{"pages":[{"id":1,"text":"34\r2227. HUKUM BISNIS MLM [ MULTI LEVEL MARKETING ]\rPERTANYAAN :\rAguezy Luagie Nyuantae\r??a??? sebuah perdebatan masalah MLM haram / tidak nie...........??!! Silakan.................???!!\rJAWABAN :\rAlif Jum'an Azend\rWa'alaykumus salaam . . . [ Bisnis Beranak Cucu ] Bagaimana hukum bisnis Multi Level Marketing (MLM). Contoh Si A mendaftar dengan membayar uang umpama Rp 150.000, maka si A masuk level I. Kemudian si A berhasil merekrut dua orang member yang juga harus membayar Rp 150.000, pada pihak pusat. Maka si A mendapat komisi dari masing-masing member Rp 25.000. Jadi Rp 25.000 x 2 member = Rp 50.000. Kedua downline level I, masing-masing berhasil merekrut 2 member, berarti jumlah member dua, empat orang dan pendapatan si A = Rp 20.000, akumulasi Rp 70.000. Ketiga... dan seterusnya. Hingga meraup rupiah sampai jutaan dengan mengeluarkan modal sekecil-kecilnya. Bisnis ini dijuluki bisnis \"Anak Cucu\"\rJawaban : Dalam bisnis Multi Level Marketing seperti contoh yang anda berikan, terdapat hal-hal yang tidak jelas, yaitu : Kalau si A mendaftar dengan membayar Rp 150 ribu, Mendaftar sebagai apa ?\rUang Rp 150 ribu diserahkan kepada siapa dan bagaimana akadnya? Apakah akad jual beli, atau akad hutang piutang, atau akad syirkah, atau akad qiradl, atau akad shadaqah, atau akad apa lagi?\rKalau si A berhasil merekrut dua orang member yang juga membayar kepada pusat masing-masing Rp 150.000,- si A mendapat komisi sebanyak 2 X Rp 25.000,- = Rp 50.000,- . Dari mana uang Rp 50.000,- diberikan oleh pusat kepada si A? Dan bagaimana akadnya?","part":1,"page":1},{"id":2,"text":"Andaikata si A tidak berhasil merekrut orang lain untuk bermain dalam bisnis MLM ini, dapatkah uang yang telah dibayarkan oleh si A ditarik kembali. Demikian pula halnya dengan dua orang yang telah direkrut oleh si A, jika dia tidak dapat merekrut orang lain lagi, dan menginginkan uangnya kembali, dapatkah si A/pusat bertanggung jawab?\rKalau saya amati dari contoh yang anda berikan mengenai bisnis Multi Level Marketing ini, maka bisnis ini jelas-jelas tidak termasuk muamalah yang diperbolehkan dalam agama Islam seperti: bai', silm, rahn, hijr, suluh, hiwalah, dlaman, kafalah, syirkah, qiradl, wakalah, wakalah, iqrar, 'arah, syuf'ah, musafah, ju'alah, ijarah, wakaf, hibah dan wadi'ah yang jelas akadnya dalam syariat agama Islam.\rBisnis yang tidak jelas akadnya seperti ini pada akhirnya pasti banyak pihak yang dirugikan yaitu orang-orang yang tidak lagi bisa merekrut member. Yang jelas, kalau tidak merugikan diri sendiri, pasti merugikan orang lain. Dan hal ini dilarang oleh Rasulullah saw:\rاَلضَّرَرُ يُزَالُ .\rPerbuatan yang merugikan itu harus dilenyapkan. [Bahtsul Masaail PP Nurul Hudaa/1999].\rKEPUTUSAN MUSYAWAROH TAHUNAN KE-34 PONPES MUS KARANGMANGU SARANG REMBANG","part":1,"page":2},{"id":3,"text":"Deskripsi masalah : Krisis ekonomi telah memberikan implikasi terhadap lemahnya daya beli masyarakat, sementara persaingan dibidang usaha terus meningkat. Hal ini mendorong beberapa perusahaan menerapkan kiat-kiat tertentu dalam memasarkan produknya, diantaranya dengan menggunakan sistem multi level marketing (MLM) seperti CNI, DXN, Rich Exl.Pers dan lain-lain. Dalam sistem ini seseorang dapat menjadi anggota ( distributor) dengan cara membeli produk perusahaan tersebut dalam jumlah tertentu dan membayar uang administrasi, kemudian dia akan mendapatkan komisi apabila bisa mendapatkan anggota ( Down Line) atau point dalam jumlah tertentu, semakin banyak anggota atau point yang diperoleh maka semakin besar pula komisi yang didapat. Yang menarik dari sistem ini bila anggota yang dibawah mendapat down line atau point maka anggota yang diatasnya ikut terdongkrak (bertambah anggota atau pointnya). Pertanyaan :\ra. Termasuk kategori aqad apakah praktek MLM tersebut?\rb. Apakah praktek tersebut diatas dapat dibenarkan oleh syara’?\rc. Apabila tidak boleh bagaimanakah solusi bagi orang yang telah menjadi anggota MLM ? (PP. Al-Falah Ploso Kediri)\rJawaban No . 01 Bag . A : Praktek tersebut temasuk Ju’alah dan Bai ’ yang Fasid\r- Ju’alah fasidah karena :\r1. Amalnya tidak ada kulfah (beban)\r2. Iwadlnya ( upah ) tidak maklum ( dalam dongkraannya )\r3. Ada syarat bai’ dalam akad\r- Bai’ fasid karena di jadikan syarat dalam akad Ju’alah\rIbarat : I’anatut Tholibin Juz : III Hal : 123, Alfiqh ‘alal madzahib al-arba’ah Juz : II Hal : 228, Hasyiyah Al-Syarqowi Juz : II Hal : 53","part":1,"page":3},{"id":4,"text":"( وعبارته ) : وهي بتثليث الجيم شرعا التزام عوض معلوم على عمل معين او مجهول عسر علمه وأركانها اجمالا أربعة : الركن الأول العاقد وهو الملتزم للعوض ولو غير المالك والعامل - الى أن قال – الركن الثانى الصيغة وهو من طرف الجاعل لا العامل – الى ان قال – الركن الثالث الجعل وشرط فيه ما شرط فى الثمن فما لايصح ثمنا لكونه مجهولا او نجسا لايصح جعله جعلا ويستحق العامل أجرة المثل فى المجهول والنجس المقصود – الى أن قال – الركن الرابع العمل وشرط فيه كلفة وعدم تعينه فلا جعل فيما لاكلفة فيه .\r[ اعانة الطالبين الجزء الثالث ص 123 ]\r( وعبارته ) : الحالة الخامسة : أن يكون الشرط مما لايقتضيه العقد ولم يكن لمصلحته وليس شرطا فى صحته او كان لغوا ، وذلك هو الشرط الفاسد الذى يضر بالعقد ، كما اذا قال له بعتك بستانا هذا بشرط ان تبيعنى دارك ، او تقرضنى كذا ، او تعطينى فائدة مالية . وانما يبطل العقد بشرط ذلك اذا كان الشرط فى صلب العقد ، أما اذا كان قبله ولو كتابة فإنه يصح إهـ .\r[ كتاب الفقه على المذاهب الأربعة الجزء الثانى ص 228 ]\r( وعبارته ) : ( وبيع بشرط ) كبيع بشرط بيع او قرض للنهي عنه فى خبر أبى داود وغيره ( قوله كبيع بشرط الخ ) كبعتك ذاالعبد بألف بشرط أن تبيعنى دارك بكذا ، او تقرضنى مائة من الدراهم ، ثم ان أوقعوا العقد الثانى بأن باعه الدار أو أقرضه الدراهم مع علمهما بفساد الأول صح والا فلا ومحل فساد الأول ان وقع الشرط فى صلب العقد والا فلا يضر إهـ .\r[ حاشية الشرقاوى الجزء الثانى ص 53 ]\rJawaban No . 01 Bag . B : Tidak dibenarkan( haram)\rIbarat : 1 . Ghoyatu talkhishil murod Hal : 122, 2 . Al–Asybah wan nadhoir Hal : 287\r( وعبارته ) : ( مسئلة ) تعاطى العقود الفاسدة حرام اذا قصد بها تحقيق حكم شرعي ويأثم العالم بذلك ويعزر لا ما صدر عنه تلاعبا او لم يقصد به تحقيق حكم لم يثبت مقتضاه عليه إهـ .","part":1,"page":4},{"id":5,"text":"[ غاية تلخيص المراد ص 122 ]\r( وعبارته ) : القاعدة الخامسة تعاطى العقود الفاسدة حرام كما يؤخذ من كلام الأصحاب فى عدة مواضع إهـ .\r[ الأشباه والنظائر ص 287 ]\rJawaban No . 01 Bag . C : Karena dia sudah melakukan praktek akad yang tidak sah maka dia wajib keluar dari sistem tersebut dan bila sudah menerima barang dan komisi maka wajib mangembalikannya. Dan dia hanya berhak mendapat ujroh misil.\rCatatan : Bagi seluruh Kaum Muslimin harap waspada dengan praktek semacam ini, karena ada diantara sistem semacam ini melakukan penipuan. Ibarat :\r1. Asnal Matholib Juz :II Hal : 3\r2. Al- Hawi Lil-Fatawi Juz : I Hal : 109\r)فعلى الأول ) وهو عدم صحة البيع بالمعاطاة ( المقبوض بها كالمقبوض بالبيع الفاسد فيطالب كل صاحبه بما دفع اليه ان بقي وببدله ان تلف .\r[ أسنى المطالب الجزء الثانى ص 3 ]\r( وعبارته ) : اعلم ان كل من ارتكب معصية لزمه المبادرة الى التوبة منها والتوبة من حقوق الله يشترط فيها ثلاثة أشياء أن يقلع عن المعصية فى الحال وان يندم على فعلها وان يعزم ان لايعود اليها ، والتوبة من حقوق الآدميين يشترط هذه الثلاثة ورابع وهو رد الظلامة الى صاحبها وطلب عفوه عنها والإبراء منها .\r[ الحاوى للفتاوى الجزء الأول ص 109 ]\rTransaksi Dua Aqad dalam Praktik MLM [ NUonline, 27/04/2007 ]\rDalam kajian fikih ada istilah al-‘aqdain fil ‘aqd atau al-bai’ain fi al-bai’ah yang berarti dua aqad yang terkumpul dalam sesuatu transaksi. Rasulullah SAW sebagaimana diriwayatkan Imam Ahmad Bin Hanbal dari Sahabat Abdullah bin Mas’ud RA telah melarang model transaksi seperti ini.","part":1,"page":5},{"id":6,"text":"Para fuqaha merinci penjelasan mengenai al-‘aqdain fil ‘aqd ini ke dalam tiga model. Pertama, adanya dua harga dalam sebuah jual beli. Misalnya, jika seseorang mengatakan kepada orang lain, “Aku jual baju ini kepadamu dengan harga sepuluh dirham jika tunai, dan dua puluh dirham jika hutang.” Kemudian kedua orang tersebut berpisah dan belum ada kesepakatan tentang salah satu model jual beli tersebut.\rDikatakan bahwa jual beli semacam ini telah rusak (fasid), karena kedua pihak yang bertransaksi tidak mengetahui harga mana yang dipastikan. Asy-Syaukani menyatakan, sebab diharamkannya jual beli semacam itu adalah tidak disepakatinya salah satu (aqad) harga dari dua (aqad) harga tersebut. Akan tetapi, jika kedua orang tersebut bersepakat tentang salah satu aqad (harga) dari dua aqad (harga) jual beli tersebut; misalnya pembeli menerima harga baju tersebut 20 dirham secara kredit sebelum keduanya berpisah, maka sahlah jual beli tersebut. Sebab, harga baju itu telah ditetapkan, dan kedua belah pihak mengetahui dengan jelas harga dari baju tersebut serta bentuk transaksinya.\rKedua, Imam Syafi’i, menafsirkan al-‘aqdain fil ‘aqd sebagai jual beli bersyarat. Misalnya, jika seseorang berkata kepada orang lain, “Saya jual rumahku kepadamu dengan harga sekian, akan tetapi engkau harus menikahkan putramu dengan putriku.” Muamalat semacam ini menyebabkan tidak jelasnya harga.","part":1,"page":6},{"id":7,"text":"Ketiga, al-‘aqdain fil ‘aqd adalah memasukkan transaksi kedua ke dalam transaksi pertama yang belum selesai. Misalnya, jika seseorang memesan barang dalam jangka waktu satu bulan, dengan harga yang telah ditentukan. Ketika tempo masa telah tiba, pihak yang dipesan meminta kembali barangnya dengan berkata kepada pemesan, “Juallah barang yang seharusnya saya berikan kepada anda dengan harga sekian, tapi jangkanya ditambah dua bulan.” Jual beli semacam ini adalah fasid, sebab aqad yang kedua telah masuk pada aqad yang pertama. Demikianlah.\rPara ahli fikih sering mengkaji transaksi multi level marketing (MLM) yang saat ini semakin beragam model melalui perspektifal-‘aqdain fil ‘aqd ini, yakni adanya dua akad dalam satu transaksi.\rPaling tidak MLM bisa diklasifikasikan kedalam tiga model: Pertama, MLM yang membuka pendaftaran member (posisi) dimana member tersebut harus membayar sejumlah uang sembari membeli produk. Pada waktu yang sama juga, dia menjadi referee atau makelar bagi perusahaan dengan cara merekrut orang, karena ia akan mendapatkan \"nilai lebih\" jika berhasil merekrut orang lain menjadi member dan membeli produk. Maka praktek MLM seperti ini jelas termasuk dalam kategori al-‘aqdain fil ‘aqd. Sebab, dalam hal ini orang tersebut telah melakukan transaksi jual-beli dengan pemakelaran (samsarah) secara bersama-sama dalam satu akad.","part":1,"page":7},{"id":8,"text":"Kedua, ada MLM yang membuka pendaftaran member, tanpa harus membeli produk meski untuk keperluan itu orang tersebut tetap harus membayar sejumlah uang tertentu untuk menjadi member. Pada waktu yang sama membership (keanggotaan) tersebut mempunyai dampak diperolehnya bonus (poin), baik dari pembelian yang dilakukannya di kemudian hari maupun dari jaringan di bawahnya. Maka praktek ini juga termasuk dalam kategori al-‘aqdain fil ‘aqd, yakni akad membership dan akadsamsarah (pemakelaran).\rMembership tersebut merupakan bentuk akad, yang mempunyai dampak tertentu, yakni ketika pada suatu hari dia membeli produk dia akan mendapatkan bonus langsung. Pada saat yang sama, ketentuan dalam membership tadi menetapkan bahwa orang tersebut berhak mendapatkan bonus, jika jaringan di bawahnya aktif, meski pada awalnya belum. Bahkan ia akan mendapat poin karena ia telah mensponsori orang lain untuk menjadi member.\rKetiga, MLM tersebut membuka membership tanpa disertai ketentuan harus membeli produk, maka akad membership seperti ini justru merupakan akad yang tidak dilakukan terhadap salah satu dari dua perkara, zat dan jasa. Tetapi, akad untuk mendapad jaminan menerima bonus, jika di kemudian hari membeli barang.","part":1,"page":8},{"id":9,"text":"Ini sangat berbeda dengan orang yang membeli produk dalam jumlah tertentu, kemudian mendapatkan bonus langsung berupa kartu diskon yang bisa digunakan sebagai alat untuk mendapatkan diskon dalam pembelian selanjutnya. Sebab, dia mendapatkan kartu diskon bukan karena akad untuk mendapatkan jaminan, tetapi akad jual beli terhadap barang. Dari akad jual beli itulah, dia baru mendapatkan bonus. Dalam MLM model ketiga ini pihak-pihak terkait sebenarnya tidak melakukan transaksi apa-apa, hanya melakukan semacam permainan bisnis yang mirip sekali dengan perjudian.(A Khoirul Anam).\rMulti Level Marketing adalah sebuah sistem penjualan yang belum pernah dikenal sebelumnya di dunia Islam. Leiteratur fiqih klasik tentu tidak memuat hal seperti MLM itu. Sebab MLM ini memang sebuah fenomena yang baru dalam dunia marketing.\rHukum Mengikuiti Bisnis MLM\rKarena MLM itu masuk dalam bab Muamalat, maka pada dasarnya hukumnya mubah atau boleh. Merujuk kepada kaidah bahwa Al-Aslu fil Asy-yai Al-Ibahah. Hukum segala sesuatu itu pada asalnya adalah boleh. Dalam hal ini maksudnya adalah dalam masalah muamalat. Sampai nanti ada hal-hal yang ternyata dilarang atau diharamkan dalam syariah Islam.","part":1,"page":9},{"id":10,"text":"Misalnya bila di dalam sebuah MLM itu ternyata terdapat indikasi riba`, misalnya dalam memutar dana yang terkumpul. Atau ada indikasi terjadinya gharar atau penipuan baik kepada down line ataupun kepada upline. Atau mungkin juga terjadi dharar yaitu hal-hal yang membahayakan, merugikan atau menzhalimi pihak lain, entah dengan mencelakakan dan menyusahkan. Dan tidak tertutup kemungkinan ternyata ada unsur jahalah atau ketidak-transparanan dalam sistem dan aturan. Atau juga perdebatan sebagian kalangan tentang haramnya samsarah ala samsarah.\rSehingga kita tidak bisa terburu-buru memvonis bahwa bisnis MLM itu halal atau haram, sebelum kita teliti dan bedah dulu `isi perut`nya dengan pisau analisa syariah yang `tajam dan terpercaya`.\rTeliti Dan Ketahui Dengan Pasti\rMaka jauh sebelum anda memutuskan untuk bergabung dengan sebuah MLM tertentu, pastikan bahwa di dalamnya tidak ada ke-4 hal tersebut, yang akan membuat anda jauth ke dalam hal yang diharamkan Allah SWT. Carilah keterangan dan perdalam terlebih dahulu wawasan dan pengetahuan anda atas sebuah tawaran ikut dalam MLM, jangan terlalu terburu-buru tergiur dengan tawaran cepat kaya dan seterusnya.\rSebaiknya anda harus yakin terlebih dahulu bahwa produk yang ditawarkan jelas kehalalannya, baik zatnya maupun metodenya. Karena anggota bukan hanya konsumen barang tersebut tetapi juga memasarkan kepada yang lainnya. Sehingga dia harus tahu status barang tersebut dan bertanggung-jawab kepada konsumen lainnya.\rLegalisasi Syariah","part":1,"page":10},{"id":11,"text":"Alangkah baiknya bila seorang muslim menjalankan MLM yang sudah ada legalisasi syariahnya. Yaitu perusahaan MLM yang tidak sekedar mencantumkan label dewan syariah, melainkan yang fungsi dewan syariahnya itu benar-benar berjalan. Sehingga syariah bukan berhenti pada label tanpa arti. Artinya, kalau kita datangi kantornya, maka ustaz yang mengerti masalah syariahnya itu ada dan siap menjelaskan letak halal dan haramnya.\rKepada pengawas syariah itu anda berhak menanyakan dasar pandangan kehalalan produk dan sistem MLM itu. Mintalah kepadanya dalil atau hasil kajian syariah yang lengkap untuk anda pelajari dan bandingkan dengan para ulama yang juga ahli dibidangnya. Itulah fungsi dewan pengawas syariah pada sebuah perusahaan MLM. Jadi jangan terlalu mudah dulu untuk mengatakan bebas masalah sebelum anda yakin dan tahu persis bagaimana dewan syariah di perusahaan itu memastikan kehalalannya.\rHindari Produk Musuh Islam\rSeorang muslim sebaiknya menghindari diri dari menjalankan perusahaan yang memusuhi Islam baik secara langsung atau pun tidak langsung. Bukna tidak mungkin ternyata perusahaan induknya malah menjadi donatur musuh Islam dan keuntungannya bisinis ini malah digunakan untuk MEMBUNUH saudara kita di belahan bumi lainnya.\rMeski pada dasarnya kita boleh bermumalah dengan non muslim, selama mereka mau bekerjasama yang menguntungkan dan juga tidak memerangi umat Islam. Tetapi memasarkan produk musuh Islam di masa kini sama saja dengan berinfaq kepada musuh kita untuk membeli peluru yang merobek jantung umat Islam.\rJangan Sampai Berdusta","part":1,"page":11},{"id":12,"text":"Hal yang paling rawan dalam pemasaran gaya MLM ini adalah dinding yang teramat tipis antara kejujuran dan dengan dusta. Biasanya, orang-orang yang diprospek itu dijejali dengan beragam mimpi untuk jadi milyuner dalam waktu singkat, atau bisa punya rumah real estate, mobil built-up mahal, apartemen mewah, kapal pesiar dan ribuan mimpi lainnya.\rDengan rumus hitung-hitungan yang dibuat seperti masuk akal, akhirnya banyak yang terbuai dan meninggalkan profesi sejatinya atau yang kita kenal dengan istilah `pensiun dini`. Apalagi bila objeknya itu orang miskin yang hidupnya senin kamis, maka semakin menjadilah mimpi di siang bolong itu, persis dengan mimpi menjadi tokoh-tokoh dalam dunia sinetron TV yang tidak pernah menjadi kenyataan.\rDan simbol-simbol kekayaan seperti memakai jas dan dasi, pertemuan di gedung mewah atau kemana-mana naik mobil seringkali menjadi jurus pemasaran. Dan sebagai upaya pencitraan diri bahwa seorang distributor itu sudah makmur sering terasa dipaksakan. Bahkan istilah yang digunakan pun bukan sales, tetapi manager atau general manager atau istilah-istilah keren lain yang punya citra bahwa dirinya adalah orang penting di dalam perusahaan mewah kelas international. Padahal -misalnya- ujung-ujungnya hanya jualan obat.\rKami tidak mengatakan bahwa trik ini haram, tetapi cenderung terasa mengawang-awang yang bila masyarakat awam kurang luas wawasannya, bisa tertipu.\rHati-hati Dengan Mengeksploitir Dalil","part":1,"page":12},{"id":13,"text":"Yang harus diperhatikan pula adalah penggunaan dalil yang tidak pada tempatnya untuk melegalkan MLM. Seperti sering kita dengar banyak orang yang membuat keterangan yang kurang tepat.\rMisalnya bahwa Rasulullah SAW itu profesinya adalah pedagang . Yang benar adalah beliau memang pernah berdagang dan ketika masih kecil memang pernah diajak berdagang. Dan itu terjadi jauh sebelum beliau diangkat menjadi Nabi pada usia 40 tahun. Namun setelah menjadi nabi, beliau tidak lagi menjadi pedagang. Pemasukan (ma`isyah) beliau adalah dari harta rampasan perang / ghanimah, bukan dari hasil jualan atau menawarkan barang dagangan, juga bukan dengan sistem MLM.\rLagi pula kalaulah sebelum jadi nabi beliau pernah berdagang, jelas-jelas sistemnya bukan MLM. Dan Khadidjah ra itulah buknalah Up-linenya sebagaimana Maisarah juga bukan downline-nya.\rJadi jangan mentang-mentang yang diprospek itu umat Islam, atau ustaz yang punya banyak jamaah, atau tokoh yang berpengaruh, lalu dengan enak kita tancap gas tanpa memeriksa kembali dalil yang kita gunakan.\rTerkait dengan itu, ada juga yang berdalih bahwa sistem MLM merupakan sunnah nabi. Mereka mengandaikannya dengan dakwah berantai / berjenjang yang dilakukan oleh Rasulullah SAW di masa itu.","part":1,"page":13},{"id":14,"text":"Padahal apa yang dilakukan beliau itu tidak bisa dijadikan dalil bahwa sistem penjualan berjenjang itu adalah sunnah Rasulullah SAW. Sebab ketika melakukan dakwah berjenjang itu, Rasulullah SAW tidak sedang berdagang dengan memberi barang /jasa dan mendapatkan imbalan materi. Jadi tidak ada transaksi muamalat perdangan dalam dakwah berjenjang beliau. Kalau pun ada reward, maka itu adalah pahala dari Allah SWT yang punya pahala tak ada habisnya, bukan berbentuk uang pembelian.\rJangan Sampai Kehilangan Kreatifitas Dan Produktifitas\rMLM itu memang sering menjanjikan orang menjadi kaya mendadak, sehingga bisa menyedot keinginan dari sejumlah orang dengan sangat besar. Dan karena menggunakan sistem jaringan, memang dalam waktu singkat bisa terkumpul sejumlah orang yang siap menjual rupa-rupa produk. Harus diperhatikan bahwa bila semua orang akan dimasukkan ke dalam jaringan MLM yang pada hakikatnya menjadi sales menjualkan produk sebuah industri, maka jangan sampai jiwa kreatifitas dan produktifitas ummat menjadi loyo dan mati. Sebab di belakang sistem MLM itu sebenarnya adalah industri yang mengeluarkan produk secara massal.\rPadahal umat ini butuh orang-orang yang mampu berkreasi, mencipta, melakukan aktifitas seni, menemukan hal-hal baru, mendidik, memberikan pelayanan kepada ummat dan pekerjaan pekerjaan mulia lainnya. Kalau semua potensi umat ini tersedot ke dalam bisnis pemasaran, maka matilah kreatifitas umat dan mereka hanya sibuk di satu bidang saja yaitu : B E R J U A L A N produk sebuah industri.\rEtika Penawaran","part":1,"page":14},{"id":15,"text":"Salah satu hal yang paling `mengganggu` dari sistem pemasaran langsung adalah metode pendekatan penawarannya itu sendiri. Karena memang disitulah ujung tombak dari sistem penjualan langsung dan sekaligus juga disitulah titik yang menimbulkan masalah.\rBiasanya para distibutor selalu dipompakan semangat untuk mencari calon pembeli. Istilah yang sering digunakan adalah prospek. Sering hal itu dilakukan dengan tidak pandang bulu dan suasana. Misalnya seorang teman lama yang sudah sekian tahun tidak pernah berjumpa, tiba-tiba menghubungi dan berusaha mengakrabi sambil memubuka pembicaraan masa lalu yang sedemikian mesra. Kemudian melangkah kepada janji bertemu. Tapi begitu sudah bertemu, ujung-ujungnya menawarkan suatu produk yang pada dasarnya tidak terlalu dibutuhkan.\rHanya saja karena kawan lama, tidak enak juga bila tidak membeli. Karena si teman ini menghujaninya dengan sekian banyak argumen mulai dari kualitas produk yang terkadang sangat fantastis, termasuk peluang berbisnis di MLM tersebut yang intinya mau tidak mau harus beli dan jadi anggota. Pada saat mewarkan dengan sejuta argumen inilah seorang distributor bisa bermasalah.\rAtau suasana yang penting menjadi terganggu karena adanya penawaran MLM. Sehingga pengajian berubah menjadi ajang bisnis. Juga rapat, kelas, perkuliahan, dan banyak suasana dan kesempatan penting berubah jadi `pasar`. Tentu ini akan terasa mengganggu. [ust. sarwat]. Wallaahu A'lam.\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/503539349668878/\r2246. HUKUM BERPROFESI SEBAGAI PELAWAK\rPERTANYAAN :\rSadrawi Oke","part":1,"page":15},{"id":16,"text":"Membuat orang bahagia kan dapat pahala...itulah jawaban para komedian tentang lawakan'y...maaf jadi sebenar'y apa cih hukum melawak itu??..\rJAWABAN :\r1. Alhabasyi Ahmad\rNih dari Sunan Abu Dawud (bukan sunan kali jaga) :\rحدثنا مسدد بن مسرهد، ثنا يحيى، عن بهز بن حكيم قال: حدثني أبي، عن أبيه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: \"ويلٌ للذي يحدث فيكذب ليضحك به القوم، ويلٌ له، ويلٌ له\"\r2. Ani Fah\rTambahan dari Bang Sunde Pati :\r- اسعاد الرفيق للشيخ محمد بن سالم بن سعيد با بصيل الشافعى {وحاصل أكثر تلك العبارات يرجح الى أن كل عقد أو فعل أو قول يدل على استهانة أو استخفاف بالله أو كتبه أو أنبيائه أو ملائكته أو شعائره أو معالم دينه أو أحكامه أو وعده أو وعيده كفر} خبر إنّ ان قصد قائل ذلك الإستخفاف او الإستهزاء بذلك {أو معصية} محرمة شديدة التحريم ان لم يقصد ذلك\rDan hasil dari berbagai macam ibarah itu diunggulkan bahwa setiap akad,kerjaan atau ucapan yang mnunjukkan pada meremehkan atau mengabaikan pada Alloh,atau kitab2nya,atau nabi2nya,atau malaikatnya atau syiar2nya,atau guru2 yang berjuang diagamanya atu hukum2nya,atau janji atu ancamannya maka hukumnya kufur jika yang mngucapkan tadi punya niat mengabaikan atau meremeh,,atau kena hukum maksiat yang sangat haram jika tidak punya niat meremeh atau mengabaikan. hal 57.\rJadi menurut femahamanku melawak boleh asal tidak menyangkut-nyangkut agama yang dianggap meremeh,entah sengaja dan punya maksud atau tidak.\rFathu Bari 12/157 :","part":1,"page":16},{"id":17,"text":"وقد أخرج الترمذي وحسنه من حديث أبي هريرة قال قالوا يارسول الله إنك تداعبنا، قال: «إني لا أقول إلا حقاً» وأخرج من حديث ابن عباس رفعه «لا تمار أخاك وتمازحه» الحديث، والجمع بينهما أن المنهي عنه ما فيه إفراط أو مداومة عليه لما فيه من الشغل عن ذكر الله والتفكر في مهمات الدين ويؤول كثيراً إلى قسوة القلب والإيذاء والحقد وسقوط المهابة والوقار، والذي يسلم من ذلك هو المباح، فإن صادف مصلحة مثل تطييب نفس المخاطب ومؤانسته فهو مستحب\rAtturmudzi telah menerbitkan dan menganggap hadis hasan dari hadisnya abu hurairoh berkata,para sahabat bertanya wahai Rosululloh engkau telah membelai kami,Nabi menjawab sungguh aku tidak berbicara kecuali benar,dan Atturmudzi juga menterbitkan dan meninggikan dari hadis ibnu abbas jangan kamu melewati saudaramu dan bergurau padanya ,..alhadis...\radapun perkumpulan diantara keduanya adalah bahwa yang dilarang itu sesuatu yang berlebihan atau ketekunan pada sesuatu itu dari sesuatu yang sibuk yang bisa jauh dari dzikir pada Alloh dan tafakkur dalam masalah penting dalam agama,dan kebanyakan itu ditakwil pada kerasnya hati,menyakitkan,jatuhnya gengsi dan kerapu,dan apabila bisa selamat dari hal2 tersebut maka boleh bahkan jika mencocoki kemaslahatan sperti mengobati hatinya orang yang diajak bicara dan berbuat lucu/humor padanya maka hukumnya sunnah .\r3. Rampak Naung\rSyarah An nawawi Shohih Muslim 14/106\rوجواز المزاح فيما ليس إثماً،\rBergurau boleh salama tidak dosa. Fathu Bari 12/157\rقال الغزالي: من الغلط أن يتخذ المزاح حرفة، ويتمسك بأنه صلى الله عليه وسلّم مزح فهو كمن يدور مع الريح حيث دار","part":1,"page":17},{"id":18,"text":"Imam Al ghozali berkata \" Termasuk kesalahan Bergurau/melawak di buat pekerjaan, dan berpedoman bawasanya Rosululloh bergurau, maka ia seperti berputa beseta ingin dipusarannya. Masih di kitab yang sama :\rوقد أخرج الترمذي وحسنه من حديث أبي هريرة قال قالوا يارسول الله إنك تداعبنا، قال: «إني لا أقول إلا حقاً» وأخرج من حديث ابن عباس رفعه «لا تمار أخاك وتمازحه» الحديث\rMenjami'kan dua hadits :\rوالجمع بينهما أن المنهي عنه ما فيه إفراط أو مداومة عليه لما فيه من الشغل عن ذكر الله والتفكر في مهمات الدين ويؤول كثيراً إلى قسوة القلب والإيذاء والحقد وسقوط المهابة والوقار، والذي يسلم من ذلك هو المباح، فإن صادف مصلحة مثل تطييب نفس المخاطب ومؤانسته فهو مستحب\rAdapun megumpulan diantara keda hadits, adalah bahwa yang dilarang itu sesuatu yang berlebihan atau ketekunan pada sesuatu itu ( bergurau), Karena bisa menyibukkan jauh dari dzikir pada Alloh dan tafakkur dalam masalah penting dalam agama,dan kebanyakan itu ditakwil pada kerasnya hati,menyakitkan,jatuhnya gengsi dan kerapu,dan apabila bisa selamat dari hal2 tersebut maka boleh bahkan jika mencocoki kemaslahatan sperti mengobati hatinya orang yang diajak bicara dan berbuat lucu/humor padanya maka hukumnya sunnah.\r4. Fakhrur Rozy\rSemuga bisa membantu. Subulus salam, 4/2030 :","part":1,"page":18},{"id":19,"text":"وَعَنْ بهزْ بن حكيم عنْ أبيهِ عَنْ جدِّه رضي اللّهُ عنهمْ قالَ: قالَ رسولُ الله: «وَيْلٌ للذي يحدث فيكْذبُ لِيُضْحك به القومَ ويلٌ لهُ ثمَّ ويْلٌ لهُ» أَخرجهُ الثلاثةُ وإسْنادُهُ قَويٌّ. (وعن بهز بن حكيم عن أبيه عن جده رضي الله عنهم) معاوية بن حيدة رضي الله عنهما (قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلّم: «ويْلٌ للذي يُحدّث فيكذب ليُضْحك به القَوْمَ، ويْلٌ لَهُ ثمَّ ويلٌ لَهُ» أخرجه الثلاثة وإسناده قوي).\rPENTING\rوالحديث دليل على تحريم الكذب لإضحاك القوم، وهذا تحريم خاص. ويحرم على السامعين سماعه إذا علموه كذباً، لأنه إقرار على المنكر بل يجب عليهم النكير أو القيام من الموقف. وقد عدّ الكذب من الكبائر، قال الروياني من الشافعية: إنه كبيرة ومن كذب قصداً ردت شهادته، وإن لم يضر بالغير، لأن الكذب حرام بكل حال، وقال المهدي: إنه ليس بكبيرة، ولا يتم له نفي كبره على العموم، فإن الكذب على النبي صلى الله تعالى عليه وعلى آله وسلم أو الإضرار بمسلم أو معاهد كبيرة.\r5. Brojol Gemblung\rSekedar pertimbangan\rبريقة محمودية في شرح طريقة محمدية وشريعة نبوية جـ 4 صـ 357\rوفي الحديث: \"إن الرجل ليتكلم الكلمة ? يرى بها بأسا ليضحك بها القوم.\" أي ?جل أن يضحكهم. \"وإنه ليقع بها أبعد من السماء.\" أي يقع في النار أبعد من وقوعه من السماء إلى ا?رض. فعلى العاقل ضبط جوارحه فإنها رعاياه وهو مسئول عنها لقوله تعالى: \"إن السمع والبصر والفؤاد كل أولئك كان عنه مسئو?.\" وإن من أكثر المعاصي عددا وأيسرها وقوعا آثام اللسان إذ آفاته تزيد على عشرين ومن ثمة قال الله تعالى: \"وقولوا قو? سديدا\".\rتنبيه: أخذ الشافعي من هذا الخبر أن اعتياد حكايات تضحك أو فعل خيا?ت كذلك راد للشهادة وصرح بعضهم أنه حرام وآخرون أنه كبيرة وخصه بعض بما يؤذي الغير كله من الفيض.\r6. Bani Slagah Al Husaini\rNyumbang ibarat,","part":1,"page":19},{"id":20,"text":"وَإِكْثَارُ حِكَايَاتٍ مُضْحِكَةٍ) لِلْحَاضِرِينَ أَوْ فِعْلُ خَيَالَاتٍ كَذَلِكَ بِأَنْ يَصِيرَ ذَلِكَ عَادَةً لَهُ بَلْ جَاءَ فِي الْخَبَرِ الصَّحِيحِ «مَنْ تَكَلَّمَ بِالْكَلِمَةِ يُضْحِكُ بِهَا جُلَسَاءَهُ يَهْوِي بِهَا فِي النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا» مَا يُفِيدُ أَنَّهُ حَرَامٌ بَلْ كَبِيرَةٌ لَكِنْ يَتَعَيَّنُ حَمْلُهُ عَلَى كَلِمَةٍ فِي الْغَيْرِ بِبَاطِلٍ يُضْحِكُ بِهَا أَعْدَاءَهُ؛ لِأَنَّ فِي ذَلِكَ مِنْ الْإِيذَاءِ\rتحفة المحتاج في شرح المنهاج 10/225","part":1,"page":20},{"id":21,"text":"(قَوْلُ الْمَتْنِ وَإِكْثَارُ حِكَايَاتٍ إلَخْ) وَإِكْثَارُ سُوءِ الْعِشْرَةِ مَعَ الْمُعَامِلِينَ، وَالْأَهْلِ، وَالْجِيرَانِ، وَإِكْثَارُ الْمُضَايَقَةِ فِي الْيَسِيرِ الَّذِي لَا يُسْتَقْصَى فِيهِ رَوْضٌ مَعَ شَرْحِهِ. (قَوْلُهُ: بِأَنْ يَصِيرَ ذَلِكَ عَادَةً لَهُ) أَيْ بِخِلَافِ مَا لَوْ لَمْ يَكْثُرْ أَوْ كَانَ ذَلِكَ طَبْعًا لَا تَصَنُّعًا كَمَا وَقَعَ لِبَعْضِ الصَّحَابَةِ مُغْنِي (قَوْلُهُ: يُضْحِكُ بِهَا) أَيْ يَقْصِدُ ذَلِكَ سَوَاءٌ فَعَلَ ذَلِكَ لِجَلْبِ دُنْيَا تَحْصُلُ لَهُ مِنْ الْحَاضِرِينَ أَوْ لِمُجَرَّدِ الْمُبَاسَطَةِ ع ش. (قَوْلُهُ: مَا يُفِيدُ إلَخْ) لَعَلَّهُ فَاعِلٌ جَاءَ، وَقَوْلُهُ مَنْ تَكَلَّمَ إلَخْ بَدَلٌ مِنْ الْخَبَرِ الصَّحِيحِ، وَلَوْ قَالَ لِلْخَبَرِ الصَّحِيحِ مَنْ تَكَلَّمَ إلَخْ، وَهَذَا يُفِيدُ إلَخْ كَانَ أَخْصَرَ وَأَوْضَحَ. (قَوْلُهُ: وَقَضِيَّتُهُ) إلَى الْمَتْنِ فِي النِّهَايَةِ إلَّا قَوْلَهُ: وَنَظَرَ فِيهِ إلَى، ثُمَّ بَحَثَ (قَوْلُهُ: تَقْيِيدِ الْإِكْثَارِ بِهَذَا إلَخْ) فِيهِ قَلْبُ عِبَارَةِ الْمُغْنِي، وَالْأَسْنَى، وَتَقْيِيدُهُ الْحِكَايَاتِ الْمُضْحِكَةِ بِالْإِكْثَارِ يَقْتَضِي أَنَّ مَا عَدَاهَا لَا يُقَيَّدُ بِالْإِكْثَارِ بَلْ تَسْقُطُ الْعَدَالَةُ بِالْمَرَّةِ الْوَاحِدَةِ. قَالَ ابْنُ النَّقِيبِ، وَفِيهِ نَظَرٌ إلَخْ. (قَوْلُهُ: وَاعْتَمَدَ الْبُلْقِينِيُّ أَنَّهُ لَا بُدَّ مِنْ تَكْرَارِ الْكُلِّ إلَخْ) يَنْبَغِي أَنْ لَا يُلَاحَظَ مَعَ هَذَا الْكَلَامِ مَا قَدَّمَهُ فِي شَرْحِ قَوْلِ الْمَتْنِ، وَالْإِصْرَارُ عَلَى صَغِيرَةٍ مِنْ قَوْلِهِ، وَيَجْرِي ذَلِكَ فِي الْمُرُوءَةِ، وَالْمُخِلِّ بِهَا فَإِنْ غَلَبَتْ أَفْرَادُهَا لَمْ يُؤَثِّرْ، وَإِلَّا رُدَّتْ شَهَادَتُهُ انْتَهَى فَإِنَّهُ مُغَايِرٌ لِكُلِّ مَا","part":1,"page":21},{"id":22,"text":"ذَكَرَهُ هُنَا عَنْ الْبُلْقِينِيِّ، وَغَيْرِهِ. اهـ.\r[حاشية الشرواني] 10/225\rوَمِنْ ذَلِكَ مَا جَرَتْ الْعَادَةُ بِهِ فِي مِصْرِنَا مِنْ اتِّخَاذِ مَنْ يَذْكُرُ حِكَايَاتٍ مُضْحِكَةٍ وَأَكْثَرُهَا أَكَاذِيبُ فَيُعَزَّرُ عَلَى ذَلِكَ الْفِعْلِ وَلَا يَسْتَحِقُّ مَا يَأْخُذُهُ عَلَيْهِ وَيَجِبُ رَدُّهُ إلَى دَافِعِهِ وَإِنْ وَقَعَتْ صُورَةُ اسْتِئْجَارٍ؛ لِأَنَّ الِاسْتِئْجَارَ عَلَى ذَلِكَ الْوَجْهِ فَاسِدٌ اهـ ع ش [حاشية الشرواني] 9/178\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/554864771203002/\r2269. HUKUM BERPROFESI SEBAGAI TUKANG BEKAM\rPERTANYAAN :\r> Rampak Naung\rBenarkah pekerjaan Bekam hina dan dilarang ??? Benarkah Bekam sunnah ?\rقال صلى الله عليه وسلّم: «كسب الحجام خبيث الثالث: فيه النهي عن ثمن الدم، وهو أجرة الحجامة\rJAWABAN :\r> Brojol Gemblung\rاسم الكتاب: صحيح البخاري المؤلف: ا?مام البخاري الجزء - 7 : الصفحة 290 :\r1961 حدثنا مسدد حدثنا خالد هو ابن عبد الله حدثنا خالد عن عكرمة عن ابن عباس رضي الله عنهما قال احتجم النبي صلى الله عليه وسلم وأعطى الذي حجمه ولو كان حراما لم يعطه\r1961 Telah bercerita pada kami Musaddad, telah bercerita pada kami Khalid, dia adalah anak laki-laki 'Abdullah, telah bercerita pada kami Khalid dari 'Ikrimah dari Ibni 'Abbas ra. Berkata : Nabi saw. telah melakukan bekam dan beliau memberi (upah) pada orang yang telah membekamNya, andai itu haram maka beliau tidak akan memberinya (upah).\rوقد اختلف العلماء في كسب الحجام فقال ا?كثرون من السلف والخلف : ? يحرم كسب الحجام ، و? يحرم أكله ? على الحر و? على العبد ، وهو المشهور من مذهب أحمد ،","part":1,"page":22},{"id":23,"text":"وقال في رواية عنه قال بها فقهاء المحدثين : يحرم على الحر دون العبد ، واعتمدوا هذه ا?حاديث وشبهها ، واحتج الجمهور بحديث ابن عباس رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم احتجم وأعطى الحجام أجره . قالوا : ولو كان حراما لم يعطه . رواه البخاري ومسلم . وحملوا هذه ا?حاديث التي في النهي على التنزيه وا?رتفاع عن دنيء ا?كساب ، والحث على مكارم ا?خ?ق ومعالي ا?مور . ولو كان حراما لم يفرق فيه بين الحر والعبد فإنه ? يجوز للرجل أن يطعم عبده ما ? يحل\r> Slecent Alhose\rPekerjaan bekam / cantuk makruh.\r( تنبه ) يكره لحر تناول ما كسب مع مخامرة النجاسة كحجم وكنس زبيل وذبح لانه صلى الله عليه وسلم سئل عن كسب الحجام فنهى عنه وقال أطعمه رقيقك واعلفه ناضحك رواه ابن حبان وصححه والترمذي وحسنه اعانة الطالبين 2/404\r> Sunde Pati\rBagi orang yang merdeka dimakruhkan berprofesi jadi tukang cantuk bekam\rأسنى المطالب في شرح روض الطالب (1/ 569) فَصْلٌ","part":1,"page":23},{"id":24,"text":"وَيُكْرَهُ لِلْحُرِّ كَسْبُ الْحَجَّامِ أَيْ تَنَاوُلُهُ وَلَوْ كَسَبَهُ رَقِيقٌ وكسب سَائِرِ من يُخَامِرُ النَّجَاسَةَ كَالْجَزَّارِ وَالزَّبَّالِ وَنَحْوِهِ أَيْ نَحْوِ كُلٍّ مِنْهُمَا كَالْكَنَّاسِ وَالدَّبَّاغِ وَالْخَاتِنِ بِخِلَافِ الرَّقِيقِ لَا يُكْرَهُ له تَنَاوُلُهُ سَوَاءٌ أَكَسَبَهُ حُرٌّ أَمْ غَيْرُهُ وَذَلِكَ لِأَنَّهُ صلى اللَّهُ عليه وسلم سُئِلَ عن كَسْبِ الْحَجَّامِ فَنَهَى عنه وقال أَطْعِمْهُ رَقِيقَكَ وَاعْلِفْهُ نَاضِحَكَ رَوَاهُ ابن حِبَّانَ وَصَحَّحَهُ وَالتِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ وَالْفَرْقُ من جِهَةِ الْمَعْنَى شَرَفُ الْحُرِّ وَدَنَاءَةُ غَيْرِهِ قالوا وَصَرَفَ النَّهْيَ عن الْحُرْمَةِ خَبَرُ الشَّيْخَيْنِ عن ابْنِ عَبَّاسٍ احْتَجَمَ رسول اللَّهِ صلى اللَّهُ عليه وسلم وَأَعْطَى الْحَجَّامَ أُجْرَتَهُ فَلَوْ كان حَرَامًا لم يُعْطِهِ وَفِيهِ نَظَرٌ لِاحْتِمَالِ أَنَّهُ أَعْطَاهُ له لِيُطْعِمَهُ رَقِيقَهُ وَنَاضِحَهُ وَقِيسَ بِالْحِجَامَةِ غَيْرُهَا من كل ما يَحْصُلُ بِهِ مُخَامَرَةُ النَّجَاسَةِ\rالحاوى الكبير ـ الماوردى (15/ 343)\rوَمَكْرُوهٍ : وَهُوَ مَا بَاشَرَ فِيهِ النَّجَاسَةَ كَالْحَجَّامِ وَالْجَزَّارِ ، وَكَنَّاسِ الْحُشُوشِ وَالْأَقْذَارِ ، وَالنَّصُّ فِيهِ وَارِدٌ فِي الْحَجَّامِ ، وَهُوَ أَصْلُ نَظَائِرِهِ ، وَالنَّصُّ فِيهِ مَا رَوَاهُ مَعْمَرٌ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ حَرَامِ بْنِ مُحَيِّصَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ سَأَلَ النَّبِيَّ - {صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ} - عَنْ أَجْرِ الْحَجَّامِ فَنَهَاهُ عَنْهُ ، فَشَكَا مِنْ حَاجَتِهِمْ ، فَقَالَ : اعْلِفْهُ نَاضِحَكَ وَأَطْعِمْهُ رَقِيقَكَ .","part":1,"page":24},{"id":25,"text":"فَذَهَبَ بَعْضُ أَصْحَابِ الْحَدِيثِ إِلَى أَنَّهُ حَرَامٌ عَلَى الْأَحْرَارِ حَلَالٌ لِلْعَبِيدِ : لِأَنَّ النَّبِيَّ - {صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ} - نَهَى عَنِ السَّادَةِ دُونَ الْعَبِيدِ ، وَاعْتَمَدُوا فِيهِ عَلَى رِوَايَةِ رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ أَنَّ النَّبِيَّ - {صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ} - قَالَ : كَسْبُ الْحَجَّامِ خَبِيثٌ وَمَهْرُ الْبَغِيِّ خَبِيثٌ ، وَثَمَنُ الْكَلْبِ خَبِيثٌ فَلَمَّا وَصَفَهُ بِالْخُبْثِ ، وَقَرَنَهُ بِالْحَرَامِ كَانَ حَرَامًا .\rوَالدَّلِيلُ عَلَى فَسَادِ مَا ذَهَبُوا إِلَيْهِ مَا رَوَاهُ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ عَلَيْهِ السَّلَامُ أَنَّ النَّبِيَّ - {صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ} - احْتَجَمَ وَأَمَرَنِي أَنْ أُعْطِيَ الْحَجَّامَ أُجْرَةً .\rوَرَوَى أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ أَنَّ أَبَا طَيْبَةَ حَجَمَ رَسُولَ اللَّهِ - {صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ} - ، فَأَمَرَ لَهُ بِصَاعٍ مِنْ تَمْرٍ ، وَأَمَرَ مَوَالِيَهُ أَنْ يُخَفِّفُوا عَنْهُ مِنْ خَرَاجِهِ .\rقَالَ جَابِرٌ : وَكَانَ خَرَاجُهُ ثَلَاثَةَ آصَعٍ مِنْ تَمْرٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ ، فَخَفَّفُوا عَنْهُ فِي كُلِّ يَوْمٍ صَاعًا .\rوَوَجْهُ الدَّلِيلِ مِنْهُ : أَنَّهُ لَوْ حَرُمَ كَسْبُهُ عَلَى آخِذِهِ حَرُمَ دَفْعُهُ عَلَى مُعْطِيهِ ، فَلَمَّا اسْتَجَازَ النَّبِيُّ - {صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ} - أَنْ يَأْمُرَ بِدَفْعِهِ إِلَيْهِ دَلَّ عَلَى جَوَازِ أَخْذِهِ .","part":1,"page":25},{"id":26,"text":"فَإِنْ قِيلَ : إِنَّمَا حَجَمَهُ أَبُو طَيْبَةَ مُتَطَوِّعًا تَقَرُّبًا إِلَى اللَّهِ بِخِدْمَةِ رَسُولِ اللَّهِ - {صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ} - وَلِذَلِكَ شَرِبَ دَمَهُ ، فَقَالَ لَهُ : قَدْ حَرَّمَ اللَّهُ جِسْمَكَ عَلَى النَّارِ ، وَكَانَ مَا أَعْطَاهُ النَّبِيُّ - {صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ} - مُوَاسَاةً ، وَلَمْ يَكُنْ أُجْرَةً ، فَعَنْهُ جَوَابَانِ : أَحَدُهُمَا : إِنَّ مَا أَعْطَاهُ مُقَابَلَةً عَلَى عَمَلِهِ ، صَارَ عِوَضًا يَنْصَرِفُ عَنْ حُكْمِ الْمُوَاسَاةِ .\rوَالثَّانِي : أَنَّ أَبَا طَيْبَةَ كَانَ مَمْلُوكًا لَا يَصِحُّ تَطَوُّعُهُ بِعَمَلِهِ وَلَا يَسْتَحِّلُ رَسُولُ اللَّهِ - {صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ} - تَطَوُّعَهُ : وَلِأَنَّهُ لَمْ يَزَلِ النَّاسُ عَلَى هَذَا فِي عَصْرِ رَسُولِ اللَّهِ - {صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ} - وَخُلَفَائِهِ إِلَى وَقْتِنَا هَذَا فِي سَائِرِ الْأَمْصَارِ يَتَكَسَّبُونَ بِهَذَا ، فَلَا يُنْكِرُهُ مُسْتَحْسِنٌ فِي حَقِّ اللَّهِ تَعَالَى ، فَدَلَّ عَلَى انْعِقَادِ الْإِجْمَاعِ بِهِ ، وَارْتِفَاعِ الْخِلَافِ فِيهِ .\rوَلِأَنَّ الْحَاجَةَ إِلَيْهِ دَاعِيَةٌ ، وَالضَّرُورَةَ إِلَيْهِ مَاسَّةٌ : لِأَنَّهُ لَا يَقْدِرُ الْإِنْسَانُ عَلَى حِجَامَةِ نَفْسِهِ إِذَا احْتَاجَ ، وَمَا كَانَ بِهَذِهِ الْمَنْزِلَةِ لَمْ يَمْنَعْ مِنْهُ الشَّرْعُ : لِمَا فِيهِ مِنْ إِدْخَالِ الضَّرَرِ عَلَى الْخَلْقِ ، وَقَدْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - {صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ} - : لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ : وَلِأَنَّ كُلَّ كَسْبٍ حَلَّ لِلْعَبِيدِ حَلَّ لِلْأَحْرَارِ كَسَائِرِ الْأَكْسَابِ .","part":1,"page":26},{"id":27,"text":"فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قَوْلِهِ - {صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ} - : كَسْبُ الْحَجَّامِ خَبِيثٌ فَهُوَ أَنَّ اسْمَ الْخُبْثِ يَتَنَاوَلُ الْحَرَامَ تَارَةً وَالدَّنِيءَ أُخْرَى كَمَا قَالَ تَعَالَى : وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ الجزء الخامس عشر < 155 > [ الْبَقَرَةِ : 267 ] يَعْنِي الدَّنِيءَ ، وَكَقَوْلِهِ مِنْ بَعْدُ : وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ [ الْبَقَرَةِ : 267 ] ، فَيُحْمَلُ عَلَى الدَّنِيءِ دُونَ الْحَرَامِ : بِدَلِيلِ مَا قُلْنَاهُ ، وَلَيْسَ هُوَ إِلَى الْحَرَامِ بِمُوجِبٍ لِاشْتِرَاكِهِمَا فِي حُكْمِ التَّحْرِيمِ : لِأَنَّهُ لَمَّا ضُمَّ إِلَى مَا يَحْرُمُ عَلَى الْأَحْرَارِ وَالْعَبِيدِ ، وَهَذَا لَا يَحْرُمُ عَلَى الْعَبِيدِ ، فَجَازَ أَنْ لَا يَحْرُمَ عَلَى الْأَحْرَارِ\r> Nabilah Az-Zahrah\r2278 ـ حدّثنا موسى بن إِسماعيل حدَّثَنا وُهَيب حدّثنا ابنُ طاوُسٍ عن أبيهِ عنِ ابنِ عبّاسٍ رضيَ الله عنهما قال: «احْتَجَم النبيُّ صلى الله عليه وسلّم وأعطى الحجّامَ أجره».\r2279 ـ حدّثنا مُسدَّدٌ حدَّثنا يزيدُ بنُ زُرَيعٍ عن خالدٍ عن عِكرمةَ عنِ ابن عبّاسٍ رضيَ الله عنهما قال: «اْحتَجَم النبيُّ صلى الله عليه وسلّم وأعطى الحَجّامَ أجرَهُ، ولو علمَ كراهيةً لم يُعْطهِ».\r2280 ـ حدّثنا أبو نُعَيمٍ حدَّثَنا مِسْعرٌ عن عمرو بن عامرٍ قال: سِمعتُ أنساً رضيَ الله عنه يقول: «كان النبيُّ صلى الله عليه وسلّم يَحتجمُ، ولم يَكنْ يَظلمُ أحداً أجرَه».","part":1,"page":27},{"id":28,"text":"قوله: (باب خراج الحجام) أورد فيه حديث ابن عباس «احتجم النبي صلى الله عليه وسلّم وأعطى الحجام أجره» وزاد من وجه آخر «ولو علم كراهية لم يعطه» وهو ظاهر في الجواز وتقدم في البيوع بلفظ «ولو كان حراماً لم يعطه» وعرف به أن المراد بالكراهة هنا كراهة التحريم. وكأن ابن عباس أشار بذلك إلى الرد على من قال إن كسب الحجام حرام. واختلف العلماء بعد ذلك في هذه المسألة فذهب الجمهور إلى أنه حلال واحتجوا بهذا الحديث وقالوا: هو كسب فيه دناءة وليس بمحرم، فحملوا الزجر عنه على التنزيه. ومنهم من ادعى النسخ وأنه كان حراماً ثم أبيح وجنح إلى ذلك الطحاوي. والنسخ لايثبت بالاحتمال. وذهب أحمد وجماعة إلى الفرق بين الحر والعبد فكرهوا اللحر الاحتراف بالحجامة، ويحرم عليه الإِنفاق على نفسه منها ويجوز له الإِنفاق على الرقيق والدواب منها وأباحوها للعبد مطلقاً، وعمدتهم حديث محيصة أنه «سأل النبي صلى الله عليه وسلّم عن كسب الحجام فنهاه، فذكر له الحاجة فقال: اعلفه نواضحك» أخرجه مالك وأحمد وأصحاب السنن ورجاله ثقات. وذكر ابن الجوزي أن أجر الحجام إنما كره لأنه من الأشياء التي تجب للمسلم على المسلم إعانة له عند\rوجمع ابن العربي بين قوله صلى الله عليه وسلّم: «كسب الحجام خبيث» وبين إعطائه الحجام أجرته بأن محل الجواز ماإذا كانت الأجرة على عمل معلوم، ويحمل الزجر على ما إذا كان على عمل مجهول. وفي الحديث إباحة الحجامة، ويلتحق به ما يتداوى من إخراج الدم وغيره، وسيأتي مزيد لذلك في كتاب الطب، وفيه الأجرة على المعالجة بالطب، والشفاعة إلى أصحاب الحقوق أن يخففوا منها، وجواز مخارجة السيد لعبده كأن يقول له أذنت لك أن تكتسب على أن تعطيني كل يوم كذا وما زاد فهو لك. وفيه استعمال العبد بغير إذن سيده الخاص إذا كان قد تضمن تمكينه من العمل إذنه العام.\rفتح الباري شرح صحيح البخاري ج 5 ص 221\rLINK ASAL :","part":1,"page":28},{"id":29,"text":"www.fb.com/groups/piss.ktb/565292830160196/\r2274. PROFESI TUKANG GURAH VAGINA BOLEHKAH ?\rPERTANYAAN :\rSlecent Alhose\rHukum berprofesi sebagai gurah VAGINA ????\rJAWABAN :\r> Rampak Naung\rSelama tukang gurah wanita belum ada, maka boleh laki-laki menggurah vagina wanita.\rوالخامس النظر للمداوة فيجوز نظر الطبيب من الاجنبية الى المواضع التي يحتاج اليها في المداوة حتى مداوة الفرج ويكون ذلك بحضور محرم اوزوج اوسيد وان نكون هناك امرأة تعاجلها الباجوري 2/99\r> Ghufron Bkl\rSelama tukang gurah wanita belum ada, boleh laki-laki menggurah vagina wanita. Kebolehan tersebut bila sudah sangat mendesak / dloruroh. :\r.قوله حتى مداواة الفرج الى أن قال .وفي السوأتين زيادة شدة الحاجة بأن لا يعد كشفها بسبب تلك الحاجة هتكا للمروءة لكونها شديدة جدا.الباجوري 2/99 قوله للحاجة بالمعنى الشامل للضرورة لأنه يكفي في الوجه والكفين أدنى حاجة وفي غير الفرجين مبيح التيمم وفيهما لضرورة .حاشية القليوبي 3/213 وكذا في كفاية الأخيار 2/42 وفي الإقناع 2/120\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/565786956777450\r2272. MACAM-MACAM RIBA\rPERTANYAAN :\rNi'mah Maghfiroh Buble Gumb\rAssalamu'alaikum, mohon penjelasan yang mendetail tentang macam-macam riba dan contohnya. Terima kasih\rJAWABAN :\r> Ghufron Bkl\rRiba itu ada empat macam :\r1. Riba fadlol yaitu menjual barang ribawi (emas,perak dan makanan) dengan barang sejenis yang salah satunya ada yang lebih banyak seperti emas 7 gr dijual dengan emas 10 gram.\r2. Riba qordl yaitu menghutangkan sesesuatu dengan mensyaratkn manfa'at pada muqridl/org yang menghutangkan seperti hutang 1000 di haruskan bayar 1100.","part":1,"page":29},{"id":30,"text":"3. Riba yad yaitu salah satu dari kedua belah pihak (penjual dan pembeli) berpisah/meninggalkan tempat transaksi/aqad sebelum menerima barangnya.\r4. Riba nasaa' yaitu mensyaratkan tempo pada salah satunya dan kontan pada yang lain seperti pembeli sudah menerima barang tapi penjual belum menerima harganya dan semua riba yang di sebut di atas ulama' sefakat semuanya batal/ harom. :\r. وهو أنواع : ربا فضل بأن يزيد أحد العوضين ومنه ربا القرض بأن يشترط فيه ما فيه نفع للمقرض وبا يد بأن يفارق أحدهما مجلس العقد قبل التقابض وربا نساء بأن يشترط أجل في أحد العوضين وكلها مجمع عليها. إعانة الطالبين 3/20 وكذا في إسعاد الرفيق 1/134\r> Mbah Godek\rIdem dengan pak Ghufron Bkl, tambahan ibaroh dari kitab fathul muin :\rوهو أنواع ربا فضل بأن يزيد أحد العوضين ومنه ربا القرض بأن يشترط فيه ما فيه نفع للمقرض وربا يد بأن يفارق أحدهما مجلس العقد قبل التقابض وربا نساء بأن يشترط أجل في أحد العوضين وكلها مجمع عليها\rإعانة الطالبين (3/ 20 ( قوله وهو أنواع ) أي الربا من حيث هو أقسام ثلاثة بدخول ربا القرض في ربا الفضل وإلا فهي أربعة ( قوله ربا فضل ) بدل من أنواع بدل بعض من كل\r( قوله بأن يزيد إلخ ) تصوير لربا الفضل ولا فرق في الزيادة بين أن تكون متيقنة أو محتملة ( وقوله أحد العوضين ) أي المتحدين جنسا( قوله ومنه ربا القرض ) أي ومن ربا الفضل ربا القرض وهو كل قرض جر نفعا للمقرض غير نحو رهن لكن لا يحرم عندنا إلا إذا شرط في عقده كما يؤخذ من تصويره الآتي ولا يختص بالربويات بل يجري في غيرها كالحيوانات والعروض\rوإنما كان ربا القرض من ربا الفضل مع أنه ليس من الباب لأنه لما شرط فيه نفعا للمقرض كان بمنزلة أنه باع ما أقرضه بما يزيد عليه من جنسه فهو منه حكما وقيل إنه قسم مستقل","part":1,"page":30},{"id":31,"text":"( وقوله بأن يشترط ) تصوير لربا القرض ( وقوله فيه ) أي في القرض أي عقده ( قوله ما فيه نفع للمقرض ) ومنه ما لو أقرضه بمصر وأذن له في دفعه لوكيله بمكة مثلا\r( قوله وربا يد ) إنما نسب إليها لعدم القبض بها حالااه\rبجيرمي ( وقوله بأن يفارق إلخ ) تصوير له ( وقوله أحدهما ) أي المتعاقدين ( وقوله قبل التقابض ) أي قبل قبض العوضين أو أحدهما ( قوله وربا نساء ) بفتح النون مع المد وهو الأجل ( وقوله بأن يشترط ) تصوير له ( وقوله أجل ) أي ولو لحظة ( وقوله في أحد العوضين ) سواء اتفقا جنسا أو لا ( قوله وكلها ) أي هذه الأنواع ( وقوله مجمع عليها ) أي على بطلانها\rنهاية المحتاج (3/ 424 وهو إما ربا فضل بأن يزيد أحد العوضين ومنه ربا القرض بأن يشترط فيه ما فيه نفع للمقرض غير نحو الرهن أو ربا يد بأن يفارق أحدهما مجلس العقد قبل التقابض أو ربا نساء بأن يشرط أجل في أحد العوضين وكلها مجمع عليها\rنهاية الزين (ص: 226 ( و ) الربا حرام اتفاقا وهو إما ربا فضل بأن يزيد أحد العوضين ومنه ربا القرض بأن يشترط فيه ما فيه نفع للمقرض غير الرهن والكفالة والشهادة وإنما جعل ربا القرض من ربا الفضل مع أنه ليس من هذا الباب لأنه لما شرط نفعا للمقرض كان بمنزلة أنه باع ما أقرضه بما يزيد عليه من جنسه فهو منه حكما ومن شرط النفع ما لو أقرضه بمصر وأذن له في دفعه لوكيله بمكة مثلا\rوإما ربا يد بأن يفارق أحدهما مجلس العقد قبل التقابض وإما ربا نساء بأن يشرط أجل في أحد العوضين وكلها مجمع على بطلانها\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/566175610071918\r2332. STATUS HARTA YANG TERBAWA BANJIR\rPERTANYAAN :\rMuhajir Madad Salim","part":1,"page":31},{"id":32,"text":"Assalamualaikum. Baru saja daerah kami terkena banjir besar. Tambak dan persawahan semua tenggelam. Zaed punya tiga petak tambak. Yang dua ada isinya [ udang ] sedang yang satu kosong. Saat banjir datang, dia saksikan udangnya pada nglunjak [ nglawan arus ] keluar dari tambaknya dan masuk ke tambak sebelah. Nah, waktu hari ini banjir surut, ternyata ketiga tambaknya semuanya ada isinya ikan . Maklum jutaan ikan tambak pada hanyut kemana-mana. Zaed ini tidak nanem Bandeng, tapi tambaknya banyak Bandeng nya sekarang. Juga udang yang kalau dilihat ukuran [ umur ] nya bukan udang tanemannya. Atau itu udang dari tambak orang lain. Entah siapa... Sementara Umar yang punya sawah, malah sawahnya penuh terisi udang dan bandeng juga. Pertanyaan : BOLEHKAH ZAED dan UMAR MENGAMBIL IKAN DAN UDANG yangADA DI TAMBAK DAN SAWAHNYA SEBAGAI MILIK PRIBADI ATAUKAH DIANGGAP LUQOTHOH, atau bagaimana ? MATUR NUWUN.\rJAWABAN :\r> Abdur Rahman Assyafi'i\rWa'alaykum salam wr wb. Namung nyumplik sak ndulit,Yai muhajir mgkn lebih paham jawabannya...\rاما ما القاه الريح فى دارك او حجرك فليس لقطة بل مال ضائع، و كذا ما حمله السيل الى ارضك فان اعرض عنه صاحبه كان ملكا لك لا لقطة، و ان لم يعرض فهو لمالكه و يزاد ما وجد اى فى غير مملوك و الا فلمالكه الاقناع 2/89\r> Ghufron Bkl\rStatus barang yang terbawa banjir tersebut adalah termasuk harta terlantar/malun dlo'i' bila pemiliknya tidak mungkin diketahui, maka harta tersebut harus dialokasikan untuk kepentingan umum, namun jika pemiliknya bisa diketahui maka wajib disimpan sampai pemiliknya mengambilnya.:","part":1,"page":32},{"id":33,"text":"وقع السؤال في الدرس عما يوجد من الأمتعة والمساغ في عش الحدأة والغراب ونحوهما ما حكمه والجواب الظاهر أنه لقطة فيعرفه واجده سواء كان مالك النحل أم غيره ويحتمل أنه كالذي ألقته الريح في داره أو حجره__أنه ليس بلقطة ولعله الأقرب فيكون من الأموال الضائعة أمره لبيت المال. الجمل 3/ 602حكم ما يلقيه البحر من الأموال والأخشاب ونحو الألات من كل ما دخل تحت يد مالك حكم المال الضائع إن توقع معرفة ملاكه عادة حفظ وجوبا عند أمين ولا وستحق آخذه جعلا__ أو أطلعه في سفينته فإن أيس من معرفة مالكه صرف مصرف بيت المال. بغية 159\rBila pemilik harta tersebut sudah tidak menghiraukan maka harta tersebut bisa di miliki oleh penemu, bahkan menurut Iman Hasan Al-Basriy bila harta tersebut tidak di ketahui pemiliknya maka menjadi milik penemu. :\r.أما ما ألقاه الريح في دارك أو حجرك فليس لقطة بل مال ضائع وكذا ما حمله السيل الى أرضك فإن أعرض عنه مالكه كان ملكا لك لا لقطة وإن لم يعرض فهو لمالكه.هامش الإقناع 2/89\rوذكر العلماء في المال الذي يحمله السيل ثم يلقيه بأرض إنسان قالوا إنه مال ضائع لكن الغريب أن الحسن البصري يقول من وجده ولم يعرف مستحقه يملكه.الياقوت النفيس ص :506\rWallaahu A'lam.\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/577373652285447\r2357. HALALNYA UANG TIPS DARI HOTEL DLL UNTUK SOPIR\rPERTANYAAN :\rJoyo Dunyoakherat Biidznillah\rMinta penjelasan, seorang supir menerima tip dari hotel, rumah makan, toko oleh, bengkel dll. Dikarenakan selalu uang tip.. Maka setiap diminta mengantar ke hotel dll, sang sopir langsung menuju tempat yang ada tipnya. Bagaimana hukum uang tersebut ?. Trimaksh.\rNB : ini tidak ada janji kang !! Supir tau aja tempat2 yang ada uang tipnya\rJAWABAN :\r> Ghufron Bkl","part":1,"page":33},{"id":34,"text":"Sopir menerima tip tersebut hukumnya halal karena pemberian tersebut merupakan janji. :\r.ولا يصح تعليق الهبة بشرط لأنها تمليك لمعين في الحياة فلم يجز تعليقها على شرط كالبيع فإن علقها على شرط كقول النبي صلى الله عليه وسلم لأم سلمة\" إن رجعت هديتنا إلى النجاشي فهي لك كان وعدا. المغني 5/445\rMengenai memenuhi janji ulama' khilaf, menurut Imam Taqiyuddin Al Subkiy dari madzhab Syafi'iy memenuhi janji hukumnya wajib. :\r.أجمعوا على أن الوفاء بالوعد في الخير مطلوب وهل هو مستحب أو واجب ذهب الثلاثة إلى الأول وإن في تركه كراهة شديدة وعليه أكثر العلماء_____واختار وجوب الوفاء بالوعد من الشافعية تقي الدين السبكي كما مر ذلك في البيع في بيان بيع العهدة. ترشيخ المستفدين ص : 263\rKalau tidak ada janji maka disebut hadiah namanya, bila pemberian tersebut karena dibutuhkan atau bertujuan mendapatkan pahala serta adanya shighot / serah terima maka dinamakan hibah dan shadaqoh, dan apa bila pemberian tersebut bertujuan untuk memulyakan serta dengan shighot maka dinamakan hibah dan hadiyah, dan bila pemberian tersebut tidak bertujuan mendapat pahala dan memulyakan serta dengan shighot maka dinamakan hibah saja, dan bila pemberian tersebut karena dibutuhkan atau bertujuan mendpatkan pahala tanpa disertai shighot maka dinamakan shadaqoh saja, dan bila pemberian tersebut bertujuan memulyakan tanpa di sertai shighot maka dinamakan hadiah saja. :","part":1,"page":34},{"id":35,"text":".والحاصل أنه إن ملك لأجل الإحتياج أو لقصد الثواب مع صيغة كان هبة وصدقة وإن ملك بقصد الإكرام مع صيغة كان هبة و هدية وإن ملك لا لأجل الثواب ولا لإكرام بصيغة كان هبة فقط وإن ملك لأجل الإحتياج أو الثواب من غير صيغة كان صدقة فقط وإن ملك لأجل الإكرام من غير صيغة كان هدية فقط فبين الثلاثة عموم وخصوص من وجه. إعانة الطالبين 3/144\rWallaahu a'lam\rLINK DISKUSI :\rhttps://m.facebook.com/groups/196355227053960?view=permalink&id=585886211434191\r2367. BAGI HASIL DALAM PENGELOLAAN TANAH\rPERTANYAAN :\rZanzanti Yanti Andeslo\rAssalamu'alaikum mau parkir lagi ,jangan bosan geh. Jika pak hasan mempunyai tanah namun tidak sanggup menggarap dan kemudian pak amer menggarap tanah itu dengan syarat upahnya adalah sebgian dari hasil panen nya ? Bolehkah penyewaan seperti itu ?\rJAWABAN :\rGhufron Bkl\rWa'alaikum salam. Hukumnya Khilaf : Menurut Qoul Mu'tamad dalam madzhab Syafi'i, Imam Malik,Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad, hukumnya tidak boleh, akan tetapi menurut Imam Nawawi dan Imam Ibnu Mundzir hukumnya Boleh baik benihnya dari pengelola atau dari pemilik tanah :\r.وهي عمل العامل في أرض المالك ببعض ما يخرج منها والبذر من العامل___لكن النووي تبعا لابن المنذر إختار جواز المخابرة وكذا المزارعة وهي عمل العامل في الأرض ببعض ما يخرج منها والبذر من المالك، قولو اختار جواز المخابرة أى من جهة الدليل وإن كان المختار من جهة المذهب عدم الجواز وهو المعتمد كما قاله الإمام مالك وأبو حنيفة وأحمد رضي الله عنهم أجمعين___واختار النووي من جهة الدليل صحة كل منهما مطلقا تبعا لابن المنذر. الباجوري 2/35-36\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/584712271551585\r2382. SAHKAH MUAMALAH DENGAN PENJUDI ?\rPERTANYAAN :","part":1,"page":35},{"id":36,"text":"Much Arey Fien\rAsalamu alaikum.. maaf numpang tanya, bagaimana hukumnya kalau kita sebagai pedagang terima uang dari pembeli tapi uang itu diperoleh dari hasil judi..\rJAWABAN :\r> Ulilalbab Hafas\rWa'alaikum salaam, coba lihat ianah 2 /214 :\r(فائدة) قال في المجموع: يكره الأخذ ممن بيده حلال وحرام. كالسلطان الجائر وتختلف الكراهة بقلة الشبهة وكثرتها، ولا يحرم إلا أن تيقن أن هذا من الحرام. وقول\rالغزالي : يحرم الأخذ ممن أكثر ماله حرام، وكذا معاملته شاذّ. اهـ\r> Imam Tontowi\rTerjemah : Makruh mengambil sesuatu dari orang yang berpenghasilan halal dan haram, seperti halnya raja yang lalim.Kemakruhannya berbeda beda menurut banyak / sedikitnya barang syubhat yang mencampurinya, walaupun makruh namun tidak sampai haram.Terkecuali bila diyakini berasal dari penghasilan haram maka haram hukumnya.Sedangkan perkataan Al-Ghozali \"haram mengambil sesuatu serta bermuamalah dengan orang yang kebanyakan hartanya berasal dari barang haram\" adalah pendapat yang syadz. [ I'anah 2 / 214 ].\r> Ghufron Bkl\rTerima uang dari penjudi tersebut hukumnya makruh selagi pedagang tersebut tidak tau bahwa uang tersebut uang harom, kalau si pedagang tersebut tau bahwa uang tersebut uang harom maka hukumnya dan jual belinya tidak sah kecuaii si pedagang tersebut membebaskan/merelakan maka jual belinya sah akan tetapi uang tersebut tetap harom bagi si pedagang tersebut. :","part":1,"page":36},{"id":37,"text":".ويكره بيع ماذكر ممن توهم منه ذلك___ومعاملة من بيده حلال وحرام وإن غلب الحرام الحلال نعم إن علم تحريم ما عقد به حرم و بطل.إعانة الطالبين 3/24.ولو اشترى طعاما في الذمة وقضى من حرام فإن أقبضه له البائع برضاه قبل توفية الثمن حل له أكله أو بعدها مع علمه أنه حرام حل أيضا .وإلا حرم أى .وإن لم يعلم البائع أن الثمن الذي وفاه المشتري حرام حرم على المشتري أكل ذلك الطعام إلى أن يبرئه أو يوفيه من حل قاله شيخنا. إعانة الطالبين 3/9\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/585786261444186\r2399. JUAL-BELI HASIL PERTAMBANGAN LIAR\rPERTANYAAN :\rMasyrifah AsSa'adah\rAssalamu alaikum...... mohon maaf nih,saya ingin bertanya kepada para santri & assaatidz di sini.bagai mana hukum penghasilan yang di dapat dari pekerjaan/\rperdagangan emas yang di tambang/di beli dari pertambangan liar tak berizin.\r1. syahkah jual belinya ?\r2. halalkah hasil kasabnya ? di tunggu jawabannya,teri ma kasih banyak sebelum & sesudahnya.\rJAWABAN :\rGhufron Bkl\rPemahaman saya dengan ta'bir di bawah ini hukum jual beli tersebut sah dan halal bila tambang tersebut dilakukan ditanah tak bertuan/tidak ada yang memiliki. :","part":1,"page":37},{"id":38,"text":".حجر السلطان بعض المعادن كالماس والذهب من غير إحياء تلك البقع بل أمر أناسا باستخراجه فإذا استخرجوه ترك لهم الصغير وأخذ القطع الكبار بثمن قليل ونهاهم عن بيعها لغيره بل لو علم بيعهم لغيره عذبهم بأنواع العذاب أثم بذلك إثما عظيما إذ المعادن الظاهرة لا تملك بإحياء ولا إقطاع بقعة ونيل ولا يثبت فيها تحجر كما أن المعادن الباطنة كالنقدين والحديد والياقوت لا تملك بالحفر والعمل أيضا ولا بالإحياء في موات ولا يثبت فيها إختصاص بحجر نعم يجوز للإمام إقطاعها إقطاع إرفاق لا تمليك فإن أحيا معدنا مع العلم به لم يملكه ولا بقعته أو مع الجهل ملكه فحينئذ قول السلطان هو ملكي لا أثر له ولا يملك ما يأخذه منهم بل هو من جملة اكل أموال الناس بالباطل ومن أخذ من معدن شيأ لم يجزه غيره ملكه ما لم ينو به غيره وله بيعه ممن أراد ولا يجب عليه إمتثال أمره باطنا ولا ظاهرا والفرق بينه وبين التسعير ظاهر. بغية المسترشدين ص : 168\r.اختلف الفقهاء في تملك المعادن بالإستعلاء عليها وفي ايجاب حق فيها للدولة إذا وجدت في أرض ليست مملوكة أما تملك المعادن فللفقهاء فيه رأيان قال المالكية في أشهر أقوالهم جميع الأنواع المعادن لا تملك بالإستعلاء عليها كما لا تملك تبعا للملكية الأرض بل هي للدولة يتصرف فيها الحاكم حسبما تقضي المصلحة لأن الأرض مملوكة بالفتح الإسلامي للدولة ولأن هذا الحكم مما تدعو اليه المصلحة وقال الحنفية والشافعية والحنابلة في أرجح الروايتين عندهم المعادن تملك بملك الأرض لأن الأرض اذا ملكت بجميع أجزائها فإن كانت مملوكة لشخص كانت ملكا له وإن كانت في أرض للدولة فهي للدولة وإن كانت في أرض غير مملوكة فهي للواجد لأنها مباحة تبعا للأرض. الفقه الإسلامي 6/25\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/594463827243096\r2420. HUKUM GANTI RUGI BARANG\rPERTANYAAN :\rZanzanti Yanti Andeslo","part":1,"page":38},{"id":39,"text":"Assalamu'alaikum mau tanya bgmana hukum nya uang pampasan/ganti rugi , bgi si pelaku dan yang di rugikan?Contoh.Anak tetangga memecahkan jendela rumah saya,cntoh lg, ada yang nabrak motor saya?\rJAWABAN :\r> Ghufron Bkl\rMerusakan sesuatu yang sampai tidak bisa dimanfa'atkan lagi oleh pemiliknya maka bagi pelaku wajib menggantinya baik barang yang di rusak tersebut berupa harta atau berupa barang yang boleh dimanfa'atkan (mutaqowwam) baik merusak secara langsung atau sebab melakukan sesuatu yang menjadi penyebab rusaknya barang tersebut, kecuali barang najis seperti khomer dll maka tidak wajib menggantinya karena tidak termasuk barang yang mutaqowwam.Bila yang merusak adalah anak yang belum baligh maka tetap wajib menggantinya dari hartanya sendiri (atau orang tuanya) : Al-Fiqh Al-Islamy Wa Adillatuhu V / 740 - 745.\rالإتلاف هو إخراج الشيئ من أن يكون منتفعا به منفعة مطلوبة منه عادة وهو سبب للضمان___وإذا وجب الضمان بالغصب فبالإتلاف أولى لأنه إعتداء وإضرار محض ولا فرق بين أن يقع الإتلاف مباشرة وهو إلحاق الضرر من غير واسطة بمحل التلف أو تسببا وهو إرتكاب فعل في محل يفضى إلى تلف غيره___شروط الإيجاب الضمان بالإتلاف أن يكون الشيئ المتلف مالا فلا ضمان بالإتلاف الميتة وجلدها ونحوها مما ليس بمال عرفا وشرعا وأن يكون متقوما بالنسبة للمتلف عليه والمتقوم هو ما يباح الإنتفاع به شرعا في غير حال الإضطرار فلا ضمان بإتلاف خمر أو خنزير لمسلم سواء أكان المتلف مسلما أم ذميا لعدم تقوم الخمر والخنزير في حق المسلم إذ لا يباح له الإنتفاع بها شرعا فلا قيمة لهما. الفقه الإسلامي وأدلته 5/740-745\rKasyifatus Saja halaman 13.","part":1,"page":39},{"id":40,"text":"قال صلى الله عليه و سلم رفع القلم عن ثلاثة عن النائم حتى يستيقظ وعن الصبي حتى يحتلم وعن المجنون حتى يعقل أحرجه أبو داود والترمذي فالمراد بالقلم قلم التكليف دون قلم الضمان لأنه من خطاب الوضع فيجب ضمان المتلفات والدية عليهم من مالهم. كاشفة السجا ص : 13\rMenurut Imam Syafi'i barang yang dirusak tersebut setelah diganti akan tetap menjadi miliknya pemilik barang, sedangkan menurut madzhab Hanafiyah menjadi milik orang yang mengganti : Al-Fiqh Al-Islamy II / 96 dan Al-Fiqh Al-Islamy V / 755\r.وقال الشافعي وغيره لا تملك المضمونات بالضمان فيجتمع القطع والضمان لتعدد السبب وعدم إسناد الضمان إلى وقت الأخذ. الفقه الإسلامي 6/96\rقال الحنفية يملك الغاصب الشيئ المغصوب بعد ضمانه من وقت وجود الغصب حتى لا تجتمع البدل والمبدل في ملك المالك. الفقه الإسلامي 5/723\rBila barang yang dirusakkan berupa mitsliy / barang yang di takar atau ditimbang maka harus mengganti barang tersebut sesamanya atau bila tidak ditemukan sesamanya maka harus menggantinya dengan harganya yang paling mahal diantara waktu merusaknya dan tidak ditemukan sesamanya, akan tetapi bila disaat ditemukan sesamanya maka boleh menggantinya dengan harga barang tersebut bila kedua belah pihak sama sama ridlo. I'anah At-Tholibin III / 139 - 140 :\r.ويضمن مثلي وهو ما حصره كيل أو وزن____بمثله في أي مكان حل به المثل فإن فقد المثل فيضمن بأقصى قيم من غصب إلى فقد ويجوز أخذ القيمة عن المثلي بالتراضي__ وحيث وجب مثل فلا أثر لغلاء أو رخص__و يضمن متقوم أتلف كالمنافع والحيوان بالقيمة___بأقصى القيم من حين الغصب إلى حين التلف. إعانة الطالبين 3/139-140\rNihayatul Muhtaj V / 160 :\rفما حصره عد أو ذرع كحيوان وثياب متقوم.نهاية المحتاج 5/160","part":1,"page":40},{"id":41,"text":"Bila barang yang dirusakkan berupa mutaqowwam / barang yang di hitung atau di ukur maka harus mengganti harganya yang termahal antara waktu merusak dan menggantinya. Wallaahu A'lam Bishshowaab.\rLink Diskusi\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/587046367984842/\r2435. HUKUM PEMBAYARAN HUTANG PUPUK DENGAN UANG\rPERTANYAAN :\rAhmad Nashihin\rAssalamu'alaikum, tanya kang, misalnya aku punya utang pupuk urea seharga 10 RB, yang brsangkutan minta dibayar dengan harga barang, misalnya 3 bulan kemudian harga urea naik jadi 15 Rb nah, aku harus bayar hutang dengan harga tersebut., apakah termasuk riba ?\rJAWABAN :\r> Nimas\rWa'alaykum salaam...\r. و يجب على المقترض رد المثل فى المقلى و هو النقود و الحبوب و لو نقدا ابطله السلطان لانه اقرب الى حقه و رد المثلى سورة فى المتقوم و هو الحيوان و الثياب و الجواهر\rWajib bagi orang yang berhutang benda yang ada padanya (mitsli) untuk mengembalikandengan benda yang sama misal nuqud,biji-bijian meski nuqud tersebut telah diperbaharui oleh pemerintah,karena pengembalian dengan benda yang sama adalah lebih mengarah kepada haknya.Dan wajib mengembalikan peminjaman mitsil suroh (sama bentuknya) pada sesuatu yang dihitung dengan nilai yaitu hewan,pakaian dan perhiasan. [ Tarsihul mustarsyidin 233 ].\r> Ghufron Bkl\rHutang pupuk harus dibayar dengan pupuk karena pupuk termasuk barang mitsil (yang bisa diganti dengan barang yang serupa).","part":1,"page":41},{"id":42,"text":":.والأصح أن المثلي ما حصره كيل أو وزن إن أمكن ضبطه بأحدهما وإن لم يعتد فيه وجاز السلم فيه فما حصره عد أو ذرع كحيوان و ثياب متقوم و إن جاز السلم فيه. نهاية المحتاج 5/160ويجب على المقترض رد المثل أى حيث لا استبدال فإن استبدل عنه كأن عوضه عن بر في ذمته ثوبا أو دراهم فلا يمتنع لجواز الإعتياض عن غير المثمن في المثلي وهو النقد والحبوب ولو نقدا أبطله السلطان لأنه أقرب الى حقه ورد المثلي صورة في المتقوم وهو الحيوان والثياب والجواهر. إعانة الطالبين 3/52\rAkan tetapi bila orang yang menghutangkan minta dibayar dengan uang seharga pupuk yang dihutangnya di saat mau bayar maka hukumnya boleh.\r: .ويجب على المقترض رد المثل أى حيث لا استبدال فإن استبدل عنه كأن عوضه عن بر في ذمته ثوبا أو دراهم فلا يمتنع لجواز الإعتياض عن غير المثمن في المثلي\rLINK TERKAIT :\rwww.piss-ktb.com/2012/09/1862-hutang-piutang-dan-pengaruh-kurs.\rLINK ASAL:\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/602676896421789\r2436. HUKUM MENGHUTANGI UANG DENGAN SYARAT DIKEMBALIKAN BARANG\rOleh: Toni Imam Tontowi\rPERTANYAAN :\rSeseorang menyerahkan uang sebesar Rp 1000,- kepada orang lain dengan syarat dia harus memberikan padi satu kwintal kepadanya setelah panen, padahal pada saat penyerahan uang tersebut harga padi per kwintalnya adalah Rp 2000,- Apakah akad tersebut termasuk hutang atau akad pesanan serta bagaimana hukumnya ?\rJAWABAN :","part":1,"page":42},{"id":43,"text":"Tidak termasuk akad salam (pesanan), karena tidak menyebutkan sifat / ciri ciri padi, disamping tempo yang ditentukan setelah panen itu tidak maklum. Juga bukan termasuk akad qordli (hutang) karena benda yang dikembalikan pihak kedua tidak sama dengan benda yang diserahkan pihak pertama, sementara yang dimaksud hutang adalah memberikan sesuatu dengan syarat mengenbalikan semisalnya. Akad diatas termasuk akad yang batal dan haram sebab melakukan akad yang batal itu termasuk dosa kecil.\rKeterangan dari Kitab :\r~ Bujairimi 'Alal Khothib III / 50\r~ Hamisy I'anah At-Tholibin III / 58\r~ Asybah Wannadho-ir halaman 78\r.وعبارته ؛ (ثُمَّ لِصِحَّةِ) عَقْدِ (الْمُسَلَّمِ فِيهِ) حِينَئِذٍ (ثَمَانِيَةُ شَرَائِطَ) الْأَوَّلُ: (أَنْ يَصِفَهُ بَعْدَ ذِكْرِ جِنْسِهِ وَنَوْعِهِ بِالصِّفَاتِ الَّتِي يَخْتَلِفُ بِهَا الثَّمَنُ) اخْتِلَافًا ظَاهِرًا وَيَنْضَبِطُ بِهَا الْمُسَلَّمُ فِيهِ, وَلَيْسَ الْأَصْلُ عَدَمَهَا لِتَقْرِيبِهِ مِنْ الْمُعَايَنَةِ. وَخَرَجَ بِالْقَيْدِ الْأَوَّلِ مَا يُتَسَامَحُ بِإِهْمَالِ ذِكْرِهِ كَالْكَحَلِ وَالسِّمَنِ فِي الرَّقِيقِ, وَبِالثَّانِي مَا لَا يَنْضَبِطُ كَمَا مَرَّ, وَبِالثَّالِثِ كَوْنُ الرَّقِيقِ قَوِيًّا عَلَى الْعَمَلِ أَوْ ضَعِيفًا أَوْ كَاتِبًا أَوْ أُمِّيًّا أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ, فَإِنَّهُ وَصْفٌ يَخْتَلِفُ بِهِ الْغَرَضُ اخْتِلَافًا ظَاهِرًا مَعَ أَنَّهُ لَا يَجِبُ التَّعَرُّضُ لَهُ لِأَنَّ الْأَصْلَ عَدَمُهُ ـ البجيرمى على الخطيب الجزء الثالث ص 50","part":1,"page":43},{"id":44,"text":"وعبارته ؛ فصل في القرض والرهن (الإِقراض) وهو تَمْليكُ شيءٍ عَلى أَنْ يُرَدَّ مِثلَهُ (سُنَّة)، لأن فيه إعانة على كَشْفِ كُرْبة فهو من السُّنَنِ الأَكيدَة، للأحاديثِ الشَّهيرَة كخَبرِ مُسْلم ـ مَنْ نَفَس على أخيه كُرْبَة من كُرَبِ الدنيا، نفسَّ الله عنه كُرْبةً من كُرب يوم القيامة. والله في عونِ العَبْدِ، ما دام العَبْدُ في عونِ أخيه ـ وصح خبر ـ من أقرض الله مرّتين: كان له مثل أجر أحدهما لو تصدق به ـ والصَّدقة أفضل منه، خلافاً لبَعْضِهم ـ اهـ فتح المعين هامش إعانة الطالبين الجزء الثالث ص48\rوعبارته ؛ الْقَاعِدَةُ الْخَامِسَةُ تَعَاطِي الْعُقُودِ الْفَاسِدَةِ حَرَامٌ كَمَا يُؤْخَذ مِنْ كَلَامِ الْأَصْحَابِ فِي عِدَّةِ مَوَاضِعَ قَالَ الْإِسْنَوِيُّ وَخَرَجَ عَنْ ذَلِكَ صُورَةٌ : وَهِيَ الْمُضْطَرُّ إذَا لَمْ يَجِد الطَّعَامَ إلا بِزِيَادَةٍ عَلَى ثَمَن الْمِثْلِ فَقَدْ قَالَ الْأَصْحَابُ: يَنْبَغِي أَنْ يَحْتَالَ فِي أَخْذِ الطَّعَامِ مِنْ صَاحِبِهِ بِبَيْعٍ فَاسِدٍ, لِيَكُونَ الْوَاجِبُ عَلَيْهِ الْقِيمَةَ كَذَا نَقَلَهُ الرَّافِعِيُّ ـ اهـ الأشباه والنظائر ص 178\rSumber : ® Hasil musyawarah Jam'iyyah Riyadlotut Tholabah ponpes Al-Falah Ploso Mojo Kediri*Tuhfatur Rohabah 1 : 80\r2500. GAJI TKI ILEGAL HARAMKAH ?\rPERTANYAAN :\r> Blazter'n Khembalilagidgpenuhcinta Revolutioncuapcuapzelow","part":1,"page":44},{"id":45,"text":"Demi allah bantu saya pak uztad ada teman saya kerja dengan sistem kontrak 5 tahun sesuai peraturan pemerintah... namun setelah habismasa kontrak teman saya kabur dengan kata lain pekerja ilegal atoswasta.... trs ada orang yang bilang kalau scara ilegal atau swasta maka duitnya itu haram..... karena telah mlanggar peraturan sesuai dgperjanjian... mohon penjelasan haramkah duit yang didapat karnamereka ilegal atau swasta.....\rMaksud kerja ilegal pak atau swasta... kan 5tahun dikontrak kalau kontrak harus mngikuti perturan karena sudah habis kontrak kabur dari pabrik jadui kerja gonta ganti karena ilegal atau swasta... terus ada seorang yang mngharamkan....ane minta rfernsi dalilnya..tpi ini ntr mau ktemuan ama ustad.... seperti mau ribut tadi... nelpon ke be rapa alim ulama tidak diangkat\rMaksudnya duit yang didapatkan haram karena tidak resmi tidak sesuai perjanjian dengan kata lain setelah perjanjian 5 tahun seharusnya pulang tapi tmn malah kabur bagaimana itu pak.....\rTapi sebagian teman-teman saya semua termasuk orang-orang yang mengurus musholllla disini juga mngjak dalam kbaik .memakmurkan musholla.... bagaimana pak tolong penjelasan\rJAWABAN :\r> Ghufron Bkl\rCara masuknya harom, sedangkan gajinya bila bekerja di sesuatu yang halal maka hukumnya tetap halal :\r.ولو غصب رجل سهما فاصطاد به فالصيد للغاصب وكذلك لو غصب شبكة فنصبها فتعلق بها صيد كان للغاصب وعليه أجر مثل السهم والشبكة للمالك. التهذيب 8/27\r> وعباد الرحمن","part":1,"page":45},{"id":46,"text":"Nyumbang ya...Sebagaimana mas ghufron, kalau bekerja nya halam maka uangnta juga halal. Sedang yang dihitung dilarang bukan kerjanya tapi keberadaannya...kasus inii berlaku sebagaimana jual beli saat jumatan. Akadnya sah karena seluruhnya terpenuhi, tapi dluar itu dihukumi haram krena waktunya yang tidak tepat yakni jumatan. Maka yang dihtung haram adalah keberadaannya... sebaiknya demi berkahnya rizki segera diperpanjang.... Wallahu a'lam bissowab\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/590954284260717\r2520. HUKUM MENERIMA GAJI PNS\rPERTANYAAN :\r> Ufi Ishbar Muhammad\rAssalamualaikum. Ada yang mengatakan gaji PNS itu syubhat, bagaimana hukum menerimanya ? Mohon referensinya dan ibarotnya. Syukron katsir\rJAWABAN :\r> Ghufron Bkl\rWa'alaikumussalam. Bila pekerjaannya berupa pekerjaan halal maka gajinya halal akan tetapi kalau pemerintahnya zholim maka dihukum makruh bila tidak jelas bahwa gaji tersebut dari harta harom, kalau gaji tersebut jelas dari harta harom maka hukum gaji tersebut harom. :\r.(فائدة) قال في المجموع يكره الأخذ ممن بيده حلال وحرام كالسلطان الجائر وتختلف الكراهة بقلة الشبهة وكثرتها ولا يحرم إلا إن تيقن أن هذا من الحرام. قوله إلا ان تيقن الخ أى فإنه يحرم. إعانة الطالبين 2/214 ويكره بيع ماذكر ممن توهم منه ذلك___ومعاملة من بيده حلال وحرام وإن غلب الحرام الحلال نعم إن علم تحريم ما عقد به حرم و بطل.إعانة الطالبين 3/24\r> Brojol Gemblung\rWa'alaikumussalam. Gaji pegawai yang diambil dari kas negara itu tak dapat dipastikan uang haram atau halal, dan ulama khilaf dalam hal ini.\rا?شباه والنظائر ص107 :","part":1,"page":46},{"id":47,"text":"ومنها : معاملة من أكثر ماله حرام إذا لم يعرف عينه ? يحرم في ا?صح ، لكن يكره وكذا ا?خذ من عطايا السلطان إذا غلب الحرام في يده كما قال في شرح المهذب إن المشهور فيه الكراهة ، ? التحريم ، خ?فا للغزالي.\rSebagian dari cabang qa'idah ialah mu'amalah seseorang yang hartanya dominan haram, apabila tidak diketahui dzatiyahnya (tak bisa dibedakan mana yang haram dan yang tidak), maka berdasarkan qaul ashah itu tidak haram, akan tetapi ia makruh. Begitupun menerima pemberian dari penguasa yang apabila ditangannya dominan harta haram, sebagaimana Imam Nawawy menyatakan dalam Syarh al-Muhaddzab bahwa pandangan yang masyhur dalam hal itu adalah makruh, bukan haram, berbeda dengan pernyataan Imam Ghazaly (haram).\rLink kitab : http://www.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?idfrom=79&idto=83&bk_no=36&ID=60\r> Abdurrofik Ingin Ridlo Robby\rالموسوعة الفقهية الكويتية ص 290 ج 1","part":1,"page":47},{"id":48,"text":"الإِْجَارَةُ عَلَى الْمَعَاصِي وَالطَّاعَاتِ:108 - الإِْجَارَةُ عَلَى الْمَنَافِعِ الْمُحَرَّمَةِ كَالزِّنَى وَالنَّوْحِ وَالْغِنَاءِ وَالْمَلاَهِي مُحَرَّمَةٌ وَعَقْدُهَا بَاطِلٌ لاَ يُسْتَحَقُّ بِهِ أُجْرَةٌ.وَلاَ يَجُوزُ اسْتِئْجَارُ كَاتِبٍ لِيَكْتُبَ لَهُ غِنَاءً وَنَوْحًا؛ لأَِنَّهُ انْتِفَاعٌ بِمُحَرَّمٍ. وَقَال أَبُو حَنِيفَةَ: يَجُوزُ.وَلاَ يَجُوزُ الاِسْتِئْجَارُ عَلَى حَمْل الْخَمْرِ لِمَنْ يَشْرَبُهَا، وَلاَ عَلَى حَمْل الْخِنْزِيرِ. وَبِهَذَا قَال أَبُو يُوسُفَ وَمُحَمَّدٌ وَالشَّافِعِيُّ. وَقَال أَبُو حَنِيفَةَ: يَجُوزُ، لأَِنَّ الْعَمَل لاَ يَتَعَيَّنُ عَلَيْهِ، بِدَلِيل أَنَّهُ لَوْ حَمَل مِثْلَهُ جَازَ. وَرُوِيَ عَنْ أَحْمَدَ فِيمَنْ حَمَل خِنْزِيرًا أَوْ خَمْرًا لِنَصْرَانِيٍّ قَوْلُهُ: إِنِّي أَكْرَهُ أَكْل كِرَائِهِ، وَلَكِنْ يُقْضَى لِلْحَمَّال بِالْكِرَاءِ. وَالْمَذْهَبُ خِلاَفُ هَذِهِ الرِّوَايَاتِ؛ لأَِنَّهُ اسْتِئْجَارٌ لِفِعْلٍ مُحَرَّمٍ، فَلَمْ يَصِحَّ، وَلأَِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَعَنَ حَامِلَهَا وَالْمَحْمُولَةَ إِلَيْهِ.وَأَمَّا حَمْل هَذِهِ الأَْشْيَاءِ لإِِرَاقَتِهَا وَإِتْلاَفِهَا فَجَائِزٌ إِجْمَاعًا(3) (3) المغني 6 / 134، 136، 138، وكشف الحقائق 2 / 157، والشرح الصغير 4 / 10، والمهذب 1 / 194، والبدائع 4 / 184، 191.\rFokusnya:\rوَقَال أَبُو حَنِيفَةَ: يَجُوزُ، لأَِنَّ الْعَمَل لاَ يَتَعَيَّنُ عَلَيْهِ، بِدَلِيل أَنَّهُ لَوْ حَمَل مِثْلَهُ جَازَ\rMenurut saya tinjaaan imam abu hanifah pada pekerja'annya, seperti contoh di atas jasa membawakan khomer tidak apa karena melihat pekerja'an membawakannya, yang mana dilakukan untuk selain khomer pekerja'an membawakan tidak masalah.\r> Ku Tetap Disini","part":1,"page":48},{"id":49,"text":"Jika ia mengambil gaji penuh, sedangkan ia bekerja tidak penuh menurut perjanjian maka ia mengambil apa yang bukan hak nya.\rAdapun masalah uank negara yang berasal dari judi,pajak,riba dan lainnya tidak ada kaitan dengan gaji anda.Karna anda menerima disebabkan khidmat yang anda berikan.\rJika pemerintah menghadiahk ,menyedekahkan, uank untuk anda dan anda tidak tahu uank tersebut asal muasalnya maka halal mengambil nya.\rJika anda tahu asalnya dan ia dari hasil yang haram maka boleh mengambilnya, karena yang anda ambil adalah sedekah dan hadiah.\rNamun tidak mengambilnya lebih baik jika anda ingin berhati hati dari syubhat dan itulah warak.\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/586261734729972\rLINK TERKAIT :\rwww.fb.com/notes/270028159686666\rwww.piss-ktb.com/2012/03/170-lain-lain-menjadi-pns-dengan-suap.html?m=1\r2581. RIBAKAH HUTANG DENGAN JANJI MENGEMBALIKAN LEBIH BANYAK ?\rPERTANYAAN :\r> Lailapretty Khushi Hai\rAssalamu'alaiku wr wb, mau tanya kan Ada orang Minjam duit terus janji mau ngasih lebih waktu mengembalikan. Terus orangnya yang meminjamkan pengin terus meminjakan karena dikasih lebih itu bagaimana hukumnya ?. Tolong kasih saran dan jelaskan, terima kasih\rJAWABAN :\r> Ghufron Bkl\rWa'alaykum salam. kalau janji tersebut disebutkan dalam aqad / transaksi maka hukumnya riba / harom, akan tetapi bila janji tersebut tidak disebut ketika aqad maka hukumnya halal tapi makruh bila si penghutang memang mengharapkan lebih. :","part":1,"page":49},{"id":50,"text":".إذ القرض الفاسد المحرم هو القرض المشروط فيه النفع للمقرض،هذا إن وقع في صلب العقد، فإن تواطأ عليه قبله ولم يذكر في صلبه أو لم يكن عقد جاز مع الكراهة كسائر حيل الربا الواقعة لغير غرض شرعي.بغية المسترشدين ص : 135 وفسد اى الإقراض بشرط جر نفعا للمقرض كرد زيادة الى أن قال ومعلوم أن محل الفساد اذا وقع الشرط في صلب العقد أما لو توافقا على ذلك ولم يقع شرط في العقد فلا فساد، قوله بشرط جر منفعة أى جرها بشرط أما جرها بغير شرط فلا.حاشية الجمل 3/261 والأوجه أن الإقراض من تعود الزيادة بقصدها مكروه. ترشيح المستفيدين ص : 233\r> Abdurrofik Ingin Ridlo Robby\ritu aturan agama bila dalam aqad simpan pinjam tidak boleh dengan aqad mengambil keuntungan, memberi syarat lebih dalam aqad tapi kalau inisiatif si peminjam dan tidak disebut dalam aqad maka itu yang justru disunahkan.\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/575922855763860\r2673. KETIKA CABANG POHON MENJALAR PADA PEKARANGAN TETANGGA\rPERTANYAAN :\r> Sabila Love Allah-warosulullah\rAssalamuallaikum warohmatullah.. ma'af.. mau tanya : Saya punya pohon mangga yang ditanam pada halaman rumah. Pohon itu sangat subur dan buahnya banyak.. Cabang (pang) pohon tersebut masuk dalam kawasan tetangga saya dan juga masuk dalam jalan umum.\rBoleh tidak hukumnya tetangga saya itu mengambil / memetik Buah mangga saya yang sudah masuk dalam kawasan halaman dia ?? dan Orang umum boleh tidak mengambil / memetik mangga saya yang sudah masuk dalam kawasan jalan umum ??\rJAWABAN :","part":1,"page":50},{"id":51,"text":"Wa'alaikumussalam. Tetangga dan orang umum tetap tidak boleh memetik buah pohon tersebut kecuali setelah mendapat izin dari pemilik pohon, karena buah-buahan yang menjalar keluar masih menjadi milik pemilik pohon tersebut.\r> Abdurrahman As-syafi'i\rHUKUM POHON YANG AKAR ATAU DAHANNYA MENJALAR KE PEKARANGAN ORANG LAIN.\rApabila ada pohon yang akar dan batangnya menjalai kepekarangan tetangga maka akar dan batangnya tetap kepunyaan pemilik pohon. Dan bila dirasa mengganggu maka tetangga harus lapor, dan atas laporan ini pemilik pohon wajib memotongnya, jika pemilik tidak mau maka pemilik pekarangan diperbolehkan memotongnya.\rبغية المسترشدين 142\rو لو انتشرت اغصان شجرة او عروقها الى هواء ملك الجار اجبر صاحبها على تحويلها فان لم يفعل فللجار تحويلها ثم قطعها ولو بلا اذنح حاكم كما فى التحفة و ان كانت قديمة بل لو كانت لهما مع الارض ................الى ان قال : و ان منعت الضوء عن الجار\rKalo dalam hukum negara demikian : Orang-orang yang hidup bertetangga tentulah mempunyai hak dan kewajiban masing-masing satu sama lain. Termasuk menyangkut dahan atau pohon yang mentiung / menjorok di pekarangan orang lain. Hal ini diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUH Perdata) yaitu tentang hak dan kewajiban antara pemilik-pemilik pekarangan yang satu sama lain bertetanggaan .\r?…Pasal 666 (2) KUHPerdata : Barangsiapa mengalami bahwa dahan-dahan pohon tetangganya mentiung di atas pekarangannya, berhak menuntut supaya dahan- dahan itu dipotongnya.","part":1,"page":51},{"id":52,"text":"?…Pasal 666 (3) KUHPerdata : Apabila akar-akar pohon tetangganya tumbuh dalam tanah pekarangannya, maka berhaklah ia memotongnya sendiri; dahan-dahan pun bolehlah ia memotongnya sendiri, jika tetangga setelahsatu kali ditegur, menolak memotongnya, dan asal ia sendiri tidak menginjak pekarangan si tetangga.\r> Ulilalbab Hafas\rIbarot ini sudah jelas bahwa dahan tersebut milk orang yang punya pohon. Jadi buah yang masih ada di dahan juga nasih milik nya yang punya pohon.\rو لو انتشرت اغصان شجرة او عروقها الى هواء ملك الجار اجبر صاحبها على تحويلها فان لم يفعل فللجار تحويلها ثم قطعها ولو بلاذن حاكما\rIni ibarat yang pas banget :\rني ، ولو وصل غصنه بشجرة غيره كانت ثمرة الغصن لمالكه وإن كان متعديا\r> Abdurrofik Ingin Ridlo Robby\rحاشية البجيرمى على المنهج ج : 3 ص : 8وحاصل المعتمد فى الدكة والشجرة وحفر البئر أن الدكة يمنع منها ولو بفناء داره او دعامة لجداره سواء فى المسجد اوالطريق وان اتسع وانتفى الضرر وأذن الإمام وكانت لعموم المسلمين وان الشجرة فى الطريق كذلك. اهـ\rWallaahu A'lamu Bish Showaab\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/570137713009041/\rLINK TERKAIT :\rMengambil JAMUR di tanah Orang\rwww.fb.com/notes/www.piss-ktb.com/286394041383411/\r2723. HUKUM MENYEWAKAN KENDARAAN\rPERTANYAAN :\r> Octaviani Uswah","part":1,"page":52},{"id":53,"text":"Assalamualaikum, Curhat Ustadz.. Saya biasa menyewakan kendaraan seperti mobil, motor dan lain sebagainya. Pada suatu hari datang ke tempat saya se seorng yang tidak saya kenal sebelumnya, dan menyewa mobil, namun menurut sebagian temen’-teman saya, orang yang sewa mobil sama saya tadi, sering kali kalau menyewa kendaraan, BIASANYA dipakai untuk sesuatu yang dilarang oleh syare`at. Setelah mendengar keterangan dari temen saya tadi, saya menjadi khawatir, jangan’-jangan dia nyewa mobil saya tadi, dipergunakan untuk urusan ma`siat. PERTANYAAN :\r1. Bagaimana hukum sewa menyewa tersebut..?\r2. Bagaimana hasil (uang sewa menyewa ) tersebut…?\r3. Bagaimana hukum akad sewa menyewa tersebut..?\rAtas jawabanya, saya ucapkan Terima Kasih. Saya mohon jawabanya disertai dengan dalil / ibarot kitabnya. Wassalamu Alaikum.\rJAWABAN :\r> Gus Zein\rWa'alaikum salaam","part":1,"page":53},{"id":54,"text":"مسألة : ي) : كل معاملة كبيع وهبة ونذر وصدقة لشيء يستعمل في مباح وغيره ، فإن علم أو ظنّ أن آخذه يستعمله في مباح كأخذ الحرير لمن يحل له ، والعنب للأكل ، والعبد للخدمة ، والسلاح للجهاد والذب عن النفس ، والأفيون والحشيشة للدواء والرفق حلت هذه المعاملة بلا كراهة ، وإن ظن أنه يستعمله في حرام كالحرير للبالغ ، ونحو العنب للسكر ، والرقيق للفاحشة ، والسلاح لقطع الطريق والظلم ، والأفيون والحشيشة وجوزة الطيب لاستعمال المخذِّر حرمت هذه المعاملة ، وإن شكّ ولا قرينة كرهت ، وتصحّ المعاملة في الثلاث ، لكن المأخوذ في مسألة الحرمة شبهته قوية ، وفي مسألة الكراهة أخف (مسألة : ب) : يحرم بيع التنباك ممن يشربه أو يسقيه غيره ، ويصح لأنه مال كبيع السيف ، ونحو الرصاص والبارود من قاطع الطريق ، والأمرد لمن عرف بالفجور ، والعنب ممن يتخذه خمراً ولو ظناً ، فينبغي لكل متدين أن يجتنب الاتجار في ذلك ، ويكره ثمنه كراهة شديدة. اه بغية المسترشدين. ص: 126\rMaaf langsung saya simpulkan ibarot di atas, Memang jawabanya harus ditafsil :\r1. Misalkan menyewakan mobil atao motor kepada se seorang yang dikhawatirkan akan di pergunakan untuk keperluan yang dilarang oleh syare`at, maka akad sewa menyewanya SAH. ADAPUN hukumnya MAKRUH. Dan hasilnya SYUBHAT NAMUN agak ringan.\r2. Misalkan Menyewakan mobil atao motor kepada se orang yang diyakini (sudah yakin / ada persangkaan yang kuat yang bersandarkan atas qorinah) bahwa mobil\\ motor tersebut akan dipake untuk kepentingan yang dilarang oleh Agama, maka akad sewa mnyewanya SAH. Hukum sewa menyewanya HARAM. Dan Hasilnya SYUBHAT yang lebih berat ke shubhatanya dari yang pertama.","part":1,"page":54},{"id":55,"text":"3. Misalkan Menyewakan mobil atao motor kepada seorang yang diyakini atao adanya perasangka kuat yang berdasarkan pada qorinah, bahwa mobil atao motor tersebut akan di pergunakan untuk keperluan yang HALAL, maka akad sewa menyewanya SAH. Hukumnya BOLEH. Dan hasilnya HALAL MURNI BIN ASLI. BIN TIDAK ADA CAMPURANNYA. Maaf kalau ada kesalahan menyimpulkan.\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/631865043502974/\r2861. HUKUM MAKAN DI ASRAMA / WARUNG DENGAN BAYAR PERBULAN (MAJEG)\rPERTANYAAN :\r> Najih Ibn Abdil Hameed\rDi sebagian sekolah berasrama, atau pesantren, siswa diwajibkan membayar uang makan sekian rupiah per bulan dengan jatah makan sehari tiga kali. Realitanya kadang gak kebagian lauk, kadang pas pulang gak dapat jatah makan. Pertanyaannya :\r1. Termasuk Muamalah apa?\r2. Sah atau batal ?\r3. Apakah pengelola kos wajib mengembalikan uang bila siswa tidak dapat jatah karena sebab tertentu.\rJAWABAN :\r1. Termasuk Muamalah apa? Jawaban Khilaf :\rA. Bai' istijror\rB. Hibah tsawab.( sebagaimana hasil keputusan pp. Ploso)\r2. Sah atau batal.? Jawaban Khilaf :\rA. Mu'tamad tidak sah, karena mengadung ghoror .\rB. Sah yang dikuatkan oleh imam al ghozali. (untuk sub 1. A. Istijror, )\r3. Apakah pengelola kos wajib mengembalikan uang bila siswa tidak dapat jatah karena sebab tertentu.?\r- Bila mengikuti tidak sah. Maka yang berlaku adalah ujroh mitsil.\r- Bila mengikuti sah. Tidak wajib, karena menu memang tidak dipastikan sebelumnya.\rLAMPIRAN DISKUSI DAN 'IBAROH :\r> Brojol Gemblung\r1. Termasuk Muamalah apa ?\r2. Sah atau batal ?\rKost Makan = ISTIJROR.","part":1,"page":55},{"id":56,"text":"Istijror adalah mengambil sesuatu sedikit demi sedikit dalam beberapa waktu. Apabila disertai dg mengira-ngirakan harga dalam setiap porsi pengambilan maka transaksi ini selain dari Mu'athoh (hukumnya sah). Dan apabila tidak demikian (tidak mengira-ngirakan harga) maka transaksi ini batal atas rekom Imam al-Nawawi\rبغية المسترشدين ص 124 دار الفكر :\r(فائدة) الإستجرار وهو أخذ الشيء شياء فشياء في أوقات، إن كان مع تقدير الثمن كل مرة ففيه خلاف المعاطاة، وإلا فباطل قطعا على ما قاله النووي. إه إتحاف شرح المنهاج\r> Toni Imam Tontowi\rHUKUM MAKAN DIWARUNG DENGAN BAYAR PERBULAN (MAJEG)\rKronologi : Seseorang memberikan uang sebesar Rp 300.000,- pada orang lain dengan syarat orang tersebut memberi makan kepada dia selama sebulan, tiap hari tiga kali (majeg / kost makan). Pertanyaan : Bagaimana hukumnya transaksi tersebut :\rJAWAB :\rSah, apabila diakadi dengan akad hibah bisshowab.Misalnya orang itu berkata : \"Saya serahkan uang Rp 300.000,- ini kepada anda dengan syarat anda harus memberi makan kepada saya selama sebulan, tiga kali sehari\" , kemudian fihak kedua menerimanya, atau , diakadi jual beli dengan syarat menentukan harga jatah makanan setiap hari.\rKeterangan dari Kitab :\r~ Mughnil Muhtaj II / 404 - 405\r~ Bughyatul Mustarsyidin halaman 124","part":1,"page":56},{"id":57,"text":"وعبارته ؛ (ولو وهب) شخصاً شيئاً (بشرط ثواب معلوم) عليه، كوهبتك هذا على أن تثيبني كذا، (فالأظهر صحة) هذا (العقد) نظراً للمعنى فإنه معاوضة بمال معلوم فصحّ كما لو قال بعتك. والثاني: بطلانه نظراً إلى اللفظ لتناقضه، فإن لفظ الهبة يقتضي التبرّع (ويكون بيعاً على الصحيح) نظراً إلى المعنى، فعلى هذا تثبت فيه أحكام البيع من الشفعة والخيارين وغيرهما. قال في التنقيح: بلا خلاف؛ وغلط الغزالي في إشارته إلى خلاف فيه اهـ. وما صحّحاه في باب الخيار من أنه لا خيار في الهبة ذات الثواب مبني على أنها ليست ببيع كما مرَّت الإشارة إليه هناك. والثاني: يكون هبة نظراً إلى اللفظ فلا يلزم قبل القبض. (أو) بشرط ثواب (مجهول) كوهبتك هذا العبد بثوب، (فالمذهب بطلانه) أي العقد لتعذّر صحته بيعاً لجهالة العوض، ولتعذر صحته هبة لذكر الثواب بناءً على أنها لا تقتضيه، وقيل: يصحّ هبة بناءً على أنها تقتضيه ـ اهـ مغنى المحتاج الجزء الثانى ص 404 ـ 405\rSumber :\rHasil musyawarah Jam'iyyah Riyadlotut Tholabah ponpes Al-Falah Ploso Mojo Kediri.\r> Mazz Rofii\rTransaksi jual beli ISTIJROR batal scara sepakat ulama syafii apabila tsaman nya tidak ma'lum, tidak bisa dikira-kira saat mengambil mabe,.. tapi kalau bisa di kira2, tidak batal alias sah, bahwa imam ghozali masih memberi toleransi.\rحواشي الشرواني (4/ 217)ع ش قوله ( على أن الغزالي سامح فيه الخ ) أي في الاستجرار اه ع ش عبارة المغني قال الأذرعي وأخذ الحاجات من البياع يقع على ضربين\rأحدهما أن يقول أعطني بكذا لحما أو خبزا مثلا وهذا هو الغالب فيدفع إليه مطلوبه فيقبضه ويرضى به ثم بعد مدة يحاسبه ويؤدي ما اجتمع عليه فهذا مجزوم بصحته عند من يجوز المعاطاة فيما رآه\rوالثاني أن يلتمس مطلوبه من غير تعرض لثمن كأعطني رطل خبز أو لحم مثلا فهذا محتمل وهو ما رأى الغزالي إباحته","part":1,"page":57},{"id":58,"text":"> Fakhrur Rozy Abdul Kholiq\rPertanyaan di atas sudah Peraktek kos (istijror) jadi dinamakan akad istijror, kalau dari syafi'iyah praktek akad diatas tidak dibenarkan/ tidak sah alias batal, dan menurut malikiyah sah. Jadi menurut saya, kalau syafi'iyah menyatakan peraktek semacam pertanyaan di atas tidak sah. Kecuali mengikut malikiayah dan hanafiyah, maka sah karena tsamannya ma'lum dan yang dimakan juga ma'lum.\rSudah jelas istijror di dalam madzhab syafi'iyah hanya ada 2 model :\r1. Sah\r2. Tidak sah.\rLantas apa pertanyaan sesuai dengan model ke 1 atau ke 2 ?\rTapi Iya boleh aja kalau perakteknya, santri dan pengurus menentukan menu makannya apa saja. Seperti ini :\r2_ ان يقول الانسان للبياع اعطني بكذا لحما اوخبزا مثلا فيدفعه اليه مطلوبه فيقبضه ويرضى به ثم بعد مدة يحاسبه ويؤدي مااجتمع عليه _ الحكم _ فهذا البيع مجزوم بصحته\rالمذهب الشافعية لبيع الاستجرار عند الشافعي صورتان : 1_ ان يأخذ الانسان من البياع مايحتاجه شيأ فشيأ ولا يعطيه شيأ ولا يتلفظان بيع بل نويا اخذه بثمنه المعتاد ويحاسبه بعد مدة ويعطيه كما يفعله كثير من الناس_ الحكم _ في هذا البيع بهذه الصورة حكمه البطلان عند كثير من فقهاء الشافعية كالنووي رحمه الله لانه ليس بيعا لفظيا ولابيعا بالتعاطي . _ 2_ ان يقول الانسان للبياع اعطني بكذا لحما اوخبزا مثلا فيدفعه اليه مطلوبه فيقبضه ويرضى به ثم بعد مدة يحاسبه ويؤدي مااجتمع عليه _ الحكم _ فهذا البيع مجزوم بصحته\r- Majmu' alal muhadzab 9/150-151\r- Mughnil muhtaj 2/4\r- Asnal matholib 2/123\rIni solusi terbaik. Ikut malikiah :","part":1,"page":58},{"id":59,"text":"# ان يضع عند البياع درهم ثم يأخذ بجزء معلوم من الدرهم سلعة معلومة _ الحكم هذا البيع صحيح _ قال الامام مالك رحمه الله لابأس ان يضع الرجل عند الرجل درهما ثم يأخذ منه بربع او ثلث او كسر معلوم سلعة معلومة_ المنتفى شرح موطأ للامام مالك (5/15)\r> Abdurrofik Ingin Ridlo Robby\rMaka indekos itu yg paling pas adalah dg aqad salam tp hrs memenuhi ketentuan 2nya, tidak ada yg dirugikan, tidak ada unsur penipuan dll yg sifatnya ghoror.\r(4) الأم 3 / 95 (تصحيح محمد زهري النجار) .\rالموسوعة الفقهية الكويتية (25/ 213)قَال الشَّافِعِيُّ فِي (الأُْمِّ) : \" فَإِذَا أَجَازَ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْعَ الطَّعَامِ بِصِفَةٍ إِلَى أَجَلٍ، كَانَ بَيْعُ الطَّعَامِ بِصِفَةٍ حَالًّا أَجْوَزَ؛ لأَِنَّهُ لَيْسَ فِي الْبَيْعِ مَعْنًى إِلاَّ أَنْ يَكُونَ بِصِفَةٍ مَضْمُونًا عَلَى صَاحِبِهِ، فَإِذَا ضَمِنَ مُؤَخَّرًا ضَمِنَ مُعَجَّلاً، وَكَانَ مُعَجَّلاً أَضْمَنَ مِنْهُ مُؤَخَّرًا، وَالأَْعْجَل أَخْرَجُ مِنْ مَعْنَى الْغَرَرِ، وَهُوَ مُجَامِعٌ لَهُ فِي أَنَّهُ مَضْمُونٌ لَهُ عَلَى بَائِعِهِ بِصِفَةٍ (4) .\r> Bani Slagah Al Husaini\rMeskipun tidak dikira-kkan harganya tetep sah , memandang pandangan adzhra'i, pandangan ini dikarnakan maklum menurut penjual dan pembelinya.\rLihat MAUSU'AH FIQHIYYAH AL KUAWITIYAH JUZ 9 HAL 45 :","part":1,"page":59},{"id":60,"text":"مَذْهَبُ الشَّافِعِيَّةِ : لِبَيْعِ الاسْتِجْرَارِ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ صُورَتَانِ : 11 - إِحْدَاهُمَا : أَنْ يَأْخُذَ الإِنْسَانُ مِنَ الْبَيَّاعِ مَا يَحْتَاجُهُ شَيْئًا فَشَيْئًا ، وَلا يُعْطِيهِ شَيْئًا ، وَلا يَتَلَفَّظَانِ بِبَيْعٍ ، بَلْ نَوَيَا أَخْذَهُ بِثَمَنِهِ الْمُعْتَادِ ،وَيُحَاسِبُهُ بَعْدَ مُدَّةٍ وَيُعْطِيهِ ، كَمَا يَفْعَلُ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ . قَالَ النَّوَوِيُّ : هَذَا الْبَيْعُ بَاطِلٌ بِلا خِلافٍ ( أَيْ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ ) لأَنَّهُ لَيْسَ بِبَيْعٍ لَفْظِيٍّ وَلا مُعَاطَاةً . قَالَ الأَذْرَعِيُّ : وَهَذَا مَا أَفْتَى بِهِ الْبَغَوِيُّ ، وَذَكَرَ ابْنُ الصَّلاحِ نَحْوَهُ فِي فَتَاوِيهِ . وَتَسَامَحَ الْغَزَالِيُّ فَأَبَاحَ هَذَا الْبَيْعَ ، لأَنَّ الْعُرْفَ جَارٍ بِهِ ، وَهُوَ عُمْدَتُهُ فِي إِبَاحَتِهِ . وَقَالَ الأَذْرَعِيُّ : قَوْلُ النَّوَوِيِّ - إِنَّ هَذَا لا يُعَدُّ مُعَاطَاةً وَلا بَيْعًا - فِيهِ نَظَرٌ ، بَلْ يَعُدُّهُ النَّاسُ بَيْعًا ، وَالْغَالِبُ أَنْ يَكُونَ قَدْرُ ثَمَنِ الْحَاجَةِ مَعْلُومًا لَهُمَا عِنْدَ الأَخْذِ وَالْعَطَاءِ ، وَإِنْ لَمْ يَتَعَرَّضَا لَهُ لَفْظًا . 12 - الثَّانِيَةُ : أَنْ يَقُولَ الإِنْسَانُ لِلْبَيَّاعِ : أَعْطِنِي بِكَذَا لَحْمًا أَوْ خُبْزًا مَثَلا ، فَيَدْفَعَ إِلَيْهِ مَطْلُوبَهُ فَيَقْبِضَهُ وَيَرْضَى بِهِ ، ثُمَّ بَعْدَ مُدَّةٍ يُحَاسِبَهُ وَيُؤَدِّي مَا اجْتَمَعَ عَلَيْهِ ، فَهَذَا الْبَيْعُ مَجْزُومٌ بِصِحَّتِهِ عِنْدَ مَنْ يُجَوِّزُ الْمُعَاطَاةَ (1) .\rFOKUS lihat komentar al adzra'i yang mengerod/menyanggah pendapat imam nawawi :","part":1,"page":60},{"id":61,"text":"قَالَ الأَذْرَعِيُّ : وَهَذَا مَا أَفْتَى بِهِ الْبَغَوِيُّ ، وَذَكَرَ ابْنُ الصَّلاحِ نَحْوَهُ فِي فَتَاوِيهِ . وَتَسَامَحَ الْغَزَالِيُّ فَأَبَاحَ هَذَا الْبَيْعَ ، لأَنَّ الْعُرْفَ جَارٍ بِهِ ، وَهُوَ عُمْدَتُهُ فِي إِبَاحَتِهِ . وَقَالَ الأَذْرَعِيُّ : قَوْلُ النَّوَوِيِّ - إِنَّ هَذَا لا يُعَدُّ مُعَاطَاةً وَلا بَيْعًا - فِيهِ نَظَرٌ ، بَلْ يَعُدُّهُ النَّاسُ بَيْعًا ، وَالْغَالِبُ أَنْ يَكُونَ قَدْرُ ثَمَنِ الْحَاجَةِ مَعْلُومًا لَهُمَا عِنْدَ الأَخْذِ وَالْعَطَاءِ ، وَإِنْ لَمْ يَتَعَرَّضَا لَهُ لَفْظًا .\rBerkata adzhra'i adapun pendapat imam nawawi bahwa ini tidak dianggap mua'thah ataupun jual beli , pendapat ini perlu ditinjau ulang , bahkan ini dianggap jual beli , pada ghalibnya (umumnya) adanya kadar kira2 harga yang dibutuhkan itu maklum di antara penjual dan pembeli dikala pengambilan dan pemberian walaupun antara penjual dan pembeli tidak menyinggung dalam ucapannya\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/660703403952471\r2870. HUKUM MENGGADAIKAN LAHAN PARKIR JALAN RAYA\rPERTANYAAN :\r> Aby CYaang Umie SangPnakluk\rAssalamu'alaikum para asatidz. Saya mau tanya : Bagaimana hukumnya menggadaikan hak pakai seperti hak pakai tempat parkir toko DLL. Tempat parkir itu cuma contoh, titik permasalahan bukan parkir tapi hak pakai nya apakah orang yang menggadaikan itu boleh mengambil hasil tempat parkir itu. Syukro jazila Wassalam.\rJAWABAN :\r> Fakhrur Rozy Abdul Kholiq","part":1,"page":61},{"id":62,"text":"Tidak boleh menggadaikan manfaat, karena manfaat bisa rusak dan hilang, karena itu tidak bisa menjadi jaminan / penguat. Contoh, bila menggadaikan lahan parkir pingir jalan, semisal ada pelebaran jalan atau peraturan perda pelarangan parkir, maka pihak pengelola parkir yang dirugikan.\rLihat I'anatut Thalibin, http://islamport.com/d/2/shf/1/2/191.html :\rوخرج ايضا المنفعة فلا يصح رهنها لأن المنفعة تتلف فلا يحصل بيها استيثاق\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/672554412767370\r2934. HUKUM TARIF JASA PARKIR TIDAK SESUAI KARCIS\rPERTANYAAN :\r> Eddy Mahesaputra\rAssalamu'alaikum... Di beberapa tempat parkir umum perkotaan, tarif parkir dalam karcis tertera Rp.1000, tetapi kenyataannya ketika dibayar 1000, si tukang parkir ngomel-ngomel, lalu bayar nya 2000, begitu pula jika membayar 2000 seharus nya kembali 1000, tapi kenyataan nya tidak ada kembalian. Pertanyaan nya ialah : Status uang 1000 itu bagaimana hukum nya, mengingat tarif resmi 1000, tapi suruh bayar 2000, jika saja yang memberi 2000 itu hati nya kurang ikhlas, apakah uang 1000 itu haram, mengingat itu bukan hak nya si tukang parkir...???\rJAWABAN :\r> Ghufron Bkl\rUang yang seribu tersebut hukumnya harom kecuali ada kerelaan dari si pemberi. :\r.ولو أخذ مال غيره بالحياء كان له حكم الغصب فقد قال الغزالي من طلب من غيره مالا في الملاء فدفعه اليه لباعث الحياء فقط لا يملكه ولا يحل له التصرف فيه\rنهاية المحتاج 5/146 00 0\rأى وإن لم يحصل طلب من الآخذ فالمدار على مجرد العلم بأن صاحب المال دفعه حياء لا مروءة أو رغبة في خير.\rالباجوري 2/12","part":1,"page":62},{"id":63,"text":"فقد قال الغزالي من طلب من غيره مالا في الملاء أى الجماعة من الناس فدفعه إليه لباعث الحياء لم يملكه ولا يحل له التصرف فيه وهو من باب أكل أموال الناس بالباطل فليحذر.\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/708055565883921/\r2956. HUKUM MENGAMBIL BURUNG DI POHON ORANG\rPERTANYAAN :\r> Ishaq Udin\rAssalamualaikum…wr wb. Bagaimana hukum ngambil burung di pohon Orang. terima kasih.\rJAWABAN :\r> Ghufron Bkl\rMengambil burung di pohon orang lain hukumnya tidak boleh kecuali ada izin dari pemilik pohon atau ada indikasi kuat pemiliknya merelakannya :\rحاشيتا قليوبي و عميرة 4/0213 :\r.ولو وقع صيد في ملكه كمزرعة و صار مقدورا عليه بتحول وغيره لم يملكه في الأصح والثاني يملكه كوقوعه في شبكته\rو حيث قلنا لا يملكه فهو أحق به من غيره فليس لغيره أخذه بغير إذنه لكن إذا أخذه ملكه و من هذا ما لو استأجر سفينة فنزل فيها سمك.\rفتاوى الكبرى 4/116 :\r.وسئل : بما لفظه هل جواز الأخذ بعلم الرضا من كل شيئ أم مخصوص بطعام الضيافة :\rفأجاب : بقوله الذي دل عليه كلامهم أنه غير مخصوص بذلك وصرحوا بأن غلبة الظن كالعلم في ذلك وحينئذ فمتى غلب على ظنه أن المالك يسمح له بأخذ شيئ معين من ماله جاز له أخذه ثم إن بان خلاف ظنه لزمه ضمانه وإلا فلا.\rWALLOHU A'LAM\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/723055747717236/\r3023. HUKUM MENENTUKAN KEUNTUNGAN TERTENTU ( MISAL 1 JUTA ) DALAM BAGI HASIL\rPERTANYAAN :","part":1,"page":63},{"id":64,"text":"Assalamualaikum, para ustadz Mohon dalilnya. Contoh si A pinjam uang ke B 10 juta dgn tawar menawar dalam peruntungan. Si A berjanji memberi perhasilan 1 juta dalam satu kali transaksi namum si B malah minta 2 juta. Pertanyaannya : Termasuk akad apa dan sahkah akad di atas ? Maksudnya si A meminta agar si B berinvestasi ke si A, dengan tawaran si A akan memberikan penghasilannya 1 juta tiap transaksi dan si B minta 2 juta tiap transaksi, tapi saya sendiri gaktau selanjutnya itu jadi atau tidak investasinya. Hehe [ Ahmad Beri ]\rJAWABAN :\r> Rampak Naung\rTidak sah dan tidak boleh, karena Sangat mengandung riba, walau disepakati 1 juta, karena keuntungan masih belum jelas / tidak ketahui. Disaratkan dalam akad bagi hasil, kesepakatan keuntungan seperti 50 % : 50 % atau 2/3 %. Maka tidak sah bila ditenukan jumlah kadar tertentu seperti 1 juta atau 2 juta, karena kadang keuntungan ada di bawah tersebut atau lebih, dan merugikan atau menguntungkan salah satunya.\rوالثالث ان يشترط له اي يشترط المالك للعامل (جزأ معلوما من الربح ) كنفصه اوثلثه قوله معلوما الى ان قال وخرج بذلك مالوجعل له بربح صنف معين اوقدرا معينا كعشرة فلايصح لانه قد لايربح غير ربح ذلك النصف اوغير العشرة فيفوز احدهما بجميع الربح _ الباجوري 2/22\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/705422289480582/\rwww.fb.com/notes/759728324049978\r3038. HUKUM MENGAMBIL KEMBALI HIBAH YANG TELAH DIBERIKAN\rPERTANYAAN :\r> Ibnu Umar Alrozaqi","part":1,"page":64},{"id":65,"text":"Assalaamualaikum, maaf ustadz yai gus yang ada di piss, mohon penjelasannya... hibah adalah suatu pemberian semasa hidup seseorang, baik kepada ahli waris maupun kepada orang lain, pertanyaanya !! kalau orang tua hibah kepada anaknya kemudian di lain waktu orang tuanya mengambil pemberiannya kembali, apakah itu boleh atau tidak ? kalau mau membatalkan apakah harus ada persetujuan dari yang diberi hibah atau tidak ? mohon penjelasan nya terima kasih.\rJAWABAN :\r> Ical Rizaldysantrialit\rWa'alaikum salam, hukumnya khilaf ulama, di antara yang membolehkan adalah keterangan berikut : Boleh membatalkan semuanya atau membatalkan sebagiannya dengan tujuan taswiyah / menyama-ratakan pemberian di antara anak-anaknya. Wallahu a'lam.\rفيالمغني?بنقدامةالمقدسيرحمهالله:...وقولالخرقي:\"أمربرده\"يدلعلىأنل?بالرجوعفيماوهبلولدهوهوظاهرمذهبأحمدسواءقصدبرجوعهالتسويةبينا?و?دأولميردوهذامذهبمالك,وا?وزاعيوالشافعيوإسحاق,\rDalam kitab al mughni diterangkan, dhohir pendapat imam ahmad membolehkan kepada seorang bapak membatalkan hibah kepada anak-anaknya.","part":1,"page":65},{"id":66,"text":"وأبيثوروعنأحمدروايةأخرى:ليسلهالرجوعفيهاوبهاقالأصحابالرأيوالثوري,والعنبري....ولناقولالنبيـصلىاللهعليهوسلمـلبشيربنسعد:\"فاردده\"وروى:\"فأرجعه\"رواهكذلكمالكعنالزهريعنحميدبنعبدالرحمن,عنالنعمانفأمرهبالرجوعفيهبتهوأقلأحوالا?مرالجوازوقدامتثلبشيربنسعدفيذلكفرجعفيهبته لولده..._قال ابن قدامة رحمه الله أيضا:وظاهر ك?مالخرقي أن ا?م كا?ب,في الرجوع في الهبة ?نقوله\" :وإذا فاضل بين أو?ده\"يتناول كل والد ثمقال في سياقه\" :أمر برده\"فيدخل فيه ا?م وهذامذهب الشافعي ?نها داخلة في قوله\" :إ? الوالدفيما يعطي ولده\"و?نها لما دخلت في قول النبي ـصلى الله عليه وسلم ـ:سووا بين أو?دكم(ينبغيأن يتمكن من التسوية والرجوع في الهبة طريق فيالتسوية,وربما تعين طريقا فيها إذا لم يمكن إعطاءا?خر مثل عطية ا?ول و?نها لما دخلت في المعنىفي حديث بشير بن سعد فينبغي أن تدخل في جميعمدلوله لقوله\" :فاردده\"وقوله\" :فأرجعه\"و?نهالما ساوت ا?ب في تحريم تفضيل بعض ولدهاينبغي أن تساويه في التمكن من الرجوع فيما فضلهبه,تخليصا لها من ا?ثم وإزالة للتفضيل المحرمكا?ب والمنصوص عن أحمد أنه ليس لها الرجوع.\rPandangan Ulama Asy-syafi'iyyah berkaitan hal diatas Referensi Bughiyatul Musytarsyidin Hal 177 :\r(مسألة: ب): لا تجب التسوية في عطية الأولاد، سواء كانت هبة أو صدقة أو هدية أو وقفاً أو تبرعاً آخر، نعم يسن العدل كما يسن في عطية الأصول، بل يكره التفضيل، وقال جمع: يحرم سواء الذكر وغيره ولو في الأحفاد مع وجود الأولاد إلا لتفاوت حاجة أو فضل فلا كراهة، فإن كان ذلك وصية فلا بد من إجازة بقيتهم","part":1,"page":66},{"id":67,"text":"Tidak wajib menyama-ratakan pemberian kepada anak baik pemberian itu berupa hibah, shodaqoh, hadiah, wakoq, atau sifatnya tabarru', namun disunahkan berlaku adil seperti disunahkan dalam memberi kepada ushuul (bapak, kekek dst / ibu, nenek dst) . Bahkan makruh hukumnya membedakan pemberian di antara anak. Segolongan ulama berkata : Haram membedakan pemberian,baik kepada laki-laki atau perempuan walaupun kepada cucu-cucu kecuali ada perbedaan kebutuhan diantara mereka,atau perbedaan dalam keutamaan,maka tidak makruh.Jika pemberian itu melalui akad washiyat,maka harus menunggu persetujuan ahli waris yang lain (jika lebih besar dari 1/3 harta).\r- Bughiyatul Mustarsyidin, Hal 178 :\r[فائدة]: شروط رجوع الوالد في هبته لولده وإن سفل أن لا يتعلق به حق لازم، وأن لا يكون الفرع قناً فإنه يكون لسيده، وأن يكون الموهوب عيناً لا ديناً، وأن لا يزول ملك الفرع وإن عاد إليه اهـ ش ق. وخرج بالهبة النذر فلا رجوع فيه على المعتمد.\r(Faidatun) Syarat diperbolehkannya mengambil kembali atau membatalkan pemberian seorang bapak kepada anaknya jika :\r- tidak berkaitan dengan hak lazim/tetap\r- anak (yang menerima pemberian) bukan seorang hamba sahaya, karena harta hamba sahaya adalah milik sayidnya.\r- pemberian itu berupa 'Ain (seperti lahan atau tempat dll) bukan berupa hutang.","part":1,"page":67},{"id":68,"text":"- pemberian itu belum pernah lepas dari tangan si anak, walaupun sempat lepas namun kembali lagi (si anak menerima pemberian dari bapak, kemudian pemberian itu digadaikan contohnya, kemudian dilunasi sehingga pemberian itu kembali ke tangan si anak). Dan berbeda Jika pemberian itu adalah hasil dari Nadzar, maka menurut kaol mu'tamad tidak boleh dibatalkan ? diambil kembali.\rMelihat keterangan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa jawaban dari pertanyaan kedua : tidak disyaratkan bagi bapak atas izin si anak ketika membatalkan atau mengambil kembali pemberiannya. Wallahu A'lam.\rLINK ASAL:\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/760946860594791/\r3127. HUKUM MEMINTA KEMBALI BARANG YANG SUDAH DIBERIKAN\rPERTANYAAN :\r> Zanzanti Yanti Andeslo\rAssalamu'alaikum\r1.…Bagaimana hukum nya meminta kembali barang yang telah diberikan? Yang terkadang barang nya telah habis, rusak atao hilang. Deskripsi : si A memberikan barang kepada si B setelah beberapa bulan mereka renggang. Dan karena kesel si A meminta kembali barang yang telah diberikan ke B.\r2.…Apakah yang seperti ini dinyatakan memakan bangkai sendri ? maaf bukan cinta ato keperawanan yang saya maksud adalah barang misal makanan, Uang Dan barang-barang semacam baju dan elektronik, bukan juga ketika tunangan tapi lebih umum seperti teman atau pacaran atau saudara.\rJAWABAN :\r> Hariz Jaya\rWa alaikumus salaamw arohmatulloh","part":1,"page":68},{"id":69,"text":".حدثنا حامد بن عمر حدثنا أبو عوانة عن حصين عن عامر قال سمعت النعمان بن بشير رضي الله عنهما وهو على المنبر يقول: أعطاني أبي عطية فقالت عمرة بنت رواحة لا أرضى حتى تشهد رسول الله صلى الله عليه و سلم فأتى رسول الله صلى الله عليه و سلم فقال إني أعطيت ابني من عمرة بنت رواحة عطية فأمرتني أن أشهدك يا رسول الله قال ( أعطيت سائر ولدك مثل هذا ) . قال لا قال ( فاتقوا الله واعدلوا بين أولادكم ) . قال فرجع فرد عطيته\rArtinya : Telah menceritakan kepada kami Hamid bin 'Umar telah menceritakan kepada kami Abu 'Awanah dari Hushain dari 'Amir berkata; aku mendengar An Nu'man bin Basyir radliallahu 'anhuma berkhutbah diatas mimbar, katanya: Bapakku memberiku sebuah hadiah (pemberian tanpa imbalan). Maka 'Amrah binti Rawahah berkata; Aku tidak rela sampai kamu mempersaksikannya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Maka bapakku menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata: Aku memberi anakku sebuah hadiah yang berasal dari 'Amrah binti Rawahah, namun dia memerintahkan aku agar aku mempersaksikannya kepada anda, wahai Rasulullah. Beliau bertanya: Apakah semua anakmu kamu beri hadiah seperti ini?. Dia menjawab: Tidak. Beliau bersabda: Bertaqwalah kalian kepada Allah dan berbuat adillah diantara anak-anak kalian. An-Nu'man berkata: Maka dia kembali dan Beliau menolak pemberian bapakku. (HR. Bukhori No. 2447 Juz 2 Halaman 914)","part":1,"page":69},{"id":70,"text":"حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدَةَ الضَّبِّيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ الثَّقَفِيُّ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيْسَ لَنَا مَثَلُ السُّوءِ الْعَائِدُ فِي هِبَتِهِ كَالْكَلْبِ يَعُودُ فِي قَيْئِهِ\rArtinya : telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abdah Adh-Dhabbi menceritakan kepada kami, Abdul Wahhab Ats-Tsaqafi menceritakan kepada kami, Ayyub menceritakan kepada kami, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, \"Kami tidak memiliki contoh yang buruk; Orang yang mengambil kembali pemberiannya seperti anjing yang menjilat muntahnya sendiri\". (HR. Tirmidzi No. 1298)\rقال وفي الباب عن ابن عمر عن النبي صلى الله عليه و سلم أنه قال لا يحل لأحد أن يعطي عطية فيرجع فيها إلا الوالد فيما يعطي ولده صحيح\rArtinya : Ia (Tirmidzi) berkata, \"Pada bab ini ada riwayat lain dari Ibnu Umar, dari Nabi SAW, beliau bersabda, \"Tidak halal bagi seseorang memberi suatu pemberian lalu ia mengambilnya kembali, kecuali orangtua, dia boleh mengambil kembali apayang telah diberikan kepada anaknya\". (Lihat Kitab Sunan Tirmidzi Juz 3 Halaman 592).","part":1,"page":70},{"id":71,"text":"قال أبو عيسى حديث ابن عباس رضي الله عنهما حديث حسن صحيح والعلم على هذا الحديث عند بعض أهل العلم من بعض أصحاب النبي صلى الله عليه و سلم وغيرهم قالوا من وهب هبة لذي رحم محرم فليس له أن يرجع فيها ومن وهب هبة لغير ذي رحم محرم فله أن يرجع فيها ما لم يثب منها وهو قول الثوري وقال الشافعي لا يحل لأحد أن يعطي عطية فيرجع فيها إلا الوالد فيما يعطي ولده واحتج الشافعي بحديث عبد الله بن عمرو عن النبي صلى الله عليه و سلم قال لا يحل لأحد أن يعطي عطية فيرجع فيها إلا الوالد فيما يعطي ولده صحيح\rArtinya : Abu Isa (Tirmidzi) berkata, \"Hadits Ibnu Abbas ini adalah hasan shahih\". Para ulama dari sahabat nabi dan yang lainnya mengamalkan hadits ini: mereka berkata, \"Orang yang memberi suatu pemberian kepada mahramnya (keluarga yang haram menikah dengannya), boleh mengambil kembali pemberian tersebut, sementara orang yang memberi suatu pemberian kepada orang lain yang bukan mahramnya, maka ia tidak boleh mengambil kembali pemberian tersebut. Demikian pula pendapat Ats-Tsauri. Asy-Syafi'i berkata, \"Tidak halal bagi seseorang yang memberi suatu pemberian. lalu mengambilnya kembali. kecuali orangtua, dia boleh mengambil apa yang telah diberikan kepada anaknya.\" Asy-Syaffi berdalih dengan hadits Abdullah bin Umar, dari Nabi SAW, beliau bersabda, \"Tidak halal bagi seseorang memberikan snatu pemberian lalu mengambilnya kembali, kecuali orangtua. ia boleh mengambil kembali apayang telah diberikan kepada anaknya. (Lihat Kitab Sunan Tirmidzi Juz 3 Halaman 593).\r> Ulilalbab Hafas\rHibbah tidak bisa diminta lagi.. kecuali hibbah dari ortu pada anak.......","part":1,"page":71},{"id":72,"text":"(وإذا قبضها الموهوب له لم يكن للواهب أ ن يرجع فيها إلا أن يكون والداً) وإن علا\r> Mas Hamzah\rروضة الطالبين أبو زكريا يحيى بن شرف النووي\rالموهوب ، إما أن لا يكون باقيا في سلطنة المتهب ، وإما أن يكون . القسم الأول : أن لا يكون بأن أتلف ، أو زال ملكه عنه ببيع ، أو غيره ، أو وقفه ، أو أعتقه ، أو كاتبه ، أو استولدها ، أو وهبه وأقبضه ، أو رهنه وأقبضه ، فلا رجوع له ، ولا قيمة أيضا\rBarang yang diberikan itu ada kalanya tidak langgeng ditangan orang yang diberi dan ada kalanya masih tetap ada, bagian petama, yang tidak langgeng misalnya menjadi rusak atau hilang kepemilikan sebab dijual atau yang lainnya sebab diwakafkan, sebab dimerdekakan, sebab di akadi mukatab, sebab diberikan lagi atau sebab digadaikan maka tidak boleh diminta kembali dan juga tidak ada ganti rugi. Wallohu a'lam bis showab.\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/714744161881728/\r3041. AKADNYA KONTRAKTOR\rPERTANYAAN :\r> Helmi El-Langkawi\rAssalamu'alaikum.. Saya ingin singkat saja.. Seorang kontraktor digolongkan ke dalam 'aqad apakah dia? Dan apakah mereka para kontraktor diwajibkan mengeluarkan zakat...? kalau dalam akad ijarah gimana dia itu?\rJAWABAN :\r> Ulilalbab Hafas\rWa'alaikum salam, dengan kata lain adalah jasa tukang bangun.....kontruksi nasional sektor....cara kerja bangunan dengan sistem borongan.....kalo zakat profesi wajib maka kontraktor juga wajib. Kalo hemat saya lebih tepatnya masuk pada aqad salam...","part":1,"page":72},{"id":73,"text":"فصل): في أحكام السلم وهو والسلف لغة بمعنى واحد، وشرعاً بيع شيء موصوف في الذمة، ولا يصح إلا بإيجاب وقبول (ويصح السلم حالاً ومؤجلاً) فإن أطلق السلم انعقد حالاً في الأصح، وإنما يصح السلم (فيما) أي في شيء (تكامل فيه خمس شرائط) أحدها (أن يكون) المسلم فيه (مضبوطاً بالصفة التي يختلف بها الغرض) في المسلم فيه بحيث ينتفي بالصفة الجهالة فيه، ولا يكون ذكر الأوصاف على وجه يؤدي لعزة الوجود في المسلم فيه كلؤلؤ كبار، وجارية وأختها أو ولدها (و) الثاني (أن يكون جنساً لم يختلط به غيره) فلا يصح السلم في المختلط المقصود الأجزاء التي لا تنضبط كهريسة ومعجون، فإن انضبطت أجزاؤه صح السلم فيه كجبن وأقط، والشرط الثالث مذكور في قوله (ولم تدخله النار لإحالته) أي بأن دخلته لطبخ أو شيء فإن دخلته النار للتمييز كالعسل والسمن صح السلم فيه (و) الرابع (أن لا يكون) المسلم فيه (معيناً) بل ديناً فلو كان معيناً، كأسلمت اليك هذا الثوب مثلاً في هذا العيد، فليس بسلم قطعاً ولا ينعقد أيضاً بيعاً في الأظهر (و) الخامس أن (لا) يكون (من معين) كأسلمت إليك هذا الدرهم في صاع من هذه الصبرة (ثم لصحة المسلم فيه ثمانية شرائط) وفي بعض النسخ ويصح السلم بثمانية شرائط: الأول مذكور في قول المصنف (وهو أن يصفه بعد ذكر جنسه ونوعه بالصفات التي يختلف بها الثمن) فيذكر في السلم في رقيق مثلاً نوعه كتركي أو هندي وذكورته أو أنوثته وسنه تقريباً، وقده طولاً أو قصراً أو ربعة، ولونه كأبيض ويصف بياضه بسمرة أو شقرة، ويذكر في الإبل والبقر والغنم والخيل والبغال والحمير، الذكورة والأنوثة والسن واللون والنوع، ويذكر في الطير النوع والصغر والكبر والذكورة والأنوثة، والسن إن عرف، ويذكر في الثوب الجنس كقطن أو كتان أو حرير، والنوع كقطن عراقي والطول والعرض، والغلظ والدقة والصفافة والرقة والنعومة والخشونة، ويقاس بهذه الصور غيرها ومطلق السلم في ثوب يحمل على","part":1,"page":73},{"id":74,"text":"الخام لا المقصور (و) الثاني (أن يذكر قدره بما ينفي الجهالة عنه) أي أن يكون المسلم فيه معلوم القدر كيلاً في مكيل، ووزناً في موزون، وعداً في معدود، وذرعاً في مذروع. والثالث مذكور في قول المصنف (وإن كان) السلم (مؤجلاً ذكر) العاقد (وقت محله) أي الأجل كشهر كذا فلو أجل السلم بقدوم زيد مثلاً لم يصح. (و) الرابع (أن يكون) المسلم فيه (موجوداً عند الاستحقاق في الغالب)أي استحقاق تسليم المسلم فيه، فلو أسلم فيما لا يوجد عند المحل كرطب في الشتاء لم يصح (و) الخامس (أن يذكر موضع قبضه) أي محل التسليم إن كان الموضع لا يصلح له أو صلح له، ولكن لحمله إلى موضع التسليم مؤنة. (و) السادس (أن يكون الثمن معلوماً) بالقدر أو بالرؤية له (و) السابع (أن يتقابضا) أي المسلم والمسلم إليه في مجلس العقد (قبل التفرق) فلو تفرقا قبل قبض رأس المال بطل العقد أو بعد قبض بعضه، ففيه خلاف تفريق الصفة والمعتبر القبض الحقيقي، فلو أحال المسلم برأس مال السلم وقبضه المحتال، وهو المسلم إليه من المحال عليه في المجلس لم يكف (و) الثامن (أن يكون عقد السلم ناجزاً لا تدخله خيار الشرط) بخلاف خيار المجلس فإنه يدخله.\rKalo mau di masukin ke aqad ongkos UJROH... juga bisa namun bahan bangunan nya harus dari pihak yang punya.\r> Toni Imam Tontowi\rWa'alaikumsalaam. Kontraktor itu umumnya begini pak :Ini yang borongan plus matrial : Ada orang misalkan mau bangun rumah (A), ada kontraktor sebagai tukang bangun rumah (B).Karena suatu sebab A tidak bisa bangun sendiri, maka dipanggillah B untuk melaksanakan pembangunan rumah A. Setelah harga borongan disepakati maka A biasanya akan mendapat DP sekian persen sebagai tanda jadi ia membangun rumah A.","part":1,"page":74},{"id":75,"text":"Pembayaran selanjutnya dilakukan berdasarkan prosentase yang dicapai oleh B dalam membuat rumah milik A. Setelah bangunan selesai A akan membayar biasanya 95 % dari harga kontrak yang disepakati di awal akad .Yang 5 % akan dibayarkan mundur nanti setelah waktu yang ditentukan sebagai uang jaminan perawatan rumah A, jadi misalkan setelah 3 bulan bagian rumah A ada yang rusak maka B harus memperbaiki rumah A, dan seterusnya, sampai masa pemeliharaannya habis. Namun bila ternyata si B tidak mau memperbaiki / sama sekali tidak memperbaiki maka yang 5 % tadi bisa dibayarkan sebagian atau bahkan tidak dibayar sama sekali. INI YANG BERLAKU DI MASYARAKAT KITA.\r> Ghufron Bkl\rBila bahan bangunannya dari pihak pemborong maka bisa masuk pada aqad salam dan bisa dengan aqad bai' fidz dzimmah / menjual barang yang masih dalam tanggungan, bila dengan aqad salam maka pihak pembeli harus memberi uang muka di tempat aqad / majlis al 'aqdi :\rوالثاني من الأشياء بيع شيئ أى عين موصوف بما يبين قدره وجنسه و صفته في الذمة أى العقد______ و يسمى هذا بالسلم إن عقد بالسلم أو السلف وإن عقد بلفظ البيع فهو بيع لا سلم فإن كلام المصنف في البيع في الذمة بلفظ البيع فالسلم له أحكام والبيع في الذمة له أحكام فأحكام السلم يشترط قبض رأس المال في المجلس ولا يصح الإستبدال عنه ولا الحوالة به ولا عليه و يصح ذلك كله في الثمن في البيع في الذمة فلا يشترط فيه قبض الثمن في المجلس فجائز أى صحيح فالبيع في الذمة بلفظ البيع يصح وإن لم يصح السلم فيه.التوشيح : ص:131\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/758153084207502/\r3146. HUKUM MENGGUNAKAN FASILITAS LEMBAGA UNTUK KEPENTINGAN PRIBADI\rPERTANYAAN :\r> Jaelani Mas'ud","part":1,"page":75},{"id":76,"text":"Mau tanya, Deskripsi masalah : Untuk kelancaran KBM ( Kegiatan Belajar Mengajar) pada sebuah lembaga pendidikan pesantren, Pihak lembaga menyediakan berbagai macam fasilitas seperti computer,printe r dll. Ahmad merupakan salah satu santri dilembaga tersebut , disamping mesantren Ahmad juga kuliah di salah satu sekolah tinggi swasta, juga mengajar di lembaga lain ( pesantren lain ).\rTak jarang Ahmad menggunakan Komputer dan printer milik lembaga tempat Ia berdomisili untuk mengerjakan tugas Kuliyahnya dan kepentingan lembaga lain (pesantren Lain) tempat Ia mengajar. SOAL : Apa hukumnya tindakan Ahmad tersebut ?\rJAWABAN :\r> Ghufron Bkl\rTindakan Ahmad tsb tidak dibenarkan jika fasilitas tsb milik lembaga dan sudah ada pengkhususan kecuali hal tsb sudah kebiasaan (ada indikasi diperbolehkan secara umum) atau ada indikasi kerelaan dari pihak pengurus lembaga, dan jika fasilitas tsb berstatus waqof untuk lembaga maka penggunaannya harus sesuai dengan ketentuan orang yang mewaqofkan atau tradisi yang berlaku. :\rتحفة المحتاج في شرح المنهاج وحواشي الشرواني والعبادي صفحة2630","part":1,"page":76},{"id":77,"text":". .وسئل : بما لفظه هل جواز الأخذ بعلم الرضا من كل شيئ أم مخصوص بطعام الضيافة : فأجاب : بقوله الذي دل عليه كلامهم أنه غير مخصوص بذلك وصرحوا بأن غلبة الظن كالعلم في ذلك وحينئذ فمتى غلب على ظنه أن المالك يسمح له بأخذ شيئ معين من ماله جاز له أخذه ثم إن بان خلاف ظنه لزمه ضمانه وإلا فلا. فتاوى الكبرى 4/116 : .و متى عين الواقف مدة لم يزد عليها إلا إذا لم يوجد في البلد من هو بصفته لأن العرف يشهد بأن الواقف لم يرد شعور مدرسته وكذا كل شرط شهد العرف بتخصيصه قاله أبن عبد السلام و عند الإطلاق ينظر إلى الغرض المبني له و يعمل بالمعتاد المطرد في مثله حالة الوقف لأن العادة المطردة في زمان الواقف إذا علم بها تنزل منزلة شرطه___ وهل للغير ذلك وإن منعه أهلها وهل لهم المنع وإن لم يحصل ضرر يحرر شوبري والذي يؤخذ من ع ش على م ر أنه إن لم يشرط الواقف الإختصاص جاز دخول غيرهم بغير إذنهم و إن شرطه لم يجز بغير إذنهم___أى ولم تطرد العادة في زمنه بالمنع مع علمه به أخذا مما مر في الشرح كالنهاية. تحفة المحتاج 6/223\rMenggunakan inventaris lembaga di luar jam kerja atau kepentingan pribadi diperbolehkan bila ada izin atau sesuai dengan 'urfi. Referensi :\rالأشباه والنظائر ص : 84 مكتبة أوسها كلواركا","part":1,"page":77},{"id":78,"text":"(القاعدة الخامسة) تصرف الإمام على الرعية منوط بالمصلحة هذه القاعدة نص عليها الشافعى وقال منزلة الإمام من الرعية منزلة الولى من اليتيم قلت وأصل ذلك ما أخرجه سعيد بن منصور فى سننه قال حدثنا أبو الأحوص عن أبى إسحاق عن البراء بن عازب قال قال عمر رضى الله عنه إنى أنزلت نفسى من مال الله منزلة والى اليتيم إن احتجت أخذت منه فإذا أيسرت رددته فإن استغنيت استعففت. 2. المحلى وحاشية القليوبى الجزء الثالث ص : 21 دار إحياء الكتب العربية (وله) أى للمستعير (الانتفاع بحسب الإذن) (قوله بحسب الإذن) أى بحسب ما يقتضيه العرف فيه ومنه تكرار الانتفاع بنحو لبس ثوب وركوب دابة وسكنى دار ما يقيد بمرة أو مدة ولو عدل عن الطريق المأذون فيه أو جاوز محلا أذن له فى وصوله صار ضامنا ولزمته أجرة ما جاوزه فقط وله الركوب فى العود منه كما مر\rKalau inventaris lembaga tersebut mukhtashoh (diperuntukkan bagi orang tertentu) maka yang berhak adalah orang yang diberi wewenang. Kalau ghoir mukhtashoh maka yang berhak adalah dengan mempertimbangkan yang paling maslahat. Kalau sama maka diundi. Referensi :\rالإمامة العظمى ص : 357 – 358 دار الحسبة * وجوه صرف الأموال *","part":1,"page":78},{"id":79,"text":"الواجب على الإمام عند صرف الأموال أن يبتدىء فى القسمة بالأهم فالأهم من مصالح المسلمين كعطاء من يحصل للمسلمين منهم منفعة عامة أو المحتاجين 2. مغنى المحتاج الجزء الثانى ص : 370 دار الفكر (ولو سبق إليه) أى إلى مكان من الشارع (اثنان) وتنازعا فى موضع منه (أقرع) بينهما لعدم المزية (وقيل يقدم الإمام) أحدهما (برأيه) كمال بيت المال وهذا كما قال الدارمى إذا كانا مسلمين أما إذا كان أحدهما مسلما والأخر ذميا فالمسلم مقدم مطلقا اهـ 3. حواشى الشروانى الجزء الخامس ص: 412 دار صادر قال الأسنوى وإعارة الإمام مال بيت المال لأنه إذا جاز له التمليك فالإعارة أولى ورد بأنه إن أعاره لمن له حق فى بيت المال فهو إيصال حق لمستحقه فلا يسمى عارية أو لمن لا حق له فيه لم يجز لأن الإمام فيه كالولى فى مال موليه وهو لايجوز له إعارة شىء منه مطلقا (قوله وإعارة الإمام الخ) عطف على قوله إعارة كلب الخ (قوله ورد بأنه إن أعاره الخ) نظير هذا الترديد جار فى التمليك الصادر من الإمام لمال بيت المال وقد صرحت الأئمة به ولك أن تقول نختار الشق الأول ونمنع المحذور المترتب عليه لأن الاستحقاق غير منحصر فى المذكور بل هو لعموم المسلمين فإذا خص الإمام واحدا بتمليك وإعارة فقد ناب عن الباقين فى تصيير ما يخصهم في المال المتصرف فيه لمن صرفه له فليتأمل اللهم إلا أن يقال ليس الحق للعموم حتى يكون مشتركا شركة حقيقية بين سائر الأفراد بل الحق للجهة فإذا دفع لبعض أفرادها وقع فى محله بالأصالة اهـ سيد عمر\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/720885997934211\r3159. SYARAT PENGURUS PANTI ASUHAN MENGGUNAKAN UANG PANTI\rPERTANYAAN :\r> Zanzanti Yanti Andeslo","part":1,"page":79},{"id":80,"text":"Assalamu'alaikum, apabila sepasang (suami istri ), seorang suami mengurus panti asuhan anak yatim piatu dan mengelola uang nya dari para dermawan.. apabila si suami tidak bekerja hanya mengurus panti. Pertanyaan : Boleh kan si suami ini mengambil dan memakai uang panti untuk menafkahi istri n anaknya ?\rJAWABAN :\r> Kumbang Gurun\rYayasan yatim piatu suatu wadah yang menampung dana untuk disalurkan kepada \" anak yatim \", pada dasar si anak yatim ini tidak memiliki harta pusaka peninggalan orang tuanya \" dia hanya mengandal pemberian orang lain yang dikelola oleh yayasan \" menggunakan jasa para pengurusnya \".\rSementara yang dijelaskan dalam Al Qur'an \" si anak yatim tersebut memiliki harta pusaka peninggalan orang tuanya \" pada dasarnya si anak yatim ini bukan anak yang pakir (kaya) hanya belum mampu menggunakan harta dengan cara yang baik, maka orang yang mengurus anak yatim beserta hartanya \" diperbolehkan \" mengambil harta anak yatim hanya sekedarnya (hal2 yang pokok ). Dalam hukum perbandingan \" pengurus yayasan \" lebih banyak jasanya , karna berusaha mengumpulkan dana\r> Mas Hamzah\rAllah berfirman dalam surat an nisa' ayat 6\rوَابْتَلُوا الْيَتَامَى حَتَّى إِذَا بَلَغُوا النِّكَاحَ فَإِنْ آنَسْتُمْ مِنْهُمْ رُشْدًا فَادْفَعُوا إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ وَلَا تَأْكُلُوهَا إِسْرَافًا وَبِدَارًا أَنْ يَكْبَرُوا وَمَنْ كَانَ غَنِيًّا فَلْيَسْتَعْفِفْ وَمَنْ كَانَ فَقِيرًا فَلْيَأْكُلْ بِالْمَعْرُوفِ فَإِذَا دَفَعْتُمْ إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ فَأَشْهِدُوا عَلَيْهِمْ وَكَفَى بِاللَّهِ حَسِيبًا","part":1,"page":80},{"id":81,"text":"Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. Dan janganlah kamu makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. Barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barangsiapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. Kemudian apabila kamu menyerahkan harta kepada mereka, maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka. Dan cukuplah Allah sebagai Pengawas (atas persaksian itu).\rYang perlu diperhatikan adalah pada firman Allah :\rوَمَنْ كَانَ غَنِيًّا فَلْيَسْتَعْفِفْ وَمَنْ كَانَ فَقِيرًا فَلْيَأْكُلْ بِالْمَعْرُوفِ\rBarang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barangsiapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut.\r- Tafsir Ibnu Katsir :\rقَالَ الْفُقَهَاءُ : لَهُ أَنْ يَأْكُلَ أَقَلَّ الْأَمْرَيْنِ : أُجْرَةَ مِثْلِهِ أَوْ قَدَرَ حَاجَتِهِ . وَاخْتَلَفُوا : هَلْ يَرُدُّ إِذَا أَيْسَرَ ، عَلَى قَوْلَيْنِ : أَحَدُهُمَا : لَا; لِأَنَّهُ أَكَلَ بِأُجْرَةِ عَمَلِهِ وَكَانَ فَقِيرًا . وَهَذَا هُوَ الصَّحِيحُ عِنْدَ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ; لِأَنَّ الْآيَةَ أَبَاحَتِ الْأَكْلَ مِنْ غَيْرِ بَدَلٍ . وَقَدْ قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ :","part":1,"page":81},{"id":82,"text":"حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ ، حَدَّثَنَا حُسَيْنٌ ، عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ جَدِّهِ : أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : لَيْسَ لِي مَالٌ ، وَلِي يَتِيمٌ ؟ فَقَالَ : \" كُلْ مِنْ مَالِ يَتِيمِكَ غَيْرَ مُسْرِفٍ وَلَا مُبَذِّرٍ وَلَا مُتَأَثِّلٍ مَالَا وَمِنْ غَيْرِ أَنْ تَقِيَ مَالَكَ - أَوْ قَالَ : تَفْدِيَ مَالَكَ - بِمَالِهِ \" شَكَّ حُسَيْنٌ .\rوَقَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ : حَدَّثَنَا أَبُو سَعِيدٍ الْأَشَجُّ ، حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ الْأَحْمَرُ ، حَدَّثَنَا حُسَيْنٌ الْمُكْتِبُ ، عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ جَدِّهِ قَالَ : جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : إِنَّ عِنْدِي يَتِيمًا عِنْدَهُ مَالٌ - وَلَيْسَ عِنْدَهُ شَيْءٌ مَا - آكُلُ مِنْ مَالِهِ ؟ قَالَ : \" بِالْمَعْرُوفِ غَيْرَ مُسْرِفٍ \" .\rوَرَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ ، وَالنَّسَائِيُّ ، وَابْنُ مَاجَهْ مِنْ حَدِيثِ حُسَيْنٍ الْمُعَلِّمِ بِهِ .\rUlama' ahli fiqih berkata : bagi pengurus anak yatim boleh memakan harta anak yatim lebih sedikit daripada dua perkara :\r1. ujroh mitsil/ upahnya.\r2. sekedar kebutuhannya.\rDan ulama' fiqih berbeda pendapat ttg , apakah jika pengurusnya kaya maka mengembalikan harta anak yatim yang telah dimakannya ?\rIni ada dua pendapat, salah satunya adalah tidak mengembalikanya karena dia memakan upah dari kerjanya dan sebelumnya dia adalah faqir.\rini adalah pendapat yang benar menurut ashab syafi'i, sebab ayat tsb membolehkan memakan harta anak yatim tanpa menggantinya.","part":1,"page":82},{"id":83,"text":"Imam ahmad bekata : telah menceritakan kepada kami abdul wahhab, telah menceritakan kpd kami husain, dari amr bin syu'aib dari ayahnya dari kakeknya sesungguhnya seorang lelaki bertanya kepada Rasululloh shollallohu alaihi wasallam : \" aku tdk punya harta dan ditempatku ada anak yatim.\"\rRasul bersabda : \" makanlah dari harta anak yatimmu tanpa berlebihan dan tanpa menghambur hamburkan ....ila akhirihi.\r- Tafsir Qurthuby :\rففي صحيح مسلم ، عن عائشة في قوله تعالى : ومن كان فقيرا فليأكل بالمعروف قالت : نزلت في ولي اليتيم الذي يقوم عليه ويصلحه إذا كان محتاجا جاز أن يأكل منه . في رواية : بقدر ماله بالمعروف .\rDalam kitab shohih muslim dari 'Aisyah penjelasan tentang firman Allah : \"dan barang siapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut.\" aisyah berkata : \" ayat ini turun berkenaan dengan wali anak yatim yang mengurusinya, jika dia butuh maka boleh memakan darinya\". Dalam riwayat yang lain : \" boleh memakan sekedar hartanya menurut yang patut.\". Sedangkan pendapat yang kedua yang disebutkan oleh imam ibnu katsir adalah : \" mengembalikan harta anak yatim yang telah dimakannya, karena kebolehan memakan harta anak yatim tsb adalah karena hajat, maka gantinya dikembalikan , atau dalam kata lain dicatat sebagai hutangnya.\"","part":1,"page":83},{"id":84,"text":"والثاني : نعم; لأن مال اليتيم على الحظر ، وإنما أبيح للحاجة ، فيرد بدله كأكل مال الغير للمضطر عند الحاجة . وقد قال أبو بكر ابن أبي الدنيا : حدثنا ابن خيثمة ، حدثنا وكيع ، عن سفيان وإسرائيل ، عن أبي إسحاق ، عن حارثة بن مضرب قال : قال عمر [ بن الخطاب ] رضي الله عنه : إنى أنزلت نفسي من هذا المال بمنزلة والي اليتيم ، إن استغنيت استعففت ، وإن احتجت استقرضت ، [ ص: 218 ] فإذا أيسرت قضيت .\rطريق أخرى : قال سعيد بن منصور : حدثنا أبو الأحوص ، عن أبي إسحاق ، عن البراء قال : قال لي عمر ، رضي الله عنه : إني أنزلت نفسي من مال الله بمنزلة والي اليتيم ، إن احتجت أخذت منه ، فإذا أيسرت رددته ، وإن استغنيت استعففت .\rإسناد صحيح وروى البيهقي عن ابن عباس نحو ذلك . وهكذا رواه ابن أبي حاتم من طريق علي بن أبي طلحة ، عن ابن عباس في قوله : ( ومن كان فقيرا فليأكل بالمعروف ) يعني : القرض . قال : وروي عن عبيدة ، وأبي العالية ، وأبي وائل ، وسعيد بن جبير - في إحدى الروايات - ومجاهد ، والضحاك ، والسدي نحو ذلك . وروي من طريق السدي ، عن عكرمة ، عن ابن عباس في قوله : ( فليأكل بالمعروف ) قال : يأكل بثلاث أصابع .\rثم قال : حدثنا أحمد بن سنان ، حدثنا ابن مهدي ، حدثنا سفيان ، عن الحكم ، عن مقسم ، عن ابن عباس : ( ومن كان فقيرا فليأكل بالمعروف ) قال : يأكل من ماله ، يقوت على يتيمه حتى لا يحتاج إلى مال اليتيم . قال : وروي عن مجاهد وميمون بن مهران في إحدى الروايات والحكم نحو ذلك .\rوقال عامر الشعبي : لا يأكل منه إلا أن يضطر إليه ، كما يضطر إلى [ أكل ] الميتة ، فإن أكل منه قضاه . رواه ابن أبي حاتم .","part":1,"page":84},{"id":85,"text":"Sebagian ulama' berpendapat bahwa yang dimaksud dengan \"ma'ruf\" dalam ayat tsb adalah makanan yang bisa menutupi rasa laparnya dan pakaian untuk menutupi auratnya. Tapi pakaian di sini bukan pakaian dari katun bukan pula perhiasan.\r- Tafsit Thobay :\rوقال آخرون : بل\"المعروف\" في ذلك : أن يأكل ما يسد جوعه ، ويلبس ما وارى العورة .\rذكر من قال ذلك :\rحدثني يعقوب بن إبراهيم قال : حدثنا هشيم قال : أخبرنا مغيرة ، عن إبراهيم قال : إن المعروف ليس بلبس الكتان ولا الحلل ، ولكن ما سد الجوع ووارى العورة .\rحدثنا ابن بشار قال : حدثنا عبد الرحمن قال : حدثنا سفيان ، عن مغيرة ، عن إبراهيم قال : كان يقال : ليس المعروف بلبس الكتان والحلل ، ولكن المعروف ما سد الجوع ووارى العورة .\rحدثنا الحسن بن يحيى قال : أخبرنا عبد الرزاق قال : أخبرنا الثوري ، عن مغيرة ، عن إبراهيم نحوه .\rحدثنا علي بن سهل قال حدثنا الوليد بن مسلم قال : حدثنا أبو معبد قال : سئل مكحول عن والي اليتيم ، ما أكله بالمعروف إذا كان فقيرا؟ قال : يده مع يده . قيل له : فالكسوة؟ قال : يلبس من ثيابه ، فأما أن يتخذ من ماله مالا لنفسه فلا .\rحدثنا أبو كريب قال : حدثنا الأشجعي ، عن سفيان ، عن مغيرة ، عن إبراهيم في قوله : \" فليأكل بالمعروف \" ، قال : ما سد الجوع ووارى [ ص: 588 ] العورة . أما إنه ليس لبوس الكتان والحلل .\r> Ghufron Bkl\rPengurus panti asuhan boleh mengambil bagian/ uangnya dan tidak wajib menggantinya bila memenuhi syarat :\r1. harus faqir\r2. tidak bisa bekerja krn kesibukannya mengurus panti asuhan tsb.\r3. kadar yang diambil harus yang paling kecilnya antara nafaqoh dan upah standar/ujroh mitsil :","part":1,"page":85},{"id":86,"text":"سألة: الجزء الخامس التحليل الموضوعي [ ص: 186 ] ( فرع ) ليس للولي أخذ شيء من مال موليه إن كان غنيا مطلقا فإن كان فقيرا وانقطع بسببه عن كسبه أخذ قدر نفقته عند الرافعي ورجح المصنف أنه يأخذ الأقل منها ومن أجرة مثله وإذا أيسر لم يلزمه بدل ما أخذه . قال الإسنوي هذا في وصي أو أمين أما أب أو جد فيأخذ قدر كفايته اتفاقا سواء الصحيح وغيره واعترض بأنه إن كان مكتسبا لا تجب نفقته ويرد بأن المعتمد أنه لا يكلف الكسب فإن فرض أنه اكتسب مالا يكفيه لزم فرعه تمام كفايته وحينئذ فغاية الأصل هنا أنه اكتسب دون كفايته فيلزم الولد تمامها فاتجه أن له أخذ كفايته البعض في مقابلة عمله والبعض لقرابته وقيس بولي اليتيم فيما ذكر من جمع مالا لفك أسر أي : مثلا فله إن كان فقيرا الأكل منه كذا قيل . والوجه أن يقال فله أقل الأمرين","part":1,"page":86},{"id":87,"text":"[فَرْعٌ لَيْسَ لِلْوَلِيِّ أَخْذُ شَيْءٍ مِنْ مَالِ مُوَلِّيهِ] (قَوْلُهُ لَيْسَ لِلْوَلِيِّ) إلَى قَوْلِهِ وَاعْتَرَضَ فِي النِّهَايَةِ وَالْمُغْنِي إلَّا قَوْلَهُ أَخَذَ إلَى يَأْخُذُ الْأَقَلَّ (قَوْلُهُ مُطْلَقًا) أَيْ انْقَطَعَ بِسَبَبِ مَالِ مُوَلِّيهِ عَنْ الْكَسْبِ أَوْ لَا (قَوْلُهُ قَدْرَ نَفَقَتِهِ) أَيْ: مُؤْنَتِهِ نِهَايَةٌ وَمُغْنِي وَفِي سم عَنْ الْعُبَابِ مِثْلُهُ. (قَوْلُهُ وَرَجَّحَ الْمُصَنِّفُ) اعْتَمَدَهُ النِّهَايَةُ وَالْمُغْنِي أَيْضًا (قَوْلُهُ أَنْ يَأْخُذَ إلَخْ) أَيْ: مِنْ غَيْرِ مُرَاجَعَةِ الْحَاكِمِ مُغْنِي وَنِهَايَةٌ (قَوْلُهُ وَإِذَا أَيْسَرَ) أَيْ: الْوَلِيُّ (قَوْلُهُ هَذَا فِي وَصِيٍّ إلَخْ) هَلْ هَذَا عَلَى إطْلَاقِهِ أَيْ: وَإِنْ لَمْ يَكُونَا مُقْتَدِرَيْنِ عَلَى الْكَسْبِ أَوْ مُقَيَّدٌ بِمَا مَرَّ مِنْ الِانْقِطَاعِ بِسَبَبِ الِاشْتِغَالِ بِمَالِ الْمَوْلَى عَنْ الْكَسْبِ وَالظَّاهِرُ الْأَوَّلُ كَمَا مَرَّ عَنْ الْقَلْيُوبِيِّ (قَوْلُهُ إمَّا أَبٌ أَوْ جَدٌّ) أَيْ: أَوْ أُمٌّ إذَا كَانَتْ وَصِيَّةً وَأَمَّا الْحَاكِمُ فَلَيْسَ لَهُ ذَلِكَ لِعَدَمِ اخْتِصَاصِ وِلَايَتِهِ بِالْمَحْجُورِ عَلَيْهِ وَإِنْ تَضَجَّرَ الْأَبُ وَإِنْ عَلَا فَلَهُ الرَّفْعُ إلَى الْقَاضِي لِيُنَصِّبَ قَيِّمًا بِأُجْرَةٍ مِنْ مَالِ مَحْجُورِهِ وَلَهُ أَنْ يُنَصِّبَ غَيْرَهُ بِهَا بِنَفْسِهِ نِهَايَةٌ وَمُغْنِي (قَوْلُهُ الصَّحِيحُ) أَيْ الْمُقْتَدِرُ عَلَى الْكَسْبِ (قَوْلُهُ وَاعْتُرِضَ) أَيْ التَّعْمِيمُ (قَوْلُهُ بِأَنَّهُ) أَيْ: الْأَصْلَ (قَوْلُهُ مَا لَا يَكْفِيهِ) مَا مَوْصُولَةٌ أَوْ مَوْصُوفَةٌ اهـ سم أَيْ: مِقْدَارٌ لَا يَكْفِيهِ أَيْ: وَإِنْ اكْتَسَبَ مَا يَكْفِيهِ فَلَا يَأْخُذُ شَيْئًا (قَوْلُهُ فَغَايَةُ الْأَصْلِ) أَيْ مِنْ الْأَبِ أَوْ","part":1,"page":87},{"id":88,"text":"الْجَدِّ أَوْ الْأُمِّ بِشَرْطِهَا (قَوْلُهُ الْبَعْضُ إلَخْ) بَدَلٌ مِنْ قَوْلِهِ كِفَايَتُهُ (قَوْلُهُ أَيْ: مَثَلًا) يُدْخِلُ مَنْ جَمَعَ لِخَلَاصِ مَدِينٍ مُعْسِرٍ أَوْ مَظْلُومٍ مُصَادَرٍ وَهُوَ حَسَنٌ مُتَعَيِّنٌ حَثًّا وَتَرْغِيبًا فِي هَذِهِ الْمَكْرُمَةِ اهـ سَيِّدْ عُمَرْ أَقُولُ وَكَذَا يُدْخِلُ مَنْ جَمَعَ لِنَحْوِ بِنَاءِ مَسْجِدٍ (قَوْلُهُ كَذَا قِيلَ) لَعَلَّ قَائِلَهُ بَنَاهُ عَلَى مُصَحِّحِ الرَّافِعِيِّ اهـ سَيِّدْ عُمَرْ (قَوْلُهُ أَقَلُّ الْأَمْرَيْنِ) أَيْ: النَّفَقَةِ وَأُجْرَةِ الْمِثْلِ\rفتح المعين – (ج 3 / ص 88)\r(فرع) ليس لولي أخذ شئ من مال موليه إن كان غنيا مطلقا، فإن كان فقيرا وانقطع بسببه عن كسبه: أخذ قدر نفقته، وإذا أيسر: لم يلزمه بدل ما أخذه. قال الاسنوي: هذا في وصي وأمين، أما أب أو جد، فيأخذ قدر كفايته – اتفاقا – سواء الصحيح وغيره. وقيس بولي اليتيم فيما ذكر: من جمع مالا لفك أسير، أي مثلا، فله إن كان فقيرا الاكل منه.\rإعانة الطالبين – (ج 3 / ص 88)\r(قوله: فيما ذكر) أي في التفصيل المذكور (قوله: أي مثلا) أي أن فك الاسير: ليس بقيد، بل مثله: إصلاح ثغر، أو حفر بئر، أو تربية يتيم (قوله: فله) أي لمن جمع مالا لما ذكر، وهذا بيان لمن ذكر. (وقوله: إن كان فقيرا) أي وانقطع بسببه عن كسبه. وقوله الاكل منه، قال في التحفة بعده: كذا قيل، والوجه أن يقال فله أقل الامرين، أي السابقين، اه\rفتح المعين – (ج 3 / ص 86)\rويتصرف الولي بالمصلحة ويلزمه حفظ ماله، واستنماؤه قدر النفقة، والزكاة، والمؤن، إن أمكنه، وله السفر به في طريق آمن لمقصد آمن برا، لا بحرا، وشراء عقار يكفيه غلته أولى من التجارة، ولا يبيع عقاره إلا لحاجة أو غبطة ظاهرة.\rروضة الطالبين وعمدة المفتين – (ج 2 / ص 54)","part":1,"page":88},{"id":89,"text":"فرع ليس للولي أخذ أجرة ولا نفقة من مال الصبي إن كان كان فقيرا وانقطع بسببه عن الكسب فله أخذ قدر النفقة وفي التعليق أنه يأخذ أقل الأمرين من قدر النفقة وأجرة المثل. قلت: هذا المنقول عن التعليق هو المعروف في أكثر كتب العراقيين ونقله صاحب البيان عن أصحابنا مطلقاً وحكاه هو وغيره عن نص الشافعي رضي الله عنه وحكى الماوردي والشاشي وجهاً أنه يجوز أيضاً للغني أن يأكل بقدر أجرته والصحيح المعروف القطع بأنه لا يجوز للغني مطلقاً والله أعلم.\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/774926495863494\r3187. HUKUM MENGANTAR MAJIKAN NON MUSLIM KEBAKTIAN DI GEREJA\rPERTANYAAN :\r> Muhammad Ali Husaini\rAssalamu'alaikum. Bagaimana hukumnya kita bekerja pada orang non muslim dan setiap mereka ibadah kita ikut ke tempat ibadah mereka ( tapi hanya sebatas mengantar ), contohnya para TKI yang mengantar dan menunnggui majikannya di dalam gereja? ???\rJAWABAN :\r> Ghufron Bkl\rWa alaikumus salaam warohmatullohi wabarokaatuh, mengantar berarti membantu melakukan maksiat, maka berdosa\rاسعاد الرفيق جزء 2 ص 127 ومنها أي من معاصى البدن الاعانة على المعصية أي على معصية من معاصى الله بقول او فعل او غيره ثم ان كانت المعصية كبيرة كانت الاعانة عليها كذالك كما في الزواجر قال فيها وذكري لهذين أي الرضا بها والاعانة عليها باي نوع كان ظاهر معلوم مما سيأتي في الامر بالمعروف والنهي عن المنكر","part":1,"page":89},{"id":90,"text":"“Di antara maksiat tubuh adalah ikut menolong (terlibat) peristiwa maksiat-maksiat yang dimurkai Allah, baik berupa ucapan, perbuatan dll. Bila maksiat tadi tergolong dalam dosa besar, maka dosa yang didapat dari keterlibatannya pun juga besar, seperti dijelaskan dalam kitab Zawajir. Di dalam kitab tersebut Ibn Hajar berkata :” (alasan) saya menyebutkan dua hal diatas, yakni membiarkan maksiat terjadi (Ridlo bi Maksiah) dan terlibat di dalamnya (Ianah alaiha) dengan berbagai macam ragamnya, sudah cukup jelas dan maklum seperti yang akan dijelaskan dalam Bab Amr Ma’ruf –Nahy Munkar”.\rمن أَعاَنَ عَلَى مَعْصِيَةٍ وَلَوْ بِشَطْرِ كَلِمَةٍ كاَنَ شَرِيْكاً فِيْهاَوفى نفس الكتاب اجرة العمل الذى يتعلق بالمعصية حرام والتصدق به منها لايجوز ولايصح إهـ مغني المحتاج 2/337.\r“Barang siapa yang menolong kemaksiyatan walaupun hanya dengan setengah kalimat, maka ia telah terlibat dalam maksiyat tersebut” (al-Hadits)\r> Mbah Jenggot II\rBoleh kerja sama dengan orang kafir tapi makruh selama hanya bekerjasama kalau khidmah hukumnya HARAM.\r- I’anatut Tholibin, Juz 3 Hal 129 :\rيصح استئجار كافر لمسلم، ولو إجارة عين، مع الكراهة، لكن لا يُمكّن من استخدامه مطلقا، لانه لا يجوز خدمه المسلم للكافر أبدا.\r- Nihayatul Muhtaj, Hal 233 :\rاسْتِئْجَارُ كَافِرٍ لِمُسْلِمٍ وَلَوْ إجَارَةَ عَيْنٍ صَحِيحٍ لَكِنَّهَا مَكْرُوهَةٌ ، وَمِنْ ثَمَّ أُجْبِرَ فِيهَا عَلَى إيجَارِهِ لِمُسْلِمٍ وَإِيجَارِ سَفِيهٍ نَفْسَهُ لِمَا لَا يَقْصِدُ مِنْ عَمَلِهِ كَالْحَجِّ لِجَوَازِ تَبَرُّعِهِ بِهِ .\r- Hasyiyah Qalyubi Hal 455 :\rوَأَمَّا خِدْمَةُ الْمُسْلِمِ لِلْكَافِرِ فَحَرَامٌ مُطْلَقًا سَوَاءٌ بِعَقْدٍ أَوْ بِغَيْرِ عَقْدٍ","part":1,"page":90},{"id":91,"text":"www.piss-ktb.com/2012/09/1890-hukum-bekerja-kepada-non-muslim.html\rWallohu a'lam bis showab\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/767820773240733/\r3188. HUKUM MENYEWAKAN BARANG YANG DISEWA\rPERTANYAAN :\r> Zhaviera Ad Dhimyathi\rAssalamu'alaikum.. bagaimana hukumnya menyewakan barang yang disewa ?\rJAWABAN :\r> Ubaid Bin Aziz Hasanan\rWaalaikum salam, menurut madzhab Imam Syafi'i dan Hanbali : boleh apabila barang yang disewa sudah qobd ( sudah ada ditangan pihak penyewa aqadnya sudah selesai) maka boleh bagi pihak penyewa menyewakan kembali barang yang disewa kepada orang lain. Lihat Mughni Ibnnu Qudamah 8/278 :\rفصل : ويجوز للمستأجر أن يؤجر العين المستأجرة إذا قبضها . نص عليه أحمد . وهو قول سعيد بن المسيب ، وابن سيرين ، ومجاهد ، وعكرمة ، وأبي سلمة بن عبد الرحمن ، والنخعي ، والشعبي ، والثوري ، والشافعي وأصحاب الرأي .\rPasal : Boleh bagi pihak penyewa menyewakan kembali apabila barang yang disewa ketika sudah diterima seperti yang di-nash oleh imam ahmad bin hanbal, adapun ini juga pendapatnya said bin al musayyab,ibnu sirin,mujahid ikrimah ,abi salamah bin abdur rahman, nakho'i, sya'bi, at tsauri, imam syafi'i, dan ashab ar aro'yi (ashab dawud ad dhohiri). Wallahu a'lam.\r> Abdullah Afif\rNambah ta'bir dikit , hukumnya boleh jika barang sudah diterima karena ijaroh / sewa menyewa itu seperti jual beli. Lihat Kitab al-Muhadzdzab 1/403 :\rفصل وللمستأجر أن يؤجر العين المستأجرة إذا قبضها لان الإجارة كالبيع وبيع المبيع يجوز بعد القبض فكذلك إجارة المستأجر\rWallaahu A'lam bis showab.\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/773275269361950/\r3191. SENGKETA TANAH DIKLAIM HIBAH","part":1,"page":91},{"id":92,"text":"PERTANYAAN :\r> Nagieb Ahmed Khaleli\rAssalamu alaikum, alhamdulillah, wash sholatu wassalamu 'alaa Rasulillah. Mohon bantuan jawaban. Urgen.\rDISKRIPSI MASALAH :\rSeorang laki-laki (sebut saja namanya Bambang) mendapatkan hak waris dari ibunya (Wati) berupa sebuah rumah yang menurut sepengetahuan pak Bambang juga beberapa saudara dan tetangganya adalah merupakan Hibbah/pemberian dari ayah bu Wati (Mbah Hamdun) kepada bu Wati. Namun pengetahuan ini tidak didukung adanya saksi yang mengetahui secara langsung proses akad hibbah tersebut berlangsung, tapi banyak indikasi-indikasi yang mengarah pada bahwa rumah itu dihibbahkan pada bu wati. karena semenjak rumah itu ditempati bu Wati segala perbaikan dan keperluan-keperluan perawatan rumah itu ditanggung oleh dia dan seluruh anak mbah Hamdun pada saat itu tidak ada yang protes atau memperkarakan status rumah, sehingga dari sinilah pak Bambang dll berkesimpulan rumah itu dulunya berstatus hak milik bu Wati melalui jalur hibbah.\rSelang berpuluh-puluh tahun setelah rumah itu ditinggali oleh keluarga pak Bambang, tiba-tiba ada salah satu sepupu pak Bambang yang juga masih termasuk cucunya mbah Hamdun menggugat agar rumah itu diwaris dengan alasan dia tidak percaya adanya hibbah tersebut karena tidak ada saksi di sana. Sementara itu dia sendiri juga tidak punya saksi yang menjelaskan bahwa sebenarnya tidak ada hibbah yang dilakukan oleh mbah Hamdun kepada bu Wati. Pertanyaan:\r1. Bagaimanakah dengan gugatan sepupu pak bambang ini? Apakah bisa diterima dalam peradilan islam atau sebaliknya?\r2. Jika bisa, bagaimana proses hukumnya?","part":1,"page":92},{"id":93,"text":"3. Apakah pengakuan hibbah yang diutarakan pak bambang harus disertai adanya saksi atau cukup dengan sumpah saja, mengingat dia adalah yang menguasai rumah itu saat ini / shohibul yad ?\rMohon jawabannya, jika masalah ini sudah pernah dibahas di grup ini tolong bantu sundulkan link nya. Sebelumnya syukron katsir, jazakumulloh ahsanal jaza'.\rJAWABAN :\rNo. 1 & 2. Dalam fiqh bab Qodlo atau Peradilan sistem islam. Jika ada rumah yang menjadi sengketa. Maka yang berhak atas rumah tersebut adalah siapa yang menempati rumahnya dengan catatan ia mau bersumpah bahwa yang ia tempati adalah haknya.\r- AL-BAJURI juz 2 hal.347-348 (Cet. Thoha Putra) :\rفان كان لكل منهما بينة رجحت بينة صاحب اليد ..... الخ ....\rواذا تداعيا اي اثنان شيئا في يد أحدهما فالقول قول صاحب اليد بيمينه ان الذي في يده له\r( قوله شيئا ) اي عينا وقوله في يد أحدهما اي ولا بينة لواحد منهما\r( قوله فالقول قول صاحب اليد بيمينه ) اي لأن اليد من الأسباب المرجحة وقوله ان الذي في يده له اي ان الشيء الذي في يده ملك له\r- GHOYATU TALKHISHIL MAROD hal.280 (Cet. Al-Haromain) :\rاليد كما قال السبكي حجة شرعية فاذا كان لأحد المتداعيين يد علي أرض مثلا فهو مدعي عليه وتسميه الفقهاء داخلا ومن لا يد له مدع وتسميه خارجا فاذا ادعي الخارج علي الداخل انه يملك الأرض المدعاة فاجابه صاحب اليد بالإنكار وأنها ملكه فحيث لا بينة فالقول قول صاحب اليد بيمينه لأن اليد تدل علي الملك دلالة ظاهرة\rShohibul yad cukup disumpah atas jalur kepemilikannya, maka bila shohibul yad berani bersumpah atas kepemilikannya, maka hakim menetapkan barang yang didakwa / digugat atas namanya, dan gugur gugatan dari penggugat. Wallahu a'lam.","part":1,"page":93},{"id":94,"text":"فصل: ]الحكم إذا ادعى على رجل عينا في يده أو دينا في ذمته فأ نكره و? بينه له [\rوإذا ادعى على رجل عينا في يده أو دينا في ذمته فأ نكره و? بينه له فالقول قول المنكر مع يمينه لما روى ابن عباس رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ]لو أن الناس أعطوا بدعواهم ?دعى ناس دماء رجال وأموالهم ولكن اليمين على المدعى عليه [ رواه البخاري ومسلم وقال النبي صلى الله عليه وسلم في قصة الحضرمي والكندي: ]شاهداك أو يمينه [ و?ن ا?صل براءة ذمته من الدين والظاهر من اليد الملك وإذا تداعيا عينا في أيديهما و? بينة حلفا وجعلت بينهما نصفين لما روى أبو موسى ا?شعري: أذ رجلين تداعيا دابة ليس ?حدهما بينة فجعلها رسول الله صلى الله عليه وسلم بينهم رواه مسلم\rNo. 3. Cukup dengan cara bersumpah jika antara pak Bambang dan si Penggugat tidak punya saksi. Dan harus pakai saksi jika si Penggugatnya punya saksi.\r- GHOYATU TALKHISHIL MAROD hal.281 (Cet. Al-Haromain) :\rفلو أقام الخارج بينة شهدت له بالملك ثم أقام الداخل بينة شهدت له ان اليد يده وملكه فمذهبنا تقديم بينة الداخل لترجيحها باليد .\rفلو اقام الخارج بينة ان يد الداخل غاصبة للارض او ممن ترتبت يده علي يده سمعت وقدمت علي بينة صاحب اليد لان عليها زيادة علم .\rفلو اقام الداخل بينة انها ملكه وان يده ثابتة عليها بحق قدمت علي بينة الغصب .... الخ ....","part":1,"page":94},{"id":95,"text":"Dalam Kitab Jual-Beli di Bulughul Maram-Ibnu Hajar Al-Ashqolani dijelaskan : Dari Jabir RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: \"Umra (memberikan rumah kepada orang lain dengan ucapan: Aku memberikan rumah ini seumur hidupmu) itu menjadi milik bagi orang yang diberi.\" [Muttafaq Alaihi]. Menurut riwayat Muslim: \"Jagalah hartamu dan janganlah menghamburkannya, karena barangsiapa ber-umra maka ia menjadi milik orang yang diberi umra selama ia hidup dan mati, dan menjadi milik keturunannya.\" Umra yang diperbolehkan oleh Rasulullah SAW ialah bila ia berkata: Ia milikmu dan keturunanmu. Jika ia berkata: Ia milikmu selama engkau hidup, maka pemberian itu akan kembali kepada pemiliknya. Menurut Riwayat Abu Dawud dan Nasa'i: \"Janganlah memberi ruqba (memberi rumah kepada orang lain dengan ucapan: Jika aku mati sebelummu, maka rumah ini menjadi milikmu dan jika engkau mati sebelumku, maka rumah ini kembali padaku) dan umra karena barangsiapa menerima ruqba dan umra maka ia menjadi milik ahli warisnya.\". Wallahu A'lam.\rMUJAWWIB : Kudung Khantil Harsandi Muhammad, Ical Rizaldysantrialit, Kumbang Gurun\rLINK ASAL:\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/711439172212227/\rwww.fb.com/notes/781806705175473\r3225. HUKUM KANDANG HEWAN MENGGANGGU TETANGGA\rPERTANYAAN :\r> Nopi Darto\rAssalamu'alaikum.. misalkan, A . B . C.. Mereka Adalah bertetangga yang jaraknya cukup dekat... A punya sapi/kuda/ kerbau Dengan kandang yang dekat dengan rumah B.C. .. Sehingga bau kotoran tersebut tak jarang tercium oleh B C dan mereka merasa cukup tidak nyaman, cukup terganggu..\r1. apa yang mesti B C lakukan(selain pindah)..?","part":1,"page":95},{"id":96,"text":"2. seandainya, B C sudah menegur si A supaya kandang sapi/kuda dipindahkan ketempat lain tetapi si A tetap tak mau memindahkannya Padahal Si A masih mempunyai tempat yang lain yang bisa digunakan sebagai kandang sapi/kuda, Dalam hal ini Apakah si A berdosa..?\r3. sedangkan si A terpaksa ga mau memindahkan kandang kuda/sapi karenaga ada tempat lain,yang seperti ini bagaimana hukumnya..? Terimakasih banyak...\rJAWABAN :\r> Ghufron Bkl\rSi A menggunakah haqnya secara wajar maka hal tsb masih di tolelir,artinya tidak apa-apa. Akan tetapi bila si A mempergunakan haqnya tsb sampai melampaui batas kewajaran / kebiasaan dan ternyata sampai merugikan orang lain maka hukumnya tidak boleh dan harus bertanggung jawab bila berdampak negatif pada orang lain :\rحاشيتان قليوبى وعميرة للشيخ احمد سلامة القليوبي واحمد البرلسي عميرة ج 3 ص 91 ط / دار احياء الكتب العربي ( ويتصرف كل واحد ) من الملاك ( في ملكه على العادة ) ولا ضمان عليه إن أفضى إلى تلف ( فإن تعدى ) العادة ( ضمن ) ما تعدى فيه.\rتحفة المحتاج في شرح المنهاج 6/210 :","part":1,"page":96},{"id":97,"text":"( ويتصرف كل واحد ) من الملاك ( في ملكه على العادة ) وإن أضر جاره كأن سقط بسبب حفره المعتاد جدار جاره أو تغير بحشه بئره ؛ لأن المنع من ذلك ضرر لا جابر له ( فإن تعدى ) في تصرفه بملكه العادة ( ضمن ) ما تولد منه قطعا أو ظنا قويا كأن شهد به خبيران كما هو ظاهر لتقصيره ( والأصح أنه يجوز أن يتخذ داره المحفوفة بمساكن حماما وإصطبلا ) وطاحونا وفرنا ومدبغة ( وحانوته في البزازين حانوت حداد ) وقصار ( إذا احتاط وأحكم الجدران ) إحكاما يليق بما يقصده بحيث يندر تولد خلل منه في أبنية الجار ؛ لأن في منعه إضرارا به . واختار جمع المنع من كل مؤذ لم يعتد والروياني أنه لا يمنع إلا إن ظهر منه قصد التعنت والفساد وأجرى ذلك في نحو إطالة البناء وأفهم المتن أنه يمنع مما الغالب فيه الإخلال بنحو حائط الجار كدق عنيف يزعجها وحبس ماء بملكه تسري نداوته إليها قال الزركشي والحاصل منع ما يضر الملك دون المالك ا هـ . واعترض بما مر في قولنا ولا يمنع من حفر بئر بملكه ويرد بأن ذاك في حفر معتاد وما هنا في تصرف غير معتاد فتأمله ، ثم [ ص: 210 ] رأيت بعضهم نقل ذلك عن الأصحاب فقال قال أئمتنا وكل من الملاك يتصرف في ملكه على العادة ولا ضمان إذا أفضى إلى تلف ومن قال يمنع مما يضر الملك دون المالك محله في تصرف يخالف فيه العادة لقولهم لو حفر بملكه بالوعة أفسدت ماء بئر جاره أو بئرا نقصت ماءها لم يضمن ما لم يخالف العادة في توسعة البئر أو تقريبها من الجدار أو تكن الأرض خوارة تنهار إذا لم تطو فلم يطوها فيضمن في هذه كلها ويمنع منها لتقصيره ، ولو حفر بئرا في موات فحفر آخر بئرا بقربها فنقص ماء بئر الأول منع الثاني منه ، قيل والفرق ظاهر ا هـ وكأنه أن الأول استحق حريما لبئره قبل حفر الثاني فمنع لوقوع حفره في حريم ملك غيره ولا كذلك فيما مر ولو اهتز الجدار بدقه وانكسر ما علق فيه ضمنه إن سقط حالة الضرب وإلا فلا قاله العراقيون وقال القاضي","part":1,"page":97},{"id":98,"text":"لا يضمن مطلقا ويظهر على الأول أن سقوطه عقب الضرب بحيث ينسب إليه عادة كسقوطه حالة الضرب بل قد يقال إن مرادهم بحالة الضرب ما يشمل ذلك ( تنبيه ) ينبغي أن يستثنى من قولهم لا يمنع مما يضر المالك ما لو تولد من الرائحة مبيح تيمم كمرض فإن الذي يظهر أنه إن غلب تولده وإيذاؤه المذكور منع منه وإلا فلا .\rWALLOHU A'LAM\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/780031622019648/\r3233. HUKUM UANG HALAL YANG BERCAMPUR DENGAN UANG HARAM\rPERTANYAAN :\r> Ishaq Nuruddin\rAssalamualaikum Wr Wb. Uang haram dicampur uang halal jadi uang halal apa haram ? Terima kasih.\rJAWABAN :\r> Ghufron Bkl\rWa alaikumus salaam warohmatulloh, uang yang halal tetap dihukumi halal dengan cara mengambil seukuran yang halal, lihat kitab Asbah Wan nadhoir hal 75 :\rالأشباه والنظائر : ص : 75\rوفي فتاوى ابن الصلاح : لو اختلط درهم حلال بدراهم حرام . ولم يتميز فطريقه : أن يعزل قدر الحرام بنية القسمة . ويتصرف في الباقي ، والذي عزله إن علم صاحبه سلمه إليه ، وإلا تصدق به عنه ، وذكر مثله النووي وقال : اتفق أصحابنا ، ونصوص الشافعي على مثله فيما إذا غصب زيتا أو حنطة . وخلط بمثله ، قالوا : يدفع إليه من المختلط قدر حقه . ويحل الباقي للغاصب .\rDalam kitab fatwanya Ibnu Sholah : jika bercampur antara dirham halal dengan dirham haram serta tidak bisa dibedakan maka jalannya adalah dengan dipisah perkiraan ukuran yang haram dengan niat membagi dan selebihnya boleh digunakan, sedangkan yang dipisah jika diketahui pemiliknya maka diserahkan padanya jika tdk diketahui maka disedekahkan atas namanya, hal yang serupa juga disebutkan oleh Imam Nawawi.","part":1,"page":98},{"id":99,"text":"Beliau berkata : sahabat-sahabat kami telah seppakat dan juga nash-nashnya Imam Syafi'i bahwa jika seseorang menggososb minyak zaitun atau gandum dan mencampurnya dengan yang semisalnya , mereka (ashab) berkata : diserahkan padanya (yang dighosob) dari percampuran tersebut seukuran haknya orang yang dighosob dan selebihnya halal bagi orang yang menggosob. Wallohu a'lam bis showab.\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/765533826802761/\r3264. PEKERJAAN PALING AFDHOL\rPERTANYAAN :\r> Kecapi Warung Araq\rAssalamu'alaikum.. Mohon bimbingannya dari para ahli ilmu 'semoga allah mengasihi kalian Dalam mencari pekerjaan dalam ilmu fiqih yang paling unggul bertani atau berdagang ? Mohon penjelasannya\rJAWABAN :\r> Kumbang Gurun\rWa alaikumus salaam warohmatulloh, pendapat yang unggul pekerjaan paling afdol adalah berdagang karena 9/10 rizki ada pada dagang, dan di dalam dagang ada jihad yaitu menakar dan menimbang, sedang para pedagang yang jujur di himpun bersama-sama orang-orang sidiqun \"( jujur ). [ Ihya ulùmiddin ].\r> Ghufron Bkl\rMenurut mayoritas ulama' pekerjaan yang paling utama adalah berdagang :\rاعانة الطالبين 2/355 :\r(فائدة) أفضل المكاسب الزراعة، ثم الصناعة، ثم التجارة. قال جمع: هي أفضلها\r(قوله: أفضل المكاسب: الزراعة)\rأي لأنها أقرب إلى التوكل، ولأن الحاجة إليها أعم. ولا يرزوه أحد - أي ينقصه - إلا كان له صدقة \". وفي رواية: \" لا يغرس مسلم غرسا، ولا يزرع زرعا، فيأكل منه إنسان ولا دابة، ولا شئ إلا ينقصه إلا ان ما أكل منه له صدقة وما سرق منهصدقة أعم. ولا يرزؤه أحد أي ينقصه إلا كان له صدقة.\r(قوله: ثم الصناعة)","part":1,"page":99},{"id":100,"text":"أي ثم الأفضل بعد الزراعة الصناعة. لأن الكسب يحصل فيها بكد اليمين، وورد: من بات كالا من عمله بات مغفورا له. وورد أيضا: ما أكل أحد طعاما قط خيرا من أن يأكل من عمل يده، وإن نبي الله داود عليه السلام كان يأكل من عمل يده.\r(قوله: ثم التجارة)\rأي ثم الأفضل بعد الزراعة والصناعة: التجارة، لأن الصحابة كانوا يتجرون ويأكلون منها. (قوله: قال جمع) مقابل لما قبله. وقوله: هي أي التجارة. وقوله: أفضلها أي المكاسب. وقيل أفضلها الصناعة.\r> Umar Paroq\rMeninjau pada Kebutuhan, bisa berdagang, bisa bertani, bisa peruduksi\rعمدة القاري شرح صحيح البخاري - (ج 18 / ص 429)\rوروى الحاكم في ( المستدرك ) من حديث أبي بردة قال سئل رسول الله أي الكسب أطيب قال عمل الرجل بيده وكل بيع مبرور وقال هذا حديث صحيح الإسناد وقد يقال هذا أطيب من حيث الحل وذاك أفضل من حيث الانتفاع العام فهو نفع متعد إلى غيره وإذا كان كذلك فينبغي أن يختلف الحال في ذلك باختلاف حاجة الناس فحيث كان الناس محتاجين إلى الأقوات أكثر كانت الزراعة أفضل للتوسعة على الناس وحيث كانوا محتاجين إلى المتجر لانقطاع الطرق كانت التجارة أفضل وحيث كانوا محتاجين إلى الصنائع أشد كانت الصنعة أفضل وهذا حسن\rWallohu a'lam bis showab\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/785831598106317/\r3317. WAKILNYA WAKIL DAN UPAH BAGI WAKIL\rPERTANYAAN :\rAssalamualaekum..wr..wb... Masalah bab muamalah wakalah langsung saja..pertanyaan nya :\r1. Apa kah si wakil boleh mewakilkan kepada org lain lagi,,\rsedangkan dia status nya jadi wakil dari orang yg minta wakilkan.\r2. Apakah boleh meminta atau mendapat upah dari yg minta wakilkan dalam masalah perwakilan..\rMohon jawaban dan referinsinya dengan jelas..terimaksih wassalam... ( Insan)\rJAWABAN :","part":1,"page":100},{"id":101,"text":"Wa alaikumus salaam warohmatulloh. Jika si wakil tidak sanggup mengerjakannya atau ada uzdur syar'i hukumnya boleh wakil mewakilkan lagi kepada orang lain dan harus meminta izin kepada muwakkil. Wakalah dengan upah itu boleh tapi hukumnya seperti ijaroh. Wallohu a'lam bis showab.\rفتح الرحمن يشرح زبد ابن رسلان\rو ليس لوكيل أن يوكل بلا إذن إن تأتى منه ما وكل فيه و إن قال له الموكل : افعل فيه ما شئت , أو كل ما تصنعه فيه جائز, و إن لم يتأت لكونه لا يحسنه أو لا يليق به فله التوكيل على الصحيح .\rنهاية الزين ص 250\rأما الوكالة بجعل فلا بد فيها من القبول فورا لفظا ولا فرق بين كون التوكيل بصيغة الأمر أو غيره كما أفاده الشبراملسي خلافا لابن حجر وذلك فيما إذا كان العمل الموكل فيه مضبوطا لتكون الوكالة حينئذ إجارة ...\rMUJAWWIB : Irul Sinambela, Ady Abd Rahim\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/notes/797335943622549\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/permalink/784637794892364/\r3344. HUKUM MENJADI PNS DENGAN SUAP DAN STATUS GAJINYA\r( Hasil Bahtsul Masail NU Jawa Timur 2004 Di Ponpes Darussalam Blokagung Banyuwangi )\rDeskripsi Masalah :\rDibeberapa daerah ada penerimaan calon PNS yang dilaksnakan dengan cara tes tulis dan tes lesan, akan tetapi apabila ingin diterima harus membayar 45 sampai 60juta rupiah bagi mereka yung berijazah SLTA, dan 75 sampai 90 juta rupiah bagi mereka yang berijazah S1. Lebih parah lagi melibatkan sebagian anggota DPRD yang ada didaerah tersebut dan semua itu sudah menjadi rahasia umum didaerah itu.\rPertanyaan :\ra. Apa hukum memberi dan menerima uang tersebut, tidak termasuk risywah ?","part":1,"page":101},{"id":102,"text":"b. Bagaimana hukum hasil gaji pegawai negeri yang pada saat penerimaan ia memberikan sejumlah uang (menyogok) ?\rJawaban :\ra.Jika yang memberi itu orang yang berhak untuk menjadi PNS atau tidak menyakiti / merugikan sesama muslim yang juga berhak, maka memberi itu boleh, sedang yang menerima hukumnya haram. Namun jika umtuk semata-mata agar diterima hajatnya, padahal dia bukan ahlinya maka dikatagorikan risywah sehingga yang memberi maupun yang menerima hukumnya haram.\rb. Hasil pegawai negeri sipil (PNS) kalau memang dia bekerja sesuai dengan yang ditentukan dan dia memang bisa melaksanakan, maka hukumnya boleh dan halal, namun apabila dia (PNS) bekerja tidak sesuai tugasnya, maka gaji yang diterimanya hukumnya tidak boleh/haram. Jadi tentang hukum suap dan gaji tidak terkait (berdiri sendiri).\rReferensi :\r1. Nihayatuz Zain, Hal : 370\rوقبول الرشوة حرام وهي ما يبذل للقاضي ليحكم بغير الحق أو ليمتنع من الحكم بالحق وإعطاؤها كذلك لأنه إعانة على معصية أما لو رشي ليحكم بالحق جاز الدفع وإن كان يحرم على القاضي الأخذ على الحكم مطلقا أي سواء أعطي من بيت المال أم لا ويجوز للقاضي أخذ الأجرة على الحكم لأنه شغله عن القيام بحقه\r2. Raudlah al Thalibin, Juz : 11 Hal : 144","part":1,"page":102},{"id":103,"text":"فرع قد ذكرنا أن الرشوة حرام مطلقا والهدية جائزة في بعض فيطلب الفرق بين حقيقتيهما مع أن الباذل راض فيهما والفرق من وجهين أحدهما ذكره ابن كج أن الرشوة هي التي يشرط على قابلها الحكم بغير الحق أو الامتناع عن الحكم بحق والهدية هي العطية المطلقة والثاني قال الغزالي في الإحياء المال إما يبذل لغرض آجل فهو قربة وصدقة وإما لعاجل وهو إما مال فهو هبة بشرط ثواب أو لتوقع ثواب وإما عمل فإن كان عملا محرما أو واجبا متعينا فهو رشوة وإن كان مباحا فإجارة أو جعالة وإما للتقرب والتودد إلى المبذول له فإن كان بمجرد نفسه فهدية وإن كان ليتوسل بجاهه إلى أغراض ومقاصد فإن كان جاهه بالعلم أو النسب فهو هدية وإن كان بالقضاء والعمل فهو رشوة\r3. Is’adur Rofiq, Juz : 2 Hal : 100\r(و)منها(أخذ الرشوة)ولوبحق (واعطاؤها)بباطل , ومثلهما السعىفيهما بين الراشىوالمرتشىقال تعالى – ولاتأكلوا أموالكم بينكم بالباطل وتدلوا بها الىالحكام – الأية. قال المفسرون : ليس المراد الأكل خاصة , ولكن لما كان هو المقصود الأعظم من الأموال خصه والمراد من الادلاء فى الآية الاسراع بالخصوصة فىالأموال , وقد لعن رسول الله صلىالله عليه وسلم الراشىوالمرتشىوالرائش -الى ان قال- فمن اعطى قاضيا أوحاكما رشوة أو أهدى اليه هدية فان كان ليحكم له بباطل أو ليتوصل بها لنيل مالا يستحقه أو لأذية مسلم فسق الراشى والمهدى بالإعطاء والمرتشى والمهدى اليه بالاخذ والرائش بالسعى , وان لم يقع حكم منه بعد ذلك أو ليحكم له بحق أو لدفع ظلم أو لينال ما يستحقه فسق الآخذ فقط ولم يأثم المعطى لاضطراره للتوصل لحق بأى طريق كانقضاءه إنما نفذ للضرورة ولا كذلك المال اه بجيرمي\r4. I’anatuttholibin, Juz : 2 Hal : 95","part":1,"page":103},{"id":104,"text":"وعبارة المغنى مع الأصل فإن باع من حرم عليه البيع صح بيعه وكذا سائر عقوده لأن النهي لمعنى خارج عن العقد أي وهو التشاغل عن صلاتها فلم يمنع الصحة كالصلاة في الدار المغصوبة اه\r5. Nihayatul Muhtaj, Juz : 5 Hal : 291\rوماجرت به العادة من جاكمية على ذلك فليس من باب الإجارة وانما هومن باب الارزاق والإحسان والمسامحة بخلاف الإجارة فانهامن باب المعاوضة\r6. Al Munjid, Hal : 102\rالجاكمية ج جاكميات والجومك ج جوامك : مرتب خدام الدولة من العسكرية والمملكية\r7. Hamisy I’anatuttholibin, Juz : 2 Hal : 214","part":1,"page":104},{"id":105,"text":"قوله فإن ولى سلطان أي مطلقا ذا شوكة كان أم لا بأن حبس أو أسر ولم يخلع فإن أحكامه تنفذ قوله ولو كافرا لم يذكر هذه الغاية في التحفة ولا في النهاية ولا غيرهما وهي مشكلة إذ السلطان يشترط فيه أن يكون مسلما وأما الكافر فلا تصح سلطنته إمامته ولو تغلب ولو أخرها عن قوله أو ذو شوكة وجعلها غاية له لأنه ممكن أن يكون كافرا أو عن أهل وجعلها غاية له وتكون بالنسبة للثاني للرد على الأذرعي القائل بعدم نفوذ تولية الكافر القضاء لكان أولىتأمل قوله أو ذو شوكة غيره السلطان قوله في بلد متعلق بمحذوف حال أي حال كون ذي الشوكة في بلد أي ناحية وقوله بأن انحصرت قوتها أي البلدة فيه أي ذي الشوكة والباء لتصوير كونه له شوكة في بلده وعبارة التحفة والنهاية بأن يكون بناحية انقطع غوث السلطان عنها ولم يرجعوا إلا إليه اه أهل مفعول ولىقوله كمقلد الخ تمثيل لغير الأهل قوله أي مع علمه أي المولي بكسر اللام سلطانا أو ذا شوكة وقوله بنحو فسقه أي المولى بفتح اللام قوله وإلا الخ أي وإن لم يعلم به وقوله ولو علم فسقه لم يوله الواو للحال أي والحال أنه لو كان يعلم بفسقه لم يوله وقوله فالظاهر الخ جواب إن الشرطية المدغمة في لا النافية وقوله كما جزم به شيخنا أي في فتح الجواد قوله وكذا لو زاد الخ أي وكذا لا ينفذ حكمه لو زاد فسقه بأن كان يشرب الخمر في الجمعة مرة فصار يشرب على خلاف العادة قوله أو ارتكب مفسقا آخر أي بأن كان يزني فصار يزني ويشرب الخمر قوله على تردد فيه أي فيما بعد كذا ممن زاد فسقه أو ارتكب مفسقا آخر قوله وجزم بعضهم بنفوذ توليته أي الفاسق مطلقاوقوله وإن عالم بفسقه هذا هو الفارق بين ما جزم به بعضهم وبين ما ذكره قبل قوله وكعبد الخ معطوف على قوله كمقلد قوله نفذ ما فعله أي المولى سلطانا أو ذا شوكة قوله من التولية بيان لماقوله وإن كان الخ غاية في نفوذ التولية أي تنفذ التولية وإن كان هناك أي في الناحية المولى الأهل مجتهد","part":1,"page":105},{"id":106,"text":"عدل قوله على المعتمد متعلق بنفذ قوله فينفذ قضاء مفرع على نفوذ التولية قوله للضرورة قال البلقيني يستفاد من ذلك أنه لو زالت شوكة من ولاه بموت أو نحوه انعزل لزوال الضرورة وأنه لو أخذ شيئا من بيت المال على ولاية القضاء أو جوامك في نظر الأوقاف استرد منه\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/notes/805732122782931\r3362. MENGELOLA HARTA SESUAI TUNTUNAN SYARI'AT\rPERTANYAAN :\r> Arif Rachmad\rAssalamu'alaikum : ada HADITS 185 : MEMBANGUN BANGUNAN sbb :\rمن بنى بناء أكثر مما يحتاج إليه كان عليه وبالا يوم القيامة .\rMAN BANAA BINAA-AN AKTSARO MIMMAA YAHTAAJU ILAIHI KAANA 'ALAIHI WABAALAN YAUMAL QIYAAMAH.\rBarangsiapa membangun sebuah bangunan melebihi keperluannya, maka kelak pada hari kiamat, bangunan tersebut akan menjadi mala petaka baginya. HR. Baihaqi dalam Mukhtarul Ahadits : 1177.\rJAWABAN :\r> Ical Rizaldysantrialit\rWa'alaikum salam Wr Wb. Dalam mengelola harta sesuai syari'at, Hadits tersebut menjelaskan bahwa kita sebagai umat muslim tidak diperbolehkan berlebih-lebihan dalam hal apapun karena Allah SWT tidak menyukai sesuatu yang berlebih-lebihan terutama dalam hal mengkonsumsi dan mengelola harta.\rIslam telah mengajarkan kita untuk senantiasa hidup sederhana dan sesuai dengan kebutuhan. Seperti yang termaktud dalam QS Al-Araf : 31 : “ Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang belebihan\".","part":1,"page":106},{"id":107,"text":"Islam mengajarkan sikap seimbang dalam berbagai aspek kehidupan, begitu juga dalam mengeluarkan harta, yaitu tidak berlebihan dan kikir. Sebagai seorang muslim kita juga harus bisa mengatur pengeluaran dan mengutamakan pembelian barang pokok sehingga sesuai dengan tujuan syariat.\rDalam memenuhi kelangsungan hidupnya, manusia memiliki tiga kebutuhan pokok yaitu:\r1.…Kebutuhan Primer , yaitu nafkah-nafkah pokok bagi manusia yang diperkirakan dapat mewujudkan lima tujuan syariat (memelihara jiwa, akal, agama, keturunan, dan kehormatan). Tanpa kebutuhan primer , hidup manusia tidak akan berlngsung. Kebutuhan ini meliputi kebutuhan akan makan, minum, tempat tinggal, kesehataan, rasa aman, pengetahuan dan penikahan.\r2.…Kebutuhan sekunder, yaitu kebutuhan manusia untuk memudahkan kehidupan, jauh dari kesulitan. Kebutuhan ini tida perlu dipenuhi sebelum kebutuhan primer terpenuhi. Kebutuhan inipu masih berhubunga dengan lima syariat.\r3.…Kebutuhan tersier, yaitu kebutuhan yang dapat menciptakan kebaikan dan kesejahteraan dalam kehidupan manusia. Pemenuhan kebutuhan ini bergantung pada kebutuhan primer dan sekunder. Biasanya kebutuhan ini berupa bang yang mewah.","part":1,"page":107},{"id":108,"text":"Harta dalam Islam pada hakikatnya adalah amanah (titipan) dari Allah SWT. Sedangkan, pemilik mutlak terhadap segala sesuatu yang ada di muka bumi ini, termasuk harta benda, adalah Allah SWT. Kepemilikan oleh manusia hanya bersifat relatif, sebatas untuk melaksanakan amanah mengelola dan memanfaatkan sesuai dengan ketentuan-Nya. Oleh karena itu kita diwajibkan untuk selalu bersyukur atas segala nikmatNya dan mengelola harta untuk berbagi terhadap orang yang membutuhkan sertamenggunkan harta sesuai dengan syariat islam.\r- Syu'bul Iman :\r(حديث مرفوع) حَدَّثَنَا أَبُو مُحَمَّدٍ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ الأَصْبَهَانِيُّ ، أَنَا أَبُو إِسْحَاقَ إِبْرَاهِيمُ بْنُ فِرَاسٍ الْمَكِّيُّ ، نَا جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ السُّوسِيُّ ، نَا كَثِيرُ بْنُ عُبَيْدٍ ، نَا بَقِيَّةُ بْنُ الْوَلِيدِ ، عَنِ الضَّحَّاكِ بْنِ حَمْزَةَ ، عَنْ مَيْمُونٍ ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : \" مَنْ بَنَى بِنَاءً أَكْثَرَ مِمَّا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ كَانَ عَلَيْهِ وَبَالا يَوْمَ الْقِيَامَةِ \" .\r- Faidhul Qodir :\r(من بنى بناء أكثر مما يحتاج إليه كان عليه وبالا يوم القيامة) ومن ثم مات رسول الله صلى الله عليه وسلم ولم يضع لبنة على لبنة ولا قصبة على قصبة وقيل في قوله تعالى * (تلك الدار الآخرة نجعلها للذين لا يريدون علوا في الأرض ولا فسادا) [ القصص : 83 ] أنه الرياسة والتطاول في البناء.","part":1,"page":108},{"id":109,"text":"قال القونوي : اعلم أن صور الأعمال أعراض جواهرها مقاصد العمال وعلومهم واعتقاداتهم ومتعلقات هممهم وهذا الحديث وإن كان من حيث الصيغة مطلقا فالأحوال والقرائن تخصصه وذلك أن بناء المسجد والربط ومواضع التعبد يؤجر الباني عليها اتفاقا فالمراد هنا إنما هو البناء الذي لم يقصد صاحبه إلا التنزه والانفساح والاستراحة والرياء والسمعة وإذا كان كذلك فهمة الباني وقصده لا يتجاوز هذا العالم فلا يكون لبنائه ثمرة ولا نتيجة في الآخرة لأنه لم يقصد بما فعله أمرا وراء هذه الدار ففعله عرض زائل لا ثمرة له ولا أجر.\r- (هب عن أنس) وفيه بقية بن الوليد والكلام فيه مشهور والضحاك بن حمزة قال الذهبي في الضعفاء : قال النسائي : غير ثقة.\r8568 - (من بنى) بناء (فوق ما يكفيه) لنفسه وأهله على الوجه اللائق المتعارف لأمثاله (كلف يوم القيامة أن يحمله على عنقه) أي وليس بحامل فهو تكليف تعجيز كما مر نظيره.\r(تنبيه) قال حجة الإسلام : من أبواب الشيطان ووساوسه حب التزين في البناء والثياب والأثاث فإن الشيطان إذا رأى ذلك غالبا على قلب الإنسان باض فيه وفرخ فلا يزال يدعوه إلى عمارة الدار وتزيين سقوفها وحيطانها وتوسيع أبنيتها ويدعوه إلى التزين بالأثواب والدواب ويسخره فيها طول عمره وإذا أوقعه فيها استغنى عن معاودته فإن بعض ذلك يجره لبعض فلا يزال يدرجه من شئ إلى شئ حتى يساق إليه أجله فيموت وهو في سبيل الشيطان واتباع الهوى.\r- (طب حل عن ابن مسعود) قال في الميزان : هذا حديث منكر وقال الحافظ العراقي : إسناده فيه لين وانقطاع.\rhttp://islamport.com/w/srh/Web/1227/3759.htm\r- Kasyful Khofa` :\r- من بنى بناء فوق ما يكفيه كلف يوم القيامة أن يحمله على عاتقه من سبع أرضين.\rرواه البيهقي في شعبه وأبو نعيم عن ابن مسعود رفعه، وعزاه في اللآلئ من طريق أبي نعيم عن ابن مسعود مرفوعا بلفظ ما تقدم مسقطا من سبع أرضين،","part":1,"page":109},{"id":110,"text":"وللطبراني وعند أبو نعيم عن أنس مرفوعا بلفظ إذا بنى الرجل المسلم سبعة أو تسعة أذرع ناداه مناد من السماء أين تذهب يا أفسق الفاسقين. وفي لفظ عنه من بنى فوق عشرة أذرع ناداه مناد من السماء يا عدو الله إلى أين تريد.\rوقال في المقاصد وله شواهد: منها حديث يؤجر المرء في كل نفقه إلا ما كان في الماء والطين، وحديث الأمر أعجل من ذلك قاله صلى الله عليه وسلم لمن رآه من أصحابه يصلح خصا له. وقال النجم وعند البيهقي عن أنس من بنى بناء أكثر مما يحتاج إليه كان عليه وبالا يوم القيامة ورواه أبو داود عنه بإسناد جيد خرج رسول الله صلى الله عليه وسلم يوما ونحن معه فرأى قبة مشرفة فقال ما هذه قال أصحابه هذه لفلان رجل من الأنصار فسكت وحملها في نفسه حتى إذا جاء صاحبها إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم سلم عليه في الناس فأعرض عنه صنع ذلك مرارا حتى عرف الرجل الغضب فيه والإعراض عنه فشكا ذلك إلى الصحابة فقال والله إني لأنكِرُ رسول الله صلى الله عليه وسلم قالوا خرج فرأى قبتك فرجع الرجل إلى قبته فهدمها حتى سواها بالأرض فخرج رسول الله صلى الله عليه وسلم ذات يوم فلم يرها فقال ما فعلت القبة قالوا شكا إلينا صاحبها إعراضك عنه فأخبرناه فهدمها فقال أما إن كل بناء وبال على صاحبه إلا ما لا. أي ما لا بد للإنسان منه مما يكنه من الحر والبرد والعدو. وقد أطال النجم في إيراده بألفاظ وطرق مختلفة.\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/797276643628479/\r3397. PENGHASILAN DARI JUAL BELI ANJING, UPAH PELACURAN DAN UPAH PERDUKUNAN\rPERTANYAAN :\r> Irvan Samara Umroh\rDari Abu Mas'u al-Anshory Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam melarang mengambil uang penjualan anjing, uang pelacuran, dan upah pertenungan. Muttafaq Alaihi.\rJAWABAN :\r> Ical Rizaldysantrialit","part":1,"page":110},{"id":111,"text":"Bismillahirrohmanirrohiim. Selain akadnya tidak sah dan batil, uang yang dihasilkan dari penjualan itu juga dihukumi harom. Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan Ibnu Mas'ud ;\rأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ ثَمَنِ الكَلْبِ، وَمَهْرِ البَغِيِّ، وَحُلْوَانِ الكَاهِنِ\r“Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam melarang hasil penjualan anjing, penghasilan pelacur dan upah perdukunan.” (Shohih Bukhori, no.2282 dan Shohih Muslim, no.1567).\rPendapat yang menyatakan bahwa jual beli benda najis hukumnya tidak sah adalah pendapat madzhab Syafi'i, sedangkan menurut madzhab Hanafi jual beli benda najis itu juga tidak sah, namun ulama'-ulama' madzhab Hanafi mengecualikan kotoran hewan yang bisa dimanfaatkan, seperti kotoran sapi yang biasa dijadikan pupuk untuk menyuburkan tanah atau tanaman, Semua ashhab madzhab hanafi sepakat bahwa jual beli kotoran hewan tersebut diperbolehkan.\rApabila kita mengacu pada pendapat madzhab Syafi'i yang menyatakan bahwa jual beli tersebut tidak sah, ulama'-ulama' madzhab syafi'i memberikan jalan keluar yaitu dengan cara sighot (ucapan) akadnya bukan akad jual beli tapi naqlul yad (perpindahan tangan) dengan cara nuzul. Caranya ; rang yang memiliki barang mengatakan : \"Aku gugurkan hakku atas benda ini(menyebutkan benda) dengan ganti sekian (menyebutkan harga)\", lalu orang yang menerima mengucapkan : \"Saya terima\".\rIbarot :\r- Al-Muhadzdzab, Juz : 2 Hal : 9-10 :\rباب ما يجوز بيعه وما لا يجوز","part":1,"page":111},{"id":112,"text":"الأعيان ضربان: نجس وطاهر فأما النجس فعلى ضربين: نجس في نفسه ونجس بملاقاة نجاسة فأما النجس في نفسه فلا يجوز بيعه وذلك مثل الكلب والخنزير والخمر والسرجين وما أشبه ذلك من النجاسات والأصل فيه ما روى جابر رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: \"إن الله تعالى حرم بيع الخمر والميتة والخنزير والأصنام1\" وروى ابن مسعود وأبو هريرة أن رسول الله صلي الله عليه وسلم \"نهى عن ثمن الكلب\" فنص على الكلب والخنزير والخمر والميتة وقسنا عليها سائر الأعيان النجسة\r- Al-Majmu', Juz : 9 Hal ; 230-231 :\rفرع : بيع سرجين البهائم المأكولة وغيرها وذرق الحمام باطل وثمنه حرام هذا مذهبنا وقال أبو حنيفة يجوز بيع السرجين لاتفاق أهل الأمصار في جميع الأعصار على بيعه من غير إنكار ولأنه يجوز الانتفاع به فجاز بيعه كسائر الأشياء. واحتج أصحابنا بحديث ابن عباس السابق إن النبي صلى الله عليه وسلم قال (ان لله إذا حرم على قوم شيئا حرم عليهم ثمنه) وهو حديث صحيح كما سبق بيانه قريبا وهذا عام إلا ما خرج بدليل كالحمار والعبد وغيرهما ولأنه نجس العين فلم يجز بيعه كالعذرة فإنهم وافقوا على بطلان بيعها مع أنه ينتفع بها (وأما) الجواب عما احتجوا به فهو ما أجاب به الماوردى أن بيعه إنما يفعله الجهلة والارزال فلا يكون ذلك حجة في دين الإسلام (وأما) قولهم إنه منتفع به فأشبه غيره فالفرق أن هذا نجس بخلاف غيره\r- Hasyiyah Al-Bajuri Ala Fathul Qorib, Juz : 1 Hal : 532 :\rو يجوز نقل اليد عن النجس بالدراهم كما في النزول عن الوظائف و طريقه ان يقول المستحق له اسقطت حقي من هذا بكذا فيقول الاخر قبلت\r- Qurrotul Ain Bi Fatawi Isma'il az-Zain, Hal : 116-117 :\rسؤال : ماحكم بيع الاشياء النجسة كالسرجين ونحوه ؟","part":1,"page":112},{"id":113,"text":"الجواب : والله الموفق للصواب أن الاشياء النجسة كالسرجين وغيره مما ينتفع به ولو بعد تطهيره كجلدالميتة قبل الدبغ لاتسمى مملوكة وانما يكون فيها لمن هي في يده نوع اختصاص فلا يجوز بيعها لان شرط المبيع ان يكون طاهرا ولكن يجوز التنازل عن الاختصاص على شيء معلوم كان يقول من هي في يده لآخر نزلت لك عن اختصاص عن هذا السرجين او عن جلد الميتة او عن كلب الصيد مثلا على كذا وكذا فيقول قبلت ولايجوز بلفظ البيع. والله سبحانه وتعالى أعلم\r- Al-Fiqhul Islami Wa Adillatuhu, Juz : 5 Hal : 3431 :\rبيع النجس والمتنجس\rقال الحنفية: لا ينعقد بيع الخمر والخنزير والميتة والدم؛ لأنها ليست بمال أصلاً. ويكره بيع العَذِرة، ولا بأس ببيع السرقين أو السرجين: وهو (الزبل) وبيع البعر، لأنه منتفع به، لأنه يلقى في الأرض لاستكثار الريع، فكان مالاً، والمال محل للبيع\rhttp://www.fikihkontemporer.com\rKeterangan senada dalam Bulughul Marom :\r- وَعَنْ أَبِي مَسْعُودٍ - رضي الله عنه - - أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - نَهَى عَنْ ثَمَنِ اَلْكَلْبِ, وَمَهْرِ الْبَغِيِّ, وَحُلْوَانِ اَلْكَاهِنِ - مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ (1) .","part":1,"page":113},{"id":114,"text":"785 - وَعَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اَللَّهِ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا-; - أَنَّهُ كَانَ [ يَسِيرُ ] عَلَى جَمَلٍ لَهُ أَعْيَا. فَأَرَادَ أَنْ يُسَيِّبَهُ. قَالَ: فَلَحِقَنِي اَلنَّبِيُّ - صلى الله عليه وسلم - فَدَعَا لِي, وَضَرَبَهُ، فَسَارَ سَيْراً لَمْ يَسِرْ مِثْلَهُ, قَالَ: \" بِعْنِيهِ بِوُقِيَّةٍ \" قُلْتُ: لَا. ثُمَّ قَالَ: \" بِعْنِيهِ \" فَبِعْتُهُ بِوُقِيَّةٍ, وَاشْتَرَطْتُ حُمْلَانَهُ إِلَى أَهْلِي, فَلَمَّا بَلَغْتُ أَتَيْتُهُ بِالْجَمَلِ, فَنَقَدَنِي ثَمَنَهُ, ثُمَّ رَجَعْتُ فَأَرْسَلَ فِي أَثَرِي. فَقَالَ: \" أَتُرَانِي مَاكَسْتُكَ لِآخُذَ جَمَلَكَ? خُذْ جَمَلَكَ وَدَرَاهِمَكَ. فَهُوَ لَكْ - مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ , وَهَذَا اَلسِّيَاقُ لِمُسْلِمٍ (2) .\r__________\r(1) - صحيح. رواه البخاري ( 2237 )، ومسلم ( 1567 ). قلت: وفي الحديث تحريم ثلاثة أشياء: الأول: تحريم ثمن الكلب، وهو عامّ يشمل كل كلب، كما هو قول مالك، والشافعي. الثاني: تحريم مهر البغيّ، وهو ما تأخذه الزانية على الزنا. الثالث: تحريم حُلْوان الكاهن، وهو ما يأخذه الكاهن على كهانته، وهو حرام بالإجماع لما فيه من أخذ العِوض على أمر باطل، وفي معناه التنجيم، والضرب بالحصى، وغير ذلك مما يتعاطاه العرّافون من استطلاع الغيب.\r(2) - صحيح. رواه البخاري ( 2861 ) مطوّلاً، وفي غير هذا الموطن مختصراً. ورواه مسلم ( 3 / 1221 / رقم 109 ).\r- Riyadhus Sholihin :\r1673- وعن أبي مسعود البدري رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أن رَسُول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم نهى عن ثمن الكلب ومهر البغي وحلوان الكاهن. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.\r- Syarah Nawawi 'Ala Muslim :","part":1,"page":114},{"id":115,"text":"An-Nawawi, yang merupakan salah satu ulama Mazhab Syafi'i, mengatakan, \"Dengan menimbang: adanya larangan untuk menerima uang hasil penjualan anjing, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menilai penjualan anjing adalah sejelek-jelek sumber pendapatan, serta Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menilai hal tersebut sebagai sumber penghasilan yang jelek, maka itu semua merupakan dalil tentang diharamkannya jual beli anjing. Transaksi jual beli anjing adalah transaksi yang tidak sah, sehingga uang yang didapatkan bukanlah uang yang halal. Tidak ada kewajiban ganti rugi atas orang yang membunuh anjing, baik anjing yang dibunuh adalah anjing yang terlatih untuk berburu ataupun tidak, baik anjing tersebut adalah anjing yang boleh dipelihara ataupun tidak. Inilah pendapat mayoritas ulama.\" (Syarah An-Nawawi untuk Shahih Muslim\rوأما النهي عن ثمن الكلب وكونه من شر الكسب وكونه خبيثا فيدل على تحريم بيعه ، وأنه لا يصح بيعه ، ولا يحل ثمنه ، ولا قيمة على متلفه سواء كان معلما أم لا ، وسواء كان مما يجوز اقتناؤه أم لا ، وبهذا قال جماهير العلماء منهم أبو هريرة والحسن البصري وربيعة والأوزاعي والحكم وحماد والشافعي وأحمد وداود وابن المنذر وغيرهم . وقال أبو حنيفة : يصح بيع الكلاب التي فيها منفعة ، وتجب القيمة على متلفها . وحكى ابن المنذر عن جابر وعطاء والنخعي جواز بيع كلب الصيد دون غيره . وعن مالك روايات إحداها لا يجوز بيعه ، ولكن تجب القيمة على متلفه . والثانية يصح بيعه ، وتجب القيمة . والثالثة لا يصح ، ولا تجب القيمة على متلفه .","part":1,"page":115},{"id":116,"text":"دليل الجمهور هذه الأحاديث . وأما الأحاديث الواردة في النهي عن ثمن الكلب إلا كلب صيد وفي رواية ( إلا كلبا ضريا ) وأن عثمان غرم إنسانا ثمن كلب قتله عشرين بعيرا ، وعن ابن عمرو بن العاص التغريم في إتلافه فكلها ضعيفة باتفاق أئمة الحديث ، وقد أوضحتها في شرح المهذب في باب ما يجوز بيعه .\r- Ihkamul Ihkam Syarah Umdatul Ahkam (ibnu Daqiqil 'Ied) :\r263 - الحديث التاسع : عن أبي مسعود الأنصاري رضي الله عنه { أن رسول الله صلى الله عليه وسلم نهى عن ثمن الكلب ، ومهر البغي ، وحلوان الكاهن . }\rالحاشية رقم: 1\rاختلفوا في بيع الكلب المعلم ، فمن يرى نجاسة الكلب - وهو الشافعي - يمنع من بيعه مطلقا ; لأن علة المنع قائمة في المعلم وغيره . ومن يرى بطهارته : اختلفوا في بيع المعلم منه ; لأن علة المنع غير عامة عند هؤلاء . وقد ورد في بيع المعلم منه حديث في ثبوته بحث ، يحال على علم الحديث . وأما \" مهر البغي \" فهو ما تعطاه على الزنا . وسمي مهرا على سبيل المجاز . أو استعمالا للوضع اللغوي ويجوز أن يكون من مجاز التشبيه ، إن لم يكن المهر \" في الوضع : ما يقابل به النكاح . \" وحلوان الكاهن \" هو ما يعطاه على كهانته . والإجماع قائم على تحريم هذين لما في ذلك من بذل الأعواض فيما لا يجوز مقابلته بالعوض . أما الزنا : فظاهر . وأما الكهانة : فبطلانها وأخذ العوض عنها : من باب أكل المال بالباطل . وفي معناها كل ما يمنع منه الشرع من الرجم بالغيب .\r- Al Lu`lu`wal Marjani fima ittafaqo Syaikhoni :\r.تحريم ثمن الكلب وحلوان الكاهن ومهر البغيّ:\r1010- حديث أَبِي مَسْعُودٍ الأَنْصَارِيِّ رضي الله عنه، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهى عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ وَمَهْرِ الْبَغِيِّ وَحُلْوَانِ الْكَاهِنِ.\r[أخرجه البخاري في: 34 كتاب البيوع: 113 باب ثمن الكلب].\rWallahu a'lam\rLINK ASAL :","part":1,"page":116},{"id":117,"text":"www.fb.com/groups/piss.ktb/801802289842581/\r3424. HUKUM MENJADI PROGRAMER PERUSAHAAN FINANSIAL RIBA\rPERTANYAAN :\r> Fidi Wincoko Putro\rAssalamu'alaikum wr wb. Saya ini seorang programmer komputer, suatu ketika saya diminta untuk membuatkan suatu program untuk membantu perusahaan finansial dimana saya tahu bahwa sistem keuangan dalam peminjaman dana yang digunakan oleh perusahaan tersebut mengandung riba. Saya mau bertanya, bagaimanakah hukumnya membuat sesuatu yang mendukung atau membantu praktek keuangan yang mengandung riba? Mohon bantuannya, terimakasih. Wassalamu'alaikum wr wb.\rJAWABAN :\r> Ical Rizaldysantrialit\rWa'alaikum salam Wr Wb. Hadits Riwayat Imam Muslim :\rقال رسول الله -صلى الله عليه وسلم- : لعن الله آكل الربا وموكله وكاتبه وشاهده - رواه مسلم.\rRasulullaah SAW bersabda: “Allah melaknat para pemakan riba, orang yang memberi riba, pencatat transaksi riba dan orang yang menjadi saksinya.” (HR. Muslim).\rHadits Riwayat Imam Muslim dari Jabir bin ‘Abdillaah:\rعن جابر بن عبد الله رضي الله عنهما قال : لعن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- آكل الربا ، و موكله ، و كاتبه ، و شاهديه ، و قال : هم سواء - رواه مسلم\rDari Jabir bin ‘Abdullah r.a.: “Rasulullaah SAW melaknat para pemakan riba, orang yang memberikan riba, pencatat transaksi riba, dan dua orang yang menjadi saksi riba.” Dan Rasulullaah SAW bersabda: “Mereka semua sama.” (HR. Muslim).","part":1,"page":117},{"id":118,"text":"Penjelasan al-‘Allamah al-Syaikh Muhammad Nawawi bin ‘Umar al-Jawiy dalam Kitab Bahjatul Wasaa’il bi Syarh al-Masaa’il dan kitab Mirqaatu Shu’uud al-Tashdiiq fii Syarh Sullam al-Tawfiiq ilaa Mahabbatillaahi ‘alaa al-Tahqiiq – Penerbit: Daar al-Kutub al-Islaamiyyah:\rSyaikh Nawawi ketika menjelaskan pasal al-Manhiyyaat min al-Buyuu’ (Hal-Hal Terlarang dalam Jual Beli) mengatakan:\rو أما معاصي الجوارح : أي الأعضاء السبعة (فمعاصي البطن مثل أكل الربا) - فصل : في المنهيات من البيوع\r“Adapun maksiat dari perbuatan yang tampak lahir: yakni tujuh anggota badan (maksiat perut diantaranya adalah memakan harta riba).”\rSyaikh Nawawi pun menjelaskan hadits di atas:\r(و قد لعن الله ورسوله آكل الربا وكل من أعان على أكله) فمعنى قوله ((آكله)) أي آخذه، ومعنى ((موكله)) أي معطيه، ومعنى ((كاتبه)) أي كاتب الوثيقة، ومعنى ((شاهده)) أي حاضره وإن لم يستشهد. كذا قاله الشرقاوي\r“Dan sungguh Allah dan Rasul-Nya telah melaknat para pemakan riba dan setiap orang yang mendukung perbuatan tersebut. Maka makna sabdanya: (Para pemakan riba) yakni yang mengambil riba, (pemberi riba) yakni yang memberi riba, (pencatat riba) yakni orang yang mencatat perjanjian transaksi ribawi, (saksi riba) yakni orang yang hadir -menyaksikan transaksi ribawi- meski ia tidak diminta menjadi saksi. Begitulah pendapat Imam al-Syarqawiy.”\rوالأولان أشد إثمًا من الآخرين، لأن الواقع منهما مجرد الإقرار على المعصية بخلاف الأولين ، أفاد ذلك الشرقاوي.","part":1,"page":118},{"id":119,"text":"“Dan dua golongan di awal (pemakan dan pemberi riba) paling besar (dosanya) daripada yang lainnya, karena pada kenyataannya kedua golongan ini secara langsung berikrar sepakat dalam kemaksiatan lain halnya dengan dua golongan setelahnya (pencatat dan saksi transaksi ribawi).”\rآكل الربا : هو من يأخذه وإن لم يأكل، وإنما خُصَّ الأكلُ لأنه أعظم أنواع الانتفاع\rPemakan riba (آكل الربا): orang yang mengambil harta riba meski ia tidak memakannya, dan penggunaan lafazh khusus “memakan” karena istilah ini merupakan jenis pemanfaatan paling besar.\rموكل الربا : معطيه لمن يأخذه وإن لم يكن الآخِذُ سيأكلُ منه، وعبّرَ بالأكل لأنه الأغلبُ والأعظم.\r\"Pemberi riba (موكل الربا): orang yang memberikan riba, meski orang yang mengambil harta riba darinya tidak memakan hasil riba tersebut. Digunakan kata “makan” karena ini merupakan bentuk perbuatan yang paling sering dan paling banyak dilakukan.\"\rكاتب الربا : من يكتب عقدَ المبايعة بين الطرفين\r\"Pencatat riba (كاتب الربا)\rAdalah orang yang menuliskan perjanjian transaksi antara pihak-pihak yang bertransaksi.\"\rشاهد الربا : هما اللذان شهِدا على عقد الربا\r\"Saksi riba (شاهد الربا): orang yang menjadi saksi atas transaksi riba.\"\rهم سواء : مشتركون في الإثم وإن كانوا مختلفين في قَدْره\r\"Mereka semua sama (هم سواء): bersekutu dalam dosa meski kadar dosanya berbeda-beda.\"\rKesimpulannya menjadi Programer perusahaan finansial riba sama dengan Katibu Al-riba (penulis riba).\r- Hasyiyah bujairomi :\r( قوله : آكل الربا ) بفتح الهمزة الممدودة ، وكسر الكاف أي : متناوله بأي وجه كان وخص الأكل ؛ لأنه المقصود الأعظم من المال برماوي .\r( قوله : وموكله ) أي : دافعه .","part":1,"page":119},{"id":120,"text":"( قوله : وكاتبه ) أي : الذي يكتب الوثيقة بين المرابيين برماوي .\r( قوله : وشاهده ) بالإفراد أي : حاضره ولو غير شاهد وفي شرح الروض كشرح مسلم وشاهديه بالتثنية ، وهما اللذان يشهدان على العقد إذا علما ذلك أي : بأنه ربا وأنه باطل ومع ذلك فإثم الكاتب والشاهد أخف من إثم الآكل والموكل ؛ لأن الحاصل من كل منهما الإقرار فقط على المعصية ، ومحل إثمهما إذا رضيا به ، وأقرا عليه ، أو لم يرضيا ولم ينهيا مع قدرتهما على النهي ع ش مع زيادة\rhttp://islamport.com/d/2/shf/1/20/1334.html\r- Fathul baari :\rوإنما يدخل فيه من أعان صاحب الربا بكتابته وشهادته فينزل منزلة من قال : إنما البيع مثل الربا وأيضا فقد تضمن حديث عائشة نزول آخر البقرة ومن جملة ما فيه قوله تعالى : وأحل الله البيع وحرم الربا وفيه : إذا تداينتم بدين إلى أجل مسمى فاكتبوه وفيه : وأشهدوا إذا تبايعتم فأمر بالكتابة والإشهاد في البيع الذي أحله ، فأفهم النهي عن الكتابة والإشهاد في الربا الذي حرمه ، ولعل البخاري أشار إلى ما ورد في الكاتب والشاهد صريحا ، فعند مسلم وغيره من حديث جابر : لعن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - آكل الربا وموكله وكاتبه وشاهديه وقال : هم في الإثم سواء ولأصحاب السنن وصححه ابن خزيمة من طريق عبد الرحمن بن عبد الله بن مسعود عن أبيه : لعن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - آكل الربا وموكله وشاهده وكاتبه وفي رواية الترمذي بالتثنية ، وفي رواية النسائي من وجه آخر عن ابن مسعود : آكل الربا وموكله وشاهداه وكاتبه ملعونون على لسان محمد صلى الله عليه وسلم .\rhttp://library.islamweb.net/newlibrary/display_book.php\r- Mirqotul mafatih :","part":1,"page":120},{"id":121,"text":"( عن جابر قال : لعن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - آكل الربا ) ، أي : آخذه وإن لم يأكل ، وإنما خص بالأكل لأنه أعظم أنواع الانتفاع كما قال - تعالى : إن الذين يأكلون أموال اليتامى ظلما ( ومؤكله ) : بهمزة ويبدل أي : معطيه لمن يأخذه ، وإن لم يأكل منه نظرا إلى أن الأكل هو الأغلب أو الأعظم كما تقدم ، قال الخطابي : سوى رسول الله - صلى الله عليه وسلم - بين آكل الربا وموكله ، إذ كل لا يتوصل إلى أكله إلا بمعاونته ومشاركته إياه ، فهما شريكان في الإثم كما كانا شريكين في الفعل ، وإن كان أحدهما مغتبطا بفعله لم يستفضله من البيع ، والآخر منهضما لما يلحقه من النقص ، ولله عز وجل حدود فلا تتجاوز وقت الوجود من الربح والعدم وعند العسر واليسر ، والضرورة لا تلحقه بوجه في أن يوكله الربا ، لأنه قد يجد السبيل إلى أن يتوصل إلى حاجة بوجه من وجوه المعاملة والمبايعة ونحوها قال الطيبي - رحمه الله : لعل هذا الاضطرار يلحق بموكل فينبغي أن يحترز عن صريح الربا فيثبت بوجه من وجوه المبايعة لقوله - تعالى : وأحل الله البيع وحرم الربا لكن مع وجل وخوف شديد عسى الله أن يتجاوز عنه ولا كذلك الآكل ( وكاتبه وشاهديه ) : قال النووي : فيه تصريح بتحريم كتابة المترابيين والشهادة عليهما وبتحريم الإعانة على الباطل ( وقال ) ، أي : النبي - صلى الله عليه وسلم - ( هم سواء ) ، أي : في أصل الإثم ، وإن كانوا مختلفين في قدره ( رواه مسلم ) وأخرجه هو أيضا وأبو داود والترمذي وابن ماجه من حديث ابن مسعود . ولم يذكر مسلم عنه سوى \" آكل الربا وموكله \" وروى الطبراني عنه ولفظه : \" لعن الله الربا وآكله وموكله وكاتبه وشاهده وهم يعلمون \" .\rhttp://library.islamweb.net/newlibrary/display_book.php\r> Santriwati Dumay\rاسعاد الرفيق جزء 2 ص 127","part":1,"page":121},{"id":122,"text":"ومنها أي من معاصى البدن الاعانة على المعصية أي على معصية من معاصى الله بقول او فعل او غيره ثم ان كانت المعصية كبيرة كانت الاعانة عليها كذالك كما في الزواجر قال فيها وذكري لهذين أي الرضا بها والاعانة عليها باي نوع كان ظاهر معلوم مما سيأتي في الامر بالمعروف والنهي عن المنكر\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/817666528256157/\r3443. PEMBERIAN HARUS DIGUNAKAN SESUAI TUJUAN PEMBERI ?\rPERTANYAAN :\r> Sholahuddin Al Ayubi\rAssalamu'alaikum. Pertanyaan titipan, di sebuah mesjid sedang dibangun Tempat berwuduk yang biaya pembangunannya ditanggung oleh pak Tono kseluruhannya, tapi sebelum selesai ada seorang jama'ah sebut saja pak Hasan bersedeqah 1 sak semen tapi berupa uang. Pertanyaannya bolehkah uang Sedekah yang tujuan awalnya untuk 1 sak semen kita alihkan untuk Perangkat Masjid yang lain, contohnya Semisal Sapu, pel lantai atau lainnya. Mengingat seluruh biaya ditanggung oleh pak Tono? Terimakasih.\rJAWABAN :\r> Nur Hasyim S Anam II\rWa alaikumus salaam warohmatuloh.tidak boleh, pemberian itu harus digunakan sesuai dengan perintah/tujuan si pemberi. oleh karena itu jika tujuan pemberi menyumbang untuk beli semen maka harus dibelikan semen. Wallohu a'lam bis showab.\r- Hasyiyah albujayrami alal manhaj :\rولو قال : خذ هذا واشتر لك به كذا تعين ما لم يرد التبسط أي أو تدل قرينة حاله عليه كما مر ؛ لأن القرينة محكمة عليه ، ومن ثم قالوا لو أعطى فقيرا درهما بنية أن يغسل به ثوبه أي وقد دلت قرينة على ما ذكر تعين ا هـ ع ش\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/796623743693769/\rwww.fb.com/notes/828601420496001\r3507. UANG JASA PARKIR\rPERTANYAAN :\r> Sanusi Uci","part":1,"page":122},{"id":123,"text":"Assalamualaikum, apa status dari uang parkiran motor dan lain....?\rJAWABAN :\r> Ghufron Bkl\rPada dasarnya dalam akad Wadi'ah juga mengenal istilah upah atau ongkos, artinya diperbolehkan untuk mengambil ongkos atas jasa tersebut. Namun karena dalam kasus di atas tidak disertai adanya transaksi atau pensyaratan harus membayar upah, maka bagi pengguna jasa parkir tidak harus membayar. Sedangkan uang yang diberikan tersebut lebih tepatnya dikatakan shadaqoh/hibah.\rReferensi:\rالموسوعة الفقهية الجزء 93 صحـ : 3مكتبة الشاملةالإصدار الثاني","part":1,"page":123},{"id":124,"text":"(وَالثَّالِثَةُ) أَنَّهُ عَقْدُ تَبَرُّعٍ إِذْ لاَ خِلاَفَ بَيْنَ الْفُقَهَاءِ فِيْ أَنَّ اْلأَصْلَ فِي الْوَدِيْعَةِ أَنَّهَا مِنْ عُقُوْدِ التَّبَرُّعَاتِ الَّتِيْ تَقُوْمُ عَلَى أَسَاسِ الرِّفْقِ وَالْمَعُوْنَةِ وَتَنْفِيْسِ الْكُرْبَةِ وَقَضَاءِ الْحَاجَةِ فَلاَ تَسْتَوْجِبُ مِنَ الْمُوْدِعِ بَدَلاً عَنْ حِفْظِ الْوَدِيْعَةِ خِلاَفًا لِعُقُوْدِ الْمُعَاوَضَاتِ الْمَالِيَّةِ الَّتِيْ تَقُوْمُ عَلَى أَسَاسِ إِنْشَاءِ حُقُوْقٍ وَالْتِزَامَاتٍ مَالِيَّةٍ مُتَقَابَلَةٍ بَيْنَ الْعَاقِدَيْنِ غَيْرَ أَنَّهُمُ اخْتَلَفُوْا فِيْ مَشْرُوْعِيَّةِ اشْتِرَاطِ عِوَضٍ فِيْهَا لِلْوَدِيْعِ مُقَابِلَ حِفْظِهِ لِلْوَدِيْعَةِ عَلَى ثَلاَثَةِ أَقْوَالٍ وَذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ إِلَى أَنَّهُ يَجُوْزُ لِلْوَدِيْعِ أَنْ يَشْتَرِطَ أَجْرًا عَلَى حِفْظِ الْوَدِيْعَةِ وَاعْتَبَرُوا شَرْطَهُ صَحِيْحًا مُلْزَمًا. وَقَدْ جَاءَ فِي الْمَادَّةِ مِنْ مُرْشِدِ الْحَيْرَانِ لَيْسَ لِلْمُسْتَوْدِعِ أَنْ يَأْخُذَ أُجْرَةً عَلَى حِفْظِ الْوَدِيْعَةِ مَا لَمْ يَشْتَرِطْ ذَلِكَ فِي الْعَقْدِ بَلْ إِنَّ الشَّافِعِيَّةَ نَصُّوْا عَلَى حَقِّ الْوَدِيْعِ فِيْ أَخْذِ اْلأُجْرَةِ عَلَى الْحِفْظِ وَالْحِرْزِ حَيْثُ يَكُوْنُ قَبُوْلُ الْوَدِيْعَةِ وَاجِبًا عَلَى الْوَدِيْعِ لِتَعَيُّنِهِ قَالُوْا ِلأَنَّ اْلأَصَحَّ جَوَازُ أَخْذِ اْلأُجْرَةِ عَلَى الْوَاجِبِ الْعَيْنِيِّ كَإِنْقَاذِ الْغَرِيْقِ وَتَعْلِيْمِ الْفَاتِحَةِ وَنَحْوِ ذَلِكَ اهـ\rحاشية الجمل الجزء 3 صحـ : 629 مكتبة دار الفكر","part":1,"page":124},{"id":125,"text":"وَلَوْ عَمِلَ لِغَيْرِهِ عَمَلًا مِنْ غَيْرِ اسْتِئْجَارٍ وَلاَ جَعَالَةٍ فَدَفَعَ إلَيْهِ مَالًا عَلَى ظَنِّ وُجُوبِهِ عَلَيْهِ لَمْ يَحِلَّ لِلْعَامِلِ وَعَلَيْهِ أَنْ يُعْلِمَهُ أَوَّلاً أَنَّهُ لاَ يَجِبُ عَلَيْهِ الْبَذْلُ ثُمَّ الْمَقْبُولُ هِبَةٌ لَوْ أَرَادَ الدَّافِعُ أَنْ يَهَبَهُ مِنْهُ وَلَوْ عَلِمَ أَنَّهُ لاَ يَجِبُ عَلَيْهِ الْبَذْلُ وَدَفَعَهُ إلَيْهِ هَدِيَّةً حَلّ اهـ\r> Nur Hasyim S Anam\rBisa sewa, bisa ujroh\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/838452489510894/\r3614. MENERIMA PEMBAYARAN HUTANG DARI UANG HARAM\rPERTANYAAN :\r> Heru Zimon\rBagaimana hukumnya jika seseorang yang berlainan agama meminjam uang kita lalu dia mengembalikanya uang itu hasil dari uang haram, misalkan togel atau hasil dari mencuri, padahal uang yang kita pinjamkan tadi kita cari dengan jalan halal... Mohon pencerahanya...\rJAWABAN :\r> Mas Hamzah\rKalau sudah jelas hasil uang haram maka haram diterima pak, beda lagi jika belum jelas maka boleh menerimanya.\r- kitab fatawa ibnu hajar :\rوسئل ـ رضى الله تعالى عنه ـ بما لفظه لا يخفى ما عليه اليهود والنصارى من بيع الخمور وتعاطي الربا وغير ذلك فهل تحل معاملتهم وهداياهم وتحرم معاملة من أكثر ماله حرام أو لا؟.فأجاب نفعنا الله به بقوله: حيث لم يتحقق حراماً معيناً جازت معاملتهم وقبول هديتهم فإنه قبل هداياهم أما إذا تحقق كان رأي ذمياً يبيع خمراً وقبض ثمنه وأعطاه للمسلم عن دين أو غيره فإنه لا يحل للمسلم قبوله كما قاله الشيخان،\rhttp://islamport.com/w/ftw/Web/1127/459.htm\rWALLAHU A'LAM\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/868796713143138/\r3624. HUKUM MENYAMARATAKAN PEMBERIAN KEPADA ANAK\rPERTANYAAN:\r> Chu Andini\rالسلام عليكم...","part":1,"page":125},{"id":126,"text":"- Hukum orang tua tidak menyamaratakan dalam pemberian kepada anaknya menurut madzhab syafii? pendapatnya siapa? bagaimana istinbat hukumnya? Bagaimana dengan hadis ini :\rاتقوا الله واعدلوا في اولادكم. بخاري و المسلم\rJAWABAN :\r> Raden Walanhtaga KaligataTumiladinata\rWa'alaikum salam wr.wb, dalam kondisi normal (kebutuhannya sama) maka nilai pemberian dianjurkan (bahkan ada yang mewajibkan) harus sama. Kecuali bila nilai kebutuhannya beda, ya boleh-boleh saja dibedakan dan itu tentunya lebih adil\rتَتِمَّة يسن للوالد وَإِن علا الْعدْل فِي عَطِيَّة أَوْلَاده بِأَن يُسَوِّي بَين الذّكر وَالْأُنْثَى لخَبر البُخَارِيّ اتَّقوا الله واعدلوا بَين أَوْلَادكُم وَيكرهُ تَركه لهَذَا الْخَبَر\rوَمحل الْكَرَاهَة عِنْد الاسْتوَاء فِي الْحَاجة وَعدمهَا وَإِلَّا فَلَا كَرَاهَة وعَلى ذَلِك يحمل تَفْضِيل الصَّحَابَة لِأَن الصّديق فضل السيدة عَائِشَة على غَيرهَا من أَوْلَاده وَفضل عمر ابْنه عَاصِمًا بِشَيْء وَفضل عبد الله بن عمر بعض أَوْلَاده على بَعضهم رَضِي الله تَعَالَى عَنْهُم أَجْمَعِينَ\rالكتاب: الإقناع في حل ألفاظ أبي شجاع\rالمؤلف: شمس الدين، محمد بن أحمد الخطيب الشربيني الشافعي (المتوفى: 977هـ)\r> Ghufron Bkl","part":1,"page":126},{"id":127,"text":"فقد قال الامام الشوكاني في (نيل الاوطار) ج6ص9: (ذهب الجمهور الى ان التسوية بين الاولادمستحبة) وذهب البخاري وطاوس والثوري واحمد واسحق وبعض المالكية الى انها واجبة. قال في الفتح والمشهور عن هؤلاء ان التفضيل باطل. -الى ان قال الشوكاني-: فالحق ان التسوية واجبة وان التفضيل محرم انتهى بنوع تصرف. وقال السيد سابق في (فقه السنة) ج3ص544: (لايحل لاي شخص ان يفضل بعض ابنائه على بعض في العطاء لما في ذلك من زرع العداوة وقطع الصلاة التي أمر الله بها ان توصل وقد ذهب الى هذا الامام احمد واسحق والثوري وطاوس وبعض المالكية وقال: ان التفضيل بين الاولاد باطل وجور ويجب على فاعله ابطاله وقد صرح البخاري بهذا -الى ان قال: وذهب الاحناف والشافعي ومالك والجمهور من العلماء الى ان التسوية بين الابناء مستحبة والتفضيل مكروه) وان فعل ذلك نفذ) انتهى وقد علق معلق على قول السيد سابق بأن الامام احمد على حرمة تفضيل بعض الاولاد ما لم يكن هناك داع فأذا كان هناك داع او مقتض للتفضيل فأنه لامانع منه. قال في المغني: فأن خص بعضهم لمعنى يقتضى تخصيصه مثل اختصاصه بحاجة او زمانة او عمى او كثرة عائلة او اشتغاله بالعلم او نحوه من الفضائل او صرف عطية عن بعض ولده لفسقه او بدعته او لكونه يستعين بما يأخذه على معصية الله او ينفقه فيها فقد روي عن احمد مايدل على جواز ذلك لقوله في تخصيص بعضهم بالوقوف لابأس به اذا كان لحاجة واكرهه على سبيل الاثرة والعطبة في معناه) انتهى ماقاله المعلق.\rوقال العلامة زين الدين المليباري في (فتح المعين) ج3ص153: (ويكره لمعط تفضيل في عطية فروع وان سفلوا ولو الاحفاد مع وجود الاولاد على الاوجه سواء كانت تلك العطية هبة ام صدقة ام وقفاً او اصولٍ وان بعدوا سواء الذكر وغيره الا لتفاوة حاجة او فضل على الاوجه قال جمع يحرم) انتهى..","part":1,"page":127},{"id":128,"text":"وقال السيد البكري في (اعانة الطالبين) على حل الفاظ (فتح المعين) المذكور: (قوله: الا لتفاوة.. الخ) راجع لقوله يكره بالنسبة للصنفين الفروع والاصول أي يكره ما ذكر الا لتفاوة الحاجة او في الفضل فلا يكره. والحاصل محل الكراهة عند الاستواء، في الحاجة او عدم الحاجة وفي الدين وقلته وفي البر وعدمه والا فلا كراهة وعلى ذلك يحمل تفضيل الصحابة بعض اولادهم، الى اخر ماقال (قوله على الاوجه) متعلق بيكره ايضاً أي يكره ذلك على الاوجه ومقابله ما ذكره بعد قوله قال جمع يحرم أي التفضيل وعبارة التحفة فأن لم يعدل لغير عذر كره عند اكثر العلماء، وقال جمع يحرم) انتهى.\rوقال الامام النووي في (المنهاج): (ويسن للوالد العدل في عطية اولاده بأن يسوي بين الذكر والانثى) وقال الامام محمد الشربيني في (مغني المحتاج) الى معرفة معاني الفاظ المنهاج ج2ص40 (قضية كلام المصنف ان ترك هذا خلاف الاولى والمجزوم في الرافعي الكراهة وهو المعتمد بل قال ابن حبان في صحيحه: ان تركه حرام ويؤيده رواية (لاتشهدني على جور واكثر العلماء على انه لايجب وحملوا الحديث على الاستحباب لرواية فأشهد على هذا غيري ولان الصديق رضي الله عنه فضل عائشة رضي الله عنها على غيرها من الاولاد وفضل عمر() تعالى عنهما بعض ولده على بعض– الى ان قال: (تنبيه) محل الكراهة عند الاستواء في الحاجة او عدمها والا فلا كراهة وعلى ذلك يحمل تفضيل الصحابة رضي الله عنهم فيما مر ويستثنى العاق والفاسق اذا علم انه يصرفه في المعاصي فلا يكره حرمانه).. انتهى.\rونستنتج مما اوردناه ما ياتي:\r01 الامام الشوكاني والسيد سبق متفقان على ان التسوية بين الاولاد واجبة وتفضيل البعض على البعض محرم وباطل مطلقاً.\r02 ذهب جمهور العلماء الى كراهة التفضيل بين الاولاد مالم يكن هناك داع فأذا كان هناك داع او مقتض للتفضيل فأنه لامانع منه ولا كراهة فيه ولقد سبق ماهو الداعي وماهو المقتضي للتفضيل.","part":1,"page":128},{"id":129,"text":"03 ذهب الامام احمد الى ان التسوية بين الاولاد واجبة ما لم يكن هناك داع فأذا كان هناك داع او مقتض للتفضيل فأنه جائز لا مانع منه.\rومن هنا اقول : الرأي الذي يطمئن به قلبي رأي الامام احمد وهو ان التسوية واجبة مالم يكن هناك داع او مقتض للتفضيل فأذا كان فالتفضيل جائز غير واجب ولا مكروه... هذا للعلم والله اعلم.\rBersikap adil dalam pemberian pada anak hukum khilaf : ada yang mengatakan wajib dan ada yang mengatakan sunah, kalau mengacu pada pendapat yang wajib maka hukumnya harom bila tidak adil dan bila mengacu pda pendapat yang sunah maka makruh bila tidak adil, hukum makruh atau harom tersebut bila anak-anaknya sama dalam kebutuhannya ato sama dalam tidak ada kebutuhan, dan sama di dalam punya hutang dan sedikitnya hutang dan sama dalam kebaikannya dan tidak baiknya\rMengutamakan sebagian anak krna ada kebutuhan, lumpuh, buta, sibuk dengan ilmu atau sesamanya dari beberapa keutamaan maka hukumnya boleh.\rLINK DISKUSI:\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/873749852647824/\rwww.fb.com/notes/875294472493362\r3653. HUKUM MENJADI TUKANG SAPU GEREJA\rPERTANYAAN :\r> Hendrikkurniawan\rAssalaamu'alaikum, dalam doc piss yang berhubungan dengan non muslim terdapat doc yang menjelaskan bahwasanya bekerja pada non muslim itu hukumnya boleh, dan ada lagi bahwasanya membantu membangun peribadatan non muslim itu hukumnya haram, nah yang ingin saya tanyakan bagaimana hukumnya orang yang bekerja sebagai clening servis / tukang sapu di tempat peribadatan non muslim ? sebelumnya terimakasih dan mohon jawabannya ustadz/ah. wassalaamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh.\rJAWABAN :\r> Ibnu Syarief","part":1,"page":129},{"id":130,"text":"Wa alaikumus salaam warohmatulloh. Lihat Is’adur Rofiq hal 127 juz 2 :\rومنها (الإعانة على المعصية) على معصبة على معاصي الله بقول او فعل او غيره ثم ان كانت المعصية كانت الإعانة عليها كذلك كما في الزواجر.\rArtinya : Sebagian dari maksiat badan adalah menolong orang lain dalam berbuat dan berbagai maksiat kepada Allah baik berupa ucapan, perbuatan atau yang lainnya. Kemudian apabila maksiat itu berupa dosa besar maka menolong hal tersebut juga termasuk dosa besar sebagaimana yang tertera dalam kitab Zawajir.\r> Ghufron Bkl\rTidak boleh (haram), karena termasuk membantu perbuatan kemaksiat (I’anah 'ala al-Masiat). Namun menurut Hanafiyyah diperbolehkan kalau memang hanya mengharapkan uangnya.\rReferensi:\rنهاية المحتاج إلى شرح المنهاج الجزء 5 صحـ : 274 مكتبة دار الفكر\r( فَرْعٌ ) لاَ يَصِحُّ اسْتِئْجَارُ ذِمِّيٍّ مُسْلِمًا لِبِنَاءِ كَنِيسَةٍ لِحُرْمَةِ بِنَائِهَا وَإِنْ أَقَرَّ عَلَيْهِ وَمَا فِي الزَّرْكَشِيّ مِمَّا يُخَالِفُ ذَلِكَ مَمْنُوعٌ أَوْ مَحْمُولٌ عَلَى كَنِيسَةٍ لِنُزُولِ الْمَارَّةِ اه\rـتحفة المحتاج في شرح المنهاج الجزء 6 صحـ : 247 مكتبة دار إحياء التراث العربي","part":1,"page":130},{"id":131,"text":"( قَوْلُهُ نَحْوِ الْكَنَائِسِ ) صَرِيحُ مَا ذُكِرَ أَنَّ هَذَا إذَا صَدَرَ مِنْ مُسْلِمٍ يَكُونُ مَعْصِيَةً فَقَطْ وَلاَ يَكْفُرُ بِهِ وَهُوَ ظَاهِرٌ ِلأَنَّ غَايَتَهُ أَنَّهُ فَعَلَ أَمْرًا مُحَرَّمًا لاَ يَتَضَمَّنُ قَطْعَ اْلإِسْلاَمِ لَكِنْ نُقِلَ بِالدَّرْسِ عَنْ شَيْخِنَا الشَّوْبَرِيِّ أَنَّ عِمَارَةَ الْكَنِيسَةِ مِنْ الْمُسْلِمِ كُفْرٌ ِلأَنَّ ذَلِكَ تَعْظِيمٌ لِغَيْرِ اْلإِسْلاَمِ وَفِيْهِ مَا لاَ يَخْفَى ِلأَنَّا لاَ نُسَلِّمُ أَنَّ ذَلِكَ فِيْهِ تَعْظِيمُ غَيْرِ اْلإِسْلاَمِ مَعَ إنْكَارِهِ فِي نَفْسِهِ وَبِتَسْلِيمِهِ فَمُجَرَّدُ تَعْظِيمِهِ مَعَ اعْتِقَادِ حَقِّيَّةَ اْلإِسْلاَمِ لاَ يَضُرُّ لِجَوَازِ كَوْنِ التَّعْظِيمِ لِضَرُورَةٍ فَهُوَ تَعْظِيمٌ ظَاهِرِيٌّ لاَ حَقِيقِيٌّ اهـ ع ش أَقُولُ اْلأَقْرَبُ مَا نُقِلَ عَنْ الشَّوْبَرِيِّ مِنْ الْكُفْرِ فِي ظَاهِرِ الشَّرْعِ إلاَ أَنْ يُقَارَنَ فِعْلُهُ بِنَحْوِ ضَرُورَةٍ اهـ\rالبحر الرائق الجزء الثامن صحـ : 231 مكتبة دار الكتاب الإسلامي (حنفي)","part":1,"page":131},{"id":132,"text":"قَالَ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى ( وَحَمْلُ خَمْرِ الذِّمِّيِّ بِأَجْرٍ ) يَعْنِي جَازَ ذَلِكَ وَهَذَا عِنْدَ اْلإِمَامِ وَقَالاَ يُكْرَهُ ِلأَنَّهُ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ { لَعَنَ فِي الْخَمْرِ عَشَرَةً وَعَدَّ مِنْهَا حَامِلَهَا } وَلَهُ أَنَّ اْلإِجَارَةَ عَلَى الْحَمْلِ وَهُوَ لَيْسَ بِمَعْصِيَةٍ وَإِنَّمَا الْمَعْصِيَةُ بِفِعْلِ فَاعِلٍ مُخْتَارٍ فَصَارَ كَمَنْ اسْتَأْجَرَهُ لِعَصْرِ خَمْرِ الْعِنَبِ وَقَطْفِهِ وَالْحَدِيثُ يُحْمَلُ عَلَى الْحَمْلِ الْمَقْرُونِ بِقَصْدِ الْمَعْصِيَةِ وَعَلَى هَذَا الْخِلاَفِ إذَا أَجَّرَ دَابَّةً لِيَحْمِلَ عَلَيْهَا الْخَمْرَ أَوْ نَفْسَهُ لِيَرْعَى لَهُ الْخَنَازِيرَ فَإِنَّهُ يَطِيبُ لَهُ اْلأَجْرُ عِنْدَهُ وَعِنْدَهُمَا يُكْرَهُ وَفِي التَّتَارْخَانِيَّة وَلَوْ أَجَّرَ الْمُسْلِمُ نَفْسَهُ لِذِمِّيٍّ لِيَعْمَلَ فِي الْكَنِيسَةِ فَلاَ بَأْسَ بِهِ وَفِي الذَّخِيرَةِ إذَا دَخَلَ يَهُودِيٌّ الْحَمَّامَ هَلْ يُبَاحُ لِلْخَادِمِ الْمُسْلِمِ أَنْ يَخْدُمَهُ قَالَ إنْ خَدَمَهُ طَمَعًا فِي فُلُوسِهِ فَلاَ بَأْسَ بِهِ وَإِنْ خَدَمَهُ تَعْظِيمًا لَهُ يُنْظَرُ إنْ فَعَلَ ذَلِكَ لِيُمِيلَ قَلْبَهُ إلَى اْلإِسْلاَمِ فَلاَ بَأْسَ بِهِ وَإِنْ فَعَلَهُ تَعْظِيمًا لَهُ كُرِهَ ذَلِكَ وَعَلَى هَذَا إذَا دَخَلَ ذِمِّيٌّ عَلَى مُسْلِمٍ فَقَامَ لَهُ طَمَعًا فِي إسْلاَمِهِ فَلاَ بَأْسَ بِهِ وَإِنْ قَامَ لَهُ تَعْظِيمًا لَهُ كُرِهَ لَهُ ذَلِكَ اهـ\rKESIMPULAN :\rMenurut ulama' syafi'iyah bekerja sebagai cleaning servis / tukang sapu di gereja bagi orang muslim hukumnya HARAM karena termasuk membantu perbuatan maksiyat, sedangkan menurut hanafiyah hukumnya boleh kalau hanya memang mengharapkan gajinya. Wallohu a'lam bis showab.\rLINK DISKUSI :","part":1,"page":132},{"id":133,"text":"www.fb.com/groups/piss.ktb/859471717408971/\r3712. SIAPAKAH YANG BERTANGGUNG JAWAB ATAS RUSAKNYA BARANG PINJAMAN\rPERTANYAAN :\r> Busyro Al Karim\rAssalamu'alaikum....... ma'af saya mau nanya.bagaimana ketika temen saya pinjam motor mau ke kota terus dalam perjalanan jatuh siapakah yang bertanggung jawab atas kejadian itu, yang punya motor apa yang pinjam motor.? dan satu lagi ketika tujuan nya mau ke kota saja malah muter-muter dulu, terus pulang nya jatuh. Siapakah yang bertanggung jawab. ? mohon disertakan referensi nya dan pencerahan nya. syukron.\rJAWABAN :\r> Mas Hamzah\rWa alaikumus salaam. Yang bertanggung jawab adalah yang pinjam motor baik kerusakan motor tsb sebab kecelakaan maupun kesengajaan, ini adalah pendapat yg masyhur, sedangkan menurut pendapat yang lemah orang yang pinjem tidak bertanggung jawab mengganti kerusakan kecuali jika dia sengaja merusakkannya. Lihat kitab roudhoh imam nawawy (4/431) :\rالباب الثاني في أحكامها وهي ثلاثة . الأول : الضمان . فإذا تلفت العين في يد المستعير ، ضمنها ، سواء تلفت بآفة سماوية أم بفعله ، بتقصير أم بلا تقصير ، هذا هو المشهور . وحكي قول : أنها لا تضمن إلا بالتعدي فيها ، وهو ضعيف .\r> Ghufron Bkl\rPeminjam wajib mengganti :\rأسنى المطالب الجزء 2 صحـ : 328 مكتبة دار الكتاب الإسلامي","part":1,"page":133},{"id":134,"text":"( فَيَضْمَنُهَا إنْ تَلِفَتْ ) فِي يَدِهِ ( بِآفَةٍ ) سَمَاوِيَّةٍ ( أَوْ أَتْلَفَهَا ) هُوَ أَوْ غَيْرُهُ وَلَوْ بِلا تَقْصِيرٍ ( أَوْ قَرَحَ ) أَيْ جَرَحَ ( ظَهْرَهَا ) بِالِاسْتِعْمَالِ ( تَعَدِّيًا ) بِأَنْ حَصَلَ بِاسْتِعْمَالٍ غَيْرِ مَأْذُونٍ فِيهِ ( فَإِنْ تَلِفَتْ ) هِيَ أَوْ أَجْزَاؤُهَا (بِاسْتِعْمَالٍ مَأْذُونٍ) فِيهِ ( كَاللُّبْسِ وَالرُّكُوبِ الْمُعْتَادِ ) كُلٌّ مِنْهُمَا ( لَمْ يَضْمَنْ الأَجْزَاءَ وَالْعَيْنَ ) لِحُصُولِ التَّلَفِ بِسَبَبٍ مَأْذُونٍ فِيهِ فَأَشْبَهَ مَا لَوْ قَالَ اُقْتُلْ عَبْدِي اهـ\rحاشية البجيرمي على المنهج الجزء 3 صحـ : 101 مكتبة دار الفكر العربي\r( فَإِنْ تَلِفَ ) الْمُسْتَعَارُ كُلُّهُ أَوْ بَعْضُهُ عِنْدَ الْمُسْتَعِيرِ ( لا بِاسْتِعْمَالِ مَأْذُونٌ ) فِيهِ وَلَوْ بِلا تَقْصِيرٍ ( ضَمِنَهُ ) بَدَلا أَوْ أَرْشًا لِخَبَرِ \"عَلَى الْيَدِ مَا أَخَذَتْ حَتَّى تُؤَدِّيَه\" رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَالْحَاكِمُ وَصَحَّحَهُ عَلَى شَرْطِ الْبُخَارِيِّ وَيَضْمَنُ التَّالِفَ بِالْقِيمَةِ وَإِنْ كَانَ مِثْلِيًّا كَخَشَبٍ وَحَجَرٍ عَلَى مَا جَزَمَ بِهِ فِي الأَنْوَارِ وَاقْتَضَاهُ كَلامُ جَمْعٍ وَقَالَ ابْنُ أَبِي عَصْرُونٍ يَضْمَنُ الْمِثْلِيَّ بِالْمِثْلِ وَجَرَى عَلَيْهِ السُّبْكِيُّ وَهُوَ الأَوْجَهُ أَمَّا تَلَفُهُ بِالِاسْتِعْمَالِ الْمَأْذُونِ فِيهِ فَلا ضَمَانَ لِلإِذْنِ فِيهِ اهحاشية البجيرمي على المنهج الجزء 3 صحـ : 172 مكتبة دار الفكر العربي(قَوْلُهُ وَلَوْ بِلا تَقْصِيرٍ ) كَأَنْ تَلِفَ بِآفَةٍ سَمَاوِيَّةٍ فَإِنَّهُ يُضْمَنُ اهـ\r> Dik Ibnu Al-Ihsany Rinduku\r- Syarh al-yaqut an-nafis hal. 437 :\rإذا تلفت العين المعارة:","part":1,"page":134},{"id":135,"text":"أما إذا تلفت العين المعارة من غير تعد . . لا يضمن المستعير ، لكن الحنابلة قالوا : متى قبض المستعير العين . . أصبحت في ضمنها ، سواء تعدى أم لم يتعد . وعبارة {{ المهذب }} تقول : { وإذا قبض العين . . ضمنها } اهـ\rKETIKA BARANG PINJAMAN RUSAK\rJika barang pinjaman rusak dengan tanpa melampaui batas . . maka orang yang meminjam tidak mengganti. akan tetapi ulama' madzhab hanbali mengatakan : ketika orang yang meminjam sudah menerima barang . . maka barang itu menjadi tanggung jawabnya, baik orang itu melampaui batas atau tidak melampaui batas. dan ungkapan dalam \" kitab al-muhadzdzab \" menyatakan : ketika orang yang meminjam sudah menerima barang . . maka dia bertanggung jawab pada barang itu.\rوبعض علماء أهل البيت يقولون : إذا كان المعار حيوانا ، ومات موتا طبيعيا . . لا يضمن ، وإن مات بسبب آخر . . ضمن\rSebagian ulama ahlul bait mengatakan : jika barang pinjaman berupa hewan, dan mati dengan hal yang wajar/sesuai tabiatnya/sudah kodratnya/tidak dibuat-buat . . maka tidak diganti. dan jika mati sebab perkara yang lain . . maka diganti. Wallohu a'lam bish-showab\r- Hasyiyah al-bajuri juz 2, hal. 10-11 :\r؛{ وهي } أي العارية إذا تلفت لا باستعمال مأذون فيه { مضمونة على المستعير بقيمتها يوم تلفها } لا بقيماتها يوم قبضها ولا بأقصى القيم ، فإن تلفت باستعمال مأذون فيه كإعارة ثوب للبسه فانسحق أو انمحق بالاستعمال فلا ضمان","part":1,"page":135},{"id":136,"text":"Barang pinjaman ketika rusak bukan sebab penggunaan yang diizinkan (meskipun tanpa kecerobohan), maka menjadi tanggung jawab orang yang meminjam dengan harga pada hari rusaknya barang tersebut. bukan dengan harga pada hari penerimaan barang, dan tidak pula dengan harga yang paling banyak.\rJika barang pinjaman rusak dengan sebab yang diizinkan seperti pinjam baju untuk dipakai kemudian baju tersebut rusak (berkurang) atau hilang bendanya dengan sebab dipakai maka tidak ada tanggung jawab (dari orang yang meminjam)\r؛{ قوله وهي }؛ أي العارية بمعنى العين المعارة وقوله إذا تلفت ؛ أي ولو من غير تقصير ، كما لو تلفت بآفة سماوية وقوله لا باستعمال مأذون فيه ؛ بأن تلفت بغير الاستعمال المأذون فيه ولو في الاستعمال المأذون فيه كأن استعار دابة لاستعمالها في ساقية فسقطت في بئرها فماتت . . فيضمنها المستعير لأنها تلفت بغيره فيه\rJika seseorang meminjam sebuah hewan digunakan untuk mengairi, kemudian jatuh di sumur, dan mati . . maka orang yang meminjam bertanggung jawab karena hewan itu rusak disebabkan selain penggunaan yang diizinkan (jatuh ke sumur) dalam penggunaan yang diizinkan (sebagai pengairan).\r؛{ قوله فإن تلفت باستعمال مأذون فيه }؛ مفهوم قوله إذا تلفت لا باستعمال مأذون فيه وقوله ؛ كإعارة ثوب للبسه فانسحق ؛ أي نقصت عينه وقوله أو انمحق ؛ أي ذهبت عينه بالكلية ولم يبق له أثر بسبب اللبس ، بخلاف ما إذا انحرق أو سرق مثلا فإنه يضمنه ، وليس من الاستعمال المأذون فيه نومه فيه إن لم تجر العادة به فيه","part":1,"page":136},{"id":137,"text":"Ketika seseorang meminjam baju untuk dipakai kemudian bajunya terbakar atau dicuri . . maka orang yang meminjam bertanggung jawab. dan bukan termasuk penggunaan yang di izini, tidur dalam baju tersebut, jika tidak berlaku adat tidur dalam baju pinjaman.\rومثل الثوب المذكور في عدم الضمان الدابة المستعارة للحمل أوللركوب فتلف بهما إذا كانا بحسب العادة ، والسيف المستعار للقتال إذا انكسر فيه ونحو ذلك\rTermasuk contoh yang seseuai dengan baju di atas dalam masalah tidak adanya tanggung jawab orang yang meminjam, yaitu hewan yang dipinjam untuk memuat (mengangkut) atau untuk ditunggangi kemudian rusak sebab memuat atau ditunggangi jika masih dalam batas kebiasaan, dan juga pedang yang dipinjam untuk perang kemudian pecah dalam peperangan. dan lain-lain.\rولو اختلف في كون التلف بالاستعمال المأذون فيه أو بغيره . . صدق المستعير ، لأن الأصل عدم الضمان وبراءة الذمة ، بخلاف ما إذا قام بينتين فإن بينة المعير تقدم ، لأنها ناقلة وبينة المستعير مستصحبة ، ولو اختلف المعير والمستعير في رد العارية . . صدق المعير بيمينه ، لأن الأصل عدم الرد فلا يصدق المستعير إلا ببينة. ؛\rJadi kesimpulannya : untuk dua pertanyaan tersebut sesuai dengan ibarot yang disampaikan yai mas hamzah dan yai ghufron bkl maka yang bertanggung jawab adalah yang meminjam (musta'ir). Wallohu a'lam bish-showab.\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/882197588469717/\rwww.fb.com/notes/901209176568558\r3783. DAMPAK AQAD MU'AMALAH FASIDAH (TRANSAKSI YANG RUSAK)\rPERTANYAAN :\r> Achzant Zyaw Kie\rالسلام عليكم ورحمة الله وبركاته","part":1,"page":137},{"id":138,"text":"Para ustadz, saudara muslim yang dimuliakan Allah... Mohon pencerahan... Bagaimanakah status hukum uang hasil dari aqad mu'amalah yang fasidah ?? halalkah ? atau haromkah ? Monggo... barokallahu fikum..\rوجزاكم الله احسن الجزاء\rJAWABAN :\r> Ghufron Bkl\rMelakukan aqad mu'amalah fasidah hukumnya haram bagi yang mengetahui bahwa hal itu dilarang oleh agama, atau bagi yang tidak mengetahui, sebab mengabaikan kewajiban belajar ilmu agama tanpa alasan yang prinsip.\rHaram dan termasuk dosa kecil, namun tidak mengakibatkan haramnya barang yang dijual dan uang hasil penjualan bila memang kedua belah pihak saling merelakan terhadap barang yang diserahkan. Lihat keterangan dari Kitab Bujairom 'Alal Khothib III / 9 :\rوعبارته ؛ قَوْلُهُ: (وَيَرُدُّ كُلَّ مَا أَخَذَهُ) أَيْ وُجُوبًا وَلَوْ بِلَا طَلَبٍ مِنْ الْآخَرِ, فَإِنْ لَمْ يَرُدَّهُ فَلَا عِقَابَ فِي الْآخِرَةِ إنْ كَانَ عَنْ رِضًا كَمَا قَالَهُ النَّوَوِيُّ, لِطِيبِ النَّفْسِ بِهَا وَاخْتِلَافِ الْعُلَمَاءِ فِيهَا, نَقَلَهُ فِي الْمَجْمُوعِ. ا هـ. رَوْضٌ وَشَرَحَهُ. وَالْمُعَاطَاةُ مِنْ الصَّغَائِرِ عَلَى الرَّاجِحِ لِجَرَيَانِ الْخِلَافِ فِيهَا, وَكَذَا كُلُّ بَيْعٍ فَاسِدٍ ; قَالَهُ ع ش. وَقَوْلُهُ: \" فَلَا عِقَابَ \" أَيْ مِنْ حَيْثُ الْمَالِ وَإِنْ كَانَ يُعَاقِبُ مِنْ حَيْثُ تَعَاطِي الْعَقْدِ الْفَاسِدِ إذَا لَمْ يُوجَدْ مُكَفِّرٌ كَمَا فِي شَرْحِ م ر اهـ البجيرمى على الخطيب الجزء الثالث ص 9\rCatatan: Khusus untuk akad Wakalah yang fâsidah, hukum melakukannya adalah tidak haram menurut pendapat mayoritas ulama’.\r- Ibarat tambahan :\rتحفة المحتاج في شرح المنهاج الجزء 4 صحـ : 291 مكتبة دار إحياء التراث العربي","part":1,"page":138},{"id":139,"text":"( بَابٌ ) بِالتَّنْوِينِ ( فِي الْبُيُوعِ الْمَنْهِيِّ عَنْهَا وَمَا يَتْبَعُهَا ) ثُمَّ النَّهْيُ إنْ كَانَ لِذَاتِ الْعَقْدِ أَوْ لازِمِهِ بِأَنْ فَقَدَ بَعْضَ أَرْكَانِهِ أَوْ شُرُوطِهِ اقْتَضَى بُطْلانَهُ وَحُرْمَتَهُ لانَّ تَعَاطِيَ الْعَقْدِ الْفَاسِدِ أَيْ مَعَ الْعِلْمِ بِفَسَادِهِ أَوْ مَعَ التَّقْصِيرِ فِي تَعَلُّمِهِ لِكَوْنِهِ مِمَّا لا يَخْفَى كَبَيْعِ الْمَلاقِيحِ وَهُوَ مُخَالِطٌ لِلْمُسْلِمِينَ بِحَيْثُ يَبْعُدُ جَهْلُهُ بِذَلِكَ حَرَامٌ عَلَى الْمَنْقُولِ الْمُعْتَمَدِ سَوَاءٌ مَا فَسَادُهُ بِالنَّصِّ وَالاجْتِهَادِ وَقَيَّدَ ذَلِكَ الْغَزَالِيُّ وَاعْتَمَدَهُ الزَّرْكَشِيُّ بِمَا إذَا قَصَدَ بِهِ تَحْقِيقَ الْمَعْنَى الشَّرْعِيِّ دُونَ إجْرَاءِ اللَّفْظِ مِنْ غَيْرِ تَحْقِيقِ مَعْنَاهُ فَإِنَّهُ بَاطِلٌ ثُمَّ إنْ كَانَ لَهُ مَحْمَلٌ كَمُلاعَبَةِ الزَّوْجَةِ بِنَحْوِ بِعْتُك نَفْسَك لَمْ يَحْرُمْ وَإِلا حَرُمَ إذْ لا مَحْمَلَ لَهُ غَيْرُ الْمَعْنَى الشَّرْعِيِّ وَقَدْ يَجُوزُ لاضْطِرَارِ تَعَاطِيهِ كَأَنْ امْتَنَعَ ذُو طَعَامٍ مِنْ بَيْعِهِ مِنْهُ إلا بِأَكْثَرَ مِنْ قِيمَتِهِ فَلَهُ الاحْتِيَالُ بِأَخْذِهِ مِنْهُ بِبَيْعٍ فَاسِدٍ حَتَّى لا يَلْزَمَهُ إلا الْمِثْلُ أَوْ الْقِيمَةُ أَوْ الْخَارِجُ عَنْهُ اقْتَضَى حُرْمَتَهُ فَقَطْ اهـ\rنهاية المحتاج إلى شرح المنهاج الجزء 3 صحـ : 375 مكتبة دار الفكر","part":1,"page":139},{"id":140,"text":"( الإِيجَابُ ) مِنْ الْبَائِعِ وَهُوَ صَرِيحًا مَا يَدُلُّ عَلَى التَّمْلِيكِ بِعِوَضٍ دَلالَةً ظَاهِرَةً مِمَّا اُشْتُهِرَ وَكُرِّرَ عَلَى أَلْسِنَةِ حَمَلَةِ الشَّرْعِ وَسَتَأْتِي الْكِتَابَةُ وَسَوَاءٌ أَكَانَ هَازِلا أَمْ لا لِقَوْلِهِ تَعَالَى { إلا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ } مَعَ الْخَبَرِ الصَّحِيحِ { إنَّمَا الْبَيْعُ عَنْ تَرَاضٍ } وَالرِّضَا أَمْرٌ خَفِيٌّ لا اطِّلاعَ لَنَا عَلَيْهِ فَجُعِلَتْ الصِّيغَةُ دَلِيلا عَلَى الرِّضَا فَلا يَنْعَقِدُ بِالْمُعَاطَاةِ وَهِيَ أَنْ يَتَرَاضَيَا وَلَوْ مَعَ السُّكُوتِ مِنْهُمَا َاخْتَارَ الْمُصَنِّفُ كَجَمْعِ انْعِقَادِهِ بِهَا فِي كُلِّ مَا يَعُدُّهُ النَّاسُ بِهَا بَيْعًا وَآخَرُونَ فِي مُحَقَّرٍ كَرَغِيفٍ أَمَّا الاسْتِجْرَارُ مِنْ بَيَّاعٍ فَبَاطِلٌ اتِّفَاقًا أَيْ حَيْثُ لَمْ يُقَدِّرُ الثَّمَنَ كُلَّ مَرَّةٍ عَلَى أَنَّ الْغَزَالِيَّ سَامَحَ فِيهِ أَيْضًا بِنَاءً عَلَى جَوَازِ الْمُعَاطَاةِ وَعَلَى الأَصَحِّ لا مُطَالَبَةَ بِهَا فِي الآخِرَةِ أَيْ مِنْ حَيْثُ الْمَالِ بِخِلافِ تَعَاطِي الْعَقْدِ الْفَاسِدِ إذَا لَمْ يُوجَدْ لَهُ مُكَفِّرٌ كَمَا هُوَ ظَاهِرٌ لِلرِّضَا أَمَّا فِي الدُّنْيَا فَيَجِبُ عَلَى كُلٍّ رَدُّ مَا أَخَذَهُ إنْ كَانَ بَاقِيًا وَبَدَلُهُ إنْ تَلِفَ وَيَجْرِي خِلافُهَا فِي سَائِرِ الْعُقُودِ الْمَالِيَّةِ اهـ\rبغية المسترشدين للسيد باعلوي الحضرمي صحـ : 360 مكتبة دار الفكر","part":1,"page":140},{"id":141,"text":"( مَسْأَلَةٌ ي ) اَلْقِسْمَةُ إِنْ وَقَعَتْ عَلَى وِفْقِ الشَّرْعِ كَمَا لَوِ اخْتَلَفَ فِي مَالِ الزَّوْجَيْنِ فَقِسْمٌ عَلَى التَّفْصِيْلِ الآتِي فِي الدَّعْوَى مِنْ تَقْدِيْمِ الْبَيِّنَةِ ثُمَّ الْيَدِّ ثُمَّ مِنْ حَلَفٍ ثُمَّ جَعَلَهُ أِنْصَافاً عِنْدَ عَدَمِ مَا ذُكِرَ فَصَحِيْحَةٌ وَإِنْ وَقَعَتْ عَلَى خِلافِ الشَّرْعِ بِغَيْرِ تَرَاضٍ بَلْ بِقَهْرٍ أَوْ حُكْمِ حَاكِمٍ فَبَاطِلَةٌٌ إِفْرَازاً أَوْ تَعْدِيْلاً أَوْ رَدًّا لانَّهَا مَقْهُوْرٌ عَلَيْهَا فَلا رِضَا وَالْقَهْرُ الشَّرْعِيُّ كَالْحِسِّي وَهَذَا كَمَا لَوْ وَقَعَتْ بِتَرَاضٍ مِنْهُمَا مَعَ جَهْلِهِمَا أَوْ أَحَدِهِمَا بِالْحَقِّ الَّذِي لَهُ لانَّهَا إِنْ كَانَتْ إِفْرَازاً فَشَرَّطَهَا الرِّضَا بِالتَّفَاوُتِ وَإِذَا كَانَ أَحَدُهُمَا يَعْتَقِدُ أَنَّ حَقَّهُ الثُّلُثُ لا غَيْرُ وَلَهُ أَكْثَرُ شَرْعاً فَهُوَ لَمْ يَرْضَ بِالتَّفَاوُتِ إِذْ رِضَاهُ بِأَخْذِ الآخَرِ شَيْئاً مِنْ حَقِّهِ مَا يَكُوْنُ إِلا بَعْدَ عِلْمِهِ بِأَنَّهُ يَسْتَحِقُّهُ، وَإِنْ كَانَتْ تَعْدِيْلاً أَوْ رَدًّا فَكَذِلَكَ أَيْضاً لانَّهُمَا بَيْعٌ وَشَرْطُهُ الْعِلْمُ بِقَدْرِ الْمَبِيْعِ وَقَدْ أَفْتَى أَبُوْ مَخْرَمَة بِعَدَمِ صِحَّةِ الْبَيْعِ فِيْمَا لَوْ بَاعَ الْوَرَثَةُ أَوْ بَعْضُهُمْ التِّرْكَةَ قَبْلَ مَعْرِفَةِ مَا يَخُصُّ كُلاًّ حَالَ الْبَيْعِ وَإِنْ أَمْكَنَهُمْ مَعْرِفَتُهَا بَعْدُ وَإِنْ وَقَعَتْ بِتَرَاضِيْهِمْ وَلَمْ يَكُنْ فِيْهِمَا مَحْجُوْرٌ مَعَ عِلْمِهِمَا بِالْحُكْمِ لَكِنِ اخْتَارَا خِلافَهُ صَحَّتْ فِي غَيْرِ الرِّبَوِيّ مُطْلَقاً وَفِيْهِ إِنْ كَانَتِ الْقِسْمَةُ إِفْرَازاً لانَّ الرِّبَا إِنَّمَا يُتَصَوَّرُ جِرْيَانَهُ فِي الْعُقُوْدِ دُوْنَ غَيْرِهَا كَمَا فِي التُّحْفَةِ وَإِنْ كَانَ ثَمَّ مَحْجُوْرٌ","part":1,"page":141},{"id":142,"text":"فَإِنْ حَصَلَ لَهُ جَمِيْعُ حَقِّهِ صَحَّتْ وَإِلا فَلا اهـ\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/910125592343583/\rwww.fb.com/notes/912494418773367\r3789. HUKUM MENERIMA UANG KARENA TERKENAL SAKTI HASIL EFEK BERBOHONG\rPERTANYAAN :\r> Busyro Habiby\rAssalamualaikum.. Bagaimanakah hukum orang yang terkenal karena kesaktiannya yang bohongan..? Tapi setelah itu dia bertaubat. Contoh :\rParno berteman dengan ponaryo. Kata ponaryo.\" Saya bisa mengambil keris dari dalam tanah, tapi harus pada malam hari. Walhasil ponaryo yang memang tidak sakti menyiapkan trik untuk mengelabui si parno. Dia menyiapkan sendiri keris yang dikubur dalam tanah pada siang harinya. Ketika tengah malam berangkatlah mereka berdua kepada tempat yang telah di siapkan keris tsb. Dengan pura-pura baca mantra ponaryo bersemedi dan keris itu diangkatnya. Si parno yang mimang agak lugu percaya saja dan menceritakan hal tersebut kepada teman-temannya. Hal itu membuat ponaryo menjadi terkenal hingga banyak orang datang minta mantra atoupun berobat dengannya dan mereka membawa sedekah untuk ponaryo.. Nah.. Kalau trik yang pertama terhadap parno sudah jelas hukumnya itu penipuan. Tapi setelah itu dia bertaubat dan efek terkenal saktinya masih ada, hingga masih ada saja orang yang berharap untuk dikasih jampi-jampi.... Makasih...\rJadi pertanyaanya : Bagaimana Hukum dia menerima uang yang hasil efek kebohongannya dulu...?\rJAWABAN :\r> Ghufron Bkl\rWa'alaikumussalaam. Uang yang diterima ponaryo tidak halal bila pemberi tidak akan memberi bila tahu ponaryo itu seorang pembohong / tidak sakti :\rنهاية المحتاج ج ص 134","part":1,"page":142},{"id":143,"text":"وَمَنْ أَعْطَى لِوَصْفٍ يَظُنُّ بِهِ كَفَقْرٍ أَوْ صَلَاحٍ أَوْ نَسَبٍ أَوْ عَلِمَ وَهُوَ فِي الْبَاطِنِ بِخِلَافِهِ أَوْ كَانَ بِهِ وَصْفٌ بَاطِنًا بِحَيْثُ لَوْ عَلِمَ لَمْ يُعْطِهِ حُرِّمَ عَلَيْهِ الْأَخْذُ مُطْلَقًا ، وَيَجْرِي ذَلِكَ فِي الْهَدِيَّةِ أَيْضًا فِيمَا يَظْهَرُ ، بَلْ الْأَوْجَهُ إلْحَاقُ سَائِرِ عُقُودِ التَّبَرُّعِ بِهَا كَوَصِيَّةٍ وَهِبَةٍ وَنَذْرٍ وَوَقْفٍ\rحاشيتا قليوبى وعميرة ج 3 ص 204\rفَصْلٌ صَدَقَةُ التَّطَوُّعِ سُنَّةٌ لِمَا وَرَدَ فِيهَا مِنْ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ ، ( وَتَحِلُّ لِغَنِيٍّ وَكَافِرٍ ) قَالَ فِي الرَّوْضَةِ يُسْتَحَبُّ لِلْغَنِيِّ التَّنَزُّهُ عَنْهَا وَيُكْرَهُ لَهُ التَّعَرُّضُ لِأَخْذِهَا وَفِي الْبَيَانِ لَا يَحِلُّ لَهُ أَخْذُهَا مُظْهِرَ الْفَاقَةِ ، وَهُوَ حَسَنٌ وَفِي الْحَاوِي الْغَنِيُّ بِمَالٍ ، أَوْ بِصَنْعَةٍ سُؤَالُهُ حَرَامٌ ، وَمَا يَأْخُذُهُ حَرَامٌ عَلَيْهِ انْتَهَى.\rقَوْلُهُ : ( وَمَا يَأْخُذُهُ حَرَامٌ عَلَيْهِ ) أَيْ عِنْدَ شَيْءٍ مِمَّا تَقَدَّمَ ، أَوْ عِنْدَ فَقْدِ صِفَةٍ أَعْطَى لِأَجْلِهَا قَالَ شَيْخُنَا : وَحَيْثُ حَرُمَ لَا يَمْلِكُ مَا أَخَذَهُ ، وَيَجِبُ رَدُّهُ إلَّا إذَا عَلِمَ الْمُعْطِي بِحَالِهِ فَيَمْلِكُهُ ، وَلَا حُرْمَةَ إلَّا إنْ أَخَذَهُ بِسُؤَالٍ أَوْ إظْهَارِ فَاقَةٍ فَيَمْلِكُهُ مَعَ الْحُرْمَةِ ، وَفِي شَرْحِ شَيْخِنَا وَحَيْثُ أَعْطَاهُ عَلَى ظَنِّ صِفَةٍ وَهُوَ فِي الْبَاطِنِ بِخِلَافِهَا وَلَوْ عَلِمَ بِهِ لَمْ يُعْطِهِ لَمْ يَمْلِكْ مَا أَخْذَهُ ، ثُمَّ قَالَ : وَيَجْرِي ذَلِكَ فِي سَائِرِ عُقُودِ التَّبَرُّعِ كَهِبَةٍ وَهَدِيَّةٍ وَوَقْفٍ وَنَذْرٍ وَوَصِيَّةٍ فَرَاجِعْهُ .\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/908690492487093/\rwww.fb.com/notes/913574788665330","part":1,"page":143},{"id":144,"text":"3806. CARA PENGEMBALIAN HUTANG YANG LAMA BELUM DIBAYAR\rPERTANYAAN :\rAssalaamu'alaikum. Pertanyaan : A punya hutang pada B th 1966 sebesar Rp 100.000,-.Th 2006 utang tersebut baru dibayar. Saat dibayar si B keberatan dengan jumlah tersebut, uang tersebut 40 tahun yang lalu seharga 1 ekor sapi. Di sisi lain meminta kelebihan atas utang adalah riba (akadnya bukan untuk usaha,sirkah,mudoroba dll). Apa hukumnya menindaklanjuti utang agar nilai suatu utang tidak jatuh berdasarkan harga umum ? Mohon penerangannya para sesepuh,semisal menilai rupiah sebanding dg harga emas atau dolar Amerika. Peristiwa ini benar terjadi. (Muhamad Nasir).\rJAWABAN :\rWa'alaikumsalaam. Kewajiban si A hanya wajib membayar 100.000 akan tetapi si A dianjurkan untuk membayar lebih dari 100.000. Dalam masalah hutang yang sudah sangat lama sebetulnya secara umum ada 3 pendapat :\r1.…Wajib mengembalikan sesuai dengan nilai dahulu tanpa tambahan atau kurang, (menurut Hanafiyah Syafi'iyah Hanabilah dan pendapat yang masyhur dari Malikiyah)\r2.…Wajib mengembalikan sesuai nilai tambah atau kurang dari hari ditetapkannya aqad, jika akad jual beli maka sesuai dengan aqad pertama jika pinjaman maka sesuai nilai saat mengembalikan ( pendapat Abu Yusuf dan Fatwa dari Hanafiyah)\r3.…Jika perubahan nilai terlalu parah maka wajib mengembalikan sesuai perubahan nilai tersebut baik itu bertambah maupun berkurang (salah satu pendapat Malikiyah). Wallohu A'lam\rReferensi :\r- Fathul Wahab, Juz : 1 Hal. 224-225 :","part":1,"page":144},{"id":145,"text":"الإقراض \" هو تمليك الشيء على أن يرد مثله \" سنة \" لأن فيه إعانة على كشف كربة وأركانه أركان البيع كمايعلم –إلى أن قال- ويرد \" المقترض المثلي \" مثلا \" لأنه أقرب إلى الحق \" ولمتقوم مثلا صورة \" لخبر مسلم أنه صلى الله عليه وسلم اقترض بكرا ورد رباعيا وقال: \"إن خياركم أحسنكم قضاء\" –إلى أن قال- \" فلو رد أزيد \" قدرا أو صفة \" بلا شرط فحسن \" لما في خبر مسلم السابق إن خياركم أحسنكم قضاء ولا يكره للمقرض أخذ ذلك\r- Hasyiyah Al Bujairomi Alal Minhaj, Juz 2 Hal. 354 :\rقوله: ويرد المقترض) ولو نقدا أبطل السلطان المعاملة به ومثل النقد الفلوس الجدد وقد عمت بهذه البلوى في الديار المصرية في غالب الأزمنة فحيث كان لذلك قيمة أي غير تافهة رد مثله وإلا رد قيمته باعتبار أقرب وقت إلى وقت المطالبة له فيه قيمة ح ل وم ر\r- Al Fiqhu Alal Madzahib Al Arba'ah, juz 2 Hal. 306 :\rومن ذلك يتضح أنه يجوز قرض ما له مثل، وما له قيمة. فأما المثلي فإن على المقترض أن يرد مثله، سواء كانت نقوداً معدودة أو غيرها، فلو اقترض نقوداً وبطل العمل بها فلا يلزم إلا برد مثلها إذا كانت لها قيمة غير تافهة، أما إذا كانت لها قيمة تافهة فإنه يلزم برد قيمتها باعتبار أقرب وقت بالنسبة لوقت المطالبة بها، ومثلها الفلوس\r- Al-Umm, Juz 3 Hal. 3 :\rقال الشافعي : ......... ومن سلف فلوسا أو دراهم أو باع بها ثم أبطلها السلطان فليس له إلا مثل فلوسه أو دراهمه التي أسلف أو باع بها\r- Syarah Muslim Lin-Nawawi, Juz : 11 Hal : 37-38 :","part":1,"page":145},{"id":146,"text":"حدثنا محمد بن بشار بن عثمان العبدي، حدثنا محمد بن جعفر، حدثنا شعبة، عن سلمة بن كهيل، عن أبي سلمة، عن أبي هريرة، قال: كان لرجل على رسول الله صلى الله عليه وسلم حق، فأغلظ له، فهم به أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: «إن لصاحب الحق مقالا»، فقال لهم: «اشتروا له سنا، فأعطوه إياه»، فقالوا: إنا لا نجد إلا سنا هو خير من سنه، قال: «فاشتروه، فأعطوه إياه، فإن من خيركم، أو خيركم أحسنكم قضاء...................................وفيها أنه يستحب لمن عليه دين من قرض وغيره أن يرد أجود من الذي عليه وهذا من السنة ومكارم الأخلاق وليس هو من قرض جر منفعة فإنه منهي عنه لأن المنهي عنه ما كان مشروطا في عقد القرض ومذهبنا أنه يستحب الزيادة في الأداء عما عليه ويجوز للمقرض أخذها سواء زاد في الصفة أو في العدد بأن أقرضه عشرة فأعطاه أحد عشر\rوقال الشافعي رحمه الله: (ومن سلف فلوساً أو دراهم أو باع بها ثم أبطلها السلطان، فليس له إلا مثل فلوسه أو دراهمه التي أسلف وباع بها) . (2)وجاء في المادة 788 من مرشد الحيران: ( ... وإن استقرض شيئاً من المكيلات أو الموزونات أو المسكوكات من الذهب والفضة، فرخصت أسعارها أو غلت، فعليه رد مثلها، ولا عبرة برخصها أو غلوها) .وجاء في قرة العين في الجواب على سؤال عن الواجب في الذمة عند بطلان السكة، أو زيادة قيمتها أو انخفاضها: (الواجب قضاء المثل على من ترتبت في ذمته إن كانت موجودة في بلد المعاملة، ويجب المثل لو كانت مئة بدرهم ثم صارت ألفاً بدرهم أو بالعكس، وكذلك لو كان الريال حين العقد بتسعين ثم صار بمئتين أو بالعكس وهكذا) (3)\rـ (1) المدونة للإمام مالك بن أنس 3/445، وانظر أيضاً: حاشية الرهوني 5/121 و122، والزرقاني على خليل 5/60، ومنح الجليل 2/534.\rـ (2) الأم 3/33.\rـ (3) قرة العين ص 203 و204، وانظر منح الجليل 2/534","part":1,"page":146},{"id":147,"text":"- Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah 21 / 136 - 138 :\rالموسوعة الفقهية الكويتية ج 21 ص 136ـ 138\rلْحَالَةُ الرَّابِعَةُ: (غَلاَءُ النَّقْدِ وَرُخْصُهُ) .69 - وَذَلِكَ بِأَنْ تَزِيدَ قِيمَةُ النَّقْدِ أَوْ تَنْقُصَ بِالنِّسْبَةِ إِلَى الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ، اللَّذَيْنِ يُعْتَبَرَانِالْمِقْيَاسَ الَّذِي تُقَدَّرُ بِالنَّظَرِ إِلَيْهِ أَثْمَانُ الأَْشْيَاءِ وَقِيَمُهَا، وَيُعَدَّانِ ثَمَنًا. وَهَذَا هُوَ مُرَادُ الْفُقَهَاءِ بِـ \" الْغَلاَءِ \" \" وَالرُّخْصِ \" فِي هَذَا الْمَقَامِ.\rفَفِي هَذِهِ الْحَالَةِ: إِذَا تَغَيَّرَتْ قِيمَةُ النَّقْدِ غَلاَءً أَوْ رُخْصًا بَعْدَمَا ثَبَتَ فِي ذِمَّةِ الْمَدِينِ بَدَلاً فِي قَرْضٍ أَوْ دَيْنِ مَهْرٍ أَوْ ثَمَنِ مَبِيعٍ أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ وَقَبْل أَنْ يُؤَدِّيَهُ، فَقَدِ اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِي مَا يَلْزَمُ الْمَدِينَ أَدَاؤُهُ. عَلَى ثَلاَثَةِ أَقْوَالٍ:\rالْقَوْل الأَْوَّل: لأَِبِي حَنِيفَةَ وَالشَّافِعِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ وَالْمَالِكِيَّةِ عَلَى الْمَشْهُورِ عِنْدَهُمْ، وَهُوَ أَنَّ الْوَاجِبَ عَلَى الْمَدِينِ أَدَاؤُهُ هُوَ نَفْسُ النَّقْدِ الْمُحَدَّدِ فِي الْعَقْدِ وَالثَّابِتُ دَيْنًا فِي الذِّمَّةِ، دُونَ زِيَادَةٍ أَوْ نُقْصَانٍ، وَلَيْسَ لِلدَّائِنِ سِوَاهُ (1) . وَقَدْ كَانَ الْقَاضِي أَبُو يُوسُفَ يَذْهَبُ إِلَى هَذَا الرَّأْيِ أَوَّلاً ثُمَّ رَجَعَ عَنْهُ.\rوَالْقَوْل الثَّانِي: لأَِبِي يُوسُفَ - وَعَلَيْهِ الْفَتْوَى عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ - وَهُوَ أَنَّهُ يَجِبُ عَلَى الْمَدِينِ أَنْ يُؤَدِّيَ قِيمَةَ النَّقْدِ الَّذِي طَرَأَ عَلَيْهِ الْغَلاَءُ أَوِ الرُّخْصُ يَوْمَ ثُبُوتِهِ فِي الذِّمَّةِ مِنْ نَقْدٍ رَائِجٍ. فَفِي الْبَيْعِ تَجِبُالْقِيمَةُ يَوْمَ الْعَقْدِ، وَفِي الْقَرْضِ يَوْمَ الْقَبْضِ (1) .","part":1,"page":147},{"id":148,"text":"وَالْقَوْل الثَّالِثُ: وَجْهٌ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ، وَهُوَ أَنَّ التَّغَيُّرَ إِذَا كَانَ فَاحِشًا، فَيَجِبُ أَدَاءُ قِيمَةِ النَّقْدِ الَّذِي طَرَأَ عَلَيْهِ الْغَلاَءُ أَوِ الرُّخْصُ. أَمَّا إِذَا لَمْ يَكُنْ فَاحِشًا فَالْمِثْل (2) .\rقَال الرَّهُونِيُّ - مُعَلِّقًا عَلَى قَوْل الْمَالِكِيَّةِ الْمَشْهُورِ بِلُزُومِ الْمِثْل وَلَوْ تَغَيَّرَ النَّقْدُ بِزِيَادَةٍ أَوْ نَقْصٍ -: \" قُلْتُ: وَيَنْبَغِي أَنْ يُقَيَّدَ ذَلِكَ بِمَا إِذَا لَمْ يَكْثُرْ ذَلِكَ جِدًّا، حَتَّى يَصِيرَ الْقَابِضُ لَهَا كَالْقَابِضِ لِمَا لاَ كَبِيرَ مَنْفَعَةٍ فِيهِ؛ لِوُجُودِ الْعِلَّةِ (3) الَّتِي عَلَّل بِهَا الْمُخَالِفُ فِي الْكَسَادِ (4) .\rMUJAWWIB : Ghufron Bkl, Iki Alawiy Rek.\rLink Diskusi :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/882223991800410/\r3839. STATUS UANG PENDAFTARAN SANTRI YANG TIDAK JADI MASUK PONDOK PESANTREN\rPERTANYAAN :\r> Sang Pencari RidhoMu\rAssalamualaikum wr wb. Ketika Ada seseorang ktakanlah Si A Dia adalah Seorang bendhahara Pondok. Dia Adalah pemegang Uang Gedung (Pendaftaran) Ketika Ada beberapa Santri Yang Tidak Jadi Masuk Tapi Sudah Membayar, Otomatis Uang Tak kembali.. Kemudian Si A tidak Menyetorkan Uang pendftaran santri Yang Ga Jadi itu ke Kyainya Dengan Tujuan Untuk Membiyayai Ketika Ada salah Satu Santri SaKIt. Tapi Kemudian Uangnya Dipakai Si A. Untuk Membeli Pakaian, Kitab DLL. 5/ 6 bulan Kemudian, Dia masuk Rumah Sakit ... Pertanyaan :\rBolehkah Uang Itu dinisbatkan Untuk Berobat Padahal untuk membeli Pakaian kitab dll...... padahal biaya RS Sudah Orang tuanya yang menanggung. Wassalam.\rJAWABAN :\r> Ghufron Bkl","part":1,"page":148},{"id":149,"text":"Uang itu Tidak boleh dinisbatkan Untuk Berobat, bahkan uang tsb harus dikembalikan pada pemiliknya. Namun Kalo pemiliknya ikhlas maka berarti uang tsb milik pondok.\rReferensi :\rنهاية المحتاج ج ص 134\rوَمَنْ أَعْطَى لِوَصْفٍ يَظُنُّ بِهِ كَفَقْرٍ أَوْ صَلَاحٍ أَوْ نَسَبٍ أَوْ عَلِمَ وَهُوَ فِي الْبَاطِنِ بِخِلَافِهِ أَوْ كَانَ بِهِ وَصْفٌ بَاطِنًا بِحَيْثُ لَوْ عَلِمَ لَمْ يُعْطِهِ حُرِّمَ عَلَيْهِ الْأَخْذُ مُطْلَقًا ، وَيَجْرِي ذَلِكَ فِي الْهَدِيَّةِ أَيْضًا فِيمَا يَظْهَرُ ، بَلْ الْأَوْجَهُ إلْحَاقُ سَائِرِ عُقُودِ التَّبَرُّعِ بِهَا كَوَصِيَّةٍ وَهِبَةٍ وَنَذْرٍ وَوَقْفٍ\rحاشيتا قليوبى وعميرة ج 3 ص 204\rفَصْلٌ صَدَقَةُ التَّطَوُّعِ سُنَّةٌ لِمَا وَرَدَ فِيهَا مِنْ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ ، ( وَتَحِلُّ لِغَنِيٍّ وَكَافِرٍ ) قَالَ فِي الرَّوْضَةِ يُسْتَحَبُّ لِلْغَنِيِّ التَّنَزُّهُ عَنْهَا وَيُكْرَهُ لَهُ التَّعَرُّضُ لِأَخْذِهَا وَفِي الْبَيَانِ لَا يَحِلُّ لَهُ أَخْذُهَا مُظْهِرَ الْفَاقَةِ ، وَهُوَ حَسَنٌ وَفِي الْحَاوِي الْغَنِيُّ بِمَالٍ ، أَوْ بِصَنْعَةٍ سُؤَالُهُ حَرَامٌ ، وَمَا يَأْخُذُهُ حَرَامٌ عَلَيْهِ انْتَهَى.","part":1,"page":149},{"id":150,"text":"قَوْلُهُ : ( وَمَا يَأْخُذُهُ حَرَامٌ عَلَيْهِ ) أَيْ عِنْدَ شَيْءٍ مِمَّا تَقَدَّمَ ، أَوْ عِنْدَ فَقْدِ صِفَةٍ أَعْطَى لِأَجْلِهَا قَالَ شَيْخُنَا : وَحَيْثُ حَرُمَ لَا يَمْلِكُ مَا أَخَذَهُ ، وَيَجِبُ رَدُّهُ إلَّا إذَا عَلِمَ الْمُعْطِي بِحَالِهِ فَيَمْلِكُهُ ، وَلَا حُرْمَةَ إلَّا إنْ أَخَذَهُ بِسُؤَالٍ أَوْ إظْهَارِ فَاقَةٍ فَيَمْلِكُهُ مَعَ الْحُرْمَةِ ، وَفِي شَرْحِ شَيْخِنَا وَحَيْثُ أَعْطَاهُ عَلَى ظَنِّ صِفَةٍ وَهُوَ فِي الْبَاطِنِ بِخِلَافِهَا وَلَوْ عَلِمَ بِهِ لَمْ يُعْطِهِ لَمْ يَمْلِكْ مَا أَخْذَهُ ، ثُمَّ قَالَ : وَيَجْرِي ذَلِكَ فِي سَائِرِ عُقُودِ التَّبَرُّعِ كَهِبَةٍ وَهَدِيَّةٍ وَوَقْفٍ وَنَذْرٍ وَوَصِيَّةٍ فَرَاجِعْهُ .\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/910536492302493/\rwww.fb.com/notes/927244557298353\r3846. STATUS UANG JASA PARKIR\rPERTANYAAN :\r> Sanusi Uci\rAssalamualaikum. Apa status dari uang parkiran motor dan lain ?\rJAWABAN :\r> Ghufron Bkl\rWa'alaikum salam. Pada dasarnya dalam akad Wadi'ah juga mengenal istilah upah atau ongkos, artinya diperbolehkan untuk mengambil ongkos atas jasa tersebut. Namun karena dalam kasus di atas tidak disertai adanya transaksi atau pensyaratan harus membayar upah, maka bagi pengguna jasa parkir tidak harus membayar. Sedangkan uang yang diberikan tersebut lebih tepatnya dikatakan shadaqoh/hibah.\rReferensi:\rالموسوعة الفقهية الجزء 93 صحـ : 3مكتبة الشاملة الإصدار الثاني","part":1,"page":150},{"id":151,"text":"(وَالثَّالِثَةُ) أَنَّهُ عَقْدُ تَبَرُّعٍ إِذْ لاَ خِلاَفَ بَيْنَ الْفُقَهَاءِ فِيْ أَنَّ اْلأَصْلَ فِي الْوَدِيْعَةِ أَنَّهَا مِنْ عُقُوْدِ التَّبَرُّعَاتِ الَّتِيْ تَقُوْمُ عَلَى أَسَاسِ الرِّفْقِ وَالْمَعُوْنَةِ وَتَنْفِيْسِ الْكُرْبَةِ وَقَضَاءِ الْحَاجَةِ فَلاَ تَسْتَوْجِبُ مِنَ الْمُوْدِعِ بَدَلاً عَنْ حِفْظِ الْوَدِيْعَةِ خِلاَفًا لِعُقُوْدِ الْمُعَاوَضَاتِ الْمَالِيَّةِ الَّتِيْ تَقُوْمُ عَلَى أَسَاسِ إِنْشَاءِ حُقُوْقٍ وَالْتِزَامَاتٍ مَالِيَّةٍ مُتَقَابَلَةٍ بَيْنَ الْعَاقِدَيْنِ غَيْرَ أَنَّهُمُ اخْتَلَفُوْا فِيْ مَشْرُوْعِيَّةِ اشْتِرَاطِ عِوَضٍ فِيْهَا لِلْوَدِيْعِ مُقَابِلَ حِفْظِهِ لِلْوَدِيْعَةِ عَلَى ثَلاَثَةِ أَقْوَالٍ وَذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ إِلَى أَنَّهُ يَجُوْزُ لِلْوَدِيْعِ أَنْ يَشْتَرِطَ أَجْرًا عَلَى حِفْظِ الْوَدِيْعَةِ وَاعْتَبَرُوا شَرْطَهُ صَحِيْحًا مُلْزَمًا. وَقَدْ جَاءَ فِي الْمَادَّةِ مِنْ مُرْشِدِ الْحَيْرَانِ لَيْسَ لِلْمُسْتَوْدِعِ أَنْ يَأْخُذَ أُجْرَةً عَلَى حِفْظِ الْوَدِيْعَةِ مَا لَمْ يَشْتَرِطْ ذَلِكَ فِي الْعَقْدِ بَلْ إِنَّ الشَّافِعِيَّةَ نَصُّوْا عَلَى حَقِّ الْوَدِيْعِ فِيْ أَخْذِ اْلأُجْرَةِ عَلَى الْحِفْظِ وَالْحِرْزِ حَيْثُ يَكُوْنُ قَبُوْلُ الْوَدِيْعَةِ وَاجِبًا عَلَى الْوَدِيْعِ لِتَعَيُّنِهِ قَالُوْا ِلأَنَّ اْلأَصَحَّ جَوَازُ أَخْذِ اْلأُجْرَةِ عَلَى الْوَاجِبِ الْعَيْنِيِّ كَإِنْقَاذِ الْغَرِيْقِ وَتَعْلِيْمِ الْفَاتِحَةِ وَنَحْوِ ذَلِكَ اهـ\rحاشية الجمل الجزء 3 صحـ : 629 مكتبة دار الفكر","part":1,"page":151},{"id":152,"text":"وَلَوْ عَمِلَ لِغَيْرِهِ عَمَلًا مِنْ غَيْرِ اسْتِئْجَارٍ وَلاَ جَعَالَةٍ فَدَفَعَ إلَيْهِ مَالًا عَلَى ظَنِّ وُجُوبِهِ عَلَيْهِ لَمْ يَحِلَّ لِلْعَامِلِ وَعَلَيْهِ أَنْ يُعْلِمَهُ أَوَّلاً أَنَّهُ لاَ يَجِبُ عَلَيْهِ الْبَذْلُ ثُمَّ الْمَقْبُولُ هِبَةٌ لَوْ أَرَادَ الدَّافِعُ أَنْ يَهَبَهُ مِنْهُ وَلَوْ عَلِمَ أَنَّهُ لاَ يَجِبُ عَلَيْهِ الْبَذْلُ وَدَفَعَهُ إلَيْهِ هَدِيَّةً حَلّ اهـ\r> Nur Hasyim S Anam\rWa'alaikum salam. Bisa sewa, bisa ujroh. Wallahu A'lam. ( Rz )\rLINK ASAL\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/838452489510894/\r3858. MUSAQOH SELAIN KURMA DAN ANGGUR\rPERTANYAAN :\r> Yusuf Al Asad\rBade tangklet. bolehkah akad musaqoh itu diterapkan di selain anggur dan kurma ? contoh perkebunan sawit.matur suwun.\rJAWABAN:\r> Muhib Salaf soleh\rTidak boleh mas. Musaqoh itu khusus hanya bagi kurma dan anggur.\rالتقريرات السديدة ج 2 ص 133.\rشروط مورد العمل (الشجر) ستة :1.أن يكون نخلا أو عنباو اقتصر عليهما فقط لورود النص في النخل و ألحق به العنب بجامع وجوب الزكاة و إمكان الخرص و لأن غيرهما غالبا ينمو من غير تعهد.\rشرح الياقوت النفيس ص 459.\rشروط مورد الكساقاة ستة :أن يكون نخلا أو عنبا فلا تصح المساقاة على غيرهما استقلالا كتين و تفاح و بطخ و صنوبر. و الله أعلم\r> Ulilalbab Hafas\rKitab roudloh :\rلشرط ] الأول : أن يكون نخلا أو عنبا ، فأما غيرهما من النبات ، فقسمان . [ القسم الأول ] : ما له ساق ، وما لا . والأول ضربان . [ الضرب ] الأول : ما له ثمرة كالتين والجوز ، والمشمش ، والتفاح ونحوها ، وفيها قولان . القديم : جواز المساقاة عليها . والجديد : المنع . وعلى الجديد ، في شجر المقل وجهان ، جوزها ابن سريج ، ومنعها غيره . قلت : الأصح : المنع . والله أعلم .\r> Wong Gendeng","part":1,"page":152},{"id":153,"text":"Kalangan Imam Syafi’iyah berpendapat pada pohon kurma dan anggur saja. Landasan Imam Syafi’i tersebut berkaitan dengan hukum zakat-Nya ?Bahkan-Imam Syafi’i dalam qaul jadid hanya membolehkan musaqah untuk pohon kurma dan anggur. Musaqah tidak dapat dilakukan atas tanaman lain, kecuali tanaman tersebut ditanam di kebun kurma atau anggur. ?Tetapi dalam qaul qadim, Iman Syafi’i membolehkan musaqah untuk semua jenis tanaman.\rReferensi :\rالموسوعة الشاملة - الحاوي الكبير ج 7 ص 882\rفصل : والقسم الثالث ما كان شجرا ففي جواز المساقاة عليه قولان : أحدهما وبه قال في القديم ، وهو قول أبي ثور أن المساقاة عليه جائزة ووجهه أنه لما اجتمع في الأشجار معنى النخل من بقاء أصلها ، والمنع من إجارتها كانت كالنخل في جواز المساقاة عليها مع أنه قد كان بأرض خيبر شجر لم يرو عن النبي - {صلى الله عليه وسلم} - إفرادها عن حكم النخل ، ولأن المساقاة مشتقة الاسم مما يشرب بساق .والقول الثاني : وبه قال في الجديد ، وهو قول أبي يوسف أن المساقاة على الشجر حكمها باطلة ، اختصاصا بالنخل والكرم ، لما ذكره الشافعي من المعنيين في الفرق بين النخل والكرم ، وبين الشجر ، أحدهما اختصاص النخل والكرم بوجوب الزكاة فيهما دون ما سواهما من جميع الأشجار ، والثاني : بروز ثمرهما وإمكان خرصهما دون غيرهما من سائر الأشجار ، فأما إذا كان بين النخل شجر قليل فساقاه عليهما صحت المساقاة فيهما وكان الشجر تبعا كما تصح المخابرة في البياض الذي بين النخل ويكون تبعا\rشرح النووي على مسلم","part":1,"page":153},{"id":154,"text":"واختلفوا فيما تجوز عليه المساقاة من الأشجار ، فقال داود : يجوز على النخل خاصة ، وقال الشافعي : على النخل والعنب خاصة ، وقال مالك : تجوز على جميع الأشجار ، وهو قول للشافعي . فأما داود فرآها رخصة فلم يتعد فيه المنصوص عليه . وأما الشافعي فوافق داود في كونها رخصة ، لكن قال : حكم العنب حكم النخل في معظم الأبواب . وأما مالك فقال : سبب الجواز الحاجة والمصلحة . وهذا يشمل الجميع فيقاس عليه ، والله أعلم .\rقوله : ( بشطر ما يخرج منها ) في بيان الجزء المساقى عليه من نصف أو ربع أو غيرهما من الأجزاء المعلومة ، فلا يجوز على مجهول كقوله : على أن ذلك بعض الثمر . واتفق المجوزون للمساقاة على جوازها بما اتفق المتعاقدان عليه من قليل أو كثير .\rقوله : ( من ثمر أو زرع ) يحتج به الشافعي وموافقوه وهم الأكثرون في جواز المزارعة تبعا للمساقاة ، وإن كانت المزارعة عندهم لا تجوز منفردة ، فتجوز تبعا للمساقاة ، فيساقيه على النخل ، ويزارعه على الأرض كما جرى في خيبر . وقال مالك : لا تجوز المزارعة لا منفردة ولا تبعا إلا ما كان من الأرض بين الشجر . وقال أبو حنيفة وزفر : المزارعة والمساقاة فاسدتان سواء جمعهما أو فرقهما . ولو عقدتا فسختا . وقال ابن أبي ليلى ، وأبو يوسف ، ومحمد ، وسائر الكوفيين ، وفقهاء المحدثين ، وأحمد ، وابن خزيمة ، وابن شريح وآخرون : تجوز المساقاة والمزارعة مجتمعتين ، وتجوز كل واحدة منهما منفردة . وهذا هو الظاهر المختار لحديث خيبر . ولا يقبل دعوى كون المزارعة في خيبر إنما جازت تبعا للمساقاة ، بل جازت مستقلة ، ولأن المعنى المجوز للمساقاة موجود في المزارعة قياسا على القراض ، فإنه جائز بالإجماع ، وهو كالمزارعة في كل شيء ، ولأن المسلمين في جميع الأمصار والأعصار مستمرون على العمل بالمزارعة .\rالموسوعة الفقهية الكويتية","part":1,"page":154},{"id":155,"text":"قال الشّافعيّة: المساقاة جائزة في النّخل والكرم دون غيرهما, لأنّه عليه الصّلاة والسّلام \" أخذ صدقة ثمرتها بالخرص, وثمرها مجتمع بائن من شجره لا حائل دونه يمنع إحاطة النّاظر إليه, وثمر غيرها متفرّق بين أضعاف ورقٍ لا يحاط بالنّظر إليه فلا يجوز المساقاة إلّا على النّخل والكرم.\rقال الماورديّ: وجملة الشّجر من النّبات مثمراً على ثلاثة أقسام:\rالقسم الأوّل: لا يختلف مذهب الشّافعيّ في جواز المساقاة عليه وهو: النّخل والكرم. والقسم الثّاني: ما لا يختلف مذهب الشّافعيّ في بطلان المساقاة فيه, وهو ما لا ساقٍ له, كالبطّيخ والقثّاء والباذنجان, والبقول الّتي لا تثبت في الأرض ولا تجز إلّا مرّةً واحدةً, فلا تجوز المساقاة عليها, كما لا يجوز على الزّرع.\rفإن كانت تثبت في الأرض وتجز مرّةً بعد مرّة فالمذهب المنع وهو الأصح.\rوالقسم الثّالث: ما كان شجراً, ففي جواز المساقاة عليه قولان:\rأحدهما: الجواز, وهو قول الشّافعيّ في القديم, ووجهه: أنّه لمّا اجتمع في الأشجار معنى النّخل من بقاء أصلها والمنع من إجارتها كانت كالنّخل في جواز المساقاة عليها, مع أنّه قد كان بأرض خيبر شجر لم يرو عن النّبيّ صلّى اللّه عليه وسلّم إفرادها عن حكم النّخل, ولأنّ المساقاة مشتقّة الاسم ممّا يشرب بساقٍ.\rوالقول الثّاني: وبه قال في الجديد, وهو قول أبي يوسف, أنّ المساقاة على الشّجر باطلة, اختصاصاً بالنّخل والكرم لما ذكره الشّافعي من المعنيين في الفرق بين النّخل والكرم وبين الشّجر:\rواحد المعنيين هو: اختصاص النّخل والكرم بوجوب الزّكاة فيهما دون ما سواهما من جميع الأشجار.\rوالثّاني: بروز ثمرهما وإمكان خرصهما دون غيرهما من سائر الأشجار, فأمّا إذا كان بين النّخل شجر قليل فساقاه عليهما صحّت المساقاة فيهما, وكان الشّجر تبعاً, كما تصح المخابرة في البياض الّذي بين النّخل ويكون تبعاً\rبدية المجتهد","part":1,"page":155},{"id":156,"text":"واختلفوا في محل المساقاة، فقال داود: لا تكون المساقاة إلا في النخيل فقط : وقال الشافعي: في النخل والكرم فقط؛ وقال مالك: تجوز في كل أصل ثابت كالرمان والتين والزيتون وما أشبه ذلك من غير ضرورة، وتكون في الأصول غير الثابتة كالمقاث?\r> Muhib Salaf Soleh\rTidak boleh berfatwa dengan qoul qodim kecuali 18 masalah. Dan masalah musaqoh selain kurma dan anggur itu tidak termasuk salah satu yang 18 itu. Wallohu a'lam. (AS).\rالتقريرات السديدة ج 1 ص 32.\rفلا يجوز الإفتاء بالمذهب القديم إلا ثماني عشرة مسألة فيعمل بها من المذهب القديم و إن كان ما يخالفها في المذهب الجديد و ذلك لقوة الدليل الذي ظهر لمن جاء بعد الإمام الشافعي و هي :1. عدم وجوب التباعد عن النجاسة في الماء الكثير بقدر قلتين.2.و عدمة تنجس الماء الجارى إلا بالتغير .3. و عدم النقض بلمس المحرم.4. و تحريم أكل الجلد المدبوغ.5. و التثويب في أذان الصبح.6. و امتداد وقت المغرب إلى مغيب الشفق .7. و استحباب تعجيل العشاء 8. و عدم ندب قراءة السورة في الأخيرتين9. و الجهر بالتأمين للمأموم في الجهرية.10. و ندب الخط عند عدم الشاخص.11.و جواز اقتداء المنفرد في أثناء صلاته .12.و كراهية تقليم أظافر الميت.13. و عدم اعتبار الحول في الركاز.14. و جواز صيام الولي عن الميت الذي عليه صوم.15. و جواز اشتراط التحلل بالمرض 16. و اجبار الشريك على العمارة 17. و جعل الصداق في يد الزوج مضمونا.18. و وجوب الحد بوطء المملوكة المحرم. و الله أعلم\r>?? ??\rAl-fiqh ala madzahibil arba'ah 3/27 :\rالحنفية - قالوا: المساقاة وتسمى المعاملة تصح في كل نبات يبقى في ا?رض سنة فأكثر، فتصح في الشجر الكبير كشجر النبق (النخل) ونحوهما، وكذلك تصح في الزرع سواء كان خضرا كالراث والسلق والجرجير ونحو ذلك وتسمى بالبقول\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/927019457320863/","part":1,"page":156},{"id":157,"text":"www.fb.com/notes/928160060540136\r3864. HUKUM GAJI PEGAWAI YANG SERING ABSEN\rPERTANYAAN :\r> Mbahe Sopo\rAssalamu'alaikum warohmatullah wabarokatuh. Bismillaah. Sahabat yag dirahmati allah, ijinkan alfaqir bertanya sesuatu dimana hal ini berhubungan dengan saya pribadi. Statuz saya itu adalah seorang perantow yang mencari sesuap nasi untuk keluarga. Disini saya bekerja pada non muslim (cina) dalam peraturan pekerjaan yang dibuat oleh sang majikan. Dari segi waktu. Para pekerja diharuskan berangkat pada jam 7:00 dan pulang kerja diharuskan 7:00 kalo dijumlah menjadi 10 jam di potong jam rehat 3 jam.Di samping itu ada tambahan kerja lembur 4 jam buat nambah-nambah sebagai uang makan Cuma para pekerja kebanyakan tidak amanah dalam menjalankan aturan tersebut. Bila berangkat kerja kadang jam 8 kadang jam 8:30 pulangnya pun kadang jam 5 kadang jam 6. Naa sedangkan yang 4 jam tidak bekerja cuma kalo sudah mao gaji semua dikira kerja 14 jam. Pertanyaannya :\r1. Apakah dengan tidak menjalankan amanah dalam peraturan dari sang majikan termasuk dosa sementara saya dan kawan kawan mempunyai kewajiban yang tidak boleh ditinggal yaitu sembahyang. ?\r2. Apakah uang hasil kerja yang mengurangi waktu tersebut termasuk katagori uang haram ? Poro guru mohon dengan sangat atas jawaban antum semua. Sebelumnya saya ucapkan banyak terimakasih.\rJAWABAN :\rWa'alaikumsalam. Termasuk korupsi (mencuri) waktu, dan uang tersebut (yang tidak kerja tapi dibayar) itu haram. Untuk urusan Ibadah Sholat, alangkah baiknya minta waktu sejenak pada majikan untuk melakukan Sholat. Wallohu A'lam. (ALF).\r> Ghufron Bkl","part":1,"page":157},{"id":158,"text":"بغية المسترشدين ص 165(مسألة: ب): أخلّ الأجير بشيء مما استؤجر عليه، فإن كان لعذر ولم تمكنه استنابة من يقوم مقامه فينبغي أن لا يأثم، لكنه لا يستحق شيئاً مدة الإخلال ولو في النادر، إلا إن كان من المستثنيات شرعاً، أو استثنى عند العقد أو لغير عذر وأمكنه الاستنابة حيث جوّزناها بأن وردت الإجارة على الذمة فلم يستنب أثم.\r2. Upah di hari yang tidak kerja hukumnya haram kecuali bosnya merelakan :\rنهاية المحتاج ج ص 134\rوَمَنْ أَعْطَى لِوَصْفٍ يَظُنُّ بِهِ كَفَقْرٍ أَوْ صَلَاحٍ أَوْ نَسَبٍ أَوْ عَلِمَ وَهُوَ فِي الْبَاطِنِ بِخِلَافِهِ أَوْ كَانَ بِهِ وَصْفٌ بَاطِنًا بِحَيْثُ لَوْ عَلِمَ لَمْ يُعْطِهِ حُرِّمَ عَلَيْهِ الْأَخْذُ مُطْلَقًا ، وَيَجْرِي ذَلِكَ فِي الْهَدِيَّةِ أَيْضًا فِيمَا يَظْهَرُ ، بَلْ الْأَوْجَهُ إلْحَاقُ سَائِرِ عُقُودِ التَّبَرُّعِ بِهَا كَوَصِيَّةٍ وَهِبَةٍ وَنَذْرٍ وَوَقْفٍ\rحاشيتا قليوبى وعميرة ج 3 ص 204\rفَصْلٌ صَدَقَةُ التَّطَوُّعِ سُنَّةٌ لِمَا وَرَدَ فِيهَا مِنْ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ ، ( وَتَحِلُّ لِغَنِيٍّ وَكَافِرٍ ) قَالَ فِي الرَّوْضَةِ يُسْتَحَبُّ لِلْغَنِيِّ التَّنَزُّهُ عَنْهَا وَيُكْرَهُ لَهُ التَّعَرُّضُ لِأَخْذِهَا وَفِي الْبَيَانِ لَا يَحِلُّ لَهُ أَخْذُهَا مُظْهِرَ الْفَاقَةِ ، وَهُوَ حَسَنٌ وَفِي الْحَاوِي الْغَنِيُّ بِمَالٍ ، أَوْ بِصَنْعَةٍ سُؤَالُهُ حَرَامٌ ، وَمَا يَأْخُذُهُ حَرَامٌ عَلَيْهِ انْتَهَى.","part":1,"page":158},{"id":159,"text":"قَوْلُهُ : ( وَمَا يَأْخُذُهُ حَرَامٌ عَلَيْهِ ) أَيْ عِنْدَ شَيْءٍ مِمَّا تَقَدَّمَ ، أَوْ عِنْدَ فَقْدِ صِفَةٍ أَعْطَى لِأَجْلِهَا قَالَ شَيْخُنَا : وَحَيْثُ حَرُمَ لَا يَمْلِكُ مَا أَخَذَهُ ، وَيَجِبُ رَدُّهُ إلَّا إذَا عَلِمَ الْمُعْطِي بِحَالِهِ فَيَمْلِكُهُ ، وَلَا حُرْمَةَ إلَّا إنْ أَخَذَهُ بِسُؤَالٍ أَوْ إظْهَارِ فَاقَةٍ فَيَمْلِكُهُ مَعَ الْحُرْمَةِ ، وَفِي شَرْحِ شَيْخِنَا وَحَيْثُ أَعْطَاهُ عَلَى ظَنِّ صِفَةٍ وَهُوَ فِي الْبَاطِنِ بِخِلَافِهَا وَلَوْ عَلِمَ بِهِ لَمْ يُعْطِهِ لَمْ يَمْلِكْ مَا أَخْذَهُ ، ثُمَّ قَالَ : وَيَجْرِي ذَلِكَ فِي سَائِرِ عُقُودِ التَّبَرُّعِ كَهِبَةٍ وَهَدِيَّةٍ وَوَقْفٍ وَنَذْرٍ وَوَصِيَّةٍ فَرَاجِعْهُ .\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/903654709657338/\rwww.fb.com/notes/928303637192445\r3865. HUKUM ORANG TUA MEMAKAN HARTA ANAKNYA\rPERTANYAAN :\r> Ifas Irama\rAssalamu'alaikum wr wb. Mau tanya pak ustadz..? anak semuanya tanggung jawab orang tuanya. Nah pertanyaan saya. Saya punya anak masih umur 4 tahun terus di jalan aku ketemu sama orang. Terus orang tadi memberi roti, nih roti buat anakmu. Apakah boleh aku makan roti tadi...? mau minta ke anak, anakku masih kecil belum tahu apa-apa. Mohon ibarotnya pak ustadz..? wassalam.\rJAWABAN :\rWaalaikum salam wr wb. Melihat kasus yang ditanyakan dan melihat berbagai pendapat ulama' tentang hukum orang tua mengambil harta anaknya, maka anda boleh memakan roti yang diberikan orang lain ke anak anda tersebut.\r> Mumu Bsa\rHukumnya khilaf, ada 3 pendapat :","part":1,"page":159},{"id":160,"text":"اختلف الفقهاء في حكم أخذ الوالد مال ولده على ث?ثة أقوال : - ا?ول : ليس ل?ب أن يتملك من مال ولده إ? فيما احتاج إليه من نفقته . وبه قال جمهور الفقهاء من الحنفية والمالكية والشافعية ورواية عن ا?مام أحمد . - الثاني : أن ل?ب أن يتملك من مال ولده ما شاء مطلقًا . وبه قال فريق من الصحابة كعمر وعلي وابن عباس رضي الله عنهم . - الثالث : أن ل?ب أن يتملك من مال ولده بشروط أهمها عدم ا?ضرار به . وهو المعتمد في الفتوى عند الحنابلة\rUlama ahli fiqih berbeda pendapat tentang hukum orang tua mengambil harta anaknya dalam 3 pendapat :\r1.…Ayah tidak boleh memiliki harta anaknya kecuali yang dibutuhkan untuk menafkahi dirinya. Ini pendapat jumhur Fuqoha' Hanafiyah, Malikiyah, Syafi'iyyah dan satu riwayat dari Imam Ahmad.\r2.…Ayah boleh memiliki harta anaknya berapapun secara mutlak. Ini pendapat segolongan shahabat seperti Umar bin Khothob, 'Ali bin Abi Thalib, Ibnu 'Abbas Radhiyallohu 'anhum.\r3.…Ayah boleh memiliki harta anaknya dengan beberapa syarat, syarat yang terpenting tidak membuat kerusakan dengan harta tersebut. Ini pendapat mu'tamad fatwa madzhab Hambali.\r> Mas Hamzah\rAda sebuah hadis riwayat Abu Dawud :\rعن عائشة عن النبي صلى الله عليه و سلم أنه قال \" ولد الرجل من كسبه من أطيب كسبه فكلوا من أموالهم \"\rDari Aisyah dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Anak seseorang itu termasuk jerih payah orang tersebut bahkan termasuk jerih payahnya yang paling bernilai, maka makanlah sebagian harta anak.” (HR. Abu Daud)\r- kitab aunul ma'bud syarah sunan Abu Dawud :","part":1,"page":160},{"id":161,"text":"( ولد الرجل من كسبه ) : قال الطيبي : تسمية الولد بالكسب مجاز ( حماد بن أبي سليمان ) : في روايته عن الحكم بن عتيبة عن عمارة بن عمير (زاد فيه ) : أي بعد قوله : فكلوا من أموالهم ( إذا احتجتم ) : أي إلى أموالهم . قال الطيبي : نفقة الوالدين على الولد واجبة إذا كانا محتاجين عاجزين عن السعي عند الشافعي وغيره لا يشترط ذلك\rقال المنذري : وقد أخرجه النسائي وابن ماجه من حديث إبراهيم النخعي عن الأسود بن زيد عن عائشة ، وهو حديث حسن .\r> Wong Gendeng\rTambahan Referensi :\rفي المغني ج 6 ص 320\rللأب أن يأخذ من مال ولده ما شاء، ويتملكه مع حاجة الأب إلى ما يأخذه، ومع عدمها، صغيراً كان الولد أو كبيراً، بشرطين:\rأحدهما: أن لا يجحف بالابن، ولا يضر به، ولا يأخذ شيئاً تعلقت به حاجته.الثاني: أن لا يأخذ من مال ولد فيعطيه الآخر\rوقال أبو حنيفة ومالك والشافعي : ليس له أن يأخذ من مال ولده إلا بقدر حاجته\rAda sebuah riwayat hadits :\rقَالُوا إِنَّ يَدَ الْوَالِدِ مَبْسُوطَةٌ فِي مَالِ وَلَدِهِ يَأْخُذُ مَا شَاءَ وَقَالَ بَعْضُهُمْ لَا يَأْخُذُ مِنْ مَالِهِ إِلَّا عِنْدَ الْحَاجَةِ إِلَيْهِ\rMereka berpendapat; Sesungguhnya tangan orang tua meliputi harta anaknya, ia boleh mengambil yang ia kehendaki. Namun sebagian mereka berpendapat; Tidak boleh mengambil dari hartanya kecuali ketika membutuhkannya. (HR. Tirmidzi No.1278). Wallohu A'lam (ALF).\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/904752739547535/\rwww.fb.com/notes/928326580523484\r4037. HUKUM MENGAMBIL BUAH DARI TANAMAN MILIK PEMERINTAH ( UMUM )\rPERTANYAAN :\rAssalaamu 'alaikum wr.wb. Pertanyaan : Bagaimana hukumnya mengambil buah milik pemerintah ? misalnya pohon buah tersebut ditanam di pinggir-pinggir jalan atau di taman-taman umum. [ Santriwati Dumay ]","part":1,"page":161},{"id":162,"text":"JAWABAN :\rWa'alaikumussalaam. Hukum asal tidak boleh, kecuali ada pembolehan dari pemerintah. Karena satu contoh untuk menebang pohon pinggir jalan saja harus seijin dinas pertamanan / perhubungan... kalo maksa, siap-siap kena pasal aturan pemerintah. Itu kalo dipinggir jalan, apalagi pohon-pohon yang ditanam perhutani. Jadi Jika memang sang pemilik / pemerintah sudah tak menggubris atau sudah diketahui kerelaannya maka boleh untuk mengambilnya. Wallohu a'lam. (alf)\rحاشيتا قليوبى وعميرة جزأ 2 ص 291\rيجوز التقاط السنابل للتملك ان اعرض مالكها عنها او علم رضاه\rTambahan ibaroh :\r( حاشية الجمل 3 / 602 )\rيجوز التقاط السنابل وقت الحصاد ان علم اعراض المالك عنها او رضاه بأخذها و الا فلا ولا فرق فى الجواز فى الاول بين ان يكون المال زكويا او لا لانها كانت فى محل الاعراض من المالك الذى حصته اكثر حعلت فى محل الاعراض من المستحقين تبعا لقلة حصتهم اهـ م ر\rMUJAWWIB : Ubaidillah Hasan, Mbah Godek\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/936846749671467/\rwww.fb.com/notes/937766506246158\r4058. HUKUM MENYITA BARANG KARENA TIDAK BISA BAYAR HUTANG\rPERTANYAAN :\r> Ari Alghifari\rPengin tanya kalau menyita barang karena tak bisa bayar hutang itu gimana sih hukumnya ???\rJAWABAN :\r> Ghufron Bkl\rDiperbolehkan, jika itu memang alternatif terakhir untuk mengambil haknya, dengan syarat harta yang diambil sejenis atau senilai dengan hutangnya. Wallahu a'lam (DA). Referensi :\rحاشية الجمل الجزء 5 صحـ","part":1,"page":162},{"id":163,"text":": 410 مكتبة دار الفكر( وَإِنْ اسْتَحَقَّ ) شَخْصٌ ( عَيْنًا ) عِنْدَ آخَرَ ( فَكَذَا ) تُشْتَرَطُ الدَّعْوَى بِهَا عِنْدَ حَاكِمٍ ( إنْ خَشِيَ بِأَخْذِهَا ضَرَرًا ) تَحَرُّزًا عَنْهُ وَإِلا فَلَهُ أَخْذُهَا اسْتِقْلالا لِلضَّرُورَةِ ( أَوْ ) اسْتَحَقَّ ( دَيْنًا عَلَى غَيْرِ مُمْتَنِعٍ ) مِنْ أَدَائِهِ ( طَالَبَهُ ) بِهِ فَلا يَأْخُذُ شَيْئًا لَهُ بِغَيْرِ مُطَالَبَةٍ وَلَوْ أَخَذَهُ لَمْ يَمْلِكْهُ وَلَزِمَهُ رَدُّهُ وَيَضْمَنُهُ إنْ تَلِفَ عِنْدَهُ ( أَوْ ) عَلَى ( مُمْتَنِعٍ ) مُقِرًّا كَانَ أَوْ مُنْكِرًا ( أَخَذَ ) مِنْ مَالِهِ وَإِنْ كَانَ لَهُ حُجَّةٌ ( جِنْسَ حَقِّهِ فَيَمْلِكُهُ ) إنْ كَانَ بِصِفَتِهِ وَإِلا فَكَغَيْرِ الْجِنْسِ وَسَيَأْتِي وَعَلَيْهِ يُحْمَلُ قَوْلُ الاصْلِ فَيَتَمَلَّكَهُ وَعَلَى الاوَّلِ يُحْمَلُ قَوْلُ الْبَغَوِيّ وَالْمَاوَرْدِيِّ وَغَيْرِهِمَا يَمْلِكُهُ بِالاخْذِ أَيْ فَلا حَاجَةَ إلَى تَمَلُّكِهِ (ثُمَّ) إنْ تَعَذَّرَ عَلَيْهِ جِنْسُ حَقِّهِ أَخَذَ ( غَيْرَهُ ) مُقَدِّمًا النَّقْدَ عَلَى غَيْرِهِ ( فَيَبِيعُهُ ) مُسْتَقِلا كَمَا يَسْتَقِلُّ بِالاخْذِ وَلِمَا فِي الرَّفْعِ إلَى الْحَاكِمِ مِنْ الْمُؤْنَةِ وَالْمَشَقَّةِ وَتَضْيِيعِ الزَّمَانِ اهـ\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/924184137604395\rwww.fb.com/notes/939769452712530\rLINK TERKAIT :\rwww.fb.com/notes/piss-ktb/3045/765922673430543\r4114. PENGERTIAN HAQQUL ADAMI\rPERTANYAAN :\r> Aang\rAssalamualaikum....Saya mau bertanya. Bagaimana pengertian yang benar tentang Haqqul Adami ?\rJAWABAN :\r> Mas Hamzah\rWa'alaikum salam... haqqul adami adalah masholeh dan taklifnya adami, yaitu setiap hal yang yang bisa digugurkan sendiri oleh si adami. Lihat kitab fiqhul islami (7/5369) :","part":1,"page":163},{"id":164,"text":"الفرق بين حق الله تعالى وحق الآدمي: حق الله: أمره ونهيه. وحق العبد: مصالحه وتكاليفه، وهو كل ما للعبد إسقاطه. أما حق الله: فهو كل ما ليس للعبد إسقاطه.\r- kitab anwarul buruq (1/140-141) :\r( الفرق الثاني والعشرون بين قاعدة حقوق الله تعالى وقاعدة حقوق الآدميين ) فحق الله أمره ونهيه وحق العبد مصالحه والتكاليف على ثلاثة أقسام حق الله تعالى فقط كالإيمان وتحريم الكفر وحق العباد فقط كالديون والأثمان وقسم اختلف فيه هل يغلب فيه حق الله أو حق العبد كحد القذفونعني بحق العبد المحض أنه لو أسقطه لسقط وإلا فما من حق للعبد إلا وفيه حق لله تعالى وهو أمره بإيصال ذلك الحق إلى مستحقه فيوجد حق الله تعالى دون حق العبدولا يوجد حق العبد إلا وفيه حق الله تعالى وإنما يعرف ذلك بصحة الإسقاط فكل ما للعبد إسقاطه فهو الذي نعني به حق العبدوكل ما ليس له إسقاطه فهو الذي نعني بأنه حق الله تعالى\r> Moh Ilhamuddin\rفصل :والحقوق على ضربين;أحدهما ، ما هو حق لآدمي . والثاني ، ما هو حق لله تعالى .فحق الآدميينقسم قسمين;أحدهما ، ما هو مال ، أو المقصود منه المال ، فهذا تشرع فيه اليمين ، بلا خلاف بين أهل العلم ، فإذا لم تكنللمدعي بينة ، حلف المدعى عليه ، وبرئ . وقد ثبت هذا في قصة الحضرمي والكندي اللذين اختلفا في الأرض ، وعموم قول النبي صلى الله عليه وسلم : }ولكن اليمين على المدعى عليه{ .القسم الثاني ، ما ليس بمال ، ولا المقصود منه المال ، وهوكل ما لا يثبت إلا بشاهدين ; كالقصاص ، وحد القذف ، والنكاح ، والطلاق ، والرجعة ، والعتق ، والنسب ، والاستيلاد ، والولاء ، والرق ،\rhttp://library.islamweb.net/newlibrary/display_book.php\rWallaahu a'lam (ummi).\rLINK DISKUSI:\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/942880759068066/\rwww.fb.com/notes/944404452249030\r4192. MENGAMBIL TANAH ORANG LAIN\rPERTANYAAN :\r> Mas Arya","part":1,"page":164},{"id":165,"text":"Assalamu'alaikum, poro alim sedoyo, ikut bertanya, biasanya orang desa lau sedang mau tanam padi, itu memperbaiki pematang sawah (galengan) biasanya mereka sengaja atau tidak sengaja makan daleng (serakah kepada sawah tetangga) itu hukumnya bagaimana....?\rJAWABAN :\r> Mas Hamzah\rWa alaikumus salaam warohmatulloh, hukum mengambil sedikit saja dari tanah orang lain secara dholim hukumnya haram dan hukumannya sangat berat. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda :\rمَنْ أَخَذَ شِبْرًا مِنَ الأَرْضِ ظُلْمًا، فَإِنَّهُ يُطَوَّقُهُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ سَبْعِ أَرَضِينَ\r“Siapa yang mengambil sejengkal/sedikit saja dari tanah secara aniaya maka dia akan dikalungkan dengan tanah sebanyak tujuh bumi pada hari qiyamat “. HR. Muslim\r- kitab syarah nawawi ala muslim :\rوفي هذه الأحاديث تحريم الظلم وتحريم الغصب وتغليظ عقوبته ، وفيه إمكان غصب الأرض ، وهو مذهبنا ومذهب الجمهور ، وقال أبو حنيفة - رضي الله عنه - : لا يتصور غصب الأرض .\r- kitab syarah miskatul masobih :\r( قال : قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم - ( من أخذ شبرا ) : أي : قدره والمراد شيئا ( من الأرض ظلما ) : مفعول له أو حال أو مفعول مطلق أي : أخذ ظلم ( فإنه ) : أي : الشبر من الأرض ( يطوقه ) : على بناء المجهول أي : يجعل طوقا في عنقه ( يوم القيامة من سبع أرضين )\r> Ghufron Bkl\rNyumbang ta'bir :\rالتحليل الموضوعي\rباب إثبات غصب العقار 2427 - ( عن عائشة أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : { من ظلم شبرا من الأرض طوقه الله من سبع أرضين } متفق عليه )\r2428 - ( وعن سعيد بن زيد قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : { من أخذ شبرا من الأرض ظلما فإنه يطوقه يوم القيامة من سبع أرضين } متفق عليه وفي لفظ لأحمد \" من سرق \" ) .","part":1,"page":165},{"id":166,"text":"2429 - ( وعن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : { من اقتطع شبرا من الأرض بغير حقه طوقه الله يوم القيامة من سبع أرضين } رواه أحمد )\r2430 - ( وعن ابن عمر قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : { من أخذ من الأرض شيئا بغير حق خسف به يوم القيامة إلى سبع أرضين } رواه أحمد والبخاري )\rhttp://library.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?bk_no=47&ID=767&idfrom=1830&idto=1847&bookid=47&startno=1\rWallohu a'lam bis showab (NN)\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/940699102619565/\rwww.fb.com/notes/954339967922145\r4196. YANG BERTANGUNG JAWAB ATAS RUSAKNYA BARANG SEWAAN\rPERTANYAAN :\r> La Adzry Bi-hubby\rAssalamu'alaikum, nderek tanglet : dalam urusan sewa menyewa, bila terjadi kerusakan pada barang sewaan, apakah si penyewa wajib menanggung kerusakan tersebut? contoh mobil atau rumah kontrakan.\rJAWABAN :\r> Mas Hamzah\rWa alaikumus salaam warohmatulloh, tergantung sebab rusaknya barang, jika rusaknya barang sewaan sebab kesalahan penyewa maka penyewa yang menanggungnya, jika tidak maka bukan tanggungan penyewa. Contoh misalnya menyewa kuda kemudian kuda tersebut dipukul melebihi kebiasaannya, atau digunakan untuk mengangkut barang melebihi beban yang biasa dibawa, maka itu adalah kesalahan penyewa, namun jka digunakan seperti biasanya kemudian rusak maka bukan tanggungan penyewa. Begitu juga masalah mobil, jika digunakan sesuai dengan tujuan penyewaan kemudian rusak maka bukan tanggungan penyewa. Wallohu a'lam.\r- kitab fathul qorib (1/198) :","part":1,"page":166},{"id":167,"text":"واعلم أن يد الأجير على العين المؤجرة يدُ أمانة، (و) حينئذ (لا ضمان على الأجير إلا بعدوان) فيها، كأن ضرب الدابة فوق العادة، أو أركبها شخصا أثقل منه.\r- kitab kifayatul akhyar (1/297) :\r(وَلَا ضَمَان على الْأَجِير إِلَّا بعدوان)الْأَجِير أَمِين فِيمَا فِي يَده لِأَنَّهُ يعْمل فِيهِ كَمَا إِذا اسْتَأْجرهُ لقصارة ثوب وَنَحْوه وَتلف فَإِنَّهُ لَا يضمنهُ لِأَنَّهُ أَمِين وَلَا تعدى مِنْهُ فَأشبه عَامل الْقَرَاض فَإِن تعدى لزمَه الضَّمَان كَمَا إِذا اسْتَأْجرهُ للْخَبَر فأسرف فِي الإيقاد أَو تَركه حَتَّى احْتَرَقَ أَو ألصقه قبل وقته وَأَشْبَاه ذَلِك فَإِنَّهُ تَقْصِير فَلَزِمَهُ الضَّمَان وكما لَا يضمن الْأَجِير كَذَلِك لَا يضمن الْمُسْتَأْجر الْعين الْمُسْتَأْجرَة إِلَّا بِالتَّعَدِّي لِأَنَّهَا عين قبضهَا ليستوفي مِنْهَا مَا ملكه بِعقد الْإِجَارَة فَلم يضمنهَا بِالْقَبْضِ\r> Ghufron Bkl\rفصل : والعين المستأجرة أمانة في يد المستأجر ، إن تلفت بغير تفريط ، لم يضمنها . قال الأثرم : سمعت أبا عبد الله يسأل عن الذين يكرون المظل أو الخيمة إلى مكة ، فيذهب من المكتري بسرق أو بذهاب ، هل يضمن ؟ قال : أرجو أن لا يضمن ، وكيف يضمن ؟ إذا ذهب لا يضمن . ولا نعلم في هذا خلافا ; وذلك لأنه قبض العين لاستيفاء منفعة يستحقها منها ، فكانت أمانة ، كما لو قبض العبد الموصى له بخدمته سنة ، أو قبض الزوج امرأته الأمة\rhttp://library.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?idfrom=3651&idto=3651&bk_no=15&ID=3563\rالمجموع شرح المهذب :","part":1,"page":167},{"id":168,"text":"قال المصنف رحمه الله تعالى:* (باب تضمين المستأجر والاجير)* إذا تلفت العين المستأجرة في يد المستأجر من غير فعله لم يلزمه الضمان، لانه عين قبضها ليستوفى منها ما ملكه، فلم يضمنها بالقبض كالمرأة في يد الزوج، والنخلة التى اشترى ثمرتها، وإن تلفت بفعله نظرت فان كان بغير عدوان كضرب الدابة وكبحها باللجام للاستصلاح لم يضمن لانه هلك من فعل مستحق فلم يضمنه كما لو هلك تحت الحمل، وان تلفت بعدوان كالضرب من غير حاجة لزمه الضمان،لانه جناية على مال الغير لزمه ضمانه.\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/943516442337831/\rwww.fb.com/notes/954348234587985\r4274. HUKUM MENABUNG UANG\rPERTANYAAN :\r> Rofiq Muhammad\rAssalaamu alaikum, adakah dalil yang menganjurkan menabung uang?\rJAWABAN :\r> Mas Hamzah\rWa alaikumus salaam, ada hadis tentang menabung uang dalam kitab mukhtashor minhajul qosidin :\rالفن الثاني:فى التعرض للأسباب بالادخار، ومن وجد قوتاً حلالاً يشغله كسب مثله عن جمع همه، فادخاره إياه لا يخرجه عن التوكل، خصوصاً إذا كان له عائلة.وفى “ الصحيحين” من حديث عمر بن الخطاب رضى الله عنه ، أن النبى صلى الله عليه وآله وسلم كان يبيع نخل بنى النضير، ويحبس لأهله قوت سنتهم.فإن قيل: فقد نهى رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم بلالاً أن يدخر، فالجواب: أن الفقراء كانوا عنده كالضيف، فما كان ينبغي أن يدخر فيجوعون ،بل الجواب : أن حال بلال وأمثاله من أهل الصفة كان مقتضاها عدم الادخار، فإن خالفوا كان التوبيخ على الكذب فى دعوى الحال لا على الادخار الحلال.","part":1,"page":168},{"id":169,"text":"Gambaran kedua : Mempertimbangkan sebab dengan menyimpan barang. Siapa yang mendapatkan makan pokok yang halal, yang andaikan dia bekerja untuk mendapatkan yang serupa akan membuatnya sibuk, maka menyimpan makan pokok itu tidak mengeluarkannya dari tawakal, terlebih lagi jika dia mempunyai tanggungan orang yang harus diberi nafkah.\rDi dalam Ash-Shahihain disebuntukan dari Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjual kebun korma Bani Nadhir, lalu menyimpan hasil penjualannya untuk makanan pokok keluarganya selama satu tahun.\rJika ada yang bertanya, “Bagaimana dengan tindakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang melarang Bilal untuk menyimpan harta?”.\rJawabnya: Orang-orang fakir dari kalangan shahabat di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tak ubahnya tamu. Buat apa mereka menyimpan harta jika dijamin tidak akan lapar? Bahkan bisa dijawab sebagai berikut: Keadaan Bilal dan orang-orang yang semacam dia dari Ahlush-Shuffah (orang-orang yang ada di emperan) memang tidak selayaknya untuk menyimpan harta. Jika mereka tidak terima, maka celaan tertuju pada sikap mereka yang mendustakan keadaan mereka sendiri, bukan pada masalah menyimpan harta yang halal.\rMenabung/menyimpan makanan pokok dijelaskan dalam kitab ihya' ulumuddin (4/206-207) :","part":1,"page":169},{"id":170,"text":"وفي الادخار ثلاث درجات إحداها أن لا يدخر إلا ليومه وليلته وهي درجة الصديقين والثانية أن يدخر لأربعين يوماً فإن ما زاد عليه داخل في طول الأمل وقد فهم العلماء ذلك من ميعاد الله تعالى لموسى عليه السلام ففهم منه الرخصة في أمل الحياة أربعين يوماًوهذه درجة المتقينوالثالثة أن يدخر لسنته وهي أقصى المراتب وهي رتبة الصالحين ومن زاد في الادخار على هذا فهو واقع في غمار العموم خارج عن حيز الخصوص بالكليةفغنى الصالح الضعيف في طمأنينة قلبه في قوت سنته وغنى الخصوص في أربعين يوماً وغنى خصوص الخصوص في يوم وليلة وقد قسم النبي صلى الله عليه وسلم نساءه على مثل هذه الأقسام فبعضهن كان يعطيها قوت سنة عند حصول ما يحصل وبعضهن قوت أربعين يوماً وليلة وهو قسم عائشة وحفصة\rDalam masalah penyimpanan ada 3 derajat:\r1. tidak menyimpannya kecuali untuk sehari dan semalam, ini adalah derajatnya shiddiqiin.\r2. menyimpan untuk 40 hari, ini adalah derajatnya muttaqiin.\r3. menyimpan untuk setahun, ini adalah derajatnya sholihiin.\rBarang siapa menambah simpanannya melebihi jatahnya setahun maka dia telah terjatuh dalam kebodohan orang awam dan keluar dari kelompok khusus dengan total.\r- orang kaya yang sholeh dan lemah ketenangan hatinya berada dalam makanan pokok setahunnya.\r- orang kaya yang khusus, dalam 40 hari.\r- dan orang kaya khususnya khusus, dalam sehari semalam.\rNabi shollalohu alaihi wasallam telah membagi kepada istri-istrinya dengan bagian spt itu,\r- sebagian istri ada yang diberi makanan pokok untuk kebutuhan setahun ketika beliau mendapatkannya.\r- sebagian istri di beri makanan pokok untuk 40 hari","part":1,"page":170},{"id":171,"text":"- dan sebagian yang lain diberi makanan pokok untuk sehari, ini adalah bagiannya aisyah dan hafshoh. Wallohu a'lam bis showab (NN).\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/955691274453681/\rwww.fb.com/notes/www.piss-ktb.com/965841436771998\r4292. BOLEHKAH ORANG KAYA BERHUTANG ?\rPERTANYAAN :\r> Ikhlas\rSalam, mau nanya, bagaimana hukum nya berhutang ? padahal di rumah duitnya banyak ? bagaimana tuh ?\rJAWABAN :\r> Mas Hamzah\rWa alaikum salaam, haram hukumnya hutang bagi orang yang tidak kepepet jika tidak diharapkan untuk melunasi hutangnya karena adanya sebab yang baru datang, keharaman tersebut selagi orang yang menguhutangi tidak mengetahui keadaan orang yang berhutang, jika sudah tahu keadaannya maka tidak haram hukumnya tapi makruh jika tidak ada hajat. dan boleh hutang bagi orang yang kepepet secara mutlak.\rHaram hukumnya hutang bagi orang yang menyembunyikan kekayaannya dan dia memperlihatkan bahwa dia orang miskin ketika berhutang, haram tersebut selagi orang yang menghutangi tdak mengetahui keadaan orang kaya yang berpura-pura tersebut, jika orang yang menghutangi sudah tahu maka tidak haram. Jika menyembunyikan kemiskinannya dan memperlihatkan bahwa dia orang kaya ketika berhutang maka haram hukumnya berhutang karena itu termasuk penipuan,","part":1,"page":171},{"id":172,"text":"Terkadang hutang hukumnya mubah contohnya seperti menyerahkan hutang kepada orang kaya atas permintaan orang yang menyerahkannya dan orang kaya tersebut tidak membutuhkan hutangan, maka ini hukumnya mubah bukan mustahab karena tidak mengandung mempermudah kesulitan, dan terkadang ada tujuannya bagi orang yang menghutangi yaitu utk menjaga hartanya dalam tanggungan orang yang hutang. Wallohu a'lam.\r- kitab nihayatuz zain (1/240-241) :\rوَيحرم على غير مُضْطَر الِاقْتِرَاض إِن لم يرج وفاءه من سَبَب قريب الْحُصُول مَا لم يعلم الْمقْرض بِحَالهِ فَإِن علم فَلَا حُرْمَة بل يكره إِن لم يكن ثمَّ حَاجَة وَيجوز لمضطر مُطلقًا وَيحرم الِاقْتِرَاض على من أخْفى غناهُ وَأظْهر فاقته عِنْد الْقَرْض مَا لم يعلم الْمقْرض حَاله وَلَو أخْفى الْفَاقَة وَأظْهر الْغنى حَالَة الْقَرْض حرم الِاقْتِرَاض أَيْضا لما فِيهِ من التَّدْلِيس وَيملك الْقَرْض وَلَو علم الْمُقْتَرض أَنما يقْرضهُ لنَحْو صَلَاحه أَو علمهوَهُوَ فِي الْبَاطِن بِخِلَاف ذَلِك حرم عَلَيْهِ الِاقْتِرَاض وَيملك الْقَرْض وَقد يكون الِاقْتِرَاض مُبَاحا كَمَا إِذا دفع الْقَرْض إِلَى غَنِي بسؤال من الدَّافِع مَعَ عدم احْتِيَاج الْغَنِيّ إِلَيْهِ فَيكون مُبَاحا لَا مُسْتَحبا لِأَنَّهُ لم يشْتَمل على تَنْفِيس كربَة وَقد يكون فِي ذَلِك غَرَض للدافع لحفظ مَاله بإحرازه فِي ذمَّة الْمُقْتَرض\r> Ghufron Bkl","part":1,"page":172},{"id":173,"text":"ويحرم على غير مضطر الاقتراض إن لم يرج وفاءه من سبب ظاهر ما لم يعلم المقرض بحاله ، ويحرم على من أخفى غناه وأظهر فاقته كما يأتي نظيره في صدقة التطوع ، ويؤخذ منه أن المقرض لو علم حقيقة أمره لم يقرضه ، ومن ثم لو علم المقترض أن ما يقرضه لنحو صلاحه أو علمه وهو في الباطن بخلاف ذلك حرم عليه الاقتراض أيضا كما هو ظاهر ، ولو أخفى الفاقة وأظهر الغني حالته حرم أيضا لما فيه من التدليس والتغرير عكس الصدقة\rhttp://library.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?idfrom=3721&idto=3762&bk_no=25&ID=353\rWallohu a'lam bis showab (NN)\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/notes/www.piss-ktb.com/969797796376362\r4365. HUKUM MENANAM POHON DI TANAH ORANG LAIN TANPA IJIN\rPERTANYAAN :\r> Rofiqul Mustaqim\rAssalaamu'alaikum. Mohon pencerahan dari para ustadz. Permasalahan : Pak Zaid menanam pisang di lahan milik Pak Umar tanpa ijin, setelah berbuah maka :\r1. Apabila pak Zaid memanen pisang yang ia tanam di lahan milik pak Umar yang tanpa ijin bagaimana hukumnya ?\r2. Apabila pak Umar memanen pisang yang ditanam pak pak Zaid di lahannya bagaimana hukumnya ? Jazakumullah.\rKata kunci : Pak Umar : pemilik lahan. Pak Zaid : penanam pisang\rJAWABAN :\r> Ghufron Bkl\rWa'alaikumussalaam.\r1. Boleh memanen pohon yang sudah terlanjur ditanam, tapi pak Zaid harus bayar ongkos pada pak Umar selaku pemilik lahan.\rالموسوعة الفقهية :\rإذا زرع الغاصب الأرض وردها بعد أخذ الزرع فهو للغاصب وعليه أجرة الأرض لمالكها، وإن كان الزرع قائماً فيها، خُيِّر ربها بين تركه إلى الحصاد بأجرة مثله، وبين أخذه بنفقته","part":1,"page":173},{"id":174,"text":"2. Pak Umar tidak boleh memanen pisang tersebut karena pisang tersebut haqnya pak Zaid, sebagai gantinya maka pak Zaid harus membayar ongkos kepada pak Umar selaku pemilik lahan tersebut.\rالمغني لإبن قدامة :\rأنه إذا غرس في أرض غيره بغير إذنه أو بنى فيها, فطلب صاحب الأرض قلع غراسه أو بنائه لزم الغاصب ذلك ولا نعلم فيه خلافا لما روى سعيد بن زيد بن عمرو بن نفيل أن النبي ـ ـ قال: (ليس لعرق ظالم حق) رواه أبو داود, والترمذي وقال: حديث حسن وروى أبو داود وأبو عبيد في الحديث أنه قال: فلقد أخبرني الذي حدثني هذا الحديث (أن رجلا غرس في أرض رجل من الأنصار, من بني بياضة فاختصما إلى النبي ـ ـ فقضى للرجل بأرضه وقضى للآخر أن ينزع نخله قال: فلقد رأيتها تضرب في أصولها بالفؤوس, وإنها لنخل عم) ولأنه شغل ملك غيره بملكه الذي لا حرمة له في نفسه بغير إذنه, فلزمه تفريغه كما لو جعل فيه قماشا وإذ قلعها لزمه تسوية الحفر ورد الأرض إلى ما كانت عليه لأنه ضرر حصل بفعله في ملك غيره, فلزمته إزالته وإن أراد صاحب الأرض أخذ الشجر والبناء بغير عوض لم يكن له ذلك لأنه عين مال الغاصب فلم يملك صاحب الأرض أخذه\r> Muhib Salaf Soleh\rTapi perlu diingat tidak boleh (haram) menanam sesuatu di tanah milik orang lain tanpa keridhoannya dan jika dilanggar maka boleh bagi si pemilik tanah untuk mencabutnya. Wallaahu A'lam\rالمجموع ج 14 ص 256.\rقال المصنف رحمه الله تعالى:(فصل)وإن غصب أرضا فغرس فيها غراسا أو بنى فيها بناء، فدعا صاحب ا?رض إلى قلع الغراس ونقض البناء لزمه ذلك.\rLink Diskusi :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/947376638618478/\rwww.fb.com/notes/986811908008284\r4478. STATUS BUAH DARI POHON TANAH YANG DIKONTRAKKAN (DISEWAKAN)\rPETANYAAN :\r> Fatih ElMufid","part":1,"page":174},{"id":175,"text":"Assalamualaikum. Maaf nanya : jika kita menyewa tanah dan rumah / ngontrak. Ada pohon mangganya, buah mangga ini milik yang punya rumah atau penyewa / pengontrak? Mohon ta'birnya sekalian.\rJAWABAN :\r> Abu Aufa\rHemat saya, itu tetap milik empunya tanah dan rumah. Qiyasnya, menyewakan kerbau betina yang sedang bunting (hamil) kepada seseorang untuk membajak sawah umpamanya. Manfaat dari kerbau ini yang menjadi milik penyewa adalah bajak tanah, sementara hasil dari kerbau itu sendiri (anak)-nya tetap milik empuny kerbau. Wallahua'lam.\rManfaat rumah yang disewa adalah untuk ditempati, termasuk isi rumahnya seperti sumur kalau memang ada. Jadi, sumur sudah satu paket dengan rumahnya. Adapun pohon durian dan buahnya yang terletak di belakang rumah sewaan itu (contoh), ya jelas tidak satu paket dengan rumahnya. Buktinya, kalau empunya rumah tidak memasukkan pohon durian satu paket dengan rumah sewanya, maka manfaat rumah sewa itu tetap bisa dinikmati secara utuh oleh penyewa.","part":1,"page":175},{"id":176,"text":"Disamping itu, manfaat rumah yang disewa dengan manfaat pohon durian itu jelas tidak satu paket, sehingga bila yang disewa itu rumah, maka berarti yang dinikmati oleh penyewa hanyalah manfaat rumah, bukan sekaligus manfaat pohon durian tersebut. Sebaliknya, jika yang disewa itu adalah pohon durian saja yang di belakang rumah sewaan, maka yang dinikmati oleh penyewa hanya manfaat dari pohon tersebut, bukan manfaat rumah sekaligus. Begitu juga halnya dengan binatang peliharaan milik empunya yang ada di dalam rumah itu seperti burung, ikan hias atau kucing. Dan hal ini akan berbeda dengan toilet, teras, kamar dan semacamnya yang disewakan satu paket dengan rumah. Wallahua'lam.\r> Ghufron Bkl\rBuah pohon tersebut milik yang punya tanah :\rفصل في بيع الاصول والثمار (يدخل في بيع أرض) وهبتها ووقفها، والوصية بها مطلقا، لا في رهنها والاقرار بها (ما فيها) من بناء وشجر رطب وثمره الذي لم يظهر عند البيع، وأصول بقل تجز مرة بعد أخرى، كقثاء، وبطيخ، لا ما يوءخذ دفعة، كبر وفجل لانه ليس للدوام والثبات، فهو كالمنقولات في الدار.\r(و) يدخل (في) بيع (بستان)، وقرية\rفصل في بيع الأصول والثمار أي في بيان بيع الأمور التي تستتبع غيرها، وهي الشجر، والأرض، والدار، والبستان، والقرية.\rفالمعقود عليه إذا\rكان واحدا من هذه الأمور - يندرج في غيره - كما وضحه الشارح رحمه الله تعالى.\rوقوله: والثمار: أي وبيع الثمار جمع ثمر جمع ثمرة، وهي ليست من الأصول، فالعطف مغاير.\r(قوله: يدخل في بيع أرض وهبتها إلخ) أي ونحوها من كل ناقل للملك: كإصداق، وعوض خلع وصلح.\rولو قال في نحو بيع أرض، لكان أولى.\r(قوله: والوصية بها) أي بالأرض.","part":1,"page":176},{"id":177,"text":"قال ع ش: وعليه فلو أوصى له بأرض، وفيها بناء وشجر حال الوصية: دخلا في الأرض - بخلاف ما لو حدثا أو أحدهما بغير فعل من المالك - كما لو ألقى السيل بذرا في الأرض فنبت، فمات الموصي وهو موجود في الأرض - لأنهما حادثان بعد الوصية، فلم تشملهما فيختص بهما الوارث.\rاه.\r(وقوله: مطلقا) راجع لجميع ما قبله من البيع وما بعده.\rوالمراد بالإطلاق: عدم التقييد بإدخال وإخراج، فإن قيد بالأول - بأن قال بعتك الأرض بما فيها - دخل نصا، لا تبعا.\rأو قيد بالثاني - بأن قال بعتك الأرض دون حقوقها، أو ما فيها - لم يدخل.\r(قوله: لا في رهنها والإقرار بها) أي لا يدخل في رهن الأرض والإقرار بها ما فيها.\rومثل الرهن: كل ما لا ينقل الملك: كإجارة، وعارية.\rshamela.ws/browse.php/book-963/page-778\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/1047371991952275/\rwww.fb.com/notes/1053699131319561\r4496. STATUS HUKUM UANG ADMINISTRASI ARISAN UNTUK PENGELOLA\rPERTANYAAN :\rAssalamualaikum wr wb. Ijin bertanya secara umum yang buka arisan suka meminta 5% bagaimanakah status yang 5% tersebut apa termasuk riba? intinya minta upah pengelola uang arisan selama 1 tahun. Contoh panitia arisan menawarkan arisan cicilan perminggu dengan nominal setahun jadi 1 juta, terus kata panitiya yang 1 juta saya potong 5% dan masing masing yang ikutan akan mendapatkan giliran per bulan sekali.Terimakasih. (Zulkifli Hasan).\rJAWABAN :","part":1,"page":177},{"id":178,"text":"Wa'alaikumussalaam. Apabila ia dianggap sebagai orang yang menghutangi para anggota dan transaksi yang dilakukakannya dengan para anggota arisan tersebut adalah akad utang piutang (qiradlh), serta pengembalian utang dengan nilai lebih bagi panitia disebutkan dalam transaksi, maka hukumnya adalah riba. Namun apabila panitia / bandar arisan ini statusnya adalah sebagai petugas/pegawai yang layak mendapatkan upah/gaji dalam mengurusi arisan sehingga akad/transaksi yang dilakukan adalah ujrah/upah, maka hal semacam ini hukumnya adalah boleh. Orang yang buka arisan hanya sebagai jasa pemegang uangnya peserta, maka boleh mengambil uang 5% tersebut asal dengan persetujuan peserta. Dalam aqad wadi'ah (titipan) orang yang dititipi barang boleh mengambi ongkos.\rReferensi :\rالموسوعة الفقهية الكويتية - (43 / 23)\rوَقَال الْمَالِكِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ إِنَّهُ لاَ فَرْقَ فِي كَوْنِ الْوَدِيعَةِ أَمَانَةً فِي يَدِ الْوَدِيعِ ، لاَ تُضَمَنُ بِغَيْرِ تَعَدِّيهِ أَوْ تَفْرِيطِهِ ، سَوَاءٌ كَانَتْ بِأَجْرٍ أَوْ بِدُونِهِ ، حَيْثُ إِنَّ أَخْذَ الأُْجْرَةِ فِي الْوَدِيعَةِ لاَ يُغَيِّرُ شَيْئًا مِنْ أَحْكَامِ الأَْمَانَةِ أَوِ الضَّمَانِ فِيهَا\rMUJAWWIB : Abdul Qodir Shodiqi, Berkah Selamat Duniaahirat\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/1054952247860916/\rwww.fb.com/notes/1056367954386012\r4507. AKAD DALAM USAHA BORDIR PAKAIAN\rPERTANYAAN :\rالسلا م عليكم","part":1,"page":178},{"id":179,"text":"Saya mau nanya tentang usaha saya, saya kerja jasa menerima upahan yaitu BORDIR.. yang saya tanyakan tentang orang mesan nama, itu bahan semua saya yang ngadakan, dan apakah itu ada jual belinya/ wajib ngucapin akad jual beli.. mohon jawabannya teima kasih\rJAWABAN :\r> Abdul Qodir Shidiqi\rWa'alaikum salam wr.wb, itu tidak termasuk akad jual beli, karena orang yang mengupah hanya menyuruh pengusaha bordir untuk membordir pakaiannya, bukan membeli alat bordir. Akad yang terjadi antara pengusaha bordir dan konsumennya (yang mengupah) tetap dikatakan sebagai akad ijarah/persewaan. Wallaahu a'lam\r- Al-Fiqhu Al-Islami Wa'adillatuhu juz : 5 hal : 494\rأحكام الإجارة على الأعمال :الإجارة على الأعمال: هي التي تعقد على عمل معلوم كبناء وخياطة قميص وحمل إلى موضع معين وصباغة ثوب وإصلاح حذاء ونحوه\rLINK DISKUSI:\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/1041970552492419\rwww.fb.com/notes/1060265180662956\r4558. HUKUM MEMANFA'ATKAN PASIR DI PINGGIR LAUT\rPERTANYAAN :\r> Maulana Malik\rAssalamu'aikum ustadz, saya mau nanya bagaimana hukumnya penjual pasir dan pembeli pasir yang terjadi di pasuroan dan pasirian yang mengambil secara ilegal tanpa surat-surat (pasir curian) sedangkan pasirnya untuk pembangunan masjid, mohon pencerahannya.? Terima kasih..\rJAWABAN :\r> Abdul Qodir Shodiqi\rWa alaikum salam warohmah. Hukum memanfaatkan Pasir/mengambil pasir yang ada dipinggir laut (pantai) atau pasir di pinggir sungai pada dasarnya diperbolehkan dengan ketentuan sebagai berikut :\r1. Tidak terjadi idhror (membahayakan pihak lalin dan laut/sungai)\r2. Tidak Tahjir (memnghalangi orang lain untuk memanfaatkannya)","part":1,"page":179},{"id":180,"text":"3. Sesuai dengan kebutuhan (tidak berlebihan)\rAdanya hukum Boleh terkait dengan kasus diatas karna pasir merupakan a'yan (benda-benda) yang sifatnya musytarok (boleh dimanfaatkan oleh siapa saja), sehingga bagi siapa saja boleh memanfaatkan/mengambil pasir dengan ketentuan-ketentuan diatas. Wallohu a'lam bis showab.\r(Jawaban di atas mengacu pada Hasil Keputusan Bahtsul Masa'il yang dikumpulkan oleh rekan-rekan pesantren Lirboyo).\rDasar Keterangan :\rحاشية الشبراملسي نهاية المحتاج * - (13 / 4)\r( فصل ) في بيان حكم الأعيان المشتركة المستفادة من الأرض ( المعدن ) هو حقيقة البقعة التي أودعها الله تعالى جواهر ظاهرا وباطنا -- الى أن قال --( لا يملك ) بقعة ونيلا بالإحياء لمن علمه قبل إحيائه ( ولا يثبت فيه اختصاص بتحجر ولا إقطاع ) بالرفع من نحو سلطان بل هو مشترك بين الناس مسلمهم وكافرهم كالماء والكل-- الى أن قال -- وللإجماع على منع إقطاع مشارع الماء وهذا مثلها بجامع الحاجة العامة وأخذها بغير عمل ، ويمتنع أيضا إقطاع وتحجر أرض لأخذنحو حطبها وصيدها وبركة لأخذ سمكها ، وظاهر كلامه نفي إقطاع التملك والارتفاق وهو كذلك وإن قيد الزركشي المنع بالأولالى أن قال -- ( فإن ضاق نيله ) أي الحاصل منه عن اثنين تسابقا إليه ، ومثله في هذا الباطن الآتي ( قدم السابق ) منهما لسبقه ، وإنما يقدم ( بقدر حاجته ) عرفا فله أخذ ما تقتضيه عادة أمثاله ، ويبطل حقه بانصرافه وإن لم يأخذ شيئا ( فإن طلب زيادة ) على حاجته ( فالأصح إزعاجه ) إن زوحم على الزيادة ، لأن عكوفه عليه كالتحجر ، والثاني يأخذ منه ما شاء لسبقه ، وفارق ما مر في نحو مقاعد الأسواق بشدة الحاجة إلى المعادن ، ومحل الخلاف عندانتفاء إضرار الغير ، وإلا أزعج جزما\rحاشية الشبراملسي نهاية المحتاج * - (13 / 4)","part":1,"page":180},{"id":181,"text":"( قوله : بقدر حاجته ) هل المراد حاجة يومه أو أسبوعه أو شهره أو سنته أو عمره الغالب أو عادة الناس من ذلك ا هـ سم على حج أقول : الأقرب اعتبار العمر الغالب كما في أخذ الزكاة ، وقد يقال بل الأقرب اعتبار عادة الناس ولو للتجارة\rحاشية الجمل * - (13 / 62)\r( فرع ) يحرم أخذ تراب السور وألحق به بعضهم تراب الشارع والمتجه خلافه ؛ لأن تراب السور مقصود بخلاف تراب الشارع ، والكلام إذا لم يضر أخذه ، وإلا امتنع كذا نقل م ر فسئل عن طين البرك فقال ينبغي المنع ؛ لأنه مقصود ، وهي إما مملوكة فيمتنع إلا بإذن المالك أو موقوفة فيمتنع إذ لا مصلحة فسئل عن طين الخليج فقال ينبغي الجواز ؛ لأنه لا يضر ا هـ .ويظهر أنه حيث تعلق غرض أصحاب البرك بإزالة طينها جاز كما لو ردمها الطين لتتسع وسئل عن الإخصاص والبناء في حريم النهر لوضع نحو الفخار والحب ونحو ذلك هل يلزم من فعلها الأجرة فظهر ووافق عليه م ر لزوم الأجرة فإنها لمصالح المسلمين كما في نحو عرفة ا هـ سموعبارة شرح م ر وأفتى القاضي بكراهة ضرب اللبن وبيعه من ترابه أي الشارع إذا لم يضر بالمارة لكن قضية قول العبادي يحرم أخذ تراب سور البلد يقتضي حرمة أخذ تراب الشارع إلا أن يفرق بأن من شأن أخذ تراب السور أنه يضر فحرم مطلقا بخلاف تراب الشارع ففيه تفصيل بين المضر وغيره انتهت\rحاشيتا قليوبي - وعميرة * - (8 / 156)\rوَأَمَّا أَخْذُ التُّرَابِ مِنْ أَرْضِ الشَّارِعِ ، فَيَجُوزُ وَلَوْ لِبَيْعِهِ ، وَأَمَّا الْمَوْقُوفَةُ مَثَلًا فَإِنْ لَمْ يَضُرَّ وَرَضِيَ بِأَخْذِهِ وَاقِفُهُ وَمُسْتَحِقُّوهُ جَازَ ، قَالَ شَيْخُنَا : وَكَذَا أَخْذُ مَا جَرَتْ الْعَادَةُ بِهِ مِنْهُ وَنُوزِعَ فِيهِ وَكُلُّ مَا يُفْعَلُفِي حَرِيمِ الْبَحْرِ مِنْ الِاخْتِصَاصِ يُهْدَمُ وُجُوبًا ؛ لِأَنَّهُ مَمْنُوعٌ وَتَلْزَمُ أُجْرَتُهُ وَمِثْلُهُ كُلُّ مَا مُنِعَ فِعْلُهُ مِمَّا لَهُ قَرَارٌ","part":1,"page":181},{"id":182,"text":"الحاوي للفتاوي ـ للسيوطى - (1 / 132)\rوفي فتاوي ابن الصلاح : مسألة إذا أراد رجل أن يبني عمارة سكر في النهر الكبير الذي ليس بمملوك ثم يبني عليه طاحونة وناعورة ولا يضر بمن هو فوقه ولا بمن هو أسفلمنه هل له ذلك ويكون ذلك إحياء له ويكون بمنزلة الموات الذي يملك بالإحياء حتى يملك قرار النهر الذي يبني عليه العمارات ويملك حريمه أم لا ؟ أجاب : ليس له ذلك فإنه لا يخلو عن ضرر فإنه يمنع من أن ينحدر في مكانه بسباحة أو سفينة أو نحو ذلك ، وطريق الماء العام كطريق السلوك العام ، ولو أراد مريد أن يضع صخرة في طريق شارع واسع منع منه وهذا شر من ذلك من وجه ولو قدر خلو ذلك عن الضرر لم يجز ملك ذلك الموضع كما لا يملك شيئاً من الطرق الواسعة بشيء من الاختصاصات الجائزة\rحاشيتا قليوبي - وعميرة * - (9 / 422)","part":1,"page":182},{"id":183,"text":"فَرْعٌ : لَوْ رَكِبَ الْأَرْضَ مَاءٌ أَوْ رَمْلٌ أَوْ طِينٌ فَهِيَ عَلَى مَا كَانَتْ عَلَيْهِ مِنْ مِلْكٍ ، وَوَقْفٍ فَإِنْ كَانَ ذَلِكَ الرَّمْلُ مَثَلًا مَمْلُوكًا فَلِمَالِكِهِ أَخْذُهُ ، وَإِنْ لَمْ يَنْحَسِرْ عَنْهَا وَلَوْ انْحَسَرَ مَاءُ النَّهْرِ عَنْ جَانِبٍ مِنْهُ لَمْ يَخْرُجْ عَنْ كَوْنِهِ مِنْ حُقُوقِ الْمُسْلِمِينَ الْعَامَّةِ ، وَلَيْسَ لِلسُّلْطَانِ إقْطَاعُهُ لِأَحَدٍ كَالنَّهْرِ وَحَرِيمِهِ وَلَوْ زَرَعَهُ أَحَدٌ لَزِمَهُ أُجْرَتُهُ لِمَصَالِحِ الْمُسْلِمِينَ ، وَيَسْقُطُ عَنْهُ قَدْرُ حِصَّتِهِ إنْ كَانَ لَهُ حِصَّةٌ فِي مَالِ الْمَصَالِحِ ، نَعَمْ لِلْإِمَامِ دَفْعُهُ لِمَنْ يَرْتَفِقُ بِهِ بِمَا لَا يَضُرُّ الْمُسْلِمِينَ ، وَمِثْلُهُ مَا يَنْحَسِرُ عَنْهُ الْمَاءُ مِنْ الْجَزَائِرِ فِي الْبَحْرِ وَيَجُوزُ زَرْعُهُ ، وَنَحْوُهُ لِمَنْ لَمْ يَقْصِدْ إحْيَاءَهُ، وَلَا يَجُوزُ فِيهِ الْبِنَاءُ وَلَا الْغِرَاسُ وَلَا مَا يَضُرُّ الْمُسْلِمِينَ ، هَذَا مَا اعْتَمَدَهُ شَيْخُنَا تَبَعًا لِشَيْخِنَا م ر وَبَالَغَ فِي الْإِنْكَارِ عَلَى مَنْ ذَكَرَ شَيْئًا مِمَّا يُخَالِفُهُ وَاَللَّهُ أَعْلَمُ\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/1082764161746391\rwww.fb.com/notes/1087397531283054\rMUNAKAHAT\rBab ini berisi dokumen tanya jawab dan diskusi tentang hal-hal yang berkaitan dengan pernikahan dari sebelum, saat akad dan hubungan hak-kewajiban suami istri.\rPRA NIKAH\rBab ini berisi dokumen tanya jawab dan diskusi tentang hal-hal yang berkaitan dengan aktifitas pra akad nikah.\r3833. NIAT DAN 'AZAM YANG BAIK SEBELUM MENIKAH\rPERTANYAAN :","part":1,"page":183},{"id":184,"text":"Assalamu'alaikum Tuan-tuan,saya mau tanya tentang niat orang yang mau menikah, apa saja kah yang sebaiknya di niatkan sebelum menikah ? Terimakasih. [Abdul Hadi EL-Muhammady].\rJAWABAN :\rWa'alaikum salam. Di kutip dalam \"Kitab Niat\" Karangan Syeikh Al Arif Billah Ali Bin Abi Bakr Al Sakron :\rنيّات التزويج للشيخ العارف بالله علي بن أبي بكر السكران رضي الله عنه : \" نويت بهذا التزويج والزوجة محبة الله عزوجل ، والسعي في تحصيل الولد لبقاء جنس الإنسان ، ونويت محبة رسول الله صلى الله عليه وسلم في تكثير مباهاته لقوله صلى الله عليه وسلم : \" تناكحوا تكاثروا فإني مباه بكم الأمم يوم القيامة \" . نويت بهذا التزويج وما يصدر مني من قول وفعل التبرك بدعاء الولد الصالح ، وطلب الشفاعة بموته صغيراً إذا مات قبلي ، ونويت بهذا التزويج التحصن من الشيطان وكسر التوقان وكسر غوائل الشر ، وغض البصر ، وقلة الوسواس ، نويت حفظ الفرج من الفواحش . نويت بهذا التزويج ترويح النفس وإيناسها بالمجالسة والنظر والملاعبة ، وإراحة القلب وتقوية له على العبادة . نويت به تفريغ القلب عن تدبير المنزل والتكفل بشغل الطبخ والكنس والفرش ، وتنظيف الأواني وتهيئة أسباب المعيشة . ونويت به مجاهدة النفس ورياضتها بالرعاءة والولاية والقيام بحقوق الأهل والصبر على أخلاقهن واحتمال الأذى منهن والسعي في إصلاحهن وإرشادهن إلى طريق الخير والاجتهاد في طلب الحلال لهن ، والأمر بتربية الأولاد وطلب الرعاية من الله على ذلك والتوفيق له والانطراح بيت يديه والافتقار إليه في تحصيله ، ونويت هذا كله لله تعالى . ونويت بهذا التزويج مانوى به عبادك الصالحون والعلماء العاملون ، اللهم وفقنا كما وفقتهم وأعنا كما أعنتهم ، وأتمم لنا تقصيرنا وتقبل منا ، ولا تكلنا إلى أنفسنا طرفة عين وأصلح لنا ذلك كله بمنك وكرمك في خير وعافية . اللهم اغفر لنا وارحمنا وأرض عنا وتقبل","part":1,"page":184},{"id":185,"text":"منا ، وأدخلنا الجنة ونجنا من النار وأصلح لنا شأننا كله . اللهم أجعل لي في هذا التزويج وفي جميع أشيائي العون والبركة والسلامة ، وسلمني من أن تشغلني عنك وأن لا تحول بيني وبين طاعتك واجعل لي في الكفاف والعفاف . اللهم إني وحركتي وسكوني وديعة فاحفظني أينما كنت وتولني عني بتوليتك التي توليت بها عبادك الصالحون . اللهم أعنا ووالدينا وأولادنا وأزواجنا ومشائخنا وإخواننا ، وجميع قراباتنا وأرحامنا وجميع أصحاب الحقوق ومن له أدني حق ، اللهم أعنّا وإياهم على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك يارب العالمين . اللهم أهدنا ووفقنا وإياهم يارب العالمين ، اللهم أحينا وإياهم على الكتاب والسنة ياذا الجلال والإكرام ، اللهم إنا نسألك لنا ولهم القبول منا وما قربنا إليك آمين ، وصل بجلالك على أشرف المرسلين محمد خاتم النبيين وعلى آله وصحبه وسلم . والحمد لله رب العالمين .\rNiat nikahnya Syaikh Al-Arif Billah Ali bin Abi Bakr As-Sakron Rodliyallohu 'Anhu : \"Saya niat menikah dan berpasangan karena cinta pada Allah 'azza wa Jalla,dan berusaha untuk menghasilkan anak (keturunan) untuk berlangsungnya kehidupan manusia, dan saya niat karena cinta kepada Rosululloh shollallohu alaihi wasallam untuk memperbanyak hal yang membanggakan beliau, karena sabda beliau shollallohu alaihi wasallam :\r\" تناكحوا تكاثروا فإني مباه بكم ا?مم يوم القيامة \"","part":1,"page":185},{"id":186,"text":"\"Menikahlah kalian, dan memperbanyaklah keturunan, karena sesungguhnya saya bangga dengan sebab kalian terhadap umat-umat (kelak) di hari kiamat \" Saya niat dengan pernikahan ini dan apa yang keluar dariku baik berupa ucapan dan perbuatan untuk tabaruk dengan doa anak sholih, dan mencari syafaat dengan kematian anak ketika masih kecil jika mati sebelum aku. Dan aku niat dengan pernikahan ini untuk membentengi diri dari syetan, memecah kerinduan, dan memecah bencana buruk, menundukkan pandangan, meminimalisir was-was (bisikan hati), dan saya niat memelihara kemaluan dari hal-hal yang keji.\rSaya niat dengan pernikahan ini untuk menenangkan dan mententramkan jiwa dengan duduk bersama, memandang, dan saling bersenda gurau, dan untuk menenangkan dan menguatkan hati dalam beribadah. Saya niat dengan pernikahan ini untuk mengosongkan hati dari mengatur rumah, dan menanggung kesibukan memasak, menyapu, menyiapkan tempat tidur, membersihkan wadah dan mempersiapkan sebab-sebab (bekal-bekal) hidup.\rSaya niat dengan pernikahan ini seperti apa yang telah di niatkan dalam pernikahan hamba-hambaMu yang sholih dan Ulama yang mengamalkan ilmunya. Wallahu A'lam. [MUJAWWIB : Muhib Salaf Soleh, Dik Ibnu Al-Ihsany Rinduku].\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/921721054517370/\rwww.fb.com/notes/926690080687134\r0548. HUKUM NIKAH\rPERTANYAAN :\rAss...ma'af.. ada yang qu tanyakn..!!! Apakah orang yang tidak mau menikah bukan termasuk ummat MUHAMMAD...??? Karena sesuai dengan hadist; Annikahu sunnati famanroghiba an sunnati falaisa minni...!! silahkan dibahas..syukron. [Doel Roman Picisan].","part":1,"page":186},{"id":187,"text":"JAWABAN :\rWaalaikumsalam wr wb. As-Syaikh Al-'Allaamah Al-Judaari menerangkan hukum menikah dengan beberapa bait syair yang terdapat dalam Kitab Qurratul 'Uyuun berikut ini :\rوواجب علي الذي يخشي الزنا • تزوج بكل حال امكنا\rوزيد في النساء فقد المال • وليس منفق سوي الرجال\rوفي ضياع واجب والنفقة • من الخبيث حرمة متفقة\rلراغب اوراجي نليندب • وان به يضيع مالا يجب\rويكره ان به يضيع النفل • وليس فيه رغبة اونسل\rوان انتفي ما يقتضي حكما مضي • جاز النكاح بالسوي المرتضي\rHukum menikah sangat tergantung pada keadaan orang yang hendak melakukannya, hukumnya dapat diklasifikasikan sebagai berikut :\r1.…WAJIB : Bagi orang yang telah mampu sedang dan bila ia tidak segera menikah amat di khawatirkan akan berbuat zina\r2.…SUNNAH : Bagi orang yang menginginkan sekali punya anak, tetapi ia masih mampu mengendalikan diri dari perbuatan zina, baik ia sudah berminat menikah atau belum walaupun jika menikah nanti ibadah sunnah yang sudah biasa ia lakukan akan sedikit terlantar.\r3.…MAKRUH : Bagi orang yang belum berminat punya anak, juga belum pernah menikah sedangkan ia mampu menahan diri dari berbuat zina padahal bila ia menikah amalan ibadah sunnahnya akan terlantar.\r4.…MUBAH : Bagi orang yang mampu menahan gejolak nafsunya dari berbuat zina, sementara ia belum berminat memiliki anak dan seandainya ia menikah ibadah sunnahnya tidak sampai terlantar.","part":1,"page":187},{"id":188,"text":"5.…HARAM : Bagi orang yang apabila ia menikah justru akan merugikan istrinya karena ia tidak mampu memberi nafkah lahir dan bathin atau jika menikah ia akan cari mata pencaharian yang di haramkan Allah SWT walaupun orang tersebut sudah berminat menikah dan mampu menahan gejolak nafsunya dari berbagai zina. Hukum menikah tersebut juga berlaku bagi kaum wanita. Ibnu Arafah menambahkan, bahwa bagi wanita hukum menikah wajib apabila ia tidak mampu menafkahi dirinya sendiri sedangkan jalan satu-satunya untuk menanggulangi nafkah tersebut adalah menikah. [Masaji Antoro ].\r2730. TATA CARA DAN BACAAN SAAT MELAMAR UNTUK DINIKAH\rPERTANYAAN :\rSalam Alaykum WarohmatuLLOH selamat siang shohabat PISS dimana saja berada. khususnya buwat akhwat\"nya eEkn ceritanya saya ini sedang ada rencana melamar Lelaki sholeh nhe bagi yang punya pengalaman tentang hal lamar melamar tolong dishare dong sebelumnya Makasih ya. [Javanica Nande].\rJAWABAN :\rTata Cara dan bacaan melamar :\r1. Baca hamdalah\r2. Baca sholawat Nabi\r3. Baca Asyhadu an laa ilaaha illa Allahu wahdahu laa syariika lahu wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu wa rosuuluhuh. Menyampaikan ketertarikannya kepada wanita yang dilamar dan menyampaikan maksud kedatangannya yaitu melamar\r- Adzkar Nawawi hal 95 :","part":1,"page":188},{"id":189,"text":"[فصل] :اعلم أن الحمدَ مستحبٌّ في ابتداء كل أمر ذي بال كما سبق، كما يستحب بعد الفراغ من الطعام والشراب، والعطاس، وعند خطبة المرأة - وهو طلب زواجها - وكذا عند عَقْدِ النِّكَاح، وبعد الخروج من الخلاء، وسيأتي بيان هذه المواضع في أبوابها بدلائلها، وتفريع مسائلها إن شاء الله تعالى، وقد سبق بيان ما يُقال بعد الخروج من الخلاء في بابه، ويُستحبّ في ابتداء الكتب المصنفة كما سبق، وكذا في ابتداء دروس المدرّسين، وقراءة الطالبين، سواء قرأ حديثاً أو فقهاً أو غيرهما، وأحسنُ العبارات في ذلك: الحمد لله رب العالمين.\r- Adzkar Nawawi hal 240 :\r(باب ما يقوله من جاء يخطب امرأةً من أهلها لنفسه أو لغيره)يُستحبّ أن يبدأ الخاطبُ بالحمد لله والثناء عليه والصَّلاة على رسول الله (صلى الله عليه وسلم) ويقول: أشهدُ أنْ لا إِلهَ إِلاَّ اللَّه وحدَه لا شريكَ له، وأشهدُ أنَّ محمداً عبدُهُ ورسولُه، جئتكم راغباً في فتاتِكم فُلانة، أو في كريمتِكم فُلانة بنت فلان أو نحو ذلك.822 - روينا في \" سنن أبي داود وابن ماجه \" وغيرهما، عن أبي هريرة رضي الله عنه، عن رسول الله (صلى الله عليه وسلم) قال: \" كُلُّ كَلامٍ \" وفي بعض الروايات \" كُلُّ أمْرٍ لا يُبْدأُ فِيه بالحَمْد لِلَّهِ فَهُوَ أجْذَمُ \" وروي \" أقْطَعُ \" وهما بمعنى، هذا حديث حسن (1) .وأجذم بالجيم والذال المعجمة ومعناه: قليل البركة.823 - وروينا في \" سنن أبي داود والترمذي \" عن أبي هريرة عن النبي (صلى الله عليه وسلم) قال: \" كُلُّ خطْبَةٍ لَيْسَ فِيها تَشَهُّدٌ فَهِيَ كاليَدِ الجَذْماءِ \" قال الترمذي: حديث حسن.\rRosulullah sholla Allahu 'alaihi wa sallam bersabda : Setiap lamaran yang tidak terdapat syahadat maka seperti tangan jadzma' (yang sedikit barokahnya). HR. At-Turmudziy. [Timur Lenk].\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/574580755898070/","part":1,"page":189},{"id":190,"text":"3366. NIKAH MENYEMPURNAKAN SEPARUH AGAMA ?\rPERTANYAAN :\rAssalammualaikum.... Pertanyaan titipan (akhi : Lebur Sekilan ). Jika dengan menikah agama menjadi lebih sempurna, bagaimana dengan agamanya janda / duda ? Apakah agamanya jadi tidak sempurna lagi seperti saat belum nikah ? Dan apa maksud sebenarnya dari kata \"menjadi sempurna\" itu? Terima kasih. [Nona Arya].\rJAWABAN :\rWa'alaikum salam Wr wb. Rosulullah SAW bersabda :\rإِذَا تَزَوَّجَ الْعَبْدُ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ نِصْفُ الدِّيْنِ فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي النِّصْفِ الْبَاقِي\rJika seorang hamba (Allah Swt.) menikah, berarti telah menyempurnakan separuh agama, maka hendaklah bertaqwa kepada Allah Swt. pada separuh sisanya.” (HR Baihaqi).\rLihat bahwa di antara keutamaan menikah adalah untuk menyempurnakan separuh agama dan kita tinggal menjaga diri dari separuhnya lagi. Kenapa bisa dikatakan demikian? Para ulama menjelaskan bahwa yang umumnya merusak agama seseorang adalah kemaluan dan perutnya. Kemaluan yang mengantarkan pada zina, sedangkan perut bersifat serakah. Nikah berarti membentengi diri dari salah satunya, yaitu zina dengan kemaluan. Itu berarti dengan menikah separuh agama seorang pemuda telah terjaga, dan sisanya, ia tinggal menjaga lisannya.\rAl Mula 'Ali Al Qori rahimahullah dalam Mirqotul Mafatih Syarh Misykatul Mashobih berkata bahwa sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam \"bertakwalah pada separuh yang lainnya\", maksudnya adalah bertakwalah pada sisa dari perkara agamanya. Di sini dijadikan menikah sebagai separuhnya, ini menunjukkan dorongan yang sangat untuk menikah.","part":1,"page":190},{"id":191,"text":"Al Ghozali rahimahullah (sebagaimana dinukil dalam kitab Mirqotul Mafatih) berkata, \"Umumnya yang merusak agama seseorang ada dua hal yaitu kemaluan dan perutnya. Menikah berarti telah menjaga diri dari salah satunya. Dengan nikah berarti seseorang membentengi diri dari godaan syaithon, membentengi diri dari syahwat (yang menggejolak) dan lebih menundukkan pandangan.\"\r(حديث مرفوع) حَدِيثٌ : \" مَنْ تَزَوَّجَ فَقَدْ أَحْرَزَ نِصْفَ دِينِهِ فَلْيَتَّقِ اللَّهَ فِي النِّصْفِ الْبَاقِي \" ، ابن الجوزي في العلل من حديث مالك بن سليمان عن هياج بن بسطام عن خالد الحذاء عن يزيد بن الرقاشي عن أنس به مرفوعا ، وقال : إنه لا يصح ، وهو عند الطبراني في الأوسط من حديث عصمة بن المتوكل عن زافر بن سليمان عن إسرائيل بن يونس عن جابر عن الرقاشي به بلفظ : فقد استكمل نصف الإيمان ، والباقي مثله ، وقال : لم يروه عن عصمة إلا زافر ، ورواه البيهقي في الشعب من حديث الخليل بن مرة عن الرقاشي ولفظه : إذا تزوج العبد فقد كمل نصف الدين فليتق اللَّه في النصف الباقي . ومن حديث زهير بن محمد أخبرني عبد الرحمن بن زيد بن عقبة المدني عن أنس مرفوعا بلفظ : من رزقه اللَّه امرأة صالحة فقد أعانه على شطر دينه ، فليتق اللَّه في الشطر الباقي ، وكذا هو عند شيخه فيه الحاكم في مستدركه ، وقال : إنه صحيح الإسناد ولم يخرجاه .\rIbnu Hajar alhaetami dalam Al-Ifshoh :","part":1,"page":191},{"id":192,"text":"الحديث السابع عشر عن أنس رضي الله عنه عن النبي {صلى الله عليه وسلم} انه قال اذا تزوج العبد فقد استكمل نصف الدين فليتق الله في النصف الباقي واخرجه البيهقي عن الرقاشي بلفظ اذا تزوج العبد كمل نصف الدين فليتق الله في النصف الباقي وأخرجه عن أنس مرفوعا أيضا بلفظ ( من رزقه الله امرأة صالحة فقد أعانه على شطر دينه فليتق الله في الشطر الباقي واخرجه ابن الجوزي بلفظ من تزوج فقد أحرز نصف دينه فليتق الله في النصف الثاني\rوقوله انه لا يصح يحمل على انه لم يصح من الطريق التي ذكرها مطلقا لما علمت وكما ان الحاكم منسوب إلى التساهل في التصحيح كذلك ابن الجوزي منسوب الى التساهل في الحكم بالوضع ونحوه وقد أخرجه الطبراني بلفظ من تزوج فقد استكمل نصف الايمان فليتق الله في النصف الثاني\rhttp://islamport.com/w/ajz/Web/3677/13.htm\r[Ical Rizaldysantrialit].\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/808226942533449/\r0022. HUKUM MENIKAHI WANITA HAMIL\rBerawal dari wall post salah seorang anggota PISS-KTB tentang nikah karena ‘kecelakaan’, ternyata kami mendapati pula jawaban yang simpang siur dalam beberapa situs lain. Untuk itu tergeraklah kami untuk memberikan klarifikasi yang lebih akurat dalam permasalahan ini. Permasalahan ini bermula dari asumsi menikah karena ‘kecelakaan’ hanya sah di hadapan negara. Sehingga ketika si wanita telah melahirkan maka wajib mengadakan nikah ulang agar sah sesuai syariat. Benarkah demikian? Untuk mengetahui hal ini kita tertuntut untuk membahas bagaimana sebenarnya hukum menikah karena hamil di luar nikah.\rBeberapa kitab menampilkan kesan adanya ijma’ tentang sahnya menikahi wanita pezina. Misalnya dalam Raudhah:\rروضة الطالبين وعمدة المفتين ج8 ص375","part":1,"page":192},{"id":193,"text":"فرع لو نكح حاملا من الزنا صح نكاحه بلا خلاف وهل له وطؤها قبل الوضع وجهان أصحهما نعم إذ لا حرمة له ومنعه ابن الحداد\rAtau dalam Fathul Bari:\rفتح البار ج9 ص164\rقال بن عبد البر وقد أجمع أهل الفتوى من الأمصار على أنه لا يحرم على الزاني تزوج من زنى بها\rNamun demikian redaksi ungkapan ijma’nya tidak sharih. Perkataan an-Nawawi ‘bila khilaf’ (tanpa ada perbedaan pendapat) bisa merujuk pada tiadanya perbedaan pendapat dalam satu madzhab, yakni Syafi’iyah dalam konteks Imam Nawawi. Demikian pula perkataan Ibnu Abdil Birri ‘minal amshar’ (dari segolongan tempat) bisa merujuk pada ulama di tempat tertentu saja.\rBukti dari tidak adanya ijma’ adalah pernyataan al-Mawardi ada tiga pendapat hukum menikahi wanita pezina. Pertama, halal menurut jumhur fuqaha’ dan sahabat. Kedua, tidak halal menurut beberapa sahabat. Ketiga, halal dengan catatan (al-Hawi al-Kabir 9/492-493).\rSecara spesifik sebenarnya ada lima pendapat berbeda tentang hukum menikahi wanita pezina :\r1. Mutlak tidak sah\rDidukung oleh Ali, Aisyah, dan Bara’ ibn ‘Azib. Serta masing-masing satu riwayat Abu Bakar, Umar, Ibnu Mas’ud, dan Hasan Bashri (al-Hawi al-Kabir 9/492-493, al-Mughni Ibnu Qudamah 7/518, Tafsir al-Alusi 13/326). Pandangan ini didasarkan pada QS. An-Nur: 3, yakni\rالزَّانِي لَا يَنْكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ","part":1,"page":193},{"id":194,"text":"“Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin.”\r2. Mutlak sah\rDidukung oleh asy-Syafi’ie dan madzhabnya (al-Hawi al-Kabir 9/497-498). Kalangan Syafi’iyah berargumen pada ayat 24 QS. An-Nisa:\rوَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَلِكُمْ\r“Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian.”\rAyat an-Nisa itu turun setelah menjelaskan wanita-wanita yang haram dinikahi. Dengan demikian selain wanita yang telah disebutkan halal untuk dinikahi, termasuk wanita yang berzina. Dikuatkan dengan sabda Nabi SAW:\rلَا يُحَرِّمُ الْحَرَامُ الْحَلَالَ\r“Sesuatu yang haram tidak bisa mengharamkan/menjadikan mahram pada (orang) yang halal” (HR. ibnu Majah dan Baihaqi).\rAbu Bakar berkata: Bila seseorang menzinai wanita lain maka tidak haram bagi orang itu untuk menikahinya.\rSedangkan mengenai Surat an-Nur ayat 3, al-Mawardi (al-Hawi al-Kabir 9/494) menyebut ada tiga takwilan terhadap ayat ini:\r- Ayat itu turun khusus pada kisah Ummu Mahzul, yakni ketika ada seorang laki-laki meminta izin Rasulullah akan wanita pelacur bernama Ummu Mahzul.\r- Ibnu Abbas mengartikan kata ‘yankihu’ dengan ‘bersetubuh’, sehingga maksud ayat tersebut: “Laki-laki yang berzina tidak bersetubuh melainkan (dengan) perempuan yang berzina…dst.”\r- Menurut Sa’id ibn Musayyab telah dinasakh oleh QS. An-Nisa ayat 3:\rفَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ\r“Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi.”","part":1,"page":194},{"id":195,"text":"3. Sah dengan syarat\rDengan syarat selama menikah tidak berhubungan badan dengan istri sampai dia melahirkan. Didukung oleh Abu Hanifah dalam satu riwayat (asy-Syarh al-Kabir 7/502-503, al-Hawi al-Kabir 9/497-498). Abu Hanifah berargumen meskipun sah dinikahi, tapi tidak boleh disetubuhi sebelum melahirkan. Termaktub dalam hadits:\rلَا تَسْقِ بِمَائِكَ زَرْعَ غَيْرِكَ\r“Tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk menyiramkan air (mani)nya ke tanaman [35] orang lain” (HR. Abu Dawud dan Ahmad).\r4. Sah dengan syarat\rDengan syarat Menikahnya dilakukan setelah wanita melahirkan (istibra’). Didukung oleh Rabi’ah, Sufyan Tsauri, Malik, Auza’ie, Ibnu Syubrumah, Abu Yusuf, dan Abu Hanifah dalam riwayat yang lain (al-Hawi al-Kabir 9/497-498, asy-Syarh al-Kabir 7/502-503).\rMereka berpendapat wanita hamil zina memiliki iddah sehingga haram dinikahi sebelum selesai iddahnya. Dalil mereka adalah QS. Ath-Thalaq ayat 4:\rوَأُولَاتُ الْأَحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ\r“Dan perempuan-perempuan yang hamil itu ‘iddah mereka sampai mereka melahirkan.”\rDisebutkan juga dalam hadits:\rأَلَا لَا تُوطَأُ حَامِلٌ حَتَّى تَضَعَ وَلَا غَيْرَ ذَاتِ حَمْلٍ حَتَّى تَحِيضَ\r“Ingatlah, tidak disetubuhi wanita hamil hingga ia melahirkan dan tidak juga pada wanita yang tidak hamil sampai satu kali haidh” (HR. Abu Dawud, Ahmad dan Ad-Darimi).\r5. Sah dengan syarat menikahnya dilakukan setelah wanita istibra’ plus telah bertaubat.","part":1,"page":195},{"id":196,"text":"Didukung oleh Abu Ubaidah, Qatadah, Ahmad ibn Hanbal, dan Ishaq (al-Hawi al-Kabir 9/492-493, Tafsir Ibnu Katsir 6/9-10). Ibnu Qudamah (Syarhu Kabir 7/504) menjelaskan bahwa sesuai bunyi terakhir ayat 3 surat An-Nur, ‘wa hurrima dzalika ‘alal mukminin’, keharaman menikahi pezina diperuntukkan bagi orang mukmin (yang sempurna). Sehingga ketika telah bertaubat dari zina leburlah dosa, kembali menjadi bagian dari orang-orang mukmin, dan hukum haram baru bisa terhapus. Sebagaimana hadits:\rالتائب من الذنب كمن لا ذنب له\r“Seorang yang telah bertaubat dari dosa itu layaknya tidak ada dosa padanya” (HR. Hakim, Ibnu Majah, Thabrani, dan Baihaqi).\rIbnu Umar pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang berzina dengan seorang perempuan, apakah boleh dia menikahinya ? Jawab Ibnu Umar, “Jika keduanya telah bertaubat dan keduanya berbuat kebaikan (yakni beramal shalih)” (Al-Muhalla 9/ 475).\rDalam hal ini tidak ada perbedaan apakah wanita tersebut dinikahi oleh laki-laki yang menzinai ataupun orang lain. Dari sudut pandang Syafi’iyah karena hamil hasil zina tidak ada kehormatan apapun yang perlu dijaga seperti percampuran nasab. Dari perspektif ulama lainnya karena telah disyaratkan tidak adanya hubungan badan.\rTersebut dalam Bughyah:\rالكتاب : بغية المسترشدين ص419\r(مسألة : ي ش) : يجوز نكاح الحامل من الزنا سواء الزاني وغيره ووطؤها حينئذ مع الكراهة.\rJuga dalam Mughni Ibnu Qudamah:\r[ المغني - ابن قدامة ] ج7 ص518\rفصل : وإذا وجد الشرطان حل نكاحها للزاني وغيره","part":1,"page":196},{"id":197,"text":"Jadi jika melihat kembali pada kasus awal, apakah nikahnya harus diulang? Maka jawabannya jelas tidak. Sebab menurut Syafi’iyah dan satu riwayat Abu Hanifah nikahnya telah sah sejak awal. Wallahu a’lam. [Gus UMAM ZEIN DARI GROUP Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah - KTB Versi Lama].\r0036. HUKUM TIDAK MENIKAH KARENA PENYAKIT\rPERTANYAAN :\rAssalamu'alaikum .. Nabi pernah berkata \".. Nikahilah wanita yang bagus peranakannya ..\" (kurang lebihnya kayak gitu waktu ada seorang sahabat meminta pertimbangan pada Beliau ketika hendak nikah dengan wanita cantik tetapi mandul). Pertanyaannya, Bila seorang wanita mempunyai penyakit yang bersifat menular pada anak yang dikandungnya, kemudian dia tidak ingin hamil / mungkin juga tidak menikah, apakah dosa ? Semisal rahim yang telah diangkat, HbsAg, diabetes, dan lainnya (yang pasti penyakitnya bukan karena seks bebas). [Kembang Setaman].\rJAWABAN :\rWassalamu'alaikum, yang saya tahu hukum nikah adalah sunat,sesuatu yang dilarang (diharamkan) bisa dimaafkan dalam keadaan dhorurot apa lagi hal sunat. Dan tentu ancaman Nabi tersebut berlaku bagi orang yang tak mau nikah dengan niat meremehkan ajaran Nabi, dan mengecualikan orang yang tidak nikah karena udzur syar'i.","part":1,"page":197},{"id":198,"text":"Hadist larangan tidak semuanya menjadikan hukumnya haram, fiqih seluruhnya kembali kedalam 2 hal : menarik kemaslahatan dan menolak kerusakan... kalau kasus di atas meninggalkan nikah menjadikan dirinya rusak (seperti melakukan zina, masturbasi tiap hari) yang lebih bagus nikah, terus biarin suaminya nikah lagi biar dapet anak, kalau misalnya nikah menjadikan kerusakan misalnya penyakitnya akan menular ke suami (seperti aids) ya sabar, perbanyak ibadah dan puasa.\rBanyak tujuan Allah mensyariatkan nikah. Diantaranya untuk menjaga kelangsungan generasi manusia lebih-lebih kita sebagai umat Muhammad. dalam hadits yang lain Nabi menganjurkan kepada kita untuk memperbanyak keturunan karena kelak para nabi berlomba-loma sebagai nabi yang paling banyak umatnya. Oleh karena tujuan ini maka tidak heran jika jawaban Nabi semacam yang ditanyakan. Jawaban Nabi itu bukan merupakan larangan untuk menikahi wanita yang tidak dapat memiliki keturunan. Sebab tujuan nikah yang lain masih bisa dicapai, yakni penyaluran kebutuhan biologis.\rKembali kepada pertanyaan, dosakah jika tidak menikah dengan alasan adanya penyakit ? tidak menikah boleh, bhkan ada waliyullah yang tidak menikah. yang tidak boleh itu jika tidak menikah karena enggan/tidak mau kepada sunnah rosul. Dalam fiqih ada qoidah yang menyatakan, \"menolak mudarrat lebih diutamakan daripada mendatangkan kemaslahatan\". jadi dalam kasus ini sikap dia yang tidak mau menikah bukan brarti tidak mau atau benci kepada sunnah rosul, tetapi lebih kepada menolak mudharrat (penyakit menular). Wallahua'lam","part":1,"page":198},{"id":199,"text":"Waalaikumsalam wr wb. Asal penyakit tersebut diketahui juga oleh pihak calon suami nantinya maka baginya BOLEH menikah dan tidak boleh bagi suami setelah pernikahan terjadi mengadakan FASAKH (merusak nikah) gara-gara penyakit tersebut, hal ini sesuai dengan QOIDAH FIQHIYYAH\rالرضا بالشيء رضا بما يتولد منه\r\"Ridho atas sesuatu berarti juga ridho atas dampak yang ditimbulkannya\".\rNamun bila di khawatirkan akan membuahkan keturunan yang juga mengidap penyakit yang sama (bila memang sesuai petunjuk yang ahli di bidangnya -dokter red-) maka hukum menikahnya menjadi MAKRUH berdasarkan keterangan yang di ambil dari :\r- Asna AlMathoolib III/176 :\rوَكَذَا بِالْبَرَصِ وَالْجُذَامِ غَيْرِ الْحَادِثَيْنِ لِأَنَّهُمْ يُعَيَّرُونَ بِكُلٍّ منها وَلِأَنَّ الْعَيْبَ قد يَتَعَدَّى إلَيْهَا وَإِلَى نَسْلِهَا\rHukum BOLEH tetapi MAKRUH ini sesuai dengan HASIL KEPUTUSAN BAHTSUL MASAAIL NASIONAL DI PRINGGARATA LOMBOK TENGAH NTB 17-20 Nopember 1997 M. Saat memutuskan masalah pernikahan bagi pengidap HIV/AIDS yang menghawatirkan berdampak pada keturunan mereka di kemudian hari. Tapi tidak ada yang lebih memberatkan bagi orang yang sakit kecuali keputus-asaan,, LI KULLI DAA-IN DAWAA-UN setiap penyakit ada penawarnya dan yang jelas bagi penderita semacam ini, hukum menikahnya memang diserahkan langsung pada yang menjalani karena antara nikah dan tidaknya hukumnya berkedudukan sama yaitu BOLEH. Wallohu A'lam. [Mujawwib : Mbah Jenggot, Masaji Antoro, Mumu Bsa, Nur Hasyim Juragan EsKrim].\r0043. HUKUM KAWIN PAKSA ALA SITI NURBAYA\rPERTANYAAN :","part":1,"page":199},{"id":200,"text":"Assalamu'alaikum wr wb. siti nurbaya suka sama syamsul yang agamis. Tapi ortu memaksa kawin dengan datuk maringgi orang kaya nan kikir, bagaimana sikap yang harus diambil siti nurbaya ? dosakah jika ia memaksa kawin dengan syamsul ? [Nur Hasyim Juragan EsKrim].\rJAWABAN :\rWaalaikumsalam Wr Wb. Ini seperti pernikahan ala Siti Nurbaya dahulu. Meskipun dikenal istilah haqq al ijbaar atau hak paksa seorang wali (Ayah atau Kakek) untuk menikahkan anak gadisnya tanpa perlu izin dari pihak anak, namun ditilik dari Hak asasi manusia, aturan ini praktis bernuansa diskriminatif dan bertentangan dengan semangat kebebasan yang Islam datang untuk menghapus segala bentuk penindasan dan tradisi-tradisi ala Siti Nurbaya. Memang ada Hadits yang memberikan legitimasi kepada orang tua (wali) untuk menjodohkan putri gadisnya tanpa harus melalui kesepakatannya terlebih dahulu, dalam sebuah Riwayat Rasulullah SAW bersabda : “Janda lebih berhak atas dirinya daripada walinya sedangkan anak gadis yang menikahkan adalah bapaknya\" (HR. Ad-Daruquthny).\rRedaksi hadits ini menegaskan bahwa hak nikah seorang anak gadis berada ditangan ayahnya (wali mujbir) namun bisa terealisasinya hadits ini dengan ketentuan syarat yang amat memberatkan pada pihak ayah, diantaranya sebagai berikut :\r1. Tidak ada kebencian nyata antara ayah dan anak gadisnya\r2. Tidak ada kebencian nyata antara calon suami dan anak gadis\r3. Menjodohkan dengan laki-laki yang selevel (kufu') dengan anak gadis\r4. Memilih calon suami yang sanggup memenuhi kewajiban membayar mahar (mas kawin)\r5. Menikahkan dengan mahar standar (mitsli)","part":1,"page":200},{"id":201,"text":"6. Mahar harus dibayar kontan\rDari ketentuan-ketentuan syarat diatas untuk empat syarat yang pertama apabila tidak dapat terpenuhi salah satunya maka prosesi akad pernikahannya dianggap tidak sah kecuali sebelumnya ada kerelaan dan perizinan oleh pihak gadis sedangkan dua syarat terakhir apabila tidak terpenuhi tidak sampai mempengaruhi keabsahan pernikahan.\rImam al-Bukhari berkata: Mu’adz bin Fadhalah memberitahu kami, ia berkata : Hisyam memberitahu kepada kami, dari Yahya dari Abu Salamah bahwa Abu Hurairah ra pernah menyampaikan hadits kepada mereka bahwa Nabi saw. pernah bersabda, “Tidaklah seorang janda dinikahkan sehingga diminta pertimbangannya dan tidak pula seorang gadis dinikahkan sehingga diminta izinnya.” Para Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, lalu bagaimana pengizinan seorang gadis itu?” Beliau menjawab, “Yaitu, dia diam.”\rDari ‘Aisyah ra, dia berkata, “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah saw mengenai seorang gadis yang akan dinikahkan oleh keluarganya, apakah perlu dimintai pertimbangannya?” Maka Rasulullah saw bersabda kepadanya, “Ya, dimintai pertimbangannya.” Lalu ‘Aisyah berkata, maka aku katakan kepada beliau, “Dia malu.” Rasulullah saw pun berkata, “Demikianlah pengizinannya, jika ia diam.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)\rDari Ibnu ‘Abbas bahwa Nabi saw bersabda: “Seorang janda lebih berhak atas dirinya sendiri daripada walinya. Sedangkan seorang gadis dimintai izin dan pengizinannya adalah sikap diamnya.” (HR. Muslim)","part":1,"page":201},{"id":202,"text":"Dari ‘Aisyah raa dari Nabi Saw, beliau bersabda: “Mintalah izin kepada wanita dalam pernikahannya.” Dikatakan kepada beliau, “Sesungguhnya seorang gadis akan merasa malu dan diam.” Beliau bersabda, “Itulah izinnya.” (HR. An-Nasa-i dengan sanad yang shahih)\rImam al-Bukhari rahimahullah telah membuat bab tersendiri: “Bab Idzaa Zawwaja Ibnatahu wahiya Kaarihah fanikaahuhaa Marduudun (Bab Jika Seorang Bapak Menikahkan Anaknya, Lalu Menolak, Maka Nikahnya Batal).”\rImam al-Bukhari berkata, Isma’il memberitahu kami, dia berkata, Malik memberitahuku, dari ‘Abdurrahman bin al-Qasim dari ayahnya dari ‘Abdurrahman dan Mujammi’, dua putera Yazid bin Jariyah, dari Khansa’ bin Khidam al-Anshariyah bahwa ayahnya pernah menikahkannya sementara dia adalah seorang janda, lalu dia tidak menyukai hal itu, kemudian dia mendatangi Rasulullah saw, maka beliau pun membatalkan nikahnya.\rDari Ibnu Buraidah dari ayahnya, dia berkata, “Pernah datang seorang remaja puteri kepada Nabi saw seraya berucap, “Sesungguhnya ayahku telah menikahkanku dengan keponakannya untuk meninggikan derajatnya.” Lebih lanjut, dia berkata, “Maka Nabi saw menyerahkan masalah tersebut kepada wanita itu, maka wanita itu pun berkata, ‘Aku tidak keberatan atas tindakan ayahku, tetapi aku ingin agar kaum wanita mengetahui bahwa para orang tua tidak memiliki hak apa-apa dalam masalah ini.’”(HR Ibnu Majah dengan sanad yang shahih)","part":1,"page":202},{"id":203,"text":"Kesimpulan : Sesungguhnya pengertian wali mujbir dari Hadits di atas bukan berarti dia berhak memaksa anak gadisnya untuk menikah sesuai keinginan walinya, Musyawarah antara keduanya akan sangat dibutuhkan ketimbang semuanya berlangsung dengan penyesalan, bagaimanapun pernikahan dalam seumur hanya diinginkan sekali dan diharapkan semuanya menuju kearah rumah tangga SAKINAH MAWADDAH wa RAHMAH. Wallaahu A'lam bi Asshowaab... [Mujawwib : Masaji Antoro ].\rREFERENSI : Syarh Shohih Bukhori Vol 7 Hal 257, Fath al-Bari Vol 1 Hal 230, Mughni al-Muhtaj Vol 4 hal 248, al-Madzaahib al-Arba'ah Vol 4 Hal 35.\r2467. PERIHAL WALI MUJBIR\rPERTANYAAN :\rAssalamu'alaikum.... Mau tanya nih :\r1. Apakah ada batasan-batasan tertentu tentang wali mujbir ?\r2. Bagaimana solusinya jika ada wali nikah yang merestui hubungan anaknya tetpi tdak mau menjadi walinya? Terimakasih wassalamu'alaikum. [Alex Delfy].\rJAWABAN :\rWa'alaikum salaam. Ada batasannya yaitu wali mujbir itu hanya bapak dan kakek terus ke atas dan harus memenuhi 7 syarat, yang 4 syarat sahnya yaitu :\r1. Antara pengantin putri dan walinya tidak ada permusuhan yang jelas\r2. Antara pengantin putri dan penganten putranya tidak ada permusuhan walaupun tidak jelas\r3. Harus dinikahkan dengan laki-laki yang kufu'/serasi\r4. Dan harus mampu membayar mahar mitsil\rDan yang 3 syarat boleh menikahkan dengan cara paksa :\r1. harus dengan mahar mitsil\r2. harus dengan uang negara setempat\r3. harus kontan :","part":1,"page":203},{"id":204,"text":".وهو أى الولي أب فعند عدمه حسا أو شرعا أبوه وإن علا فيزوجان أى الأب والجد حيث لا عداوة ظاهرة بكرا أو ثيبا بلا وطئ لمن زالت بكارتها بنحو أصبع بغير إذنها فلا يشترط الإذن منها بالغة كانت أو غير بالغة لكمال شفقته___لكفء موسر بمهر المثل فإن زوجها المجبر أى الأب او الجد لغير كفء لم يصح النكاح وكذا إن زوجها لغير موسر بالمهر على ما اعتمده الشيخان لكن الذي إختاره جمع محققون الصحة في الثانية. والحاصل الشروط سبعة أربعة للصحة وهي التي تقدمت أن لا يكون بينها وبين وليها عداوة ظاهرة ولا بينها وبين الزوج عداوة وإن لم تكن ظاهرة وأن تزوج من كفء وأن يكون موسرا بمهر المثل أو بحال الصداق على الخلاف فمن فقد شرط منها كان النكاح باطلا ان لم تؤذن .وثلاثة لجواز المباشرة وهي كونه بمهر المثل ومن نقد البلد وكونه حالا. إعانة الطالبين3/308-309 .\rKalau walinya tidak mau menikahkan maka wali tersebut namanya 'ADLOL, kalau walinya adlol maka walinya hakim bla keadlolan wali tersebut tidak sampai 3 kali kalau adlolnya sampe 3 / diminta sampe 3 kali untuk menikahkan tetap tidak mau menikahkan maka walinya adalah wali berikutnya / wali ab'ad.\rWali dikatakan 'ADLOL bila sudah ditetapkan oleh hakim, dengan tidak mau menikahkan dihadapan hakim atau dengan diamnya wali ketika diperintah oleh hakim untuk menikahkan atau dengan adanya saksi bahwa wali tersebut tidak mau menikahkan. [Mujawwib : Ghufron Bkl].","part":1,"page":204},{"id":205,"text":".وكذا يزوج السلطان إذا عضل القريب او المعتق أو عصبته إجماعا لكن بعد ثبوت العضل عنده بامتناعه منه أو سكوته بحضرته بعد أمره به والخاطب والمرأة حاضران أو وكيلهما أو بينة عند تعززه أو تواريه به نعم إن فسق بعضله لتكرره منه مع عدم غلبة طاعاته على معاصيه أو قلنا بما قاله جمع إنه كبيرة زوج الأبعد وإلا فلا لأن العضل صغيرة وإفتاء المصنف بأنه كبيرة بإجماع المسلمين مراده أنه عند عدم تلك الغلبة في حكمها لتصريحه هو وغيره بأنه صغيرة وقوله لتكرره منه قال في الروضة ولا يفسق إلا إذا تكرر ثلاث مرات. إعانة الطالبين 3/316-317\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/602898636399615\r0707. HUKUM NIKAH PAKSA\rPERTANYAAN :\rAsalamualaikum.. pengen tanya termasuk perbuatan dzolim orang tua kpada anak bukan? memaksa anaknya tuk menikah(dijodohkan) tapi si anaknya tidak mau karena punya pilihan sendiri. sebelumnya saya ucapkan terimakasih. [Mobat Kembali].\rJAWABAN :\rWA'ALAIKUM SALAM. Masalah ini ada dua pendapat yang populer di kalangan ulama fiqih :","part":1,"page":205},{"id":206,"text":"1.…Pendapat pertama : orang tua boleh menikahkan paksa anak gadisnya. Pendapat ini diriwayatkan dari Imam Malik dan Imam Syafii serta riwayat dari Imam Ahmad. Alasan pendapat ini adalah hadist di atas bahwa kalau janda lebih berhak atas dirinya, maka artinya orang tua lebih berhak atas anak gadisnya. Kemudian juga hadist yang mengatakan “seorang gadis datang ke Rasulullah s.a.w. mengadu kepada Rasulullah bahwa ayahnya menikahkannya dengan seseorang yang ia tidak menyukainya, lalu Rasulullah s.a.w. memberinya pilihan (boleh melanjutkan dan boleh menolak)” (Hr. Abud Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad). Rasulullah memberinya pilihan, itu menunjukkan bahwa nikahnya sah. Ada juga riwayat hadist tersebut dengan redaksi “gadist walinya lah yang menikahkannya” (HR. Daraqutni).\r2.…Pendapat kedua : gadis dan janda yang baligh aqil sama sekali tidak boleh dipaksa menikah dan nikah paksa hukumnya tidak sah. Pendapat ini berlandas pada hadist riwayat Bukhari Muslim “Seorang gadis Tidak boleh dinikahi hingga mendapatkan persetujuannya, begitu juga seorang janda tidak boleh dinikahi hingga mendapatkan persetujuannya. Seorang sahabat bertanya “bagaimana mengetahui persetujuannya (umumnya mereka malu)?” Rasulullah s.a.w. menjawab “Izinnya adalah ketika ia diam dan tidak menolak”. Shan’ani penulis kitab Subulus Salam Syarah Bulughul Maraam bahwa hadist ini juga menunjukkan kaharaman nikah paksa.\r· تَنْبِيهٌ : لِتَزْوِيجِ الْأَبِ أَوْ الْجَدِّ الْبِكْرَ بِغَيْرِ إذْنِهَا شُرُوطٌ : الْأَوَّلُ أَنْ لَا يَكُونَ بَيْنَهَا وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ ظَاهِرَةٌ .\rالثَّانِي : أَنْ يُزَوِّجَهَا مِنْ كُفْءٍ .","part":1,"page":206},{"id":207,"text":"الثَّالِثُ : أَنْ يُزَوِّجَهَا بِمَهْرِ مِثْلِهَا .\rالرَّابِعُ : أَنْ يَكُونَ مِنْ نَقْدِ الْبَلَدِ .\rالْخَامِسُ : أَنْ لَا يَكُونَ الزَّوْجُ مُعْسِرًا بِالْمَهْرِ .\rالسَّادِسُ : أَنْ لَا يُزَوِّجَهَا بِمَنْ تَتَضَرَّرُ بِمُعَاشَرَتِهِ كَأَعْمَى أَوْ شَيْخٍ هَرَمٍ .\rالسَّابِعُ : أَنْ لَا يَكُونَ قَدْ وَجَبَ عَلَيْهَا نُسُكٌ فَإِنَّ الزَّوْجَ يَمْنَعُهَا لِكَوْنِ النُّسُكِ عَلَى التَّرَاخِي وَلَهَا غَرَضٌ فِي تَعْجِيلِ بَرَاءَةِ ذِمَّتِهَا قَالَهُ ابْنُ الْعِمَادِ .\rوَهَلْ هَذِهِ الشُّرُوطُ الْمَذْكُورَةُ شُرُوطٌ لِصِحَّةِ النِّكَاحِ بِغَيْرِ الْإِذْنِ أَوْ لِجَوَازِ الْإِقْدَامِ فَقَطْ ؟ فِيهِ مَا هُوَ مُعْتَبَرٌ لِهَذَا وَمَا هُوَ مُعْتَبَرٌ لِذَلِكَ ، فَالْمُعْتَبَرَاتُ لِلصِّحَّةِ بِغَيْرِ الْإِذْنِ أَنْ لَا يَكُونَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ وَلِيِّهَا عَدَاوَةٌ ظَاهِرَةٌ ، وَأَنْ يَكُونَ الزَّوْجُ كُفُؤًا ، وَأَنْ يَكُونَ مُوسِرًا بِحَالِ صَدَاقِهَا ، وَمَا عَدَا ذَلِكَ شُرُوطٌ لِجَوَازِ الْإِقْدَامِ .\rقَالَ الْوَلِيُّ الْعِرَاقِيُّ : وَيَنْبَغِي أَنْ يُعْتَبَرَ فِي الْإِجْبَارِ أَيْضًا انْتِفَاءُ الْعَدَاوَةِ بَيْنَهَا وَبَيْنَ الزَّوْجِ انْتَهَى\rKembali kepada mazhab Syafii yang mengatakan bahwa nikah paksa hukumnya sah, kalau ditelusuri lebih jauh dari kitab-kitab mazhab Syafii kita menemukan bahwa pendapat tersebut tidak mutlak. Artinya ada syarat-syarat tertentu yang menjadikan nikah paksa sah. Seperti ditegaskan dalam kitab Hasyiah Bujairami dan kitab al-Iqna’ karangan Khatib Al-Syarbini bahwa seorang ayah atau kakek bisa menikahkan anak gadisnya tanpa persetujuan dengan ketentuan sebagai berikut :","part":1,"page":207},{"id":208,"text":"1.…Tidak ada permusuhan antara ayah dan gadis tersebut. Artinya tidak terbukti ada unsur penganiayaan dan kepentingan sepihak dalam pernikahan tersebut;\r2.…Sang ayah menikahkanya dengan orang yang sepadan dengannya (kafa’ah).\r3.…Ayah menikahkannya dengan mahar mitsil (yaitu senilai mahar atau lebih mahal dari mahar yang diterima ibu sang gadis);\r4.…Mahar harus dengan valuta yang berlaku di negeri dimana mereka hidup;\r5.…Suaminya harus mampu membayar mahar tersebut;\r6.…Ayah tidak menikahkanya dengan seseorang yang membuat gadis tersebut menderita, misalnya seorang yang buta atau orang yang sudah tua;\r7.…Gadis tersebut belum wajib melaksanakan haji, karena kalau sudah wajib akan tertunda hajinya oleh pernikahan tersebut;\rUlama Wali Iraqi menambahkan satu syarat lagi, yaitu tidak ada permusuhan antara gadis dan lelaki yang dinikahkan dengannya. [Mujawwib : Mbah Jenggot II].\r4041. HAK MENIKAHKAN PAKSA BAGI ORANG TUA (WALI MUJBIR)\rPERTANYAAN :","part":1,"page":208},{"id":209,"text":"Assalaamu'alaikum warahmatullaah. Pertanyaan inbox (waqi'iyyah) : Saya mempunyai teman cewek, dia dipaksa nikah oleh abahnya. . Kasihan banget padanya, padahal sudah nangis-nangis tidak mau dijodohin dengan pilihan abahnya. Waktu itu posisinya lagi di pondok pesantren…. Terus kata abahnya kalau tidak mau nikah dengan pilihannya, mondoknya tidak usah di terusin! Akhirnya dia mau karena takut di sowanin boyong dari pondoknya, dia malu, masak di pondok masih 3 bulan langsung disowanin boyong. Tapi dia mau nikah, semua karena terpaksa, batinnya tertekan banget, sekarang usia pernikahannya sudah 5 bulan tapi dia tidak merasaan ketenangan & kedamaian pasca nikah! Dia kan khafidoh . . Malah dia bilang Qur'annya tidak karuan setelah nikah & pada akhirnya teman saya tadi kabur. Tidak tau entah kemana? Katanya pingin ngrumat Qur'annya. Pingin ayem. Pertanyaan :\rDalam posisi seperti itu saat suami di tinggal istrinya pergi, bolehkah suami tadi menceraikan istrinya? Berdosakah abahnya sebagai orang tua ? Monggo dipun wedar.... [Abdullah Afif].\rJAWABAN :\rWa'alaikumsalaam warahmatullah wabarakaatuh. Orang tua diperbolehkan menikahkan anak gadisnya (bukan yang janda / pernah menikah) dengan paksa sesuai haknya sebagai wali mujbir, namun ada beberapa syarat yang harus terpenuhi. Syarat seorang ayah boleh menikahkan anak gadisnya secara paksa di antaranya :\r1. Antara calon suami dan anak gadisnya tidak adanya permusuhan.\r2. Tidak ditemukan permusuhan yang nyata antara wali dan anak gadis.\r3. Calon suaminya tersebut harus selevel / kafa'ah dengan anak gadis.","part":1,"page":209},{"id":210,"text":"4. Calon suaminya mampu atau sanggup membayar maskawin mitsil / standar.\r5. Menikahkan dengan maskawin mitsil / standar.\r6. Mas kawinnya harus mata uang negara.\r7. Pembayaran maskawin harus kontan.\rCATATAN :\rMenurut Madzhab Syafi'iyyah untuk ketentuan empat yang pertama, jika salah satunya ada yang tidak terpenuhi maka nikahnya tidak sah bila anak gadisnya sebelumnya tidak rela. Sedangkan ketentuan yang tiga terakhir jika tidak terpenuhi maka nikahnya tetap sah hanya saja hukumnya harom / berdosa. Wallaahu A'lam [ Mujawwib : Ghufron Bkl ]\rReferensi :\r- Nihayatul Muhtaj VI / 229 Daar El-Fikr Beirut :\rوللأب تزويج البكر ( صغيرة وكبيرة ) ( بغير إذنها ) لخبر الدارقطني { الثيب أحق بنفسها من وليها والبكر يزوجها أبوها } وهو مجمع عليه في الصغيرة ، ويشترط لصحة ذلك كفاءة الزوج ويساره بحال صداقها عليه كما أفتى به الوالد رحمه الله تعالى ، فلو زوجها من معسر به لم يصح لأنه بخسها حقها وليس مفرعا على أن اليسار معتبر في الكفاءة خلافا لبعض المتأخرين ، وعدم عداوة بينها وبين الزوج كما بحثه العراقي ، وعدم عداوة ظاهرة بينها وبين الولي وإلا فلا يزوجها إلا بإذنها ، بخلاف غير الظاهرة لأن الولي يحتاط لموليته لخوف العار ولغيره ، وعليه يحمل إطلاق الماوردي والروياني الجواز ، واعتبر الظهور هنا دون ما مر في الزوج لظهور الفرق بين الولي المجبر والزوج ، لأن انتفاء العداوة بينها وبين وليها يقتضي أنه لا يزوجها [ ص: 229 ] إلا لمن يحصل لها منه حظ ومصلحة وشفقة عليها ، أما مجرد كراهتها له من غير ضرر فلا تؤثر ، لكن يكره له تزويجها منه كما نص عليه في الأم لا يقال : يلزم من اشتراط عدالته انتفاء عداوته لتنافيهما . لأنا نمنع ذلك لما سيعلم في مبحثها أنها قد لا تكون مفسقة","part":1,"page":210},{"id":211,"text":"ـ ( قوله : بينها وبين الزوج ) أي لا ظاهرة ولا خفية ( قوله أما مجرد كراهتها ) أي الزوجة ( قوله : أنها قد لا تكون ) أي العداوة ( قوله : وألحق الخفاف ) أي في الشروط المذكورة ( قوله : لا يشترط فيها ظهورها ) أي بل يكون مجرد العداوة مانعا ( قوله لوضوح الفرق بينهما ) وهو أن شفقة الولي تدعوه لرعاية المصلحة ولو مع العداوة الباطنة ، بخلاف الوكيل فإنه لا شفقة له فربما حملته العداوة على عدم رعاية المصلحة ( قوله : ولجواز ) أي ويشترط لجواز إلخ ( قوله : أن محل ذلك ) أي عدم جواز المباشرة إلخ ( قوله : وإلا جاز بالمؤجل ) ومنه ما يقع الآن من جعل بعض الصداق حالا وبعضه مؤجلا بأجل معلوم فيصح\rـ ( قوله : واعتبر الظهور هنا دون ما مر في الزوج إلخ ) عبارة شرح الروض عقب ما مر عن العراقي : وإنما لم يعتبروا ظهور العداوة هنا كما اعتبر ثم لظهور الفرق بين الزوج والولي المجبر ، بل قد يقال لا حاجة إلى ما قاله : يعني العراقي ; لأن انتفاء العداوة إلى آخر ما في الشرح\r- Hasyiyah Al-Qulyubi Wa'amiroh 11/ 177 :\rـ (فصل) ويجوز للاب والجد تزويج البكر من غير رضاها صغيرة كانت أو كبيرة: لما روى ابن عباس رضى الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال (الثيب أحق بنفسها من وليها والبكر يستأمرها أبوها في نفسها) فدل على أن الولى أحق بالبكر وإن كانت بالغةحاشيتا قليوبي – وعميرة – (ج 11 / ص 177)","part":1,"page":211},{"id":212,"text":"( وَلِلْأَبِ تَزْوِيجُ الْبِكْرِ صَغِيرَةً ، وَكَبِيرَةً بِغَيْرِ إذْنِهَا ) لِكَمَالِ شَفَقَتِهِ ، ( وَيُسْتَحَبُّ اسْتِئْذَانُهَا ) أَيْ الْكَبِيرَةِ تَطْيِيبًا لِخَاطِرِهَا ، ( وَلَيْسَ لَهُ تَزْوِيجُ ثَيِّبٍ إلَّا بِإِذْنِهَا فَإِنْ كَانَتْ صَغِيرَةً لَمْ تُزَوَّجْ حَتَّى تَبْلُغَ ) ؛ لِأَنَّ الصَّغِيرَةَ لَا إذْنَ لَهَا ( وَالْجَدُّ كَالْأَبِ عِنْدَ عَدَمِهِ ) فِي جَمِيعِ مَا ذُكِرَ ، ( وَسَوَاءٌ ) ، فِيمَا ذُكِرَ فِي الثَّيِّبِ ( زَالَتْ الْبَكَارَةُ بِوَطْءٍ حَلَالٍ أَوْ حَرَامٍ ) كَالزِّنَا ( وَلَا أَثَرَ لِزَوَالِهَا بِلَا وَطْءٍ كَسَقْطَةٍ ) وَأُصْبُعٍ وَحِدَةِ حَيْضٍ ، ( فِي الْأَصَحِّ ) فَهِيَ فِي ذَلِكَ كَالْبِكْرِ لِبَقَائِهَا عَلَى حَيَائِهَا حَيْثُ لَمْ تُمَارِسْ أَحَدًا مِنْ الرِّجَالِ ، وَالثَّانِي أَنَّهَا كَالثَّيِّبِ فِيمَا ذُكِرَ فِيهَا لِزَوَالِ الْعُذْرَةِ ، وَالْمَوْطُوءَةُ فِي الدُّبُرِ كَالْبِكْرِ فِي الْأَصَحِّ ، ( وَمَنْ عَلَى حَاشِيَةِ النَّسَبِ كَأَخٍ وَعَمٍّ ) ، وَابْنِ كُلٍّ مِنْهُمَا ( لَا يُزَوِّجُ صَغِيرَةً بِحَالٍ ) ، أَيْ بِكْرًا كَانَتْ أَوْ ثَيِّبًا ؛ لِأَنَّهُ إنَّمَا يُزَوِّجُ بِالْإِذْنِ ، وَلَا إذْنَ لِلصَّغِيرَةِ ، ( وَتَزْوِيجُ الثَّيِّبِ الْبَالِغَةِ بِصَرِيحِ الْإِذْنِ ) لِلْأَبِ أَوْ غَيْرِهِ ، ( وَيَكْفِي فِي الْبِكْرِ ) الْبَالِغَةِ إذَا اُسْتُؤْذِنَتْ ( سُكُوتُهَا فِي الْأَصَحِّ ) لِحَدِيثِ مُسْلِمٍ { وَإِذْنُهَا سُكُوتُهَا } ، وَالثَّانِي لَا يَكْفِي لِمَنْ عَلَى حَاشِيَةِ النَّسَبِ كَالثَّيِّبِ ، ( وَالْمُعْتِقُ ) وَعَصَبَتُهُ ( وَالسُّلْطَانُ كَالْأَخِ ) فِيمَا ذُكِرَ فِيهِقَوْلُهُ : ( صَغِيرَةً أَوْ كَبِيرَةً ) عَاقِلَةً أَوْ مَجْنُونَةً ، وَسَيَأْتِي أَنَّهُ يُزَوِّجُ الْبِنْتَ الْمَجْنُونَةَ وَلَوْ صَغِيرَةً .","part":1,"page":212},{"id":213,"text":"قَوْلُهُ : ( بِغَيْرِ إذْنِهَا ) وَيُشْتَرَطُ لِصِحَّةِ الْعَقْدِ حِينَئِذٍ عَدَمُ عَدَاوَةٍ ظَاهِرَةٍ مِنْ الْوَلِيِّ لَهَا بِأَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهَا ، أَهْلُ مَحَلِّهَا ، وَكَوْنُ الزَّوْجِ كُفُؤًا وَمُوسِرًا أَيْ قَادِرًا عَلَى حَالِ الصَّدَاقِ لَيْسَ عَدُوًّا لَهَا وَلَوْ بَاطِنًا حَتَّى لَوْ تَبَيَّنَ شَيْءٌ مِنْ ذَلِكَ بَعْدَ الْعَقْدِ تَبَيَّنَ بُطْلَانُهُ ، وَيُشْتَرَطُ لِجَوَازِ الْإِقْدَامِ عَلَى الْعَقْدِ كَوْنُهُ بِمَهْرِ الْمِثْلِ مِنْ نَقْدِ الْبَلَدِ حَالًّا كُلُّهُ ، وَالْمُرَادُ بِنَقْدِ الْبَلَدِ مَا جَرَتْ الْعَادَةُ بِهِ فِيهَا ، وَلَوْ عُرُوضًا ، وَكَذَا يُقَالُ فِي الْحُلُولِ ، وَالْمُرَادُ بِقُدْرَتِهِ أَنْ يَكُونَ مَالِكًا لِقَدْرِهِ مِمَّا يُبَاعُ فِي الدِّينِ ، قَالَ شَيْخُنَا : وَإِذَا حَرُمَ الْإِقْدَامُ فَسَدَ عَقْدُ الصَّدَاقِ فَقَطْ ، وَالنِّكَاحُ صَحِيحٌ ، وَيَرْجِعُ إلَى مَهْرِ الْمِثْلِ ، وَفِيهِ نَظَرٌ إذَا كَانَ غَيْرُ نَقْدِ الْبَلَدِ أَكْثَرَ مِنْهُ قَالَ : وَإِذَا فُقِدَ شَرْطٌ مِنْ شُرُوطِ الصِّحَّةِ بَطَلَ النِّكَاحُ كَمَا مَرَّ ، وَفِيهِ نَظَرٌ أَيْضًا فِي نَحْوِ مَا لَوْ عَقَدَ لِمَنْ مَهْرُهَا مِائَةٌ بِمِائَتَيْنِ حَالَّتَيْنِ وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى مِائَةٍ فَقَطْ فَرَاجِعْهُ","part":1,"page":213},{"id":214,"text":"( وَلِلْأَبِ تَزْوِيجُ الْبِكْرِ صَغِيرَةً ، وَكَبِيرَةً بِغَيْرِ إذْنِهَا ) لِكَمَالِ شَفَقَتِهِ ، ( وَيُسْتَحَبُّ اسْتِئْذَانُهَا ) أَيْ الْكَبِيرَةِ تَطْيِيبًا لِخَاطِرِهَا ، ( وَلَيْسَ لَهُ تَزْوِيجُ ثَيِّبٍ إلَّا بِإِذْنِهَا فَإِنْ كَانَتْ صَغِيرَةً لَمْ تُزَوَّجْ حَتَّى تَبْلُغَ ) ؛ لِأَنَّ الصَّغِيرَةَ لَا إذْنَ لَهَا ( وَالْجَدُّ كَالْأَبِ عِنْدَ عَدَمِهِ ) فِي جَمِيعِ مَا ذُكِرَ ، ( وَسَوَاءٌ ) ، فِيمَا ذُكِرَ فِي الثَّيِّبِ ( زَالَتْ الْبَكَارَةُ بِوَطْءٍ حَلَالٍ أَوْ حَرَامٍ ) كَالزِّنَا ( وَلَا أَثَرَ لِزَوَالِهَا بِلَا وَطْءٍ كَسَقْطَةٍ ) وَأُصْبُعٍ وَحِدَةِ حَيْضٍ ، ( فِي الْأَصَحِّ ) فَهِيَ فِي ذَلِكَ كَالْبِكْرِ لِبَقَائِهَا عَلَى حَيَائِهَا حَيْثُ لَمْ تُمَارِسْ أَحَدًا مِنْ الرِّجَالِ ، وَالثَّانِي أَنَّهَا كَالثَّيِّبِ فِيمَا ذُكِرَ فِيهَا لِزَوَالِ الْعُذْرَةِ ، وَالْمَوْطُوءَةُ فِي الدُّبُرِ كَالْبِكْرِ فِي الْأَصَحِّ ، ( وَمَنْ عَلَى حَاشِيَةِ النَّسَبِ كَأَخٍ وَعَمٍّ ) ، وَابْنِ كُلٍّ مِنْهُمَا ( لَا يُزَوِّجُ صَغِيرَةً بِحَالٍ ) ، أَيْ بِكْرًا كَانَتْ أَوْ ثَيِّبًا ؛ لِأَنَّهُ إنَّمَا يُزَوِّجُ بِالْإِذْنِ ، وَلَا إذْنَ لِلصَّغِيرَةِ ، ( وَتَزْوِيجُ الثَّيِّبِ الْبَالِغَةِ بِصَرِيحِ الْإِذْنِ ) لِلْأَبِ أَوْ غَيْرِهِ ، ( وَيَكْفِي فِي الْبِكْرِ ) الْبَالِغَةِ إذَا اُسْتُؤْذِنَتْ ( سُكُوتُهَا فِي الْأَصَحِّ ) لِحَدِيثِ مُسْلِمٍ { وَإِذْنُهَا سُكُوتُهَا } ، وَالثَّانِي لَا يَكْفِي لِمَنْ عَلَى حَاشِيَةِ النَّسَبِ كَالثَّيِّبِ ، ( وَالْمُعْتِقُ ) وَعَصَبَتُهُ ( وَالسُّلْطَانُ كَالْأَخِ ) فِيمَا ذُكِرَ فِيهِقَوْلُهُ : ( صَغِيرَةً أَوْ كَبِيرَةً ) عَاقِلَةً أَوْ مَجْنُونَةً ، وَسَيَأْتِي أَنَّهُ يُزَوِّجُ الْبِنْتَ الْمَجْنُونَةَ وَلَوْ صَغِيرَةً .","part":1,"page":214},{"id":215,"text":"قَوْلُهُ : ( بِغَيْرِ إذْنِهَا ) وَيُشْتَرَطُ لِصِحَّةِ الْعَقْدِ حِينَئِذٍ عَدَمُ عَدَاوَةٍ ظَاهِرَةٍ مِنْ الْوَلِيِّ لَهَا بِأَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهَا ، أَهْلُ مَحَلِّهَا ، وَكَوْنُ الزَّوْجِ كُفُؤًا وَمُوسِرًا أَيْ قَادِرًا عَلَى حَالِ الصَّدَاقِ لَيْسَ عَدُوًّا لَهَا وَلَوْ بَاطِنًا حَتَّى لَوْ تَبَيَّنَ شَيْءٌ مِنْ ذَلِكَ بَعْدَ الْعَقْدِ تَبَيَّنَ بُطْلَانُهُ ، وَيُشْتَرَطُ لِجَوَازِ الْإِقْدَامِ عَلَى الْعَقْدِ كَوْنُهُ بِمَهْرِ الْمِثْلِ مِنْ نَقْدِ الْبَلَدِ حَالًّا كُلُّهُ ، وَالْمُرَادُ بِنَقْدِ الْبَلَدِ مَا جَرَتْ الْعَادَةُ بِهِ فِيهَا ، وَلَوْ عُرُوضًا ، وَكَذَا يُقَالُ فِي الْحُلُولِ ، وَالْمُرَادُ بِقُدْرَتِهِ أَنْ يَكُونَ مَالِكًا لِقَدْرِهِ مِمَّا يُبَاعُ فِي الدِّينِ ، قَالَ شَيْخُنَا : وَإِذَا حَرُمَ الْإِقْدَامُ فَسَدَ عَقْدُ الصَّدَاقِ فَقَطْ ، وَالنِّكَاحُ صَحِيحٌ ، وَيَرْجِعُ إلَى مَهْرِ الْمِثْلِ ، وَفِيهِ نَظَرٌ إذَا كَانَ غَيْرُ نَقْدِ الْبَلَدِ أَكْثَرَ مِنْهُ قَالَ : وَإِذَا فُقِدَ شَرْطٌ مِنْ شُرُوطِ الصِّحَّةِ بَطَلَ النِّكَاحُ كَمَا مَرَّ ، وَفِيهِ نَظَرٌ أَيْضًا فِي نَحْوِ مَا لَوْ عَقَدَ لِمَنْ مَهْرُهَا مِائَةٌ بِمِائَتَيْنِ حَالَّتَيْنِ وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى مِائَةٍ فَقَطْ فَرَاجِعْهُ\r- Al-Fiqh 'Ala Madzahibil Ar-Ba'ah :\rالفقه على المذاهب الأربعة :\rالشافعية - قالوا : يختص الولي المجبر بتزويج الصغيرة والمجنون صغيرا أو كبيرا والبكر البالغة العاقلة بدون استئذان ورضا بشروط سبعة :","part":1,"page":215},{"id":216,"text":"الشرط الأول : أن لا يكون بينه وبينها عداوة ظاهرة أما إذا كانت العداوة غير ظاهرة فإنها لا تسقط حقهالشرط الثاني : أن لا يكون بينها وبين الزوج عداوة أبدا ظاهرة معروفة لأهل الحي ولا باطنة فلو زوجها لمن يكرهها أو يريد بها السوء فإنه لا يصحالشرط الثالث : أن يكون الزوج كفأالشرط الرابع : أن يكون موسرا قادرا على الصداقوهذه الشروط الأربعة لا بد منها في صحة العقد فإن وقع مع فقد شرط منها كان باطلا إن لم تأذن به الزوجة وترضى بهالشرط الخامس : أن يزوجها بمهر مثلهاالشرط السادس : أن يكون المهر من نقد البلدالشرط السابع : أن يكون حالا\rوهذه الشروط الثلاثة شروط لجواز مباشرة الولي للعقد قلا يجوز له أن يباشر العقد أصلا إلا إذا تحققت هذه الشروط فإذا فعل كان آثما وصح العقد على أن اشتراط كون الصداق حالا وكونه من نقد البلد مقيد بما إذا لم تكن العادة جارية بتأجيل الصداق أو بالتزويج بغير نقد البلد كالتزوج بعروض التجارة فإذا كانت العادة جارية به فإنه يجوز . ومتى تحققت هذه الشروط كان للأب أو الجد إجبار البكر صغيرة كانت أو كبيرة عاقلة أو مجنونة ولكن يسن استئذانها تطيبا لخاطرها إذا كانت بالغة\rتنبيه : المراد بالعداوة العداوة الدنيوية الظاهرة لأن الباطنة لا يطلع عليها إلا علام الغيوب .قوله : ( الظاهرة ) ويكتفي بما يدل عليها كالمخاصمة ، اكتفاء بالمظنة لما فيه من الاحتياط . وفرق بين العداوة والبغضاء بأن العداوة هي التي تفضي إلى التعدي بالأفعال والبغضاء هي العداوة الكامنة في القلب . اهـ . شوبري\r- Tuhfatul Muhtaj VII / 245 :","part":1,"page":216},{"id":217,"text":"وعدم عداوة بينها وبينه وعدم عداوة ظاهرة أي بحيث لا تخفى على أهل محلتها بينها وبين الأب وزعم أن انتفاء هذه شرط للجواز لا لصحة غير صحيح ( قوله : وعدم عداوة ظاهرة إلخ ) الظاهر أن المدار على ثبوت العداوة وانتفائها من جانب الولي لا من جانبها حتى لو كان يحبها ، وهي تعاديه كان له الإجبار وفي عكسه ليس له فتأمل اهـ سيد عمر\rLink Diskusi :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/888613331161476/\rwww.fb.com/notes/938430802846395\r0083. HUKUM NIKAH BEDA AGAMA\rPERTANYAAN :\rMenurut pandangan fiqih ulama syalafiah. Bagaimana hukumnya orang islam menikah dengan orang yang berbeda agama sedangkan undang-undang di indosenia tidak memperbolehkan. Syukron. [Adirianto Wong Farobian].\rJAWABAN :\rA. Nikah antara Muslim dengan Kafir Musyrik\rAllah ta'ala berfirman:\r) ولا تنكحوا المشركات حتى يؤمن ولأمة مؤمنة خير من مشركة ولو أعجبتكم ولا تنكحوا المشركين حتى يؤمنوا ولعبد مؤمن خير من مشرك ولو أعجبكم أولئك يدعون إلى النار والله يدعو إلى الجنة والمغفرة بإذنه ويبين ءاياته للناس لعلهم يتذكرون( (سورة البقرة: 221)\rMaknanya: \"Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran\". (Q.S. al Baqarah:221)","part":1,"page":217},{"id":218,"text":"Berdasarkan ayat ini dan dalil-dalil yang lain, para ulama menyepakati (ijma') keharaman pernikahan antara seorang laki-laki atau perempuan muslim dengan orang-orang kafir musyrik laki-laki maupun perempuan.\rB. Nikah antara Lelaki Muslim dengan Perempuan Kafir Ahli Kitab\rAllah ta'ala berfirman:\r) اليوم أحل لكم الطيبات وطعام الذين أوتوا الكتاب حل لكم وطعامكم حل لهم والمحصنات من المؤمنات والمحصنات من الذين أوتوا الكتاب من قبلكم إذا ءاتيتموهن أجورهن محصنين غير مسافحين ولا متخذي أخدان ومن يكفر بالإيمان فقد حبط عمله وهو في الآخرة من الخاسرين( (سورة المائدة: 5)\rMaknanya: \"Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang ahli kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar maskawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak pula menjadikannya gundik-gundik. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi \". (Q.S. al Ma-idah:5).","part":1,"page":218},{"id":219,"text":"Berdasarkan ayat ini dan dalil-dalil yang lain, mayoritas para ulama berpendapat bolehnya pernikahan antara seorang laki-laki muslim dengan perempuan Ahli Kitab, yahudi dan nasrani saja [5]. Hanya saja menurut Imam Syafi'i Perempuan Ahli Kitab yang dimaksud (yang boleh dinikahi) adalah mereka yang memang memiliki nenek moyang yahudi sebelum diutusnya Nabi Isa dan yang memiliki nenek moyang nasrani sebelum diutusnya Nabi Muhammad. Sebagian ulama melarang lelaki muslim menikahi perempuan Ahli Kitab karena memang mengharamkannya dan sebagian lagi melarang dalam artian menganjurkan dan menasehatkan (Min Bab an-Nashihah wa at-Taujiih wa al Irsyad) agar tidak melakukan hal itu lebih karena alasan kemaslahatan. Mereka menganggap pernikahan semacam ini sedikit banyak akan membawa bahaya dan yang lebih besar maslahatnya adalah menghindari model pernikahan semacam ini.\rPernikahan dengan perempuan Ahli Kitab ini dilakukan oleh para sahabat Nabi shallallahu 'alayhi wasallam, di antaranya: Utsman ibn 'Affan menikah dengan Ibnatul Farafishah al Kalabiyyah, seorang nasrani kemudian masuk Islam. Thalhah ibn Ubaidillah menikahi perempuan dari Bani Kulayb nasrani atau yahudi. Hudzaifah ibn al Yaman menikahi seorang perempuan yahudi. (Semua diiriwayatkan oleh al Bayhaqi dengan sanad yang sahih) [6].\rC. Nikah antara Perempuan Muslimah dengan Lelaki Kafir Musyrik atau Kafir Ahli Kitab\rAllah ta'ala berfirman:\r) ...فإن علمتموهن مؤمنات فلا ترجعوهن إلى الكفار لا هن حل لهم ولا هم يحلون لهن...( (سورة الممتحنة: 10)","part":1,"page":219},{"id":220,"text":"Maknanya: \"…Maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka benar-benar beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka…\". (Q.S. al Mumtahanah :10)\rBerdasarkan ayat ini dan dalil-dalil yang lain, para ulama menyepakati (ijma') keharaman pernikahan antara seorang perempuan muslim dengan laki-laki kafir, baik musyrik maupun Ahli Kitab. Orang yang menghalalkan model pernikahan semacam ini berarti telah mendustakan al Qur'an dan telah keluar dari Islam. [Mujawwib : Mbah Jenggot].\r____________________________________\r[1]. Lihat Mukhtar ash-Shihah, h. 562.\r[2]. Syekh Abdul Ghani an-Nabulsi, al Fath ar-Rabbani wa al Faidl ar-Rahmani, h. 190-191, Syekh Abdullah al Harari, ash-Shirath al Mustaqim, h. 30\r[3]. Syekh Abdullah al Harari, Sharih al Bayaan, Jilid I, h. 172-189 dan ash-Shirath al Mustaqim, h. 18-21\r[4]. Syekh Muhammad Anwar al Kasymiri, Ikfar al Mulhidin, h. 124\r[5]. Tidak masuk ke dalamnya perempuan majusi. Karena Majusi disamakan dengan Ahli Kitab dalam hal jizyah saja, sementara dalam hal nikah dan sembelihan tetap diharamkan seperti orang-orang kafir lainnya. Dalam hadits disebutkan:\r\" سنوا بهم (أي المجوس) سنة أهل الكتاب غير ناكحي نسائهم ولا ءآكلي ذبائحهم\" رواه البيهقي في شعب الإيمان\rLihat Syekh Muhammad al Huut al Beiruti, Mukhtashar al Badr al Munir Fi Takhrij Ahaadits asy-Syarh al Kabiir Li Ibn al Mulaqqin, h. 205\r[6]. Syekh Muhammad al Huut al Beiruti, Mukhtashar al Badr al Munir, h. 205","part":1,"page":220},{"id":221,"text":"Artikel Berhubungan Tentang AHLUL KITAB silahkan klik disini :\rwww.fb.com/notes/www.piss-ktb.com/207432645946218\r0094. ADAKAH BATAS USIA MINIMAL MENIKAH ?\rPERTANYAAN :\rMaaf, mau nanya (kalau diperbolehkan, he...) adakah batasan umur menikah bagi laki-laki dan wanita ? suwon... [Imamuddin Al Porongi].\rJAWABAN :\rTerjadi perbedaan di antara ulama :\r1.…Ada yang tidak membatasi umur dalam absahnya sebuah pernikahan seperti halnya Ulama Madzhab Arba'ah bahkan Imam Mundzir berpendapat sudah menjadi IJMA ULAMA (kesepakatan) menikahkan perempuan yang masih kecilpun boleh.\r2.…Sebagian ulama sebagaimana Ibn Syabramah, Abu Bakar Al-Ashom dan 'Utsman Albatty membatasi absahnya sebuah pernikahan dengan batasan usia bila sudah baligh (dewasa). [Mujawwib : Masaji Antoro ].\rالمبحث الأول أهلية الزوجين: يرى ابن شبرمة وأبو بكر الأصم وعثمان البتي رحمهم الله أنه لا يزوج الصغير والصغيرة حتى يبلغا لقوله تعالى:(حتى إذا بلغوا النكاح) (النساء:6/) فلو جاز التزويج قبل البلوغ لم يكن لهذا فائدة ولأنه لا حاجة بهما إلى النكاح ورأى ابن حزم أنه يجوز تزويج الصغيرة عملاً بالآثار المروية في ذلك. أما تزويج الصغير فباطل حتى يبلغ، وإذا وقع فهو مفسوخ (1) ولم يشترط جمهور الفقهاء لانعقاد الزواج: البلوغ والعقل وقالوا بصحة زواج الصغير والمجنون.\rالصغر: أما الصغر فقال الجمهور منهم أئمة المذاهب الأربعة بل ادعى ابن المنذر الإجماع على جواز تزويج الصغيرة من كفء واستدلوا عليه بما يأتي\rالفقه الإسلامي الجزء التاسع صحـ 171\r0106. HUKUM NIKAH MUT'AH ( KAWIN KONTRAK )\rOleh Mbah Jenggot","part":1,"page":221},{"id":222,"text":"Nikah mut’ah ialah perkawinan antara seorang lelaki dan wanita dengan maskawin tertentu untuk jangka waktu terbatas yang berakhir dengan habisnya masa tersebut, dimana suami tidak berkewajiban memberikan nafkah, dan tempat tinggal kepada istri, serta tidak menimbulkan pewarisan antara keduanya.\rAda 6 perbedaan prinsip antara nikah mut’ah dan nikah sunni (syar’i) :\r1.…Nikah mut’ah dibatasi oleh waktu, nikah sunni tidak dibatasi oleh waktu.\r2.…Nikah mut’ah berakhir dengan habisnya waktu yang ditentukan dalam akad atau fasakh, sedangkan nikah sunni berakhir dengan talaq atau meninggal dunia\r3.…Nikah mut’ah tidak berakibat saling mewarisi antara suami istri, nikah sunni menimbulkan pewarisan antara keduanya.\r4.…Nikah mut’ah tidak membatasi jumlah istri, nikah sunni dibatasi dengan jumlah istri hingga maksimal 4 orang.\r5.…Nikah mut’ah dapat dilaksanakan tanpa wali dan saksi, nikah sunni harus dilaksanakan dengan wali dan saksi.\r6.…Nikah mut’ah tidak mewajibkan suami memberikan nafkah kepada istri, nikah sunni mewajibkan suami memberikan nafkah kepada istri.\rDalil-Dalil Haramnya Nikah Mut’ah","part":1,"page":222},{"id":223,"text":"Haramnya nikah mut’ah berlandaskan dalil-dalil hadits Nabi saw juga pendapat para ulama dari 4 madzhab. Dalil dari hadits Nabi saw yang diwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitabnya Shahih Muslim menyatakan bahwa dari Sabrah bin Ma’bad Al-Juhaini, ia berkata: “Kami bersama Rasulullah saw dalam suatu perjalanan haji. Pada suatu saat kami berjalan bersama saudara sepupu kami dan bertemu dengan seorang wanita. Jiwa muda kami mengagumi wanita tersebut, sementara dia mengagumi selimut (selendang) yang dipakai oleh saudaraku itu. Kemudian wanita tadi berkata: “Ada selimut seperti selimut”. Akhirnya aku menikahinya dan tidur bersamanya satu malam. Keesokan harinya aku pergi ke Masjidil Haram, dan tiba-tiba aku melihat Rasulullah saw sedang berpidato diantara pintu Ka’bah dan Hijr Ismail. Beliau bersabda, “Wahai sekalian manusia, aku pernah mengizinkan kepada kalian untuk melakukan nikah mut’ah. Maka sekarang siapa yang memiliki istri dengan cara nikah mut’ah, haruslah ia menceraikannya, dan segala sesuatu yang telah kalian berikan kepadanya, janganlah kalian ambil lagi. Karena Allah azza wa jalla telah mengharamkan nikah mut’ah sampai Hari Kiamat (Shahih Muslim II/1024). Dalil hadits lainnya: Dari Ali bin Abi Thalib ra. ia berkata kepada Ibnu Abbas ra bahwa Nabi Muhammad saw melarang nikah mut’ah dan memakan daging keledai jinak pada waktu perang Khaibar (Fathul Bari IX/71).\rPendapat Para Ulama\rBerdasarkan hadits-hadits tersebut diatas, para ulama berpendapat sebagai berikut:","part":1,"page":223},{"id":224,"text":"• Dari Madzhab Hanafi, Imam Syamsuddin Al-Sarkhasi (wafat 490 H) dalam kitabnya Al-Mabsuth (V/152) mengatakan: “Nikah mut’ah ini bathil menurut madzhab kami. Demikian pula Imam Ala Al Din Al-Kasani (wafat 587 H) dalam kitabnya Bada’i Al-Sana’i fi Tartib Al-Syara’i (II/272) mengatakan, “Tidak boleh nikah yang bersifat sementara, yaitu nikah mut’ah”\r• Dari Madzhab Maliki, Imam Ibnu Rusyd (wafat 595 H) dalam kitabnya Bidayatul Mujtahid wa Nihayah Al-Muqtashid (IV/325 s.d 334) mengatakan, “hadits-hadits yang mengharamkan nikah mut’ah mencapai peringkat mutawatir” Sementara itu Imam Malik bin Anas (wafat 179 H) dalam kitabnya Al-Mudawanah Al-Kubra (II/130) mengatakan, “Apabila seorang lelaki menikahi wanita dengan dibatasi waktu, maka nikahnya batil.”\r• Dari Madzhab Syafi’, Imam Syafi’i (wafat 204 H) dalam kitabnya Al-Umm (V/85) mengatakan, “Nikah mut’ah yang dilarang itu adalah semua nikah yang dibatasi dengan waktu, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, seperti ucapan seorang lelaki kepada seorang perempuan, aku nikahi kamu selama satu hari, sepuluh hari atau satu bulan.” Sementara itu Imam Nawawi (wafat 676 H) dalam kitabnya Al-Majmu’ (XVII/356) mengatakan, “Nikah mut’ah tidak diperbolehkan, karena pernikahan itu pada dasarnya adalah suatu aqad yang bersifat mutlaq, maka tidak sah apabila dibatasi dengan waktu.”","part":1,"page":224},{"id":225,"text":"• Dari Madzhab Hambali, Imam Ibnu Qudamah (wafat 620 H) dalam kitabnya Al-Mughni (X/46) mengatakan, “Nikah Mut’ah ini adalah nikah yang bathil.” Ibnu Qudamah juga menukil pendapat Imam Ahmad bin Hambal (wafat 242 H) yang menegaskan bahwa nikah mut’ah adalah haram.\rDan masih banyak lagi kesesatan dan penyimpangan Syi’ah. Kami ingatkan kepada kaum muslimin agar waspada terhadap ajakan para propagandis Syi’ah yang biasanya mereka berkedok dengan nama “Wajib mengikuti madzhab Ahlul Bait”, sementara pada hakikatnya Ahlul Bait berlepas diri dari mereka, itulah manipulasi mereka. Semoga Allah selalu membimbing kita ke jalan yang lurus berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman Salafus Shalih.\rزواج المسيار وزواج المتعة\rأولاً: تعريف نكاح المتعة لغة :\rالمتعة من مادة \"مَتعَ \"، ومتعَ به أي انتفع، و\"المتاع\" السلعة. وهو أيضاً المنفعة وما تمتعت به، والاسم المتعة، و\"المتعة\" بضم الميم، وحكي كسرها: اسم للمتمتع به كالمتاع، وأن تتزوج امرأة تتمتع بها أياماً، ثم تخلي سبيلها. وعلى هذا فمادة \"مَتعَ \" تدور على معنى التلذذ والانتفاع. ولما كان نكاح المتعة مؤقت ولا يقصد به ديمومة النكاح واستمراره، بل مجرد التلذذ والانتفاع وإرواء الغريزة الجنسية، سمي هذا النوع من النكاح بنكاح متعة.\rثانياً: تعريف نكاح المتعة اصطلاحاً:","part":1,"page":225},{"id":226,"text":"عرفه الشيخ محمد الحامد بقوله: \"نكاح المتعة هو أن ينكح الرجل المرأة بشيء من المال مدة معينة، ينتهي النكاح بانتهائها من غير طلاق، وليس فيه وجوب نفقة ولا سكنى، وعلى المرأة إستبراء رحمها بحيضتين، ولا توارث يجري بينهما، إن مات أحدهما قبل انتهاء النكاح\". وأورد القرطبي تعريفاً قريبا من ذلك. فقال:\"لم يختلف العلماء من السلف والخلف أن المتعة نكاح إلى أجل لا ميراث فيه، والفرقة تقع عند انقضاء الأجل من غير طلاق\".\rوأركان هذا النكاح عند الشيعة الأمامية هي: الصيغة والزوجة والمهر والأجل. ولا يشترطون الولي ولا الشهود.\rحكم نكاح المتعة:\rأجمع الفقهاء على تحريم نكاح المتعة، ولم يخالف في ذلك إلا الروافض. وتحريم نكاح المتعة ثابت بالكتاب والسنة والإجماع والمعقول.\rأولا: دليل التحريم من الكتاب:\rقال تعالى في سورة المؤمنون : وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (5) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (6) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاء ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (7)\rوجه الدلالة من الآية: ما قالت به السيدة عائشة رضي الله عنها حين سألت عن نكاح المتعة فقالت: بيني وبينكم كتاب الله وقرأت الآية وقالت: فمن ابتغى وراء ما زوجه الله أو ملكه فقد عدا.\rوالمرأة المستمتع بها في نكاح التأقيت \"ليست زوجة ولا مملوكة\". أما كونها غير مملوكة فواضح. وأما الدليل على كونها غير زوجة: فهو انتفاء لوازم الزوجية عنها، كالميراث والعدة والطلاق والنفقة ونحو ذلك. فلو كانت زوجة لورثت واعتدت ووقع عليها الطلاق ووجبت لها النفقة. فلما انتفت عنها لوازم الزوجية، علمنا أنها ليست بزوجة، لأن نفي اللازم يقتضي نفي الملزوم بإجماع العقلاء. فتبين بذلك أن مبتغي نكاح المتعة من العادين المجاوزين ما أحل الله إلى ما حرم.\rثانياً: دليل التحريم من السنة:","part":1,"page":226},{"id":227,"text":"نكاح المتعة هذا من غريب الشريعة الإسلامية كما يقول ابن العربي فإنه أبيح ثم حرم ثم أبيح ثم حرم إلى يوم القيامة. ولذلك يقول الشافعي: \"ليس شيء في الإسلام أُحل ثم حرم ثم أُحل ثم حرم إلا المتعة\".\rفنكاح المتعة أباحه رسول الله صلى الله عليه وسلم قبل خيبر لعزوبة بالناس كانت شديدة، ولكثرة أسفارهم وقلة صبرهم عن النساء، ثم حرمت زمن خيبر، ثم أبيحت عام الفتح، ثم نهي عنها إلى يوم القيامة. والدليل على إباحتها قبل خيبر ثم تحريمها فيه ما رواه البخاري في صحيحه أن علياً قال لابن عباس رضي الله عنهما: إن النبي صلى الله عليه وسلم نهى عن المتعة وعن لحوم الحمر الأهلية زمن خيبر\" (رواه البخاري). وكلمة \"نهى\" هنا تدل على أنه كان مباحاً قبل خيبر ثم نهي عنه في خيبر.\rوالدليل على إباحتها مرة ثانية عام الفتح ثم تحريمها على وجه التأبيد: حديث الربيع بن سبره الجهني أن أباه حدثه أنه كان مع رسول الله صلى الله عليه وسلم في فتح مكة فقال: \"يا أيها الناس، إني قد كنت أذنت لكم في الاستمتاع بالنساء، وإن الله حرم ذلك إلى يوم القيامة، فمن كان عنده منهن شيء فليخل سبيله، ولا تأخذوا مما آتيتموهن شيئاً\" (رواه مسلم).\rونلاحظ في قوله صلى الله عليه وسلم: \"إني كنت أذنت لكم في الاستمتاع بالنساء\" أن هذا الإذن سبقه تحريم، أي أنها تكرر نسخها، حرمت في خيبر ثم أبيحت في الفتح ثم حرمت، ولذلك يقول ابن العربي: \"أما هذا الباب- يعني باب نكاح المتعة- فقد ثبت على غاية البيان ونهاية الإتقان في الناسخ والمنسوخ والأحكام، وهو من غريب الشريعة، فإنه تداوله النسخ مرتين ثم حرم\". وقال ابن برهان الدين: \"والحاصل أن نكاح المتعة كان مباحا ثم نسخ يوم خيبر، ثم أبيح يوم الفتح، ثم نسخ أيام الفتح، واستمر تحريمه إلى يوم القيامة\" .\rوالأحاديث في تحريم النكاح متعددة ومشهورة، حتى قال ابن رشد: \"وأما نكاح المتعة فقد تواتر عن رسول الله صلى الله عليه وسلم تحريمه\".","part":1,"page":227},{"id":228,"text":"ثالثا: آراء الفقهاء في تحريم نكاح المتعة:\rمذهب الحنفية:\rيصرح الحنفية بأن نكاح المتعة باطل، وهو أن يقول الرجل لامرأة: أتمتع بك كذا مدة بكذا من المال. وقالوا: إنه ثبت النسخ بإجماع الصحابة رضي الله عنهم. وأما ابن عباس رضي الله عنهما، فقد صح رجوعه إلى قولهم، فتقرر الإجماع.\rمذهب المالكية:\rقال الدسوقي في حاشيته: \"قال المازري: قد تقرر الإجماع على منعه- أي نكاح المتعة- ولم يخالف فيه إلا طائفة من المبتدعة، وما حكي عن ابن عباس من أنه كان يقول بجوازه فقد رجع عنه\".\rمذهب الشافعية:\rيعتبره الشافعية من أنواع الأنكحة المحرمة، وعرفوه بقولهم: نكاح المتعة هو أن يقول: زوجتك ابنتي يوماً أو شهراً.\rوقالوا: إنه لا يجوز هذا النكاح، واستدلوا على ذلل بحديث علي رضي الله عنه السابق -وهو تحريم الرسول صلى الله عليه وسلم للمتعة زمن خيبر وقالوا إنه عقد يجوز مطلقاً فلم يصح مؤقتة كالبيع، وإنه نكاح لا يتعلق به الطلاق والظهار والإرث وعدة الوفاة، فكان باطلا كسائر الأنكحة الباطلة.\rمذهب الحنابلة:\rيعتبر الحنابلة نكاح المتعة مرتبط بشرط فاسد، يفسد النكاح من أصله وهو شرط التأقيت، وقالوا إن النكاح بهذا التأقيت باطل، ولأنه لم يتعلق به أحكام من الطلاق وغيره، فكان باطلاً كسائر الأنكحة الباطلة.\rمذهب الظاهرية:\rقال ابن حزم: \"لا يجوز نكاح المتعة، وهو النكاح إلى أجل، وكان حلالا على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم، ثم نسخه الله تعالى على لسان رسوله صلى الله عليه وسلم نسخاً باتاً إلى يوم القيامة\".\r0194. MENIKAH DENGAN ORANG YANG PUNYA MASA LALU KELAM\rPERTANYAAN :","part":1,"page":228},{"id":229,"text":"Assalamualaikum Ustadz.. Ada kisah seperti ini : Seorang gadis muslimah yang insyaAllah baik agamanya & selalu terjaga kesucian dirinya, dikhitbah oleh seorang duda beranak yang mempunyai masa lalu kotor (pernah berzina berkali-kali). Dulu pria tersebut terpaksa harus menikahi seorang wanita karena sang wanita telah dihamili olehnya, tapi ternyata rumah tangga mereka tidak harmonis karena si pria kecewa, karena wanita yang telah dinikahinya itu dulu pernah hamil dengan mantan pacarnya tetapi digugurkan, si pria juga merasa tidak puas dengan kebiasaan & pelayanan istrinya. Lalu pria tersebut berselingkuh dengan wanita lain lagi / rekan kerjanya (wanita lajang, bukan suami orang), ini terjadi lebih dari 1 kali. Perselingkuhannya hanya untuk menyalurkan kebutuhan biologis karena teralu kecewa terhadap istrinya. Kemudian istrinya membalas selingkuh bahkan pergi dari rumah selama berbulan-bulan bersama selingkuhannya tanpa pernah menemui anak-anaknya yang masih SD (tapi Pria tersebut tetap merawat anak-anaknya dengan baik). Karena hal itulah maka mereka telah cerai & pria tersebut telah bertaubat beberapa tahun lalu & tidak pernah berzina lagi, semenjak itu insya Allah telah jadi pria yang sholeh & taat pada hukum Allah. Pertanyaan saya : apa yang harus dilakukan muslimah ini ? menerima khitbahnya, karena dia menilai pria tersebut memang baik & muslimah ini tak mempermasalahkan dengan keburukan masa lalu si pria tersebut,yang penting ketika kenal dengannya si pria tersebut telah jadi pria yang istiqomah dengan ketaqwaannya sehingga layak dipilih jadi imam. Ataukah muslimah","part":1,"page":229},{"id":230,"text":"tersebut harus menolak khitbah dari pria tersebut ? karena wanita suci sepertinya tidak pantas untuk pria yang pernah berzina. Bagaimana solusi terbaik secara Islam dalam kasus ini ? terimakasih banyak atas penjelasannya. Wassalamu'alaikum. [Cut Zavheera].\rJAWABAN :\rWaalaikumsalam wr wb., muslimah tersebut boleh menerima khitbah lelaki itu, karena telah nampak adanya taubat yang benar darinya.\rوروي عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : ( إذا زنى الرجل خرج منه الإيمان فكان عليه كالظلة فإذا أقلع رجع إليه الإيمان ) رواه أبو داود واللفظ له\rDiriwayatkan dari Abu Hurairoh ra. Dia berkata : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallama bersabda “Bila seorang lelaki berzina perbuatannya laksana penutup (iman) baginya namun bila dia telah menjauhkan diri dari zina (bertaubat), imannya kembali padanya”. (HR Abu Daud).\rوفي رواية للبيهقي قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : ( إن الإيمان سربال يسربله الله من يشاء فإذا زنى العبد نزع منه سربال الإيمان فإن تاب رد عليه )\rDalam sebuah riwayat Imam Baehaqi dikatakan : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallama bersabda “Iman itu laksana gamis/baju yang Allah kenakan pada hambaNya yang dikehendaki, bila seorang berzina lepaslah pakaian tersebut bila dia bertaibat dikembalikan lagi pakaiannya”. (HR. Baehaqi).\rولا يجوز التزوج بالزانية التي اشتهرت بذلك ولا يجوز التزوج من الزاني الذي يتظاهر بالفاحشة واشتهر بها إلا إذا ظهرت التوبة الصادقة عليه","part":1,"page":230},{"id":231,"text":"“Tidak boleh menikahi wanita pezina yang sudah dikenal umum perbuatannya, tidak boleh juga menikahi lelaki pezina yang tampak kejelekan dan dikenal umum perbuatannya kecuali bila telah nampak adanya taubat yang benar darinya”. [ AlFiqh ‘Alaa Madzaahib al-Arba’ah V/60 ]. Wallaahu A'lamu Bis Showaab. [Mujawwib : Masaji Antoro].\r0267. ANTARA \"KHITBAH\" DAN PACARAN\rPERTANYAAN :\rAssalamu alaikum, dalam al qur'an ada satu ayat yang mnjelaskan haramnya pacaran!mungkin ada yang mengetahui dalam surat apa ayat itu ada? moh?n dijawab. [AQuu InGin TaubAt].\rJAWABAN :\rWa'alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh. Konsep Pacaran Islami. Adakah ? Manusia adalah makhluk sosial yang mendambakan hidup damai dan harmonis sehingga sangatlah normal bila manusia mengalami ketertarikan dengan lawan jenisnya. Motivasi untuk bisa mengenal karakter, menyamakan pandangan hidup dan alasan lainnya seringkali dijadikan dalih pembenaran untuk melakukan PACARAN bahkan beberapa pemikir ada yang sedikit peduli dengan kelestarian norma-etik sosial sehingga merumuskan konsep \"Pacaran Islami\".\rBagaimana sebenarnya konsep Islam mengatur hubungan sepasang remaja yang sedang jatuh cinta ? Allah SWT berfirman dalam Al-Quran : \"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)\" (QS. 3:14).","part":1,"page":231},{"id":232,"text":"Dalam redaksi ayat di atas dijelaskan bahwa dalam diri manusia memang telah ditanam benih-benih CINTA yang suatu waktu bisa tumbuh seketika saat menemukan kecocokan jiwa. CINTA dalam Islam tidak dilarang karena ia berada diluar wilayah kendali manusia bahkan CINTA merupakan anugerah yang harus di syukuri dengan mengekspresikan dan membinanya sesuai norma-etik syariat. Islam denga universal ajarannya telah mengatur seluruh hubungan manusia baik secara vertikal (Hablun min Allaahi) maupun horizontal (Hablun min An Naasi) tak terkecuali hubungan sepasang anak manusia yang sedang dirundung ASMARA. Istilah pacaran secara harfiyah tidak dikenal dalam Islam, karena konotasi dari kata-kata ini lebih mengarah pada hubungan pra-nikah yang lebih intim dari sekedar media saling mengenal. Islam menciptakan aturan yang sangat indah dalam mengatur hubungan lawan jenis yang sedang yang sedang jatuh cinta yaitu dengan konsep Khitbah.\rKhitbah adalah sebuah konsep 'Pacaran Berpahala' dari dispensasi agama sebagai media yang legal bagi hubungan lawan jenis untuk saling mengenal sebelum memutuskan menjalin hubungan suami-istri. Konsep hubungan ini sangat dianjurkan bagi seorang yang telah menaruh hati kepada lawan jenis dan bermaksud untuk menikah akan tetapi hubungan ini harus tetap terbingkai dalam nilai-nilai keshalehan sehingga kedekatan hubungan yang bisa menimbulkan potensi fitnah berarti sudah diluar konsep ini.","part":1,"page":232},{"id":233,"text":"Nikah dalam Islam bukanlah sekedar untuk singgahan hasrat seksual tetapi merupakan peristiwa sakral yang mempertemukan dua katagoris berbeda dalam satu bahtera tanggung jawab, hak dan kewajiban untuk bersama membina dan mengarungi MAGHLIGAI CINTA menyambung estafet kehidupan dimasa mendatang. Nikah merupakan ibadah yang dianjurkan agama demi menjalin kebahagiaan bersama dalam kehidupan bahkan sampai hidup lagi.\rSedemikian sakralnya makna pernikahan maka khitbah merupakan konsep urgen untuk menjembatani kemungkinan akan terjadinya kekecewaan di kedua belah pihak sebelum terjadi ikrar nikah. Lantaran proporsi fundamental khitbah hanya sebagai langkah yang merupakan sarana tahap saling mengenali maka legalitas kedekatan hubungan dalam konsep ini hanya sebatas memandang wajah dan dan telapak tangan karena rahasia fisik dan kepribadian seseorang sudah bisa dimonitor dan di sensor melalui aura wajah dan telapak tangan.\rBerikut beberapa Hadits Nabi yang memperkenankan melihat wanita yang dikhitbahi dalam batas-batas tertentu :\r1.…“Seorang wanita datang menemui Rasulullah SAW lalu berkata: “Wahai Rasulullah, saya datang untuk menyerahkan diri saya kepada Anda! Rasulpun mengangkat pandangan kepadanya dan mengamatinya dengan saksama. Kemudian beliau menundukkan pandangan. Mengertilah wanita itu bahwa Rasulullah SAW tidak berminat kepada dirinya, maka iapun duduk. Kemudian bangkitlah seorang lelaki dari sahabat beliau dan berkata: “Wahai Rasulullah, jika Anda tidak berminat maka nikahkanlah ia kepada saya” (H.R Al-Bukhari, Muslim dan An-Nasa'i)","part":1,"page":233},{"id":234,"text":"2.…“Suatu saat saya berada di sisi Rasulullah SAW, lalu datanglah seorang lelaki mengabarkan kepada beliau bahwa ia ingin menikahi seorang wanita Anshar. Rasulullah berkata kepadanya: “Apakah engkau sudah melihatnya?” “Belum!” katanya. Beliau berkata: “Kalau begitu temui dan lihatlah wanita Anshar itu karena pada mata mereka terdapat sesuatu.” (H.R Ahmad dan Imam Muslim)\r3.…“Jika salah seorang dari kamu meminang seorang wanita maka bila ia bisa melihat sesuatu daripadanya yang dapat mendorong untuk menikahinya hendaklah ia melakukannya.” (H.R Abu Dawud dan Al-Hakim). Lebih dari itu dalam \"Pacaran Berpahala\" ini juga diperkenankan duduk dan berbincang-bincang bersama sepanjang tidak sampai bernuansa khalwah (berduaan), seperti dengan disertakan pihak ketiga yang bisa melindungi dari fitnah karena Makhtubah (baca pacar) bagaimanapun masih berstatus Ajnabiyyah (wanita lain) yang sedikitpun belum berlaku hukum suami-istri.\rJadi konsep dalam Islam dalam mengatur hubungan hubungan sepasang remaja yang sedang jatuh cinta bukan dengan hubungan tanpa batas atau pacaran islami yang diawali dengan \"Basmalah\" dan di akhiri dengan \"Hamdalah\" melainkan hubungan yang di bingkai dengan nilai-nilai pekerti luhur dan dihiasi dengan Fitrah Keindahan (baca : Keshalehan). Wa Allaahu A'lamu bi As-Shawaabi. [Mujawwib : Masaji Antoro].\rReferensi : Hasyiyah Al-Jamal 4/120, Fath Al-Mu'iin 3/298, Al-Fiqh Al-Islaami 9/6507, Tafsiir Al-Qurthuby 6/340\r0299. DETAIL \"MAHROM\" YANG HARAM DINIKAH\rPERTANYAAN :\rألسلام عليكم و رحمة الله و بركاته","part":1,"page":234},{"id":235,"text":"Saudara-saudara kita yang satu mahrom itu siapa aja ? [Jims Dyliefaniyz ].\rJAWABAN :\rوعليكم سلام ورحمة الله وبركاته\rWanita-wanita Yang Haram Dinikahi ( Mahrom )\rSebab-sebab haram dinikahi:\r1. Haram dengan sebab keturunan:\ri. Ibu dan nenek hingga ke atas.(maksud keatas adalah ibunya nenek dst )\rii. Anak dan cucu hingga kebawah.(maksudnya kebawah adalah anaknya cucu dst)\riii. Kakak-adik seibu-sebapa atau sebapa atau hanya seibu saja.\riv. saudara bapak yakni kakak/adiknya bpk,kandung maupun tiri (Bu lek/bu dhe dari ayah)\rv. saudara ibu yakni kakak/adiknya ibu ,kandung maupun tiri (Bu lek/bu dhe dari ibu)\rvi. Anak saudara lelaki ( adik atau kakak) hingga kebawah.\rvii. Anak saudara perempuan ( adik atau kakak ) hingga ke bawah.\r2. Haram dengan sebab satu susuan.(Tunggal rodo`) :\ri. Ibu yang menyusui.\rii. Saudara perempuan sesusuan.\rSabda Rasulullah s.a.w yang bermaksud : “Haram dari susuan sebagaimana haram dari keturunan “. (Riwayat Bukhari dan Muslim). Perempuan-perempuan yang haram dengan sebab susuan adalah sama dengan orang-orang yang haram dengan sebab keturunan.\r3. Haram dengan sebab perkawinan/menjadi mertua. ( Musyaharah ) :\ri.Ibunya istri keatas baik ibu kandung maupun ibu rodo`nya istri.baik suami sudah berhubungan intim dengan istri atau belum.\rii.Anak dari istri (anak tiri suami) jika memang sang istri sudah berhub intim dengan istri.\riii.istri-istrinya bapak (atau ibu, baik ibu kandung maupun ibu tiri)\riv.Istri anak-anaknya.(menantu)\rYANG DISEBUTKAT DI ATAS HARAM DINIKAHI SELAMANYA (BAIK SUDAH CERAI DENGN ISTRI ATAU BELUM)","part":1,"page":235},{"id":236,"text":"Sedang yang tidak haram selamanya (haram hanya ketika menikahi kedua-duanya atau keempat2nya/mengumpulkan dalm satu pernikahan) jika istri sudah dicerai maka boleh dinikahi.mereka adalah:\ri.Saudara istri yakni kakak-atau adiknya istri baik kandung atau tiri atau hanya saudara sepersusuan.\rii. saudara bapaknya istri yakni kakak/adiknya bpk,kandung maupun tiri (Bu lek/bu dhenya istri dari arah ayah)\riii. saudara ibunya istri yakni kakak/adiknya ibu, kandung maupun tiri (Bu lek/bu dhenya istri dari ibu)\rFirman Allah s.w.t.:\rوَلَا تَنْكِحُوا مَا نَكَحَ آَبَاؤُكُمْ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَمَقْتًا وَسَاءَ سَبِيلًا (22) حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالَاتُكُمْ وَبَنَاتُ الْأَخِ وَبَنَاتُ الْأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللَّاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلَائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلَابِكُمْ وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا (23)\r22. Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang Telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang Telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh).","part":1,"page":236},{"id":237,"text":"23. Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan[281]; saudara-saudaramu yang perempuan, Saudara-saudara bapakmu yang perempuan; Saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang Telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), Maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang Telah terjadi pada masa lampau; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.\r[281] maksud ibu di sini ialah ibu, nenek dan seterusnya ke atas. dan yang dimaksud dengan anak perempuan ialah anak perempuan, cucu perempuan dan seterusnya ke bawah, demikian juga yang lain-lainnya. sedang yang dimaksud dengan anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu, menurut Jumhur ulama termasuk juga anak tiri yang tidak dalam pemeliharaannya. ( Surah An-Nisaa’ – Ayat 22 - 23). [Mbah Jenggot II].\r0503. ANAK MANTAN ISTRI, TETAP MAHROM KAH ??\rPERTANYAAN :\rTanya, mudah-mudahan sudah pernah dibahas...... Si A(laki-laki) cerai dengan si B (cewek) dikarenakan tidak mendapatkan keturunan, kemudian si B menikah lagi dengan si C. Dan punya anak perempuan namanya D. Apakah boleh, si A menikah dengan si di ?? Maaaatur suwuuun. [Moehammad Jihadd].\rJAWABAN :","part":1,"page":237},{"id":238,"text":"Kalau A sudah menjima' B, maka A dengan dia adalah muhrim muabbad dan haram nikah.\rلجنة بحث المسائل\rAnak Mantan Istri, Tetap Mahramkah ? FS yang terhormat kami punya sedikit masalah, kita tahu kalau mertua kita -walau kita udah cerai dengan istri kita- tetap mahrom, trus gmn dengan istri kita kalau stelah ana cerai dia kawin lagi dan punya anak perempuan dengan suami barunya, apakah anak perempuan tersebut tetap mahrom dengan kita ? Sukron atas jawabannya.\rFORSAN SALAF menjawab : Anaknya istri dari suami lain tetap menjadi mahrom jika telah mewathi ibunya dengan nikah (sah atau fasid), walaupun ada sebelum menikahi ibunya atau setelah menceraikannya, sebagaimana firman Allah SWT didalam Al-Qur’an Surat An-Nisa’ ; 23:\rحُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالَاتُكُمْ وَبَنَاتُ الْأَخِ وَبَنَاتُ الْأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللَّاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلَائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلَابِكُمْ وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا (23)","part":1,"page":238},{"id":239,"text":"”diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan, saudara-saudara ibumu yang perempuan, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan, ibu-ibumu yang menyusukan kamu, saudara perempuan sepesusuan, ibu-ibu istrimu (mertua), anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya, (dan diharamkan bagimu) istri-istri anak kandungmu (menantu) dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang “.[Hadlro Maut].\rReferensi : 1. Hamisy Aliqna’ juz 2 hal 164, 2. Kifayatul Ahyar juz 1 hal 482, 3. Hasyiyah Bujairomi ala alkhotib dan 4. I’anatu Tholibin jus 3 hal 255\r(هامش الإقناع/2/164)\rوكذا بنت الزوجة ان كانت موجودة قبل تزوجه بأمها لم تصح التشبيه بها لطرو تحريمها عليه بنكاح امها وان حدثت بعد بأن ابان زوجته فتزوجت بغيره واتت منه ببنت فهي محرمة من حين وجودها فيصح التشبيه بها اهـ\r“Anak perempuan istri jika lahir daripada istri yang telah diceraikannya dari suami barunya dinyatakan mahrom sejak kelahirannya “\r(اعانة الطالبين/3/255)","part":1,"page":239},{"id":240,"text":"والحاصل) تحرم الربيبة وهي بنت الزوجة وبناتها وبنت الربيب وهو ابن الزوجة وبناتها. وقوله وإن سفلت، الأولى وإن سفلتا، أي بنت ابنها وبنت ابنتها، وهذه الغاية يغني عنها قوله ولو بواسطة (قوله: إن دخل بها) قيد في تحريم فصل الزوجة (قوله: بأن وطئها) تصوير للدخول والمراد وطئها في حياتها، ومثل الوطء استدخال منيه المحترم في حال نزوله وادخاله: إذ هو كالوطء في أكثر أحكامه في هذا الباب، كذا في التحفة، (وقوله: ولو في الدبر) غاية في الوطء، أي ولو كان الوطء في دبرها (قوله: وإن كان العقد فاسداً) غاية في التحريم بالدخول: أي يحرم فصل الزوجة على زوجها ولو كان العقد فاسداً بأن فقد شرطاً من شروطنه المارّة (قوله: وإن لم يطأها) أي الزوجة، وهو مقابل قوله بأن وطئها المجعول تصويراً للدخول. والمناسب في المقابلة أن يقول وإن لم يدخل بها. وقوله لم تحرم بنتها: أي الزوجة. قال في شرح المنهج: إلا أن تكون منفية بلعانه.\r(كفاية الأخيار/1/482)\r(وأربع بالمصاهرة: وهن أم الزوجة، والربيبة إذا خلا بالأم، وزوجة الأب، وزوجة الابن) هذا هو السبب الثالث وهو المصاهرة فيحرم بها على التأبيد أربع: إحداهن أم امرأتك، وكذا جداتها بمجرد العقد سواء في ذلك من النسب أو الرضاع لقوله تعالى (وأمهات نسائكم) وفي وجه لا تحرم إلا بالدخول كالربيبة، وهو ضعيف. الثانية بنت الزوجة سواء بنت النسب أو الرضاع، وكذا بنات أولادها بشرط أن يدخل بالأم فإن بانت منه قبل الدخول بها حللن له، وإن دخل بها حرمن عليه على التأبيد لقوله تعالى (وربائبكم اللاتي في حجوركم من نسائكم اللاتي دخلتم بهن فإن لم تكونوا دخلتم بهن فلا جناح عليكم) وقول الشيخ [إذا خلا بالأم] المراد بالخلوة الدخول بها لأنه اصطلاح عرفي، والربيبة بنت الزوجة من غيره وإن لم تكن في حجره، وذكر الحجور ورد على الغالب\r(حاشية البجيرمي على الخطيب )","part":1,"page":240},{"id":241,"text":"فَائِدَةٌ: الرَّبِيبَةُ بِنْتُ الزَّوْجَةِ وَبَنَاتُهَا وَبِنْتُ ابْنِ الزَّوْجَةِ وَبَنَاتُهَا ذَكَرَهُ الْمَاوَرْدِيُّ فِي تَفْسِيرِهِ, وَمِنْ هَذَا يُعْلَمُ تَحْرِيمُ بِنْتِ الرَّبِيبَةِ وَبِنْتِ الرَّبِيبِ ; لأَنَّهَا مِنْ بَنَاتِ أَوْلادِ زَوْجَتِهِ, وَهِيَ مَسْأَلَةٌ نَفِيسَةٌ يَقَعُ السُّؤَالُ عَنْهَا كَثِيرًا وَكُلُّ مَنْ وَطِئَ امْرَأَةً بِمِلْكِ يَمِينٍ حُرِّمَ عَلَيْهِ أُمَّهَاتُهَا وَبَنَاتُهَا وَحُرِّمَتْ هِيَ عَلَى آبَائِهِ تَحْرِيمًا مُؤَبَّدًا بِالإِجْمَاعِ, وَكَذَا الْمَوْطُوءَةُ الْحَيَّةُ بِشُبْهَةٍ فِي حَقِّهِ كَأَنْ ظَنَّهَا زَوْجَتَهُ أَوْ أَمَتَهُ يَحْرُمُ عَلَيْهِ أُمَّهَاتُهَا وَبَنَاتُهَا, وَتَحْرُمُ هِيَ عَلَى آبَائِهِ وَأَبْنَائِهِ كَمَا يَثْبُتُ فِي هَذَا الْوَطْءِ النَّسَبُ, وَيُوجِبُ الْعِدَّةَ, لا الْمَزْنِيُّ بِهَا فَلا يَثْبُتُ بِزِنَاهَا حُرْمَةُ مُصَاهَرَةٍ فَلِلزَّانِي نِكَاحُ أُمِّ مَنْ زَنَى بِهَا وَبِنْتِهَا, وَلابْنِهِ وَأَبِيهِ نِكَاحُهَا هِيَ وَبِنْتَهَا ; لأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى امْتَنَّ عَلَى عِبَادِهِ بِالنَّسَبِ وَالصِّهْرِ فَلا يَثْبُتُ بِالزِّنَا كَالنَّسَبِ\rWallaahu A'lam bishshawaab.\r0537. MELAMAR WANITA YANG TELAH DILAMAR\rPERTANYAAN :","part":1,"page":241},{"id":242,"text":"Assalamu'alaikum .. Bila seorang lelaki meminang wanita, lalu lelaki tadi pergi merantau (buat membiaya pernikahan & kehidupannya kelak). dengan janji 3 tahun ( 2 tahun kemudian tanpa kabar ) pergi, Lalu datang pada wanita yang tlah dipinang td, seorg laki-laki lain, kaya, terhormat , meminang dia, dan kedua ortunya menyetujui, Tepat 3 tahun, lelaki pertama pulang sebulan sebelum pinangannya menikah dengan lelaki ke 2, Bagaimana hukum & menyikapinya? dalam Islam kan haram, meminang yang tlah dipinang, sedang ketiganya tadi juga beragama Islam. Makasih! [Kembang Setaman].\rJAWABAN :\rMemang setahu saya haram hukumnya meminang tunangan orang lain sebagaimana sabda rosululloh SAW. \"Tidak boleh salah seorang diantara kalian meminang pinangan saudaranya \"(muttafaq alaih). Sedangkan hukum nikahnya (dengan lelaki kedua) menurut pendapatmu'tamad tetap sah, dengan sarat terpenuhi syarat & rukun nikahnya, sedangkan khitbah sendiri tidak termasuk syarat & rukun nikah. Mungkin cara menyikapinya, harus dibicarakan baik-baik antara kedua keluarga juga dengan melibatkan tokoh setempat. [ Mujawwib : Ahmad Hanafi, Mbah Jenggot ].\rباب تحريم الخطبة على خطبة أخيه حتى يأذن أو يترك قوله صلى الله عليه وسلم : ( لا يبع الرجل على بيع أخيه ولا يخطب بعضكم على خطبة بعض ) وفي رواية : لا يبع الرجل على بيع أخيه ، ولا يخطب على خطبة أخيه إلا أن يأذن له وفي رواية : المؤمن أخو المؤمن فلا يحل للمؤمن أن يبتاع على بيع أخيه ، ولا يخطب على خطبة أخيه حتى يذر .","part":1,"page":242},{"id":243,"text":"هذه الأحاديث ظاهرة في تحريم الخطبة على خطبة أخيه ، وأجمعوا على تحريمها إذا كان قد صرح للخاطب بالإجابة ، ولم يأذن ، ولم يترك . فلو خطب على خطبته ، وتزوج والحالة هذه عصى ، وصح النكاح ، ولم يفسخ . هذا مذهبنا [ ص: 543 ] ومذهب الجمهور . وقال داود : يفسخ النكاح . وعن مالك روايتان كالمذهبين . وقال جماعة من أصحاب مالك : يفسخ قبل الدخول لا بعده . أما إذا عرض له بالإجابة ولم يصرح ففي تحريم الخطبة على خطبته قولان للشافعي : أصحهما لا يحرم . وقال بعض المالكية : لا يحرم حتى يرضوا بالزوج ويسمى المهر ، واستدلوا لما ذكرناه من أن التحريم إنما هو إذا حصلت الإجابة بحديث فاطمة بنت قيس فإنها قالت : خطبني أبو جهم ومعاوية ، فلم ينكر النبي صلى الله عليه وسلم خطبة بعضهم على بعض ، بل خطبها لأسامة . وقد يعترض على هذا الدليل فيقال : لعل الثاني لم يعلم بخطبة الأول ، وأما النبي صلى الله عليه وسلم فأشار بأسامة لا أنه خطب له ، واتفقوا على أنه إذا ترك الخطبة رغبة عنها ، وأذن فيها ، جازت الخطبة على خطبته ، وقد صرح بذلك في هذه الأحاديث\r1540. BOLEHKAH WANITA MEMINANG LAKI-LAKI\rPERTANYAAN :\rNurligi Paula\rAssalamu'alaikumMau tanya, bagaimana hukumnya jika wanita meminang lelaki ??? Syukran\rJAWABAN :\rIbnu Toha\rBoleh perempuan meminang laki-laki, yakni menawarkan dirinya pada laki-laki pilihannya baik karena dia alim, mulia dsb. demikian tidaklah dipandang rendah menurut syar'i, bahkan ini menunjukkan atas kemuliaan si wanita. sebagaimana dalam Hadits disebutkan :","part":1,"page":243},{"id":244,"text":"كُنْتُ عِنْدَ أَنَسٍ وَعِنْدَهُ ابْنَةٌ لَهُ قَالَ أَنَسٌ جَاءَتِ امْرَأَةٌ إِلَى رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم تَعْرِضُ عَلَيْهِ نَفْسَهَا قَالَتْ يَا رَسُولَ اللهِ أَلَكَ بِي حَاجَةٌ فَقَالَتْ بِنْتُ أَنَسٍ مَا أَقَلَّ حَيَاءَهَا وَاسَوْأَتَاهْ وَاسَوْأَتَاهْ قَالَ هِيَ خَيْرٌ مِنْكِ رَغِبَتْ فِي النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَعَرَضَتْ عَلَيْهِ نَفْسَهَا.\r“Saya sedang bersama dengan Anas dan bersamanya anak perempuannya. Anas berkata, ‘Seorang wanita datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menawarkan dirinya. Dia (wanita tersebut –ed) berkata, ‘Apakah engkau menginginkanku?’ Anak perempuan Anas kemudian berkata, ‘Betapa sedikit rasa malunya dan jelek perilakunya dan jelek perilakunya.’ Lalu Anas menyangkal seraya berkata, ‘Dia lebih baik darimu dia menginginkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian menawarkan dirinya”. (HR. Al-Bukhari : 5120). Wallaahu A'lamu Bis Showaab.\rLink Asal : www.fb.com/groups/piss.ktb/401111066578374/\r1106. LARANGAN MEMINANG SEORANG WANITA YANG TELAH DIPINANG ORANG LAIN\rPERTANYAAN :\rMey Zhee D'last\rAsslamu'alaikum...Mohon pencerahan...Bolehkah Jika wanita yang sudah bertunangan, memberi kesempatan pada lelaki lain yang dia cintai untuk ttp memperjuangkan wanita tersebut...!!!?????? dengan catatan : keluarga wanita kurang setuju dengan lelaki itu, makanya wanita tersebut bertunangan dengan yang lain. Jadi manakah yang harus di utamakan...???? Dan apa yang harus dilakukan...??\rJAWABAN:\rYupiter Jet","part":1,"page":244},{"id":245,"text":"حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ، أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ، أَخْبَرَنَا نَافِعٌ، أَنَّ عَبْدَ اللهِ بْنَ عُمَرَ قَالَ: \" نَهَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَخْطُبَ الرَّجُلُ عَلَى خِطْبَةِ أَخِيهِ، حَتَّى يَدَعَهَا الَّذِي خَطَبَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ أَوْ يَأْذَنَ لَهُ \" (3)\r(3) إسناده صحيح على شرط الشيخين.\r[ HR. Imam Ahmad ].\rRosululloh melarang laki-laki mengkhithbah wanita yang telah dikhithbah oleh saudaranya (laki-laki lain), kecuali si laki-laki itu telah meninggalkan perempuan pinangannya.\rSyubbanul Yaum\rقال النبي صلي الله عليه وسلم_ليس منامن افسد امراءةعلي زوجها__\rArtinya tidak termasuk golongan ku orang yang merusak wanita atas suaminya. pertanyaan di atas kalau kita kiaskan ke hadits tadi tidak boleh wanita yang sudah tunangan atau bersuami mencintai laki-laki lain karena dapat menimbukan dampak negatif.\rIsmael Kholilie\rMeskipun sudah bertunangan lantas dikemudian hari si wanita atau walinya tidak suka pada si pelamar maka boleh bagi orang lain melamar wanita tersebut :\rو سئل الجلال السيوطي عمن خطب إمرأة ثم رغبت عنه هي أو وليها هل هل يرتفع التحريم عمن يريد خطبتها و هل هو عقد جائز بين الجانبين ؟ فأجاب بقوله يرتفع تحريم الخطبة على الغير بالرغبة عنه فيما يظهر و إن لم يتعرضوا له و إنما تعرضوا لما إذا سكتوا أو رغب الخاطب و ما بحثه من إرتفاع التحريم عنه مأخود من قول الشارح بإذن من الخاطب أو المجيب ~3/247","part":1,"page":245},{"id":246,"text":"al jalal assuyuthi ditanyakan tentang lekaki yang melamar seorng wanita lantas dikemudian hari si wanita atau walinya tidak setuju terhadap lelaki tersebut apakah boleh bagi lelaki lain melamar wanita tersebut ?? Beliau menjawab : boleh bagi yang lainnya melamar wanita tersebut jika wanita tersebut atau walinya sudah tidak setuju lagi dengan lelaki yang melamarnya pertama kali. [ ~bujairomi alal khotib 3/347 ].\r0576. HUKUM MENIKAH DENGAN KHUNTSA MUSYKIL (WARIA)\rPERTANYAAN :\rIbnu Zainulmutaqin\rPara hadirin, apa hukumnya huntsa musykil menikah ?? suwun..\rJAWABAN :\rHadlro Maut\rولا يصح نكاح الخنثى المشكل لانه ان تزوج امرأة لم يؤمن أن يكون امرأة. وان تزوج رجلا لم يؤمن أن يكون رجلا\rMenikahi seorang khuntsa musykil Hukumnya TIDAK SAH, karena tidak ada jaminan (yang jelas) apakah dia seorang laki-laki atau perempuan. [ al-majmu' 16/213 ].\rNB : Pengertian Huntsa musykil ( waria / banci / biseksual )adalah yang tidak jelas tanda-tanda kelelakiannya atau kewanitaannya. Tidak diketahui apakah dia laki-laki atau perempuan. Atau tanda-tandanya saling bertentangan.\r0585. BATASAN KUFU' DALAM NIKAH\rPERTANYAAN :\rXavi Hernandes\rAssalmualaikum wr wb. mau tanya : anak perawan itu kan bisa menolak untuk di nikahkan oleh walinya,apabila dia akan di nikahkan dngan orang yang tidak kufu', yang mau saya tanyakan kufu' itu menyangkut apa saja ? kalau masalah umur tidak termasuk ya ? mohon penjelasanya\rJAWABAN :\rHakam Ahmed ElChudrie\rKufu : seimbang dalam nasab, agama, pekerjaan, sifat merdeka, ketiadaan aib..","part":1,"page":246},{"id":247,"text":"Al 'alamah mar'a al hanbaly membuat sya'ir tentang kafa'ah, qolul kafa.atu sittatun fa ajabtuhum* qod kaana hadza fiz zamanil aqdami amma banu hadzaz zamani fa innahum * laa ya'rifuuna siwa yasarid dirhami\rKebanyakan orang awam jaman sekarang yang diketahui kafaah itu hanya dalam hal kekayaan.. [ I'anah, 3/330 ].\rMbah Jenggot II\rWa'alaikum salam. Umur enggak termasuk kriteria kafaah.\rالمنهاج للنووي – (ج 1 / ص 308(\rوَخِصَالُ الْكَفَاءَةِ: سَلَامَةٌ مِنْ الْعُيُوبِ الْمُثْبِتَةِ لِلْخِيَارِ وَحُرِّيَّةٌ، فَالرَّقِيقُ لَيْسَ كُفْئًا لِحُرَّةٍ، وَالْعَتِيقُ لَيْسَ كُفْئًا لِحُرَّةٍ أَصْلِيَّةٍ، وَنَسَبٌ، فَالْعَجَمِيُّ لَيْسَ كُفْءَ عَرَبِيَّةٍ، وَلَا غَيْرُ قُرَشِيٍّ قُرَشِيَّةً، وَلَا غَيْرُ هَاشِمِيٍّ وَمُطَّلِبِيٍّ لَهُمَا، وَالْأَصَحُّ اعْتِبَارُ النَّسَبِ فِي الْعَجَمِ كَالْعَرَبِ، وَعِفَّةٌ فَلَيْسَ فَاسِقٌ كُفْءَ عَفِيفَةٍ، وَحِرْفَةٌ فَصَاحِبُ حِرْفَةٍ دَنِيئَةٍ، لَيْسَ كُفْءَ أَرْفَعَ مِنْهُ، فَكَنَّاسٌ وَحَجَّامٌ وَحَارِسٌ وَرَاعٍ وَقَيِّمُ الْحَمَّامِ لَيْسَ كُفْءَ بِنْتِ خَيَّاطٍ، وَلَا خَيَّاطٌ بِنْتَ تَاجِرٍ أَوْ بَزَّازٍ، وَلَا هُمَا بِنْتَ عَالِمٍ وَقَاضٍ، وَالْأَصَحُّ أَنَّ الْيَسَارَ لَا يُعْتَبَرُ، وَأَنَّ بَعْضَ الْخِصَالِ لَا يُقَابَلُ بِبَعْضٍ، وَلَيْسَ لَهُ تَزْوِيجُ ابْنِهِ الصَّغِيرِ أَمَةً، وَكَذَا مَعِيبَةٌ عَلَى الْمَذْهَبِ، وَيَجُوزُ مَنْ لَا تُكَافِئُهُ بِبَاقِي الْخِصَالِ فِي الْأَصَحِّ.\rإعانة الطالبين – (ج 3 / ص 377)","part":1,"page":247},{"id":248,"text":"فصل في الكفاءة أي في بيان خصال الكفاءة المعتبرة في النكاح لدفع العار والضرر . وهي لغة: التساوي والتعادل. واصطلاحا أمر يوجب عدمه عارا. وضابطها مساواة الزوج للزوجة في كمال أو خسة ما عدا السلامة من عيوب النكاح (قوله: وهي) أي الكفاءة. وقوله معتبرة في النكاح لا لصحته: أي غالبا، فلا ينافي أنها قد تعتبر للصحة، كما في التزويج بالاجبار، وعبارة التحفة: وهي معتبرة في النكاح لا لصحته مطلقا بل حيث لا رضا من المرأة وحدها في جب ولا عنة ومع وليها الاقرب فقط فيما عداهما. اه. ومثله في النهاية وقوله بل حيث لا رضا، مقابل قوله لا لصحته مطلقا، فكأنه قيل لا تعتبر للصحة على الاطلاق وإنما تعتبر حيث لا رضا. اه. ع ش. (والحاصل) الكفاءة تعتبر شرط للصحة عند عدم الرضا، وإلا فليست شرطا لها\rKafaah :\r1.…Iffah (menjaga terhadap agama). Orang fasiq (terus menerus berbuat dosa kecil atau pernah berbuat dosa besar) tidak sekufu’ dengan orang yang adil.\r2.…Terbebas dari segala aib yang bisa menetapkan hak khiyar, seperti gila, lepra, atau penyakit belang.\r3.…Merdeka/budak. Seorang budak tidak sekufu’ dengan orang yang merdeka.\r4.…Nasab. Orang ‘ajam tidak sekufu’ dengan orang arab, orang arab yang bukan kaum quraisy (golongan bani Hasyim dan Abdi Manaf) tidak sekufu’ dengan orang quraisy dan selain keturunan dari sydt Fatimah (selain keturunan syd Hasan dan syd Husein) tidak sekufu’ dengan keturunan beliau.\r5.…Hirfah (pekerjaan). Orang yang pekerjaannya rendahan seperti yang berkaitan dengan najis (tukang bekam/cantuk, tukang sampah atau tukang jagal) tidak sekufu’ dengan pedagang. Namun sebagian ulama’ tidaklah memandang pekerjaan sebagai salah satu factor penetapan kafaah.\r0682. STATUS HADIAH SAAT KHITBAH","part":1,"page":248},{"id":249,"text":"PERTANYAAN :\rAngel Ayoe Permatasari\rAssalamu'alaikum wr.wb. . Saya mau tanya. . Apa hukum'y jika seorang wanita mengembalikan tanda ikatan/tunangan kepada kluarga laki-laki dikarenakan laki-laki tersebut tidak baik & materialistis. . . Mohon pencerahannya. . Syukron\rJAWABAN :\rMasaji Antoro\rWa'alaikumsalam wr wb. HADIAH DI SAAT KHITBAH\rهدايا الخطبة: أما رد الهدايا ففيه آراء فقهية:\r1 - قال الحنفية (1) : هدايا الخطبة هبة، وللواهب أن يرجع في هبته إلا إذا وجد مانع من موانع الرجوع بالهبة كهلاك الشيء أو استهلاكه أو وجود الزوجية. فإذا كان ما أهداه الخاطب موجوداً فله استرداده. وإذا كان قد هلك أو استهلك أو حدث فيه تغيير، كأن ضاع الخاتم، وأكل الطعام. وصنع القماش ثوباً، فلا يحق للخاطب استرداد بدله.\r2 - وذكر المالكية (2) : أن الهدايا قبل عقد الزواج أو فيه تتشطر بين المرأة والرجل، سواء اشترطت، أو لم تشترط؛ لأنها مشترطة حكماً.\r3 - وفصل الحنابلة (3) بين أن يكون العدول من جهة الخاطب أو من جهة المخطوبة، فإذا عدل الخاطب، فلا يرجع بشيء ولو كان موجوداً. وإذا عدلت المخطوبة، فللخاطب أن يسترد الهدايا، سواء أكانت قائمة أم هالكة، فإن هلكت أو استهلكت وجبت قيمتها. وهذا حق وعدل، لأنه وهب بشرط بقاء العقد، فإن زال العقد، فله الرجوع، فأشبه بذلك.\r4 - ورأى الشافعية (4) : أن للخاطب الرجوع بما أهداه؛ لأنه إنما أنفق لأجل تزوجها، فيرجع إن بقي، وببدله إن تلف.\r__________\r(1) رد المحتار: 599/2.\r(2) الشرح الصغير: 456/2.\r(3) منار السبيل: 198/2.\r(4) إعانة الطالبين، كتاب الهبة 156/3.\rSaat khitbah (lamaran) berlangsung biasanya pihak calon pengantin laki-laki memberikan aneka macam hadiah dan bingkisan pada pihak calon pengantin wanita, dalam menanggapi status hadiah ini, para ulama fiqh memiliki beberapa pendapat :","part":1,"page":249},{"id":250,"text":"1.…Kalangan Hanafiyyah : “Hadiah-hadiah saat khitbah adalah hibah (pemberian), bagi si pemberi boleh menarik hadiah pemberiannya kecuali bila terjadi hal yang melarangnya seperti hadiahnya telah rusak, telah punah atau telah terjadi ikatan suami istri diantara keduanya. Bila hadiahnya masih ada si pemberi boleh menariknya, bila punah seperti cincin yang telah rusak, makanan yang telah termakan atau hadiahnya telah berubah bentuk seperti kain yang telah menjadi gaun maka bagi pemberi tidak berhak menuntut barang pengganti” (Rodd al-Mukhtaar II/599)\r2.…Kalangan Malikiyyah : “Hadiah-hadiah sebelum atau saat perkawinan diparuh bagian antara wanita dan pria baik disyaratkan atau tidak karena hadiah diatas secara hukum memang menjadi persyaratan” (Syarh as-Shoghiir II/456)\r3.…Kalangan Hanabilah : “Ditinjau terlebih dahulu antara pelamar dan yang dilamar, mana diantara keduanya yang berpaling ? Bila yang berpaling pihak laki-laki, tidak berhak baginya mengambil hadiahnya kembali sekalipun masih ada, Bila yang berpaling pihak wanita, pihak laki-laki boleh menarik kembali hadiahnya sekalipun sudah rusak dengan diberikan harga senilainya, keputusan ini dianggap adil dan bijak karena hadiah tersebut diberikan demi langgengnya ikatan bila ikatannya telah hilang tentu baginya boleh menarik ulang” (Manaar as-Sabiil II/198)","part":1,"page":250},{"id":251,"text":"4.…Kalangan Syafi’iyyah : “Bagi laki-laki pelamar boleh menarik ulang hadiahnya sebab hadiah tersebut diberikan agar terjadi akad pernikahan, bila ikatannya gagal baginya berhak menariknya kembali saat masih ada atau dengan barang pengganti bila telah rusak”. (I’aanah at-Thoolibiin III/156)\r[ Al-Fiqh al-Islaam IX/20 ]. Wallaahu A'lamu Bis Showaab\rIni keterangan yang dari Kitab I’aanah at-Thoolibiin III/268-269 :\rوفي حاشية الجمل ما نصه ( سئل م ر ) عمن خطب امرأة وأنفق عليها ليتزوجها ولم يحصل التزوج بها فهل لها الرجوع بما أنفقه لأجل ذلك أم لا\r( فأجاب ) بأن له الرجوع بما أنفقه على من دفعه له سواء كان مأكلا أم مشربا أم ملبسا أم حليا وسواء رجع هو أم مجيبة أم مات أحدهما لأنه إنما أنفق لأجل تزوجها فيرجع به إن بقي وببدله إن تلف\rاه ببعض تصرف ومحل رجوعه حيث أطلق أو قصد الهدية لأجل النكاح فإن قصد الهدية لا لأجل ذلك فلا رجوع\rDalam Hasyiyah Kitab al-Jamal terdapat keterangan yang redaksinya : “Ditanya Syekh Muhammad Romly tentang seseorang yang melamar wanita dan memberi nafkah padanya dengan tujuan agar dapat mengawininya, dan perkawinan dengannya ternyata tidak terjadi, apakah boleh bagi orang tersebut menarik kembali apa yang telah ia nafkahkan pada wanita diatas ?”","part":1,"page":251},{"id":252,"text":"Beliau menjawab “Lelaki tersebut berhak mengambil yang telah ia berikan baik yang berupa makanan, minuman, pakaian atau perhiasan dan baik pemberian tersebut memang hendak dia ambil atau tidak, pihak wanitanya menyetujui atau tidak, atau disebabkan salah satu diantara keduanya meninggal, karena pemberian-pemberian diatas diberikan laki-laki tersebut agar dapat menikah dengannya, maka laki-laki tersebut boleh mengambilnya bila masih ada atau berhak mendapat barang penggantinya bila telah rusak”. Demikian keterangan dari kitab alJamal dengan sedikit perubahan.\rKewenangan menarik kembali hadiah diatas sebatas pada hadiah-hadiah yang diberikan dengan tujuan “agar terjadi pernikahan” bila bukan karena tujuan ini maka pemberiannya tidak dapat ditarik kembali. Wallaahu A'lamu Bis Showaab.\r0743. MENIKAH DENGAN SAUDARA TIRI\rPERTANYAAN :\rGhoes Huri\rAssalami'alaikum...mau tanya ne pak ustad dan ustadzah..ada duda di kampung saya yang sudah punya anak perempuan yang sudah berumur 20 th,kemudian duda tersebut menikahi janda yang juga sudah mempunyai anak laki-laki umur 25 tahun..,selang setahun kemudian kedua anak tersebut saling mencintai..dan ingin menikah,tapi karena kebiasaan tersebut belum lumrah di tempat saya akhirnya di batalkan,pertanyannya apa boleh dan sah apabila ke dua anak tersebut nikah.pendek kata orang tuanya nikah anaknya juga nikah..terima kasih atas jawannya..\rJAWABAN :\rAhmada Hanafiy","part":1,"page":252},{"id":253,"text":"Wa alaikum salam wr wb. Pernikahan tersebut BOLEH/SAH. karena wanita yang akan di nikahi tidak t'msuk wnita yang di hramkn. Sdangkan wnta yang haram di nikah ad 14 (QS.Annisa'/23). Ketrngnya sbb:\r[Haram sbb nasab]\r1.Ibu (trs k atas)\r2.Anak pr(trs k bwh)\r3.Sdri (s ayah/s ibu)\r4.Bibi (dr ibu)\r5.Bibi (dr ayah)\r6.Keponakan (dr sdr)\r7. ,, (dr sdri)\r[Haram sbb susuan]\r8.Ibu (yang m'nyusui)\r9.Sdri sesusuan\r[Hrm sbb p'nikahan]\r10.Ibu mertua\r11.Anak tiri (anak istri blmn ibuny sudah di jima')\r12.Ibu tiri\r13.Menantu\ryang di sbtkan di atas haram selamanya.\r14.Ipar/Bibi istri.\ryang t'akhir keharamanny tidak slmny, artinya lelaki blh mnikahi ipar/bibi istriny blmn dia telah menceraikan istriny.\r(Fathul Qorib 45) dan (Al Iqna' 129)\rMasaji Antoro\rفرع لا تحرم بنت زوج الأم\rولا أمه ولا بنت زوج البنت أم زوجة الأب ولا بنتها ولا أم زوجة الإبن ولا بنتها ولا زوجة الربيب ولا زوجة الراب.\r[ Cabang bahasan ] Tidak diharamkan (menikahi) anak perempuan dari suami ibu, (saudari tiri, persaudaraan karena bapak tiri), tidak haram pula menikahi ibu dari suaminya ibu (Nenek tiri), tidak pula anak perempuan dari suaminya anak perempuan (cucu tiri), tidak pula ibu dari istrinya ayah (nenek tiri)..\rTidak pula anak perempuan dari isteri ayah (saudara tiri, persaudaraan karena ibu tiri), tidak pula ibu dari istri anak lelaki (besan), tidak pula anak perempuan dari istrinya anak kandung laki-laki (cucu tiri), dan tidak pula istri dari anak tiri (yang sudah ada persetubuhan dengan ortunya), dan tidak pula istri dari bapak tiri. [ Roudhoh Atthoolibiin VII/112 ].\r0969. BOLEHKAH MENOLAK PERJODOHAN DARI ORANG TUA ?","part":1,"page":253},{"id":254,"text":"PERTANYAAN :\rAngel Ayoe Permatasari\rAssalamu'alaikum wr.wb. maaf sya mau nanya, , berdosakah bila seorng anak menolak/menentang perjodohan dari orng tua'y . ?? Mhon pencerahan'ya. . Syukron\rJAWABAN :\rMasaji Antoro\rWa'alaikumsalam\r• Jika pilihan anak dan orang tua pada calon yang sama-sama sekufu’ (selevel) maka anak harus patuh orang tua sebab orang tua lebih tahu hal yang lebih mashlahat bagi anak.\r> Menurut Imam as-Subky pilihan anak harus dikedepankan guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dengan demikian orang tua harus mengikuti kemauan anak.\r> Menurut al-Adzra’i jika pilihan anak memiliki nilai lebih bila dibandingkan pilihan orang tuanya maka orang tua harus menuruti kemauan anak.\r( فروع ) لا يزوج القاضي إن عضل مجبر من تزويجها بكفء عينته وقد عين هو كفؤ آخر غير معينها وإن كان معينة دون معينها كفاءة\r( قوله لا يزوج الخ ) يعني لو عينت للولي المجبر كفؤا وهو عين لها كفؤا آخر غير كفئها لا يكون عاضلا بذلك فلا يزوجها القاضي بل تبقى الولاية له وذلك لأن نظره أعلى من نظرها فقد يكون معينه أصلح لها من معينها\rوقوله وقد عين هو أي المجبر\rوقوله وإن كان معينه بصيغة اسم المفعول وهو غاية لعدم تزويج القاضي حينئذ أي لا يزوج القاضي حينئذ وإن كان من عينه المجبر أقل في الكفاءة بمن عينته هي لأنه لا يكون عاضلا بذلك\r[ I’aanah at-Thoolibiin I/173 ].","part":1,"page":254},{"id":255,"text":"( وَلَوْ عَيَّنَتْ ) مُجْبَرَةٌ ( كُفُؤًا وَأَرَادَ الْأَبُ ) أَوْ الْجَدُّ الْمُجْبِرُ كُفُؤًا ( غَيْرَهُ فَلَهُ ذَلِكَ ) ، وَإِنْ كَانَ مُعَيَّنُهَا يَبْذُلُ أَكْثَرَ مِنْ مَهْرِ الْمِثْلِ ( فِي الْأَصَحِّ ) ؛ لِأَنَّهُ أَكْمَلُ نَظَرًا مِنْهَا وَالثَّانِي يَلْزَمُهُ إجَابَتُهَا إعْفَافًا لَهَا وَاخْتَارَهُ السُّبْكِيُّ وَغَيْرُهُ قَالَ الْأَذْرَعِيُّ وَيَظْهَرُ الْجَزْمُ بِهِ إنْ زَادَ مُعَيَّنُهَا بِنَحْوِ حُسْنٍ أَوْ مَالٍ أَمَّا غَيْرُ الْمُجْبَرَةِ فَيَتَعَيَّنُ مُعَيَّنُهَا قَطْعًا لِتَوَقُّفِ نِكَاحِهَا عَلَى إذْنِهَا\r[ Tuhfah al-Muhtaaj 29/495 ].\rAwan As-Safaritiyy Asy-syaikheriyy\rNambahin sdkit....!! Memang disunnahkan meminta izin wanita perawan jika sudah dewasa brdasarkan hadis nabi \"wa al bikru yasta'miruha abuuha\"hadis ini memuat ksunahan untuk mghargai perasaanya. [ Hasyiyah al bujairimi 4/160 ].\r1168. BOLEHKAH SEORANG SYARIFAH MENIKAH DENGAN BUKAN KETURUNAN NABI\rPERTANYAAN :\rJauhar Nur Lathiefah\rAssalamulaikum...mau tanya.*apakah boleh seorang syarifah dinikahkan/dinikahi/menikah dngan laki-laki yang bukan juriat nabi kita. Mohon penjelasan.beserta ibaroh nya.\rJAWABAN :\rMbah Jenggot II\rإعانة الطالبين – (ج 3 / ص 377)","part":1,"page":255},{"id":256,"text":"فصل في الكفاءة أي في بيان خصال الكفاءة المعتبرة في النكاح لدفع العار والضرر . وهي لغة: التساوي والتعادل. واصطلاحا أمر يوجب عدمه عارا. وضابطها مساواة الزوج للزوجة في كمال أو خسة ما عدا السلامة من عيوب النكاح (قوله: وهي) أي الكفاءة. وقوله معتبرة في النكاح لا لصحته: أي غالبا، فلا ينافي أنها قد تعتبر للصحة، كما في التزويج بالاجبار، وعبارة التحفة: وهي معتبرة في النكاح لا لصحته مطلقا بل حيث لا رضا من المرأة وحدها في جب ولا عنة ومع وليها الاقرب فقط فيما عداهما. اه. ومثله في النهاية وقوله بل حيث لا رضا، مقابل قوله لا لصحته مطلقا، فكأنه قيل لا تعتبر للصحة على الاطلاق وإنما تعتبر حيث لا رضا. اه. ع ش. (والحاصل) الكفاءة تعتبر شرط للصحة عند عدم الرضا، وإلا فليست شرطا لها\rKafaah :\r?…> Iffah (menjaga terhadap agama). Orang fasiq (terus menerus berbuat dosa kecil atau pernah berbuat dosa besar) tidak sekufu’ dengan orang yang adil.\r?…> Terbebas dari segala aib yang bisa menetapkan hak khiyar, seperti gila, lepra, atau penyakit belang.\r?…> Merdeka/budak. Seorang budak tidak sekufu’ dengan orang yang merdeka.\r?…> Nasab. Orang ‘ajam tidak sekufu’ dengan orang arab, orang arab yang bukan kaum quraisy (golongan bani Hasyim dan Abdi Manaf) tidak sekufu’ dengan orang quraisy dan selain keturunan dari sydt Fatimah (selain keturunan syd Hasan dan syd Husein) tidak sekufu’ dengan keturunan beliau.\r?…> Hirfah (pekerjaan). Orang yang pekerjaannya rendahan seperti yang berkaitan dengan najis (tukang bekam/cantuk, tukang sampah atau tukang jagal) tidak sekufu’ dengan pedagang. Namun sebagian ulama’ tidaklah memandang pekerjaan sebagai salah satu factor penetapan kafaah.\rMbah Singo Dimejo","part":1,"page":256},{"id":257,"text":"فتح الباري شرح صحيح البخاريدارالريان للتراثسنة النشر1407 :هـ 1986 /م\rباب ا?كفاء في الدين\r. واعتبر الكفاءة في النسب الجمهور ، وقال أبوحنيفة : قريش أكفاء بعضهم بعضا ، والعرب كذلك ، وليسأحد من العرب كفأ لقريش كما ليس أحد من غير العربكفأ للعرب ، وهو وجه للشافعية والصحيح تقديم بني هاشموالمطلب على غيرهم ، ومن عدا هـؤ?ء أكفاء بعضهملبعض وقال الثوري : إذا نكح المولى العربية يفسخ النكاح ،وبه قال أحمد في رواية . وتوسط الشافعي فقال : ليس نكاحغير ا?كفاء حراما فأرد به النكاح ، وإنما هـو تقصير بالمرأةوا?ولياء ، فإذا رضوا صح ويكون حقا لهم تركوه ، فلو رضواإ? واحدا فله فسخه .\rAbdullah Afif\rKAFAA`AH sebagaimana dalam kitab I'anah 3/330:\rوهي لغة: التساوي والتعادل. واصطلاحا أمر يوجب عدمه عارا. وضابطها مساواة الزوج للزوجة في كمال أو خسة ما عدا السلامة من عيوب النكاح\rWA HIYA LUGHATAN ATTASAAWII WATTA'AADULUWA ISTHILAAHAN AMRUN YUUJIBU 'ADAMUHUU 'AARANWA DHAABITHUHAA MUSAAWAATU AZZAUJI LIZZAUJATI FII KAMAALIN AU KHISSATIN MAA 'ADAA ASSALAAMATA MIN 'UYUUBINNIKAAHI\rKAFAA`AH menurut bahasa yaitu sama atau seimbang , KAFAA`AH menurut istilah adalah : perkara yang dapat menimbulkan aib jika perkara itu tidak ada.adapun 'pelanggerane' KAFAA`AH yaitu: persamaan suami terhadap isteri dalam kesempurnaan atau kerendahan, selain selamat dari 'uyuubinnikaah\rفصل في الكفاءة وهي معتبرة في النكاح لا لصحته، بل لأنها حق للمرأة والولي فلهما إسقاطها\rFASHLUN FIL KAFAA`AHWA HIYA MU'TABARATUN FINNIKAAHI LAA LISHIHHATIHIIBAL LI ANNAHAA HAQQUN LIL MAR`ATI WAL WALIYYI FALAHUMAA ISQAATHUHUMAA.","part":1,"page":257},{"id":258,"text":"KAFAA'AH diperhitungkan dalam nikah, bukan untuk keabsahannya,karena KAFAA`AH adalah haq wanita dan wali maka bagi keduanya boleh menggugurkannya. [ Sumber:Fat-hul Mu'in / Hamisy I'anah 3/330 ].\rdalam I'anahnya:\r(والحاصل) الكفاءة تعتبر شرطا للصحة عند عدم الرضا، وإلا فليست شرطا لها\rWAL HAASHIL AL KAFAA`ATU TU'TABARU SYARTHAN LISHSHIHHATI 'INDA 'ADAMIRRIDHAA WA ILLAA FALAISAT SYARTHAN LAHAA\rWalhasil KAFAA`AH diperhitungkan sebagai syarat sah ketika tidak adanya ridha, jika ada ridha maka KAFAA`AH bukan syarat\radapun ta'bir Bughyatul Mustarsyidin halaman 210, di sana ada dua pendapat.\rPertama : Sama dengan ta'bir Fat-hul Mu'in / I'anah diatas,ta'birnya sbb:.\rونحوه في (ي) وزاد: إذ الكفاءة في النسب على أربع درجات: العرب وقريش وبنو هاشم والمطلب، وأولاد فاطمة الزهراء بنو الحسنين الشريفين رضوان الله عليهم، فلا تكافؤ بين درجة وما بعدها، وحينئذ إن زوجها الولي برضاها ورضا من في درجته صح، أو الحاكم فلا وإن رضيت\r....IDZIL KAFAA`ATU FINNASABI 'ALAA ARBA'I DARAJAATIN , AL 'AARABU WA QURAISYUN WA BANUU HAASYIMIN WAL MUTHTHALIBI WA AULAADU FAATHIMATA AZZAHRAA`I BANUU ALHASANAINI ASYSYARIIFAINI RIDHWAANULLAAHI 'ALAIHIMFA LAA TAKAAFU`A BAINA DARAJATIN WA MAA BA'DAHAA WA HIINA`IDZIN IN ZAWWAJAHAA AL WALIYYU BIRIDHAAHAA WA RIDHAA MAN FII DARAJATIHII SHAHHA AU AL HAAKIMU FALAA WA IN RADHIYAT","part":1,"page":258},{"id":259,"text":"Karena KAFAA`AH dalam nasab atas empat derajat:- arab- quraisy- bani hasyim dan muthalib- putera-putera Fathimah az Zahra, keturunan Hasan dan Husein asysyarifain ridhwaanullah 'alaihimmaka tidak ada KAFAA`AH antara satu derajat dengan derajat sesudahnya (derajat dibawahnya)ketika tidak ada KAFAA`AH, jika wali menikahkan syarifah tanpa ridha syarifah tersebut dan tanpa ridha orang yang sederajat dengan wali maka sah, atau hakim yang menikahkannya maka tidak sah meskipun syarifah tersebut ridha\rKedua:Tidak boleh meskipun ada ridha dari syarifah dan walinyata'birnya sbb:\rمسألة): شريفة علوية خطبها غير شريف فلا أرى جواز النكاح وإن رضيت ورضي وليها، لأن هذا النسب الشريف الصحيح لا يسامى ولا يرام\rSYARIIFATUN 'ALAWIYYATUN KHATHABAHAA GHAIRU SYARIIFIN FA LAA ARAA JAWAAZANNIKAAHI WA IN RADHIYAT WA RADHIYA WALIYYUHAA...\rSyarifah alawiyyah dipinang oleh bukan syarif maka saya tidak berpendapat bolehnya nikah meskipun syarifah tersebut dan walinya ridha ......\rCatatan: ta'bir Bughyah yang pertama sama dengan ta'bir Mughnil Muhtaj 12/196 berikut:\rوَحِينَئِذٍ فَإِذَا ( زَوَّجَهَا الْوَلِيُّ ) الْمُنْفَرِدُ كَأَبٍ أَوْ عَمٍّ ( غَيْرَ كُفْءٍ بِرِضَاهَا أَوْ ) زَوَّجَهَا ( بَعْضُ الْأَوْلِيَاءِ الْمُسْتَوِينَ ) كَإِخْوَةٍ وَأَعْمَامٍ ( بِرِضَاهَا وَرِضَا الْبَاقِينَ ) مِمَّنْ فِي دَرَجَتِهِ غَيْرَ كُفْءٍ ( صَحَّ ) التَّزْوِيجُ\rWallaahu A'lam...Mohon dikoreksi\rAdapun dalam madzhab Maliki KAFAA`AH diperhitungkan hanya dalam agama.\rDalam kitab 'Umdatul Mufti wal Mustafti 3/119 (lisysyaikh Muhammad ibn 'abdirrahmaan al Ahdal) dijelaskan sbb:","part":1,"page":259},{"id":260,"text":"مسألة : ذهب الإمام مالك الى ان اعتبار الكفاءة مختص بالدين وانه لا مدخل للنسب فيها ، وروي هذا عن ابن مسعود وعمر وزيد بن علي وعمر بن عبد العزيز، وهو مذهب البخاري وقول للشافعي، قال الزركشي: وهذا القول قوي الدليل وقد نصره الأصطخري\rWallaahu A'lam\rMuhammad Ahmad\rBerikut kufu dalam madzhab Imam Ahmad:\rاختلفت الرواية عن أحمد في اشتراط الكفاءة لصحة النكاح ، فروي عنه أنها شرط له . قال : إذا تزوج المولى العربية فرق بينهما . وهذا قول سفيان وقال أحمد في الرجل يشرب الشراب : ما هو بكفء لها ، يفرق بينهما . وقال : لو كان المتزوج حائكا فرقت بينهما ; لقول عمر رضي الله عنه : لأمنعن فروج ذوات الأحساب ، إلا من الأكفاء . رواه الخلال بإسناده . وعن أبي إسحاق الهمداني قال : خرج سلمان وجرير في سفر ، فأقيمت الصلاة ، فقال جرير لسلمان : تقدم أنت . قال سلمان : بل أنت تقدم ، فإنكم معشر العرب لا يتقدم عليكم في صلاتكم ، ولا تنكح نساؤكم ، إن الله فضلكم علينا بمحمد صلى الله عليه وسلم وجعله فيكم . ولأن التزويج ، مع فقد الكفاءة ، تصرف في حق من يحدث من الأولياء بغير إذنه ، فلم يصح ، كما لو زوجها بغير إذنها .\rوقد روي أن النبي صلى الله عليه وسلم قال { لا تنكحوا النساء إلا من الأكفاء ، ولا يزوجهن إلا الأولياء } . رواه الدارقطني ، إلا أن ابن عبد البر قال : هذا ضعيف ، لا أصل له ، ولا يحتج بمثله .\rوالرواية الثانية عن أحمد أنها ليست شرطا في النكاح . وهذا قول أكثر أهل العلم .\rروي نحو هذا عن عمر وابن مسعود وعمر بن عبد العزيز ، وعبيد بن عمير وحماد بن أبي سليمان وابن سيرين وابن عون ومالك والشافعي وأصحاب الرأي ; لقوله تعالى : { إن أكرمكم عند الله أتقاكم }\rإلى أن قال","part":1,"page":260},{"id":261,"text":"والثانية ، هو صحيح ; بدليل أن المرأة التي رفعت إلى النبي صلى الله عليه وسلم أن أباها زوجها من غير كفئها خيرها ، ولم يبطل النكاح من أصله . ولأن العقد وقع بالإذن ، والنقص الموجود فيه لا يمنع صحته ، وإنما يثبت الخيار ، كالعيب من العنة وغيرها . فعلى هذه الرواية لمن لم يرض الفسخ . وبهذا قال الشافعي ومالك وقال أبو حنيفة إذا رضيت المرأة وبعض الأولياء ، لم يكن لباقي الأولياء فسخ ; لأن هذا الحق لا يتجزأ ، وقد أسقط بعض الشركاء حقه ، فسقط جميعه ، كالقصاص . ولنا ، أن كل واحد من الأولياء يعتبر رضاه ، فلم يسقط برضا غيره ، كالمرأة مع الولي\rSumber: http://www.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?idfrom=4494&idto=4494&bk_no=15&ID=4395\rBerikut dalam kitab GHIDZAA`UL ALBAAB:\rفي الكفاءة روايتان عن الإمام أحمد رضي الله عنه .\rإحداهما أنها شرط لصحة النكاح ، فإذا فاتت لم يصح وإن رضي أولياء الزوجة وهي به ، لما روى الدارقطني بإسناده عن جابر رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال { لا تنكحوا النساء إلا الأكفاء ، ولا يزوجهن إلا الأولياء } . [ ص: 408 ]\rوقال عمر رضي الله عنه \" لأمنعن فروج ذوي الأحساب إلا من الأكفاء ولأنه تصرف يتضرر به من لم يرض به فلم يصح ، كما لو زوجها وليها بغير رضاها .\rوقال سلمان لجرير : إنكم معشر العرب لا يتقدم في صلاتكم ، ولا تنكح نساؤكم . إن الله فضلكم علينا بمحمد صلى الله عليه وسلم وجعله فيكم .\rوالرواية الثانية أن الكفاءة ليست شرطا ، وهي المذهب . نعم هي شرط للزوم النكاح . قال في الإقناع كغيره : والكفاءة في زوج شرط للزوم النكاح لا لصحته فيصح مع فقدها فهي حق للمرأة والأولياء كلهم حتى من يحدث ، فلو زوجت بغير كفء فلمن لم يرض الفسخ من المرأة والأولياء جميعهم فورا ومتراخيا . ويملكه الأبعد مع رضا الأقرب والزوجة . نعم لو زالت الكفاءة بعد العقد اختص الخيار بالزوجة فقط .","part":1,"page":261},{"id":262,"text":"perhatikan:\rوالرواية الثانية أن الكفاءة ليست شرطا ، وهي المذهب\rSumber:http://www.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?idfrom=631&idto=631&bk_no=44&ID=471\rRingkasnya:pendapat Imam Ahmad ada dua :\r1.…pertama: kufu adalah termasuk syarat nikah\r2.…kedua: kufu tidak termasuk syarat nikahdan pendapat kedua ini menurut Ibnu Qudamah adalah pendapat yang shahih, dan menurut GHIDZAA`UL ALBAAB adalah pendapat madzhab .\rBERKAITAN DENGAN PERNIKAHAN DENGAN SAADAT ‘ALAWIYIN\rMaqin Jadid\rDalil tentang kewajiban menjaga keseimbangan dalam Nasab adalah :\rSabda Kanjengrosul\" Pilihlah spermamu . ! Karena sesungguhnya keringat sangat serupa, maka nikahilah dan nikahkanlah orang-orang yang sepadan diantara mereka.\" KanjengRasul bersabda kepada Sayyidina Ali : tiga perkara yang harus di segerakan :1. Shalat, jika tiba waktunya2. Jenazah, jika ada dihadapannya3. Perempuan janda, jika menemukan yang seimbang.\" (HR.Turmudzi )\rKanjengRosul bersabda \" Sesungguhnya Allah memilih kinanah dari keturunan ismail memilih Quraisy dari keturunan kinanah, memilih Bani Hasyim dari Quraisy dan memilihku dari bani hasyim ( HR.Muslim, Turmudzi dan lainnya )\rPara Ulama' berkata: dalam beberapa hadits ini terdapat petunjuk sesungguhnya orang arab selain golongan quraisy dan bani hasyim mereka tidak seimbang dalam pernikahan.","part":1,"page":262},{"id":263,"text":"Fa-in Qiila: Dzakara al-fuqohaa-u annal-mar'ata idzaa asqothot kafaa-atahaa ma'a waliyyihaa al-aqrabi jaaza nikaahuhaa mimman laa yukaafi-uhaa wa laa i'tiraadho hiyna-idin lil-ab'adi, UJIIBA : bi-anna ghaayata maa dzakarahu ghairul Hanaabilati rukhshotun faqoth wa al-qoo'idatu 'indahum, inna ar-rukhsho laa tunaatho bil-ma'aashiy, fata'ayinu hamlu dzaalik, Idzaa lam yahshol syai-un min al-itsmi wa al-haraji, wa amma tazwiiju syariifatin mimman laa yukaafi-uhaa fii nasabihaa fayanbaghy an laayadkhula fii 'umuumi tilka ar-rukhshoh limaa fiidzaalika min al-iydzaa-i wa al-ihaanati bil-'itrati ath-thoohirati, fa-ayyu ma'ishotin fid-diini mitslu iydzaa-ihim, dst. . .masih kurang ini, tapi kewalahan nulis arab latin\rJika dikatakan, Ulama Ahli fiqih menuturkan bahwa perempuan dan wali dekatnya menyetujui tanpa adanya keseimbangan dalam pernikahan hukumnya boleh, dan wali-walinya yang jauh ketika adanya persetujuan mereka tidak boleh menolak. .","part":1,"page":263},{"id":264,"text":"DIJAWAB : \"Sesungguhnya puncak pembahasan yang dikemukakan para Imam selain Imam Hambali itu sebuah keringanan hukum, sedangkan keringanan hukum menurut Ahli fiqh tidak digantungkan kepada maksiat-maksiat, maka nyatalah keringanan hukum dapat diamalkan jika didalamnya tidak trdapt dosa dan kesalahan, sedangkan mengawinkan Syarifah kepada orang yang tidak sepadan dengan nasabnya selayaknya tidak dimasukkan didalam keumuman keringanan tersebut, karena hal itu termasuk menyakiti dan menghina trhdp keturunan yang suci, lalu maksiat apa dalam agama yang sama seperti menyakiti mereka, karena dalam hal tersebut dapat menyakiti Kanjengrosul dan sayyidah Fatimah. Dan Sayyidah fatimah adalah bagian dari KanjengRosul, dan apa-apa yang ada pada diri orang Tua, juga ada pada diri anak,Al-ajwbibatul ghaaliyah hal: 240 tentang Fadho-ilu ahli baiti Rasulillah,\rKESIMPULAN :\rRaden Surya Kencana\rMasalah haram atau ngga nya ana kurang tau namun hukumnya tidak boleh","part":1,"page":264},{"id":265,"text":"(مسألة) شريفة علوية خطبها عير شريف فلا أرى جواز النكاح وإن رضيت ورضي وليها لأن هذا النسب الشريف الصريح لا يسامى ولا يرامى ولكل من بنى الزهراء فيه حق قريبهم وبعيدهم، وقد وقع أنه تزوج بمكت المشرفة عربي بشريفة فقام عليه جميع الشاداة هناك وساعدهم العلماء على ذلك وهتكوه حتى أنهم أرادوا القتل به حتى فارقها، وقد وقع مثل ذلك في بلد أخرى وقام الأشراف وصنفوا في عدم الجواز ذلك حتى نازعوها منه عبرة على هذا النسب ان يخفف به ويمتهن وان قال الفقهاء انه يصح برضاها ورضا وليها فلسفنا رضوان الله عليهم اختيارات يعجز الفقيه عن ادراك اسرارها سلم تسلم وتغنم ولا تعريض فتختسر وتندم – اللهم – إلا ان تحقق المفسدة بعدم التزويج فيباح ذلك للضرورة كأكل الميت للمضطر وأعنى بالمفسدة: خوف الزنا أو اقتحام الفحرة أو التهمة ولم يوجد هناك من يحسنها أو لم يرغب من ابناء جنسها ارتكبا لاهون الشرين واخف المفسدين بل قد يجب ذلك من نحو الحاكم بغير كفء كما في التحفة\rYa mngkin punya keterangan khusus mas namun yang saya tau itulah hukum nyasubulus salam juz 3 hal 129 :\rولقد منعت الفاطميات فى جهة اليمن ما احل الله لهن من النكاح لقول بعض اهل مذهب العادوية, انه يحرم نكاح العاطميات الا من عاطمي من غير دليل ذكروه, وليس مذهبا لامام المذهب الهادي عليه السلام بل زوج بناته من الطبريين وانما نشأ هذا لقول من بعده فى ايام الامام احمد بن سليمان وتبعهم بيت رياستها فقالوا فقالوا بلسان الحال: تحرم شرائفهم على الفاميين الا من مثلهم, وكل ذلك من غير علم ولا هدي ولا كتاب منير بل ثبت خلاف ما قالوه عن سيد البشر كما دل له. اهـ\rMuhajir Madad Salim","part":1,"page":265},{"id":266,"text":"Saya ingat pendapat Imam Sya'roni dalam uhud muhammadiyyah bahwa tidak boleh ahwal menikahi syarifah kecuali si ahwal telah mematikan hawanafsunya dan menjadikan dirinya sebagai budak istrinya tersebut. [ syarfulmuabbad lil imam an nabhaniy ]\rMaqin Jadid\rKang Muhajir@ ia memang tapi sebaiknya jangan\r\" Qoola al-imaamu asy-sya'rooniyyu ; Wa qod taqoddama fii hadzihil-minani anna minal-adabi an laa yatazawwaja ahadunaa syariifatan illaa in 'arafa min nafsihi an yakuuna tahta hukmihaa wa isyaarotihaa wa yuqoddima lahaa na'lahaa wa yaquuma lahaa idzaa waradat 'alaihi wa laa yatazawwaja 'alaihaa wa laa yuqtira 'alaihaa fil ma'iisyati illaa ini-khtaarat dzalika. .dst. . [ Nuur al -Abshor Fi manaaqibi ali an-nabiyil mukhtaar juz 1 hal 130 ].\rQoola al-imaamu as-suyuuity Rahimahullaahu fii ( Al-hashoisho ) wa min khoshooishi Shallallaahu 'alaihi wasallama: anna awlaada ibnatihi fathimata manshuubuuna ?laihi wa annahum layukaafihim fin-nikahi akhadun min-naasi, wad-daliilu 'ala dzalika ma akhrajahul-haakimun 'an jaabirin, qoola: qoola Rasulullaahu shollallaahu 'alaihi wasallama : ( Likulli baniy abin 'ushbatun illaa ibni faathimata fa-ana waliyyuhumaa wa ushbatuhumaa ) dst. .","part":1,"page":266},{"id":267,"text":"Berkata Imam Suyuthi Rahimahullah didalam ( ktb Khasha'is ) Termasuk keistimewaan Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bahwa sesungguhnya keturunan Sayyidah Fatimah dinisbatkan kepadanya ( KanjengNabi ) dan tidak ada seorangpun diantara manusia yang SEPADAN dengan MEREKA DALAM PERNIKAHAN, Dalilnya had?ts yang dikeluarkan Imam Hakim dari Jabir, Dia berkata Rasulullah bersabda: Setiap putra seorang bpak punya bgian kecuali kedua putra fatimah akulah wali dan bgian keduanya\"\rMuhammad Ahmad\rMaaf, dari segi keabsahan memang benar boleh non syarif menikah dengan syarifah karena kufu bukan merupakan syarah sah nikah, namun adalah termasuk adab jika kita tidak nikah dengan syarifah sebagaimana yang dikatakan oleh asy Syaikh al Quthb 'Abdul Wahhhaab asy Sya'rani seperti yang dikutip oleh akhi Maqin Jadid di atas.\rDari kalangan dzurriyah Rasul shallallaahu 'alaihi wasallam juga ada perbedaan pendapat sebagaimana yang dikutip akhi Abdullah Afif dari kitab Bughyah diatas.\rDalam kitab Bughyah yang berpendapat sah adalah:\rالسيد العلامة ذو اليقين والعزم وكثرة الإطلاع وجودة الفهم عبد الله بن عمر بن أبي بكر بن يحيى\rSementara yang tidak memperbolehkan adalah mu`allif kitab Bughyah sendiri yaitu:\rالسيد عبد الرحمن بن محمد بن حسين بن عمر المشهور باعلوي مفتي الديار الحضرمية رحمه الله ونفع بعلومه آمين\rMu'allif Subulussalam, yaitu:\rالسيد محمد بن إسماعيل بن صلاح الأمير الكحلاني ثم الصنعاني\rsependapat dengan yang memperbolehkan sebagaimana yang dikutip oleh akhi Raden Surya Kencana\rMaqin Jadid","part":1,"page":267},{"id":268,"text":"Jika saya mengutip dalam Kitb Al-ajwibatul ghaaliyah f? 'aqidati al-firqoh an-naajiyah, disitu ada kesimpulany, karena \" Qoola al-ulamaa-u : Wal haashilu. . . Dst. .jika diperkanankan saya tulis : Wa qodi-khtaara as-saadatu al-'alawiyyuuna fii tazwiiji banaatihim madzhaba al-imaami ahmada-bni hambalin Radliyallaahu 'anhu wa huwa i'tibaaru ridho jamii'i al-'ushbati al-aqrobi wa al-ab'adi hatta liman yuhditsu mn 'ushbatihaa al-fasakha li-anna al'aara fii tazwiiji ghairil kufuu-i 'alaihim 'ajma'iina, wa 'alaa dzalika 'amalihim haitsu kaanuu hirshon 'alaa showni al-ansaabi al-mushthofawiyyati wahtiraaman lihadzihi al-badh'ati an-nabawiyyati,\rTarjim bebasnya : \" Dan sungguh memilih SADATUL 'ALAWIYYIN Didalam mengawinkan putri-putrinya, pendapat imam Ahmad bin hambal, yaitu mempertimbangkan kesepakatan semua keluarga baik dekat maupun yang jauh, sehinggo orang yang mengajukan fasakh karena perkawinan yang tidak sepadan merupakan aib bagi mereka semua, sebab itulah mereka ( SADATUL 'ALAWIYYIN ) Mengamalkan pendapat tersebt demi menjaga kemurnian nasab dan menghormati keturunan KanjengNabi : Dzakara dzalika al-alaamatu 'alawiyyu-bnu ahmada as-saqoofu fii haasyiyah.\r[ www.fb.com/groups/piss.ktb/414067868616027/ ]\r1226. MENIKAH DALAM KEADAAN BELUM MAPAN\rPERTANYAAN :\r> Iman Child Grunge\rHaram / tidakah bila seseorang menikah dalam keadaan belum mendapatkan pekerjaan / belum mapan secara materi ??\rJAWABAN :","part":1,"page":268},{"id":269,"text":"HARAM. Bagi orang yang apabila ia menikah justru akan merugikan istrinya karena ia tidak mampu memberi nafkah lahir dan bathin atau jika menikah ia akan cari mata pencaharian yang di haramkan Allah SWT walaupun orang tersebut sudah berminat menikah dan mampu menahan gejolak nafsunya dari berbagai zina. Hukum menikah tersebut juga berlaku bagi kaum wanita. Ibnu Arafah menambahkan, bahwa bagi wanita hukum menikah wajib apabila ia tidak mampu menafkahi dirinya sendiri sedangkan jalan satu-satunya untuk menanggulangi nafkah tersebut adalah menikah.\r> Masaji Antoro\rNambahi sedikit ibarot\r2 - القدرة على الإنفاق: لا يحل شرعاً الإقدام على الزواج، سواء من واحدة أو من أكثر إلا بتوافر القدرة على مؤن الزواج وتكاليفه، والاستمرار في أداء النفقة الواجبة للزوجة على الزوج، لقوله صلّى الله عليه وسلم : «يا معشر الشباب، من استطاع منكم الباءة فليتزوج...» والباءة: مؤنة النكاح.\r2. Mampu memberikan NAFKAH pada istrinya.\rSyariat tidak menghalalkan seseorang memasuki ranah pernikahan baik menikah hanya seorang istri atau lebih kecuali ia berkemampuan memenuhi biaya dan tuntutan-tuntutan dalam sebuah rumah tangga, mampu memenuhi hak-hak yang semestinya didapatkan seorang istri atas suaminya berdasarkan sabda nabi : “Wahai kawula muda, barangsiapa yang mampu dari kalian atas biaya maka menikahlah” .\ryang dimaksud biaya adalah biaya yang dibutuhkan dalam pernikahan dan rumah tangga. [ Al-Fiqh al-Islaam IX/160 ].\rLink Diskusi > www.fb.com/groups/piss.ktb/360965513926263/\r1313. ANAK HASIL ZINA DI NIKAHI BAPAKNYA (YANG MENZINAHI IBUNYA)\rPERTANYAAN :\rRoni Suyata Al-Siantari","part":1,"page":269},{"id":270,"text":"Mau nanya nich pendapat para ashabul ilm...Gimana kira-kira hukum anak hasil zina yang dikawini oleh bapak-nya (bapak yang menzinai)..?? kalau bisa pendapat ulama yang 4 ya syukron,.....\rJAWABAN :\r> Mbah Jenggot II\rMadzahab syfi`i kalau tidak menikahi ibunya boleh tetapi makruh karena keluar dari khilaf pendapat imam abu hanifah.\rإعانة الطالبين – (ج 3 / ص 327)\r(قوله: لا مخلوقة من ماء زناه) أي لا يحرم نكاح مخلوقه من ماء زناه: إذ لا حرمة لماء الزنا لكن يكره نكاحها خروجا من خلاف الامام أبي حنيفة رضي الله عنه.ومثل المخلوقة من ماء الزنا المخلوقة من ماء استمنائه بغير يد حليلته والمرتضعة بلبن الزنا، وإن أرضعت المرأة بلبن زنا شخص بنتا صغيرة حلت له، ولا يقاس على ذلك المرأة الزانية، فإنها يحرم عليها ولدها بالاجماع.والفرق أن البنت انفصلت من الرجل وهي نطفة قذرة لا يعبأ بها، والولد انفصل من المرأة وهو إنسان كامل\r> Masaji Antoro\rBOLEH tapi MAKRUH\rولا يمنع زناه بامرأة نكاحه لها ولا لامها ولا لبنتها ولو كانت بنتها مخلوقة من ماء زناه اذ لا حرمة لماء الزنا لكن يكره له نكاحها\r“Dan tidak menjadi terlarang akibat perbuatan zina seorang lelaki pada wanita untuk menikahinya, menikahi ibunya atau anaknya meskipun anak tersebut tertitah dari air sperma saat ia menzinahi ibunya karena tidak ada kemuliaan dalam spermanya (sperma yang mulia adalah yang tertuang melalui pernikahan sah) namun makruh baginya menikahi mereka”. [ As-Syarqawy II/219 ]. Wallahu A'lamu Bis showaab.\rLink Diskusi > www.fb.com/groups/piss.ktb/373980635958084/\r1415. MAHRAM SEBAB SUSUAN (RODHO')\rPERTANYAAN :\rAndri Atma","part":1,"page":270},{"id":271,"text":"Assalammu'alaikum, Almukarom poro kyai lan admin pis ingkang kawulo hormati. Mau tanya, Apabila seorang wanita merawat (mupu) seorang bayi perempuan yang belum berumur 2 tahun dan sudah disusui 5 kali susuan, Pertanyaannya :\r1. Apakah suami perempuan itu menjadi muhrimnya anak itu (ketika anak itu besar nanti)\r2. Apakah suami perempuan itu bisa menjadi wali nikah anak itu?Terimakasih sebelumnya,.\rJAWABAN :\r> Uponk Sgr Ulilalbab\rBetul suami perempuan itu menjadi ayahnya anak tersebutt ( ayah birrodo')..tetapi tidak bisa menjadi wali nikah.\r> Mbah Jenggot II\rTidak membatalkan wudhu tapi ga bisa jadi wali nikah.\rفصل : في الرضاع وسبب تحريم الرضاع ، أن اللبن جزء المرضعة ، وقد صار من أجزاء الرضيع ، فأشبه منيها في النسب .ويؤثر في تحريم النكاح ابتداء ودواما وجواز النظر والخلوة ، وعدم نقض الطهارة باللمس دون سائر أحكام النسب ، كالميراث والنفقة والعتق للملك وسقوط القصاص ورد الشهادة ونحو ذلك .\rLink Diksusi > www.fb.com/groups/piss.ktb/386466738042807/\r1432. NIKAHILAH WANITA KARENA DAN DEMI AGAMA\rPERTANYAAN :\rAl Muhdor Ganda\rAssalamu'alaykum wr. wb. Mohon pencerahan dan penjelasan dari poro yai wa ustadz wa sahabat. MAN TAZAWWAJA IMROATAN LIMAALIHA LAM YAZDAD ILLADL DLILLA. Apakah hadits, atsar, apa qoul ulama'.\rJAWABAN :\r> Masaji Antoro\rWa'alaikumsalam Wr Wb. NIKAHILAH WANITA KARENA DAN DEMI AGAMA","part":1,"page":271},{"id":272,"text":"قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ { تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعِ خِصَالٍ : لِمَالِهَا وَجَمَالِهَا وَحَسَبِهَا وَدِينِهَا ، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ }...وَالْمُرَادُ بِالْحَدِيثِ أَنَّ الْمَرْأَةَ تُنْكَحُ فِي مُطْلَقِ قَصْدِ النَّاسِ لِتِلْكَ الْأَرْبَعِ ، ثُمَّ بَيَّنَ مَا هُوَ الْحَقِيقُ بِالرَّغْبَةِ مِنْهَا بِقَوْلِهِ : فَإِنْ ظَفِرْتَ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ ، فَلَا يُنَافِي قَوْلَ بَعْضٍ : إنَّ مَنْ تَزَوَّجَ امْرَأَةً لِمَالِهَا يُبْتَلَى بِالْفَقْرِ ، أَوْ لِجَمَالِهَا قَبَّحَهَا اللَّهُ فِي عَيْنَيْهِ وَقَلْبِهِ ، وَأَطْغَاهَا جَمَالُهَا وَفِتَنَهَا ، أَوْ لِحَسَبِهَا وَعِزِّهَا أَذَلَّهُ اللَّهُ ، وَإِنَّمَا يَقْصِدُ بِالتَّزَوُّجِ حِفْظَ دِينِهِ وَاتِّبَاعَ السُّنَّةِ وَالثَّوَابَ ، فَمَنْ تَزَوَّجَ وَقَصَدَ التَّمَوُّلَ بِالْمَرْأَةِ أَوْ الْعِزَّ بِهَا أَوْ لِجَمَالِهَا فَقَدْ اسْتَعْمَلَ مَا وَضَعَهُ اللَّهُ لِحِفْظِ الدِّينِ وَبَقَاءِ الدُّنْيَا وَالتَّعَاوُنِ عَلَى الْخَيْرِ فِي غَيْرِ ذَلِكَ ،\rRasulullah SAW bersabda : ”Wanita itu dinikahi karena empat hal, karena hartanya, karena kecantikannya, karena nasabnya, karena agamanya. Maka pilihlah alasan menikahinya karena agamanya. Kalau tidak maka rugilah engkau”. (HR. Bukhori no. 5090, Muslim no. 1466)\rMaksud hadits diatas adalah kecenderungan orang umum menikahi wanita karena melihat empat unsur diatas, kemudian Rasulullah SAW menjelaskan tujuan yang sebenarnya dalam sebuah rumah tangga dengan “Maka pilihlah alasan menikahinya karena agamanya. Kalau tidak maka rugilah engkau”.","part":1,"page":272},{"id":273,"text":"Bila pengertiannya demikian maka tidak akan berselisih dengan pengertian sebuah ungkapan : ”Barangsiapa yang menikahi wanita karena kekayaannya maka akan diuji dengan cobaan kefakiran, atau karena kecantikan wanita maka akan Allah jadikan ia buruk dimata dan hati suaminya, atau karena derajat serta keluhurannya maka Allah rendahkan dirinya, karena tujuan dalam sebuah pernikahan adalah demi menjaga agama, mengikuti jejak nabi dan mencari pahala Allah.\rMaka barangsiapa menikahi wanita dengan tujuan kekayaan seorang wanita, atau derajat luhurnya atau karena kecantikannya maka ia telah mengabaikan tujuan pernikahan yang telah ditetapkan oleh Allah demi memilih keduniaan dengan cara menjalani kebaikan yang mulia yaitu pernikahan.\rفقد ذكر الشوكاني في الفوائد المجموعة أن هذا الحديث رواه ابن حبان وفي إسناده عبد السلام بن عبد القدوس وهو ممن يروي الموضوعات، وفيه عمرو بن عثمان وهو متروك، وبناء عليه فالحديث ضعيف السند.\rHadits ”Barangsiapa yang menikahi wanita karena kekayaannya maka akan diuji dengan cobaan kefakiran, diriwayatkan oleh Ibn Hibban dan dalamsanadnya terdapat Abdus Salam Bin Abdul Qudus yang dinyatakan sering meriwayatkan hadits-hadits maudhu’ didalamnya juga terdapat Amr Bin ‘Utsman yang ditinggal periwayatannya, dengan demikian hadits diatas tergolong Dho’i dalam segi sanadnya. [ Syarh an-Nail wa Syifaa al-‘Aliil X/113 ]. Wallaahu A'lamu Bis showaab.\r> Yupiter Jet\rWa'alaikum salam warohmatulloh. Yang saya temukan seperti ini...\rعَنْ أَنَسٍ قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ:","part":1,"page":273},{"id":274,"text":"«مَنْ تَزَوَّجَ امْرَأَةً لِعِزِّهَا لَمْ يَزِدْهُ اللهُ إِلَّا زُلًّا، وَمَنْ تَزَوَّجَهَا لِمَالِهَا لَمْ يَزِدْهُ اللهُ إِلَّا فَقْرًا، وَمَنْ تَزَوَّجَهَا لِحَسَبِهَا لَمْ يَزِدْهُ اللهُ إِلَّا دَنَاءَةً، وَمَنْ تَزَوَّجَهَا لَمْ يَتَزَوَّجْهَا إِلَّا لِيَغُضَّ بَصَرَهُ، وَيُحَصِّنَ فَرْجَهُ، أَوْ يَصِلَ رَحِمَهُ، إِلَّا بَارَكَ اللهُ لَهُ فِيهَا، وَبَارَكَ لَهَا فِيهِ» غَرِيبٌ مِنْ حَدِيثِ إِبْرَاهِيمَ، تَفَرَّدَ بِهِ ابْنُ عَبْدِ الْقُدُّوسِ\r[ Hilyatu al-auliya 5/245 ].\rDari Anas, hadits ini ghorib. Barang siapa yang menikahi perempuan karena kehormatannya, maka Alloh tidak akan menambahkannya baginya kecuali kehinaan. barang siapa yang menikahi perempuan karena hartanya, maka Alloh tidak akan menambahkannya baginya kecuali kefaqiran. barang siapa yang menikahi perempuan karena keturunannya, maka Alloh tidak akan menambahkannya baginya kecuali kerendahan.dan barang siapa menikahi perempuan dengan tidak ada tujuan selain memjamkan penglihatannya dan menjaga farjinya, atau silaturrahim, maka Alloh akan memberi keberkahan pada diri si perempuan baginya, dan memberi keberkahan pada dirinya bagi si perempuan.\rLink Diskusi > www.fb.com/groups/piss.ktb/389714897717991/\r1636. MERTUA MENIKAHI MANTAN MENANTU DARI ANAK TIRI\rPERTANYAAN :\rMasqurotun Ni'mah\rasSalamu'alaikum.. nuwun sewu sesepuh,mau nanyak..Bagaimana hukumnya seorang ayah tiri menikahi bekas menantu yang cerai atau furqoh dengan anak tirinya yang ke dua pihak sama2 membawa keturunan ?? wa syukron lisa'adakum...\rJAWABAN :\rKhodim Piss-ktb II","part":1,"page":274},{"id":275,"text":"Wa’alaikum salam. Mertua Menikahi Mantan Menantu Dari Anak Tiri itu Sah, sebab bukan termasuk mahram. Yang tergolong mahram dalam syariat adalah menantu dari anak kandung, bukan menantu dari anak tiri.Sedangkan urusan telah memiliki keturunan sependek pengetahuan saya bukanlah hal yang menjadi pertimbangan dalam mahram, lain halnya dengan kasus ‘dukhul’ misalnya. Wallahu a’lam.\rالكتاب: مغني المحتاج ج3 ص177ثم شرع في السبب الثالث وهو المصاهرة فقال ( وتحرم ) عليك ( زوجة من ولدت ) بواسطة أو غيرها وإن لم يدخل ولدك بها لإطلاق قوله تعالى { وحلائل أبنائكم الذين من أصلابكم } -الى ان قال-وعلم من كلامه عدم تحريم بنت زوج الأم أو البنت أو أمه وعدم تحريم أم زوجة الأب أو الابن أو بنتها أو زوجة الربيب أو الراب لخروجهن عن المذكورات\r“Penyebab mahram ketiga yakni dari ikatan pernikahan dijelaskan oleh an-Nawawi:[diharamkan] bagimu[istri dari orang yang kamu lahirkan] baik dengan perantara ataupun tanpanya, meskipun anakmu belum bersebadan dengan istrinya, sebab melihat keumuman firman Allah ‘(dan diharamkan bagimu) wanita halal dari anak-anakmu yang berasal dari darah dagingmu.\r’Dari pernyataan tersebut bisa diketahui tidak haramnya saudara tiri dari ayah, cucu tiri dari menantu laki-laki, nenek dari ayah tiri. Juga tidak haram nenek dari ibu tiri, besan perempuan, saudara tiri dari ibu, menantu dari anak tiri, istri dari ayah tiri, sebab kesemuanya tidak termasuk dalam golongan mahram yang telah disebutkan\".\rLink Asal :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/434023033287177/\r1850. HUKUM FOTO PRA WEDDING\rPERTANYAAN :\rSasan Al G","part":1,"page":275},{"id":276,"text":"Titipan. bagaimana hukumnya foto pernikahan pra wedding ( yang biasa dijadikan gambar foto pada undangan resepsi pernikahan itu )......\rJAWABAN :\rRaden Mas NegeriAntahberantah\rKerangka Analisis Masalah : Pembuatan foto pre wedding ( foto sebelum pernikahan-red ) seakan-akan menjadi suatu keharusan bagi calon mempelai. Keunikan dan keindahan foto pre-wedding akan menghiasi kartu undangan atau souvenir pernikahan. Terlebih, foto itu dibuat dengan konsep yang unik dan dengan background yang menarik. Hal ini tentunya akan menjadi suatu sensasi tersendiri. Pertanyaan : Bagaimana hukum membuat foto pre wedding?\rJawaban : Karena proses pembuatan foto melibatkan kedua calon mempelai dan fotografer, maka ditafshil (diperinci);\ra.…Bagi calon mempelai, hukumnya haram jika terdapat; ikhtilat (percampuran laki-laki dan perempuan), kholwat (berduaan) dan kasyful aurat (membuka aurat).\rb.…Bagi fotografer, hukumnya tidak boleh karena hal itu menunjukkan sikap rela dengan kemaksiatan.\rCatatan : Jawaban di atas hanya berlaku bila pembuatan foto tersebut dilakukan pra-akad nikah, tidak ada rekayasa sama sekali dan tidak ada dzan (asumsi) atau keyakinan munculnya penilaian negatif masyarakat.\rReferensi : 1. Hasyiyyah Al-Jamal vol. IV hal. 125, 2. Is’adurrafiq vol. II hal. 67, 3. I’anah Al-Tholibin vol. I hlm. 272, 4. Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab vol. IV hlm.484, 5. Bughyah Al-Mustarsyidin hlm. 199-200, 6. Is’ad Al-Rofiq vol. II hlm. 50, 7. Adab Al-Alim wa Al-Muta’allim hlm. 59-60 dan 8. Bughyah Al-Mustarsyidin hlm. 126. [ Sumber : http://misykat.lirboyo.net/hukum-foto-pre-wedding/ ].","part":1,"page":276},{"id":277,"text":"Link Asal : fb.com/groups/piss.ktb/407770989245715/\r1917. ALASAN KEMAKRUHAN MENIKAHI SEPUPU\rPERTANYAAN :\rAnton Cokerz\rAssalamu alaikum, mohon penjelasan, apa alasan ulama yang menyatakan makruh menikahi saudara sepupu, kalau bisa tulis ibarot nya.\rJAWABAN :\r> Masaji Antoro\rWa'alaikumsalam, Alasannya : Karena kecenderungan seseorang memiliki perasaan malu saat intim dengan kelurga dekatnya hingga menimbulkan syahwat yang lemah yang berdampak pada garingnya keturunan.\r( قَرَابَةٌ غَيْرُ قَرِيبَةٍ ) لِضَعْفِ الشَّهْوَةِ فِي الْقَرِيبَةِ فَيَجِيءُ الْوَلَدُ نَحِيفًا قَالَ الزَّنْجَانِيُّ وَلِأَنَّ مِنْ مَقَاصِدِ النِّكَاحِ اشْتِبَاكُ الْقَبَائِلِ لِأَجْلِ التَّعَاضُدِ وَاجْتِمَاعِ الْكَلِمَةِ وَهُوَ مَفْقُودٌ فِي نِكَاحِ الْقَرِيبَةِ ،\r(Keterangan kerabat yang tidak dekat) karena lemahnya syahwat pada kerabat dekat maka anaknya kelak menjadi garing. Az-Zanjany berkata “Dan karena tujuan pernikahan mempertautkan kabilah-kabilah yang berselisih serta mempertemukan kalimat dan yang demikian tidak diketemukan dalam pernikahan saudara dekat. [ Asnaa al-Mathaalib 14/264 ].\rتخيروا لنطفكم غير ذات قرابة قريبة بأن تكون أجنبية، أو ذات قرابة بعيدة لضعف الشهوة في القريبة فيجئ الولد نحيفا.\rPilihlah untuk sperma kalian wanita yang bukan kerabat dekat, wanita yang lain atau wanita kerabat yang jauh karena lemahnya syahwat dalam wanita kerabat yang dekat maka anaknya kelak menjadi garing. [ Al-Iqnaa II/65 ].\rوقد روى : ( لا تنكحوا القرابة القريبة ، فإن الولد يُخلق ضاوياً ) أي نحيفاً ، وذلك لضعف الشهوة بين القرابة . ذكر هذا الشربيني في شرحه لمنهاج النووي .","part":1,"page":277},{"id":278,"text":"لكن ذكر ابن الصلاح أنه لم يجد لهذا الحديث أصلاً معتمداّ ، وقد ذكره ابن الأثير في كتابه [ النهاية في غريب الحديث والأثر ولا يطعن في هذا الحكم أن النبي - صلى الله عليه وسلم - قد زوّج فاطمة من على رضي الله عنهما ، لأنه فعل ذلك لبيان الجواز ، أو لأنه ليس بينهما قرابة قريبة جداً ، ففاطمة هي بنت ابن عم علي ، فهي بعيده عنه بالجملة .\rDiriwayatkan dalam sebuah hadits “Janganlah kalian nikahi wanita kerabat yang dekat karena anak kelak tertitahkan garing, yang demikian karena akibat lemahnya syahwat pada wanita kerabat dekat, keterangan ini yang dituturkan as-Syarbiny dalam Kitab Syarhnya al-Manhaj an-Nawawy.\rNamun Ibn Shalah menyatakan bahwa hadits ini tidak didapati asal kepastiannya, Ibn Atsir mengelompokkannya kedalam Kitab an-Nihaayah Fi Ghoriib al-Hadiits wal Atsaar (kitab yang menerangkan aneka hadits-hadits yang asing)\rDan tidak tercemarkan kehormatannya oleh hukum ini menikahkannya baginda Nabi SAW putri beliau, Fathimah atas Sayyidina Ali ra, karena beliau menjalani dengan tujuan menerangkan kelegalan pernikahannya atau karena diantara keduanya sudah bukan kerabat dekat sebab Fathimah adalah anak perempuan dari anak paman Sayyidina Ali yang artinya sudah tergolong kerabat jauh. [ Al-Fiqh al-Manhaji IV/26 ].","part":1,"page":278},{"id":279,"text":"( لَيْسَتْ قَرَابَةَ قَرِيبَةٍ ) لِخَبَرِ فِيهِ النَّهْيُ عَنْهُ وَتَعْلِيلُهُ بِأَنَّ الْوَلَدَ يَجِيءُ نَحِيفًا لَكِنْ لَا أَصْلَ لَهُ وَمِنْ ثَمَّ نَازَعَ جَمْعٌ فِي هَذَا الْحُكْمِ بِأَنَّهُ لَا أَصْلَ لَهُ وَبِإِنْكَاحِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِيًّا كَرَّمَ اللَّهُ وَجْهَهُ وَيُرَدُّ بِأَنَّ نَحَافَةَ الْوَلَدِ النَّاشِئَةِ غَالِبًا عَنْ الِاسْتِحْيَاءِ مِنْ الْقَرَابَةِ الْقَرِيبَةِ مَعْنًى ظَاهِرٌ يَصْلُحُ أَصْلًا لِذَلِكَ وَعَلِيٌّ كَرَّمَ اللَّهُ وَجْهَهُ قَرِيبٌ بَعِيدٌ إذْ الْمُرَادُ بِالْقَرِيبَةِ مَنْ هِيَ فِي أَوَّلِ دَرَجَاتِ الْخُؤُولَةِ وَالْعُمُومَةِ وَفَاطِمَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا بِنْتُ ابْنِ عَمٍّ فَهِيَ بَعِيدَةٌ وَنِكَاحُهَا أَوْلَى مِنْ الْأَجْنَبِيَّةِ لِانْتِفَاءِ ذَلِكَ الْمَعْنَى مَعَ حُنُوِّ الرَّحِمِ\r(Keterangan Yang bukan kerabat dekat) berdasarkan hadits yang melarangnya dengan alasan mengakibatkan keturunan yang garing. Namun keberadaan hadits ini dipertentangkan oleh banyak ulama disamping alasan menikahkannya baginda Nabi SAW putri beliau, Fathimah atas Sayyidina Ali ra. Yang dimaksud dengan garungnya keturunan diatas adalah arti dhahirnya bahwa perasaan yang muncul pada umumnya sebab rasa malu akan timbul pada kerabat dekat..\rSedang Ali tergolong kerabat jauh sebab yang dimaksud kerabat dekat adalah orang-orang yang sejajar dalam garis derajat persaudaraan dan kepamanan, Fathimah ra adalah putri dari anak paman Ali maka ia tidak dalam garis sejajar, tergolong kerabat jauh yang menikahinya lebih utama ketimbang menikahi wanita lain sebab pengertian kerabat dekat diatas telah tertepiskan. [ Tuhfah al-Muhtaaj 29/188 ].","part":1,"page":279},{"id":280,"text":"> Miftahul Arifin Hasan\rMasaji Antoro : kalau \"Illat\" berupa \"memiliki perasaan malu saat intim dengan kelurga dekatnya\" itu tak ada... Apakah kemakruhan itu bisa hilang..??\r> Masaji Antoro\rKang Miftah, Pernikah dengan gen yang berjauhan lebih dapat menghasilkan keturunan-keturan yang cemerlang\rاغْتَرِبُوا لا تُضْوُوا ( في الأصل : [ اغتربوا ولا تُضْووا ] وقد أَسقطنا الواو حيث سقطت من ا واللسان والهروي ] ) أي تزوَّجوا الغَرَائب دون القَرَائب فإن ولد الغريبةِ أنْجبُ وأقْوَى من ولدِ القَرِيبة . وقد أضْوَت المرأة إذا ولدت ولداً ضعيفا . فمعنى لا تُضْووا : لا تأْتُوا بأولادٍ ضاوين : أي ضُعفاء نُحفَاء والواحدُ : ضاوٍ - ومنه الحديث [ لا تَنْكِحُوا القَرَابةَ القَريبَة فإن الولد يُخْلق ضاوِياً ]\r[ An-Nihaayah Fi Ghoriib al-Atsaar III/228 ].\r8 - وأن لا تكون ذات قرابة قريبة ، لحديث : لا تنكحوا القرابة القريبة فإن الولد يخلق ضاويا (4) . وصرح الحنابلة باستحباب اختيار الأجنبية فإن ولدها أنجب .\r[ Al-Mausuu’ah al-Fiqhiyyah 24/61 ].\r> Abdullah Afif\rDalam Kitab Ihyaa 2/300, maktabah syamilah :\rالثامنة أن لا تكون من القرابة القريبة فإن ذلك يقلل الشهوة قال صلى الله عليه وسلم (لا تنكحوا القرابة القريبة فإن الولد يخلق ضاويا) وقال معناه تزوجوا الغرائب قال ويقال اغربوا لا تضووا أي نحيفا وذلك لتأثيره في تضعيف الشهوة فإن الشهوة إنما تنبعث بقوة الإحساس بالنظر واللمس وإنما يقوى الإحساس بالأمر الغريب الجديد فأما المعهود الذي دام النظر إليه مدة فإنه يضعف الحس عن تمام إدراكه والتأثر به ولا تنبعث به الشهوة\rAdapun mengenai hadits :\rلا تنكحوا القرابة القريبة فإن الولد يخلق ضاويا\rAl hafizh Al 'Iraqi dalam takhrij Ihya","part":1,"page":280},{"id":281,"text":"حديث لا تنكحوا القرابة فإن الولد يخلق ضاويا قال ابن الصلاح لم أجد له أصلا معتمدا قلت إنما يعرف من قول عمر أنه قال لآل السائب قد أضويتم فانكحوا في النوابغ رواه إبراهيم الحربي في غريب الحديث.\rSementara Sayyid Murtadha az Zabidi dalam Ittihaaf juz V halaman 349, Mu`assasah At Taarikh al 'Arabi Beirut\rوما رواه الحربي رواه أبو نعيم في فضل النفقه على البنات كذا بخط الحافظ ابن حجر\rDan Al hafizh Ibn Hajar dalam At Talkhiish al Habiir juz III halaman 304\rحديث : { لا تنكحوا القرابة القريبة ، فإن الولد يخلق ضاويا }. هذا الحديث تبع في إيراده إمام الحرمين هو والقاضي الحسين ، وقال ابن الصلاح : لم أجد له أصلا معتمدا انتهى .\rوقد وقع في غريب الحديث لابن قتيبة قال : جاء في الحديث : { اغربوا لا تضووا }وفسره فقال هو من الضاري وهو النحيف الجسم يقال أضوت المرأة إذا أتت بولد ضاو والمراد انكحوا في الغرباء ولا تنكحوا في القريبة .\rوروى ابن يونس في تاريخ الغرباء في ترجمة الشافعي عن شيخ له عن المزني ، عن الشافعي قال : أيما أهل بيت لم تخرج نساؤهم إلى رجال غيرهم ، كان في أولادهم حمق ، وروى إبراهيم الحربي في غريب الحديث عن عبد الله بن المؤمل ، عن ابن أبي مليكة قال : قال عمر لآل السائب . قد أضوأتم فانكحوا في النوابغ ، قال الحربي : يعني تزوجوا الغرائب .\rLink kitab Talkhiis : http://www.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?bk_no=11&ID=101&idfrom=1144&idto=1246&bookid=11&startno=49\rWallaahu A'lam\rLink Asal : www.fb.com/groups/piss.ktb/478705895485557/\r2029. BATASAN WANITA JANDA DAN PERAWAN MENURUT FIQH\rPERTANYAAN :\rCaif Al-magtany","part":1,"page":281},{"id":282,"text":"Assalamu'alaikum... Mohon bantuan jawabanya baik dari pengasuh atau anggota dari group ini. \"ada wanita yang sudah menikah tapi baru brjln sekitar 2 bulan terjadi perceraian dan dalam masa itu wanita tersebut belum pernah sama sekali melakukan hubungan dengan suaminya...\". Jadi yang saya tanyakan, bagaimana status wanita tersebut setelah bercerai, masih disebut \"perawan\" atau kah \"janda\" bila kejadiannya seperti itu..?? Tur nuwun.\rJAWABAN :\r> Masaji Antoro\rWa'alaikumsalam. Batasan secara hukum Fiqh, wanita dikatakan perawan atau janda adalah pernah menjalani persenggamaan atau belum, meskipun sudah pernah menikah asalkan belum disenggamai wanita tersebut masih dikatakan PERAWAN.\rوقال الشافعية: الثيب: من زالت بكارتها، سواء زالت البكارة بوطء حلال كالنكاح، أو حرام كالزنا، أو بشبهة في نوم أو يقظة، ولا أثر لزوالها بلا وطء في القبل كسقطة وحدة طمث، وطول تعنيس وهو الكبر، أو بأصبع ونحوه في الأصح، فحكمها حينئذ حكم الأبكار.\rKalangan Syafi’iyyah menilai yang dimaksud janda adalah wanita yang telah hilang keperawanannya sebab persenggamaan yang halal seperti pernikahan atau persenggemaan yang haram seperti akibat zina atau persenggamaan yang syubhat saat tidur atau terjaga, dan tidak mempengaruhi hilangnya keperawanan yang bukan akibat persenggamaan dialat kelaminnya seperti akibat jatuh, kelancaran darah haid, atau lamanya menjadi perawan tua, dan menurut pendapat yang paling shahih bahkan akibat jari jemari dan sejenisnya, maka hukum wanita yang demikian dihukumi wanita perawan. [ Al-Fiqh al-Islaam IX/198 ].","part":1,"page":282},{"id":283,"text":"والبكر اسم لامرأة لم تجامع أصلا ويقال لها : بكر حقيقة فمن زالت بكارتها بوثبة أو حيض قوي أو جراحة أو كبر فإنها بكر حقيقة ومثلها من تزوجت بعقد صحيح أو فاسد ولكن طلقت أو مات عنها زوجها قبل الدخول والخلوة أو فرق بينهما القاضي بسبب كون زوجها عنينا أو مجبوبا فإنها بكر حقيقة\rPerawan adalah istilah bagi wanita yang belum pernah menjalani persenggamaan sama sekali, wanita yang demikian dinamakan perawan asli. Wanita yang hilang keperawanannya akibat terjungkir, haid yang kuat, luka atau perawan tua juga dikategorikan perawan asli, begitu juga wanita yang telah menikah dengan ikatan yang sah atau rusak tetapi ia telah ditalak atau ditinggal mati suaminya sebelum digauli dan dicumbui juga tergolong perawan, atau wanita yang dipisahkan oleh seorang hakim dari suaminya yang impoten atau terpotong alat kelelakiannya juga tergolong perawan asli. [ Al-Fiqh ala Madzaahib al-Arba’ah IV/23 ].\rوالبكر اصطلاحا عند الحنفية : اسم لامرأة لم تجامع بنكاح ولا غيره ، فمن زالت بكارتها بغير جماع كوثبة ، أو درور حيض ، أو حصول جراحة ، أو تعنيس : بأن طال مكثها بعد إدراكها في منزل أهلها حتى خرجت عن عداد الأبكار فهي بكر حقيقة وحكما (3)\rوعرفها المالكية : بأنها التي لم توطأ بعقد صحيح ، أو فاسد جرى مجرى الصحيح . وقيل : إنها التي لم تزل بكارتها أصلا (1) .\r__________\r(3) رد المحتار على الدر المختار 2 / 302 دار إحياء التراث العربي .\r(1) حاشية الدسوقي على الشرح الكبير 2 / 281 ط عيسى الحلبي بمصر .","part":1,"page":283},{"id":284,"text":"Perawan menurut kalangan Hanafiyyah adalah istilah bagi wanita yang telah hilang keperawanannya sebab pernikahan dan bukan lainnya. Wanita yang hilang keperawanannya akibat selain persenggamaan seperti akibat terjungkir, haid yang kuat, akibat luka atau perawan tua juga dikategorikan perawan asli baik secara hakikat dan hukumnya. Kalangan Malikiyyah mengartikan bahwa perawan adalah wanita yang belum pernah senggama dengan akad yang shahih atau akad yang rusak yang mendudukinya, sebagian pendapat menyatakan perawan adalah istilah dari wanita yang belum hilang keperawanannya sama sekali. [ Al-Mausuu’ah al-Fiqhiyyah VIII/178 ].\r> Sunde Pati\rالباجورى ج : 2 ص : 109\r( والنساء على ضربين ثيبات وابكار ) والثيب من زالت بكارتها بوطء حلال او حرام والبكر عكسها الى ان قال والثيب لا يجوز لوليها تزويجها الا بعد بلوغها واذنها نطقا لا سكوتا\r( قوله والثيب ) اى وان عادت بكارتها اهـ\rLink Asal :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/476127549076725/\r2415. LEBIH UTAMA MENIKAHI PERAWAN ATAU JANDA ?\rPERTANYAAN :\r> Anton Cokerz\rAssalamu 'alaikum, mohon penjelasan lebih utama manakah mengawini gadis / janda ? apa hikmah mengawini gadis-gadis apa hikmah mengawini janda ? mohon dilengkapi dengan dalil nya...\rJAWABAN :\r> Brojol Gemblung\rWa'alaikumussalam. Menurut informasi yang ada, ya lebih utama menikahi perawan daripada janda karena dia bisa mbalaz jotos\rسنن أبي داود - كتاب النكاح - باب في تزويج ا?بكار- الجزء رقم :2","part":1,"page":284},{"id":285,"text":"2048 حدثنا أحمد بن حنبل حدثنا أبو معاوية أخبرنا ا?عمش عن سالم بن أبي الجعد عن جابر بن عبد الله قال: قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم: أتزوجت. قلت: نعم. قال: بكرا أم ثيبا. فقلت: ثيبا. قال: أف? بكرا ت?عبها وت?عبك\r2048. Telah menceritakan pada kami Ahmad bin Hanbal, telah menceritakan pada kami Abu Mu'awiyah, telah memberi khabar pada kami al-A'masy dari Salim bin Aby al-Ja'd dari Jabir bin 'Abdillah berkata: Rasulullah saw. bertanya padaku: Apakah engkau sudah kawin? Saya menjawab: Benar, saya sudah kawin. Beliau bertanya: Perawan atau Janda? Lalu saya menjawab: Janda. Beliau berkata: Kenapa tidak dengan perawan, engkau kan bisa bermain-main dengannya dan dia juga bisa bermain-main denganmu?!.\rالحاشية رقم: 1\rقلت نعم : أي تزوجت. بكر أم ثيب : بحذف همزة ا?ستفهام أي أهي بكر أم ثيب وفي بعض النسخ بالنصب فيهما أي أتزوجت بكرا أم ثيبا. فقلت ثيبا : أي تزوجت ثيبا . وفي بعض النسخ بالرفع أي هي ثيب. أف? بكرا : أي فه? تزوجت بكرا. ت?عبها وت?عبك : تعليل التزويج البكر لما فيه من ا?لفة التامة فإن الثيب قد تكون متعلقة القلب بالزوج ا?ول فلم تكن محبتها كاملة بخ?ف البكر .\rKenapa lebih utama perawan??? Karena dalam jalinan dengannya terdapat cinta-kasih yang sempurna. Berbeda halnya dengan janda yang terkadang dihatinya masih terkait kasih sayang untuk suaminya yang pertama.\rLink diskusi\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/587092464646899/\rF0075. Janji Allah Bagi Orang Yang Akan Menikah","part":1,"page":285},{"id":286,"text":"Ketika seorang muslim baik pria atau wanita akan menikah, biasanya akan timbul perasaan yang bermacam-macam. Ada rasa gundah, resah, risau, bimbang, termasuk juga tidak sabar menunggu datangnya sang pendamping dan lain-lain. Bahkan ketika dalam proses taaruf sekalipun masih ada juga perasaan keraguan.\rBerikut ini sekelumit apa yang bisa saya hadirkan kepada pembaca agar dapat meredam perasaan negatif dan semoga mendatangkan optimisme dalam mencari teman hidup.\rInilah kabar gembira berupa janji Allah bagi orang yang akan menikah. Bergembiralah wahai saudaraku…\r1. “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula) dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)”. (An Nuur : 26)\rBila ingin mendapatkan jodoh yang baik, maka perbaikilah diri. Hiduplah sesuai ajaran Islam dan Sunnah Nabi-Nya. Jadilah laki-laki yang sholeh, jadilah wanita yang sholehah. Semoga Allah memberikan hanya yang baik buat kita. Amin.\r2. “Dan nikahilah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan orang-orang yang layak (dinikahi) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (Pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (An Nuur: 32)","part":1,"page":286},{"id":287,"text":"Sebagian para pemuda ada yang merasa bingung dan bimbang ketika akan menikah. Salah satu sebabnya adalah karena belum punya pekerjaan. Dan anehnya ketika para pemuda telah mempunyai pekerjaan pun tetap ada perasaan bimbang juga. Sebagian mereka tetap ragu dengan besaran rupiah yang mereka dapatkan dari gajinya. Dalam pikiran mereka terbesit, “apa cukup untuk berkeluarga dengan gaji sekian?”.\rAyat tersebut merupakan jawaban buat mereka yang ragu untuk melangkah ke jenjang pernikahan karena alasan ekonomi. Yang perlu ditekankan kepada para pemuda dalam masalah ini adalah kesanggupan untuk memberi nafkah, dan terus bekerja mencari nafkah memenuhi kebutuhan keluarga. Bukan besaran rupiah yang sekarang mereka dapatkan. Nantinya Allah akan menolong mereka yang menikah. Allah Maha Adil, bila tanggung jawab para pemuda bertambah – dengan kewajiban menafkahi istri-istri dan anak-anaknya, maka Allah akan memberikan rejeki yang lebih. Tidakkah kita lihat kenyataan di masyarakat, banyak mereka yang semula miskin tidak punya apa-apa ketika menikah, kemudian Allah memberinya rejeki yang berlimpah dan mencukupkan kebutuhannya?\r3. “Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong mereka, yaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka dan seorang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya”. (HR. Ahmad 2: 251, Nasaiy, Tirmidzi, Ibnu Majah hadits no. 2518, dan Hakim 2: 160)","part":1,"page":287},{"id":288,"text":"Bagi siapa saja yang menikah dengan niat menjaga kesucian dirinya, maka berhak mendapatkan pertolongan dari Allah berdasarkan penegasan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ini. Dan pertolongan Allah itu pasti datang.\r4. “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnyapada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. (Ar Ruum : 21)\r5. “Dan Tuhanmu berfirman : ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina’ ”. (Al Mu’min : 60)\rIni juga janji Allah ‘Azza wa Jalla, bila kita berdoa kepada Allah niscaya akan diperkenankan-Nya. Termasuk di dalamnya ketika kita berdoa memohon diberikan pendamping hidup yang agamanya baik, cantik, penurut, dan seterusnya.\rDalam berdoa perhatikan adab dan sebab terkabulnya doa. Diantaranya adalah ikhlash, bersungguh-sungguh, merendahkan diri, menghadap kiblat, mengangkat kedua tangan, dll.\rWaktu-waktu yang mustajab dalam berdoa. Diantaranya adalah berdoa pada waktu sepertiga malam yang terakhir dimana Allah ‘Azza wa Jalla turun ke langit dunia , pada waktu antara adzan dan iqamah, pada waktu turun hujan, dll.\rPenghalang terkabulnya doa. Diantaranya adalah makan dan minum dari yang haram, juga makan, minum dan berpakaian dari usaha yang haram, melakukan apa yang diharamkan Allah, dan lain-lain.","part":1,"page":288},{"id":289,"text":"Manfaat lain dari berdoa berarti kita meyakini keberadaan Allah, mengakui bahwa Allah itu tempat meminta, mengakui bahwa Allah Maha Kaya, mengakui bahwa Allah Maha Mendengar dan seterusnya.\rSebagian orang ketika jodohnya tidak kunjung datang maka mereka pergi ke dukun-dukun berharap agar jodohnya lancar. Sebagian orang ada juga yang menggunakan guna-guna. Cara-cara seperti ini jelas dilarang oleh Islam. Perhatikan hadits-hadits berikut yang merupakan peringatan keras dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:“Barang siapa yang mendatangi peramal/dukun, lalu ia menanyakan sesuatu kepadanya, maka tidak diterima shalatnya selama empat puluh malam”. (Hadits shahih riwayat Muslim (7/37) dan Ahmad).\rTelah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,“Maka janganlah kamu mendatangi dukun-dukun itu.” (Shahih riwayat Muslim juz 7 hal. 35).\rTelah bersabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,“Sesungguhnya jampi-jampi (mantera) dan jimat-jimat dan guna-guna (pelet) itu adalah (hukumnya) syirik.” (Hadits shahih riwayat Abu Dawud (no. 3883), Ibnu Majah (no. 3530), Ahmad dan Hakim).\r\"Ingat nikah itu untuk ibadah, bukan untuk senang-senang atau main-main. Kalau memang sudah siap lahir, batin dan mental segeralah menikah\". Wallahu a’lam bish-shawabi...\rSumber : http://irul-pml.blogspot.com/2010/12/janji-allah-bagi-orang-yang-akan.html?zx=6d88a5066a013dcf\rF0106. Seperti Apa Wanita Yang Ideal Untuk Dinikahi ?\rOleh Mbah Jenggot","part":1,"page":289},{"id":290,"text":"Nabi Saw. bersabda: \"Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalehah. Dalam riwayat yang lain: Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang dapat membantu suaminya dalam urusan akhirat.\" Nabi Saw. bersabda: \"Setelah takwa kepada Allah, seorang mukmin tidak bisa mengambil manfaat yang lebih baik, dibanding istri yang shalehah dan cantik, yang jika suaminya memerintahkan sesuatu kepadanya, dia selalu taat, jika suaminya memandangnya dia menyenangkan, jika suaminya menyumpahinya dia selalu memperbaiki dirinya, dan apabila suaminya meninggalkannya (bepergian), dia pun selalu menjaga diri dan harta suaminya.\"","part":1,"page":290},{"id":291,"text":"Nabi Muhammad Saw. bersabda: \"Barang siapa menikah dengan seorang wanita hanya karena memandang kemuliaan derajatnya, maka Allah Swt. tidak akan menambah baginya, kecuali kehinaan. Barang siapa menikah dengan seorang wanita hanya karena memandang hartanya, maka Allah tidak akan menambah baginya kecuali kefakiran. Barang siapa menikah dengan seorang wanita karena kecantikannya, maka Allah tidak akan menambah baginya kecuali kerendahan. Dan barang siapa menikah dengan sorang wanita tanpa tujuan lain, kecuali agar dia lebih mampu meredam gejolak pandangannya dan lebih dapat memelihara kesucian seksualnya dari perbuatan zina, atau dia hanya ingin menyambung ikatan kekeluargaan, maka Allah Swt. akan selalu memberkahinya bagi istrinya. Sedangkan seorang hamba sahaya yang jelek rupa dan hitam kulitnya, namun kuat imannya, adalah lebih utama.: \"Nabi Saw. bersabda: \"Barang siapa mempunyai anak dan mampu untuk mengawinkannya, namu dia tidak mau mengawinkannya, kemudian anaknya berbuat zina, maka keduanya berdosa.:\"Nabi Saw. bersabda: \"Seorang wanita dinikahi karena empat hal, yaitu:\r1. Hartanya\r2. Keturunannya\r3. Kecantikannya\r4. Agamanya\rMaka hendaklah kamu menikah dengan wanita yang kuat agamanya, agar kamu memperoleh kebahagiaan.\" Nabi Saw. bersabda: \"Barang siapa ingin menghadap ke haribaan Allah dalam keadaan suci dan disucikan, maka kawinlah dengan wanita yang merdeka.\" Nabi Saw. bersabda: \"Ada empat resep kebahagiaan bagi seseorang yaitu:\r1. Istrinya adalah wanita shalehah\r2. Putra-putrinya baik-baik\r3. Pergaulannya bersama orang-orang shaleh","part":1,"page":291},{"id":292,"text":"4. Rizkinya diperoleh dari negeri sendiri.\" Nabi Saw. bersabda: \"Sebaik-baik wanita dari umatku ialah yang berwajah ceria dan sedikit maharnya\"\rNabi Saw. bersabda: \"Kawinlah kalian dengan wanita yang periang dan banyak anaknya, karena sesungguhnya aku akan membanggakan banyaknya jumlah kalian di hadapan para nabi terdahulu kelak pada hari kiamat.\" Nabi Saw. bersabda kepada Zaid bin Tsabit: \"Hai Zaid, apakah engkau sudah kawin?', Zaid menjawab belum', Nabi bersabda 'Kawinlah, maka engkau akan selalu terjaga, sebagaimana engkau menjaga diri. Dan janganlah sekali-kali kawin dengan lima golongan wanita.' Zaid bertanya ' Siapakah mereka ya Rasulallah?' Rasulullah menjawab 'Mereka adalah:\r1. Syahbarah\r2. Lahbarah\r3. Nahbarah\r4. Handarah\r5. Lafut'","part":1,"page":292},{"id":293,"text":"Zaid berkata 'Ya Rasulallah, saya tidak mengerti apa yang engkau katakan' Maka Nabi Raw. Menjelaskan, 'Syahbarah ialah wanita yang bermata abu-abu dan jelek tutur katanya. Lahbarah adalah wanita yang tinggi dan kurus. Nahbarah ialah wanita tua yang senang membelakangi suaminya (ketika tidur). Handarah ialah wanita yang cebol dan tercela. Sedangkan Lafut ialah wanita yang melahirkan anak dari laki-laki selain kamu.\" Satu riwayat menceritakan: \"Seorang laki-laki datang menghadap kepada Rasulullah dan berkata: 'Ya Rasulallah, aku menemukan seorang wanita yang baik dan cantik, tetapi dia mandul, apakah aku boleh mengawininya?' Nabi Saw. menjawab: 'Jangan' Kemudian dia datang lagi kepada Rasulullah untuk kedua kalinya. Nabi Saw. tetap melarangnya. Dia pun datang lagi untuk ketiga kalinya. Nabi Saw. pun tetap melarangnya menikahi wanita itu, dan beliau bersabda: 'Kawinlah kalian dengan wanita yang selalu menyenangkan hati dan banyak anaknya. Karena sesungguhnya aku akan membanggakan banyaknya jumlah keturunan kalian''. [ Qurratul Uyun, Syarah Nazham Ibnu Yamun, Karya : Muhammad At-Tihami Ibnul Madani Kanun ]\r2513. MEMILIH MENIKAHI LELAKI FASIQ KARENA SULIT CARI JODOH\rPERTANYAAN :\r> Nur Hasyim S. Anam\rPertanyaan titipan dari akhwat :\rAda pernyataan bahwa itu menikah ibadah. Juga ada pernyataan bahwa sholatnya orang yang telah menikah lebih baik dari pada yang belum menikah : www.piss-ktb.com/2012/12/2146-sholat-orang-yang-menikah-70x_6372.html","part":1,"page":293},{"id":294,"text":"Saya adalah wanita yang sudah berumur. Entah mengapa sampai saat ini saya selalu gagal dalam menjalin hubungan. Sampai akhirnya datang lelaki yang mau menerima keadaan saya apa adanya, namun lelaki tersebut kebetulan bukan ahli ibadah jarang sholat, suka mabuk dsb. (bahasa kasarnya orang bejat). Apa yang harus saya perbuat ?\ra. Menerimanya dan membiarkan diri saya tunduk patuh dalam perintah orang fasiq\rb. Menolaknya dengan harapan nantinya ada pria yang bisa jadi imam bagi saya\rc. Kalau anda jadi saya, apakah anda lebih memilih menjomblo dari pada nantinya harus patuh kepada orang fasiq ?\rJAWABAN :\r> Hasbie Musyadad Alluthfi\rAlaikum salam...menurut saya begini, semua orang ingin mendapat hal yang terbaik...kita juga tidak tahu siapakah jodoh yang disiapkan Alloh untuk kita apakah baik atau buruk...kita juga tak akan tau Hidayah Alloh akan diberikan kepada siapa...selain itu, kita tidak dapat memposisikan dari qta lebih baik dari yang laen...saran saya...ibadah dengan suami dapat nlai pahala yang bnyak adalah pasti,smentara suami tidak akan dapat hidayah untuk lebih baek adalah tawahum (dugaan) dahulukan yng pasti mengalahkan yang hanya dugaan...bismillah.\r> Rahmat Budi Santosa","part":1,"page":294},{"id":295,"text":"Menikah,hukum asal sunah, namun bisa menjadi wajib, bisa pula menjadi haram, mliht sikon. untuk permasalan anda,,lo mlht dari sifat si lelaki, menikah dngn orang seperti itu bisa menjadi haram.dngn alsan,karena anda mnjatuhkn dan memasukan diri kdalam orng yang fasiq.tp wallohu a'lam,nmny ht manusia sp yang th?Ada baikny anda pikir masak2 dan smbil trs brdoa,brihtiar.brusaha.,,smg Alloh memberi jalan,memberikan seorng yang mampu menjadi imam bwt anda.\r> Abdurrofik Ingin Ridlo Robby\rTergantung sikonnya kalau sekira khawatir akan terpengaruh oleh keada'an suami yang begitu lebih baik mundur aja, saya mau gantikan kok. tetapi kalau skr tidak berpengaruh bhkn bisa mempengaruhi suami tuk lebih baik dalam agamanya maka \" Why not ? \" jalani aja toh semua anugrah Alloh swt.\r> Zaine Elarifine Yahya\rTiada ada yang tahu akhir kehidupannya apakah husnul khotimah ataukah bukan.. Namun umumnya lelaki fasik sulit dibimbing ke arah yang benar.. realistis saja..istikhoroh..dan lakukan apa petunjuk-Nya. semoga mendapat pujaan hatinya yang shalih.. aamiin. Marii menikah..\r> Mbah Godek\r\"Jangan merindukan mentari ditengah pekatnya kegelapan malam , karena penantian itu akan terasa lama sebab pagi yang tak kunjung tiba . . . Tapi , yakinlah bahwa fajar pasti akan menyingsing , baik engkau kehendaki atau tidak .\"\rIntinya sabar dan tawakkal , Alloh lebih mengetahui kapan waktu yang tepat untuk kita . . .Jangan terburu-buru dalam mengambil sebuah keputusan hanya karena waktu yang terkesan lama menghampiri kita . . .","part":1,"page":295},{"id":296,"text":"Percayalah . . . Bahwa Alloh telah mempersiapkan yang terbaik untuk para Hamba_NYA yang optimis . . .\r> Ghufron Bkl\rYa terima saja, karenaa dengan menikah kebaikan (nikah merupakan ibadah/sunah Rosul dan ibadahnya orang yang menikah lebih utama dari pada ibadahnyang orang yang melajang) yang di dapat sudah nyata,sdangkan tunduk pada orang fasiq sbagaimana diatas masih sebatas praduga saja karenaa ada kemungkin dengan menikah dia menjadi insaf. Sebagaimana di tegaskan dalam qoidah fiqhiyah :\r.الخير المحقق لا يترك لمفسدة متوهمة.بغية المسترشدين ص : 364\rKebaikan yang sudah nyata / pasti tidak boleh ditinggalkan karena adanya kejelekan / mafsadah yang masih berupa praduga saja.\rPatuh pada orang fasiq jga tidak masalah selagi tidak berupa perintah ma'shiyat pada ALLAH, kalau perintahnya berupa ma'shiat pada ALLAH maka tidak boleh di patuhi siapapun yang merintah :\r.لا طاعة لمخلوق في معصية الخالق\r> Muhajir Madad Salim\rFadhilah menikah memang besar. Ttp sesungguhnya keadaan smacam ini dikembalikan kpada khaliah masing-masing. Untuk orang lain membujang bahkan lbih baik baginya dibanding berkluarga. Seperti fakir sama kaya itu afdhol mana? Jadi, tidak mutlak. tentang kaadaan anda..sbaiknya tanya hati anda,apakah dengan menikahi lelaki seperti itu kehidupan keagamaan anda semakin baik atau malah sebaliknxa? Istafti qalbak.\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/583276795028466\r2555. BOLEHKAH MENIKAHI ANAK DARI ISTRI AYAHNYA ?\rPERTANYAAN :\rThehasyiem Binhasan","part":1,"page":296},{"id":297,"text":"Zaid punya anak laki-laki. siti punya anak perempuan. kemudian zaid dan siti menikah. Terus bolehkah anaknya zaid dan siti ini dinikahkan juga ?\rJAWABAN :\r> Ghufron Bkl\rAnaknya zaid dengan anaknya siti bukanlah mahrom, maka kedua anak tersebut boleh dinikahkan :\r.والحاصل لا تحرم بنت زوج ألام ولا أمه ولا بنت زوج البنت ولا أمه ولا أم زوجة الأب ولا بنتها ولا أم زوجة الإبن ولا بنتها ولا زوجة الربيب ولا زوجة الراب وهو زوج الأم لأنه يربيه غالبا.إعانة الطالبين 3/292\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/592038944152251\r2617. MAKRUH MENIKAHI ANAK DARI WANITA YANG PERNAH DIZINAI\rPERTANYAAN :\rAkang Sepuh\rAssalamu'alaikum. . Para ustad wal ustadzah. . Ane mau nanya.Gmna hukum nya. Misalkan kita menikahdgn seorang wanita yang ibu nya adalah mantan pacar kita. Sedang kan ibu nya sudah kita jima' tapi di luar nikah. . Boleh apa tidak kita menikahi putrinya.. Saya mohon jawaban nya dari ustadz wal ustadzah. Wasallam.\rJAWABAN :\r> Ghufron Bkl\rWa'alaikumussalaam, menikahi anaknya orang yang pernah dizinai (berhubungan badan di luar nikah) hukumnya sah tapi makruh :\r.ومما يكره من الأنكحة نكاح من لم يحتج الى الوطئ مع فقده الاهبة____ و نكاح الفاسقة وبنت الفاسق. الشرقاوي 2/248قوله و دينة أى نكاح المرأة الدينة التي وجدت فيها صفة العدالة أولى من نكاح الفاسقة ولو بغير نحو الزنا. اعانة الطالبين 3/270\r.ولا يمنع زناه بامرأة نكاحه لها ولا لأمها ولا لبنتها ولو كانت بنتها مخلوقة من ماء زناه إذ لا حرمة لماء الزنا لكن يكره له نكاحها. الشرقاوي 2/219-220\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/578739392148873\r2735. MAKRUH MENIKAHI ORANG YANG PERNAH BERZINA\rPERTANYAAN :\r> Melody Senja","part":1,"page":297},{"id":298,"text":"Assalamu'alaikum wr wb. numpang tanya, apa hukumnya menikah dengan orang yang telah berzina dengan pacarnya di masa lalunya ????? syukron atas jawabannya\rJAWABAN :\r> Masaji Antoro\rWaalaikumsalam wr wb\rوروي عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : ( إذا زنى الرجل خرجمنه الإيمان فكان عليه كالظلة فإذا أقلع رجع إليه الإيمان ) رواه أبو داود واللفظ له\rDiriwayatkan dari Abu Hurairoh ra. Dia berkata : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallama bersabda “Bila seorang lelaki berzina perbuatannya laksana penutup (iman) baginya namun bila dia telah menjauhkan diri dari zina (bertaubat), imannya kembali padanya” (HR AbuDaud).\rوفي رواية للبيهقي قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : ( إن الإيمان سربال يسربله الله من يشاء فإذا زنى العبد نزع منه سربال الإيمان فإن تاب رد عليه )\rDalam sebuah riwayat Imam Baehaqi dikatakan : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallama bersabda “Iman itu laksana gamis/baju yang Allah kenakan pada hambaNya yang dikehendaki, bila seorang berzina lepaslah pakaian tersebut bila dia bertaubat dikembalikan lagi pakaiannya”. (HR. Baehaqi).\rولا يجوز التزوج بالزانية التي اشتهرت بذلك ولا يجوز التزوج من الزاني الذي يتظاهربالفاحشة واشتهر بها إلا إذا ظهرت التوبة الصادقة عليه\r“Tidak boleh menikahi wanita pezina yang sudah dikenal umum perbuatannya, tidak boleh juga menikahi lelaki pezina yang tampak kejelekan dan dikenal umum perbuatannya kecuali bila telah nampak adanya taubat yang benar darinya”. [AlFiqh ‘Alaa Madzaahib al-Arba’ah V/60]. Wallaahu A'lamu Bis Showaab....\r> Ghufron Bkl","part":1,"page":298},{"id":299,"text":"Menikahi orang yang pernah berbuat zina hukumnya boleh / sah tapi makruh, karena dengan berzina ia termasuk kategori orang fasiq :\r.ومما يكره من الأنكحة نكاح من لم يحتج الى الوطئ مع فقده الاهبة____ و نكاح الفاسقة وبنت الفاسق. الشرقاوي 2/248قوله و دينة أى نكاح المرأة الدينة التي وجدت فيها صفة العدالة أولى من نكاح الفاسقة ولو بغير نحو الزنا. اعانة الطالبين 3/270\rJuga bisa dengan ta'bir yang ini :\r.يجوز نكاح الحامل من الزنا سواء الزاني وغيره و وطؤها حينئذ مع الكراهة. بغية المسترشدين ص 201\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/575332409156238\r2745. HUKUM MEMINANG WANITA DALAM MASA 'IDDAH\rPERTANYAAN :\r> SandalKayu HilangSatu\rAssalamu 'alaikum wr wb. Maaf, Santri baru mau tanya. Bolehkah seorang wanita yang sedang menjalani masa 'iddah wafat, menerima pinangan dari seorang laki-laki ?\rJAWABAN :\rJika yang dimaksud adalah prosesi lamaran seperti adat kebiasaan di daerah kita yang biasa dilakukan secara terang-terangan, maka hukumnya haram. Namun jika hanya mengatakan pada si wanita secara kinayah / tersirat yang mengarah ke maksud mengajak untuk menikah, maka boleh.\r> Nabilah Az-Zahrah\rWa'alaikumussalaam, boleh melamar wanita yang sedang menjalankan iddah krena ditinggal wafat suaminya atau ditalak tiga suaminya, tapi secara ta'ridh (kiasan, tersirat tidak blakblakan secara langsung).\rFashlun fi at ta'riidli fi al khitbati bilmu'taddati : wa yajuzu at ta'ridlu bi khitbati al mu'taddati 'an al wafaati,wa at tholaaqi ats tsalaatsi-ila an qola-wa yahrumu at tashriihu bil khitbati..... [ al muhadzzab juz 2 sho 54 ].\r> Epang Omar Ali","part":1,"page":299},{"id":300,"text":"Yang haram itu melamar karena dinamakan tashriih, kalo hanya rasan-rasan lewat kerabatnya atau tetangganya maka dibolehkan karena itu dinamakan ta'riidl, mugkin begini maksud 'ibaroh tersebut Ning Zahra, Afwan.\rSedang ta'riidl adalah bentuk kinayah seperti ucapan: ada laki-laki yang menyukaimu smg saja dia kebaikan padamu, contoh shorih (haram): jika iddahmu tlah tuntas,maka aku akan mengawinimu,.\rAl hashil, tashriih adalah mengajak nikah dengan bahasa kawin/nikah beda dengan ta'riidl yang hanya sebatas kinayah atau majaz atau tidak menggunakan bhs kawin/nikah. Wa-Llôhu a'lam. Intaha majmu' syarh muhadzdzab 17/430.\r> Nabilah Az-Zahrah\rSebenarnya di kitab abu syuja' masalah tashrih dan ta'ridl sudah dijelaskan secara gamblang. mushonif menjelaskan bhwa tidak boleh bagi orang yang melamar wanita yang dalam iddah krena wafat, ditalaq 3 atau roj'i mengkhitbah dng mengatakan dng tashrih (lafal/shighot yang menunjukan keinginan untk menikah/shorih) seperti : \"aku ingin menikahimu\", namun boleh melamar wanita yang tidak dalam iddah krn tholaq roj'i dng ta'ridl (lafal yang tidak menunjukkan keinginan untuk menikah namun memuat maksud untuk menikah/kinayah) dan akan menikahinya setelah iddahnya selesai, seperti : suka dengan mu.\rTashrrih : lafal yang menunjukan keinginan untk menikah atau shorih.\rTa'ridl : lafal yang tidak menunjukan keinginan untk menikah namun maksudnya untk menikahinya atau kinayah. [matnu abi syuja' juz 2 sho 253].\r> SandalKayu HilangSatu","part":1,"page":300},{"id":301,"text":"Pemahaman saya: yang namanya meminang/khitbah yang berlaku di masyarakat kita lebih condong ke TASHRIH. Sebab istilah melamar/meminang biasanya berlangsung formal antar 2 keluarga.\r> Ghufron Bkl\rMeminang wanita dalam masa iddah wafat hukumnya harom bila secara shorih/ jelas, dan boleh bila secara kinayah/ ta'ridl. :\r.فروع : يحرم التصريح بخطبة المعتدة من غيره رجعية كانت أو بائنا بطلاق أو فسخ أو موت و يجوز التعريض بها في عدة غير رجعية وهو كأنت جميلة و رب راغب فيك. إعانة الطالبين 3/267-268\rTa'bir dari neng Nabilah Az- Zahrah :\rولا يجوز أن يصرح بخطبة معتدة عن وفاة أو طلاق بائن أو رجعي والتصريح ما يقطع بالرغبة في النكاح كقوله للمعتدة أريد نكاحك و يجوز إن لم تكن المعتدة عن طلاق رجعي أن يعرض لها بالخطبة وينكحها بعد انقضاء عدتها والتعريض ما لا يقطع بالرغبة في النكاح بل يحتملها كقول الخاطب للمرأة رب راغب فيك. قوله ولا يجوز أن يصرح بخطبة معتدة أى فيحرم التصريح بخطبتها ولا يصح العقد المرتب عليها إن وقع قبل انقضاء العدة فإن وقع بعد انقضاء العدة فهو صحيح. الباجوري 2/107\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/614953045194174/\r2842. HUKUM JALAN-JALAN BERDUAAN BERSAMA TUNANGAN\rPERTANYAAN :\r> Ulfa Vitalisa Sweet\rAssalamualaikum. Bolehkah perempuan jalan-jalan sama tunangan ? (wanita yang sudah dilamar tapi belum nikah)\rJAWABAN\r> Wes Qie\rTidak diperbolehkan membawa tunangannya jalan-jalan walaupun aman dari fitnah, karena statusnya masih ajnabiyyah, ini sesuai dengan sabda Rosul saw :\r« ألا لا يخلون رجل بامرأة إلا كان ثالثهما الشيطان ».\rALAA LAA YAKHLUANNA ROJULUN BIMROATINILLAA KAANA TSAALITSUHUMAASY SYAITHOONA.","part":1,"page":301},{"id":302,"text":"Tidak boleh bagi seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan yang mana syetan menjadi orang ketiga oleh sebab itu tidak boleh bagi calon suami menyentuh wajah dan kedua telapak tangan calaon istrinya walaupun aman dari fitnah.\rLihat AL MAUSUU'AH FIQHIYYAH KUWAITIYYAH : 29/202 :\rلا يجوز للخاطب أن يمس وجه المخطوبة ولا كفيها وإن أمن الشهوة ، لما في المس من زيادة المباشرة ، ولوجود الحرمة وانعدام الضرورة والبلوى .\rLAA YAJUUZU LILKHOOTHIBI ANYAMUSSAWAJHAL MAKHTHUUBTI WALAA KAFFAIHAAWAIN AMINASY SYAHWATA LIMAA FIL MASSIMIN ZIYAADATIL MUBAASYAROTIWALIWUJUUDIL CHURMATI WAN'IDAAMIDDHORUUROTI WAL BALWA.\rالخلوة بالمخطوبة : لا يجوز خلوة الخاطب بالمخطوبة للنظر ولا لغيره لأنها محرمة ولم يرد الشرع بغير النظر فبقيت على التحريم ، ولأنه لا يؤمن من الخلوة الوقوع في المحظور .فإن النبي صلى الله عليه وسلم قال : « ألا لا يخلون رجل بامرأة إلا كان ثالثهما الشيطان ».\rAL KHOLWATA BILMAKHTHUUBATI : LAA YAJUUZU KHOLWATULKHOOTIBI BIL MAKHTHUUBATI LINNADZORIWALAA LIGHOIRIHI LIANNAHAAMUCHARROMATUN WALAM YARIDISY SYAR'UBIGHOIRIN NADZORI FABAQIYAT 'ALATTACHRIIMI WALIANNAHU YU'MANU MINALKHOLWATIL WUQUU'A FILMACHDZUURIFAINNAN NABIYYA SAW QOOLA ALAA LAAYAKHLUANNA ROJULUN BIMROATIN ILLAAKAANA TSAALITSUHUMASY SYAITHOONA.\r[http://islamport.com/d/2/fqh/1/35/824.html].\rLink Asal :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/461251027279591\rSumber :\rhttp://fiqhsalafiyyach.blogspot.com/2013/02/hukum-jalan-jalan-berduaan-sama-tunangan.html?m=1\r2900. HUKUM MENIKAHI WANITA YANG MENYUSUI ADIK KANDUNG CALON SUAMI\rPERTANYAAN :\r> Ari Rifki","part":1,"page":302},{"id":303,"text":"Assalamu alaikum, Santri baru mau tanya nih, Bagaimana hukumya seorang kakak yang menikahi wanita yang pernah menyusui adik kandung (calon suami) nya ? Terimakasih.\rJAWABAN :\r> Rampak Naung\rWa'alaikumussalaam, boleh saja, karena ibu saudaramu atau ibu saudarimu dari rodho', tidak haram bagimu. [Albajuri, 2/112]. Ibunya saja boleh apalagi putrinya...\rالباجوري - 112= 2\rفأم أخيك أوأختك من الرضاع لاتحرم عليك\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/693034340719377\r2927. MENIKAHI SAUDARANYA MANTAN ISTRI\rPERTANYAAN :\r> Adam Tangguh\rTukeran bini yang adik kakak ba'da talak, bolehkah?? Misal : Si A beristri Zainab dan si B beristri Hindun (Zainab dan Hindun adalah adik kakak) Keduanya bercerai dan setelah iddah Si A nikah dengan Hindun dan si B nikah dengan Zainab\rJAWABAN :\r> Ghufron Bkl\rNikahy si A dgn Hindun dan si B dgn Zainab hukumy sah dgn syarat bila berupa cerai roj'i si A ato si B boleh menikah dgn saudara mantan istriy setelah habis masa iddahy cerai roj'i. :\rو واحدة حرمتها لا على التأبيد بل من جهة الجمع فقط وهي أخت الزوجة فلا يجمع بينها و بين أختها من أب أو أم و بينهما نسب أو رضاع و لو رضيت أختها بالجمع______فلا يتأبد تحريمها بل يحرم جمعها مع الزوجة في العصمة فقط فتحل بموت الزوجة أو بينونتها بخلاف مالو طلقها طلاقا رجعيا فلا يحل نحو أختها ما دامت في العدة لأن الرجعية في حكم الزوجة. الباجوري 2/114\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/709920952364049/\r3008. KEBOLEHAN WANITA AWAM MENAWARKAN DIRI UNTUK DINIKAHI ORANG SHOLEH\rPERTANYAAN :","part":1,"page":303},{"id":304,"text":"Assalamu'alaikum. Mohon maaf saya langsung post disini, kemarin ada temen bilang kata nya kalo wanita awam menawarkan diri untuk dinikahkan sama seorang ustadz boleh ya...? [ Zanzanti Yanti Andeslo ]\rJAWABAN :\r> Hariz Jaya\rPada zaman Rasulullah, wanita muslimah terbiasa menawarkan dirinya untuk dinikahi oleh laki-laki yang shaleh. Namun untuk menghindari fitnah, sebaiknya cara ini ditempuh dengan menggunakan perantara. Yakni melalui orang-orang yang amanah dan bisa dipercaya. Maka dibolehkannya wanita menawarkan diri kepada laki-laki yang sholeh karena menyukai kesholehannya. Sebagaimana Siti Khatijah yang menghitbahkan dirinya kepada Rasulullah melalui pamannya. Dan pada masa sekarang dan yang akan datang, tetap boleh neng yanti....untuk menghindari fitnah maka diwakilkan pada orang yang beramanah ( misalnya seperti tokoh masyarakat...atau pamannya sendiri...atau ustadz...atau ustadzah.....) agar menyampaikan maksud dan tujuannya si wanita tersebut pada laki-laki yang shaleh.\rLihat Kitab Fathul Bari Juz 9 Halaman 175 :","part":1,"page":304},{"id":305,"text":"البخاري أنه لما علم الخصوصية في قصة الواهبة استنبط من الحديث ما لا خصوصية فيه وهو جواز عرض المرأة نفسها على الرجل الصالح رغبة في صلاحه فيجوز لها ذلك، وإذا رغب فيها تزوجها بشرطه. قوله: \"حدثنا مرحوم\" زاد أبو ذر \"ابن عبد العزيز بن مهران\" وهو بصري مولى آل أبي سفيان ثقة مات سنة سبع وثمانين ومائة، وليس له في البخاري سوى هذا الحديث، وقد أورده عنه في كتاب الأدب أيضا، وذكر البزار أنه تفرد به عن ثابت. قوله: \"وعنده ابنة له\" لم أقف على اسمها وأظنها أمينة بالتصغير. قوله: \"جاءت امرأة\" لم أقف على تعينها، وأشبه من رأيت بقصتها ممن تقدم ذكر اسمهن في الواهبات ليلى بنت قيس بن الخطيم، ويظهر لي أن صاحبة هذه القصة غير التي في حديث سهل. قوله: \"واسوأتاه\" أصل السوءة - وهي بفتح المهملة وسكون الواو بعدها همزة - الفعلة القبيحة، وتطلق على الفرج، والمراد هنا الأول، والألف للندبة والهاء للسكت. ذكر المصنف حديث سهل بن سعد في قصة الواهبة مطولا، وسيأتي شرحه بعد ستة عشر بابا، وفي الحديثين جواز عرض المرأة نفسها على الرجل وتعريفه رغبتها فيه وأن لا غضاضة عليها في ذلك، وأن الذي تعرض المرأة نفسها عليه بالاختيار لكن لا ينبغي أن يصرح لها بالرد بل يكفي السكوت. وقال المهلب: فيه أن على الرجل أن ينكحها إلا إذا وجد في نفسه رغبة فيها، ولذلك صعد النظر فيها وصوبه انتهى. وليس في القصة دلالة لما ذكره قال: وفيه جواز سكوت العالم ومن سئل حاجة إذا لم يرد الإسعاف","part":1,"page":305},{"id":306,"text":"حدثنا سعيد بن أبي مريم حدثنا أبو غسان قال حدثني أبو حازم عن سهل : أن امرأة عرضت نفسها على النبي صلى الله عليه و سلم فقال له رجل يا رسول الله زوجنيها فقال ( ما عندك ) . قال ما عندي شيء قال ( اذهب فالتمس ولوخاتم من حديد ) . فذهب ثم رجع فقال لا والله ما وجدت شيئا ولا خاتما من حديد ولكن هذا إزاري ولها نصفه قال سهل ما له رداء فقال النبي صلى الله عليه و سلم ( وما تصنع بإزارك إن لبسته لم يكن عليها منه شيء وإن لبسته لم يكن عليك منه شيء ) . فجلس الرجل حتى إذا طال مجلسه قام فرآه النبي صلى الله عليه و سلم فدعاه أودعي له فقال له ( ماذا معك من القرآن ) . فقال معي سورة كذا وسورة كذا لسور يعددها فقال النبي صلى الله عليه و سلم ( أملكناكها بما معك من القرآن )","part":1,"page":306},{"id":307,"text":"Artinya : Telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Abu Maryam Telah menceritakan kepada kami Abu Ghassan ia berkata; Telah menceritakan kepadaku Abu Hazim dari Sahl bin Sa'd bahwasanya; Ada seorang wanita menawarkan dan menghibahkan dirinya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, lalu seorang laki-laki pun berkata pada beliau, Wahai Rasulullah, nikahkanlah aku dengannya. Beliau bertanya, Apa yang kamu punyai? laki-laki itu menjawab, Aku tidak punya apa-apa. Beliau bersabda: Pergi dan carilah meskipun hanya cincin besi. Maka laki-laki itu pun pergi, kemudian kembali dan berkata, Tidak, demi Allah aku mendapatkan sesuatu apa pun, kecuali sarungku ini, biarlah wanita itu mendapat setengahnya. Sahl berkata; Laki-laki itu tidak memiliki baju atas. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Apa yang dapat kamu perbuat dengan kainmu itu. Jika kamu memakainya, maka badanmu tidak tertutup, dan bila nanti isterimu memakainya, badan atasnya juga tak tertutup. Akhinya laki-laki itu pun duduk hingga agak lama, lalu beranjak. Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melihatnya, maka beliau pun memanggilnya -atau dipanggilkan untuknya- lalu bertanya padanya: Apa saja yang telah kamu hafal dari Al Qur`an? laki-laki itu menjawab, Aku hafal surat ini dan ini. Ia menghitungnya. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pun bersabda: Kami telah menikahkanmu dengan wanita itu dengan mahar hafalan Al Qur`anmu. (HR. Bukhori No. 4829 Juz 5 Halaman 1968).","part":1,"page":307},{"id":308,"text":"حدثنا علي بن عبد الله حدثنا مرحوم قال سمعت ثابتا البناني قال كنت عند أنس وعنده ابنة له قال أنس : جاءت امرأة إلى رسول الله صلى الله عليه و سلم تعرض عليه نفسها قالت يا رسول الله ألك بي حاجة ؟ فقالت بنت أنس ما أقل حياءك واسوأتاه واسوأتاه قال هي خير منك رغبت في النبي صلى الله عليه و سلم فعرضت عليه نفسها\rArtinya : Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah Telah menceritakan kepada kami Marhum bin Abdul Aziz bin Mihran ia berkata; Aku mendengar Tsabit Al Bunani berkata; Aku pernah berada di tempat Anas, sedang ia memiliki anak wanita. Anas berkata, Ada seorang wanita datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lalu menghibahkan dirinya kepada beliau. Wanita itu berkata, 'Wahai Rasulullah, adakah Anda berhasrat padaku? lalu anak wanita Anas pun berkomentar, Alangkah sedikitnya rasa malunya.. Anas berkata, Wanita lebih baik daripada kamu, sebab ia suka pada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, hingga ia menghibahkan dirinya pada beliau. (HR. Bukhori No. 4828 Juz 5 Halaman 1967).\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/mujaawib.pissktb/permalink/549738918445658/\rwww.fb.com/notes/747112235311587\r3043. HUKUM ORANG TUA TIDAK MAU MENIKAHKAN ANAKNYA\rPERTANYAAN:\r> Yaser Arafatah\rAssalamu'alikum. Bagaimana hukum bila ada orang tua menolak permintaan anaknya untuk menikah sedang sang anak sudah cukup syarat, dengan alasan orang tua sudah suruh menunggu saudara yang lebih tua ?\rJAWABAN :\r> Ghufron Bkl\rعن أبي سعيد وابن عباس رضي الله عنهم قالا: قال رسول الله (ص): من ولد له ولد فليحسن اسمه وأدبه، وإذا بلغ فليزوجه، فإن بلغ ولم يزوجه فأصاب إثما فإنما إثمه على أبيه : اعانة الطالبين 3/254 :","part":1,"page":308},{"id":309,"text":"Rosulullah berssabda : Barang siapa yang terlahir atasnya seorang anak, maka baguskanlah nama dan adabnya, dan jika telah baligh maka nikahkanlah. maka jika telah baligh dan belum dinikahkan ketika si anak melakukan satu dosa, maka dosanya ditanggung oleh bapaknya\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/764516750237802/\r3061. HUKUM PERNIKAHAN ANAK KECIL\rPERTANYAAN :\r> Raden Wisanggeni\rAssalamu'alaikum, ada seorang yang sudah berkeluarga mempunyai anak laki-laki kecil usia 5 tahun, dia juga punya pembantu perempuan yang berusia 17 tahun, karena khawatir agar tidak timbul fitnah maka si ayah tersebut menikahkan / mengaqidkan pembantunya dengan anaknya. Apakah pernikahannya sah ? dan apakah si anak / si ayah bisa menjatuhkan cerai pada pembantu tersebut, karena si pembantu mau nikah dengan orang lain ? apakah harus menunggu balighnya anak tersebut ?\rJAWABAN :\r> Toni Imam Tontowi\rTerdapat khilaf :\r1.…Anak laki laki yang dinikahkan oleh ayahnya ataupun kakeknya (bukan yang lain) menurut Asy-Syarbini dalam Mughnil Muhtaj hukumnya sah, namun setelah dewasa si anak diberikan hak untuk memilih antara meneruskan pernikahan itu atau tidak seperti pendapat dalam kitab Roudloh.\r2.…Sedang menurut Al-Adzro'i tidak sah.\r- Mughnil Muhtaj III / 211 Darr El-Fikr Beirut :","part":1,"page":309},{"id":310,"text":"ـ (ويجوز) للأب أن يزوج الصغير (من لا تكافئه بباقي الخصال) المعتبرة في الكفاءة كنسب وحرفة؛ لأن الرجل لا يعيّر بافتراش من لا تكافئه. نعم يثبت الخيار إذا بلغ كما اقتضاه كلام الشرح والروضة هنا، وإن نازع في ذلك الأذرعي؛ فقد صرحا به أول الخيار حيث قالا: ولو زوج الصغير من لا تكافئه وصححناه فله الخيار إذا بلغ. والثاني: لا يصح ذلك؛ لأنه قد لا يكون فيه غبطة ـ اهـ مغنى المحتاج للشربينى ج 3 ص 211 مكتبة دار الفكر بيروت\r> Makdi Kariba\r. الفقه الإسلامي الجزء التاسع صحـ171\rالمبحث الأول أهلية الزوجين: يرى ابن شبرمة وأبو بكر الأصم وعثمان البتي رحمهم الله أنه لا يزوج الصغير والصغيرة حتى يبلغا لقوله تعالى:(حتى إذا بلغوا النكاح) (النساء:6/) فلو جاز التزويج قبل البلوغ لم يكن لهذا فائدة ولأنه لا حاجة بهما إلى النكاح ورأى ابن حزم أنه يجوز تزويج الصغيرة عملاً بالآثار المروية في ذلك. أما تزويج الصغير فباطل حتى يبلغ، وإذا وقع فهو مفسوخ (1) ولم يشترط جمهور الفقهاء لانعقاد الزواج: البلوغ والعقل وقالوا بصحة زواج الصغير والمجنون.\r> Jaka Perkasza\rBoleh bapak menikahkan anaknya yang masih kecil dg orang yang tidak kufu / sepadan dengan beberapa hal; seperti nasab, dan pekerjaan, dan baginya boleh memilih apa meneruskan atau tidak jika dia sudah balig, ini pendapat ashoh .\rويجوز للاب ان يزوج الصغير من لا تكافئه بباقى الخصال كنسب وحرفة ويثبت له الخيار اذا بلغ في الاصح ومقا بله لايجوز:اه السراج الوهاج للامام شرف الدين يحي النواوي\rPara ulama' dari empat madzhab sepakat mengenai kebolehannya perkawinan anak laki-laki yang msh kecil dg perempuan yang msh kecil pula,apabila akadnya di lakukan oleh walinya.tetapi ulama berbeda pendapat mengenai ke adaan walinya.","part":1,"page":310},{"id":311,"text":"1. Abu Hanifah berpendapat bahwa perkawinan anak2 boleh.setiap wali, baik yang dekat maupun yang jauh dpt jadi wali anak perempuan yang msh kecil dg anak lk2 yang juga msh kecil.wali ayah atau kakek lebih di utamakan,karena akadnya berlaku dg pilihan kedua anak tersebut setelah keduanya dewasa. dan apabila akadnya di lakukan bukan ayah dan kakeknya misalnya saudaranya atau pamannya maka kedua anak tersebut harus memilih untuk terus atau membatalkan perkawinan setelah dewasa.\r2. Imam Assyafi'i berpendapat bahwa perkawinan anak yang msh kecil itu di perbolehkan seperti pendapat abu hanifah.tetapi yang berhak menikahkan hanya ayah dan kakeknya.bila ayah dan kakek tidak ada tidak bisa pindah pada wali lainnya.\r3. Imam Malik berpendapat bahwa pernikahan anak laki-laki yang masih kecil dan perempuan yang msh kecil hanya bisa di laksanakan ayahnya sendiri apabila msh hidup dan jika sudah meninggal nikahnya dilaksanakan menurut wasiatnya, karena sebagai penghormatan pada keinginan ayahnya.\r4. Imam Ahmad bin hanbal berpendapat ; yang bisa menikahkan anak yang msh kecil hanya ayahnya, yang lain tidak .\rالمغني ج 9 ص415-417\rمسألة:ومن زوج غلاما غير بالغ او معتوها,لم يجز الا ان يزوج والده او وصيه ناظر له في النزويج الكلام في هذه المسألة في فصول اربعة","part":1,"page":311},{"id":312,"text":"احدها أنه ليس لغير الاب أوصيهتزويج الغلام قبل بلوغه. وقال القاضى في المجرد للحاكم تزويجه لأنه يلي ماله: وقال الشافعي:يملك ولي الصبي تزويجه, ليألف حفظ فرجه عند بلوغه. وليس بسديد, فان غير الاب لا يملك تزويج الجارية الصغيرة, فالغلام أولى.وفارق الاب ووصيه, فان لهما تزويج الصغيرة, وولاية الاجبار. وسواء أذن الغلام في تزويجه أو لم يأذن,فانه لا اذن له.\rالفصل الثاني ان المعتوه, وهو الزائل العقل بجنون مطبق,ليس لغير الاب ووصيه تزويجه. وهذا قول مالك: وقال ابو عبد الله ابن حامد للحاكم تزويجه اذا ظهر منه شهوة النساء, بأن يتبعهن ويريدهن, وهذا مذهب الشافعي, لأن ذلك من مصالحه, وليس له حال ينتظر فيها اذنه. وقد ذكرنا توجيه الوجهين في تزويج المجنونة. وينبغي علي هذا القول أنيجوز تزويجه اذا قال اهل الطب : ان في تزويجه ذهاب علته. لأنه من اعظم مصالحه. والله اعلم\rالفصل الثالث: أن للاب أو وصيه تزويجهما, سواء كان الغلام عاقلا أو مجنونا, وسواء كان الجنون مستداما أو طارقا, فأ ما الغلام السالم من الجنون, فلا نعلم بين أهل العلم خلافا في ان لابيه تزويجه, كذالك قال ابن المنذير . وممن هذا مذهبه الحسنو والزهري, وقتادةو ومالك, والثوري, والشافعي, وأصحاب الرأي: لما روي ان ابن عمر زوج ابنه وهو الصغير, فاختصما الي زيد فأجا زاه جميعا,رواه الاثرم باسناده الي اخر فصل الرابع\rوانظر فقه السنة للشيخ السيد سابق ج 2 ص116-117-\rوانظر مذاهب الاربعة سواء\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/758766757479468/\r3138. HUKUM KHITBAH TANPA SEPENGETAHUAN WALI\rPERTANYAAN :\r> Uswatun Hasanatul Ulum\rAssalamualaikum... mau tanya nih temen-temen, Bagaimana sih hukumnya wanita dikhitbah tanpa sepengetahuan walinya ?? Syukron\rJAWABAN :\r> Hariz Jaya","part":1,"page":312},{"id":313,"text":"Wa alaikumus salaam warohmatulloh. Khitbah adalah permintaan menikah dari pihak laki-laki yang melamar kepada perempuan yang akan di-khitbah atau pada wali perempuan tersebut.\r(مغنى مهتاج، ج 3 ص 135).\rالخطبة وهي بكسر الخاء التماس الخاطب النكاح من جهة المخطوبة ( تحل خطبة خلية عن نكاح و ) عن ( عدة ) وكل مانع من موانع النكاح وأن لا يسبقه غيره بالخطبة ويجاب تعريضا وتصريحا كما تحرم خطبة منكوحة كذلك إجماعا فيهما ويستثنى من مفهوم كلامه المعتدة عن وطء الشبهة فإن الأصح القطع بجواز خطبتها ممن له العدة مع عدم خلوها عن العدة\rDari pengertian khitbah diatas maka dapat disimpulkan bahwa seorang laki laki hukumnya boleh melakukan khitbah secara langsung kepada si perempuan tanpa melalui wali si wanita tersebut. Namun agar tidak mengurangi rasa hormat dan bakti anak pada orang tua maka langsung memberitahukan pada orang tuanya bahwa dirinya telah dikhitbah dan telah memberikan jawaban pada si laki laki tersebut.\rDan seorang laki laki hukumnya juga boleh melakukan khitbah melalui wali si wanita yang ingin dilamarnya. Tapi agar tidak ada rasa terpaksa dan dipaksa maka orang tua dianjurkan minta idzin terlebih dulu pada anak gadisnya atas seorang laki-laki yang mengkhitbah tersebut.\rMaka dari itu, di antara salah satu khitbah di atas dibolehkan secara syar'i.\rعن ابى هريرة ان النبى صلى الله عليه وسلم، قال: لاتنكح الأيم حتى تستأمرو لاتنكح البكر حتى تستأذن، قالوا: يارسول الله وكيف اذنها؟ قال ان تسكت.","part":1,"page":313},{"id":314,"text":"Artinya : Dari Abu Hurairah rodhiyallohu anhu bahwasannya Nabi shollallohu alaihi wasallam bersabda: \"Janda tidak bisa dinikahkan sehingga ia diminta persetujuan dan gadis tidak bisa dinikahkan shg ia diminta izinnya, para sahabat bertanya, wahai Rasulullah, bagaimana (tanda) izin itu? Beliau bersabda, bila gadis itu diam. (HR. Muslim). Wallahu a'lam bis showab.\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/722014221154722/\r3142. INILAH MAKSUD DARI MAMPU MENIKAH\rPERTANYAAN :\r> Adzim Nayla\rAssalaamu alaikum. Yang dimaksud perintah menikah bagi laki-laki kalau sudah mampu maka bersegeralah menikah, yang dimaksud mampu dalam artian apa ?\rJAWABAN :\r> Ghufron Bkl\rWa alaikumus salaam warohmatulloh. Maksud mampu dalam nikah adalah mampu untuk membayar mahar yang kontan dan menafkahi istri pada hari pernikahan dan malam harinya.\rسبل السلام 3/109\r: .يا معشر الشباب من استطاع منكم الباءة فليتزوج فإنه أغض للبصر وأحصن للفرج ومن لم يستطع فعليه بالصوم فإنه له وجاء. متفق عليه____\rو اختلف العلماء في المراد بالباءة والأصح أن المراد بها الجماع فتقديره : من استطاع منكم الجماع لقدرته على مؤنة النكاح فليتزوج.\rالباجوري 2/92\rو النكاح مستحب لمن يحتاج اليه بتوقانه للوطء و يجد أهبته كمهر و نفقة فإن فقد الأهبة لم يستحب له النكاح___ والمراد بالمهر الحال منه و بالنفقة نفقة يوم النكاح و ليلته وبالكسوة كسوة فصل التمكين____والباءة بالمد مؤن النكاح.\r> Hariz Jaya","part":1,"page":314},{"id":315,"text":"Imam Nawawi mengatakan bahwa para ulama berbeda pendapat mengenai maksud dari kata Ba'ah dalam hadits tersebut. Sebagian ulama mengatakan bahwa yang dimaksud Ba'ah di sini adalah maknanya secara bahasa, yaitu jima'. Jadi bunyi hadits tersebut menjadi, \"Barangsiapa di antara kalian telah mampu berjima', hendaklah ia menikah. Barangsiapa belum mampu berjima', hendaklah ia berpuasa untuk menahan syahwat dan air maninya, sebagaimana tameng yang menahan serangan\". Jika yang dimaksud Ba'ah adalah jima', maka objek dari hadits tersebut adalah para pemuda yang memiliki hasrat yang besar terhadap lawan jenisnya.\rPendapat kedua mengatakan bahwa yang dimaksud Ba'ah adalah kemampuan seseorang untuk memberikan nafkah dan keperluan pernikahan. Jadi, bunyi haditsnya menjadi, \"Barangsiapa di antara kalian telah mampu memberikan nafkah dan keperluan pernikahan, hendaklah ia menikah. Barangsiapa belum mampu memberikan nafkah dan keperluan pernikahan, hendaklah ia berpuasa untuk menahan syahwatnya\". Lihat Kitab Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim Juz 9 Halaman 173 :","part":1,"page":315},{"id":316,"text":"الباة بلا مد والثالثة الباء بالمد بلا هاء والرابعة الباهة بهاءين بلا مد وأصلها في اللغة الجماع مشتقة من المباءة وهي المنزل ومنه مباءة الابل وهي مواطنها ثم قيل لعقد النكاح باءة لأن من تزوج امرأة بوأها منزلا واختلف العلماء في المراد بالباءة هنا على قولين يرجعان إلى معنى واحد أصحهما أن المراد معناها اللغوي وهو الجماع فتقديره من استطاع منكم الجماع لقدرته على مؤنه وهي مؤن النكاح فليتزوج ومن لم يستطع الجماع لعجزه عن مؤنه فعليه بالصوم ليدفع شهوته ويقطع شر منيه كما يقطعه الوجاء وعلى هذا القول وقع الخطاب مع الشبان الذين هم مظنه شهوة النساء ولا ينفكون عنها غالبا والقول الثاني أن المراد هنا بالباءة مؤن النكاح سميت باسم ما يلازمها وتقديره من استطاع منكم مؤن النكاح فليتزوج ومن لم يستطعها فليصم ليدفع شهوته والذي حمل القائلين بهذا على هذا أنهم قالوا قوله صلى الله عليه و سلم ومن لم يستطع فعليه بالصوم قالوا والعاجز عن الجماع لا يحتاج إلى الصوم لدفع الشهوة فوجب تأويل الباءة على المؤن وأجاب الأولون بما قدمناه في القول الأول وهو أن تقديره من لم يستطع الجماع لعجزه عن مؤنه وهو محتاج إلى الجماع فعليه بالصوم والله أعلم\rBa'ah secara bahasa berarti jima' (bersenggama), kemudian di pakai untuk menyatakan akad nikah dari mahar dan nafkah. LIHAT KITAB TAUDIHUL AHKAM MIN BULUGHUL MARAM BAB NIKAH HALAMAN 214 :\rالباءة: فيه اربع لغات، المشهور منها هو المد وتاء التأنيث، والمعنى اللغوى للباءة: هو الجماع، ولكن المراد هنا مؤذن النكاح من المهر والنفقة. والمعنى: من استطاع منكم اسباب الجماع ومؤنه فليتزوج.\rWallohu a'lam bis showab\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/717159251640219/\r3143. HUKUM MENIKAHI ANAK TIRI\rPERTANYAAN :\r> Adib Al Wonowosi","part":1,"page":316},{"id":317,"text":"Assalaamu'alaikumu ustad dan ustadzah, Aku mau tanya gimana hukumnya kita menikahi anak tiri kita, sedangkan istri kita / ibunya anak tiri kita sudah meninggal, itu hukumnya gimana ?\rJAWABAN :\r> Ghufron Bkl\rWa alikumus salaam warohmatulloh, menikahi anak tiri (anaknya mantan istri) hukumya tidak boleh bila ibunya anak tersebut sudah dijima', bila belum di-jima' hukumya boleh menikahinya. :\rالباجوري 2/112\r.و المحرمات بالنص أربع بالمصاهرة و هن أم الزوجة و إن علت أمها سواء من نسب أو رضاع سواء وقع دخول الزوج بالزوجة أم لا و الربيبة أى بنت الزوجة إذا دخل بالأم.\r> Izal Ya Fahri\rJawaban yang sama dengan pak ghufron, yaitu boleh jika ibunya belum di-jima'. Lihat Fathul Mu'in juz 3 hlm 291-293 :\r(وكذا فصلها) أي الزوجة بنسبٍ أو رِضاعٍ ولو بواسِطةٍ سِواءَ بِنتَ ابنها وبنت ابنتها وإن سَفُلَت (إن دخل بها) بأن وَطِئَها ولو في الدُّبُر وإن كانَ العَقْدُ فاسِداً، وإنْ لم يَطَأها لم تَحْرم بِنْتَها بخلاف أمِّها. ولا تَحْرُم بنْتُ زوْج الأُمِّ ولا أم زوجَةِ الأب والابْنِ. ومَن وَطِىءَ امْرأةً بِمُلْكٍ أو شُبْهَةٍ منه كأنه وَطِىءَ بفاسِدِ نكاحٍ أو شِراءٍ أو بِظَنِّ زوجة حرُم عليه أمَّهاتُها وبناتُها وحَرمِّت على آبائه وأبنائه لأنَّ الوَطْءَ بِمُلْكِ اليَمين نازِلٌ بمَنْزِلة عقد النّكاح وبشبهة يثبُتُ النَّسب والعِدَّة لاحْتِمالِ حَمْلِها منه سواء أوْجد مِنْها شُبْهة أيضاً أم لا لكن يَحْرُم على الواطِىءِ بِشُبْهَةِ نَظَر أم الموْطُوءة وبنتها ومَسَّهما.\rWallohu a'lam bis showab\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/717182551637889/\r3169. APAKAH MENOLAK PERJODOHAN ORANG TUA ITU DURHAKA ?\rPERTANYAAN :","part":1,"page":317},{"id":318,"text":"Permisi, numpang tanya melawan perintah Ortu kan dosa ? lantas jika menolak dijodohkan itu bagaimana ? Sedangkan seorang Anak Punya Hak Untuk MenoLak. [ Putri Ratna IL ]\rJAWABAN :\r> Saifuddin Wong Kawool Tulungagung\rSeorang anak (dengan syarat tertentu) berhak menolak namun tidak punya hak melawan orang tua, jadi jika Anda (seorang perawan) menolak dijodohkan namun wali Anda tetep menikahkan (dengan persyaratan tertentu), Akad nikah tetap bisa berlangsung, dan sebaliknya jika Anda menerima pinangan namun wali anda menolaknya, Akad nikah tidak akan bisa berlangsung dan Anda tidak jadi nikah, kan ada wali hakim ? untuk menggunakan wali hakim membutuhkan syarat-syarat tertentu yang tidak mudah, sehingga secara umum tidak sah apabila masih ada wali yang lebih berhak.\r> Ghufron Bkl\rAnak yang menolak perjodohan orang tuanya tidak dikatakan durhaka pada orang tuanya. :\r.فصل ليس للوالدين إلزام الولد بنكاح من لا يريد قال الشيخ تقي الدين رحمه الله تعالى أنه ليس لأحد الأبوين أن يلزم الولد بنكاح من لا يريد وإنه إذا امتنع لا يكون عاقا. الأدب الشرعية 1/335\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/720799131276231/\rwww.fb.com/notes/778266012196209\rLINK TERKAIT :\rwww.piss-ktb.com/2012/02/969-bolehkah-menolak-perjodohan-dari.html?m=1\r3254. HUKUM KHITBAH DISERTAI TUKAR CINCIN\rPERTANYAAN :\r> Muhammad El Andalusy\rAssalamu'alaikum..bagaimana tata cara tunangan yang berdasarkan syara'.. dan bagaimanakah hukum tunangan.di jaman sekarang dengan saling memakaikan cincin.pertunangan ? nuwwun..ditungu referensinya...\rJAWABAN :\r> Ical Rizaldysantrialit","part":1,"page":318},{"id":319,"text":"Seorang lelaki tidak boleh mengenakan emas baik berupa cincin atau perhiasan yang lain dalam keadaan apapun. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengharamkan emas atas kaum laki-laki umat ini. Dan beliau melihat seorang lelaki yang mengenakan cincin emas di tangannya maka beliaupun melepas cincin tersebut dari tangannya. Kemudian beliau berkata:\rيَعْمِدُ أَحَدُكُمْ إِلَى جَمْرَةٍ مِنْ نَارٍ فَيَضُعَهَا فِي يَدِهِ؟\r“Salah seorang kalian sengaja mengambil bara api dari neraka lalu meletakkannya di tangannya?”\rMaka, seorang lelaki muslim tidak boleh mengenakan cincin emas. Adapun cincin selain emas seperti cincin perak atau logam yang lain, maka boleh dikenakan oleh laki-laki, meskipun logam tersebut sangat berharga. Mengenakan cincin tunangan bukanlah adat kaum muslimin (melainkan adat orang non-muslim).\rApabila cincin itu dipakai disertai dengan i’tiqad (keyakinan) akan menyebabkan terwujudnya rasa cinta antara pasangan suami istri dan jika ditanggalkan akan memengaruhi langgengnya hubungan keduanya, maka yang seperti ini termasuk syirik. Dan ini merupakan keyakinan jahiliyah.\rJadi tidak boleh melakukan tukar cincin tunangan jika mengandung unsur syirik, cincin untuk lelaki berupa emas atau cincin dipakaikan oleh si pelamar (laki-laki). Bila hal-hal yang terlarang bisa dihindari, maka tidak mengapa bila dilakukan sebatas seremonial adat lokal, sekaligus silaturrahmi guna mendekatkan kedua keluarga calon pengantin.","part":1,"page":319},{"id":320,"text":"Tukar cincin sepasang calon pengantin adalah hal yang menjadi adat bagi sekelompok masyarakat, oleh karena itu tak jarang bagi para bangsawan, Aghniya’ dan menegah bawahpun selalu melakukan kejadian yang sudah di anggap sacral tersebut, dengan cara pihak laki-laki memakaikan cincin ke pihak wanita begitupun sebaliknya\rJika enggan memakai cincin tersebut, maka sungguh mengecewakan bagi semua keluarga dan saudara-saudara terdekat, apalagi terhadap calon suami/istri tercinta, bisa-bisa pertunangan mereka putus di tengah jalan sebelum menyentuh pelaminan.\rAdat ini dianggap sebagai komitmen keseriusan bagi kedua mempelai dalam melanjutkan hubungan ke lantai pelaminan. Ketika kedua pasangan tidak bersedia memakai menimbulkan anggapan ketidak seriusan pada ikatan tersebut, dan beresiko menimbulkan konflik keluarga kedua belah pihak.\rBagaimana hukum laki-laki memakai cincin seperti permasalahan di atas? Harom, karena ada unsur tasyabbuh :\r/ فتاوى الأزهر - (ج 9 / ص 499(\rهل صحيح أن دبلة الخطوبة بدعه وحرام ؟خاتم الخطوبة أو الزواج له قصة ترجع إلى آلاف السنين ، فقد قيل : إن أول من ابتدعها الفراعنة، ثم ظهرت عند الإغريق ، وقيل إن أصلها مأخوذ من عادة قديمة، هى أنه عند الخطبة توضع يد الفتاة فى يد الفتى ويضمهما قيد حديدى عند خروجهما من بيت أبيها، ثم يركب هو براده وهى سائرة خلفه ماشية مع هذا الرباط حتى يصلا إلى بيت الزوجية ، وقد تطول المسافة بين البيتين ، ثم أصبحت عادة الخاتم تقليدا مرعيا فى العالم كلهوعادة لبسها فى بنصر اليسرى مأخوذة عن اعتقاد الإغريق أن عرق القلب يمر فى هذا الإصبع ، وأشد الناس حرصا على ذلك هم الإنجليزوقيل : أن خاتم الخطوبة تقليد نصرانى.","part":1,"page":320},{"id":321,"text":"/ فتاوى الشيخ محمد علي فركوس-غير موافق للمطبوع - (ج 125 / ص 1(\rالسؤال: ما هي حدودُ رؤية الخاطب لِمخطوبته، وهل يجوز له أن يتَّصلَ بها هاتفيًّا، وإذا عقد مجلس الرؤية فهل له أن يجلس معها من غير خلوة أي مع ذي محرم، وهل له بعد تمام العقد أن يُلْبِسها خاتم الخطبة؟ أفتونا مأجورين- الى ان قال-أمّا لبس خاتم الخطبة سواء للخاطب أو المخطوبة فليس له دليل في الشرع، بل هو من الأمور التي نُهِينَا أن نتشبَّه فيها بالنصارى أو اليهود، لذلك ينبغي تركه وخاصّة إن كان من الذهب على الرجال فيشتد التحريم لنهيه صَلَّى اللهُ عليه وآله وسَلَّم عن التحلي بالذهب للرجال والتختم به\rKalaupun acara seperti itu harus kudu.... tinggal ngatur aja praktek di lapangannya. Yang perlu diperhatikan :\r?…Cincin buat perempuan silahkan dari emas dan yang buat laki-lakinya dari perak.\r?…Pada waktu penyerahan dan pemakaiannya :\ra) untuk wanita, yang memakaikannya boleh ibunya atau ibu dari si laki-laki atau mahrom perempuan dari keduanya.\rb) untuk laki-laki, boleh calon mertua laki-laki yang memakaikannya. Wallahu a'lam\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/785063991516411/\r3416. MAHROM SEBAB MUSHOHAROH\rPERTANYAAN :\r> Wahab Mawardi Ibnu\rAssalamu'alaikum... Ada titipan pertanyaan dari saudara leojibril, apakah membatalkan wudhu kalau bersentuhan dengan mahrom sebab pernikahan??? Atas jawabannya saya ucapkan terima kasih... Wassalamu'alaikum..wr..wb\rJAWABAN :\r> Ical Rizaldysantrialit\rWa'alaikumussalaam, mahrom sebab pernikahan ada dua :\r1. Mahrom muabbad/selamanya (mertua ke atas),","part":1,"page":321},{"id":322,"text":"2. Mahrom muaqqot (seperti ipar/adik atau kakak perempuan dari isteri, bibi dari isteri, keponakan dari isteri) Perincian hukum mahrom muaqqot :\r- Batal wudhu jika bersentuhan baik isteri masih dalam ikatan pernikahan atau sudah cerai\r- Haram dinikahi jika masih memperistri saudaranya (isteri kita)- Boleh dinikahi jika sudah bercerai dengan saudaranya (isteri kita)\r- Al-fiqh Alal madzahibil arba'ah :","part":1,"page":322},{"id":323,"text":"مبحث عد المحرمات اللاتي لا يصح العقد عليهن(4/37)- قد عرفت مما مضى أن من شرائط النكاح المتفق عليها أن تكون المرأة محلا صالحا للعقد عليها فلا يصح العقد على امرأة حرمت عليه لسبب من الأسباب وهذه الأسباب تنقسم إلى قسمين :الأول : ما يجب الحرمة المؤبدةالثاني : ما يوجب الحرمة المؤقتة بحيث لو زال السبب عاد الحلوالأسباب التي توجب الحرمة المؤبدة ثلاثة : القرابة المصاهرة الرضاعفأما القرابة فيحرم بها على التأبيد ثلاثة أنواع :النوع الأول : أصول الشخص وفروعه فأما أصوله فهن أمهاته فتحرم عليه أمه التي ولدته وجدته من كل جهة سواء كانت لأمه أو لأبيه وإن علت . وأما فروعه فهي بناته وبنات بناته وبنات أبنائه وإن نزلنالنوع الثاني : فروع أبويه وهن أخواته فتحرم عليه أخته من كل جهة أي سواء كانت شقيقة أو لأب أو لأم كما يحرم عليه بناتها وبنات أبنائها . وبنات أخيه وإن نزلنالنوع الثالث : فروع أجداده وجداته وهن عماته وخالاته سواء كن شقيقات أولاوإلى هنا ينتهي التحريم فلا تحرم عليه بنات عماته ولا بنات خالاته ولا بنات عمه ولا بنات خاله فلا يحرم من فروع الجدات إلا البطن الأولىأما المصاهرة فيحرم بها ثلاثة أنواع أيضا :النوع الأول : فروع نسائه المدخول بهن فيحرم عليه أن يتزوج بنت امرأته وهي ربيبته سواء كانت في كفالته أولا . أما قوله تعالى : { في حجوركم } فإنه بيان للشأن فيها فكأنه يقول له : إنها كبنتك التي تربت في حجرك وكذا يحرم عليه أن يتزوج بنت ربيبته ولا بنت بنتها وإن نزلت . أما إذا عقد على أمها ولم يدخل بها فإن البنت لا تحرم عليهالنوع الثاني : أصول نسائه فيحرم عليه أن يتزوج أم امرأته وأم أمها وجدتها بمجرد العقد على البنت وإن لم يدخل بها ولذا قيل : العقد على البنات يحرم الأمهات والدخول بالأمهات يحرم البناتولعل السر في ذلك أن البنت في حال صباها وأول حياتها تكون علاقتها بالرجل أشد وغيرتها عليه أعظم فينبغي أن","part":1,"page":323},{"id":324,"text":"يكون العقد عليها قاطعا لمطمع أمها حتى لا يحدث ضغينة وحقدا تنقطع به صلات المودة بخلاف الأم فإنه يسهل عليها أن تنزل عن رجل لم يباشرها لبنتها التي تحبها حبا جما فلا تنقطع بينهما علائق المودةالنوع الثالث : موطوءات الآباءوأما الرضاع فإنه يحرم به ما يحرم بالنسب إلا في بعض أمور سيأتي بيانها في مبحثه . فهذه هي موجبات التحريم المؤبد وأما موجبات التحريم المؤقت فهي أمور : أحدها : زواج المحرم فلا يحل للشخص أن يجمع بين الأختين أو بين الأم وبنتها أو نحو ذلك مما سيأتيثانيها : الملك فلا يحل للمرأة أن تتزوج عبدها . ولا للرجل أن يتزوج أمته إلا بعد العتقثالثها : الشرك فلا يحل لمسلم أن يتزوج مشركة غير متدينة بدين سماويرابعها : التطليق ثلاث مرات فإنه يوجب التحريم إلا إذا تزوجت غيرهخامسها : تعلق الغير بنكاح أو عدة فإذا زالت هذه الأسباب عاد له الحل ومن ذلك ما إذا زاد على أربع أو عقد على خامسة قبل أن تنقضي عدة الرابعة\rhttp://islamport.com/d/2/fqh/1/29/337.html\rWallahu A'lam\rUntuk rincian mahrom bisa di baca di link berikut :\rwww.piss-ktb.com/2011/08/rincian-mahram.html\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/815055005183976/\r3688. TENTANG PERJANJIAN PRA NIKAH\rPERTANYAAN :\r> Fakhrur Rozy Abdul Kholiq\rAssalamu alaikum. Perjanjian pra nikah menurut fiqih.?\rJAWABAN :\r> Al Murtadho\rWa alaikumus salaam warohmatulloh. Madzhab As-Syafii membagi persyaratan dalam pernikahan menjadi dua, syarat-syarat yang diperbolehkan dan syarat-syarat yang dilarang.\rPertama :","part":1,"page":324},{"id":325,"text":"Adapun syarat yang diperbolehkan adalah syarat-syarat yang sesuai dengan hukum syar'i tentang mutlaknya akad, contohnya sang lelaki mempersyaratkan kepada sang wanita untuk bersafar bersamanya, atau untuk menceraikannya jika sang lelaki berkehendak, atau berpoligami. Sebaliknya misalnya sang wanita mempersyaratkan agar maharnya dipenuhi, atau memberi nafkah kepadanya sebagaimana nafkah wanita-wanita yang lainnya, atau mempersyaratkan agar sang lelaki membagi jatah nginapnya dengan adil antara istri-istrinya. Persyaratan seperti ini diperbolehkan, karena hal-hal yang dipersayratkan di atas boleh dilakukan meskipun tanpa syarat, maka tentunya lebih boleh lagi jika dengan persayaratan.\rKedua :\rAdapun persyaratan yang tidak diperbolehkan maka secara umum ada empat macam:\r1.…Persyaratan yang membatalkan pernikahan, yaitu persyaratan yang bertentangan dengan maksud pernikahan. Contohnya jika sang lelaki mempersayaratkan jatuh talak bagi sang wanita pada awal bulan depan, atau jatuh talak jika si fulan datang, atau hak talak berada di tangan sang wanita. Maka pernikahan dengan persayaratan seperti ini tidak sah.","part":1,"page":325},{"id":326,"text":"2.…Persyaratan yang membatalkan mahar akan tetapi tidak membatalkan pernikahan. Contohnya persyaratan dari pihak lelaki, misalnya sang wanita tidak boleh berbicara dengan ayah atau ibunya atau kakaknya, atau sang lelaki tidak memberi nafkah secara penuh kepada sang wanita. Demikian juga persayaratan dari pihak wanita, misalnya : sang lelaki tidak boleh berpoligami atau tidak boleh mengajak sang wanita merantau. Maka ini seluruhnya merupakan persyaratan yang batil karena mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah atau sebaliknya menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah. Dalam kondisi seperti ini maka batalah mahar sang wanita yang telah ditentukan dalam akad, dan jadilah mahar sang wanita menjadi mahar al-mitsl (yaitu maharnya disesuaikan dengan mahar para wanita-wanita yang semisalnya menurut adat istiadat).\r3.…Persyaratan yang hukumnya tergantung siapa yang memberi persayaratan. Misalnya persyaratan untuk tidak berjimak setelah nikah. Maka jika yang memberi persayratan tersebut adalah pihak wanita maka hal ini haram, karena jimak adalah hak sang lelaki setelah membayar mahar. Dan jika sebaliknya persayaratan tersebut dari pihak lelaki itu sendiri maka menurut madzhab As-Syafii hal tersebut adalah boleh","part":1,"page":326},{"id":327,"text":"4.…Persyaratan yang diperselisihkan oleh ulama madzhab As-Syafi'i, yaitu persyaratan yang berkaitan dengan mahar dan nafaqoh. Jika sang wanita mempersyaratkan agar tidak dinafkahi maka pernikahan tetap sah, karena hak nafkah adalah hak sang wanita. Akan tetapi persyaratan ini membatalkan mahar yang telah ditentukan, maka jadilah mahar sang wanita adalah mahar al-mitsl. Akan tetapi jika yang mempersyaratkan adalah dari pihak lelaki maka para ulama madzhab syafii berselisih pendapat. Ada yang berpendapat bahwa akad nikahnya batil, dan ada yang berpendapat bahwa akad nikahnya sah akan tetapi membatalkan mahar yang telah ditentukan bagi sang wanita sehingga bagi sang wanita mahar al-mitsl.\rLihat Al-Haawi 9/505-508 :\rالحاوى الكبير ج 9","part":1,"page":327},{"id":328,"text":"اعلم أن الشرط في النكاح ضربان: جائز، ومحظور.فأما الجائز: فما وافق حكم الشرع في مطلق العقد، مثل أن يشترط عليها أن له أن يتسرى عليها، أو يتزوج عليها، أو يسافر بها، أو أن يطلقها إذا شاء، أو أن تشترط هي عليه، أو يوفيها صداقها، أو أن ينفق عليها نفقة مثلها، أو يقسم لها مع نسائه بالسوية.فكل هذه الشروط جائزة، والنكاح معها صحيح، والمسمى فيه من الصداق لازم، لأن من شرطه الزوج منها لنفسه يجوز له فعله بغر شرط فكان أولى بأن يجوز مع الشرط.وما شرطته الزوجة عليه يلزمه بغير شرط فكان أولى أن يلزمه الشرط، وقد روي عن النبي - صلى الله عليه وسلم - أنه قال: \" إن أحق ما وفيتم به من الشروط ما استحللتم به الفروج \".وأما المحظور منها: فمردود، لقول النبي - صلى الله عليه وسلم -: \" كل شرط ليس في كتاب الله فهو باطل ولو كان مائة شرط، شرط الله أحق وعقده أوثق \".وروي عنه - صلى الله عليه وسلم - أنه قال: \" المؤمنون على شروطهم إلا شرطا أحل حراما أو حرم حلالا \".والشروط المحظورة تنقسم أربعة أقسام:أحدها: ما يبطل به النكاح.الثاني: ما يبطل به الصداق.والثالث: ما يختلف حكمه لاختلاف مشترطه.والرابع: ما اختلف أصحابنا فيه.","part":1,"page":328},{"id":329,"text":"فهذه شروط فاسدة لأنها منعته مما له فعله، وتوجهت إلى الصداق دون وجود مقصود النكاح معها.وإذا كان كذلك فللصداق المسمى حالان:أحدهما: أن يكون أقل من مهر المثل، فيبطل المسمى لبطلان الشروط التي قابلها جزء منه فصار به مجهولا، ويجب لها مهر المثل.والحال الثانية: أن يكون المسمى من الصداق أكثر من مهر المثل ففيما تستحقه وجهان:أحدهما: وهو الأصح أنها تستحق مهر المثل تعليلا بما ذكرنا من بطلان المسمى بما قابله من الشروط التي صار بها مجهولا.والوجه الثاني: وهو قول المزني إنها تستحق المسمى لأن لا يجتمع عليها بخسان: بخس بإسقاط الشروط، وبخس بنقصان المهر.ولأنها لم ترض مع ما شرطت إلا بزيادة ما سمت فإذا منعت الشروط لم تمنع المسمى.\rفصل: وأما القسم الثالث: وهو ما يختلف حكمه باختلاف مشترطه، فهو ما منع مقصود العقد في إحدى الجهتين دون الأخرى، فمثل أن يتزوجها على أن لا يطأها فإن كان الشرط من جهتها، فتزوجته على أن لا يطأها فالنكاح باطل، لأنها قد منعته ما استحقه عليها، من مقصود العقد.وإن كان الشرط من جهته، فتزوجها على أن لا يطأها فالنكاح على مذهب الشافعي صحيح، لأن له الامتناع عن وطئها بغير شرط، فلم يكن في الشرط منع من موجب العقد.وقال أبو علي بن أبي هريرة: على الزوج أن يطأها في النكاح مرة واحدة، على قوله إذا شرط عليها أن لا يطأها يبطل النكاح كما لو شرطت عليه أن لا يطأها.وليس هذا بصحيح لما ذكره في باب العنين.فأما إذا كان الشرط أن يطأها ليلا دون النهار، فقد حكى أبو الطيب بن سلمة عن أبي القاسم الأنماطي أنه إن شرط الزوج عليها ذلك صح الشرط، لأنه له أن يفعل ذلك من غير شرط، وإن شرطت الزوجة ذلك بطل النكاح، لأنه يمنع مقصود العقد، وهذا صحيح. ولا يخالف فيه أبو علي بن أبي هريرة.فأما إن كان الشرط أن لا يقسم لها:فإن كان من جهتها صح النكاح، لأن لها العفو عن القسم.","part":1,"page":329},{"id":330,"text":"وإن كان من جهته بطل النكاح إن كان معها غيرها، وصح إن انفرد بنفسها، لأنها تستحق القسم مع غيرها ولا تستحقه بانفرادها.وأما إن كان الشرط أن لا يدخل عليها سنة:فقد قال الربيع: إن كان الشرط من جهته صح النكاح، لأن له أن يمنع من الدخول بغير شرط، وإن كان من جهتها بطل النكاح، لأنه ليس لها أن تمنعه من غير شرط، فصار الشرط مانعا من مقصود العقد.وعلى هذا التقدير لو تزوجها على أن يطلقها بعد شهر فإن كان الشرط من جهة الزوج صح العقد، لأن له أن يطلقها من غير شرط، وإن كان من جهة الزوجة بطل العقد، لأنه منع من استدامة العقد.ولو تزوجها على أن يخالعها بعد شهر.فإن كان الشرط من جهتها بطل العقد، وإن كان من جهته ففي بطلانه وجهان:أحدهما: أن العقد باطل، لأنه قد أوجب عليها بالخلع بذل ما لا يلزمها.والوجه الثاني: أن العقد صحيح، لأنه شرط لم يمنع من مقصود العقد، فصار عائدا إلى الصداق، فبطل به الصداق، وكان لها مهر المثل.\rفصل: وأما القسم الرابع: وهو ما اختلف أصحابنا فيه فهو ما رفع بدل المقصود بالعقد وذلك شأن الصداق والنفقة.فإذا تزوجها على أن لا نفقة لها أبدا.فإن كان الشرط من جهتها توجه إلى الصداق دون النكاح، لأنه حق لها إن تركته جاز، فلذلك توجه إلى الصداق دون النكاح فيبطل الصداق ببطلان الشرط في النفقة، وهو باطل باشتراط سقوطه، والنكاح جائز ولها مهر المثل والنفقة.وإن كان الشرط من جهة الزوج فهل يقدح في صحة النكاح أم لا؟ على وجهين:أحدهما: أنه قادح في صحة النكاح فيكون باطلا، لأن ذلك مقصود العقد من جهة الزوجة فصار كالولي الذي هو مقصود العقد من جهة الزوج.والوجه الثاني: أنه غير قادح في صحة النكاح، لجواز خلو النكاح من صداق ونفقة، فعلى هذا يختص هذا الشرط بفساد الصداق دون النكاح، ويحكم لها بمهر المثل. والله أعلم\r> Rampak Naung\rIdem dengan kang mas al murtadho","part":1,"page":330},{"id":331,"text":"135 - وقال الشافعية الشرط في النكاح إن لم يتعلق به غرض فهو لغو، وإن تعلق به لكن ? يخالف مقتضى النكاح، بأن شرط أن ينفق عليها، أو يقسم لها، أو يتسرى، أو يتزوج عليها إن شاء، أو يسافر بها، أو ? تخرج إ? بإذنه فهذا ? يؤثر في النكاح . ( 132/40\rوإن شرط ما يخالف مقتضاه فهو ضربان أحدهما ما ? يخل بالمقصود ا?صلي من النكاح فيفسد الشرط، سواء كان لها بأن شرط أن ? يتزوج عليها، أو ? يتسرى، أو ? يطلقها، أو يطلق ضرتها، أو كان الشرط عليها بأن شرط أن ? يقسم لها، أو ? ينفق عليها، أو يجمع بينها وبين ضراتها في سكن واحد، ثم فساد الشرط ? يفسد النكاح على المشهور، وفي وجه أو قول حكاه الحناطي يبطل النكاح.\rالضرب الثاني ما يخل بمقصود النكاح كأن شرط الزوج أن ? يطأ زوجته أص?، أو أن ? يطأها إ? مرة واحدة مث? في السنة، أو أن ? يطأها إ? لي? فقط، أو إ? نهارا، أو أن يطلقها ولو بعد الوطء بطل النكاح، ?نه ينافي مقصود النكاح فأبطله . قال الشربيني الخطيب ما جرى عليه المصنف - أي النووي في المنهاج - من البط?ن فيما إذا شرط عدم الوطء هو ما صححه في المحرر، وفي الشرح الصغير أنه ا?شبه، والذي صححه في الروضة وأصلها 41 307","part":1,"page":331},{"id":332,"text":"وتصحيح التنبيه فيما إذا شرطه الصحة، ?نه حقه فله تركه والتمكين عليها، وهذا هو الذي عليه الجمهور كما قاله ا?ذرعي وغيره، وقال في البحر إنه مذهب الشافعي . ولو شرط الزوج أن الزوجة ? ترثه أو أنه ? يرثها أو أنهما ? يتوارثان، أو أن النفقة على غير الزوج بطل النكاح أيضا، كما قاله في أصل الروضة عن الحناطي وجرى عليه ابن المقري ، وصحح البلقيني الصحة وبط?ن الشرط. ولو شرط أحد الزوجين خيارا في النكاح بطل، ?ن النكاح مبناه على اللزوم، فشرط ما يخالف قضيته يمنع الصحة، فإن شرط ذلك على تقدير عيب مثبت للخيار قال الزركشي ينبغي أن يصح، ?نه تصريح بمقتضى العقد، قال الشربيني الخطيب وهو مخالف ?ط?ق ا?صحاب. ولو شرط أحد الزوجين خيارا في المهر فا?ظهر صحة النكاح، ?ن فساد الصداق ? يؤثر في النكاح، و? يصح المهر في ا?ظهر بل يفسد ويجب مهر المثل، ?ن الصداق ? يتمحض عوضا بل فيه معنى النحلة ف? يليق به الخيار، والمرأة لم ترض بالمسمى إ? بالخيار، والثاني يصح المهر، والثالث يفسد النكاح لفساد المهر أيضا\rhttp://www.islamport.com/b/2/alfeqh/fiqh/%DD%DE%E5%20%DA%C7%E3/%C7%E1%E3%E6%D3%E6%DA%C9%20%C7%E1%DD%DE%E5%ED%C9%20%C7%E1%DF%E6%ED%CA%ED%C9/%C7%E1%E3%E6%D3%E6%DA%C9%20%C7%E1%DD%DE%E5%ED%C9%20%C7%E1%DF%E6%ED%CA%ED%C9%20223.html\rWallohu a'lam bis showab.\rLINK DISKUSI :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/857548307601312/\rwww.fb.com/notes/896378570384952\r3805. ANAK TIRI MENIKAH DENGAN KAKEK TIRI BOLEHKAH ?\rPERTANYAAN :\r> Sakitnya Tuh Disini\rAssalamualaikum warahmatullah wabarokaatuh, bagaimana hukumnya anak tiri menikah dengan kakek tirinya ? Syukron. Contoh : Kang Sunde si kakek, aku si ayah, Nissa anak tiri ku, kakek menikah sama anak, nanti anaknya Sunde sama Nissa bagi aku bisa saudara sekaligus cucu.\rJAWABAN :\r> Sunde Pati","part":1,"page":332},{"id":333,"text":"Wa'alaikumussalaam warahmatullah wabarokaatuh. Bagaimana hukumnya anak tiri menikah dengan kakek tirinya ? Boleh\rReferensi :\r- I'anah At-Tholibin III / 292 Cet Thoha Putra Semarang\rوالحاصل ? تحرم بنت زوج ا?م و? أمه و?بنت زوج البنت و? أمه و? أم زوجة ا?بو?بنتها و? أم زوجة ا?بن و?بنتها و? زوجةالربيب و? زوجة الراب وهو زوج ا?م ?نه يربيهغالبا اهـ إعانة الطالبين ج 3 ص 292\rKesimpulannya dari ibarot gus Sunde Pati yang di I'anatuth Thalibin yang tidak haram dinikahi :\r1. Anak perempuannya suami ibu (saudara tiri). bintu zaujil ummi.\r2. Ibunya suaminya ibu (ummuhu) yakni ummu zaujil ummi.\r3. Anak perempuannya suaminya anak perempuan (seperti dalam pertanyaan), bintu zaujil binti.\r4. Ibunya suaminya anak perempuan / besan (ummuhu) yakni ummu zaujil binti.\r5. Ibunya istrinya ayah (ummu zaujatil abi)\r6. Anak perempuannya istrinya ayah / saudara tiri (bintu zaujatil abi)\r7. Ibunya istrinya anak laki-laki / besan (ummu zaujatil ibni)\r8. Anak perempuannya istrinya anak laki-laki (seperti dalam pertanyaan), bintuha yakni bintu zaujatil ibni\r9. Istrinya anak tiri laki-laki (zaujatur robiibi)\r10. Istrinya ayah tiri laki-laki (zaujatur roobbi) الراب adalah zaujul umm = suaminya ibu.\rWallohu a'lam bish-showab. (Terj. Ibnu Al-Ihsany)\rBaca juga link terkait : Rincian Mahram\rLink Diskusi :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/882933905062752/\r3877. HUKUM WASIAT ORANG TUA AGAR ANAKNYA MENIKAHI SI ANU\rPERTANYAAN :\r> Polem Useuman","part":1,"page":333},{"id":334,"text":"Assalamu'alaikum, ini pertanyaan serius, dan butuh kepada jawaban, atas jawabannya saya banyak berterimaksh. Ada seorang ayah sebelum meninggal berwasiat agar anaknya harus dijodohkan dengan si zaid misalnya. Apakah wasiat yang semacam ini wajib dijalankan ? jika diabaikan bagaimana? terimakasih.\rJAWABAN :\r> Ghufron Bkl\rWa'alaikumussalam, Wasiat tersebut tidak wajib dijalankan, karena wasiat yang wajib dilaksanakan ahli waris salah satu syaratnya adalah barang yang diwashiatkan harus berupa tasharruf harta, sedangkan perintah menjodohkan bukanlah berhubungan dengan tashoruf harta :\rاعانة الطالبين :\rويشترط في الموصى فيه كونه تصرفا ماليا مباحا، فلا يصح الايصاء في تزويج نحو بنته أو ابنه، لان هذا لا يسمى تصرفا ماليا، وأيضا غير الاب والجد لا يزوح الصغيرة والصغير، ولا في معصية، كبناء كنيسة للتعبد، لكون الايصاء قربة، وهو تنافي المعصية.","part":1,"page":334},{"id":335,"text":"& شرح البهجة الوردية - (ج 13 / ص 469)وَإِنَّمَا يَصِحُّ الْإِيصَاءُ ( بِالتَّصَرُّفِ إنْ كَانَ مَالِيًّا ) كَقَضَاءِ الدُّيُونِ وَتَنْفِيذِ الْوَصَايَا وَأُمُورِ الْأَطْفَالِ الْمُتَعَلِّقَةِ بِأَمْوَالِهِمْ فَلَا يَصِحُّ الْإِيصَاءُ بِتَزْوِيجِهِمْ لِأَنَّ الْوَصِيَّ لَا يَتَعَيَّرُ بِلُحُوقِ الْعَارِ بِهِمْ فَيَتَوَلَّاهُ مَنْ يَعْتَنِي بِدَفْعِ الْعَارِ عَنْهُمْ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فَمَنْ لَهُ النَّظَرُ الْعَامُّ وَهُوَ الْإِمَامُ وَلَا بِتَزْوِيجِ أَرِقَّائِهِمْ لِأَنَّ وِلَايَةَ تَزْوِيجِهِمْ تَبَعٌ لِلْوِلَايَةِ عَلَى تَزْوِيجِ مَالِكِيهِمْ فَإِذَا امْتَنَعَ الْمَتْبُوعُ فَالتَّابِعُ أَوْلَى ( مُبَاحًا ) فَلَا يَصِحُّ بِعِمَارَةِ بِيَعِ التَّعَبُّدِ وَكَنَائِسِهِ وَنَحْوِهِمَا لِعَدَمِ الْإِبَاحَةِ ( وَاصْرِفْ مُطْلَقَهُ ) أَيْ الْإِيصَاءَ كَأَنْ يَقُولَ أَوْصَيْت إلَيْك أَوْ أَقَمْتُك مَقَامِي فِي أَمْرِ أَطْفَالِي وَلَمْ يَذْكُرْ التَّصَرُّفَ ( لِحِفْظِهِ ) أَيْ الْوَصِيِّ ( الْمَالَ ) دُونَ التَّصَرُّفِ فِيهِ تَنْزِيلًا عَلَى الْأَقَلِّ وَهَذَا وَجْهٌ\r> Abdurrofik Qodir\rSetuju dengan jawaban Pak ghufron cuma memenuhi perintah ortu memang wajib selama bukan maksiat dann mau dinikah mau kalau nggak nggak mau jangan dipaksa yah.... ini tak terkait wasiatnya. Wallohu a'lam. (ALF).\rالفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي (5/ 51) وللموصي به شروط إذا تحققت صحت الوصية، وإذا لم تتحقق، لغت، وهذه الشروط هي: أأن يكون الموصي به مما يحل الانتفاع به، فلا تصح الوصية بما يحرم الانتفاع به، كآلة لهو، وقمار. ب- أن يكون قابلاً للنقل، فلا يصح الوصية بالقصاص، ولا بحق الشفعة، لأنها لا تقبل النقل، لأن مستحقها لا يمكن من نقلها.\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/908349449187864/","part":1,"page":335},{"id":336,"text":"www.fb.com/notes/928822080473934\r3898. HUKUM MENIKAH DENGAN ANAKNYA PAMAN\rPERTANYAAN :\r> Nuktah Lubb\rAssalamu 'alaikum, Apa hukum menikah dengan putrinya paman ? Terimakasih\rJAWABAN :\r> Ghufron Bkl\rWa'alaikum salam, Hukum menikah dengan sepupu yakni anak paman atau bibi dari pihak bapak, atau anak paman atau bibi dari pihak ibu adalah Boleh namun makruh. Wallohu a'lam. (Rz)\rReferensi : I'anah al Tholibin\rاعانة الطالبين : (واعلم) أن للمحرمات بالنسب ضابطين، الاول ما ذكره المصنف: وهو تحريم نساء القرابة إلا من دخلت تحت ولد العمومة أو ولد الخؤولة كبنت العم والعمة وبنت الخال والخالة.\rوالثاني يحرم على الرجل أصوله وفصوله وفصول أول أصوله وأول فصل من كل أصل بعد الاصل الاول، فالاصول الامهات وإن علت، والفصول البنات وإن سفلت، وفصول أول الاصول الاخوات وبنات الاخ وبنات الاخت وبنات أولادهم، لان أول الاصول الآباء والامهات وفصولهم الاخوة والاخوات وأولادهم، وأول فصل من كل أصل بعد الاصل الاول هو العمات والخالات،\rBaca juga artikel terkait : 1917. ALASAN KEMAKRUHAN MENIKAHI SEPUPU\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/888314284524714/\rwww.fb.com/notes/929858353703640\r3953. BOLEHKAH MENIKAH DENGAN PAMAN ?\rPERTANYAAN :\r> M M Hilmi\rAssalamu'alaikum. Saya (maimunah, Perempuan) punya paman (saudara laki-laki ayah seibu). Bagaimana hukumnya bila saya dan paman menikah ? penting mbah kasusnya lagi hangat, Terimakasih\rJAWABAN :\r> Ghufron Bkl\rWa'alaikum salam. Menikah atau kawin dengan paman hukum harom (tidak boleh). Baik paman kandung atau paman tunggal bapak atau paman tunggal ibu saja. Wallohu a'lam (Rz).","part":1,"page":336},{"id":337,"text":"اعانة الطاللبين 3/283 : (قوله: وبنت أخ) معطوف أيضا على أم: أي ويحرم نكاح بنت أخ من جميع الجهات وإن نزلت (قوله: وأخت) بالجر معطوف على أخ، أي وبنت أخت فيحرم نكاحها أيضا\r(قوله وبنت الأخ ) أى من جميع الجهات أى من جهة الأب والأم وهو الأخ الشقيق أو من جهة الأب فقط وهو الأخ للأب أو من جهة الأم فقط وهو الأخ للأم وهذه هي بنت الأخ بلا واسطة فهي بنت الأخ حقيقة.الباجوري 2/111\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/778184648871012/\rwww.fb.com/notes/933277700028372\r4013. WANITA BOLEH MENYATAKAN CINTA KEPADA LAKI-LAKI UNTUK DINIKAHI\rPERTANYAAN :\r> Fathima Muslimah\rAssalamu'alykum wr wb. Mau tanya bolehkah seorang perempuan memberi tahu kepada seorang laki-laki bahwasanya perempuan itu mencintainya....??\rJAWABAN :\r> Muhib Salaf Soleh\rWa alaykumussalaam... Tidak apa apa mba, bahkan sunnah jika yang mau dilamar oleh mba adalah laki laki soleh, seperti kisah seorang perempuan yang melamar rasulullah. Tapi yang pasti bukan untuk pacaran, tapi untuk menikah .\rحدثنا علي بن عبد الله حدثنا مرحوم قال: سمعت ثابتا البناني قال: كنت عند أنس وعنده ابنة له، قال أنس: جاءت امرأة إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم، تعرض عليه نفسها، قالت: يا رسول الله! ألك بي حاجة؟ فقالت بنت أنس: ما أقل حياءها، واسوأتاه واسوأتاه. قال: هي خير منك، رغبت في النبي صلى الله عليه وسلم فعرضت عليه نفسها.رواه البخاري 5120.\rTelah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah, Telah menceritakan kepada kami Marhum bin Abdul Aziz bin Mihran, ia berkata;","part":1,"page":337},{"id":338,"text":"Aku mendengar Tsabit Al Bunani berkata; Aku pernah berada di tempat Anas, sedang ia memiliki anak wanita. Anas berkata : \"Ada seorang wanita datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lalu menghibahkan dirinya kepada beliau\". Wanita itu berkata : 'Wahai Rasulullah, adakah Anda berhasrat padaku? lalu anak wanita Anas pun berkomentar : Alangkah sedikitnya rasa malunya, Anas berkata : \"Wanita lebih baik daripada kamu, sebab ia suka pada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, hingga ia menghibahkan dirinya pada beliau\".\rشرح البخاري للابن بطال ج 7 ص 227.\rقال المهلب: فيه جواز عرض المرأة نفسها على الرجل الصالح وتعريفه برغبتها فيه لص?حه وفضله، ولعلمهوشرفه، أو لخصلة من خصال الدين.\rعمدة القارى ج 20 ص 113.\rباب عرض المرأة نفسها على الرجل الصالح) أي: هذا باب في بيان جواز عرض المرأة نفسها على الرجل الصالح رغبة لص?حه، قيل: لما علم البخاري الخصوصية في قصة الواهبة نفسها للنبي صلى الله عليه وسلم استنبط من الحديث ما ? خصوصية فيه، وهو جواز عرض المرأة نفسها للرجل الصالح.\r> Masaji Antoro\rPENAWARAN DIRI SEORANG WANITA PADA PRIA IDAMAN\rب - عَرْضُ الْمَرْأَةِ نَفْسَهَا عَلَى الرَّجُل الصَّالِحِ . 3 - يَجُوزُ عَرْضُ الْمَرْأَةِ نَفْسَهَا عَلَى الرَّجُل وَتَعْرِيفُهُ رَغْبَتَهَا فِيهِ ، لِصَلاَحِهِ وَفَضْلِهِ أَوْ لِعِلْمِهِ وَشَرَفِهِ أَوْ لِخَصْلَةٍ مِنْ خِصَال الدِّينِ ، وَلاَ غَضَاضَةَ عَلَيْهَا فِي ذَلِكَ ، بَل ذَلِكَ يَدُل عَلَى فَضْلِهَا","part":1,"page":338},{"id":339,"text":"Boleh hukumnya wanita menawarkan dirinya atau memberitahukan perasaan cintanya pada seorang pria karena mendamba keshalihannya, keutamaannya, keilmuannya, kemuliaannya atau apapun yang berkaitan dengan keagamaan. Yang demikian tidaklah merendahkan martabat seorang wanita namun justru menunjukkan keutamaannya (karena dia mementingkan sisi agama). Al-Mausuu’ah al-Fiqhiyyah 30/50. Wallaahu a'lam. (DA)\rBaca juga link :\rwww.fb.com/notes/747112235311587\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/notes/936255566397252\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/932301456792663/\r4016. TERNYATA BERPAHALA MENJODOHKAN SESEORANG ?\rPERTANYAAN :\r> Muhammad Alsamarony\rMau tanya, katanya orang yang berjasa menjodohkan laki-laki & perempuan bujang sehingga menjadi suami istri yang sah pahalanya setara dengan membangun masjid benarkah itu? ibarotnya mana? catatan : sampai sekarang saya masih penasaran belum ketemu ibarotnya suwun atas tanggapannya.\rJAWABAN :\r> Rizalullah Santrialit\rWa alaykumussalaam.. Pahala Buat yang nyomblangin perjodohan\r- Al maudhu'at al-Kubro Li ibnil Jauzi :","part":1,"page":339},{"id":340,"text":"(حديث مرفوع) أَنْبَأَنَا مُحَمَّدُ بْنُ نَاصِرٍ ، أَنْبَأَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْحُسَيْنِ بْنِ قُرَيْشٍ ، أَنْبَأَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ عُمَرَ الْبَرْمَكِيُّ ، حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ الْوَرَّاقُ ، حَدَّثَنَا أَبُو الْحَسَنِ عَلِيُّ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدٍ الْفَقِيهُ ، حَدَّثَنِي جَامِعُ بْنُ سَوَادَةَ الْحَمْرَاوِيُّ ، حَدَّثَنَا آدَمُ بْنُ أَبِي إِيَاسٍ ، حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ ، عَنِ الزُّهْرِيِّ ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، وَابْن عَبَّاسٍ ، قَالا : آخِرُ خُطْبَةٍ خَطَبَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَخْطُبْ غَيْرَهَا حَتَّى خَرَجَ مِنَ الدُّنْيَا فَقَالَ : \" مَنْ مَشَى فِي تَزْوِيجٍ بَيْنَ اثْنَيْنِ حَتَّى يَجْمَعَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِكُلِّ خُطْوَةٍ وَبِكُلِّ كَلِمَةٍ تَكَلَّمَ فِي ذَلِكَ عِبَادَةَ سَنَةٍ ، صِيَامَ نَهَارِهَا وَقِيَامَ لَيْلِهَا ، وَمَنْ مَشَى فِي تَعْوِيقٍ بَيْنَ اثْنَيْنِ حَتَّى يُفَرِّقَ بَيْنَهُمَا كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَضْرِبَ رَأْسَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَلْفِ صَخْرَةٍ مِنْ نَارِ جَهَنَّمَ \" . هَذَا حديث موضوع عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ . وجامع بْن سوادة مجهول .\rBarangsiapa yang ikut mempertemukan dua orang dalam pernikahan, hingga Allah mengumpulkan keduanya (dalam pernikahan). Maka Allah memberikan padanya, untuk setiap langkah kakinya, untuk setiap kalimat yang diucapkannya dalam hal tersebut laksana ibadah dalam setahun, yang siangnya digunakan puasa dan malamnya dengan qiyamul lail.\r- Tanzihatus Syari'atil Marfu'ah :","part":1,"page":340},{"id":341,"text":"(حديث مرفوع) حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ ، وَابْنِ عَبَّاسٍ : آخِرُ خُطْبَةٍ خَطَبَهَا رَسُولُ اللَّهِ ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، لَمْ يَخْطُبْ غَيْرَهَا حَتَّى خَرَجَ مِنَ الدُّنْيَا ، قَالَ : مَنْ مَشَى فِي تَزْوِيجٍ بَيْنَ اثْنَيْنِ حَتَّى يَجْمَعَ اللَّهُ بَيْنَهُمَا ؛ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِكُلِّ خَطْوَةٍ وَبِكُلِّ كَلِمَةٍ تَكَلَّمَ فِي ذَلِكَ عِبَادَةَ سَنَةٍ ، صِيَامَ نَهَارِهَا وَقِيَامَ لَيْلِهَا ، وَمَنْ مَشَى فِي تَفْرِيقٍ بَيْنَ اثْنَيْنِ حَتَّى يُفَرِّقَ بَيْنَهُمَا ؛ كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يَضْرِبَ رَأْسَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَلْفِ صَخْرَةٍ مِنْ نَارِ جَهَنَّمَ ، ( ابن الجوزي ) من طريق جامع بن سوادة الحمراوي ، وقال : مجهول ، ( قلت ) قدمنا في المقدمة عن الذهبي أنه قال في جامع هذا أتى بخبر باطل في الجمع بين الزوجين كأنه آفته ، والله تعالى أعلم ، قال الحافظ ابن حجر : وكذلك الراوي عن جامع : علي بن أحمد بن محمد الفقيه ما عرفته .\r> Ubaid Bin Aziz Hasanan\rPahala bagi orang yang menjodohkan dan menikahkan kami, tidak menemukan teks hadist yang anda maksud, akan tetapi, pahala yang tertera di teks hadist cuman ini, dinuqil dari kitab al hawi lil fatawi imam suyuti :\rالكتاب : الحاوي للفتاوي في الفقه وعلوم التفسير والحديث والأصول والنحو والإعراب وسائر الفنون2/36\rالمؤلف : جلال الدين عبد الرحمن بن أبي بكر السيوطي\rوعن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلّم قال : ( من مشى في تزويج امرأة حلالاً يجمع بينهما رزقه الله تعالى ألف امرأة من الحور العين كل امرأة في قصر من در وياقوت وكان له بكل خطوة خطاها أو كلمة تكلم بها في ذلك عبادة سنة قيام ليلها وصيام نهارها )","part":1,"page":341},{"id":342,"text":"Diriwayatkan dari abi hurairah dari nabi, beliau bersabda : barang siapa yang berjalan, mempertemukan seseorang pada wanita halal yang mana hendak mengumpulkan (menikahkan) keduanya, maka allah akan memberi rizqi padanya seribu bidadari. Dan setiap bidadari berada di istana yang terbuat dari mutiara dan yaqut, untuk setiap langkah kakinya dan kalimat yang diucapkannya (ketika hendak menjodohkan, menikahkan) ditulis baginya pahala ibadah setahun yang malamnya digunakan untuk qiyamul lail sedangkan siangnya digunakan untuk berpuasa.\r> Mas Hamzah\rLihat Hadits riwayat ibnu majah 1965 :\rحَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ يَحْيَى حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ يَزِيدَ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ عَنْ أَبِي الْخَيْرِ عَنْ أَبِي رُهْمٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَفْضَلِ الشَّفَاعَةِ أَنْ يُشَفَّعَ بَيْنَ الِاثْنَيْنِ فِي النِّكَاحِ\rTelah menceritakan kepada kami Hisyam bin Ammar , telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah bin Yahya , telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah bin Yazid dari Yazid bin Abu Habib dari Abul Khair dari Abu Ruhm ia berkata,“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:“Sebaik-baik pertolongan adalah menjodohkan dua orang (seorang laki-laki dan perempuan) dalam pernikahan.” (HR Ibnu Majah). Wallaahu a'lam (DA).\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/notes/936265206396288\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/934028786619930\r4219. MEMILIH HARI UNTUK MELAMAR WANITA\rPERTANYAAN :\r> Jasmail Jeep\rTitipan soal : Assalamualaikum Wr Wb. Kalau nglamar perempuan itu hari apa yang baik ?\rJAWABAN :\r> Cinta Ku Pada Mu","part":1,"page":342},{"id":343,"text":"Wa'alaykumussalaam... harinya ahad, senin, kamis dan jum'at pagi, atau setelah dhuhur di kitab manba'usulul hikam halaman 8 bab waktu yang baik untuk melakukan perbuatan yang baik\r> Erlangga As Sumatrani\rHari jumat pagi karena penghulu segala hari dan paling mulia hari sebagaimana hadits dalam kitab Ianatut tholibin. Wallahu a'lam. (DA)\r( قوله ويوم الجمعة ) أي وأن يكون في يوم الجمعة لأنه أشرف الأيام وسيدها وقوله أول النهار أي وأن يكون في أول النهار لخبر اللهم بارك لأمتي في بكورها حسنه الترمذي ( قوله وفي شوال ) أي ويسن أن يكون العقد في شوال وقوله وأن يدخل فيه أي ويسن أن يدخل على زوجته في شوال أيضا والدليل عليه وعلى ما قبله خبر عائشة رضي الله عنها قالت تزوجني رسول الله صلى الله عليه وسلم في شوال ودخل فيه وأي نسائه كان أحظى عنده مني وفيه رد على من كره ذلك\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/945480165474792\rwww.fb.com/notes/958179960871479\r4488. BAGAIMANA HUKUM MEMBATALKAN KHITBAH (LAMARAN) ?\rPERTANYAAN :\r> Akbar Fadilah\rBagaimaana hukumnya membatalkan khitbah (tidak jadi nikah) ?\rJAWABAN :\r> Kang Dul\rBoleh.. sebab khitbah itu bukan akad yang mengikat tetapi janji menikahi. Lihat kitab fiqhul islamy wa adillatuh, Maktabah Shamela :\rالثالث عشر ـ العدول عن الخطبة وأثره :\rPermasalahan ke 13 \" Membatalkan khithbah dan konsekuensinya \"\rبناء أن الخطبة ليست زواجا ، وإنما هي وعد بالزواج ، فيجوز في رأي أكثر الفقهاء للخاطب أو المخطوبة العدول عن الخطبة","part":1,"page":343},{"id":344,"text":"Melihat bahwasanya khithbah itu belum bisa dinamakan akad nikah (Zuwaj), dan itu hanya sebatas janji akan menilah, maka menurut mayoritas ulama, bagi si pria pelamar dan wanita yang dilamar boleh untuk berpaling dari lamarannya (membatalkan).\r?نه ما لم يوجد العقد ف? إلزام و? التزام .\rSebab belum ada akad sama sekali, sehingga tidak ada kewajiban dan kesanggupan (untuk tetap meneruskan).\rولكن يطلب أدبيا أ? ينقض أحدهما وعده إ? لضرورة أو حاجة شديدة، مراعاة لحرمة البيوت وكرامة الفتاة.\rHanya saja dianjurkan sebagai bentuk etika bagi salah satunya untuk tidak merusak janjinya kecuali memang ada darurat atau keadaan mendesak. (Demikian itu) guna menjaga kehormatan keluarga dan kemuliaan si wanitanya.\rوينبغي الحكم على المخطوبة بالموضوعية المجردة ، ? بالهوى أو بدون مسوغ معقول\rSebaiknya disaat memutuskan (pembatalan lamaran) atas wanita yang telah dilamarnya ini dengan menggunakan alasan-alasan nyata yang tidak dibuat-buat, bukan karena hanya mengikuti hawa nafsu atau tanpa ada sebab yang bisa diterima akal.\rف? يعدل الخاطب عن عزمه الذي شاءه؛ ?ن عدوله هو نقض للعهد أو الوعد،\rSehingga bagi si pemalar sebaiknya tidak berpaling dari tujuan melamar yang telah ia kehendaki, sebab dengan berpaling ini ia dianggap telah merusak janji-janjinya.\rويستحسن شرعا وعرفا التعجيل في العدول إذا بدا سبب واضح يقتضي ذلك\rNamun bila ada sebab yang jelas yang mengharuskan ia berpaling dari tujuannya (membatalkan lamaran), maka secara syara' dan urf dianggap bagus bila ia segera berpaling (membatalkan lamaran).\rقال الله تعالى : وأوفوا بالعهد إن العهد كان مسؤو? [ ا?سراء /34: 17 ]","part":1,"page":344},{"id":345,"text":"وقال صلى الله عليه وسلم : « اضمنوا لي ستا من أنفسكم أضمن لكم الجنة: اصدقوا إذا حدثتم ، وأوفوا إذا وعدتم، وأدوا إذا ائتمنتم ، واحفظوا فروجكم ، وغضوا أبصاركم ، وكفوا أيديكم » حكم انفساخ الخطبة أو أثره\rHukum merusak lamaran dan akibatnya\r? يترتب على انفساخ الخطبة أي أثر ما دام لم يحصل عقد .\rRusaknya lamaran ini tidak berakibat apa-apa selama tidak ada akad-akadan sebelumnya.\rوأما ما قدمه الخاطب من مهر : فله أن يسترده، سواء أكان قائما أم هالكا أم مستهلكا\rSedang apa-apa yang telah diberikan oleh si pelamar kepada wanita yang dilamarnya, seperti mas kawin persiapan, itu diperbolehkan bagi si pelamar untuk memintanya lagi, baik barangnya masih ada, sudah hilang atau sudah rusak.\rوفي حال اله?ك أو ا?سته?ك يرجع بقيمته إن كان قيميا ، وبمثله إن كان مثليا، أيا كان سبب العدول، من جانب الخاطب أو من جانب المخطوبة . وهذا متفق عليه\rBila sudah hilang dan rusak, maka ia boleh minta nominal harganya bila barang yang dulu ia berikan berupa Mutaqawwam (barang yang hitungannya menggunakan nominal harga), dan minta ganti barang serupa bila yang dulu diberikan adalah Mitsliy (barang yang hitungannya dengan ditimbang atau ditakar, misal beras, dll). Baik pembatalannya itu berasal dari pihak laki-laki pelamar atau dari pihak wanita yang dilamar. Ini adalah ketentuan hukum yang telah disepakati para ulama'. (Terj. oleh Muh. Harsandi Kudung Kanthil).\r> Hakam Ahmed El-Chudrie","part":1,"page":345},{"id":346,"text":"Akibat Hukum Peminangan. Peminangan atau pertunangan hanyalah merupakan janji akan menikah. Oleh sebab itu, peminangan dapat saja diputuskan oleh salah satu pihak, karena akad dari pertunangan ini belum mengikat dan belum pula menimbulkan adanya kewajiban yang harus dipenuhi oleh salah satu pihak.\rDalam Kompilasi Hukum Islam juga ditegaskan:\r1.…Pinangan belum menimbulkan akibat hukum dan para pihak bebas memutuskan hubungan peminangan\r2.…Kebebasan memutuskan hubungan peminangan dilakukan dengan tata cara yang baik sesuai dengan tuntunan agama dan kebiasaan setempat, sehingga tetap terbina kerukunan dan saling menghargai.\rAkan tetapi, menurut Wahbah Zuhaily bahwa akhlak Islam menuntut adanya tanggung jawab dalam tindakan. Apalagi yang sifatnya janji yang telah dibuatnya. Allah Swt berfirman dalam surat al-Isra’ ayat 34 :\rDan penuhilah janji karena janji itu pasti dimintai per-tanggung-jawabannya.\rAyat di atas mengisyaratkan bahwa seseorang itu dianjurkan untuk memenuhi janji yang telah diucapkan dengan penuh tanggung-jawab. Walaupun dalam hal peminangan yang status hukumnya belum mengikat dan belum pula menimbulkan kewajiban yang harus dipenuhi oleh salah satu pihak, maka seseorang tidak diperbolehkan membatalkannya tanpa adanya alasan-alasan yang rasional dan harus dilakukan dengan tata cara yang baik (dibenarkan syara’).\r> Ghufron Bkl\rBila tanpa alasan yang jelas hukumnya makruh membatalkan khitbah :","part":1,"page":346},{"id":347,"text":"( ولا يكره للولي ) المجبر الرجوع عن الإجابة لغرض ( ولا ) يكره ( للمرأة ) غير المجبرة ( الرجوع عن الإجابة لغرض ) صحيح لأنه عقد عمر يدوم الضرر فيه فكان لها الاحتياط لنفسها والنظر في حظها والولي قائم مقامها في ذلك ( وبلا غرض ) صحيح ( يكره ) الرجوع منه ومنها لما فيه من إخلاف الوعد والرجوع عن القول [ ص: 20 ] ولم يحرم لأن الحق بعد لم يلزم كمن ساوم لسلعة ثم بدا له أن لا يبيعها\rhttp://library.islamweb.net/Newlibrary/display_book.php?flag=1&bk_no=16&ID=6832\rالسؤال\rرجل أراد الزواج بفتاة رشيدة وقرأ فاتحتها ودفع لها مقدم صداقها ولم يحصل العقد عليها وأراد رد ما دفع من المهر حيث لم تصرح له الحكمدارية بالزواج لكونه متزوجا فامتنعت عن رد ما دفع لها منه . فهل يجوز رد ما دفع منه لها أم لها نصيب منه\rالجواب\rاطلعنا على هذا السؤال . ونفيد أنه نص بالمادة 4 من كتاب الأحوال الشخصية على أن الوعد بالنكاح فى المستقبل ومجرد قراءة الفاتحة بدون إجراء عقد شرعى بإيجاب وقبول لا يكون كل منهما نكاحا، وللخاطب العدول عمن خطبها، وللمخطوبة أيضا رد الخاطب الموعود بتزويجها منه ولو بعد قبولها أو قبول وليها إن كانت قاصرة هدية الخاطب ودفعه المهر كله أو بعضه .\rislamport.com/w/ftw/Web/432/229.htm\rالموسوعة الشاملة - فتاوى الأزهر\rمحمد بخيت .7 ذى الحجة 1335 هجرية - 24 سبتمبر 1917 م 1- الوعد بالزواج مستقبلا أو قراءة الفاتحة على ذلك بدون عقد شرعى لا يكون كل منهما زواجا .2- لكل من الطرفين رد الآخر فى هذه الفترة ولو بعد تقديم الهدايا ودفع كل المهر أو بعضه .3- للخاطب استرداد ما دفع على أنه مهر عينا إن كان قائما ولو تغير أو نقصت قي…\rLINK ASAL :\rwww.fb.com/groups/piss.ktb/1050569581632516","part":1,"page":347}],"titles":[{"id":1,"title":"Piss-Ktb (34)","lvl":1,"sub":0}]}