oleh Imam Bukhori dan Muslim. [ Kitab Dalilul Falikhin juz 4 hal 494 ].\rDan bagi yang sudah terlanjur memakainya wajib menghilangkannya sedapat mungkin bila memang tidak menimbulkan bahaya pada dirinya dengan bahaya yang dapat diperkenankan seseorang menjalani tayammum, bila khawatir menimbulkan bahaya maka tidak wajib menghilangkannya dan ia juga tidak berdosa karenanya bila memang ia telah bertaubat.Ketentuan ini (wajib menghilangkannya) saat tattoo tersebut dilakoni dengan kerelaannya (tidak dipaksa) waktu ia sudah baligh/dewasa, bila terdapat sebelum dewasa atau dipaksa saat membuatnya maka tidak wajib dihilangkan.Shalat dan menjadikan imam orang bertatto dihukumi sah, dan tinak menjadi najis akibat semacam tangan disentuhkan pada anggauta tubuh yang terdapat tattonya. (IQNAA' I/139).","part":1,"page":192},{"id":193,"text":"والنقاء عما منع وصول ماء جسما….وليس منه طبوع عسر زواله كوشم فيعفي عنه\rDi antara syarat-syarat wudhu adalah bersih dari segala hal yang dapat mencegah sampainya air pada tubuh, dan tidak tergolong mencegah sampainya air tera yang sulit dihilangkan seperti tattoo maka hukumnya dima’fu (dimaafkan). [ Inaarah ad-Dujaa hal. 60 ].\rالكتاب : حاشية البجيرمي على الخطيب 4 / 55( الْوَشْمُ ) وَهُوَ غَرْزُ الْإِبْرَةِ فِي الْجِلْدِ حَتَّى يَخْرُجَ الدَّمُ ثُمَّ يَذُرَّ عَلَيْهِ نَحْوَ نِيلَةٍ لِيَخْضَرَّ أَوْ يَزْرَقَّ ا هـ ا ج .قَوْلُهُ : ( فَفِيهِ التَّفْصِيلُ الْمَذْكُورُ ) وَهُوَ أَنَّهُ إذَا فَعَلَهُ مُكَلَّفٌ مُخْتَارٌ عَالِمٌ بِالتَّحْرِيمِ بِلَا حَاجَةٍ وَقَدْرَ عَلَى إزَالَتِهِ لَزِمَتْهُ ، وَإِلَّا فَلَا .فَإِذَا فُعِلَ بِهِ فِي صِغَرِهِ أَوْ فَعَلَهُ مُكْرَهًا أَوْ جَاهِلًا بِالتَّحْرِيمِ أَوْ لِحَاجَةٍ وَخَافَ مِنْ إزَالَتِهِ مَحْذُورَ تَيَمُّمٍ فَلَا تَلْزَمُهُ إزَالَتُهُ وَصَحَّتْ صَلَاتُهُ وَإِمَامَتُهُ ، وَعُلِمَ مِنْ ذَلِكَ أَنَّ مَنْ فَعَلَ الْوَشْمَ بِرِضَاهُ فِي حَالِ تَكْلِيفِهِ ، وَلَمْ يَخَفْ مِنْ إزَالَتِهِ مَحْذُورَ تَيَمُّمٍ مَنَعَ ارْتِفَاعَ الْحَدَثِ عَنْ مَحَلِّهِ لِتَنَجُّسِهِ وَإِلَّا عُذِرَ فِي بَقَائِهِ مُطْلَقًا وَحَيْثُ لَمْ يُعْذَرْ فِيهِ وَلَاقَى مَاءً قَلِيلًا أَوْ مَائِعًا أَوْ رَطْبَا نَجَّسَهُ ، كَذَا أَفْتَى بِهِ الْوَالِدُ شَرْحُ م ر .","part":1,"page":193},{"id":194,"text":"Tatto ialah tanda pada tubuh yang dihasilkan dengan cara menusukkan jarum pada tubuh hingga mengeluarkan darah kemudian meninggalkan warna membiru atau menghijau dari bekas tusukan jarum tersebut.Hukum menghilangkan tatto bila dilakukan saat seseorang sudah mukallaf (dewasa dan berakal), tidak dipaksa, tahu keharamannya, tanpa kepentingan, bisa dihilangkan maka wajib menghilangkannya, bila tidak maka tidak wajib.Maka bila dilakukan saat ia masih kecil, dipaksa, tidak tahu keharamannya, karena ada keperluan, khawatir timbul bahaya yang hingga diperbolehkan baginya tayaammum maka tidak wajib menghilangkannya dan sahlah shalat serta menjadikan imam dia.Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa orang yang menjalaninya setelah ia mukallaf atas dasar kerelaan, tidak menimbulkan bahaya saat menghilangkannya dengan bahaya yang memperkenankan menjalani tayammum maka terhalanglah hilangnya hadats dari tempat dari anggauta tubuh yang ditatto karena kenajisannya, bila tidak dalam ketentuan diatas (mukallaf atas dasar kerelaan, tidak menimbulkan bahaya saat menghilangkannya dengan bahaya yang memperkenankan menjalani tayammum) maka dianggap udzur keberadaannya.Keberadaan tattoo yang tidak dianggap udzur bila bertemu dengan air sedikit atau barang cair lainnya atau sesuatu yang basah dapat menjadikan kenajisannya. [ Bujairomi alaa al-Khothiib IV/55 ]. Wallaahu a'lamu Bis Showaab.\rWUDHU DAN SHOLATNYA ORANG YANG BERTATO\rPERTANYAAN :\rSyaif Aly\rAssalamu'alaykum wr wb.. Gmn hkm tato.. Syahkah wudhu dan mndi junubx orang yang pux tato.. Mhon pncrhnx..Lw da di dokumen tolong sundulin...!!","part":1,"page":194},{"id":195,"text":"JAWABAN :\rMbah Jenggot Putih\rAdapun waudhu dan mandinya tetap sah, sebagaimana dalam kitab Qurratul 'Ain bifatawaa Ismail Zain halaman 49 berikut :\rسؤال . ماقولكم فيمن غرز فى أعضاء وضوءه او فى سائر بدنه بالإبرة مثلا ووضع محله نحو حبر للتلوين والتصوير فإذا التحم بعد ذلك فهل يصح وضوؤه وكذلك غسله اولا ؟ الجواب : نعم يصح وضوؤه وغسله مع كونه إثما بذلك الفعل يجب عليه التوبة وإزالته ان لم يؤد الى ضرر لأنه نوع من الوشم ففعله غير جائز ولكن الوضوء والغسل معه صحيحان للضرورة لأنه داخل الجلد ملتحم عليه فلا يمنع صحة الوضوء والغسل لكونه داخل البشرة والصلاة معه صحيحة للضرورة.\rTerjemah fatwa Syeikh Isma'il Zain : Bagiamana pendapat anda tentang orang yang mencocok pada anggota wudhunya atau disemua badannya dengan jarum misalnya, kemudian dia meletakkan tinta ditempat yang dicocok tersebut dengan tujuan mewarnai atau melukis. Ketika merapat (tumbuh daging diatasnya) setelah itu, apakah sah wudhunya, begitu juga mandinya atau tidak ?\rBenar, sah wudhu dan mandinya, namun dia berdosa dengan perbuatan itu, dia wajib bertaubat, dan wajib menghilangkannya jika memang tidak mendatangkan bahaya, karena itu termasuk WASYM, yang membuatnya tidak boleh, akan tetapi wudhu dan mandi dengan keduanya sah karena darurat, karena itu didalam kulit yang telah merapat (tumbuh daging di atasnya), maka tidak menghalng-halangi sahnya wudhu dan mandi karena itu didalam kulit. Shalat dengannya sah karena darurat. Wallaahu A'lam.\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/429131817109632/\r0540. Memanjangkan Kuku\rPERTANYAAN :\rEfy Iysha\rPermisi... assalamu'alaikum ?mau nanya ?hukum manjangin kuku apa yaaa.....?!terimakasih.... *_*,","part":1,"page":195},{"id":196,"text":"JAWABAN :\rMasaji Antoro\rWa'alaikumussalaam. Hukum memanjangkan kuku itu khilaful aulaa ( menyalahi kesunahan ).\rأما تقليم الاظفار فمجمع علي انه سنة: وسواء فيه الرجل والمرأة واليدان والرجلان: ويستحب ان يبدأ باليد اليمني ثم اليسرى ثم الرجل اليمني ثم اليسرى قال الغزالي في الاحياء يبدأ بمسبحة اليمني ثم الوسطي ثم البصر ثم خنصر اليسرى إلى ابهامها ثم ابهام اليمنى وذكر فيه حديثا وكلاما في حكمته………….\rثم معنى هذا الحديث اتهم لا يؤخرون فعل هذه الاشياء عن وقتها فان اخروها فلا يؤخرونها اكثر من اربعين يوما وليس معناه الاذن في التأخير اربعين مطلقا\rSedangkan masalah memotong kuku disepakati oleh Ulama hukumnya sunnat bagi pria, wanita, kuku kedua tangan atau pun kaki, disunnatkan cara memotongnya di awali dari tangan kanan kemudian tangan kiri kemudian kaki kanan dan di akhiri kaki kiri. Namun menurut Imam AlGhozali dalam kitab IHYA berkata “sebaiknya di awali dari jari telunjuk kemudian jari tengah, jari manis, jari kelingking dan di akhiri dengan ibu jari” dalam kitab tersebut beliau menuturkan hadits dan hikmah memotong kuku dengan praktek yang beliau tuturkan………………………dst.\rعن أنس رضى الله عنه قال وقت لنا في قص الشارب وتقليم الاظفار ونتف الابط وحلق العانة ان لا نترك اكثر من اربعين ليلة رواه مسلم\rKemudian pengertian hadits dari sahabat Anas Ra, “kami memberi batas waktu dalam mencukur kumis, memotong, membersihkan bulu ketiak dan mencukur bulu kemaluan agar tidak ditinggalkan lebih dari batas waktu 40 malam” (HR. Muslim).","part":1,"page":196},{"id":197,"text":"Artinya para sahabat dalam praktik membersihkan diri tadi tidak sampai mengakhirkan hingga batas akhir 40 hari, andaikan mereka mengakhirkan tidak pernah lewat hingga sampai masa 40 hari, bukan maksudnya membersihkannya di izinkan 40 hari sekali (tetapi setiap saat terlihat panjang meskipun belum sampai 40 hari sunah untuk di potong/dicukur). Al-Majmu’ Alaa Syarh Almuhadzzab I/287\r3681. HARI TERBAIK UNTUK MEMOTONG KUKU\rOleh : Yai Abdullah Afif\rHari yang Bagus & Tidak Bagus untuk Memotong Kuku. Disebutkan dalam Kitab Hasyiyah Bajuri ‘ala Ibn Qasim Al Ghuzzi juz 1 halaman 221 :\rقَصُّ الْأَظَافِرِ يَوْمَ السَّبْتِ ااكِلَةٌ () تَبْدُوْ وَفِيْمَا يَلِيْهِ يُذْهِبُ الْبَرَكَهْ\rوَعَالِمٌ فَاضِلٌ يَبْدُوْ بِتَلْوِهِمَا () وَاِنْ يَكُنْ فِي الثُّلَاثَا فَاحْذَرِ الْهَلَكَهْ\rوَيُوْرِثُ السُّوْءَ فِي الْأَخْلَاقِ رَابِعُهَا () وَفِي الْخَمِيْسِ الْغِناى يَأْتِىْ لِمَنْ سَلَكَهْ\rوَالْعِلْمُ وَالْحِلْمُ زِيْدَا فِىْ عُرُوْبَتِهَا () عَنِ النَّبِيِّ رُوَيْنَا فَاقْتَفُوْا نُسُكَهْ\rTerjemahannya:\rMemotong kuku hari Sabtu menimbulkan penyakit yang menggrogoti tubuh\rHari Ahad menyebabkan hilang berkah\rHari Senin menjadi orang alim lagi fadhil (pintar dan utama)\rHari Selasa menyebabkan kebinasaan\rHari Rabu menyebabkan buruk akhlak\rHari Kamis mendatangkan kekayaan\rHari Jumat menambah ilmu dan sifat santun\rDemikianlah kami riwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ikutilah ibadah beliau","part":1,"page":197},{"id":198,"text":"هَكَذَا اشْتَهَرَتْ هَذِهِ الْأَبْيَاتُ، لَكِنْ قَالَ ابْنُ حَجَرٍ: وَقَدِ اشْتَهَرَ عَلَى أَلْسِنَةِ النَّاسِ أَشْعَارٌ مَنْسُوْبَةٌ لِبَعْضِ الْأَئِمَّةِ فِيْ فِعْلِ ذَلِكَ وَأَيَّامِهِ وَكُلُّهَا زُوْرٌ وَكِذْبٌ\rDemikianlah bait-bait diatas telah masyhur, akan tetapi Imam Ibn Hajar menyatakan: telah masyhur syair-syair dikalangan orang-orang yang disnisbatkan kepada sebagian imam didalam perihal melakukan hal tsb (memotong kuku) beserta hari-harinya. Kesemuanya itu palsu dan bohong.\rNamun ada riwayat lain yang menerangkan bahwa memotong itu bagus semua di semua hari.\rDiriwatakan dalam sebuah hadits, namun hadits ini dnilai maudhu' oleh Imam Ibnul Jauzi dalam kitab Al Maudhu’aat juz 3 halaman 53, dan Syeikh Syaukani dalam Kitab Al Fawa`idul Majmu’ah Fil Ahaditsil Maudhu’ah halaman 197:\rBerikut sanad dan matan selengkapnya dalam kitab Al Maudhu’aat:","part":1,"page":198},{"id":199,"text":"أنبأنا المبارك بن على الصدفى أنبأنا سعد الله بن على بن أيوب أنبأنا هناد ابن إبراهيم أنبأنا إسماعيل بن محمد بن على البخاري حدثنا محمد بن نصر بن خلف حدثنا سيف بن حفص السمرقندى حدثنا على بن الحسين حدثنا الحسن بن شبل أنبأنا الفضل بن خالد النحوي عن أبى عصمة نوح بن أبى مريم عن عطاء عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَلَّمَ أَظْفَارَهُ يَوْمَ السَّبْتِ خَرَجَ مِنْهُ الدَّاءُ وَدَخَلَ فِيْهِ الشِّفَاءُ وَمَنْ قَلَّمَ أَظْفَارَهُ يَوْمَ الْأَحَدِ خَرَجَتْ مِنْهُ الْفَاقَةُ وَدَخَلَ فِيْهِ الْغِنَاءُ وَمَنْ قَلَّمَ أَظْفَارَهُ يَوْمَ الاثْنَيْنِ خَرَجَتْ مِنْهُ الْعِلَّةُ وَدَخَلَتْ فِيْهِ الصِّحَّةُ وَمَنْ قَلَّمَ أَظْفَارَهُ يَوْمَ الثُّلَاثَاءِ خَرَجَ مِنْهُ الْبَرَصُ وَدَخَلَتْ فِيْهِ الْعَافِيَةُ وَمَنْ قَلَّمَ أَظْفَارَهُ يَوْمَ الأَرْبَعَاءِ خَرَجَ مِنْهُ الْوِسْوَاسُ وَالْخَوْفُ وَدَخَلَ فِيْهِ الْأَمْنُ وَالصِّحَّةُ وَمَنْ قَلَّمَ أَظْفَارَهُ الْخَمِيْسِ خَرَجَ مِنْهُ الْجُذَامُ وَدَخَلَ فِيْهِ الْعَافِيَةُ وَمَنْ قَلَّمَ أَظْفَارَهُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ دَخَلَتْ فِيْهِ الرَّحْمَةُ وَخَرَجَ مِنْهُ الذُّنُوْبُ\rTerjemahannya :\r-Barang siapa memotong kukunya pada hari Sabtu maka akan keluar darinya penyakit dan masuk ke dalamnya obat\r-Barang siapa memotong kukunya pada hari Ahad maka akan keluar darinya kemiskinan dan masuk ke dalamnya kekayaan\r-Barang siapa memotong kukunya pada hari Senin maka akan keluar darinya kecacatan dan masuk ke dalamnya kesehatan\r-Barang siapa memotong kukunya pada hari Selasa maka akan keluar darinya penyakit barosh (corob. Jw) dan akan masuk ke dalamnya kesembuhan","part":1,"page":199},{"id":200,"text":"-Barang siapa memotong kukunya pada hari Rabu akan keluar darinya penyakit waswas dan ketakutan dan akan masuk ke dalamnya keamanan dan kesehatan\r-Barang siapa memotong kukunya pada hari Kamis akan keluar darinya penyakit kusta dan akan masuk ke dalamnya kesembuhan\r-Barang siapa memotong kukunya pada hari Jumat maka akan masuk ke dalamnya rahmat dan keluar darinya dosa-dosa\rWallaahu A’lamu Bishshowaab\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/890333107656165/\rwww.fb.com/notes/895788390443970\r0545. Laki-laki Memakai Sarung Sutra\rPERTANYAAN :\rIbnu Zainulmutaqin\rApa hukumnya laki-laki yang memakai sarung yang ada tulisan \"100% sutra asli\" contohnya sarung BHS ?? silahkan para santri, monggo_!!\rJAWABAN :\rMasaji Antoro\rYups, Sepakat, kalau kadar suteranya lebih sedikit/sama dengan bahan kain dari kapas/benang yang diperbolehkan dalam sebuah pakaian lelaki, hukumnya masih boleh.\rالاقناع في حل ألفاظ أبي شجاع – (1 / 316(","part":1,"page":200},{"id":201,"text":"يحرم على الرجال ومثلهم الخناثى التختم بالذهب لخبر أبي داود بإسناد صحيح أنه صلى الله عليه وسلم أخذ في يمينه قطعة حرير وفي شماله قطعة ذهب وقال هذان أي استعمالهما حرام على ذكور أمتي حل لإناثهم وألحق بالذكور الخناثى احتياطا واحترز بالتختم عن اتخاذ أنف أو أنملة أو سن فإنه لا يحرم اتخاذها من ذهب على مقطوعها وإن أمكن اتخاذها من الفضة ويحل للنساء لبس الحرير واستعماله بفرش أو غيره والتختم بالذهب والتحلي به للحديث المار ويسير الذهب وكثيره في حكم التحريم على من حرم عليه سواء بلا فرق وإذا كان بعض الثوب إبريسيما وهو بكسر الهمزة وبفتح الراء وفتحهما وكسر الراء ثلاث لغات الحرير وبعضه قطنا أو كتانا جاز لبسه ما لم يكن الإبريسم غالبا فإنه يحرم تغليبا للأكثر بخلاف ما أكثره من غيره والمستوى منهما لأن كلا منهما لا يسمى ثوب حرير والأصل الحل وتغليبا للأكثر في الأولى وللولي إلباس ما ذكر من الحرير\rLihat juga keterangannya dikitab tarsyih almustafidiin bab Libas dan Kitab Minhaj alQawiim I/221.\r0599. HUKUM MEMAKAI KAOS KAKI BAGI PEREMPUAN\rPERTANYAAN :\rQomari Arisandi Assirri\rAssalamu alaikum semuanya...bagaiman pendapat temen temen semua tentang hukum memakai kaos kaki bagi perempuan, baik ditinjau dari nash maupun qoul ulama muktabar...\rJAWABAN :\rHakam Ahmed ElChudrie\rWA'ALAIKUM SALAM. Seandainya hanya dengan cewek memakai kaos kaki auratnya bisa tertutup, maka hukum memakai kaos kaki bisa jadi WAJIB sesuai kaedah MAA LAA YATIMMUL WAJIBU ILLA BIHI FA HUWA WAJIBUN..\rMasaji Antoro\rWa'alaikumsalam. AURAT WANITA :","part":1,"page":201},{"id":202,"text":"و منها : المرأة في العورة لها أحوال : حالة مع الزوج : و لا عورة بينهما و في الفرج وجه و حالة مع الأجانب : و عورتها كل البدن حتى الوجه و الكفين في الأصح و حالة مع المحارم و النساء : و عورتها ما بين السرة و الركبة و حالة في الصلاة :\rو عورتها كل البدن إلا الوجه و الكفين و صرح الإمام في النهاية : بأن الذي يجب ستره منها في الخلوة هي العورة الصغرى و هو المستور من عورة الرجل\r1. Bersama suami :\rTiada batasan aurat baginya saat bersama suami, semua bebas terbuka kecuali bagian FARJI (alat kelamin wanita) yang terjadi perbedaan pendapat di antara Ulama\r2. Bersama lelaki lain :\rMenurut pendapat yang paling shahih seluruh tubuhnya hingga wajah dan kedua telapak tangannya, menurut pendapat yang lain wajah dan telapaknya boleh terbuka\r3. Bersama lelaki mahramnya dan sesama wanita :\rAuratnya diantara pusar dan lutut\r4. Di dalam sholat :\rSeluruh tubuh menjadi auratnya kecuali wajah dan kedua telapak tangannya\r5. Saat sendiri :\rMenurut Imam Romli dalam Kitab Nihaayah al-Muhtaaj aurat wanita saat sendiri adalah 'aurat kecil' yaitu aurat yang wajib ditutup oleh seorang lelaki (antara pusar dan lutut). [ Asybaah wa An-Nadhooir I/410 ].\rDengan demikian bila kaos kaki merupakan salah satu sarana untuk menutupi aurat kakainya saat diluar rumah atau bersama laki-laki lain berarti dia telah menjalankan ajaran sesuai tuntunannya. Wallaahu A'lamu Bis Showaab\r0601. HUKUM MEMAKAI PECI\rPERTANYAAN :\rTarom Markus Horison\r1) kopiah, peci, dan segala macam penutup kepala untuk pria itu sunnah Rasul atau sekadar budaya yang sehingga tidak berdampak pada hukum syar'i wajib, sunnah, haram?","part":1,"page":202},{"id":203,"text":"2) saya pernah dengar bahwa lelaki yang gundulan (tidak menutup kepala) maka dia fasik dan setiap kesaksiannya dalam hukum tidak diterima. Mengapa bisa demikian ?\rJAWABAN :\rMasaji Antoro\r1. Hukumnya sunnah bagi laki-laki saat sholat, memasuki kamar kecil dan didaerah yang kebiasaan tempatnya memakai tutup kepala.\rMemakai PECI sudah dapat mencukupi kesunahan memakai sorban sebagian para Masyayikh menyatakan kebagusannya terutama dikalangan pengikut Syekh Abdul Qadir al-Jailany\rReferensi :\rأن لبس القلنسوة البيضاء يغني عن العمامة فيحصل به اصل العمامة\r[ Durr al-Ghamaamah hal. 2 ]\rلبس القلنسوة البيضاء يغني عن العمامة ، وبه يتأيد ما اعتاده بعض مدن اليمن من ترك العمامة من أصلها\r[ Bughyah al-Mustarsyidiin I/182 ]\rوَسُئِلَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ عن سَنَدِهِ في الْخِرْقَةِ فقال أَمَّا لُبْسُ الْقَلَنْسُوَةِ أو الْعِمَامَةِ أو الثَّوْبِ فَمِنْ الْمَشَايِخِ من اسْتَحْسَنَهُ بِمَنْزِلَةِ خِلَعِ الْمُلُوكِ ولم يَرَهُ آخَرُونَ إذْ لم يَرِدْ أَنَّهُ صلى اللَّهُ عليه وسلم كُسِيَ ثَوْبًا قال وقد كُنْت لَبِسْت خِرْقَةَ التَّصَوُّفِ من طُرُقِ جَمَاعَةٍ أَبْيَنُهَا طَرِيقُ شَيْخِ الْإِسْلَامِ أبي مُحَمَّدٍ عبد الْقَادِرِ\r[ Al-Fataawaa al-Fiqhiyyah al-Kubraa I/266 ]\r2. Ia, betul bila di daerah yang masyarakatnya membiasakan diri bertutup kepala\rReferensi :\r( لا يصلي أحدكم في الثوب الواحد ليس على عاتقه منه شيء ) رواه البخاري 1/498 ومسلم رقم 516 ، والله أعلم .\rJanganlah salah seorang kalian shalat dalam satu pakaian yang diatas bahunya tidak terdapat sesuatupun (HR Bukhari I/498, Muslim hadits No 516\rالصَّلاَةُ بِالْعِمَامَةِ :","part":1,"page":203},{"id":204,"text":"11 - اتَّفَقَ الْفُقَهَاءُ عَلَى اسْتِحْبَابِ سَتْرِ الرَّأْسِ فِي الصَّلاَةِ لِلرَّجُل بِعِمَامَةٍ وَمَا فِي مَعْنَاهَا ؛ لأَِنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي بِالْعِمَامَةِ .\rأَمَّا الْمَرْأَةُ فَوَاجِبٌ سَتْرُ رَأْسِهَا .\rوَنَصَّ الْحَنَفِيَّةُ عَلَى كَرَاهَةِ صَلاَةِ الرَّجُل مَكْشُوفَ الرَّأْسِ إِذَا كَانَ تَكَاسُلاً لِتَرْكِ الْوَقَارِ ، لاَ لِلتَّذَلُّل وَالتَّضَرُّعِ\r(1) انْظُرْ مُصْطَلَحَ : ( رَأْس ف 5 )\r(1) انظر مراقي الفلاح وحاشية الطحطاوي عليه ( 197 ) ط . الثانية ببولاق مصر 1318هـ .\r[ SHALAT memakai SORBAN ] Ulama Fiqh sepakat akan kesunahan menutup kepala bagi laki-laki dalam shalat dengan memakai sorban dan sejenisnya karena nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam shalat dengan memakai sorban, sedang bagi wanita wajib menutup kepalanya.\rKalangan Hanafiyyah menilai makruh bagi laki-laki shalat dengan terbuka kepalanya karena malas sebab dapat mengurangi kewibawaan bukan karena unsure merendahkan diri dihadapan Allah. [ Al-Mausuu’ah al-Fiqhiyyah XXX/304 ].\rقال امام الحرمين والغزالي والبغوى وآخرون يستحب أن لايدخل الخلاء مكشوف الرأس قال بعض أصحابنا فان لم يجد شيئا وضع كمه علي رأسه ويستحب أن لايدخل الخلاء حافيا ذكره جماعة منهم أبو العباس بن سريج في كتاب الاقسام وروى البيهقى باسناده حديثا مرسلا أن النبي صلى الله عليه وسلم (كان إذا دخل الخلاء لبس حذاءه وغطى رأسه)","part":1,"page":204},{"id":205,"text":"Berkata Imam Haramain, al-Ghozali, al-Baghowy dan ulama-ulama lainnya “Disunahkan bagi seseorang untuk tidak memasuki kamar kecil (WC) tanpa penutup kepala, berkata pengikut as-Syafi’i bila tidak menjumpai sesuatu maka letakkan lengan bajunya diatas kepalanya, juga disunahkan untuk tidak memasuki kamar kecil dengan tidak memakai alas kaki (seperti yang dituturkan oleh segolongan ulama diantaranya Abu al-Abbas Bin Suraij dalam kitab al-Aqsaam. “Adalah Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam saat memasuki kamar kecil memakai sepatunya dan menutup kepalanya” (HR Baehaqy). [ Al-majmuu’ alaa Syarh al-Muhaddzab II/92 ].\r(فصل)\rولا تقبل شهادة من لا مروءة له كالقوال والرقاص ومن يأكل في الاسواق ويمشى مكشوف الرأس في موضع لا عادة له في كشف الرأس فيه لان المروءة هي الانسانية، وهى مشتقة من المرء، ومن ترك الانسانية لم يؤمن أن يشهد بالزور، ولان من لا يستحيى من الناس في ترك المروءة لم يبال بما يصنع، والدليل عليه ما روى أبو مسعود البدرى رضى الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال (ان مما أدرك الناس من كلام النبوة الاولى إذا لم تستحى فاصنع ما شئت)\r[FASAL] Dan tidak diterima persaksian seseorang yang tidak memiliki keperwiraan (wibawa) seperti orang yang banyak bicara, para penari, orang yang suka makan dipasar, jalan ditempat yang kebiasaan masyarakatnya tertutup kepalanya sebab keperwiraan bersifat manusiawy dan barangsiapa meninggalkan sesuatu yang bersifat manusiawy pemberian saksi palsunya tidak dirasa aman (sangat mungkin bersaksi palsu) dan karena seseorang yang sudah hilang rasa malunya pada orang lain tidak lagi memerdulikan apa yang telah ia perbuat.","part":1,"page":205},{"id":206,"text":"Dalil yang dibuat sandaran dalam masalah ini adalah riwayat dari Abu Mas’ud al-Badry bahwa Nabi Muhammad bersabda “Sesungguhnya sebagian yang ditemukan dari kalam nubuwwat yang paling utama oleh orang adalah : Bila tidak ada rasa malu, maka berbuatlah semaumu..!!”. [ Al-majmuu’ alaa Syarh al-Muhaddzab XX/227 ].\rوَالْمُرُوءَةُ تَخَلُّقٌ بِخُلُقِ أَمْثَالِهِ فِي زَمَانِهِ وَمَكَانِهِ، فَالْأَكْلُ فِي سُوقٍ، وَالْمَشْيُ مَكْشُوفَ الرَّأْسِ، وَقُبْلَةُ زَوْجَةٍ وَأَمَةٍ بِحَضْرَةِ النَّاسِ، وَإِكْثَارُ حِكَايَاتٍ مُضْحِكَةٍ، وَلُبْسُ فَقِيهٍ قُبَاءَ وَقَلَنْسُوَةٍ حَيْثُ لَا يُعْتَادُ، وَإِكْبَابٌ عَلَى لَعِبِ الشِّطْرَنْجِ أَوْ غِنَاءٍ أَوْ سَمَاعِهِ، وَإِدَامَةُ رَقْصٍ يُسْقِطُهَا، وَالْأَمْرُ فِيهِ يَخْتَلِفُ بِالْأَشْخَاصِ وَالْأَحْوَالِ وَالْأَمَاكِنِ،\rKeperwiraan (wibawa) adalah beretika sesuai dengan kalangan, waktu dan tempatnya. Karenanya seperti makan dipasar, berjalan dengan kepala terbuka, mencium istri atau amat (sahaya wanita) dihadapan orang, banyak bercerita yang membuat tertawa, memakai pakaian laksana orang ahli fiqh Qubba, memakai peci yang tidak menjadi kebiasaan (setempat), hobby bermain catur, bernyanyi atau mendengarkannya, dan hobi berjoget dapat meruntuhkan keperwiraan. Dan segalanya memang berbeda-beda sesuai karakter, situasi dan kondisinya. [ Al-Manhaj li an-Nawaawy I/497 ]. Wallaahu A'lamu Bis Shawaab.\r0651. Pria Memakai Kalung\rPERTANYAAN :\rAdhe Maniez\rAssalamu'alaikum, Maaf, mau tanya, kalau laki'' memakai kalung hukumnya apa ?? Kalung emas / kalung perak / kalung mainan / bahkan kalung dari stainlees steel, menurut pandangan islam bagaimana ??","part":1,"page":206},{"id":207,"text":"JAWABAN :\rMasaji Antoro\rWa'alaikumsalam. Diperbolehkan dengan catatan :\r1. Bukan terbuat dari bahan emas atau perak menurut mayoritas ulama sedangkan al-Mutawally dan al-Ghozaly memperbolehkan kalung dari bahan perak bagi laki-laki\r2. Bukan tergolong perhiasan yang khusus dipakai oleh wanita\rقال أصحابنا يجوز للرجل خاتم الفضة بالاجماع وأما ما سواه من حلي الفضة كالسوار والمدملج والطوق ونحوها فقطع الجمهور بتحريمها وقال المتولي والغزالي في الفتاوى يجوز لانه لم يثبت في الفضة الا تحريم الاواني وتحريم التشبه بالنساء والصحيح الاول لان في هذا تشبها بالنساء وهو حرام\rBerkata Para Pengikut Madzhab Suafi’i “Boleh bagi laki-laki memakai cincin perak dengan kesepakatan ulama sedang untuk perhiasan lainnya semacam gelang tangan, gelang lengan, kalung dsb menurut mayoritas ulama mengharamkannya.\rBerkata al-Mutawally dan al-Ghozali “Boleh memakai perhiasan-perhiasan diatas yang terbuat dari perak karena yang diharamkan dalam barang yang terbuat dari perak sebatas barang-barang perkakas dan adanya unsure penyerupaan dengan wanita”. Namun yang shahih adalah pendapat pertama karena dalam masalah ini terjadi penyerupaan dengan wanita yang diharamkan. [ Al-Majmu’ alaa Syarh al-Muhadzdzab IV/444 ].","part":1,"page":207},{"id":208,"text":"يجوز للرجل التختم بالفضة لما روى أنه (اتخذ خاتما من فضة) وهل له لبس ما سوى الخاتم من حلي الفضة كالسوار والدملج والطوق لفظ الكتاب يقتضي المنع حيث قال ولا يحل للرجال إلا التختم به وبه قال الجمهور وقال ابو سعيد المتولي إذا جاز التختم بالفضة فلا فرق بين الاصابع وسائر الاعضاء كحلي الذهب في حق النساء فيجوز له لبس الدملج في العضد والطوق في العنق والسوار في اليد وغيرها وبهذا أجاب المصنف في الفتاوى وقال لم يثبت في الفضة إلا تحريم الاواني وتحريم التحلي علي وجه يتضمن التشبه بالنساء –إلى أن قال- ويحرم علي النساء تحلية آلات الحرب بالذهب والفضة جميعا لان في استعمالهن لها تشبها بالرجال وليس لهن التشبه بالرجال هكذا ذكره الجمهور واعترض عليه صاحب المعتمد بأن آلات الحرب من غير ان تكون محلاة إما ان يجوز للنساء لبسها واستعمالها أو لا يجوز (والثانى) باطل لان كونه من ملابس الرجال لا يقتضى التحريم إنما يقتضي الكراهة ألا ترى انه قال في الام ولا اكره للرجل لبس اللؤلؤ إلا للادب وانه من زى النساء لا للتحريم فلم يحرم زى النساء علي الرجال وإنما كرهه فكذلك حكم العكس","part":1,"page":208},{"id":209,"text":"Boleh bagi laki-laki memakai cincin perak karena diriwayatkan bahwa baginda nabi memakai cincin dari perak, bolehkah baginya memakai perhiasan selain cincin semacam gelang tangan, gelang lengan, kalung dsb yang terbuat dari perak ? Redaksi Kitab mengarah pada tidak bolehnya seperti ungkapan Pengarang “Dan tidak boleh bagi laki-laki kecuali perhiasan cincin dari perak” Dan yang demikian juga pendapat mayoritas Ulama namun Abu Sa’id al-Mutawally menyatakan “Bila memakai cincin perak dihalalkan maka tidak dibedakan kehalalan memakainya baik terpakai dijemari atau anggauta tubuh lainnya sebagaimana kelegalan perhiasan emas bagi wanita, maka boleh bagi laki-laki memakai gelang lengan, kalung dileher, gelang ditangan dsb” dst…….. [ Syarh al-Wajiiz VI/28 ].\r(مسألة: ي): ضابط التشبه المحرم من تشبه الرجال بالنساء وعكسه ما ذكروه في الفتح والتحفة والإمداد وشن الغارة، وتبعه الرملي في النهاية هو أن يتزيا أحدهما بما يختص بالآخر، أو يغلب اختصاصه به في ذلك المحل الذي هما فيه.\rBatasan penyerupaan yang di haramkan pada kasus penyerupaan orang laki-laki pada perempuan dan sebaliknya adalah apa yang diterangkan oleh Ulama Fiqh dalam kitab Fath aljawaad, Tuhfah, Imdaad dan kitab syun alghooroh. Imam Romli juga mengikutinya dalam kitab Annihaayah, Batasannya adalah : \"Bila salah satu dari lelaki atau wanita tersebut berhias memakai barang yang dikhususkan untuk lainnya atau pakaian yang jamak di gunakan pada tempat tinggal lelaki dan wanita tersebut\". [ Bughyah Almustarsyidiin 604 ]. Wallaahu A'lamu Bis Showaab\r0931. HUKUM GADIS MEMAKAI PACAR KUKU\rPERTANYAAN :\rEpang Omar Bin Ali","part":1,"page":209},{"id":210,"text":"Assalaamu'alaykum, gmn hkm bagi seorang gadis memakai pacar kuku (kembang) atau pitek/cat kuku, karena ustad daerah saya mghukumi haram bagi gadis perawan, mhn ibarohx !\rJAWABAN :\rIsmael Kholilie\rSunnah\rو يحرم التخنث أيضا وهو تشبه الرجال بالنساء في المشي و التكسير و لين الكلام و رقة الصوت و التزين بالحنلء و نحو ذلك من أنواع المكياج و التحمير و التبيض و تطريف الأصابع لكن يستحب الخضاب للنساء و نحوه ~الفقه الإسلامي 4/2683\rSunnah bagi perempuan memakai pacar kuku agar berbeda dengan lelaki dan sebaliknya haram bagi lelaki. [ al fiqh al islami 4/2683 ]. Berdasarkan sebuah hadits :\rعن عائشة قالت مدت من وراء الستر بيدها كتابا إلى رسول الله صلى الله عليه و سلم فقبض النبي صلى الله عليه و سلم يده و قال ما أدري أيد رجل أو امرأة فقالت بل إمرأة فقالت لو كنت إمرأة غيرت أظفارك بالحناء ~سنن النسائي 5089\rSeorang perempuan memberikan surat pada rasulullah saw dari balik satir,beliau kemudian memegan tangannya dan berkata : aku tidak tahu ini tgn lelaki atau perempuan , perempuan itu berkata : \"tangan perempuan \" , nabi kemudian bersabda :\"jika engkau perempuan,tentunya kau akan mewarnai kukumu dengan pewarna kuku/pacar. [ SUNAN ANNASA'I/ 5089 ].\rNB : Lihat dokumen lain mengenai masalah ini.\r1000. HUKUM MENCUKUR ALIS\rPERTANYAAN :\rPertanyaan titipan. Assalamu'alaikum?mau tanya nih... Apa hukumnya mencukur/mencabuti bulu alis (bagi yang sudah menikah/belum menikah*). *katanya 0rang tua jaman dahulu kan bagi yang belum menikah katanya tidak b0leh Ukh...Terimakasih..\rJAWABAN :\rKakang Kawah Adi Ari-ari\rHASIL KEPUTUSAN BAHTSUL MASA'IL DINIYAH FMPP KE XXI DI PP. LIRBOYO KEDIRI\rHukumnya Khilaf :","part":1,"page":210},{"id":211,"text":"1.…Menurut jumhurul ulama' : wanita yang bersuami diperbolehkan mengerik alisnya apabila ada izin dari suami atau qorinah yang menunjukan adanya izin dari suami. Sedangkan wanita yang tidak bersuami hukum mengerik alis tidak diperbolehkan, namun sebagian ulama' memperbolehkannya apabila diperlukan untuk pengobatan atau hal tersebut merupakan aib, dengan syarat tidak tadlis pada orang lain.\r2.…Hukumnya makruh apabila alisnya panjang. Namun menurut sebagian ashab imam Ahmad hukumnya boleh secara mutlak bahkan imam Ahmad pernah melakukannya.\rReferensi.\r1. Mausu’ah Fiqhiyah quwaitiyah juz 15 hal. 69 2. Al Majmu’ ala Syarhil muhadzab juz 1 hal. 290\r• الموسوعة الفقهية الكويتية - (ج 15 / ص 69)","part":1,"page":211},{"id":212,"text":"اتّفق الفقهاء على أنّ نتف شعر الحاجبين داخل في نمص الوجه المنهيّ عنه بقوله صلى الله عليه وسلم : « لعن اللّه النّامصات ، والمتنمّصات » . واختلفوا في الحفّ والحلق ، فذهب المالكيّة والشّافعيّة إلى أنّ الحفّ في معنى النّتف . وذهب الحنابلة إلى جواز الحفّ والحلق ، وأنّ المنهيّ عنه هو النّتف فقط . وذهب جمهور الفقهاء إلى أنّ نتف ما عدا الحاجبين من شعر الوجه داخل أيضاً في النّمص ، وذهب المالكيّة في المعتمد وأبو داود السّجستانيّ ، وبعض علماء المذاهب الثّلاثة الأخرى إلى أنّه غير داخل . واتّفق الفقهاء على أنّ النّهي عن التّنمّص في الحديث محمول على الحرمة ، ونقل عن أحمد وغيره أنّ النّهي محمول على الكراهة . وجمهور العلماء على أنّ النّهي في الحديث ليس عامّا ، وذهب ابن مسعود وابن جرير الطّبريّ إلى عموم النّهي ، وأنّ التّنمّص حرام على كلّ حال . وذهب الجمهور إلى أنّه لا يجوز التّنمّص لغير المتزوّجة ، وأجاز بعضهم لغير المتزوّجة فعل ذلك إذا احتيج إليه لعلاج أو عيب ، بشرط أن لا يكون فيه تدليس على الآخرين . قال العدويّ : والنّهي محمول على المرأة المنهيّة عن استعمال ما هو زينة لها ، كالمتوفّى عنها والمفقود زوجها . أمّا المرأة المتزوّجة فيرى جمهور الفقهاء أنّه يجوز لها التّنمّص ، إذا كان بإذن الزّوج ، أو دلّت قرينة على ذلك ، لأنّه من الزّينة ، والزّينة مطلوبة للتّحصين ، والمرأة مأمورة بها شرعا لزوجها . ودليلهم ما روته بكرة بنت عقبة أنّها سألت عائشة رضي الله عنها عن الحفاف ، فقالت : إن كان لك زوج فاستطعت أن تنتزعي مقلتيك فتصنعيهما أحسن ممّا هما فافعلي . وذهب الحنابلة إلى عدم جواز التّنمّص - وهو النّتف - ولو كان بإذن الزّوج ، وإلى جواز الحفّ والحلق . وخالفهم ابن الجوزيّ فأباحه ، وحمل النّهي على التّدليس ،أو على أنّه كان شعار الفاجرات.\r• المجموع شرح المهذب - (ج 1 / ص 290)","part":1,"page":212},{"id":213,"text":"وأما الاخذ من الحاجبين إذا طالا فلم أر فيه شيئا لاصحابنا وينبغى أن يكره لانه تغيير لخلق الله لم يثبت فيه شئ فكره: وذكر بعض أصحاب احمد انه لا بأس به: قال وكان احمد يفعله\rIsmael Kholilie\rDiperbolehkan mencabut alis (tanmish) bagi wanita yang sudah menikah dan diberi izin oleh suaminya\rو يحرم بغير إذن زوج و سيد وصل شعر بغيرهما و كالشعر الخرق و الصوف كما قال في المجموع و تجعيد الشعر و وشر الأسنان-إلى أن قال- و التنميص وهو الأخد من شعر الوجه و الحاجب للحسن لما في ذلك من التغرير أما إذا أذن لها الزوج أو السيد في ذلك فإنه يجوز لأن له غرضا في تزيينها له و قد أذن لها فيه ~مغني المحتاج 1/191\rDan haram tanpa izin suami (bagi istri) dan tanpa izin sayyid (bagi budak) hal hal berikut ini :\r1. menyambung rambut\r2. mengkeritingkan rambut\r3. meruncingkan gigi\r4. memakai semir hitam\r5. mencabut alis dan rambut di wajah\rDan jika si wanita sudah mendapat izin dari sang suami maka hal-hal di atas hukumnya boleh karena ia mempunyai tujuan yang jelas (berhias untuk suami). [ ~mughnil muhtaj 1/191 ].\r1001. HUKUM PENJUALAN PAKAIAN SEKSI, MINI, TOPLESS DLL\rPERTANYAAN :\rAkhmad Syakur\rUstadz assalamualaikum wr wb.... mau nanya ...apa hukumnya memproduksi dan menjual celana leging .... terima kasih .....wassalamualaiku wr wb...\rJAWABAN :\rMasaji Antoro\rWa'alaikumsalam. PENJUALAN PAKAIAN SEKSI, MINI, TOPLESS DLL adalah Haram, jika diyakini atau diduga kuat akan digunakan untuk maksiat, karena termasuk menolong kemaksiatan.","part":1,"page":213},{"id":214,"text":"وَيَحْرُمُ بَيْعُ الشَّئْ ِالْحَلالِ الطَّاهِرِ عَلَى مَنْ تُعُلِّمَ أَنَّهُ يُرِيْدُ أَنْ يَعْصِيَ بِهِ كَبَيْعِ َنْحِو عِنَبٍ لِمَنْ يَتَّخِذُهُ خمَرْاً وَلَوْ لِكَافِرٍ وَسِلاحٍ لِمَنْ يَقْتُلُ بِهِ نَفْسَهَ أَوْ غَيْرَهُ قَتْلا مُحَرَّمًا وَبِوَصٍّ يَتَّخِذُهُ مَزَامِيْرَ وَشَبْكَةً لِمَنْ يَصْطَادُ بِهَا فِى الْمُحَرَّامِ وَمَمْلُوْكِ اَمْرَدٍ لِمَنْ عُرِفَ باِلْفُجُوْرِ فِيْهِ وَأُمِّهِ لِمَنْ يَتَّخِذُهَا لِغِنَاءٍ مُحَرَّمٍ وَثَوْبِ الْحَرِيْرِ لِلُبْسِ رَجُلٍ بِلا ضَرُوْرَةٍ وَمَحَلُّ تَحْرِيْمِ بَيْعِ ذَلِكَ لِمَنْ ذُكِرَ إِذَا تّحَقَّقَ أَوْ ظُنَّ أَنَّهُ يَفْعَلُ ذَلِكَ فَإِنْ شُكَّ فِيْهِ أَوْ تَوَهُّمُهُ فَالْبَيْعُ مَكْرُوْهٌ وَهَذَا لا يَقْتَضِي الْبُطْلانَ إِلا إِذَا بَاعَ السِّلاح لِحَرْبِيٍّ وَإِنَّمَا حُرِمَ هَذَا الْبَيْعُ يَتَسَبَّبُ فِى الْحَرَامِ فَكَانَ تَصَرُّفٌ يُؤَدِّى إِلَى مَعْصِيَّةٍ حَرَامٍ كَمَا أَفَادَ ذَلِكَ الشَّرْقَاوِى اهـ\rDan haram menjual sesuatu yang halal dan suci pada orang yang diketahui akan mempergunakannya untuk maksiat seperti menjual buah anggur pada orang yang hendak menjadikannya minuman keras meskipun pada orang kafir, menjual pisau pada orang yang hendak menjadikannya sebagai alat membunuh dirinya atau orang lain dengan pembunuhan yang diharamkan, menjual buluh pada yang hendak menjadikannya alat musik, pukat pada orang yang hendak menggunakannya berburu hewan yang diharamkan, budak laki-laki cakap pada orang yang terkenal melakukan kecabulan dengannya, budak wanita pada orang yang hendak menjadikannya biduanita yang diharamkan, menjual pakaian sutera untuk pria tanpa adanya darurat.","part":1,"page":214},{"id":215,"text":"Keharaman diatas bila memang diyakini atau diduga kuat barang yang ia jual pada seseorang hendak dijadikan sarana untuk maksiat sedang bila ia ragu-ragu atau hanya sekedar mengira-ngira hokum menjualnya makruh, namun demikian meskipun penjualannya haram bukan berarti menjadikan akad jualnya tidak sah kecuali saat ia menjual pedang pada kafir harby (kafir yang memusuhi dan memerangi muslim).\rDalih keharaman penjualan diatas karena sama halnya dirinya ikut andil dalam menfasilitasi terjadinya hal yang haram sementara segala jenis tindakan yang dapat mengakibatkan terjadinya maksiat hukumnya haram,hal ini diungkapkan oleh As-Syarqawy. [ Sullam at-Taufiiq Hal. 59 ].\rقوله فلو باع الخمر إلخ قال السبكي روى الترمذي لعن رسول الله صلى الله عليه وسلم في الخمر عشرة عاصرها ومعتصرها الحديث وجه الاحتجاج أن العاصر كالبائع في أن كلا منهما يعين على معصية مظنونة قوله وكبش النطاح ممن يعانى ذلك والثوب الجر ولمن يلبسه من الرجال والحرير لمن يعمل منه الكلوثات والأكياس والذهب ممن يعمله مطرز للرجال ر تنبيه أفتي ابن الصلاح ببيع أمة على امرأة تحملها على الفجور أي أن تعين طريقا وقوله أفتى ابن الصلاح إلخ أشار إلى تصحيحه قوله أو باع السلاح من البغاة قال الجرجاني ويحرم بيع العنب ممن يعصره خمرا والسلاح ممن يستعمله في المعاصي\r[ Hasyiyah ar-Romly II/41 ].\rWallaahu A'lamu Bis Showaab.\r1034. WANITA DAN PRIA MEMAKAI PACAR KUKU\rPERTANYAAN :\rEpang Omar Bin Ali\rAssalaamu'alaykum, gmn hkm bagi seorang gadis memakai pacar kuku (kembang) atau pitek/cat kuku, karena ustad daerah saya mghukumi haram bagi gadis perawan, mohon ibarohnya !\rJAWABAN :\rUmam Zein\rHukum mengenakan pacar kuku bagi wanita ada tiga pendapat :","part":1,"page":215},{"id":216,"text":"- Boleh, selain dengan pacar kuku warna hitam.\r- Boleh bagi wanita bersuami atau hamba sahaya memakai pacar kuku warna hitam, bila telah mendapat izin.\r- Mutlak sunah menurut al-Baghawi bagi wanita bersuami memakai pacar dengan cara apapun.\rSedangkan hukum mengenakan pacar kuku bagi laki-laki ada tiga pendapat :\r- Haram menurut syafi’iyyah, memandang illat tasabbuyh dengan pewarna kuku yang termasuk aksesoris wanita.\r- Makruh menurut sebagian hanabilah dan hanafiah.\r- Boleh menurut Ibnu Qudamah.\rPoin pembahasannya terletak pada kajian ‘tathrif’, meskipun yang lebih dominan diulas dalam referensi klasik adalah ‘khidhab’, di mana khidhab di situ dimaksudkan lebih general sebagai pewarnaan tangan dan kaki, mulai dari ujung sampai pergelangan tangan/kaki, baik kuku maupun kulitnya. Pembahasan khidhab cukup berbeda dengan tathrif dan hanya sedikit bersinggungan terutama ketika dikaitkan dengan khidab pada laki-laki. Hemat saya, sekedar untuk memudahkan, khidab adalah pewarna kulit, dan tathrif adalah pewarna kuku. Wallahu subhanahu wata’ala a’lam.\rR e f e r e n s i\rالاِخْتِضَابُ لُغَةً : اسْتِعْمَال الْخِضَابِ . وَالْخِضَابُ هُوَ مَا يُغَيَّرُ بِهِ لَوْنُ الشَّيْءِ مِنْ حِنَّاءَ وَكَتَمٍ وَنَحْوِهِمَا. وَلاَ يَخْرُجُ الْمَعْنَى الاِصْطِلاَحِيُّ عَنِ الْمَعْنَى اللُّغَوِيِّ\rالتَّطْرِيفُ لُغَةً : خَضْبُ أَطْرَافِ الأْصَابِعِ ، يُقَال : طَرَفَتِ الْجَارِيَةُ بَنَانَهَا إِذَا خَضَّبَتْ أَطْرَافَ أَصَابِعِهَا بِالْحِنَّاءِ ، وَهِيَ مُطَرِّفَةٌ\rالكتاب : الموسوعة الفقهية الكويتية ج2 ص278-277","part":1,"page":216},{"id":217,"text":"“Ikhtidhab secara bahasa adalah: pemakaian khidhab, sedang khidhab yaitu sesuatu yang bisa merubah warna suatu obyek entah dengan hina’, katam, atau sejenisnya. Makna istilahnya tidak berbeda dengan makna bahasa.\rTathrif secara bahasa adalah: pewarnaan pacar pada ujung jari, diucapkan [gadis itu memacari jemarinya, ketika memacari ujung jarinya dengan hina’].\rوعبارة الكردي: قوله: ويحرم الحناء للرجل.\rخرج به المرأة، ففيها تفصيل، فإن كان لاحرام استحب لها سواء كانت مزوجة.\rأو غير مزوجة، شابة أو عجوزا وإذا اختضبت عمت اليدين بالخضاب.\rوأما المحدة: فيحرم عليها، والخنثى كالرجل.\rويسن لغير المحرمة إن كانت حليلة وإلا كره.\rولا يسن لها نقش وتسويد وتطريف وتحمير وجنة، بل يحرم واحد من هذه على خلية ومن لم يأذن لها حليلها.\rالكتاب : حاشية إعانة الطالبين ج2 ص387\r“Al-Kurdi berkata: pewarna pacar haram bagi laki-laki. Dikecualikan bagi wanita maka ada pemilahan, jika hendak ihram maka disunahkan baginya baik sudah bersuami maupun belum, muda maupun tua, di mana ketika memakai pacar diwarnai menyeluruh pada kedua tangannya. Sedangkan wanita yang sedang iddah maka haram, serta pada banci maka sebagaimana haramnya laki-laki.\rBagi selain wanita berihram, disunahkan memakai pacar bagi wanita bersuami, bila belum bersuami maka makruh.\rTidak disunahkan bagi wanita mengecat kuku, mewarnai hitam, memacar kuku, serta memerahi pipi, bahkan haram hal tersebut untuk wanita yang belum bersuami maupun wanita yang tidak mendapat ijin suami atau tuannya.”\rويحرم أيضا تجعيد شعرها ونشر أسنانها وهو تحديدها وترقيقها والخضاب بالسواد وتحمير الوجنة بالحناء ونحوه وتطريف الأصابع مع السواد\rالكتاب : حاشية الجمل ج2 ص430","part":1,"page":217},{"id":218,"text":"“Diharamkan juga mengeriting rambut wanita, merenggangkan giginya yakni dengan mempertajam dan menipiskannya, mewarnai dengan pacar hitam, memerahi pipi dengan hina’ dan sejenisnya, serta memacari jari-jari besertaan warna pacarnya hitam.”\r( قَوْلُهُ : وَتَطْرِيفُ ) قَالَ ابْنُ الرِّفْعَةِ وَالْمُرَادُ بِالتَّطْرِيفِ الْمُحَرَّمِ تَطْرِيفُ الْأَصَابِعِ بِالْحِنَّاءِ مَعَ السَّوَادِ أَمَّا بِالْحِنَّاءِ وَحْدَهُ فَلَا شَكَّ فِي جَوَازِهِ شَرْحُ الْعُبَابِ وَكَذَا يَنْبَغِي أَنْ يُقَالَ فِي النَّقْشِ سم\rالكتاب : تحفة المحتاج ج14 ص484\r“Wa tathrif: Ibnu Rif’ah dalam Syarh ‘Ubab berkata bahwa yang dimaksud tathrif yang diharamkan adalah mewarnai kuku dengan pacar besertaan warnanya hitam, sedangkan hukum pacar semata (tanpa tambahan hitam) maka tidak diragukan lagi kebolehannya. Ibnu Qasim al-’Ubadi menambahkan, begitu juga ketentuan warna hitam ini berlaku dalam hukum pengecatan kuku.”","part":1,"page":218},{"id":219,"text":"ويحرم تَجْعِيدُهُ أَيْ الشَّعْرِ وَوَشْرُ الْأَسْنَانِ أَيْ تَحْدِيدُهَا وَتَرْقِيقُهَا لِلتَّغْرِيرِ وَلِلتَّعَرُّضِ لِلتُّهْمَةِ فِيهِمَا وَلِلْخَبَرِ السَّابِقِ في الثَّانِي وَالْخِضَابُ بِالسَّوَادِ لِخَبَرِ يَكُونُ قَوْمٌ يَخْضِبُونَ في آخَرِ الزَّمَانِ بِالسَّوَادِ كَحَوَاصِلِ الْحَمَامِ لَا يَرِيحُونَ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ رَوَاهُ أبو دَاوُد وَغَيْرُهُ وَتَحْمِيرُ الْوَجْنَةِ بِالْحِنَّاءِ أو نَحْوِهِ وَتَطْرِيفُ الْأَصَابِعِ بِهِ مع السَّوَادِ لِلتَّعَرُّضِ لِلتُّهْمَةِ إلَّا بِإِذْنِ زَوْجٍ أو سَيِّدٍ لها في جَمِيعِ ما ذُكِرَ بَعْدَ قَوْلِهِ حَرَامٌ فَيَجُوزُ لها ذلك لِأَنَّ له غَرَضًا في تَزَيُّنِهَا له وقد أَذِنَ لها فيه وَخَالَفَ في التَّحْقِيقِ في الْوَصْلِ وَالْوَشْرِ فَأَلْحَقَهُمَا بِالْوَشْمِ في الْمَنْعِ مُطْلَقًا\rالكتاب : أسنى المطالب ج1 ص173\r“Diharamkan mengeriting rambut dan merenggangkan giginya yakni dengan mempertajam dan menipiskannya karena rentan manipulasi dan berpraduga negatif pada dirinya dalam dua perkara tadi, haramnya pacar warna hitam juga dikarenakan hadits [akan ada kaum di akhir jaman yang mewarnai dengan pacar hitam sebagaimana hitamnya tembolok burung dara, mereka tidak bisa mencium bau surga, HR. Abu Dawud dan lainnya].","part":1,"page":219},{"id":220,"text":"[Diharamkan juga] memerahi pipi dengan hina’ atau sejenisnya serta memacari jari-jari besertaan warna pacarnya hitam, sebab menimbulkan pandangan negatif masyarakat, kecuali atas ijin suami atau tuannya maka boleh semua hal yang diharamkan tadi. Hal itu karena suami berhak atas pelayanan bersolek dari istrinya sedangkan dia telah mengijinkan. Namun an-Nawawi dalam kitab Tahqiq tidak sepakat mengenai hukum menyambung rambut dan merenggangkan gigi, ia menyamakannya dengan hukum tato yakni mutlak haram.”\rوكذا يُسْتَحَبُّ خَضْبُ كَفَى الْمَرْأَةِ الْمُزَوَّجَةِ وَالْمَمْلُوكَةِ وَقَدَمَيْهَا بِذَلِكَ لِأَنَّهُ زِينَةٌ وَهِيَ مَطْلُوبَةٌ منها لِزَوْجِهَا أو سَيِّدِهَا تَعْمِيمًا لَا تَطْرِيقًا وَلَا نَقْشًا\rالكتاب : أسنى المطالب ج1 ص173\r“Begitu juga disunahkan memacari kedua telapak tangan dan kaki wanita bersuami atau hamba sahaya karena itu adalah aksesoris baginya. Hal itu ditujukan untuk suami atau tuannya dengan cara meratakan pemakaian pacar bukan dengan cara memacari atau mengecat ujung jarinya semata.”\rواما الخضاب بالحناء فمستحب للمرأة المزوجة في يديها ورجليها تعميما لا تطريفا ويكره لغيرها وقد اطلق البغوي وآخرون استحباب الخضاب للمرأة ومرادهم المزوجة\rالكتاب : المجموع شرح المهذب ج3 ص140\r“Mewarnai dengan pacar disunahkan bagi wanita bersuami pada kedua tangan dan kakinya, dengan cara diratakan bukan sebatas ujung jari, serta makruh bagi selain wanita bersuami. Namun al-Baghawi dan lainnya memutlakkan hukum sunah memakai pacar bagi wanita, yakni wanita yang telah bersuami.”","part":1,"page":220},{"id":221,"text":"نَصَّ الشَّافِعِيَّةُ عَلَى أَنَّهُ يَحْرُمُ نَقْشُ يَدِ الْمَرْأَةِ الْمُحْرِمَةِ بِالْحِنَّاءِ ، وَكَذَا تَطْرِيفُ الأْصَابِعِ وَتَسْوِيدُهَا لِمَا فِيهِ مِنَ الزِّينَةِ وَإِزَالَةِ الشَّعَثِ الْمَأْمُورِ بِهِ فِي الإْحْرَامِ\rالكتاب : الموسوعة الفقهية ج41 ص149\r“Asy-Syafi’i menegaskan haramnya mengecat tangan wanita yang berihram dengan hina’, begitu juga memacari kuku dan menghitamkannya, sebab memandang hal itu merupakan aksesoris serta menjadikan hilangnya penampilan kusut yang diperintahkan dalam ihram.”\rقوله ( بشيء منه ) أي من المذكور وهو الحناء\rوقوله فتستر لون البشرة وإذا فعلت ذلك لا يجوز النظر ليديها مخضوبتين والحرمة باقية وإنما أفاد الخضب نوع ستر في الجملة سم\rقوله ( وخرج بالمرأة لرجل ) شامل للأمرد الجميل\rقوله ( بل يحرم ) أي لغير عذركما نص عليه الإمام الشافعي ومحل الحرمة في البدن فلا ينافي سن خضب لحيته بالحناء وكذا بالسواد في الجهاد ليظهر للكفار شبابه وقوته\rالكتاب : حاشية البجيرمي على شرح منهج ج2 ص117\r“[Dengan sesuatu darinya] yakni dari hina’ yang telah disebutkan\r[Menutupi warna kulit] ketika hal itu sudah dilakukan tetap tidak boleh melihat kedua tangan wanita yang diberi pacar itu, hukum haramnya tetap, fungsi khidhab sebagai penutup kulit hanya memandang secara global saja.\r[Dikecualikan dari wanita yaitu pada lelaki] termasuk di dalamnya pemuda berwajah manis.","part":1,"page":221},{"id":222,"text":"[Bahkan haram] yakni tanpa adanya udzur sebagaimana yang ditegaskan oleh asy-Syafi’i, letak keharamannya di badan, sehingga tidak menegasikan sunahnya khidhab jenggot dengan pewarna hina’, begitu juga dengan pewarna hitam dalam medan perang untuk mendemonstrasikan fisik belia dan kekuatannya pada kaum kafir.”\rاتَّفَقَ الْفُقَهَاءُ عَلَى أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ لِلرَّجُل أَنْ يَخْتَضِبَ فِي رَأْسِهِ وَلِحْيَتِهِ لِتَغْيِيرِ الشَّيْبِ بِالْحِنَّاءِ وَنَحْوِهِ لِلأْحَادِيثِ الْوَارِدَةِ فِي ذَلِكَ ، وَجَوَّزُوا لَهُ أَنْ يَخْتَضِبَ فِي جَمِيعِ أَجْزَاءِ بَدَنِهِ مَا عَدَا الْكَفَّيْنِ وَالْقَدَمَيْنِ ، فَلاَ يَجُوزُ لَهُ أَنْ يَخْتَضِبَ فِيهِمَا إِلاَّ لِعُذْرٍ ؛ لأِنَّ فِي اخْتِضَابِهِ فِيهِمَا تَشَبُّهًا بِالنِّسَاءِ، وَالتَّشَبُّهُ بِالنِّسَاءِ مَحْظُورٌ شَرْعًا\rوَقَال أَكْثَرُ الشَّافِعِيَّةِ وَبَعْضُ الْحَنَابِلَةِ بِحُرْمَتِهِ . وَقَال بَعْضُ الْحَنَابِلَةِ وَصَاحِبُ الْمُحِيطِ مِنَ الْحَنَفِيَّةِ بِكَرَاهَتِهِ وَقَدْ قَال رَسُول اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - لَعَنَ اللَّهُ الْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَال وَالْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَال بِالنِّسَاءِ . وَحُكْمُ الْخُنْثَى الْمُشْكِل كَحُكْمِ الرَّجُل فِي هَذَا\rالكتاب : الموسوعة الفقهية ج2 ص284","part":1,"page":222},{"id":223,"text":"“Para fuqaha sepakat disunahkannya bagi lelaki untuk mewarnai pacar pada rambut kepala dan jenggotnya untuk merubah warna uban sesuai dengan keterangan beberapa hadits, mereka juga memperbolehkan mewarnai pacar pada seluruh bagian anggota tubuhnya selain kedua telapak tangan dan kakinya, maka pada dua anggota tadi tidak diperbolehkan kecuali dengan adanya udzur, sebab memandang pewarnaan pacar pada keduanya menyerupai keadaan wanita, di mana hukum menyerupai wanita adalah haram.\rKebanyakan ulama syafi’iah dan sebagian hanabilah berpendapat tentang keharamannya. Sebagian yang lain dari hanabilah serta pengarang kitab Muhith dari hanafiah berpendapat makruh. Rasulullah bersabda: Allah melaknat golongan wanita yang menyerupai lelaki dan golongan lelaki yang menyerupai wanita. Status hukum khuntsa musykil sebagaimana lelaki dalam masalah ini.”\rوَسُئِلَ رَحِمَهُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى ما حُكْمُ حِنَّاءِ يَدَيْ الرَّجُلِ وَرِجْلَيْهِ فَأَجَابَ نَفَعَنَا اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِعُلُومِهِ بِقَوْلِهِ حُكْمُ حِنَّاءِ يَدَيْ الرَّجُلِ وَرِجْلَيْهِ أَنَّهُ لِغَيْرِ ضَرُورَةٍ حَرَامٌ على الْمُعْتَمَدِ عِنْدَ النَّوَوِيِّ وَغَيْرِهِ لِأَنَّهُ من زِينَةِ النِّسَاءِ\rالكتاب : الفتاوى الكبرى الفقهية ج4 ص257\r“Ditanyakan: apa hukum memakai pacar pada kedua tangan dan kaki lelaki ?. Dijawab: hukum pemakaian pacar pada kedua tangan dan kaki lelaki, selain dalam kondisi darurat, haram menurut pendapat yang mu’tamad dari an-Nawawi dan ulama lainnya, sebab termasuk aksesoris bagi wanita.”","part":1,"page":223},{"id":224,"text":"فأما الخضاب للرجل فذكر الشيخ أنه لا بأس به فيما لا تشبه فيه بالنساء; لأن الأصل الإباحة, ولا دليل للمنع, وأطلق في المستوعب: له الخضاب بالحناء, وقال في مكان آخر: كرهه أحمد \"قال أحمد\": لأنه من الزينة.\rالكتاب : كتاب الفروع ج5 ص532\r“Adapun mengenai memakai pacar pada lelaki, Ibnu Qudamah berpendapat hal itu tidak masalah pada perkara yang tidak dianggap menyerupai wanita, sebab hukum asal adalah boleh, serta tidak ada dalil yang melarangnya. Di dalam kitab al-Mustau’ab ia memutlakkannya bahwa boleh bagi lelaki memakai pewarna pacar, di tempat lainnya ia berkomentar bila Ahmad Ibn Hanbal memakruhkannya, Imam Ahmad berkata: sebab hal itu termasuk aksesoris wanita.”\r1087. HUKUM MENINDIK TELINGA PADA BAYI\rPERTANYAAN :\rFa Antum Bilkhiar\rAssalamu'alaikum\rsebelumx sya brtrma ksh bnyak sdah dmsukan k grup PSISSSya yang faqir ilmu Mau idzin iktan ngji dsini Slam knal Za ya smuax. .Skalian mu brtnya:Bagai mana hukumx menindik kuping bayi wnita untuk perhiasan. .Syukr0n.\rJAWABAN :\rMbah Jenggot II\rWa`alaikum salam. Lihat Mughni al-Muhtaj, Juz IV, Hlm. 296 :\r(فَائِدَةٌ) قَالَ فِي اْلإِحْيَاءِ لاَ أَدْرِيْ رُخْصَةً فِي تَثْقِيْبِ أُذُنِ الصَّبِيَّةِ ِلأَجْلِ تَعْلِيْقِ حُلِيِّ الذَّهَبِ أَيْ أَوْ نَحْوِهِ فِيْهَا، فَإِنَّ ذَلِكَ جُرْحٌ مُؤْلِمٌ، وَمِثْلُهُ مُوْجِبٌ لِلْقِصَاصِ، فَلاَ يَجُوْزُ إلاَّ لِحَاجَةٍ مُهِمَّةٍ كَالْفَصْدِ وَالْحِجَامَةِ وَالْخِتَانِ. وَالتَّزَيُّنُ بِالْحُلِيِّ غَيْرُ مُهِمٍّ، فَهَذَا وَإِنْ كَانَ مُعْتَادًا فَهُوَ حَرَامٌ، وَالْمَنْعُ مِنْهُ وَاجِبٌ، وَاْلإِسْتِئْجَارُ عَلَيْهِ غَيْرُ صَحِيْحٍ، وَاْلأُجْرَةُ الْمَأْخُوْذَةُ عَلَيْهِ حَرَامٌ اهـ","part":1,"page":224},{"id":225,"text":"\"(Faidah); Berkata Imam Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumiddin, Aku belum tahu keterangan yang memberikan kelonggaran hukum dalam melubangi kuping wanita kecil untyuk dibuat menggantungkan perhiasan emas (anting-anting).\rSesungguhnya hal itu adalah melukai yang sangat menyakitkan. Dan seperti itu bisa menetapkan qishas. Hal itu tidak boleh dilakukan kecuali untuk kebutuhan yang sangta mendasar, seperti untuk pengobatan bekam atau khitan. Sementara berhias dengan emas itu bukanlah hal penting. Melubangi telinga karena untuk menggantungkan perhiasan walaupun ini telah umum itu hukumnya haram dabn mencegahnya hukumnya wajib. Menyewa sesorang untuk hal itu atau bekerja untuk hal itu hukumnya tidak sah dan ongkos yang diterimanya hukumnya haram\".\rYupiter Jet\rTentang menindik kuping bayi....\rوجوزه الزركشي واستدل بما في حديث أم زرع في الصحيح، وفي فتاوى قاضي خان من الحنفية أنه لا بأس به لانهم كانوا يفعلونه في الجاهلية فلم ينكر عليهم رسول الله (ص)، وفي الرعاية للحنابلة يجوز في الصبية لغرض الزينة.ويكره في الصبي\rImam Azzarkasyi menghukumi boleh, berangkat dari hadits kisah Ummu Zaro'. Dalam fatwa-fatwa Qodli Khoni (ulama hanafi) menghukumi tidak apa-apa karena, kata beliau, sohabat dulu melakukannya ketika masih jahiliyyah dan Rosul tidak mengingkarinya. Dalam Arri'ayah (madzhab Hanbali), boleh menindik telinga anak perempuan dengan tujuan sebagai perhiasan dan makruh untuk anak laki-laki. [ Fathul Mu'in 4/199 ].","part":1,"page":225},{"id":226,"text":"نعم في خبر للطبراني بسند رجاله ثقات عن ابن عباس أنه عد من السنة في الصبي يوم السابع أن تثقب آذانه وهو صريح في جوازه للصبي فالصبية أولى إذ قول الصحابي من السنة كذا في حكم المرفوع وبهذا يتأيد ما ذكر عن قاضي خان فالأوجه الجواز\r[ Hasyiyah Aljamal 10/156 ].\rAda riwayat dari Imam Thobroni bahwa Ibnu Abbas berkata: termasuk sunnah yaitu melubangi telingan anak laki-laki pada hari ke tujuh. dan khobar ini menunjukkan kebolehan untuk anak alki-laki APALAGI untuk anak perempuan.\rAwan As-Safaritiyy Asy-syaikheriyy\rMenindik/membolongi (tastqib) telinga anak laki-laki yang msh kcil haram,sedangkan bagi anak perempuan yang msh kecil hukumnya khilaf :\r?…menurut imam ghozali HARAM, krena di anggap mnyakiti tnp adaya hajat atau tujuan yang jelas.-menurut imam zarkasyi BOLEH,brdsarkan dalil dalam hadist ummu zar'in.\r?…dalam kitab fatawi qodlikhon dari imam hanafi hukumya TIDAK MASALAH(la ba'sa),krena hal itu(mmbolongi telinga anak kecil)prnah di lakukan olh orang2 pada zaman jahiliyyah dan nabi SAW tidak mgingkari(tidak melarang) hal itu.\r?…dalam kitab Ar ro'iyyah madzhab hanabilah hukumya BOLEH bagi anak perempuan yang masih kecil jika brtujuan hiasan(ghordliz ziinah)dan MAKRUH bagi anak laki-laki yang sh kecil.\r?…menurut syaikhuna dalam kitab syarah minhaj hukumya BOLEH bagi anak perempuan yang masih kecil dan haram bagi anak laki-laki yang msh kecil karena hal itu merupakan hiasan dalam haqnya wanita yang msh kecil. [ i'anatut tholibin 4/175-178 ]. wa allahu a'lamu.\r1250. WANITA MEMAKAI GELANG KAKI\rPERTANYAAN :\r> Princess Selly Zoet","part":1,"page":226},{"id":227,"text":"Assalamu alaikum ? saya mau nanya ? apa hukumnya perempuan pakai gelang kaki & pakai cincin kaki ? ??\rJAWABAN :\r> Masaji Antoro\rWa'alaikumsalam wr wb. BISMILLAH. Boleh dan tidak makruh karena hal itu termasuk jenis perhiasan yang dilegalkan dalam islam ini menurut para ulama madzhab empat (Hanafi, Maliki, Syafi’I dan Hanbali) hanyasaja terdapat sebuah pendapat dikalangan syafi’iiyyah kelegalan perhiasan kaki diatas asal tidak melebihi batas kewajaran yang berlaku disekitar yang ukuran standardnya tidak lebih berat dari satu mitsqal (4.4 gram).\rKetentuan kelegalan diatas masih dibatasi bila pemakaian perhiasan diatas murni dengan maksud untuk hiasan diri bukan menarik simpati dari lawan jenis, karena bila ini yang terjadi maka menjadi muthlak haram pemakaiannya berdasarkan firman Allah Ta’ala : Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu (QS. 33:33).\rDan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan (QS. 24:31).Menurut Ibn Katsir “Konon wanita Arab dizaman Jahiliyyah mengenakan gelang dikakinya (binggel-java, pent), mereka berjalan tanpa suara namun untuk menarik perhatian lawan jenisnya ayunan kakinya dibuat sedemikian rupa hingga menimbulkan suara gemerincing dikakinya dan menarik perhatian dari lawan jenisnya”. Referensi :\r- Mughni al-Muhtaaj I/392 :","part":1,"page":227},{"id":228,"text":"ولا يكره للمرأة لبس خاتم الفضة خلافا للخطابي قاله في المجموع ولم يتعرض الأصحاب لمقدار الخاتم المباح ولعلهم اكتفوا فيه بالعرف أي وهو عرف تلك البلد وعادة أمثاله فيها فما خرج عن ذلك كان إسرافا كما قالوه في خلخال المرأة هذا هو المعتمد وإن قال الأذرعي الصواب ضبطه بدون مثقال لما في صحيح ابن حبان وسنن أبي داود عن أبي هريرة أن النبي صلى الله عليه وسلم قال للابس الخاتم الحديد ما لي أرى عليك حلية أهل النار فطرحه فقال يا رسول الله من أي شيء أتخذه قال اتخذه من ورق ولا تتمه مثقالا قال وليس في كلامهم ما يخالفه اه\r- Al-Mausuuah al-Fiqhiyyah VII/88 :\rقَال اللَّهُ تَعَالَى : { وَلاَ تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الأُْولَى } (2) ….وَلاَ يَجُوزُ لَهَا أَنْ تَأْتِيَ مِنَ الأَْعْمَال مَا يُلْفِتُ النَّظَرَ إِلَيْهَا وَيَتَرَتَّبُ عَلَيْهِ الاِفْتِتَانُ بِهَا ، قَال تَعَالَى : { وَلاَ يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ } (7) قَال ابْنُ كَثِيرٍ : كَانَتِ الْمَرْأَةُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ إِذَا كَانَتْ تَمْشِي فِي الطَّرِيقِ ، وَفِي رِجْلِهَا خَلْخَالٌ صَامِتٌ لاَ يُعْلَمُ صَوْتُهُ ، ضَرَبَتْ بِرِجْلِهَا الأَْرْضَ فَيَسْمَعُ الرِّجَال طَنِينَهُ ، فَنَهَى اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الْمُؤْمِنَاتِ عَنْ مِثْل ذَلِكَ ، وَكَذَلِكَ إِذَا كَانَ شَيْءٌ مِنْ زِينَتِهَا مَسْتُورًا ، فَتَحَرَّكَتْ بِحَرَكَةٍ لِتُظْهِرَ مَا هُوَ خَفِيٌّ دَخَل فِي هَذَا النَّهْيِ لِقَوْلِهِ تَعَالَى : { وَلاَ يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ } .\r(2) سورة الأحزاب / 33 . (7) سورة النور / 31 .\r- Al-Mausuuah al-Fiqhiyyah VII/282 :","part":1,"page":228},{"id":229,"text":"الإِْسْرَافُ فِي التَّحَلِّي كَاتِّخَاذِ الْمَرْأَةِ أَكْثَرَ مِنْ خَلْخَالٍ مِنَ الذَّهَبِ : 11 - إِذَا اتَّخَذَتِ امْرَأَةٌ خَلاَخِل كَثِيرَةً لِلْمُغَايَرَةِ فِي اللُّبْسِ جَازَ ؛ لأَِنَّهُ يَجُوزُ لَهَا اتِّخَاذُ مَا جَرَتْ عَادَتُهُنَّ بِلُبْسِهِ مِنَ الذَّهَبِ ، قَل ذَلِكَ أَوْ كَثُرَ ، لإِِطْلاَقِ الأَْدِلَّةِ كَقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أُحِل الذَّهَبُ وَالْحَرِيرُ لإِِنَاثِ أُمَّتِي وَحُرِّمَ عَلَى ذُكُورِهَا . (2) وَفِي الْمَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ وَجْهٌ بِالْمَنْعِ إِذَا كَانَ فِيهِ سَرَفٌ ظَاهِرٌ ، وَالْمَذْهَبُ الْقَطْعُ بِالْجَوَازِ . (3)\r(3) المجموع ( 6 / 40 ) ، وكشاف القناع ( 2 / 239 ) ، والقوانين الفقهية ( ص430 ) ، وابن عابدين ( 5 / 224 ،\rLink Diskusi :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/340422675980547/\r3332. HUKUM WANITA MEMAKAI GELANG KAKI\rPERTANYAAN :\r> Ishaq Nuruddin\rAssalamualaikum Wr Wb Hukumnya bagaimana perempuan memakai gelang di kakinya ?. terima kasih\rJAWABAN :\r> Rampak Naung\rWa'laikumussalaam, boleh asal tidak berlebihan (isyrof), lihat i'anatut tholibin :\rويحل الذهب والفضة - ب? سرف - ?مرأة ، وصبي - إجماعا - في نحو السوار ، والخلخال ، والنعل ، والطوق\r> Masaji Antoro via Abdur Rahman Assyafi'i","part":1,"page":229},{"id":230,"text":"BISMILLAH. Boleh dan tidak makruh karena hal itu termasuk jenis perhiasan yang dilegalkan dalam islam ini menurut para ulama madzhab empat (Hanafi, Maliki, Syafi’I dan Hanbali) hanya saja terdapat sebuah pendapat dikalangan syafi’iiyyah kelegalan perhiasan kaki diatas asal tidak melebihi batas kewajaran yang berlaku disekitar yang ukuran standardnya tidak lebih berat dari satu mitsqal (4.4 gram). Ketentuan kelegalan diatas masih dibatasi bila pemakaian perhiasan diatas murni dengan maksud untuk hiasan diri bukan menarik simpati dari lawan jenis, karena bila ini yang terjadi maka menjadi muthlak haram pemakaiannya berdasarkan firman Allah Ta’ala :\r\"Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu\" (QS. 33:33).\r\"Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan\" (QS. 24:31).\rMenurut Ibn Katsir “Konon wanita Arab di zaman Jahiliyyah mengenakan gelang dikakinya (binggel-java, pent), mereka berjalan tanpa suara namun untuk menarik perhatian lawan jenisnya ayunan kakinya dibuat sedemikian rupa hingga menimbulkan suara gemerincing di kakinya dan menarik perhatian dari lawan jenisnya”\rReferensi :\r- Mughni al-Muhtaaj I/392 :","part":1,"page":230},{"id":231,"text":"ولا يكره للمرأة لبس خاتم الفضة خلافا للخطابي قاله في المجموع ولم يتعرض الأصحاب لمقدار الخاتم المباح ولعلهم اكتفوا فيه بالعرف أي وهو عرف تلك البلد وعادة أمثاله فيها فما خرج عن ذلك كان إسرافا كما قالوه في خلخال المرأة هذا هو المعتمد وإن قال الأذرعي الصواب ضبطه بدون مثقال لما في صحيح ابن حبان وسنن أبي داود عن أبي هريرة أن النبي صلى الله عليه وسلم قال للابس الخاتم الحديد ما لي أرى عليك حلية أهل النار فطرحه فقال يا رسول الله من أي شيء أتخذه قال اتخذه من ورق ولا تتمه مثقالا قال وليس في كلامهم ما يخالفه اه\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb795020857187391\r1369. TABARRUJAL JAHILIYAH\rPERTANYAAN :\rLalu, bagaimana pula hukumnya wanita yang keluar dengan berdandan sekedarnya (cuma bedak sama lipstik) Dan sebenarnya apa yang dimaksud dengan tabarrujal jahiliyah itu?\rJAWABAN :\r> Masaji Antoro","part":1,"page":231},{"id":232,"text":"ويجب على المرأة في حال الخروج التزام الستر الشرعي، لا تظهر شيئاًمن جسدها غير الوجه والكفين؛ لأن في كشف شيء مما أوجب الله ستره تعريضاً للفتنة والتطلع إليها، قال تعالى: {ولا تبرجن تبرج الجاهلية الأولى} [الأحزاب:33/33]. ومن التبرج: المشي بتكسر وحركات مثيرة، ومن التبرج أيضاً أن تلبس المرأة ثوباً رقيقاً يصف ما تحته، قال صلّى الله عليه وسلم : «صنفان من أهل النار لم أرهما بعد: نساء كاسيات عاريات، مائلات مميلات (2) ، على رؤوسهن أمثال أسنمة البخت المائلة (3) ، لا يدخلن الجنة، ولا يجدن ريحها، وإن ريحها ليوجد من مسيرة كذا وكذا. ورجال معهم سياط كأذناب البقر يضربون بها الناس» (4) وقال عليه الصلاة والسلام أيضاً : «أيما امرأة استعطرت، فخرجت فمرت على قوم ليجدوا ريحها، فهي زانية» (5) .والتزام المرأة البيت لا بمعنى حبسها فيه أو التضييق عليها هو خير شيء للمرأة، قال عليه الصلاة والسلام: «إن المرأة عورة، فإذا خرجت استشرفها الشيطان، وأقرب ما تكون من رحمة ربها، وهي في قعر بيتها» (1) وهو يدل على وجوب الستر وعدم إظهار المرأة شيئاً من بدنها، وأن في الخروج العمل على إغواء الشياطين لها وإغراء الرجال بها حتى تقع الفتنة.\r__________\r(2) المراد بالكاسيات العاريات: اللاتي يلبسن الثياب الرقيقة التي لا تستر ما تحتها. والمراد بالمائلات المميلات: اللاتي يتمايلن ويتبخترن في مشيهن للافتتان بهن.\r(3) البخت: نوع من الإبل المشهورة بكبر سنامها، والمراد أن النساء يعتنين بشعورهن وبعظمنّ ذلك، بلف عمامة أو عصابة أو نفش الشعر ونحوه.\r(4) رواه مسلم في صحيحه عن أبي هريرة.\r(5) رواه الحاكم عن أبي موسى.\r(1) رواه الترمذي عن ابن مسعود.","part":1,"page":232},{"id":233,"text":"Dan diwajibkan bagi wanita saat keluar rumahnya untuk menetapi penutup yang syar’i yang tidak menampakkan sesutu dari tubuhnya selain wajah dan telapak tangannya karena dalam membuka sesuatu yang diwajibkan oleh Allah untuk menutupnya dapat mengundang fitnah dan menjadi pusat perhatian,Allah berfirman “dan janganlah kalian bertabarruj seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu”. (QS. Al-Ahzaab, 33). Di antara yang tergolong tabarruj :\r• Berjalan dengan berlenggak-lenggok dan dengan gerakan yang dapat menimbulkan gairah\r• Memakai pakaian tipis yang dapat menggambarkan anggota tubuh di dalamnya.\rRasulullah SAW bersabda “Dua kelompok termasuk ahli neraka, aku belum pernah melihatnya,wanita yang kasiyat (berpakaian tapi telanjang, baik karena tipis atau pendek yang tidak menutup auratnya), mailat mumilat (bergaya ketika berjalan, ingin diperhatikan orang), kepala mereka seperti punuk onta. Mereka tidak masuk surga dan tidak mendapatkan baunya, padahal baunya didapati dengan perjalanan demikian dan demikian dan kaum lelaki yang memiliki cambuk seperti ekor sapi, mereka memukul manusia dengan cambuknya (yakni para penguasa yang dzalim) dan.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah)\rRasulullah juga bersabda “Perempuan yang memakai bau-bauan (wewangian) kemudian ia keluar melintasi kaum lelaki agar mereka tercium bau harumnya maka dia adalah perempuan zina (HR. Al-Hakim dari Abu Musa)","part":1,"page":233},{"id":234,"text":"Menetapnya seorang wanita didalam rumah bukan dalam arti memasungnya atau membatasinya lebih baik baginya.Rasulullah SAW bersabda \"Perempuan itu adalah aurat, maka apabila ia keluar dari rumahnya maka syetanpun berdiri tegak (dirangsang olehnya) dan paling dekatnya ia mendapatkan rahmat Tuhannya saat ia menetapi dalam rumahnya\" (HR. Turmudzi dari Ibn Mas’ud).\rDalil-dalil diatas menunjukkan kewajiban menutup aurat, tidak menampakkan sesuatu dari tubuhnya dan saat ia keluar, sungguh ia telah terperdaya oleh bujukan syaitan dan juga memperdayai kaum pria hingga terjadilah fitnah karenanya. [ Al-Fiqh al-Islaam IX/319 ].\rARTI TABARRUJ\rتبرج التعريف :1 - التبرج لغة : مصدر تبرج ، يقال : تبرجت المرأة : إذا أبرزت محاسنها للرجال .وفي الحديث كان يكره عشر خلال ، منها : التبرج بالزينة لغير محلها (1) والتبرج : إظهار الزينة للرجال الأجانب وهو المذموم . أما للزوج فلا ، وهو معنى قوله : لغير محلها . (2) وهو في معناه الشرعي لا يخرج عن هذا .قال القرطبي في تفسير قوله تعالى : { غير متبرجات بزينة } (3) أي غير مظهراتولا متعرضات بالزينة لينظر إليهن ، فإن ذلك من أقبح الأشياء وأبعدها عن الحق . وأصل التبرج : التكشف والظهور للعيون . (1)وقال في تفسير قوله تعالى { ولا تبرجن تبرج الجاهلية الأولى } (2) حقيقة التبرج : إظهار ما ستره أحسن .قيل : ما بين نوح وإبراهيم عليهما السلام : كانت المرأة تلبس الدرع من اللؤلؤ غير مخيط الجانبين ، وتلبس الثياب الرقاق ، ولا تواري بدنها . (3)\r__________","part":1,"page":234},{"id":235,"text":"(1) حديث ( كان يكره عشر خلال منها التبرج . . . \" أخرجه أبو داود ( 4 / 427 - ط عزت عبيد دعاس ) وأعله ابن المديني بجهالة أحد رواته ( مختصر السنن للمنذري 6 / 114 نشر دار المعرفة ) . (2) لسان العرب والمصباح المنير مادة : \" برج \" . (3) سورة النور / 60 .(1) الجامع لأحكام القرآن للقرطبي 12 / 309 ، وانظر ابن عابدين 5 / 235 ، وتكملة فتح القدير 8 / 460 ، 465 - 470 ، وقليوبي 3 / 208 - 210 ، وكشاف القناع عن متن الإقناع 1 / 265 ، 5 / 15 - 17 نشر مكتبة النصر الحديثة ، والآداب الشرعية والمنح المرعية 3 / 390 ، والمغني لابن قدامة 6 / 554 - 558 . 560 ط الرياض .(2) سورة الأحزاب / 33 .(3) الجامع لأحكام القرآن للقرطبي 14 / 179 - 180 .\rTABARRUJ adalah pertunjukkan perhiasan dan berbagai keindahan wanita kepada kaum lelaki, dam yang demikian dilarang sedang bila untuk suami maka tidak. Al-Qurthuby berkata “dengan tidak (bermaksud) bertabarruj dengan perhiasan” (QS. An Nuur ayat 60) artinya tidak menampakkan dan menonjolkan perhiasannya agar menjadi perhatian, yang demikian pernuatan paling hina dan jauh dan kebenaran.\rBeliau juga melanjutkan pernyataannya dalam mentafsiri ayat “dan janganlah kalian bertabarruj seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu”. (QS. Al-Ahzaab, 33). Hakikat tabarruj adalah menampakkan perkara yang menutupnya lebih baik.Konon wanita dizaman antara Nabi Nuh As. dan Ibrahim As.\rMemakai baju zirah dari mutiara dengan tanpa terjahit sisi kanan kirinya, mereka juga biasa memakai pakaian-pakaian tipis yang tidak mampu menyembunyikan bentuk tubuhnya. [ Al-Mausuu’ah al-Foqhiyyah X/61 ].","part":1,"page":235},{"id":236,"text":"وَالْمُرَادُ بِالْفِتْنَةِ الزِّنَا وَمُقَدِّمَاته من النَّظَرِ وَالْخَلْوَة وَاللَّمْسِ وَغَيْرِ ذلك..فَمِنْهَا أَنَّ خُرُوجَهَا مُتَبَرِّجَة أَيْ مُظْهِرَةً لِزِينَتِهَا مَنْهِيٌّ عنه بِالنَّصِّ قال تَعَالَى وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَرَوَى ابن حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى اللَّهُ عليه وسلم قال يَكُونُ في أُمَّتِي رِجَالٌ يَرْكَبُونَ على سُرُجٍ كَأَشْبَاهِ الرِّجَالِ يَنْزِلُونَ على أَبْوَابِ الْمَسَاجِدِ نِسَاؤُهُمْ كَاسِيَاتٌ عَارِيَّاتٌ على رُءُوسِهِنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْعِجَافِ الْعَنُوهُنَّ فَإِنَّهُنَّ مَلْعُونَاتٌ وفي حَدِيثٍ آخَرَ مَائِلَاتٌ مُمِيلَاتٌ وَفِيهِ فَإِنَّهُنَّ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ من مَسِيرَةِ كَذَا وَلَا يَخْفَى أَنَّ مَجْمُوعَ هذه الصِّفَات لَا تَحْصُلُ لِلْمَرْأَةِ وَهِيَ في بَيْتِهَا بَلْ يَكُونُ ذلك في خُرُوجِهَا من بَيْتِهَا عِنْدَ حُصُولِ هذه الْهَيْئَةِ فيها وَخَوْفِ الِافْتِتَان بها وَلِذَلِكَ شَرَطَ الْعُلَمَاء لِخُرُوجِهَا أَنْ لَا تَكُونَ بِزِينَةٍ وَلَا ذَاتَ خَلَاخِل يُسْمَعُ صَوْتُهَا فَكَيْفَ يَجُوزُ لِأَحَدٍ أَنْ يُرَخِّصَ في سَبَبِ اللَّعْنِ وَحِرْمَانُ الْجَنَّةِ بِالْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ وَالْمَذْهَب الْقَائِلُ بِأَنَّ كُلَّ حَالَةٍ يُخَافُ منها الِافْتِتَان حَرَامٌ يَدُلُّ على أَنَّ التَّبَرُّج حَرَامٌ وَمِنْهَا تَحْرِيمُ نَظَرِ الْأَجَانِب إلَيْهَا وَنَظَرِهَا إلَيْهِمْ كما صَحَّحَهُ النَّوَوِيُّ وَمِنْهَا مُزَاحَمَةُ الرَّجُلِ في الْمَسْجِدِ أو الطَّرِيقِ عِنْدَ خَوْفِ الْفِتْنَةِ فإن ذلك حَرَامٌ وَرَوَى أبو دَاوُد من حديث أبي أُسَيْدٍ الْأَنْصَارِيِّ أَنَّهُ سمع رَسُولَ اللَّهِ صلى اللَّهُ عليه وسلم يقول وهو خَارِجٌ","part":1,"page":236},{"id":237,"text":"من الْمَسْجِدِ فَاخْتَلَطَ الرِّجَالُ مع النِّسَاءِ في الطَّرِيقِ فقال النبي صلى اللَّهُ عليه وسلم لِلنِّسَاءِ اسْتَأْخَرْنَ فإنه ليس لَكُنَّ أَنْ تُحَفِّفْنَ الطَّرِيقَ عَلَيْكُنَّ بِحَافَّاتِ الطَّرِيقِ قال فَكَانَتْ الْمَرْأَةُ تُلْصَقُ بِالْجِدَارِ حتى أَنَّ ثَوْبَهَا لَيَعْلَقُ بِالْجِدَارِ من لُصُوقِهَا بِهِ فَهَذِهِ الْأَحَادِيث دَالَّةٌ على مَنْعِ الْمُزَاحَمَة بين الرَّجُلِ الْأَجْنَبِيِّ وَالْمَرْأَةِ\r[ Al-Fataawa al-Fiqhiyyah al-Kubroo I/203 ].\rWallaahu A'lamu Bis showaab.\rLink Diskusi :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/380616148627866/\r1405. PEMAKAIAN GIGI PALSU DARI EMAS\rPERTANYAAN :\rDanar Khalafi\rAssalaamu'alaikum. Nderek tanya kang, laki-laki pake Emas apa hukum nya, dan bolehkah pake gigi palsu dengan Emas .. Terimakasih sebelumnya.\rJAWABAN :\r> Dewan Masjid Assalaam\rWa yubaahu syaddu sinnin wa unmulatin bid dzahabi wa ittikhaadzu anfin wa unmulatin minhu.Umdatussalik wa uddatunnasik. \"Dan mubah mengikat gigi dan ruas jari dengan emas, dan memakai hidung dan ruas jari dari emas.Dalam syarahnya (fayd al-ilah al-malik), terkait bolehnya memakai hidung emas dijelaskan kalau boleh memakai hidung emas maka \"wa bil uulaa as-sinnu\", terlebih (boleh) lagi memakai gigi emas.\"\rويباح شد سن وانملة بذهب واتخاذ انف وانملة منه (اي من الذهب وان امكن اتخاذهما من فضة لان الذهب اصفي من الفضة لما روى ابو داود باسناد حسن ان عرفجة اصيب يوم الكلاب بضم الكاف فاتخاذ انفا من ذهب وبالاولى السنفيض الإله المالك شرح عمدة السالك وعدة الناسك","part":1,"page":237},{"id":238,"text":"Dan mubah mengikat gigi dan ruas jari dengan emas, dan memakai hidung dan ruas jari darinya. Maksudnya dari emas meskipun mungkin menggunakan keduanya dari perak karena emas lebih murni dari perak, dengan merujuk pada riwayat Imam Abu Dawud dengan sanad hasan, bahwasanya shahabat 'Arfajah terluka (hidungnya) di hari peperangan kemudian memakai hidung dari emas, dan terlebih lagi (bolehnya) untuk gigi. [ Faydl Al-Ilah Al-Malik Kitab Shalat, Bab Maa Yahrumu Lubsuhu, hal 191 ].\rAl-Iqna' 220/1 :\rوحرم على ذكورها إلا الأنف إذا جدع فإنه يجوز أن يتخذ من الذهب لأن بعض الصحابة قطع أنفه في غزوة فاتخذ أنفا من فضة فأنتن عليه فأمره صلى الله عليه وسلم أن يتخذه من ذهب وإلا الأنملة فإنه يجوز اتخاذها لمن قطعت منه ولو لكل أصبع من الذهب قياسا على الأنف وإلا السن فإنه يجوز لمن قلعت سنه اتخاذ سن من ذهب وإن تعددت قياسا أيضا على الأنف\rDan bahkan secara lugas dinyatakan :\rفإنه يجوز لمن قلعت سنه اتخاذ سن من ذهب وإن تعددت قياسا أيضا على الأنف\rMaka boleh bagi orang yang copot giginya untuk memakai gigi dari emas meskipun jumlahnya banyak, diqiyaskan juga pada hidung emas.\r> Mbah Jenggot II\rNambah sak ndulit\rقوله (وكالشد) الى ان قال .... ويدخل في الشد شد السن وربطه بما فانه يحل وان قدر على غيرهما كما فعل عثمان وانس بن مالك رضي الله عنهما بالنسبة للذهب قيس به الفضة.","part":1,"page":238},{"id":239,"text":"Dan masuk dalam hal menguatkan yaitu menguatkan gigi dan menyambungnya dengan menggunakan emas atau perak. Sesungguhnya hal ini hukumnya adalah boleh, sekalipun mampu untuk menggunakan selain emas dan perak. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh Sayyidina Ustman dan Sahabat Anas bin Malik semoga Allah meridhoi keduanya. Dan diqiyaskan dengan emas adalah perak. [ Fawaidul Janiyyah hal 262 ].\r> Masaji Antoro\rWa'alaikumsalam. Memasang gigi palsu meskipun memakai emas dalam keterangan dikitab Fawaaid al-Janiyyah hal 262 hukumnya boleh\rقوله (وكالشد) الى ان قال .... ويدخل في الشد شد السن وربطه بما فانه يحل وان قدر على غيرهما كما فعل عثمان وانس بن مالك رضي الله عنهما بالنسبة للذهب قيس به الفضة.\r( Ucapan pengarang kitab : dan menguatkan ) sampai pada ucapan : Dan masuk dalam hal menguatkan yaitu menguatkan gigi dan menyambungnya dengan menggunakan emas atau perak. Sesungguhnya hal ini hukumnya adalah boleh, sekalipun mampu untuk menggunakan selain emas dan perak. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh Sayyidina Ustman dan Sahabat Anas bin Malik semoga Allah meridhoi keduanya. Dan diqiyaskan dengan emas adalah perak. [ Fawaaid al-Janiyyah hal 262 ].\rBahkan bila orang yang memasang gigi palsu tersebut dengan dipasangi memakai gigi emas atau perak dan sampai ia meninggal belum dilepas maka apabila mencabut gigi emas tersebut menodai kehormatan mayit, maka hukumnya haram dicabut. Dan apabila tidak, maka bila itu seorang laki – laki yang dewasa maka wajib dicabut, bila seorang wanita atau anak kecil maka terserah kerelaan ahli warisnya.","part":1,"page":239},{"id":240,"text":"ولهذا لو لبس الرجل حرير الحكة او القمل مثلا واستمر السبب المبيح له ذلك التي موته حرم تكفينه فيه عملا بعموم النهي وانقضاء السبب الذي ابيح له من أجله.\rOleh karenanya jika seseorang memakai kain sutera misalnya untuk menghindari gatal – gatal atau kutu, dan sebab yang memperbolehkan pemakaian sutera tersebut sampai menjelang ajalnya, maka haram mengkafani jenasahnya dengan kain sutera tersebut, berdasarkan larangan pemakaian sutera secara umum dan hadisnya sebab yang memperbolehkan dirinya memakai sutera. [ Nihaayah al-Muhtaaj VI/12 ]. Wallaahu A'lamu Bis Showaab.\rLink Diskusi > www.fb.com/groups/piss.ktb/330413710314777/\r1477. PEMAKAIAN AKSESORIS YANG ADA LAMBANG / GAMBAR SALIBNYA\rPERTANYAAN :\rBlack No Sweet\rAssalamu'alaykum, mbah mo tanya : bagaimana hukumnya make kalung aksesoris brbandul salib atau kostum sepakbola yang da gambar salibnya atau poster team favorit yang ada gambar salibnya dan dipajang di kamar ? kalau dah dioven di dokumen mohon disundulkan, syukron\rJAWABAN :\rMbah Jenggot II\rDalam menghukumi seorang muslim yang memakai kalung salib (atau aksesoris lain yang khusus bagi orang kafir dan merupakan tanda kekafiran) harus mempertimbangkan tujuan pemakaiannya :Bila memang ridho dan condong pada agama mereka (orang kafir) maka dianggap murtad .Bila dengan tujuan menghina dan menganggap indahnya kalung tersebut maka berdosa saja.Bila dalam keadaan dorurot maka tidak masalah ,semisal dipaksa memakainya oleh orang orang kafir ,atau memakainya karena tidak tahu bahwa kalung tersebut merupakan tandanya orang kafir .","part":1,"page":240},{"id":241,"text":"وأما ما كان خاصا بالكفار وزيا من أزيائهم التى جعلوها علامة لهم كلبس برنيطة وشد زنار وطرطور يهودي وغير ذلك فمن لبسه من االمسلمين رضا بهم وتهاونا باالدين وميلا للكافرين فهو كفر وردة والعياذ بالله ومن لبسه استخفافا بهم واستحسانا للزي دون دين الكفر فهو اثم قريب من المحرم واما من لبسه ضرورة كأسير عند الكفار ومضطر للبس ذلك فلا بأس به وكمن لبسه وهو لا يعلم انه زي خاص بالكفار وعلامة عليهم أصلا لكن اذا علم ذلك وجب خلعه وتركه وأما ما كان من الألبسة التى لا تختص بالكفار وليس علامة عليهم اصلا بل هو من الألبسة العامة المشتركة بيننا وبينهم فلا شيء فى لبسه بل هو حلال جائز وقال العز ابن عبد السلام واما فعلوا على وفق الإيجاب والندب والإباحة فى شرعنا فلايترك لأجل تعاطيهم إياه فإن الشرع لاينهى عنه على التشبه بما أذن الله اهـ(مجموع فتاوى ورسائل ص : 183)\rLink Asal : www.fb.com/groups/piss.ktb/396832920339522/\r1514. PENGGUNAAN BOLPOIN EMAS OLEH LAKI-LAKI\rPERTANYAAN :\rFaiz Al Dablegi\rAssalamu alaikum. bagaimana hukum laki-laki memakai pena / bolpoin dari emas ? ditunggu referensine.\rJAWABAN :\r> Ibnu Toha\rHaram baik laki-laki atau perempuan, sebab ballpoint / pulpen itu bukan bersifat perhiasan yang dibolehkan untuk perempuan.\r> Abdurrahman As-syafi'i\rWa'alaikum salam,\rفيحرم اتخاذ الانية من الذهب و الفضة فلا يحل لرجل او امراة ان ياكل فيها او يستعملها وكما يحرم استعمالها يحرم اقتناؤها بدون استعمال\rالشعب الفقه على المذاهب الاربعة 417\rKeputusan muktamar ke-2\rS : Bagaimana hukumnya memakai pen emas? Haram ataukah tidak ?","part":1,"page":241},{"id":242,"text":"J : Hukum memakai pen emas adalah haram, karena termasuk larangan memakai bejana dari emas, seperti tempat celak (mirwad), demikian ini menurut madzhab Syafi'i, tetapi dalam madzhab hanafi terdapat pendapat yang membolehkannya. Sumber dasar kitab bajuri alal fathil qorib :\rو لا يجوز في غير ضرورة لرجل و امراة استعمال شىء من اوانى الذهب و الفصة و عند الحنفية قول بجواز ظروف القهوة وان كان المعتمد عندهم الحرمة..............................................\rLink asal : www.fb.com/groups/piss.ktb/413148255374655/\r1574. MENGAPA ALAT MUSIK ADA YANG DI HARAMKAN\rPERTANYAAN :\rBhAnie ShOefyan\rAssalamu'alaikum wr wb. . . . ? Mau mintah penjelasan dateng para-para panjenengan semuwa ?. . , setahu qlo ceee alat-alat musik yang kharom. . . Yaithu alat-alat musik yang mengeluarkan bunyi nyaring ( ting-tingan ) or sejenisnya, dengan cara dipetik or laennya. . .kayak gitar, seruling, orgend / piano, . . . .tapi sekarag ini banyak sekali alat musik tadi, yang dipake' di albanjari or gambus javen. . .? seperti tombok (ketepong). . .bgamanah kah khukumnya ? Apakah ketopong / tombok, termasok alat yang di kharomkan ? Monggo. . .\rJAWABAN :\r> Sunde Pati\rAlat musik itu diharamkan karena di dalamnya bisa menghalangi dzikir pada ALLOH,lalai pada sholat,dan bisa memisah taqwa dan cenderung pada hawa nafsu dan terlena atas kemaksiatan\rإتحاف السادة المتقين الجزء السادس صحيفة 501 ما نصه :\rومنها ألة اللهو المحرمة كاالطبنور والرباب والمزمار وجميع المزامير والشباة من جملتها، وإنما حرمت هذه الأشياء لما فيها من الصد عن ذكر الله وعن الصلاة ومفارقة التقوى والميل إلى الهوى والانغماس في المعاصي.","part":1,"page":242},{"id":243,"text":"إسعاد الرفيق صحيفة 103 ما نصه :\rومنها الاستماع إلى التزمير بنحو المزمار بكسر الميم وإلى الضرب بنحو الطبنور بضم الطاء كصنج بفتح أوله وهو صفر يجعل عليه أوتار يضرب بها أو قطعتان من صفر تضرب إحداهما بالأخر وكذا في شيء من سائر باقي الأصوات المحرمة المضطربة غيرها من الأوتار لأن اللذة الحاصلة منها تدعو إلى فساد كشرب خمر ولأنها شعار أهل الفسق كما مر. إهـ.\rإحياء علوم الدين الجزء الثالث صحيفة 269 ما نصه :\rولا يستثنى من هذه إلا الملاهي والأوتار والمزامير التي ورد الشرع بالمنع منها لا لذاتها. إهـ.وقد ذكر المصنف أن القياس الحل لولا ورود الأخبار وكونها صارت شعار أهل الشرب. إهـ.\r[ Ihya’ Ulumuddin juz II halaman 287 ].\rالعارض الخامس في الآلة بأن تكون من شعار أهل الشرب أو المخنثين وهي المزامر والأوتار وطبل الكوبة فهذه ثلاثة أنواع ممنوعة وما عدا ذلك يبقى على أصل الإباحة\rLink Asal : www.fb.com/groups/piss.ktb/394327390590075/\r1575. BENARKAH NABI MUHAMMAD MENYUKAI BAU WEWANGIAN\rPERTANYAAN :\rEm Muhson\rAssalamu'alaikum wr wb : Benarkah Nabi menyukai bau kemenyan? Tolong jawabannya terima kasih.\rJAWABAN :\r> Awan As-Safaritiyy Asy-syaikheriyy\rIkhroqu al bukhuri 'inda dzikri allahi ta'alaa wa nahwihi ka qiroati al qur'ani wa majlisi al 'ilmi lahu ashlun fi as sunnati min hatsu anna an nabiyya SAW yuhibbu ar riiha ath thiiba al hasana wa yuhibbu at tgiiba wa yasta'maluhuma katsiiron wa yahaddhu 'alaihima wa yaquulu hubbiba ilayya min dunyakum an nisaa'u wa ath thiibu wa ju'ilat qurrotu 'ainii fi ash sholaati.","part":1,"page":243},{"id":244,"text":"Membakar dupa wangi ketika dzikir dll,sperti membaca al qur'an,majlis ilmu yang wangi hukumya sunnah brdasarkan senangya nabi muhammad SAW pada sesuatu yang harum dan nabi senang dengan wewangian,bliau sering memakainya dan mendorong untuk menggunnakanya. [ Bulghotu ath thullab 53-54 ].\r> Sunde Pati\rIni ibaroh dari jawaban mas awan :\rمسئلة ج اخراق البخور عند ذكر الله و نحوه كقراءة القرأن و مجلس العلم له اصل فى السنة من حيث ان النبى صلى الله عليه و سلم يحب الريح الطيب الحسن و يحب الطيب و يستعملها كثيرا\rبلغة الطلاب ص 54-53\rMasalah jim...membakar dupa atau kemenyan ketika berdzikir pada ALLOH dan sebagainya seperti membaca alqur'an atau dimajlis2 ilmu ,mempunyai dasar dalil dari al-hadis yaitu dilihat dari sudut pandang bahwa sesungguhnya nabi muhammad SAW,menyukai bau wangi dan menyukai minyak wangi dan beliau pun sering memakainya. [ BULGHOTUT THULLAB hal 53-54 ].\rقال بعض أصحابنا ويستحب أن يبخر عند الميت من حين يموت لانه ربما ظهر منه شئ فيغلبه رائحة البخور\rQOLA BA'DLU ASHABINA,,WA YUSTAHABBU AN YUBAHKHIRO INDAL MAYYITI MIN HINA YAMUTU LI ANNAHU RUBBAMA DZOHARO MINHU SYAI'UN FA YAGLIBUHU RO'IHATUL BUKHUR\rSahabat2 kita (dari imam syafii) berkata : sesungguhnya disunnahkan membakar dupa didekat mayyit karena terkadang ada sesuatu yang muncul maka bau kemenyan tersebut bisa mngalahkan/menghalanginya. [ almajmu' syarah muhaddzab juz 5/160 ]. Wallaahu A'lamu Bis Showaab.\rLink Asal : www.fb.com/groups/piss.ktb/423354784354002/\r1648. HUKUM BERDANDAN SEPERTI ULAMA'\rPERTANYAAN :\rMumu Bsa\rApa hukumnya orang ga faham masalah agama berdandan dengan dandanan ulama ?\rJAWABAN :","part":1,"page":244},{"id":245,"text":"> Abdullah Afif\rSaya punya dua ta'bir, silahkan di bahas:\rPertama : dari kitab Tanwiirul Quluub halaman 99:\rومن البدع توسيع الثياب والأكمام لكنه مكروه لا حرام إلا ما صارشعارا للعلماء فيندب لهم ليعرفوا ويحرم على غيرهم التشبه بهم في ذلك لئلا يغتر بهم فيستفتوا فيفتوا بغير علم كما أنه يحرم على من ليس بصالح التزيي بزي الصالحين ليغر غيره ومثله لبس العمامة الخضراء لغير شريف وقد جعلت على أولاد فاطمة الزهراء\rKedua : dari kitab Ghidzaa`ul al baab:\rفائدة ) : سئل الحافظ جلال الدين السيوطي عن طالب علم تزيا بزي أهل العلم ، وهو في الأصل من قرى البر ، ثم لما رجع إلى بلاده وعشيرته تزيا بزيهم وترك زي أهل العلم هل يعترض عليه في ذلك أم لا ؟ أجاب بما معناه لما اتصف بالصفتين لا اعتراض عليه في أي الزيين تزيا ، لأنه إن تزيا بزي العلماء فهو منهم ، وإن تزيا بزي أهل بلده وعشيرته فلا حرج عليه اعتبارا بالأصل ولأنه بين أظهر عشيرته وقومه","part":1,"page":245},{"id":246,"text":"[ Faedah ] Al hafidz Jalaluddin al suyuthi di tanta tentang seorang pelajar yang ber dandan dengan dandanan ahlul ilmi -- dan murid tersebut berasal dari daerah perkampungan, kemudian ketika kembali ke negara nya dan berkumpul dengan keluarganya, dia meninggalkan dandanan ahlul ilmi dan kembali memkai dandanan adat nya..apakah bermas'alah badi pelajar tersebut apa tidak ..??? Jawabnya dalam memaknai, ketika dia mengunakan sifat denga dua sifat sekaligus makan tidak di tentang keberadaan nya,apapun bentuk dandanan yang dia gunakan, karena bila dia berdandan dengan dandanan ahlul ilmi ,maka dia termasuk golongan merka alhlul ilmi === dan ketika berdandan dengan tradisi golongan negrinya,dan keluarganya, maka tidak mengapa karena itu dianggap kembali ke asal, dan karena dia menampakkan tradisi keluarga dan golongan di negrinya sang pencari ilmu tadi. [ Maaf bila ada salah terjamah.., Hayat Alkafi ]. Sumber : http://www.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?flag=1&bk_no=44&ID=501\r> Mumu Bsa\rومن البدع توسيع الثياب والأكمام لكنه مكروه لا حرام إلا ما صارشعارا للعلماء فيندب لهم ليعرفوا ويحرم على غيرهم التشبه بهم في ذلك لئلا يغتر بهم فيستفتوا فيفتوا بغير علم","part":1,"page":246},{"id":247,"text":"dan dari sebagian bid'ah, meluaskan pakaian dan kum tetapi hukumnya makruh (bid'ah makruh) bukan haram (bid'ah haram) kecuali pakaian itu menjadi syiar bagi ulama maka hukumnya sunnah bagi mereka (ulama) agar diketahui. dan haram bagi selain ulama menyerupai ulama dalam hal itu agar tidak menipu dengannya, maka mereka dimintai fatwa lalu memberikan fatwa tanpa ilmu.......terjemah bebas.... Jadi kesimpulannya hukumnya HARAM :D...bener ga kang afif ?\rLink Asal : www.fb.com/groups/piss.ktb/417797204909760/\r1654. HUKUM PELURUSAN RAMBUT (REBONDING)\rPERTANYAAN :\rMutia Farida Qusyairi\rMbah jenggot, mau nambah pertanyaan, tadi disebutkan juga para wanita yang mengubah ciptaan Allah, apa rebonding rambut (untuk wanita yang belum menikah) juga termasuk salah satunya ?? Mohon penjelasannya ya mbah..\rJAWABAN :\rMbah Jenggot\rHukum merebonding dan pengeritingan rambut hukumnya haram kecuali bagi wanita yang sudah bersuami dengan syarat ada idzn az-zauj (seizin suami). Sedangkan memodifikasi rambut dengan model punk atau rasta hukumnya haram karena terdapat unsur tasyabbuh bil fussaq (menyerupai orang-orang fasik). R E F E R E N S I\r1. Raudlah Al-Thalibin vol. I hal. 102\r2. Tuhfah Al-Muhtâj vol. VI hal. 351\r3. Bughyah Al-Mustarsyidîn hal. 283\r4. Faidlu Al-Qadir vol VI hal 135\r5. Fath Al-Bari vol V hal 182\r6. Raudlat At-Thalibin vol. I hal. 364\r7. Syarhu An-Nawawi vol VII hal 234\r1. روضة الطالبين وعمدة المفتين الجزء الاول صحـ 102","part":1,"page":247},{"id":248,"text":"فرع وصل المرأة شعرها بشعر نجس أو بشعر آدمي حرام قطعا لأنه الانتفاع بشيء منه لكرامته بل يدفن شعره وغيره وسواء في هذين المزوجة وغيرها وأما الشعر الطاهر لغير الآدمي فإن لم تكن ذات زوج ولا سيد حرم الوصل به على الصحيح وعلى الثاني يكره وإن كانت ذات زوج أو سيد فثلاثة أوجه أصحها إن وصلت بإذنه جاز وإلا حرم والثاني يحرم مطلقا والثالث لا يحرم ولا يكره مطلقا وأما تحمير الوجنة فإن كانت خلية من الزوج أو السيد أو كان أحدهما وفعلته بغير إذنه فهو حرام وإن كان بإذنه فجائز على المذهب وقيل وجهان كالوصل وأما الخضاب بالسواد وتطريف الأصابع فألحقوه بالتحمير قال إمام الحرمين ويقرب منه تجعيد الشعر\r2. تحفة المحتاج في شرح المنهاج الجزء السادس صحـ 315\r(فروع) ويحرم على المرأة وصل شعرها بشعر طاهر من غير آدمي ولم يأذنها فيه زوج أو سيد ويجوز ربط الشعر بخيوط الحرير الملونة ونحوها مما لا يشبه الشعر ويحرم أيضا تجعيد شعرها ووشر أسنانها وهو تحديدها وترقيقها والخضاب بالسواد وتحمير الوجنة بالحناء ونحوه وتطريف الأصابع مع السواد والتنميص وهو الأخذ من شعر الوجه والحاجب المحسن فإن أذن لها زوجها أو سيدها في ذلك جاز لأن له غرضا في تزينها له كما في الروضة وهو الأوجه وإن جرى في التحقيق على خلاف ذلك في الوصل والوشر فألحقهما بالوشم في المنع مطلقا -الى ان قال- هل يكره في غير المزوجة أو يحرم فيه نظر وقضية قول الشارح م ر فإن أذن لها زوجها أو سيدها في ذلك جاز الثاني ويؤيده أنها تجر به الريبة على نفسها\r3. بغية المسترشدين صحـ 283\r(مسئلة ى) ضابط التشبه المحرم من تشبه الرجال بالنساء وعكسه ما ذكروه في الفتح والتحفة والامداد وشن الغارة وتبعه الرملي في النهاية هو ان يتزيا احدهما مما يختص بالاخر او يغلب اختصاصه به في ذلك المحل الذي هما فيه\r4. فيض القدير الجزء السادس صحـ 135","part":1,"page":248},{"id":249,"text":"(من تشبه بقوم) أي تزيا في ظاهره بزيهم وفي تعرفه بفعلهم وفي تخلقه بخلقهم وسار بسيرتهم وهديهم في ملبسهم وبعض أفعالهم أي وكان التشبه بحق قد طابق فيه الظاهر الباطن (فهو منهم) وقيل المعنى من تشبه بالصالحين وهو من أتباعهم يكرم كما يكرمون ومن تشبه بالفساق يهان ويخذل كهم ، ومن وضع عليه علامة الشرف أكرم وإن لم يتحقق شرفه وفيه أن من تشبه من الجن بالحيات وظهر يصورتهم قتل وأنه لا يجوز الآن لبس عمامة زرقاء أو صفراء كذا ذكره ابن رسلان ، وبأبلغ من ذلك صرح القرطبي فقال : لو خص أهل الفسوق والمجون بلباس منع لبسه لغيرهم فقد يظن به من لا يعرفه أنه منهم فيظن به ظن السوء فيأثم الظان والمظنون فيه بسبب العون عليه ، وقال بعضهم : قد يقع التشبه في أمور قلبية من الاعتقادات وإرادات وأمور خارجية من أقوال وأفعال قد تكون عبادات وقد تكون عادات في نحو طعام ولباس ومسكن ونكاح واجتماع وافتراق وسفر وإقامة وركوب وغيرها وبين الظاهر والباطن ارتباط ومناسبة.\r5. فتح الباري لابن حجر الجزء الخامس صحـ 182\rقوله : (باب من أهل ملبدا) أي أحرم وقد لبد شعر رأسه ، أي جعل فيه شيئا نحو الصمغ ليجتمع شعره لئلا يتشعث في الإحرام أو يقع فيه القمل .\r6. روضة الطالبين وعمدة المفتين الجزء الاول صحـ 364\rواعلم أن الإمام الرافعي رحمه الله ترك مسائل مهمة تتعلق بالباب إحداها يكره القزع وهو حلق بعض الرأس سواء كان متفرقا أو من موضع واحد لحديث الصحيحين بالنهي عنه وقد اختلف في حقيقة القزع والصحيح ما ذكرته وأما حلق جميع الرأس فلا بأس به لمن لا يخف عليه تعاهده ولا بأس بتركه لمن خف عليه.\r7. شرح النووي على مسلم الجزء السابع صحـ 234","part":1,"page":249},{"id":250,"text":"قوله ( أخبرني عمر بن نافع عن أبيه عن ابن عمر أن النبي صلى الله عليه وسلم نهى عن القزع قلت لنافع : وما القزع قال يحلق بعض رأس الصبي ويترك بعض وفي رواية أن هذا التفسير من كلام عبيد الله القزع بفتح القاف والزاي وهذا الذي فسره به نافع أو عبيد الله هو الأصح وهو أن القزع حلق بعض الرأس مطلقا ومنهم من قال هو حلق مواضع متفرقة منه والصحيح الأول لأنه تفسير الراوي وهو غير مخالف للظاهر فوجب العمل به وأجمع العلماء على كراهة القزع إذا كان في مواضع متفرقة إلا أن يكون لمداواة ونحوها وهي كراهة تنزيه ، وكرهه مالك في الجارية والغلام مطلقا ، وقال بعض أصحابه لا بأس به في القصة والقفا للغلام ومذهبنا كراهته مطلقا للرجل والمرأة لعموم الحديث . قال العلماء والحكمة في كراهته أنه تشويه للخلق وقيل لأنه أذى الشر والشطارة وقيل لأنه زي اليهود وقد جاء هذا في رواية لأبي داود . والله أعل\rTREND GAYA RAMBUT REBONDING\rKerangka Analisis Masalah : Naluri alami dalam diri setiap manusia untuk selalu terlihat menarik di hadapan orang lain. Mungkin inilah latar belakang berkembangnya berbagai macam bentuk perawatan kecantikan kulit dan rambut. Salah satu yang sedang marak adalah trend gaya rambut. Mulai rambut punk rasta (gimbal) semir merah kuning dan rebounding mulai disukai kaum remaja. Ada yang sekedar ingin tampil gaul n funky ada yang bertujuan menjaga penampilan dan bahkan ada yang merebonding dengan maksud agar rambut lurus dan mudah untuk menggunakan jilbab dll.","part":1,"page":250},{"id":251,"text":"Informasi ; Rebonding adalah salah satu cara meluruskan rambut melalui proses kimiawi agar rambut jatuh lebih lurus dan lebih indah. Dalam sebagian praktek helai rambut yang terkena perlakuan rebonding akan terlihat lurus secara permanen dan tidak bisa pulih seperti sedia kala. Karena sebenarnya bagian rambut tersebut telah rusak. Rambut yang pulih seperti aslinya adalah rambut baru yang muncul menggantikan yang telah rusak. Metode rebonding cenderung variatif. Ada yang dengan mengubah struktur ikatan protein rambut melalui memutuskan ikatan asam amino cystine yang menyebabkan rambut bergelombang atau mengurangi ikal dan volume saja. Daya tahannyapun bervariasi mulai 2 minggu hingga 10 bulan.\rPertanyaan : Bagaimana hukum melakukan rebonding pengeritingan rambut punk dan rasta ? ( Panitia FMPP ).\rJawaban : Khilaf :\r- Diperbolehkan sebab hal tersebut termasuk mengubah bentuk dengan tujuan mendapatkan keindahan (lil jamal)\r- Tidak diperbolehkan karena termasuk mengubah ciptaan Allah (taghyirul khalq)\r1. فتح الباري لابن حجر الجزء العاشر صحـ 377","part":1,"page":251},{"id":252,"text":"قال الطبري : لا يجوز للمرأة تغيير شيء من خلقتها التي خلقها الله عليها بزيادة أو نقص التماس الحسن لا للزوج ولا لغيره كمن تكون مقرونة الحاجبين فتزيل ما بينهما توهم البلج أو عكسه ، ومن تكون لها سن زائدة فتقلعها أو طويلة فتقطع منها أو لحية أو شارب أو عنفقة فتزيلها بالنتف ، ومن يكون شعرها قصيرا أو حقيرا فتطوله أو تغزره بشعر غيرها ، فكل ذلك داخل في النهي . وهو من تغيير خلق الله تعالى . قال : ويستثنى من ذلك ما يحصل به الضرر والأذية كمن يكون لها سن زائدة أو طويلة تعيقها في الأكل أو إصبع زائدة تؤذيها أو تؤلمها فيجوز ذلك ، والرجل في هذا الأخير كالمرأة ، وقال النووي : يستثنى من النماص ما إذا نبت للمرأة لحية أو شارب أو عنفقة فلا يحرم عليها إزالتها بل يستحب . قلت : وإطلاقه مقيد بإذن الزوج وعلمه ، وإلا فمتى خلا عن ذلك منع للتدليس . وقال بعض الحنابلة : إن كان النمص أشهر شعارا للفواجر امتنع وإلا فيكون تنزيها ، وفي رواية يجوز بإذن الزوج إلا إن وقع به تدليس فيحرم ، قالوا ويجوز الحف والتحمير والنقش والتطريف إذا كان بإذن الزوج لأنه من الزينة\r32. حاشية العدوي الجزء الثانى صـ 459\r(وينهى) بمعنى ونهي (النساء) نهي تحريم (عن وصل الشعر وعن الوشم) لقوله عليه الصلاة والسلام \"لعن الله الواصلة والمستوصلة والواشمة والمستوشمة والمتنمصات والمتفلجات للحسن المغيرات خلق الله\"","part":1,"page":252},{"id":253,"text":"(قوله المغيرات) بكسر التحتية المشددة والغين المعجمة صفة لازمة لمن فعل الأشياء المذكورة وهو كالتعليل لوجوب اللعن المستدل به على الحرمة إلا أن الشهاب القرافي قال لم أر للفقهاء الشافعية والمالكية وغيرهم في تعليل هذا الحديث إلا أنه تدليس على الزوج لتكثير الصداق ويشكل ذلك إذا كانوا عالمين به وبالوشم فإنه ليس فيه تدليس وما في الحديث من تغيير خلق الله لم أفهم معناه فإن التغيير للجمال غير منكر في الشرع كالختان وقص الظفر والشعر وصبغ الحناء وصبغ الشعر وغير ذلك .\rWallaahu A'laamu Bis Showaab\rLink Asal :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/245137448842404/\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/268690436487105/\r1686. HUKUM MEMAKAI CINCIN ( BATU AKIK )\rPERTANYAAN :\rYasin Muhamad\rAssalamualaikum, mau tanya bagaimana hukumnya orang yang makai cincin (batu akik) ? tolong penjelasannya.. Wassalam.\rJAWABAN :\r> Abdullah Afif\rBoleh, bahkan bisa mendapat pahala jika mengikuti Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam, karena beliau kadangkala juga memakai aqiq sebagaimana dalam Syarah Muslim lil Imaam an Nawawi juz XIV halaman 71, cetakan ke III tahun 1398 H, Daar al Fikr :\rوفي حديث آخر فصه من عقيق\rWA FII HADIITSIN AAKHARA FASHSHUHUU MIN 'AQIIQ. ( di dalam hadits yang lain adalah batu mata cincinnya (permatane, Jawa) dari aqiq). Wallaahu A'lam.\r> Didy Humaidy\rحديث ـ تختموا بالعقيق فإنه ينفي الفقر ـ الديلمي من حديث أنس وعمر وعلي وعائشة بأسانيد متعددة, وفي اليواقيت للمطرزي أن إبراهيم الحربي سئل عنه فقال صحيح وقال يروى أيضا بالياء التحتية أي اسكنوا بالعقيق وأقيموابه, قلت عند ابن عدي بسند ضعيف من حديث عائشة مرفوعا: تختموا بالعقيق فإنه مبارك. اه الدرر المنتثرة ـ للإمام السيوطي","part":1,"page":253},{"id":254,"text":"Ada hadits : Bercincinlah dengan batu akik, sesungguhnya itu menafikan kefakiran. Diriwayatkan oleh Imam Dailamy dari hadits Anas Umar Ali dan A'isyah rodhiyallahu'anhum dengan banyak sanad. Dalam kitab Yawaqit-nya Imam Muthrizi disebutkan: Ibrohim alharoby ditanya tentang hadits tersebut maka ia berkata: itu hadits shohih. Dan ia berkata haist tersebut diriwayatkan juga dengan ya' yakni : Tinggal-lah di rumah dengan memakai akik. Aku berkata (Imam Suyuthy) diriwayatkan Ibnu Ady dengan sanad dho'if hadits dari hadits Aisyah RA marfu' (sampai pada Rosulullah) : Bercincinlah dengan batu akik, maka sesungguhnya itu diberkahi. [ Hamisy al-fatawilhaditsiyah 122 ].\rLink Asal : www.fb.com/groups/piss.ktb/439570586065755/\r1896. HUKUM BERDANDAN MENYERUPAI WANITA / SEBALIKNYA\rPERTANYAAN :\rCalon Jenazah\rAssalaamualaikum. Semoga para admin dan anggota PIS-KTB selalu dilimpahkan rahmat dan hidayahnya oleh Allah Swt,aamiin . .''Allah melaknat laki-laki yang bergaya menyerupai perempuan,dan perempuan yang bergaya menyerupai laki-laki ( HR Imam Al Bukhari ) ''. Pertanyaannya : Bagaimana kalau misalkan dalam suatu drama,ada laki-laki yang di dandan smpai benar2 mirip dengan perempuan,mulai dari pkaian,wajah smpai ke (maaf) payudara sgala.. Apakah ini termasuk golong seperti hadist di atas ? Mengingat kejadian ini sering terjdi. .\rJAWABAN :\rMbah Jenggot II\rHARAM.\r(مسألة: ي): ضابط التشبه المحرم من تشبه الرجال بالنساء وعكسه ما ذكروه في الفتح والتحفة والإمداد وشن الغارة، وتبعه الرملي في النهاية هو أن يتزيا أحدهما بما يختص بالآخر، أو يغلب اختصاصه به في ذلك المحل الذي هما فيه.","part":1,"page":254},{"id":255,"text":"Batasan penyerupaan yang di haramkan pada kasus penyerupaan orang laki-laki pada perempuan dan sebaliknya adalah apa yang diterangkan oleh Ulama Fiqh dalam kitab Fath aljawaad, Tuhfah, Imdaad dan kitab syun alghooroh. Imam Romli juga mengikutinya dalam kitab Annihaayah, Batasannya adalah : \"Bila salah satu dari lelaki atau wanita tersebut berhias memakai barang yang dikhususkan untuk lainnya atau pakaian yang jamak di gunakan pada tempat tinggal lelaki dan wanita tersebut\". [ Bughyah Almustarsyidiin 604 ]. Wallaahu A'lamu Bis Showaab.\rLink Asal :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/463947173628096/\r2082. HUKUM TINDIK HIDUNG BAGI WANITA\rPERTANYAAN :\rRiiedda Sie Mujahiddah Senja\rAssalamualaikum warrohmatullohi wabarokatuh... Nyuwun sewu,ajeng nderek tangklet, Bagaimana hukumnya tindik di hidung ?? Afwan,hatur nuhun sebelumnya..\rJAWABAN :\rSunde Pati\rTindik hidung atau anggota tubuh yang lain untuk dikasih perhiasan,jika memang adatnya/umumnya para wanita muslimah memakai seperti itu maka hukumnya boleh diqiyaskan pada tindik di telinga dengan catatan tidak mengalami cidera serius karena ada hadis nabi janganlah menciderai diri dan menciderai orang lain\rفتاوى الشبكة الإسلامية - (ج 4 / ص 5320)\rأما ثقب الأنف أو غيره لوضع حلق، فإذا كانت عادة النساء المسلمات التحلي بذلك، فإنه يجوز، قياساً على ثقب الأذن بجامع وجود الحاجة الداعية إلى ذلك، وهي التزين، ولكن بشرط عدم ترتب ضرر لقوله صلى الله عليه وسلم: لا ضرر ولا ضرار.","part":1,"page":255},{"id":256,"text":"فصل: ويباح للنساء من حلي الذهب والفضة والجواهر كل ما جرت عادتهن بلبسه، مثل السوار والخلخال والقرط والخاتم، وما يلبسنه على وجوههن، وفي أعناقهن، وأيديهن، وأرجلهن، وآذانهن وغيره، فأما ما لم تجر عادتهن بلبسه، كالمنطقة وشبهها من حلي الرجال، فهو محرم، وعليها زكاته، كما لو اتخذ الرجل لنفسه حلي المرأة\r[ Al-Mughni Li Ibnul Qudamah, Juz : 3 Hal : 45 ].\rBahkan tindik diperut/pusar juga ada yang membolehkan dengan syarat :\r1. Hal tersebut tidak menjadi syi'arnya wanita-wanita kafir\r2. Hanya dilihat oleh suami\r3. Tidak menimbulkan bahaya\r4. Jika tindik yang dipakai terbuat dari emas atau perak, maka disyaratkan hal tersebut sudah menjadi kebiasaan para wanita.\rووضع الحلي في سرة البطن يجوز بشروط :\rالأول : : ألا يكون شعارا لفئة من نساء الكافرات .\rالثاني : ألا يطلع عليه غير الزوج .\rالثالث : ألا يترتب عليه ضرر .\rالرابع : أن تجري عادة النساء بالتحلي بالذهب على هذه الصفة ؛ لأنه إنما أبيح لها الحلي ، ولم يُبح لها استعمال الذهب مطلقا .\r[ Fatawi Al-Islam Su'alun Wa Jawabun, Fatwa no. 103996 ].\rLink Asal :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/501121529910660/\r2172. HUKUM LAKI LAKI BERAMBUT PANJANG\rPERTANYAAN :\rRampak Naung\rAssalamu alaikum. Mau tanya. Pria berambut panjang boleh nggak ?\rJAWABAN :\r> Mbah Godek\rوكذا باطن عقده أي إن تعقد بنفسه وإن كثر ا ه حج وظاهره وإن قصر صاحبه بأن لم يتعهده بدهن ونحوه وهو ظاهر لعدم تكلفه تعهده","part":1,"page":256},{"id":257,"text":"Begitu juga tidak wajib dibasuh yaitu bagian dalam rambut yang terikat/gimbal, tapi dengan syarat rambutnya menggimbal dengan sendirinya walaupun gimbalnya banyak / tebal, menurut ibnu hajar dhohir keterangan tadi itu walaupun yang pny rambut sembrono contohnya rambutnya tidak dirawat dengan tidak dikasih minyak,.dan perkara ini sudah jelas karena tidak ada perintah untuk merawat rambut. [ hasyiyah jamal juz 1 hal 475 ].\rج: ذهب جماهير الفقهاء إلى أن أفعال النبي صلى الله عليه وسلم التي لم يقترن بها قول بالأمر منه صلى الله عليه وسلم، الصحيح أنها تدل على الإباحة فقط، وهذا قول جماهير الفقهاء، ولم يخالف في ذلك إلا الظاهرية وبعض أهل الحديث، وكان من الفقهاء الذين يقولون بأنها تدل على الإباحة فقط شيخ الإسلام ابن تيمية ~،\rMayoritas ulama berpendapat bahwa perbuatan Nabi (yang tidak terkait dengan ibadah mahdhoh, pent) yang tidak diiringi dengan perintah secara lisan itu hanya menghasilkan hukum mubah. Demikian kaedah yang tepat dalam masalah ini. Inilah pendapat mayoritas pakar fikih yang hanya diselisihi oleh mazhab zhahiri dan sebagian ulama pakar hadits. Diantara pakar fikih yang menganut kaedah ini adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.\rوإذا قلنا إنها للإباحة وكان شُهْرَة في زمان أو مكان فإنه لا يجوز، فتجد أن بعض الناس يطيل الشعر، ويعقد شعره، ويجعل له ضفائر، وربما جعله على كتفيه ثم يقول: هذه سنة النبي صلى الله عليه وسلم.","part":1,"page":257},{"id":258,"text":"Jika katakan bahwa hukum rambut gondrong bagi laki-laki yang merupakan perbuatan Nabi itu mubah dan perkara mubah itu menyebabkan seorang itu popular di masyarakat di sebagian tempat atau di suatu masa maka hukum mubah ini berubah menjadi terlarang. Anda jumpai sebagian laki-laki memanjangkan rambutnya dan mengucirnya lalu beralasan “Ini adalah sunnah Nabi”.\rوالجواب أن هذه ليست سنة بالمعنى الأصولي والمصطلح الفقهي عند الفقهاء، فهي سنة أي طريقة صحيحة،\rKomentar kita untuk orang ini adalah lelaki berambut gondrong bukanlah sunnah Nabi dalam pengertian sesuatu yang berpahala jika dilakukan namun dalam pengertian Nabi melakukannya.\rولكن قال العلماء: الفعل المحض الذي لم يقترن به أمر منه صلى الله عليه وسلم فإنه لا يُعتبر له حكم الاستحباب فضلاً عن الوجوب، ولهذا نقول: إنه مباح.\rNamun ingat, para ulama mengatakan bahwa semata-mata perbuatan Nabi yang non ibadah mahdhoh yang tidak diiringi perintah dari Nabi maka perbuatan Nabi tersebut tidak menghasilkan hukum anjuran, apalagi hukum wajib. Oleh karena itu kami katakan bahwa hukum gondrong untuk laki-laki adalah mubah.\rوإذا قلنا بإباحته فقد ينتقل إلى حكم الكراهة والحرمة إذا كان فيه شهرة، كما يفعل بعض الشباب تديناً يظن أن هذا سنة من سنن النبي صلى الله عليه وسلم،\rJika kita katakan bahwa hukumnya adalah mubah maka perkara mubah ini bisa berubah menjadi makruh atau haram jika menyebabkan syuhror [terkenal karena nyentrik dan aneh-aneh] sebagaimana kelakukan sebagian anak muda yang beranggapan bahwa rambut gondrong adalah bagian dari ajaran agama.","part":1,"page":258},{"id":259,"text":"ويفعله شباب آخرون تقليداً للكفار والغرب ثم إذا نُوصِحَ بذلك قال: إن النبي صلى الله عليه وسلم ترك شعره. وهذا هو الحكم الذي عليه أكثر الفقهاء. والله أعلم.\rSedangkan sebagian anak muda yang lain berambut gondrong karena ikut-ikutan orang kafir atau orang barat kemudian ketika diingatkan dia beralasan bahwa Nabi juga gondrong. Inilah hukum masalah ini berdasarkan kaedah yang dianut oleh mayoritas ahli fikih\r> Sunde Pati\rHukum asal rambut panjang bagi laki-laki adalah boleh dan tiada larangan\rالسائل:المستمع يحي محمد عطية من الجمهورية العراقية ناحية القيارة يقول أكثر الناس بدأوا يطيلون شعورهم حتى لا يعرف الرجل من المرأة والبنت من الولد وبدأت المرأة تقص رأسها وإذا قيل الشعر الطويل حرام للرجال يقولون إن الرسول صلى الله عليه وسلم كان لا يقص شعره حتى يعمل منه جديلة فهل هذا صحيح وهل تطويل الشعر حرام وهل قص الشعر للمرأة حرام أفيدونا وفقكم الله؟ فأجاب رحمه الله تعالى : هذا السؤال يتضمن مسألتين الأولى بالنسبة لتطويل الرجال لشعورهم والثانية بالنسبة لتقصير المرأة من رأسها.","part":1,"page":259},{"id":260,"text":"أما الأول فإن إطالة شعر الرأس لا بأس به فقد كان النبي صلى الله عليه وسلم له شعر يقرب أحيانا إلى منكبيه فهو على الأصل لا بأس به ولكن مع ذلك هو خاضع للعادات والعرف فإذا جرى العرف واستقرت العادة بأنه لا يستعمل هذا الشيء إلا طائفة معينة نازلة في عادات الناس وأعرافهم فلا ينبغي لذوي المروءة أن يستعملوا إطالة الشعر حيث إنه لدى الناس وعاداتهم وأعرافهم لا يكون إلا من ذوي المنزلة السافلة فالمسألة إذن بالنسبة لتطويل الرجل لرأسه من باب الأشياء المباحة التي تخضع لأعراف الناس وعاداتهم فإذا جرى بها العرف وصارت للناس كلهم شريفهم ووضيعهم فلا بأس به أما إذا كانت لا تستعمل إلا عند أهل الضعة فلا ينبغي لذوي الشرف والجاه أن يستعملوها ولا يرد على هذا أن النبي صلى الله عليه وسلم وهو أشرف الناس وأعظمهم جاها كان يتخذ الشعر لأننا نري في هذه المسألة أن اتخاذ الشعر ليس من باب السنة والتعبد وإنما هو من باب اتباع العرف والعادة هذا بالنسبة للمسألة الأولى من السؤال\rfokus\rفأجاب رحمه الله تعالى : هذا السؤال يتضمن مسألتين الأولى بالنسبة لتطويل الرجال لشعورهم والثانية بالنسبة لتقصير المرأة من رأسها. أما الأول فإن إطالة شعر الرأس لا بأس به فقد كان النبي صلى الله عليه وسلم له شعر يقرب أحيانا إلى منكبيه فهو على الأصل لا بأس به فتاوى نور على الدرب - لابن عثيمين - (ج / ص 9\rفتاوى الشبكة الإسلامية - (ج 8 / ص 4015)","part":1,"page":260},{"id":261,"text":"هل يجوز ربط الشعر الطويل بالنسبة إلى الرجل، أفيدوني؟ جزاكم الله خيراً.الفتوىالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه، أما بعد:فلا حرج في أن يربط الرجل شعره إذا لم يتم ذلك بطريقة يحصل فيها التشبه بالنساء، فقد ورد في الأحاديث الصحيحة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان إذا طال شعره جعله ضفائر.روى أبو داود والترمذي وابن ماجه وأحمد عن أم هانئ قالت: قدم النبي صلى الله عليه وسلم إلى مكة وله أربع غدائر تعني عقائص .وفي زاد المعاد لابن القيم رحمه الله قال: كان شعره فوق الجمة ودون الوفرة وكانت جمته تضرب شحمة أذنه، وإذا طال جعله غدائر أربعاً، والغدائر الضفائر .والله أعلم\rدليل المرأة المسلمة لعلي الحجاج الغامدي - (ج 6 / ص 105)\rقال الحافظ ابن حجر رحمه الله : (( الذؤابة ما يتدلى من شعر الرأس ، ثم قال : والغرض منه هنا : قوله : ( فأخذ بذؤابتي ) فإن فيه تقريره - صلى الله عليه وسلم - على اتخاذ الذؤابة )) .وكانت لأنس بن مالك - رضي الله عنه - ذؤابة ، فقالت أمه : لا أجزها كان رسول الله - صلى الله عليه وسلم - يمدها ويأخذ بها وفي هذا تقرير لاتخاذ الذوائب ، وإذا صح في حق الرجل صح في حق المرأة من باب أولى\r> Rulan Hamdi\rحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ هِشَامٍ وَسُفْيَانُ بْنُ عُقْبَةَ السُّوَائِيُّ هُوَ أَخُو قَبِيصَةَ وَحُمَيْدُ بْنُ خُوَارٍ عَنْ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ عَنْ عَاصِمِ بْنِ كُلَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ قَالَ أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلِي شَعْرٌ طَوِيلٌ فَلَمَّا رَآنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ذُبَابٌ ذُبَابٌ قَالَ فَرَجَعْتُ فَجَزَزْتُهُ ثُمَّ أَتَيْتُهُ مِنْ الْغَدِ فَقَالَ إِنِّي لَمْ أَعْنِكَ وَهَذَا أَحْسَنُ","part":1,"page":261},{"id":262,"text":"Aku mendatangi Nabi , sementara aku mempunyai rambut yang panjang. Ketika Rasulullah melihatku beliau bersabda:Lalat, lalat. Wail bin Hujr berkata, Maka aku kembali pulang & memangkasnya, setelah itu aku mendatangi beliau pada keesokan harinya. Beliau bersabda:Sesungguhnya aku tak bermaksud untuk menjelekkanmu namun ini (sekarang) lebih baik.\rLink Asal :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/512672025422277/\r2326. HUKUM BERCUKUR GUNDUL BAGI WANITA\rPERTANYAAN :\rRizqi Mubarok Ibnu Abdirrohman\rAssalamualakum, sya mau nanyak ustadz. bagaimana hukumnya wanita yang rambutnya DiGUNDUL / DIBOTAKI ? Wssalam..terima kasih\rJAWABAN :\r> Ghufron Bkl\rPerempuan mencukur rambut kepalay sampai gundul dengan tanpa dlorurot dan adanya hajat ulama' khilaf :\r1. Makruh menurut Hanafiyah, Syafi'iyah dan Hanabilah\r2. Harom menurut Malikiyah sebagian Syafi'iyah dan Hanabilah.\rLihat :\rhttps;./www.fatawah.com/Fatawah/246.aspx\rالمجلس الإسلامي للإفتاء-بيت المقدس/ما حكم حلق وتقصير شعر المرأة ?\rwww.fatawah.com\rالحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين وبعد : أولاً : حكم الحلق : اختلف الفقهاء في حكم حلق المرأة شعرها لغير ضرورة أو حاجة من مرض وغيره على قولين : القول الأول : وهو مذهب جمهور الفقهاء من الحنفية , والشافعية , والحنابلة , حيث قالوا بكراهة حلق المرأة شعرها لغير ضرو...\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/575244632498349\r2305. MEMAKAI CELAK BAGI LAKI-LAKI\rPERTANYAAN :\r> Zanzanti Yanti Andeslo\rAssalamu'alaikum mau tanya, bolehkah lelaki memakai celak ? Dan hadits tentang celak\rJAWABAN\r> Kang As'ad\rWa'alaikumussalam. Tetap disunnahkan lelaki memakai celak mata.","part":1,"page":262},{"id":263,"text":"> Adolf Ferdinand Laan :\rاكْتَحِلُوا بِالْإِثْمِدِ فَإِنَّهُ يَجْلُو الْبَصَرَ وَيُنْبِتُ الشَّعْرَ\r“Bercelaklah kalian dengan itsmid, karena dia bisa mencerahkan mata dan menumbuhkan rambut” (HR. At Tirmidzi no.1679 dalam Sunan-nya bab Maa jaa-a fil iktihaal, Ahmad no.15341 dalam Musnad-nya).\rStatus hadits : At Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan gharib”. Al Mubarakfuri berkata dalam Tuhfatul Ahwadzi: “Dikeluarkan juga oleh Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban.\rFatwa Lajnah Daimah\rالسؤال الثاني من الفتوى رقم 3598\rس 2 : هل يجوز للرجل أن يكتحل بالكحل أم لا؟ جـ 2 : الحمد لله وحده والصلاة والسلام على رسوله وآله وصحبه . . وبعد : نعم يجوز ذلك ، لأن النبي صلى الله عليه وسلم كان يفعل ذلك عند النوم . وبالله التوفيق ، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم\r> Nabilah Az-Zahrah\rCelakan hukumnya sunnah\r«كان للنبي مكحلة يكتحل منها كل ليلة في كل عين ثلاثة»\rNabi mempunyai sebuah botol celak, beliau celakan setiap malam dengan sebuah botol celak tersebut pada setiap 3 sisi ke dua mata beliau masing-masing.\rفرع: ذكر في هذا الحديث الادهان غباً وهو بكسر الغين وهو أن يدهن ثم يترك حتى يجف الدهن ثم يدهن ثانياً، وأما الاكتحال وتراً فاختلف فيه فقيل يكون في عين وتراً وفي عين شفعاً ليكون المجموع وتراً، والصحيح الذي عليه المحققون أنه في كل عين وتر، وعلى هذا فالسنة أن يكون في كل عين ثلاثة أطراف لما روى ابن عباس رضي الله عنهما قال: «كان للنبي مكحلة يكتحل منها كل ليلة في كل عين ثلاثة» رواه الترمذي وقال: حديث حسن، والوتر بفتح الواو وكسرها لغتان فصيحتان قريء بهما في السبع والله أعلم.\rfokus:","part":1,"page":263},{"id":264,"text":"وعلى هذا فالسنة أن يكون في كل عين ثلاثة أطراف لما روى ابن عباس رضي الله عنهما قال: «كان للنبي مكحلة يكتحل منها كل ليلة في كل عين ثلاثة» رواه الترمذي وقال: حديث حسن، والوتر بفتح الواو وكسرها لغتان فصيحتان قريء بهما في السبع والله أعلم. المجموع شرح المهذب ج 1 ص 332\r> Ibnu Al-Ihsany\rوولد صلى الله عليه وسلم مختونا بيد العناية مكحولا بكحل الهداية\rDiba\rوقد ورد صلى الله عليه وسلم ولد مختونا مكحولا مقطوع السرة\rSimthud duror\r> Timur Lenk\rHukum memakai celak sunnah. Matan Zubad Ibnu Ruslan\rالكتاب: الزبد في الفقه الشافعي المؤلف: شهاب الدين أبو العباس أحمد بن حسين بن حسن بن علي ابن رسلان الشافعي (المتوفى: 844هـ) وَيسْتَحب الاكتحال وترا ... وغبا ادهن وقلم ظفرا\rGhoyatul Bayan Syarah Zubad Imam Romli\rالكتاب: غاية البيان شرح زبد ابن رسلان المؤلف: شمس الدين محمد بن أبي العباس أحمد بن حمزة شهاب الدين الرملي (المتوفى: 1004هـ)","part":1,"page":264},{"id":265,"text":"(وَيسْتَحب الاكتحال بالإثمد لخَبر التِّرْمِذِيّ عَن ابْن عَبَّاس أَنه صلى الله عَلَيْهِ وَسلم قَالَ اكتحلوا بالإثمد فَإِنَّهُ يجلو الْبَصَر وينبت الشّعْر) وَرَوَاهُ النسائى وَابْن حبَان بِلَفْظ إِن من خير أكحالكم الإثمد وَعَن عَليّ أَن رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم قَالَ (عَلَيْكُم بالإثمد فَإِنَّهُ منبتة للشعر مذْهبه للقذى مصفاة لِلْبَصَرِ) وَفِي حَدِيث (عَلَيْكُم بالإثمد المروح عِنْد النّوم) أى المطيب بالمسك وَيسْتَحب كَونه (وترا) لخَبر أَبى دَاوُد وَغَيره باسناد جيد من اكتحل فليوتر) وَاخْتلفُوا فِي قَوْله فليوتر فَقيل يكتحل فِي الْيُمْنَى ثَلَاثًا وَفِي الْيُسْرَى مرَّتَيْنِ فَيكون الْمَجْمُوع وترا وَالأَصَح أَنه يكتحل فِي كل عين ثَلَاثًا لخَبر الترمذى عَن ابْن عَبَّاس وحسنة قَالَ (كَانَ لرَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم مكحلة يكتحل مِنْهَا فِي كل عين ثَلَاثًا) وَاسْتدلَّ للْأولِ بِخَبَر الطَّبَرَانِيّ عَن ابْن عمر قَالَ إِن رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم إِذا اكتحل جعل الْعين الْيُمْنَى ثَلَاثًا وَفِي الْعين الْيُسْرَى مرودين فجعلهم وترا) لَكِن فِي أسناده الْعُمْرَى وَمن لَا يعرف وَقد علم أَنه لَو اكتحل شفعا حصل لَهُ أصل السّنة روى أَبُو دَاوُد أَنه صلى الله عَلَيْهِ وَسلم قَالَ (من اكتحل فليوتر من فعل فقد أحسن وَمن لَا فَلَا حرج) (وغبا ادهن) أى وقتا بعد وَقت بِحَسب الْحَاجة لخَبر الترمذى وَصَححهُ عَن عبد الله بن مُغفل قَالَ (نهى رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم عَن الادهان إِلَّا غبا) وَفِي الشَّمَائِل لِلتِّرْمِذِي عَن أنس بن مَالك قَالَ كَانَ رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم يكثر دهن رَأسه وتسريح لحيته) وَمَا يرْوى فِي كتب الْفُقَهَاء مَرْفُوعا (استاكوا عرضا وادهنوا غبا واكتحلوا وترا) فَغَرِيب قَالَ فِي الْمَجْمُوع الادهان غبا بِكَسْر الْغَيْن","part":1,"page":265},{"id":266,"text":"هُوَ أَن يدهن ثمَّ يتْرك حَتَّى يجِف الدّهن وَقَالَ فِي نكته قَول الشَّيْخ ويدهن غبا أَي وقتا بعد وَقت فيدهن ثمَّ يتْركهُ حَتَّى يجِف رَأسه وَنقل ابْن الرّفْعَة عَن بَعضهم وَقَالَ قبله الغب كَمَا قَالَ ابْن فَارس ان ترد الْإِبِل المَاء يَوْمًا وتدعه يَوْمًا وَبِهَذَا فسر الإِمَام أَحْمد الحَدِيث وَبِه قَالَ بعض الشَّارِحين (وقلم ظفرا) أَي يسن تقليم الأظافر أى قصها بمقص أَو نَحوه لعده من الْفطْرَة وَلِأَنَّهَا تتفاحش بِتَرْكِهَا وَقد يمْنَع الْوَسخ الْحَاصِل تحتهَا من وُصُول مَاء الطَّهَارَة إِلَى مَا تَحْتَهُ وَمحل ندب أزالة الظفر وَالشعر الآتى فِي غير عشر ذى الْحجَّة لمريد التَّضْحِيَة وَوقت قصها عِنْد طولهَا وَيَوْم الْجُمُعَة أولى وَلَا يُعَارضهُ مَا روى عَن أنس قَالَ وَقت لنا فِي قصّ الشَّارِب وتقليم الْأَظْفَار ونتف الْإِبِط وَحلق الْعَانَة أَن لَا نَتْرُك أَكثر من أَرْبَعِينَ يَوْمًا وروى عَن وَصِيَّة على أَن التقليم فِي كل عشرَة أَيَّام ونتف الْإِبِط فِي كل أَرْبَعِينَ وَحلق الْعَانَة فِي كل عشْرين وقص الْأنف فِي كل ثَلَاثِينَ وَالْحق فِي الْجَمِيع اتِّبَاع الْحَاجة الأولى فِي قصها أَن يكون مُخَالفا لخَبر من قصّ أَظْفَاره لم ير فِي عَيْنَيْهِ رمدا) وَفَسرهُ جمَاعَة مِنْهُم أَبُو عُبَيْدَة الله بن بطة بِأَن يبْدَأ بخنصر الْيُمْنَى ثمَّ الْوُسْطَى ثمَّ الأبهام ثمَّ البنصر ثمَّ المسبحة ثمَّ إِبْهَام الْيُسْرَى ثمَّ الْوُسْطَى ثمَّ الْخِنْصر ثمَّ السبابَة ثمَّ البنصر وَفِي الْإِحْيَاء أَنه يبْدَأ فِي الْيَدَيْنِ بمسبحة الْيُمْنَى وَيخْتم بإبهامها وَفِي الرجلَيْن بخنصر الْيُمْنَى وَيخْتم بخنصر الْيُسْرَى قَالَ النووى لَا بَأْس بِهِ إِلَّا تَأْخِيره إِبْهَام الْيُمْنَى فَإِن السّنة إِكْمَال الْيُمْنَى أَولا وَيسن غسل رُءُوس الْأَصَابِع بعد قصّ أظفارها فقد قيل إِن الحك","part":1,"page":266},{"id":267,"text":"بالأظفار قبل غسلهَا يضر بالجسد وَالظفر بِضَم الظَّاء وَالْفَاء وإسكانها وبكسر الظَّاء مَعَ إسكان الْفَاء وَكسرهَا وَيُقَال فِيهِ أظفور\r> Sunde Pati\rإعانة الطالبين (2/ 339) ويسن الاكتحال بالإثمد لخبر الترمذي عن ابن عباس رضي الله عنهما أنه صلى الله عليه وسلم قال اكتحلوا بالإثمد فإنه يجلو البصر وينبت الشعر\rDisunnahkan bercelak dengan celak ismid karena ada hadis dari Atturmudzi dari Ibnu Abbas Ra bahwa sesungguhnya Nabi SAW bersabda : bercelaklah kalian dengan ismid karena bisa menyejukkan/mempertajam mata dan bisa menumbuhkan rambut.\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/571560579533421/\r2615. USTADZ YANG CUKUR HABIS JENGGOTNYA DAN LEBAT KUMISNYA ?\rPERTANYAAN :\r> Adipati Blambangan\rAssalamu'alaikum.. Bagaimana pendapat saudara-saudara tentang seorang ustadz yang mencukur habis jenggotnya dan melebatkan kumisnya ?\rJAWABAN :\r> Rampak Naung\rWa'alaikumussalaam, mencukur jenggot hukumnya khilaf. Sebagian menyatakan haram dan sebagian makruh.\rويحرم حلق اللحية المعتمد عند الغزالي وشيخ الاسلام وابن حجر في التحفة والرملي والخطيب وغيرهم الكراهة\r(فائدة)قال الشيخانيكره حلق اللحية واعترضه ابن الرفعة في حاشية الكافية بأن الشافعي نص في الام التحريم اعانة الطالين ج 2 ص 384\rDiharamkan mencukur jenggot. Mu'tamad al-ghozali dan syaikhul islam (zakaria al anshosi) dan ibnu hajar seperti dituhfah, sedangkan Arromli dan Al-Khothib dan lain-lain memakruhkan.\r(Faidah) berkata Assyaikhoni (Nawawi dan Rofi'i) dimakruhkan mencukur jenggot, akan tetapi Ibnu rif'ah menentangnya di hasyiah Al-kafiyah bahwa al imam As Syafi'i mengenash keharaman mencukur jenggot di dalam kitab Al-Umm.","part":1,"page":267},{"id":268,"text":"> Adipati Blambangan\rDari keterangan di atas tidak ada pertentangan masalah dianjurkannya memotong kumis untuk menyelisihi orang2 musyrik / kafir. Intinya aneh saja ya kalau ada tokoh yang menjadi panutan dan sering muncul di tv justru menyelisihi anjuran untuk memotong kumis dan memelihara jenggot. Afwan saya cuma orang awam yang secara spontan ingin tahu hukum menurut islam atas realita yang saya jumpai.\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/576355405720605\rLINK TERKAIT :\rwww.piss-ktb.com/2012/05/1518-hukum-memelihara-dan-memotong.html\r2823. HUKUM MEMOTONG KUKU DAN RAMBUT DI HARI SABTU DAN SENIN\rPERTANYAAN :\r> Fenti Kartika Kayungyun\rAssalamu’alaikum… Benarkah ada larangan memotong kuku dan rambut di hari sabtu dan senin ?\rJAWABAN :\r> Ulilalbab Hafas\rSependek sepengetahuan saya tidak ada, kalo khilaful aula (bertentangan dengan yang utama / sunnah) mungkin. Ini praktek memotong kuku :\rأما تقليم الاظفار فمجمع علي انه سنة: وسواء فيه الرجل والمرأة واليدان والرجلان: ويستحب ان يبدأ باليد اليمني ثم اليسرى ثم الرجل اليمني ثم اليسرى قال الغزالي في الاحياء يبدأ بمسبحة اليمني ثم الوسطي ثم البصر ثم خنصر اليسرى إلى ابهامها ثم ابهام اليمنى وذكر فيه حديثا وكلاما في حكمته . ثم معنى هذا الحديث اتهم لا يؤخرون فعل هذه الاشياء عن وقتها فان اخروها فلا يؤخرونها اكثر من اربعين يوما وليس معناه الاذن في التأخير اربعين مطلقا","part":1,"page":268},{"id":269,"text":"Sedangkan masalah memotong kuku disepakati oleh Ulama hukumnya sunnat bagi pria, wanita, kuku kedua tangan atau pun kaki, disunnatkan cara memotongnya diawali dari tangan kanan kemudian tangan kiri kemudian kaki kanan dan diakhiri kaki kiri. Namun menurut Imam AlGhozali dalam kitab IHYA berkata “sebaiknya diawali dari jari telunjuk kemudian jari tengah, jari manis, jari kelingking dan di akhiri dengan ibu jari” dalam kitab tersebut beliau menuturkan hadits dan hikmah memotong kuku dengan praktek yang beliau tuturkan dst.\rعن أنس رضى الله عنه قال وقت لنا في قص الشارب وتقليم الاظفار ونتف الابط وحلق العانة ان لا نترك اكثر من اربعين ليلة رواه مسلم\rKemudian pengertian hadits dari sahabat Anas Ra : “Kami memberi batas waktu dalam mencukur kumis, memotong, membersihkan bulu ketiak dan mencukur bulu kemaluan agar tidak ditinggalkan lebih dari batas waktu 40 malam” (HR. Muslim). Artinya para sahabat dalam praktik membersihkan diri tadi tidak sampai mengakhirkan hingga batas akhir 40 hari, andaikan mereka mengakhirkan tidak pernah lewat hingga sampai masa 40 hari, bukan maksudnya membersihkannya di izinkan 40 hari sekali (tetapi setiap saat terlihat panjang meskipun belum sampai 40 hari sunah untuk di potong/dicukur). [ AlMajmu’ Alaa Syarh Almuhadzzab I/287 ].\r> Alif Jum'an Azend","part":1,"page":269},{"id":270,"text":"Khilaful aula maksudnya bertentangan dengan yang utama / sunnah, karena sunnahnya, khususnya untuk yang menghadiri shalat jum'at adalah memotong kuku sebelum pergi shalat Jum'at. Seperti dalam riwayat hadits : \"Adalah Rasulullah SAW memotong kuku dan mencukur kumis pada hari Jumat sebelum beliau pergi sholat Jumat\". (HR. Al-Baihaqi dan At-Thabrani). Riwayat lain menyatakan sunnah memotong kuku di hari kamis.\rKami (syafii) telah menyebutkan tentang kesunahan mandi jum'at dan berangkat pagi-pagi tapi kesunahan itu setelah mencukur rambut, memotong kuku, membersihkan jasad dari kotoran dihari jum'at, menghilangkan bau badan, siwak, memakai parfum dan memakai baju yang bagus.\rالحاوى الكبير ـ الماوردى (2/ 1029)\rقَدْ ذَكَرْنَا اسْتِحْبَابَ غُسْلِ الْجُمْعَةِ وَالْبُكُورِ إِلَيْهَا لَكِنْ يُخْتَارُ ذَلِكَ بَعْدَ حَلْقِ الشَّعْرِ ، وَتَقْلِيمِ الْأَظَافِرِ وَتَنْظِيفِ الْجَسَدِ مِنَ الْوَسَخِ يوم الجمعة ، وَعِلَاجِ مَا يَقْطَعُ الرَّائِحَةَ الْمُؤْذِيَةَ مِنَ الْجَسَدِ ، وَالسِّوَاكِ ، وَمَسِّ الطِّيبِ يوم الجمعة ، وَلُبْسِ أَنْظَفِ الثِّيَابِ يوم الجمعة لِيَكُونَ عَلَى أَحْسَنِ هَيْئَةٍ وَأَجْمَلِ زِيٍّ ، لِمَا رَوَى الشَّافِعِيُّ مِنَ الْحَدِيثِ الْمُتَقَدِّمِ ، وَلِرِوَايَةِ أَبِي هُرَيْرَةَ وَأَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ النَّبِيَّ {صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ} قَالَ : مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ، وَاسْتَاكَ ، وَلَبِسَ أَحَسَنَ ثِيَابِهِ ، وَمَسَّ طِيبًا إِنْ وَجَدَهُ ، وَأَتَى الْجُمُعَةَ ، وَلَمْ يَتَخَطَّ رِقَابَ النَّاسِ ، وَأَنْصَتَ حَتَى يَخْرُجَ الْإِمَامُ ، كَانَتْ كَفَارَتُهُ مِنَ الْجُمْعَةِ إِلَى الَّتِي تَلِيهَا","part":1,"page":270},{"id":271,"text":"Ada riwayat yang berbeda tentang waktu sunnah memotong kuku, ada yang hari kamis dan ada yang hari jum'at.\rالكتب » طرح التثريب للعراقي » كِتَابُ الطَّهَارَةِ » بَابُ السِّوَاكِ وَخِصَالِ الْفِطْرَةِ\rالتَّاسِعَةَ عَشْرَ : اخْتَلَفَتِ الأَحَادِيثُ الْوَارِدَةُ فِي أَوَّلِ أَيَّامِ الأُسْبُوعِ بِقَصِّ الأَظْفَارِ , فَوَرَدَ فِي بَعْضِهَا يَوْمُ الْجُمُعَةِ , وَفِي بَعْضِهَا يَوْمُ الْخَمِيسِ , قَالَ الْبَيْهَقِيُّ فِي سُنَنِهِ الْكُبْرَى : رَوَيْنَا عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ مُرْسَلا , قَالَ : كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ \" يَسْتَحِبُّ أَنْ يَأْخُذَ مِنْ شَارِبِهِ وَأَظَافِرِهِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ \" انْتَهَى.\rMemang ada keterangan (yang belum pasti sumbernya) tentang memotong kuku :\r1-bila memotong kuku hari sabtu, dapat menyebabkan kerusakan\r2-bika memotong kuku di hari ahad, dapat menghilangkan keberkahan\r3-bila motong kuku di hari senin, dapat menyebabkan cepat pinter\r4-bila motong kuku di hari selasa, dikhawatirkan kerusakan pada badan\r5-bila motong kuku di hari rabu, dapat menyebabkan kerusakan pada akhlaq\r6-bila motong kuku di hari kamis, bisa menyebabkan kaya\r7-bila motong kuku di hari jumat, dapat menyebabkan jadi orang alim serta halim dan tidak gampang marah\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/634038003285678/\rLINK TERKAIT :\rwww.piss-ktb.com/2012/02/1013-tuntunan-cara-memotong-kuku.html\rhttp://huda-sarungan.blogspot.com/2013/04/669-kesunnahan-mencukur-pada-hari-jumat.html\r2902. HUKUM LELAKI MEMAKAI CADAR\rPERTANYAAN :\r> Zanzanti Yanti Andeslo","part":1,"page":271},{"id":272,"text":"Assalamu'alaikum, kalo wanita memakai cadar kan di dokumen sudah ada, yang saya mau tanyakan bagaimana hukum lelaki memakai cadar ?\rJAWABAN :\rWa'alaikumussalaam, orang laki-laki tidak dituntut untuk memakai cadar. Meski haram melihat wajah laki-laki jika menimbulkan fitnah, jika tidak maka tidak haram. Namun jika melihat situasi dan kondisi, hukumnya bisa diperinci : bisa jadi Mubah, Sunnah, Haram, Wajib. Contoh : Kalau diyakini laki-laki memakai cadar, tapi mau buat nyuri, seperti ala Ninja, maka Haram, dan kalau tidak memakai cadar dan yakin mau dibunuh, maka Wajib pakai cadar, dan kalau tidak ada masalah, maka boleh. Pada kondisi normal, Wanita saja tidak diwajibkan memakai cadar.\r> Ibnu Al-Ihsany\rNgaji Nihayatuzzain Fi Irsyadil Mubtadiin. Pengarang: Abu Abdil Mu'thi Muhammad bin Umar bin Ali Nawawi Al-Jawi Al-BanteniHal. 47 Dar Ihya' Al-Kutub Al-Arabiyah :\rوحاصل القول فيما يتعلق بالعورة أن الرجل له ثلاث عورات ؛ إحداها ما بين سرته ، وهي عورته في الصلاة ولو في الخلوة ، وعند الذكور ، وعند النساء المحارم\rKesimpulan dari pendapat ulama' dalam masalah yang berkaitan dengan aurat bahwa orang laki-laki auratnya ada tiga (macam):Pertama: area antara pusar dan lutut, ini aurat laki-laki ketika dalam keadaan shalat meskipun dalam keadaan sepi, dan ketika bersama orang laki-laki, dan perempuan-perempuan mahram.\rثانيتها ؛ السوءتان ؛ أي القبل والدبر ، وهي عورته في الخلوة\rYang Kedua: Dua perkara yang buruk yaitu qubul dan dubur, ketika dalam keadaan sendirian (bukan sedang shalat).","part":1,"page":272},{"id":273,"text":"ثالثها ؛ جميع بدنه وشعره حتى قلامة ظفره وهي عورته عند النساء الأجانب فيحرم على المرأة الأجنبية النظر إلى شيء من ذلك ، ولو علم الشخص أن الأجنبية تنظر إلى شيء من ذلك وجب حجبه عنها\rYang Ketiga: kesemua badan, rambut (bulu) hingga potongan kukunya laki-laki, adalah auratnya ketika di sisi perempuan lain (bukan mahram/istri), maka haram atas perempuan lain melihat sesuatu dari hal tersebut. Jika seorang laki-laki mengetahui bahwa perempuan lain melihat sesuatu dari hal tersebut maka wajib menutupi dari perempuan itu.\rولسنا نقول ؛ إن وجه الرجل في حقها عورة كوجه المرأة في حقه بل هو كوجه الصبي الأمرد في حق الرجل ، فيحرم النظر عند خوف الفتنة فقط ، فإن لم تكن فتنة فلا ، إذ لم يزل الرجال على ممر الزمان مكشوفي الوجوه والنساء يخرجن متنقبات ، ولو كان وجوه الرجل عورة في حق النساء لأمروا بالتنقب أو منعوا من الخروج إلا لضرورة\rDan kami bukanlah mengatakan bahwa wajah laki-laki merupakan aurat dalam haq perempuan sebagaimana wajah perempuan dalam haq laki-laki. Tetapi wajah laki-laki dalam haknya perempuan itu seperti wajah bocah laki-laki amrod dalam haknya laki-laki, maka diharamkan melihat ketika takut fitnah saja, jika tidak ada fitnah maka tidak. Karena tidak henti-hentinya sepanjang zaman laki-laki terbuka wajahnya sedangkan perempuan keluar dengan memakai kain penutup muka/wajah (cadar) mereka, jika wajah orang laki-laki merupakan aurat dalam haq perempuan, niscaya mereka diperintah memakai kain penutup muka (cadar) atau dilarang keluar rumah kecuali karena darurat.","part":1,"page":273},{"id":274,"text":"Jadi orang laki-laki tidak ada kewajiban memakai cadar. Dan haram melihat wajah laki-laki jika menimbulkan fitnah. Jika tidak maka tidak haram.\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/693087514047393\r2968. HUKUM MENCABUT BULU HIDUNG\rPERTANYAAN :\r> Edo Doe Deo\rMohon penjelasan hukum ''MENCABUT BULU HIDUNG'' kadang saya merasa geli & ga enak dengan bulu hidung.. Dan tadi saya baca ada artikel, menurut kesehatan begini ''Mencabut Bulu Hidung Berujung Maut'' sedemikiankah efek mencabut bulu tersebut. Kalau menurut hukum Islam??\rJAWABAN :\r> Ical Rizaldysantrialit\rDalam Al-Fiqh 'Ala Madzahibi Al-Arba'ah Juz 2 Hal 43-44 diterangkan tentang Hukum Menghilangkan Bulu Dan Menggunting Kuku :\rفي حكم إزالة الشعر وقص ا?ظافر تفصيل المذاه\rالشافعية - قالوا : ويكره نتف شعر ا?نف بل يسن قصه إن طال وأن يتركه لما فيه من المنفعة الصحية\rAsy-syafi'iyyah :\rDimakruhkan mencabut bulu hidung,akan tetapi disunahkan mengguntingnya jika dirasa panjang,dan biarkan tetap ada karena keberadaanya mempunyai manfaat kesehatan (sbgai filter udara)\rالحنفية - قالوا : وأما حلق شعر الظهر والصدر فهوخ?ف ا?دب\rHanafiyyah :\rAdapun mencukur bulu yang tumbuh dipunggung dan didada,hukumnya khilaful adab/menyalahi adab\rالمالكية - قالوا : -ويباح حلق جميع الشعر الذي على البدن كشعر الصدر واليدين وا?لية والشعر الذي على حلقة الدبر\rMalikiyyah :\rDiperbolehkan mencukur seluruh bulu yang tumbuh dibadan seperti bulu dada dan bulu di kedua tangan,bulu dibokong (maaf, dipantat) dan bulu disekitar anus. Wallahu a'lam\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/730312726991538/\r3026. HUKUM MEMAKAI CELAK SELAIN WARNA HITAM\rPERTANYAAN:","part":1,"page":274},{"id":275,"text":"> Ummi Af-idah\rAssalamu'alaykum...afwan, mau tanya, emm... pada umumnya yang namanya Celak mata, itu berwarna Hitam, tapi... skarang ini, banyak macam warna, Bolehkah pakai celak selain warna Hitam? & tetap dapatkah kesunahannya?\rJAWABAN :\r> Rampak Naung\rWa'alaikum salam. Bercelak ada beberapa hukum :\r1. Bercelak hitam dengan tujuan berhias, dan ini haram bagi orang ihram dengan kesepakatan ulama'. Dan wajib membayar kafarot kambing oleh pendapa yang paling berhati-hati.\r2. Bercelak hitam tampa ada tujuan berhias.\r3. Bercelak selain hitam dengan tujuan berhias.( lebih utama berhati hati menjahui contoh ke 2 dan ke 3, dan membayar kafarat dalam ke duanya )\r4. Bercelak selain hitam tampa bertujuan berhias, dan ini boleh dan tidak ada kafarot.\rMafhumnya, Dalam keadaan tidak ihram, bebas, hitam , tidak hitam, bertujuan berhias atau tidak.\rمناسك الحج - الميرزا جواد التبريزي - الصفحة 12010 - الاكتحال مسألة 246: الاكتحال على صور:1 - أن يكون بكحل أسود مع قصد الزينة. وهذا حرام على المحرم قطعا، وتلزمه كفارة شاة على الأحوط الأولى.2 - أن يكون بكحل أسود، مع عدم قصد الزينة.3 - أن يكون بكحل غير أسود مع قصد الزينة، والأحوط الاجتناب في هاتين الصورتين، كما أن الأحوط الأولى التكفير فيهما.4 - الاكتحال بكحل غير أسود ولا يقصد به الزينة، ولا بأس به، ولا كفارة عليه بلا اشكال.(120)\rApakah disunnahkan bercelak selain hitam? Jika celak yang dipakai dari batu istmid, maka tetap sunnah, karena batu istmid berfaidah mengobati mata, dan menyuburkan bulu mata\rكشاف القناع عن متن الإقناع 2/230","part":1,"page":275},{"id":276,"text":"5511 - (عليكم بالإثمد ) الكحل الأسود أي الزموا التكحل به (فإنه يجلو البصر) أي يزيد نور العين بدفعه المواد الرديئة المنحدرة من الرأس (وينبت الشعر) بتحريك العين هنا أفصح للازدواج والمراد شعر هدب العين لأنه يقوي طبقاتها وهذا من أدلة الشافعية على ندب الاكتحال بالأثمد قال ابن العربي: التكحل مشروع مستثنى من التداوي قبل نزول الداء الذي هو مكروه طباً وشرعاً وذلك لحاجة الانتفاع بالبصر وكثرة تصرفه وعظيم نفعه وقيل إنه يطرأ على البصر من الغبار ما يكون عنه القذى وينزل منه بالعين ما يؤذيها فيشرع التكحل ليزول ذلك الداء فهو تطبب بعدنزول الداء لا قبله\r443ومنافع الاكتحال كثيرة وأجود الأكحال وأيسرها وجوداً ـ سيما بالحجاز ـ الإثمد.\rWallahu A'lam Bis Shawaab\rLINK TERKAIT:\rMEMAKAI CELAK BAGI LAKI-LAKI\rwww.piss-ktb.com/2013/04/2305-memakai-celak-bagi-laki-laki.html\rKHASIAT BERCELAK DENGAN BATU ITSMID\rwww.fb.com/notes/757804247575719\rLINK DISKUSI:\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/751994614823349/\rwww.fb.com/notes/757352794287531\r3027. KHASIAT BERCELAK DENGAN BATU ITSMID\rOleh: Hariz Jaya\rItsmid merupakan batu hitam yang sudah dikenal, agak kemerahan, adanya di negeri Hijaz, namun yang paling bagus adalah dari Asbahan. Terjadi perselisihan, apakah itsmid itu merupakan nama batu yang diambil sebagai celak, atau dia adalah celak itu sendiri.\rAt Turbasyti mengatakan, itsmid adalah batu tambang dan disebutkan bahwa dia merupakan celak dari Ashfahan, yang mampu mengeringkan air mata dan bisul, menyehatkan mata dan pandangan, apalagi buat orang jompo dan anak-anak.\r- Kitab Tuhfatul Ahwadzi Syarah Sunan Tirmidzi Juz 4 Halaman 455 :","part":1,"page":276},{"id":277,"text":"قوله: (وخير ما أكتحلتم به) بالنصب وجوز رفعه (الإثمد) بكسر الهمزة والميم بينهما ثاء مثلثة ساكنة. وحكى فيه ضم الحمرة حجر معروف أسود يضرب إلى الهمزة يكون في بلاد الحجاز وأجوده يؤتى من أصبهان قاله الحافظ. وقال التوربشتي: هو الحجر المعدني، وقيل هو الكحل الأصفهاني ينشف الدمعة والقروح ويحفظ صحة العين ويقوي غصنها لا سيما للشيوخ والصبيان (فإنه) أي الإثمد أو الاكتحال به (يجلو البصر) من الجلاء أي يحسن النظر ويزيد نور العين وينظف الباصرة لدفع الردية النازلة إليها من الرأس (ينبت) من الإنبات (الشعر) بفتح الشين والعين المهملة ويجوز إسكانها، والمراد به هنا الهدب وهو بالفارسية شره وهو الذي ينبت على أشفار العين (مكحلة) بضمتين بينهما ساكنة اسم آلة الكحل، وهو الميل على خلاف القياس، والمراد منها ههنا ما فيه الكحل (يكتحل بها) كذا في النسخ الموجودة بها، وفي جميع روايات الشمائل \"منها\" فالباء بمعنى من كما قيل في قوله تعالى: {يشرب بها عباد الله}. قوله: (هذا حديث حسسن غريب) وأخرجه الترمذي في باب الحجامة\r- Kitab Majmu’ Syarah Muhadzdab Juz 1 Halaman 281 :\r(فرع)ذكر في هذا الحديث الادهان غبا وهو بكسر الغين وهو أن يدهن ثم يترك حتى يجف الدهن ثم يدهن ثانيا: وأما الا كتحال وترا فاختلف فيه فقيل يكون في عين وترا وفي عين شفعا ليكون المجموع وترا والصحيح الذى عليه المحققون انه في كل عين وتر وعلى هذا فالسنة أن يكون في كل عين ثلاثة أطراف لما روى ابن عباس رضي الله عنهما قال كان للنبى صلى الله عليه وسلم مكحلة يكتحل منها كل ليلة في كل عين ثلاثة رواه الترمذي وقال حديث حسن والوتر بفتح الواو وكسرها لغتان فصيحتان قرئ بهما في السبع والله أعلم\r- Sunan Abu Daud No 3878 Juz 2 Halaman 401 :","part":1,"page":277},{"id":278,"text":"حدثنا أحمد بن يونس حدثنا زهير حدثنا عبد الله بن عثمان بن خثيم عن سعيد بن جبير عن ابن عباس قالقال رسول الله صلى الله عليه و سلم \" البسوا من ثيابكم البياض فإنها من خير ثيابكم وكفنوا فيها موتاكم وإن خيرا أكحالكم الإثمد يجلو البصر وينبت الشعر\rArtinya : Telah Menceritakan kepada kami ahmad bin yunus, telah menceritakan kepada kami zuhair, telah menceritakan kepada kami abdullah bin utsman bin khotsim, dar sa’id bin jubair, dari Ibnu Abbas, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda, \"Pakailah pakaian berwarna putih, karena itu adalah pakaianmu yang terbaik, dan kafanilah orang yang telah meninggal dunia dengan kain putih. Sesungguhnya celak yang paling baik adalah Al Itsmid (nama celak mata) yang dapat membuat penglihatan lebih tajam dan menumbuhkan rambut. (HR. Abu Daud No 3878 Juz 2 Halaman 401)\rحدثنا محمد بن حميد حدثنا ابو داود هو الطيالسي عن عباد بن منصور عن عكرمة عن ابن عباس أن النبي صلى الله عليه و سلم قال اكتحلوا بالإثمد فإنه يجلو البصر وينبت الشعر وزعم أن النبي صلى الله عليه و سلم كانت له مكحلة يكتحل بها كل ليلة ثلاثة في هذه وثلاثة في هذه","part":1,"page":278},{"id":279,"text":"Artinya : Muhammad bin Humaid menceritakan kepada kami, Abu Daud yaitu Ath-Thayalisi menceritakan kepada kami, dari 'Abbad bin Manshur, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas bahwa Nabi SAW bersabda, \"Bercelaklah (kalian) dengan batu ismid, karena sesungguhnya ia dapat mempertajam penglihatan mata dan menumbuhkan rambut\". Ibnu Abbas menyangka bahwa Nabi memiliki alat celak yang digunakan untuk mencelak mata pada setiap malam, tiga kali di mata yang kanan dan tiga kali di mata yang kanan dan yang kiri. (HR. Tirmidzi No. 1757 Juz 4 Halaman 234). Wallahu a'lam.\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/751994614823349/\rwww.fb.com/notes/757804247575719\r3873. MANFA'AT MEMAKAI CELAK MATA\rPERTANYAAN :\r> Khodijah Muhadi\rAssalaamu alaikum. Jika di dokumen sudah ada mohon disundulkan manfaat dari iktihal / cela'an. Terimakasih\rJAWABAN :\r> Rizalullah Santrialit\rWa alaikumus salaam. Jika celak yang dipakai dari batu istmid, maka tetap sunnah, karena batu istmid berfaidah mengobati mata, dan menyuburkan bulu mata\rكشاف القناع عن متن الإقناع 2/230\r(عليكم بالإثمد ) الكحل الأسود أي الزموا التكحل به (فإنه يجلو البصر) أي يزيد نور العين بدفعه المواد الرديئة المنحدرة من الرأس (وينبت الشعر) بتحريك العين هنا أفصح للازدواج والمراد شعر هدب العين لأنه يقوي طبقاتها وهذا من أدلة الشافعية على ندب الاكتحال بالأثمد قال ابن العربي: التكحل مشروع مستثنى من التداوي قبل نزول الداء الذي هو مكروه طباً وشرعاً وذلك لحاجة الانتفاع بالبصر وكثرة تصرفه وعظيم نفعه وقيل إنه يطرأ على البصر من الغبار ما يكون عنه القذى وينزل منه بالعين ما يؤذيها فيشرع التكحل ليزول ذلك الداء فهو تطبب بعدنزول الداء لا قبله","part":1,"page":279},{"id":280,"text":"443ومنافع الاكتحال كثيرة وأجود الأكحال وأيسرها وجوداً ـ سيما بالحجاز ـ الإثمد.\r> Mas Hamzah\r- kitab syarah misykatul masobih\rوعن ابن عباس - رضي الله عنهما - أن النبي - صلى الله عليه وسلم - قال : \" اكتحلوا بالإثمد ، فإنه يجلو البصر ، وينبت الشعر \"\rأي دوموا على استعماله ، وهو بكسر الهمزة والميم بينهما مثلثة ساكنة حجر يكتحل به . قيل : هو الكحل المعروف ، والأظهر أنه نوع خاص منه لما في رواية للترمذي ، عن ابن عباس أن خير أكحالكم الإثمد .قال التوربشتي : هو الحجر المعدني ، وقيل : هو الكحل الأصفهاني ينشف الدمعة والقروح ويحفظ صحة العين ويقوي غصنها ، لا سيما للشيوخ والصبيان .\r( فإنه ) : أي الإثمد أو الاكتحال به ( يجلو البصر ) : من الجلاء أي يحسن النظر ، ويزيد نور العين ، وينظف الباصرة لدفع المواد الردية النازلة إليها من الرأس .\rوعند أبي عاصم والطبري من حديث علي بسند حسن : عليكم بالإثمد ، فإنه منبتة للشعر مذهبة للقذى مصفاة للبصر .\rورواه البغوي في مسند عثمان عنه بلفظ : \" عليكم بالكحل ، فإنه ينبت الشعر ويشد العين \"\rDiriwayatkan dari Abdullah bin Abbas - rodliyallohu anhuma - sesungguhnya Nabi - shollallohu alaihi wasallam - bersabda :\r: \" اكتحلوا بالإثمد ، فإنه يجلو البصر ، وينبت الشعر \"\r\"Bercelaklah dengan itsmid, karena dapat menjernihkan penglihatan, dan menumbuhkan bulu.\"\rArtinya bercelaklah selalu dengan menggunakan itsmid. Menurut satu pendapat: itsmid adalah celak yang sudah dimaklumi. Pendapat adhhar itsmid adalah satu jenis/macam tertentu dari celak karena sebuah riwayat dari Imam at-Tirmidziy, dari Abdullah bin Abbas:\rأن خير أكحالكم الإثمد","part":1,"page":280},{"id":281,"text":"\" Sesungguhnya paling bagusnya celak kalian adalah itsmid.\" At-turbasytiy berkata: itsmid adalah batu ma'dan. Menurut pendapat lain : adalah batu asfihan yang dapat membersihkan belek/air mata dan luka, memelihara kesehatan mata dan menguatkan rantingnya, apalagi untuk orang tua dan anak-anak.\rCelak itu menjernihkan mata artinya mengoptimalkan kejernihan penglihatan, menambah cahaya mata (jadi bersinar), membersihkan mata dengan mencegah kotoran yang turun dari kepala.\rDari Abi 'Ashim dan at-Thobariy dari 'Ali dengan sanad yang hasan :\rعليكم بالإثمد ، فإنه منبتة للشعر مذهبة للقذى مصفاة للبصر\r\"Bercelaklah menggunakan itsmid, karena dapat menumbuhkan bulu, menghilangkan kotoran, dan menjernihkan penglihatan.\"\rImam Al-Baghowiy meriwayatkan dari 'Utsman dengan lafadh: :\r\" عليكم بالكحل ، فإنه ينبت الشعر ويشد العين \"\r\"bercelaklah kalian, karena itu dapat menumbuhkan bulu dan menguatkan mata.\"\rSelain manfaat duniawi (mencerahkan mata dll ), ada juga manfaat ukhrowinya.\r- kitab syarah as syamail, muallif ali al qori', muallif yang sama dengan kitab syarah misykah di atas.\r( فإنه يجلو البصر ، وينبت الشعر ) :","part":1,"page":281},{"id":282,"text":"وتعليله بالمنافع الدنيوية لا ينافي كون الأمر للسنية لاسيما وقد وقعت مواظبته الفعلية وترغيباته القولية ، وتلك المنافع وسيلة إلى الأمور الأخروية كمعرفة الطهارة وتوجه القبلة وغير ذلك مما يترتب على منافع البصر حتى فضله بعضهم على السمع ، متعنا الله تعالى بهما ، فلا يلتفت إلى ما قاله العصام من أنه لما كان غالب ما يأمر به النبي صلى الله عليه وسلم من المصالح الدينية ، نبه على أن هذا الأمر ليس منها بل لمصلحة البدن من غير أن يتعلق به ثواب وعقاب ، وأن الناس يتفاوتون في الائتمار به على تفاوت حاجتهم .\rنعم ، في التعليل إشارة لطيفة إلى أن المكتحل إذا أراد تحصيل السنة ينبغي أن يقصد بالاكتحال المعالجة والدواء لا مجرد الزينة كالنساء ، ولذا ذهب الإمام مالك إلى كراهة الاكتحال للرجال مطلقا إلا للتداوي ، والله هو الهادي\rPemberian alasan dengan manfaat-manfaat yang bersifat duniawi terhadap masalah penggunaan celak itu tidaklah menafikan terhadap kesunahan penggunaan celak. Apalagi sungguh banyak hal terjadi yang mana rutinitas yg bersifat praktis (praktek/perbuatan) bersamaan dengan motivasi (dorongan/anjuran) yang berupa ucapan.","part":1,"page":282},{"id":283,"text":"Manfaat-manfaat di atas merupakan wasilah (perantara) untuk hal-hal yang bersifat ukhrowiy. Seperti halnya: mengetahui thoharoh (bersuci), menghadap kiblat, dan lain-lain dari hal-hal yang timbul dari penglihatan sehingga sebagian kaum lebih mengunggulkannya daripada pendengaran. Semoga Allah menghiasi kita dengan keduanya. Maka tidak perlu menengok/menggubris terhadap apa yang diutarakan oleh al-'Ishom yanv menyatakan bahwa \"ketika umumnya hal yang diperintahkan oleh Nabi shollallohu alaihi wasallam itu untuk kemashlahatan yanv bersifat diniyah, maka demikian itu memperingatkan bahwa hal ini (mengenai celak) bukanlah termasuk bagian ini (kemaslahatan diniyah) akan tetapi untuk kemaslahatan badan/tubuh yang tidak ada kaitannya dengan pahala dan siksa. Dan manusia itu berbeda-beda antara satu sama lain dalam hal yang diperintahkan sesuai dengan perbedaan hajat masing-masing.\"\rIya benar demikian, di dalam alasan penggunaan celak itu terdapat isyaroh bahwa orang yang bercelak itu ingin menghasilkan kesunahan, seyogyanya dengan bercelak itu bertujuan untuk penyembuhan dan pengobatan bukan hanya berhias sebagaimana para wanita. Dan karena bal inilah Imam Malik berpendapat makruh bercelak bagi kaum lelaki secara mutlak kecuali karena tujuan pengobatan. Dan Allah adalah Dzat yang Maha Pemberi Petunjuk. Wallohu a'lam bish-showab. (Terj. Dik Ibnu Al-Ihsany Rinduku).\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/916667965022679/\rwww.fb.com/notes/928651247157684\rBACA JUGA :\rwww.piss-ktb.com/2014/04/3026-hukum-memakai-celak-selain-warna.html","part":1,"page":283},{"id":284,"text":"3073. SUNNAH MEMAKAI CINCIN DI JARI KELINGKING TANGAN KANAN\rPERTANYAAN :\r> Elang\rAssalamualaikum poro sedulur, mau nanya...\ra. Hukum memakai cincin (bukan cincin emas) bagi laki-laki.\rb. Dan hukum memakai cincinnya di jari telunjuk dan jari tengah pada tangan kanan, dan lebih baik dipakai di tangan jari kanan / jari kiri. Dalam kasus ini biasanya cincin agak sedikit kebesaran untuk dipakai di jari yang lain selain jari telunjuk & jari tengah. Mohon pencerahannya poro sedulur semua. Terimakasih [Wong Demak]\rJAWABAN :\r> Mas Hamzah\rBerdasar konsensus (ijma') kaum muslimin bahwa laki-laki boleh memakai cincin dari perak, kitab sarah nawawi 'alal muslim :\rقوله : ( اتخذ النبي صلى الله عليه وسلم خاتما من ورق ) الورق الفضة ، وقد أجمع المسلمون على جواز خاتم الفضة للرجال ، وكره بعض علماء الشام المتقدمين لبسه لغير ذي سلطان ، ورووا فيه أثرا ، وهذا شاذ مردود .\rSedangkan laki-laki haram memakai cincin emas :\rأجمع المسلمون على إباحة خاتم الذهب للنساء ، وأجمعوا على تحريمه على الرجال ، إلا ما حكي عن أبي بكر بن محمد بن عمر بن محمد بن حزم أنه أباحه ، وعن بعض أنه مكروه لا حرام ، وهذان النقلان باطلان\rsunnah memakai cincin pada jari kelingking,sedangkan memakai cincin di jari tengah dan telunjuk bagi laki-laki maka hukumnya makruh tanzih , sedangkan memakai cincin di tangan kanan ataupun kiri maka dua2nya ada hadis sohihnya.\rSyarah nawawi 'ala muslim :","part":1,"page":284},{"id":285,"text":"وفي حديث علي : ( نهاني صلى الله عليه وسلم أن أتختم في أصبعي هذه أو هذه ، فأومأ إلى الوسطى والتي تليها ) ، وروي هذا الحديث في غير مسلم : ( السبابة والوسطى ) وأجمع المسلمون على أن السنة جعل خاتم الرجل في الخنصر ، وأم المرأة فإنها تتخذ خواتيم في أصابع . قالوا : والحكمة في كونه في الخنصر أنه أبعد من الامتهان فيما يتعاطى باليد ، لكونه طرفا ، ولأنه لا يشغل اليد عما تتناوله من أشغالها بخلاف غير الخنصر ، ويكره للرجل جعله في الوسطى والتي تليها لهذا الحديث ، وهي كراهة تنزيه . وأما التختم في اليد اليمنى أو اليسرى فقد جاء فيه هذان الحديثان ، وهما صحيحان .\r> Ghufron Bkl\ra. hukum memakai cincin perak bagi laki-laki hukumnya boleh bahkan sunah dipakai di jari kelingking tangan kanan atau jari kelingking tangan kiri tapi lebih utama di jari kelingking tangan kanan :\rاعانة الطالبين 2/156\rفرع) يجوز للرجل تختم بخاتم فضة، بل يسن في خنصر يمينه أو يساره، للاتباع. ولبسه في اليمين أفضل.\rb. makruh dipakai di jari telunjuk dan di jari tengah bahkan ada pendapat yang mengharomkan\rاعانة الطالبين 2/156","part":1,"page":285},{"id":286,"text":": (قوله: (فرع) الأولى: فروع - بالجمع. (قوله: يجوز للرجل) ومثله الخنثى، بل أولى. (قوله: بخاتم فضة) وهو الذي يلبس في الإصبع، سواء ختم به الكتب أو لا، وأما ما يتخذ لختم الكتب من غير أن يصلح لأن يلبس فلا يجوز اتخاذه من ذهب ولا فضة. ومثل خاتم الفضة: خاتم حديد، أو نحاس، أو رصاص، لخبر الصحيحين: التمس ولو خاتما من حديد. وفي سنن أبي داود: كان خاتمه - صلى الله عليه وسلم - من حديد، عليه فضة. وأما خبر: مالي أرى عليك حلية أهل النار لرجل وجده لابسا خاتم حديد، فهو ضعيف. (قوله: بل يسن) إضراب انتقالي، ولو قال من أول الأمر: سن للرجل تختم الخ. لكان أخصر. (قوله: في خنصر يمينه) متعلق بيسن، ويصح تعلقه بيجوز. وخرج بالخنصر: غيره، فيكره وضع الخاتم فيه. وقيل يحرم. وعبارة شرح الروض بعد كلام: لو تختم في غير الخنصر - ففي حله وجهان قال الأذرعي قلت: أصحهما التحريم، للنهي عنه، ولما فيه من التشبيه بالنساء. اه. والذي في شرح مسلم عدم التحريم، فعنه: والسنة للرجل جعل خاتمه في الخنصر، لأنه أبعد من الامتهان فيما يتعاطى باليد، لكونه طرف، ولأنه لا يشغل اليد عما تتناوله من أشغالها، بخلاف غير الخنصر. ويكره له جعله في الوسطى والسبابة، للحديث، وهي كراهة تنزيه. اه. (قوله: للاتباع) دليل لسنية التختم بخاتم الفضة، وهو أنه - صلى الله عليه وسلم - اتخذ خاتما من فضة. (قوله: ولبسه في اليمين أفضل) أي ولبس الخاتم في خنصر اليمين أفضل من لبسه في خنصره اليسار. (وسئل) ابن حجر: هل الأفضل لبس الخاتم باليمين أو اليسار؟ (فأجاب) بقوله: ورد في أحاديث إيثار اليمين، وفي أخرى إيثار اليسار، وقد بينتها وما يتعلق بها في شرح الشمايل للترمذي.(والحاصل) أن الافضل عندنا لبسه في اليمين، للحديث الصحيح: كان يحب التيامن في شأنه كله أي مما هو من باب التكريم. ولا شك أن في التختم تكريما أي تكريم، فيكون في اليمين. واعترض بعض الناس قول مالك - رضي الله عنه -","part":1,"page":286},{"id":287,"text":"يكره في اليمين ويكون في اليسار فإنه يلزم (1) عليه الاستنجاء بالخاتم، مع أن أكثر الخواتيم فيا نقش القرآن والاذكار إلخ. اه. من الفتاوي..\rWALLOHU A'LAM\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/764589733563837/\r3102. HIKMAH MEMAKAI SORBAN BAGI LAKI-LAKI\rPERTANYAAN :\r> Maulidia Dia\rAssalamualaikum warohmatulloh. Mohon pencerahannya, Laki laki disunnahkan pakai sorban apa hikmahnya ?\rJAWABAN :\r> Ghufron Bkl\rWa alaikumus salaam warohmatulloh. Benar Laki laki disunnahkan pakai sorban, terutama saat shalat. Shalat dengan pakai surban lebih baik dari pada shalat 70 roka'at dengan tanpa surban.\r: وفي بغية المسترشدين صحيفة 87 ما نصه :\rوتحصل سنة العمامة بقلنسوة وغيرها وينبغي ضبط طولها وعرضها بعادة أمثاله والأفضل كونه بيضاء وبعذبة وأقلها أربعة أصابع وأكثرها ذراع وأوسطها شبر وسنية العمامة عامة ولا تنخرم بها المروءة مطلقا ، وورد صلاة بعمامة خير من سبعين ركعة بغير عمامة وإن لله ملائكة يستغفرون للابسي العمائم وورد أنه كان e يلبس قلنسوة بيضاء وفي رواية كان يلبس كمة بيضاء وهي القلنسوة .\rوتسن العمامة للصلاة ولقصد التجمل للأحاديث الكثيرة فيها\rDisunnatkan penggunaan sorban ketika sholat, dan bertujuan untuk memperindah diri karena banyaknya hadits yang menyebutkan tentang ini.\rواشتداد ضعف كثير منها يجبره كثرة طرقها وزعم وضع كثير منها تساهل كما هو عادة ابن الجوزي هنا والحاكم في التصحيح","part":1,"page":287},{"id":288,"text":"Namun banyak juga yg melemahkan tentang hadist penggunaan sorban ini karena banyaknya jalur hadits, dan dugaan lemahnya hadits karena banyaknya TASAHUL, seperti kebiasaan Ibnu Jauzi, dan Imam Hakim dalam mentashih. Dalam Tuhfatul Muhtaj .3/36 disebutkan : Dan diantara hadist hadis anjuran dalam memaki sorban ialah :\rاعتموا تزدادوا حلما\r\" Pakailah oleh kalian sorban, maka akan menambah kewibaan kepadamu \".\rDalam kitab Taysiir . 2/69 disebutkan :\rركعتان بعمامة خير من سبعين ركعة بلا عمامة ) لأن الصلاة حضرة الملك والدخول إلى حضرة الملك بغير تجمل خلاف الأدب\r( فر عن جابر ) وهو غريب\r\" Dua Rakaat menggunakan sorban lebih baik dari 70 rokaat tanpa sorban\". Bahkan Imam Munawi menyatakan hadist ini ghorib ( asing ).\rSementara dalam kitab Fathul Qodir Imam Thoriq menyatakan hadist ini adalah dho'if. Lihat Fathul Qodir. 4/49 :\rثم إن فيه طارق بن عبد الرحمن أورده الذهبي في الضعفاء وقال : قال النسائي : ليس بقوي عن محمد بن عجلان ذكره البخاري في الضعفاء وقال الحاكم : سئ الحفظ ومن ثم قال السخاوي : هذا الحديث لا يثبت\rAdapun jika memang ada dari sekian haidst tentang penggunaan sorban ini ialah dho'if namun Imam Nawawi menjelaskan tentang kebolehan menggunakan hadist do'if, bahkan disunnatkan jika itu untuk fadho'ilul 'amal, selama hadist itu tidak maudu' ( palsu ). Lihat Al-adzkar .36 :\rقال العلماء من المحدثين والفقهاء وغيرهم يجوز ويستحب العمل في الفضائل والترغيب والترهيب بالحديث الضعيف ما لم يكن موضوعا\rWallohu a'lam bis showab.\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/765156880173789/\r3185. HUKUM MEMAKAI CELANA DALAM\rPERTANYAAN :\r> Ibnu Al-Ihsany","part":1,"page":288},{"id":289,"text":"Assalamualaikum, maaf karena lama dicari ga ketemu-ketemu. Ada yang tahu hadits tentang perempuan yang jatuh dan terlihat memakai celana dalam waktu di luar rumah? mohon referensinya.\ra. disitu hukumnya termasuk kategori sunnah atau mubah?\rb. kalau di kamar yang dianjurkan pakai atau tidak?\rc. pakai celana dalam hukumnya apa untuk laki-laki bersarung, baik di luar atau di dalam rumah? terima kasih.\rJAWABAN :\r> Ummi Af-idah\rWa'alaykumussalaam...wr.wb, apakah ini yang di maksud :\r. المفصل الجزء الثالث صـ 343\rهل لبس المرأة السراويل تشبه بالرجل؟ ذكرنا في ما سبق يجوز للمرأة لبس السراويل بل وردت السنة بالترغيب فيه واستحبابه لما فيه من الستر لعورة المرأة ولكن يجب أن يعلم بأن المرأة كانت تلبس السروال تحت ثيابها فإذا لبست المرأة (السروال) كما يلبسه الرجل في وقتنا الحاضر دون أن تلبس فوقه ثيابا أو جلبابا فهذا لا يجوز لأن السراويلات للرجل عادة\rقال الشبراملسي في حاشيته على النهاية للرملي: ويسن أن يلبس أحسن ثيابه ويحافظ مع ذلك على ما يتجمل به عادة ولو أكثر من اثنين ويتسرول. روي عن مالكبن عتاهية أن النبي صلى الله عليه وسلّم قال: \"إن الأرض تستغفر للمصلي بالسراويل وأولى الستر القميص مع السراويل ثم القميص مع الإزار ثم الرداء\".\rDari ibaroh di atas disimpulkan mustahab memakai celana dalam, karena lebih menjamin menutup aurat, terutama untuk wanita yang dalam perjalanan. Dalam hadits nya disebutkan, ada seorang wanita yang pingsan ( terus dibopong ) dan diketahui pakai celana dalam, lalu nabi memujinya dengan mendoakan kebaikan padanya...\r> Abdullah Afif\rDalam Kitab al Jami' Ashshaghier, Imam Suyuthi, 1/23:\rرحم الله المتسرولات من النساء\rRAHIMALLAAHU AL- MUTASARWILAATI MINANNISAA`I","part":1,"page":289},{"id":290,"text":"Dalam Syarahnya, Faidhul Qadier, Imam Al Munawi, 4/30:\r(رحم الله المتسرولات من النساء) أي اللذين يلبسون السراويل بقصد السترة فهو لهن سنة مؤكدة محافظة على ستر عوراتهن ما أمكن.(قط في الأفراد ك في تاريخه) تاريخ نيسابور من حديث محمد بن القاسم العتكي عن محمد بن شاذان عن بشر بن الحكم عن عبد المؤمن بن عبد الله عن محمد بن عمرو عن أبي سلمة عن أبي هريرة (هب) قال : حدثنا الحاكم إسناده هذا (عن أبي هريرة) قال : بينما النبي صلى الله عليه وسلم جالس بالمسجد مرت امرأة على دابة فلما حاذته عثرت بها فأعرض النبي صلى الله عليه وسلم فقيل : متسرولة........\r.......BAINAMAA ANNABIYYU SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM JAALISUN BIL MASJIDI MARRAT IMRA`ATUN 'ALAA DAABBATIN FALAMMAA HAADZATHU 'ATSARAT FA A'RADHANNABIYYU SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM FA QIILA MUTASARWILATUN.....\r> Mas Hamzah\rتسرول = memakai celana\rالسروال والسروالة والسرويل =\rcelana panjang\rقاموس المنور هالامان 629\rDalam qamus al munawwir indonesia arab hal 186\rcelana dalam = التبان dengan tasydid huruf ba'nya.\rسروال داخلي, بنطلون تحتاني\rcelana pendek :\rسروال قصير, بنطلون قصير\r- lisanul arob ibnu mundzir :\rAt tubban dengan dhommah huruf ta' dan tasydidn ba'nya adalah celana kecil kira2 sejengkal yg menutupi aurat besar saja, dan ini biasa diapakai pelaut. Dalam hadisnya ammar bahwa beliau sholat memakai tubban kemudian beliau berkata \" sesunguhnya aku sakit kandung kemih \" maksudnya mengeluhkan kandung kemihnya,\rdikatakan bahwa at tubban itu menyerupai celana yg kecil, dan dlm hadisnya umar : seseorang sholat memakai tubban dan gamis\rلسان العرب","part":1,"page":290},{"id":291,"text":"والتبان ، بالضم والتشديد : سراويل صغير مقدار شبر يستر العورة المغلظة فقط ، يكون للملاحين . وفي حديث عمار : أنه صلى في تبان فقال : \" إني ممثون \" أي : يشتكي مثانته ، وقيل : التبان شبه السراويل الصغير . وفي حديث عمر : صلى رجل في تبان وقميص ، تذكره العرب ، والجمع التبابين .\rMasih dalam kitab lisanul arob, Tubban juga disebut sebagai underwear dari abi nujaih berkata : \" dulu ayahku biasa mengenakan underwear \" maksudnya underwear adalah at tubban.begitu juga dalam hadisnya sayyidina ali yg mengenakan underwear.\rأندرورد : الأزهري في الرباعي روى بسنده عن أبي نجيح قال : كان أبي يلبس أندراورد ، قال : يعني التبان . وفي حديث علي - كرم الله وجهه - : أنه أقبل وعليه أندروردية ، قيل : هي نوع من السراويل [ ص: 170 ] مشمر فوق التبان يغطي الركبة . وقالت أم الدرداء : زارنا سلمان من المدائن إلى الشام ماشيا وعليه كساء وأندراورد ; يعني : سراويل مشمرة . وفي رواية : وعليه كساء أندرورد . قال ابن الأثير : كأن الأول منسوب إليه . قال أبو منصور : وهي كلمة عجمية ليست بعربية\r- kitab fathul bari :\rAisyah berpendapat bahwa memakai celana dalam/ tubban itu tidak masalah bagi orang yang bepergian, karena saat itu ketika onta yang di tunggangi berjalan cepat ada sesuatu yang terlihat dari pelayannya beliau, kemudia beliau rodhiyallohu anha memerintahkan mereka memakai celana dalam.\rقوله : ( ولم تر عائشة بالتبان بأسا للذين يرحلون هودجها ) وقع في نسخة الصغاني بعد قوله بأسا : قال أبو عبد الله يعني الذين . . إلخ . التبان بضم المثناة وتشديد الموحدة : سراويل قصير بغير أكمام","part":1,"page":291},{"id":292,"text":"الي ان قال\" ، . وقد وصل أثر عائشة سعيد بن منصور من طريق عبد الرحمن بن القاسم ، عن أبيه ، عن عائشة : أنها حجت ومعها غلمان لها ، وكانوا إذا شدوا رحلها يبدو منهم الشيء ، فأمرتهم أن يتخذوا التبابين ، فيلبسونها وهم محرمون . وأخرجه من وجه آخر مختصرا بلفظ : \" يشدون هودجها \" . وفي هذا رد على ابن التين في قوله : أرادت النساء لأنهن يلبسن المخيط بخلاف الرجال ، وكأن هذا رأي رأته عائشة ، وإلا فالأكثر على أنه لا فرق بين التبان والسراويل في منعه للمحرم .\r- kitab madzhab hambali al inshof :\rSunnah memakai sarowil, dlm ktb takhis \"tdk masalah memakai sarowil \". An nadhim berkata \" dan yg semakna dengan sarowil adalah at tubban\". Sebagian uama' berpendapat mubah.pengarang kitab al furu' berkata \" pendapat awal lebih jelas \".\rالإنصافعلي بن سليمان بن أحمد المرداوي\rالسادسة : يسن لبس السراويل وقال في التلخيص : لا بأس . قال الناظم : وفي معناه التبان . وجزم به بعضهم بإباحته . قال في الفروع : والأول أظهر ، قال الإمام أحمد : السراويل أستر في الإزار . ولباس القوم كان الإزار .\rWallohu a'lam.\r> Ghufron Bkl\rKitab al mushonnaf ibnu abi syaibah, terdapat atsar tentang memakai tubban / celana dalam, diantaranya Aisyah yang memerintahkan pelayannya untuk memakai celana dalam. Shahabat Ali, ammar bin yasir, Salman dan Aba shodiq juga memakai tubban. Sedangkan Abu Musa ketika tidur juga memakai tubban / CD karena khawatir terlihat auratnya.\rفي لبس التبان\r( 1 ) حدثنا أبو بكر قال حدثنا عبدة عن مسعر عن عثمان بن المغيرة عن علي بن ربيعة قال : رأيت عليا يتزر فرأيت عليه تبانا .\r( 2 ) حدثنا أبو بكر قال حدثنا عبدة عن يحيى بن سعيد عن القاسم بن المغيرة عن علي بن ربيعة قال : رأيت عليا يتزر فرأيت عليه تبانا [ ص: 34 ]","part":1,"page":292},{"id":293,"text":"( 3 ) حدثنا أبو بكر قال حدثنا عبدة عن يحيى بن سعيد عن القاسم قال : كانت عائشة إذا خرجت حاجة أو معتمرة أخرجت معها عبيدها يرحلون هودجها ، فكانوا يشدون بأرجلهم إلى بطن البغلة ، فأمرتهم أن يلبسوا التبابين .\r( 4 ) حدثنا أبو بكر قال حدثنا وكيع عن أبي الهيثم قال : قال سلمان : نعم الثوب التبان ، .\r( 5 ) حدثنا أبو بكر قال حدثنا أسباط عن العلاء بن حبيب قال : رأيت على عمار بن ياسر تبانا وهو بعرفات .\r( 6 ) حدثنا أبو بكر قال حدثنا أبو معاوية عن الأعمش قال : رأيت أبا صادق يتبرز فرأيت تحت إزاره تبانا .\r( 7 ) حدثنا أبو بكر قال حدثنا وكيع عن طلحة بن يحيى قال : رأيت على علي بن ربيعة الوالي تبانا ، قال : كان الشيخ يعني عليا يلبسه .\r( 8 ) حدثنا أبو بكر قال حدثنا وكيع عن شعبة بن عبد الرحمن بن القاسم عن أبيه عن عائشة أنها كانت تأمر غلمانها بلبس التبابين وهم محرمون .\r( 9 ) حدثنا أبو بكر قال حدثنا عبد الصمد بن عبد الوارث عن حماد بن سلمة عن ثابت عن أنس قال : كان أبو موسى إذا نام لبس تبانا مخافة أن تبدو عورته\rWallohu a'lam bis showab\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/763268577029286/\r3248. HUKUM LAKI-LAKI MEMAKAI CINCIN SUASA\rPERTANYAAN\r> Utuh Waluh\rMau Tanya...Tolong diJelaskan Tentang hukum Laki-laki Memakai Cincin Suasa.Boleh atau Tidak ? Sebelumnya Saya Ucapkan Terimakasih.\rJAWABAN :\r> Ical Rizaldysantrialit\rSuasa adalah bahan yang terbuat dari campuran emas dan perak serta tembaga, dengan kadar campuran Emas 20% Perak 10% dan Tembaga 70%. Hukum bagi penggunanya ditafshil :\r- Haram bagi laki-laki yang sudah tertaklif hukum syara' (baligh)\r- Boleh (menurut qoul shohih) bagi anak laki-laki yang masih kecil (shobiy)","part":1,"page":293},{"id":294,"text":"Memakai cincin suasa hukumnya haram begitu juga segala bentuk cincin yang dilapisi emas walaupun sedikit seperti penjelasan Imam Nawawi dalam kitab Syarah Muslim (شرح النووي على مسلم) berikut:\rوكذا لو كان بعضه ذهبا وبعضه فضة حتى قال أصحابنا : لو كانت سن الخاتم ذهبا ، أو كان مموها بذهب يسير ، فهو حرام لعموم الحديث الآخر في الحرير والذهب ( إن هذين حرام على ذكور أمتي حل لإناثها\rBagitu juga haram memakai cincin yang sebagian bahannya terbuat dari emas dan sebagiannya lagi dari perak. Kalangan ulama Syafi'i mengatakan : Apabila pada cincin terbuat dari emas, atau dilapisi dengan sedikit emas maka hukumnya haram karena keumuman hadits yang melarang pemakaian sutra dan emas.\rJika emas dipakai oleh anak kecil laki-laki,menurut qoul rojih hukumnya boleh ,Imam Nawawi berkata dalam Al-Majmu'\rفأما الصبي فهل يجوز للولي إلباسه الحرير فيه ث?ثة أوجه في البيان وغيره: أحدها يحرم على الولي إلباسه وتمكينه منه.. وتجري ا?وجه الث?ثة في إلباسهم حلي الذهب. واختلفوا في الراجح من ا?وجه فالصحيح جوازه مطلقا وبه قطع صاحب ا?بانة، وصححه الرافعي في المحرر","part":1,"page":294},{"id":295,"text":"Artinya: Adapun anak kecil laki-laki apakah boleh bagi wali (orang tua)-nya untuk memakaikan baju terbuat dari sutra ada tiga pandangan dalam hal ini. Salah satunya adalah haram bagi orang tua anak untuk memakaikan baju sutra. Hukum yang sama berlaku juga dalam kasus wali memakaikan emas pada anak keci laki-laki. Namun pendapat yang rajih (unggul) adalah boleh secara mutlak. Pendapat ini ditashih oleh Imam Rafi'i dalam Al- Muharrar. Namun demikian,jika ada laki-laki dewasa memakai perhiasan dari emas seperti cincin dan terbawa sholat maka Pemakainya berdosa (haram), Namun shalatnya tetap sah dan tidak perlu diulangi.\rImam Syafi'i dalam kitab Al-Umm 1/111 mengatakan:\rوكذلك أنهاهم عن لبس الذهب خواتيم وغير خواتيم ولو لبسوه فصلوا فيه كانوا مسيئين باللبس عاصين إن كانوا علموا بالنهي ولم يكن عليهم إعادة صلاة ; لأنه ليس من الأنجاس ألا ترى أن الأنجاس على الرجال والنساء سواء والنساء يصلين في الذهب .\rArtinya: Begitu juga Nabi melarang umat Islam laki-laki memakai emas baik dalam bentuk cincin atau lainnya. Apabila muslim memakai emas lalu shalat maka mereka berbuat buruk dan maksiat apabila mereka tahu atas larangan itu tapi tidak perlu mengulangi shalatnya karena emas tidaklah najis. Tidakkah anda tahu bahwa najis bagi laki-laki dan perempuan itu sama sedangkan wanita shalat dengan memakai emas.\r> Ibnu Al-Ihsany\rPenggunaan emas baik sedikit maupun banyak, sama dalam segi keharamannya bagi lelaki. Lihat Al-Baijuri juz 1, hal. 241-242 :\rـ{وقليل الذهب وكثيره} أي استعمالهما {في التحريم سواء\r{قوله وقليل الذهب وكثيره}","part":1,"page":295},{"id":296,"text":"هذا تعميم بعد تخصيص ، فإن قوله ؛ والتختم بالذهب ، خاص ، وهذا عام وقوله ؛ أي استعمالهما ، احتاج لتقدير ذلك لأن التحريم لا يتعلق بالذوات وإنما يتعلق بالأفعال ، وقوله ؛ في التحريم سواء ، أي مستويان في التحريم على الرجال إلا أنفا وأنملة وسنا كما مر ، ومحل في الأنملة ما لم تكن أنملة إبهام ، وخرج بالأنملة الأنملتان من أصبع واحدة بخلاف الأنملة الواحدة ولو من الأصابع الأربعة من كل يد وعلى النساء الإحليا على العادة ، والفضة كالذهب إلا خاتما ولو لرجل على العادة بخلاف الختم كما مر\rYang ini tentang sutra :\rوإذا كان بعض الثوب إبريسما} أي حريرا {وبعضه} الآخر {قطنا أو كتنا} مثلا {جاز} للرجل {لبسه ما لم يكن الإبريسم غالبا} على غيره ، فإن كان غير الإبريسم غالبا حل ، وكذا إن استويا في الأصح\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/711979462158198\r3271. HUKUM LELAKI MEMAKAI MAKE UP BEDAK\rPERTANYAAN :\r> Neng Kasyifah As-Saja\rAssalamu`alaikum lagiii ... Hehehe. Mau tanya : Bagaimana hukumnya seorang pria memakai make-up / bedak ? Soalnya saya sering melihat seorang ustadz suka ada yang memakai bedak jika ia mau tabligh ? Syukron\rJAWABAN :\r> Umam Zein","part":1,"page":296},{"id":297,"text":"Untuk pengantar saja, saya akan memakai istilah sendiri, yakni bedak make up kecantikan untuk piranti berdandan bagi kaum hawa dan bedak make up pentas untuk tata rias sebelum syuting/pentas. Kita harus membuat perbedaan istilah di sini, sebab make up meski kadang diartikan juga sebagai berdandan namun juga identik dengan tata rias wajah sebelum pentas. Bedak make up kecantikan fungsinya untuk berdandan semata sedang bedak make up pentas fungsinya untuk kepentingan penampilan saat pentas. Perbedaan fungsi inilah yang menjadikan jenis atau komposisi bedak yang digunakan bisa berbeda (dan bisa sama kalau yang dimake up adalah perempuan).","part":1,"page":297},{"id":298,"text":"Bedak make up kecantikan jelas digunakan untuk membuat wajah terlihat makin cantik. Secara garis besar terbagi menjadi loose powder (bedak tabur), press/compact powder (bedak padat), dan two way cake powder (bedak plus foundation).Sedangkan bedak make up pentas digunakan untuk kepentingan pentas. Fungsi dasarnya adalah untuk mengurangi wajah berminyak, menghindari efek wajah berkilap. Piranti wajib yang digunakan adalah alas bedak (foundation), lalu ditambahkan bedak secukupnya sekira riasan tidak luntur. Yang biasa digunakan antara lain bedak setting face powder, yakni bedak berbahan dasar talk yang bisa mengunci aplikasi foundation sehingga lebih awet di kulit.Bila orang yang dimake up wanita dan ditujukan juga untuk berdandan (kecantikan) maka perlu ditambahkan lagi polesan bedaknya agar kulit lebih putih, atau dengan sejak semula menggunakan produk bedak kecantikan, lalu tambahkan juga efek eye linernya, eye shadow, blush, dll yang semula sekedar untuk perawatan wajah menjadi untuk kecantikan wajah.Begitu juga bila orang yang dimake up hendak mementaskan karakter ekstrim (kuntilanak, pocong) atau tokoh teatrikal maka bahan make up yang digunakan juga akan lebih rumit dan lebih tebal.","part":1,"page":298},{"id":299,"text":"Sederhananya, make up untuk pentas biasanya memiliki jenis atau komposisi bedaknya tersendiri yang bisa sama dan bisa berbeda dengan jenis bedak kecantikan. Imbas dari hal itu, seorang pria yang memakai bedak generik agar wajahnya tidak terlihat mengkilap saat maju ke panggung maka tidak menjadi masalah hukumnya. Namun bila yang dipakainya adalah bedak kecantikan khas wanita seperti merk Ward*h Kosmetik misalnya, maka implikasi hukumnya akan berbeda sebagaimana tinjauan syariahnya nanti.\rMake up untuk kecantikan niscya kaum perempuan lebih paham. Sedangkan perbandingan literature make up untuk pentas silakan dibaca di sini :\rhttp://www.facebook.com/l.php?u=http%3A%2F%2Fid.shvoong.com%2Fhumanities%2Ffilm-and-theater-studies%2F2283412-pengertian-tata-rias%2F&h=CAQGnOAcE\rhttp://maddartist.hubpages.com/hub/Straight-Makeup-for-Males\rKesimpulannya:\rJika yang dipakai bedak kecantikan khas wanita seperti merk Ward*h Kosmetik misalnya, maka hukumnya diharamkan karena tasyabbuh. Hukumnya bisa berbeda jika yang dipakai adalah bedak generik, bedak baby, bedak obat, dll yang tidak identik sebagai bedak para wanita serta penggunaan bedaknya juga tidak berlebihan (sebatas agar wajah tidak mengkilap). Wallahu a'lam","part":1,"page":299},{"id":300,"text":"Fenomena bedak make up untuk pentas barangkali masih bisa dilacak batas perbedaannya. Yang lebih ambigu adalah trend pria metroseksual beberapa tahun silam dimana pria tipe ini suka/gemar memperhatikan menariknya penampilan tubuh dengan pergi ke salon, tempat perawatan tubuh, memakai sejumlah alat kosmetik, dll. Potret atas hal ini menjadi sorotan dalam bahtsu masail LBM Lirboyo Mei 2012 dengan deskripsi masalah:","part":1,"page":300},{"id":301,"text":"Trend Pria MetroseksualTampil menawan dan tebar pesona kini tidak lagi melulu menjadi idaman kaum wanita. Bagi sebagian laki-laki masa kini terutama yang imut atau baby face, hal itu sepertinya telah menjadi kebutuhan primer. Para pria yang dikenal dengan pria metroseksual memiliki kecenderungan untuk merawat tubuh dan menambah daya tariknya dengan kosmetik serta aneka paket perawatan tubuh lain. Akhirnya, Pria yang dulu identik dengan cuek, kini mulai terjangkiti ”penyakit” bersolek yang kadang bahkan melebihi wanita. Bagi pria metro, tumbuhnya satu jerawat dapat membuat mereka laksana kiamat.Menyadari perkembangan ini, mulai tumbuh salon khusus pria, majalah khusus pria, tempat perawatan tubuh khusus pria di mana mereka tidak malu-malu lagi untuk facial bahkan melakukan perawatan manicure pedicure. Tak ketinggalan, pihak produsen juga meluncurkan berbagai produk khusus lelaki baik make up, kosmetik, pembersih dan pelembab wajah, parfum, dan lain-lain. Untuk menarik minat konsumen, mereka sering mengeluarkan produk dengan spesifikasi segmen tertentu. Berbagai produk sering disertai dengan tulisan ”for man” ”for women”. Hal ini konon berdasarkan survey dan penelitian tentang kosmetik yang sesuai untuk jenis kulit tertentu atau hanya berdasarkan perbedaan aroma yang cenderung memilah antara kaum maskulin dan feminin (wanita cenderung diidentikkan dengan aroma lembut namun awet, sementara pria dikesankan identik dengan aroma keras dan menyengat) seperti dapat dilihat pada minyak wangi dan sabun. Meski belum bisa diuji kebenaran klaimnya karena terkesan bernuansa menarik","part":1,"page":301},{"id":302,"text":"konsumen, segmentasi ini membentuk opini publik dan menggiring mereka dalam memilih produk.Benar agama menganjurkan perawatan tubuh seperti memotong kuku, memakai minyak wangi dan anjuran-anjuran lain. Namun perlu diingat bahwa salah satu nilai dibalik keharaman sutera bagi lelaki adalah karena mengandung kelembutan (khunutsah) yang identik dengan kaum hawa, tak layak untuk keperkasaan (syahamah) seorang lelaki.\rPertanyaan :\ra. Bagaimana hukum pria melakukan berbagai sarana perawatan tubuh dan peningkatan daya tarik yang selama ini identik dengan gaya hidup kaum wanita ?\rb. Bagaimana hukum memakai kosmetik, parfum, dan berbagai sarana peningkatan daya tarik yang identik dengan jenis kelamin tertentu (baik karena segmentasi produsen atau unsur cenderung mengarah pada karakter kelamin seperti aroma atau warna pakaian) digunakan oleh jenis kelamin yang lain ?\rJawaban :\ra. Diperbolehkan sebatas tidak ada unsur-unsur yang diharamkan seperti tasyabbuh (menyerupai terhadap lawan jenis, orang-orang kafir dan orang fasiq), isrof (melebihi batas kewajaran), taghyir kholqillah (merubah bentuk alami) dan lain-lain.","part":1,"page":302},{"id":303,"text":"b. Hukumnya haram apabila terpenuhi unsur-unsur tasyabbuh yang diharamkan, seperti:- Barang-barang tersebut sampai saat ini digunakan khusus atau mayoritas wanita di daerah dimana ia tinggal.- Ada qoshdu (tujuan) untuk tasyabbuh dengan wanita pada barang-barang atau hal-hal yang masih digunakan atau dilakukan oleh kaum laki-laki maupun wanita. Atau dalam hal ucapan atau gerakan yang telah menjadi karakter yang menyerupai wanita. Sedangkan untuk hal-hal yang khusus atau mayoritas digunakan wanita tidak disyaratkan ada qoshdu.\rوعباراتنا","part":1,"page":303},{"id":304,"text":"حديث حاد وثلاثون لزيد بن أسلم مرسل مالك عن زيد بن أسلم عن عطاء بن يسار أنه أخبره قال كان رسول الله صلي الله عليه وسلم في المسجد فدخل رجل ثائر الرأس واللحية فأشار إليه رسول الله بيده أن أخرج كأنه يعني إصلاح شعر رأسه ولحيته ففعل الرجل ثم رجع قال رسول الله صلي الله عليه وسلم \"أليس هذا خيرا من أن يأتي أحدكم ثائر الرأس كأنه شيطان\" قوله في هذا الحديث \"ثائر الرأس\" يعني أن شعره مرتفع شعث غير مرجل وأصل الكلمة في اللغة الظهور والخبال ومنه أخذ الثائر والثورة ولا خلاف عن مالك أن هذا الحديث مرسل وقد يتصل معناه من حديث جابر وغيره. وفيه إباحة اتخاذ الشعر والوفرات والجمم لأنه لم يأمره بحلقه وفيه الحض على ترجيل شعر الرأس واللحية وكراهية إهمال ذلك والغفلة عنه حتى يتشعث ويسمج وهذا عندي أصل في إباحة التزين والتنظف كله ما لم يتشبه الرجل في ذلك بالنساء وإنما استثنيت ذلك لقول رسول الله صلي الله عليه وسلم \"لعن الله المتشبهين من الرجال بالنساء والمتشبهات من النساء بالرجال\" وهذا على العموم إلا أن يخصه عنه شيء صلي الله عليه وسلم فالتزين والتنظف مباح بهذا الحديث وغيره ما لم يكن إسرافا وتنعما وتشبها بالجبارين يدلك على ذلك قوله صلي الله عليه وسلم \"البذاذة من الإيمان\" وقد جاء عنه صلي الله عليه وسلم أنه نهى عن الترجل إلا غبا من حديث البصريين ومعناه والله أعلم على ما ذكرت وأما قوله في الحديث \"كأنه شيطان\" فهو محمول على المعروف من كلام العرب لأنها كانت تشبه ما استقبحت بالشيطان وإن كان لا يرى لما أوقع الله في نفوسهم من كراهيةالكتاب : التمهيد لما في الموطأ من المعاني والأسانيد ج5 ص50","part":1,"page":304},{"id":305,"text":"الزينة واللباس : التعريف والترغيب فيهما والأنواع والأحكام (المباح والمستحب والحرام) التعريف والترغيب فيهما الزينة ما يتزين به وهي كل ما يضفى على الإنسان حسنا وبهجة أو هي اسم يقع على محلسن الخلق التي خلق الله وعلى ما يتزين به الإنسان من فضل لباس أو حلي وغير ذلك وقد تكون مشروعة وهي الخالية من الفتنة والإفساد أو النية الفاسدة وقد تكون غير مشروعة وهي الباعثة على الفتنة والفساد أو النية الخبيثة أو يشويها شيء من فساد النية قال الزمحشري في الكشاف الزينة ما تتزين به المرأة من حلي أو كحل والخضاب فلا بأس بإبدائه للأجانب وما خفي منها كالسوار والخلخال والدملج والقلادة والإكيل والوشح والقرط فلا تبديه إلا لهؤلاء المذكورين أي في آية المحارم من الأزواج والأولاد وبقية الأقارب المحرماتالكتاب : الأسرة المسلمة في العالم المعاصر ص253\rوقد ضبط ابنُ دقيق العيد ما يحرُم التشبه بهن فيه بأنه ما كان مخصوصا بهن في جنسه وهيئته أو غالبا في زيهن وكذا يقال في عكسه نهاية قال ع ش ومن العكس ما يقع لنساء العرب من لُبس البشوت وحمل السكين على الهيئة المختصة بالرجال فيحرم عليهن ذلك وعلى هذا فلو اختصت النساء أو غلب فيهن زيٌّ مخصوص في إقليم وغلب في غيره تخصيصُ الرجال بذلك الزيِّ كما قيل إن نساء قرى الشام يتزيين بزي الرجال الذين يتعاطون الحصاد والزراعة ويفعلن ذلك فهل يثبت في كل إقليم ما جرت به عادة أهله أو ينظر لأكثر البلاد فيه نظر والأقرب الأول ثم رأيت في أن ابن حج نقلا عن الإسنوي ما يصرح به وعليه فليس ما جرت به عادة كثير من النساء بمصر الآن من لبس قطعة شاش على رؤوسهن حراما لأنه ليس بتلك الهيئة مختصا بالرجال ولا غالب فيهم فليتنبه له فإنه دقيق وأما ما يقع من إلباسهن ليلة جلائهن عمامة رجل فينبغي فيه الحرمة لأن هذا الزي مخصوص بالرجال اهالكتاب : حواشي الشرواني ج3 ص26","part":1,"page":305},{"id":306,"text":"فالحاصل أنه إن فعل ذلك بقصد التشبيه بهم في شعار الكفر كفر قطعا أو في شعار العبد مع قطع النظر عن الكفر لم يكفر ولكنه يأثم وإن لم يقصد التشبيه بهم أصلا ورأسا فلا شيء عليهالكتاب : الفتاوي الفقهية الكبري ج4 ص239\r(من تشبه بقوم) أي تزيا في ظاهره بزيهم وفي تعرفه بفعلهم وفي تخلقه بخلقهم وسار بسيرتهم وهديهم في ملبسهم وبعض أفعالهم أي وكان التشبه بحق قد طابق فيه الظاهر الباطن (فهو منهم) وقيل المعنى من تشبه بالصالحين وهو من أتباعهم يكرم كما يكرمون ومن تشبه بالفساق يهان ويخذل كهم ومن وضع عليه علامة الشرف أكرم وإن لم يتحقق شرفه وفيه أن من تشبه من الجن بالحيات وظهر يصورتهم قتل وأنه لا يجوز الآن لبس عمامة زرقاء أو صفراء كذا ذكره ابن رسلان وبأبلغ من ذلك صرح القرطبي فقال لو خص أهل الفسوق والمجون بلباس منع لبسه لغيرهم فقد يظن به من لا يعرفه أنه منهم فيظن به ظن السوء فيأثم الظان والمظنون فيه بسبب العون عليه وقال بعضهم قد يقع التشبه في أمور قلبية من الاعتقادات وإرادات وأمور خارجية من أقوال وأفعال قد تكون عبادات وقد تكون عادات في نحو طعام ولباس ومسكنالكتاب : فيض القدير ج6 ص135","part":1,"page":306},{"id":307,"text":"التشبه بين الجنسين: السؤال ما حكم الدين فى تشبه الرجال بالنساء وتشبه النساء بالرجال ؟الجواب روى البخارى وغيره عن ابن عباس رضى الله عنهما قال : لعن رسول اللّه صلى الله عليه وسلم المتشبهين من الرجال بالنساء ، والمتشبهات من النساء بالرجال .وروى أبو داود والنسائى وابن ماجه وابن حبان فى صحيحه عن أبى هريرة رضى الله عنه قال : لعن رسول الله صلى الله عليه وسلم الرجل يلبس لبسة المرأة والمرأة تلبس لبسة الرجل .وروى أحمد والطبرانى أن عبد اللّه بن عمرو بن العاص رضى اللّه عنه رأى أم سعيد بنت أبى جهل متقلدة سيفا وهى تمشى مشية الرجال فقال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول \"ليس منا من تشبه بالرجال من النساء، ولا من تشبه من النساء بالرجال \" .يؤخذ من هذه الأحاديث تحريم تشبه أحد من الجنسين بالجنس الآخر، ومحل الحرمة إذا تحقق أمران :أولهما : أن يكون التشبه مقصودا، بأن يتعمد الرجل فعل ما يكون من شأن النساء وأن تتعمد المرأة فعل ما يكون من شأن الرجال ، فإن هذا القصد فيه تمييع للخصائص أو إضعاف لها ، والواجب أن تكون خصائص كل جنس فيه قوية، فذلك تقسيم اللّه لخلقه وتنسيقه فيما أودع فى كل منهما من خصائص لمصلحة المجموعة البشرية ، أما مجرد التوافق بدون قصد وتعمد فلا حرج فيه ، فالناس بأجناسها تتفق فى أمور مشتركة كاستعمال أدوات الأكل وركوب الطائرات وما إلى ذلك .وهذا ما يعنيه لفظ \"تشبه \" ففيه عمل وقصد، أما إذا انتفى القصد فيكون تشابها لا تشبُّها، ولا حرج فى التشابه فيما لم يقصد .والأمر الثانى :أن يكون التشبه فى شيء هو من خصائص الجنس الآخر، والذى يحدد ذلك إما أن يكون هو الدين ، وإما أن يكون هو الطبع نفسه ، أى الجبلة التى خلق عليها الإنسان ، وإما أن يكون هو العرف والعادة، وكثير من التشبه يكون فى ذلك فى أول الأمر، حيث يوجد القصد والتعمد والإعجاب ، ثم بعد ذلك يصير شيئا مألوفا لا شذوذ فيه ، ولا يعد تشبها","part":1,"page":307},{"id":308,"text":"مذموماالكتاب : فتاوي الأزهر ج10 ص180\rتشبه الرجال بالمرأة والمرأة بالرجال في اللباسسؤال: ما قولكم في الرجل يلبس إزار المرأة أو المرأة تلبس لباس الرجل أو تلبس بنطلون أو ثوبا مثل ثوب الرجل شكلا وصورة فهل ذلك كله داخل في الحديث لعن رسول الله صلي الله عليه وسلم الرجل يلبس لبسة المرأة والمرأة تلبس لبسة الرجل أو لا؟الجواب والله الهادي إلى الصواب أن اللباس الرجل الخاص به إذا لبسته المرأة وصارت بحيث أنها بسببه تشبه الرجل وقصدت التشبه به تكون داخلة فيما ورد في الحديث الوعيد الشديد وكذلك الرجل إذا لبس لباس المرأة الخاص بها بحيث يظهر أمام الناس كأنه إمرأة وقصد التشبه بذلك فإنه يدخل بالوعيد الشديد المذكور ففي الحديث الصحيح لعن رسول الله صلي الله عليه وسلم المتشبهين من الرجال بالنساء والمتشبهات م النساء بالرجال والله سبحان وتعالى أعلم حكملبس المرأة للبنطلونسؤال: ما قولكم في المرأة تلبس بنطلونا وثوبا طويلا فوقه يبلغ إلى ركبتها فالبنطلون يرى نصفه الأسفل فقط فهل ذلك داخل تحت قولهم يحرم على المرأة أ تلبس لباس الرجل وكذا عكسه أو لا؟الجواب أ ذلك لا يحرم على المرأة لبسه لأنه ليس خاصا للرجل وإنما يحرم عليها كشف عورتها أو بعض عورتها أمام الرجال الأجانب والله سبحانه وتعالى أعلم ما لم يكن شفافا أو ضيقا يظهر محاسن جسمها لأن ذلك يدخل تحت قوله عليه الصلاة والسلام كاسيات عاريات.الكتاب : قرة العين بفتاوي إسماعيل الزين ص233-232","part":1,"page":308},{"id":309,"text":"وسئل رضي اللَّهُ عنه ونفع بعلومه وبركته عن فتخة الفضة المسماة عندنا بالحلقة هل يجوز للرجل لبسها أم لا لأنها ليست حينئذ داخلة في مسمى الخاتم لغة كما قاله ابن الملقن في العمدة قال ولم يجوزوا للرجل لبس شيء من حلي الفضة إلا الخاتم وليست هذه خاتما كما تقدم إهـ كلامه بمعناه لكن في نهاية ابن الأثير أن الحلقة خاتم بلا فص فسماها خاتما فما المعتمد في ذلك أفيدونا متع الله بكم المسلمينفأجاب فسح الله في مدته بقوله الذي يتجه جواز الحلقة المذكورة فقد صرح أصحابنا بأنه لا فرق في جواز لبس الخاتم بل ندبه للرجل بين ما له فص وما لا فص له فأفهم ذلك أن كلا مما له فص وما لا فص له يسمى عندهم خاتما وإن كان الخاتم لغة لا يطلق إلا على ما له فص فقد قال في الصحاح والفتخة بالتحريك حلقة من فضة لا فص فيها فإذا كان فيها فص فهي الخاتم إهـ فأفهم أن الحلقة غير الخاتم لغة فعلم بما تقرر من كلام الفقهاء واللغويين أن الخاتم عند الفقهاء لا يشترط فيه الفص وحينئذ فيكون كلامهم صريحا فيما ذكرته من جواز الحلقة المذكورة وزعم ابن الملقن ما ذكر عنه في السؤال يرده ما تقرر من أن عدم دخولها في مسمى الخاتم لغة لا يقتضي تحريمها لأن الأئمة صرحوا بحل ما لا فص له مع أنه لا يسمى خاتما لغة فعلم أنهم لم يريدوا بالخاتم في كلامهم الخاتم في اللغة بل ما هو أعم منه فاندفع نظره بلم يسم خاتما لغة وكأنه غفل عما ذكرته من أن الفقهاء يسمونه خاتما وإن لم يكن له فص واللغويين يخصون اسم الخاتم بما له فص على أنه قد يطلق على ما لا فص له اسم الخاتم أيضا كما يدل له كلام ابن الأثير المذكور في السؤال فإن قلت ينبغي تحريمها من جهة أخرى وهي كونها من شأن النساء وقد صرح الأئمة بأن التشبه بالنساء حرام وعكسه للحديث الصحيح لعن الله المتشبهين بالنساء من الرجال والمتشبهات من النساء بالرجال قلت إنما يحرم التشبه بهن بلبس زيهن المختص بهن اللازم في حقهن كلبس السوار","part":1,"page":309},{"id":310,"text":"والخلخال ونحوهما بخلاف لبس الخاتم بلا فص وهو الحلقة المذكورة فإنه ليس من شعارهن المختص بهن ويدل على ذلك قول الشافعي رضي الله عنه في الأم ولا أكره للرجل لبس اللؤلؤ إلا للأدب فإنه من زي النساء لا للتحريم قال في المجموع ردا على الرافعي الفاهم من هذا النص تبعا للشاشي أن التشبه بهن مكروه فقط وليس كما قالاه بل الصواب الحرمة وأما نصه في الأم فليس مخالفا لهذا لأن مراده أنه من جنس زي النساء لا أنه زي لهن مختص بهن لازم في حقهن إهـ وكذلك نقول الحلقة المذكورة إن سلم أنها زي لهن أي من جنس زيهن لا أنها بهن لازمة في حقهن وقد أخرج البخاري وغيره عن أنس أن النبي صلي الله عليه وسلم اتخذ خاتما من فضة فصه منه وفي صحيح مسلم أن فص خاتمه صلي الله عليه وسلم كان حبشيا قال النووي نقلا عن العلماء يعني كان حجرا حبشيا أي فصا من جزع أو عقيق فإن معدنهما بالحبشة واليمن إهـ ولا ينافيه هذه الرواية التي قبلها بإمكان الجمع بأنه صلي الله عليه وسلم كان له خاتمان من فضة أحدهما فصه منه والآخر فصه حبشي أي جزع أو عقيق وورد في التختم بالعقيق أحاديث منها أنه ينفي الفقر وأنه مبارك وأن من تختم به لم يزل ير خيرا وكلها لم يثبت منها شيء كما قاله الحفاظ وورد بسند ضعيف أن التختم بالياقوت الأصفر يمنع الطاعون وبما تقرر من أن الفص تارة يكون من الخاتم وتارة يكون من غيره مع قولهم السابق يجوز لبس الخاتم وإن لم يكن له فص يظهر ما مر من جواز لبس الحلقة المذكورة إذ لا يتصور شيء يلبس في الإصبع من الفضة ولبس فصه منه ولا من غيره يسمى خاتما وهو غير الحلقة المذكورة فليتأمل ذلك فإنه صريح واضح في الدلالة على ما ذكرته من حل الحلقة المذكورة على أن المتولي والغزالي في الفتاوى شذا فقالا لا يجوز للرجل التحلي بغير الخاتم من حلي الفضة كالسوار والدملج والطوق ونحوها لأنه لم يثبت في الفضة إلا تحريم الأواني وتحريم التشبه بالنساء إهـ وما قالاه ضعيف جدا","part":1,"page":310},{"id":311,"text":"فإن هذا من التشبه بالنساء كما صرح به الأصحاب وهو ظاهر والله سبحانه وتعالى أعلمالكتاب : الفتاوي الفقهية الكبري ج4 ص239\r( باب في لباس النساء ) ( أنه لعن المتشبهات من النساء بالرجال الخ ) قال الطبري المعنى لا يجوز للرجال التشبه بالنساء في اللباس والزينة التي تختص بالنساء ولا العكس قال الحافظ وكذا في الكلام والمشي فأماهيئة اللباس فتختلف باختلاف عادة كل بلد فرب قوم لا يفترق زي نسائهم من رجالهم في اللبس لكن يمتاز النساء بالاحتجاب والاستتار وأما ذم التشبه بالكلام والمشي فمختص بمن تعمد ذلك وأما من كان ذلك من أصل خلقته فإنما يؤمر بتكلف تركه والإدمان على ذلك بالتدريج فإن لم يفعل وتمادى دخله الذم ولا سيما إن بدا منه ما يدل على الرضى به وأخذ هذا واضح من لفظ المتشبهين وأما إطلاق من أطلق كالنووي أن المخنث الخلقي لا يتجه عليه اللوم فمحمول على ما إذا لم يقدر على ترك التثني والتكسر في المشي والكلام بعد تعاطيه المعالجة لترك ذلك وإلا متى كان ترك ذلك ممكنا ولو بالتدريج فتركه بغير عذر لحقه اللوم انتهى قال المنذري وأخرجه البخاري والترمذي والنسائي وبن ماجه - إلى أن قال - ( لوين ) بالتصغير هو لقب محمد بن سليمان ( أن امرأة تلبس النعل ) أي التي يختص بالرجال فما حكمها ( لعن رسول الله g الرجلة ) بفتح الراء وضم الجيم وفتح اللام ( من النساء ) بيان للرجلة قال في النهاية إنه لعن المترجلات من النساء يعني اللاتي يتشبهن بالرجال في زيهم وهيأتهم فأما في العلم والرأي فمحمود وفي رواية لعن الرجلة من النساء بمعنى المترجلة ويقال امرأة رجلة إذا شبهت بالرجال في الرأي والمعرفة انتهىالكتاب : عون المعبود : ج11 ص105","part":1,"page":311},{"id":312,"text":"وأفاد (1) أيضا أن التشبه معناه تعاطي الشحص ما صيره متشبها قصد التشبه أو لم يقصد . ألا ترى أنك إذا قلت فلان يتعلم كان معناه أنه فعل فعل المتعلمين وإن لم يقصد واحدا من ذينك. والحاصل إن صيغة التفعل لا يشترط فيها إلا قصج الفعل دون ما يترتب عليه وهو أمر بديهي عند من له أدنى خبرة بلسان العرب فاتضح قول الأئمة لا فرق في تحريم الخضاب بين أن يقصد به التشبه أو لا ووجه كون الخضاب فيه التشبه بالنساء أنهن يفعلنه تارة بقصد الزينة وتارة لكونه من زيهن الخاص بهن مع قطع النظر عن كونه زينة فالرجل إذا استعمله بأحد هذين القصدين كان متشبها بالنساء وكذا لو لم يقصد شيئا لأن ما كان زيينة بذاته أو من زي النساء الخاص بهن لا يحتاج إلى قصد التشبه فيه اهـ بزيادة(1) أي ابن حجر في كتابه شن الغارةالكتاب : حسن السير في بيان أحكام أنواع من التشبه بالغير للسيد محمد عوض الشريف الدمياطي ص3\rثم إن من أدلة الحرمة خبر الصحيحين وغيرهما من طرق كثيرة عن عائشة وابن عباس وغيرهما رضي الله تعالى عنهم أن النبي صلى الله تعالى عليه وسلم لعن المتشبهين من الرجال بالنساء والمتشبهات من النساء بالرجال قال في شعب الغارة معناه كما قاله النووي والمحب الطبري وغيرهما أنه لا يجوز لأحد الفريقين التشبه بالآخر فيما هو مختص به أي دائما أو غالبا من سيئة لباس أو زينة أو مشي أو كلام أو نحو ذلك كاللزي وبعض الصفات والحركات دون التشبه في أمور الخير نعم هيئة اللباس تختلف باختلاف المحال فرب قوم يستوي رجالهم ونساؤهم في لباس واحد وحينئذ فلا حرمة ومحل الحرمة فيمن تعمد التشبه بأن لم يكن ذلك له خلقة بل تكلف التخلق به في المشي والحركات والكلام ونحو ذلك الكتاب : حسن السير في بيان أحكام أنواع من التشبه بالغير للسيد محمد عوض الشريف الدمياطي ص6","part":1,"page":312},{"id":313,"text":"فإن قلت قد ينافي ما تقرر من حرمة التشبه قول الفقهاء في محاسن الشريعة وجرى عليه الخطابي وصاحب البحر وغيرهما الاختيار أن لا تلبس المرأة البياض والفضة فيه من التشبه بالرجال وإن تغيره بما أمكن من زعفران قلت التشبه قد يكون في المختص بالجنس أو الغالب فيه وهذا هو الحرام كما مر وقد يكون في غير ذلك كأن يكون فيما يليق بالجنس الآخر وإن لم يغلب فيه ولا اختص به وهذا و الذي قد يكرهالكتاب : حسن السير في بيان أحكام أنواع من التشبه بالغير للسيد محمد عوض الشريف الدمياطي ص9\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/728633360492808/\r3326. HUKUM WANITA MEMAKAI SURBAN\rPERTANYAAN :\r> Camelia MawardiHati Salbuutt\rAssalamu'alaikum... Saya mau bertanya..!! Hukum seorang wanita memakai surban.... Saya tunggu Jawaban dari Ustad dan Ustadzah... Terimakasih.\rJAWABAN :\r> Ulilalbab Hafas\rkalo di pake buat kerudung tidak apa-apa karena tak ada unsur tasyabbuh birrijal.. tapi kalo dipakai sebagai sorban (di ikatkan di kepala ) haram...karna sorban bukan termasuk pakian yang khusus bagi laki-laki beda halnya dengan peci.... berikut uraian tasyabbuh birrijal (menyerupai laki-laki) atau sebaliknya (laki-laki menyerupai perempuan).\r- Bughyah Almustarsyidiin 604 :\r(مسألة : ي) : ضابط التشبه المحرم من تشبه الرجال بالنساء وعكسه ما ذكروه في الفتح والتحفة والإمداد وشن الغارة ، وتبعه الرملي في النهاية هو أن يتزيا أحدهما بما يختص بالآخر ، أو يغلب اختصاصه به في ذلك المحل الذي هما فيه.","part":1,"page":313},{"id":314,"text":"Batasan penyerupaan yang diharamkan pada kasus penyerupaan orang laki-laki pada perempuan dan sebaliknya adalah apa yang diterangkan oleh Ulama Fiqh dalam kitab Fath aljawaad, Tuhfah, Imdaad dan kitab syun alghooroh. Imam Romli juga mengikutinya dalam kitab Annihaayah, Batasannya adalah \"bila salah satu dari lelaki atau wanita tersebut berhias memakai barang yang dikhususkan untuk lainnya atau pakaian yang jamak di gunakan pada tempat tinggal lelaki dan wanita tersebut\". Wallaahu A'lamu Bis Showaab.\r> Ical Rizaldysantrialit\rBatasan seorang perempuan menyerupai laki laki (atau sebaliknya) dalam hal berpakaian adalah bila seorang perempuan memakai pakaian khusus atau yang biasa dipakai laki laki (atau sebaliknya). Wallahu A'lam.\rحواشي الشرواني الجزء الثالث ص: 26 دار الفكر\rوقد ضبط ابن دقيق العيد ما يحرم التشبه بهن فيه بأنه ما كان مخصوصا بهن في جنسه وهيئته أو غالبا في زيهن وكذا يقال في عكسه نهاية قال ع ش ومن العكس ما يقع لنساء العرب من لبس البشوت وحمل السكين على الهيئة المختصة بالرجال فيحرم عليهن ذلك وعلى هذا فلو اختصت النساء أو غلب فيهن زي مخصوص في إقليم وغلب في غيره تخصيص الرجال بذلك الزي كما قيل إن نساء قرى الشام يتزيين بزي الرجال الذين يتعاطون الحصاد والزراعة ويفعلن ذلك فهل يثبت في كل إقليم ما جرت به عادة أهله أو ينظر لأكثر البلاد فيه نظر والأقرب الأول ثم رأيت في أن ابن حج نقلا عن الإسنوي ما يصرح به وعليه فليس ما جرت به عادة كثير من النساء بمصر الآن من لبس قطعة شاش على رؤوسهن حراما لأنه ليس بتلك الهيئة مختصا بالرجال ولا غالب فيهم فليتنبه له فإنه دقيق وأما ما يقع من إلباسهن ليلة جلائهن عمامة رجل فينبغي فيه الحرمة لأن هذا الزي مخصوص بالرجال اهـ\rفيض القدير الجزء الخامس ص: 271","part":1,"page":314},{"id":315,"text":"لعن الله لمتشبهات من النساء بالرجال فيما يختص به من نحو لباس وزينة وكلام وغير ذلك والمتشبهين من الرجال بالنساء كذلك قال ابن جرير فيحرم على الرجل لبس المقانع والخلاخل والقلائد ونحوها والتخنث في الكلام والتأنث فيه وما أشبهه قال ويحرم على الرجال لبس النعال الرقاق التي يقال لها الحذو والمشي بها في المحافل والأسواق اهـ وما ذكره في النعال الرقيقة لعله كان عرف زمنه من اختصاصها بالنساء أما اليوم فالعرف كما ترى أنه لا اختصاص وقال ابن أبي جمرة ظاهر اللفظ الزجر عن التشبه في كل شيء لكن عرف من أدلة أخرى أن المراد التشبه في الزي وبعض الصفات والحركات ونحوها لا التشبه في الخير وحكمة لعن من تشبه إخراجه الشيء عن صفته التي وضعها عليه أحكام الحكماء\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/793624630660347\r3549. HUKUM LAKI-LAKI MEMAKAI ANTING\rPERTANYAAN :\r> Mybendol Unnew New\rAssallamu'alaikum wr wb, apa hukumnya laki-laki yang memakai anting mohon penjelasannya ?\rJAWABAN :\r> Langlang Buana\rWa'alaikum salam, memakai anting hukumnya haram karena mayoritas itu yang memakai anting adalah perempuan & khas ciri seorang perempuan:\rمسألة: ي): ضابط التشبه المحرم من تشبه الرجال بالنساء وعكسه ما ذكروه في الفتح والتحفة والإمداد وشن الغارة، وتبعه الرملي في النهاية هو أن يتزيا أحدهما بما يختص بالآخر، أو يغلب اختصاصه به في ذلك المحل الذي هما فيه.","part":1,"page":315},{"id":316,"text":"Batasan penyerupaan yang diharamkan pada kasus penyerupaan orang laki-laki pada perempuan dan sebaliknya adalah apa yang diterangkan oleh Ulama Fiqh dalam kitab Fath aljawaad, Tuhfah, Imdaad dan kitab syun alghooroh. Imam Romli juga mengikutinya dalam kitab Annihaayah, Batasannya adalah : \"Bila salah satu dari lelaki atau wanita tersebut berhias memakai barang yang dikhususkan untuk lainnya atau pakaian yang jamak di gunakan pada tempat tinggal lelaki dan wanita tersebut\". [Bughyah Almustarsyidiin 604]. Wallaahu A'lamu Bis Showaab.\r> Ghufron Bkl\rLaki - laki memakai anting baik anting dari emas atau selainnya dan juga baik di kedua telinga atau hanya sebelah saja maka hukumnya haram karena hal tersebut termasuk tasyabbuh dengan orang perempuan :\rفلا يجوز للرجل أن يتحلى بشيء في أذن واحدة ولا في كلتا أذنيه سواء كان المتحلَى به ذهبا أو غيره، لما في ذلك من التشبه بالنساء وبالفسقة والمخنثين\rأما الرجل فلا يجوز له خرم أذنه بحال، لما في ذلك من التشبه بالنساء، وقد لعن رسول الله صلى الله عليه وسلم المتشبهين من الرجال بالنساء، كما في الحديث الذي رواه البخاري وغيره.فإذا وضع فيها حُلياً من ذهب أو غيره فقد أثم من عدة أوجه:1\r- التشبه بالنساء.2- التشبه ببعض الساقطين من الكفرة والمجرمين.3- التحلي بالذهب إذا كان المعلق ذهباً.والله أعلم.\rفيحرم على الرجل لبس الحلق، سواء في أنفه أو أذنه، لما في ذلك من التشبه بالنساء،\r> Mas Hamzah\rImam Ibnu Abidin dalam Hasyiyahnya mengatakan :\rثقب الأذن لتعليق القرط مِن زِينَةِ النساء, فلا يحل للذكور\r”Melubangi telinga untuk dipasangi anting termasuk perhiasan wanita, karena itu tidak halal bagi lelaki”. (Raddul Muhtar, 27/81).\rWallohu a'lam bis showab","part":1,"page":316},{"id":317,"text":"LINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/841435099212633/\r3717. JIDAT HITAM ITU SUNAH ?\rPERTANYAAN :\r> Yusuf Abi\rAssalaamu'alaikum. Mudzakaroh hukum Jidat Hitam Bekas sujud.\rJAWABAN :\rWa'alaikumsalaam. Dalam berbagai kitab tafsir yang dibawakan para musyawirin maupun hadits hadits Nabi SAW, tidak ada satupun yang menerangkan tanda hitam di jidat adalah suatu kesunahan dari Rasulullah SAW yang patut diikuti oleh umatnya, justru jidat hitam adalah sesuatu yang sangat dibenci oleh Rasulullah SAW. Berikut jawaban dari para musyawirin :\r> Ical Rizaldysantrialit\rKitab Mu'jam Ibnul Muqrie, hadits nomor 414\r(1)سفعة : تغَيُّر إلى السَّواد","part":1,"page":317},{"id":318,"text":"حدثنا أبو الدحداح أحمد بن محمد بن إسماعيل التميميثنا أبو عامر موسى بن عامر بن خريم ثنا الوليد بن مسلم ، ثنا الأوزاعي ، عن قتادة، عن أنس قال : ذكر رجل عند رسول الله صلى الله عليه وسلم فذكروا من قوته في الجهادوالاجتهاد وفي العبادة فأقبل الرجل ، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : والذينفسي بيده ، أتى الذي في وجهه سفعة (1) من الشيطان. ثم أقبل فسلم عليهم ، فقالرسول الله صلى الله عليه وسلم : هل حدثت نفسك حين أشرفت علينا أنه ليس في القومأحد خير منك ؟. قال : نعم ، وذهب فاختط مسجدا ، وصف قدميه ، ثم صلى فقال رسول اللهصلى الله عليه وسلم : أيكم يقوم إليه فيقتله ؟ فذهب أبو بكر فوجده يصلي قال : فهابأن قتله ، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم :. أيكم يقوم إليه فيقتله ؟ فقام عمرفقال : أنا أذهب إليه فوجده يصلي ، فصنع مثل ما صنع أبو بكر ثم رجع ، فقال علي :أنا ، فقال : ائته ، إن أدركته فذهب فوجده قد انصرف ، فقال رسول الله صلى اللهعليه وسلم :. إن هذا لأول قرن يخرج من أمتي لو قتله ما اختلف اثنان من أمتي ثم قال:. إن بني إسرائيل افترقت على إحدى وسبعين فرقة ، وإن أمتي ستفترق على اثنتينوسبعين كلها في النار إلا واحدة وهي الجماعة","part":1,"page":318},{"id":319,"text":"\"Diriwayatkan dari Anas: Ada seorang laki-laki yang disebutkan dihadapan Rasulullah perihal kuatnya dalam jihad, ijtihad dan ibadahnya. Kemudianlaki-laki itu datang. Rasulullah bersabda: Demi Dzat yang Aku ada dalamkuasaNya, orang ini telah memiliki tanda hitam (suf'ah) dari syetan diwajahnya. Lelaki itu menghadap lalu mengucap salam. Rasulullah Saw bertanya:Apaka hatimu berkata saat kamu mendatangi kami bahwa tidak ada seorang pun yanglebih baikdari pada kamu?Lelaki itu menjawab: YA. Kemudian iamelangkah ke masjid dan salat. Lalu Rasulullah Saw bersabda: Adakah diantarakalian yang mendatanginya lalu membunuhnya? Berangkatlah Abu Bakar, beliaumenemukan lelaki itu sedang salat maka beliau takut untuk membunuhnya.Rasulullah Saw bersabda lagi: Adakah diantara kalian yang mendatanginya lalumembunuhnya? Berangkatlah Umar, beliau menemukan lelaki itu sedang salat makabeliau takut untuk membunuhnya. Kemudian Ali berkata: Saya. RAsulullahmenjawab: Datangilah orang itu, jika engkau menjumpainya! Ali berangkat namunlelaki itu telah pergi. Rasulullah Saw bersabda:Sesungguhnya orang ini adalah kurun pertama yang keluar dari umatku. Seandainyaia dibunuh maka tidak ada perbedaan di antara 2 orang dari umatku. SesungguhnyaBani Israil terpecah mencari 71 golongan. Dan umatku akan terpecah menjadi 72 golongan, semuanya di neraka, kecuali 1, yaitu al-Jamaah\".\r(Hadis ini memiliki banyak jalur riwayat, yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, al-Bazzar, al-Daruquthni. Al Hafidz al-Haitsami menilainya hasan melalui riwayat Abu Ya'laal-Mushili)","part":1,"page":319},{"id":320,"text":"Jelaslah... Ketika seorang terlihat kuat dalam ibadah dan jihadnya hingga tampak tanda hitam di jidatnya NAMUN ia merasa LEBIH BAIK dari muslim lainnya,yang dalam hadits disebutkan lelaki itu merasa lebih baik dari yang lainnya BAHKAN dari Rosulullah dan para sahabatnya , yang demikian tanda hitam dari syetan\rNa'udzu Billahi Min Dzalik\rKitab online : معجم ابن المقرئ\rSumber : JIDAT HITAM MUNGKIN SAJA TANDA DARI SYETAN\r> Mas Hamzah\rTafsir Ibnu Katsir\rوقوله : ( سيماهم في وجوههم من أثر السجود ) : قال علي بن أبي طلحة ، عن ابن عباس : ( سيماهم في وجوههم ) يعني : السمت الحسن .\rوقال مجاهد وغير واحد : يعني الخشوع والتواضع .\rوقال ابن أبي حاتم : حدثنا أبي ، حدثنا علي بن محمد الطنافسي ، حدثنا حسين الجعفي ، عن زائدة ، عن منصور عن مجاهد : ( سيماهم في وجوههم من أثر السجود ) قال : الخشوع ، قلت : ما كنت أراه إلا هذا الأثر في الوجه ، فقال : ربما كان بين عيني من هو أقسى قلبا من فرعون .\rوقال السدي : الصلاة تحسن وجوههم .\rوقال بعض السلف : من كثرت صلاته بالليل حسن وجهه بالنهار .\rوقد أسنده ابن ماجه في سننه ، عن إسماعيل بن محمد الطلحي ، عن ثابت بن موسى ، عن شريك ، عن الأعمش ، عن أبي سفيان ، عن جابر قال : قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم - : \" من كثرت صلاته بالليل حسن وجهه بالنهار \" والصحيح أنه موقوف .\rوقال بعضهم : إن للحسنة نورا في القلب ، وضياء في الوجه ، وسعة في الرزق ، ومحبة في قلوب الناس .\rوقال أمير المؤمنين عثمان : ما أسر أحد سريرة إلا أبداها الله على صفحات وجهه ، وفلتات لسانه .\rوالغرض أن الشيء الكامن في النفس يظهر على صفحات الوجه ، فالمؤمن إذا كانت سريرته صحيحة مع الله أصلح الله ظاهره للناس ، كما روي عن عمر بن الخطاب - رضي الله عنه - أنه قال : من أصلح سريرته أصلح الله علانيته .","part":1,"page":320},{"id":321,"text":"وقال أبو القاسم الطبراني : حدثنا محمود بن محمد المروزي ، حدثنا حامد بن آدم المروزي ، حدثنا الفضل بن موسى ، عن محمد بن عبيد الله العرزمي ، عن سلمة بن كهيل ، عن جندب بن سفيان البجلي قال : قال النبي - صلى الله عليه وسلم - : \" ما أسر أحد سريرة إلا ألبسه الله رداءها ، إن خيرا فخير ، وإن شرا فشر \" ، العرزمي متروك\rسيماهم في وجوههم من أثر السجود\r\"Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud\"\rقال علي بن أبي طلحة ، عن ابن عباس : ( سيماهم في وجوههم ) يعني : السمت الحسن .\rAli Bin Abi Tolhah berkata, dari Ibnu Abbas : Arti dari (tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka) adalah tanda kebaikan\rوقال مجاهد وغير واحد : يعني الخشوع والتواضع .\rMujahid dan selain beliau bukan cuma satu orang berkata, \" Artinya adalah ke khusyu'an dan ketawadhu'an\"\rوقال السدي : الصلاة تحسن وجوههم .\rAs-Sadi berkata : \" Sholat membuat bagus wajah mereka \"\rوقال بعض السلف : من كثرت صلاته بالليل حسن وجهه بالنهار\rSebagian ulama' salaf berkata : \" Barang siapa yg memperbanyak sholat malamnya maka wajahnya akan bagus siang harinya.\"\rوقال الحسن : هو بياض يكون في الوجه يوم القيامة . وقاله سعيد بن جبير أيضا\rAl-Hasan berkata, \" Itu adalah warna putih yg ada diwajah kelak dihari kiyamah.\" Sa'id Bin Jubair juga berkata seperti itu \" .\rوقال شهر بن حوشب : يكون موضع السجود من وجوههم كالقمر ليلة البدر\rSyahr Bin Khausab berkata, \" Jadilah tempat sujud mereka yang diwajahnya bagaikan rembulan dimalam purnama \".\r- Tafsir Al-Qurthuby :","part":1,"page":321},{"id":322,"text":"الثانية : قوله تعالى : سيماهم في وجوههم من أثر السجود السيما العلامة ، وفيها لغتان : المد والقصر ، أي : لاحت علامات التهجد بالليل وأمارات السهر . وفي سنن ابن ماجه قال : حدثنا إسماعيل بن محمد الطلحي قال حدثنا ثابت بن موسى أبو يزيد عن شريك عن الأعمش عن أبي سفيان عن جابر قال : قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم - : من كثرت صلاته بالليل حسن وجهه بالنهار . وقال ابن العربي : ودسه قوم في حديث النبي - صلى الله عليه وسلم - على وجه الغلط ، وليس عن النبي - صلى الله عليه وسلم - فيه ذكر بحرف . وقد روى ابن وهب عن مالك سيماهم في وجوههم من أثر السجود ذلك مما يتعلق بجباههم من الأرض عند السجود ، وبه قال سعيد بن جبير . وفي الحديث الصحيح عن النبي - صلى الله عليه وسلم - : صلى صبيحة إحدى وعشرين من رمضان وقد وكف المسجد وكان على عريش ، فانصرف النبي - صلى الله عليه وسلم - من صلاته وعلى جبهته وأرنبته أثر الماء والطين . وقال الحسن : هو بياض يكون في الوجه يوم القيامة . وقاله سعيد بن جبير أيضا ، ورواه العوفي عن ابن عباس ، قاله الزهري . وفي الصحيح عن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - من حديث أبي هريرة ، وفيه : [ حتى إذا فرغ الله من القضاء بين العباد وأراد أن يخرج برحمته من أراد من أهل النار أمر [ ص: 267 ] الملائكة أن يخرجوا من النار من كان لا يشرك بالله شيئا ممن أراد الله أن يرحمه ممن يقول لا إله إلا الله فيعرفونهم في النار بأثر السجود تأكل النار ابن آدم إلا أثر السجود حرم الله على النار أن تأكل أثر السجود ] . وقال شهر بن حوشب : يكون موضع السجود من وجوههم كالقمر ليلة البدر . وقال ابن عباس ومجاهد : السيما في الدنيا وهو السمت الحسن . وعن مجاهد أيضا : هو الخشوع والتواضع . قال منصور : سألت مجاهدا عن قوله تعالى : سيماهم في وجوههم أهو أثر يكون بين عيني الرجل ؟ قال لا ، ربما يكون بين عيني الرجل مثل ركبة العنز","part":1,"page":322},{"id":323,"text":"وهو أقسى قلبا من الحجارة ولكنه نور في وجوههم من الخشوع . وقال ابن جريج : هو الوقار والبهاء . وقال شمر بن عطية : هو صفرة الوجه من قيام الليل . قال الحسن : إذا رأيتهم حسبتهم مرضى وما هم بمرضى . وقال الضحاك : أما إنه ليس بالندب في وجوههم ولكنه الصفرة . وقال سفيان الثوري : يصلون بالليل فإذا أصبحوا رئي ذلك في وجوههم ، بيانه قوله - صلى الله عليه وسلم - : من كثرت صلاته بالليل حسن وجهه بالنهار . وقد مضى القول فيه آنفا . وقال عطاء الخراساني : دخل في هذه الآية كل من حافظ على الصلوات الخمس .\r> Rampak Naung\rHitam di jidat sangat dibenci oleh Rasululloh SAW, seperti para bodohnya orang orang khowarij yang riyak.\rوليس المراد به ما بصنعه بعض الجهلة المرائين من الع?مة في الجبهة فانه من فعل الخوارج وفي الحديث اني ?بغض الرجل واكرهه اذا رايت بين عينيه اثر السجود\rتفسير السراج المنير للخطيب الشربيني ج 4 ص 31\r\"Yang dimaksud tanda di wajah sebagai bekas sujud bukanlah seperti apa yang dilakukan orang orang yang kurang pengetahuan yang riya dengan apa yang terlihat di dahinya, karena yang demikian adalah sebagian daripada pekerjaan kaum Khowarij. Dalam hadits Nabi SAW disebutkan \" Sesungguhnya aku marah dan benci terhadap seorang yang Aku lihat diantara kedua matanya ada bekas sujud\" (Tafsir As-Sirajul Munir karangan Al-Khothib Asy-Syarbini I / 31).\r> Ghufron Bkl\rعَنْ مَنْصُورٍ قَالَ قُلْتُ لِمُجَاهِدٍ (سِيمَاهُمْ فِى وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ) أَهُوَ أَثَرُ السُّجُودِ فِى وَجْهِ الإِنْسَانِ؟ فَقَالَ : لاَ إِنَّ أَحَدَهُمْ يَكُونُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ مِثْلُ رُكْبَةِ الْعَنْزِ وَهُوَ كَمَا شَاءَ اللَّهُ يَعْنِى مِنَ الشَّرِّ وَلَكِنَّهُ الْخُشُوعُ.","part":1,"page":323},{"id":324,"text":"Dari Manshur, Aku bertanya kepada Mujahid tentang maksud dari firman Allah, ‘tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud’ apakah yang dimaksudkan adalah bekas di wajah? Beliau menjawab, “Bukan, bahkan ada orang yang ‘kapal’ yang ada di antara kedua matanya itu bagaikan ‘kapal’ yang ada pada lutut onta namun dia adalah orang bejat. Tanda yang dimaksudkan adalah kekhusyu’an” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3702).\rSyeikh Ahmad ash Showi dalam kitab tafsirnya mengatakan, “Bukanlah yang dimaksudkan oleh ayat adalah sebagaimana perbuatan orang-orang bodoh dan tukang riya’ yaitu tanda hitam yang ada di dahi karena hal itu adalah ciri khas khawarij (baca: ahli bid’ah)” (Hasyiah ash Shawi 4/134, Dar al Fikr).\rتفسير السراج المنير للخطيب الشربيني ج 4 ص 31","part":1,"page":324},{"id":325,"text":"ثم بين كثرة صلاتهم. بقوله تعالى : {سيماهم} أي : علامتهم التي لا تفارقهم {في وجوههم} ثم بين تعالى العلامة بقوله {من أثر السجود} وهو نور وبياض في وجوههم يوم القيامة كما قال تعالى {يوم تبيض وجوه وتسودّ وجوه} (آل عمران : 106) رواه عطية العوفيّ عن ابن عباس. وعن أنس هو استنارة وجوههم من كثرة صلاتهم. وقال شهر بن حوشب : تكون مواضع السجود من وجوههم كالقمر ليلة البدر. وقال مجاهد هو السمت الحسن والخشوع والتواضع والمعنى أنّ السجود أورثهم الخشوع والسمت الحسن الذي يعرفون به. وقال الضحاك : هو صفرة الوجه. وقال الحسن : إذا رأيتهم حسبتهم مرضى وما هم بمرضى. وقال عكرمة : هو أثر التراب على الجباه. قال أبو العالية : لأنهم يسجدون على التراب لا على الثياب. وقال عطاء : استنارت وجوههم من طول ما صلوا بالليل لأنّ من كثرت صلاته بالليل حسن وجهه بالنهار قال بعضهم : دخل في هذه الآية كل من حافظ على الصلوات الخمس. قال البقاعي : ولا يظن أنّ من السيما ما يصنعه بعض المرائين من أثر هيئة السجود في جبهته فإنّ ذلك من سيما الخوارج. وفي نهاية ابن الأثير في تفسير الثقات ومنه حديث أبي الدرداء أنه رأى رجلاً بين عينيه مثل ثغنة البعير فقال : لو لم يكن هذا كان خيراً يعني كان على جبهته أثر السجود وإنما كرهها خوفاً من الرياء عليه. وعن أنس عن النبيّ صلى الله عليه وسلم أنه قال : \"إني لأبغض الرجل وأكرهه إذا رأيت بين عينيه أثر السجود\" وعن بعض المتقدّمين : كنا نصلي فلا يرى بين أعيننا شيء ونرى أحدنا الآن يصلي فيرى بين عينيه ركبة البعير فلا ندري أثقلت الرؤوس أم خشنت الأرض. وإنما أراد بذلك من تعمد ذلك للنفاق\rتفسير روح البيان لإسماعيل حقي بن مصطفى الإستانبولي الحنفي الخلوتي ج 9 ص 48","part":1,"page":325},{"id":326,"text":"قال الراغب : الرضوان الرضى الكثير {سِيمَاهُمْ} فعلى من ساه إذا أعلمه أي جعله ذا علامة والمعنى علامتهم وسمتهم وقرىء سيمياؤهم بالياء بعد الميم والمد وهما لغتان وفيها لغة ثالثة هي السيماء بالمد وهو مبتدأ خبر قوله : {فِى وُجُوهِهِم} أي ثابتة في وجوههم من أثر السجود حال من المستكن في الجار وأثر الشيء حصول ما يدل على وجوده كما في المفردات أي من التأثير الذي تؤثره كثرة السجود وما روى عن النبي عليه السلام من قوله : لا تعلموا صوركم أي لا تسموها إنما هو فيما إذا اعتمد بجبهته على الأرض ليحدث فيها تلك السمة وذلك محض رياء ونفاق والكلام فيما حدث في جبهة السجاد الذين لا يسجدون إلا خالصاً لوجه الله وكان الإمام زين العابدين رضي الله عنه وهو علي بن الحسين بن علي رضي الله عنهم وكذا علي بن عبد الله بن العباس يقال لهما : ذو الثفنات لما أحدثت كثرة سجودهما في مواضعة منهما أشباه ثفنات البعير والثفنة بكسر الفاء من البعير الركبة وما مس الأرض من أعضائه عند الإناخلاة وثفنت يده ثفناً إذا غلظت عن العمل وكانت له خمسمائة أصل زيتون يصلي عند كل أصل ركعتين كل يوم قال قائلهم: ديار علي والحسين وجعفر وحمزة والسجاد ذي الثفنات. قال عطاء : دخل في الآية تن حافظ على الصلوات الخمس وقال بعض الكبار سيما المحبين من أثر السجود فإنهم لا يسجدون لشيء من الدنيا والعقبى إلامخلصين له الدين وقيل صفرة الوجوه من خشية الله وقيل ندى الطهور وتراب الأرض فإنهم كانوا يسجدون على التراب لا على الأثواب وقيل استنارة وجوههم من طول ما صلوا بالليل قال عليه السلام : من كثر صلاته بالليل حسن وجهه بالنهار ألا ترى أن من سهر بالليل وهو مشغول بالشراب واللعب لا يكون وجهه في النهار كوجه من سهر وهو مشغول بالطاعة وجاء في باب الإمامة أنه يقدم إلا علم ثم ألا قرأتم الأورع ثم الأسن ثم الأصبح وجهاً أي أكثرهم صلاة بالليل لما روي من الحديث قيل لبعضهم ما بال","part":1,"page":326},{"id":327,"text":"المتهجدين أحسن الناس وجوهاً قال : لأنهم خلوا بالرحمن فأصابهم من نوره كما يصيب القمر نور الشمس فينور به. در نفحات مذكوراست كه ون ارواح ببركت قرب الهي صافي شد انوار موافقت بر اشباخ ظاهر كردد :\rدرويش را كواه ه حاجت كه عاشقترنك رخش زدوربه بين وبدان كه هست\rوقال سهل المؤمن من توجه مقبلاً عليه غير معرض عنه وذلك سيما المؤمنون وقال عامر بن عبد القيس كادوجه المؤمن يخبر عن مكتون عمله وكذلك وجه الكافر وذلك قوله سيماهم في وجوههم وقال بعضهم : ترى على وجوههم هيبة القرب عهدهم بمناجاة سيدهم وقال ابن عطاء : ترى عليهم خلع الأنوار لائحة وقال عبد العزيز المكي : ليست هي النحولة والصفرة لكنها نور يظهر على وجوه العابدين يبدو من باطنهم على ظاهرهم يتبين ذلك للمؤمنين ولو كان ذلك في زنجي أو حبشي انتهى ولا شك أن هذه الأمة يقومون يوم القيامة غراً مخجلين من آثار المضوء وبعضهم يكون وجوههم من أثر السجود كالقمر ليلة البدر وكل ذلك من تأثير نور القلب وانعكاسه ولذا قال : آن سياهى كزى ناموس حق ناقوس زد در عرب بو الليل بوداندر قيامت بوالنهار\rإحياء علوم الدين ج 1 ص 140\rالأول شعر الرأس ولا بأس بحلقه لمن أراد التنظيف ولا بأس بتركه لمن يدهنه ويرجله إلا إذا تركه قزعا أي قطعا وهو دأب أهل الشطارة أو أرسل الذوائب على هيئة أهل الشرف حيث صار ذلك شعارا لهم فإنه إذا لم يكن شريفا كان ذلك تلبيسا\rحاشية البجيرمي على الخطيب ج 6 ص 51","part":1,"page":327},{"id":328,"text":"فائدة : قال ابن القيم : ما يفعل في زماننا من عمائم كالأبراج وأكمام كالأخراج فحرام باتفاق ا هـ ويحتمل أن يكون محله في غير المتصفين بالعلم وأرباب المناصب كالقضاة ونحوهم ، فإن ما صار شعارا للعلماء يندب لهم لبسه ليعرفوا فيسألوا وليطاعوا فيما عنه زجروا ، ويحرم على غيرهم التشبه بهم فيه ليلحقوا بهم ، ويحرم على غير الصالح التزيي بزيهم حتى يظن صلاحه ، ومثله من تزيا بزي العالم وقد كثر في زماننا هذا ؛ ومنه يعلم تحريم لبس العمامة الخضراء لغير الشريف ، فقد جعلت العمامة الخضراء لأولاد فاطمة الزهراء ليمتازوا فلا يليق بغيرهم من بقية آله صلى الله عليه وسلم لبسها لأنه تزيا بزيهم فيوهم انتسابه للحسن أو الحسين مع انتفاء نسبه عنهما ويمنع من ذلك ، فاعلمه وتنبه له\rتفسير الألوسي ج 19 ص 236","part":1,"page":328},{"id":329,"text":"مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآَزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا. قرأ عمرو بن عبيد { وَرِضْوَاناً } بضم الراء { سيماهم } أي علامتهم وقرىء { سيمياؤهم } بزيادة ياء بعد الميم والمد وهي لغة فصيحة كثيرة في الشعر قال الشاعر: غلام رماه الله بالحسن يافعا ... له سيمياء لا تشق على البصر / وجاء سيما بالمد واشتقاقها من السومة بالضم العلامة تجعل على الشاة والياء مبدلة من الواو ، وهي مبتدأ خبره قوله تعالى : { سيماهم فِى وُجُوهِهِمْ } أي في جباههم أو هي على ظاهرها ، وقوله سبحانه : { مّنْ أَثَرِ السجود } حال من المستكن في الجار والمجرور الواقع خبراً لسيماهم أو بيان لها أي سيماهم التي هي أثر السجود ، ووجه إضافة الأثر إلى السجود أنه حادث من التأثير الذي يؤثره السجود ، وشاع تفسير ذلك بما يحدث في جبهة السجاد مما يشبه أثر الكي وثفتة البعير وكان كل من العليين علي بن الحسين زين العابدين وعلي بن عبد الله بن عباس أبي الأملاك رضي الله تعالى عنهما يقال له ذو الثفنات لأن كثرة سجودهما أحدث في مواقعه منهما أشباه ثفنات البعير وهي ما يقع على الأرض من أعضائه إذا غلظ ، وما روى من قوله صلى الله عليه وسلم : \" لا تعلبوا صوركم \" أي لا تمسوها من العلب بفتح العين المهملة وسكون اللام الأثر ، وقول ابن عمر وقد رأى رجلاً بأنفه أثر السجود : أن صورة وجهك أنفك فلا تعلب وجهك ولا تسن","part":1,"page":329},{"id":330,"text":"صورتك فذلك إنما هو إذا اعتمد بجبهته وأنفه على الأرض لتحدث تلك السمة وذاك محض رياء ونفاق يستعاذ بالله تعالى منه ، والكلام فيما حدث في وجه السجاد الذي لا يسجد إلا خالصاً لوجه الله عز وجل ، وأنكر بعضهم كون المراد بالسيما ذلك .أخرج الطبراني . والبيهقي في «سننه» عن حميد بن عبد الرحمن قال : كنت عند السائب بن يزيد إذ جاء رجل وفي وجهه أثر السجود فقال : لقد أفسد هذا وجهه إما والله ما هي السيما التي سمي الله تعالى ولقد صليت على وجهي منذ ثمانين سنة ما أثر السجود بين عيني ، وربما يحمل على أنه استشعر من الرجل تعمداً لذلك فنفى أن يكون ما حصل به هو السيما التي سمي الله تعالى ، ونظيره ما حكى عن بعض المتقدمين قال : كنا نصلي فلا يرى بين أعيننا شيء ونرى أحدنا الآن يصلي فترى بين عينيه ركبة البعير فما ندري أثقلت إلا رؤس أم خشنت الأرض\rWallaahu A'lamu Bish-showaab\r> Abdullah Afif\rNambah ta'bir dari kitab tafsir attahriir wattanwiir, karya syeikh ibn 'Aasyuur (wafat tahun 1393 H) juz 26/05-206:\rواختلف في المراد من السيما التي وصفت بأنها من أثر السجود على ثلاثة أنحاء\rالأول : أنها أثر محسوس للسجود ، الثاني أنها من الأثر النفسي للسجود ، الثالث أنها أثر يظهر في وجوههم يوم القيامة . فبالأول فسر مالك بن أنس وعكرمة وأبو العالية\rقال مالك : السيما هي ما يتعلق بجباههم من الأرض عند السجود مثل ما تعلق بجبهة النبي صلى الله عليه وسلم من أثر الطين والماء لما وَكَف المسجد صبيحة إحدى وعشرين من رمضان .\rوقال السعيد وعكرمة : الأثر كالغدة يكون في جبهة الرجل .وليس المراد أنهم يتكلفون حدوث ذلك في وجوههم ولكنه يحصل من غير قصد بسبب تكرر مباشرة الجبهة للأرض وبشرات الناس مختلفة في التأثر بذلك فلا حرج على من حصل له ذلك إذا لم يتكلفه ولم يقصد به رياء .\rوقال أبو العالية : يسجدون على التراب لا على الأثواب .","part":1,"page":330},{"id":331,"text":"وإلى النحو الثاني فسر الأعمش والحسن وعطاء والربيع ومجاهد عن ابن عباس وابن جزء والضحاك . فقال الأعمش : مَن كثرت صلاته بالليل حسن وجهه بالنهار . وقريب منه عن عطاء والربيع بن سليمان . وقال ابن عباس : هو حسن السمت . وقال مجاهد : هو نور من الخشوع والتواضع . وقال الحسن والضحاك : بياض وصفرة وتهيج يعتري الوجوه من السهر .\rوإلى النحو الثالث فسر سعيد بن جبير أيضاً والزهري وابن عباس في رواية العوفي والحسن أيضاً وخالد الحنفي وعطية وشهر بن حوشب : أنها سِيما تكون لهم يوم القيامة ، وقالوا : هي بياض يكون في الوجه يوم القيامة كالقمر ليلة البدر يجعله الله كرامة لهم .\rوأخرج الطبراني وابن مردويه عن أُبيّ بن كعب قال : قال رسول الله في قوله تعالى : سيماهم في وجوههم من أثر السجود النور يوم القيامة ، قيل وسنده حسن وهو لا يقتضي تعطيل بقية الاحتمالات إذ كل ذلك من السيما المحمودة ولكنّ النبي صلى الله عليه وسلم ذَكر أعلاها .\rWallaahu A'lamu Bish-showaab\rBaca juga artikel terkait :\r1110. ORANG YANG HITAM JIDATNYA\rLink Diskusi :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/881156451907164/\rwww.fb.com/notes/901808709841938\r4000. HUKUM MEMAKAI CINCIN BATU AKIK JUGA SUNNAH ?\rPERTANYAAN :\r> Nenk Irna\rAssalamualaikum.. Ustad, ustadzah, mohon maaf aye mau tanya.. Sekarangkan dimane-mane lagi musimnye tuh ye laki-laki pade pake cincin batu ali atau pake batu akik, dan batu ape lagi aye tuh kaga ngarti.. Tua mude same aje.. Nah pertanyaannye..Ape ye hukumnye laki-laki memakai cincin batu ntuh..??, Mohon penjelasannya.. Terimakasih..\rJAWABAN :\r> Mas Hamzah\rMemakai cincin batu akik termasuk sunnah Rasul juga.\r- kitab syarah nawawi ala muslim (14/71)","part":1,"page":331},{"id":332,"text":"عن أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ خَاتَمُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ وَرِقٍ وَكَانَ فَصُّهُ حَبَشِيًّا -رواه مسلم\r“Dari Anas bin Malik ra ia berkata, bahwa cincin Rasulullah shollallohu alaihi wasallam itu terbuat dari perak dan mata cincinya itu mata cincin Habasyi”. (H.R. Muslim)\rوَكَانَ فَصُّهُ حَبَشِيًّا ) قَالَ الْعُلَمَاءُ يَعْنِى حَجَرًا حَبَشِيًّا أَىْ فَصًّا مِنْ جَزْعٍ أَوْ عَقِيقٍ فَإِنَّ مَعْدِنَهُمَا بِالْحَبَشَةِ وَالْيَمَنِ وِقِيلَ لَوْنُهُ حَبَشِىٌّ أَىْ أَسْوَدُ وَجَاءَ فِى صَحِيحِ الْبُخَارِيِّ مِنْ رِوَايَةِ حَمِيدٍ عَنْ أَنَسٍ أَيْضًا فَصُّهُ مِنْهُ قَالَ بْنُ عَبْدِ الْبَرِّ هَذَا أَصَحُّ وَقَالَ غَيْرُهُ كِلَاهُمَا صَحِيحٌ وَكَانَ لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى وَقْتٍ خَاتَمٌ فَصُّهُ مِنْهُ وَفِى وَقْتٍ خَاتَمٌ فَصُّهُ حَبَشِىٌّ وَفِى حَدِيثٍ آخَرَ فَصُّهُ مِنْ عَقِيقٍ\r“(Dan mata cincinnya itu mata cincin Habasyi). Para ulama berkata maksudnya adalah batu Habasyi yaitu batu mata cincin dari jenis batu merjan atau akik. Karena keduanya dihasilkan dari penambangan batu yang ada Habsyi dan Yaman. Dan dikatakan (dalam pendapat lain) warnanya itu seperti kulit orang Habasyi yaitu hitam. Begitu juga terdapat dalam Shahih al-Bukhari riwayat dari Hamid dan Anas bin Malik yang menyatakan bahwa mata cincinya itu dari perak.Menurut Ibnu Abd al-Barr ini adalah yang paling sahih.","part":1,"page":332},{"id":333,"text":"Sedangkan ulama lainnya mengatakan bahwa keduanya adalah sahih, dan Rasulullah shollallohu alaihi wasallam pada suatu kesempatan memakai cincin yang matanya dari perak dan pada waktu lain memakain cincin yang matanya dari batu Habasyi. Sedang dalam riwayat lain dari akik”. Wallohu a'lam. (ALF)\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/935711406451668/\rwww.fb.com/notes/936138179742324\rLINK TERKAIT :\rwww.piss-ktb.com/2014/06/3073-kesunnahan-memakai-cincin-pada.html\r0081. Lelaki Memakai Cincin Perak www.fb.com/PISS.KTB/posts/680448902008526\rwww.fb.com/notes/786797261343084\r4089. MENYIMPAN DAN MENGGUNAKAN PERMATA\rPERTANYAAN :\r> Muhammad Muhtadin\rPunten bade tanglet : nopo hukume seseorang lelaki / perempuan ngagem / memakai berlian / permata kalau emas dan perak kan jelas untuk laki-laki tidak boleh sedangkan untuk perempuan boleh, sekalian referensinya gus tapi tolong referensi ktab-kitab kecil aja biar bisa langsung di-intip\rJAWABAN :\r> Mas Hamzah\rBaik laki-laki maupun perempuan halal hukumnya menyimpan dan menggunakan batu permata / berlian misalnya yakut, zamrud, mutiara dll. Wallaahu A'lam ( MI )\r- kitab fathul qorib (1/29) :\r(ويجوز استعمال) إناء (غيرهما) أي غير الذهب والفضة (من الأواني) النفيسة، كإناء ياقوت.\rDan boleh menggunakan wadah / bejana selain emas dan perak, yakni wadah-wadah yang indah mewah seperti batu berlian Yakut\r- kitab iqna' (1/33) :\rوَيحل اسْتِعْمَال واتخاذ النفيس كياقوت وَزَبَرْجَد وبلور بِكَسْر الْبَاء وَفتح اللَّام ومرجان وعقيق والمتخذ من الطّيب الْمُرْتَفع كمسك وَعَنْبَر وعود لِأَنَّهُ لم يرد فِيهِ نهي وَلَا يظْهر فِيهِ معنى السَّرف وَالْخُيَلَاء","part":1,"page":333},{"id":334,"text":"- kitab kifayatul akhyar (1/20)\rوَأما أواني غير الذَّهَب وَالْفِضَّة فَإِن كَانَت من الْجَوَاهِر النفيسة كالياقوت والفيروزج وَنَحْوهمَا فَهَل تحرم فِيهِ خلاف قيل تحرم لما فِيهَا من الْخُيَلَاء والسرف وَكسر قُلُوب الْفُقَرَاء وَالصَّحِيح أَنَّهَا لَا تحرم وَلَا خلاف أَنه لَا يحرم الْإِنَاء الَّذِي نفاسته فِي صَنعته وَلَا يكره كلبس الْكَتَّان وَالصُّوف النفيسين\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/941777385845070/\rwww.fb.com/notes/941850262504449\r4495. HUKUM MEMAKAI HANDPHONE BERBAHAN EMAS\rPERTANYAAN :\rAssalamualaikum Wr Wb . hukumnya pria memakai/ menggunakan handphone yang berbahan / berlapis logam emas. Syukron. ( Fatin Sidqia Lubis )\rJAWABAN :\rWa'alaikumussalaam, dalam masalah ini harus dibedakan antara berbahan emas, berlapis emas atau ditambal / dipatri dengan emas. Jika berbahan emas maka mutlak haram, namun jika berlapis emas baru haram jika saat dipanaskan dengan api akan menghasilkan sesuatu (lapisan emas terlihat meleleh dan memisah). Memakai handphone berbahan emas bagi laki-laki ini hukumnya haram. Meski di dalam kutubussalaf, HP ini tidak pernah dicantumkan, tapi ini bisa di ilhaqkan (disamakan) dengan haramnya memakai perabot, wadah, Jarum, sisir, gantungan baju, dll yang terbuat dari emas.\rReferensi :\r- Tuhfah al Muhtaj, juz.1 hal.499 :\rويحل استعمال كل إناء طاهر .... الا ذهبا وفضة اي إناء ولو بابا ومرودا وخلا ... فيحرم استعماله ... الخ ... ( قوله ومرودا) والإبرة والمعلقة والمشط ونحوها .. الخ ...\r- Alfiqhul Islamiy wa adillatuhu - Zuhaily :","part":1,"page":334},{"id":335,"text":"وقال الشافعية: يحرم الإناء المطلي بذهب أو فضة إن حصل من الطلاء شيء بعرضه على النار، ويحل إن لم يحصل منه شيء بالعرض على النار. ويحرم الإناء\rالمضبب (1) بضَبة فضة كبيرة عرفاً لزينة، فإن كانت كبيرة للحاجة، جاز مع الكراهة، وإن كانت صغيرة عرفاً لزينة كرهت، أما لحاجة فلا تكره بدليل ما رواه البخاري عن عاصم الأحول قال: «رأيت قدح النبي عند أنس بن مالك، وكان قد انصدع، فسلسله بفضة .. ». أما ضبة الذهب فتحرم مطلقاً، كبيرة أو صغيرة لحاجة أو لزينة، كلها أو بعضها، ولو كمكحلة.\rhttp://shamela.ws/browse.php/book-384/page-2557#page-2557\r- Almajmu' Syarh Muhadzdzab :","part":1,"page":335},{"id":336,"text":"أما حكم المسألة : فاعلم أن المضبب هو ما أصابه شق ونحوه فيوضع عليه صفيحة تضمه وتحفظه ، وتوسع الفقهاء في إطلاق الضبة على ما كان للزينة بلا شق ونحوه ، ثم المضبب بالذهب فيه طريقان : الصحيح منهما القطع بتحريمه سواء كثرت الضبة أو قلت لحاجة أو لزينة ، وبهذا قطع المصنف [ ص: 312 ] وصاحب الحاوي والجرجاني في كتابيه . والشيخ نصر في كتابه الكافي والعبدري في الكفاية وغيرهم من العراقيين ، ونقله البغوي عن العراقيين . والطريق الثاني وقاله الخراسانيون : إنه كالمضبب بالفضة على الخلاف والتفصيل المذكور فيه ، ونقله الرافعي عن معظم الأصحاب ; لأنه لما استويا في الإناء فكذا في الضبة ، والمختار الطريق الأول للحديث ، فإنه يقتضي تحريم الذهب مطلقا ، وأما ضبة الفضة فإنما أبيحت لحديث قبيعة السيف وضبة القدح وغير ذلك ، ولأن باب الفضة أوسع فإنه يباح منه الخاتم وغيره . والله أعلم . وأما قول المصنف : إن اضطر إلى الذهب جاز استعماله فمتفق عليه ، وقال أصحابنا : فيباح له الأنف والسن من الذهب ومن الفضة ، وكذا شد السن العليلة بذهب وفضة جائز ، ويباح أيضا الأنملة منهما ، وفي جواز الأصبع واليد منهما وجهان حكاهما المتولي أحدهما : يجوز كالأنملة وبه قطع القاضي حسين في تعليقه ، وأشهرهما لا يجوز وبه قطع الفوراني والروياني وصاحبا العدة والبيان ; لأن الأصبع واليد منهما لا تعمل عمل الأصلية بخلاف الأنملة . والله أعلم .\rMUJWWIB : Ghufron Bkl, Muhammad Harsandi Kudung Kanthil,Abdullah Afif\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/1050430811646393\rwww.fb.com/notes/1056356224387185\r4536. DALIL TIDUR 8 JAM SEHARI\rPERTANYAAN :\r> Em Aril Al Kafi","part":1,"page":336},{"id":337,"text":"Di dalam kitab ta'lim mutaallim . orang yang mencari ilmu disuruh melek malam untuk belajar.. Toh jika menurut medis tidur min 8 jam... Pendapate jenengan sedoyo pripun? Apakah ada ibarot dalam kitab-kitab Thib bahwa tidur min 8 jam ?\rJAWABAN :\r> Mas Hamzah\rAda, dalam kitab tib juga seperti itu, lihat kitab ar rohmah fit tib wal hikmah imam suyuti halaman 20 :\rوالقدر الاصلاح من النوم ست ساعات من الليل اوثمان وفي النهار ولو ساعة القيلولة ولو لحظة فان فيها اعانة علي قيام الثلث الباقي من الليل كما ان في السحور اعانة علي الصوم\rUkuran paling baik dari tidur adalah 6 atau 8 jam di malam hari, dan di siang hari walaupun sebentar di waktu qoilulah, karena dengan tidur sebentar di siang hari bisa menolong bangun pada sepetiga akhir di malam hari sebagaimana sahur bisa menolong orang untuk berpuasa.\r- kitab bidayatul hidayah halaman 9 :\rواعلم أن الليل والنهار أربع وعشرون ساعة، فلا يكن نومك بالليل والنهار أكثر من ثماني ساعات، فيكفيك إن عشت مثلا ستين سنة أن تضيع منها عشرين سنة وهو ثلث عمرك.\rDan ketahuilah bahwa sehari semalam itu ada 24 jam maka tidurmu di malam dan siang hari jangan lebih dari 8 jam, maka cukuplah bagimu jika seumpama kamu hidup 60 tahun, kamu menyia-nyiakan umurmu sebanyak 20 tahun, yaitu sepertiga umurmu. Wallohu a'lam bis showab\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/992371514118990/\rwww.fb.com/notes/1079380272084780?h\r0122. PENTINGNYA ILMU\rOleh Masaji Antoro\rقَالَ علي بن أبي طالب :\rلَيْسَ الْجَمَالُ بِأَثْوَابٍ تُزَيِّنُهَا *** إِنَّ الْجَمَالَ جَمَالُ الْعَقْلِ وَالأَدَبِ\rSayyidina ALI BIN ABI THOLIB berkata:","part":1,"page":337},{"id":338,"text":"Tidaklah cantik atau tampan seseorang karena memakai HIASAN\rTapi sejatinya kecantikan atau ketampanan sebab ilmu dan KESOPANAN\rوقال الحسن : لولا العلماء لصار الناس مثل البهائم ، تعلموا العلم فإن تعلمه خشية ، وطلبه عبادة ، ومدارسته تسبيح، والبحث عنه جهاد ،وتعليمه من لا يعلمه صدقة، وبذله لأهله قربة ، وهو الأنيس في الوحدة ، والصاحب في الخلوة ، والدليل على الدين والصبر... على الضراء والسراء والقريب عند الغرباء ، ومنار سبيل الجنة ،\rIMAM HASAN BASYRI berkata :\rAndai tiada orang yang mengerti ilmu manusia tak ubahnya binatang,\rPelajarilah ILMU karena ;\rMempelajarinya berarti punya rasa takut pada Allah\rMencarinya bernilai ibadah\rMengulanginya berpahala tasbih pada Allah\rMembahasnya berarti JIHAD kejalan Allah\rMengajarkannya pada yang belum tahu bernilai sodaqah\rMenyerahkannya pada yang berhak bentuk pendekatan diri pada Allah\rILMU adalah penghibur kala kesendirian melanda\rPetunjuk bagi kesempurnaan agama\rKesabaran di kala lara dan papa\rTeman dekat kala tersesat\rRambu-rambu kejalan SURGA\rوقال الإمام الغزالي رحمه الله في الإحياء : \" إن الخاصية التي يتميز بها الناس عن سائر البهائم هو العلم فالإنسان إنسان بما هو شريف لأجله وليس ذلك بقوة شخصه فإن الجمل أقوى منه ولا بعظمه فإن الفيل أعظم منه ولا بشجاعته فإن السبع أشجع منه ولا بأكله فإن الثور أوسع بطنا منه ولا ليجامع فإن أخس العصافير أقوى على السفاد منه بل لم يخلق إلا للعلم\rBerkata Imam Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Abu Hamid Al-Ghozali :\rSesungguhnya keistimewaan yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya adalah ILMU, manusia dikatakan makhluk mulia hanya karena ilmunya","part":1,"page":338},{"id":339,"text":"Bukan karena kekutannya, sebab bukankah unta lebih kuat ketimbang manusia ?\rBukan karena kebesarannya, sebab bukankah gajah lebih besar ketimbang manusia ?\rBukan karena keberaniannya, sebab bukankah binatang buas lebih berani ketimbang manusia ?\rBukan karena kemampuan makannya, sebab bukankah sapi jantan lebih besar perutnya ketimbang manusia ?\rBukan karena kuat setubuhnya, sebab bukankah paling hinanya burung pipit lebih kuat setubuhnya ketimbang manusia ?\rManusia tiada tercipta kecuali untuk ilmu.... Ilmu dan ilmu........ [ Ihyaa 'Uluumiddiin I/7 ].\rKarenanya tidak berlebihan bila Rosulullah Shallallaahu ‘Alaihi wasallam bersabda :\rمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ\rBarangsiapa meniti satu jalan untuk mencari ilmu, niscaya –dengan hal itu- Allah jalankan dia di atas jalan di antara jalan-jalan sorga (HR Muslim XXXVIII/2699)\rImam Atthoiby dalam kKitab Faidh AlQoodir mengartikan hadits diatas :\rوالمعنى سهل الله له بسبب العلم طريقا من طرق الجنة وذلك لأن العلم إنما يحصل بتعب ونصب وأفضل الأعمال أحزمها فمن تحمل المشقة في طلبه سهلت له سبل الجنة سيما إن حصل المطلوب\r“Sebab ilmu Allah memudahkan seseorang salah satu jalan yang menuju surga, hal ini karena ilmu dihasilkan seseorang dengan jerih payah sedang paling utamanya amal ibadah mengukur kadar upaya seseorang dalam mengikat keletihan, barangsiapa mau menanggung kesusahan dalam mencari ilmu maka Allah mudahkan jalannya kesurga terlebih bila ilmu tersebut juga tercapai”. [ Faidh AlQadir VI/199 ].","part":1,"page":339},{"id":340,"text":"KESIMPULANNYA : Mencari ilmu adalah JALAN SURGA, karenanya Ayoo Mengaji… !!!!\r3484. ILMU YANG WAJIB DICARI\rPERTANYAAN :\r> Teuku Fauzan Arryvary\rTentang hadist thalabul ilmi ilakh. Alip lam pada ilmu itu menunjukkan ilmu apa yang wajib dituntut, apa hanya yang bisa membawa kita ke akhirat saja ?\rJAWABAN :\r> Mas Hamzah\rIlmu yang wajib dicari dijelaskan dalam kitab syarah misykatul mashobih ali al qori :\r( وعن أنس قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( طلب العلم ) أي : الشرعي ( فريضة ) أي : مفروض فرض عين ( على كل مسلم ) : أو كفاية والتاء للمبالغة أي ومسلمة كما في رواية .\rقال الشراح : المراد بالعلم ما لا مندوحة للعبد من تعلمه كمعرفة الصانع والعلم بوحدانيته ونبوة رسوله وكيفية الصلاة ، فإن تعلمه فرض عين ، وأما بلوغ رتبة الاجتهاد والفتيا ففرض كفاية . قال السيد : ويمكن أن يعم العلم ويحمل الكلام على المبالغة ا هـ . وفيه تأمل .\rقال الأبهري : واختلف في العلم الذي هو فرض وتحزبوا فيه أكثر من عشرين فرقة ، فكان فريق نزل الوجوب على العلم الذي بصدده ا هـ .\rDari anas berkata, Rasululloh shollallohu alahi wasallam bersabda ( mencari ilmu) - maksudnya ilmu syar'i - ( wajib ) - maksudnya diwajibkan dengan fardhu ain- (bagi setiap orang islam lelaki ) - atau fardhu kifayah, huruf ta' berfaedah mubalagoh, maksudnya orang islam perempuan sebagaimana dalam riwayat.","part":1,"page":340},{"id":341,"text":"Pensyarah hadis berkata : yang dimaksud dengan ilmu adalah ilmu yang tidak boleh tidak / wajib bagi seorang hamba untuk mempelajarinya misalnya ilmu untuk mengetahui sang pendipta, ilmu tentang ke esaan-Nya, kenabian utusan-Nya dan caranya sholat karena sesungguhnya mempelajarinya hukumnya fardhu ain, adapun mencapai derajat mujtahid dan berfatwa maka hukumnya fardhu kifayah.sayyid berkata : dan mungkin saja maksudnya adalah semua ilmu dan sabda Rasul di tanggungkan atas mubalaghoh..\rAl abhari berkata : ulama' berbeda pendapat ttg ilmu yang fardhu, mereka mengelompokkannya sampai lebih dari 20 kelompok dan satu kelompok menempati wajibnya ilmu berdasarkan maksud tujuannya.\rقال الشيخ العارف الرباني السهروردي : اختلف في هذا العلم الذي هو فريضة . قيل : هو علم الإخلاص ومعرفة آفات النفس وما يفسد الأعمال لأن الإخلاص مأمور به ، فصار علمه فرضا آخر ، وقيل : معرفة الخواطر وتفصيلها فريضة لأن الخواطر هي منشأ الفعل ، وبذلك يعلم الفرق بين لمة الشيطان ولمة الملك ،\rوقيل : هو طلب علم الحلال حيث كان أكل الحلال واجبا ، وقيل : علم البيع والشراء والنكاح إذا أراد الدخول في شيء منها ، وقيام علم الفرائض الخمس ، وقيل : هو طلب علم التوحيد بالنظر والاستدلال والنقل ، وقيل : هو طلب علم الباطن وهو ما يزداد به العبد يقينا ، وهو الذي يكتسب بصحبة الصالحين والزهاد المقربين ، فهم وراث الأنبياء صلوات الله وسلامه عليهم أجمعين ا هـ .","part":1,"page":341},{"id":342,"text":"Syeh al arif robbani as suhrawardi berkata :ilmu yang wajib dipelajari ini terjadi perbedaan pendapat, dikatakan bahwa itu adalah ilmu ikhlas, ilmu untuk mengetahui bahayanya nafsu dan untuk mengetahui yang bisa merusak amal, alasannya karena ikhlas itu diperintahkan maka ilmunya mejadi wajib.dikatakan bahwa untuk mengetahui lintasan-lintasan hati dan perinciannya hukumnya wajib karena lintasan-lintasan hati ini adalah tempat munculnya pekerjaan dan dengan itulah bisa diketahui perbedaan antara langkahnya syetan dan langkahnya malaikat.\rDikatakan bahwa ilmu yang wajib dicari adalah ilmu tentang barang halal sebab makan barang halal hukumnya wajib.dikatakan bahwa yang wajib adalah ilmu jual beli dan nikah ketika akan memasukinya, dan juga ilmu mendirikan kewajiban yang lima. Dikatakan bahwa itu adalah mencari ilmu tauhid dengan berfikir, mengambil dalil dan menukil.\rDikatakan bahwa itu adalah mencari ilmu batin yaitu ilmu yang bisa menambahkan keyakinan pada seorang hamba yang bisa dicari dengan cara bergaul dengan para sholihin, ahli zuhud dan orang-orang yang dekat dengan Allah, merekalah para pewaris nabi sholawatulloh wasalamuhu alaihim ajma'iin. Wallohu a'lam.\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/831317560224387/\r4380. ILMU YANG WAJIB DICARI DAN DIPELAJARI\rPERTANYAAN :\r> Mzf","part":1,"page":342},{"id":343,"text":"Assalammualaikum. Saya seorang guru, saya merasa kebingungan untuk menjawab pertanyaan murid saya yang bertanya dan berkata : \"Lebih baik tidak usah sekolah ( belajar ilmu umum ), karena yang lebih penting adalah belajar agama\". Murid saya tersebut mendengar ucapan dari seseorang di depan sekolahnya. Lalu ia menanyakan kepada saya apakah itu benar atau salah ? saya merasa kebingungan untuk menjawabnya. Maaf sebelumnya, apa pendapat ustadz tentang ini dan bagaimana saya harus menjawab dan menjelaskannya kepada murid saya ? Sebelumnya saya ucapkan terima kasih.\rJAWABAN :\r> Ghufron Bkl\rWa'alaikum salam. Menurut Imam Al-Ghozali ilmu yang wajib dicari / dipelajari ada tiga :\r1. Ilmu tauhid\r2. Ilmu yang berhubungan dengan hati\r3. Ilmu syari'at\rقال الغزالي في المنهاج: العلم المفروض في الجملة ثلاثة علم التوحيد وعلم السر وهو ما يتعلق بالقلب ومساعيه وعلم الشريعة والذي يتعين فرضه من علم التوحيد ما تعرف به أصول الدين وهو أن تعلم أن لك إلها قادرا عالما حيا مريدا متكلما سميعا بصيرا لا شريك له متصفا بصفات الكمال منزها عن دلالات الحدث متفردا بالقدم وأن محمدا رسوله الصادق فيما جاء به ومن علم السر معرفة مواجبه ومناهيه حتى يحصل لك الإخلاص والنية وسلامة العمل ومن علم الشريعة كل ما وجب\rshamela.ws/browse.php/book-21660/page-5307\r(فيض القدير 5264 (ج 4 / ص 267)","part":1,"page":343},{"id":344,"text":"(طلب العلم فريضة على كل مسلم) قد تباينت الأقوال وتناقضت الآراء وفي هذا العلم المفروض على نحو عشرين قولا وكل فرقة تقيم الأدلة على علمها وكل لكل معارض وبعض لبعض مناقض وأجود ما قيل قول القاضي: ما لا مندوحة عن تعلمه كمعرفة الصانع ونبوة رسله وكيفية الصلاة ونحوها فإن تعلمه فرض عين قال الغزالي في الإحياء: المراد العلم بالله وصفته التي تنشأ عنه المعارف القلبية وذلك لا يحصل من علم الكلام بل يكاد يكون حجابا مانعا منه وإنما يتوصل له بالمجاهدة فجاهد تشاهد ثم أطال في تقريره بما يشرح الصدور ويملأ القلب من النور إلى أن قال… سئل عنه النووي فقال: ضعيف وإن كان معناه صحيحا إلى أن قال… وقال المصنف: جمعت له خمسين طريقا وحكمت بصجته لغيره ولم أصحح حديثا لم أسبق لتصحيحه سواه.\rArtinya : (Mencari ilmu adalah suatu keharusan bagi setiap muslim) Telah aku jelaskan Qoul-qoul dan pertentangan pendapat tentang Ilmu yang diharuskan (mempelajarinya) sekitar 50 qoul, dan setiap golongan berpegang pada dasar-dasar sesuai keilmuan, satu sama lainnya saling bertentangan.\rNamun pendapat yang paling Indah, adalah dari Imam Al Qodli: “Setiap ilmu yang harus di pelajari (tidak ada keleluasaan untuk tidak mempelajarinya) seperti mengetahui pencipta, kenabian Rosul-Nya, tata cara sholat dan lainnya, karena mempelajarinya adalah kewajiban bagi setiap orang”.","part":1,"page":344},{"id":345,"text":"Imam Ghozali dalam kitab Ikhya’ berkata: “Yang di kehendaki (dengan Ilmu yang diharuskan mempelajarinya) adalah mengetahui (ma’rifat/Wushul) Alloh dan sifat-Nya, dimana dengan ilmu tersebut muncul pengetahuan yang bersumber dari hati, dan hal itu tidak akan berhasil dari Ilmu Kalam (Tauhid/teologi), bahkan ilmu kalam bisa menjadi penghalang dan penyegah mengetahui Alloh. Ma’rifat kepada Alloh hanya bisa berhasil dengan mujahadah (bersungguh-sungguh beribadah kepada Alloh), bersungguh-sungguhlah maka engkau akan menemukan ma’rifat kepada Alloh!”. Kemudian Imam Ghozali membeberkan keterangan tentang sesuatu yang bisa melapangkan dada dan menerangi hati.\rPada waktu Imam Nawawi ditanya (tentang status) Hadist ini, beliau berkata : “(hadist ini) adalah hadist dloif (lemah dipandang dari periwayat), walaupun Shohih dalam segi makna (maknanya benar). Imam Mushonnif (pengarang kitab Jamiussoghir: Imam Suyuthi) berkata: “Aku mengumpulkan hadist ini (melalui) 50 periwayat dan aku menghukumi (hadist ini) dengan Shohih Li Ghoirihi (Shohih dengan memandang periwayatan hadist lain) dan aku tidak menghukumi shohih suatu hadist yang belum aku shohihkan selain hadist diatas”. Wallohu a'lam\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/notes/989294604426681\r0201. SEKELUMIT TENTANG ILMU DAN ULAMA\rPERTANYAAN :\rIbnu Husain Saddam\rAssalaamu'alaikum..Apakah ciri-ciri ilmu yang bermanfaat? Dan bagaimanakah ciri-ciri ulama' yang berilmu manfaat ? Terima kasih.\rJAWABAN :\rZaine Elarifine Yahya","part":1,"page":345},{"id":346,"text":"Semua ilmu sepanjang bersifat syariat dan pendukung terhadap ilmu syariat sejatiinya merupakan ilmu manfaat menurut syariat.. ulama yang berilmu manfaat hanyalah ia yang mengamalkan ilmunya dalam pengabdian kepada Allah swt dengan ikhlas.. mohon pencerahannya..\rNur Muhamad Al-amarr\rIlmu yang bmanfat akn nampak pada seseorang dengan tanda-tandanya, yaitu:\r1.Beramal dengannya.\r2.Benci disanjung,dipuji dan takabbur atas orang lain.\r3.Smkn btawadhu’ ktka ilmunya smkn banyak.\r4.Mnghindar dari cinta kpmimpinan,ktenaran dan dunia.\r5.Mnghindar untuk mngaku berilmu.\r6.Bersu’udzan (buruk sangka) kepada dirinya dan husnudzan (baik sangka) kepada orang lain dalam rangka mnghindari celaan kepada orang lain. (Lihat Fadl Ilm Salaf hal. 56-57 dan Hilyah Thalib Ilm hal. 71)\rSbliknya ilmu yang tidak bmanfaat juga akn nampak tanda-tandanya pada orang yang mnyandangnya yaitu:\r1.Tambahnya sifat sombong,sngt brambisi dalam dunia dan blomba-lomba pdnya,sombong thadap ulama,mndebat org-org bdoh,dan mmalingkan phatian manusia kepadanya.\r2.Mengaku sbgai wali Allah Subhanahu wa Ta’ala,ato mrasa suci diri.\r3.Tidak mau mnerima yang hak dan tunduk kepada kbenaran, dan sombong kepada orang yang mngucapkan kbenaran jika drajatnya di bawahnya dalam pndangan manusia,srta ttap dalam kbatilan.","part":1,"page":346},{"id":347,"text":"4.Mnganggap yang lainnya bdoh dan mencatat mreka dalam rangka mnaikkan dirinya diatas mereka.Bahkan tkadang mnilai ulama tdahulu dengan kbodohan,lalai,ato lupa shgga hal itu mjadikan ia mncintai klebihan yang dmilikinya dan bburuk sangka kepada ulama yang tdahulu. (Lihat Fadl Ilm Salaf: 53, 54, 57, 58). Wallahu a’lam. Sumber : Majalah Syari’ah\rGozin Mahabah Basalamah\rIlmu manfa'at ialah, ilmu yang membuat kita takut kepada Allah ta'ala , & ilmu yang membuat kita melihat kesalahan2 kita sendiri..\rMasaji Antoro\rWaalaikumsalam wr wb. ILMU MANFAAT Adalah yang menjadikan pemiliknya semakin mengenal kebesaran, keagungan serta kesempurnaan kuasa Tuhannya.\rأوحى الله إلى داود تعلم العلم النافع قال : ما العلم النافع ؟ قال أن تعرف جلالي وعظمتي وكبريائي وكمال قدرتي على كل شئ ، فهذا الذي يقربك إلي.\rAllah memberi wahyu pada Dadud As. “Carilah ilmu yang manfaat !”. “Apakah ilmu manfaat itu ? “ Tanya Daud As pada Allah. ”Bila engakau mengenal kebesaranKu, keagunganKu, KemuliaanKu serta kesempurnaan kuasaKu pada setiap hal, itulah ilmu yang membuatmu semakin dekat padaKu” jawab Allah Ta’aala. [ Faidh alQadiir II/23 ].\rقال الغزالي : العلم النافع هو ما يتعلق بالآخرة وهو علم أحوال القلب وأخلاقه المذمومة والمحمودة وما هو مرضي عند الله وذلك خارج عن ولاية الفقيه\rImam alGhazali berkata “Ilmu manfaat adalah ilmu yang berhubungan dengan akhirat, ilmu untuk mengetahui keadaan hati, tingkah laku pemiliknya termasuk tercela atau terpuji, mengetahui yang diridhai Allah, ilmu ini sudah diluar ranah ilmu fiqih”. [ Faidh alQadiir IV/143 ].","part":1,"page":347},{"id":348,"text":"قال الغزالي : وهذا وما قبله وما بعده في العلم النافع ، وهو الذي يزيد في الخوف من الله ، وينقص من الرغبة في الدنيا ، وكل علم لا يدعوك من الدنيا إلى الآخرة ، فالجهل أعود عليك فيه فاستعذ بالله من علم لا ينفع.\rFaidh alQadiir VI/228\rومن علامة العلم النافع القناعة بعلم الله والاكتفاء بتظره وثمرة القناعة عدم المبالاة بذم الناس ومدحهم وإقبالهم وأدبارهم اكتفاء بعلم الله\rIiqaazh alHimam Matan Syarh alHikam I/229\rومن ثمرات العلم النافع خشية الله ومهابته.\rFaidh alQadiir V/670\r(ومن دعوة لا يستجاب لها) قال العلائي تضمن الحديث الاستعاذة من دنئ أفعال القلوب وفي قرنه بين الاستعاذة من علم لا ينفع ومن قلب لا يخشع إشارة إلى أن العلم النافع ما أورث الخشوع\rFaidh alQadiir II/194\rTANDA ILMU MANFAAT\rOrang yang dikaruniai ilmu manfaat dalam dirinya akan tercermin :\r• Semakin takut pada Allah\r• Semakin khusyu' dalam ibadahnya\r• Semakin berkurang kesenangannya pada dunia. Setiap ilmu yang tidak mengalihkan dirimu dari cinta dunia pada cinta akhirat maka kebodohan kembali lagi padamu, berlindunglah pada Allah dari ilmu yang tidak manfaat.\r• Berjiwa Qana’ah (menerima apa adanya/sukarela) atas segala pemberian Allah\rTanda orang yang Qana’ah dengan ilmunya : Tidak memperdulikan pujian, cacian, tidak perduli saat disanjung atau dikucilkan oleh orang lain karena dirinya begitu menikmati dan merasa cukup dengan anugerah berupa ‘ilmu Allah’. Wallahu A'lamu bis showaab...\r0241. JAUHI MAKSIAT DAN HAFALAN\rPERTANYAAN :\rKhoirul Munir\rAssalam 'alaikum. cara untuk menjaga hafalan dalam ingatan bagaimana?\rJAWABAN :\rMasaji Antoro","part":1,"page":348},{"id":349,"text":"Waalaikumsalam wr wb. Berikut apa yang pernah dialami oleh IMAM SYAFI'I yang mengeluhkan jeleknya hafalannya pada gurunya...\rشكوت إلى وكيع سوء حفظي * * فأرشدني إلى ترك المعاصي\rوأخبرني بأن العلم نور * * ونور الله لا يهدى لعاصي\rAku mengeluh kepada guruku Imam Waki’ tentang buruknya hafalanku\rmaka guruku memberi petunjuk untuk meninggalkan kemaksiatan.\rDan memberitahukan bahwasanya ilmu itu cahaya\rsedangkan cahaya Allah tidaklah diberikan kepada orang yang bermaksiat.\rقوله: قال وكيع) هو شيخ الامام الشافعي رضي الله عنه)\r(Imam waki' ) beliau adalah Guru imam Syafi'i radhia Allaahu anhu. [ I'aanatut Thoolibiin II/190 ].\rAbdurrahman As-syafi'i\rWa'alaikum salam wr.wb. Menukilkan kitab ta'lim muta'alim hal 43 :\rو اما اسباب نسيان العلم فاكل الكزبرة الرطبة و التفاح الحامض و النظر الى المصلوب و قراءة لوح القبور و المرور بين قطار الجمال\rAdapun hal-hal yang bisa menyebabkan sifat lupa pada ilmu adalah :\r- memakan ketumbar yang masih basah\r- makan buah-buahan yang masam rasanya\r- melihat orang yang disalib\r- membaca tulisan di nisan pekuburan\r- berjalan diantara gandengan unta\r3797. AMALAN AGAR MUDAH MENGHAFAL DAN TIDAK CEPAT LUPA\rPERTANYAAN :\r> Adzim Bangkit\rAssalamualaikum wr wb. sekedar minta saran atau petunjuk. Untuk mendapatkan ilmu atau wawasan supaya mudah menghafal dan tidak mudah lupa adakah jalan yang harus aku tempuh untuk mudah menangkap pelajaran dari teori pembelajaaran baik itu dari hasil mendengarkan ataupun dari hasil membaca untuk bisa aku cerna ke dalam otak secara komprehensif. Wassalam.\rJAWABAN :\r> Rizalullah Santrialit","part":1,"page":349},{"id":350,"text":"wa'alaikum salam Wr Wb.Didalam kitab Durratu al-Nashihin terdapat keterangan sebagai berikut :\rمن اراد أن يحفظ العلم فعليه ان يلازم خمس خصال : الأولى صلاة الليل ولوركعتين , والثانية دوام الوضوء , ولثالثة التقوى في السر والعلانية , والرابعة ان يأكل للتقوى لاللشهوات , والخامسة السواك .\rArtinya : “ Barangsiapa yang ingin menghafal ilmu, maka ia mesti melakukan lima perkara : pertama , shalat malam (Tahajjud) walaupun hanya dua raka’at, kedua terus menerus punya wudhu’ (menjaga wudhu’),ketiga bertaqwa kepada Allah, baik ditempat sepi maupun ditempat yang ramai. Ke-empat, makan untuk meningkatkan ketaqwaan, bukan karena mengikuti hawa nafsu. Kelima, rajin bersiwak “. (Kitab Durratu an-Nashihin halaman 15).\rDan di dalam kitab Ta’limul Muta’allim terdapat keterangan sebagai berikut :\rوأقوى أسباب الحفظ : الجد والماظبة وتقليل الغذاء وصلاة الليل , وقراءة القرآن من اسباب الحفظ , قيل : ليس شيء أزيد للحفظ من قراءة القرآن نظرا .\rArtinya : “ dan adapun sebab-sebab yang paling utama untuk kuat hafalan ialah bersungguh-sungguh, ulet, tidak banyak makan, dan shalat malam. Adapun membaca al-Qur’an, termasuk penyebab kuat hafalan. Ada Ulama’ yang berkata : tidak ada sesuatupun yang lebih menambah kuatnya hafalan dari pada membaca al-Qur’an sambil melihat al-Qur’an “. (Kitab Ta’limul Muta’allim, halaman 54).\rDari penjelasan di atas dapat dipetik kesimpulan bahwa jika seseorang ingin kuat hafalan, maka ia harus melakukan hal-hal berikut ini :","part":1,"page":350},{"id":351,"text":"1. Rajin shalat tahajjud, sekalipun hanya dua raka’at. Setelah shalat tahajjud lalu berdo’a, memohon kepada Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang supaya dikuatkan hafalan.\r2. Terus – menerus punya wudhu’. Kalau batal segera berwudhu’ lagi.\r3. Apabila makan hendaklah diniatkan untuk lebih semangat dalam beribadah, bukan karena dorongan hawa nafsu semata.\r4. Rajin bersiwak (membersihkan/menggosok gigi).\r5. Serius dan ulet dalam menghafal, tidak cepat jemu.\r6. Jangan terlalu banyak makan, bahkan lebih baik lagi kalau sering berpuasa, terutama hari senin dan kamis.\r7. Rajin membaca al-Qur’an sambil melihat al-Qur’an.\r8. Selalu bertaqwa kepada Allah dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, baik ditempat ramai maupun ditempat sunyi.\rImam Syafi’i dalam salah satu gubahannya pernah berkata : “ saya telah mengadukan kepada imam Waki’, tentang buruknya hafalanku. Lalu beliau memberi nasihat kepada ku agar meninggalkan segala macam maksiat, karena bahwasanya hafal ilmu itu adalah karunia Allah, dan karunia Allah itu tidak akan dihadiahkan kepada orang-orang yang berbuat maksiat “.\rMenurut ahli psikologi : “ Orang yang menghafal suatu ilmu harus berada dalam kondisi badan yang sehat sempurna sehingga saraf-saraf yang berada di otak dalam keadaan baik dan kuat “.\rDan yang tidak kalah penting untuk diperhatikan agar hafalan itu benar-benar kuat dan lengket diotak ialah sering mengulang-ngulang menghafalnya.\rAda pepatah dalam bahasa Arab yang mengatakan :\rالتكرار يفيد القرار\rArtinya : “ mengulang-ulang itu dapat menjadikan kuat hafalan “.","part":1,"page":351},{"id":352,"text":"Masih dalam Ta'limul Muta'alim, diterangkang tentang Penyebab Lupa :\rوأما ما يورث النسيان فهو: المعاصى وكثرة الذنوب والهموم والأحزان فى أمور الدنيا، وكثرة الإشتغال والعلائق، وقد ذكرنا أنه لا ينبغى للعاقل أن يهتم لأمر الدنيا لأنه يضر ولا ينفع، وهموم الدنيا لا تخلو عن الظلمة فى القلب، وهموم الآخرة لا تخلو عن النور فى القلب، ويظهر أثره فى الصلاة، فهم الدنيا يمنعه من الخيرات، وهم الآخرة يحمله عليه\rPenyebab lupa adalah laku maksiat, banyak dosa, gila dan gelisah karena urusan dunia. Seperti telah kami kemukakan di atas, bahwa orang yang berakal itu jangan tergila-gila dengan perkara dunia, karena akan membahayakan dan sama sekali tidak ada manfaatnya. Gila dunia tak lepas dari akibat kegelapan hati, sedang gila akhirat tak lepas dari akibat hati bercahaya yang akan tersakan di kala shalat. Kegilaan dunia akan menghalangi berbuat kebajikan, tetapi kegilaan akhirat akan membawa kepada amal kebajikan.\rوالإشتغال بالصلاة على الخشوع وتحصيل العلم ينفى الهم والحزن، كما قال الشيخ نصر بن الحسن المرغينانى فى قصيدة له:\rاستعن نصر بن الحسن فى كل علم يحتزن\rذاك الذى ينفى الحزن وما سواه باطل لا يؤتمن\rMembuat dirinya terlena melakukan shalat dengan khusu dan mempelajari ilmu pengetahuan itu dapat menghilangkan kekacauan dalam hati, sebagaimana tersebut di dalam gubahan Syaikhul Islam Nasrhr Ibnul Hasan Al-Marghibani :\rMohonlah inayah, oh Nasr putra Al-Hasan\rUntuk mencapai ilmu yang tersimpan\rHanya itu, yang bisa membuang duka\rSelain itu, jangan percaya\rوالشيخ الإمام الأجل نجم الدين عمر بن محمد النسفى قال فى أم ولد له:\rسلام على من تيمتنى بظرفها ولمعة خدها ولمحة طرفها","part":1,"page":352},{"id":353,"text":"سبتنى وأصبتنى فتاة مليحة تحيرت الأوهام فى كنه وصفها\rفقلت: ذرينى واعذرينى فإننى شغفت بتحصيل العلوم وكشفها\rولى فى طلاب الفضل والعلم والتقى غنى عن غناء الغانيات وعرفها\rSyaikhul Imam Najmuddin Umar bin Muhammad An-Nasafi dalam menyifati jariyah Ummi waladnya, tergubah beberapa bait syi'ir :\rSalamku buat si dia, yang membuatku terpesona karena lembut tubuhnya\rHalus pipinya dan giuran kerdipan matanya\rSi cantik molek, diriku jadi tertahan, hatikupun tertawan\rHati kebingungan, bila bermaksud tuk menggambarkan\rAku berkata : tinggalkan daku, maafkan aku\rKarena kusibuk membuka jalan dan menuntut ilmu\rSelama aku mencari utama dan taqwa\rTak perlu lagi, rayuan si cantik dan harum baunya\rوأما أسباب نسيان العلم: فأكل الكزبرة الرطبة، والتفاح الحامض، والنظر إلى المصلوب، وقراءة الخط المكتوب على حجارة القبور، والمرور بين قطار الجمال، وإلقاء القمل الحي على الأرض، والحجامة على نقرة القفا، كلها يورث النسيان\rSebab-sebab yang membuat mudah lupa, yaitu makan ketumbar, buah apel masam, melihat salib, membaca tulisan pada kuburan, berjalan disela-sela unta terakit, membuang ke tanah kutu yang masih hidup, dan berbekam pada tengkuk kepala. Singkirilah itu semua, karena membuat orang jadi pelupa.\rLINK ASAL\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/890907510932058/\rwww.fb.com/notes/913816591974483\r0256. Enam Perkara Yang Dirahasiakan oleh Allah SWT\rSahabat Umar ra berpesan : ''Allah ta'ala menyembunyikan enam perkara dalam enam perkara yang lain, yaitu:\r1. Allah menyembunyikan keridhaan-Nya dalam ketaatan kepada-Nya.\r2. Allah menyembunyikan murka-Nya dalam kemaksiatan seorang hamba-Nya.","part":1,"page":353},{"id":354,"text":"3. Allah menyembunyikan Lailatul Qodar dalam bulan Ramadhan.\r4. Allah menyembunyikan para Wali di antara manusia.\r5. Allah menyembunyikan kematian dalam umur.\r6. Allah menyembunyikan 'ash-sholatul wushta' (sholat yang paling utama)dalam sholat lima waktu.''\r''Allah merahasiakan enam hal tersebut di dalam enam yang lain maksudnya adalah :\r1.Agar manusia bersungguh-sungguh dalam melaksanakan ketaatan kepada-Nya,sehingga tidak sepantasnya bagi siapapun untuk meremehkan ketaatan meskipun sangat kecil,sebab boleh jadi justru di situlah ada ridha Allah.\r2.agar manusia mau menjauhi segala bentuk kemaksiatan dan takut terjerumus ke dalamnya,sehingga tidak sepantasnya bagi siapapun untuk meremehkan kemaksiatan meskipun sangat kecil,sebab boleh jadi justru di situlah murka Allah.\r3.agar ada kesungguhan dalam ' menghidupkan 'seluruh hari di bulan Ramadhan,sebab sebagaimana di sebutkan dalam Hadist 'pahala ibadah sunnah di bulan Ramadhan sama dengan pahala ibadah wajib pada bulan selainnya dan agar bersungguh-sungguh dalam mencari Lailatul Qadar sebab nilainya lebih baik dari 1000 bulan ( 83 tahun 4 bulan ).\r4.agar manusia mau menghormati setiap orang dan tidak meremehkannya,sebab kalau seseorang meremehkan orang lain,boleh jadi orang yang diremehkannya itu justru wali Allah.\r5.agar manusia selalu mempersiapkan diri untuk menyambut kematiannya.dan\r6.agar seorang muslim betul - betul memelihara semua sholat wajibnya.\rDi ambil dari buku Nashaihul'Ibaad,Muhammad Nawawi al Bantani, Syarh Al-Munabbihaat 'Alal Isti'daad Li Yaumil Ma'aad karya Ibnu Hajar Al-Asqalani. [ Tommy Sumardi ].","part":1,"page":354},{"id":355,"text":"0303. Melebur Dosa-dosa Mata\rKetika salah seorang sahabat RA (dalam riawayat yang tsiqah) melihat aurat seorang wanita dengan sengaja, maka ia merasa telah berbuat dosa yang sangat besar dan ia pun menyendiri ke atas gunung dan tidak mau lagi melihat wajah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam karena dia merasa tidaklah pantas matanya melihat wajah beliau karena mata itu telah berbuat zina.\rDan setelah beberapa hari Rasulullah menanyakan orang itu karena beberapa hari Rasulullah tidak melihatnya, maka sayyidina Abu Bakr As Shiddiq Ra mendatanginya ke gunung dan berkata kepada orang itu: \"engkau dipanggil oleh Rasulullah\", orang itu menjawab: \"aku tidak mau melihat wajah Rasulullah, mataku tidak lagi pantas memandang beliau karena telah berbuat dosa\", maka sayyidina Abu Bakr berkata: \"ini adalah perintah Rasulullah\".\rMaka ia pun datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan ketika itu Rasulullah sedang melakukan shalat maghrib, dan ketika ia mendengar bacaan Rasulullah dari kejauhan, ia pun terjatuh dan roboh karena tidak mampu mendengarkan lantunan suara indah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, maka ia diberdirikan oleh sayyidina Abu Bakr As Shiddiq dan dibimbing untuk terus masuk ke shaf shalat dan setelah selesai shalat.","part":1,"page":355},{"id":356,"text":"Ketika orang-orang mulai berdiri dan keluar dari shaf shalat, ia hanya tertunduk saja, maka Rasulullah memanggilnya dan berkata :\"kemarilah mendekat kepadaku\", ia mendekat hingga lututnya bersatu dengan lutut nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam namun ia tetap menundukkan kepalanya dan berkata: \"wahai Rasulullah, aku tidak mau lagi melihat wajahmu karena mataku sudah banyak berbuat dosa\", maka Rasulullah berkata :\"mohonlah ampunan kepada Allah\", maka ia berkata: \"aku meyakini bahwa Allah Maha Pengampun, namun mata yang sudah banyak berbuat dosa ini tidak lagi pantas melihat wajahmu wahai Rasulullah\", ia masih terus menundukkkan kepalanya maka rsaulullah berkata : \"angkatlah kepalamu!!\".\rMaka ia pun mengangkat kepalanya perlahan lahan dan beradu pandang dengan Rasulullah, lalu ia kembali menundukkan kepalanya dan menangis di pangkuan Rasulullah kemudian wafat dipangkuan beliau shallallahu 'alaihi wasallam. Maka para sahabat pun kaget dan iri dengan orang itu karena walaupun mereka berjihad siang dan malam namun mereka tidak sempat mendapatkan kesempatan untuk wafat dipangkuan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, dan ketika itu air mata Rasulullah mengalir dan jatuh di atas wajah orang itu.\rSungguh mata kita penuh dengan dosa dan kesalahan, namun Sang Maha Pengampun tidak berhenti mengampuni, sebagaimana hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bahwa ada 7 golongan yang mendapatkan naungan Allah dimana ketika itu tidak ada naungan kecuali naungan Allah, diantara 7 kelompok itu adalah :\rرَجُلٌ ذَكَرَ اللهُ فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ","part":1,"page":356},{"id":357,"text":"\" Seseorang yang ketika berdzikir (mengingat Allah) maka mengalirlah air matanya\"\rMaka orang itu akan mendapatkan naungan Allah kelak di hari kiamat. Dan saat di surga kelak masih ada orang-orang yang belum melihat keindahan dzat Allah subhanahu wata'ala. Mereka adalah orang-orang yang ketika di dunia mata mereka banyak berbuat dosa, dan malaikat tidak mau membuka tabir yang menghalangi dzat Allah dengan mereka. Maka Allah berkata kepada malaikat: \"mengapa kalian masih menutupkan tabir untuk mereka, mereka adalah penduduk surga yang telah kuampuni dosa-dosa mereka\"?. Maka malaikat berkata: \"wahai Allah, dahulu ketika mereka di dunia mata mereka banyak melakukan dosa, maka mereka tidak pantas memandang keindahan dzat-Mu\". Maka Allah subhanahu wata'ala berfirman: \"angkatlah tabir yang menghalangi-Ku dengan mereka, karena dahulu mata mereka pernah mengalirkan air mata rindu ingin berjumpa dengan-Ku”. [ Habib Mundzir Al Musawwa ].\r0311. ILMU LIPAT BUMI\rPERTANYAAN:\rSubhan Maulana\rAssalaamu'alaikum..... \"Ilmu Ngelempit Bumi\" Membuat Bumi Tak Berjarak.....Dengan ilmu nglempit bumi, seseorang dapat mnempuh jarak ratusan KM hanya dalam beberapa menit ! Benarkah adanya demikian ? siapa sajakh mereka ??? Wassalaamu'alaikum.....\rJAWABAN:\rMasaji Antoro\rLIPAT BUMI","part":1,"page":357},{"id":358,"text":"وقال الشيخ خليل المالكي صاحب المختصر المشهور في كتابه الذي ألفه في مناقب شيخه الشيخ عبد الله المنوفي ما نصه: الباب السادس في طي الأرض له مع عدم تحركه من ذلك أن رجلا جاء من الحجاز وسأل عن الشيخ وذكر أنه رآه واقفا بعرفة فقال له الناس الشيخ لم يزل من مكانه فحلف على ذلك فطلع الشيخ وأراد أن يتكلم فأشار إليه بالسكوت وذكر وقائع أخرى وقعت له من هذا النوع ثم قال فإن قلت كيف يمكن وجود الشخص الواحد بمكانين قلت الولي إذا تحقق في ولايته تمكن من التصور في روحانيته ويعطي من القدرة التصوير في صور عديدة وليس ذلك بمحال لأن المتعدد هو الصورة الروحانية وقد اشتهر ذلك عند العارفين بالله كما حكى عن قضيب البان أنكر عليه بعض الفقهاء عدم الصلاة في جماعة ثم اجتمع ذلك الفقيه به فصلى بحضرته ثمان ركعات في أربع صور ثم قال له أي صورة لم تصل معكم فقبل يد الشيخ وتاب. وكما حكى عن الشيخ أبي عباس المرسي أنه طلبه إنسان لأمر عنده يوم الجمعة بعد الصلاة فأنعم له ثم جاء له أربعة كل منهم طلب منه مثل ذلك فأنعم للجميع ثم صلى الشيخ مع الجماعة وجاء فقعد بين الفقهاء ولم يذهب لأحد منهم وإذا بكل من الخمسة جاء يشكر الشيخ على حضوره عنده،\rBerkata Syekh Kholill al-Maliky pengarang kitab al-Mukhtashar yeng telah masyhur kitabnya yang beliau karang dalam rangka menjelaskan manaqibnya Abdullah al-Munawwafi dalam kitabnya tertulis :\rBAB VI. LIPAT BUMI dan TANPA BERGERAKNYA BUMI","part":1,"page":358},{"id":359,"text":"Seorang laki-laki dating dari Negeri Hijaz dan bertanya pada Syekh Abdullah, disebutkan ia melihat beliau wukuf diarafah padahal menurut orang-orang banyak beliau tidak bergeser dari tempatnya dan lelaki tersebut berani disumpah atas apa yang ia lihat, kemudian ia mendatangi syekh Abdullah dan berkeinginan menanyakan hal tersebut tetapi Syekh Abdullah memberi tanda padanya agar ia diam. Kemudian dituturkan oleh lelaki Hijaz beberapa kejadian-kejadian aneh semacam diatas tentang Syekh Abdullah. Bila engkau bertanya bagaimana mungkin seseorang dapat menjadi dua wujud di dua tempat yang bereda ?\rJawabnya : Seorang Wali bila telah nyata kewaliannya memungkinkan baginya untuk terwujud ruhaniyahnya, ia diberikan kemampuan oleh Allah mewujudkan dirinya dalam jumlah yang banyak, dan hal tersebut bukanlah mustahil karena yang berwujud banyak adalah bentuk ruhaniyahnya seperti cerita-cerita yang sudah popular dikalangan orang-orang ‘Arif Billah.\rSeperti diceritakan bahwa Qadhib al-Baan diinkari oleh sebagian ulama-ulama ahli fiqh kala itu atas tidak pernah terlihatnya menjalankan shalat secara berjamaah, kemudian para ulama fiqh tersebut mendatanginya dan dengan mata kepala sendiri mereka melihat Qadhib al-Baan shalat dengan delapan rakaat dalam bentuk empat wujud Qadhib sekaligus, setelah usai Qadhib bertanya “Bentuk manakah yang tidak shalat bersama kalian ?” akhirnya ulama fiqh tersebut percaya dan mencium tangan Qadhib al-Baan","part":1,"page":359},{"id":360,"text":"Dan seperti diceritakan bahwa Syekh Abu Abbas al-Mursy pada waktu hari jumah dimintai hadir oleh seseorang guna sebuah keperluan, syekh Abu Abbas pun memenuhinya seusai shalat jumah, kemudian Syekh juga dimintai oleh empat orang dalam rangka kepentingan mereka masing-masing, semuanya dipenuh oleh Syeikh, padahal ditempat lain Syekh Abu Abbas tengah menjalani jamaah shalat jumah dan setelah selesai shalat beliau duduk diantara para ulama fiqh dan tidak seorangpun meninggalkan masjid kala itu, tiba-tiba lima orang yang beliau kunjungi datang ke masjid dalam rangka mengucapkan terima kasih atas kunjungan Syekh Abu Abbas dit empat mereka masing-masing…..\rCerita-cerita lain tentang keunikan lempit bumi/lipat bumi para kekasih Allah diceritakan dalam : Al-Haawy li al-Fataawaa as-Suyuuthy I/322. Atau cerita uniq lempit bumi dari Syekh Ali al-Khawwash pengarang syair ‘TOMBO ATI’ versy original yang merupakan guru dari al-‘Arif Billaah Abdul Wahhab as-Sya’roni.\rhttp://www.wata.cc/forums/showthread.php?56426-%D8%A3%D9%87%D9%84-%D8%A7%D9%84%D8%AE%D8%B7%D9%88%D8%A9-%D9%88-%D8%B7%D9%8A-%D8%A7%D9%84%D8%A3%D8%B1%D8%B6-%D9%84%D9%87%D9%85\rWallaahu A'lamu Bis Showaab\r0387. HIKMAH DIBALIK UJIAN HIDUP\rPERTANYAAN :\rErizal Adjie Pratama\rAssalamu'alaikum. Bagaimana caranya bersabar dalam menghadapi cobaan Allah ?. Wassalamu'alaikum\rJAWABAN :\rHakam Ahmed ElChudrie\rWa'alaikum salam.. Kita selalu ingat bahwa diblik cobaan ada hikmah yang tersembunyi.. Orang bisa dikatakan ikhlas setelah dia mendapatkan cobaan dan bersabar..\rMbah Jenggot II","part":1,"page":360},{"id":361,"text":"Wa'alaikum salam.pelajari keutamaan sabar. Berikut ini sebagian Hadist yang menjelaskan keutamaan sabar :\r1. Besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian dan cobaan. Sesungguhnya Allah ‘Azza wajalla bila menyenangi suatu kaum Allah menguji mereka. Barangsiapa bersabar maka baginya manfaat kesabarannya dan barangsiapa murka maka baginya murka Allah. (HR. Tirmidzi)\r2. Tiada seorang muslim tertusuk duri atau yang lebih dari itu, kecuali Allah mencatat baginya kebaikan dan menghapus darinya dosa. (HR. Bukhari)\r3. Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah Saw, “Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berat ujian dan cobaannya?”Nabi Saw menjawab, “Para nabi kemudian yang meniru mereka dan yang meniru mereka. Seseorang diuji menurut kadar agamanya. Kalau agamnya tipis (lemah) dia diuji sesuai dengan itu (ringan) dan bila imannya kokoh dia diuji sesuai itu (berat). Seorang diuji terus-menerus sehingga dia berjalan di muka bumi bersih dari dosa-dosa. (HR. Bukhari)\r4. Barangsiapa dikehendaki Allah kebaikan baginya maka dia diuji (dicoba dengan suatu musibah). (HR. Bukhari)\r5. Seorang hamba memiliki suatu derajat di surga. Ketika dia tidak dapat mencapainya dengan amal-amal kebaikannya maka Allah menguji dan mencobanya agar dia mencapai derajat itu. (HR. Ath-Thabrani)\r6. Apabila Allah menyenangi hamba maka dia diuji agar Allah mendengar permohonannya (kerendahan dirinya). (HR. Al-Baihaqi)\r7. Apabila Aku menguji hambaKu dengan membutakan kedua matanya dan dia bersabar maka Aku ganti kedua matanya dengan surga. (HR. Ahmad)","part":1,"page":361},{"id":362,"text":"8. Tiada seorang mukmin ditimpa rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyakit atau kesedihan (kesusahan) sampai pun duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah menghapus dosa-dosanya. (HR. Bukhari)\r9. Seorang mukmin meskipun dia masuk ke dalam lobang biawak, Allah akan menentukan baginya orang yang mengganggunya. (HR. Al Bazzaar)\r10. Tidak semestinya seorang muslim menghina dirinya. Para sahabat bertanya, “Bagaimana menghina dirinya itu, ya Rasulullah?” Nabi Saw menjawab, “Melibatkan diri dalam ujian dan cobaan yang dia tak tahan menderitanya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)\r11. Bukanlah dari (golongan) kami orang yang menampar-nampar pipinya dan merobek-robek bajunya apalagi berdoa dengan doa-doa jahiliyah. (HR. Bukhari)\rDari ‘Abdullah bin Mas’ud r.a, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Bukan dari golongan kamiorang yang menampar-nampar pipi, mengoyak-ngoyak baju dan meratap dengan ratapan Jahiliyyah’,” (HR Bukhari [1294] dan Muslim [103]).\rPenjelasan : Dilakukan pada saat kematian anggota keluarga pada jaman jahiliyah.\r12. Allah menguji hambaNya dengan menimpakan musibah sebagaimana seorang menguji kemurnian emas dengan api (pembakaran). Ada yang ke luar emas murni. Itulah yang dilindungi Allah dari keragu-raguan. Ada juga yang kurang dari itu (mutunya) dan itulah yang selalu ragu. Ada yang ke luar seperti emas hitam dan itu yang memang ditimpa fitnah (musibah). (HR. Ath-Thabrani)\r13. Salah seorang dari mereka lebih senang mengalami ujian dan cobaan daripada seorang dari kamu (senang) menerima pemberian. (HR. Abu Ya’la)","part":1,"page":362},{"id":363,"text":"14. Sesungguhnya Allah Azza Wajalla menguji hambanya dalam rezeki yang diberikan Allah kepadanya. Kalau dia ridho dengan bagian yang diterimanya maka Allah akan memberkahinya dan meluaskan pemberianNya. Kalau dia tidak ridho dengan pemberianNya maka Allah tidak akan memberinya berkah. (HR. Ahmad)\r15. Barangsiapa ditimpa musibah dalam hartanya atau pada dirinya lalu dirahasiakannya dan tidak dikeluhkannya kepada siapapun maka menjadi hak atas Allah untuk mengampuninya. (HR. Ath-Thabrani)\r16. Bencana yang paling payah ialah bila kamu membutuhkan apa yang ada di tangan orang lain dan kamu ditolak (pemberiannya). (HR. Ad-Dailami)\r17. Barangsiapa diuji lalu bersabar, diberi lalu bersyukur, dizalimi lalu memaafkan dan menzalimi lalu beristighfar maka bagi mereka keselamatan dan mereka tergolong orang-orang yang memperoleh hidayah. (HR. Al-Baihaqi)\r0408. WASHIYAT IMAM ABU HASAN ASYSYADZILIY RA\rمرتبة على حروف الهجاء عن مخطوط مكتبة الأزهر العامرة\rحرف الألف\r?…إيَّاكَ والعجزَ، فإنه شين الدِّين، وبئس القرين.\r?…إيَّاك والعجزَ، فأولُّه جُنونٌ، وآخره ندمٌ.\r?…إيَّاك والبطنة، فمن لزمها كثُرتْ أسقامه، وفسدت أحلامه.\r?…إيَّاك وطاعةَ الهوى، فإنه يقودُك إلى كلِّ محنة.\r?…إيَّاك والمنَّ بالمعروف، فإنَّ الامتنان بالمعروف يفسد الإحسان.\r?…إنَّما العقلُ التخوف من الإثم، والنَّظر في العواقب، والأخذِ بالحزم.\r?…إنمَّا الناس عالمٌ ومتعلمٌ ومستمعٌ، وما سواهم هَمَج.\r?…إنَّما العالم مَنْ قَادَه علمُه إلى الورعِ، والزهدِ في عالم الفناء، والرغبةِ في عالم البقاء.\r?…إنَّما يَعرِفُ الفضلَ لأولي الفضلِ أولو الفضل.\rحرف الباء\r?…بحسن الموافقة تدوم الصحبة\r?…بالإحسان يستبعد الإنسان.\r?…بالتواضع تُعرف الرفعة.","part":1,"page":363},{"id":364,"text":"?…بالتوفيق تكون السعادة.\r?…بالصدق يكون النجاة.\r?…بالرفق تدرك المقاصد.\r?…بالإخلاص ترفع الأعمال.\r?…بالتواني يكون الفوات.\r?…بقدر اللذات يكون التنغيص.\rحرف التاء\r?…تكاد ضمائر القلوب تطلع على سرائر الغيوب.\r?…تجرع غصص التحكم يطفي الغضب.\r?…تكثرك بما يبقى لك ولا تبقى له، من أعظم الجهل.\r?…تتبع العيوب من أعظم الذنوب.\r?…تناس مساوي الناس تستدم ودهم.\rحرف الثاء\r?…ثمرة العلم معرفة الله تعالى.\r?…ثمرة الإيمان الفوز بالله تعالى.\r?…ثمرة الوعظ الانتباه.\r?…ثمرة العقل الاستقامة.\r?…ثمرة الحزم السلامة.\r?…ثمرة اللجاج العطب.\r?…ثمرة العجز فقط الطلب.\r?…ثمرة الزهد الراحة.\r?…ثمرة الحياة السقم والهرم.\r?…ثمرة المجاهدة قهر النفس.\rحرف الجيم\r?…جميل الفعال يوجب حسن الجزاء.\r?…جود الإنسان يوجب له الإحسان.\r?…وجميلته يعطيها السخاء.\r?…جميع السيئات تمحوها الحسنات.\rحرف الحاء\r?…حكمة الحكمة الإعراض عن دار الفناء، والوله بدار البقاء.\r?…حد العقل النظر في العواقب والرضا بما يجري به القضاء.\r?…حرام على كل ذي عقلٍ مغلوب بالشهوات أن ينتفع بالحكمة.\r?…حرام على كل قلب متوله بالدنيا تسكنه التقوى.\rحرف الخاء\r?…خير العلوم ما أصلحك.\r?…خير العمل ما صحبه الإخلاص.\r?…خير إخوانك من واساك، وخير منه من كفاك.\r?…خير من صاحبته ذو العلم والحلم.\r?…خير من شاورت ذو النهى والعقل، وأولو التجارب والحزم.\r?…خير الاجتهاد ما قارنه التوفيق.\r?…خير الناس من أخرج الحرص من قلبه، وخالف هواه في طاعة ربه.\rحرف الدال\r?…دار عدوك وأخلص له ودك تحظ بالآخرة وتحز المروءة.\r?…دع الانتقام فإنه من سوء أفعال المقتدر، ولقد أخذ بجوامع الفضل من ردع نفسه عن سوء المجازات.\r?…داو الغضب بالصمت.\r?…داو الشهرة بالعقل.\rحرف الذال\r?…ذلَّ في نفسك وعز في دينك.\r?…ذل الرجال في المطامع.\rحرف الراء\r?…رأس الإيمان الصدق.\r?…رأس الإسلام الأمانة.\r?…رأس النفاق الخيانة.\rحرف الزاي","part":1,"page":364},{"id":365,"text":"?…زين المصاحبة الاحتمال.\r?…زهدك في الدنيا ينجيك، ورغبتك فيها توديك.\r?…زخارف الدنيا تفسد العقول الضعيفة.\r?…زينة البواطن أجمل من زينة الظواهر.\r?…زينة الإيمان طهارة السرائر وحسن العوامل في البواطن لا الظواهر.\r?…زيادة الشهوة تزري بالمروءة.\r?…زهد المرء فيما يفنى على قدر رغبته فيما يبقى.\rحرف الطاء\r?…طوبى لمن راقب قلبه وأقلع عن ذنبه.\r?…طوبى لمن غلب نفسه ولم تغلبه.\r?…طوبى لمن ملك هواه ولم يملكه.\r?…طوبى لمن كابد هواه وكذب مناه.\rحرف الظاء\r?…ظن المرء ميزان عقله، وفعله أصدق شاهد على أهله.\r?…ظن العاقل خير من يقين الجاهل.\r?…ظالم الحق من نصر الباطل.\r?…ظفر الكريم ينجي، وظفر اللئيم يردي.\r?…ظلم المرء في الدنيا عنوان شقاء الآخرة.\r?…ظلم المعروف من وضعه في غير أهله.\r?…ظلم الحكمة من وضعها في غير أهلها.\r?…ظل الكرام رعاني، وظل اللئام رداني.\r?…ظن أولي النهى والألباب أقرب شيء إلى الصواب.\rحرف الكاف\r?…كل عارف خائف.\r?…كل قانع غني.\r?…كل عاقل مغبون.\r?…كل طامع أسير.\r?…كل حريص فقير.\r?…كل فان يسير.\r?…كل راض مستريح.\r?…كل برء صحيح.\r?…كل جمع إلى شتات.\r?…كل داء يتداوى منه إلا سوء الخلق.\r?…كل شيء يميل إلا طرائف الحكمة.\r?…كل شيء يستطاع إلا تغير الطباع.\r?…كم من غني يستغنى عنه، وكم من فقير يفتقر إليه.\r?…كم من أكلة منعت أكلات.\r?…كم من طالب خائب، وكم من مرزوق غير طالب.\r?…كم من مغرور بالستر عليه.\r?…كم من مستدرج بالإحسان إليه.\r?…كم من مبتلى بالنعماء ومنع عليه بالبلاء.\r?…كم من غني فقير.\r?…كم من فقير غني.\r?…كفى بالغفلة ضلالاً.\r?…كفى بالشيب نذيراً.\r?…كفى بالتكبر تِلافَاً.\r?…كفى بالاغترار جَهلاً.\r?…كفى بالمرء عثرة أن يبصر من عيوب الناس ما يخفى عليه من عيوب نفسه.\r?…كفى بالمرء جهلاً أن ينكر على الناس ما يأتي بمثله.\r?…كفى توبيخاً على الكذب علمك بأنك كاذب.\r?…كثرة الأماني من فساد العقل.\r?…كثرة الغضب تزري بصاحبها وتبدي معايبه.","part":1,"page":365},{"id":366,"text":"?…كثرة الأكل من الشره.\r?…كثرة الدنيا قلَّة، وعزها ذلة.\r?…كن بالوحدة أنيساً يفر منك قرناء السوء.\r?…كن من الكريم على حذر إذا أهنته، ومن اللئيم إذا أكرمته، ومن الحليم إذا أحرجته.\r?…كل ما ارتفعت رتبة اللئيم نقص الناس عنده، والكرم ضد ذلك.\r?…كلما قَوَت الحكمة ضعفت الشهوة.\rحرف اللام\r?…للأحمق في كل قول يمين.\r?…للإنسان فضيلتان النطق والعقل، فبالعقل يستفيد، وبالنطق يفيد.\r?…لينهك من معايب الناس ما تعرفه من معايب نفسك.\r?…لن يهلك العبد حتى يؤثر شهوته على دينه.\r?…ليس التملق من خلق الأتقياء.\r?…ليس لمتكبر صديق.\r?…ليس مع الاختلاف إيتلاف.\r?…ليس مع الشهوة عفاف.\r?…لو عقل أهل الدنيا لخربت.\r?…لو كنا نأتي لما يأتوا ما قام للدين عمود ولا اخضر للإيمان عود.\r?…لسان المرائي جميل، وفي قلبه داء دخيل.\r?…لسان الحال أصدق من لسان المقال.\rحرف الميم\r?…من جهل قل اعتذاره.\r?…من حذرك كمن بشرك.\r?…ما تواضع إلا رفيع، ولا تكبر إلا وضيع.\r?…ما أحسن العفو مع الاقتدار، وما أقبح العقوبة مع الاعتذار.\r?…من أكرم بحدثه حسن مشهده.\r?…من خبث عنصره ساء منظره.\r?…من احتاج إلى الدنيا صحب الأدنياء.\r?…من احتاج إلى الآخرة صحب الأتقياء.\r?…من اعترف بالجريرة فقد استخفت عليه العقوبة.\r?…من لم تؤدبه الكرامة أدبته العلامة.\r?…من لم ينصت لحديثك فارفع عنه مؤنة الاستماع منك.\rحرف النون\r?…نعم الله أكثر من أن يشكر عليها إلا ما أعان الله عليه، وذنوب بني آدم أكثر من أن تغفر إلا ما عفا الله تعالى عنه.\r?…نعم الزين حسن الخلق.\r?…نعم الملبوس العافية.\r?…نعم العبد من خالف هواه، وأقبل على طاعة مولاه.\rحرف الصاد\r?…صلاح السرائر من صحة البصائر، وحسن العمل بالبواطن لا بالظواهر.\r?…صن عرضك تكف أذاك.\r?…صل من وصلك ولا تفصل من فصلك.\rحرف الضاد\r?…ضلال الدليل هلاك المستدل.\r?…ضل من اهتدى بغير هدى الله.\r?…ضاع من كان قصده غير الله.","part":1,"page":366},{"id":367,"text":"?…ضادد الجزع بالصبر، وضادد التكبر بالتواضع، وضادد الهوى بالعقل.\rحرف العين\r?…عليك بالآخرة تأتيك الدنيا جامعة صاغرة.\r?…عليك بالحكمة فإنها الخليلة الفاخرة.\r?…عليك بالسكينة فإنها أحسن وأفضل زينة.\r?…عليك بالمواصلة والموافقة، وإياك والمقاطعة والمفارقة.\r?…على قدر شرف النفس تكون المروءة.\r?…على قدر الدين يكون اليقين.\r?…عند حضور اللذات والشهوات يتورع الاتقياء.\r?…عجبت لمن يظلم نفسه كيف ينصف غيره.\r?…عجبت لمن يجهل نفسه كيف يعرف ربه.\rحرف الغين\r?…غاية المعرفة أن يعرف المرء نفسه.\r?…غاية الإنصاف أن ينصف الإنسان من نفسه.\r?…غاية الإيمان الموالات والمعادات لله.\r?…غناء العاقل بقلبه.\r?…غناء الجاهل بماله.\r?…غض الطرف من المروءة.\r?…غيروا العادات تسهل عليهم الطاعات.\r?…غير منتفع بالموعظة قلبٌ معلَّق بالشهوات.\r?…غلبة الهزل تبطل عزيمة الجد.\rحرف الفاء\r?…في تصاريف الدنيا اعتبار.\r?…في السكون إلى الغفلة اغترار.\r?…في كل نظرة عبرة.\r?…في حسن المصاحبة ترغب الرفاق.\r?…في خلاف النفس رشدها، وفي طاعتها غيها.\r?…فاعل الخير خير منه، وفاعل الشر شر منه.\r?…فاز من ملك هواه، وملك دواعي نفسه.\r?…فاز من كابد هواه وكذب مناه.\r?…فروا إلى الله تعالى، ولا تفروا منه، فإنه مدرككم ولن تعجزوه.\r?…فوت الحاجة أهون من طلبها من غير أهلها.\r?…فاز من استبصر بنور الهدى وخالف دعاو الهوى.\rحرف القاف\r?…قليل من الأدب خير من كثير من النسب.\r?…قول لا أعلم نصف العلم.\r?…قل من صبر إلا ظفر.\r?…قلة الأكل تمنع من إعلال الجسد.\r?…قلة الخلطة تصون الدين، وتريح من مقارنة الأشرار.\r?…قلوب الرجال وحشية، مَن ألفها أقبلت عليه.\r?…قدرتك على نفسك من أعظم القدرة، وأمارتك عليها خير الإمارة.\r?…قاربوا الناس بأخلاقهم تأمنوا غوائلهم.\r?…قدموا بعضاً يكون لكم، ولا تحلفوا كلا يكون عليكم.\r?…قبول عذر المذنب، من تواجب الكرم ومحاسن الشيم.\rحرف السين\r?…سبب فساد العقل الهوى.","part":1,"page":367},{"id":368,"text":"?…سبب الشقاء حب الدنيا.\r?…سبب الفتنة الحقد.\r?…سبب الفرقة الاختلاف.\r?…سبب السلامة الصمت.\rحرف الشين\r?…شر إخوانك المواصل عند الرخاء والمنقطع عند البلاء.\r?…شر الخلائق المتكبرون.\r?…شر الشيم الكذب.\r?…شر النوال ما تقدمه العطل وأعقبه المن.\r?…شر الناس من لا يرجى خيره، ولا يؤمن شره.\r?…شر إخوانك من أغرك بالعاجلة عن الآجلة.\r?…شر الأصحاب سريع الانقلاب.\r?…شر الأمور التسخط بالمقدور.\rحرف الهاء\r?…هدى الله نور في القلب يفرق به العاقل بين الحق والباطل\r?…اهرقوا دموعكم من خشية الله تنجوا من عذاب النار\rحرف الواو\r?…ويل لمن نسي آخرته بدنياه.\r?…ويح من خالف مولاه واتبع هواه.\r?…ويل لكل ظالم بغي، وفاجر غوي.\r?…واروا عوراتكم بالإحسان.\rحرف لام ألف\r?…لا تأمن مَنْ نَمَّ لك أن ينمَّ عليك.\r?…لا تأمن من المكر ولا تنسوا الفضل.\rحرف الياء\r?…يستدل على عقل المرء بحسن مقاله، وعلى طاهر أصله بجميل فعاله.\r?…يسير الرياء شرك.\r?…ويسير الظن شك.\r?…يسير الهوى يفسد العقل.\r?…يسير الحق يدمر كثير الباطل.\r?…يدُ الله أبداً عالية.\r?…يوم العدل على الظالم أشد من يوم الظلم على المظلوم.\r*******\rكمل المجموع بحمد الله وحسن عونه، وصلى الله على سيدنا محمد نبيه وعبده. على يد أفقر الورى إلى الله محمد بن محمد الصباغ الأندلسي غفر الله له ولوالديه ولمن دعا له ولجميع المسلمين، ووافق الفراغ سنة 1093.\r*******\r0414. TA’DZIM : DIANTARA IBADAH DAN ETIKA","part":1,"page":368},{"id":369,"text":"Banyak orang yang salah dalam memahami hakikat ta’dzim / penghormatan dan hakikat ibadah. Sehingga mereka mencampur diantara keduanya dan mengatakan bahwa segala bentuk ta’dzim adalah suatu ibadah atau pengabdian kepada orang yang dihormati. Maka, berdiri, mencium tangan, menghormati Nabi saw dengan menggunakan kata “Ya Sayyidina” dan “Ya Nabiyallah”, kesemuanya menurut mereka adalah suatu hal yang mendatangkan pada bentuk penyembahan pada selain Allah ta’ala. Sebenarnya, itu adalah suatu pemahaman yang sangat bodoh dan melebih-lebihkan yang tidak diridhoi Allah dan RasulNya serta suatu bentuk pemberatan yang sangat tidak disukai oleh syariat Islam.\rKetahuilah, Adam, manusia pertama dan hamba Allah pertama yang sholih dari jenis manusia. Allah telah memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepadanya sebagai bentuk pemuliaan dan penghormatan terhadap ilmu yang ada padanya dan sebagai pemberitahu kepada para malaikat akan terpilihnya Adam diantara para makhlukNya. Allah ta’ala berfirman, (“Dan ketika Aku berkata kepada para malaikat, ‘Bersujudlah kalian kepada Adam.’ Maka mereka bersujud kecuali iblis. Iblis berkata, ‘Apakah aku harus bersujud kepada makhluk yang dicipta dari tanah?’). Dalam ayat yang lain dijelaskan, (“Aku (: iblis) lebih baik dari dia (: Adam). Engkau ciptakan aku dari api dan Engkau ciptakan dia dari tanah.”). dalam ayat yang lain, (“Kemudian kesemua malaikat bersujud kecuali iblis. Dia tidak mau bila termasuk diantara orang-orang yang bersujud.”).","part":1,"page":369},{"id":370,"text":"Para malaikat menghormati / memuliakan makhluk yang dimuliakan Allah, sedangkan iblis sombong dan tidak mau bersujud kepada makhluk yang dicipta dari tanah. Iblis adalah makhluk pertama yang melakukan qiyas dalam urusan agama dengan pendapatnya sendiri dan berkata, “Aku lebih baik darinya.” Alasan yang dia pakai adalah iblis dicipta dari api sedangkan adam dicipta dari tanah, sehingga dia tidak mau memuliakannya dan tidak mau bersujud kepadanya.\rIblis adalah makhluk pertama yang sombong dan tidak mau memuliakan makhluk yang dimuliakan Allah, sehingga iblis tertolak dari rahmat Allah karena kesombongannya terhadap seorang hamba yang sholih. Itu adalah sebuah bentuk kesombongan terhadap Allah, karena bersujud sebenarnya adalah kepada Allah karena Dia telah memerintahkannya. Allah telah menjadikan sujud kepada Adam sebagai bentuk pemuliaan dan penghormatan kepada Adam dan Adam termasuk golongan yang meng-esakan Allah.\rDiantara dalil yang menjelaskan tentang penghormatan kepada orang-orang sholih, antara lain, Allah berfirman dalam haknya Yusuf, (“Dan dia mendudukkan ayahnya diatas singgasana dan mereka bersujud kepadanya (: Yusuf)”, adalah sebagai bentuk penghormatan dan pemuliaan terhadap Yusuf dari saudara-saudaranya. Dimungkin bersujud diperbolehkan dalam syariat mereka, atau seperti sujudnya para malaikat kepada Adam sebagai bentuk pemuliaan, penghormatan dan bentuk kepatuhan terhadap perintah Allah sebagai bentuk tafsiran dari mimpi Yusuf, karena mimpi seorang nabi adalah wahyu.","part":1,"page":370},{"id":371,"text":"Adapun nabi Muhammad saw, maka Allah berfirman, (“Sesungguhnya Aku telah mengutusmu sebagai saksi, pembawa kabar gembira dan yang menakut-nakuti, supaya mereka beriman kepada Allah dan RasulNya dan mereka memuliakannya”). Allah berfirman, (“Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian mendahului dihadapan Allah dan RasulNya”). Allah berfirman, (“Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian meninggikan suara kalian diatas suara Nabi”). Allah juga berfirman, (“Janganlah kalian menjadikan panggilan kepada rasul diantara kalian seperti panggilan sebagian kalian kepada yang lainnya”). Allah telah melarang mendahului beliau dalam perkataan dan adab yang buruk adalah mendahului beliau dalam ucapan. Sahl ibn Abdillah berkata, “Janganlah kalian berkata sebelum beliau bersabda dan ketika beliau bersabda, maka dengarkanlah dan perhatikanlah.”\rPara sahabat melarang dari mendahulukan dan tergesa-gesa mendatangi suatu urusan sebelum beliau mendatanginya dan tidaklah mereka memfatwakan suatu hal dari berperang atau urusan agama lainnya melainkan dengan perintah beliau dan mereka tidak berani mendahului beliau. Kemudian Allah menasehati dan menakut-nakuti mereka dengan berfirman, (“Bertaqwalah kalian kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha mendengar lagi maha tahu”). Salma berkata, “Bertaqwalah kalian kepada Allah dalam menyia-nyiakan hak hakNya dan menelantarkan kemulianNya. Sesungguhnya Dia maha mendengar perkataan kalian dan maha mengetahui perbuatan kalian.”","part":1,"page":371},{"id":372,"text":"Kemudian Allah melarang umat dari menaikkan suara diatas suara beliau, seperti sebagian dari mereka yang mengeraskan suaranya kepada yang lain. Abu Muhammad Makki berkata, “Artinya, janganlah kalian mendahului beliau dalam perkataan, mengeraskan suara ketika berbincang dan memanggil nama beliau seperti diantara kalian memanggil yang lainnya. Akan tetepi, muliakanlah beliau, agungkanlah dan panggillah beliau dengan panggilan yang mulia, seperti ‘Ya Rasulallah’ atau ‘Ya Nabiyallah’ seperti yang telah difirmankan Allah, (“Janganlah kalian menjadikan panggilan kepada Rasul diantara kalian seperti panggilan diantara kalian kepada yang lainnya.”)\rKemudian Allah menakut-nakuti mereka dengan terhapusnya amal mereka jika mereka melakukan itu semua. Ayat tersebut turun dalam jama’ah yang mendatangi Nabi saw lalu mereka menyeru beliau, “Ya Muhammad! Keluarlah dan temui kami.” Kemudian Allah menghina mereka dengan ‘bodoh’ dan mensifati mereka dengan ‘kebanyakan mereka adalah orang-orang yang tidak berakal.’\rAmr ibn al ‘Ash berkata, “Tidak seorangpun yang lebih aku cintai dibandingkan Rasulullah dan tidaklah ada yang lebih mulia dibandingkan beliau. Tidaklah aku mampu memenuhi mataku ini dari beliau karena memuliakan beliau. Seandainya aku diminta untuk mensifati beliau, maka sudah tentu aku tidak akan mampu karena aku tidak pernah memenuhi mataku ini dengan melihat beliau.” (HR. Muslim dalam al-Shahih kitab iman bab islam menghancurkan agama sebelumnya)","part":1,"page":372},{"id":373,"text":"At-Tirmidzi telah meriwayatkan dari Anas, Sesungguhmya Rasulullah saw suatu hari keluar menemui para sahabat muhajirin dan anshar dan pada saat itu mereka sedang duduk. Diantara mereka ada Abu Bakar dan Umar. Tidak seorangpun dari mereka yang mengangkat pandangannya kepada beliau melainkan Abu Bakar dan Umar, karena keduanya melihat beliau dan beliaupun melihat mereka berdua. Keduanya tersenyum kepada beliau dan beliaupun tersenyum kepada keduanya.”\rUsamah ibn Syarik berkata, “Aku mendatangi Nabi saw dan para sahabat berada disekeliling beliau yang seakan-akan diatas kepala mereka terdapat burung. Mengenai sifat beliau, ketika beliau bersabda maka orang-orang yang duduk disitu akan menundukkan kepalanya yang seakan-akan ada burung diatas kepala mereka. Diantara penghormatan yang dilakukan para sahabat kepada beliau adalah tidaklah beliau berwudhu melainkan mereka akan memperebutkan air sisa wudhu beliau dan hampir-hampir saja mereka berkelahi untuk mendapatkannya. Tidaklah beliau meludah melainkanludah itu akan jatuh ditangan mereka lalu mereka menggosok-gosokkannya dimuka dan tubuh mereka. Tidaklah sehelai rambut beliau jatuh melainkan mereka akan berebut untuk mendapatkannya. Ketika beliau berkata-kata, maka mereka akan memelankan suara mereka ketika berada disamping beliau. Dan tidak pernah mereka menajamkan pandangannya kepada beliau.”.","part":1,"page":373},{"id":374,"text":"Ketika Usamah kembali ke Quraisy, dia berkata, “Wahai kaum Quraisy! Sesungguhnya aku telah mengunjungi Kisra di istananya, Qaishar di istananya dan Najasyi di istananya. Demi Allah, belum pernah aku melihat seorang rajanya kaum seperti Muhammad dimata para sahabatnya.”. Al Thabrani dan ibn Hibban dalam kitab shohinya telah meriwayatkan dari Usamah ibn Syarik, dia berkata, “Kami duduk disisi Nabi saw yang seakan-akan ada burung diatas kepala kami. Tidak ada orang diantara kami yang berkata kemudian orang-orang mendatangi beliau dan bertanya, ‘Diantara para hamba Allah, siapakah yang paling disukai Allah?’ beliau menjawab, ‘Yang paling baik akhlaknya.” Seperti yang telah dijelaskan dalam al Targhib (juz 4 halaman 187).\rAbu Ya’la dalam kitab shahihnya telah meriwayatkan dari al Barra’ ibn ‘Azib, dia berkata, “Suau hari aku sangat ingin bertanya kepada Rasulullah tentang suatu perkara, namun aku mengakhirkannya selama dua tahun karena kewibawaan yang beliau meliki.”\rAl Baihaqi telah meriwayatkan dari al Zuhri, dia berkata, “Seorang sahabat anshor telah bercerita kepadaku, sesungguhnya Rasulullah saw ketika berwudhu atau berludah, maka para sahabat akan memperebutkan ludah beliau kemudian mereka mengusapkannya ke muka dan kulit mereka. Rasulullah saw bertanya, “Kenapa kalian melakukan itu?” mereka menjawab, “Kami mencari berkahmu.” Kemudia rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa ingin dicintai Allah dan RasulNya, maka benarkanlah hatids, penuhilah amanah dan jagan sakiti tetangga kalian.” Seperti yang dijelaskan dalam al Kanz (juz 8 halaman 228)","part":1,"page":374},{"id":375,"text":"Kesimpulannya, terdapat dua perkara besar yang harus dikaji. Pertama, kewajiban memuliakan Nabi saw dan meninggikan derajat beliau melebihi makhluk yang lain. Kedua, mengesakan sifat ketuhanan berkeyakinan bahwa Allah adalah esa dalam dzat, sifat dan perbuatanNya. Barangsiapa memiliki keyakinan bahwa ada yang menyekutui Allah dalam dzat, sifat atau perbuatan, maka dia telah melakukan perbuatan syirik seperti orang-orang musyrik yang telah meyakini sifat Tuhan bagi berhala dan mereka menyembahnya. Dan barangsiapa yang merendahkan martabat Rasulullah maka dia telah melakukan kemaksiatan atau melakukan kekufuran.\rAdapun orang yang berlebih-lebihan dalam memuliakan beliau dengan bentuk apapun dan tidak mensifati beliau dengan sifat-sifat Tuhan, maka dia telah benar dan telah menjaga dari sisi ketuhanan dan kerasulan. Itu adalah perkataan yang sangat pas, tidak lebih dan tidak kurang. Ketika ditemukan dalam perkataan orang mukmin tentang penyandaran suatu hal kepada selain Allah, maka diwajibkan untuk membawanya pada majaz ‘aqli dan tidak ada jalan untuk mengkafirkannya, karena majaz ‘aqli juga digunakan dalam al Qur’an dan sunnah.\r0440. MAKALAH : Problematika dan Human Error\rAl-quran telah menjelaskan kelebihan dan kesempurnaan manusia, bahkan kekurangan manusia yang lebih hina dari hewan. Manusia memiliki beberapa potensi besar untuk mengembangkan dirinya sendiri menjadi khalifah di muka bumi ini, tetapi pertanyaan mendasar yaitu apa manusia itu ? Dan apa problematika jiwanya ?","part":1,"page":375},{"id":376,"text":"Mahmud Abbas Al-Uqqad dalam Almajmû’ah al-kâmilahnya jilid 5 hlm. 80 menyebutkan bahwa manusia adalah hewan yang berbicara, hewan madani dengan tabiatnya, roh tinggi yang jatuh ke bumi dari langit, hewan yang luhur. Definisi tersebut menurutnya diantara definisi-definis yang masyhur dan universal karena universal dari segi keistimewaan akalnya, universal dari segi hubungannya dengan sosial, melihat definisi manusia dengan sifat ini kepada kisah kesalahan yang terjadi pada Adam ketika memakan dari sebagian pohon pengetahuan sebab disesatkan oleh syaitan, melihat kepada runtutan manusia di antara macam-macam hidup menurut madzhab perkembangan (madzhab al-tathawwur). Tetapi dalam coretan ini tidak akan di paparkan pendapat para pemikir tentang manusia melalui buku-bukunya yang diterjemahkan dalam bahasa arab seperti buku\r(ستاس) مصير الإنسان الغربي, (دونوي) ألضمير الإنساني, (نيقولا بردياتيق) مصير الإنسان, (أندريه مالروم) قدر الإنسان\rdan lain- lain.","part":1,"page":376},{"id":377,"text":"Unsur yang terkandung dalam manusia ada dua, membangun dan merusak, kedua unsur ini pasti terjadi dalam diri manusia disadari ataupun tidak. Manusia berakal sehat tidak akan membuat dirinya rusak bahkan binasa dari muka bumi ini, oleh karena itu, problematika jiwa manusia yang mendasar berasal dari diri sendiri, baik dalam merespon sebuah kehidupan pribadi maupun hubungan kehidupan pribadi dengan orang lain. Karena sepintar apapun seseorang, maka tidak akan terlepas dari problematika hidup, sehingga dalam dirinya mempunyai beberapa pengalaman berharga yang bisa dijadikan acuan atau nilai tersendiri untuk menghadapi kehidupan berikutnya. Penulis yakin setiap orang mempunyai jawaban masing-masing dari pertanyaan kedua, oleh karena itu, perlu dikemukakan secara global jawabannya melalui coretan ini yang membuat pembaca mengerutkan kening untuk memahami makna dari problematika yang dituangkan secara global, diantara problematika jiwa manusia yaitu ketakutannya menghadapi kematian dan terpisah dari dunia serta orang-orang tercinta, merasa sia-sia dan tidak ada dari manifestasi hidup, merasa terisolasi di muka bumi, kelemahan manusia untuk menghadapi suka dan duka, takut lapar dan hilangnya rizki, was-was yang mengguncang jiwa manusia, iri dan dengki yang mengakibatkan permusuhan dan perpecahan, gelisah jiwa dan pengaruh-pengaruhnya yang merusak, egoisme,sombong dan mengikuti kedzaliman dan tindak kesewenang-wenangan, sifat ingkar dan perpecahan manusia, putus asa dan patah semangat, hilangnya kejujuran dan keikhlasan, terburu-buru dan tidak sabar.","part":1,"page":377},{"id":378,"text":"Setiap manusia mempunyai mindset sendiri dalam menghadapi problematika melalui sifat, konsep dan tataran aplikatif masing-masing, senantiasa bergumul dan berinteraksi demi terciptanya masyarakat yang berpotensi dan melangkah lebih maju dalam strata kehidupannya. Disinilah manusia tertantang untuk memahami hidup sebaik-baiknya. Good luck !!!. [ Johaeri Irhas Nyongker ].\r(Tidak ada istilah gagal, yang ada adalah belajar. Kalau kita tidak mendapat pelajaran dari kegagalan itulah kegagalan yang sesungguhnya)\r0472. Tashawuf Jawa : Sedulur Papat Limo Pancer ??\rPERTANYAAN :\rDalam adat jawa dan madura ada istilah \"tarenan se empak\" bahkan dibuat acara selamatan..bagaimanakah soal itu ?\rJAWABAN :\rEdy Humaidi\rDalam istilah jawa ada istilah Sedulur papat limo Pancer, rupane = Marmati, Kakang kawah, adi ari ari lan Rah...limone Pancer = puser/pusar. Apa semacam syukuran kelahiran ? Menurut ilmu kejawen (jawa) sebelum manusia lahir ketika masih janin bayi di temani 4 saudara dan mengikut ilmu kejawen juga qorin adalah salah satu saudara kita, apa kah benar kenyataan nya, mari sama2 kita selidik sejarah dari ilmu kejawen ini, namun jika terdapat kesilapan mohon di maafkan, maklum bukan ahlinya he..he...","part":1,"page":378},{"id":379,"text":"Dalam adat dan ajaran jawa dikenal istilah 'SEDULUR PAPAT KELIMA PANCER'. PANCER adalah diri kita.. setiap manusia mempunyai empat saudara ketika masih berupa janin. mereka menjaga pertumbuhan manusia didalam kandungan Ibu. Anak pertama yaitu KETUBAN atau KAWAH, ketika Ibu melahirkan yang pertama keluar adalah ketuban karena itu dianggap sebagai Saudara Tua. Setelah itu saudara kandung yang lebih muda yaitu ARI-ARI, Tembuni atau pembungkus janin dalam rahim. ARI-ARI memayungi tindakan sang janin dalam perut Ibu yang mengantarkan sampai ke tujuan yaitu ikut keluar bersama sang bayi.\rBerikutnya DARAH inipun saudara sang janin, tanpa adanya darah janin bukan saja tak bisa tumbuh tapi juga akan mengalami keguguran. Saudara berikutnya yaitu PUSAR ia sebagai sarana yang menghantarkan zat makanan dari sang ibu kepada janin. Umumnya orang menganggap bahwa KETUBAN, ARI-ARI, DARAH dan TALI PUSAR adalah wahana atau alat yang dibutuhkan untuk pertumbuhan janin dalam perut. Begitu bayi dilahirkan semua itu akan dianggap tidak berfungsi lagi dan tak ada sangkut pautnya dalam kehidupan... dan yang demikian ini merupakan pandangan Materialistik padahal begitu besar maknanya dan pengertiannya bila dilihat dari sudut Metafisik. Saudara kita itulah yang menjaga kita dalam kehidupan ini yang kembali ke anasir bumi, air , udara dan api hanyalah ke empat jasadnya, namun dari segi spiritualnya masih menyertai kehidupan kita.","part":1,"page":379},{"id":380,"text":"Coba kita bandingkan dengan kenyataan Rosululloh SAW bahwa tatkala kita lahir ada teman kita yang diistilahkan beliau sebagai Qorin Dan tatkala ditanya oleh para sahabat Rosul \"Fa anta ya Rosululloh..? ( apakah engkau juga lahir diikuti Qorin wahai - Rosululloh..?\" maka dijawab: \"Na`am fa aslama bihi\" ( benar, tapi telah ku aslama kan/ ku islamkan dia) dan tidak menyeruku melainkan kepada kebaikan semata..\rMenurut ilmu kejawean lagi, qorin jika tidak di aslama kan maka dia akan membawa sifat maksiat karena jika suatu saat nanti seorang insan mau bertobat maka si qorin tadi sudah keenakan dialam maksiat dan akan menggoda kita untuk balik lagi berbuat maksiat. Sementara qorin yang sudah di-aslamakan maka jika kita tenggelam atau terjerumus di jurang maksiat datanglah si qorin itu dengan sekuat kemampuannya untuk ikut mengangkat dan menyadarkan kita kembali ke jalan Alloh.. qorin yang telah aslama tak rela pancernya (diri kita) kemaksiatan. Itulah sebab lagi Rosul kemudian menyatakan : \"... tapi telah Ku aslama kan dia (qorin) dan dia(qorin) tidak \"menyeruku\" melainkan hanyalah yang baik2 saja..\"\rAyat Al Qur`an tentang Qorin : ”Wa qoola qoriinuhuu haazaa maa ladayya ‘atiid” (QS QOOF[50]:23). Artinya:”Dan yang menyertai dia berkata: \"Inilah (catatan amalnya) yang tersedia pada sisiku.”\r“Qoola qoriinuhuu Robbanaa maa ath-ghoituhuu wa laakin kaana fii dholaalim ba’id” (Q.S. QOOF [50]: 27). Artinya:“Yang menyertai dia berkata (pula): \"Ya Tuhan kami, aku tidak menyesatkannya tetapi dialah yang berada dalam kesesatan yang jauh\".","part":1,"page":380},{"id":381,"text":"Mengambil dari Kitab Kidungan Purwajati tulisannya dimulai dari lagu Dhandanggula yang bunyinya sebagai berikut :\rAna kidung ing kadang Marmati Amung tuwuh ing kuwasanira Nganakaken saciptane Kakang Kawah puniku Kang rumeksa ing awak mami Anekakake sedya Ing kuwasanipun Adhi Ari-Ari ingkang Memayungi laku kuwasanireki Angenakken pangarah Ponang Getih ing rahina wengi Ngrerewangi ulah kang kuwasa Andadekaken karsane Puser kuwasanipun Nguyu-uyu sabawa mami Nuruti ing panedha Kuwasanireku Jangkep kadang ingsun papat Kalimane wus dadi pancer sawiji Tunggal sawujud ingwang.\rPada lagu diatas, disebutkan bahwa “Saudara Empat” itu adalah Marmati, Kawah, Ari – ari (plasenta/ tembuni) dan Darah yang umumnya disebut Rahsa. Semua itu berpusat di Pusar yaitu berpusat di Bayi.\rJelasnya mereka berpusat di setiap manusia. Mengapa disebut Marmati, kakang Kawah, Adhi Ari – Ari, dan Rahsa? Marmati itu artinya Samar Mati (Takut Mati)! Umumnya bila seorang ibu mengandung sehari – hari pikirannya khawatir karena Samar Mati. Rasa khawatir tersebut hadir terlebih dahulu sebelum keluarnya Kawah (air ketuban), Ari – ari, dan Rahsa. Oleh karena itu Rasa Samar Mati itu lalu dianggap Sadulur Tuwa (Saudara Tua). Perempuan yang hamil saat melahirkan, yang keluar terlebih dahulu adalah Air Kawah (Air Ketuban) sebelum lahir bayinya, dengan demikian Kawah lantas dianggap Sadulur Tuwa yang biasa disebut Kakang (kakak) Kawah. Bila kawah sudah lancar keluar, kemudian disusul dengan ahirnya si bayi, setelah itu barulah keluar Ari – ari (placenta/ tembuni).","part":1,"page":381},{"id":382,"text":"Karena Ari – ari keluar setelah bayi lahir, ia disebut sebagai Sedulur Enom (Saudara Muda) dan disebut Adhi (adik) Ari-Ari. Setiap ada wanita yang melahirkan, tentu saja juga mengeluarkan Rah (Getih=darah) yang cukup banyak. Keluarnya Rah (Rahsa) ini juga pada waktu akhir, maka dari itu Rahsa itu juga dianggap Sedulur Enom. Puser (Tali pusat) itu umumnya gugur (Pupak) ketika bayi sudah berumur tujuh hari. Tali pusat yang copot dari pusar juga dianggap saudara si bayi. Pusar ini dianggap pusatnya Saudara Empat. Dari situlah muncul semboyan ‘Saudara Empat Lima Pusat’\rKeempat nafsu yang digambarkan oleh ke empat hewan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:\rAmarah : Bila manusia hanya mengutamakan nafsu amarah saja, tentu akan selalu merasa ingin menang sendiri dan selalu ribut/ bertengkar dan akhirnya akan kehilangan kesabaran. Oleh karena itu, sabar adalah alat untuk mendekatkan diri dengan Allah SWT.\rSupiyah / Keindahan : Manusia itu umumnya senang dengan hal hal yang bersifat keindahan misalnya wanita (asmara). Maka dari itu manusia yang terbenam dalam nafsu asmara/ berahi diibaratkan bisa membakar dunia.\rAluamah / Serakah : Manusia itu pada dasarnya memiliki rasa serakah dan aluamah. Maka dari itu, apabila nafsu tersebut tidak dikendalikan manusia bisa merasa ingin hidup makmur sampai tujuh turunan.","part":1,"page":382},{"id":383,"text":"Mutmainah / Keutamaan : Walaupun nafsu ini merupakan keutamaan atau kebajikan, namun bila melebihi batas, tentu saja tetap tidak baik. Contohnya: memberi uang kepada orang yang kekurangan itu bagus, namun apabila memberikan semua uangnya sehingga kita sendiri menjadi kekurangan, jelas itu bukan hal yang baik.\rMaka dari itu, saudara empat harus diawasi dan diatur agar jangan sampai ngelantur. Manusia diuji agar jangan sampai kalah dengan keempat saudaranya yang lain, yaitu harus selalu menang atas mereka sehingga bisa mengatasinya. Kalau Manusia bisa dikalahkan oleh saudara empat ini, berarti hancurlah dunianya. Sebagai Pusat, manusia harus bisa menjadi pengawas dan menjadi patokan. Benar tidaknya silakan anda yang menilai.\rSEDULUR PAPAT LIMA PANCER DAN SISTEM KEMALAIKATAN\rSetelah Islam masuk P.JAWA kepercayaan tentang saudara empat ini dipadukan dengan 4 malaikat di dunia Islam yaitu Jibril, Mikail , Isrofil, Ijro’il. Dan oleh ajaran sufi tertentu di sejajarkan denga ke’empat sifat nafsu yaitu: Nafsu Amarah, Lawwamah, Sufiah dan Mutmainah.\rPertama Jibril atau dalam bahasa ibrani Gabriel artinya pahlawan tuhan fungsinya adalah penyampai informasi, didalam islam dikenal sebagai penyampai wahyu pada para nabi. Dalam konsep islam Jawa Jibril diposisikan pada kekuatan spiritual pada KETUBAN. Ada pandangan yang menyatakan setelah N.Muhammad wafat maka otomatis Jibril menganggur karena beliaulah orang yang menerima wahyu terakhir.","part":1,"page":383},{"id":384,"text":"Tapi tidak demikian dalam pandangan Jawa, setiap orang di sertai Jibrilnya. Hakikatnya hanya ada satu Jibril di alam raya ini tapi pancaran cahayanya ada dalam setiap diri. seperti Ruh tidah pernah dinyatakan dalam bentuk jamak didalam Al-Quran. Tetapi setiap diri mendapat tiupan ruh dari tuhan dan ruh tersebut menjadi si A, si B, si C Dst.. satu tetapi terpantul pada setiap cermin sehingga seolah2 setiapm cermin mengandung Ruh, dan manusia sebenarnya adalah cermin bagi sang diri. setiap diri menerima limpahan cahayanya.\rDiantara limpahan cahayanya adalah Jibril yang menuntun setiap orang. Jibril akan menuntun manusia kejalan yang benar, yang telah membersihkan dirinya, membersihkan cerminnya, membersihkan hatinya. Jibril lah yang menambah daya agar teguh dan tebal keimanan seseorang. dalam khasanah jawa Jibril berdampingan dengan Guru sejati, bersanding dengan diri Pribadi. Jibril tidak mampu mengantarka diri Nabi ke Sidratul Muntaha dalam Mij’raj beliau juga diceritakan ketika Jibril menampakan diri kehadapan rasul selalu ditemani malaikat mulia lainnya yaitu Mikail isrofil Ijroil.","part":1,"page":384},{"id":385,"text":"Jelas kiranya bahwa kahadiran ketuban ketika membungkus janin ternyata disertai saudara2nya yang lain. Ditinjau dari keddudukannya yang keluar paling awal maka disebut sebagai kakak atau kakang (saudara tua ) si bayi. begitu bayi lahir maka selesailah sudah tugas ketuban secara fisik. tetapi exsistensi ketuban secara ruhaniah ia tetap menjaga dan membimbing bayi tersebut sampai akhir hayat. secara extensi Jibril diciptakan setelah malaikat Mikail. dan Tali Pusar ada lebih dulu dari pada selaput yang membungkus janin di pintu rahim (cervix)\rKe Dua Malaikat Israfil. Menurut hadis malaikat Israfil diciptakan setelah penciptaan Arsy ( Singgasana Tuhan ) disebut sebagai malaikat penggenggam alam semesta, ia meniup Terompet Pemusnahan Dan Pembangkitan. Ia digambarkan menengadah ke atas untuk melihat jadwal kiamat yang ada di Lawh Al Mahfuzh.\rIsrafil di sepadankan dengan ari-ari, tembuni atau Placenta, Ari-Ari adalah yang memayungi sang janin sampai ketempat tujuan dialah yang memberikan keamanan menyalurkan makanan dan kenyamanan pada janin dengan ari-ari ini kehidupan berlangsung dalam janin. Exsistensi Ari-ari ini disejajarkan dengan malaikat Israfil Dalam kelahiran janin, Ari-ari diterima sebagai saudara muda (adik).","part":1,"page":385},{"id":386,"text":"Meskipun jasadnya telah tak ada lagi ari-ari tetap memberikan perlindungan bagi manusia setelah dilahirkan. Dari sisi keberadaanya malaikat Israfil dicipta terlebih dahulu dari pada malaikat Mikail dan Jibril As. Israfil diyakini sebagai Pelita Hati Bagi manusia agar hatinya tetap terang, Itulah sebabnya sejahat-jahatnya manusia masih ada secercah cahaya dalam hatinya tetap ada kebaikan yang dimilikinya meski hanya sebesar debu…\rYang ketiga adalah Malaikat Mikail, Salah satu malaikat yang menjadi pembesar para malaikat.. Tugas malaikat Mikail adalah Memelihara Kehidupan. Dalam hadis diceritakan bahwa malaikat Mikail mengemban tugas memelihara pertumbuhan pepohonan, kehidupan Hewan juga Manusia.. Dialah yang mengatur angin dan hujan dan membagi rejeki pada seluruh mahluk.\rPada konsep sedulur papat yang sudah di sesuaikan dengan ajaran Islam, Tali Pusar merupakan Lokus, tempat dudukan bagi malaikat Mikail dia merupakan tali penghubung bagi kehidupan manusia.Zat zat makanan, Oksigen dan Zat yang perlu dibuang dari tubuh janin agar tidak meracuni tubuh janin. Subhanallah.. Dia telah mengatur kehidupan manusia dalam rahim melalui malaikat malaikatnya.\rMikail dipandang orang jawa sebagai saudara yang memberikan sandang, pangan dan papan, Jika seseorang memohon perlindungan tuhan maka Mikail yang akan menjalankan perintah Tuhan untuk melindunginya.\rKe Empat adalah Malaikat Ijroil. Malaikat Maut yang dipercaya sebagai yang bertanggung jawab akan Kematian. Kehadirannya amat ditakuti Manusia.. Jika ajal telah tiba maka ia akan Me wafatkan manusia sesuai waktunya.","part":1,"page":386},{"id":387,"text":"Dalam konsep sedulur papat Malaikat maut ini ternyata saudara Manusia sendiri bukan orang lain dan ia tidak akan menyalahi tugasnya bila seseorang belum sampai ajalnya dia tak akan mewafatkannya.. Dia hadir untuk meringankan penderitaan manusia, saudara sejati pasti melindungi bila yang bersangkutan selalu dijalan yang benar. Bayangkan bila manusia tidak bisa mati tetapi hidupnya menderita..? apa tidak tersiksa..? bayangkan bila ada orang yang mau mati aja sulitnya bukan main.. Nauzubillah..\rIjroil disebut sebagai kekuatan Tuhan yang berada didalam Darah, Dalam kehidupan sehari hari Ijroil bertugas untuk menjaga hati yang suci, Jika hati terjaga kesuciannya maka ketakutan akan hidup menderita dan kematian akan tak ada lagi.\rJika ajal telah sampai maka Ijroil mengorganisasi malaikat lainnya, mengorganisasi saudara saudara lainnya untuk mengakhiri hidupnya. Permana yang memberikan kekuatan pada sang Jiwa diangkat keluar tubuh, sehingga tubuh tak dapat lagi dikendalikan oleh jiwa. Ruh penyambung hidup kita lepas.. tubuh menjadi lunglai lak berdaya dan ini bentuk umum kematian bagi manusia.. loh kok gitu yaa..? Nah yang tidak umum yaaa.. bila Sang Diri Sejati manusia mampu memimpin saudara-saudaranya untuk melepaskan Jiwa manusia kealam Gaib. Orang demikian sudah mempu menyongsong kematiannya dengan benar, dia memberitahukan pada sanak dan saudaranya kapan kematiannya akan datang.","part":1,"page":387},{"id":388,"text":"Semua saudara gaib ini sudah menjadi satu dengan tubuh kita, ketika dalam rahim sendiri-sendiri wujudnya. tapi ketika sang Bayi sudah lahir hanya ada satu wujud. Empat saudara kita tetap menyertai kita dalam wujud Ruh dan Tidak Kasat Mata.\rAda kutipan Ayat dalam Al-Quran yang perlu di simak.. ” In Kullu nafsin lamma alayha hafizh” Artinya ‘Setiap diri niscaya ada penjaganya’ Atau “Wa huwa al-qahir fawq iba’dih wa yusril alaykum hafazhah hatta idza ja’a ahadakum al-mawt tawaffathu rusuluna wahum la yufarrithun” >’ Dialah yang berkuasa atas semua hambanya. Dan dia mengutus kepada kalian Penjaga-Penjaga untuk melindungimu. Jika seseorang sudah waktunya mati, maka utusan-utusan kami itu mewafatkannya tanpa keliru”\rSimbolisasi sedulur papat limo pancer dalam perwayangan\rSemar sebagai pamomong keturunan Saptaarga tidak sendirian. Ia ditemani oleh tiga anaknya, yaitu; Gareng, Petruk, Bagong. Ke empat abdi tersebut dinamakan Panakawan. Dapat disaksikan, hampir pada setiap pegelaran wayang kulit purwa, akan muncul seorang ksatria keturunan Saptaarga diikuti oleh Semar, Gareng, Petruk, Bagong. Cerita apa pun yang dipagelarkan, ke lima tokoh ini menduduki posisi penting. Kisah Mereka diawali mulai dari sebuah pertapaan Saptaarga atau pertapaan lainnya. Setelah mendapat berbagai macam ilmu dan nasihat-nasihat dari Sang Begawan, mereka turun gunung untuk mengamalkan ilmu yang telah diperoleh, dengan melakukan tapa ngrame. (menolong tanpa pamrih).","part":1,"page":388},{"id":389,"text":"Dikisahkan, perjalanan sang Ksatria dan ke empat abdinya memasuki hutan. Ini menggambarkan bahwa sang ksatria mulai memasuki medan kehidupan yang belum pernah dikenal, gelap, penuh semak belukar, banyak binatang buas, makhluk jahat yang siap menghadangnya, bahkan jika lengah dapat mengacam jiwanya. Namun pada akhirnya Ksatria, Semar, Gareng, Petruk, Bagong berhasil memetik kemenangan dengan mengalahkan kawanan Raksasa, sehingga berhasil keluar hutan dengan selamat. Di luar hutan, rintangan masih menghadang, bahaya senantiasa mengancam. Berkat Semar dan anak-anaknya, sang Ksatria dapat menyingkirkan segala penghalang dan berhasil menyelesaikan tugas hidupnya dengan selamat.","part":1,"page":389},{"id":390,"text":"Mengapa peranan Semar dan anak-anaknya sangat menentukan keberhasilan suatu kehidupan? Semar merupakan gambaran penyelenggaraan Illahi yang ikut berproses dalam kehidupan manusia. Untuk lebih memperjelas peranan Semar, maka tokoh Semar dilengkapi dengan tiga tokoh lainnya. Ke empat panakawan tersebut merupakan simbol dari cipta, rasa, karsa dan karya. Semar mempunyai ciri menonjol yaitu kuncung putih. Kuncung putih di kepala sebagai simbol dari pikiran, gagasan yang jernih atau cipta. Gareng mempunyai ciri yang menonjol yaitu bermata kero, bertangan cekot dan berkaki pincang. Ke tiga cacat fisik tersebut menyimbolkan rasa. Mata kero, adalah rasa kewaspadaan, tangan cekot adalah rasa ketelitian dan kaki pincang adalah rasa kehati-hatian. Petruk adalah simbol dari kehendak, keinginan, karsa yang digambarkan dalam kedua tangannya. Jika digerakkan, kedua tangan tersebut bagaikan kedua orang yang bekerjasama dengan baik. Tangan depan menunjuk, memilih apa yang dikehendaki, tangan belakang menggenggam erat-erat apa yang telah dipilih. Sedangkan karya disimbolkan Bagong dengan dua tangan yang kelima jarinya terbuka lebar, artinya selalu bersedia bekerja keras.","part":1,"page":390},{"id":391,"text":"Cipta, rasa, karsa dan karya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Cipta, rasa, karsa dan karya berada dalam satu wilayah yang bernama pribadi atau jati diri manusia, disimbolkan tokoh Ksatria. Gambaran manusia ideal adalah merupakan gambaran pribadi manusia yang utuh, dimana cipta, rasa, karsa dan karya dapat menempati fungsinya masing-masing dengan harmonis, untuk kemudian berjalan seiring menuju cita-cita yang luhur. Dengan demikian menjadi jelas bahwa antara Ksatria dan panakawan mempunyai hubungan signifikan. Tokoh ksatria akan berhasil dalam hidupnya dan mencapai cita-cita ideal jika didasari sebuah pikiran jernih (cipta), hati tulus (rasa), kehendak, tekad bulat (karsa) dan mau bekerja keras (karya). Simbolisasi ksatria dan empat abdinya, serupa dengan ‘ngelmu’ sedulur papat lima pancer. Sedulur papat adalah panakawan, lima pancer adalah ksatriya. [ Sumber : http://www.jagoannews.com/blog/2012/06/07/sedulur-papat-lima-pancer/ ]\r0490. MUSIK DAN TARIAN SEBAGAI PEMBANTU KEHIDUPAN BERAGAMA","part":1,"page":391},{"id":392,"text":"Hati manusia diciptakan oleh Yang Maha Kuasa bagai sebuah batu api. Ia mengandung api tersembunyi yang terpijar oleh musik dan harmoni serta menawarkan kegairahan bagi orang lain, di samping dirinya. Harmoni-harmoni ini adalah gema dunia keindahan yang lebih tinggi, yang kita sebut dunia ruh. Ia mengingatkan manusia akan hubungannya dengan dunia tersebut, dan membangkitkan emosi yang sedemikian dalam dan asing dalam dirinya, sehingga ia sendiri tak berdaya untuk menerangkannya. Pengaruh musik dan tarian amat dalam, menyalakan cinta yang telah tidur di dalam hati – cinta yang bersifat keduniaan dan inderawi, ataupun yang bersifat ketuhanan dan ruhaniah.","part":1,"page":392},{"id":393,"text":"Sesuai dengan itu, terjadi perdebatan di kalangan ahli teologi mengenai halal dan haramnya musik dan tarian dalam kegiatan-kegiatan keagamaan. Suatu sekte, Zhahariah, berpendapat bahwa Allah sama sekali tak dapat dibandingkan dengan manusia, seraya menolak kemungkinan bahwa manusia bisa benar-benar merasakan cinta kepada Allah. Mereka berkata bahwa manusia hanya bisa mencinta sesuatu yang termasuk dalam spesiesnya. Jia ia “benar-benar” merasakan sesuatu yang ia pikir sebagai cinta kepada Sang Khalik, kata mereka hal itu tak lebih daripada sekadar proyeksi belaka, atau bayang-bayang yang diciptakan oleh khayalannya, atau suatu pantulan cinta kepada sesama mahluk. Musik dan tarian, menurut mereka, hanya berurusan dengan cinta kepada makhluk, dan karenanya haram dala mkegiatan keagamaan. Jika kita tanya mereka, apakah arti “cinta kepada Allah” yang diperintahkan oleh syariat, mereka menjawab bahwa hal itu berarti ketaatan dan ibadah. Kesalahan ini akan kita sanggah pada bab yang akan membahas kecintaan kepada Allah. Saat ini, baiklah kita puaskan diri kita dengan berkata bahwa musik dan tari tidak memberikan sesuatu yang sebelumnya tidak ada di dalam hati, tapi hanyalah membangunkan emosi yang tertidur. Oleh karena itu, menyimpan cinta kepada Allah di dalam hati yan gdiperintahkan oleh syariat itu sama sekali dibolehkan. Malah ikut serta dala mkegiatan-kegiatan yang memperbesarnya patut dipuji. Di pihak lain, jika hatinya penuh dengan nafsu inderawi, musik dan tarian hanya akan menambahnya; karena itu, terlarang baginya. Sementara itu, jika mendengarkan musik hanyalah sebagai","part":1,"page":393},{"id":394,"text":"hiburan belaka, maka hukumnya mubah. Karena, sekadar kenyataan bahwa musik itu menyenangkan tidak lantas membuatnya haram, sebagaimana mendengarkan seekor burung berbunyi; atau melihat rumput hijau dan air mengalir tidak diharamkan. Watak tak-berdosa dari musik dan tarian yang diperlakukan sekadar sebagai hiburan, juga dibenarkan oleh hadis shahih yang kita terima dari Siti Aisyah yang meriwayatkan:\rPada suatu hari raya, beberapa orang Habsyi menari di masjid. Nabi berkata kepadaku, “Inginkah engkau melihatnya?” Aku jawab, “Ya”. Lantas aku diangkatnya dengan tangannya sendiri yang dirahmati, dan aku menikmati pertunjukan itu sedemikian lama, sehingga lebih dari sekali beilau berkata, “Belum cukupkah?”\rHadis lain dari Siti Aisyah adalah sebagai berikut:\rPada suatu hari raya, dua orang gadis datang ke rumahku dan mulai bernyanyi dan menari. Nabi masuk dan berbaring di sofa sambil memalingkan mukanya. Tiba-tiba Abu Bakar masuk dan, melihat gadis-gadis itu bermain, dia berseru: “Hah! Seruling setan di rumah Nabi!” Nabi menoleh karenanya dan berkata: “Biarkan mereka, Abu Bakar, hari ini adalah hari raya.”","part":1,"page":394},{"id":395,"text":"Terlepas dari kasus-kasus yang melibatkan musik dan tarian yang membangunkan nafsu-nafsu setan yang telah tidur di dalam hati, kita dapati adanya kasus-kasus yang menunjukkan mereka sama sekali halah. Misalnya nyanyian orang-orang yang sedang menjalankan ibadah haji yang merayakan keagungan Baitullah di Makkah, yang dengan demikian mendorong orang lain untuk pergi haji; dan musik yang membangkitkan semangat perang di dara para pendengarnya dan memberikan mereka semangat untuk memerangi orang-orang kafir. Demikian pula, musik-musik sendu yang membangkitkan kesedihan karena telah berbuat dosa dan kegagalan dalam kehidupan keagamaan juga diperbolehkan: seperti misalnya musik Nabi Daud, nyanyian penguburan yang menambah kesedihan karena kematian tidak diperbolehkan, karena tertulis dalam al-Qur’an: “Jangan bersedih atas apa yang hilang darimu.” Di pihak lain, musik-musik gembira di pesta-pesta, seperti perkawinan dan khitanan atau kembali dari perjalanan, hukumnya halal.","part":1,"page":395},{"id":396,"text":"Sekarang kita sampai pada penggunaan musik dan tarian yang sepenuhnya bersifat keagamaan. Para sufi memanfaatkan musik untuk membangkitkan cinta yan glebih besar kepada Allah dalam diri mereka, dean dengannya mereka seringkali mendapatkan penglihatan dan kegairanan ruhani. Dalam keadaan ini hati mereka menjadi sebersih perak yan gdibakar dalam tungku, dan mencapai suatu tingkat kesucian yang tak akan pernah bisa dicapai oleh sekadar hidup prihatin, walau seberat apapun. Para sufi itu kemudian menjadi sedemikian sadar akan hubungannya dengan dunia ruhani, sehingga mereka kehilangan segenap perhatiannya akan dunia ini dan kerapkali kehilangan kesadaran inderawinya.\rMeskipun demikian, para calon sufi dilarang ikut ambil bagian dalam tarian mistik ini tanpa bantuan pir (syaikh atau guru ruhani)nya. Diriwayatkan bahwa Syaikh Abul-Qasim Jirjani, ketika salah seorang muridnya meminta izin untuk ambil bagian dalam tarian semacam itu, berkata: “Jalani puasa yang ketat selama tiga hari, kemudian suruh mereka memasak makanan-makanan yang menggiurkan. Jika kemudian engkau masih lebih menyukai tarian itu, engkau boleh ikut.” Bagaimanapun juga, seorang murid yang hatinya belum seluruhnya tersucikan dari nafsu-nafsu duniawi – meskipun mungkin telah mendapat penglihatan sepintas akan jalur tasawwuf – mesti dilarang oleh syaikhnya untuk ambil bagian dalam tarian-tarian semacam itu, karena hal itu hanya akan lebih banyak mendatangkan mudharat daripada mashlahatnya.","part":1,"page":396},{"id":397,"text":"Orang-orang yang menolak hakikat ekstase (kegairahan) dan pengalaman-pengalaman ruhani para sufi, sebenarnya hanya mengakui kesempitan pikiran dan kedangkalan wawasan mereka saja. Meskipun demikian, mereka haruslah dimaafkan, karena mempercayai hakikat suatu keadaan yang belum dialami secara pribadi adalah sama sulitnya dengan memahami kenikmatan menatap rumput hijau dan air mengalir bagi seorang buta, atau bagi seorang anak untuk mengerti kenikmatan melaksanakan pemerintahan. Karenanya seorang bijak, meskipun ia sendiri mungkin tidak mempunyai pengalaman tentang keadaan-keadaan tersebut, tak akan menyangkal hakikatnya. Sebab, kesalahan apa lagi yang lebih besar daripada orang yang menyangkal hakikat sesuatu hanya karena ia sendiri belum mengalaminya! Mengenai orang-orang ini, tertulis dalam al-Qur’an: “Orang-orang yang tidak mendapatkan petunjuk akan berkata, ‘Ini adalah kemunafikan yang nyata’.”\rSedang mengenai puisi erotis yang dibaca pada pertemuan-pertemuan para sufi – yang banyak orang merasa keberatan terhadapnya – mesti kita ingat bahwa jika dalam puisi seperti ini disebut-sebut tentang pemisahan dari atau persekutuan dengan yang dicintai, maka para sufi – yang amat cinta pada Allah – menggunakan ungkapan semacam itu untuk menjelaskan pemisahan dan persekutuan dengan Dia. Demikian pula, “jalan-jalan buntuk yang gelap” dipakai untuk menjelaskan kegelapan kekafiran; “kecerahan wajah” untuk cahaya keimanan; dan “mabuk” sebagai ekstase (kegairanan) sang sufi. Ambil sebagai misal, bait dari sebuah puisi berikut ini:\rMungkin sudah kuatur anggur beribu takaran","part":1,"page":397},{"id":398,"text":"Tapi, sampai ‘kau habis mereguknya tiada kegembiraan kaurasakan\rDengan itu penulisnya bermaksud untuk mengatakan bahwa kenikmatan agama yang sejati taka akan bisa diraih lewat perintah resmi, tapi dengan rasa tertarik dan keinginan. Seseorang boleh jadi telah banyak berbicara dan menulis tentang cinta, keimanan, ketakwaan dan sebagainya, tapi sebelum ia sendiri memiliki sifat-sifat ini, semuanya itu tak bermanfaat baginya. Jadi, orang-orang yang mencari-cari kesalahan para sufi, karena sufi-sufi tersebut sangat terpengaruh – bahkan sampai mencapai ekstase – oleh bait-bait seperti itu, hanyalah orang-orang dangkal dan tak toleran. Onta sekalipun kadang-kadang terpengaruh oleh lagu-lagu Arab yang dinyanyikan penunggangnya sehingga ia akan berlari kencang, memikul beban berat, sampai akhirnya tersungkur kelelahan.\rMeskipun demikian, orang-orang yang mendengar syair pada sufi berada dalam bahaya dikutuk, jika ia menerapkan syair-syair yang didengarnya itu untuk Allah. Misalnya, ketika ia dengar syair seperti “Engkau berubah dari kecenderungan-semulamu”, ia tak boleh menerapkannya untuk Allah – yang tak boleh berubah – melainkan untuk dirinya dan ragam suasana hatinya sendiri. Allah bagaikan mentari yang selalu bersinar, tetapi bagi kita kadang-kadang cahaya-Nya terhalang oleh beberapa obyek yang ada di antara kita dan Dia.","part":1,"page":398},{"id":399,"text":"Diriwayatkan bahwa beberapa ahli mencapai tingkat ekstase sedemikian rupa sehingga diri mereka hilang dalam Allah. Demikian halnya dengan Syaikh Abul-Hasan Nuri yang ketika mendengar seuntai syair tertentu, terjatuh dalam keadaan ekstase dan menerobos ke dalam ladang yan gpenuh dengan batang-batang tebu yang baru dipotong, berlari kian-kemari sampai kakinya berdarah penuh luka dan akhirnya mati tak lama sesudah itu. Dalam kasus-kasus semacam itu, beberapa orang berpendapat bahwa Tuhan telah benar-benar turun ke dalam manusia, tapi ini adalah kesalahan yang sama besar dengan yang dilakukan oleh seseorang yang ketika pertama kali melihat bayangannya di cermin, berpendapat bahwa ia telah tersatukan dengan cermin itu, atau bahwa warna-warni merah-putih yang dipantulkan oleh cermin adalah sifat-sifat bawaan cermin itu.","part":1,"page":399},{"id":400,"text":"Keadaan-keadaan ekstase yang dialami para sufi beragam, sesuai dengan emosi-emosi yang dominan di dalamnya, yakni cinta, ketakutan, nafsu, tobat dan sebagainya. Keadaan-keadaan ini, sebagaimana kita sebut di atas, dicapai seringkali tidak hanya sebagai hasil mendengarkan ayat-ayat al-Qur’an, tetapi juga syair yang merangsang. Sementara orang keberatan terhadap pembacaan syair, sebagaimana juga al-Qur’an, pada kesempatan-kesempatan seperti itu. Tapi mesti diingat bahwa tidak seluruh ayat al-Qur’an dimaksudkan untuk membangkitkan emosi – seperti misalnya, perintah bahwa seorang laki-laki mesti mewariskan seperenam hartanya untuk ibunya dan sebagainya untuk saudara perempuannya, atau bahwa seorang wanita yang ditinggal mati suaminya mesti menunggu empat bulan sebelum boleh menikah lagi dengan orang lain. Sangat sedikit orang dan hanya yang sangat peka sajalah yang bisa tercebur ke dalam ekstase keagamaan oleh ayat-ayat seperti itu.","part":1,"page":400},{"id":401,"text":"Alasan lain yang membenarkan penggunaan syair, juga ayat-ayat al-Qur’an, dalam kesempatan-kesempatan seperti ini adalah bahwa orang-orang telah sedemikian akrab dengan al-Qur’an, banyak di antaranya bahkan telah menghafalnya, sehingga pengaruh pembacannya telah sedemikian ditumpulkan oleh perulangan yang berkali-kali. Seseorang tidak bisa selalu mengutip ayat-ayat al-Qur’an baru sebagaimana yang bisa dilakukan dengan syair. Suatu kali ketika beberapa orang Arab Badul mendengarkan al-Qur’an untuk pertama kalinya dan menjadi sangat tergerak olehnya, Abu Bakar berkata kepada mereka, “Kami dulu pernah seperti kamu, tetapi sekarang hati kami telah mengeras,” berarti bahwa al-Qur’an telah kehilangan sebagian pengaruhnya atas orang-orang yang akrab dengannya. Dengan alasan yang sama, Khalifah Umar biasa memerintahkan para peziarah haji ke Makkah agar segera meninggalkan tempat itu secepatnya. “Karena,” katanya, “saya khawatir, jika kalian menjadi terlalu akrab dengan Kota Suci itu, ketakjuban kalian terhadapnya akan sirna dari hati-hati kalian.”","part":1,"page":401},{"id":402,"text":"Ada pula penggunaan nyanyian dan peralatan musik – sepreti seruling dan genderang – secara tak berbobot dan sembrono, paling tidak di mata masyarakat awam. Keagungan al-Qur’an tak pantas, meskipun sementara, dikaitkan dengan hal-hal seperti ini. Diriwayatkan bahwa sekali waktu Nabi saw. memasuki rumah Rai’ah putri Mu’adz. Beberapa orang gadis-penyanyi yang ada di sana secara tiba-tiba mulai mengalunkan nyanyiannya untuk menghormati beliau. Beliau dengan segera meminta mereka untuk berhenti, karena puji-pujian bagi Nabi adalah tema yang terlalu sakral untuk diperlakukan demikian. Akan timbul pula bahaya jika ayat-ayat al-Qur’an dipergunakan secara khusus, sehingga pendengar-pendengarnya akan mengaitkannya dengan penafsiran mereka sendiri, dan hal ini terlarang. Di pihak lain, tak ada bahaya yang mungkin timbul dalam menafsirkan baris-baris syair dengan berbagai cara, karena memang makna yang diberikan seseorang atas suatu syair tak harus sama dengan yang diberikan oleh penulisnya.","part":1,"page":402},{"id":403,"text":"Bentuk lain dari tarian-tarian mistik ini adalah dengan melukai diri sendiri sembari mengoyak-ngoyakkan pakaian. Jika hal ini adalah hasil dari suatu keadaan ekstase murni, maka tak ada sesuatu yang bisa dikatakan untuk menentangnya. Tapi jika hal ini dilakukan oleh orang-orang yang sok disebut “ahli”, maka hal ini adalah suatu kemunafikan belaka. Dalam setiap hal, orang yang paling ahli adalah yang mampu mengendalikan dirinya, hingga ia benar-benar berasa wajib untuk memberikan penyaluran kepada perasaan-perasannya. Diriwayatkan bahwa seorang murid Syaikh Juaid, ketika mendengar sebuah nyanyian pada suatu pertemuan para sufi, tak bisa menahan diri sehingga mulai memekik dalam keadaan ekstase. Junaid berkata kepadanya: “Jika kaulakukan hal itu sekali lagi, jangan tinggal bersamaku lagi.” Setelah kejadian itu, sang anak muda berusaha untuk menahan dirinya. Tapi pada akhirnya pada suatu hari emosinya sedemikian kuat terbangkitkan sehingga, setelah sedemikan lama dan sedemikian kuat tertekan, ia melontarkan pekikan dan kemudian mati.","part":1,"page":403},{"id":404,"text":"Kesimpulannya, dalam menyelenggarakan pertemuan-pertemuan semacam itu, perhatian mesti diberikan kepada tempat dan waktu, dan bahwa tidak ada pemirsa dengan niat yang tak patut ikut hadir di dalamnya. Orang-orang yang ikut serta di dalamnya mesti duduk berdiam diri, tidak saling melihat, menundukkan kepala – sebagaimana dalam shalat – dan memusatkan pikiran mereka kepada Allah. Setiap orang mesti waspada terhadap segala sesuatu yang mungkin terilhamkan ke dalam hatinya, dan tidak melakukan gerakan-gerakan apa pun yang bersumber dari rangsangan sadar-diri belaka. Tetapi jika ada seseorang di antara mereka yang bangkit dalam keadaan ekstase murni, maka segenap orang yang hadir mesti bangkit pula bersamanya, dan jika ada sorban seseorang yang tanggal, maka orang lain pun mesti meletakkan sorbannya.","part":1,"page":404},{"id":405,"text":"Meskipun hal ini merupakan hal baru dalam Islam dan tidak diterima dari para sahabat, mesti kita ingat bahwa tidak semua hal itu terlarang, melainkan hanya yang secara langsung bertentangan dengan syariat. Misalnya, shalat Tarawih. Shalat ini dilembagakan pertama kali oleh Khalifah Umar. Nabi saw. bersabda: “Hiduplah dengan setiap orang sesuai dengan kebiasaan dan wataknya.” Oleh karena itu, kita dibenarkan untuk mengerjakan hal-hal tertentu demi menyenangkan orang, jika sikap tidak-berkompromi akan menyakitkan hati mereka. Memang benar bahwa para sahabat tidak mempunyai kebiasaan untuk berdiri ketika Nabi saw. masuk, karena mereka tidak menyukai praktek ini; tetapi di daerah-daerah yang mempunyai kebiasaan seperti ini, dan tidak melakukannya akan bisa menimbulkan rasa tidak senang, lebih baik berkompromi dengannya. Orang-orang Arab punya kebiasaan sendiri, orang-orang Persia pun demikian, dan Allah tahu mana yang paling baik.\r[ dikutip dari Kimiya Sa'adah ].","part":1,"page":405}],"titles":[{"id":1,"title":"Piss-Ktb (44)","lvl":1,"sub":0}]}