{"pages":[{"id":1,"text":"53\r0720. SEKILAS TENTANG PENDIRI WAHABI\rSEJARAH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB PENDIRI AJARAN \"WAHHABI\"\rNama Aliran Wahabi ini diambil dari nama pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahab (lahir di Najed tahun 1111 H / 1699 M). Asal mulanya dia adalah seorang pedagang yang sering berpindah dari satu negara ke negara lain dan diantara negara yang pernah disinggahi adalah Pendiri ajaran wahabiyah ini meninggal tahun 1206 H / 1792 M, seorang ulama mencatat tahunnya dengan hitungan Abjad: Ba daa halaakul khobiits (Telah nyata kebinasaan Orang yang Keji) Baghdad, Iran, India dan Syam\rKemudian pada tahun 1125 H / 1713 M, dia terpengaruh oleh seorang orientalis Inggris bernama Mr. Hempher yang bekerja sebagai mata-mata Inggris di Timur Tengah. Sejak itulah dia menjadi alat bagi Inggris untuk menyebarkan ajaran barunya. Inggris memang telah berhasil mendirikan sekte-sekte bahkan agama baru di tengah umat Islam seperti Ahmadiyah dan Baha?i. Bahkan Muhammad bin Abdul Wahab ini juga termasuk dalam target program kerja kaum kolonial dengan alirannya Wahabi.","part":1,"page":1},{"id":2,"text":"Mulanya Muhammad bin Abdul Wahab hidup di lingkungan sunni pengikut madzhab Hanbali, bahkan ayahnya Syaikh Abdul Wahab adalah seorang sunni yang baik, begitu pula guru-gurunya. Namun sejak semula ayah dan guru-gurunya mempunyai firasat yang kurang baik tentang dia bahwa dia akan sesat dan menyebarkan kesesatan. Bahkan mereka menyuruh orang-orang untuk berhati-hati terhadapnya. Ternyata tidak berselang lama firasat itu benar. Setelah hal itu terbukti ayahnya pun menentang dan memberi peringatan khusus padanya. Bahkan kakak kandungnya, Sulaiman bin Abdul Wahab, ulama besar dari madzhab Hanbali, menulis buku bantahan kepadanya dengan judul As-Sawaiqul Ilahiyah Fir Raddi Alal Wahabiyah.\rTidak ketinggalan pula salah satu gurunya di Madinah, Syekh Muhammad bin Sulaiman AI-Kurdi as-Syafii, menulis surat berisi nasehat: Wahai Ibn Abdil Wahab, aku menasehatimu karena Allah, tahanlah lisanmu dari mengkafirkan kaum muslimin, jika kau dengar seseorang meyakini bahwa orang yang ditawassuli bisa memberi manfaat tanpa kehendak Allah,\rmaka ajarilah dia kebenaran dan terangkan dalilnya bahwa selain Allah tidak bisa memberi manfaat maupun madharrat, kalau dia menentang bolehlah dia kau anggap kafir, tapi tidak mungkin kau mengkafirkan As-Sawadul Adham (kelompok mayoritas) diantara kaum muslimin, karena engkau menjauh dari kelompok terbesar, orang yang menjauh dari\rkelompok terbesar lebih dekat dengan kekafiran, sebab dia tidak mengikuti Jalan muslimin.","part":1,"page":2},{"id":3,"text":"Sebagaimana diketahui bahwa madzhab Ahlus Sunah sampai hari ini adalah kelompok terbesar. Allah berfirman : Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu (Allah biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan) dan kami masukkan ia ke dalam jahannam, dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali (QS: An-Nisa 115)\rSalah satu dari ajaran yang (diyakini oleh Muhammad bin Abdul Wahab, adalah mengkufurkan kaum muslim sunni yang mengamalkan tawassul, ziarah kubur, maulid nabi, dan lain-lain. Berbagai dalil akurat yang disampaikan ahlussunnah wal jamaah berkaitan dengan tawassul, ziarah kubur serta maulid, ditolak tanpa alasan yang dapat diterima. Bahkan lebih dari itu, justru berbalik mengkafirkan kaum muslimin sejak 600 tahun sebelumnya, termasuk guru-gurunya sendiri.\rPada satu kesempatan seseorang bertanya pada Muhammad bin Abdul Wahab, Berapa banyak Allah membebaskan orang dari neraka pada bulan Ramadhan?? Dengan segera dia menjawab, Setiap malam Allah membebaskan 100 ribu orang, dan di akhir malam Ramadhan Allah membebaskan sebanyak hitungan orang yang telah dibebaskan dari awal sampai akhir\rRamadhan. Lelaki itu bertanya lagi kalau begitu pengikutmu tidak mencapai satu persen pun dari jumlah tersebut, lalu siapakah kaum muslimin yang dibebaskan Allah tersebut? Dari manakah jumlah sebanyak itu? Sedangkan engkau membatasi bahwa hanya pengikutmu saja yang muslim.? Mendengar jawaban itu Ibn Abdil Wahab pun terdiam seribu bahasa.","part":1,"page":3},{"id":4,"text":"Sekalipun demikian Muhammad bin Abdul Wahab tidak menggubris nasehat ayahnya dan guru-gurunya itu. Dengan berdalihkan pemurnian ajaran Islam, dia terus menyebarkan ajarannya di sekitar wilayah Najed. Orang-orang yang pengetahuan agamanya minim banyak yang terpengaruh. Termasuk diantara pengikutnya adalah penguasa Dariyah, Muhammad bin\rSaud (meninggal tahun 1178 H / 1765 M) pendiri dinasti Saudi, yang dikemudian hari menjadi mertuanya.\rDia mendukung secara penuh dan memanfaatkannya untuk memperluas wilayah kekuasaannya. Ibn Saud sendiri sangat patuh pada perintah Muhammad bin Abdul Wahab. Jika dia menyuruh untuk membunuh atau merampas harta seseorang dia segera melaksanakannya dengan keyakinan bahwa kaum muslimin telah kafir dan syirik selama 600 tahun lebih, dan membunuh orang musyrik dijamin surga.\rSejak semula Muhammad bin Abdul Wahab sangat gemar mempelajari sejarah nabi-nabi palsu, seperti Musailamah Al-Kadzdzab, Aswad Al-Ansiy, Tulaihah Al-Asadiy dll. Agaknya dia punya keinginan mengaku nabi, ini tampak sekali ketika ia menyebut para pengikut dari\rdaerahnya dengan julukan Al-Anshar, sedangkan pengikutnya dari luar daerah dijuluki Al-Muhajirin. Kalau seseorang ingin menjadi pengikutnya, dia harus mengucapkan dua syahadat di hadapannya kemudian harus mengakui bahwa sebelum masuk Wahabi dirinya adalah musyrik, begitu pula kedua orang tuanya. Dia juga diharuskan mengakui bahwa para ulama besar sebelumnya telah mati kafir.","part":1,"page":4},{"id":5,"text":"Kalau mau mengakui hal tersebut dia diterima menjadi pengikutnya, kalau tidak dia pun langsung dibunuh. Muhammad bin Abdul Wahab juga sering merendahkan Nabi Muhammad SAW dengan dalih pemurnian akidah, dia juga membiarkan para pengikutnya melecehkan Nabi di hadapannya, sampai-sampai seorang pengikutnya berkata : Tongkatku ini masih lebih baik\rdari Muhammad, karena tongkat-ku masih bisa digunakan membunuh ular, sedangkan Muhammad telah mati dan tidak tersisa manfaatnya sama sekali. Muhammad bin Abdul Wahab di hadapan pengikutnya tak ubahnya seperti Nabi di hadapan umatnya. Pengikutnya semakin banyak dan wilayah kekuasaan semakin luas.\rKeduanya bekerja sama untuk memberantas tradisi yang dianggapnya keliru dalam masyarakat Arab, seperti tawassul, ziarah kubur, peringatan Maulid dan sebagainya. Tak mengherankan bila para pengikut Muhammad bin Abdul Wahab lantas menyerang makam-makam yang mulia. Bahkan, pada 1802, mereka menyerang Karbala-Irak, tempat dikebumikan jasad cucu Nabi Muhammad SAW, Husein bin Ali bin Abi Thalib. Karena makam tersebut dianggap tempat munkar yang berpotensi syirik kepada Allah.\rDua tahun kemudian, mereka menyerang Madinah, menghancurkan kubah yang ada di atas kuburan, menjarah hisan - hiasan yang ada di Hujrah Nabi Muhammad SAW.","part":1,"page":5},{"id":6,"text":"Keberhasilan menaklukkan Madinah berlanjut. Mereka masuk ke Mekkah pada 1806, dan merusak kiswah, kain penutup Kabah yang terbuat dari sutra. Kemudian merobohkan puluhan kubah di Ma'la, termasuk kubah tempat kelahiran Nabi Muhammad SAW, tempat kelahiran Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Ali, juga kubah Sayyidatuna Khadijah, masjid Abdullah bin Abbas.\rMereka terus menghancurkan masjid-masjid dan tempat-tempat kaum solihin sambil bersorak-sorai, menyanyi dan diiringi tabuhan kendang. Mereka juga mencaci-maki ahli kubur bahkan sebagian mereka kencing di kubur kaum solihin tersebut. Gerakan kaum Wahabi ini membuat Sultan Mahmud II, penguasa Kerajaan Usmani, Istanbul-Turki, murka. Dikirimlah prajuritnya yang bermarkas di Mesir, di bawah pimpinan Muhammad Ali, untuk melumpuhkannya. Pada 1813, Madinah dan Mekkahbisa direbut kembali.\rGerakan Wahabi surut. Tapi, pada awal abad ke-20, Abdul Aziz bin Saud bangkit kembali mengusung paham Wahabi. Tahun 1924, ia berhasil menduduki Mekkah, lalu ke Madinah dan Jeddah, memanfaatkan kelemahan Turki akibat kekalahannya dalam Perang Dunia I.\rSejak itu, hingga kini, paham Wahabi mengendalikan pemerintahan di Arab Saudi. Dewasa ini pengaruh gerakan Wahabi bersifat global. Riyadh mengeluarkan jutaan dolar AS setiap tahun untuk menyebarkan ideologi Wahabi. Sejak hadirnya Wahabi, dunia Islam tidak pernah tenang penuh dengan pergolakan pemikiran, sebab kelompok ekstrem itu selalu menghalau pemikiran dan pemahaman agama Sunni-Syafii yang sudah mapan.","part":1,"page":6},{"id":7,"text":"Kekejaman dan kejahilan Wahabi lainnya adalah meruntuhkan kubah-kubah di atas makam sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW yang berada di Ma'la (Mekkah), di Baqi dan Uhud (Madinah) semuanya diruntuhkan dan diratakan dengan tanah dengan mengunakan dinamit penghancur. Demikian juga kubah di atas tanah Nabi Muhammad SAW dilahirkan, yaitu di Suq al Leil diratakan dengan\rtanah dengan menggunakan dinamit dan dijadikan tempat parkir onta, namun karena gencarnya desakan kaum Muslimin International maka dibangun perpustakaan.\rKaum Wahabi benar-benar tidak pernah menghargai peninggalan sejarah dan menghormati nilai-nilai luhur Islam. Semula AI-Qubbatul Khadra (kubah hijau) tempat Nabi Muhammad SAW dimakamkan juga akan dihancurkan dan diratakan dengan tanah tapi karena ancaman International maka orang-orang biadab itu menjadi takut dan mengurungkan niatnya.\rBegitu pula seluruh rangkaian yang menjadi manasik haji akan dimodifikasi termasuk maqom Ibrahim akan digeser tapi karena banyak yang menentangnya maka diurungkan. Pengembangan kota suci Makkah dan Madinah akhir-akhir ini tidak mempedulikan situs-situs sejarah Islam. Makin habis saja bangunan yang menjadi saksi sejarah Rasulullah SAW dan sahabatnya. Bangunan itu dibongkar karena khawatir dijadikan tempat keramat. Bahkan\rsekarang, tempat kelahiran Nabi Muhammad SAW terancam akan dibongkar untuk perluasan tempat parkir.","part":1,"page":7},{"id":8,"text":"Sebelumnya, rumah Rasulullah pun sudah lebih dulu digusur. Padahal, disitulah Rasulullah berulang-ulang menerima wahyu. Di tempat itu juga putra-putrinya dilahirkan serta Khadijah meninggal. Islam dengan tafsiran kaku yang dipraktikkan wahabisme paling punya andil dalam pemusnahan ini. Kaum Wahabi memandang situs-situs sejarah itu bisa mengarah kepada pemujaan berhala baru.\rPada bulan Juli yang lalu, Sami Angawi, pakar arsitektur Islam di wilayah tersebut mengatakan bahwa beberapa bangunan dari era Islam kuno terancam musnah. Pada lokasi bangunan berumur 1.400 tahun Itu akan dibangun jalan menuju menara tinggi yang menjadi tujuan ziarah jamaah haji dan umrah. Saat ini kita tengah menyaksikan saat-saat terakhir sejarah Makkah. Bagian bersejarahnya akan segera diratakan untuk dibangun tempat parkir, katanya kepada Reuters. Angawi menyebut setidaknya 300 bangunan bersejarah di Makkah dan Madinah dimusnahkan selama 50 tahun terakhir.\rBahkan sebagian besar bangunan bersejarah Islam telah punah semenjak Arab Saudi berdiri pada 1932. Hal tersebut berhubungan dengan maklumat yang dikeluarkan Dewan Keagamaan Senior Kerajaan pada tahun 1994. Dalam maklumat tersebut tertulis, Pelestarian bangunan bangunan bersejarah berpotensi menggiring umat Muslim pada penyembahan berhala.","part":1,"page":8},{"id":9,"text":"Nasib situs bersejarah Islam di Arab Saudi memang sangat menyedihkan. Mereka banyak menghancurkan peninggalan- peninggalan Islam sejak masa Ar-Rasul Muhammad SAW. Semua jejak jerih payah Rasulullah itu habis oleh modernisasi ala Wahabi. Sebaliknya mereka malah mendatangkan para arkeolog (ahli purbakala) dari seluruh dunia dengan biaya ratusan\rjuta dollar untuk menggali peninggalan- peninggalan sebelum Islam baik yang dari kaum jahiliyah maupun sebelumnya dengan dalih obyek wisata.\rKemudian dengan bangga mereka menunjukkan bahwa zaman pra Islam telah menunjukkan kemajuan yang luar biasa, tidak diragukan lagi ini merupakan pelenyapan bukti sejarah yang akan menimbulkan suatu keraguan di kemudian hari.\rGerakan wahabi dimotori oleh para juru dakwah yang radikal dan ekstrim, mereka menebarkan kebencian permusuhan dan didukung oleh keuangan yang cukup besar. Mereka gemar menuduh golongan Islam yang tak sejalan dengan mereka dengan tuduhan kafir, syirik dan ahli bidah. Itulah ucapan yang selalu didengungkan di setiap kesempatan, mereka tak pernah mengakui jasa para ulama Islam manapun kecuali kelompok mereka sendiri. Di negeri kita ini mereka menaruh dendam dan kebencian mendalam kepada para Wali Songo yang menyebarkan dan meng-Islam-kan penduduk negeri ini.","part":1,"page":9},{"id":10,"text":"Mereka mengatakan ajaran para wali itu masih kecampuran kemusyrikan Hindu dan Budha, padahal para Wali itu telah meng-Islam-kan 90 % penduduk negeri ini. Mampukah wahabi-wahabi itu meng-Islam-kan yang 10% sisanya? Mempertahankan yang 90 % dari terkaman orang kafir saja tak bakal mampu, apalagi mau menambah 10 % sisanya. Justru mereka\rdengan mudahnya mengkafirkan orang-orang yang dengan nyata bertauhid kepada Allah SWT.\rJika bukan karena Rahmat Allah yang mentakdirkan para Wali Songo untuk berdakwah ke negeri kita ini, tentu orang-orang yang menjadi corong kaum wahabi itu masih berada dalam kepercayaan animisme, penyembah berhala atau masih kafir. (Naudzu billah min dzalik).\rOleh karena itu janganlah dipercaya kalau mereka mengaku-aku sebagai faham yang hanya berpegang teguh pada Al-Quran dan As-Sunnah. Mereka berdalih mengikuti keteladanan kaum salaf apalagi mengaku sebagai golongan yang selamat dan sebagainya, itu semua omong kosong belaka. Mereka telah menorehkan catatan hitam dalam sejarah dengan membantai ribuan orang di Makkah dan Madinah serta daerah lain di wilayah Hijaz (yang sekarang dinamakan Saudi).\rTidakkah anda ketahui bahwa yang terbantai waktu itu terdiri dari para ulama yang sholeh dan alim, bahkan anak-anak serta balita pun mereka bantai di hadapan ibunya. Tragedi berdarah ini terjadi sekitar tahun 1805. Semua itu mereka lakukan dengan dalih memberantas bidah, padahal bukankah nama Saudi sendiri adalah suatu nama bidah Karena nama negeri Rasulullah Muhammad SAW diganti dengan nama satu keluarga kerajaan pendukung faham wahabi yaitu As-Saud.","part":1,"page":10},{"id":11,"text":"Sungguh Nabi Muhammad SAW telah memberitakan akan datangnya Faham Wahabi ini dalam beberapa hadits, ini merupakan tanda kenabian beliau Nabi Muhammad SAW dalam memberitakan sesuatu yang belum terjadi. Seluruh hadits-hadits ini adalah shahih, sebagaimana terdapat dalam kitab shahih BUKHARI & MUSLIM dan lainnya. Diantaranya: Fitnah itu datangnya dari sana, fitnah itu datangnya dari arah sana, sambil menunjuk ke arah timur (Najed). (HR. Muslim dalam Kitabul Fitan).\rSEBAGAIMANA KATA NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU 'ALAIHI WASALLAM : FITNAH TANDUK SETAN ITU DATANGNYA DARI RIYADH (ARAB SAUDI).\rJANGAN LEWATKAN TENTUNYA SEMUANYA TERANGKUM DENGAN PETA WILAYAHNYA di Link ini klik: www.fb.com/notes/179601428728080\rhttp://allangkati.blogspot.com/2010/06/wilayah-nejd.html\rSelanjutnya: Ibnu Taimiyah Dalam Karyanya Mengatakan Bahwa Dari Arah Timur Akan Muncul FITNAH BESAR dan PANGKAL KEKUFURAN\rJuga semuanya di link ini klik: www.fb.com/notes/aqidah-ahlussunnah-allah-ada-tanpa-tempat/ibnu-taimiyah-dalam-karyanya-mengatakan-bahwa-dari-arah-timur-akan-muncul-fitnah/154442421239342\rDan perlu kita analisis lebih tepat adanya sebagai berikut:\rAnalisis Hadis Tanduk Setan : Najd Bukan Iraq Klik: http://bicarasalafy.wordpress.com/2011/01/11/analisis-hadis-tanduk-setan-najd-bukan-iraq/\rdan klik: http://bicarasalafy.wordpress.com/2011/01/11/hadis-tanduk-setan-kontroversi-najd-dan-iraq/","part":1,"page":11},{"id":12,"text":"Akan keluar dari arah timur segolongan manusia yang membaca Al-Qur'an namun tidak sampai melewati kerongkongan mereka (tidak sampai ke hati), mereka keluar dari agama seperti anak panah keluar dari busurnya, mereka tidak akan bisa kembali seperti anak panah yang tak akan kembali ketempatnya, tanda-tanda mereka ialah bercukur (Gundul). (HR. Bukhori no 7123, Juz 6 hal 20748).\rHadis ini juga diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Majah, Abu Daud, dan Ibnu Hibban : Nabi Muhammad SAW pernah berdoa: Ya Allah, berikan kami berkah dalam negara Syam dan Yaman, Para sahabat berkata: Dan dari Najed, wahai Rasulullah, beliau berdoa: Ya Allah, berikan kami berkah dalam negara Syam dan Yaman, dan pada yang ketiga kalinya beliau Nabi Muhammad SAW bersabda: Di sana (Najed) akan ada keguncangan fitnah serta di sana pula akan muncul tanduk syaitan., Dalam riwayat lain dua tanduk syaitan.\rDalam hadits-hadits tersebut dijelaskan, bahwa tanda-tanda mereka adalah bercukur (gundul). Dan ini adalah merupakan nash yang jelas ditujukan kepada para penganut Muhammad bin Abdul Wahab, karena dia telah memerintahkan setiap pengikutnya mencukur rambut kepalanya hingga mereka yang mengikuti tidak diperbolehkan berpaling dari majlisnya sebelum bercukur gundul. Hal seperti ini tidak pernah terjadi pada aliran-aliran sesat lain sebelumnya.","part":1,"page":12},{"id":13,"text":"Seperti yang telah dikatakan oleh Sayyid Abdurrahman Al-Ahdal: Tidak perlu kita menulis buku untuk menolak Muhammad bin Abdul Wahab, karena sudah cukup ditolak oleh hadits-hadits Rasulullah SAW itu sendiri yang telah menegaskan bahwa tanda-tanda mereka adalah bercukur (gundul), karena ahli bidah sebelumnya tidak pernah berbuat demikian. Al-Allamah Sayyid AIwi bin Ahmad bin Hasan bin Al-Quthub Abdullah AI-Haddad menyebutkan dalam kitabnya Jalaudz Dzolam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abbas bin Abdul Muthalib dari Nabi Muhammad SAW: Akan keluar di abad kedua belas nanti di lembah BANY HANIFAH seorang lelaki, yang tingkahnya bagaikan sapi jantan (sombong), lidahnya selalu menjilat bibirnya yang besar, pada zaman itu banyak terjadi kekacauan, mereka menghalalkan harta kaum muslimin, diambil untuk berdagang dan menghalalkan darah kaum muslimin. (AI-Hadits)\rBANY HANIFAH adalah kaum nabi palsu Musailamah Al-Kadzdzab dan Muhammad bin Saud. Kemudian dalam kitab tersebut Sayyid AIwi menyebutkan bahwa orang yang tertipu ini tiada lain ialah Muhammad bin Abdul Wahab. Adapun mengenai sabda Nabi Muhammad SAW yang mengisyaratkan bahwa akan ada keguncangan dari arah timur (Najed) dan dua tanduk setan, sebagian, ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan dua tanduk setan itu tiada lain adalah Musailamah Al-Kadzdzab dan Muhammad Ibn Abdil Wahab.\rBUKTI KESESATAN WAHABY DAN HUJJAH ASWAJA TERHADAPNYA (SETIAP MUSLIM HARUS TAU!!!) URAIAN LENGKAP, SEMUANYA JUGA BISA DILIHAT DI LINK INI klik : www.fb.com/notes/10150115186893962\rOleh:Thobary Syadzily (dengan beberapa tambahan).","part":1,"page":13},{"id":14,"text":"KATA NABI MUHAMMAD SAW : FITNAH TANDUK SYIATHON ITU DATANGNYA DARI RIYADH (ARAB SAUDI)\rSebagian para pengikut wahabi merasa marah jika kita sebut bahwa Nejd tempat kelahiran Imam mereka adalah tempat keluarnya tanduk Syaitan dan tempat keluarnya khawarij, mereka beralasan bahwa Nedj yang di maksud Rasululah s.a.w adalah Iraq.\r0722. Para Wali Allah saling mengenal di alam ruhani\rAl Imam al Alim al Alamah al Arif Billah Muhadits al Musnid al Mufasir Qutb al Haramain Syeikh Muhammad al Maliki al Hasni al Husaini as Syadzili Mekah menyebutkan bahwa Syekh Ahmad Shohibul wafa Tajul ‘Arifin adalah Sulthonul Awliya fi hadza zaman bahkan beliaupun menyebutkan Qoddasallahu Sirrohu bukan Rodliyallohu ‘anhu seperti yang kebanyakan disebutkan oleh para ikhwan. Walaupun secara dhohir Syekh Muhammad Alawy Al-Maliki belum bertemu dengan pangersa Abah namun keduanya telah mengenal di alam ruhani yang tak dibatasi ruang dan waktu.\rMereka yang memperjalankan diri kepada Allah Azza wa Jalla akan saling mengenal di alam ruhani yang tak dibatasi ruang dan waktu.\rRasulullah adalah manusia yang paling utama, paling mulia, paling dekat dengan Allah Azza wa Jalla. Beliau termasuk salah satu manusia yang telah kasyaf.\rKasyaf terbukanya hijab atau tabir pemisah antara hamba dan Tuhan. Allah membukakan tabir bagi kekasih-Nya untuk melihat, mendengar, merasakan, dan mengetahui hal-hal ghaib.","part":1,"page":14},{"id":15,"text":"Mereka yang kasyaf dapat mengetahui atau mengenal siapa-siapa yang melakukan “perjalanan” kepada Sang Kekasih , Allah Azza wa Jalla. Inilah yang dikiaskan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan perkataannya yang artinya “aku mendengar derap sandalmu di dalam surga”.\rBilal ra memperjalankan dirinya kepada Allah ta’ala dengan amal kebaikan berupa selalu menjaga wudhunya dan menjalankan sholat selain sholat yang telah diwajibkanNya.\rRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bertanya kepada Bilal ketika shalat Shubuh: “Hai Bilal, katakanlah Kepadaku apakah amalanmu yang paling besar pahalanya yang pernah kamu kerjakan dalam Islam, karena tadi malam aku mendengar derap sandalmu di dalam surga? ‘ Bilal menjawab; ‘Ya Rasulullah, sungguh saya tidak mengerjakan amal perbuatan yang paling besar pahalanya dalam Islam selain saya bersuci dengan sempurna, baik itu pada waktu malam ataupun siang hari. lalu dengannya saya mengerjakan shalat selain shalat yang telah diwajibkan Allah kepada saya.” (HR Muslim 4497)\rDalam suatu riwayat. ”Qoola A’liyy bin Abi Thalib: Qultu yaa Rosuulolloh ayyun thoriiqotin aqrobu ilallohi? Faqoola Rasullulohi: dzikrullahi”. artinya; “Ali Bin Abi Thalib berkata; “aku bertanya kepada Rasullulah, jalan/metode(Thariqot) apakah yang bisa mendekatkan diri kepada Allah? “Rasullulah menjawab; “dzikrullah.”","part":1,"page":15},{"id":16,"text":"Apa yang dilakukan oleh Bilal ra, selalu menjaga wudhunya atau selalu menjaga dalam keadaan bersuci adalah termasuk dzikrullah atau amal kebaikan atau perbuatan yang dilakukan bukan atas diwajibkan oleh Allah Azza wa Jalla namun atas kesadaran diri. Ini adalah salah satu bentuk memperjalankan diri kepada Allah ta'ala atau mendekatkan diri kepada Allah untuk mendapatkan cintaNya atau ridhoNya\rDalam sebuah haditas Qudsi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: \"Allah berfirman; Siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan perang kepadanya, dan hamba-Ku tidak bisa mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada yang telah Aku wajibkan (amal ketaatan), jika hamba-Ku terus menerus mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan kebaikan (amalan sunnah), maka Aku mencintai dia, jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya yang ia jadikan untuk mendengar, dan pandangannya yang ia jadikan untuk memandang, dan tangannya yang ia jadikan untuk memukul, dan kakinya yang dijadikannya untuk berjalan, jikalau ia meminta-Ku, pasti Kuberi, dan jika meminta perlindungan kepada-KU, pasti Ku-lindungi. Dan aku tidak ragu untuk melakukan sesuatu yang Aku menjadi pelakunya sendiri sebagaimana keragu-raguan-Ku untuk mencabut nyawa seorang mukmin yang ia (khawatir) terhadap kematian itu, dan Aku sendiri khawatir ia merasakan kepedihan sakitnya. (HR Muslim 6021).","part":1,"page":16},{"id":17,"text":"Dalam hadits qudsi, “Allah berfirman yang artinya: “Para Wali-Ku itu ada dibawah naungan-Ku, tiada yang mengenal mereka dan mendekat kepada seorang wali, kecuali jika Allah memberikan Taufiq HidayahNya”\rAbu Yazid al Busthami mengatakan: Para wali Allah merupakan pengantin-pengantin di bumi-Nya dan takkan dapat melihat para pengantin itu melainkan ahlinya.\rSahl Ibn ‘Abd Allah at-Tustari ketika ditanya oleh muridnya tentang bagaimana (cara) mengenal Waliyullah, ia menjawab : “Allah tidak akan memperkenalkan mereka kecuali kepada orang-orang yang serupa dengan mereka, atau kepada orang yang bakal mendapat manfaat dari mereka – untuk mengenal dan mendekat kepada-Nya.”\rAs Sarraj at-Tusi mengatakan : “Jika ada yang menanyakan kepadamu perihal siapa sebenarnya wali itu dan bagaimana sifat mereka, maka jawablah : Mereka adalah orang yang tahu tentang Allah dan hukum-hukum Allah, dan mengamalkan apa yang diajarkan Allah kepada mereka. Mereka adalah hamba-hamba Allah yang tulus dan wali-wali-Nya yang bertakwa.","part":1,"page":17},{"id":18,"text":"Rasulullah shallallahu aliahi wasallam : Sesungguhnya ada di antara hamba Allah (manusia) yang mereka itu bukanlah para Nabi dan bukan pula para Syuhada’. Mereka dirindukan oleh para Nabi dan Syuhada’ pada hari kiamat karena kedudukan (pangkat) mereka di sisi Allah Swt seorang dari shahabatnya berkata, siapa gerangan mereka itu wahai Rasulullah? Semoga kita dapat mencintai mereka. Nabi shallallahu aliahi wasallam menjawab dengan sabdanya: Mereka adalah suatu kaum yang saling berkasih sayang dengan anugerah Allah bukan karena ada hubungan kekeluargaan dan bukan karena harta benda, wajah-wajah mereka memancarkan cahaya dan mereka berdiri di atas mimbar-mimbar dari cahaya. Tiada mereka merasa takut seperti manusia merasakannya dan tiada mereka berduka cita apabila para manusia berduka cita. (HR. an Nasai dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya)\rHadits senada, dari ‘Umar bin Khathab ra bahwa Rasulullah shallallahu aliahi wasallam","part":1,"page":18},{"id":19,"text":"“Sesungguhnya diantara hamba-hambaku itu ada manusia manusia yang bukan termasuk golongan para Nabi, bukan pula syuhada tetapi pada hari kiamat Allah ‘Azza wa Jalla menempatkan maqam mereka itu adalah maqam para Nabi dan syuhada.”Seorang laki-laki bertanya : “siapa mereka itu dan apa amalan mereka?”mudah-mudahan kami menyukainya. Nabi bersabda: “yaitu Kaum yang saling menyayangi karena Allah ‘Azza wa Jalla walaupun mereka tidak bertalian darah, dan mereka itu saling menyayangi bukan karena hartanya, dan demi Allah sungguh wajah mereka itu bercahaya, dan sungguh tempat mereka itu dari cahaya, dan mereka itu tidak takut seperti yang ditakuti manusia, dan tidak susah seperti yang disusahkan manusia,” kemudian beliau membaca ayat : ” Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS Yunus [10]:62 )\rTentang derajat/tingkatan para Wali Allah telah diuraikan dalam tulisan pada\rhttp://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/05/2011/09/28/maqom-wali-allah/\rPara Wali Allah (kekasih Allah) adalah mereka yang telah mencapai muslim yang ihsan (muhsin/muhsinin) atau mereka yang telah berma'rifat.\rMereka yang menjalankan tasawuf dalam Islam adalah mereka yang memperjalankan dirinya kepada Allah atau mereka yang berupaya untuk mencapai muslim yang ihsan atau berma'rifat. Apakah Ihsan ?\rقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِحْسَانُ قَالَ أَنْ تَخْشَى اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنَّكَ إِنْ لَا تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ","part":1,"page":19},{"id":20,"text":"Lalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu takut (takhsya / khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.’ (HR Muslim 11) Link: http://www.indoquran.com/index.php?surano=2&ayatno=3&action=display&option=com_muslim\rAda dua kondisi yang dicapai oleh muslim yang ihsan :\r1.…Kondisi minimal adalah mereka yang selalu merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla\r2.…Kondiri terbaik adalah mereka yang dapat melihat Allah Azza wa Jalla dengan hati (ain bashiroh)\rImam Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani, “Apakah Anda pernah melihat Tuhan?” Beliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?” “Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali. Sayyidina Ali ra menjawab “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati”. Muslim yang merasa diawasi Allah -Maha Agung sifatNya atau mereka yang dapat melihat Rabb atau muslim yang Ihsan maka ia mencegah dirinya dari melakukan sesuatu yang dibenciNya, Sehingga terwujud dalam berakhlakul karimah. Inilah tujuan Rasulullah diutus oleh Allah ta'ala","part":1,"page":20},{"id":21,"text":"Rasulullah menyampaikan yang maknanya “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad). Jadi kalau ada yang mengaku-aku telah menjalankan tasawuf atau mengikuti tharikat atau mengaku-aku telah berma'rifat namun tidak menjalankan perkara syari'at seperti sholat lima waktu maka bisa dipastikan dia telah berdusta atau tharikat yang diikuti adalah thariqat palsu.\rBerkata Imam Abu Yazid al Busthami yang artinya, “Kalau kamu melihat seseorang yang diberi keramat sampai ia terbang di udara, jangan kamu tertarik kepadanya, kecuali kalau ia melaksanakan suruhan agama dan menghentikan larangan agama dan membayarkan sekalian kewajiban syari’at”\rPendapat syaikh Abu Al Hasan Asy-Syadzili, ” Jika pendapat atau temuanmu bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits, maka tetaplah berpegang dengan hal-hal yang ada pada Al-Qur’an dan Hadits. Dengan demikian engkau tidak akan menerima resiko dalam penemuanmu, sebab dalam masalah seperti itu tidak ada ilham atau musyahadah, kecuali setelah bersesuaian dengan Al-Qur’an dan Hadits“.\rNasihat Imam Syafi’i ra : \"Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih (perkara syariat) dan juga menjalani tasawuf (thariqat, hakikat dan ma’rifat) , dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya.","part":1,"page":21},{"id":22,"text":"Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mahu menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelezatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mau mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik (muslim yang ihsan) ? [Diwan Al-Imam Asy-Syafi'i, hal. 47]\rNasehat Imam Malik ra : “Dia yang sedang Tasawuf tanpa mempelajari fikih rusak keimanannya , sementara dia yang belajar fikih tanpa mengamalkan Tasawuf rusaklah dia . Hanya dia siapa memadukan keduanya terjamin benar”\rWassalam\rZon di Jonggol, Kab Bogor 16830\r0723. Tidak cukup dengan hanya memenuhi syarat dan rukunnya\rDalam tulisan sebelumnya pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/11/18/mengaku-mengikuti-salaf/ telah disampaikan bahwa mereka mengaku-aku mengikuti pemahaman Salafush Sholeh namun pada kenyataannya mereka tidak lebih dari mengikuti pemahaman ulama-ulama seperti ulama Ibnu Taimiyyah, ulama Ibnu Qoyyim al Jauziah (pengikut Ibnu Taimiyyah), ulama Muhammad bin Abdul Wahhab (pengikut Ibnu Taimiyyah), atau bahkan mengikuti pemahaman ulama Al Albani (pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab).\rOleh karena mereka tidak mengikuti pemahaman pemimpin ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak) alias Imam Mazhab yang empat sehingga merekapun pada akhirnya berselisih walaupun pada hakikatnya mereka mengikuti pemahaman ulama induk yang sama yakni ulama Ibnu Taimiyyah sebagaimana diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/11/20/timbulnya-perselisihan/","part":1,"page":22},{"id":23,"text":"Salah satu ulama panutan mereka, ulama Al Albani (pengikut ulama Muhammad bin Abdul Wahhab yang mengikuti pemahaman ulama Ibnu Taimiyyah) menuliskan :\rانصح لكل من وقف على هذا الكتاب و غيره, ان لا يبادر الى العمل بما فيه من الاحاديث الا بعد التأكد من ثبوتها, وقد سهلنا له السبيل الى ذلك بما علقناه عليها, فما كان ثابتا منها عمل به وعض عليه النواجذ, والا تركه\r\"Aku nasihatkan kepada setiap orang yang membaca buku ini atau buku yang lainnya, untuk tidak cepat-cepat mengamalkan hadits-hadits yang tercantum di dalam buku-buku tersebut, kecuali setelah benar-benar menelitinya. Aku telah memudahkan jalan tersebut dengan komentar-komentar yang aku berikan atas hadits tersebut, apabila hal tersebut (komentar dariku) ada, maka barulah ia mengamalkan hadits tersebut dan menggigit gerahamnya. Jika tidak ada (komentar dariku), maka tinggalkanlah hadits tersebut.\" (Shahih al-Kalim ath-Thayyib li ibn Taimiyyah, h.16)\rSedangkan ulama-ulama bermazhab menyampaikan pendapatnya tentang ulama Al Albani antara lain : “Al-Albani tidak dapat dipertanggungjawabkan dalam menetapkan nilai suatu hadis, baik shahih ataupun dhaif. la telah mengubah hadis-hadis dengan sesuatu yang tidak boleh menurut ulama hadis…” (Al-Muhaddits Prof. Dr. Abdullah al-Ghimari, Guru Besar llmu Hadis di universitas-univesitas Maroko).","part":1,"page":23},{"id":24,"text":"“Di kalangan salafi (wahabi), lelaki satu ini dianggap muhaddis paling ulung di zamannya. Itu klaim mereka. Bahkan sebagian mereka tak canggung menyetarakannya dengan para imam hadis terdahulu. Fantastis. Mereka gencar mempromosikannya lewat berbagai media. Dan usaha mereka bisa dikata berhasil. Kalangan muslim banyak yang tertipu dengan hadis-hadis edaran mereka yang di akhirnya terdapat kutipan, “disahihkan oleh Albani, ”. Para salafi itu seolah memaksakan kesan bahwa dengan kalimat itu Al-Albani sudah setaraf dengan Imam Turmuzi, Imam Ibnu Majah dan lainnya.“\rSumber: http://www.forsansalaf.com/2009/albani-muhaddits-tanpa-sanad-andalan-wahabi/\rSelengkapnya pendapat ulama-ulama lainnya tentang ulama Al Albani diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/13/2011/09/07/pendapat-ulama/\rUlama Al Albani adalah contoh ulama yang dikenal memahami Al Qur’an dan As Sunnah lebih bersandarkan kepada belajar sendiri (secara otodidak) melalui cara muthola’ah (menelaah kitab) dan memahaminya dengan akal pikiran sendiri.\rPara ulama telah menyampaikan bahwa jika memahami Al Qur’an dan As Sunnah dengan belajar sendiri (secara otodidak) melalui cara muthola’ah (menelaah kitab) dan memahaminya dengan akal pikiran sendiri, kemungkinan besar akan berakibat negative seperti,\r1. Ibadah fasidah (ibadah yang rusak) , ibadah yang kehilangan ruhnya atau aspek bathin\r2. Tasybihillah Bikholqihi , penyerupaan Allah dengan makhluq Nya\rAkibat tasybihillah bikholqihi , penyerupaan Allah dengan makhluk Nya telah diuraikan dalam tulisan pada\rJangan sampaikan terjemahannya saja","part":1,"page":24},{"id":25,"text":"http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/11/10/jangan-terjemahannya-saja/\rMakna istiwa yang pantas bagiNya\rhttp://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/11/14/makna-istiwa/\rTidak ada perumpamaan bagiNya\rhttp://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/11/15/tidak-ada-perumpamaan/\rMustahil dibatasi atau berbatas dengan Arsy\rhttp://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/11/17/mustahil-dibatasi/\rSedangkan tulisan kali ini menguraikan akibat negative berupa ibadah fasidah (ibadah yang rusak) , ibadah yang kehilangan ruhnya atau aspek bathin. Dicontohkan dengan bagaimana pengingkaran ulama Al Albani terhadap hadits tentang sholat yang kehilangan ruhnya. Hadits yang diingkarinya salah satunya adalah\rRasulullah bersabda, “Barangsiapa yang shalatnya tidak mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, maka ia tidak bertambah dari Allah kecuali semakin jauh dariNya” (diriwayatkan oleh ath Thabarani dalam al-Kabir nomor 11025, 11/46)\rPendapat ulama Al Albani , contohnya termuat pada http://almanhaj.or.id/content/2324/slash/0\r“matan (redaksi) hadits ini tidak sah, sebab zhahirnya mencakup orang yang melakukan shalat lengkap dengan syarat dan rukun-rukunnya. Yang mana syari’at ini menghukuminya sah. Meskipun orang yang melakukan shalat tersebut terus menerus melakukan beberapa maksiat, maka bagaimana mungkin hanya karena itu, shalatnya tidak akan menambah kecuali jarak yang semakin jauh. Hal ini tidak masuk akal dan tidak disetujui oleh syari’at ini”\rKami garis bawahi","part":1,"page":25},{"id":26,"text":"\"meskipun orang yang melakukan shalat tersebut terus menerus melakukan beberapa maksiat, maka bagaimana mungkin hanya karena itu, shalatnya tidak akan menambah kecuali jarak yang semakin jauh\"\rDengan kata lain ulama Al Albani berkeyakinan bahwa orang terus menerus melakukan beberapa maksiat, tidak apa-apa, asalkan melakukan shalat lengkap dengan syarat dan rukun-rukunnya\rPadahal orang yang sholat namun masih terus menerus melakukan beberapa maksiat menandakan sholatnya lalai\rFirman Allah Azza wa Jalla, yang artinya\r`…. maka celakalah orang-orang yang sholat, (yaitu) orang-orang yang lalai dalam sholatnya, dan orang-orang yang berbuat riya” (QS Al-Ma’un 107: 4-6)\r“… dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai“(QS Al A’raaf 7: 205)\r“Sesungguhnya shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar” (QS al Ankabut [29]:45).\rDan barangsiapa tidak khusyuk dalam sholatnya dan pengawasan Allah tidak tertanam dalam jiwanya atau qalbunya, maka ia telah bermaksiat dan berhak mendapatkan siksa Allah ta’ala.\rSegelintir kaum muslim, ibadah sholat mereka sekedar upacara keagamaan (ritual) atau gerakan-gerakan yang bersifat mekanis (amal) yang sesuai syarat dan rukun-rukunnya (ilmu), sebagaimana robot sesuai programnya.\rRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian, tetapi Allah melihat kepada hati kalian.” (HR Muslim)","part":1,"page":26},{"id":27,"text":"Tidaklah mereka mencapai sholat yang dikatakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa “Ash-shalatul Mi’rajul Mu’minin“, “sholat itu adalah mi’rajnya orang-orang mukmin“. yaitu naiknya jiwa meninggalkan ikatan nafsu yang terdapat dalam fisik manusia menuju ke hadirat Allah\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya kalian apabila sholat maka sesungguhnya ia sedang bermunajat (bertemu) dengan Tuhannya, maka hendaknya ia mengerti bagaimana bermunajat dengan Tuhan”\rAllah berfirman yang artinya,\r“Sesungguhnya sembahyang (Sholat) itu memang berat kecuali bagi mereka yang khusyu’ yaitu mereka yang yakin akan berjumpa dengan Tuhan mereka, dan sesungguhnya mereka akan kembali kepadaNya”. (QS. Al-Baqarah 2 : 45).\rSholat adalah saat-saat utama bertemu dengan Allah Azza wa Jalla, hal ini dialami mereka yang telah berma'rifat atau mereka yang telah mencapai muslim yang Ihsan (muhsin/muhsinin). Apakah Ihsan ?\rقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِحْسَانُ قَالَ أَنْ تَخْشَى اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنَّكَ إِنْ لَا تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ\rLalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu takut (takhsya / khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.’ (HR Muslim 11) Link: http://www.indoquran.com/index.php?surano=2&ayatno=3&action=display&option=com_muslim\rAda dua kondisi yang dicapai oleh muslim yang ihsan\r1.…Kondisi minimal adalah mereka yang selalu merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla","part":1,"page":27},{"id":28,"text":"2.…Kondiri terbaik adalah mereka yang dapat melihat Allah Azza wa Jalla dengan hati (ain bashiroh)\rImam Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani,\r“Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”\rBeliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”\r“Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali.\rSayyidina Ali ra menjawab “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati”\rRasulullah bersabda “Iman paling afdol ialah apabila kamu mengetahui bahwa Allah selalu menyertaimu dimanapun kamu berada“. (HR. Ath Thobari)\rMuslim yang merasa/meyakini diawasi Allah -Maha Agung sifatNya atau mereka yang dapat melihat Rabb atau muslim yang Ihsan maka ia mencegah dirinya dari melakukan sesuatu yang dibenciNya, mencegah dirinya dari perbuatan maksiat, mencegah dirinya dari melakukan perbuatan keji dan mungkar. Sehingga terwujud dalam berakhlakul karimah. Inilah tujuan Rasulullah diutus oleh Allah ta'ala\rRasulullah menyampaikan yang maknanya “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad).\rMereka yang telah mencapai muslim yang Ihsan atau muslim yang berma'rifat atau muslim yang berakhlakul kharimah atau sholihin atau shiddiqin akan termasuk orang-orang disisi Allah Azza wa Jalla. Mereka adalah para kekasih Allah atau wali Allah\rTentang derajat/tingkatan para Wali Allah telah diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/05/2011/09/28/maqom-wali-allah/","part":1,"page":28},{"id":29,"text":"Manusia yang disisi Allah Azza wa Jalla hanylah 4 golongan yakni, para Nabi (Rasulullah yang utama), para Shiddiqin, para Syuhada dan orang-orang sholeh\rFirman Allah ta’ala yang artinya : “Tunjukilah kami jalan yang lurus” (QS Al Fatihah [1]:6 )\r” (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada mereka….” (QS Al Fatihah [1]:7 )\r“Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, para syuhada, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya .” (QS An Nisaa [4]: 69 )\rPara Wali Allah, mereka saling mengenal sebagaimana yang diuraikan dalam tulisan sebelumnya pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/11/22/saling-mengenal/\rKami mengetahui setiap manusia tidak luput dari kesalahan walaupun para imam atau ulama pakar kecuali Rasulallah shallallahu alahi wasallam yang maksum. Tujuan kami menyampaikan kesalahpahaman ulama Al Albani bukan untuk menjelekkan (menyebarluaskan aib) atau melecehkan, apalagi merendahkan seorang ulama Al Albani namun kami lakukan semata-mata karena Allah ta'ala agar kesalahpahaman tersebut tidak diikuti atau diyakini sebagai sebuah kebenaran. Pengingkaran hadits bukanlah kesalahan yang dapat ditolerir apalagi dilakukan oleh ulama yang dikenal oleh mereka sebagai ahli hadits.","part":1,"page":29},{"id":30,"text":"Tentu pula apa yang disampaikan oleh ulama Al Albani tidak seluruhnya adalah kesalahpahaman. Namun harus kita ingat bahwa ulama Al Albani termasuk ulama yang tidak mau mengikuti pemahaman/pendapat pemimpin ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak) alias Imam Mazhab atau dengan kata lain Beliau termasuk ulama yang tidak bermazhab. Hal ini disampaikan oleh pakar fiqih, ulama besar Syria, DR. Said Ramadhan Al-Buthy setelah berdialog dengan ulama Al Albani. Dr. Said Ramadhan Al-Buthy menyampaikannya dalam buku berjudul Al-Laa Mazhabiyah, Akhtharu Bid’atin Tuhaddidu As-Syariah Al-Islamiyah. Kalau kita terjemahkan secara bebas, kira-kira makna judul itu adalah : Paham Anti Mazhab, Bid’ah Paling Gawat Yang Menghancurkan Syariat Islam. Sedikit penjelasan tetang buku tersebut dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/18/paham-anti-mazhab/\rJika kita ingin terhindar dari ibadah fasidah (ibadah yang rusak) , ibadah yang kehilangan ruhnya atau aspek bathin maupun terhindar dari tasybihillah bikholqihi , penyerupaan Allah dengan makhluq Nya maka ikutilah ulama-ulama yang bermazhab karena bermazhab adalah salah satu cara mempertahankan ketersambungan rantai sanad ilmu (sanad guru) sampai kepada lisannya Rasulullah. Ulama yang tidak bermazhab pada hakikatnya telah memutus rantai sanad ilmu (sanad guru) , berhenti hanya sampai akal pikiran mereka sendiri, dimana didalamnya ada unsur hawa nafsu atau kepentingan.\rSanad ilmu (sanad guru) sama pentingnya dengan sanad hadits","part":1,"page":30},{"id":31,"text":"Sanad hadits mempertanyakan atau menganalisa dari mana matan/redaksi hadits tersebut diperoleh sampai kepada lisannya Rasulullah\rSedangkan sanad ilmu (sanad guru) mempertanyakan atau menganalisa dari mana penjelasan Al Qur’an dan As Sunnah tersebut diperoleh sampai kepada lisannya Rasulullah\rSanad ini sangat penting, dan merupakan salah satu kebanggaan Islam dan umat. Karena sanad inilah Al-Qur’an dan Sunah Nabawiyah terjaga dari distorsi ataupun serangan ghazwul fikri (perang pemahaman) yang dilakukan kaum kafir dan munafik. Karena sanad inilah warisan Nabi tak dapat diputar balikkan.\rIbnul Mubarak berkata :”Sanad merupakan bagian dari agama, kalaulah bukan karena sanad, maka pasti akan bisa berkata siapa saja yang mau dengan apa saja yang diinginkannya.” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqoddimah kitab Shahihnya 1/47 no:32 )\rImam Syafi’i ~rahimahullah mengatakan “tiada ilmu tanpa sanad”.\rAl-Hafidh Imam Attsauri ~rahimullah mengatakan “Penuntut ilmu tanpa sanad adalah bagaikan orang yang ingin naik ke atap rumah tanpa tangga”\rBahkan Al-Imam Abu Yazid Al-Bustamiy , quddisa sirruh (Makna tafsir QS.Al-Kahfi 60) ; “Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya syetan” Tafsir Ruhul-Bayan Juz 5 hal. 203","part":1,"page":31},{"id":32,"text":"Tulisan kali ini kami akhiri dengan peringatan yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam sabdanya yang artinya, ”Akan datang nanti suatu masa yang penuh dengan penipuan hingga pada masa itu para pendusta dibenarkan, orang-orang yang jujur didustakan; para pengkhianat dipercaya dan orang-orang yan amanah dianggap khianat, serta bercelotehnya para ‘Ruwaibidhoh’. Ada yang bertanya: ‘Apa itu ‘Ruwaibidhoh’? Beliau shallallahu alaihi wasallam menjawab: ”Orang bodoh pandir yang berkomentar tentang perkara orang banyak” (HR. Al-Hakim jilid 4 hal. 512 No. 8439 — ia menyatakan bahwa hadits ini shohih; HR. Ibn Majah jilid 2 hal. 1339 no. 4036; HR. Ahmad jilid 2 hal. 219, 338 No. 7899,8440; HR. Abi Ya’la jilid 6 hal. 378 no. 3715; HR. Ath-Thabrani jilid 18 hal. 67 No. 123; HR. Al-Haitsami jilid 7 hal. 284 dalam Majma’ Zawa’id).\rLangkah apa yang harus diambil bila telah terjadi penipuan atau fitnah telah diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/11/12/bila-terjadi-fitnah/\rWassalam\rZon di Jonggol, Kab Bogor 16830\r0729. Bagaimana mereka memperlakukan ulama pengikut pemimpin ijtihad\rKetika orang-orang Wahhabi memasuki Hijaz dan membantai kaum Muslimin dengan alasan bahwa mereka telah syirik, sebagaimana yang telah dikabarkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dalam sabdanya : “Orang-orang Khawarij akan membunuh orang-orang yang beriman dan membiarkan para penyembah berhala.” Mereka juga membunuh seorang ulama terkemuka.","part":1,"page":32},{"id":33,"text":"Mereka menyembelih Syaikh Abdullah Al-Zawawi, guru para ulama madzhab Al-Syafi’i, sebagaimana layaknya menyembelih kambing. Padahal usia beliau sudah di atas 90 tahun. Mertua Syaikh Al-Zawawi yang juga sudah memasuki usia senja juga mereka sembelih.\rKemudian mereka memanggil sisa-sisa ulama yang belum dibunuh untuk diajak berdebat tentang tauhid, Asma Allah SWT dan sifat-sifat-Nya. Ulama yang setuju dengan pendapat mereka akan dibebaskan. Sedangkan ulama yang membantah pendapat mereka akan dibunuh atau dideportasi dari Hijaz.\rDi antara ulama yang diajak berdebat oleh mereka adalah Syaikh Abdullah Al-Syanqithi, salah seorang ulama kharismatik yang dikenal hafal Sirah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Sedangkan dari pihak Wahhabi yang mendebatnya, di antaranya seorang ulama mereka yang buta mata dan buta hati. Kebetulan perdebatan berkisar tentang teks-teks Al-Qur’an dan Hadits yang berkenaan dengan sifat-sifat Allah SWT. Mereka bersikeras bahwa teks-teks tersebut harus diartikan secara literal dan tekstual, dan tidak boleh diartikan secara kontekstual dan majazi.\rSi tuna netra itu juga mengingkari adanya majaz dalam Al-Qur’an. Bahkan lebih jauh lagi, ia menafikan majaz dalam bahasa Arab, karena taklid buta kepada Ibn Taimiyah dan Ibn Al-Qayyim. Lalu Syaikh Abdullah Al-Syanqithi berkata kepada si tuna netra itu :\r“Apabila Anda berpendapat bahwa majaz itu tidak ada dalam Al-Qur’an, maka sesungguhnya Allah SWT telah berfirman dalam Al-Qur’an :","part":1,"page":33},{"id":34,"text":"“Dan barangsiapa yang buta di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).” (QS. Al-Isra’ : 72).\rBerdasarkan ayat di atas, apakah Anda berpendapat bahwa setiap orang yang tuna netra di dunia, maka di akhirat nanti akan menjadi lebih buta dan lebih tersesat, sesuai dengan pendapat Anda bahwa dalam Al-Qur’an tidak ada majaz ?”\rMendengar sanggahan Syaikh Al-Syanqithi, ulama Wahhabi yang tuna netra itu pun tidak mampu menjawab. Ia hanya berteriak dan memerintahkan anak buahnya agar Syaikh Al-Syanqithi dikeluarkan dari majlis perdebatan. Kemudian si tuna netra itu meminta kepada Ibn Saud agar mendeportasi Al-Syanqithi dari Hijaz. Akhirnya ia pun dideportasi ke Mesir.\rSumber : Kitab Al-Ju'nat Al-Aththar (autobiografi perjalanan hidup) karya Al-Hafizh Ahmad bin Muhammad bin Al-Shiddiq Al-Ghumari Al-Hasani\rLink sumber tulisan ada pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/11/puritan-radikalisme/\rTulisan lain tentang perlakuan mereka dapat diketahui pada\rwww.fb.com/photo.php?fbid=220630637981571&set=a.220630511314917.56251.100001039095629\rhttp://www.aswaja-nu.com/2010/01/dialog-syaikh-al-syanqithi-vs-wahhabi_20.html\rwww.fb.com/notes/agus-sunyoto-ii/sejarah-keganasan-wahabi-1/157026171038435\rhttp://oase.kompas.com/read/2011/07/08/0537412/Menyingkap.Sisi.Gelap.Gerakan.Wahabi\rhttp://zulfiifani.wordpress.com/2011/03/09/review-sejarah-berdarah-sekte-salafi-wahabi/\rDari tulisan di atas dapat kita ketahui bahwa mereka sampai membunuh ulama dikarenakan perbedaan pemahaman ayat-ayat mutasyabihat tentang sifat Allah.","part":1,"page":34},{"id":35,"text":"Mereka berlandaskan perkataan ulama-ulama dahulu namun mereka memaknai dengan menterjemahkan secara dzahir (harfiah). Contohnya\rBerkata Ibnu Khuzaimah rahimahullah : “Siapa yang tidak mengatakan bahwa Allah itu berada di atas langit-langit-Nya tinggi dan menetap di atas Arsy-Nya berpisah dari makhluk-Nya maka wajib dimintai tobat apabila dia bertobat maka diterima kalau tidak maka dipenggal lehernya kemudian dilemparkan ke tempat sampah agar manusia tidak terganggu dengan baunya”. (Disebutkan oleh Al-Hakim dalam Ma’rifatil ‘Ulumul Hadits hal. 152 dan Mukhtashor ‘Uluw hal. 225).\rPadahal Ibnu Khuzaimah rahimahullah mengucapkan kembali apa yang diucapkan oleh al Qur’an, “Ar-Rahmanu alal arsy istawa” Tidak lebih lebih dari itu. Namun mereka memaknainya dengan menterjemahkan secara harfiah bahwa Allah ta’ala bertempat/berada di atas Arsy atau bertempat di (atas) langit.\rKami, kaum muslim tentulah mengimani bahwa “ar Rahmaanu ‘alaa al’arsyi istawaa” karena memang itu disebutkan dalam Al Qur’an pada surat Thaahaa [20] ayat : 5 , namun kami mengingkari bahwa maknanya adalah Allah ta'ala bertempat di atas 'Arsy atau Allah ta'ala berbatas atau dibatasi oleh 'Arsy. Maha Suci Allah dari \"di mana\" dan \"bagaimana\".","part":1,"page":35},{"id":36,"text":"Imam al Qusyairi menyampaikan, ” Dia Tinggi Yang Maha Tinggi, Luhur Yang Maha Luhur dari ucapan “bagaimana Dia?” atau “di mana Dia?”. Tidak ada upaya, jerih payah, dan kreasi-kreasi yang mampu menggambari-Nya, atau menolak dengan perbuatan-Nya atau kekurangan dan aib. Karena, tak ada sesuatu yang menyerupai-Nya. Dia Maha Mendengar dan Melihat. Kehidupan apa pun tidak ada yang mengalahkan-Nya. Dia Dzat Yang Maha Tahu dan Kuasa“.\rMereka mengingkari makna majazi dalam Al Qur'an dan As Sunnah sebagaimana yang telah diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/11/17/2011/06/23/makna-majaz/\rKami menyampaikan tulisan ini bukanlah untuk mengajak membenci saudara-saudara kita kaum Wahhabi (pengikut ulama Muhammad bin Abdul Wahhab). Pada hakikatnya apa pun yang sudah terjadi adalah merupakan kehendak Allah Azza wa Jalla dan kita harus menerimanya namun kita dapat mengambil pelajaran (hikmah) dari kejadian tersebut dan bersikap dengan sikap yang dicintai oleh Allah Azza wa Jalla.\rWassalam\rZon Jonggol\r0732. Mengapa mereka membenci kaum sufi\rKami mengingatkan kembali kembali akan adanya ghazwul fikri (perang pemaham) oleh kaum Zionis Yahudi yang dilancarkan melalui pusat-pusat kajian Islam yang mereka dirikan.\rEmpat gerakan yang dilancarkan oleh kaum Zionis Yahudi yakni\r1.…Paham anti mazhab, umat muslim diarahkan untuk tidak lagi mentaati pimpinan ijtihad atau imam mujtahid alias Imam Mazhab","part":1,"page":36},{"id":37,"text":"2.…Pemahaman secara ilmiah, umat muslim diarahkan untuk memahami Al Qur’an dan As Sunnah dengan akal pikiran masing-masing dengan metodologi “terjemahkan saja” hanya memandang dari sudut bahasa (lughat) dan istilah (terminologis) namun kurang memperhatikan nahwu, shorof, balaghoh, makna majaz, dll\r3.…Paham anti tasawuf untuk merusak akhlak kaum muslim karena tasawuf adalah tentang Ihsan atau jalan menuju muslim yang Ihsan atau muslim yang berakhlakul karimah.\r4.…Paham Sekulerisme, Pluralisme, Liberalisme (SEPILIS) disusupkan kepada umat muslim yang mengikuti pendidikan di “barat” .\rProtokol Zionis yang ketujuhbelas\r“…Kita telah lama menjaga dengan hati-hati upaya mendiskreditkan para rohaniawan non-Yahudi (contohnya para Imam Mazhab yang empat) dalam rangka menghancurkan misi mereka, yang pada saat ini dapat secara serius menghalangi misi kita. Pengaruh mereka atas masyarakat mereka berkurang dari hari ke hari. Kebebasan hati nurani yang bebas dari paham agama telah dikumandangkan diman-mana. Tinggal masalah waktu maka agama-agama itu akan bertumbangan..“","part":1,"page":37},{"id":38,"text":"Salah satunya adalah perwira Yahudi Inggris bernama Edward Terrence Lawrence yang dikenal oleh ulama jazirah Arab sebagai Laurens Of Arabian. Laurens menyelidiki dimana letak kekuatan umat Islam dan berkesimpulan bahwa kekuatan umat Islam terletak kepada ketaatan dengan mazhab (bermazhab) dan istiqomah mengikuti tharikat-tharikat tasawuf. Laurens mengupah ulama-ulama yang anti tharikat dan anti mazhab untuk menulis sebuah buku yang menyerang tharikat dan mazhab. Buku tersebut diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan dibiayai oleh pihak orientalis.\rDitengarai kaum Zionis Yahudi mengangkat kembali pemahaman ulama Ibnu Taimiyyah yang sudah lama terkubur untuk menimbulkan perselihan pada kaum muslim dan menjerumuskan mereka yang terpengaruh kedalam kekufuran baik kekufuran karena kesalahpahaman dalam i’tiqod atau karena kesalahpahaman yang lain seperti kesalahpahaman tentang bid’ah.\rKesalahpahaman dalam i’tiqod (akidah) dapat menjerumuskan pada kekufuran sebagaimana peringatan yang disampaikan oleh ulama-ulama terdahulu seperti\rImam besar ahli hadis dan tafsir, Jalaluddin As-Suyuthi dalam “Tanbiat Al-Ghabiy Bi Tabriat Ibn ‘Arabi” mengatakan “Ia (ayat-ayat mutasyabihat) memiliki makna-makna khusus yang berbeda dengan makna yang dipahami oleh orang biasa. Barangsiapa memahami kata wajh Allah, yad , ain dan istiwa sebagaimana makna yang selama ini diketahui (wajah Allah, tangan, mata, bertempat), ia kafir secara pasti.”","part":1,"page":38},{"id":39,"text":"Imam Ahmad ar-Rifa’i (W. 578 H/1182 M) dalam kitabnya al-Burhan al-Muayyad, “Sunu ‘Aqaidakum Minat Tamassuki Bi Dzahiri Ma Tasyabaha Minal Kitabi Was Sunnati Lianna Dzalika Min Ushulil Kufri”, “Jagalah aqidahmu dari berpegang dengan dzahir ayat dan hadis mutasyabihat, karena hal itu salah satu pangkal kekufuran”.\rBegitupula peringatan yang disampaikan oleh khataman Khulafaur Rasyidin, Imam Sayyidina Ali ra dalam riwayat berikut,\rSayyidina Ali Ibn Abi Thalib ra berkata : “Sebagian golongan dari umat Islam ini ketika kiamat telah dekat akan kembali menjadi orang-orang kafir.“\rSeseorang bertanya kepadanya : “Wahai Amirul Mukminin apakah sebab kekufuran mereka? Adakah karena membuat ajaran baru atau karena pengingkaran?”\rSayyidina Ali Ibn Abi Thalib ra menjawab : “Mereka menjadi kafir karena pengingkaran. Mereka mengingkari Pencipta mereka (Allah Subhanahu wa ta’ala) dan mensifati-Nya dengan sifat-sifat benda dan anggota-anggota badan.” (Imam Ibn Al-Mu’allim Al-Qurasyi (w. 725 H) dalam Kitab Najm Al-Muhtadi Wa Rajm Al-Mu’tadi).\rKesalahpahaman tentang bid’ah pun dapat menjerumuskan kedalam kekufuran sebagaimana yang telah diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/24/korban-perang-pemahaman/\rMereka membenci kaum sufi karena mereka terkena pengaruh ghazwul fikri (perang pemahaman) yang dilakukan oleh kaum Zionis Yahudi. Mereka bersandarkan atas pengamatan kepada mereka yang mengaku aku sebagai sufi atau mereka yang mengaku-aku telah menjalankan tasawuf.","part":1,"page":39},{"id":40,"text":"Mereka membenci kaum sufi karena mereka mengikuti pendapat dukhala ilmi yakni ulama namun bukan ahlinya atau ulama namun yang tidak menjalankan tasawuf atau ulama namun yang tidak memperjalankan dirinya kepada Allah Azza wa Jalla.\rUlama tasawuf, Syekh Abu al-Abbas r.a mengatakan bahwa orang-orang berbeda pendapat tentang asal kata sufi. Ada yang berpendapat bahwa kata itu berkaitan dengan kata shuf (bulu domba atau kain wol) karena pakaian orang-orang shaleh terbuat dari wol. Ada pula yang berpendapat bahwa kata sufi berasal dari shuffah, yaitu teras masjid Rasulullah saw. yang didiami para ahli shuffah. Menurutnya kedua definisi ini tidak tepat.\rSyekh mengatakan bahwa kata sufi dinisbatkan kepada perbuatan Allah pada manusia. Maksudnya, shafahu Allah, yakni Allah menyucikannya sehingga ia menjadi seorang sufi. Dari situlah kata sufi berasal.\rLebih lanjut Syekh Abu al Abbas r.a. mengatakan bahwa kata sufi (al-shufi) terbentuk dari empat huruf: shad, waw, fa, dan ya.\rHuruf shad berarti shabruhu (kebesarannya), shidquhu (kejujuran), dan shafa’uhu(kesuciannya)\rHuruf waw berarti wajduhu (kerinduannya), wudduhu (cintanya), dan wafa’uhu(kesetiaannya)\rHuruf fa’ berarti fadquhu (kehilangannya), faqruhu (kepapaannya), dan fana’uhu(kefanaannya).\rHuruf ya’ adalah huruf nisbat.\rApabila semua sifat itu telah sempurna pada diri seseorang, ia layak untuk menghadap ke hadirat Tuhannya.","part":1,"page":40},{"id":41,"text":"Kaum sufi telah menyerahkan kendali mereka pada Allah. Mereka mempersembahkan diri mereka di hadapanNya. Mereka tidak mau membela diri karena malu terhadap rububiyah-Nya dan merasa cukup dengan sifat qayyum-Nya. Karenanya, Allah memberi mereka sesuatu yang lebih daripada apa yang mereka berikan untuk diri mereka sendiri.\rFirman Allah ta’ala yang artinya: ”...Sekiranya kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya, niscaya tidak ada seorangpun dari kamu yang bersih (dari perbuatan keji dan mungkar) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa saja yang dikehendaki…” (QS An-Nuur:21)\rFirman Allah yang artinya,\r[38:46] Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat.\r[38:47] Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik.\r(QS Shaad [38]:46-47)\rKaum Sufi adalah mereka yang telah berma’rifat atau mereka yang telah mencapai muslim yang Ihsan (muhsin/muhsinin) atau muslim yuang sholeh (sholihin). Mereka bermaqom di sisi Allah Azza wa Jalla. Mereka adalah para kekasih Allah (Wali Allah). Tentang derajat/tingkatan para Wali Allah telah diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/05/2011/09/28/maqom-wali-allah/\rManusia yang disisi Allah Azza wa Jalla hanylah 4 golongan yakni, para Nabi (Rasulullah yang utama), para Shiddiqin, para Syuhada dan orang-orang sholeh","part":1,"page":41},{"id":42,"text":"Firman Allah ta’ala yang artinya : “Tunjukilah kami jalan yang lurus” (QS Al Fatihah [1]:6 ). ” (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada mereka….” (QS Al Fatihah [1]:7 ). “Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, para syuhada, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya .” (QS An Nisaa [4]: 69 ).\rPara Wali Allah, mereka saling mengenal sebagaimana yang diuraikan dalam tulisan sebelumnya pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/11/22/saling-mengenal/\rJadi sufi adalah shafahu Allah, yakni Allah menyucikannya sehingga ia menjadi seorang sufi. Mereka telah disucikanNya sehingga mereka telah berma’rifat atau mereka telah mencapai muslim yang Ihsan. Apakah Ihsan ?\rقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِحْسَانُ قَالَ أَنْ تَخْشَى اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنَّكَ إِنْ لَا تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ\rLalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu takut (takhsya / khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.’ (HR Muslim 11) Link: http://www.indoquran.com/index.php?surano=2&ayatno=3&action=display&option=com_muslim\rRasulullah bersabda “Iman paling afdol ialah apabila kamu mengetahui bahwa Allah selalu menyertaimu dimanapun kamu berada“. (HR. Ath Thobari)\rAda dua kondisi yang dicapai oleh muslim yang ihsan atau muslim yang telah berma'rifat","part":1,"page":42},{"id":43,"text":"1.…Kondisi minimal adalah mereka yang selalu merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla\r2.…Kondiri terbaik adalah mereka yang dapat melihat Allah Azza wa Jalla dengan hati (ain bashiroh)\rImam Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani,\r“Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”\rBeliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”\r“Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali.\rSayyidina Ali ra menjawab “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati”\rKaum Sufi (shafahu Allah), mereka telah disucikanNya sehingga mereka dapat mencapai muslim yang terbaik yakni muslim yang Ihsan, muslim yang dapat melihat Allah Azza wa Jalla dengan hati (ain bashiroh).\rManusia terhalang / terhijab melihat Rabb adalah karena dosa mereka. Setiap dosa merupakan bintik hitam hati, sedangkan setiap kebaikan adalah bintik cahaya pada hati. Ketika bintik hitam memenuhi hati sehingga terhalang (terhijab) dari melihat Allah. Inilah yang dinamakan buta mata hati.\rSebagaimana firman Allah ta’ala yang artinya,\r“Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).” (QS Al Isra 17 : 72)\r“maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (al Hajj 22 : 46)","part":1,"page":43},{"id":44,"text":"Setiap manusia pernah dapat melihat Allah Azza wa Jalla dalam keadaan fitri (suci) ketika jasmani belum dapat digunakan, ketika setelah ditupkan ruhNya atau ketika setelah keberadaan ruhani.\rFirman Allah Azza wa Jalla yang artinya, “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (QS- Al A’raf 7:172)\rPenduduk surga, baik mereka yang melalui hisab maupun tanpa dihisab akan dapat melihat Rabb karena mereka kembali fitri (suci) atau mereka telah disucikan kembali (telah dibukakan hijab pembatas) sehingga tidak lagi terhalang akan dosa. Mereka melihat bagaikan “melihat bulan di kala purnama yang tidak ada awan” (HR Muslim 267) yang maknanya melihat jelas tidak terhalang atau melihat tanpa kesulitan. Uraian selengkapnya tentang melihat Rabb dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/09/12/melihat-rabb/\rSeorang muslim mencapai Ihsan atau menjadi Sufi adalah karena perbuatan Allah Azza wa Jalla menyucikannya, jadi tidaklah boleh seorang muslim mengaku-aku sebagai seorang sufi atau seorang sholeh atau seorang Wali Allah.\rHal ini dicontohkan oleh Imam Asy Syafi’i ra ketika beliau ditanya apakah beliau termasuk orang sufi. Beliau menjawabnya dengan sikap tawadhu (rendah hati) dengan ungkapan sebagai berikut, “Uhibbu asShalihiina wa lastu minhum La’alli an anaala bihim syafa’ah”. Suatu jawaban yang harus dipahami dengan balaghoh.","part":1,"page":44},{"id":45,"text":"Uhibbu as Shalihiina = Aku mencintai orang shalih (sufi)\rwalastu minhum = Walaupun.. aku tidak seperti mereka\rLa’ali an anaala bihim syafa’ah = Beliau berharap / semoga memperoleh Syafa’at Rasulullah shallallahu alaihi wasallam (agar termasuk orang yang Sholeh)\rIni tauladan yang disampaikan Imam Asy Syafi’i ra bahwa kita tidak boleh mengatakan / mengakui sebagai saya serupa dengan mereka termasuk orang sholeh, atau saya seorang sholeh atau saya seorang sufi atau saya seorang muhsin, karena orang sholeh, orang sufi, orang muhsin adalah dinisbatkan kepada perbuatan Allah pada manusia. Bagi kita manusia berharap pertolongan Allah dan berupaya untuk mencapainya dengan memperjalankan diri kita kepada Allah Azza wa Jalla mengikuti jalan (tharikat) sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah menjalaninya dan ulama-ulama yang telah mengikutinya sehingga dikenal adanya tharikat-tharikat mutakbaroh.\rImam Asy Syafi’i ra juga mencela mereka yang mengaku-aku sufi namun mereka malas, tidak mau berusaha, bergantung kepada orang lain, berdzikir saja sampai ada pula yang meninggalkan perkara syariat seperti sholat lima waktu.\rImam As Syafi’i juga menyatakan,”Seorang sufi tidak menjadi sufi hingga ada pada dirinya 4 perkara, malas, suka makan, suka tidur dan berlebih-lebihan.” (Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/207)Perkataan Imam As Syafi'i inilah yang disalahgunakan oleh mereka. Selengkapnya telah diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/07/29/pemutarbalikan-perkataan-ulama/","part":1,"page":45},{"id":46,"text":"Imam Al Baihaqi menjelaskan maksud perkataan Imam As Syafi’i tersebut,”Sesungguhnya yang beliau ingin cela adalah siapa dari mereka yang memiliki sifat ini. Adapun siapa yang bersih kesufiannya dengan benar-benar tawakkal kepada Allah Azza wa Jalla, dan menggunakan adab syari’ah dalam muamalahnya kepada Allah Azza wa Jalla dalam beribadah serta mummalah mereka dengan manusia dalam pergaulan, maka telah dikisahkan dari beliau (Imam As Syafi’i) bahwa beliau bergaul dengan mereka dan mengambil (ilmu) dari mereka. (Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/207)\rKemudian Imam Al Baihaqi menyebutkan satu riwayat, bahwa Imam As Syafi’i pernah mengatakan,”Aku telah bersahabat dengan para sufi selama sepuluh tahun, aku tidak memperoleh dari mereka kecuali dua perkara ini, ”Waktu adalah pedang” dan “Termasuk kemaksuman, engkau tidak mampu” (maknanya, sesungguhnya manusia lebih cenderung berbuat dosa, namun Allah menghalangi, maka manusia tidak mampu melakukannya, hingga terhindar dari maksiat).\rPerkataan Imam As Syafi’i ra yang disampaikan Imam Al Baihaqi tersebut sesuai dengan firman Allah Azza wa Jalla yang artinya, ”...Sekiranya kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya, niscaya tidak ada seorangpun dari kamu yang bersih (dari perbuatan keji dan mungkar) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa saja yang dikehendaki…” (QS An-Nuur:21)\rAllah membersihkan siapa saja yang dikehendakiNya , Allah menghalanginya dari perbuatan keji dan mungkar, menghalanginya dari perbuatan maksiat, menghalanginya dari kesalahan.","part":1,"page":46},{"id":47,"text":"Inilah penjagaan Allah Azza wa Jalla terhadap kaum sufi atau penjagaan terhadap orang-orang sholeh atau penjagaan terhadap para Wali Allah. Andaikan mereka membuat kesalahan pun maka Allah Azza wa Jalla menyegerakan teguranNya sehingga memberikan kesempatan untuk bertaubat tidak mengundurkan teguran menjadi balasan di akhirat kelak karena mengetahui kesalahan ketika di akhirat kelak adalah menunjukkan ketidak-dekatan dengan Allah Azza wa Jalla\rBerikut contoh pemeliharaan Allah subhanahu wa ta’ala terhadap orang-orang sholeh\rImam asy-Syafi’i berkata: ‘Saya mengadu kepada Waqi’ (guru beliau) buruknya hafalanku, maka dia menasihatiku agar meninggalkan maksiat. Dan ia mengabarkan kepadaku bahwa ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak diberikan kepada pelaku maksiat”.\rSetelah Imam asy Syafi’i merunut (mencari tahu) kenapa beliau lupa hafalan Al-Qur’an (hafalan Al-Qur`ânnya terbata-bata), ternyata dikarenakan beliau tanpa sengaja melihat betis seorang wanita bukan muhrim yang tersingkap oleh angin dalam perjalanan beliau ke tempat gurunya.","part":1,"page":47},{"id":48,"text":"‘Abdullâh bin Al-Mubarak meriwayatkan dari adh-Dhahak bin Muzahim, bahwasanya dia berkata;”Tidak seorangpun yang mempelajari Al-Qur`ân kemudian dia lupa, melainkan karena dosa yang telah dikerjakannya. Karena Allah berfirman Subhanahu wa Ta’ala : وَمَآأَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ (Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri) –Qs asy-Syûra/42 ayat 30- . Sungguh, lupa terhadap Al-Qur`ân merupakan musibah yang paling besar * (. Fadha`ilul-Qur`ân, karya Ibnu Katsir, hlm. 147)\rItulah contoh mereka yang disayang oleh Allah ta’ala dan diberi kesempatan untuk menyadari kesalahan mereka ketika masih di dunia.\rOleh karenanya Imam Mazhab yang empat, walaupun mereka tidak maksum tetapi mereka itu mahfuzh (dipelihara) dengan pemeliharaan Allah subhanahu wa ta’ala terhadap orang-orang sholeh. Mereka disegerakan teguranNya jika mereka membuat kesalahan dan merekapun segera mengetahui kesalahannya dan bertaubat atas kesalahannya. Sungguh merugi ulama yang tidak menyadari kesalahan yang telah dilakukannya atau kesalahpahamannya dan ulama seperti itu tidak patut diikuti pemahaman dan pendapatnya serta pastilah tidak diakui oleh jumhur ulama sebagai pemimpin ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak) alias Imam Mazhab.","part":1,"page":48},{"id":49,"text":"Dari dahulu sampai sekarang , jumhur ulama telah sepakat bahwa ulama yang berkompetensi sebagai pemimpin ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak) atau ulama yang terbaik memahami Al Qur'an dan As Sunnah serta terbaik memahami perkataan Salafush Sholeh adalah para Imam Mazhab yang empat. Memang ada Imam Mazhab yang lain selain yang berempat namun pada akhirnya pendapat / pemahaman mereka karena tidak komprehensive atau tidak menyeluruh sehingga kaum muslim mencukupkannya pada Imam Mazhab yang empat.\rKesimpulannya seorang sufi atau muslim yang telah berma'rifat adalah muslim yang merasa diawasi Allah -Maha Agung sifatNya atau mereka yang dapat melihat Rabb atau muslim yang Ihsan maka ia mencegah dirinya dari melakukan sesuatu yang dibenciNya, Sehingga terwujud dalam berakhlakul karimah. Inilah tujuan Rasulullah diutus oleh Allah ta’ala\rRasulullah menyampaikan yang maknanya “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad).\rJadi kalau ada yang mengaku-aku telah menjalankan tasawuf atau mengikuti tharikat atau mengaku-aku telah berma’rifat namun tidak menjalankan perkara syari’at seperti sholat lima waktu maka bisa dipastikan dia telah berdusta atau tharikat yang diikuti adalah thariqat palsu.\rBerkata Imam Abu Yazid al Busthami yang artinya, “Kalau kamu melihat seseorang yang diberi keramat sampai ia terbang di udara, jangan kamu tertarik kepadanya, kecuali kalau ia melaksanakan suruhan agama dan menghentikan larangan agama dan membayarkan sekalian kewajiban syari’at”","part":1,"page":49},{"id":50,"text":"Pendapat syaikh Abu Al Hasan Asy-Syadzili, ” Jika pendapat atau temuanmu bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits, maka tetaplah berpegang dengan hal-hal yang ada pada Al-Qur’an dan Hadits. Dengan demikian engkau tidak akan menerima resiko dalam penemuanmu, sebab dalam masalah seperti itu tidak ada ilham atau musyahadah, kecuali setelah bersesuaian dengan Al-Qur’an dan Hadits“.\rNasihat Imam Syafi’i ra, \"Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih (perkara syariat) dan juga menjalani tasawuf (thariqat, hakikat dan ma’rifat) , dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya. Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mahu menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelezatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mau mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik (muslim yang ihsan) ? [Diwan Al-Imam Asy-Syafi'i, hal. 47]\rNasehat Imam Malik ra, “Dia yang sedang Tasawuf tanpa mempelajari fikih rusak keimanannya , sementara dia yang belajar fikih tanpa mengamalkan Tasawuf rusaklah dia . Hanya dia siapa memadukan keduanya terjamin benar”\rWassalam\rZon di Jonggol, Kab Bogor 16830\r0734. Mereka yang tidak patut diikuti pemahamannya\rNasehat Imam Malik ra berkata: “Janganlah engkau membawa ilmu (yang kau pelajari) dari ahli bid’ah; juga dari orang yang tidak engkau ketahui catatan pendidikannya (sanad ilmu); serta dari orang yang mendustakan perkataan manusia, meskipun dia tidak mendustakan hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam“","part":1,"page":50},{"id":51,"text":"Dalam nasehat Imam Malik ra ada 3 kriteria yang tidak boleh diambil ilmu atau pendapat atau pemahamannya yakni :\r1. Ahli bid'ah\r2. Ulama tidak bersanad ilmu (sanad guru) atau ulama tidak bermazhab\r3. Mereka yang mendustakan perkataan ulama\rAhli bid'ah adalah mereka yang membuat perkara baru atau mengada-ada yang bukan kewajiban menjadi kewajiban (ditinggalkan berdosa) atau sebaliknya, tidak diharamkan menjadi haram (dikerjakan berdosa) atau sebaliknya dan tidak dilarang menjadi dilarang (dikerjakan berdosa) atau sebaliknya. Selengkapnya telah diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/11/03/ahli-bidah-sebenarnya/\rSebaiknya hindari ulama tidak bersanad ilmu (sanad guru) atau ulama tidak bermazhab. Dengan bermazhab artinya mempertahankan rantai sanad ilmu (sanad guru) dari Imam Mazhab.\rDalam beberapa tulisan berturut-turut, kami telah menghimbau untuk menggigit As Sunnah dan sunnah Khulafaur Rasyidin berdasarkan pemahaman pemimpin ijtihad (Imam Mujtahid) / Imam Mazhab dan penjelasan dari para pengikut Imam Mazhab sambil merujuk darimana mereka mengambil yaitu Al Quran dan as Sunnah. Janganlah memahaminya dengan akal pikiran sendiri atau mengikut pemahaman ulama yang tidak dikenal berkompetensi sebagai Imam Mujtahid Mutlak. Hal ini telah kami uraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/31/gigitlah-as-sunnah/ .\rSebaiknya kita mengambil ilmu dari mulut ulama bermazhab dan sholeh. Hal ini telah kami uraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/11/02/dari-mulut-ulama/","part":1,"page":51},{"id":52,"text":"Kita sebaiknya menghindari kitab ulama yang belajar sendiri dan tidak bermazhab hal ini telah kami uraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/11/03/kitab-tidak-bermazhab/\rSanad ilmu (sanad guru) sama pentingnya dengan sanad hadits.\rSanad hadits mempertanyakan atau menganalisa dari mana matan/redaksi hadits tersebut diperoleh sampai kepada lisannya Rasulullah\rSedangkan sanad ilmu (sanad guru) mempertanyakan atau menganalisa dari mana penjelasan Al Qur’an dan As Sunnah tersebut diperoleh sampai kepada lisannya Rasulullah\rSanad ini sangat penting, dan merupakan salah satu kebanggaan Islam dan umat. Karena sanad inilah Al-Qur’an dan Sunah Nabawiyah terjaga dari distorsi ataupun serangan ghazwul fikri (perang pemahaman) yang dilakukan kaum kafir dan munafik atau tercampurnya dengan hawa nafsu. Karena sanad inilah warisan Nabi tak dapat diputar balikkan.\rIbnul Mubarak berkata :”Sanad merupakan bagian dari agama, kalaulah bukan karena sanad, maka pasti akan bisa berkata siapa saja yang mau dengan apa saja yang diinginkannya.” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqoddimah kitab Shahihnya 1/47 no:32 )\rImam Syafi’i ~rahimahullah mengatakan “tiada ilmu tanpa sanad”.\rAl-Hafidh Imam Attsauri ~rahimullah mengatakan “Penuntut ilmu tanpa sanad adalah bagaikan orang yang ingin naik ke atap rumah tanpa tangga”\rBahkan Al-Imam Abu Yazid Al-Bustamiy , quddisa sirruh (Makna tafsir QS.Al-Kahfi 60) ; “Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya syetan” Tafsir Ruhul-Bayan Juz 5 hal. 203","part":1,"page":52},{"id":53,"text":"Hindari mereka yang mendustakan perkataan ulama, apalagi mereka yang mengingkari hadits\rsebagaimana yang telah diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/11/22/tidak-cukup/ atau uraian pengingkaran terhadap hadits lainnya pada http://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2010/04/inilahahlussunnahwaljamaah.pdf\rSelain bermunculannya ahli bid’ah, kita juga sudah menyaksikan apa yang disampaikan oleh Imam Malik ra di atas, “mendustakan perkataan manusia , meskipun dia tidak mendustakan hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam” dengan adanya fitnah terhadap perkataan ulama.\rSyeikh Al Azhar yang masih mempertahankan Sanad Ilmu, DR. Ahmad At Thayyib memperingatkan adanya upaya negatif terhadap buku para ulama dengan adanya permainan terhadap buku-buku peninggalan para ulama, dan mencetaknya dengan ada yang dihilangkan atau dengan ditambah, yang merusak isi dan menghilangkan tujuannya. Link: http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/27/ikhtilaf-dalam-persatuan/ atau sebagaimana contoh yang disampaikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/07/29/pemutarbalikan-perkataan-ulama/","part":1,"page":53},{"id":54,"text":"Begitu juga contoh mereka memutar balikan perkatan al-Imam Abu Hanifah seperti al-Imam Abu Hanifah ditanya makna “Istawa”, beliau menjawab: “Barangsiapa berkata: Saya tidak tahu apakah Allah berada di langit atau barada di bumi maka ia telah menjadi kafir. Karena perkataan semacam itu memberikan pemahaman bahwa Allah bertempat. Dan barangsiapa berkeyakinan bahwa Allah bertempat maka ia adalah seorang musyabbih; menyerupakan Allah dengan makhuk-Nya” (Pernyataan al-Imam Abu Hanifah ini dikutip oleh banyak ulama. Di antaranya oleh al-Imam Abu Manshur al-Maturidi dalam Syarh al-Fiqh al-Akbar, al-Imam al-Izz ibn Abd as-Salam dalam Hall ar-Rumuz, al-Imam Taqiyuddin al-Hushni dalam Daf’u Syubah Man Syabbah Wa Tamarrad, dan al-Imam Ahmad ar-Rifa’i dalam al-Burhan al-Mu’yyad)..\rDi sini ada pernyataan yang harus kita waspadai, ialah pernyataan Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah. Murid Ibn Taimiyah ini banyak membuat kontroversi dan melakukan kedustaan persis seperti seperti yang biasa dilakukan gurunya sendiri. Di antaranya, kedustaan yang ia sandarkan kepada al-Imam Abu Hanifah. Dalam beberapa bait sya’ir Nuniyyah-nya, Ibn al-Qayyim menuliskan sebagai berikut:\r“Demikian telah dinyatakan oleh Al-Imam Abu Hanifah an-Nu’man ibn Tsabit, juga oleh Al-Imam Ya’qub ibn Ibrahim al-Anshari. Adapun lafazh-lafazhnya berasal dari pernyataan Al-Imam Abu Hanifah…\rbahwa orang yang tidak mau menetapkan Allah berada di atas arsy-Nya, dan bahwa Dia di atas langit serta di atas segala tempat, …","part":1,"page":54},{"id":55,"text":"Demikian pula orang yang tidak mau mengakui bahwa Allah berada di atas arsy, –di mana perkara tersebut tidak tersembunyi dari setiap getaran hati manusia–,…\rMaka itulah orang yang tidak diragukan lagi dan pengkafirannya. Inilah pernyataan yang telah disampaikan oleh al-Imam masa sekarang (maksudnya gurunya sendiri; Ibn Taimiyah).\rInilah pernyataan yang telah tertulis dalam kitab al-Fiqh al-Akbar (karya Al-Imam Abu Hanifah), di mana kitab tersebut telah memiliki banyak penjelasannya”.\rApa yang ditulis oleh Ibn al-Qayyim dalam untaian bait-bait syair di atas tidak lain hanya untuk mempropagandakan akidah tasybih yang ia yakininya. Ia sama persis dengan gurunya sendiri, memiliki keyakinan bahwa Allah bersemayam atau bertempat di atas arsy.\rPernyataan Ibn al-Qayyim bahwa keyakinan tersebut adalah akidah al-Imam Abu Hanifah adalah kebohongan belaka. Kita meyakini sepenuhnya bahwa Abu Hanifah adalah seorang ahli tauhid, mensucikan Allah dari keserupaan dengan makhluk-Nya.\rBukti kuat untuk itu mari kita lihat karya-karya al-Imam Abu Hanifah sendiri, seperti al-Fiqh al-Akbar, al-Washiyyah, atau lainnya. Dalam karya-karya tersebut terdapat banyak ungkapan beliau menjelaskan bahwa Allah sama sekali tidak menyerupai makhluk-Nya, Dia tidak membutuhkan kepada tempat atau arsy, karena arsy adalah makhluk Allah sendiri. Mustahil Allah membutuhkan kepada makhluk-Nya.","part":1,"page":55},{"id":56,"text":"Sesungguhnya memang seorang yang tidak memiliki senjata argumen, ia akan berkata apapun untuk menguatkan keyakinan yang ia milikinya, termasuk melakukan kebohongan-kebohongan kepada para ulama terkemuka. Inilah tradisi ahli bid’ah, untuk menguatkan bid’ahnya, mereka akan berkata: al-Imam Malik berkata demikian, atau al-Imam Abu Hanifah berkata demikian, dan seterusnya. Padahal sama sekali perkataan mereka adalah kedustaan belaka.\rDalam al-Fiqh al-Akbar, al-Imam Abu Hanifah menuliskan sebagai berikut:\r“Dan sesungguhnya Allah itu satu bukan dari segi hitungan, tapi dari segi bahwa tidak ada sekutu bagi-Nya. Dia tidak melahirkan dan tidak dilahirkan, tidak ada suatu apapun yang meyerupai-Nya. Dia bukan benda, dan tidak disifati dengan sifat-sifat benda. Dia tidak memiliki batasan (tidak memiliki bentuk; artinya bukan benda), Dia tidak memiliki keserupaan, Dia tidak ada yang dapat menentang-Nya, Dia tidak ada yang sama dengan-Nya, Dia tidak menyerupai suatu apapun dari makhluk-Nya, dan tidak ada suatu apapun dari makhluk-Nya yang menyerupainya” (Lihat al-Fiqh al-Akbar dengan Syarh-nya karya Mulla ‘Ali al-Qari’, h. 30-31).\rKami (penulis) sampaikan bahwa Allah Azza wa Jalla ada sebagaimana sebelum diciptakan Arsy, sebagaimana sebelum diciptakan langit, sebagaimana sebelum diciptakan ciptaanNya. Sebagaimana awalnya dan sebagaimana akhirnya. Tidak berubah dan tidak pula berpindah. Yang berubah dan berpindah adalah ciptaanNya. Setiap yang berpindah , mempunyai bentuk (batas) dan hal itulah yang diingkari oleh al-Imam Abu Hanifah sebagai \"Dia tidak memiliki batasan\"","part":1,"page":56},{"id":57,"text":"Imam Sayfi’i ra mengatakan\rإنه تعالى كان ولا مكان فخلق المكان وهو على صفة الأزلية كما كان قبل خلقه المكان ولا يجوز عليه التغير في ذاته ولا التبديل في صفاته (إتحاف السادة المتقين بشرح إحياء علوم الدين, ج 2، ص 24)\r“Sesungguhnya Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat. Kemudian Dia menciptakan tempat, dan Dia tetap dengan sifat-sifat-Nya yang Azali sebelum Dia menciptakan tempat tanpa tempat. Tidak boleh bagi-Nya berubah, baik pada Dzat maupun pada sifat-sifat-Nya” (LIhat az-Zabidi, Ithâf as-Sâdah al-Muttaqîn…, j. 2, h. 24).\rSyaikhul Islam Ibnu Hajar Al Haitami pernah ditanya tentang akidah mereka yang semula para pengikut Mazhab Hambali, apakah akidah Imam Ahmad bin Hambal seperti akidah mereka ?\rBeliau menjawab:\rفأجاب بقوله : عقيدة إمام السنة أحمد بن حنل رضي الله عنه وأرضاه وجعل جنان المعارف متقلبه ومأواه وأقاض علينا وعليه من سوابغ امتنانه وبوأه الفردوس الأعلى من جنانه موافقة لعقيدة أهل السنة والجماعة من المبالغة التامة في تنزيه الله تعالى عما يقول الظالمون والجاحدون علوا كبيرا من الجهة والجسمية وغيرهما من سائر سمات النقص ، بل وعن كل وصف ليس فيه كمال مطلق ، وما اشتهر به جهلة المنسوبين إلى هذا الإمام الأعظم المجتهد من أنه قائل بشيء من الجهة أو نحوها فكذب وبهتان وافتراء عليه ، فلعن الله من نسب ذلك إليه أو رماه بشيء من هذه المثالب التي برأه الله منها","part":1,"page":57},{"id":58,"text":"Akidah imam ahli sunnah, Imam Ahmad bin Hambal –semoga Allah meridhoinya dan menjadikannya meridhoi-Nya serta menjadikan taman surga sebagai tempat tinggalnya, adalah sesuai dengan akidah Ahlussunnah wal Jamaah dalam hal menyucikan Allah dari segala macam ucapan yang diucapkan oleh orang-orang zhalim dan menentang itu, baik itu berupa penetapan tempat (bagi Allah), mengatakan bahwa Allah itu jism (materi) dan sifat-sifat buruk lainnya, bahkan dari segala macam sifat yang menunjukkan ketidaksempurnaan Allah.\rAdapun ungkapan-ungkapan yang terdengar dari orang-orang jahil yang mengaku-ngaku sebagai pengikut imam mujtahid agung ini, yaitu bahwa beliau pernah mengatakan bahwa Allah itu bertempat dan semisalnya, maka perkataan itu adalah kedustaan yang nyata dan tuduhan keji terhadap beliau. Semoga Allah melaknat orang yang melekatkan perkataan itu kepada beliau atau yang menuduh beliau\rPerkataan ulama lain yang sering diputarbalikan maknya contohnya\rAl-Hafizh al-Bayhaqi dalam karyanya berjudul al-Asma’ Wa ash-Shifat, dengan sanad yang baik (jayyid), -sebagaimana penilaian al-Hafizh Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari-, meriwayatkan dari al-Imam Malik dari jalur Abdullah ibn Wahb, bahwa ia -Abdullah ibn Wahb-, berkata:","part":1,"page":58},{"id":59,"text":"“Suatu ketika kami berada di majelis al-Imam Malik, tiba-tiba seseorang datang menghadap al-Imam, seraya berkata: Wahai Abu Abdillah, ar-Rahman ‘Ala al-arsy Istawa, bagaimanakah Istawa Allah?. Abdullah ibn Wahab berkata: Ketika al-Imam Malik mendengar perkataan orang tersebut maka beliau menundukan kepala dengan badan bergetar dengan mengeluarkan keringat. Lalu beliau mengangkat kepala menjawab perkataan orang itu: “ar-Rahman ‘Ala al-arsy Istawa sebagaimana Dia mensifati diri-Nya sendiri, tidak boleh dikatakan bagi-Nya bagaimana, karena “bagaimana” (sifat benda) tidak ada bagi-Nya. Engkau ini adalah seorang yang berkeyakinan buruk, ahli bid’ah, keluarkan orang ini dari sini”. Lalu kemudian orang tersebut dikeluarkan dari majelis al-Imam Malik (Al-Asma’ Wa ash-Shifat, h. 408)”.\rAnda perhatikan; Perkataan al-Imam Malik: “Engkau ini adalah seorang yang berkeyakinan buruk, ahli bid’ah, keluarkan orang ini dari sini”, hal itu karena orang tersebut mempertanyakan makna Istawa dengan kata-kata “Bagaimana?”. Seandainya orang itu hanya bertanya apa makna ayat tersebut, sambil tetap meyakini bahwa ayat tersebut tidak boleh diambil makna zhahirnya, maka tentu al-Imam Malik tidak membantah dan tidak mengusirnya.","part":1,"page":59},{"id":60,"text":"Adapun riwayat al-Lalika-i dari Ummu Salamah; Umm al-Mu’minin, dan riwayat Rabi’ah ibn Abd ar-Rahman (salah seorang guru al-Imam Malik) yang mengatakan: “al-Istiwa Ghair Majhul Wa al-Kayf Ghairu Ma’qul (al-Istiwa sudah jelas diketahui dan adanya al-Kayf (sifat benda) bagi Allah adalah sesuatu yang tidak masuk akal)”, yang dimaksud “Ghair Majhul” di sini ialah bahwa penyebutan kata tersebut benar adanya di dalam al-Qur’an. Ini dengan dalil riwayat lain dari al-Lalika-i sendiri yang mempergunakan kata “al-Istiwa madzkur”, artinya kata Istawa telah benar-benar disebutkan dalam al-Qur’an. Dengan demikian menjadi jelas bahwa yang dimaksud “al-Istiwa Ghair Majhul” artinya benar-benar telah diketahui penyebutan kata Istawa tersebut di dalam al-Qur’an.\rDari sini dapat dipahami bahwa al-Lali’ka’i dan Rabi’ah ibn Abd ar-Rahman mengatakan “al-Istiwa Ghair Majhul Wa al-Kayf Ghairu Ma’qul”, sama sekali bukan untuk tujuan menetapkan makna duduk atau bersemayam bagi Allah. Juga sama sekali bukan untuk menetapkan makna duduk atau bersemayam yang Kayfiyyah duduk atau bersemayam-Nya tidak diketahui oleh kita.","part":1,"page":60},{"id":61,"text":"Dalam perkataan al-Lalika-i dan Rabi’ah ibn Abd ar-Rahman terdapat kata “al-Kayf Ghair Ma’qul”, ini artinya bahwa Istawa tersebut bukan Kayfiyyah, sebab Kayfiyyah adalah sifat benda. Dengan demikian, oleh karena kata Istawa ini bukan Kayfiyyah maka jelas maknanya bukan dalam pengertian duduk atau bersemayam. Karena duduk atau bertempat itu hanya berlaku pada sesuatu yang memiliki anggota badan, seperti pantat, lutut dan lainnya. Sementara Allah maha suci dari pada anggota-anggota badan.\rMereka sering mengubahnya dengan mengatakan “al-Istiwa Ma’lum Wa al-Kayfiyyah Majhulah”. Perkataan semacam ini sama sekali bukan riwayat yang benar berasal dari al-Imam Malik atau lainnya. Tujuan mereka mengucapkan kata tesebut tidak lain adalah untuk menetapkan adanya Kayfiyyah bagi Istawa Allah, lalu mereka mengatakan Kayfiyyah-Nya tidak diketahui. Karena itu mereka seringkali mengatakan: “Allah bersemayam atau bertempat di atas arsy, tapi cara bersemayam-Nya tidak diketahui”. Atau terkadang mereka juga berkata: “Allah duduk di atas arsy, tapi cara duduk-Nya tidak diketahui”. jadi, Perkataan mereka “al-Istiwa Ma’lum Wa al-Kayfiyyah Majhulah” tidak lain hanyalah untuk mengelabui orang-orang awam bahwa semacam itulah yang telah dikatakan dan yang dimaksud oleh Al-Imam Malik. A’udzu Billah.","part":1,"page":61},{"id":62,"text":"Al-Hafizh al-Bayhaqi dari jalur Yahya ibn Yahya telah meriwayatkan bahwa ia -Yahya ibn Yahya- berkata: Suatu saat ketika kami berada di majelis al-Imam Malik ibn Anas, tiba-tiba datang seseorang menghadap beliau, seraya bekata: Wahai Abu Abdlillah, ar-Rahman ‘Ala al-arsy Istawa, bagaimankah Istawa Allah? Lalu al-Imam Malik menundukan kepala hingga badanya bergetar dan mengeluarkan keringat. Kemudian beliau berkata: “al-Istiwa’ telah jelas -penyebutannya dalam al-Qur’an- (al-Istiwa Ghair Majhul), dan “Bagaimana (sifat benda)” tidak logis dinyatakan kepada Allah (al-Kayf Ghair Ma’qul), beriman kepada adanya sifat al-Istiwa adalah wajib, dan mempermasalahkan masalah al-Istiwa tersebut adalah perbuatan bid’ah. Dan bagiku, engkau tidak lain kecuali seorang ahli bid’ah”. Lalu al-Imam Malik menyuruh murid-muridnya untuk mengeluarkan orang tersebut dari majelisnya. Al-Imam al-Bayhaqi berkata: “Selain dari al-Imam Malik, pernyataan serupa juga diungkapkan oleh Rabi’ah ibn Abd ar-Rahman, guru dari al-Imam Malik sendiri” (Al-Asma’ Wa ash-Shifat, h. 408).","part":1,"page":62},{"id":63,"text":"Dalam mengomentari peristiwa ini, asy-Syaikh Salamah al-Uzami, salah seorang ulama al-Azhar terkemuka dalam bidang hadits, dalam karyanya berjudul Furqan al-Qur’an, mengatakan sebagai berikut : “Penilaian al-Imam Malik terhadap orang tersebut sebagai ahli bid’ah tidak lain karena kesalahan orang itu mempertanyakan Kayfiyyah Istiwa bagi Allah. Hal ini menunjukan bahwa orang tersebut memahami ayat ini secara indrawi dan dalam makna zhahirnya. Tentu makna zhahir Istawa adalah duduk bertempat, atau menempelnya suatu benda di atas benda yan lain. Makna zhahir inilah yang dipahami oleh orang tersebut, namun ia meragukan tentang Kayfiyyah dari sifat duduk tersebut, karena itu ia bertanya kepada al-Imam Malik. Artinya, orang tersebut memang sudah menetapkan adanya Kayfiyyah bagi Allah. Ini jelas merupakan keyakinan tasybih (penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya), dan karena itu al-Imam Malik meyebut orang ini sebagai ahli bid’ah” (Furqan al-Qur’an Bain Shifat al-Khaliq Wa al-Akwan, h. 22).\rAda pelajaran penting yang dapat kita tarik dari peristiwa ini. Jika al-Imam Malik sangat marah terhadap orang tersebut hanya karena menetapkan adanya Kayfiyyah bagi Allah, hingga mengklaimnya sebagai ahli bid’ah, maka tentunya beliau akan lebih marah lagi terhadap mereka yang dengan terang-terangan mengartikan Istawa dengan duduk, bertempat atau bersemayam! Dapat kita pastikan seorang yang berpendapat kedua semacam ini akan lebih dimurkai lagi oleh al-Imam Malik.","part":1,"page":63},{"id":64,"text":"Hal itu karena mengartikan Istawa dengan duduk atau bersemayam tidak hanya menetapkan adanya Kayfiyyah bagi Allah, tapi jelas merupakan penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya.\rDan sesungguhnya sangat tidak mungkin seorang alim sekaliber al-Imam Malik berkeyakinan bahwa Allah memiliki tempat dan arah. Al-Imam Malik adalah Imam kota Madinah (Imam Dar al-Hijrah), ahli hadits terkemuka, perintis fiqih madzhab Maliki, sudah barang tentu beliau adalah seorang ahli tauhid, berkeyakinan tanzih, mensucikan Allah dari sifat-sifat makhluk-Nya. Tentang kesucian tauhid al-Imam Malik ibn Anas, al-Imam al-‘Allamah al-Qadli Nashiruddin ibn al-Munayyir al-Maliki, salah seorang ulama terkemuka sekitar abad tujuh hijriyah, dalam karyanya berjudul al-Muqtafa Fi Syaraf al-Musthafa telah menuliskan pernyataan al-Imam Malik bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah. Dalam karyanya tersebut, al-Imam Ibn al-Munayyir mengutip sebuah hadits, riwayat al-Imam Malik bahwa Rasulullah bersabda: “La Tufadl-dliluni ‘Ala Yunus Ibn Matta” (Janganlah kalian melebih-lebihkan aku di atas nabi Yunus ibn Matta).","part":1,"page":64},{"id":65,"text":"Dalam penjelasan hadits ini al-Imam Malik berkata bahwa Rasulullah secara khusus menyebut nabi Yunus dalam hadits ini, tidak menyebut nabi lainya, adalah untuk memberikan pemahaman akidah tanzih, -bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah-. Hal ini karena Rasulullah diangkat ke atas ke arah arsy -ketika peristiwa Mi’raj-, sementara nabi Yunus dibawa ke bawah hingga ke dasar lautan yang sangat dalam -ketika beliau ditelan oleh ikan besar-, dan kedua arah tersebut, baik arah atas maupun arah bawah, keduanya bagi Allah sama saja. Artinya satu dari lainnya tidak lebih dekat kepada-Nya, karena Allah ada tanpa tempat. Karena seandainya kemuliaan itu diraih karena berada di arah atas, maka tentu Rasulullah tidak akan mengatakan “Janganlah kalian melebih-lebihkan aku di atas nabi Yunus ibn Matta”.\rDengan demikian, hadits ini oleh al-Imam Malik dijadikan salah satu dalil bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah (Lihat penjelasan ini dalam al-Muqtafa Fi syaraf al-Mustahafa. Perkataan Al-Imam Malik ini juga dikutip oleh Al-Imam Taqiyyuddin as-Subki dalam karya bantahannya atas Ibn al-Qayyim al-Jaiziyyah (murid Ibn Taimiyah); yang berjudul as-Saif ash-Shaqil Fi ar-Radd ‘Ala ibn Zafil. Demikian pula perkataan Al-Imam Malik ini dikutip oleh Al-Imam Muhammad Murtadla az-Zabidi dalam karyanya Ithaf as-Sadah al-Muttaqin Bi Syarah Ihya ‘Ulumiddin).","part":1,"page":65},{"id":66,"text":"Adapun riwayat yang dikemukan oleh Suraij ibn an-Nu’man dari Abdullah ibn Nafi’ dari al-Imam Malik, bahwa ia -al-Imam Malik- berkata: “Allah berada di langit, dan ilmu-Nya di semua tempat”, adalah riwayat yang sama sekali tidak benar (Ghair Tsabit). Abdullah ibn Nafi’ dinilai oleh para ahli hadits sebagai seorang yang dla’if. Al-Imam Ahmad ibn Hanbal berkata: “’Abdullah ibn Nafi’ ash-Sha’igh bukan seorang ahli hadits, ia adalah seorang yang dla’if”. Al-Imam Ibn Adi berkata: “Dia -Abdullah ibn Nafi’ banyak meriwayatkan ghara-ib (riwayat-riwayat asing) dari al-Imam Malik”. Ibn Farhun berkata: “Dia -Abdullah ibn Nafi’- adalah seorang yang tidak membaca dan tidak menulis” (Lihat biografi Abdullah ibn Nafi’ dan Suraij ibn an-Nu’man dalam kitab-kitab adl-Dlu’afa’, seperti Kitab ald-Dlu’afa karya an-Nasa-i dan lainnya).\rDengan demikian pernyataan yang dinisbatkan kepada al-Imam Malik di atas adalah riwayat yang sama sekali tidak benar. Dan kata-kata tersebut yang sering kali dikutip oleh kaum Musyabbihah dan dinisbatkan kepada al-Imam Malik tidak lain hanyalah kedustaan belaka.","part":1,"page":66},{"id":67,"text":"Jadi kita harus bisa bedakan kapan para Salafush Sholeh, para Imam Mazhab, para pengikut Imam Mazhab, para Habib, para Sayyid sedang menjelaskan ayat-ayat mutasyabihat tentang sifat Allah atau kapan mereka tidak mengucapkannya kecuali ‘ala sabilil hikayah atau menetapkan lafazhnya (itersebutatul lafzhi) saja; yaitu hanya mengucapkan kembali apa yang diucapkan oleh al Qur’an, “Ar-Rahmanu alal arsy istawa” atau “A’amintum man fis sama’“. Tidak lebih dari itu. Namun mereka para pengikut Ibnu Taimiyyah sebagaimana ulama Ibnu Taimiyyah memaknainya dengan menterjemahkan secara harfiah bahwa Allah ta’ala bertempat di atas Arsy atau bertempat di (atas) langit.\rAllah Azza wa Jalla adalah dekat. Dia dekat tidak bersentuh, jauh tidak berjarak. Tidak ada bagiNya, kanan, kiri, atas, bawah, depan, belakang. Mustahil sesuatu membatasiNya.\rIngatlah jika mengetahui/menyadari kesalahan/kesalahpahaman atau mengikuti kesalahpahaman ulama ketika di akhirat nanti merupakan tanda ketidak-dekatan dengan Allah Azza wa Jalla dan penyesalan yang tidak berguna","part":1,"page":67},{"id":68,"text":"Firman Allah ta’ala yang artinya : “(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali.” (QS al Baqarah [2]: 166). “Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: “Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.” Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.” (QS Al Baqarah [2]: 167).\rIndikator seseorang dekat dengan Allah ta'ala adalah berakhlakul kharimah. Jika pembawaannya suka membenci, mencela, menghujat, memperolok-olok atau perbuatan yang memperturutkan hawa nafsu lainnya terhadap saudara muslim lainnya maka jelaslah sedang dalam kesesatan.\rFiirman Allah ta'ala yang artinya, “…Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah..” (QS Shaad [38]:26 )\rOrang-orang yang ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla paling keras permusuhannya terhadap orang yang telah bersyahadat adalah orang-orang yang tidak bersyahadat yakni kaum Yahudi dan orang-orang musyrik.\rFirman Allah ta’ala yang artinya, “orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik” ( QS Al Maaidah [5]: 82 ).\rJika telah bersyahadat namun mempunyai rasa permusuhan kepada sesama muslim, boleh jadi telah menjadi orang musyrik atau terjerumus ke dalam kekufuran","part":1,"page":68},{"id":69,"text":"Sebagaimana peringatan yang disampaikan oleh khataman Khulafaur Rasyidin, Imam Sayyidina Ali ra dalam riwayat berikut,\rSayyidina Ali Ibn Abi Thalib ra berkata : “Sebagian golongan dari umat Islam ini ketika kiamat telah dekat akan kembali menjadi orang-orang kafir.“\rSeseorang bertanya kepadanya : “Wahai Amirul Mukminin apakah sebab kekufuran mereka? Adakah karena membuat ajaran baru atau karena pengingkaran?”\rSayyidina Ali Ibn Abi Thalib ra menjawab : “Mereka menjadi kafir karena pengingkaran. Mereka mengingkari Pencipta mereka (Allah Subhanahu wa ta’ala) dan mensifati-Nya dengan sifat-sifat benda dan anggota-anggota badan.” (Imam Ibn Al-Mu’allim Al-Qurasyi (w. 725 H) dalam Kitab Najm Al-Muhtadi Wa Rajm Al-Mu’tadi).\rOleh karenanya agar tidak terjerumus ke dalam kekufuran , dalam memahami ayat-ayat mutasyabihat tentang sifat Allah, sebaiknyalah kita memperhatikan batas-batas yang disampaikan oleh para ulama terdahulu seperti Imam besar ahli hadis dan tafsir, Jalaluddin As-Suyuthi dalam “Tanbiat Al-Ghabiy Bi Tabriat Ibn ‘Arabi” mengatakan “Ia (ayat-ayat mutasyabihat) memiliki makna-makna khusus yang berbeda dengan makna yang dipahami oleh orang biasa. Barangsiapa memahami kata wajh Allah, yad , ain dan istiwa sebagaimana makna yang selama ini diketahui (wajah Allah, tangan, mata, bertempat), ia kafir secara pasti.”","part":1,"page":69},{"id":70,"text":"Imam Ahmad ar-Rifa’i (W. 578 H/1182 M) dalam kitabnya al-Burhan al-Muayyad, “Sunu ‘Aqaidakum Minat Tamassuki Bi Dzahiri Ma Tasyabaha Minal Kitabi Was Sunnati Lianna Dzalika Min Ushulil Kufri”, “Jagalah aqidahmu dari berpegang dengan dzahir ayat dan hadis mutasyabihat, karena hal itu salah satu pangkal kekufuran”.\rWassalam\rZon di Jonggol, Kab Bogor 16830\rNote/tulisan kali ini terinspirasi dari :\r1.…http://forumaswajaindonesia.wordpress.com/2011/03/20/tauhid-imam-abu-hanifah/\r2.…http://forumaswajaindonesia.wordpress.com/2011/03/20/aqidah-imam-malik-ibn-annas/\r0735. Ada Apa Dengan Bid'ah ?\rبِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَ الْمُرْسَلِيْنَ سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ الصَّادِقِ اْلأَمِيْنَ، وَعَلَى آلِهِ الطَّاهِرِيْنَ، وَصَحْبِهِ الرَّاشِدِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوٍمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ :\rA. Pengertian Bid’ah\rمَا أُحْدِثَ عَلَى غَيْرِ مِثَالٍ سَابِقٍ .( فتح الباري لابن حجر 6 /292(\rBid’ah dalam pengertian bahasa adalah : “Sesuatu yang diadakan tanpa ada contoh sebelumnya”. (Fath al-Bari 6/292).\rSeorang ahli bahasa terkemuka, Ar-Raghib al-Ashfahani dalam kitab Mu’jam Mufradat Alfazh al-Qur’an, menuliskan sebagai berikut:","part":1,"page":70},{"id":71,"text":"اَلإِبْدَاعُ إِنْشَاءُ صَنْعَةٍ بِلاَ احْتِذَاءٍ وَاقْتِدَاءٍ. وَإِذَا اسْتُعْمِلَ فِيْ اللهِ تَعَالَى فَهُوَ إِيْجَادُ الشَّىْءِ بِغَيْرِ ءَالَةٍ وَلاَ مآدَّةٍ وَلاَ زَمَانٍ وَلاَ مَكَانٍ، وَلَيْسَ ذلِكَ إِلاَّ للهِ. وَالْبَدِيْعُ يُقَالُ لِلْمُبْدِعِ نَحْوُ قَوْلِهِ: (بَدِيْعُ السّمَاوَاتِ وَالأرْض) البقرة:117، وَيُقَالُ لِلْمُبْدَعِ –بِفَتْحِ الدَّالِ- نَحْوُ رَكْوَةٍ بَدِيْعٍ. وَكَذلِكَ الْبِدْعُ يُقَالُ لَهُمَا جَمِيْعًا، بِمَعْنَى الْفَاعِلِ وَالْمَفْعُوْلِ. وَقَوْلُهُ تَعَالَى: (قُلْ مَا كُنْتُ بِدْعًا مِنَ الرُّسُل) الأحقاف: 9، قِيْلَ مَعْنَاهُ: مُبْدَعًا لَمْ يَتَقَدَّمْنِيْ رَسُوْلٌ، وَقِيْلَ: مُبْدِعًا فِيْمَا أَقُوْلُهُ.اهـ\r“Kata Ibda’ artinya merintis sebuah kreasi baru tanpa mengikuti dan mencontoh sesuatu sebelumnya. Kata Ibda’ jika digunakan pada hak Allah, maka maknanya adalah penciptaan terhadap sesuatu tanpa alat, tanpa bahan, tanpa masa dan tanpa tempat. Kata Ibda’ dalam makna ini hanya berlaku bagi Allah saja. Kata al-Badi’ digunakan untuk al-Mubdi’ (artinya yang merintis sesuatu yang baru). Seperti dalam firman (Badi’ as-Samawat Wa al-Ardl), artinya: “Allah Pencipta langit dan bumi…”. Kata al-Badi’ juga digunakan untuk al-Mubda’ (artinya sesuatu yang dirintis). Seperti kata Rakwah Badi’, artinya: “Bejana air yang unik (dengan model baru)”.","part":1,"page":71},{"id":72,"text":"Demikian juga kata al-Bid'u digunakan untuk pengertian al-Mubdi’ dan al-Mubda’, artinya berlaku untuk makna Fa’il (pelaku) dan berlaku untuk makna Maf’ul (obyek). Firman Allah dalam QS. al-Ahqaf: 9 (Qul Ma Kuntu Bid’an Min ar-Rusul), menurut satu pendapat maknanya adalah: “Katakan Wahai Muhammad, Aku bukan Rasul pertama yang belum pernah didahului oleh rasul sebelumku” (artinya penggunaan dalam makna Maf’ul)”, menurut pendapat lain makna ayat tersebut adalah: “Katakan wahai Muhammad, Aku bukanlah orang yang pertama kali menyampaikan apa yang aku katakan” (artinya penggunaan dalam makna Fa’il)” (Mu’jam Mufradat Alfazh al-Qur’an, h. 36).\rDalam pengertian syari’at, bid’ah adalah:\rاَلْمُحْدَثُ الَّذِيْ لَمْ يَنُصَّ عَلَيْهِ الْقُرْءَانُ وَلاَ جَاءَ فِيْ السُّنَّةِ.\rSesuatu yang baru yang tidak terdapat penyebutannya secara tertulis, baik di dalam al-Qur’an maupun dalam hadits”. (Sharih al-Bayan, 1/278)\rSeorang ulama bahasa terkemuka, Abu Bakar Ibn al-‘Arabi menuliskan sebagai berikut:\rلَيْسَتْ البِدْعَةُ وَالْمُحْدَثُ مَذْمُوْمَيْنِ لِلَفْظِ بِدْعَةٍ وَمُحْدَثٍ وَلاَ مَعْنَيَيْهِمَا، وَإِنَّمَا يُذَمُّ مِنَ البِدْعَةِ مَا يُخَالِفُ السُّنَّةَ، وَيُذَمُّ مِنَ الْمُحْدَثَاتِ مَا دَعَا إِلَى الضَّلاَلَةِ.\rPerkara yang baru (Bid’ah atau Muhdats) tidak pasti tercela hanya karena secara bahasa disebut Bid’ah atau Muhdats, atau dalam pengertian keduanya. Melainkan Bid’ah yang tercela itu adalah perkara baru yang menyalahi sunnah, dan Muhdats yang tercela itu adalah perkara baru yang mengajak kepada kesesatan\rB. Macam-Macam Bid’ah\rBid’ah terbagi menjadi dua bagian :","part":1,"page":72},{"id":73,"text":"1.…Pertama : Bid’ah Dlalalah. Disebut pula dengan Bid’ah Sayyi-ah atau Sunnah Sayyi-ah. Yaitu perkara baru yang menyalahi al-Qur’an dan as-Sunnah.\r2.…Kedua: Bid’ah Huda atau disebut juga dengan Bid’ah Hasanah atau Sunnah Hasanah. Yaitu perkara baru yang sesuai dan sejalan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah.\rAl-Imam asy-Syafi’i berkata :\rالْمُحْدَثَاتُ مِنَ اْلأُمُوْرِ ضَرْبَانِ : أَحَدُهُمَا : مَا أُحْدِثَ ِممَّا يُخَالِفُ كِتَابًا أَوْ سُنَّةً أَوْ أَثرًا أَوْ إِجْمَاعًا ، فهَذِهِ بِدْعَةُ الضَّلاَلَةِ، وَالثَّانِيَةُ : مَا أُحْدِثَ مِنَ الْخَيْرِ لاَ خِلاَفَ فِيْهِ لِوَاحِدٍ مِنْ هذا ، وَهَذِهِ مُحْدَثَةٌ غَيْرُ مَذْمُوْمَةٍ (رواه الحافظ البيهقيّ في كتاب \" مناقب الشافعيّ(\r“Perkara-perkara baru itu terbagi menjadi dua bagian. Pertama: Perkara baru yang menyalahi al-Qur’an, Sunnah, Ijma’ atau menyalahi Atsar (sesuatu yang dilakukan atau dikatakan sahabat tanpa ada di antara mereka yang mengingkarinya), perkara baru semacam ini adalah bid’ah yang sesat. Kedua: Perkara baru yang baru yang baik dan tidak menyalahi al-Qur’an, Sunnah, maupun Ijma’, maka sesuatu yang baru seperti ini tidak tercela”. (Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dengan sanad yang Shahih dalam kitab Manaqib asy-Syafi’i) (Manaqib asy-Syafi’i, 1/469).\rDalam riwayat lain al-Imam asy-Syafi’i berkata:\rاَلْبِدْعَةُ بِدْعَتَانِ: بِدْعَةٌ مَحْمُوْدَةٌ وَبِدْعَةٌ مَذْمُوْمَةٌ، فَمَا وَافَقَ السُّنَّةَ فَهُوَ مَحْمُوْدٌ وَمَا خَالَفَهَا فَهُوَ مَذْمُوْمٌ.","part":1,"page":73},{"id":74,"text":"“Bid’ah ada dua macam: Bid’ah yang terpuji dan bid’ah yang tercela. Bid’ah yang sesuai dengan Sunnah adalah bid’ah terpuji, dan bid’ah yang menyalahi Sunnah adalah bid’ah tercela”. (Dituturkan oleh al-Hafizh Ibn Hajar dalam Fath al-Bari 20/330).\rPembagian bid’ah menjadi dua oleh Imam Syafi'i ini disepakati oleh para ulama setelahnya dari seluruh kalangan ahli fikih empat madzhab, para ahli hadits, dan para ulama dari berbagai disiplin ilmu. Di antara mereka adalah para ulama terkemuka, seperti al-‘Izz ibn Abd as-Salam, an-Nawawi, Ibn ‘Arafah, al-Haththab al-Maliki, Ibn ‘Abidin dan lain-lain. Dari kalangan ahli hadits di antaranya Ibn al-'Arabi al-Maliki, Ibn al-Atsir, al-Hafizh Ibn Hajar, al-Hafzih as-Sakhawi, al-Hafzih as-Suyuthi dan lain-lain. Termasuk dari kalangan ahli bahasa sendiri, seperti al-Fayyumi, al-Fairuzabadi, az-Zabidi dan lainnya.\rDengan demikian bid’ah dalam istilah syara’ terbagi menjadi dua: Bid’ah Mahmudah (bid’ah terpuji) dan Bid’ah Madzmumah (bid’ah tercela). Pembagian bid’ah menjadi dua bagian ini dapat dipahami dari hadits ‘Aisyah, bahwa ia berkata: Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:\rمَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ (رواه البخاريّ ومسلم(\r“Barang siapa yang berbuat sesuatu yang baharu dalam syari’at ini yang tidak sesuai dengannya, maka ia tertolak”. (HR. al-Bukhari: 2499 [9/201] dan Muslim : 3242 [9/118])","part":1,"page":74},{"id":75,"text":"Dapat dipahami dari sabda Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam: “Ma Laisa Minhu”, artinya “Yang tidak sesuai dengannya”, bahwa perkara baru yang tertolak adalah yang bertentangan dan menyalahi syari’at. Adapun perkara baru yang tidak bertentangan dan tidak menyalahi syari’at maka ia tidak tertolak.\rBid’ah dilihat dari segi wilayahnya terbagi menjadi dua bagian; Bid’ah dalam pokok-pokok agama (Ushuluddin) dan bid’ah dalam cabang-cabang agama, yaitu bid’ah dalam Furu’, atau dapat kita sebut Bid’ah ‘Amaliyyah. Bid’ah dalam pokok-pokok agama (Ushuluddin) adalah perkara-perkara baru dalam masalah akidah yang menyalahi akidah Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan para sahabatnya.\rC. Dalil-Dalil Bid’ah Hasanah\rAl-Muhaddits al-‘Allamah as-Sayyid ‘Abdullah ibn ash-Shiddiq al-Ghumari al-Hasani dalam kitab Itqan ash-Shun’ah Fi Tahqiq Ma’na al-Bid’ah, menuliskan bahwa di antara dalil-dalil yang menunjukkan adanya bid’ah hasanah adalah sebagai berikut (Lihat Itqan ash-Shun’ah, h. 17-28):\r1. Firman Allah dalam QS. al-Hadid: 27:\rوَجَعَلْنَا فِي قُلُوبِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ رَأْفَةً وَرَحْمَةً وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ إِلَّا ابْتِغَاءَ رِضْوَانِ اللَّهِ (الحديد: 27(\r“Dan Kami (Allah) jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya (Nabi ‘Isa) rasa santun dan kasih sayang, dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah, padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka, tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah” (Q.S. al-Hadid: 27)","part":1,"page":75},{"id":76,"text":"Ayat ini adalah dalil tentang adanya bid’ah hasanah. Dalam ayat ini Allah memuji ummat Nabi Isa terdahulu, mereka adalah orang-orang muslim dan orang-orang mukmin berkeyakinan akan kerasulan Nabi Isa dan bahwa berkeyakinan bahwa hanya Allah yang berhak disembah. Allah memuji mereka karena mereka kaum yang santun dan penuh kasih sayang, juga karena mereka merintis rahbaniyyah. Praktek Rahbaniyyah adalah perbuatan menjauhi syahwat duniawi, hingga mereka meninggalkan nikah, karena ingin berkonsentrasi dalam beribadah kepada Allah.\rDalam ayat di atas Allah mengatakan :\r“مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ”,\rartinya: “Kami (Allah) tidak mewajibkan Rahbaniyyah tersebut atas mereka, melainkan mereka sendiri yang membuat dan merintis Rahbaniyyah itu untuk tujuan mendekatkan diri kepada Allah”. dalam ayat ini Allah memuji mereka, karena mereka merintis perkara baru yang tidak ada nash-nya dalam Injil, juga tidak diwajibkan bahkan tidak sama sekali tidak pernah dinyatakan oleh Nabi ‘Isa al-Masih kepada mereka. Melainkan mereka yang ingin berupaya semaksimal mungkin untuk taat kepada Allah, dan berkonsentrasi penuh untuk beribadah kepada-Nya dengan tidak menyibukkan diri dengan menikah, menafkahi isteri dan keluarga. Mereka membangun rumah-rumah kecil dan sederhana dari tanah atau semacamnya di tempat-tempat sepi dan jauh dari orang untuk beribadah sepenuhnya kepada Allah.\r2. Hadits sahabat Jarir ibn Abdillah al-Bajali, bahwa ia berkata: Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:","part":1,"page":76},{"id":77,"text":"مَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَىْءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ (رواه مسلم(\r“Barang siapa merintis (memulai) dalam agama Islam sunnah (perbuatan) yang baik maka baginya pahala dari perbuatannya tersebut, dan pahala dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya, tanpa berkurang sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa merintis dalam Islam sunnah yang buruk maka baginya dosa dari perbuatannya tersebut, dan dosa dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya tanpa berkurang dari dosa-dosa mereka sedikitpun”. (HR. Muslim: 1691 [5/198])","part":1,"page":77},{"id":78,"text":"Dalam hadits ini dengan sangat jelas Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengatakan: “Barangsiapa merintis sunnah hasanah…”. Pernyataan Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam ini harus dibedakan dengan pengertian anjuran beliau untuk berpegangteguh dengan sunnah (at-Tamassuk Bis-Sunnah) atau pengertian menghidupkan sunnah yang ditinggalkan orang (Ihya’ as-Sunnah). Karena tentang perintah untuk berpegangteguh dengan sunnah atau menghidupkan sunnah ada hadits-hadits tersendiri yang menjelaskan tentang itu. Sedangkan hadits riwayat Imam Muslim ini berbicara tentang merintis sesuatu yang baru yang baik yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Karena secara bahasa makna “sanna” tidak lain adalah merintis perkara baru, bukan menghidupkan perkara yang sudah ada atau berpegang teguh dengannya.\r3. Hadits ‘Aisyah, bahwa ia berkata: Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:\rمَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ (رواه البخاريّ ومسلم(\r“Barang siapa yang berbuat sesuatu yang baharu dalam syari'at ini yang tidak sesuai dengannya, maka ia tertolak”. (HR. al-Bukhari: 2499 [9/201] dan Muslim : 3242 [9/118])\rHadits ini dengan sangat jelas menunjukkan tentang adanya bid’ah hasanah. Karena seandainya semua bid’ah pasti sesat tanpa terkecuali, niscaya Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam akan mengatakan “Barangsiapa merintis hal baru dalam agama kita ini apapun itu, maka pasti tertolak”. Namun Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengatakan, sebagaimana hadits di atas:","part":1,"page":78},{"id":79,"text":"Barangsiapa merintis hal baru dalam agama kita ini yang tidak sesuai dengannya, artinya yang bertentangan dengannya, maka perkara tersebut pasti tertolak”.\rDengan demikian dapat dipahami bahwa perkara yang baru itu ada dua bagian: Pertama, yang tidak termasuk dalam ajaran agama, karena menyalahi kaedah-kaedah dan dalil-dalil syara’, perkara baru semacam ini digolongkan sebagai bid’ah yang sesat. Kedua, perkara baru yang sesuai dengan kaedah dan dalil-dalil syara’, perkara baru semacam ini digolongkan sebagai perkara baru yang dibenarkan dan diterima, ialah yang disebut dengan bid’ah hasanah.\r4. Dalam sebuah hadits shahih riwayat al-Imam al-Bukhari :\r1871 [7/135] dalam kitab Shahih-nya disebutkan bahwa sahabat ‘Umar ibn al-Khaththab secara tegas mengatakan tentang adanya bid’ah hasanah. Ialah bahwa beliau menamakan shalat berjama’ah dalam shalat tarawih di bulan Ramadlan sebagai bid’ah hasanah. Beliau memuji praktek shalat tarawih berjama’ah ini, dan mengatakan:\r“نِعْمَ الْبِدْعَةُ هَذِهِ”.\rArtinya, sebaik-baiknya bid’ah adalah shalat tarawih dengan berjama’ah.\r5. Kemudian dalam hadits Shahih lainnya yang diriwayatkan oleh Imam Muslim :\r2029- 2030[6/121] disebutkan bahwa sahabat Abdullah bin Umar ini menambah kalimat-kalimat dalam bacaan talbiyah terhadap apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Tambahan Abdullah bin Umar dalam talbiyah adalah:\rلَبَّيْكَ اللّهُمَّ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ، وَالْخَيْرُ فِيْ يَدَيْكَ، وَالرَّغْبَاءُ إِلَيْكَ وَالْعَمَلُ\r6. Dalam hadits riwayat Abu Dawud :","part":1,"page":79},{"id":80,"text":"826 [3/156] disebutkan bahwa ‘Abdullah ibn ‘Umar ibn al-Khaththab menambahkan kalimat Tasyahhud terhadap kalimat-kalimat Tasyahhud yang telah diajarkan oleh Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Dalam Tasayahhud-nya ‘Abdullah ibn ‘Umar mengatakan:\rأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ.\rTentang kaliamat tambahan dalam Tasyahhud-nya ini, ‘Abdullah ibn ‘Umar berkata:\r“زِدْتُ فِيهَا وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ...”,\rartinya: “Saya sendiri yang menambahkannya dengan kalimat “Wahdahu La Syarika Lah”.\r7. ‘Abdullah ibn ‘Umar menganggap bahwa shalat Dluha sebagai bid’ah, karena Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam tidak pernah melakukannya. Tentang shalat Dluha ini beliau berkata:\rإِنَّهَا مُحْدَثَةٌ وَإِنَّهَا لَمِنْ أَحْسَنِ مَا أَحْدَثُوْا (رواه سعيد بن منصور بإسناد صحيح(\r“Sesungguhnya shalat Dluha itu perkara baru, dan hal itu merupakan salah satu perkara terbaik dari apa yang mereka rintis”. (HR. Sa’id ibn Manshur dengan sanad yang Shahih). Dalam riwayat lain, tentang shalat Dluha ini sahabat ‘Abdullah ibn ‘Umar mengatakan:\rبِدْعَةٌ وَنِعْمَتِ البِدْعَةُ (رواه ابن أبي شيبة(\r“Shalat Dluha adalah bid’ah, dan ia adalah sebaik-baiknya bid’ah”. (HR. Ibn Abi Syaibah: [2/296] dan Ath Thabrani : 13387 dalam al-Mu’jam al-Kabir 11/54). Riwayat-riwayat ini dituturkan oleh al-Hafizh Ibn Hajar dalam Fath al-Bari [4/173] dengan sanad yang shahih.\r8. Dalam sebuah hadits shahih, al-Imam al-Bukhari:","part":1,"page":80},{"id":81,"text":"757 [3/277] meriwayatkan dari sahabat Rifa'ah ibn Rafi’, bahwa ia (Rifa’ah ibn Rafi’) berkata: “Suatu hari kami shalat berjama’ah di belakang Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Ketika beliau mengangkat kepala setelah ruku’, beliau membaca: “Sami’allahu Lima Hamidah”. Tiba-tiba salah seorang makmum berkata:\rرَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ\rSetelah selesai shalat, Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam bertanya: “Siapakah tadi yang mengatakan kalimat-kalimat itu?”. Orang yang yang dimaksud menjawab: “Saya Wahai Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam...”. Lalu Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam berkata:\rرَأَيْتُ بِضْعَةً وَثَلاَثِيْنَ مَلَكًا يَبْتَدِرُوْنَهَا أَيُّهُمْ يَكْتُبُهَا أَوَّلُ\r“Aku melihat lebih dari tiga puluh Malaikat berlomba untuk menjadi yang pertama mencatatnya”.\rAl-Hafizh Ibn Hajar dalam Fath al-Bari, mengatakan: “Hadits ini adalah dalil yang menunjukkan akan kebolehan menyusun bacaan dzikir di dalam shalat yang tidak ma’tsur, selama dzikir tersebut tidak menyalahi yang ma’tsur” (Fath al-Bari 2/ 287).\rD. Beberapa Contoh Bid’ah Hasanah Dan Bid’ah Sayyi-ah\rBerikut ini beberapa contoh Bid’ah Hasanah, di antaranya :\r1. Shalat Sunnah dua raka’at sebelum dibunuh.\rOrang yang pertama kali melakukannya adalah Khubaib ibn ‘Adiyy al-Anshari; salah seorang sahabat Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Tentang ini Abu Hurairah berkata:\rفَكَانَ خُبَيْبٌ أَوَّلَ مَنْ سَنَّ الصَّلاَةَ عِنْدَ الْقَتْلِ (رواه البخاريّ(","part":1,"page":81},{"id":82,"text":"“Khubaib adalah orang yang pertama kali merintis shalat ketika akan dibunuh”. (HR. al-Bukhari dalam kitab al-Maghazi, Ibn Abi Syaibah : 133 [8/340] dalam kitab al-Mushannaf)\rLihatlah, bagaimana sahabat Abu Hurairah menggunakan kata “Sanna” untuk menunjukkan makna “merintis”, membuat sesuatu yang baru yang belum ada sebelumnya. Jelas, makna “sanna” di sini bukan dalam pengertian berpegang teguh dengan sunnah, juga bukan dalam pengertian menghidupkan sunnah yang telah ditinggalkan orang. Salah seorang dari kalangan tabi'in ternama, yaitu al-Imam Ibn Sirin, pernah ditanya tentang shalat dua raka’at ketika seorang akan dibunuh, beliau menjawab:\rصَلاَّهُمَا خُبَيْبٌ وَحُجْرٌ وَهُمَا فَاضِلاَنِ.\r“Dua raka’at shalat sunnah tersebut tersebut pernah dilakukan oleh Khubaib dan Hujr bin Adiyy, dan kedua orang ini adalah orang-orang (sahabat Nabi) yang mulia”. Diriwayatkan oleh Ibn Abd al-Barr dalam kitab al-Isti’ab) (al-Isti’ab Fi Ma’rifah al-Ash-hab 1/ 358)\r2. Penambahan Adzan Pertama sebelum shalat Jum’at oleh sahabat Utsman bin ‘Affan. (HR. al-Bukhari dalam Kitab Shahih al-Bukhari pada bagian Kitab al-Jum'ah).\r3. Pembuatan titik-titik dalam beberapa huruf al-Qur’an oleh Yahya ibn Ya’mur.","part":1,"page":82},{"id":83,"text":"Beliau adalah salah seorang tabi'in yang mulia dan agung. Beliau seorang yang alim dan bertaqwa. Perbuatan beliau ini disepakati oleh para ulama dari kalangan ahli hadits dan lainnya. Mereka semua menganggap baik pembuatan titik-titik dalam beberapa huruf al-Qur’an tersebut. Padahal ketika Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam mendiktekan bacaan-bacaan al-Qur’an tersebut kepada para penulis wahyu, mereka semua menuliskannya dengan tanpa titik-titik sedikitpun pada huruf-hurufnya.\rDemikian pula di masa Khalifah ‘Utsman ibn ‘Affan, beliau menyalin dan menggandakan mush-haf menjadi lima atau enam naskah, pada setiap salinan mush-haf-mush-haf tersebut tidak ada satu-pun yang dibuatkan titik-titik pada sebagian huruf-hurufnya. Namun demikian, sejak setelah pemberian titik-titik oleh Yahya bin Ya'mur tersebut kemudian semua umat Islam hingga kini selalu memakai titik dalam penulisan huruf-huruf al-Qur’an. Apakah mungkin hal ini dikatakan sebagai bid’ah sesat dengan alasan Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam tidak pernah melakukannya?! Jika demikian halnya maka hendaklah mereka meninggalkan mush-haf-mush-haf tersebut dan menghilangkan titik-titiknya seperti pada masa ‘Utsman.","part":1,"page":83},{"id":84,"text":"Abu Bakar ibn Abu Dawud, putra dari Imam Abu Dawud penulis kitab Sunan, dalam kitabnya al-Mashahif berkata: “Orang yang pertama kali membuat titik-titik dalam Mushhaf adalah Yahya bin Ya’mur”. Yahya bin Ya’mur adalah salah seorang ulama tabi'in yang meriwayatkan (hadits) dari sahabat ‘Abdullah ibn ‘Umar dan lainnya. Demikian pula penulisan nama-nama surat di permulaan setiap surat al-Qur’an, pemberian lingkaran di akhir setiap ayat, penulisan juz di setiap permulaan juz, juga penulisan hizb, Nishf (pertengahan Juz), Rubu' (setiap seperempat juz) dalam setiap juz dan semacamnya, semua itu tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan para sahabatnya. Apakah dengan alasan semacam ini kemudian semua itu adalah bid’ah yang diharamkan ?!\r4. Pembuatan Mihrab dalam majid sebagai tempat shalat Imam.\rOrang yang pertama kali membuat Mihrab semacam ini adalah al-Khalifah ar-Rasyid ‘Umar ibn Abd al-'Aziz di Masjid Nabawi. Perbuatan al-Khalifah ar-Rasyid ini kemudian diikuti oleh kebanyakan ummat Islam di seluruh dunia ketika mereka membangun masjid. Siapa berani mengatakan bahwa itu adalah bid’ah sesat, sementara hampir seluruh masjid di zaman sekarang memiliki mihrab?! Siapa yang tidak mengenal Khalifah ‘Umar ibn ‘Abd al-‘Aziz sebagai al-Khalifah ar-Rasyid ?!\r5. Peringatan Maulid Nabi adalah bid’ah hasanah.","part":1,"page":84},{"id":85,"text":"Sebagaimana ditegaskan oleh al-Hafizh Ibn Dihyah (abad 7 H), al-Hafizh al-'Iraqi (W 806 H), al-Hafizh Ibn Hajar al-'Asqalani (W 852 H), al-Hafizh as-Suyuthi (W 911 H), al-Hafizh as-Sakhawi (W 902 H), Syekh Ibn Hajar al-Haitami (W 974 H), al-Imam Nawawi (W 676 H), al-Imam al-‘Izz ibn 'Abd as-Salam (W 660 H), Mantan Mufti Mesir; Syekh Muhammad Bakhit al-Muthi'i (W 1354 H), mantan Mufti Bairut Lebanon Syekh Mushthafa Naja (W 1351 H) dan masih banyak lagi para ulama terkemuka lainnya.\r6. Membaca shalawat atas Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam setelah adzan adalah bid’ah hasanah.\rSebagaimana dijelaskan oleh al-Hafizh as-Suyuthi dalam kitab Musamarah al-Awa-il, al-Hafizh as-Sakhawi dalam kitab al-Qaul al-Badi’, al-Haththab al-Maliki dalam kitab Mawahib al-Jalil, dan para ulama besar lainnya.\r7. Menulis kalimat “Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam” setelah menulis nama Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam termasuk bid’ah hasanah.\rKarena Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam dalam surat-surat yang beliau kirimkan kepada para raja dan para penguasa di masa beliau hidup tidak pernah menulis kalimat shalawat semacam itu. Dalam surat-suratnya, Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam hanya menuliskan: “Min Muhammad Rasulillah Ila Fulan…”, artinya: “Dari Muhammad Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam kepada Si Fulan…”.\r8. Beberapa Tarekat yang dirintis oleh para wali Allah dan orang-orang saleh.","part":1,"page":85},{"id":86,"text":"Seperti tarekat ar-Rifa'iyyah, al-Qadiriyyah, an-Naqsyabandiyyah dan lainnya yang kesemuanya berjumlah sekitar 40 tarekat. Pada asalnya, tarekat-tarekat ini adalah bid’ah hasanah, namun kemudian sebagian pengikut beberapa tarekat ada yang menyimpang dari ajaran dasarnya. Namun demikian hal ini tidak lantas menodai tarekat pada peletakan atau tujuan awalnya.\rBerikut ini beberapa contoh Bid’ah Sayyi’ah, di antaranya sebagai berikut :\r1. Bid’ah-bid’ah dalam masalah pokok-pokok agama (Ushuluddin), di antaranya seperti:\ra. Bid’ah Pengingkaran terhadap ketentuan (Qadar) Allah. Yaitu keyakinan sesat yang mengatakan bahwa Allah tidak mentaqdirkan dan tidak menciptakan suatu apapun dari segala perbuatan ikhtiar hamba. Seluruh perbuatan manusia, -menurut keyakinan ini-, terjadi dengan penciptaan manusia itu sendiri. Sebagian dari mereka meyakini bahwa Allah tidak menciptakan keburukan. Menurut mereka, Allah hanya menciptakan kebaikan saja, sedangkan keburukan yang menciptakannya adalah hamba sendiri. Mereka juga berkeyakinan bahwa pelaku dosa besar bukan seorang mukmin, dan juga bukan seorang kafir, melainkan berada pada posisi di antara dua posisi tersebut, tidak mukmin dan tidak kafir. Mereka juga mengingkari syafa'at Nabi. Golongan yang berkeyakinan seperti ini dinamakan dengan kaum Qadariyyah. Orang yang pertama kali mengingkari Qadar Allah adalah Ma'bad al-Juhani di Bashrah, sebagaimana hal ini telah diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Yahya ibn Ya'mur.","part":1,"page":86},{"id":87,"text":"b. Bid’ah Jahmiyyah. Kaum Jahmiyyah juga dikenal dengan sebutan Jabriyyah, mereka adalah pengikut Jahm ibn Shafwan. Mereka berkeyakinan bahwa seorang hamba itu majbur (dipaksa); artinya setiap hamba tidak memiliki kehendak sama sekali ketika melakukan segala perbuatannya. Menurut mereka, manusia bagaikan sehelai bulu atau kapas yang terbang di udara sesuai arah angin, ke arah kanan dan ke arah kiri, ke arah manapun, ia sama sekali tidak memiliki ikhtiar dan kehendak.\rc. Bid’ah kaum Khawarij. Mereka mengkafirkan orang-orang mukmin yang melakukan dosa besar.\rd. Bid’ah sesat yang mengharamkan dan mengkafirkan orang yang bertawassul dengan para nabi atau dengan orang-orang saleh setelah para nabi atau orang-orang saleh tersebut meninggal. Atau pengkafiran terhadap orang yang tawassul dengan para nabi atau orang-orang saleh di masa hidup mereka namun orang yang bertawassul ini tidak berada di hadapan mereka. Orang yang pertama kali memunculkan bid’ah sesat ini adalah Ahmad ibn ‘Abd al-Halim ibn Taimiyah al-Harrani (W 728 H), yang kemudian diambil oleh Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab dan para pengikutnya yang dikenal dengan kelompok Wahhabiyyah.\r2. Bid’ah-bid’ah 'Amaliyyah yang buruk.","part":1,"page":87},{"id":88,"text":"Contohnya menulis huruf (ص) atau (صلعم) sebagai singkatan dari “Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam” setelah menuliskan nama Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Termasuk dalam bahasa Indonesia menjadi “SAW”. Para ahli hadits telah menegaskan dalam kitab-kitab Mushthalah al-Hadits bahwa menuliskan huruf “shad” saja setelah penulisan nama Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam adalah makruh. Artinya meskipun ini bid’ah sayyi-ah, namun demikian mereka tidak sampai mengharamkannya. Kemudian termasuk juga bid’ah sayyi-ah adalah merubah-rubah nama Allah dengan membuang alif madd (bacaan panjang) dari kata Allah atau membuang Ha' dari kata Allah.\rE. Kerancuan Pendapat Yang Mengingkari Bid’ah Hasanah\r1. Kalangan yang mengingkari adanya bid’ah hasanah biasa berkata: “Bukankah Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam dalam hadits riwayat Abu Dawud dari sahabat al-‘Irbadl ibn Sariyah telah bersabda:\rوَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ (رواه أبو داود(\rIni artinya bahwa setiap perkara yang secara nyata tidak disebutkan dalam al-Qur’an dan hadits atau tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan atau al-Khulafa' ar-Rasyidun maka perkara tersebut dianggap sebagai bid’ah sesat .","part":1,"page":88},{"id":89,"text":"Jawab : Hadits ini lafazhnya umum tetapi maknanya khusus. Artinya yang dimaksud oleh Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam dengan bid’ah tersebut adalah bid’ah sayyi-ah, yaitu setiap perkara baru yang menyalahi al-Qur’an, sunnah, ijma' atau atsar. Al-Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menuliskan: “Sabda Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam “Kullu Bid’ah dlalalah” ini adalah 'Amm Makhshush; artinya, lafazh umum yang telah dikhususkan kepada sebagian maknanya. Jadi yang dimaksud adalah bahwa sebagian besar bid’ah itu sesat (bukan mutlak semua bid’ah itu sesat)” (al-Minhaj Bi Syarah Shahih Muslim ibn al-Hajjaj, j. 6, hlm. 154).\rKemudian al-Imam an-Nawawi membagi bid’ah menjadi lima macam. Beliau berkata: “Jika telah dipahami apa yang telah aku tuturkan, maka dapat diketahui bahwa hadits ini termasuk hadits umum yang telah dikhususkan. Demikian juga pemahamannya dengan beberapa hadits serupa dengan ini. Apa yang saya katakan ini didukung oleh perkataan ‘Umar ibn al-Khaththab tentang shalat Tarawih, beliau berkata: “Ia (Shalat Tarawih dengan berjama’ah) adalah sebaik-baiknya bid’ah”. Dalam penegasan al-Imam an-Nawawi, meski hadits riwayat Abu Dawud tersebut di atas memakai kata “Kullu” sebagai ta’kid, namun bukan berarti sudah tidak mungkin lagi di-takhshish. Melainkan ia tetap dapat di-takhshish. Contoh semacam ini, dalam QS. al-Ahqaf: 25, Allah berfirman:\rتُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ (الأحقاف: 25(","part":1,"page":89},{"id":90,"text":"Makna ayat ini ialah bahwa angin yang merupakan adzab atas kaum 'Ad telah menghancurkan kaum tersebut dan segala harta benda yang mereka miliki. Bukan artinya bahwa angin tersebut menghancurkan segala sesuatu secara keseluruhan, karena terbukti hingga sekarang langit dan bumi masih utuh. Padahal dalam ayat ini menggunakan kata “Kull”.\rAdapun dalil-dalil yang men-takhshish hadits “Wa Kullu Bid’ah Dlalalah” riwayat Abu Dawud ini adalah hadits-hadits dan atsar-atsar yang telah disebutkan dalam dalil-dalil adanya bid’ah hasanah.\r2. Kalangan yang mengingkari bid’ah hasanah biasanya berkata: “Hadits “Man Sanna Fi al-Islam Sunnatan Hasanatan…” yang telah diriwayatkan oleh Imam Muslim adalah khusus berlaku ketika Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam masih hidup. Adapun setelah Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam meninggal maka hal tersebut menjadi tidak berlaku lagi”.\rJawab : Di dalam kaedah Ushuliyyah disebutkan:\rلاَ تَثْبُتُ الْخُصُوْصِيَّةُ إِلاَّ بِدَلِيْلٍ","part":1,"page":90},{"id":91,"text":"“Pengkhususan -terhadap suatu nash- itu tidak boleh ditetapkan kecuali harus berdasarkan adanya dalil”. Kita katakan kepada mereka: “Mana dalil yang menunjukan kekhususan tersebut?! Justru sebaliknya, lafazh hadits riwayat Imam Muslim di atas menunjukkan keumuman, karena Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam tidak mengatakan “Man Sanna Fi Hayati Sunnatan Hasanatan…” (Barangsiapa merintis perkara baru yang baik di masa hidupku…), atau juga tidak mengatakan: “Man ‘Amila ‘Amalan Ana ‘Amiltuh Fa Ahyahu…” (Barangsiapa mengamalkan amal yang telah aku lakukan, lalu ia menghidupkannya…). Sebaliknya Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengatakan secara umum: “Man Sanna Fi al-Islam Sunnatan Hasanatan…”, dan tentunya kita tahu bahwa Islam itu tidak hanya yang ada pada masa Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam saja”.\rKita katakan pula kepada mereka: Berani sekali kalian mengatakan hadits ini tidak berlaku lagi setelah Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam meninggal?! Berani sekali kalian menghapus salah satu hadits Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam?! Apakah setiap ada hadits yang bertentangan dengan faham kalian maka berarti hadits tersebut harus di-takhshish, atau harus d-nasakh (dihapus) dan tidak berlaku lagi?! Ini adalah bukti bahwa kalian memahami ajaran agama hanya dengan didasarkan kepada “hawa nafsu” belaka.","part":1,"page":91},{"id":92,"text":"3. Kalangan yang mengingkari bid’ah hasanah terkadang berkata: “Hadits riwayat Imam Muslim: “Man Sanna Fi al-Islam Sunnatan Hasanatan…” sebab munculnya adalah bahwa beberapa orang yang sangat fakir memakai pakaian dari kulit hewan yang dilubangi tengahnya lalu dipakaikan dengan cara memasukkan kepala melalui lubang tersebut. Melihat keadaan tersebut wajah Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam berubah dan bersedih. Lalu para sahabat bersedekah dengan harta masing-masing dan mengumpulkannya hingga menjadi cukup banyak, kemudian harta-harta itu diberikan kepada orang-orang fakir tersebut. Ketika Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam melihat kejadian ini, beliau sangat senang dan lalu mengucapkan hadits di atas. Artinya, Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam memuji sedekah para sahabatnya tersebut, dan urusan sedekah ini sudah maklum keutamaannya dalam agama”.\rJawab : Dalam kaedah Ushuliyyah disebutkan:\rاَلْعِبْرَةُ بِعُمُوْمِ اللَّفْظِ لاَ بِخُصُوْصِ السَّبَبِ","part":1,"page":92},{"id":93,"text":"“Yang dijadikan sandaran itu -dalam penetapan dalil itu- adalah keumuman lafazh suatu nash, bukan dari kekhususan sebabnya”. Dengan demikian meskipun hadits tersebut sebabnya khusus, namun lafazhnya berlaku umum. Artinya yang harus dilihat di sini adalah keumuman kandungan makna hadits tersebut, bukan kekhususan sebabnya. Karena seandainya Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam bermaksud khusus dengan haditsnya tersebut, maka beliau tidak akan menyampaikannya dengan lafazh yang umum. Pendapat orang-orang anti bid’ah hasanah yang mengambil alasan semacam ini terlihat sangat dibuat-buat dan sungguh sangat aneh. Apakah mereka lebih mengetahui agama ini dari pada Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam sendiri?!\r4. Sebagian kalangan yang mengingkari bid’ah hasanah mengatakan: “Bukan hadits “Wa Kullu Bid’ah Dlalalah” yang di-takhshish oleh hadits “Man Sanna Fi al-Isalam Sunnatan Hasanah…”. Tetapi sebaliknya, hadits yang kedua ini yang di-takhshish oleh hadits hadits yang pertama”.\rJawab : Ini adalah penafsiran “ngawur” dan “seenak perut” belaka. Pendapat semacam itu jelas tidak sesuai dengan cara para ulama dalam memahami hadits-hadits Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Orang semacam ini sama sekali tidak faham kalimat “’Am” dan kalimat “Khas”. Al-Imam an-Nawawi ketika menjelaskan hadits “Man Sanna Fi al-Islam…”, menuliskan sebagai berikut:","part":1,"page":93},{"id":94,"text":"فِيْهِ الْحَثُّ عَلَى الابْتِدَاءِ بِالْخَيْرَاتِ وَسَنِّ السُّنَنِ الْحَسَنَاتِ وَالتَّحْذِيْرِ مِنَ الأَبَاطِيْلِ وَالْمُسْتَقْبَحَاتِ. وَفِيْ هذَا الْحَدِيْثِ تَخْصِيْصُ قَوْلِهِ صَلّى اللهُ عَليْه وَسَلّمَ \"فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ\" وَأَنَّ الْمُرَادَ بِهِ الْمُحْدَثَاتُ الْبَاطِلَةُ وَالْبِدَعُ الْمَذْمُوْمَةُ.\r“Dalam hadits ini terdapat anjuran untuk memulai kebaikan, dan merintis perkara-perkara baru yang baik, serta memperingatkan masyarakat dari perkara-perkara yang batil dan buruk. Dalam hadits ini juga terdapat pengkhususan terhadap hadits Nabi yang lain, yaitu terhadap hadits: “Wa Kullu Bid’ah Dlalalah”. Dan bahwa sesungguhnya bid’ah yang sesat itu adalah perkara-perkara baru yang batil dan perkara-perkara baru yang dicela”.\rAs-Sindi mengatakan dalam kitab Hasyiyah Ibn Majah:\rقَوْلُهُ \"سُنَّةً حَسَنَةً\" أَيْ طَرِيْقَةً مَرْضِيَّةً يُقْتَدَى بِهَا، وَالتَّمْيِيْزُ بَيْنَ الْحَسَنَةِ وَالسَّيِّئَةِ بِمُوَافَقَةِ أُصُوْلِ الشَّرْعِ وَعَدَمِهَا.\r“Sabda Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam: “Sunnatan Hasanatan…” maksudnya adalah jalan yang diridlai dan diikuti. Cara membedakan antara bid’ah hasanah dan sayyi-ah adalah dengan melihat apakah sesuai dengan dalil-dalil syara’ atau tidak”.\rAl-Hafizh Ibn Hajar al-'Asqalani dalam kitab Fath al-Bari menuliskan sebagai berikut:\rوَالتَّحْقِيْقُ أَنَّهَا إِنْ كَانَتْ مِمَّا تَنْدَرِجُ تَحْتَ مُسْتَحْسَنٍ فِيْ الشَّرْعِ فَهِيَ حَسَنَةٌ، وَإِنْ كَانَتْ مِمَّا تَنْدَرِجُ تَحْتَ مُسْتَقْبَحٍ فِيْ الشَّرْعِ فَهِيَ مُسْتَقْبَحَةٌ.","part":1,"page":94},{"id":95,"text":"“Cara mengetahui bid’ah yang hasanah dan sayyi-ah menurut tahqiq para ulama adalah bahwa jika perkara baru tersebut masuk dan tergolong kepada hal yang baik dalam syara’ berarti termasuk bid’ah hasanah, dan jika tergolong hal yang buruk dalam syara' berarti termasuk bid’ah yang buruk” (Fath al-Bari, j. 4, hlm. 253).\rDengan demikian para ulama sendiri yang telah mengatakan mana hadits yang umum dan mana hadits yang khusus. Jika sebuah hadits bermakna khusus, maka mereka memahami betul hadits-hadits mana yang mengkhususkannya. Benar, para ulama juga yang mengetahui mana hadits yang mengkhususkan dan mana yang dikhususkan. Bukan semacam mereka yang membuat pemahaman sendiri yang sama sekali tidak di dasarkan kepada ilmu.\rDari penjelasan ini juga dapat diketahui bahwa penilaian terhadap sebuah perkara yang baru, apakah ia termasuk bid’ah hasanah atau termasuk sayyi-ah, adalah urusan para ulama. Mereka yang memiliki keahlian untuk menilai sebuah perkara, apakah masuk kategori bid’ah hasanah atau sayyi-ah. Bukan orang-orang awam atau orang yang menganggap dirinya alim padahal kenyataannya ia tidak paham sama sekali.\r5. Kalangan yang mengingkari bid’ah hasanah mengatakan: “Bid’ah yang diperbolehkan adalah bid’ah dalam urusan dunia. Dan definisi bid’ah dalam urusan dunia ini sebenarnya bid’ah dalam tinjauan bahasa saja. Sedangkan dalam urusan ibadah, bid’ah dalam bentuk apapun adalah sesuatu yang haram, sesat bahkan mendekati syirik”.","part":1,"page":95},{"id":96,"text":"Jawab : Subhanallah al-'Azhim. Apakah berjama'ah di belakang satu imam dalam shalat Tarawih, membaca kalimat talbiyah dengan menambahkan atas apa yang telah diajarkan Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam seperti yang dilakukan oleh sahabat ‘Umar ibn al-Khaththab, membaca tahmid ketika i'tidal dengan kalimat “Rabbana Wa Laka al-Hamd Handan Katsiran Thayyiban Mubarakan Fih”, membaca doa Qunut, melakukan shalat Dluha yang dianggap oleh sahabat ‘Abdullah ibn ‘Umar sebagai bid’ah hasanah, apakah ini semua bukan dalam masalah ibadah?! Apakah ketika seseorang menuliskan shalawat: “Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam” atas Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam tidak sedang beribadah?! Apakah orang yang membaca al-Qur’an yang ada titik dan harakat i'rab-nya tidak sedang beribadah kepada Allah?! Apakah orang yang membaca al-Qur’an tersebut hanya “bercanda” dan “iseng” saja, bahwa ia tidak akan memperoleh pahala karena membaca al-Qur’an yang ada titik dan harakat i'rab-nya?! Sahabat ‘Abdullah ibn ‘Umar yang nyata-nyata dalam shalat, di dalam tasyahhud-nya menambahkan “Wahdahu La Syarika Lahu”, apakah ia tidak sedang melakukan ibadah?! Hasbunallah.","part":1,"page":96},{"id":97,"text":"Kemudian dari mana ada pemilahan bid’ah secara bahasa (Bid’ah Lughawiyyah) dan bid’ah secara syara'?! Bukankah ketika sebuah lafazh diucapkan oleh para ulama, yang notebene sebagai pembawa ajaran syari’at, maka harus dipahami dengan makna syar'i dan dianggap sebagai haqiqah syar'iyyah?! Bukankah ‘Umar ibn al-Khatththab dan ‘Abdullah ibn Umar mengetahui makna bid’ah dalam syara', lalu kenapa kemudian mereka memuji sebagian bid’ah dan mengatakannya sebagai bid’ah hasanah, bukankah itu berarti bahwa kedua orang sahabat Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang mulia dan alim ini memahami adanya bid’ah hasanah dalam agama?! Siapa berani mengatakan bahwa kedua sahabat agung ini tidak pernah mendengar hadits Nabi “Kullu Bid’ah Dlalalah”?! Ataukah siapa yang berani mengatakan bahwa dua sahabat agung tidak memahami makna “Kullu” dalam hadits “Kullu Bid’ah Dlalalh” ini?!","part":1,"page":97},{"id":98,"text":"Kita katakan kepada mereka yang anti terhadap bid’ah hasanah: “Sesungguhnya sahabat ‘Umar ibn al-Khaththab dan sahabat ‘Abdullah ibn ‘Umar, juga para ulama, telah benar-benar mengetahui adanya kata “Kull” di dalam hadits tersebut. Hanya saja orang-orang yang mulia ini memahami hadits tersebut tidak seperti pemahaman orang-orang Wahhabiyyah yang sempit pemahamannya ini. Para ulama kita tahu bahwa ada beberapa hadits shahih yang jika tidak dikompromikan maka satu dengan lainnya akan saling bertentangan. Oleh karenanya, mereka mengkompromikan hadits “Wa Kullu Bid’ah Dlalalah” dengan hadits “Man Sanna Fi al-Islam Sunnatan Hasanatan…”, bahwa hadits yang pertama ini di-takhshish dengan hadits yang kedua. Sehingga maknanya menjadi: “Setiap bid’ah Sayyi-ah adalah sesat”, bukan “Setiap bid’ah itu sesat”.\rPemahaman ini sesuai dengan hadits lainnya, yaitu sabda Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam:\rمَنْ ابْتَدَعَ بِدْعَةَ ضَلاَلَةٍ لاَ تُرْضِي اللهَ وَرَسُوْلَهُ كَانَ عَلَيْهِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ (رواه الترمذيّ (\r“Barangsiapa merintis suatu perkara baru yang sesat yang tidak diridlai oleh Allah dan Rasul-Nya, maka ia terkena dosa orang-orang yang mengamalkannya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun”. (HR. at-Tirmidzi : 2601 [9/288]) Inilah pemahaman yang telah dijelaskan oleh para ulama kita sebagai Waratsah al-Anbiya’.","part":1,"page":98},{"id":99,"text":"6. Kalangan yang mengingkari adanya bid’ah hasanah mengatakan: “Perkara-perkara baru tersebut tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam, dan para sahabat tidak pernah melakukannya pula. Seandainya perkara-perkara baru tersebut sebagai sesuatu yang baik niscaya mereka telah mendahului kita dalam melakukannya”.\rJawab : Baik, Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam tidak melakukannya, apakah beliau melarangnya? Jika mereka berkata: Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam melarang secara umum dengan sabdanya: “Kullu Bid’ah Dlalalah”. Kita jawab: Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam juga telah bersabda: “Man Sanna Fi al-Islam Sunnatan Hasanatan Fa Lahu Ajruha Wa Ajru Man ‘Amila Biha…”.\rBila mereka berkata: Adakah kaedah syara' yang mengatakan bahwa apa yang tidak dilakukan oleh Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam adalah bid’ah yang diharamkan? Kita jawab: Sama sekail tidak ada.\rLalu kita katakan kepada mereka: Apakah suatu perkara itu hanya baru dianggap mubah (boleh) atau sunnah setelah Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam sendiri yang langsung melakukannya?! Apakah kalian mengira bahwa Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah melakukan semua perkara mubah?! Jika demikian halnya, kenapa kalian memakai Mushaf (al-Qur’an) yang ada titik dan harakat i'rab-nya?! Padahal jelas hal itu tidak pernah dibuat oleh Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam, atau para sahabatnya! Apakah kalian tidak tahu kaedah Ushuliyyah mengatakan:\rالتَّرْكُ لاَ يَقْتَضِي التَّحْرِيْم","part":1,"page":99},{"id":100,"text":"“Sesuatu yang tidak dikerjakan oleh Rasulullah ShallaLlahu 'Alaihi Wa Sallam tidak berarti menunjukkan sesuatu itu dilarang”.\rArtinya, ketika Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam atau para sahabatnya tidak melakukan suatu perkara tidak berarti kemudian perkara tersebut sebagai sesuatu yang haram.\rSudah maklum, bahwa Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam berasal dari bangsa manusia, tidak mungkin beliau harus melakukan semua hal yang Mubah. Jangankan melakukannya semua perkara mubah, menghitung semua hal-hal yang mubah saja tidak bisa dilakukan oleh seorangpun. Hal ini karena Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam disibukkan dalam menghabiskan sebagian besar waktunya untuk berdakwah, mendebat orang-orang musyrik dan ahli kitab, memerangi orang-orang kafir, melakukan perjanjian damai dan kesepakatan gencatan senjata, menerapkan hudud, mempersiapkan dan mengirim pasukan-pasukan perang, mengirim para penarik zakat, menjelaskan hukum-hukum dan lainnya.\rBahkan dengan sengaja Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam kadang meninggalkan beberapa perkara sunnah karena takut dianggap wajib oleh ummatnya. Atau sengaja beliau kadang meninggalkan beberapa perkara sunnah hanya karena khawatir akan memberatkan ummatnya jika beliau terus melakukan perkara sunnah tersebut. Dengan demikian orang yang mengharamkan satu perkara hanya dengan alasan karena perkara tersebut tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam adalah pendapat orang yang tidak mengerti ahwal Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan tidak memahami kaedah-kaedah agama.\rF. Kesimpulan","part":1,"page":100},{"id":101,"text":"Dari penjelasan yang cukup panjang ini kita dapat mengetahui dengan jelas bahwa para sahabat Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam, para tabi'in, para ulama Salaf dan para ulama Khalaf, mereka semuanya memahami pembagian bid’ah kepada dua bagian; bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi-ah. Yang kita sebutkan dalam tulisan ini bukan hanya pendapat dari satu atau dua orang ulama saja, melainkan sekian banyak ulama dari kalangan Salaf dan Khalaf di atas keyakinan ini. Lembaran buku ini tidak akan cukup bila harus semua nama mereka kita kutip di sini.\rDengan demikian bila ada orang yang menyesatkan pembagian bid’ah kepada dua bagian ini, maka berarti ia telah menyesatkan seluruh ulama dari masa para sahabat Nabi hingga sekarang ini. Dari sini kita bertanya, apakah kemudian hanya dia sendiri yang benar, sementara semua ulama tersebut adalah orang-orang sesat?! Tentu terbalik, dia sendiri yang sesat, dan para ulama tersebut di atas kebenaran. Orang atau kelompok yang “keras kepala” seperti ini hendaklah menyadari bahwa mereka telah menyempal dari para ulama dan mayoritas ummat Islam. Adakah mereka merasa lebih memahami al-Qur’an dan Sunnah dari pada para Sahabat, para Tabi’in, para ulama Salaf, para ulama Hadits, Fikih dan lainnya ?! Wallahu A'lam Bish Shawab.\r0740. Naik dan turun ketika peristiwa mi'raj","part":1,"page":101},{"id":102,"text":"Dalam tulisan sebelumnya pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/11/28/tidak-patut-diikuti/ telah diuraikan bagaimana mereka mengutip perkataan para Imam Mazhab namun memaknainya sesuai keinginan mereka bahwa Allah Azza wa Jalla bertempat atau berada di atas' Arsy atau di atas langit.\rKita harus bisa bedakan kapan para Salafush Sholeh, para Imam Mazhab, para pengikut Imam Mazhab, para Habib, para Sayyid sedang menjelaskan ayat-ayat mutasyabihat tentang sifat Allah atau kapan mereka tidak mengucapkannya kecuali ‘ala sabilil hikayah atau menetapkan lafazhnya (itersebutatul lafzhi) saja; yaitu hanya mengucapkan kembali apa yang diucapkan oleh al Qur’an, “Ar-Rahmanu alal arsy istawa” atau “A’amintum man fis sama’“. Tidak lebih dari itu. Namun mereka para pengikut Ibnu Taimiyyah sebagaimana ulama Ibnu Taimiyyah memaknainya dengan menterjemahkan secara harfiah bahwa Allah ta’ala bertempat di atas Arsy atau bertempat di (atas) langit.\rMereka masih saja bersikeras bahwa Allah Azza wa Jalla berada atau bertempat di atas 'Arsy atau di atas langit. Mereka berkeyakinan bahwa Allah Azza wa Jalla berbatas atau dibatasi dengan 'Arsy atau dengan langit.\rMereka katakan dengan peristiwa Mi'raj membuktikan bahwa Rasulullah mi'raj ketempat Allah Azza wa Jalla berada dan mereka mempertanyakan kami, apakah kami mengingkari mi'raj Rasulullah dengan tubuhnya\rTentulah tubuh Sayyidina Muhammad Shallallahu alaihi wasallam sampai kepada tempat Beliau bermunajat kepada Allah ta'ala ketika peristiwa Mi'raj namun bukan berarti Allah Azza wa Jalla berada atau bertempat pada tempat Beliau bermunajat.","part":1,"page":102},{"id":103,"text":"Begitupula memaknai hadits Rasulullah berikut : Rasulullah bersabda yang artinya, \"Saat yang paling dekat antara seorang hamba dan Rabb-nya adalah ketika ia sujud, maka perbanyaklah doa ketika itu.\" (HR Muslim dari Abu Hurairah)\rJanganlah dimaknai bahwa Allah Azza wa Jalla berada atau bertempat di tempat sujud kita. Jadi dalam kisah mi’raj yang kita dengar terdapat keterangan mengenai naik-turunnya Rasulullah, seorang muslim tidak boleh menyangka bahwa antara hamba dan Tuhannya terdapat jarak tertentu, karena hal itu termasuk perbuatan kufur. Na’udzu billah min dzalik.\rNaik dan turun itu hanya dinisbahkan kepada hamba, bukan kepada Tuhan. Meskipun Nabi shallallahu alaihi wasallam pada malam Isra’ sampai pada jarak dua busur atau lebih pendek lagi dari itu, tetapi Beliau tidak melewati maqam ubudiyah (kedudukan sebagai seorang hamba).\rNabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan Nabi Yunus bin Matta alaihissalam, ketika ditelan hiu dan dibawa ke samudera lepas ke dasar laut adalah sama hal ketiadaan jarak Allah ta’ala dengan ciptaan-Nya, ketiadaan arahNya, ketiadaan menempati ruang, ketidakterbatasannya dan ketidaktertangkapnya.\rMenurut suatu pendapat ikan hiu itu membawa Nabi Yunus alaihissalam sejauh perjalanan enam ribu tahun. Hal ini disebutkan oleh al Baghawi dan yang lainnya.\rApabila kita telah mengetahui hal itu, maka yang dimaksud bahwa Nabi Shallallahu walaihi wasallam naik dan menempuh jarak sejauh ini adalah untuk menunjukkan kedudukan Beliau di hadapan penduduk langit dan Beliau adalah makhluk Allah yang paling utama.","part":1,"page":103},{"id":104,"text":"Pengertian ini dikuatkan dengan dinaikkannya Beliau diatas Buraq oleh Allah ta’ala dan dijadikan sebagai penghulu para Nabi dan Malaikat, walaupun Allah Mahakuasa untuk mengangkat Beliau tanpa menggunakan buraq.\rKetahuilah bahwa bolak-baliknya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam antara Nabi Musa alaihissalam dengan Allah subhanahu wa ta’ala pada malam yang diberkahi itu tidak berarti adanya arah bagi Allah subhanahu wa ta’ala. Mahasuci Allah dari hal itu dengan sesuci-sucinya.\rUcapan Nabi Musa alaihissalam kepada Beliau, “Kembalilah kepada Tuhanmu,” artinya: “kembalilah ke tempat engkau bermunajat kepada Tuhanmu. Maka kembalinya Beliau adalah dari tempat Beliau berjumpa dengan Nabi Musa alaihissalam ke tempat Beliau bermunajat dan bermohon kepada Tuhannya.\rTempat memohon tidak berarti bahwa yang diminta ada di tempat itu atau menempati tempat itu karena Allah Subhanahu wa ta’ala suci dari arah dan tempat. Maka kembalinya Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam kepadaNya adalah kembali Beliau meminta di tempat itu karena mulianya tempat itu dibandingkan dengan yang lain. Sebagaimana lembah Thursina adalah tempat permohonan Nabi Musa alaihissalam di bumi. Kita pun mengenal tempat yang mulia untuk bermunajat kepada Allah Azza wa Jalla seperti Makkah Al Mukarohmah, Masjid Nabawi, multazam, raudhoh, maqam Ibrahim, hijr Ismal, rukun Yamani, hajar aswad , dll","part":1,"page":104},{"id":105,"text":"Walaupun Beliau pada malam ketika mi’rajkan sampai menempati suatu tempat di mana Beliau mendengar gerak qalam, tetapi Beliau shallallahu alaihi wasallam dan Nabi Yunus alaihissalam ketika ditelan oleh ikan dan dibawa keliling laut hingga samapai ke dasarnya adalah sama dalam kedekatan dengan Allah ta’ala, karena Allah Azza wa Jalla suci dari arah, suci dari tempat, dan suci dari menempati ruang.\rAl Qurthubi di dalam kitab at-Tadzkirah, mengutip bahwa Al Qadhi Abu Bakar bin al-’Arabi al Maliki mengatakan, ‘Telah mengabarkan kepadaku banyak dari sahabat-sahabat kami dari Imam al-Haramain Abu al Ma’ali Abdul Malik bin Abdullah bin Yusuf al Juwaini bahwa ia ditanya, “Apakah Allah berada di suatu arah?” Ia menjawab, “Tidak, Dia Mahasuci dari hal itu”","part":1,"page":105},{"id":106,"text":"Ia ditanya lagi, “Apa yang ditunjukkan oelh hadits ini?” Ia menjawab, “Sesungguhnya Yunus bin Matta alaihissalam menghempaskan dirinya kedalam lautan lalu ia ditelan oleh ikan dan menjadi berada di dasar laut dalam kegelapan yang tiga. Dan ia menyeru, “Tidak ada Tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau, Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zhalim,” sebagaimana Allah ta’ala memberitakan tentang dia. Dan ketika Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam duduk di atas rak-rak yang hijau dan naik hingga sampai ke suatu tempat di mana Beliau dapat mendengar gerak Qalam dan bermunajat kepada Tuhannya lalu Tuhan mewahyukan apa yang Ia wahyukan kepadanya, tidaklah Beliau shallallahu alaihi wasallam lebih dekat kepada Allah dibandingkan Nabi Yunus alaihissalam yang berada dikegelapan lautan. Karena Allah Subhanahu wa ta’ala dekat dengan para hambaNya, Ia mendengar doa mereka, dan tak ada yang tersembunyi atasNya, keadaan mereka bagaimanapun mereka bertindak, tanpa ada jarak antara Dia dengan mereka.\rJadi, Ia mendengar dan melihat merangkaknya semut hitam di atas batu yang hitam pada malam yang gelap di bumi yang paling rendah sebagaimana Ia mendengar dan melihat tasbih para pengemban ‘Arsy di atas langit yang tujuh. Tidak ada Tuhan selain Dia, yang mengetahui yang gaib dan yang nyata. Ia mengetahui segala sesuatu dan dapat membilang segala sesuatu.","part":1,"page":106},{"id":107,"text":"Kami (penulis) mengingatkan kembali bahwa Allah Azza wa Jalla adalah dekat, Dia ada sebagaimana sebelum diciptakan 'Arsy, sebagaimana sebelum diciptakan langit, sebagaimana sebelum diciptakan ciptaanNya. Dia tidak berubah dan tidak berpindah. Dia sebagaimana awalnya dan sebagaimana akhirnya. Dia dekat tidak bersentuh dan jauh tidak berjarak. Tidak ada atas, bawah, kanan, kiri, depan, belakang bagiNya karena tidak ada satupun yang sanggup membatasiNya. Dia ada tanpa batas. Yang berubah maupun berpindah adalah ciptaanNya. Setiap yang berpindah mempunyai bentuk dan batas.\rDi dalam kitab \"Kifayatul \"Awam\" karya Syeikh Ibrahim Al-Baijuri halaman 60 diterangkan sebagai berikut:\rو الرابعة المماثلة ضد المخالفة فيستحيل عليه تعالي أن يماثل الحوادث في شيء مما اتصفوا به فلا يمر عليه تعالي زمان و ليس له مكان و ليس له حركة و لا سكون و لا يتصف بألوان و لا بجهة فلا يقال فوق الجرم و لا عن يمين الجرم و ليس له تعالي جهة فلا يقال اني تحت الله فقول العامة اني تحت ربي و ان ربي فوقي كلام منكر يخاف علي من يعتقده الكفر\rArtinya : \"Dan sifat mustahil yang keempat bagi Allah swt adalah sifat \"Al-Mumatsalah (المماثلة)\". Artnya: Menyerupai makhluk, lawan dari sifat yang wajib bagi Allah swt yaitu sifat \"Al-Mukhalafah (المخالفة)\". Artinya: Allah swt berbeda dengan makhluk.","part":1,"page":107},{"id":108,"text":"Maka mustahil bagi Allah swt menyerupai makhluk pada sesuatu yang disifatinya. Olehkarena itu, Allah tidak dilewati (diliputi) oleh zaman (waktu), tempat, gerakan, dan diam, dan tidak pula disifati oleh warna-warna dan arah. Maka tidak boleh dikatakan bahwa Allah itu berada di atas jirim (bentuk makhluk seperti manusia) dan berada di sebelah kanan jirim. Begitupula, Allah tidak mempunyai arah. Maka tidak boleh dikatakan bahwa sesungguhnya aku berada di bawah Allah.\rAdapun ucapan 'awam (orang-orang yang tidak tahu tentang ilmu tauhid) mengatakan bawa sesungguhnya aku berada di bawah Tuhanku dan sesungguhnya Tuhanku berada di atasku merupakan kalam munkar, yang dikuatirkan dapat menimbulkan kekufuran bagi orang yang mengi'tiqadkan atau meyakininya\".\rTentang firman Allah QS. Thaha: 5 (ar-Rahman ‘Ala al-‘Arsy Istawa), Imam asy-Syafi’i berkata:\rإن هذه الآية من المتشابهات، والذي نختار من الجواب عنها وعن أمثالها لمن لا يريد التبحر في العلم أن يمر بها كما جاءت ولا يبحث عنها ولا يتكلم فيها لأنه لا يأمن من الوقوع في ورطة التشبيه إذا لم يكن راسخا في العلم، ويجب أن يعتقد في صفات الباري تعالى ما ذكرناه، وأنه لا يحويه مكان ولا يجري عليه زمان، منزه عن الحدود والنهايات مستغن عن المكان والجهات، ويتخلص من المهالك والشبهات (الفقه الأكبر، ص 13)","part":1,"page":108},{"id":109,"text":"“Ini termasuk ayat mutasyâbihât. Jawaban yang kita pilih tentang hal ini dan ayat-ayat yang semacam dengannya bagi orang yang tidak memiliki kompetensi di dalamnya adalah agar mengimaninya dan tidak –secara mendetail– membahasnya dan membicarakannya. Sebab bagi orang yang tidak kompeten dalam ilmu ini ia tidak akan aman untuk jatuh dalam kesesatan tasybîh. Kewajiban atas orang ini –dan semua orang Islam– adalah meyakini bahwa Allah seperti yang telah kami sebutkan di atas, Dia tidak diliputi oleh tempat, tidak berlaku bagi-Nya waktu, Dia Maha Suci dari batasan-batasan (bentuk) dan segala penghabisan, dan Dia tidak membutuhkan kepada segala tempat dan arah, Dia Maha suci dari kepunahan dan segala keserupaan” (al-Fiqh al-Akbar, h. 13).\rOleh karenanya kita sebaiknya mengingat peringatan yang disampaikan oleh Rasulullah yang artinya, ” Berfikirlah tentang nikmat-nikmat Allah, dan jangan sekali-kali engkau berfikir tentang Dzat Allah”\rDalam memahami ayat-ayat mutasyabihat tentang sifat Allah maka sebaiknyalah kita berpegang pada batas-batas yang disampaikan oleh para ulama terdahulu seperti Imam besar ahli hadis dan tafsir, Jalaluddin As-Suyuthi dalam “Tanbiat Al-Ghabiy Bi Tabriat Ibn ‘Arabi” mengatakan “Ia (ayat-ayat mutasyabihat) memiliki makna-makna khusus yang berbeda dengan makna yang dipahami oleh orang biasa. Barangsiapa memahami kata wajh Allah, yad , ain dan istiwa sebagaimana makna yang selama ini diketahui (wajah Allah, tangan, mata, bertempat), ia kafir secara pasti.”","part":1,"page":109},{"id":110,"text":"Imam Ahmad ar-Rifa’i (W. 578 H/1182 M) dalam kitabnya al-Burhan al-Muayyad, “Sunu ‘Aqaidakum Minat Tamassuki Bi Dzahiri Ma Tasyabaha Minal Kitabi Was Sunnati Lianna Dzalika Min Ushulil Kufri”, “Jagalah aqidahmu dari berpegang dengan dzahir ayat dan hadis mutasyabihat, karena hal itu salah satu pangkal kekufuran”.\rBegitupula kita seharusnya memperhatikan peringatan yang disampaikan oleh khataman Khulafaur Rasyidin, Imam Sayyidina Ali ra dalam riwayat berikut, Sayyidina Ali Ibn Abi Thalib ra berkata : “Sebagian golongan dari umat Islam ini ketika kiamat telah dekat akan kembali menjadi orang-orang kafir.“ Seseorang bertanya kepadanya : “Wahai Amirul Mukminin apakah sebab kekufuran mereka? Adakah karena membuat ajaran baru atau karena pengingkaran?”. Sayyidina Ali Ibn Abi Thalib ra menjawab : “Mereka menjadi kafir karena pengingkaran. Mereka mengingkari Pencipta mereka (Allah Subhanahu wa ta’ala) dan mensifati-Nya dengan sifat-sifat benda dan anggota-anggota badan.” (Imam Ibn Al-Mu’allim Al-Qurasyi (w. 725 H) dalam Kitab Najm Al-Muhtadi Wa Rajm Al-Mu’tadi).\rWassalam\rZon di Jonggol, Kab Bogor 16830\r0748. CahayaNya","part":1,"page":110},{"id":111,"text":"Dalam tulisan sebelumnya pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/11/29/naik-dan-turun/ telah diuraikan keadaan bermunajat kepada Allah, ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di Sidratil Muntaha pada peristiwa mi'raj, ketika Nabi Yunus a.s di dalam perut ikan, ketika kita sujud, ketika di Makkah Al Mukaromah, Masjid Nabawi, Multazam, Raudhoh, Maqam Ibrahim, Hijr Ismail, Rukun Yamani, ataupun ketika di Hajar Aswad, ketika di makam orang-orang disisiNya ataupun ketika ditempat mulia yang lain, tidak ada hubungannya dengan jarak (makna dzahir) antara Allah Azza wa Jalla dengan hambaNya. Allah ta'ala adalah dekat. Dekat tidak bersentuh dan jauh tidak berjarak. Seorang muslim tidak boleh menyangka bahwa antara hamba dan Tuhannya terdapat jarak tertentu, karena hal itu termasuk perbuatan kufur. Na’udzu billah min dzalik.\rMereka tetap bersikeras bahwa Allah ta’ala bertempat atau berada di atas ‘Arsy karena Rasulullah sendiri yang bersabda telah melihat Allah pada peristiwa mi’raj dan Beliau telah melihat cahaya.\rApakah mereka berkeyakinan bahwa Rasulullah melihat cahaya yang timbul dari DzatNya yang bertempat atau berada di atas ‘Arsy ketika Beliau di Sidratil Muntaha pada peristiwa mi’raj ?\rBerikut hadits terkait dengan “Rasulullah melihat cahaya”\rDiriwayatkan oleh Abdullah bin Syafiq dari Abu Dzar:\rثُمَّ قُلْتُ ِلأَبِي ذَرٍّ لَوْ رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَسَأَلْتُهُ. فَقَالَ: عَنْ أَيِّ شَيْءٍ كُنْتَ تَسْأَلُهُ؟ قَالَ: كُنْتُ أَسْأَلُهُ: هَلْ رَأَيْتَ رَبُّكَ؟ قَالَ أَبُوْ ذَرٍّ قَدْ سَأَلْتُ فَقَالَ: ((رَأَيْتُ نُوْرًا)). (رواه مسلم)","part":1,"page":111},{"id":112,"text":"Dia berkata kepada Abu Dzar: “Kalau aku sempat bertemu Rasulullah صلى الله عليه وسلم sungguh aku akan bertanya. Abu Dzar balik bertanya: “Apa yang akan kau tanyakan?”. Aku akan bertanya: “Apakah beliau melihat rabb-Nya?” Maka Abu Dzar pun berkata; “Sungguh aku telah bertanya kepada beliau SAW. Beliau menjawab: “Aku melihat cahaya”. (HR. Muslim)\rMaksud cahaya di sini bukanlah cahaya (makna dzahir) yang timbul dari DzatNya namun cahaya disini kaitan dengan melihat Allah ta'ala dengan hati (ain bashiroh).\rFirman Allah ta’ala yang artinya : “Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).” (QS Al Isra 17 : 72)\r“maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (al Hajj 22 : 46)\rSayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani,\r“Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”\rBeliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”\r“Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali.\rSayyidina Ali ra menjawab “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati","part":1,"page":112},{"id":113,"text":"Sebuah riwayat dari Ja’far bin Muhammad beliau ditanya: “Apakah engkau melihat Tuhanmu ketika engkau menyembah-Nya?” Beliau menjawab: “Saya telah melihat Tuhan, baru saya sembah”. Bagaimana anda melihat-Nya? dia menjawab: “Tidak dilihat dengan mata yang memandang, tapi dilihat dengan hati yang penuh Iman.”\rIbnu Hajar al-Atsqalani dalam Fathul Bary jilid 8/708, setelah menyebutkan pendapat-pendapat yang menyatakan Rasulullah SAW melihat Rabb-nya dan pendapat yang sebaliknya, berkata: “Hadits-hadits dari Ibnu Abbas yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW melihat Rabb-nya, ada yang diriwayatkan secara muqayyad (terikat), yakni melihat dengan hatinya; dan ada pula yang diriwayatkan secara mutlak. Oleh karena itu wajib bagi kita untuk membawa hadits-hadits yang mutlak tersebut kepada hadits-hadits yang muqayyad”.\rKemudian Ibnu Hajar RA mengakurkan (menjama’) antara kedua pendapat yang kelihatannya saling bertentangan tersebut dengan menyatakan: “Dengan ini kita bisa mengumpulkan antara pendapat Ibnu Abbas yang menetapkan (melihatnya Rasulullah SAW terhadap Allah) dengan pendapat Aisyah yang justru mengingkarinya. Yaitu dengan membawa pengingkaran Aisyah kepada penglihatan dengan mata, adapun penetapan Ibnu Abbas adalah penglihatan dengan hatinya”\rKita harus berpegang kepada firman Allah ta'ala yang artinya, “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata” (QS Al An’am [6]:103)\rUraian lebih lanjut tentang melihat dengan hati dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/09/15/bukanlah-mata-yang-buta/","part":1,"page":113},{"id":114,"text":"Diriwayatkan dari Aisyah RA, ketika beliau ditanya oleh Masyruq: ”Apakah Rasulullah SAW melihat Rabb-Nya?” Aisyah RA menjawab:\rمَنْ زَعَمَ أَنَّ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى رَبَّهُ فَقَدْ أَعْظَمَ عَلَى اللَّهِ الْفِرْيَةَ. قَالَ وَكُنْتُ مُتَّكِئًا فَجَلَسْتُ فَقُلْتُ: يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ أَنْظِرِينِي وَلاَ تَعْجَلِينِي أَلَمْ يَقُلِ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ\r]وَلَقَدْ رَآهُ بِاْلأُفُقِ الْمُبِينِ[ ]وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى[ فَقَالَتْ: أَنَا أَوَّلُ هَذِهِ اْلأُمَّةِ سَأَلَ عَنْ ذَلِكَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَقَالَ: إِنَّمَا هُوَ جِبْرِيلُ لَمْ أَرَهُ عَلَى صُورَتِهِ الَّتِي خُلِقَ عَلَيْهَا غَيْرَ هَاتَيْنِ الْمَرَّتَيْنِ رَأَيْتُهُ مُنْهَبِطًا مِنَ السَّمَاءِ سَادًّا عِظَمُ خَلْقِهِ مَا بَيْنَ السَّمَاءِ إِلَى اْلأَرْضِ. فَقَالَتْ: أَوَ لَمْ تَسْمَعْ أَنَّ اللَّهَ يَقُولُ ]لاَ تُدْرِكُهُ اْلأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ اْلأَبْصَارَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ[ أَوَ لَمْ تَسْمَعْ أَنَّ اللَّهَ يَقُولُ ]وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلاَّ وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولاً فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ[(متفق عليه)\rBarangsiapa yang menyangka bahwa Muhammad SAW melihat Rabb-nya, maka dia telah membikin kedustaan besar kepada Allah.\rAku (Masyruq) yang semula berbaring, kemudian terduduk dan berkata: “Ya Umul mukminin, sebentar dulu! jangan terburu-buru! Bukankah Allah telah berfirman:\r“[وَلَقَدْ رَآهُ بِاْلأُفُقِ الْمُبِينِ] [ وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى]","part":1,"page":114},{"id":115,"text":"(“Dan sesungguhnya Muhammad itu melihatnya di ufuk yang terang”. (“Dan sesungguhnya Muhammad telah melihatnya pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha”.\rAisyah RA menjawab: “Aku adalah orang pertama dari umat ini yang bertanya kepada Rasulullah RA tentangnya.\rMaka beliau menjawab: “Itu adalah Jibril, aku tidak pernah melihatnya dalam bentuk aslinya, yang ia diciptakan atasnya. Aku melihatnya turun dari langit dan menutupi antara langit dan bumi karena besarnya (bentuknya)”. Kemudian Aisyah berkata: “Tidakkah engkau mendengar bahwa Allah berfirman:\r[لاَ تُدْرِكُهُ اْلأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ اْلأَبْصَارَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ]?\r(“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedangkan Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui”). Bukankah engkau pernah mendengar\rوَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلاَّ وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولاً فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ.\r(“Dan tidak mungkin bagi seorang manusia bahwa Allah berkata dengannya kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizinNya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana). (HR. Bukhari-Muslim)\rRasulullah melihat Allah dengan hati (ain bashiroh) ketika di Sidratil Muntaha bukan berarti Allah Azza wa Jalla bertempat atau berada di sana.","part":1,"page":115},{"id":116,"text":"Imam Sayyidina Ali kw mengatakan “Sesungguhnya Allah menciptakan ‘Arsy (makhluk Allah yang paling besar) untuk menampakkan kekuasaan-Nya bukan untuk menjadikannya tempat bagi DzatNya”\rImam Sayyidina Ali kw mengatakan yang maknanya: “Sesungguhnya yang menciptakan ayna (tempat) tidak boleh dikatakan bagi-Nya di mana (pertanyaan tentang tempat), dan yang menciptakan kayfa (sifat-sifat makhluk) tidak boleh dikatakan bagi-Nya bagaimana“\rPada hakikatnya Arsy diciptakan adalah agar manusia tidak menjadikan selain Allah Azza wa Jalla sebagai “Raja Manusia”\rFirman Allah ta’ala yang artinya,\r“Katakanlah: “Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia“, “Raja Manusia”, “Sembahan manusia”. (QS An Naas [114]: 1-3 )\rManusia dapat melihat Allah Azza wa Jalla dengan hati (ain bashiroh) di tempat manapun namun bukan juga berarti Allah Azza wa Jalla bertempat di mana-mana.\rManusia terhalang / terhijab melihat Rabb adalah karena dosa mereka. Setiap dosa merupakan bintik hitam hati, sedangkan setiap kebaikan adalah bintik cahaya pada hati. Ketika bintik hitam memenuhi hati sehingga terhalang (terhijab) dari melihat Allah. Inilah yang dinamakan buta mata hati. Bintik hitam maknanya kegelapan atau ketiadaan cahaya.\rDiriwayatkan dari Abu Musa al-‘Asy’ari:","part":1,"page":116},{"id":117,"text":"قَامَ فِيْنَا رَسُوْلُ اللهِِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِخَمْسِ كَلِمَاتٍ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَنَامُ وَلاَ يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَنَامَ يَخْفَضُ الْقِسْطَ وَيَرْفَعُهُ. يَرْفَعُ إِلَيْهِ عَمَلَ اللَّيْلِ قَبْلَ عَمَلِ النَّهَارِ وَعَمَلَ النَّهَارِ قَبْلَ عَمَلِ اللَّيْلِ حِجَابُهُ النُّوْرُ. (رواه مسلم)\rBerdiri Rasulullah صلى الله عليه وسلم di depan kami dengan menyampaikan lima kalimat. Beliau berkata: “Sesungguhnya Allah tidak tidur dan tidak layak bagi-Nya tidur, menurunkan timbangan dan mengangkatnya, diangkat kepadanya amalan malam sebelum amalan siang, dan amalan siang Sebelum amalan malam, dan hijab-Nya adalah cahaya. (HR. Muslim)\rTerkait dengan cahaya, firman Allah ta’ala yang artinya,\r“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” ( QS An Nuur [24]:35 )","part":1,"page":117},{"id":118,"text":"Dalam memahami Al Qur’an tidak boleh berpegang sebagaimana yang tertulis (tersurat) atau memahaminya secara harfiah (dzahir). Tidak boleh berkeyakinan bahwa Allah Azza wa Jalla adalah cahaya atau Allah Azza wa Jalla mengeluarkan cahaya sehingga men-cahaya-i langit dan bumi beserta isinya.\rMereka bersikukuh memahami secara dzahir berpegang kepada firman Allah ta’ala yang artinya “dengan bahasa Arab yang jelas”. (QS Asy Syu’ara’ [26]: 195). Jelas disini bukan berarti mudah dipahami dan secara dzahir. Firman Allah ta’ala pada ayat lain yang menerangkan bahwa walaupun Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab yang jelas namun pemahaman yang dalam haruslah dilakukan oleh orang-orang yang berkompeten (ahlinya). “Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui” (QS Fush shilat [41]:3)\rDitegaskan bahwa Al Qur’an dalam bahasa Arab maka dalam memahaminya wajib mengikuti seluruh alat bahasa dalam bahasa Arab termasuk di dalamnya makna majaz, ilmu balaghoh.\rDalam memahami Al Qur’an dan As Sunnah untuk menghindari makna yang tidak pantas bagi Allah ta’ala maka perlu dilakukan pentakwilan dengan menggunakan alat-alat bahasa tersebut\rKita harus dapat membedakan antara “mencari-cari takwil” dengan mentakwilkan. Mentakwilkan adalah menimbang atau mengambil pelajaran dengan dali naqli yang muhkamat\rMereka yang dapat mengambil pelajaran terhadap ayat-ayat mutasyabihat atau mengambil pelajaran terhadap keseluruhan firman Allah ta'ala ada Ulil Albab","part":1,"page":118},{"id":119,"text":"Allah Azza wa Jalla berfirman yang artinya “Allah menganugerahkan al hikmah (pemahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya Ulil Albab yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)“. (QS Al Baqarah [2]:269 )\rPemahaman secara hikmah tidak akan dimiliki oleh setiap manusia yang tidak bersyahadat karena mereka tidak termasuk orang yang dikehendakiNya bahkan kaum Zionis Yahudi adalah kaum yang dimurkai oleh Allah Azza wa Jalla.\rHadits yang diriwayatkan Sufyan bin Uyainah dengan sanadnya dari Adi bin Hatim. Ibnu Mardawih meriwayatkan dari Abu Dzar, dia berkata, “Saya bertanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam tentang orang-orang yang dimurkai“, beliau bersabda, ‘Kaum Yahudi.’ Saya bertanya tentang orang-orang yang sesat, beliau bersabda, “Kaum Nasrani.“\rBerkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: “ Demi Allah, yang diriku ada dalam genggaman tanganNya, tidaklah mendengar dari hal aku ini seseorangpun dari ummat sekarang ini, Yahudi, dan tidak pula Nasrani, kemudian tidak mereka mau beriman kepadaku, melainkan masuklah dia ke dalam neraka.”\rPemahaman secara hikmah adalah pemahaman menggunakan akal qalbu (hati atau lubb) sebagaimana ulil albab\rFirman Allah Azza wa Jalla yang artinya,\r“Dan hanya Ulil Albab yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)“. (QS Al Baqarah [2]:269 )\r“Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan Ulil Albab” (QS Ali Imron [3]:7 )","part":1,"page":119},{"id":120,"text":"Ulil albab dengan ciri utamanya sebagaiman firmanNya yang artinya\r“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (QS Ali Imran [3] : 191)\rHal ini telah kami uraikan dalam tulisan sebelumnya pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/15/berdiri-duduk-berbaring/\rKalimat majaz atau balaghoh hanya dapat dipahami dengan hati.\rTerjemahannya cahaya namun maknanya sesuatu yang terkait dengan hati (ain bashiroh) seperti petunjuk , ilham, mulia (derajat)\rBegitupula hakikat “di langit” “di atas” bukanlah dipahami sebagai tempat bagi Allah Azza wa Jalla namun sebagai padanan bagi Yang Maha Tinggi (Al ‘Aliy) dan Yang Maha Mulia (Al Jaliil)\rAllah ta’ala berfirman dalam hadist Qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu ’Umar r.a.: “Sesungguhnya langit dan bumi tidak akan/mampu menampung Aku. Hanya hati orang beriman yang sanggup menerimanya.”\rLangit , di atas, tinggi sebagai kemuliaan, kebahagian diperlambangkan dengan Nuur (cahaya),\rBumi, di bawah, rendah sebagai kehinaan, kesengsaraan diperlambangkan dengan Naar (api)","part":1,"page":120},{"id":121,"text":"Manusia sebagai makhluk yang mulia dengan dikaruniakan akal (qalbu) dan akan mendapatkan kemuliaan (An Nuur) atau “naik” jika manusia mempergunakan akal (qalbu) di jalan Allah ta’ala dan RasulNya atau mempergunakan akal (qalbu) untuk mengikuti cahayaNya atau petunjukNya dan sebaliknya akan mendapatkan kehinaan (An Naar) atau “jatuh” jika manusia tidak mempergunakan akalnya atau memperturutkan hawa nafsu.\rNabi Adam a.s diturunkan dari tempat yang mulia ke bumi karena melanggar perintah Allah ta’ala atau karena tidak mempergunakan akal untuk mengikuti cahayaNya atau petunjukNya atau karena memperturutkan hawa nafsu.\rFirman Allah ta'ala yang artinya\r“…Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah..” (QS Shaad [38]:26 )\r“Katakanlah: “Aku tidak akan mengikuti hawa nafsumu, sungguh tersesatlah aku jika berbuat demikian dan tidaklah (pula) aku termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS An’Aam [6]:56 )\rMengikuti atau memperturutkan hawa nafsu = tidak mengikuti petunjukNya atau tersesat dari jalan Allah, menuju kegelapan atau ketiadaan cahayaNya\rManusia dapat memilih memuliakan dirinya dengan menggunakan akal mengikuti cahayaNya atau petunjukNya atau menghinakan dirinya dengan memperturutkan hawa nafsu. Setiap manusia telah diilhamkan pada jiwa (qalbu) mereka akan pilihan tersebut.\rFirman Allah ta’ala yang artinya,\r“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan” (pilihan haq atau bathil) (QS Al Balad [90]:10 )\r“maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya“. (QS As Syams [91]:8 )","part":1,"page":121},{"id":122,"text":"Apapun pilihan manusia akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak tanpa dapat mengingkarinya karena pada dasarnya semua manusia telah diilhamkan pilihan tersebut.\rFirman Allah ta’ala yang artinya,\r“Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai” (QS Anbiyaa’ [21]:23 )\r“Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan” (QS An Nahl [16:93 )\rPilihan ini yang dimaksud dengan keimanan yang kadang naik (menuju kemuliaan) dan kadang turun (menuju kehinaan).\rRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda\r”Iman itu kadang naik kadang turun, maka perbaharuilah iman kalian dengan la ilaha illallah.” (HR Ibn Hibban)\rKetidakmampuan manusia menggunakan ilham yang telah dihujamkan kedalam hati mereka dikarenakan keadaan hati mereka. Semakin mereka berlumur dosa maka ketiadaan cahayaNya pada hati mereka , menuju kegelapan , kehinaan sehingga mereka buta hatinya.\rJalan Allah ta’ala, jalan yang lurus, diperlambangkan dengan Alif, lurus naik ke atas.\rBagian paling dasar, kehinaan, naar (Api), 7 lapis bumi terus naik 7 lapis langit, Nuur (Cahaya), kemuliaan.\rFirman Allah ta’ala yang artinya,\r“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis” (QS Al Mulk [67]:3 )\r“Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi.” (QS Ath Thalaq [65]: 12 )","part":1,"page":122},{"id":123,"text":"“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya” (QS At Tin [95]: 4-6 )\r“Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki” ( QS An Nuur [24]:35 )\rManusia yang mendapat kemuliaan atau yang kembali ke sisi Allah yang Maha Mulia adalah Mereka yang mengikuti cahayaNya atau petunjukNya yakni mereka yang mempergunakan akal (qalbu) di jalan Allah dan RasulNya atau dengan kata lain adalah manusia yang bertaqwa.\rFirman Allah ta'ala yang artinya, “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu” (Al-Hujuraat [49]: 13 )\rMereka yang mulia dan di sisi Allah Azza wa Jalla, mereka yang istiqomah di jalan yang lurus, mereka yang telah diberi ni’mat , mereka hanyalah terdiri dari 4 golongan manusia yakni para Nabi (yang utama adalah Rasulullah), para Shiddiqin, para Syuhada dan orang-orang sholeh.\rFirman Allah ta'ala yang artinya\r“Tunjukilah kami jalan yang lurus” (QS Al Fatihah [1]:6 )\r” (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada mereka….” (QS Al Fatihah [1]:7 )\r“Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya .” (QS An Nisaa [4]: 69 )","part":1,"page":123},{"id":124,"text":"Mereka yang dapat memandang Allah ta'ala dengan hati atau mereka yang telah mencapai muslim yang ihsan atau mereka yang telah berma'rifat adalah mereka yang mengikuti cahayaNya atau petunjukNya\rSyaikh Ibnu Athoillah menyampaikan diawali dengan firman Allah Azza wa Jalla\rوَهُوَ القَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَهُوَ الحَكِيْمُ الخَبِيْرُ\rDan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya\rDan Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha mengetahui (QS. Al-An’am 18)\rالحَقُّ لَيْسَ بِمَحْجُوْبٍ وَإِنَّماَ المَحْجُوْبُ أَنْتَ عَنِ النَّظْرِ إِذْ لَوْحَجَبَهُ شَيْءٌ لَسَتَرَهُ ماَحَجَبَهُ وَلَوكاَنَ لَهُ ساَتِرٌ لَكاَنَ لِوُجُوْدِهِ حاَصِرٌ وَكُلُّ حاَصِرٍ لِشَيْءٍ فَهُوَ لَهُ قاَهِرٌ\rAllah tidak terhalang untuk dilihat, akan tetapi yang terhalang adalah anda untuk dapat melihat Allah, logikanya apabila Allah terhalang sesuatu untuk dilihat maka penghalang itu menutupi wujud Allah, apabila wujud Allah terhalang maka keberadaan Allah itu terbatas, dan setiap sesuatu yang terbatas niscaya ada sesuatu yang membatasi atau ada sesuatu yang menguasainya, ada yang menguasai Allah itu mustahil.\rيَعْنِي أَنَّ الحِجاَبَ لاَ يَتَّصِفُ بِهِ الحَقُّ سُبْحاَنَهُ وَتَعاَلىَ ِلاسْتِحاَلَتِهِ فيِ حَقِّهِ\rYakni, bahwa penghalang tidak akan pernah terjadi menyertai Allah Subhanahu wa ta’ala Al-Haq Subhanallah, karena hal itu mustahil bagi Allah Subhanahu wa ta’ala.\rوَإِنَّماَ المَحْجُوْبُ أَنْتَ أَيُّهاَ العَبْدُ بِصِفاَتِكَ النَّفْساَنِيَّةِ عَنِ النَّظْرِ إِلَيْهِ فَإِنْ رُمْتَ الوُصُوْلَ فاَبْحَثْ عَنْ عُيُوْبِ نَفْسِكَ وَعاَلَجَهاَ","part":1,"page":124},{"id":125,"text":"Sesungguhnya yang terhalang adalah anda, hai kawan. Karena anda sebagai manusia menyandang sifat jasad, sehingga terhalang untuk dapat melihat Allah. Apabila anda ingin sampai melihat Allah, maka intropeksi ke dalam, lihatlah dahulu noda dan dosa yang terdapat pada diri anda, serta bangkitlah untuk mengobati dan memperbaikinya, karena itu-lah sebagai penghalang anda. Mengobatinya dengan bertaubat dari dosa serta memperbaikinya dengan tidak berbuat dosa dan giat melakukan kebaikan.\rإِن الحِجاَبَ يَرْتَفِعُ عَنْكَ فَتَصِلُ إِلىَ النَّظْرِ إِلَيْهِ بِعَيْنِ بَصِيْرَتِكَ وَهُوَ مَقاَمُ الإِحْساَنِ الَّذِي يُعَبِرُوْنَ عَنْهُ بِمَقاَمِ المُشاَهَدَةِ\rPada akhirnya penghalang itu akan sirna, hilang dari anda sehingga sampai pada “Dapat Melihat Allah” dengan “Ain Bashiroh” (Pandangan mata hati) dan inilah yang disebut “Ihsan” yaitu beribadah kepada Allah seolah anda melihatNya, apabila anda tidak mampu melihatNya, sesungguhnya Allah melihat anda. Para Ulama Sufi menyebutnya Maqom Musyahadah artinya ruang kesakisan, “Aku besaksi tiada Tuhan selain Allah”.\rSyaikh Abdul Qadir Al-Jilany menyampaikan, mereka yang sadar diri senantiasa memandang Allah Azza wa Jalla dengan qalbunya, ketika terpadu jadilah keteguhan yang satu yang mengugurkan hijab-hijab antara diri mereka dengan DiriNya.\rSemua banungan runtuh tinggal maknanya. Seluruh sendi-sendi putus dan segala milik menjadi lepas, tak ada yang tersisa selain Allah Azza wa Jalla.\rTak ada ucapan dan gerak bagi mereka, tak ada kesenangan bagi mereka hingga semua itu jadi benar. Jika sudah benar sempurnalah semua perkara baginya.","part":1,"page":125},{"id":126,"text":"Pertama yang mereka keluarkan adalah segala perbudakan duniawi kemudian mereka keluarkan segala hal selain Allah Azza wa Jalla secara total dan senantiasa terus demikian dalam menjalani ujian di RumahNya.\rNasehat Syaikh Ibnu Athoillah mengatakan,\r“Seandainya Anda tidak dapat sampai / berjumpa kehadhirat Allah, sebelum Anda menghapuskan dosa-dosa kejahatan dan noda-noda keangkuhan yang melekat pada diri anda, tentulah anda tidak mungkin sampai kepada-Nya selamanya.\rTetapi apabila Allah menghendaki agar anda dapat berjumpa denganNya , maka Allah akan menutupi sifat-sifatmu dengan sifat-sifat Kemahasucian-Nya , kekuranganmu dengan Kemahasempurnaan-Nya.\rAllah Ta’ala menerima engkau dengan apa yang Dia (Allah) karuniakan kepadamu, bukan karena amal perbuatanmu sendiri yang engkau hadapkan kepada-Nya.”\rKami akhiri tulisan kali ini dengan doa munajat Syaikh Ibnu Athoillah : “Ya Tuhan, yang berada di balik tirai kemuliaanNya, sehingga tidak dapat dicapai oleh pandangan mata. Ya Tuhan, yang telah menjelma dalam kesempurnaan, keindahan dan keagunganNya, sehingga nyatalah bukti kebesaranNya dalam hati dan perasaan. Ya Tuhan, bagaimana Engkau tersembunyi padahal Engkaulah Dzat Yang Zhahir, dan bagaimana Engkau akan Gaib, padahal Engkaulah Pengawas yang tetap hadir. Dialah Allah yang memberikan petunjuk dan kepadaNya kami mohon pertolongan“\rWassalam\rZon di Jonggol, Kab Bogor 16830\r0751. Syahadat sejak Nabi pertama","part":1,"page":126},{"id":127,"text":"Firman Allah ta'ala yang artinya : \"Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri) dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh.\" (QS Al Ahzab 33:7)\r\"Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: 'Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya'. Allah berfirman: 'Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?' Mereka menjawab: \"Kami mengakui\". Allah berfirman: 'Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu'. (QS Ali Imran 3:81)\rDalam memahami firman Allah ta'ala di atas kita dapat mengikuti dari apa yang disampaikan oleh Imam Sayyidina Ali ra, \"Setiap kali Allah subhanahu wa ta'ala. mengutus seorang nabi, mulai dari Nabi Adam a.s sampai seterusnya, maka kepada nabi-nabi itu Allah subhanahu wa ta'ala menuntut janji setia mereka bahwa jika nanti Rasulallah shallallahu alaihi wasallam. diutus, mereka akan beriman padanya, membelanya dan mengambil janji setia dari kaumnya untuk melakukan hal yang sama’.\rDari dalil-dalil tersebut kita dapat pahami bahwa dari sejak Nabi Adam a.s , para Nabi telah disampaikan akan kedatangan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam sebagai Rasul yang terakhir yang akan membenarkan apa yang dibawa oleh para Nabi sebelumnya","part":1,"page":127},{"id":128,"text":"Jadi pada hakikat para Nabi sebelum Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam juga bersyahadat\rHal ini disampaikan sebagai peringatan bagi kaum Yahudi dan kaum Nasrani yang menyembunyikan adanya syahadat para Nabi dalam kitab-kitab Injil dan Taurat\rFirman Allah ta'ala yang artinya, “Ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani?” Katakanlah: “Apakah kamu lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya?” Dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan.\" (QS Al Baqarah [2]:140 )\rKaum Yahudi dan Kaum Nasrani telah mengetahui akan kedatangan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam\rFirman Allah ta'ala yang artinya : “Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” ( QS Al Baqarah [2]:146 )\r“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam“. (QS Al Baqarah [2]: 132 )","part":1,"page":128},{"id":129,"text":"“Dan mereka berkata: “Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk”. Katakanlah : “Tidak, melainkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik” (QS Al Baqarah [2]: 139 )\r“Sesungguhnya agama disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka” (QS Ali Imran [3]: 19)\rBarangsiapa yang berpaling sesudah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam diutus dengan kitab Al-Qur’an yang membenarkan kitab-kitab Allah sebelumnya maka mereka termasuk orang-orang yang fasik, orang yang berpaling atau tidak mengindahkan perintah Allah ta’ala. Akhir bagi mereka adalah neraka jahanamlah sebagaimana firmanNya yang artinya:\r“Dan adapun orang-orang yang fasik maka tempat mereka adalah jahannam. Setiap kali mereka hendak keluar daripadanya, mereka dikembalikan ke dalamnya dan dikatakan kepada mereka: “Rasakanlah siksa neraka yang dahulu kamu mendustakannya.” ( QS As Sajadah [32]:20 )\r\"Katakanlah:”Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil, dan Al Qur’an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu“. (QS Al Maa’idah [5]:68 )\r“Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka..” (QS.Ali Imran [3] : 110)","part":1,"page":129},{"id":130,"text":"Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “ Demi Allah, yang diriku ada dalam genggaman tanganNya, tidaklah mendengar dari hal aku ini seseorangpun dari ummat sekarang ini, Yahudi, dan tidak pula Nasrani, kemudian tidak mereka mau beriman kepadaku, melainkan masuklah dia ke dalam neraka.”\rDiriwayatkan dari Sufyan bin Uyainah dengan sanadnya dari Adi bin Hatim. Ibnu Mardawih meriwayatkan dari Abu Dzar, dia berkata, “Saya bertanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam tentang orang-orang yang dimurkai“, beliau bersabda, ‘Kaum Yahudi.’ Saya bertanya tentang orang-orang yang sesat, beliau bersabda, “Kaum Nasrani.“\rFirman Allah ta’ala yang artinya, “Tidak ada paksaan untuk beragama (Islam) ” (QS Al Baqarah [2]:256)\rTidak ada paksaan namun pada ayat yang sama dijelaskan bahwa “Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat” (QS Al Baqarah [2]:256)\rPilihan bagi manusia hanyalah dua pilihan antara yang haq dan bathil . Pilihannya hanyalah beragama Islam atau tidak beragama Islam karena tidak ada agama selain agama Islam. Setelah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam di utus oleh Allah Azza wa Jalla maka pilihannya hanyalah bersyahadat atau tidak bersyahadat. Petunjuk / ilham akan pilihan ini telah dihujamkan ke jiwa (qalbu) setiap manusia tanpa kecuali\rFirman Allah ta'ala yang artinya : “maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya“. (QS Asy Syams [91]:8). “Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan” (QS Al Balad [90]:10). Setiap manusia akan mempertanggungjawabkan pilihan mereka di akhirat kelak.","part":1,"page":130},{"id":131,"text":"Firman Allah ta'ala yang artinya, “Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan” (QS An Nahl [16:93 )\rWalaupun Allah ta'ala menetapkan seorang manusia terlahir pada keluarga Yahudi , keluarga Nasrani maupun keluarga non muslim lainnya namun mereka tetap diminta pertanggungjawaban di akhirat kelak atas pilihan mereka karena seluruh manusia jiwa/qalbu nya telah diilhamkan pilihan (jalan) kefasikan dan ketaqwaan, pilihan yang haq dan bathil.\rFirman Allah ta'ala yang artinya, “Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai” (QS Anbiyaa’ [21]:23 )\rMereka yang memilih yang bathil sehingga mereka tidak bersyahadat maka mereka akan termasuk orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap yang telah bersyahadat\rFirman Allah ta’ala yang artinya, “orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik” ( QS Al Maaidah [5]: 82 )\rSedangkan mereka yang memilih yang haq sehingga mereka bersyahadat maka mereka bersaudara\rFirman Allah ta'ala yang artinya, “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat” ( Qs. Al-Hujjarat :10)\rRasulullah bersabda kepada Mu'adz bin Jabal ra , “Ya Mu`adz bin Jabal ma min ahadin Yashaduan la illaha illallahu washadu anna muhammadan rasullullahi sidqan min qalbihi illa ahrramahu allahu alla annari “,","part":1,"page":131},{"id":132,"text":"Ya Mu'adz bin Jabal, tak ada satu orang pun yang bersaksi bahwa sesungguhnya tiada tuhan selain Allah dan Muhammad rasul Allah yang ucapan itu betul-betul keluar dari kalbunya yang suci kecuali Allah mengharamkan orang tersebut masuk neraka. (H.R. Bukhari dan Muslim)\rJika seseorang bersyahadat sidqan min qalbihi, betul-betul keluar dari qalbunya atau merasuk kedalam qalbunya maka dia akan tidak masuk ke neraka karena \"hati\" nya akan menggerakkannya untuk mentaati Allah ta'ala dan RasulNya, melaksanakan perkara syariat (syarat sebagai hamba Allah) yakni menjalankan segala kewajibanNya (ditinggalkan berdosa), menjauhi segala laranganNya (dikerjakan berdosa) dan menjauhi segala apa yang diharamkanNya (dikerjakan berdosa) serta mereka memperjalankan dirinya agar sampai (wushul) kepada Allah ta'ala, sehingga sebenar-benarnya menyaksikan (melihat) Allah dengan hati dan mereka mencapai muslim yang Ihsan , muslim berma'rifat. Apakah Ihsan ?\rقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِحْسَانُ قَالَ أَنْ تَخْشَى اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنَّكَ إِنْ لَا تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ\rLalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu takut (takhsya / khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.’ (HR Muslim 11) Link: http://www.indoquran.com/index.php?surano=2&ayatno=3&action=display&option=com_muslim\rRasulullah bersabda “Iman paling afdol ialah apabila kamu mengetahui bahwa Allah selalu menyertaimu dimanapun kamu berada“. (HR. Ath Thobari)","part":1,"page":132},{"id":133,"text":"Ada dua kondisi yang dicapai oleh muslim yang ihsan atau muslim yang telah berma’rifat\r1.…Kondisi minimal adalah mereka yang selalu merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla\r2.…Kondiri terbaik adalah mereka yang dapat melihat Allah Azza wa Jalla dengan hati (ain bashiroh)\rImam Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani,\r“Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”\rBeliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”\r“Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali.\rSayyidina Ali ra menjawab “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati”\rSebuah riwayat dari Ja’far bin Muhammad beliau ditanya: “Apakah engkau melihat Tuhanmu ketika engkau menyembah-Nya?” Beliau menjawab: “Saya telah melihat Tuhan, baru saya sembah”. Bagaimana anda melihat-Nya? dia menjawab: “Tidak dilihat dengan mata yang memandang, tapi dilihat dengan hati yang penuh Iman.”\rMuslim berma'rifat adalah mereka yang minimal selalu merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla dan yang terbaik adalah mereka yang dapat melihat Allah ta'ala dengan hati, mereka akan menghindarkan dirinya dari sikap dan perbuatan yang dibenciNya, menghindarkan dirinya dari perbuatan maksiat, menghindarkan dirinya dari perbuatan keji dan mungkar.","part":1,"page":133},{"id":134,"text":"Muslim berma'rifat, mereka yang memperjalankan dirinya agar sampai (wushul) kepada Allah ta'ala dicontohkan dan diungkapkan oleh Rasulullah sebagai “aku mendengar derap sandalmu di dalam surga” (HR Muslim 4497) sebagaimana telah diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/09/29/derap-sandalmu/ dan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/05/perjalankanlah-diri-kita/\rImam Al Qusyairi mengatakan bahwa, “Asy-Syahid untuk menunjukkan sesuatu yang hadir dalam hati, yaitu sesuatu yang membuatnya selalu sadar dan ingat, sehingga seakan-akan pemilik hati tersebut senantiasa melihat dan menyaksikan-Nya, sekalipun Dia tidak tampak. Setiap apa yang membuat ingatannya menguasai hati seseorang maka dia adalah seorang syahid (penyaksi)”.\rSyaikh Ibnu Athoillah mengatakan :\rوَإِنَّماَ المَحْجُوْبُ أَنْتَ أَيُّهاَ العَبْدُ بِصِفاَتِكَ النَّفْساَنِيَّةِ عَنِ النَّظْرِ إِلَيْهِ فَإِنْ رُمْتَ الوُصُوْلَ فاَبْحَثْ عَنْ عُيُوْبِ نَفْسِكَ وَعاَلَجَهاَ\r\"Sesungguhnya yang terhalang adalah anda, hai kawan. Karena anda sebagai manusia menyandang sifat jasad, sehingga terhalang untuk dapat melihat Allah. Apabila anda ingin sampai melihat Allah, maka intropeksi ke dalam, lihatlah dahulu noda dan dosa yang terdapat pada diri anda, serta bangkitlah untuk mengobati dan memperbaikinya, karena itu-lah sebagai penghalang anda. Mengobatinya dengan bertaubat dari dosa serta memperbaikinya dengan tidak berbuat dosa dan giat melakukan kebaikan\".","part":1,"page":134},{"id":135,"text":"Syaikh Abdul Qadir Al-Jilany menyampaikan : mereka yang sadar diri senantiasa memandang Allah Azza wa Jalla dengan qalbunya, ketika terpadu jadilah keteguhan yang satu yang mengugurkan hijab-hijab antara diri mereka dengan DiriNya.\rSemua banungan runtuh tinggal maknanya. Seluruh sendi-sendi putus dan segala milik menjadi lepas, tak ada yang tersisa selain Allah Azza wa Jalla.\rTak ada ucapan dan gerak bagi mereka, tak ada kesenangan bagi mereka hingga semua itu jadi benar. Jika sudah benar sempurnalah semua perkara baginya.\rPertama yang mereka keluarkan adalah segala perbudakan duniawi kemudian mereka keluarkan segala hal selain Allah Azza wa Jalla secara total dan senantiasa terus demikian dalam menjalani ujian di RumahNya.\rJika bersyahadat sidqan min qalbihi maka mereka akan mengikuti sunnah Rasulullah untuk tidak mencela, menghujat, memperolok-olok, merendahkan atau bahkan membunuh manusia yang telah bersyahadat tanpa alasan yang dibenarkan oleh syariat Islam sebagaimana contohnya yang telah dilakukan oleh sebuah \"sekte berdarah\" yang diuraikan dalam tulisan pada http://www.aswaja-nu.com/2010/01/dialog-syaikh-al-syanqithi-vs-wahhabi_20.html atau pada www.fb.com/photo.php?fbid=220630637981571&set=a.220630511314917.56251.100001039095629\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “mencela seorang muslim adalah kefasikan, dan membunuhnya adalah kekufuran”. (HR Muslim).","part":1,"page":135},{"id":136,"text":"Kita dapat memahami jika seseorang mengaku-aku mengikuti Rasulullah (ittiba' li Rasulihi) namun mereka mencela, menghujat, memperolok-olok, merendahkan atau bahkan membunuh saudara muslimnya sendiri maka mereka akan masuk neraka karena mereka terjerumus dalam kekufuran menjadi kaum munafik, berbeda antara yang dikatakannya dengan kenyataannya.\rJadi kalau diantara sesama muslim bermusuhan maka perlu intropeksi kembali syahadat yang telah diucapkan atau mereka boleh jadi telah kembali menjadi orang-orang kafir (orang-orang musyrik) sehingga termasuk orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap yang telah bersyahadat sebagaimana firman Allah ta'ala dalam QS Al Maaidah [5]: 82 di atas.\rBoleh jadi timbul rasa permusuhan karena mereka telah kembali menjadi orang-orang kafir sbagaimana yang telah disampaikan oleh Imam Sayyidina Ali ra\rSayyidina Ali Ibn Abi Thalib ra berkata : “Sebagian golongan dari umat Islam ini ketika kiamat telah dekat akan kembali menjadi orang-orang kafir.“\rSeseorang bertanya kepadanya : “Wahai Amirul Mukminin apakah sebab kekufuran mereka? Adakah karena membuat ajaran baru atau karena pengingkaran?”\rSayyidina Ali Ibn Abi Thalib ra menjawab : “Mereka menjadi kafir karena pengingkaran. Mereka mengingkari Pencipta mereka (Allah Subhanahu wa ta’ala) dan mensifati-Nya dengan sifat-sifat benda dan anggota-anggota badan.” (Imam Ibn Al-Mu’allim Al-Qurasyi (w. 725 H) dalam Kitab Najm Al-Muhtadi Wa Rajm Al-Mu’tadi).","part":1,"page":136},{"id":137,"text":"Oleh karenanya agar tidak terjerumus ke dalam kekufuran , dalam memahami ayat-ayat mutasyabihat tentang sifat Allah, sebaiknyalah kita memperhatikan batas-batas yang disampaikan oleh para ulama terdahulu seperti,\rImam besar ahli hadis dan tafsir, Jalaluddin As-Suyuthi dalam “Tanbiat Al-Ghabiy Bi Tabriat Ibn ‘Arabi” mengatakan “Ia (ayat-ayat mutasyabihat) memiliki makna-makna khusus yang berbeda dengan makna yang dipahami oleh orang biasa. Barangsiapa memahami kata wajh Allah, yad , ain dan istiwa sebagaimana makna yang selama ini diketahui (wajah Allah, tangan, mata, bertempat), ia kafir secara pasti.”\rImam Ahmad ar-Rifa’i (W. 578 H/1182 M) dalam kitabnya al-Burhan al-Muayyad, “Sunu ‘Aqaidakum Minat Tamassuki Bi Dzahiri Ma Tasyabaha Minal Kitabi Was Sunnati Lianna Dzalika Min Ushulil Kufri”, “Jagalah aqidahmu dari berpegang dengan dzahir ayat dan hadis mutasyabihat, karena hal itu salah satu pangkal kekufuran”.\rTulisan kali ini kami akhiri dengan nasehat dan munajat dari Syaikh Ibnu Athoillah : \"Seandainya Anda tidak dapat sampai / berjumpa kehadhirat Allah, sebelum Anda menghapuskan dosa-dosa kejahatan dan noda-noda keangkuhan yang melekat pada diri anda, tentulah anda tidak mungkin sampai kepada-Nya selamanya.\rTetapi apabila Allah menghendaki agar anda dapat berjumpa denganNya , maka Allah akan menutupi sifat-sifatmu dengan sifat-sifat Kemahasucian-Nya , kekuranganmu dengan Kemahasempurnaan-Nya.\rAllah Ta’ala menerima engkau dengan apa yang Dia (Allah) karuniakan kepadamu, bukan karena amal perbuatanmu sendiri yang engkau hadapkan kepada-Nya.”","part":1,"page":137},{"id":138,"text":"“Ya Tuhan, yang berada di balik tirai kemuliaanNya, sehingga tidak dapat dicapai oleh pandangan mata. Ya Tuhan, yang telah menjelma dalam kesempurnaan, keindahan dan keagunganNya, sehingga nyatalah bukti kebesaranNya dalam hati dan perasaan. Ya Tuhan, bagaimana Engkau tersembunyi padahal Engkaulah Dzat Yang Zhahir, dan bagaimana Engkau akan Gaib, padahal Engkaulah Pengawas yang tetap hadir. Dialah Allah yang memberikan petunjuk dan kepadaNya kami mohon pertolongan“\rWassalam\rZon di Jonggol, Kab Bogor 16830\r0804. Siapakah sebenarnya yang mereka ikuti\rDalam tulisan kami sebelumnya pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/09/07/klaim-mereka/ telah disampaikan oleh Fatwa Al-Lajnah Ad-Da`imah lil Buhuts Al-’Ilmiyyah wal Ifta` (Komite Tetap untuk Riset Ilmiah dan Fatwa) kerajaan dinasti Saudi bahwa Imam Baihaqi, Imam Nawawi maupun Ibnu Hajar dalam memahami ayat-ayat mutasyabihat tentang sifat Allah telah terjatuh/tergelincir pada penakwilan terhadap sifat-sifat Allah. Pendapat mereka bahwa pemahaman tersebut tidak sesuai dengan pemahaman Salafush Sholeh. Pada kenyataanya yang dimaksud oleh mereka tidak sesuai dengan pemahaman Salafush Sholeh adalah tidak sesuai dengan pemahaman ulama Ibnu Taimiyyah dan para pengikutnya dalam memahami lafaz/tulisan perkataan Salafush Sholeh.","part":1,"page":138},{"id":139,"text":"Pemahaman ulama Ibnu Taimiyyah dan para pengikutnya dengan istilah mereka sebagai \"tanpa tahrif , tanpa tathil, tanpa tamstil/tasybih dan tanpa takyif\" pada dasarnya adalah memahami ayat-ayat mutasyabihat tentang sifat Allah berdasarkan pemahaman secara dzahir atau secara harfiah yang kami sebut sebagai pemahaman dengan metodologi “terjemahkan saja” sebagaimana yang telah disampaikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/09/07/2011/02/02/terjemahkan-saja/ Padahal ulama-ulama terdahulu telah memperingatkan kita antara lain\rImam besar ahli hadis dan tafsir, Jalaluddin As-Suyuthi dalam “Tanbiat Al-Ghabiy Bi Tabriat Ibn ‘Arabi” mengatakan “Ia (ayat-ayat mutasyabihat) memiliki makna-makna khusus yang berbeda dengan makna yang dipahami oleh orang biasa. Barangsiapa memahami kata wajh Allah, yad , ain dan istiwa sebagaimana makna yang selama ini diketahui (wajah Allah, tangan, mata, bertempat), ia kafir secara pasti.”","part":1,"page":139},{"id":140,"text":"Imam Ahmad ar-Rifa’i (W. 578 H/1182 M) dalam kitabnya al-Burhan al-Muayyad, “Sunu ‘Aqaidakum Minat Tamassuki Bi Dzahiri Ma Tasyabaha Minal Kitabi Was Sunnati Lianna Dzalika Min Ushulil Kufri”, “Jagalah aqidahmu dari berpegang dengan dzahir ayat dan hadis mutasyabihat, karena hal itu salah satu pangkal kekufuran”. Begitupula kita seharusnya memperhatikan peringatan yang disampaikan oleh khataman Khulafaur Rasyidin, Imam Sayyidina Ali ra dalam riwayat berikut, Sayyidina Ali Ibn Abi Thalib ra berkata : “Sebagian golongan dari umat Islam ini ketika kiamat telah dekat akan kembali menjadi orang-orang kafir.“. Seseorang bertanya kepadanya : “Wahai Amirul Mukminin apakah sebab kekufuran mereka? Adakah karena membuat ajaran baru atau karena pengingkaran?”","part":1,"page":140},{"id":141,"text":"Sayyidina Ali Ibn Abi Thalib ra menjawab : “Mereka menjadi kafir karena pengingkaran. Mereka mengingkari Pencipta mereka (Allah Subhanahu wa ta’ala) dan mensifati-Nya dengan sifat-sifat benda dan anggota-anggota badan.” (Imam Ibn Al-Mu’allim Al-Qurasyi (w. 725 H) dalam Kitab Najm Al-Muhtadi Wa Rajm Al-Mu’tadi). Tulisan kali ini menyoroti kembali fatwa Al-Lajnah Ad-Da`imah lil Buhuts Al-’Ilmiyyah wal Ifta` (Komite Tetap untuk Riset Ilmiah dan Fatwa) kerajaan dinasti Saudi yang disampaikan oleh Ustadz Abu Karimah 'Askari bin Jamal Al Bugisi, Murid Ulama Muqbil bin Hadi Al Wadi'i, Yaman. Ustadz Abu Karimah ‘Askari adalah yang berselisih pemahaman dengan ustadz Firanda walaupun mereka berdua sama mengaku-aku mengikuti pemahaman Salafush Sholeh sebagaimana terurai dalam tulisan pada http://www.salafybpp.com/categoryblog/97-dusta-firanda-ditengah-badai-fitnah-yang-sedang-melanda-bag1.html\rFatwa Komite Tetap untuk Riset Ilmiah dan Fatwa yang disampaikan oleh Ustadz Abu Karimah, kami ambil dari dari situs : http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=33\rBerikut kutipannya :\r***** awal kutipan *****\rJawab: \"Do'a jama'i setelah Imam mengucapkan salam dengan serempak, tidak ada asalnya yang menunjukkan bahwa amalan ini disyari'atkan. Dan Dewan Riset dan Fatwa memberikan jawaban sebegai berikut:","part":1,"page":141},{"id":142,"text":"\"Do'a sesudah shalat fardlu dengan mengangkat kedua tangan baik oleh Imam maupun ma`mum, sendirian atau bersama-sama, bukanlah sunnah. Amalan ini adalah bid'ah yang tidak ada keterangannya sedikitpun dari Nabi shallallahu 'alaihi wa 'ala alihi wa sallam dan para sahabatnya radliyallahu 'anhum. Adapun do'a tanpa hal-hal demikian, boleh dilakukan karena memang ada keterangannya dalam beberapa hadits. Wabillahi taufiq. Semoga shalawat tetap tercurah kepada Nabi kita Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya. (Lajnah Daimah).\rPada bagian lain, Lajnah menjawab:\"Do'a dengan suara keras setelah shalat lima waktu, ataupun sunnah rawatib. Atau do'a-do'a sesudahnya dengan cara berjama'ah dan terus-menerus dikerjakan merupakan perbuatan bid'ah yang munkar. Tidak ada keterangan sedikitpun dari Nabi shallallahu 'alaihi wa 'ala alihi wa sallam tentang hal ini, juga para sahabatnya radliyallahu 'anhum. Barangsiapa yang berdo'a setelah selesai shalat fardlu atau sunnah rawatibnya dengan cara berjama'ah, maka ini adalah menyelisihi Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Dan apabila mereka menganggap orang yang mengingkari hal ini atau tidak berbuat sebagaimana yang mereka lakukan sebagai orang kafir atau bukan Ahlus Sunnah wal Jama'ah, maka ini adalah kebodohan dan kesesatan serta memutarbalikkan kenyataan yang ada. (Lajnah Daimah, lihat Fatwa Islamiyah 1/318-319)\r***** akhir kutipan *****\rNamun disisi lain kami mendapatkan keterangan dari http://www.voa-islam.com/islamia/ibadah/2011/01/12/12739/menjaharkan-dzikir-sesudah-shalat-fardhu-ternyata-sunnah/ sebagai berikut :\r***** awal kutipan *****","part":1,"page":142},{"id":143,"text":"Fatwa Syaikh Ibnu Bazz\rAl-‘Allamah Syaikh Ibnu Bazz pernah ditanya tentang sunnah dzikir sesudah shalat, mana yang sesuai sunnah, mengeraskan dzikir atau melirihkannya ?. Beliau menjawab : Yang sunnah adalah menjaharkan dzikir sesudah shalat lima waktu dan sesudah shalat Jum’at ba’da salam. Hal itu didasarkan hadits dalam Shahihain, dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma bahwa mengeraskan suara dzikir sesudah manusia selesai melaksanakan shalat wajib sudah ada pada zaman Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Ibnu Abbas berkata, “Aku mengetahui kalau mereka sudah selesai shalat apabila aku mendengarnya.” (Kumpulan pertanyaan yang ditujukan kepada Syaikh Ibnu Bazz oleh Muhammad al-Syayi’)\rDalam Jawaban lain, beliau berkata: “Telah disebutkan dalam kitab shahihain, dari riwayatnya Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, “Sesungguhnya mengeraskan dzikir saat selesai dari shalat wajib, itu telah ada di masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam“. Ibnu Abbas juga mengatakan: “Aku tahu selesainya shalat mereka itu, saat aku mendengar (suara dzikir) itu.”","part":1,"page":143},{"id":144,"text":"Hadits shahih ini dan hadits-hadits semakna lainnya yang berasal dari hadits Ibnu Zubair, dan Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu 'anhuma dan lainnya, semuanya menunjukkan disyariatkannya mengeraskan dzikir ketika orang-orang selesai shalat wajib, yang kira-kira sampai terdengar oleh orang-orang yang berada di pintu-pintu dan di sekitar masjid, sehingga mereka tahu selesainya shalat (jama’ah) dengan (kerasnya suara dzikir) itu. (Tapi) bagi orang yang didekatnya ada orang lain yang sedang menyelesaikan shalatnya, maka sebaiknya ia memelankan sedikit suaranya, agar tidak mengganggu mereka, karena adanya dalil-dalil lain yang menerangkan hal itu.\rDalam tuntunan mengeraskan dzikir ketika para jamaah selesai shalat wajib ini, ada banyak manfaat, diantaranya:\r1. Menampakkan pujian kepada Allah Ta’ala yang telah memberikan mereka kenikmatan bisa menjalankan kewajiban yang agung ini.\r2. Dan (sebagai sarana untuk) mengajari orang yang jahil dan mengingatkan orang yang lupa. Jika saja tidak ada hal itu, tentunya sunnah ini akan jadi samar bagi banyak orang. Wallahu waliyyut taufiq.\rSyaikh Shalih al-Fauzan\rBeliau ditanya tentang menjaharkan doa dan dzikir secara umum, dan sesudah shalat secara khusus? Apakah doa dan dzikir itu dengan keras, lirih, atau di antara keduanya?\rBeliau menjawab, “Doa yang dicontohkan dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan yang disyari’atkan, seseorang diberi pilihan antara menjaharkannya atau melirihkannya. Allah Ta’ala berfirman,\rادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً","part":1,"page":144},{"id":145,"text":"“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut.” (QS. Al-a’raf: 55)\rDan Allah Subhanahu wa Ta'ala mengetahui yang lirih dan tersembunyi. Engkau boleh berdoa dengan keras dan lirih, kecuali apabila menjaharkannya bisa mengganggu orang disekitarmu; yang tidur, shalat, atau yang sedang membaca Al-Qur’an al-Karim, maka engkau harus melirihkan suaramu. Atau apabila kamu takut tumbuh riya’ dan sum’ah dalam dirimu, maka engkau lirihkan suaramu dalam berdoa, karena hal ini lebih bisa menjadikan ikhlas.\rPerlu diperhatikan, bahwa mengeraskan di sini bukan dengan suara bersama-sama (koor), sebagaimana yang dilakukan sebagian orang. Setiap orang berdoa untuk dirinya dengan lirih dan keras. Adapun berdoa dengan berjama’ah (bersama-sama), maka termasuk bid’ah.\rSedangkan dzikir sesudah shalat, maka yang sunnah adalah menjaharkannya sesuai dengan hadits-hadits shahih yang menyebutkan bahwa para sahabat menjaharkan dzikir sesudah shalat; tahlil dan ihtighfar sesudah salam sebanyak tiga kali, lalu membaca:\rاللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ","part":1,"page":145},{"id":146,"text":"sampai akhir dari dzikir-dzikir yang dicontohkan, maka membacanya dengan keras. Tapi dengan sendiri-sendiri, bukan dengan berjamaah (bersama-sama) sebagaimana yang kami sebutkan di awal. Dzikir berjama’ah ini termasuk perkara bid’ah (yang diada-adakan). Setiap orang berdzikir sendiri-sendiri dan mengeraskannya sesudah shalat.” (al-Muntaqa’ min Fatawa al-Fauzan: Juz 3).\r***** akhir kutipan *****\rPada kesimpulan akhirnya penulis tulisan tersebut menuliskan “Pendapat yang menganjurkan untuk mengeraskan dzikir sesudah shalat sesuai dengan dzahir hadits. Maka, sebagaimana kaidah Ushul Fiqih bahwa makna dzahir harus lebih didahulukan dan diamalkan sehingga ada dalil kuat lainnya yang me-nasakh-nya, atau men-takhshish-nya atau men-takwil-nya. Dan tidak didapatkan adanya dalil kuat yang menerangkan, bahwa dikeraskannya dzikir setelah shalat wajib itu hanya untuk sementara waktu saja.”\rJadi kesimpulan mereka dengan cara memaknai hadits secara dzahir (harfiah) atau sebagaimana yang tertulis maka sunnah Rasulullah adalah mengeraskan dzikir sesudah shalat secara sendiri-sendiri dan tidak secara berjam’ah.\rBagaimana kenyataannya ?\rApakah mereka ada mengikuti sunnah Rasulullah mengeraskan dzikir secara sendiri-sendiri ?\rApakah mereka lebih memilih melirihkan dzikir daripada sunnah Rasulullah mengeraskan dzikir?\rAtaukah mereka ada yang beranggapan sunnah Rasulullah mengeraskan dzikir bertentangan dengan firman Allah ta’ala yang artinya “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut.” (QS. Al-a’raf: 55)","part":1,"page":146},{"id":147,"text":"Dzikir berjamaah adalah tolong menolong dalam amal kebaikan. Jika salah satu saja peserta atau pemimpin dzikir dapat menghantarkan dzikir sampai (wushul) kepada Allah Azza wa Jalla maka seluruh peserta dzikir akan mendapatkan kebaikannya bahkan orang yang hanya sekedar duduk bergabung dalam dzikir berjamaah tersebut juga akan mendapatkan kebaikan.\rDalam sebuah hadits qudsi Abu Hurairah ra meriwayatkan bahwa Nabi Shalllahu alaihi wasallam bersabda","part":1,"page":147},{"id":148,"text":"“Sesungguhnya Allah SWT memiliki beberapa malaikat yang seringkali berkeliling untuk mencari majelis orang-orang berzikir. Maka,ketika mereka menemukan sekelompok orang yang berzikir, para malaikat menghampiri mereka dan saling mengepakkan sayapnya sembari berputar-putar hingga mereka berada di antara ahli zikir dan langit. Saat orang-orang yang berzikir itu bubar, para malaikat kembali dan naik ke langit. Kemudian Allah bertanya kepada para malaikat – sedangkan Allah lebih mengetahui daripada mereka,'Kalian datang dari mana?' Mereka menjawab, 'Kami datang dari majelis hamba-hamba-Mu di bumi. Mereka bertasbih, bertahlil, bertakbir, bertahmid, bertahlil dan berdo'a kepada Engkau' Allah bertanya,'Apa yang mereka minta kepada-Ku?' Para malaikat menjawab, 'Mereka mengharap surga-Mu.'Allah berkata, 'Apakah mereka bisa melihat surga-Ku?' Para malaikat menjawab, 'Tidak, wahai Tuhan.' Allah berfirman, 'Bagaimana jika mereka bisa melihat surga-Ku?' Malaikat menjawab, 'Mereka akan memohon perlindungan kepada Engkau.' Allah bertanya, 'Meminta perlindungan dari apa?' Mereka menjawab, 'Dari neraka, wahai Tuhan.' Allah bertanya, 'Apakah mereka melihat neraka-Ku?' Para malaikat menjawab, 'Tidak,wahai Tuhan.' Allah bertanya, 'Bagaimana jika mereka bisa melihatnya?' Para malaikat menjawab, 'Mereka akan memohon ampunan-Mu.' Allah berfirman, 'Aku telah mengampuni dosa mereka, mengabulkan permintaan mereka, dan memberikan perlindungan kepada mereka.' Para malaikat berkata, 'Ya Tuhan,di dalam majelis zikir itu terdapat fulan, ia sering melakukan perbuatan maksiat. Sebenarnya, ia hanya","part":1,"page":148},{"id":149,"text":"kebetulan lewat kemudian duduk bergabung dengan mereka.' Allah berfirman, 'Aku juga mengampuni dosanya. Mereka (ahli zikir) itu tidak tenodai oleh teman duduk mereka.” (HR Muslim)\rCara paling mudah untuk mengetahui bagaimana sebenarnya yang telah dilakukan oleh Rasulullah dan para Salafush Sholeh adalah dengan mengetahui dzikir yang dilakukan oleh para Habib dan para Sayyid pada umumnya karena para Habib dan para Sayyid yang merupakan keturunan cucu Rasulullah, mereka mendapatkan pengajaran langsung dari orang tua-orang tua mereka terdahulu yang mendapatkan pengajaran langsung dari keluarga Rasulullah. Bahkan Imam Sayyidina Ali ra mendapatkan didikan langsung dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.\rDalam masalah teknis pelaksanaan ibadah dapat kita analogikan dengan belajar berenang. Mana yang lebih baik hasilnya, belajar berenang melalui pemahaman tulisan/buku petunjuk cara berenang atau belajar berenang melalui didikan langsung oleh pelatih renang.\rBegitupula dalam teknis pelaksanaan sholat segelintir umat Islam yang mengikuti berdasarkan pemahaman ulama Al Albani yang diperolehnya dari upaya beliau memahami lafaz/tulisan hadits sedangkan beliau tidak dikenal oleh jumhur ulama mempunyai kompetensi sebagai Imam Mujtahid Mutlak sehingga kemungkinan kesalahpahamannya semakin besar. Contoh pendapat ulama Al-Albani. (Kitab Sifat Shalat Nabi halaman 140) bahwa menggerakkan jari dilakukan sepanjang membaca lafadz Tasyahhud dengan contoh pada http://www.youtube.com/watch?v=ze8j_wX7Guw","part":1,"page":149},{"id":150,"text":"Kajian selengkapnya tentang perihal berisyarat dengan jari telunjuk diuraikan dalam tulisan pada http://albanjari.eramulti.com/berisyarat-dengan-jari-telunjuk . Terlebih lagi beliaupun ada mengingkari hadits Rasulullah sebagaimana contohnya yang diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/11/22/tidak-cukup/ dan terhadap hadits-hadit lain diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2010/04/inilahahlussunnahwaljamaah.pdf\rLebih mudah dan selamat mengikuti teknis pelaksanaan sholat mengikuti apa yang dilakukan oleh para Habib dan para Sayyid karena mereka mendapatkan pengajaran langsung dari orang tua-orang tua mereka terdahulu yang mendapatkan pengajaran langsung dari keluarga Rasulullah. Bahkan Imam Sayyidina Ali ra mendapatkan didikan langsung dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.\rKadang ketakutan umat Islam dalam mengikuti apa yang telah disampaikan oleh Imam Sayyidina Ali ra terlampau berlebihan yang semua itu dikarenakan fitnah orang dari kaum (zionis) Yahudi sehingga takut dikatakan sebagai pengikut Syiah khususnya mereka yang membenci Khulafaur Rasyidin lainnya. Sebagaimana yang ditanyakan oleh Imam ‘Ali RA berkata: aku bertanya: Wahai Rasulullah! Apakah ciri-ciri mereka? Baginda RA bersabda: “Mereka menyanjungimu dengan sesuatu yang tidak ada padamu”\rPadahal Imam Sayyidina Ali ra adalah khataman Khulafaur Rasyidin yang menyampaikan secara mendalam dan rinci bagaimana cara mencapai muslim yang Ihsan.\rApakah Ihsan ?","part":1,"page":150},{"id":151,"text":"قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِحْسَانُ قَالَ أَنْ تَخْشَى اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنَّكَ إِنْ لَا تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ\rLalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu takut (takhsya / khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.’ (HR Muslim 11) Link: http://www.indoquran.com/index.php?surano=2&ayatno=3&action=display&option=com_muslim\rRasulullah bersabda “Iman paling afdol ialah apabila kamu mengetahui bahwa Allah selalu menyertaimu dimanapun kamu berada“. (HR. Ath Thobari)\rAda dua kondisi yang dicapai oleh muslim yang ihsan atau muslim yang telah berma’rifat\rKondisi minimal adalah mereka yang selalu merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla\rKondiri terbaik adalah mereka yang dapat melihat Allah Azza wa Jalla dengan hati (ain bashiroh)\rImam Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani,\r“Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”\rBeliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”\r“Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali.\rSayyidina Ali ra menjawab “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati”\rSebuah riwayat dari Ja’far bin Muhammad beliau ditanya: “Apakah engkau melihat Tuhanmu ketika engkau menyembah-Nya?” Beliau menjawab: “Saya telah melihat Tuhan, baru saya sembah”. Bagaimana anda melihat-Nya? dia menjawab: “Tidak dilihat dengan mata yang memandang, tapi dilihat dengan hati yang penuh Iman.”","part":1,"page":151},{"id":152,"text":"Muslim yang telah mencapai Ihsan atau muslim yang telah berma'rifat, minimal mereka yang selalu merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla atau yang terbaik mereka yang dapat melihat Allah dengan hati maka mereka mencegah dirinya dari melakukan sesuatu yang dibenciNya , menghindari perbuatan maksiat, menghindari perbuatan keji dan mungkar hingga terbentuklah muslim yang berakhlakul karimah sesuai dengan tujuan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diutus oleh Allah Azza wa Jalla\rRasulullah menyampaikan yang maknanya “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad).\rJadi pada hakikatnya ghazwul fikri yang dilakukan oleh kaum Zionis Yahudi melalui pusat-pusat kajian Islam yang mereka dirikan atau melalui orang-orang yang telah “dibentuk” oleh mereka adalah menjauhkan umat Islam dari apa yang telah disampaikan oleh Imam Sayyidina Ali ra atau dengan kata lain menjauhkan umat Islam dari tentang Ihsan. Dari sinilah sumber terjadinya kerusakan akhlak pada segelintir kaum muslim sama bahayanya dengan upaya perusakan akhlak melalui pornografi, sex bebas, miras, narkoba, gaya hidup bebas, hedonisme, sekulerisme, pluralisme, liberalisme , dll .\rPengetahuan tentang Ihsan ada pada Tasawuf dalam Islam. Dalam kurikulum perguruan tinggi Islam, sejak dahulu kala, tasawuf adalah pendidikan akhlak yakni jalan (thariqat) untuk menjadi muslim yang Ihsan.\rHal ini telah diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/16/2010/06/07/pendidikan-akhlak/","part":1,"page":152},{"id":153,"text":"Cobalah tanyakan kepada koruptor, apakah mereka takut dengan neraka. Pastilah mereka akan menjawab bahwa mereka takut akan siksa neraka. Namun mereka tidak takut bahwa perbuatan korupsi mereka telah dilihat Allah Azza wa Jalla karena mereka tidak pernah sampai pengetahuan tentang Ihsan sehingga mereka tidak mempunyai keyakinan bahwa segala sikap dan perbuatan mereka selalu dilihat oleh Allah Azza wa Jalla, setiap saat, dan Dia tidak tidur sebagaimana firmanNya yang artinya “Dia yang Maha Hidup, yang terus menerus mengurus (makhlukNya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik Nya apa yang dilangit dan apa yang di bumi” (Qs Al Baqarah [2]:255)\rBegitupula dengan penguasa negeri kita yang telah diingatkan oleh para ulama bahwa “Negara dinilai tidak hadir untuk melindungi segenap kehidupan warganya. Bahkan retorika yang disampaikan pemerintah lebih banyak berbau kebohongan“. Bohong adalah tidak sesuai perkataan dengan kenyataannya. Bohong adalah termasuk akhlak buruk dan yang melakukannya pada hakikatnya karena tidak tahu tentang Ihsan atau tidak meyakini bahwa sikap dan perbuatan mereka dilihat oleh Allah Azza wa Jalla.\rApakah penguasa negeri kita telah dengan nyata melindungi rakyatnya di Ambon, Papua maupun rakyatnya yang terkena bencana lumpur Sidoarjo ?\rBandingkanlah dengan akhlak yang diperlihatkan oleh Khalfiah Umar ra berikut kutipannya\rKhalifah Umar ra menjenguk ke dalam panci tersebut. Alangkah kagetnya ketika mereka melihat apa yang ada di dalam panci tersebut. Sambil masih terbelalak tak percaya, Khalifah Umar ra berteriak, “Apakah kau memasak batu?”","part":1,"page":153},{"id":154,"text":"Perempuan itu menjawab dengan menganggukkan kepala.\r“Buat apa?”\rDengan suara lirih, perempuan itu kembali bersuara menjawab pertanyaan Umar, “Aku memasak batu-batu ini untuk menghibur anakku. Inilah kejahatan Khalifah Umar. Ia tidak mau melihat ke bawah, apakah kebutuhan rakyatnya sudah terpenuhi atau belum.\rLihatlah aku. Aku seorang janda miskin. Sejak dari pagi tadi, aku dan anakku belum makan apa-apa. Jadi anakku pun kusuruh berpuasa, dengan harapan ketika waktu berbuka kami mendapat rejeki. Namun ternyata tidak. Sesudah petang tiba, makanan belum ada juga. Anakku terpaksa tidur dengan perut yang kosong. Aku mengumpulkan batu-batu kecil, memasukkannya ke dalam panci dan kuisi air. Lalu batu-batu itu kumasak untuk membohongi anakku, dengan harapan ia akan tertidur lelap sampai pagi. Ternyata tidak. Mungkin karena lapar, sebentar-sebentar ia bangun dan menangis minta makan.\rIbu itu diam sejenak. Kemudian ia melanjutkan, “Namun apa dayaku? Sungguh Khalifah Umar tidak pantas jadi pemimpin. Ia tidak mampu menjamin kebutuhan rakyatnya.”\rDengan air mata berlinang Khalifah Umar bangkit dan mengajak Sahabatnya untuk kembali ke kota. Tanpa istirahat lagi, Umar segera memikul gandum di punggungnya, untuk diberikan kepada janda tua yang sengsara itu.\rKarena Khalifah Umar terlihat keletihan, Sahabatnya berkata, “Wahai Khalifah Umar, biarlah aku saja yang memikul karung itu….”","part":1,"page":154},{"id":155,"text":"Dengan wajah merah padam, Khalifah Umar menjawab “Jangan jerumuskan aku ke dalam neraka. Engkau akan menggantikan aku memikul beban ini, apakah kau kira engkau akan mau memikul beban di pundakku ini di hari pembalasan kelak?”\rBegitu pula yang terjadi dengan pihak eksekutif, yudikatif, legislatif negeri ini. Pada hakikatnya kebijakan dan implementasinya dalam memenuhi amanat rakyat hanya berdasarkan kesepakatan di antara mereka semata. Mereka tidak menyadari tentang Ihsan, tidak menyadari bahwa Allah Azza wa Jalla melihat sikap dan perbuatan mereka.\rContohnya mereka telah menyetujui undang-undang nomor 44 tahun 2008 tentang pornografi pada tanggal 26 November 2008 namun kenyataannya keping-keping video porno masih saja tersebar dengan bebasnya di negeri tercinta ini. Mereka dapat terjerumus dalam kemunafikan, berbeda antara yang dikatakan dengan kenyataannya.\rBegitupula dalam penegakkan hukum hanya berdasarkan interpretasi dan kesepakatan antar manusia belaka menyesuaikan dengan kepentingan pihak yang akan “dimenangkan”. Bisa dilakukan dengan penggiringan “opini” maupun pencitraan hal ini sesuai dengan “target kerja” kaum Zionis Yahudi\rProtokol Zionis yang kelimabelas","part":1,"page":155},{"id":156,"text":"…Dibawah pengaruh kita, pelaksanaan hukum kaum non_yahudi harus dapat diredusir seminim mungkin. Penghormatan kepada hukum harus dirongrong dengan cara interpretasi sebebas mungkin sesuai dengan apa yang telah kita perkenalkan pada bidang ini. Pengadilan akan memutuskan apa yang kita dikte, bahkan dalam kasus-kasus yang mungkin mencakup prinsip-prinsip dasar atau isu-isu politik melalui jalur pendapat surat kabar dan jalur lainnya.\rOleh karenanya para penguasa negeri yang muslim sebaiknya janganlah menjadikan Amerika maupun sekutunya yang dibelakang mereka semua adalah kaum Zionis Yahudi sebagai \"teman kepercayaan\", penasehat, pelindung, pemimpin.\rTaatilah para ulama yang terhimpun dalam Majelis Ulama, mereka yang mentaati Allah Azza wa Jalla dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.\rAllah Azza wa Jalla memperingatkan kita dengan firmanNya yang artinya\r“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya” , (QS Ali Imran, 118)","part":1,"page":156},{"id":157,"text":"“Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati“. (QS Ali Imran, 119)\rIronis yang terjadi di wilayah kerajaan dinasti Saudi, mereka menjadikan Amerika sebagai teman kepercayaan, pelindung, penasehat. Contoh paling mudah untuk diketahui bahwa mereka menyusun kurikulum pendidikan agama bekerjasama dengan Amerika yang dibelakangnya adalah kaum Zionis Yahudi , sebagaimana yang terurai dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/07/muslim-bukanlah-ekstrimis/ Inilah salah satu \"pintu masuk\" ghazwul fikri (perang pemahaman) yang dilancarkan oleh kaum Zionis Yahudi dan kesalahpahaman-kesalahpahaman tersebut menyebar luas ke negeri-negeri kaum muslim melalui perantaraan beasiswa pendidikan di wilayah kerajaan dinasti Saudi.","part":1,"page":157},{"id":158,"text":"Abuya Prof. DR. Assayyid Muhammad bin Alwi Almaliki Alhasani dalam makalahnya dalam pertemuan nasional dan dialog pemikiran yang kedua, 5 s.d. 9 Dzulqo’dah 1424 H di Makkah al Mukarromah, menyampaikan bahwa dalam kurikulum tauhid kelas tiga Tsanawiyah (SLTP) cetakan tahun 1424 Hijriyyah di Arab Saudi berisi klaim dan pernyataan bahwa kelompok Sufiyyah (aliran–aliran tasawuf) adalah syirik dan keluar dari agama. Kutipan makalah selengkapnya ada pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/08/18/ekstrem-dalam-pemikiran-agama/\rDalam beberapa tulisan berturut-turut, kami telah menghimbau untuk menggigit As Sunnah dan sunnah Khulafaur Rasyidin berdasarkan pemahaman pemimpin ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid) / Imam Mazhab dan penjelasan dari para pengikut Imam Mazhab sambil merujuk darimana mereka mengambil yaitu Al Quran dan as Sunnah. Janganlah memahaminya dengan akal pikiran sendiri atau mengikut pemahaman ulama yang tidak dikenal berkompetensi sebagai Imam Mujtahid Mutlak. Hal ini telah kami uraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/31/gigitlah-as-sunnah/\rSebaiknya kita mengambil ilmu dari mulut ulama bermazhab dan sholeh. Hal ini telah kami uraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/11/02/dari-mulut-ulama/\rKita sebaiknya menghindari kitab ulama yang belajar sendiri dan tidak bermazhab hal ini telah kami uraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/11/03/kitab-tidak-bermazhab/","part":1,"page":158},{"id":159,"text":"Salah satu cara mempertahankan sanad ilmu atau sanad guru adalah dengan mengikuti pendapat/pemahaman pemimpin ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak) alias Imam Mazhab yang empat dan penjelasan dari para pengikut Imam Mazhab sambil merujuk darimana mereka mengambil yaitu Al Quran dan as Sunnah.\rPermasalahan yang terjadi pada Al-Lajnah Ad-Da`imah lil Buhuts Al-’Ilmiyyah wal Ifta` (Komite Tetap untuk Riset Ilmiah dan Fatwa) adalah mereka tidak lagi mengikuti pendapat pemimpin ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak) alias Imam Mazhab yang empat. Mereka lebih menyandarkan pada pemahaman ulama Ibnu Taimiyyah, ulama Ibnu Qoyyim Al Jauziah, ulama Muhammad bin Abdul Wahhab atau bahkan mungkin pemahaman ulama Al Albani, padahal mereka oleh jumhur ulama tidak dikenal berkompetensi sebagai Imam Mujtahid Mutlak atau Imam Mazhab. Memang ada Imam Mazhab yang lain selain yang berempat namun pada akhirnya pendapat / pemahaman mereka karena tidak komprehensive atau tidak menyeluruh sehingga kaum muslim mencukupkannya pada Imam Mazhab yang empat. Contoh ulama yang masih berpegang teguh kepada pemahaman/pendapat Imam Mazhab adalah Mufti Mesir Profesor Doktor Ali Jum`ah sebagaimana contoh yang terurai dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/30/hukum-penutup-muka/\rUlama yang tidak mau bermazhab , pada hakikatnya telah memutuskan rantai sanad ilmu atau sanad guru, berhenti pada akal pikirannya sendiri dimana didalamnya ada unsur hawa nafsu atau kepentingan\rSanad ilmu (sanad guru) sama pentingnya dengan sanad hadits.","part":1,"page":159},{"id":160,"text":"Sanad hadits mempertanyakan atau menganalisa dari mana matan/redaksi hadits tersebut diperoleh sampai kepada lisannya Rasulullah\rSedangkan sanad ilmu (sanad guru) mempertanyakan atau menganalisa dari mana penjelasan Al Qur’an dan As Sunnah tersebut diperoleh sampai kepada lisannya Rasulullah\rSanad ini sangat penting, dan merupakan salah satu kebanggaan Islam dan umat. Karena sanad inilah Al-Qur’an dan Sunah Nabawiyah terjaga dari distorsi ataupun serangan ghazwul fikri (perang pemahaman) yang dilakukan kaum kafir dan munafik atau tercampurnya dengan hawa nafsu. Karena sanad inilah warisan Nabi tak dapat diputar balikkan.\rIbnul Mubarak berkata :”Sanad merupakan bagian dari agama, kalaulah bukan karena sanad, maka pasti akan bisa berkata siapa saja yang mau dengan apa saja yang diinginkannya.” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqoddimah kitab Shahihnya 1/47 no:32 )\rImam Syafi’i ~rahimahullah mengatakan “tiada ilmu tanpa sanad”.\rAl-Hafidh Imam Attsauri ~rahimullah mengatakan “Penuntut ilmu tanpa sanad adalah bagaikan orang yang ingin naik ke atap rumah tanpa tangga”\rBahkan Al-Imam Abu Yazid Al-Bustamiy , quddisa sirruh (Makna tafsir QS.Al-Kahfi 60) ; “Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya syetan” Tafsir Ruhul-Bayan Juz 5 hal. 203\rTulisan kali ini kami akhiri dengan nasehat Imam Mazhab tentang pentingnya tasawuf dalam Islam atau pentingnya pendidikan akhlak.","part":1,"page":160},{"id":161,"text":"Imam Malik ra menyampaikan nasehat (yang artinya) “Dia yang sedang tasawuf tanpa mempelajari fikih (perkara syariat) rusak keimanannya , sementara dia yang belajar fikih tanpa mengamalkan Tasawuf rusaklah dia ., hanya dia siapa memadukan keduanya terjamin benar” .\rImam Syafi’i ra menyampaikan nasehat (yang artinya) ,”Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya. Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mahu menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelazatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mahu mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik (ihsan)?”\r[Diwan Al-Imam Asy-Syafi'i, hal. 47]\rWassalam\rZon di Jonggol, Kab Bogor 16830\r0810. Pelajaran Dari Tragedi Universitas Darul Hadits Dammaj Yaman\rKepala Universitas, Syeikh al-Hajuri Yahya, yang tetap di Dammaj, mendorong para pengikutnya dalam sebuah pernyataan tertulis yang didistribusikan pada rapat umum tersebut untuk memulai \"jihad terhadap Syiah Rafida al Houti,\" menggunakan istilah yang diciptakan oleh Salafy Saudi untuk menggambarkan Syiah.","part":1,"page":161},{"id":162,"text":"Dikutip AFP, perwakilan pemberontak 'di Sanaa, Khaled al-Madani, menuduh lembaga Darul Hadits adalah lembaga garis keras yang melakukan penghasutan sektarian. Seperti diketahui, kelompok Syi'ah telah melakukan upaya blokade dan pengepungan terhadap Markaz Darul Hadits Dammaj, Yaman. Markas Darul Hadits Dammaj adalah markas kelompok yang menamakan diri mereka sebagai kelompok salafiyin. Tidak ada penjelasan detail sejak kapan pengepungan berlangsung. Demikian laporan yang ditulis Rabi bin Hadi 'Umair al Madkhali yang diperoleh dari situs Sahab.\rRabi bin Hadi 'Umair al Madkhali, salah seorang pemimpin kelompok Salafy, juga mengajak para pengikutnya untuk melawan serangan kelompok Syiah, di Dammaj, Yaman melalui surat tertanggal 4 Dzulhijjah 1432 H yang dipublikasikan di Sahab.net. Darul Hadits terletak di daerah yang dikuasai oleh pemberontak Syiah Houti, didirikan pada tahun 1980 oleh almarhum Syeikh Muqbil Bin Hadi Al Wadie. Saat ini menampung lebih dari 10.000 mahasiswa.\rDemikianlah informasi yang kami dapatkan dari berbagai sumber tentang tragedi antara kelompok manusia yang sama-sama telah bersyahadat namun berbeda pemahaman terhadap Al Qur’an dan As Sunnah.\rTiga permasalahan besar yang kita, kaum muslim pada umumnya hadapi yang ketiga-tiganya akibat korban ghazwul fikri (perang pemahaman) dari kaum Zionis Yahudi\r1. Sekte berpemahaman SEPILIS (Sekulerisme, Pluralisme, Liberalisme), mereka yang memahami Al Qur'an dan As Sunnah sesuai kepentingan atau kemauan mereka sendiri.","part":1,"page":162},{"id":163,"text":"2. Sekte Syiah khususnya yang membenci Khulafaur Rasyidin lainnya. Mereka yang ditanyakan oleh Imam ‘Ali RA berkata: aku bertanya: Wahai Rasulullah! Apakah ciri-ciri mereka? BagindaSAW bersabda: “Mereka menyanjungimu dengan sesuatu yang tidak ada padamu”. Kita harus dapat membedakan antara keturunan cucu Rasulullah dengan para pengaku pengikut Imam Sayyidina Ali ra.\r3. Sekte yang mengaku-aku mengikuti pemahaman Salafush Sholeh namun kenyataannya tidak lebih dari mengikuti pemahaman ulama Ibnu Taimiyyah. Mereka yang memahami Al Qur'an dan As Sunnah secara harfiah (dzahir) atau yang kami katakan dengan metodologi pemahaman \"terjemahkan saja\" . Mereka menamakan dirinya Salafi (pengikut ulama Ibnu Taimiyyah) dan dinamakan Salafi Wahhabi atau disingkat Wahhabi bagi pengikut pemahaman ulama Ibnu Taimiyyah melalui pemahaman ulama Muhammad bin Abdul Wahhab. Syaikh Ahmad ibn Hajar al- Butami dalam biografi Syaikh Muhammad ibnu Abdil Wahhab yang juga ditashhihkan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Bazz, mengakui Wahhabi adalah ajaran Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab.\r- Di halaman 59 disebutkan :\rفقامت الثورات على يد دعاة الوهابيين\r“maka tegaklah revolusi di atas tangan para da'i Wahhabi”\r- Di halaman 60 disebutkan :\rعلى أساس من الدعوة الدينية الوهابية في مكة\r“atas dasar dari dakwah agama wahhabi di Mekkah” ,\rيدينون با?س?م على المذهب الوهابي ,\r“mereka beragama dengan Islam atas Mazhab Wahhabi”\rSelain permasalah tiga sekte utama di atas ada sekte-sekte lainnya seperti","part":1,"page":163},{"id":164,"text":"Sekte Ahmadiyah didirikan oleh seorang Freemasonry India Mirza Ghulam Ahmad, yang radikal disebut aliran Qadyani, dan yang halus disebut aliran Lahore. Biaya dakwah dan tablighnya itu dari Freemasonry International melalui penguasa Inggris.\rDibiayai oleh Freemasonry pada tahun 1946 didirikan sekte Quraniyah dipimpin oleh Syekh Yakub dari Palestina, segala sesuatu harus berdasar Qur’an tanpa tafsir dan semua hadits Nabi saw ditolaknya, sehingga mereka shalat dan saum hanya berdasarkan Qur’an, tidak ada raka’at dalam shalat, tidak ada bacaan tertentu dalam shalat, tidak ada adzan, qamat dsb.\rSekte Bahaiyah yang didirikan seseorang Freemason Abdulbaha kelanjutan dari paham “Babbiyah” yang diusung oleh Mirza Ali Muhammad (meninggal tahun 1853 M). Ia mendakwakan dirinya “Al Bab”. Dalam dakwahnya ini ia menerangkan bahwa agama yang tiga semuanya benar, semuanya datang dari Allah. Karena itu ketiganya harus disatukan, tidak ada Yahuidi, tidak ada Nasrani dan tidak ada Islam, yang ada ialah “Dinullah” (Agama Tuhan).","part":1,"page":164},{"id":165,"text":"Sekte Bahaiyah beri’tiqad (aqidah) bahwa Tuhan menjelma ke dalam tubuh Bahaullah, jadi ia adalah manifestasi dari Tuhan diatas dunia. Nampak i’tiqadnya diambil dari kepercayaan Kristen atau kepercayaan Budha, yang mempercayai ada Tuhan yang batin dan ada bagiannya yang melahirkan dirinya. Hal ini diyakini juga oleh segelintir umat muslim yang berkeyakinan bahwa Tuhan bertempat di tempat yang tinggi (di atas ‘Arsy) hanya dapat dilihat ketika manusia telah berada di surga dan firman Allah Azza wa Jalla yang artinya “Aku adalah dekat” (QS Al Baqarah [2]:186 ) adalah ilmuNya. Mereka yang tidak dapat membedakan \"mencari-cari takwil\" dengan \"mentakwilkan\" justru mentakwilkan \"Aku adalah dekat\" adalah ilmuNya.\rSeluruh sekte-sekte ini pada hakikatnya adalah korban pengaruh ghazwul fikri (perang pemahaman) dari kaum Zionis Yahudi guna memecah belah kaum muslim dari dalam. Mereka melakukan ghazwul fikri melalui pusat-pusat kajian Islam yang mereka dirikan atau melalui cendikiawan muslim/non muslim yang telah “dibentuk” atau “ditugaskan” oleh mereka.\rEmpat gerakan yang dilancarkan oleh kaum Zionis Yahudi yakni\r1. Paham anti mazhab, umat muslim diarahkan untuk tidak lagi mentaati pimpinan ijtihad atau imam mujtahid alias Imam Mazhab\r2. Pemahaman secara ilmiah, umat muslim diarahkan untuk memahami Al Qur’an dan As Sunnah dengan akal pikiran masing-masing dengan metodologi “terjemahkan saja” hanya memandang dari sudut bahasa (lughat) dan istilah (terminologis) namun kurang memperhatikan nahwu, shorof, balaghoh, makna majaz, dll","part":1,"page":165},{"id":166,"text":"3. Paham anti tasawuf untuk merusak akhlak kaum muslim karena tasawuf adalah tentang Ihsan atau jalan menuju muslim yang Ihsan atau muslim yang berakhlakul karimah.\r4. Paham Sekulerisme, Pluralisme, Liberalisme (SEPILIS) disusupkan kepada umat muslim yang mengikuti pendidikan di “barat”\rKaum Zionis Yahudi dalam upaya ghazwul fikri mereka mempelajari Al Qur’an dan AS Sunnah namun pemahaman mereka semata-mata adalah pemahaman ilmiah , pemahaman secara harfiah atau pemahaman secara dzahir, apa yang tertulis / tersurat. Mereka tidak akan mendapatkan pemahaman secara tersirat atau pemahaman secara hikmah karena pemahaman secara hikmah hanya dikaruniakan oleh Allah Azza wa Jalla kepada orang-orang yang dikehendakiNya\rAllah Azza wa Jalla berfirman yang artinya “Allah menganugerahkan al hikmah (pemahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya Ulil Albab yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)“. (QS Al Baqarah [2]:269 )\rTentulah kaum Zionis Yahudi bukanlah termasuk orang-orang yang dikehendakiNya bahkan mereka yang dimurkaiNya\rDiriwayatkan dari Sufyan bin Uyainah dengan sanadnya dari Adi bin Hatim. Ibnu Mardawih meriwayatkan dari Abu Dzar, dia berkata, “Saya bertanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam tentang orang-orang yang dimurkai“, beliau bersabda, ‘Kaum Yahudi.’ Saya bertanya tentang orang-orang yang sesat, beliau bersabda, “Kaum Nasrani.“","part":1,"page":166},{"id":167,"text":"Kaum Zionis Yahudi, merupakan orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap manusia yang telah bersyahadat\rFirman Allah ta’ala yang artinya, “orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik” ( QS Al Maaidah [5]: 82 ).\rKaum Zionis Yahudi atau juga dikenal dengan lucifier, freemason atau iluminati adalah mereka yang mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman. Telah dijelaskan tentang adanya kaum Zionis Yahudi dalam firman Allah ta’ala yang artinya “Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa (kitab) yang ada pada mereka, sebahagian dari orang-orang yang diberi kitab (Taurat) melemparkan kitab Allah ke belakang (punggung)nya, seolah-olah mereka tidak mengetahui (bahwa itu adalah kitab Allah) dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir).” (QS Al Baqarah [2]: 101-102 )\rJadi pada hakikatnya kaum Zionis Yahudi adalah pengikut syaitan yang berupaya menjerumuskan manusia kedalam kekufuran.\rSalah satu cara ghazwul fikri yang dilakukan oleh kaum Zionis Yahudi agar kaum muslim terjerumus kedalam kekufuran adalah mengangkat kembali pemahaman ala pemahaman ulama Ibnu Taimiyyah.","part":1,"page":167},{"id":168,"text":"Ulama Ibnu Taimiyyah adalah ulama yang dikenal memahami Al Qur’an dan As Sunnah lebih bersandarkan kepada belajar sendiri (secara otodidak) melalui cara muthola’ah (menelaah kitab) dan memahaminya dengan akal pikiran sendiri.\rPara ulama telah menyampaikan bahwa jika memahami Al Qur’an dan As Sunnah dengan belajar sendiri (secara otodidak) melalui cara muthola’ah (menelaah kitab) dan memahaminya dengan akal pikiran sendiri, kemungkinan besar akan berakibat negative seperti,\r1. Ibadah fasidah (ibadah yang rusak) , ibadah yang kehilangan ruhnya atau aspek bathin\r2. Tasybihillah Bikholqihi , penyerupaan Allah dengan makhluq Nya\rIbadah fasidah (ibadah yang rusak) ditimbulkan dari kesalahpahaman misalkan kesalapahaman tentang bid’ah yang dapat menjerumuskan kedalam kekufuran sebagaimana yang diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/06/2011/11/03/ahli-bidah-sebenarnya/ atau kesalahpahaman berakibat pengingkaran hadits Rasulullah sebagaimana contoh yang diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/11/22/tidak-cukup/\rTasybihillah Bikholqihi , penyerupaan Allah dengan makhluq Nya berakibat terjerumus kedalam kekufuran.\rImam besar ahli hadis dan tafsir, Jalaluddin As-Suyuthi dalam “Tanbiat Al-Ghabiy Bi Tabriat Ibn ‘Arabi” mengatakan “Ia (ayat-ayat mutasyabihat) memiliki makna-makna khusus yang berbeda dengan makna yang dipahami oleh orang biasa. Barangsiapa memahami kata wajh Allah, yad , ain dan istiwa sebagaimana makna yang selama ini diketahui (wajah Allah, tangan, mata, bertempat), ia kafir secara pasti.”","part":1,"page":168},{"id":169,"text":"Imam Ahmad ar-Rifa’i (W. 578 H/1182 M) dalam kitabnya al-Burhan al-Muayyad, “Sunu ‘Aqaidakum Minat Tamassuki Bi Dzahiri Ma Tasyabaha Minal Kitabi Was Sunnati Lianna Dzalika Min Ushulil Kufri”, “Jagalah aqidahmu dari berpegang dengan dzahir ayat dan hadis mutasyabihat, karena hal itu salah satu pangkal kekufuran”.\rBegitupula peringatan yang disampaikan oleh khataman Khulafaur Rasyidin, Imam Sayyidina Ali ra dalam riwayat berikut,\rSayyidina Ali Ibn Abi Thalib ra berkata : “Sebagian golongan dari umat Islam ini ketika kiamat telah dekat akan kembali menjadi orang-orang kafir.“\rSeseorang bertanya kepadanya : “Wahai Amirul Mukminin apakah sebab kekufuran mereka? Adakah karena membuat ajaran baru atau karena pengingkaran?”\rSayyidina Ali Ibn Abi Thalib ra menjawab : “Mereka menjadi kafir karena pengingkaran. Mereka mengingkari Pencipta mereka (Allah Subhanahu wa ta’ala) dan mensifati-Nya dengan sifat-sifat benda dan anggota-anggota badan.” (Imam Ibn Al-Mu’allim Al-Qurasyi (w. 725 H) dalam Kitab Najm Al-Muhtadi Wa Rajm Al-Mu’tadi).\rTragedi yang terjadi pada Universitas Darul Hadits Dammaj Yaman yang merupakan “peperangan” di antara dua buah sekte korban ghazwul fikri dari kaum Zionis Yahudi pada hakikatnya merupakan keberhasilan kaum Zionis Yahudi menjerumuskan manusia kedalam kekufuran karena membunuh manusia yang telah bersyahadat adalah perbuatan kufur.\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “mencela seorang muslim adalah kefasikan, dan membunuhnya adalah kekufuran”. (HR Muslim).","part":1,"page":169},{"id":170,"text":"Rasulullah lalu bertanya: 'Kenapa kamu membunuh orang yang telah mengucapkan Laa Ilaaha Illaahu? ' Aku menjawab, \"Wahai Rasulullah! Sesungguhnya lelaki itu mengucap demikian karena takutkan ayunan pedang.\" Rasulullah bertanya lagi: \"Sudahkah kamu membelah dadanya sehingga kamu tahu dia benar-benar mengucapkan Kalimah Syahadat atau tidak?\" Rasulullah terus mengulangi pertanyaan itu kepadaku hingga menyebabkan aku berandai-andai bahwa aku baru masuk Islam saat itu.\" (HR Muslim)\rPeperangan yang timbul diantara sekte Salafi dengan sekte Syiah pasti diawali dengan “interaksi” pada kedua belah pihak, sehingga sekte Syiah berkesimpulan bahwa lembaga Darul Hadits adalah lembaga garis keras yang melakukan penghasutan sektarian. Informasi terkait http://isnad.net/baru-pengumuman-perang-oleh-syiah-untuk-ahlussunah-di-dammajyaman\rhttp://isnad.net/makar-hutsi-syiah-rafidhah-memblokade-ahlussunnah-dammaj-yaman\rTelah kami sampaikan bahwa berdakwah tidak dapat dilakukan dengan “kekerasan” seperti dengan jarh wa ta’dil. Jarh wa ta’dil hanya dipergunakan dalam periwayatan hadits semata sedangkan pada zaman ini sebaiknya berdakwah bil hikmah. Hal ini telah kami uraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/04/24/jarh-wa-tadil/\rBerikut contoh bagaimana ulama keturunan cucu Rasulullah (para Habib) menasehati para pengaku pengikut Imam Sayyidina Ali ra alias sekte Syiah.\r*****awal kutipan*****\rAssalamualaikum warohmatullohi Wabarokatuh, Waba’du.","part":1,"page":170},{"id":171,"text":"Dalam rangka melaksanakan kewajiban sebagai orang tua dan kerahmatan serta kasih sayang dan nasehat, maka kami tekankan kepada kalian untuk berpegang teguh kepada petunjuk dan thorigoh para Aslaf kalian Ash Sholihun, dari sesepuh sesepuh kita dan ayah ayah kita serta ayah ayah mereka dan sesepuh sesepuh mereka. Generasi kegenerasi sampai kegenerasi para leluhur kita, seperti Al Imam Alhaddad dan yang setingkat dengannya, sampai ke Al Imam Umar bin Abdurrahman Al Attos dan yang setingkat dengannya, sampai ke Asy’syeh Abubakar bin Salim, kemudian Al Imam Syihabuddin, kemudian Al Imam Al Aidrus dan Syeh Ali bin Abibakar, kemudian Al Imam Asseggaf dan orang orang yang setingkat mereka dan yang diatas mereka, sampai keguru besar Al Fagih Almugoddam Muhammad bin Ali Ba’alawi Syaikhutthorigoh dan orang orang yang setingkat dengannya, sampai ke Imam Al Muhajir Ilalloh Ahmad bin Isa dan orang orang yang setingkat dengannya, sampai ke Sadatina Ash Shodig dan Albagir dan Zainal Abidin, sampai ke kedua cucu yang terhormat Al Hasan dan Al Husin dan ayah mereka Al Karror (Imam Ali ) serta ibu mereka Az Zahro, sampai ke Rosululloh Shollallohu Alaihi Wa Alihi Wa Shohbihi Wa Sallam.","part":1,"page":171},{"id":172,"text":"Jalan mereka semuanya adalah keimanan dan ketaqwa’an, yang berdiri diatas Ilmu, Amal, Ikhlas, Alkhouf serta Warok. Dan sifat mereka adalah sayang hamba hamba Alloh serta sangka baik kepada mereka. Dan mempersatukan kekuatan Muslimin dan merukunkan antara hati mereka dan membersihkan diri dari caci dan maki dan sangka buruk, serta mencari kedudukan dan untuk mendapatkan keuntungan duniawi. Kemudian memfokuskan hati untuk cinta kepada Alloh dan Rosulnya serta para Nabinya, Malaikat, Sahabat, Tabi’in, Ahlul Bait dan Sholihin hususnya, serta semua orang yang mengucap La Ilaha Illalloh, dari zaman Adam sampai yaumul hisab pada umumnya.\rDan Sunnah yang baik menyumber dan keluar dari rumah mereka, mereka adalah orang orang yang berpegang teguh dengannya dan mereka itulah Imam Imam Ahlussunnah Wal Jamaah. Kemudian kami wasiatkan kepada kalian untuk mempelajari sejarah mereka dan ahlaq mereka serta managib dan sifat sifat mulia mereka, kemudian meniru dan mengikuti mereka. Maka pelajari dan kaji dengan baik apa yang ada di buku buku: Syarhul Ainiyyah, Ghuror Albaha’ Adh Dhowi, Albargoh Almasyigoh, Al Igdunnabawi Wafaidhul Asror dan serupa dengannya dari kitab kitab yang menghadapkan kalian kepada kenyataan dari jalan orang orang yang terhormat serta pengetahuan dan petunjuk mereka.","part":1,"page":172},{"id":173,"text":"Ketahuilah bahwa orang orang Islam sedang mengalami ujian Kristenisasi dan ajakan ajakan kepada aneka macam keburukan dan kemungkaran, serta meremehkan dan mengolok olok agama, dan fitnah adu domba dan perpecahan serta menyulut kebencian dan permusuhan dan kekacauan dan pengkeruhan pada benak dan hati. Dan dampaknya telah sampai kepada anak anak kita Al Abi Alawi. Maka berhati hatilah setiap orang dari kalian menjadi penyebab penguatan dan penyebaran fitnah dan ujian tersebut, baik secara sadar maupun tidak sadar.\rKetahuilah bahwa apabila seseorang dari kami atau dari kalian mendapat kemuliaan dan kehormatan untuk bergabung pada kelompok atau golongan, maka kemuliaan dan kehormatan yang kami pilih adalah bergabung kepada Sanad yang bersambung kepada Rosululloh. Dan golongan inilah yang membawa bendera Da’wah Islamiyah dan kejujuran serta kesabaran dan tawadhuk dan ihlash. Bukan bergabung kepada salah satu pergerakan dan fron fron dan kelompok kelompok lain yang saat ini tersebar didunia yang bercampur dengan politik yang kotor dan kepentingan kepentingan yang jelek.\rTidakkah kita dengan sungguh sungguh menghendaki untuk dikumpulkan di Mahsyar dalam salah satu kelompok pada hari kiamat, kecuali bersama mereka.\rفهم القوم الذين هدوا، وبفضل الله قد سعدوا ولغير الله ماقصدوا، ومع القران فى قرن\rMereka adalah kaum yang mendapat hidayat, dan dengan karunia Alloh mereka bahagia.\rMereka tidak menuju keselain Alloh, dan mereka selalu bersama Al Qur’an.\rرب فانفعنا ببركتهم، واهدنا الحسن بحرمتهم وأمتنا فى طريقتهم، ومعافاة من الفتن","part":1,"page":173},{"id":174,"text":"Tuhanku berilah manfaat kepada kami dengan barokah mereka, dan tunjukkan kepada kami kebajikan dengan berkat kehormatan mereka.\rDan matikanlah kami dalam jalan mereka, serta selamatkanlah kami dari fitnah.\rوصلى الله وسلم على سيدنا محمد وعلى اله وصحبه والتابعين.\rDitulis pada hari Rabu tanggal 17 Robiul Akhir 1429 Hijriyah, bertepatan 23 April 2008 M\r***** akhir kutipan *****\rSifat “kekerasan” yang timbul dari lembaga Darul Hadits Dammaj Yaman dikarenakan mereka hanya mempelajari dan mendalami perkara Syariat semata sebagaimana pemahaman ulama Ibnu Taimiyyah, ulama Muhammad bin Abdul Wahhab, ulama Ibnu Utsaimin, ulama Sholih Fauzan dll seperti yang tercantum pada http://isnad.net/apa-yang-diajarkan-di-darul-hadits-dammaj\rMereka tidak mendalami dan menjalankan tasawuf dalam Islam yakni thariqat (jalan) untuk mencapai muslim yang Ihsan.\rPadahal para pemimpin ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak) alias Imam Mazhab yang empat telah memperingatkan kita bahwa janganlah hanya mendalami perkara syariat semata.\rImam Malik ra menyampaikan nasehat (yang artinya) “Dia yang sedang tasawuf tanpa mempelajari fikih (perkara syariat) rusak keimanannya , sementara dia yang belajar fikih tanpa mengamalkan Tasawuf rusaklah dia ., hanya dia siapa memadukan keduanya terjamin benar” .","part":1,"page":174},{"id":175,"text":"Imam Syafi’i ra menyampaikan nasehat (yang artinya) ,”Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya. Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mahu menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelazatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mahu mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik (ihsan)?”\r[Diwan Al-Imam Asy-Syafi'i, hal. 47]\rOutput keluaran dari Darul Hadits Dammaj Yaman boleh jadi menciptakan manusia yang keras sebagaimana contohnya yang terlukis dalam\rhttp://isnad.net/media/Muhammad_Sewed_di_Gugat.pdf\rhttp://isnad.net/?dl_name=kumal-kumal-dzul-akmal.pdf\rhttp://isnad.net/dialog-luqman-hizbi-firanda-sururi\rhttp://isnad.net/?dl_name=dzulqornain_yayasan.rar\rhttp://isnad.net/media/dzul-akmal-undercover.pdf\r“Kekerasan” timbul karena mereka hanya mendalami perkara syariat dan tidak dibekali tentang tasawuf dalam Islam, thariqat (jalan) untuk mencapai muslim yang Ihsan atau mencapai muslim yang berakhlakul karimah.\rNasehat Imam Sayyidina Ali ra kepada puteranya yang berisikan “rencana” pendidikan agama dan tidak memulainya dengan perkara syariat namun dengan mengedapankan pendidikan ke-ihsan-an atau akhlakul karimah. Selengkapnya dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/15/2010/11/04/nasehat-sayyidina-ali-ra/\rBerikut kutipannya\r***** awal kutipan *****","part":1,"page":175},{"id":176,"text":"Sejak awal aku bermaksud menolong mengembangkan akhlak yang mulia dan mempersiapkanmu menjalani kehidupan ini. Aku ingin mendidikmu menjadi seorang pemuda dengan akhlak karimah, berjiwa terbuka dan jujur serta memiliki pengetahuan yang jernih dan tepat tentang segala sesuatu di sekelilingmu.\rPada mulanya aku hanya ingin mengajarimu Kitab Suci, secara mendalam, mengerti seluk-beluk (tafsir dan takwil)nya, membekalimu dengan pengetahuan yang lengkap tentang perintah dan larangan-Nya (hukum-hukum dan syariat-Nya) serta halal dan haramnya. Kemudian aku khawatir engkau dibingungkan oleh hal-hal yang diperselisihkan di antara manusia, akibat perbedaaan pandangan di antara mereka dan diperburuk oleh cara berpikir yang kacau, cara hidup yang penuh dosa, egoisme dan kecenderungan hawa nafsu mereka, sebagaimana membingungkan mereka yang berselisih itu sendiri.\rOleh karena itu, kutuliskan, dalam nasihatku ini,prinsip-prinsip dasar dari keutamaan, kemuliaan, kesalehan, kebenaran dan keadilan. Mungkin berat terasa olehmu, tetapi lebih baik membekali engkau dengan pengetahuan ini daripada membiarkanmu tanpa pertahanan berhadapan dengan dunia yang penuh dengan bahaya kehancuran dan kebinasaan. Karena engkau adalah pemuda yang saleh dan bertaqwa, aku yakin engkau akan mendapatkan bimbingan dan pertolongan ilahi (taufik dan hidayah-Nya) dalam mencapai tujuanmu. Aku ingin engkau berjanji pada dirimu untuk bersungguh-sungguh mengikuti nasihatku ini.\r***** akhir kutipan *****","part":1,"page":176},{"id":177,"text":"Sekali lagi kami sampaikan bahwa berdakwah tidak dengan “kekerasan”. Bayangkan berdakwah agar manusia beragama Islam saja tidak dibolehkan dengan paksaan.\rFirman Allah ta’ala yang artinya, “Tidak ada paksaan untuk beragama (Islam) ” (QS Al Baqarah [2]:256)\rApalagi kita berdakwah kepada manusia yang telah bersyahadat, seharusnyalah ketika kita berdakwah kepada mereka dengan membayangkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kelak nanti akan memanggil mereka dengan penuh cintanya , “ummati....ummati....ummati”. Malulah kita kepada Rasulullah, tauladan kita semua.\rOleh karenanyalah kita sebaiknya berdakwah bil hikmah dengan memahami hakikat perintah dan laranganNya kemudian menyampaikan dengan cara yang arif bijaksana sehingga objek dakwah dapat memahami, menerima dan mengikuti atas kesadarannya sendiri. Sehingga mereka beribadah bukan karena kita (kita perintah) atau bukan karena terpaksa (kita paksa) namun karena Allah ta’ala semata.\rWassalam\rZon di Jonggol, Kab Bogor 16830\r0827. Gigitlah As-Sunnah Berdasar Pemahaman Imam Mujtahid\rGigitlah As Sunnah dan sunnah Khulafaur Rasyidin berdasarkan pemahaman pemimpin ijtihad (Imam Mujtahid) / Imam Mazhab dan penjelasandari para pengikut Imam Mazhab sambil merujuk darimana mereka mengambil yaitu Al Quran dan as Sunnah. Janganlah memahaminya dengan akal pikiran sendiri atau mengikut pemahaman ulama yang tidak dikenal berkompetensi sebagai Imam Mujtahid Mutlak.","part":1,"page":177},{"id":178,"text":"Bahkan segelintir umat muslim terkecoh oleh ulama yang tanpa disadari telah berbohong karena mereka mengatakan atau mengaku-aku bahwa apa yang mereka pahami dan sampaikan adalah pemahaman Salafush Sholeh. Tentulah mereka tidak pernah bertemu dengan Salafush Sholeh untuk mengkonfirmasi pemahaman Salafush Sholeh sebenarnya. Kenyataannya adalah pemahaman mereka sendiri terhadap lafaz/tulisan perkataan Salafush Sholeh dimana upaya pemahaman mereka tentulah bisa benar dan bisa pula salah, terlebih lagi mereka tidak dikenal berkompetensi sebagai Imam Mujtahid Mutlak.\rJumhur Ulama sejak dahulu sampai saat ini telah disepakati Imam Maliki, Imam Hanifah, Imam Syafi'i, Imam Hanbali ~semoga mereka dirahmati Allah adalah sebagai Imam Mazhab, pemimpin ijtihad kaum muslim.\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa menguraikan Al Qur’an dengan akal pikirannya sendiri dan merasa benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan”. (HR. Ahmad)\rDari Ibnu Abbas ra Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda…”Barangsiapa yang berkata mengenai Al-Qur’an tanpa ilmu maka ia menyediakan tempatnya sendiri di dalam neraka” (HR.Tirmidzi)\rImam Syafi’i ~rahimahullah mengatakan “tiada ilmu tanpa sanad”.\rAl-Hafidh Imam Attsauri ~rahimullah mengatakan “Penuntut ilmu tanpa sanad adalah bagaikan orang yang ingin naik ke atap rumah tanpa tangga”\rBahkan Al-Imam Abu Yazid Al-Bustamiy , quddisa sirruh (Makna tafsir QS.Al-Kahfi 60) ; “Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya syetan” Tafsir Ruhul-Bayan Juz 5 hal. 203","part":1,"page":178},{"id":179,"text":"Contoh rantai sanad ilmu Imam Asy Syafi’i\r1. Baginda Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam\r2. Baginda Abdullah bin Umar bin Al-Khottob ra\r3. Al-Imam Nafi’,Tabi’ Abdullah bin Umar ra\r4. Al-Imam Malik bin Anas ra\r5. Al-Imam Syafei’ Muhammad bin Idris ra\rRasulullah hanya menyampaikan apa yang diwahyukanNya.\rBaginda Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam menyampaikan kepada Baginda Abdullah bin Umar bin Al-Khottob ra, kemudian berlanjut disampaikan kepada Al-Imam Nafi’,Tabi’ Abdullah bin Umar ra, kemudian berlanjut disampaikan Al-Imam Malik bin Anas ra, kemudian berlanjut disampaikan kepada Al-Imam Syafei’ Muhammad bin Idris ra, kemudian berlanjut disampaikan kepada para murid dan pengikut Imam Mazhab.\rBagi ulama yang tidak bermazhab maka pada hakikatnya telah memutus rantai sanad ilmu atau sanad guru.\rBermazhab memang bukan kewajiban (jika ditinggalkan berdosa) namun kebutuhan bagi umat muslim yang masa kehidupannya telah terpaut jauh dengan masa kehidupan Salafush Sholeh. Begitupula tidak seluruh hadits telah dibukukan, sebagian dalam bentuk hafalan. Para Imam Mazhab mengetahui hadits lebih banyak daripada yang telah dibukukan. Boleh dikatakan pada masa kini semakin sangat sulit untuk menjadi Imam Mujtahid Mutlak. Syarat-syarat sebagai Imam Mujtahid Mutlak telah diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/27/2010/03/31/imam-mujtahid/ Para ahli hadits terdahulu, walaupun mereka berkompetensi memvalidasi sanad hadits dan dapat menganalisa matan/redaksi hadits, mereka tetap bermazhab.","part":1,"page":179},{"id":180,"text":"Semakin jelas apa yang telah ditulis oleh ulama besar Syria, pakar syariat (fiqih), DR. Said Ramadhan Al-Buthy dalam bukunya yang berjudul Al-Laa Mazhabiyah, Akhtharu Bid’atin Tuhaddidu As-Syariah Al-Islamiyah. Kalau kita terjemahkan secara bebas, kira-kira makna judul itu adalah : Paham Anti Mazhab, Bid’ah Paling Gawat Yang Menghancurkan Syariat Islam.\rDitengarai kaum Zionis Yahudi melancarkan perang pemahaman (ghazwul fikri) melalui pusat-pusat kajian Islam yang mereka dirikan. Disebarluaskanlah paham anti mazhab, umat muslim diarahkan untuk tidak lagi mentaati pimpinan ijtihad atau imam mujtahid alias Imam Mazhab. Umat muslim diarahkan untuk bersandar pada pemahaman secara ilmiah. Umat muslim diarahkan untuk memahami Al Qur’an dan As Sunnah dengan akal pikiran masing-masing dengan metodologi “terjemahkan saja” hanya memandang dari sudut bahasa (lughat) dan istilah (terminologis) namun kurang memperhatikan nahwu, shorof, balaghoh, makna majaz, dll.\rProtokol Zionis yang ketujuhbelas\r“…Kita telah lama menjaga dengan hati-hati upaya mendiskreditkan para rohaniawan non-Yahudi (contohnya para Imam Mazhab yang empat) dalam rangka menghancurkan misi mereka, yang pada saat ini dapat secara serius menghalangi misi kita. Pengaruh mereka atas masyarakatmereka berkurang dari hari ke hari. Kebebasan hati nurani yang bebas dari paham agama telah dikumandangkan diman-mana. Tinggal masalah waktu maka agama-agama itu akan bertumbangan..“","part":1,"page":180},{"id":181,"text":"Salah satunya adalah perwira Yahudi Inggris bernama Edward Terrence Lawrence yang dikenal oleh ulama jazirah Arab sebagai Laurens Of Arabian. Laurens menyelidiki dimana letak kekuatan umat Islam dan berkesimpulan bahwa kekuatan umat Islam terletak kepada ketaatan dengan mazhab (bermazhab) dan istiqomah mengikuti tharikat-tharikat tasawuf. Laurens mengupah ulama-ulama yang anti tharikat dan anti mazhab untuk menulis sebuah buku yang menyerang tharikat dan mazhab. Buku tersebut diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan dibiayai oleh pihak orientalis.\rPerkataan Imam Mazhab yang sering disalahgunakan adalah seperti perkataan Imam Ahmad Bin Hanbal\rلاَ تَقَلَّدْنِي وَلاَ تَقَلَّدْ مَالِكًا وَلاَ الشَّافِعِي وَلاَ اْلأَوْزَاعِي وَلاَ الثَّوْرِي وَخُذْ مِنْ حَيْثُ أَخَذُوا .[ابن القيم في إعلام الموقعين]\rArtinya: “Janganlah engkau taqlid kepadaku, demikian juga kepada Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Auza’i dan Imam ats-Tsauri. Namun periksalah darimana mereka (para Imam itu) mengambil (yaitu al-Quran dan as-Sunnah)”.\rKekeliruan besar kalau perkataan Imam Ahmad Bin Hanbal diartikan bahwa umat Islam diperintahkan untuk merujuk Al Qur’an dan As Sunnah dengan akal pikiran masing-masing. Perkataan Beliau hanya menasehatkan agar kita mengikuti para Imam Mazhab sambil merujuknyadarimana mereka mengambil yaitu Al Quran dan as Sunnah.","part":1,"page":181},{"id":182,"text":"Untuk apa para Imam Mazhab bersusah payah memuliskan kitab fiqih kalau mereka menyuruh umat Islam untuk melakukan ijtihad atau bahkan istinbat (menetapkan hukum perkara) masing-masing. Imam Mazhab artinya Imam Mujtahid atau pemimpin ijtihad yang seharusnya kita ikuti karena mereka memang berkompetensi sebagai imam mujtahid mutlak.\rDengan perang pemahaman, umat muslm \"diingatkan\" bahwa Imam Mazhab tidak maksum. Memang mereka tidak maksum tetapi mereka itu mahfuzh (dipelihara) dengan pemeliharaan Allah subhanahu wa ta'ala terhadap orang-orang sholeh. Mereka disegerakan teguranNya jika mereka membuat kesalahan dan merekapun segera bertaubat atas kesalahannya. Sungguh sebuah petunjuk ketidak-dekatan denganNya jika berbuat kesalahan namun tidak disegerakan teguran dariNya. Sebuah malapetaka besar jika seseorang mengetahui kesalahannya ketika di akhirat kelak.","part":1,"page":182},{"id":183,"text":"Contoh Imam Sayfi'i ~rahimahullah, ketika beliau berjalan menuju rumah gurunya, beliau tidak sengaja melihat betis seorang wanita yang tersingkap oleh angin, akibatnya beliau lupa beberapa hafalan. Imam Syafi'i menyampaikan akan kesulitan beberapa hafalannya kepada gurunya. Guru beliau, Imam Waki’ ~ rahimahullah menasehatinya untuk mensucikan diri dengan meninggalkan kemaksiatan. Beliau juga berpesan \"Ilmu pengetahuan itu adalah cahaya Allah. Dan cahaya Allah tidak akan menyinari hati orang yang berbuat maksiat.\" Setelah menjalankan pesan gurunya itu tingkat kepahaman dan hafalan Imam Syafi’i terpacu secara luar biasa. Cahaya Allah atau petunjukNya atau hidayah tidak akan sampai kepada orang yang salah dalam pemahaman. Apalagi mereka yang tidak menyadari kesalahpahamannya.\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang bertambah ilmunya tapi tidak bertambah hidayahnya, maka dia tidak bertambah dekat kepada Allah melainkan bertambah jauh“.Pemahaman yang baik dan benar, pastilah akan menghantarkan semakin dekat padaNya. Hal ini telah kami uraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/04/semakin-jauh-darinya/","part":1,"page":183},{"id":184,"text":"Oleh karenanya kami berulang kali mengingatkan baik bagi diri pribadi kami maupun saudara-saudara muslim kami, bahwa indikator sebagai pengikut Rasulullah sejati atau indikator pemahaman yang baik dan benar atau indikator telah berada pada jalan yang lurus adalah menjadi muslim yang Ihsan atau muhsin (muhsinin) atau minimal adalah muslim yang sholeh karena orang-orang disisiNya hanyalah 4 kelompok manusia yakni para Nabi (yang paling utama Rasulullah), para Shiddiqin, para Syuhada dan orang-orang sholeh. Hal ini telah kami uraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/24/indikator-dekat-denganya/\rMuslim yang Ihsan atau muslim yang sholeh hanya ada dua kondisi. Kondisi minimum adalah mereka yang selalu merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla dan kondisi terbaik adalah mereka yang dapat melihat Allah ta'ala dengan hati.\rقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِحْسَانُ قَالَ أَنْ تَخْشَى اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنَّكَ إِنْ لَا تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ\rLalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu takut (takhsya / khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.’ (HR Muslim 11) Link: http://www.indoquran.com/index.php?surano=2&ayatno=3&action=display&option=com_muslim\rImam Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani,\r“Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”\rBeliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”\r“Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali.","part":1,"page":184},{"id":185,"text":"Sayyidina Ali ra menjawab “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati”\rMereka yang telah dapat melihat Allah ta'ala dengan hati adalah mereka yang telah berma'rifat atau mereka yang telah memperjalankan dirinya (suluk) hingga sampai (wushul) kepada Allah ta'ala. Mereka adalah yang menjalankan tasawuf yakni mereka yang setelah menjalankan syariat kemudian meneruskan kepada tharikat, hakikat hingga berma'rifat.\rNasihat Imam Syafi'i ~ rahimahullah,\rفقيها و صوفيا فكن ليس واحدا * فإني و حق الله إياك أنصح\rفذالك قاس لم يذق قلبه تقى * وهذا جهول كيف ذوالجهل يصلح\r\"Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih (perkara syariat) dan juga menjalani tasawuf (thariqat, hakikat dan ma'rifat) , dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya.\rSesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mahu menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelezatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mau mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik (muslim yang ihsan) ? [Diwan Al-Imam Asy-Syafi'i, hal. 47].\rNasehat Imam Malik ~rahimahullah\rو من تصوف و لم يتفقه فقد تزندق\rمن تفقه و لم يتصوف فقد تفسق\rو من جمع بينهما فقد تخقق\r“Dia yang sedang Tasawuf tanpa mempelajari fikih rusak keimanannya , sementara dia yang belajar fikih tanpa mengamalkan Tasawuf rusaklah dia . Hanya dia siapa memadukan keduanya terjamin benar\"","part":1,"page":185},{"id":186,"text":"Jadi benarlah kesimpulan perwira Yahudi Inggris bernama Edward Terrence Lawrence bahwa kekuatan umat muslim adalah pada ketaatan kepada pemimpin Ijtihad (Imam Mazhab) atau bermazhab dan istiqomah pada tharikat-tharikat yang memperjalankan diri kepada Allah ta'ala. Hal ini telah diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/05/perjalankanlah-diri-kita/\rPaham anti mazhab dan gerakan anti tasawuf adalah merupakan ghazwul fikri (perang pemahaman) yang dilancarkan oleh orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap kaum muslim.\rFirman Allah ta’ala yang artinya\r“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.\" (QS Al Maa’idah [5]:82)\rKaum Yahudi pada masa kini adalah kaum Zionis Yahudi atau juga dikenal dengan lucifier, freemason atau iluminati adalah mereka yang mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman. Kaum Zionis Yahudi berupaya keras agar umat muslim dapat mencintai mereka dan menjadikan mereka sebagai pemimpin dunia.\rTelah dijelaskan tentang adanya kaum Zionis Yahudi dalam firman Allah ta’ala yang artinya","part":1,"page":186},{"id":187,"text":"“Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa (kitab) yang ada pada mereka, sebahagian dari orang-orang yang diberi kitab (Taurat) melemparkan kitab Allah ke belakang (punggung)nya, seolah-olah mereka tidak mengetahui (bahwa itu adalah kitab Allah) dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir).” (QS Al Baqarah [2]: 101-102 )\rHimbauan kami timbul karena adanya saudara-saudara muslim kita yang justru meninggalkan pemahaman pemimpin ijtihad (Imam Mujtahid) atau Imam Mazhab yang empat dan mereka mengikuti pemahaman ulama yang tidak berkompetensi sebagai Imam Mujtahid Mutlak.\rContohnya mereka mengikuti pemahaman ulama Al Albani yang salah memahami perkataan para Imam Mazhab seperti\rImam Abu Hanifah ~rahimahullah, “Tidak halal bagi seseorang mengikuti perkataan kami bila ia tidak tahu dari mana kami mengambil sumbernya” (Ibnu 'Abdul Barr dalam kitab Al-Intiqa fi Fadhail Ats-Tsalasah Al-Aimmah)\rImam Malik bin Anas ~rahimahullah, \"Saya hanyalah seorang manusia, terkadang salah, terkadang benar. Oleh kerana itu, telitilah pendapatku. Bila sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah, ambillah; dan bila tidak sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah, tinggalkanlah\" (Ibnu 'Abdul Barr dan dari dia juga Ibnu Hazm dalam kitabnya Ushul Al- Ahkam (VI/149)","part":1,"page":187},{"id":188,"text":"Imam Asy Syafi’i ~rahimahullah, “Setiap orang harus bermazhab kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, dan mengikutinya. Apa pun pendapat yang aku katakan atau sesuatu yang aku katakan itu berasal dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tetapi ternyata berlawanandengan pendapatku, apa yang disabdakan oleh Rasulullah itulah yang menjadi pendapatku\" (Hadits Riwayat Hakim dengan sanad bersambung kepada Imam Syafi’i seperti tersebut dalam kitab Tarikh Damsyiq, karya Ibnu 'Asakir XV/1/3)\rImam Ahmab bin Hanbal ~rahimahullah, “Janganlah engkau taqlid kepadaku atau kepada Malik, Sayfi'i, Auza'i dan Tsauri, tetapi ambillah dari sumber mereka mengambil.” (Ibnu Jauzi dalam Al-Manaqib hal. 192)\rPerkataan para Imam Mazhab yang empat tersebut adalah sebagai bentuk sikap tawadhu (rendah hati) mereka. Mereka mengingatkan kita untuk meninggalkan pendapat/pemahaman mereka khusus yang menyelisihi sunnah Rasulullah. Itupun kalau memang ada.\rPerkataan para Imam Mazhab yang empat tersebut bukanlah perintah untuk meninggalkan keseluruhan pendapat/pemahaman mereka. Berdasarkan perkaatan para Imam Mazhab yang empat tersebut maka kita mengikuti pendapat/pemahaman para Imam Mazhab sambil merujuk darimana mereka mengambil yaitu Al Quran dan as Sunnah.","part":1,"page":188},{"id":189,"text":"Kesalahpahaman-kesalahpahaman yang telah terjadi selama ini ditimbulkan karena mereka yang menisbatkan kepada Salafush Sholeh namun merujuk kepada Al Qur’an dan As Sunnah dengan akal pikiran mereka sendiri, padahal mereka tidak dikenal berkompetensi sebagai Imam Mujtahid Mutlak. Kemudian pendapat mereka dibandingkan dengan pendapat / pemahaman para Imam Mazhab, jelaslah sangat terbalik !\rKesalahpahaman ulama Al Albani dalam memahami perkataan para Imam Mazhab di atas termuat dalam kitab beliau berjudul “Shifatu Shalaati An-Nabiyyi Shallallahu 'alaihi wa sallama min At-Takbiiri ilaa At-Tasliimi Ka-annaka Taraahaa” , edisi Indonesia berjudul “Sifat Shalat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam”, penerbit Media Hidayah.\rUlama Al Albani dalam kitab tersebut menyampaikan tentang shalat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berdasarkan upaya pemahaman beliau terhadap lafaz atau tulisan Salafush Sholeh, dimana upaya pemahaman beliau bisa benar dan bisa pula salah, terlebih lagi beliau tidak dikenal berkompetensi sebagai Imam Mujtahid Mutlak.","part":1,"page":189},{"id":190,"text":"Pada hakikatnya pendapat beliau tentang shalat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah sebuah kesalahpahaman, jika pendapat beliau menyelisihi pendapat para Imam Mazhab yang empat karena Imam Mazhab yang empat berkompetensi sebagai Imam Mujtahid Mutlak dan para Imam Mazhab yang empat melihat langsung bagaimana cara sholat para Salafush Sholeh, minimal Tabi’ut Tabi’in, mereka tidak “melihat” melalui upaya pemahaman lafaz/tulisan sebagaimana yang dilakukan oleh ulama Al Albani dimana ada kemungkinan terjadinya kesalahpahaman dan bercampurnya dengan akal pikiran beliau sendiri.\rPendapat Habib Munzir Al Musawa terhadap Al Albani, \"saya sebenarnya tak suka bicara mengenai ini, namun saya memilih mengungkapnya ketimbang hancurnya ummat\" Selengkapnya pada http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=34&func=view&id=22475&catid=9\rPendapat ulama-ulama lainnya tentang Al Albani dapat dibaca pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/09/07/pendapat-ulama/\rCara mengetahui tentang shalat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dapat pula kita mengetahui dari para Habib atau para Sayyid karena mereka mendapatkan didikan langsung dari orang tua-orang tua mereka terdahulu dan tersambung kepada didikan Imam Sayyidina Ali ra yang telah mendapatkan didikan langsung dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.\rKita harus mengikuti sunnah Rasululllah untuk mengikuti pendapat jumhur ulama","part":1,"page":190},{"id":191,"text":"Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda yang artinya, “Sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat pada kesesatan. Oleh karena itu, apabila kalian melihat terjadi perselisihan (perbedaan pemahaman / berlainan pendapat) maka ikutilah as-sawad al a’zham (pendapat jumhur ulama).” (HR. Ibnu Majah, Abdullah bin Hamid, at Tabrani, al Lalika’i, Abu Nu’aim. Menurut Al Hafidz As Suyuthi dalam Jamius Shoghir, ini adalah hadits Shohih)\rJumhur ulama telah sepakat bahwa Imam Mazhab berkompetensi sebagai pemimpin ijtihad (imam mujtahid mutlak) untuk itulah umat muslim mengikuti Imam Mazhab dan penjelasan yang disampaikan oleh para pengikut Imam Mazhab sambil merujuk darimana mereka mengambil yaitu Al Quran dan as Sunnah.\rUmat muslim pada umumnya mengikuti dan taat kepada pemahaman Imam Mazhab sesuai dengan firman Allah ta'ala yang artinya : “Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya“. (QS An Nisaa [4]:59 )\rDalam ayat tersebut, Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan orang-orang yang beriman untuk mentaati Allah , Rasul-Nya dan ulil amri. Hanya saja ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya adalah ketaatan mutlak, sedangkan ketaaatan kepada ulil amri tergantung kepada ketaatan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya.","part":1,"page":191},{"id":192,"text":"Adapun maksud dari ulil amri dalam ayat tersebut menurut Ibnu Abbas ra, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Thobari dalam tafsirnya adalah para pakar fiqh dan para ulama yang komitmen dengan ajaran Islam. Sebagian ulama lain berpendapat ulil amri adalah umara (penguasa/pemimpin negeri) dan ulama namun ketaatan kepada ulama lebih diutamakan daripada ketaatan kepada umara (penguasa/pemimpin negeri) karena pada masa kini dan pada umumnya ulama memahami agama lebih baik dibandingkan umaro.\rJumhur ulama telah sepakat bahwa setelah periode Salafush Shaleh maka ulama yang memahami agama dengan baik dan benar adalah para Imam Mazhab yang empat. Memang ada Imam Mazhab selain mereka yang empat namun pendapat-pendapat selain Imam Mazhab yang empat tidak dikuti lagi oleh kebanyakan kaum muslim.\rContoh kesalahpahaman-kesalahpahaman mereka yang menyelisihi pendapat / pemahaman para Imam Mazhab yang empat telah diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/26/bukti-korban/ atau pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/24/korban-perang-pemahaman/\rWassalam\rZon di Jonggol, Kab Bogor 16830\r0828. Halal menjadi haram atau sebaliknya\rHal yang harus kita ingat selalu janganlah sembarangan mencela atau menghujat saudara muslim lainnya dengan sebutan ahlul bid’ah.\rSeseorang telah berdusta jika mengaku-aku ittiba' li Rasulihi namun tidak berakhlak baik seperti mencela, memperolok-olok, merendahkan, menghujat saudara muslim lainnya.","part":1,"page":192},{"id":193,"text":"Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “mencela seorang muslim adalah kefasikan, dan membunuhnya adalah kekufuran”. (HR Muslim).\rBid’ah dholalah adalah perbuatan syirik karena penyembahan kepada selain Allah.\rBid’ah dholalah adalah perbuatan yang tidak ada ampunannya.\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :\rإِنَّ اللهَ حَجَبَ اَلتَّوْبَةَ عَنْ صَاحِبِ كُلِّ بِدْعَةٍ\r“Sesungguhnya Allah menutup taubat dari semua ahli bid’ah”. [Ash-Shahihah No. 1620]\rBid’ah dholalah adalah perkara baru atau mengada-ada yang bukan kewajiban menjadi kewajiban (ditinggalkan berdosa) atau sebaliknya, tidak diharamkan (halal) menjadi haram (dikerjakan berdosa) atau sebaliknya dan tidak dilarang menjadi dilarang (dikerjakan berdosa) atau sebaliknya.\rRasulullah mencontohkan kita untuk menghindari perkara baru dalam kewajiban (jika ditinggalkan berdosa)\rRasulullah bersabda, “Aku khawatir bila shalat malam (tarawih) itu ditetapkan sebagai kewajiban atas kalian.” (HR Bukhari 687). Sumber:http://www.indoquran.com/index.php?surano=10&ayatno=120&action=display&option=com_bukhari\rBegitu juga kita dapat ambil pelajaran dari apa yang terjadi dengan kaum Nasrani","part":1,"page":193},{"id":194,"text":"‘Adi bin Hatim pada suatu ketika pernah datang ke tempat Rasulullah –pada waktu itu dia lebih dekat pada Nasrani sebelum ia masuk Islam– setelah dia mendengar ayat yang artinya, “Mereka menjadikan orang–orang alimnya, dan rahib–rahib mereka sebagai tuhan–tuhan selain Allah, dan mereka (juga mempertuhankan) al Masih putera Maryam. Padahal, mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.“ (QS at Taubah [9] : 31) , kemudian ia berkata: “Ya Rasulullah Sesungguhnya mereka itu tidak menyembah para pastor dan pendeta itu“. Maka jawab Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Betul! Tetapi mereka (para pastor dan pendeta) itu telah menetapkan haram terhadap sesuatu yang halal, dan menghalalkan sesuatu yang haram, kemudian mereka mengikutinya. Yang demikian itulah penyembahannya kepada mereka.” (Riwayat Tarmizi)\rFirman Allah ta’ala yang artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu dan janganlah kamu melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas.” (Qs. al-Mâ’idah [5]: 87).","part":1,"page":194},{"id":195,"text":"Ulama yang dalam perbincangannya, dikusi, ceramah, atau khutbahnya sering mengangkat masalah bid'ah pada hakikatnya termasuk ulama korban perang pemahaman sebagaimana yang kami uraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/24/korban-perang-pemahaman/ atau pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/26/bukti-korban/ Mereka salahpaham tentang bid'ah karena mereka tidak lagi mau mentaati pemimpin (imam) ijtihad atau imam mujtahid alias Imam Mazhab. Mereka terperosok kedalam paham anti mazhab.\rWasiat Rasulullah bahwa 'Peganglah kuat-kuat sunnah itu dengan gigi geraham dan jauhilah ajaran-ajaran yang baru (dalam agama) karena kebanyakan bid’ah adalah sesat.” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi) pada hakikatnya tidaklah perlu kita khawatirkan lagi karena para Imam Mazhab telah mengumpulkan dan menguraikan dalam kitab fiqih mereka, apa yang telah diwajibkanNya (ditinggalkan berdosa) maupun apa yang telah dilarangNya (dikerjakan berdosa). Para Imam Mazhab telah menetapkan hukum perkara dalam lima kategori yakni wajib, haram, sunnah (mandub), makruh, mubah. Kita tinggal menjalankan kewajibanNya dan menjauhi laranganNya.","part":1,"page":195},{"id":196,"text":"Mereka yang tidak mentaati pemimpin (imam) mujtahid atau Imam Mazhab boleh jadi terperosok kedalam penyembahan kepada selain Allah karena mereka mengada-ada sesuatu yang tidak dilarang menjadi dilarang (dikerjakan berdosa) atau sebaliknya, sesuatu yang tidak diharamkan menjadi diharamkan (dikerjakan berdosa) atau sebaliknya, sesuatu yang tidak wajib menjadi wajib (ditinggalkan berdosa) atau sebaliknya. Hal ini telah diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/16/terjerumus-kesyirikan/\rSeluruh perkara kewajiban (ditinggalkan berdosa), perkara larangan (dikerjakan berdosa) dan pengharaman (dikerjakan berdosa) telah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla dan Dia tidak lupa.\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban (ditinggalkan berdosa), maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa batas/larangan (dikerjakan berdosa), maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu (dikerjakan berdosa), maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia.” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi).\rRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Tidak tertinggal sedikitpun yang mendekatkan kamu dari surga dan menjauhkanmu dari neraka melainkan telah dijelaskan bagimu ” (HR Ath Thabraani dalam Al Mu’jamul Kabiir no. 1647)\r“mendekatkan dari surga” = kewajiban (ditinggalkan berdosa)","part":1,"page":196},{"id":197,"text":"“menjauhkan dari neraka” = larangan , pengharaman (dikerjakan berdosa)\rJika ulama berfatwa dalam perkara kewajiban (ditinggalkan berdosa), perkara larangan (dikerjakan berdosa) dan perkara pengharaman (dikerjakan berdosa) wajib berlandaskan dengan apa yang telah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla\rContoh sederhana bagaimana mereka mengharamkan penghormatan bendera.\rFatwa kerajaan dinasti Saudi yang bernaung dalam Lembaga Tetap Pengkajian dan Riset Fatwa pada Desember 2003 yang mengharamkan bagi seorang Muslim berdiri untuk memberi hormat kepada bendera dan lagu kebangsaan.\rAda sejumlah argumen yang dikemukakan.\rPertama, memberi hormat kepada bendera termasuk perbuatan bid’ah yang tidak pernah dilakukan pada masa Rasulullah ataupun pada Khulafa’ ar-Rasyidun (masa kepemimpinan empat sahabat Nabi).\rKedua, menghormati bendera bertentangan dengan tauhid yang wajib sempurna dan keikhlasan di dalam mengagungkan Allah semata.\rKetiga, menghormati bendera merupakan sarana menuju kesyirikan.\rKeempat, menghormati bendera merupakan kegiatan yang mengikuti tradisi yang jelek dari orang kafir, serta menyamai mereka dalam sikap berlebihan terhadap para pemimpin dan protokoler-protokoler resmi.\rUlama Ibnu Jibrin (salah seorang ulama terkemuka Saudi) yang menyatakan bahwa penghormatan bendera adalah tindakan yang menganggungkan benda mati. Bahkan tindakan itu bisa dikategorikan sebagai kemusyrikan.","part":1,"page":197},{"id":198,"text":"Keimanan yang bisa rapuh (terkikis) oleh karena penghormatan bendera, pada hakikatnya disebabkan pemahaman secara ilmiah, pemahaman dengan akal pikiran (otak/logika/rasio) dan memori. Seharusnyalah keimanan dibangun dari pemahaman secara hikmah, pemahaman dengan akal qalbu (hati / lubb) sebagaimana Ulil Albab.\rSejak dahulu kala penghormatan bendera adalah wujud rasa syukur kepada Allah Azza wa Jalla atas tegaknya bendera merah putih di bumi nusantara, wujud rasa penghargaan dan penghormatan kepada para pahlawan yang telah mengorbankan harta, keluarga dan jiwa raga mereka bagi tegaknya bendera merah putih. Mayoritas mereka adalah kaum muslim, para syuhada, orang-orang yang mulia dan disisiNya. Dengan pemahaman secara ilmiah, tidak tampak lagi rasa terima kasih mereka terhadap upaya dan perjuangan orang-orang terdahulu.\rDitengarai dalam rangka “the new world order” / “tatanan dunia baru”, kaum Zionis Yahudi dalam hasratnya menjadi pemimpin dunia berupaya “menciptakan” pemimpin ulama dari kalangan kaum muslim yang dapat berfatwa sesuai keinginan mereka tanpa mempedulikan apa-apa yang telah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla.\rKaum Zionis Yahudi telah berhasil “menciptakan” pemimpin agama kaum Nasrani yang dapat menetapkan haram terhadap sesuatu yang halal, dan menghalalkan sesuatu yang haram.","part":1,"page":198},{"id":199,"text":"Mereka salah satunya adalah Paulus (Yahudi dari Tarsus), pengikut Rasul setelah “bertobat” , yang mengubah esensi dasar kekristenan. Contohnya, orang-orang Kristen yang bukan berasal dari latar belakang Yahudi tidak diwajibkan mengikuti tradisi dan pantangan Yahudi (misalnya perihal tentang sunat dan memakan makanan yang diharamkan).\rPaulus dijadikan seorang Santo (orang suci) oleh seluruh gereja yang menghargai santo, termasuk Katolik Roma, Ortodoks Timur, dan Anglikan, dan beberapa denominasi Lutheran. Dia berbuat banyak untuk kemajuan Kristen di antara para orang-orang bukan Yahudi, dan dianggap sebagai salah satu sumber utama dari doktrin awal Gereja, dan merupakan pendiri kekristenan bercorak Paulin (bercorak Paulus). Surat-suratnya menjadi bagian penting Perjanjian Baru. Banyak yang berpendapat bahwa Paulus memainkan peranan penting dalam menjadikan Kristen sebagai agama yang berdiri sendiri alias “agama turunan”, dan bukan sebagai sekte dari Yudaisme\rFirman Allah ta’ala yang artinya : “Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing).” (QS Al Mu’minun [23] : 52-53)\rKaum Yahudi yang membunuh para Nabi termasuk hendak membunuh Nabi Isa alaihi salam.","part":1,"page":199},{"id":200,"text":"Firman Allah ta’ala yang artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memamg tak dibenarkan dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, maka gembirakanlah mereka bahwa mereka akan menerima siksa yang pedih.” (QS Ali Imran [3]:21)\rKaum Nasrani adalah kaum sebenarnya berkeinginan untuk menjadi orang beriman namun mereka tanpa pengetahuan dan disesatkan oleh kaum Yahudi , kaum yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman\rFirman Allah ta’ala yang artinya : “Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: \"Sesungguhnya kami ini orang Nasrani\". Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menymbongkan diri.” (QS Al Maa’idah [5]:82)","part":1,"page":200},{"id":201,"text":"Sesungguhnya jalan orang-orang yang beriman itu mencakup pengetahuan akan kebenaran dan pengalamannya, dan kaum Yahudi tidak memiliki amal, sedang kaum Nasrani tidak memiliki pengetahuan. Oleh karena itu, kemurkaan bagi kaum Yahudi dan kesesatan bagi kaum Nasrani. Karena orang yang mengetahui, tetapi tidak beramal, maka ia berhak mendapat kemurkaan, dan ini berbeda dengan orang yang tidak tahu. Kaum Nasrani menuju pada suatu perkara, yaitu mengikuti kebenaran, namun mereka tidak benar dalam melakukakannya sebab tidak sesuai dengan ketentuannya sehingga mereka pun sesat.\rHadits yang diriwayatkan Sufyan bin Uyainah dengan sanadnya dari Adi bin Hatim. Ibnu Mardawih meriwayatkan dari Abu Dzar, dia berkata, “Saya bertanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam tentang orang-orang yang dimurkai“, beliau bersabda, ‘Kaum Yahudi.’ Saya bertanya tentang orang-orang yang sesat, beliau bersabda, “Kaum Nasrani.“\rKaum Yahudi adalah orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah ta’ala\rFirman Allah ta’ala yang artinya, “Katakanlah: \"Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu disisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi (orang-orang Yahudi yang melanggar kehormatan hari Sabtu) dan (orang yang) menyembah thaghut ?\". Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus.” (QS Al Maidah [5]:60)\rKaum Nasrani adalah orang-orang yang sesat","part":1,"page":201},{"id":202,"text":"Firman Allah ta’ala yang artinya : “Al Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu).” (QS Al Maa’idah [5] : 75)\r“Katakanlah: \"Mengapa kamu menyembah selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudharat kepadamu dan tidak (pula) memberi manfa'at ?\" Dan Allah-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al Maa’idah [5] : 76)\r“Katakanlah: \"Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan(manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus\". (QS Al Maa’idah [5] : 77)\rKaum Zionis Yahudi atau juga dikenal dengan lucifier, freemason atau iluminati adalah mereka yang mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman. Kaum Zionis Yahudi berupaya keras agar umat muslim dapat mencintai mereka dan menjadikan mereka sebagai pemimpin dunia.","part":1,"page":202},{"id":203,"text":"Telah dijelaskan tentang adanya kaum Zionis Yahudi dalam firman Allah ta’ala yang artinya : “Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa (kitab) yang ada pada mereka, sebahagian dari orang-orang yang diberi kitab (Taurat) melemparkan kitab Allah ke belakang (punggung)nya, seolah-olah mereka tidak mengetahui (bahwa itu adalah kitab Allah) dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir).” (QS Al Baqarah [2]: 101-102 )\rBegitupula hakekat dari hak veto di majelis PBB merupakan cara mereka untuk menetapkan yang salah menjadi benar atau sebaliknya, bertentangan dengan kebenaran yang datang hanya dari Allah Azza wa Jalla.\rOleh karenanyalah umat muslim maupun para pemimpin umat muslim, penguasa-penguasa negeri yang muslim untuk tidak menjadikan kaum Zionis Yahudi sebagai teman kepercayaan, penasehat, “boneka” mereka, pelindung , pemimpin, di bawah perintah / kendali mereka.","part":1,"page":203},{"id":204,"text":"Allah Azza wa Jalla memperingatkan kita dengan firmanNya yang artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya” , (Ali Imran, 118)\r“Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka) : “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahuisegala isi hati“. (Ali Imran, 119)\rWassalam\rZon di Jonggol, Kab Bogor 16830\r[http://0.facebook.com/notes/www.piss-ktb.com/285011444855004]\r0875. Ketahuilah Hal Ghaib Agar Tidak Lagi Bertanya \"Di Mana?\"\rSebaiknya dalamilah perkara ghaib agar tidak lagi bertanya \"di mana\"\rMereka kalau ditanyakan \"Apa hukumnya orang yang mengaku tahu perkara ghaib?”\rContoh jawabannya adalah seperti yang tercantum pada http://diataskebenaran.blogspot.com/2010/01/hukum-orang-yang-mengaku-mengetahui.html“","part":1,"page":204},{"id":205,"text":"\"Hukumnya orang yang mengaku tahu perkara ghaib bahwa ia kafir, karena ia adalah orang yang mendustakan Allah -Azza wa Jalla- \". Allah -Ta’ala- berfirman, “Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan“. (QS.An-Naml : 65)\rFirman Allah ta’ala dalam (QS an Naml:65), Allah ta’ala menegaskan hal yang ghaib hanya diketahui oleh Allah ta’ala seperti pengetahuan kapan mereka dibangkitkan. Namun Allah ta’ala tidak mengatakan apa yang diketahui oleh Allah ta’ala seluruhnya tidak disampaikan kepada manusia karena Allah ta’ala berfirman pada ayat yang lain yang artinya,\r“Tuhan Maha Mengetahui yang gaib. Maka Dia tidak akan membukakan kegaibannya itu kepada seorang pun, kecuali kepada Rasul yang di kehendaki”. (QS. Al Jin [72]: 26-27)\r“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit“. (QS Al Isra [17]:85 ).\r“Katakanlah: Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: “Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?” Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)?” (QS Al An’aam [6]:50)","part":1,"page":205},{"id":206,"text":"Dari ketiga firmanNya tersebut dapat diketahui bahwa Allah ta’ala memberikan pengetahuan tentang ghaib walaupun sedikit atau sebatas apa yang diwahyukan kepada Rasul yang dikehendakiNya, tentulah Rasul yang dikehendakiNya adalah Sayyidina Muhammad Shallallahu alaihi wasallam.\rMereka ada pula yang menyampaikan bahwa Rasulullah tidak mengetahui perkara ghaib berdasarkan firman Allah Azza wa Jalla yang artinya, “Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik kemanfa’atan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman” (QS Al A’raaf [7]:188) “\rFirman Allah ta’ala dalam (QS Al A’raaf [7]:188) terkait dengan ayat sebelumnya yakni (QS Al A’raaf [7]:187) Bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak mengetahui yang ghaib khusus dalam hal tentang hari kiamat.\rPada hakikatnya mereka menyempitkan atau mendangkalkan ajaran Islam. Bagi mereka pengetahuan tentang ghaib terbatas pada pengetahuan tentang kapan dibangkitkan atau tentang kapan hari kiamat atau apa yang akan terjadi esok hari.\rKalau tujuan mereka agar umat muslim tidak mendatangi perdukunan (kahanah) dan peramalan (‘irafah) yang menyampaikan kejadian esok hari maka tidak masalah mereka mengatakan bahwa Rasulullah tidak mengetahui perkara ghaib dalam hal itu.","part":1,"page":206},{"id":207,"text":"“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak adan yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpuun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)”. (QS. al-An’am [6] : 59)\r“Kunci perkara ghaib itu ada lima, tidak ada seorangpun yang mengetahuinya melainkan Allah Ta’ala : ‘Tidak ada seorangpun yang mengetahui apa yang akan terjadi esok selain Allah Ta’ala, dan tidak ada seorangpun mengetahui apa yang ada di dalam kandungan selain Allah Ta’ala, dan tidak ada seorangpun yang mengetahui kapan terjadinya hari kiamat selain Allah Ta’ala, dan tidak ada seorangpun yang mengetahui di bumi mana dia akan mati selain Allah Ta’ala, dan tidak seorangpun yang mengetahui kapan hujan akan turun selain Allah Ta’ala”. (Hadis Riwayat Imam Bukhari dan Imam Ahmad dari Ibnu Umar)\r“Orang yang mendatangi dukun atau tukang ramal, kemudian membenarkan apa yang dikatakannya maka orang tersebut telah kufur terhadap apa yang telah diturunkan kepada Muhammad Shallallahu alaihi wasallam”. (Hadis Riwayat Imam Ahmad dan al-Hakim dari Abu Hurairah)\rNamun perkara ghaib tidak sebatas pada tentang kapan dibangkitkan atau tentang kapan hari kiamat atau apa yang akan terjadi esok hari.","part":1,"page":207},{"id":208,"text":"Kata ghoib, menurut beberapa kamus arab, seperti lisaanul arab berasal dari kata ghoba (tidak tampak, tidak hadir) kebalikan dari kata hadhoro atau dhoharo (hadir atau nampak). Ghaib adalah sesuatu yang tidak tampak dengan panca indera seperti mata kita atau sesuatu yang tidak tampak secara kasat mata.\rDiri manusia terdiri dari jasmani dan ruhani. Jasmani (jasad) adalah bagian yang dapat tampak dengan panca indera kita disebut juga lahiriah sedangkan ruhani adalah bagian yang tidak tampak dengan panca indera kita disebut juga bathiniah atau ghaib. Jadi pengetahuan tentang ghaib adalah pengetahuan seputar ruhani.\rNilai manusia tidak terletak pada jasmani (jasad) nya, akan tetapi terletak pada ruhani yang menggerakkannya. Kerena ruhani inilah, Allah memerintahkan pada malaikatnya untuk hormat kepada manusia, karena ruhani datangnya dari Allah Subhanahu wa ta’ala.\rFirman Allah ta’ala yang artinya, “Ingatlah diwaktu Tuhanmu berkata kepada para malaiakat: ”Aku menciptakan manusia dari tanah, dan setelah aku sempurnakan aku tiupkan kedalamnya ruh-Ku, maka hormatlah kalian kepadanya“.(QS Shaad [38]: 71-72)\rBerikut contoh uraian tentang perkara ghaib\rMata di kepala kita diciptakan untuk melihat yang dzahir. Mata membutuhkan cahaya yang mengenai sesuatu yang dilihat.","part":1,"page":208},{"id":209,"text":"Proses melihat terjadi ketika cahaya dipantulkan dari sebuah benda melewati lensa mata dan menimbulkan bayangan terbalik di retina yang berada di belakang otak. Setelah melewati proses kimiawi yang ditimbulkan oleh sel-sel kerucut dan batang retina, penglihatan ini pun berubah menjadi implus listrik. Implus ini kemudian dikirim melalui sambungan di dalam sistem syaraf ke belakang otak. Kemudian otak menerjemahkan aliran ini menjadi sebuah penglihatan tiga dimensi yang penuh makna. Kita perhatikan bahwa “proses melihat terjadi ketika cahaya dipantulkan dari sebuah benda” dan Allah Azza wa Jalla bukanlah benda !\rHati untuk melihat, memahami, mendengar yang ghoib (tidak dapat dilihat atau diindera)\rRuhani(ruhNya) mempunyai panggilan Akal, Hati, Nafsu\rRuh ketika berperasaan seperti sedih, gembira, senang, terhibur, marah atau sebagainya, maka ia dipanggil dengan hati.\rRuh ketika ia berkehendak, berkemauan atau merangsang sama ada sesuatu yang berkehendak itu positif atau negatif, baik atau buruk, yang dibenarkan atau tidak, yang halal ataupun yang haram, di waktu itu ia tidak dipanggil hati tetapi ia dipanggil nafsu.\rRuh ketika ia berfikir, mengkaji, menilai, memahami, menimbang dan menyelidik, maka ia dipanggil akal.\rAkal Qalbu / Hati berbeda dengan Akal Pikiran / logika\rDalil Aqli adalah Akal Qalbu, “tanyakanlah pada hati” , “hati tidak pernah berbohong” , “nafsu yang mencari-cari alasan”\r“Barangsiapa menguraikan Al Qur’an dengan akal pikirannya sendiri dan benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan”. (HR. Ahmad)","part":1,"page":209},{"id":210,"text":"Akal Pikiran / logika adalah bersandar pada kemampuan sendiri atau kerja otak sendiri\rAkal Qalbu / hati adalah mengikuti cahayaNya atau petunjukNya yang diilhamkan keseluruh Qalbu / jiwa setiap manusia.\r“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan” (pilihan haq atau bathil) (QS Al Balad [90]:10 )\r“maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya“. (QS As Syams [91]:8 )\rPermasalahan manusia tidak lagi dapat menggunakan hati sebagai petunjuk dari Allah ta’ala adalah karena dosa. Keadaan ini dinamakan buta mata hati\rSetiap dosa merupakan bintik hitam hati (ketiadaan cahaya), sedangkan setiap kebaikan adalah bintik cahaya pada hati Ketika bintik hitam memenuhi hati sehingga terhalang (terhijab) dari melihat Allah. Inilah yang dinamakan buta mata hati.\rSebagaimana firman Allah ta’ala yang artinya : “Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).” (QS Al Isra 17 : 72)\r“maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (al Hajj 22 : 46)","part":1,"page":210},{"id":211,"text":"Dalam sebuah hadits qudsi, Allah Azza wa Jalla berfirman: ’Telah Kucipta seorang malaikat di dalam tubuh setiap anak keturunan Adam. Di dalam malaikat itu ada shadr. Di dalam shadr itu ada qalb. Di dalam qalb itu ada fu`aad. Di dalam fu`aad itu ada syagf. Di dalam syagf itu ada lubb. Di dalam lubb itu ada sirr. Dan di dalam sirr itu ada Aku.’\rHadits qudsi inilah yang menerangkan “man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu’ , Siapa yang kenal kenal dirinya akan Mengenal Allah\rFirman Allah Taala yang artinya, “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri (QS. Fush Shilat [41]:53 )\rMenurut Imam Sayyidina Ali r.a. qalb mempunyai lima nama,\r1.…Pertama, disebut shadr, karena ia merupakan tempat terbitnya cahaya Islam (nuuru-l-islaam). Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala, yang artinya ‘Adakah sama dengan mereka yang dibukakan shadrnya untuk Islam….\" (QS 39:22)’.\r2.…Kedua, disebut qalb, karena ia merupakan tempat terbitnya keimanan. Hal ini sebagaiamana firman-Nya, yang artinya ‘Mereka itulah yang ditulis dalam hatinya terdapat keimanan\". (QS 58:22)’\r3.…Ketiga disebut fu’aad karena ia merupakan tempat terbitnya ma’rifah. Hal ini sebagaimana Firman Allah Swt, yang artinya : ‘Fu’aad tidak pernah mendustai apa-apa yang dilihatnya’ (QS 53:11).\r4.…Keempat disebut lubb, karena ia merupakan tempat terbitnya tauhid. Hal ini sebagaimana firman-Nya, yang artinya ‘Sesungguhnya di dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang adalah ayat-ayat bagi ulil albaab (sang pemilik lubb)’ (QS 3:190).","part":1,"page":211},{"id":212,"text":"5.…Kelima, disebut syagf, karena it merupakan tempat terbitnya rasa saling menyayangi dan mencintai sesama makhluk. Hal ini sebagaimana firman-Nya, yang artinya ’Sungguh ia (Zulaikha) telah dikuasai oleh rasa cinta yang membara….’ (QS 12:30)\rSelain nama-nama yang telah disebutkan, hati pun disebut juga dengan nama habbah al-quluub. Disebut demikian, karena ia merupakan tempat terbitnya cahaya, sebagaimana yang diterangkan Allah dalam hadis qudsi-Nya, ’Tiada yang sanggup menampung-Ku, baik bumi maupun langit-Ku. Hanya hati hamba-Ku yang Mukmin yang dapat menampung-Ku.’\r\"Memandang Allah\" lawan dari \"berpaling dari Allah\"\rManusia yang berpaling dari Allah adalah mereka yang memperturutkan hawa nafsu, pengikut syaitan\rFirman Allah ta’ala yang artinya\r“…Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah..” (QS Shaad [38]:26 )\r“Katakanlah: “Aku tidak akan mengikuti hawa nafsumu, sungguh tersesatlah aku jika berbuat demikian dan tidaklah (pula) aku termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS An’Aam [6]:56 )\rDengan mendalami perkara ghaib , kita dapat mengenal Allah, mencintaiNya dan RasulNya, berjumpa dengan Allah dan menjadi kekasihNya sehingga tidak lagi bertanya \"di mana\" Allah ?. JIka mau mendalami perkara ghaib silahkan baca buku-buku yang ditulis oleh para Sufi seperi\rKarya Syaikh Abdul Qadir Jailani yang diterjemahkan, Trilogi “Jalan Sejati Menuju Sang Khalik”\rBuku ke 1 “Rahasia mencintai Allah”\rBuku ke 2 “Rahasia berjumpa Allah”\rBuku ke 3 “Rahasia menjadi kekasih Allah”","part":1,"page":212},{"id":213,"text":"Buku-bukut itu diterbitkan oleh penerbit Sabil, Jogyakarta. http://www.divapress-online.com\rKarya Syaikh Ibnu Athoillah yang diterjemahkan, 1 set buku “Terapi Makrifat” penerbit Zaman, http://www.penerbitzaman.com\r1. Misteri Berserah kepada Allah\r2. Rahasia Kecerdasan Tauhid\r3. Tutur Penerang Hati\r4. Zikir Pententram Hati\r5. Kasidah Cinta dan Amalan Wali Allah\rDengan membaca dua buah seri buku tersebut , kita sudah dapat memahami betapa dasyhatnya ghazwul fikri (perang pemahaman) yang dilakukan oleh kaum Zionis Yahudi melalui pusat-pusat kajian Islam yang mereka dirikan atau melalui orang-orang yang \"dibentuk\" atau dipengaruhi oleh mereka. Semakin jelas kesesatan mereka yang mengatakan bahwa tasawuf adalah sesat, walaupun memang kita aukui ada orang yang mengaku-aku menjalankan tasawuf namun mereka tersesat.\rYup, untuk mengetahui perkara ghaib, tidak ada jalan lain kecuali melalui tasawuf dalam Islam\rTasawuf hanyalah sebuah istilah. Memang istilah ini ditemukan dalam keyakinan kaum non muslim dan semua sepakat bahwa tasawuf adalah istilah untuk cara/jalan mengenal atau mendekatkan diri kepada Tuhan. Tasawuf dalam Islam adalah thariqat (jalan) untuk mencapai muslim yang Ihsan atau muslim yang berakhlakul karimah. Sejak dahulu kala di perguruan tinggi Islam, tasawuf adalah pendidikan akhlak.","part":1,"page":213},{"id":214,"text":"Ahmad Shodiq, MA-Dosen Akhlak & Tasawuf, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, menceritakan kisah sedih pendidikan akhlak dalam sistem pendidikan. Ia merupakan dilema, antara jauhnya standar akhlak menurut kualitas hidup sufi, dengan angkuhnya sistem pendidikan. Dilema sistemik ini dipersedih oleh fakta bahwa para gurupun ternyata jauh dari standar akhlak, dalam sebuah ruang kelas, dimana para murid hanya mencari coretan nilai, atau sebatas titik absensi. Selengkapnya dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/07/pendidikan-akhlak/\rRasulullah bersabda kepada Mu’adz bin Jabal ra, “Ya Mu`adz bin Jabal ma min ahadin Yashaduan la illaha illallahu washadu anna muhammadan rasullullahi sidqan min qalbihi illa ahrramahu allahu alla annari “,\rYa Mu’adz bin Jabal, tak ada satu orang pun yang bersaksi bahwa sesungguhnya tiada tuhan selain Allah dan Muhammad rasul Allah yang ucapan itu betul-betul keluar dari kalbunya yang suci kecuali Allah mengharamkan orang tersebut masuk neraka. (H.R. Bukhari dan Muslim)","part":1,"page":214},{"id":215,"text":"Jika seseorang bersyahadat sidqan min qalbihi, betul-betul keluar dari qalbunya atau merasuk kedalam qalbunya maka dia akan tidak masuk ke neraka karena “hati” nya akan menggerakkannya untuk mentaati Allah ta’ala dan RasulNya, melaksanakan perkara syariat (syarat sebagai hamba Allah) yakni menjalankan segala kewajibanNya (ditinggalkan berdosa), menjauhi segala laranganNya (dikerjakan berdosa) dan menjauhi segala apa yang diharamkanNya (dikerjakan berdosa) serta mereka memperjalankan dirinya agar sampai (wushul) kepada Allah ta’ala, sehingga sebenar-benarnya menyaksikan (melihat) Allah dengan hati dan mereka mencapai muslim yang Ihsan, muslim berma’rifat.\rApakah Ihsan ?\rقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِحْسَانُ قَالَ أَنْ تَخْشَى اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنَّكَ إِنْ لَا تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ\rLalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu takut (takhsya / khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.’ (HR Muslim 11) Link: http://www.indoquran.com/index.php?surano=2&ayatno=3&action=display&option=com_muslim\rRasulullah bersabda “Iman paling afdol ialah apabila kamu mengetahui bahwa Allah selalu menyertaimu dimanapun kamu berada“. (HR. Ath Thobari)\rAda dua kondisi yang dicapai oleh muslim yang ihsan atau muslim yang telah berma’rifat\rKondisi minimal adalah mereka yang selalu merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla\rKondiri terbaik adalah mereka yang dapat melihat Allah Azza wa Jalla dengan hati (ain bashiroh)","part":1,"page":215},{"id":216,"text":"Imam Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani,\r“Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”\rBeliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”\r“Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali.\rSayyidina Ali ra menjawab “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati”\rSebuah riwayat dari Ja’far bin Muhammad beliau ditanya: “Apakah engkau melihat Tuhanmu ketika engkau menyembah-Nya?” Beliau menjawab: “Saya telah melihat Tuhan, baru saya sembah”. Bagaimana anda melihat-Nya? dia menjawab: “Tidak dilihat dengan mata yang memandang, tapi dilihat dengan hati yang penuh Iman.”\rMuslim berma’rifat adalah mereka yang minimal selalu merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla dan yang terbaik adalah mereka yang dapat melihat Allah ta’ala dengan hati, mereka akan menghindarkan dirinya dari sikap dan perbuatan yang dibenciNya, menghindarkan dirinya dari perbuatan maksiat, menghindarkan dirinya dari perbuatan keji dan mungkar.\rMuslim berma’rifat, mereka yang memperjalankan dirinya agar sampai (wushul) kepada Allah ta’ala dicontohkan dan diungkapkan oleh Rasulullah sebagai “aku mendengar derap sandalmu di dalam surga” (HR Muslim 4497) sebagaimana telah diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/09/29/derap-sandalmu/ dan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/05/perjalankanlah-diri-kita/","part":1,"page":216},{"id":217,"text":"Imam Al Qusyairi mengatakan bahwa, “Asy-Syahid untuk menunjukkan sesuatu yang hadir dalam hati, yaitu sesuatu yang membuatnya selalu sadar dan ingat, sehingga seakan-akan pemilik hati tersebut senantiasa melihat dan menyaksikan-Nya, sekalipun Dia tidak tampak. Setiap apa yang membuat ingatannya menguasai hati seseorang maka dia adalah seorang syahid (penyaksi)”.\rSyaikh Ibnu Athoillah mengatakan\rوَإِنَّماَ المَحْجُوْبُ أَنْتَ أَيُّهاَ العَبْدُ بِصِفاَتِكَ النَّفْساَنِيَّةِ عَنِ النَّظْرِ إِلَيْهِ فَإِنْ رُمْتَ الوُصُوْلَ فاَبْحَثْ عَنْ عُيُوْبِ نَفْسِكَ وَعاَلَجَهاَ\r“Sesungguhnya yang terhalang adalah anda, hai kawan. Karena anda sebagai manusia menyandang sifat jasad, sehingga terhalang untuk dapat melihat Allah. Apabila anda ingin sampai melihat Allah, maka intropeksi ke dalam, lihatlah dahulu noda dan dosa yang terdapat pada diri anda, serta bangkitlah untuk mengobati dan memperbaikinya, karena itu-lah sebagai penghalang anda. Mengobatinya dengan bertaubat dari dosa serta memperbaikinya dengan tidak berbuat dosa dan giat melakukan kebaikan“.\rSyaikh Abdul Qadir Al-Jilany menyampaikan, mereka yang sadar diri senantiasa memandang Allah Azza wa Jalla dengan qalbunya, ketika terpadu jadilah keteguhan yang satu yang mengugurkan hijab-hijab antara diri mereka dengan DiriNya.\rSemua banungan runtuh tinggal maknanya. Seluruh sendi-sendi putus dan segala milik menjadi lepas, tak ada yang tersisa selain Allah Azza wa Jalla.\rTak ada ucapan dan gerak bagi mereka, tak ada kesenangan bagi mereka hingga semua itu jadi benar. Jika sudah benar sempurnalah semua perkara baginya.","part":1,"page":217},{"id":218,"text":"Pertama yang mereka keluarkan adalah segala perbudakan duniawi kemudian mereka keluarkan segala hal selain Allah Azza wa Jalla secara total dan senantiasa terus demikian dalam menjalani ujian di RumahNya.\rNasehat Syaikh Ibnu Athoillah, Seandainya Anda tidak dapat sampai / berjumpa kehadhirat Allah, sebelum Anda menghapuskan dosa-dosa kejahatan dan noda-noda keangkuhan yang melekat pada diri anda, tentulah anda tidak mungkin sampai kepada-Nya selamanya.\rTetapi apabila Allah menghendaki agar anda dapat berjumpa denganNya , maka Allah akan menutupi sifat-sifatmu dengan sifat-sifat Kemahasucian-Nya , kekuranganmu dengan Kemahasempurnaan-Nya.\rAllah Ta’ala menerima engkau dengan apa yang Dia (Allah) karuniakan kepadamu, bukan karena amal perbuatanmu sendiri yang engkau hadapkan kepada-Nya.”\rMunajat Syaikh Ibnu Athoillah, “Ya Tuhan, yang berada di balik tirai kemuliaanNya, sehingga tidak dapat dicapai oleh pandangan mata. Ya Tuhan, yang telah menjelma dalam kesempurnaan, keindahan dan keagunganNya, sehingga nyatalah bukti kebesaranNya dalam hati dan perasaan. Ya Tuhan, bagaimana Engkau tersembunyi padahal Engkaulah Dzat Yang Zhahir, dan bagaimana Engkau akan Gaib, padahal Engkaulah Pengawas yang tetap hadir. Dialah Allah yang memberikan petunjuk dan kepadaNya kami mohon pertolongan“\rWassalam\rZon di Jonggol, Kab Bogor 16830\r0881. Kesalahpahaman dalam memahami syariat","part":1,"page":218},{"id":219,"text":"Dalam beberapa tulisan sebelumnya telah kami sampaikan tentang empat gerakan yang dilancarkan oleh kaum Zionis Yahudi dalam rangka ghazwul fikri (perang pemahaman) melalui pusat-pusat kajian Islam yang mereka dirikan atau melalui ulama yang “dibentuk” atau dipengaruhi oleh mereka yakni\r1.…Paham anti mazhab, umat muslim diarahkan untuk tidak lagi mentaati pimpinan ijtihad atau imam mujtahid alias Imam Mazhab\r2.…Pemahaman secara ilmiah, umat muslim diarahkan untuk memahami Al Qur’an dan As Sunnah dengan akal pikiran masing-masing dengan metodologi “terjemahkan saja” hanya memandang dari sudut bahasa (lughat) dan istilah (terminologis) namun kurang memperhatikan nahwu, shorof, balaghoh, makna majaz, dll\r3.…Paham anti tasawuf untuk merusak akhlak kaum muslim karena tasawuf adalah tentang Ihsan atau jalan menuju muslim yang Ihsan atau muslim yang berakhlakul karimah.\r4.…Paham Sekulerisme, Pluralisme, Liberalisme (SEPILIS) disusupkan kepada umat muslim yang mengikuti pendidikan di “barat”\rSalah satu cara kaum Zionis Yahudi melakukan ghazwul fikri adalah mengangkat kembali pemahaman Ibnu Taimiyah agar kaum muslim terjerumus kedalam kekufuran dan memecah belah kaum muslim karena banyak pemahaman Ibnu Taimiyah menyelisihi pemahaman pemimpin ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak) alias Imam Mazhab yang empat.\rGhazwul fikri memungkinkan terjadi terhadap ulama yang memahami Al Qur’an dan As Sunnah lebih bersandarkan kepada belajar sendiri (secara otodidak) melalui cara muthola’ah (menelaah kitab) dan memahaminya dengan akal pikiran sendiri.","part":1,"page":219},{"id":220,"text":"Contohnya apa yang dilalui oleh ulama Muhammad bin Abdul Wahhab sebagaimana contoh yang diriwayatkan dalam tulisan pada http://arisandi.com/?p=964 berikut kutipannya\r***awal kutipan****\rDi antara karya-karya ulama terdahulu yang paling terkesan dalam jiwanya adalah karya-karya Syeikh al-Islam Ibnu Taimiyah. Beliau adalah mujaddid besar abad ke 7 Hijriyah yang sangat terkenal.\rDemikianlah meresapnya pengaruh dan gaya Ibnu Taimiyah dalam jiwanya, sehingga Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab bagaikan duplikat(salinan) Ibnu Taimiyah. Khususnya dalam aspek ketauhidan, seakan-akan semua yang diidam-idamkan oleh Ibnu Taimiyah semasa hidupnya yang penuh ranjau dan tekanan dari pihak berkuasa, semuanya telah ditebus dengan kejayaan Ibnu `Abdul Wahab yang hidup pada abad ke 12 Hijriyah itu.\rSetelah beberapa lama menetap di Mekah dan Madinah, kemudian beliau berpindah ke Basrah. Di sini beliau bermukim lebih lama, sehingga banyak ilmu-ilmu yang diperolehinya, terutaman di bidang hadith danmusthalahnya, fiqh dan usul fiqhnya, gramatika (ilmu qawa’id) dan tidak ketinggalan pula lughatnya semua.\rLengkaplah sudah ilmu yang diperlukan oleh seorang yang pintar yang kemudian dikembangkan sendiri melalui metode otodidak (belajar sendiri) sebagaimana lazimnya para ulama besar Islam mengembangkan ilmu-ilmunya. Di mana bimbingan guru hanyalah sebagai modal dasar yang selanjutnya untuk dapat dikembangkan dan digali sendiri oleh yang bersangkutan.\r****akhir kutipan*****","part":1,"page":220},{"id":221,"text":"Ulama Muhammad bin Abdul Wahhab menjadi pengikut ulama Ibnu Taimiyyah secara otodidak (belajar sendiri) melalui muthola’ah (menelaah kitab) dan memahaminya dengan akal pikiran sendiri karena ulama Ibnu Taimiyyah telah wafat 350 tahun lebih ketika masa kehidupan beliau.\rPadahal ulama-ulama terdahulu telah memperingatkan agar menghindari kitab-kitab ulama Ibnu Taimiyyah karena pemahamannya telah menyelisihi pemahaman Imam Mazhab yang Empat, sebagaimana yang disampaikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2010/02/ahlussunnahbantahtaimiyah.pdf maupun pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/07/2011/07/28/semula-bermazhab-hambali/\rBegitu juga ulama-ulama negeri kita telah memperingatkan kita untuk meninggalkan pemahaman Ibnu Taimiyyah dan para pengikutnya seperti contohnya Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, ulama besar Indonesia yang pernah menjadi imam, khatib dan guru besar di Masjidil Haram, sekaligus Mufti Mazhab Syafi’i pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Menurut Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau, ulama-ulama seperti ulama Ibnu Taimiyyah, Ibnu Qoyyim al Jauziah dan Muhammad bin Abdul Wahhab telah keluar daripada pemahaman Ahlussunnah wal Jama’ah dan dan menyalahi pemahaman para pemimpin ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak) alias Imam Mazhab. Antara lain tulisannya ialah ‘al-Khiththah al-Mardhiyah fi Raddi fi Syubhati man qala Bid’ah at-Talaffuzh bian-Niyah’, ‘Nur al-Syam’at fi Ahkam al-Jum’ah’ dan lain-lain\rBerikut contoh pemahaman ulama Ibnu Taimiyyah yang menyelisihi pemahaman Imam Mazhab.\rUlama Ibnu Taimiyah mengatakan :","part":1,"page":221},{"id":222,"text":"وَالْبِدْعَةُ : مَا خَالَفَتْ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ أَوْ إجْمَاعَ سَلَفِ الْأُمَّةِ مِنْ الِاعْتِقَادَاتِ وَالْعِبَادَاتِ\r“Bid’ah adalah i’tiqod (keyakinan) dan ibadah yang menyelisihi Al Qur’an dan As Sunnah atau ijma’ (kesepakatan) salaf.” (Majmu’ Al Fatawa, 18/346, Asy Syamilah).\rDefinisi tersebut tepatnya untuk bid’ah dholalah karena ada saja perkara baru (bid’ah) yang terjadi sampai akhir zaman dan tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah maupun ijma’ (kesepakatan) Salafush Sholeh”.\rPemimpin ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak) alias Imam Mazhab yang empat, seperti contohnya Imam Syafi’i ra mengatakan, “Apa yang baru terjadi dan menyalahi kitab al Quran atau sunnah Rasul atau ijma’ atau ucapan sahabat, maka hal itu adalah bid’ah yang dholalah. Dan apa yang baru terjadi dari kebaikan dan tidak menyalahi sedikitpun dari hal tersebut, maka hal itu adalah bid’ah mahmudah (terpuji / hasanah)”\rJika berpegang pada definisi yang disampaikan oleh ulama Ibnu Taimiyah maka boleh jadi akan menciptakan ahli bid'ah karena dapat membuat perkara baru yang tidak dilarang menjadi dilarang (dikerjakan berdosa) karena mereka akan melarang segala perkara baru (bid’ah) walaupun perkara baru tersebut tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah maupun ijma’ (kesepakatan) Salafush Sholeh.","part":1,"page":222},{"id":223,"text":"Ahli bid'ah adalah mereka yang membuat perkara baru atau mengada-ada yang bukan kewajiban menjadi kewajiban (ditinggalkan berdosa) atau sebaliknya, tidak diharamkan menjadi haram (dikerjakan berdosa) atau sebaliknya dan tidak dilarang menjadi dilarang (dikerjakan berdosa) atau sebaliknya.\rRasulullah mencontohkan kita untuk menghindari perkara baru dalam kewajiban (jika ditinggalkan berdosa). Rasulullah meninggalkan sholat tarawih berjama'ah dalam beberapa malam agar kita tidak berkeyakinan bahwa sholawat tarawih adalah kewajiban (ditinggalkan berdosa) selama bulan Ramadhan.\rRasulullah bersabda, “Aku khawatir bila shalat malam (tarawih) itu ditetapkan sebagai kewajiban atas kalian.” (HR Bukhari 687). Sumber: http://www.indoquran.com/index.php?surano=10&ayatno=120&action=display&option=com_bukhari\rBid’ah hasanah , jika yang melakukan sholat tarawih berjamaah sebulan penuh berkeyakinan bahwa itu adalah amal kebaikan selama bulan ramadhan walaupun Rasulullah tidak mencontohkan/melakukannya sebulan penuh.\rBid’ah dholalah, jika mereka berkeyakinan bahwa sholat tarawih berjamaah sebulan penuh adalah kewajibanNya atau perintahNya (ditinggalkan berdosa) karena sholat tarawih sebulan penuh tidak pernah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla sebagai kewajiban (ditinggalkan berdosa). Yang ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla sebagai kewajiban (ditinggalkan berdosa) yang harus dikerjakan sebulan penuh pada bulan Ramadhan adalah berpuasa.\rBegitu juga kita dapat ambil pelajaran dari apa yang terjadi dengan kaum Nasrani.","part":1,"page":223},{"id":224,"text":"‘Adi bin Hatim pada suatu ketika pernah datang ke tempat Rasulullah –pada waktu itu dia lebih dekat pada Nasrani sebelum ia masuk Islam– setelah dia mendengar ayat yang artinya, “Mereka menjadikan orang–orang alimnya, dan rahib–rahib mereka sebagai tuhan–tuhan selain Allah, dan mereka (juga mempertuhankan) al Masih putera Maryam. Padahal, mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.“ (QS at Taubah [9] : 31) , kemudian ia berkata: “Ya Rasulullah Sesungguhnya mereka itu tidak menyembah para pastor dan pendeta itu“. Maka jawab Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Betul! Tetapi mereka (para pastor dan pendeta) itu telah menetapkan haram terhadap sesuatu yang halal, dan menghalalkan sesuatu yang haram, kemudian mereka mengikutinya. Yang demikian itulah penyembahannya kepada mereka.” (Riwayat Tarmizi)\rBid’ah dholalah adalah perbuatan syirik karena penyembahan kepada selain Allah.\rBid’ah dholalah adalah perbuatan yang tidak ada ampunannya.\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda\rإِنَّ اللهَ حَجَبَ اَلتَّوْبَةَ عَنْ صَاحِبِ كُلِّ بِدْعَةٍ\r“Sesungguhnya Allah menutup taubat dari semua ahli bid’ah”. [Ash-Shahihah No. 1620]\rFirman Allah ta’ala yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu dan janganlah kamu melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas.” (Qs. al-Mâ’idah [5]: 87)","part":1,"page":224},{"id":225,"text":"Begitupula ulama-ulama mereka menyampaikan pendapat bahwa “syarat amal yang akan diterima oleh Allah adalah ikhlas dan sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah. Kalau salah satu dari kedua syarat tersebut tidak ada, maka amalan itu tidak akan diterima oleh Allah”.\rAmal ibadah terbagi dalam dua kategori yakni amal ketaatan dan amal kebaikan\rAmal ketaatan adalah yang dimaksud dengan perkara syariat , syarat yang harus dipenuhi sebagai hamba Allah yakni menjalankan segala kewajibanNya (ditinggalkan berdosa) dan menjauhi segala laranganNya (dikerjakan berdosa) juga menjauhi segala yang telah diharamkanNya (dikerjakan berdosa)\rSedangkan Amal Kebaikan adalah segala amal diluar amal ketaatan yang tidak bertentangan dengan Al Qur'an dan As Sunnah\rAmal perbuatan diluar perkara syariat (amal ketaatan) tidak harus selalu sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah. Jadi yang harus benar-benar sesuai dengan apa yang dicontohkan dan dilakukan oleh Rasulullah hanyalah amal dalam kategori amal ketaatan (perkara syariat).\rDiluar perkara syariat (amal ketaatan) landasannya adalah jika tidak bertentangan dengan Al Qur'an dan As Sunnah pastilah merupakan amal kebaikan sebaliknya amal perbuatan yang bertentangan dengan Al Qur'an dan As Sunnah pastilah perkara buruk.\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Apa yang aku perintahkan maka kerjakanlah semampumu dan apa yang aku larang maka jauhilah“. (HR Bukhari).","part":1,"page":225},{"id":226,"text":"Maknanya adalah apa yang dilarang oleh Rasulullah pastilah perkara syariat atau laranganNya (jika dilanggar berdosa) sedangkan apa yang diperintahkan oleh Rasulullah belum tentu perkara syariat atau kewajibanNya (jika ditinggalkan berdosa).\rApa yang diperintahkan oleh Rasulullah ada dua perkara yakni amal ketaatan (perkara syariat) dan amal kebaikan. Untuk itulah dibutuhkan kompetensi Imam Mujtahid Mutlak untuk menetapkan hukum perkara (istinbat)\rContohnya amal kebaikan adalah peringatan Maulid karena tidak bertentangan dengan Al Qur'an dan As Sunnah.\rSegala yang tidak bertentangan dengan Al Qur'an dan As Sunnah pastilah amal kebaikan walaupun hal itu adalah perkara baru (perkara yang tidak pernah dilakukan/dicontohkan oleh Rasulullah maupun oleh para Salafush Sholeh).\rMaulid Nabi bukanlah kewajiban (jika ditinggalkan berdosa) atau bukanlah termasuk amal ketaatan (perkara syariat)\rMaulid Nabi adalah amal kebaikan (perkara diluar perkara syariat (amal ketaatan) yang tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits)\rMaulid Nabi umumnya diisi dengan kegiatan membaca Al Qur’an, Sholawat, kajian dan ceramah seputar kehidupan Rasulullah dan implementasinya dalam kehidupan masa kini.\rKita boleh memperingati atau mengingat masa lampau untuk bekal hari esok, bahkan hal ini adalah anjuran dari Allah Azza wa Jalla, sebagaimana firmanNya, “Wal tandhur nafsun ma qaddamat li ghad” “Perhatikan masa lampaumu untuk hari esokmu” (QS al Hasyr [59] : 18 )","part":1,"page":226},{"id":227,"text":"Kita mengingat tanggal kelahiran kita dan kejadian-kejadian di waktu lampau untuk bekal kita mengisi biodata, riwayat hidup. Kita mengingat apa yang telah disampaikan orang tua, ulama kita dahulu untuk bekal menjalankan kehidupan kita hari ini dan esok. Kita memperingati Maulid Nabi dan perjalanan hidupnya sebagai bekal kita meneladani dan mengimplementasikannya dalam kehidupan kita hari ini dan esok\rMaulid Nabi adalah kebutuhan bagi kaum muslim pada umumnya yang zaman kehidupannya telah terpaut jauh dengan zaman kehidupan para Salafush Sholeh. Kami amat sangat merindukan untuk berkumpul bersama Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam.\rImam Al hafidh Abu Syaamah rahimahullah (Guru imam Nawawi) : Merupakan Bid’ah hasanah yang mulia dizaman kita ini adalah perbuatan yang diperbuat setiap tahunnya di hari kelahiran Rasul shallallahu alaihi wasallam dengan banyak bersedekah, dan kegembiraan, menjamu para fuqara, seraya menjadikan hal itu memuliakan Rasul shallallahu alaihi wasallam dan membangkitkan rasa cinta pada beliau shallallahu alaihi wasallam, dan bersyukur kepada Allah ta’ala dengan kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam.","part":1,"page":227},{"id":228,"text":"Imamul Qurra’ Alhafidh Syamsuddin Aljazriy rahimahullah dalam kitabnya ‘Urif bitta’rif Maulidissyariif : Telah diriwayatkan Abu Lahab diperlihatkan dalam mimpi dan ditanya apa keadaanmu?, ia menjawab : “di neraka, tapi aku mendapat keringanan setiap malam senin, itu semua sebab aku membebaskan budakku Tsuwaibah demi kegembiraanku atas kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam dan karena Tsuwaibah menyusuinya ” (shahih Bukhari hadits no.4813). maka apabila Abu Lahab Kafir yang Alqur’an turun mengatakannya di neraka mendapat keringanan sebab ia gembira dengan kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam, maka bagaimana dengan muslim ummat Muhammad shallallahu alaihi wasallam yang gembira atas kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam?, maka demi usiaku, sungguh balasan dari Tuhan Yang Maha Pemurah sungguh-sungguh ia akan dimasukkan ke sorga kenikmatan Nya dengan sebab anugerah Nya.\rImam Al Hafidh Assakhawiy dalam kitab Sirah Al Halabiyah berkata “tidak dilaksanakan maulid oleh salaf hingga abad ke tiga, tapi dilaksanakan setelahnya, dan tetap melaksanakannya umat Islam di seluruh pelosok dunia dan bersedekah pada malamnya dengan berbagai macam sedekah dan memperhatikan pembacaan maulid, dan berlimpah terhadap mereka keberkahan yang sangat besar”.\rImam Al hafidh Ibn Abidin rahimahullah dalam syarahnya maulid ibn hajar berkata : “ketahuilah salah satu bid’ah hasanah adalah pelaksanaan maulid di bulan kelahiran nabi shallallahu alaihi wasallam”","part":1,"page":228},{"id":229,"text":"Imam Al Hafidh Ibnul Jauzi rahimahullah, dengan karangan maulidnya yang terkenal “al aruus” juga beliau berkata tentang pembacaan maulid, “Sesungguhnya membawa keselamatan tahun itu, dan berita gembira dengan tercapai semua maksud dan keinginan bagi siapa yang membacanya serta merayakannya”.\rImam Al Hafidh Al Qasthalaniy rahimahullah dalam kitabnya Al Mawahibulladunniyyah juz 1 hal 148 cetakan al maktab al islami berkata: “Maka Allah akan menurukan rahmat Nya kepada orang yang menjadikan hari kelahiran Nabi saw sebagai hari besar”.\rKesimpulan kami terhadap kesalahpahaman-kesalahpahaman tersebut terjadi dikarenakan para ulama mereka tidak membedakan antara perkara syariat (amal ketaatan) dengan amal kebaikan.\rBegitupula kesalahpahaman mereka yang selalu meneriakan “tegakkan syariat Islam”. Ulama sufi, Syaikh Ibnu Athoillah mengatakan “Janganlah kamu merasa bahwa tanpamu Syariat Islam tak kan tegak. Syariat Islam telah tegak bahkan sebelum kamu ada. Syariat Islam tak membutuhkanmu, kaulah yang butuh pada Syariat Islam”","part":1,"page":229},{"id":230,"text":"Syariat Islam telah tegak oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan telah diuraikan oleh para ahli fikih yang dipimpin oleh pemimpin ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid mutlak) alias Imam Mazhab yang empat. Memang ada Imam Mazhab yang lain selain yang berempat namun pada akhirnya pendapat / pemahaman mereka karena tidak komprehensive atau tidak menyeluruh sehingga kaum muslim mencukupkannya pada Imam Mazhab yang empat. Oleh karenanya para hakim agama, para mufti atau mereka yang akan berfatwa sebaiknya berpegang pada pendapat atau pemahaman Imam Mazhab yang empat sebagaimana yang dicontohkan oleh mufti Mesir Profesor Doktor Ali Jum`ah sebagaimana contoh yang terurai dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/30/hukum-penutup-muka/\rKita yang hidup pada zaman yang telah jauh masanya dengan kehidupan Salafush Sholeh semakin sulit untuk memenuhi kompetensi sebagai mujtahid atau Imam Mujtahid karena tidak seluruh hadits telah dibukukan, sebagian hadits hanya tersampaikan melalui penghafalan dan Imam Mazhab yang empat mereka hafal hadits lebih banyak daripada yang telah dibukukan oleh karenanya para ahli-ahli hadits terdahulu walaupun mereka berkompetensi menganalisa sanad maupun matan/redaksi hadits mereka tetap mengikuti pendapat/pemahaman Imam Mazhab yang empat. Begitupula semakin sulit menjadi mujtahid karena pada zaman sekarang ada ditemukan pemalsuan kitab-kitab karya ulama klasik sebagaimana yang disampaikan pada\rhttp://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/07/23/pemalsuan-kitab/ dan\rhttp://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/07/23/2011/03/11/al-ibanah/","part":1,"page":230},{"id":231,"text":"Juga banyak kitab-kitab imam mazhab dan para pengikut Imam Mazhab yang telah ditahrif oleh mereka yang bukan pengikut mazhab. Informasi terbaru dari Kyai Thobary Syadzily (www.fb.com/profile.php?id=100001039095629 ) telah ada pihak yang \"mengacak-acak\" atau mentahrif Kitab \"Al-Majmu\" karya Imam Nawawi (wafat di Mesir 676 H) sebagaimana yang Beliau sampaikan pada www.fb.com/permalink.php?story_fbid=291114130933221&id=100001039095629\rSyariat Islam telah ditegakkan oleh Rasulullah dan Salafush Sholeh dengan pengorbanan jiwa raga dan harta dalam peperangan-peperangan yang telah mereka lalui. Perkara syariat telah \"dibukukan\" dan ditetapkan hukum perkaranya (istinbat) oleh para Imam Mazhab yang empat kedalam 5 hukum perkara yakni Wajib (fardhu), Sunnah(mandub), haram, makruh, mubah. Jadi kita hanya tinggal menjalankan syariat Islam.\rPerkara syariat adalah syarat yang harus dipenuhi sebagai hamba Allah yakni menjalankan segala kewajibanNya (ditinggalkan berdosa) dan menjauhi segala laranganNya (dikerjakan berdosa) juga menjauhi segala yang telah diharamkanNya (dikerjakan berdosa).","part":1,"page":231},{"id":232,"text":"Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban (ditinggalkan berdosa), maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa larangan (dikerjakan berdosa) , maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu (dikerjakan berdosa), maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia.” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi)\rPerkara syariat tidak tergantung apakah \"diberlakukan\" atau belum \"diberlakukan\" oleh penguasa negeri. Di negara manapun kita tinggal maka kita harus menjalankan perkara syariat. Jika penguasa negeri yang muslim \"membiarkan\" hukum-hukum yang berlaku tidak sesuai dengan syariat Islam maka mereka akan mempertanggung jawabkan atas pembiaran tersebut di akhirat kelak. Itulah resiko jadi penguasa negeri.\rUntuk itulah kita perlu untuk ikut memilih pemimpin walaupun hukum yang berlaku belum memenuhi syariat Islam agar pemimpin yang kita pilih, dengan kekuasaan yang diperoleh dapat memberlakukan syariat Islam dalam kepemimpinannya dan dalam kehidupan bernegara.","part":1,"page":232},{"id":233,"text":"Hal yang aneh terjadi, ada yang tidak ikut memilih pemimpin negeri namun setelah terpilih pempin negeri, mereka taati karena pemimpinnya \"masih sholat\" walaupun pemimpinya tidak menjalankan syariat. Ada juga yang tidak ikut memlih pemimpin negeri namun setelah terpilih pemimpin negeri mereka masih saja teriak-teriak \"tegakkan syariat\". Seharusnyalah mereka ikut memilih dan mensosialisasikan pemimpin yang akan menjalankan syariat Islam.\rRasulullah bersabda : “Tidak boleh bagi tiga orang berada dimanapun di bumi ini, tanpa mengambil salah seorang diantara mereka sebagai amir (pemimpin) ”\rDiriwayatkan dari Ibnu Abbas, Rasulullah bersabda: “Barangsiapa memilih seseorang menjadi pemimpin untuk suatu kelompok, yang di kelompok itu ada orang yang lebih diridhai Allah dari pada orang tersebut, maka ia telah berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman.” (HR. Hakim)\rDalam sejarah Islam kita kenal adanya ahlu a-halli wa al-‘aqdi yang merupakan demokrasi berdasarkan perwakilan yang berkompetensi dan terpercaya. Ketetapan/fatwa/kebijaksanaan diambil dengan permusyawaratan / perwakilan\rMusyawarah untuk mufakat sistem perwakilan yang berkompetensi dan terpercaya atau ahlu a-halli wa al-‘aqdi telah dicontohkan oleh para Khulafaur Rasyidin dalam menetapkan khalifah pertama setelah wafatnya Sayyidina Muhammad shallallahu alaihi wasallam.","part":1,"page":233},{"id":234,"text":"Begitu pula yang dimaksud oleh ulama-ulama kita dahulu yang ikut mendirikan negara kita dalam menetapkan sila ke 4 dari Pancasila yakni “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan”. Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang berkompeten dan dipercayai untuk melaksanakan musyawarah untuk suatu mufakat.\rNamun dalam perkembangannya di negara kita, orang-orang kemudian merubahnya menjadi demokrasi sebebas-bebasnya, tidak ada bedanya antara pemilih yang jahat dengan pemilih yang baik, (semua satu suara ) dalam menetapkan Presiden dan Wakil presiden, Kepala Pemerintahan Daerah seperti Gubernur dan Bupati. Itu semua terjadi karena mereka mengaku muslim namun tidak menjalankan syariat Islam, syarat menjadi hamba Allah Azza wa Jalla.\rSetelah perkara syariat atau syarat sebagai hamba Allah Azza wa Jalla dijalankan maka perjalankanlah diri kita agar sampai (wushul) kepada Allah Azza wal Jalla dengan amal kebaikan. Amal kebaikan adalah untuk menggapai keridhoan atau kecintaan Allah Azza wa Jalla sehingga dapat mencapai muslim yang ihsan atau muslim yang berakhlakul karimah atau muslim yang berma'rifat.\rRasulullah mengkiaskanya dengan perkataan yang artinya “aku mendengar derap sandalmu di dalam surga” (HR Muslim 4497). Selengkapnya telah kami uraikan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/09/29/derap-sandalmu/ dan http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/09/29/2011/10/05/perjalankanlah-diri-kita/\rApakah Ihsan ?","part":1,"page":234},{"id":235,"text":"قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِحْسَانُ قَالَ أَنْ تَخْشَى اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنَّكَ إِنْ لَا تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ\rLalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu takut (takhsya / khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.’ (HR Muslim 11) Link: http://www.indoquran.com/index.php?surano=2&ayatno=3&action=display&option=com_muslim\rRasulullah bersabda “Iman paling afdol ialah apabila kamu mengetahui bahwa Allah selalu menyertaimu dimanapun kamu berada“. (HR. Ath Thobari)\rAda dua kondisi yang dicapai oleh muslim yang ihsan atau muslim yang telah berma’rifat.\rKondisi minimal adalah mereka yang selalu merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla\rKondiri terbaik adalah mereka yang dapat melihat Allah Azza wa Jalla dengan hati (ain bashiroh)\rImam Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani,\r“Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”\rBeliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”\r“Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali.\rSayyidina Ali ra menjawab “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati”\rSebuah riwayat dari Ja’far bin Muhammad beliau ditanya: “Apakah engkau melihat Tuhanmu ketika engkau menyembah-Nya?” Beliau menjawab: “Saya telah melihat Tuhan, baru saya sembah”. Bagaimana anda melihat-Nya? dia menjawab: “Tidak dilihat dengan mata yang memandang, tapi dilihat dengan hati yang penuh Iman.”","part":1,"page":235},{"id":236,"text":"Muslim yang telah mencapai Ihsan atau muslim yang telah berma’rifat, minimal mereka yang selalu merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla atau yang terbaik mereka yang dapat melihat Allah dengan hati maka mereka mencegah dirinya dari melakukan sesuatu yang dibenciNya , menghindari perbuatan maksiat, menghindari perbuatan keji dan mungkar hingga terbentuklah muslim yang berakhlakul karimah sesuai dengan tujuan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diutus oleh Allah Azza wa Jalla\rRasulullah menyampaikan yang maknanya “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad).\rPemimpin negeri yang telah mencapai Ihsan atau berma'rifat, minimal mereka selalu merasa diawasi Allah Azza wa Jalla, yang terbaik dapat memandang Allah dengan hati, maka mereka tidak akan korupsi, memimpin dengan adil, jujur dan menerapkan syariat Islam dalam kepemimpinan dan bernegara.\rPada zaman ini, sebagian pemimpin negeri yang beragama Islam karena mereka tidak mengetahui tentang Ihsan atau tidak menyadari bahwa Allah Azza wa Jalla selalu melihat sikap dan perbuatan mereka berakibat tanpa disadari mereka telah menyekutukan Allah karena menjadikan kaum Zionis Yahudi sebagai \"teman kepercayaan\". Pada hakikatnya mereka yang menyekutukan Allah adalah mereka yang mengingkari ke Maha Kuasa-an Allah Azza wa Jalla dengan tidak mentaati kewajibanNya / perintahNya","part":1,"page":236},{"id":237,"text":"Firman Allah Azza wa Jalla yang artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya” , (QS Ali Imran, 118)\r“Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati“. (QS Ali Imran, 119)","part":1,"page":237},{"id":238,"text":"Ironis yang terjadi di wilayah kerajaan dinasti Saudi, mereka menjadikan Amerika (dibelakangnya kaum Zionis Yahudi) sebagai teman kepercayaan, pelindung, penasehat. Contoh paling mudah untuk diketahui bahwa mereka menyusun kurikulum pendidikan agama bekerjasama dengan Amerika yang dibelakangnya adalah kaum Zionis Yahudi , sebagaimana yang terurai dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/07/muslim-bukanlah-ekstrimis/ Inilah salah satu “pintu masuk” ghazwul fikri (perang pemahaman) yang dilancarkan oleh kaum Zionis Yahudi dan kesalahpahaman-kesalahpahaman tersebut menyebar luas ke negeri-negeri kaum muslim melalui perantaraan beasiswa pendidikan di wilayah kerajaan dinasti Saudi. Kenapa mereka dikatakan tanpa disadari telah menyekutukan Allah telah kami uraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/12/hakikat-tauhid/\rWassalam\rZon di Jonggol, Kab Bogor 16830\r0888. Hakikat tauhid dan nasehat seorang murid kepada gurunya\rMereka mengaku bahwa dakwah mereka adalah dakwah memurnikan tauhid dari syirik, tahayul, bid’ah dan khurafat atau disingkat TBC.\rApakah tauhid ? Tauhid secara umum adalah lawan dari syirik. Syirik adalah perbuatan menyekutukan Allah Azza wa Jalla dan orangnya dinamakan orang kafir. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “Maukah aku kabarkan kepada kalian dosa yang paling besar (tiga kali)? mereka menjawab : ya, wahai Rasulullah ! beliau bersabda : menyekutukan Allah“ [muttafaq ‘alaih, Al Bukhari hadits nomer : 2511]","part":1,"page":238},{"id":239,"text":"Setiap dosa kemungkinan diampuni oleh Allah Subhanahu wata’ala, kecuali dosa syirik, ia memerlukan taubat secara khusus, Allah berfirman : “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendakiNya“ [An Nisa : 48]\rTauhid secara umum maknanya adalah tidak menyekutukan Allah Azza wa Jalla atau mereka bertauhid (mereka beriman) adalah mereka mengakui tiada tuhan selain Allah Azza wa Jalla.\rSebagian orang yang memahami Al Qur’an dan As Sunnah mengedepankan “kebebasan” mengatakan bahwa Iblis mengakui tiada tuhan selain Allah bahkan dijuluki \"bapak tauhid\" karena tidak mau sujud kepada selain Allah.\rHakikat kafir atau menyekutukan Allah atau mereka yang melakukan perbuatan syirik adalah mereka yang tidak mengakui ke -Maha Kuasa - an Allah Azza wa Jalla\rIblis dimurkai oleh Allah Azza wa Jalla karena mereka tidak mengakui ke -Maha Kuasa -an Allah Azza wa Jalla dengan tidak mentaati kewajibanNya berupa perintah untuk sujud kepada manusia (Nabi Adam a.s).\rOrang Islam yang bersujud (sholat) menghadap Ka’bah, tidak berarti dia menyembah Ka’bah, akan tetapi dia sebenarnya sedang bersujud dan menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menghadap ke Ka’bah perwujudan menjalankan perintahNya atau mengakui ke Maha Kuasa an Allah Azza wa Jalla. Begitu juga para malaikat sujud kepada manusia (Nabi Adam a.s) perwujudan melaksanakan perintahNya atau mengakui ke Maha Kuasa an Allah Azza wa Jalla.","part":1,"page":239},{"id":240,"text":"Kaum Yahudi dan Kaum Nasrani walaupun sebagain kecil mereka beriman kepada Allah namun tetap dimurkai oleh Allah Azza wa Jalla dan dinyatakan sebagai orang-orang yang sesat karena mereka tidak mengakui ke-Maha Kuasa-an Allah Azza wa Jalla dengan tidak mentaati kewajibanNya berupa perintah untuk bersyahadat.\rFirman Allah Azza wa Jalla yang artinya : “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab: “Kami mengakui”. Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu“. ( QS Ali Imran [3]:81 )\rSayyidina Ali bin Abi Thalib kw. berkata: ‘Setiap kali Allah subhanahu wa ta’ala mengutus seorang nabi, mulai dari Nabi Adam sampai seterusnya, maka kepada nabi-nabi itu Allah subhanahu wa ta’ala menuntut janji setia mereka bahwa jika nanti Rasulallah shallallahu alaihi wasallam. diutus, mereka akan beriman padanya, membelanya dan mengambil janji setia dari kaumnya untuk melakukan hal yang sama’.","part":1,"page":240},{"id":241,"text":"Firman Allah ta’ala yang artinya, “Ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani?” Katakanlah: “Apakah kamu lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya?” Dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan. (QS Al Baqarah [2]:140 )\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “ Demi Allah, yang diriku ada dalam genggaman tanganNya, tidaklah mendengar dari hal aku ini seseorangpun dari ummat sekarang ini, Yahudi, dan tidak pula Nasrani, kemudian tidak mereka mau beriman kepadaku, melainkan masuklah dia ke dalam neraka.”\rHadits yang diriwayatkan Sufyan bin Uyainah dengan sanadnya dari Adi bin Hatim. Ibnu Mardawih meriwayatkan dari Abu Dzar, dia berkata, “Saya bertanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam tentang orang-orang yang dimurkai“, beliau bersabda, ‘Kaum Yahudi.’ Saya bertanya tentang orang-orang yang sesat, beliau bersabda, “Kaum Nasrani.“\rFirman Allah ta’ala yang artinya : Katakanlah:”Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil, dan Al Qur’an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu“. (QS Al Maa’idah [5]:68 )\r“Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka..” (QS.Ali Imran [3] : 110)","part":1,"page":241},{"id":242,"text":"Ibadah sendiri berarti mentaati segala perintahNya dan menjauhi segala larangan-Nya, sebagaimana seseorang yang sedang melaksanakan ibadah haji, dia diperintahkan untuk mencium hajar aswad dan melempar jumrah, amalan-amalan ini disebut ibadah karena melaksanakan perintah Allah.\rPerintahNya dan laranganNya oleh para pemimpin ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak) alias Imam Mazhab yang empat dirumuskan kedalam 5 hukum perkara yakni Wajib (fardhu), Sunnah (mandub), haram, makruh, mubah yang dikenal dengan istilah beristinbat (menetapkan hukum perkara)\rOrang kafir pada hakikatnya adalah mereka yang tidak mengakui ke Maha Kuasa an Allah Azza wa Jalla yakni mereka yang tidak mentaati kewajibanNya / perintahNya (ditinggalkan berdosa) , tidak menjauhi laranganNya (dikerjakan berdosa) dan tidak menjauhi apa yang diharamkanNya (dikerjakan berdosa).\rHal ini sesuai dengan apa yang telah disampaikan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa orang yang meninggalkan sholat adalah orang kafir. Pada hakikatnya kafir karena tidak mengakui ke Maha Kuasa an Allah Azza wa Jalla dengan tidak mentaati perintahNya berupa kewajibanNya (ditinggalkan berdosa).\rRasulullah bersabda, “Sesungguhnya perbedaan antara seorang pria mukmin dan kafir adalah meninggalkan sholat” . (H.R. Muslim)\rRasulullah bersabda, “Perjanjian yang mengikat antara kami dan mereka adalah sholat. Maka barangsiapa yang meninggalkannya, maka sungguh dia telah menjadi kafir”. (H.R. Tirmidzi)","part":1,"page":242},{"id":243,"text":"Ahli bid'ah pun termasuk orang kafir , mereka yang melakukan perbuatan syirik, mereka yang tidak mau mengakui ke-Maha Kuasa-an Allah Azza wa Jalla karena mereka mengubah-ubah apa yang telah ditetapkanNya\rPerkara yang telah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla meliputi kewajibanNya / perintahNya (ditinggalkan berdosa), laranganNya (dikerjakan berdosa) dan segala perkara yang telah diharamkanNya (dikerjakan berdosa)\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban (ditinggalkan berdosa), maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa batas/larangan (dikerjakan berdosa), maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu (dikerjakan berdosa), maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia.” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi).\rAhli bid'ah adalah mereka yang mengada-ada atau membuat perkara baru (bid'ah) sehingga mengubah-ubah apa yang telah ditetapkanNya\rAhli bid'ah adalah mereka yang membuat perkara baru atau mengada-ada yang bukan kewajiban menjadi kewajiban (ditinggalkan berdosa) atau sebaliknya, tidak diharamkan menjadi haram (dikerjakan berdosa) atau sebaliknya dan tidak dilarang menjadi dilarang (dikerjakan berdosa) atau sebaliknya.","part":1,"page":243},{"id":244,"text":"Rasulullah mencontohkan kita untuk menghindari perkara baru dalam kewajiban (jika ditinggalkan berdosa). Rasulullah meninggalkan sholat tarawih berjama'ah dalam beberapa malam agar kita tidak berkeyakinan bahwa sholawat tarawih adalah kewajiban (ditinggalkan berdosa) selama bulan Ramadhan.\rRasulullah bersabda, “Aku khawatir bila shalat malam (tarawih) itu ditetapkan sebagai kewajiban atas kalian.” (HR Bukhari 687). Sumber: http://www.indoquran.com/index.php?surano=10&ayatno=120&action=display&option=com_bukhari\rBid'ah hasanah , jika yang melakukan sholat tarawih berjamaah sebulan penuh berkeyakinan bahwa itu adalah amal kebaikan selama bulan ramadhan walaupun Rasulullah tidak mencontohkan/melakukannya sebulan penuh.\rBid'ah dholalah, jika mereka berkeyakinan bahwa sholat tarawih berjamaah sebulan penuh adalah kewajibanNya atau perintahNya (ditinggalkan berdosa) karena sholat tarawih sebulan penuh tidak pernah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla sebagai kewajiban (ditinggalkan berdosa). Yang ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla sebagai kewajiban (ditinggalkan berdosa) yang harus dikerjakan sebulan penuh pada bulan Ramadhan adalah berpuasa.\rBegitu juga kita dapat ambil pelajaran dari apa yang terjadi dengan kaum Nasrani","part":1,"page":244},{"id":245,"text":"‘Adi bin Hatim pada suatu ketika pernah datang ke tempat Rasulullah –pada waktu itu dia lebih dekat pada Nasrani sebelum ia masuk Islam– setelah dia mendengar ayat yang artinya, “Mereka menjadikan orang–orang alimnya, dan rahib–rahib mereka sebagai tuhan–tuhan selain Allah, dan mereka (juga mempertuhankan) al Masih putera Maryam. Padahal, mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.“ (QS at Taubah [9] : 31) , kemudian ia berkata: “Ya Rasulullah Sesungguhnya mereka itu tidak menyembah para pastor dan pendeta itu“. Maka jawab Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Betul! Tetapi mereka (para pastor dan pendeta) itu telah menetapkan haram terhadap sesuatu yang halal, dan menghalalkan sesuatu yang haram, kemudian mereka mengikutinya. Yang demikian itulah penyembahannya kepada mereka.” (Riwayat Tarmizi)\rBid’ah dholalah adalah perbuatan syirik karena penyembahan kepada selain Allah.\rBid’ah dholalah adalah perbuatan yang tidak ada ampunannya.\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda\rإِنَّ اللهَ حَجَبَ اَلتَّوْبَةَ عَنْ صَاحِبِ كُلِّ بِدْعَةٍ\r“Sesungguhnya Allah menutup taubat dari semua ahli bid’ah”. [Ash-Shahihah No. 1620]\rFirman Allah ta’ala yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu dan janganlah kamu melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas.” (Qs. al-Mâ’idah [5]: 87).","part":1,"page":245},{"id":246,"text":"Mereka yang melampaui batas adalah mereka yang sombong yakni mereka yang menuhankan akal pikirannya, menuhankan hawa nafsunya.\rAkal pikiran berbeda dengan Akal Qalbu (hati).\rAkal Pikiran / logika adalah bersandar pada kemampuan sendiri atau kerja otak.\rAkal Qalbu / hati adalah mengikuti cahayaNya atau petunjukNya yang diilhamkan keseluruh Qalbu / jiwa setiap manusia.\rFirman Allah Azza wa Jalla yang artinya : “Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan” (pilihan haq atau bathil) (QS Al Balad [90]:10 )\r“maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya“. (QS As Syams [91]:8 )\rWabishah bin Ma’bad r.a. berkata: Saya datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam., beliau bersabda, “Apakah engkau datang untuk bertanya tentang kebaikan?” Saya menjawab, “Benar.”Beliau bersabda, “Mintalah fatwa kepada hatimu sendiri. Kebaikan adalah apa-apa yang menenteramkan jiwa dan hati, sedangkan dosa adalah apa-apa yang mengusik jiwa dan meragukan hati, meskipun orang-orang memberi fatwa yang mem-benarkanmu.” Ini adalah hadits yang kami riwayatkan dari dua imam, yaitu Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Ad-Darami dengan sanad hasan","part":1,"page":246},{"id":247,"text":"Iblis menolak sujud kepada manusia (Nabi Adam a.s), karena dia merasa lebih baik dari manusia. Dia menganggap bahwa unsur api, lebih baik daripada unsur tanah. Sebenarnya kalau saja Iblis mau jujur, mestinya dia merasa malu, karena pada waktu dia menolak untuk sujud kepada manusia, disitu terdapat makhluk yang lebih tinggi derajatnya yaitu malaikat, karena mereka diciptakan dari cahaya. Walaupun begitu mereka mau bersujud ketika diperintah Allah Azza wa Jalla, seharusnya yang lebih rendah derajatnya ikut sujud juga. Akan tetapi begitulah Iblis, dia sombong dan menolak untuk sujud.\rRasa takabbur dan sombong merupakan sifat yang sangat tercela. Pertama kali yang mempunyai sifat ini adalah Iblis. Seseorang yang mempunya sifat seperti ini akan dijauhkan dari surga .\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda : “Tidak masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat sebiji sawi dari perasaan sombong”\rDalam sebuah hadits qudsi, Rasulullah bersabda: \"Keagungan adalah sarungKU dan kesombongan adalah pakaianKU. Barangsiapa merebutnya (dari AKU) maka AKU menyiksanya.\" (HR. Muslim)\rDosa pertama kali yang dilakukan makhluk adalah rasa sombong, tamak dan iri .\rBerkata Qatadah : “Iblis merasa iri dengan Adam, karena dia diberikan kemuliaan oleh Allah subhanahu wa’ta'ala, maka ia berkata : “Saya tercipta dari api, sedangkan dia dari tanah”, kemudian munculah dosa pertama kali yaitu rasa sombong. Setelah itu muncul rasa tamak, sehingga Adam memakan dari pohon ‘ yang terlarang ‘ , kemudian rasa iri, ketika anak Adam iri dengan saudaranya.","part":1,"page":247},{"id":248,"text":"Ibnu Abbas ra mengatakan juga : “Jika seseorang terjerat di dalam kesombongan, maka jangan banyak diharap. Sebaliknya jika ia terjerat di dalam kemaksiatan, kemungkinan masih bisa diharapkan untuk bertaubat”\rKesombongan kaum Yahudi karena memandang bahwa mereka adalah umat pilihan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka merasa diistimewakan dan dilebihkan atas seluruh umat pada zaman yaitu semasa Nabi Musa ‘alaihissalam. Selengkapnya telah kami uraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/10/kesombongan/\rOrang yang merasa berilmu banyak, merasa berkompentesi berijtihad dan tidak mau mengakui pemahaman/pendapat pemimpin ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak) alias Imam Mazhab yang Empat, tidak mau mengakui pemahaman/pendapat para jumhur ulama yang bermazhab atau mereka merasa lebih Ahlus Sunnah dibandingkan muslim yang bermazhab boleh jadi mereka yang terjerumus dalam kesombongan.\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang bertambah ilmunya tapi tidak bertambah hidayahnya, maka dia tidak bertambah dekat kepada Allah melainkan bertambah jauh“\rSelengkapnya telah diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/04/semakin-jauh-darinya/","part":1,"page":248},{"id":249,"text":"Al-Hâfizh adz-Dzahabi adalah murid dari Ibn Taimiyah. Walaupun dalam banyak hal adz-Dzahabi mengikuti faham-faham Ibn Taimiyah, --terutama dalam masalah akidah--, namun ia sadar bahwa ia sendiri, dan gurunya tersebut, serta orang-orang yang menjadi pengikut gurunya ini telah menjadi bulan-bulanan mayoritas umat Islam dari kalangan Ahlussunnah Wal Jama'ah pengikut madzhab al-Imâm Abu al-Hasan al-Asy’ari.\rKondisi ini disampaikan oleh adz-Dzahabi kepada Ibn Taimiyah untuk mengingatkannya agar ia berhenti dari menyerukan faham-faham ekstrimnya, serta berhenti dari kebiasaan mencaci-maki para ulama saleh terdahulu. Untuk ini kemudian adz-Dzahabi menuliskan beberapa risalah sebagai nasehat kepada Ibn Taimiyah, sekaligus hal ini sebagai “pengakuan” dari seorang murid terhadap kesesatan gurunya sendiri. Risalah pertama berjudul Bayân Zghl al-‘Ilm Wa ath-Thalab, dan risalah kedua berjudul an-Nashîhah adz-Dzhabiyyah Li Ibn Taimiyah.\rDalam risalah Bayân Zghl al-‘Ilm, adz-Dzahabi menuliskan ungkapan yang diperuntukan bagi Ibn Taimiyah sebagai berikut [Secara lengkap dikutip oleh asy-Syaikh Arabi at-Tabban dalam kitab Barâ-ah al-Asy’ariyyîn Min ‘Aqâ-id al-Mukhâlifîn, lihat kitab j. 2, h. 9 ]:","part":1,"page":249},{"id":250,"text":"“Hindarkanlah olehmu rasa takabur dan sombong dengan ilmumu. Alangkah bahagianya dirimu jika engkau selamat dari ilmumu sendiri karena engkau menahan diri dari sesuatu yang datang dari musuhmu atau engkau menahan diri dari sesuatu yang datang dari dirimu sendiri. Demi Allah, kedua mataku ini tidak pernah mendapati orang yang lebih luas ilmunya, dan yang lebih kuat kecerdasannya dari seorang yang bernama Ibn Taimiyah. Keistimewaannya ini ditambah lagi dengan sikap zuhudnya dalam makanan, dalam pakaian, dan terhadap perempuan. Kemudian ditambah lagi dengan konsistensinya dalam membela kebenaran dan berjihad sedapat mungkin walau dalam keadaan apapun. Sungguh saya telah lelah dalam menimbang dan mengamati sifat-sifatnya (Ibn Taimiyah) ini hingga saya merasa bosan dalam waktu yang sangat panjang. Dan ternyata saya medapatinya mengapa ia dikucilkan oleh para penduduk Mesir dan Syam (sekarang Siria, lebanon, Yordania, dan Palestina) hingga mereka membencinya, menghinanya, mendustakannya, dan bahkan mengkafirkannya, adalah tidak lain karena dia adalah seorang yang takabur, sombong, rakus terhadap kehormatan dalam derajat keilmuan, dan karena sikap dengkinya terhadap para ulama terkemuka. Anda lihat sendiri, alangkah besar bencana yang ditimbulkan oleh sikap “ke-aku-an” dan sikap kecintaan terhadap kehormatan semacam ini!”.","part":1,"page":250},{"id":251,"text":"Berikut nasehat adz-Dzahabi terhadap Ibn Taimiyah yang ia tuliskan dalam risalah an-Nashîhah adz-Dzahabiyyah, secara lengkap dalam terjemahannya sebagai berikut [Teks lebih lengkap dengan aslinya lihat an-Nashîhah adz-Dzahabiyyah dalam dalam kitab Barâ-ah al-Asy’ariyyîn Min ‘Aqâ-id al-Mukhâlifîn, j. 2, h. 9-11]:\r*****awal kutipan*****\r“Segala puji bagi Allah di atas kehinaanku ini. Ya Allah berikanlah rahmat bagi diriku, ampunilah diriku atas segala kecerobohanku, peliharalah imanku di dalam diriku.\rOh… Alangkah sengsaranya diriku karena aku sedikit sekali memiliki sifat sedih!!\rOh… Alangkah disayangkan ajaran-ajaran Rasulullah dan orang-orang yang berpegang teguh dengannya telah banyak pergi!!\rOh... Alangkah rindunya diriku kepada saudara-saudara sesama mukmin yang dapat membantuku dalam menangis!!\rOh... Alangkah sedih karena telah hilang orang-orang (saleh) yang merupakan pelita-pelita ilmu, orang-orang yang memiliki sifat-sifat takwa, dan orang-orang yang merupakan gudang-gudang bagi segala kebaikan!!\rOh... Alangkah sedih atas semakin langkanya dirham (mata uang) yang halal dan semakin langkanya teman-teman yang lemah lembut yang menentramkan. Alangkah beruntungnya seorang yang disibukan dengan memperbaiki aibnya sendiri dari pada ia mencari-cari aib orang lain. Dan alangkah celakanya seorang disibukan dengan mencari-cari aib orang lain dari pada ia memperbaiki aibnya sendiri.","part":1,"page":251},{"id":252,"text":"Sampai kapan engkau (Wahai Ibn Taimiyah) akan terus memperhatikan kotoran kecil di dalam mata saudara-saudaramu, sementara engkau melupakan cacat besar yang nyata-nyata berada di dalam matamu sendiri?!\rSampai kapan engkau akan selalu memuji dirimu sendiri, memuji-muji pikiran-pikiranmu sendiri, atau hanya memuji-muji ungkapan-ungkapanmu sendiri?! Engkau selalu mencaci-maki para ulama dan mencari-cari aib orang lain, padahal engkau tahu bahwa Rasulullah bersabda: “Janganlah kalian menyebut-menyebut orang-orang yang telah mati di antara kalian kecuali dengan sebutan yang baik, karena sesungguhnya mereka telah menyelesaikan apa yang telah mereka perbuat”.\rBenar, saya sadar bahwa bisa saja engkau dalam membela dirimu sendiri akan berkata kepadaku: “Sesungguhnya aib itu ada pada diri mereka sendiri, mereka sama sekali tidak pernah merasakan kebenaran ajaran Islam, mereka betul-betul tidak mengetahui kebenaran apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad, memerangi mereka adalah jihad”. Padahal, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang sangat mengerti terhadap segala macam kebaikan, yang apa bila kebaikan-kebaikan tersebut dilakukan maka seorang manusia akan menjadi sangat beruntung. Dan sungguh, mereka adalah orang-orang yang tidak mengenal (tidak mengerjakan) kebodohan-kebodohan (kesesatan-kesesatan) yang sama sekali tidak memberikan manfa’at kepada diri mereka. Dan sesungguhnya (Sabda Rasulullah); “Di antara tanda-tanda baiknya keislaman seseorang adalah apa bila ia meninggalkan sesuatu yang tidak memberikan manfa’at bagi dirinya”. (HR. at-Tirmidzi)","part":1,"page":252},{"id":253,"text":"Hai Bung…! (Ibn Taimiyah), demi Allah, berhentilah, janganlah terus mencaci maki kami. Benar, engkau adalah seorang yang pandai memutar argumen dan tajam lidah, engkau tidak pernah mau diam dan tidak tidur. Waspadalah engkau, jangan sampai engkau terjerumus dalam berbagai kesesatan dalam agama. Sungguh, Nabimu (Nabi Muhammad) sangat membenci dan mencaci perkara-perkara [yang ekstrim]. Nabimu melarang kita untuk banyak bertanya ini dan itu. Beliau bersabda: “Sesungguhnya sesuatu yang paling ditakutkan yang aku khawatirkan atas umatku adalah seorang munafik yang tajam lidahnya”. (HR. Ahmad)\rJika banyak bicara tanpa dalil dalam masalah hukum halal dan haram adalah perkara yang akan menjadikan hati itu sangat keras, maka terlebih lagi jika banyak bicara dalam ungkapan-ungkapan [kelompok yang sesat, seperti] kaum al-Yunusiyyah, dan kaum filsafat, maka sudah sangat jelas bahwa itu akan menjadikan hati itu buta.\rDemi Allah, kita ini telah menjadi bahan tertawaan di hadapan banyak makhluk Allah. Maka sampai kapan engkau akan terus berbicara hanya mengungkap kekufuran-kekufuran kaum filsafat supaya kita bisa membantah mereka dengan logika kita??\rHai Bung…! Padahal engkau sendiri telah menelan berbagai macam racun kaum filsafat berkali-kali. Sungguh, racun-racun itu telah telah membekas dan menggumpal pada tubuhmu, hingga menjadi bertumpuk pada badanmu.\rOh… Alangkah rindunya kepada majelis yang di dalamnya diisi dengan tilâwah dan tadabbur, majelis yang isinya menghadirkan rasa takut kepada Allah karena mengingt-Nya, majelis yang isinya diam dalam berfikir.","part":1,"page":253},{"id":254,"text":"Oh… Alangkah rindunya kepada majelis yang di dalamnya disebutkan tentang orang-orang saleh, karena sesungguhnya, ketika orang-orang saleh tersebut disebut-sebut namanya maka akan turun rahmat Allah. Bukan sebaliknya, jika orang-orang saleh itu disebut-sebut namanya maka mereka dihinakan, dilecehkan, dan dilaknat.\rPedang al-Hajjaj (Ibn Yusuf ats-Tsaqafi) dan lidah Ibn Hazm adalah laksana dua saudara kandung, yang kedua-duanya engkau satukan menjadi satu kesatuan di dalam dirimu. (Engkau berkata): “Jauhkan kami dari membicarakan tentang “Bid’ah al-Khamîs”, atau tentang “Akl al-Hubûb”, tetapi berbicaralah dengan kami tentang berbagai bid’ah yang kami anggap sebagai sumber kesesatan”. (Engkau berkata); Bahwa apa yang kita bicarakan adalah murni sebagai bagian dari sunnah dan merupakan dasar tauhid, barangsiapa tidak mengetahuinya maka dia seorang yang kafir atau seperti keledai, dan siapa yang tidak mengkafirkan orang semacam itu maka ia juga telah kafir, bahkan kekufurannya lebih buruk dari pada kekufuran Fir’aun. (Engkau berkata); Bahwa orang-orang Nasrani sama seperti kita. Demi Allah, [ajaran engkau ini] telah menjadikan banyak hati dalam keraguan. Seandainya engkau menyelamatkan imanmu dengan dua kalimat syahadat maka engkau adalah orang yang akan mendapat kebahagiaan di akhirat.","part":1,"page":254},{"id":255,"text":"Oh… Alangkah sialnya orang yang menjadi pengikutmu, karena ia telah mempersiapkan dirinya sendiri untuk masuk dalam kesesatan (az-Zandaqah) dan kekufuran, terlebih lagi jika yang menjadi pengikutmu tersebut adalah seorang yang lemah dalam ilmu dan agamanya, pemalas, dan bersyahwat besar, namun ia membelamu mati-matian dengan tangan dan lidahnya. Padahal hakekatnya orang semacam ini, dengan segala apa yang ia perbuatan dan apa yang ada di hatinya, adalah musuhmu sendiri. Dan tahukah engkau (wahai Ibn Taimiyah), bahwa mayoritas pengikutmu tidak lain kecuali orang-orang yang “terikat” (orang-orang bodoh) dan lemah akal?! Atau kalau tidak demikian maka dia adalah orang pendusta yang berakal tolol?! Atau kalau tidak demikian maka dia adalah aneh yang serampangan, dan tukang membuat makar?! Atau kalau tidak demikian maka dia adalah seorang yang [terlihat] ahli ibadah dan saleh, namun sebenarnya dia adalah seorang yang tidak paham apapun?! Kalau engkau tidak percaya kepadaku maka periksalah orang-orang yang menjadi pengikutmu tersebut, timbanglah mereka dengan adil…!\rWahai Muslim (yang dimaksud Ibn Taimiyah), adakah layak engkau mendahulukan syahwat keledaimu yang selalu memuji-muji dirimu sendiri?! Sampai kapan engkau akan tetap menemani sifat itu, dan berapa banyak lagi orang-orang saleh yang akan engkau musuhi?! Sampai kapan engkau akan tetap hanya membenarkan sifatmu itu, dan berapa banyak lagi orang-orang baik yang akan engkau lecehkan?!\rSampai kapan engkau hanya akan mengagungkan sifatmu itu, dan berapa banyak lagi orang-orang yang akan engkau kecilkan (hinakan)?!","part":1,"page":255},{"id":256,"text":"Sampai kapan engkau akan terus bersahabat dengan sifatmu itu, dan berapa banyak lagi orang-orang zuhud yang akan engkau perangi?!\rSampai kapan engkau hanya akan memuji-muji pernyataan-pernyataan dirimu sendiri dengan berbagai cara, yang demi Allah engkau sendiri tidak pernah memuji hadits-hadits dalam dua kitab shahih (Shahîh al-Bukhâri dan Shahîh Muslim) dengan caramu tersebut?!\rOh… Seandainya hadits-hadits dalam dua kitab shahih tersebut selamat dari keritikmu…! Tetapi sebalikanya, dengan semaumu engkau sering merubah hadits-hadits tersebut, engkau mengatakan ini dla’if, ini tidak benar, atau engkau berkata yang ini harus ditakwil, dan ini harus diingkari.\rTidakkah sekarang ini saatnya bagimu untuk merasa takut?! Bukankah saatnya bagimu sekarang untuk bertaubat dan kembali (kepada Allah)?! Bukankah engkau sekarang sudah dalam umur 70an tahun, dan kematian telah dekat?! Tentu, demi Allah, aku mungkin mengira bahwa engkau tidak akan pernah ingat kematian, sebaliknya engkau akan mencaci-maki seorang yang ingat akan mati! Aku juga mengira bahwa mungkin engkau tidak akan menerima ucapanku dan mendengarkan nesehatku ini, sebaliknya engkau akan tetap memiliki keinginan besar untuk membantah lembaran ini dengan tulisan berjilid-jilid, dan engkau akan merinci bagiku berbagai rincian bahasan. Engkau akan tetap selalu membela diri dan merasa menang, sehingga aku sendiri akan berkata kepadaku: “Sekarang, sudah cukup, diamlah…!”.","part":1,"page":256},{"id":257,"text":"Jika penilaian terhadap dirimu dari diri saya seperti ini, padahal saya sangat menyangi dan mencintaimu, maka bagaimana penilaian para musuhmu terhadap dirimu?! Padahal para musuhmu, demi Allah, mereka adalah orang-orang saleh, orang-orang cerdas, orang-orang terkemuka, sementara para pembelamu adalah orang-orang fasik, para pendusta, orang-orang tolol, dan para pengangguran yang tidak berilmu.\rAku sangat ridla jika engkau mencaci-maki diriku dengan terang-terangan, namun diam-diam engkau mengambil manfaat dari nasehatku ini. “Sungguh Allah telah memberikan rahmat kepada seseorang, jika ada orang lain yang menghadiahkan (memperlihatkan) kepadanya akan aib-aibnya”. Karena memang saya adalah manusia banyak dosa. Alangkah celakanya saya jika saya tidak bertaubat. Alangkah celaka saya jika aib-aibku dibukakan oleh Allah yang maha mengetahui segala hal yang ghaib. Obatnya bagiku tiada lain kecuali ampunan dari Allah, taufik-Nya, dan hidayah-Nya.\rSegala puji hanya milik Allah, Shalawat dan salam semoga terlimpah atas tuan kita Muhammad, penutup para Nabi, atas keluarganya, dan para sahabatnya sekalian.\r*****akhir kutipan*****","part":1,"page":257},{"id":258,"text":"Sebenarnya ada informasi dan saksi yang menyampaikan bahwa ulama Ibnu Taimiyyah sebelum wafat telah sempat bertobat dari kesalahpahaman-kesalahpahamannya namun sayangnya informasi ini tidak tersampaikan dengan baik sehingga kesalahpahaman-kesalahpahaman beliau tetap diikuti oleh ulama-ulama lainnya seperti ulama Muhammad bin Abdul Wahhab yang hidup setelah 350 tahun lebih wafatnya ulama Ibnu Taimiyyah. Sebagaimana contoh yang diriwayatkan dalam tulisan pada http://arisandi.com/?p=964 berikut kutipannya\r***awal kutipan****\rDi antara karya-karya ulama terdahulu yang paling terkesan dalam jiwanya adalah karya-karya Syeikh al-Islam Ibnu Taimiyah. Beliau adalah mujaddid besar abad ke 7 Hijriyah yang sangat terkenal.\rDemikianlah meresapnya pengaruh dan gaya Ibnu Taimiyah dalam jiwanya, sehingga Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab bagaikan duplikat(salinan) Ibnu Taimiyah. Khususnya dalam aspek ketauhidan, seakan-akan semua yang diidam-idamkan oleh Ibnu Taimiyah semasa hidupnya yang penuh ranjau dan tekanan dari pihak berkuasa, semuanya telah ditebus dengan kejayaan Ibnu `Abdul Wahab yang hidup pada abad ke 12 Hijriyah itu.\rSetelah beberapa lama menetap di Mekah dan Madinah, kemudian beliau berpindah ke Basrah. Di sini beliau bermukim lebih lama, sehingga banyak ilmu-ilmu yang diperolehinya, terutaman di bidang hadith danmusthalahnya, fiqh dan usul fiqhnya, gramatika (ilmu qawa’id) dan tidak ketinggalan pula lughatnya semua.","part":1,"page":258},{"id":259,"text":"Lengkaplah sudah ilmu yang diperlukan oleh seorang yang pintar yang kemudian dikembangkan sendiri melalui metode otodidak (belajar sendiri) sebagaimana lazimnya para ulama besar Islam mengembangkan ilmu-ilmunya. Di mana bimbingan guru hanyalah sebagai modal dasar yang selanjutnya untuk dapat dikembangkan dan digali sendiri oleh yang bersangkutan.\r****akhir kutipan*****\rPadahal ulama-ulama terdahulu telah memperingatkan agar menghindari kitab-kitab ulama Ibnu Taimiyyah karena pemahamannya telah menyelisihi pemahaman Imam Mazhab yang Empat, sebagaimana yang disampaikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2010/02/ahlussunnahbantahtaimiyah.pdf maupun pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/07/2011/07/28/semula-bermazhab-hambali/\rBegitu juga ulama-ulama negeri kita telah memperingatkan kita untuk meninggalkan pemahaman Ibnu Taimiyyah dan para pengikutnya seperti contohnya Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, ulama besar Indonesia yang pernah menjadi imam, khatib dan guru besar di Masjidil Haram, sekaligus Mufti Mazhab Syafi’i pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Menurut Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau, ulama-ulama seperti ulama Ibnu Taimiyyah, Ibnu Qoyyim al Jauziah dan Muhammad bin Abdul Wahhab telah keluar daripada pemahaman Ahlussunnah wal Jama’ah dan dan menyalahi pemahaman para pemimpin ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak) alias Imam Mazhab. Antara lain tulisannya ialah ‘al-Khiththah al-Mardhiyah fi Raddi fi Syubhati man qala Bid’ah at-Talaffuzh bian-Niyah’, ‘Nur al-Syam’at fi Ahkam al-Jum’ah’ dan lain-lain\rWassalam","part":1,"page":259},{"id":260,"text":"Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830\rFiles:\rhttp://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2011/12/nasehat-adzahabi-utk-taimiyah-1.jpg\rhttp://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2011/12/nasehat-adzahabi-utk-taimiyah-2.jpg\rhttp://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2011/12/nasehat-adzahabi-utk-taimiyah-3.jpg\rhttp://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2011/12/nasehat-adzahabi-utk-taimiyah-4.jpg\r0896. Seluruh sikap dan perbuatan muslim adalah ibadah\rIbadah sendiri berarti mentaati segala perintahNya dan menjauhi segala larangan-Nya. Orang Islam yang bersujud (sholat) menghadap Ka’bah, tidak berarti dia menyembah Ka’bah, akan tetapi dia sebenarnya sedang bersujud dan menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menghadap ke Ka’bah perwujudan menjalankan perintahNya atau mengakui ke Maha Kuasa an Allah Azza wa Jalla. Begitupula mereka yang mencium Hajar Aswad, tidak berarti menyembah Hajar Aswad akan tetapi mereka menyembah Allah Subhanahu wa ta'ala dengan mencium Hajar Aswad perwujudan menjalankan perintahNya atau mereka mengakui ke Maha Kuasa an Allah Azza wa Jalla. Mereka yang tidak mengakui ke Maha Kuasa an Allah Azza wa Jalla adalah yang dimaksud dengan orang kafir atau menyekutukan Allah, selengkapnya telah diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/12/hakikat-tauhid/\rSeluruh sikap dan perbuatan kita adalah untuk beribadah kepada Allah ta’ala karena itulah tujuan kita diciptakanNya.\rFirman Allah ta’ala yang artinya “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku” (QS Adz Dzaariyaat 51 : 56)","part":1,"page":260},{"id":261,"text":"“Beribadahlah kepada Tuhanmu sampai kematian menjemputmu” (QS al Hijr [15] : 99)\rDalam tulisan-tulisan kami sebelumnya terkait dengan ibadah , kami pergunakan kategorisasi ibadah mahdah dan ibadah ghairu mahdah namun kategorisasi ini dapat menimbulkan kerancuan sehingga dapat terjerumus kedalam paham sekulerisme. Sekulerisme, paham yang menghindarkan manusia dalam kehidupannya me”referensi” kepada Allah / Agama. Dengan berpemahaman ini menjerumuskan kita bahwa seolah ada perbuatan manusia yang merupakan \"urusan dunia\" atau urusan antar manusia dan tidak terkait dengan Allah Azza wa Jalla. Seluruh sikap dan perbuatan kita selalu berhubungan atau terkait dengan Allah Azza wa Jalla. Setiap kita akan bersikap atau melakukan perbuatan harus mengingat apakah sikap atau perbuatan tersebut bertentangan atau tidak bertentangan dengan Al Qur'an dan As Sunnah. Kita harus ingat selalu bahwa kita hanya melakukan sikap dan perbuatan yang tidak bertentangan dengan Al Qur'an dan As Sunnah. Kegiatan mengingat inilah termasuk kedalam dzikrullah (mengingat Allah).\rIbadah terbagi dalam dua kategori yakni amal ketaatan dan amal kebaikan\rAmal ketaatan atau perkara syariat adalah ibadah yang menjadi syarat sebagai hamba Allah yakni menjalankan kewajibanNya (ditinggalkan berdosa), menjauhi larangaNya (dikerjakan berdosa) dan menjauhi apa yang telah diharamkanNya (dikerjakan berdosa)","part":1,"page":261},{"id":262,"text":"Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban (ditinggalkan berdosa), maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa larangan (dikerjakan berdosa)), maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu (dikerjakan berdosa), maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia.” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi).\rAmal ketaatan adalah perkara mau tidak mau harus kita jalankan atau kita taati.\rAmal ketaatan jika tidak dijalankan atau tidak ditaati akan mendapatkan akibat/ganjaran, ganjaran baik (pahala) maupun ganjaran buruk (dosa).\rAmal ketaatan adalah bukti ketaatan atau “bukti cinta” kita kepada Allah Azza wa Jalla dan RasulNya.\rAmal ketaatan harus sesuai dengan apa yang telah dicontohkan/dilakukan oleh Rasulullah\rAmal kebaikan adalah ibadah diluar amal ketaatan yang tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits.\rAmal kebaikan adalah perkara yang dilakukan atas kesadaran kita sendiri untuk meraih kecintaan atau keridhoan Allah Azza wa Jalla.\rAmal kebaikan adalah ibadah yang jika dilakukan dapat pahala (kebaikan) dan tidak dilakukan tidak berdosa.\rAmal kebaikan adalah “ungkapan cinta” kita kepada Allah Azza wa Jalla dan RasulNya.\rAmal kebaikan adalah upaya kita untuk mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla.","part":1,"page":262},{"id":263,"text":"Amal kebaikan tidak harus selalu sesuai dengan apa yang telah dicontohkan/dilakukan oleh Rasulullah, landasannya hanyalah jika tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah adalah amal kebaikan , sebaliknya jika bertentangan dengan Al Qur’an dan AS Sunnah adalah keburukan (sayyiah)\rHukum asal amal ketaatan adalah haram/terlarang selama tidak ada dalil yang menetapkannya\rHukum asal diluar amal ketaatan adalah mubah/boleh selama tidak ada dalil yang melarangnya\rDefinisi bid’ah yang berlaku sejak Nabi Adam a.s sampai sekarang dan sampai akhir zaman adalah perkara baru di luar dari apa yang telah ditetapkanNya atau diwajibkanNya\rPerkara yang telah ditetapkanNya atau diwajibkanNya adalah perkara yang wajib dijalani dan wajib dijauhi atau perkara syariat (syarat sebagai hamba Allah) atau disebut sebagai “urusan kami” atau disebut dengan agama atau disebut amal ketaatan yakni menjalankan kewajibanNya (ditinggalkan berdosa), menjauhi laranganNya (dikerjakan berdosa) dan menjauhi apa yang telah diharamkanNya (dikerjakan berdosa)\rOrang yang menjalankan amal ketaatan atau “bukti cinta” adalah disebut orang beriman (mukmin)\rFirman Allah ta’ala yang artinya\r“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Ali Imron [3]:31 )\r“Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir” (QS Ali Imron [3]:32 )","part":1,"page":263},{"id":264,"text":"“dan ta’atlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman.” (QS Al Anfaal [8]:1 )\rAmal ketaatan adalah apa yang ditetapkanNya yakni perkara kewajiban (ditinggalkan berdosa), batas/larangan dan pengharaman (dikerjakan berdosa)\rDari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya di masa kemudian akan ada peperangan di antara orang-orang yang beriman.” Seorang Sahabat bertanya: “Mengapa kita (orang-orang yang beriman) memerangi orang yang beriman, yang mereka itu sama berkata: ‘Kami telah beriman’.” Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Ya, karena mengada-adakan di dalam agama (mengada-ada dalam perkara yang merupakan hak Allah ta’ala menetapkannya yakni perkara kewajiban, larangan dan pengharaman) , apabila mereka mengerjakan agama dengan pemahaman berdasarkan akal pikiran, padahal di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)\rBagian akhir hadits di atas menyampaikan bahwa “sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya” serta telah sempurna atau telah selesai segala perkara yang ditetapkanNya atau diwajibkanNya atau telah selesai segala perkara yang wajib dijalankan manusia dan wajib dijauhi manusia ketika Nabi Sayyidina Muhammad Shallallahu alaihi wasallam di utus.","part":1,"page":264},{"id":265,"text":"Firman Allah Azza wa Jalla yang artinya, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” ( QS Al Maaidah [5]:3 )\rPerkara baru (bid’ah) dalam amal ketaatan (perkara syariat/syarat sebagai hamba Allah) adalah bid’ah dholalah dan pelakunya disebut Ahli bid’ah.\rAhli bid’ah pun termasuk orang kafir , mereka yang melakukan perbuatan syirik, mereka yang tidak mau mengakui ke-Maha Kuasa-an Allah Azza wa Jalla karena mereka mengubah-ubah apa yang telah ditetapkanNya (diwajibkanNya)\rAhli bid’ah adalah mereka yang mengada-ada atau membuat perkara baru (bid’ah) sehingga mengubah-ubah apa yang telah ditetapkanNya (diwajibkanNya)\rAhli bid’ah adalah mereka yang membuat perkara baru atau mengada-ada yang bukan kewajiban menjadi kewajiban (ditinggalkan berdosa) atau sebaliknya, tidak diharamkan menjadi haram (dikerjakan berdosa) atau sebaliknya dan tidak dilarang menjadi dilarang (dikerjakan berdosa) atau sebaliknya.\rRasulullah mencontohkan kita untuk menghindari perkara baru dalam kewajiban (jika ditinggalkan berdosa). Rasulullah meninggalkan sholat tarawih berjama’ah dalam beberapa malam agar kita tidak berkeyakinan bahwa sholawat tarawih adalah kewajiban (ditinggalkan berdosa) selama bulan Ramadhan.\rRasulullah bersabda, “Aku khawatir bila shalat malam (tarawih) itu ditetapkan sebagai kewajiban atas kalian.” (HR Bukhari 687). Sumber: http://www.indoquran.com/index.php?surano=10&ayatno=120&action=display&option=com_bukhari","part":1,"page":265},{"id":266,"text":"Bid’ah hasanah , jika yang melakukan sholat tarawih berjamaah sebulan penuh berkeyakinan bahwa itu adalah amal kebaikan selama bulan ramadhan walaupun Rasulullah tidak mencontohkan/melakukannya sebulan penuh.\rBid’ah dholalah, jika mereka berkeyakinan bahwa sholat tarawih berjamaah sebulan penuh adalah kewajibanNya atau perintahNya (ditinggalkan berdosa) karena sholat tarawih sebulan penuh tidak pernah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla sebagai kewajiban (ditinggalkan berdosa). Yang ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla sebagai kewajiban (ditinggalkan berdosa) yang harus dikerjakan sebulan penuh pada bulan Ramadhan adalah berpuasa.\rBegitu juga kita dapat ambil pelajaran dari apa yang terjadi dengan kaum Nasrani","part":1,"page":266},{"id":267,"text":"‘Adi bin Hatim pada suatu ketika pernah datang ke tempat Rasulullah –pada waktu itu dia lebih dekat pada Nasrani sebelum ia masuk Islam– setelah dia mendengar ayat yang artinya, “Mereka menjadikan orang–orang alimnya, dan rahib–rahib mereka sebagai tuhan–tuhan selain Allah, dan mereka (juga mempertuhankan) al Masih putera Maryam. Padahal, mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.“ (QS at Taubah [9] : 31) , kemudian ia berkata: “Ya Rasulullah Sesungguhnya mereka itu tidak menyembah para pastor dan pendeta itu“. Maka jawab Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Betul! Tetapi mereka (para pastor dan pendeta) itu telah menetapkan haram terhadap sesuatu yang halal, dan menghalalkan sesuatu yang haram, kemudian mereka mengikutinya. Yang demikian itulah penyembahannya kepada mereka.” (Riwayat Tarmizi)\rBid’ah dholalah adalah perbuatan syirik karena penyembahan kepada selain Allah, penyembahan diantara pembuat bid’ah (perkara baru) dengan pengikutnya.\rBid’ah dholalah adalah perbuatan yang tidak ada ampunannya.\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda\rإِنَّ اللهَ حَجَبَ اَلتَّوْبَةَ عَنْ صَاحِبِ كُلِّ بِدْعَةٍ\r“Sesungguhnya Allah menutup taubat dari semua ahli bid’ah”. [Ash-Shahihah No. 1620]\rFirman Allah ta’ala yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu dan janganlah kamu melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas.” (Qs. al-Mâ’idah [5]: 87).","part":1,"page":267},{"id":268,"text":"Oleh karenanya para hakim agama, para mufti atau mereka yang akan berfatwa dalam perkara kewajiban (ditinggalkan berdosa), larangan (dikerjakan berdosa) atau pengharaman (dikerjakan berdosa) wajib berdasarkan atau turunan dari apa yang telah ditetapkanNya. Sebaiknyalah berpegang pada pendapat atau pemahaman pemimpin ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak) alias Imam Mazhab yang empat sebagaimana yang dicontohkan oleh mufti Mesir Profesor Doktor Ali Jum`ah sebagaimana contoh yang terurai dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/30/hukum-penutup-muka/\rSedangkan bid’ah (perkara baru) diluar apa yang telah ditetapkanNya (diwajibkanNya) atau perkara baru diluar amal ketaatan (perkara syariat/syarat sebagai hamba Allah) ada dua kategori yakni bid’ah dlolalah dan bid’ah hasanah (mahmudah)\rBid’ah dlolalah adalah perkara baru yang bertentangan dengan apa yang telah ditetapkanNya atau diwajibkanNya\rBid’ah hasanah adalah perkara baru yang tidak bertentangan dengan apa yang telah ditetapkanNya atau diwajibkanNya.\rImam Asy Syafi’i ~rahimahullah berkata “Apa yang baru terjadi dan menyalahi kitab al Quran atau sunnah Rasul atau ijma’ atau ucapan sahabat, maka hal itu adalah bid’ah yang dhalalah. Dan apa yang baru terjadi dari kebaikan dan tidak menyalahi sedikitpun dari hal tersebut, maka hal itu adalah bid’ah mahmudah (terpuji)”\rBahkan al- Imam Nawawi membaginya dalam 5 status hukum.\rأن البدع خمسة أقسام واجبة ومندوبة ومحرمة ومكروهة ومباحة","part":1,"page":268},{"id":269,"text":"“Sesungguhnya bid’ah terbagi menjadi 5 macam ; bid’ah yang wajib, mandzubah (sunnah), muharramah (bid’ah yang haram), makruhah (bid’ah yang makruh), dan mubahah (mubah)” [Syarh An-Nawawi ‘alaa Shahih Muslim, Juz 7, hal 105]\rContoh sederhana bid’ah hasanah (mahmudah) adalah peringatan Maulid Nabi.\rPeringatan Maulid Nabi adalah bukan perkara syariat atau perbuatan yang tidak diwajibkanNya namun tidak bertentangan dengan apa yang telah ditetapkanNya/diwajibkanNya (tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah) maka termasuk amal kebaikan\rAmal kebaikan adalah segala perkara diluar apa yang telah ditetapkanNya (diwajibkanNya) atau segala perkara diluar amal ketaatan (perkara syariat/syarat sebagai hamba Allah) yang tidak bertentangan dengan apa yang telah ditetapkanNya / diwajibkanNya (tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah)\rImam Al hafidh Abu Syaamah rahimahullah (Guru imam Nawawi) : Merupakan Bid’ah hasanah yang mulia dizaman kita ini adalah perbuatan yang diperbuat setiap tahunnya di hari kelahiran Rasul shallallahu alaihi wasallam dengan banyak bersedekah, dan kegembiraan, menjamu para fuqara, seraya menjadikan hal itu memuliakan Rasul shallallahu alaihi wasallam dan membangkitkan rasa cinta pada beliau shallallahu alaihi wasallam, dan bersyukur kepada Allah ta’ala dengan kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam","part":1,"page":269},{"id":270,"text":"Imamul Qurra’ Alhafidh Syamsuddin Aljazriy rahimahullah dalam kitabnya ‘Urif bitta’rif Maulidissyariif : Telah diriwayatkan Abu Lahab diperlihatkan dalam mimpi dan ditanya apa keadaanmu?, ia menjawab : “di neraka, tapi aku mendapat keringanan setiap malam senin, itu semua sebab aku membebaskan budakku Tsuwaibah demi kegembiraanku atas kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam dan karena Tsuwaibah menyusuinya ” (shahih Bukhari hadits no.4813). maka apabila Abu Lahab Kafir yang Alqur’an turun mengatakannya di neraka mendapat keringanan sebab ia gembira dengan kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam, maka bagaimana dengan muslim ummat Muhammad shallallahu alaihi wasallam yang gembira atas kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam?, maka demi usiaku, sungguh balasan dari Tuhan Yang Maha Pemurah sungguh-sungguh ia akan dimasukkan ke sorga kenikmatan Nya dengan sebab anugerah Nya.\rImam Al Hafidh Assakhawiy dalam kitab Sirah Al Halabiyah berkata “tidak dilaksanakan maulid oleh salaf hingga abad ke tiga, tapi dilaksanakan setelahnya, dan tetap melaksanakannya umat Islam di seluruh pelosok dunia dan bersedekah pada malamnya dengan berbagai macam sedekah dan memperhatikan pembacaan maulid, dan berlimpah terhadap mereka keberkahan yang sangat besar”.\rImam Al hafidh Ibn Abidin rahimahullah dalam syarahnya maulid ibn hajar berkata : “ketahuilah salah satu bid’ah hasanah adalah pelaksanaan maulid di bulan kelahiran nabi shallallahu alaihi wasallam”","part":1,"page":270},{"id":271,"text":"Imam Al Hafidh Ibnul Jauzi rahimahullah, dengan karangan maulidnya yang terkenal “al aruus” juga beliau berkata tentang pembacaan maulid, “Sesungguhnya membawa keselamatan tahun itu, dan berita gembira dengan tercapai semua maksud dan keinginan bagi siapa yang membacanya serta merayakannya”.\rImam Al Hafidh Al Qasthalaniy rahimahullah dalam kitabnya Al Mawahibulladunniyyah juz 1 hal 148 cetakan al maktab al islami berkata: “Maka Allah akan menurukan rahmat Nya kepada orang yang menjadikan hari kelahiran Nabi saw sebagai hari besar”.\rMuslim yang menjalankan amal ketaatan atau muslim yang beriman (mukmin) dan menjalankan amal kebaikan atau mereka yang mengungkapkan cintanya kepada Allah Allah Azza wa Jalla dan RasulNya adalah disebut muhsin / muhsinin, muslim yang ihsan atau muslim yang baik atau sholihin.\rFirman Allah ta’ala yang artinya, “Inilah ayat-ayat Al Qura’an yang mengandung hikmah, menjadi petunjuk dan rahmat bagi muhsinin (orang-orang yang berbuat kebaikan), (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat. Mereka itulah orang-orang yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung” (QS Lukman [31]:2-5)\rMereka itulah orang-orang yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.\rFirman Allah ta’ala yang artinya: “Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS An Nuur [24]:35)","part":1,"page":271},{"id":272,"text":"“Barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun”. (QS An Nuur [24]:40 )\r“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya) ? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (QS Az Zumar [39]:22)\rMuslim yang menjalankan amal ketaatan atau muslim yang beriman (mukmin) dan berbuat amal kebaikan (muhsin/muhsinin) atau sholihin adalah mereka yang termasuk manusia disisiNya. Mereka yang telah dikarunia ni’mat oleh Allah Azza wa Jalla. Mereka yang terbukti tetap istiqomah pada jalan yang lurus\rFirman Allah ta’ala yang artinya : “Tunjukilah kami jalan yang lurus” (QS Al Fatihah [1]:6 )\r” (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada mereka….” (QS Al Fatihah [1]:7 )\r“Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, para syuhada, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya .” (QS An Nisaa [4]: 69 )\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam menyampaikan bahwa amal kebaikan (amal sholeh) sangat luas sekali.","part":1,"page":272},{"id":273,"text":"Dari Abu Dzar r.a. berkata, bahwasanya sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata kepada beliau: “Wahai Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, orang-orang kaya telah pergi membawa banyak pahala. Mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, namun mereka dapat bersedekah dengan kelebihan hartanya.” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Bukankah Allah telah menjadikan untukmu sesuatu yang dapat disedekahkan? Yaitu, setiap kali tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, menyuruh pada kebaikan adalah sedekah, melarang kemungkaran adalah sedekah, dan hubungan intim kalian (dengan isteri) adalah sedekah.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah salah seorang di antara kami melampiaskan syahwatnya dan dia mendapatkan pahala?” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab, “Bagaimana pendapat kalian jika ia melampiaskan syahwatnya pada yang haram, apakah ia berdosa? Demikian juga jika melampiaskannya pada yang halal, maka ia mendapatkan pahala.” (HR. Muslim 1674) Sumber: http://www.indoquran.com/index.php?surano=13&ayatno=50&action=display&option=com_muslim Selengkapnya tentang amal sholeh telah disampaikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/01/18/2010/10/27/amal-sholeh/","part":1,"page":273},{"id":274,"text":"Al-Qur’an dan Hadits pada hakikatnya memuat amal ketaatan atau ketetapan yang menjadi hak Allah Azza wa Jalla yakni ketetapan berupa kewajiban dan larangan (batas/larangan dan pengharaman). Dalam Al-Qur’an dan Hadits memang disebutkan beberapa contoh amal kebaikan (amal sholeh) namun tidak seluruh amal kebaikan (amal sholeh) yang akan dikerjakan manusia sejak Nabi Adam a.s sampai kiamat nanti diuraikan dalam Al-Qur’an maupun Hadits. Kalau diuraikan seluruhnya akan membutuhkan lembaran Al-Qur’an maupun Hadits yang luar biasa banyaknya.\rAmal kebaikan tidak harus atau tidak selalu terkait dengan apakah telah dicontohkan/dilakukan atau tidak dicontohkan/dilakukan oleh Rasulullah atau Salafush Sholeh. Amal kebaikan sejak Nabi Adam a.s sampai akhir zaman tetap perkara baik selama tidak bertentangan dengan apa yang telah ditetapkanNya atau diwajibkanNya atau tidak bertentangan dengan amal ketaatan.\rKaidah “LAU KAANA KHOIRON LASABAQUNA ILAIHI” (Seandainya hal itu baik, tentu mereka, para sahabat akan mendahului kita dalam melakukannya) tidak berlandaskan Al Qur’an dan Hadits. Kesalahpahaman kaidah ini telah kami uraikan dalam tulisan pada\rhttp://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/05/08/lau-kaana-khoiron/\rhttp://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/05/04/apa-kaitannya/\rhttp://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/04/20/jika-itu-baik/\rSegala amal kebaikan atau amal sholeh atau amalan sunnah adalah yang dimaksud dengan dzikrullah.","part":1,"page":274},{"id":275,"text":"Dalam suatu riwayat. ”Qoola a’liyy bin Abi Thalib: Qultu yaa Rosuulolloh ayyun thoriiqotin aqrobu ilallohi? Faqoola Rasullulohi: dzikrullahi”. artinya; “Ali Bin Abi Thalib berkata; “aku bertanya kepada Rasullulah, jalan/metode(Thariqot) apakah yang bisa mendekatkan diri kepada Allah? “Rasullulah menjawab; “dzikrulah.”\rAmal kebaikan adalah segala sikap dan perbuatan yang dilakukan bukan di wajibkanNya namun atas kesadaran sendiri karena Allah ta’ala semata atau karena mengingat Allah atau wujud dari kecintaan hamba kepada Allah ta’ala dan Allah ta’ala pun mencintai hambaNya maka jadilah kekasih Allah atau wali Allah dengan berbagai tingkat kedekatan atau tingkat kewalian sebagaimana yang disampaikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/09/28/maqom-wali-allah/\rTujuan amal kebaikan adalah untuk mendekatkan diri kita atau memperjalankan diri kita agar sampai (wushul) kepada Allah ta’ala. Hal ini telah diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/05/perjalankanlah-diri-kita/","part":1,"page":275},{"id":276,"text":"Dalam sebuah haditas Qudsi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah berfirman; Siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan perang kepadanya, dan hamba-Ku tidak bisa mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada yang telah Aku wajibkan (amal ketaatan), jika hamba-Ku terus menerus mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan sunnah (amal kebaikan), maka Aku mencintai dia, jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya yang ia jadikan untuk mendengar, dan pandangannya yang ia jadikan untuk memandang, dan tangannya yang ia jadikan untuk memukul, dan kakinya yang dijadikannya untuk berjalan, jikalau ia meminta-Ku, pasti Kuberi, dan jika meminta perlindungan kepada-KU, pasti Ku-lindungi. Dan aku tidak ragu untuk melakukan sesuatu yang Aku menjadi pelakunya sendiri sebagaimana keragu-raguan-Ku untuk mencabut nyawa seorang mukmin yang ia (khawatir) terhadap kematian itu, dan Aku sendiri khawatir ia merasakan kepedihan sakitnya. (HR Muslim 6021) Link: http://www.indoquran.com/index.php?surano=61&ayatno=89&action=display&option=com_bukhari\rBoleh jadi mereka yang membenci peringatan Maulid Nabi atau mereka yang men-syirik-kan sholawat nariyah, sholawat badar, qashidah burdah, maulid barzanji adalah mereka yang terkena ghazwul fikri atau terkena upaya adu domba yang dilakukan oleh orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman. Hal ini telah diuraikan dalam tulisan sebelumnya pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/11/puritan-radikalisme/","part":1,"page":276},{"id":277,"text":"Firman Allah yang artinya, “Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik” (Al Maaidah: 82)\rUntuk itulah kaum Yahudi dan orang-orang musyrik yakni kaum Zionis Yahudi terus melakukan upaya ghazwul fikri (perang pemahaman) agar umat muslim pada umumnya tidak memperjalankan dirinya untuk sampai (wushul) kepada Allah ta’ala atau tidak tahu bagaimana yang dimaksud mendekatkan diri kepada Allah ta’ala.\rKaum Zionis Yahudi sangat takut kepada umat Islam yang jika berdoa kepada Allah ta’ala dan pasti dikabulkanNya. Inilah adalah hakikat dari doa adalah senjata kaum mukmin.\rNamun yang harus kita ingat bahwa kita tetap harus berlaku adil kepada mereka atau kepada kaum non muslim atau kaum kafir. Pada hakikatnya mereka menjadi seperti itu adalah kehendak Allah Azza wa Jalla juga. Perlakukan dengan baik sebagaimana perlakuan kita kepada ciptaanNya yang lain selama mereka berlaku baik kepada kita.\rIslam mengajarkan damai dan berbuat baik bukan hanya terhadap manusia, akan tetapi sampai terhadap hewan dan tumbuh-tumbuhan. Bukankah dalam hadist Nabi shallallahu alaihi wasallam telah diriwayatkan bahwa seorang wanita masuk neraka karena telah menganiyaya seekor kucing. Begitu pula seorang pelacur masuk sorga karena telah memberi minum seekor anjing yang kehausan.\rRahmat Islam benar-benar lil ‘alamin (bagi semesta alam). Tidak hanya manusia, tetapi hewan, tumbuh-tumbuhan dan lingkungan hidup, semua memperoleh rahmat Islam.","part":1,"page":277},{"id":278,"text":"Ibnu Abbas ra. meriwayatkan, ada seorang lelaki yang merebahkan kambingnya sementara dia masih menajamkan pisaunya. Lalu Rasulullah bersabda, “Apakah engkau ingin membunuh kambing itu dua kali? Jangan lakukan itu. Tajamkan pisaumu sebelum kamu merebahkan kambingmu.”\rIbnu Sirin juga meriwayatkan bahwa Khalifah Umar bin Khattab pernah melihat seseorang sedang menyeret kaki kambing untuk disembelih. Beliau marah dan menegur orang tersebut., “Jangan lakukan itu! Giringlah hewan itu menuju kematiannya dengan baik.” (HR Imam Nasai)\rAllah Azza wa Jalla akan memasukan muslim yang menjalankan amal ketaatan atau muslim yang beriman (mukmin) dan beramal kebaikan / beramal sholeh (muhsin/muhsinin/sholihin) kedalam jannah dan Allah Azza wa Jalla mengibaratkan orang-orang kafir bagaikan binatang dan memasukkan mereka kedalam jahannam.\rFirman Allah Azza wa Jalla yang artinya “Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang mu’min dan beramal saleh ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan jahannam adalah tempat tinggal mereka.” (QS Muhammad [47]:12 )\rMasihkah kita menjadikan mereka yang diibaratkan oleh Allah Azza wa Jalla bagaikan “binatang” sebagai “teman kepercayaan”, sebagai pelindung, sebagai penasehat atau bahkan sebagai pemimpin dunia ?\rPerlakuan kita kepada kaum non muslim memang harus adil dan baik namun terkadang memperlakukan mereka dengan baik namun melupakan Ukhuwah Islamiyah","part":1,"page":278},{"id":279,"text":"Dahulu kita “terikat” pada kesatuan dalam aqidah (aqidah state) atau jama’atul muslimin (jama’ah kaum muslim) dan berakhir pada masa kekhalifahan Turki Ustmani. Keberakhiran kekhalifahan pada dasarnya karena terpengaruh paham individualisme yang dilancarkan oleh kaum Zionis Yahudi\rPaham individualisme untuk memecah belah umat Islam atau upaya meruntuhkan Ukhuwah Islamiyah. Kita telah terpecah belah ke dalam beberapa wilayah atau negara atau kesatuan dalam negara (nation state) yang dikenal dengan propaganda nasionalisme. Salah satu hasutan kaum Zionis Yahudi adalah menumbuhkan nasionalisme Arab\rSecara perlahan namun pasti, “lembaga-lembaga pengkajian” yang dipimpin para orientalis Barat ini meracuni pemikiran umat Islam Turki. Para orientalis menjelek-jelekkan sistem Islam dan membangga-banggakan sistem nasionalisme. Dari sinilah lahir gerakan nasionalisme Arab. Jenderal Allenby mengirim seorang perwira Yahudi Inggris bernama Edward Terrence Lawrence ke Hijaz untuk menemui para pemimpin di sana. TE. Lawrence ini diterima dengan sangat baik dan seluruh hasutannya di makan mentah-mentah oleh tokoh-tokoh Hijaz. Maka orang-orang dari Hijaz ini kemudian membangkitkan nasionalisme Arab dan mengajak tokoh-tokoh pesisir Barat Saudi untuk berontak terhadap kekuasaan kekhalifahan Turki Utsmaniyah, dan setelah itu mendirikan Kerajaan Islam Saudi Arabia.\rPaham nasionalisme adalah paham individualisme dalam skala besar yakni skala negara.","part":1,"page":279},{"id":280,"text":"Dengan terhasut paham nasionalisme (individualisme skala besar) mengakibatkan “keadaan perang” di negara atau wilayah saudara muslim lainnya seperti di Palestina, Afghanistan, dll, tidak dianggap atau dirasakan sebagai keadaan perang di negara kaum muslim lainnya. Sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kamu akan melihat orang-orang mukmin dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR Bukhari 5552) (HR Muslim 4685)\rSehingga sebagian penguasa negeri yang beragama Islam , tidak merasa bersalah menjadikan Amerika yang dibelakangnya kaum Zionis Yahudi sebagai \"teman kepercayaan\", penasehat, pelindung\rFirman Allah Azza wa Jalla yang artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya” , (QS Ali Imran, 118)","part":1,"page":280},{"id":281,"text":"“Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati“. (QS Ali Imran, 119)\r“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak, atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.” (Qs. Al Mujadilah : 22)\r“Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dan meninggalkan orang-orang mu’min. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah…” (Qs. Ali-Imran : 28)\r“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui“. (QS Al Mujaadilah [58]:14 )","part":1,"page":281},{"id":282,"text":"Ironis yang terjadi di wilayah kerajaan dinasti Saudi, mereka menjadikan Amerika (dibelakangnya kaum Zionis Yahudi) sebagai teman kepercayaan, pelindung, penasehat. Contoh paling mudah untuk diketahui bahwa mereka menyusun kurikulum pendidikan agama bekerjasama dengan Amerika yang dibelakangnya adalah kaum Zionis Yahudi , sebagaimana yang terurai dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/07/muslim-bukanlah-ekstrimis/ Inilah salah satu “pintu masuk” ghazwul fikri (perang pemahaman) yang dilancarkan oleh kaum Zionis Yahudi dan kesalahpahaman-kesalahpahaman tersebut menyebar luas ke negeri-negeri kaum muslim melalui perantaraan contohnya beasiswa pendidikan di wilayah kerajaan dinasti Saudi. Begitupula dengan penguasa negeri lainnya yang mengaku muslim namun mereka menjadi \"boneka\" Amerika atau menjadikan Amerika atau kaum Zionis Yahudi sebagai teman kepercayaan, pelindung, penasehat. Tindakan para penguasa negeri inilah yang menimbulkan kemudharatan bagi kaum muslim sebagaimana yang telah difirmankan Allah Azza wa Jalla dalam (QS Ali Imran, 118).\rHasbunallah wani'mal wakil. \"Cukuplah Allah sebagai penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baik tempat bersandar\" (QS Ali `Imran [3]: 173)\rWassalam\rZon di Jonggol, Kab Bogor 16830\r0901. Kita Tidak Perlu Khawatir Lagi Akan Bid’ah","part":1,"page":282},{"id":283,"text":"Kaum muslim pada generasi sekarang seharusnya tidak perlu khawatir lagi akan bid’ah. Tidak perlu lagi membicarakan tentang bid’ah. Sungguh keterlaluan mereka yang menghujat saudara muslim lainnya sebagai ahlul bid’ah , karena mengatakan saudara muslim lainnya sebagai ahlul bid’ah sama saja telah mengkafirkannya. Hal ini telah kami sampaikan dalam tulisan sebelumnya pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/15/seluruhnya-ibadah/ atau pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/11/03/ahli-bidah-sebenarnya/\rDalam beberapa tulisan sebelumnya telah kami sampaikan tentang empat gerakan yang dilancarkan oleh kaum Zionis Yahudi dalam rangka ghazwul fikri (perang pemahaman) melalui pusat-pusat kajian Islam yang mereka dirikan atau melalui ulama yang “dibentuk” atau dipengaruhi oleh mereka yakni\r1.…Paham anti mazhab, umat muslim diarahkan untuk tidak lagi mentaati pimpinan ijtihad atau imam mujtahid alias Imam Mazhab\r2.…Pemahaman secara ilmiah, umat muslim diarahkan untuk memahami Al Qur’an dan As Sunnah dengan akal pikiran masing-masing dengan metodologi “terjemahkan saja” hanya memandang dari sudut bahasa (lughat) dan istilah (terminologis) namun kurang memperhatikan nahwu, shorof, balaghoh, makna majaz, dll\r3.…Paham anti tasawuf untuk merusak akhlak kaum muslim karena tasawuf adalah tentang Ihsan atau jalan menuju muslim yang Ihsan atau muslim yang berakhlakul karimah.\r4.…Paham Sekulerisme, Pluralisme, Liberalisme (SEPILIS) disusupkan kepada umat muslim yang mengikuti pendidikan di “barat”","part":1,"page":283},{"id":284,"text":"Salah satunya adalah perwira Yahudi Inggris bernama Edward Terrence Lawrence yang dikenal oleh ulama jazirah Arab sebagai Laurens Of Arabian. Laurens menyelidiki dimana letak kekuatan umat Islam dan berkesimpulan bahwa kekuatan umat Islam terletak kepada ketaatan dengan mazhab (bermazhab) dan istiqomah mengikuti tharikat-tharikat tasawuf. Laurens mengupah ulama-ulama yang anti tharikat dan anti mazhab untuk menulis sebuah buku yang menyerang tharikat dan mazhab. Buku tersebut diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan dibiayai oleh pihak orientalis.\rMereka yang menyibukkan diri mendiskusikan, membahas tentang bid’ah atau dalam kutbah jum’at masih menyampaikan “Kullu bid’atin dholalah” , boleh jadi karena mereka korban fitnah atau ghazwul fikri (perang pemahaman) alias hasutan yang dilakukan oleh kaum Zionis Yahudi untuk tidak mempercayai hasil jerih payah pemimpin ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak) alias Imam Mazhab yang empat.\rMereka menyibukkan diri dengan mengulangi kembali apa yang telah dilakukan oleh Imam Mazhab yang empat namun sayangnya mereka belum berkompetensi seperti kompetensi Imam Mazhab yang empat dan bahan ijtihad mereka terbatas pada hadits yang telah dibukukan sedangkan kita tahu bahwa hadits yang telah dibukukan hanya sebagian saja dan sebagian lagi dalam bentuk hafalan para penghafal hadits yang tidak lagi kita dapat temukan. Hadits-hadits yang tidak dibukukan merupakan bagian bahan ijtihad dan istinbat para Imam Mazhab yang empat.","part":1,"page":284},{"id":285,"text":"Timbul kekhawatiran akan bid'ah dikarenakan mereka \"menelusuri\" kembali masa generasi Salafush Sholeh. Kekhawatiran terhadap bid'ah pada generasi Salafush Sholeh adalah ketika itu perkara syariat belum lagi dibukukan. Para Imam Mazhab yang empat lah yang menelusuri Al Qur’an dan mengumpulkan hadits-hadits dan berijtihad dengannya sehingga dapat menetapkannya kedalam 5 hukum perkara (istinbat) yakni wajib (fardhu), sunnah (mandub), haram, makruh, mubah.\rPada masa sekarang tidak ada lagi yang perlu ditelusuri dalam masalah perkara syariat yakni syarat sebagai hamba Allah meliputi menjalankan kewajibanNya (ditinggalkan berdosa), menjauhi laranganNya (dikerjakan berdosa) dan menjauhi apa yang telah diharamkanNya (dikerjakan berdosa).\rTidak ada lagi yang perlu ditelusuri untuk ditetapkan sebagai kewajibanNya (ditinggalkan berdosa). Fatwa-fatwa yang timbul pada masa kini adalah dalam perkara larangan (dikerjakan berdosa) dan pengharaman (dikerjakan berdosa) itupun merupakan turunan dari apa yang telah ditetapkanNya.\rSetelah para Imam Mazhab yang empat menyampaikan ijtihad dan istinbat mereka dalam kitab fiqih maka tidak perlu lagi buang-buang waktu diskusi, ceramah atau khutbah membahas tentang bid’ah.\rImam Mazhab yang Empat telah menguraikan dalam kitab fiqih, batas agama atau perkara syariat yakni apa saja kewajibanNya (ditinggalkan berdosa) yang harus dijalankan oleh seorang muslim dan apa saja laranganNya (dikerjakan berdosa) dan apa saja yang telah diharamkanNya (dikerjakan berdosa) yang harus dijauhi seorang muslim.","part":1,"page":285},{"id":286,"text":"Kita tidak perlu mengulangi lagi apa yang dtelah dilakukan oleh Imam Mazhab yang empat. Kita hanya tinggal menjalankan saja segala perkara syariat yang telah dijabarkan oleh Imam Mazhab yang empat, segala perkara yang wajib dijalankan dan wajib dijauhi mulai kita bangun tidur sampai tidur kembali,\rJika menghadapi sesuatu yang baru atau sesuatu yang tidak pernah dicontohkan/dilakukan oleh Rasulullah dan diluar amall ketaatan atau diluar perkara syariat (syarat sebagai hamba Allah) atau perkara diluar dari apa yang telah diwajibkanNya, pegangan kita adalah jika tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits maka termasuk amal kebaikan dan sebaliknya jika bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits maka termasuk keburukan (sayyiah).\rImam Asy Syafi’i ~rahimahullah berkata “Apa yang baru terjadi dan menyalahi kitab al Quran atau sunnah Rasul atau ijma’ atau ucapan sahabat, maka hal itu adalah bid’ah yang dhalalah. Dan apa yang baru terjadi dari kebaikan dan tidak menyalahi sedikitpun dari hal tersebut, maka hal itu adalah bid’ah mahmudah (terpuji)”\rBahkan al- Imam Nawawi membaginya dalam 5 status hukum.\rأن البدع خمسة أقسام واجبة ومندوبة ومحرمة ومكروهة ومباحة\r“Sesungguhnya bid’ah terbagi menjadi 5 macam ; bid’ah yang wajib, mandzubah (sunnah), muharramah (bid’ah yang haram), makruhah (bid’ah yang makruh), dan mubahah (mubah)” [Syarh An-Nawawi ‘alaa Shahih Muslim, Juz 7, hal 105]","part":1,"page":286},{"id":287,"text":"Bermacam-macam matan/lafaz sholawat, matan/lafaz dzikir, untaian doa dan dzikir (ratib) walaupun tidak pernah dicontohkan/dilakukan oleh Rasulullah, selama matan/lafaznya tidak bertentangan dengan Al Qur'an dan As Sunnah maka hal itu perkara baru (bid'ah) yang mahmudah / hasanah.\rAmal kebaikan atau amal sholeh yang mereka perbincangkan telah diuraikan dalam beberapa tulisan.\rTentang sholawat nariyah, http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/05/10/dengan-rasulullah-2/\rTentang sholawat badar, http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/03/14/dengan-rasulullah/\rRiwayat sholawat badar, http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/05/10/2011/05/02/sholawat-badar/\rTentang qashidah burdah, http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/06/melalui-hambanya/\rRiwayat qashidah burdah, http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/05/kasidah-burdah/\rTentang Maulid Barjanzi http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/02/kembalilah-seperti-semula/\rBahkan kitapun dapat mendatangi Rasulullah dan mendapatkan untaian doa dan dzikir dari Beliau atas izin Allah Azza wa Jalla dengan sarana yang dikehendakiNya seperti melalui mimpi. Sebagaimana yang telah diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/16/suasana-bathin/\rDalam tulisan sebelumnya pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/15/seluruhnya-ibadah/ telah kami sampaikan bahwa seluruh sikap dan perbuatan kita adalah untuk beribadah kepada Allah ta’ala karena itulah tujuan kita diciptakanNya.\rFirman Allah ta’ala yang artinya :","part":1,"page":287},{"id":288,"text":"“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku” (QS Adz Dzaariyaat 51 : 56)\r“Beribadahlah kepada Tuhanmu sampai kematian menjemputmu” (QS al Hijr [15] : 99)\rIbadah terbagi dalam dua kategori yakni amal ketaatan dan amal kebaikan\rAmal ketaatan atau perkara syariat adalah ibadah yang menjadi syarat sebagai hamba Allah yakni menjalankan kewajibanNya (ditinggalkan berdosa), menjauhi larangaNya (dikerjakan berdosa) dan menjauhi apa yang telah diharamkanNya (dikerjakan berdosa)\rAmal kebaikan adalah ibadah diluar amal ketaatan yang tidak bertentangan dengan Al Qur'an dan Hadits.\rAmal ketaatan = perkara syariat = urusan agama = \"urusan kami\" yakni perintahNya dan laranganNya\rDari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, , \"sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)\rAgama telah sempurna atau telah selesai segala perkara yang ditetapkanNya atau diwajibkanNya atau telah selesai segala perkara yang wajib dijalankan manusia dan wajib dijauhi manusia ketika Nabi Sayyidina Muhammad Shallallahu alaihi wasallam di utus.","part":1,"page":288},{"id":289,"text":"Kami menyampaikan kategorisasi ibadah kedalam amal ketaatan dan amal kebaikan berdasarkan apa yang telah dilakukan oleh para Imam Mazhab yang empat. Mereka umumnya mengkategorisasikannya kedalam 5 hukum perkara yakni wajib (fardhu), sunnah (mandub), haram, makruh, mubah. Lebih detail lagi ada fardu ‘ain, fardu kifayah, sunnah muakad, sunnah ghairu muakad, dan sebagainya. Semua itu kami kerucutkan menjadi dua kategori yakni amal ketaatan dan amal kebaikan.\rKategorisasi yang kami sampaikan ini berdasarkan firman Allah Azza wa Jalla dalam beberapa ayat yang semakna, contohnya yang artinya,\r“Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan”. (QS Al Baqarah [2]:110)\r“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (QS Al Baqarah [2]: 277)\rAllah Azza wa Jalla menyampaikan amal ketaatan meliputi orang-orang beriman yang menjalankan kewajiban mendirikan sholat dan menunaikan zakat dan melakukan amal kebaikan (amal shaleh)","part":1,"page":289},{"id":290,"text":"Begitu pula dengan apa yang telah disampaikan oleh Rasulullah, contohnya : Beliau menjawab: ‘Kamu menyembah Allah, tidak mensyirikkan-Nya dengan sesuatu apa pun, mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyambung silaturrahim dengan keluarga.“ Ketika dia pamit maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika dia berpegang teguh pada sesuatu yang diperintahkan kepadanya niscaya dia masuk surga’. Dan dalam suatu riwayat Ibnu Abu Syaibah, Jika dia berpegang teguh dengannya. (HR Muslim 15)\rSumber: http://www.indoquran.com/index.php?surano=2&ayatno=7&action=display&option=com_muslim\rAmal ketaatan yangi dicontohkan oleh Rasulullah adalah mendirikan sholat, menunaikan zakat dan amal kebaikan yang dicontohkan adalah menyambung silaturrahim dengan keluarga.\rOrang yang menjalankan amal ketaatan atau “bukti cinta” adalah disebut orang beriman (mukmin)\rFirman Allah ta’ala yang artinya : “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Ali Imron [3]:31 )\r“Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir” (QS Ali Imron [3]:32 )\r“dan ta’atlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman.” (QS Al Anfaal [8]:1 )","part":1,"page":290},{"id":291,"text":"Muslim yang menjalankan amal ketaatan atau muslim yang beriman (mukmin) dan menjalankan amal kebaikan atau mereka yang mengungkapkan cintanya kepada Allah Allah Azza wa Jalla dan RasulNya adalah disebut muhsin / muhsinin, muslim yang ihsan atau muslim yang baik atau sholihin.\rFirman Allah ta’ala yang artinya, “Inilah ayat-ayat Al Qura’an yang mengandung hikmah, menjadi petunjuk dan rahmat bagi muhsinin (orang-orang yang berbuat kebaikan), (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat. Mereka itulah orang-orang yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung” (QS Lukman [31]:2-5)\rMuslim yang menjalankan amal ketaatan (muslim yang beriman) dan menjalankan amal kebaikan (muslim yang sholeh) niscaya mereka akan masuk surga\rBalasan bagi muslim yang menjalakan amal ketaatan (orang beriman) dan menjalankan amal kebaikan (beramal saleh) sebagaimana yang disampaikan firmanNya yang artinya :\r[2:82] Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.\r[4:122] Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan saleh, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah telah membuat suatu janji yang benar. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya dari pada Allah\r[11:23] Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh dan merendahkan diri kepada Tuhan mereka, mereka itu adalah penghuni-penghuni syurga; mereka kekal di dalamnya","part":1,"page":291},{"id":292,"text":"Janji Allah ta’ala bagi mereka yang beriman (mukmin) dan mengerjakan amal saleh, masuk surga tanpa hisab\r“….Dan barangsiapa mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezki di dalamnya tanpa hisab. (QS Al Mu’min [40]:40 )\r“Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun”. (QS An Nisaa’ [4]:124 )\rAmal ketaatan adalah segala perkara atau ibadah yang diwajibkanNya yakni wajib dijalankan (ditinggalkan berdosa) dan wajib dijauhi (dikerjakan berdosa)\rAmal kebaikan adalah perkara yang boleh dikerjakan dan boleh ditinggalkan dan banyak macam amal kebaikan dan boleh kita pilih mana yang kita akan lakukan\rDalam sebuah haditas Qudsi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: \"hamba-Ku tidak bisa mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada yang telah Aku wajibkan (amal ketaatan), jika hamba-Ku terus menerus mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan sunnah (amal kebaikan), maka Aku mencintai dia\" (HR Muslim 6021).\rLink: http://www.indoquran.com/index.php?surano=61&ayatno=89&action=display&option=com_bukhari\rBilal ra memperjalankan dirinya kepada Allah ta’ala atau mendekatkan diri kepada Allah ta'ala dengan amal kebaikan berupa selalu menjaga wudhunya dan menjalankan sholat selain sholat yang telah diwajibkan (selain sholat dalam amal ketaatan)","part":1,"page":292},{"id":293,"text":"Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bertanya kepada Bilal ketika shalat Shubuh: “Hai Bilal, katakanlah Kepadaku apakah amalanmu yang paling besar pahalanya yang pernah kamu kerjakan dalam Islam, karena tadi malam aku mendengar derap sandalmu di dalam surga? ‘ Bilal menjawab; ‘Ya Rasulullah, sungguh saya tidak mengerjakan amal perbuatan yang paling besar pahalanya dalam Islam selain saya bersuci dengan sempurna, baik itu pada waktu malam ataupun siang hari. lalu dengannya saya mengerjakan shalat selain shalat yang telah diwajibkan Allah kepada saya.” (HR Muslim 4497) Sumber: http://www.indoquran.com/index.php?surano=45&ayatno=109&action=display&option=com_muslim\rJadi tidak perlu lagi berteriak \"berantas bid'ah\", \"tegakkan syariat\"\rUlama sufi, Syaikh Ibnu Athoillah mengatakan “Janganlah kamu merasa bahwa tanpamu Syariat Islam tak kan tegak. Syariat Islam telah tegak bahkan sebelum kamu ada. Syariat Islam tak membutuhkanmu, kaulah yang butuh pada Syariat Islam”\rSyariat Islam telah tegak oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan telah diuraikan oleh para ahli fikih yang dipimpin oleh pemimpin ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid mutlak) alias Imam Mazhab yang empat sehingga sudah jelas bagi kaum muslim batasan agama atau perkara syariat atau amal ketaatan.\rMemang ada Imam Mazhab yang lain selain yang berempat namun pada akhirnya pendapat / pemahaman mereka karena tidak komprehensive atau tidak menyeluruh sehingga kaum muslim mencukupkannya pada Imam Mazhab yang empat.","part":1,"page":293},{"id":294,"text":"Oleh karenanya para hakim agama, para mufti atau mereka yang akan berfatwa sebaiknya berpegang pada pendapat atau pemahaman Imam Mazhab yang empat sebagaimana yang dicontohkan oleh mufti Mesir Profesor Doktor Ali Jum`ah sebagaimana contoh yang terurai dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/30/hukum-penutup-muka/\rAndaikan Niqab ( Cadar / Purdah) sebuah perkara syariat atau kewajiban yang jika ditinggalkan berdosa maka akan bertentangan dengan larangan menutup muka ketika ihram bagi kaum wanita. Adalah hal yang mustahil dalam perkara syariat ada yang saling bertentangan.\rFirman Allah Azza wa Jalla,\rأَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ اخْتِلاَفاً كَثِيراً\r“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ? Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS An Nisaa 4 : 82)\rMufti Profesor Doktor Ali Jum`ah menegaskan : ” bawah fatwa yang di keluarkan oleh Lembaga Fatwa Mesir dan Lembaga Riset Islam yang terdiri dari ulama besar di seluruh dunia menyatakan bahwa wajah dan telapak tangan bukan termasuk auratnya perempuan, sebagaimana juga pendapat mayoritas ulama islam dari mazhab Hanafi, Maliki, Syafi`i, dan Imam Mardawi al-Hanbali mengatakan bahwa pendapat yang sahih didalam mazhab Hanbali adalah muka dan telapak tangan tidak termasuk aurat “.","part":1,"page":294},{"id":295,"text":"Mufti melanjutkan : ” Bahwa fatwa ini bukan saja dimulai oleh mereka, bahkan Imam Auza`i, Imam Abu Tsur , Atha`, Ikrimah, Sa`id bin Jubair, Abu Sya`tsa`, ad-Dhahak, Ibrahim an-Nakha`i juga berpendapat seperti itu, sementara diantara para sahabat yang berpendapat seperti itu adalah Umar, Ibnu Abbas,\rDan Mufti juga menegaskan bahwa pemakaian Niqab merupakan satu kebiasaan menurut mayoritas ulama, hal ini merupakan kebebasan seseorang yang ingin memakainya atau tidak memakainya, kecuali jika bersangkut paut dengan adriministarasi seperti membuat pasport, kartu kependudukkan, identitas diri, bekerja di lembaga kesehatan, unit keamanan dan sebagianya maka boleh bagi pemerintah melarang menggunakan Niqab ketika urusan tersebut dilaksanakan”.\rMufti menambahkan : ” Beginilah keputusan ulama umat dari zaman dahulu sampai sekarang jika bersangkut paut sesuatu yang Mubah (boleh) maka negara boleh membatasinya sesuai dengan maslahah dan mudhrat .\rKeputusan mufti Profesor Doktor Ali Jum`ah yang berpegang kepada imam/pemimpin ijitihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak) alias Imam Mazhab yang empat diperangi oleh \"orang-orang beriman\" yang mengada-adakan dalam urusan agama yakni mengada-adakan kewajiban yang tidak diwajibkanNya, mengada-adakan larangan yang tidak dilarangNya, mengharamkan sesuatu yang tidak diharamkanNya. Keadaan seperti ini telah disampaikan oleh Rasulullah.","part":1,"page":295},{"id":296,"text":"Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya di masa kemudian akan ada peperangan di antara orang-orang yang beriman.” Seorang Sahabat bertanya: “Mengapa kita (orang-orang yang beriman) memerangi orang yang beriman, yang mereka itu sama berkata: ‘Kami telah beriman’.” Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Ya, karena mengada-adakan di dalam agama (mengada-ada dalam perkara yang merupakan hak Allah ta’ala menetapkannya yakni perkara kewajiban, larangan dan pengharaman) , apabila mereka mengerjakan agama dengan pemahaman berdasarkan akal pikiran, padahal di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani).\rRasulullah telah menyampaikan ciri-ciri mereka yang tidak lagi mentaati imam, kesepakatan jumhur ulama (as-sawad al a’zham). Mereka yang membentuk sekte, pemahaman mereka yang keluar dari pemahaman jumhur ulama.\rTelah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna telah menceritakan kepada kami Al Walid bin Muslim telah menceritakan kepada kami Ibnu Jabir telah menceritakan kepadaku Busr bin Ubaidullah Al Khadrami, ia mendengar Abu Idris alkhaulani, ia mendengar Khudzaifah Ibnul yaman mengatakan; Orang-orang bertanya Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam tentang kebaikan sedang aku bertanya beliau tentang keburukan karena khawatir jangan-jangan aku terkena keburukan itu sendiri.","part":1,"page":296},{"id":297,"text":"Maka aku bertanya ‘Hai Rasulullah, dahulu kami dalam kejahiliyahan dan keburukan, lantas Allah membawa kebaikan ini, maka apakah setelah kebaikan ini ada keburukan lagi?\rNabi menjawab ‘Tentu’.\rSaya bertanya ‘Apakah sesudah keburukan itu ada kebaikan lagi?\r‘Tentu’ Jawab beliau, dan ketika itu ada kotoran, kekurangan dan perselisihan.\rSaya bertanya ‘Apa yang anda maksud kotoran, kekurangan dan perselisihan itu?\rNabi menjawab ‘Yaitu sebuah kaum yang menanamkan pedoman bukan dengan pedomanku, engkau kenal mereka namun pada saat yang sama engkau juga mengingkarinya.\rSaya bertanya ‘Adakah steelah kebaikan itu ada keburukan?\rNabi menjawab ‘O iya,,,,, ketika itu ada penyeru-penyeru menuju pintu jahannam, siapa yang memenuhi seruan mereka, mereka akan menghempaskan orang itu ke pintu-pintu itu.\rAku bertanya ‘Ya Rasulullah, tolong beritahukanlah kami tentang ciri-ciri mereka!\rNabi menjawab; Mereka adalah seperti kulit kita ini, juga berbicara dengan bahasa kita.\rSaya bertanya ‘Lantas apa yang anda perintahkan kepada kami ketika kami menemui hari-hari seperti itu?\rNabi menjawab; Hendaklah kamu selalu bersama jamaah muslimin dan imam mereka!\rAku bertanya; kalau tidak ada jamaah muslimin dan imam bagaimana?\rNabi menjawab; hendaklah kau jauhi seluruh firqah (kelompok-kelompok / sekte) itu, sekalipun kau gigit akar-akar pohon hingga kematian merenggutmu kamu harus tetap seperti itu.","part":1,"page":297},{"id":298,"text":"(Riwayat Bukhari VI615-616, XIII/35. Muslim XII/135-238 Baghawi dalam Syarh Sunnah XV/14. Ibnu Majah no. 3979, 3981. Hakim IV/432. Abu Dawud no. 4244-4247.Baghawi XV/8-10. Ahmad V/386-387 dan hal. 403-404, 406 dan hal. 391-399).\rCiri-ciri mereka yang membentuk sekte, pemahamannya menyelisihi pemahaman jumhur ulama dicirikan oleh Rasulullah dengan perkataan, \"Mereka adalah seperti kulit kita ini, juga berbicara dengan bahasa kita\"\rBerkata Ibnu Hajar rohimahulloh dalam Fathul Bari XIII/36: “Yakni dari kaum kita, berbahasa seperti kita dan beragama dengan agama kita. Ini mengisyaratkan bahwa mereka adalah bangsa Arab”.\rSedangkan Al Qabisi menyatakan -seperti dinukil oleh Ibnu Hajar- secara lahir maknanya adalah bahwa mereka adalah pemeluk dien (agama) kita, akan tetapi batinnya menyelisihi. Dan kulit sesuatu adalah lahirnya, yang pada hakikatnya berarti penutup badan. Mereka mempunyai sifat seperti yang dikatakan dalam hadits riwayat Muslim yang artinya “Akan ada di kalangan mereka orang yang berhati iblis dengan jasad manusia” (Riwayat Muslim)\rDalam hadits tersebut Rasulullah memerintahkan kita untuk meninggalkan sekte (sempalan) , pemahaman yang menyelisihi pemahaman jumhur ulama dan berpegang pada pemahaman jumhur ulama sebagaimana hadits yang lain","part":1,"page":298},{"id":299,"text":"Rasulullah bersabda “Sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat pada kesesatan. Oleh karena itu, apabila kalian melihat terjadi perselisihan maka ikutilah as-sawad al a’zham (pemahaman jumhur ulama).” (HR. Ibnu Majah, Abdullah bin Hamid, at Tabrani, al Lalika’i, Abu Nu’aim. Menurut Al Hafidz As Suyuthi dalam Jamius Shoghir, ini adalah hadits Shohih)\rKita paham bahwa yang berselisih pemahaman adalah para ulama , oleh karenanya sunnah Rasulullah adalah mengikuti as-sawad al a’zham atau mengikuti pemahaman jumhur ulama atau mengikuti pemahaman berdasarkan kesepakatan banyak ulama.\rAl-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari XII/37 menukil perkataan Imam Thabari rahimahullah yang menyatakan: “Berkata kaum (yakni para ulama), bahwa jamaah adalah Sawadul A’dzam.\rKemudian diceritakan dari Ibnu Sirin dari Abi Mas’ud, bahwa beliau mewasiatkan kepada orang yang bertanya kepadanya ketika ‘Utsman dibunuh, untuk berpegang teguh pada Jamaah, karena Alloh tidak akan mengumpulkan umat Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam kesesatan. Dan dalam hadits dinyatakan bahwa ketika manusia tidak mempunyai imam, dan manusia berpecah belah menjadi kelompok-kelompok maka janganlah mengikuti salah satu firqah/sekte. Hindarilah semua firqah/sekte itu jika kalian mampu untuk menghindari terjatuh ke dalam keburukan”.","part":1,"page":299},{"id":300,"text":"Oleh karenanya sebaiknya isi kutbah / ceramah adalah bagaimana kita memperjalankan diri hingga sampai (wushul) pada Allah Azza wa Jalla atau mendekatkan diri kepadaNya. Bagaimana mengupayakan agar umat muslim dapat selalu merasa diawasi/dilihat oleh Allah Azza wa Jalla atau yang terbaik adalah bagaimana mengupayakan agar umat muslim dapat melihat Allah ta’ala dengan hati atau dengan kata lain bagaimana mengupayakan umat muslim berakhlak baik, berakhlak baik terhadap Allah Azza wa Jalla dan berakhlak baik terhadap sesama manusia dan ciptaanNya yang lain.\rMereka yang selalu merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla atau yang terbaik mereka yang dapat melihat Allah dengan hati maka mereka mencegah dirinya dari melakukan sesuatu yang dibenciNya , menghindari perbuatan maksiat, menghindari perbuatan keji dan mungkar hingga terbentuklah muslim yang berakhlakul karimah sesuai dengan tujuan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diutus oleh Allah Azza wa Jalla.Rasulullah bersabda “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad).\rWassalam\rZon di Jonggol, Kab Bogor 16830\r0916. Ciri ulama yang penyebab perselisihan karena beda pemahaman\rMereka terpengaruh oleh para ulama yang dicirikan oleh Rasulullah sebagai yang artinya “Mereka adalah seperti kulit kita ini, juga berbicara dengan bahasa kita“.","part":1,"page":300},{"id":301,"text":"Para ulama berbahasa ibu, bahasa Arab namun pemahamannya menyelisihi kesepakatan as-sawad al a’zham (jumhur ulama) dikarenakan terhasut atau terkena ghazwul fikri (perang pemahaman) kaum Zionis Yahudi sehingga mereka memerangi orang-orang beriman namun “membiarkan” orang kafir atau membiarkan para penguasa negeri (umaro) menjadikan orang kafir sebagai teman kepercayaan, penasehat maupun sebagai pelindung.\rPara ulama yang mengada-ada dalam urusan agama yakni mengada-adakan kewajiban yang tidak diwajibkanNya, mengada-adakan larangan yang tidak dilarangNya, mengharamkan sesuatu yang tidak diharamkanNya. Para ulama yang memahami Al Qur'an dan As Sunnah lebih menyandarkan berdasarkan akal pikiran sendiri, pemahaman yang tidak didapatkan dari bertalaqqi (mengaji) dengan para ulama yang bersanad ilmu tersambung kepada lisannya Rasulullah.","part":1,"page":301},{"id":302,"text":"Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya di masa kemudian akan ada peperangan di antara orang-orang yang beriman.” Seorang Sahabat bertanya: “Mengapa kita (orang-orang yang beriman) memerangi orang yang beriman, yang mereka itu sama berkata: ‘Kami telah beriman’.” Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Ya, karena mengada-adakan di dalam agama (mengada-ada dalam perkara yang merupakan hak Allah ta’ala menetapkannya yakni perkara kewajiban, larangan dan pengharaman) , apabila mereka mengerjakan agama dengan pemahaman berdasarkan akal pikiran, padahal di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)\rTelah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna telah menceritakan kepada kami Al Walid bin Muslim telah menceritakan kepada kami Ibnu Jabir telah menceritakan kepadaku Busr bin Ubaidullah Al Khadrami, ia mendengar Abu Idris alkhaulani, ia mendengar Khudzaifah Ibnul yaman mengatakan; Orang-orang bertanya Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam tentang kebaikan sedang aku bertanya beliau tentang keburukan karena khawatir jangan-jangan aku terkena keburukan itu sendiri.\rMaka aku bertanya ‘Hai Rasulullah, dahulu kami dalam kejahiliyahan dan keburukan, lantas Allah membawa kebaikan ini, maka apakah setelah kebaikan ini ada keburukan lagi?\rNabi menjawab ‘Tentu’.Saya bertanya ‘Apakah sesudah keburukan itu ada kebaikan lagi?\r‘Tentu’ Jawab beliau, dan ketika itu ada kotoran, kekurangan dan perselisihan.","part":1,"page":302},{"id":303,"text":"Saya bertanya ‘Apa yang anda maksud kotoran, kekurangan dan perselisihan itu?\rNabi menjawab ‘Yaitu sebuah kaum yang menanamkan pedoman bukan dengan pedomanku, engkau kenal mereka namun pada saat yang sama engkau juga mengingkarinya.\rSaya bertanya ‘Adakah setelah kebaikan itu ada keburukan?\rNabi menjawab ‘O iya,,,,, ketika itu ada penyeru-penyeru menuju pintu jahannam, siapa yang memenuhi seruan mereka, mereka akan menghempaskan orang itu ke pintu-pintu itu.\rAku bertanya ‘Ya Rasulullah, tolong beritahukanlah kami tentang ciri-ciri mereka!\rNabi menjawab; Mereka adalah seperti kulit kita ini, juga berbicara dengan bahasa kita.\rSaya bertanya ‘Lantas apa yang anda perintahkan kepada kami ketika kami menemui hari-hari seperti itu?\rNabi menjawab; Hendaklah kamu selalu bersama jamaah muslimin dan imam mereka!\rAku bertanya; kalau tidak ada jamaah muslimin dan imam bagaimana?\rNabi menjawab; hendaklah kau jauhi seluruh firqah (kelompok-kelompok / sekte) itu, sekalipun kau gigit akar-akar pohon hingga kematian merenggutmu kamu harus tetap seperti itu.\r(Riwayat Bukhari VI615-616, XIII/35. Muslim XII/135-238 Baghawi dalam Syarh Sunnah XV/14. Ibnu Majah no. 3979, 3981. Hakim IV/432. Abu Dawud no. 4244-4247.Baghawi XV/8-10. Ahmad V/386-387 dan hal. 403-404, 406 dan hal. 391-399)\rBerkata Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari XIII/36: “Yakni dari kaum kita, berbahasa seperti kita dan beragama dengan agama kita. Ini mengisyaratkan bahwa mereka adalah bangsa Arab”.","part":1,"page":303},{"id":304,"text":"Sedangkan Al Qabisi menyatakan -seperti dinukil oleh Ibnu Hajar- secara lahir maknanya adalah bahwa mereka adalah pemeluk dien (agama) kita, akan tetapi batinnya menyelisihi. Dan kulit sesuatu adalah lahirnya, yang pada hakikatnya berarti penutup badan. Mereka mempunyai sifat seperti yang dikatakan dalam hadits riwayat Muslim yang artinya “Akan ada di kalangan mereka orang yang berhati iblis dengan jasad manusia” (Riwayat Muslim)\rDalam hadits tersebut Rasulullah memerintahkan kita untuk meninggalkan sekte (sempalan) , pemahaman yang menyelisihi pemahaman jumhur ulama dan berpegang pada pemahaman jumhur ulama sebagaimana hadits yang lain\rRasulullah bersabda “Sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat pada kesesatan. Oleh karena itu, apabila kalian melihat terjadi perselisihan maka ikutilah as-sawad al a’zham (pemahaman jumhur ulama).” (HR. Ibnu Majah, Abdullah bin Hamid, at Tabrani, al Lalika’i, Abu Nu’aim. Menurut Al Hafidz As Suyuthi dalam Jamius Shoghir, ini adalah hadits Shohih)\rKita paham bahwa yang berselisih pemahaman adalah para ulama , oleh karenanya sunnah Rasulullah adalah mengikuti as-sawad al a’zham atau mengikuti pemahaman jumhur ulama atau mengikuti pemahaman berdasarkan kesepakatan banyak ulama. Telah diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/07/30/ikutilah-jumhur-ulama/ dan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/07/28/keluar-dari-keumuman/\rAl-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari XII/37 menukil perkataan Imam Thabari rahimahullah yang menyatakan: “Berkata kaum (yakni para ulama), bahwa jamaah adalah Sawadul A’dzam.","part":1,"page":304},{"id":305,"text":"Kemudian diceritakan dari Ibnu Sirin dari Abi Mas’ud, bahwa beliau mewasiatkan kepada orang yang bertanya kepadanya ketika ‘Utsman dibunuh, untuk berpegang teguh pada Jamaah, karena Allah tidak akan mengumpulkan umat Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam kesesatan. Dan dalam hadits dinyatakan bahwa ketika manusia tidak mempunyai imam, dan manusia berpecah belah menjadi kelompok-kelompok maka janganlah mengikuti salah satu firqah/sekte. Hindarilah semua firqah/sekte itu jika kalian mampu untuk menghindari terjatuh ke dalam keburukan”.\rMereka membantah berpegang dengan pemahaman secara harfiah pada “Badaal islamu ghoriban wasaya’udu ghoriba kama bada’a fatuuba lil ghoroba“ , Islam datang dalam keadaan asing dan akan akan kembali asing maka beruntunglah orang-orang yang asing itu.. (Hr Ahmad)\rKalau asing ditengah-tengah orang kafir atau orang yang sesat, tentulah hal yang benar namun asing ditengah-tengah mayoritas ulama yang sholeh maka itulah yang dimaksud keluar seperti anak panah yang meluncur dari busurnya\rMereka membantah berpegang dengan pemahaman secara harfiah pada perkataan Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu (yang artinya): ”Al-Jama’ah adalah sesuatu yang menetapi al-haq walaupun engkau seorang diri”","part":1,"page":305},{"id":306,"text":"Seorang diri ditengah-tengah orang kafir atau orang yang sesat, tentulah hal yang mudah dalam menetapkan al haq namun seorang diri ditengah-tengah ullama-ulama yang sholeh dan lebih berkompetensi menetapkan al haq maka itulah yang dimaksud keluar seperti anak panah yang meluncur dari busurnya atau keluar dari jamaah atau keluar dari As-Sawad Al-A’zhom (pemahaman jumhur ulama).\rMereka membantah dengan berkata bahwa Allah Azza wa Jalla melarang kita mengikuti orang kebanyakan. Mereka memahami secara harfiah firman Allah Azza wa Jalla yang artinya\r“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)” (QS Al An’aam [6]:116)\rMereka tidak dapat membedakan antara “menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi” dalam firman Allah ta’ala tersebut dengan “menuruti pendapat kebanyakan ulama yang sholeh (jumhur ulama)”.\rInilah apa yang dikatakan oleh Imam sayyidina Ali kw , “kalimatu haqin urida bihil batil” (perkataan yang benar dengan tujuan yang salah).\rApa yang disampaikan oleh mereka adalah benar merupakan firman Allah ta’ala dalam (QS Al An’aam [6]:116) namun Allah ta’ala tidak bermaksud melarang hambaNya menuruti pendapat kebanyakan ulama (jumhur ulama).\rMakna firman Allah ta’ala dalam (QS Al An’aam [6]:116) adalah larangan “menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi” yakni orang-orang musyrik. Hal ini dapat kita pahami dengan memperhatikan ayat-ayat sebelumnya pada surat tersebut.","part":1,"page":306},{"id":307,"text":"Secara tidak sadar mereka telah memfitnah Allah Azza wa Jalla , menggunakan firman Allah ta’ala untuk tujuan/maksud yang berbeda.\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam memberikan nasehat kepada kaum muslim bila telah terjadi fitnah antara lain\rDiriwayatkan dari Ibnu Abi al-Shoif dalam kitab Fadhoil al-Yaman, dari Abu Dzar al-Ghifari, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Kalau terjadi fitnah pergilah kamu ke negeri Yaman karena disana banyak terdapat keberkahan’\rDiriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah al-Anshari, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Dua pertiga keberkahan dunia akan tertumpah ke negeri Yaman. Barang siapa yang akan lari dari fitnah, pergilah ke negeri Yaman, Sesungguhnya di sana tempat beribadah’\rAbu Said al-Khudri ra meriwayatkan hadits dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, ‘Pergilah kalian ke Yaman jika terjadi fitnah, karena kaumnya mempunyai sifat kasih sayang dan buminya mempunyai keberkahan dan beribadat di dalamnya mendatangkan pahala yang banyak’\rAbu Musa al-Asy’ari meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, ‘Allah akan mendatangkan suatu kaum yang dicintai-Nya dan mereka mencintai Allah. Bersabda Nabi shallallahu alaihi wasallam : mereka adalah kaummu Ya Abu Musa, orang-orang Yaman’.","part":1,"page":307},{"id":308,"text":"Firman Allah ta’ala yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” (QS Al Ma’iadah [5]:54)\rDari Jabir, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ditanya mengenai ayat tersebut, maka Rasul menjawab, ‘Mereka adalah ahlu Yaman dari suku Kindah, Sukun dan Tajib’.\rIbnu Jarir meriwayatkan, ketika dibacakan tentang ayat tersebut di depan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau berkata, ‘Kaummu wahai Abu Musa, orang-orang Yaman’.\rDalam kitab Fath al-Qadir, Ibnu Jarir meriwayat dari Suraikh bin Ubaid, ketika turun ayat 54 surat al-Maidah, Umar berkata, ‘Saya dan kaum saya wahai Rasulullah’. Rasul menjawab, ‘Bukan, tetapi ini untuk dia dan kaumnya, yakni Abu Musa al-Asy’ari’.\rFirman Allah Azza wa Jalla dalam (QS Al Ma’iadah [5]:54) di atas menjelaskan ciri-ciri ulama yang baik untuk diikuti yakni \"yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela\"","part":1,"page":308},{"id":309,"text":"Jelaslah yang kita ikuti adalah ulama yang bersikap lemah lembut terhadap orang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir bukan sebaliknya ulama yang keras terhadap orang mu'min dan bersikap lemah lembut terhdap orang kafir\rTerhadap orang kafir kita harus bersifat keras maksudnya bersikap adil, tegas dan baik sebagaimana perlakukan kita terhadap ciptaanNya yang lain.\rTerhadap orang mu'min adalah bersaudara dan saling mencintai Firman Allah Azza wa Jalla, yang artinya, \"Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara\" ( Qs. Al-Hujjarat :10)\rDiriwayatkan hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. bersabda: \"Demi Allah, kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Belum sempurna keimanan kalian hingga kalian saling mencintai\rAllah Azza wa Jalla telah mengibaratkan kelakuan orang kafir bagaikan kelakuan binatang.\rFirman Allah Azza wa Jalla yang artinya, “Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang mu’min dan beramal saleh ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan jahannam adalah tempat tinggal mereka.” (QS Muhammad [47]:12 )\rUntuk itulah kita sebaiknya jangan menjadikan orang kafir sebagai teman kepercayaan, penasehat maupun pelindung.\rFirman Allah Azza wa Jalla, \"Hasbunallah wani’mal wakil\" , “Cukuplah Allah sebagai penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baik tempat bersandar” (QS Ali `Imran [3]: 173)","part":1,"page":309},{"id":310,"text":"Oleh karenanya sebaiknya jangan terlampau mudah percaya dengan ulama berbahasa Arab, periksalah apakah pemahaman mereka menyelisihi pemahaman imam/pemimpin ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak) alias Imam Mazhab yang empat. Memang ada Imam Mazhab yang lain selain yang berempat namun pada akhirnya pendapat / pemahaman mereka karena tidak komprehensive atau tidak menyeluruh sehingga kaum muslim mencukupkannya pada Imam Mazhab yang empat.\rSebagaimana sunnah Rasulullah di atas bahwa \"hendaklah kau jauhi seluruh firqah (kelompok-kelompok / sekte) itu, sekalipun kau gigit akar-akar pohon hingga kematian merenggutmu kamu harus tetap seperti itu\" maka janganlah mengikuti pemahaman sekte manapun tetaplah pada jama'ah dengan menggigit As Sunnah dan sunnah Khulafaur Rasyidin berdasarkan pemahaman imam/pemimpin ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak) alias Imam Mazhab yang empat dan penjelasan dari para pengikut Imam Mazhab sambil merujuk darimana mereka mengambil yaitu Al Quran dan as Sunnah. Janganlah sebaliknya yakni memahami Al Qur'an dan As Sunnah dengan akal pikiran sendiri lalu membandingkannya dengan pemahaman Imam Mazhab yang empat.\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa menguraikan Al Qur’an dengan akal pikirannya sendiri dan merasa benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan”. (HR. Ahmad)\rIbnul Mubarak berkata :”Sanad merupakan bagian dari agama, kalaulah bukan karena sanad, maka pasti akan bisa berkata siapa saja yang mau dengan apa saja yang diinginkannya.” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqoddimah kitab Shahihnya 1/47 no:32 )","part":1,"page":310},{"id":311,"text":"Dari Ibnu Abbas ra Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda…”Barangsiapa yang berkata mengenai Al-Qur’an tanpa ilmu maka ia menyediakan tempatnya sendiri di dalam neraka” (HR.Tirmidzi)\rImam Syafi’i ~rahimahullah mengatakan “tiada ilmu tanpa sanad”.\rAl-Hafidh Imam Attsauri ~rahimullah mengatakan “Penuntut ilmu tanpa sanad adalah bagaikan orang yang ingin naik ke atap rumah tanpa tangga”\rBahkan Al-Imam Abu Yazid Al-Bustamiy , quddisa sirruh (Makna tafsir QS.Al-Kahfi 60) ; “Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya syetan” Tafsir Ruhul-Bayan Juz 5 hal. 203\rSanad ilmu / sanad guru sama pentingnya dengan sanad hadits\rSanad hadits adalah otentifikasi atau kebenaran sumber perolehan matan/redaksi hadits dari lisan Rasulullah\rSedangkan Sanad ilmu atau sanad guru adalah otentifikasi atau kebenaran sumber perolehan penjelasan baik Al Qur’an maupun As Sunnah dari lisan Rasulullah.\rContoh sanad Ilmu atau sanad guru Imam Syafi’i ra :\r1. Baginda Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam\r2. Baginda Abdullah bin Umar bin Al-Khottob ra\r3. Al-Imam Nafi’, Tabi’ Abdullah bin Umar ra\r4. Al-Imam Malik bin Anas ra\r5. Al-Imam Syafei’ Muhammad bin Idris ra\rSalah satu cara mempertahankan sanad ilmu atau sanad guru adalah dengan mengikuti pendapat/pemahaman pemimpin ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak) alias Imam Mazhab yang empat dan penjelasan dari para pengikut Imam Mazhab sambil merujuk darimana mereka mengambil yaitu Al Quran dan as Sunnah.","part":1,"page":311},{"id":312,"text":"Ulama yang tidak mau bermazhab , pada hakikatnya telah memutuskan rantai sanad ilmu atau sanad guru, berhenti pada akal pikirannya sendiri dimana didalamnya ada unsur hawa nafsu atau kepentingan.\rWassalam\rZon di Jonggol, Kab Bogor 16830\r0917. Ciri-ciri mereka\rDalami tulisan sebelumnya pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/18/ciri-ulama-berselisih/ dapat kita simpulkan dari sabda-sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa sesungguhnya di masa kemudian akan ada ulama-ulama yang menyebabkan perselisihan diantara kaum muslim dikarenakan perbedaan pemahaman dengan ciri-ciri sebagai berikut :\r1. Berbahasa ibu yakni bahasa Arab.\r2. Kaum yang menanamkan pedoman bukan dengan pedoman Rasulullah yakni mereka mengada-adakan di dalam agama (mengada-ada dalam perkara yang merupakan hak Allah ta’ala menetapkannya yakni perkara kewajiban, larangan dan pengharaman) , apabila mereka mengerjakan agama dengan pemahaman berdasarkan akal pikiran, padahal di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.”\r3. Mereka berfatwa tidak mengindahkan kesepakatan as-sawad al a’zham (jumhur ulama) atau tidak mengindahkan pemahaman imam/pemimpin ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak) alias Imam Mazhab yang empat\r4. Pemahaman mereka menyempal (keluar) dari pemahaman jama'ah atau keluar dari pemahaman jumhur ulama atau keluar dari kesepakatan as-sawad al a’zham","part":1,"page":312},{"id":313,"text":"5. Seharusnya bersikap lemah lembut terhadap orang mu’min, bersikap keras terhadap orang-orang kafir namun mereka sebaliknya, keras terhadap orang mu’min dan bersikap lemah lembut terhadap orang kafir\r6. Mereka memerangi orang-orang beriman yang berbeda pemahaman dengan mereka.\rKaum yang menanamkan pedoman bukan dengan pedoman Rasulullah yakni mereka mengada-adakan di dalam agama (mengada-ada dalam perkara yang merupakan hak Allah ta’ala menetapkannya yakni perkara kewajiban, larangan dan pengharaman) , apabila mereka mengerjakan agama dengan pemahaman berdasarkan akal pikiran, padahal di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.\rHal ini dicontohkan salah satunya oleh mufti mesir Profesor Doktor Ali Jum`ah sebagaimana contoh yang terurai dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/30/hukum-penutup-muka/\rAndaikan Niqab ( Cadar / Purdah) sebuah perkara syariat atau kewajiban yang jika ditinggalkan berdosa maka akan bertentangan dengan larangan menutup muka ketika ihram bagi kaum wanita. Adalah hal yang mustahil dalam perkara syariat ada yang saling bertentangan.\rFirman Allah Azza wa Jalla,\rأَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ اخْتِلاَفاً كَثِيراً\r“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ? Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS An Nisaa 4 : 82)","part":1,"page":313},{"id":314,"text":"Mufti Profesor Doktor Ali Jum`ah menegaskan : ” bawah fatwa yang di keluarkan oleh Lembaga Fatwa Mesir dan Lembaga Riset Islam yang terdiri dari ulama besar di seluruh dunia menyatakan bahwa wajah dan telapak tangan bukan termasuk auratnya perempuan, sebagaimana juga pendapat mayoritas ulama islam dari mazhab Hanafi, Maliki, Syafi`i, dan Imam Mardawi al-Hanbali mengatakan bahwa pendapat yang sahih didalam mazhab Hanbali adalah muka dan telapak tangan tidak termasuk aurat “.\rMufti melanjutkan : ” Bahwa fatwa ini bukan saja dimulai oleh mereka, bahkan Imam Auza`i, Imam Abu Tsur , Atha`, Ikrimah, Sa`id bin Jubair, Abu Sya`tsa`, ad-Dhahak, Ibrahim an-Nakha`i juga berpendapat seperti itu, sementara diantara para sahabat yang berpendapat seperti itu adalah Umar, Ibnu Abbas,\rDan Mufti juga menegaskan bahwa pemakaian Niqab merupakan satu kebiasaan menurut mayoritas ulama, hal ini merupakan kebebasan seseorang yang ingin memakainya atau tidak memakainya, kecuali jika bersangkut paut dengan adriministarasi seperti membuat pasport, kartu kependudukkan, identitas diri, bekerja di lembaga kesehatan, unit keamanan dan sebagianya maka boleh bagi pemerintah melarang menggunakan Niqab ketika urusan tersebut dilaksanakan”.\rMufti menambahkan : ” Beginilah keputusan ulama umat dari zaman dahulu sampai sekarang jika bersangkut paut sesuatu yang Mubah (boleh) maka negara boleh membatasinya sesuai dengan maslahah dan mudhrat .","part":1,"page":314},{"id":315,"text":"Keputusan mufti Profesor Doktor Ali Jum`ah yang berpegang kepada imam/pemimpin ijitihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak) alias Imam Mazhab yang empat diperangi oleh “orang-orang beriman” yang mengada-adakan dalam urusan agama yakni mengada-adakan kewajiban yang tidak diwajibkanNya, mengada-adakan larangan yang tidak dilarangNya, mengharamkan sesuatu yang tidak diharamkanNya.\rKewajiban-kewajiban lain yang diada-adakan oleh mereka yang tidak pernah diwajibkan oleh Allah Azza wa Jalla dan RasulNya dan tidak pula pernah disampaikan oleh pemimpin ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak) alias Imam Mazhab yang empat sebagai kewajibanNya yang jika ditinggalkan berdosa antara lain\ra. Kewajiban bagi pria untuk bercelana di atas mata kaki. Hal ini telah dijelaskan contohnya pada tulisan pada http://konsultasi.wordpress.com/2007/01/13/hukum-isbal/\rb. Kewajiban bagi pria untuk berjenggot. Hal ini telah dijelaskan contohnya pada tulisan pada http://konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/hukum-mencukur-dan-memelihara-jenggot/\rdan kewajiban-kewajiban yang diada-adakan lainnya\rMereka membuat-buat larangan yang tidak pernah dilarang oleh Allah Azza wa Jalla maupun oleh RasulNya. Mereka membuat larangan berdasarkan kaidah yang tidak berdasarkan Al Qur'an dan As Sunnah yakni “LAU KAANA KHOIRON LASABAQUNA ILAIHI” (Seandainya hal itu baik, tentu mereka, para sahabat akan mendahului kita dalam melakukannya). Kesalahpahaman kaidah ini telah kami uraikan dalam tulisan pada\rhttp://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/05/08/lau-kaana-khoiron/\rhttp://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/05/04/apa-kaitannya/","part":1,"page":315},{"id":316,"text":"http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/04/20/jika-itu-baik/\rMereka memerangi orang-orang beriman yang berbeda pemahaman dengan mereka seperti yang dialami oleh mufti mesir di atas.\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “mencela seorang muslim adalah kefasikan, dan membunuhnya adalah kekufuran”. (HR Muslim).\rJika bersyahadat sidqan min qalbihi maka mereka akan mengikuti sunnah Rasulullah untuk tidak mencela, menghujat, memperolok-olok, merendahkan atau bahkan membunuh manusia yang telah bersyahadat tanpa alasan yang dibenarkan oleh syariat Islam sebagaimana contohnya yang telah dilakukan oleh sebuah “sekte berdarah” yang diuraikan dalam tulisan pada http://www.aswaja-nu.com/2010/01/dialog-syaikh-al-syanqithi-vs-wahhabi_20.html atau pada www.fb.com/photo.php?fbid=220630637981571&set=a.220630511314917.56251.100001039095629\rOleh karenanya kita sebaiknya ingat selalu bahwa manusia yang telah bersyahadat adalah bersaudara.\rFirman Allah Azza wa Jalla yang artinya, “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat” ( Qs. Al-Hujjarat :10)\rTidak akan masuk surga bagi mereka yang tidak menyempurnakan keimanannya dengan mencintai saudara muslimnya.\rDiriwayatkan hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: \"Demi Allah, kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Belum sempurna keimanan kalian hingga kalian saling mencintai.\" (HR Muslim)\rWassalam\rZon di Jonggol, Kab Bogor 16830\r0918. Bacalah ayat-ayat-Nya","part":1,"page":316},{"id":317,"text":"Berikut sekelumit pernyataan dan pertanyaan dari seorang kawan\rKesepakatan ulama, tidak pernah ada dalil kuat yang mengatakan itu bersifat final dan mengikat serta tidak perlu lagi dipertanyakan.\rAdalah pembatasan, kemampuan daya nalar dan lain sebagainya adalah belenggu kreatifitas, hanya akan mengungkung umat dari persoalan yang makin mengglobal...\rKata dan opini tidak perlu lagi adalah vonis yang salah, buat apa manusia sekarang di beri akal, fikiran dan otak jika hanya jadi hiasan biar di sebut 'manusia'\rApakah tidak bakal ada lagi ulama modern yang pemikirannya menyamai atau melebihi 4 imam mujtahid mutlak ?\rApakah anda mendahului sunnatullah, bagaimana jika Allah berkehendak dan itu pasti..\rHanya orang-orang yang terbuai dan terpaku dengan 'zona nyaman' yang menolak perubahan dan pemikiran baru tentang islam selama tidak bertentangan dan sejalan dengan Al Qur’an\rBerdasarkan apa yang disampaikan oleh kawan di atas, maka beliau termasuk mereka yang memahami Al Qur'an dan As Sunnah dengan kemampuan nalar / logika atau akal pikiran.\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa menguraikan Al Qur’an dengan akal pikirannya sendiri dan merasa benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan”. (HR. Ahmad)\rIbnul Mubarak berkata: ”Sanad merupakan bagian dari agama, kalaulah bukan karena sanad, maka pasti akan bisa berkata siapa saja yang mau dengan apa saja yang diinginkannya.” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqoddimah kitab Shahihnya 1/47 no:32 )","part":1,"page":317},{"id":318,"text":"Dari Ibnu Abbas ra Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda…”Barangsiapa yang berkata mengenai Al-Qur’an tanpa ilmu maka ia menyediakan tempatnya sendiri di dalam neraka” (HR.Tirmidzi)\rImam Syafi’i ~rahimahullah mengatakan “tiada ilmu tanpa sanad”.\rAl-Hafidh Imam Attsauri ~rahimullah mengatakan “Penuntut ilmu tanpa sanad adalah bagaikan orang yang ingin naik ke atap rumah tanpa tangga”\rBahkan Al-Imam Abu Yazid Al-Bustamiy , quddisa sirruh (Makna tafsir QS.Al-Kahfi 60) ; “Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya syetan” Tafsir Ruhul-Bayan Juz 5 hal. 203\rSanad ilmu / sanad guru sama pentingnya dengan sanad hadits\rSanad hadits adalah otentifikasi atau kebenaran sumber perolehan matan/redaksi hadits dari lisan Rasulullah\rSedangkan Sanad ilmu atau sanad guru adalah otentifikasi atau kebenaran sumber perolehan penjelasan baik Al Qur’an maupun As Sunnah dari lisan Rasulullah.\rKita memahami Al Qur'an dan As Sunnah berdasarkan apa yang kita dengar dari apa yang disampaikan oleh ulama-ulama terdahulu yang tersambung dengan lisannya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Inilah yang dinamakan bertalaqqi (mengaji) dengan ulama bersanad ilmu atau bersanad guru tersambung kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam\rHal yang akan ditanyakan seperti\rApakah yang kamu pahami telah disampaikan / dikatakan oleh ulama-ulama terdahulu yang tersambung lisannya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam\rSiapakah ulama-ulama terdahulu yang mengatakan hal itu ?","part":1,"page":318},{"id":319,"text":"Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda yang artinya “Sampaikan dariku sekalipun satu ayat dan ceritakanlah (apa yang kalian dengar) dari Bani Isra’il dan itu tidak apa (dosa). Dan siapa yang berdusta atasku dengan sengaja maka bersiap-siaplah menempati tempat duduknya di neraka” (HR Bukhari)\rHakikat hadits tersebut adalah kita hanya boleh menyampaikan satu ayat yang diperoleh dari orang yang disampaikan secara turun temurun sampai kepada lisannya Sayyidina Muhammad bin Abdullah Shallallahu alaihi wasallam.\rKita tidak diperkenankan menyampaikan apa yang kita pahami dengan akal pikiran sendiri dengan cara membaca dan memahami namun kita sampaikan apa yang kita dengar dan pahami dari mereka yang sanad ilmunya tersambung kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam karena hanya perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang merupakan kebenaran atau ilmuNya.\rSelain memahami Al Qur'an dan As Sunnah melalui lisannya ulama-ulama terdahulu yang tersambung dengan lisannya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam , adalah melalui cara yang ditempuh oleh Ulil Albab karena Ulil Albab yang dikaruniakan oleh Allah Azza wa Jalla untuk dapat memahami Al Qur'an dan As Sunnah\rAllah Azza wa Jalla berfirman yang artinya “Allah menganugerahkan al hikmah (pemahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya Ulil Albab yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)“. (QS Al Baqarah [2]:269 ).","part":1,"page":319},{"id":320,"text":"“Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan Ulil Albab” (QS Ali Imron [3]:7 )\rSiapakah ulil albab ?\rUlil Albab dengan ciri utamanya adalah sebagaiman firman Allah Azza wa Jalla yang artinya,\r“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (Ali Imran [3] : 191)\rUlil Albab berasal dari lubb tingkatan dari qalb atau hati.\rDalam sebuah hadits qudsi, Allah Azza wa Jalla berfirman: ’Telah Kucipta seorang malaikat di dalam tubuh setiap anak keturunan Adam. Di dalam malaikat itu ada shadr. Di dalam shadr itu ada qalb. Di dalam qalb itu ada fu`aad. Di dalam fu`aad itu ada syagf. Di dalam syagf itu ada lubb. Di dalam lubb itu ada sirr. Dan di dalam sirr itu ada Aku.’\rHadits qudsi inilah yang menerangkan “man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu’ , Siapa yang kenal kenal dirinya akan Mengenal Allah\rFirman Allah Taala yang artinya “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri ” (QS. Fush Shilat [41]:53 )\rHadits qudsi yang lain, Allah Azza wa Jalla berfirman: \"“Aku pada mulanya adalah harta yang tersembunyi, kemudian Aku ingin kenal, maka Kuciptakanlah makhluk dan mereka pun kenal pada-Ku melalui diri-Ku”\rMenurut Imam Sayyidina Ali r.a. qalb mempunyai lima nama,","part":1,"page":320},{"id":321,"text":"Pertama, disebut shadr, karena ia merupakan tempat terbitnya cahaya Islam (nuuru-l-islaam). Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala yang artinya, ‘Adakah sama dengan mereka yang dibukakan shadrnya untuk Islam…. (QS 39:22)’.\rKedua, disebut qalb, karena ia merupakan tempat terbitnya keimanan. Hal ini sebagaiamana firman-Nya yang artinya, ‘Mereka itulah yang ditulis dalam hatinya terdapat keimanan.” (QS 58:22)’\rKetiga disebut fu’aad karena ia merupakan tempat terbitnya ma’rifah. Hal ini sebagaimana Firman Allah Swt, yang artinya ‘Fu’aad tidak pernah mendustai apa-apa yang dilihatnya’ (QS 53:11).\rKeempat disebut lubb, karena ia merupakan tempat terbitnya tauhid. Hal ini sebagaimana firman-Nya yang artinya, ‘Sesungguhnya di dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang adalah ayat-ayat bagi ulil albaab (sang pemilik lubb)’ (QS 3:190).\rKelima, disebut syagf, karena it merupakan tempat terbitnya rasa saling menyayangi dan mencintai sesama makhluk. Hal ini sebagaimana firman-Nya, ’Sungguh ia (Zulaikha) telah dikuasai oleh rasa cinta yang membara….’ (QS 12:30)\rSelain nama-nama yang telah disebutkan, hati pun disebut juga dengan nama habbah al-quluub. Disebut demikian, karena ia merupakan tempat terbitnya cahaya, sebagaimana yang diterangkan Allah dalam hadis qudsi-Nya, ’Tiada yang sanggup menampung-Ku, baik bumi maupun langit-Ku. Hanya hati hamba-Ku yang Mukmin yang dapat menampung-Ku.’","part":1,"page":321},{"id":322,"text":"Diri manusia terdiri dari jasmani dan ruhani. Jasmani (jasad) adalah bagian yang dapat tampak dengan panca indera kita disebut juga lahiriah sedangkan ruhani adalah bagian yang tidak tampak dengan panca indera kita disebut juga bathiniah atau ghaib.\rKata ghoib, menurut beberapa kamus arab, seperti lisaanul arab berasal dari kata ghoba (tidak tampak, tidak hadir) kebalikan dari kata hadhoro atau dhoharo (hadir atau nampak). Ghaib adalah sesuatu yang tidak tampak dengan panca indera seperti mata kita atau sesuatu yang tidak tampak secara kasat mata.\rNilai manusia tidak terletak pada jasmani (jasad) nya, akan tetapi terletak pada ruhani yang menggerakkannya. Kerena ruhani inilah, Allah memerintahkan pada malaikatnya untuk hormat kepada manusia, karena ruhani datangnya dari Allah Subhanahu wa ta’ala.\rFirman Allah ta’ala yang artinya, “Ingatlah diwaktu Tuhanmu berkata kepada para malaiakat: ”Aku menciptakan manusia dari tanah, dan setelah aku sempurnakan aku tiupkan kedalamnya ruh-Ku, maka hormatlah kalian kepadanya“.(QS Shaad [38]: 71-72)","part":1,"page":322},{"id":323,"text":"Mata di kepala kita diciptakan untuk melihat yang dzahir. Mata membutuhkan cahaya yang mengenai sesuatu yang dilihat. Proses melihat terjadi ketika cahaya dipantulkan dari sebuah benda melewati lensa mata dan menimbulkan bayangan terbalik di retina yang berada di belakang otak. Setelah melewati proses kimiawi yang ditimbulkan oleh sel-sel kerucut dan batang retina, penglihatan ini pun berubah menjadi implus listrik. Implus ini kemudian dikirim melalui sambungan di dalam sistem syaraf ke belakang otak. Kemudian otak menerjemahkan aliran ini menjadi sebuah penglihatan tiga dimensi yang penuh makna.\rHati untuk melihat, memahami, mendengar yang ghoib (tidak dapat dilihat atau diindera)\rRuhani(ruhNya) mempunyai panggilan Akal, Hati, Nafsu\rRuh ketika berperasaan seperti sedih, gembira, senang, terhibur, marah atau sebagainya, maka ia dipanggil dengan hati.\rRuh ketika ia berkehendak, berkemauan atau merangsang sama ada sesuatu yang berkehendak itu positif atau negatif, baik atau buruk, yang dibenarkan atau tidak, yang halal ataupun yang haram, di waktu itu ia tidak dipanggil hati tetapi ia dipanggil nafsu.\rRuh ketika ia berfikir, mengkaji, menilai, memahami, menimbang dan menyelidik, maka ia dipanggil akal.","part":1,"page":323},{"id":324,"text":"Hal yang paling awal bagi tholabul ilmi (penuntut ilmu) khususnya ilmu agama, ilmu untuk memahami Al Qur'an dan As Sunnah adalah mengenal Allah (ma’rifatullah) dan upaya mengikuti jalan (thariqat) menelusuri perjalanan yang telah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi melalui maqam-maqam hakikat agar sampai (wushul) kepada Allah, dekat dengan Allah, melihat Allah dengan hati dan mendapatkan ridha-Nya atau cintaNya\rAwaluddin makrifatullah, awal-awal agama ialah mengenal Allah. Semakin banyak mengenal Allah (ma’rifatullah) melalui ayat-ayat-Nya qauliyah dan kauniyah, maka semakin dekat hubungan dengan-Nya. Ilmu harus dikawal hidayah. Tanpa hidayah, seseorang yang berilmu menjadi sombong dan semakin jauh dari Allah ta’ala. Sebaliknya seorang ilmuwan yang mendapat hidayah maka hubungannya dengan Allah ta’ala semakin dekat.\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang bertambah ilmunya tapi tidak bertambah hidayahnya, maka dia tidak bertambah dekat kepada Allah melainkan bertambah jauh“\rUlil albab adalah mereka yang dapat menggunakan lubb (qalbu) nya dalam memahami Al Qur'an dan As Sunnah. Ulil albab adalah mereka yang dapat menggunakan akal qalbu nya bukan akal pikiran (logika/otak/rasio)\rAkal pikiran berbeda dengan Akal Qalbu (hati).\rAkal Pikiran / logika adalah bersandar pada kemampuan sendiri atau kerja otak.\rAkal Qalbu / hati adalah mengikuti cahayaNya atau petunjukNya yang diilhamkan keseluruh Qalbu / jiwa setiap manusia.\rFirman Allah Azza wa Jalla yang artinya","part":1,"page":324},{"id":325,"text":"“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan” (pilihan haq atau bathil) (QS Al Balad [90]:10 )\r“maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya“. (QS As Syams [91]:8 )\rWabishah bin Ma’bad r.a. berkata: Saya datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam., beliau bersabda, “Apakah engkau datang untuk bertanya tentang kebaikan?” Saya menjawab, “Benar.”Beliau bersabda, “Mintalah fatwa kepada hatimu sendiri. Kebaikan adalah apa-apa yang menenteramkan jiwa dan hati, sedangkan dosa adalah apa-apa yang mengusik jiwa dan meragukan hati, meskipun orang-orang memberi fatwa yang mem-benarkanmu.” Hadits diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Ad-Darami dengan sanad hasan\rBagaimana syarat untuk dapat menggunakan lubb (qalbu/hati) dalam memahami Al Qur'an dan As Sunnah ?\rManusia terhalang memahami petunjukNya atau cahayaNya karena dosa\rSetiap dosa merupakan bintik hitam hati (ketiadaan cahaya), sedangkan setiap kebaikan adalah bintik cahaya pada hati.\rKetika bintik hitam memenuhi hati sehingga terhalang (terhijab) dari melihat Allah. Inilah yang dinamakan buta mata hati.\rSebagaimana firman Allah ta’ala yang artinya,\r“Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).” (QS Al Isra 17 : 72)","part":1,"page":325},{"id":326,"text":"“maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (al Hajj 22 : 46)\rBerikut ilustrasi untuk dapat membedakan antara akal pikiran (logika) dengan akal qalbu (hati/hikmah) atau disebut juga hakikat\rUmmi: “Abi, Abi sayang tidak sama ummi ? “\rAbi : “Umi ini bagaimana sih seperti orang bodoh yang mengulang-ulang pertanyaan”\rDialog ini benar secara logika / ilmiah (pikiran dan memori) karena (berdasar memori si Abi) orang yang mengulang-ngulang pertanyaan adalah menunjukkan kebodohannya namun dialog ini keliru atau bermasalah kalau ditinjau dengan hikmah (akal qalbu)\rIlustrasi lainnya\r1 + 1 = 2\r1 + 1 = 3\rBaris kedua adalah salah jika menggunakan akal pikiran (rasio/otak/logika). Namun dapat menjadi benar jika menggunakan akal qalbu (hikmah) sebagaimana yang terjadi dalam hukum kekuatan sinergi dalam kerjasama tim (work colaboration) karena ada unsur non logika yakni unsur rasa atau hubungan antar manusia.\rBegitupula anak kecil yang belum baligh , mereka tidak dikatakan berakal walaupun mereka sudah dapat menggunakan logika/rasio/otak nya\r\"Tidak dikenakan kewajiban atas tiga golongan orang,yaitu anak-anak sampai baligh,orang gila sampai sadar,dan orang tidur sampai terbangun\" (HR.Bukhori,Abu Daud,At Tirmidzi,An Nasa'I,Ibnu Majah,Daruquthni,dan Ahmad).\rBegitu pula dengan orang gila mereka dikatakan kehilangan akal walaupun mereka masih mempunyai otak","part":1,"page":326},{"id":327,"text":"Tidak ada mahluk lain selain manusia yang dikarunia akal. Tumbuhan, hewan atau bahkan malaikat tidak diberikan akal, dan dengan keberadaan akal didalam dirinya inilah manusia kemudian ditasbihkan sebagai mahluk yang mulia. Hewan juga ada yang mempunyai otak, namun tidak dikatakan mempunyai akal\rDengan akal inilah kemudian manusia dapat membedakan mana yang hak dan mana yang bathil, mana yang halal, dan mana yang haram, mana yang benar, dan mana yang salah, mana yang lurus, dan mana yang menyimpang……, dan seterusnya\r‘Kemampuan akal’ inilah kemudian manusia dibebani kewajiban untuk mengenal dan beribadah kepada Allah subhanahu wa ta'ala\rFirman Allah Azza wa Jalla yang artinya,\r“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. Kedatangan azab Allah kepada orang-orang yang mendustakan ayat-ayat-Nya dengan cara istidraj” (QS Al A’raaf [7]:179)\rCara Istidraj , dengan membiarkan orang itu bergelimang dalam kesesatannya, hingga orang itu tidak sadar bahwa dia didekatkan secara berangsur-angsur kepada kebinasaan.\rSecara umum memahami ayat-ayat Allah, ayat qauliyah dipahami dengan didengar sedangkan ayat qauniyah dipahami dengan dilihat.","part":1,"page":327},{"id":328,"text":"Allah Subhanahu wa ta'ala menuangkan sebagian kecil dari ilmu-Nya kepada umat manusia dengan dua jalan.\rPertama, dengan ath-thariqah ar-rasmiyah (jalan resmi) yaitu dalam jalur wahyu melalui perantaraan malaikat Jibril kepada Rasul-Nya, yang disebut juga dengan ayat-ayat qauliyah yaitu ayat-ayat yang Allah firmankan dalam kitab-kitab-Nya. Al-Qur’an adalah ayat qauliyah\rKedua, dengan ath-thariqah ghairu rasmiyah (jalan tidak resmi) yaitu melalui ilham kepada makhluk-Nya di alam semesta ini (baik makhluq hidup maupun yang mati), tanpa melalui perantaraan malaikat Jibril. Karena tanpa melalui perantaraan malaikat Jibril, maka bisa disebut jalan langsung (mubasyaratan). Kemudian jalan ini disebut juga dengan ayat-ayat kauniyah yaitu ayat-ayat dalam bentuk segala ciptaan Allah berupa alam semesta dan semua yang ada didalamnya. Ayat-ayat ini meliputi segala macam ciptaan Allah, baik itu yang kecil (mikrokosmos) ataupun yang besar (makrokosmos).\rBahkan diri kita baik secara fisik maupun psikis juga merupakan ayat kauniyah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami di segala penjuru bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Quran adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (QS Fushshilat ayat 53)","part":1,"page":328},{"id":329,"text":"Antara ayat-ayat qauliyah dan ayat-ayat kauniyah terdapat hubungan yang sangat erat karena keduanya sama-sama berasal dari Allah. Kalau kita memperhatikan ayat qauliyah, yakni Al-Qur’an, kita akan mendapati sekian banyak perintah dan anjuran untuk memperhatikan ayat-ayat kauniyah. Salah satu diantara sekian banyak perintah tersebut adalah firman Allah dalam QS Adz-Dzariyat ayat 20-21:\r“Dan di bumi terdapat ayat-ayat (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”\rDalam ayat diatas, jelas-jelas Allah mengajukan sebuah kalimat retoris: “Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” Kalimat yang bernada bertanya ini tidak lain adalah perintah agar kita memperhatikan ayat-ayat-Nya yang berupa segala yang ada di bumi dan juga yang ada pada diri kita masing-masing. Inilah ayat-ayat Allah dalam bentuk alam semesta (ath-thabi’ah, nature).\rDalam QS Yusuf ayat 109, Allah berfirman: “Maka tidakkah mereka bepergian di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka?”\rIni juga perintah dari Allah agar kita memperhatikan jenis lain dari ayat-ayat kauniyah, yaitu sejarah dan ihwal manusia (at-tarikh wal-basyariyah).","part":1,"page":329},{"id":330,"text":"Disamping itu, sebagian diantara ayat-ayat kauniyah juga tidak jarang disebutkan secara eksplisit dalam ayat qauliyah, yakni Al-Qur’an. Tidak jarang dalam Al-Qur’an Allah memaparkan proses penciptaan manusia, proses penciptaan alam semesta, keadaan langit, bumi, gunung-gunung, laut, manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan sebagainya. Bahkan ketika para ilmuwan menyelidiki dengan seksama paparan dalam ayat-ayat tersebut, mereka terkesima dan takjub bukan kepalang karena menemukan keajaiban ilmiah pada ayat-ayat tersebut, sementara Al-Qur’an diturunkan beberapa ratus tahun yang lalu, dimana belum pernah ada penelitian-penelitian ilmiah.\rKarena itu, tidak hanya ayat-ayat qauliyah yang menguatkan ayat-ayat kauniyah. Sebaliknya, ayat-ayat kauniyah juga senantiasa menguatkan ayat-ayat qauliyah. Adanya penemuan-penemuan ilmiah yang menegaskan kemukjizatan ilmiah pada Al-Qur’an tidak diragukan lagi merupakan bentuk penguatan ayat-ayat kauniyah terhadap kebenaran ayat-ayat qauliyah.","part":1,"page":330},{"id":331,"text":"Dalam Shahih-nya Bukhari meriwayatkan dari Aisyah ra. yang artinya, “Wahyu pertama yang sampai kepada Rasul adalah mimpi yang benar. Beliau tidak pernah bermimpi kecuali hal itu datang seperti cahaya Shubuh. Setelah itu beliau senang berkhalwat. Beliau datang ke gua Hira dan menyendiri di sana, beribadah selama beberapa malam. Yang untuk itu beliau membawa bekal. Kemudian kembali ke Khadijah dan membawa bekal serupa. Sampai akhirnya dikejutkan oleh datangnya wahyu, saat beliau berada di gua Hira. Malaikat datang kepadanya dan berkata, “Bacalah!” Beliau menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” lalu Rasulullah saw. berkata, “Lalu di merangkulku sampai terasa sesak dan melepaskanku. Ia berkata, ‘Bacalah!’ Aku katakan, ‘ Aku tidak bisa membaca.’ Lalu di merangkulku sampai terasa sesak dan melepaskanku. Ia berkata,\r“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Al-Hadits).\rIqro' bismirabbikalladzi kholaq.\rKholaqol insaana min 'alaq.\rIqro' warabbukal akram.\rAllamal insaana bil kalam.\rAllamal insaana maa lam ya' lam.\rAl-Qalam. Qalam dalam bahasa Arab berarti “memotong ujung sesuatu menjadi runcing”, atau kini dikenal sebagai “pena”.\rApakah Allah Azza wa Jalla mengajar manusia dengan perantaraan tulis baca.\rApakah kalam itu adalah alat tulis...\rApakah Allah menulis dengan alat tulis?\rApakah Jibril membawa wahyu dalam bentuk tulisan yang harus dibaca oleh Nabi?","part":1,"page":331},{"id":332,"text":"Apakah Allah menulis dalam huruf sebagaimana tulisan tangan manusia?\rApakah Al Quran yang tertulis di Lauhil Mahfuz itu ditulis dengan huruf\rArab?\rSekarang... ketika disuruh belajar membaca.\rBaru sadar... Aku tak bisa membaca.\rBacalah kalam Allah yang merasuk di hati.\rBacalah kalam yang bertebaran di depan mata.\rSupaya tahu bahwa Allah Azza wa Jalla itu selalu \"berbicara\" dengan kita. Hanya kita yang tidak \"mendengarkan\" Allah. Dan kita pun tak tahu bagaimana caranya \"berbicara\" dengan Allah.\rBegitulah yang dialami oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam\rBukan baca tulis huruf Arab yang Nabi shallallahu alaihi wasallam maksudkan. Tapi... baca tulis kalam Allah Azza wa Jalla yang dimaksudkan.\rLalu bagaimana kita membaca ayat-ayat Allah?\rJawabannya ada pada dua kata: Tadabbur dan Tafakkur.\rTerhadap ayat-ayat qauliyah, kewajiban kita adalah tadabbur, yakni membaca dengan mendengar ayatnya dari lisan ulama-ulama bersanad ilmu tersambung kepada Rasulullah dan berusaha untuk memahami dan merenungi makna dan kandungannya.\rSedangkan terhadap ayat-ayat kauniyah, kewajiban kita adalah tafakkur, yakni melihat, memperhatikan, merenungi, dan mempelajarinya dengan seksama.\rUntuk melakukan dua kewajiban tersebut, kita menggunakan akal pikiran dan akal qalbu (hati) yang telah Allah karuniakan kepada kita.\rMengenai kewajiban tadabbur, Allah memberikan peringatan yang sangat keras kepada orang yang lalai melakukannya. Allah berfirman dalam QS Muhammad ayat 24: “Maka apakah mereka tidak mentadabburi Al Quran ataukah hati mereka terkunci?”","part":1,"page":332},{"id":333,"text":"Dan mengenai kewajiban tafakkur, Allah menjadikannya sebagai salah satu sifat orang-orang yang berakal (ulul albab). Dalam QS Ali ‘Imran ayat 190 – 191, Allah berfirman: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka mentafakkuri (memikirkan) tentang penciptaan langit dan bumi (lalu berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia; Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”\rTujuan Membaca Ayat-ayat Allah\rTujuan utama dan pertama kita membaca ayat-ayat Allah adalah agar kita semakin mengenal Allah (ma’rifatullah). Dan ketika kita telah mengenal Allah dengan baik, secara otomatis kita akan semakin takut, semakin beriman, dan semakin bertakwa kepada-Nya. Karena itu, indikasi bahwa kita telah membaca ayat-ayat Allah dengan baik adalah meningkatnya keimanan, ketakwaan, dan rasa takut kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.\rYang semestinya terjadi pada diri kita setelah kita membaca ayat-ayat qauliyah adalah sebagaimana firman Allah berikut ini: “Dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (QS Al-Anfal: 2)","part":1,"page":333},{"id":334,"text":"Dan yang semestinya terjadi pada diri kita setelah kita membaca ayat-ayat kauniyah adalah sebagaimana firman Allah berikut ini: “Dan mereka mentafakkuri (memikirkan) tentang penciptaan langit dan bumi (lalu berkata): ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia; Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS Ali ‘Imran: 191)\rSelanjutnya, kita juga membaca ayat-ayat Allah agar kita memahami sunnah-sunnah Allah (sunnatullah), baik itu sunnah Allah pada manusia dalam bentuk ketentuan syar’i (taqdir syar’i) maupun sunnah Allah pada ciptaan-Nya dalam bentuk ketentuan penciptaan (taqdir kauni).\rDengan memahami ketentuan syar’i, kita bisa menjalani kehidupan ini sesuai dengan syariat yang Dia kehendaki, dan dalam hal ini kita bebas untuk memilih untuk taat atau ingkar. Namun, apapun pilihan kita, taat atau ingkar, memiliki konsekuensinya masing-masing.\rAdapun dengan memahami ketentuan penciptaan, baik itu mengenai alam maupun sejarah dan ihwal manusia, kita akan mampu memanfaatkan alam dan sarana-sarana kehidupan untuk kemakmuran bumi dan kesejahteraan umat manusia. Dengan pemahaman yang baik mengenai ketentuan tersebut, kita akan mampu mengelola kehidupan tanpa melakukan perusakan.\rKesimpulannya adalah memahami Al Qur'an dan As Sunnah janganlah bersandarkan hanya dengan akal pikiran (logika/rasio) atau pemahaman secara ilmiah namun dengan karunia Allah yakni memahami dengan akal qalbu atau pemahaman secara hikmah.","part":1,"page":334},{"id":335,"text":"Para ulama telah menyampaikan bahwa jika memahami Al Qur’an dan As Sunnah dengan belajar sendiri (secara otodidak) melalui cara muthola’ah (menelaah kitab) dan memahaminya dengan akal pikiran sendiri (pemahaman secara ilmiah), kemungkinan besar akan berakibat negative seperti,\r1. Ibadah fasidah (ibadah yang rusak) , ibadah yang kehilangan ruhnya atau aspek bathin\r2. Tasybihillah Bikholqihi , penyerupaan Allah dengan makhluq Nya.\rIbadah fasidah (ibadah yang rusak) ditimbulkan dari kesalahpahaman misalkan kesalapahaman tentang bid’ah yang dapat menjerumuskan kedalam kekufuran sebagaimana yang diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/06/2011/11/03/ahli-bidah-sebenarnya/ atau kesalahpahaman berakibat pengingkaran hadits Rasulullah sebagaimana contoh yang diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/11/22/tidak-cukup/\rTasybihillah Bikholqihi , penyerupaan Allah dengan makhluq Nya berakibat terjerumus kedalam kekufuran.\rImam besar ahli hadis dan tafsir, Jalaluddin As-Suyuthi dalam “Tanbiat Al-Ghabiy Bi Tabriat Ibn ‘Arabi” mengatakan “Ia (ayat-ayat mutasyabihat) memiliki makna-makna khusus yang berbeda dengan makna yang dipahami oleh orang biasa. Barangsiapa memahami kata wajh Allah, yad , ain dan istiwa sebagaimana makna yang selama ini diketahui (wajah Allah, tangan, mata, bertempat), ia kafir secara pasti.”","part":1,"page":335},{"id":336,"text":"Imam Ahmad ar-Rifa’i (W. 578 H/1182 M) dalam kitabnya al-Burhan al-Muayyad, “Sunu ‘Aqaidakum Minat Tamassuki Bi Dzahiri Ma Tasyabaha Minal Kitabi Was Sunnati Lianna Dzalika Min Ushulil Kufri”, “Jagalah aqidahmu dari berpegang dengan dzahir ayat dan hadis mutasyabihat, karena hal itu salah satu pangkal kekufuran”.\rBegitupula peringatan yang disampaikan oleh khataman Khulafaur Rasyidin, Imam Sayyidina Ali ra dalam riwayat berikut,\rSayyidina Ali Ibn Abi Thalib ra berkata : “Sebagian golongan dari umat Islam ini ketika kiamat telah dekat akan kembali menjadi orang-orang kafir.“\rSeseorang bertanya kepadanya : “Wahai Amirul Mukminin apakah sebab kekufuran mereka? Adakah karena membuat ajaran baru atau karena pengingkaran?”\rSayyidina Ali Ibn Abi Thalib ra menjawab : “Mereka menjadi kafir karena pengingkaran. Mereka mengingkari Pencipta mereka (Allah Subhanahu wa ta’ala) dan mensifati-Nya dengan sifat-sifat benda dan anggota-anggota badan.” (Imam Ibn Al-Mu’allim Al-Qurasyi (w. 725 H) dalam Kitab Najm Al-Muhtadi Wa Rajm Al-Mu’tadi).\rAkibat tasybihillah bikholqihi , penyerupaan Allah dengan makhluk Nya telah diuraikan dalam tulisan pada\rJangan sampaikan terjemahannya saja\rhttp://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/11/10/jangan-terjemahannya-saja/\rMakna istiwa yang pantas bagiNya\rhttp://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/11/14/makna-istiwa/\rTidak ada perumpamaan bagiNya\rhttp://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/11/15/tidak-ada-perumpamaan/\rMustahil dibatasi atau berbatas dengan Arsy\rhttp://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/11/17/mustahil-dibatasi/","part":1,"page":336},{"id":337,"text":"Hal yang harus kita ingat bahwa Al Qur’an pada awalnya tidaklah dibukukan. Ayat-ayat Al Qur’an hanya dibacakan dan dihafal (imla) kemudian dipahami bersama dengan yang menyampaikannya. Inilah yang disebut bertalaqqi, mengaji dengan guru bersanad ilmu / sanad guru tersambung kepada lisannya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Jadi pada hakikatnya tidak dibenarkan memahami Al Qur’an dan As Sunnah dengan belajar sendiri (secara otodidak) melalui cara muthola’ah (menelaah kitab) dan memahaminya dengan akal pikiran sendiri (pemahaman secara ilmiah) karena pada hakikatnya Al Qur’an tidaklah “dibukukan”.\rMalapetaka telah terjadi, para ulama di wilayah kerajaan dinasti Saudi yang seharusnya menjadi kiblat ilmu kaum muslim, mereka terkena hasutan atau ghazwul fikri (perang pemahaman) oleh kaum Zionis Yahudi melalui p pusat-pusat kajian Islam yang mereka dirikan atau melalui ulama yang “dibentuk” atau dipengaruhi oleh mereka.\rSalah satunya adalah perwira Yahudi Inggris bernama Edward Terrence Lawrence yang dikenal oleh ulama jazirah Arab sebagai Laurens Of Arabian. Laurens menyelidiki dimana letak kekuatan umat Islam dan berkesimpulan bahwa kekuatan umat Islam terletak kepada ketaatan dengan mazhab (bermazhab) dan istiqomah mengikuti tharikat-tharikat tasawuf. Laurens mengupah ulama-ulama yang anti tharikat dan anti mazhab untuk menulis sebuah buku yang menyerang tharikat dan mazhab. Buku tersebut diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan dibiayai oleh pihak orientalis.","part":1,"page":337},{"id":338,"text":"Para ulama di wilayah kerajaan dinasti Saudi tidak lagi mengikuti pemahaman para pemimpin ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak) alias Imam Mazhab yang empat yang bertalaqqi langsung kepada Salafush Sholeh. Mereka lebih menyandarkan kepada ulama-ulama memahami Al Qur’an dan As Sunnah dengan belajar sendiri (secara otodidak) melalui cara muthola’ah (menelaah kitab) dan memahaminya dengan akal pikiran sendiri (pemahaman secara ilmiah) seperti ulama Ibnu Taimiyyah, ulama Ibnu Qoyyim Al Jauziah, ulama Muhammad bin Abdul Wahhab atau bahkan ulama Al Albani.\rContohnya ulama Muhammad bin Abdul Wahhab yang hidup setelah 350 tahun lebih wafatnya ulama Ibnu Taimiyyah, yang semula bertalaqqi pada ulama-ulama bermazhab namun pada akhirnya beliau bersandarkan dengan belajar sendiri (secara otodidak) melalui cara muthola’ah (menelaah kitab) dan memahaminya dengan akal pikiran sendiri (pemahaman secara ilmiah) Sebagaimana contoh yang diriwayatkan dalam tulisan pada http://arisandi.com/?p=964 berikut kutipannya\r***awal kutipan****\rDi antara karya-karya ulama terdahulu yang paling terkesan dalam jiwanya adalah karya-karya Syeikh al-Islam Ibnu Taimiyah. Beliau adalah mujaddid besar abad ke 7 Hijriyah yang sangat terkenal.","part":1,"page":338},{"id":339,"text":"Demikianlah meresapnya pengaruh dan gaya Ibnu Taimiyah dalam jiwanya, sehingga Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab bagaikan duplikat(salinan) Ibnu Taimiyah. Khususnya dalam aspek ketauhidan, seakan-akan semua yang diidam-idamkan oleh Ibnu Taimiyah semasa hidupnya yang penuh ranjau dan tekanan dari pihak berkuasa, semuanya telah ditebus dengan kejayaan Ibnu `Abdul Wahab yang hidup pada abad ke 12 Hijriyah itu.\rSetelah beberapa lama menetap di Mekah dan Madinah, kemudian beliau berpindah ke Basrah. Di sini beliau bermukim lebih lama, sehingga banyak ilmu-ilmu yang diperolehinya, terutaman di bidang hadith danmusthalahnya, fiqh dan usul fiqhnya, gramatika (ilmu qawa’id) dan tidak ketinggalan pula lughatnya semua.\rLengkaplah sudah ilmu yang diperlukan oleh seorang yang pintar yang kemudian dikembangkan sendiri melalui metode otodidak (belajar sendiri) sebagaimana lazimnya para ulama besar Islam mengembangkan ilmu-ilmunya. Di mana bimbingan guru hanyalah sebagai modal dasar yang selanjutnya untuk dapat dikembangkan dan digali sendiri oleh yang bersangkutan.\r****akhir kutipan*****","part":1,"page":339},{"id":340,"text":"Mereka adalah para ulama yang menyibukkan diri dengan mengulangi kembali apa yang telah dilakukan oleh Imam Mazhab yang empat namun sayangnya mereka belum berkompetensi seperti kompetensi Imam Mazhab yang empat dan bahan ijtihad mereka terbatas pada hadits yang telah dibukukan sedangkan kita tahu bahwa hadits yang telah dibukukan hanya sebagian saja dan sebagian lagi dalam bentuk hafalan para penghafal hadits yang tidak lagi kita dapat temukan. Hadits-hadits yang tidak dibukukan merupakan bagian bahan ijtihad dan istinbat para Imam Mazhab yang empat.\rMereka terhasut slogan kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah namun dengan cara muthola’ah, menelaah perkataan/lafazh Salafush Sholeh dan memahaminya dengan akal pikiran sendiri (pemahaman secara ilmiah). Mereka dirikanlah Al-Lajnah Ad-Da`imah lil Buhuts Al-’Ilmiyyah wal Ifta` (Komite Tetap untuk Riset Ilmiah dan Fatwa). Akibatnya mereka berpendapat bahwa Imam Baihaqi, Imam Nawawi maupun Ibnu Hajar dalam memahami ayat-ayat mutasyabihat tentang sifat Allah telah terjatuh/tergelincir pada penakwilan terhadap sifat-sifat Allah. Pendapat mereka bahwa pemahaman tersebut tidak sesuai dengan pemahaman Salafush Sholeh. Pada kenyataanya yang dimaksud oleh mereka tidak sesuai dengan pemahaman Salafush Sholeh adalah tidak sesuai dengan pemahaman ulama Ibnu Taimiyyah dan para pengikutnya dalam memahami lafaz/tulisan perkataan Salafush Sholeh. Hal ini terurai dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/09/07/klaim-mereka/","part":1,"page":340},{"id":341,"text":"Padahal Imam Baihaqi, Imam Nawawi maupun Ibnu Hajar adalah para ulama yang bertalaqqi kepada ulama-ulama yang bersanad ilmu tersambung kepada lisannya Rasulullah dan mereka pengikut pemimpin ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak) alias Imam Mazhab yang empat.\rPara Imam Mazhab yang empat bertalaqqi langsung kepada Salafush Sholeh. Mereka mendengarkan dan memahami langsung dari lisannya Salafush Sholeh bukannya memahami dengan menelaah (muthola’ah) lafaz/tulisan perkataan Salafush Sholeh.\rContohnya Imam Syafi’i ra, bertalaqqi langsung kepada Salafush Sholeh secara berpindah-pindah mulai dari tempat awalnya di Mekah, kemudian pindah ke Madinah, pindah ke Yaman, pindah ke Iraq, pindah ke Persia, kembali lagi ke Mekkah, dari sini pindah lagi ke Madinah dan akhirnya ke Mesir. Perlu dimaklumi bahwa perpindahan beliau itu bukanlah untuk berniaga, bukan untuk turis, tetapi untuk mencari ilmu, mencari hadits-hadits, untuk pengetahuan agama. Jadi tidak heran kalau Imam Syafi’i ra lebih banyak mendapatkan hadits dari lisannya Salafush Sholeh, melebihi dari yang didapat oleh Imam Hanafi ra dan Imam Maliki ra\rOleh karenanya para hakim agama, para mufti atau mereka yang akan berfatwa sebaiknya berpegang pada pendapat atau pemahaman Imam Mazhab yang empat sebagaimana yang dicontohkan oleh mufti Mesir Profesor Doktor Ali Jum`ah sebagaimana contoh yang terurai dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/30/hukum-penutup-muka/","part":1,"page":341},{"id":342,"text":"Kesimpulannya adalah lafaz iqro yang diterjemahkan bacalah , bukanlah membaca lafaz/tulisan namun pada hakikatnya maknanya adalah dengar dan pahamilah dari lisan ulama yang bersanad ilmu tersambung kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam serta pahamilah ayat-ayat Allah disegenap penjuru bumi. Sedangkan yang dimaskud bahwa Rasulullah adalah ummi atau “tidak tahu” dihadapan Allah yang Maha Mengetahui atau apa yang diketahuinya tentang Risalah atau agama hanyalah bersumber dari ilmuNya bukan dari hawa nafsunya atau akal pikirannya sendiri.\rFirman Allah Azza wa Jalla yang artinya, “Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan ni'mat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. “ (QS Al Baqarah [2]:151)\rSungguh Allah Azza wa Jalla yang mengajari manusia untuk dapat memahami ayat-ayatNya. Untuk itulah kita berupaya untuk dapat melihatNya dengan hati, bertemu denganNya , berkomunikasi denganNya.\rFirman Allah Azza wa Jalla yang artinya, “Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.” (QS Asy Syuura [42]:51)\rDiriwayatkan dari Abu Musa al-‘Asy’ari:","part":1,"page":342},{"id":343,"text":"قَامَ فِيْنَا رَسُوْلُ اللهِِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِخَمْسِ كَلِمَاتٍ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَنَامُ وَلاَ يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَنَامَ يَخْفَضُ الْقِسْطَ وَيَرْفَعُهُ. يَرْفَعُ إِلَيْهِ عَمَلَ اللَّيْلِ قَبْلَ عَمَلِ النَّهَارِ وَعَمَلَ النَّهَارِ قَبْلَ عَمَلِ اللَّيْلِ حِجَابُهُ النُّوْرُ. (رواه مسلم)\rBerdiri Rasulullah SAW di depan kami dengan menyampaikan lima kalimat. Beliau berkata: “Sesungguhnya Allah tidak tidur dan tidak layak bagi-Nya tidur, menurunkan timbangan dan mengangkatnya, diangkat kepadanya amalan malam sebelum amalan siang, dan amalan siang Sebelum amalan malam, dan hijab-Nya adalah cahaya. (HR. Muslim)\rBerkomunikasi dengan Allah Azza wa Jalla untuk memahami ayat-ayatNya dibelakang tabir cahaya yang menghujam ke dalam hati manusia.\rKetidakmampuan manusia menggunakan ilham yang telah dihujamkan kedalam hati mereka dikarenakan keadaan hati mereka. Semakin mereka berlumur dosa maka ketiadaan cahayaNya pada hati mereka , menuju kegelapan , kehinaan sehingga mereka buta hatinya\rFirman Allah ta’ala yang artinya,\r“Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS An Nuur [24]:35)\r“Barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun”. (QS An Nuur [24]:40 )","part":1,"page":343},{"id":344,"text":"“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya) ? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (QS Az Zumar [39]:22)\rManusia sebagai makhluk yang mulia dengan dikaruniakan akal (qalbu) dan akan mendapatkan kemuliaan (An Nuur) atau “naik” jika manusia mempergunakan akal (qalbu) di jalan Allah ta’ala dan RasulNya atau mempergunakan akal (qalbu) untuk mengikuti cahayaNya atau petunjukNya dan sebaliknya akan mendapatkan kehinaan (An Naar) atau “jatuh” jika manusia tidak mempergunakan akalnya atau memperturutkan hawa nafsu.\rFirman Allah ta’ala yang artinya\r“…Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah..” (QS Shaad [38]:26 )\r“Katakanlah: “Aku tidak akan mengikuti hawa nafsumu, sungguh tersesatlah aku jika berbuat demikian dan tidaklah (pula) aku termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS An’Aam [6]:56 )\rMengikuti atau memperturutkan hawa nafsu = tidak mengikuti petunjukNya atau tersesat dari jalan Allah, menuju kegelapan atau ketiadaan cahayaNya\rManusia yang mendapat kemuliaan atau yang kembali ke sisi Allah yang Maha Mulia adalah Mereka yang mengikuti cahayaNya atau petunjukNya yakni mereka yang mempergunakan akal (qalbu) di jalan Allah dan RasulNya atau dengan kata lain adalah manusia yang bertaqwa.","part":1,"page":344},{"id":345,"text":"Firman Allah ta’ala yang artinya, “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu” (Al-Hujuraat [49]: 13 )\rMereka yang mulia dan di sisi Allah Azza wa Jalla, mereka yang istiqomah di jalan yang lurus, mereka yang telah diberi ni’mat , mereka hanyalah terdiri dari 4 golongan manusia yakni para Nabi (yang utama adalah Rasulullah), para Shiddiqin, para Syuhada dan orang-orang sholeh.\rFirman Allah ta’ala yang artinya : “Tunjukilah kami jalan yang lurus” (QS Al Fatihah [1]:6 )\r” (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada mereka….” (QS Al Fatihah [1]:7 )\r“Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya .” (QS An Nisaa [4]: 69 )\rWassalam\rZon di Jonggol, Kab Bogor 16830\r0921. Bukti pemahaman mereka berdasarkan akal pikiran mereka sendiri\rApakah mereka bisa bersatu menegakkan ukhuwah Islamiyah ?\rMengapa diantara mereka saling mensesatkan atau saling mentahdzir ?\rApakah benar mereka mengikuti Rasulullah maupun Salafush Sholeh ?\rSilahkan simak informasi seputar perselisihan diantara mereka\rhttp://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/16/2011/05/01/inikah-salafi-indonesia/\rhttp://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/11/20/timbulnya-perselisihan/\rhttp://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/11/09/mengapa-mereka-berselisih/\rhttp://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/08/13/mulkan-jabbariyan/","part":1,"page":345},{"id":346,"text":"http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/16/pertentangan-pendapat-mereka/\rhttp://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/06/siapakah-mereka-ikuti/\rhttp://isnad.net/media/Muhammad_Sewed_di_Gugat.pdf\rhttp://isnad.net/?dl_name=kumal-kumal-dzul-akmal.pdf\rhttp://isnad.net/dialog-luqman-hizbi-firanda-sururi\rhttp://isnad.net/?dl_name=dzulqornain_yayasan.rar\rhttp://isnad.net/media/dzul-akmal-undercover.pdf\rwww.fb.com/notes/255000094557451\rwww.fb.com/notes/padepokan-kanjeng-sunan/buku-sms-abu-abu-salafi-melawan-salafi-al-bani-vs-bin-bas-utsaimin/248700811863777\rhttp://salafy.catatanku.com/\rhttp://satuislam.wordpress.com/2011/11/10/sekilas-tentang-salafi-wahabi/\rhttp://www.wattpad.com/397024-salafy-haraky-vs-salafy-yamani-vs-salafy-sururi\rContoh \"perselisihan\" di antara mereka yang kami kutip dari http://semogakamiselamat.wordpress.com/2011/11/07/point-point-kesesatan-para-penyembah-thogut-radio-rodja/\r*****awal kutipan*****\rKomentar 01: Apakah para pencela itu ingin menghalangi umat ini dari manhaj Salafush Sholeh ? Siapakah anta wahai para pencela sunnah ? Apa yang telah kalian berikan kepada ummat Islam ? Semoga Allah menjaga radio rodja beserta orang-orang yang berusaha mengajak ummat Islam kepada sunnah\rKomentar 02 : Mereka memulyakan benda mati (maksudnya radio rodja) sangat berlebihan, salah satu bentuk perbuatan mendekati kekufuran.\r*****akhir kutipan*****\rApa yang dialami oleh mereka membuktikan bahwa apa yang mereka pahami adalah semata-mata berdasarkan akal pikiran mereka sendiri sehingga saling bertentangan satu dengan yang lainnya","part":1,"page":346},{"id":347,"text":"Andaikan apa yang dipahami oleh mereka bersumber dari lisannya ulama-ulama yang sholeh yang tersambung kepada lisannya Sayyidina Muhammad Shallallahu alaihi wasallam pastilah tidak akan bertentangan karena apa yang disampaikan oleh Rasulullah adalah apa yang diwahyukanNya dan seluruh yang berasal dari Allah Azza wa Jalla , pastilah tidak bertentangan\rAl Qur’an adalah firmanNya yang disampaikan melalui malaikat Jibril.\rAs Sunnah adalah apa yang diwahyukanNya.\rHadits Qudsi adalah firmanNya yang disampaikan dengan redaksi/matan berasal dari Rasululah\rFirman Allah Azza wa Jalla,\rأَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ اخْتِلاَفاً كَثِيراً\r“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ? Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS An Nisaa 4 : 82)\rSebagaimana yang telah kami sampaikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/19/ciri-ciri-mereka/ dan http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/18/ciri-ulama-berselisih/ tentang ciri-ciri mereka, salah satunya adalah ada diantara mereka mengada-ada atau membuat perkara baru (bid'ah) dalam perkara larangan maupun kewajiban berdasarkan akal pikiran mereka sendiri.","part":1,"page":347},{"id":348,"text":"Mereka membuat-buat larangan yang tidak pernah dilarang oleh Allah Azza wa Jalla maupun oleh RasulNya. Mereka membuat larangan berdasarkan kaidah yang tidak berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah yakni “LAU KAANA KHOIRON LASABAQUNA ILAIHI” (Seandainya hal itu baik, tentu mereka, para sahabat akan mendahului kita dalam melakukannya). Kesalahpahaman kaidah ini telah kami uraikan dalam tulisan pada\rhttp://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/05/08/lau-kaana-khoiron/\rhttp://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/05/04/apa-kaitannya/\rhttp://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/04/20/jika-itu-baik/\rPadahal Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda \"mereka mengerjakan agama dengan pemahaman berdasarkan akal pikiran, padahal di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya\" (Hadits riwayat Ath-Thabarani). Hadits selengkapnya merupakan kenyataan yang kita alami pada zaman kini sebagai berikut","part":1,"page":348},{"id":349,"text":"Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya di masa kemudian akan ada peperangan di antara orang-orang yang beriman.” Seorang Sahabat bertanya: “Mengapa kita (orang-orang yang beriman) memerangi orang yang beriman, yang mereka itu sama berkata: ‘Kami telah beriman’.” Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Ya, karena mengada-adakan di dalam agama (mengada-ada dalam perkara yang merupakan hak Allah ta’ala menetapkannya yakni perkara kewajiban, larangan dan pengharaman) , apabila mereka mengerjakan agama dengan pemahaman berdasarkan akal pikiran, padahal di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)\rMereka \"memerangi\" orang beriman sebagaimana yang dialami oleh mufti mesir Profesor Doktor Ali Jum`ah sebagaimana yang terurai dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/30/hukum-penutup-muka/\rContoh lain mereka \"memerangi\" orang beriman sebagaimana yang terurai dalam tulisan pada http://www.aswaja-nu.com/2010/01/dialog-syaikh-al-syanqithi-vs-wahhabi_20.html atau pada www.fb.com/photo.php?fbid=220630637981571&set=a.220630511314917.56251.100001039095629","part":1,"page":349},{"id":350,"text":"Selain perselisihan mereka dikarenakan pemahaman mereka berdasarkan akal pikiran mereka sendiri atau pemahaman mereka mengikuti para ulama-ulama yang bersandarkan pada belajar sendiri (secara otodidak) melalui cara muthola’ah (menelaah kitab) dan memahaminya dengan akal pikiran sendiri (pemahaman secara ilmiah) juga dikarenakan mereka tidak menjalankan tasawuf dalam Islam atau tidak memperjalankan diri mereka kepada Allah Azza wa Jalla\rDalam suatu riwayat. ”Qoola a’liyy bin Abi Thalib: Qultu yaa Rosuulolloh ayyun thoriiqotin aqrobu ilallohi? Faqoola Rasullulohi: dzikrullahi”. artinya; “Ali Bin Abi Thalib berkata; “aku bertanya kepada Rasullulah, jalan/metode(Thariqot) apakah yang bisa mendekatkan diri kepada Allah? “Rasullulah menjawab; “dzikrulah.”\rDzikrullah yang memperjalankan diri kita agar sampai (wushul) kepada Allah Azza wa Jalla atau jalan (tharikat) menedekatkan diri kita kepada Allah Azza wa Jalla. Jalan mengikuti jalan (tharikat) Rasulullah melalui maqam-maqam hakikat hingga sampai (wushul) kepada Allah Azza wa Jalla atau mencapai muslim yang berma'rifat, muslim yang ihsan atau muslim yang berakhlakul karimah sebagaimana tujuan Rasulullah diutus oleh Allah Azza wa Jalla\rRasulullah bersabda “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad).\rIndikator telah bertauhid, beri'tiqod, berakidah, beragama yang baik dan benar adalah berakhlakul karimah\rUrutannya adalah Ilmu -> Amal -> Akhlak\rAmal berdasarkan ilmu berdasarkan Al-Quran dan As Sunnah","part":1,"page":350},{"id":351,"text":"Amal yang sering diperbuat akan membentuk akhlak yang baik, maka jadilah mereka ulama yang berakhlak baik, ulama sholeh atau alim ulama. Ulama sholeh semakin berilmu dan beramal maka mereka semakin merunduk (tawadu) bagaikan padi yang berisi.\rHal itu sesuai urutannya dengan\rMuslim -> Mukmin -> Muhsin\rMuslim adalah minimal manusia yang telah bersyahadat\rMuslim yang menjalankan amal ketaatan atau perkara syariat (syarat hamba Allah) atau “bukti cinta” adalah disebut orang beriman (mukmin)\rFirman Allah ta’ala yang artinya\r“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Ali Imron [3]:31 )\r“Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir” (QS Ali Imron [3]:32 )\r“dan ta’atlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman.” (QS Al Anfaal [8]:1 )\rMuslim yang menjalankan amal ketaatan atau muslim yang beriman (mukmin) dan menjalankan amal kebaikan atau mereka yang mengungkapkan cintanya kepada Allah Allah Azza wa Jalla dan RasulNya adalah disebut muhsin / muhsinin, muslim yang ihsan atau muslim yang baik atau sholihin.","part":1,"page":351},{"id":352,"text":"Firman Allah ta’ala yang artinya, “Inilah ayat-ayat Al Qura’an yang mengandung hikmah, menjadi petunjuk dan rahmat bagi muhsinin (orang-orang yang berbuat kebaikan), (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat. Mereka itulah orang-orang yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung” (QS Lukman [31]:2-5)\rAda dua kondisi yang dicapai oleh muslim yang ihsan atau muslim yang telah berma’rifat.\rKondisi minimal adalah mereka yang selalu merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla.\rKondiri terbaik adalah mereka yang dapat melihat Allah Azza wa Jalla dengan hati (ain bashiroh)\rApakah Ihsan ?\rقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِحْسَانُ قَالَ أَنْ تَخْشَى اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنَّكَ إِنْ لَا تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ\rLalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu takut (takhsya / khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.’ (HR Muslim 11) Link: http://www.indoquran.com/index.php?surano=2&ayatno=3&action=display&option=com_muslim\rRasulullah bersabda “Iman paling afdol ialah apabila kamu mengetahui bahwa Allah selalu menyertaimu dimanapun kamu berada“. (HR. Ath Thobari)\rImam Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani,\r“Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”\rBeliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”\r“Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali.","part":1,"page":352},{"id":353,"text":"Sayyidina Ali ra menjawab “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati”\rSebuah riwayat dari Ja’far bin Muhammad beliau ditanya: “Apakah engkau melihat Tuhanmu ketika engkau menyembah-Nya?” Beliau menjawab: “Saya telah melihat Tuhan, baru saya sembah”. Bagaimana anda melihat-Nya? dia menjawab: “Tidak dilihat dengan mata yang memandang, tapi dilihat dengan hati yang penuh Iman.”\rMuslim yang telah mencapai Ihsan atau muslim yang telah berma’rifat, minimal mereka yang selalu merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla atau yang terbaik mereka yang dapat melihat Allah dengan hati maka mereka mencegah dirinya dari melakukan sesuatu yang dibenciNya , menghindari perbuatan maksiat, menghindari perbuatan keji dan mungkar hingga terbentuklah muslim yang berakhlakul karimah sesuai dengan tujuan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diutus oleh Allah Azza wa Jalla\rRasulullah menyampaikan yang maknanya “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad).\rTentang Ihsan dikupas dan dijabarkan oleh tasawuf dalam Islam\rTasawuf dalam Islam adalah jalan (thariqat) untuk mencapai muslim yang Ihsan atau muslim yang berma'rifat\rTasawuf hanyalah sebuah istilah. Memang istilah ini ditemukan dalam keyakinan kaum non muslim dan semua sepakat bahwa tasawuf adalah istilah untuk cara/jalan mengenal atau mendekatkan diri kepada Tuhan. Tasawuf dalam Islam adalah thariqat (jalan) untuk mencapai muslim yang Ihsan atau muslim yang berakhlakul karimah. Sejak dahulu kala di perguruan tinggi Islam, tasawuf adalah pendidikan akhlak.","part":1,"page":353},{"id":354,"text":"Ahmad Shodiq, MA-Dosen Akhlak & Tasawuf, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, menceritakan kisah sedih pendidikan akhlak dalam sistem pendidikan. Ia merupakan dilema, antara jauhnya standar akhlak menurut kualitas hidup sufi, dengan angkuhnya sistem pendidikan. Dilema sistemik ini dipersedih oleh fakta bahwa para gurupun ternyata jauh dari standar akhlak, dalam sebuah ruang kelas, dimana para murid hanya mencari coretan nilai, atau sebatas titik absensi. Selengkapnya dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/07/pendidikan-akhlak/\rRasulullah bersabda kepada Mu’adz bin Jabal ra, “Ya Mu`adz bin Jabal ma min ahadin Yashaduan la illaha illallahu washadu anna muhammadan rasullullahi sidqan min qalbihi illa ahrramahu allahu alla annari “,\r“Ya Mu’adz bin Jabal, tak ada satu orang pun yang bersaksi bahwa sesungguhnya tiada tuhan selain Allah dan Muhammad rasul Allah yang ucapan itu betul-betul keluar dari kalbunya yang suci kecuali Allah mengharamkan orang tersebut masuk neraka.” (H.R. Bukhari dan Muslim","part":1,"page":354},{"id":355,"text":"Jika seseorang bersyahadat sidqan min qalbihi, betul-betul keluar dari qalbunya atau merasuk kedalam qalbunya maka dia akan tidak masuk ke neraka karena “hati” nya akan menggerakkannya untuk mentaati Allah ta’ala dan RasulNya, melaksanakan perkara syariat (syarat sebagai hamba Allah) yakni menjalankan segala kewajibanNya (ditinggalkan berdosa), menjauhi segala laranganNya (dikerjakan berdosa) dan menjauhi segala apa yang diharamkanNya (dikerjakan berdosa) serta mereka memperjalankan dirinya agar sampai (wushul) kepada Allah ta’ala, sehingga sebenar-benarnya menyaksikan (melihat) Allah dengan hati dan mereka mencapai muslim yang Ihsan, muslim berma’rifat.\rImam Al Qusyairi mengatakan bahwa, “Asy-Syahid untuk menunjukkan sesuatu yang hadir dalam hati, yaitu sesuatu yang membuatnya selalu sadar dan ingat, sehingga seakan-akan pemilik hati tersebut senantiasa melihat dan menyaksikan-Nya, sekalipun Dia tidak tampak. Setiap apa yang membuat ingatannya menguasai hati seseorang maka dia adalah seorang syahid (penyaksi)”.\rSyaikh Ibnu Athoillah mengatakan, “Sesungguhnya yang terhalang adalah anda, hai kawan. Karena anda sebagai manusia menyandang sifat jasad, sehingga terhalang untuk dapat melihat Allah. Apabila anda ingin sampai melihat Allah, maka intropeksi ke dalam, lihatlah dahulu noda dan dosa yang terdapat pada diri anda, serta bangkitlah untuk mengobati dan memperbaikinya, karena itu-lah sebagai penghalang anda. Mengobatinya dengan bertaubat dari dosa serta memperbaikinya dengan tidak berbuat dosa dan giat melakukan kebaikan“.","part":1,"page":355},{"id":356,"text":"Syaikh Abdul Qadir Al-Jilany menyampaikan, \"mereka yang sadar diri senantiasa memandang Allah Azza wa Jalla dengan qalbunya, ketika terpadu jadilah keteguhan yang satu yang mengugurkan hijab-hijab antara diri mereka dengan DiriNya.\rSemua banungan runtuh tinggal maknanya. Seluruh sendi-sendi putus dan segala milik menjadi lepas, tak ada yang tersisa selain Allah Azza wa Jalla. Tak ada ucapan dan gerak bagi mereka, tak ada kesenangan bagi mereka hingga semua itu jadi benar. Jika sudah benar sempurnalah semua perkara baginya. Pertama yang mereka keluarkan adalah segala perbudakan duniawi kemudian mereka keluarkan segala hal selain Allah Azza wa Jalla secara total dan senantiasa terus demikian dalam menjalani ujian di RumahNya\".\rNasehat Syaikh Ibnu Athoillah, “Seandainya Anda tidak dapat sampai / berjumpa kehadhirat Allah, sebelum Anda menghapuskan dosa-dosa kejahatan dan noda-noda keangkuhan yang melekat pada diri anda, tentulah anda tidak mungkin sampai kepada-Nya selamanya. Tetapi apabila Allah menghendaki agar anda dapat berjumpa denganNya , maka Allah akan menutupi sifat-sifatmu dengan sifat-sifat Kemahasucian-Nya , kekuranganmu dengan Kemahasempurnaan-Nya.\rAllah Ta’ala menerima engkau dengan apa yang Dia (Allah) karuniakan kepadamu, bukan karena amal perbuatanmu sendiri yang engkau hadapkan kepada-Nya.”","part":1,"page":356},{"id":357,"text":"Munajat Syaikh Ibnu Athoillah, “Ya Tuhan, yang berada di balik tirai kemuliaanNya, sehingga tidak dapat dicapai oleh pandangan mata. Ya Tuhan, yang telah menjelma dalam kesempurnaan, keindahan dan keagunganNya, sehingga nyatalah bukti kebesaranNya dalam hati dan perasaan. Ya Tuhan, bagaimana Engkau tersembunyi padahal Engkaulah Dzat Yang Zhahir, dan bagaimana Engkau akan Gaib, padahal Engkaulah Pengawas yang tetap hadir. Dialah Allah yang memberikan petunjuk dan kepadaNya kami mohon pertolongan“\rMereka yang memperjalankan diri kepada Allah Azza wa Jlla adalah mereka yang membersihkan hati (tazkiyatun nafs) yang berarti mengosongkan dari sifat sifat yang tercela (takhalli) kemudian mengisinya dengan sifat sifat yang terpuji (tahalli) yang selanjutnya beroleh kenyataan Tuhan (tajjalli) atau mencapai muslim yang berma’rifat atau melihat Rabb dengan hatinya.\rManusia terhalang atau menghijabi dirinya sehingga tidak dapat melihat Rabb dengan hatinya adalah karena dosa mereka. Setiap dosa merupakan bintik hitam hati (ketiadaan cahaya), sedangkan setiap kebaikan adalah bintik cahaya pada hati Ketika bintik hitam memenuhi hati sehingga terhalang (terhijab) dari melihat Allah. Inilah yang dinamakan buta mata hati.\rSebagaimana firman Allah ta’ala yang artinya,\r“Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).” (QS Al Isra 17 : 72)","part":1,"page":357},{"id":358,"text":"“maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (al Hajj 22 : 46)\rIngin bertasawuf silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/21/tips-bertasawuf/\rNamun hal yang harus diingat, sebelum bertasawuf penuhi dahulu perkara syariat, syarat sebagai hamba Allah yakni menjalankan segala kewajibanNya (ditinggalkan berdosa), menjauhi laranganNya (dikerjakan berdosa) dan menjauhi apa yang telah diharamkanNya (dikerjakan berdosa)\rApakah amalan atau praktek dasar tasawuf dalam Islam ?\rUntuk mencapai kondisi minimal muslim yang Ihsan , yakni selalu merasa diawasi/dilihat oleh Allah Azza wa Jalla. Dia yang tidak tidur , tiga diantara amal-amal yang harus dilaksanakan adalah\r1. Setiap kita akan bersikap atau melakukan perbuatan, yakinlah bahwa Allah ta'ala melihat kita dan Dia tidak tidur maka kita akan bersikap dan melakukan perbuatan yang dicintaiNya\r2. Setiap kita mendapatkan permasalahan/cobaan , segera ingat bahwa permasalahan/cobaan tersebut dalam pengaturan Allah Azza wa Jalla maka kita menghadapi permasalahan/cobaan tersebut dengan sikap dan perbuatan yang dicintaiNya\r3. Setiap kita mendapatkan kenikmatan, segera ingat bahwa kenikmatan tersebut berasal dariNya sehingga kita melakukan perbuatan yang dicintaiNya yakni segera bersyukur kepadaNya","part":1,"page":358},{"id":359,"text":"Sikap dan perbuatan yang dicintaiNya adalah yang tidak bertentangan dengan Al Qur'an dan As Sunnah. Cara mudah untuk mengetahui sikap dan perbuatan yang dicintaiNya dengan mempergunakan akal qalbu (hati) karena hati tidak pernah berdusta.\rFirman Allah ta’ala yang artinya, ‘Fu’aad (hati) tidak pernah mendustai apa-apa yang dilihatnya’ (QS An Najm [53]:11).\rWabishah bin Ma’bad r.a. berkata: Saya datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda, “Apakah engkau datang untuk bertanya tentang kebaikan?” Saya menjawab, “Benar.”Beliau bersabda, “Mintalah fatwa kepada hatimu sendiri. Kebaikan adalah apa-apa yang menenteramkan jiwa dan hati, sedangkan dosa adalah apa-apa yang mengusik jiwa dan meragukan hati, meskipun orang-orang memberi fatwa yang membenarkanmu.” hadits diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Ad-Darami dengan sanad hasan\rNawas bin Sam’an r.a. meriwayatkan dari Nabi Saw., beliau bersabda, “Kebaikan adalah akhlak yang baik, sedangkan dosa adalah segala hal yang mengusik jiwamu dan engkau tidak suka jika orang lain melihatnya. “(Diriwayatkan oleh Imam Muslim).\rSetiap jiwa atau akal qalbu (hati) manusia telah diilhamkan pilihan baik dan buruk, haq dan bathil.\rFirman Allah Azza wa Jalla yang artinya\r“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan” (pilihan haq atau bathil) (QS Al Balad [90]:10 )\r“maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya“. (QS As Syams [91]:8 )","part":1,"page":359},{"id":360,"text":"Ketidakmampuan manusia menggunakan akal qalbu (hati) atau ketidakmampuan manusia menggunakan ilham yang telah dihujamkan kedalam hati mereka dikarenakan keadaan hati mereka. Semakin mereka berlumur dosa maka ketiadaan cahayaNya pada hati mereka , menuju kegelapan , kehinaan sehingga mereka buta hatinya\rFirman Allah ta’ala yang artinya,\r“Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS An Nuur [24]:35)\r“Barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun”. (QS An Nuur [24]:40 )\r“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya) ? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (QS Az Zumar [39]:22)\rManusia sebagai makhluk yang mulia dengan dikaruniakan akal (qalbu) dan akan mendapatkan kemuliaan (An Nuur) atau “naik” jika manusia mempergunakan akal (qalbu) di jalan Allah ta’ala dan RasulNya atau mempergunakan akal (qalbu) untuk mengikuti cahayaNya atau petunjukNya dan sebaliknya akan mendapatkan kehinaan (An Naar) atau “jatuh” jika manusia tidak mempergunakan akalnya atau memperturutkan hawa nafsu.\rFirman Allah ta’ala yang artinya\r“…Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah..” (QS Shaad [38]:26 )","part":1,"page":360},{"id":361,"text":"“Katakanlah: “Aku tidak akan mengikuti hawa nafsumu, sungguh tersesatlah aku jika berbuat demikian dan tidaklah (pula) aku termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS An’Aam [6]:56 )\rMengikuti atau memperturutkan hawa nafsu = tidak mengikuti petunjukNya atau tersesat dari jalan Allah, menuju kegelapan atau ketiadaan cahayaNya\rManusia yang mendapat kemuliaan atau yang kembali ke sisi Allah yang Maha Mulia adalah Mereka yang mengikuti cahayaNya atau petunjukNya yakni mereka yang mempergunakan akal (qalbu) di jalan Allah dan RasulNya atau dengan kata lain adalah manusia yang bertaqwa.\rFirman Allah ta’ala yang artinya, “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu” (Al-Hujuraat [49]: 13 )\rIndikator manusia bertaqwa adalah berakhlakul karimah\rMereka yang mulia dan di sisi Allah Azza wa Jalla, mereka yang istiqomah di jalan yang lurus, mereka yang telah diberi ni’mat , mereka hanyalah terdiri dari 4 golongan manusia yakni para Nabi (yang utama adalah Rasulullah), para Shiddiqin, para Syuhada dan orang-orang sholeh.\rFirman Allah ta’ala yang artinya\r“Tunjukilah kami jalan yang lurus” (QS Al Fatihah [1]:6 )\r” (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada mereka….” (QS Al Fatihah [1]:7 )\r“Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya .” (QS An Nisaa [4]: 69 )","part":1,"page":361},{"id":362,"text":"Ketiga contoh amalan dasar tasawuf dalam Islam di atas termasuk dzikrullah sebagaimana Ulil Albab sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla yang artinya, “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (Ali Imran [3] : 191)\rUlil Albab adalah yang dapat membaca ayat-ayatNya sebagaimana yang telah kami sampaikan dalam tulisan sebelumnya pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/20/bacalah-ayat-ayatnya/\rWassalam\rZon di Jonggol, Kab Bogor 16830\r0937. Mereka merasa mengikuti pemahaman Salafush Sholeh\rMereka merasa mengikuti pemahaman Salafush Sholeh namun pada kenyataannya mereka tidak lebih dari mengikuti pemahaman ulama-ulama seperti ulama Ibnu Taimiyyah , ulama Ibnu Qoyyim Al Jauziah (pengikut Ibnu Taimiyyah), ulama Muhammad bin Abdul Wahhab (pengikut Ibnu Taimiyyah, pendiri sekte Wahabi) dan seperti ulama Al Albani (pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab) dan para pengikutnya.\rHal yang harus kita ingat bahwa mereka bukanlah pemimpin ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak) sehingga pemahaman mereka tidaklah patut diikuti","part":1,"page":362},{"id":363,"text":"Bahkan ulama Al Albani (pengikut ulama Muhammad bin Abdul Wahhab) ada mengingkari hadits sebagaimana yang diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/11/22/tidak-cukup/ dan pengingkarannya terhadap hadits-hadits lain diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2010/04/inilahahlussunnahwaljamaah.pdf\rPada hakikatnya mereka mengikuti pemahaman ulama Ibnu Taimiyyah sebagaimana ulama Muhammad bin Abdul Wahhab sebagaimana yang diriwayatkan dalam tulisan pada http://arisandi.com/?p=964 berikut kutipannya\r***awal kutipan****\rDi antara karya-karya ulama terdahulu yang paling terkesan dalam jiwanya adalah karya-karya Syeikh al-Islam Ibnu Taimiyah. Beliau adalah mujaddid besar abad ke 7 Hijriyah yang sangat terkenal.\rDemikianlah meresapnya pengaruh dan gaya Ibnu Taimiyah dalam jiwanya, sehingga Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab bagaikan duplikat(salinan) Ibnu Taimiyah. Khususnya dalam aspek ketauhidan, seakan-akan semua yang diidam-idamkan oleh Ibnu Taimiyah semasa hidupnya yang penuh ranjau dan tekanan dari pihak berkuasa, semuanya telah ditebus dengan kejayaan Ibnu `Abdul Wahab yang hidup pada abad ke 12 Hijriyah itu.\rSetelah beberapa lama menetap di Mekah dan Madinah, kemudian beliau berpindah ke Basrah. Di sini beliau bermukim lebih lama, sehingga banyak ilmu-ilmu yang diperolehinya, terutaman di bidang hadith danmusthalahnya, fiqh dan usul fiqhnya, gramatika (ilmu qawa’id) dan tidak ketinggalan pula lughatnya semua.","part":1,"page":363},{"id":364,"text":"Lengkaplah sudah ilmu yang diperlukan oleh seorang yang pintar yang kemudian dikembangkan sendiri melalui metode otodidak (belajar sendiri) sebagaimana lazimnya para ulama besar Islam mengembangkan ilmu-ilmunya. Di mana bimbingan guru hanyalah sebagai modal dasar yang selanjutnya untuk dapat dikembangkan dan digali sendiri oleh yang bersangkutan.\r****akhir kutipan*****\rMemang ulama Ibnu Taimiyyah membaca Al Qur’an , Tafsir bil Matsur, Hadits Shohih, Sunan, Musnad, lalu ulama Ibnu Taimiyyah pun berjtihad dengan pendapat beliau.\rApa yang ulama Ibnu Taimiyyah katakan tentang kitab-kitab tersebut, pada hakikatnya adalah hasil ijtihad dan ra’yu beliau sendiri.\rSumbernya memang Al Quran dan As Sunnah, tapi apa yang ulama Ibnu Taimiyyah sampaikan semata-mata lahir dari kepala beliau sendiri. Setiap upaya pemahaman bisa benar dan bisa pula salah. Kemungkinan salahnya semakin besar jika yang melakukan upaya pemahaman (ijtihad) tidak dikenal oleh jumhur ulama berkompetensi sebagai Imam Mujtahid Mutlak.\rKesalahpahaman besar telah terjadi ketika ulama Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa apa yang beliau pahami dan sampaikan adalah pemahaman Salafush Sholeh. Jika apa yang ulama Ibnu Taimiyyah pahami dan sampaikan sesuai dengan pemahaman Salafush Sholeh tentu tidaklah masalah namun ketika apa yang ulama Ibnu Taimiyyah pahami dan sampaikan tidak sesuai dengan pemahaman sebenarnya Salafush Sholeh maka pada hakikatnya ini termasuk fitnah terhadap para Salafush Sholeh. Fitnah akhir zaman.","part":1,"page":364},{"id":365,"text":"Ulama Ibnu Taimiyyah pada awalnya bermazhab Imam Hambali sebagaimana yang diuraikan dalam tulisan pada http://ashhabur-royi.blogspot.com/2011/02/upaya-menetralkan-suntikan-racun.html namun pada akhirnya beliau memahami Al Qur’an dan As Sunnah dengan menyandarkan pada belajar sendiri (secara otodidak) melalui cara muthola’ah (menelaah kitab) dengan akal pikiran sendiri.\rJumhur ulama telah menyampaikan bahwa jika memahami Al Qur’an dan As Sunnah dengan belajar sendiri (secara otodidak) melalui cara muthola’ah (menelaah kitab) dan memahaminya dengan akal pikiran sendiri, kemungkinan besar akan berakibat negative seperti,\r1. Ibadah fasidah (ibadah yang rusak) , ibadah yang kehilangan ruhnya atau aspek bathin\r2. Tasybihillah Bikholqihi , penyerupaan Allah dengan makhluq Nya\rIbadah fasidah (ibadah yang rusak) ditimbulkan dari kesalahpahaman misalkan kesalapahaman tentang bid’ah yang dapat menjerumuskan kedalam kekufuran sebagaimana yang diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/06/2011/11/03/ahli-bidah-sebenarnya/ atau kesalahpahaman berakibat pengingkaran hadits Rasulullah sebagaimana contoh yang diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/11/22/tidak-cukup/\rTasybihillah Bikholqihi , penyerupaan Allah dengan makhluq Nya berakibat terjerumus kedalam kekufuran.\rPara ulama-ulama terdahulu telah memperingatkan agar kita tidak memahami ayat-ayat mutasyabihat tentang sifat Allah dengan makna secara dzahir.","part":1,"page":365},{"id":366,"text":"Imam besar ahli hadis dan tafsir, Jalaluddin As-Suyuthi dalam “Tanbiat Al-Ghabiy Bi Tabriat Ibn ‘Arabi” mengatakan “Ia (ayat-ayat mutasyabihat) memiliki makna-makna khusus yang berbeda dengan makna yang dipahami oleh orang biasa. Barangsiapa memahami kata wajh Allah, yad , ain dan istiwa sebagaimana makna yang selama ini diketahui (wajah Allah, tangan, mata, bertempat), ia kafir secara pasti.”\rImam Ahmad ar-Rifa’i (W. 578 H/1182 M) dalam kitabnya al-Burhan al-Muayyad, “Sunu ‘Aqaidakum Minat Tamassuki Bi Dzahiri Ma Tasyabaha Minal Kitabi Was Sunnati Lianna Dzalika Min Ushulil Kufri”, “Jagalah aqidahmu dari berpegang dengan dzahir ayat dan hadis mutasyabihat, karena hal itu salah satu pangkal kekufuran”.\rBegitupula peringatan yang disampaikan oleh khataman Khulafaur Rasyidin, Imam Sayyidina Ali ra dalam riwayat berikut,\rSayyidina Ali Ibn Abi Thalib ra berkata : “Sebagian golongan dari umat Islam ini ketika kiamat telah dekat akan kembali menjadi orang-orang kafir.“\rSeseorang bertanya kepadanya : “Wahai Amirul Mukminin apakah sebab kekufuran mereka? Adakah karena membuat ajaran baru atau karena pengingkaran?”\rSayyidina Ali Ibn Abi Thalib ra menjawab : “Mereka menjadi kafir karena pengingkaran. Mereka mengingkari Pencipta mereka (Allah Subhanahu wa ta’ala) dan mensifati-Nya dengan sifat-sifat benda dan anggota-anggota badan.” (Imam Ibn Al-Mu’allim Al-Qurasyi (w. 725 H) dalam Kitab Najm Al-Muhtadi Wa Rajm Al-Mu’tadi).","part":1,"page":366},{"id":367,"text":"Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa menguraikan Al Qur’an dengan akal pikirannya sendiri dan merasa benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan”. (HR. Ahmad)\rIbnul Mubarak berkata: ”Sanad merupakan bagian dari agama, kalaulah bukan karena sanad, maka pasti akan bisa berkata siapa saja yang mau dengan apa saja yang diinginkannya.” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqoddimah kitab Shahihnya 1/47 no:32 )\rDari Ibnu Abbas ra Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda…”Barangsiapa yang berkata mengenai Al-Qur’an tanpa ilmu maka ia menyediakan tempatnya sendiri di dalam neraka” (HR.Tirmidzi)\rImam Syafi’i ~rahimahullah mengatakan “tiada ilmu tanpa sanad”.\rAl-Hafidh Imam Attsauri ~rahimullah mengatakan “Penuntut ilmu tanpa sanad adalah bagaikan orang yang ingin naik ke atap rumah tanpa tangga”\rBahkan Al-Imam Abu Yazid Al-Bustamiy , quddisa sirruh (Makna tafsir QS.Al-Kahfi 60) ; “Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya syetan” Tafsir Ruhul-Bayan Juz 5 hal. 203\rSanad ilmu / sanad guru sama pentingnya dengan sanad hadits\rSanad hadits adalah otentifikasi atau kebenaran sumber perolehan matan/redaksi hadits dari lisan Rasulullah\rSedangkan Sanad ilmu atau sanad guru adalah otentifikasi atau kebenaran sumber perolehan penjelasan baik Al Qur’an maupun As Sunnah dari lisan Rasulullah.","part":1,"page":367},{"id":368,"text":"Kita memahami Al Qur’an dan As Sunnah berdasarkan apa yang kita dengar dari apa yang disampaikan oleh ulama-ulama terdahulu yang tersambung dengan lisannya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Inilah yang dinamakan bertalaqqi (mengaji) dengan ulama bersanad ilmu atau bersanad guru tersambung kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam\rHal yang akan ditanyakan seperti\rApakah yang kamu pahami telah disampaikan / dikatakan oleh ulama-ulama terdahulu yang tersambung lisannya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ?\rSiapakah ulama-ulama terdahulu yang mengatakan hal itu ?\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda yang artinya “Sampaikan dariku sekalipun satu ayat dan ceritakanlah (apa yang kalian dengar) dari Bani Isra’il dan itu tidak apa (dosa). Dan siapa yang berdusta atasku dengan sengaja maka bersiap-siaplah menempati tempat duduknya di neraka” (HR Bukhari)\rHakikat hadits tersebut adalah kita hanya boleh menyampaikan satu ayat yang diperoleh dari orang yang disampaikan secara turun temurun sampai kepada lisannya Sayyidina Muhammad bin Abdullah Shallallahu alaihi wasallam.","part":1,"page":368},{"id":369,"text":"Kita tidak diperkenankan menyampaikan apa yang kita pahami dengan akal pikiran sendiri dengan cara membaca dan memahami namun kita sampaikan apa yang kita dengar dan pahami dari lisan mereka yang sanad ilmunya tersambung kepada lisannya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam karena hanya perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang merupakan kebenaran atau ilmuNya. Hal yang harus kita ingat bahwa Al Qur’an pada awalnya tidaklah dibukukan. Ayat-ayat Al Qur’an hanya dibacakan dan dihafal (imla) kemudian dipahami bersama dengan yang menyampaikannya.\rPara pemimpin ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak) alias Imam Mazhab yang empat, mereka menyampaikan pemahaman berdasarkan apa yang mereka dengar dan pahami dari lisannya Salafush Sholeh. Para Salafush Sholeh mereka menyampaikan pemahaman secara berjenjang berdasarkan apa yang mereka dengar dan pahami dari lisannya Rasulullah.\rContoh sanad Ilmu atau sanad guru Imam Syafi’i ra\r1. Baginda Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam\r2. Baginda Abdullah bin Umar bin Al-Khottob ra\r3. Al-Imam Nafi’, Tabi’ Abdullah bin Umar ra\r4. Al-Imam Malik bin Anas ra\r5. Al-Imam Syafei’ Muhammad bin Idris ra\rSalah satu cara mempertahankan sanad ilmu atau sanad guru adalah dengan mengikuti pendapat/pemahaman pemimpin ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak) alias Imam Mazhab yang empat dan penjelasan dari para pengikut Imam Mazhab sambil merujuk darimana mereka mengambil yaitu Al Quran dan as Sunnah.","part":1,"page":369},{"id":370,"text":"Ulama yang tidak mau bermazhab , pada hakikatnya telah memutuskan rantai sanad ilmu atau sanad guru, berhenti pada akal pikirannya sendiri dimana didalamnya ada unsur hawa nafsu atau kepentingan.\rPemerintahan kerajaan dinasti Saudi didirikan atas kolaborasi antara ulama asal Nejd yakni ulama Muhammad bin Abdul Wahhab dengan penguasa Muhammad bin Sa’ud\rBerikut kutipan perkenalan dari kedutaan besar Saudi Arabia, http://www.saudiembassy.net/about/country-information/Islam/saudi_arabia_Islam_heartland.aspx\r“In the 18th century, a religious scholar of the central Najd, Muhammad bin Abdul Wahhab, joined forces with Muhammad bin Saud, the ruler of the town of Diriyah, to bring the Najd and the rest of Arabia back to the original and undefiled form of Islam”.\rUlama Muhammad bin Abdul Wahab membutuhkan seorang penguasa untuk menolong penyiaran pahamnya yang baru dan Muhammad bin Sa’ud membutuhkan seorang ulama yang dapat mengisi rakyatnya dengan ideologi yang keras, demi untuk memperkokoh pemerintahan dan kekuasaannya.\rPadahal hal yang terlarang bekerjasama antara ulama dengan penguasa. Ulama dilarang mendekati pintu penguasa karena mereka akan sukar menegakkan kebenaran. Fatwanya bisa jadi merupakan pembenaran terhadap keinginan/hawa nafsu penguasa. Namun ulama boleh kalau sekedar silaturrahim dengan penguasa.\rDiriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda “barangsiapa mendatangi pintu penguasa maka ia akan terfitnah” ( HR Abu Dawud [2859]).","part":1,"page":370},{"id":371,"text":"Diriwayatkan dari Abu Anwar as-Sulami r.a, ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Jauhilah pintu-pintu penguasa, karena akan menyebabkan kesulitan dan kehinaan‘,”\rHadits yang sangat “disukai” oleh penguasa dan digunakan mereka sebagai pembenaran kekuasaan mereka adalah,\rKami bertanya kepada Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, “ Ya, Rasulullah! Apakah tidak sebaiknya kita perangi saja mereka ketika seperti itu ?, Beliau menjawab : “Tidak…, selagi mereka menegakkan shalat di tengah-tengah kalian. Tidak…, selagi mereka masih menegakkan shalat di tengah-tengah kalian (HR Muslim)\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam “Tidak halal memerangi penguasa, tidak pula memberontak kepadanya meskipun dia penguasa yang dzalim”.\rInilah yang dikatakan oleh Imam Sayyidina Ali ra, “kalimatu haqin urida bihil batil” (perkataan yang benar dengan tujuan yang salah / berlainan).\rPerkataan Rasulullah ketika sistem pemerintahan dalam kesatuan aqidah (aqidah state) kemudian oleh mereka “dipergunakan” pada sistem pemerintahan kesatuan dalam negara (nation state). Terkait sistem pemerintahan telah kami uraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/10/17/pemimpin-dalam-islam/","part":1,"page":371},{"id":372,"text":"Mereka membuat-buat larangan yang merupakan hak Allah ta'ala menetapkannya. Mereka melarang berkelompok atau berjama'ah minal muslimin dan menyebutnya sebagai hizbiyyah. Pada hakikatnya larangan tersebut adalah agar tidak timbul kekuatan kaum muslim dalam berjama'ah minal muslimin yang akan dapat menggangu kekuatan penguasa dinasti kerajaan Saudi. Padahal yang dilarang hanyalah membangga-banggakan kelompok.\rLarangan berjama'ah minal muslimin yang merupakan salah satu penyebab perselisihan diantara mereka yang mengaku-aku mengikuti pemahaman Salafush Sholeh sebagaimana yang terurai dalam beberapa situs berikut\rhttp://isnad.net/media/Muhammad_Sewed_di_Gugat.pdf\rhttp://isnad.net/?dl_name=kumal-kumal-dzul-akmal.pdf\rhttp://isnad.net/dialog-luqman-hizbi-firanda-sururi\rhttp://isnad.net/?dl_name=dzulqornain_yayasan.rar\rhttp://isnad.net/media/dzul-akmal-undercover.pdf\rwww.fb.com/notes/255000094557451\rwww.fb.com/notes/padepokan-kanjeng-sunan/buku-sms-abu-abu-salafi-melawan-salafi-al-bani-vs-bin-bas-utsaimin/248700811863777\rhttp://salafy.catatanku.com/\rhttp://satuislam.wordpress.com/2011/11/10/sekilas-tentang-salafi-wahabi/\rhttp://www.wattpad.com/397024-salafy-haraky-vs-salafy-yamani-vs-salafy-sururi\rhttp://semogakamiselamat.wordpress.com/2011/11/07/point-point-kesesatan-para-penyembah-thogut-radio-rodja/\rRasulullah bersabda : “Tidak boleh bagi tiga orang berada dimanapun di bumi ini, tanpa mengambil salah seorang diantara mereka sebagai amir (pemimpin) ”","part":1,"page":372},{"id":373,"text":"Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Rasulullah bersabda: “Barangsiapa memilih seseorang menjadi pemimpin untuk suatu kelompok, yang di kelompok itu ada orang yang lebih diridhai Allah dari pada orang tersebut, maka ia telah berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman.” (HR. Hakim)\rDalam sejarah Islam kita kenal adanya ahlu a-halli wa al-‘aqdi yang merupakan demokrasi berdasarkan perwakilan yang berkompetensi dan terpercaya. Begitupula ketetapan/fatwa/kebijaksanaan diambil dengan permusyawaratan / perwakilan yang berkompetensi dan terpercaya.\rRasulullah bersabda “Sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat pada kesesatan. Oleh karena itu, apabila kalian melihat terjadi perselisihan maka ikutilah as-sawad al a’zham (kesepakatan jumhur ulama) .” (HR. Ibnu Majah, Abdullah bin Hamid, at Tabrani, al Lalika’i, Abu Nu’aim. Menurut Al Hafidz As Suyuthi dalam Jamius Shoghir, ini adalah hadits Shohih)\rMereka adalah kaum yang menanamkan pedoman bukan dengan pedoman Rasulullah yakni mereka mengada-adakan di dalam agama (mengada-ada dalam perkara yang merupakan hak Allah ta’ala menetapkannya yakni perkara kewajiban, larangan dan pengharaman) , apabila mereka mengerjakan agama dengan pemahaman berdasarkan akal pikiran, padahal di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.”","part":1,"page":373},{"id":374,"text":"Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya di masa kemudian akan ada peperangan di antara orang-orang yang beriman.” Seorang Sahabat bertanya: “Mengapa kita (orang-orang yang beriman) memerangi orang yang beriman, yang mereka itu sama berkata: ‘Kami telah beriman’.” Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Ya, karena mengada-adakan di dalam agama (mengada-ada dalam perkara yang merupakan hak Allah ta’ala menetapkannya yakni perkara kewajiban, larangan dan pengharaman) , apabila mereka mengerjakan agama dengan pemahaman berdasarkan akal pikiran, padahal di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)\rMereka “memerangi” orang beriman sebagaimana yang dialami oleh mufti mesir Profesor Doktor Ali Jum`ah yang mempertahankan fatwa bahwa Niqab ( Cadar / Purdah) adalah suatu kebiasaan yang di bolehkan dan bukan merupakan satu kewajiban (ditinggalkan berdosa) sebagaimana kesepakatan jumhur ulama bahwa wajah dan kedua telapak tangan bukan termasuk aurat bagi perempuan. Hal ini diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/30/hukum-penutup-muka/\rAndaikan Niqab ( Cadar / Purdah) sebuah perkara syariat atau kewajiban yang jika ditinggalkan berdosa maka akan bertentangan dengan larangan menutup muka ketika ihram bagi kaum wanita. Adalah hal yang mustahil dalam perkara syariat ada yang saling bertentangan.\rFirman Allah Azza wa Jalla,","part":1,"page":374},{"id":375,"text":"أَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ اخْتِلاَفاً كَثِيراً\r“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ? Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS An Nisaa 4 : 82)\rMereka \"memerangi\" orang beriman sebagaimana perintah ulama mereka dalam kitabnya berjudul “al-Majmu’ al-mufid min ‘Aqidati al Tauhid” hal. 55\rلاينفع اسلامكم اذا أعلنتم الحرب العشواء على هذه الطرق الصوفية فقضيتم عليها قاتلوا هم قبل أن تقاتلوا اليهود والمجوس\r“Tidak berguna Islam kalian sebelum kalian mengumumkan perang terhadap torikoh sufi dan kalian membantainya, perangilah mereka sebelum memerangi yahudi dan majusi”\rPerintah yang diada-adakan (bid’ah) yang tidak pernah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla maupun tidak pernah disampaikan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Tentang kaum sufi telah dijelaskan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/05/07/kaum-sufi/. Sedangkan tentang amalan dan konsep dasar tasawuf telah dijelaskan dalam tulisan sebelumnya pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/25/amalan-dasar-tasawuf/\rContoh lain mereka “memerangi” orang beriman sebagaimana yang terurai dalam tulisan pada http://www.aswaja-nu.com/2010/01/dialog-syaikh-al-syanqithi-vs-wahhabi_20.html atau pada www.fb.com/photo.php?fbid=220630637981571&set=a.220630511314917.56251.100001039095629\rMereka dengan pemahaman mereka berdasarkan akal pikiran sendiri menjadikan Amerika yang dibelakangnya kaum Zionis Yahudi sebagai “teman kepercayaan”, penasehat, pelindung","part":1,"page":375},{"id":376,"text":"Firman Allah Azza wa Jalla yang artinya\r“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya” , (QS Ali Imran, 118)\r“Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati“. (QS Ali Imran, 119)\r“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak, atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.” (Qs. Al Mujadilah : 22)\r“Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dan meninggalkan orang-orang mu’min. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah…” (Qs. Ali-Imran : 28)","part":1,"page":376},{"id":377,"text":"“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui“. (QS Al Mujaadilah [58]:14 )\rIronis yang terjadi di wilayah kerajaan dinasti Saudi, mereka menjadikan Amerika (dibelakangnya kaum Zionis Yahudi) sebagai teman kepercayaan, pelindung, penasehat. Contoh paling mudah untuk diketahui bahwa mereka menyusun kurikulum pendidikan agama bekerjasama dengan Amerika yang dibelakangnya adalah kaum Zionis Yahudi , sebagaimana yang terurai dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/07/muslim-bukanlah-ekstrimis/ Inilah salah satu “pintu masuk” ghazwul fikri (perang pemahaman) yang dilancarkan oleh kaum Zionis Yahudi dan kesalahpahaman-kesalahpahaman tersebut menyebar luas ke negeri-negeri kaum muslim melalui perantaraan contohnya beasiswa pendidikan di wilayah kerajaan dinasti Saudi.\rBegitupula dengan penguasa negeri lainnya yang mengaku muslim namun mereka menjadi “boneka” Amerika atau menjadikan Amerika atau kaum Zionis Yahudi sebagai teman kepercayaan, pelindung, penasehat.\rTindakan para penguasa negeri seperti itulah yang menimbulkan kemudharatan bagi kaum muslim sebagaimana yang telah difirmankan Allah Azza wa Jalla yang artinya, \"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagiimu \" (QS Ali Imran, 118).\rFirman Allah Azza wa Jalla","part":1,"page":377},{"id":378,"text":"Hasbunallah wani’mal wakil , “Cukuplah Allah sebagai penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baik tempat bersandar” (QS Ali `Imran [3]: 173)\r\"Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. ( Qs. Al-Hujjarat :10)\r\"“Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” (QS Al Ma’iadah [5]:54)\rDiriwayatkan hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Demi Allah, kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Belum sempurna keimanan kalian hingga kalian saling mencintai.” (HR Muslim)\rWassalam\rZon di Jonggol, Kab Bogor 16830\r0952. Buanglah jauh jauh pembagian ulama salaf dan ulama khalaf\rMereka yang mengaku-aku mengikuti pemahaman Salafush Sholeh yang kenyataannya adalah pengikut pemahaman ulama Ibnu Taimiyyah sering mengedepankan pembagian atau periodisasi ulama Salaf dan ulama khalaf. Pembagian atau periodisasi ini tidak pernah disampaikan oleh Rasulullah maupun oleh Salafush Sholeh. Pembagian atau periodisasi ini ditengarai adalah bagian dari hasutan atau ghazwul fikri (perang pemahaman) dari kaum Zionis Yahudi untuk memecah belah umat Islam.","part":1,"page":378},{"id":379,"text":"Salafush Sholeh artinya kaum muslim terdahulu yang sholeh pada masa tiga generasi. Namun harus kita ingat bahwa kaum muslim baik ulama salaf maupun ulama khalaf (ulama kemudian / ulama setelah tiga generasi) mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi muslim yang sholeh atau muslim disisiNya, generasi tidak membatasi untuk menjadi sholeh.\rNabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “sebaik-baik manusia adalah yang hidup pada masaku, kemudian orang-orang pada masa berikutnya, kemudian orang-orang pada masa berikutnya, kemudian setelah mereka akan datang suatu kaum kesaksian mereka mendahului sumpah mereka, dan sumpah mereka mendahului kesaksian mereka.” (HR Bukhari 5949)\rAda beberapa hadits yang senada baik yang diriwayatkan Imam Bukhari maupun Imam Muslim namun hampir semuanya diikuti dengan perkataan Rasulullah yang artinya “kemudian setelah mereka akan datang suatu kaum kesaksian mereka mendahului sumpah mereka, dan sumpah mereka mendahului kesaksian mereka.”\rDari perkataan Rasulullah ini dapat kita pahami generasi terbaik tidak terbatas hanya pada tiga generasi pertama namun diiikuti generasi-generasi berikutnya bagi mereka yang bersaksi bahwa “Muhammad adalah utusan Allah”.\rIni terkait dengan firman Allah ta’ala yang artinya, “kuntum khayra ummatin ukhrijat lilnnaasi“, “Kamu (umat Rasulullah) adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia” (QS Ali Imran [3]:110 ).\rSahabat dikatakan “sebaik-baik manusia” karena termasuk manusia awal yang “melihat” Rasulullah atau manusia awal yang bersaksi atau bersyahadat.","part":1,"page":379},{"id":380,"text":"Ibnu Hajar al-Asqalani asy-Syafi’i berkata: “Ash-Shabi (sahabat) ialah orang yang bertemu dengan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, beriman kepada beliau dan meninggal dalam keadaan Islam“\rBegitu pula dengan Tabi’in (orang yang “melihat”/”bertemu” dengan Sahabat) maupun Tabi’ut Tabi’in (orang yang “melihat”/”bertemu” dengan Tabi’in adalah “sebaik-baik manusia” karena mereka termasuk manusia awal yang bersaksi atau bersyahadat.\rBahkan Allah Azza wa Jalla menjamin untuk masuk surga bagi “sebaik-baik manusia” paling awal atau manusia yang bersaksi/bersyahadat paling awal atau yang membenarkan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam sebagai utusan Allah ta’ala paling awal atau as-sabiqun al-awwalun. Hal ini dinyatakan dalam firmanNya yang artinya,\r“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar”. (QS At Taubah [9]:100 )\rMereka yang termasuk 10 paling awal bersyahadat/bersaksi atau yang termasuk “as-sabiqun al-awwalun” adalah, Abu Bakar Ash Shidiq ra, Umar bin Khattab ra, Ustman bin Affan ra, Ali bin Abi Thalib ra, Thalhah bin Abdullah ra, Zubeir bin Awwam ra, Sa’ad bin Abi Waqqas ra, Sa’id bin Zaid ra, ‘Abdurrahman bin ‘Auf ra dan Abu ‘Ubaidah bin Jarrah ra .","part":1,"page":380},{"id":381,"text":"Jadi yang disebut generasi terbaik atau sebaik-baik manusia adalah bagi seluruh umat Nabi Sayyidina Muhammad Shallallahu alaihi wasallam atau bagi seluruh manusia yang telah bersaksi/bersyahadat atau bagi seluruh muslim sampai akhir zaman.\rSeluruh muslim mempunyai kesempatan untuk menjadi sholeh tanpa dibatasi zaman kapan mereka hidup.\rAllah Azza wa Jalla tidak pernah membatasi manusia untuk menjadi terbaik atau paling mulia\rFirman Allah ta’ala yang artinya, “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu” (Al-Hujuraat [49]: 13 )\rIndikator manusia bertaqwa adalah minimal menjadi muslim berakhlakul atau muslim yang sholeh\rMuslim terbaik atau muslim yang paling mulia adalah muslim yang mendapatkan tempat (maqom) di sisi Allah Azza wa Jalla yakni mereka yang istiqomah di jalan yang lurus, mereka yang telah diberi ni’mat , mereka hanyalah terdiri dari 4 golongan manusia yakni para Nabi (yang utama adalah Rasulullah), para Shiddiqin, para Syuhada dan orang-orang sholeh.\rFirman Allah ta’ala yang artinya : “Tunjukilah kami jalan yang lurus” (QS Al Fatihah [1]:6 )\r” (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada mereka….” (QS Al Fatihah [1]:7 )\r“Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya .” (QS An Nisaa [4]: 69 )","part":1,"page":381},{"id":382,"text":"Muslim yang terbaik untuk bukan Nabi dan menjadi kekasih Allah (wali Allah) dengan mencapai shiddiqin dan bermacam tingkatan shiddiqin sebagaimana yang diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/14/2011/09/28/maqom-wali-allah/\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “sesungguhnya ada di antara hamba Allah (manusia) yang mereka itu bukanlah para Nabi dan bukan pula para Syuhada’. Mereka dirindukan oleh para Nabi dan Syuhada’ pada hari kiamat karena kedudukan (pangkat) mereka di sisi Allah Swt seorang dari shahabatnya berkata, siapa gerangan mereka itu wahai Rasulullah? Semoga kita dapat mencintai mereka. Nabi Saw menjawab dengan sabdanya: Mereka adalah suatu kaum yang saling berkasih sayang dengan anugerah Allah bukan karena ada hubungan kekeluargaan dan bukan karena harta benda, wajah-wajah mereka memancarkan cahaya dan mereka berdiri di atas mimbar-mimbar dari cahaya. Tiada mereka merasa takut seperti manusia merasakannya dan tiada mereka berduka cita apabila para manusia berduka cita”. (HR. an Nasai dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya)","part":1,"page":382},{"id":383,"text":"Hadits senada, dari ‘Umar bin Khathab ra bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya diantara hamba-hambaku itu ada manusia manusia yang bukan termasuk golongan para Nabi, bukan pula syuhada tetapi pada hari kiamat Allah ‘Azza wa Jalla menempatkan maqam mereka itu adalah maqam para Nabi dan syuhada.”Seorang laki-laki bertanya : “siapa mereka itu dan apa amalan mereka?”mudah-mudahan kami menyukainya. Nabi bersabda: “yaitu Kaum yang saling menyayangi karena Allah ‘Azza wa Jalla walaupun mereka tidak bertalian darah, dan mereka itu saling menyayangi bukan karena hartanya, dan demi Allah sungguh wajah mereka itu bercahaya, dan sungguh tempat mereka itu dari cahaya, dan mereka itu tidak takut seperti yang ditakuti manusia, dan tidak susah seperti yang disusahkan manusia,” kemudian beliau membaca ayat : ” Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS Yunus [10]:62 )\rPara Salafush Sholeh maupun muslim yang sholeh niscaya mereka akan masuk surga.\rFirman Allah ta’ala yang artinya : “Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya.” ( QS An Nisaa’ [4]:175\rNamun mereka yang niscaya masuk surga berbeda kedekatan denganNya atau maqom (derajat) disisi Nya\rContoh perbedaan maqom (derajat) disisiNya ketika zaman Salafush Sholeh","part":1,"page":383},{"id":384,"text":"Suatu hari Umar r.a. kedatangan rombongan dari Yaman, lalu ia bertanya :\r“Adakah di antara kalian yang datang dari suku Qarn?”.\rLalu seorang maju ke dapan menghadap Umar. Orang tersebut saling bertatap pandang sejenak dengan Umar. Umar pun memperhatikannya dengan penuh selidik.\r“Siapa namamu?” tanya Umar.\r“Aku Uwais”, jawabnya datar.\r“Apakah engkau hanya mempunyai seorang Ibu yang masih hidup?, tanya Umar lagi.\r“Benar, Amirul Mu’minin”, jawab Uwais tegas.\rUmar masih penasaran lalu bertanya kembali “Apakah engkau mempunyai bercak putih sebesar uang dirham?” (maksudnya penyakit kulit berwarna putih seperti panu tapi tidak hilang).\r“Benar, Amirul Mu’minin, dulu aku terkena penyakit kulit “belang”, lalu aku berdo’a kepada Allah agar disembuhkan. Alhamdulillah, Allah memberiku kesembuhan kecuali sebesar uang dirham di dekat pusarku yang masih tersisa, itu untuk mengingatkanku kepada Tuhanku”.\r“Mintakan aku ampunan kepada Allah”.\rUwais terperanjat mendengar permintaan Umar tersebut, sambil berkata dengan penuh keheranan. “Wahai Amirul Mu’minin, engkau justru yang lebih behak memintakan kami ampunan kepada Allah, bukankah engkau sahabat Nabi?”\rLalu Umar berkata “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata “Sesungguhnya sebaik-baik Tabiin adalah seorang bernama Uwais, mempunyai seorang ibu yang selalu dipatuhinya, pernah sakit belang dan disembuhkan Allah kecuali sebesar uang dinar di dekat pusarnya, apabila ia bersumpah pasti dikabulkan Allah. Bila kalian menemuinya mintalah kepadanya agar ia memintakan ampunan kepada Allah”","part":1,"page":384},{"id":385,"text":"Uwais lalu mendoa’kan Umar agar diberi ampunan Allah. Lalu Uwais pun menghilang dalam kerumunan rombongan dari Yaman yang akan melanjutkan perjalanan ke Kufah. (H.R. Muslim dan Ahmad)\rUwais ra adalah contoh kekasih Allah (Wali Allah) pada generasi Tabi'in , dimana permintaannya pasti dikabulkan oleh Allah Azza wa Jalla\rDalam sebuah haditas Qudsi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah berfirman; Siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan perang kepadanya, dan hamba-Ku tidak bisa mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada yang telah Aku wajibkan (amal ketaatan/perkara syariat), jika hamba-Ku terus menerus mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan sunnah (amal kebaikan), maka Aku mencintai dia, jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya yang ia jadikan untuk mendengar, dan pandangannya yang ia jadikan untuk memandang, dan tangannya yang ia jadikan untuk memukul, dan kakinya yang dijadikannya untuk berjalan, jikalau ia meminta-Ku, pasti Kuberi, dan jika meminta perlindungan kepada-KU, pasti Ku-lindungi. Dan aku tidak ragu untuk melakukan sesuatu yang Aku menjadi pelakunya sendiri sebagaimana keragu-raguan-Ku untuk mencabut nyawa seorang mukmin yang ia (khawatir) terhadap kematian itu, dan Aku sendiri khawatir ia merasakan kepedihan sakitnya. (HR Muslim 6021)","part":1,"page":385},{"id":386,"text":"Seorang Wali Allah, mereka yang telah berma’rifat, mereka yang disisiNya, mereka yang telah sampai (wushul) kepada Allah Azza wa Jalla, jika mereka memohon kepada Allah Azza wa Jalla , pasti akan dikabulkanNya. Cuma mereka kadang malu untuk memohon kepada Allah karena telah mencukupkan diri kepada pengaturanNya.\rPara Wali Allah (kekasih Allah), mereka yang disisiNya pastilah dapat melihat Allah dengan hatinya atau mereka yang telah berma'rifat atau mereka yang telah sampai (wushul) kepada Allah Azza wa Jalla\rRasulullah bersabda “Iman paling afdol ialah apabila kamu mengetahui bahwa Allah selalu menyertaimu dimanapun kamu berada“. (HR. Ath Thobari)\rImam Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani,\r“Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”\rBeliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”\r“Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali.\rSayyidina Ali ra menjawab “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati”\rSebuah riwayat dari Ja’far bin Muhammad beliau ditanya: “Apakah engkau melihat Tuhanmu ketika engkau menyembah-Nya?” Beliau menjawab: “Saya telah melihat Tuhan, baru saya sembah”. Bagaimana anda melihat-Nya? dia menjawab: “Tidak dilihat dengan mata yang memandang, tapi dilihat dengan hati yang penuh Iman.”\rWali Allah (kekasih Allah), mereka yang telah berma’rifat, mereka yang disisiNya, mereka yang telah sampai (wushul) kepada Allah Azza wa Jalla adalah muslim yang Ihsan\rAda dua kondisi yang dicapai oleh muslim yang ihsan atau muslim yang telah berma’rifat.","part":1,"page":386},{"id":387,"text":"Kondisi minimal adalah mereka yang selalu merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla.\rKondiri terbaik adalah mereka yang dapat melihat Allah Azza wa Jalla dengan hati (ain bashiroh)\rApakah Ihsan ?\rقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِحْسَانُ قَالَ أَنْ تَخْشَى اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنَّكَ إِنْ لَا تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ\rLalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu takut (takhsya / khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.’ (HR Muslim 11) Link: http://www.indoquran.com/index.php?surano=2&ayatno=3&action=display&option=com_muslim\rJadi perjalanan manusia hingga sampai dapat mencapai maqom (derajat) disisiNya sehingga berma'rifat atau bertemu dengan Allah, melihat Allah dengan hati adalah\rMuslim -> Mukmin -> Muhsin\rMuslim adalah minimal manusia yang telah bersyahadat\rMuslim yang menjalankan amal ketaatan atau perkara syariat (syarat hamba Allah) atau “bukti cinta” adalah disebut orang beriman (mukmin)\rFirman Allah ta’ala yang artinya : “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Ali Imron [3]:31 )\r“Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir” (QS Ali Imron [3]:32 )\r“dan ta’atlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman.” (QS Al Anfaal [8]:1 )","part":1,"page":387},{"id":388,"text":"Muslim yang menjalankan amal ketaatan atau muslim yang beriman (mukmin) dan menjalankan amal kebaikan atau mereka yang mengungkapkan cintanya kepada Allah Allah Azza wa Jalla dan RasulNya adalah disebut muhsin / muhsinin, muslim yang ihsan atau muslim yang baik atau sholihin.\rFirman Allah ta’ala yang artinya, “Inilah ayat-ayat Al Qura’an yang mengandung hikmah, menjadi petunjuk dan rahmat bagi muhsinin (orang-orang yang berbuat kebaikan), (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat. Mereka itulah orang-orang yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung” (QS Lukman [31]:2-5)\rJadi tujuan manusia hidup pada hakikatnya adalah untuk menjadi muslim yang Ihsan, muslim yang baik, muslim sholeh atau muslim yang berakhlakul karimah sebagaimana tujuan Rasulullah diutus oleh Allah Azza wa Jalla\rRasulullah menyampaikan yang maknanya “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad).\rBerikut pernyataan para ulama-ulama terdahulu tentang siapakah yang dimaksud mereka yang mencapai muslim yang terbaik atau muslim yang ihsan atau muslim yang dapat melihat Allah Azza wa Jalla dengan hati.\rAl-Imam Al-Kabir Abdul Qahir Al-Baghdadi berkata :","part":1,"page":388},{"id":389,"text":"الفصل الأول من فصول هذا الباب في بيان أصناف أهل السنة والجماعة. اعلموا أسعدكم الله أن أهل السنة والجماعة ثمانية أصناف من الناس… والصنف السادس منهم: الزهاد الصوفية الذين أبصروا فأقصروا، واختَبروا فاعتبروا، ورضوا بالمقدور وقنعوا بالميسور، وعلموا أن السمع والبصر والفؤاد كل أُولئك مسؤول عن الخير والشر، ومحاسب على مثاقيل الذر، فأعدُّوا خير الإِعداد ليوم المعاد، وجرى كلامهم في طريقَيْ العبارة والإِشارة على سَمْتِ أهل الحديث دون من يشتري لهو الحديث، لا يعملون الخير رياء، ولا يتركونه حياء، دينُهم التوحيد ونفي التشبيه، ومذهبهم التفويضُ إِلى الله تعالى، والتوكلُ عليه والتسليمُ لأمره، والقناعةُ بما رزقوا، والإِعراضُ عن الاعتراض عليه. {ذلكَ فضلُ اللهِ يؤتِيهِ مَنْ يشاءُ واللهُ ذو الفضلِ العظيمِ\r“ Fasal pertama dari fasal-fasal bab ini, tentang penjelasan kelompok-kelompok Ahlus sunnah waljama’ah. Ketahuilah, semoga Allah membuat kalian bahagia, sesungguhnya Ahlus sunnah waljama’ah ada delapan kelompok manusia..(hingga ucapan beliau)..”","part":1,"page":389},{"id":390,"text":"Kelompok ke enam di anatara mereka adalah orang-orang yang zuhud dan ahlis shufi yang mereka memandang dengan mata hati hingga mereka bisa berlaku sederhana, mereka mendapat ujian dan mereka mengambil pelajarannya. Mereka ridha dengan ketentuan dan legowo dengan hal yang ringan. Mereka ahli shufi mengetahui bahwa pendengaran, penglihatan dan hati semuanya akan dimintai pertangung jawabannya dari kebaikan atau keburukan dan akan dihisab walau seberat biji atom pun. Maka mereke mempersiapkan diri dengan sebaik-baik bekal untuk hari kembali kelak dan ucapan mereka berjalan di dalam dua jalan ibarat dan isyarat berdasarkan karakter ahli hadits bukan orang yang menjual permainan hadits. Mereka beramal kebaikan tidak dengan pamer dan tidak meninggalkan kebaikan karena malu. Agama mereka Tauhid dan meniadakan Tasybih (penyerupaan) dan mazdhab mereka Tafwidh (menyerahkan makna) kepada Allah Swt, tawakkal dan penyerahan diri kepada perintah Allah. Qonaah terhadap rezeki yang mereka dapat dan berpaling dari mengeluh atas-Nya. Itulah keutamaan Allah yang Allah berikan pada orang yang dikehendaki-Nya dan Allah maha memiliki keutamaan yang agung “. (Al-Farq bainal Firaq halaman : 236)\rAl-Imam Al-Allamah Al-Hafidz Abdu Rauf al-Manawi berkata :","part":1,"page":390},{"id":391,"text":"وإني كنت قبل أن يكتب الشباب خط العذار , أردد ناظري في أخبار الأولياء الأخيار , وأتتبع مواقع إشارات حكم الصوفية الأبرار , وأترقب أحوالهم وأسبر أقوالهم … حتى حصلت من ذلك على فوائد عاليات , وحكم شامخات ساميات فألهمت أن أقيد ما وقفت عليه في ورقات , وأن أجعله في ضمن التراجم , كما فعله بعض الأعاظم الأثبات , فأنزلت الصوفية في طبقات , وضربت لهم في هذا المجموع سرادقات , ورتبتهم على حروف المعجم عشر طبقات , كل مائة سنة طبقة , وجمعتهم كواكب كلها معالم للهدي , ومصابيح للدجى , ورجوم للمسترقة\r“ Sesungguhnya aku sebelum seorang pemuda dicatat akan catatan alasannya, ingin mencermati kisah-kisah para wali Allah yang terpilih, aku telusuri isyarat-isyarat hokum ahli shufi yang baik dan aku selidiki keadaan-keadaan mereka dan aku kuak ucapan-ucapan mereka hingga aku mendapatkan beberapa faedah yang tinggi sebab itu dan hikmah-hikmah berbobot nan luhur. Lalu aku mendapatkan ilham agar mencatat apa yang aku dalami itu pada sebuah buku, dan agar aku buat isi biografi perjalanan mereka sebagaimana telah dilakukan sebagian besar ulama. Maka aku posisikan ulama shufi dalam beberapa tingkatan dan ku beberkan beberapa tenda dalam kumpulan ini. Aku tertibkan nama mereka menjadi sepuluh tingkatan. Setiap seratus tahun satu tingkatan dan aku kumpulkan bintang-bintang seluruhnya bagaikan petunjuk bagi kebenaran dan penerang bagi kegelapan serta panah api bagi si pencuri “. (Al-Kawaiku Ad-Durriyyah fii Tarajimi ash-Shufiyyah halaman : 3-4, karya imam Abdur Raouf al-Manawi)\rAl-Imam Al-Allamah Al-Mufassir Fakhruddin Ar-Razi berkata :","part":1,"page":391},{"id":392,"text":"الباب الثامن في أحوال الصوفية:اعلم أن أكثر مَنْ حَصَرَ فرق الأمة، لم يذكر الصوفية وذلك خطأ، لأن حاصل قول الصوفية أن الطريق إِلى معرفة الله تعالى هو التصفية والتجرد من العلائق البدنية، وهذا طريق حسن.. وقال أيضاً: والمتصوفة قوم يشتغلون بالفكر وتجرد النفس عن العلائق الجسمانية، ويجتهدون ألاَّ يخلو سرَّهم وبالَهم عن ذكر الله تعالى في سائر تصرفاتهم وأعمالهم، منطبعون على كمال الأدب مع الله عز وجل، وهؤلاء هم خير فرق الآدميين\r“ Bab kedelapan : Tentang keadaan-keadaan ahli tasawwuf. Ketahuilah, sesungguhnya kebanyakan orang yang menghitung pembagian golongan umat tidak menyebut golongan ahli tasawwuf dan hal itu salah, karena keseluruhan ucapan ahli tasawwuf adalah sesungguhnya jalan menuju pengenalan kepada Allah Ta’ala adalah Tashfiyyah (penyucian) dan membersihkan diri dari ketergantungan badan, dan jalan ini merupakan jalan yang baik. Beliau juga berkata “ Kaum shufi adalah orang-orang yang menyibukkan diri dengan tafakkur dan membersihkan jiwa dari ketergantungan jasmaniyah, berusaha keras agar hati mereka tidak kosong dari mengingat Allah Ta’ala di dalam gerak-gerik mereka, selalu berpegang dengan kesempurnaan adab bersama Allah, dan merekalah paling baiknya golongan anak manusia “. (I’tiqadaat firaqil Muslimin wal musyrikin halaman : 72-73, Karya imam Fakhruddin Ar-Razi)\rAl-Imam Al-Allamah Al-Hafidz Jalaluddin As-Suyuthi berkata :","part":1,"page":392},{"id":393,"text":"اعلم وفقني الله وإياك أن علم التصوف في نفسه علم شريف رفيع قدره سني أمره ، لم تزل أئمة الإسلام وهداة الأنام قديماً وحديثاً يرفعون مناره وَيُجِلُّون مقداره ويعظمون أصحابه ويعتقدون أربابه ، فإنهم أولياء الله وخاصته من خلقه بعد أنبيائه ورسله ، غير أنه دخل فيهم قديماً وحديثاً دخيل تشبهوا بهم وليسوا منهم وتكلموا بغير علم وتحقيق فزلوا وصلوا وأضلوا ، فمنهم من اقتصر على الاسم وتوسل بذلك إلى حطام الدنيا ، ومنهم من لم يتحقق فقال بالحلول وما شابهه فأدى ذلك إلى إساءة الظن بالجميع ، وقد نبه المعتبرون منهم على هذا الخطب الجليل ونصوا على أن هذه الأمور السيئة من ذلك الدخيل.","part":1,"page":393},{"id":394,"text":"“ Ketahuilah, semoga Allah memberikan taufiq-Nya padaku dan kamu, sesungguhnya ilmu tasawwuf itu sendiri adalah ilmu yang mulia, tinggi derajatnya dan luhur urusannya. Para imam Islam dan para ulama penunjuk manusia sejak dulu hingga sekarang selalu mengangkat lambangnya, meninggikan martabatnya dan mengangungkan para pemeluknya dan meyakini kemulian ahlinya. Karena mereka adalah para wali Allah Swt dan orang-orang khusus-Nya dari makhluk-Nya setelah para nabi dan rasul-Nya, akan tetapi masuklah sesuatu yang asing sejak dulu hingga sekarang yang menyerupai penganut tasawwuf padahal sama sekali mereka bukanlah dari ahli tasawwuf. Mereka berbicara tanpa ilmu dan mengerti hakikat, sehingga mereka tergelincir, sesat dan menyesatkan. Di antara mereka ada yang mencukupkan saja dengan nama dan menjadikan perantara untuk mengambil keuntungan dunia. Di antara mereka ada yang belum mencapai hakikat sehingga mereka berucap dengan hulul dan semisalnya, sehingga itu semua membuat munculnya buruk sangka terhadap semua ajaran tasawwuf. Sungguh para pengambil pelajaran dari mereka telah member peringatan atas nasehat mulia ini dan menetapkan bahwa semua perkara buruk ini muncul dari sesuatu yang asing (di luar tasawwuf) tersebut “. (Ta’yidul Haqiqah al-‘Aliyyah Wa Tasyiduth Thariqah asy-Syadziliyyah halaman : 7, karya imam as-Suyuthi)\rAl-Imam Al-Allamah Syaikhul Islam Tajuddin As-Subuki berkata :","part":1,"page":394},{"id":395,"text":"حَيَّاهمُ الله وبيَّاهم وجمعنا في الجنة نحن وإِياهم. وقد تشعبت الأقوال فيهم تشعباً ناشئاً عن الجهل بحقيقتهم لكثرة المُتلبِّسين بها، بحيث قال الشيخ أبو محمد الجويني لا يصح الوقف عليهم لأنه لا حدَّ لهم. والصحيح صحته، وأنهم المعرضون عن الدنيا المشتغلون في أغلب الأوقات بالعبادة.. ثم تحدث عن تعاريف التصوف إِلى أن قال: والحاصل أنهم أهل الله وخاصته الذين ترتجى الرحمة بذكرهم، ويُستنزل الغيث بدعائهم، فرضي الله عنهم وعنَّا بهم\r“ Semoga Allah memanjangkan hidup para penganut tasawwuf dan mengangkat derajat mereka serta mengumpulkan kita dan mereka di surga. Sungguh telah banyak pendapat miring tentang mereka yang bersumber dari kejahilan akan hakekat mereka disebabkan oknum-oknum yang membuat samar ajaran tasawwuf. Oleh karenanya syaikh Abu Muhammad Al-Juwaini berkata “ Tidak boleh berhenti dalam mendefiniskan mereka, sebab mereka tak memiliki batasan istilah. Yang benar adalah keabsahannya dan definisi shufiyyah adalah orang-orang yang berpaling dari dunia yang menyibukkan diri disebagian besar waktunya dengan beribadah. Kemudian bermunculanlah ta’rif-ta’rif baru tentang tasawwuf..(sampai ucapan beliau) : “..Kesimpulannya ulama tasawwuf adalah keluarga dan orang-orang khusus Allah yang diharapan turunnya rahmat dengan menyebut nama mereka dan turunnya hujan dengan perantara doa mereka. Maka semoga Allah meridhoi mereka dan kita semua dengan sebab mereka “. (Mu’idun Ni’am wa Mubidun Niqam halaman : 140, karya imam Subuki)\rAl-Allamah al-Hafidz Ibnu Hajar al-Haitami berkata :","part":1,"page":395},{"id":396,"text":"إياك أن تنتقد على السادة الصوفية : وينبغي للإنسان حيثُ أمكنه عدم الانتقاد على السادة الصوفية نفعنا الله بمعارفهم، وأفاض علينا بواسطة مَحبتَّنا لهم ما أفاض على خواصِّهم، ونظمنا في سلك أتباعهم، ومَنَّ علينا بسوابغ عوارفهم، أنْ يُسَلِّم لهم أحوالهم ما وجد لهم محملاً صحيحاً يُخْرِجهم عن ارتكاب المحرم، وقد شاهدنا من بالغ في الانتقاد عليهم، مع نوع تصعب فابتلاه الله بالانحطاط عن مرتبته وأزال عنه عوائد لطفه وأسرار حضرته، ثم أذاقه الهوان والذلِّة وردَّه إلى أسفل سافلين وابتلاه بكل علَّة ومحنة، فنعوذ بك اللهم من هذه القواصم المُرْهِقات والبواتر المهلكات، ونسألك أن تنظمنا في سلكهم القوي المتين، وأن تَمنَّ علينا بما مَننتَ عليهم حتى نكون من العارفين والأئمة المجتهدين إنك على كل شيء قدير وبالإجابة جدير.\r“ Berhati-hatilah kamu dari menentang para ulama shufi. Dan sebaiknya bagi manusia sebisa mungkin untuk tidak menentang para ulama shufi, semoga Allah member manfaat kpeada kita dengan ma’rifat-ma’rifat mereka dan melimpahkan apa yang Allah limpahkan kepada orang-orang khususnya dengan perantara kecintaan kami pada mereka, menetapkan kita pada jalan pengikut mereka dan mencurahkan kita curahan-curahan ilmu ma’rifat mereka. Hendaknya manusia menyerahkan apa yang mereka lihat dari keadaan para ulama shufi dengan kemungkinan-kemungkinan baik yang dapat mengeluarkan mereka dari melakukan perbuatan haram.","part":1,"page":396},{"id":397,"text":"Kami sungguh telah menyaksikan orang yang sangat menentang ulama shufi, mereka para penentang itu mendapatkan ujian dari Allah dengan pencabutan derajatnya, dan Allah menghilangkan curahan kelembutan-Nya dan rahasia-rahasia kehadiran-Nya. Kemudian Allah menimpakan para penentang itu dengan kehinaan dan kerendahan dan mengembalikan mereka pada derajat terendah. Allah telah menguji mereka dengan semua penyakit dan cobaan . Maka kami berlindung kepada-Mu ya Allah dari hantaman-hantaman yang kami tidak sanggup menahannya dan dari tuduhan-tuduhan yang membinasakan. Dan kami memohon agar Engkau menetapi kami jalan mereka yang kuat, dan Engkau anugerahkan kami apa yang telah Engkau anugerahkan pada mereka sehingga kami menjadi orang yang mengenal Allah dan imam yang mujtahid, sesungguhnya Engkau maha Mampu atas segala sesuatu dan maha layak untuk mengabulkan permohonan “. (Al-Fatawa Al-Haditsiyyah : 113, karya Imam Ibnu Hajar al-Haitami)\rAl-Imam Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Atsqalani berkata :\rوروى الخطيب بسند صحيح أن الإمام أحمد سمع كلام المحاسبي فقال لبعض أصحابه ما سمعت في الحقائق مثل كلام هذا الرجل ولا أرى لك صحبتهم . قلت – أي الإمام ابن حجر – إنما نهاه عن صحبتهم لعلمه بقصوره عن مقامهم فإنه في مقام ضيق لا يسلكه كل واحد ويخاف على من يسلكه أن لا يوفيه حقه. وقال الأستاذ أبو منصور البغدادي – عن الحارث المحاسبي – في الطبقة الأولى من أصحاب الشافعي كان إماما في الفقه والتصوف والحديث والكلام وكتبه في هذه العلوم أصول من يصنف فيها","part":1,"page":397},{"id":398,"text":"“ Al-Khatib meriwayatkan dengan sanad yang shahih bahwa imam Ahmad mendengar ucapan Al-Muhasibi, maka beliau berkata pada sahabat-sahabatnya “ Aku belum pernah mendengar ucapan tentang hakikat-hakikat seperti ucapan al-Muhasibi ini dan aku berpendapat jangan engkau berteman dengan semisal al-Muhasibi. Aku (Ibnu Hajar) katakana : “ Sesungguhnya imam Ahmad melarang untuk berteman dengan orang semisal al-Muhasibi , karena beliau mengetahui pendeknya maqam (kedudukannya) dibandingkan kedudukan mereka. Karena al-Muhasibi berada di dalam maqam dhiq (sempit) yang tidak mampu ditapaki oleh setiap orang dan dikhawatirkan bagi orang yang menapaki tidak bisa memenuhi haqnya. Ustadz Abul Manshur al-Baghdadi berkata “ Dari al-Harits al-Muhasibi di dalam bab Tingkatan pertama dari pengikut Imam Syafi’i “ Beliau al-Muhasibi adalah seorang imam di bidang ilmu fiqih, tasawwuf, hadits dan kalam. Dan kitab beliau di dalam ilmu ini merupakan ushul / sandaran bagi ulama yang mengarang kitab ilmu “. (Tahdzib at-Tahdzib juz 2 halaman : 117, karya imam Ibnu Hajar al-Asqalani)\rImam Nawawi Rahimahullah berkata :\rأصول طريق التصوف خمسة: تقوى الله في السر والعلانية. اتباع السنة في الأقوال والأفعال. الإِعراض عن الخلق في الإِقبال والإِدبار. الرضى عن الله في القليل والكثير.الرجوع إِلى الله في السراء والضراء.","part":1,"page":398},{"id":399,"text":"“ Pokok-pokok metode ajaran tasawwuf ada lima : Taqwa kepada Allah di dalam sepi maupun ramai, mengikuti sunnah di dalam ucapan dan perbuatan, berpaling dari makhluk di dalam penghadapan maupun saat mundur, ridha kepada Allah dari pemberian-Nya baik sedikit ataupun banyak dan selalu kembali pada Allah saat suka maupun duka “. (Risalah Al-Maqoshid fit Tauhid wal Ibadah wa Ushulut Tasawwuf halaman : 20, Imam Nawawi)\rAl-Imam Al-Hafidz Abu Nu’aim Al-Ashfihani berkata :\rأما بعد أحسن الله توفيقك فقد استعنت بالله عز وجل وأجبتك الى ما ابتغيت من جمع كتاب يتضمن أسامي جماعة وبعض أحاديثهم وكلامهم من أعلام المتحققين من المتصوفة وأئمتهم وترتيب طبقاتهم من النساك من قرن الصحابة والتابعين وتابعيهم ومن بعدهم ممن عرف الأدلة والحقائق وباشر الأحوال والطرائق وساكن الرياض والحدائق وفارق العوارض والعلائق وتبرأ من المتنطعين والمتعمقين ومن أهل الدعاوى من المتسوفين ومن الكسالى والمتثبطين المتشبهين بهم في اللباس والمقال والمخالفين لهم في العقيدة والفعال وذلك لما بلغك من بسط لساننا ولسان أهل الفقه والآثار في كل القطر والأمصار في المنتسبين إليهم من الفسقة الفجار والمباحية والحلولية الكفار وليس ما حل بالكذبة من الوقيعة والإنكار بقادح في منقبة البررة الأخيار وواضع من درجة الصفوة الأبرار بل في إظهار البراءة من الكذابين , والنكير على الخونة الباطلين نزاهة للصادقين ورفعة للمتحققين ولو لم نكشف عن مخازي المبطلين ومساويهم ديانة , للزمنا إبانتها وإشاعتها حمية وصيانة , إذ لأسلافنا في التصوف العلم المنشور والصيت والذكر المشهور","part":1,"page":399},{"id":400,"text":"“ Selanjutnya, semoga Allah memperbagus taufiqmu, maka sungguh aku telah memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala dan menjawabmu atas apa yang engkau mau dari pengumpulan kitab yang mengandung nama-nama kelompok dan sebagian hadits dan ucapan mereka dari ulama hakikat dari orang-orang ahli tasawwuf, para imam dari mereka, penertiban tingkatan mereka dari orang-orang ahli ibadah sejak zaman sahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in dan setelahnya dari orang yang memahami dalil dan hakikat. Menjalankan hal ihwal serta thariqah, bertempat di taman (ketenangan) dan meninggalkan ketergantungan. Berlepas dari orang-orang yang berlebihan dan orang-orang yang mengaku-ngaku, orang-orang yang berandai-andai dan dari orang-orang yang malas yang menyerupai mereka di dalam pakaian dan ucapan dan bertentangan pada mereka di dalam aqidah dan perbuatan. Demikian itu ketika sampai padamu dari pemaparan lisan kami dan lisan ulama fiqih dan hadits di setiap daerah dan masa tentang orang-orang yang menisabatkan diri pada mereka adalah orang-orang fasiq, fajir, suka mudah berkata mubah dan halal lagi kufur. Bukanlah menghalalkan dengan kedustaan, umpatan dan pengingkaran dengan celaan di dalam manaqib orang-orang baik pilihan dan perendahan dari derajat orang-orang suci lagi baik, akan tetapi di dalam menampakkan pelepasan diri dari orang-orang pendusta dan pengingkaran atas orang-orang pengkhianat, bathil sebagai penyucian bagi orang-orang jujur dan keluhuran bagi orang-orang ahli hakikat. Seandainya kami tidak menyingkap kehinaan dan keburukan orang-orang yang mengingkari tasawwuf itu sebagai","part":1,"page":400},{"id":401,"text":"bagian dari agama, maka kami pasti akan menjelaskan dan mengupasnya sebagai penjagaan, karena salaf kami di dalam ilmu tasawwuf memiliki ilmu yang sudah tersebar dan nama yang masyhur “. (Muqoddimah Hilyah Al-Awliya, karya imam Al-Ashfihani)\rAl-Imam Al-Kabir Al-Mufassir An-Nadzdzar Abi Al- muzdhaffar Al-Isfirayaini berkata :\rفي الباب الخامس عشر : في بيان اعتقاد أهل السنة والجماعة وبيان مفاخرهم ومحاسن أحوالهم وسادسها : علم التصوف والإشارات , وما لهم فيها من الدقائق والحقائق , لم يكن قط لأحد من أهل البدعة فيه حظ بل كانوا محرومين مما فيه من الراحة والحلاوة , والسكينة والطمأنينة وقد ذكر أبو عبد الرحمن السلمي من مشايخهم قريبا من ألف ، وجمع إشاراتهم وأحاديثهم ولم يوجد في جملتهم قط من ينسب إلى شيء من بدع القدرية والروافض ، والخوارج ، وكيف يتصور فيهم من هؤلاء وكلامهم يدور على التسليم ، والتفويض والتبري من النفس ، والتوحيد بالخلق والمشيئة ، وأهل البدع ينسبون الفعل ، والمشيئة ، والخلق ، والتقدير إلى أنفسهم ، وذلك بمعزل عما عليه أهل الحقائق من التسليم والتوحيد","part":1,"page":401},{"id":402,"text":"Di bab ke-15 : Tentang penjelasan aqidah Ahlus sunnah waljama’ah dan penjelasan kebanggaan serta kebaikan hal ihwal mereka. Fasal yang ke- 6 adalah : Ilmu Tasawwuf dan isyarat dan apa yang mereka miliki dari ilmu-ilmu yang lembut dan ilmu hakikat. Yang tidak akan mendapat bagian sedikitpun dari ilmu ini orang-orang ahli bid’ah bahkan mereka terhalang mendapatkan apa yang ada pada ulama tasawwuf dari ketenangan, manisnya ibadah, sakinah dan tuma’ninah. Abu Abdirrahman As-Salmi telah menyebutkan guru-guru mereka hampir mendekati seribu, mengumpulkan isyarat dan hadits mereka namun tak ditemukan satu pun dari mereka orang-orang ahli bid’ah seperti qodariyyah, rowafidh dan khowarij. Bagaimana bisa tergambar pada mereka padahal ucapan ahli tasawwuf berputar pada taslim, tawakkal dan berlepas dari diri. Dan bertauhid dengan akhlak dan keinginan. Sedangkan ahlul bid’ah menisbatkan perbuatan dan keinginan, akhlak dan pennetuan pada diri mereka. Hal ini bertentangan dengan ahli hakikat dari sifat taslim dan tauhid “. (At-Tabshir fiddin halaman : 164, karya imam al-Isfirayaini)\rWassalam\rZon di Jonggol, Kab Bogor 16830\r0960. Contoh mereka yang mengaku mengikuti paham Salafush Sholeh\rUlama Al Albani adalah salah satu contoh ulama yang mengaku-aku mengikuti pemahaman Salafush Sholeh namun kenyataannya beliau tidak lebih dari mengikuti pemahaman ulama Muhammad bin Abdul Wahhab yang kita ketahui tidak pernah bertalaqqi (mengaji) dengan Salafush Sholeh\rUlama Al Albani \"meninggalkan\" pendapat/pemahaman Imam Mazhab yang empat yang bertalaqqi (mengaji) langsung dengan Salafush Sholeh","part":1,"page":402},{"id":403,"text":"Inilah contoh ulama korban hasutan atau ghazwul fikri dari kaum Zionis Yahudi.\rSalah satunya adalah perwira Yahudi Inggris bernama Edward Terrence Lawrence yang dikenal oleh ulama jazirah Arab sebagai Laurens Of Arabian. Laurens menyelidiki dimana letak kekuatan umat Islam dan berkesimpulan bahwa kekuatan umat Islam terletak kepada ketaatan dengan mazhab (bermazhab) dan istiqomah mengikuti tharikat-tharikat tasawuf. Laurens mengupah ulama-ulama yang anti tharikat dan anti mazhab untuk menulis sebuah buku yang menyerang tharikat dan mazhab. Buku tersebut diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan dibiayai oleh pihak orientalis\rUlama besar Syria, DR. Said Ramadhan Al-Buthy telah berdialog dengan ulama Al Albani untuk mengetahui \"pemahaman\" ulama Al Albani langsung dari lisannya\rAkhirnya kesimpulan DR. Said Ramadhan dituangkan dalam buku berjudul Al-Laa Mazhabiyah, Akhtharu Bid’atin Tuhaddidu As-Syariah Al-Islamiyah. Kalau kita terjemahkan secara bebas, kira-kira makna judul itu adalah : Paham Anti Mazhab, Bid’ah Paling Gawat Yang Menghancurkan Syariat Islam. Sedikit penjelasan tetang buku tersebut dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/18/paham-anti-mazhab/\rJuga telah diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/11/22/tidak-cukup/ bahwa ulama Al Albani terlihat mengingkari hadits\rRasulullah bersabda, “Barangsiapa yang shalatnya tidak mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, maka ia tidak bertambah dari Allah kecuali semakin jauh dariNya” (diriwayatkan oleh ath Thabarani dalam al-Kabir nomor 11025, 11/46)","part":1,"page":403},{"id":404,"text":"Contoh pengingkaran ulama Al Albani terhadap hadits-hadits lain karena kesalahpahaman beliau diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2010/04/inilahahlussunnahwaljamaah.pdf\rBerikuti pendapat para ulama tentang ulama Al Albani\r“Al-Albani tidak dapat dipertanggungjawabkan dalam menetapkan nilai suatu hadis, baik shahih ataupun dhaif. la telah mengubah hadis-hadis dengan sesuatu yang tidak boleh menurut ulama hadis…” (Al-Muhaddits Prof. Dr. Abdullah al-Ghimari, Guru Besar llmu Hadis di universitas-univesitas Maroko)\r“Sayangnya, ada segelintir manusia akhir zaman, yang mana dia bukan seorang hafizh, bukan pula seorang hujjah apalagi seorang hakim, tetapi anehnya mereka berani bersuara lantang mengkritik dan menuduh sesat amal serta keputusan ulama-ulama hadits terdahulu“. Sumber: http://tengkuzulkarnain.net/index.php/artikel/index/45/Hadist-Dhoif\r“Di kalangan salafi (wahabi), lelaki satu ini dianggap muhaddis paling ulung di zamannya. Itu klaim mereka. Bahkan sebagian mereka tak canggung menyetarakannya dengan para imam hadis terdahulu. Fantastis. Mereka gencar mempromosikannya lewat berbagai media. Dan usaha mereka bisa dikata berhasil. Kalangan muslim banyak yang tertipu dengan hadis-hadis edaran mereka yang di akhirnya terdapat kutipan, “disahihkan oleh Albani, ”. Para salafi itu seolah memaksakan kesan bahwa dengan kalimat itu Al-Albani sudah setaraf dengan Imam Turmuzi, Imam Ibnu Majah dan lainnya.“ Sumber: http://www.forsansalaf.com/2009/albani-muhaddits-tanpa-sanad-andalan-wahabi/","part":1,"page":404},{"id":405,"text":"“Kaum Salafi & Wahabi menganggap sepertinya al-Albani adalah ahli hadis yang sangat menguasai bidangnya, sehingga bagi sebagian mereka seperti ada kepuasan hati ketika sudah mengetahui pendapat al-Albani tentang hadis yang mereka bahas, dan seolah mereka sudah mencapai hasil penilaian final saat menyebutkan “hadis ini dishahihkan al-Albani” atau “al-Albani mendha’ifkan hadis ini”. Sumber: http://www.daarulmukhtar.org/index.php?option=com_content&task=view&id=26&Itemid=27\r“Apa pendapat anda dengan seorang manusia muncul di abad ini lalu menukil nukil sisa sisa hadits yang tidak mencapai 10% dari hadits yang ada dimasa itu, lalu berfatwa ini dhoif, itu dhoif. saya sebenarnya tak suka bicara mengenai ini, namun saya memilih mengungkapnya ketimbang hancurnya ummat karena tipuan seorang tong kosong“. Sumber: http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=34&func=view&id=22475&catid=9\r“Seorang Al-Albani ketika membaca Quran dan Sunnah, lalu dia pun berjtihad dengan pendapatnya. Apa yang dia katakan tentang Quran dan Sunnah, pada hakikatnya adalah hasil ijtihad dan ra’yu dia sendiri. Sumbernya memang Quran dan Sunnah, tapi apa yang dia sampaikan semata-mata lahir dari kepalanya sendiri. Sayangnya, para pendukung Al-Albani diyakinkan bahwa yang keluar dari mulut Al-Albani itulah isi dan makna Quran yang sebenarnya. Lalu ditambahkan bahwa pendapat yang keluar dari mulut para ulama lain termasuk pada imam mazhab dianggap hanya meracau dan mengada-ada. Naudzu billahi min dzalik“. Selengkapnya: http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/18/paham-anti-mazhab/","part":1,"page":405},{"id":406,"text":"Mereka mengaku-aku mengikuti pemahaman Salafush Sholeh namun kenyataannya mereka tidak bertalaqqi (mengaji) pada Salafush Sholeh.\rMereka mengikuti pemahaman Salafush Sholeh melalui upaya pemahaman terhadap lafaz/perkataan Salafush Sholeh dengan akal pikiran mereka sendiri. Sehingga boleh dikatakan mereka bermazhab dengan akal pikiran mereka sendiri atau dengan kata lain mereka telah menjadikan akal pikirannya sendiri sebagai berhala atau yang disebut menuhankan pendapat sendiri (istibdad bir ro’yi)\rHal yang harus kita ingat selalu janganlah menjadikan akal pikiran kita sebagai berhala\rAllah Azza wa Jalla berfirman,\rاتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ\r“Mereka menjadikan para rahib dan pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah“. (QS at-Taubah [9]:31 )\rKetika Nabi ditanya terkait dengan ayat ini, “apakah mereka menyembah para rahib dan pendeta sehingga dikatakan menjadikan mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah?”\rNabi menjawab, “tidak”\r« أما أنهم لم يكونوا يعبدونهم ولكنهم كانوا إذا أحلوا لهم شيئاً استحلوه وإذا حرموا عليهم شيئاً حرموه »\r“Mereka tidak menyembah para rahib dan pendeta itu, tetapi jika para rahib dan pendeta itu menghalalkan sesuatu bagi mereka, mereka menganggapnya halal, dan jika para rahib dan pendeta itu mengharamkan bagi mereka sesuatu, mereka mengharamkannya“","part":1,"page":406},{"id":407,"text":"Pada riwayat yang lain disebutkan, Rasulullah bersabda ” mereka (para rahib dan pendeta) itu telah menetapkan haram terhadap sesuatu yang halal, dan menghalalkan sesuatu yang haram, kemudian mereka mengikutinya. Yang demikian itulah penyembahannya kepada mereka.” (Riwayat Tarmizi)\rFirman Allah ta’ala yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu dan janganlah kamu melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas.” (Qs. al-Mâ’idah [5]: 87).\rMereka yang mengada-ada atau membuat perkara baru (bid’ah) yang bukan kewajiban menjadi kewajiban (ditinggalkan berdosa) atau sebaliknya, yang tidak diharamkan menjadi haram (dikerjakan berdosa) atau sebaliknya dan yang tidak dilarang menjadi dilarang (dikerjakan berdosa) atau sebaliknya adalah yang disebut sebagai ahli bid’ah.\rOleh karenanya ahli bid’ah termasuk pelaku perbuatan syirik, karena penyembahan kepada selain Allah, penyembahan diantara pembuat bid’ah (perkara baru) dengan pengikutnya, perbuatan yang tidak ada ampunannya.\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda\rإِنَّ اللهَ حَجَبَ اَلتَّوْبَةَ عَنْ صَاحِبِ كُلِّ بِدْعَةٍ\r“Sesungguhnya Allah menutup taubat dari semua ahli bid’ah”. [Ash-Shahihah No. 1620]\rMereka yang tanpa disadari telah mengada-ada dalam perkara agama, mengada-ada dalam perkara perintah dan larangan berdasarkan akal pikiran mereka sendiri. Agama adalah perintahNya dan laranganNya","part":1,"page":407},{"id":408,"text":"Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)\rHal yang harus kita ingat pula bahwa Al Qur’an pada awalnya tidaklah dibukukan. Ayat-ayat Al Qur’an hanya dibacakan dan dihafal (imla) kemudian dipahami bersama dengan yang menyampaikannya.\rHal yang akan dipertanyakan terhadap sebuah pendapat / pemahaman seperti :\r\"Apakah yang kamu pahami telah disampaikan / dikatakan oleh ulama-ulama terdahulu yang tersambung lisannya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ? \"\r\"Siapakah ulama-ulama terdahulu yang mengatakan hal itu\" ?\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda yang artinya “Sampaikan dariku sekalipun satu ayat dan ceritakanlah (apa yang kalian dengar) dari Bani Isra’il dan itu tidak apa (dosa). Dan siapa yang berdusta atasku dengan sengaja maka bersiap-siaplah menempati tempat duduknya di neraka” (HR Bukhari)\rHakikat makna hadits tersebut adalah kita hanya boleh menyampaikan satu ayat yang diperoleh dari orang yang disampaikan secara turun temurun sampai kepada lisannya Sayyidina Muhammad bin Abdullah Shallallahu alaihi wasallam.","part":1,"page":408},{"id":409,"text":"Kita tidak diperkenankan menyampaikan apa yang kita pahami dengan akal pikiran sendiri dengan cara membaca dan memahami namun kita sampaikan apa yang kita dengar dan pahami dari lisan mereka yang sanad ilmunya tersambung kepada lisannya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam karena hanya perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang merupakan kebenaran atau ilmuNya\rDalam memahami Al Qur’an dan As Sunnah, sebaiknyalah kita bertalaqqi (mengaji) kepada ulama yang bermazhab. Tidak boleh kita memahami Al Qur’an dan As Sunnah bersandarkan dengan belajar sendiri (secara otodidak) melalui cara muthola’ah (menelaah kitab) dan memahaminya dengan akal pikiran sendiri (pemahaman secara ilmiah).\rPara ulama telah menyampaikan bahwa jika memahami Al Qur’an dan As Sunnah dengan belajar sendiri (secara otodidak) melalui cara muthola’ah (menelaah kitab) dan memahaminya dengan akal pikiran sendiri, kemungkinan besar akan berakibat negative seperti,\r1. Ibadah fasidah (ibadah yang rusak) , ibadah yang kehilangan ruhnya atau aspek bathin\r2. Tasybihillah Bikholqihi , penyerupaan Allah dengan makhluq Nya\rImam besar ahli hadis dan tafsir, Jalaluddin As-Suyuthi dalam “Tanbiat Al-Ghabiy Bi Tabriat Ibn ‘Arabi” mengatakan “Ia (ayat-ayat mutasyabihat) memiliki makna-makna khusus yang berbeda dengan makna yang dipahami oleh orang biasa. Barangsiapa memahami kata wajh Allah, yad , ain dan istiwa sebagaimana makna yang selama ini diketahui (wajah Allah, tangan, mata, bertempat), ia kafir secara pasti.”","part":1,"page":409},{"id":410,"text":"Imam Ahmad ar-Rifa’i (W. 578 H/1182 M) dalam kitabnya al-Burhan al-Muayyad, “Sunu ‘Aqaidakum Minat Tamassuki Bi Dzahiri Ma Tasyabaha Minal Kitabi Was Sunnati Lianna Dzalika Min Ushulil Kufri”, “Jagalah aqidahmu dari berpegang dengan dzahir ayat dan hadis mutasyabihat, karena hal itu salah satu pangkal kekufuran”.\rBegitupula peringatan yang disampaikan oleh khataman Khulafaur Rasyidin, Imam Sayyidina Ali ra dalam riwayat berikut,\rSayyidina Ali Ibn Abi Thalib ra berkata : “Sebagian golongan dari umat Islam ini ketika kiamat telah dekat akan kembali menjadi orang-orang kafir.“\rSeseorang bertanya kepadanya : “Wahai Amirul Mukminin apakah sebab kekufuran mereka? Adakah karena membuat ajaran baru atau karena pengingkaran?”\rSayyidina Ali Ibn Abi Thalib ra menjawab : “Mereka menjadi kafir karena pengingkaran. Mereka mengingkari Pencipta mereka (Allah Subhanahu wa ta’ala) dan mensifati-Nya dengan sifat-sifat benda dan anggota-anggota badan.” (Imam Ibn Al-Mu’allim Al-Qurasyi (w. 725 H) dalam Kitab Najm Al-Muhtadi Wa Rajm Al-Mu’tadi).\rMereka boleh jadi terjerumus dalam kekufuran sehingga menjadi musyrik, dan mempunyai rasa permusuhan terhadap manusia yang telah bersyahadat\rFirman Allah ta’ala yang artinya, “orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik” ( QS Al Maaidah [5]: 82 )\rJadi kalau mempunyai rasa permusuhan terhadap manusia yang telah bersyahadat atau memerangi manusia yang telah bersyahadat maka boleh jadi telah menjadi musyrik karena terjerumus kedalam kekufuran.","part":1,"page":410},{"id":411,"text":"Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya di masa kemudian akan ada peperangan di antara orang-orang yang beriman.” Seorang Sahabat bertanya: “Mengapa kita (orang-orang yang beriman) memerangi orang yang beriman, yang mereka itu sama berkata: ‘Kami telah beriman’.” Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Ya, karena mengada-adakan di dalam agama (mengada-ada dalam perkara yang merupakan hak Allah ta’ala menetapkannya yakni perkara kewajiban, larangan dan pengharaman) , apabila mereka mengerjakan agama dengan pemahaman berdasarkan akal pikiran, padahal di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani).\rPada zaman kini, kita dapat temui mereka \"memerangi\" saudara muslimnya sendiri seperti mensesatkan saudara muslimnya sendiri sebagaimana yang dapat kita ketahui pada\rhttp://nasihatonline.wordpress.com/2010/09/24/fatwa-fatwa-ulama-ahlus-sunnah-tentang-kelompok-kelompok-islam-kontemporer/\rhttp://isnad.net/media/Muhammad_Sewed_di_Gugat.pdf\rhttp://isnad.net/?dl_name=kumal-kumal-dzul-akmal.pdf\rhttp://isnad.net/dialog-luqman-hizbi-firanda-sururi\rhttp://isnad.net/?dl_name=dzulqornain_yayasan.rar\rhttp://isnad.net/media/dzul-akmal-undercover.pdf www.fb.com/notes/255000094557451\rwww.fb.com/notes/padepokan-kanjeng-sunan/buku-sms-abu-abu-salafi-melawan-salafi-al-bani-vs-bin-bas-utsaimin/248700811863777\rhttp://www.wattpad.com/397024-salafy-haraky-vs-salafy-yamani-vs-salafy-sururi","part":1,"page":411},{"id":412,"text":"http://semogakamiselamat.wordpress.com/2011/11/07/point-point-kesesatan-para-penyembah-thogut-radio-rodja/\rMereka yang mengada-ada dalam perkara larangan dan kewajiban, mereka “memerangi” orang beriman sebagaimana yang dialami oleh mufti mesir Profesor Doktor Ali Jum`ah yang mempertahankan fatwa bahwa Niqab ( Cadar / Purdah) adalah suatu kebiasaan yang di bolehkan dan bukan merupakan satu kewajiban (ditinggalkan berdosa) sebagaimana kesepakatan jumhur ulama bahwa wajah dan kedua telapak tangan bukan termasuk aurat bagi perempuan. Hal ini diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/30/hukum-penutup-muka/\rMereka “memerangi” orang beriman sebagaimana perintah ulama mereka dalam kitabnya berjudul “al-Majmu’ al-mufid min ‘Aqidati al Tauhid” hal. 55\rلاينفع اسلامكم اذا أعلنتم الحرب العشواء على هذه الطرق الصوفية فقضيتم عليها قاتلوا هم قبل أن تقاتلوا اليهود والمجوس\r“Tidak berguna Islam kalian sebelum kalian mengumumkan perang terhadap torikoh sufi dan kalian membantainya, perangilah mereka sebelum memerangi yahudi dan majusi”\rContoh lain mereka “memerangi” orang beriman sebagaimana yang terurai dalam tulisan pada http://www.aswaja-nu.com/2010/01/dialog-syaikh-al-syanqithi-vs-wahhabi_20.html atau pada www.fb.com/photo.php?fbid=220630637981571&set=a.220630511314917.56251.100001039095629\rMereka menyusun kurikulum pendidikan agama bekerjasama dengan Amerika yang dibelakangnya adalah kaum Zionis Yahudi sebagaimana yang telah diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/25/2011/02/07/muslim-bukanlah-ekstrimis/","part":1,"page":412},{"id":413,"text":"Abuya Prof. DR. Assayyid Muhammad bin Alwi Almaliki Alhasani dalam makalahnya dalam pertemuan nasional dan dialog pemikiran yang kedua, 5 s.d. 9 Dzulqo’dah 1424 H di Makkah al Mukarromah, menyampaikan bahwa dalam kurikulum tauhid kelas tiga Tsanawiyah (SLTP) cetakan tahun 1424 Hijriyyah di Arab Saudi berisi klaim dan pernyataan bahwa kelompok Sufiyyah (aliran–aliran tasawuf) adalah syirik dan keluar dari agama. Kutipan makalah selengkapnya ada pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/08/18/ekstrem-dalam-pemikiran-agama/\rMereka menjadikan kaum yang dimurkai oleh Allah Azza wa Jalla sebagai teman, penasehat, pelindung.\rRasulullah bersabda: “ Demi Allah, yang diriku ada dalam genggaman tanganNya, tidaklah mendengar dari hal aku ini seseorangpun dari ummat sekarang ini, Yahudi, dan tidak pula Nasrani, kemudian tidak mereka mau beriman kepadaku, melainkan masuklah dia ke dalam neraka.”\rIbnu Mardawih meriwayatkan dari Abu Dzar, dia berkata, “Saya bertanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam tentang orang-orang yang dimurkai“, beliau bersabda, ‘Kaum Yahudi.’ Saya bertanya tentang orang-orang yang sesat, beliau bersabda, “Kaum Nasrani.“\rHamad bin Salamah meriwayatkan dari Adi bin Hatim, dia berkata, “Saya bertanya kepada RasulullahShallallahu alaihi wasallam ihwal ‘bukan jalannya orang-orang yang dimurkai’. Beliau bersabda, “Yaitu kaum Yahudi.’ Dan bertanya ihwal ‘bukan pula jalannya orang-orang yang sesat’. “Beliau bersabda, ‘Kaum Nasrani adalah orang-orang yang sesat.\rFirman Allah Azza wa Jalla,","part":1,"page":413},{"id":414,"text":"“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui“. (QS Al Mujaadilah [58]:14 )\r“Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali (pemimpin) dan meninggalkan orang-orang\rmu’min. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah…” (Qs. Ali-Imran : 28)\r“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak, atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.” (Qs. Al Mujadilah : 22)\r“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya” , (QS Ali Imran, 118)","part":1,"page":414},{"id":415,"text":"“Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati“. (QS Ali Imran, 119)\rFirman Allah Azza wa Jalla, “kabura maqtan ‘inda allaahi an taquuluu maa laa taf’aluun” , “amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan” ( QS Ash Shaff [61]:3 )\rMereka mengaku ittiba’ li Rasulihi tapi mereka mencela / menghujat atau bahkan membunuh saudara muslimnya sendiri\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “mencela seorang muslim adalah kefasikan, dan membunuhnya adalah kekufuran”. (HR Muslim)\rJadi kesimpulannya jika mempunyai rasa permusuhan dan memerangi saudara muslim sendiri, boleh jadi telah terjerumus kedalam kekufuran , telah menjadi musyrik, telah kembali menjadi kafir, telah murtad sehingga berbalik mencintai orang kafir\rAbu Said al-Khudri ra meriwayatkan hadits dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, ‘Pergilah kalian ke Yaman jika terjadi fitnah, karena kaumnya mempunyai sifat kasih sayang dan buminya mempunyai keberkahan dan beribadat di dalamnya mendatangkan pahala yang banyak’","part":1,"page":415},{"id":416,"text":"Abu Musa al-Asy’ari meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, ‘Allah akan mendatangkan suatu kaum yang dicintai-Nya dan mereka mencintai Allah. Bersabda Nabi shallallahu alaihi wasallam : mereka adalah kaummu Ya Abu Musa, orang-orang Yaman’.\rFirman Allah ta’ala yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” (QS Al Ma’iadah [5]:54)\rDari Jabir, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ditanya mengenai ayat tersebut, maka Rasul menjawab, ‘Mereka adalah ahlu Yaman dari suku Kindah, Sukun dan Tajib’.\rIbnu Jarir meriwayatkan, ketika dibacakan tentang ayat tersebut di depan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau berkata, ‘Kaummu wahai Abu Musa, orang-orang Yaman’.\rDalam kitab Fath al-Qadir, Ibnu Jarir meriwayat dari Suraikh bin Ubaid, ketika turun ayat 54 surat al-Maidah, Umar berkata, ‘Saya dan kaum saya wahai Rasulullah’. Rasul menjawab, ‘Bukan, tetapi ini untuk dia dan kaumnya, yakni Abu Musa al-Asy’ari’.\rFirman Allah Azza wa Jalla,","part":1,"page":416},{"id":417,"text":"“wai’tashimuu bihabli allaahi jamii’an walaa tafarraquu waudzkuruu ni’mata allaahi ‘alaykum idz kuntum a’daa-an fa-allafa bayna quluubikum fa-ashbahtum bini’matihi ikhwaanan“\r“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah secara berjama’ah, dan janganlah kamu bercerai berai , dan ingatlah nikmat Allah atas kamu semua ketika kamu bermusuh-musuhan maka Dia (Allah) menjinakkan antara hati-hati kamu maka kamu menjadi bersaudara” (QS Ali Imron [3]: 103)\r“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara”. ( Qs. Al-Hujjarat :10)\r“Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” (QS Al Ma’iadah [5]:54)\rDiriwayatkan hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Demi Allah, kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Belum sempurna keimanan kalian hingga kalian saling mencintai.” (HR Muslim)\rTulisan-tulisan kami seperti tulisan di atas adalah bagian upaya untuk meluruskan kesalahpahaman-kesalahpahaman yang telah terjadi selama ini karena Allah ta'ala semata, sekaligus menegakkan Ukhuwah Islamiyah yang telah porak poranda dikarenakan perselisihan karena perbedaan pemahaman.","part":1,"page":417},{"id":418,"text":"Tulisan-tulisan kami juga ditujukan agar tidak ada lagi umat muslim merasa paling benar karena mereka merasa telah mengikuti pemahaman Salafush Sholeh namun kenyataannya mereka tidak lebih dari pengikuti pemahaman ulama-ulama seperti ulama Ibnu Taimiyyah (sekte yang menamakan dirinya Salafi), ulama Ibnu Qoyyim al Jauziah (pengikut ibnu Taimiyya), ulama Muhammad bin Abdul Wahhab (pengikut Ibnu Taimiyyah, pendiri sekte salafi wahhabi atau disingkat sekte Wahabi) , ulama Al Albani (pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab), dan ulama-ulama lainnya.Lebih baik dan lebih selamat mengikuti pemahaman/pendapat Imam Mazhab yang empat, pemimpin atau pemimpin ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak) yang bertalaqqi (mengaji) langsung dengan Salafush Sholeh\rTulisan kami di atas bukanlah juga untuk menjelek-jelekan ulama Al Albani\rRasulullah bersabda: “Janganlah kalian menyebut-menyebut orang-orang yang telah mati di antara kalian kecuali dengan sebutan yang baik, karena sesungguhnya mereka telah menyelesaikan apa yang telah mereka perbuat”.\rTulisan kami di atas tujuannya salah satu contohnya adalah agar umat muslim yang ingin \"membenahi\" cara sholatnya sebaiknya jangan berlandaskan pemahaman ulama Al Albani namun mengikuti apa yang telah disampaikan oleh Imam Mazhab yang empat, pemimpin/imam ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak) yang bertalaqqi (mengaji) langsung pada Salafush Sholeh","part":1,"page":418},{"id":419,"text":"Cara mudah mengetahui tata cara sholat Nabi adalah berguru dengan Habib yang terkenal, mereka adalah keturunan cucu Rasulullah yang mendapatkan didikan dan pengajaran tentang cara sholat dari orang tua-orang tua mereka terdahulu yang tersambung kepada Imam Sayyidina Ali ra yang mendapatkan didikan langsung dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam\rContohnya Habib Munzir al Musawa telah menyatakan pendapatnya tentang ulama Al Albani\r“Apa pendapat anda dengan seorang manusia muncul di abad ini lalu menukil nukil sisa sisa hadits yang tidak mencapai 10% dari hadits yang ada dimasa itu, lalu berfatwa ini dhoif, itu dhoif. saya sebenarnya tak suka bicara mengenai ini, namun saya memilih mengungkapnya ketimbang hancurnya ummat karena tipuan seorang tong kosong“. Sumber: http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=34&func=view&id=22475&catid=9\rWassalam\rZon di Jonggol, Kab Bogor 16830\r0961. Apakah hanya kaum sufi yang masuk surga ?\rMasuk surga adalah keniscayaan bagi setiap manusia yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya. Agama adalah perintahNya dan laranganNya. Firman Allah ta’ala yang artinya : “Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya.” ( QS An Nisaa’ [4]:175","part":1,"page":419},{"id":420,"text":"Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani). Setiap manusia yang berpegang teguh pada agama atau manusia yang memenuhi perkara syariat atau syarat sebagai hamba Allah yakni menjalankan segala apa yang telah ditetapkanNya atau diwajibkanNya, wajib dijalankan dan wajib dijauhi, meliputi perkara kewajiban yang jika ditinggalkan berdosa, menjauhi segala yang telah dilarangNya yang jika dilanggar berdosa dan menjauhi segala yang telah diharamkanNya yang jika dilanggar berdosa maka manusia tersebut niscaya masuk surga.\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban (ditinggalkan berdosa), maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa larangan (dikerjakan berdosa)), maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu (dikerjakan berdosa), maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia.” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi).","part":1,"page":420},{"id":421,"text":"Telah menceritakan kepadaku Salamah bin Syabib telah menceritakan kepada kami al-Hasan bin A’yan telah menceritakan kepada kami Ma’qil -yaitu Ibnu Ubaidullah- dari Abu az-Zubair dari Jabir bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Apa pendapatmu bila saya melaksanakan shalat-shalat wajib, berpuasa Ramadlan, menghalalkan sesuatu yang halal, dan mengharamkan sesuatu yang haram, namun aku tidak menambahkan suatu amalan pun atas hal tersebut, apakah aku akan masuk surga? Rasulullah menjawab: Ya. Dia berkata, Demi Allah, aku tidak akan menambahkan atas amalan tersebut sedikit pun (HR Muslim 18)\rTelah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya at-Tamimi telah mengabarkan kepada kami Abu al-Ahwash. (dalam riwayat lain disebutkan) Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Abu al-Ahwash dari Abu Ishaq dari Musa bin Thalhah dari Abu Ayyub dia berkata, Seorang laki-laki mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, seraya bertanya, ‘Tunjukkanlah kepadaku suatu amalan yang mendekatkanku dari surga dan menjauhkanku dari neraka? ‘ Beliau menjawab: ‘Kamu menyembah Allah, tidak mensyirikkan-Nya dengan sesuatu apa pun, mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyambung silaturrahim dengan keluarga.“ Ketika dia pamit maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika dia berpegang teguh pada sesuatu yang diperintahkan kepadanya niscaya dia masuk surga’. Dan dalam suatu riwayat Ibnu Abu Syaibah, Jika dia berpegang teguh dengannya. (HR Muslim 15)","part":1,"page":421},{"id":422,"text":"Kaum non muslim atau manusia yang tidak bersyahadat , pastilah akan masuk neraka. Kunci surga adalah syahadat.\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “ Demi Allah, yang diriku ada dalam genggaman tanganNya, tidaklah mendengar dari hal aku ini seseorangpun dari ummat sekarang ini, Yahudi, dan tidak pula Nasrani, kemudian tidak mereka mau beriman kepadaku, melainkan masuklah dia ke dalam neraka.”\rFirman Allah Azza wa Jalla yang artinya, “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab: “Kami mengakui”. Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu“. ( QS Ali Imran [3]:81 )\rSayyidina Ali bin Abi Thalib kw. berkata: ‘Setiap kali Allah subhanahu wa ta’ala mengutus seorang nabi, mulai dari Nabi Adam sampai seterusnya, maka kepada nabi-nabi itu Allah subhanahu wa ta’ala menuntut janji setia mereka bahwa jika nanti Rasulallah shallallahu alaihi wasallam. diutus, mereka akan beriman padanya, membelanya dan mengambil janji setia dari kaumnya untuk melakukan hal yang sama’.","part":1,"page":422},{"id":423,"text":"Firman Allah ta’ala yang artinya, “Ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani?” Katakanlah: “Apakah kamu lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya?” Dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan. (QS Al Baqarah [2]:140 )\rDalam Al Mustadrok, Imam Al Hakim berkata : Abu Sa’id Amr ibnu Muhammad Al ‘Adlu menceritakan kepadaku, Abul Hasan Muhammad Ibnu Ishak Ibnu Ibrahim Al Handhori menceritakan kepadaku, Abul Harits ‘Abdullah ibnu Muslim Al Fihri menceritakan kepadaku, ‘Abdurrahman ibnu Zaid ibnu Aslam menceritakan kepadaku, dari ayahnya dari kakeknya dari Umar RA, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :\rلما اقترف آدم الخطيئة قال : يارب ! أسألك بحق محمد لما غفرت لي, فقال الله : ياآدم ! وكيف عرفت محمدا ولم أخلقه ؟ قال : يارب ! لأنك لما خلقتني بيدك ونفخت فيّ من روحك\rرفعت رأسي فرأيت على قوائم العرش مكتوبا لا إله إلا الله محمد رسول الله , فعلمت أنك لم تضف إلى اسمك إلا أحب الخلق اليك , فقال الله : صدقت يا آدم , إنه لأحب الخلق إليّ , أدعني\rبحقه فقد غفرت لك , ولو لا محمد ما خلقتك","part":1,"page":423},{"id":424,"text":"” Ketika Adam melakukan kesalahan, ia berkata Ya Tuhanku, Aku mohon kepada-Mu dengan haqqnya Muhammad agar Engkau mengampuniku.” Allah berkata; Wahai Adam bagaimana engkau mengenal Muhammad padahal Aku belum menciptakanya. “ Wahai Tuhanku, karena ketika Engkau menciptakanku dengan kekuatan-Mu dan Engkau tiupkan nyawa pada tubuhku dari roh-Mu, maka aku tengadahkan kepalaku lalu saya melihat di kaki-kaki ‘Arsy terdapat tulisan “ Laa Ilaha illa Allahu Muhammadur Rasulullah”, maka saya yakin Engkau tidak menyandarkan nama-Mu kecuali nama makhluk yang paling Engkau cintai,” jawab Adam. “ Benar kamu wahai Adam, Muhammad adalah makhluk yang paling Aku cintai. Berdo’alah kepada Ku dengan haqqnya Muhammad maka Aku ampuni kamu. Seandainya tanpa Muhammad, Aku tidak akan menciptakanmu,” lanjut Allah.\rImam Al Hakim meriwayatkan hadits di atas dalam kitab Al Mustadrok dan menilainya sebagai hadits shahih ( vol. 2 hal. 615 ). Al Hafidh As Suyuthi meriwayatkan dalam kitab Al Khashais An Nabawiyah dan mengategorikan sebagai hadits shahih. Imam Al Baihaqi meriwayatkanya dalam kitab Dalail Nubuwah, dan beliau tidak meriwayatkan hadits palsu sebagaimana telah ia jelaskan dalam pengantar kitabnya. Al Qasthalani dan Az Zurqani dalam Al Mawahib Al Laduniyah juga menilainya sebagai hadits shahih. vol. 1 hal. 62.","part":1,"page":424},{"id":425,"text":"Senada dengan hadits di atas, Abu Nu’aim Al-Hafidh meriwayatkan dalam kitab Dalaailu al-Nubuwwah dan melalui jalur Syaikh Abi al-Faraj. Menceritakan kepadaku Sulaiman ibn Ahmad, menceritakan kepadaku Ahmad ibn Rasyid, menceritakan kepadaku Ahmad ibn Sa’id al-Fihri, menceritakan kepadaku Abdullah ibn Ismail al-Madani dari Abdurrahman ibn Yazid ibn Aslam dari ayahnya dari ‘Umar ibn al-Khaththab, ia berkata : Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda :\rلما أصاب آدم الخطيئة رفع رأسه فقال : يارب ! بحق محمد إلا غفرت لي , فأوحى اليه :\rوما محمد ومن محمد ؟ فقال : يارب ! إنك لما أتممت خلقي رفعت رأسي إلى عرشك فإذ عليه مكتوب : لا إله إلا الله محمد رسول الله , فعلمت أنه أكرم خلقك عليك إذ قرنت اسمه مع اسمك ,\rفقال : نعم , قد غفرت لك , وهو اخر الأنبياء من ذريتك , ولو لاه ما خلقتك.\r“Ketika Adam melakukan kesalahan, ia mendongakkan kepalanya. “Wahai Tuhanku, dengan hak Muhammad, mohon Engkau ampuni aku,” ujar Adam. Lalu Adam mendapat pertanyaan lewat wahyu, “Apa dan siapakah Muhammad?” “Ya Tuhanku, ketika Engkau menyempurnakan penciptaanku, aku mendongakkan kepalaku ke arah ‘arsy-Mu dan ternyata di sana tertera tulisan “Laa Ilaaha illa Allaah Muhammadun Rasulullaah”. Jadi saya tahu bahwa Muhammad adalah makhluk Engkau yang paling mulia di sisi-Mu. Karena Engkau merangkai namanya dengan nama-Mu,” jawab Adam. “Betul,” jawab Allah, “Aku telah mengampunimu, dan Muhammad Nabi terakhir dari keturunanmu. Jika tanpa dia, Aku tidak akan menciptakanmu.”","part":1,"page":425},{"id":426,"text":"Firman Allah Azza wa Jalla yang artinya, “Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” ( QS Al Baqarah [2]:146 )\rFirman Allah Azza wa Jalla yang artinya, “Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam“. (QS Al Baqarah [2]: 132 )\r\"illa wa antum muslimuun\", \"kecuali dalam keadaan muslim\" , \"kecuali dalam keadaan memeluk agama Islam\", kecuali manusia yang berserah diri kepada Allah Azza wa Jalla, berserah diri dengan mentaati perintahNya dan laranganNya. PerintahNya dan laranganNya telah disempurnakan ketika Muhammad bin Abdullah diutus menjadi Rasulullah.\rFirman Allah Azza wa Jalla yang artinya, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” ( QS Al Maaidah [5]:3 )\rJadi penduduk surga pastilah seorang muslim, mereka yang telah bersyahadat.\rPermasalahannya setiap penduduk surga mempunyai tingkatan atau maqom (derajat) disisiNya dan penduduk surga akan menempati surga dengan berbagai tingkatannya.","part":1,"page":426},{"id":427,"text":"Kaum Sufi adalah mereka atas ridho Allah berupaya mendekatkan diri sedekat-dekatnya dengan Allah Azza wa Jalla sebagaimana mereka berupaya mengikuti jalan (tharikat) Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, manusia yang paling utama, paling mulia, paling dekat dengan Allah Azza wa Jalla atau dengan kata lain mereka yang atas ridho Allah berupaya menjadi wali Allah (kekasih Allah, manusia yang dicintaiNya)\rTingkatan (maqom) wali Allah , salah satunya telah diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/25/2011/09/28/maqom-wali-allah/\rKaum Sufi adalah muslim bukan Nabi yang atas ridho Allah Azza wa Jalla menjadi wali Allah (kekasih Allah)\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “sesungguhnya ada di antara hamba Allah (manusia) yang mereka itu bukanlah para Nabi dan bukan pula para Syuhada’. Mereka dirindukan oleh para Nabi dan Syuhada’ pada hari kiamat karena kedudukan (pangkat) mereka di sisi Allah Swt seorang dari shahabatnya berkata, siapa gerangan mereka itu wahai Rasulullah? Semoga kita dapat mencintai mereka. Nabi shallallahu alaihi wasallam menjawab dengan sabdanya: Mereka adalah suatu kaum yang saling berkasih sayang dengan anugerah Allah bukan karena ada hubungan kekeluargaan dan bukan karena harta benda, wajah-wajah mereka memancarkan cahaya dan mereka berdiri di atas mimbar-mimbar dari cahaya. Tiada mereka merasa takut seperti manusia merasakannya dan tiada mereka berduka cita apabila para manusia berduka cita”. (HR. an Nasai dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya)","part":1,"page":427},{"id":428,"text":"Hadits senada, dari ‘Umar bin Khathab ra bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya diantara hamba-hambaku itu ada manusia manusia yang bukan termasuk golongan para Nabi, bukan pula syuhada tetapi pada hari kiamat Allah ‘Azza wa Jalla menempatkan maqam mereka itu adalah maqam para Nabi dan syuhada.”Seorang laki-laki bertanya : “siapa mereka itu dan apa amalan mereka?”mudah-mudahan kami menyukainya. Nabi bersabda: “yaitu Kaum yang saling menyayangi karena Allah ‘Azza wa Jalla walaupun mereka tidak bertalian darah, dan mereka itu saling menyayangi bukan karena hartanya, dan demi Allah sungguh wajah mereka itu bercahaya, dan sungguh tempat mereka itu dari cahaya, dan mereka itu tidak takut seperti yang ditakuti manusia, dan tidak susah seperti yang disusahkan manusia,” kemudian beliau membaca ayat : ” Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS Yunus [10]:62 )\rCara memperjalankan diri kepada Allah atau mendekatkan diri kepada Allah hingga sampai (wushul) kepada Allah atau bertemu kepada Allah atau dapat melihat Allah dengan hati atau mencapai muslim yang Ihsan atau mencapai muslim berma'rifat adalah dengan dzikrullah\rDalam suatu riwayat : ”Qoola A’liyy bin Abi Thalib: Qultu yaa Rosuulolloh ayyun thoriiqotin aqrobu ilallohi? Faqoola Rasullulohi: dzikrullahi”.\rartinya; “Ali bin Abi Thalib berkata; “aku bertanya kepada Rasullulah, jalan/metode(Thariqot) apakah yang bisa mendekatkan diri kepada Allah? “ Rasullulah menjawab; “dzikrullah.”","part":1,"page":428},{"id":429,"text":"Dalam sebuah hadits Qudsi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: \"hamba-Ku tidak bisa mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada yang telah Aku wajibkan (amal ketaatan/perkara syariat), jika hamba-Ku terus menerus mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan sunnah (amal kebaikan / dzikrullah), maka Aku mencintai dia\"\rBentuk-bentuk dzikrullah untuk memperjalankan diri kepada Allah atau mendekatkan diri kepada Allah untuk mencapai muslim yang Ihsan atau muslim yang berma'rifat atau muslim yang bertemu Allah atau muslim yang dapat melihat Allah dengan hati telah diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/25/amalan-dasar-tasawuf/\rBilal ra, memilih bentuk dzikrullah berupa menjaga wudhunya dan menjalankan sholat selain sholat yang telah diwajibkanNya.\rRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bertanya kepada Bilal ketika shalat Shubuh: “Hai Bilal, katakanlah Kepadaku apakah amalanmu yang paling besar pahalanya yang pernah kamu kerjakan dalam Islam, karena tadi malam aku mendengar derap sandalmu di dalam surga? ‘ Bilal menjawab; ‘Ya Rasulullah, sungguh saya tidak mengerjakan amal perbuatan yang paling besar pahalanya dalam Islam selain saya bersuci dengan sempurna, baik itu pada waktu malam ataupun siang hari. lalu dengannya saya mengerjakan shalat selain shalat yang telah diwajibkan Allah kepada saya.” (HR Muslim 4497)\rUwais Ra menjadi wali Allah (kekasih Allah) sehingga setiap permintaanya pasti dikabulkanNya dengan bentuk dzikrullah berupa selalu mentaati dan merawat ibunya yang telah seorang diri.","part":1,"page":429},{"id":430,"text":"Suatu hari Umar r.a. kedatangan rombongan dari Yaman, lalu ia bertanya :\r“Adakah di antara kalian yang datang dari suku Qarn?”.\rLalu seorang maju ke dapan menghadap Umar. Orang tersebut saling bertatap pandang sejenak dengan Umar. Umar pun memperhatikannya dengan penuh selidik.\r“Siapa namamu?” tanya Umar.\r“Aku Uwais”, jawabnya datar.\r“Apakah engkau hanya mempunyai seorang Ibu yang masih hidup?, tanya Umar lagi.\r“Benar, Amirul Mu’minin”, jawab Uwais tegas.\rUmar masih penasaran lalu bertanya kembali “Apakah engkau mempunyai bercak putih sebesar uang dirham?” (maksudnya penyakit kulit berwarna putih seperti panu tapi tidak hilang).\r“Benar, Amirul Mu’minin, dulu aku terkena penyakit kulit “belang”, lalu aku berdo’a kepada Allah agar disembuhkan. Alhamdulillah, Allah memberiku kesembuhan kecuali sebesar uang dirham di dekat pusarku yang masih tersisa, itu untuk mengingatkanku kepada Tuhanku”.\r“Mintakan aku ampunan kepada Allah”.\rUwais terperanjat mendengar permintaan Umar tersebut, sambil berkata dengan penuh keheranan. “Wahai Amirul Mu’minin, engkau justru yang lebih behak memintakan kami ampunan kepada Allah, bukankah engkau sahabat Nabi?”\rLalu Umar berkata “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata “Sesungguhnya sebaik-baik Tabiin adalah seorang bernama Uwais, mempunyai seorang ibu yang selalu dipatuhinya, pernah sakit belang dan disembuhkan Allah kecuali sebesar uang dinar di dekat pusarnya, apabila ia bersumpah pasti dikabulkan Allah. Bila kalian menemuinya mintalah kepadanya agar ia memintakan ampunan kepada Allah”","part":1,"page":430},{"id":431,"text":"Uwais lalu mendoa’kan Umar agar diberi ampunan Allah. Lalu Uwais pun menghilang dalam kerumunan rombongan dari Yaman yang akan melanjutkan perjalanan ke Kufah. (H.R. Muslim dan Ahmad)\rSeorang Wali Allah, mereka yang telah berma’rifat, mereka yang disisiNya, mereka yang telah sampai (wushul) kepada Allah Azza wa Jalla, jika mereka memohon kepada Allah Azza wa Jalla , pasti akan dikabulkanNya. Cuma mereka kadang malu untuk memohon kepada Allah karena telah mencukupkan diri kepada pengaturanNya\rDalam sebuah haditas Qudsi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: \"jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya yang ia jadikan untuk mendengar, dan pandangannya yang ia jadikan untuk memandang, dan tangannya yang ia jadikan untuk memukul, dan kakinya yang dijadikannya untuk berjalan, jikalau ia meminta-Ku, pasti Kuberi, dan jika meminta perlindungan kepada-KU, pasti Ku-lindungi. Dan aku tidak ragu untuk melakukan sesuatu yang Aku menjadi pelakunya sendiri sebagaimana keragu-raguan-Ku untuk mencabut nyawa seorang mukmin yang ia (khawatir) terhadap kematian itu, dan Aku sendiri khawatir ia merasakan kepedihan sakitnya\". (HR Muslim 6021)","part":1,"page":431},{"id":432,"text":"Oleh karenanya kita sebaiknya mentaati atau mengikuti nasehat para pemimpin ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak) alias Imam Mazhab yang empat, bahwa setelah kita menjalankan perkara syariat, syarat sebagai hamba Allah maka selanjutnya adalah menjalankan tasawuf atau memperjalankan diri agar sampai (wushul) kepada Allah Azza wa Jalla , bertemu dengan Allah ketika kita masih di alam dunia, sehingga mendapatkan nikmat lebih awal dari kaum muslim kebanyakan yang menikmatinya ketika telah menjadi penduduk surga. Sehingga mereka yang menjalankan tasawuf maka perkara syariat bukanlah sebagai beban namun sebuah kenikmatan, kelezatan atau kesenangan sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam “….kesenanganku dijadikan dalam sholat” (diriwayatkan oleh Anas ra) atau sebagaimana yang diriwayatkan bahwa Imam Sayyidina Ali ra minta dicabut anak panah ketika Beliau sedang sholat.\rDengan menjalankan tasawuf kita dapat memahami atau mengalami apa yang dikatakan oleh Imam Syafi’i ra “nikmatnya atau kelezatan taqwa“\rImam Syafi’i ra menyampaikan nasehat (yang artinya) ,”Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih","part":1,"page":432},{"id":433,"text":"dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya. Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mahu menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelazatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mahu mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik (ihsan)?” [Diwan Al-Imam Asy-Syafi'i, hal. 47]\rBegitupula dengan nasehat Imam Malik ra bahwa menjalankan tasawuf agar manusia tidak rusak dan menjadi manusia berakhlak baik\rImam Malik ra menyampaikan nasehat (yang artinya) “Dia yang sedang tasawuf tanpa mempelajari fikih (perkara syariat) rusak keimanannya , sementara dia yang belajar fikih tanpa mengamalkan Tasawuf rusaklah dia ., hanya dia siapa memadukan keduanya terjamin benar” .\rDengan menjalankan tasawuf hingga mencapai muslim yang Ihsan , muslim yang baik, muslim berakhlakul karimah adalah mewujudkan tujuan Rasulullah diutus oleh Allah Azza wa Jalla Rasulullah menyampaikan yang maknanya “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad).\rDengan menjalankan tasawuf adalah memenuhi anjuran para ulama pengikut Imam Mazhab yang empat seperti\rImam Nawawi Rahimahullah berkata :\rأصول طريق التصوف خمسة: تقوى الله في السر والعلانية. اتباع السنة في الأقوال والأفعال. الإِعراض عن الخلق في الإِقبال والإِدبار. الرضى عن الله في القليل والكثير.الرجوع إِلى الله في السراء والضراء.","part":1,"page":433},{"id":434,"text":"“ Pokok-pokok metode ajaran tasawwuf ada lima : Taqwa kepada Allah di dalam sepi maupun ramai, mengikuti sunnah di dalam ucapan dan perbuatan, berpaling dari makhluk di dalam penghadapan maupun saat mundur, ridha kepada Allah dari pemberian-Nya baik sedikit ataupun banyak dan selalu kembali pada Allah saat suka maupun duka “. (Risalah Al-Maqoshid fit Tauhid wal Ibadah wa Ushulut Tasawwuf halaman : 20, Imam Nawawi)\rAl-Imam Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Atsqalani berkata :\rوروى الخطيب بسند صحيح أن الإمام أحمد سمع كلام المحاسبي فقال لبعض أصحابه ما سمعت في الحقائق مثل كلام هذا الرجل ولا أرى لك صحبتهم . قلت – أي الإمام ابن حجر – إنما نهاه عن صحبتهم لعلمه بقصوره عن مقامهم فإنه في مقام ضيق لا يسلكه كل واحد ويخاف على من يسلكه أن لا يوفيه حقه. وقال الأستاذ أبو منصور البغدادي – عن الحارث المحاسبي – في الطبقة الأولى من أصحاب الشافعي كان إماما في الفقه والتصوف والحديث والكلام وكتبه في هذه العلوم أصول من يصنف فيها","part":1,"page":434},{"id":435,"text":"“ Al-Khatib meriwayatkan dengan sanad yang shahih bahwa imam Ahmad mendengar ucapan Al-Muhasibi, maka beliau berkata pada sahabat-sahabatnya “ Aku belum pernah mendengar ucapan tentang hakikat-hakikat seperti ucapan al-Muhasibi ini dan aku berpendapat jangan engkau berteman dengan semisal al-Muhasibi. Aku (Ibnu Hajar) katakana : “ Sesungguhnya imam Ahmad melarang untuk berteman dengan orang semisal al-Muhasibi , karena beliau mengetahui pendeknya maqam (kedudukannya) dibandingkan kedudukan mereka. Karena al-Muhasibi berada di dalam maqam dhiq (sempit) yang tidak mampu ditapaki oleh setiap orang dan dikhawatirkan bagi orang yang menapaki tidak bisa memenuhi haqnya. Ustadz Abul Manshur al-Baghdadi berkata “ Dari al-Harits al-Muhasibi di dalam bab Tingkatan pertama dari pengikut Imam Syafi’i “ Beliau al-Muhasibi adalah seorang imam di bidang ilmu fiqih, tasawwuf, hadits dan kalam. Dan kitab beliau di dalam ilmu ini merupakan ushul / sandaran bagi ulama yang mengarang kitab ilmu “. (Tahdzib at-Tahdzib juz 2 halaman : 117, karya imam Ibnu Hajar al-Asqalani)\rAl-Allamah al-Hafidz Ibnu Hajar al-Haitami berkata :","part":1,"page":435},{"id":436,"text":"إياك أن تنتقد على السادة الصوفية : وينبغي للإنسان حيثُ أمكنه عدم الانتقاد على السادة الصوفية نفعنا الله بمعارفهم، وأفاض علينا بواسطة مَحبتَّنا لهم ما أفاض على خواصِّهم، ونظمنا في سلك أتباعهم، ومَنَّ علينا بسوابغ عوارفهم، أنْ يُسَلِّم لهم أحوالهم ما وجد لهم محملاً صحيحاً يُخْرِجهم عن ارتكاب المحرم، وقد شاهدنا من بالغ في الانتقاد عليهم، مع نوع تصعب فابتلاه الله بالانحطاط عن مرتبته وأزال عنه عوائد لطفه وأسرار حضرته، ثم أذاقه الهوان والذلِّة وردَّه إلى أسفل سافلين وابتلاه بكل علَّة ومحنة، فنعوذ بك اللهم من هذه القواصم المُرْهِقات والبواتر المهلكات، ونسألك أن تنظمنا في سلكهم القوي المتين، وأن تَمنَّ علينا بما مَننتَ عليهم حتى نكون من العارفين والأئمة المجتهدين إنك على كل شيء قدير وبالإجابة جدير.\r“ Berhati-hatilah kamu dari menentang para ulama shufi. Dan sebaiknya bagi manusia sebisa mungkin untuk tidak menentang para ulama shufi, semoga Allah member manfaat kpeada kita dengan ma’rifat-ma’rifat mereka dan melimpahkan apa yang Allah limpahkan kepada orang-orang khususnya dengan perantara kecintaan kami pada mereka, menetapkan kita pada jalan pengikut mereka dan mencurahkan kita curahan-curahan ilmu ma’rifat mereka. Hendaknya manusia menyerahkan apa yang mereka lihat dari keadaan para ulama shufi dengan kemungkinan-kemungkinan baik yang dapat mengeluarkan mereka dari melakukan perbuatan haram.","part":1,"page":436},{"id":437,"text":"Kami sungguh telah menyaksikan orang yang sangat menentang ulama shufi, mereka para penentang itu mendapatkan ujian dari Allah dengan pencabutan derajatnya, dan Allah menghilangkan curahan kelembutan-Nya dan rahasia-rahasia kehadiran-Nya. Kemudian Allah menimpakan para penentang itu dengan kehinaan dan kerendahan dan mengembalikan mereka pada derajat terendah. Allah telah menguji mereka dengan semua penyakit dan cobaan . Maka kami berlindung kepada-Mu ya Allah dari hantaman-hantaman yang kami tidak sanggup menahannya dan dari tuduhan-tuduhan yang membinasakan. Dan kami memohon agar Engkau menetapi kami jalan mereka yang kuat, dan Engkau anugerahkan kami apa yang telah Engkau anugerahkan pada mereka sehingga kami menjadi orang yang mengenal Allah dan imam yang mujtahid, sesungguhnya Engkau maha Mampu atas segala sesuatu dan maha layak untuk mengabulkan permohonan “. (Al-Fatawa Al-Haditsiyyah : 113, karya Imam Ibnu Hajar al-Haitami)\rAl-Imam Al-Allamah Syaikhul Islam Tajuddin As-Subuki berkata :\rحَيَّاهمُ الله وبيَّاهم وجمعنا في الجنة نحن وإِياهم. وقد تشعبت الأقوال فيهم تشعباً ناشئاً عن الجهل بحقيقتهم لكثرة المُتلبِّسين بها، بحيث قال الشيخ أبو محمد الجويني لا يصح الوقف عليهم لأنه لا حدَّ لهم. والصحيح صحته، وأنهم المعرضون عن الدنيا المشتغلون في أغلب الأوقات بالعبادة.. ثم تحدث عن تعاريف التصوف إِلى أن قال: والحاصل أنهم أهل الله وخاصته الذين ترتجى الرحمة بذكرهم، ويُستنزل الغيث بدعائهم، فرضي الله عنهم وعنَّا بهم","part":1,"page":437},{"id":438,"text":"“ Semoga Allah memanjangkan hidup para penganut tasawwuf dan mengangkat derajat mereka serta mengumpulkan kita dan mereka di surga. Sungguh telah banyak pendapat miring tentang mereka yang bersumber dari kejahilan akan hakekat mereka disebabkan oknum-oknum yang membuat samar ajaran tasawwuf. Oleh karenanya syaikh Abu Muhammad Al-Juwaini berkata “ Tidak boleh berhenti dalam mendefiniskan mereka, sebab mereka tak memiliki batasan istilah. Yang benar adalah keabsahannya dan definisi shufiyyah adalah orang-orang yang berpaling dari dunia yang menyibukkan diri disebagian besar waktunya dengan beribadah. Kemudian bermunculanlah ta’rif-ta’rif baru tentang tasawwuf..(sampai ucapan beliau) : “..Kesimpulannya ulama tasawwuf adalah keluarga dan orang-orang khusus Allah yang diharapan turunnya rahmat dengan menyebut nama mereka dan turunnya hujan dengan perantara doa mereka. Maka semoga Allah meridhoi mereka dan kita semua dengan sebab mereka “. (Mu’idun Ni’am wa Mubidun Niqam halaman : 140, karya imam Subuki)\rAl-Imam Al-Allamah Al-Hafidz Jalaluddin As-Suyuthi berkata :","part":1,"page":438},{"id":439,"text":"اعلم وفقني الله وإياك أن علم التصوف في نفسه علم شريف رفيع قدره سني أمره ، لم تزل أئمة الإسلام وهداة الأنام قديماً وحديثاً يرفعون مناره وَيُجِلُّون مقداره ويعظمون أصحابه ويعتقدون أربابه ، فإنهم أولياء الله وخاصته من خلقه بعد أنبيائه ورسله ، غير أنه دخل فيهم قديماً وحديثاً دخيل تشبهوا بهم وليسوا منهم وتكلموا بغير علم وتحقيق فزلوا وصلوا وأضلوا ، فمنهم من اقتصر على الاسم وتوسل بذلك إلى حطام الدنيا ، ومنهم من لم يتحقق فقال بالحلول وما شابهه فأدى ذلك إلى إساءة الظن بالجميع ، وقد نبه المعتبرون منهم على هذا الخطب الجليل ونصوا على أن هذه الأمور السيئة من ذلك الدخيل.","part":1,"page":439},{"id":440,"text":"“ Ketahuilah, semoga Allah memberikan taufiq-Nya padaku dan kamu, sesungguhnya ilmu tasawwuf itu sendiri adalah ilmu yang mulia, tinggi derajatnya dan luhur urusannya. Para imam Islam dan para ulama penunjuk manusia sejak dulu hingga sekarang selalu mengangkat lambangnya, meninggikan martabatnya dan mengangungkan para pemeluknya dan meyakini kemulian ahlinya. Karena mereka adalah para wali Allah Swt dan orang-orang khusus-Nya dari makhluk-Nya setelah para nabi dan rasul-Nya, akan tetapi masuklah sesuatu yang asing sejak dulu hingga sekarang yang menyerupai penganut tasawwuf padahal sama sekali mereka bukanlah dari ahli tasawwuf. Mereka berbicara tanpa ilmu dan mengerti hakikat, sehingga mereka tergelincir, sesat dan menyesatkan. Di antara mereka ada yang mencukupkan saja dengan nama dan menjadikan perantara untuk mengambil keuntungan dunia. Di antara mereka ada yang belum mencapai hakikat sehingga mereka berucap dengan hulul dan semisalnya, sehingga itu semua membuat munculnya buruk sangka terhadap semua ajaran tasawwuf. Sungguh para pengambil pelajaran dari mereka telah member peringatan atas nasehat mulia ini dan menetapkan bahwa semua perkara buruk ini muncul dari sesuatu yang asing (di luar tasawwuf) tersebut “. (Ta’yidul Haqiqah al-‘Aliyyah Wa Tasyiduth Thariqah asy-Syadziliyyah halaman : 7, karya imam as-Suyuthi)\rAl-Imam Al-Allamah Al-Mufassir Fakhruddin Ar-Razi berkata :","part":1,"page":440},{"id":441,"text":"الباب الثامن في أحوال الصوفية:اعلم أن أكثر مَنْ حَصَرَ فرق الأمة، لم يذكر الصوفية وذلك خطأ، لأن حاصل قول الصوفية أن الطريق إِلى معرفة الله تعالى هو التصفية والتجرد من العلائق البدنية، وهذا طريق حسن.. وقال أيضاً: والمتصوفة قوم يشتغلون بالفكر وتجرد النفس عن العلائق الجسمانية، ويجتهدون ألاَّ يخلو سرَّهم وبالَهم عن ذكر الله تعالى في سائر تصرفاتهم وأعمالهم، منطبعون على كمال الأدب مع الله عز وجل، وهؤلاء هم خير فرق الآدميين\r“ Bab kedelapan : Tentang keadaan-keadaan ahli tasawwuf. Ketahuilah, sesungguhnya kebanyakan orang yang menghitung pembagian golongan umat tidak menyebut golongan ahli tasawwuf dan hal itu salah, karena keseluruhan ucapan ahli tasawwuf adalah sesungguhnya jalan menuju pengenalan kepada Allah Ta’ala adalah Tashfiyyah (penyucian) dan membersihkan diri dari ketergantungan badan, dan jalan ini merupakan jalan yang baik. Beliau juga berkata “ Kaum shufi adalah orang-orang yang menyibukkan diri dengan tafakkur dan membersihkan jiwa dari ketergantungan jasmaniyah, berusaha keras agar hati mereka tidak kosong dari mengingat Allah Ta’ala di dalam gerak-gerik mereka, selalu berpegang dengan kesempurnaan adab bersama Allah, dan merekalah paling baiknya golongan anak manusia “. (I’tiqadaat firaqil Muslimin wal musyrikin halaman : 72-73, Karya imam Fakhruddin Ar-Razi)\rAl-Imam Al-Allamah Al-Hafidz Abdu Rauf al-Manawi berkata :","part":1,"page":441},{"id":442,"text":"وإني كنت قبل أن يكتب الشباب خط العذار , أردد ناظري في أخبار الأولياء الأخيار , وأتتبع مواقع إشارات حكم الصوفية الأبرار , وأترقب أحوالهم وأسبر أقوالهم … حتى حصلت من ذلك على فوائد عاليات , وحكم شامخات ساميات فألهمت أن أقيد ما وقفت عليه في ورقات , وأن أجعله في ضمن التراجم , كما فعله بعض الأعاظم الأثبات , فأنزلت الصوفية في طبقات , وضربت لهم في هذا المجموع سرادقات , ورتبتهم على حروف المعجم عشر طبقات , كل مائة سنة طبقة , وجمعتهم كواكب كلها معالم للهدي , ومصابيح للدجى , ورجوم للمسترقة\r“ Sesungguhnya aku sebelum seorang pemuda dicatat akan catatan alasannya, ingin mencermati kisah-kisah para wali Allah yang terpilih, aku telusuri isyarat-isyarat hokum ahli shufi yang baik dan aku selidiki keadaan-keadaan mereka dan aku kuak ucapan-ucapan mereka hingga aku mendapatkan beberapa faedah yang tinggi sebab itu dan hikmah-hikmah berbobot nan luhur. Lalu aku mendapatkan ilham agar mencatat apa yang aku dalami itu pada sebuah buku, dan agar aku buat isi biografi perjalanan mereka sebagaimana telah dilakukan sebagian besar ulama. Maka aku posisikan ulama shufi dalam beberapa tingkatan dan ku beberkan beberapa tenda dalam kumpulan ini. Aku tertibkan nama mereka menjadi sepuluh tingkatan. Setiap seratus tahun satu tingkatan dan aku kumpulkan bintang-bintang seluruhnya bagaikan petunjuk bagi kebenaran dan penerang bagi kegelapan serta panah api bagi si pencuri “. (Al-Kawaiku Ad-Durriyyah fii Tarajimi ash-Shufiyyah halaman : 3-4, karya imam Abdur Raouf al-Manawi)\rAl-Imam Al-Kabir Abdul Qahir Al-Baghdadi berkata :","part":1,"page":442},{"id":443,"text":"الفصل الأول من فصول هذا الباب في بيان أصناف أهل السنة والجماعة. اعلموا أسعدكم الله أن أهل السنة والجماعة ثمانية أصناف من الناس… والصنف السادس منهم: الزهاد الصوفية الذين أبصروا فأقصروا، واختَبروا فاعتبروا، ورضوا بالمقدور وقنعوا بالميسور، وعلموا أن السمع والبصر والفؤاد كل أُولئك مسؤول عن الخير والشر، ومحاسب على مثاقيل الذر، فأعدُّوا خير الإِعداد ليوم المعاد، وجرى كلامهم في طريقَيْ العبارة والإِشارة على سَمْتِ أهل الحديث دون من يشتري لهو الحديث، لا يعملون الخير رياء، ولا يتركونه حياء، دينُهم التوحيد ونفي التشبيه، ومذهبهم التفويضُ إِلى الله تعالى، والتوكلُ عليه والتسليمُ لأمره، والقناعةُ بما رزقوا، والإِعراضُ عن الاعتراض عليه. {ذلكَ فضلُ اللهِ يؤتِيهِ مَنْ يشاءُ واللهُ ذو الفضلِ العظيمِ","part":1,"page":443},{"id":444,"text":"“ Fasal pertama dari fasal-fasal bab ini, tentang penjelasan kelompok-kelompok Ahlus sunnah waljama’ah. Ketahuilah, semoga Allah membuat kalian bahagia, sesungguhnya Ahlus sunnah waljama’ah ada delapan kelompok manusia..(hingga ucapan beliau)..” Kelompok ke enam di anatara mereka adalah orang-orang yang zuhud dan ahlis shufi yang mereka memandang dengan mata hati hingga mereka bisa berlaku sederhana, mereka mendapat ujian dan mereka mengambil pelajarannya. Mereka ridha dengan ketentuan dan legowo dengan hal yang ringan. Mereka ahli shufi mengetahui bahwa pendengaran, penglihatan dan hati semuanya akan dimintai pertangung jawabannya dari kebaikan atau keburukan dan akan dihisab walau seberat biji atom pun. Maka mereke mempersiapkan diri dengan sebaik-baik bekal untuk hari kembali kelak dan ucapan mereka berjalan di dalam dua jalan ibarat dan isyarat berdasarkan karakter ahli hadits bukan orang yang menjual permainan hadits. Mereka beramal kebaikan tidak dengan pamer dan tidak meninggalkan kebaikan karena malu. Agama mereka Tauhid dan meniadakan Tasybih (penyerupaan) dan mazdhab mereka Tafwidh (menyerahkan makna) kepada Allah Swt, tawakkal dan penyerahan diri kepada perintah Allah. Qonaah terhadap rezeki yang mereka dapat dan berpaling dari mengeluh atas-Nya. Itulah keutamaan Allah yang Allah berikan pada orang yang dikehendaki-Nya dan Allah maha memiliki keutamaan yang agung “. (Al-Farq bainal Firaq halaman : 236)\rAl-Imam Al-Hafidz Abu Nu’aim Al-Ashfihani berkata :","part":1,"page":444},{"id":445,"text":"أما بعد أحسن الله توفيقك فقد استعنت بالله عز وجل وأجبتك الى ما ابتغيت من جمع كتاب يتضمن أسامي جماعة وبعض أحاديثهم وكلامهم من أعلام المتحققين من المتصوفة وأئمتهم وترتيب طبقاتهم من النساك من قرن الصحابة والتابعين وتابعيهم ومن بعدهم ممن عرف الأدلة والحقائق وباشر الأحوال والطرائق وساكن الرياض والحدائق وفارق العوارض والعلائق وتبرأ من المتنطعين والمتعمقين ومن أهل الدعاوى من المتسوفين ومن الكسالى والمتثبطين المتشبهين بهم في اللباس والمقال والمخالفين لهم في العقيدة والفعال وذلك لما بلغك من بسط لساننا ولسان أهل الفقه والآثار في كل القطر والأمصار في المنتسبين إليهم من الفسقة الفجار والمباحية والحلولية الكفار وليس ما حل بالكذبة من الوقيعة والإنكار بقادح في منقبة البررة الأخيار وواضع من درجة الصفوة الأبرار بل في إظهار البراءة من الكذابين , والنكير على الخونة الباطلين نزاهة للصادقين ورفعة للمتحققين ولو لم نكشف عن مخازي المبطلين ومساويهم ديانة , للزمنا إبانتها وإشاعتها حمية وصيانة , إذ لأسلافنا في التصوف العلم المنشور والصيت والذكر المشهور","part":1,"page":445},{"id":446,"text":"“ Selanjutnya, semoga Allah memperbagus taufiqmu, maka sungguh aku telah memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala dan menjawabmu atas apa yang engkau mau dari pengumpulan kitab yang mengandung nama-nama kelompok dan sebagian hadits dan ucapan mereka dari ulama hakikat dari orang-orang ahli tasawwuf, para imam dari mereka, penertiban tingkatan mereka dari orang-orang ahli ibadah sejak zaman sahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in dan setelahnya dari orang yang memahami dalil dan hakikat. Menjalankan hal ihwal serta thariqah, bertempat di taman (ketenangan) dan meninggalkan ketergantungan. Berlepas dari orang-orang yang berlebihan dan orang-orang yang mengaku-ngaku, orang-orang yang berandai-andai dan dari orang-orang yang malas yang menyerupai mereka di dalam pakaian dan ucapan dan bertentangan pada mereka di dalam aqidah dan perbuatan. Demikian itu ketika sampai padamu dari pemaparan lisan kami dan lisan ulama fiqih dan hadits di setiap daerah dan masa tentang orang-orang yang menisabatkan diri pada mereka adalah orang-orang fasiq, fajir, suka mudah berkata mubah dan halal lagi kufur. Bukanlah menghalalkan dengan kedustaan, umpatan dan pengingkaran dengan celaan di dalam manaqib orang-orang baik pilihan dan perendahan dari derajat orang-orang suci lagi baik, akan tetapi di dalam menampakkan pelepasan diri dari orang-orang pendusta dan pengingkaran atas orang-orang pengkhianat, bathil sebagai penyucian bagi orang-orang jujur dan keluhuran bagi orang-orang ahli hakikat. Seandainya kami tidak menyingkap kehinaan dan keburukan orang-orang yang mengingkari tasawwuf itu sebagai","part":1,"page":446},{"id":447,"text":"bagian dari agama, maka kami pasti akan menjelaskan dan mengupasnya sebagai penjagaan, karena salaf kami di dalam ilmu tasawwuf memiliki ilmu yang sudah tersebar dan nama yang masyhur “. (Muqoddimah Hilyah Al-Awliya, karya imam Al-Ashfihani)\rAl-Imam Al-Kabir Al-Mufassir An-Nadzdzar Abi Al- muzdhaffar Al-Isfirayaini berkata :\rفي الباب الخامس عشر : في بيان اعتقاد أهل السنة والجماعة وبيان مفاخرهم ومحاسن أحوالهم وسادسها : علم التصوف والإشارات , وما لهم فيها من الدقائق والحقائق , لم يكن قط لأحد من أهل البدعة فيه حظ بل كانوا محرومين مما فيه من الراحة والحلاوة , والسكينة والطمأنينة وقد ذكر أبو عبد الرحمن السلمي من مشايخهم قريبا من ألف ، وجمع إشاراتهم وأحاديثهم ولم يوجد في جملتهم قط من ينسب إلى شيء من بدع القدرية والروافض ، والخوارج ، وكيف يتصور فيهم من هؤلاء وكلامهم يدور على التسليم ، والتفويض والتبري من النفس ، والتوحيد بالخلق والمشيئة ، وأهل البدع ينسبون الفعل ، والمشيئة ، والخلق ، والتقدير إلى أنفسهم ، وذلك بمعزل عما عليه أهل الحقائق من التسليم والتوحيد","part":1,"page":447},{"id":448,"text":"Di bab ke-15 : Tentang penjelasan aqidah Ahlus sunnah waljama’ah dan penjelasan kebanggaan serta kebaikan hal ihwal mereka. Fasal yang ke- 6 adalah : Ilmu Tasawwuf dan isyarat dan apa yang mereka miliki dari ilmu-ilmu yang lembut dan ilmu hakikat. Yang tidak akan mendapat bagian sedikitpun dari ilmu ini orang-orang ahli bid’ah bahkan mereka terhalang mendapatkan apa yang ada pada ulama tasawwuf dari ketenangan, manisnya ibadah, sakinah dan tuma’ninah. Abu Abdirrahman As-Salmi telah menyebutkan guru-guru mereka hampir mendekati seribu, mengumpulkan isyarat dan hadits mereka namun tak ditemukan satu pun dari mereka orang-orang ahli bid’ah seperti qodariyyah, rowafidh dan khowarij. Bagaimana bisa tergambar pada mereka padahal ucapan ahli tasawwuf berputar pada taslim, tawakkal dan berlepas dari diri. Dan bertauhid dengan akhlak dan keinginan. Sedangkan ahlul bid’ah menisbatkan perbuatan dan keinginan, akhlak dan pennetuan pada diri mereka. Hal ini bertentangan dengan ahli hakikat dari sifat taslim dan tauhid “. (At-Tabshir fiddin halaman : 164, karya imam al-Isfirayaini)\rWassalam\rZon di Jonggol, Kab Bogor 16830\r0962. Belum sempurna keimanan hingga saling mencintai\rMereka masih saja berkeyakinan (beri’tiqod) sebagaimana i’tiqod ulama Ibnu Taimiyyah sebelum bertobat bahwa Allah Azza wa Jalla berada/bertempat di atas langit, meninggi atau melayang (tidak bersentuh) di atas ‘Arsy artinya Allah Azza wa Jalla berada/bertempat jauh/tinggi di atas ‘Arsy karena ‘Arsy adalah ciptaanNya yang paling tinggi dan paling besar.","part":1,"page":448},{"id":449,"text":"Hakikat “di langit” “di atas” bukanlah dipahami sebagai tempat bagi Allah Azza wa Jalla namun sebagai padanan bagi Yang Maha Tinggi (Al ‘Aliy) dan Yang Maha Mulia (Al Jaliil)\rAllah ta’ala berfirman dalam hadist Qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu ’Umar r.a.: “Sesungguhnya langit dan bumi tidak akan mampu menampung Aku. Hanya hati orang beriman yang sanggup menerimanya.”\rImam Sayyidina Ali ra mengatakan “Sesungguhnya Allah menciptakan ‘Arsy (makhluk Allah yang paling besar) untuk menampakkan kekuasaan-Nya bukan untuk menjadikannya tempat bagi DzatNya”\rImam Sayyidina Ali ra mengatakan yang maknanya: “Sesungguhnya yang menciptakan ayna (tempat) tidak boleh dikatakan bagi-Nya di mana (pertanyaan tentang tempat), dan yang menciptakan kayfa (sifat-sifat makhluk) tidak boleh dikatakan bagi-Nya bagaimana“\rPemimpin ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid mutlak) alias Imam Mazhab yang empat, contohnya Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan\rإنه تعالى كان ولا مكان فخلق المكان وهو على صفة الأزلية كما كان قبل خلقه المكان ولا يجوز عليه التغير في ذاته ولا التبديل في صفاته (إتحاف السادة المتقين بشرح إحياء علوم الدين, ج 2، ص 24)\r“Sesungguhnya Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat. Kemudian Dia menciptakan tempat, dan Dia tetap dengan sifat-sifat-Nya yang Azali sebelum Dia menciptakan tempat tanpa tempat. Tidak boleh bagi-Nya berubah, baik pada Dzat maupun pada sifat-sifat-Nya” (LIhat az-Zabidi, Ithâf as-Sâdah al-Muttaqîn…, j. 2, h. 24).","part":1,"page":449},{"id":450,"text":"Imam al Qusyairi menyampaikan, ” Dia Tinggi Yang Maha Tinggi, Luhur Yang Maha Luhur dari ucapan “bagaimana Dia?” atau “dimana Dia?”. Tidak ada upaya, jerih payah, dan kreasi-kreasi yang mampu menggambari-Nya, atau menolak dengan perbuatan-Nya atau kekurangan dan aib. Karena, tak ada sesuatu yang menyerupai-Nya. Dia Maha Mendengar dan Melihat. Kehidupan apa pun tidak ada yang mengalahkan-Nya. Dia Dzat Yang Maha Tahu dan Kuasa“.\rAllah Azza wa Jalla ada sebagaimana sebelum diciptakan ‘Arsy, sebagaimana sebelum diciptakan langit, sebagaimana sebelum diciptakan ciptaanNya, sebagaimana sebelum ada kata “di mana”. Dia tidak berubah dan tidak berpindah. Yang berubah dan berpindah adalah ciptaanNya. Dia sebagaimana awalnya dan sebagaimana akhirnya.\rAllah Azza wa Jalla dekat tidak bersentuh dan jauh tidak berjarak.\rFirman Allah Azza wa Jalla yang artinya,\r“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang “Aku” maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat“.( Al Baqarah [2]:186 ).\r“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS. Qaaf [50] :16 )\r“Dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan)“. (QS Al-’Alaq [96]:19 )\rRasulullah bersabda yang artinya, “Saat yang paling dekat antara seorang hamba dan Rabb-nya adalah ketika ia sujud, maka perbanyaklah doa ketika itu.” (HR Muslim dari Abu Hurairah)\rFirman Allah Azza wa Jalla yang artinya\r“Dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada kamu. Tetapi kamu tidak melihat” (QS Al-Waqi’ah [56]: 85 ).","part":1,"page":450},{"id":451,"text":"Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Ya Allah, Engkaulah Tuhan Yang Awal, maka tidak ada sesuatu pun yang mendahului-Mu, Ya Allah, Engkaulah Tuhan Yang Akhir, maka tidak ada sesuatu setelah-Mu. Ya Allah, Engkaulah Yang Zhahir, maka tidak ada yang menutupi-Mu. Ya Allah, Engkaulah Tuhan Yang Bathin, maka tidak ada yang samar dari-Mu”. (HR Muslim 4888)\r“Tidak ada yang menutupi-Mu”, “tidak ada yang samar dari-Mu” maknanya tidak ada atas, bawah, depan, belakang , kanan, kiri bagi Allah Azza wa Jalla. Tidak ada satupun yang sanggup membatasiNya.\rManusia terhalang atau menghijabi dirinya sehingga tidak dapat melihat Rabb dengan hatinya adalah karena dosa mereka. Setiap dosa merupakan bintik hitam hati (ketiadaan cahaya), sedangkan setiap kebaikan adalah bintik cahaya pada hati. Ketika bintik hitam memenuhi hati sehingga terhalang (terhijab) dari melihat Allah. Inilah yang dinamakan buta mata hati.\rSebagaimana firman Allah ta’ala yang artinya,\r“Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).” (QS Al Isra 17 : 72)\r“maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (al Hajj 22 : 46)","part":1,"page":451},{"id":452,"text":"Syaikh Ibnu Athoillah mengatakan, “Sesungguhnya yang terhalang adalah anda, hai kawan. Karena anda sebagai manusia menyandang sifat jasad, sehingga terhalang untuk dapat melihat Allah. Apabila anda ingin sampai melihat Allah, maka intropeksi ke dalam, lihatlah dahulu noda dan dosa yang terdapat pada diri anda, serta bangkitlah untuk mengobati dan memperbaikinya, karena itu-lah sebagai penghalang anda. Mengobatinya dengan bertaubat dari dosa serta memperbaikinya dengan tidak berbuat dosa dan giat melakukan kebaikan“\rMereka yang memperjalankan diri kepada Allah Azza wa Jlla sehingga mereka dapat bertemu dengan Allah Azza wa Jalla adalah mereka yang membersihkan hati (tazkiyatun nafs) yang berarti mengosongkan dari sifat sifat yang tercela (takhalli) kemudian mengisinya dengan sifat sifat yang terpuji (tahalli) yang selanjutnya beroleh kenyataan Tuhan (tajjalli) atau mencapai muslim yang Ihsan atau mencapai muslim yang berma’rifat atau melihat Rabb dengan hatinya.\rAda dua kondisi yang dicapai oleh muslim yang ihsan atau muslim yang telah berma’rifat.\rKondisi minimal adalah mereka yang selalu merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla.\rKondiri terbaik adalah mereka yang dapat melihat Allah Azza wa Jalla dengan hati (ain bashiroh)\rApakah Ihsan ?\rقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِحْسَانُ قَالَ أَنْ تَخْشَى اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنَّكَ إِنْ لَا تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ","part":1,"page":452},{"id":453,"text":"Lalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu takut (takhsya / khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.’ (HR Muslim 11) Link: http://www.indoquran.com/index.php?surano=2&ayatno=3&action=display&option=com_muslim\rRasulullah bersabda “Iman paling afdol ialah apabila kamu mengetahui bahwa Allah selalu menyertaimu dimanapun kamu berada“. (HR. Ath Thobari)\rImam Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani,\r“Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”\rBeliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”\r“Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali.\rSayyidina Ali ra menjawab “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati”\rSebuah riwayat dari Ja’far bin Muhammad beliau ditanya: “Apakah engkau melihat Tuhanmu ketika engkau menyembah-Nya?” Beliau menjawab: “Saya telah melihat Tuhan, baru saya sembah”. Bagaimana anda melihat-Nya? dia menjawab: “Tidak dilihat dengan mata yang memandang, tapi dilihat dengan hati yang penuh Iman.”","part":1,"page":453},{"id":454,"text":"Muslim yang telah mencapai Ihsan atau muslim yang telah berma’rifat, minimal mereka yang selalu merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla atau yang terbaik mereka yang dapat melihat Allah dengan hati maka mereka mencegah dirinya dari melakukan sesuatu yang dibenciNya , menghindari perbuatan maksiat, menghindari perbuatan keji dan mungkar hingga terbentuklah muslim yang berakhlakul karimah sesuai dengan tujuan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diutus oleh Allah Azza wa Jalla\rRasulullah menyampaikan yang maknanya “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad).\rMereka yang dekat dengan Allah atau mereka mendapat kemuliaan atau yang kembali ke sisi Allah yang Maha Mulia adalah mereka yang mengikuti cahayaNya atau petunjukNya yakni mereka yang mempergunakan akal qalbu di jalan Allah dan RasulNya atau dengan kata lain adalah manusia yang bertaqwa.\rFirman Allah ta’ala yang artinya, “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu” (Al-Hujuraat [49]: 13 )\rIndikator manusia bertaqwa adalah minimal menjadi muslim berakhlakul atau muslim yang sholeh\rMereka yang mulia dan di sisi Allah Azza wa Jalla, mereka yang istiqomah di jalan yang lurus, mereka yang telah diberi ni’mat , mereka hanyalah terdiri dari 4 golongan manusia yakni para Nabi (yang utama adalah Rasulullah), para Shiddiqin, para Syuhada dan orang-orang sholeh.\rFirman Allah ta’ala yang artinya\r“Tunjukilah kami jalan yang lurus” (QS Al Fatihah [1]:6 )","part":1,"page":454},{"id":455,"text":"” (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada mereka….” (QS Al Fatihah [1]:7 )\r“Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya .” (QS An Nisaa [4]: 69 )\rMuslim yang terbaik untuk bukan Nabi , menjadi kekasih Allah (wali Allah) dengan mencapai shiddiqin dan bermacam tingkatan shiddiqin sebagaimana yang diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/14/2011/09/28/maqom-wali-allah/\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “sesungguhnya ada di antara hamba Allah (manusia) yang mereka itu bukanlah para Nabi dan bukan pula para Syuhada’. Mereka dirindukan oleh para Nabi dan Syuhada’ pada hari kiamat karena kedudukan (pangkat) mereka di sisi Allah Swt seorang dari shahabatnya berkata, siapa gerangan mereka itu wahai Rasulullah? Semoga kita dapat mencintai mereka. Nabi Saw menjawab dengan sabdanya: Mereka adalah suatu kaum yang saling berkasih sayang dengan anugerah Allah bukan karena ada hubungan kekeluargaan dan bukan karena harta benda, wajah-wajah mereka memancarkan cahaya dan mereka berdiri di atas mimbar-mimbar dari cahaya. Tiada mereka merasa takut seperti manusia merasakannya dan tiada mereka berduka cita apabila para manusia berduka cita”. (HR. an Nasai dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya)","part":1,"page":455},{"id":456,"text":"Hadits senada, dari ‘Umar bin Khathab ra bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya diantara hamba-hambaku itu ada manusia manusia yang bukan termasuk golongan para Nabi, bukan pula syuhada tetapi pada hari kiamat Allah ‘Azza wa Jalla menempatkan maqam mereka itu adalah maqam para Nabi dan syuhada.”Seorang laki-laki bertanya : “siapa mereka itu dan apa amalan mereka?”mudah-mudahan kami menyukainya. Nabi bersabda: “yaitu Kaum yang saling menyayangi karena Allah ‘Azza wa Jalla walaupun mereka tidak bertalian darah, dan mereka itu saling menyayangi bukan karena hartanya, dan demi Allah sungguh wajah mereka itu bercahaya, dan sungguh tempat mereka itu dari cahaya, dan mereka itu tidak takut seperti yang ditakuti manusia, dan tidak susah seperti yang disusahkan manusia,” kemudian beliau membaca ayat : ” Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS Yunus [10]:62 )\rMereka yang jauh dari Allah Azza wa Jalla adalah mereka yang berpaling dari Allah atau mereka yang memperturutkan hawa nafsu atau mereka yang berakhlak tidak baik.\rFirman Allah ta’ala yang artinya\r“…Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah..” (QS Shaad [38]:26 )\r“Katakanlah: “Aku tidak akan mengikuti hawa nafsumu, sungguh tersesatlah aku jika berbuat demikian dan tidaklah (pula) aku termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS An’Aam [6]:56 )\rMereka yang semakin jauh dariNya adalah mereka yang berilmu tapi tidak mendapatkan hidayah.","part":1,"page":456},{"id":457,"text":"Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang bertambah ilmunya tapi tidak bertambah hidayahnya, maka dia tidak bertambah dekat kepada Allah melainkan bertambah jauh“\rMereka yang semakin jauh dari Allah Azza wa Jalla adalah mereka yang berilmu namun terjerumus kekufuran dalam i’tiqod.\rImam besar ahli hadis dan tafsir, Jalaluddin As-Suyuthi dalam “Tanbiat Al-Ghabiy Bi Tabriat Ibn ‘Arabi” mengatakan “Ia (ayat-ayat mutasyabihat) memiliki makna-makna khusus yang berbeda dengan makna yang dipahami oleh orang biasa. Barangsiapa memahami kata wajh Allah, yad , ain dan istiwa sebagaimana makna yang selama ini diketahui (wajah Allah, tangan, mata, bertempat), ia kafir secara pasti.”\rImam Ahmad ar-Rifa’i (W. 578 H/1182 M) dalam kitabnya al-Burhan al-Muayyad, “Sunu ‘Aqaidakum Minat Tamassuki Bi Dzahiri Ma Tasyabaha Minal Kitabi Was Sunnati Lianna Dzalika Min Ushulil Kufri”, “Jagalah aqidahmu dari berpegang dengan dzahir ayat dan hadis mutasyabihat, karena hal itu salah satu pangkal kekufuran”.\rMereka menjadi kafir sebagaimana yang diuraikan oleh khataman Khulafaur Rasyidin, Imam Sayyidina Ali ra dalam riwayat berikut.\rSayyidina Ali Ibn Abi Thalib ra berkata : “Sebagian golongan dari umat Islam ini ketika kiamat telah dekat akan kembali menjadi orang-orang kafir.“\rSeseorang bertanya kepadanya : “Wahai Amirul Mukminin apakah sebab kekufuran mereka? Adakah karena membuat ajaran baru atau karena pengingkaran?”","part":1,"page":457},{"id":458,"text":"Sayyidina Ali Ibn Abi Thalib ra menjawab : “Mereka menjadi kafir karena pengingkaran. Mereka mengingkari Pencipta mereka (Allah Subhanahu wa ta’ala) dan mensifati-Nya dengan sifat-sifat benda dan anggota-anggota badan.” (Imam Ibn Al-Mu’allim Al-Qurasyi (w. 725 H) dalam Kitab Najm Al-Muhtadi Wa Rajm Al-Mu’tadi).\rMereka menjadi kafir sehingga mereka mempunyai rasa permusuhan kepada orang-orang beriman dan berkasih sayang dengan orang kafir.\rFirman Allah ta’ala yang artinya, “orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik” ( QS Al Maaidah [5]: 82 )\rMereka mempunyai rasa permusuhan sehingga mereka memerangi orang beriman adalah mereka yang memahami Al Qur’an dan As Sunnah dengan akal pikirannya sendiri. Mereka mengada-ada atau membuat perkara baru (bid’ah) dalam perkara larangan maupun kewajiban yang merupakan hak Allah ta’ala menetapkanNya","part":1,"page":458},{"id":459,"text":"Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya di masa kemudian akan ada peperangan di antara orang-orang yang beriman.” Seorang Sahabat bertanya: “Mengapa kita (orang-orang yang beriman) memerangi orang yang beriman, yang mereka itu sama berkata: ‘Kami telah beriman’.” Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Ya, karena mengada-adakan di dalam agama (mengada-ada dalam perkara yang merupakan hak Allah ta’ala menetapkannya yakni perkara kewajiban, larangan dan pengharaman) , apabila mereka mengerjakan agama dengan pemahaman berdasarkan akal pikiran, padahal di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)\rPerkara kewajiban dan larangan adalah hak Allah ta’ala menetapkannya.\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban (ditinggalkan berdosa), maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa larangan (dikerjakan berdosa)), maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu (dikerjakan berdosa), maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia.” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi).","part":1,"page":459},{"id":460,"text":"Jika ulama berfatwa dalam perkara kewajiban (ditinggalkan berdosa), perkara larangan (dikerjakan berdosa) dan perkara pengharaman (dikerjakan berdosa) wajib berlandaskan dengan apa yang telah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla\rMereka membuat-buat larangan yang tidak pernah dilarang oleh Allah Azza wa Jalla maupun oleh RasulNya. Mereka membuat larangan berdasarkan akal pikirannya yakni berdasarkan kaidah yang tidak berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah yakni “LAU KAANA KHOIRON LASABAQUNA ILAIHI” (Seandainya hal itu baik, tentu mereka, para sahabat akan mendahului kita dalam melakukannya). Kesalahpahaman kaidah ini telah kami uraikan dalam tulisan pada\rhttp://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/05/08/lau-kaana-khoiron/\rhttp://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/05/04/apa-kaitannya/\rhttp://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/04/20/jika-itu-baik/\rMereka “memerangi” orang beriman sebagaimana yang dialami oleh mufti mesir Profesor Doktor Ali Jum`ah yang mempertahankan fatwa bahwa Niqab ( Cadar / Purdah) adalah suatu kebiasaan yang di bolehkan dan bukan merupakan satu kewajiban (ditinggalkan berdosa) sebagaimana kesepakatan jumhur ulama bahwa wajah dan kedua telapak tangan bukan termasuk aurat bagi perempuan. Hal ini diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/30/hukum-penutup-muka/\rAndaikan Niqab ( Cadar / Purdah) sebuah perkara syariat atau kewajiban yang jika ditinggalkan berdosa maka akan bertentangan dengan larangan menutup muka ketika ihram bagi kaum wanita. Adalah hal yang mustahil dalam perkara syariat ada yang saling bertentangan.","part":1,"page":460},{"id":461,"text":"Firman Allah Azza wa Jalla,\rأَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ اخْتِلاَفاً كَثِيراً\r“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ? Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS An Nisaa 4 : 82)\rMereka “memerangi” orang beriman sebagaimana perintah ulama mereka dalam kitabnya berjudul “al-Majmu’ al-mufid min ‘Aqidati al Tauhid” hal. 55\rلاينفع اسلامكم اذا أعلنتم الحرب العشواء على هذه الطرق الصوفية فقضيتم عليها قاتلوا هم قبل أن تقاتلوا اليهود والمجوس\r“Tidak berguna Islam kalian sebelum kalian mengumumkan perang terhadap torikoh sufi dan kalian membantainya, perangilah mereka sebelum memerangi yahudi dan majusi”\rPerintah yang diada-adakan (bid’ah) yang tidak pernah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla maupun tidak pernah disampaikan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Tentang kaum sufi telah dijelaskan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/05/07/kaum-sufi/ dan http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/29/masuk-surga/ Sedangkan tentang amalan dan konsep dasar tasawuf telah dijelaskan dalam tulisan sebelumnya pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/25/amalan-dasar-tasawuf/\rContoh lain mereka “memerangi” orang beriman sebagaimana yang terurai dalam tulisan pada http://www.aswaja-nu.com/2010/01/dialog-syaikh-al-syanqithi-vs-wahhabi_20.html atau pada www.fb.com/photo.php?fbid=220630637981571&set=a.220630511314917.56251.100001039095629\rFirman Allah Azza wa Jalla yang artinya,","part":1,"page":461},{"id":462,"text":"“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. ( Qs. Al-Hujjarat :10)\r““Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” (QS Al Ma’iadah [5]:54)\rDiriwayatkan hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Demi Allah, kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Belum sempurna keimanan kalian hingga kalian saling mencintai.” (HR Muslim)\rWassalam\rZon di Jonggol, Kab Bogor 16830\r0963. Seharusnya mereka menjadi kiblat ilmu\rMalapetaka telah terjadi, para ulama di wilayah kerajaan dinasti Saudi yang seharusnya menjadi kiblat ilmu kaum muslim namun mereka boleh jadi terkena hasutan atau ghazwul fikri (perang pemahaman) oleh kaum Zionis Yahudi melalui pusat-pusat kajian Islam yang mereka dirikan atau melalui ulama yang “dibentuk” atau dipengaruhi oleh mereka.\rKaum Yahudi , pada masa kini lebih dikenal sebagai kaum Zionis Yahudi atau juga dikenal dengan lucifier, freemason atau iluminati adalah mereka yang mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman","part":1,"page":462},{"id":463,"text":"Telah dijelaskan tentang adanya kaum Zionis Yahudi dalam firman Allah ta’ala yang artinya “Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa (kitab) yang ada pada mereka, sebahagian dari orang-orang yang diberi kitab (Taurat) melemparkan kitab Allah ke belakang (punggung)nya, seolah-olah mereka tidak mengetahui (bahwa itu adalah kitab Allah) dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir).” (QS Al Baqarah [2]: 101-102 )\rPada hakikatnya kaum Zionis Yahudi adalah pengikut syaitan yang dimurkai oleh Allah Azza wa Jalla. Kaum Zionis Yahudi berupaya menjerumuskan manusia kedalam kekufuran.\rKaum Zionis Yahudi telah berhasil mensesatkan kaum nasrani.","part":1,"page":463},{"id":464,"text":"Salah satunya adalah Paulus (Yahudi dari Tarsus), pengikut Rasul setelah “bertobat” , yang mengubah esensi dasar kekristenan. Paulus dijadikan seorang Santo (orang suci) oleh seluruh gereja yang menghargai santo, termasuk Katolik Roma, Ortodoks Timur, dan Anglikan, dan beberapa denominasi Lutheran. Dia berbuat banyak untuk kemajuan Kristen di antara para orang-orang bukan Yahudi, dan dianggap sebagai salah satu sumber utama dari doktrin awal Gereja, dan merupakan pendiri kekristenan bercorak Paulin (bercorak Paulus). Surat-suratnya menjadi bagian penting Perjanjian Baru. Banyak yang berpendapat bahwa Paulus memainkan peranan penting dalam menjadikan Kristen sebagai agama yang berdiri sendiri alias “agama turunan”, dan bukan sebagai sekte dari Yudaisme.\rKaum Yahudi, pada zaman Rasulullah berusaha untuk mengadu domba manusia yang telah bersyahadat sehingga timbul perselisihan sebagaimana kisah suku Aus dan Khajraj.\rPada masa Jahiliyah kedua suku tersebut saling bermusuhan dan berperang selama 120 tahun. Setelah mereka memeluk Islam Allah menyatukan hati mereka sehingga mereka menjadi bersaudara dan saling menyayangi.\rKetika orang-orang Aus dan Khajraj sedang berkumpul dalam satu majlis, kemudian ada seorang Yahudi yang melalui mereka, lalu ia mengungkit-ungkit permusuhan dan peperangan mereka pada bani Bu’ats. Maka permusuhan diantara kedua suku tersebut mulai memanas kembali, kemarahan mulai timbul, sebagian mencerca sebagian lain dan keduanya saling mengangkat senjata, lalu ketegangan tersebut disampaikan kepada Nabi shallallahu alaihi wa salam.","part":1,"page":464},{"id":465,"text":"Kemudian Beliau mendatangi mereka untuk menenangkan dan melunakkan hati mereka, seraya bersabda: “Apakah dengan panggilan-panggilan jahiliyah, sedang aku masih berada di tengah-tengah kalian?.” Lalu beliau membacakan Ali Imron ayat 103 yang artinya, ‘Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah secara berjama’ah, dan janganlah kamu bercerai berai , dan ingatlah nikmat Allah atas kamu semua ketika kamu bermusuh-musuhan maka Dia (Allah) menjinakkan antara hati-hati kamu maka kamu menjadi bersaudara sedangkan kamu diatas tepi jurang api neraka, maka Allah mendamaikan antara hati kamu. Demikianlah Allah menjelaskan ayat ayatnya agar kamu mendapat petunjuk”. Setelah itu mereka menyesal atas apa yang telah terjadi dan berdamai kembali seraya berpeluk-pelukan dan meletakan senjata masing-masing.\rKaum Zionis Yahudi menjerumuskan kaum muslim kedalam kekufuran melalui cara mendalami Al Qur'an dan As Sunnah dengan pemahaman secara ilmiah atau pemahaman secara dzahir (pemahaman apa yang tersurat) karena mereka tidak mungkin mendapatkan pemahaman secara hikmah (pemahaman apa yang tersirat).\rPemahaman secara hikmah hanya dikaruniakan Allah kepada manusia yang dikehendakiNya\rAllah Azza wa Jalla berfirman yang artinya “Allah menganugerahkan al hikmah (pemahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya Ulil Albab yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)“. (QS Al Baqarah [2]:269 ).","part":1,"page":465},{"id":466,"text":"Sedangkan kaum Zionis Yahudi bukanlah kaum yang dikehendakiNya melainkan kaum yang dimurkaiNya\rIbnu Mardawih meriwayatkan dari Abu Dzar, dia berkata, “Saya bertanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam tentang orang-orang yang dimurkai“, beliau bersabda, ‘Kaum Yahudi.’ Saya bertanya tentang orang-orang yang sesat, beliau bersabda, “Kaum Nasrani.“\rHamad bin Salamah meriwayatkan dari Adi bin Hatim, dia berkata, “Saya bertanya kepada RasulullahShallallahu alaihi wasallam ihwal ‘bukan jalannya orang-orang yang dimurkai’. Beliau bersabda, “Yaitu kaum Yahudi.’ Dan bertanya ihwal ‘bukan pula jalannya orang-orang yang sesat’. “Beliau bersabda, ‘Kaum Nasrani adalah orang-orang yang sesat.’\rTujuan kaum Zionis Yahudi adalah menjadikan mereka sebagai teman dan pemimpin dunia.\rFirman Allah Azza wa Jalla : “Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui“. (QS Al Mujaadilah [58]:14 )\r“Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali (pemimpin) dan meninggalkan orang-orang mu’min. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah…” (Qs. Ali-Imran : 28)","part":1,"page":466},{"id":467,"text":"“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak, atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.” (Qs. Al Mujadilah : 22)\r“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya” , (QS Ali Imran, 118)\r“Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati“. (QS Ali Imran, 119)\rSalah satu cara fitnah/hasutan atau ghazwul fikri (perang pemahaman) yang dilakukan oleh kaum Zionis Yahudi agar kaum muslim terjerumus kedalam kekufuran dan timbulnya perselisihan di antara sesama muslim adalah dengan mengangkat kembali pemahaman ala pemahaman ulama Ibnu Taimiyyah.","part":1,"page":467},{"id":468,"text":"Timbul perselisihan di antara sesama muslim dengan cara mengangkat kembali pemahaman ulama Ibnu Taimiyyah dalam dua sisi yang berlawanan. Sisi pertama adalah sebagaimana pemahaman ulama Muhammad bin Abdul Wahhab dengan ditandai mereka membenci berkelompok atau berorganisasi atau berjamaah minal muslim. Sisi kedua adalah sebagaimana pemahaman ulama Jamaludin Al-Afghany bersama muridnya ulama Muhammad Abduh dan dilanjutkan oleh ulama seperti ulama Rasjid Ridha ditandai mereka tidak membenci berkelompok atau berorganisasi atau berjama'ah minal muslimin dan dikenal dengan upaya pergerakan (harakah) atau perpolitikan (siyasi).\rContoh perselisihan diantara dua sisi pemahaman ulama Ibnu Taimiyyah dengan adanya fatwa ketua Lajnah Daimah, Ulama Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (Salafi Wahabi) tentang Ikhwanul Muslimin, sebagaimana yang dapat kita ketahui dalam tulisan pada\rhttp://nasihatonline.wordpress.com/2010/09/24/fatwa-fatwa-ulama-ahlus-sunnah-tentang-kelompok-kelompok-islam-kontemporer/ Contoh lainnya telah diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/21/penyebab-perselisihan/\rNamun kedua-dua jalur pemahaman tersebut telah dihasut untuk tidak lagi metaati atau mengikuti pemahaman pemimpin ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak) alias Imam Mazhab yang empat. Mereka dihasut untuk memahami Al Qur'an dan As Sunnah dengan akal pikiran sendiri.","part":1,"page":468},{"id":469,"text":"Hal serupa, kaum Zionis Yahudi menghasut kaum liberalisme untuk memahami Al Qur'an dan As Sunnah dengan akal pikiran sendiri, yang dikatakan oleh mereka sebagai pemahaman yang menyesuaikan dengan keadaan zaman (modernisasi/pembaharuan) atau pemahaman bersifat pragmatis (kepentingan). Sebagaimana contoh diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/04/28/mengangkat-taimiyah/\rSalah satunya adalah perwira Yahudi Inggris bernama Edward Terrence Lawrence yang dikenal oleh ulama jazirah Arab sebagai Laurens Of Arabian. Laurens menyelidiki dimana letak kekuatan umat Islam dan berkesimpulan bahwa kekuatan umat Islam terletak kepada ketaatan dengan mazhab (bermazhab) dan istiqomah mengikuti tharikat-tharikat tasawuf. Laurens mengupah ulama-ulama yang anti tharikat dan anti mazhab untuk menulis sebuah buku yang menyerang tharikat dan mazhab. Buku tersebut diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan dibiayai oleh pihak orientalis.\rPara penguasa dinasti Saudi dan para ulama menyusun kurikulum pendidikan agama bekerjasama dengan Amerika yang dibelakangnya adalah kaum Zionis Yahudi sebagaimana yang telah diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/25/2011/02/07/muslim-bukanlah-ekstrimis/","part":1,"page":469},{"id":470,"text":"Abuya Prof. DR. Assayyid Muhammad bin Alwi Almaliki Alhasani dalam makalahnya dalam pertemuan nasional dan dialog pemikiran yang kedua, 5 s.d. 9 Dzulqo’dah 1424 H di Makkah al Mukarromah, menyampaikan bahwa dalam kurikulum tauhid kelas tiga Tsanawiyah (SLTP) cetakan tahun 1424 Hijriyyah di Arab Saudi berisi klaim dan pernyataan bahwa kelompok Sufiyyah (aliran–aliran tasawuf) adalah syirik dan keluar dari agama. Kutipan makalah selengkapnya ada pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/08/18/ekstrem-dalam-pemikiran-agama/\rPara ulama di wilayah kerajaan dinasti Saudi tidak lagi mengikuti pemahaman para pemimpin ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak) alias Imam Mazhab yang empat yang bertalaqqi (mengaji) langsung kepada Salafush Sholeh. Mereka lebih menyandarkan kepada ulama-ulama yang memahami Al Qur’an dan As Sunnah dengan belajar sendiri (secara otodidak) melalui cara muthola’ah (menelaah kitab) dan memahaminya dengan akal pikiran sendiri (pemahaman secara ilmiah).\rPara ulama telah menyampaikan bahwa jika memahami Al Qur’an dan As Sunnah dengan belajar sendiri (secara otodidak) melalui cara muthola’ah (menelaah kitab) dan memahaminya dengan akal pikiran sendiri, kemungkinan besar akan berakibat negative seperti,\r1. Ibadah fasidah (ibadah yang rusak) , ibadah yang kehilangan ruhnya atau aspek bathin\r2. Tasybihillah Bikholqihi , penyerupaan Allah dengan makhluq Nya","part":1,"page":470},{"id":471,"text":"Ibadah fasidah (ibadah yang rusak) ditimbulkan dari kesalahpahaman misalkan kesalapahaman tentang bid’ah yang dapat menjerumuskan kedalam kekufuran sebagaimana yang diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/06/2011/11/03/ahli-bidah-sebenarnya/ atau kesalahpahaman berakibat pengingkaran hadits Rasulullah sebagaimana contoh yang diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/11/22/tidak-cukup/\rTasybihillah Bikholqihi , penyerupaan Allah dengan makhluq Nya berakibat terjerumus kedalam kekufuran.\rImam besar ahli hadis dan tafsir, Jalaluddin As-Suyuthi dalam “Tanbiat Al-Ghabiy Bi Tabriat Ibn ‘Arabi” mengatakan “Ia (ayat-ayat mutasyabihat) memiliki makna-makna khusus yang berbeda dengan makna yang dipahami oleh orang biasa. Barangsiapa memahami kata wajh Allah, yad , ain dan istiwa sebagaimana makna yang selama ini diketahui (wajah Allah, tangan, mata, bertempat), ia kafir secara pasti.”\rImam Ahmad ar-Rifa’i (W. 578 H/1182 M) dalam kitabnya al-Burhan al-Muayyad, “Sunu ‘Aqaidakum Minat Tamassuki Bi Dzahiri Ma Tasyabaha Minal Kitabi Was Sunnati Lianna Dzalika Min Ushulil Kufri”, “Jagalah aqidahmu dari berpegang dengan dzahir ayat dan hadis mutasyabihat, karena hal itu salah satu pangkal kekufuran”.\rBegitupula peringatan yang disampaikan oleh khataman Khulafaur Rasyidin, Imam Sayyidina Ali ra dalam riwayat berikut,\rSayyidina Ali Ibn Abi Thalib ra berkata : “Sebagian golongan dari umat Islam ini ketika kiamat telah dekat akan kembali menjadi orang-orang kafir.“","part":1,"page":471},{"id":472,"text":"Seseorang bertanya kepadanya : “Wahai Amirul Mukminin apakah sebab kekufuran mereka? Adakah karena membuat ajaran baru atau karena pengingkaran?”\rSayyidina Ali Ibn Abi Thalib ra menjawab : “Mereka menjadi kafir karena pengingkaran. Mereka mengingkari Pencipta mereka (Allah Subhanahu wa ta’ala) dan mensifati-Nya dengan sifat-sifat benda dan anggota-anggota badan.” (Imam Ibn Al-Mu’allim Al-Qurasyi (w. 725 H) dalam Kitab Najm Al-Muhtadi Wa Rajm Al-Mu’tadi).\rUlama-ulama terdahulu juga telah memperingatkan agar menghindari kitab-kitab ulama Ibnu Taimiyyah karena pemahamannya telah menyelisihi pemahaman Imam Mazhab yang Empat, sebagaimana yang disampaikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2010/02/ahlussunnahbantahtaimiyah.pdf maupun pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/07/2011/07/28/semula-bermazhab-hambali/","part":1,"page":472},{"id":473,"text":"Begitu juga ulama-ulama negeri kita telah memperingatkan kita untuk meninggalkan pemahaman Ibnu Taimiyyah dan para pengikutnya seperti contohnya Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, ulama besar Indonesia yang pernah menjadi imam, khatib dan guru besar di Masjidil Haram, sekaligus Mufti Mazhab Syafi’i pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Menurut Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau, ulama-ulama seperti ulama Ibnu Taimiyyah, Ibnu Qoyyim al Jauziah dan Muhammad bin Abdul Wahhab telah keluar daripada pemahaman Ahlussunnah wal Jama’ah dan dan menyalahi pemahaman para pemimpin ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak) alias Imam Mazhab. Antara lain tulisannya ialah ‘al-Khiththah al-Mardhiyah fi Raddi fi Syubhati man qala Bid’ah at-Talaffuzh bian-Niyah’, ‘Nur al-Syam’at fi Ahkam al-Jum’ah’ dan lain-lain.\rKaum Zionis Yahudi menghasut (ghazwul fikri) kaum muslim agar berijtihad masing-masing terhadap Al Qur’an dan Hadits tanpa memperdulikan kompetensi, dipergunakanlah semangat ” mendobrak” pintu ijtihad ala ulama Ibnu Taimiyah walaupun beliau tidak dikenal sebagai Imam Mujtahid Mutlak.\rMereka merasa mengikuti pemahaman Salafush Sholeh namun pada kenyataannya mereka tidak lebih dari mengikuti pemahaman ulama-ulama seperti ulama Ibnu Taimiyyah , ulama Ibnu Qoyyim Al Jauziah (pengikut Ibnu Taimiyyah), ulama Muhammad bin Abdul Wahhab (pengikut Ibnu Taimiyyah, pendiri sekte Wahabi) dan seperti ulama Al Albani (pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab) dan para pengikutnya.","part":1,"page":473},{"id":474,"text":"Hal yang harus kita ingat bahwa mereka bukanlah pemimpin ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak) sehingga pemahaman mereka tidaklah patut diikuti\rBahkan ulama Al Albani (pengikut ulama Muhammad bin Abdul Wahhab) ada mengingkari hadits sebagaimana yang diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/11/22/tidak-cukup/ dan pengingkarannya terhadap hadits-hadits lain diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2010/04/inilahahlussunnahwaljamaah.pdf\rPada hakikatnya mereka mengikuti pemahaman ulama Ibnu Taimiyyah sebagaimana ulama Muhammad bin Abdul Wahhab sebagaimana yang diriwayatkan dalam tulisan pada http://arisandi.com/?p=964 berikut kutipannya\r***awal kutipan****\rDi antara karya-karya ulama terdahulu yang paling terkesan dalam jiwanya adalah karya-karya Syeikh al-Islam Ibnu Taimiyah. Beliau adalah mujaddid besar abad ke 7 Hijriyah yang sangat terkenal.\rDemikianlah meresapnya pengaruh dan gaya Ibnu Taimiyah dalam jiwanya, sehingga Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab bagaikan duplikat(salinan) Ibnu Taimiyah. Khususnya dalam aspek ketauhidan, seakan-akan semua yang diidam-idamkan oleh Ibnu Taimiyah semasa hidupnya yang penuh ranjau dan tekanan dari pihak berkuasa, semuanya telah ditebus dengan kejayaan Ibnu `Abdul Wahab yang hidup pada abad ke 12 Hijriyah itu.","part":1,"page":474},{"id":475,"text":"Setelah beberapa lama menetap di Mekah dan Madinah, kemudian beliau berpindah ke Basrah. Di sini beliau bermukim lebih lama, sehingga banyak ilmu-ilmu yang diperolehinya, terutaman di bidang hadith danmusthalahnya, fiqh dan usul fiqhnya, gramatika (ilmu qawa’id) dan tidak ketinggalan pula lughatnya semua.\rLengkaplah sudah ilmu yang diperlukan oleh seorang yang pintar yang kemudian dikembangkan sendiri melalui metode otodidak (belajar sendiri) sebagaimana lazimnya para ulama besar Islam mengembangkan ilmu-ilmunya. Di mana bimbingan guru hanyalah sebagai modal dasar yang selanjutnya untuk dapat dikembangkan dan digali sendiri oleh yang bersangkutan.\r****akhir kutipan*****\rMemang ulama Ibnu Taimiyyah membaca Al Qur’an , Tafsir bil Matsur, Hadits Shohih, Sunan, Musnad, lalu ulama Ibnu Taimiyyah pun berjtihad dengan pendapat beliau.\rApa yang ulama Ibnu Taimiyyah katakan tentang kitab-kitab tersebut, pada hakikatnya adalah hasil ijtihad dan ra’yu beliau sendiri.\rSumbernya memang Al Quran dan As Sunnah, tapi apa yang ulama Ibnu Taimiyyah sampaikan semata-mata lahir dari kepala beliau sendiri. Setiap upaya pemahaman bisa benar dan bisa pula salah. Kemungkinan salahnya semakin besar jika yang melakukan upaya pemahaman (ijtihad) tidak dikenal oleh jumhur ulama berkompetensi sebagai Imam Mujtahid Mutlak.","part":1,"page":475},{"id":476,"text":"Kesalahpahaman besar telah terjadi ketika ulama Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa apa yang beliau pahami dan sampaikan adalah pemahaman Salafush Sholeh. Jika apa yang ulama Ibnu Taimiyyah pahami dan sampaikan sesuai dengan pemahaman Salafush Sholeh tentu tidaklah masalah namun ketika apa yang ulama Ibnu Taimiyyah pahami dan sampaikan tidak sesuai dengan pemahaman sebenarnya Salafush Sholeh maka pada hakikatnya ini termasuk fitnah terhadap para Salafush Sholeh. Fitnah akhir zaman.\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam memberikan nasehat kepada kaum muslim bila telah terjadi fitnah antara lain\rDiriwayatkan dari Ibnu Abi al-Shoif dalam kitab Fadhoil al-Yaman, dari Abu Dzar al-Ghifari, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Kalau terjadi fitnah pergilah kamu ke negeri Yaman karena disana banyak terdapat keberkahan’\rDiriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah al-Anshari, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Dua pertiga keberkahan dunia akan tertumpah ke negeri Yaman. Barang siapa yang akan lari dari fitnah, pergilah ke negeri Yaman, Sesungguhnya di sana tempat beribadah’\rAbu Said al-Khudri ra meriwayatkan hadits dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, ‘Pergilah kalian ke Yaman jika terjadi fitnah, karena kaumnya mempunyai sifat kasih sayang dan buminya mempunyai keberkahan dan beribadat di dalamnya mendatangkan pahala yang banyak’","part":1,"page":476},{"id":477,"text":"Abu Musa al-Asy’ari meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, ‘Allah akan mendatangkan suatu kaum yang dicintai-Nya dan mereka mencintai Allah. Bersabda Nabi shallallahu alaihi wasallam : mereka adalah kaummu Ya Abu Musa, orang-orang Yaman’.\rFirman Allah ta’ala yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” (QS Al Ma’iadah [5]:54)\rDari Jabir, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ditanya mengenai ayat tersebut, maka Rasul menjawab, ‘Mereka adalah ahlu Yaman dari suku Kindah, Sukun dan Tajib’.\rIbnu Jarir meriwayatkan, ketika dibacakan tentang ayat tersebut di depan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau berkata, ‘Kaummu wahai Abu Musa, orang-orang Yaman’. Dalam kitab Fath al-Qadir, Ibnu Jarir meriwayat dari Suraikh bin Ubaid, ketika turun ayat 54 surat al-Maidah, Umar berkata, ‘Saya dan kaum saya wahai Rasulullah’. Rasul menjawab, ‘Bukan, tetapi ini untuk dia dan kaumnya, yakni Abu Musa al-Asy’ari’.","part":1,"page":477},{"id":478,"text":"Para Habib dan para Sayyid , keturunan cucu Rasulullah, telah menyarankan merubah kiblat ilmu kepada para ulama Hadramaut, Yaman dan ulama-ulama yang istiqomah mengikuti apa yang telah disampaikan pemimpin ijtihad kaum muslim\r(imam mujtahid mutlak) alias Imam Mazhab yang empat.\rKita telah mendapatkan perselisihan karena perbedaan pamahaman. Oleh karenanya marilah kita kembalikan kepada Al Qur’an dan As Sunnah.\rFirman Allah ta’ala yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya“. (QS An Nisaa [4]:59 )\rPermasalahannya adalah mengembalikan berdasarkan pemahaman siapa ?\rKita ikuti Sunnah Rasulullah bahwa jika kita mendapatkan perselisihan karena perbedaan pemahaman / pendapat maka agar selamat dari kesesatan kita disuruh untuk mengikuti as-sawad al a’zham atau mengikuti kesepakatan jumhur ulama\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam menyampaikan, “Sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat pada kesesatan. Oleh karena itu, apabila kalian melihat terjadi perselisihan maka ikutilah as-sawad al a’zham (jumhur ulama).” (HR. Ibnu Majah, Abdullah bin Hamid, at Tabrani, al Lalika’i, Abu Nu’aim. Menurut Al Hafidz As Suyuthi dalam Jamius Shoghir, ini adalah hadits Shohih)","part":1,"page":478},{"id":479,"text":"Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari XII/37 menukil perkataan Imam Thabari rahimahullah yang menyatakan: “Berkata kaum (yakni para ulama), bahwa jamaah adalah Sawadul A’dzam.\rKemudian diceritakan dari Ibnu Sirin dari Abi Mas’ud, bahwa beliau mewasiatkan kepada orang yang bertanya kepadanya ketika ‘Utsman dibunuh, untuk berpegang teguh pada Jamaah, karena Allah tidak akan mengumpulkan umat Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam kesesatan. Dan dalam hadits dinyatakan bahwa ketika manusia tidak mempunyai imam, dan manusia berpecah belah menjadi kelompok-kelompok maka janganlah mengikuti salah satu firqah/sekte. Hindarilah semua firqah/sekte itu jika kalian mampu untuk menghindari terjatuh ke dalam keburukan”.\rJangan sekali-kali mengikuti pemahaman sebuah sekte atau kelompok yang menyempal dari kaum muslimin walaupun mereka mengaku-aku sebagai yang dimaksud al ghuroba karena boleh jadi mereka adalah yang dimaksud oleh Rasulullah sebagai “orang muda” bagaikan meluncurnya anak panah dari busurnya. Selengkapnya dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/15/orang-orang-muda/\rDari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, \"hendaklah kamu selalu bersama jamaah muslimin dan imam mereka\"\rAku bertanya; kalau tidak ada jamaah muslimin dan imam bagaimana?","part":1,"page":479},{"id":480,"text":"Nabi menjawab; hendaklah kau jauhi seluruh firqah (kelompok-kelompok / sekte) itu, sekalipun kau gigit akar-akar pohon hingga kematian merenggutmu kamu harus tetap seperti itu. (Riwayat Bukhari VI615-616, XIII/35. Muslim XII/135-238 Baghawi dalam Syarh Sunnah XV/14. Ibnu Majah no. 3979, 3981. Hakim IV/432. Abu Dawud no. 4244-4247.Baghawi XV/8-10. Ahmad V/386-387 dan hal. 403-404, 406 dan hal. 391-399)\rCiri-ciri ulama yang pemahamannya menyebabkan perselisihan telah diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/19/ciri-ciri-mereka/\rDari dahulu sampai sekarang , jumhur ulama telah sepakat bahwa ulama yang berkompetensi sebagai pemimpin ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak) adalah para Imam Mazhab yang empat. Memang ada Imam Mazhab yang lain selain yang berempat namun pada akhirnya pendapat / pemahaman mereka karena tidak komprehensive atau tidak menyeluruh sehingga kaum muslim mencukupkannya pada Imam Mazhab yang empat. Contoh ulama yang masih berpegang teguh kepada pemahaman/pendapat Imam Mazhab adalah Mufti Mesir Profesor Doktor Ali Jum`ah sebagaimana contoh yang terurai dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/30/hukum-penutup-muka/\rGigitlah As Sunnah dan sunnah Khulafaur Rasyidin berdasarkan pemahaman pemimpin ijtihad (Imam Mujtahid) / Imam Mazhab dan penjelasan dari para pengikut Imam Mazhab sambil merujuk darimana mereka mengambil yaitu Al Quran dan as Sunnah. Janganlah memahaminya dengan akal pikiran sendiri atau mengikut pemahaman ulama yang tidak dikenal berkompetensi sebagai Imam Mujtahid Mutlak.","part":1,"page":480},{"id":481,"text":"Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa menguraikan Al Qur’an dengan akal pikirannya sendiri dan merasa benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan”. (HR. Ahmad)\rIbnul Mubarak berkata :”Sanad merupakan bagian dari agama, kalaulah bukan karena sanad, maka pasti akan bisa berkata siapa saja yang mau dengan apa saja yang diinginkannya.” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqoddimah kitab Shahihnya 1/47 no:32 )\rDari Ibnu Abbas ra Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda…”Barangsiapa yang berkata mengenai Al-Qur’an tanpa ilmu maka ia menyediakan tempatnya sendiri di dalam neraka” (HR.Tirmidzi)\rImam Syafi’i ~rahimahullah mengatakan “tiada ilmu tanpa sanad”.\rAl-Hafidh Imam Attsauri ~rahimullah mengatakan “Penuntut ilmu tanpa sanad adalah bagaikan orang yang ingin naik ke atap rumah tanpa tangga”\rBahkan Al-Imam Abu Yazid Al-Bustamiy , quddisa sirruh (Makna tafsir QS.Al-Kahfi 60) ; “Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya syetan” Tafsir Ruhul-Bayan Juz 5 hal. 203\rSanad ilmu / sanad guru sama pentingnya dengan sanad hadits\rSanad hadits adalah otentifikasi atau kebenaran sumber perolehan matan/redaksi hadits dari lisan Rasulullah\rSedangkan Sanad ilmu atau sanad guru adalah otentifikasi atau kebenaran sumber perolehan penjelasan baik Al Qur’an maupun As Sunnah dari lisan Rasulullah.","part":1,"page":481},{"id":482,"text":"Kita memahami Al Qur’an dan As Sunnah berdasarkan apa yang kita dengar dari apa yang disampaikan oleh ulama-ulama terdahulu yang tersambung dengan lisannya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Inilah yang dinamakan bertalaqqi (mengaji) dengan ulama bersanad ilmu atau bersanad guru tersambung kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.\rHal yang harus kita ingat bahwa Al Qur’an pada awalnya tidaklah dibukukan. Ayat-ayat Al Qur’an hanya dibacakan dan dihafal (imla) kemudian dipahami bersama dengan yang menyampaikannya.\rHal yang akan ditanyakan seperti\rApakah yang kamu pahami telah disampaikan / dikatakan oleh ulama-ulama terdahulu yang tersambung lisannya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ?\rSiapakah ulama-ulama terdahulu yang mengatakan hal itu ?\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda yang artinya “Sampaikan dariku sekalipun satu ayat dan ceritakanlah (apa yang kalian dengar) dari Bani Isra’il dan itu tidak apa (dosa). Dan siapa yang berdusta atasku dengan sengaja maka bersiap-siaplah menempati tempat duduknya di neraka” (HR Bukhari)\rHakikat hadits tersebut adalah kita hanya boleh menyampaikan satu ayat yang diperoleh dari orang yang disampaikan secara turun temurun sampai kepada lisannya Sayyidina Muhammad bin Abdullah Shallallahu alaihi wasallam.","part":1,"page":482},{"id":483,"text":"Kita tidak diperkenankan menyampaikan apa yang kita pahami dengan akal pikiran sendiri dengan cara membaca dan memahami namun kita sampaikan apa yang kita dengar dan pahami dari lisan mereka yang sanad ilmunya tersambung kepada lisannya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam karena hanya perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang merupakan kebenaran atau ilmuNya.\rContoh sanad Ilmu atau sanad guru Imam Syafi’i ra\r1. Baginda Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam\r2. Baginda Abdullah bin Umar bin Al-Khottob ra\r3. Al-Imam Nafi’, Tabi’ Abdullah bin Umar ra\r4. Al-Imam Malik bin Anas ra\r5. Al-Imam Syafei’ Muhammad bin Idris ra\rAl Imam Syafi’i ra mendapatkan penjelasan Al Qur’an dan As Sunnah dari lisannya Al-Imam Malik bin Anas ra,\rAl-Imam Malik bin Anas ra mendapatkan penjelasan Al Qur’an dan As Sunnah dari lisannya Al-Imam Nafi’, Tabi’ Abdullah bin Umar ra,\rAl-Imam Nafi’, Tabi’ Abdullah bin Umar ra mendapatkan penjelasan Al Qur’an dan As Sunnah dari lisannya Baginda Abdullah bin Umar bin Al-Khottob ra,\rBaginda Abdullah bin Umar bin Al-Khottob ra mendapatkan penjelasan Al Qur’an dan As Sunnah dari lisannya Baginda Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam\rSalah satu cara mempertahankan sanad ilmu atau sanad guru adalah dengan mengikuti pendapat/pemahaman pemimpin ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak) alias Imam Mazhab yang empat dan penjelasan dari para pengikut Imam Mazhab sambil merujuk darimana mereka mengambil yaitu Al Quran dan as Sunnah.","part":1,"page":483},{"id":484,"text":"Ulama yang tidak mau bermazhab , pada hakikatnya telah memutuskan rantai sanad ilmu atau sanad guru, berhenti pada akal pikirannya sendiri dimana didalamnya ada unsur hawa nafsu atau kepentingan.\rWassalam\rZon di Jonggol, Kab Bogor 16830\r0964. Tanda tanda seorang muslim telah beragama dengan baik dan benar\rSecara kasat mata kaum Zionis Yahudi merusak akhlak kaum muslim melalui pornografi, narkotika dan miras, liberalisme, gaya hidup bebas, gaya hidup individu termasuk nasionalisme, hedonisme, dll\rNasionalisme\rNasionalisme adalah individualisme dalam skala negara. Kaum muslim dibatasi oleh negara. Jadi bisa saja antara dua negara seperti Indonesia dengan Malaysia berperang padahal yang berperang adalah sama-sama muslim.\rDahulu kita “terikat” pada kesatuan dalam aqidah (aqidah state) atau jama’atul muslimin (jama’ah kaum muslim) dan berakhir pada masa kekhalifahan Turki Ustmani.\rSebuah episode sejarah keemasan Turki saat dipimpin oleh Khalifah Sultan Abdul Hamid II di awal abad ke-20. Saat itu Theodore Hertzl, pemimpin Gerakan Zionis Internasional, mendatangi Abdul Hamid untuk meminta agar Turki Utsmani mau membagi sebagian tanah Palestina untuk dijadikan negara Israel.\rPermintaan Hertzl ini disertai dengan bujuk rayu dan janji, jika keinginannya dituruti maka Turki dan juga Sultan Abdul Hamid II akan diberi hadiah sangat besar oleh gerakan Zionis Internasional.","part":1,"page":484},{"id":485,"text":"Namun dengan sikap tegas Abdul Hamid mengusir Hertzl seraya berkata, “Turki tidak akan pernah sekali pun menyerahkan Tanah Palestina kepada kamu hai orang-orang Yahudi. Tanah Palestina bukanlah milik Turki, melainkan milik seluruh umat Islam dunia. Jangan bermimpi bisa menginjak Tanah Palestina selama saya masih hidup!”\rSebab itu, Hertzl dan para tokoh Zionis lainnya merancang suatu konspirasi untuk menghancurkan kekhalifahan Islam Turki Utsmani sehingga kekhalifahan ini benar-benar ambruk pada tahun 1924 dan Turki pun diubah menjadi negeri Sekuler.\rKeberakhiran kekhalifahan pada dasarnya karena terpengaruh paham individualisme yang dilancarkan oleh kaum Zionis Yahudi\rPaham individualisme untuk memecah belah umat Islam atau upaya meruntuhkan Ukhuwah Islamiyah. Kita telah terpecah belah ke dalam beberapa wilayah atau negara atau kesatuan dalam negara (nation state) yang dikenal dengan propaganda nasionalisme. Salah satu hasutan kaum Zionis Yahudi adalah menumbuhkan nasionalisme Arab","part":1,"page":485},{"id":486,"text":"Secara perlahan namun pasti, “lembaga-lembaga pengkajian” yang dipimpin para orientalis Barat ini meracuni pemikiran umat Islam Turki. Para orientalis menjelek-jelekkan sistem Islam dan membangga-banggakan sistem nasionalisme. Dari sinilah lahir gerakan nasionalisme Arab. Jenderal Allenby mengirim seorang perwira Yahudi Inggris bernama Edward Terrence Lawrence ke Hijaz untuk menemui para pemimpin di sana. TE. Lawrence ini diterima dengan sangat baik dan seluruh hasutannya di makan mentah-mentah oleh tokoh-tokoh Hijaz. Maka orang-orang dari Hijaz ini kemudian membangkitkan nasionalisme Arab dan mengajak tokoh-tokoh pesisir Barat Saudi untuk berontak terhadap kekuasaan kekhalifahan Turki Utsmaniyah, dan setelah itu mendirikan Kerajaan Islam Saudi Arabia.\rPaham nasionalisme adalah paham individualisme dalam skala besar yakni skala negara.\rDengan terhasut paham nasionalisme (individualisme skala besar) mengakibatkan “keadaan perang” di negara atau wilayah saudara muslim lainnya seperti di Palestina, Afghanistan, dll, tidak dianggap atau dirasakan sebagai keadaan perang di negara kaum muslim lainnya.\rSedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kamu akan melihat orang-orang mukmin dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR Bukhari 5552) (HR Muslim 4685)","part":1,"page":486},{"id":487,"text":"Sehingga sebagian penguasa negeri yang mengaku beragama Islam , tidak merasa bersalah menjadikan Amerika yang dibelakangnya kaum Zionis Yahudi, kaum yang dimurkai Allah Azza wa Jalla sebagai “teman kepercayaan”, penasehat, pelindung.\rFirman Allah Azza wa Jalla\r“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui“. (QS Al Mujaadilah [58]:14 )\r“Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali (pemimpin) dan meninggalkan orang-orang mu’min. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah…” (Qs. Ali-Imran : 28)\r“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak, atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.” (Qs. Al Mujadilah : 22)\r“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya” , (QS Ali Imran, 118)","part":1,"page":487},{"id":488,"text":"“Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati“. (QS Ali Imran, 119)\rJadi pada hakikatnya penguasa negeri yang mengaku memerintah dengan berlandaskan syariat Islam atau pemerintahan Islami, tidak sepenuhnya berlandaskan syariat Islam. Contohnya mereka masih menjadikan kaum kafir sebagai “pemimpin” mereka seperti dalam PBB.\rPeringatan telah disampaikan kepada kaum muslim, sebagaimana sabda Rasulullah yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas: “Barangsiapa memilih seseorang menjadi pemimpin untuk suatu kelompok, yang di kelompok itu ada orang yang lebih diridhai Allah dari pada orang tersebut, maka ia telah berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman.” (HR. Hakim)\rHedonisme\rHedonisme adalah menuhankan kesenangan, keyakinan bahwa kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan hidup dan tindakan manusia.\rDengan hedonisme menjadikan negara Indonesia sebagai tujuan pertama untuk meluncurkan / memasarkan produk HP Nokia dan produk-produk gaya hidup lainnya.\rHedonisme, manusia membeli produk tidak sekedar memenuhi fungsi atau kebutuhan namun rasa kebanggaan / gaya hidup\rLihatlah kenapa orang membeli kendaraan Toyota Alphard sedangkan dengan Toyota Innova saja sebenarnya sudah cukup untuk memenuhi fungsi atau kebutuhan.","part":1,"page":488},{"id":489,"text":"Lihat pula hedonisme disekelililng Makkah al Mukarromah, boleh jadi orang kafir tidak ada sekitar itu namun produk-produk orang kafir merajalela disana menawarkan kesenangan dan kenikmatan. Begitupula fasilitas penginapan dengan kamar yang luas, mewah, glamour , menjanjikan kesenangan dan kenikmatan. Berapa banyak devisa yang mengalir ke negara-negara kaum kafir dan tentu dengan devisa yang mereka peroleh dapat untuk membeli \"peluru\" pembunuh kaum muslim diberbagai negara kaum muslim ?\rHedonisme adalah lawan dari Zuhud\rDari Abul Abbas — Sahl bin Sa’ad As-Sa’idy — radliyallahu ‘anhu, ia berkata: Datang seorang laki-laki kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah! Tunjukkan kepadaku suatu amalan yang jika aku beramal dengannya aku dicintai oleh Allah dan dicintai manusia.” Maka Rasulullah menjawab: “Zuhudlah kamu di dunia niscaya Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah terhadap apa yang ada pada manusia niscaya mereka akan mencintaimu.” (Hadist shahih diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan lainnya).\rIbnu Mas’ud ra. melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidur di atas kain tikar yang lusuh sehingga membekas di pipinya, kemudian berkata, ”Wahai Rasulullah saw., bagaimana kalau saya ambilkan untukmu kasur?” Maka Rasulullah saw. menjawab, ”Untuk apa dunia itu! Hubungan saya dengan dunia seperti pengendara yang mampir sejenak di bawah pohon, kemudian pergi dan meninggalkannya.” (HR At-Tirmidzi)","part":1,"page":489},{"id":490,"text":"Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku takuti atas kalian, tetapi aku takut pada kalian dibukakannya dunia bagi kalian sebagaimana telah dibuka bagi umat sebelum kalian. Kemudian kalian berlomba-lomba sebagaimana mereka berlomba-lomba, dan menghancurkan kalian sebagaimana telah menghancurkan mereka.” (Muttafaqun ‘alaihi)\rHedonisme menyebabkan orang melakukan korupsi\rWartawan : kenapa anda melakukan korupsi ?\rKoruptor : loh memang siapa yang membiayai Black Berry saya\rCoba tanyakan kepada koruptor, mafia hukum/pengadilan, penguasa negeri yang mengaku muslim namun memimpin tidak adil, penguasa negeri mengaku muslim namun berteman dengan Amerika (kaum Zionis Yahudi), penguasa negeri mengaku muslim namun berdusta (antara ucapan dengan kenyataan berbeda) kepada rakyatnya, apakah mereka takut siksa neraka ?\rPasti jawaban mereka adalah takut siksa neraka\rNamun seolah-olah mereka mengatakan , itu kan nanti, jadi bagaimana nanti saja.\rBegitu juga kita lihat adanya demo dengan diikuti pengrusakan pos polisi yang dilakukan oleh mahasiswa sebuah universitas Islam, mereka menggunakan tutup kepala berwarna hijau kesukaan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam\rKita lihat adanya pengrusakan pondok pesantren di Madura walaupun pemahaman mereka salah paham.\rApa yang salah ?","part":1,"page":490},{"id":491,"text":"Setelah kami kaji dan analisa selama ini , kesimpulannya adalah mereka tidak lagi menjalankan tasawuf dalam Islam atau mereka tidak mendapakan pengajaran tasawuf dalam Islam. Walaupun mereka takut siksa neraka namun mereka tidak takut bahwa Allah Azza wa Jalla melihat sikap dan perbuatan mereka.\rImam Syafi’i ra menyampaikan nasehat (yang artinya) ,”Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya. Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mahu menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelezatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mahu mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik (ihsan)?” [Diwan Al-Imam Asy-Syafi'i, hal. 47]\rBegitupula dengan nasehat Imam Malik ra bahwa menjalankan tasawuf agar manusia tidak rusak dan menjadi manusia berakhlak baik\rImam Malik ra menyampaikan nasehat (yang artinya) “Dia yang sedang tasawuf tanpa mempelajari fikih (perkara syariat) rusak keimanannya , sementara dia yang belajar fikih tanpa mengamalkan Tasawuf rusaklah dia ., hanya dia siapa memadukan keduanya terjamin benar” .\rSejak dahulu kala di perguruan tinggi Islam, tasawuf adalah pendidikan akhlak.","part":1,"page":491},{"id":492,"text":"Ahmad Shodiq, MA-Dosen Akhlak & Tasawuf, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, menceritakan kisah sedih pendidikan akhlak dalam sistem pendidikan. Ia merupakan dilema, antara jauhnya standar akhlak menurut kualitas hidup sufi, dengan angkuhnya sistem pendidikan. Dilema sistemik ini dipersedih oleh fakta bahwa para gurupun ternyata jauh dari standar akhlak, dalam sebuah ruang kelas, dimana para murid hanya mencari coretan nilai, atau sebatas titik absensi. Selengkapnya dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/07/pendidikan-akhlak/\rTasawuf adalah jalan (thariqat) untuk mencapai muslim yang Ihsan\rJalan menelusuri jalan (tharikat) yang telah dilalui oleh Rasulullah, dimulai dengan Beliau berkhalwat (mengasingkan diri dari keramaian) dan bertahanuts (perenungan/kontemplas dirii) di gua hira. Kemudian Beliau menerima wahyuNya tentang perkara syariat , syarat untuk menjadi hamba Allah yang berisikan perintahNya dan laranganNya. Kemudian setelah syarat dipenuhi/dijalankan maka dilakukanlah perjalanan diri melalui maqom-maqom hakikat hingga sampai (wushul) kepada Allah Azza wa Jalla. menjadi muslim yang Ihsan atau muslim yang berma’rifat, muslim yang menyaksikan Allah Azza wa Jalla.\rAda dua kondisi yang dicapai oleh muslim yang ihsan atau muslim yang telah berma’rifat.\rKondisi minimal adalah mereka yang selalu merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla.\rKondiri terbaik adalah mereka yang dapat melihat Allah Azza wa Jalla dengan hati (ain bashiroh)\rApakah Ihsan ?","part":1,"page":492},{"id":493,"text":"قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِحْسَانُ قَالَ أَنْ تَخْشَى اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنَّكَ إِنْ لَا تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ\rLalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu takut (takhsya / khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.’ (HR Muslim 11) Link: http://www.indoquran.com/index.php?surano=2&ayatno=3&action=display&option=com_muslim\rRasulullah bersabda “Iman paling afdol ialah apabila kamu mengetahui bahwa Allah selalu menyertaimu dimanapun kamu berada“. (HR. Ath Thobari)\rImam Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani,\r“Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”\rBeliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”\r“Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali.\rSayyidina Ali ra menjawab “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati”\rSebuah riwayat dari Ja’far bin Muhammad beliau ditanya: “Apakah engkau melihat Tuhanmu ketika engkau menyembah-Nya?” Beliau menjawab: “Saya telah melihat Tuhan, baru saya sembah”. Bagaimana anda melihat-Nya? dia menjawab: “Tidak dilihat dengan mata yang memandang, tapi dilihat dengan hati yang penuh Iman.”","part":1,"page":493},{"id":494,"text":"Muslim yang telah mencapai Ihsan atau muslim yang telah berma’rifat, minimal mereka yang selalu merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla atau yang terbaik mereka yang dapat melihat Allah dengan hati maka mereka mencegah dirinya dari melakukan sesuatu yang dibenciNya , menghindari perbuatan maksiat, menghindari perbuatan keji dan mungkar hingga terbentuklah muslim yang berakhlakul karimah sesuai dengan tujuan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diutus oleh Allah Azza wa Jalla\rRasulullah menyampaikan yang maknanya “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad).\rAmalan dan konsep dasar tasawuf telah diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/25/amalan-dasar-tasawuf/\rPada hakikatnya kekasih Allah atau Wali Allah adalah muslim yang Ihsan (ihsan artinya baik/terbaik). Kekasih Allah atau Wali Allah berbagai tingkatan (maqom / derajat). Minimal adalah muslim yang sholeh atau muslim yang berakhlakul karimah\rKekasih Allah atau Wali Allah adalah muslim yang disisiNya\rHanya 4 golongan manusia yang disisiNya yakni para Nabi (yang utama Rasulullah), para Shiddiqin, para Syuhada dan orang-orang sholeh\rFirman Allah ta’ala yang artinya\r“Tunjukilah kami jalan yang lurus” (QS Al Fatihah [1]:6 )\r” (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada mereka….” (QS Al Fatihah [1]:7 )","part":1,"page":494},{"id":495,"text":"“Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya .” (QS An Nisaa [4]: 69 )\rMuslim yang terbaik untuk bukan Nabi , menjadi kekasih Allah (wali Allah) dengan mencapai shiddiqin dan bermacam tingkatan shiddiqin sebagaimana yang diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/14/2011/09/28/maqom-wali-allah/\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “sesungguhnya ada di antara hamba Allah (manusia) yang mereka itu bukanlah para Nabi dan bukan pula para Syuhada’. Mereka dirindukan oleh para Nabi dan Syuhada’ pada hari kiamat karena kedudukan (pangkat) mereka di sisi Allah Swt seorang dari shahabatnya berkata, siapa gerangan mereka itu wahai Rasulullah? Semoga kita dapat mencintai mereka. Nabi Saw menjawab dengan sabdanya: Mereka adalah suatu kaum yang saling berkasih sayang dengan anugerah Allah bukan karena ada hubungan kekeluargaan dan bukan karena harta benda, wajah-wajah mereka memancarkan cahaya dan mereka berdiri di atas mimbar-mimbar dari cahaya. Tiada mereka merasa takut seperti manusia merasakannya dan tiada mereka berduka cita apabila para manusia berduka cita”. (HR. an Nasai dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya)","part":1,"page":495},{"id":496,"text":"Hadits senada, dari ‘Umar bin Khathab ra bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya diantara hamba-hambaku itu ada manusia manusia yang bukan termasuk golongan para Nabi, bukan pula syuhada tetapi pada hari kiamat Allah ‘Azza wa Jalla menempatkan maqam mereka itu adalah maqam para Nabi dan syuhada.”Seorang laki-laki bertanya : “siapa mereka itu dan apa amalan mereka?”mudah-mudahan kami menyukainya. Nabi bersabda: “yaitu Kaum yang saling menyayangi karena Allah ‘Azza wa Jalla walaupun mereka tidak bertalian darah, dan mereka itu saling menyayangi bukan karena hartanya, dan demi Allah sungguh wajah mereka itu bercahaya, dan sungguh tempat mereka itu dari cahaya, dan mereka itu tidak takut seperti yang ditakuti manusia, dan tidak susah seperti yang disusahkan manusia,” kemudian beliau membaca ayat : ” Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS Yunus [10]:62 )\rJadi indikator seorang muslim telah beri'tiqod, beragama dengan baik dan benar adalah minimial menjadi muslim yang sholeh atau muslim yang berakhlakul karimah","part":1,"page":496},{"id":497,"text":"Berdustalah mereka yang mengatakan ittiba' li Rasulihi , pengikut Rasulullah ataupun mengaku-aku mengikuti pemahaman Salafush Sholeh namun tidak berakhlakul karimah. Mereka lupa kenapa disebut Salaf yang Sholeh dan tentu karena ada Salaf yang tidak sholeh. Pembagian atau periodisasi ulama Salaf dan ulama khalaf tidak pernah disampaikan oleh Rasulullah maupun oleh Salafush Sholeh. Pembagian atau periodisasi ini ditengarai adalah bagian dari hasutan atau ghazwul fikri (perang pemahaman) dari kaum Zionis Yahudi untuk memecah belah umat Islam. Hal ini telah diuraikan dalam tulisan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/27/salaf-dan-khalaf/\rSalafush Sholeh artinya kaum muslim terdahulu yang sholeh pada masa tiga generasi. Namun harus kita ingat bahwa kaum muslim baik ulama salaf maupun ulama khalaf (ulama kemudian / ulama setelah tiga generasi) mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi muslim yang sholeh atau muslim disisiNya, generasi tidak membatasi untuk menjadi sholeh.\rKesimpulannya, cara lain kaum Zionis Yahudi merusak akhlak kaum muslim adalah dengan menjauhkannya dari tasawuf dalam Islam.","part":1,"page":497},{"id":498,"text":"Salah satunya adalah perwira Yahudi Inggris bernama Edward Terrence Lawrence yang dikenal oleh ulama jazirah Arab sebagai Laurens Of Arabian. Laurens menyelidiki dimana letak kekuatan umat Islam dan berkesimpulan bahwa kekuatan umat Islam terletak kepada ketaatan dengan mazhab (bermazhab) dan istiqomah mengikuti tharikat-tharikat tasawuf. Laurens mengupah ulama-ulama yang anti tharikat dan anti mazhab untuk menulis sebuah buku yang menyerang tharikat dan mazhab. Buku tersebut diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan dibiayai oleh pihak orientalis.\rPara penguasa dinasti Saudi dan para ulama menyusun kurikulum pendidikan agama bekerjasama dengan Amerika yang dibelakangnya adalah kaum Zionis Yahudi sebagaimana yang telah diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/25/2011/02/07/muslim-bukanlah-ekstrimis/\rAbuya Prof. DR. Assayyid Muhammad bin Alwi Almaliki Alhasani dalam makalahnya dalam pertemuan nasional dan dialog pemikiran yang kedua, 5 s.d. 9 Dzulqo’dah 1424 H di Makkah al Mukarromah, menyampaikan bahwa dalam kurikulum tauhid kelas tiga Tsanawiyah (SLTP) cetakan tahun 1424 Hijriyyah di Arab Saudi berisi klaim dan pernyataan bahwa kelompok Sufiyyah (aliran–aliran tasawuf) adalah syirik dan keluar dari agama. Kutipan makalah selengkapnya ada pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/08/18/ekstrem-dalam-pemikiran-agama/\rBahkan seorang ulama yang merupakan dosen di Universitas Islam Madinah menuliskan pada kitabnya berjudul “al-Majmu’ al-mufid min ‘Aqidati al Tauhid” hal. 55","part":1,"page":498},{"id":499,"text":"لاينفع اسلامكم اذا أعلنتم الحرب العشواء على هذه الطرق الصوفية فقضيتم عليها قاتلوا هم قبل أن تقاتلوا اليهود والمجوس\r“Tidak berguna Islam kalian sebelum kalian mengumumkan perang terhadap torikoh sufi dan kalian membantainya, perangilah mereka sebelum memerangi yahudi dan majusi”\rMereka adalah contoh ulama korban hasutan atau ghazwul fikri (perang pemahaman) dari kaum Zionis Yahudi. Seharusnya mereka menjadi kiblat ilmu sebagaimana yang telah diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/30/kiblat-ilmu/\rFirman Allah Azza wa Jalla yang artinya,\r“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. ( Qs. Al-Hujjarat :10)\r““Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” (QS Al Ma’iadah [5]:54)\rDiriwayatkan hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Demi Allah, kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Belum sempurna keimanan kalian hingga kalian saling mencintai.” (HR Muslim)\rWassalam\rZon di Jonggol, Kab Bogor 16830\r0965. Tegakkan Ukhuwah Islamiyah dengan bermazhab","part":1,"page":499},{"id":500,"text":"Dahulu kita “terikat” pada kesatuan dalam aqidah (aqidah state) atau jama’atul muslimin (jama’ah kaum muslim) dan berakhir pada masa kekhalifahan Turki Ustmani.\rSebuah episode sejarah keemasan Turki saat dipimpin oleh Khalifah Sultan Abdul Hamid II di awal abad ke-20.\rSaat itu Theodore Hertzl, pemimpin Gerakan Zionis Internasional, mendatangi Abdul Hamid untuk meminta agar Turki Utsmani mau membagi sebagian tanah Palestina untuk dijadikan negara Israel. Permintaan Hertzl ini disertai dengan bujuk rayu dan janji, jika keinginannya dituruti maka Turki dan juga Sultan Abdul Hamid II akan diberi hadiah sangat besar oleh gerakan Zionis Internasional.\rNamun dengan sikap tegas Abdul Hamid mengusir Hertzl seraya berkata, “Turki tidak akan pernah sekali pun menyerahkan Tanah Palestina kepada kamu hai orang-orang Yahudi. Tanah Palestina bukanlah milik Turki, melainkan milik seluruh umat Islam dunia. Jangan bermimpi bisa menginjak Tanah Palestina selama saya masih hidup!”\rSebab itu, Hertzl dan para tokoh Zionis lainnya merancang suatu konspirasi untuk menghancurkan kekhalifahan Islam Turki Utsmani sehingga kekhalifahan ini benar-benar ambruk pada tahun 1924 dan Turki pun diubah menjadi negeri Sekuler.","part":1,"page":500},{"id":501,"text":"Keberakhiran kekhalifahan pada dasarnya karena terpengaruh paham individualisme dalam skala negara (nasionalisme) yang dilancarkan oleh kaum Zionis Yahudi. Paham nasionalisme untuk memecah belah umat Islam atau upaya meruntuhkan Ukhuwah Islamiyah. Kita telah terpecah belah ke dalam beberapa wilayah atau negara atau kesatuan dalam negara (nation state) yang dikenal dengan propaganda nasionalisme. Salah satu hasutan kaum Zionis Yahudi adalah menumbuhkan nasionalisme Arab.\rSecara perlahan namun pasti, lembaga-lembaga kajian Islam yang didirikan para orientalis Barat (kaum Zionis Yahudi) ini meracuni pemikiran umat Islam Turki. Para orientalis menjelek-jelekkan sistem Islam dan membangga-banggakan sistem nasionalisme. Dari sinilah lahir gerakan nasionalisme Arab.\rJenderal Allenby mengirim seorang perwira Yahudi Inggris bernama Edward Terrence Lawrence ke Hijaz untuk menemui para pemimpin di sana. TE. Lawrence ini diterima dengan sangat baik dan seluruh hasutannya di makan mentah-mentah oleh tokoh-tokoh Hijaz. Maka orang-orang dari Hijaz ini kemudian membangkitkan nasionalisme Arab dan mengajak tokoh-tokoh pesisir Barat Saudi untuk berontak terhadap kekuasaan kekhalifahan Turki Utsmaniyah, dan setelah itu mendirikan Kerajaan Islam Saudi Arabia.","part":2,"page":1},{"id":502,"text":"Paham nasionalisme adalah paham individualisme dalam skala besar yakni skala negara. Dengan terhasut paham nasionalisme (individualisme skala besar) mengakibatkan “keadaan perang” di negara atau wilayah saudara muslim lainnya seperti di Palestina, Afghanistan, dll, tidak dianggap atau dirasakan sebagai keadaan perang di negara kaum muslim lainnya.\rSedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kamu akan melihat orang-orang mukmin dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR Bukhari 5552) (HR Muslim 4685)\rBahkan bisa saja terjadi karena nasionalisme, antara dua negara seperti Indonesia dengan Malaysia berperang padahal yang berperang adalah sama-sama muslim.\rLawrence selain menghasut paham nasionalisme untuk meruntuhkan Ukhuwah Islamiyah, dia menyelidiki dimana letak kekuatan umat Islam dan berkesimpulan bahwa kekuatan umat Islam terletak kepada ketaatan dengan mazhab (bermazhab) dan istiqomah mengikuti tharikat-tharikat tasawuf. Lawrence mengupah ulama-ulama yang anti tharikat dan anti mazhab untuk menulis sebuah buku yang menyerang tharikat dan mazhab. Buku tersebut diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan dibiayai oleh pihak orientalis.","part":2,"page":2},{"id":503,"text":"Salah satu cara fitnah atau hasutan atau ghazwul fikri (perang pemahaman) yang dilakukan oleh kaum Zionis Yahudi agar timbul perselisihan di antara sesama muslim adalah dengan mengangkat kembali pemahaman ala pemahaman ulama Ibnu Taimiyyah. Sasarannya adalah agar timbul perselisihan karena perbedaan pemahaman dengan menghasut agar umat Islam memahami Al Qur'an dan As Sunnah dengan akal pikiran masing-masing tanpa perlu mengikuti pemahaman imam atau pemimpin ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak) alias Imam Mazhab yang empat.\rUlama Ibnu Taimiyyah semula bermazhab Hambali, bertalaqqi (mengaji) kepada ulama-ulama bermazhab Hambali.\rNamun pada akhirnya ulama Ibnu Taimiyyah memahami Al Qur’an dan As Sunnah lebih menyandarkan dengan belajar sendiri (secara otodidak) melalui cara muthola’ah (menelaah kitab) dan memahaminya dengan akal pikiran sendiri (pemahaman secara ilmiah).\rPara ulama telah menyampaikan bahwa jika memahami Al Qur’an dan As Sunnah dengan belajar sendiri (secara otodidak) melalui cara muthola’ah (menelaah kitab) dan memahaminya dengan akal pikiran sendiri, kemungkinan besar akan berakibat negative seperti,\r1. Ibadah fasidah (ibadah yang rusak) , ibadah yang kehilangan ruhnya atau aspek bathin\r2. Tasybihillah Bikholqihi , penyerupaan Allah dengan makhluq Nya\rIbadah fasidah (ibadah yang rusak) ditimbulkan dari kesalahpahaman misalkan kesalapahaman tentang bid’ah yang dapat menjerumuskan kedalam kekufuran sebagaimana yang diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/06/2011/11/03/ahli-bidah-sebenarnya/","part":2,"page":3},{"id":504,"text":"atau kesalahpahaman berakibat pengingkaran hadits Rasulullah sebagaimana contoh yang diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/11/22/tidak-cukup/\rTasybihillah Bikholqihi , penyerupaan Allah dengan makhluq Nya berakibat terjerumus kedalam kekufuran.\rImam besar ahli hadis dan tafsir, Jalaluddin As-Suyuthi dalam “Tanbiat Al-Ghabiy Bi Tabriat Ibn ‘Arabi” mengatakan “Ia (ayat-ayat mutasyabihat) memiliki makna-makna khusus yang berbeda dengan makna yang dipahami oleh orang biasa. Barangsiapa memahami kata wajh Allah, yad , ain dan istiwa sebagaimana makna yang selama ini diketahui (wajah Allah, tangan, mata, bertempat), ia kafir secara pasti.”\rImam Ahmad ar-Rifa’i (W. 578 H/1182 M) dalam kitabnya al-Burhan al-Muayyad, “Sunu ‘Aqaidakum Minat Tamassuki Bi Dzahiri Ma Tasyabaha Minal Kitabi Was Sunnati Lianna Dzalika Min Ushulil Kufri”, “Jagalah aqidahmu dari berpegang dengan dzahir ayat dan hadis mutasyabihat, karena hal itu salah satu pangkal kekufuran”.\rBegitupula peringatan yang disampaikan oleh khataman Khulafaur Rasyidin, Imam Sayyidina Ali ra dalam riwayat berikut,\rSayyidina Ali Ibn Abi Thalib ra berkata : “Sebagian golongan dari umat Islam ini ketika kiamat telah dekat akan kembali menjadi orang-orang kafir.“\rSeseorang bertanya kepadanya : “Wahai Amirul Mukminin apakah sebab kekufuran mereka? Adakah karena membuat ajaran baru atau karena pengingkaran?”","part":2,"page":4},{"id":505,"text":"Sayyidina Ali Ibn Abi Thalib ra menjawab : “Mereka menjadi kafir karena pengingkaran. Mereka mengingkari Pencipta mereka (Allah Subhanahu wa ta’ala) dan mensifati-Nya dengan sifat-sifat benda dan anggota-anggota badan.” (Imam Ibn Al-Mu’allim Al-Qurasyi (w. 725 H) dalam Kitab Najm Al-Muhtadi Wa Rajm Al-Mu’tadi).\rUlama-ulama terdahulu juga telah memperingatkan agar menghindari kitab-kitab ulama Ibnu Taimiyyah karena pemahamannya telah menyelisihi pemahaman Imam Mazhab yang Empat, sebagaimana yang disampaikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2010/02/ahlussunnahbantahtaimiyah.pdf maupun pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/07/2011/07/28/semula-bermazhab-hambali/\rMemang ulama Ibnu Taimiyyah membaca Al Qur’an , Tafsir bil Matsur, Hadits Shohih, Sunan, Musnad, lalu ulama Ibnu Taimiyyah pun berjtihad dengan pendapat beliau. Apa yang ulama Ibnu Taimiyyah katakan tentang kitab-kitab tersebut, pada hakikatnya adalah hasil ijtihad dan ra’yu beliau sendiri.\rSumbernya memang Al Quran dan As Sunnah, tapi apa yang ulama Ibnu Taimiyyah sampaikan semata-mata lahir dari kepala beliau sendiri. Setiap upaya pemahaman bisa benar dan bisa pula salah. Kemungkinan salahnya semakin besar jika yang melakukan upaya pemahaman (ijtihad) tidak dikenal oleh jumhur ulama berkompetensi sebagai Imam Mujtahid Mutlak.","part":2,"page":5},{"id":506,"text":"Kesalahpahaman besar telah terjadi ketika ulama Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa apa yang beliau pahami dan sampaikan adalah pemahaman Salafush Sholeh. Jika apa yang ulama Ibnu Taimiyyah pahami dan sampaikan sesuai dengan pemahaman Salafush Sholeh tentu tidaklah masalah namun ketika apa yang ulama Ibnu Taimiyyah pahami dan sampaikan tidak sesuai dengan pemahaman sebenarnya Salafush Sholeh maka pada hakikatnya ini termasuk fitnah terhadap para Salafush Sholeh. Fitnah akhir zaman.\rSetelah 350 tahun ulama Ibnu Taimiyyah wafat , ada ulama yang terpincut dengan pemahaman beliau yakni ulama Muhammad bin Abdul Wahhab sebagaimana yang dapat kita ketahui dalam tulisan pada http://arisandi.com/?p=964 berikut kutipannya\r***awal kutipan****\rDi antara karya-karya ulama terdahulu yang paling terkesan dalam jiwanya adalah karya-karya Syeikh al-Islam Ibnu Taimiyah. Beliau adalah mujaddid besar abad ke 7 Hijriyah yang sangat terkenal.\rDemikianlah meresapnya pengaruh dan gaya Ibnu Taimiyah dalam jiwanya, sehingga Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab bagaikan duplikat(salinan) Ibnu Taimiyah. Khususnya dalam aspek ketauhidan, seakan-akan semua yang diidam-idamkan oleh Ibnu Taimiyah semasa hidupnya yang penuh ranjau dan tekanan dari pihak berkuasa, semuanya telah ditebus dengan kejayaan Ibnu `Abdul Wahab yang hidup pada abad ke 12 Hijriyah itu","part":2,"page":6},{"id":507,"text":"Setelah beberapa lama menetap di Mekah dan Madinah, kemudian beliau berpindah ke Basrah. Di sini beliau bermukim lebih lama, sehingga banyak ilmu-ilmu yang diperolehinya, terutaman di bidang hadith danmusthalahnya, fiqh dan usul fiqhnya, gramatika (ilmu qawa’id) dan tidak ketinggalan pula lughatnya semua.\rLengkaplah sudah ilmu yang diperlukan oleh seorang yang pintar yang kemudian dikembangkan sendiri melalui metode otodidak (belajar sendiri) sebagaimana lazimnya para ulama besar Islam mengembangkan ilmu-ilmunya. Di mana bimbingan guru hanyalah sebagai modal dasar yang selanjutnya untuk dapat dikembangkan dan digali sendiri oleh yang bersangkutan.\r****akhir kutipan*****\rUlama Muhammad bin Abdul Wahhab mengikuti pemahaman ulama Ibnu Taimiyyah yang menisbatkan kepada Salafush Sholeh dan dikenal sebagai sekte Salafi dan karena bercampur dengan pemahaman ulama Muhammad bin Abdul Wahhab sendiri maka dikenal sebagai sekte Salafi Wahabi atau disingkat sekte Wahabi. Dinisbatkan kepada nama ayahnya sekedar untuk menghindari kesalahpahaman.\rSyaikh Ahmad ibn Hajar al- Butami dalam biografi Ulama Muhammad ibnu Abdil Wahhab yang juga ditashhihkan oleh Ulama Abdul Aziz bin Abdillah bin Bazz, mengakui Wahhabi adalah ajaran Ulama Muhammad bin Abdil Wahhab.\r- Di halaman 59 disebutkan : فقامت الثورات على يد دعاة الوهابيين “maka tegaklah revolusi di atas tangan para da’i Wahhabi”\r- Di halaman 60 disebutkan : على أساس من الدعوة الدينية الوهابية في مكة “atas dasar dari dakwah agama wahhabi di Mekkah” , يدينون با?س?م على المذهب الوهابي , “mereka beragama dengan Islam atas Mazhab Wahhabi”","part":2,"page":7},{"id":508,"text":"Pengikut pemahaman ulama Ibnu Taimiyyah (salafi) mempunyai dua sisi yang berlawanan.\rSisi pertama adalah sebagaimana pemahaman ulama Muhammad bin Abdul Wahhab dengan ditandai mereka membenci berkelompok atau berorganisasi atau berjamaah minal muslim.\rSisi kedua adalah sebagaimana pemahaman ulama Jamaludin Al-Afghany bersama muridnya ulama Muhammad Abduh dan dilanjutkan oleh ulama seperti ulama Rasjid Ridha ditandai mereka tidak membenci berkelompok atau berorganisasi atau berjama’ah minal muslimin dan dikenal dengan upaya pergerakan (harakah) atau perpolitikan (siyasi).\rContoh perselisihan di antara dua sisi pemahaman ulama Ibnu Taimiyyah dengan adanya fatwa ketua Lajnah Daimah, Ulama Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (Salafi Wahabi) tentang Ikhwanul Muslimin, sebagaimana yang dapat kita ketahui dalam tulisan pada http://nasihatonline.wordpress.com/2010/09/24/fatwa-fatwa-ulama-ahlus-sunnah-tentang-kelompok-kelompok-islam-kontemporer/\rNamun kedua-dua jalur pemahaman tersebut telah dihasut untuk tidak lagi mentaati atau mengikuti pemahaman pemimpin ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak) alias Imam Mazhab yang empat. Mereka dihasut untuk memahami Al Qur’an dan As Sunnah dengan akal pikiran sendiri.","part":2,"page":8},{"id":509,"text":"Hal serupa, kaum Zionis Yahudi menghasut kaum liberalisme untuk memahami Al Qur’an dan As Sunnah dengan akal pikiran sendiri, yang dikatakan oleh mereka sebagai pemahaman yang menyesuaikan dengan keadaan zaman (modernisasi/pembaharuan) atau pemahaman bersifat pragmatis (kepentingan). Sebagaimana contoh diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/04/28/mengangkat-taimiyah/\rContoh perselisihan diantara pengikut pemahaman ulama Ibnu Taimiyyah dapat kita ketahui dalam tulisan pada\rhttp://isnad.net/media/Muhammad_Sewed_di_Gugat.pdf\rhttp://isnad.net/?dl_name=kumal-kumal-dzul-akmal.pdf\rhttp://isnad.net/dialog-luqman-hizbi-firanda-sururi\rhttp://isnad.net/?dl_name=dzulqornain_yayasan.rar\rhttp://isnad.net/media/dzul-akmal-undercover.pdf www.fb.com/notes/255000094557451\rwww.fb.com/notes/padepokan-kanjeng-sunan/buku-sms-abu-abu-salafi-melawan-salafi-al-bani-vs-bin-bas-utsaimin/248700811863777\rhttp://salafy.catatanku.com/\rhttp://satuislam.wordpress.com/2011/11/10/sekilas-tentang-salafi-wahabi/\rhttp://www.wattpad.com/397024-salafy-haraky-vs-salafy-yamani-vs-salafy-sururi\rhttp://semogakamiselamat.wordpress.com/2011/11/07/point-point-kesesatan-para-penyembah-thogut-radio-rodja/\rhttp://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/16/2011/05/01/inikah-salafi-indonesia/\rhttp://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/11/20/timbulnya-perselisihan/\rhttp://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/11/09/mengapa-mereka-berselisih/\rhttp://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/08/13/mulkan-jabbariyan/\rhttp://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/16/pertentangan-pendapat-mereka/","part":2,"page":9},{"id":510,"text":"http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/06/siapakah-mereka-ikuti/\rPerbedaan pemahaman di antara mereka sehingga menimbulkan perselisihan membuktikan bahwa apa yang mereka pahami adalah semata-mata berdasarkan akal pikiran mereka sendiri\rAndaikan apa yang dipahami oleh mereka bersumber dari lisannya ulama-ulama yang sholeh yang tersambung kepada lisannya Sayyidina Muhammad Shallallahu alaihi wasallam pastilah tidak akan bertentangan karena apa yang disampaikan oleh Rasulullah adalah apa yang diwahyukanNya dan seluruh yang berasal dari Allah Azza wa Jalla , pastilah tidak bertentangan\rAl Qur’an adalah firmanNya yang disampaikan melalui malaikat Jibril.\rAs Sunnah adalah apa yang diwahyukanNya.\rHadits Qudsi adalah firmanNya yang disampaikan dengan redaksi/matan berasal dari Rasululah\rFirman Allah Azza wa Jalla,\rأَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ اخْتِلاَفاً كَثِيراً\r“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ? Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS An Nisaa 4 : 82)\rKita telah mendapatkan perselisihan karena perbedaan pamahaman. Oleh karenanya marilah kita kembalikan kepada Al Qur’an dan As Sunnah.","part":2,"page":10},{"id":511,"text":"Firman Allah ta’ala yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya“. (QS An Nisaa [4]:59 )\rPermasalahannya adalah mengembalikan berdasarkan pemahaman siapa ?\rKita ikuti Sunnah Rasulullah bahwa jika kita mendapatkan perselisihan karena perbedaan pemahaman / pendapat maka agar selamat dari kesesatan kita disuruh untuk mengikuti as-sawad al a’zham atau mengikuti kesepakatan jumhur ulama\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam menyampaikan, “Sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat pada kesesatan. Oleh karena itu, apabila kalian melihat terjadi perselisihan maka ikutilah as-sawad al a’zham (jumhur ulama).” (HR. Ibnu Majah, Abdullah bin Hamid, at Tabrani, al Lalika’i, Abu Nu’aim. Menurut Al Hafidz As Suyuthi dalam Jamius Shoghir, ini adalah hadits Shohih)\rAl-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari XII/37 menukil perkataan Imam Thabari rahimahullah yang menyatakan: “Berkata kaum (yakni para ulama), bahwa jamaah adalah Sawadul A’dzam.","part":2,"page":11},{"id":512,"text":"Kemudian diceritakan dari Ibnu Sirin dari Abi Mas’ud, bahwa beliau mewasiatkan kepada orang yang bertanya kepadanya ketika ‘Utsman dibunuh, untuk berpegang teguh pada Jamaah, karena Allah tidak akan mengumpulkan umat Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam kesesatan. Dan dalam hadits dinyatakan bahwa ketika manusia tidak mempunyai imam, dan manusia berpecah belah menjadi kelompok-kelompok maka janganlah mengikuti salah satu firqah/sekte. Hindarilah semua firqah/sekte itu jika kalian mampu untuk menghindari terjatuh ke dalam keburukan”.\rJangan sekali-kali mengikuti pemahaman sebuah sekte atau kelompok yang menyempal dari kaum muslimin walaupun mereka mengaku-aku sebagai yang dimaksud al ghuroba karena boleh jadi mereka adalah yang dimaksud oleh Rasulullah sebagai “orang muda” bagaikan meluncurnya anak panah dari busurnya. Selengkapnya dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/15/orang-orang-muda/\rDari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “hendaklah kamu selalu bersama jamaah muslimin dan imam mereka“\rAku bertanya; kalau tidak ada jamaah muslimin dan imam bagaimana?\rNabi menjawab; hendaklah kau jauhi seluruh firqah (kelompok-kelompok / sekte) itu, sekalipun kau gigit akar-akar pohon hingga kematian merenggutmu kamu harus tetap seperti itu. (Riwayat Bukhari VI615-616, XIII/35. Muslim XII/135-238 Baghawi dalam Syarh Sunnah XV/14. Ibnu Majah no. 3979, 3981. Hakim IV/432. Abu Dawud no. 4244-4247.Baghawi XV/8-10. Ahmad V/386-387 dan hal. 403-404, 406 dan hal. 391-399)","part":2,"page":12},{"id":513,"text":"Ciri-ciri ulama yang pemahamannya menyebabkan perselisihan telah diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/19/ciri-ciri-mereka/\rDari dahulu sampai sekarang , jumhur ulama telah sepakat bahwa ulama yang berkompetensi sebagai pemimpin ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak) adalah para Imam Mazhab yang empat. Memang ada Imam Mazhab yang lain selain yang berempat namun pada akhirnya pendapat / pemahaman mereka karena tidak komprehensive atau tidak menyeluruh sehingga kaum muslim mencukupkannya pada Imam Mazhab yang empat.\rContoh ulama yang masih berpegang teguh kepada pemahaman/pendapat Imam Mazhab adalah Mufti Mesir Profesor Doktor Ali Jum`ah sebagaimana contoh yang terurai dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/30/hukum-penutup-muka/\rUntuk menegakkan ukhuwah Islamiyah maka gigitlah As Sunnah dan sunnah Khulafaur Rasyidin berdasarkan pemahaman pemimpin ijtihad (Imam Mujtahid) / Imam Mazhab dan penjelasan dari para pengikut Imam Mazhab sambil merujuk darimana mereka mengambil yaitu Al Quran dan as Sunnah. Janganlah memahaminya dengan akal pikiran sendiri atau mengikut pemahaman ulama yang tidak dikenal berkompetensi sebagai Imam Mujtahid Mutlak.\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa menguraikan Al Qur’an dengan akal pikirannya sendiri dan merasa benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan”. (HR. Ahmad) .","part":2,"page":13},{"id":514,"text":"Ibnul Mubarak berkata :”Sanad merupakan bagian dari agama, kalaulah bukan karena sanad, maka pasti akan bisa berkata siapa saja yang mau dengan apa saja yang diinginkannya.” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqoddimah kitab Shahihnya 1/47 no:32 )\rDari Ibnu Abbas ra Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda…”Barangsiapa yang berkata mengenai Al-Qur’an tanpa ilmu maka ia menyediakan tempatnya sendiri di dalam neraka” (HR.Tirmidzi)\rImam Syafi’i ~rahimahullah mengatakan “tiada ilmu tanpa sanad”.\rAl-Hafidh Imam Attsauri ~rahimullah mengatakan “Penuntut ilmu tanpa sanad adalah bagaikan orang yang ingin naik ke atap rumah tanpa tangga”\rBahkan Al-Imam Abu Yazid Al-Bustamiy , quddisa sirruh (Makna tafsir QS.Al-Kahfi 60) ; “Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya syetan” Tafsir Ruhul-Bayan Juz 5 hal. 203\rSanad ilmu / sanad guru sama pentingnya dengan sanad hadits.\rSanad hadits adalah otentifikasi atau kebenaran sumber perolehan matan/redaksi hadits dari lisan Rasulullah.\rSedangkan Sanad ilmu atau sanad guru adalah otentifikasi atau kebenaran sumber perolehan penjelasan baik Al Qur’an maupun As Sunnah dari lisan Rasulullah.\rKita memahami Al Qur’an dan As Sunnah berdasarkan apa yang kita dengar dari apa yang disampaikan oleh ulama-ulama terdahulu yang tersambung dengan lisannya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Inilah yang dinamakan bertalaqqi (mengaji) dengan ulama bersanad ilmu atau bersanad guru tersambung kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.","part":2,"page":14},{"id":515,"text":"Hal yang harus kita ingat bahwa Al Qur’an pada awalnya tidaklah dibukukan. Ayat-ayat Al Qur’an hanya dibacakan dan dihafal (imla) kemudian dipahami bersama dengan yang menyampaikannya.\rHal yang akan ditanyakan seperti :\rApakah yang kamu pahami telah disampaikan / dikatakan oleh ulama-ulama terdahulu yang tersambung lisannya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ?\rSiapakah ulama-ulama terdahulu yang mengatakan hal itu ?\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda yang artinya “Sampaikan dariku sekalipun satu ayat dan ceritakanlah (apa yang kalian dengar) dari Bani Isra’il dan itu tidak apa (dosa). Dan siapa yang berdusta atasku dengan sengaja maka bersiap-siaplah menempati tempat duduknya di neraka” (HR Bukhari)\rHakikat makna hadits tersebut adalah kita hanya boleh menyampaikan satu ayat yang diperoleh dari orang yang disampaikan secara turun temurun sampai kepada lisannya Sayyidina Muhammad bin Abdullah Shallallahu alaihi wasallam.\rKita tidak diperkenankan menyampaikan apa yang kita pahami dengan akal pikiran sendiri dengan cara membaca dan memahami namun kita sampaikan apa yang kita dengar dan pahami dari lisan mereka yang sanad ilmunya tersambung kepada lisannya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam karena hanya perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang merupakan kebenaran atau ilmuNya.\rContoh sanad Ilmu atau sanad guru Imam Syafi’i ra\r1. Baginda Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam\r2. Baginda Abdullah bin Umar bin Al-Khottob ra\r3. Al-Imam Nafi’, Tabi’ Abdullah bin Umar ra\r4. Al-Imam Malik bin Anas ra\r5. Al-Imam Syafei’ Muhammad bin Idris ra","part":2,"page":15},{"id":516,"text":"Al Imam Syafi’i ra mendapatkan penjelasan Al Qur’an dan As Sunnah dari lisannya Al-Imam Malik bin Anas ra,\rAl-Imam Malik bin Anas ra mendapatkan penjelasan Al Qur’an dan As Sunnah dari lisannya Al-Imam Nafi’, Tabi’ Abdullah bin Umar ra,\rAl-Imam Nafi’, Tabi’ Abdullah bin Umar ra mendapatkan penjelasan Al Qur’an dan As Sunnah dari lisannya Baginda Abdullah bin Umar bin Al-Khottob ra,\rBaginda Abdullah bin Umar bin Al-Khottob ra mendapatkan penjelasan Al Qur’an dan As Sunnah dari lisannya Baginda Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam\rSalah satu cara mempertahankan sanad ilmu atau sanad guru adalah dengan mengikuti pendapat/pemahaman pemimpin ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak) alias Imam Mazhab yang empat dan penjelasan dari para pengikut Imam Mazhab sambil merujuk darimana mereka mengambil yaitu Al Quran dan as Sunnah.\rUlama yang tidak mau bermazhab , pada hakikatnya telah memutuskan rantai sanad ilmu atau sanad guru, berhenti pada akal pikirannya sendiri dimana didalamnya ada unsur hawa nafsu atau kepentingan.\rMarilah kita tegakkan ukhuwah Islamiya dengan mengikuti pemahaman / pendapat Imam Mazhab yang empat dan penjelasan dari para ulama pengikut Imam Mazhab sambil merujuk darimana mereka mengambil yaitu Al Quran dan as Sunnah\rMarilah memahami Al Qur'an dan As Sunnah dengan bertalaqqi (mengaji) kepada ulama yang bermazhab ditambah dengan mutho'laah (menelaah) kitab-kitab Imam Mazhab dan para pengikutnya.","part":2,"page":16},{"id":517,"text":"Ikutilah Imam Mazhab yang telah disepakati dalam suatu wilayah / negara agar mudah saling belajar dan saling mengingatkan. Di negara kita, pada umumnya adalah bermazhab Imam Syafi'i . Imam Syafi''i ~rahimahullah adalah imam mazhab yang cukup luas wawasannya karena bertalaqqi (mengaji) langsung kepada Salafush Sholeh dari berbagai tempat, mulai dari tempat tinggal awalnya di Makkah, kemudian pindah ke Madinah, pindah ke Yaman, pindah ke Iraq, pindah ke Persia, kembali lagi ke Makkah, dari sini pindah lagi ke Madinah dan akhirnya ke Mesir. Perlu dimaklumi bahwa perpindahan beliau itu bukanlah untuk berniaga, bukan untuk turis, tetapi untuk mencari ilmu, mencari hadits-hadits, untuk pengetahuan agama. Jadi tidak heran kalau Imam Syafi’i ~rahimahullah lebih banyak mendapatkan hadits dari lisannya Salafush Sholeh, melebihi dari yang didapat oleh Imam Hanafi ~rahimahullah dan Imam Maliki ~rahimahullah\rNamun dalam hal menetapkan perkara kewajiban yang jika ditinggalkan berdosa, menetapkan perkara larangan yang jika dilanggar berdosa dan menetapkan perkara pengharaman yang jika dilanggar berdosa atau membuat fatwa atau menetapkan penegakkan hukum syari'ah maka sebaiknya tetap memperbandingkan pendapat antara Imam Mazhab yang empat. Oleh karenanya pada perguruan tinggi Islam, fakultas syari'ah diperlukan jurusan perbandingan mazhab dan hukum.\rHal yang harus kita ingat selalu janganlah menjadikan akal pikiran kita sebagai berhala\rAllah Azza wa Jalla berfirman,\rاتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ","part":2,"page":17},{"id":518,"text":"\"Mereka menjadikan para rahib dan pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah\". (QS at-Taubah [9]:31 )\rKetika Nabi ditanya terkait dengan ayat ini, “apakah mereka menyembah para rahib dan pendeta sehingga dikatakan menjadikan mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah?”\rNabi menjawab, “tidak”\r« أما أنهم لم يكونوا يعبدونهم ولكنهم كانوا إذا أحلوا لهم شيئاً استحلوه وإذا حرموا عليهم شيئاً حرموه »\r“Mereka tidak menyembah para rahib dan pendeta itu, tetapi jika para rahib dan pendeta itu menghalalkan sesuatu bagi mereka, mereka menganggapnya halal, dan jika para rahib dan pendeta itu mengharamkan bagi mereka sesuatu, mereka mengharamkannya\"\rPada riwayat yang lain disebutkan, Rasulullah bersabda \" mereka (para rahib dan pendeta) itu telah menetapkan haram terhadap sesuatu yang halal, dan menghalalkan sesuatu yang haram, kemudian mereka mengikutinya. Yang demikian itulah penyembahannya kepada mereka.” (Riwayat Tarmizi)\rFirman Allah ta’ala yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu dan janganlah kamu melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas.” (Qs. al-Mâ’idah [5]: 87).\rMereka yang mengada-ada atau membuat perkara baru (bid'ah) yang bukan kewajiban menjadi kewajiban (ditinggalkan berdosa) atau sebaliknya, yang tidak diharamkan menjadi haram (dikerjakan berdosa) atau sebaliknya dan yang tidak dilarang menjadi dilarang (dikerjakan berdosa) atau sebaliknya adalah yang disebut sebagai ahli bid'ah.","part":2,"page":18},{"id":519,"text":"Oleh karenanya ahli bid'ah termasuk pelaku perbuatan syirik, karena penyembahan kepada selain Allah, penyembahan diantara pembuat bid’ah (perkara baru) dengan pengikutnya, perbuatan yang tidak ada ampunannya.\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda\rإِنَّ اللهَ حَجَبَ اَلتَّوْبَةَ عَنْ صَاحِبِ كُلِّ بِدْعَةٍ\r“Sesungguhnya Allah menutup taubat dari semua ahli bid’ah”. [Ash-Shahihah No. 1620]\rBegitu pula dalam sebuah harokah, organisasi, organisasi masyarakat kita dapat temukan aturan-aturan (nidhom) yang harus ditaati seluruh anggota berisikan larangan dan kewajiban yang disebut idari atau aturan / anggaran dasar. Aturan-aturan inipun tidak boleh melanggar agama atau melanggar apa yang telah ditetapkanNya. Agama adalah perintahNya dan laranganNya\rDari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)\rAdalah hal yang sangat fatal dalam sebuah harokah (pergerakkan) memerintahkan anggotanya untuk melakukan bom bunuh diri karena tidak ada perintah dalam Al Qur'an dan As Sunnah untuk melakukan tindakan bom bunuh diri. Alasan mereka adalah berjihad di jalan Allah , menegakkan syariat Islam.\rUlama sufi, Syaikh Ibnu Athoillah mengatakan “Janganlah kamu merasa bahwa tanpamu Syariat Islam tak kan tegak. Syariat Islam telah tegak bahkan sebelum kamu ada. Syariat Islam tak membutuhkanmu, kaulah yang butuh pada Syariat Islam”","part":2,"page":19},{"id":520,"text":"Syariat Islam telah ditegakkan oleh Rasulullah dan Salafush Sholeh dengan pengorbanan jiwa raga dan harta dalam peperangan-peperangan yang telah mereka lalui. Perkara syariat telah “dibukukan” dan ditetapkan hukum perkaranya (istinbat) oleh para Imam Mazhab yang empat kedalam 5 hukum perkara yakni Wajib (fardhu), Sunnah(mandub), haram, makruh, mubah. Jadi kita hanya tinggal menjalankan syariat Islam.\rPerkara syariat adalah syarat yang harus dipenuhi sebagai hamba Allah yakni menjalankan segala apa yang telah ditetapkanNya atau diwajibkanNya, wajib dijalankan dan wajib dijauhi, meliputi perkara kewajiban yang jika ditinggalkan berdosa, menjauhi segala yang telah dilarangNya yang jika dilanggar berdosa dan menjauhi segala yang telah diharamkanNya yang jika dilanggar berdosa\rPerkara syariat tidak tergantung apakah “diberlakukan” atau belum “diberlakukan” oleh penguasa negeri. Di negara manapun kita tinggal maka kita harus menjalankan perkara syariat. Jika penguasa negeri yang muslim “membiarkan” hukum-hukum yang berlaku tidak sesuai dengan syariat Islam maka mereka akan mempertanggung jawabkan atas pembiaran tersebut di akhirat kelak. Itulah resiko jadi penguasa negeri.\rUntuk itulah kita perlu untuk ikut memilih pemimpin walaupun hukum yang berlaku belum memenuhi syariat Islam agar pemimpin yang kita pilih, dengan kekuasaan yang diperoleh dapat memberlakukan syariat Islam dalam kepemimpinannya dan dalam kehidupan bernegara.","part":2,"page":20},{"id":521,"text":"Hal yang aneh terjadi, ada yang tidak ikut memilih pemimpin negeri namun setelah terpilih pempin negeri, mereka taati karena pemimpinnya “masih sholat” walaupun pemimpinya tidak menjalankan syariat. Ada juga yang tidak ikut memlih pemimpin negeri namun setelah terpilih pemimpin negeri mereka masih saja teriak-teriak “tegakkan syariat”. Seharusnyalah mereka ikut memilih dan mensosialisasikan pemimpin yang akan menjalankan syariat Islam.\rRasulullah bersabda : “Tidak boleh bagi tiga orang berada dimanapun di bumi ini, tanpa mengambil salah seorang diantara mereka sebagai amir (pemimpin) ”\rDiriwayatkan dari Ibnu Abbas, Rasulullah bersabda: “Barangsiapa memilih seseorang menjadi pemimpin untuk suatu kelompok, yang di kelompok itu ada orang yang lebih diridhai Allah dari pada orang tersebut, maka ia telah berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman.” (HR. Hakim)\rDalam sejarah Islam kita kenal adanya ahlu a-halli wa al-‘aqdi yang merupakan demokrasi berdasarkan perwakilan yang berkompetensi dan terpercaya. Ketetapan/fatwa/kebijaksanaan diambil dengan permusyawaratan / perwakilan.\rMusyawarah untuk mufakat sistem perwakilan yang berkompetensi dan terpercaya atau ahlu a-halli wa al-‘aqdi telah dicontohkan oleh para Khulafaur Rasyidin dalam menetapkan khalifah pertama setelah wafatnya Sayyidina Muhammad shallallahu alaihi wasallam.","part":2,"page":21},{"id":522,"text":"Begitu pula yang dimaksud oleh ulama-ulama kita dahulu yang ikut mendirikan negara kita dalam menetapkan sila ke 4 dari Pancasila yakni “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan”. Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang berkompeten dan dipercayai untuk melaksanakan musyawarah untuk suatu mufakat.\rNamun dalam perkembangannya di negara kita, orang-orang kemudian merubahnya menjadi demokrasi sebebas-bebasnya, tidak ada bedanya antara pemilih yang jahat dengan pemilih yang baik, (semua satu suara ) dalam menetapkan Presiden dan Wakil presiden, Kepala Pemerintahan Daerah seperti Gubernur dan Bupati. Itu semua terjadi karena mereka mengaku muslim namun tidak menjalankan syariat Islam, syarat menjadi hamba Allah Azza wa Jalla.\rSering timbul pertanyaan bukankah bermazhab hanya bagi mereka yang tidak mampu berijtihad ?","part":2,"page":22},{"id":523,"text":"Apakah bahan untuk melakukan ijtihad masih memadai pada zaman kini ?Hadits-hadits yang telah dibukukan hanyalah sebagian saja dan sebagian lagi dalam bentuk hafalan dan para penghafal hadits ini sudah tidak dapat kita temukan lagi. Para Imam Mazhab yang empat mengumpulkan hadits jauh lebih banyak daripada hadits yang telah dibukukan selain itu para Imam Mazhab yang empat berkompetensi dalam berijtihad sekaligus beristinbat, menetapkan hukum perkara kedalam lima hukum perkara yakni wajib (fardhu), sunnah (mandub), haram, makruh, mubah. Para ahli hadits pun pada umumnya hanya berkompetensi berijtihad, menganalisa sanad hadits dan matan hadits dan mereka tidak menyampaikan hukum perkara. Imam Bukhari dan Imam Muslim pun bertalaqqi (mengaji) kepada murid ulama bermazhab.\rPertanyaan lain adalah, bolehkah kita mengikuti pendapat dari Imam Mazhab yang empat yang paling baik, paling shohih atau yang tarjih (paling kuat) ?\rKembali lagi pada jawaban di atas , apa dasar kita menentukan lebih baik, lebih shohih, lebih kuat (tarjih) ? Akal pikiran kita sendiri ? mau berhalakan akal pikiran ?\rTulisan kali ini kami akhiri dengan nasehat untuk kami pribadi dan para pembaca pada umumnya untuk tidak memusuhi siapapun yang telah bersyahadat walaupun berbeda pemahaman, karena kita bersaudara. Manusia yang mempunyai rasa permusuhan terhadap manusia yang telah bersyahadat hanyalah kaum Yahudi dan orang-orang musyrik\rFirman Allah ta’ala yang artinya, “orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik” ( QS Al Maaidah [5]: 82 )","part":2,"page":23},{"id":524,"text":"Jadi kalau mempunyai rasa permusuhan terhadap manusia yang telah bersyahadat atau memerangi manusia yang telah bersyahadat maka boleh jadi telah menjadi musyrik karena terjerumus kedalam kekufuran seperti tanpa disadari telah menjadi ahli bid'ah, mengada-ada atau membuat perkara baru (bid’ah) dalam perkara larangan maupun kewajiban yang merupakan hak Allah ta’ala menetapkanNya.\rDari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya di masa kemudian akan ada peperangan di antara orang-orang yang beriman.” Seorang Sahabat bertanya: “Mengapa kita (orang-orang yang beriman) memerangi orang yang beriman, yang mereka itu sama berkata: ‘Kami telah beriman’.” Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Ya, karena mengada-adakan di dalam agama (mengada-ada dalam perkara yang merupakan hak Allah ta’ala menetapkannya yakni perkara kewajiban, larangan dan pengharaman) , apabila mereka mengerjakan agama dengan pemahaman berdasarkan akal pikiran, padahal di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani).\rFirman Allah Azza wa Jalla : \"wai'tashimuu bihabli allaahi jamii'an walaa tafarraquu waudzkuruu ni'mata allaahi 'alaykum idz kuntum a'daa-an fa-allafa bayna quluubikum fa-ashbahtum bini'matihi ikhwaanan\"","part":2,"page":24},{"id":525,"text":"\"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah secara berjama’ah, dan janganlah kamu bercerai berai , dan ingatlah nikmat Allah atas kamu semua ketika kamu bermusuh-musuhan maka Dia (Allah) menjinakkan antara hati-hati kamu maka kamu menjadi bersaudara\" (QS Ali Imron [3]: 103)\r“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara\". ( Qs. Al-Hujjarat :10)\r““Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” (QS Al Ma’iadah [5]:54)\rDiriwayatkan hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Demi Allah, kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Belum sempurna keimanan kalian hingga kalian saling mencintai.” (HR Muslim)\rWassalam\rZon di Jonggol, Kab Bogor 16830\r0966. Pemerintahan Islam\rPada zaman kini belum ada satupun ulama atau umaro yang berlaku sebagai Khalifah Islam.\rKhalifah Islam adalah pemimpin Islam ditaati dan diikuti oleh seluruh umat Islam tanpa batas wilayah / negara.","part":2,"page":25},{"id":526,"text":"Periode kehidupan umat Islam di dunia telah digambarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, “Kalian akan mengalami babak Kenabian selama masa yang Allah kehendaki, kemudian babak kekhalifahan mengikuti manhaj Kenabian selama masa yang Allah kehendaki, kemudian babak Raja-raja yang menggigit,selama masa yang Allah kehendaki, kemudian babak para penguasa yang memaksakan kehendak selama masa yang Allah kehendaki, kemudian kalian akan mengalami babak kekhalifahan mengikuti manhaj Kenabian, kemudian Nabi diam.” (HR Ahmad)\rSebagaimana kita ketahui Ummat Islam dewasa ini sedang menjalani babak keempat dari lima babak perjalanan sejarahnya di akhir zaman.\rTiga babak sebelumnya telah dilalui:\rBabak pertama, babak An-Nubuwwah (Kenabian) yakni masa ketika manhaj kenabian berlangsung\rBabak kedua, babak Khilafatun ’ala Minhaj An-Nubuwwah (Kekhalifahan yang mengikuti Sistem / Metode Kenabian),\rBabak ketiga, babak Mulkan ’Aadhdhon (Raja-raja yang menggigit)., masa ketika raja-raja masih “mengigit” / berpegangan pada Al-Qur’an dan Hadits.\rSesudah berlalunya babak ketiga yang ditandai dengan tigabelas abad masa kepemimpinan Kerajaan Daulat Bani Umayyah, kemudian Kerajaan Daulat Bani Abbasiyyah dan terakhir Kesultanan Utsmani Turki, maka selanjutnya ummat Islam memasuki babak keempat, babak Mulkan Jabbriyyan (Penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak seraya mengabaikan kehendak Allah dan RasulNya).","part":2,"page":26},{"id":527,"text":"Babak keempat diawali semenjak runtuhnya Kesultanan Utsmani Turki yang sekaligus merupakan kekhalifahan Islam terakhir pada tahun 1924. Setelah runtuhnya sistem pemerintahan Islam, maka selanjutnya ummat Islam mulai menjalani kehidupan dengan mengekor kepada pola kehidupan bermasyarakat dan bernegara ala Barat.\rMulailah di berbagai negeri muslim didirikan di atasnya berbagai nation-state (negara bedasarkan kesatuan bangsa / wilayah). Padahal sebelumnya semenjak Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menjadi kepala negara Daulah Islamiyyah (Negara Islam) pertama di Madinah, ummat Islam hidup dalam sistem aqidah-state (negara berdasarkan kesatuan aqidah) selama ribuan tahun.\rPemerintahan Islam adalah terjadi pada masa ummat Islam dalam kesatuan aqidah (aqidah state) tidak dibatasi oleh wilayah atau negara. Oleh karenannya ketika itu ummat Islam bersatu dalam Islam maka dipimpin oleh seorang khalifah dibantu pemimpin-pemimpin berdasarkan wilayah kekuasaan.\rPada saat ini tidak ada lagi pemerintahan Islam karena ummat Islam terpecah dalam beberapa wilayah / negara (nation state), yang ada adalah penguasa negeri yang memerintah dengan berlandaskan syariat Islam atau pemerintahan Islami, itupun tidak sepenuhnya berlandaskan syariat Islam.\rContohnya mereka masih menjadikan kaum kafir sebagai “pemimpin” mereka seperti dalam PBB.","part":2,"page":27},{"id":528,"text":"Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Rasulullah bersabda: “Barangsiapa memilih seseorang menjadi pemimpin untuk suatu kelompok, yang di kelompok itu ada orang yang lebih diridhai Allah dari pada orang tersebut, maka ia telah berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman.” (HR. Hakim)\rContoh lainnya penguasa-penguasa negeri mengaku muslim , mengaku menerapkan syariat Islam dalam kepemimpinannya namun kenyataannya menjadikan kaum yang dimurkai oleh Allah Azza wa Jalla sebagai teman, penasehat, pelindung.\rRasulullah bersabda: “ Demi Allah, yang diriku ada dalam genggaman tanganNya, tidaklah mendengar dari hal aku ini seseorangpun dari ummat sekarang ini, Yahudi, dan tidak pula Nasrani, kemudian tidak mereka mau beriman kepadaku, melainkan masuklah dia ke dalam neraka.”\rIbnu Mardawih meriwayatkan dari Abu Dzar, dia berkata, “Saya bertanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam tentang orang-orang yang dimurkai“, beliau bersabda, ‘Kaum Yahudi.’ Saya bertanya tentang orang-orang yang sesat, beliau bersabda, “Kaum Nasrani.“\rHamad bin Salamah meriwayatkan dari Adi bin Hatim, dia berkata, “Saya bertanya kepada RasulullahShallallahu alaihi wasallam ihwal ‘bukan jalannya orang-orang yang dimurkai’. Beliau bersabda, “Yaitu kaum Yahudi.’ Dan bertanya ihwal ‘bukan pula jalannya orang-orang yang sesat’. “Beliau bersabda, ‘Kaum Nasrani adalah orang-orang yang sesat.","part":2,"page":28},{"id":529,"text":"Firman Allah Azza wa Jalla : “Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui“. (QS Al Mujaadilah [58]:14 )\r“Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali (pemimpin) dan meninggalkan orang-orang mu’min. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah…” (Qs. Ali-Imran : 28)\r“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak, atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.” (Qs. Al Mujadilah : 22)\r“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya” , (QS Ali Imran, 118)","part":2,"page":29},{"id":530,"text":"“Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati“. (QS Ali Imran, 119)\rHal yang harus kita sadari, pada zaman ini penguasa di suatu negara tidak mungkin “ditaati” oleh kaum muslim di negara lain atau pengusa di suatu negara tidak mungkin “memerintah” kaum muslim di negara lain.\rPemerintah Islam telah tiada ketika keruntuhan kekhalifahan Turki Ustmani sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam\rDiriwayatkan oleh Umamah al Bahiliy dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ”Ikatan-ikatan islam akan lepas satu demi satu. Apabila lepas satu ikatan, akan diikuti oleh lepasnya ikatan berikutnya. Ikatan islam yang pertama kali lepas adalah pemerintahan dan yang terakhir adalah shalat.” (HR. Ahmad)\rKapankah dijanjikan Allah Azza wa Jalla , kekhalifahan akan kembali dalam dunia Islam ?\rRasulullah bersabda “Andaikan dunia tinggal sehari sungguh Allah akan panjangkan hari tersebut sehingga diutus padanya seorang lelaki dari ahli baitku namanya serupa namaku dan nama ayahnya serupa nama ayahku. Ia akan penuhi bumi dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman dan penganiayaan.” (HR abu Dawud 9435)","part":2,"page":30},{"id":531,"text":"Makna “Andaikan dunia tinggal sehari” adalah pada akhir zaman dimana lelaki keturunan Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam tersebut adalah Imam Mahdi. Ia akan diizinkan Allah untuk merubah keadaan dunia yang penuh kezaliman dan penganiayaan menjadi penuh kejujuran dan keadilan.\rImam Mahdi yang akan mengantarkan kaum muslim meninggalkan babak keempat, babak Mulkan Jabbriyyan (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak seraya mengabaikan kehendak Allah dan RasulNya) menuju kembali babak kekhalifahan mengikuti manhaj Kenabian sebagaimana periodisasi kehidupan umat Islam di dunia telah digambarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam di atas.\rRasulullah bersabda “Aku kabarkan berita gembira mengenai Al-Mahdi yang diutus Allah ke tengah ummatku ketika banyak terjadi perselisihan antar-manusia dan gempa-gempa. Ia akan penuhi bumi dengan keadilan dan kejujuran sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kesewenang-wenangan dan kezaliman.” (HR Ahmad 10898).\rRasulullah bersabda “Akan terjadi perselisihan setelah wafatnya seorang pemimpin, maka keluarlah seorang lelaki dari penduduk Madinah mencari perlindungan ke Mekkah, lalu datanglah kepada lelaki ini beberapa orang dari penduduk Mekkah, lalu mereka membai’at Imam Mahdi secara paksa, maka ia dibai’at di antara Rukun dengan Maqam Ibrahim (di depan Ka’bah). Kemudian diutuslah sepasukan manusia dari penduduk Syam, maka mereka dibenamkan di sebuah daerah bernama Al-Baida yang berada di antara Mekkah dan Madinah.” (HR Abu Dawud 3737)","part":2,"page":31},{"id":532,"text":"Pesan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, “Ketika kalian melihatnya (kehadiran Imam Mahdi), maka berbai’at-lah dengannya walaupun harus merangkak-rangkak di atas salju karena sesungguhnya dia adalah Khalifatullah Al-Mahdi.” (HR Abu Dawud 4074)\rBanyak ghazawat (perang) akan dipimpin Imam Mahdi. Dan –subhaanallah- Allah akan senantiasa menjanjikan kemenangan baginya.\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam “Kalian perangi jazirah Arab dan Allah beri kalian kemenangan. Kemudian Persia (Iran), dan Allah beri kalian kemenangan. Kemudian kalian perangi Rum, dan Allah beri kalian kemenangan. Kemudian kalian perangi Dajjal,dan Allah beri kalian kemenangan.” (HR Muslim 5161)\rDalam hadits di atas yang diperangi pertama kali adalah jazirah Arab karena pada akhir zaman nanti jazirah Arab , pada masa akhir babak Mulkan Jabbriyyan (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak seraya mengabaikan kehendak Allah dan RasulNya) mereka akan kembali mengalami masa jahiliyah , keadaan mereka benar-benar mengabaikan kehendak Allah dan RasulNya. Kemudian diperangi wilayah Persia (Iran) untuk meluruskan kesalahpahaman-kesalahpahaman saudara-saudara kita kaum Syiah. Kemudian diperangi wilayah Rum , meluruskan kaum Nasrani yang telah disesatkan oleh kaum Yahudi melalui Paulus (Yahudi dari Tarsus). Kemudian terakhir memerangi Dajjal.\rJadi jelaslah bahwa kekhalifahan akan kembali pada akhir zaman yang waktunya hanya Allah Azza wa Jalla yang tahu.","part":2,"page":32},{"id":533,"text":"Hal yang harus kita ingat bahwa apa pun yang telah terjadi adalah kehendak Allah Azza wa Jalla. Oleh karenanya kita harus menghadapi kehendak Allah ta’ala dengan sikap dan perbuatan yang dicintai Allah Ar Rahmaan Ar Rahiim.\rKita harus menjalankan Syariat Islam bagaimanapun keadaan yang telah dikehendaki Allah Azza wa Jalla dengan semampu kita.\rRasulullah bersabda, “Biarkanlah apa yang aku tinggalkan untuk kalian, hanyasanya orang-orang sebelum kalian binasa karena mereka gemar bertanya dan menyelisihi nabi mereka, jika aku melarang kalian dari sesuatu maka jauhilah, dan apabila aku perintahkan kalian dengan sesuatu maka kerjakanlah semampu kalian.” (HR Bukhari 6744) Sumber: http://www.indoquran.com/index.php?surano=76&ayatno=19&action=display&option=com_bukhari.\rUlama sufi, Syaikh Ibnu Athoillah mengatakan “Janganlah kamu merasa bahwa tanpamu Syariat Islam tak kan tegak. Syariat Islam telah tegak bahkan sebelum kamu ada. Syariat Islam tak membutuhkanmu, kaulah yang butuh pada Syariat Islam”\rSyariat Islam telah ditegakkan oleh Rasulullah dan Salafush Sholeh dengan pengorbanan jiwa raga dan harta dalam peperangan-peperangan yang telah mereka lalui.\rPerkara syariat telah “dibukukan” dan ditetapkan hukum perkaranya (istinbat) oleh para Imam Mazhab yang empat kedalam 5 hukum perkara yakni Wajib (fardhu), Sunnah(mandub), haram, makruh, mubah.","part":2,"page":33},{"id":534,"text":"Jadi kita hanya tinggal menjalankan syariat Islam. Tidak ada lagi namanya perang jihad menegakkan syariat Islam karena belum ada lagi Khalifah Islam yang menetapkannya sebagai perang jihad yang ada tinggallah jihad melawan hawa nafsu, jihad menjalankan syariat Islam.\rRasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda , \"Kalian datang dari melakukan suatu amal yang paling baik, dan kalian datang dari jihad kecil menuju jihad yang lebih besar, yaitu: seorang hamba melawan hawa nafsunya.\"\rRasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda, \"Kita baru saja kembali dari medan perang kecil ke medan perang yang lebih besar, yaitu melawan hawa nafsu\"\rRasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda, \"hendaklah kamu selalu bersama jamaah muslimin dan imam mereka ! \"\rAku bertanya; \"kalau tidak ada jamaah muslimin dan imam bagaimana ?\"\rNabi menjawab; hendaklah kau jauhi seluruh firqah (kelompok-kelompok / sekte) itu, sekalipun kau gigit akar-akar pohon hingga kematian merenggutmu kamu harus tetap seperti itu\"\rFirman Allah Azza wa Jalla, wau'bud rabbaka hattaa ya'tiyaka alyaqiinu, \"dan taatilah Tuhanmu sampai kematian menjemputmu\" (QS Al Hijr : 99)\rRasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda\rالمجاهد من جاهد نفسه في طاعة الله\r\"Seorang mujahid adalah orang yang mengendalikan hawa nafsunya untuk mentaati Allah\"","part":2,"page":34},{"id":535,"text":"Perkara syariat adalah syarat yang harus dipenuhi sebagai hamba Allah yakni menjalankan segala apa yang telah ditetapkanNya atau diwajibkanNya, wajib dijalankan dan wajib dijauhi, meliputi perkara kewajiban yang jika ditinggalkan berdosa, menjauhi segala yang telah dilarangNya yang jika dilanggar berdosa dan menjauhi segala yang telah diharamkanNya yang jika dilanggar berdosa.\rPerkara syariat tidak tergantung apakah “diberlakukan” atau belum “diberlakukan” oleh penguasa negeri. Di negara manapun kita tinggal maka kita harus menjalankan perkara syariat. Jika penguasa negeri yang muslim “membiarkan” hukum-hukum yang berlaku tidak sesuai dengan syariat Islam maka mereka akan mempertanggung jawabkan atas pembiaran tersebut di akhirat kelak. Itulah resiko jadi penguasa negeri.\rUntuk itulah kita perlu untuk ikut memilih pemimpin walaupun hukum yang berlaku belum memenuhi syariat Islam agar pemimpin yang kita pilih, dengan kekuasaan yang diperoleh dapat memberlakukan syariat Islam dalam kepemimpinannya dan dalam kehidupan bernegara.\rHal yang aneh terjadi, ada yang tidak ikut memilih pemimpin negeri namun setelah terpilih pempin negeri, mereka taati karena pemimpinnya “masih sholat” walaupun pemimpinya tidak menjalankan syariat. Ada juga yang tidak ikut memlih pemimpin negeri namun setelah terpilih pemimpin negeri mereka masih saja teriak-teriak “tegakkan syariat”. Seharusnyalah mereka ikut memilih dan mensosialisasikan pemimpin yang akan menjalankan syariat Islam.","part":2,"page":35},{"id":536,"text":"Rasulullah bersabda : “Tidak boleh bagi tiga orang berada dimanapun di bumi ini, tanpa mengambil salah seorang diantara mereka sebagai amir (pemimpin) ”\rDiriwayatkan dari Ibnu Abbas, Rasulullah bersabda: “Barangsiapa memilih seseorang menjadi pemimpin untuk suatu kelompok, yang di kelompok itu ada orang yang lebih diridhai Allah dari pada orang tersebut, maka ia telah berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman.” (HR. Hakim)\rDalam sejarah Islam kita kenal adanya ahlu a-halli wa al-‘aqdi yang merupakan demokrasi berdasarkan perwakilan yang berkompetensi dan terpercaya. Ketetapan/fatwa/kebijaksanaan diambil dengan permusyawaratan / perwakilan.\rMusyawarah untuk mufakat sistem perwakilan yang berkompetensi dan terpercaya atau ahlu a-halli wa al-‘aqdi telah dicontohkan oleh para Khulafaur Rasyidin dalam menetapkan khalifah pertama setelah wafatnya Sayyidina Muhammad shallallahu alaihi wasallam.\rBegitu pula yang dimaksud oleh ulama-ulama kita dahulu yang ikut mendirikan negara kita dalam menetapkan sila ke 4 dari Pancasila yakni “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan”. Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang berkompeten dan dipercayai untuk melaksanakan musyawarah untuk suatu mufakat.","part":2,"page":36},{"id":537,"text":"Namun dalam perkembangannya di negara kita, orang-orang kemudian merubahnya menjadi demokrasi sebebas-bebasnya, tidak ada bedanya antara pemilih yang jahat dengan pemilih yang baik, (semua satu suara ) dalam menetapkan Presiden dan Wakil presiden, Kepala Pemerintahan Daerah seperti Gubernur dan Bupati. Itu semua terjadi karena mereka mengaku muslim namun tidak menjalankan syariat Islam, syarat menjadi hamba Allah Azza wa Jalla\rKehendak Allah Azza wa Jalla, kita berada pada masa babak Mulkan Jabbriyyan (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak seraya mengabaikan kehendak Allah dan RasulNya) dalam bentuk pemerintahan NKRI.\rKita menerima atau mentaati hukum-hukum yang berlaku di negara kita bukan berarti mengabaikan hukum Allah ta’ala namun kita terima dan taati hanya yang tidak menyelisihi Al Qur’an dan Hadits.\rFirman Allah Azza wa Jalla yang artinya “wahai orang-orang beriman taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rosul-Nya dan ulil amri di antara kamu ” (QS An Nisa’ : 59 )\rDalam ayat tersebut, Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan orang-orang yang beriman untuk mentaati Allah , Rasul-Nya dan ulil amri. Hanya saja ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya adalah ketaatan mutlak, sedangkan ketaaatan kepada ulil amri tergantung kepada ketaatan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya.\rAdapun maksud dari ulil amri dalam ayat tersebut menurut Ibnu Abbas ra, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Thobari dalam tafsirnya adalah para pakar fiqh dan para ulama yang komitmen dengan ajaran Islam.","part":2,"page":37},{"id":538,"text":"Sedangkan Ibnu Katsir berpendapat bahwa ulil amri di atas mencakup para ulama dan umara ( pemimpin ). Ini sesuai dengan apa yang kita dapati dalam perjalanan sejarah Islam pertama, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah sosok ulama dan umara sekaligus. Begitu juga para Khulafa’ Rasyidin sesudahnya : Sayyidina Abu Bakar ra, Sayyidina Umar ra , Sayyidina Ustman ra dan Sayyidina Ali ra, begitu juga beberapa khalifah dari bani Umayah dan bani Abbas.\rNamun dalam perkembangan sejarah Islam selanjutnya, sangat jarang kita dapatkan seorang pemimpin negara yang benar-benar paham terhadap Syariat Islam. Dari sini, mulailah terpisah antara ulama dan umara. Dalam posisi seperti ini, manakah yang harus kita taati terlebih dahulu, ulama atau umara ?\rKalau kita perhatikan ayat di atas secara seksama, akan kita dapati bahwa ketaatan kepada ulil amri tergantung kepada ketaatan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya. Sedang orang yang paling mengetahui tentang perintah Allah dan Rasul-Nya adalah para ulama, dengan demikian ketaatan kepada para ulama lebih didahulukan daripada ketaatan kepada umara, karena umara sendiri wajib mentaati ulama yang komitmen dengan ajaran Islam.\rOleh karenanya, kita mentaati ulama, karena mereka mentaati Allah Azza wa Jalla dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, begitu juga kita mentaati umara’ karena mereka mentaati para ulama .","part":2,"page":38},{"id":539,"text":"Maka, sangatlah indah jika para umara dan ulama tersebut saling bekerjasama untuk memimpin, mengajak, dan memerintahkan umat ini kepada hal-hal yang baik dan bermanfaat di dunia dan akherat, serta melarang hal-hal yang jelek yang akan membawa mudharat bagi bangsa dan umat.\rSuatu negara akan baik dan maju jika para pemimpin dan ulamanya baik, sebaliknya jika keduanya rusak, maka negarapun pasti akan rusak. Dua kelompok manusia, jika mereka baik, maka masyarakat akan baik, sebaliknya jika mereka rusak, maka masyarakatpun akan ikut rusak, mereka itu adalah para ulama dan umara.\rWassalam\rZon di Jonggol, Kab Bogor 16830\r0967. Mereka masih bersikeras tidak mau bermazhab","part":2,"page":39},{"id":540,"text":"Kami telah sampaikan dalam tulisan sebelumnya pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/01/tegakkan-ukhuwah-islamiyah/ bahwa kita umat Islam pada akhir zaman ini sangat membutuhkan bermazhab untuk melaksanakan perkara syariat dengan baik dan benar. Perkara syariat adalah syarat yang harus dipenuhi sebagai hamba Allah yakni menjalankan segala apa yang telah ditetapkanNya atau diwajibkanNya, wajib dijalankan dan wajib dijauhi, meliputi perkara kewajiban yang jika ditinggalkan berdosa, menjauhi segala yang telah dilarangNya yang jika dilanggar berdosa dan menjauhi segala yang telah diharamkanNya yang jika dilanggar berdosa. Setelah perkara syariat atau perkara yang diwajibkanNya kita penuhi maka kita dapat memilih menjalankan amal kebaikan sebanyak-banyaknya yang bertujuan untuk memperjalankan diri kita agar sampai (wushul) kepada Allah , bertemu Allah , menyaksikan Allah atau untuk mencapai muslim yang Ihsan atau muslim yang berma'rifat sehingga dapat menggapai cintaNya dan menjadi kekasih Allah (wali Allah)","part":2,"page":40},{"id":541,"text":"Dalam sebuah haditas Qudsi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Allah berfirman; Siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan perang kepadanya, dan hamba-Ku tidak bisa mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada yang telah Aku wajibkan (amal ketaatan/perkara syariat), jika hamba-Ku terus menerus mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan sunnah (amal kebaikan), maka Aku mencintai dia, jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya yang ia jadikan untuk mendengar, dan pandangannya yang ia jadikan untuk memandang, dan tangannya yang ia jadikan untuk memukul, dan kakinya yang dijadikannya untuk berjalan, jikalau ia meminta-Ku, pasti Kuberi, dan jika meminta perlindungan kepada-KU, pasti Ku-lindungi. Dan aku tidak ragu untuk melakukan sesuatu yang Aku menjadi pelakunya sendiri sebagaimana keragu-raguan-Ku untuk mencabut nyawa seorang mukmin yang ia (khawatir) terhadap kematian itu, dan Aku sendiri khawatir ia merasakan kepedihan sakitnya. (HR Muslim 6021)\rMereka yang telah berma'rifat, mereka yang meyaksikan Allah dengan hati, mereka yang disisiNya, mereka yang telah menggapai cintaNya hanyalah 4 golongan manusia yakni para Nabi (yang utama adalah Rasulullah), para Shiddiqin, para Syuhada dan orang-orang sholeh.\rFirman Allah ta’ala yang artinya\r“Tunjukilah kami jalan yang lurus” (QS Al Fatihah [1]:6 )\r” (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada mereka….” (QS Al Fatihah [1]:7 )","part":2,"page":41},{"id":542,"text":"“Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya .” (QS An Nisaa [4]: 69 )\rMuslim yang terbaik untuk bukan Nabi , menjadi kekasih Allah (wali Allah) dengan mencapai shiddiqin dan bermacam tingkatan shiddiqin sebagaimana yang diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/14/2011/09/28/maqom-wali-allah/\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “sesungguhnya ada di antara hamba Allah (manusia) yang mereka itu bukanlah para Nabi dan bukan pula para Syuhada’. Mereka dirindukan oleh para Nabi dan Syuhada’ pada hari kiamat karena kedudukan (pangkat) mereka di sisi Allah Swt seorang dari shahabatnya berkata, siapa gerangan mereka itu wahai Rasulullah? Semoga kita dapat mencintai mereka. Nabi Saw menjawab dengan sabdanya: Mereka adalah suatu kaum yang saling berkasih sayang dengan anugerah Allah bukan karena ada hubungan kekeluargaan dan bukan karena harta benda, wajah-wajah mereka memancarkan cahaya dan mereka berdiri di atas mimbar-mimbar dari cahaya. Tiada mereka merasa takut seperti manusia merasakannya dan tiada mereka berduka cita apabila para manusia berduka cita”. (HR. an Nasai dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya)","part":2,"page":42},{"id":543,"text":"Hadits senada, dari ‘Umar bin Khathab ra bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya diantara hamba-hambaku itu ada manusia manusia yang bukan termasuk golongan para Nabi, bukan pula syuhada tetapi pada hari kiamat Allah ‘Azza wa Jalla menempatkan maqam mereka itu adalah maqam para Nabi dan syuhada.”Seorang laki-laki bertanya : “siapa mereka itu dan apa amalan mereka?”mudah-mudahan kami menyukainya. Nabi bersabda: “yaitu Kaum yang saling menyayangi karena Allah ‘Azza wa Jalla walaupun mereka tidak bertalian darah, dan mereka itu saling menyayangi bukan karena hartanya, dan demi Allah sungguh wajah mereka itu bercahaya, dan sungguh tempat mereka itu dari cahaya, dan mereka itu tidak takut seperti yang ditakuti manusia, dan tidak susah seperti yang disusahkan manusia,” kemudian beliau membaca ayat : ” Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS Yunus [10]:62 )\rIronis sekali, mereka masih bersikeras mengikuti pemahaman ulama-ulama seperti ulama Ibnu Taimiyyah, ulama Ibnu Qoyyim al Jauziah, Ulama Muhammad bin Abdul Wahhab atau bahkan ulama Al Albani. Mereka adalah para ulama yang mengaku-aku mengikuti pemahaman Salafush Sholeh namun kenyataannya mereka tentu tidak pernah bertalaqqi (mengaji) dengan Salafush Sholeh. Ulama mereka mengikuti pemahaman Salafush Sholeh berdasarkan upaya pemahaman mereka terhadap lafaz/tulisan perkataan Salafush Sholeh dengan akal pikiran mereka sendiri.","part":2,"page":43},{"id":544,"text":"Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa menguraikan Al Qur’an dengan akal pikirannya sendiri dan merasa benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan”. (HR. Ahmad)\rDari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)\rIbnul Mubarak berkata :”Sanad merupakan bagian dari agama, kalaulah bukan karena sanad, maka pasti akan bisa berkata siapa saja yang mau dengan apa saja yang diinginkannya.” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqoddimah kitab Shahihnya 1/47 no:32 )\rDari Ibnu Abbas ra Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda…”Barangsiapa yang berkata mengenai Al-Qur’an tanpa ilmu maka ia menyediakan tempatnya sendiri di dalam neraka” (HR.Tirmidzi)\rImam Syafi’i ~rahimahullah mengatakan “tiada ilmu tanpa sanad”.\rAl-Hafidh Imam Attsauri ~rahimullah mengatakan “Penuntut ilmu tanpa sanad adalah bagaikan orang yang ingin naik ke atap rumah tanpa tangga”\rBahkan Al-Imam Abu Yazid Al-Bustamiy , quddisa sirruh (Makna tafsir QS.Al-Kahfi 60) ; “Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya syetan” Tafsir Ruhul-Bayan Juz 5 hal. 203\rSanad ilmu / sanad guru sama pentingnya dengan sanad hadits.\rSanad hadits adalah otentifikasi atau kebenaran sumber perolehan matan/redaksi hadits dari lisan Rasulullah.","part":2,"page":44},{"id":545,"text":"Sedangkan Sanad ilmu atau sanad guru adalah otentifikasi atau kebenaran sumber perolehan penjelasan baik Al Qur’an maupun As Sunnah dari lisan Rasulullah.\rKita memahami Al Qur’an dan As Sunnah berdasarkan apa yang kita dengar dari apa yang disampaikan oleh ulama-ulama terdahulu yang tersambung dengan lisannya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Inilah yang dinamakan bertalaqqi (mengaji) dengan ulama bersanad ilmu atau bersanad guru tersambung kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.\rHal yang harus kita ingat bahwa Al Qur’an pada awalnya tidaklah dibukukan. Ayat-ayat Al Qur’an hanya dibacakan dan dihafal (imla) kemudian dipahami bersama dengan yang menyampaikannya.\rHal yang akan ditanyakan seperti :\rApakah yang kamu pahami telah disampaikan / dikatakan oleh ulama-ulama terdahulu yang tersambung lisannya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ?\rSiapakah ulama-ulama terdahulu yang mengatakan hal itu ?\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda yang artinya “Sampaikan dariku sekalipun satu ayat dan ceritakanlah (apa yang kalian dengar) dari Bani Isra’il dan itu tidak apa (dosa). Dan siapa yang berdusta atasku dengan sengaja maka bersiap-siaplah menempati tempat duduknya di neraka” (HR Bukhari)\rHakikat makna hadits tersebut adalah kita hanya boleh menyampaikan satu ayat yang diperoleh dari orang yang disampaikan secara turun temurun sampai kepada lisannya Sayyidina Muhammad bin Abdullah Shallallahu alaihi wasallam.","part":2,"page":45},{"id":546,"text":"Kita tidak diperkenankan menyampaikan apa yang kita pahami dengan akal pikiran sendiri dengan cara membaca dan memahami namun kita sampaikan apa yang kita dengar dan pahami dari lisan mereka yang sanad ilmunya tersambung kepada lisannya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam karena hanya perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang merupakan kebenaran atau ilmuNya.\rCobalah periksa tingkah / perilaku mereka yang tidak bermazhab, apakah patut kita contoh ?\rhttp://isnad.net/media/Muhammad_Sewed_di_Gugat.pdf\rhttp://isnad.net/?dl_name=kumal-kumal-dzul-akmal.pdf\rhttp://isnad.net/dialog-luqman-hizbi-firanda-sururi\rhttp://isnad.net/?dl_name=dzulqornain_yayasan.rar\rhttp://isnad.net/media/dzul-akmal-undercover.pdf\rwww.fb.com/notes/255000094557451\rwww.fb.com/notes/padepokan-kanjeng-sunan/buku-sms-abu-abu-salafi-melawan-salafi-al-bani-vs-bin-bas-utsaimin/248700811863777\rhttp://salafy.catatanku.com/\rhttp://satuislam.wordpress.com/2011/11/10/sekilas-tentang-salafi-wahabi/\rhttp://www.wattpad.com/397024-salafy-haraky-vs-salafy-yamani-vs-salafy-sururi\rhttp://semogakamiselamat.wordpress.com/2011/11/07/point-point-kesesatan-para-penyembah-thogut-radio-rodja/\rRasulullah bersabda,\rحياتي خير لكم ومماتي خير لكم تحدثون ويحدث لكم , تعرض أعمالكم عليّ فإن وجدت خيرا حمدت الله و إن وجدت شرا استغفرت الله لكم.","part":2,"page":46},{"id":547,"text":"“Hidupku lebih baik buat kalian dan matiku lebih baik buat kalian. Kalian bercakap-cakap dan mendengarkan percakapan. Amal perbuatan kalian disampaikan kepadaku. Jika aku menemukan kebaikan maka aku memuji Allah. Namun jika menemukan keburukan aku memohonkan ampunan kepada Allah buat kalian.” (Hadits ini diriwayatkan oelh Al Hafidh Isma’il al Qaadli pada Juz’u al Shalaati ‘ala al Nabiyi Shallalahu alaihi wasallam. Al Haitsami menyebutkannya dalam Majma’u al Zawaaid dan mengkategorikannya sebagai hadits shahih dengan komentarnya : hadits diriwayatkan oleh Al Bazzaar dan para perawinya sesuai dengan kriteria hadits shahih)\rTentulah Rasulullah memohonkan ampunan kepada Allah atas tingkah perilaku mereka seperti itu begitupula dengan karib-kerabat dan keluarga mereka yang telah meninggal dunia akan mendoakan mereka agar Allah Azza wa Jalla tidak mematikan mereka sampai Allah Azza wa Jalla memberikan hidayah\rNabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:\rإن أعمالكم تعرض على أقاربكم وعشائركم من الأموات فإن كان خيرا استبشروا، وإن كان غير ذلك قالوا: اللهم لا تمتهم حتى تهديهم كما هديتنا)\r“Sesungguhnya perbuatan kalian diperlihatkan kepada karib-kerabat dan keluarga kalian yang telah meninggal dunia. Jika perbuatan kalian baik, maka mereka mendapatkan kabar gembira, namun jika selain daripada itu, maka mereka berkata: “Ya Allah, janganlah engkau matikan mereka sampai Engkau memberikan hidayah kepada mereka seperti engkau memberikan hidayah kepada kami.” (HR. Ahmad dalam musnadnya)\rKitapun, kaum muslim pada umumnya mendoakan mereka agar mendapatkan hidayah dan mau bermazhab.","part":2,"page":47},{"id":548,"text":"Lebih baik, lebih selamat mengikuti pemahaman pemimpin ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak) alias Imam Mazhab yang empat karena mereka bertalaqqi (mengaji) langsung dengan Salafush Sholeh.\rBagaimana dengan mazhab kami ?\rSebagaimana yang kita ketahui dari pertemuan antara malaikat Jibril dengan Rasulullah dihadapan para Sahabat ada tiga pokok dalam agama Islam yakni\rIslam , tentang rukun Islam, perkara syariat, fiqih\rIman , tentang rukun Iman, i'tiqod, ushuluddin\rIhsan , tentang ihsan , akhlak , tasawuf\rSecara umum kami berupaya mengikuti mazhab Imam Syafi'i ~ rahimahullah untuk pelaksanaan perkara syariat. Mazhab Imam Syafi'i yang dikuti oleh kaum muslim pada umumnya di Indonesia.\rPendalaman i'tiqod , kami berupaya mengikuti Imam Asy'ari (bermazhab Imam Syafi'i ) dan Imam Maturidi (bermazhab Imam Hanafi) yang diringkas oleh para pengikut Imam Asy'ari dengan “Aqidatul Khomsin / عقيدة الخمسين “. Artinya: Lima puluh Aqidah dimana didalamnya ada 20 sifat wajib bagi Allah sebagai \"batasan\" untuk mengenal Allah.\rSedangkan tasawuf kami berupaya mengikuti ulama-ulama Sufi seperti Syaikh Abdul Qadir Jaelani (bermazhab Imam Hambali) , Syaikh Ibnu Athoillah (bermazhab Imam Maliki) dan lain lain\rApa yang kami lakukan dalam perkara agama menyesuaikan dengan nasehat para Imam Mazhab antara lain","part":2,"page":48},{"id":549,"text":"Imam Syafi’i ra menyampaikan nasehat (yang artinya) ,”Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya. Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mahu menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelazatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mahu mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik (ihsan)?” [Diwan Al-Imam Asy-Syafi'i, hal. 47]\rBegitupula dengan nasehat Imam Malik ra bahwa menjalankan tasawuf agar manusia tidak rusak dan menjadi manusia berakhlak baik\rImam Malik ra menyampaikan nasehat (yang artinya) “Dia yang sedang tasawuf tanpa mempelajari fikih (perkara syariat) rusak keimanannya , sementara dia yang belajar fikih tanpa mengamalkan Tasawuf rusaklah dia ., hanya dia siapa memadukan keduanya terjamin benar” .\rKami mengikuti Imam Mazhab agar kami dapat mencapai muslim yang Ihsan, muslim yang berma'rifat, muslim yang menyaksikan Allah, muslim yang disisiNya, muslim yang berakhlak baik, berakhlakul karimah sesuai dengan tujuan Rasulullah diutus oleh Allah Azza wa Jalla\rRasulullah menyampaikan yang maknanya “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad).\rWassalam\rZon di Jonggol, Kab Bogor 16830\r0980. Bermazhab adalah kebutuhan","part":2,"page":49},{"id":550,"text":"Bermazhab atau mengaji (bertalaqqi) pada ulama bermazhab adalah kebutuhan bagi kaum muslim yang hidup pada zaman ini. Salah satu alasannya adalah dikarenakan hadits yang telah dibukukan hanyalah sebagian saja dan sebagian lagi dalam bentuk hafalan, dimana para penghafal hadits tersebut sudah tidak dapat kita temukan lagi.\rSyarat sebagi seorang mujtahid untuk menyampaikan kepada khalayak ramai adalah mengetahui dan memahami seluruh ayat-ayat Al Qur’an dan seluruh hadits karena keseluruhannya saling terkait. Walaupun Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab yang jelas namun pemahaman yang dalam haruslah dilakukan oleh orang-orang yang berkompeten (ahlinya). Firman Allah ta’ala yang artinya, “Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui” (QS Fush shilat [41]:3)\rPada hakikatnya kita diperintahkan untuk mengikuti orang yang mengetahui Al Qur’an dan As Sunnah. Firman Allah ta’ala yang artinya, “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” [QS. an-Nahl : 43]\rMisalnya kita membeli air, apa hukumnya, tentunya mubah saja, namun bila kita akan shalat fardhu tapi air tidak ada, dan yang ada hanyalah air yang harus beli, dan kita punya uang, maka apa hukumnya membeli air, dari mubah berubah menjadi wajib tentunya. karena perlu untuk shalat yang wajib.","part":2,"page":50},{"id":551,"text":"Demikian pula dalam syariah ini, tak wajib mengikuti madzhab, namun karena kita tak mengetahui samudra syariah seluruh madzhab, dan kita hidup 14 abad setelah wafatnya Rasul shallallahu alaihi wasallam, maka kita tak mengenal hukum ibadah kecuali menelusuri fatwa yang ada di imam imam muhaddits terdahulu, maka bermadzhab menjadi wajib,\rKarena kita tak bisa beribadah hal hal yang fardhu / wajib kecuali dengan mengikuti salah satu madzhab itu, maka bermadzhab menjadi wajib hukumnya\rHal yang harus kita ingat bahwa Al Qur’an pada awalnya tidaklah dibukukan. Ayat-ayat Al Qur’an hanya dibacakan dan dihafal (imla) kemudian dipahami bersama dengan yang menyampaikannya. Hal yang akan dipertanyakan terhadap sebuah pendapat / pemahaman seperti :\rApakah yang kamu pahami telah disampaikan / dikatakan oleh ulama-ulama terdahulu yang tersambung lisannya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ?\rSiapakah ulama-ulama terdahulu yang mengatakan hal itu ?\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda yang artinya “Sampaikan dariku sekalipun satu ayat dan ceritakanlah (apa yang kalian dengar) dari Bani Isra’il dan itu tidak apa (dosa). Dan siapa yang berdusta atasku dengan sengaja maka bersiap-siaplah menempati tempat duduknya di neraka” (HR Bukhari)\rHakikat makna hadits tersebut adalah kita hanya boleh menyampaikan satu ayat yang diperoleh dari orang yang disampaikan secara turun temurun sampai kepada lisannya Sayyidina Muhammad bin Abdullah Shallallahu alaihi wasallam.","part":2,"page":51},{"id":552,"text":"Kita tidak diperkenankan menyampaikan apa yang kita pahami dengan akal pikiran sendiri dengan cara membaca dan memahami namun kita sampaikan apa yang kita dengar dan pahami dari lisan mereka yang sanad ilmunya tersambung kepada lisannya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam karena hanya perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang merupakan kebenaran atau ilmuNya\rDalam memahami Al Qur’an dan As Sunnah, sebaiknyalah kita bertalaqqi (mengaji) kepada ulama yang bermazhab. Tidak boleh kita memahami Al Qur’an dan As Sunnah bersandarkan dengan belajar sendiri (secara otodidak) melalui cara muthola’ah (menelaah kitab) dan memahaminya dengan akal pikiran sendiri (pemahaman secara ilmiah).\rPara ulama telah menyampaikan bahwa jika memahami Al Qur’an dan As Sunnah dengan belajar sendiri (secara otodidak) melalui cara muthola’ah (menelaah kitab) dan memahaminya dengan akal pikiran sendiri, kemungkinan besar akan berakibat negative seperti,\r1. Ibadah fasidah (ibadah yang rusak) , ibadah yang kehilangan ruhnya atau aspek bathin\r2. Tasybihillah Bikholqihi , penyerupaan Allah dengan makhluq Nya\rBegitupula Rasulullah telah melarang kita untuk memahami Al Qur’an dengan akal pikiran kita sendiri\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa menguraikan Al Qur’an dengan akal pikirannya sendiri dan merasa benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan”. (HR. Ahmad)","part":2,"page":52},{"id":553,"text":"Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)\rIbnul Mubarak berkata :”Sanad merupakan bagian dari agama, kalaulah bukan karena sanad, maka pasti akan bisa berkata siapa saja yang mau dengan apa saja yang diinginkannya.” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqoddimah kitab Shahihnya 1/47 no:32 )\rDari Ibnu Abbas ra Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda…”Barangsiapa yang berkata mengenai Al-Qur’an tanpa ilmu maka ia menyediakan tempatnya sendiri di dalam neraka” (HR.Tirmidzi)\rImam Syafi’i ~rahimahullah mengatakan “tiada ilmu tanpa sanad”.\rAl-Hafidh Imam Attsauri ~rahimullah mengatakan “Penuntut ilmu tanpa sanad adalah bagaikan orang yang ingin naik ke atap rumah tanpa tangga”\rBahkan Al-Imam Abu Yazid Al-Bustamiy , quddisa sirruh (Makna tafsir QS.Al-Kahfi 60) ; “Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya syetan” Tafsir Ruhul-Bayan Juz 5 hal. 203\rSanad ilmu / sanad guru sama pentingnya dengan sanad hadits.\rSanad hadits adalah otentifikasi atau kebenaran sumber perolehan matan/redaksi hadits dari lisan Rasulullah.\rSedangkan Sanad ilmu atau sanad guru adalah otentifikasi atau kebenaran sumber perolehan penjelasan baik Al Qur’an maupun As Sunnah dari lisan Rasulullah.\rContoh sanad Ilmu atau sanad guru Imam Syafi’i ra\r1. Baginda Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam\r2. Baginda Abdullah bin Umar bin Al-Khottob ra","part":2,"page":53},{"id":554,"text":"3. Al-Imam Nafi’, Tabi’ Abdullah bin Umar ra\r4. Al-Imam Malik bin Anas ra\r5. Al-Imam Syafei’ Muhammad bin Idris ra\rAl Imam Syafi’i ra mendapatkan penjelasan Al Qur’an dan As Sunnah dari lisannya Al-Imam Malik bin Anas ra,\rAl-Imam Malik bin Anas ra mendapatkan penjelasan Al Qur’an dan As Sunnah dari lisannya Al-Imam Nafi’, Tabi’ Abdullah bin Umar ra,\rAl-Imam Nafi’, Tabi’ Abdullah bin Umar ra mendapatkan penjelasan Al Qur’an dan As Sunnah dari lisannya Baginda Abdullah bin Umar bin Al-Khottob ra,\rBaginda Abdullah bin Umar bin Al-Khottob ra mendapatkan penjelasan Al Qur’an dan As Sunnah dari lisannya Baginda Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam\rSalah satu cara mempertahankan sanad ilmu atau sanad guru adalah dengan mengikuti pendapat/pemahaman pemimpin ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak) alias Imam Mazhab yang empat dan penjelasan dari para pengikut Imam Mazhab sambil merujuk darimana mereka mengambil yaitu Al Quran dan as Sunnah.\rUlama yang tidak mau bermazhab , pada hakikatnya telah memutuskan rantai sanad ilmu atau sanad guru, berhenti pada akal pikirannya sendiri dimana didalamnya ada unsur hawa nafsu atau kepentingan.\rMarilah kita tegakkan ukhuwah Islamiyah dengan mengikuti pemahaman / pendapat Imam Mazhab yang empat dan penjelasan dari para ulama pengikut Imam Mazhab sambil merujuk darimana mereka mengambil yaitu Al Quran dan as Sunnah. Hal ini telah diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/01/tegakkan-ukhuwah-islamiyah/","part":2,"page":54},{"id":555,"text":"Marilah memahami Al Qur’an dan As Sunnah dengan bertalaqqi (mengaji) kepada ulama yang bermazhab ditambah dengan mutho’laah (menelaah) kitab-kitab Imam Mazhab dan para pengikutnya.\rIkutilah Imam Mazhab yang telah disepakati dalam suatu wilayah / negara agar mudah saling belajar dan saling mengingatkan.\rDi negara kita, pada umumnya adalah bermazhab Imam Syafi’i .\rImam Syafi”i ~rahimahullah adalah imam mazhab yang cukup luas wawasannya karena bertalaqqi (mengaji) langsung kepada Salafush Sholeh dari berbagai tempat, mulai dari tempat tinggal awalnya di Makkah, kemudian pindah ke Madinah, pindah ke Yaman, pindah ke Iraq, pindah ke Persia, kembali lagi ke Makkah, dari sini pindah lagi ke Madinah dan akhirnya ke Mesir. Perlu dimaklumi bahwa perpindahan beliau itu bukanlah untuk berniaga, bukan untuk turis, tetapi untuk mencari ilmu, mencari hadits-hadits, untuk pengetahuan agama. Jadi tidak heran kalau Imam Syafi’i ~rahimahullah lebih banyak mendapatkan hadits dari lisannya Salafush Sholeh, melebihi dari yang didapat oleh Imam Hanafi ~rahimahullah dan Imam Maliki ~rahimahullah\rNamun dalam hal menetapkan perkara kewajiban yang jika ditinggalkan berdosa, menetapkan perkara larangan yang jika dilanggar berdosa dan menetapkan perkara pengharaman yang jika dilanggar berdosa atau membuat fatwa atau menetapkan penegakkan hukum syari’ah maka sebaiknya tetap memperbandingkan pendapat antara Imam Mazhab yang empat. Oleh karenanya pada perguruan tinggi Islam, fakultas syari’ah diperlukan jurusan perbandingan mazhab dan hukum.","part":2,"page":55},{"id":556,"text":"Contoh ulama yang masih berpegang teguh kepada pemahaman/pendapat Imam Mazhab yang empat adalah Mufti Mesir Profesor Doktor Ali Jum`ah sebagaimana contoh yang terurai dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/30/hukum-penutup-muka/\rImam Mazhab yang empat, mereka bermazhab pada Rasululllah melalui bertalaqqi (mengaji) pada Salafush Sholeh . Jadi, kita mengikuti Imam Mazhab yang empat dengan bertalaqqi (mengaji) pada ulama bermazhab artinya bermazhab kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam\rSedangkan mereka yang mengaku-aku mengikuti pemahaman Salafush Sholeh , kenyataannya mereka tidak bertalaqqi (mengaji) pada Salafush Sholeh. Mereka mengikuti pemahaman Salafush Sholeh melalui upaya pemahaman terhadap lafaz/perkataan Salafush Sholeh dengan akal pikiran mereka sendiri. Sehingga boleh dikatakan mereka bermazhab dengan akal pikiran mereka sendiri atau dengan kata lain mereka telah menjadikan akal pikirannya sendiri sebagai berhala atau yang disebut menuhankan pendapat sendiri (istibdad bir ro’yi)\rHal yang harus kita ingat selalu janganlah menjadikan akal pikiran kita sebagai berhala\rAllah Azza wa Jalla berfirman,\rاتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ\r“Mereka menjadikan para rahib dan pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah“. (QS at-Taubah [9]:31 )\rKetika Nabi ditanya terkait dengan ayat ini, “apakah mereka menyembah para rahib dan pendeta sehingga dikatakan menjadikan mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah?”\rNabi menjawab, “tidak”","part":2,"page":56},{"id":557,"text":"« أما أنهم لم يكونوا يعبدونهم ولكنهم كانوا إذا أحلوا لهم شيئاً استحلوه وإذا حرموا عليهم شيئاً حرموه »\r“Mereka tidak menyembah para rahib dan pendeta itu, tetapi jika para rahib dan pendeta itu menghalalkan sesuatu bagi mereka, mereka menganggapnya halal, dan jika para rahib dan pendeta itu mengharamkan bagi mereka sesuatu, mereka mengharamkannya“\rPada riwayat yang lain disebutkan, Rasulullah bersabda ” mereka (para rahib dan pendeta) itu telah menetapkan haram terhadap sesuatu yang halal, dan menghalalkan sesuatu yang haram, kemudian mereka mengikutinya. Yang demikian itulah penyembahannya kepada mereka.” (Riwayat Tarmizi)\rFirman Allah ta’ala yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu dan janganlah kamu melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas.” (Qs. al-Mâ’idah [5]: 87).\rMereka yang mengada-ada atau membuat perkara baru (bid’ah) yang bukan kewajiban menjadi kewajiban (ditinggalkan berdosa) atau sebaliknya, yang tidak diharamkan menjadi haram (dikerjakan berdosa) atau sebaliknya dan yang tidak dilarang menjadi dilarang (dikerjakan berdosa) atau sebaliknya adalah yang disebut sebagai ahli bid’ah.\rOleh karenanya ahli bid’ah termasuk pelaku perbuatan syirik, karena penyembahan kepada selain Allah, penyembahan diantara pembuat bid’ah (perkara baru) dengan pengikutnya, perbuatan yang tidak ada ampunannya.\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :\rإِنَّ اللهَ حَجَبَ اَلتَّوْبَةَ عَنْ صَاحِبِ كُلِّ بِدْعَةٍ","part":2,"page":57},{"id":558,"text":"“Sesungguhnya Allah menutup taubat dari semua ahli bid’ah”. [Ash-Shahihah No. 1620]\rMereka yang tanpa disadari telah mengada-ada dalam perkara agama, mengada-ada dalam perkara perintah dan larangan berdasarkan akal pikiran mereka sendiri. Agama adalah perintahNya dan laranganNya\rDari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)\rMereka terjerumus kedalam kekufuran disebabkan antara lain,\r1. Tanpa disadari telah menjadi ahli bid’ah, mengada-ada atau membuat perkara baru (bid’ah) dalam perkara larangan maupun kewajiban yang merupakan hak Allah ta’ala menetapkanNya.\r2. Terjerumus kekufuran dalam i'tiqod\rImam besar ahli hadis dan tafsir, Jalaluddin As-Suyuthi dalam “Tanbiat Al-Ghabiy Bi Tabriat Ibn ‘Arabi” mengatakan “Ia (ayat-ayat mutasyabihat) memiliki makna-makna khusus yang berbeda dengan makna yang dipahami oleh orang biasa. Barangsiapa memahami kata wajh Allah, yad , ain dan istiwa sebagaimana makna yang selama ini diketahui (wajah Allah, tangan, mata, bertempat), ia kafir secara pasti.”\rImam Ahmad ar-Rifa’i (W. 578 H/1182 M) dalam kitabnya al-Burhan al-Muayyad, “Sunu ‘Aqaidakum Minat Tamassuki Bi Dzahiri Ma Tasyabaha Minal Kitabi Was Sunnati Lianna Dzalika Min Ushulil Kufri”, “Jagalah aqidahmu dari berpegang dengan dzahir ayat dan hadis mutasyabihat, karena hal itu salah satu pangkal kekufuran”.","part":2,"page":58},{"id":559,"text":"Begitupula peringatan yang disampaikan oleh khataman Khulafaur Rasyidin, Imam Sayyidina Ali ra dalam riwayat berikut,\rSayyidina Ali Ibn Abi Thalib ra berkata : “Sebagian golongan dari umat Islam ini ketika kiamat telah dekat akan kembali menjadi orang-orang kafir.“\rSeseorang bertanya kepadanya : “Wahai Amirul Mukminin apakah sebab kekufuran mereka? Adakah karena membuat ajaran baru atau karena pengingkaran?”\rSayyidina Ali Ibn Abi Thalib ra menjawab : “Mereka menjadi kafir karena pengingkaran. Mereka mengingkari Pencipta mereka (Allah Subhanahu wa ta’ala) dan mensifati-Nya dengan sifat-sifat benda dan anggota-anggota badan.” (Imam Ibn Al-Mu’allim Al-Qurasyi (w. 725 H) dalam Kitab Najm Al-Muhtadi Wa Rajm Al-Mu’tadi).\rMereka terjerumus dalam kekufuran sehingga menjadi musyrik, dan mempunyai rasa permusuhan terhadap manusia yang telah bersyahadat\rFirman Allah ta’ala yang artinya, “orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik” ( QS Al Maaidah [5]: 82 )\rJadi kalau mempunyai rasa permusuhan terhadap manusia yang telah bersyahadat atau memerangi manusia yang telah bersyahadat maka boleh jadi telah menjadi musyrik karena terjerumus kedalam kekufuran.","part":2,"page":59},{"id":560,"text":"Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya di masa kemudian akan ada peperangan di antara orang-orang yang beriman.” Seorang Sahabat bertanya: “Mengapa kita (orang-orang yang beriman) memerangi orang yang beriman, yang mereka itu sama berkata: ‘Kami telah beriman’.” Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Ya, karena mengada-adakan di dalam agama (mengada-ada dalam perkara yang merupakan hak Allah ta’ala menetapkannya yakni perkara kewajiban, larangan dan pengharaman) , apabila mereka mengerjakan agama dengan pemahaman berdasarkan akal pikiran, padahal di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani).\rFirman Allah Azza wa Jalla,\r“wai’tashimuu bihabli allaahi jamii’an walaa tafarraquu waudzkuruu ni’mata allaahi ‘alaykum idz kuntum a’daa-an fa-allafa bayna quluubikum fa-ashbahtum bini’matihi ikhwaanan“\r“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah secara berjama’ah, dan janganlah kamu bercerai berai , dan ingatlah nikmat Allah atas kamu semua ketika kamu bermusuh-musuhan maka Dia (Allah) menjinakkan antara hati-hati kamu maka kamu menjadi bersaudara” (QS Ali Imron [3]: 103)\r“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara”. ( Qs. Al-Hujjarat :10)","part":2,"page":60},{"id":561,"text":"“Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” (QS Al Ma’iadah [5]:54)\rDiriwayatkan hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Demi Allah, kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Belum sempurna keimanan kalian hingga kalian saling mencintai.” (HR Muslim)\rWassalam\rZon di Jonggol, Kab Bogor 16830\r0985. Mereka hasil pengajaran ulama korban ghazwul fikri","part":2,"page":61},{"id":562,"text":"Mereka adalah hasil pengajaran ulama korban hasutan atau ghazwul fikri dari kaum Zionis Yahudi melalui pusat-pusat kajian Islam yang kaum Zionis dirikan atau melalui ulama-ulama yang “dibentuk” atau dipengaruhi oleh kaum Zionis. Salah satunya adalah perwira Yahudi Inggris bernama Edward Terrence Lawrence yang dikenal oleh ulama jazirah Arab sebagai Laurens Of Arabian. Laurens menyelidiki dimana letak kekuatan umat Islam dan berkesimpulan bahwa kekuatan umat Islam terletak kepada ketaatan dengan mazhab (bermazhab) dan istiqomah mengikuti tharikat-tharikat tasawuf. Laurens mengupah ulama-ulama yang anti tharikat dan anti mazhab untuk menulis buku buku yang menyerang tharikat dan mazhab. Buku tersebut diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan dibiayai oleh pihak orientalis.\rKaum Zionis Yahudi menghasut kaum muslim untuk memahami Al Qur’an dan As Sunnah dengan akal pikiran masing-masing dengan pemahaman secara ilmiah agar timbul perselisihan di antara kaum muslim karena perbedaan pendapat atau perbedaan pemahaman. Mereka dihasut untuk tidak lagi mengikuti pemahaman para pemimpin ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak) alias Imam Mazhab yang empat. Mereka melarang kaum muslim untuk taqlid kepada Imam Mazhab yang empat bahkan dengan menyalahgunakan firman Allah Azza wa Jalla seperti firmanNya :\rوَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ ءَابَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ ءَابَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ","part":2,"page":62},{"id":563,"text":"“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,’ Mereka menjawab: ‘(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.’ (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui sesuatu pun dan tidak mendapat petunjuk?” (QS al Baqarah [2]: 170)\rMereka katakan bahwa kaum muslim pada umumnya yang mengikuti Imam Mazhab yang empat sebagai mengikuti nenek moyang terdahulu. Yang dikatakan “nenek moyang kami” dalam firman Allah ta’ala tersebut adalah orang-orang kafir dari kaum Nabi Nuh a.s. Apakakah mereka menganggap nenek moyang kami adalah kaum hindu atau buddha ? Mereka terhasut pencitraan yang dilakukan imperialisme barat. Hal ini telah kami uraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/05/19/sejak-abad-ke-1-h/\rFirman Allah ta’ala dalam (QS Al Baqarah [2]:170) bukanlah larangan bagi kaum muslim untuk mengikuti para imam/pemimpin ijtihad. Para Imam Mazhab yang empat juga tidak pernah melarang kaum muslim untuk mengikuti mereka. Buat apa Imam Mazhab yang empat bersusah payah berijtihad dan beristinbat terhadap Al Qur'an dan As Sunnah","part":2,"page":63},{"id":564,"text":"Para Imam Mazhab yang empat hanya mengingatkan kita, kaum muslim untuk mengikuti mereka sambil merujuk darimana mereka mengambil yaitu Al Quran dan as Sunnah. Imam Bukhari dan Imam Muslim merekapun mengikuti Imam Mazhab walaupun mereka berkompetensi dalam berijtihad dan menganalisa sanad dan matan/redaksi hadits karena Imam Mazhab yang empat selain berkompetensi berijtihad , mereka berkompetensi dalam beristinbat, menetapkan hukum perkara kedalam 5 hukum perkara, yakni wajib (fardhu), sunnah (mandub), haram, makruh, mubah\rKompetensi beristinbat tidak dapat dicapai oleh kebanyakan kaum muslim. Jumhur ulama dari dahulu sampai sekarang telah sepakat bahwa ulama yang berkompetensi berijtihad sekaligus beristinbat adalah Imam Mazhab yang empat. Memang ada Imam Mazhab yang lain selain yang berempat namun pada akhirnya pendapat / pemahaman mereka karena tidak komprehensive atau tidak menyeluruh sehingga kaum muslim mencukupkannya pada Imam Mazhab yang empat\rBerikut contoh pendapat mereka dengan menyalahgunakan perkataan Al Imam asy Syafi’i rahimahullah\rAl Imam asy Syafi’i Rahimahullah berkata juga, \"Semua yang aku ucapkan namun menyelisihi ucapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih utama. Janganlah kalian taqlid kepadaku.”","part":2,"page":64},{"id":565,"text":"Perkataan Al Imam asy Syafi’i Rahimahullah hanya mengingatkan kaum muslim meninggalkan perkataan atau pendapat Beliau jika menyelisihi ucapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan larangan untuk mengikuti keseluruhan pendapat/pemahaman Beliau yang telah disepakati oleh jumhur ulama dari dahulu sampai sekarang sebagai imam/pemimpin ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak)\rContoh pendapat mereka yang lain, Al Imam asy Syafi’i Rahimahullah sangat mencerca taqlid, sedangkan shufiyah mendidik murid-murid mereka untuk taqlid. Al Imam asy Syafi’i Rahimahullahu berkata, \"Kaum muslimin ijma’, barangsiapa yang telah jelas baginya Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tidak halal baginya meninggalkannya karena ucapan seseorang.”\rPerkataan Al Imam asy Syafi’i Rahimahullah hanya mengingatkan kaum muslim meningalkan ucapan seseorang yang menyelisihi Sunnah Rasulullah.\rImam Al Baihaqi rahimahullah menyebutkan satu riwayat, bahwa Al Imam asy Syafi’i Rahimahullah pernah mengatakan,”Aku telah bersahabat dengan para sufi selama sepuluh tahun, aku tidak memperoleh dari mereka kecuali dua huruf ini, ”Waktu adalah pedang” dan “Termasuk kemaksuman, engkau tidak mampu” (maknanya, sesungguhnya manusia lebih cenderung berbuat dosa, namun Allah menghalangi, maka manusia tidak mampu melakukannya, hingga terhindar dari maksiat).","part":2,"page":65},{"id":566,"text":"Mereka menyalahgunakan, memotong, mengalihkan makna perkataan Al Imam asy Syafi’i Rahimahullah. Mereka katakan bahwa Al Imam asy Syafi’i Rahimahullah mencela kaum Sufi. Padahal Al Imam asy Syafi’i Rahimahullah hanya mencela mereka yang mengaku-aku seorang sufi atau mencela mereka yang telah menjalankan tasawuf namun meninggalkan perkara syariat. Pemutar balikkan perkataan Al Imam asy Syafi’i Rahimahullah selengkapnya telah diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/07/29/pemutarbalikan-perkataan-ulama/\rAndaikata tasawuf adalah sesat, mustahil para pemimpin ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak) alias Imam Mazhab yang empat menasehatkan agar kaum muslim menjalankan tasawuf\rImam Syafi’i ra menyampaikan nasehat (yang artinya) ,”Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya. Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mahu menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelazatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mahu mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik (ihsan)?” [Diwan Al-Imam Asy-Syafi'i, hal. 47]\rBegitupula dengan nasehat Imam Malik ra bahwa menjalankan tasawuf agar manusia tidak rusak dan menjadi manusia berakhlak baik","part":2,"page":66},{"id":567,"text":"Imam Malik ra menyampaikan nasehat (yang artinya) “Dia yang sedang tasawuf tanpa mempelajari fikih (perkara syariat) rusak keimanannya , sementara dia yang belajar fikih tanpa mengamalkan Tasawuf rusaklah dia ., hanya dia siapa memadukan keduanya terjamin benar”\rSejak dahulu kala di perguruan tinggi Islam, tasawuf adalah pendidikan akhlak.\rAhmad Shodiq, MA-Dosen Akhlak & Tasawuf, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, menceritakan kisah sedih pendidikan akhlak dalam sistem pendidikan. Ia merupakan dilema, antara jauhnya standar akhlak menurut kualitas hidup sufi, dengan angkuhnya sistem pendidikan. Dilema sistemik ini dipersedih oleh fakta bahwa para gurupun ternyata jauh dari standar akhlak, dalam sebuah ruang kelas, dimana para murid hanya mencari coretan nilai, atau sebatas titik absensi. Selengkapnya dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/07/pendidikan-akhlak/","part":2,"page":67},{"id":568,"text":"Kesalapahaman ulama-ulama mereka hanya dikarenakan tidak tahu dengan apa yang dinamakan tharikat sufi , jalan (tharikat) untuk menjadi muslim yang ihsan. Jalan menelusuri jalan (tharikat) yang telah dilalui oleh Rasulullah, dimulai dengan beliau berkhalwat (mengasingkan diri dari keramaian) dan bertahanuts (perenungan/kontemplas dirii) di gua hira. Kemudian Beliau menerima wahyuNya tentang perkara syariat , syarat untuk menjadi hamba Allah yang berisikan perintahNya dan laranganNya. Kemudian setelah syarat dipenuhi/dijalankan maka dilakukanlah perjalanan diri melalui maqom-maqom hakikat hingga sampai (wushul) kepada Allah Azza wa Jalla. menjadi muslim yang Ihsan atau muslim yang berma’rifat, muslim yang menyaksikan Allah Azza wa Jalla.\rAda dua kondisi yang dicapai oleh muslim yang ihsan atau muslim yang telah berma’rifat. :\r?…Kondisi minimal adalah mereka yang selalu merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla.\r?…Kondiri terbaik adalah mereka yang dapat melihat Allah Azza wa Jalla dengan hati (ain bashiroh)\rApakah Ihsan ?\rقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِحْسَانُ قَالَ أَنْ تَخْشَى اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنَّكَ إِنْ لَا تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ\rLalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu takut (takhsya / khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.’ (HR Muslim 11) Link: http://www.indoquran.com/index.php?surano=2&ayatno=3&action=display&option=com_muslim","part":2,"page":68},{"id":569,"text":"Rasulullah bersabda “Iman paling afdol ialah apabila kamu mengetahui bahwa Allah selalu menyertaimu dimanapun kamu berada“. (HR. Ath Thobari)\rImam Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani,\r“Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”\rBeliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”\r“Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali.\rSayyidina Ali ra menjawab “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati”\rSebuah riwayat dari Ja’far bin Muhammad beliau ditanya: “Apakah engkau melihat Tuhanmu ketika engkau menyembah-Nya?” Beliau menjawab: “Saya telah melihat Tuhan, baru saya sembah”. Bagaimana anda melihat-Nya? dia menjawab: “Tidak dilihat dengan mata yang memandang, tapi dilihat dengan hati yang penuh Iman.”\rMuslim yang telah mencapai Ihsan atau muslim yang telah berma’rifat, minimal mereka yang selalu merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla atau yang terbaik mereka yang dapat melihat Allah dengan hati maka mereka mencegah dirinya dari melakukan sesuatu yang dibenciNya , menghindari perbuatan maksiat, menghindari perbuatan keji dan mungkar hingga terbentuklah muslim yang berakhlakul karimah sesuai dengan tujuan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diutus oleh Allah Azza wa Jalla\rRasulullah menyampaikan yang maknanya “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad).","part":2,"page":69},{"id":570,"text":"Tasawuf adalah tentang akhlak atau tentang Ihsan. Kaum Zionis Yahudi mencitrakan hal yang buruk terhadap tasawuf dalam Islam adalah dalam rangka mereka merusak akhlak kaum muslim sebagaimana mereka menyebarluaskan pornografi, liberalisme, hedonisme dll sebagaiman yang telah diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/31/beragama-dengan-benar/\rKaum Sufi adalah mereka yang mengikuti Imam Mazhab yang empat dalam hal menjalankan perkara syari’at. Perkara syariat adalah syarat sebagai hamba Allah yakni menjalankan segala apa yang telah ditetapkanNya atau diwajibkanNya, wajib dijalankan dan wajib dijauhi, meliputi perkara kewajiban yang jika ditinggalkan berdosa, menjauhi segala yang telah dilarangNya yang jika dilanggar berdosa dan menjauhi segala yang telah diharamkanNya yang jika dilanggar berdosa.\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban (ditinggalkan berdosa), maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa larangan (dikerjakan berdosa)), maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu (dikerjakan berdosa), maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia.” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi).\rPara Imam Mazhab yang empat telah menguraikan tentang fiqih , tentang agama, tentang perintahNya dan laranganNya","part":2,"page":70},{"id":571,"text":"Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)\rKaum Sufi adalah mereka yang mengikuti Imam Mazhab yang empat contohnya, Syaikh Abdul Qadir Jaelani bermazhab Imam Hambali , Syaikh Ibnu Athoillah bermazhab Imam Maliki, Syaikh al-Junayd al-Baghdadi bermazhab Imam Syafi’i , dll\rOleh karenanya kita sebaiknya mentaati atau mengikuti nasehat para pemimpin ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak) alias Imam Mazhab yang empat, bahwa setelah kita menjalankan perkara syariat, syarat sebagai hamba Allah maka selanjutnya adalah menjalankan tasawuf atau memperjalankan diri agar sampai (wushul) kepada Allah Azza wa Jalla , bertemu dengan Allah ketika kita masih di alam dunia, sehingga mendapatkan nikmat lebih awal dari kaum muslim kebanyakan yang menikmatinya ketika telah menjadi penduduk surga. Sehingga mereka yang menjalankan tasawuf maka perkara syariat bukanlah sebagai beban namun sebuah kenikmatan, kelezatan atau kesenangan sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam “….kesenanganku dijadikan dalam sholat” (diriwayatkan oleh Anas ra) atau sebagaimana yang diriwayatkan bahwa Imam Sayyidina Ali ra minta dicabut anak panah ketika Beliau sedang sholat.\rDengan menjalankan tasawuf kita dapat memahami atau mengalami apa yang dikatakan oleh Imam Syafi’i ra dalam nasehat beliau di atas, “nikmatnya atau kelezatan taqwa“","part":2,"page":71},{"id":572,"text":"Dengan menjalankan tasawuf adalah memenuhi anjuran para ulama pengikut Imam Mazhab yang empat seperti\rImam Nawawi Rahimahullah berkata :\rأصول طريق التصوف خمسة: تقوى الله في السر والعلانية. اتباع السنة في الأقوال والأفعال. الإِعراض عن الخلق في الإِقبال والإِدبار. الرضى عن الله في القليل والكثير.الرجوع إِلى الله في السراء والضراء.\r“ Pokok-pokok metode ajaran tasawwuf ada lima : Taqwa kepada Allah di dalam sepi maupun ramai, mengikuti sunnah di dalam ucapan dan perbuatan, berpaling dari makhluk di dalam penghadapan maupun saat mundur, ridha kepada Allah dari pemberian-Nya baik sedikit ataupun banyak dan selalu kembali pada Allah saat suka maupun duka “. (Risalah Al-Maqoshid fit Tauhid wal Ibadah wa Ushulut Tasawwuf halaman : 20, Imam Nawawi).\rAl-Imam Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Atsqalani berkata :\rوروى الخطيب بسند صحيح أن الإمام أحمد سمع كلام المحاسبي فقال لبعض أصحابه ما سمعت في الحقائق مثل كلام هذا الرجل ولا أرى لك صحبتهم . قلت – أي الإمام ابن حجر – إنما نهاه عن صحبتهم لعلمه بقصوره عن مقامهم فإنه في مقام ضيق لا يسلكه كل واحد ويخاف على من يسلكه أن لا يوفيه حقه. وقال الأستاذ أبو منصور البغدادي – عن الحارث المحاسبي – في الطبقة الأولى من أصحاب الشافعي كان إماما في الفقه والتصوف والحديث والكلام وكتبه في هذه العلوم أصول من يصنف فيها","part":2,"page":72},{"id":573,"text":"“ Al-Khatib meriwayatkan dengan sanad yang shahih bahwa imam Ahmad mendengar ucapan Al-Muhasibi, maka beliau berkata pada sahabat-sahabatnya “ Aku belum pernah mendengar ucapan tentang hakikat-hakikat seperti ucapan al-Muhasibi ini dan aku berpendapat jangan engkau berteman dengan semisal al-Muhasibi. Aku (Ibnu Hajar) katakana : “ Sesungguhnya imam Ahmad melarang untuk berteman dengan orang semisal al-Muhasibi , karena beliau mengetahui pendeknya maqam (kedudukannya) dibandingkan kedudukan mereka. Karena al-Muhasibi berada di dalam maqam dhiq (sempit) yang tidak mampu ditapaki oleh setiap orang dan dikhawatirkan bagi orang yang menapaki tidak bisa memenuhi haqnya. Ustadz Abul Manshur al-Baghdadi berkata “ Dari al-Harits al-Muhasibi di dalam bab Tingkatan pertama dari pengikut Imam Syafi’i “ Beliau al-Muhasibi adalah seorang imam di bidang ilmu fiqih, tasawwuf, hadits dan kalam. Dan kitab beliau di dalam ilmu ini merupakan ushul / sandaran bagi ulama yang mengarang kitab ilmu “. (Tahdzib at-Tahdzib juz 2 halaman : 117, karya imam Ibnu Hajar al-Asqalani)\rAl-Allamah al-Hafidz Ibnu Hajar al-Haitami berkata :","part":2,"page":73},{"id":574,"text":"إياك أن تنتقد على السادة الصوفية : وينبغي للإنسان حيثُ أمكنه عدم الانتقاد على السادة الصوفية نفعنا الله بمعارفهم، وأفاض علينا بواسطة مَحبتَّنا لهم ما أفاض على خواصِّهم، ونظمنا في سلك أتباعهم، ومَنَّ علينا بسوابغ عوارفهم، أنْ يُسَلِّم لهم أحوالهم ما وجد لهم محملاً صحيحاً يُخْرِجهم عن ارتكاب المحرم، وقد شاهدنا من بالغ في الانتقاد عليهم، مع نوع تصعب فابتلاه الله بالانحطاط عن مرتبته وأزال عنه عوائد لطفه وأسرار حضرته، ثم أذاقه الهوان والذلِّة وردَّه إلى أسفل سافلين وابتلاه بكل علَّة ومحنة، فنعوذ بك اللهم من هذه القواصم المُرْهِقات والبواتر المهلكات، ونسألك أن تنظمنا في سلكهم القوي المتين، وأن تَمنَّ علينا بما مَننتَ عليهم حتى نكون من العارفين والأئمة المجتهدين إنك على كل شيء قدير وبالإجابة جدير.\r“ Berhati-hatilah kamu dari menentang para ulama shufi. Dan sebaiknya bagi manusia sebisa mungkin untuk tidak menentang para ulama shufi, semoga Allah member manfaat kpeada kita dengan ma’rifat-ma’rifat mereka dan melimpahkan apa yang Allah limpahkan kepada orang-orang khususnya dengan perantara kecintaan kami pada mereka, menetapkan kita pada jalan pengikut mereka dan mencurahkan kita curahan-curahan ilmu ma’rifat mereka. Hendaknya manusia menyerahkan apa yang mereka lihat dari keadaan para ulama shufi dengan kemungkinan-kemungkinan baik yang dapat mengeluarkan mereka dari melakukan perbuatan haram.","part":2,"page":74},{"id":575,"text":"Kami sungguh telah menyaksikan orang yang sangat menentang ulama shufi, mereka para penentang itu mendapatkan ujian dari Allah dengan pencabutan derajatnya, dan Allah menghilangkan curahan kelembutan-Nya dan rahasia-rahasia kehadiran-Nya. Kemudian Allah menimpakan para penentang itu dengan kehinaan dan kerendahan dan mengembalikan mereka pada derajat terendah. Allah telah menguji mereka dengan semua penyakit dan cobaan . Maka kami berlindung kepada-Mu ya Allah dari hantaman-hantaman yang kami tidak sanggup menahannya dan dari tuduhan-tuduhan yang membinasakan. Dan kami memohon agar Engkau menetapi kami jalan mereka yang kuat, dan Engkau anugerahkan kami apa yang telah Engkau anugerahkan pada mereka sehingga kami menjadi orang yang mengenal Allah dan imam yang mujtahid, sesungguhnya Engkau maha Mampu atas segala sesuatu dan maha layak untuk mengabulkan permohonan “. (Al-Fatawa Al-Haditsiyyah : 113, karya Imam Ibnu Hajar al-Haitami)\rAl-Imam Al-Allamah Syaikhul Islam Tajuddin As-Subuki berkata :\rحَيَّاهمُ الله وبيَّاهم وجمعنا في الجنة نحن وإِياهم. وقد تشعبت الأقوال فيهم تشعباً ناشئاً عن الجهل بحقيقتهم لكثرة المُتلبِّسين بها، بحيث قال الشيخ أبو محمد الجويني لا يصح الوقف عليهم لأنه لا حدَّ لهم. والصحيح صحته، وأنهم المعرضون عن الدنيا المشتغلون في أغلب الأوقات بالعبادة.. ثم تحدث عن تعاريف التصوف إِلى أن قال: والحاصل أنهم أهل الله وخاصته الذين ترتجى الرحمة بذكرهم، ويُستنزل الغيث بدعائهم، فرضي الله عنهم وعنَّا بهم","part":2,"page":75},{"id":576,"text":"“ Semoga Allah memanjangkan hidup para penganut tasawwuf dan mengangkat derajat mereka serta mengumpulkan kita dan mereka di surga. Sungguh telah banyak pendapat miring tentang mereka yang bersumber dari kejahilan akan hakekat mereka disebabkan oknum-oknum yang membuat samar ajaran tasawwuf. Oleh karenanya syaikh Abu Muhammad Al-Juwaini berkata “ Tidak boleh berhenti dalam mendefiniskan mereka, sebab mereka tak memiliki batasan istilah. Yang benar adalah keabsahannya dan definisi shufiyyah adalah orang-orang yang berpaling dari dunia yang menyibukkan diri disebagian besar waktunya dengan beribadah. Kemudian bermunculanlah ta’rif-ta’rif baru tentang tasawwuf..(sampai ucapan beliau) : “..Kesimpulannya ulama tasawwuf adalah keluarga dan orang-orang khusus Allah yang diharapan turunnya rahmat dengan menyebut nama mereka dan turunnya hujan dengan perantara doa mereka. Maka semoga Allah meridhoi mereka dan kita semua dengan sebab mereka “. (Mu’idun Ni’am wa Mubidun Niqam halaman : 140, karya imam Subuki)\rAl-Imam Al-Allamah Al-Hafidz Jalaluddin As-Suyuthi berkata :","part":2,"page":76},{"id":577,"text":"اعلم وفقني الله وإياك أن علم التصوف في نفسه علم شريف رفيع قدره سني أمره ، لم تزل أئمة الإسلام وهداة الأنام قديماً وحديثاً يرفعون مناره وَيُجِلُّون مقداره ويعظمون أصحابه ويعتقدون أربابه ، فإنهم أولياء الله وخاصته من خلقه بعد أنبيائه ورسله ، غير أنه دخل فيهم قديماً وحديثاً دخيل تشبهوا بهم وليسوا منهم وتكلموا بغير علم وتحقيق فزلوا وصلوا وأضلوا ، فمنهم من اقتصر على الاسم وتوسل بذلك إلى حطام الدنيا ، ومنهم من لم يتحقق فقال بالحلول وما شابهه فأدى ذلك إلى إساءة الظن بالجميع ، وقد نبه المعتبرون منهم على هذا الخطب الجليل ونصوا على أن هذه الأمور السيئة من ذلك الدخيل.","part":2,"page":77},{"id":578,"text":"“ Ketahuilah, semoga Allah memberikan taufiq-Nya padaku dan kamu, sesungguhnya ilmu tasawwuf itu sendiri adalah ilmu yang mulia, tinggi derajatnya dan luhur urusannya. Para imam Islam dan para ulama penunjuk manusia sejak dulu hingga sekarang selalu mengangkat lambangnya, meninggikan martabatnya dan mengangungkan para pemeluknya dan meyakini kemulian ahlinya. Karena mereka adalah para wali Allah Swt dan orang-orang khusus-Nya dari makhluk-Nya setelah para nabi dan rasul-Nya, akan tetapi masuklah sesuatu yang asing sejak dulu hingga sekarang yang menyerupai penganut tasawwuf padahal sama sekali mereka bukanlah dari ahli tasawwuf. Mereka berbicara tanpa ilmu dan mengerti hakikat, sehingga mereka tergelincir, sesat dan menyesatkan. Di antara mereka ada yang mencukupkan saja dengan nama dan menjadikan perantara untuk mengambil keuntungan dunia. Di antara mereka ada yang belum mencapai hakikat sehingga mereka berucap dengan hulul dan semisalnya, sehingga itu semua membuat munculnya buruk sangka terhadap semua ajaran tasawwuf. Sungguh para pengambil pelajaran dari mereka telah member peringatan atas nasehat mulia ini dan menetapkan bahwa semua perkara buruk ini muncul dari sesuatu yang asing (di luar tasawwuf) tersebut “. (Ta’yidul Haqiqah al-‘Aliyyah Wa Tasyiduth Thariqah asy-Syadziliyyah halaman : 7, karya imam as-Suyuthi)\rAl-Imam Al-Allamah Al-Mufassir Fakhruddin Ar-Razi berkata :","part":2,"page":78},{"id":579,"text":"الباب الثامن في أحوال الصوفية:اعلم أن أكثر مَنْ حَصَرَ فرق الأمة، لم يذكر الصوفية وذلك خطأ، لأن حاصل قول الصوفية أن الطريق إِلى معرفة الله تعالى هو التصفية والتجرد من العلائق البدنية، وهذا طريق حسن.. وقال أيضاً: والمتصوفة قوم يشتغلون بالفكر وتجرد النفس عن العلائق الجسمانية، ويجتهدون ألاَّ يخلو سرَّهم وبالَهم عن ذكر الله تعالى في سائر تصرفاتهم وأعمالهم، منطبعون على كمال الأدب مع الله عز وجل، وهؤلاء هم خير فرق الآدميين\r“ Bab kedelapan : Tentang keadaan-keadaan ahli tasawwuf. Ketahuilah, sesungguhnya kebanyakan orang yang menghitung pembagian golongan umat tidak menyebut golongan ahli tasawwuf dan hal itu salah, karena keseluruhan ucapan ahli tasawwuf adalah sesungguhnya jalan menuju pengenalan kepada Allah Ta’ala adalah Tashfiyyah (penyucian) dan membersihkan diri dari ketergantungan badan, dan jalan ini merupakan jalan yang baik. Beliau juga berkata “ Kaum shufi adalah orang-orang yang menyibukkan diri dengan tafakkur dan membersihkan jiwa dari ketergantungan jasmaniyah, berusaha keras agar hati mereka tidak kosong dari mengingat Allah Ta’ala di dalam gerak-gerik mereka, selalu berpegang dengan kesempurnaan adab bersama Allah, dan merekalah paling baiknya golongan anak manusia “. (I’tiqadaat firaqil Muslimin wal musyrikin halaman : 72-73, Karya imam Fakhruddin Ar-Razi)\rAl-Imam Al-Allamah Al-Hafidz Abdu Rauf al-Manawi berkata :","part":2,"page":79},{"id":580,"text":"وإني كنت قبل أن يكتب الشباب خط العذار , أردد ناظري في أخبار الأولياء الأخيار , وأتتبع مواقع إشارات حكم الصوفية الأبرار , وأترقب أحوالهم وأسبر أقوالهم … حتى حصلت من ذلك على فوائد عاليات , وحكم شامخات ساميات فألهمت أن أقيد ما وقفت عليه في ورقات , وأن أجعله في ضمن التراجم , كما فعله بعض الأعاظم الأثبات , فأنزلت الصوفية في طبقات , وضربت لهم في هذا المجموع سرادقات , ورتبتهم على حروف المعجم عشر طبقات , كل مائة سنة طبقة , وجمعتهم كواكب كلها معالم للهدي , ومصابيح للدجى , ورجوم للمسترقة\r“ Sesungguhnya aku sebelum seorang pemuda dicatat akan catatan alasannya, ingin mencermati kisah-kisah para wali Allah yang terpilih, aku telusuri isyarat-isyarat hokum ahli shufi yang baik dan aku selidiki keadaan-keadaan mereka dan aku kuak ucapan-ucapan mereka hingga aku mendapatkan beberapa faedah yang tinggi sebab itu dan hikmah-hikmah berbobot nan luhur. Lalu aku mendapatkan ilham agar mencatat apa yang aku dalami itu pada sebuah buku, dan agar aku buat isi biografi perjalanan mereka sebagaimana telah dilakukan sebagian besar ulama. Maka aku posisikan ulama shufi dalam beberapa tingkatan dan ku beberkan beberapa tenda dalam kumpulan ini. Aku tertibkan nama mereka menjadi sepuluh tingkatan. Setiap seratus tahun satu tingkatan dan aku kumpulkan bintang-bintang seluruhnya bagaikan petunjuk bagi kebenaran dan penerang bagi kegelapan serta panah api bagi si pencuri “. (Al-Kawaiku Ad-Durriyyah fii Tarajimi ash-Shufiyyah halaman : 3-4, karya imam Abdur Raouf al-Manawi)\rAl-Imam Al-Kabir Abdul Qahir Al-Baghdadi berkata :","part":2,"page":80},{"id":581,"text":"الفصل الأول من فصول هذا الباب في بيان أصناف أهل السنة والجماعة. اعلموا أسعدكم الله أن أهل السنة والجماعة ثمانية أصناف من الناس… والصنف السادس منهم: الزهاد الصوفية الذين أبصروا فأقصروا، واختَبروا فاعتبروا، ورضوا بالمقدور وقنعوا بالميسور، وعلموا أن السمع والبصر والفؤاد كل أُولئك مسؤول عن الخير والشر، ومحاسب على مثاقيل الذر، فأعدُّوا خير الإِعداد ليوم المعاد، وجرى كلامهم في طريقَيْ العبارة والإِشارة على سَمْتِ أهل الحديث دون من يشتري لهو الحديث، لا يعملون الخير رياء، ولا يتركونه حياء، دينُهم التوحيد ونفي التشبيه، ومذهبهم التفويضُ إِلى الله تعالى، والتوكلُ عليه والتسليمُ لأمره، والقناعةُ بما رزقوا، والإِعراضُ عن الاعتراض عليه. {ذلكَ فضلُ اللهِ يؤتِيهِ مَنْ يشاءُ واللهُ ذو الفضلِ العظيمِ","part":2,"page":81},{"id":582,"text":"“ Fasal pertama dari fasal-fasal bab ini, tentang penjelasan kelompok-kelompok Ahlus sunnah waljama’ah. Ketahuilah, semoga Allah membuat kalian bahagia, sesungguhnya Ahlus sunnah waljama’ah ada delapan kelompok manusia..(hingga ucapan beliau)..” Kelompok ke enam di anatara mereka adalah orang-orang yang zuhud dan ahlis shufi yang mereka memandang dengan mata hati hingga mereka bisa berlaku sederhana, mereka mendapat ujian dan mereka mengambil pelajarannya. Mereka ridha dengan ketentuan dan legowo dengan hal yang ringan. Mereka ahli shufi mengetahui bahwa pendengaran, penglihatan dan hati semuanya akan dimintai pertangung jawabannya dari kebaikan atau keburukan dan akan dihisab walau seberat biji atom pun. Maka mereke mempersiapkan diri dengan sebaik-baik bekal untuk hari kembali kelak dan ucapan mereka berjalan di dalam dua jalan ibarat dan isyarat berdasarkan karakter ahli hadits bukan orang yang menjual permainan hadits. Mereka beramal kebaikan tidak dengan pamer dan tidak meninggalkan kebaikan karena malu. Agama mereka Tauhid dan meniadakan Tasybih (penyerupaan) dan mazdhab mereka Tafwidh (menyerahkan makna) kepada Allah Swt, tawakkal dan penyerahan diri kepada perintah Allah. Qonaah terhadap rezeki yang mereka dapat dan berpaling dari mengeluh atas-Nya. Itulah keutamaan Allah yang Allah berikan pada orang yang dikehendaki-Nya dan Allah maha memiliki keutamaan yang agung “. (Al-Farq bainal Firaq halaman : 236)\rAl-Imam Al-Hafidz Abu Nu’aim Al-Ashfihani berkata :","part":2,"page":82},{"id":583,"text":"أما بعد أحسن الله توفيقك فقد استعنت بالله عز وجل وأجبتك الى ما ابتغيت من جمع كتاب يتضمن أسامي جماعة وبعض أحاديثهم وكلامهم من أعلام المتحققين من المتصوفة وأئمتهم وترتيب طبقاتهم من النساك من قرن الصحابة والتابعين وتابعيهم ومن بعدهم ممن عرف الأدلة والحقائق وباشر الأحوال والطرائق وساكن الرياض والحدائق وفارق العوارض والعلائق وتبرأ من المتنطعين والمتعمقين ومن أهل الدعاوى من المتسوفين ومن الكسالى والمتثبطين المتشبهين بهم في اللباس والمقال والمخالفين لهم في العقيدة والفعال وذلك لما بلغك من بسط لساننا ولسان أهل الفقه والآثار في كل القطر والأمصار في المنتسبين إليهم من الفسقة الفجار والمباحية والحلولية الكفار وليس ما حل بالكذبة من الوقيعة والإنكار بقادح في منقبة البررة الأخيار وواضع من درجة الصفوة الأبرار بل في إظهار البراءة من الكذابين , والنكير على الخونة الباطلين نزاهة للصادقين ورفعة للمتحققين ولو لم نكشف عن مخازي المبطلين ومساويهم ديانة , للزمنا إبانتها وإشاعتها حمية وصيانة , إذ لأسلافنا في التصوف العلم المنشور والصيت والذكر المشهور","part":2,"page":83},{"id":584,"text":"“ Selanjutnya, semoga Allah memperbagus taufiqmu, maka sungguh aku telah memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala dan menjawabmu atas apa yang engkau mau dari pengumpulan kitab yang mengandung nama-nama kelompok dan sebagian hadits dan ucapan mereka dari ulama hakikat dari orang-orang ahli tasawwuf, para imam dari mereka, penertiban tingkatan mereka dari orang-orang ahli ibadah sejak zaman sahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in dan setelahnya dari orang yang memahami dalil dan hakikat. Menjalankan hal ihwal serta thariqah, bertempat di taman (ketenangan) dan meninggalkan ketergantungan. Berlepas dari orang-orang yang berlebihan dan orang-orang yang mengaku-ngaku, orang-orang yang berandai-andai dan dari orang-orang yang malas yang menyerupai mereka di dalam pakaian dan ucapan dan bertentangan pada mereka di dalam aqidah dan perbuatan. Demikian itu ketika sampai padamu dari pemaparan lisan kami dan lisan ulama fiqih dan hadits di setiap daerah dan masa tentang orang-orang yang menisabatkan diri pada mereka adalah orang-orang fasiq, fajir, suka mudah berkata mubah dan halal lagi kufur. Bukanlah menghalalkan dengan kedustaan, umpatan dan pengingkaran dengan celaan di dalam manaqib orang-orang baik pilihan dan perendahan dari derajat orang-orang suci lagi baik, akan tetapi di dalam menampakkan pelepasan diri dari orang-orang pendusta dan pengingkaran atas orang-orang pengkhianat, bathil sebagai penyucian bagi orang-orang jujur dan keluhuran bagi orang-orang ahli hakikat. Seandainya kami tidak menyingkap kehinaan dan keburukan orang-orang yang mengingkari tasawwuf itu sebagai","part":2,"page":84},{"id":585,"text":"bagian dari agama, maka kami pasti akan menjelaskan dan mengupasnya sebagai penjagaan, karena salaf kami di dalam ilmu tasawwuf memiliki ilmu yang sudah tersebar dan nama yang masyhur “. (Muqoddimah Hilyah Al-Awliya, karya imam Al-Ashfihani)\rAl-Imam Al-Kabir Al-Mufassir An-Nadzdzar Abi Al- muzdhaffar Al-Isfirayaini berkata :\rفي الباب الخامس عشر : في بيان اعتقاد أهل السنة والجماعة وبيان مفاخرهم ومحاسن أحوالهم وسادسها : علم التصوف والإشارات , وما لهم فيها من الدقائق والحقائق , لم يكن قط لأحد من أهل البدعة فيه حظ بل كانوا محرومين مما فيه من الراحة والحلاوة , والسكينة والطمأنينة وقد ذكر أبو عبد الرحمن السلمي من مشايخهم قريبا من ألف ، وجمع إشاراتهم وأحاديثهم ولم يوجد في جملتهم قط من ينسب إلى شيء من بدع القدرية والروافض ، والخوارج ، وكيف يتصور فيهم من هؤلاء وكلامهم يدور على التسليم ، والتفويض والتبري من النفس ، والتوحيد بالخلق والمشيئة ، وأهل البدع ينسبون الفعل ، والمشيئة ، والخلق ، والتقدير إلى أنفسهم ، وذلك بمعزل عما عليه أهل الحقائق من التسليم والتوحيد","part":2,"page":85},{"id":586,"text":"Di bab ke-15 : Tentang penjelasan aqidah Ahlus sunnah waljama’ah dan penjelasan kebanggaan serta kebaikan hal ihwal mereka. Fasal yang ke- 6 adalah : Ilmu Tasawwuf dan isyarat dan apa yang mereka miliki dari ilmu-ilmu yang lembut dan ilmu hakikat. Yang tidak akan mendapat bagian sedikitpun dari ilmu ini orang-orang ahli bid’ah bahkan mereka terhalang mendapatkan apa yang ada pada ulama tasawwuf dari ketenangan, manisnya ibadah, sakinah dan tuma’ninah. Abu Abdirrahman As-Salmi telah menyebutkan guru-guru mereka hampir mendekati seribu, mengumpulkan isyarat dan hadits mereka namun tak ditemukan satu pun dari mereka orang-orang ahli bid’ah seperti qodariyyah, rowafidh dan khowarij. Bagaimana bisa tergambar pada mereka padahal ucapan ahli tasawwuf berputar pada taslim, tawakkal dan berlepas dari diri. Dan bertauhid dengan akhlak dan keinginan. Sedangkan ahlul bid’ah menisbatkan perbuatan dan keinginan, akhlak dan pennetuan pada diri mereka. Hal ini bertentangan dengan ahli hakikat dari sifat taslim dan tauhid “. (At-Tabshir fiddin halaman : 164, karya imam al-Isfirayaini)\rAkhir tulisan kali ini kami menyampaikan bahwa pada hakikatnya kita diperintahkan untuk mengikuti orang yang mengetahui Al Qur'an dan As Sunnah\rFirman Allah ta’ala :\rفَاسْأَلُواْ أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ\r“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” [QS. an-Nahl : 43]","part":2,"page":86},{"id":587,"text":"Cobalah kita sadari mana yang lebih baik pengetahuannya antara ulama yang mengaku-aku mengikuti pemahaman Salafush Sholeh namun kenyataannya tidak bertalaqqi (mengaji) dengan Salafush Sholeh atau para Imam Mazhab yang empat yang bertalaqqi (mengaji) dengan Salafush Sholeh\rHal yang tidak diperbolehkan bagi yang berkemampuan berijtihad adalah taqlid buta, mengikuti tanpa merujuk kepada Al Qur'an dan As Sunnah\rMudah-mudahan saudara-saudara muslim kami menyadari akan upaya ghazwul fikri (perang pemahaman) yang dilakukan oleh kaum Zionis Yahudi , agar kita umat muslim berselisih karena perbedaan pemahaman disebabkan tidak lagi mau mengikuti pendapat/pemahaman Imam / Pemimpin Ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak) alias Imam Mazhab yang empat\rKaum Zionis Yahudi memang mereka terkenal pandai, mereka serang terlebih dahulu adalah para ulama-ulama di wilayah kerajaan Dinasti Saudi. Kesalahpahaman-kesalahpahaman yang ditimbulkan oleh hasutan atau ghazwul fikri (perang pemahaman) kaum Zionis Yahudi tersebar ke seluruh negara berpenduduk muslim, salah satunya melalui beasiswa pendidikan yang diberikan oleh Kerajaan Dinasti Saudi.\rOleh karenanya dalam rangka menegakkan Ukhuwah Islamiyah, marilah kita mengikuti pendapat/pemahaman para Imam / Pemimpin Ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak) alias Imam Mazhab yang empat serta penjelasan para ulama terdahulu yang bermazhab sambil merujuk darimana mereka mengambil yaitu Al Quran dan as Sunnah.\rWassalam\rZon di Jonggol, Kab Bogor 16830\r0992. Apakah sekte mereka termasuk khawarij","part":2,"page":87},{"id":588,"text":"Khawarij adalah bentuk jamak (plural) dari kharij (bentuk isim fail) artinya yang keluar. Khawarij secara umum dapat dikenakan kepada mereka yang pemahamannya telah keluar (menyempal) dari pemahaman kaum muslim pada umumnya sehingga mereka dikatakan sebagai sebuah sekte / firqah.\rRasulullah telah memperingatkan kaum muslim untuk menghindari pemahaman sekte / firqah dan berpegang teguh pada pemahaman jama’ah kaum muslim pada umumnya hingga kematian menjemput.\rRasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda, “hendaklah kamu selalu bersama jamaah muslimin dan imam mereka ! “\rAku bertanya; “kalau tidak ada jamaah muslimin dan imam bagaimana ?”\rNabi menjawab; hendaklah kau jauhi seluruh firqah (kelompok-kelompok / sekte) itu, sekalipun kau gigit akar-akar pohon hingga kematian merenggutmu kamu harus tetap seperti itu“\rFirman Allah Azza wa Jalla, wau’bud rabbaka hattaa ya’tiyaka alyaqiinu, “dan taatilah Tuhanmu sampai kematian menjemputmu” (QS Al Hijr : 99)\rRasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda\rالمجاهد من جاهد نفسه في طاعة الله\r“Seorang mujahid adalah orang yang mengendalikan hawa nafsunya untuk mentaati Allah”\rKita ikuti Sunnah Rasulullah bahwa jika kita mendapatkan perselisihan karena perbedaan pemahaman / pendapat maka agar selamat dari kesesatan kita disuruh untuk mengikuti as-sawad al a’zham atau mengikuti kesepakatan jumhur ulama","part":2,"page":88},{"id":589,"text":"Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyampaikan, “Sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat pada kesesatan. Oleh karena itu, apabila kalian melihat terjadi perselisihan maka ikutilah as-sawad al a’zham (jumhur ulama).” (HR. Ibnu Majah, Abdullah bin Hamid, at Tabrani, al Lalika’i, Abu Nu’aim. Menurut Al Hafidz As Suyuthi dalam Jamius Shoghir, ini adalah hadits Shohih)\rAl-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari XII/37 menukil perkataan Imam Thabari rahimahullah yang menyatakan: “Berkata kaum (yakni para ulama), bahwa jamaah adalah Sawadul A’dzam.\rKhawarij atau mereka yang pemahamannya keluar dari pemahaman jama’ah kaum muslim terjadi di setiap masa, baik pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, masa Sayyidina Utsman ra, masa Sayyidina Ali ra, masa Sayyidina Husein ra dll. Pemahaman yang keluar dari pemahaman jama’ah kaum muslim menimbulkan permusuhan dan bahkan pembunuhan terhadap saudara muslimnya sendiri yang dianggap menyelisihi pemahaman mereka.\rKemudian diceritakan dari Ibnu Sirin dari Abi Mas’ud, bahwa beliau mewasiatkan kepada orang yang bertanya kepadanya ketika Sayyidina ‘Utsman ra dibunuh, untuk berpegang teguh pada Jamaah, karena Allah tidak akan mengumpulkan umat Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam kesesatan. Dan dalam hadits dinyatakan bahwa ketika manusia tidak mempunyai imam, dan manusia berpecah belah menjadi kelompok-kelompok maka janganlah mengikuti salah satu firqah/sekte. Hindarilah semua firqah/sekte itu jika kalian mampu untuk menghindari terjatuh ke dalam keburukan”.","part":2,"page":89},{"id":590,"text":"Informasi lain tentang pemahaman mereka menyelisihi pemahaman kaum muslim pada umumnya sehingga mereka “memerangi” orang beriman dapat kita ketahui dalam tulisan pada http://www.aswaja-nu.com/2010/01/dialog-syaikh-al-syanqithi-vs-wahhabi_20.html atau pada www.fb.com/photo.php?fbid=220630637981571&set=a.220630511314917.56251.100001039095629\rUntuk itulah kita hindari pemahaman/pendapat sekte manapun. Hal ini telah diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/26/hindari-pemahaman-sekte/\rIkutilah pemahaman/pendapat Imam Mazhab yang empat, pemimpin / imam ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak), mereka yang bertalaqqi (mengaji) langsung dengan Salafush Sholeh dan ikutilah penjelasan dari para ulama yang mengikuti Imam Mazhab yang empat sambil merujuk darimana mereka mengambil yaitu Al Quran dan as Sunnah.\rBerikut informasi dari para ulama kalangan 4 mazhab bahwa pada masa kehidupan mereka, sekte Wahabi pun termasuk khawarij dalam pengertian sekte yang pemahamannya telah keluar dari pemahaman/ pendapat jumhur ulama, sekte yang mengikuti pemahaman Ulama Muhammad bin Abdul Wahhab yang berasal dari Najd.\rDari kalangan ulama madzhab al-Maliki, al-Imam Ahmad bin Muhammad al-Shawi al-Maliki, ulama terkemuka abad 12 Hijriah dan semasa dengan pendiri Wahhabi, berkata dalam Hasyiyah ‘ala Tafsir al-Jalalain sebagai berikut:","part":2,"page":90},{"id":591,"text":"هَذِهِ اْلآَيَةُ نَزَلَتْ فِي الْخَوَارِجِ الَّذِيْنَ يُحَرِّفُوْنَ تَأْوِيْلَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَيَسْتَحِلُّوْنَ بِذَلِكَ دِمَاءَ الْمُسْلِمِيْنَ وَأَمْوَالَهُمْ كَمَا هُوَ مُشَاهَدٌ اْلآَنَ فِيْ نَظَائِرِهِمْ وَهُمْ فِرْقَةٌ بِأَرْضِ الْحِجَازِ يُقَالُ لَهُمُ الْوَهَّابِيَّةُ يَحْسَبُوْنَ أَنَّهُمْ عَلىَ شَيْءٍ أَلاَ إِنَّهُمْ هُمُ الْكَاذِبُوْنَ. (حاشية الصاوي على تفسير الجلالين، 3/307).\r“Ayat ini turun mengenai orang-orang Khawarij, yaitu mereka yang mendistorsi penafsiran al-Qur’an dan Sunnah, dan oleh sebab itu mereka menghalalkan darah dan harta benda kaum Muslimin sebagaimana yang terjadi dewasa ini pada golongan mereka, yaitu kelompok di negeri Hijaz yang disebut dengan aliran Wahhabiyah, mereka menyangka bahwa mereka akan memperoleh sesuatu (manfaat), padahal merekalah orang-orang pendusta.” (Hasyiyah al-Shawi ‘ala Tafsir al-Jalalain, juz 3, hal. 307).\rDari kalangan ulama madzhab Hanafi, al-Imam Muhammad Amin Afandi yang populer dengan sebutan Ibn Abidin, juga berkata dalam kitabnya, Hasyiyah Radd al-Muhtar sebagai berikut:","part":2,"page":91},{"id":592,"text":"“مَطْلَبٌ فِي أَتْبَاعِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْوَهَّابِ الْخَوَارِجِ فِيْ زَمَانِنَا :كَمَا وَقَعَ فِيْ زَمَانِنَافِيْ أَتْبَاعِ ابْنِ عَبْدِ الْوَهَّابِ الَّذِيْنَ خَرَجُوْا مِنْ نَجْدٍ وَتَغَلَّبُوْا عَلَى الْحَرَمَيْنِ وَكَانُوْايَنْتَحِلُوْنَ مَذْهَبَ الْحَنَابِلَةِ لَكِنَّهُمْ اِعْتَقَدُوْا أَنَّهُمْ هُمُ الْمُسْلِمُوْنَ وَأَنَّ مَنْ خَالَفَاعْتِقَادَهُمْ مُشْرِكُوْنَ وَاسْتَبَاحُوْا بِذَلِكَ قَتْلَ أَهْلِ السُّنَّةِ وَقَتْلَ عُلَمَائِهِمْ حَتَى كَسَرَ اللهُشَوْكَتَهُمْ وَخَرَبَ بِلاَدَهُمْ وَظَفِرَ بِهِمْ عَسَاكِرُ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَ ثَلاَثٍ وَثَلاَثِيْنَ وَمِائَتَيْنِوَأَلْفٍ.” اهـ (ابن عابدين، حاشية رد المحتار، 4/262).\r“Keterangan tentang pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab, kaum Khawarij pada masa kita. Sebagaimana terjadi pada masa kita, pada pengikut Ibn Abdil Wahhab yang keluar dari Najd dan berupaya keras menguasai dua tanah suci. Mereka mengikuti madzhab Hanabilah. Akan tetapi mereka meyakini bahwa mereka saja kaum Muslimin, sedangkan orang yang berbeda dengan keyakinan mereka adalah orang-orang musyrik. Dan oleh sebab itu mereka menghalalkan membunuh Ahlussunnah dan para ulamanya sampai akhirnya Allah memecah kekuatan mereka, merusak negeri mereka dan dikuasai oleh tentara kaum Muslimin pada tahun 1233 H.” (Ibn Abidin, Hasyiyah Radd al-Muhtar ‘ala al-Durr al-Mukhtar, juz 4, hal. 262).\rDari kalangan ulama madzhab Hanbali, al-Imam Muhammad bin Abdullah bin Humaid al-Najdi berkata dalam kitabnya al-Suhub al-Wabilah ‘ala Dharaih al-Hanabilah ketika menulis biografi Syaikh Abdul Wahhab, ayah pendiri Wahhabi, sebagai berikut:","part":2,"page":92},{"id":593,"text":"عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ سُلَيْمَانَ التَّمِيْمِيُّ النَّجْدِيُّ وَهُوَ وَالِدُ صَاحِبِ الدَّعْوَةِ الَّتِيْ انْتَشَرَشَرَرُهَا فِي اْلأَفَاقِ لَكِنْ بَيْنَهُمَا تَبَايُنٌ مَعَ أَنَّ مُحَمَّدًا لَمْ يَتَظَاهَرْ بِالدَّعْوَةِ إِلاَّ بَعْدَمَوْتِ وَالِدِهِ وَأَخْبَرَنِيْ بَعْضُ مَنْ لَقِيْتُهُ عَنْ بَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ عَمَّنْ عَاصَرَ الشَّيْخَ عَبْدَالْوَهَّابِ هَذَا أَنَّهُ كَانَ غَاضِبًا عَلىَ وَلَدِهِ مُحَمَّدٍ لِكَوْنِهِ لَمْ يَرْضَ أَنْ يَشْتَغِلَ بِالْفِقْهِكَأَسْلاَفِهِ وَأَهْلِ جِهَتِهِ وَيَتَفَرَّسُ فِيْه أَنَّهُ يَحْدُثُ مِنْهُ أَمْرٌ .فَكَانَ يَقُوْلُ لِلنَّاسِ: يَا مَا تَرَوْنَ مِنْ مُحَمَّدٍ مِنَ الشَّرِّ فَقَدَّرَ اللهُ أَنْ صَارَ مَاصَارَ وَكَذَلِكَ ابْنُهُ سُلَيْمَانُ أَخُوْ مُحَمَّدٍ كَانَ مُنَافِيًا لَهُ فِيْ دَعْوَتِهِ وَرَدَّ عَلَيْهِ رَدًّا جَيِّداًبِاْلآَياَتِ وَاْلآَثاَرِ وَسَمَّى الشَّيْخُ سُلَيْمَانُ رَدَّهُ عَلَيْهِ ( فَصْلُ الْخِطَابِ فِي الرَّدِّ عَلىَمُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْوَهَّابِ ) وَسَلَّمَهُ اللهُ مِنْ شَرِّهِ وَمَكْرِهِ مَعَ تِلْكَ الصَّوْلَةِ الْهَائِلَةِ الَّتِيْأَرْعَبَتِ اْلأَبَاعِدَ فَإِنَّهُ كَانَ إِذَا بَايَنَهُ أَحَدٌ وَرَدَّ عَلَيْهِ وَلَمْ يَقْدِرْ عَلَى قَتْلِهِ مُجَاهَرَةًيُرْسِلُ إِلَيْهِ مَنْ يَغْتَالُهُ فِيْ فِرَاشِهِ أَوْ فِي السُّوْقِ لَيْلاً لِقَوْلِهِ بِتَكْفِيْرِ مَنْ خَالَفَهُوَاسْتِحْلاَلِ قَتْلِهِ. اهـ (ابن حميد النجدي، السحب الوابلة على ضرائح الحنابلة، 275).","part":2,"page":93},{"id":594,"text":"“Abdul Wahhab bin Sulaiman al-Tamimi al-Najdi, adalah ayah pembawa dakwah Wahhabiyah, yang percikan apinya telah tersebar di berbagai penjuru. Akan tetapi antara keduanya terdapat perbedaan. Padahal Muhammad (pendiri Wahhabi) tidak terang-terangan berdakwah kecuali setelah meninggalnya sang ayah. Sebagian ulama yang aku jumpai menginformasikan kepadaku, dari orang yang semasa dengan Syaikh Abdul Wahhab ini, bahwa beliau sangat murka kepada anaknya, karena ia tidak suka belajar ilmu fiqih seperti para pendahulu dan orang-orang di daerahnya. Sang ayah selalu berfirasat tidak baik tentang anaknya pada masa yang akan datang. Beliau selalu berkata kepada masyarakat, “Hati-hati, kalian akan menemukan keburukan dari Muhammad.” Sampai akhirnya takdir Allah benar-benar terjadi. Demikian pula putra beliau, Syaikh Sulaiman (kakak Muhammad bin Abdul Wahhab), juga menentang terhadap dakwahnya dan membantahnya dengan bantahan yang baik berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Syaikh Sulaiman menamakan bantahannya dengan judul Fashl al-Khithab fi al-Radd ‘ala Muhammad bin Abdul Wahhab. Allah telah menyelamatkan Syaikh Sulaiman dari keburukan dan tipu daya adiknya meskipun ia sering melakukan serangan besar yang mengerikan terhadap orang-orang yang jauh darinya. Karena setiap ada orang yang menentangnya, dan membantahnya, lalu ia tidak mampu membunuhnya secara terang-terangan, maka ia akan mengirim orang yang akan menculik dari tempat tidurnya atau di pasar pada malam hari karena pendapatnya yang mengkafirkan dan menghalalkan membunuh orang yang","part":2,"page":94},{"id":595,"text":"menyelisihinya.” (Ibn Humaid al-Najdi, al-Suhub al-Wabilah ‘ala Dharaih al-Hanabilah, hal. 275).\rDari kalangan ulama madzhab Syafi’i, al-Imam al-Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan al-Makki, guru pengarang I’anah al-Thalibin, kitab yang sangat otoritatif (mu’tabar) di kalangan ulama di Indonesia, berkata:\rوَكَانَ السَّيِّدُ عَبْدُ الرَّحْمنِ الْأَهْدَلُ مُفْتِيْ زَبِيْدَ يَقُوْلُ: لاَ يُحْتَاجُ التَّأْلِيْفُ فِي الرَّدِّ عَلَى ابْنِ عَبْدِ الْوَهَّابِ، بَلْ يَكْفِي فِي الرَّدِّ عَلَيْهِ قَوْلُهُ صلى الله عليه وسلم سِيْمَاهُمُ التَّحْلِيْقُ، فَإِنَّهُ لَمْ يَفْعَلْهُ أَحَدٌ مِنَ الْمُبْتَدِعَةِ اهـ (السيد أحمد بن زيني دحلان، فتنة الوهابية ص/54).\r“Sayyid Abdurrahman al-Ahdal, mufti Zabid berkata: “Tidak perlu menulis bantahan terhadap Ibn Abdil Wahhab. Karena sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam cukup sebagai bantahan terhadapnya, yaitu “Tanda-tanda mereka (Khawarij) adalah mencukur rambut (maksudnya orang yang masuk dalam ajaran Wahhabi, harus mencukur rambutnya)”. Karena hal itu belum pernah dilakukan oleh seorang pun dari kalangan ahli bid’ah.” (Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, Fitnah al-Wahhabiyah, hal. 54).\rDemikian pernyataan ulama terkemuka dari empat madzhab, Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali, yang menegaskan tentang sekte mereka.\rDalam Shahih al-Bukhari, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:\r“Akan ada sekelompok manusia keluar dari arah timur. Mereka membaca al-Qur’an, namun apa yang mereka baca tidak melewati tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah keluar dari sasarannya. Tanda-tanda mereka mencukur rambut.”","part":2,"page":95},{"id":596,"text":"Al-Imam al-Qasthalani berkata dalam mengomentari hadits ini, bahwa yang dimaksud dari arah timur adalah arah timur kota Madinah seperti Najd dan sesudahnya. Demikian pula Wahhabi, lahir di Najd dan kemudian menyebar ke mana-mana. Di samping mencukur rambut juga menjadi ciri khas mereka. Kaum Wahhabi memerintahkan orang-orang yang mengikuti mereka agar mencukur rambut, meskipun kaum wanita.\rOleh karena itu, sebagian ulama yang semasa dengan lahirnya ajaran Wahhabi berkata, “Tidak perlu menulis bantahan terhadap Ibn Abdil Wahhab. Karena sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam cukup sebagai bantahan terhadapnya, yaitu “Tanda-tanda mereka (Khawarij) adalah mencukur rambut (maksudnya orang yang masuk dalam ajaran Wahhabi, harus mencukur rambutnya)”.\rDalam hadits lain tentang Khawarij, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Mereka akan membunuh umat Islam, akan tetapi membiarkan penyembah berhala”.\rHadits ini persis dengan aliran Wahhabi. Mereka belum pernah mengarahkan peperangan terhadap selain umat Islam. Dalam sejarah mereka belum pernah dikenal bahwa mereka mendatangi atau bermaksud memerangi penyembah berhala, karena hal tersebut tidak masuk dalam prinsip dan buku-buku mereka yang isinya penuh dengan kecaman dan pengkafiran terhadap umat Islam.\rAl-Imam al-Bukhari juga meriwayatkan dari Ibn Umar dalam menjelaskan ciri-ciri kaum Khawarij, “Mereka mengambil ayat-ayat al-Qur’an yang turun mengenai orang-orang kafir, lalu mereka tuangkan kepada orang-orang beriman”.","part":2,"page":96},{"id":597,"text":"Ibn Abbas juga berkata: “Janganlah kalian seperti Khawarij, memaksakan penafsiran ayat-ayat al-Qur’an untuk umat Islam (ahlil qiblah). Padahal ayat-ayat tersebut turun mengenai ahlul-kitab dan orang-orang musyrik. Mereka tidak mengetahui ilmunya, lalu mereka mengalirkan darah dan merampas harta benda orang-orang Muslim”. Demikian pula kaum Wahhabi, mengambil ayat-ayat yang turun mengenai pemuja berhala, lalu mereka terapkan pada orang-orang yang beriman. Hal tersebut memenuhi buku-buku dan menjadi dasar madzhab mereka.\rWassalam\rZon di Jonggol, Kab Bogor 16830\rSumber inspirasi tulisan: “Buku Pintar Berdebat dengan Wahhabi” karya Ust. Muhammad Idrus Ramli, alumni Pondok Pesantren Sidogiri tahun 1424/2004\r1007. Pemahaman siapakah yang patut kita ikuti\rAl-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab yang jelas namun pemahaman yang dalam haruslah dilakukan oleh orang-orang yang berkompeten atau ahlinya (ulama). Firman Allah ta’ala yang artinya, “Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui” (QS Fush shilat [41]:3)\rPada hakikatnya kita diperintahkan untuk mengikuti orang yang mengetahui Al Qur’an dan As Sunnah. Firman Allah ta’ala yang artinya, “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” [QS. an-Nahl : 43]","part":2,"page":97},{"id":598,"text":"Pertanyaanlah adalah pemahaman/pendapat ulama siapakah yang patut kita ikuti agar tidak menimbulkan penyesalan di akhirat kelak. Firman Allah ta’ala yang artinya, “(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali.” (QS al Baqarah [2]: 166)\r“Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: “Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.” Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.” (QS Al Baqarah [2]: 167)\rHati-hatilah, sebaiknya jangan mengikuti atau menyebarluaskan pemahaman/pendapat ulama yang mengaku-aku mengikuti pemahaman Salafush Sholeh namun kenyataannya mereka tidak bertalaqqi(mengaji) dengan Salafush Sholeh.\rMereka adalah ulama yang terhasut atau korban ghazwul fikri (perang pemahaman) dari kaum Zionis Yahudi.","part":2,"page":98},{"id":599,"text":"Salah satunya adalah perwira Yahudi Inggris bernama Edward Terrence Lawrence yang dikenal oleh ulama jazirah Arab sebagai Laurens Of Arabian. Laurens menyelidiki dimana letak kekuatan umat Islam dan berkesimpulan bahwa kekuatan umat Islam terletak kepada ketaatan dengan mazhab (bermazhab) dan istiqomah mengikuti tharikat-tharikat tasawuf. Laurens mengupah ulama-ulama yang anti tharikat dan anti mazhab untuk menulis buku buku yang menyerang tharikat dan mazhab. Buku tersebut diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan dibiayai oleh pihak orientalis.\rKaum Zionis Yahudi melalui pusat-pusat kajian Islam mereka dirikan atau melalui ulama-ulama yang telah dipengaruhi oleh mereka, melancarkan hasutan agar umat Islam memahami Al Qur’an dan As Sunnah bersandarkan pada belajar sendiri (secara otodidak) melalui cara muthola’ah (menelaah kitab) dan memahaminya dengan akal pikiran sendiri (pemahaman secara ilmiah) agar timbul perselisihan di antara kaum muslim diakibatkan perbedaan pemahaman.\rKaum Zionis Yahudi menghasut umat Islam untuk “meninggalkan” pendapat/pemahaman Imam Mazhab yang empat, pemimpin atau imam ijtihad kaum muslim pada umumnya (Imam Mujtahid Mutlak) yang bertalaqqi (mengaji) langsung dengan Salafush Sholeh.","part":2,"page":99},{"id":600,"text":"Kaum Zionis Yahudi menghasut kaum SEPILIS (sekulerisme, pluralisme, liberalisme) untuk memahami Al Qur’an dan As Sunnah dengan akal pikiran sendiri, yang dikatakan oleh mereka sebagai pemahaman yang menyesuaikan dengan keadaan zaman (modernisasi/pembaharuan) atau pemahaman bersifat pragmatis (kepentingan). Sebagaimana contoh diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/04/28/mengangkat-taimiyah/\rPara ulama telah menyampaikan bahwa jika memahami Al Qur’an dan As Sunnah dengan belajar sendiri (secara otodidak) melalui cara muthola’ah (menelaah kitab) dan memahaminya dengan akal pikiran sendiri, kemungkinan besar akan berakibat negative seperti,\r1. Ibadah fasidah (ibadah yang rusak) , ibadah yang kehilangan ruhnya atau aspek bathin\r2. Tasybihillah Bikholqihi , penyerupaan Allah dengan makhluq Nya\rBegitupula Rasulullah telah melarang kita untuk memahami Al Qur’an dengan akal pikiran kita sendiri. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa menguraikan Al Qur’an dengan akal pikirannya sendiri dan merasa benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan”. (HR. Ahmad)\rDari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)","part":2,"page":100},{"id":601,"text":"Ibnul Mubarak berkata :”Sanad merupakan bagian dari agama, kalaulah bukan karena sanad, maka pasti akan bisa berkata siapa saja yang mau dengan apa saja yang diinginkannya.” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqoddimah kitab Shahihnya 1/47 no:32 )\rDari Ibnu Abbas ra Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda…”Barangsiapa yang berkata mengenai Al-Qur’an tanpa ilmu maka ia menyediakan tempatnya sendiri di dalam neraka” (HR.Tirmidzi)\rImam Syafi’i ~rahimahullah mengatakan “tiada ilmu tanpa sanad”. Al-Hafidh Imam Attsauri ~rahimullah mengatakan “Penuntut ilmu tanpa sanad adalah bagaikan orang yang ingin naik ke atap rumah tanpa tangga”\rBahkan Al-Imam Abu Yazid Al-Bustamiy , quddisa sirruh (Makna tafsir QS.Al-Kahfi 60) ; “Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya syetan” Tafsir Ruhul-Bayan Juz 5 hal. 203\rSanad ilmu / sanad guru sama pentingnya dengan sanad hadits. Sanad hadits adalah otentifikasi atau kebenaran sumber perolehan matan/redaksi hadits dari lisan Rasulullah.\rSedangkan Sanad ilmu atau sanad guru adalah otentifikasi atau kebenaran sumber perolehan penjelasan baik Al Qur’an maupun As Sunnah dari lisan Rasulullah. Hal yang harus kita ingat bahwa Al Qur’an pada awalnya tidaklah dibukukan. Ayat-ayat Al Qur’an hanya dibacakan dan dihafal (imla) kemudian dipahami bersama dengan yang menyampaikannya. Hal yang akan dipertanyakan terhadap sebuah pendapat / pemahaman seperti :","part":2,"page":101},{"id":602,"text":"“Apakah yang kamu pahami telah disampaikan / dikatakan oleh ulama-ulama terdahulu yang tersambung lisannya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam” ?\r“Siapakah ulama-ulama terdahulu yang mengatakan hal itu” ?\r“Dari siapakah mendapatkan pemahaman seperti itu” ?\rImam Malik ra berkata: “Janganlah engkau membawa ilmu (yang kau pelajari) dari orang yang tidak engkau ketahui catatan (riwayat) pendidikannya (sanad ilmu)”\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda yang artinya “Sampaikan dariku sekalipun satu ayat dan ceritakanlah (apa yang kalian dengar) dari Bani Isra’il dan itu tidak apa (dosa). Dan siapa yang berdusta atasku dengan sengaja maka bersiap-siaplah menempati tempat duduknya di neraka” (HR Bukhari)\rHakikat makna hadits tersebut adalah kita hanya boleh menyampaikan satu ayat yang diperoleh dari orang yang disampaikan secara turun temurun sampai kepada lisannya Sayyidina Muhammad bin Abdullah Shallallahu alaihi wasallam.\rKita tidak diperkenankan menyampaikan apa yang kita pahami dengan akal pikiran sendiri dengan cara membaca dan memahami namun kita sampaikan apa yang kita dengar dan pahami dari lisan mereka yang sanad ilmunya tersambung kepada lisannya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam karena hanya perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang merupakan kebenaran atau ilmuNya.","part":2,"page":102},{"id":603,"text":"Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyampaikan agama kepada Sahabat. Sahabat menyampaikan kepada Tabi’in. Tabi’in menyampaikan pada Tabi’ut Tabi’in. Para Imam Mazhab yang empat, pemimpin / imam ijtihad kaum muslim pada umumnya, mereka berijtihad dan beristinbat berlandaskan hasil bertalaqqi (mengaji ) pada Salafush Sholeh\rContoh sanad Ilmu atau sanad guru Imam Syafi’i ra\r1. Baginda Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam\r2. Baginda Abdullah bin Umar bin Al-Khottob ra\r3. Al-Imam Nafi’, Tabi’ Abdullah bin Umar ra\r4. Al-Imam Malik bin Anas ra\r5. Al-Imam Syafei’ Muhammad bin Idris ra\rJumhur ulama dari dahulu sampai sekarang telah sepakat bahwa perbedaan di antara Imam Mazhab yang empat hanyalah dalam masalah furuiyah (cabang) bukan pada masalah pokok seperti pemahaman dalam i’tiqod (akidah). Perbedaan pemahaman yang tidak menimbulkan perselisihan, seperti saling menyesatkan , saling mengkafirkan atau saling membunuh. Imam Mazhab yang empat tidak pernah menyesatkan Imam Mazhab sebelumnya.\rAda timbul perselisihan dari mereka yang mengaku-aku mengikuti pemahaman Imam Mazhab yang empat namun pemahaman mereka menyelisihi pemahaman Imam Mazhab yang empat, seperti membangga-banggakan mazhabnya.\rContoh nasehat Imam Mazhab yang empat, jika sholat berjama’ah maka ikutilah mazhab yang dipergunakan oleh Imam Sholat. Andaikanpun terjadi kesalahan pada Imam Sholat, tidak ditanggung oleh makmumnya.","part":2,"page":103},{"id":604,"text":"Hadits yang diriwayatkan oleh Umamah al Bahiliy dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,”Ikatan-ikatan Islam akan lepas satu demi satu. Apabila lepas satu ikatan, akan diikuti oleh lepasnya ikatan berikutnya. Ikatan islam yang pertama kali lepas adalah pemerintahan dan yang terakhir adalah shalat.” (HR. Ahmad)\rJika pemahaman agama baik dan benar, sesuai sebagaimana asalnya dari Tuhan maka tidak akan menimbulkan pertentangan atau perselisihan yang menimbulkan perbuatan saling menyesatkan, saling mengkafirkan atau saling membunuh.\rFirman Allah Azza wa Jalla,\rأَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ اخْتِلاَفاً كَثِيراً\r“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ? Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS An Nisaa 4 : 82)\rMereka yang pemahaman agamanya berdasarkan akal pikiran sendiri boleh jadi akan timbul pertentangan atau perselisihan yang menimbulkan perbuatan saling menyesatkan, saling mengkafirkan atau saling membunuh seperti contohnya yang dapat kita ketahui dari\rhttp://nasihatonline.wordpress.com/2010/09/24/fatwa-fatwa-ulama-ahlus-sunnah-tentang-kelompok-kelompok-islam-kontemporer/\rhttp://isnad.net/media/Muhammad_Sewed_di_Gugat.pdf\rhttp://isnad.net/?dl_name=kumal-kumal-dzul-akmal.pdf\rhttp://isnad.net/dialog-luqman-hizbi-firanda-sururi\rhttp://isnad.net/?dl_name=dzulqornain_yayasan.rar\rhttp://isnad.net/media/dzul-akmal-undercover.pdf www.fb.com/notes/255000094557451","part":2,"page":104},{"id":605,"text":"www.fb.com/notes/padepokan-kanjeng-sunan/buku-sms-abu-abu-salafi-melawan-salafi-al-bani-vs-bin-bas-utsaimin/248700811863777\rhttp://www.wattpad.com/397024-salafy-haraky-vs-salafy-yamani-vs-salafy-sururi\rhttp://semogakamiselamat.wordpress.com/2011/11/07/point-point-kesesatan-para-penyembah-thogut-radio-rodja/\rMereka yang pemahaman agamanya berdasarkan akal pikiran sendiri “memerangi” orang beriman sebagaimana yang dialami oleh mufti mesir Profesor Doktor Ali Jum`ah yang mempertahankan fatwa bahwa Niqab ( Cadar / Purdah) adalah suatu kebiasaan yang di bolehkan dan bukan merupakan satu kewajiban (jika ditinggalkan berdosa) sebagaimana kesepakatan jumhur ulama bahwa wajah dan kedua telapak tangan bukan termasuk aurat bagi perempuan. Hal ini diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/30/hukum-penutup-muka/\rMereka yang pemahaman agamanya berdasarkan akal pikiran sendiri “memerangi” orang beriman sebagaimana perintah ulama mereka dalam kitabnya berjudul “al-Majmu’ al-mufid min ‘Aqidati al Tauhid” hal. 55\rلاينفع اسلامكم اذا أعلنتم الحرب العشواء على هذه الطرق الصوفية فقضيتم عليها قاتلوا هم قبل أن تقاتلوا اليهود والمجوس\r“Tidak berguna Islam kalian sebelum kalian mengumumkan perang terhadap torikoh sufi dan kalian membantainya, perangilah mereka sebelum memerangi yahudi dan majusi”","part":2,"page":105},{"id":606,"text":"Contoh lain mereka yang pemahaman agamanya berdasarkan akal pikiran sendiri “memerangi” orang beriman bahkan membunuh saudara muslimnya sendiri sebagaimana yang terurai dalam tulisan pada http://www.aswaja-nu.com/2010/01/dialog-syaikh-al-syanqithi-vs-wahhabi_20.html atau pada www.fb.com/photo.php?fbid=220630637981571&set=a.220630511314917.56251.100001039095629\rOleh karenanya lebih baik dan selamat kita mengikuti pemahaman/pendapat Imam Mazhab yang empat, pemimpin atau imam ijtihad kaum muslim pada umumnya (Imam Mujtahid Mutlak) karena mereka bertalaqqi (mengaji) langsung dengan Salafush Sholeh.\rUntuk memahami Al Qur’an dan As Sunnah, marilah kita bertalaqqi (mengaji) kepada ulama-ulama yang mengikuti pemahaman Imam Mazhab yang empat. Jika kita membaca tulisan baik didunia maya maupun nyata melalui kitab/buku maka pastikanlah sumbernya berasal dari pemahaman/pendapat Imam Mazhab yang empat.\rCara lain agar selamat adalah mengikuti pendapat/pemahaman para Habib dan para Sayyid yang sholeh, ahli ba'it , keturunan cucu Rasululah , mereka yang dapat pengajaran agama turun temurun dari orang tua-orang tua mereka terdahulu tersambung kepada lisannya Imam Sayyidina Ali ra yang mendapatkan pengajaran agama langsung dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.\rNamun kita harus bisa bedakan antara ahli bait, keturunan cucu Rasulullah dengan mereka yang mengaku-aku sebagai pengikut Imam Sayyidina Ali ra\rMereka yang mengaku-aku sebagai pengikut Imam Sayyidina Ali ra, juga korban hasutan atau ghazwul fikri (perang pemahaman) dari kaum Zionis Yahudi.","part":2,"page":106},{"id":607,"text":"Abdullah bin Saba’ seorang pendeta besar yahudi dari Yaman yang masuk Islam dengan tujuan menghancurkan Islam dari dalam. Pada mulanya ia benci kepada Khalifah Utsman bin Affan ra dan berusaha meruntuhkannya serta menggantikannya dengan Sayyidina Ali ra.\rDengan kelicikannya dan provokasinya, usahanya berhasil mendapat respon di kota-kota besar ketika seperti kota Madinah dan Basrah. Kemudian dia pergi ke Mesir, Kufah dan Damsyik serta beberapa kota lain untuk menyebarkan propaganda tentang kemulyaan Sayyidina Ali ra dan menghasut orang-orang agar tidak simpati kepada Khalifah Utsman bin Affan ra.\rAbdullah bin Saba’ sangat berlebihan dalam mengagungkan Sayyidina Ali ra, bahkan berani membuat hadits-hadits pasu untuk menjatuhkan Khalifah Utsman ra dan menghinakan Sayyidina Abu Bakar Ash Shiddiq ra dan Sayyidina Umar bin Khattab ra.\rImam Sayyidina ‘Ali ra berkata: aku bertanya: Wahai Rasulullah! Apakah ciri-ciri mereka? Baginda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Mereka menyanjungimu dengan sesuatu yang tidak ada padamu”.\rDiantara ajaran Abdullah bin Saba’ adalah :\r1. Al-Wishoyah : Wasiat. Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam berwasiat supaya yang menjadi khalifah sesudah Beliau wafat adalah Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra. Dan mereka memberi gelar Sayyidina Ali “Al-Washyi”, yakni orang yang diberi wasiat.","part":2,"page":107},{"id":608,"text":"2. Ar-Roj’ah : kembali. Ia mengajarkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam tidak boleh kalah dari Nabi Isa as. Kalau Nabi Isa as akan kembali di akhir zaman, maka Sayyidina Ali ra akan kembali di akhir zaman untuk menegakkan keadilan. Ia mengajarkan bahwa Sayyidina Ali ra tidak mati terbunuh, beliau akan kembali lagi. Ibnu Hazm, seorang ahli tarikh mengatakan bahwa Abdullah bin Saba’ mengabarkan bahwa Sayyidina Ali ra belum mati tetapi masih bersembunyi dan akan kembali di akhir zaman. Ajaran ini dibawanya dari kepercayaan kaum Yahudi yang mengatakan bahwa Nabi Ilyas juga belum mati. Ajaran inilah yang kemudian menjadi kepercayaan orang Syi’ah, bahwa imamnya yang terakhir belum mati, sekarang masih bersembunyi dan pada akhir zaman nanti akan kembali untuk menegakkan keadilan dan kebenaran.\r3. Ilahiyah : ketuhanan. Ajaran ini mengatakan bahwa pada diri Sayyidina ali ra, bersamayam unsur-unsur ketuhanan. Olek karena itu beliau mengetahui segala yang ghaib ( kasyaf ). Abdullah bin Saba’ mengangkat Sayyidina Ali kepada kedudukan Tuhan.","part":2,"page":108},{"id":609,"text":"Seorang Ulama dan pengarang dari kalangan Syi’ah Mu’tazilah bernama Ibnu Abil Hadid mengakui bahwa Abdullah bin Saba’ ini adalah seorang pendeta Yahudi yang masuk Islam yang mengobarkan Syi’ah Sabaiyah. Diantara pemuka Syi’ah Sabaiyah ini terdapat seorang bernama Muqiroh bin Said yang memfatwakan bahwa Dzat Tuhan bersemayam pada tubuh Sayyidina Ali ra. Seorang lagi yang bernama Ishak bin Zaid yang memfatwakan bahwa orang-orang yang sudah sampai pada derajat yang tinggi, sudah habis taklif baginya, yaitu sudah tidak lagi wajib sholat, puasa dan berbagai kewajiban lainnya.\rNasib Abdullah bin Saba’ pada akhir hayatnya menjadi orang buangan, yang dibuang oleh Sayyidina Ali ra stelah beliau menjadi Khalifah keempat, Beliau marah karena dia membuat fitnah atas diri beliau, dia akhirnya dibuang ke daerah Madain.\rKelompok Abdullah bin Saba’ ini terpisah menjadi 2 ( dua ) kelompok besar, yaitu :","part":2,"page":109},{"id":610,"text":"1. Kelompok yang menyatakan bahwa sesungguhnya Sayyidina Ali ra adalah Allah sendiri yang menciptakan segala sesuatu dan memberi rizki. Dalam hal ini, Sayyidina Ali ra mengajak mereka berdialog, namun mereka ternyata bersikeras mempertahankan pendapatnya. Maka akhirnya Sayyidina Ali ra membakar orang– orang yang diketahui dari golongan mereka dengan api. Kemudian golongan mereka berkata : “Seandainya Ali bukan Allah itu sendiri tentu ia tidak membakar mereka dengan api. Karena sesungguhnya tidak akan melakukan pembakaran dengan api kecuali Tuhan.” Mereka berkeyakinan bahwa Ali akan menghidupkan mereka, setelah ia membunuh mereka. Mereka inilah orang-orang yang membawa kepercayaan bahwa tuhan melakukan penitisan kepada makhluknya beserta cabang-cabang kepercayaan ini meliputi faham-faham yang sesat.\r2. Kelompok yang memberontak terhadap Sayyidina Ali ra setelah terjadinya perang Shiffin. Mereka juga menuduh Ali Kafir, karena beliau telah menghentikan peperangan dan menyetujui Tahkim dengan kitabullah dalam menyelesaikan perselisihan yang terjadi Sayyidina Ali ra dan Muawiyah ra. Sebagian dari mereka juga ada yang mengkafirkan ketiga orang Khalifah sebelum Sayyidina Ali ra. Mereka ini telah membunuh seorang Tabi’in besar yang bernama Abdullah bin Khobbab ra dan istrinya, karena ia memuji keempat Khulafaur Rasyidin. Kemudian ketika Sayyidina Ali ra meminta agar mereka menyerahkan para pembunuhnya, mereka menolak sambil berkata: “Kami semua ikut membunuh mereka dan kami semua menganggap halal terhadap darah-darah kalian dan darah-darah mereka semua.”","part":2,"page":110},{"id":611,"text":"Hal yang harus kita ingat adalah jika timbul rasa permusuhan terhadap saudara muslim sendiri maka boleh jadi telah terjerumus kedalam kekufuran sehingga menjadi musyrik, seperti kekufuran karena kesalahpahaman dalam i’tiqod.\rFirman Allah ta’ala yang artinya, “orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik” ( QS Al Maaidah [5]: 82 )\rTerjerumus dalam kekufuran boleh jadi karena tanpa disadari telah menjadi ahli bid’ah sehingga memerangi saudara muslim sendiri\rDari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya di masa kemudian akan ada peperangan di antara orang-orang yang beriman.” Seorang Sahabat bertanya: “Mengapa kita (orang-orang yang beriman) memerangi orang yang beriman, yang mereka itu sama berkata: ‘Kami telah beriman’.” Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Ya, karena mengada-adakan di dalam agama (mengada-ada dalam perkara yang merupakan hak Allah ta’ala menetapkannya yakni perkara kewajiban, larangan dan pengharaman) , apabila mereka mengerjakan agama dengan pemahaman berdasarkan akal pikiran, padahal di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani).\rAllah Azza wa Jalla berfirman,\rاتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ\r“Mereka menjadikan para rahib dan pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah“. (QS at-Taubah [9]:31 )","part":2,"page":111},{"id":612,"text":"Ketika Nabi ditanya terkait dengan ayat ini, “apakah mereka menyembah para rahib dan pendeta sehingga dikatakan menjadikan mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah?”\rNabi menjawab, “tidak”\r« أما أنهم لم يكونوا يعبدونهم ولكنهم كانوا إذا أحلوا لهم شيئاً استحلوه وإذا حرموا عليهم شيئاً حرموه »\r“Mereka tidak menyembah para rahib dan pendeta itu, tetapi jika para rahib dan pendeta itu menghalalkan sesuatu bagi mereka, mereka menganggapnya halal, dan jika para rahib dan pendeta itu mengharamkan bagi mereka sesuatu, mereka mengharamkannya“\rPada riwayat yang lain disebutkan, Rasulullah bersabda ”mereka (para rahib dan pendeta) itu telah menetapkan haram terhadap sesuatu yang halal, dan menghalalkan sesuatu yang haram, kemudian mereka mengikutinya. Yang demikian itulah penyembahannya kepada mereka.” (Riwayat Tarmizi)\rAhli bid’ah adalah mereka yang mengada-ada dalam agama atau dalam perkara syariat yang merupakan hak Allah Azza wa Jalla menetapkannya.\rPerkara syariat adalah syarat yang harus dipenuhi sebagai hamba Allah yakni menjalankan segala apa yang telah ditetapkanNya atau diwajibkanNya, wajib dijalankan dan wajib dijauhi, meliputi menjalankan kewajibanNya yang jika ditinggalkan berdosa, menjauhi segala yang telah dilarangNya yang jika dilanggar berdosa dan menjauhi segala yang telah diharamkanNya yang jika dilanggar berdosa.","part":2,"page":112},{"id":613,"text":"Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban (ditinggalkan berdosa), maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa larangan (dikerjakan berdosa)), maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu (dikerjakan berdosa), maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia.” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi)\rAhli bid'ah adalah mereka yang membuat perkara baru (bid’ah) yang bukan kewajiban menjadi kewajiban (ditinggalkan berdosa) atau sebaliknya, yang tidak diharamkan menjadi haram (dikerjakan berdosa) atau sebaliknya dan yang tidak dilarang menjadi dilarang (dikerjakan berdosa).\rOleh karenanya ahli bid’ah termasuk pelaku perbuatan syirik, karena penyembahan kepada selain Allah, penyembahan diantara pembuat bid’ah (perkara baru) dengan pengikutnya, perbuatan yang tidak ada ampunannya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda\rإِنَّ اللهَ حَجَبَ اَلتَّوْبَةَ عَنْ صَاحِبِ كُلِّ بِدْعَةٍ\r“Sesungguhnya Allah menutup taubat dari semua ahli bid’ah”. [Ash-Shahihah No. 1620]\rFirman Allah ta’ala yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu dan janganlah kamu melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas.” (Qs. al-Mâ’idah [5]: 87).","part":2,"page":113},{"id":614,"text":"“Katakanlah! Siapakah yang berani mengharamkan perhiasan Allah yang telah diberikan kepada hamba-hambaNya dan beberapa rezeki yang baik itu? Katakanlah! Tuhanku hanya mengharamkan hal-hal yang tidak baik yang timbul daripadanya dan apa yang tersembunyi dan dosa dan durhaka yang tidak benar dan kamu menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak turunkan keterangan padanya dan kamu mengatakan atas (nama) Allah dengan sesuatu yang kamu tidak mengetahui.” (QS al-A’raf: 32-33)\r“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta \"Ini halal dan ini haram\", untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung” [QS. An-Nahl : 116].\rDalam hadits Qudsi , Rasulullah bersabda: \"Aku ciptakan hamba-hambaKu ini dengan sikap yang lurus, tetapi kemudian datanglah syaitan kepada mereka. Syaitan ini kemudian membelokkan mereka dari agamanya, dan mengharamkan atas mereka sesuatu yang Aku halalkan kepada mereka, serta mempengaruhi supaya mereka mau menyekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidak turunkan keterangan padanya.\" (Riwayat Muslim).\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :\rمن حلل حراما او حرم حلالا فقد كفر\r“Barangsiapa menghalalkan sesuatu yang haram atau mengharamkan sesuatu yang halal, maka dia telah kafir.”\rAsy Syatibi dalam Al I’tishom. Beliau mengatakan bahwa bid’ah adalah:\rعِبَارَةٌ عَنْ طَرِيْقَةٍ فِي الدِّيْنِ مُخْتَرَعَةٍ تُضَاهِي الشَّرْعِيَّةَ يُقْصَدُ بِالسُّلُوْكِ عَلَيْهَا المُبَالَغَةُ فِي التَّعَبُدِ للهِ سُبْحَانَهُ","part":2,"page":114},{"id":615,"text":"“Suatu istilah untuk suatu jalan dalam agama yang dibuat-buat yang menyerupai syari’at, yang dimaksudkan ketika menempuhnya adalah untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala”\rIbnu Katsir ~rahimahullah berkata :\rويدخل في هذا كل من ابتدع بدعة ليس [له] فيها مستند شرعي، أو حلل شيئا مما حرم الله، أو حرم شيئا مما أباح الله، بمجرد رأيه وتشهِّيه\r“Dan yang termasuk dalam hal ini adalah setiap orang yang melakukan bid’ah yang tidak didasarkan pada sandaran syari’at, atau orang yang menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah, atau mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah yang hanya didasarkan oleh pendapat dan hawa nafsunya semata” [Tafsir Al-Qur’aanil-‘Adhiim, 4/609]\rSasaran utama ghazwul fikri (perang pemahaman) yang dilancarkan oleh kaum Zionis Yahudi pada kaum muslim adalah untuk menciptakan ulama yang dapat memfatwakan perkara larangan dan maupun perkara kewajiban berdasarkan akal pikiran sendiri tidak berlandaskan Al Qur’an dan As Sunnah.\rKaum Zionis Yahudi telah berhasil menciptakan ulama/pendeta/rahib kalangan kaum Nasrani yang dapat berfatwa tidak berlandaskan kitab Injil sebagaimana yang diturunkan kepada Nabi Isa as","part":2,"page":115},{"id":616,"text":"Salah satunya adalah Paulus (Yahudi dari Tarsus), pengikut Rasul setelah “bertobat” , yang mengubah esensi dasar kekristenan. Paulus dijadikan seorang Santo (orang suci) oleh seluruh gereja yang menghargai santo, termasuk Katolik Roma, Ortodoks Timur, dan Anglikan, dan beberapa denominasi Lutheran. Dia berbuat banyak untuk kemajuan Kristen di antara para orang-orang bukan Yahudi, dan dianggap sebagai salah satu sumber utama dari doktrin awal Gereja, dan merupakan pendiri kekristenan bercorak Paulin (bercorak Paulus). Surat-suratnya menjadi bagian penting Perjanjian Baru. Banyak yang berpendapat bahwa Paulus memainkan peranan penting dalam menjadikan Kristen sebagai agama yang berdiri sendiri alias “agama turunan”, dan bukan sebagai sekte dari Yudaisme.\rFirman Allah ta’ala yang artinya “Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku. Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing).” (QS Al Mu’minun [23] : 52-53)\rKaum Yahudi, pada zaman Rasulullah berusaha untuk mengadu domba manusia yang telah bersyahadat sehingga timbul perselisihan sebagaimana kisah suku Aus dan Khajraj.\rPada masa Jahiliyah kedua suku tersebut saling bermusuhan dan berperang selama 120 tahun. Setelah mereka memeluk Islam Allah menyatukan hati mereka sehingga mereka menjadi bersaudara dan saling menyayangi.","part":2,"page":116},{"id":617,"text":"Ketika orang-orang Aus dan Khajraj sedang berkumpul dalam satu majlis, kemudian ada seorang Yahudi yang melalui mereka, lalu ia mengungkit-ungkit permusuhan dan peperangan mereka pada bani Bu’ats. Maka permusuhan diantara kedua suku tersebut mulai memanas kembali, kemarahan mulai timbul, sebagian mencerca sebagian lain dan keduanya saling mengangkat senjata, lalu ketegangan tersebut disampaikan kepada Nabi shallallahu alaihi wa salam.\rKemudian Beliau mendatangi mereka untuk menenangkan dan melunakkan hati mereka, seraya bersabda: “Apakah dengan panggilan-panggilan jahiliyah, sedang aku masih berada di tengah-tengah kalian?.” Lalu beliau membacakan Ali Imron ayat 103 yang artinya, ‘Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah secara berjama’ah, dan janganlah kamu bercerai berai , dan ingatlah nikmat Allah atas kamu semua ketika kamu bermusuh-musuhan maka Dia (Allah) menjinakkan antara hati-hati kamu maka kamu menjadi bersaudara sedangkan kamu diatas tepi jurang api neraka, maka Allah mendamaikan antara hati kamu. Demikianlah Allah menjelaskan ayat ayatnya agar kamu mendapat petunjuk”. Setelah itu mereka menyesal atas apa yang telah terjadi dan berdamai kembali seraya berpeluk-pelukan dan meletakan senjata masing-masing.\rKaum Yahudi , pada masa kini lebih dikenal sebagai kaum Zionis Yahudi atau juga dikenal dengan lucifier, freemason atau iluminati adalah mereka yang mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman.","part":2,"page":117},{"id":618,"text":"Telah dijelaskan tentang adanya kaum Zionis Yahudi dalam firman Allah ta’ala yang artinya “Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa (kitab) yang ada pada mereka, sebahagian dari orang-orang yang diberi kitab (Taurat) melemparkan kitab Allah ke belakang (punggung)nya, seolah-olah mereka tidak mengetahui (bahwa itu adalah kitab Allah) dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir).” (QS Al Baqarah [2]: 101-102 )\rJadi pada hakikatnya kaum Zionis Yahudi adalah pengikut syaitan. Mereka yang dimurkai oleh Allah Azza wa Jalla. Kaum Zionis Yahudi berupaya menjerumuskan manusia kedalam kekufuran.\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, \"Demi Allah, yang diriku ada dalam genggaman tanganNya, tidaklah mendengar dari hal aku ini seseorangpun dari ummat sekarang ini, Yahudi, dan tidak pula Nasrani, kemudian tidak mereka mau beriman kepadaku, melainkan masuklah dia ke dalam neraka.”\rHadits yang diriwayatkan Sufyan bin Uyainah dengan sanadnya dari Adi bin Hatim. Ibnu Mardawih meriwayatkan dari Abu Dzar, dia berkata, “Saya bertanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam tentang orang-orang yang dimurkai“, beliau bersabda, ‘Kaum Yahudi.’ Saya bertanya tentang orang-orang yang sesat, beliau bersabda, “Kaum Nasrani.“\rFirman Allah ta’ala yang artinya,","part":2,"page":118},{"id":619,"text":"Katakanlah:”Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil, dan Al Qur’an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu“. (QS Al Maa’idah [5]:68 )\r“Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka..” (QS.Ali Imran [3] : 110)\rKita harus ingat bahwa manusia yang telah bersyahadat adalah bersaudara dan saling mencintai di antara mereka. Janganlah termakan hasutan atau ghazwul fikri (perang pemahaman) dari kaum Zionis Yahudi\rFirman Allah Azza wa Jalla,\r“wai’tashimuu bihabli allaahi jamii’an walaa tafarraquu waudzkuruu ni’mata allaahi ‘alaykum idz kuntum a’daa-an fa-allafa bayna quluubikum fa-ashbahtum bini’matihi ikhwaanan“\r“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah secara berjama’ah, dan janganlah kamu bercerai berai , dan ingatlah nikmat Allah atas kamu semua ketika kamu bermusuh-musuhan maka Dia (Allah) menjinakkan antara hati-hati kamu maka kamu menjadi bersaudara” (QS Ali Imron [3]: 103)\r“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara”. ( Qs. Al-Hujjarat :10)\r“Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” (QS Al Ma’iadah [5]:54)","part":2,"page":119},{"id":620,"text":"Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kamu akan melihat orang-orang mukmin dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR Bukhari 5552) (HR Muslim 4685)\rDiriwayatkan hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Demi Allah, kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Belum sempurna keimanan kalian hingga kalian saling mencintai.” (HR Muslim)\rContoh paling sederhana adalah perselisihan dalam permasalahan peringatan Maulid.\rSebaiknya janganlah mengikuti pendapapat/pemahaman ulama korban ghazwul fikri dari kaum Zionis Yahudi. Mereka yang mengaku-aku mengikuti pendapat Salafush Sholeh namun kenyataannya tidak bertalaqqi (mengaji) dengan Salafush Sholeh. Mereka bermazhab dengan akal pikiran mereka sendiri atau dengan kata lain mereka telah menjadikan akal pikirannya sendiri sebagai berhala atau yang disebut menuhankan pendapat sendiri (istibdad bir ro’yi) .\rSebaiknya kita ikuti pendapat/pemahaman ulama yang mengikuti pendapat/pemahaman Imam Mazhab yang empat, pemimpin atau imam ijtihad kaum muslim pada umumnya, yang jelas-jelas bertalaqqi (mengaji) dengan Salafush Sholeh\rBerikut pendapat para ulama pengikut Imam Mazhab yang empat tentang peringatan Maulid.\rImam Al hafidh Abu Syaamah rahimahullah (Guru imam Nawawi) :","part":2,"page":120},{"id":621,"text":"Merupakan Bid’ah hasanah yang mulia dizaman kita ini adalah perbuatan yang diperbuat setiap tahunnya di hari kelahiran Rasul shallallahu alaihi wasallam dengan banyak bersedekah, dan kegembiraan, menjamu para fuqara, seraya menjadikan hal itu memuliakan Rasul shallallahu alaihi wasallam dan membangkitkan rasa cinta pada beliau shallallahu alaihi wasallam, dan bersyukur kepada Allah ta’ala dengan kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam.\rImamul Qurra’ Alhafidh Syamsuddin Aljazriy rahimahullah dalam kitabnya ‘Urif bitta’rif Maulidissyariif :\rTelah diriwayatkan Abu Lahab diperlihatkan dalam mimpi dan ditanya apa keadaanmu?, ia menjawab : “di neraka, tapi aku mendapat keringanan setiap malam senin, itu semua sebab aku membebaskan budakku Tsuwaibah demi kegembiraanku atas kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam dan karena Tsuwaibah menyusuinya ” (shahih Bukhari hadits no.4813). maka apabila Abu Lahab Kafir yang Alqur’an turun mengatakannya di neraka mendapat keringanan sebab ia gembira dengan kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam, maka bagaimana dengan muslim ummat Muhammad shallallahu alaihi wasallam yang gembira atas kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam?, maka demi usiaku, sungguh balasan dari Tuhan Yang Maha Pemurah sungguh-sungguh ia akan dimasukkan ke sorga kenikmatan Nya dengan sebab anugerah Nya.\rImam Al Hafidh Assakhawiy dalam kitab Sirah Al Halabiyah","part":2,"page":121},{"id":622,"text":"berkata “tidak dilaksanakan maulid oleh salaf hingga abad ke tiga, tapi dilaksanakan setelahnya, dan tetap melaksanakannya umat Islam di seluruh pelosok dunia dan bersedekah pada malamnya dengan berbagai macam sedekah dan memperhatikan pembacaan maulid, dan berlimpah terhadap mereka keberkahan yang sangat besar”.\rImam Al hafidh Ibn Abidin rahimahullah\rdalam syarahnya maulid ibn hajar berkata : “ketahuilah salah satu bid’ah hasanah adalah pelaksanaan maulid di bulan kelahiran nabi shallallahu alaihi wasallam”\rImam Al Hafidh Ibnul Jauzi rahimahullah,\rdengan karangan maulidnya yang terkenal “al aruus” juga beliau berkata tentang pembacaan maulid, “Sesungguhnya membawa keselamatan tahun itu, dan berita gembira dengan tercapai semua maksud dan keinginan bagi siapa yang membacanya serta merayakannya”.\rImam Al Hafidh Al Qasthalaniy rahimahullah dalam kitabnya Al Mawahibulladunniyyah juz 1 hal 148 cetakan al maktab al islami berkata: “Maka Allah akan menurukan rahmat Nya kepada orang yang menjadikan hari kelahiran Nabi saw sebagai hari besar”.\rKami mengingatkan kembali bahwa Maulid Nabi bukanlah kewajiban (jika ditinggalkan berdosa) atau bukanlah termasuk amal ketaatan atau perkara syariat.\rMaulid Nabi adalah amal kebaikan (perkara diluar amal ketaatan yang tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits)\rMaulid Nabi umumnya diisi dengan kegiatan membaca Al Qur’an, Sholawat, kajian dan ceramah seputar kehidupan Rasulullah dan implementasinya dalam kehidupan masa kini.","part":2,"page":122},{"id":623,"text":"Kita boleh memperingati atau mengingat masa lampau untuk bekal hari esok, bahkan hal ini adalah anjuran dari Allah Azza wa Jalla, sebagaimana firmanNya, “Wal tandhur nafsun ma qaddamat li ghad” “Perhatikan masa lampaumu untuk hari esokmu” (QS al Hasyr [59] : 18 )\rKita mengingat tanggal kelahiran kita dan kejadian-kejadian di waktu lampau untuk bekal kita mengisi biodata, riwayat hidup. Kita mengingat apa yang telah disampaikan orang tua, ulama kita dahulu untuk bekal menjalankan kehidupan kita hari ini dan esok. Kita memperingati Maulid Nabi dan perjalanan hidupnya sebagai bekal kita meneladani dan mengimplementasikannya dalam kehidupan kita hari ini dan esok\rMaulid Nabi adalah kebutuhan bagi kaum muslim pada umumnya yang zaman kehidupannya telah terpaut jauh dengan zaman kehidupan para Salafush Sholeh. Kami dan kaum muslim pada umumnya amat sangat merindukan untuk berkumpul bersama Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam.\rHal serupa dengan sholat tarawih berjama’ah yang dilakukan sebulan penuh di bulan Ramadhan.\rRasulullah mencontohkan kita untuk menghindari perkara baru dalam kewajiban (jika ditinggalkan berdosa). Rasulullah meninggalkan sholat tarawih berjama’ah dalam beberapa malam agar kita tidak berkeyakinan bahwa sholawat tarawih berjama’ah sepanjang bulan Ramadhan adalah kewajiban (ditinggalkan berdosa)\rRasulullah bersabda, “Aku khawatir bila shalat malam (tarawih berjam’ah) itu ditetapkan sebagai kewajiban atas kalian.” (HR Bukhari 687).","part":2,"page":123},{"id":624,"text":"Bid’ah hasanah , jika yang melakukan sholat tarawih berjamaah sebulan penuh berkeyakinan bahwa itu adalah amal kebaikan selama bulan ramadhan walaupun Rasulullah tidak mencontohkan / melakukannya sebulan penuh.\rBid’ah dholalah, jika mereka berkeyakinan bahwa sholat tarawih berjamaah sebulan penuh adalah kewajibanNya atau perintahNya (ditinggalkan berdosa) karena sholat tarawih sebulan penuh tidak pernah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla sebagai kewajiban (ditinggalkan berdosa). Yang ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla sebagai kewajiban (ditinggalkan berdosa) yang harus dikerjakan sebulan penuh pada bulan Ramadhan adalah berpuasa.\rWassalam\rZon di Jonggol, Kab Bogor 16830\r1016. Maulid Nabi dan Sholat Tarawih berjama'ah\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam menyampaikan bahwa di masa kemudian akan ada sekte / firqoh yang memerangi (memusuhi) kaum muslim pada umumnya, mereka membuat-buat larangan-larangan ataupun kewajiban berdasarkan akal pikirannya sendiri bukan berlandaskan Al Qur'an dan As Sunnah.","part":2,"page":124},{"id":625,"text":"Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya di masa kemudian akan ada peperangan di antara orang-orang yang beriman.” Seorang Sahabat bertanya: “Mengapa kita (orang-orang yang beriman) memerangi orang yang beriman, yang mereka itu sama berkata: ‘Kami telah beriman’.” Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Ya, karena mengada-adakan di dalam agama (mengada-ada dalam perkara yang merupakan hak Allah ta’ala menetapkannya yakni perkara kewajiban, larangan dan pengharaman) , apabila mereka mengerjakan agama dengan pemahaman berdasarkan akal pikiran, padahal di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani).\rAllah Azza wa Jalla berfirman,\rاتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ\r“Mereka menjadikan para rahib dan pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah“. (QS at-Taubah [9]:31 )\rKetika Nabi ditanya terkait dengan ayat ini, “apakah mereka menyembah para rahib dan pendeta sehingga dikatakan menjadikan mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah?”\rNabi menjawab, “tidak”\r« أما أنهم لم يكونوا يعبدونهم ولكنهم كانوا إذا أحلوا لهم شيئاً استحلوه وإذا حرموا عليهم شيئاً حرموه »\r“Mereka tidak menyembah para rahib dan pendeta itu, tetapi jika para rahib dan pendeta itu menghalalkan sesuatu bagi mereka, mereka menganggapnya halal, dan jika para rahib dan pendeta itu mengharamkan bagi mereka sesuatu, mereka mengharamkannya“","part":2,"page":125},{"id":626,"text":"Pada riwayat yang lain disebutkan, Rasulullah bersabda ”mereka (para rahib dan pendeta) itu telah menetapkan haram terhadap sesuatu yang halal, dan menghalalkan sesuatu yang haram, kemudian mereka mengikutinya. Yang demikian itulah penyembahannya kepada mereka.” (Riwayat Tarmizi)\rAhli bid’ah adalah mereka yang mengada-ada dalam agama atau dalam perkara syariat yang merupakan hak Allah Azza wa Jalla menetapkannya.\rPerkara syariat adalah syarat yang harus dipenuhi sebagai hamba Allah yakni menjalankan segala apa yang telah ditetapkanNya atau diwajibkanNya, wajib dijalankan dan wajib dijauhi, meliputi menjalankan kewajibanNya yang jika ditinggalkan berdosa, menjauhi segala yang telah dilarangNya yang jika dilanggar berdosa dan menjauhi segala yang telah diharamkanNya yang jika dilanggar berdosa.\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban (ditinggalkan berdosa), maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa larangan (dikerjakan berdosa)), maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu (dikerjakan berdosa), maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia.” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi)","part":2,"page":126},{"id":627,"text":"Ahli bid'ah adalah mereka yang membuat perkara baru (bid’ah) yang bukan kewajiban menjadi kewajiban (ditinggalkan berdosa) atau sebaliknya, yang tidak diharamkan menjadi haram (dikerjakan berdosa) atau sebaliknya dan yang tidak dilarang menjadi dilarang (dikerjakan berdosa).\rOleh karenanya ahli bid’ah termasuk pelaku perbuatan syirik, karena penyembahan kepada selain Allah, penyembahan diantara pembuat bid’ah (perkara baru) dengan pengikutnya, perbuatan yang tidak ada ampunannya.\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda\rإِنَّ اللهَ حَجَبَ اَلتَّوْبَةَ عَنْ صَاحِبِ كُلِّ بِدْعَةٍ\r“Sesungguhnya Allah menutup taubat dari semua ahli bid’ah”. [Ash-Shahihah No. 1620]\rFirman Allah ta’ala yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu dan janganlah kamu melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas.” (Qs. al-Mâ’idah [5]: 87).\r“Katakanlah! Siapakah yang berani mengharamkan perhiasan Allah yang telah diberikan kepada hamba-hambaNya dan beberapa rezeki yang baik itu? Katakanlah! Tuhanku hanya mengharamkan hal-hal yang tidak baik yang timbul daripadanya dan apa yang tersembunyi dan dosa dan durhaka yang tidak benar dan kamu menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak turunkan keterangan padanya dan kamu mengatakan atas (nama) Allah dengan sesuatu yang kamu tidak mengetahui.” (QS al-A’raf: 32-33)","part":2,"page":127},{"id":628,"text":"“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta \"Ini halal dan ini haram\", untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung” [QS. An-Nahl : 116].\rDalam hadits Qudsi , Rasulullah bersabda: \"Aku ciptakan hamba-hambaKu ini dengan sikap yang lurus, tetapi kemudian datanglah syaitan kepada mereka. Syaitan ini kemudian membelokkan mereka dari agamanya, dan mengharamkan atas mereka sesuatu yang Aku halalkan kepada mereka, serta mempengaruhi supaya mereka mau menyekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidak turunkan keterangan padanya.\" (Riwayat Muslim).\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :\rمن حلل حراما او حرم حلالا فقد كفر\r“Barangsiapa menghalalkan sesuatu yang haram atau mengharamkan sesuatu yang halal, maka dia telah kafir.”\rAsy Syatibi dalam Al I’tishom. Beliau mengatakan bahwa bid’ah adalah:\rعِبَارَةٌ عَنْ طَرِيْقَةٍ فِي الدِّيْنِ مُخْتَرَعَةٍ تُضَاهِي الشَّرْعِيَّةَ يُقْصَدُ بِالسُّلُوْكِ عَلَيْهَا المُبَالَغَةُ فِي التَّعَبُدِ للهِ سُبْحَانَهُ\r“Suatu istilah untuk suatu jalan dalam agama yang dibuat-buat yang menyerupai syari’at, yang dimaksudkan ketika menempuhnya adalah untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala”\rIbnu Katsir ~rahimahullah berkata :\rويدخل في هذا كل من ابتدع بدعة ليس [له] فيها مستند شرعي، أو حلل شيئا مما حرم الله، أو حرم شيئا مما أباح الله، بمجرد رأيه وتشهِّيه","part":2,"page":128},{"id":629,"text":"“Dan yang termasuk dalam hal ini adalah setiap orang yang melakukan bid’ah yang tidak didasarkan pada sandaran syari’at, atau orang yang menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah, atau mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah yang hanya didasarkan oleh pendapat dan hawa nafsunya semata” [Tafsir Al-Qur’aanil-‘Adhiim, 4/609]\rContoh paling sederhana mereka yang melarang peringatan Maulid Nabi yang berdasarkan akal pikiran mereka termasuk perbuatan tasyabuh terhadap kaum Nasrani\rSebaiknya janganlah mengikuti pendapapat/pemahaman ulama korban ghazwul fikri Perang pemahaman) dari kaum Zionis Yahudi. Mereka yang mengaku-aku mengikuti pemahaman Salafush Sholeh namun kenyataannya mereka tidak bertalaqqi (mengaji) dengan Salafush Sholeh. Mereka bermazhab dengan akal pikiran mereka sendiri atau dengan kata lain mereka telah menjadikan akal pikirannya sendiri sebagai berhala atau yang disebut menuhankan pendapat sendiri (istibdad bir ro’yi)\rSebaiknya kita ikuti pendapat/pemahaman ulama yang mengikuti pendapat/pemahaman Imam Mazhab yang empat, pemimpin atau imam ijtihad kaum muslim pada umumnya, yang jelas-jelas bertalaqqi (mengaji) dengan Salafush Sholeh\rBerikut pendapat para ulama pengikut Imam Mazhab yang empat tentang peringatan Maulid.\rImam Al hafidh Abu Syaamah rahimahullah (Guru imam Nawawi) :","part":2,"page":129},{"id":630,"text":"Merupakan Bid’ah hasanah yang mulia dizaman kita ini adalah perbuatan yang diperbuat setiap tahunnya di hari kelahiran Rasul shallallahu alaihi wasallam dengan banyak bersedekah, dan kegembiraan, menjamu para fuqara, seraya menjadikan hal itu memuliakan Rasul shallallahu alaihi wasallam dan membangkitkan rasa cinta pada beliau shallallahu alaihi wasallam, dan bersyukur kepada Allah ta’ala dengan kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam.\rImamul Qurra’ Alhafidh Syamsuddin Aljazriy rahimahullah dalam kitabnya ‘Urif bitta’rif Maulidissyariif :\rTelah diriwayatkan Abu Lahab diperlihatkan dalam mimpi dan ditanya apa keadaanmu?, ia menjawab : “di neraka, tapi aku mendapat keringanan setiap malam senin, itu semua sebab aku membebaskan budakku Tsuwaibah demi kegembiraanku atas kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam dan karena Tsuwaibah menyusuinya ” (shahih Bukhari hadits no.4813). maka apabila Abu Lahab Kafir yang Alqur’an turun mengatakannya di neraka mendapat keringanan sebab ia gembira dengan kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam, maka bagaimana dengan muslim ummat Muhammad shallallahu alaihi wasallam yang gembira atas kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam?, maka demi usiaku, sungguh balasan dari Tuhan Yang Maha Pemurah sungguh-sungguh ia akan dimasukkan ke sorga kenikmatan Nya dengan sebab anugerah Nya.\rImam Al Hafidh Assakhawiy dalam kitab Sirah Al Halabiyah","part":2,"page":130},{"id":631,"text":"berkata “tidak dilaksanakan maulid oleh salaf hingga abad ke tiga, tapi dilaksanakan setelahnya, dan tetap melaksanakannya umat Islam di seluruh pelosok dunia dan bersedekah pada malamnya dengan berbagai macam sedekah dan memperhatikan pembacaan maulid, dan berlimpah terhadap mereka keberkahan yang sangat besar”.\rImam Al hafidh Ibn Abidin rahimahullah\rdalam syarahnya maulid ibn hajar berkata : “ketahuilah salah satu bid’ah hasanah adalah pelaksanaan maulid di bulan kelahiran nabi shallallahu alaihi wasallam”\rImam Al Hafidh Ibnul Jauzi rahimahullah,\rdengan karangan maulidnya yang terkenal “al aruus” juga beliau berkata tentang pembacaan maulid, “Sesungguhnya membawa keselamatan tahun itu, dan berita gembira dengan tercapai semua maksud dan keinginan bagi siapa yang membacanya serta merayakannya”.\rImam Al Hafidh Al Qasthalaniy rahimahullah dalam kitabnya Al Mawahibulladunniyyah juz 1 hal 148 cetakan al maktab al islami berkata: “Maka Allah akan menurukan rahmat Nya kepada orang yang menjadikan hari kelahiran Nabi saw sebagai hari besar”.\rKami mengingatkan kembali bahwa Maulid Nabi bukanlah kewajiban (jika ditinggalkan berdosa) atau bukanlah termasuk amal ketaatan atau perkara syariat.\rMaulid Nabi adalah amal kebaikan (perkara diluar amal ketaatan yang tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits)\rMaulid Nabi umumnya diisi dengan kegiatan membaca Al Qur’an, Sholawat, kajian dan ceramah seputar kehidupan Rasulullah dan implementasinya dalam kehidupan masa kini.","part":2,"page":131},{"id":632,"text":"Kita boleh memperingati atau mengingat masa lampau untuk bekal hari esok, bahkan hal ini adalah anjuran dari Allah Azza wa Jalla, sebagaimana firmanNya, “Wal tandhur nafsun ma qaddamat li ghad” “Perhatikan masa lampaumu untuk hari esokmu” (QS al Hasyr [59] : 18 )\rKita mengingat tanggal kelahiran kita dan kejadian-kejadian di waktu lampau untuk bekal kita mengisi biodata, riwayat hidup. Kita mengingat apa yang telah disampaikan orang tua, ulama kita dahulu untuk bekal menjalankan kehidupan kita hari ini dan esok. Kita memperingati Maulid Nabi dan perjalanan hidupnya sebagai bekal kita meneladani dan mengimplementasikannya dalam kehidupan kita hari ini dan esok\rMaulid Nabi adalah kebutuhan bagi kaum muslim pada umumnya yang zaman kehidupannya telah terpaut jauh dengan zaman kehidupan para Salafush Sholeh. Kami dan kaum muslim pada umumnya amat sangat merindukan untuk berkumpul bersama Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam.\rHal serupa dengan sholat tarawih berjama’ah yang dilakukan sebulan penuh di bulan Ramadhan.\rRasulullah mencontohkan kita untuk menghindari perkara baru dalam kewajiban (jika ditinggalkan berdosa). Rasulullah meninggalkan sholat tarawih berjama’ah dalam beberapa malam agar kita tidak berkeyakinan bahwa sholawat tarawih berjama’ah sepanjang bulan Ramadhan adalah kewajiban (ditinggalkan berdosa)\rRasulullah bersabda, “Aku khawatir bila shalat malam (tarawih berjam’ah) itu ditetapkan sebagai kewajiban atas kalian.” (HR Bukhari 687).","part":2,"page":132},{"id":633,"text":"Bid’ah hasanah , jika yang melakukan sholat tarawih berjamaah sebulan penuh berkeyakinan bahwa itu adalah amal kebaikan selama bulan ramadhan walaupun Rasulullah tidak mencontohkan / melakukannya sebulan penuh.\rBid’ah dholalah, jika mereka berkeyakinan bahwa sholat tarawih berjamaah sebulan penuh adalah kewajibanNya atau perintahNya (ditinggalkan berdosa) karena sholat tarawih sebulan penuh tidak pernah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla sebagai kewajiban (ditinggalkan berdosa). Yang ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla sebagai kewajiban (ditinggalkan berdosa) yang harus dikerjakan sebulan penuh pada bulan Ramadhan adalah berpuasa.\rWassalam\rZon di Jonggol, Kab Bogor 16830\r1017. Tanggapan terhadap bantahan mereka akan adanya bid’ah hasanah\rAl-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab yang jelas namun pemahaman yang dalam haruslah dilakukan oleh orang-orang yang berkompeten atau ahlinya (ulama). Firman Allah ta’ala yang artinya, “Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui” (QS Fush shilat [41]:3)\rPada hakikatnya kita diperintahkan untuk mengikuti orang yang mengetahui Al Qur’an dan As Sunnah. Firman Allah ta’ala yang artinya, “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” [QS. an-Nahl : 43]","part":2,"page":133},{"id":634,"text":"Pertanyaanlah adalah pemahaman/pendapat ulama siapakah yang patut kita ikuti agar tidak menimbulkan penyesalan di akhirat kelak. Firman Allah ta’ala yang artinya, “(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali.” (QS al Baqarah [2]: 166)\r“Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: “Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.” Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.” (QS Al Baqarah [2]: 167)\rHal yang harus kita ingat selalu dalam memahami ilmu agama lebih baik dan selamat kita mengikuti pemahaman atau pendapat Imam Mazhab yang empat sebagai pemimpin atau imam ijtihad kaum muslim pada umumnya (Imam Mujtahid Mutlak) yang bertalaqqi (mengaji) dengan Salafush Sholeh.\rKita mengikuti Imam Mazhab yang empat beserta penjelasan dari ulama-ulama pengikut mereka sambil merujuk darimana mereka mengambil yaitu Al Quran dan as Sunnah. Begitupula kita dalam belajar agama, di dunia maya melalui media internet maupun di dunia nyata melalui buku, tulisan atau mengaji kepada ulama , pastikanlah apa yang disampaikan bersumber dari pemahaman atau pendapat Imam Mazhab atau pastikan penulis atau pendakwahnya bermazhab dengan salah satu Imam Mazhab yang empat.","part":2,"page":134},{"id":635,"text":"Imam Malik ra berkata: “Janganlah engkau membawa ilmu (yang kau pelajari) dari orang yang tidak engkau ketahui catatan (riwayat) pendidikannya (sanad ilmu)”\rSebaiknya janganlah mengikuti pemahaman ulama yang mengaku-aku mengikuti pemahaman Salafush Sholeh namun kenyataannya mereka tidak bertalaqqi (mengaji) dengan Salafush Sholeh. Darimana mereka mendapatkan pemahaman Salafush Sholeh kalau bukan pemahaman mereka sendiri dengan akal pikiran mereka sendiri.\rSebaiknya jangan pula mengikuti pendapat ulama yang berasal dari perkataan atau kitab Imam Mazhab yang empat namun telah ditahrif atau dipahami oleh ulama bukan pengikut Imam Mazhab dengan akal pikiran mereka sendiri.\rRasulullah telah melarang kita untuk memahami Al Qur’an dengan akal pikiran kita sendiri\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa menguraikan Al Qur’an dengan akal pikirannya sendiri dan merasa benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan”. (HR. Ahmad)\rDari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)\rIbnul Mubarak berkata :”Sanad merupakan bagian dari agama, kalaulah bukan karena sanad, maka pasti akan bisa berkata siapa saja yang mau dengan apa saja yang diinginkannya.” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqoddimah kitab Shahihnya 1/47 no:32 )","part":2,"page":135},{"id":636,"text":"Dari Ibnu Abbas ra Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda…”Barangsiapa yang berkata mengenai Al-Qur’an tanpa ilmu maka ia menyediakan tempatnya sendiri di dalam neraka” (HR.Tirmidzi)\rImam Syafi’i ~rahimahullah mengatakan “tiada ilmu tanpa sanad”.\rAl-Hafidh Imam Attsauri ~rahimullah mengatakan “Penuntut ilmu tanpa sanad adalah bagaikan orang yang ingin naik ke atap rumah tanpa tangga”\rBahkan Al-Imam Abu Yazid Al-Bustamiy , quddisa sirruh (Makna tafsir QS.Al-Kahfi 60) ; “Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya syetan” Tafsir Ruhul-Bayan Juz 5 hal. 203\rSanad ilmu / sanad guru sama pentingnya dengan sanad hadits.\rSanad hadits adalah otentifikasi atau kebenaran sumber perolehan matan/redaksi hadits dari lisan Rasulullah.\rSedangkan Sanad ilmu atau sanad guru adalah otentifikasi atau kebenaran sumber perolehan penjelasan baik Al Qur’an maupun As Sunnah dari lisan Rasulullah.\rHal yang harus kita ingat bahwa Al Qur’an pada awalnya tidaklah dibukukan. Ayat-ayat Al Qur’an hanya dibacakan dan dihafal (imla) kemudian dipahami bersama dengan yang menyampaikannya.\rHal yang akan dipertanyakan terhadap sebuah pendapat / pemahaman seperti :\r“Apakah yang kamu pahami telah disampaikan / dikatakan oleh ulama-ulama terdahulu yang tersambung lisannya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam” ?\r“Siapakah ulama-ulama terdahulu yang mengatakan hal itu” ?\r“Dari siapakah mendapatkan pemahaman seperti itu” ?","part":2,"page":136},{"id":637,"text":"Imam Malik ra berkata: “Janganlah engkau membawa ilmu (yang kau pelajari) dari orang yang tidak engkau ketahui catatan (riwayat) pendidikannya (sanad ilmu)”\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda yang artinya “Sampaikan dariku sekalipun satu ayat dan ceritakanlah (apa yang kalian dengar) dari Bani Isra’il dan itu tidak apa (dosa). Dan siapa yang berdusta atasku dengan sengaja maka bersiap-siaplah menempati tempat duduknya di neraka” (HR Bukhari)\rHakikat makna hadits tersebut adalah kita hanya boleh menyampaikan satu ayat yang diperoleh dari orang yang disampaikan secara turun temurun sampai kepada lisannya Sayyidina Muhammad bin Abdullah Shallallahu alaihi wasallam.\rKita tidak diperkenankan menyampaikan apa yang kita pahami dengan akal pikiran sendiri dengan cara membaca dan memahami namun kita sampaikan apa yang kita dengar dan pahami dari lisan mereka yang sanad ilmunya tersambung kepada lisannya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam karena hanya perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang merupakan kebenaran atau ilmuNya.\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam menyampaikan agama kepada Sahabat. Sahabat menyampaikan kepada Tabi’in. Tabi’in menyampaikan pada Tabi’ut Tabi’in. Para Imam Mazhab yang empat, pemimpin / imam ijtihad kaum muslim pada umumnya, mereka berijtihad dan beristinbat berlandaskan hasil bertalaqqi (mengaji ) pada Salafush Sholeh\rContoh permasalahan yang menjadi perseilsihan adalah dalam memahami tentang bid’ah.","part":2,"page":137},{"id":638,"text":"Dalam memahami tentang bid’ah tidak terlepas dengan pemahaman terhadap apa yang dimaksud dengan agama atau perkara syariat atau disebut juga “urusan kami”.\rDari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)\rAgama atau perkara syariat adalah segala perkara yang telah disyaratkan oleh Allah Azza wa Jalla yang harus dipenuhi sebagai hamba Allah yakni menjalankan segala apa yang telah ditetapkanNya atau diwajibkanNya, wajib dijalankan dan wajib dijauhi, meliputi menjalankan kewajibanNya yang jika ditinggalkan berdosa, menjauhi segala yang telah dilarangNya yang jika dilanggar berdosa dan menjauhi segala yang telah diharamkanNya yang jika dilanggar berdosa.\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban (ditinggalkan berdosa), maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa larangan (dikerjakan berdosa)), maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu (dikerjakan berdosa), maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia.” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi)","part":2,"page":138},{"id":639,"text":"Al-Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menuliskan: “Sabda Rasulullah “Kullu Bid’ah dlalalah” ini adalah ‘Amm Makhshush; artinya, lafazh umum yang telah dikhususkan kepada sebagian maknanya. Jadi yang dimaksud adalah bahwa sebagian besar bid’ah itu sesat (bukan mutlak semua bid’ah itu sesat)” (al-Minhaj Bi Syarah Shahih Muslim ibn al-Hajjaj, j. 6, hlm. 154).\rDalam perkara syariat berlaku kaidah “hukum asal ibadah adalah haram sampai ada dalil yang mensyari'atkannya atau menetapkannya”.\rDalam perkara syariat harus sesuai dengan apa yang disampaikan dan dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam\rPerkara baru (bid’ah) dalam perkara syariat pastilah termasuk bid’ah dholalah.\rSedangkan sikap dan perbuatan yang baru , yang tidak pernah dilakukan / dicontohkan oleh Rasulullah dan diluar apa yang telah diwajibkanNya atau diluar perkara syariat maka berlaku kaidah sebagai berikut,\r1. Sikap dan perbuatan yang baru bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah maka termasuk bid’ah dholalah\r2. Sikap dan perbuatan yang baru tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah maka termasuk bid’ah hasanah atau bid’ah mahmudah\rPerkara baru (bid’ah) diluar apa yang telah diwajibkanNya atau diluar perkara syariat berlaku kaidah “hukum asal segala sesuatu adalah mubah sampai ada dalil yang melarangnya”","part":2,"page":139},{"id":640,"text":"Segala sikap dan perbuatan diluar apa yang telah diwajibkanNya atau diluar perkara syariat yang tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah disebut sebagai amal kebaikan sebagai sarana memperjalankan diri agar sampai (wushul) kepada Allah Azza wa Jalla atau sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla hingga dapat meraih cintaNya\rDalam sebuah hadits qudsi Rasulullah bersabda, “hamba-Ku tidak bisa mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada yang telah Aku wajibkan (perkara syariat), jika hamba-Ku terus menerus mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan sunnah (amal kebaikan), maka Aku mencintai dia” (HR Muslim 6021)\rDiluar perkara syariat, kita selalu bersikap dan melakukan perbuatan yang tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah maka termasuk dzikrullah (mengingat Allah). Kita mengingat Allah setiap akan bersikap dan berbuat sebagai sarana memperjalankan diri agar sampai (wushul) kepada Allah Azza wa Jalla atau sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla hingga dapat meraih cintaNya\rDalam suatu riwayat. ”Qoola a’liyy bin Abi Thalib: Qultu yaa Rosuulolloh ayyun thoriiqotin aqrobu ilallohi? Faqoola Rasullulohi: dzikrullahi”. artinya; “Ali Bin Abi Thalib berkata; “aku bertanya kepada Rasullulah, jalan / metode (thariqot) apakah yang bisa mendekatkan diri kepada Allah? “Rasullulah menjawab; “dzikrullah.”","part":2,"page":140},{"id":641,"text":"Segala sikap dan perbuatan diluar apa yang telah diwajibkanNya atau diluar perkara syariat tidak harus sesuai sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Boleh terjadi perkara baru dalam perkara diluar apa yang telah diwajibkanNya atau diluar perkara syariat.\rImam Syafi’i ~rahimahullah berkata “Apa yang baru terjadi dan menyalahi kitab al Quran atau sunnah Rasul atau ijma’ atau ucapan sahabat, maka hal itu adalah bid’ah yang dhalalah. Dan apa yang baru terjadi dari kebaikan dan tidak menyalahi sedikitpun dari hal tersebut, maka hal itu adalah bid’ah mahmudah (terpuji)”\rImam Syafi’i ~rahimahullah berkata “Perkara-perkara yang baru (al muhdats) terbagi dua, Pertama : perkara baru yang bertentangan dengan kitab, sunnah, atsar para sahabat dan ijma’, ini adalah bid’ah dlalalah, kedua: perkara baru yang baik dan tidak bertentangan dengan salah satu dari hal-hal di atas, maka ini adalah perkara baru yang tidak tercela” (Diriwayatkan oleh al Hafizh al Baihaqi dalam kitabnya “Manaqib asy-Syafi’i”, Juz I, h. 469)\rContoh bid’ah hasanah adalah peringatan Maulid Nabi sebagaimana yang telah disampaikan oleh para ulama yang mengikuti pemahaman atau pendapat Imam Mazhab yang empat.","part":2,"page":141},{"id":642,"text":"Imam Al hafidh Abu Syaamah rahimahullah (Guru imam Nawawi) : “Merupakan Bid’ah hasanah yang mulia dizaman kita ini adalah perbuatan yang diperbuat setiap tahunnya di hari kelahiran Rasul shallallahu alaihi wasallam dengan banyak bersedekah, dan kegembiraan, menjamu para fuqara, seraya menjadikan hal itu memuliakan Rasul shallallahu alaihi wasallam dan membangkitkan rasa cinta pada beliau shallallahu alaihi wasallam, dan bersyukur kepada Allah ta’ala dengan kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam“.\rImamul Qurra’ Alhafidh Syamsuddin Aljazriy rahimahullah dalam kitabnya ‘Urif bitta’rif Maulidissyariif : “Telah diriwayatkan Abu Lahab diperlihatkan dalam mimpi dan ditanya apa keadaanmu?, ia menjawab : “di neraka, tapi aku mendapat keringanan setiap malam senin, itu semua sebab aku membebaskan budakku Tsuwaibah demi kegembiraanku atas kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam dan karena Tsuwaibah menyusuinya ” (shahih Bukhari hadits no.4813). maka apabila Abu Lahab Kafir yang Alqur’an turun mengatakannya di neraka mendapat keringanan sebab ia gembira dengan kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam, maka bagaimana dengan muslim ummat Muhammad shallallahu alaihi wasallam yang gembira atas kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam?, maka demi usiaku, sungguh balasan dari Tuhan Yang Maha Pemurah sungguh-sungguh ia akan dimasukkan ke sorga kenikmatan Nya dengan sebab anugerah Nya“.","part":2,"page":142},{"id":643,"text":"Imam Al Hafidh Assakhawiy dalam kitab Sirah Al Halabiyah berkata “tidak dilaksanakan maulid oleh salaf hingga abad ke tiga, tapi dilaksanakan setelahnya, dan tetap melaksanakannya umat Islam di seluruh pelosok dunia dan bersedekah pada malamnya dengan berbagai macam sedekah dan memperhatikan pembacaan maulid, dan berlimpah terhadap mereka keberkahan yang sangat besar”.\rImam Al hafidh Ibn Abidin rahimahullah dalam syarahnya maulid ibn hajar berkata : “ketahuilah salah satu bid’ah hasanah adalah pelaksanaan maulid di bulan kelahiran nabi shallallahu alaihi wasallam”\rImam Al Hafidh Ibnul Jauzi rahimahullah, dengan karangan maulidnya yang terkenal “al aruus” juga beliau berkata tentang pembacaan maulid, “Sesungguhnya membawa keselamatan tahun itu, dan berita gembira dengan tercapai semua maksud dan keinginan bagi siapa yang membacanya serta merayakannya”.\rImam Al Hafidh Al Qasthalaniy rahimahullah dalam kitabnya Al Mawahibulladunniyyah juz 1 hal 148 cetakan al maktab al islami berkata: “Maka Allah akan menurukan rahmat Nya kepada orang yang menjadikan hari kelahiran Nabi saw sebagai hari besar”.\rMereka yang bukan bermazhab Syafi’i membantah adanya bid’ah hasanah dengan pendapat sebagai berikut\r“maksud Imam As-Syafii adalah pengklasifikasian bid'ah ditinjau dari sisi bahasa. Oleh karenanya beliau berdalil dengan perkataan Umar bin Al-Khottoob :\"Sebaik-baik bid'ah adalah ini (yaitu sholat tarawih berjamaah)\". Padahal telah diketahui bersama - bahwasanya sholat tarwih berjamaah pernah dikerjakan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam”","part":2,"page":143},{"id":644,"text":"Kesalahpahaman yang telah terjadi selama ini seolah-olah Umar bin Al-Khottoob tidak mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah mengerjakan sholat tarwih berjama’ah. Yang dimaksud Umar bin Al-Khottoob dengan “sebaik-baik bid’ah” adalah meramaikan malam bulan ramadhan dengan sholat tarwih berjama’ah sebulan penuh sebagai bagian dari syiar Islam.\r“Shalat tarawih termasuk dari syi’ar Islam yang tampak maka serupa dengan shalat ‘Ied”. (Syarh Shahih Muslim, 6/282)\rJadi yang dikatakan bid’ah atau perkara baru adalah melaksanakan sholat tarwih berjama’ah setiap malam di bulan Ramadhan karena Rasulullah tidak melakukannya setiap malam dan mencontohkan meninggalkannya pada beberapa malam agar kaum muslim tidak berkeyakinan sebagai sebuah kewajiban yang jika ditinggalkan berdosa.\rحَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى فِي الْمَسْجِدِ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَصَلَّى بِصَلَاتِهِ نَاسٌ ثُمَّ صَلَّى مِنْ الْقَابِلَةِ فَكَثُرَ النَّاسُ ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنْ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ أَوْ الرَّابِعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ فَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنْ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلَّا أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ قَالَ وَذَلِكَ فِي رَمَضَانَ","part":2,"page":144},{"id":645,"text":"Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya ia berkata, saya telah membacakan kepada Malik dari Ibnu Syihab dari Urwah dari Aisyah bahwasanya; Pada suatu malam (di bulan Ramadlan), Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam shalat di Masjid, lalu diikuti oleh beberapa orang sahabat. Kemudian (pada malam kedua) beliau shalat lagi, dan ternyata diikuti oleh banyak orang. Dan pada malam ketiga atau keempat mereka berkumpul, namun Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak keluar shalat bersama mereka. Maka setelah pagi, beliau bersabda: \"Sesungguhnya aku tahu apa yang kalian lakukan semalam. Tiada sesuatu pun yang menghalangiku untuk keluar dan shalat bersama kalian, hanya saja aku khawatir (shalat tarawih itu) akan diwajibkan atas kalian.\" ( HR Muslim 1270 )\rBid’ah hasanah , jika yang melakukan sholat tarawih berjamaah sebulan penuh berkeyakinan bahwa itu adalah amal kebaikan selama bulan ramadhan walaupun Rasulullah tidak mencontohkan / melakukannya sebulan penuh.\rBid’ah dholalah, jika mereka berkeyakinan bahwa sholat tarawih berjamaah sebulan penuh adalah kewajibanNya atau perintahNya (ditinggalkan berdosa) karena sholat tarawih sebulan penuh tidak pernah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla sebagai kewajiban (ditinggalkan berdosa). Yang ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla sebagai kewajiban (ditinggalkan berdosa) yang harus dikerjakan sebulan penuh pada bulan Ramadhan adalah berpuasa.","part":2,"page":145},{"id":646,"text":"Begitupula dengan peringatan Maulid Nabi, Bid’ah hasanah, jika yang melakukan peringatan Maulid Nabi berkeyakinan sebagai amal kebaikan bukan termasuk perkara syariat atau bukan termasuk apa yang disyaratkan oleh Allah Azza wa Jalla yang harus dipenuhi sebagai hamba atau bukan termasuk perkara syariat\rBid’ah dholalah, jika yang melakukan peringatan Maulid Nabi berkeyakinan sebagai kewajiban yang jika ditinggalkan berdosa karena peringatan Maulid Nabi adalah termasuk perkara yang tidak diwajibkanNya.\rMereka yang bukan bermazhab Syafi’i kembali membantah adanya bid’ah hasanah dengan pendapat sebagai berikut\r\"Imam Asy-Syafi'i menghendaki dengan bid'ah hasanah adalah perkara-perkara yang termasuk dalam bab al-maslahah al-mursalah, yaitu perkara-perkara adat yang mewujudkan kemaslahatan bagi manusia dan tidak terdapat dalil (nas) khusus, karena hal ini tidaklah tercela sesuai dengan kesepakatan para Sahabat meskipun hal ini dinamakan dengan muhdatsah (perkara yang baru) atau dinamakan bid'ah jika ditinjau dari sisi bahasa\".\rPendapat atau pemahaman seperti ini adalah menjurus kepada paham Sekulerisme , suatu paham yang menyakini bahwa ada perbuatan manusia sebagai ibadah yang berhubungan dengan urusan akhirat dan ada perbuatan manusia sebagai perkara-perkara adat atau kebiasaan yang berhubungan dengan urusan dunia yang mewujudkan kemaslahatan bagi manusia.","part":2,"page":146},{"id":647,"text":"Padahal sebagai hamba Allah maka seluruh sikap dan perbuatan kita adalah untuk beribadah kepada Allah ta’ala karena itulah tujuan kita diciptakanNya. Hal ini telah kami uraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/15/seluruhnya-ibadah/\rFirman Allah ta’ala yang artinya : “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku” (QS Adz Dzaariyaat 51 : 56)\r“Beribadahlah kepada Tuhanmu sampai kematian menjemputmu” (QS al Hijr [15] : 99)\rSebagai hamba Allah maka kita harus menjalankan perkara syariat atau menjalankan apa yang diwajibkanNya dan diluar perkara syariat atau diluar dari apa yang telah diwajibkanNya, kita harus bersikap dan melakukan perbuatan yang tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah.\rEntah itu perkara adat atau kebiasaan atau perbuatan yang berhubungan antar manusia atau perbuatan “urusan dunia” harus hanya dilakukan jika tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah.\rSeluruh perbuatan diluar perkara syariat atau diluar apa yang telah diwajibkanNya harus merujuk dengan hukum taklifi yang lima (haram, makruh, wajib, sunnah, dan mubah). Langkah merujuk inilah termasuk dzikrullah (mengingat Allah) sebagai sarana memperjalankan diri agar sampai (wushul) kepada Allah atau sarana mendekatkan diri kepada Allah.\rBerhubungan antar manusia kita harus mengingat Allah sehingga sikap dan perbuatan antar manusia sesuai dengan apa yang dicintaiNya. Sedangkan berhubungan dengan Allah kita harus mengingat bahwa kita adalah hambaNya.","part":2,"page":147},{"id":648,"text":"Jadi perbuatan diluar perkara syariat atau diluar apa yang telah diwajibkanNya adalah termasuk ibadah kepada Allah selama perbuatan tersebut tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah karena sebelum kita melakukan perbuatan tersebut harus mengingat Allah, harus mengingat apakah bertentangan atau tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah. Kita hanya melakukan perbuatan diluar perkara syariat atau diluar apa yang telah diwajibkanNya yang tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah.\rJadi mungkin saja akan terjadi perbuatan diluar perkara syariat atau diluar apa yang telah diwajibkanNya yang tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah namun tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah maupun para Sahabat yang dinamakan bid’ah hasanah atau bid’ah mahmudah.\rSedangkan yang dimaksud al-Maslahah al-Mursalah atau Al-Istislah atau kadang disamakan juga dengan al-Istihsan adalah\r“Menetapkan hukum suatu masalah yang tak ada nash-nya atau tidak ada ijma’ terhadapnya, dengan berdasarkan pada kemaslahatan semata (yang oleh syara’ (dalam Al Qur’an dan As Sunnah) tidak dijelaskan ataupun dilarang”\rMenurut Imam Syafi’i cara-cara penetapan hukum seperti itu sekali-kali bukan dalil syar’i. Beliau menganggap orang yang menggunakannya sama dengan menetapkan syari’at berdasarkan hawa nafsu atau berdasarkan pendapat sendiri (akal pikiran sendiri) yang mungkin benar dan mungkin pula salah.","part":2,"page":148},{"id":649,"text":"Ibnu Hazm termasuk salah seorang ulama yang menolak cara-cara penetapan hukum seperti itu Beliau menganggap bahwa cara penetapan seperti itu menganggap baik terhadap sesuatu atau kemashlahatan menurut hawa nafsunya (akal pikiran sendiri), dan itu bisa benar dan bisa pula salah, misalnya mengharamkan sesuatu tanpa dalil.\rDari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)\rHal yang harus kita hindari adalah menetapkannya sebagai kewajiban (ditinggalkan berdosa) padahal tidak diwajibkanNya, menetapkannya sebagai larangan (dilanggar berdosa) padahal tidak dilarangNya, menetapkan sebagai perkara haram (dilanggar berdosa) padahal tidak diharamkanNya dimana kesalahan dalam menetapkan hukum perkara menjerumuskan menjadi ahli bid’ah, mereka yang mengada-ada dalam agama atau dalam perkara syariat yang merupakan hak Allah Azza wa Jalla menetapkannya.\rJadi kesalahpahaman dalam memahami bid’ah , justru akan menjerumuskan menjadi ahli bid’ah, mengada-ada dalam agama atau mengada-ada dalam perkara syariat yakni mengada-ada dalam perkara larangan yang tidak pernah dilarang oleh Allah Azza wa Jalla maupun RasulNya\rFirman Allah ta’ala yang artinya,\r“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu dan janganlah kamu melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas.” (Qs. al-Mâ’idah [5]: 87).","part":2,"page":149},{"id":650,"text":"“Katakanlah! Siapakah yang berani mengharamkan perhiasan Allah yang telah diberikan kepada hamba-hambaNya dan beberapa rezeki yang baik itu? Katakanlah! Tuhanku hanya mengharamkan hal-hal yang tidak baik yang timbul daripadanya dan apa yang tersembunyi dan dosa dan durhaka yang tidak benar dan kamu menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak turunkan keterangan padanya dan kamu mengatakan atas (nama) Allah dengan sesuatu yang kamu tidak mengetahui.” (QS al-A’raf: 32-33)\r“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung” [QS. An-Nahl : 116].\rDalam hadits Qudsi , Rasulullah bersabda: “Aku ciptakan hamba-hambaKu ini dengan sikap yang lurus, tetapi kemudian datanglah syaitan kepada mereka. Syaitan ini kemudian membelokkan mereka dari agamanya, dan mengharamkan atas mereka sesuatu yang Aku halalkan kepada mereka, serta mempengaruhi supaya mereka mau menyekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidak turunkan keterangan padanya.” (Riwayat Muslim).\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :\rمن حلل حراما او حرم حلالا فقد كفر\r“Barangsiapa menghalalkan sesuatu yang haram atau mengharamkan sesuatu yang halal, maka dia telah kafir.”\rBantahan lainnya dari mereka pengikut ulama Ibnu Taimiyyah berlandaskan pendapat beliau sebagai berikut,","part":2,"page":150},{"id":651,"text":"Ulama Ibnu Taimiyah dalam Al-Qawa’id An-Nuraniyyah Al-Fiqhiyyah (hal 112) berkata, “Dengan mencermati syari’at, maka kita akan mengetahui bahwa ibadah-ibadah yang diwajibkan Allah atau yang disukaiNya, maka penempatannya hanya melalui syari’at”\rDalam Majmu Al-Fatawa (XXXI/35), beliau berkata, “Semua ibadah, ketaatan dan taqarrub adalah berdasarkan dalil dari Allah dan RasulNya, dan tidak boleh seorang pun yang menjadikan sesuatu sebagai ibadah atau taqarrub kepada Allah kecuai dengan dalil syar’i”.\rUlama Ibnu Taimiyyah semula bermazhab Hambali, bertalaqqi (mengaji) kepada ulama-ulama bermazhab Hambali. Namun pada akhirnya ulama Ibnu Taimiyyah memahami Al Qur’an dan As Sunnah lebih menyandarkan dengan belajar sendiri (secara otodidak) melalui cara muthola’ah (menelaah kitab) dan memahaminya dengan akal pikiran sendiri (pemahaman secara ilmiah). Hal ini telah diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/01/2011/07/28/semula-bermazhab-hambali/\rDari pendapat Ulama Ibnu Taimiyyah di atas maka kita dapat simpulkan bahwa beliau termasuk salah satu ulama yang berpendapat bahwa perbuatan manusia ada ibadah dan ada pula bukan ibadah.","part":2,"page":151},{"id":652,"text":"Sebenarnya pada saat beliau mengatakan “Semua ibadah, ketaatan dan taqarrub adalah berdasarkan dalil dari Allah dan RasulNya” sudah menjelaskan kategori perbuatan manusia yakni perbuatan yang berhubungan dengan ketaatan atau perkara syariat dan perbuatan yang berhubungan dengan upaya taqarrub kepada Allah atau upaya memperjalankan diri agar sampai (wushul) kepada Allah atau mendekatkan diri kepada Allah. Perbuatan yang mendekatkan diri kepada Allah adalah perbuatan diluar perkara syariat (diluar apa yang telah diwajibkanNya) yang tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah.\rSebagaimana yang telah kami sampaikan diatas bahwa mungkin saja terjadi perbuatan diluar perkara syariat atau diluar apa yang telah diwajibkanNya yang tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah yang tidak pernah dilakukan atau dicontohkan oleh Rasulullah yang disebut dengan bid’ah hasanah\rContoh Bid’ah hasanah lainnya adalah membuat matan/redaksi sholawat sendiri yang isinya tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah\rPerintahnya adalah bersholawatlah namun tidak ada larangan menggunakan matan/redaksi sholawat yang dibuat sendiri.\rFirman Allah Azza wa Jalla,\r“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya” (QS (QS Al Ahzab [33]: 56)\rImam Sayyidina Ali Karramallahu Wajhah, Imam Syafi’i ~ rahimahullah dan ulama-ulama terdahulu lainnya mempunyai matan/redaksi sendiri sesuai bagaimana mereka mengungkapkan kecintaannya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam","part":2,"page":152},{"id":653,"text":"Shalawat Sayyidina ‘Ali Karramallahu Wajhah:\rصَلَوَاتُ اللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَأَنْبِيَائِهِ وَجَمِيْعِ خَلْقِهِ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَعَلَيْهِمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ\rShalawatullahi wa malaa’ikatihi wa anbiyaa’ihi wa jamii’i khalqihii\r‘alaa Muhammad wa aali Muhammad wa ‘alaih\rwa ‘alaihimussalaamu wa rahmatullaahi wa barakaatuh\r\"Shalawat Allah, para MalaikatNya dan para NabiNya serta semua mahlukNya\rsemoga terlimpah kepada Nabi Muhammad Saw dan Keluarganya dan keturunannya,\rdan semoga keselamatan Allah, rahmat Allah serta berkahNya terlimpahkan kepada Mereka\".\rImam Syafi’i ~rahimahullah pun mempunyai matan/redaksi sholawat yang dibuatnya sendiri seperti.\r“Ya Allah, limpakanlah shalawat atas Nabi kami, Muhammad, selama orang-orang yang ingat menyebut-Mu dan orang-orang yang lalai melupakan untuk menyebut-Mu ”\ratau\r“Ya Allah, limpahkanlah shalawat atas cahaya di antara segala cahaya, rahsia di antara segala rahasia, penawar duka, dan pembuka pintu kemudahan, yakni Sayyidina Muhammad, manusia pilihan, juga kepada keluarganya yang suci dan sahabatnya yang baik, sebanyak jumlah kenikmatan Allah dan karunia-Nya.”\rTulisan tentang matan/redaksi atau lafadz sholawat lainnya pada\rhttp://www.abatasa.com/pustaka/detail/tauhid/175/lafadz-lafadz-shalawat-dan-penjelasannya-1\rhttp://www.abatasa.com/pustaka/detail/tauhid/180/lafadz-lafadz-shalawat-dan-penjelasannya-2\rhttp://www.abatasa.com/pustaka/detail/tauhid/183/lafadz-lafadz-shalawat-dan-penjelasannya-3\rhttp://www.abatasa.com/pustaka/detail/tauhid/188/lafadz-lafadz-shalawat-dan-penjelasannya-4\rWassalam","part":2,"page":153},{"id":654,"text":"Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830\r1020. Mereka menolak bid’ah hasanah bisa terjerumus paham sekulerisme\rDalam tulisan sebelumnya pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/13/tanggapan-bantahan-bidah/ kami telah tanggapi tiga buah bantahan mereka akan adanya bid’ah hasanah. Contoh bid’ah hasanah lainnya adalah pembukuan Al Qur’an, perbuatan ini tidak dilakukan atau tidak dicontohkan oleh Rasulullah. Mereka membantah dengan pendapat bahwa perbuatan pembukuan Al Qur’an adalah termasuk maslahah mursalah. Kemudian mereka menyampaikan perbedaan maslahah mursalah dengan bid’ah Maslahah Mursalah : Bisa bertambah dan berkurang atau bahkan ditinggalkan sesuai dengan kebutuhan, karena ia sekedar sarana & bukan tujuan hakiki, alias bukan ibadah yang berdiri sendiri.\rBid’ah : Bersifat paten dan dipertahankan hingga tidak bertambah atau berkurang, karena ia merupakan tujuan hakiki alias ibadah yang berdiri sendiri dan bukan sarana.\rKalau kita pelajari batasan bid’ah yang mereka sampaikan dan dimaksud oleh mereka tentu sebagai bid’ah dholalah maka perbuatan pembukuan Al Qur’an termasuk bid’ah dholalah sesuai batasan yang mereka sampaikan.\rPerbuatan pembukuan Al Qur’an bersifat paten dan terus dipertahankan , tidak bertambah atau berkurang sebagaimana yang dicontohkan oleh Salafush Sholeh. Kalau jumlah atau bentuk atau tekhnologi pembukuan Al Qur'an termasuk dalam perbuatan pembukuan Al Qur’an.","part":2,"page":154},{"id":655,"text":"Tanda-tanda waqaf, saktah, isymam, dan semisalnya adalah untuk kemudahan untuk membacanya namun perbuatannya adalah pembukuan Al Qur'an. Sedangkan bentuk pembukuan Al Qur'an dalam bentuk kaset, cd, gadget hanyalah perbedaan bentuk, perbuatannya tetap pembukuan Al Qur’an\rPerbuatan pembukuan Al Qur'an , tujuannya hakiki untuk memudahkan kaum muslim untuk membaca, mengetahui, memahami Al Qur'an sampai akhir zaman\rPerbuatan pembukuan Al Qur’an adalah bid’ah (perkara baru) karena tidak pernah dilakukan atau dicontohkan oleh Rasulullah.\rPerbuatan pembukuan Al Qur’an adalah bid’ah hasanah karena perbuatan tersebut diluar perkara syariat atau diluar dari apa yang telah diwajibkan oleh Allah Azza wa Jalla dan tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah.\rContoh bid’ah hasanah lainnya adalah perjalanan ibadah haji menggunakan pesawat terbang ,tentu suatu perbuatan yang tidak pernah dilakukan atau dicontohkan oleh Rasulullah\rPenggunaan pesawat terbang untuk perjalanan ibadah haji diluar perkara syariat atau diluar dari apa yang telah diwajibkan oleh Allah Azza wa Jalla dan tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah sehingga termasuk bid’ah hasanah","part":2,"page":155},{"id":656,"text":"Mereka membantah dengan pendapat sebagai berikut, Penggunaan pesawat terbang untuk perjalanan ibadah haji adalah bid’ah , tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah dalam melaksanakan ibadah haji namun bid'ah secara bahasa jadi hukumnya mubah (boleh) dan merupakan urusan dunia berlandaskan perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam , “wa antum a’lamu bi amri dunyakum, “dan kamu sekalian lebih mengetahui urusan-urusan duniamu”. (HR. Muslim 4358 ).\rBerdasarkan pendapat mereka tersebut dengan sendirinya mereka membagi bid’ah kedalam dua kategori yakni urusan dunia dan urusan agama walaupun hadits yang berbunyi “kullu bid’atin dholalah” mereka maknai sebagai “seluruh bid’ah adalah dholalah”. Dalam hadits tersebut yang dimaksud dengan bid’ah (mereka katakan) adalah bid’ah (perkara baru) dalam urusan agama.\rHati-hatilah jangan sampai terjerumus ke dalam paham sekulerisme, paham yang memisahkan urusan dunia dan urusan agama (urusan akhirat).\rFirman Allah Azza wa Jalla, alyawma akmaltu lakum diinakum, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu” (QS Al Maaidah [5]:3)\rIslam itu din yang sempurna, tercakup di dalamnya semua aspek kehidupan di dunia untuk kebahagiaan di akhirat. Aspek-aspek itu antara lain kehidupan berpolitik, bermasyarakat, bernegara, bermuamalah dan sebagainya\rApakah sikap dan perbuatan yang termasuk urusan dunia boleh bertentangan dengan Al Qur'an dan As Sunnah ?","part":2,"page":156},{"id":657,"text":"Setiap sikap dan perbuatan manusia urusan dunia maupun urusan akhirat harus tetap merujuk dengan Al Qur’an dan As Sunnah dan menetapkannya dalam hukum taklifi yang lima (haram, makruh, wajib, sunnah, dan mubah). Perbuatan merujuk dengan Al Qur’an dan As Sunnah termasuk dzikrullah (mengingat Allah).\rJadi urusan dunia adalah ibadah juga. Jika urusan dunia tersebut bertentangan dengan Al Qur'an dan As Sunnah maka termasuk amal keburukan (sayyiah) dan jika urusan dunia tersebut tidak bertentangan dengan Al Qur'an dan As Sunnah maka termasuk amal kebaikan.\rUrusan dunia yang tidak bertentangan dengan Al qur'an dan As Sunnah dan tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah maka termasuk juga ke dalam bid'ah hasanah\rUrusan dunia tidak boleh dilepaskan dengan urusan akhirat, bahkan urusan dunia seperti \"jual beli\" terkait pula dengan perkara syariat.\rPerkara syariat atau disebut dalam beberapa hadits sebagai \"urusan agama\" atau \"urusan kami\" adalah, \"segala perkara yang telah disyaratkan oleh Allah Azza wa Jalla yang harus dipenuhi sebagai hamba Allah yakni menjalankan segala apa yang telah ditetapkanNya atau diwajibkanNya, wajib dijalankan dan wajib dijauhi, meliputi menjalankan kewajibanNya yang jika ditinggalkan berdosa, menjauhi segala yang telah dilarangNya yang jika dilanggar berdosa dan menjauhi segala yang telah diharamkanNya yang jika dilanggar berdosa\".\rDari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)","part":2,"page":157},{"id":658,"text":"Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban (ditinggalkan berdosa), maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa larangan (dikerjakan berdosa)), maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu (dikerjakan berdosa), maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia.” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi)\rSebagai hamba Allah maka seluruh sikap dan perbuatan kita adalah untuk beribadah kepada Allah ta’ala karena itulah tujuan kita diciptakanNya. Hal ini telah kami uraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/15/seluruhnya-ibadah/\rFirman Allah ta’ala yang artinya : “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku” (QS Adz Dzaariyaat 51 : 56)\r“Beribadahlah kepada Tuhanmu sampai kematian menjemputmu” (QS al Hijr [15] : 99)\rPerbuatan sebagai hamba Allah hanya 2 kategori yakni perkara syariat dan diluar perkara syariat\rDalam perkara syariat berlaku “hukum asal ibadah adalah haram sampai ada dalil yang mensyari'atkannya atau menetapkannya”.\rDalam perkara syariat harus sesuai dengan apa yang disampaikan dan dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam\rPerkara baru (bid’ah) dalam perkara syariat, perkara baru dalam perkara kewajiban (jika ditinggalkan berdosa), perkara larangan (jika dilanggar berdosa) maupun perkara pengharaman (jika dilanggar berdosa) adalah bid’ah dholalah.","part":2,"page":158},{"id":659,"text":"Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Tidak tertinggal sedikitpun yang mendekatkan kamu dari surga dan menjauhkanmu dari neraka melainkan telah dijelaskan bagimu ” (HR Ath Thabraani dalam Al Mu’jamul Kabiir no. 1647)\r“mendekatkan dari surga” = perkara kewajiban (ditinggalkan berdosa)\r“menjauhkan dari neraka” = perkara larangan dan perkara pengharaman (dikerjakan berdosa)\rJika ulama berfatwa dalam perkara kewajiban (ditinggalkan berdosa), perkara larangan (dikerjakan berdosa) dan perkara pengharaman (dikerjakan berdosa) wajib berlandaskan dengan apa yang telah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla\rFirman Allah Azza wa Jalla yang artinya, “Katakanlah! Siapakah yang berani mengharamkan perhiasan Allah yang telah diberikan kepada hamba-hambaNya dan beberapa rezeki yang baik itu? Katakanlah! Tuhanku hanya mengharamkan hal-hal yang tidak baik yang timbul daripadanya dan apa yang tersembunyi dan dosa dan durhaka yang tidak benar dan kamu menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak turunkan keterangan padanya dan kamu mengatakan atas (nama) Allah dengan sesuatu yang kamu tidak mengetahui.” (QS al-A’raf: 32-33)\r“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung” [QS. An-Nahl : 116].","part":2,"page":159},{"id":660,"text":"Dalam hadits Qudsi , Rasulullah bersabda: “Aku ciptakan hamba-hambaKu ini dengan sikap yang lurus, tetapi kemudian datanglah syaitan kepada mereka. Syaitan ini kemudian membelokkan mereka dari agamanya, dan mengharamkan atas mereka sesuatu yang Aku halalkan kepada mereka, serta mempengaruhi supaya mereka mau menyekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidak turunkan keterangan padanya.” (Riwayat Muslim).\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :\rمن حلل حراما او حرم حلالا فقد كفر\r“Barangsiapa menghalalkan sesuatu yang haram atau mengharamkan sesuatu yang halal, maka dia telah kafir.”\rSedangkan sikap dan perbuatan, diluar perkara syariat (diluar dari apa yang telah diwajibkanNya) berlaku “hukum asal segala sesuatu adalah mubah sampai ada dalil yang melarangnya”\rSikap dan perbuatan, diluar perkara syariat (diluar dari apa yang telah diwajibkanNya) yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah berlaku kaidah sebagai berikut\r1. Jika bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah maka termasuk bid’ah dholalah\r2. Jika tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah maka termasuk bid’ah hasanah atau bid’ah mahmudah\rImam Syafi’i ~rahimahullah berkata “Apa yang baru terjadi dan menyalahi kitab al Quran atau sunnah Rasul atau ijma’ atau ucapan sahabat, maka hal itu adalah bid’ah yang dhalalah. Dan apa yang baru terjadi dari kebaikan dan tidak menyalahi sedikitpun dari hal tersebut, maka hal itu adalah bid’ah mahmudah (terpuji)”","part":2,"page":160},{"id":661,"text":"Imam Syafi’i ~rahimahullah berkata “Perkara-perkara yang baru (al muhdats) terbagi dua, Pertama : perkara baru yang bertentangan dengan kitab, sunnah, atsar para sahabat dan ijma’, ini adalah bid’ah dlalalah, kedua: perkara baru yang baik dan tidak bertentangan dengan salah satu dari hal-hal di atas, maka ini adalah perkara baru yang tidak tercela” (Diriwayatkan oleh al Hafizh al Baihaqi dalam kitabnya “Manaqib asy-Syafi’i”, Juz I, h. 469)\rPerselisihan terjadi disebabkan kesalahpahaman mereka memaknai hadits, \"Kullu bid'atin dholalah\"\rPengertian kullu ada 3 macam yakni\r1. syay’in artinya setiap satu\r2. ba’din artinya setiap sebagian\r3. jam’in artinya setiap semua.\rAl-Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menuliskan: “Sabda Rasulullah “Kullu Bid’ah dlalalah” ini adalah ‘Amm Makhshush; artinya, lafazh umum yang telah dikhususkan kepada sebagian maknanya. Jadi yang dimaksud adalah bahwa sebagian besar bid’ah itu sesat (bukan mutlak semua bid’ah itu sesat)” (al-Minhaj Bi Syarah Shahih Muslim ibn al-Hajjaj, j. 6, hlm. 154)\rDikatakan sebagian besar atau kebanyakan bid'ah itu sesat karena bid'ah dholalah adalah perkara baru dalam perkara syariat (perkara yang telah diwajibkanNya) dan perkara baru diluar perkara syariat yang bertentangan dengan Al Qur'an dan As Sunnah. Sedangkan bid'ah hasanah hanyalah perkara baru diluar perkara syariat yang tidak bertentangan dengan Al Qur'an dan As Sunnah.","part":2,"page":161},{"id":662,"text":"Berikut kami uraikan penyalahgunaan hadits, wa antum a’lamu bi amri dunyakum, “dan kamu sekalian lebih mengetahui urusan-urusan duniamu”. (HR. Muslim 4358 ) yang dilakukan oleh kaum sekulerisme\rHadits selengkapnya,\rحَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَعَمْرٌو النَّاقِدُ كِلَاهُمَا عَنْ الْأَسْوَدِ بْنِ عَامِرٍ قَالَ أَبُو بَكْرٍ حَدَّثَنَا أَسْوَدُ بْنُ عَامِرٍ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ وَعَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِقَوْمٍ يُلَقِّحُونَ فَقَالَ لَوْ لَمْ تَفْعَلُوا لَصَلُحَ قَالَ فَخَرَجَ شِيصًا فَمَرَّ بِهِمْ فَقَالَ مَا لِنَخْلِكُمْ قَالُوا قُلْتَ كَذَا وَكَذَا قَالَ أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ","part":2,"page":162},{"id":663,"text":"Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah dan 'Amru An Naqid seluruhnya dari Al Aswad bin 'Amir; Abu Bakr berkata; Telah menceritakan kepada kami Aswad bin 'Amir; Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Hisyam bin 'Urwah dari Bapaknya dari 'Aisyah dan dari Tsabit dari Anas bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah melewati suatu kaum yang sedang mengawinkan pohon kurma lalu beliau bersabda: “Sekiranya mereka tidak melakukannya, kurma itu akan (tetap) baik”. Tapi setelah itu, ternyata kurma tersebut tumbuh dalam keadaan rusak. Hingga suatu saat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melewati mereka lagi dan melihat hal itu beliau bertanya: 'Ada apa dengan pohon kurma kalian? Mereka menjawab; Bukankah anda telah mengatakan hal ini dan hal itu? Beliau lalu bersabda: 'Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian' (HR Muslim 4358)\rKaum sekulerisme berpendapat urusan dunia tidaklah diurus oleh agama, terbukti dalam hadits tersebut Rasulullah salah memberikan nasehat dalam penanaman kurma berikut contoh pernyataan mereka selengkapnya","part":2,"page":163},{"id":664,"text":"\"Ketika Nabi shallalahu alaihi wasallam memberikan nasihat tentang cara mengawinkan pohon kurma supaya berbuah, ini bisa dianggap bahwa beliau sudah memasukkan otoritas agama untuk urusan duniawi yang di mana beliau tidak mendapatkan wahyu atau kewenangan untuk itu. Tapi ternyata dalam masalah menanam kurma ini pendapat beliau keliru. Pohon kurma itu malah menjadi mandul. Maka para petani kurma itu mengadu lagi kepada Nabi saw, meminta pertanggungjawaban beliau. Dan beliau menyadari kesalahan advisnya waktu itu dan dengan rendah hati berkata, “Kalau itu berkaitan dengan urusan agama ikutilah aku, tapi kalau itu berkaitan dengan urusan dunia kamu, maka “Antum a’lamu bi umuri dunyaakum”, kamu sekalian lebih mengetahui urusan duniamu. Rasulullah mengakui keterbatasannya. Rasulullah bukanlah penentu untuk segala hal. Rasul bukanlah orang yang paling tahu untuk segala hal. Bahkan untuk urusan dunia di jaman beliau pun beliau bukanlah orang yang paling tahu. Jadi tidak mungkin jika kita menuntut Rasulullah untuk mengetahui segala sesuatu hal tentang urusan dunia. Apalagi kalau mengurusi urusan kita di jaman modern ini…! Tentu tidak mungkin kita harus mencari-cari semua aturan tetek-bengek dalam hadist beliau. Itu namanya set-back. Lha wong di jamannya saja Rasulullah menyatakan bahwa ada hal-hal yang tidak beliau pahami dan hendaknya tidak mengikuti pendapat beliau dalam ‘urusan duniamu’ tersebut.\"","part":2,"page":164},{"id":665,"text":"Dalam hadits di atas Rasulullah hanya memberikan tanggapan mengapa mesti kurma itu dikawinkan segala, mengapa tidak dibiarkan begitu saja secara alami. Hal ini dapat kita ketahui terkait firman Allah Azza wa Jalla, “subhaana alladzii khalaqa al-azwaaja kullahaa mimmaa tunbitu al-ardhu” , “Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi” (QS Yaa Siin [36]:36).\rPermasalahan kurma tersebut tumbuh dalam keadaan rusak tidaklah terkait dengan tanggapan Rasulullah.\rSedangkan makna perkataan Rasulullah, “wa antum a’lamu bi amri dunyakum, “dan kamu sekalian lebih mengetahui urusan-urusan duniamu” , yang dimaksud “urusan dunia” khusus urusan disiplin ilmu tertentu atau pengetahuan tertentu di luar ilmu agama, seperti dalam hadits tersebut adalah ilmu pertanian, ilmu pengetahuan manusia dalam membantu perkawinan kurma. Namun ilmu pengetahuan yang didalami oleh manusia harus tetap merujuk dengan Al Qur’an dan As Sunnah dan menetapkannya dalam hukum taklifi yang lima (haram, makruh, wajib, sunnah, dan mubah). Perbuatan merujuk dengan Al Qur’an dan As Sunnah termasuk ke dalam dzikrullah (mengingat Allah) sebagaimana Ulil Albab\rUlil Albab sebagaimana firman Allah yang artinya, “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (Ali Imran: 191).\rWassalam\rZon di Jonggol, Kab Bogor 16830","part":2,"page":165},{"id":666,"text":"1022. MAKALAH : SEKILAS TENTANG WAHHABI BAGIAN I\rOLEH : Chabib Musthofa El Qudsy\rSEJARAH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB PENDIRI AJARAN \"WAHHABI\"\rNama Aliran Wahabi ini diambil dari nama ayah pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahab (lahir di Najed / Riyadh, tahun 1111 H / 1699 M). Asal mulanya dia adalah seorang pedagang yang sering berpindah dari satu negara ke negara lain dan diantara negara yang pernah disinggahi oleh pendiri ajaran wahabiyah ini (meninggal tahun 1206 H / 1792 M, seorang ulama mencatat tahunnya dengan hitungan Abjad: Ba daa halaakul khobiits \"Telah nyata kebinasaan Orang yang Keji\") adalah Baghdad, Iran, India dan Syam.\rKemudian pada tahun 1125 H / 1713 M, dia terpengaruh oleh seorang orientalis Inggris bernama Mr. Hempher yang bekerja sebagai mata-mata Inggris di Timur Tengah. Sejak itulah dia menjadi alat bagi Inggris untuk menyebarkan ajaran barunya. Inggris memang telah berhasil mendirikan sekte-sekte bahkan agama baru di tengah umat Islam seperti Ahmadiyah dan Baha'i. Bahkan Muhammad bin Abdul Wahab ini juga termasuk dalam target program kerja kaum kolonial dengan alirannya Wahabi.","part":2,"page":166},{"id":667,"text":"Mulanya Muhammad bin Abdul Wahab hidup di lingkungan sunni pengikut madzhab Hanbali, bahkan ayahnya Syaikh Abdul Wahab adalah seorang sunni yang baik, begitu pula guru-gurunya. Namun sejak semula ayah dan guru-gurunya mempunyai firasat yang kurang baik tentang dia bahwa dia akan sesat dan menyebarkan kesesatan. Bahkan mereka menyuruh orang-orang untuk berhati-hati terhadapnya. Ternyata tidak berselang lama firasat itu benar. Setelah hal itu terbukti ayahnya pun menentang dan memberi peringatan khusus padanya. Bahkan kakak kandungnya, Sulaiman bin Abdul Wahab, ulama besar dari madzhab Hanbali, menulis buku bantahan kepadanya dengan judul As-Sawaiqul Ilahiyah Fir Raddi Alal Wahabiyah. Tidak ketinggalan pula salah satu gurunya di Madinah, Syekh Muhammad bin Sulaiman AI-Kurdi as-Syafii, menulis surat berisi nasehat:\r\"Wahai Ibn Abdil Wahab, aku menasehatimu karena Allah, tahanlah lisanmu dari mengkafirkan kaum muslimin, jika kau dengar seseorang meyakini bahwa orang yang ditawassuli bisa memberi manfaat tanpa kehendak Allah, maka ajarilah dia kebenaran dan terangkan dalilnya bahwa selain Allah tidak bisa memberi manfaat maupun madharrat, kalau dia menentang bolehlah dia kau anggap kafir, tapi tidak mungkin kau mengkafirkan As-Sawadul Adham (kelompok mayoritas) diantara kaum muslimin, karena engkau menjauh dari kelompok terbesar, orang yang menjauh dari kelompok terbesar lebih dekat dengan kekafiran, sebab dia tidak mengikuti Jalan muslimin.\"","part":2,"page":167},{"id":668,"text":"Sebagaimana diketahui bahwa madzhab Ahlus Sunah sampai hari ini adalah kelompok terbesar. Allah berfirman : Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu (Allah biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan) dan kami masukkan ia ke dalam jahannam, dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali (QS: An-Nisa 115)\rSalah satu dari ajaran yang (diyakini oleh Muhammad bin Abdul Wahab, adalah mengkufurkan kaum muslim sunni yang mengamalkan tawassul, ziarah kubur, maulid nabi, dan lain-lain. Berbagai dalil akurat yang disampaikan ahlussunnah wal jamaah berkaitan dengan tawassul, ziarah kubur serta maulid, ditolak tanpa alasan yang dapat diterima. Bahkan lebih dari itu, justru berbalik mengkafirkan kaum muslimin sejak 600 tahun sebelumnya, termasuk guru-gurunya sendiri.\rPada satu kesempatan seseorang bertanya pada Muhammad bin Abdul Wahab, \"Berapa banyak Allah membebaskan orang dari neraka pada bulan Ramadhan?\" Dengan segera dia menjawab, \"Setiap malam Allah membebaskan 100 ribu orang, dan di akhir malam Ramadhan Allah membebaskan sebanyak hitungan orang yang telah dibebaskan dari awal sampai akhir Ramadhan.\" Lelaki itu bertanya lagi, \"Kalau begitu pengikutmu tidak mencapai satu persen pun dari jumlah tersebut, lalu siapakah kaum muslimin yang dibebaskan Allah tersebut? Dari manakah jumlah sebanyak itu? Sedangkan engkau membatasi bahwa hanya pengikutmu saja yang muslim?\" Mendengar jawaban itu Ibnu Abdul Wahab pun terdiam seribu bahasa.","part":2,"page":168},{"id":669,"text":"Sekalipun demikian Muhammad bin Abdul Wahab tidak menggubris nasehat ayahnya dan guru-gurunya itu. Dengan berdalihkan pemurnian ajaran Islam, dia terus menyebarkan ajarannya di sekitar wilayah Najed.\rOrang-orang yang pengetahuan agamanya minim banyak yang terpengaruh. Termasuk diantara pengikutnya adalah penguasa Dariyah, Muhammad bin Saud (meninggal tahun 1178 H / 1765 M) pendiri dinasti Saudi, yang dikemudian hari menjadi mertuanya. Dia mendukung secara penuh dan memanfaatkannya untuk memperluas wilayah kekuasaannya. Ibn Saud sendiri sangat patuh pada perintah Muhammad bin Abdul Wahab. Jika dia menyuruh untuk membunuh atau merampas harta seseorang dia segera melaksanakannya dengan keyakinan bahwa kaum muslimin telah kafir dan syirik selama 600 tahun lebih, dan membunuh orang musyrik dijamin surga.\rSejak semula Muhammad bin Abdul Wahab sangat gemar mempelajari sejarah nabi-nabi palsu, seperti Musailamah Al-Kadzdzab, Aswad Al-Ansiy, Tulaihah Al-Asadiy dll. Agaknya dia punya keinginan mengaku nabi, ini tampak sekali ketika ia menyebut para pengikut dari daerahnya dengan julukan Al-Anshar, sedangkan pengikutnya dari luar daerah dijuluki Al-Muhajirin. Kalau seseorang ingin menjadi pengikutnya, dia harus mengucapkan dua syahadat di hadapannya kemudian harus mengakui bahwa sebelum masuk Wahabi dirinya adalah musyrik, begitu pula kedua orang tuanya. Dia juga diharuskan mengakui bahwa para ulama besar sebelumnya telah mati kafir. Kalau mau mengakui hal tersebut dia diterima menjadi pengikutnya, kalau tidak dia pun langsung dibunuh.","part":2,"page":169},{"id":670,"text":"Muhammad bin Abdul Wahab juga sering merendahkan Nabi Muhammad SAW dengan dalih pemurnian akidah, dia juga membiarkan para pengikutnya melecehkan Nabi di hadapannya, sampai-sampai seorang pengikutnya berkata : \"Tongkatku ini masih lebih baik dari Muhammad, karena tongkat-ku masih bisa digunakan membunuh ular, sedangkan Muhammad telah mati dan tidak tersisa manfaatnya sama sekali.\"\rMuhammad bin Abdul Wahab di hadapan pengikutnya tak ubahnya seperti Nabi di hadapan umatnya. Pengikutnya semakin banyak dan wilayah kekuasaan semakin luas. Keduanya bekerja sama untuk memberantas tradisi yang dianggapnya keliru dalam masyarakat Arab, seperti tawassul, ziarah kubur, peringatan Maulid dan sebagainya. Tak mengherankan bila para pengikut Muhammad bin Abdul Wahab lantas menyerang makam-makam yang mulia. Bahkan, pada 1802, mereka menyerang Karbala-Irak, tempat dikebumikan jasad cucu Nabi Muhammad SAW, Husein bin Ali bin Abi Thalib. Karena makam tersebut dianggap tempat munkar yang berpotensi syirik kepada Allah. Dua tahun kemudian, mereka menyerang Madinah, menghancurkan kubah yang ada di atas kuburan, menjarah hiasan - hiasan yang ada di Hujrah Nabi Muhammad SAW.\rKeberhasilan menaklukkan Madinah berlanjut. Mereka masuk ke Mekkah pada 1806, dan merusak kiswah, kain penutup Kakbah yang terbuat dari sutra. Kemudian merobohkan puluhan kubah di Ma'la, termasuk kubah tempat kelahiran Nabi Muhammad SAW, tempat kelahiran Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Ali, juga kubah Sayyidatuna Khadijah, masjid Abdullah bin Abbas.","part":2,"page":170},{"id":671,"text":"Mereka terus menghancurkan masjid-masjid dan tempat-tempat kaum solihin sambil bersorak-sorai, menyanyi dan diiringi tabuhan kendang. Mereka juga mencaci-maki ahli kubur bahkan sebagian mereka kencing di kubur kaum solihin tersebut.\r1023. MAKALAH : SEKILAS TENTANG WAHHABI BAGIAN II\rOLEH : Chabib Musthofa El Qudsy\rSEJARAH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB PENDIRI AJARAN \"WAHHABI\"\rGerakan kaum Wahabi ini membuat Sultan Mahmud II, penguasa Kerajaan Usmani, Istanbul-Turki, murka. Dikirimlah prajuritnya yang bermarkas di Mesir, di bawah pimpinan Muhammad Ali, untuk melumpuhkannya. Pada 1813, Madinah dan Mekkah bisa direbut kembali.\rGerakan Wahabi surut. Tapi, pada awal abad ke-20, Abdul Aziz bin Saud bangkit kembali mengusung paham Wahabi. Tahun 1924, ia berhasil menduduki Mekkah, lalu ke Madinah dan Jeddah, memanfaatkan kelemahan Turki akibat kekalahannya dalam Perang Dunia I.\rSejak itu, hingga kini, paham Wahabi mengendalikan pemerintahan di Arab Saudi. Dewasa ini pengaruh gerakan Wahabi bersifat global. Riyadh mengeluarkan jutaan dolar AS setiap tahun untuk menyebarkan ideologi Wahabi. Sejak hadirnya Wahabi, dunia Islam tidak pernah tenang penuh dengan pergolakan pemikiran, sebab kelompok ekstrem itu selalu menghalau pemikiran dan pemahaman agama Sunni-Syafii yang sudah mapan.","part":2,"page":171},{"id":672,"text":"Kekejaman dan kejahilan Wahabi lainnya adalah meruntuhkan kubah-kubah di atas makam sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW yang berada di Ma'la (Mekkah), di Baqi dan Uhud (Madinah) semuanya diruntuhkan dan diratakan dengan tanah dengan mengunakan dinamit penghancur. Demikian juga kubah di atas tanah Nabi Muhammad SAW dilahirkan, yaitu di Suq al Leil diratakan dengan tanah dengan menggunakan dinamit dan dijadikan tempat parkir onta, namun karena gencarnya desakan kaum Muslimin International maka dibangun perpustakaan.\rKaum Wahabi benar-benar tidak pernah menghargai peninggalan sejarah dan menghormati nilai-nilai luhur Islam. Semula AI-Qubbatul Khadra (kubah hijau) tempat Nabi Muhammad SAW dimakamkan juga akan dihancurkan dan diratakan dengan tanah tapi karena ancaman International maka orang-orang biadab itu menjadi takut dan mengurungkan niatnya.\rBegitu pula seluruh rangkaian yang menjadi manasik haji akan dimodifikasi termasuk maqom Ibrahim akan digeser tapi karena banyak yang menentangnya maka diurungkan. Pengembangan kota suci Makkah dan Madinah akhir-akhir ini tidak mempedulikan situs-situs sejarah Islam. Makin habis saja bangunan yang menjadi saksi sejarah Rasulullah SAW dan sahabatnya.\rBangunan-bangunan itu dibongkar karena khawatir dijadikan tempat keramat. Bahkan sekarang, tempat kelahiran Nabi Muhammad SAW terancam akan dibongkar untuk perluasan tempat parkir. Sebelumnya, rumah Rasulullah pun sudah lebih dulu digusur dan dijadikan wc umum. Padahal, disitulah Rasulullah berulang-ulang menerima wahyu. Di tempat itu juga putra-putrinya dilahirkan serta Khadijah meninggal.","part":2,"page":172},{"id":673,"text":"Islam dengan tafsiran kaku yang dipraktikkan wahabisme paling punya andil dalam pemusnahan ini. Kaum Wahabi memandang situs-situs sejarah itu bisa mengarah kepada pemujaan berhala baru.\rPada bulan Juli yang lalu, Sami Angawi, pakar arsitektur Islam di wilayah tersebut mengatakan bahwa:\r\"Beberapa bangunan dari era Islam kuno terancam musnah. Pada lokasi bangunan berumur 1.400 tahun Itu akan dibangun jalan menuju menara tinggi yang menjadi tujuan ziarah jamaah haji dan umrah. Saat ini kita tengah menyaksikan saat-saat terakhir sejarah Makkah. Bagian bersejarahnya akan segera diratakan untuk dibangun tempat parkir,\" katanya kepada Reuters.\rAngawi menyebut setidaknya 300 bangunan bersejarah di Makkah dan Madinah dimusnahkan selama 50 tahun terakhir. Bahkan sebagian besar bangunan bersejarah Islam telah punah semenjak Arab Saudi berdiri pada 1932.\rHal tersebut berhubungan dengan maklumat yang dikeluarkan Dewan Keagamaan Senior Kerajaan pada tahun 1994. Dalam maklumat tersebut tertulis, Pelestarian bangunan bangunan bersejarah berpotensi menggiring umat Muslim pada penyembahan berhala. Nasib situs bersejarah Islam di Arab Saudi memang sangat menyedihkan. Mereka banyak menghancurkan peninggalan- peninggalan Islam sejak masa Ar-Rasul Muhammad SAW. Semua jejak jerih payah Rasulullah itu habis oleh modernisasi ala Wahabi.","part":2,"page":173},{"id":674,"text":"Sebaliknya mereka malah mendatangkan para arkeolog (ahli purbakala) dari seluruh dunia dengan biaya ratusan juta dollar untuk menggali peninggalan- peninggalan sebelum Islam baik yang dari kaum jahiliyah maupun sebelumnya dengan dalih obyek wisata. Kemudian dengan bangga mereka menunjukkan bahwa zaman pra Islam telah menunjukkan kemajuan yang luar biasa, tidak diragukan lagi ini merupakan pelenyapan bukti sejarah yang akan menimbulkan suatu keraguan di kemudian hari.\rGerakan wahabi dimotori oleh para juru dakwah yang radikal dan ekstrim, mereka menebarkan kebencian permusuhan dan didukung oleh keuangan yang cukup besar. Mereka gemar menuduh golongan Islam yang tak sejalan dengan mereka dengan tuduhan kafir, syirik dan ahli bid'ah. Itulah ucapan yang selalu didengungkan di setiap kesempatan, mereka tak pernah mengakui jasa para ulama Islam manapun kecuali kelompok mereka sendiri.\rDi negeri kita ini (Indonesia) mereka menaruh dendam dan kebencian mendalam kepada para Wali Songo yang menyebarkan dan meng-Islam-kan penduduk negeri ini. Mereka mengatakan ajaran para wali itu masih kecampuran kemusyrikan Hindu dan Budha, padahal para Wali itu telah meng-Islam-kan 90 % penduduk negeri ini.\rMampukah wahabi-wahabi itu meng-Islam-kan yang 10% sisanya? Mempertahankan yang 90 % dari terkaman orang kafir saja tak bakal mampu, apalagi mau menambah 10 % sisanya. Justru mereka dengan mudahnya mengkafirkan orang-orang yang dengan nyata bertauhid kepada Allah SWT.","part":2,"page":174},{"id":675,"text":"Jika bukan karena Rahmat Allah yang mentakdirkan para Wali Songo untuk berdakwah ke negeri kita ini, tentu orang-orang yang menjadi corong kaum wahabi itu masih berada dalam kepercayaan animisme, penyembah berhala atau masih kafir. (Naudzu billah min dzalik).\rOleh karena itu janganlah dipercaya kalau mereka mengaku-aku sebagai faham yang hanya berpegang teguh pada Al-Quran dan As-Sunnah. Mereka berdalih mengikuti keteladanan kaum salaf apalagi mengaku sebagai golongan yang selamat dan sebagainya, itu semua omong kosong belaka. Mereka telah menorehkan catatan hitam dalam sejarah dengan membantai ribuan orang di Makkah dan Madinah serta daerah lain di wilayah Hijaz (yang sekarang dinamakan Saudi).\rTidakkah anda ketahui bahwa yang terbantai waktu itu terdiri dari para ulama yang sholeh dan alim, bahkan anak-anak serta balita pun mereka bantai di hadapan ibunya. Tragedi berdarah ini terjadi sekitar tahun 1805. Semua itu mereka lakukan dengan dalih memberantas bid'ah, padahal bukankah nama Saudi sendiri adalah suatu nama bid'ah. Karena nama negeri Rasulullah Muhammad SAW diganti dengan nama satu keluarga kerajaan pendukung faham wahabi yaitu As-Saud.","part":2,"page":175},{"id":676,"text":"Sungguh Nabi Muhammad SAW telah memberitakan akan datangnya Faham Wahabi ini dalam beberapa hadits, ini merupakan tanda kenabian beliau Nabi Muhammad SAW dalam memberitakan sesuatu yang belum terjadi. Seluruh hadits-hadits ini adalah shahih, sebagaimana terdapat dalam kitab shahih BUKHARI & MUSLIM dan lainnya. Diantaranya: \"Fitnah itu datangnya dari sana, fitnah itu datangnya dari arah sana, sambil menunjuk ke arah timur (Najed).\" (HR. Muslim dalam Kitabul Fitan).\r1024. Bid'ah hasanah penangkal paham sekulerisme pluralisme dan liberalisme\rDalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/15/bisa-terjerumus-sekulerisme/ kami sampaikan bahwa menolak adanya bid'ah hasanah bisa terjerumus paham sekulerisme\rSolusi penangkal paham sekulerisme atau solusi penangkal paham SEPILIS (sekulerisme, pluralisme, liberalisme) secara umum adalah dengan pemahaman akan adanya bid'ah hasanah sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Mazhab yang empat, pemimpin atau imam ijtihad kaum muslim pada umumnya (Imam Mujtahid Mutlak) yang bertalaqqi (mengaji) langsung dengan Salafush Sholeh.\rDengan kesadaran adanya bid'ah hasanah maka setiap kita akan melakukan perbuatan atau mencontohkan perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam maka kita akan merujuk kepada Al Qur'an dan As Sunnah.\r?…Jika perbuatan tersebut bertentangan dengan Al Qur'an dan As Sunnah maka perbuatan itu termasuk bid'ah dholalah\r?…Jika perbuatan tersebut tidak bertentangan dengan Al Qur'an dan As Sunnah maka perbuatan itu termasuk bid'ah hasanah","part":2,"page":176},{"id":677,"text":"Imam Syafi’i ~rahimahullah berkata “Apa yang baru terjadi dan menyalahi kitab al Quran atau sunnah Rasul atau ijma’ atau ucapan sahabat, maka hal itu adalah bid’ah yang dhalalah. Dan apa yang baru terjadi dari kebaikan dan tidak menyalahi sedikitpun dari hal tersebut, maka hal itu adalah bid’ah mahmudah (terpuji)”\rImam Syafi’i ~rahimahullah berkata “Perkara-perkara yang baru (al muhdats) terbagi dua, Pertama : perkara baru yang bertentangan dengan kitab, sunnah, atsar para sahabat dan ijma’, ini adalah bid’ah dlalalah, kedua: perkara baru yang baik dan tidak bertentangan dengan salah satu dari hal-hal di atas, maka ini adalah perkara baru yang tidak tercela” (Diriwayatkan oleh al Hafizh al Baihaqi dalam kitabnya “Manaqib asy-Syafi’i”, Juz I, h. 469)\rPemahaman yang memisahkan bid'ah kedalam urusan agama dan bid'ah secara bahasa atau bid'ah urusan dunia adalah bentuk keterjermusan kedalam paham Sekulerisme , paham yang memisahkan urusan dunia dan urusan agama (urusan akhirat).\rFirman Allah Azza wa Jalla, alyawma akmaltu lakum diinakum, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu” (QS Al Maaidah [5]:3)\rIslam itu din yang sempurna, tercakup di dalamnya semua aspek kehidupan di dunia untuk kebahagiaan di akhirat. Aspek-aspek itu antara lain kehidupan berpolitik, bermasyarakat, bernegara, bermuamalah dan sebagainya\rApakah sikap dan perbuatan yang termasuk urusan dunia boleh bertentangan dengan Al Qur'an dan As Sunnah ?","part":2,"page":177},{"id":678,"text":"Setiap sikap dan perbuatan manusia urusan dunia maupun urusan akhirat harus tetap merujuk dengan Al Qur’an dan As Sunnah dan menetapkannya dalam hukum taklifi yang lima (haram, makruh, wajib, sunnah, dan mubah). Perbuatan merujuk dengan Al Qur’an dan As Sunnah termasuk dzikrullah (mengingat Allah).\rJadi urusan dunia adalah ibadah juga. Jika urusan dunia tersebut bertentangan dengan Al Qur'an dan As Sunnah maka termasuk amal keburukan (sayyiah) dan jika urusan dunia tersebut tidak bertentangan dengan Al Qur'an dan As Sunnah maka termasuk amal kebaikan.\rUrusan dunia yang tidak bertentangan dengan Al Qur'an dan As Sunnah dan tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah maka termasuk juga ke dalam bid'ah hasanah\rPaham SEPILIS (Sekulerisme, Pluralisme, Liberalisme) diusung oleh kaum Zionis Yahudi. Hal ini telah diuraikan dalam tulisan pada\rhttp://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/25/2010/01/18/sekularisme-pluralisme-dan-liberalisme/\rhttp://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/25/2010/02/03/penghambaan-sesama-manusia/\rhttp://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/25/2010/02/23/bahaya-laten/\rhttp://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/25/2010/01/13/dibalik-krisis/\rAllah Azza wa Jalla menciptakan kaum Yahudi sebagaimana yang dikehendakiNya\rKaum Yahudi dan kaum musyrik, termasuk yang terjerumus kemusyrikan, terjerumus dalam kekufuran yang disebabkan oleh berbagai macam sebab, mereka mempunyai rasa permusuhan terhadap manusia yang telah bersyahadat","part":2,"page":178},{"id":679,"text":"Firman Allah ta’ala yang artinya, “orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik” ( QS Al Maaidah [5]: 82 )\rKita dapat menyaksikan bagaimana paham SEPILIS (Sekulerisme, Pluralisme, Liberalisme) mulai merasuk kedalam perguruan-perguran tinggi Islam di negeri kita seperti yang dulu bernama IAIN. Juga ke dalam universitas Islam di wilayah kerajaan dinasti Saudi tentu dengan cara-cara yang lebih halus dan terarah.\rKaum Zionis Yahudi tentu juga berupaya memasukkan paham SEPILIS (Sekulerisme, Pluralisme, Liberalisme) ke dalam organisasi-organisasi masyarakat seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah dll\rBegitu juga kaum Zionis Yahudi berupaya memasukkan paham SEPILIS (Sekulerisme, Pluralisme, Liberalisme) ke dalam sistem pemerintahan seluruh negara di dunia ini. Termasuk ke dalam pemerintahan kerajaan dinasti Saudi. Pemerintahan kerajaan dinasti Saudi walaupun mereka berupaya memerintah berlandaskan syariat Islam namun tidak sepenuhnya berlandaskan syariat Islam. Sistem pemerintahan yang mereka terapkan adalah Monarki (kerajaan) . Mereka katakan bahwa mereka mengikuti khalifah Muawiyyah.\rKhalifah Muawiiyah ketika itu bermaksud meniru suksesi kepemimpinan yang ada di Persia dan Bizantium, yaitu Monarki (kerajaan). Akan tetapi, gelar pemimpin pusat tidak di sebut raja (malik), mereka tetap menggunakan gelar khalifah dengan makna konotatif yang di perbaharui. Langkah awal dalam rangka memperlancar pengankat Yazid sebagai penggantinya adalah menjadikan Yaizid Ibn Muawiyyah sebagi putra mahkota (tahun 53 H).","part":2,"page":179},{"id":680,"text":"Penunjukkan Yazid sebagai putra mahkota telah melahirkan reaksi dari masyrakat. Proses terjadi dimasyarakat karena Muawiyyah telah mengubah sistem suksesi peminpin; di samping itu, pengangkatan Yazid sebagai pengganti Muawiyyah berarti telah terjadi pelanggaran perjanjian antara Muawiyyah dengan Hasan Ibn Ali ra .\rKetika Yazid naik tahta, sejumlah tokoh terkemuka di Madinah menolak melakukan bai’at. Akan tetapi, Muawiyyah berhasil memaksa mereka untuk melakukan bai’at. Dua tokoh yang tidak berhasil dipaksa melakukan bai’at adalah Husain Ibn Ali dan Abd Allah Ibn Zuabair. Apa yang dilakukan dan dicontohkan oleh Muawiyyah membentuk kepemimpinan pemerintahan dengan sistem kerajaan meniru peradaban Persia dan Bizantium pada hakikatnya adalah perkara baru (bid’ah).\rRasulullah bersabda : “Tidak boleh bagi tiga orang berada dimanapun di bumi ini, tanpa mengambil salah seorang diantara mereka sebagai amir (pemimpin) ”\rSungguh, dianggap (penisbatan) berkhianat kepada Allah , Rasul-Nya dan kaum mukminin, merupakan ancaman keras bagi siapapun yang tidak bertanggung jawab dalam memilih pemimpin, sebagaimana sabda Rasulullah yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas: “Barangsiapa memilih seseorang menjadi pemimpin untuk suatu kelompok, yang di kelompok itu ada orang yang lebih diridhai Allah dari pada orang tersebut, maka ia telah berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman.” (HR. Hakim)","part":2,"page":180},{"id":681,"text":"Dalam sejarah Islam kita kenal adanya ahlu a-halli wa al-‘aqdi yang merupakan demokrasi berdasarkan perwakilan yang berkompetensi dan terpercaya. Ketetapan/fatwa/kebijaksanaan diambil dengan permusyawaratan / perwakilan.\rMusyawarah untuk mufakat sistem perwakilan yang berkompetensi dan terpercaya atau ahlu a-halli wa al-‘aqdi telah dicontohkan oleh para Khulafaur Rasyidin dalam menetapkan khalifah pertama setelah wafatnya Sayyidina Muhammad shallallahu alaihi wasallam.\rBegitupula , pemerintahan kerajaan dinasti Saudi dan pemerintahan beberapa negara lainnya yang dipimpin oleh penguasa negara yang beragama Islam menjadikan kaum kafir sebagai teman kepercayaan, penasehat, pelindung dan pemimpin.\rFirman Allah Azza wa Jalla, “Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui“. (QS Al Mujaadilah [58]:14 )\r“Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali (pemimpin) dan meninggalkan orang-orang mu’min. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah…” (Qs. Ali-Imran : 28)\r“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak, atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.” (Qs. Al Mujadilah : 22)","part":2,"page":181},{"id":682,"text":"“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya” , (QS Ali Imran, 118)\r“Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati“. (QS Ali Imran, 119)\rSikap para ulama yang menyerahkan \"urusan dunia\" secara bulat-bulat kepada penguasa negeri adalah bentuk keterjerumusan kedalam paham sekulerisme.\rBegitu pula dengan paham pluralisme boleh jadi telah masuk kedalam pemerintahan dinasti kerajaan Saudi Perhatikan video pada http://www.youtube.com/watch?v=48kUEx9iGk8\rBerikut transkript subtitle yang kami dapatkan dari melihat video tersebut.\r***** awal transkript subtitle *****\rAdapun langkah yang berbahaya adalah apa yang dilakukan Raja Abdulloh yang meminta untuk mendekatkan berbagai agama dan menyetujui suatu agama yang diridhoi oleh PBB dan dianut oleh seluruh bangsa.\rRaja Abdullah:\r”Saya meminta kepada seluruh agama yang turun dari langit” (samawi)","part":2,"page":182},{"id":683,"text":"”Untuk berkumpul dengan saudara-saudara mereka dalam satu iman dan ketaatan kepada seluruh agama, karena kita menghadap kepada satu Tuhan”\r”Saya pernah berpikiran untuk mengunjungi Vatican, dan sayapun telah mengunjunginya”\r”Sayapun bertemu dengan Paus dan saya berterima kasih padanya”\r”Saya berterima kasih (karena) dia menemui saya”\r”Saya tidak akan melupakan pertemuan seorang manusia dengan seorang manusia”\r”dan ketika itu aku tawarkan ide ini kepadanya yaitu untuk menghadap kepada Tuhan ~ Yang Maha Perkasa lagi Mulia ~”\r”Menghadap kepada Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Mulia, dalam apa yang Dia perintahkan dalam agama-agama yang turun dari langit dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an”\r”Kita meminta kepada Tuhan Yang Maha Mulia lagi Perkasa agar memberi petunjuk pada kita semua”\r”Semua agama-agama ini kepada satu kalimat yang diperintahkan oleh Tuhan ~Yang Maha Perkasa lagi Mulia ~ untuk dilaksanakan oleh manusia”\r”Insyaallah dalam waktu sedekat mungkin, dan ketika kita berkumpul dan telah disetujui, Insyaallah, semuanya dalam kebaikan ~ semua agama”\r”Saya akan pergi ke PBB, Saya juga yakin hingga orang yang beriman dengan Abrahamisme”\r”Saya juga menginginkan mereka …. tapi ketiganya ini wajib bagi mereka Taurat, Injil dan Al-Qur’an dan selebihnya Insyaallah semuanya baik”\r”Pada mereka ada kebaikan, karena kemanusiaan mereka juga bagus”\r”karena moral mereka juga bagus dan karena negara mereka juga bagus dan karena semuanya adalah keluarga”","part":2,"page":183},{"id":684,"text":"Sungguh keluarga Saudi telah memulai ~dalam kemurtadan yang jelas ~ mepersiapkan sebuah agama baru , dan itu dilakukan dengan beberapa langkah. Yang pertama adalah konferensi Makkah yang terakhir yang mengumpulkan beberapa kelompok sesat dan menyimpang dari hukum Allah untuk menyetujui agama yang baru. Sebagaimana pada fase berikutnya ditawarkan kepada Yahudi, Nasrani dan Budha di konferensi Spanyol dengan munculnya sebuah agama yang disetujui oleh PBB dan agar bisa diterima oleh semuanya. Padahal cukuplah Allah bagi kita, dan (Dia lah) sebaik-baiknya Pelindung.\r***** akhir transkript subtitle *****\rPaham pluralisme merasuk kedalam kaum muslim dengan menyalahgunakan firman Allah ta'ala yang artinya,\r\"Sesungguhnya orang-orang mu'min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal sholeh , mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.\" (QS Al Baqarah [2]: 62)\rMakna firman Allah ta'ala tersebut adalah\rKaum Yahudi pada zaman Nabi Musa a.s yang mentaati syariat yang dibawa oleh Nabinya dan beramal sholeh akan masuk surga\rKaum Nasrani pada zaman Nabi Isa a.s yang mentaati syariat yang dibawa oleh Nabinya dan beramal sholeh akan masuk surga\rKaum Shabiin , orang-orang yang mengikuti syari'at Nabi-nabi zaman dahulu dan beramal sholeh akan masuk surga\rNamun setelah syariat disempurnakan ketika Rasulullah di utus maka semua manusia wajib mengikuti syariat yang dibawa oleh Rasulullah.","part":2,"page":184},{"id":685,"text":"Jika manusia mentaati syariat yang dibawa oleh Rasulullah dan beramal sholeh niscaya masuk surga, telah diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/29/masuk-surga/\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “ Demi Allah, yang diriku ada dalam genggaman tanganNya, tidaklah mendengar dari hal aku ini seseorangpun dari ummat sekarang ini, Yahudi, dan tidak pula Nasrani, kemudian tidak mereka mau beriman kepadaku, melainkan masuklah dia ke dalam neraka.”\rHadits yang diriwayatkan Sufyan bin Uyainah dengan sanadnya dari Adi bin Hatim. Ibnu Mardawih meriwayatkan dari Abu Dzar, dia berkata, “Saya bertanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam tentang orang-orang yang dimurkai“, beliau bersabda, ‘Kaum Yahudi.’ Saya bertanya tentang orang-orang yang sesat, beliau bersabda, “Kaum Nasrani.“\rKaum Yahudi dan Kaum Nasrani kalau mereka benar-benar mengikuti syariat yang di bawa Nabi mereka maka mereka pasti telah disampaikan akan kedatangan Nabi Muhammad sebagai Rasul Allah yang terakhir\rFirman Allah ta’ala yang artinya, “Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” ( QS Al Baqarah [2]:146 )","part":2,"page":185},{"id":686,"text":"“Ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani?” Katakanlah: “Apakah kamu lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya?” Dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan. (QS Al Baqarah [2]:140 )\r“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab: “Kami mengakui”. Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu“. ( QS Ali Imran [3]:81 )\rSayyidina Ali bin Abi Thalib kw. berkata: ‘Setiap kali Allah subhanahu wa ta’ala mengutus seorang nabi, mulai dari Nabi Adam sampai seterusnya, maka kepada nabi-nabi itu Allah subhanahu wa ta’ala menuntut janji setia mereka bahwa jika nanti Rasulallah shallallahu alaihi wasallam. diutus, mereka akan beriman padanya, membelanya dan mengambil janji setia dari kaumnya untuk melakukan hal yang sama’.","part":2,"page":186},{"id":687,"text":"Firman Allah Azza wa Jalla yang artinya, “Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam“. (QS Al Baqarah [2]: 132 )\r“illa wa antum muslimuun”, “kecuali dalam keadaan muslim” , “kecuali dalam keadaan memeluk agama Islam”, kecuali manusia yang berserah diri kepada Allah Azza wa Jalla, berserah diri dengan mentaati perintahNya dan laranganNya.\rPerintahNya dan laranganNya telah disempurnakan ketika Muhammad bin Abdullah diutus menjadi Rasulullah.\rFirman Allah Azza wa Jalla yang artinya, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” ( QS Al Maaidah [5]:3 )\rJadi penduduk surga pastilah seorang muslim, mereka yang telah bersyahadat. Jika kaum non muslim benar-benar bertauhid atau berkeyakinan bahwa tiada tuhan selain Allah maka mereka akan mentaati tuhannya Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam untuk bersyahadat atau memeluk agama Islam jika tidak maka mereka termasuk kaum kafir.\rHakikat kafir atau menyekutukan Allah atau mereka yang melakukan perbuatan syirik adalah mereka yang tidak mengakui ke -Maha Kuasa – an Allah Azza wa Jalla\rIblis dimurkai oleh Allah Azza wa Jalla karena mereka tidak mengakui ke -Maha Kuasa -an Allah Azza wa Jalla dengan tidak mentaati kewajibanNya berupa perintah untuk sujud kepada manusia (Nabi Adam a.s).","part":2,"page":187},{"id":688,"text":"Orang Islam yang bersujud (sholat) menghadap Ka’bah, tidak berarti dia menyembah Ka’bah, akan tetapi dia sebenarnya sedang bersujud dan menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menghadap ke Ka’bah perwujudan menjalankan perintahNya atau mengakui ke Maha Kuasa an Allah Azza wa Jalla. Begitu juga para malaikat sujud kepada manusia (Nabi Adam a.s) perwujudan melaksanakan perintahNya atau mengakui ke Maha Kuasa an Allah Azza wa Jalla.\rKaum Yahudi dan Kaum Nasrani walaupun sebagain kecil mereka beriman kepada Allah namun tetap dimurkai oleh Allah Azza wa Jalla dan dinyatakan sebagai orang-orang yang sesat karena mereka tidak mengakui ke-Maha Kuasa-an Allah Azza wa Jalla dengan tidak mentaati kewajibanNya berupa perintah untuk bersyahadat.\rSebagaimanapun amal kebaikan yang kaum non muslim lakukan, selama mereka tidak bersyahadat maka tidak akan bermanfaat di akhirat kelak\r“Orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh”. (QS Ibrahim [14]:18 )\r“Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang mu’min dan beramal sholeh ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan jahannam adalah tempat tinggal mereka”. (QS Muhammad [47]:12 )\rWassalam\rZon di Jonggol, Kab Bogor 16830\r1036. Terputuslah segala amalannya","part":2,"page":188},{"id":689,"text":"حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ يَعْنِي ابْنَ سَعِيدٍ وَابْنُ حُجْرٍ قَالُوا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ هُوَ ابْنُ جَعْفَرٍ عَنْ الْعَلَاءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ\rTelah menceritakan kepada kami Yahya bin Ayyub dan Qutaibah -yaitu Ibnu Sa'id- dan Ibnu Hujr mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Isma'il -yaitu Ibnu Ja'far- dari Al 'Ala' dari Ayahnya dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: \"Apabila salah seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah segala amalannya kecuali tiga perkara; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfa'at baginya dan anak sholeh yang selalu mendoakannya.\" (HR Muslim 3084).\rSebagian ulama “mempergunakan” hadits di atas untuk menolak sampainya pahala kepada orang yang sudah mati.\rHadits itu hanya mengatakan “inqatha’a ‘amaluhu , terputus amalnya maknanya adalah setiap manusia setelah meninggal dunia maka kesempatan beramalnya sudah terputus atau apapun yang mereka perbuat tidak akan diperhitungkan lagi amalnya kecuali amal yang masih diperhitungkan terus adalah apa yang dihasilkan dari amal yang mereka perbuat ketika masih hidup seperti,\r1. Sedekah jariyah\r2. Ilmu yang bermanfaat bagi dirinya dan yang disampaikan kepada orang lain\r3. Mendidik anak sehingga menjadi anak sholeh yang selalu mendoakannya","part":2,"page":189},{"id":690,"text":"Hadits tersebut tidak dikatakan, “inqata’a intifa’uhu”, “terputus keadaannya untuk memperoleh manfaat”.\rAdapun amal orang lain, maka itu adalah milik (haq) dari amil yakni orang yang mengamalkan itu kepada si mayyit maka akan sampailah pahala orang yang mengamalkan itu kepada si mayyit.\rPara ulama menyatakan bahwa do’a dalam shalat jenazah bermanfaat bagi si mayyit. Begitupula sedekah atau amal kebaikan orang lain bermafaat bagi si mayyit seperti bebasnya utang mayyit yang ditanggung oleh orang lain sekalipun bukan keluarga. Ini berdasarkan hadits Abu Qotadah dimana ia telah menjamin untuk membayar hutang seorang mayyit sebanyak dua dinar. Ketika ia telah membayarnya Nabi bersabda: “Sekarang engkau telah mendinginkan kulitnya” (HR Ahmad).\rJadi si mayyit masih mendapatkan manfaat (intifa’) dari amal orang lain yang membayarkan utangnya termasuk sedekah lainnya yang dilakukan oleh orang llain atas nama si mayyit. Sedekah bisa dalam bentuk bacaan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah menyampaikan bahwa sedekah tidak selalu dalam bentuk harta","part":2,"page":190},{"id":691,"text":"حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَسْمَاءَ الضُّبَعِيُّ حَدَّثَنَا مَهْدِيُّ بْنُ مَيْمُونٍ حَدَّثَنَا وَاصِلٌ مَوْلَى أَبِي عُيَيْنَةَ عَنْ يَحْيَى بْنِ عُقَيْلٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ عَنْ أَبِي الْأَسْوَدِ الدِّيلِيِّ عَنْ أَبِي ذَرٍّ أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالُوا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالْأُجُورِ يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّي وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ وَيَتَصَدَّقُونَ بِفُضُولِ أَمْوَالِهِمْ قَالَ أَوَ لَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ مَا تَصَّدَّقُونَ إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةً وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ مُنْكَرٍ صَدَقَةٌ","part":2,"page":191},{"id":692,"text":"Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad bin Asma` Adl Dluba’i Telah menceritakan kepada kami Mahdi bin Maimun Telah menceritakan kepada kami Washil maula Abu Uyainah, dari Yahya bin Uqail dari Yahya bin Ya’mar dari Abul Aswad Ad Dili dari Abu Dzar bahwa beberapa orang dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada beliau, Wahai Rosulullah, orang-orang kaya dapat memperoleh pahala yang lebih banyak. Mereka shalat seperti kami shalat, puasa seperti kami puasa dan bersedekah dengan sisa harta mereka. Maka beliau pun bersabda: Bukankah Allah telah menjadikan berbagai macam cara kepada kalian untuk bersedekah? Setiap kalimat tasbih adalah sedekah, setiap kalimat takbir adalah sedekah, setiap kalimat tahmid adalah sedekah, setiap kalimat tahlil adalah sedekah, amar ma’ruf nahi munkar adalah sedekah (HR Muslim 1674)\rFirman Allah ta'ala, wa-an laysa lil-insaani illaa maa sa'aa, \"dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya\" (QS An Najm [53]:39","part":2,"page":192},{"id":693,"text":"Ayat Al-Qur’an itu tidak menafikan adanya kemanfaatan untuk seseorang dengan sebab usaha orang lain. Ayat Al Qur’an itu hanya menafikan “kepemilikan seseorang terhadap usaha orang lain”. Allah Subhanahu wa ta’ala hanya mengabarkan bahwa “laa yamliku illa sa’yah (orang itu tidak akan memiliki kecuali apa yang diusahakan sendiri). Adapun usaha orang lain, maka itu adalah milik bagi siapa yang mengusahakannya. Jika dia mau, maka dia boleh memberikannya kepada orang lain dan pula jika ia mau, dia boleh menetapkannya untuk dirinya sendiri. (jadi huruf “lam” pada lafadz “lil insane” itu adalah “lil istihqaq” yakni menunjukan arti “milik”).\rMasuknya seorang muslim bersama golongan kaum muslimin yang lain didalam ikatan Islam adalah merupakan sebab paling besar dalam hal sampainya kemanfaatan dari masing-masing kaum muslimin kepada yang lainnya baik di dalam kehidupan ini maupun sesudah mati nanti dan doa kaum muslimin yang lain.\rDalam satu penjelasan disebutkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan iman sebagai sebab untuk memperoleh kemanfaatan dengan doa serta usaha dari kaum mukminin yang lain. Maka jika seseorang sudah berada dalam iman, maka dia sudah berusaha mencari sebab yang akan menyampaikannya kepada yang demikian itu.\rDengan demikian pahala ketaatan yang dihadiahkan kepadanya dan kaum mukminin sebenarnya bagian dari usahanya sendiri. Oleh karenanya setiap manusia yang telah bersyahadat maka setelah mereka mati akan mendapatkan manfaat dari doa kaum muslimin lainnya yang masih hidup dari doa seperti","part":2,"page":193},{"id":694,"text":"“Astaghfirullahalazim li wali waa lidaiya wali jami il muslimina wal muslimat wal mukminina wal mukminat al ahya immin hum wal amwat”\r\"Ampunilah aku ya Allah yang Maha Besar, kedua ibu bapaku, semua muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat yang masih hidup dan yang telah mati.”\rTerlebih lagi bagi kaum muslim yang telah mencapai muslim yang ihsan , minimal muslim yang sholeh maka mereka akan mendapatkan manfaat dari sholawat bagi hamba yang sholeh yang diucapkan oleh kaum muslimin yang masih hidup ketika mereka menjalankan sholat dalam doa tasyahhud, “Assalaamu’alaina wa’alaa ‘ibaadillaahish shoolihiin”\rRasulullah menyampaikan bahwa ketika kita membaca doa tasyahhud mengucapkan “Assalaamu’alaina wa’alaa ‘ibaadillaahish shoolihiin”, maka hal itu sudah mencakup seluruh hamba-hamba yang sholeh baik di langit maupun di bumi“. Hamba yang sholeh di langit maknanya penduduk langit, para malaikat dan kaum muslim disisiNya termasuk hamba sholeh yang sudah wafat , dan hamba yang sholeh di bumi adalah hamba yang sholeh yang masih hidup","part":2,"page":194},{"id":695,"text":"Telah menceritakan kepada kami Umar bin Hafsh telah menceritakan kepada kami Ayahku telah menceritakan kepada kami Al A'masy dia berkata; telah menceritakan kepadaku Syaqiq dari Abdullah dia berkata; Ketika kami membaca shalawat di belakang Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka kami mengucapkan: ASSALAAMU 'ALALLAHI QABLA 'IBAADIHI, ASSALAAMU 'ALAA JIBRIIL, ASSSALAAMU 'ALAA MIKAA`IIL, ASSALAAMU 'ALAA FULAAN WA FULAAN (Semoga keselamatan terlimpahkan kepada Allah, semoga keselamatan terlimpah kepada Jibril, Mika'il, kepada fulan dan fulan). Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam selesai melaksanakan shalat, beliau menghadapkan wajahnya kepada kami dan bersabda: Sesungguhnya Allah adalah As salam, apabila salah seorang dari kalian duduk dalam shalat (tahiyyat), hendaknya mengucapkan; AT-TAHIYYATUT LILLAHI WASH-SHALAWAATU WATH-THAYYIBAATU, ASSALAAMU 'ALAIKA AYYUHAN-NABIYYU WA RAHMATULLAHI WA BARAKAATUH, ASSALAAMU 'ALAINAA WA 'ALA 'IBAADILLAAHISH SHAALIHIIN, (penghormatan, rahmat dan kebaikan hanya milik Allah. Semoga keselamatan, rahmat, dan keberkahan tetap ada pada engkau wahai Nabi. Keselamatan juga semoga ada pada hamba-hamba Allah yang sholeh. Sesungguhnya jika ia mengucapkannya, maka hal itu sudah mencakup seluruh hamba-hamba yang sholeh baik di langit maupun di bumi, lalu melanjutkan; ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAH WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN 'ABDUHU WA RASUULUH (Aku bersaksi bahwa tiada Dzat yang berhak disembah selain Allah, dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya). Setelah itu ia boleh memilih do'a yang ia kehendaki. (HR Bukhari 5762)","part":2,"page":195},{"id":696,"text":"Hal yang harus kita ingat bahwa manusia yang meninggal dunia pada hakikatnya hanya berpindah alam saja dan mereka masih melakukan perbuatan namun sudah tidak diperhitungkan lagi apa yang mereka lakukan sebagai amal perbuatan.\rRasulullah bersabda, “sebagaimana engkau tidur begitupulah engkau mati, dan sebagaimana engkau bangun (dari tidur) begitupulah engkau dibangkitkan (dari alam kubur)”\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam telah membukakan kepada kita salah satu sisi tabir kematian. Bahwasanya tidur dan mati memiliki kesamaan, ia adalah saudara yang sulit dibedakan kecuali dalam hal yang khusus, bahwa tidur adalah mati kecil dan mati adalah tidur besar.\rIbnu Zaid berkata, “Mati adalah wafat dan tidur juga adalah wafat”.\rAl-Qurtubi dalam at-Tadzkirah mengenai hadis kematian dari syeikhnya mengatakan: “Kematian bukanlah ketiadaan yang murni, namun kematian merupakan perpindahan dari satu keadaan kepada keadaan lain.”\rRasulullah bersabda,\rحياتي خير لكم ومماتي خير لكم تحدثون ويحدث لكم , تعرض أعمالكم عليّ فإن وجدت خيرا حمدت الله و إن وجدت شرا استغفرت الله لكم.","part":2,"page":196},{"id":697,"text":"“Hidupku lebih baik buat kalian dan matiku lebih baik buat kalian. Kalian bercakap-cakap dan mendengarkan percakapan. Amal perbuatan kalian disampaikan kepadaku. Jika aku menemukan kebaikan maka aku memuji Allah. Namun jika menemukan keburukan aku memohonkan ampunan kepada Allah buat kalian.” (Hadits ini diriwayatkan oelh Al Hafidh Isma’il al Qaadli pada Juz’u al Shalaati ‘ala al Nabiyi Shallalahu alaihi wasallam. Al Haitsami menyebutkannya dalam Majma’u al Zawaaid dan mengkategorikannya sebagai hadits shahih dengan komentarnya : hadits diriwayatkan oleh Al Bazzaar dan para perawinya sesuai dengan kriteria hadits shahih)\rNabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:\r(ما من رجل يزور قبر أخيه ويجلس عليه إلا استأنس ورد عليه حتي يقوم)\r“Tidak seorangpun yang mengunjungi kuburan saudaranya dan duduk kepadanya (untuk mendoakannya) kecuali dia merasa bahagia dan menemaninya hingga dia berdiri meninggalkan kuburan itu.” (HR. Ibnu Abu Dunya dari Aisyah dalam kitab Al-Qubûr).\rNabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:\r(ما من أحد يمربقبر أخيه المؤمن كان يعرفه في الدنيا فيسلم عليه إلا عَرَفَهُ ورد عليه السلام)\r“Tidak seorang pun melewati kuburan saudaranya yang mukmin yang dia kenal selama hidup di dunia, lalu orang yang lewat itu mengucapkan salam untuknya, kecuali dia mengetahuinya dan menjawab salamnya itu.” (Hadis Shahih riwayat Ibnu Abdul Bar dari Ibnu Abbas di dalam kitab Al-Istidzkar dan At-Tamhid).\rNabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:\rإن أعمالكم تعرض على أقاربكم وعشائركم من الأموات فإن كان خيرا استبشروا، وإن كان غير ذلك قالوا: اللهم لا تمتهم حتى تهديهم كما هديتنا)","part":2,"page":197},{"id":698,"text":"“Sesungguhnya perbuatan kalian diperlihatkan kepada karib-kerabat dan keluarga kalian yang telah meninggal dunia. Jika perbuatan kalian baik, maka mereka mendapatkan kabar gembira, namun jika selain daripada itu, maka mereka berkata: “Ya Allah, janganlah engkau matikan mereka sampai Engkau memberikan hidayah kepada mereka seperti engkau memberikan hidayah kepada kami.” (HR. Ahmad dalam musnadnya).\rWassalam\rZon di Jonggol, Kab Bogor 16830\rSumber inspirasi tulisan : http://salmanfiddin.wordpress.com/2010/09/18/sampaikah-kiriman-amal-dan-hadiah-bacaan-alquran-untuk-orang-mati/\r1056. Berdoa dengan perantaraan yang dimuliakan-Nya\rFirman Allah ta’ala, alaa lillaahi alddiinu alkhaalishu waalladziina ittakhadzuu min duunihi awliyaa-a maa na'buduhum illaa liyuqarribuunaa ilaa allaahi zulfaa inna allaaha yahkumu baynahum fii maa hum fiihi yakhtalifuuna inna allaaha laa yahdii man huwa kaadzibun kaffaarun\r“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): \"Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya\". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar” (QS Az Zumar [39]: 3 )\rSebagian orang menyalahgunakan firman Allah ta’ala ini untuk mensesatkan atau bahkan mengkafirkan kaum muslim yang berdoa dengan bertawassul dengan orang sholeh yang sudah wafat.","part":2,"page":198},{"id":699,"text":"Padahal “maa na'buduhum illaa liyuqarribuunaa ilaa allaahi” (QS Az Zumar [39]:3]) menjelaskan bahwa mereka menyembah selain Allah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Juga ditegaskan dalam ayat tersebut bahwa mereka adalah orang-orang pendusta dengan kata lain apa yang mereka katakan \"mendekatkan diri kepada Allah\" adalah dusta belaka\rSedang orang yang bertawassul dengan orang sholeh yang sudah wafat sama sekali tidak menyembahnya. Tetapi ia mengetahui bahwa orang sholeh itu memiliki kemuliaan di sisi Allah lalu ia bertawassul dengannya karena dimuliakanNya.\rBerdoa dengan bertawassul adalah perintahNya\rFirman Allah ta'ala yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan (washilah) yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan” (QS Al Maa’idah [5]: 35 )”\rBertawassul adalah adab berdoa, berperantara pada kemuliaan seseorang, kemuliaan tempat, kemuliaan benda , kemuliaan waktu, kemulian doa atau dzikrullah dihadapan Allah Azza wa Jalla\rBoleh berperantara pada kemuliaan seseorang baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat karena kemuliaan seseorang di hadapan Allah tak akan sirna walaupun mereka sudah wafat. Terlebih lagi mereka yang meraih kemuliaan disisiNya tetap hidup sebagaimana para Syuhada\rFirman Allah ta’ala yang artinya, ”Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah (syuhada), (bahwa mereka itu ) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS Al Baqarah [2]: 154 )","part":2,"page":199},{"id":700,"text":"”Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah (syuhada) itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki.” (QS Ali Imran [3]: 169)\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,\rحياتي خير لكم ومماتي خير لكم تحدثون ويحدث لكم , تعرض أعمالكم عليّ فإن وجدت خيرا حمدت الله و إن وجدت شرا استغفرت الله لكم.\r“Hidupku lebih baik buat kalian dan matiku lebih baik buat kalian. Kalian bercakap-cakap dan mendengarkan percakapan. Amal perbuatan kalian disampaikan kepadaku. Jika aku menemukan kebaikan maka aku memuji Allah. Namun jika menemukan keburukan aku memohonkan ampunan kepada Allah buat kalian.” (Hadits ini diriwayatkan oelh Al Hafidh Isma’il al Qaadli pada Juz’u al Shalaati ‘ala al Nabiyi Shallalahu alaihi wasallam. Al Haitsami menyebutkannya dalam Majma’u al Zawaaid dan mengkategorikannya sebagai hadits shahih dengan komentarnya : hadits diriwayatkan oleh Al Bazzaar dan para perawinya sesuai dengan kriteria hadits shahih)\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:\rإن أعمالكم تعرض على أقاربكم وعشائركم من الأموات فإن كان خيرا استبشروا، وإن كان غير ذلك قالوا: اللهم لا تمتهم حتى تهديهم كما هديتنا)\r“Sesungguhnya perbuatan kalian diperlihatkan kepada karib-kerabat dan keluarga kalian yang telah meninggal dunia. Jika perbuatan kalian baik, maka mereka mendapatkan kabar gembira, namun jika selain daripada itu, maka mereka berkata: “Ya Allah, janganlah engkau matikan mereka sampai Engkau memberikan hidayah kepada mereka seperti engkau memberikan hidayah kepada kami.” (HR. Ahmad dalam musnadnya).","part":2,"page":200},{"id":701,"text":"Justru mereka yang membedakan bolehnya bertawassul pada yang hidup saja dan mengharamkan pada yang sudah wafat, maka mereka itu malah dirisaukan akan terjerumus pada kemusyrikan karena menganggap makhluk hidup bisa memberi manfaat, sedangkan akidah kita adalah semua yang hidup dan yang sudah wafat tak bisa memberi manfaat apa apa kecuali karena Allah ta’ala memuliakannya, bukan karena ia hidup lalu ia bisa memberi manfaat dihadapan Allah, berarti si hidup itu sebanding dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala?, si hidup bisa berbuat sesuatu pada keputusan Allah ?\rOrang yang bertawassul tidak boleh berkeyakinan bahwa perantaranya kepada Allah bisa memberi manfaat dan madlorot kepadanya dan jika ia berkeyakinan bahwa sesuatu yang dijadikan perantaraan menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala itu bisa memberi manfaat dan madlorot, maka dia telah melakukan perbuatan syirik, karena yang bisa memberi manfaat dan madlorot sesungguhnya hanyalah Allah semata.\rBertawassul adalah adab berdoa , salah satu usaha agar do’a yang kita panjatkan diterima dan dikabulkan Allah Subhanahu wa ta’ala\rBertawassul dengan kemulian orang yang sudah wafat, sebagaimana yang tercantum dalam Tafsir Ibnu Katsir surat An-nisa ayat 64, http://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2011/09/ikjuz5p281_285.pdf\r**** awal kutipan ****","part":2,"page":201},{"id":702,"text":"Al-Atabi ra menceritakan bahwa ketika ia sedang duduk di dekat kubur Nabi Shallallahu alaihi wasallam, datanglah seorang Arab Badui, lalu ia mengucapkan, “Assalamu’alaika, ya Rasulullah (semoga kesejahteraan terlimpahkan kepadamu, wahai Rasulullah). Aku telah mendengar Allah ta’ala berfirman yang artinya, ‘Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka menjumpai Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang‘ (QS An-Nisa: 64),\rSekarang aku datang kepadamu, memohon ampun bagi dosa-dosaku (kepada Allah) dan meminta syafaat kepadamu (agar engkau memohonkan ampunan bagiku) kepada Tuhanku”. Kemudian lelaki Badui tersebut mengucapkan syair berikut , yaitu: “Hai sebaik-baik orang yang dikebumikan di lembah ini lagi paling agung, maka menjadi harumlah dari pancaran keharumannya semua lembah dan pegunungan ini. Diriku sebagai tebusan kubur yang engkau menjadi penghuninya; di dalamnya terdapat kehormatan, kedermawanan, dan kemuliaan.“\rKemudian lelaki Badui itu pergi, dan dengan serta-merta mataku terasa mengantuk sekali hingga tertidur. Dalam tidurku itu aku bermimpi bersua dengan Nabi shallallahu alaihi wasallam., lalu beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Hai Atabi, susullah orang Badui itu dan sampaikanlah berita gembira kepadanya bahwa Allah telah memberikan ampunan kepadanya!”\r***** akhir kutipan *****\rBertawassul dengan kemulian tempat seperti berdoa di Multazam, Raudoh, Maqam Ibrahim dll","part":2,"page":202},{"id":703,"text":"Bertawassul dengan waktu seperti berdoa pada sepertiga malam terakhir, berdoa ketika wukuf di pada Arafah, dll\rBertawassul dengan kemuliaan benda seperti berdoa memohon kesembuhan kepada Allah dengan perantaraan ludah orang-orang yang mulia disisi Allah\rTelah menceritakan kepadaku Shadaqah bin Al Fadl telah mengabarkan kepada kami Ibnu ‘Uyainah dari ‘Abdurrabbihi bin Sa’id dari ‘Amrah dari ‘Aisyah dia berkata; Biasanya dalam meruqyah, beliau membaca: BISMILLAHI TURBATU ARDLINA BI RIIQATI BA’DLINA YUSYFAA SAQIIMUNA BI IDZNI RABBINA (Dengan nama Allah, Debu tanah kami dengan ludah sebagian kami semoga sembuh orang yang sakit dari kami dengan izin Rabb kami. (HR Bukhari 5305)","part":2,"page":203},{"id":704,"text":"Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Zuhair bin Harb serta Ibnu Abu ‘Umar dan lafazh ini miliknya Ibnu Abu ‘Umar dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Abdu Rabbih bin Sa’id dari ‘Amrah dari ‘Aisyah bahwa apabila seseorang mengadukan suatu penyakit yang dideritanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, seperti sakit kudis, atau luka, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berucap sambil menggerakkan anak jarinya seperti ini -Sufyan meletakkan telunjuknya ke tanah, kemudian mengangkatnya- Bismillahi turbatu ardhina biriiqati ba’dhina liyusyfaa bihi saqiimuna bi idzni rabbina. (Dengan nama Allah, dengan debu di bumi kami, dan dengan ludah sebagian kami, semoga sembuhlah penyakit kami dengan izin Rabb kami). Ibnu Abu Syaibah berkata; ruqyah tersebut berbunyi; Yusyfaa saqiimunaa’. Dan Zuhair berkata; Doa ruqyah tersebut berbunyi; Liyusyfaa saqiimunaa.’ (HR Muslim 4069)\rYang dimaksud ludah sebagian kami adalah ludah hambaNya yang disisiNya\rBertawassul dengan kemuliaan doa atau dzikrullah seperti berdoa memohon kesembuhan kepada Allah dengan perantaraan bacaan surat Al Fatihah","part":2,"page":204},{"id":705,"text":"Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya At Tamimi; Telah mengabarkan kepada kami Husyaim dari Abu Bisyr dari Abu Al Mutawakkil dari Abu Sa’id Al Khudri bahwa beberapa orang sahabat melakukan perjalanan jauh dan berhenti untuk istirahat pada salah satu perkampungan ‘Arab, lalu mereka minta dijamu oleh penduduk kampung itu. Tetapi penduduk enggan menjamu mereka. Penduduk bertanya kepada para sahabat; ‘Adakah di antara tuan-tuan yang pandai mantera? Kepala kampung kami digigit serangga.’ Menjawab seorang sahabat; ‘Ya, ada! Kemudian dia mendatangi kepala kampung itu dan memanterainya dengan membaca surat Al Fatihah. Maka kepala kampung itu pun sembuh. Kemudian dia diberi upah kurang lebih tiga puluh ekor kambing. Tetapi dia enggan menerima seraya mengatakan; ‘Tunggu! Aku akan menanyakannya lebih dahulu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, apakah aku boleh menerimanya.’ Lalu dia datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menanyakannya hal itu, katanya; ‘Ya, Rasulullah! Demi Allah, aku telah memanterai seseorang dengan membacakan surat Al Fatihah.’ Beliau tersenyum mendengar cerita sahabatnya dan bertanya: ‘Bagaimana engkau tahu Al Fatihah itu mantera? ‘ Kemudian sabda beliau pula: ‘Terimalah pemberian mereka itu, dan berilah aku bagian bersama-sama denganmu.’ Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar dan Abu Bakr bin Nafi’ keduanya dari Ghundar Muhammad bin Ja’far dari Syu’bah dari Abu Bisyr melalui jalur ini, dia menyebutkan di dalam Haditsnya; ‘Kemudian orang itu mulai membacakan Ummul Qur’an, dan mengumpulkan ludahnya lalu memuntahkannya, setelah","part":2,"page":205},{"id":706,"text":"itu orang itu sembuh. (HR Muslim 4080)\rBerdoa dengan bertawassul perantaraan sholawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam\rAnas bin Malik r.a meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tiada doa kecuali terdapat hijab di antaranya dengan di antara langit, hingga bershalawat atas Nabi shallallahu alaihi wasallam, maka apabila dibacakan shalawat Nabi, terbukalah hijab dan diterimalah doa tersebut, namun jika tidak demikian, kembalilah doa itu kepada pemohonnya“\rRasulullah bersabda “Jika salah seorang di antara kalian berdoa maka hendaknya dia memulainya dengan memuji dan menyanjung Allah, kemudian dia bershalawat kepada Nabi -shallallahu alaihi wasallam-, kemudian setelah itu baru dia berdoa sesukanya.” (HR Ahmad, Abu Dawud dan dishahihkan oleh At Tirmidzi)\rMereka bertanya kenapa kita harus bertawasul dalam berdoa sedangkan kita dijanjikan oleh Allah Azza wa Jalla akan mengabulkan segala permohonan hambaNya sebagaimana firmanNya yang artinya\r“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS Al Baqarah [2]:186 )","part":2,"page":206},{"id":707,"text":"Kadang kita dalam memahami ayat di atas mengambil hanya sebagaian dari ayat itu yakni “Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku“. Sehingga sebagian muslim, ketika selesai berdoa, seolah-olah “menagih janji” Allah Subhanahu wa Ta’ala berdasarkan apa yang dipahaminya itu.\rPadahal dalam ayat itu juga telah dijelaskan jalan/cara/syarat agar Allah ar Rahmaan ar Rahiim mengabulkan doa hambaNya pada kalimat berikutnya “maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” maknanya doa akan terkabul tergantung kedekatan kita kepada Allah Azza wa Jalla atau tergantung kadar ketaatan kepada Allah dan RasulNya.\rSeorang Muslim yang dikatakan telah mentaati Allah dan RasulNya sehingga mendapatkan maqom disisiNya adalah 4 golongan manusia sebagaimana firmanNya yang artinya “Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya .” (QS An Nisaa [4]: 69 )\rMaqom Shiddiqin atau kedekatan dengan Allah diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/09/09/2011/09/28/maqom-wali-allah/\rSemakin dekat kita kepada Allah bahkan sampai menjadi kekasihNya (Wali Allah) maka Allah telah menjanjikan pasti akan mengabulkan segala permintaan","part":2,"page":207},{"id":708,"text":"Dalam sebuah hadits qudsi Rasulullah bersabda, Allah ta’ala berfirman “jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya yang ia jadikan untuk mendengar, dan pandangannya yang ia jadikan untuk memandang, dan tangannya yang ia jadikan untuk memukul, dan kakinya yang dijadikannya untuk berjalan, jikalau ia meminta-Ku, pasti Kuberi, dan jika meminta perlindungan kepada-KU, pasti Ku-lindungi. Dan aku tidak ragu untuk melakukan sesuatu yang Aku menjadi pelakunya sendiri sebagaimana keragu-raguan-Ku untuk mencabut nyawa seorang mukmin yang ia (khawatir) terhadap kematian itu, dan Aku sendiri khawatir ia merasakan kepedihan sakitnya. (HR Bukhari 6021)\rContohnya bagaimana Sayyidina Umar bin Khathab ra yang kita tahu setingkat beliau tentu bisa berdoa langsung kepada Allah ta'ala , namun beliau menjadikan Uwais ra seorang Tabi'in menjadi perantara bagi doanya kepada Allah Azza wa Jalla mengikuti pesan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.\rSuatu hari Umar r.a. kedatangan rombongan dari Yaman, lalu ia bertanya :\r“Adakah di antara kalian yang datang dari suku Qarn?”.\rLalu seorang maju ke dapan menghadap Umar. Orang tersebut saling bertatap pandang sejenak dengan Umar. Umar pun memperhatikannya dengan penuh selidik.\r“Siapa namamu?” tanya Umar.\r“Aku Uwais”, jawabnya datar.\r“Apakah engkau hanya mempunyai seorang Ibu yang masih hidup?, tanya Umar lagi.\r“Benar, Amirul Mu’minin”, jawab Uwais tegas.\rUmar masih penasaran lalu bertanya kembali “Apakah engkau mempunyai bercak putih sebesar uang dirham?” (maksudnya penyakit kulit berwarna putih seperti panu tapi tidak hilang).","part":2,"page":208},{"id":709,"text":"“Benar, Amirul Mu’minin, dulu aku terkena penyakit kulit “belang”, lalu aku berdo’a kepada Allah agar disembuhkan. Alhamdulillah, Allah memberiku kesembuhan kecuali sebesar uang dirham di dekat pusarku yang masih tersisa, itu untuk mengingatkanku kepada Tuhanku”.\r“Mintakan aku ampunan kepada Allah”.\rUwais terperanjat mendengar permintaan Umar tersebut, sambil berkata dengan penuh keheranan. “Wahai Amirul Mu’minin, engkau justru yang lebih behak memintakan kami ampunan kepada Allah, bukankah engkau sahabat Nabi?”\rLalu Umar berkata “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata “Sesungguhnya sebaik-baik Tabiin adalah seorang bernama Uwais, mempunyai seorang ibu yang selalu dipatuhinya, pernah sakit belang dan disembuhkan Allah kecuali sebesar uang dinar di dekat pusarnya, apabila ia bersumpah pasti dikabulkan Allah. Bila kalian menemuinya mintalah kepadanya agar ia memintakan ampunan kepada Allah”\rUwais lalu mendoa’kan Umar agar diberi ampunan Allah. Lalu Uwais pun menghilang dalam kerumunan rombongan dari Yaman yang akan melanjutkan perjalanan ke Kufah. (HR Ahmad).","part":2,"page":209},{"id":710,"text":"Hadits senada diriwayatkan oleh Imam Muslim : Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb; Telah menceritakan kepada kami Hasyim bin Al Qasim; Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Al Mughirah; Telah menceritakan kepadaku Sa'id Al Jurairi dari Abu Nadhrah dari Usair bin Jabir bahwa penduduk Kufah mengutus beberapa utusan kepada Umar bin Khaththab, dan di antara mereka ada seseorang yang biasa mencela Uwais. Maka Umar berkata; Apakah di sini ada yang berasal dari Qaran. Lalu orang itu menghadap Umar. Kemudian Umar berkata: 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda: Sesungguhnya akan datang kepadamu seorang laki-laki dari Yaman yang biasa dipanggil dengan Uwais. Dia tinggal di Yaman bersama Ibunya. Dahulu pada kulitnya ada penyakit belang (berwarna putih). Lalu dia berdo'a kepada Allah, dan Allahpun menghilangkan penyakit itu, kecuali tinggal sebesar uang dinar atau dirham saja. Barang siapa di antara kalian yang menemuinya, maka mintalah kepadanya untuk memohonkan ampun kepada Allah untuk kalian. Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb dan Muhammad bin Al Mutsanna keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami 'Affan bin Muslim; Telah menceritakan kepada kami Hammad yaitu Ibnu Salamah dari Sa'id Al Jurairi melalui jalur ini dari 'Umar bin Al Khaththab dia berkata; Sungguh aku telah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Sebaik-baik tabi'in, adalah seorang laki-laki yang dibiasa dipanggil Uwais, dia memiliki ibu, dan dulu dia memiliki penyakit belang ditubuhnya. Carilah ia, dan mintalah kepadanya agar memohonkan","part":2,"page":210},{"id":711,"text":"ampun untuk kalian.' (HR Muslim 4612).\rWassalam\rZon di Jonggol, Kab Bogor 16830\r1060. Ingin belajar ilmu hadits\rTanya: “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.....Pak Zon saya ingin mempelajari ilmu hadits, mohon sarannya dimana saya harus memulainya ? mungkin ada situs yang menyajikan ilmu hadits secara ringkas untuk pemula .....Wassalam”\rJawab: “Walaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, boleh kami tahu maksud tujuan mempelajari ilmu hadits” ?\rTanya: “Cara pikir saya sederhana saja pak, kita wajib mengenal Rasulullah sebagai orang Islam, tentu cara mengenal Beliau satu satunya cara adalah mengenal sunnah beliau......kalau hanya membaca hadits yang didalil kan oleh seseorang kepada kita kadangkala timbul keraguan dihati......sebab ada beberapa hadits yang shoheh tetapi kok isinya berbeda, dari situ saya berkeyakinan pasti keduanya tidak salah hanya saja kita belum mengilmuinya....”\rTanya: “Salah satu contoh tentang membaca bismilah di awal al Fatihah......Dan lagi Al Quran tidak bisa dibuka tabirnya tanpa diteladani oleh Rasulullah...”\rJawab: “Maaf, untuk mempelajari ilmu hadits umumnya tidak dapat dalam waktu seringkas-ringkasnya. Kalau tujuan mempelajari ilmu hadits untuk mengetahui tata cara Ibadah sebagaimana yang disampaikan dan dilakukan oleh Rasulullah cara mudahnya berpegang saja pada Imam Mazhab yang empat”\rTanya: “o begitu ya.....tapi bisa ngak saya hanya sebatas pengenalan tentang ilmu hadis saja....”","part":2,"page":211},{"id":712,"text":"Jawab: “Imam Mazhab yang empat, pemimpin atau imam ijtihad kaum muslim pada umumnya (Imam Mujtahid Mutlak) yang bertalaqqi (mengaji) langsung dengan Salafush Sholeh.”\rJawab: “Imam Mazhab yang empat mengetahui dan mengikuti pemahaman Salafush Sholeh melalui lisannya Salafush Sholeh.”\rJawab: “Para Imam Mazhab yang empat melihat sendiri penerapan, perbuatan serta contoh nyata dari Salafush Sholeh”\rTanya: “saya tidak punya target untuk mendalami ilmu hadis, tetapi sebatas pengenalan saja”\rJawab: “Padahal untuk mengetahui tata cara ibadah sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah melalui pemahaman hadits tidak cukup dengan ilmu hadits. Bahkan Imam Bukhari dan Imam Muslim merekapun bermazhab, bertalaqqi (mengaji) dengan ulama yang mengikuti Imam Mazhab”\rTanya: “selain ilmu hadits apa itu pak”\rJawab: “ilmu hadits untuk menganalisa sanad dan matan hadits”.\rJawab: “untuk mengetahui tata cara ibadah melalui hadits selain upaya pemahaman perlu lagi kompetensi beristinbat, menetapkan hukum perkara”\rJawab: “untuk dapat beristinbat, menetapkan hukum perkara, harus mengetahui hadits dalam jumlah yang banyak berikut riwayat turunnya, tidak cukup dengan hadits yang telah dibukukan saja, harus tahu seluruh alat bahasa seperti nahwu, shorof, balaghoh, dll”\rTanya: “wah kalau untuk ikut menganalisa tentu kita tidak mampu lagi sebab sudah jauh sekali masanya”\rJawab: “yup, oleh karenanya, untuk kita yang hidup pada zaman sekarang untuk mengetahui tata cara ibadah sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lakukan cukupkan pada Imam Mazhab saja”","part":2,"page":212},{"id":713,"text":"Tanya : “kalau begitu tentang sejarah ilmu hadits tentu masih bisa ditelusuri...kenapa 4 mahzab yang dipedomani ?” maksud saya selain mereka menyaksikan langsung ibadah Rasulullah dan Sahabat”\rJawab: “Kami sudah mengkaji dan menganalisa selama ini , hasutan untuk mengulang kembali pekerjaan Imam Mazhab yang empat berasal dari kaum Zionis Yahudi”\rTanya: “begitu ya.....mungkinkah maksud mereka untuk membuat keributan tentang aturan agama Islam ?”\rJawab: “yup, halus sekali cara kerja kaum Zionis Yahudi, akibatnya segelintir kaum muslim tata cara sholatnya mengikuti akal pikiran ulama yang terkena hasutan untuk mengulang kembali apa yang telah dilakukan oleh Imam Mazhab yang empat , namun mereka tidak dikenal berkompetensi untuk berijtihad dan beristinbat”\rJawab: “apa pendapat ulama lainnya tentang ulama yang terkena hasutan tersebut ? .\rSilahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/09/07/pendapat-ulama/”\rJawab: “salah satunya dari seorang ulama keturunan cucu Rasulullah yang mendapatkan pengajaran tentang sholat langsung dari orang tua – orang tua mereka terdahulu yang tersambung kepada Sayyidina Ali ra yang mendapatkan pengajaran langsung dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam “\rJawab: “beliau mengatakan dalam tulisannya pada ;\rhttp://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=34&func=view&id=22475&catid=9\rbahwa beliau sebenarnya tak suka bicara mengenai ini (menyampaikannya), namun beliau memilih mengungkapnya ketimbang hancurnya ummat”\rTanya: “Terima kasih pak, saya sudah paham sekarang.......”","part":2,"page":213},{"id":714,"text":"Tanya : “Saya paham sekarang makna firman Allah ta’ala yang artinya “Dan orang-orang yang kafir berkata: \"Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al Quran ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan mereka (QS Fushshilat [41]: 26 )”.\rJawab: “Alhamdulillah, kalau sudah paham”\rTanya: “saya pamit mungkin bapak mau istirahat wasalam”\rJawab: “Walaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh”\rWassalam\rZon di Jonggol, Kab Bogor 16830\r1062. Kita ikuti yang sholeh\rMarilah berjalan di atas manhaj Salaf yang sholeh berdasarkan apa yang disampaikan oleh Imam Mazhab yang empat, pemimpim / imam ijtihad kaum muslim pada umumnya (Imam Mujtahid Mutlak) yang bertalaqqi (mengaji) langsung dengan Salaf yang sholeh sehingga mendapatkan pemahaman Salaf yang sholeh langsung dari lisannya mereka serta melihat sendiri penerapan, perbuatan serta contoh nyata dari Salaf yang sholeh.\rIngat manhaj Salaf yang sholeh bukan manhaj salaf karena salaf (orang-orang terdahulu) ada yang sholeh dan ada pula yang tidak sholeh seperti kaum khawarij. Contohnya Abdurrahman ibn Muljam adalah seorang yang sangat rajin beribadah. Shalat dan shaum, baik yang wajib maupun sunnah, melebihi kebiasaan rata-rata orang di zaman itu.Namun terpangaruh oleh hasutan atau ghazwul fikri (perang pemahaman) orang-orang Khawarij yang selalu berbicara mengatasnamakan Islam. Sampai akhirnya, dialah yang ditugasi menjadi eksekutor pembunuhan Imam Sayyidina Ali ra.","part":2,"page":214},{"id":715,"text":"Istilah manhaj salaf maupun mazhab salaf tidak pernah disampaikan oleh Imam Mazhab yang empat. Kedua istilah tersebutnya tampaknya disampaikan oleh mereka yang mengaku-aku mengikuti Salaf yang sholeh namun tidak pernah bertalaqqi (mengaji) dengan Salaf yang sholeh.\rManhaj Salaf yang sholeh artinya jalan yang telah dilalui kaum muslim terdahulu sehingga mencapai muslim yang sholeh atau muslim yang ihsan\rNasehat Imam Sayyidina Ali ra kepada puteranya sebagaimana yang telah dimuat dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/11/04/nasehat-sayyidina-ali-ra/ berikut kutipannya\r***** awal kutipan ****\r“Sejak awal aku bermaksud menolong mengembangkan akhlak yang mulia dan mempersiapkanmu menjalani kehidupan ini. Aku ingin mendidikmu menjadi seorang pemuda dengan akhlak karimah, berjiwa terbuka dan jujur serta memiliki pengetahuan yang jernih dan tepat tentang segala sesuatu di sekelilingmu.\rPada mulanya aku hanya ingin mengajarimu Kitab Suci, secara mendalam, mengerti seluk-beluk (tafsir dan takwil)nya, membekalimu dengan pengetahuan yang lengkap tentang perintah dan larangan-Nya (hukum-hukum dan syariat-Nya) serta halal dan haramnya. Kemudian aku khawatir engkau dibingungkan oleh hal-hal yang diperselisihkan di antara manusia, akibat perbedaaan pandangan di antara mereka dan diperburuk oleh cara berpikir yang kacau, cara hidup yang penuh dosa, egoisme dan kecenderungan hawa nafsu mereka, sebagaimana membingungkan mereka yang berselisih itu sendiri.","part":2,"page":215},{"id":716,"text":"Oleh karena itu, kutuliskan, dalam nasihatku ini,prinsip-prinsip dasar dari keutamaan, kemuliaan, kesholehan, kebenaran dan keadilan. Mungkin berat terasa olehmu, tetapi lebih baik membekali engkau dengan pengetahuan ini daripada membiarkanmu tanpa pertahanan berhadapan dengan dunia yang penuh dengan bahaya kehancuran dan kebinasaan. Karena engkau adalah pemuda yang sholeh dan bertaqwa, aku yakin engkau akan mendapatkan bimbingan dan pertolongan Ilahi (taufik dan hidayah-Nya) dalam mencapai tujuanmu. Aku ingin engkau berjanji pada dirimu untuk bersungguh-sungguh mengikuti nasihatku ini.\rKetahuilah wahai putraku, bahwa sebaik-baiknya wasiat adalah taqwa kepada Allah, bersunguh-sungguh menjalankan tugas yang diwajibkan-Nya atasmu, dan mengikuti jejak langkah Rasullullah dan orang-orang yang sholeh dari keluargamu”.\r***** akhir kutipan *****\rJadi kalau tidak sholeh artinya telah gagal mengikuti Salaf yang sholeh telah gagal mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam suri tauladan bagi seluruh manusia\rFirman Allah ta’ala yang artinya, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”. (QS Al-Ahzab:21)\r“Sungguh dalam dirimu terdapat akhlak yang mulia”. (QS Al-Qalam:4).","part":2,"page":216},{"id":717,"text":"Lantas aku (Sa'd bin Hisyam bin Amir) bertanya; \"Wahai Ummul mukminin, beritahukanlah kepadaku tentang akhlak Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.' 'Aisyah menjawab; Bukankah engkau telah membaca Al Qur’an? Aku menjawab; Benar, Aisyah berkata; Akhlak Nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah Al Quran (HR Muslim 1233)\rDan telah menceritakan kepada kami Syaiban bin Farukh dan Abu Rabi' keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Abdul Warits dari Abu At Tayyah dari Anas bin Malik dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah \"orang yang paling baik akhlaknya\" (HR Muslim 4273)\rRasulullah bersabda \"Sesungguhnya orang yang terbaik di antara kalian ialah yang paling bagus akhlaknya.\" (HR Bukhari 5569).\rImam Mazhab yang empat telah menasehatkan bahwa untuk mencapai muslim yang sholeh atau muslim yang berakhlakul karimah atau muslim yang ihsan adalah menjalankan perkara syariat sebagaimana yang mereka uraikan dalam kitab fiqih dan sekaligus menjalankan tasawuf\rImam Syafi’i ~rahimahullah menyampaikan nasehat (yang artinya) ,”Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya. Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mau menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelezatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mau mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik (ihsan)?” [Diwan Al-Imam Asy-Syafi'i, hal. 47]","part":2,"page":217},{"id":718,"text":"Begitupula dengan nasehat Imam Malik ~rahimahullah bahwa menjalankan tasawuf agar manusia tidak rusak dan menjadi manusia berakhlak baik\rImam Malik ~rahimahullah menyampaikan nasehat (yang artinya) “Dia yang sedang tasawuf tanpa mempelajari fiqih (perkara syariat) rusak keimanannya , sementara dia yang belajar fikih tanpa mengamalkan Tasawuf rusaklah dia, hanya dia siapa memadukan keduanya terjamin benar” .\rMuslim yang Sholeh atau Muslim yang berakhlakul karimah atau muslim yang Ihsan adalah tujuan Rasulullah diutus oleh Allah Azza wa Jalla\rRasulullah menyampaikan yang maknanya “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad)\rSeorang muslim dikatakan telah mengikuti atau mentaati Allah dan RasulNya sehingga mendapatkan maqom disisiNya atau dekat dengan Allah Azza wa Jalla adalah 4 golongan manusia yakni para Nabi (Rasulullah yang utama), para Shiddiqin, para Syuhada dan muslim yang sholeh\rFirman Allah ta'ala yang artinya, “Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya .” (QS An Nisaa [4]: 69 )\rSemakin dekat kita kepada Allah sehingga menjadi kekasihNya (Wali Allah). Maqom Shiddiqin atau kedekatan dengan Allah diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/09/09/2011/09/28/maqom-wali-allah/\rSemakin berilmu kita maka kita semakin takut kepada Allah Azza wa Jalla","part":2,"page":218},{"id":719,"text":"Rasulullah bersabda ‘Kamu takut (takhsya / khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya (berma’rifat), maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.’ (HR Muslim 11)\rFirman Allah ta’ala yang artinya “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampu” (QS Al Faathir [35]:28)\rSungguh luas ilmuNya, semakin kita mendalami ilmuNya semakin tersungkur sujud kepadaNya\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang bertambah ilmunya tapi tidak bertambah hidayahnya, maka dia tidak bertambah dekat kepada Allah melainkan bertambah jauh\rSekali lagi kami sampaikan bahwa tanda-tanda musilim yang dekat dengan Allah adalah muslim yang sholeh atau muslim yang telah mencapai Ihsan atau muslim yang telah bermakrifat, minimal mereka yang selalu merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla atau yang terbaik mereka yang dapat melihat Allah dengan hati maka mereka mencegah dirinya dari melakukan sesuatu yang dibenciNya , menghindari perbuatan maksiat, menghindari perbuatan keji dan mungkar hingga terbentuklah muslim yang berakhlakul karimah sesuai dengan tujuan beragama atau sesuai dengan tujuan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diutus oleh Allah Azza wa Jalla.\rJika belum dapat menyaksikan Allah dengan hati atau belum mencapai ma’rifat maka setiap kita akan bersikap atau melakukan perbuatan, ingatlah selalu perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa “Jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.’ (HR Muslim 11)\rWassalam","part":2,"page":219},{"id":720,"text":"Zon di Jonggol , Kab Bogor 16830\r1063. Awaluddin makrifatullah akhiruddin makrifatullah\rAwal beragama adalah mengenal Allah Azza wa Jalla (makrifatullah) , akhir beragama atau tujuan beragama adalah muslim yang berakhlakul karimah atau muslim yang Ihsan atau muslim yang meyaksikan Allah (bermakrifat). Sedangkan anak kunci mengenal Allah Azza wa Jalla adalah mengenal diri sendiri. Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu, siapa yang kenal dirinya akan Mengenal Allah\rFirman Allah Taala yang artinya “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?“ (QS. Fush Shilat [41]:53 )\rPengenalan diri bahwa pada hakikatnya semua manusia telah menyaksikan Allah ketika mereka belum lahir ke alam dunia, pada keadaan fitri , sebelum panca inderanya berfungsi.\rFirman Allah ta’ala yang artinya, “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (QS- Al A’raf 7:172)\rSetelah manusia terlahir ke alam dunia , maka mereka lupa akan kesaksian atau penyaksian terhadap Allah.\rHakikat kata insan (manusia) adalah nasiya , nis yan, tidak tahu, lupa.","part":2,"page":220},{"id":721,"text":"Fitrah manusia adalah bertuhan, mencari Allah, ingin kembali menyaksikan Allah. Syarat untuk dapat menyaksikan Allah adalah fitri, suci sebagaimana sebelum manusia lahir ke dunia\rManusia terhalang atau menghijabi dirinya sehingga tidak dapat menyaksikan Allah dengan hatinya adalah karena dosa mereka. Setiap dosa merupakan bintik hitam hati (ketiadaan cahaya), sedangkan setiap kebaikan adalah bintik cahaya pada hati. Ketika bintik hitam memenuhi hati sehingga terhalang (terhijab) dari menyaksikan Allah. Inilah yang dinamakan buta mata hati.\rSebagaimana firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).” (QS Al Isra 17 : 72)\r“maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (al Hajj 22 : 46)\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Seandainya bukan karena setan menyelimuti jiwa anak cucu Adam, niscaya mereka menyaksikan malaikat di langit” (HR Ahmad).\rAllah Azza wa Jalla menciptakan tauladan bagi manusia pada diri Muhammad shallallahu alaihi wasallam.\rFirman Allah ta’ala yang artinya,\r“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”. (QS Al-Ahzab:21)","part":2,"page":221},{"id":722,"text":"“Sungguh dalam dirimu terdapat akhlak yang mulia”. (QS Al-Qalam:4)\rBeliau sejak kecil dikenal berakhlak baik, jujur, amanah , dapat dipercaya dan sifat-sidat baik lainnya ditengah-tengah masyarakat jahiliyah.\rFitrahnya untuk menyaksikan Allah menghantarkan Rasulullah untuk berkhalwat (mengasingkan diri dari keramaian) dan bertahanuts (perenungan/kontemplas dirii) di gua hira.\rDari mulai disanalah diturunkan syarat-syarat untuk menyaksikan Allah kembali yang dinamakan perkara syariat atau dikenal dengan agama dimulai dengan menyaksikan Allah secara lisan yang dikenal dengan syahadat\rAnak manusia dikatakan berada pada “on track” untuk dapat kembali menyaksikan Allah adalah setelah mereka mengucapkan syahadat.\rSyahadat adalah penyaksian Allah yang diucapkan dan kemudian dibuktikan dengan memenuhi perkara syariat atau syarat sebagai hamba Allah yakni menjalankan kewajibanNya (ditinggalkan berdosa) , menjauhi laranganNya (dikerjakan berdosa) dan menjauhi apa yang telah diharamkanNya (dikerjakan berdosa)\rMuslim yang membuktikan syahadat dengan menjalankan perkara syariat disebut mukmin, orang beriman. Firman Allah ta’ala yang artinya “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Ali Imron [3]:31 )\r“Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir” (QS Ali Imron [3]:32 )\r“dan ta’atlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman.” (QS Al Anfaal [8]:1 )","part":2,"page":222},{"id":723,"text":"Muslim yang menjalankan amal ketaatan atau muslim yang beriman (mukmin) dan menjalankan amal kebaikan atau mereka yang mengungkapkan cintanya kepada Allah Allah Azza wa Jalla dan RasulNya adalah disebut muhsin / muhsinin, muslim yang ihsan atau muslim yang baik atau sholihin.\rFirman Allah ta’ala yang artinya, “Inilah ayat-ayat Al Qura’an yang mengandung hikmah, menjadi petunjuk dan rahmat bagi muhsinin (orang-orang yang berbuat kebaikan), (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat. Mereka itulah orang-orang yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung” (QS Lukman [31]:2-5)\rAda dua kondisi yang dicapai oleh muslim yang ihsan atau muslim yang telah bermakrifat.\r?…Kondisi minimal adalah mereka yang selalu yakin diawasi oleh Allah Azza wa Jalla.\r?…Kondiri terbaik adalah mereka yang dapat melihat Allah Azza wa Jalla dengan hati (ain bashiroh)\rApakah Ihsan ?\rقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِحْسَانُ قَالَ أَنْ تَخْشَى اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنَّكَ إِنْ لَا تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ\rLalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu takut (takhsya / khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.’ (HR Muslim 11) Link: http://www.indoquran.com/index.php?surano=2&ayatno=3&action=display&option=com_muslim\rRasulullah bersabda “Iman paling afdol ialah apabila kamu mengetahui bahwa Allah selalu menyertaimu dimanapun kamu berada“. (HR. Ath Thobari)","part":2,"page":223},{"id":724,"text":"Imam Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani,\r“Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”\rBeliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”\r“Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali.\rSayyidina Ali ra menjawab “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati”\rSebuah riwayat dari Ja’far bin Muhammad beliau ditanya: “Apakah engkau melihat Tuhanmu ketika engkau menyembah-Nya?” Beliau menjawab: “Saya telah melihat Tuhan, baru saya sembah”. Bagaimana anda melihat-Nya? dia menjawab: “Tidak dilihat dengan mata yang memandang, tapi dilihat dengan hati yang penuh Iman.”\rMuslim yang telah mencapai Ihsan atau muslim yang telah bermakrifat, minimal mereka yang selalu merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla atau yang terbaik mereka yang dapat melihat Allah dengan hati maka mereka mencegah dirinya dari melakukan sesuatu yang dibenciNya , menghindari perbuatan maksiat, menghindari perbuatan keji dan mungkar hingga terbentuklah muslim yang berakhlakul karimah sesuai dengan tujuan beragama atau sesuai dengan tujuan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diutus oleh Allah Azza wa Jalla\rRasulullah menyampaikan yang maknanya “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad).","part":2,"page":224},{"id":725,"text":"Seorang muslim yang dikatakan telah mentaati Allah dan RasulNya adalah minimal muslim yang berakhlakul karimah atau muslim yang sholeh dan mereka akan berkumpul dengan orang-orang disisiNya. Hanya 4 golongan manusia yang disisiNya yakni para Nabi (Rasulullah yang utama), para Shiddiqin, para Syuhada dan orang-orang sholeh\rFirman Allah ta'ala yang artinya “Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya .” (QS An Nisaa [4]: 69 )\rMaqom Shiddiqin atau kedekatan dengan Allah diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/09/09/2011/09/28/maqom-wali-allah/\rSemakin dekat kita kepada Allah sehingga menjadi kekasihNya (Wali Allah)","part":2,"page":225},{"id":726,"text":"Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin 'Utsman bin Karamah telah menceritakan kepada kami Khalid bin Makhlad Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Bilal telah menceritakan kepadaku Syarik bin Abdullah bin Abi Namir dari 'Atho` dari Abu Hurairah menuturkan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: \"Allah berfirman; Siapa yang memusuhi wali-KU, maka Aku umumkan perang kepadanya, dan hamba-Ku tidak bisa mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada yang telah Aku wajibkan, jika hamba-Ku terus menerus mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan sunnah, maka Aku mencintai dia, jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya yang ia jadikan untuk mendengar, dan pandangannya yang ia jadikan untuk memandang, dan tangannya yang ia jadikan untuk memukul, dan kakinya yang dijadikannya untuk berjalan, jikalau ia meminta-Ku, pasti Kuberi, dan jika meminta perlindungan kepada-KU, pasti Ku-lindungi. Dan aku tidak ragu untuk melakukan sesuatu yang Aku menjadi pelakunya sendiri sebagaimana keragu-raguan-Ku untuk mencabut nyawa seorang mukmin yang ia (khawatir) terhadap kematian itu, dan Aku sendiri khawatir ia merasakan kepedihan sakitnya.\" (HR Bukhari 6021)\rWali Allah adalah,\rMereka yang mencintai Allah dan Allah mencintai mereka\rMereka yang saling mencintai karena Allah ta'ala\rWajah-wajah mereka memancarkan cahaya dan mereka berdiri di atas mimbar-mimbar dari cahaya\rMereka itu tidak takut seperti yang ditakuti manusia, dan tidak susah seperti yang disusahkan manusia","part":2,"page":226},{"id":727,"text":"Mereka adalah muslim yang terbaik bukan Nabi yang dirindukan para Nabi dan para Syuhada\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “sesungguhnya ada di antara hamba Allah (manusia) yang mereka itu bukanlah para Nabi dan bukan pula para Syuhada’. Mereka dirindukan oleh para Nabi dan Syuhada’ pada hari kiamat karena kedudukan (pangkat) mereka di sisi Allah Swt seorang dari shahabatnya berkata, siapa gerangan mereka itu wahai Rasulullah? Semoga kita dapat mencintai mereka. Nabi Saw menjawab dengan sabdanya: Mereka adalah suatu kaum yang saling berkasih sayang dengan anugerah Allah bukan karena ada hubungan kekeluargaan dan bukan karena harta benda, wajah-wajah mereka memancarkan cahaya dan mereka berdiri di atas mimbar-mimbar dari cahaya. Tiada mereka merasa takut seperti manusia merasakannya dan tiada mereka berduka cita apabila para manusia berduka cita”. (HR. an Nasai dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya)","part":2,"page":227},{"id":728,"text":"Hadits senada, dari ‘Umar bin Khathab ra bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya diantara hamba-hambaku itu ada manusia manusia yang bukan termasuk golongan para Nabi, bukan pula syuhada tetapi pada hari kiamat Allah ‘Azza wa Jalla menempatkan maqam mereka itu adalah maqam para Nabi dan syuhada.”Seorang laki-laki bertanya : “siapa mereka itu dan apa amalan mereka?”mudah-mudahan kami menyukainya. Nabi bersabda: “yaitu Kaum yang saling menyayangi karena Allah ‘Azza wa Jalla walaupun mereka tidak bertalian darah, dan mereka itu saling menyayangi bukan karena hartanya, dan demi Allah sungguh wajah mereka itu bercahaya, dan sungguh tempat mereka itu dari cahaya, dan mereka itu tidak takut seperti yang ditakuti manusia, dan tidak susah seperti yang disusahkan manusia,” kemudian beliau membaca ayat : ” Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS Yunus [10]:62 )\rJika belum dapat menyaksikan Allah dengan hati atau belum mencapai ma’rifat maka setiap kita akan bersikap atau melakukan perbuatan, ingatlah selalu perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa “Jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.’ (HR Muslim 11)\rWassalam\rZon di Jonggol, Kab Bogor 16830\r1064. Tanpa sanad seorang ulama bisa berpendapat sesuai hawa nafsunya","part":2,"page":228},{"id":729,"text":"Mereka berpendapat, “Jangan pusingkan guru anda bersanad atau tidaknya, namun sembarang atau tidaknya dalam menyampaikan hadits-hadits yang mulia. Kalau asal sanad, maka Iblis lebih bersanad kepada Allah Jalla wa ‘Ala ... Allahu a’lam”. Iblis tidak dikatakan bersanad kepada Allah Azza wa Jalla karena Iblis tidak mengikuti Allah Azza wa Jalla\rJika ada guru mengaku “saya bersambung kepada Rasulullah” maka periksa apa guru tersebut mengikuti guru-guru sebelumnya atau tidak. Kalau dia tidak mengikuti guru-guru sebelumnya maka tentunya kita juga berfikir, walaupun guru punya seribu sanad yang jelas, kalau tidak mengikuti guru-guru sebelumnya berarti sanadnya terputus dan umumnya berhenti pada akal pikirannya sendiri yang didalamnya ada unsur hawa nafsu atau kepentingan.\rTelah bercerita kepada kami Abu 'Ashim adl-Dlahhak bin Makhlad telah mengabarkan kepada kami Al Awza'iy telah bercerita kepada kami Hassan bin 'Athiyyah dari Abi Kabsyah dari 'Abdullah bin 'Amru bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: \"Sampaikan dariku sekalipun satu ayat dan ceritakanlah (apa yang kalian dengar) dari Bani Isra'il dan itu tidak apa (dosa). Dan siapa yang berdusta atasku dengan sengaja maka bersiap-siaplah menempati tempat duduknya di neraka\" (HR Bukhari 3202)\rHakikat makna hadits tersebut adalah kita hanya boleh menyampaikan satu ayat yang diperoleh (didengar) dari guru-guru sebelumnya disampaikan secara turun temurun sampai kepada lisannya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Kita tidak diperkenankan menyampaikan akal pikiran kita semata.","part":2,"page":229},{"id":730,"text":"Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa menguraikan Al Qur’an dengan akal pikirannya sendiri dan merasa benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan”. (HR. Ahmad)\rDari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)\rIbnul Mubarak berkata :”Sanad merupakan bagian dari agama, kalaulah bukan karena sanad, maka pasti akan bisa berkata siapa saja yang mau dengan apa saja yang diinginkannya.” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqoddimah kitab Shahihnya 1/47 no:32 )\rDari Ibnu Abbas ra Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda…”Barangsiapa yang berkata mengenai Al-Qur’an tanpa ilmu maka ia menyediakan tempatnya sendiri di dalam neraka” (HR.Tirmidzi)\rImam Syafi’i ~rahimahullah mengatakan “tiada ilmu tanpa sanad”.\rAl-Hafidh Imam Attsauri ~rahimullah mengatakan “Penuntut ilmu tanpa sanad adalah bagaikan orang yang ingin naik ke atap rumah tanpa tangga”\rBahkan Al-Imam Abu Yazid Al-Bustamiy , quddisa sirruh (Makna tafsir QS.Al-Kahfi 60) ; “Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya syetan” Tafsir Ruhul-Bayan Juz 5 hal. 203\rSanad ilmu / sanad guru sama pentingnya dengan sanad hadits.\rSanad hadits adalah otentifikasi atau kebenaran sumber perolehan matan/redaksi hadits dari lisan Rasulullah.","part":2,"page":230},{"id":731,"text":"Sedangkan Sanad ilmu atau sanad guru adalah otentifikasi atau kebenaran sumber perolehan penjelasan baik Al Qur’an maupun As Sunnah dari lisan Rasulullah.\rHal yang harus kita ingat bahwa Al Qur’an pada awalnya tidaklah dibukukan. Ayat-ayat Al Qur’an hanya dibacakan dan dihafal (imla) kemudian dipahami bersama dengan yang menyampaikannya.\rSanad adalah silsilah atau rantai yang menyambungkan kita dengan yang sebelum kita, hubungan, sanad adalah hubungan kalau secara bahasa sanad adalah sesuatu yang terkait kepada sesuatu yang lain atau sesuatu yang bertumpu pada sesuatu yang lain, tapi didalam maknanya ini secara istilah adalah bersambungnya ikatan bathin kita, bersambungnya ikatan perkenalan kita dengan orang lain, sebagian besar adalah guru-guru kita.\r\"Orang yang berguru tidak kepada guru tapi kepada buku saja maka ia tidak akan menemui kesalahannya karena buku tidak bisa menegur tapi kalau guru bisa menegur jika ia salah atau jika ia tak faham ia bisa bertanya, tapi kalau buku jika ia tak faham ia hanya terikat dengan pemahaman dirinya, maka oleh sebab itu jadi tidak boleh baca dari buku, tentunya boleh baca buku apa saja boleh, namun kita harus mempunyai satu guru yang kita bisa tanya jika kita mendapatkan masalah\" (Habib Munzir).","part":2,"page":231},{"id":732,"text":"Asy-Syeikh as-Sayyid Yusuf Bakhour al-Hasani menyampaikan bahwa \"maksud dari pengijazahan sanad itu adalah agar kamu menghafazh bukan sekadar untuk meriwayatkan tetapi juga untuk meneladani orang yang kamu mengambil sanad daripadanya, dan orang yang kamu ambil sanadnya itu juga meneladani orang yang di atas di mana dia mengambil sanad daripadanya dan begitulah seterusnya hingga berujung kepada kamu meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan demikian, keterjagaan al-Qur’an itu benar-benar sempurna baik secara lafazh, makna dan pengamalan\"\r\"Sanad adalah bagai rantai emas terkuat yang tak bisa diputus dunia dan akhirat, jika bergerak satu mata rantai maka bergerak seluruh mata rantai hingga ujungnya, yaitu Rasulullah saw,\" (Habib Munzir)\rKita jangan mengulang apa yang telah terjadi pada kaum Nasrani dimana ilmu agama mereka sanadnya terputus dari lisannya Nabi Isa a.s. Kitab suci yang ditangan mereka telah bercampur dengan akal pikiran mereka sendiri di mana di dalamnya ada unsur hawa nafsu atau kepentingan manusia belaka sehingga mereka tidak “mengenal” Rasul Allah yang terakhir , Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam\rFirman Allah ta’ala yang artinya, “Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” ( QS Al Baqarah [2]:146 )","part":2,"page":232},{"id":733,"text":"Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “ Demi Allah, yang diriku ada dalam genggaman tanganNya, tidaklah mendengar dari hal aku ini seseorangpun dari ummat sekarang ini, Yahudi, dan tidak pula Nasrani, kemudian tidak mereka mau beriman kepadaku, melainkan masuklah dia ke dalam neraka.”\rKaum Nasrani tanpa sanad ilmu maka para rahib atau pendeta mereka dapat berfatwa berdasarkan apa yang mereka inginkan. Sehingga mereka memberhalakan akal pikiran mereka sendiri yang didalamnya ada unsur hawa nafsu atau kepentingan.\rIbnul Mubarak berkata :”Sanad merupakan bagian dari agama, kalaulah bukan karena sanad, maka pasti akan bisa berkata siapa saja yang mau dengan apa saja yang diinginkannya.” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqoddimah kitab Shahihnya 1/47 no:32 )\rAllah Azza wa Jalla berfirman,\rاتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ\r“Mereka menjadikan para rahib dan pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah“. (QS at-Taubah [9]:31 )\rKetika Nabi ditanya terkait dengan ayat ini, “apakah mereka menyembah para rahib dan pendeta sehingga dikatakan menjadikan mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah?”\rNabi menjawab, “tidak”\r« أما أنهم لم يكونوا يعبدونهم ولكنهم كانوا إذا أحلوا لهم شيئاً استحلوه وإذا حرموا عليهم شيئاً حرموه »\r“Mereka tidak menyembah para rahib dan pendeta itu, tetapi jika para rahib dan pendeta itu menghalalkan sesuatu bagi mereka, mereka menganggapnya halal, dan jika para rahib dan pendeta itu mengharamkan bagi mereka sesuatu, mereka mengharamkannya“","part":2,"page":233},{"id":734,"text":"Pada riwayat yang lain disebutkan, Rasulullah bersabda ”mereka (para rahib dan pendeta) itu telah menetapkan haram terhadap sesuatu yang halal, dan menghalalkan sesuatu yang haram, kemudian mereka mengikutinya. Yang demikian itulah penyembahannya kepada mereka.” (Riwayat Tarmizi).\rKaum Zionis Yahudi telah menghasut segelintir ulama untuk memahami Al Qur’an dan As Sunnah dengan akal pikirannya sendiri tidak lagi memperhatikan sanad ilmu, tidak lagi memperhatikan pendapat-pendapat ulama-ulama terdahulu yang tersambung sanadnya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Ulama-ulama yang terhasut berakibat mereka meninggalkan pemahaman Imam Mazhab yang empat, pemimpin atau imam ijtihad kaum muslim pada umumnya (Imam Mujtahid Mutlak) yang bertalaqqi (mengaji) langsung dengan Salafush Sholeh. Imam Mazhab yang empat mengetahui dan mengikuti pemahaman Salafush Sholeh melalui lisannya Salafush Sholeh. Para Imam Mazhab yang empat melihat sendiri penerapan, perbuatan serta contoh nyata dari Salafush Sholeh\rSlogan yang disebarluaskan seperti “Mari Kembali Kepada Al Qur'an dan As Sunnah dengan Pemahaman Para Salaf”","part":2,"page":234},{"id":735,"text":"Selintas terlihat slogan tersebut benar namun tidak jelas para salaf (orang orang terdahulu) yang mana yang dimaksud karena salaf (orang orang terdahulu) ada yang sholeh dan ada pula yang tidak sholeh seperti kaum khawarij. Contohnya Abdurrahman ibn Muljam adalah seorang yang sangat rajin beribadah. Shalat dan shaum, baik yang wajib maupun sunnah, melebihi kebiasaan rata-rata orang di zaman itu.Namun terpangaruh oleh hasutan atau ghazwul fikri (perang pemahaman) orang-orang Khawarij yang selalu berbicara mengatasnamakan Islam. Sampai akhirnya, dialah yang ditugasi menjadi eksekutor pembunuhan Imam Sayyidina Ali ra.\rKesalahan redaksi tersebut selintas seperti masalah kecil namun hakikatnya mereka tidak paham indikator siapa orang yang layak untuk diikuti yakni orang-orang sholeh, muslim yang sholeh, muslim yang disisiNya. Hal ini telah diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/23/ikuti-yang-sholeh/ Setinggi apapun ilmu agama seorang ulama jika tidak berakhlak baik maka ulama tersebut tidak patut diikuti. Perawi hadits hanya karena pernah buang air kecil di jalan atau berucap kata kotor maka dia telah dianggap tidak adil karena tidak memelihara muruu’ah (harga diri).","part":2,"page":235},{"id":736,"text":"Seorang Muslim yang dikatakan telah mengikuti atau mentaati Allah dan RasulNya sehingga mendapatkan maqom disisiNya adalah 4 golongan manusia sebagaimana firmanNya yang artinya “Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya .” (QS An Nisaa [4]: 69 )\rPada hakikatnya seseorang yang tidak berakhlak baik (tidak sholeh) atau tidak mencapai muslim yang ihsan adalah bukan ulama\rFirman Allah ta’ala yang artinya “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampu” (QS Al Faathir [35]:28)\rMuslim yang berakhlak baik atau muslim yang ihsan adalah muslim yang takut kepada Allah baik karena dia selalu yakin diawasi oleh Allah Azza wa Jalla atau takut kepada Allah karena dia dapat menyaksikan Allah (berma’rifat)\rApakah Ihsan ?\rقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِحْسَانُ قَالَ أَنْ تَخْشَى اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنَّكَ إِنْ لَا تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ\rLalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu takut (takhsya / khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya (berma’rifat), maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.’ (HR Muslim 11)\rRasulullah bersabda “Iman paling afdol ialah apabila kamu mengetahui bahwa Allah selalu menyertaimu dimanapun kamu berada“. (HR. Ath Thobari)","part":2,"page":236},{"id":737,"text":"Imam Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani,\r“Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”\rBeliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”\r“Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali.\rSayyidina Ali ra menjawab “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati”\rSebuah riwayat dari Ja’far bin Muhammad beliau ditanya: “Apakah engkau melihat Tuhanmu ketika engkau menyembah-Nya?” Beliau menjawab: “Saya telah melihat Tuhan, baru saya sembah”. Bagaimana anda melihat-Nya? dia menjawab: “Tidak dilihat dengan mata yang memandang, tapi dilihat dengan hati yang penuh Iman.”\rSeseorang walaupun berilmu agama yang tinggi namun tidak dapat menyaksikan Allah dengan hati (berma’rifat) atau tidak selalu yakin bahwa Allah Azza wa Jalla melihat segala sikap dan perbuatannya sehingga berakhlak tidak baik maka hal itu menunjukkan ketidak dekatannya dengan Allah Azza wa Jalla\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang bertambah ilmunya tapi tidak bertambah hidayahnya, maka dia tidak bertambah dekat kepada Allah melainkan bertambah jauh“\rJika belum dekat dengan Allah atau belum dapat menyaksikan Allah dengan hati atau belum mencapai ma’rifat maka setiap kita akan bersikap atau melakukan perbuatan, ingatlah selalu perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa “Jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.’ (HR Muslim 11)\rSungguh luas ilmuNya, semakin kita mendalami ilmuNya semakin tersungkur sujud kepadaNya\rWassalam","part":2,"page":237},{"id":738,"text":"Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830\r1065. Mereka membuat larangan berdasarkan akal pikiran\rPengakuan mereka adalah mentauhidkan Allah ‘Azza wa Jalla dan mengikuti syariatNya, memberantas syirik, tahayul, bid’ah dan khurafat. Namun tampaknya kenyataan berbeda antara pengakuan dengan sikap dan perbuatan mereka\rContoh sederhana mereka membuat larangan-larangan maupun kewajiban seperti, tidak boleh mengungkapkan cinta kepada Rasulullah dengan matan/redaksi sholawat sebagaimana yang kita inginkan atau wajib bersholawat sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam\rLarangan adalah perkara yang jika dikerjakan berdosa. Kewajiban adalah perkara yang jika tidak dikerjakan berdosa.\rBerdasarkan akal pikiran, mereka membuat larangan atau kewajiban yang tidak pernah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla atau tidak pernah disampaikan oleh RasulNya. Mereka tanpa disadari telah membuat perkara baru (bid’ah) atau mengada-ada dalam urusan agama atau dalam perkara syariat.\rDari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)","part":2,"page":238},{"id":739,"text":"Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban (ditinggalkan berdosa), maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa larangan (dikerjakan berdosa)), maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu (dikerjakan berdosa), maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia.” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi)\rPerkara kewajiban (ditinggalkan berdosa), perkara larangan (dikerjakan berdosa) maupun perkara pengharaman (dikerjakan berdosa) adalah berasal dari Allah Azza wa Jalla atau ditetapkanNya atau diwajibkanNya (wajib dikerjakan dan wajib dijauhi)\rUrusan agama atau perkara syariat atau perkara yang diwajibkanNya (wajib dikerjakan dan wajib dijauhi) telah sempurna.\rRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Tidak tertinggal sedikitpun yang mendekatkan kamu dari surga dan menjauhkanmu dari neraka melainkan telah dijelaskan bagimu ” (HR Ath Thabraani dalam Al Mu’jamul Kabiir no. 1647)\r?…“mendekatkan dari surga” = perkara kewajiban (ditinggalkan berdosa)\r?…“menjauhkan dari neraka” = perkara larangan dan perkara pengharaman (dikerjakan berdosa)\rBaik atau buruk bagi manusia yang mengetahui adalah Allah Azza wa Jalla","part":2,"page":239},{"id":740,"text":"Firman Allah Azza wa Jalla yang artinya, “Katakanlah! Siapakah yang berani mengharamkan perhiasan Allah yang telah diberikan kepada hamba-hambaNya dan beberapa rezeki yang baik itu? Katakanlah! Tuhanku hanya mengharamkan hal-hal yang tidak baik yang timbul daripadanya dan apa yang tersembunyi dan dosa dan durhaka yang tidak benar dan kamu menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak turunkan keterangan padanya dan kamu mengatakan atas (nama) Allah dengan sesuatu yang kamu tidak mengetahui.” (QS al-A’raf: 32-33)\r“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu dan janganlah kamu melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas.” (Qs. al-Mâ’idah [5]: 87).\r“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung” [QS. An-Nahl : 116].\rDalam hadits Qudsi , Rasulullah bersabda: “Aku ciptakan hamba-hambaKu ini dengan sikap yang lurus, tetapi kemudian datanglah syaitan kepada mereka. Syaitan ini kemudian membelokkan mereka dari agamanya, dan mengharamkan atas mereka sesuatu yang Aku halalkan kepada mereka, serta mempengaruhi supaya mereka mau menyekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidak turunkan keterangan padanya.” (Riwayat Muslim).\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda : “Barangsiapa menghalalkan sesuatu yang haram atau mengharamkan sesuatu yang halal, maka dia telah kafir.”","part":2,"page":240},{"id":741,"text":"Mereka tanpa disadari bisa terjerumus dalam kekufuran karena menjadikan ulama sebagai tuhan-tuhan selain Allah. Mereka menyembah para ulama yang menetapkan larangan maupun kewajiban\rAllah Azza wa Jalla berfirman,\rاتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ\r“Mereka menjadikan para rahib dan pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah“. (QS at-Taubah [9]:31 )\rKetika Nabi ditanya terkait dengan ayat ini, “apakah mereka menyembah para rahib dan pendeta sehingga dikatakan menjadikan mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah?”\rNabi menjawab, “tidak”\r« أما أنهم لم يكونوا يعبدونهم ولكنهم كانوا إذا أحلوا لهم شيئاً استحلوه وإذا حرموا عليهم شيئاً حرموه »\r“Mereka tidak menyembah para rahib dan pendeta itu, tetapi jika para rahib dan pendeta itu menghalalkan sesuatu bagi mereka, mereka menganggapnya halal, dan jika para rahib dan pendeta itu mengharamkan bagi mereka sesuatu, mereka mengharamkannya“\rPada riwayat yang lain disebutkan, Rasulullah bersabda ”mereka (para rahib dan pendeta) itu telah menetapkan haram terhadap sesuatu yang halal, dan menghalalkan sesuatu yang haram, kemudian mereka mengikutinya. Yang demikian itulah penyembahannya kepada mereka.” (Riwayat Tarmizi)\rPerintahNya adalah bersholawatlah namun tidak ada larangan menggunakan matan/redaksi sholawat yang dibuat sendiri.\rFirman Allah Azza wa Jalla, “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya” (QS (QS Al Ahzab [33]: 56)","part":2,"page":241},{"id":742,"text":"Imam Sayyidina Ali Karramallahu Wajhah, Imam Syafi’i ~ rahimahullah dan ulama-ulama terdahulu lainnya mempunyai matan/redaksi sendiri sesuai bagaimana mereka mengungkapkan kecintaannya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam\rShalawat Sayyidina ‘Ali Karramallahu Wajhah:\rصَلَوَاتُ اللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَأَنْبِيَائِهِ وَجَمِيْعِ خَلْقِهِ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَعَلَيْهِمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ\rShalawatullahi wa malaa’ikatihi wa anbiyaa’ihi wa jamii’i khalqihii\r‘alaa Muhammad wa aali Muhammad wa ‘alaih\rwa ‘alaihimussalaamu wa rahmatullaahi wa barakaatuh\r“Shalawat Allah, para MalaikatNya dan para NabiNya serta semua mahlukNya\rsemoga terlimpah kepada Nabi Muhammad Saw dan Keluarganya dan keturunannya,\rdan semoga keselamatan Allah, rahmat Allah serta berkahNya terlimpahkan kepada Mereka“.\rImam Syafi’i ~rahimahullah pun mempunyai matan/redaksi sholawat yang dibuatnya sendiri seperti.\r“Ya Allah, limpakanlah shalawat atas Nabi kami, Muhammad, selama orang-orang yang ingat menyebut-Mu dan orang-orang yang lalai melupakan untuk menyebut-Mu ”\ratau\r“Ya Allah, limpahkanlah shalawat atas cahaya di antara segala cahaya, rahsia di antara segala rahasia, penawar duka, dan pembuka pintu kemudahan, yakni Sayyidina Muhammad, manusia pilihan, juga kepada keluarganya yang suci dan sahabatnya yang baik, sebanyak jumlah kenikmatan Allah dan karunia-Nya.”\rTulisan tentang matan/redaksi atau lafadz sholawat lainnya pada\ro…http://www.abatasa.com/pustaka/detail/tauhid/175/lafadz-lafadz-shalawat-dan-penjelasannya-1","part":2,"page":242},{"id":743,"text":"o…http://www.abatasa.com/pustaka/detail/tauhid/180/lafadz-lafadz-shalawat-dan-penjelasannya-2\ro…http://www.abatasa.com/pustaka/detail/tauhid/183/lafadz-lafadz-shalawat-dan-penjelasannya-3\ro…http://www.abatasa.com/pustaka/detail/tauhid/188/lafadz-lafadz-shalawat-dan-penjelasannya-4\rSalah satu matan / redaksi sholawat yang mereka kritisi adalah sholawat badar.\rShalawat Badar\rShalatullah salamullah, 'ala Thaha Rasulillah\rShalatullah salamullah, 'ala Yasin Habibillah\rSemoga shalawat dan salam selalu kepada Thaaha, Rasulullah\rSemoga shalawat dan salam selalu kepada Yasin, Rasulullah\r(Thaha dan Yaasin adalah panggilan / gelar untuk Rasulullah)\rTawasalna bibismillah, wa bilhadi Rasulillah,\rwa kulli mujahidin lillah, bi ahli badri, ya Allah\rKami bertawasul dengan bismillah, petunjuk Rasulillah,\rdan dengan seluruh mujahidin Badar, ya Allah\rIlahi sallimil ummah, minal afaati wa niqmah\rwa min hammin wa min ghummah, bi ahli badri, ya Allah\rTuhanku, selamatkanlah umat ini, dari derita dan bencana\rdan dari belenggu serta kebekuan, demi ahli Badar ya Allah\rIlahi-ghfir wa akrimna, binaili mathalibi minna (dikabulkan\rWa daf'i masaa-atin 'anna, bi ahli badri, ya Allah\rTuhanku, ampuni dan muliakan kami, dengan dikabulkannya permohonan kami,\rdan dijauhkannya kami dari tragedi yang memilukan, demi ahli Badar ya Allah","part":2,"page":243},{"id":744,"text":"Sholawat Badar adalah doa yang diawali dengan sholawat berisikan tawassul dengan nama Allah, dengan Junjungan Nabi shallallahu alaihi wasallam serta para mujahidin teristimewanya para pejuang Badar. Sholawat ini adalah hasil karya Kiyai Ali Manshur, yang merupakan cucu Kiyai Haji Muhammad Shiddiq. Selengkapnya dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/05/02/sholawat-badar/\rInti doanya adalah “Tuhanku, selamatkanlah umat ini, dari derita dan bencana dan dari belenggu serta kebekuan” dan “Tuhanku, ampuni dan muliakan kami, dengan dikabulkannya permohonan kami, dan dijauhkannya kami dari tragedi yang memilukan”\rBertawassul adalah adab berdoa, berperantara pada kemuliaan seseorang, kemuliaan tempat, kemuliaan benda, kemuliaan waktu, kemuliaan doa atau dzikrullah dihadapan Allah Azza wa Jalla\rTawassul dengan kemuliaan seseorang disisiNya adalah pembuka doa yang disampaikan sebelum doa inti , berisikan syair atau ungkapan kecintaan, penghormatan, pengakuan keutamaan derajat mereka (yang ditawasulkan) di sisi Allah Azza wa Jalla atau berisikan rasa syukur kita akan peran mereka (yang ditawasulkan) menyiarkan agama Islam sehingga kita dapat mendapatkan ni’mat Iman dan ni’mat Islam.\rContoh: “Hai sebaik-baik orang yang dikebumikan di lembah ini lagi paling agung, maka menjadi harumlah dari pancaran keharumannya semua lembah dan pegunungan ini. Diriku sebagai tebusan kubur yang engkau menjadi penghuninya; di dalamnya terdapat kehormatan, kedermawanan, dan kemuliaan.“\rSelengkapnya pada http://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2011/09/ikjuz5p281_285.pdf","part":2,"page":244},{"id":745,"text":"atau contoh syair sholawat nariyah yang artinya “yang dengan beliau terurai segala ikatan, hilang segala kesedihan, dipenuhi segala kebutuhan, dicapai segala keinginan dan kesudahan yang baik”\rSyair sholawat nariyah tersebut berisi ungkapan cinta sehingga memahaminya dengan bahasa cinta atau balaghoh / majaz. Maknanya, dengan peran Beliau shallallahu alaihi wasallam pembawa Al Qur’an, pembawa hidayah, pembawa risalah, yang dengan itu semualah kita menjadi muslim sehingga terurai segala ikatan dosa dan sihir, hilang segala kesedihan yaitu dengan sakinah, khusyu dan selamat dari siksa neraka, dipenuhi segala kebutuhan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, dicapai segala keinginan dan kesudahan yang baik yaitu husnul khatimah dan sorga. Hal ini serupa dengan ungkapan cinta seorang pemuda pada kekasihnya seperti , “Kehadiranmu membuatku senang dan bahagia tanpamu dunia ini bagiku adalah penjara” padahal kita paham bahwa yang membuat pemuda itu senang dan bahagia hanyalah Allah Azza wa Jalla perantaraan kehadiran kekasihnya.\rBoleh berperantara pada kemuliaan seseorang baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat karena kemuliaan seseorang di hadapan Allah tak akan sirna walaupun mereka sudah wafat.","part":2,"page":245},{"id":746,"text":"Justru mereka yang membedakan bolehnya bertawassul pada yang hidup saja dan mengharamkan pada yang sudah wafat, maka mereka itu malah dirisaukan akan terjerumus pada kemusyrikan karena menganggap makhluk hidup bisa memberi manfaat, sedangkan akidah kita adalah semua yang hidup dan yang sudah wafat tak bisa memberi manfaat apa apa kecuali karena Allah ta’ala memuliakannya, bukan karena ia hidup lalu ia bisa memberi manfaat dihadapan Allah, berarti si hidup itu sebanding dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala?, si hidup bisa berbuat sesuatu pada keputusan Allah ?\rOrang yang bertawassul tidak boleh berkeyakinan bahwa perantaranya kepada Allah bisa memberi manfaat dan madlorot kepadanya dan jika ia berkeyakinan bahwa sesuatu yang dijadikan perantaraan menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala itu bisa memberi manfaat dan madlorot, maka dia telah melakukan perbuatan syirik, karena yang bisa memberi manfaat dan madlorot sesungguhnya hanyalah Allah semata.\rSelengkapnya tentang bertawassul dengan yang dimuliakanNya telah diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/21/perantaraan-yang-dimuliakannya/\rDoa dengan diawali bertawassul dalam sholawat badar memenuhi sunnah Rasulullah\rAnas bin Malik r.a meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tiada doa kecuali terdapat hijab di antaranya dengan di antara langit, hingga bershalawat atas Nabi shallallahu alaihi wasallam, maka apabila dibacakan shalawat Nabi, terbukalah hijab dan diterimalah doa tersebut, namun jika tidak demikian, kembalilah doa itu kepada pemohonnya“","part":2,"page":246},{"id":747,"text":"Rasulullah bersabda “Jika salah seorang di antara kalian berdoa maka hendaknya dia memulainya dengan memuji dan menyanjung Allah, kemudian dia bershalawat kepada Nabi -shallallahu alaihi wasallam-, kemudian setelah itu baru dia berdoa sesukanya.” (HR Ahmad, Abu Dawud dan dishahihkan oleh At Tirmidzi)\rSalah satunya mereka mempermasalahkan nama lain Rasulullah yakni Thaha dan Yaasiin. Padahal Allah Azza wa Jalla memanggil RasulNya dengan panggilan / gelar tersebut.\rFirman Allah ta'ala, \"Thaahaa. Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah\". (QS.Thaha 20:1-2)\r\"Yaa siin. Demi al-Quran yang penuh hikmah. Sesungguhnya kamu salah seorang dari Rasul-rasul\", (QS.Yasin 36:1-3)\rMereka juga mempermasalahkan syair yang berisikan tawassul dengan ahli Badar. Padahal di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam , syair berisikan tawassul dengan ahli Badar umum dipergunakan bahkan dilantunkan dengan diiringi rebana sebagaimana terlukiskan dalam hadits berikut","part":2,"page":247},{"id":748,"text":"Telah menceritakan kepada kami Musaddad Telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Al Mufadldlal Telah menceritakan kepada kami Khalid bin Dzakwan ia berkata; Ar Rubayyi’ binti Mu’awwidz bin ‘Afran berkata; suatu ketika, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan masuk saat aku membangun mahligai rumah tangga (menikah). Lalu beliau duduk di atas kasurku, sebagaimana posisi dudukmu dariku. Kemudian para budak-budak wanita pun memukul rebana dan mengenang keistimewaan-keistimewaan prajurit yang gugur pada saat perang Badar. Lalu salah seorang dari mereka pun berkata, “Dan di tengah-tengah kita ada seorang Nabi, yang mengetahui apa yang akan terjadi esok hari.” Maka beliau bersabda: “Tinggalkanlah ungkapan ini, dan katakanlah apa yang ingin kamu katakan.“ (HR Bukhari 4750)\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam hanya mengkoreksi perkataan “Dan di tengah-tengah kita ada seorang Nabi, yang mengetahui apa yang akan terjadi esok hari” karena Beliau tahu sebatas yang diwahyukan namun beliau tidak melarang ungkapan cinta (sholawat) sebagaimana kita ingin mengungkapkannya dengan pernyataan “katakanlah apa yang ingin kamu katakan“\rWassalam\rZon di Jonggol, Kab Bogor 16830\r1071. Tampaknya mereka belum paham perkara syariat\rSetelah kami kaji lebih jauh mengapa mereka salah memahami tentang bid'ah, tampaknya dikarenakan mereka belum paham yang dimaksud perkara syariat\r?…Perkara syariat atau \"urusan kami\" adalah apa yang telah diwajibkanNya yakni wajib dijalankan dan wajib dijauhi meliputi,\r?…Perkara kewajiban yang jika ditinggalkan berdosa","part":2,"page":248},{"id":749,"text":"?…Perkara larangan yang jika dilanggar/dikerjakan berdosa\r?…Perkara pengharaman yang jika dilanggar/dikerjakan berdosa\rDari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban (ditinggalkan berdosa), maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa larangan (dikerjakan berdosa)), maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu (dikerjakan berdosa), maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia.” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi)\rUrusan agama atau perkara syariat atau perkara yang diwajibkanNya telah sempurna.\rRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Tidak tertinggal sedikitpun yang mendekatkan kamu dari surga dan menjauhkanmu dari neraka melainkan telah dijelaskan bagimu ” (HR Ath Thabraani dalam Al Mu’jamul Kabiir no. 1647)\r“mendekatkan dari surga” = perkara kewajiban (ditinggalkan berdosa)\r“menjauhkan dari neraka” = perkara larangan dan perkara pengharaman (dikerjakan berdosa)\rDalam perkara syariat atau ibadah yang diwajibkanNya (wajib dijalankan dan wajib dijauhi) harus sesuai dengan apa yang telah dicontohkan atau dikerjakan oleh Rasulullah. Perkara baru dalam perkara syariat adalah bid'ah dholalah","part":2,"page":249},{"id":750,"text":"Perkara syariat atau ibadah yang diwajibkanNya (wajib dijalankan dan wajib dijauhi) maka berlaku, “hukum asal ibadah adalah haram sampai ada dalil yang mensyari’atkannya atau menetapkannya”.\rSedangkan ibadah diluar perkara syariat atau diluar dari apa yang telah diwajibkanNya (wajib dijalankan dan wajib dijauhi) maka berlaku, “hukum asal segala sesuatu adalah mubah sampai ada dalil yang melarangnya”\rPerbuatan diluar perkara syariat atau diluar dari apa yang telah diwajibkanNya (wajib dijalankan dan wajib dijauhi) tidak harus sesuai dengan apa yang telah dicontohkan atau dikerjakan oleh Rasulullah.\rPerkara baru diluar perkara syariat atau diluar dari apa yang telah diwajibkanNya (wajib dijalankan dan wajib dijauhi) jika bertentangan dengan Al Qur'an dan As Sunnah adalah bid'ah dholalah\rPerkara baru diluar perkara syariat atau diluar dari apa yang telah diwajibkanNya (wajib dijalankan dan wajib dijauhi) jika tidak bertentangan dengan Al Qur'an dan As Sunnah adalah bid'ah hasanah atau mahmudah\rImam Asy Syafi’i ~rahimahullah berkata “Apa yang baru terjadi dan menyalahi kitab al Quran atau sunnah Rasul atau ijma’ atau ucapan sahabat, maka hal itu adalah bid’ah yang dhalalah. Dan apa yang baru terjadi dari kebaikan dan tidak menyalahi sedikitpun dari hal tersebut, maka hal itu adalah bid’ah mahmudah (terpuji)”","part":2,"page":250},{"id":751,"text":"Para Imam Mujtahid dalam beristinbat, menetapkan hukum perkara suatu ibadah kedalam hukum taklifi yang lima (haram, makruh, wajib, sunnah, dan mubah) menghindari al-Maslahah al-Mursalah atau Al-Istislah atau kadang disamakan juga dengan al-Istihsan yakni “Menetapkan hukum suatu masalah yang tak ada nash-nya atau tidak ada ijma’ terhadapnya, dengan berdasarkan pada kemaslahatan semata (yang oleh syara’ (dalam Al Qur’an dan As Sunnah) tidak dijelaskan ataupun dilarang”\rMenurut Imam Syafi’i cara-cara penetapan hukum seperti itu sekali-kali bukan dalil syar’i. Beliau menganggap orang yang menggunakannya sama dengan menetapkan syari’at berdasarkan hawa nafsu atau berdasarkan pendapat sendiri (akal pikiran sendiri) yang mungkin benar dan mungkin pula salah.\rIbnu Hazm termasuk salah seorang ulama yang menolak cara-cara penetapan hukum seperti itu Beliau menganggap bahwa cara penetapan seperti itu menganggap baik terhadap sesuatu atau kemashlahatan menurut hawa nafsunya (akal pikiran sendiri), dan itu bisa benar dan bisa pula salah, misalnya mengharamkan sesuatu tanpa dalil.\rMenetapkan sebagai perkara larangan atau pengharaman yang dikerjakan/dilanggar berdosa atau sebagai perkara kewajiban yang ditinggalkan berdosa berdasarkan maslahah mursalah atau berdasarkan akibat baik dan buruk menurut akal pikiran manusia termasuk kedalam bid'ah dholalah karena yang mengetahui baik dan buruk bagi manusia hanyalah Allah Azza wa Jalla","part":2,"page":251},{"id":752,"text":"Firman Allah Azza wa Jalla yang artinya, “Katakanlah! Siapakah yang berani mengharamkan perhiasan Allah yang telah diberikan kepada hamba-hambaNya dan beberapa rezeki yang baik itu? Katakanlah! Tuhanku hanya mengharamkan hal-hal yang tidak baik yang timbul daripadanya dan apa yang tersembunyi dan dosa dan durhaka yang tidak benar dan kamu menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak turunkan keterangan padanya dan kamu mengatakan atas (nama) Allah dengan sesuatu yang kamu tidak mengetahui.” (QS al-A’raf: 32-33)\rContoh perkara baru diluar perkara syariat atau diluar dari apa yang telah diwajibkanNya (wajib dijalankan dan wajib dijauhi) yang tidak bertentangan dengan Al Qur'an dan As Sunnah adalah peringatan Maulid, sholawat badar, sholawat nariyah, ratib al Hadad , qashidah burdah, maulid barzanji , dan semua amalan baru lainnya yang tidak bertentangan dengan Al Qur'an dan As Sunnah.\rBerikut pendapat para Hafidh, mereka yang menghafal dan memahami lebih dari 100.000 hadits tentang peringatan Maulid\rImam Al hafidh Abu Syaamah rahimahullah (Guru imam Nawawi) : “Merupakan Bid’ah hasanah yang mulia dizaman kita ini adalah perbuatan yang diperbuat setiap tahunnya di hari kelahiran Rasul shallallahu alaihi wasallam dengan banyak bersedekah, dan kegembiraan, menjamu para fuqara, seraya menjadikan hal itu memuliakan Rasul shallallahu alaihi wasallam dan membangkitkan rasa cinta pada beliau shallallahu alaihi wasallam, dan bersyukur kepada Allah ta’ala dengan kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam”.","part":2,"page":252},{"id":753,"text":"Imamul Qurra’ Alhafidh Syamsuddin Aljazriy rahimahullah dalam kitabnya ‘Urif bitta’rif Maulidissyariif : “Telah diriwayatkan Abu Lahab diperlihatkan dalam mimpi dan ditanya apa keadaanmu?, ia menjawab : “di neraka, tapi aku mendapat keringanan setiap malam senin, itu semua sebab aku membebaskan budakku Tsuwaibah demi kegembiraanku atas kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam dan karena Tsuwaibah menyusuinya ” (shahih Bukhari hadits no.4813). maka apabila Abu Lahab Kafir yang Alqur’an turun mengatakannya di neraka mendapat keringanan sebab ia gembira dengan kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam, maka bagaimana dengan muslim ummat Muhammad shallallahu alaihi wasallam yang gembira atas kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam?, maka demi usiaku, sungguh balasan dari Tuhan Yang Maha Pemurah sungguh-sungguh ia akan dimasukkan ke sorga kenikmatan Nya dengan sebab anugerah Nya.”\rImam Al Hafidh Assakhawiy dalam kitab Sirah Al Halabiyah berkata “tidak dilaksanakan maulid oleh salaf hingga abad ke tiga, tapi dilaksanakan setelahnya, dan tetap melaksanakannya umat Islam di seluruh pelosok dunia dan bersedekah pada malamnya dengan berbagai macam sedekah dan memperhatikan pembacaan maulid, dan berlimpah terhadap mereka keberkahan yang sangat besar”.\rImam Al hafidh Ibn Abidin rahimahullah dalam syarahnya maulid ibn hajar berkata : “ketahuilah salah satu bid’ah hasanah adalah pelaksanaan maulid di bulan kelahiran nabi shallallahu alaihi wasallam”","part":2,"page":253},{"id":754,"text":"Imam Al Hafidh Ibnul Jauzi rahimahullah, dengan karangan maulidnya yang terkenal “al aruus” juga beliau berkata tentang pembacaan maulid, “Sesungguhnya membawa keselamatan tahun itu, dan berita gembira dengan tercapai semua maksud dan keinginan bagi siapa yang membacanya serta merayakannya”.\rImam Al Hafidh Al Qasthalaniy rahimahullah dalam kitabnya Al Mawahibulladunniyyah juz 1 hal 148 cetakan al maktab al islami berkata: “Maka Allah akan menurukan rahmat Nya kepada orang yang menjadikan hari kelahiran Nabi saw sebagai hari besar”\rSeluruh sikap dan perbuatan atau amalan diluar perkara syariat atau diluar dari apa yang telah diwajibkanNya (wajib dijalankan dan wajib dijauhi) yang tidak bertentangan dengan Al Qur'an dan As Sunnah atau yang tidak bertentangan dengan apa yang telah diwajibkanNya atau tidak bertentangan dengan perkara syariat atau tidak menyelisihi syar’i disebut amalan sunnah atau amal kebaikan.\rAmalan sunnah atau amal kebaikan tidak harus apa yang telah dicontohkan atau dilakukan oleh Rasulullah maupun para Sahabat. Melakukan perbuatan yang tidak bertentangan dengan Al Qur'an dan As Sunnah atau tidak bertentangan dengan perkara syariat atau tidak menyelisihi syar’i adalah menjalankan sunnah untuk berbuat kebaikan.\rSecara matematis , “tidak bertentangan” = “tidak menyelisihi” = sesuai\r“tidak bertentangan” dengan Al Qur’an dan As Sunnah = ”tidak menyelisihi” perkara syariat = “tidak menyelisihi” syar’i = sesuai dengan syar’i , sesuai dengan syariat untuk berbuat kebaikan","part":2,"page":254},{"id":755,"text":"Firman Allah ta’ala yang artinya, “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan” (QS An Nahl [16]: 28)\rJelas kesalahpahaman mereka yang berpendapat bahwa hal yang baik hanyalah apa yang telah dilakukan oleh para Sahabat dengan kaidah mereka “LAU KAANA KHOIRON LASABAQUNA ILAIHI” (Seandainya hal itu baik, tentu mereka, para sahabat akan mendahului kita dalam melakukannya).\rApakah hal baik hanya apa yang dilakukan oleh Sahabat saja ?\rBagaimana hal yang baik yang pernah dilakukan kaum sebelum Muhammad bin Abdullah diutus sebagai Rasul Allah, apakah menjadi tidak baik karena para Sahabat tidak melakukannya ?\rBagaimana hal yang baik dilakukan oleh kaum muslim setelah generasi Sahabat sampai akhir zaman menjadi tidak baik karena para Sahabat tidak melakukannya ?\rKesalahpahaman kaidah tersebut telah disampaikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/16/bukan-perkataan-salaf/\rSeorang muslim melakukan segala sikap dan perbuatan atau amalan diluar perkara syariat atau diluar dari apa yang telah diwajibkanNya (wajib dijalankan dan wajib dijauhi) yang tidak bertentangan dengan Al Qur'an dan As Sunnah atau yang tidak bertentangan dengan apa yang telah diwajibkanNya atau tidak bertentangan dengan perkara syariat atau tidak menyelisihi syar’i atau amalan sunnah atau amal kebaikan bertujuan untuk memperjalankan dirinya agar sampai (wushul) kepada Allah atau mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla.","part":2,"page":255},{"id":756,"text":"Dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman “hamba-Ku tidak bisa mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada yang telah Aku wajibkan (perkara syariat), jika hamba-Ku terus menerus mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan sunnah (amal kebaikan), maka Aku mencintai dia\" (HR Bukhari 6021)\rSeorang muslim melakukan segala sikap dan perbuatan atau amalan diluar perkara syariat atau diluar dari apa yang telah diwajibkanNya (wajib dijalankan dan wajib dijauhi) yang tidak bertentangan dengan Al Qur'an dan As Sunnah termasuk amalan / perbuatan mengingat Allah (dzikrullah).\rSeluruh dzikrullah bertujuan untuk memperjalankan diri agar sampai (wushul) kepada Allah atau mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla\rDalam suatu riwayat. ”Qoola a’liyy bin Abi Thalib: Qultu yaa Rosuulolloh ayyun thoriiqotin aqrobu ilallohi? Faqoola Rasullulohi: dzikrullahi”. artinya; “Ali Bin Abi Thalib berkata; “aku bertanya kepada Rasullulah, jalan/metode(Thariqot) apakah yang bisa mendekatkan diri kepada Allah? “Rasullulah menjawab; “dzikrullah.”\rDalam urusan mendekatkan diri kepada Allah ta’ala, carilah jalan (washilah) masing-masing asalkan akhirnya adalah mencapai muslim yang baik, muslim yang sholeh, muslim yang ihsan.\rFirman Allah ta’ala yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan (washilah) yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan” (QS Al Maa’idah [5]: 35 )”","part":2,"page":256},{"id":757,"text":"Contohnya Bilal ra memilih jalan mendekatkan diri kepada Allah dengan amal kebaikan berupa selalu menjaga wudhunya dan menjalankan sholat selain sholat yang telah diwajibkanNya\rRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bertanya kepada Bilal ketika shalat Shubuh: “Hai Bilal, katakanlah kepadaku apakah amalanmu yang paling besar pahalanya yang pernah kamu kerjakan dalam Islam, karena tadi malam aku mendengar derap sandalmu di dalam surga? ‘ Bilal menjawab; ‘Ya Rasulullah, sungguh saya tidak mengerjakan amal perbuatan yang paling besar pahalanya dalam Islam selain saya bersuci dengan sempurna, baik itu pada waktu malam ataupun siang hari. lalu dengannya saya mengerjakan shalat selain shalat yang telah diwajibkan Allah kepada saya.” (HR Muslim 4497)\rTanda-tanda seorang muslim telah dekat dengan Allah atau telah mentaati Allah dan RasulNya sehingga mendapatkan maqom disisiNya minimal adalah mencapai muslim yang sholeh sehingga berkumpul dengan 4 golongan muslim disisiNya yakni para Nabi (Rasulullah yang utama), para Shiddiqin, para Syuhada dan muslim yang sholeh.\rFirman Allah ta’ala yang artinya “Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya .” (QS An Nisaa [4]: 69 )","part":2,"page":257},{"id":758,"text":"Semakin dekat kita kepada Allah sehingga menjadi kekasihNya (Wali Allah). Maqom Shiddiqin atau kedekatan dengan Allah diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/09/09/2011/09/28/maqom-wali-allah/\rDiantara para salaf yang sholeh pun terdapat perbedaan maqom kedekatan dengan Allah Azza wa Jalla sebagaimana yang dapat diketahui dalam hadits berikut.\rSuatu hari Umar r.a. kedatangan rombongan dari Yaman, lalu ia bertanya :\r“Adakah di antara kalian yang datang dari suku Qarn?”.\rLalu seorang maju ke dapan menghadap Umar. Orang tersebut saling bertatap pandang sejenak dengan Umar. Umar pun memperhatikannya dengan penuh selidik.\r“Siapa namamu?” tanya Umar.\r“Aku Uwais”, jawabnya datar.\r“Apakah engkau hanya mempunyai seorang Ibu yang masih hidup?, tanya Umar lagi.\r“Benar, Amirul Mu’minin”, jawab Uwais tegas.\rUmar masih penasaran lalu bertanya kembali “Apakah engkau mempunyai bercak putih sebesar uang dirham?” (maksudnya penyakit kulit berwarna putih seperti panu tapi tidak hilang).\r“Benar, Amirul Mu’minin, dulu aku terkena penyakit kulit “belang”, lalu aku berdo’a kepada Allah agar disembuhkan. Alhamdulillah, Allah memberiku kesembuhan kecuali sebesar uang dirham di dekat pusarku yang masih tersisa, itu untuk mengingatkanku kepada Tuhanku”.\r“Mintakan aku ampunan kepada Allah”.\rUwais terperanjat mendengar permintaan Umar tersebut, sambil berkata dengan penuh keheranan. “Wahai Amirul Mu’minin, engkau justru yang lebih behak memintakan kami ampunan kepada Allah, bukankah engkau sahabat Nabi?”","part":2,"page":258},{"id":759,"text":"Lalu Umar berkata “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata “Sesungguhnya sebaik-baik Tabiin adalah seorang bernama Uwais, mempunyai seorang ibu yang selalu dipatuhinya, pernah sakit belang dan disembuhkan Allah kecuali sebesar uang dinar di dekat pusarnya, apabila ia bersumpah pasti dikabulkan Allah. Bila kalian menemuinya mintalah kepadanya agar ia memintakan ampunan kepada Allah”\rUwais lalu mendoa’kan Umar agar diberi ampunan Allah. Lalu Uwais pun menghilang dalam kerumunan rombongan dari Yaman yang akan melanjutkan perjalanan ke Kufah. (HR Ahmad, HR Muslim 4612)\rMuslim yang memperjalankan diri hingga sampai (wushul) kepada Allah atau muslim yang mendekatkan diri kepada Allah akan mencapai muslim yang Ihsan hingga dapat menyaksikan Allah dengan hati atau mencapai muslim berma’rifat\rKeadaan muslim yang Ihsan diuraikan oleh Rasulullah sebagai “Kamu takut (takhsya / khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya (berma’rifat), maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.’ (HR Muslim 11)\rRasulullah bersabda “Iman paling afdol ialah apabila kamu mengetahui bahwa Allah selalu menyertaimu dimanapun kamu berada“. (HR. Ath Thobari)\rImam Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani,\r“Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”\rBeliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”\r“Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali.\rSayyidina Ali ra menjawab “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati”","part":2,"page":259},{"id":760,"text":"Sebuah riwayat dari Ja’far bin Muhammad beliau ditanya: “Apakah engkau melihat Tuhanmu ketika engkau menyembah-Nya?” Beliau menjawab: “Saya telah melihat Tuhan, baru saya sembah”. Bagaimana anda melihat-Nya? dia menjawab: “Tidak dilihat dengan mata yang memandang, tapi dilihat dengan hati yang penuh Iman.”\rJika belum dekat dengan Allah atau belum dapat menyaksikan Allah dengan hati atau belum mencapai ma’rifat maka setiap kita akan bersikap atau melakukan perbuatan, ingatlah selalu perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa “Jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.’ (HR Muslim 11)\rWassalam\rZon di Jonggol, Kab Bogor 16830\r1073. Barokah kegembiraan menyambut kelahiran Rasulullah\rKetika Rasulullah lahir dari rahim ibunda tercintanya, Siti Aminah, Tsuwaibah datang kepada Abu Lahab seraya memberikan kabar tentang kelahiran Muhammad, keponakannya yang berupa bayi laki-laki sehat tanpa kekurangan suatu apa pun.\rTatkala mendengar kabar kelahiran keponakan lelakinya ini, Abu lahab bersuka cita. Ia melompat-lompat riang gembira seraya meneriakkan kata-kata pujian atas kelahiran keponakannya tersebut sepanjang jalan. Inilah bentuk kegembiraan Abu Lahab, sang paman yang kelak menjadi salah satu musuh bebuyutannya dalam berdakwah.\rNamun rupanya tidak cukup sampai di situ saja luapan kegembiraannya kemudian dia membebaskan budak Tsuwaibah\rوَقَالَ شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ عُرْوَةُ ثُوَيْبَةُ أَعْتَقَهَا أَبُو لَهَبٍ\rSyu'aib berkata; Dari Az Zuhri, bahwa telah berkata Urwah; Yang membebaskan Tsuwaibah adalah Abu Lahab. (HR Bukhari 4953)","part":2,"page":260},{"id":761,"text":"حَدَّثَنَا الْحَكَمُ بْنُ نَافِعٍ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ أَنَّ زَيْنَبَ بِنْتَ أَبِي سَلَمَةَ أَخْبَرَتْهُ أَنَّ أُمَّ حَبِيبَةَ بِنْتَ أَبِي سُفْيَانَ أَخْبَرَتْهَا أَنَّهَا قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ انْكِحْ أُخْتِي بِنْتَ أَبِي سُفْيَانَ فَقَالَ أَوَتُحِبِّينَ ذَلِكِ فَقُلْتُ نَعَمْ لَسْتُ لَكَ بِمُخْلِيَةٍ وَأَحَبُّ مَنْ شَارَكَنِي فِي خَيْرٍ أُخْتِي فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ ذَلِكِ لَا يَحِلُّ لِي قُلْتُ فَإِنَّا نُحَدَّثُ أَنَّكَ تُرِيدُ أَنْ تَنْكِحَ بِنْتَ أَبِي سَلَمَةَ قَالَ بِنْتَ أُمِّ سَلَمَةَ قُلْتُ نَعَمْ فَقَالَ لَوْ أَنَّهَا لَمْ تَكُنْ رَبِيبَتِي فِي حَجْرِي مَا حَلَّتْ لِي إِنَّهَا لَابْنَةُ أَخِي مِنْ الرَّضَاعَةِ أَرْضَعَتْنِي وَأَبَا سَلَمَةَ ثُوَيْبَةُ فَلَا تَعْرِضْنَ عَلَيَّ بَنَاتِكُنَّ وَلَا أَخَوَاتِكُنَّ قَالَ عُرْوَةُ وثُوَيْبَةُ مَوْلَاةٌ لِأَبِي لَهَبٍ كَانَ أَبُو لَهَبٍ أَعْتَقَهَا فَأَرْضَعَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا مَاتَ أَبُو لَهَبٍ أُرِيَهُ بَعْضُ أَهْلِهِ بِشَرِّ حِيبَةٍ قَالَ لَهُ مَاذَا لَقِيتَ قَالَ أَبُو لَهَبٍ لَمْ أَلْقَ بَعْدَكُمْ غَيْرَ أَنِّي سُقِيتُ فِي هَذِهِ بِعَتَاقَتِي ثُوَيْبَةَ","part":2,"page":261},{"id":762,"text":"Telah menceritakan kepada kami Al Hakam bin Nafi' Telah mengabarkan kepada kami Syu'aib dari Az Zuhri ia berkata; Telah mengabarkan kepadaku Urwah bin Az Zubair bahwa Zainab binta Abu Salamah Telah mengabarkan kepadanya bahwa Ummu Habibah binti Abu Sufyan Telah mengabarkan kepadanya bahwa ia pernah berkata, Wahai Rasulullah nikahilah saudaraku binti Abu Sufyan. Maka beliau balik bertanya: Apakah suka akan hal itu? aku menjawab, Ya. Namun aku tidak mau ditinggal oleh Anda. Hanya saja aku suka bila saudariku ikut serta denganku dalam kebaikan. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pun bersabda: Sesungguhnya hal itu tidaklah halal bagiku. Aku berkata, Telah beredar berita, bahwa Anda ingin menikahi binti Abu Salamah. Beliau bertanya: Anak wanita Ummu Salamah? aku menjawab, Ya. Maka beliau pun bersabda: Meskipun ia bukan anak tiriku, ia tidaklah halal bagiku. Sesungguhnya ia adalah anak saudaraku sesusuan. Tsuwaibah telah menyusuiku dan juga Abu Salamah. Karena itu, janganlah kalian menawarkan anak-anak dan saudari-saudari kalian padaku. Urwah berkata; Tsuwaibah adalah bekas budak Abu Lahab. Waktu itu, Abu Lahab membebaskannya, lalu Tsuwaibah pun menyusui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Dan ketika Abu Lahab meninggal, ia pun diperlihatkan kepada sebagian keluarganya di alam mimpi dengan keadaan yang memprihatinkan. Sang kerabat berkata padanya, Apa yang telah kamu dapatkan? Abu Lahab berkata.Setelah kalian, aku belum pernah mendapati sesuatu nikmat pun, kecuali aku diberi minum lantaran memerdekakan Tsuwaibah. (HR Bukhari 4711)","part":2,"page":262},{"id":763,"text":"Hikmah dari kisah di atas adalah bahwa kegembiraan Abu Lahab menyambut kelahiran Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan membebaskan budak Tsuwaibah mendapatkan kebijaksanaan dari Allah Azza wa Jalla, padahal segala amal kebaikan orang kafir selama di dunia tidak bermanfaat di akhirat kelak.\rFirman Allah ta'ala yang artinya : “Orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh”. (QS Ibrahim [14]:18 )\r“Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya” (QS An Nuur [24]:39 )\rKegembiraan Abu Lahab menyambut kelahiran Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagai amal kebaikan yang tetap diperhitungkan walaupun Abu Lahab adalah seorang yang kafir.\rApalagi umat muslim yang mengikuti Salaf yang sholeh melalui apa yang telah disampaikan oleh Imam Mazhab yang empat yang melihat sendiri penerapan, perbuatan serta contoh nyata dari Salaf yang Sholeh dan juga gembira memperingati Maulid Nabi tentu mereka akan mendapatkan barokah yang sangat besar.","part":2,"page":263},{"id":764,"text":"Berikut para Hafidh (mereka yang menghafal dan memahami 100.000 hadits ) berpendapat tentang peringatan Maulid Nabi.\rImam Al Hafidh Assakhawiy dalam kitab Sirah Al Halabiyah berkata “tidak dilaksanakan maulid oleh salaf hingga abad ke tiga, tapi dilaksanakan setelahnya, dan tetap melaksanakannya umat Islam di seluruh pelosok dunia dan bersedekah pada malamnya dengan berbagai macam sedekah dan memperhatikan pembacaan maulid, dan berlimpah terhadap mereka keberkahan yang sangat besar”\rImam Al hafidh Abu Syaamah rahimahullah (Guru imam Nawawi) : \"Merupakan Bid’ah hasanah yang mulia dizaman kita ini adalah perbuatan yang diperbuat setiap tahunnya di hari kelahiran Rasul shallallahu alaihi wasallam dengan banyak bersedekah, dan kegembiraan, menjamu para fuqara, seraya menjadikan hal itu memuliakan Rasul shallallahu alaihi wasallam dan membangkitkan rasa cinta pada beliau shallallahu alaihi wasallam, dan bersyukur kepada Allah ta’ala dengan kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam\"\rImam Al hafidh Ibn Abidin rahimahullah dalam syarahnya maulid ibn hajar berkata : “ketahuilah salah satu bid’ah hasanah adalah pelaksanaan maulid di bulan kelahiran nabi shallallahu alaihi wasallam”\rImam Al Hafidh Ibnul Jauzi rahimahullah, dengan karangan maulidnya yang terkenal “al aruus” juga beliau berkata tentang pembacaan maulid, “Sesungguhnya membawa keselamatan tahun itu, dan berita gembira dengan tercapai semua maksud dan keinginan bagi siapa yang membacanya serta merayakannya”.","part":2,"page":264},{"id":765,"text":"Imam Al Hafidh Al Qasthalaniy rahimahullah dalam kitabnya Al Mawahibulladunniyyah juz 1 hal 148 cetakan al maktab al islami berkata: “Maka Allah akan menurukan rahmat Nya kepada orang yang menjadikan hari kelahiran Nabi saw sebagai hari besar”.\rWassalam\rZon di Jonggol, Kab Bogor 16830\r1083. Akibat perkataan bid’ah yang menyesatkan\rLuar biasa yang diakibatkan perkataan bid’ah yang menyesatkan yakni “LAU KAANA KHOIRON LASABAQUNA ILAIHI” , “Seandainya hal itu baik, tentu mereka, para sahabat akan mendahului kita dalam melakukannya”\rPerkataan tersebut adalah perkara baru (bid’ah) karena bukan firman Allah Azza wa Jalla dan bukan pula perkataan Rasulullah, bukan perkataan para Sahabat atau Salaf yang Sholeh lainnya\rDari susunan kata “LAU KAANA KHOIRON LASABAQUNA ILAIHI” tak ada satupun yang dapat diartikan sebagai “para Sahabat”.\rAda perkataan yang mirip dengan itu adalah pada firman Allah ta’ala, waqaala alladziina kafaruu lilladziina aamanuu law kaana khayran maa sabaquunaa ilayhi wa-idz lam yahtaduu bihi fasayaquuluuna haadzaa ifkun qadiimun\rDan orang-orang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman: “Kalau sekiranya di (Al-Qur’an) adalah suatu yang baik, tentulah mereka tiada mendahului kami (beriman) kepadanya. Dan karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya maka mereka akan berkata: “Ini adalah dusta yang lama”. (QS al Ahqaaf [46]:11 ).","part":2,"page":265},{"id":766,"text":"Maksud ayat ini ialah bahwa orang-orang kafir itu mengejek orang-orang Islam dengan mengatakan: Kalau sekiranya Al-Qur’an ini benar tentu kami lebih dahulu beriman kepadanya daripada mereka orang-orang miskin dan lemah itu seperti Bilal, ‘Ammar, Suhaib, Habbab radhiyallahu anhum dan sebagainya. Jelas perkataan tersebut adalah perkataan orang-orang kafir.\rTinjauan kritis terhadap perkataan bid’ah yang menyesatkan tersebut telah disampaikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/16/bukan-perkataan-salaf/\rAkibat dari perkataan bid’ah yang menyesatkan tersebut segelintir kaum muslim secara tidak disadari tidak dapat dengan baik menggunakan Al Qur’an dan As Sunnah sebagai petunjuk dalam menjalankan kehidupan di dunia agar selamat di dunia dan di akhirat.\rFirman Allah ta’ala yang artinya, \"Dengan kitab (Al-Qur’an) itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus\". (QS Al Maa’idah [5] :16)\r\"Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa\", (QS. Al Baqarah [2]: 2)\rMereka ragu mana yang merupakan amal kebaikan mana yang amal keburukan. Bahkan ada yang ikut-ikutan bahwa “baik itu relatif tergantung sudut pandang manusia atau kesepakatan antar manusia”\rBerikut pertanyaan dan pemahaman yang mereka sampaikan, \"Maulid Nabi adalah amal kebaikan\", baik di sini menurut apa?","part":2,"page":266},{"id":767,"text":"Apakah menurut Al Qur’an dan As Sunnah atau menurut hawa nafsu ?\rYang bisa dijadikan tolok ukur perbuatan itu baik atau tidak adalah Al Qur’an dan As Sunnah.\rAntum sendiri mengkritisi mereka yang menggunakan akal pikiran dalam 'membid'ahkan' sesuatu. Tapi akal pikiran pula yang antum gunakan untuk menilai \"Maulid Nabi adalah amal kebaikan\"\rBerikut penjelasan dari kami, Setiap kita akan bersikap atau melakukan perbuatan diluar apa yang telah diwajibkan oleh Allah Azza wa Jalla yakni wajib dikerjakan dan wajib dijauhi , apa yang menjadi landasan bagi kita bahwa sikap atau perbuatan itu adalah baik atau buruk ?\rSikap atau perbuatan yang baik adalah jika sikap atau perbuatan tersebut sesuai atau tidak bertentangan dengan Al Qur'an dan As Sunnah\rSikap atau perbuatan yang buruk adalah jika sikap atau perbuatan tersebut tidak sesuai atau bertentangan dengan Al Qur'an dan As Sunnah\rJadi segala sikap dan perbuatan yang tidak bertentangan dengan Al Qur'an dan As Sunnah adalah perkara baik atau amal kebaikan (hasanah / mahmudah / amalan sunnah)\rSebaliknya , segala sikap dan perbuatan yang bertentangan dengan Al Qur'an dan As Sunnah adalah perkara buruk (sayyiah)\rTidak semua amal kebaikan disampaikan atau dicontohkan dalam Al Qur’an dan As Sunnah. Pada hakikatnya seluruh sikap dan perbuatan yang tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah adalah amal kebaikan.\rSeluruh manusia yang ingin selamat dunia dan akhirat wajib melakukan sikap dan perbuatan yang sesuai atau tidak bertentangan dengan Al Qur'an dan As Sunnah","part":2,"page":267},{"id":768,"text":"Contohnya, Seseorang menggunakan facebook sebagai sarana belajar agama atau untuk berdakwah. Apakah perbuatan tersebut bertentangan atau tidak bertentangan dengan Al Qur'an dan As Sunnah ? Tentu perbuatan tersebut tidak bertentangan dengan Al Qur'an dan As Sunnah sehingga termasuk amal kebaikan\rSeseorang menggunakan facebook untuk bergossip, fitnah, menghujat. Apakah perbuatan tersebut bertentangan atau tidak bertentangan dengan Al Qur'an dan As Sunnah ? Tentu perbuatan tersebut bertentangan dengan Al Qur'an dan As Sunnah sehingga termasuk amal keburukan.\rHal pokok yang disampaikan dalam Al Qur’an dan As Sunnah dan wajib diiikuti oleh seluruh manusia adalah urusan agama atau perkara syariat atau syarat sebagai hamba Allah atau segala perkara yang telah diwajibkanNya yakni wajib dikerjakan dan wajib dijauhi meliputi,\r?…Perkara kewajiban yang jika ditinggalkan berdosa\r?…Perkara larangan yang jika dikerjakan / dilanggar berdosa\r?…Perkara pengharaman yang jika yang jika dikerjakan / dilanggar berdosa\rDari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)","part":2,"page":268},{"id":769,"text":"Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban (ditinggalkan berdosa), maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa larangan (dikerjakan berdosa)), maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu (dikerjakan berdosa), maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia.” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi)\rUrusan agama atau perkara syariat atau perkara yang diwajibkanNya (wajib dikerjakan dan wajib dijauhi) telah sempurna.\rFirman Allah ta'ala yang artinya, \"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”. (Qs. Al Maidah; 3)\rRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Tidak tertinggal sedikitpun yang mendekatkan kamu dari surga dan menjauhkanmu dari neraka melainkan telah dijelaskan bagimu ” (HR Ath Thabraani dalam Al Mu’jamul Kabiir no. 1647)\r“mendekatkan dari surga” = perkara kewajiban (ditinggalkan berdosa)\r“menjauhkan dari neraka” = perkara larangan dan perkara pengharaman (dikerjakan berdosa)","part":2,"page":269},{"id":770,"text":"Segala sikap dan perbuatan atau amalan diluar perkara syariat atau diluar dari apa yang telah diwajibkanNya (wajib dijalankan dan wajib dijauhi) yang tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah atau yang tidak bertentangan dengan apa yang telah diwajibkanNya atau tidak bertentangan dengan perkara syariat atau tidak menyelisihi syar’i atau amalan sunnah atau amal kebaikan bertujuan untuk memperjalankan dirinya agar sampai (wushul) kepada Allah atau mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla.\rDalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman “hamba-Ku tidak bisa mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada yang telah Aku wajibkan (perkara syariat), jika hamba-Ku terus menerus mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan sunnah (amal kebaikan), maka Aku mencintai dia“ (HR Bukhari 6021)\rSeorang muslim melakukan segala sikap dan perbuatan atau amalan diluar perkara syariat atau diluar dari apa yang telah diwajibkanNya (wajib dijalankan dan wajib dijauhi) yang tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah termasuk amalan / perbuatan mengingat Allah (dzikrullah).\rSeluruh dzikrullah bertujuan untuk memperjalankan diri agar sampai (wushul) kepada Allah atau mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla\rDalam suatu riwayat. ”Qoola a’liyy bin Abi Thalib: Qultu yaa Rosuulolloh ayyun thoriiqotin aqrobu ilallohi? Faqoola Rasullulohi: dzikrullahi”. artinya; “Ali Bin Abi Thalib berkata; “aku bertanya kepada Rasullulah, jalan/metode(Thariqot) apakah yang bisa mendekatkan diri kepada Allah? “Rasullulah menjawab; “dzikrullah.”","part":2,"page":270},{"id":771,"text":"Dalam urusan mendekatkan diri kepada Allah ta’ala, carilah jalan (washilah) masing-masing asalkan akhirnya adalah mencapai muslim yang baik, muslim yang sholeh, muslim yang ihsan.\rFirman Allah ta’ala yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan (washilah) yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan” (QS Al Maa’idah [5]: 35 )”\rJadi, Maulid Nabi adalah amal kebaikan karena tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah. Sekarang tergantung bagaimana cara mengisi peringatan Maulid Nabi dan tinggalkanlah bentuk kegiatan yang bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah.\rMaulid Nabi umumnya diisi dengan kegiatan membaca Al Qur’an, Sholawat, kajian dan ceramah seputar kehidupan Rasulullah dan implementasinya dalam kehidupan masa kini.\rKita boleh memperingati atau mengingat masa lampau untuk bekal hari esok, bahkan hal ini adalah anjuran dari Allah Azza wa Jalla, sebagaimana firmanNya, “Wal tandhur nafsun ma qaddamat li ghad” “Perhatikan masa lampaumu untuk hari esokmu” (QS al Hasyr [59] : 18 )","part":2,"page":271},{"id":772,"text":"Imam Al hafidh Abu Syaamah rahimahullah (Guru imam Nawawi) : Merupakan Bid’ah hasanah yang mulia dizaman kita ini adalah perbuatan yang diperbuat setiap tahunnya di hari kelahiran Rasul shallallahu alaihi wasallam dengan banyak bersedekah, dan kegembiraan, menjamu para fuqara, seraya menjadikan hal itu memuliakan Rasul shallallahu alaihi wasallam dan membangkitkan rasa cinta pada beliau shallallahu alaihi wasallam, dan bersyukur kepada Allah ta’ala dengan kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam.\rImam Al Hafidh Ibnul Jauzi rahimahullah, dengan karangan maulidnya yang terkenal “al aruus” juga beliau berkata tentang pembacaan maulid, “Sesungguhnya membawa keselamatan tahun itu, dan berita gembira dengan tercapai semua maksud dan keinginan bagi siapa yang membacanya serta merayakannya”.\rJadi, jika berpatokan baik dan buruk sebuah perbuatan bukan berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah dan berpatokan pada perkataan bid’ah yang menyesatkan yakni “LAU KAANA KHOIRON LASABAQUNA ILAIHI” maka justru timbul perkara baru (bid’ah) dalam agama atau perkara baru (bid’ah) dalam perkara syariat yakni perkara larangan yang jika dikerjakan berdosa. Seolah-olah Allah Azza wa Jalla telah lupa berfirman karena yang tahu baik dan buruk bagi manusia hanyalah Allah Azza wa Jalla","part":2,"page":272},{"id":773,"text":"Firman Allah Azza wa Jalla yang artinya, “Katakanlah! Siapakah yang berani mengharamkan perhiasan Allah yang telah diberikan kepada hamba-hambaNya dan beberapa rezeki yang baik itu? Katakanlah! Tuhanku hanya mengharamkan hal-hal yang tidak baik yang timbul daripadanya dan apa yang tersembunyi dan dosa dan durhaka yang tidak benar dan kamu menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak turunkan keterangan padanya dan kamu mengatakan atas (nama) Allah dengan sesuatu yang kamu tidak mengetahui.” (QS al-A’raf: 32-33)\rKami ada pernah mendengar mereka yang berpendapat bahwa bencana alam dan kemudharatan lainnya yang menimpa khususnya umat Islam di negara kita adalah karena masih melakukan perbuatan bid'ah dholalah yakni peringatan Maulid Nabi.\rSebagaimana yang telah diuraikan di atas peringatan Maulid Nabi tidaklah bertentang dengan Al Qur'an dan As Sunnah\rKemudharatan yang menimpa khususnya umat Islam di negara kita salah satunya boleh jadi dikarenakan penguasa negeri menjadikan Amerika yang dibelakangnya kaum Zionis Yahudi sebagai teman kepercaayan, penasehat bahkan pemimpin. Perbuatan inilah yang jelas-jelas bertentangan dengan Al Qur'an dan As Sunnah.","part":2,"page":273},{"id":774,"text":"Firman Allah Azza wa Jalla, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya” , (QS Ali Imran, 118)\r“Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati“. (QS Ali Imran, 119)\r“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui“. (QS Al Mujaadilah [58]:14 )\r“Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali (pemimpin) dan meninggalkan orang-orang mu’min. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah…” (Qs. Ali-Imran : 28)","part":2,"page":274},{"id":775,"text":"“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak, atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.” (Qs. Al Mujadilah : 22)\rWassalam\rZon di Jonggol, Kab Bogor 16830\r1091. Janganlah akal pikiran mendahului firman-Nya\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak pernah mengatakan \"seluruh bid'ah sesat\" namun Beliau mengatakan \"kullu bid'atin dholalah\"\rDalam memahami ilmu agama janganlah menggunakan akal pikiran sendiri.\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa menguraikan Al Qur’an dengan akal pikirannya sendiri dan merasa benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan”. (HR. Ahmad)\rDari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)\rYang dimaksud menggunakan akal pikiran sendiri adalah akal pikiran mendahului dalil naqli atau akal pikiran mendahului firmanNya atau akal pikiran mendahului sunnah Rasulullah.\rAkal pikiran mendahului dalil naqli atau akal pikiran mendahuli firmanNya dikatakan sebagai upaya pembenaran.\rSeharusnya adalah akal pikiran mengikuti dalil naqli atau akal pikiran mengikuti firmanNya atau akal pikiran mengikuti sunnah Rasulullah\rAkal pikiran mengikuti dalil naqli atau akal pikiran mengikuti firmanNya dikatakan sebagai upaya mengikuti kebenaran.","part":2,"page":275},{"id":776,"text":"Akal pikiran mengikuti dalil naqli atau akal pikiran mengikuti firmanNya adalah,\r1. Memahami dengan mendengarkan apa yang disampaikan oleh ulama-ulama bersanad ilmu tersambung kepada lisannya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam\r2. Memahami dengan alat-alat bahasa seperti nahwu, shorof, balaghoh, makna majaz dll\r3. Memahami dengan akal qalbu. Akal pikiran mengikuti akal qalbu , akal pikiran (otak / logika / memori) mengikuti akal qalbu yang telah diilhamkan oleh Allah Azza wa Jalla.\rFirman Allah ta’ala yang artinya, “maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya“. (QS Asy Syams [91]:8)\r“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan” (QS Al Balad [90]:10)\rPemahaman dengan akal qalbu disebut pemahaman secara hikmah. Allah Azza wa Jalla berfirman yang artinya “Allah menganugerahkan al hikmah (pemahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya Ulil Albab yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)“. (QS Al Baqarah [2]:269 ). Berikut memahami \"Kullu bid'atin dholalah\" dengan alat bahasa\rPengertian kullu ada 3 macam yakni :\r1. syay’in artinya setiap satu\r2. ba’din artinya setiap sebagian\r3. jam’in artinya setiap semua.","part":2,"page":276},{"id":777,"text":"Al-Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menuliskan: “Sabda Rasulullah “Kullu Bid’ah dlalalah” ini adalah ‘Amm Makhshush; artinya, lafazh umum yang telah dikhususkan kepada sebagian maknanya. Jadi yang dimaksud adalah bahwa sebagian besar bid’ah itu sesat (bukan mutlak semua bid’ah itu sesat)” (al-Minhaj Bi Syarah Shahih Muslim ibn al-Hajjaj, j. 6, hlm. 154).\rHadits “Kullu bid’atin dholalah” menurut tata bahasanya ialah ‘Amm Makhsus, artinya makna bid’ah lebih luas dari makna sesat. Maknanya adalah “setiap sesat adalah bid’ah akan tetapi tidak setiap bid’ah adalah sesat”.\rSetiap sesat adalah bid’ah\rSetiap yang sesat, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak pernah melakukannya. Contohnya meninggalkan sholat 5 waktu. Rasulullah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak pernah melakukannya.\rTidak setiap bid’ah adalah sesat\rTidak selalu perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah adalah sesat. Jika perbuatan tersebut bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah maka perbuatan itu termasuk sesat (bid’ah dholalah). Jika perbuatan tersebut tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah maka perbuatan itu termasuk hal yang baik (bid’ah hasanah/mahmudah). Dengan kesadaran adanya bid’ah hasanah maka setiap kita akan melakukan perbuatan atau mencontohkan perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam maka kita akan selalu merujuk kepada Al Qur’an dan As Sunnah.","part":2,"page":277},{"id":778,"text":"قاَلَ الشّاَفِعِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ -ماَ أَحْدَثَ وَخاَلَفَ كِتاَباً أَوْ سُنَّةً أَوْ إِجْمَاعاً أَوْ أَثَرًا فَهُوَ البِدْعَةُ الضاَلَةُ ، وَماَ أَحْدَثَ مِنَ الخَيْرِ وَلَمْ يُخاَلِفُ شَيْئاً مِنْ ذَلِكَ فَهُوَ البِدْعَةُ المَحْمُوْدَةُ -(حاشية إعانة 313 ص 1الطالبين -ج )\rArtinya ; Imam Syafei ra berkata –Segala hal yang baru (tidak terdapat di masa Rasulullah) dan menyalahi pedoman Al-Qur’an, Al-Hadits, Ijma’ (sepakat Ulama) dan Atsar (Pernyataan sahabat) adalah bid’ah yang sesat (bid'ah dholalah). Dan segala kebaikan yang baru (tidak terdapat di masa Rasulullah) dan tidak menyelahi pedoman tersebut maka ia adalah bid’ah yang terpuji (bid'ah mahmudah atau bid'ah hasanah), bernilai pahala. (Hasyiah Ianathuth-Thalibin –Juz 1 hal. 313)\rKita harus terus mewaspadai upaya hasutan atau ghazwul fikri (perang pemahaman) yang dilancarkan oleh kaum Zionis Yahudi. Salah satu penghasutnya adalah perwira Yahudi Inggris bernama Edward Terrence Lawrence yang dikenal oleh ulama jazirah Arab sebagai Laurens Of Arabian. Laurens menyelidiki dimana letak kekuatan umat Islam dan berkesimpulan bahwa kekuatan umat Islam terletak kepada ketaatan dengan mazhab (bermazhab) dan istiqomah mengikuti tharikat-tharikat tasawuf. Laurens mengupah ulama-ulama yang anti tharikat dan anti mazhab untuk menulis buku buku yang menyerang tharikat dan mazhab. Buku tersebut diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan dibiayai oleh pihak orientalis.","part":2,"page":278},{"id":779,"text":"Cara-cara mereka menghasut sangat halus sekali, contohnya mereka mengajak kaum muslim kembali kepada Al Qur'an dan As Sunnah dengan akal pikiran sendiri sehingga menimbulkan perselisihan di antara kaum muslim\rMereka yang terhasut meninggalkan pemahaman atau pendapat Imam Mazhab yang empat yang telah disepakati oleh jumhur ulama sejak dahulu sampai sekarang sebagai pemimpin atau imam ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak)\r?…Imam Mazhab yang empat bertalaqqi (mengaji) langsung dengan Salafush Sholeh.\r?…Imam Mazhab yang empat mengetahui dan mengikuti pemahaman Salafush Sholeh melalui lisannya Salafush Sholeh.\r?…Imam Mazhab yang empat melihat sendiri penerapan, perbuatan serta contoh nyata dari Salafush Sholeh.\rMereka yang terhasut merasa telah mengikuti pemahaman Salafush Sholeh namun kenyataannya mereka tidak lebih dari mengikuti pemahaman ulama-ulama yang mengaku-aku mengikuti pemahaman Salafush Sholeh namun tidak bertalaqqi (mengaji) dengan Salafush Sholeh. Dari mana ulama-ulama tersebut mendapatkan pemahaman Salafush Sholeh kalau bukan pemahaman ulama-ulama tersebut dengan akal pikiran mereka sendiri.\rMarilah kita kembali mengikuti pemahaman Salafush Sholeh melalui apa yang disampaikan oleh Imam Mazhab yang empat dan mengikuti penjelasan-penjelasan yang disampaikan oleh para ulama-ulama terdahulu yang mengikuti Imam Mazhab yang empat sambil kita merujuk darimana mereka mengambilnya yakni Al Qur'an dan As Sunnah\rWassalam\rZon di Jonggol, Kab Bogor 16830\r1092. Pahamilah firman-Nya dengan menundukkan akal pikiran kepada akal qalbu","part":2,"page":279},{"id":780,"text":"Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa menguraikan Al Qur’an dengan akal pikirannya sendiri dan merasa benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan”. (HR. Ahmad)\rDari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)\rAkal pikiran adalah hasil kerja otak dan memori. Otak adalah pemroses hasil atau keluaran dari panca indera. Pemahaman dengan akal pikiran adalah pemahaman secara logika atau pemahaman secara ilmiah. Pemahaman dengan akal pikiran semata yang dikatakan sebagai akal pikiran mendahului firmanNya atau upaya pembenaran atau disebut juga dengan berdalih.\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam telah melarang kita memahami firmanNya bersandarkan kepada akal pikiran semata atau pemahaman secara ilmiah semata namun pergunakanlah akal qalbu untuk memahami firmanNya atau pemahaman secara hikmah. Pemahaman secara hikmah yang dikatakan sebagai akal pikiran mengikuti firmanNya atau upaya mengikuti kebenaran atau disebut juga dengan berdalil\rFirman Allah ta’ala, afalam yasiiruu fii al-ardhi fatakuuna lahum quluubun ya'qiluuna bihaa aw aatsaanun yasma'uuna bihaa fa-innahaa laa ta'maa al-abshaaru walaakin ta'maa alquluubu allatii fii alshshuduuri","part":2,"page":280},{"id":781,"text":"“maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar. Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada\" (QS Al Hajj [22]:46 )\rAkal qalbu adalah raja atau hakim atau penguasa dari akal pikiran.\rAkal qalbu yang dapat memilih atau memahami mana yang haq dan mana yang bathil berdasarkan ilham atau petunjuk atau karunia atau cahaya dari Allah Azza wa Jalla\rFirman Allah Azza wa Jalla yang artinya “Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan” (pilihan haq atau bathil) (QS Al Balad [90]:10 )\r“maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya“. (QS As Syams [91]:8 )\r“Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” ( QS An Nuur [24]:35 )\rSeorang anak kecil yang belum baligh , mereka tidak dikatakan berakal walaupun mereka sudah dapat menggunakan logika/rasio/otak nya\r“Tidak dikenakan kewajiban atas tiga golongan orang,yaitu anak-anak sampai baligh,orang gila sampai sadar,dan orang tidur sampai terbangun” (HR.Bukhori,Abu Daud,At Tirmidzi,An Nasa’I,Ibnu Majah,Daruquthni,dan Ahmad).\rBegitu pula dengan orang gila mereka dikatakan kehilangan akal walaupun mereka masih mempunyai otak.\rFirman Allah ta’ala yang artinya, ‘Fu’aad (hati) tidak pernah mendustai apa-apa yang dilihatnya’ (QS An Najm [53]:11).","part":2,"page":281},{"id":782,"text":"Wabishah bin Ma’bad r.a. berkata: Saya datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda, “Apakah engkau datang untuk bertanya tentang kebaikan?” Saya menjawab, “Benar.”Beliau bersabda, “Mintalah fatwa kepada hatimu sendiri. Kebaikan adalah apa-apa yang menenteramkan jiwa dan hati, sedangkan dosa adalah apa-apa yang mengusik jiwa dan meragukan hati, meskipun orang-orang memberi fatwa yang membenarkanmu.” hadits diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Ad-Darami dengan sanad hasan\rNawas bin Sam’an r.a. meriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam., beliau bersabda, “Kebaikan adalah akhlak yang baik, sedangkan dosa adalah segala hal yang mengusik jiwamu dan engkau tidak suka jika orang lain melihatnya.\" (Diriwayatkan oleh Imam Muslim).\rPermasalahan manusia tidak lagi dapat menggunakan hati mereka untuk memahami firmanNya adalah karena dosa. Keadaan ini dinamakan buta mata hati.\r‘Abdullâh bin Al-Mubarak meriwayatkan dari adh-Dhahak bin Muzahim, bahwasanya dia berkata;”Tidak seorangpun yang mempelajari Al-Qur`ân kemudian dia lupa, melainkan karena dosa yang telah dikerjakannya. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :\rوَمَآأَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ\r(Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri) –Qs asy-Syûra/42 ayat 30- . Sungguh, lupa terhadap Al-Qur`ân merupakan musibah yang paling besar * (. Fadha`ilul-Qur`ân, karya Ibnu Katsir, hlm. 147)","part":2,"page":282},{"id":783,"text":"Setiap dosa merupakan bintik hitam hati (ketiadaan cahaya), sedangkan setiap kebaikan adalah bintik cahaya pada hati Ketika bintik hitam memenuhi hati sehingga terhalang (terhijab) untuk memahami firmanNya. Inilah yang dinamakan buta mata hati.\rSebagaimana firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).” (QS Al Isra 17 : 72)\r\"Media komunikasi\" dengan firmanNya adalah ruhNya (ruhani). Firman Allah ta’ala yang artinya “Kemudian Dia menyempurnakan penciptaannya dan Dia tiupkan padanya sebagian dari Ruh-Nya dan Dia jadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan rasa, tapi sedikit sekali kamu bersyukur” (QS As Sajadah (32):9)\rRuhani (ruhNya) dinamakan akal, hati, nafsu. Ruh ketika berperasaan seperti sedih, gembira, senang, terhibur, marah atau sebagainya, maka ia dipanggil dengan hati. Ruh ketika ia berkehendak, berkemauan atau merangsang sama ada sesuatu yang berkehendak itu positif atau negatif, baik atau buruk, yang dibenarkan atau tidak, yang halal ataupun yang haram, di waktu itu ia tidak dipanggil hati tetapi ia dipanggil nafsu. Ruh ketika ia berfikir, mengkaji, menilai, memahami, menimbang dan menyelidik, maka ia dipanggil akal. Bahkan menurut Imam Sayyidina Ali r.a. qalb mempunyai lima nama :\r1.…Pertama, disebut shadr, karena ia merupakan tempat terbitnya cahaya Islam (nuuru-l-islaam). Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala, ‘Adakah sama dengan mereka yang dibukakan shadrnya untuk Islam….” (QS Az Zumar [39] :22)’.","part":2,"page":283},{"id":784,"text":"2.…Kedua, disebut qalb, karena ia merupakan tempat terbitnya keimanan. Hal ini sebagaiamana firman-Nya, \"Mereka itulah yang ditulis dalam hatinya terdapat keimanan.” (QS Al Mujaadilah [58]:22)’\r3.…Ketiga disebut fu’aad karena ia merupakan tempat terbitnya ma’rifah. Hal ini sebagaimana Firman Allah Subhanahu wa ta’ala, ‘Fu’aad tidak pernah mendustai apa-apa yang dilihatnya’ (QS An Najm [53]:11).\r4.…Keempat disebut lubb, karena ia merupakan tempat terbitnya tauhid. Hal ini sebagaimana firman-Nya, \"Sesungguhnya di dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang adalah ayat-ayat bagi ulil albaab (sang pemilik lubb)’ (QS Ali Imran [3]:190).\r5.…Kelima, disebut syagf, karena it merupakan tempat terbitnya rasa saling menyayangi dan mencintai sesama makhluk. Hal ini sebagaimana firman-Nya, ’Sungguh ia (Zulaikha) telah dikuasai oleh rasa cinta yang membara….’ (QS Yusuf [12]:30)\rSelain nama-nama yang telah disebutkan, hati pun disebut juga dengan nama habbah al-quluub. Disebut demikian, karena ia merupakan tempat terbitnya cahaya, sebagaimana yang diterangkan Allah dalam hadis qudsi-Nya, ’Tiada yang sanggup menampung-Ku, baik bumi maupun langit-Ku. Hanya hati hamba-Ku yang Mukmin yang dapat menampung-Ku.’","part":2,"page":284},{"id":785,"text":"Apa yang diuraikan oleh Imam Sayyidina Ali ra terkait dengan sebuah hadits qudsi, Allah Azza wa Jalla berfirman: ’Telah Kucipta seorang malaikat di dalam tubuh setiap anak keturunan Adam. Di dalam malaikat itu ada shadr. Di dalam shadr itu ada qalb. Di dalam qalb itu ada fu`aad. Di dalam fu`aad itu ada syagf. Di dalam syagf itu ada lubb. Di dalam lubb itu ada sirr. Dan di dalam sirr itu ada Aku.”\rJadi yang dapat memahami firmanNya adalah ulil albab yang sering diterjemahkan sebagai orang-orang yang berakal atau pemilik lubb (qalbu) atau orang yang memahami firmanNya menggunakan akal qalbu berdasarkan karunia hikmah dari Allah Azza wa Jalla atau disebut juga pemahaman secara hikmah.\rAllah Azza wa Jalla berfirman yang artinya “Allah menganugerahkan al hikmah (pemahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya Ulil Albab yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)“. (QS Al Baqarah [2]:269 ).\r“Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan Ulil Albab” (QS Ali Imron [3]:7 )\rMuslim yang dikaruniai hikmah adalah muslim yang menundukkan akal pikiran mereka kepada akal qalbu.\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang bertambah ilmunya tapi tidak bertambah hidayahnya, maka dia tidak bertambah dekat kepada Allah melainkan bertambah jauh\"\rSemakin banyak mengenal Allah (ma’rifatullah) melalui ayat-ayat-Nya qauliyah dan kauniyah, maka semakin dekat hubungan dengan-Nya.","part":2,"page":285},{"id":786,"text":"Ilmu harus dikawal hidayah. Tanpa hidayah, seseorang yang berilmu menjadi sombong dan semakin jauh dari Allah ta’ala. Sebaliknya seorang ilmuwan yang mendapat hidayah (karunia hikmah) maka hubungannya dengan Allah ta’ala semakin dekat.\rTanda-tanda seorang muslim telah dekat dengan Allah atau telah mentaati Allah dan RasulNya sehingga mendapatkan maqom disisiNya minimal adalah mencapai muslim yang sholeh sehingga berkumpul dengan 4 golongan muslim disisiNya yakni para Nabi (Rasulullah yang utama), para Shiddiqin, para Syuhada dan muslim yang sholeh.\rFirman Allah ta’ala yang artinya “Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya .” (QS An Nisaa [4]: 69 )\rSemakin dekat kita kepada Allah sehingga menjadi kekasihNya (Wali Allah). Maqom Shiddiqin atau kedekatan dengan Allah diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/09/09/2011/09/28/maqom-wali-allah/\rKemampuan logika atau kemampuan menggunakan akal pikiran adalah kelebihan yang dikaruniakan Allah ta'ala kepada kaum Yahudi namun mereka tidak dikaruniakan kemampuan menggunakan akal kalbu atau pemahaman secara hikmah karena mereka termasuk manusia yang tidak dikehendaki Allah Azza wa Jalla","part":2,"page":286},{"id":787,"text":"Hadits yang diriwayatkan Sufyan bin Uyainah dengan sanadnya dari Adi bin Hatim. Ibnu Mardawih meriwayatkan dari Abu Dzar, dia berkata, “Saya bertanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam tentang orang-orang yang dimurkai“, beliau bersabda, ‘Kaum Yahudi.’ Saya bertanya tentang orang-orang yang sesat, beliau bersabda, “Kaum Nasrani.“\rKaum Yahudi atau yang dikenal sekarang kaum Zionis Yahudi menghasut atau melancarkan ghazwul fikri (perang pemahaman) kepada kaum muslim untuk memahami Al Qur'an dan As Sunnah dengan akal pikiran sendiri sehingga menimbulkan perselisihan di antara kaum muslim\rSalah satu penghasutnya adalah perwira Yahudi Inggris bernama Edward Terrence Lawrence yang dikenal oleh ulama jazirah Arab sebagai Laurens Of Arabian. Laurens menyelidiki dimana letak kekuatan umat Islam dan berkesimpulan bahwa kekuatan umat Islam terletak kepada ketaatan dengan mazhab (bermazhab) dan istiqomah mengikuti tharikat-tharikat tasawuf. Laurens mengupah ulama-ulama yang anti tharikat dan anti mazhab untuk menulis buku buku yang menyerang tharikat dan mazhab. Buku tersebut diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan dibiayai oleh pihak orientalis.\rKaum muslim yang terhasut meninggalkan pemahaman atau pendapat Imam Mazhab yang empat yang telah disepakati oleh jumhur ulama sejak dahulu sampai sekarang sebagai pemimpin atau imam ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak)\r?…Imam Mazhab yang empat bertalaqqi (mengaji) langsung dengan Salafush Sholeh.\r?…Imam Mazhab yang empat mengetahui dan mengikuti pemahaman Salafush Sholeh melalui lisannya Salafush Sholeh.","part":2,"page":287},{"id":788,"text":"?…Imam Mazhab yang empat melihat sendiri penerapan, perbuatan serta contoh nyata dari Salafush Sholeh.\rMereka yang terhasut merasa telah mengikuti pemahaman Salafush Sholeh namun kenyataannya mereka tidak lebih dari mengikuti pemahaman ulama-ulama yang mengaku-aku mengikuti pemahaman Salafush Sholeh namun tidak bertalaqqi (mengaji) dengan Salafush Sholeh. Dari mana ulama-ulama tersebut mendapatkan pemahaman Salafush Sholeh kalau bukan pemahaman ulama-ulama tersebut dengan akal pikiran mereka sendiri.\rMarilah kita kembali mengikuti pemahaman Salafush Sholeh melalui apa yang disampaikan oleh Imam Mazhab yang empat dan mengikuti penjelasan-penjelasan yang disampaikan oleh para ulama-ulama terdahulu yang mengikuti Imam Mazhab yang empat sambil kita merujuk darimana mereka mengambilnya yakni Al Qur’an dan As Sunnah dengan menggunakan akal qalbu (akal pikiran yang ditundukkan kepada akal qalbu) berdasarkan karunia hikmah dari Allah Azza wa Jalla\rWassalam\rZon di Jonggol, Kab Bogor 16830\r1093. Kembalilah mengikuti apa yang disampaikan Imam Mazhab\rSukar juga menyadarkan mereka dari hasutan atau ghazwul fikri (perang pemahaman) yang dilancarkan oleh kaum Zionis Yahudi. Keinginan mereka baik yakni ingin mengikuti Rasulullah (ittiba' li Rasulihi) melalui penerapan, perbuatan serta contoh nyata dari Salafush Sholeh.","part":2,"page":288},{"id":789,"text":"Namun amat disayangkan mereka mendapatkan pengetahuan penerapan, perbuatan serta contoh nyata dari Salafush Sholeh dari para ulama-ulama yang mengaku-aku mengikuti pemahaman Salafush Sholeh namun mereka tidak bertalaqqi (mengaji) dengan Salafush Sholeh Dari mana ulama-ulama tersebut mendapatkan pemahaman Salafush Sholeh kalau bukan pemahaman ulama-ulama tersebut dengan akal pikiran mereka sendiri.\rMarilah kita kembali mengikuti pemahaman Salafush Sholeh melalui apa yang disampaikan oleh Imam Mazhab yang empat dan mengikuti penjelasan-penjelasan yang disampaikan oleh para ulama-ulama terdahulu yang mengikuti Imam Mazhab yang empat sambil kita merujuk darimana mereka mengambilnya yakni Al Qur’an dan As Sunnah dengan menggunakan akal qalbu (akal pikiran yang ditundukkan kepada akal qalbu) berdasarkan karunia hikmah dari Allah Azza wa Jalla\rJumhur ulama dari dahulu sampai sekarang telah sepakat bahwa Imam Mazhab yang empat adalah pemimpin atau imam ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak)\r?…Imam Mazhab yang empat bertalaqqi (mengaji) langsung dengan Salafush Sholeh.\r?…Imam Mazhab yang empat mengetahui dan mengikuti pemahaman Salafush Sholeh melalui lisannya Salafush Sholeh.\r?…Imam Mazhab yang empat melihat sendiri penerapan, perbuatan serta contoh nyata dari Salafush Sholeh.","part":2,"page":289},{"id":790,"text":"Berhati-hatilah sebaiknya jangan serampangan dalam mengikuti pemahaman ulama agar tidak menjadi penyesalan di akhirat kelak. Firman Allah ta’ala yang artinya, “(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali.” (QS al Baqarah [2]: 166)\r“Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: “Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.” Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.” (QS Al Baqarah [2]: 167)\rContohnya, sebaiknya janganlah mengikuti cara sholat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dari apa yang disampaikan oleh seorang ulama yang menuliskan kitab Sifat Sholat Nabi namun kita ketahui beliau tidak melihat langsung cara sholat Nabi melalui apa yang dicontohkan atau dilakukan oleh Salafush Sholeh. Beliau menyampaikan berdasarkan belajar sendiri (secara otodidak) melalui cara muthola’ah (menelaah kitab) dan memahaminya dengan akal pikiran sendiri (pemahaman secara ilmiah).\rPendapat para ulama tentang beliau yang menuliskan kitab Sifat Sholat Nabi telah disampaikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/09/07/pendapat-ulama/","part":2,"page":290},{"id":791,"text":"Bahkan seorang ulama keturunan cucu Rasulullah yang mendapatkan pengajaran tentang sholat langsung dari orang tua – orang tua mereka terdahulu yang tersambung kepada Sayyidina Ali ra yang mendapatkan pengajaran langsung dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengatakan dalam tulisannya pada http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=34&func=view&id=22475&catid=9 bahwa beliau sebenarnya tak suka bicara mengenai ini (menyampaikannya), namun beliau memilih mengungkapnya ketimbang hancurnya ummat”\rTokoh-tokoh Alawiyin (keturunan cucu Rasuullah) yang mendapatkan pengajaran agama dari orang tua-orang tua mereka terdahulu yang tersambung kepada lisannya Imam Sayyidina Ali yang mendapatkan pengajaran agama langsung dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah ada lah Imam-Imam mujtahid (dalam arti tidak mengikuti atau terikat dengan salah satu mazhab) seperti diriwayatkan oleh beberapa ulama, yang masing-masing tokoh terkenal dengan gelar \"Imam\" seperti Imam Al Muhajir, Imam Alawi bin Ubaidillah dan lain-lain.\rNamun, ijtihad mereka seringkali bersesuaian dengan Imam Assyafi'i\rSilahkan baca uraian pada :\rhttp://freepages.genealogy.rootsweb.ancestry.com/~naqobatulasyrof/news/ris02/page4.htm\rSekelumit perjalanan dakwah keturunan cucu Rasulullah dari mulai tulisan pada :\rhttp://freepages.genealogy.rootsweb.ancestry.com/~naqobatulasyrof/news/ris02/page2.htm\rhttp://freepages.genealogy.rootsweb.ancestry.com/~naqobatulasyrof/news/ris02/page3.htm\rhttp://freepages.genealogy.rootsweb.ancestry.com/~naqobatulasyrof/news/ris02/page4.htm","part":2,"page":291},{"id":792,"text":"http://freepages.genealogy.rootsweb.ancestry.com/~naqobatulasyrof/news/ris02/page5.htm\rhttp://freepages.genealogy.rootsweb.ancestry.com/~naqobatulasyrof/news/ris02/page6.htm\rhttp://freepages.genealogy.rootsweb.ancestry.com/~naqobatulasyrof/news/ris02/page7.htm\rhttp://freepages.genealogy.rootsweb.ancestry.com/~naqobatulasyrof/news/ris02/page8.htm\rhttp://freepages.genealogy.rootsweb.ancestry.com/~naqobatulasyrof/news/ris02/page9.htm\rhttp://freepages.genealogy.rootsweb.ancestry.com/~naqobatulasyrof/news/ris02/page10.htm\rBegitupula Prof.Dr.H. Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) dalam majalah tengah bulanan “Panji Masyarakat” No.169/ tahun ke XV11 15 februari 1975 (4 Shafar 1395 H) halaman 37-38 menjelaskan bahwa pengajaran agama Islam di negeri kita diajarkan langsung oleh para ulama keturunan cucu Rasulullah seperti Syarif Hidayatullah atau yang dikenal dengan Sunan Gunung Jati. Berikut kutipan penjelasan Buya Hamka\r***** awal kutipan ****","part":2,"page":292},{"id":793,"text":"“Rasulallah shallallahu alaihi wasallam mempunyai empat anak-anak lelaki yang semuanya wafat waktu kecil dan mempunyai empat anak wanita. Dari empat anak wanita ini hanya satu saja yaitu (Siti) Fathimah yang memberikan beliau shallallahu alaihi wasallam dua cucu lelaki dari perkawinannya dengan Ali bin Abi Thalib. Dua anak ini bernama Al-Hasan dan Al-Husain dan keturunan dari dua anak ini disebut orang Sayyid jamaknya ialah Sadat. Sebab Nabi sendiri mengatakan, ‘kedua anakku ini menjadi Sayyid (Tuan) dari pemuda-pemuda di Syurga’. Dan sebagian negeri lainnya memanggil keturunan Al-Hasan dan Al-Husain Syarif yang berarti orang mulia dan jamaknya adalah Asyraf. Sejak zaman kebesaran Aceh telah banyak keturunan Al-Hasan dan Al-Husain itu datang ketanah air kita ini. Sejak dari semenanjung Tanah Melayu, kepulauan Indonesia dan Pilipina.\rHarus diakui banyak jasa mereka dalam penyebaran Islam diseluruh Nusantara ini. Diantaranya Penyebar Islam dan pembangunan kerajaan Banten dan Cirebon adalah Syarif Hidayatullah yang diperanakkan di Aceh. Syarif kebungsuan tercatat sebagai penyebar Islam ke Mindanao dan Sulu. Yang pernah jadi raja di Aceh adalah bangsa Sayid dari keluarga Jamalullail, di Pontianak pernah diperintah bangsa Sayyid Al-Qadri. Di Siak oleh keluaga Sayyid bin Syahab, Perlis (Malaysia) dirajai oleh bangsa Sayyid Jamalullail. Yang dipertuan Agung 111 Malaysia Sayyid Putera adalah Raja Perlis. Gubernur Serawak yang ketiga, Tun Tuanku Haji Bujang dari keluarga Alaydrus.","part":2,"page":293},{"id":794,"text":"Kedudukan mereka dinegeri ini yang turun temurun menyebabkan mereka telah menjadi anak negeri dimana mereka berdiam. Kebanyakan mereka jadi Ulama. Mereka datang dari hadramaut dari keturunan Isa Al-Muhajir dan Fagih Al-Muqaddam. Yang banyak kita kenal dinegeri kita yaitu keluarga Alatas, Assegaf, Alkaff, Bafaqih, Balfaqih, Alaydrus, bin Syekh Abubakar, Alhabsyi, Alhaddad, Al Jufri, Albar, Almusawa, bin Smith, bin Syahab, bin Yahya …..dan seterusnya.\rYang terbanyak dari mereka adalah keturunan dari Al-Husain dari Hadra- maut (Yaman selatan), ada juga yang keturunan Al-Hasan yang datang dari Hejaz, keturunan syarif-syarif Makkah Abi Numay, tetapi tidak sebanyak dari Hadramaut. Selain dipanggil Tuan Sayid mereka juga dipanggil Habib. Mereka ini telah tersebar didunia. Di negeri-negeri besar seperti Mesir, Baqdad, Syam dan lain-lain mereka adakan NAQIB, yaitu yang bertugas mencatat dan mendaftarkan keturunan-keturunan Sadat tersebut. Disaat sekarang umum- nya mencapai 36-37-38 silsilah sampai kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Sayyidati Fathimah Az-Zahra ra.\rKesimpulan dari makalah Prof.Dr.HAMKA: Baik Habib Tanggul di Jawa Timur dan Almarhum Habib Ali di Kwitang, Jakarta, memanglah mereka keturunan dari Ahmad bin Isa Al-Muhajir yang berpindah dari Bashrah/Iraq ke Hadramaut, dan Ahmad bin Isa ini cucu yang ke tujuh dari cucu Rasulallah saw. Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib.”\r****** akhir kutipan ******","part":2,"page":294},{"id":795,"text":"Dari dahulu ulama-ulama kita bermazhab Imam Syafi'i. KH Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah dan KH Hasyim Azhari pendiri NU memiliki guru yang sama yakni KH Sholeh Darat. Di Saudi, mereka juga memiliki guru yang sama, yaitu Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi – ulama kelahiran Padang yang di masa itu dapat menduduki posisi Imam di Mekah karena ketinggian ilmunya. Syekh Ahmad Khatib adalah ulama bermazhab Syafi’i.\rOleh karenanya untuk menegakkan Ukhuwah Islamiyah , khususnya di Indonesia, marilah kita kembali bersatu padu kembali mengikuti apa yang disampaikan oleh Imam Syafi'i ~ rahimahullah.\rBegitupula kita jangan terhasut oleh kaum Zionis Yahudi hingga kita tidak mencintai Ahlul Bait, keturunan cucu Rasulullah.\rImam Syafi’i ~rahimahullah bersyair, “Wahai Ahlul-Bait Rasulallah, mencintai kalian adalah Kewajiban dari Allah diturunkan dalam al-Quran cukuplah bukti betapa tinggi martabat kalian tiada sholat tanpa shalawat bagi kalian.”\rSyair Beliau yang lain “Jika sekiranya disebabkan kecintaan kepada keluarga Rasulallah shallallahu alaihi wasallam maka aku dituduh Rafidhi (Syi’ah). Maka saksikanlah jin dan manusia, bahwa sesungguhnya aku adalah Rafidhi.”\rMaksud perkataan Imam Syafi’i ~rahimahullah , jika mencintai keturunan cucu Rasulullah disebut Rafidhi maka beliau rela disebut Rafidhi walaupun kita paham bahwa pemahaman syiah rafidhi telah menyelisihi pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama'ah\rWassalam\rZon di Jonggol, Kab Bogor 16830\r1094. Mereka bertasyabuh dengan kaum nasrani","part":2,"page":295},{"id":796,"text":"Dalam tulisan sebelumnya pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/27/perkataan-menyesatkan/ telah disampaikan bahwa karena perkataan bid’ah yang menyesatkan yakni “LAU KAANA KHOIRON LASABAQUNA ILAIHI” , “Seandainya hal itu baik, tentu mereka, para sahabat akan mendahului kita dalam melakukannya” sehingga mereka ragu mana yang merupakan amal kebaikan mana yang amal keburukan. Bahkan ada yang ikut-ikutan bahwa “baik itu relatif tergantung sudut pandang manusia atau kesepakatan antar manusia”\rLandasan atau pegangan kita untuk melakukan perbuatan diluar apa yang telah diwajibkan oleh Allah Azza wa Jalla, diluar perkara wajib dikerjakan dan wajib dijauhi dan tidak pernah dilakukan atau dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam maupun oleh para Sahabat radliallahu ‘anhu adalah\rSikap atau perbuatan yang baik adalah jika sikap atau perbuatan tersebut tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah. Sikap atau perbuatan yang buruk adalah jika sikap atau perbuatan tersebut bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah\rقاَلَ الشّاَفِعِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ -ماَ أَحْدَثَ وَخاَلَفَ كِتاَباً أَوْ سُنَّةً أَوْ إِجْمَاعاً أَوْ أَثَرًا فَهُوَ البِدْعَةُ الضاَلَةُ ، وَماَ أَحْدَثَ مِنَ الخَيْرِ وَلَمْ يُخاَلِفُ شَيْئاً مِنْ ذَلِكَ فَهُوَ البِدْعَةُ المَحْمُوْدَةُ -(حاشية إعانة 313 ص 1الطالبين -ج )","part":2,"page":296},{"id":797,"text":"Artinya ; Imam Syafi’i ra berkata –Segala hal yang baru (tidak terdapat di masa Rasulullah) dan menyalahi pedoman Al-Qur’an, Al-Hadits, Ijma’ (sepakat Ulama) dan Atsar (Pernyataan sahabat) adalah bid’ah yang sesat (bid’ah dholalah). Dan segala kebaikan yang baru (tidak terdapat di masa Rasulullah) dan tidak menyelahi pedoman tersebut maka ia adalah bid’ah yang terpuji (bid’ah mahmudah atau bid’ah hasanah), bernilai pahala. (Hasyiah Ianathuth-Thalibin –Juz 1 hal. 313)\rCara lain untuk mengetahui suatu perbuatan adalah kebaikan atau keburukan dengan mengembalikannya kepada hati atau akal qalbu (raja atau hakim atau penguasa dari akal pikiran).\rWabishah bin Ma’bad r.a. berkata: Saya datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda, “Apakah engkau datang untuk bertanya tentang kebaikan?” Saya menjawab, “Benar.”Beliau bersabda, “Mintalah fatwa kepada hatimu sendiri. Kebaikan adalah apa-apa yang menenteramkan jiwa dan hati, sedangkan dosa adalah apa-apa yang mengusik jiwa dan meragukan hati, meskipun orang-orang memberi fatwa yang membenarkanmu.” hadits diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Ad-Darami dengan sanad hasan\rNawas bin Sam’an r.a. meriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam., beliau bersabda, “Kebaikan adalah akhlak yang baik, sedangkan dosa adalah segala hal yang mengusik jiwamu dan engkau tidak suka jika orang lain melihatnya.” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim).\rPermasalahan manusia tidak lagi dapat menggunakan hati atau akal qalbu mereka untuk menentukan mana yang baik dan mana yang buruk adalah karena dosa","part":2,"page":297},{"id":798,"text":"Setiap dosa merupakan bintik hitam hati (ketiadaan cahaya), sedangkan setiap kebaikan adalah bintik cahaya pada hati Ketika bintik hitam memenuhi hati sehingga terhalang (terhijab) untuk menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Inilah yang dinamakan buta mata hati.\rAllah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).” (QS Al Isra 17 : 72)\r“maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar. Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada” (QS Al Hajj [22]:46 )\rMereka yang berpendapat bahwa peringatan Maulid Nabi adalah perbuatan dosa karena termasuk bid’ah yang menyesatkan (bid’ah dholalah) dan setiap kesesatan akan bertempat di neraka menyampaikan pendapat mereka yang lain seperti,\r“Kalau orang Nasrani memperingati hari kelahirannya Nabi Isa bin Maryam, maka sebagian orang Islam juga ikut-ikutan memperingati hari kelahirannya nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam”.\rIntinya mereka berpendapat bahwa peringatan Maulid Nabi adalah salah satu bentuk bertasyabuh dengan kaum Nasrani atau menyerupai perbuatan kaum Nasrani. Bagi mereka kaum muslim yang memperingati Maulid Nabi termasuk mereka yang terhasut oleh kaum Zionis Yahudi atau mengekor pada kaum Zionis Yahudi.","part":2,"page":298},{"id":799,"text":"Bertasyabuh yang terlarang adalah bertasyabuh perbuatan yang bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah atau bertasyabuh perbuatan yang akan mengantar kepada perbuatan yang bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah.\rBukanlah sebuah kesalahan bagi kaum Nasrani memperingati hari kelahirannya Nabi Isa bin Maryam. Kesalahan mereka adalah menjadikan Yesus , yang diyakini oleh mereka Nabi Isa bin Maryam menjadi putera Tuhan.\rFirman Allah ta’ala yang artinya, “Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan : “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara“. ( QS An Nisaa [4]:171 )\r“Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah”. Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling?” (QS At Taubah [9]:30 )\rHukum asal perbuatan diluar perkara syariat atau diluar dari apa yang telah diwajibkanNya (wajib dijalankan dan wajib dijauhi) adalah mubah sampai ada dalil yang melarangnya\rTidak ada larangan dalam Al Qur’an dan As Sunnah untuk memperingati hari kelahiran seorang manusia.","part":2,"page":299},{"id":800,"text":"Kita boleh memperingati atau mengingat masa lampau untuk bekal hari esok. Bahkan hal ini adalah anjuran dari Allah Azza wa Jalla, sebagaimana firmanNya, “Wal tandhur nafsun ma qaddamat li ghad” “Perhatikan masa lampaumu untuk hari esokmu” (QS al Hasyr [59] : 18 )\rKita mengingat kelahiran kita dan kejadian-kejadian di waktu lampau untuk bekal kita mengisi biodata, riwayat hidup. Kita mengingat apa yang telah disampaikan orang tua, ulama kita dahulu untuk bekal menjalankan kehidupan kita hari ini dan esok. Kita memperingati Maulid Nabi dan perjalanan hidupnya sebagai bekal kita meneladani dan mengimplementasikannya dalam kehidupan kita hari ini dan esok.\rMereka yang mengikuti pendapat ulama-ulama mereka bahwa peringatan Maulid Nabi adalah berdosa adalah mereka yang mengada-ada dalam perkara agama atau membuat perkara baru (bid’ah) dalam perkara syariat yakni perkara larangan yang jika dikerjakan / dilanggar akan berdosa.\rPerkara agama atau perkara syariat termasuk perkara larangan bersumber hanya dari Allah ta'ala.\rDari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)\rPerkara larangan adalah hak Allah ta’ala menetapkannya dan Allah ta’ala tidak lupa.","part":2,"page":300},{"id":801,"text":"Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban (ditinggalkan berdosa), maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa larangan (dikerjakan berdosa)), maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu (dikerjakan berdosa), maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia.” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi)\rUrusan agama atau perkara syariat atau perkara yang diwajibkanNya termasuk perkara larangan telah sempurna atau telah disampaikan seluruhnya oleh Rasulullah.\rRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Tidak tertinggal sedikitpun yang mendekatkan kamu dari surga dan menjauhkanmu dari neraka melainkan telah dijelaskan bagimu ” (HR Ath Thabraani dalam Al Mu’jamul Kabiir no. 1647)\r?…“mendekatkan dari surga” = perkara kewajiban (ditinggalkan berdosa)\r?…“menjauhkan dari neraka” = perkara larangan dan perkara pengharaman (dikerjakan berdosa)\rKalau ada larangan yang tidak pernah disampaikan oleh Rasulullah maka ini termasuk bid’ah dholalah\rKesimpulannya, mereka dengan mengikuti pendapat atau fatwa ulama-ulama mereka bahwa peringatan Maulid Nabi adalah berdosa justru telah bertasyabuh dengan kaum Nasrani yakni menjadikan ulama-ulama mereka sebagai tuhan selain Allah.\rAllah Azza wa Jalla berfirman, “Mereka menjadikan para rahib dan pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah“. (QS at-Taubah [9]:31 )","part":2,"page":301},{"id":802,"text":"Ketika Nabi ditanya terkait dengan ayat ini, “apakah mereka menyembah para rahib dan pendeta sehingga dikatakan menjadikan mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah?”\rNabi menjawab, “tidak”, “Mereka tidak menyembah para rahib dan pendeta itu, tetapi jika para rahib dan pendeta itu menghalalkan sesuatu bagi mereka, mereka menganggapnya halal, dan jika para rahib dan pendeta itu mengharamkan bagi mereka sesuatu, mereka mengharamkannya“\rPada riwayat yang lain disebutkan, Rasulullah bersabda ”mereka (para rahib dan pendeta) itu telah menetapkan haram terhadap sesuatu yang halal, dan menghalalkan sesuatu yang haram, kemudian mereka mengikutinya. Yang demikian itulah penyembahannya kepada mereka.” (Riwayat Tarmizi)\rFirman Allah Azza wa Jalla yang artinya, “Katakanlah! Siapakah yang berani mengharamkan perhiasan Allah yang telah diberikan kepada hamba-hambaNya dan beberapa rezeki yang baik itu? Katakanlah! Tuhanku hanya mengharamkan hal-hal yang tidak baik yang timbul daripadanya dan apa yang tersembunyi dan dosa dan durhaka yang tidak benar dan kamu menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak turunkan keterangan padanya dan kamu mengatakan atas (nama) Allah dengan sesuatu yang kamu tidak mengetahui.” (QS al-A’raf: 32-33)\r“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu dan janganlah kamu melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas.” (Qs. al-Mâ’idah [5]: 87).","part":2,"page":302},{"id":803,"text":"“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung” [QS. An-Nahl : 116].\rDalam hadits Qudsi , Rasulullah bersabda: “Aku ciptakan hamba-hambaKu ini dengan sikap yang lurus, tetapi kemudian datanglah syaitan kepada mereka. Syaitan ini kemudian membelokkan mereka dari agamanya, dan mengharamkan atas mereka sesuatu yang Aku halalkan kepada mereka, serta mempengaruhi supaya mereka mau menyekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidak turunkan keterangan padanya.” (Riwayat Muslim).\rMereka bertasyabuh dengan kaum nasrani karena mereka terhasut atau korban ghawul fikri (perang pemahaman) dari kaum Zionis Yahudi untuk memahami Al Qur’an dan As Sunnah dengan akal pikiran sendiri sehingga menimbulkan perselisihan di antara kaum muslim\rSalah satu penghasutnya adalah perwira Yahudi Inggris bernama Edward Terrence Lawrence yang dikenal oleh ulama jazirah Arab sebagai Laurens Of Arabian. Laurens menyelidiki dimana letak kekuatan umat Islam dan berkesimpulan bahwa kekuatan umat Islam terletak kepada ketaatan dengan mazhab (bermazhab) dan istiqomah mengikuti tharikat-tharikat tasawuf. Laurens mengupah ulama-ulama yang anti tharikat dan anti mazhab untuk menulis buku buku yang menyerang tharikat dan mazhab. Buku tersebut diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan dibiayai oleh pihak orientalis.","part":2,"page":303},{"id":804,"text":"Mereka yang terhasut meninggalkan pemahaman atau pendapat Imam Mazhab yang empat yang telah disepakati oleh jumhur ulama sejak dahulu sampai sekarang sebagai pemimpin atau imam ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak)\r?…Imam Mazhab yang empat bertalaqqi (mengaji) langsung dengan Salafush Sholeh.\r?…Imam Mazhab yang empat mengetahui dan mengikuti pemahaman Salafush Sholeh melalui lisannya Salafush Sholeh.\r?…Imam Mazhab yang empat melihat sendiri penerapan, perbuatan serta contoh nyata dari Salafush Sholeh.\rMereka yang terhasut merasa telah mengikuti pemahaman Salafush Sholeh namun kenyataannya mereka tidak lebih dari mengikuti pemahaman ulama-ulama yang mengaku-aku mengikuti pemahaman Salafush Sholeh namun tidak bertalaqqi (mengaji) dengan Salafush Sholeh. Dari mana ulama-ulama tersebut mendapatkan pemahaman Salafush Sholeh kalau bukan pemahaman ulama-ulama tersebut dengan akal pikiran mereka sendiri.\rMarilah kita kembali mengikuti pemahaman Salafush Sholeh melalui apa yang disampaikan oleh Imam Mazhab yang empat dan mengikuti penjelasan-penjelasan yang disampaikan oleh para ulama-ulama terdahulu yang mengikuti Imam Mazhab yang empat sambil kita merujuk darimana mereka mengambilnya yakni Al Qur’an dan As Sunnah dengan menggunakan akal qalbu (akal pikiran yang ditundukkan kepada akal qalbu) berdasarkan karunia hikmah dari Allah Azza wa Jalla\rWassalam\rZon di Jonggol, Kab Bogor 16830\r1104. Sekte-sekte korban hasutan dari kaum Zionis Yahudi","part":2,"page":304},{"id":805,"text":"Berikut sekte-sekte korban hasutan atau ghazwul fikri (perang pemahaman) dari kaum Yahudi atau yang kita kenal sekarang kaum Zionis Yahudi atau juga dikenal dengan lucifier, freemason, iluminati.\r1.…Mereka yang merasa mengikuti pemahaman Salafush Sholeh namun kenyataannya mereka tidak lebih dari mengikuti pemahaman ulama-ulama yang mengaku-aku mengikuti pemahaman Salafush Sholeh namun tidak bertalaqqi (mengaji) dengan Salafush Sholeh. Intinya mereka terhasut untuk memahami Al Qur’an dan As Sunnah dengan akal pikiran sendiri dan meninggalkan pemahaman Imam Mazhab yang empat yang telah disepakati oleh jumhur ulama sebagai pemimpin atau imam ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak). Padahal Imam Mazhab yang empat bertalaqqi (mengaji) langsung dengan Salafush Sholeh. Imam Mazhab yang empat mengetahui dan mengikuti pemahaman Salafush Sholeh melalui lisannya Salafush Sholeh. Imam Mazhab yang empat melihat sendiri penerapan, perbuatan serta contoh nyata dari Salafush Sholeh.\r2.…Mereka yang mengaku-aku mengikuti Imam Sayyidina Ali ra yang dikenal sebagai kaum Syiah.\r3.…Mereka yang belajar agama ke “barat” hingga terkena paham Sekulerisme, Pluralisme, Liberalisme\r4.…Mereka yang mengikuti Mirza Ghulam Ahmad (ahmadiyah) , freemason dari India atas pembiyaan Yahudi Inggris\r5.…Mereka yang mengikuti Abdul Baha (bahaiyah), freemason dari Iran. Kaum Bahai beri’tiqod (aqidah) bahwa Tuhan menjelma ke dalam tubuh Bahaullah, jadi ia adalah manifestasi dari Tuhan diatas dunia.","part":2,"page":305},{"id":806,"text":"Kita bisa saksikan sesama korban hasutan atau ghazwul fikri (perang pemahaman) dari kaum Zionis Yahudi saling membunuh sebagaimana yang terjadi di Yaman. Berikut kutipan berita dari http://www.eramuslim.com/berita/dunia/pertempuran-antara-mujahidin-salafi-dan-syiah-di-yaman-tewaskan-20-orang.htm\r*****awal kutipan *****\rPertempuran antara sekte Syiah Houthi melawan mujahidin salafi di Dammaj, telah menyebabkan sepuluh orang tewas di kedua belah pihak, kata pejabat Yaman, yang berbicara dengan syarat anonim sesuai dengan protokol militer.\rMeski sekte Syiah Houthi menganut paham Zaidiyah yang konon tidak mengkafirkan para sahabat Nabi SAW, namun faktanya kebenciannya terhadap ahlus Sunnah tidak beda jauh dengan kaum rafidhah.\r***** akhir kutipan *****\rMajalah Dakwah Islam “Cahaya Nabawiy” Edisi no 101, Januari 2012 memuat topik utama berjudul “SYIAH-WAHABI: Dua seteru abadi” , Berikut sedikit kutipannya,\r**** awal kutipan ****\r“Sebenarnya ada fakta lain yang luput dari pemberitaan media dalam tragedi itu. Peristiwa itu bermula dari tertangkapnya mata-mata utusan Darul Hadits oleh orang-orang suku Hutsi yang menganut Syiah. Selama beberapa lama Darul Hadits memang mengirim mata-mata untuk mengamati kesaharian warga Syiah. Suku Hutsi merasa kehormatan mereka terusik dengan keberadaan mata-mat ini. Kehormatan adalah masalah besar bagi suku-suku di Jazirah Arab. Tak ayal, suku Hutsi pun menyerbu Darul Hadits sebagai ungkapan amarah mereka. Selama beberapa hari Darul Hadits dikepung orang-orang Hutsi yang kebanyakan tergabung dalam milisi pemberontak“","part":2,"page":306},{"id":807,"text":"“Dua warga Indonesia tewas dalam baku tembak, sementara yang lainnya bersembunyi di kampus. Anehnya, meskipun beberapa kali dibujuk , para mahasiswa tetap tak mau dievakuasi pihak kedutaan. Mereka berdalih bahwa diri mereka sedang berjihad melawan musuh. Doktrin yang ditanamkan kepada mahasiswa Darul Hadits cukup, sangar yakni, “Jihad terhadap syiah rafidah al-Houtsi”\r***** akhir kutipan *****\rIronis sekali , kedua sekte masing-masing merasa berjihad dan memerangi sesama manusia yang telah bersyahadat.\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “mencela seorang muslim adalah kefasikan, dan membunuhnya adalah kekufuran”. (HR Muslim 97)\rRasulullah lalu bertanya: 'Kenapa kamu membunuh orang yang telah mengucapkan Laa Ilaaha Illaahu? ' Aku menjawab, Wahai Rasulullah! Sesungguhnya lelaki itu mengucap demikian karena takutkan ayunan pedang. Rasulullah bertanya lagi: Sudahkah kamu membelah dadanya sehingga kamu tahu dia benar-benar mengucapkan Kalimah Syahadat atau tidak? Rasulullah terus mengulangi pertanyaan itu kepadaku hingga menyebabkan aku berandai-andai bahwa aku baru masuk Islam saat itu. (HR Muslim 140).","part":2,"page":307},{"id":808,"text":"Dia berkata, 'Dan kami saat itu diberitahukan peristiwa Usamah bin Zaid, yang mana ketika dia telah mengangkat pedangnya, tiba-tiba orang musyrik itu mengucap, 'Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Allah', namun dia tetap saja membunuhnya. Maka Basyir pun mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam untuk mengadukan dan menanyakan hal itu kepada beliau. Dia menceritakannya kepada beliau dan apa yang diperbuat oleh lelaki tadi. Maka beliau pun memanggil Usamah dan menanyainya, 'Kenapa kamu membunuhnya? ' Dia menjawab, 'Wahai Rasulullah, dia telah melukai kaum muslimin, dia telah membunuh si fulan dan si fulan, dan dia menyebutkan sebuah nama kepadanya, dan sungguh telah menyimpan dendam terhadapnya, namun ketika dia melihat pedangku ini, dia mengucap, 'Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Allah'. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertanya lagi: 'Apakah kamu yang telah membunuhnya? ' Dia menjawabnya, 'Ya.' Beliau bertanya lagi: 'Lalu apa yang hendak kamu perbuat dengan kalimat, 'Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Allah', jika di hari kiamat kelak ia datang (untuk minta pertanggung jawaban) pada hari kiamat nanti? ' (HR Muslim 142).\rWassalam\rZon di Jonggol, Kab Bogor 16830\r1113. Mereka terhasut dari potongan perkataan ulama yang sholeh","part":2,"page":308},{"id":809,"text":"Mereka adalah hasil pengajaran para ulama korban hasutan atau ghazwul fikri (perang pemahaman) dari kaum Zionis Yahudi. Mereka merasa telah mengikuti pemahaman Salafush Sholeh namun kenyataannya mereka tidak lebih dari mengikuti pemahaman ulama-ulama yang mengaku-aku mengikuti pemahaman Salafush Sholeh namun tidak bertalaqqi (mengaji) dengan Salafush Sholeh. Mereka terhasut untuk meninggalkan pemahaman Imam Mazhab yang empat. Imam Mazhab yang empat telah disepakati oleh jumhur ulama sejak dahulu sampai sekarang sebagai pemimpin atau imam ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak). Imam Mazhab yang empat bertalaqqi (mengaji) langsung dengan Salafush Sholeh. Imam Mazhab yang empat mengetahui dan mengikuti pemahaman Salafush Sholeh melalui lisannya Salafush Sholeh.Imam Mazhab yang empat melihat sendiri penerapan, perbuatan serta contoh nyata dari Salafush Sholeh.\rSalah satu penghasutnya adalah perwira Yahudi Inggris bernama Edward Terrence Lawrence yang dikenal oleh ulama jazirah Arab sebagai Laurens Of Arabian. Laurens menyelidiki dimana letak kekuatan umat Islam dan berkesimpulan bahwa kekuatan umat Islam terletak kepada ketaatan dengan mazhab (bermazhab) dan istiqomah mengikuti tharikat-tharikat tasawuf.\rLaurens mengupah ulama-ulama yang anti tharikat dan anti mazhab untuk menulis buku buku yang menyerang tharikat dan mazhab. Buku tersebut diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan dibiayai oleh pihak orientalis.","part":2,"page":309},{"id":810,"text":"Cara ulama-ulama yang anti tasawuf dan anti mazhab menghasut adalah memotong-motong firman Allah, hadits Rasulullah, perkataan Salafush Sholeh maupun perkataan ulama-ulama terdahulu seperti perkataan Imam Mazhab yang empat.\rContoh hasutannya mereka menyampaikan, Al-Imam Al-Baihaqi rahimahullahu meriwayatkan dengan sanadnya sampai Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu: “Jika seorang belajar tasawuf di pagi hari, sebelum datang waktu dhuhur engkau akan dapati dia menjadi orang dungu.”\rPerkataan Al Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu tersebut bersumber dari Manaqib Al Imam As Syafi’i yang ditulis oleh Imam Al Baihaqi.\rDi dalam kitab itu, Imam As Syafi’i menyatakan, “Kalau seandainya seorang laki-laki mengamalkan tashawuf di awal siang, maka tidak tidak sampai kepadanya dhuhur kecuali ia menjadi kekurangan akal.” (Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/207)\rBeliau juga menyatakan,”Aku tidak mengetahui seorang sufi yang berakal, kecuali ia seorang Muslim yang khawwas.” (Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/207)\rBeberapa pihak secara tergesa-gesa menyimpulkan dari perkataan di atas bahwa Imam As Syafi’i mencela seluruh penganut sufi. Padahal tidaklah demikian, Imam As Syafi’i hanya mencela mereka yang menisbatkan kepada tasawuf namun tidak benar-benar menjalankan ajarannya tersebut.","part":2,"page":310},{"id":811,"text":"Dalam hal ini, Imam Al Baihaqi menjelaskan,”Dan sesungguhnya yang dituju dengan perkataan itu adalah siapa yang masuk kepada ajaran sufi namun mencukupkan diri dengan sebutan daripada kandungannya, dan tulisan daripada hakikatnya, dan ia meninggalkan usaha dan membebankan kesusahannya kepada kaum Muslim, ia tidak perduli terhadap mereka serta tidak mengindahkan hak-hak mereka, dan tidak menyibukkan diri dengan ilmu dan ibadah, sebagaimana beliau sifatkan di kesempatan lain.” (Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/208)\rJelas, dari penjelasan Imam Al Baihaqi di atas, yang dicela Imam As Syafi’i adalah para sufi yang hanya sebatas pengakuan dan tidak mengamalkan ajaran sufi yang sesungguhnya.\rImam As Syafi’i juga menyatakan,”Seorang sufi tidak menjadi sufi hingga ada pada dirinya 4 perkara, malas, suka makan, suka tidur dan berlebih-lebihan.” (Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/207)\rImam Al Baihaqi menjelaskan maksud perkataan Imam As Syafi’i tersebut,”Sesungguhnya yang beliau ingin cela adalah siapa dari mereka yang memiliki sifat ini. Adapun siapa yang bersih kesufiannya dengan benar-benar tawakkal kepada Allah Azza wa Jalla, dan menggunakan adab syari’ah dalam muamalahnya kepada Allah Azza wa Jalla dalam beribadah serta mummalah mereka dengan manusia dalam pergaulan, maka telah dikisahkan dari beliau (Imam As Syafi’i) bahwa beliau bergaul dengan mereka dan mengambil (ilmu) dari mereka.” (Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/207)","part":2,"page":311},{"id":812,"text":"Kemudian Imam Al Baihaqi menyebutkan satu riwayat, bahwa Imam As Syafi’i pernah mengatakan,”Aku telah bersahabat dengan para sufi selama sepuluh tahun, aku tidak memperoleh dari mereka kecuali dua huruf ini,”Waktu adalah pedang” dan “Termasuk kemaksuman, engkau tidak mampu” (maknanya, sesungguhnya manusia lebih cenderung berbuat dosa, namun Allah menghalangi, maka manusia tidak mampu melakukannya, hingga terhindar dari maksiat).\rJelas, bahwa Imam Al Baihaqi memahami bahwa Imam As Syafi’i mengambil manfaat dari para sufi tersebut. Dan beliau menilai bahwa Imam As Syafi’i mengeluarkan pernyataan di atas karena perilaku mereka yang mengatasnamakan sufi namun Imam As Syafi’i menyaksikan dari mereka hal yang membuat beliau tidak suka. (lihat, Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/207)\rBahkan di satu kesempatan, Imam As Syafi’I memuji salah satu ulama ahli qira’ah dari kalangan sufi. Ismail bin At Thayyan Ar Razi pernah menyatakan,”Aku tiba di Makkah dan bertemu dengan As Syafi’i. Ia mengatakan,’Apakah engkau tahu Musa Ar Razi? Tidak datang kepada kami dari arah timur yang lebih pandai tentang Al Qur`an darinya.’Maka aku berkata,’Wahai Abu Abdillah sebutkan ciri-cirinya’. Ia berkata,’Berumur 30 hingga 50 tahun datang dari Ar Ray’. Lalu ia menyebut cirri-cirinya, dan saya tahu bahwa yang dimaksud adalah Abu Imran As Shufi. Maka saya mengatakan,’Aku mengetahunya, ia adalah Abu Imran As Shufi. As Syafi’i mengatakan,’Dia adalah dia.’” (Adab As Syafi’i wa Manaqibuhu, hal. 164)","part":2,"page":312},{"id":813,"text":"Walhasil, Imam As Syafi’I disamping mencela sebagian penganut sufi beliau juga memberikan pujian kepada sufi lainnya. Dan Imam Al Baihaqi menilai bahwa celaan itu ditujukan kepada mereka yang menjadi sufi hanya dengan sebutan tidak mengamalkan ajaran sufi yang sesungguhnya dan Imam As Syafi’i juga berinteraksi dan mengambil manfaat dari kelompok ini.\rBahkan Imam As Syafi’i menasehatkan kita untuk menjalankan perkara syariat sebagaimana yang mereka sampaikan dalam kitab fiqih sekaligus menjalankan tasawuf untuk mencapai muslim yang baik, muslim yang sholeh, muslim yang berakhlakul karimah atau muslim yang Ihsan\rImam Syafi’i ~rahimahullah menyampaikan nasehat (yang artinya) ,”Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya. Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mau menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelezatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mau mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik (ihsan)?” [Diwan Al-Imam Asy-Syafi'i, hal. 47]\rBegitupula dengan nasehat Imam Malik ~rahimahullah bahwa menjalankan tasawuf agar manusia tidak rusak dan menjadi manusia berakhlak baik","part":2,"page":313},{"id":814,"text":"Imam Malik ~rahimahullah menyampaikan nasehat (yang artinya) “Dia yang sedang tasawuf tanpa mempelajari fiqih (perkara syariat) rusak keimanannya , sementara dia yang belajar fikih tanpa mengamalkan Tasawuf rusaklah dia, hanya dia siapa memadukan keduanya terjamin benar” .\rBerikut adalah pendapat para ulama terdahulu yang sholeh tentang tasawuf.\rImam Nawawi Rahimahullah berkata :\rأصول طريق التصوف خمسة: تقوى الله في السر والعلانية. اتباع السنة في الأقوال والأفعال. الإِعراض عن الخلق في الإِقبال والإِدبار. الرضى عن الله في القليل والكثير.الرجوع إِلى الله في السراء والضراء.\r“ Pokok-pokok metode ajaran tasawwuf ada lima : Taqwa kepada Allah di dalam sepi maupun ramai, mengikuti sunnah di dalam ucapan dan perbuatan, berpaling dari makhluk di dalam penghadapan maupun saat mundur, ridha kepada Allah dari pemberian-Nya baik sedikit ataupun banyak dan selalu kembali pada Allah saat suka maupun duka “. (Risalah Al-Maqoshid fit Tauhid wal Ibadah wa Ushulut Tasawwuf halaman : 20, Imam Nawawi)\rAl-Allamah al-Hafidz Ibnu Hajar al-Haitami berkata :","part":2,"page":314},{"id":815,"text":"إياك أن تنتقد على السادة الصوفية : وينبغي للإنسان حيثُ أمكنه عدم الانتقاد على السادة الصوفية نفعنا الله بمعارفهم، وأفاض علينا بواسطة مَحبتَّنا لهم ما أفاض على خواصِّهم، ونظمنا في سلك أتباعهم، ومَنَّ علينا بسوابغ عوارفهم، أنْ يُسَلِّم لهم أحوالهم ما وجد لهم محملاً صحيحاً يُخْرِجهم عن ارتكاب المحرم، وقد شاهدنا من بالغ في الانتقاد عليهم، مع نوع تصعب فابتلاه الله بالانحطاط عن مرتبته وأزال عنه عوائد لطفه وأسرار حضرته، ثم أذاقه الهوان والذلِّة وردَّه إلى أسفل سافلين وابتلاه بكل علَّة ومحنة، فنعوذ بك اللهم من هذه القواصم المُرْهِقات والبواتر المهلكات، ونسألك أن تنظمنا في سلكهم القوي المتين، وأن تَمنَّ علينا بما مَننتَ عليهم حتى نكون من العارفين والأئمة المجتهدين إنك على كل شيء قدير وبالإجابة جدير.\r“ Berhati-hatilah kamu dari menentang para ulama shufi. Dan sebaiknya bagi manusia sebisa mungkin untuk tidak menentang para ulama shufi, semoga Allah member manfaat kpeada kita dengan ma’rifat-ma’rifat mereka dan melimpahkan apa yang Allah limpahkan kepada orang-orang khususnya dengan perantara kecintaan kami pada mereka, menetapkan kita pada jalan pengikut mereka dan mencurahkan kita curahan-curahan ilmu ma’rifat mereka. Hendaknya manusia menyerahkan apa yang mereka lihat dari keadaan para ulama shufi dengan kemungkinan-kemungkinan baik yang dapat mengeluarkan mereka dari melakukan perbuatan haram.","part":2,"page":315},{"id":816,"text":"Kami sungguh telah menyaksikan orang yang sangat menentang ulama shufi, mereka para penentang itu mendapatkan ujian dari Allah dengan pencabutan derajatnya, dan Allah menghilangkan curahan kelembutan-Nya dan rahasia-rahasia kehadiran-Nya. Kemudian Allah menimpakan para penentang itu dengan kehinaan dan kerendahan dan mengembalikan mereka pada derajat terendah. Allah telah menguji mereka dengan semua penyakit dan cobaan . Maka kami berlindung kepada-Mu ya Allah dari hantaman-hantaman yang kami tidak sanggup menahannya dan dari tuduhan-tuduhan yang membinasakan. Dan kami memohon agar Engkau menetapi kami jalan mereka yang kuat, dan Engkau anugerahkan kami apa yang telah Engkau anugerahkan pada mereka sehingga kami menjadi orang yang mengenal Allah dan imam yang mujtahid, sesungguhnya Engkau maha Mampu atas segala sesuatu dan maha layak untuk mengabulkan permohonan “. (Al-Fatawa Al-Haditsiyyah : 113, karya Imam Ibnu Hajar al-Haitami)\rAl-Imam Al-Hafidz Abu Nu’aim Al-Ashfihani berkata :","part":2,"page":316},{"id":817,"text":"أما بعد أحسن الله توفيقك فقد استعنت بالله عز وجل وأجبتك الى ما ابتغيت من جمع كتاب يتضمن أسامي جماعة وبعض أحاديثهم وكلامهم من أعلام المتحققين من المتصوفة وأئمتهم وترتيب طبقاتهم من النساك من قرن الصحابة والتابعين وتابعيهم ومن بعدهم ممن عرف الأدلة والحقائق وباشر الأحوال والطرائق وساكن الرياض والحدائق وفارق العوارض والعلائق وتبرأ من المتنطعين والمتعمقين ومن أهل الدعاوى من المتسوفين ومن الكسالى والمتثبطين المتشبهين بهم في اللباس والمقال والمخالفين لهم في العقيدة والفعال وذلك لما بلغك من بسط لساننا ولسان أهل الفقه والآثار في كل القطر والأمصار في المنتسبين إليهم من الفسقة الفجار والمباحية والحلولية الكفار وليس ما حل بالكذبة من الوقيعة والإنكار بقادح في منقبة البررة الأخيار وواضع من درجة الصفوة الأبرار بل في إظهار البراءة من الكذابين , والنكير على الخونة الباطلين نزاهة للصادقين ورفعة للمتحققين ولو لم نكشف عن مخازي المبطلين ومساويهم ديانة , للزمنا إبانتها وإشاعتها حمية وصيانة , إذ لأسلافنا في التصوف العلم المنشور والصيت والذكر المشهور","part":2,"page":317},{"id":818,"text":"“ Selanjutnya, semoga Allah memperbagus taufiqmu, maka sungguh aku telah memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala dan menjawabmu atas apa yang engkau mau dari pengumpulan kitab yang mengandung nama-nama kelompok dan sebagian hadits dan ucapan mereka dari ulama hakikat dari orang-orang ahli tasawwuf, para imam dari mereka, penertiban tingkatan mereka dari orang-orang ahli ibadah sejak zaman sahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in dan setelahnya dari orang yang memahami dalil dan hakikat. Menjalankan hal ihwal serta thariqah, bertempat di taman (ketenangan) dan meninggalkan ketergantungan. Berlepas dari orang-orang yang berlebihan dan orang-orang yang mengaku-ngaku, orang-orang yang berandai-andai dan dari orang-orang yang malas yang menyerupai mereka di dalam pakaian dan ucapan dan bertentangan pada mereka di dalam aqidah dan perbuatan. Demikian itu ketika sampai padamu dari pemaparan lisan kami dan lisan ulama fiqih dan hadits di setiap daerah dan masa tentang orang-orang yang menisabatkan diri pada mereka adalah orang-orang fasiq, fajir, suka mudah berkata mubah dan halal lagi kufur. Bukanlah menghalalkan dengan kedustaan, umpatan dan pengingkaran dengan celaan di dalam manaqib orang-orang baik pilihan dan perendahan dari derajat orang-orang suci lagi baik, akan tetapi di dalam menampakkan pelepasan diri dari orang-orang pendusta dan pengingkaran atas orang-orang pengkhianat, bathil sebagai penyucian bagi orang-orang jujur dan keluhuran bagi orang-orang ahli hakikat. Seandainya kami tidak menyingkap kehinaan dan keburukan orang-orang yang mengingkari tasawwuf itu sebagai","part":2,"page":318},{"id":819,"text":"bagian dari agama, maka kami pasti akan menjelaskan dan mengupasnya sebagai penjagaan, karena salaf kami di dalam ilmu tasawwuf memiliki ilmu yang sudah tersebar dan nama yang masyhur “. (Muqoddimah Hilyah Al-Awliya, karya imam Al-Ashfihani)\rWassalam\rZon di Jonggol, Kab Bogor 16830\r1115. Mereka terhasut meninggalkan pemahaman Imam Mazhab Empat\rSalah satu penghasutnya adalah perwira Yahudi Inggris bernama Edward Terrence Lawrence yang dikenal oleh ulama jazirah Arab sebagai Laurens Of Arabian. Laurens menyelidiki dimana letak kekuatan umat Islam dan berkesimpulan bahwa kekuatan umat Islam terletak kepada ketaatan dengan mazhab (bermazhab) dan istiqomah mengikuti tharikat-tharikat tasawuf.\rLaurens mengupah ulama-ulama yang anti tharikat dan anti mazhab untuk menulis buku buku yang menyerang tharikat dan mazhab. Buku tersebut diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan dibiayai oleh pihak orientalis.\rCara ulama-ulama yang anti tasawuf dan anti mazhab menghasut adalah memotong-motong dan mengalihkan makna firman Allah, hadits Rasulullah, perkataan Salafush Sholeh maupun perkataan ulama-ulama terdahulu seperti perkataan Imam Mazhab yang empat.\rPerkataan Imam mazhab yang empat yang sering disalahpahami adalah seperti\ral-Imam as-Syafi’i Rahimahullah:\rإِنْ صَحَّ الْحَدِيْثُ فَهُوَ مَذْهَبِيْ\r“Jika hadits tersebut shahih, maka itu adalah madzhabku.”","part":2,"page":319},{"id":820,"text":"Perkataan al-Imam as-Syafi’i Rahimahullah tersebut adalah contoh sikap tawadhu atau rendah hati. Beliau hanya ingin mengingatkan kita bahwa mengikuti pendapat mereka tetap merujuk kepada dari mana mereka mengambilnya yakni Al Qur'an dan As Sunnah.\rAl-Imam as-Syafi’i Rahimahullah menghafal dan mendapatkan hadits langsung dari para Salafush Sholeh. Beliau melihat sendiri penerapan, perbuatan serta contoh nyata dari Salafush Sholeh.\rHadits-hadits yang dihafal dan diketahui oleh beliau lebih banyak dari hadits yang telah dibukukan. Bahkan Imam Bukhari dan Imam Muslim tetap bertalaqqi (mengaji ) dengan ulama-ulama bermazhab.\rJadi aneh kalau ada ulama yang berpendapat bahwa dia telah menemukan sebuah hadits shahih pada suatu kitab sehingga tidak perlu mengikuti pendapat Imam Mazhab yang empat. Haditsnya shahih namun pemahaman mereka terhadap hadits tersebut yang menyelisihi pemahaman Imam Mazhab yang empat.","part":2,"page":320},{"id":821,"text":"Para ulama menjelaskan, bahwa maksud perkataan Al-Imam Al-Syafi’i, “Idza shahha al-hadits fahuwa madzhabi (apabila suatu hadits itu shahih, maka hadits itulah madzhabku)”, adalah bahwa apabila ada suatu hadits bertentangan dengan hasil ijtihad Al-Imam Al-Syafi’i, sedangkan Al-Syafi’i tidak tahu terhadap hadits tersebut, maka dapat diasumsikan, bahwa kita harus mengikuti hadits tersebut, dan meninggalkan hasil ijtihad Al-Imam Al-Syafi’i. Akan tetapi apabila hadits tersebut telah diketahui oleh Al-Imam Al-Syafi’i, sementara hasil ijtihad beliau berbeda dengan hadits tersebut, maka sudah barang tentu hadits tersebut memang bukan madzhab beliau. Hal ini seperti ditegaskan oleh Al-Imam Al-Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab 1 / 64.\rOleh karena demikian, para ulama menyalahkan Al-Imam Al-Hafizh Ibn Al-Jarud, seorang ulama ahli hadits bermadzhab Al-Syafi’i, di mana setiap ia menemukan hadits shahih bertentangan dengan hasil ijtihad Al-Imam Al-Syafi’i, Ibn Al-Jarud langsung mengklaim bahwa hadits tersebut sebenarnya madzhab Al-Syafi’i, berdasarkan pesan Al-Syafi’i di atas, tanpa meneliti bahwa hadits tersebut telah diketahui atau belum oleh Al-Imam Al-Syafi’i.","part":2,"page":321},{"id":822,"text":"Al-Imam Al-Hafizh Ibn Khuzaimah Al-Naisaburi, seorang ulama salaf yang menyandang gelar Imam Al-Aimmah (penghulu para imam) dan penyusun kitab Shahih Ibn Khuzaimah,ketika ditanya, apakah ada hadits yang belum diketahui oleh Al-Imam Al-Syafi’i dalam ijtihad beliau ? Ibn Khuzaimah menjawab, “Tidak ada”. Hal tersebut seperti diriwayatkan oleh Al-Hafizh Ibn Katsir dalam kitabnya yang sangat populer Al-Bidayah wa Al-Nihayah (juz 10, hal. 253).\rCobalah pakai akal sehat , mana yang lebih baik\r1. Mengikuti pendapat atau pemahaman ulama yang mengaku-aku mengikuti pemahaman Salafush Sholeh namun kenyataannya tidak bertalaqqi (mengaji) dengan Salafush Sholeh.\rAtau\r2. Mengikuti pendapat atau pemaham Imam Mazhab yang empat yang bertalaqqi (mengaji) dengan Salafush Sholeh. Bahkan kita sudah mengetahui bahwa Imam Mazhab yang empat telah disepakati oleh jumhur ulama dari dahulu sampai sekarang sebagai pemimpin atau imam ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak). Imam Mazhab yang empat mengetahui dan mengikuti pemahaman Salafush Sholeh melalui lisannya Salafush Sholeh.\rImam Mazhab yang empat melihat sendiri penerapan, perbuatan serta contoh nyata dari Salafush Sholeh.\rApa yang mereka katakan sebagai pemahaman Salafush Sholeh pada dasarnya adalah pemahaman mereka sendiri berdasarkan belajar sendiri (secara otodidak) melalui cara muthola’ah (menelaah kitab) dan memahaminya dengan akal pikiran sendiri (pemahaman secara ilmiah)","part":2,"page":322},{"id":823,"text":"Para ulama telah menyampaikan bahwa jika memahami Al Qur’an dan As Sunnah dengan belajar sendiri (secara otodidak) melalui cara muthola’ah (menelaah kitab) dan memahaminya dengan akal pikiran sendiri, kemungkinan besar akan berakibat negative seperti,\r1. Ibadah fasidah (ibadah yang rusak) , ibadah yang kehilangan ruhnya atau aspek bathin\r2. Tasybihillah Bikholqihi , penyerupaan Allah dengan makhluq Nya\rRasulullah telah melarang kita untuk memahami Al Qur’an dengan akal pikiran kita sendiri\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa menguraikan Al Qur’an dengan akal pikirannya sendiri dan merasa benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan”. (HR. Ahmad)\rDari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)\rIbnul Mubarak berkata :”Sanad merupakan bagian dari agama, kalaulah bukan karena sanad, maka pasti akan bisa berkata siapa saja yang mau dengan apa saja yang diinginkannya.” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqoddimah kitab Shahihnya 1/47 no:32 )\rDari Ibnu Abbas ra Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda…”Barangsiapa yang berkata mengenai Al-Qur’an tanpa ilmu maka ia menyediakan tempatnya sendiri di dalam neraka” (HR.Tirmidzi)\rImam Syafi’i ~rahimahullah mengatakan “tiada ilmu tanpa sanad”.\rAl-Hafidh Imam Attsauri ~rahimullah mengatakan “Penuntut ilmu tanpa sanad adalah bagaikan orang yang ingin naik ke atap rumah tanpa tangga”","part":2,"page":323},{"id":824,"text":"Bahkan Al-Imam Abu Yazid Al-Bustamiy , quddisa sirruh (Makna tafsir QS.Al-Kahfi 60) ; “Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya syetan” Tafsir Ruhul-Bayan Juz 5 hal. 203\rSanad ilmu / sanad guru sama pentingnya dengan sanad hadits.\rSanad hadits adalah otentifikasi atau kebenaran sumber perolehan matan/redaksi hadits dari lisan Rasulullah.\rSedangkan Sanad ilmu atau sanad guru adalah otentifikasi atau kebenaran sumber perolehan penjelasan baik Al Qur’an maupun As Sunnah dari lisan Rasulullah.\rHal yang harus kita ingat bahwa Al Qur’an pada awalnya tidaklah dibukukan. Ayat-ayat Al Qur’an hanya dibacakan dan dihafal (imla) kemudian dipahami bersama dengan yang menyampaikannya.\rHal yang akan dipertanyakan terhadap sebuah pendapat / pemahaman seperti :\r“Apakah yang kamu pahami telah disampaikan / dikatakan oleh ulama-ulama terdahulu yang tersambung lisannya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam” ?\r“Siapakah ulama-ulama terdahulu yang mengatakan hal itu” ?\r“Dari siapakah mendapatkan pemahaman seperti itu” ?\rImam Malik ra berkata: “Janganlah engkau membawa ilmu (yang kau pelajari) dari orang yang tidak engkau ketahui catatan (riwayat) pendidikannya (sanad ilmu)”\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda yang artinya “Sampaikan dariku sekalipun satu ayat dan ceritakanlah (apa yang kalian dengar) dari Bani Isra’il dan itu tidak apa (dosa). Dan siapa yang berdusta atasku dengan sengaja maka bersiap-siaplah menempati tempat duduknya di neraka” (HR Bukhari)","part":2,"page":324},{"id":825,"text":"Hakikat makna hadits tersebut adalah kita hanya boleh menyampaikan satu ayat yang diperoleh dari orang yang disampaikan secara turun temurun sampai kepada lisannya Sayyidina Muhammad bin Abdullah Shallallahu alaihi wasallam.\rKita tidak diperkenankan menyampaikan apa yang kita pahami dengan akal pikiran sendiri dengan cara membaca dan memahami namun kita sampaikan apa yang kita dengar dan pahami dari lisan mereka yang sanad ilmunya tersambung kepada lisannya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam karena hanya perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang merupakan kebenaran atau ilmuNya.\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam menyampaikan agama kepada Sahabat. Sahabat menyampaikan kepada Tabi’in. Tabi’in menyampaikan pada Tabi’ut Tabi’in. Para Imam Mazhab yang empat, pemimpin atau imam ijtihad kaum muslim pada umumnya, mereka berijtihad dan beristinbat berlandaskan hasil bertalaqqi (mengaji ) pada Salafush Sholeh\rContoh sanad Ilmu atau sanad guru Imam Syafi’i ra\r1. Baginda Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam\r2. Baginda Abdullah bin Umar bin Al-Khottob ra\r3. Al-Imam Nafi’, Tabi’ Abdullah bin Umar ra\r4. Al-Imam Malik bin Anas ra\r5. Al-Imam Syafei’ Muhammad bin Idris ra","part":2,"page":325},{"id":826,"text":"“Orang yang berguru tidak kepada guru tapi kepada buku saja maka ia tidak akan menemui kesalahannya karena buku tidak bisa menegur tapi kalau guru bisa menegur jika ia salah atau jika ia tak faham ia bisa bertanya, tapi kalau buku jika ia tak faham ia hanya terikat dengan pemahaman dirinya, maka oleh sebab itu jadi tidak boleh baca dari buku, tentunya boleh baca buku apa saja boleh, namun kita harus mempunyai satu guru yang kita bisa tanya jika kita mendapatkan masalah” (Habib Munzir).\rAsy-Syeikh as-Sayyid Yusuf Bakhour al-Hasani menyampaikan bahwa “maksud dari pengijazahan sanad itu adalah agar kamu menghafazh bukan sekadar untuk meriwayatkan tetapi juga untuk meneladani orang yang kamu mengambil sanad daripadanya, dan orang yang kamu ambil sanadnya itu juga meneladani orang yang di atas di mana dia mengambil sanad daripadanya dan begitulah seterusnya hingga berujung kepada kamu meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan demikian, keterjagaan al-Qur’an itu benar-benar sempurna baik secara lafazh, makna dan pengamalan“\r“Sanad adalah bagai rantai emas terkuat yang tak bisa diputus dunia dan akhirat, jika bergerak satu mata rantai maka bergerak seluruh mata rantai hingga ujungnya, yaitu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam,” (Habib Munzir)\rKeistimewaan syari'at Islam adalah adanya sanad atau mata rantai yang bersambung hingga pembawa syari'at itu sendiri; Rasulullah. Karena itulah munculnya faham-faham menyimpang yang dapat menyesatkan umat Islam sangat kecil kemungkinannya untuk tidak terdeteksi jika berpegang teguh kepada sanad.","part":2,"page":326},{"id":827,"text":"Sanad inilah yang kemudian menjadi tradisi di kalangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah untuk selalu dilestarikan, karena dengan terus membudayakannya akan terjamin kemurnian ajaran agama Allah ini tidak bercampur dengan akal pikiran manusia yang didalamnya ada unsur hawa nafsu atau kepentingan.\rWassalam\rZon di Jonggol, Kab Bogor 16830\r1116. Hasutan dengan menyalah maknakan hadits\rDalam tulisan sebelumnya pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/02/02/potongan-perkataan-ulama/ bagaimana mereka terhasut oleh potongan perkataan ulama dan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/02/03/terhasut-pengalihan-makna/ bagaimana mereka terhasut oleh pengalihan makna perkataan ulama.\rSemua itu adalah bagian dari hasutan atau ghazwul fikri (perang pemahaman) yang dilancarkan oleh kaum Zionis Yahudi untuk meruntuhkan Ukhuwah Islamiyah.\rSalah satu penghasutnya adalah perwira Yahudi Inggris bernama Edward Terrence Lawrence yang dikenal oleh ulama jazirah Arab sebagai Laurens Of Arabian. Laurens menyelidiki dimana letak kekuatan umat Islam dan berkesimpulan bahwa kekuatan umat Islam terletak kepada ketaatan dengan mazhab (bermazhab) dan istiqomah mengikuti tharikat-tharikat tasawuf.\rLaurens mengupah ulama-ulama yang anti tharikat dan anti mazhab untuk menulis buku buku yang menyerang tharikat dan mazhab. Buku tersebut diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan dibiayai oleh pihak orientalis.\r“Rencana kerja” kaum Zionis Yahudi , salah satu contohnya tertuang dalam protokol Zionis yang ketujuhbelas","part":2,"page":327},{"id":828,"text":"…Kita telah lama menjaga dengan hati-hati upaya mendiskreditkan para ulama non-Yahudi dalam rangka menghancurkan misi mereka, yang pada saat ini dapat secara serius menghalangi misi kita. Pengaruh mereka atas masyarakat mereka berkurang dari hari ke hari. Kebebasan hati nurani yang bebas dari paham agama telah dikumandangkan dimana-mana. Tinggal masalah waktu maka agama-agama itu akan bertumbangan..\rDalam rangka agar umat Islam “meninggalkan” Imam Mazhab yang empat disebarluaskanlah hasutan bahwa Imam Mazhab yang empat tidak maksum. Pada hakikatnya kaum muslim tidak perlu terhasut karena kita telah paham yang maksum adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sedangkan Imam Mazhab yang empat, mereka itu mahfuzh (dipelihara) dengan pemeliharaan Allah Azza wa Jalla terhadap orang-orang sholeh.\rHasutan lainnya untuk “meninggalkan” Imam Mazhab yang empat disebarluaskanlah hasutan seolah-olah bertujuan janganlah mengikuti Imam Mazhab yang empat tapi “ikutilah Salafush Sholeh” , “ikutilah pemahaman, penerapan, perbuatan serta contoh nyata dalam beribadah dari Salafush Sholeh”. Pada hakikatnya kaum muslim tidak perlu terhasut karena dengan mengikuti apa yang disampaikan oleh Imam Mazhab yang empat yang melihat sendiri penerapan, perbuatan serta contoh nyata dalam beribadah dari Salafush Sholeh pada hakikatnya juga mengikuti Salafush Sholeh.","part":2,"page":328},{"id":829,"text":"Imam Mazhab yang empat tentu telah menyadari bahwa kaum muslim generasi berikutnya tentulah tidak akan melihat penerapan, perbuatan serta contoh nyata dalam beribadah dari Salafush Sholeh oleh karenanya apa yang mereka yang dapatkan dari bertemu dan bertalaqqi(mengaji) dengan Salafush Sholeh, serta mendapatkan pemahaman Salafush Sholeh langsung dari lisannya Salafush Sholeh maka oleh para Imam Mazhab yang empat disampaikan dalam kitab fiqih agar kaum muslim generasi berikutnya dapat “melihat” penerapan, perbuatan serta contoh nyata dalam beribadah dari Salafush Sholeh melalui kitab fiqih Imam Mazhab yang empat.\rHasutan lainnya adalah dalam bentuk mendiskreditkan para ulama berdasarkan generasi atau zaman mereka terlahir. Dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/27/salaf-dan-khalaf/ telah diuraikan bagaimana mereka terhasut bahwa sebaik-baik manusia dipengaruhi oleh generasi mereka terlahir kedunia. Timbulah istilah ulama khalaf dan ulama salaf. Seolah-olah “kualitas” ulama khalaf pastilah di bawah “kualitas” ulama salaf.\rHadits yang disalahmaknakan adalah\rNabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “sebaik-baik manusia adalah yang hidup pada masaku, kemudian orang-orang pada masa berikutnya, kemudian orang-orang pada masa berikutnya, kemudian setelah mereka akan datang suatu kaum kesaksian mereka mendahului sumpah mereka, dan sumpah mereka mendahului kesaksian mereka.” (HR Bukhari 5949)","part":2,"page":329},{"id":830,"text":"Hadits dimaknakan seolah-olah sebaik-baik manusia setelah para Nabi yang utama adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kemudian para Sahabat, para Tabi’in , para Tabi’ut Tabi’in barulah kaum muslim kemudian (khalaf). Mustahil kaum muslim kemudian(khalaf) akan lebih baik dari Tabi’ut Tabi’in apalagi lebih baik dari para Sahabat.\rPemaknaan atau pemahaman seperti itu adalah kesalahpahaman.\rPara Sahabat, para Tabi’in , para Tabi’ut Tabi’in, mereka termasuk sebaik-baik manusia adalah karena mereka sebagai muslim atau mereka yang telah bersyahadat\rHal itu terkait dengan terkait dengan firman Allah ta’ala yang artinya, “kuntum khayra ummatin ukhrijat lilnnaasi“, “Kamu (umat Rasulullah) adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia” (QS Ali Imran [3]:110 ).\rKemudian diantara salafpun ada pula muslim namun tidak termasuk mereka yang mentaati Allah ta’ala dan RasulNya seperti kaum khawarij. Contohnya Abdurrahman ibn Muljam adalah seorang yang sangat rajin beribadah. Shalat dan shaum, baik yang wajib maupun sunnah, melebihi kebiasaan rata-rata orang di zaman itu.Namun terpangaruh oleh hasutan atau ghazwul fikri (perang pemahaman) orang-orang Khawarij yang selalu berbicara mengatasnamakan Islam. Sampai akhirnya, dialah yang ditugasi menjadi eksekutor pembunuhan Imam Sayyidina Ali ra.\rOleh karenanya para Sahabat, para Tabi’in , para Tabi’ut Tabi’in, mereka termasuk sebaik-baik manusia karena muslim dan termasuk mereka yang mentaati Allah ta’ala dan RasulNya karena mereka mencapai maqom dekat dengan Allah Azza wa Jalla yakni maqom sholeh.","part":2,"page":330},{"id":831,"text":"Seorang muslim dikatakan telah mentaati Allah dan RasulNya sehingga mendapatkan maqom disisiNya atau dekat dengan Allah Azza wa Jalla adalah 4 golongan manusia yakni para Nabi (Rasulullah yang utama), para Shiddiqin, para Syuhada dan muslim yang sholeh\rFirman Allah ta’ala yang artinya, “Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya .” (QS An Nisaa [4]: 69 )\rSemakin dekat kita kepada Allah sehingga menjadi kekasihNya (Wali Allah). Maqom Shiddiqin atau kedekatan dengan Allah diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/09/09/2011/09/28/maqom-wali-allah/\rOleh karenanya para Sahabat, para Tabi’in , para Tabi’ut Tabi’in mendapatkan maqom disisiNya minimal maqom sholeh sehingga mereka dinamakan Salaf yang sholeh atau Salafush Sholeh\rBegitupula diantara Salafush Sholeh tidaklah seluruhnya mendapatkan maqom Wali Allah. Semakin dekat seorang muslim kepada Allah Azza wa Jalla sehingga meraih cintaNya maka dibuktikan bahwa doa mereka yang meraih cintaNya sehigga menjadi kekasihNya (Wali Allah) pasti akan dikabulkan oleh Allah Azza wa Jalla","part":2,"page":331},{"id":832,"text":"Dalam sebuah hadits qudsi Allah ta’ala berfirman “jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya yang ia jadikan untuk mendengar, dan pandangannya yang ia jadikan untuk memandang, dan tangannya yang ia jadikan untuk memukul, dan kakinya yang dijadikannya untuk berjalan, jikalau ia meminta-Ku, pasti Kuberi, dan jika meminta perlindungan kepada-KU, pasti Ku-lindungi. Dan aku tidak ragu untuk melakukan sesuatu yang Aku menjadi pelakunya sendiri sebagaimana keragu-raguan-Ku untuk mencabut nyawa seorang mukmin yang ia (khawatir) terhadap kematian itu, dan Aku sendiri khawatir ia merasakan kepedihan sakitnya.” (HR Bukhari 6021)\rBegitu pula diantara Salafush Sholeh , mereka mungkin saja berbeda maqom disisiNya seperti terlukiskan dalam hadits berikut\rSuatu hari Umar r.a. kedatangan rombongan dari Yaman, lalu ia bertanya :\r“Adakah di antara kalian yang datang dari suku Qarn?”.\rLalu seorang maju ke dapan menghadap Umar. Orang tersebut saling bertatap pandang sejenak dengan Umar. Umar pun memperhatikannya dengan penuh selidik.\r“Siapa namamu?” tanya Umar.\r“Aku Uwais”, jawabnya datar.\r“Apakah engkau hanya mempunyai seorang Ibu yang masih hidup?, tanya Umar lagi.\r“Benar, Amirul Mu’minin”, jawab Uwais tegas.\rUmar masih penasaran lalu bertanya kembali “Apakah engkau mempunyai bercak putih sebesar uang dirham?” (maksudnya penyakit kulit berwarna putih seperti panu tapi tidak hilang).","part":2,"page":332},{"id":833,"text":"“Benar, Amirul Mu’minin, dulu aku terkena penyakit kulit “belang”, lalu aku berdo’a kepada Allah agar disembuhkan. Alhamdulillah, Allah memberiku kesembuhan kecuali sebesar uang dirham di dekat pusarku yang masih tersisa, itu untuk mengingatkanku kepada Tuhanku”.\r“Mintakan aku ampunan kepada Allah”.\rUwais terperanjat mendengar permintaan Umar tersebut, sambil berkata dengan penuh keheranan. “Wahai Amirul Mu’minin, engkau justru yang lebih behak memintakan kami ampunan kepada Allah, bukankah engkau sahabat Nabi?”\rLalu Umar berkata “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata “Sesungguhnya sebaik-baik Tabiin adalah seorang bernama Uwais, mempunyai seorang ibu yang selalu dipatuhinya, pernah sakit belang dan disembuhkan Allah kecuali sebesar uang dinar di dekat pusarnya, apabila ia bersumpah pasti dikabulkan Allah. Bila kalian menemuinya mintalah kepadanya agar ia memintakan ampunan kepada Allah”\rUwais lalu mendoa’kan Umar agar diberi ampunan Allah. Lalu Uwais pun menghilang dalam kerumunan rombongan dari Yaman yang akan melanjutkan perjalanan ke Kufah. (HR Ahmad, HR Muslim 4612)\rJadi sebaik-baiknya manusia atau sebaik-baik muslim tidak dibatas oleh generasi atau kapan mereka hidup.","part":2,"page":333},{"id":834,"text":"Sebaik-baik manusia hingga mencapai sebaik-baik muslim adalah mereka yang dapat meraih maqom disisiNya yakni minimal maqom sholeh atau muslim berakhlakul karimah, muslim yang selalu yakin diawasi oleh Allah Azza wa Jalla sehingga mereka selalu menghindari perbuatan keji dan mungkar dan yang terbaik adalah muslim yang Ihsan, muslim yang bertemu Allah ta’ala hingga menyaksikan Allah dengan hati (ain bashiroh) atau muslim berma’rifat hingga mereka termasuk muslim bukan Nabi yang meraih maqom kekasih Allah atau Wali Allah.\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “sesungguhnya ada di antara hamba Allah (manusia) yang mereka itu bukanlah para Nabi dan bukan pula para Syuhada’. Mereka dirindukan oleh para Nabi dan Syuhada’ pada hari kiamat karena kedudukan (pangkat) mereka di sisi Allah Swt seorang dari shahabatnya berkata, siapa gerangan mereka itu wahai Rasulullah? Semoga kita dapat mencintai mereka. Nabi Saw menjawab dengan sabdanya: Mereka adalah suatu kaum yang saling berkasih sayang dengan anugerah Allah bukan karena ada hubungan kekeluargaan dan bukan karena harta benda, wajah-wajah mereka memancarkan cahaya dan mereka berdiri di atas mimbar-mimbar dari cahaya. Tiada mereka merasa takut seperti manusia merasakannya dan tiada mereka berduka cita apabila para manusia berduka cita”. (HR. an Nasai dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya)","part":2,"page":334},{"id":835,"text":"Hadits senada, dari ‘Umar bin Khathab ra bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya diantara hamba-hambaku itu ada manusia manusia yang bukan termasuk golongan para Nabi, bukan pula syuhada tetapi pada hari kiamat Allah ‘Azza wa Jalla menempatkan maqam mereka itu adalah maqam para Nabi dan syuhada.”Seorang laki-laki bertanya : “siapa mereka itu dan apa amalan mereka?”mudah-mudahan kami menyukainya. Nabi bersabda: “yaitu Kaum yang saling menyayangi karena Allah ‘Azza wa Jalla walaupun mereka tidak bertalian darah, dan mereka itu saling menyayangi bukan karena hartanya, dan demi Allah sungguh wajah mereka itu bercahaya, dan sungguh tempat mereka itu dari cahaya, dan mereka itu tidak takut seperti yang ditakuti manusia, dan tidak susah seperti yang disusahkan manusia,” kemudian beliau membaca ayat : ” Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS Yunus [10]:62 )\rKesimpulannya, kalau memang ingin mengikuti penerapan, perbuatan serta contoh nyata dalam beribadah dari Salafush Sholeh maka marilah mengikuti apa yang disampaikan oleh Imam Mazhab yang empat dan penjelasan dari ulama yang mengikuti Imam Mazhab yang empat sambil merujuk dari mana mengambilnya yakni Al Qur'an dan As Sunnah.\rIngatlah selalu bahwa yang melihat penerapan, perbuatan serta contoh nyata dalam beribadah dari Salafush Sholeh adalah Imam Mazhab yang empat bukan mereka yang mengaku-aku mengikuti pemahaman Salafush Sholeh namun tidak bertalaqqi (mengaji) dengan Salafush Sholeh.\rWassalam","part":2,"page":335},{"id":836,"text":"Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830\r1124. Shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar\rRasulullah bersabda, “Barangsiapa yang shalatnya tidak mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, maka ia tidak bertambah dari Allah kecuali semakin jauh dariNya” (diriwayatkan oleh ath Thabarani dalam al-Kabir nomor 11025, 11/46)\rPendapat ulama Al Albani , contohnya termuat pada http://almanhaj.or.id/content/2324/slash/0\r“matan (redaksi) hadits ini tidak sah, sebab zhahirnya mencakup orang yang melakukan shalat lengkap dengan syarat dan rukun-rukunnya. Yang mana syari’at ini menghukuminya sah. Meskipun orang yang melakukan shalat tersebut terus menerus melakukan beberapa maksiat, maka bagaimana mungkin hanya karena itu, shalatnya tidak akan menambah kecuali jarak yang semakin jauh. Hal ini tidak masuk akal dan tidak disetujui oleh syari’at ini”\rKami garis bawahi pendapat beliau, “meskipun orang yang melakukan shalat tersebut terus menerus melakukan beberapa maksiat, maka bagaimana mungkin hanya karena itu, shalatnya tidak akan menambah kecuali jarak yang semakin jauh“\rDengan kata lain ulama Al Albani berkeyakinan bahwa orang terus menerus melakukan beberapa maksiat, tidak apa-apa, asalkan melakukan shalat lengkap dengan syarat dan rukun-rukunnya\rPadahal orang yang sholat namun masih terus menerus melakukan beberapa maksiat menandakan sholatnya lalai\rFirman Allah Azza wa Jalla, yang artinya\r`…. maka celakalah orang-orang yang sholat, (yaitu) orang-orang yang lalai dalam sholatnya, dan orang-orang yang berbuat riya” (QS Al-Ma’un 107: 4-6)","part":2,"page":336},{"id":837,"text":"“… dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai“(QS Al A’raaf 7: 205)\r“Sesungguhnya shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar” (QS al Ankabut [29]:45).\rBarangsiapa tidak khusyuk dalam sholatnya dan pengawasan Allah tidak tertanam dalam jiwanya atau qalbunya, maka ia telah bermaksiat dan berhak mendapatkan siksa Allah ta’ala. Segelintir kaum muslim, ibadah sholat mereka sekedar upacara keagamaan (ritual) atau gerakan-gerakan yang bersifat mekanis (amal) yang sesuai syarat dan rukun-rukunnya (ilmu), sebagaimana robot sesuai programnya.\rRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian, tetapi Allah melihat kepada hati kalian.” (HR Muslim)\r\"Tidak melihat kepada rupa kalian\" maknanya tidak memperhitungkan perbuatan yang tampak terlihat atau tidak memperhitungkan apa yang dilakukan secara dzahir.\rTidaklah mereka mencapai sholat yang dikatakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa “Ash-shalatul Mi’rajul Mu’minin“, “sholat itu adalah mi’rajnya orang-orang mukmin“. yaitu naiknya jiwa meninggalkan ikatan nafsu yang terdapat dalam fisik manusia menuju ke hadirat Allah\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya kalian apabila sholat maka sesungguhnya ia sedang bermunajat (bertemu) dengan Tuhannya, maka hendaknya ia mengerti bagaimana bermunajat dengan Tuhan”\rAllah berfirman yang artinya,","part":2,"page":337},{"id":838,"text":"“Sesungguhnya sembahyang (Sholat) itu memang berat kecuali bagi mereka yang khusyu’ yaitu mereka yang yakin akan berjumpa dengan Tuhan mereka, dan sesungguhnya mereka akan kembali kepadaNya”. (QS. Al-Baqarah 2 : 45).\rSholat adalah saat-saat utama bertemu dengan Allah Azza wa Jalla, hal ini dialami mereka yang telah berma’rifat atau mereka yang telah mencapai muslim yang Ihsan (muhsin/muhsinin)\rApakah Ihsan ?\rقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِحْسَانُ قَالَ أَنْ تَخْشَى اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنَّكَ إِنْ لَا تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ\rLalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu takut (takhsya / khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.’ (HR Muslim 11)\rAda dua kondisi yang dicapai oleh muslim yang ihsan\rKondisi minimal adalah mereka yang selalu merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla\rKondiri terbaik adalah mereka yang dapat melihat Allah Azza wa Jalla dengan hati (ain bashiroh)\rImam Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani,\r“Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”\rBeliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”\r“Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali.\rSayyidina Ali ra menjawab “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati”","part":2,"page":338},{"id":839,"text":"Sebuah riwayat dari Ja’far bin Muhammad beliau ditanya: “Apakah engkau melihat Tuhanmu ketika engkau menyembah-Nya?” Beliau menjawab: “Saya telah melihat Tuhan, baru saya sembah”. Bagaimana anda melihat-Nya? dia menjawab: “Tidak dilihat dengan mata yang memandang, tapi dilihat dengan hati yang penuh Iman.”\rRasulullah bersabda “Iman paling afdol ialah apabila kamu mengetahui bahwa Allah selalu menyertaimu dimanapun kamu berada“. (HR. Ath Thobari)\rMuslim yang merasa/meyakini diawasi Allah -Maha Agung sifatNya atau mereka yang dapat melihat Rabb atau muslim yang Ihsan maka ia mencegah dirinya dari melakukan sesuatu yang dibenciNya, mencegah dirinya dari perbuatan maksiat, mencegah dirinya dari melakukan perbuatan keji dan mungkar. Sehingga terwujud dalam berakhlakul karimah. Inilah tujuan Rasulullah diutus oleh Allah ta’ala\rRasulullah menyampaikan yang maknanya “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad).\rTanggapan lain terhadap pendapat ulama Al Albani yang salah memahami beberapa hadits lainnya termuat dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2010/04/inilahahlussunnahwaljamaah.pdf\rWassalam\rZon di Jonggol, Kab Bogor 16830\r1125. Seluruh perkara syariat telah ditetapkanNya dan Dia tidak lupa\rFirman Allah ta'ala yang artinya, \"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni'mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (QS Al-Maaidah: [5] : 3)\rAgama hanyalah bersumber dari Allah ta'ala.","part":2,"page":339},{"id":840,"text":"Pokok agama atau disebut perkara syariat adalah perintahNya yang wajib dijalankan yang jika ditinggalkan berdosa dan laranganNya yang wajib dijauhi yang jika dilanggar / dikerjakan berdosa.\rDari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)\rPerkara kewajiban, larangan dan pengharaman adalah hak Allah ta’ala menetapkannya dan Allah ta’ala tidak lupa.\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban (ditinggalkan berdosa), maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa larangan (dikerjakan berdosa)), maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu (dikerjakan berdosa), maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia.” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi)\rAgama atau perkara syariat atau perkara yang diwajibkanNya, wajib dikerjakan dan wajib dijauhi meliputi kewajiban, larangan dan perngharaman telah sempurna atau telah selesai ditetapkanNya atau telah selesai disyariatkan oleh Allah Azza wa Jalla atau telah disampaikan seluruhnya oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.","part":2,"page":340},{"id":841,"text":"Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Tidak tertinggal sedikitpun yang mendekatkan kamu dari surga dan menjauhkanmu dari neraka melainkan telah dijelaskan bagimu ” (HR Ath Thabraani dalam Al Mu’jamul Kabiir no. 1647)\r“mendekatkan dari surga” = perkara kewajiban (ditinggalkan berdosa)\r“menjauhkan dari neraka” = perkara larangan dan perkara pengharaman (dikerjakan berdosa)\rRasulullah mencontohkan meninggalkan sholat tarawih berjama'ah dalam beberapa malam agar kita tidak berkeyakinan bahwa sholat tarawih berjama'ah adalah sebuah kewajiban yang jika ditinggalkan berdosa karena Allah ta'ala tidak menetapkan sholat tarawih berjamaah sebagai kewajiban di bulan Ramadhan. Yang diwajibkanNya adalah berpuasa di bulan Ramadhan.\rRasulullah bersabda \"Sesungguhnya aku tahu apa yang kalian lakukan semalam. Tiada sesuatu pun yang menghalangiku untuk keluar dan shalat bersama kalian, hanya saja aku khawatir (shalat tarawih itu) akan diwajibkan atas kalian.” ( HR Muslim 1270 )\rBegitupula para Imam Mujtahid dalam beristinbat, menetapkan hukum perkara suatu ibadah kedalam hukum taklifi yang lima (haram, makruh, wajib, sunnah, dan mubah) menghindari al-Maslahah al-Mursalah atau Al-Istislah atau kadang disamakan juga dengan al-Istihsan yakni “Menetapkan hukum suatu masalah yang tak ada nash-nya atau tidak ada ijma’ terhadapnya, dengan berdasarkan pada kemaslahatan semata (yang oleh syara’ (dalam Al Qur’an dan As Sunnah) tidak dijelaskan ataupun dilarang”","part":2,"page":341},{"id":842,"text":"Menurut Imam Syafi’i cara-cara penetapan hukum seperti itu sekali-kali bukan dalil syar’i. Beliau menganggap orang yang menggunakannya sama dengan menetapkan syari’at berdasarkan hawa nafsu atau berdasarkan pendapat sendiri (akal pikiran sendiri) yang mungkin benar dan mungkin pula salah.\rIbnu Hazm termasuk salah seorang ulama yang menolak cara-cara penetapan hukum seperti itu Beliau menganggap bahwa cara penetapan seperti itu menganggap baik terhadap sesuatu atau kemashlahatan menurut hawa nafsunya (akal pikiran sendiri), dan itu bisa benar dan bisa pula salah, misalnya mengharamkan sesuatu tanpa dalil.\rMenetapkan sebagai perkara larangan atau pengharaman yang dikerjakan/dilanggar berdosa atau sebagai perkara kewajiban yang ditinggalkan berdosa berdasarkan maslahah mursalah atau berdasarkan akibat baik dan buruk menurut akal pikiran manusia termasuk kedalam bid’ah dholalah karena yang mengetahui baik dan buruk bagi manusia hanyalah Allah Azza wa Jalla.\rOleh karenanya mereka yang mengada-ada perkara kewajiban, larangan maupun pengharaman adalah termasuk penyembahan kepada selain Allah.\rAllah Azza wa Jalla berfirman, “Mereka menjadikan para rahib dan pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah“. (QS at-Taubah [9]:31 )\rKetika Nabi ditanya terkait dengan ayat ini, “apakah mereka menyembah para rahib dan pendeta sehingga dikatakan menjadikan mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah?”","part":2,"page":342},{"id":843,"text":"Nabi menjawab, “tidak”, “Mereka tidak menyembah para rahib dan pendeta itu, tetapi jika para rahib dan pendeta itu menghalalkan sesuatu bagi mereka, mereka menganggapnya halal, dan jika para rahib dan pendeta itu mengharamkan bagi mereka sesuatu, mereka mengharamkannya“\rPada riwayat yang lain disebutkan, Rasulullah bersabda ”mereka (para rahib dan pendeta) itu telah menetapkan haram terhadap sesuatu yang halal, dan menghalalkan sesuatu yang haram, kemudian mereka mengikutinya. Yang demikian itulah penyembahannya kepada mereka.” (Riwayat Tarmizi)\rFirman Allah Azza wa Jalla yang artinya,\r“Katakanlah! Siapakah yang berani mengharamkan perhiasan Allah yang telah diberikan kepada hamba-hambaNya dan beberapa rezeki yang baik itu? Katakanlah! Tuhanku hanya mengharamkan hal-hal yang tidak baik yang timbul daripadanya dan apa yang tersembunyi dan dosa dan durhaka yang tidak benar dan kamu menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak turunkan keterangan padanya dan kamu mengatakan atas (nama) Allah dengan sesuatu yang kamu tidak mengetahui.” (QS al-A’raf: 32-33)\r“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu dan janganlah kamu melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas.” (Qs. al-Mâ’idah [5]: 87).\r“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung” [QS. An-Nahl : 116].","part":2,"page":343},{"id":844,"text":"Dalam hadits Qudsi , Rasulullah bersabda: “Aku ciptakan hamba-hambaKu ini dengan sikap yang lurus, tetapi kemudian datanglah syaitan kepada mereka. Syaitan ini kemudian membelokkan mereka dari agamanya, dan mengharamkan atas mereka sesuatu yang Aku halalkan kepada mereka, serta mempengaruhi supaya mereka mau menyekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidak turunkan keterangan padanya.” (Riwayat Muslim).\rWassalam\rZon di Jonggol, Kab Bogor 16830\r1130. Terhasut oleh pembatasan makna firman-Nya\rMereka adalah hasil pengajaran para ulama korban hasutan atau ghazwul fikri (perang pemahaman) dari kaum Zionis Yahudi.\rSalah satu penghasutnya adalah perwira Yahudi Inggris bernama Edward Terrence Lawrence yang dikenal oleh ulama jazirah Arab sebagai Laurens Of Arabian. Laurens menyelidiki dimana letak kekuatan umat Islam dan berkesimpulan bahwa kekuatan umat Islam terletak kepada ketaatan dengan mazhab (bermazhab) dan istiqomah mengikuti tharikat-tharikat tasawuf.\rLaurens mengupah ulama-ulama yang anti tharikat dan anti mazhab untuk menulis buku buku yang menyerang tharikat dan mazhab. Buku tersebut diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan dibiayai oleh pihak orientalis.\rDalam tulisan sebelumnya pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/02/02/potongan-perkataan-ulama/ telah diuraikan bagaimana mereka terhasut oleh potongan perkataan ulama.\rDalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/02/03/terhasut-pengalihan-makna/ telah diuraikan bagaimana mereka terhasut oleh pengalihan makna perkataan ulama.","part":2,"page":344},{"id":845,"text":"Dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/02/05/menyalah-maknakan-hadits/ telah diuraikan bagaimana mereka terhasut oleh penyalah makna dari hadits.\rDalam tulisan kali ini diuraikan bagaimana mereka terhasut oleh pembatasan makna firman Allah ta’ala. Contohnya. Firman Allah ta’ala yang artinya, \"Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu'min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu* dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali\" (QS An Nisaa’ [4]:115)\r*) Allah biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan\rMereka berpendapat bahwa sabilil mu’minin , jalan orang-orang mu’min terbatas hanya pada para Sahabat saja dan kemudian diikuti dengan orang-orang yang mengikuti mereka dari Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in. Contoh pendapat ulama mereka sebagaimana termuat dalam Al-Masaa-il oleh Abdul Hakim bin Amir Abdat – Halaman 240 s/d 246\rJadi kalau kaum muslim mengikuti apa yang disampaikan oleh orang-orang mu’min selain para Sahabat seperti Imam Mazhab yang empat maka termasuk tidak mentaati perintah Allah Azza wa Jalla sekaligus telah menentang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.\rBagaimana mereka mengetahui jalan atau cara beribadah para Sahabat kalau tidak mengikuti apa yang disampaikan oleh Imam Mazhab yang empat yang melihat langsung penerapan, perbuatan serta contoh nyata jalan atau cara beribadah dari Salafush Sholeh.","part":2,"page":345},{"id":846,"text":"Mereka katakan telah mengikuti jalan atau cara beribadah para Sahabat namun kenyataannya mereka mengikuti akal pikiran mereka sendiri hasil belajar sendiri (secara otodidak) melalui cara muthola’ah, menelaah kitab.\rSetiap upaya pemahaman bisa benar dan bisa pula salah. Kemungkinan salah akan semakin besar jika tidak berkompetensi sebagai imam mujtahid mutlak sebagaimana kompetensi Imam Mazhab yang empat.\rKesalahpahaman dapat ditimbulkan karena mereka tidak mendapatkan pemahaman Salafush Sholeh dari lisannya Salafush Sholeh sedangkan Imam Mazhab yang empat mendapatkan pemahaman Salafush Sholeh langsung dari lisannya Salafush Sholeh karena Imam Mazhab yang empat bertalaqqi (mengaji) langsung dengan Salafush Sholeh.\rMerekalah korban hasutan atau ghazwul fikri (perang pemahaman) dari kaum Zionis Yahudi untuk memahami Al Qur’an dan As Sunnah dengan akal pikiran masing-masing dengan tujuan menimbulkan perselisihan di antara kaum muslim karena perbedaan pemahaman.\rRasulullah telah melarang kita untuk memahami Al Qur’an dengan akal pikiran kita sendiri\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa menguraikan Al Qur’an dengan akal pikirannya sendiri dan merasa benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan”. (HR. Ahmad)\rDari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)","part":2,"page":346},{"id":847,"text":"Ibnul Mubarak berkata :”Sanad merupakan bagian dari agama, kalaulah bukan karena sanad, maka pasti akan bisa berkata siapa saja yang mau dengan apa saja yang diinginkannya.” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqoddimah kitab Shahihnya 1/47 no:32 )\rDari Ibnu Abbas ra Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda…”Barangsiapa yang berkata mengenai Al-Qur’an tanpa ilmu maka ia menyediakan tempatnya sendiri di dalam neraka” (HR.Tirmidzi)\rImam Syafi’i ~rahimahullah mengatakan “tiada ilmu tanpa sanad”.\rAl-Hafidh Imam Attsauri ~rahimullah mengatakan “Penuntut ilmu tanpa sanad adalah bagaikan orang yang ingin naik ke atap rumah tanpa tangga”\rBahkan Al-Imam Abu Yazid Al-Bustamiy , quddisa sirruh (Makna tafsir QS.Al-Kahfi 60) ; “Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya syetan” Tafsir Ruhul-Bayan Juz 5 hal. 203\rSanad ilmu / sanad guru sama pentingnya dengan sanad hadits.\rSanad hadits adalah otentifikasi atau kebenaran sumber perolehan matan/redaksi hadits dari lisan Rasulullah.\rSedangkan Sanad ilmu atau sanad guru adalah otentifikasi atau kebenaran sumber perolehan penjelasan baik Al Qur’an maupun As Sunnah dari lisan Rasulullah.\rHal yang harus kita ingat bahwa Al Qur’an pada awalnya tidaklah dibukukan. Ayat-ayat Al Qur’an hanya dibacakan dan dihafal (imla) kemudian dipahami bersama dengan yang menyampaikannya.\rHal yang akan dipertanyakan terhadap sebuah pendapat / pemahaman seperti :","part":2,"page":347},{"id":848,"text":"“Apakah yang kamu pahami telah disampaikan / dikatakan oleh ulama-ulama terdahulu yang tersambung lisannya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ?\"\r“Siapakah ulama-ulama terdahulu yang mengatakan hal itu ?\"\r“Dari siapakah mendapatkan pemahaman seperti itu ?\"\rImam Malik ra berkata: “Janganlah engkau membawa ilmu (yang kau pelajari) dari orang yang tidak engkau ketahui catatan (riwayat) pendidikannya (sanad ilmu)”\rRasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda yang artinya “Sampaikan dariku sekalipun satu ayat dan ceritakanlah (apa yang kalian dengar) dari Bani Isra’il dan itu tidak apa (dosa). Dan siapa yang berdusta atasku dengan sengaja maka bersiap-siaplah menempati tempat duduknya di neraka” (HR Bukhari)\rHakikat makna hadits tersebut adalah kita hanya boleh menyampaikan satu ayat yang diperoleh dari orang yang disampaikan secara turun temurun sampai kepada lisannya Sayyidina Muhammad bin Abdullah Shallallahu alaihi wasallam.\rKita tidak diperkenankan menyampaikan apa yang kita pahami dengan akal pikiran sendiri dengan cara membaca dan memahami namun kita sampaikan apa yang kita dengar dan pahami dari lisan mereka yang sanad ilmunya tersambung kepada lisannya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam karena hanya perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang merupakan kebenaran atau ilmuNya.","part":2,"page":348},{"id":849,"text":"Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyampaikan agama kepada Sahabat. Sahabat menyampaikan kepada Tabi’in. Tabi’in menyampaikan pada Tabi’ut Tabi’in. Para Imam Mazhab yang empat, pemimpin atau imam ijtihad kaum muslim pada umumnya, mereka berijtihad dan beristinbat berlandaskan hasil bertalaqqi (mengaji ) pada Salafush Sholeh\rContoh sanad Ilmu atau sanad guru Imam Syafi’i ra\r1. Baginda Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam\r2. Baginda Abdullah bin Umar bin Al-Khottob ra\r3. Al-Imam Nafi’, Tabi’ Abdullah bin Umar ra\r4. Al-Imam Malik bin Anas ra\r5. Al-Imam Syafei’ Muhammad bin Idris ra\r“Orang yang berguru tidak kepada guru tapi kepada buku saja maka ia tidak akan menemui kesalahannya karena buku tidak bisa menegur tapi kalau guru bisa menegur jika ia salah atau jika ia tak faham ia bisa bertanya, tapi kalau buku jika ia tak faham ia hanya terikat dengan pemahaman dirinya, maka oleh sebab itu jadi tidak boleh baca dari buku, tentunya boleh baca buku apa saja boleh, namun kita harus mempunyai satu guru yang kita bisa tanya jika kita mendapatkan masalah” (Habib Munzir).","part":2,"page":349},{"id":850,"text":"Asy-Syeikh as-Sayyid Yusuf Bakhour al-Hasani menyampaikan bahwa “maksud dari pengijazahan sanad itu adalah agar kamu menghafazh bukan sekadar untuk meriwayatkan tetapi juga untuk meneladani orang yang kamu mengambil sanad daripadanya, dan orang yang kamu ambil sanadnya itu juga meneladani orang yang di atas di mana dia mengambil sanad daripadanya dan begitulah seterusnya hingga berujung kepada kamu meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan demikian, keterjagaan al-Qur’an itu benar-benar sempurna baik secara lafazh, makna dan pengamalan“\r“Sanad adalah bagai rantai emas terkuat yang tak bisa diputus dunia dan akhirat, jika bergerak satu mata rantai maka bergerak seluruh mata rantai hingga ujungnya, yaitu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam,” (Habib Munzir)\rKeistimewaan syari’at Islam adalah adanya sanad atau mata rantai yang bersambung hingga pembawa syari’at itu sendiri; Rasulullah. Karena itulah munculnya faham-faham menyimpang yang dapat menyesatkan umat Islam sangat kecil kemungkinannya untuk tidak terdeteksi jika berpegang teguh kepada sanad.\rSanad inilah yang kemudian menjadi tradisi di kalangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah untuk selalu dilestarikan, karena dengan terus membudayakannya akan terjamin kemurnian ajaran agama Allah ini tidak bercampur dengan akal pikiran manusia yang didalamnya ada unsur hawa nafsu atau kepentingan\rWassalam\rZon di Jonggol, Kab Bogor 16830\r1139. Amal berdasarkan ilmu yang benar maka terbentuklah akhlakul karimah","part":2,"page":350},{"id":851,"text":"Dengan mereka terhasut oleh hasutan atau ghazwul fikri (perang pemahaman) yang dilancarkan oleh kaum Zionis Yahudi, agar mereka memahami Al Qur’an dan As sunnah dengan akal pikiran mereka sehingga menimbulkan perselisihan di antara kaum muslim karena perbedaan pemahaman, pada hakikatnya mereka secara tidak langsung telah menjadi perpanjangan tangan kaum Zionis Yahudi untuk meruntuhkan ukhuwah Islamiyah.\rDalam tulisan sebelumnya pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/02/02/potongan-perkataan-ulama/ telah diuraikan bagaimana mereka terhasut oleh potongan perkataan ulama.\rDalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/02/03/terhasut-pengalihan-makna/ telah diuraikan bagaimana mereka terhasut oleh pengalihan makna perkataan ulama.\rDalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/02/05/menyalah-maknakan-hadits/ telah diuraikan bagaimana mereka terhasut oleh penyalah makna dari hadits.\rDalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/02/08/terhasut-pembatasan-makna/ telah diuraikan bagaimana mereka terhasut oleh pembatasan makna dari firman Allah ta’ala contohnya “sabilil mu’minin” , “jalan orang-orang mu’min” (QS An Nisaa’ [4] : 115) terbatas hanya pada para Sahabat saja atau dengan kata lain mereka ingin mengada-ada “keharusan” mengikuti manhaj salaf atau mazhab salaf.","part":2,"page":351},{"id":852,"text":"Padahal Imam Mazhab yang empat yang bertalaqqi (mengaji) dengan Salafush Sholeh tidak pernah menyampaikan adanya “keharusan” mengikuti manhaj salaf atau mazhab salaf. “Keharusan” hanyalah mentaati Allah ta’ala dan mentaati RasulNya serta mentaati ulil amri yang mentaati Allah ta’ala dan RasulNya.\rFirman Allah Azza wa Jalla yang artinya “wahai orang-orang beriman taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rosul-Nya dan ulil amri di antara kamu ” (QS An Nisa’ : 59 )\rAdapun maksud dari ulil amri dalam ayat tersebut menurut Ibnu Abbas ra, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Thobari dalam tafsirnya adalah para pakar fiqih dan para ulama yang komitmen dengan ajaran Islam.\rKetaatan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada hakikatnya telah mengikuti Salafush Sholeh.\rBegitupula mengikuti Imam Mazhab yang empat yang melihat langsung penerapan, perbuatan serta contoh nyata jalan atau cara beribadah dari Salafush Sholeh pada hakikatnya telah mengikuti Salafush Sholeh.\rSebaliknya mereka yang merasa mengikuti Salafush Sholeh kenyataanya mereka hanyalah mengikuti para ulama yang mengaku-aku mengikuti Salafush Sholeh namun tidak bertalaqqi (mengaji) dengan Salafush Sholeh dengan kata lain mereka pada hakikatnya tidak mengikuti Salafush Sholeh namun mengikuti akal pikiran para ulama mereka semata.\rContohnya sebagaimana telah diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/02/08/mencegah-keji-mungkar/ bagaimana salah satu ulama panutan mereka tidak dapat “melihat” bagaimana sholat mencegah perbuatan keji dan mungkar termasuk mencegah perbuatan maksiat.","part":2,"page":352},{"id":853,"text":"Jikalau telah menjalankan sholat dan telah memenuhi syarat dan rukun sholat namun tetap melakukan perbuatan keji dan mungkar ataupun perbuatan maksiat ada dua kemungkinan “gagal” sholat mencegah perbuatan keji dan mungkar yakni\r1. Ilmu yang dipahami oleh mereka tentang syarat dan rukun sholat adalah keliru dikarenakan menyelisihi apa yang disampaikan oleh Imam Mazhab yang empat yang telah melihat langsung cara sholat Salafush Sholeh yang mengikuti cara sholat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.\rCara sholat mereka mengikuti akal pikiran mereka sendiri hasil belajar sendiri (secara otodidak) melalui cara muthola’ah, menelaah kitab.\r2. Amal sholatnya tidak khusyuk sehingga tidak menjadikan mereka muslim yang berakhlakul karimah atau muslim yang Ihsan.\rUrutannya adalah ilmu -> amal -> akhlak\rBerdasarkan ilmu yang didapat kita melaksanakan amal sholat, amal sholat yang selalu dilakukan dengan benar dan khusyuk membentuk muslim yang berakhlak baik atau berakhlakul karimah. Muslim yang berakhlak baik adalah muslim yang ihsan\rAda dua kondisi yang dicapai oleh muslim yang ihsan atau muslim yang telah berma’rifat.\rKondisi minimal adalah mereka yang selalu merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla.\rKondiri terbaik adalah mereka yang berma’rifat atau mereka yang dapat melihat Allah Azza wa Jalla dengan hati (ain bashiroh)\rقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِحْسَانُ قَالَ أَنْ تَخْشَى اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنَّكَ إِنْ لَا تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ","part":2,"page":353},{"id":854,"text":"Lalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu takut (takhsya / khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya (bermakrifat), maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.’ (HR Muslim 11)\rImam Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani,\r“Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”\rBeliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”\r“Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali.\rSayyidina Ali ra menjawab “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati (bermakrifat)”\rSebuah riwayat dari Ja’far bin Muhammad beliau ditanya: “Apakah engkau melihat Tuhanmu ketika engkau menyembah-Nya?” Beliau menjawab: “Saya telah melihat Tuhan, baru saya sembah”. Bagaimana anda melihat-Nya? dia menjawab: “Tidak dilihat dengan mata yang memandang, tapi dilihat dengan hati yang penuh Iman (bermakrifat)”\rRasulullah bersabda “Iman paling afdol ialah apabila kamu mengetahui bahwa Allah selalu menyertaimu dimanapun kamu berada“. (HR. Ath Thobari)\rBagi muslim yang sholatnya benar dan khusyuk maka akan mencapai muslim yang Ihsan, minimal akan timbul keyakinan pengawasan Allah Azza wa Jalla terhadap segala sikap dan perbuatan sehingga selalu akan berupaya menghindari perbuatan maksiat, menghindari perbuatan keji dan mungkar dan menghindari segala perbuatan yang dibenci oleh Allah Azza wa Jalla.","part":2,"page":354},{"id":855,"text":"Muslim yang Ihsan akan mencapai miminal muslim yang sholeh (sholihin) sebagai bukti nyata dari ketaatan terhadap Allah Azza wa Jalla dan RasulNya sehinga berkumpul dengan 4 golongan manusia yang mendapatkan maqom disisiNya lainnya\rFirman Allah ta’ala yang artinya, “Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya .” (QS An Nisaa [4]: 69 )\rSemakin dekat kita kepada Allah sehingga menjadi kekasihNya (Wali Allah). Maqom Shiddiqin atau kedekatan dengan Allah diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/09/09/2011/09/28/maqom-wali-allah/\rMuslim yang Ihsan , mereka itu mahfudz (dipelihara) dengan pemeliharaan Allah Azza wa Jalla terhadap orang-orang sholeh.\rFirman Allah ta'ala yang artinya ”...Sekiranya kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya, niscaya tidak ada seorangpun dari kamu yang bersih (dari perbuatan keji dan mungkar) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa saja yang dikehendaki…” (QS An-Nuur [24]:21)\rMuslim yang dikehendaki oleh Allah Azza wa Jalla adalah mereka yang meraih maqom disisiNya, minimal adalah muslim yang sholeh.\rMenurut Al-Hakim al-Tirmidzi (205-320H/ 820-935M) , muslim yang mendapatkan maqom disisiNya hingga mencapai al-awliya ‘ishmah berarti mahfudz (terjaga) dari kesalahan sesuai dengan derajat, jenjang, dan maqamat mereka. Mereka mendapatkan ‘ishmah sesuai dengan peringkat kewaliannya.","part":2,"page":355},{"id":856,"text":"Adanya pemeliharaan, cinta kasih, dan pertolongan Allah kepada al-awliya (wali Allah) sedemikian rupa merupakan manifestasi dari makna al-walayah (kewalian) yang berarti dekat dengan Allah dan merasakan kehadiranNya, hudhur ma’ahu wa bihi (merasakan kehadiran-Nya oleh diri-Nya)\rFirman Allah ta’ala yang artinya,\r“Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat”. (QS Shaad [38]:46)\r“Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik”. (QS Shaad [38]:47)\rDalam sebuah hadits qudsi Allah ta’ala berfirman, “jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya yang ia jadikan untuk mendengar, dan pandangannya yang ia jadikan untuk memandang, dan tangannya yang ia jadikan untuk memukul, dan kakinya yang dijadikannya untuk berjalan, jikalau ia meminta-Ku, pasti Kuberi, dan jika meminta perlindungan kepada-KU, pasti Ku-lindungi. Dan aku tidak ragu untuk melakukan sesuatu yang Aku menjadi pelakunya sendiri sebagaimana keragu-raguan-Ku untuk mencabut nyawa seorang mukmin yang ia (khawatir) terhadap kematian itu, dan Aku sendiri khawatir ia merasakan kepedihan sakitnya.” (HR Bukhari 6021)\rSedangkan mereka yang melaksanakan sholat namun tetap melakukan perbuatan maksiat atau tidak menyadari kesalahan yang mereka perbuat adalah bukti ketidak-dekatan mereka kepada Allah Azza wa Jalla.","part":2,"page":356},{"id":857,"text":"Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang shalatnya tidak mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, maka ia tidak bertambah dari Allah kecuali semakin jauh dariNya” (diriwayatkan oleh ath Thabarani dalam al-Kabir nomor 11025, 11/46)\rImam Al Baihaqi menyebutkan satu riwayat, bahwa Imam As Syafi’i pernah mengatakan,”Aku telah bersahabat dengan para sufi selama sepuluh tahun, aku tidak memperoleh dari mereka kecuali dua perkara ini, ”Waktu adalah pedang” dan “Termasuk kemaksuman, engkau tidak mampu” (maknanya, sesungguhnya manusia lebih cenderung berbuat dosa, namun Allah menghalangi, maka manusia tidak mampu melakukannya, hingga terhindar dari maksiat).\rPerkataan Imam As Syafi’i ra yang disampaikan Imam Al Baihaqi tersebut sesuai dengan firman Allah Azza wa Jalla yang artinya, ”...Sekiranya kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya, niscaya tidak ada seorangpun dari kamu yang bersih (dari perbuatan keji dan mungkar) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa saja yang dikehendaki…” (QS An-Nuur:21)\rAllah membersihkan siapa saja yang dikehendakiNya , Allah menghalanginya dari perbuatan keji dan mungkar, menghalanginya dari perbuatan maksiat, menghalanginya dari kesalahan. Inilah penjagaan Allah Azza wa Jalla terhadap mereka yang mendapatkan maqom disisiNya. Andaikan mereka membuat kesalahan pun maka Allah Azza wa Jalla menyegerakan teguranNya sehingga memberikan kesempatan untuk bertaubat tidak mengundurkan teguran menjadi balasan di akhirat kelak karena mengetahui kesalahan ketika di akhirat kelak adalah menunjukkan ketidak-dekatan dengan Allah Azza wa Jalla","part":2,"page":357},{"id":858,"text":"Berikut contoh pemeliharaan Allah subhanahu wa ta’ala terhadap orang-orang sholeh\rImam asy-Syafi’i berkata: ‘Saya mengadu kepada Waqi’ (guru beliau) buruknya hafalanku, maka dia menasihatiku agar meninggalkan maksiat. Dan ia mengabarkan kepadaku bahwa ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak diberikan kepada pelaku maksiat”.\rSetelah Imam asy Syafi’i merunut (mencari tahu) kenapa beliau lupa hafalan Al-Qur’an (hafalan Al-Qur`ânnya terbata-bata), ternyata dikarenakan beliau tanpa sengaja melihat betis seorang wanita bukan muhrim yang tersingkap oleh angin dalam perjalanan beliau ke tempat gurunya.\r‘Abdullâh bin Al-Mubarak meriwayatkan dari adh-Dhahak bin Muzahim, bahwasanya dia berkata;”Tidak seorangpun yang mempelajari Al-Qur`ân kemudian dia lupa, melainkan karena dosa yang telah dikerjakannya. Karena Allah berfirman Subhanahu wa Ta’ala :\rوَمَآأَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ\r(\"Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri\" (QS Asy-Syûra [42]: 30)- . Sungguh, lupa terhadap Al-Qur`ân merupakan musibah yang paling besar * (. Fadha`ilul-Qur`ân, karya Ibnu Katsir, hlm. 147)\rItulah contoh mereka yang disayang oleh Allah ta’ala dan diberi kesempatan untuk menyadari kesalahan mereka ketika masih di dunia.\rWassalam\rZon di Jonggol, Kab Bogor 16830","part":2,"page":358}],"titles":[{"id":1,"title":"Piss-Ktb (53)","lvl":1,"sub":0}]}