{"pages":[{"id":1,"text":"Hasil Keputusan\rBAHTUL MASAIL KEMERDEKAAN\rSE JAWA MADURA\rPondok Pesantren Karangpanas\r(BMK)\rJl. Raya Bromo Pondok Pesantren Karangpanas Kec. Pasrepan Kab. Pasuruan 67175 Jawa Timur\rJalsah Ula\rSabtu 16 Agustus 2025\rPERUMUS…MUSHOHIH\r1.…Ust. Irfan Hasani…1.…Ust. Musyaffak\r2.…Ust. Thoha…2.…Ust. Sholeh Romli\r3.…Ust. Abd. Mujib Ammari……\rMODERATOR…NOTULEN\r1.…Ust. Hasanuddin…1.…Miftahul Munir\r……2.…Irfan Arif\rMEMUTUSKAN\r1.…Kritik melalui VEO 3 (Sail : PP. Lirboyo)\rDeskripsi Masalah:\r…Di Indonesia, sebagai negara demokrasi, masyarakat memiliki hak untuk menyuarakan pendapat dan mengkritik pemerintah. Salah satu cara yang efektif untuk menyampaikan kritik adalah melalui media, karena banyak masyarakat yang merasa bahwa kritik melalui media lebih efektif daripada melakukan unjuk rasa. Perkembangan teknologi media saat ini telah memungkinkan masyarakat untuk menyampaikan kritik dengan cara yang lebih kreatif dan efektif.\r…Salah satu platform media yang populer digunakan untuk mengkritik dan menyampaikan pendapat adalah VEO 3. Platform ini memungkinkan pengguna untuk membuat video pendek yang menarik dan realistis tanpa memerlukan aktor atau produksi yang rumit. Banyak masyarakat yang menggunakan VEO 3 sebagai sarana untuk menyampaikan kritik dan candaan tentang isu-isu yang relevan, seperti korupsi di pemerintahan.","part":1,"page":1},{"id":2,"text":"…Video-video pendek yang dibuat dengan VEO 3 seringkali menggunakan karakter fiksi untuk menggambarkan pejabat pemerintahan yang korup, seperti anggota DPR dan KPK. Meskipun wajah dan nama yang digunakan bukanlah wajah dan nama asli dari pejabat tersebut, esensi dari video tersebut adalah untuk menyampaikan kritik dan pesan yang jelas tentang isu korupsi. Dengan demikian, VEO 3 telah menjadi sarana yang efektif bagi masyarakat untuk menyampaikan pendapat dan kritik tentang isu-isu yang relevan.\rPertanyaan\ra.…Bagaimana hukum menggunakan VEO 3 dalam rangka mengkritik pemerintah sebagaimana dalam deskripsi?\rJawaban\rTidak dapat dibenarkan dengan pertimbangan sebagai berikut:\r1.…Tidak sesuai dengan konsep Amar Makruf Nahi Mungkar\r2.…Termasuk Ghibah yang diharamkan\rإحياء علوم الدين ومعه تخريج الحافظ العراقي ج 3 / ص 370\rالباب الرابع في أمر الأمراء والسلاطين ونهيهم عن المنكر قد ذكرنا درجات الأمر بالمعروف وأن أوله التعريف وثانيه والوعظ وثالثه التخشين في القول ورابعه المنع بالقهر في الحمل على الحق بالضرب والعقوبة والجائز من جملة ذلك مع السلاطين الرتبتان الأوليان وهما التعريف والوعظ وأما المنع بالقهر فليس ذلك لآحاد الرعية مع السلطان فإن ذلك يحرك الفتنة ويهيج الشر ويكون ما يتولد منه من المحذور أكثر وأما التخشين في القول كقوله يا ظالم يا من لا يخاف الله وما يجري مجراه فذلك إن كان يحرك فتنة يتعدى شرها إلى غيره لم يجز وإن كان لا يخاف إلا على نفسه فهو جائز بل مندوب إليه\rالأخلاق الزكية في آداب الطالب المرضية\rالمؤلف: أحمد بن يوسف بن محمد الأهدل","part":1,"page":2},{"id":3,"text":"نقل الحافظ ابن حجر في الفتح كلام القرطبي حيث قال: «في الحديث جواز غيبة المعلن بالفسق أو الفحش ونحو ذلك من الجور في الحكم والدعاء إلى البدعة مع جواز مداراتهم اتقاء شرهم ما لم يؤد ذلك إلى المداهنة في دين الله تعالى، ثم قال تبعا لعياض: والفرق بين المدارة والمداهنة أن المداراة\rتحفة الحبيب على شرح الخطيب (ج 4 / ص (155)\rقوله : ( وفسق ظاهر ( أي إن غيبة الفاسق تباح بثلاثة شروط ؛ الأول : أن يَتَجَاهَرَ بحيث لا يبالي من إطلاع الناس عليه . والثاني : أن يذكره بما يتجاهر به فقط حتى لو ذكره بغيره ولو كان فيه كان غيبة محرمة . والثالث : أن يذكر ذلك لأجل نصح النَّاسِ وَتَباعُدِهِمْ عَنْهُ لا لحظ نَفْسِهِ وَلَا لِكراهية فيه ولا لازدرائه وتنقيصه والا كان غيبة محرمة شيخنا الحفناوي . وعبارة م ر : ومجاهرة بفسق أو بدعة بأن لم يبال ما يقال فيه من جهة ذلك الخلعه جلباب الحياء فسقطت حرمته لكن لا يذكر بغير ما تجاهر به اه ، بأن تجاهر بالمكس فيقال فلان مكاس أو تجاهر يشرب الخمر فيقال فلان شارب الخمر .\r2.…Dewa-dewi (Sail : PP. Al-Falah Ploso)\rDeskripsi Masalah\r…Kembar siam adalah kondisi langka di mana dua bayi lahir dalam keadaan tubuh mereka menyatu satu sama lain. Ini terjadi saat dalam proses awal kehamilan. janin kembar identik tidak sepenuhnya terpisah saat membelah dari satu sel telur. Jadi, alih-alih menjadi dua individu yang terpisah, mereka tetap terhubung di bagian tubuh tertentu. Organ yang berbagi fungsi, kadang berbeda. Kadang mereka berbagi hati, usus, atau bahkan jantung.\r…Penyebab pastinya kenapa pembelahan itu gagal sempurna masih belum diketahui dengan jelas, tapi diyakini berkaitan dengan faktor genetik atau lingkungan saat perkembangan awal embrio.","part":1,"page":3},{"id":4,"text":"…Jenis-jenis kembar siam berdasarkan bagian yang menyatu, misalnya :\rTorakopagus : Menyatu di dada, bisa berbagi jantung.\rOmphalopagus : Menyatu di perut.\rCraniopagus : Menyatu di kepala.\rPygopagus : Menyatu di punggung bagian bawah atau tulang ekor.\r…Penanganannya, tergantung kondisi mereka. Kadang dokter melakukan operasi pemisahan, tapi risikonya besar, terutama kalau organ vitalnya berbagi. Kadang juga, mereka hidup berdampingan seumur hidup.\r…Di sebuah desa, lahirlah 2 orang lawan jenis yang terlahir dengan tidak normal yakni kembar siam, mereka bernama Dewa dan Dewi. Mereka telah melewati hidup bersama sepanjang hari selama 10 tahun hingga sekarang. Saat ini mereka sudah memasuki usia baligh dan harus mulai belajar ilmu agama seperti wudhu, sholat, puasa dll. Terlebih bagi Dewi yang saat ini sudah melewati masa-masa menstruasi maka dia harus lebih paham dengan ilmu agama.\rPertanyaan\ra.…Apakah Dewa dan Dewi wajib untuk melakukan operasi memisahkan diri?\rb.…Bila salah satunya haid, kemudian yang satunya ingin melaksanakan salat, dihukumi sahkah salatnya?\rc.…Jika salah satunya tersentuh lawan jenis, apakah wudhu satunya juga batal?\rJawaban\ra.…Mauquf, Karena tidak di temukan konsep Persoalan kembar siam dalam fikih salaf\rb.…Jawaban Khilaf dengan perincian sebagai berikut:\rMenurut Imam Abu Ali as-sandi hukum Sholatnya sah sedangkan menurut Imam Quffal tidak sah\rالبيان في مذهب الإمام الشافعي\r)فرع حمل الحيوان في الصلاة(\r] وإن حمل المصلي حيوانًا نجسًا، كالكلب والخنزير. . لم تصح صلاته؛ لأنه حامل لنجاسة غير معفو عنها.","part":1,"page":4},{"id":5,"text":"وإن كان الحيوان طاهرًا، ولا نجاسة عليه. . صحت صلاته؛ لـ: «أن النبي ? حمل أمامة ابنة أبي العاص، وهو يصلي» .ولأن النجاسة في جوف الحيوان لا حكم لها، كالنجاسة التي في جوف المصلي.\rوإن حمل المصلي رجلا استنجى بالأحجار. . ففيه وجهان:\r[الأول]: قال أبو علي السنجي: تصح صلاة الحامل، كما لو حمل حيوانًا في بطنه نجاسة. ولأنه لما عفي عن ذلك في حق المستنجي. . عفي عنه في حق من حمله.\rو[الثاني]: قال القفال: لا تصح صلاة الحامل. وهو الأصح؛ لأنه حامل لنجاسة لا حاجة به إليها، فلم تصح، كما لو حمل نجاسة في كمه. ويخالف نجاسة الحيوان التي في بطنه؛ لأنه لا حكم لها. ويخالف أيضًا أثر الاستنجاء في حق المستنجي بنفسه؛ لأنه مضطر إلى ذلك.\rقال الطبري: فهو كدم البراغيث، يعفى عنه في الثوب، فلو لبس ذلك الثوب، وبدنه رطب. . لم يعف عنه؛ لأنه لا ضرورة به إلى ذلك.\rإعانة الطالبين - (1 / 106)\rوقوله من حمل مستجمر أي مستنجيا بالحجر\rقال ع ش ومثل الحمل ما لو تعلق المستجمر بالمصلي أو المصلي المستجمر فإنه تبطل صلاته ووجه البطلان فيهما اتصال المصلي بما هو متصل بالنجاسة\rويؤخذ منه أن المستنجي بالماء إذا أمسك مصليا مستجمرا بطلت صلاة المستجمر لأن بعض بدنه متصل بيد المستنجي بالماء ويده متصلة ببدن المصلي المستجمر بالحجر فصدق عليه أنه متصل بمتصل نجس وهو نفسه لا ضرورة لاتصاله به\rاه\rc.…Idem\rJalsah Tsani\rSabtu 17 Agustus 2025\rPERUMUS…MUSHOHIH\r1.…Ust. Irfan Hasani…1.…Ust. Sholeh Romli\r2.…Ust. Thoha……\r3.…Ust. Abd. Mujib Ammari……\rMODERATOR…NOTULEN\r1.…Ust. Ach. Fakhrul Islam…1.…Miftahul Munir\r……2.…Irfan Arif\rMEMUTUSKAN\r3.…Kecelakaan Kapal Laut (Sail : PP. As-Sunniyah Kencong)\rDeskripsi Masalah","part":1,"page":5},{"id":6,"text":"…Keselamatan pelayaran di lintasan Ketapang-Gilimanuk menghadapi persoalan serius. Beberapa kapal tidak memenuhi standar keamanan. Febri, mantan pegawai loket, mengungkapkan bahwa beberapa kapal di lintasan Ketapang-Gilimanuk tidak memenuhi standar keamanan. la menyebut ada kapal yang kekurangan pelampung, menggunakan mesin tua, dan sudah usang. Hal ini terjadi karena tidak semua kapal dikelola BUMN; sebagian milik swasta atau perorangan.\r…Dekan Teknologi Kelautan ITS, Setyo Nugroho, menyatakan bahwa 80% dari 200 kecelakaan kapal terbalik atau tenggelam disebabkan pemuatan yang tidak baik, seperti pendataan dan penataan kendaraan dan barang yang tidak akurat. la menekankan bahwa kecelakaan kapal biasanya dipicu gabungan faktor pemuatan, teknis kapal yang tidak layak, dan kondisi alam. Investigasi 2020-2024 menunjukkan 56% kecelakaan terjadi karena masalah teknis, 40% akibat human error, dan hanya 4% karena cuaca buruk.\rCatatan:\r•…Pihak yang paling berperan dalam menentukan pemberangkatan kapal adalah Syahbandar.\r•…Syahbandar memiliki kewenangan utama mengeluarkan Surat Persetujuan Berlayar (SPB). Tanpa SPB, kapal tidak boleh diberangkatkan.\r•…Sebelum menerbitkan SPB, Syahbandar mengecek kelayakan kapal, kondisi cuaca, kelengkapan alat keselamatan, manifest penumpang, dan kepatuhan terhadap standar pemuatan.\rPertanyaan\ra.…Apa hukum kesengajaan pengelola pelabuhan dalam melebihi muatan kapal atau menggunakan kapal ferry yang bermesin tua yang berpotensi besar menyebabkan kecelakaan?\rJawaban","part":1,"page":6},{"id":7,"text":"a.…Pengelola tidak diperbolehkan membiarkan aktivitas pelayaran jika kemungkinan besar akan terjadi kecelakaan dan tidak sesuai dengan aturan pemerintah.\rالحاوي الكبير» (4/ 18):\rقال الماوردي: أما أهل البر إذا تعذر عليهم ركوب البر لخوف فيه، أو مانع وأمكنهم ركوب البحر، فليس عليهم ركوبه، وفرض الحج ساقط عنهم ما كانت هذه حالهم لما يعترضهم في البحر من عظيم الخوف، ومن قوله - صلى الله عليه وسلم - \" البحر نار في نار \" وأما سكان البحر ومن لا طريق له في البر، فركوب البحر يلزمهم في الحج إذا أمكنهم سلوكه، وكان غالبه السلامة فإذا اعترضهم الخوف فهم كأهل البر إذا خافوا، هذا مذهب الشافعي ومنصوصه فلا معنى لما تأوله بعض أصحابنا أن ذلك في الأنهار والبحار الصغار، بل لا فرق بين صغار البحر وكبارها والله\rالتعليقة للقاضي حسين» (1/ 192):\r«وقال الله تعالى في قصة المشركين: (فإذا ركبوا في الفلك دعوا الله مخلصين له الدين فلما نجاهم إلى البر إذا هم يشركون) الآية.\rفأما ركوب البحر، إن كان الغالب منه السلامة والأمن فيجوز ركوب البحر، وإن كان الغالب منه الغرق والهلاك، فلا يجوز ذلك»\r«نهاية المطلب في دراية المذهب» (4/ 153):\r«ثم قال الأئمة: النسوة أولى بأن لا يجب عليهن ركوبُ البحر، لأنهن عوراتٌ، والبحر هتّاك للأستار؛ فإن جعلنا المسألة على قولين في الرجال، ففي النسوة قولان مرتبان، والفرق ما ذكرناه.\rوإن لم نوجب ركوبَ البحر، ولم يكن البحر معروفاً بالإهلاك، فلا يُنكر الأمر بركوبه استحباباً، ولا نرى الأمر ينتهي إلى دفع ذلك.\rولو كان مُخْطِراً (1)، فإن غلب [على] (2) الظن الهلاكُ، حرم الركوب، وفاقاً، وتأسياً بقوله تعالى: {وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ} [البقرة: 195].","part":1,"page":7},{"id":8,"text":"وإن استوى الأمران، ولم يقض العقل بتغليب الهلاك، أو السلامة، فقد كان شيخي يقطع بتحريم الركوب أيضاًً. وفيه نظر. وللأصحاب مرامز إلى نفي التحريم في مثل ذلك. أما الكراهيةُ فكائنةٌ، لا شك فيها.\rواضطرب الأئمة في ركوب البحر المُخطِر، والمقصودُ الجهاد، فمنهم من استمر على التحريم؛ فإن الخطر المحتمل في الجهاد ما يَلقى الغزاة من جهة القتال.\rوقال قائلون: لا يحرم الركوب في جهة الغزو؛ فإن التواصل (3) إلى المقصود يناسبه، فإذا كان المقصود على الغرر، لم يبعد احتماله في التسبب»\rفتاوى الرملي (ج 3 / ص 340)\r( سُبْلَ ) عَمَّا جَرَتْ بِهِ الْعَادَةُ مِنْ عَمَلِ التشادِرِ خارج البلد لأن نارَهُ يُوقَدُ بِالرَّوْتُ والكلس فإذا شمت الأطقال دخانه حَصَلَ لَهُمْ مِنْهُ صَرَرٌ عَظِيمٌ فِي الْعَالِبِ وَرَبِّمَا مَاتَ بَعْضُهُمْ مِنْهُ فَعَمِل شخص مَعْمَلَ نَشَادِرِ فِي وَسط البَلَدِ وَأَوْقَدَ عَلَيْهِ بِمَا ذكر قشم دُخَانَهُ طِقْلُ رَضِيعُ فَمَرِضِ مَرَضًا شَدِيدًا فهل الإيقادُ حَرَامٌ فَيَاتُمْ بِهِ وَيُعَرْرُ عَلَيْهِ وَيَجب الإِنْكَارُ عَلَيْهِ وَيُمْنَعُ مِنْهُ وَيَصْمَنْ مَا تلف به ؟ ( فأجاب ) بأنهُ يَحْرُمُ عَلَيْهِ الإيقادُ المَدْكُورُ إِذا علب على طته تضرر العير به فيأئم به وللحاكم تعزيرُهُ عَلَيْهِ\rوَيَجب الإِنْكَارُ عَلَيْهِ بسببه وَمَنْعِه مِنْهُ وَيَصْمَنْ مَا تلف بسببه مطلقا .\r4.…Ekstrimnya Dunia Pendakian (Sail : PP. Bata Bata)\rDeskripsi Masalah","part":1,"page":8},{"id":9,"text":"…Kegiatan pendakian gunung semakin populer di kalangan masyarakat, khususnya generasi muda. Banyak yang melakukannya sebagai bentuk pelarian dari rutinitas, pencarian ketenangan batin, ajang uji nyali, bahkan konten media sosial. Beberapa pendaki menempuh perjalanan berhari-hari, melewati medan sulit, bermalam di alam terbuka, menghadapi risiko hipotermia, tersesat, hingga kematian. Ada pula yang menjadikan pendakian sebagai ritual spiritual, meditasi, atau \"kembali ke alam\".\r…Selain itu, dalam pendakian panjang, sering terjadi hal yang seharusnya tidak terjadi seperti meninggalkan shalat hingga berturut turut,[ dzuhur, ashar, maghrib, isya’ subuh, semuanya di tinggalkan], ketika di tanya “ sudah sholat mas” dengan santainya pendaki tersebut menjawab “ di majmu’ mas “, bukan hanya di jama’ tapi malah di majmu’[ seluruh sholat di gabung di satu waktu] semua itu terjadi karena dalam pendakian sudah pasti serba kekurangan, baik itu berupa air, tempat, dll sehingga menyulitkan para pendaki untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban yang seharusnya di lakukan.\rPertanyaan\ra.…Bagaimana pandangan syari’at mengenai pendakian gunung atau melakukan perjalanan ekstrim tanpa ada tujuan yang jelas sebagaimana deskripsi?\rb.…Adakah solusi mengenai meninggalkan kewajiban-kewajiban dengan alasan sebagaimana deskripsi?\rJawaban\ra.…Pada dasarnya kegiatan mendaki boleh dilakukan. Dan bisa menjadi haram dengan salah satu pertimbangan berikut:\r1.…Meninggalkan sholat\r2.…Dugaan kuat terjadi kecelakaan\r3.…Tidak memiliki motivasi yang dibenarkan oleh Syariat atau Ghorod Shohih","part":1,"page":9},{"id":10,"text":"«نهاية المطلب في دراية المذهب» (4/ 153):\r«ثم قال الأئمة: النسوة أولى بأن لا يجب عليهن ركوبُ البحر، لأنهن عوراتٌ، والبحر هتّاك للأستار؛ فإن جعلنا المسألة على قولين في الرجال، ففي النسوة قولان مرتبان، والفرق ما ذكرناه.\rوإن لم نوجب ركوبَ البحر، ولم يكن البحر معروفاً بالإهلاك، فلا يُنكر الأمر بركوبه استحباباً، ولا نرى الأمر ينتهي إلى دفع ذلك.\rولو كان مُخْطِراً (1)، فإن غلب [على] (2) الظن الهلاكُ، حرم الركوب، وفاقاً، وتأسياً بقوله تعالى: {وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ} [البقرة: 195].\rوإن استوى الأمران، ولم يقض العقل بتغليب الهلاك، أو السلامة، فقد كان شيخي يقطع بتحريم الركوب أيضاًً. وفيه نظر. وللأصحاب مرامز إلى نفي التحريم في مثل ذلك. أما الكراهيةُ فكائنةٌ، لا شك فيها.\rواضطرب الأئمة في ركوب البحر المُخطِر، والمقصودُ الجهاد، فمنهم من استمر على التحريم؛ فإن الخطر المحتمل في الجهاد ما يَلقى الغزاة من جهة القتال.\rوقال قائلون: لا يحرم الركوب في جهة الغزو؛ فإن التواصل (3) إلى المقصود يناسبه، فإذا كان المقصود على الغرر، لم يبعد احتماله في التسبب»\rتحفة المحتاج\rثم رأيت الأنوار جزم به من غير عزوه للقاضي وصريح كلام الأذرعي والزركشي امتناع الفطر في سفر النزهة على من نذر صوم الدهر، لأنه انسد عليه القضاء بخلاف رمضان\rحواشيى ابن قاسم ج-3 .592\rقوله: (في سفر النزهة مفهومه الجواز في سفر غير النزهة عندهما أيضاً وان أفسد القضاء أيضاً قوله: (في سفر النزهة) أي بخلاف سفر غير النزهة فينبغي جواز الفطر وعليه الفدية لأنه لا يتصور القضاء هنا م ر وقد يشكل على ما تقدم عن السبكي .\rنهاية المطلب في دراية المذهب» (11/ 559):","part":1,"page":10},{"id":11,"text":"«وقال الصيدلاني: من سافر إلى بلدةٍ (2)، فقصده صحيح. قال: وفيه نظر ظاهر، فيجوز أن يقال: هذا ليس من الأغراض المعتبرة، وأكثر الأئمة على أن السفر [من] (3) غير غرض مكروه؛ لأنه إتعاب النفس بغير فائدة»\r«النجم الوهاج في شرح المنهاج» (2/ 422):\r«والمراد بـ (الطويل): مسافة القصر فأكثر، وبـ (القصير): دون ذلك.\rأما إذا كان كل منهما مسافة القصر، وأحدهما أطول .. فإنه يقصر جزما، وفيه نظر؛ لأن إتعاب النفس بلا غرض حرام وإلا .. فلا في الأظهر .. ولو تبع العبد أو الزوجة أو الجندي مالك أمره في السفر ولا يعرف مقصده .. فلا قصر، فلو نووا مسافة القصر .. قصر الجندي دونهما\r«نهاية المطلب في دراية المذهب» (11/ 559):\r«وقال الصيدلاني: من سافر إلى بلدةٍ (2)، فقصده صحيح. قال: وفيه نظر ظاهر، فيجوز أن يقال: هذا ليس من الأغراض المعتبرة، وأكثر الأئمة على أن السفر [من] (3) غير غرض مكروه؛ لأنه إتعاب النفس بغير فائدة»\r«النجم الوهاج في شرح المنهاج» (2/ 422):\r«والمراد بـ (الطويل): مسافة القصر فأكثر، وبـ (القصير): دون ذلك.\rأما إذا كان كل منهما مسافة القصر، وأحدهما أطول .. فإنه يقصر جزما، وفيه نظر؛ لأن إتعاب النفس بلا غرض حرام وإلا .. فلا في الأظهر .. ولو تبع العبد أو الزوجة أو الجندي مالك أمره في السفر ولا يعرف مقصده .. فلا قصر، فلو نووا مسافة القصر .. قصر الجندي دونهما\r«أسنى المطالب في شرح روض الطالب» (1/ 234):\r«ونقل الإمام عن الصيدلاني أن الهائم عاص، أي: لأن إتعاب النفس بالسفر بلا غرض حرام كما سيأتي ومثله راكب التعاسيف بل أولى ويحصل ابتداء السفر من بلد له سور (بمفارقة سور البلد المختص به)»\rالفتاوى الفقهية الكبرى» (1/ 231):\r«(وسئل) نفع الله به هل السفر للتنزه كالسفر لرؤية البلاد أو لا فما الفرق؟","part":1,"page":11},{"id":12,"text":"(فأجاب) بقوله الذي ذكروه أن التنزه قصد صحيح يبيح القصر بخلاف مجرد رؤية البلاد لكن فرضوا الكلام في التنزه فيما لو سلك أبعد الطريقين لذلك وفرق بعضهم بأن قاصد الثاني غير جازم بمقصد معلوم؛ لأنه كالهائم بخلافه في التنزه. قال شيخنا في شرح الروض والوجه أن يفرق بأن التنزه هنا ليس هو الحامل على السفر بل الحامل عليه غرض صحيح كسفر التجارة ولكنه سلك أبعد الطريقين للتنزه فيه بخلاف مجرد رؤية البلاد فإنه الحامل على السفر حتى لو لم يكن هو الحامل عليه كان كالتنزه هنا ولو كان التنزه هو الحامل عليه كان كمجرد رؤية البلاد في تلك اهـ. وحاصل كلامه التساوي بينهما وفيه نظر بل الوجه أن يفرق بينهما بأن التنزه غرض صحيح يقصد في العادة للتداوي ونحوه كإزالة العفونات النفسية واعتدال المزاج وغير ذلك بخلاف مجرد رؤية البلاد إذا خلا عن ذلك كأن قصد السفر لبلد كذا لينظر بناءها من ماذا أو هل هي صغيرة أو كبيرة ونحو ذلك فإنه بالعبث أشبه فمن ثم جاز للأول القصر لصحة غرضه بخلاف الثاني وإن كان له مقصد معلوم لفساد غرضه؛ لأن فيه إتعاب نفسه ودابته من غير فائدة»","part":1,"page":12}],"titles":[{"id":1,"title":"BMK Karangpanas Pasuruan_2025","lvl":1,"sub":0}]}