{"pages":[{"id":1,"text":"DAFTAR ISI\rTaqridh Pengasuh …iii\rMuqoddimah …iv\rDaftar isi…vi\rBAB ILMU\rMengamalkan wirid, dzikir atau do’a tanpa digurukan…\rMengikuti thoriqoh mu’tabaroh bagi orang bodoh…\rUcapan lafal Alloh, thoyyib dll. ketika waqof qir`ah…\rMendengarkan bacaan al-Qur`an dari radio …\rPembacaan al-Qur`an dan berda’wah melalui musik …\rBAB THOHAROH\rPipa air ledeng kemasukan air najis …\rSesuatu yang menjijikkan yang keluar selain sau`atain …\rPerabot yang terbuat dari tulang bangkai yang dimasak …\rMemampangkan perhiasan dari bangkai kering diawetkan …\rMemelihara burung walet (sarang burung) di menara masjid …\rCara bersuci wanita haid lantaran minum obat …\rHasil foto copy mushaf/al-Qur`an …\rMenyentuh dan mengoperasikan disket al-Qur`an …\rBAB SHOLAT\rHukum seseorang yang dibawa syetan …\rMenjawab adzan dari radio …\rAdzan memakai pengeras suara dengan berbagai lagu …\rMengqodlo sholat/puasa yang tidak tahu jumlahnya …\rMengetahui intiqolul imam melalui layar monitor …\rMushofahah/jabat tangan setelah sholat lima waktu …\rAda 40 pekerja pabrik ingin mengadakan jum’atan sendiri …\rSatu desa didirikan dua jum’atan …\rDesa bergandengan mengadakan jum’atan sendiri-sendiri …\rBatas-batas ’usrul ijtima’…\rHukum khotib menerjemahkan khotbah Jum’at …\rKhotbah Jum’at dengan bahasa Arab kemudian diterjemah …\rMenemui rokaat kedua dari rokaat kedua imam pengganti …\rSholat qoshor di daerah yang tak ada sur baladnya …\rOrang kuliah melakukan sholat jama’ dan qoshor …\rBAB JENAZAH\rOrang telah meninggal dunia, kemudian hidup lagi …","part":1,"page":1},{"id":2,"text":"Perawatan mayat yang tidak diketahui agamanya …\rMenemukan sebagian anggota tubuh mayat …\rSholat mayit dilakukan dua kali …\rMembaca dzikir ketika mengiring mayat ke quburan …\rMembawa mayit ke quburan dengan bagian kepala di depan …\rAdzan setelah memasukkan mayit ke liang qubur …\rHukum mentalqin mayit kafir …\rSatu kali bacaan surat al-Fathihah untuk para ahli qubur …\rSelamatan hari ketiga s/d hari keseribu setelah kematian …\rMembakar dupa (menyan) di dekat mayit dan lain-lainnya …\rMembersihkan rerumputan dan pepohonan di quburan …\rBAB ZAKAT\rBiaya pemupukan dan pengobatan tidak mempengaruhi zakat …\rKurs harta dagangan di Indonesia …\rKedudukan Kyai, muballigh dan lainnya dalam bab zakat …\rZakat diberikan Kyai untuk membangun pondok …\rPelajar ilmu syara’ menerima zakat dari orang tuanya …\rStatus panitia zakat di Inodnesia …\rMenjual barang yang berlebihan untuk zakat fitrah …\rZakat fitrah dengan makanan pokok yang tak terbiasa …\rPembagian zakat dengan pakai formulir dan batas waktu …\rMengeluarkan zakat ditetapkan pada bulan-bulan mulia…\rBAB PUASA\rPenetapan awal Romadlon yang berselisih …\rTakbiran dengan diiringi tabuhan/musik …\rBAB HAJI\rMelakukan Ihrom haji sebelum sampai miqot …\rOrang sedang ihrom wajib melepaskan hewan peliharaannya …\rBAB BAI’ (JUAL-BELI)\rMenjual sepeda motor kreditan yang masih belum lunas …\rJual-beli surat ijin atau sejenisnya …\rJual-beli ayam hidup dengan ditimbang …\rJual-beli minyak wangi gram-graman dengan pelayanan cc …\rMengganti susuk (kelebihan belanja) dengan barang seharga …","part":1,"page":2},{"id":3,"text":"Membuat robot dan menggunakannya untuk jual-beli …\rMenjual lampu masjid yang sudah tak terpakai …\rJual-beli dengan tanpa penjaga dan kasir …\rJual-beli azimat, jaljalut dan sejenisnya …\rJual bambu berikut tunas-tunasnya …\rMenjual daging/kulit qurban untuk pembangunan masjid …\rMenjual kelapa dengan sabutnya …\rMembeli barang yang memakai ‘kupon berhadiah’ …\rBAB QORDL (UTANG-PIUTANG)\rHutang emas/perak yang telah mencapai 1 nishob …\rMembayar hutang sesuai dengan kurs waktu pembayaran …\rBendahara meminjamkan uang atau mengembangkannya …\rTabungan dengan memungut beberapa persennya …\rArisan dengan setoran bervariasi …\rTabanas menurut pandangan Islam …\rBAB IJAROH (PERSEWAAN)\rMeminjamkan/menyewakan video cassete …\rKewajiban membayar SPP penuh …\rMemborong pembuatan sumur bor …\rGaji pegawai yang masuknya dengan membayar suap …\rMencetak al-Qur`an/kitab salaf kepada orang kafir …\rBAB WAQOF (AMAL JARIYAH)\rUang sumbangan untuk pondok/masjid tidak disebutkan …\rUang khusus bangunan masjid/pondok untuk yang lainnya …\rPenggusuran tanah qubur, tanah masjid dan tanah milik …\rHasil kotak jariyah pesarean untuk kepentingan haul …\rHasil infaq bangunan masjid untuk membuat WC/pagar …\rMerehab bangunan waqofan dengan pengrusakan …\rSumbangan pembangunan masjid dengan kupon berhadiah …\rMenerima dan meminta bantuan kepada orang kafir …\rMencari dana dengan pertandingan olah raga …\rBAB WASIAT (HARTA PUSAKA)\rMelaksanakan wasiat orang tua …\rBAB NIKAH (PERKAWINAN)\rPerkawinan dengan wali hakim atau wali ab’ad …","part":1,"page":3},{"id":4,"text":"Mengangkat saksi yang belum tahu syarat penyaksian …\rPerkawinan dengan mas kawin membaca al-Qur`an …\rWanita diwathi syubhat oleh dua lelaki …\rMenyuntikkan air mani ke rahim orang lain …\rPenentuan nasab anak kepada orang tuanya …\rWakil wali menikahkan dengan pilihan sang anak yang janda …\rBAB JINAYAH\rHukum donor darah …\rMengganti jantung manusia dengan jantung anjing …\rMerubah alat kelamin …\rMenyewakan mata mayit kepada orang yang masih hidup …\rOperasi penambalan anggota tubuh atau ganti ginjal …\rPemisahan bayi kembar siam …\rMengangkat kandungan untuk mencegah kehamilan …\rMemindahkan penyakit manusia ke hewan …\rMengembalikan sihir kepada yang menyihir tanpa membunuh …\rMenggunakan obat/suntik untuk mencegah kehamilan …\rMelepas alat bantu pernafasan hingga pasien mati …\rBAB QODLO’ (KEPUTUSAN)\rKonsekuensi hukum Indonesia dengan hukum Islam …\rPengurus pondok mengusir/mengistirahatkan santri …\rBAB ATH’IMAH (MAKANAN)\rBatas-batas kekuatan kuku dan taring hewan yang haram …\rOrang nadzar selamatan ikut makan jamuan selamatannya …\rHukum bekicot dalam Islam …\rBAB MASA`IL SYATTA (LAIN-LAIN)\rMendatangi dan mempercayai dukun …\rHukum menonton televisi dan sejenisnya …\rMemakai sarung Samarinda bercap ‘100% sutera asli’ …\rMemuat aib seseorang di koran atau media cetak lainnya …\rBatas-batas qot’ur rohim (memutus tali persaudaraan) …\rBerkumpulnya siswa-siswi dalam kelas yang tanpa satir …\rHukum menjadi panitia menyambut hari natal …\rBerjabatan tangan atau mengucap ‘mohon maaf atas semua dosa’ …\rBAB ILMU","part":1,"page":4},{"id":5,"text":"Mengikuti Wirid, Dzikir atau Do’a Tanpa Digurukan\rDiskripsi masalah:\rAda seseorang muthola’ah (mengkaji) kitab, lalu menemukan keterangan-keterangan di dalamnya seperti aurod (wirid-wirid), dzikir (pujian terhadap Alloh), doa-doa dan sesamanya. Kemudian ia ingin mengamalkannya tanpa diijazahkan (digurukan).\rPertanyaan:\rBolehkah mengamalkan hal tersebut?\rDan bila terpaksa mengamalkan, apakah ada manfaatnya?\rJawaban:\rMengamalkan hal tersebut Boleh, apabila orang tersebut mempunyai keahlian dalam hal itu, dan ia juga mendapatkan manfaat.(1)\rPengambilan ibarat:\rZubdatul Itqon, hal. 29\rوفى زبدة الإتقان صحيفة 29، مانصه:\rالاجازة من الشيخ غير شرط فى جواز التصدى للاقراء والافادة فمن علم من نفسه الاهلية جازله ذلك وان لم يجزه احد وعلى ذلك السلف والصدر الصالح، وكذلك فى كل علم وفى الاقراء وافتاء خلافا لما يتوهمه الا غبياء من اعتقاد كونها شرطا. اهـ\rMengikuti Thoriqoh Mu’tabaroh Bagi Orang Bodoh\rPertanyaan:\r__________\r(1) Catatan mushohhih:\rPerlu diketahui bahwa manfaat tersebut adalah manfaat ammah (secara umum). Adapun manfaat khosshoh/asror (secara khusus/rahasia) tidak bisa dihasilkan tanpa ijazah dari seorang guru.\rPengambilan Ibarat:\rKhozinatul Asror, hal. 221\rTafsir Asshowi, juz I, hal. 24\rوفى خزينة الأسرار الكبرى، ص 221، مانصه:\rوقال الشيخ أبو على الدقاق لو أن رجلا يوحى اليه ولم يكن له شيخ لايجىء منه شيء من الاسرار. اهـ\rوفى تفسير الصاوى، ج 1 ص 24، مانصه:\r(قوله فتلقى آدم من ربه كلمات) إلى أن قال ومن هنا ان الذاكر لاينتفع بالذكر ولا ينور باطنه إلا اذا كان الشيخ عارفا واذنه فى ذلك والذاكر مشتاقا كتلقى آدم كلمات. اهـ","part":1,"page":5},{"id":6,"text":"Bagaimana hukum seseorang yang bodoh akan syarat-syarat wudlu, sholat dan tentang fardlu ain lainnya mengikuti (mlebu: Jawa) thoriqot mu’tabaroh? Dan bagaimana pula hukum seseorang Mursyid menerima orang bodoh semacam itu?\rJawaban:\rBagi orang bodoh semacam itu Boleh mengikuti thoriqoh dimaksud, kalau memang mempunyai keyakinan atau perkiraan bahwa setelah masuk thoriqoh dia akan bisa mempelajari ilmu syara’ dan ushuluddin beserta furu’-furu’nya (cabang-cabangnya). Kalau tidak demikian, maka dia Tidak Boleh mengikuti bahkan dia wajib terlebih dahulu mempelajari ilmu tersebut di atas.\rDan bagi mursyid boleh menerimanya, apabila bisa memberi pelajaran ilmu syari’at (ushuluddin serta furu’-furu’nya) dan kalau tidak bisa, maka tidak boleh menerimanya.\rPengambilan ibarat:\rAhkamul Fuqoha’, juz I, hal. 74\rAl-Futuhatul Ilahiyah, juz … hal. 823\rTanwirul Qulub, hal. 524\rوفى أحكام الفقهاء، ج 1 ص 74، مانصه:\rهل يجوز للجاهل الذى لايعرف شروط الوضوء وفروضه والصلاة ونحوها الدخول فى الطريقة المعتبرة او لا؟\rالجواب: ان تيقن او ظن انه يتعلم العلوم الدينية بعد الدخول فى الطريقة فحكمه جائز والا فلا يجوز بل يجب اولا ان يتعلم اصول الدين ثم فروعه. اهـ\rوفى فتوحات الإلهية ص 733، مانصه:\rثم يعلمه مايلزمه فى دينه من طهارة وصلاة وما يتعلق بذلك إن كان جاهلا وما تيسر من علم التوحيد خاليا عن الدليل فإن كان الشيخ ليس من شأنه دفعه إلى من يعلمه. اهـ\rوفى تنوير القلوب ص 524، مانصه:","part":1,"page":6},{"id":7,"text":"ويشترط فى المرشد شروط (الاول) ان يكون عالما بما يحتاج اليه المريدون من الفقه العقائد بقدر ما يزيل الشبه التى تعرض للمريد فى البداية ليستغنى به عن سؤال غيره. اهـ\rUcapan Lafadh Alloh, Thoyyib dll. ketika Waqof Qiro`ah\rDiskripsi masalah:\rSering kita dengar pada waktu ada orang membaca al-Qur`an, setelah waqof (berhenti sejenak) orang-orang mendengarkan bacaan itu mengucapkan lafadh Alloh, thoyyib dan sebagainya.\rPertanyaan:\rBagaimanakah hukumnya bacaan Alloh dan sebagainya tersebut?\rJawaban:\rPerlu diketahui bahwa dalam bacaan al-Qur`an terdapat beberapa kesunatan, di antaranya: mendengarkan dan meninggalkan sesuatu yang menimbulkan kegaduhan. Maka hukumnya membaca Alloh, thoyyib dan sebagainya pada waktu waqof yang ada di sela-sela qiro`ah itu adalah Khilaful Aula.\rPengambilan ibarat:\rTsamrotur Roudloh, hal. 190\rوفى ثمرة الروضة ص 190، مانصه:\rلو قال سامعوا القراءة طيب طيب او الله الله على وجه الاستحسان كما هو العادة فهل يحصل لهم الانصات المأمور بقوله تعالى: { واذا قرئ القران فاستمعوا له وانصتوا ... الاية } اولا؟\rالجواب: لايحصل لان الانصات انما يحصل بترك الكلام والذكر كما فى منهاج القويم فى سنن الجمعة. اعلم ان لقراءة القرأن سننا ذكرها فى الاتقان. منها الاستماع لها وترك اللغط والحديث بحضورها. اهـ\rMendengarkan Bacaan al-Qur`an dari Radio\rPertanyaan:\rSuara bacaan al-Qur`an dari radio, kaset dan tip recorder/piringan, apakah masih disunatkan mendengarkannya, sehingga orang yang mendengarkan masih mendapatkan pahala?\rJawaban:","part":1,"page":7},{"id":8,"text":"Masih tetap disunatkan, dan juga bagi sami’ (orang yang mendengarkan-nya) masih mendapat pahala.\rPengambilan ibarat:\rKhozinatul Asror, hal. 55\rTafsir al-Khozin, juz II, hal. 159\rوفى خزينة الاسرار ص 55، مانصه:\rوأخرج الديلمى عن ابن عباس رضى الله عنهما عن النبى - صلى الله عليه وسلم - انه قال الداعى والمؤمن فى الاجر شريكان والقارئ والمستمع فى الاجر شريكان والعالم والمتعلم فى الاجر شريكان كذا فى الجامع الصغير فظهر ان استماع القرأن من الغير فى بعض الاحيان من السنن. واما انه هل يفرض استماعه كلما قرئ بناء على قوله تعالى: واذا قرئ القران فاستمعواله وانصتوا لعلكم ترحمون، ففى الصلاة نعم واما خارجها فعامة العلماء على استحبابه. اهـ\rوفى تفسير الخازن، ج 2 ص 159، مانصه:\rاى واذا قرئ عليكم ايها المؤمنون القرأن فاستمعواله يعنى اصغوا اليه بأسماعكم لتفهموا معانيه وتتدبروا مواعظه وانصتوا يعنى عند قراءته والانصات السكوت للاستماع -إلى أن قال- وللعلماء فى ذلك اقوال القول الاول قول الحسن واهل الظاهر ان تجرى هذه الايات على العموم ففى اى وقت واى موضع قرئ القران يجب على كل احد الاستماع له والسكوت. اهـ\rPembacaan al-Qur`an dan Berdakwah Melalui Musik\rDiskripsi masalah:\rDalam blantika musik kita, kadang terdengar bacaan al-Qur`an dan atau al-Hadits yang bernafaskan dakwah.\rPertanyaan:\rBagaimana hukum membaca al-Qur`an/al-Hadits tersebut?\rBagaimana pula hukum dakwah dengan cara tersebut, menurut pandangan Islam?\rJawaban:\rMembaca al-Qur`an/al-Hadits yang kemudian diiringi membunyikan alat malahi (musik) hukumnya Haram.\rDakwah dengan cara tersebut juga Haram, sehingga tujuan penyanyinya berdakwah pun tidak dibenarkan Islam.","part":1,"page":8},{"id":9,"text":"Pengambilan ibarat:\rMadzaibul Arba’ah, juz III, hal. 128\rFatawi Arromliy, hal. 387\rوفى مذاهب الآربعة، ج 3 ص 128، مانصه:\rوقد يقال فى زمننا ان الناس ينصرفون عن تعلم القران اذا لم يجدوا فيه شيئا يساعدهم على قوتهم -إلى أن قال- ولكن الذى لايمكن اقراره بحال انما هو مااعتاده بعض القراء من فعل ماينافى التأدب مع كتاب الله تعالى كتلاوته على قارعة الطريق للتسول به وفى الاماكين التى نهى الشرع عن الجلوس فيها وتلاوته على حالة تنافى الخشية والاتعاظ بآياته الكريمة كما يفعل بعض القراء من التغنى به فى مجالس المآثم والولائم التى نهى الشارع عنها لما فيها من المنكرات وتأوه الناس فى مجلسه كما يتأوهون فى مجالس الغناء -إلى أن قال- فان ذلك كله حرام باطل لايمكن الاقرار عليه بأي حال. اهـ\rوفى فتاوى الرملى ص 387، مانصه:\rلايؤاخذ المكلف بالهاجس ولا بالخاطر ولا بحديث النفس ولا بالهم ويؤاخذ بالعزم والخطر ما يجرى فى النفس بعد إلقائه فيها وحديث النفس هل يفعل او لايفعل والهم قصد الفعل والعزم الجزم بقصد الفعل. اهـ\rBAB THOHAROH\rPipa Air Ledeng Kemasukan Najis\rPertanyaan:\rBagaimana hukumnya air ledeng yang pipanya kemasukan najis?\rJawaban:\rApabila najis itu ikut mengalir, maka air satu jiryah (aliran) yang bersamaan najis tersebut hukumnya najis sedangkan lainnya suci.\rApabila najis tersebut jamid (keras) dan tidak ikut mengalir (berhenti) maka hukum air yang melewatinya najis.\rKeterangan:\rSatu jiryahnya pipa ialah satu gelombang air yang seukuran dengan besarnya pipa tersebut.\rAir tersebut dapat suci bila berkumpul sampai dua qulah dan tidak berubah.\rPengambilan ibarat:\rKasyifatus Saja, hal. 22\rوفى كاشفة السجا، ص22، مانصه :","part":1,"page":9},{"id":10,"text":"اعلم ان الماء الجارى كالراكد فيما مر لكن العبرة فى الجارى نفسها لامجموع الماء، فان الجاريات متفاصلة حكما وان اتصلت فى الحس لان كل جرية طالبة لما قبلها هاربة عما بعدها، فان كانت الجرية وهى الدفعة التى بين حافتى النهر فى العرض دون القلتين تنجس بملاقة النجاسة سواء تغير ام لا، ويكون محل تلك الجرية من النهر نجسا ويطهر بالجرية بعدها ويكون فى حكم غسالة النجاسة حتى لوكانت مغلظة فلابد من سبع جريات عليها ومن التتريب أيضا فى غير الارض الترابية، هذا فى نجاسة تجرى فى الماء، فان كانت جامدة واقفة فذلك المحل نجس وكل جرية تمر بها نجسة الى ان يجتمع قلتان منه فى موضع كفسقية مثلا فحينئذ هو طهور اذالم يتغير بها. اهـ\rSesuatu yang Menjijikkan yang Keluar dari Selain Sau’atain\rPertanyaan:\rApakah sebabnya sesuatu hal yang keluar dari qubul dan dubur membatalkan wudlu, sedangkan yang keluar dari lainnya walaupun menjijikkan kok tidak termasuk hal yang membatalkan?\rJawaban:\rSesuatu hal yang membatalkan wudlu tergolong masalah ta’abbudiy (tidak bisa dijangkau oleh akal tentang alasannya).\rPengambilan ibarat:\rAl-Bujairomi alal Khothib, juz I, hal. 177\rAl-Asybah wan Nadho`ir, hal. 234\rوفى بجيرمى خطيب، ج 1 ص 177، مانصه:\rوعلة النقض بها غير معقولة المعنى فلا يقاس عليها غيرها.\rوفى الأشباه والنظائر، ص 234، مانصه:\r(ومنها) اسباب الحدث والجنابة تعبدى لايعقل معناها فلا يقبل القياس. اهـ\rPerabot yang Terbuat dari Tulang Bangkai yang Masak\rPertanyaan:\rBagaimana hukumnya alat-alat atau bejana yang terbuat dari tulang bangkai yang sudah dimasak?\rJawaban:\rHukumnya najis.\rPengambilan ibarat:\rAl-Bujairomi alal Khothib, juz I, hal. 106","part":1,"page":10},{"id":11,"text":"As-Syarqowi, juz I, hal. 125\rBusyrol Karim, juz I, hal. 40-42\rوفى البجيرمى على الخطيب، ج 1 ص 106، مانصه:\r(ويحل استعمال كل اناء طاهر) -إلى أن قال- وبالطاهر النجس كالمتخذ من ميتة فيحرم استعماله فيما ينجس به كماء قليل ومائع (قوله وبالطاهر) اى وخرج بالطاهر النجس اى غير المغلظ، اما المغلظ فيحرم استعماله مطلقا. اهـ\rوفى الشرقاوى، ج 1 ص 125، مانصه:\rذكر ع ش فيما لو تنجس اناء من عاج بنجاسة مغلظة وغسل سبعا احداهن بتراب طهور انه يطهر من النجاسة المغلظة على المعتمد ولا يطهر من النجاسة الاصلية لان العاج نجس بالاجماع. اهـ\rوفى بشرى الكريم، ج 1 ص 40-42، مانصه:\r(والميتة) بجيمع اجزائها وان لم تكن لها نفس سائلة -إلى أن قال- (ويطهر شيء من النجاسات) بغسل مطلقا ولاباستحالة واما ميتة وقعت فى ملاحة فصارت ملحا او حرقت فصارت رمادا او سرجين صار طينا فباقية على نجاستها وليست هذه استحالة اذ هى ان يبقى الشيء بحاله وانما تتغير صفاته (الا ثلاثة اشياء الخمر مع انائها اذا صارت خلا بنفسها، والجلد المتنجس بالموت يطهر بالدبغ ظاهره وباطنه وما صار حيوانا) كالميتة اذا صارت دودا. اهـ\rMemampangkan Perhiasan dari Bangkai Kering Diawetkan\rPertanyaan:\rBagaimana hukumnya memasang perhiasan yang terbuat dari bangkai, seperti bangkai burung yang diberi bahan pengawet, kemudian ditaruh di atas buffet misalnya?\rJawaban:\rBoleh dan makruh, menurut wajah yang shohih.\rPengambilan ibarat:\rAl-Majmu’, juz X, hal. 234\rAl-Bujairomi alal Khothib, juz I, hal. 106\rوفى المجموع، ج 9 ص 234، مانصه:\r(الثانية) يكره اقتناء العذرة والميتة، وقال المصنف ومن بايعه لايجوز وظاهره التحريم وليس هو على ظاهره بل هو محمول على كراهية التنزيه. اهـ","part":1,"page":11},{"id":12,"text":"وفى البجيرمى على الخطيب، ج 1 ص 106، مانصه:\r(ويحل استعمال كل اناء طاهر) -إلى أن قال- وخرج بالطاهر النجس كالمتخذ من ميتة فيحرم استعماله فيما ينجس به كماء قليل ومائع لافيما لاينجس به كماء كثير او غيره مع الجفاف.\r(قوله مع الجفاف) ويكون الاستعمال مكروها. اهـ\rMemelihara Burung Walet (Sarang Burung) di Menara Masjid\rDiskripsi masalah:\rSarang burung (burung walet/Lundoyo) jika sudah bertempat dengan tenang di satu tempat, dapat menghasilkan uang tunai hingga jutaan rupiah.\rPertanyaan:\rBagaimana hukum memelihara burung walet yang sedang bersarang di menara masjid?\rJawaban:\rHukum memelihara burung di menara masjid tersebut tafsil:\rBoleh, apabila menara tersebut tidak termasuk masjid, dan burung walet tidak mengotori masjid\rTidak boleh (haram), apabila menara tersebut termasuk masjid dan atau burung tersebut mengotori masjid.\rPengambilan ibarat:\rFathul Jawad, hal. 30 (syarh nadhom)\rAs-Syarwani, juz III, hal. 483\rAl-Iqna’, juz I, hal. 215\rوفى فتح الجواد بشرح منظومة ابن العماد ، ص 30، مانصه:\r…والطيران نزلت فى مسجد تركت…( ولم يجب طردها من خوف ذرقته\r…وان به عششت فى عشها تركت…( لفرخها ولبيض حال حضنته\r…وهكذا بابن دقيق العيد صنفه…( وقال هم اجمعوا واحكم بصحته\r(قوله تركت) قال الناظم لو نزل طير فى مسجد حرم تنفيره وان علم انه يبول فيه ويذرق ولا يجب تنحية فراخه من المسجد ولا غيره. اهـ","part":1,"page":12},{"id":13,"text":"(قوله وقال هم اجمعوا) على جواز اقتناء الحمام فى المساجد واستدل بذلك على طهارة بول ما يؤكل لحمه (فاحكم بصحته) قال المصنف وغيره ولعله اراد بالاقتناء انها اذا عششت فى المسجد تركت ولم يجب تنفيرها من خوف الذرق واما ادخالها قصدا وتركها فى المسجد فلا ينبغى تجويزه وان قلنا بطهارة بولها وذرقها لان تنزية المسجد من المستقذرات الطاهرات واجب. اهـ\rوفى الشروانى، ج 3 ص 483، مانصه:\rولا بخروج المؤذن الراتب الى منارة منفصلة عن المسجد) لكنها قريبة منه مبنية له (للاذن فى الاصح) لانها مبنية لاقامة شعائر المسجد معدودة من توابعه -إلى أن قال- واما بعيدة عن المسجد اى بحيث لاتنسب اليه عرفا فيما يظهر ثم رايت من ضبطه بان تكون خارجة عن جوار المسجد وجاره اربعون دارا من كل جانب. وبعضهم ضبطه بما جاوز حريم المسجد او مبنية لغيره الذى متصلا به فيضر صعودها مطلقا بخلاف المتصل به لان المساجد المتلاصقة حكمها حكم المسجد الواحد واما متصلة بأن يكون بابها فى المسجد ورحبته فلايضر صعودها مطلقا. اهـ\rوفى هامش الإقناع، ج 1 ص 215، مانصه:\r(فرع) البناء فى هواء المسجد ان بني قبل المسجدية فليس له حكم المسجد وكذا ان بنى مع المسجدية اما لوبنى بعد المسجد فله حكم المسجد. اهـ\rCara Bersuci Wanita Haid Lantaran Minum Obat\rPertanyaan:\rBagaimana cara mengetahui sesuci dan sholatnya orang perempuan yang mengeluarkan darah haid tidak teratur sebab minum obat? Contoh: Pada bulan syawal mengeluarkan darah mulai tgl. 1 s/d 20, bulan Dzul Qo’dah tgl. 7 s/d 15, bulan Dzul Hijjah tgl 10 s/d 19, dan bulan Muharrom tgl. 1 s/d 30.\rJawaban:","part":1,"page":13},{"id":14,"text":"Perlu diketahui, bahwa tidak teraturnya pengeluaran darah dari seorang perempuan yang disebabkan minum obat tidak menjadikan persoalan dalam masalah fiqh.\rMaka dari itu perlu kami berikan jawaban sesuai dengan contoh yang tercantum dalam soal sebagai berikut:\rBila pada bulan Syawal keluar darah dari tgl. 1 s/d 20, maka ditafsil:\rApabila mubtadi`ah mumayyizah, maka dikembalikan kepada tamyiz.\rApabila mubtadi`ah ghoiru mumayyizah, maka dikembalikan kepada sedikit-sedikitnya haid (sehari semalam).\rApabila mu’taddah mumayyizah, maka dikembalikan pada tamyiz.\rApabila mu’taddah ghoiru mumayyizah, maka dikembalikan pada adat (kebiasaan) nya.\rBilamana bulan Dzul Qo’dah keluar darah dari tgl. 7 s/d 15, maka semuanya dihitung darah haid.\rBilamana bulan Dzul Hijjah keluar darah dari tgl. 10 s/d 19, maka semuanya dihitung darah haid.\rBilamana bulan Muharrom keluar darah dari tgl. 1 s/d 30, maka dikembalikan kepada adat, yaitu haidnya dihitung mulai tgl. 10 s/d 19, dan selain itu dihitung darah istihadloh.\rPengambilan ibarat:\rAl-Muhaddzab, juz I, hal. 39-41\rAl-Asybah wan Nadho`ir, hal. 153\rوفى المهذب، ج 1 ص 39-41، مانصه:","part":1,"page":14},{"id":15,"text":"(فصل) اذا رأت المرأة الدم لسن يجوز ان تحيض فيه أمسكت عما تمسك عنه الحائض فان انقطع لدون اليوم والليلة كان ذلك دم فساد فتوضؤ وتصلى. وان انقطع ليوم وليلة او لخمسة عشر يوما او لما بينهما فهو حيض فتغتسل عند انقطاعه سواء كان الدم على صفة دم الحيض او على غير صفته وسواء كان لها عادة فخالفت عادتها او لم تكن -إلى أن قال- وان عبر الدم الخمسة عشر فقد اختلط حيضها بالاستحاضة فلا تخلو اما ان تكون مبتدأة او غير مميزة او ناسية مميزة -إلى أن قال- فان كانت معتادة غير مميزة وهى التى كانت تحيض من كل شهر اياما ثم عبر الدم عادتها وعبر الخمسة عشر فلا تمييز لها فانها لاتغتسل لمجاوزة الدم عادتها لجواز ان ينقطع الدم لخمسة عشر يوما فاذا عبر الخمسة عشر ردت الى عادتها فتغتسل بعد الخمسة عشر وتقتضى صلاة مازاد على عادتها -إلى أن قال- وتثبت العادة بمرة واحدة فاذا حاضت فى شهر مرة خمسة ايام ثم استحيضت فى شهر بعده ردت الى الخمسة ومن اصحابنا من قال لاتثبت الا بمرتين لان العادة لاتستعمل فى مرة. والمذهب الاول -إلى أن قال- ويجوز ان تنتقل العادة فتتقدم وتتأخر وتزيد وتنقص فترد الى آخرما رأت من ذلك لان ذلك أقرب الى شهر الاستحاضة -إلى أن قال- (فصل) فان كانت معتادة مميزة وهى ان تكون لها عادة فى كل شهر ان تحيض خمسة ايام ثم رأت فى شهر عشرة ايام دما أسود ثم رأت دما أحمر او أصفر واتصل ردت الى التمييز وجعل حيضها ايام الاسواد وهى العشرة. اهـ\rوفى الاشباه والنظائر، ص 153، مانصه:\rولو شربت دواء فحاضت لم يجب عليها قضاء الصلاة قطعا. اهـ\rHasil Foto Copy Mushaf/al-Qur`an\rDiskripsi masalah:","part":1,"page":15},{"id":16,"text":"Sering kita jumpai di toko-toko khususnya di toko yang melayani jasa foto copy, terdapat lembaran-lembaran yang berisi ayat-ayat al-Qur`an yang menjadi penghuni tempat sampah, bahkan tak jarang yang bercampur dengan kotoran-kotoran yang lain.\rPertanyaan:\rApakah lembaran-lembaran tersebut masih dinamakan al-Qur`an/Mushaf? Kalau masih, siapakah yang menjadikannya al-Qur`an, yang memfoto copy, yang menyuruh memfoto copy atau penulisnya yang asli?\rApabila tidak termasuk al-Qur`an/Mushaf, bolehkah lembaran-lembaran tersebut dibuat bungkus kacang matsalan? Kalau tidak boleh apa sebabnya? Dan apa yang harus dilakukan oleh orang yang menyuruh memfoto copy setelah tahu bahwa hasil foto copynya ada yang rusak, sehingga dimungkinkan lembaran-lembaran tersebut dibuat pembungkus kacang matsalan?\rJawaban:\rPerlu dimaklumi bahwa hukumnya tulisan yang dihasilkan foto copy adalah sebagaimana tulisan al-Qur`an dengan tulisan tangan, maka hukumnya lembaran-lembaran tersebut dihukumi al-Qur`an/Mushaf apabila uruf sudah menganggap al-Qur`an/Mushaf sekalipun tidak ada tujuan dirosah (belajar).\rKemudian lembaran-lembaran tersebut belum dianggap al-Qur`an menurut uruf, maka tidak dihukumi al-Qur`an/Mushaf kecuali menetapi salah satu dari rincian sbb.:\rDimaksud untuk dirosah (belajar) dari orang yang menyuruh memfoto copy atau orang yang memfoto copy.\rTidak diketahui tujuannya yang menyuruh atau yang memfoto copy, namun ada qorinah untuk dirosah (belajar).","part":1,"page":16},{"id":17,"text":"Tidak diketahui tujuannya, dan tidak ada qorinah yang menunjukkan tujuannya. Hal ini dikembalikan kehukum yang asal yaitu untuk dirosah (belajar).\rDengan keterangan di atas, maka yang menjadikan al-Qur`an/Mushaf adalah:\rHukum uruf, jika lembaran tersebut sudah dianggap al-Qur`an/Mushaf menurut uruf.\rTujuan dirosah dari orang yang memfoto copy, jika lembaran-lembaran tersebut untuk dimiliki sendiri atau untuk orang yang menyuruh memfoto copy, namun dengan sukarela (tanpa mendapat ijinnya).\rTujuan dirosah dari orang yang menyuruh memfoto copy, jika lembaran ersebut untuk dia dengan tidak sukarela (mendapat ijin).\rQorinah untuk dirosah, jika tidak diketahui tujuannya yang menyuruh atau yang memfoto copy.\rHukum asli, jika tidak dimaksud untuk dirosah dan tidak ada qorinah untuk dirosah.\rLembaran-lembaran tersebut tidak boleh (haram) untuk membungkus kacang matsalan, sebab terdapat penghinaan terhadap al-Qur`an, dan bagi yang menyuruh memfoto copy harus menjaga timbulnya penghinaan terhadap lembaran-lembaran al-Qur`an tersebut dengan jalan apapun, baik dengan meminta, membelinya atau memberi saran kepada orang yang memfoto copy.\rPengambilan ibarat:\rAt-Turmusi, juz I, hal. 314\rAs-Syarwani, juz I, hal. 149\rAl-Fatawi al-Haditsiyah, hal. 162\rAl-Bajuri, juz I, hal. 117\rوفى الترمسى، ج 1 ص 314، مانصه:","part":1,"page":17},{"id":18,"text":"والمراد بالمكتوب اى حقيقة او حكما ليدخل الطبع وذلك كلوح ويؤخذ من تمثيلهم به كما قال بعضهم انه لابد ان يكون مما يكتب عادة حتى لو كتب على عمود قرآنا للدراسة لم يحرم مس غير محل الكتابة ويؤخذ من ذلك ايضا انه لو نقش القران على خشبة وختم بها الاوراق بقصد الدراسة وصار يقرأ يحرم مسها. اهـ\rوفى الشروانى، ج 1 ص 149، مانصه:\r(وحمل ومس ما كتب لدرس قران فى الاصح) لانه كالمصحف -إلى أن قال- وقولهم كتب لدرس ان العبرة فى قصد الدراسة والتبرك بحال الكتابة دون ما بعدها وبالكاتب لنفسه او لغيره تبرعا والا فآمره او مستأجره ظاهر عطف هذا على المصحف ان مايسمى مصحفا عرفا لا عبرة فيه بقصد دراسة ولا تبرك وان هذا انما يعتبر فيما لا يسماه فإن قصد به دراسة حرم او تبرك لم يحرم وان لم يقصد به شيء نظر للقرينة فيما يظهر (أو لغيره تبرعا) الظاهر ان المراد بالمتبرع الكاتب للغير بغير اذنه لابغير مقابل كما هو المتبادر منه بصرى (قوله وان لم يقصدبه شيء الخ) لو قيل بالحرمة حيئذ مطلقا لكان وجيها نظرا إلى أن الاصل فيه قصد الدراسة فان عارضه شيء يخرجه عنه عمل بمقتضاه والا بقى على أصله. (قوله نظرا للقرينة الخ) لو كان الكلام مفروضا فى عدم العلم بقصد الكاتب او الآمر لكان للنظر للقرائن وجه ليستدل بها على القصد وليس كذلك بل هو مفروض فى عدم القصد وعليه فالذى يظهر والله اعلم ما ذكرت لك آنفا من الحرمة مطلقا نظرا إلى ان الاصل فى كتابة الالفاظ قصد الدراسة للدوام كالمصحف اولا للدوام كاللوح فان عارضه ما يخرجه عنه كقصد التبرك فقط عمل به والا بقى على اصله بصرى ويأتى عن ع ش فى أدب قضاء الحاجة ما يفيد عدم الحرمة فى الاطلاق ولعل ما قاله عمر البصرى أقرب. اهـ\rوفى الفتاوى الحديثة، ص 162، مانصه:","part":1,"page":18},{"id":19,"text":"(وسئل) نفع الله به اذا استعمل من ورق الكتب اغشية لها وفى تجليدها هل يجب نقضه وبله؟ (فأجاب) بقوله يحرم جعل الاوراق التى فيها شيئ من القران او من الاسماء المعظمة غشاء مثلا اخذا مما افتى به الحناطى من حرمة جعل النقد وكاغد فيه بسم الله الرحمن الرحيم وفرق ابن عماد بينه وبين كراهية لبس الثوب المطرز بالقران بان المكتوب هنا قصد به الدراسة ومقتضاه انه لايحرم جعل ذلك فيما كتب لا للدراسة وفيه وقفة والذى ينبغى فى الفرق أن يقال ليس من شأن الثوب أن يكتب عليه قران بخلاف الكاغد فلم يحرم لبس ذلك وحرم جعل شيئ فى هذا لان لبس ذلك لايعد امتهانا لما كتب عليه بخلاف جعله نحو نقد فى هذا فانه يعد انتهاكا اى انتهاك لما كتب فيه لان الكتابة فيه تقطع عنه كونه يجعله ظرفا لغيره لكونه موضوعا لها والكتابة على الثوب لا تقطع كونه ملبوسا لكونه ليس موضوعا له واذا تقرر ذلك اتجه حرمة جعل النقد او غيره فى كاغد كتب فيه من القران سواء قصد بها الدراسة أم غيرها ويعلم من هذا ما قدمته من انه يلحق بالقران كل اسم معظم كاسم الله واسم نبيه محمد - صلى الله عليه وسلم - واما الاوراق التى فيها علم محرم وليس فيها اسم معظم فظاهر كلامهم انه لايحرم جعلها غشاء وحينئذ فلا يجب نقض الاغشية المعمولة منها. فان قلت بل ينبغى ذلك قياسا على حرمة توسد كتب العلم المحترم قلت القياس له نوع اتجاه الا انه يمكن الفرق بان التوسد فيه من المباشرة بالامتهان والاستعمال ماليس فى جعلها اغشية وواضح ان الكلام فى كتب علم بالية تعطل النفع بها ولم يكن فى جعلها اغشية اضاعة مال ولا تعطيل لذلك العلم المحترم فان وجد شيئ من ذلك اتجه القول بالحرمة حينئذ كما لا يخفى على من له ادنى بصيرة واذا حرم وجب نقضها واعادتها ان امكن ذلك بعد النقض والله أعلم. اهـ\rوفى الباجورى، ج 1 ص 117، مانصه:","part":1,"page":19},{"id":20,"text":"وقال الحلبى والقليوبى: يحرم مس ماقرب منه دون غيره ويحرم وضع شيئ على المصحف كخبز ملح لان فيه ازراء وامتهنا له. اهـ\rMenyentuh dan Mengoperasikan Disket al-Qur`an\rDiskripsi masalah:\rDewasa ini alat-alat informasi dan komunikasi semakin canggih, sehingga ayat-ayat al-Qur`an dapat diprogram dalam bentuk disket (disket al-Qur`an).\rPertanyaan:\rBagaimana hukumnya menyentuh disket al-Qur`an tersebut bagi orang yang hadats?\rBagaimana pula hukum mengoperasikannya?\rJawaban:\rBila dalam disket tersebut terdapat tulisan al-Qur`an yang mudah dibaca (tanpa adanya masyaqqot yang sangat) dengan tanpa alat pembesar, maka bagi orang yang hadats Haram menyentuhnya.\rHukum mengoperasikannya diperbolehkan dengan syarat:\rDi dalamnya tidak terdapat tulisan-tulisan yang mudah dibaca (tanpa adanya masyaqqot yang sangat).\rTerdapat tulisan yang mudah dibaca, namun tidak menyentuh tulisannya atau pada perkara yang muhadzi (menepati arah) terhadap tulisan tersebut.\rPengambilan ibarat:\rFathul Jawad, juz I, hal. 55\rBujairomi alal Manhaj, juz I, hal. 48\rوفى فتح الجواد، ج 1 ص 55، مانصه:\rويمنع المحدث (بالغا حمل مصحف وحمل لوح) كتب عليه قران (قوله لوح) يتردد النظر فى انه اذا مسح فبقى فيه اثار الحروف فهل يبقى تحريم نحو المس والحمل او لا؟ والذى يتجه ان تلك الاثار ان كانت على صفة تقصد كتابة مثلها عرفا للدراسة بأن كانت تقرأ من غير كبير مشقة بقي التحريم والا فلا بخلاف مالو خفيت جدا بحيث لايمكن قراءتها الا بمشقة شديدة فان مثل هذا لاتقصد كتابته فى الالواح ولا عبرة به. اهـ\rوفى البجيرمى على المنهج، ج 1 ص 48، مانصه:","part":1,"page":20},{"id":21,"text":"(و) مس (ظرفه) كصندوق (وهو فيه) لشبهه بجلده وعلاقته كظرفه (و) مس (ماكتب عليه قران لدرسه) كلوح لشبهه بالمصحف اهـ. (قوله ومس ظرفه) اى المعد له وان زاد على حجمه بخلاف غير المعد فلا يحرم الا مس المحاذى فقط (قوله غير المعد) الذى تحرر فى الدرس فى الظرف انه ان هيء له حرم مس كله ان عده العرف ظرفا له فى العادة اهـ. شيخنا قومسى (قوله كلوح) يؤخذ منه انه لابد أن يكون مما يكتب فيه عادة فلو كتب على عمود قران للدارسة لم يحرم مس غير الكتابة. اهـ\rBAB SHOLAT\rHukum Seseorang yang Dibawa Syetan\rDiskripsi masalah:\rMasyarakat sering heboh tentang orang yang dibawa syetan atau jin dan sebangsanya.\rPertanyaan:\rBagaimana menurut pandangan Islam tentang kejadian tersebut?\rBila ada, masih mukallafkah orang yang dibawa syetan atau jin tersebut?\rJawaban:\rKejadian tersebut menurut pandangan Islam memang ada.\rOrang tersebut masih mukallaf, bila dalam keadaan baligh, berakal dan selamat panca indranya.\rPengambilan ibarat:\rAl-Kaukabul Ahwaj, hal. 200\rNihayatuz Zain, hal. 9\rIhya’ Ulumuddin, juz III, hal. 36\rوفى الكوكب الأحواج، ص 200، مانصه:\rفاذا علم هذا فاعلم ان الاحاديث فى وجوب الجن والشياطين لا تحصر وكذلك اشعار العرب واخبارها فالنزاع فى ذلك مكابرة فيما هو معلوم بالتواتر ثم انه لايحيله العقل ولايكذبه الحس. ولذلك جرت التكاليف عليهم واطال بما تقدم كثير منه، وفى الفتاوى الحديثية: واما الجان فأهل السنة يؤمنون بوجودهم وانكار المعتزلة بوجودهم فيه مخالف للكتاب والسنة والاجماع بل ألزموا به كفرا لان فيه تكذيب النصوص القطعية بوجودهم. اهـ\rوفى إحياء علوم الدين، ج 3 ص 36، مانصه:","part":1,"page":21},{"id":22,"text":"وقال - صلى الله عليه وسلم -: لقد أتانى الشيطان فنازعنى ثم نازعنى فاخذت بحلقه فوالذى بعثنى بالحق ما أرسلته حتى وجدت برد ماء لسانه على يدى ولولا دعوة اخى سليمان عليه السلام لاصبح طريحا فى المسجد. اهـ\rوفى نهاية الزين، ص 8-9، مانصه:\rإنما تجب المكتوبة على مسلم مكلف طاهر (قوله مكلف) أى بالغ عاقل سليم الحواس بلغته الدعوة. اهـ.\rMenjawab Adzan dari Radio\rPertanyaan:\rBagaimana hukumnya menjawab adzan dari radio, dan apakah adzannya radio sudah mencukupi sunatnya adzan di tempat itu?\rJawaban:\rHukum menjawabnya sunat, apabila suara adzan tersebut langsung dari mu`addzinnya, dan apabila dari kaset maka tidak sunat. Dan adzan tersebut tidak mencukupi untuk tempat itu.\rPengambilan ibarat:\rQurrotul Ain Fatawi Isma’il, hal. 169\rI’anatut Tholibin, juz I, hal. 230-231\rوفى قرة العين فى فتاوى الشيخ إسماعيل، ص 169، مانصه:\rسؤال: هل يسن جواب الاذان من مكبر الصوت اذا كان المؤذن بعيدا عنه بحيث لايسمع اذانه الا بواسطة مكبر الصوت اولا، بينوا ذلك، الجواب: نعم يسن اجابة المؤذن المذكور والمكبر غاية ما فيه انه يقوى الصوت ويبلغه الى مدى بعيد هذا اذا كان الاذان منقولا بواسطة المكبر ان كان مؤذن يؤذن بالفعل اما اذا كان الاذان فى الشريط المسجل فلا تسن اجابته لانه حاك والحاكى لايحاكى والله اعلم. اهـ\rوفى إعانة الطالبين، ج 1 ص 230-231، مانصه:","part":1,"page":22},{"id":23,"text":"يسن على الكفاية ويحصل بفعل البعض اذان واقامة لخبر الصحيحين اذا حضرت الصلاة فليؤذن لكم احدكم لذكر ولو صبيا ومنفردا وان سمع اذانا من غيره على المعتمد. (قوله: وان سمع اذانا من غيره) غاية ثانية لسنية الاذان فقط وكان المناسب ان يزيد بعد قوله اذانا واقامة لتكون الغاية لهما معا اى يسن الاذان لذكر ولو سمع اذانا من غيره لكن بشرط ان لا يكون مدعوا به فان كان مدعوا به بان سمعه من مكان واراد الصلاة فيه وصلى مع اهله بالفعل فلا يندب له الاذان حينئذ. اهـ\rAdzan Memakai Pengeras Suara dengan Berbagai Lagu\rDiskripsi masalah:\rSudah merupakan kebiasaan, adzan memakai pengeras suara dan sejenisnya, dengan berbagai bentuk lagu dan iramanya.\rPertanyaan:\rSunatkah menjawab adzan yang keluar dari pengeras suara tersebut?\rManakah yang lebih utama, adzan melalui pengeras suara atau tidak?\rSahkah adzan mu’addzin yang memanjangkan huruf mad sampai melebihi batas maksimalnya?\rJawaban:\rBagi orang yang mendengarkan adzan dari pengeras suara (loud speaker) tetap disunatkan menjawabnya, asalkan hal tersebut memenuhi syarat adzan, dan langsung suara mu`addzin.\rAdapun yang lebih utama, dapat diperinci sbb.:\rApabila adzan tersebut tidak disunatkan mengeraskan suara, yang lebih utama tanpa memakai loud speaker.\rApabila adzan tersebut disunatkan mengeraskan suara, maka hukumnya ditafsil:\rJika mengeraskan suara tidak membuahkan hasil tanpa menggunakan loud speaker, maka lebih baik menggunakan-nya.\rJika mengeraskan suara sudah dapat hasil dengan tanpa memakai loud speaker, maka yang lebih afdlol tidak memakai loud speaker.","part":1,"page":23},{"id":24,"text":"Hukum memanjangkan huruf mad hingga melebihi batas maksimal-nya tersebut makruh dan tetap sah.\rPengambilan ibarat:\rQurrotul Ain Fatawi Isma’il, hal. 169\rMughnil Muhtaj, juz I, hal. 140\rSulaiman al-Jamal, juz I, hal. 298\rAs-Syarwani, juz I, hal. 463\rFathul Jawad, juz I, hal. 104\rFaidlul Khobir, hal. 93\rوفى قرة العين بفتاوى إسماعيل الزين، ص 169، مانصه:\rسؤال: هل يسن جواب الاذان من مكبر الصوت اذا كان المؤذن بعيدا عنه بحيث لايسمع اذانه الا بواسطة مكبر الصوت اولا، بينوا ذلك، الجواب: نعم يسن اجابة المؤذن المذكور والمكبر غاية ما فيه انه يقوى الصوت ويبلغه الى مدى بعيد هذا اذا كان الاذان منقولا بواسطة المكبر ان كان مؤذن يؤذن بالفعل اما اذا كان الاذان فى الشريط المسجل فلا تسن اجابته لانه حاك والحاكى لايحاكى والله اعلم. اهـ\rوفى مغنى المحتاج، ج 1 ص 140، مانصه:\r(ويسن لسامعه مثل قوله الا فى حيعلتيه)\r(قوله مثل قوله) لقوله - صلى الله عليه وسلم -: اذا سمعتم النداء فقولوا مثل ما يقول المؤذن متفق عليه. ويقاس بالمؤذن المقيم -إلى أن قال- وافهم كلام المصنف انه لو علم اذان غيره او اقامته ولم يسمعه لبعيد او صمم لا تسن له الاجابة وقال فى المجموع: انه الظاهر لأنها معلقة بالسماع فى خبر. اذا سمعتم المؤذن ... اهـ.\rوفى الشروانى، ج 1 ص 463، مانصه:\rأصل السنة بمجرد الرفع فوق ما يسمع نفسه أو أحد من المصلين وكمال السنة بالرفع طاقته بلا مشقة ومع ذلك لولم يسمع من البلد الاجانب لم يسقط الطلب عن غيرهم كما مر. اهـ\rوفى سليمان الجمل، ج 1 ص 298، مانصه:","part":1,"page":24},{"id":25,"text":"وسن اظهار الاذان فى البلد وغيرها بحيث يسمعه كل من اصغى اليه من اهل ذلك البلد او غيره (وقوله وسن اظهار الأذان فى البلد الخ) -إلى أن قال- واما ظهور الشعار فى البلد فلا بد ان يكون بحيث يسمعه جميع أهل البلد فلا بد فى حصول سنة إظهار الأذان بالنسبة لأهل البلد ان يظهر فى تلك البلد بحيث يسمعه من بها لواصغوا إليه اهـ ح ل وعبارة شرح م ر: والضابط ان يكون بحيث يسمعه جميع اهلها لواصغوا إليه لكن لابد فى حصول السنة بالنسبة لكل البلد من ظهور الشعار كما ذكر اهـ\rوفى فتح الجواد، ج 1 ص 104، مانصه:\rوان يؤذن حال كونه (مرتلا) لكلمات الاذان بأن يأتى بها مبنية من غير تمطيط مجاوز للحد بخلاف الإقامة فإنه يسن الاسراع فيها.\rوفى الشرقاوى، ج 1 ص 233-231، مانصه:\r(ومكروهاتهما) أى الأذان والإقامة -إلى أن قال- ومقدار مده (الف) أى حركتان ونقصه عن ذلك حرام شرعا. فما يفعله البعض من المؤذنين أو القراء من الزيادة من المد الطبيعى أو النقص عنه من أقبح البدعة كما لا يخفى. اهـ\rMengqodlo Sholat/Puasa yang Tidak Tahu Jumlahnya\rDiskripsi masalah:\rAda seorang muslim yang pada wktu mudanya tidak akif dalam melakukan Sholat dan puasa. Kemudian setelah merasa tua dia bertaubat dan bermaksud mengqodlonya, namun tidak tahu persis berapa Sholat dan puasa yang telah ditinggalkannya.\rPertanyaan:\rBagaimana cara mengqodloi Sholat dan puasa tersebut?\rJawaban:\rMenurut imam Qodli Husain, dia mengqodoi Sholat dan puasa yang belum yakin dikerjakan.\rSedangkan menurut imam Nawawi dia waib mengqodloi Sholat dan puasa yang yakin ditinggalkan.\rPengambilan ibarat:\rAl-Qolyubi, juz I, hal. 118\rوفى القليوبى، ج 1 ص 118، مانصه:","part":1,"page":25},{"id":26,"text":"واذا شك فى مقدارما عليه من الصلوات قضى مالم يتعين فعله قاله القاضى وهو الراجح فى المذهب عند المتأخرين كشيخنا الرملى واتباعه وقال النووى يقضى ما تيقن تركه فقط على الاصح ثم قال وينبغى ان يختار وجه ثالث وهو انه ان كان يصلى تارة ويترك اخرى ولايعيد كقول القاضى وان كان يتركه نادرا فهو كمقابله. اهـ\rMengetahui Intiqolul Imam Melalui Layar Monitor\rDiskripsi masalah:\rAda satu masjid berlantai dua, yang mana bagi para makmum yang berada di lantai II (di atas) untuk mengetahui intiqol (perpindahan gerakan) imam yang berada di bawah, hanya melalui layar televisi (layar monitor).\rPertanyaan:\rSahkah jama’ah ma’mum yang berada di lantai II tersebut?\rJawaban:\rHukumnya sah apabila terdapat jalan tembus (istitrod). Dikarenakan jama’ah di dalam masjid untuk mengetahui intiqol (pergerakan) imam cukup dengan dhon (persangkaan) tidak harus dengan melihat langsung.\rPengambilan ibarat:\rI'anatut Tholibin, juz II, hal. 25\rAl-Qolyubi, juz I, hal. 240\rوفى إعانة الطالبين، ج 2 ص 25، مانصه:\rومنها (علم بانتقال إمام) برؤية له أو لبعض صف أو سماع لصوته أو صوت مبلغ ثقة. (قوله علم بانتقال إمام) أى علم المأموم بانتقال إمامه واراد بالعلم ما يشمل الظن بدليل قوله أو صوت مبلغ. اهـ\rوفى القليوبى، ج 1 ص 240، مانصه:\r(وإذاجمعهما مسجد صح الإقتداء وان بعدت المسافة وحالت أبنية) نافذة اغلق أبوابها اولا. (قوله نافذة) بحيث يمكن الاستطراق منها عادة بلا نحو وثبة. اهـ\rMushofahah/Jabat Tangan Setelah Sholat Lima Waktu\rPertanyaan:\rAdakah dalil dari al-Qur`an atau al-Hadits tentang kesunatan mushofahah (berjabat tangan) setelah Sholat lima waktu?\rJawaban:","part":1,"page":26},{"id":27,"text":"Tidak ada dalil yang shorih, namun sebagian ulama ada yang mengatakan sunat, disamakan dengan kesunatan mushofahah ketika berjumpa. Dengan demikian berarti dalilnya qiyasi.\rPengambilan ibarat:\rBughyatul Mustarsyidin, hal. 50-51\rRiyadlus Sholihin, hal. 266\rوفى بغية المسترشدين، ص 50-51، مانصه:\r(فائدة) المصافحة المعتادة بعد الصلاتى الصبح والعصر لا أصل لها وذكر ابن عبد السلام انها من البدعة المباحة واستحسنه النووى وينبغى التفصيل بين من كان معه قبل الصلاة فمباحة فمن لم يكن معه فمستحب اذ هى سنة عند اللقاء اجماعا، وقال بعضهم ان المصلى كالغائب فعليه يستحب عقب الخمس مطلقا. اهـ\rوفى رياض الصالحين، ص 266، مانصه:\rوعن البراء رضى الله عنه قال قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم -: مامن مسلمين يلتقيان فيتصافحان الا غفر لهما قبل ان يتفرقا. اهـ\rAda 40 Pekerja Pabrik Ingin Mengadakan Jum’atan Sendiri\rDiskripsi masalah:\rAda 40 orang dari sebagian penduduk desa yang bekerja di suatu pabrik. Suatu saat, sewaktu mereka keluar dari pabrik tersebut Sholat Jum’at di desanya sudah selesai.\rPertanyaan:\rBolehkah mereka mendirikan Jum’atan sendiri? Bila tidak boleh, apakah dalam meninggalkan Sholat Jum’at tersebut termasuk udzur Jum’at?\rJawaban:\rMereka tidak boleh mendirikan Jum’atan sendiri, karena hal ini termasuk ta’addudul jum’at yang tidak dibenarkan. Dan hal tersebut tidak termasuk udzurnya Jum’at.\rPengambilan ibarat:\rAl-Iqna’, juz I, hal. 156\rMauhibah Dzawil Fadlol, juz III, hal. 193\rوفى الإقناع، ج 1 ص 156، مانصه:","part":1,"page":27},{"id":28,"text":"والخامس من الشروط ان لايسبقها ولا يقارنها جمعة فى محلها ولو عظم كما قاله الشافعى -إلى أن قال- فلو سبقها جمعة فى محل لايجوز التعدد فيه فالصحيحة السابقة لاجتماع الشرائط واللاحقة باطلة والمعتبر سبق التحرم بتمام التكبير وهو الراء. اهـ\rوفى موهبة ذوى الفضل، ج 3 ص 193، مانصه:\rقال فى الايعاب والمعتمد ان الإجارة ليست عذرا فى الجمعة أى بخلاف الجماعة فى المكتوبة. اهـ\rSatu Desa Didirikan Dua Jum’atan\rPertanyaan:\rBolehkah dalam satu desa mendirikan Jum’atan dua tempat dengan tidak ada hajat?\rJawaban:\rTidak boleh, dan bila sampai terjadi melakukan dua Jum’atan tersebut, maka hukumnya ditafsil sbb.:\rBatal semua, bila takbirotul ihrom imamnya dua Jum’atan tersebut bersamaan. Kemudian Jum’atan tersebut wajib dikumpulkan menjadi satu bila dimungkinkan.\rBila takbirotul ihrom dua Jum’atan tersebut tidak bersamaan, maka Jum’atan yang takbirotul ihromnya lebih dulu sah, dan yang tertinggal tidak sah dan wajib melakukan Sholat Dhuhur.\rPengambilan ibarat:\rJam’ur Risalatain, hal. 8\rوفى جمع الرسالتين فى تعدد الجمعتين، ص 8، مانصه:","part":1,"page":28},{"id":29,"text":"(فائدة) إذا تعددت الجمعة لحاجة صحت للجميع على الأصح وتسن الظهر مراعاة لمقابله لأن عندنا قولا بعدم جواز التعدد مطلقا ولو مع الحاجة وإذا تعددت لغير حاجة فى جميعها أو بعضها ووقع إحرام الأئمة معا أو شكوا فى المعية والسبق بطلت على الجميع ثم إذا أمكن استئناف جمعة بخطبتيها وجب وسن معها الظهر كما فى شرح المنهج فى مسئلة الشك واما مسئلة المعية فلا تسن الظهر بل تصح، وإذا تعددت مرتبة وعلم السابق صحت للسابقة إلى انتهاء الحاجة وبطلت فيما زاد ثم من غلب على ظنه انه من السابقات لا تجب عليه الظهر بل تسن له فقط أو من الزائدات لو شك وجبت الظهر والحاصل ان صلاة الظهر بعد الجمعة اما واجبة أو مستحبة أو ممنوعة فالواجبة كما فى المسئلة الشك والمستحبة فيما إذا تعددت بقدر الحاجة من غير زيادة والممتنعة فيما إذا اقيمت جمعة واحدة بالبلد فيمتنع فعل الظهر والله سبحانه وتعالى أعلم. اهـ\rDesa bergandengan Mengadakan Jum’atan Sendiri-sendiri\rDiskripsi masalah:\rAda beberapa desa yang ittishol (bergandengan) dan masing-masing mendirikan Jum’atan sendiri-sendiri.\rPertanyaan:\rSahkah Jum’atan tersebut?\rJawaban:\rHukumnya tidak sah, kecuali kalau terjadi usrul ijtima’ (sulit dikumpulkan di satu tempat). Namun jika desa tersebut sebelum ittishol sudah mendirikan Jum’atan sendiri-sendiri maka hukumnya sah menurut pendapat sebagian ulama.\rPengambilan ibarat:\rJam’ur Risalatain, hal. 7\rAl-Mahalli, juz I, hal. 272\rوفى جمع الرسالتين، ص 7، مانصه:","part":1,"page":29},{"id":30,"text":"ولو كانت قرى متفاصلة واتصلت عمارتها فلا يجوز تعدد الجمعة فيها وحكى فى المنهاج قولا ضعيفا بجواز تعددها بعدد تلك القرى أى استصحابا لحكمها الأول وبما ذكر كله يعلم الجواب عن حادثة وهى ان قرية كانت منفصلة عن بلدة تقام الجمعة فيها ثم اتصلت عمران تلك البلدة بالقرية فأقام أهل القرية الجمعة فيها فلا تصح إلا ان يسمعوا نداء البلدة أو لو خرجوا بعد الفجر لا يدركونها على ما سبق أو كان بينهم قتال فإنها تصح نعم لو أرادوا تقليد القول الضعيف الذى حكاه فى المنهاج صحت خصوصا إذا كانوا لو كلفوا السعى إلى جمعة البلد اداهم ذلك إلى تركها بالكلية. اهـ\rوفى المحلى، ج 1 ص 272، مانصه:\rولا يقارنها جمعة فى بلدها -إلى أن قال- إلا إذا كبرت وعسر اجتماعهم فى مكان واحد فيجوز تعددها حينئذ. اهـ\rBatas-batas Usrul Ijtima\rPertanyaan:\rSampai dimanakah batas-batas usrul ijtima’ (sulitnya dikumpulkan di satu tempat) yang sehingga memperbolehkan ta’addudul jum’at? Dan apakah hal ini cukup dengan perkiraan saja atau harus dengan yakin?\rJawaban:\rBatas-batasnya ialah salah satu tempat yang seumpama penduduk desa yang berkewajiban Jum’atan berkumpul di satu tempat, maka mereka menurut ukuran umum mendapat kepayahan (masyaqqoh).\rAdapun usrul ijtima’ yang dianggap menurut syara’ adalah harus dengan yakin, dan tidak cukup dengan perkiraan saja.\rPengambilan ibarat:\rJam’ur Risalatain, hal. 5\rAl-Mauhibah Dzawil Fadlol, juz III, hal. 212\rوفى جمع الرسالتين، ص 5، مانصه:\rوعبارة الكردى تؤيد ذلك ونصها فضابط العسر كما فى التحفة أن تكون فيه مشقة لا تحتمل عادة وفى العباب اما لكثرتهم أو لقتال بينهم أو لبعد أطراف البلد. اهـ\rوفى موهبة ذوى الفضل، ج 3 ص 212، مانصه:","part":1,"page":30},{"id":31,"text":"(قوله إلا لعسر الإجتماع) أى يقينا وظاهره ان المراد اجتماع أهل البلد أو القرية ممن تلزمه أى تصح منه وإن كان الغالب انه لا يفعلها -إلى أن قال- (فى محل) مسجد أو غيره منها أى من تلك البلدة أو القرية.\rHukum Khotib Menerjemah Khutbah Jum’at\rPertanyaan:\rBolehkah khotib menerjemah khutbah Jum’at?\rJawaban:\rBoleh, bila yang diterjemah itu selain rukun-rukunnya khutbah.\rPengambilan ibarat:\rBujairomi alal Manhaj, juz I, hal. 389\rوفى البجيرمى على المنهج، ج 1 ص 389، مانصه:\r(وشرط كونهما عربيتين) والمراد اركانهما لاتباع السلف والخلف (قوله والمراد اركانهما) يفيد انه لو كان ما بين اركانهما بغير العربية لم يضر قال م ر محله ما إذا لم يطل الفصل بغير العربية وإلا ضر لاخلاله بالموالاة كالسكوت بين الأركان إذا طال بجامع ان غير العربى لغو لا يحسب لأن غير العربى لا يجزئ مع القدرة على العربى فهو لغو سم والقياس عدم الضرر مطلقا ويفرق بينه وبين السكوت بأن فى السكوت اعراضا عن الخطبة بالكلية بخلاف غير العربى فان فيه وعظا فى الجملة يكون بذلك عن كونه من الخطبة ع ش. اهـ\rKhutbah Jum’at dengan Bahasa Arab Kemudian Diterjemah\rPertanyaan:\rManakah yang lebih utama, antara khutbah Jum’at dengan memakai bahasa Arab, dengan kuhtbah Jum’at memakai Bahasa Arab kemudian diterjemah di tengah-tengahnya?\rJawaban:\rYang lebih utama adalah khutbah Jum’at dengan memakai bahasa Arab kemudian diterjemah.\rPengambilan ibarat:\rAhkamul Fuqoha`, juz I, hal. 11-12\rAs-Syarqowi, juz I, hal. 450\rوفى أحكام الفقهاء، ج 1 ص 11-12، مانصه:\rوقرر المؤتمر بأن الاحسن الخطبة بالعربية ثم يفسرها بلغة المجمعين ولا يخفى ان فائدتها فهمهم لما فى الخطبة من الوعظ. اهـ","part":1,"page":31},{"id":32,"text":"وفى الشرقاوى، ج 1 ص 450، مانصه:\r(ويشترط كونها) أى الأركان دون ما عداها (عربية) للإتباع (قوله دون ما عداها) يفيدان كون ماعدا الاركان من توابعها بغير العربية لا يكون مانعا من الموالاة. اهـ\rMenemui Rokaat Kedua dari Rokaat Keduanya Imam Pengganti\rDiskripsi masalah:\rPernah terjadi jama’ah Sholat Jum’at dengan imam dua orang, dikarenakan imam yang pertama batal.\rPertanyaan:\rSahkah Sholat Jum’atnya ma’mum yang hanya menemui satu rokaatnya imam yang kedua?\rJawaban:\rSholat Jum’atnya ma’mum tersebut sah dan wajib menambah satu roka’at.\rPengambilan ibarat:\rFathul Wahab, juz I, hal. 79\rوفى فتح الوهاب، ج 1 ص 79، مانصه:\r(من ادرك) مع إمامها (ركعة ولو ملفقة لم تفته الجمعة فيصلى بعد زوال قدوته) بمفارقته أو سلام إمامه (ركعة) جهرا لإتمامها -إلى أن قال- (وإذا بطلت صلاة إمام) جمعة كانت أو غيرها (فخلفه) أى عن قرب (مقتدبه قبل بطلانها جاز) سواء استخلف نفسه أم استخلفه الإمام أو القوم أو بعضهم لأن الصلاة بإمامين بالتعاقب جائزة كما فى قصة أبى بكر مع النبى - صلى الله عليه وسلم - فى مرضه سواء استأنفوا نية قدوة به أم لا لأنه منزل منزلة الأول فى دوام الجماعة والإستخلاف فى الركعة الأولى من الجمعة واجب وفى غيرها مندوب -إلى أن قال- (ثم ان) كان الخليفة فى الجمعة (ادرك) الركعة (الأولى) وان بطلت صلاة الإمام فيها (تمت جمعتهم) أى الخليفة والمقتدين (وإلا) أى وان لم يدرك الأولى وان استخلف فيها (فتتم) الجمعة (لهم لاله) لأنهم ادركوا ركعة كاملة مع الإمام وهو لم يدركها معه فيتمها ظهرا كذا ذكره الشيخان.\r(قوله مع الإمام) أى جنسه فيصدق بالأول والخليفة فهم أدركوا مع الإمام. اهـ\rSholat Qoshor di Daerah yang tak ada Surul Baladnya\rPertanyaan:","part":1,"page":32},{"id":33,"text":"Bagaimana caranya mengetahui batas-batas diperbolehkannya melakukan Sholat qoshor di kota atau di desa yang tidak ada surul balad (batas kota/desa) nya?\rJawaban:\rCaranya harus sudah melewati khondaq (jurang) bila ada. Kalau tidak ada maka harus melewati jembatan. Dan kalau tidak ada jembatan maka harus setelah melewati ‘umron (bangunan-bangunan) kota atau desa tersebut.\rPengambilan ibarat:\rI'anatut Tholibin, juz II, hal. 99\rوفى إعانة الطالبين، ج 2 ص 99، مانصه:\r(قوله بفراق سور) متعلق بيجوز يعنى انه لايجوز ما ذكر من القصر والجمع. الا بفراق سور خاص بتلك البلدة التى سافر منها إن كان لأن ابتداء السفر انما يكون بمجاوزته فإن لم يكن سور أصلا أو كان لكن خاصا بها كقرى متفاصلة جمعها سور واحدة فابتداْْؤه بمجاوزه الخندق إن كان فإن لم يكن فالقنطرة إن كانت فإن لم تكن فالعمران. اهـ\rOrang Kuliyah Melakukan Sholat Jama’ dan Qoshor\rPertanyaan:\rApakah diperbolehkan menjama’ dan qoshor sholat, bagi orang yang setiap tiga hari sekali bepergian dalam rangka kuliyah misalnya?\rJawaban:\rBagi orang tersebut boleh menjalankan jama’ dan qoshor sholat, asalkan bepergiannya sudah ada dua marhalah atau lebih dan bepergiannya tidak untuk maksiat, serta dia masih dalam hukum musafir.(1)\r__________\r(1) Catatan mushohhih:\rDua marhalah ialah jarak sejauh 80,640 km\rContoh bepergian maksiat untuk kuliyah misalnya: materi pelajarannya berisi ilmu-ilmu yang dilarang syara’, seperti ilmu sihir, ilmu nujum dan lain-lain.\rPengambilan Ibarat:\rTanwirul Qulub, juz I, hal. 172\rوفى تنوير القلوب، ج 1 ص 172، مانصه:\rوشروط جواز القصر تسعة (الأول) أن تكون مسافته مرحلتين فأكثر بسير الأثقال وهما ستتة عشر فرسخا وهى ثمانية وأربعون ميلا -إلى أن قال- وعلى هذا تكون مسافة القصر ثمانين ألف متر وستمائة وأربعين مترا. اهـ","part":1,"page":33},{"id":34,"text":"Pengambilan ibarat:\rTanwirul Qulub, juz I, hal. 174\rFathul Allam, juz III, hal. 141\rAl-Iqna’, juz I, hal. 147\rوفى تنوير القلوب، ج 1 ص 174، مانصه:\r(فائدة) الرخص المتعلقة بالسفر الطويل أربع: القصر والفطر ومسح الخف ثلاثة أيام والجمع. اهـ\rوفى فتح العلام، ج 3 ص 141، مانصه:\rوعلم مما تقرر ان من خرج من موضع قاصدا سفرا طويلا ولم يحصل منه فى أثناء سفره ما يقطه جاز له ان بترخص إلى ان يبلغ مقصده ثم ان كان ذلك المقصد وطنه انتهى سفره بمجرد وصوله إلى ما تشترط مجاوزته منه فى ابتداء السفر من سور أو غيره فلا يترخص بعد ذلك سواء نوى الإقامة به أو لا كان له فيه حاجة أو لا وإن كان غير وطنه فإن كان قد نوى قبل الوصول إليه إقامة به مدة مطلقة أو أربعة أيام صحاح وكان وقت النية مستقلا لا تابعا انتهى سفره بمجرد وصوله إلى ما مر أيضا فإن لم ينو أصلا أو نوى إقامة أقل من أربعة أيام فلا ينتهى سفره بوصول ما مر وانما ينتهى بإقامة أربعة أيام صحاح غير يومى الدخول والخروج. اهـ\rوفى الإقناع، ج 1 ص 147، مانصه:\r(ويجوز للمسافر) لغرض صحيح (قصر الصلاة الرباعية) المكتوبة دون الثنائية والثلاثية (بخمس شرائط ان يكون سفره فى غير معصية) سواء كان واجبا كسفر حج أو مندوبا كزيارة قبر النبى - صلى الله عليه وسلم - -إلى أن قال- اما المعصية بسفره ولو فى ثناء كآبق وناشزة فلا يقصر لأن السفر سبب للرخصة فلا تناط بالمعصية كبقية رخص السفر. اهـ\rBAB JENAZAH\rOrang Telah Meninggal Dunia, Kemudian Hidup Lagi\rDiskripsi masalah:\rAda orang meninggal dunia, setelah dikubur hidup lagi.\rPertanyaan:\rBagaimana hukum istrinya dan peninggalannya? Apakah masih menjadi istrinya lagi dan hartanya menjadi miliknya lagi?\rJawaban:","part":1,"page":34},{"id":35,"text":"Istrinya tidak menjadi istrinya lagi, dan hartanya tidak menjadi hartanya lagi.\rPengambilan ibarat:\rBujairomi alal Khotib, juz III, hal. 260\rوفى البجيرمى على الخطيب، ج 3 ص 260، مانصه:\rوقع السؤال عمن عاش بعد موته معجزة لنبي أو كرامة لولى لم يعد ملكه إليه اهـ قال على المحلى -إلى أن قال- فإذا وجد الاحياء كانت هذه الحياة جديدة مبتدأة بلا تبين عود ملك. ويلزمه ان نساءه لو تزوجن ان يعدن له وليس كذلك بل يبقى نكاحهن الثانى. والحاصل ان زوال الملك والعصمة محقق وعوده مشكوك فيه فيستصحب زوالها حتى يثبت مايدل على العود ولم يثبت فيه شيئ فوجب البقاء مع الأصل اهـ شرح م ر و ع ش\rPerawatan Mayat yang Tidak Diketahui Agamanya\rPertanyaan:\rApabila ada mayit di suatu daerah yang tidak diketahui agamanya (identitasnya). Bagaimanakah perawatannya?\rJawaban:\rCara merawatnya ditafsil (dirinci) sbb.:\rApabila di negara Islam, maka mayit itu dirawat secara Islam sekali pun ada tanda-tanda kekufuran.\rApabila di lain negara Islam dan di situ ada orang Islam maka mayit tersebut dirawat secara Islam. Kalau di situ sama sekali tidak ada orang Islam, maka tidak boleh dirawat secara Islam.\rPengambilan ibarat:\rNihayatul Muhtaj, juz II, hal. 495\rوفى نهاية المحتاج، ج 2 ص 495، مانصه:","part":1,"page":35},{"id":36,"text":"ولو وجد ميت مجهول الحال أو بعضه ببلادنا صلى عليه إذ الغالب فيها الإسلام ومقتضاه عدم الصلاة عليه إذا وجد فى موات لا ينسب لدار الإسلام ولا لدار الكفار وهو الذى لايذب عنه احد وهو كذلك، أو وجد بغيرها فحكمه يعلم فى باب اللقيط (قوله أو الغالب فيها الإسلام) أى ولا فرق فى ذلك بين أن توجد فيه علامة الكفر كالصليب أو لا لحرمة الدار لأنهم لم يفرقوا بين من فيه علامة وغيره ولا بين العادة تحيل ذلك أو لا (قوله فحكمه يعلم فى باب اللقيط) وقضيته انه إذا وجد بدار الكفر وفيها مسلم انه يصلى عليه. اهـ\rMenemukan Sebagian Anggota Tubuh Mayit\rPertanyaan:\rApabila ada orang menemukan sebagian anggota badan mayit, bagaimana cara merawatnya?\rJawaban:\rCara merawatnya adalah wajib dimandikan, dikafani, disholati dan dikuburkan, apabila mayitnya (yang memiliki tubuh anggota tersebut) sudah dimandikan dan belum disholati.\rDan sunat disholati serta wajib dikebumikan bila mayitnya sudah disholati.\rPengambilan ibarat:\rItsmidul ‘Ainain, hal. 46\rNihayatul Muhtaj, juz II, hal. 493-495\rوفى إثمد العينين، ص 46، مانصه:\r(مسئلة) لو وجد جزء ميت مسلم غير شهيد أو نحو شعرة عند حج صلى عليه بقصد الجملة وجوبا إن كانت بقيته غسلت ولم يصل عليها وندبا ان صلى على البقية فان لم تغسل البقية وجبت الصلاة على الجزء بنيته فقط. اهـ\rوفى نهاية المحتاج، ج 3 ص 493-495، مانصه:","part":1,"page":36},{"id":37,"text":"(ولو وجد عضو مسلم) علم موته لابشهادة ولو كان الجزء ظفرا أو شعرا أو تحقق انفصاله منه حال موته (صلى عليه) بعد طهره ويجب دفنه وستره بحرقة إن كان من العورة بناء على ان الواجب فى التكفين سترها فقط على مامر كذا قاله الشيخ تبعا لغيره من المتأخرين قال ابن العماد وهذا كله فاسد حصل من التغفل وعدم الإحاطة بالمدارك، فان ستر العورة حق لله تعالى وستر الزائد من البدن حق للميت فيجب علينا استعياب جميع بدنه -إلى أن قال- ومحل وجوب هذه الصلاة حيث لم يصل على الميت وإلا فلا تجب كما اقتضاه كلام السبكى ومحله ان كان قد صلى بعد طهر العضو وإلا وجبت لزوال الضرورة المجوزة للصلاة عليه بدون غسل العضو بوجداننا. اهـ\rSholat Mayit Dilakukan Dua Kali\rPertanyaan:\rBagaimana hukumnya melaksanakan sholat mayit dua kali? (yang pertama dilakukan dengan sholat ghoib dan yang kedua dengan sholat hadir, atau sebaliknya)?\rJawaban:\rHukumnya khilaful aula, menurut wajah yang lebih shohih.\rPengambilan ibarat:\rFatawi Nawawi, hal. 77\rوفى فتاوى الإمام النووى، ص 77، مانصه:\r(مسئلة) إذا صلى على جنازة فى جماعة أو منفردا ثم أراد إعادتها مع جماعة أخرى ففيه ثلاثة أوجه الأصح انه خلاف الأولى والثانى مكروه والثالث مستحب. اهـ\rMembaca Dzikir Ketika Mengiring Mayit ke Kuburan\rPertanyaan:\rLebih baik manakah antara membaca dzikir, dengan diam ketika mengiring jenazah (mayit)? Dan bagaimana hukumnya dzikir tersebut?\rJawaban:\rLebih baik diam yang disertai berfikir tentang masalah yang berkaitan dengan maut (mati). Sedangkan bila tidak disertai dengan berfikir di atas, maka lebih baik dzikir dengan pelan-pelan.","part":1,"page":37},{"id":38,"text":"Adapun hukumnya dzikir tersebut bila keras hukumnya Makruh, dan bila pelan hukumnya Sunat.(1)\rPengambilan ibarat:\rAl-Qolyubi, juz I, hal. 347\rوفى القليوبى وعميرة، ج 1 ص 347، مانصه:\r__________\r(1) Catatan mushohhih:\rMengingat zaman sekarang para pengiring jenazah kebanyakan membicarakan urusan-urusan dunia, maka ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa yang baik adalah membaca dzikir, karena membaca dzikir dapat mengurangi atau meninggalkan pembicaraan tersebut dan dapat menampakkan syi’ar kepada jenazah.\rPengambilan Ibarat:\rBughyatul Mustarsyidin, hal. 93\rNihayatuz Zain, hal. 153\rوفى بغية المسترشدين، ص 93، مانصه:\r(فائدة) قال ز ى وقد عمت البلوى بما يشاهد من اشتغال المشيعين بالحديث الدنيوى وربما اداهم إلى نحو الغيبة فالمختار اشغال اسماعهم بالذكر المؤدى إلى ترك الكلام أو تقليله ارتكابا لاخف المفسدين. اهـ\rوفى نهاية الزين، ص 153، مانصه:\rقال القليوبى: ويكره رفع الصوت بالقران والذكر والصلاة على النبى - صلى الله عليه وسلم - قال المدابغى: وهذا باعتبار ماكان فى الصدر الأول واما الآن فلا بأس بذلك لأنه شعار لميت وتركه مزرأة ولو قيل بوجوبه لم يبعد. اهـ","part":1,"page":38},{"id":39,"text":"(ويكره اللغظ فى الجنازة) وعبارة الروضة فى المشى معها والحديث فى أمور الدنيا بل المستحب الفكر فى الموت وما بعده وفناء الدنيا ونحو ذلك. وفى شرح المهذب عن قيس ابن عباد بضم العين وتخفيف الموحدة ان الصحابة رضى الله عنهم كانوا يكرهون رفع الصوت عند الجنائز وعن الحسن انهم كانوا يستحبون خفض الصوت عندها. (قوله ويكره اللغط) هو بسكون الغين المعجمة وفتحها الأصوات المرتفعة ويقال فيه لغاط بوزن كتاب وسواء كان بالقرأة أو الذكر أو الصلاة على النبى - صلى الله عليه وسلم - قال شيخنا الرملى ويندب القراءة والذكر سرا. اهـ\rMembawa Mayit ke Kuburan Dengan Bagian Kepala di Depan\rPertanyaan:\rPada waku mayit digiring ke kuburan, kepala atau kakinyakah yang didahulukan (yang depan)? Dan bagaimana hukumnya?\rJawaban:\rHukumnya Sunat membawa mayit ke kuburan dengan kepalanya di depan baik diiringi ke arah qiblat atau tidak.\rPengambilan ibarat:\rMauhibah Dzawil Fadlol, juz III, hal. 429\rوفى موهبة ذوى الفضل، ج 3 ص 429، مانصه:\rويؤخذ من هذا كما قاله السيد عمر البصرى ان السنة فى وضع رأس الميت فى حال السير أن يكون إلى جهة الطريق سواء القبلة وغيرها فافهم. اهـ\rHukum Adzan Setelah Memasukkan Mayit ke Liang Qubur\rPertanyaan\rBagaimana hukum adzan setelah memasukkan mayit ke liang qubur?\rJawaban:\rHukumnya boleh (tidak sunat) menurut qoul yang mu’tamad (qoul yang dapat dibuat pegangan).\rPengambilan ibarat:\rAs-Syarqowi, juz I , hal. 228\rI'anatut Tholibin, juz I, hal. 230\rAl-Fatawi Kubro, juz II, hal. 18\rوفى الشرقاوى، ج 1 ص 228، مانصه:\rولا يسن أى الأذان عند إدخال الميت القبر على المعتمد. اهـ\rوفى إعانة الطالبين، ج 1 ص 230، مانصه:","part":1,"page":39},{"id":40,"text":"واعلم انه لا يسن الأذان عند دخول القبر خلافا لمن قال بسنيته قياسا بخروجه من الدنيا على دخوله فيها قال ابن حجر ورددته فى شرح العباب لكن إذا وافق انزاله القبر أذان خفف عنه فى السؤال. اهـ\rوفى الفتاوى الكبرى، ج 2 ص 18، مانصه:\r(وسئل) نفع الله به باحكام الأذان والإقامة عند سد فتح اللحد(فأجاب) بقوله هو بدعة اذ لم يصح فيه شيء، وما نقل عن بعضهم فيه غير معول عليه ثم رأيت الاصبحى أفتى بما ذكرته فانه سئل هل ورد فيهما خبر عن ذلك فأجاب بقوله لا اعلم فى ذلك خبرا ولا أثرا إلا شيئا يحكى عن بعض المتأخرين انه قال لعله مقيس على استحباب الأذان والإقامة فى أذان المولود وكأنه يقول الولادة أول الخروج إلى الدنيا وهذا آخر الخروج منها وفيه ضعف فان مثل هذا لا يثبت إلا بتوفيق أعنى تخصيص الأذان والإقامة وإلا فذكر الله تعالى محبوب على كل حال إلا وقت قضاء الحاجة. اهـ\rHukum Mentalqin Mayit Kafir\rDiskripsi masalah:\rTradisi yang telah terlaku di kalangan kita, apabila ada orang meninggal dunia selesai ditanam, kemudian dibacakan talqin di atas quburnya.\rPertanyaan:\rBagaimana hukum mentalqin tersebut, jika mayitnya kafir?\rJawaban:\rHukumnya haram, apabila ada unsur mendoakan atau memintakan ampun kepada mayit kafir tersebut.(1)\rPengambilan ibarat:\rAs-Showi, juz I, hal. 171\rKhulashotul Kalam, hal. 260\rوفى حاشية العلامة الصاوى، ج 2 ص 171، مانصه:\r__________\r(1) Catatan mushohhih:\rApabila seseorang terpaksa mentalqin mayit kafir, maka si pentalqin jangan sampai mendoakan atau akan memintakan ampun untuk si mayit kafir tersebut.","part":1,"page":40},{"id":41,"text":"(ما كان للنبى والذين أمنوا ان يستغفروا للمشركين ولو كانوا أولى قربى) ذوى قرابة (من بعد ما تبين لهم أنهم أصحاب الجحيم) النار بأن ماتوا على الكفر (قوله بأن ماتوا على الكفر) أى فلا يجوز لهم الإستغفار حينئذ واما الإستغفار للكافر الحى ففيه تفصيل وان كان قصده بذلك الإستغفار هدايته للإسلام جاز وان كان قصده أن تغفر ذنوبه مع بقائه فى الكفر فلا يجوز. اهـ\rوفى خلاصة الكلام، ص 260، مانصه:\rومما جاء من النداء للميت التلقين له بعد الدفن -إلى أن قال- ففى التلقين النداء والخطاب للميت وحديث نداء النبى - صلى الله عليه وسلم - كفار قريش المقتولين ببدر بعد القائم فى القليب مشهور رواه البخارى وأصحاب السنن وجعل يناديهم بأسمائهم وأسماء آبائهم ويقول أيسركم انكم اطعتم الله ورسوله فإنا قد وجدنا ماوعدنا ربنا حقا فهل وجدتم ماوعد ربكم حقا. وأما ما جاء من الأثار عن الأخبار والعلماء والأخيار والأولياء الكبار مما يدل على جواز ذلك النداء والخطاب. اهـ\rSatu Kali Bacaan Surat al-Fatihah untuk Para Ahli Qubur\rPertanyaan:\rOrang hadiah surat al-Fatihah dengan satu kali bacaan kepada ahli qubur, apakah ahli qubur bisa mendapatkan pahala satu kali bacaan sempurna atau dibagi?\rJawaban:\rAhli qubur bisa mendapatkan pahala satu kali bacaan surat al-Fatihah dengan sempurna. Akan tetapi bila si pembaca mengkhususkan, maka pahalanya akan berlainan, dalam arti ahli qubur yang dikhususkan akan lebih tinggi pahalanya dari pada yang diumumkan.\rPengambilan ibarat:\rBughyatul Mustarsyidin, hal. 97 & 196\rوفى بغية المسترشدين، ص 97، مانصه:","part":1,"page":41},{"id":42,"text":"(فائدة) رجل مر بمقبرة فقرأ الفاتحة واهدى ثوابها لأهلها فهل يقسم أو يصل لكل منهم مثل ثوابها كاملا. أجاب ابن حجر بقوله أفتى جمع بالثانى وهو اللائق بسعة رحمة الله تعالى. اهـ\rوفيه أيضا، ص 196، مانصه:\rولا يظهر فى هذا المقام فرق بين الواو وثم فيما إذا قال إلى روح فلان ثم فلان أو قال إلى فلان خاصة ثم إلى المسلمين عامة كما مال إليه فى التحفة والنهاية لكن يتفاوت الثواب فاعلاه ماخصه وأدناه ما عمه. اهـ\rSelamatan Hari Ketiga s/d Hari Keseribu Setelah Kematian\rPertanyaan:\rBagaimana hukumnya melaksanakan selamatan pada hari ketiga, ketujuh, keempat puluh, keseratus dan keseribu dari hari kematian mayit?\rJawaban:\rHukum pelaksanaan selamatan tersebut makruh, bahkan haram, bila diambilkan dari harta tirkah yang mayitnya punya hutang, atau ahli waris mahjur alaih, atau ahli waris ada yang tidak rela.*)\rCatatan: hukum makruh di atas tidak sampai menghilangkan pahala shodaqoh\rPengambilan ibarat:\rAsnal Matholib, juz I, hal. 335\rAl-Fatawi Kubro, juz II, hal. 7\rAhkamul Fuqoha`, juz I, hal. 16\rوفى أسنى المطالب، ج 1 ص 335، مانصه:","part":1,"page":42},{"id":43,"text":"(ويكره لأهله) أى الميت (طعام) أى صنع الطعام (يجمعون عليه الناس) أخذا كصاحب الأنوار الكراهة من تعبير الروضة والمجموع بأن ذلك بدعة غير مستحب واستدل له فى المجموع بقول جرير بن عبد الله كنا نعد الإجتماع إلى أهل الميت وصنعهم الطعام بعد دفنه من النياحة رواه الإمام أحمد وابن ماجة بإسناد صحيح وليس فى رواية ابن ماجة بعد دفنه وهذا ظاهر فى التحريم فضلا عن الكراهة والبدعة الصادقة بكل منهما. (قوله وهذا ظاهر فى التحريم) لاخفاء فى تحريمه إن كان على الميت دين أو فى الورثة محجور عليه أو غائب وصنع ذلك من التركة. اهـ\rوفى الفتاوى الكبرى، ج 2 ص 7، مانصه:\rولا يجوز ان يفعل شيئ من ذلك من التركة حيث كان فيها محجور عليه مطلقا أو كانوا كلهم رشداء لكن لم يرض بعضهم. اهـ\rوفى أحكام الفقهاء، ج 1 ص 16، مانصه:\rس: ما حكم تهيئة الاطعمة من أهل الميت لضيافة المعزين يوم الوفاة أو غيره وقصد بذلك التصدق عن الميت فهل لهم الثواب ذلك التصدق أو لا؟\rج: ان تهيئة الاطعمة يوم الوفاة أو ثالث أيامها أو سابعها مكروهة من حيث الإجتماع والتخصيص وتلك الكراهة لاتزيل ثواب الصدقة. اهـ\r(1)\r__________\r(1) Catatan Tim Redaksi:\rDalam kitab Qurrotul Ain bi Fatawi Isma’il Zain disebutkan bahwa walimah tersebut hukumnya boleh, bahkan termasuk qorubat, dan orang yang melakukannya mendapatkan pahala sedangkan walimah tersebut dinamakan walimah wadlimah (وضيمة) dengan syarat: untuk walimah tidak diambilkan dari tirkah mayit yang ahli warisnya mahjur alaih atau tidak rela.\rPengambilan Ibarat:\rQurrotul ‘Ain, hal. 91-92\rوفى قرة العين بفتاوى الشيخ إسماعيل الزين، ص 91-99، مانصه:\rفقد طلب منى من يعز علي أن أكتب عن الحديث الوارد فى مشكاة المصابيح وهو حديث كما ستراه اشتمل على فوائد جمة وأحكام مهمة وعن عاصم بن كليب عن أبيه عن رجل من الأنصار قال خرجنا مع رسول الله - صلى الله عليه وسلم - فى جنازة فرأيت رسول الله - صلى الله عليه وسلم - وهو على القبر يوصى الحافر يقول أوسع من قبل رجليه أوسع من قبل رأسه فلما رجع استقبله داعى امرأته فأجاب ونحن معه فجيئ بالطعام فوضع يده ثم وضع القوم فأكلوا فنظرنا إلى رسول الله - صلى الله عليه وسلم - يلوك لقمة فى فيه ثم قال أحد لحم شاة أخذت بغير إذن أهلها فأرسلت امرأة تقول يا رسول الله إنى ارسلت الى النقيع وهو موضع يباع فيه الغنم ليشترى لى شاة فلم توجد فارسلت إلى جار لى قد اشترى شاة ان يرسل إلى بثمنها فلم يوجد فارسلت إلى امرأته فارسلت إلى بها فقال رسول الله - صلى الله عليه وسلم - أطعمى هذا الطعام الاسرى رواه أبو داود والبيهقى فى دلائل النبوة. اهـ إلى أن قال ومنها مسألة مهمة ولأجلها\rكانت كتابة هذه الرسالة وهى ما يصنعه أهل الميت من الوليمة ودعاء الناس إليها للأكل فإن ذلك جائز كما يدل عليه الحديث المذكور بل هو قربة من القرب لأنه إما أن يكون بقصد حصول الأجر والثواب للميت وذلك من أفضل القربات التى تلحق الميت باتفاق وإما أن يكون بقصد إكرام الضيف والتسلى عن المصاب وبُعدا عن إظهار الحزن وذلك أيضا من القربات والطاعات التى يرضاها رب العالمين ويثيب فاعلها ثوابا عظيما وسواء كان ذلك يوم الوفاة عقب الدفن كما فعلته زوجة الميت المذكورة فى الحديث أو بعد ذلك فالحديث نص صريح فى مشروعية ذلك واما استحسانه والترغيب فيه وانه قربة وطاعة فمستفاد من معنى المشروعية وحكمتها جريا على قواعد أهل الشرع وأصولهم ولا ينافى ذلك الحديث المشهور وهو قوله - صلى الله عليه وسلم - اصنعوا لآل جعفر طعاما فقد جاءهم ما يشغلهم لأن هذا الحديث يحتمل أن يكون خاصا بآل جعفر رضى الله عنهم اجمعين وان النبى - صلى الله عليه وسلم - رأى من شدة حزنهم انهم لايستطيعون ان يصنعوا لأنفسهم طعاما فأمر أهل بيته أن يصنعوا لهم ذلك لأن الخطاب فى الحديث لبعض أزواج رسول الله - صلى الله عليه وسلم - قال ذلك حيثما بلغه حال آل جعفر رضى الله عنهم فحينئذ يكون الحديث انما هو خصوصية لآل جعفر وواقعة عين فلا ينهض به الإستدلال على منع الوليمة من أهل الميت ولم يقل النبى - صلى الله عليه وسلم - من مات له ميت فلا يولم ولا يطعم الناس ولم يجئ فى الحديث نهى رسول الله - صلى الله عليه وسلم - اهل الميت عن الوليمة وان يطعموا غيرهم بل الذى جاء فى الحديث ان أهل الميت أولموا واطعموا ودعوا الرسول - صلى الله عليه وسلم - ومن معه فأجاب دعوتهم واقرهم على ذلك ولم ينكر عليهم وقد جاء ان السيدة عائشة رضى الله عنها كانت إذا مات الميت من أهلها فاجتمع الناس ثم تفرقن إلا اهلها وخاصتها امرت ببرمة من تلبينة فطبخت ثم صنع ثريد فصبت التلبينة عليه ثم قالت كلوه الحديث كما فى البخارى ومن ينظر فى قواعد الشرع بالنظر الصحيح يرى ان لا محذور فى وليمة أهل الميت إذا صنعوها واطعموا غيرهم تقربا إلى الله عز وجل وتسليا عن المصاب وإكراما للضيف النازلين عليهم للتعزية ولكن قيد الفقهاء رحمهم الله تعالى بان لاتكون من مال الورثة القاصرين وذلك لعدم صحة تبرعهم لا لأن الوليمة مذمومة من حيث هى بل هى محمودة وهى احد الولائم المشروعة وسمى بالوضيمة بالضاد المعجمة وما جاء من جابر رضى الله عنه من قوله كنا نعد الإجتماع إلى اهل الميت وصنعهم الطعام من النياحة فمحمول على ما إذا كان مع إظهار الحزن ووجود الجزع واما إذا خلا من ذلك فلا مرية فى استحسانه جمعا بين الأحاديث ويكون بذلك قد انتظمت الادلة وتم الإستدلال وزال بما ذكرناه وجه الإشكال وما يذكره الفقهاء رحمهم الله فى كتبهم فى مبحث الجنائز من قولهم: ويسن لجيران أهل الميت تهييئة طعام يشبعهم يومهم وليلتهم. اهـ محمول على ما ذكرناه من ان ذلك فى حق من غلب عليه الحزن كآل جعفر رضى الله عنهم وليس لهم دليل على كراهة الوليمة من أهل الميت مطلقا إلا ما ورد من حديث آل جعفر وحديث جرير وكأنهم لم يطلعوا على حديث عاصم بن كليب عن أبيه الذى هو نص فى الجواز إلى أن قال قال العلامة القارى فى المرقاة بعد ذكر حديث عاصم بن كليب المذكور ما نصه: هذا الحديث بظاهره يرد على ماقرره أصحاب مذهبنا من انه يكره اتخاذ الطعام فى اليوم الأول أو الثالث او بعد الأسبوع كما فى البزازية وذكر فى الخلاصة انه لايباح اتخاذ الضيافة عند ثلاثة ايام وقال ابن الهمام يكره اتخاذ الضيافة من أهل الميت، والكل عللوه بأنه شرع فى السرور لا فى الشرور قال وهى بدعة مستقبحة. روى الإمام أحمد وابن حبان بإسناد صحيح عن جرير بن عبد الله كنا نعد الإجتماع إلى أهل الميت وصنعهم الطعام من النياحة. اهـ فينبغى ان يقيد كلامهم بنوع خاص من اجتماع يوجب استحياء أهل بيت الميت فيطعمونهم كرها أو يحمل على كون بعض الورثة صغيرا أو غائبا او لم يعرف رضاه أو لم يكن الطعام من عند أحد معين من مال نفسه لامن مال الميت قبل قسمته ونحو ذلك انتهى الكلام القارى رحمه الله تعالى وهذا كله كما هو ظاهر فيما إذا لم يوصى الميت باتخاذ الطعام واطعامه للمعزين الحاضرين وإلا فيجب ذلك عملا بوصيته وتكون الوصية معتبرة من الثلث أى ثلث تركة الميت، قال فى التحفة جزء 3 ص 208 أثناء كلام ساقه ومن ثم خالف ذلك بعضهم فأفتى بصحة الوصية باطعام المعزين وانه ينفد من الثلث وبالغ فنقله عن الأئمة. اهـ والله اعلم بالصواب","part":1,"page":43},{"id":44,"text":"Membakar Dupa (Menyan) di Dekat Mayit dan Lain-lainnya\rDiskripsi masalah:\rAda suatu kebiasaan di suatu daerah membakar dupa (menyan) di dekat mayit selama disemayamkan. Begitu juga jika ada hajat yang lain seperti ketika akan mendirikan rumah, khitan, wiwit tandur (mulai menanam) dan selamatan yang lainnya.\rPertanyaan:\rBagaimana hukum membakar dupa tersebut?\rJawaban:\rHukumnya ditafsil:\rBoleh, apabila bermaksud menghilangkan bau busuk/pengap dan beri’tikad (berkayakinan) bahwa yang memberi manfaat Alloh swt semata.\rMakruh, apabila tidak bermaksud apa-apa (tidak ada tujuan).\rHaram, bahkan kufur apabila beri’tiqad bahwa dupa/menyan yang dibakar tersebut dapat memberi kemanfaatan tertentu (misalnya: mendatangkan rizki/keberuntungan dll.)\rPengambilan ibarat:\rNihayatuz Zain, hal. 153\rBughyatul Mustarsyidin, hal. 249\rوفى ناية الزين، ص 153، مانصه:\rويكره اتباعها بنار فى مجمرة أو غيرها إلا لحاجة كبحور لدفع نتن أو فتيلة لرؤية دفنه ليلا فلا كراهة. اهـ\rوفى بغية المسترشدين، ص 249، مانصه:\r(مسئلة ك) جعل الوسائط بين العبد وبين ربه فان صار يدعوهم كما يدعو الله فى الأمور ويعتقد تأثيرهم فى شيئ من دون الله تعالى فهو كفر وان كان نيته التوسل بهم إليه تعالى فى قضاء مهماته مع اعتقد ان الله هو النافع الضار المؤثر فى الامور دون غيره فالظاهر عدم كفره وان كان فعله قبيحا. اهـ\rMembersihkan Rerumputan dan Pepohonan di Quburan\rPertanyaan:\rBagaimanah hukumnya membersihkan pepohonan atau rerumputan yang berada di atas quburan?\rJawaban:","part":1,"page":44},{"id":45,"text":"Hukumnya makruh, apabila dalam membersihkan pepohonan atau rerumputan tersebut sampai pada akar-akarnya, sedangkan pohon atau rumput tersebut masih hidup (basah). Dan tidak makruh, apabila tidak sampai pada akar-akarnya, atau sudah mati (kering).\rPengambilan ibarat:\rBariqoh Mahmudiyah, juz IV, hal. 84\rوفى بريقة محمودية للشيخ أبو سعيد الخدمى، ج 4 ص 84، مانصه:\rومنها أى ومن آفات اليد قلع الشوك والحشيش الرطبين على القبر فإنه مكروه بخلاف اليابس. اهـ\rBAB ZAKAT\rBiaya Pemupukan dan Pengobatan tidak mempergunakan Zakat\rDiskripsi masalah:\rSebagaimana sudah maklum, bahwa pertanian (menanam padi) sekarang pada umumnya menggunakan pupuk urea dan obat-obatan.\rPertanyaan:\rBisakah biaya pemupukan dan pengobatan tersebut dapat mengurangi kewajiban zakat sebagaimana untuk pengairan?\rJawaban:\rBiaya tersebut tidak bisa mengurangi kewajiban mengeluarkan ‘usyur (10%) sebagai zakatnya.\rPengambilan ibarat:\rHamisy Qurrotul Ain, hal. 100\rAl-Majmu’, juz V, hal. 461\rI'anatut Tholibin, juz II, hal. 161\rوفى فتاوى العلامة الإمام الشيخ محمد رئيس الزبيرى بهامش قرة العين، ص 100، مانصه:\rباب الزكاة النبات\rسئل رضى الله عنه فى أهل بلد يعتادون تسميد أشجارهم بدل السقاية لها ويخرجون على ذلك خرج السقاية بل أكثر فهل يجب على مالك الأشجار العشر أو نصفه وايضا هل يكره أكل الثمرة من أجل تسميد أم لا وكذلك إذا كانوا يعتادون تحريث أشجارهم بدل السقاية ما حكمه فى وجوب الزكاة افتونا مأجورين، أجاب عفا الله عنه يقول التسميد والتحريث لا يغير حكم الواجب فيجب نصف العشر ولا يكره أكل الثمر المذكور وان ظهر ريح النجس فيه والله سبحانه وتعالى أعلم. اهـ","part":1,"page":45},{"id":46,"text":"وفى المجموع، ج 5 ص 461، مانصه:\rوزكاته العشر فيما سقى بغير مؤنة ثقيلة كماء السماء والأنهار وما شرب بالعروق، ونصف العشر فيما سقى بمؤنة ثقيلة كالنواضيح والدوالب وما اشبهها لما روى ابن عمر رضى الله عنهما ان النبى - صلى الله عليه وسلم - فرض فيما سقت السماء والأنهار والعيون أو كان بعلاورى عشريا العشر وفيما سقى بالنضح نصف العشر. اهـ\rوفى إعانة الطالبين، ج 3 ص 161، مانصه:\r(قوله وسبب التفرقة) بين ما سقى بلا مؤنة حيث كان واجبه العشر وما سقى بمؤنة حيث كان واجبه نصف العشر ثقل المؤنة هذا أى فيما سقى بمؤنة وقوله: وخفتها فى الأول أى فيما سقى بلا مؤنة ولا يقال ان بين خفتها وبين ثقلها بلا مؤنة تنافيا لأن المراد من المؤنة المنفية الكثيرة وهو يصدق بوجودها مع خفتها كما علمت ثم ان المراد بخفتها ان شأنها ذلك وإلا فقد تكون هناك مؤنة أصلا. اهـ\rKurs Harta Dagangan di Indonesia\rDiskripsi masalah:\rSebagaimana kita maklumi, harta dagangan di negara Indonesia kebanyakan modalnya tidak terdiri dari emas dan perak.\rPertanyaan:\rBagaimana cara mengetahui ukuran nishobnya?\rJawaban:\rDikurs pakai emas. Dan jika dikurs pakai emas belum ada satu nishob, maka dikurs pakai perak.\rKeterangan:\rDalam kitab Fathul Qodir hal. 22 dijelaskan bahwa:\rSatu nishob emas = 77,57 gram\rSatu nishob perak = 543,35 gram\rPengambilan ibarat:\rAl-Bajuri, juz I, hal. 276\rNihayatuz Zain, hal. 169\rوفى الباجورى، ج 1 ص 276، مانصه:","part":1,"page":46},{"id":47,"text":"فان ملكت بغير نقد كعرض وبضع فى خلع أو نكاح أو صلح عن دم قومت بغالب نقد البلد ان لم تكن بها نقد فبغالب نقد أقرب البلاد إليه فان غالب نقدان على التساوى تخير بينهما ان بلغت نصابا بكل منهما على المعتمد كما صححه فى أصل الروضة وان صح فى المنهاج كأصله انه يتعين الأنفع للمستحقين، وان بلغت نصابا بأحدهما دون الأخر قومت به لتحقق تمام النصاب. اهـ\rوفى نهاية الزين، ص 169، مانصه:\rولو حال الحول بموضع لانقد فيه كبلد يتعامل فيها بفلوس أو نحوها اعتبر أقرب البلاد إليه. اهـ\rKedudukan Kyai, Muballigh dan lainnya dalam Bab Zakat\rPertanyaan:\rPara Kyai, muballigh, pelajar Islam, dan imam Tarawih apakah termasuk “sabilillah” dari golongan delapan yang berhak menerima zakat?\rJawaban:\rTidak termasuk, karena sabilillah adalah prajurit-prajurit yang tidak mendapat gaji dari pemerintah (sukarelawan).\rPengambilan ibarat:\rFathul Qorib, hal. 25\rوفى فتح القريب المجيب، ص 25، مانصه:\rواما سبيل الله الغزاة الذين لا سهم لهم فى ديوان المرتزقة بل هم متطوعون بالجهاد. اهـ\rZakat Diberikan Kyai untuk Membangun Pondok\rPertanyaan:\rGugurkah hukum wajib zakat bagi orang yang memberikan zakatnya kepada Kyai untuk membangun pondok?\rJawaban:\rTidak gugur, apabila Kyai tersebut tidak termasuk penerima zakat (ashnaf attsamaniyah). Dan bila termasuk penerima zakat maka gugur.\rAdapun memberikan zakat untuk pondok lewat Kyai, juga tidak bisa menggugurkan hukum wajib zakat, disamakan dengan memberikan zakat untuk masjid.\rPengambilan ibarat:\rI'anatut Tholibin, juz II, hal. 199-200\rAs-Syarqowi, juz I, hal. 289\rBughyatul Mustarsyidin, hal. 106","part":1,"page":47},{"id":48,"text":"وفى إعانة الطالبين، ج 2 ص 199-200، مانصه:\r(ولو أعطاها) أى الزكاة ولو الفطرة (لكافر أو من به رق أو هاشمى أو مطلبى أو غنى أو مكفى بنفقة قريب لم يجزئ) ذلك عن الزكاة ولا تتأدى بذلك إن كان الدافع المالك وان ظن استحقاقهم. (قوله ولا تتأدى) اى الزكاة بذلك أى الإعطاء أى لا تقع بذلك وهو عين عدم الاجزاء. اهـ\rوفى الشرقاوى، ج 1 ص 289، مانصه:\rباب قسم الصدقات أى الزكوات هى للثمانية المذكورة فى آية: { إنما الصدقات للفقراء. الآية } . (قوله فى آية إنما الخ) وقد علم من الحصر بأنما انها لاتصرف لغيرهم وهو مجمع عليه. اهـ\rوفى بغية المسترشدين، ص 106، مانصه:\r(مسئلة) لايستحق المسجد شيئا من الزكاة كما نص عليه ابن حجر فى فتاويه. اهـ\rPelajar Ilmu Syara’ Menerima Zakat dari Orang Tuanya\rPertanyaan:\rBolehkah orang mukallaf yang belajar ilmu syara’ menerima zakat dari orang tuanya?\rJawaban:\rApabila nafaqoh dari orang tuanya mencukupi, maka dia tidak boleh menerima zakat dengan predikat fakir-miskin, dan boleh menerima dengan predikat selain fakir-miskin, asal sekedar kecukupannya.\rApabila nafaqoh dari orang tuanya tidak mencukupi, maka dia boleh menerima dengan predikat fakir-miskin atau dengan yang lainnya.\rPengambilan ibarat:\rI'anatut Tholibin, juz II, hal. 201\rNihayatuz Zain, hal. 180-181\rوفى إعانة الطالبين، ج 2 ص 201، مانصه:\rأما من لم يكتف بالنفقة الواجبة له من زوج أو قريب فيعطيه المنفق وغيره حتى بالفقر ويجوز للمكفى بها الأخذ بغير المسكنة والفقراء ان وجد فيه حتى ممن تلزمه نفقته.\r(قوله فيعطيه المنفق وغيره) أى تمام كفايته وقوله حتى بالفقر غاية لمقدر أى يعطيه بكل صفة يستحق بها الأخذ حتى بصفة الفقر. اهـ","part":1,"page":48},{"id":49,"text":"وفى نهاية الزين، ص 180-181، مانصه:\rولو كان له كسب لائق به لكنه كان مشتغلا بالعلم الشرعى الذى يتأتى منه تحصيله والكسب يمنعه جاز له الأخذ من الزكاة قال بعضهم وحينئذ تجب نفقته على والده. والعلم الشرعى الفقه والتفسير والحديث وآلاتها -إلى أن قال- فيعطى الفقير كفاية بقية العمر الغالب وهو اثنتان وستون سنة -إلى أن قال- ويعطى مكاتب وغارم لغير إصلاح ذات البين ما عجزا عنه من وفاء دينهما. ويعطى ابن السبيل ما يوصله مقصده أو ماله ان كان له فى طريقه مال ويعطى الغازى حاجته فى غزوة ذهابا وإيابا واقامة له ولعياله إلى قوله ويعطى المؤلفة ما يراه ويعطى كل فرد من افراد العامل أجرة مثله ومن فيه صفتا استحقاق كفقير غارم يأخذ بإحداهما. اهـ\rStatus Panitia Zakat di Indonesia\rDiskripsi masalah:\rSaat ini hampir di setiap daerah dibentuk suatu badan yang menangani soal zakat, misalnya: zakat dikumpulkan di kantor madrasah yang anggotanya terdiri dari panitia-panitia yang telah dibentuk oleh seseorang yang terkemuka/terpercaya di daerah tersebut.\rPertanyaan:\rOrang yang membentuk panitia itu, apa sudah bisa dikatakan imam dalam bab zakat?\rPanitia yang telah terbentuk itu, apa bisa dikatakan amil zakat?\rJawaban:\rOrang yang membentuk panitia-panitia itu tidak bisa dikatakan imam.\rPanitia-panitia yang dibentuk/ditugaskan itu, tidak bisa dikatakan amil zakat, kecuali bila yang membentuk panitia itu mendapat izin dari imam.\rPengambilan ibarat:\rMauhibah Dzawil Fadlol, juz IV, hal. 130\rBughyatul Mustarsyidin, hal. 247\rوفى موهب ذوى الفضل، ج 4 ص 130، مانصه:","part":1,"page":49},{"id":50,"text":"والصنف الخامس العاملون عليها ومنهم الساعى الذى يبعثه الإمام لأخذ الزكوات وبعثه واجب (قوله العاملون عليها) أى الزكاة يعنى من نصبه الإمام فى أخذ العمالة من الزكوات -إلى أن قال- ومقتضاه ان من عمل متبرعا لايسمى شيئا على القاعدة. اهوفى بغية المسترشدين، ص 347، مانصه:\rتنعقد الإمامة اما ببيعة أهل الحل والعقد من العلماء والرؤساء ووجوه الناس الذين يتيسر اجتماعهم أو باستخلاف إمام قبله أو باستيلاء ذى الشوكة. اهـ\rMenjual Barang yang Berlebihan untuk Membayar Zakat\rDiskripsi masalah:\rAda seseorang yang pada hari raya Idul Fitri tidak mempunyai sisa bahan makanan pokok, atau mempunyai yang kurang satu sho’ tetapi dia memiliki beberapa barang yang menurut syara’ sudah dianggap berlebihan, seperti ayam, meja, kursi dan sebagainya.\rPertanyaan:\rApakah orang tersebut wajib mengeluarkan zakat fitrah dengan menjual barang-barangnya atau tidak?\rJawaban:\rOrang tersebut wajib mengeluarkan zakat fitrah dengan menjual barang-barangnya yang sudah dianggap lebih menurut syara’.\rPengambilan ibarat:\rAs-Syarqowi, juz I, hal. 371\rBusyrol Karim, juz II, hal. 53\rAl-Asybah wan Nadho`ir, hal. 375\rوفى الشرقاوى، ج 1 ص 371، مانصه:\rوالمراد بحاجة الخادم ان يحتاجه لخدمته أو خدمة ممونه لالعمله فى أرضه أو ماشيته ذكره فى المجموع وكذا يقال فى المسكن فالمراد ان يحتاجه لسكناه أو سكنى من يلزمه إسكانه لا لإيواء ماشيته أو زرعه -إلى أن قال- اما البهيمة التى يطحن عليها فإن احتاجها ليطحن عليها فى ذلك الوقت لم يكلف بيعها والا كلفه -إلى أن قال- ولا يشترط فضل ما يخرجه عن رأس ماله وضيعته ولو سكن بدونهما ويفارق المسكن والخادم بالحاجة الناجزة.","part":1,"page":50},{"id":51,"text":"وفى بشرى الكريم، ج 2 ص 53، مانصه:\rاما لو احتاج إلى الخادم لخدمة أرضه مثلا وللمسكن لايواء نحو دواب أو ثمرة فيباعان للفطرة ومثلهما الثوب. اهـ\rوفى الأشباه والنظائر، ص 375، مانصه:\rقال أى النووى: فينبغى ان يضبط فيقال: مالايحتاج إليه فىالسنة فهو مستغن عنه فيقدر حاجة اثاث البيت وثياب البدن بالسنة فلاتباع ثياب الشتاء فى الصيف ولا ثياب الصيف فى الشتاء والكتب بالثياب اشبه. اهـ\rZakat Fitrah dengan Makanan Pokok yang tak Terbiasa\rPertanyaan:\rBolehkah mengeluarkan zakat fitrah di suatu daerah dengan makanan pokok yang tidak terbiasa di daerah tersebut?\rJawaban:\rTidak boleh (tidak mencukupi) menurut wajah yang rojih.\rPengambilan ibarat:\rAl-Qolyubi, juz I, hal. 37\rMughnil Muhtaj, juz I, hal. 406\rوفى قليوبى وعميرة، ج 1 ص 37، مانصه:\r(ويجب) فى البلدى (من قوت بلده وقيل قوته وقيل يتخير بين) جميع (الاقوات) لقوله فى الحديث السابق صاعا من طعام أو صاعا من اقط أو صاعا من شعير إلى آخره وأجاب الأولان بأن أو فيه ليست للتخيير بل لبيان الأنواع التى تخرج منها فلو كان من قوت بلده الشعير وقوته البر تنعما تعين البر على الثانى وأجزأ الشعير على الأول وأجزأ غيرهما على الثالث وعبر فى المحرر والروضة وأصلها بغالب قوته وغالب قوت البلد. (قوله بغالب قوته) على الوجه المرجوح وغالب قوت البلد على الوجه الراجح والمراد به بلد المؤدى عنه والمراد غلبته فى جميع السنة. اهـ\rوفى مغنى المحتاج، ج 1 ص 406، مانصه:\r(تنبيه) لو قال من غالب قوت بلده كما قدرت غالب فى عبارته لكان أولى فإنه لوكان للبلد أقوات وغلب بعضها وجب من الغالب وليحسن قوله بعد ذلك ولو كان فى البلد أقوات لاغالب فيها تخير. اهـ\rPembagian Zakat dengan Pakai Formulir dan Batas Waktu","part":1,"page":51},{"id":52,"text":"Diskripsi masalah:\rAda panitia zakat dalam cara pembagiannya memakai formulir dan batas waktu. Artinya: apabila pengambilan zakat itu sudah lewat waktu yang telah ditentukan panitia, maka harta zakat tidak dapat diambil, dan oleh panitia dijadikan dana untuk pembangunan masjid.\rPertanyaan:\rApakah sistem seperti itu (memberi batas waktu) sudah cukup sebagai daf’uz zakat?\rJawaban:\rPembagian zakat oleh panitia dengan formulir kepada mustahiq, apabila ternyata harta zakat tidak diambil oleh mustahiq karena sudah lewat batas waktu yang telah ditentukan panitia, maka pembagian zakat tersebut belum cukup sebagai dafuz zakat.\rApapun si pemilik sudah bebas dari tanggungan zakat menyerahkan zakat kepada panitia, bilamana panitia tersebut terdiri dari imam atau na’ibul imam.\rPengambilan ibarat:\rI'anatut Tholibin, juz III, hal. 175 & juz II, hal. 185\rFathul Jawad, juz I, hal. 273\rوفى إعانة الطالبين، ج 2 ص 175، مانصه:\r(ويجب أداؤها) أى الزكاة والمراد بالأداء دفع الزكاة لمستحقها. اهـ\rوفى فتح الجواد، ج 1 ص 273، مانصه:\rفان قلت: قد الحق فى المجموع الفطرة بالظاهرة فى ان دفعها ولو للجائر أفضل فما سببه؟ قلت سببه ما فيه من المصلحة العائدة على الدافع من براءة ذمته يقينا بدفعها له وان علم صرفه لها فى نحو شرب خمر كما قاله القفال. اهـ\rوفى إعانة الطالبين، ج 2 ص 185، مانصه:","part":1,"page":52},{"id":53,"text":"ولو دفعها المزكى للإمام بلا نية ولا إذن منه له فيها لم تجزئ نية الإمام (قوله للإمام) ومثل الإمام نائبه كالساعى (قوله ولا إذن منه) أى من المزكى له أى الإمام فيها اى النية قال سم: مفهومه الاجزاء إذا اذن له فى النية ونوى وحينئذ فيحتمل انه وكيل المالك فى الدفع إلى المستحق فلا يبرأ المالك قبل الدفع للمستحق إذ لايظهر صحة كونه نائب المالك ونائب المستحق أيضا حتى يصح قبضه ويحتمل خلافه. اهـ\rMengeluarkan Zakat Ditetapkan pada Bulan-bulan Mulia\rDiskripsi masalah:\rKebanyakan orang memilih mengeluarkan zakat pada bulan-bulan yang mulia seperti Romadlon dan sebagainya, padahal haul (genap 1 tahun) nya bukan pada bulan tersebut.\rPertanyaan:\rSahkah pengeluaran zakat tersebut? Jika tidak sah bagaimana jalan keluarnya?\rBagaimana pula cara zakatnya, jika sampai lupa permulaan haulnya atau ingat tapi lupa pada kadar zakat yang wajib dikeluarkan?\rJawaban:\rZakat tersebut sah, baik ta’jil maupun ta’khir. Akan tetapi kalau ta’khir berdosa. Dan apabila ta’jil harus menetapi syarat sebagai berikut:\rSudah ada satu nishob, untuk selain harta dagangan.\rTa’jil hanya dilakukan untuk satu tahun.\rMalik (orang yang memiliki) tetap termasuk orang yang wajib mengeluarkan zakat, dan qobidl (orang yang menerima) tetap termasuk orang yang berhak menerima zakat, sampai akhir tahunnya harta yang wajib dizakati.\rCara zakatnya, baik lupa permulaan haulnya atau lupa pada kadar zakat yang wajib dikeluarkan, adalah al-akhdzu bil yaqin (mengikuti keyakinannya).\rPengambilan ibarat:\rI'anatut Tholibin, juz II, hal. 186\rNihayatuz Zain, hal. 178-179","part":1,"page":53},{"id":54,"text":"Hamisy as-Syarwani, juz III, hal. 253\rAl-Mahalli, juz II, hal. 31\rوفى إعانة الطالبين، ج 2 ص 176، مانصه:\r(وجاز) للمالك دون الولى (تعجيلها) أى الزكاة (قبل تمام حول) لاقبل تمام النصاب فى غير التجارة (قوله لا قبل تمام نصاب) أى لايجوز تعجيلها قبل تمام النصاب وذلك لعدم انعقاد حولها حينئذ. (قوله فى غير التجارة) اما هى فيجوز تعجيل زكاتها قبل تمام النصاب فيها وذلك لان انعقاد حولها لا يتوقف على تمام النصاب فلو اشترى عرضا لها لايساوى مائتين فعجل زكاة مائتين وحال الحول وهو يساوهما اجزأ المعجل. اهـ\rوفى نهاية الزين، ص 179-178، مانصه:\rلايجوز تعجيل الزكاة (لعامين) ولا لأكثر منهما اذ زكاة غير الأول لم ينعقد حوله والتعجيل قبل انعقاد الحول ممتنع فان عجل لأكثر من عام اجزأه عن الأول مطلقا -إلى أن قال- وشرط وقوع المعجل زكاة بقاء المالك بصفة الوجوب عند آخر الحول والقابض بصفة الإستحقاق والمال إلى تمام الحول فان مات مالك أو قابض قبله أو ارتد قابض أو غاب ولم نجز نقل الزكاة أو استغنى بمحض غير المعجل كمعجل آخر أخذه بعد الأول أو نقص نصاب أو زال عن ملكه وليس مال تجارة لم تجزئه لخروجه عند الوجوب عن الأهلية فى الطرفين -إلى أن قال- (وحرم تأخيرها) أى تأخير المالك أداء الزكاة بعد التمكن (وضمن) أى المالك (ان) أخر الأداء (تلف) أى المال (بعد التمكن) وقد مر لتقصيره إلى أن قال ويجوز التأخير لطلب الأفضل لتفريقه أو لطلب الإمام حيث كان تفريقه أفضل ولانتظار قرابه وان بعدت وجار أو أحواج أو أصلح لأنه تأخير لغرض ظاهر. اهـ\rوفى هامش الشروانى، ج 3 ص 253، مانصه:\rوكذا لو جهل المقدار من نفع كل باعتبار المدة أخذ بالإستواء لأن لايلزم التحكم ولو علم ان أحدهما أكثر وجهل عينه فالواجب ينقص عن العشر ويزيد على نصفه فيؤخذ اليقين إلى أن يعرف الحال. اهـ","part":1,"page":54},{"id":55,"text":"وفى المحلى، ج 2 ص 31، مانصه:\r(تنبيه) لو شك فى جنس النقد الذى اشترى به أو فى جنس العرض أو قدره ففيه تأمل يراجع والوجه فيه العمل بالاحوط. اهـ\rBAB PUASA\rPenetapan Awal Romadlon yang berselisih\rDiskripsi masalah:\rSebagai mana kita maklumi, penetapan awal Romadlon 1409 H. ada perselisihan. Menurut siaran pemerintah, penetapan awal Romadlon jatuh pada hari Jum’at Kliwon atas dasar hisab dan ru`yah. Tetapi menurut sebagian markas penanggalan Jawa Tengah, awal Romadlon jatuh pada hari sabtu legi, karena menurutnya pada hari Jum’at Kliwon hilal tak mungkin dapat diru`yah bil fi’li. Karena hal tersebut maka umat Islam di Indonesia dalam menjalankan puasa ada yang hari Jum’at ada yang hari Sabtu.\rPertanyaan:\rBolehkah umat Islam mengikuti salah satu dari dua pendapat tersebut?\rApakah hasil ru`yah pemerintah di satu tempat (Jakarta misalnya) dapat mewajibkan puasa atau berhari raya bagi umat Islam se tanah air?\rBerapa derajat/menit hilal dapat diru`yah bil fi’li?\rJawaban a:\rUmat Islam tidak boleh mengikuti salah satu dari dua pendapat tersebut, akan tetapi wajib mengikuti penetapan pemerintah, apabila berada dalam satu matla’ dan tidak meragukan penetapan pemerintah tersebut. Apabila berada di matla’ lain atau penetapan pemerintah tersebut meragukan maka wajib menyempurnakan bulan 30 hari.\rJawaban b:\rHasil ru`yah pemerintah di suatu tempat tidak dapat mewajibkan puasa bagi umat Islam se tanah air, akan tetapi hanya mewajibkan puasa bagi umat Islam yang berada di:\rSemua daerah sebelah baratnya tempat ru`yah.","part":1,"page":55},{"id":56,"text":"Semua daerah sebelah utara selatan tempat ru`yah.\rSemua daerah sebelah timur tempat ru`yah yang masih berada di satu matla’\rJawaban c:\rMenurut ulama muta`akhirin dari ilmu hai`ah, hilal dapat diru`yah bil fi`li apabila hilal sudah mencapai ketinggian 2° (dua derajat) atau lama bulan di ufuk 8 menit 16 detik (8,16°).\rPengambilan ibarat:\rI'anatut Tholibin, juz II, hal. 216 & 219\rBughyatul Mustarsyidin, hal. 109\rNihayatuz Zain, hal. 184\rAl-Qolyubi, juz II, hal. 50\rFathur Ro’ufil Mannan, hal. 15\rوفى إعانة الطالبين، ج 2 ص 216، مانصه:\rوفى مغنى الخطيب ما نصه (فرع) لو شهد برؤية الهلال واحد أو إثنان واقتضى الحساب عدم امكان رؤيته قال السبكى: لا يقبل هذه الشهادة لأن الحساب قطعى والشهادة ظنية والظن لا يعارض القطع واطال فى بيان رد هذه الشهادة، والمعتمد قبولها إذ لا عبرة بقول الحساب. اهـ وفصل فى التحفة فقال: الذى يتجه ان الحساب ان اتفق أهله على مقدماته قطعية وكان المخبرون منهم بذلك بعدد التواتر ردت الشهادة وإلا فلا. اهـ\rوفى بغية المسترشدين، ص 109، مانصه:\r(مسئلة ش) إذا لم يستند القاضى فى ثبوت رمضان إلى حجة شرعية بل بمجرد تهور وعدم ضبط كان اليوم شك وقضاؤه واجب إذا بان من رمضان حتى على من صامه إلا ان كان عاميا ظن حكم الحاكم يجوز بل يوجب الصوم فيجزيه فيما يظهر. اهـ قلت وقال ابن حجر فى تقريظه على تحرير المقال وأفتى شيخنا وأئمة عصره تبعا لجماعة انه لو ثبت الصوم أو الفطر عند الحاكم لم يلزم الصوم ولم يجز الفطر لمن يشك فى صحة الحكم لتهور القاضى أو لمعرفة ما يقدح فى الشهود فاداروا الحكم على ما فيه ظنه ولم ينظروا لحكم الحاكم إذ المدار إنما هو على الإعتقاد الجازم. اهـ\rوفى نهاية الزين، ص 184، مانصه:","part":1,"page":56},{"id":57,"text":"(يجب صوم رمضان) بأحد أربعة أمور، الأول اكمال شعبان ثلاثين يوما عند عدم ثبوت رمضان ليلة الثلاثين. اهـ\rوفى قليوبى و عميرة، ج 2 ص 50، مانصه:\r(و إذا رؤى ببلد لزم حكمه البلد القريب دون البعيد فى الأصح) والثانى يلزم فى البعيد أيضا (والبعيد مسافة القصر وقيل) البعد (باختلاف المطالع قلت هذا أصح والله أعلم) لأن أمر الهلال لاتعلق له بمسافة القصر (قوله باختلاف المطالع) -إلى أن قال- وقوله بعضهم وأقل ما يحصل به اختلاف المطالع مسافة قصر ونصفها وذلك أربعة وعشرون فرشخا غير مستقيم بل باطل. اهـ\rوفى إعانة الطالبين، ج 2 ص 219، مانصه:\rوإذا ثبت رؤيته ببلد لزم حكمه البلد القريب ويثبت البعد باختلاف المطالع على الأصح والمراد باختلافها ان يتباعد المحلان بحيث لو رؤى فى أحدهما لم ير فى الآخر غالبا قاله فى الأنوار (قوله والمراد باختلافها ان يتباعد الخ) وفى حاشية الكردى ما نصه: معنى اختلاف المطالع ان يكون طلوع الفجر أو الشمس أو الكواكب أو غروبها فى محل متقدما على مثله فى محل آخر أو متأخرا عنه وذلك مسبب على اختلاف عروض البلاد أى بعدها عن خط الإستواء وأطوالها أى بعدها عن ساحل البحر المحيط الغربى فمتى تساوى طول البلدين لزم من رؤيته فى احدهما رؤيته فى الآخر وان اختلف عرضهما أو كان بينهما مسافة شهور ومتى اختلف طولهما امتنع تساويهما فى الرؤية ولزم من رؤيته فى الشرق: رؤيته فى بلد القرب دون العكس فيلزم من رؤيته فى مكة رؤيته فى بلد القرب دون العكس فيلزم من رؤيته فى مكة رؤيته فى مصر ولا عكس.اهـ\rوفى فتح الرؤوف المنان، ص 15، مانصه:","part":1,"page":57},{"id":58,"text":"قد اختلف العلماء فى حد الرؤية فبعضهم اثبتها إذا كان نوره خمس أصبع (12) من دقائق الأصبع وقوس المكث ثلاث درج وبعضهم إذا كان نوره ثلثى أصبع وارتفاعه ست درج قال وان نقص أحدهما عن ذلك قليلا عسرت رؤيته وان نقص كلاهما فلا يرى أو أحدهما فممكن وبعضهم إذا كان نوره ثلثى أصبع وقوس مكثه احدى عشر درجة وان نقص فعلى التفصيل المذكور قال فى سلم المنيرين هذا ما عليه المتقدمون من أهل الهيئة واما المتأخرون منهم فقد استدركوا الإمكان من درجتين فما فوقهما كما ذكره الشيخ محمود فى نتيجته. اهـ\rTakbiran dengan Diiringi Tabuhan/Musik\rDiskripsi masalah:\rSering kita jumpai pada hari raya, takbiran diiringi dengan tabuhan (musik) seperti beduk, kentongan dan lain sebagainya.\rPertanyaan:\rBagaimana hukum tabuhan tersebut?\rKalau dianggap syi’ar, sampai dimanakah batasnya?\rJawaban:\rHukum tabuhan untuk mengiringi takbiran tersebut dapat ditafsil:\rBila memakai alat malahi (musik) yang diharamkan, maka hukumnya haram mutlak.\rBila tidak memakai alat malahi yang diharamkan, maka ada tiga pendapat: haram, makruh dan khilaful aula (bertentangan dengan keutamaan). Maka dari itu tabuhan tersebut sebaiknya ditinggalkan, sebagaimana dijelaskan oleh imam Ibnu Hajar.\rTabuhan tersebut tidak dianggap syi’ar, yang menjadikan syi’ar pada malam hari raya adalah membaca takbir. Dan takbir itu sendiri disunatkan di mana-mana tempat.\rKeterangan:\rAdapun batas-batasnya/waktu membaca takbir adalah:\rMulai terbenamnya matahari pada malam hari, sampai dilaksanakannya sholat hari raya, pada Idul Fitri (1 Syawal).","part":1,"page":58},{"id":59,"text":"Setiap selesai melakukan sholat fardlu, sunat dan sholat jenazah, mulai dari shubuh hari arofah sampai waktu Ashar pada hari terakhir Tasyrik (13 Dzul Hijjah), untuk Idul Adlha.\rPengambilan ibarat:\rHujjatullohil Balighoh, juz II, hal. 521\rIthafus Sadatil Muttaqin, juz VI, hal. 464\rBughyatul Mustarsyidin, hal. 284\rAs-Syarqowi, juz I, hal. 185\rAl-Bajuri, juz I, hal. 227\rوفى حجة الله البالغة، ج 2 ص 521، مانصه:\r(الملاهى محرم ومباح) فالملاهى نوعان: محرم وهى الآلات المطربة كالمزامر ومباح وهو الدف والغناء فى الوليمة ونحوها من حادث سرور. اهـ\rوفى اتحاف السادة، ج 6 ص 464، مانصه:\rوفى التغنى لاسماع نفسه ولدفع الوحشة خلاف بين المشايخ منهم من قال انما يكره ماكان على سبيل اللهو -إلى أن قال- نعم إذا قيل ذلك على الملاهى امتنع وان كان مواعظ وحكما للآلات لالذلك التغنى. اهـ\rوفى بغية المسترشدين، ص 284، مانصه:\rواما ضرب الخشب بعضه على بعض نقل سم حرمته كالضرب بالصفاقتين وهما قطعتا صفر تضرب احداهما على الاخرى ويسمى الصبخى وأفتى ابن حجر بحرمة ضرب الأقلام على الصين وضرب قطعة منه على الاخرى وبالجملة فكل ذلك اما حرام أو مكروه أو خلاف الأولى. اهـ\rوفيه أيضا، مانصه:\rوأما الضرب بالدف فصرح ابن حجر بأن المعتمد حله بلاكراهة فى عرس وختان وغيرهما وتركه أفضل. اهـ\rوفى الشرقاوى، ج 1 ص 185، مانصه:\rوالتكبير أولى ما يشتغل به لأنه ذكر الله تعالى وشعار اليوم. اهـ\rوفى الباجورى، ج 1 ص 227، مانصه:","part":1,"page":59},{"id":60,"text":"ويكبر ندبا كل من ذكر وأنثى وحاضر ومسافر فى المنازل و الطرق والمساجد والأسواق من غروب الشمس من ليلة العيد أى عيد الفطر ويستمر هذا التكبير إلى أن يدخل الإمام فى صلاة العيد -إلى أن قال- ويكبر فى عيد الأضحى خلف الصلوات المفروضة من مؤدات وفائتة وكذا خلف راتبة ونفل مطلق وصلاة جنازة من صبح يوم عرفة إلى العصر من آخر أيام التشريق. اهـ\rBAB HAJI\rMelakukan Ihrom Haji sebelum sampai Miqot\rPertanyaan:\rBagaimana hukumnya melakukan ihrom haji/umroh sebelum sampai miqot (batas-batas tempat mulai ihrom yang telah ditentukan syara’) nya? Seperti di tanah airnya atau di kapal terbang?\rJawaban:\rHukumnya boleh, adapun yang lebih utama (afdlol) menurut qoul adhar, dilakukan di miqotnya.\rPengambilan ibarat:\rAl-Qolyubi, juz II, hal. 95\rAl-Mahalli, juz II, hal. 94\rوفى القليوبى، ج 2 ص 95، مانصه:\r(تنبيه) علم مما ذكر ان تقديم الإحرام على ميقاته المكانى جائز بخلاف الزمانى لأن تعلق العبادة بالزمانى أشد كما فى بطلان الصلاة فى الأوقات المكروهة دون الأماكن المكروهة، وأيضا الميقات المكانى مختلف بالنواحى. اهـ\rوفى المحلى، ج2 ص 94، مانصه:\r(والأفضل أن يحرم) من هو فوق الميقات (من دويرة أهله) لأنه أكثر عملا (وفى قول) الأفضل (من الميقات) قلت الميقات اظهر وهو الموافق للأحاديث الصحيحة. اهـ\rOrang sedang Ihrom Wajib melepaskan Hewan Peliharaannya\rDiskripsi masalah:\rDalam kitab Ahkamul Fuqoha` juz III terdapat keterangan, bahwa seseorang yang melaksanakan ihrom haji/umroh diwajibkan melepaskan hewan-hewan peliharaannya seperti: burung dan hewan liar yang dimiliki, termasuk yang berada di tanah airnya.\rPertanyaan:","part":1,"page":60},{"id":61,"text":"Bila tidak melepaskannya, apakah wajib membayar dam (denda)? Dan berupa apa damnya?\rApakah ada qoul yang memperbolehkan tidak melepaskannya?\rPada waktu itu, apakah hewan peliharaannya tersebut boleh dimiliki oleh orang lain?\rJawaban:\rBila tidak melepaskannya, tidak wajib membayar dam (denda) namun berdosa, selama tidak sampai mati. Apabila sampai mati, maka wajib membayar dam. Dan damnya berupa dam yang sifat longgar (takhyir wat ta’dil).\rAda qoul (pendapat) yang memperbolehkan tidak melepaskannya, namun qoulnya kurang kuat untuk dibuat pegangan. Oleh karena itu, sebaiknya kita berpegangan dan menjalankan qoul yang lebih kuat yaitu wajib melepaskannya.\rHewan peliharaan muhrim pada waktu ihromnya, ditafsil:\rKalau mengikuti qoul yang mengatakan wajib melepaskannya, maka ada dua pendapat:\rboleh dimiliki orang lain (mengikuti pendapat yang mengatakan hilang miliknya),\rtidak boleh dimiliki orang lain (mengikuti pendapat yang mengatakan tidak hilang miliknya),\rBila mengikuti qoul yang mengatakan tidak wajib melepaskannya, maka hewan tersebut tidak boleh dimiliki orang lain tanpa mendapat ijin dari pemiliknya.\rPengambilan ibarat:\rBughyatul Mustarsyidin, hal. 118\rAl-Hawasyil Madaniyah, juz II, hal. 283\rI'anatut Tholibin, juz 2, hal. 283\rAl-Majmu’, juz VII, hal. 310 & 495-496\rوفى بغية المسترشدين، ص 118، مانصه:","part":1,"page":61},{"id":62,"text":"(فائدة) محرمات الإحرام على أربعة أقسام -إلى أن قال- ثانيها ما فيه إثم ولا فدية وهو خمسة عشر -إلى أن قال- وتملك الصيد بنحو شراء أو هبة مع القبض ولم يتلف واصطياده إذا لم يتلف أيضا وتنفيره إذا لم يمت أو مات بآفاة سماوية وإمساك صيد المحرم وفعل شيئ من محرمات الإحرام بميت محرم.\rوفى الحواشى المدنية، ج 2 ص 283، مانصه:\rومن المستثنى أيضا عقد النكاح والإصطياد إذا أرسل الصيد والتسبب فى إمساك ونحوه حتى قبل غيره الصيد (قوله إذا أرسل الصيد الخ) اما إذا امسكه حتى تلف أو اتلفه فتجب فيه الفدية مع الإثم. اهـ\rوفى إعانة الطالبين، ج 2 ص 283، مانصه:\rوالقسم الرابع كدم جزاء الصيد والشجر فهو دم تخيير وتعديل بمعنى انه بالخيار ان شاء فعل الأول وهو الذبح أو الثانى وهو التقويم أو الثالث وهو الصيام. اهـ\rوفى المجموع، ج 7 ص 310، مانصه:\rوالأصح من أحد القولين انه يزول ملكه، قال الرافعى هل يلزم ارساله؟ فيه قولان الأظهر يلزمه ارساله -إلى أن قال- وقيل لايلزمه إرساله قولا واحدا بل يستحب. اهـ\rوفى المجموع ج 7 ص 495 – 496، مانصه:\rوان أوجبنا الإرسال فهل يزول ملكه عنه؟ فيه قولان أحدهما وبه قال مالك وأبو حنيفة: لا، كما لايبين زوجته، والثانى نعم كما يزول حل الطيب واللباس وهذا أصح عند العراقيين -إلى أن قال- (التفريع) ان قلنا يزول ملكه فارسله غيره أو قتله فلا شيئ عليه ولو أرسله المحرم فاخذه غيره ملكه -إلى أن قال- وان قلنا لايزول ملكه عنه فليس لغيره أخذه ولو أخذه لم يملكه ولو قتله ضمنه وهو بمثابة المنفلت من يده وعلى القولين جميعا لو مات الصيد فى يده بعد إمكان الإرسال وهو مقضى بالإمساك ولو مات الصيد قبل إمكان الإرسال فقد حكم الإمام رحمه الله وجهين فى وجوب الضمان وقال المذهب وجوبه ولا خلاف فى انه لايجب تقديم الإرسال على الإحرام. اهـ","part":1,"page":62},{"id":63,"text":"وفيه المجموع، ج 7 ص 310 مانصه:\rقال أصحابنا فإن لم نوجب الإرسال فهو باق على ملكه له بيعه وهبته لكن لايجوز له قتله فإن قتله لزمه الجزاء كما لو قتل عبده يلزمه الكفارة ولو أرسله غيره أو قتله لزمه قيمته للمالك ولا شيئ على المالك. اهـ\rBAB BAI’ (JUAL-BELI)\rMenjual Sepeda Motor Kreditan yang masih belum Lunas\rDiskripsi masalah:\rSekarang sudah banyak berlaku, orang membeli sepeda motor atau sejenisnya secara kredit. Bahkan belum sampai lunas angsurannya, ada yang sudah dijual lagi.\rPertanyaan:\rBagaimana hukum jual-beli barang kreditan yang masih belum lunas angsurannya tersebut?\rJawaban:\rHukumnya boleh, bilamana dalam pengambilan kredit tersebut tidak ada syarat yang bertentangan dengan muqtadlol aqdi (nafas aqad) baik dalam waktu aqad ataupun dalam waktu khiyar.\rPengambilan ibarat:\rKifayatul Akhyar, juz I, hal. 247\rBujairomi alal Manhaj, juz II, hal. 209\rوفى كفاية الأخيار، ج 1 ص 247، مانصه:\rولا بيع ما ابتاعه حتى يقبضه تقدير الكلام ولا يجوز بيع الذى ابتاعه حتى يقبضه سواء كان عقارا أو غيره اذن فيه البائع أم لا، و سواء أعطى المشترى الثمن أم لا، وحجة ذلك ما روى حكيم ابن حزام بالزاى المقبوطة رضى الله عنه قال قلت يارسول الله إنى ابتاع هذه البيوع فما يحل لى وما يحرم علي. قال يا ابن أخى: لا تبيعن شيئا حتى تقبضه.\rوفى بجيرمى على المنهج، ج 2 ص 209، مانصه:\rالحاصل من كلامهم ان كل شرط مناف لمقتضى العقد انما يبطله إذا وقع فى صلبه أو بعده وقبل لزومه بخلاف مالو تقدم عليه ولو فى مجلسة شرح م ر (وقوله وقبل لزومه) شامل لخيارالشرط وهو كذلك كما فى شرح حج. اهـ\rJual-Beli Surat Ijin atau Sejenisnya\rDiskripsi masalah:","part":1,"page":63},{"id":64,"text":"Di dalam lembaga pendidikan terdapat praktik penjualan surat ijin untuk tidak mengikuti sekolah, musyawaroh atau kegiatan lainnya, yang mana surat ijin tersebut hanya berlaku sejak dikeluarkannya hingga batas waktu tertentu (tiga hari, misalnya).\rPertanyaan:\rBagaimanakah hukum jual-beli surat ijin tersebut? Kalau tidak sah, bagaimana jalan keluarnya?\rJawaban:\rJual-beli surat ijin sebagaimana yang telah berlaku, hukumnya adalah sah, kecuali bila terjadi pada surat ijin yang tidak mutamawal, (tidak mempunyai nilai/harga) karena sudah tidak berlaku.\rJalan keluar: bila surat ijin tersebut sudah tidak mutamawal, maka bisa dengan naqlul yad (memindah kekuasaan).\rPengambilan ibarat:\rBughyatul Mustarsyidin, hal. 212\rNihayatul Muhtaj, juz III, hal. 395\rTarsyihul Mustafidin, hal. 215\rAl-Asybah wan Nadho`ir, hal. 197\rوفى بغية المسترشدين، ص 212، مانصه:\rقال لها ان أعطيتنى الورقة فأنت طالق وهى لاتساوى ربع ديوانى ولكن فيها مكتوب صداقها الآجل فاعطته إياها طلقت بائنا وان قلت قيمة الورق إذ يصح الخلع بأقل متمول كالصداق والمبيع مما زاد على حبة البر جعله ثمنا ونحوه. اهـ\rوفى نهاية المحتاج، ج 2 ص 359، مانصه:\r(الثانى) من شروط البيع (النفع) به شرعا ولو مآلا. (قوله الثانى النفع) أى بما وقع عليه الشراء وحده ذاته فلا يصح مالا ينتفع به بمجرده وان تأتى النفع به بضمه إلى غيره كما سيأتى فى نحو حتى حنطة ان عدم النفع اما للقلة كحبتى بر واما للخسة كالحشرات. اهـ\rوفى ترشيح المستفيدين، ص 315، مانصه:","part":1,"page":64},{"id":65,"text":"يؤخذ منه جواب سؤال وقع عما أحدثه سلاطين هذا الزمان من الورق المنقوشة بصور مخصوصة الجارية فى المعاملات كالنقود الثمنية هل يصح البيع والشراء بها ويصير المملوك منها أو بها عرض التجارة تجب زكاته عند تمام الحول والنصاب، وحاصل الجواب: ان الورقة المذكورة لا تصح المعاملة بها ولا يصير المملوك منها أو بها عرض تجارة فلا زكاة فيه فان من الشروط المعقود عليه ثمنا أو مثمنا ان يكون فى حد ذاته منفعة مقصودة يعتد بها شرعا بحيث تقابل بمتمول عرفا فى حال الإختيار والورقة المذكورة ليست كذلك فان الإنتفاع بها للمعاملات انما هو بمجرد حكم السلاطين بتنزيلها منزلة النقود ولذا لورفع السلاطين ذلك الحكم أو مسخ منها رقم لم يعامل بها ولا تقابل بمال نعم يجوز أخذ المال فى مقابلة رفع اليد عنها أخذا مما قدمته عن ع ش. اهـ\rJual-Beli Ayam Hidup dengan Ditimbang\rDiskripsi masalah:\rBanyak terjadi di pasaran, transaksi jual-beli ayam atau sebangsanya yang masih hidup, dengan ditimbang pakai kilograman.\rPertanyaan:\rBagaimanakah hukum jual-beli tersebut?\rKalau tidak boleh, bagaimana jalan keluarnya?\rJawaban:\rHukum jual-beli ayam hidup atau sebangsanya tersebut ditafsil:\rApabila ayam tersebut mu’ayyan (ditentukan) maka hukumnya boleh (sah).\rApabila ayam tersebut tidak mu’ayyan (hanya disifati dan masih dalam tanggungan penjual/sistem pesanan) maka hukumnya tidak sah.\rJalan keluar: agar aqad tersebut bisa menjadi sah, maka hendaknya timbangan tersebut tidak dijadikan ukuran untuk mengetahui ayam yang dijual. Jadi praktiknya tetap memakai hitungan (per ekor).\rPengambilan ibarat:\rBujairomi Khotib, juz III, hal. 6","part":1,"page":65},{"id":66,"text":"ِِِAl-Majmu’, juz XIII, hal. 149 – 150\rوفى البجيرمى على الخطيب، ج 3 ص 6، مانصه:\rوالشرط الخامس العلم به للعاقدين عينا وقدرا وصفة على ما يأتى بيانه حذرا من الغرر لما روى مسلم أنه صلى الله عليه وسلم نهى عن بيع الغرر. (قوله عينا) اى فى المعين غير المختلط وقدرا وصفة فى المعين المختلط –إلى ان قال– والحاصل ان المبيع إن كان معينا غير مختلط بغير المبيع كفت معينته عن معرفة قدره تحقيقا بمعنى انه لا يشترط معرفة القدر بكيل ولا وزن ولا ذرع وان كان فى الذمة او مختلطا بغيره كصاع من صبرة فالشرط العلم بقدره وصفته لا عينه. اهـ\rوفى المجموع ، ج 9 ص 149 – 150 ، مانصه:\rقال الشافعى في الأم باب لحم الوحش, ويجوز السلف فى لحم الطير كله بصفة وسمانة وانقاء ووزن , غير انه لا سن له , وانما يباع بصفة مكان السن بكبير وصغير. وما احتمل ان يباع مبعضا بصفة موصوفة, وما لم يحتمل ان يبعض لصغره وصف طائره وسمانته واسلم فيه بوزن, لا يجوز ان يسلم فيه بعدد وهو لحم, انما يجوز العدد فى الحى دون المذبوح, والمذبوح طعام لايجوز الا موزونا. اهـ\rJual-beli Minyak Wangi Gram-graman dengan Pelayanan cc\rDiskripsi masalah:\rSeringkali kita jumpai, transaksi jual-beli yang kelihatannya kurang cocok. Misalnya: jual-beli minyak wangi dengan aqad gram-graman, namun praktiknya diukur memakai takaran (cc/mili miter).\rPertanyaan:\rBagaimanakah hukum jual-beli tersebut?\rBila tidak boleh, bagaimana jalan keluarnya?\rJawaban:\rHukum jual-beli tersebut adalah sah, namun mengenai penerimaannya adalah fasid (tidak sah).","part":1,"page":66},{"id":67,"text":"Apabila penerimaan dalam jual-beli ini bisa menjadi sah, maka jalan keluarnya adalah dengan mengukur ulang dengan ukuran yang telah ditetapkan di dalam aqad. Apabila sudah terlanjur, maka bisa dengan jalan taodli (saling merelakan).\rPengambilan ibarat:\rFathul Jawad, juz I, hal. 414\rAs-Syarwaniy, juz IV, hal. 418\rAl-Majmu’, juz IX, hal. 278\rوفى فتح الجواد، ج 1 ص 414، مانصه:\rاما ما بيع تقديرا كأرض وثوب ذرعا ولبن أو ماشية عدا وبر كيلا أو وزنا ككل ذراع أو صاع بدرهم فلا يكفى فى قبضه النقل الا مع التقدير بما قدر به عن ذرع باعجام الذال فى الاول وعد فى الثانى وكيل أو وزن فى الثالث والواو بمعنى أو التى بأصله ولا يكفى التقدير بغير ماقدر به فى العقد وحينئذ لا يكتفى بواحد من هذه الاربعة عن غيره منها اذا كان هو المقدر به فى العقد مما قدّر فيه بكيل فقبض بوزن مثلا أو جزافا وان أخبره البائع بقدره وصدقه يفسد قبضه فلا يفيد صحة تصرف ولكن ضمن به المقبوض لانه بيده. اهـ\rوفى المجموع على شرح المهذب، ج 9 ص 278، مانصه:\rقال أصحابنا وقبض ما اشتروا كيلا بالوزن أو وزنا بالكيل كقبضه جزافا ولو قال البائع: خذه فانه كذا فاخذه مصدقاله فالقبض فاسد أيضا حتى يقع اكتيال صحيح فان زاد رد الزيادة فان نقص اخذ التمام. اهـ\rMengganti Susuk (kelebihan belanja) dengan Barang Seharga\rDiskripsi masalah:","part":1,"page":67},{"id":68,"text":"Sering terjadi pada transaksi jual-beli dalam mengembalikan uang susuk (kelebihan belanja) tidak dengan semestinya, tapi dengan barang lain yang pas harganya dengan uang kelebihan tadi. Misalnya: harga rokok Rp. 900,- si pembeli membayar dengan uang sebesar Rp. 1.000,- karena mencari susuk tidak ada, maka si penjual memberikan korek atau sejenisnya sebagai pengganti dari kelebihan uang belanja tadi. Dalam hal ini terkadang si pembeli menerimanya dengan terpaksa (ngrundel: jawa)\rPertanyaan:\rBagaimanakah hukum perbuatan si penjual tadi?\rBila penjual dalam memberikan mabi’ (rokok) dan korek api (pengganti susuk) dalam waktu yang sama, manakah yang menjadi aqad bai’ (jual-beli)?\rSahkah aqad jual beli tersebut?\rJawaban:\rPada hakekatnya dalam pelaksanaan jual-beli tersebut, si penjual memberikan korek atau sejenisnya sebagai pengganti kelebihan uang, setelah jadinya aqad jual-beli rokok seharga Rp. 900,- tadi. Dengan demikian menjawab pertanyaan di atas adalah sebagai berikut:\rHukum perbuatan penjual rokok tadi diperbolehkan, dengan mengikuti qoulnya ulama yang memperbolehkan bai’ mu’athoh atau istibdal ‘anid dain dengan tanpa sighot.\rKeterangan:\rPerlu diketahui bahwa keterpaksaan (nggrundele ati) dari musytari (pembeli) di atas tidak bisa merusak sahnya aqad, sebab musytari masih bisa khiyar (memilih/meminta apa yang disenangi) sebagai penggnti susuk.\rUntuk pertanyaan bagian b dan c, jawabannya sudah terkandung dalam jawaban di atas, oleh karenanya musyawirin menganggap gugur.\rPengambilan ibarat:","part":1,"page":68},{"id":69,"text":"Sulaiman al-Jamal, juz III, hal. 164\rI’anatut Tholibin, juz III, hal. 4\rAl-Bajuri, juz I, hal. 341\rAs-Syarqowi, juz II, hal. 18-19\rوفى سليمان الجمل، ج 3 ص 164، مانصه:\rوصح استبدال ولو فى صلح عن دين غير مثمن بغير دين كثمن فى الذمة ودين قرض واتلاف، اهـ (قوله وصح استبدال) بشرط ان يكون الاستبدال بإيجاب وقبول والا فلا يملك ما يأخذه قاله السبكى وهو ظاهر وبحث الاذرعى الصحة بناء على صحة المعاطاة اهـ\rوفى إعانة الطالبين، ج 3 ص 4، مانصه:\r(والحاصل) المعاطاة هى ان يتفق البائع والمشترى على الثمن والمثمن ثم يدفع البائع المثمن للمشترى وهو يدفع الثمن له سواء كان مع سكوتهما او مع وجود لفظ ايجاب او قبول من احدهما او مع وجود لفظ منهما لكن من الالفاظ المتقدمة، اهـ\rوفى الباجورى، ج 1 ص 341، مانصه:\r(قوله ولا بد فى البيع الخ) -إلى أن قال- فلا يصح البيع بالمعاطاة ويرد كل ما اخذه ان يبقى او بدله ان تلف فلا مطالبة به فى الاخرة لطيب النفس به واختار النووى وجماعة صحة البيع بها فى كل ما يعده الناس بيعا لان المدار فيه على رضا المتعاقدين ولم يثبت اشتراط لفظ فيرجع فيه الى العرف وخصص بعضهم جوازه بالمحقرات كرغيف عيش ونحوه فينبغى تقليد القائل بالجواز للخروج من الاثم فإنه مما ابتلى به كثير. اهـ\rوفى الشرقاوى، ج 2 ص 18-19، مانصه:\r(باب لزوم البيع) (اذا وجدت صيغته والعاقدان رشيدان مختاران والمبيع مملوك) هو من زيادتى (طاهر منتفع به مقدور على تسليمه معلوم لهما وللعاقدين عليه ولاية وانقطع الخيار) اى خيار المجلس وخيار الشرط (لزم) البيع فلا يلزم بل لايصح بلا صيغة ولابغير عاقدين متصفين بما مر. اهـ\rMembuat Robot dan Menggunakannya Untuk Jual-beli\rDiskripsi masalah:","part":1,"page":69},{"id":70,"text":"Telah kita ma’lumi, bahwa robot adalah alat yang mampu melakukan sebagian besar kegiatan manusia. Misalnya untuk berjualan. Ia dapat mengeluarkan barang-barang yang dikehendaki pembeli, dan dapat memberikan uang kembali (susuk: jawa).\rPertanyaan:\rBagaimana hukum robot dan menggunakannya?\rBagaimana hukum jual-beli dengan memakai robot?\rApa yang harus diperbuat si penjual dan pembelinya, kalau ternyata hukumnya tidak sah?\rJawaban:\rHukum membuat robot tidak boleh (haram), apabila berbentuk hewan yang dimungkinkan hidup. Apabila tidak, maka ada khilaf antara para ulama. Adapun hukum menggunakannya, Haram apabila berbentuk hewan yang dimungkinkan hidup.\rHukum jual-beli dengan memakai robot TIDAK SAH DAN HARAM, apabila robot tersebut sebagai ‘aqid. Dan kalau sebagai pembantu saja yakni yang menangani jual-beli adalah si pemilik sendiri, maka hukumnya sah.\rApabila jual-beli tersebut tidak sah (karena robot berlaku sebagai ‘aqid) dan barang yang dijual-belikan masih dalam kekuasaan masing-masing pihak, maka keduanya harus saling mengembalikan.\rPengambilan ibarat:\rAl-Jamal, juz IV, hal. 276\rTarsyikhul Mustafidin, hal. 213\rوفى الجمل، ج 4 ص 276، مانصه:\r(وحرم تصوير حيوان) ولو على نحو ارض قال المتولى ولو بلا رأس لخبر البخارى اشد الناس عذابا يوم القيامة الذين يصورون هذه الصورة ويستثنى لعب البنات لان عائشة كانت تلعب بها عنده صلى الله عليه وسلم رواه مسلم، وحكمته تدريبهن أمر التربية . اهـ\rوفى صحيفة 275\r(قوله صورة حيوان) -إلى أن قال- وعبارة شرح م ر وصورة حيوان مشتملة على ملا يمكن بقاؤه بدونه دون غيرها. اهـ","part":1,"page":70},{"id":71,"text":"وفى ترشيح المستفدين، ص 213، مانصه:\rفلا ينعقد اى البيع بالمعاطاة لكن اختير الانعقاد بكل ما يتعارف البيع بها فيه كالخبز واللحم دون الدواب والاراضى فعلى الاول المقبوض بها كالمقبوض بالبيع الفاسد أى فى احكام الدنيا اما فى الاخرة فلا مطالبة بها.\r(قوله لكن اختير الخ) -إلى أن قال- قلت ومما عمت به البلوى بعثان الصغائر لشراء الحوائج واطردت به العادة فى سائر البلاد وقد تدعو الضرورة الى ذلك فينبغى الحاق ذلك بالمعاطاة إذا كان الحكم دائرا على العرف مع ان المعتبر فى ذلك التراضى ليخرج بالصيغة عن أكل مال الغير بالباطل فانها دالة على الرضى (قوله فى احكام الدنيا) اى فيجب على كل من العاقدين بالمعاطاة رد ما اخذه ان كان باقيا وبدله ان تلف. اهـ\rMenjual Lampu Masjid yang Sudah tak Terpakai\rPertanyaan:\rLampu waqof untuk masjid yang sudah tidak digunakan lagi, karena sudah ada listrik apakah boleh dijual demi kemaslahatan masjid tersebut?\rJawaban:\rTidak boleh dijual, tapi boleh dipinjamkan ke masjid lain.\rPengambilan ibarat:\rFatawi al-Kubro, juz III, hal. 288-289\rMizanul Kubro, juz I, hal. 228\rوفى الفتاوى الكبرى، ج 3 ص 288- 289، مانصه:\r(وسئل) عمن جدد مسجدا اوعمره بالات جدد وبقيت الالة القديمة هل تجوز عمارة مسجد آخر قديم بها أو لا فتباع ويحفظ ثمنها أولا (فأجاب) بقوله نعم تجوز عمارة مسجد قديم أو حادث بها حيث قطع بعدم احتياج المسجد الذى هى منه إليها قبل فنائها ولا يجوز بيعها بوجه من الوجوه -إلى أن قال- ويفعل الحاكم بما فى المسجد الخراب من حصر وقناديل ونحوها ذلك فينقلها الى غيره عند الخوف عليها والله سبحانه وتعالى أعلم . اهـ\rوفى الميزان الكبرى، ج 1 ص 228، مانصه:","part":1,"page":71},{"id":72,"text":"واتفقوا على انه اذا خرب الوقف لم يعد الى ملك الواقف ثم اختلفوا فى جواز بيعه وصرف ثمنه فى مثله وان كان مسجدا فقال مالك والشافعى يبقى على حاله ولا يباع وقال أحمد يجوز بيعه وصرف ثمنه فى مثله وكذلك فى المسجد اذا لايرجى عوده وليس عند أبى حنيفة نص فيها. اهـ\rJual-Beli dengan Tanpa Penjaga dan Kasir\rPertanyaan:\rBagaimana hukum jual-beli dengan cara: penjual menyediakan barang yang dijual dengan harga pasti. Di sampingnya disediakan tempat uang dengan tanpa penjaga. Jika pembeli berniat, dapat langsung mengambil barang dan meletakkan uang, serta mengambil uang kembali (susuk) sendiri.\rJawaban:\rHukum jual-beli tersebut Boleh, menurut ulama yang memerbolehkan bai’ mu’athoh (jual-beli tanpa aqad) sedangkan barangnya harus berupa sesuatu yang kurang berharga menurut ukuran ‘urf (pandangan umum).\rPengambilan ibarat:\rAl-Majmu’, juz IX, hal. 262-264\rوفى المجموع، ج 9 ص 262-264، مانصه:\rثم ان الغزالى والمتولى وصاحب العدة والرافعى والجمهور نقلوا عن ابن سريج انه تجوز المعاطاة فى المحقرات وهو مذهب ابى حنيفة فإنه جوزها فى المحقرات دون الاشياء النفيسة، -إلى أن قال- (فرع) صورة المعاطاة التى فيها الخلاف السابق ان يعطيه درهما أو غيره ويأخذ منه شيئا فى مقابلته ولا يوجد لفظ او يوجد لفظ من احدهما دون الاخر فاذا ظهر والقرينة وجود الرضى من الجانبين حصلت المعاطاة وجرى فيها الخلاف، -إلى أن قال- (فرع) الرجوع فى القليل والكثير والمحقر والنفيس الى العرف فما عدّوه من المحقرات وعدوه بيعا فهو بيع والا فلا، هذا هو المشهور تفريعا على صحة المعاطاة. اهـ\rJual-beli Azimat, Jaljalut dan Sejenisnya\rPertanyaan:","part":1,"page":72},{"id":73,"text":"Bagaimana hukumnya menjual Azimat, Jaljalut atau sejenisnya?\rJawaban:\rHukum menjualnya adalah tafsil:\rBoleh dan sah, jika yang membelinya seorang muslim dan si penjual tidak mengetahui bahwa azimat tersebut akan digunakan kemaksiatan. Dan haram, jikalau si penjual tahu bahwa azimat tersebut akan digunakan kemaksiatan.\rKalau dijual kepada orang kafir, maka hukumnya haram dan tidak sah, kecuali azimat tersebut tidak berisi tulisan al-Qur`an, asma’ mu’addhom atau ilmu syara’, maka hukumnya boleh dan sah jikalau si penjual tidak mengetahui bahwa azimat tersebut akan digunakan untuk memusuhi orang Islam.\rPengambilan ibarat:\rBughyatul Mustarsyidin, hal. 124\rI’anatut Tholibin, juz III, hal. 8\rوفى بغية المسترشدين، ص 124 ، مانصه:\rلايصح بيع نحو الكلب والثياب والاوانى المكتوب فيها قرأن أو اسم معظم او علم شرعى ولو معلقا فى تميمة لكافر وان تحقق احترامه له اتفاقا -إلى أن قال- اما بيعها للمسلم فيحل مطلقا نعم ان ظن انه لا يصونها عن النجاسة حرم لاعانتها على معصية او لايحترمها كإدخالها الخلاء كرّه. اهـ\rوفى إعانة الطالبين، ج 3 ص 8 ،مانصه:\r(قوله بخلاف غير الة الحرب الخ) اى فيصح بيعه للحربى (قوله ولو مما تتأتى) اى ولو كان ذلك الغير مما تتأتى الة الحرب منه كالحديد (قوله اذ لا يتعين جعله عدة حرب) فان ظن جعله عدة حرب حرم. اهـ\rJual Bambu berikut Tunas-tunasnya\rPertanyaan:\rBagaimana hukumnya jual-beli satu rumpun bambu beserta tunas-tunasnya, baik tunas-tunas itu sudah maujud atau belum maujud sewaktu aqad?\rJawaban:\rHukum jual-beli itu sah, dan tunas-tunasnya menjadi hak milik pembelinya.\rPengambilan ibarat:","part":1,"page":73},{"id":74,"text":"Al-Jamal alal Manhaj, juz III, hal. 195-196\rوفى حاشية الجمل على المنهج، ج 3 ص 195-196، مانصه:\r(ويدخل فى بيع شجرة رطبة اغصانها الرطبة وورقها) -إلى أن قال- (وكذا) تدخل (عروقها) ولو يابسة بقيد زدته بقولى (ان لم يشترط قطع والا فلا تدخل عملا بالشرط (قوله وكذا عروقها) -إلى أن قال- ولو تفرع عن الشجرة شجرة اخرى استحق ابقاء ذلك كالاصل سواء علم استخلافها كالموزام لا على اوجه الاحتمالات -إلى أن قال- وقضية ما تقرر دخول اولاد الشجرة الموجودة والحادثة بعد البيع وهو كذلك فيما يظهر ان علم انها منها سواء انبتت من جذعها او من عروقها التى بالارض لانها حينئذ كاغصانها بخلاف اللاصق بها مع مخالفة منبته لمنبتها لانه اجنبى عنها اهـ.\rMenjual Daging/Kulit Qurban untuk Pembangunan Masjid\rPertanyaan:\rBagaimana hukumnya menjual daging atau kulit qurban yang mana uangnya untuk dana pembangnan masjid/madrasah? Dan bagaimana pula hukumnya qurban tersebut?\rJawaban:\rHukum penjualan daging/kulit qurban tersebut, tafsil:\rHaram dan tidak sah, apabila yang menjualnya adalah mudlohhi (orang yang qurban) atau orang kaya yang telah menerima daging/kulit dari mudlohhi. Selain itu ia wajib menggantinya apabila dijual kepada selain mustahiq (orang faqir), dan bila dijual kepada mustahiq maka ia wajib mengembalikan uangnya dan daging/kulit yang telah diterima menjadi sodaqoh.\rBoleh dan Sah, apabila yang menjualnya adalah si penerima qurban lagi pula faqir.\rKeterangan:\rHukum penjualan tidak terikat dengan ditasarrufkan ke masjid atau madrasah.\rPengambilan ibarat:\rAs-Syarqowi, juz II, hal. 21\rAl-Mauhibah Dzawil Fadlol, juz IV, hal. 295","part":1,"page":74},{"id":75,"text":"Al-Bajuri, juz II, hal. 301 dan 295\rKifayatul Akhyar, juz II, hal. 295\rوفى الشرقاوى، ج 3 ص 21، مانصه:\r(قوله ولا بيع لحم اضحية الخ) ومثل اللحم الجلد والشعر والصوف ومحل امتناع ذلك فى حق المضحى اما من انتقل اليه اللحم او نحوه فان كان فقيرا جاز له البيع او غنيا فلا -إلى أن قال- ولا فرق فى الاضحية بين الواجبة والمندوبة. اهـ\rوفى ترشيح المستفيدين، ص 201، مانصه:\rوللفقير التصرف فيه ببيع وغيره بخلاف الغنى اذا أرسل اليه شيئ او اعطيه فانما يتصرف فيه بنحو اكل وتصدق وضيافة لان غايته انه كالمضحى والقول بانهم اى الاغنياء يتصرفون فيه بما شاؤا ضعيف. اهـ\rوفى الباجورى، ج 2 ص 301، مانصه:\r(ولا يبيع) اى يحرم على المضحى بيع شيئ (من الاضحية) اى من لحمها او شعرها او جلدها. (قوله ولا يبيع) اى ولا يصح البيع مع الحرمة -إلى أن قال- لكن البيع صورة يقع الموقع ان كان المشترى من اهلها بان كان فقيرا فيقع صدقة له ويسترد الثمن من البائع. اهـ\rوفى موهبة ذوى الفضل، ج 2 ص 301، مانصه:\rفان اكل الجميع ضمن الواجب وهو ما ينطلق عليه الاسم فيشترى بثمنه لحما. اهـ\rوفى الباجورى، ج 2 ص 295، مانصه:\rوالحاصل ان القيود ثلاثة الاول كونها من النعم الثانى كونها فى يوم العيد وايام التشريق ولياليها الثالث كونها تقربا الى الله تعالى\rوفى كفاية الاخيار، ج 2 ص 241، مانصه:\rولا يجوز له ان يأكل منها شيئا قياسا على جزاء الصيد ودماء الجبرنات فلو اكل منها شيئا غرم ولا يغرمه اراقة دم ثانيا لانه قد فعله. اهـ\rMenjual Kelapa dengan Sabutnya\rPertanyaan:\rBagaimana hukumnya menjual kelapa yang masih dalam sabutnya, atau barang-barang lain yang belum diketahui (belum tampak mata) sebelum aqad?\rJawaban:","part":1,"page":75},{"id":76,"text":"Hukum jual-beli tersebut sah, menurut pendapatnya imam Hanafi, Maliki dan Hambali serta sebagian pendapat madzhab Syafi’i. Akan tetapi menurut pendapatnya imam Syafi’i dalam qoul Jadid, hukumnya tidak sah.\rPengambilan ibarat:\rAhkamul Fuqoha`, juz I, hal. 23\rوفى أحكام الفقهاء، ج 1 ص 23، مانصه:\rما قولكم فيمن اشترى شيئا لايراه قبل العقد كاللبن فى إنائه والبصل فى النرجيل فى قشره العليا فهل يصح البيع أم لا؟\rج: اختلف العلماء فى صحة ذلك البيع قيل انه صحيح وعليه الائمة الثلاثة وقيل لا وهو القول الجديد الاظهر قال فى شرح سلم التوفيق فى باب الربا ص 53 مانصه: ويحرم بيع مالم يره قبل العقد حذرا من الغرر اى البيع المشتمل على الغرر فى البيع قال الحصنى وفى صحة بيع\rMembeli Barang yang Memakai “Kupon Berhadiah”\rDiskripsi masalah:\rBanyak kita jumpai perusahaan-perusahaan yang mengadakan promosi untuk memikat minat pembeli. Promosi tersebut antara lain dengan memberi hadiah kepada para pembeli, yang ada kalanya melalui undian dan ada yang langsung ditulis di dalam sebagian bungkus dagangannya. Dengan demikian bagi yang beruntung bisa langsung mengambil hadiahnya.\rPertanyaan:\rBagaimana hukumnya membeli barang-barang dagangan tersebut, baik karena tergiur hadiah atau tidak?\rBagaimana hukumnya mengikuti undian berhadiah tersebut?\rJawaban:\rHukum membeli barang-barang tersebut ditafsil:\rApabila hadiah tersebut tidak mempengaruhi kenaikan harga, maka hukumnya sah tanpa khilaf.\rApabila hadiah tersebut mempengaruhi kenaikan harga maka hukumnya ada tiga pendapat:\rSah secara mutlak (ini menurut qoul ashoh)","part":1,"page":76},{"id":77,"text":"Tidak sah secara mutlak.\rTidak sah apabila yang dimaksud membeli hadiah\rKeterangan:\rJual-beli di sini disamakan dengan jual-beli amat mughoniyah (budak yang penyanyi).\rHukum mengikuti undian berhadiah tersebut juga tafsil:\rApabila kupon undian didapat dari pembelian yang sah (dengan jalan yang halal) dan hadiahnya terdiri dari barang yang halal, maka hukumnya boleh.\rApabila kupon undian didapat dari pembelian yang tidak sah (dengan jalan yang haram) maka hukumnya haram sekalipun hadiahnya terdiri dari barang yang halal.\rPengambilan ibarat:\rAl-Majmu’, juz IX, hal. 254\rIthafus Sadah, juz VI, hal. 464\rIs’adur Rofiq, juz II, hal. 102\rTalkhishul Murod, hal. 155\rوفى المجموع على شرح المهذب، ج 9 ص 254، مانصه:\r(فرع) فى بيع القينة بفتح القاف وهى الجارية المغنية فاذا كانت تساوى الفا بغير غناء والفين مع الغناء فان باعها بألف صح البيع بلا خلاف فان باعها بالفين ففيها ثلاثة اوجه ذكرها امام الحرمين وغيره (اصحها) يصح بيعها وبه قال أبو بكر الازدى لانها عين طاهرة منتفع بها فجاز بيعها باكثر من قيمتها كسائر الاعيان. (والثانى) لا يصح قاله ابوبكر المحمودى من اصحابنا لان الالف تصير فى معنى المقابل للغناء (والثالث) ان قصد الغناء بطل البيع والا فلا قال الشيخ ابو زيد المروزى قال الامام الحرمين القياس السديد هو الجزم بالصحة ذكره فى فروع منثورة عند كتاب الصداق. اهـ\rوفى اتحاف السادة، ج 6 ص 464، مانصه:","part":1,"page":77},{"id":78,"text":"وانما اخذ من قوله انه لا يصح بيع الجارية المغنية على انها مغنية ومن نصه فى الجارية انه اذا وجدها مغينة كان له الرد وهذا لا يدل على التحريم فانه يجوز ان يكون عنده حلالا ويمتنع البيع لامر اخر اما لكونه غير منضبط وانه لا يقابل العوضية شرعا كما ان عسيب الفحل جائز ولا يصح العقد عليه ببيع ولا اجارة. اهـ\rوفى اسعاد الرفيق، ج 2 ص 102، مانصه:\r(وكل ما فيه قمار) وصورته المجمع عليها ان يخرج العوض من الجانبين مع تكافئهما وهو المراد من الميسر فى الاية ووجه حرمته ان كان كل واحد مترددا بين ان يغلب صاحبه فيغنم او يغلبه فيغرم فان عدلا عن ذلك الى حكم السبق والرمي بان ينفرد احد اللاعبين باخراج العوض ليأخذ منه ان كان مغلوبا وعكسه ان كان غالبا فالاصح حرمته ايضا. اهـ\rوفى تلخيص المراد، ص 155، مانصه:\r(مسئلة) ما يأخذه المالك من المستأجر وقت عقد الاجارة غير الاجرة ان كان يدفعه اليه بطيب نفس من غير اكراه حل تناوله ويكون فى معنى الهدية ولا يحتاج الى لفظ ولا يؤثر فى ذلك كونه فى مقابلة المعقد. اهـ\rBAB QORDL (UTANG-PIUTANG)\rHutang Emas/Perak yang Telah Mencapai Satu Nishob\rDiskripsi masalah:\rAda orang yang berhutang selain emas dan perak yang sudah mencapai satu nishob serta diniyati tijaroh (dagang). Setelah satu tahun harta tersebut masih dalam keadaan satu nishob.\rPertanyaan:\rApakah orang tersebut wajib mengeluarkan zakat?\rJawaban:\rTidak wajib kecuali jika tijaroh pada waktu taqlibul mal (menjual-belikan barangnya).\rPengambilan ibarat:\rAl-Jamal, juz II, hal. 265\rوفى الجمال، ج 2 ص 265، مانصه:\rوكلامهم يشمل ما ملك باقتراض بنية التجارة فتكفى نيتها لكن فى التتمة انها لا تكفى لان القرض ليس مقصودة التجارة بل الارفاق.","part":1,"page":78},{"id":79,"text":"(قوله لكن فى التتمة انها لا تكفى) اى عند الاقتراض وهذا هو المعتمد فان اشترى بهذا المقترض شيئا ونوى التجارة عند الشراء كان المشترى عرض التجارة. اهـ شيخنا وعبارة شرح م ر: اما لو اقترض مالا ناويا به التجارة فلا يصير مال تجارة لانه لا يقصد لها وانما هو ارفاق قاله القاضى تفقها وجزم به الرويانى والمتولى وصاحب الانوار. اهـ\rMembayar Hutang Sesuai dengan Kurs Waktu Pembayaran\rDiskripsi masalah:\rSering terjadi di masyarakat dalam menghutangkan barang atau uang, dengan perjanjian dibayar dengan uang yang sesuai dengan harta atau kurs pada waktu pembayaran, sehingga mungkin terjadi jumlah pembayaran lebih besar dari pada saat hutang karena terjadi inflasi/deregulasi.\rPertanyaan:\rBolehkah aqad hutang dengan cara tersebut?\rKalau tidak boleh bagaimana jalan keluarnya?\rJawaban:\rPada kenyataannya perjanjian semacam itu ada yang dilakukan di luar aqad. Oleh karena itu jawabnya adalah sebagai berikut:\rApabila perjanjian tersebut berada di luar aqad, maka hukumnya sah. Dan apabila perjanjian tersebut berada di dalam aqad, maka hukumnya tidak sah, sebab perjanjian tersebut termasuk dalam syarat yang menafikan maudlu’ul qordli.(*\rJalan keluarnya ialah, aqad harus dikosongkan dari perjanjian tersebut. Kemudian bagi muqtaridl dan muqridl (orang yang berhutang dan yang menghutangi) saling merelakan pembayaran dengan cara tersebut.\r*) Catatan mushohhih:\rPerlu diketahui bahwa syarat yang berada di dalam aqad itu ada dua macam yaitu:","part":1,"page":79},{"id":80,"text":"Syarat yang menafikan muqtadlol aqdi, juga menafikan maudlu’ul qordli. Maka syarat semacam ini hukumnya rusak dan merusakkan aqad tanpa khilaf di antara para ulama.\rSyarat yang menafikan muqtadlol aqdi akan tetapi tidak menafikan maudlu’ul qordli, maka syarat semacam ini hukumnya khilaf, menurut qoul ashoh tidak merusak aqad qordli.\rPengambilan ibarat:\rMughnil Muhtaj, juz II, hal. 199\rI’anatut Tholibin, juz III, hal. 53 & 138\rNihayatul Muhtaj, juz IV, hal. 231\rوفى مغنى المحتاج، ج 2 ص 199، مانصه:\r(ويرد) فى القرض (المثل فى المثلى) لانه أقرب الى حقه ولو فى نقد بطل التعامل به (ويرد فى المتوقم المثلى صورة) لانه صلى الله عليه وسلم اقترض بكرا ورد رباعيا وقال ان خياركم احسنكم قضاء رواه المسلم ولانه لو وجبت قيمته لافتقر الى العلم بها -إلى أن قال- (وقيل القيمة كما لو اتلف متقوّما وعليه فالمعتبر قيمته يوم القبض. اهـ\rوفى إعانة ، ج 3 ص 53، مانصه:\rواما القرض بشرط جر نفع لمقرض ففاسد لخبر: كل قرض جر منفعة فهو ربا. (قوله ففاسد) قال ع ش: ومعلوم ان محل الفساد حيث وقع الشرط فى صلب العقد. اما لو توافقا على ذلك ولم يقع شرط فى العقد فلا فساد. اهـ والحكمة فى الفساد ان موضوع القرض الارفاق فاذا شرط فيه لنفسه حقا خرج عن موضوعه فمنع صحته. اهـ\rوفى إعانة الطالبين، ج 3 ص 138، مانصه:\rوهو اى المثلى ما حصره كيل او وزن وجاز السلم فيه كقطن ودقيق وماء ومسك ونحاس ودراهم ودنانير ولو مغشوشا وتمر وزبيب (قوله ما حصره كيل او وزن) اى ماضبطه شرعا كيل او وزن بمعنى انه يقدر شرعا بالكيل او الوزن وليس المراد ما امكن فيه ذلك فان كل شيئ يمكن وزنه حتى الحيوان فخرج بذلك ما يعد كالحيوان او يذرع كالثياب. اهـ\rوفى نهاية المحتاج، ج 4 ص 231، مانصه:","part":1,"page":80},{"id":81,"text":"(ولو شرط) ان يرد (مكسرا عن صحيح اوان يقرضه) شيئا اخر (غيره) لغى الشرط فيهما ولم يجب الوفاء به (والاصح انه لا يفسد العقد) لان ما جره من المنفعة ليس للمقرض بل للمقترض والعقد عقد ارفاق فكانه زاد فى الارفاق ووعده وعدا حسنا -إلى أن قال- والثانى: يفسد لمنافته لمقتضى العقد. اهـ\rBendahara Meminjamkan Uang dan atau Mengembangkannya\rDiskripsi masalah:\rSudah sering terjadi, bendahara meminjamkan uang kas kepada orang lain atau pada diri sendiri. Setidak-tidaknya menukar uang (receh) dengan uang yang besar. Dan ini terjadi pula pada panitia masjid atau nadhirnya.\rPertanyaan:\rBagaimana hukum perbuatan itu semua, baik masjid atau lainnya?\rMilik siapakah laba uang tersebut, apabila telah diperdagangkan oleh peminjam?\rJawaban:\rMeminjamkan uang kas organisasi kepada orang lain hukumnya Boleh, kalau ada maslahah yang kembali pada organisasi dan ada izin dari ketua. Kalau meminjam kan kepada dirinya sendiri, maka hukumnya ada khilaf:\rMenurut jumhurul ulama Tidak Boleh, karena ada ittihadul qobidl wal maqbudl.\rMenurut imam Qoffal Boleh, walaupun terjadi ittihadul qobidl wal maqbudl.\rAdapun meminjamkan uang masjid yang terjadi dari ghullatul waqfi (hasil waqof) maka hukumnya Boleh dengan syarat:\rPerginya mustahiqqin.\rMenghawatirkan tersia-sia (rusak) nya hasil waqof tersebut.\rOrang yang hutang harus mampu dan dapat dipercaya.","part":1,"page":81},{"id":82,"text":"Bila uang tersebut diperdagangkan dan mendapatkan laba, maka laba tersebut milik muqtaridl (orang yang hutang) kalau qordl (utang-piutang) nya sah. Kalau qordl-nya tidak sah, maka hukumnya sebagaimana bai’ fudluli (yakni jual belinya tidak sah, dan barang-baranya yang dibeli harus dikembalikan kepada si penjual).\rPengambilan ibarat:\rAl-Adabun Nabawi, hal. 96\rAl-Asybah wan Nadho`ir, hal. 83\rAl-Fatawi al-Kubro, juz III, hal. 265\rI’anatut Tholibin, juz II, hal. 183\rHamisyul I’anah, juz III, hal. 51\rAs-Syarqowi, juz II, hal. 21\rوفى الادب النبوى، ص 96، مانصه:\rأولى الامرهم الذين وكل اليهم القيام بالشؤون العامة والمصالح المهمة فيدخل فيهم كل من ولى أمرا من امور المسلمين من ملك ووزير ورئيس ومدير ومأمور وعمدة وقاض ونائب وضابط وجندى. اهـ\rوفى الاشباة والنظائر، ص 83، مانصه:\rتصرف الامام على الرعية منوط بالمصلحة، هذه القاعدة نص عليها الشافعى وقال منزلة الامام من الرعية منزلة الولى اليتيم. اهـ\rوفى الفتاوى الكبرى، ج 3 ص 265، مانصه:\rوسئل هل للنّاظر اقراض غلة الوقف والاقتراض لعمارته فأجاب بقوله لايجوز اقراض ذلك الا ان غاب المستحقون وخشى تلف الغلة او ضياعها فيقرضها لمليئ ثقة وله الاقتراض لعمارة الوقف بإذن الحاكم. اهـ\rوفى إعانة الطالبين، ج 2 ص 183، مانصه:\rوقال القفال لو قال لغيره اقرضنى خمسة وادها عن زكاتى ففعل صح قال شيخنا وهو مبنى على رأيه بجواز اتحاد القابض والمقبض.\r(قوله بجواز اتحاد القابض والمقبض) اى بجواز ان يكون القابض والمقبض واحدا كما هنا. -إلى قوله- والجمهور على منعه.اهـ\rوفى هامش إعانة الطالبين، ج 3 ص 51، مانصه:\r(وملك مقترض) بقبض بإذن مقرض وان لم يتصرف فيه كالموهوب.\rوفى الشرقاوى، ج 2 ص 21، مانصه:","part":1,"page":82},{"id":83,"text":"(قوله كبيع الفضولى) هو من ليس مالكا ولا وليا ولا وكيلا فلا يصح بيعه وان اجازه المالك وكذا سائر تصرفاته. اهـ\rTabungan dengan Memungut Beberapa Persennya\rPertanyaan:\rBagaimanakah hukumnya tabungan dengan memungut beberapa persen dari jumlah uang yang telah ditabungkan?\rJawaban:\rHukumnya boleh dan sah, dan termasuk aqad wadi’ah ma’al ujroh (penitipan dengan pakai ongkos).\rPengambilan ibarat:\rAl-Bajuri, juz II, hal. 62-63\rوفى الباجورى، ج 2 ص 62-63، مانصه:\rوتطلق اى الوديعة شرعا على العقد المقتضى للاستحفاظ اى الصيغة المقتضية لطلب الحفظ نحو استحفظتك وتطلق شرعا ايضا على العين المستحفظة -إلى أن قال- (ويستحب قبولها لمن قام بالامانة فيها) ان كانت ثم غيره والا وجب قبولها كما اطلقه جمع قال فى الروضة كأصلها وهذا محمول على اصل القبول دون اتلاف منفعته وحرزه مجانا (قوله دون اتلاف منفعته وحرزه مجانا) اى بلا اجرة فله المطالبة بأجرة منفعة نفسه ومنفعة حرزه. اهـ\rArisan dengan Setoran Bervariasi\rDiskripsi masalah:\rAda suatu kelompok arisan bulanan yang beranggotakan 12 orang, dengan cara/ ketentuan sebagai berikut:\rJumlah total arisan tersebut Rp. 294.000,- sedangkan setoran bulanan dari tiap-tiap anggota bervariasi, yakni:\rPengambilan hasil bulan pertama, harus setor setiap bulan Rp. 30.000,-\rPengambilan hasil bulan kedua, harus setor tiap bulan sebesar Rp. 29.000,-\rPengambilan hasil bulan ketiga, harus setor tiap bulan sebesar Rp. 28.000,-\rDemikian seterusnya (setoran terpaut Rp. 1000,-)","part":1,"page":83},{"id":84,"text":"Bila dipandang sepintas lalu, maka pengambil pertama menderita kerugian sebesar Rp. 66.000,- sedangkan pengambil terakhir mendapatkan keuntungan sebesar Rp. 66.000,-.\rPertanyaan:\rBolehkah arisan seperti tersebut di atas?\rTermasuk aqad apakah hal tersebut?\rJawaban:\rHukumnya Haram dan Tidak Sah, bila terdapat syarat di dalam aqad.\rBoleh serta Makruh, bila tidak terdapat syarat di dalam aqad.\rArisan tersebut disebut aqad “qordl” (akad utang-piutang atau pinjam meminjam).\rPengambilan ibarat:\rI’anatut Tholibin, juz III, hal. 53\rAl-Qolyubi, juz II, hal. 260 & 258\rوفى إعانة الطالبين، ج 3 ص 53، مانصه:\rواما القرض بشرط جر نفع لمقرض ففاسد لخبر كل قرض جر نفعا فهو ربا (قوله ففاسد) قال ع ش: ومعلوم ان محل الفساد حيث وقع الشرط فى صلب العقد اما لو توافقا على ذلك ولم يقع شرط فى ذلك العقد فلا فساد. اهـ\rوفى القليوبى، ج 2 ص 260، مانصه:\r(قوله ولايجوز بشرط الخ) اى لايجوز التلفظ بذلك وهو حرام بالاجماع ويبطل به واما نية ذلك فمكروهة ولو لمن عرف برد الزيادة وقال كثير من العلماء بالحرمة. اهـ\rوفى القليوبى،ج 2 ص 258، مانصه:\r(فرع) الجمعة المشهورة بين النساء بان تأخذ امرأة من كل واحدة من جماعة منهن قدرا معينا فى كل جمعة او شهر وتدفعه لواحدة بعد واحدة الى اخرهن جائزة كما قاله الولى العراقى. اهـ\rTabanas Menurut Pandangan Islam\rPertanyaan:\rBagaimana hukumnya “Tabanas” menurut pandangan Islam.\rJawaban:\rDalam masalah ini, terdapat tiga pendapat dari ulama:\rHaram, sebab termasuk aqad hutang yang dipungut manfaatnya (rente).\rHalal, sebab tidak ada syarat manfaat yang disebutkan pada aqad, sebab adat yang berlaku tidak termasuk syarat.","part":1,"page":84},{"id":85,"text":"Syubhat, (tidak tentu halal haramnya), sebab ulama berselisih pendapat.\rPengambilan ibarat:\rAhkamul Fuqoha`, juz I, hal. 22\rوفى أحكام الفقهاء، ج 1 ص 22، مانصه:\rاختلف العلماء فى هذه المسألة على ثلاثة أقوال قيل انه حرام لانه داخل فى قرض جر نفعا، وقيل انه حلال لعدم الشرط فى صلب العقد او مجلس الخيار والعادة المطردة لاينزل منزلة الشرط عند الجمهور وقيل شبهة لاختلاف العلماء فيه والمؤتمر قرر ان الاحوط القول الاول وهو الحرمة. وفى الاشباه والنظائر فى البحث الثالث ما نصه: ومنها لو عم فى الناس اعتياد اباحة منافع الرهن للمرتهن فهل ينزل منزلة شرطه حتى يفسد الرهن؟ قال الجمهور: لا، وقال القفال: نعم، وفى إعانة الطالبين فى باب القرض ما نصه: وجاز لمقرض نفع يصل له من مقترض كرد الزائد قدرا او صفة والاجود فى الردئ (بلا شرط) فى العقد بل يسن ذلك لمقترض -إلى أن قال- واما القرض بشرط جر نفع لمقرض ففاسد، لخبر كل قرض جر منفعة فهو ربا (قوله ففاسد) قال ع ش ومعلوم ان محل الفساد حيث وقع الشرط فى صلب العقد اما لو توافقا على ذلك ولم يقع الشرط فى العقد فلا فساد. اهـ\rBAB IJAROH (PERSEWAAN)\rMeminjamkan/Menyewakan Video Cassete\rDiskripsi masalah:\rAkhir-akhir ini dibeberapa daerah banyak terjadi sewa-menyewa atau pinjam-meminjam “video cassete” yang disertai dengan bermacam-macam cassete.\rPertanyaan:\rSahkah sewa-menyewa atau pinjam-meminjam tersebut?\rJawaban:\rHukum sewa-menyewa atau pinjam-meminjam tersebut Sah, dan bisa ditafsil menurut kegunaannya sebagai berikut:\rKalau barang yang dipinjam/disewa bisa menimbulkan keharaman, baik secara yaqin atau dhon, maka hukumnya Sah tapi Haram.","part":1,"page":85},{"id":86,"text":"Kalau yang dipinjamkan/disewakan bisa menimbulkan keharaman secara mauhumah (dugaan tipis), maka hukumnya Sah tapi Makruh.\rPengambilan ibarat:\rKifayatul Akhyar, juz I, hal. 308\rNihayatuz Zain, hal. 258\rI’anatut Tholibin, juz III, hal. 24\rوفى كفاية الأخيار، ج 1 ص 308، مانصه:\r(فصل فى الاجارة) وكل ماكان الانتفاع به مع بقاء عينه صحت اجارته. اهـ\rوفى نهاية الزين، ص 258، مانصه:\rولا يصح الا فى منفعة متقومة اى لها قيمة ليحسن بذل المال فى مقابلتها كاستئجار ريحان للشم وطائر للانس بصوته او لونه وشجرة للاستظلال بظلها. اهـ\rوفى إعانة الطالبين، ج 3 ص 24، مانصه:\r(وحرم) ايضا (بيع نحو عنب ممن) علم او (ظن انه يتخذ سكرا) للشرب والامرد ممن عرف بالفجوربه والديك للمهارشة والكبش للمناطحة والحرير للرجل يلبسه وكذا بيع نحو المسك لكافر يشترى لتطييب الصنم والحيوان لكافر علم انه يأكله بلا ذبح لان الاصح ان الكفار مخاطبون بالفروع الشريعة كالمسلمين عندنا خلافا لابن حنيفة رضى الله عنه فلا يجوز الاعانة عليهما ونحو ذلك من كل تصرف يفضى الى معصية يقينا او ظنا ومع ذلك يصح البيع ويكره بيع ما ذكر ممن توهم منه ذلك. اهـ\rKewajiban Membayar SPP Penuh\rDiskripsi masalah:\rDalam tatanan lembaga pendidikan sering terdapat tata tertib yang berkaitan dengan keuangan, misalnya: “SPP harus dibayar lunas penuh satu tahun, baik bagi siswa yang masuk awal tahun atau pertengahan tahun”.\rPertanyaan:\rBagaimanakah peraturan tersebut menurut pandangan syara’?\rTermasuk transaksi apakah peraturan tersebut?\rDikategorikan uang apakah pembayaran SPP mulai awal tahun, sementara siswa-siswi belum mendapat pelajaran?\rJawaban:","part":1,"page":86},{"id":87,"text":"Hukum peraturan tersebut menurut pandangan syara’ diperbolehkan.\rTata tertib tersebut tidak bisa dikategorikan dalam kata-kata transaksi. Adapun pelaksanaan peraturan tersebut adalah wafa’ bil ‘ahdi (kewajiban yang wajib dipenuhi).\rSudah terkandung dalam jawaban di atas, dianggap gugur.\rPengambilan ibarat:\rSirojul Munir, juz III, hal. 406\rAt-Tasri’ul Jina’i, juz I, hal. 237\rFathul Qorib al-Mujib Lissayid Alawi al-Maliki, hal. 169-170\rوفى سراج المنير، ج 3 ص 406، مانصه:\rعن احمد فى مسنده عن رجل من المهاجرين: المسلمون على شروطهم الجائزة شرعا اى ثابتون عليها واقفون عندها. قال العلقمى قال المنذر وهذا فى الشروط الجائزة دون الفاسدة وهو من باب امر فيه بالوفاء بالعقود يعنى عقود الدين وهو ما ينفذه المرء على نفسه ويشترط الوفاء من مصالحة ومواعدة وتمليك وعقد وتدبير وبيع واجارة ومناكحة وطلاق. اهـ\rوفى التشريع الجنائى، ج 1 ص 237، مانصه:\rقلنا ان ما يخالف الشريعة من قانون او لائحة او قرار باطل بطلانا مطلقا لكن هذا البطلان لاينصب على كل نصوص القانون او اللائحة او القرار وانما ينصب فقط على النصوص المخالفة للشريعة دون غيرها لان اساس البطلان هو مخالفة الشريعة فلا يمتد البطلان منطقيا لما يوافق الشريعة من النصوص -إلى أن قال- واذا كان البطلان قاصرا على النصوص المخالفة للشريعة فان هذه النصوص لاتعتبر باطلة فى كل حالة وانما هى باطلة فقط فى الحالات التى خالف فيها الشريعة صحيحة فى الحالات تتفق فيها مع الشريعة وليس هذا بمستغرب مادام اساس الصحة والبطلان راجح الى موافقة الشريعة او مخالفتها اذ العلة تدور مع المعلول وجودا وعدما. اهـ\rوفى فتح القريب المجيب للسيد علوى المكى، ص 169-170، مانصه:","part":1,"page":87},{"id":88,"text":"قوله (واوفو بالعهد) الاية فى سورة الاسراء، والخطاب للمؤمنين والامر للوجوب والمراد بالعهد مايعم عهد الله وعهد الناس، وعهد الله تعالى ما عهد الى عباده ان يقوموا به من اوامره ونواهيه وعهد الناس ما يقع بينهم من الالتزام والتوثق والمراد بالوفاء بالعهد اداء مقتضاه وعدم الغدر والخيانة فيه وقوله ان العهد كان مسئولا اى يسأل الله عنه يوم القيامة ليثيب الصادقين ويعذب المنافقين.\rMemborong Pembuatan Sumur Bor\rDiskripsi masalah:\rSudah lazim di masyarakat, membuat sumur bor dengan aqad sebagai berikut: Apabila berhasil biayanya Rp. 1.000.000,- dan bila tidak berhasil, maka biaya disesuaikan dengan upah kerja harian.\rPertanyaan:\rBolehkah aqad semacam itu? Dan termasuk aqad apa?\rKalau tidak boleh, bagaimana jalan keluarnya?\rJawaban:\rAkad semacam itu Tidak boleh (Tidak sah), karena digolongkan aqad ijaroh atau ju’alah yang fasidah, lantaran pada waktu aqad iwadl (ongkos) nya belum dianggap maklum.\rJalan keluarnya adalah: syarat atau ta’liq tersebut tidak diucapkan di dalam aqad.\rPengambilan ibarat:\rAsnal Matholib, juz V, hal. 441\rAs-Syarqowi, juz II, hal. 86\rJamal alal-Manhaj, juz III, hal. 74\rAt-Tuhfah, juz IV, hal. 296\rAl-Iqna’, juz II, hal. 71\rوفى أسنى المطالب، ج 5 ص 472، مانصه:","part":1,"page":88},{"id":89,"text":"(الرابع الجعل يشترط) وفى نسخة ويشترط (كونه معلوما كالاجرة) فى الاجارة (فلو كان مجهولا) كثوب (اوخمرا او مغصوبا فاجرة المثل) تجب لفساد العقد بجهل الجعل او بنجاسة عينه او بعدم القدرة على تسليمه كما فى الاجارة ووجه فساده بالجهل انه لاحاجة الى احتماله فيه كالاجارة بخلافه فى العمل والعامل ولانه لا يكاد احد يرغب فى العمل مع جهله بالجعل فلا يحصل مقصود العقد. اهـ (قوله كالاجرة) ولانه عقد جوز للحاجة ولا حاجة لجهالة العوض بخلاف العمل. اهـ\rوفى الشرقاوى، ج 2 ص 86، مانصه:\r(وشرط صحتها) اى الاجارة (العلم) اى علم العاقدين (بالمدة و الاجرة) فلا تصح مع الجهل بشيئ منهما للغرر (وان لا تشترط بعقد اخر) كما فى البيع اهـ (قوله وان لاتشترط بعقد) فى العبارة قلب والاصل وان يشترط بها اى فيها عقد اخر او المعنى وان تتعلق بعقد اخر على طريق كونه شرطا فيها كقوله اجرتك دارا سنة على ان تبيعنى كذا او تقرضنى كذا ولو قال وان لايشترط فيها عقد لكان اوضح وبعضهم حمله على ظاهره والمعنى وان لايشترط فى عقد اخر كبعتك كذا بشرط ان تؤجرنى كذا فيكون كل من البيع والاجارة باطلا.\rوفى الجمل على المنهج، ج 3 ص 74، مانصه:\rوالثالث وهو الفاسد المفسد كالامور التى تنافى مقتضاه نحو عدم القبض والتصرف وما أشبه ذلك قال بعضهم الحاصل ان المفسد كل شرط مقصود لا يجيبه العقد وليس من مصالحه.\rوفى التحفة، ج 4 ص 296، مانصه:\rوالحاصل ان كل شرط مناف لمقتضى العقد انما يبطل ان وقع فى صلب العقد او بعده وقبل لزومه لا ان تقدم عليه ولو فى مجلسه كما يأتى. اهـ\rوفى الاقناع، ج 2 ص 71، مانصه:","part":1,"page":89},{"id":90,"text":"وشرط فى الاجرة وهى الركن الرابع ما مر فى الثمن فيشترط كونها معلومة جنسا وقدرا وصفة الا ان تكون معينة فيكفى رؤيتها فلا تصح اجارة دار او دابة بعمارة او علف للجهل فى ذلك فان ذكر معلوما واذن له خارج العقد فى صرفه فى العمارة او العلف صحت ولا لسلخ الشاة بجلدها ولا لطحن البر مثلا ببعض دقيقه كثلثه للجهل بثخانة الجلد وبقدر الدقيق ولعدم القدرة على الاجرة حالا لارضاع باقيه للعلم بالاجرة والعمل المكترى له انما وقع فى ملك غير المكترى تبعا. اهـ\rGaji Pegawai yang Masuknya dengan Membayar Suap\rPertanyaan:\rBagaimana hukumnya gaji pegawai yang masuknya pegawai tersebut karena membayar suap?\rJawaban:\rHukumnya Halal ma’al Karohah. Adapun pembayaran suap ada hukum tersendiri dan tidak mempengaruhi gaji.\rPengambilan ibarat:\rHamisyul I’anah, juz II, hal. 214\rNihayatul Muhtaj, juz V, hal. 291\rAl-Munjid, hal. 102\rوفى هامش إعانة الطالبين، ج 2 ص 214، مانصه:\r(فائدة) قال فى المجموع يكره الاخذ ممن بيده حلال وحرام كالسلطان الجائر وتختلف الكراهة بقلة الشبهة وكثرتها ولا يحرم الا ان تيقن ان هذا من الحرام. اهـ\rوفى نهاية المحتاج، ج 5 ص 291، مانصه:\rوما جرت به العادة من حامكية على ذلك فليس من باب الاجارة وانما هو من باب الارزاق والاحسان والمسامحة بخلاف الاجارة فانها من باب المعاوضة. اهـ\rوفى المنجد، ص 102، مانصه:\rالحامكية ج جامكيات والجومك ج جوامك: مرتب خدام الدولة من العسكرية والمملكية. اهـ\rMencetakkan al-Qur`an/kitab salaf Kepada Orang Kafir\rPertanyaan:\rBagaimana hukumnya orang Islam mencetakkan al-Qur`an atau kitab-kitab salaf kepada orang kafir?\rJawaban:","part":1,"page":90},{"id":91,"text":"Hukum mencetakkan al-Qur`an kepada orang kafir Tidak boleh (Haram). Demikian juga mencetakkan kitab-kitab salaf, apabila isinya memuat cerita-cerita ulama salaf, nama-nama nabi atau nama-nama Alloh swt.\rApabila kitab-kitab tersebut tidak memuat cerita-cerita atau nama-nama tersebut di atas, maka ulama berbeda pendapat menurut qoul mu’tamad Boleh.\rPengambilan ibarat:\rNihayatul Muhtaj, juz III, hal. 389\rAs-Syarwani, juz IV, hal. 230-231\rAsnal Matholib, juz II, hal. 6-7\rAl-Qolyubi, juz I, hal. 36\rوفى نهاية المحتاج، ج 3 ص 389، مانصه:\rومثل القران الحديث ولو ضعيفا فيما يظهر اذ هو اولى من الاثار الاتية وكتب العلم التى بها اثر السلف بتعريضها للامتهان بخلاف ما اذا خلت عن الاثار وان تعلقت بالشرع ككتب نحو ولغة خلافا لبعضهم، ويمنع الكافر من وضع يده على المصحف لتجليده كما قاله ابن عبد السلام وان رجى اسلامه بخلاف تمكينه من القراءة لما فى تمكينه من الاستيلاء عليه من الاهانة. (قوله لتجليده) ظاهره وان احتيج للتجليد وانحصر فى الكافر وهو ظاهر لان غاية ما يترتب على عدم تمكينه منه نقصان ورقه او تلفه ولم ينظرواله فى غير هذه الصورة.\r(قوله بخلاف تمكينه من القراءة) اى اذا رجى اسلامه بان فهم ذلك بحاله. اما اذا لم يرج سلامه فانه يمنع منها والمخاطب بالمنع الحاكم لا الآحد لما فيه من الفتنة. اهـ\rوفى الشروانى، ج 4 ص 230-231، مانصه:","part":1,"page":91},{"id":92,"text":"وبحث ان كل علم شرعى او الة له كذلك (قوله وبحث الخ) المعتمد خلافه م ر اهـ سم، عبارة النهاية بخلاف ما اذا خلت كتب العلم عن الاثار وان تعلقت بالشرع ككتب نحو ولغة خلافا لبعضهم. اهـ قال الرشيدى قوله م ر ككتب نحو الخ اى وفقه كما فى شرح الروض وقال ع ش قوله م ر ككتب نحو الخ اى اذا خلت عن بسم الله كما هو ظاهر -إلى أن قال- ولو نسخ الكافر مصحفا او شيئا مما ذكر من كتب حديث امر بازالة الملك عنه. اهـ (قوله اثر السلف) اى كالحكايات المأثورة عن الصالحين وفى سم على حج ولايبعد ان اسماء اللانبياء سيما نبينا كالاثار. اهـ-إلى أن قال- وينبغى ان مثل ذلك اسماء صلحاء المؤمنين حيث وجدما يعين المراد بها كأبى بكر بن ابى قحافة ويؤخذ من هذا بالاولى انه يحرم على المسلم اذ استفتاه ذمى ان يكتب له فى السؤال والجواب لفظ الجلالة فتنبه له فانه يقع كثيرا الخطاء فيه. اهـ\rوفى أسنى المطالب، 2 ص 6-7، مانصه:\rقال بعضهم اى السبكى والصواب انه لا يجوز ايداع المصحف عنده اى الكافر، قلت وكذا كتب العلم لانه لايؤمن من افسادها والاعارة مثله وقد افتى الشيخ عز الدين بمنع دفع المصحف الى من يجلده وقال لا يدفع المصحف والتفاسير وكتب الحديث الى كافر لا يرجى اسلامه وينكر على فاعله. اهـ\rوفى القليوبى، ج ا ص 360، مانصه:\rويحرم السفر بالمصحف الى بلاد الكفار ان خيف وقوعه فى أيديهم.\rBAB WAQOF (AMAL JARIYAH)\rUang Sumbangan untuk Pondok/Masjid tidak disebutkan waqof\rPertanyaan:\rMenyumbangkan uang kepada pondok atau masjid, apakah termasuk waqof atau tidak? Kalau tidak, maka termasuk apa?\rJawaban:\rTidak termasuk waqof, walaupun memakai sighot waqof. Sebab uang tidak menetapi syarat-syarat mauquf (hilang/habis apabila dimanfaatkan). Dan itu termasuk amal jariyah.","part":1,"page":92},{"id":93,"text":"Pengambilan ibarat:\rNihatuz Zain, hal. 268-269\rMizanul Kubro, juz II, hal. 98\rوفى نهاية الزين، ص 74، مانصه:\r(وهى) اى العين (باقية) لان الوقف شرع ليكون صدقة جارية -إلى أن قال- بخلاف المطعوم والمشموم والاثمان فلا تصح وقفها لان المطعوم انما ينتفع باكله ولسرعة فساد المشموم المحصود بخلاف المزروع فيصح وقفه للشم لبقاء مدته وان لم يطل زمنه ولان الاثمان انما ينتفع باخراجها. اهـ\rوفى الميزان الكبرى، ج 2 ص 98، مانصه:\r(كتاب الوقف) اتفق الائمة على ان الوقف قربة جائزة وعلى ان مالايصح الانتفاع به الا باتلاف عينه كالذهب والفضة والمأكول لا يصح وقفه. اهـ\rUang Khusus Bangunan Masjid/Pondok Untuk yang Lainnya\rPertanyaan:\rBolehkah sumbangan khusus untuk pembangunan pondok dipergunakan kemasyarakatan? Seperti untuk membuat kulah/jeding, sumur dan sebagainya?\rJawaban:\rBoleh, disamakan dengan pembangunan untuk masjid.\rPengambilan ibarat:\rAl-Qolyubi, juz III, hal. 108\rBughyatul Mustarsyidin, hal. 65\rوفى القليوبى وعميرة، ج 3 ص 108، مانصه:\r(فرع) عمارة المسجد هى البناء والترميم والتجصيص للاحكام والسلالم والسوارى والمكانس والبوارى للتظليل او لمنع صب الماء فيه لتدفعه لنحو شارع والمساحى واجرة القيم ومصالحه تشتمل ذلك وماء لمؤذن وامام ودهن للسراج وقناديل لذلك والوقف مطلقا يحمل على المصالح ولا يجوز صرف شيء من الوقف ولو مطلقا فى تزويق ونقش ونحوهما بل الوقف على ذلك باطل -إلى أن قال- ولا يجوز صرف ما وقف لشيء من ذلك على غيره منه. اهـ\rوفى بغية المسترشدين، ص 65، مانصه:","part":1,"page":93},{"id":94,"text":"(مسئلة ى) ليس للناظر العام وهو القاضى او الوالى النظر فى امر الاوقاف واموال المساجد مع وجود النظر الخاص المتأهل فحينئذ فما يجمعه الناس ويبذلونه لعمارتها بنحو نذر او هبة وصدقة مقبوضين بيد الناظر او وكيله كالساعى فى العمارة باذن الناظر يملكه المسجد ويتولى الناظر العمارة بالهدم والبناء وشراء الالة والاستئجار -إلى أن قال- وعلى الناظر العمارة هذا ان جارت العادة او القرينة او الاذن بالصرف كذلك. اهـ\rPenggusuran Tanah Qubur, Tanah Masjid dan Tanah Milik\rDiskripsi masalah:\rDi suatu daerah sering terjadi kecelakaan lalu lintas yang salah satu penyebabnya adalah sempitnya jalan umum dan berbelok-belok. Dari itu pihak pemerintah daerah mempunyai kebijaksanaan agar jalan tersebut diperlebar dan diluruskan demi keselamatan umum. Namun bila kebijaksanaan tersebut dilaksanakan, akan memakan tanah kuburan, tanah masjid dan tanah warga setempat.\rPertanyaan:\rBagaimana hukum melaksanakan kebijaksanaan pemerintah tersebut?\rBila terpaksa dilaksanakan, bolehkah memindahkan kelebihan gusuran tanah masjid dan tanah kuburan ke tempat lain?\rWajib mengganti rugikah pemerintah tersebut?\rJawaban:\rHukum melaksanakan kebijaksanaan tersebut tafsil:\rBila tanah tersebut tanah masjid atau tanah kuburan, maka hukumnya Tidak Boleh menurut madzhab imam Syafi’i, dan boleh menurut selain madzhab Syafi’i.\rBila tanah milik, hukumnya boleh.\rMemindah kelebihan tanah gusuran tersebut tidak boleh menurut madzhab imam Syafi’i.\rBagi pemerintah Wajib Mengganti Rugi.\rPengambilan ibarat:\rAl-Fiqhul Islami, juz VIII, hal. 221","part":1,"page":94},{"id":95,"text":"Al-Madzhahibul Arba’ah, juz I, hal. 536\rYas`alunaka, juz II, hal. 121\rLajnah Fatwa al-Azhar, 15 Pebr 1953\rAl-Fatawil Kubro, juz II, hal. 261\rAl-Mahalliy, juz I, hal. 194\rTalkhishul Murod, hal. 181\rوفى فقه الاسلامى، ج 8 ص 221، مانصه:\rويجوز للامام جعل الطريق مسجدا لاعكسه لجواز الصلاة فى الطريق، ولا يجوز ان يتخذ المسجد طريقا. اهـ\rوفى الفقه على مذاهب الاربعة، ج 1 ص 536، مانصه:\rيكره ان يبنى على القبر بيت او قبة او مسجد او حيطان تحدق به كالحيشان اذالم يقصد بها الزينة والتفاخر والا كان ذلك حراما وهذا اذا كانت الارض غير مسبلة ولا موقوف والمسبلة هى التى اعتاد الناس الدفن فيها ولم يسبق لاحد ملكها. والموقوف ما وقفها بصيغة الوقف كقرافة مصر التى وقفها سيدنا عمر رضى الله عنه اما المسبلة والموقوفة فيحرم فيهما البناء مطلقا لما فى ذلك من الضيق والتحجير على الناس. وهذا الحكم متفق بين الأئمة الا ان الحنابلة قالوا: ان البناء مكروه مطلقا سواء كانت الارض مسبلة اولا والكراهة فى المسبلة اشد. اهـ\rوفى يسئلونك، ج 2 ص 121، مانصه:\rوقد ذكر الفقهاء انه يجوز توسيع المسجد من الطريق عند الحاجة وعدم الضرر ولو ضاق المسجد عن المصلين وكانت الى جانبه ارض مملوكة لشخص جاز اخذها منه بالقيمة ولو بالاكراه دفعا للضرر العام. اهـ\rوجاء الى لجنة الفتوى بالجامع الازهار الاستفتاء الاتى:","part":1,"page":95},{"id":96,"text":"شرعت بلدية الكويت فى انشاء الطريق داخل مدينة الكويت وخارجها واستعانت فى ذلك بمهندين وسووا الخرائط التى تنفق مع التقدم العمرانى وقد اعترض احد الشوارع المراد انشاءها خارج الكويت مسجد جديد لم يبنه واققوه الابناء بدائيا وهذا المسجد يدخل جزء كبير منه فى الشارع ولو مر على استقامته ومما لا شك فيه ان الشارع المستقيم يسهل سير المارة والسيارات اكثر من الذى يتخلله انحراف واعواج وفى امكان البلدية اذا ازيل هذا الجزء من المسجد ان تصل بقية بقطعه من الارض اعظم ساحة من الجزء المزال وتتكفل بعمارته على نظام احسن مما هو عليه ولما كان الإقدام على مثل هذا العمل يتوقف علم العلم بجوازه شرعا وعلماءنا مختلفون فى ذلك، فنرجو إفادتنا وبهذا المناسبة نرجو ان تكون الفتيا عامة فيما تتخذه نحو جميع المساجد والمقابر التى تتعرض الطريق المزمع انشاءها مع العلم باننا لانهدف الا المصلحة العامة المتفقه مع تقدم الكويت والتى تستوجب انشاء واصلاح الطرق على هيئة تكفل الامن والنظام\r{ مدير بلدية الكويت }\rالجواب:","part":1,"page":96},{"id":97,"text":"الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على سيد المرسلين سيدنا محمد وعلى اله وصحبه ومن تبعهم بإحسان الى يوم الدين. أما بعد: فقد اطلعت اللجنة على هذا السؤال وتفيد بأنه قد جاء فى الجزء الثالث من حاشية ابن على الدار المختار من كتب الحنفية انه اذا كان الطريق ضيقا والمسجد واسعا لا يحتاج الى بعضه جازت الزيادة فى الطريق من المسجد لان كلا منهما للمصلحة العامة وهذا هو المعتمد وعليه متون المذهب، وجاء فى كتب المالكية ان ما كان لله فلا بأس فيه ان يستعان ببعضه فى بعض ومعنى هذا انه يجوز توسيع الطريق من المسجد والمقبرة كما يجوز توسيع المسجد من الطريق والمقبرة وتوسيع المقبرة من الطريق والمسجد تراجع حاشية العدوى على الخرش على متن الخليل فى باب الوقف، وجاء فى اختيارات ابن تيمية الحنبلى ان جمهور العلماء جوزوا تغيير صور الوقف للمصلحة وانه اذا كانت هناك حاجة فانه يجب ابدال الوقف بمثله، اما من غير حاجة فان الابذال بخير منه لظهور المصلحة، ثم قال: ونقل صالح عن احد انه ينقل المسجد لمنفعة الناس. ومن هذه النصوص يتبين انه متى كانت الحاجة ماسة الى اخذ جزء من المسجد لتوسعة الطريق واستقامته تيسيرا على المارة والسيارات فانه يجوز ان يؤخذ ذلك الجزء من المسجد للطريق العام، واذا كانت ادارة البلدية مع هذا قد التزمت فى موضع السؤال بتعويض المسجد باكثر مما يؤخذ منه والتزمت ايضا باعادة بناء المسجد احسن مما كان عليه فانه يجوز بالاولى. اهـ\rوفى فتاوى الكبرى، ج 2 ص 261، مانصه:","part":1,"page":97},{"id":98,"text":"عما سئل عنه السبكى وهو ان شخصا هدم جدار مسجد غير مستحق الهدم ما يلزمه فأجاب بانه اعادته ولا يأتى فيه ضمان الارش كما قيل فى الجدار المملوك الموقوف وقفا غير تحرير لانهما مالان والمسجد ليس بمال بل هو كالحر ولذلك لاتجب اجرته بالاستيلاء عليه حتى يستوفى منفعته. اهـ هل هو المذهب أم لا فأجاب بان المذهب وجوب ارشه لا اعادته كما فى غيره كالحر. اهـ\rوفى المحلى، ج 1 ص 194، مانصه:\rويحرم اخراج اجزاء المسجد منه كجص وحجر وتراب وغيرها وكذا الشمع والزيت قاله العبادى فراجعه ويحرم استعمالها فيما لايجوز. اهـ\rوفى تلخيص المراد، ص 181، مانصه:\rالارض الموقوفة او الموصى بها للدفن فيها لايجوز لاحد ولو الواقف الانتفاع بما لم يقبر فيها ويلزم المنتفع بها أجرة المثل يصرفها الامام فى مصالح المقبرة اى مصالح الاحياء والاموات كشراء الاكفان ونحوها اما الموصى بها قبل موت الموصى فله منافعها لانه ملكه كما علم. اهـ\rHasil Kotak Jariyah Pesarean untuk Kepentingan Haul\rDiskripsi masalah:\rSering kita jumpai di beberapa makam atau pesarean para auliya` terdapat kotak sumbangan yang bertuliskan ‘Jariyah Pesarean’.\rPertanyaan:\rBolehkah uang hasil kotak sumbangan tersebut ditasarrufkan untuk kepentingan biaya haul shohibul maqbaroh dimaksud, karena tidak ada kegiatan pembangunan?\rKalau tidak boleh, kemanakah tasharrufnya? Sedangkan uang tersebut semakin hari semakin banyak.\rJawaban:\rHasil uang sumbangan tersebut boleh digunakan untuk kepentingan haul shohibul maqbaroh dimaksud, kecuali bila ada ketentuan dari penyumbang bahwa uang sumbangannya tidak boleh dipergunakan untuk kepentingan haul.\rSudah terjawab dan dianggap gugur.\rPengambilan ibarat:","part":1,"page":98},{"id":99,"text":"Al-Mahalliy, juz III, hal. 114\rI’anatut Tholibin, juz III, hal. 157\rوفى المحلى، ج 3 ص 114، مانصه:\rجرت العادة لذوى الافراح بحمل الهدايا اليهم ووضع نحو طاسة لوضع الدراهم فيها واعطاء خادم الصوفية الدراهم ونحوها وحكم ذلك ان الملك لمن قصده الدافع من صاحب الفرح او ابنه او المزين مثلا او الخادم او الصوفية افرادا وشركة والا فلآخذه لانه المقصود عرفا او عادة ومثل ذلك مالو نذر شيئا لولى ميت فان قصد تمليكه لغا او تمليك خدمته مثلا فلهم والا صرف فى مصالح قبره ان كان والا فلمن جرت العادة بقصدهم عنده. اهـ\rوفى إعانة الطالبين، ج 3 ص 157، مانصه:\r(قوله صرف لهم) وقد تقدم فى مبحث النذر فى صورة ما اذا اخرج احد من ماله للكعبة والحجرة الشريفة والمساجد الثلاثة ما نصه انه ان اقتضى العرف صرفه فى جهة من جهاتها صرف اليها واختصت به فان لم يقتض العرف شيئ فالذى يتجه انه يرجع فى تحسين المصرف لرأى ناظرها. اهـ\rHasil Infaq Bangunan Masjid untuk Membuat WC/Pagar\rDiskripsi masalah:\rBanyak sekali terjadi, surat yang diedarkan oleh panitia pembangunan masjid, dan atau kata-kata tersebut juga diucapkan oleh sang penarik infaq. Setelah terkumpul beberapa hasil infaq, baik berupa material maupun berupa uang, ternyata bukan hanya ditasharrufkan untuk pembangunan masjid saja, namun dipergunakan juga untuk memperbaiki/membuat pagar, WC dan lain sebagainya sebagai pelengkap masjid dimaksud.\rPertanyaan:\rBisakah hasil infaq tersebut dianggap waqof masjid?\rBolehkah penasharrufan tersebut?\rBila tidak boleh, apakah yang harus dilakukan oleh panitia?\rJawaban:\rHasil infaq tersebut bisa menjadi waqof masjid, dengan ketentuan sebagai berikut:","part":1,"page":99},{"id":100,"text":"Ada shighot waqof yang sah (mu’tabar)\rBerupa material\rSudah ada bangunan masjid\rAtau hasil infaq tersebut sudah diwujudkan berupa bangunan masjid, menurut pendapatnya syaikh Abu Muhammad.\rPenasharrufan tersebut diperbolehkan, asal tidak ada ketentuan dari munfiq (orang yang memberi infaq) atau qorinah (perkara yang menunjukkan) bahwa hasil infaq tersebut hanya untuk masjid.\rAdapun jika ada keterlanjuran tasharruf (penggunaan) yang tidak sesuai dengan ketentuan dari munfiq atau qorinah di atas maka panitia wajib dloman (mengganti).\rPengambilan ibarat:\rBughyatul Mustarsyidin, hal. 65, 175, 174 & 169\rAl-Qolyubi, juz III, hal. 108\rAs-Syarqowi, juz II, hal. 115\rNihayatuz Zain, hal. 268\rAl-Mizanul Kubro, juz II, hal. 98\rI’anatut Tholibin, juz III, hal. 162 & 161\rSulaiman al-Jamal, juz III, hal. 590\rوفى بغية المسترشدين، ص 65، مانصه:\r(مسئلة ى) ليس للناظر العام وهو القاضى او الوالى النظر فى امر الاوقاف واموال المساجد مع وجود الناظر الخاص المتأهل فحينئذ فما يجمعه الناس ويبذلونه لعمارتها بنحو نذر اوهبة وصدقة مقبوضين بيد الناظر او وكيله كالساعى فى العمارة بإذن الناظر يملكه المسجد ويتولى الناظر العمارة بالهدم والبناء وشراء الالة والاستئجار -إلى أن قال- وعلى الناظر العمارة هذا إن جرت العادة او القرينة او الاذن بالصرف كذلك أيضا. اهـ\rوفى القليوبى، ج 3 ص 108، مانصه:","part":1,"page":100},{"id":101,"text":"عمارة المسجد هى البناء والترميم والتجصيص للاحكام والسلالم والسوارى والمكانس والبوارى للتظليل او لمنع صب الماء فيه لتدفعه لنحو شارع والمساحى واجرة القيم ومصالحه تشمل ذلك وماء لمؤذن وامام ودهن للسراج وقناديل لذلك والوقف مطلقا يحمل على المصالح ولا يجوز صرف شيء من الوقف ولو مطلقا فى تزويق ونقش ونحوهما بل الوقف على ذلك باطل -إلى أن قال- ولا يجوز صرف ما وقف لشيء من ذلك على غيره منه. اهـ\rوفى الشرقاوى، ج 2 ص 115، مانصه:\rولو اعطاه دراهم وقال اشترلك بها عمامة او ادخل بها الحمام او نحو ذلك تعينت لذلك مراعة لغرض الدافع هذا ان أطلق او قصد ستر رأسه بالعمامة وتنظيفه بدخول الحمام لما رأى به من كشف الرأس وشعث بدنه ووسخه -إلى أن قال- فان لم يقصد ذلك بأن قال له على سبيل التبسط المعتاد فلا تتعين لذلك بل يملكها ويتصرف فيها كيف شاء. اهـ\rوفى بغية المسترشدين، ص 175، مانصه:\rاتلف العين الموقوفة شخص ضمنها واشترى الحاكم لا الناظر على المعتمد بدلها وانشاء وقفها بأحد الفاظه المعتبرة واما ما اشتراه الناظر من ريع الوقف او امره منها أو اخذه لجهة الوقف من الجدران الموقوفة يصير وقفا لجهته فلا يحتاج حينئذ الى اللفظ. اهـ\rوفى بغية المسترشدين، ص 174، مانصه:\r(مسئلة ب) وظيفة الولى فيما تولى فيه حفظه وتعهده والتصرف فيه بالغبطة والمصلحة وصرفها فى مصارفه. اهـ\rوفى نهاية الزين، ص 268، مانصه:\r(وهى) اى العين (باقية) لان الوقف شرع ليكون صدقة جارية -إلى أن قال- بخلاف المطعوم والمشموم والاثمان فلا يصح وقفها لان المطعوم انما ينتفع بأكله وسرعة المشموم المحصود بخلاف المزروع فيصح وقفه للشم لبقاء مدته وان لم يطل زمنه ولان الاثمان انما ينتفع بإخراجها. اهـ\rوفى الميزان الكبرى، ج 2 ص 98، مانصه:","part":1,"page":101},{"id":102,"text":"اتفق الائمة ان الوقف قربة جائزة وعلى ان مالا يصح الانتفاع به الا بإتلاف عينه كالذهب والفضة والمأكول لايصح وقفه. اهـ\rوفى إعانة الطالبين، ج 3 ص 162، مانصه:\r(وامكان تمليك) للموقوف عليه العين الموقوفة ان وقف على معين واحد او جمع بان يوجد خارجا متأهلا للملك فلا يصح الوقف على معدوم كعلى مسجد سيبنى. (قوله بأن يوجد الخ) تصوير لامكان التمليك اى انه مصور بوجود المووقوف عليه حال الوقف خارجا متأهلا للملك (قوله فلا يصح الوقف على معدوم) أى لعدم وجوده خارجا حال الوقف فهو لايمكن تمليكه (قوله كعلى مسجد سيبنى) اى كأن يقول وقفت هذا على مسجد وهو معدوم.\rوفى بغية المسترشدين، ص 169، مانصه:\rولو قال تصدقت بكذا على مسجد كذا ولم يكن بعده صدقة محبوسة او مسبلة او موقوفة ولاتباع او محرمة ونحوها كان كناية فى الوقف فان علمت نيته اى فذاك والا فتمليك محض للمسجد فيجوز بيعه والمبادلة بشرطه بل قد يجب نحو البيع ان خيف إستيلاء ظالم عليه ويصرف ما اشتراه او استبدله مصرف الاول. اهـ\rوفى سليمان الجمل، ج 3 ص 590، مانصه:\r(ولا يباع موقوف وان خرب) كشجرة جفت ومسجد انهدم وتعذرت اعادته وحصره الموقوفة البالية وجذوعه المنكسرة ادامة للوقف (قوله وحصره الموقوفة) اى بان صرح بوقفها لفظا ولا يكفى الشراء لجهته وحينئذ فالموجود الان بالمساجد يباع عند الحاجة لانهم لايصرحون فيه بوقفية. اهـ\rوفى إعانة الطالبين، ج 3 ص 161، مانصه:\rقال الشيخ أبو محمد: وكذا لو أخذ من الناس شيئا ليبنى به زاوية او رباطا فيصير كذلك بمجرد بنائه وضعفه بعضهم ما قاله الشيخ.\r(قوله فيصير كذلك) اى وقفا بمجرد بنائه (قوله وضعفه بعضهم) اى ضعف ماقاله الشيخ وفى التحفة واعترض ما قاله الشيخ بانه فرعه على طريقة ضعيفة. اهـ\rMerehab Bangunan Waqof dengan Pengrusakan\rPertanyaan:","part":1,"page":102},{"id":103,"text":"Bagaimana hukumnya merehab bangunan waqofan seperti: masjid, pondok, musholla dan sebagainya yang sifatnya merusak bangunan tersebut, sehingga dapat memutuskan amalnya orang yang waqof?\rJawaban:\rMerubah bangunan waqofan tersebut Tidak Boleh.\rPengambilan ibarat:\rAl-Qolyubi, juz III, hal. 108\rAt-Tuhfah, juz VI, hal. 274\rوفى قليوبى وعميرة، ج 3 ص 108، مانصه:\rلايجوز تغيير شيء من عين الوقف ولو لارفع منها فان شرط الواقف العمل بالمصلحة اتبع، وقال السبكى يجوز تغيير الوقف بشروط ثلاثة: ان لا يغير مسماه وان يكون مصلحة له كزيادة ريعة وان لاتزال عينه فلا يضر نقلها من جانب الى اخر. اهـ\rوفى التحفة، ج 6 ص 274، مانصه:\rوالضابط: ان كل ما غير الوقف بالكلية عن اسمه الذى كان عليه حال الوقف امتنع والا فلا. اهـ\rSumbangan Pembangunan Masjid dengan Kupon Berhadiah\rPertanyaan:\rBagaimana hukumnya menyumbang pembangunan masjid dengan “kupon berhadiah”?\rJawaban:\rHukumnya Haram, sebab termasuk qimar (taruhan/judi) yang diharamkan oleh syara’. Kecuali jika penyumbang tersebut tidak mengharapkan hasil undian kupon (hadiah).\rPengambilan ibarat:\rAl-Bajuri, juz II, hal. 310\rAl-Amrodlul Ijtima’iyah, hal. 391\rوفى الباجورى، ج 2 ص 310، مانصه:\rوهو اى القمار كل لعب تردد بين غنم وغرم كاللعب بالورق وغيره. اهـ\rوفى الامراض الاجتماعية، ص 391، مانصه:\rومن شر القمار شراء الاوراق المسمّات بيا نصيب فهى حرام على المذهب الاربعة. اهـ\rMenerima dan Meminta Bantuan Kepada Orang Kafir\rPertanyaan:\rBagaimana hukumnya menerima dan minta bantuan uang atau material kepada orang kafir, untuk pembangunan masjid atau musholla?\rJawaban:","part":1,"page":103},{"id":104,"text":"Hukumnya boleh, dengan syarat:\rDalam menerima bantuan tersebut tidak ada unsur menyayangi orang kafir, bahkan mengharapkan agar dia mau masuk Islam.\rDengan bantuan tersebut tidak menimbulkan penghinaan kepada orang Islam, dan tidak menjadikannya di bawah kekuasaan orang kafir.\rUang dan atau material yang diperbantukan tadi tidak jelas dari hasil uang haram.\rPengambilan ibarat:\rIhkamul Ahkam, juz III, hal. 235-236\rAl-Fiqhus Siroh, hal. 304\rTalkhishul Murod, hal. 196\rوفى أحكام الأحكام، ج 3 ص 235-236، مانصه:\rوردت احاديث تدل على جواز قبول هدايا الكفار والاهداء لهم منها مارواه الامام احمد بن حنبل والترمذى وحسنه والبراز عن على بن ابى طالب كرم الله وجهه قال: اهدى كسرى لرسول الله صلى الله عليه وسلم فقبل منه واهدى له قصير فقبل واهدت له الملوك فقبل منها -إلى أن قال- ويعارض احاديث الجواز مارواه ابو داود والترمذى وصححه والامام احمد بن حنبل عن عياض بن حمار انه اهدى للنبى صلى الله عليه وسلم هدية او ناقة فقال النبى صلى الله عليه وسلم اسلمت قال لا قال انى نهيت عن زبد المشركين (وقوله زبد المشركين) هو بفتح الزاء وسكون الموحدة بعدها دال الرفد. قال الحافظ فى الفتح فجمع بينهما الطبرى بان الامتناع فيما اهدى له خاصة والقبول فيما اهدى للمسلمين وفيه نظر -إلى أن قال- وجمع غيره بالامتناع فى حق من يريد بهديته التودد والموالاة والقبول فى حق من يرجى بذلك تأنيسه وتأليفه على الاسلام وهذا اقوى من الاول. اهـ\rوفى فقه السيرة للدكتور محمد سعيد رمضان البوطى، ص 304، مانصه:","part":1,"page":104},{"id":105,"text":"النوع الثانى الاستعانة ببعض مملكتهم كالسلاح وانواع العدة ولا خلاف فى ان ذلك جائز بشرط ان لا يكون فيه خدش لكرامة المسلمين وان لا ينسب عن ذلك دخول المسلمين تحت سلطان غيرهم. اهـ\rوفى تلخيص المراد، ص 196، مانصه:\rكتب الى آخر ورقة ولم يشرط عليه الجواب فى ظاهرها كان هدية للمكتوب اليه فان كانت من اموال الظلمة والولاة فالورع عدم الانتفاع بها واما من حيث الجواز فان علم انها من الحرام لم يجز استعمالها وان لم يعلم فحكمها حكم معاملة من اكثر ماله حرام. والمنقول كراهتها ومجردة كراهتها لايقتضى الاثم فى الآخرة مع عدم العلم. اهـ\rMencari Dana dengan Pertandingan Olahraga\rPertanyaan:\rBagaimana hukumnya mencari infaq/dana pembangunan masjid dengan jalan mengadakan pertandingan sepakbola, volleyball, tennis dan sejenisnya?\rJawaban:\rPerlu diketahui bahwa hukum asal permainan sepakbola dan sejenisnya adalah boleh, dengan syarat:\rTidak berbentuk taruhan (totohan: jawa)\rBertujuan untuk olahraga dan latihan perang\rTidak bertujuan mengikuti jejak orang kafir\rMaka dari itu, bila dalam permainan tersebut tidak menetapi syarat di atas, maka hukumnya haram, begitu pula uang yang dihasilkannya.\rPengambilan ibarat:\rBulughul Umniyah, hal. 224\rAhkamul Fuqoha`, juz I, hal. 54\rوفى بلوغ الأمنية، ص 224، مانصه:\rواما حكم لعبها اى كرة القدم شرعا بقطع النظر عن العرف فيها فهو جواز لعبها بشرطين. الاول ان يكون بغير قمار. الثانى ان يقصد بها التدرب على الجهاد والرياضة للحرب لا المبالغة كما هو شأن أهل الفسوق قلت وبقى شرط ثالث وهو ان يجرى فيه اللاعبون على عادتهم الأصليه لا انهم يجرون فيه عادة الكفار فان اختل شرط من هذه الشروط جزم بتحريمه. اهـ","part":1,"page":105},{"id":106,"text":"وفى احكام الفقهاء، ج 1 ص 54، مانصه:\rما قولكم فى الاموال التى حصلت من اجارة الكرسى او البيت لنظر انواع الحفلات من الرقوص او مبارزة القوة الجسمية او غيرها فهل تكون تلك الاموال حلالا او حراما؟\rج: ان كانت حلافاته مما لا ينهاها الشرع كالمسابقة او المبارزة الغير المنهية فتحل تلك الاموال بلا شك.\rBAB WASIAT (HARTA PUSAKA)\rMelaksanakan Wasiat Orang Tua\rDiskripsi masalah:\rAda orang yang tatkala hidupnya pernah berpesan kepada anak-anaknya sebagai berikut:\rRumah tinggalnya jangan sampai dijual\rAnaknya yang bernama Zaed harus menempati rumah tersebut\rPertanyaan:\rApakah pesan tersebut wajib dilaksanakan oleh anak-anaknya?\rJawaban:\rTidak wajib dilaksanakan, akan tetapi terserah ahli waris.\rPengambilan ibarat:\rAl-Muhaddzab, juz I, hal. 451\rوفى المهذب، ج 1 ص 451، مانصه:\r(فصل) واختلف قوله فى الوصية للوارث فقال فى احد القولين لاتصح لماروى جابر رضى الله عنه ان النبى صلى الله عليه وسلم قال: لاوصية لوارث ولانها وصية لاتلزم لحق الوارث فلم تصح كما لو اوصى بمال لهم من غير الميراث فعلى هذا الاجازة هبة مبتدأة يعتبر هنا ما يعتبر على الهبة, والثانى تصح لما روى ابن عباس رضى الله عنه ان النبى صلى الله عليه وسلم قال: لا تجوز لوارث وصية الا ان شاء الورثة فدل على انهم اذا شاؤا كانت وصية وليست الوصية فى ملكه وانما يتعلق بها حق الورثة فى الثانى فلم يمنع صحتها كبيع ما فيه شفعة فعلى هذا اذا اجاز الورثة نفذت الوصية. اهـ\rBAB NIKAH (PERKAWINAN)\rPerkawinan dengan Wali Hakim atau Wali Ab’ad\rDiskripsi masalah:","part":1,"page":106},{"id":107,"text":"Ada seorang wali nikah merantau yang tidak diketahui khabar dan tempatnya kemudian putrinya dinikahkan oleh wali lain (wali hakim atau wali ab’ad).\rPertanyaan:\rSahkah perkawinan perempuan tersebut?\rJika setelah selang beberapa tahun wali nikah tersebut datang bagaimana hukum perkawinan di atas, masih berlangsungkah atau rusak?\rJawaban:\rHukum perkawinan tersebut sah, bila menepati syarat-syarat sebagai berikut:\rYang mengawinkan hakim, ketika walinya belum diputuskan kematiannya oleh hakim, dan ia tidak menunjuk wakil untuk mengawinkan putrinya.\rYang mengawinkan wali ab’ad (yang lebih jauh, seperti saudara atau pamannya) ketika walinya sudah diputuskan kematiannya oleh hakim dan tidak menunjuk wakil.\rYang mengawinkan wakilnya, jika wali tersebut menunjuk wakil untuk mengawinkan putrinya.\rHukum perkawinan tersebut tetap berlangsung, jika sudah memenuhi syarat-syarat di atas (bag. A) kecuali jika ternyata wali nikah tersebut merantau dalam jarak yang dekat (kurang dua marhalah) pada waktu perkawinan anaknya. Jika demikian, maka perkawinan tersebut harus difasakh (dirusak). Kemudian demi kelangsungannya harus diaqadi lagi oleh wali nikah yang baru datang tadi.\rPengambilan ibarat:\rAs-Syarwani, juz VII, hal. 259\rAsnal Matholib, juz III, hal. 134\rوفى الشروانى على التحفة، ج 7 ص 256، مانصه:","part":1,"page":107},{"id":108,"text":"(ولو غاب الاقرب إلى مرحلتين) او اكثر ولم يحكم بموته ولا وكل من يزوج موليته ان خطبت فى غيبته (زوج السلطان) لا الابعد وان طالت غيبته وجهل محله وحياته لبقاء اهلية الغائب والأصل بقاؤها والاولى ان يأذن للابعد او يستأذنه ليخرج من الخلاف (قوله ولا يحكم بموته) والازوجها الابعد (قوله زوج السلطان) اى سلطان بلدها او نائبه لاسلطان غير بلدها ولا الأبعد على الاصح وقيل يزوج الأبعد كالجنون (قوله وجهل الخ) لا يخفى ما فى جعله غاية لما فى المتن اذ موضوع المسئلة الغيبة الى مرحلتين المقتضية لعلم المحل عبارة المغنى والروض ويزوج القاضى ايضا عن المفقود الذى لايعرف مكانه ولا موته ولا حياته لتعذر نكاحها من جهته فاشبه ما اذا عضل. اهـ\rوفى صحيفة 260، مانصه:\r(تنبيه) وقع لابن الرفة ان للحاكم عند غيبة الاب تزويج الصغيرة بناء على الضعيف انه يزوج بالنيابة ورد بان الصواب ما فى الانوار وغيره انه لايزوجها. اهـ\rوفى أسنى المطالب، ج 3 ص 134، مانصه:\r(فرع: يستحب للقاضى عند غيبة الولى الاقرب) الغيبة المعتبرة (ان يأذن للابعد) ان يزوج (ان يستأذنه) ليزوج (فان زوجت) فى غيبته (فبان الولى قريبا) من البلد عند العقد ولو بقوله كما يؤخذ من كلام نقله الزركشى عن فتاو البغوى (لم ينعقد) نكاحها لان تزويج الحاكم لايصح مع وجود الولى الخاص (قوله كما يؤخذ من كلام نقله الزركشى عن فتاوى البغوى) عبارتها لو ان امرأة مجهولة النسب زوجها الحاكم ثم جاء رجل وقال انا أبوها وكنت فى البلد قال النسب ثابت والنكاح مفسوخ لان تزويج الحاكم لايجوز عند وجود الاب قال الغزى حمله على ما اذا اعترف بذلك الزوج والمرأة. اهـ\rMengangkat Saksi yang Belum Tahu Syarat Penyaksian\rDiskripsi masalah:","part":1,"page":108},{"id":109,"text":"Seandainya ada orang yang mengaku Islam tapi tidak mengerti syarat-syaratnya wudlu dan sholat, juga tidak tahu syarat dan hukumnya syahadah, kemudian orang tersebut diangkat menjadi saksi.\rPertanyaan:\rBisakah orang yang semacam itu diterima syahadahnya (penyaksiannya)?\rJawaban:\rDi dalam masalah syahadah (penyaksian) selama saksi sudah menjalankan sholat dan wudlu serta syarat rukunnya, walaupun ia tidak tahu akan hukum wajibnya sholat dan wudlu, maka syahadah (penyaksian) nya tetap diterima. Dengan catatan: Jahil Ma’dzur.\rPengambilan ibarat:\rI’anatut Tholibin, juz IV, hal. 297\rBughyatul Mustarsyidin, hal. 283\rوفى إعانة الطالبين، ج 4 ص 297، مانصه:\rلايقدح فى الشهادة جهله بفروض نحو الصلاة والوضوء الذين يؤديهما (قوله لايقدح فى الشهادة) -إلى أن قال- اى ولم يقصر فى التعلم كما فى النهاية فان قصر فيه لم تقبل شهادته لان تركه من الكبائر كما فى التحفة ونصها وينبغى ان يكون من الكبائر ترك تعلم ما هو فرض عين عليه لكن فى المسائل الظاهرة لا الخفية نعم مامر انه لو اعتقد ان كل افعال نحو الصلاة او الوضوء فرض او بعضها فرض ولم يقصد بفرض معين النفلية صح وحينئذ فهل ترك تعلم ما ذكر كبيرة ايضا او لا؟ للنظر فيه مجال والوجه انه غير كبيرة لصحة عبادته مع تركه -إلى أن قال- بل صرح ائمتنا بقبلو شهادة العامة كما يعلم مما يأتى قبيل شهادة الحسبة على كثيرين من المتفقهة يجهلون كثيرا من شروط نحو الوضوء. اهـ\rوفى بغية المسترشدين، ص 283، مانصه:","part":1,"page":109},{"id":110,"text":"اذا حكمنا بفسق الشخص ردت شهادته فى النكاح وغيره نعم افتى بعضهم بقبول شهادة الفاسق عند عموم الفسق واختار الامام الغزالى والاذرعى وابن عطيف دفعا للحرج الشديد فى تعطيل الاحكام لكن يلزم القاضى تقديم الامثل فالامثل والبحث عن حال الشهادة -إلى أن قال- زاد ش: ويجوز تقليد هؤلاء فى ذلك للمشقة بالشرط المذكور. اهـ\rPerkawinan dengan Maskawin Membaca al-Qur`an\rPertanyaan:\rBagaimana hukumnya perkawinan dengan maskawin membaca al-Qur`an?\rJawaban:\rHukum perkawinan tersebut sah, apabila pembacanya sudah dianggap kulfah (kepayahan) dan istrinya hadir di tempat itu sewaktu ia membacanya.\rPengambilan ibarat:\rAl-Bajuri, juz II, hal. 122-123\rBughyatul Mustarsyidin, hal. 166\rوفى الباجورى، ج 2 ص 122-123، مانصه:\r(وليس لا قل الصداق) حد معين فى القلة (ولا لاكثره حد) معين فى الكثرة بل الضابط فى ذلك ان كل شيء صح جعله ثمنا من عين او منفعة صح جعله صداقا -إلى أن قال- (ويجوز ان يتزوجها على منفعة معلومة) اى للمتعاقدين ولا بد ان تكون مما يجوز الاستئجار لها كتعليم فيه كلفة -إلى أن قال- ومحل جواز تزوجها على المنفعة المعلومة ان كان الزوج يحسن تلك المنفعة سواء التزمها فى ذمته او عقد على عينه فان لم يحسنها ففيه تفصيل فان التزمها فى ذمته جاز ويستأجر لها من يحسنها وان عقد على عينه لم يصح على الاصح لعجزه. اهـ\rوفى بغية المسترشدين، ص 166، مانصه:\r(مسئلة ش) يصح الاستئجار على القراءة عن الميت ولو كافرا على الاوجه عند رأس القبر او مطلقا ويحمل عليه وكذا عن الحي بحضوره لانتفاعه بسماعه الذكر. اهـ\rWanita Diwathi Syubhat Oleh Dua Lelaki\rDiskripsi masalah:","part":1,"page":110},{"id":111,"text":"Ada orang perempuan diwathi syubhat oleh dua orang lelaki kemudian melahirkan anak yang mungkin wujudnya anak tersebut dari salah satu air sperma kedua lelaki tersebut.\rPertanyaan:\rIntisab kepada siapakah anak tersebut bila tidak ada qo’if (ahli penemu nasab)?\rJawaban:\rIntisab binafsihi (intisab kepada dirinya sendiri).\rPengambilan ibarat:\rI’anatut Tholibin, juz IV, hal. 49\rوفى إعانة الطالبين، ج 4 ص 49، مانصه:\r(قوله بأن اتت به الخ) تصوير لامكان كونه منه، وقوله بعد نكاحه اى الغير وبين المصنف حكم ما إذا امكن كونه من الاول او من الثانى وبقى عليه حكم ما اذا امكن كونه منهما كان ولدته لستة اشهر من وطء الثانى ولدون اربع سنين من طلاق الاول وحاصله انه يعرض على القائف فان الحقه باحدهما فكالامكان منه فقط وقد مر حكمه او الحقه بهما او نفاه عنهما او اشتبه عليه الامر انتظر بلوغه وانتسابه بنفسه ومثله ما لو فقد القائف كأن كان بمسافة القصر. اهـ\rMenyuntikkan air Mani ke Rahim Orang Lain\rPertanyaan:\rBagaimana hukumnya memasukkan air mani seorang lelaki ke rahim wanita lain dengan melalui suntik dan intisab kepada siapakah anak yang dihasilkan?\rJawaban:\rHukum memasukkan mani tersebut Haram.\rSedangkan intisabnya anak tersebut ditafsil:\rIntisab kepada lelaki yang mempunyai air mani, apabila mani tadi muhtarom (keluar dengan cara yang tidak dilarang syara’).\rIntisab kepada wanita tadi (ibunya) apabila air maninya tidak muhtarom (keluarnya dengan cara yang dilarang syara’).\rPengambilan ibarat:\rTafsir Ibnu Katsir, juz III, hal. 113\rNihayatuz Zain, hal. 328\rAl-Bajuri, juz II, hal. 172\rAl-Fiqhul Islami, juz VII, hal. 681","part":1,"page":111},{"id":112,"text":"وفى تفسير ابن كثير، ج 3 ص 113، مانصه:\rعن ابن عباس رضى الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ما من ذنب بعد الشرك اعظم عند الله من نطفة وضعها رجل فى رحم لايحل له.اهـ\rوفى نهاية الزين، ص 338، مانصه:\rومثل الوطء استدخال المنى المحترم وقت انزاله وهو الذى خرج على وجه جائز كان خرج بالاحتلام وان دخل على وجه محرم كأن ادخلته زوجته على ظن انه منى الغير. اهـ\rوفى الباجورى، ج 2 ص 172، مانصه:\rومثل الوطء استدخالها المنى المحترم ولو فى الدبر ايضا والمراد بالمحترم ولو فى حال خروجه فقط بان خرج على وجه جائز بخلاف غير المحترم فى حال خروجه فلو استمنى بيده ثم ادخلته المرأة فرجها لم تجب عليه العدة لكونه غير محترم لانه لم يخرج على وجه جائز حتى لو تخلق منه ولد لم يلحقه. اهـ\rوفى الفقه الاسلامى، ج 7 ص 681، مانصه:\rسباب ثبوت نسب الولد من امه هو الولادة شرعية كانت ام غير شرعية. اهـ\rPenentuan Nasab Anak Kedua Orang Tuanya\rDiskripsi masalah:\rSudah kita maklumi, bahwa penentuan nasab itu disandarkan sedikitnya 6 bulan lebih terhitung dari pernikahan. Namun kadang-kadang timbul keraguan akibat terpengaruh oleh dokter. Misalnya: seseorang menikahi pelacur, baru berjalan 7 bulan dari pernikahan sudah melahirkan. Dan menurut dokter dia sudah hamil sbelum nikah. Atau baru berjalan 5 bulan dari pernikahan, sudah melahirkan. Namun menurut dokter umur bayi tersebut memang baru 5 bulan.\rPertanyaan:\rIntisab kemanakah bayi tersebut dalam contoh di atas?\rJawaban:\rDalam contoh pertama, bayi tersebut intisab kepada suami dhohiron, apabila:","part":1,"page":112},{"id":113,"text":"Bayi tersebut lahir setelah 6 bulan lebih, terhitung dari waktu yang memungkinkan suami-istri tersebut bersetubuh setelah aqad pernikahan.\rSang suami tidak li’an *)\rDalam contoh yang kedua ditafsil juga:\rApabila bayi itu lahir dengan sempurna (tidak keguguran) maka tidak dapat intisab kepada suami, kecuali bila suami mengaku bahwa bayi itu anaknya dan sebelumnya suami pernah mengawini atau mungkin pernah mewathi syubhat pelacur tersebut.\rApabila bayi itu lahir naqis (keguguran) maka bayi itu intisab kepada suami.\rPengambilan ibarat:\rBughyatul Mustarsyidin, hal. 236\rAnwarul Masalik, hal. 245\rAl-Fiqhul Islami, juz VII, hal. 682\rHamisy as-Syarwani, juz VIII, hal. 214\rوفى بغية المسترشدين، ص 236، مانصه:\r(مسئلة ى س) نكح حاملا من الزنا فولدت كاملا كان له أربعة أحوال امّا منتف عن الزوج ظاهرا وباطنا من غير ملاعنة وهو المولود لدون ستة اشهر من امكان الاجتماع بعد العقد او لاكثر من اربع سنين من آخر امكان الاجتماع واما لاحق به وتثبت له الاحكام ارثا وغيره ظاهرا ويلزمه نفيه بان ولدته لاكثر من الستة واقل من الاربع السنين وعلم الزوج او غلب على ظنه انه ليس منه بان لم يطأ بعد العقد ولم تستدخل ماؤه او ولدت لدون ستة اشهر او لاكثر من اربع سنين منه او لاكثر من ستة اشهر بعد استبرائه لها بحيضة وثم قرينة بزناها ويأثم حينئذ بترك النفى بل هو كبيرة وورد ان تركه كفر. وأما لاحق له ظاهرا ايضا لكن لايلزمه نفيه اذا ظن انه ليس منه بلا غلبة بان استبرأها بعد الوطئ وولدت به لآكثر من ستة اشهر بعده وثم ريبة بزناها اذ الاستبراء امارة ظاهرة على انه ليس منه لكن يندب تركه لان الحامل قد تحيض. هـ\rوفى أنوار المسالك، ص 245، مانصه:","part":1,"page":113},{"id":114,"text":"(ومن اتت زوجته بولد لحقه نسبه ان امكن ان يكون منه بأن تأتى به بعد ستة اشهر ولحظة من حين العقد ودون أربع سنين) اى اقل منها و تحسب المدة (من حين امكان الاجتماع معها اذا أمكن وطؤها ولو على بعد وان لم يعلم انه وطئ) باقراره مثلا (بخلاف ما سبق فى امته) حيث اشترطنا فيها الاقرار بالوطء واللحوق مقيد (بشرط ان يكون للزوج تسع سنين ونصف ولحظة تسع الوطء) -إلى أن قال- وتحقق الزوج ان الولد الذى الحقه الشرع به) نظرا الى الامكان وهو قاطع انه (ليس منه بان علم انه لم يطأها ابدا لزمه نفيه باللعان) ثم ان علم زناها او ظنه ظنا مؤكدا قذفها ولاعن لنفيه وجوبا فيهما والا اقتصر على النفى باللعان لجواز كونه من شبهة (وان لم يتحقق انه من غيره حرم عليه نفيه وقذفها) لانه لاحق بفراشه ولا عبرة بما يجده فى نفسه. اهـ\rوفى الفقه الاسلامى، ج 7 ص 682، مانصه:\rاتفق الفقهاء على ان الولد تأتى به المرأة المتزوجة زواجا صحيحا ينسب الى زوجها للحديث المتقدم الولد للفراش. والمراد بالفراش المرأة التى يستفرشها الرجل ويستمتع بها وذلك بالشروط الاتية -إلى أن قال- الشرط الثانى ان يلد بعد ستة اشهر من وقت الزواج فى رأى الحنيفية ومن امكان الوطء فى رأى الجمهور فان ولد لاقل من الحد الادنى لمدة الحمل وهى ستة اشهر لايثبت نسبه من الزواج إتفاقا وكان دليلا على ان الحمل به حدث قبل الزواج الا إذا ادعاه الزوج ويحمل ادعاؤه على ان المراد حملت به قبل العقد عليها اما بناء على عقد اخر واما بناء على عقد فاسد او وطئ بشبهة مراعاة لمصلحة الولد وسترا للاعراض بقدر الامكان. اهـ\rوفى حواش الشروانى، ج 8 ص 214، مانصه:","part":1,"page":114},{"id":115,"text":"(ولو اتت) او حملت (بولد علم انه ليس منه) او ظنه ظنا مؤكدا او امكن كونه منه ظاهرا لما سيذكره (لزمه نفيه) -إلى أن قال- (وانما يعلم) انه ليس منه (اذا لم يطأ) فى القبل ولا استدخلت ماؤه المحترم ولكن ولدته لدون ستة اشهر) من الوطء ولو لاكثر منها من العقد (او فوق اربع سنين) من الوطء للعلم حينئذ بانه من ماء غيره (قوله ولكن ولدته لدون ستة اشهر) لعل هذا فىالولد التام كما يعلم مما تقدم من الطلاق والرجعة. اهـ\r*) Catatan Mushohhih:\rApabila suami yakin atau menyangka dengan kuat, bahwa bayi tersebut tidak dari dirinya, maka dia wajib li’an. Sebagaimana yang diterangkan dalam Anwarul Masalik di atas.\rWakil Wali Menikahkan dengan Pilihan sang Anak yang Janda\rDiskripsi masalah:\rZainab seorang janda, telah memberi ijin kepada walinya untuk dinikahkan dengan Zaid yang menjadi pilihan walinya. Kemudian si wali mewakilkan aqad nikahnya kepada Bakar. Setelah Zainab mengetahui, dia datang mengadu kepada Bakar bahwa dia tidak mau dinikahkan dengan Zaid (pilihan walinya) tapi minta dinikahkan dengan Umar yang menjadi pilihannya sendiri.\rPertanyaan:\rBolehkah Bakar (wakil wali) menikahkan Zainab dengan Umar?\rJawaban:\rBakar (wakil wali) Tidak Boleh mengawinkan Zainab dengan Umar yang menjadi pilihannya, kecuali Bakar tersebut salah satu di antara wali Zainab dan sudah mendapat restu dari muwakilnya (wali Zainab) maka boleh mengawinkan kalau hal tersebut termasuk kategori ta’addudul auliya` (wali berbilangan).\rPengambilan ibarat:\rAl-Muhaddzab, juz I, hal. 350\rI’anatut Tholibin, juz III, hal. 314\rوفى المهذب، ج 1 ص 350، مانصه:","part":1,"page":115},{"id":116,"text":"ولا يملك الوكيل من التصرفات الا ما يقتضيه اذن الموكل من جهة النطق او من جهة العرف لان تصرفه بالاذن فلا يملك الا ما يقتضيه الاذن والاذن يعرف بالنطق وبالعرف. اهـ\rوفى إعانة الطالبين، ج 3 ص 314، مانصه:\r(تنيبيه) لم يتعرض لما اذا اجتمع الاولياء من النسب وحاصل ذلك انهم اذا اجتمعوا فى درجة واحدة كإخوة اشقاء اولاب او أعمام كذلك فإن اذنت لكل منهم بانفراد فيه او قالت اذنت فى فلان فمن شاء منكم فليزوجنى منه جاز لكل منهم ان يزوجها واستحب ان يزوجها افقههم بباب النكاح ثم اورعهم ثم اسنهم لكن برضا الباقين فان اذنت لواحد منهم فقط فلا يزوجها غيره الا وكالة عنه ولو قالت لهم كلهم زوجوه اشترط اجتماعهم فإن تشاحوا فى صورة اذنها لكل واحد منهم زوج وان تعدد فمن ترضاه فإن رضيت الكل امر الحاكم بتزويجها من اصلحهم. اهـ\rBAB JINAYAH\rHukum Donor Darah\rPertanyaan:\rBagaimana hukumnya donor dara (memindah darah seseorang kepada orang lain)?\rJawaban:\rHukumnya Boleh, apabila langsung dipergunakan si penerima donor dan tidak ditemukan bahan-bahan suci lain yang dapat mengganti kedudukan darah tersebut menurut penyelidiikan dokter muslim.\rPengambilan ibarat:\rAl-Majmu’, juz IX, hal. 50-51\rوفى المجموع، ج 9 ص 50-51، مانصه:","part":1,"page":116},{"id":117,"text":"واما التداوى بالنجاسة غير الخمر فهو جائز سواء فيه جميع النجاسات غير المسكر هذا هو المذهب والمنصوص وبه قطع الجمهور -إلى أن قال- قال اصحابنا وانما يجوز التداوى بالنجاسة اذا لم يجد طاهرا يقوم مقامها فان وجده حرمت النجاسات بلا خلاف وعليه يحمل حديث: ان الله لم يجعل شفاءكم فيما حرم عليكم فهو حرام عند وجود غيره وليس حراما اذا لم يجد غيره، قال اصحابنا وانما يجوز ذلك اذا كان المتداوى عارفا بالطب يعرف انه لايقوم غير هذا مقامه او اخبره بذلك طبيب مسلم عدل ويكفى طبيب واحد صرح به البغوى وغيره\rMengganti Jantung Manusia dengan Jantung Anjing\rPertanyaan:\rBagaimana hukumnya mengganti jantung manusia dengan jantung anjing?\rJawaban:\rBoleh apabila dibutuhkan, dan tidak ada bahan lain yang patut/bisa untuk mengganti jantung tersebut.\rPengambilan ibarat:\rAl-Jamal alal Manhaj, juz I, hal. 416-417\rوفى الجمل شرح المنهج، ج 1 ص 416-417، مانصه:\r(ولو وصل عظمه) بقيد ردته بقولى (لحاجة) الى وصله (بنجس) من عظم (لايصلح) للوصل (غيره) هو اولى من قوله لفقد الطاهر (عذر) فى ذلك فتصح صلاته معه (قوله لحاجة الى وصله كخلل فى العضو او نحوه. اهـ برماوى وخياطة الجرح بخيط نجس (قوله من عظم) اى ولو مغلظا (قوله لايصلح للوصل غيره) اى اصلا وقت ارادته حتى لو صلح غيره وكان هذا اصلح او اسرع الى الجبر لم يجز الوصل به خلافا للسبكى حيث قال: ولو قال اهل الخبرة ان لحم الادمى لاينجبر سريعا الا بعظم نحو كلب فيتجه انه عذر، ولو تعارض نجس غير مغلظ ونجس مغلظ فالظاهر تقديم غير المغلظ مع كونه بطئ البرء وكون المغلظ سريعة. اهـ\rMerubah Alat Kelamin\rPertanyaan:","part":1,"page":117},{"id":118,"text":"Bagaimana hukumnya merubah kelamin lelaki menjadi wanita? Kemudian orang tersebut diberi hukum sebelum perubahan ataukah setelahnya?\rJawaban:\rHukumnya Tidak Boleh (Haram), karena merubah ciptaan Alloh swt. dan dia tetap diberi hukum sebelum adanya perubahan (lelaki).\rPengambilan ibarat:\rTafsir Khozin, juz I, hal. 398\rDalilul Falihin, juz IV, hal. 494\rBujairomi alal Khotib, juz IV, hal. 261\rوفى تفسير الخازن، ج 1 ص 398، مانصه:\r(ولآمرنهم فليغيرن خلق الله) -إلى أن قال- وقيل يحتمل ان يحمل هذا التغيير على تغيير احوال تتعلق بظاهر الخلق مثل الوشم ووصل الشعر ويدل عليه قوله صلى الله عليه وسلم لعن الله الواشمات والمستوشمات والمتنمصات والمتفلجات للحسن المتغيرات خلق الله اخرجان من رواية ابن مسعود. اهـ\rوفى دليل الفالحين، ج 4 ص 494، مانصه:\rوعن ابن مسعود رضى الله عنه قال لعن الله الواشمات والمتنمصات والمتفلجات للحسن المغيرات خلق الله -إلى أن قال- قال المصنف وهذا الفعل حرام على الفاعلة والمفعول بها لهذه الاحاديث ولانه تغيير لخلق الله. اهـ\rوفى بجيرمى الخطيب، ج 4 ص 261، مانصه:\rولو مسخ حيوان يحل الى ما لايحل او عكسه فهل يعتبر ما قبل المسخ على ما قاله بعضهم عملا بالاصل او ما تحول اليه كما يدل عليه ما فى فتح البارى عن الطحاوى كل محتمل والاوجه اعتبار الممسوخ اليه ان بدلت ذاته بذات اخرى والا بان لم تبدل الا صفته فقط اعتبر قبل المسخ والا قرب اعتبار الاصل فى الادمى الممسوخ مطلقا كما يدل عليه الخبر. اهـ\rMenyewakan Mata Mayit kepada Orang yang Masih Hidup\rPertanyaan:\rBagaimana hukumnya menyewakan mata dengan memindah? Dan bagaimana pula hukum memindah mata mayit kepada orang yang masih hidup?\rJawaban:","part":1,"page":118},{"id":119,"text":"Hukum menyewakan dan memasang mata tersebut Tidak Sah/Haram. Dan hukum memindah mata mayit kepada orang hidup Haram pula, karena merusak kehormatan mayit.\rPengambilan ibarat:\rSulaiman al-Jamal, juz III, hal. 539\rAl-Majmu’, juz IX, hal. 45\rAhkamul Fuqoha`, juz III, hal. 59\rوفى سليمان الجمل، ج 3 ص 539، مانصه:\r(قوله ولا لقلع سن صحيحة) عبارة م ر فلا يصح استئجار لقطع او قلع ما منع الشرع من قطعه او قلعه من سن صحيحة وعضو سليم وان لم يكن من ادمى للعجر عنه شرعا انتهت. اهـ\rوفى المجموع، ج 9 ص 45، مانصه:\rوليس للغير ان يقطع من اعضائه شيئا ليدفعه الى المضطر بلا خلاف صرح به امام الحرمين. اهـ\rوفى احكام الفقهاء، ج 3 ص 59، مانصه:\rما قولكم فى افتاء مفتى الديار المصرية بجواز اخذ حداقة الميت لوصلها الى عين الاعمى هل هو صحيح اولا؟\rج: قرر المؤتمر بان ذلك الافتاء غير صحيح بل يحرم اخذ حداقة الميت ولو غير محترم كمرتد وحربى ويحرم وصله باجزاء الادمى لان ضرر العمى لايزيد على مفسدة انتهاك حرمات الميت كما فى حاشية المرشدى على ابن عماد صحيفة 26 ونصه:\rاما الادمى فوجوده حينئذ كالعدم كما قال الحلبى على المنهج ولو غير محترم كمرتد وحربى فيحرم الوصل به ويجب نزعه. اهـ ولقوله صلى الله عليه وسلم كسر عظم الميت ككسره حيا (رواه احمد فى المسند وأبو داود وابن ماجة) وعن عائشة: كسر عظم الميت ككسر عظم الحى فى الاثم (رواه ابن ماجة عن ام سلمة) حديث حسن. اهـ\rOperasi Penambalan Anggota Tubuh atau Ganti Ginjal\rDiskripsi masalah:","part":1,"page":119},{"id":120,"text":"Semakin pandai manusia dibidang ilmu kedokteran, semakin luas pula operasionalnya. Seperti penambalan anggota tubuh yang kurang disenangi dan ada juga penggantian buah ginjal yang pada umumnya semua ini diambilkan dari anggota tubuh orang yang masih hidup, baik dari diri sendiri atau dari orang lain, anaknya misalnya.\rPertanyaan:\rBagaimana hukum operasi penambalan tersebut?\rWajib ta’atkah si anak jika diminta buah ginjalnya?\rJawaban:\rOperasi sebagaimana yang tertera dalam pertanyaan tentu ada operasi pengambilan dan ada operasi pemasangan. Maka hukum operasi tersebut terperinci sebagai berikut:\rHukum operasi pengambilan, ditafsil:\rApabila diambil dari diri sendiri hukumnya boleh, jika bahaya pengambilan lebih ringan daripada bahaya anggota tubuh yang butuh penambalan, dan tidak ditemukan bahan lain yang patut (bisa) untuk menambal.\rApabila diambil dari orang lain yang masih hidup, maka hukumnya Haram tanpa khilaf.\rHukum operasi penambalan/pemasangan, juga ditafsil:\rApabila tidak ada hajat *) sebagaimana penambalan anggota tubuh yang kurang atau tidak disenangi, maka hukumnya Haram, sebab ada unsur taghyirul khilqoh (merubah bentuk asal anggota badan).\rApabila ada hajat *) maka hukumnya boleh, dengan urutan syarat sebagai berikut:\rDiambilkan dari hewan/selain manusia\rDiambilkan dari dirinya sendiri (dengan ketentuan sebagaiamana tertera pada masalah yang sudah mati, yang martabatnya lebih rendah atau yang sederajat.","part":1,"page":120},{"id":121,"text":"Bagi si anak tidak wajib taat, bahkan Haram, sebab taat di sini termasuk taat di dalam kemaksiatan.\r*) Catatan Mushohhih:\rYang dimaksud hajat dalam hal ini adalah hajat syariyah yaitu hajat lil ishlah (perbaikan) dan atau lit tadawiy (pengobatan).\rPengambilan ibarat:\rAl-Majmu’, juz IX, hal. 45\rJamal ar-Romliy, juz I, hal. 418\rFathul Jawad, hal. 26-27\rDalilul Falihin, juz IV, hal. 494\rIthafus Sadah, juz IV, hal. 321\rوفى المجموع، ج 9 ص 45، مانصه:\r(فرع) لو اراد المضطر ان يقطع قطعة من نفسه من فخذه او غيرها ليأكلها فان كان الخوف منه كالخوف فى ترك الاكل او اشد حرم القطع بلا خلاف وصرح به امام الحرمين وغيره والا ففيه وجهان مشهوران ذكرهما المصنف بدليليهما (اصحهما) جوازه وهو قول ابن سريج وابن إسحاق المروزى (والثانى) لايجوز اختاره ابو على الطبرى وصححه الرافعى فى المحرر والصحيح الاول. وممن صححه الرافعى فى الشرح والنسخ واذا جوزناه فشرطه ان لا يجد شيئا غيره فان وجد حرم القطع بلا خلاف ولا يجوز ان يقطع لنفسه من معصوم غيره بلا خلاف وليس للغير ان يقطع من اعضائه شيئا ليدفعه الى المضطر بلا خلاف صرح به امام الحرمين والاصحاب. اهـ\rوفى الجمل، ج 1 ص 418، مانصه:","part":1,"page":121},{"id":122,"text":"ولو وصل عظمه بقيد زدته لحاجة الى وصله بنجس من عظم (لايجوز للوصل غيره) هو اولى من قوله لفقد الطاهر عذر فى ذلك فتصح صلاته معه -إلى أن قال- (والا) بان لم يحتج او وجد صالحا غيره من غير ادمى وجب عليه نزعه اى النجس وان اكتسى لحما ان آمن من نزعه ضرارا يبيح التيمم ولم يمت (قوله من غير ادمى) واما الادمى فوجوده حينئذ كالعدم ولو غير محترم كمرتد وحربى فيحرم الوصل به ويجب نزعه ولو وجد عظما يصلح وعظم ادمى كذلك وجب تقديم النجس ولو من مغلظ وكلام الشارح كما ترى يفيد امتناع الجبر بعظم الادمى مع وجود الصالح من غيره ولو نجسا ويبقى مالو لم يوجد صالح غيره فيحتمل جواز الجبر بعظم الادمى الميت كما يجوز للمضطر اكل الميتة وان لم يخش الا مبيح التيمم فقط وقد يفرق بقاء العظم هنا فالامتهان دائم. اهـ\rوفى فتح الجواد، ص 26-27، مانصه:\rوقد يفرق بقاء العظم هنا فالامتهان دائم وجزم المدابغى على الخطيب بالجواز ونصه فان لم يصلح الاعظم الادمى قدم نحو الحربى كالمرتد ثم الذمى ثم المسلم. اهـ\rوفى دليل الفالحين، ج 4 ص 494، مانصه:\rوعن ابن مسعود رضى الله عنه قال: لعن الله الواشمات والمستوشمات والمتنمصات والمتفلجات للحسن المغيرات خلق الله الخ -إلى أن قال- قال المصنف وهذا الفعل حرام على الفاعلة وعلى المفعول بها لهذه الأحاديث ولانه تغيير لخلق الله ومحله ان فعلته للحسن اما لو احتاجت اليه لعلاج او عيب فلا بأس. اهـ\rوفى اتحاف السادة المتقين، ج 6 ص 321، مانصه:\rووجدت بخط القاضى القضاة تاج الدين السبكى ما نصه: مسئلة الذى اراه فى بر الوالدين وتحريم عقوقهما انه يجب طاعتهما فى كل ماليس بمعصية. اهـ\rPemisahan Bayi Kembar Siam\rDiskripsi masalah:","part":1,"page":122},{"id":123,"text":"Sering kita dengar berita seorang perempuan melahirkan bayi kembar siam yang adakalanya hidup dan adakalanya mati. Disamping itu sering juga dilakukan pemisahan bayi tersebut dengan alat medis yang serba canggih. Dari pemisahan ini ada yang berhasil hidup dan ada pula yang gagal sampai mati.\rPertanyaan:\rBagaimanakah hukumnya pemisahan bayi kembar siam tersebut?\rApabila mati, bagaimana cara merawat mayatnya?\rJawaban:\rHukum pemisahan bayi kembar tersebut adalah sebagai berikut:\rBila salah satunya mati dan mungkin untuk dipisahkan tanpa ada madlorot (bahaya) bagi yang hidup, maka hukumnya pemisahan adalah boleh bahkan Wajib.\rBila kedua-duanya hidup dan mungkin untuk dipisahkan tanpa ada madlorot, atau ada madlorot akan tetapi lebih ringan dari pada kalau tidak dipisahkan, maka hukum pemisahan juga Boleh bahkan wajib.\rApabila mati, maka cara merawatnya adalah sebagai berikut:\rJika hanya salah satunya yang mati, maka cara merawatnya ialah dipisahkan terlebih dahulu bila mungkin dan tidak mudlorot bagi yang hidup. Jika tidak mungkin, harus dirawat semampunya dan tidak usah ditanam sampai mayat tersebut lepas dari sendirinya atau sampai bisa dilepaskan.\rJika kedua-duanya mati, maka hukumnya tafsil:\rBila mungkin dipisahkan, sama juga satu jenis maupun berlainan, maka boleh (wajib) dipisahkan.\rBila tidak mungkin, maka perawatannya dilakukan dengan apa adanya, hanya saja dalam penguburan (penanaman) mayat yang laki-laki yang dihadapkan ke arah qiblat.\rPengambilan ibarat:\rNihayatul Muhtaj, juz II, hal. 474","part":1,"page":123},{"id":124,"text":"Mawahibus Saniyah, hal. 18-19\rوفى نهاية المحتاج، ج 2 ص 474، مانصه:\r(فائدة قال فى بسط الانوار لو ان شخصين ولدا معا ملتصقين ومات احدهما فان امكن فصله من الحى من غير ضرر يلحق الحى وجب فصله والا وجب ان يفعل بالميت الممكن من الغسل والتكفين والصلاة وامتنع الدفن لعدم امكانه وينتظر سقوطه فان سقط وجب دفن ما سقط وان ماتا معا وكانا ذكرين او انثيين غسلا معا وكفنا معا وصلينا عليهما معا ودفنا، هذا القول الظاهر ويحتمل ان يقال يجب فصلهما ان امكن وان كان ذكرا وانثى وامكن فصلهما فالظاهر وجوبه وان لم يمكن فعلنا ما امكن فعله ويراعى الذكر فى الاستقبال ونحوه والله اعلم. اهـ\rوفى المواهب السنية، ص 18-19، مانصه:\r(من تلك القواعد الضرر على الدوام لايزال بالضرر) اى لايزال ضرر امرئ بارتكاب امرئ اخر لان الخلق كلهم عيال الله تعالى فساوى بينهم فى الاحترام (لكنه) مع هذا قد يقع تعارض فى كون الضرر يزال وفى كونه لايزال بالضرر فمن ثم قال السبكى وغيره (استثنى مهما يكن فردهما) اى الضررين (اعظم ضررا فافطن) اى اعلم هذه الحقيقة فان كان ذلك اعنى متفاوتين (فانه ترتكب الذى يخف) منهما وذلك كمعسر عليه دين ليس معه زائد على قدره ومشروعية القصاص وقتال البغاة وقاطع الطريق ومسئلة الظفر وشق جوف المرأة اذا يرجى حياة جنينها ونحن ذلك (كذلك فى المفسد قد وصف) فاذا تعارض مفسدتان روعى اعظمهما ضررا ودليلنا بول الاعرابى فى المسجد. اهـ\rMengangkat Kandungan untuk Mencegah Kehamilan\rDiskripsi masalah:\rAda seorang ibu yang setiap melahirkan selalu dioperasi bedah kandungan (caesar). Maka oleh karena seringnya operasi, kemudian kandungannya diangkat agar tidak hamil lagi.\rPertanyaan:\rBagaimana hukum mengangkat kandungan tersebut?\rJawaban:","part":1,"page":124},{"id":125,"text":"Hukum mengangkat kandungan yang dapat memutuskan keturunan (tidak bisa hamil sama sekali) dan tidak ada darurat yang lebih besar menurut seorang ahli kandungan yang adil, adalah Tidak Diperbolehkan (Haram).\rPengambilan ibarat:\rTalkhishul Murod, hal. 274\rAl-Bajuri, juz I, hal. 175\rAdabul Islam, hal. 123\rوفى تلخيص المراد، ص 274، مانصه:\rأفتى ابن عبد السلام وابن يوسف بانه لايحل للمرأة ان تستعمل دواء يمنع الحبل ولو برضى الزوج. اهـ\rوفى الباجورى، ج 1 ص 175، مانصه:\rوكذا استعمال المرأة الشيئ يبطئ الحبل او يقطعه من اصله فيكره فى الأولى ويحرم فى الثانى. اهـ\rوفى أدب الاسلام، ص 123، مانصه:\rولا يجوز منع الحمل اذا كان القصد من ذلك خشية املاق لان الله تعالى هو الرزاق ذو القوة المتين وما من دابة فى الارض إلا على الله رزقها، اما اذا كان منع الحمل لضرورة محققة ككون المرأة لاتلد ولادة عادية وتضطر معها الى اجراء عملية جراحية لاخراج الولد او كان تأخيره لفترة ما لمصلحة يراها الزوجان لامانع حينئذ من منع الحمل او تأخيره عملا بما جاء فىالاحادث الصحيحة وما روى عن جمع من الصحابة رضوان الله عليهم من جواز العزل وتمشيا مع ماصرح به بعض الفقهاء من جواز شرب الدواء لالقاء النطفة قبل الاربعين بل قد يتعين منع الحمل فى حالة ثبوت الضرورة المحققة. اهـ\rMemindahkan Penyakit Manusia ke Hewan\rDiskripsi masalah:\rDari sekian metode pengobatan tradisional, ada tabib yang dapat memindahkan penyakit sesorang ke hewan (binatang).\rPertanyaan:\rBagaimanakah hukum memindahkan penyakit tersebut?\rJawaban:\rHukum memindahkan penyakit tersebut Boleh, dengan syarat:\rSangat dibutuhkan dan menjadi jalan terakhir untuk pengobatan dimaksud.","part":1,"page":125},{"id":126,"text":"Pasiennya muhtarom (dimulyakan syara’)\rPengambilan ibarat:\rNihayatul Muhtaj, juz II, hal. 21-22\rAl-Bajuri, juz I, hal. 34\rAl-Fiqhul Islami, juz III, hal. 522\rوفى نهاية المحتاج، ج 2 ص 21-22، مانصه:\r(ولو وصل عظمه) اى عند احتياجه له لكسر ونحوه (بنجس) من العظم ولو مغلظا لفقد الطاهر) الصالح لذلك (فمعذور) فيه -إلى أن قال- فقد نص فى المختصر بقوله ولا يصل الى ما انكسر من عظمه الا بعظم ما يؤكل لحمه ذكيا ويؤخذ منه انه لايجوز الجبر بعظم الادمى مطلقا فلو وجد نجسا يصلح وعظم ادمى كذلك وجب تقديم الاول.\r(قوله ولو وصل عظمه) ظاهره ولو كان الواصل غير معصوم لكن قيده حج بالمعصوم (قوله عند احتياجه) اى بان خشي مبيح التيمم ولو لم يصل به. اهـ حج (قوله وجب تقديم الاول) اى وان كان حيا فيجوز قطع عضوه مثلا ليصل بعظمه ولايجوز له العدول عنه الى عظم الادمى الميت لحرمته. اهـ\rوفى الباجورى، ج 1 ص 34، مانصه:\r(الميتة) -إلى أن قال- وما شك فى سيل دمه وعدمه فهل يجوز شق عضو منه او لا؟ قال بالاول الرملى تبعا للغزالى لانه لحاجة وقال بالثانى ابن حجر تبعا للامام الحرمين لما فيه من التعذيب. اهـ\rوفى الفقه الاسلامى، ج 3 ص 522، مانصه:\rواجاز الشافعى شق بطن الميت لاخراج ولدها وشق بطن الميت لاخراج مال منه -إلى أن قال- وبناء على هذا الآراء المبيحة يجوز التشريح عند الضرورة او الحاجة لقصد التعليم لاغراض طبية او لمعرفة سبب الوفاة واثبات الجناية على المتهم بالقتل ونحو ذلك لاغراض جنائية اذا توقف عليها الوصول الى الحق فى امر الجناية -إلى أن قال- كذلك يجوز تشريح جثة الحيوان للتعليم لان المصلحة فى التعليم تجاوز احساسها بالالم. اهـ\rMengembalikan Sihir Kepada yang Menyihir Tanpa Membunuh\rPertanyaan:","part":1,"page":126},{"id":127,"text":"Bagaimanakah hukum mengembalikan sihir kepada orang yang telah menyihirnya, dengan tidak sengaja membunuh, namun akhirnya sihir yang dikembalikan tersebut menyebabkan kematiannya.\rJawaban:\rHukumnya Haram.\rPengambilan ibarat:\rAl-Jamal alal Manhaj, juz V, hal. 168\rAs-Syarqowi, juz II, hal. 367\rوفى حاشية الجمل على المنهج، ج 5، ص 168، مانصه:\rوينبغى ان يعلم ان من دفع الصائل الدعاء عليه بكف شره عن المصول عليه وان كان بهلاكه وهو ظاهر ان غلب على الظن انه لايندفع الا بالهلاك وينبغى ان يعلم انه لو علم منه انه لايندفع شره الا بالسحر وكان المصول عليه او غيره يعرف ما يمنع الصائل عن صياله لم يجز لان السحر حرام لذاته حرام اهـ. فليتأمل ع ش\rوفى الشرقاوى، ج 2 ص 367، مانصه:\r(ويقاد بمثل فعل الجانى) ولو جائفة رعاية للمماثلة (او بسيف) لانه اسهل واسرع -إلى أن قال- (الا فى نحو وطء) مما يحرم فعله كسحر وسيف مسموم (فبسيف فقط) يقاد (قوله كسحر) لحرمة عمل السحر وعدم انضباطه. اهـ\rMenggunakan Obat/Suntik untuk Mencegah Kehamilan\rPertanyaan:\rBagaimana hukumnya wanita menggunakan obat atau suntik untuk mencegah kehamilan?\rJawaban:\rHukumnya tafsil:\rHaram, bila menyebabkan tidak hamil lagi.\rMakruh, apabila masih dapat hamil dan tidak ada udzur\rTidak Makruh, apabila masih dapat hamil dan ada udzur.\rPengambilan ibarat:\rAs-Syarqowi, juz II, hal. 332\rوفى الشرقاوى، ج 2 ص 332، مانصه:\rواما استعمال ما يقطع الحبل من اصله فهو حرام بخلاف ما لايقطعه بل يبطئه مدة فلا يحرم بل ان كان لعذر كتربية ولد لم يكره ايضا والا كره. اهـ\rMelepas Alat Bantu Pernafasan Hingga Pasien Mati\rDiskripsi masalah:","part":1,"page":127},{"id":128,"text":"Ada seorang pasien memakai alat bantu pernafasan yang menurut kata dokter apabila alat itu dilepas akan mengakibatkan kematiannya.\rPertanyaan:\rBagaimana hukum melepas alat tersebut?\rTergolong Pembunuhankah orang yang melepaskan?\rJawaban:\rApabila yang mengatakan dokter yang ahli (mahir) dan adil (adlur riwayah) atau tidak adil tapi yang diberitahu mempercayainya, maka hukum melepaskannya ditafsil:\rApabila pasien tersebut berhak dibunuh (sebagaimana kafir haroby, tarikus sholat, murtad yang tidak mau berf setelah disuruh bertaubat dan lain-lain) maka hukumnya Boleh.\rKalau tidak berhak dibunuh, maka hukumnya Tidak Boleh (Haram).\rApabila setelah alat itu dilepas ternyata mati, dan kematian itu menurut sang dokter yang ahli dan adil, disebabkan terlepasnya alat tersebut, maka orang melepaskan alat tersebut termasuk qotil (pembunuh).\rPengambilan ibarat:\rAl-Jamal, juz I, hal. 208\rAl-Iqna’, juz II, hal. 198\rAt-Ta’rifat, hal. 150\rوفى الجمل، ج 1 ص 208، مانصه:\rويعتمد خوف ما ذكر قول عدل فى الرواية، وفى ق ل على الجلال قوله عدل فى الرواية وهو البالغ العاقل الذى لم يرتكب كبيرة ولم يصر صغيرة وكالعدل فاسق ولو كافرا اعتقد صدقه.اهـ\rوفى الاقناع، ج 2 ص 198، مانصه:\rانقسام القتل الى الاحكام الخمسة واجب وحرام ومكروه ومندوب ومباح فالاول قتل المرتد اذا لم يتب والحربى اذا لم يسلم او يعط الجزية والثانى قتل المعصوم بغيرحق والثالث قتل الغازى قريبه الكافر والرابع قتله اذا سب احدهما والخامس قتل الامام الاسير اذا استوت الخصال. اهـ\rالتعريفات، ص 150\rالقتل هو فعل يحصل به زهوق الروح اهـ\rBAB QODLO` (KEPUTUSAN)","part":1,"page":128},{"id":129,"text":"Konsekuensi Hukum Indonesia dengan Hukum Islam\rPertanyaan:\rApakah hukum yang berlaku di Indonesia itu sudah dapat membebaskan tanggungan di akherat atau belum? Kalau dapat bagaimana konsekuensinya dengan hukum yang kurang sesuai dengan hukum Islam? Kalau belum, bagaimana agar orang Islam yang berbuat dapat bebas dari tanggungan?\rJawaban:\rJika hukum yang berlaku di Indonesia itu sesuai dengan hukum syara’, maka bisa menggugurkan tanggungan akherat. Oleh karena itu, bila seseorang dihukumi dengan hukum yang tidak sesuai dengan hukum syara’, maka agar bisa bebas dari tanggungan akherat harus taubat dengan taubatan nasuha (Perlu diketahui bahwa yang dimaksud hukum di sini adalah khusus hukum pidana).\rPengambilan ibarat:\rMajmu’atu Sab’atu Kutub, hal. 60\rAt-Tasyri’ul Jina`i, juz I, hal. 237\rAl-Bajuri, juz II, hal. 329\rوفى مجموعة سبعة كتب، ص 60، مانصه:\rالسياسة شرع مغلظ وهي نوعين سياسة ظالمة والشريعة تحرمها وسياسة عادلة تخرج الحق من الظالم وتدفع كثيرا من المظالم وتردع هل الفساد وتوصل الى المقاصد الشرعية فالشريعة توجب المصير اليها والاعتماد فى ظاهر الحق عليها. اهـ\rوفى التشريع الجنائى الاسلامى، ج 1 ص 237، مانصه:","part":1,"page":129},{"id":130,"text":"قلنا ان ما يخالف الشريعة من قانون اولائحة او قرار باطل بطلانا مطلقا لكن هذا البطلان لاينصب على كل نصوص القانون او اللائحة او القرار وانما ينصب فقط على النصوص المخالفة للشريعة دون غيرها لان اساس البطلان هو مخالفة الشريعة فلا يمتد البطلان منطقيا لما يوافق الشريعة من النصوص -إلى أن قال- واذا كان البطلان قاصرا على النصوص المخالفة للشريعة فان هذه النصوص لا تعتبر باطلة فى كل حالة وانما هى باطلة فقط فى الحالات التى تخالف فيها الشريعة صحصحة فى الحالات التى تتفق فيها مع الشريعة وليس هذا بمستغرب مادام اساس الصحة والبطلان راجع الى موافقة الشريعة او مخالفتها اذ العلة تدور مع المعلول وجودا وعدما. اهـ\rوفى الباجورى، ج 2 ص 329، مانصه:\rوشرعت الحدود زجرا عن ارتكاب ما يوجبها من المعاصى وقيل جبرا لذلك والاول مبنى على القول بان الحدود زواجر والثانى مبنى على القول بانه جوابر فاذا استوفيت فى الدنيا فلا يعاقب على المعاصى التى اقتضتها فى الاخرة لان الله اكرم من ان يعاقب على الذنب مرتين. اهـ\rPengurus Pondok Mengusir/Mengistirahatkan Santri\rDiskripsi masalah:\rPada umumnya pondok di Indonesia diwaqofkan untuk para santri yang hendak belajar ilmu agama. Dan sudah lazimnya di pondok pesantren tersebut ditetapkan qowanin al-asasiyah atau induk peraturan berikut sanksi pelanggarannya, sehingga para santri yang melanggar peraturan tersebut berulang kali akan dipulangkan (diusir).\rPertanyaan:\rBolehkah pengurus mengusir santri tersebut, sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan?\rApakah santri yang telah diusir masih berhak kembali lagi ke pondok tersebut?\rJawaban:","part":1,"page":130},{"id":131,"text":"Perlu diketahui bahwa nadhir pondok adalah Kyai, sedangkan pengurus adalah orang-orang yang telah diberi ijin oleh Kyai untuk mengurusi kebaikan dan kemajuan pondok. Oleh karena itu, jawaban pertanyaan di atas adalah sebagai berikut:\rPengurus diperbolehkan mengusir santri tersebut berdasarkan peraturan-peraturan yang telah disahkan oleh Kyainya.\rSantri yang telah dikeluarkan tersebut masih berhak kembali ke pondok lagi menimbang maslahah dan mafsadah.\rPengambilan ibarat:\rI’anatut Tholibin, juz III, hal. 186\rTalkhishul Murod, hal. 188\rوفى إعانة الطالبين، ج 3 ص 186، مانصه:\r(تنبيه) قال فى المغنى وقد يقتضى كلامه ان له العزل بلا سبب وبه صرح السبكى فى فتاويه فقال انه يجوز للواقف والناظر الذى من جهته عزل المدرس ونحوه اذا لم يكن مشروطا فى الوقف لمصلحة ولغير مصلحة لانه كالوكيل المأذون له فى اسكان هذه الدار لفقير فله ان يسكنها من شاء من الفقير مدة فله ان يخرجه ويسكن غيره لمصلحة ولغير مصلحة. اهـ\rوفى تلخيص المراد، ص 188، مانصه:\rيجب على ناظر الوقف خاصا او عاما فعل الاصلح وماهو أقرب الى أغراض الواقفين وان لم يصرحوا به اذا لم يخالف شرطهم. اهـ\rBAB ATH’IMAH (MAKANAN)\rBatas-batas Kekuatan Kuku dan Taring Hewan yang Haram\rPertanyaan:\rSampai dimanakah batas kekuatan kuku dan taring hewan yang sehingga mengakibatkan haram dimakan?\rJawaban:\rBatas-batas kuku dan taring yang mengakibatkan hewan itu haram dimakan, ialah: apabila kuku dan taring itu digunakan sebagai alat utama hewan tersebut untuk melumpuhkan mangsanya.\rPengambilan ibarat:\rKifayatul Akhyar, juz II, hal. 231\rAl-Qolyubi, juz IV, hal. 258","part":1,"page":131},{"id":132,"text":"وفى كفاية الاخيار، ج 2 ص 231، مانصه:\rكل ما كان من السباع له ناب يعدو به على الحيوان ويتقوى به فيحرم كالاسد والفهد والنمر ويحرم من الطيور ماله مخلب قوى يجرح به.\rوفى قليوبى وعميرة، ج 4 ص 258، مانصه:\r(قوله ناب) المعنى فيه من فريسته التى يكسرها بنابه وهي ميتة وكذا يقال فى ذى مخلب. اهـ\rOrang Nadzar Selamatan Ikut Makan Jamuan Selamatannya\rPertanyaan:\rBolehkah orang nadzar selamatan (manaqiban misalnya), ikut makan-makanan selamatan tersebut?\rJawaban:\rHukumnya ditafsil:\rOrang terebut Tidak Boleh ikut makan, begitu pula keluarganya yang wajib dinafaqohi, apabila nadzar tersebut nadzar mujazah (nadzar yang digantungkan atas berhasilnya sesuatu (munajjaz), seperti sembuhnya dari penyakit dan sesamanya).\rOrang tersebut boleh ikut makan, apabila nadzarnya nadzar tabarrur (nadzr yang tidak dgunakan sesuatu).\rPengambilan ibarat:\rAsnal Matholib, juz I, hal. 545\rAs-Syarqowi, juz I, hal. 516\rوفى أسنى المطالب، ج 1 ص 545، مانصه:\r(النوع الرابع الاكل) من الاضحية والهدى اى حكمه (فلا يجوز الاكل من دم وجب بالحج ولا من اضحية وهدى وجبا بنذر مجازة كان علق التزامها بشفاء المريض ونحوه لانه اخرج ذلك عن الواجب عليه فليس له صرف شيء منه الى نفسه كمالو اخرج زكاته (فلو وجبا بمطلق النذر) اى بالنذر المطلق ولو حكما بان لم يعلق التزامهما بشيء كقوله لله على ان أضحى بهذه الشاة او بشاة او اهدى هذه الشاة او شاة او جعلت هذه اضحية او هديا (اكل) جوازا (من المعين) ابتداء (كالتطوع دون الملتزم فى الذمة) فلا يجوز اكله. اهـ\rوفى الشرقاوى، ج 1 ص 516، مانصه:","part":1,"page":132},{"id":133,"text":"(هو نوعان) احدهما (نذر مجازاة وهو ما علق بجلب نعمة او دفع نقمة) كان شفى الله مريضى او ذهب عنى كذا فلله علىّ او فعلىّ كذا (وثانيهما نذر تبرر وهو بخلافه) اى حالا يعلق بشيء (فيجب الوفاء به حالا) والاول عند حصول المعلق به (قوله او فعلى كذا) او فكذا لازم لى او يلزمنى -إلى أن قال- ولو قال على ان اعمل مولدا للنبى صلى الله عليه وسلم او ليلة للفقراء لزمه ذلك حيث اراد حقيقة النذر فيحرم عليه وعلى من تلزمه نفقته اكل شيء منه اللهم الا ان يعين قدر المنذور فيزيد عليه لاجل اكله او اكل عياله مثلا. اهـ\rHukumnya Bekicot dalam Islam\rPertanyaan:\rBagaimana hukumnya “bekecot” menurut pandangan syara’?\rJawaban:\rHukumnya Haram, karena termasuk hewan yang dibilang menjijikkan (mustahbats).\rPengambilan ibarat:\rAl-Jamal alal Manhaj, juz V, hal. 269\rHayatul Hayawan, juz I, hal. 227\rوفى الجمل على المنهج، ج 5 ص 269، مانصه:\rوصرحوا بانه من انواع الصدف كالسلحفات والحلزون ولاشك انه مستحبث.\rوفى حياة الحيوان الكبرى، ج 1 ص 237، مانصه:\r(الحلزون) دون فى جوف انبوبة حجرة يوجد فى سواحل البحار وشطوط الانهار هذه الدودة تخرج بنصف بدنها من جوف تلك الانبوبة الصدفية وتمشى يمنة ويسرة تطلب مادة تغتذى بها فاذا احست بلين او رطوبة انبسطت اليها واذا احست بخسونة او صلابة انقبضت وغاصت فى جوف الانبوبة الصدفية حذرا من المؤذى لجسمها واذا انسابت جرت بيتها معها. (وحكمه) التحريم لاستخباثه وقد قال الرافعى فى السرطان انه يحرم لما فيه من الضرر ولانه داخل فى عموم تحريم الصدف. اهـ\rBAB MASAIL SYATTA (LAIN-LAIN)\rMendatangi dan Mempercayai Dukun\rDiskripsi masalah:\rSeringkali datang ke juru bade (dukun) untuk menanyakan halnya.\rPertanyaan:","part":1,"page":133},{"id":134,"text":"Bagaimana hukum orang tersebut, mempercayai jawaban juru bade/dukun tesebut?\rBagaimana pula hukum dukun atas jawabannya?\rJawaban:\rHukum mempercayai dukun tersebut ditafsil:\rBoleh bila orang tersebut mempunyai i’tiqad (keyakinan) bahwa yang menentukan segala sesuatu itu adalah Alloh swt.\rTidak Boleh (Haram) bila orang tersebut berkeyakinan bahwa yang menentukan segala sesuatu itu adalah apa yang dikatakan dukun tersebut.\rHukum dukun atas jawabannya, ditafsil:\rBoleh bila dukun tersebut hanya memberikan ramalan, dan diapun mempunyai i’tikad bahwa yang menentukan sesuatu itu adalah Alloh swt.\rTidak Boleh (Haram) bila dia memberikan ramalan dan beri’tikad bahwa ramalan itulah yang menentukan segala sesuatu itu.\rPengambilan ibarat:\rHamisy Bughyatul Mustarsyidin, hal. 206\rFatawi Romli, hal. 372\rوفى هامش بغية المسترشدين، ص 206، مانصه:\r(مسئلة) اذا سئل رجل آخر هل ليلة كذا او يوم كذا يصلح للعقد او النقلة فلا يحتاج الى جواب لان الشارع نهى عن اعتقاد ذلك وزجر عنه زجرا بليغا فلا عبرة بمن يفعله وذكر ابن الفركاح عن الشافعى انه ان كان المنجم يقول ويعتقد انه لايؤثر الا الله ولكن اجرى الله العادة بأنه يقع كذا عند كذا والمؤثر هو الله عز وجل، فهذا عندى لابأس به وحيث جاء الذم يحمل على من يعتقد تأثير النجوم وغيرها من المخلوقات. اهـ\rوفى فتاو الرملى، ص 372، مانصه:\rمن اتى عرافا او كاهنا فصدقه فقد كفر بما انزل على محمد. الحديث (قوله فصدق بما يقول) اى انه سئله معتقدا صدقه (قوله فقد كفر بما انزل على محمد) من الكتاب والسنة اى ارتكب ذلك مستحلاله او صدقه فيما قال على الحقيقة وقال فى النهاية فقد كفر اى كفر النعمة. اهـ","part":1,"page":134},{"id":135,"text":"Hukum Menonton Televisi dan Sejenisnya\rPertanyaan:\rBagaimana hukumnya melihat televisi?\rJawaban:\rHukumnya boleh, apabila tidak menimbulkan fitnah dan syahawat dan tidak terdapat campur antara laki-laki dan perempuan lain.\rPengambilan ibarat:\rAt-Tuhfah, juz VII, hal. 192\rIs’adur Rofiq, juz II, hal. 68\rوفى التحفة، ج 7 ص 192، مانصه:\rخرج مثالها اى العورة فلا يحرم نظره فى نحو مرأة كما أفتى به غير واحد ويؤيده قولهم لو علق الطلاق برؤيتها لم يحنث برؤية خيالها فى نحو مرأة لانه لم يرها ومحل ذلك اى عدم حرمة نظر المثال كما هو ظاهر حيث لم يخش فتنة ولا شهوة -إلى أن قال- وكذا عند النظر بشهوة بأن يلتذبه وان امن الفتنة قطعا. (قوله من داعية نحو مس الخ) يؤخذ منه ان ضابط خوف الفتنة ان تدعوه نفسه الى مس لها او خلوة بها. اهـ\rوفى اسعاد الرفيق، ج 2 ص 68، مانصه:\rمن اقبح المحرمات واشد المحظورات اختلاط الرجال بالنساء لما يترتب على ذلك من الفساد والفتن القبيحة. اهـ\rMemakai Sarung Samarinda Bercap ‘100% sutera asli’\rPertanyaan:\rBagaimana hukumnya memakai sarung samarinda yang sudah ada capnya ‘100% sutera asli’?\rJawaban:\rHukumnya ditafsil:\rHaram, bila sarung tersebut benar-benar sesuai dengan capnya, atau dicampur dengan bahan lain yang sutranya lebih banyak kadar beratnya.\rHalal, bila benar-benar sutranya tidak melebihi bahan campurannya, atau masih diragukan, dan begitu juga apabila diragukan tentang sarung tersebut, apakah benar-benar terbuat dari sutera atau tidak.\rPengambilan ibarat:\rFathul Allam, juz III, hal 94\rTarsyihul Mustafidin, hal. 122\rوفى فتح العلام، ج 3 ص 94، مانصه:","part":1,"page":135},{"id":136,"text":"ويحرم على الرجل لبس الحرير قزا كان وهو ما قطعته الدودة وخرجت منه حية او ابريسما وهو ما ماتت فيه الدودة وحل عنها بعد الموت -إلى أن قال- ويحرم ايضا ما اكثره من الحرير وزنا لاظهورا بخلاف ما اقله من الحرير وزنا او استوى فيه الحرير وغيره فلا يحرم ولو شك فى كثرة الحرير او غيره او استوائهما حرم عند الرملى وقيل يحل.\rوفى ترشيح المستفدين، ص 122، مانصه:\rولو شك فى الاكثر فالاصل الحل على الاوجه (قوله فالاصل الحل) -إلى أن قال- بقى مالو شك فيه هل هو حرير او غير حرير لاختلاف اهل الخبرة فيه كاللابس المعروف الان الذى كثر استعماله فى الرجال على اختلاف انواعه فهل يجرى فيه خلاف ابن حجر والرملى عند الشك فى اكثرية الحرير على المخلوط به او يقال بحرمته مطلقا او حله مطلقا ولم ار فيه شيئا والا وفق بما اختاره جمهور ائمتنا وجمهور الحنفية كما فى رد المختار من ان الاصل فى الاشياء الاباحة الثالث فليرجع اليه عند الشك فى ذلك مالم يقم نص على خلافه وهو الذى يسع الناس الان. اهـ\rMemuat Aib Seseorang di Koran atau Media Cetak Lainnya\rPertanyaan:\rBagaimana hukum memuat aib seseorang di surat kabar atau media cetak lainnya? Dan bagaimana pula hukum membacanya?\rJawaban:\rHukum memuat aib orang lain tersebut adalah Haram, kecuali jika tidak dinyatakan orangnya atau mereka tergolong orang yang boleh dibuka rahasianya menurut syara’ seperti kafir haroby atau orang fasiq yang menampakkan kefasikannya, dengan tujuan agar dengan hal tersebut dapat menjauhkan masyarakat (para pembaca) dari pembuatan itu.\rHukum membacanyapun Haram, apabila si pembaca tidak ingkar (rela) akan pembuatan tersebut.\rPengambilan ibarat:","part":1,"page":136},{"id":137,"text":"I’anatut Tholibin, juz IV, hal. 284\rSyarah Sullam Taufiq, hal. 68\rIs’adur Rofiq, juz II, hal. 50\rوفى إعانة الطالبين، ج 4 ص 284، مانصه:\rوهى اى الغيبة ذكرك ولو بنحو اشارة غيرك المحصور المعين ولو عند بعض المخاطبين بما يكره عرفا. (قوله ولو بنحو اشارة) دخل تحت نحو الغمز والكتابة والتعرض (قوله غيرك) والمراد بالغير ما يعم المسلم والذمى -إلى أن قال- واما الحربى فليس بمحرم (قوله المحصور المعين) وخرج بذلك غير المعين كان يذم البخلاء او المتكبرين او المرائين ويتعرض لهم بالتنقيص من غير تعيين احد منهم فهذا لايعد غيبة، -إلى أن قال- (واعلم) ان اصل الغيبة الحرمة، وقد تباح لغرض صحيح شرعى لايتوصل اليه الا بها وينحصر فى ستة اسباب وقد تقدم الكلام عليها لكن يحسن ذكرها هنا ايضا وهى التظلم فلمن ظلم بالبناء للمجهول ان يشكو لمن يظن ان له قدرة على ازالة ظلم او تخفيفه والاستعانة على تغيير منكر يذكره لمن يظن قدرته على ازالته -إلى أن قال- وتحذير المسلمين من الشر ونصحهم كجرح الرواة والشهود والتجاهر وبالفسق فيجوز ذكر المتجاهر بما تجاهر به دون غيره. اهـ\rوفى شرح سلم التوفيق، ص 68، مانصه:\rقال الغزالى وحد النميمة كشف ما يكره كشفه سواء كان الكشف بالقول او بالكتاب او بالرمز او بالايماء -إلى أن قال- بل حقيقة النميمة افشاء السر وهتك الستر عما يكره كشفه بل كل ما رآه الانسان من احوال الناس فينبغى ان يسكت عنه الا فى حكايته فائدة لمسلم او دفع لمعصية. اهـ\rوفى اسعاد الرفيق، ج 2 ص 50، مانصه:\r(ومنها الفرح بالمعصية) والرضا بها سواء صدرت (منه او صدرت من غيره) من خلق الله، لان الرضا بالمعصية معصية بل هو من الكبائر كما فى الزواجر. اهـ\rBatas-batas Qot’ur Rohim (Memutus Tali Persaudaraan)\rPertanyaan:","part":1,"page":137},{"id":138,"text":"Sampai dimanakah batas-batasnya ‘qoth’ur Rohim’ (memutuskan persaudaraan)?\rJawaban:\rBatas-batas ada beberapa pendapat ulama yaitu:\rMengerjakan kejelekan kepada kerabat.\rMeninggalkan kebaikan kepada kerabat.\rMemutus kebiasaan-kebiasaan yang sudah dilakukan tanpa ada udzur syar’i.\rPengambilan ibarat:\rIs’adur Rofiq, juz II, hal. 117\rوفى اسعاد الرفيق، ج 2 ص 117، مانصه:\r(ومنها قطعية الرحم) واختلف فى المراد بها وقيل ينبغى ان تختص بالإساءة وقيل لا بل ينبغى ان تتعدى الى ترك الاحسان اذ الأحاديث آمرة بالصلة ناهية عن القطيعة ولا واسطة بينهما والصلة ايصال نوع من انواع الاحسان والقطعية ضدها فهو ترك الاحسان واستوجه فى الزواجر ان المراد بها قطع ما الفه القريب من سابق لغير عذر شرعى لان قطعه يؤدى الى ايحاش القلوب وتنفيرها. اهـ\rBerkumpulnya Siswa-siswi dalam Kelas Tanpa Satir\rDiskripsi masalah:\rDalam lembaga pendidikan, kebanyakan siswa-siswinya berkumpul dalam satu ruang tanpa adanya satir (pembatas).\rPertanyaan:\rAdakah batas-batas yang memperbolehkan kumpulnya siswa-siswi dalam satu ruang tersebut?\rJawaban:\rTidak ada batas-batas yang memperbolehkan.\rPengambilan ibarat:\rIs’adur Rofiq, juz II, hal. 68\rDala’ilul Ahkam, juz II, hal. 230\rAl-Bajuri, juz II, hal. 99\rوفى اسعاد الرفيق، ج 2 ص 68، مانصه:\rمن اقبح المحرمات واشد المحظورات اختلاط الرجال بالنساء لما يترتب على ذلك من الفساد والفتن القبيحة. اهـ\rوفى دلائل الاحكام، ج 2 ص 230، مانصه:","part":1,"page":138},{"id":139,"text":"واما المرأة مع الرجل الاجنبى فان كان حرة فجميع بدنها عورة فى حق الرجال الا انه يجوز ان ينظر الى الوجه والكفين والكوعين لقوله تعالى الا ماظهر منها قال المفسرون هو الوجه والكفان. (قوله الا انه يجوز ان ينظر الخ) والذين قالوا هذا استرطوا أمن الفتنة. اهـ\rوفى الباجورى، ج 2 ص 99، مانصه:\r(قوله الى الاجنيبية) اى الى شيء من امرأة أجنبية اى غير محرم ولو امة وشمل ذلك وجهها وكفيها فيحرم النظر اليها ولو من غير شهوة او خوف فتنة على الصحيح -إلى أن قال- وقيل لايحرم لقوله تعلى ولا تبدين زينتهن الا ماظهر منها وهو مفسر بالوجه والكفين والمعتمد الاول ولا بأس بتقلد الثانى. اهـ\rHukum Menjadi Panitia Menyambut Hari Natal\rDiskripsi masalah:\rDalam rangka membentuk toleransi beragama, ada orang Islam yang berpendapat bahwa orang muslim boleh menjadi panitia perayaan Natal (misalnya: Panitia Lomba menyambut Natal dan Tahun Baru), dengan alasan bahwa kegiatan tersebut bukan ritual kegiatan keagamaan.\rPertanyaan:\rBagaimana hukum orang Islam yang berpendapat sebagaimana tersebut di atas?\rJawaban:\rHukumnya Haram.\rPengambilan ibarat:\rAs-Syarqowi, juz II, hal. 414\rIs’adur Rofiq, juz II, hal. 93\rوفى الشرقاوى، ج 2 ص 413-414، مانصه:\r(ويمنعون) وجوبا (من اظهار منكر بيننا) كإظهار حمل خمر وادخال خنزير كنيسة او بيعه او اسماعهم ايانا قولهم الله ثالث ثلاثة واعتقادهم فى عزير ولمسيح عليهما الصلاة والسلام وصوت ناقوس واظهار عيد -إلى أن قال- فان اظهروا شيئا مما ذكر عزروا وان لم يشرط فى العقد، ويعزر ملسم وافقهم فى اعيادهم وبالغ بعض الحنفية فقال: من اهدى فيه بيضة الى مشرك تعظيما لليوم فقد كفر بالله تعالى. اهـ\rوفى اسعاد الرفيق، ج 2 ص 93، مانصه:","part":1,"page":139},{"id":140,"text":"ومنها كل قول يحث احدا من الخلق على فعل او قول شيئ او استماع الى شيئ محرم فى الشرع الخ. اهـ\rBerjabat Tangan atau Mengucap ‘Mohon Maaf atas Segala Dosa\rPertanyaan:\rApakah dosa ‘hak adami’ bisa gugur hanya dengan berjabatan tangan atau mengucapkan mohon maaf atas segala dosa saja?\rJawaban:\rBelum cukup/tidak bisa gugur, kecuali dengan menerangkan kesalahan-kesalahannya dengan terperinci dan minta halal (maaf) nya.\rPengambilan ibarat:\rAl-Hawi lil Fatawi, juz I, hal. 109\rKasyifatus Saja, hal. 15\rوفى الحاوى للفتاوى، ج 1 ص 109، مانصه:\rاعلم ان كل من ارتكب معصية لزمه المبادرة الى التوبة منها والتوبة من حقوق الله يشترط فيها ثلاثة أشياء ان يقلع عن المعصية فى الحال وان يندم على فعلها وان يعزم ان لا يعود اليها، والتوبة من حقوق الادميين يشترط فيها هذه الثلاثة ورابع وهو رد الظلامة الى صاحبها وطلب عفوه عنها والابراء منها فيجب على المغتاب التوبة الامور الاربعة لان الغيبة حق ادمى ولابد من استحلاله من اغتابه وهو يكفيه ان يقول قد اغتبتك فاجعلنى فى حل ام لابد ان يبين ما اغتابه به؟ فيه وجهان لاصحابنا: احدهما يشترط بيانه فان ابرأه من غير بيانه لم يصح كما لو ابرأه من مال مجهول. والثانى لايشترط لان هذا مما لايتسامح فيه ولا يشترط علمه بخلاف المال. والاول اظهر لان الانسان قد يسمح بالعفو عن غيبة دون غيبة. اهـ\rوفى كاشفة السجا، ص 15، مانصه:\rوهذا ان لم تتعلق المعصية بالادمى فان تعلقت به فلها شرط رابع وهو رد الظلامة الى صاحبها او تحصيل البرأة منه تفصيلا لا إجمالا. اهـ","part":1,"page":140}],"titles":[{"id":1,"title":"PP. MUS MajmuatulAhkam tahun 66-94 (119 masalah agama)","lvl":1,"sub":0}]}